Dendam Iblis Seribu Wajah

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Dendam Iblis Seribu Wajah

Karya : Khu Lung

Ebook by Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

 

Prolog

Tiada bintang, tiada rembulan, tiada suara apapun. Gelap… Apa pun tidak terlihat, pegunungan yang senyap, di tengah malam yang pekat. Tiba-tiba sekilas cahaya melintas di atas langit. Daerah pegunungan yang sunyi tersorot sekejap. Eh… apa itu? Sesosok bayangan hitam sedang merayap di tengah pegunungan!

Apa yang sedang dilakukannya di tengah malam sesunyi ini?

Tidak ada seorang pun yang tahu. Yang terdengar hanya suara hembusan angin yang

sepoi-sepoi diiringi suara nafas yang tersengal-sengal. Kedua macam suara itu lebih mirip

keluhan yang tragis, membayangkan gelombang badai yang akan melanda dunia

persilatan di kemudian hari.

Dari kilasan cahaya tadi, dapat terlihat bahwa usia orang itu paling banter baru

menginjak dua belasan. Di atas kepalanya terdapat sedikit jambul, wajahnya bersih dan

tampan. Dengan menggertakkan giginya, dia memanjat terus. Meski pun susah payah,

tapi tampaknya tekad bocah ini keras juga. Sedikit demi sedikit dia merayap ke atas.

Pegunungan ini sangat terjal. Banyak terdapat batu-batu yang tajam. Belum lagi jurang

yang dalam. Kalau melihat dari atas bebatuan yang runcing itu akan tampak bagai

bilahan-bilahan pedang. Bocah itu rasanya tidak mengerti ilmu silat. Baru sampai

pertengahan saja telapak tangannya sudah penuh dengan luka sehingga darah mengalir

dengan deras. Bahkan pada tempat di mana tangannya bertumpu, terlihat bekas jejak

darah yang ditinggalkannya. Betapa mengenaskan melihat kebulatan tekad bocah

tersebut!

Tapi dia sama sekali tidak menyerah. Giginya digertakkan semakin erat. Ia sampai

menggigit bibirnya sehingga berdarah. Dia mempertahankan diri sekuat kemampuannya.

Setindak demi setindak dia terus mendaki daerah alam yang berbahaya. Setiap waktu ada

saja kemungkinan maut mengintai. Didakinya terus pegunungan itu meskipun dia sendiri

tidak tahu apakah dirinya masih sanggup atau tidak.

Angin pegunungan berhembus kencang, membuat pakaiannya yang sudah koyak di

sana sini berkibaran. Terdengar suara dari kibaran bajunya yang terhempas-hempas. Dia

tidak merasa kedinginan. Keringat menetes dengan deras di keningnya. Nafasnya semakin

 

Dia masih seorang bocah cilik. Dia juga tidak mempunyai tenaga seperti sebuah mesin.

Baru setengah perjalanan dia sudah merasakan tubuhnya letih sekali, urat-uratnya terasa

seperti mengencang dan hampir putus. Namun demikian di dalam hatinya dia punya niat

besar yang mendukung apa yang dilakukannya, perasaan gentarnya pun sirna dan

tekadnya semakin membara.

Dia paham sekali bahwa masih banyak urusan yang harus diselesaikannya. Dia sadar

masih panjang perjalanan hidup yang harus ditempuhnya. Tanpa memperdulikan segala

bahaya yang mungkin akan dihadapinya, dia terus mendaki menuju puncak gunung

tersebut. Sebetulnya, apa yang hendak dilakukannya?

Rupanya puncak pegunungan ini merupakan tempat suci sebuah perkumpulan yang

bernama Ti Ciang Pang yang sangat disegani dunia Kangouw. Sebuah goa tua yang

terdapat di bagian paling puncak merupakan tempat bersemayamnya jenasah-jenasah

para leluhur perguruan tersebut.

Pada suatu hari, tanpa sengaja bocah ini menolong seorang tua tanpa nama yang

sedang terluka parah. Sebelum menutup mata, orangtua ini sempat memberikan sebuah

kitab yang mengandung pelajaran cara merias wajah. Orangtua ini juga memberitahukan

kepadanya tentang kuburan para leluhur Ti Ciang Pang ini.

Ternyata setiap pangcu generasi demi generasi, apabila sudah mengetahui bahwa

ajalnya telah dekat, harus mengikuti peraturan perkumpulan mereka, yaitu masuk ke

dalam goa tua tersebut untuk menunggu ke-matian. Meskipun ada pangcu-pangcu yang

mati dalam pertarungan atau pun musibah lainnya, mayat mereka juga harus dibawa oleh

beberapa orang murid Ti Ciang Pang tersebut dan dimasukkan ke dalam goa. Bahkan

beberapa murid yang terpilih untuk membawa mayat pangcu mereka ke dalam goa, juga

tidak boleh kembali dalam keadaan hidup-hidup. Ini merupakan peraturan Ti Ciang Pang

yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Tentu saja setiap pangcu yang mati pasti mempunyai benda-benda pusaka kesayangan

mereka yang dibawa sekalian agar dapat dikuburkan bersama jenasah mereka nanti.

Benda-benda pusaka tersebut terdiri dari berbagai macam jenis. Ada pedang pusaka, ada

senjata rahasia yang mereka gunakan semasa hidup. Tidak sedikit yang melukiskan ilmuilmu

andalannya di dinding goa sambil menunggu kematian.

Sejak Ti Ciang Pang didirikan, jumlah pangcu yang menjabat perkumpulan tersebut

seluruhnya sudah berjumlah enam puluh empat angkatan. Otomatis goa tua itu menjadi

semacam tempat harta pusaka perkumpulan tersebut. Akhirnya tempat itu juga menjadi

daerah terlarang bagi umat Bulim dan tempat suci yang tidak boleh diinjak oleh para

murid Ti Ciang Pang sendiri. Siapa pun yang ketahuan naik ke puncak gunung itu pasti

akan mendapat hukuman mati. Hal ini sudah menjadi ketentuan yang diketahui oleh

semua orang di dunia Kangouw.

Tetapi tujuan bocah ini naik ke atas puncak gunung tersebut justru untuk menyelinap

ke dalam goa dan mencuri belajar ilmu Ti Ciang Pang yang sakti. Dia tidak mengerti ilmu

silat sama sekali. Kalau dia datang secara terang-terangan tentu dalam sekejap saja dia

sudah ketahuan oleh para penjaga pegunungan itu, yang kebanyakan berilmu tinggi.

Itulah sebabnya dia memilih waktu malam hari dan mengambil jalan memutar yang jauh

lebih berbahaya agar jejaknya tidak sampai kelihatan. Dapat dikatakan bahwa sekarang ini

dia sedang mengadakan pertaruhan dengan nyawanya sendiri.

 

Dia terus mendaki sedikit demi sedikit… Ketika tenaganya mulai terkuras habis,

matanya terasa berkunang-kunang dan keempat anggota tubuhnya bagai menjadi kaku,

dan dia merasa tidak sanggup meneruskan lagi, dia berhenti dahulu untuk beristirahat.

Angin malam masih menderu-deru. Di sekitar hanya ada kesunyian yang menemani.

Dalam kegelapan seperti ini, yang terdengar hanya nafasnya yang tersengal-sengal. Dia

tahu sekarang ini dia sudah meninggalkan kaki gunung sejauh ratusan depa. Apabila dia

menundukkan kepalanya unttuk melihat ke bawah, mungkin dia akan jatuh pingsan saking

takutnya. Oleh karena itu, dia tidak berani melirik sedikitpun. Dengan menggenggam eraterat

batu-batu yang bertonjolan, dia mengatur nafasnya sesaat sebelum mulai mendaki

Setelah berdiam diri sekian lama, tiba-tiba terdengar suara gumaman yang tidak jelas

dari mulutnya…

“Tan Ki, oh Tan Ki…! Kau tidak boleh putus asa. Dakilah terus. Di atas puncak gunung

ini ada berbagai macam kepandaian yang kau dambakan. Semuanya dapat membuat citacitamu

terkabul. Kelak kau akan menjadi orang yang terkenal. Namamu akan

menggetarkan dunia Kangouw. Kau bisa belajar silat yang tinggi sehingga kau dapat

membalas dendam dengan kedua tanganmu sendiri…”

Teringat akan dendam kematian ayahnya tiba-tiba darah dalam tubuhnya seperti

menggelegak. Semangatnya bagai terpacu seketika. Rasa sakit pada telapak tangan dan

pegal-pegal di sekujur tubuhnya seperti sirna tertiup angin malam.

Betul! Dia ingin membalas dendam. Dia harus membunuh empat puluh delapan orang

musuhnya. Satupun tidak boleh dibiarkan hidup…! Maka dari itu, dia segera menghimpun

seluruh kekuatannya. Dengan tekad yang membara dia mulai mendaki lagi. Dengan susah

payah dia naik setindak demi setindak. Di dalam hatinya dia terus berseru! Naik! Naik!

Naik! Naik!

****

Bagian I

Sepuluh tahun kemudian…

Dunia Kangouw yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba saja dilanda gelombang

badai yang dahsyat. Seorang algojo muncul entah dari mana. Persis seperti malaikat maut

yang mencabut nyawa orang-orang yang dipilihnya.

Siapa namanya, tidak ada seorang pun yang tahu. Asal-usulnya, terlebih-lebih tidak ada

yang tahu. Belum pernah ada seorangpun yang sempat melihat wajahnya yang asli. Ilmu

silatnya yang tinggi sulit diukur dan keahliannya dalam merias wajah disadari oleh setiap

orang. Tiba-tiba dia muncul sebagai seorang kakek-kakek tua. Kemudian beberapa hari

kemudian, dia berubah menjadi seorang pemuda belasan tahun. Datang tanpa bayangan,

pergi pun tidak meninggalkan jejak.

Orang yang berbentrok dengannya, mati satu per satu. Orang yang tidak ada urusan

apa-apa dengannya juga mengandung perasaan was-was. Tetapi setiap kali dia muncul, di

samping mayat yang telah dibunuhnya pasti terdapat tulisan yang berbunyi… Cian bin moong

alias Iblis Seribu Wajah.

 

Dalam jangka waktu yang pendek, yakni tiga bulanan, tokoh-tokoh Bulim yang mati di

tangan Cian bin mo-ong sudah berjumlah dua puluhan orang. Jumlah ini sebetulnya tidak

dapat dibilang terlalu besar. Yang mengejutkan justru setiap korbannya merupakan tokoh

yang mempunyai nama besar di masa itu. Hal inilah yang membuat perasaan tokoh-tokoh

Kangouw lainnya menjadi kalut.

Ti Ciang Pang yang selama ini sangat disegani ikut terguncang mendengar kemunculan

orang ini. Belum lagi lima partai besar lainnya. Bahkan para tokoh yang bergerak sendirisendiri

tanpa ikatan dengan perguruan mana pun ikut ramai membicarakan kemunculan

orang ini yang sedemikian tiba-tiba. Mereka semua merasa was-was. Jangan-jangan besok

adalah giliran mereka untuk menerima kematian. Hal ini seperti hari-hari menjelang kiamat

bagi tokoh-tokoh dunia Kangouw.

Cian bin mo-ong! Cian bin mo-ong! Asal nama ini muncul, pasti ada mayat yang bergelimpangan.

Kehadiran orang ini bagaikan angin topan yang memporak-porandakan

seluruh Bulim, menyiutkan nyali setiap tokoh yang namanya agak terkenal. Dari setiap

korban yang jatuh, dapat dibuktikan bahwa sasarannya adalah orang-orang yang

mempunyai nama cukup besar di dunia Kangouw. Dalam waktu tiga bulan saja, dia sudah

membuat dunia Bulim menjadi sebuah tempat yang mengerikan dan seolah tiada lagi

wilayah yang aman untuk bersembunyi.

Sasarannya pun berbeda-beda. Kadang terdengar korbannya ada di daerah Selatan,

kemudian tiba-tiba di daerah Utara pun terjadi hal yang sama. Semua ini membuat orang

menduga-duga, apa sebetulnya alasan Cian bin mo-ong membunuh orang-orang yang

kadang-kadang tidak ada kaitannya sama sekali.

Akhirnya… Pada suatu malam yang berangin kencang dan tiada rembulan, gelombang

badai yang melanda dunia Bulim ini pun mencapai puncaknya…

***

Kota tua Lok Yang.

Di tengah malam yang mencekam, seharusnya orang-orang sedang terlelap dalam

mimpi. Tapi di Utara kota itu terdapat sebuah gedung yang megah dan saat ini tampak

dua buah lentera besar tergantung tinggi. Tampak bayangan manusia tidak henti-hentinya

memasuki gedung rumah tersebut.

Hal ini membuat orang menduga-duga.

Kalau keluarga ini bukan sedang berkabung atau mengadakan pesta besar-besaran,

tentu ada urusan penting yang sedang berlangsung. Tepat pada saat itu, tampak dua

sosok bayangan melesat bagai angin dan berhenti di depan pintu gerbang gedung megah

Meskipun di dalam gedung ini terlihat orang-orang hilir mudik dengan sibuk. Tetapi di

depan pintu gerbangnya justru sunyi seakan tidak sedang berlangsung apa-apa. Tidak

tampak seorang penjaga pun di depan pintu gerbang tersebut. Mata kedua orang ini

mengedar sekilas. Wajah keduanya langsung tertegun.

 

Di bawah cahaya lentera yang suram, tampak bahwa kedua orang ini merupakan

pasangan yang aneh, yang satu bertubuh tinggi sedangkan yang lainnya pendek sekali.

Mereka berdiri berendengan.

Orang yang berdiri di sebelah kiri berdandan seperti pelajar. Wajahnya agak pucat.

Tampangnya biasa-biasa saja, sulit menentukan berapa usia orang itu yang sebenarnya.

Tangan kanannya mengibaskan sebatang kipas dengan perlahan-lahan. Gayanya santai

Sedangkan orang yang di sebelahnya sangat pendek. Tinggi kepalanya hanya mencapai

pinggang si pelajar tadi. Tubuhnya gemuk. Raut wajahnya bulat dan warnanya merah

sekali. Dari sepasang matanya yang sipit memancar sinar tajam seperti kilat.

Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara teriakan, “Ciong San Suang-siu tiba!”

Kata-kata itu saling bersahutan sehingga sampai ke dalam gedung. Kewibawaan yang

diperlihatkan ternyata tidak dapat dipandang ringan juga. Tidak lama kemudian terdengar

suara sahutan dari dalam yang sambung menyambung sampai keluar seperti sebelumnya.

“Silahkan masuk!”

Melihat keadaan ini, alis kedua orang tersebut tanpa terasa terjungkit ke atas. Wajah

mereka menyiratkan perasaan kurang senang. Bukan saja kedua orang ini merupakan

tokoh yang sudah terkenal, bahkan nama mereka pun tidak berada di sebelah bawah tuan

rumah itu sendiri yakni Bu Ti Sin Kiam alias si Pedang Sakti tanpa lawan Liu Seng.

Orang itu sudah mengirimkan undangan kepada mereka berdua. Seharusnya tidak

perlu begitu banyak lagak sampai-sampai mempersilahkan mereka masuk hanya dengan

dua patah kata saja. Seandainya mereka masuk begitu saja, bukankah mereka akan

kehilangan pamor? Tetapi orang sudah mengirimkan undangan, biar bagaimana pun

niatnya baik. Untuk sesaat, kedua orang itu merasa bimbang. Masuk salah, tidak masuk

mereka sudah sampai di depan pintu. Sedangkan gengsi mereka mempertahankan diri

agar jangan masuk begitu saja.

Justru ketika mereka sedang diselimuti keraguan itulah, tampak seorang Lao Koan-ke

(Kepala Pelayan) keluar dengan tergopoh-gopoh kemudian membungkukkan tubuhnya

memberi hormat.

“Majikan hamba sedang melayani tamu sehingga tidak dapat menyambut dari jauh.

Harap jiwi toaya dapat memaklumi. Silahkan masuk! Silahkan masuk!” sapanya sambil

tersenyum simpul.

Terdengar suara dengusan dari hidung si gemuk pendek. Bibirnya mengulum seulas

senyuman dingin.

“Mungkin tamu yang di temani Liu Loji lebih terkenal dan mempunyai nama yang lebih

besar dari kami dua bersaudara,” sindirnya tajam.

Kata-kata ini sungguh blak-blakkan. Wajah Lao Koanke tadi sampai merah padam.

Dengan wajah ketakutan kembali ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

 

“Tidak, tidak! Apabila jiwi toaya masuk ke dalam tentu akan mengerti sendiri,” dia

langsung mengulapkan tangannya mempersilahkan kedua tamu tersebut.

Orang gemuk pendek tadi mendengus sekali lagi. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar

berjalan ke dalam gedung. Setelah melewati tiga buah ruangan, mereka sampai di sebuah

aula yang besar sekali. Kedua orang itu memandang ke sekeliling sekejap. Tanpa sadar

keduanya menjadi tertegun.

Tampak di dalam aula tersebut telah di penuhi tamu-tamu sejumlah empat lima puluh

orang. Di antara orang-orang itu ada sebagian yang mereka kenal. Ada sebagian lagi yang

jumpa pun belum pernah. Tetapi sebagian besar yang mereka kenal merupakan tokohtokoh

ternama yang telah menggetarkan dunia persilatan pada jaman itu.

Setelah tertegun beberapa saat, tiba-tiba dalam hati keduanya segera merasa bahwa

urusan malam ini pasti genting sekali sehingga begitu banyaknya tokoh terkemuka yang

berkumpul di dalam gedung ini.

Hawa pembunuhan yang tebal bagai memenuhi seluruh aula tersebut. Pada wajah

setiap orang tampak ketegangan yang berusaha di tutup-tutupi. Suasananya juga sangat

mencekam. Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap dengan santai.

Tiba-tiba Bu Ti Sin Kiam Liu Seng yang duduk di kursi tuan rumah tampak berdiri dan

tertawa lebar.

“Jiwi pasti sudah menunggu agak lama. Silahkan duduk!” katanya.

Baru saja ucapannya selesai, dari luar berkumandang lagi suara sahutan yang sambung

menyambung seperti tadi. “Tian Tai Tiau-siu (Tukang pancing dari Tian Tai) tiba!”

“Cepat persilahkan!” kata Liu Seng segera berganti haluan.

Tenaga dalam orang ini cukup tinggi juga. Begitu suaranya keluar, terdengarnya seperti

gendang yang bertalu-talu dan bergema ke seluruh aula tersebut. Kemudian seorang lakilaki

bertubuh tegap yang berdiri di bagian pintu segera mengikutinya berteriak:

“Cepat persilahkan masuk!”

Suara sahutan itu pun kembali sambung menyambung sampai ke depan pintu gerbang.

Hal inilah yang membuat suasana yang tegang itu mengandung keseriusan dan

kewibawaan yang dalam. Saat itu Ciong San Suang-siu baru tahu, Liu Seng menemani

sekian banyak tamu. Otomatis dia tidak sempat menyambut setiap tamu dan

mengantarkannya ke dalam. Setelah tahu apa sebabnya Liu Seng tidak menyambut

mereka sendiri, keduanya tidak marah lagi.

Pada dasarnya kedua orang itu memang merupakan pendekar-pendekar yang gagah

dan berhati lapang. Mereka malah tertawa terbahak-bahak menanggapi kesalahpahaman

perasaan mereka sendiri.

Setelah tertawa-tawa Ciong San Suang-siu pun duduk di kursi yang masih kosong.

Sambil menyapa beberapa orang kenalan mereka, otak keduanya terus memikirkan

kejadian yang akan mereka hadapi malam ini.

 

Rupanya Bu Ti Sin-kiam Liu Seng adalah seorang tokoh tua di dunia persilatan. Nama

besarnya telah berkumandang di mana-mana. Tetapi selama belasan tahun ini, dia telah

mengasingkan diri dan tidak turut campur lagi dalam urusan dunia Kangouw. Tiba-tiba tiga

bulan yang lalu, dia mengirimkan surat undangan kepada para sahabat lamanya yang

sealiran agar berkumpul di. gedung rumahnya malam ini. Hal ini membuktikan bahwa ada

urusan penting yang ingin disampaikannya kepada mereka semua.

Sementara itu, dari halaman luar berjalan masuk seorang yang bertubuh tinggi kurus.

Kepalanya ditutupi sebuah topi pandan. Orang ini tidak asing bagi para hadirin yang ada

dalam aula tersebut. Karena dialah Tian Tai Tiau-siu yang tersohor. Nama asli orang ini

adalah Kok Hua-hong.

Sebagai tuan rumah, Liu Seng cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan

“Kok heng telah menempuh jarak ribuan li untuk memenuhi undangan siaute. Tentunya

Kok heng sudah merasa lelah, silahkan duduk dan beristirahat.” sapanya sambil

Kok Hua-hong mendengus dingin satu kali. Mimik wajahnya datar sekali.

“Tidak diundang pun, aku tetap akan datang.” nada suaranya begitu ketus sehingga

membuat para hadirin merasa di luar dugaan.

Liu Seng sendiri ikut tertegun. Para tamu yang hadir malam itu merasa heran.

Selamanya Kok Hua-hong adalah seorang manusia yang berjiwa besar. Sehari-harinya

murah senyum dan ramah terhadap siapapun. Sikapnya yang demikian ketus, belum

pernah ditemui oleh para kenalannya.

Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar mata para hadirin menjadi terpusat

pada dirinya. Kok Hua-hong sendiri tampaknya tidak memperhatikan orang lainnya.

Dengan sikap dingin ia berjalan menuju sebuah kursi yang kosong dan duduk menyendiri.

Matanya dipejamkan seakan sedang melepas lelah.

Sikapnya itu menunjukkan keangkuhan dan kesinisan yang tidak terkira. Orang yang

menatapnya merasa bergidik dan timbul kesan sebagaimana orang yang tidak mudah

didekati oleh orang lain.

Melihat sikap Kok Hua-hong, tanpa sadar sepasang alis Liu Seng terjungkit ke atas.

Kemarahan dalam hatinya mulai meluap. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Baru

beberapa tahun tidak bertemu, ternyata orang dapat berubah sedemikian banyak!”

Setelah merenung sesaat, terpaksa dia menelan kembali kemarahan dalam hatinya.

Urusan yang sedang mereka hadapi bukan masalah perorangan tetapi menyangkut keselamatan

seluruh Bulim. Bagaimana pun dia harus berpikir panjang sebelum mengumbar

emosinya. Apalagi kali ini dia sendiri yang bertindak sebagai tuan rumah yang

mengundang kedatangan tamu-tamu ini.

Tidak lama kemudian datang beberapa tamu tingkatan Cianpwe yang juga diundang

oleh Liu Seng. Tuan rumah segera mengedarkan pandangannya. Dia merasa para tamu

 

yang diundangnya sudah hampir semua hadir di tempat itu. Maka dari itu dia segera

berdiri dan menjura ke sekitarnya.

“Dunia Bulim yang sudah lama tenang, tiba-tiba dilanda badai yang dahsyat. Cuwi

hengte pasti sudah dapat menerka tujuan orang she Liu mengundang kedatangan kalian

malam ini. Padahal sebelumnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak

mencampuri lagi urusan dunia Kangouw. Tetapi apa yang terjadi saat ini demikian genting

sehingga aku terpaksa mengirimkan undangan pada saudara sekalian.”

“Tentu saja untuk menghadapi Cian bin mo-ong yang merupakan musuh para sahabat

dunia Kangouw!” sahut beberapa tamu serentak.

“Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan merajalela!” teriak yang lainnya.

Liu Seng menganggukkan kepalanya.

“Tidak salah. Untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Kedatangan orang ini seperti angin

saja. Kekejiannya dalam turun tangan, boleh dibilang seumur hidup aku baru pernah

menemuinya…” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Dengan

wajah muram dia menarik nafas panjang. “Ilmu silat Cian bin mo-ong ini entah sudah

sampai taraf bagaimana tingginya. Kalau dibayangkan memang mengerikan. Para sahabat

sekalian, tetapi ada satu hal lagi yang membuat kita lebih-lebih penasaran. Yakni, adakah

orang-orang yang tahu asal-usul orang ini atau wajah asli orang ini?”

Mendengar ucapannya, para tamu yang hadir tertegun semua. Tidak ada seorangpun

yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, karena mereka memang tidak ada yang tahu.

Riwayat hidup Cian bin mo-ong bagai sebuah teka-teki, bagai sebuah tempat yang

diselimuti kabut sehingga orang harus meraba-raba untuk mengetahui sekitarnya. Orang

yang pernah bertemu dengannya sudah mati. Orang yang tidak pernah bertemu

dengannya, meskipun Cian bin mo-ong berdiri di depannya, dia juga tidak akan mengenali.

Ilmu merias wajah Cian bin mo-ong sudah mencapai taraf yang sedemikian hebatnya

sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Hanya dalam waktu beberapa detik, dia

sanggup merubah wajahnya.

Karena tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara, seluruh aula besar itu menjadi

hening seketika. Rupanya nama Cian bin mo-ong telah menanamkan ketakutan yang

dalam di hati setiap orang. Kemungkinan apabila ada orang yang mengetahui asal-usul

maupun wajah aslinya, orang itu juga tidak berani membuka mulut.

Terdengar suara berdehem dan terbatuk-batuk dari mulut si pendek gemuk yang

merupakan Loji dari Ciong San Suang-siu…

“Tiga hari yang lalu, hengte pernah bertemu sekali dengan Cian bin mo-ong, pada saat

itu…” baru berkata beberapa patah, di wajah Cu Mei, si gemuk pendek itu tersirat rasa

ketakutan yang dalam, tubuhnya bergetar. Setelah terdiam beberapa saat dia melanjutkan

kembali kata-katanya. “Pada saat itu, di puncak bukit Ciong San berkumpul kurang lebih

empat puluh enam orang jago-jago kelas tinggi. Orang-orang ini terdiri dari para murid

lima partai besar. Masing-masing mem-punyai keahlian dalam berbagai ilmu silat. Nama

mereka sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Tadinya hengte mengira telah terjadi

persengketaan di antara lima partai besar. Hati hengte terkejut sekali. Kemudian setelah

mendapat penjelasan dari Pun Bu Taisu yang berasal dari Siau Lim Pai, baru hente

 

mengerti duduk persoalan sebenarnya. Rupanya mereka sedang menantikan kedatangan

Cian bin mo-ong untuk mengadu kepandaian…”

Mendengar ucapan Cu Mei si pendek gemuk, di depan mata para tamu yang lainnya

seakan tampak bayangan Cian bin mo-ong yang menyeramkan. Tetapi bayangan orang ini

sedemikian samar sehingga tidak ada seorangpun yang sanggup melukiskan rupanya yang

Pikiran merekapun ikut terpengaruh cerita Cu Mei tadi. Perasaan mereka menjadi

tegang karena ingin mengetahui cerita selanjutnya. Situasi dalam ruangan ini semakin

mencekam dan tanpa sadar mereka merasakan keseraman yang tidak terkatakan.

Terdengar lagi helaan nafas Cu Mei yang berat sebelum meneruskan kata-katanya…

“Para murid kelima partai besar menunggu kurang lebih satu keuntungan. Tetapi yang

datang bukan Cian bin mo-ong malah Ciang Bunjin Bu Tong Pai, Fei Wan Cu yang muncul

secara tidak terduga-duga. Fei Wan Cu tiba-tiba menyeruak di antara orang banyak dan

menghantamkan pukulannya secara kalang kabut. Secara berturut-turut delapan belas

orang dibunuhnya dalam waktu sekejap. Untuk sesaat, para murid lima partai besar

menjadi gempar. Hengte sendiri terkejut setengah mati. Mungkinkah Fei Wan Totiang tibatiba

kerasukan setan serta pikirannya kacau sehingga tidak mengenali rekan-rekannya

sendiri?”

Hati Liu Seng tercekat mendengar ceritanya.

“Itu tidak benar! Ciang Bunjin Bu Tong Pai itu mungkin samaran Cian bin mo-ong?”

katanya gugup.

“Siapa bilang bukan? Tetapi karena keahlian merias wajah orang ini sudah sedemikian

hebatnya sehingga hengte sendiri yang kenal baik dengan Fei Wan Totiang tidak berhasil

membongkar kedoknya. Sedikitpun tidak tampak perbedaan dengan yang aslinya…”

Wajah Liu Seng semakin kelam. Kepalanya tertunduk sesaat seakan sedang

merenungkan sesuatu yang pelik.

“Bagaimana dengan ilmu silatnya?”

Cu Mei menarik nafas panjang.

“Bukannya hengte memuji iblis itu. Ilmu silat yang dimiliki Cian bin mo-ong memang

tinggi sekali. Malah lebih hebat daripada Fei Wan Totiang yang asli. Hengte sudah terjun

dalam dunia Kangouw sejak empat puluh tahun yang lalu, meskipun ilmu silat tidak terlalu

hebat, tetapi pengalaman sudah dapat dikatakan lumayan. Mungkin saat ini orang yang

dapat menandinginya dapat dihitung dengan jari. Bayangkan saja, para anggota kelima

partai besar yang berkumpul saat itu ada empat puluh enam orang, tetapi mereka toh

tidak sanggup menahan seorang Cian bin mo-ong malah delapan belas orang diantara-nya

menjadi korban.”

Sebetulnya Cu Mei masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi dia merasa bahwa

ucapannya hanya akan menjatuhkan pamor lima partai besar. Itulah sebabnya dia tidak

jadi meneruskan isi hatinya. Tetapi meskipun demikian, sebagian besar tamu yang hadir

sudah dapat menerka apa yang ingin diucapkannya. Wajah mereka tampak kusut dan

 

kelam. Mereka sudah dapat membayangkan sampai di mana kehebatan Cian bin mo-ong

yang akan mereka hadapi itu.

Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Sepasang alisnya berkerut. Mulutnya menyiratkan

seulas tertawa yang sumbang.

“Kalau demikian, gedung keluarga Liu ini seakan menjadi ajang pengorbanan.”

Cu Mei menjadi tertegun mendengar ucapannya.

“Mengapa?” tanyanya bingung.

“Karena Cian bin mo-ong justru hendak menyambangi gedung rumahku malam ini,”

sahut Liu Seng.

Ucapan yang singkat tetapi sanggup membuat hati setiap tamu yang hadir menjadi

terkesiap. Seakan di dalamnya terkandung segulung kekuatan yang tidak berwujud dan

membuat wajah mereka berubah hebat. Tidak ada satupun yang tidak terkejut

mendengarkan keterangan tersebut.

Untuk sesaat, suasana dalam ruangan itu seperti diselimuti hawa pembunuhan yang

tebal. Empat huruf Cian bin mo-ong seperti mewakili para iblis yang gemar membunuh

manusia tanpa diketahui sebab musababnya. Nyali para pendekar menjadi ciut seketika…

Ilmu silat orang ini demikian tinggi, lagipula dia pandai ilmu merias wajah. Boleh

dibilang, ada saja kemungkinan bahwa saat ini dia sudah merias wajahnya menjadi salah

satu tamu di dalam aula tersebut. Namun tidak seorangpun yang menyadarinya.

Para tamu yang mempunyai pikiran demikian, tanpa terasa saling melirik satu dengan

yang lainnya. Mereka menjadi curiga setiap orang yang duduk di sampingnya. Janganjangan

orang itu adalah samaran Cian bin mo-ong si iblis pembunuh itu.

Justru ketika pikiran setiap orang sedang bertanya-tanya, terdengar kembali helaan

nafas berat Liu Seng, si tuan rumah.

“Sejak tiga bulan yang lalu, Cian bin mo-ong telah mengirim sepucuk surat yang isinya

menyatakan bahwa malam ini dia pasti akan hadir di dalam rumahku ini. Pertama-tama dia

ingin bertanya jelas tentang Am Gi (senjata rahasia) hengte, yakni Hek Hong Ciam (jarum

kumbang hitam), baru kemudian mencabut nyawa hente. Katanya untuk membalaskan

dendam ayahnya. Aih! Siaute sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan selama

belasan tahun. Seandainya pada tempo dulu pernah terjadi persilisihan dengan seseorang,

rasanya juga tidak mungkin sekarang baru datang mencari siaute untuk membalaskan

dendamnya…”

Belum lagi ucapannya selesai, Tian Tai Tiau-siu yang duduk di sudut sendirian langsung

memperdengarkan suara dengusan dingin dari hidung.

“Maksudmu kau sudah menggantungkan pedang selama belasan tahun dan selama itu

tidak pernah mencampuri urusan dunia Kangouw lagi?” tanyanya dengan nada sinis.

“Tidak salah!” sahut Liu Seng tegas.

 

“Apakah kata-katamu itu bukan diucapkan karena keadaanmu yang sedang terdesak?”

tanya Tian Tai Tiau-siu kembali. Nada suaranya seakan tidak percaya. Dengan bibir

mencibir dia meneruskan ucapannya. “Seandainya Cian bin mo-ong benar-benar akan

datang malam ini untuk menanyakan perihal senjata rahasiamu, pasti dia mempunyai

alasan yang kuat. Jangan-jangan di balik hal ini ada sesuatu yang sengaja kau tutuptutupi!”

Terhadap kata-kata yang menyakitkan hati itu, Liu Seng benar-benar merasa di luar

dugaan. Wajahnya berubah hebat.

“Siaute harap kata-kata Kok heng jangan keterlaluan. Hek Hong Ciam memang senjata

rahasia andalan keluarga Lu. Selama ini hanya diwariskan kepada putera dan tidak pernah

kepada anak putri. Meskipun siaute mempunyai seorang putri, tapi ilmu ini belum pernah

diajarkan kepadanya!”

Wajah Kok Hua-hong dingin sekali. Dia terdiam sesaat. Seakan ada sesuatu yang

sedang direnungkannya. Perlahan-lahan kepalanya mendongak ke atas dan menatap

lentera-lentera yang tergantung di sana.

Pada waktu itu, para tamu dapat merasakan bahwa penampilan Kok Hua Hong ini

sangat lain dari biasanya. Sikapnya angkuh dan menyiratkan ketinggian hatinya. Kalau

dibandingkan dengan sikapnya dahulu, sungguh jauh berbeda. Tidak ada seorangpun

yang mengerti apa sebabnya orang ini dapat berubah demikian drastis!

Dengan demikian, dalam seketika Kok Hua-hong menjadi tokoh yang aneh dan menarik

perhatian. Pandangan setiap tamu yang hadir semuanya terpusat pada orang ini. Seakan

seluruh kesombongan, keanehan, kejanggalan yang ada di dunia ini sekarang tertumpu

pada diri orang tersebut.

Sinar mata Liu Seng juga tidak terlepas sedikit pun dari pada Kok Hua-hong. Tiba-tiba

tubuhnya menggigil. Dia merasa orang yang satu ini telah berubah menjadi orang lain

yang menyeramkan.

Apanya yang tidak sama? Justru dia tidak dapat mengatakannya. Hanya nalurinya yang

membisikkan sesuatu yang janggal pada diri orang itu. Tepat pada saat itu, Kok Hua-hong

mengeluarkan suatu benda dari balik pakaiannya dan kemudian meletakkannya di atas

meja. Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Kalau kau mengatakan Hek Hong Ciam hanya diturunkan kepada anak laki-laki dan

tidak kepada anak perempuan, di balik semua ini pasti ada apa-apanya. Tentunya sesuatu

yang mencurigakan. Kalau boleh aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Mengapa

benda ini dapat tertancap pada diri Tan Ciok-san sepuluh tahun yang lalu kalau kau

memang sudah mengundurkan diri dari dunia Kangouw selama belasan tahun? Hm… katakatamu

itu terlalu menganggap bodoh orang lain!”

Liu Seng mengedarkan matanya. Hatinya menjadi terkesiap. Benda yang tergeletak di

atas meja memang Hek Hong Ciam yang merupakan senjata rahasia andalan keluarganya.

Wajahnya berubah semakin kelam.

“Bagaimana Kok heng bisa mempunyai senjata ini?” tanyanya tanpa sadar..

Kok Hua Hong tertawa dingin. Wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

 

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa Hek Hong Ciam tersebut tertancap pada

tubuh Tan Ciok-san? Senjata rahasia ini memang diambil dari tubuhnya dan sudah

tersimpan selama sepuluh tahun.”

Liu Seng sampai termangu-mangu mendengar kata-katanya. Hal yang sama sekali di

luar dugaan justru terjadi pada saat ini. Pikirannya langsung bekerja. Sebuah ingatan

melintas di benaknya. Dia sama sekali tidak percaya bahwa sepuluh tahun yang lalu dia

pernah menggunakan Hek Hong Ciam dan sekarang dia sudah melupakannya. Dia toh

belum terlalu tua untuk disebut pikun. Wajahnya semakin kelam.

“Kau berbohong! Tidak di sangka Tian Tai Tiau-siu yang namanya sudah menggetarkan

dunia persilatan dapat mengucapkan fitnahan yang sengaja hendak mengacaukan

pertemuan ini!” bentaknya marah.

“Maksudmu cayhe hanya mengada-ada?” tanya Kok Hua-hong tenang.

“Walaupun tidak demikian, pasti kau mengandung maksud tertentu. Siaute sudah

mengasingkan diri selama belasan tahun. Meskipun ilmu silat masih tidak dilupakan begitu

saja dan terus berlatih tetapi sama sekali belum pernah menyentuh Hek Hong Ciam.

Bagaimana mungkin membunuh orang dengan senjata rahasia tersebut apabila

menyentuhnya saja tidak? Lagipula, walau pun Tan Ciok-san merupakan tokoh Kangouw

yang tidak tergolong sesat maupun lurus, tetapi dengan aku orang she Liu selamanya

tidak ada permusuhan apa-apa. Bagaimana mungkin bisa terjadi perkelahian diantara

kami?” sahut Liu Seng tegas.

Wajah Kok Hua-hong berubah hebat mendengar ucapannya. Dia langsung bangkit dari

tempat duduknya dan menuding kepada Liu Seng.

“Kalau benar begitu, bagaimana Hek Hong Ciam ini bisa terjatuh ke tanganku? Tolong

kau jelaskan bagaimana senjata rahasia ini bisa tertancap di tubuh Tan Ciok-san?”

Pertanyaannya itu laksana tudingan langsung. Liu Seng sampai tertegun dan tidak

sanggup mengatakan apa-apa. Kenyataannya, dia memang tidak habis pikir bagaimana

senjata rahasia andalan keluarganya bisa terjatuh ke pihak lawan. Senjata rahasia ini pula

yang membuat namanya terkenal di dunia Kangouw berpuluh tahun yang silam. Ilmu yang

satu ini sangat khas dan unik. Tidak sembarang orang dapat melontarkan senjata rahasia

semacam itu.

Ucapan Kok Hua-hong juga membuat para tamu yang lainnya menjadi curiga dan

bertanya-tanya. Kemudian, tampak Kok Hua-hong melangkah setindak demi setindak

mendekati Liu Seng. Wajahnya menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal.

Untuk sesaat, suasana yang mencekam seperti menunggu bom waktu yang akan

meledak setiap waktu. Para tamu yang lain mengerti bahwa Kok Hua-hong segera akan

turun tangan. Tetapi tidak seorangpun yang sanggup menghalangi. Karena urusan ini

termasuk masalah pribadi dan mungkin di dalamnya juga terkandung misteri yang belum

terungkapkan sehingga mereka merasa tidak enak hati untuk turut campur.

Dalam keadaan yang genting di mana hati para hadirin sedang tegang, terdengar

tarikan nafas Liu Seng yang berat.

 

“Siaute mengundang kehadiran para sahabat sekalian, sebetulnya ingin mendapat

dukungan untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Siapa sangka urusan Hek Hong Ciam ini

malah menimbulkan perasaan curiga kalian. Karena bukti nyatanya memang ada,

meskipun siaute terjun ke sungai Huang ho juga tidak dapat melepaskan diri dari masalah

ini. Tetapi, berdasarkan nama baik keluarga kami yang telah dipupuk selama ratusan

tahun. Siaute berani menjamin bahwa sepuluh tahun yang lalu siaute tidak merasa pernah

menggunakan Hek Hong Ciam ini untuk membunuh siapapun.”

Dalam keadaan terdesak, Liu Seng mengucapkan kata-kata yang asal- asalan saja.

tetapi justru menimbulkan manfaat yang besar. Ketika mengucapkan kata-kata yang

terakhir, pada wajahnya tersirat kepedihan yang tidak terkirakan.

Kok Hua-hong tertawa dingin.

“Di dunia ini terlalu banyak manusia licik yang pandai berpura-pura. Kata-kata yang

saudara ucapkan tadi mungkin dapat mengelabui anak kecil berusia tiga tahun, tetapi aku

sama sekali tidak mempercayainya!” sahutnya ketus.

“Jadi kau tetap ingin bergebrak denganku?”

Sekali lagi Kok Hua-hong mendengus dingin.

“Kalau tidak memaksa dengan kekerasan, mungkin Liu Lo Enghiong tidak bersedia mengatakan

yang sebenarnya!” terdengar suara angin berdesir, tahu-tahu dia melancarkan

sebuah serangan yang dahsyat.

Dapat dibayangkan bagaimana hebatnya serangan orang ini. Bahkan cawan-cawan teh

yang tergeletak di atas meja dan saat itu memisahkan mereka langsung jatuh berderai

karena hempasan angin yang kencang dan menimbulkan suara kerontangan yang bising.

Tenaga dalam orang ini rupanya juga tidak dapat dipandang enteng.

Hati Liu Seng terkesiap.

“Hebat sekali tenaga dalam orang ini!” serunya dalam hati.

Tangan kanannya langsung diangkat dan menyambut serangan Kok Hua- hong.

Hantaman ini dilancarkan dalam keadaan terdesak. Tiba-tiba terdengar suara Blamm!

Yang memekakkan telinga. Kedua rangkum tenaga yang dahsyat saling beradu. Tubuh

mereka terhuyung-huyung, tetapi kaki mereka tidak bergeser setengah langkah juga.

Kemudian terlihat dua bayangan berkelebat di mana kedua orang ini langsung

memisahkan diri ke samping, disusul berpuluh bayangan lainnya yang melintas ke sana

Rupanya ketika kedua orang itu bergebrak, para tamu yang lainnya khawatir akan

terhempas oleh angin yang timbul dari pukulan mereka. Oleh karena itu mereka segera

menggeser serabutan dan keadaan pun menjadi gempar seketika.

Sinar mata Liu Seng terus tertumpu pada diri lawannya. Dia tidak berkedip sama sekali.

Tampaknya Liu Seng juga tidak berani memandang ringan lawannya. Setelah beradu

pukulan satu kali, dia segera menyadari bahwa kekuatan lawannya tidak berada di sebelah

bawah dirinya sendiri. Kali ini dia benar-benar bertemu dengan musuh yang seimbang.

 

Di pihak satunya, Kok Hua-hong seperti mempunyai pikiran yang tersendiri. Sepasang

alisnya terjungkit ke atas. Dalam keadaan yang genting seperti itu, hidungnya mengendus

bau harum daging dan arak. Dalam waktu yang bersamaan, Liu Seng juga mendongakkan

kepalanya. Tampaknya dia juga sudah mempunyai perasaan yang sama. Sebab dia

langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Sementara itu, para tamu yang lainnya juga ikut tertegun. Mungkin mereka juga

sedang terheran-heran. Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak yang

berkumandang memenuhi seluruh ruangan tersebut. Suara itu demikian keras sehingga

menggetarkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.

Tampak sesosok bayangan berkelebat. Kibasan lengan baju berkibar- kibar. Di tengahtengah

Liu Seng dan Kok Hua-hong telah berdiri seseorang. Perubahan ini benar-benar di

luar dugaan semua orang. Ketika mata mereka menatap orang tersebut, tidak ada satu

pun yang tidak menunjukkan perasaan terkejut. Tanpa sadar Liu Seng dan Kok Hua-hong

juga sampai mundur dua langkah. Gerakan mereka otomatis terhenti.

****

Bagian 2

Ketika mata mereka beralih, keduanya melihat di hadapan mereka telah berdiri seorang

laki-laki yang sudah tua sekali. Rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya penuh

tambalan dan sikapnya sungguh menyebalkan. Tangan kanannya memegang sebuah paha

ayam yang hanya sisa tulangnya saja. Sedangkan tangan kirinya menggenggam sebuah

kendi arak. Mulutnya mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh.

Melihat kehadiran orang ini, hampir sebagian besar para hadirin mengeluarkan suara

seruan terkejut.

“Po Siu-cu Cian Cong (si lengan koyak Cian Cong)!”

Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Tetapi perubahan wajahnya bukan menunjukkan

ketakutan tetapi kegembiraan yang di luar dugaan. Tampang orang ini seperti pengemis,

raut wajahnya seperti monyet. Benar-benar membuat sebal siapapun yang

memandangnya. Tetapi sejak enam puluh tahun yang silam, namanya sudah

menggetarkan dunia Kangouw. Orang ini juga disebut sebagai salah satu dari tokoh

teraneh zaman itu.

Siapa sangka hari ini, enam puluh tahun kemudian, secara di luar dugaan dia bisa

memunculkan diri. Bagaimana hal ini tidak membuat para hadirin terkejut dan gembira?

Dengan tergesa-gesa Liu Seng maju ke depan dan menjura penuh hormat. Belum lagi dia

sempat membuka mulut, Cian Cong sudah mendengus berat, matanya langsung

mengerling ke arah lain.

“Pengemis tua paling benci segala peradatan, pergi sana!” katanya kesal.

Biar bagaimanapun, Liu Seng merupakan tokoh yang sudah berpengalaman. Dia

mengerti tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kongouw ini tidak menyukai

segala macam tata krama. Oleh karena itu dia hanya mengembangkan seulas senyuman

 

dan menepi ke samping. Namun sikapnya tetap terlihat penuh hormat kepada Cianpwe

Begitu matanya memandang, dia melihat paha ayam di tangan orangtua ini hanya

tinggal tulangnya saja, tetapi tokoh tersebut masih menggerogotinya dengan nikmat.

Sampai rasanya sudah tidak ada lagi, dia baru rela memasukkannya kembali ke dalam

saku pakaian.

Sepasang matanya yang menyorotkan kilatan cahaya segera beralih kepada para hadirin

kemudian berhenti pada diri Tian Tai Tiau-siu.

“Apakah kau yang bernama Kok Hua-hong dan bergelar Tian Tai Tiau- siu?” tanyanya

dengan nada berat.

Kata-kata ini diucapkan dengan perlahan namun mengandung kewibawaan yang tidak

terkirakan. Hati Kok Hua-hong langsung berdebar-debar. Perasaannya menjadi tidak

tenang. Tetapi dia berusaha menenangkan hatinya yang kacau.

“Aku memang Kok Hua-hong. Entah Locianpwe ada petunjuk apa?”

Sepasang alis Cian Cong tampak berkerut. Tampaknya dia mempunyai masalah yang

berat yang tidak dapat dipecahkannya. Sejenak kemudian terlihat dia menyunggingkan

seulas senyuman.

“Mengherankan! Pengemis tua sudah lama sekali berkecimpung di dunia persilatan. Hal

aneh apapun sudah pernah aku jumpai. Tetapi tidak ada yang lebih aneh dari kejadian

malam ini!”

Mendengar ucapannya, hati Kok Hua-hong semakin kalut. Wajahnya berubah hebat

seketika. Tanpa sadar kakinya mundur dua langkah. Melihat gayanya, rasanya dia sudah

menghimpun tenaga dalam dan siap melancarkan serangan.

Sinar mata Cian Cong kembali beredar kepada para hadirin. Dia mengeluarkan suara

tertawa yang terbahak-bahak. Kepalanya menoleh ke arah dinding pekarangan yang

“Hei, turunlah!” teriaknya dengan suara lantang.

Baru saja ucapannya selesai, dari atas dinding pekarangan melayang turun seseorang.

Gerakannya sangat cepat. Tubuhnya mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan suara

sedikitpun. Kepalanya ditutupi dengan sebuah topi pandan. Di pundaknya memanggul

sebatang kail yang panjang. Siapa lagi kalau bukan Tian Tai Tiau-siu Kok Hua-hong?

Begitu mata para hadirin memandang ke arah yang sama, tanpa sadar mereka mengeluarkan

suara terkejut dalam waktu yang bersamaan. Benar-benar mengherankan! Aneh

sekali! Kalau saja mereka tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu mereka

tidak akan percaya bahwa keanehan yang terlihat itu adalah kenyataan. Namun buktinya

sudah terpampang jelas di depan mata.

 

Dua orang Tian Tai Tiau-siu yang persis sama. Sekarang mereka berdiri berhadapan.

Biarpun mereka membelalakkan mata selebar-lebarnya, tetap saja sulit menemukan

perbedaan di antara mereka. Entah yang mana yang asli dan mana yang palsu!

Untuk sesaat terjadi kegemparan di antara para hadirin. Puluhan pasang mata menoleh

ke kiri dan ke kanan. Semakin dilihat hati mereka semakin bingung. Wajah mereka pun

menyorotkan sinar tertegun. Sahabat lama Tian Tai Tiau-siu sekalipun, tetap merasa heran

dan tidak dapat membedakannya.

Suasana tidak mencekam seperti tadi lagi namun hati para hadirin masih menyimpan

ketegangan yang dalam. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang dingin dari mulut Cian Cong.

“Siapa kau sebenarnya?” tokoh itu membentak dengan suara marah.

Yang ditudingnya tentu saja Tian Tai Tiau-siu yang tadi bergebrak dengan Liu Seng.

Tampak wajah orang itu beberapa kali berubah dalam waktu yang sekejap saja. “Aku

adalah aku, memangnya siapa lagi?”

sahutnya tenang. Di dalam nada suaranya tetap terkandung keangkuhan.

Tampaknya Cian Cong tidak menduga akan diberikan jawaban yang demikian. Dia

menjadi tertegun seketika. Tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahakbahak.

“Meskipun si pengemis tua ini paling membenci kejahatan, tetapi lebih benci lagi

terhadap orang-orang yang suka menyembunyikan diri seperti kura-kura. Saudara bukan

saja menyembunyikan kepala memperlihatkan ekor, malah sikapmu itu demikian sombong.

Benar-benar membuat mata tua ini tidak sanggup melihatnya lebih lama!”

Orang itu hanya mendengus sekali. Tampaknya dia sedang berpikir bagaimana menjawab

perkataan tokoh tua tersebut. Cian Cong segera membuang muka dan mencibirkan

“Kau tidak perlu memutar otakmu lagi. Lebih baik biarkan si pengemis tua ini yang

mengatakan identitas dirimu. Iblis nomor satu Cian bin mo-ong yang namanya

menggetarkan hati setiap sahabat dunia Kangouw, aku rasa tidak salah lagi pasti kau

adanya!”

Tampaknya orang itu terkejut sekali. Tanpa sadar kakinya sampai mundur satu langkah.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Cian Cong tertawa dingin.

“Kau sudah mengaku? Si pengemis tua ini mempunyai keahlian melihat raut wajah

orang. Urusan sekecil ini saja tidak mungkin dapat mengelabui mata tua ini!” dia

merandek sejenak. Hatinya seperti sedang diliputi kebimbangan. “Enam puluh tahun

sudah, bukan saja si pengemis tua tidak melanggar ketentuan dunia Bulim, si pengemis

tua ini juga pantang membunuh. Tetapi demi Cian bin mo-ong, terpaksa aku

berkecimpung lagi di dunia Kangouw dan membuka pantangan demi kesejahteraan orang

banyak…!”

 

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba tampak Cian bin mo-ong mengangkat lengan

bajunya untuk menutupi bagian wajah. Dengan perlahan-lahan dia membalikkan tubuh

dan memutar satu kali. Ketika tubuhnya balik pada posisi semula, tangannya pun

diturunkan. Para hadirin terkejut setengah mati.

Dalam sesaat, dia bukan lagi seorang tua yang berwajah welas asih. Raut wajahnya

sudah berubah menjadi seorang laki-laki setengah baya yang bermata sipit. Wajahnya

garang menyeramkan.

Dalam sekejap mata, dia sudah merias wajahnya dan berganti rupa menjadi orang lain.

Keahlian merias wajah dan kecepatan gerakan tangannya sungguh mengagumkan.

Semuanya terjadi dalam waktu beberapa detik saja.

Tanpa sadar Cian Cong memandang dengan terpesona. Mulutnya langsung mengeluarkan

suara pujian.

“Sungguh ilmu merias wajah yang hebat! Kalau bukan secara kebetulan si pengemis

tua menolong Kok Hua-hong yang jalan darahnya tertotok sehingga tidak sadarkan diri.

Tentu sampai sekarang si pengemis tua masih belum berhasil membongkar kedokmu itu!”

Cian bin mo-ong tertawa sumbang.

Ilmuku yang satu ini, apabila mudah dibuka kedoknya oleh orang lain, tentu aku tidak

akan mendapat julukan “Iblis Seribu Wajah.”

Wajah Cian Cong agak kelam mendengar ucapannya.

“Untuk ilmu yang satu ini, si pengemis tua sudah berterus terang menyatakan

kekagumaan. Tetapi entah bagaimana dengan ilmu silatmu?” tantangnya secara halus.

Sepasang alis Cian bin mo-ong langsung mengerut. Diam-diam dia berpikir di dalam

hatinya…

“Ilmu silatku ini merupakan hasil curian dari kuburan para angkatan tua Ti Ciang Pang.

Selama sepuluh tahun aku telah berlatih tanpa mengenal lelah. Meskipun sejak

berkecimpung di dunia Kangouw, masih belum menemukan tandingan, tetapi sampai di

mana sebetulnya ketinggian ilmu silat yang kumiliki, aku sendiri tidak tahu. Mengapa aku

tidak menggunakan kesempatan ini untuk menguji diriku sendiri? Orang di hadapanku ini

disebut sebagai salah satu dari dua tokoh teraneh di dunia ini. Baik ilmu silat maupun

tenaga dalam pasti sudah mencapai taraf yang hebat sekali. Seandainya aku bisa

mengalahkan orang ini, tentu harapan untuk membalas dendam ayah akan mudah

terlaksana.”

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung mengeluarkan seulas senyuman yang mantap.

“Boanpwe justru ingin mencoba meminta pelajaran dari Locianpwe. Tempat ini agak

sempit. Lebih baik kita mengadu kepandaian di luar pekarangan saja!”

Baru saja ucapannya selesai, tidak tahu bagaimana dia menggerakkan kakinya, tahutahu

tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan melayang turun di tengah

 

Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya pun menyusul melayang turun di

hadapan Cian bin mo-ong. Gerakan tubuhnya begitu cepat bagaikan kilat. Tidak ada

seorangpun yang melihat bagaimana dia menggerakkan tubuhnya. Hanya sekelebat

bayangan yang melintas di depan mata mereka.

Cian bin mo-ong tahu bahwa orang yang ada di hadapannya adalah salah satu dari dua

tokoh sakti yang telah menggetarkan dunia persilatan. Sinar matanya menatap lekat-lekat.

Dia sama sekali tidak berani memandang ringan lawannya ini. Secara diam-diam dia

menghimpun tenaga dalamnya yang kemudian disalurkan pada kedua belah tangan.

Mata Cian Cong sendiri juga mendelik lebar-lebar. Sinarnya yang tajam tertumpu pada

diri lawan. Dia malah tidak berkedip sama sekali. Sepenggal bulan dengan merayap

perlahan-lahan muncul dari balik awan kelabu. Sinarnya yang redup menyoroti dua sosok

tubuh yang berdiri berhadapan tanpa bergerak sedikitpun. Keduanya bagai dua patung

kayu yang baru saja dibuat oleh orang-orang yang berkumpul di sana.

Tampak kerumunan orang berbondong-bondong keluar dari dalam aula. Mereka

memencarkan diri di sekeliling pekarangan ini. Berpuluh pasang mata dalam waktu yang

bersamaan terpusat pada diri kedua orang yang berdiri berhadapan. Mereka seakan

merasa bahwa waktu berlalu dengan lama sekali dan mereka mulai penat menunggu.

Perlu diketahui bahwa si Lengan koyak Cian Cong merupakan tokoh yang sudah

menggetarkan dunia Kangouw sejak enam puluh tahun yang silam. Kebesaran namanya

maupun kehebatannya, tidak ada seorang ta-mu yang hadirpun dapat menandingi. Mereka

malah dapat dikatakan merupakan dua angkatan lebih muda dari padanya.

Sedangkan, Cian bin mo-ong belum lama muncul di kancah dunia persilatan. Kalau

dihitung-hitung mungkin belum ada setengah tahun. Tetapi tindakannya selama ini yang

tidak kenal ampun terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuhnya, sudah

diketahui oleh para hadirin.

Empat huruf Cian bin mo-ong saja sudah mewakili kericuhan yang terjadi di dunia Bulim

akhir-akhir ini. Kemunculannya bagai badai dahsyat yang melanda. Gelombang ke-kacauan

yang dibuatnya menimbulkan kekuatan yang mengerikan para tokoh dunia Kangouw

Sekarang kedua orang yang tidak tersangka-sangka berdiri berhadapan sebagai musuh.

Yang satu merupakan tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kangouw,

sedangkan yang satunya merupakan tunas baru tetapi sudah cukup menggemparkan. Saat

itu mereka berdua di hadapkan dengan duel antara hidup dan mati!

Siapa yang akan menang? Siapa yang akan kalah?

Hal ini justru merupakan pertanyaan yang jawabannya sedang dinantikan oleh para

hadirin. Juga merupakan masalah yang ingin segera diketahui oleh mereka semua.

Suasana semakin mencekam. Perasaan setiap orang tanpa terasa dilanda ketegangan.

Setelah terdiam beberapa saat, tampaknya Cian bin mo-ong tidak sabar. Mulutnya

mengeluarkan suara bentakan keras. Dengan gaya kedua tangan menahan di depan dada

dia melancarkan pukulannya.

 

Serangannya ini benar-benar dahsyat.

Walaupun gerakan Cian bin mo-ong sendiri tampaknya tidak terlalu gencar namun mengandung

segulung arus tenaga yang menimbulkan angin keras. Rasanya serangannya

kali ini lebih kuat satu tingkat dibandingkan dengan yang pertama ketika bergebrak

dengan Liu Seng tadi.

Cian Cong tertawa dingin. Kedua belah tangannya langsung direntangkan ke depan dan

menyambut datangnya serangan Cian bin mo-ong. Dua gulung tenagapun langsung saling

beradu. Yang satu mengandalkan kekerasan sedangkan yang lainnya menggunakan daya

yang lembut.

Cian bin mo-ong segera merasakan rangkuman tenaga dalamnya yang dahsyat seperti

tertelan oleh tenaga lembut pihak lawan. Tenaganya sendiri seakan buyar seketika.

Hatinya menjadi terkesiap.

“Entah ilmu apa yang digunakan pengemis tua ini. Mengapa tenaga dalamku seperti

buyar begitu menyentuh telapak tangannya dan tidak berwujud sama sekali?” tanyanya

dalam hati.

Meskipun pikirannya tergerak, tetapi dia tidak berhenti begitu saja. Cepat-cepat dia

melangkah mundur tiga tindak kemudian menghimpun tenaganya kembali dengan menarik

nafas dalam-dalam. Setelah itu dia melancarkan lagi sekaligus tiga buah pukulan. Ilmu

silat orang ini merupakan hasil curian dari kuburan para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang.

Kehebatannya benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan sembarang orang. Begitu

serangannya dilancarkan, tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan selalu bertambah

kuat dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Wajah Cian Cong semakin serius. Tampak tubuhnya berkelebat dan dia berhasil

menghindarkan diri dari dua pukulan Cian bin mo-ong. Kemudian mulutnya mengeluarkan

suara bentakan keras. Tangannya terangkat ke atas dan disambutnya serangan ketiga dari

lawannya. Pukulannya kali ini mengandung tenaga dalam yang telah dilatihnya selama

puluhan tahun. Dia memang sengaja mengadu dengan kekerasan. Maksudnya ingin

menguji sampai di mana kekuatan Cian bin mo-ong itu sebetulnya.

Kejadiannya hanya sekejap mata. Kecepatannya membuat mata para hadirin berkunang-

kunang. Begitu serangannya yang terakhir dilancarkan, Cian bin mo-ong segera

merasakan telapak tangannya seakan membentur lempengan baja. Getarannya membuat

pergelangan tangannya menjadi sakit. Serangkum tenaga tidak berwujud seperti menolak

dari pukulan Cian Gong. Hatinya terkejut sekali. Keringat menetes dari keningnya. Tibatiba

dia merasa hempasan angin yang terbit dari pukulan lawannya dengan perlahan

menyentuh bagian dadanya. Langkahnya menjadi goyah seketika. Tubuhnya terhuyunghuyung

tanpa dapat dikendalikan.

Begitu kedua telapak tangan saling membentur, mereka sama-sama menyadari tenaga

dalam siapa sebetulnya yang lebih tinggi. Terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Cian bin mo-ong yang menggetarkan dunia Bulim, toh tidak lebih dari sedemikian saja.

Coba sambut lagi tiga pukulan si pengemis tua ini!” bentaknya dengan suara keras.

Ucapannya selesai, tiga jurus langsung dilancarkan. Rupanya dari benturan tadi dia

sudah dapat memaklumi sampai di mana ketinggian ilmu silat orang tersebut. Tenaga

 

dalam yang dilancarkan oleh Cian bin mo-ong memang dahsyat tidak terkirakan. Tetapi

sebetulnya hanya merupakan tong kosong yang nyaring bunyinya. Begitu membentur

tenaga yang lebih kuat, maka tenaga dalam orang itu pun melemah bagai semangka yang

hampir membusuk, dapat dilihat tetapi tidak enak dimakan. Tampaknya kekuatan tenaga

dalam orang ini tidak dilatih sebagaimana mestinya sehingga kekuatannya tidak dapat

menambal kelembutan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Cian Cong tadi. Dia belum

mencapai tahap di mana kelembutan dan kekerasan dapat disatukan. Itulah sebabnya

Cian bin mo-ong tidak dapat mengendalikan keseimbangannya begitu terhantam pukulan

Cian Cong sehingga tubuhnya menjadi ter-huyung-huyung dan hampir terjatuh di atas

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang riuh timbul dari kerumunan para penonton.

Mereka merasa kagum sekali terhadap ilmu silat yang dikuasai oleh Cian Cong.

Tanpa sadar mereka mengeluarkan suara pujian dan rasanya ingin sekali meminta tokoh

tua tersebut untuk sekali hantam dengan keras di mana Cian bin mo-ong akan terbunuh

seketika. Tentunya hal ini akan membuat perasaan mereka gembira tidak terkirakan.

Pertarungan ini sungguh sulit ditemui untuk kedua kalinya. Mereka yang sedang berhadapan

merupakan orang-orang yang namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw

meskipun dalam penilaian yang berbeda. Mata mereka sampai berkunang-kunang menyaksikannya.

Sedangkan perasaan dalam hati tetap dilanda ketegangan, ketakutan

bahkan kekaguman. Tingginya ilmu silat Cian bin mo-ong benar-benar di luar dugaan

mereka. Apabila malam ini tidak ada tokoh tua seperti Cian Cong yang menampilkan diri,

entah apa akibat yang akan mereka hadapi.

Dalam sekejap mata, lima puluhan jurus telah berlalu. Boleh dikatakan hal ini cukup

mengherankan. Meskipun Cian bin mo-ong kehilangan tenaga dalam untuk menghadapi

lawannya, namun setiap kali dalam keadaan terdesak dia langsung menjalankan sebuah

jurus yang aneh. Hal ini membuat tokoh tua Cian Cong terpaksa menarik kembali

serangannya dan kehilangan kesempatan melukai musuhnya.

Memang aneh sekali. Gerakan yang dilakukan orang itu tidak sama dengan umumnya.

Begitu melihat datangnya serangan, dia tidak mengulurkan tangan untuk menahan

maupun memukul. Bahkan bagian tubuh yang seharusnya dilindungi dibiarkan terbuka.

Hanya pergelangan tangannya yang bergerak sedikit namun mengandung kekuatan yang

aneh. Sehingga setiap kali Cian bin mo-ong melancarkan jurus tersebut, mau tidak mau

Cian Cong berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Dia tidak berani

mencoba-coba meskipun kekuatan orang itu meragukan. Dengan demikian serangannya

pun terpaksa ditarik kembali.

Rupanya Cian bin mo-ong memang merupakan bocah cilik yang dikisahkan pada awal

cerita ini, Tan Ki. Setelah mendapat petunjuk dari orangtua yang pernah ditolongnya, dia

langsung menempuh bahaya menyelinap ke goa di mana para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang

Akhirnya dia memang berhasil masuk ke dalam goa tersebut bahkan sempat mencuri

belajar enam puluh empat jenis ilmu silat yang tersimpan di dalamya. Saat itu usianya

masih belia sekali. Melihat sebatang seruling kuno yang ada di sana, dia langsung

mengambilnya dan menyimpannya secara diam-diam, terhadap benda pusaka ataupun

harta benda lainnya dia tidak tertarik sama sekali. Selama puluhan tahun, dia melatih

semua ilmu itu satu per satu sampai berhasil. Hanya ada sebuah kitab pelajaran silat yang

membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Kitab itulah yang tidak berhasil dipelajarinya.

 

Namun berkat kecerdasan otaknya dia dapat menghapalkan isi kitab tersebut secara luar

Ti Ciang Pang sudah berdiri selama enam puiuh empat angkatan. Ciang Bunjin yang

sekarang, Lok Hong merupakan ketua angkatan keenam puluh empat. Dia masih hidup

dalam keadaan segar bugar dan otomatis tidak mungkin dibawa ke goa kuburan tersebut

untuk menanti kematian. Biasanya para tokoh di dunia Bulim selalu mengumpulkan semua

ilmu kepandaiannya di dalam satu jilid kitab. Jarang ada orang yang menuliskannya

sampai dua jilid.

Sekarang Ti Ciang Pang sudah berlangsung selama enam puluh empat generasi. Ketua

yang telah meninggal seluruhnya berjumlah enam puluh tiga orang. Tetapi terangterangan

Tan Ki mendapatkan enam puluh empat jilid kitab ilmu silat. Hal ini menandakan

bahwa di dalam goa kuburan itu sebenarnya telah kelebihan satu jilid kitab.

Kitab yang lebih itu, justru merupakan kitab ilmu pernafasan yang tidak dapat dipahami

oleh Tan Ki. Bukan anak muda itu saja yang tidak mengerti akan hal ini, bahkan Lok

Hong sebagai Ciang Bunjin generasi keenam puluh empat sendiri tidak mengetahuinya.

Kitab ini sebetulnya sangat tipis. Halamannya hanya berjumlah delapan belas lembar.

Delapan halaman yang di depannya merupakan ilmu pernafasan dari perut. Meskipun Tan

Ki mengerti membaca dan menulis. Tetapi karena tidak ada orang yang memberi petunjuk

kepadanya, maka dia tidak dapat memahami secara mendalam. Apalagi sepuluh lembar

belakangnya yang terdiri dari dua macam ilmu silat. Yang pertama bernama Tian Si Samsut

(Tiga jurus bentangan langit) dan yang kedua bernama Te Sa Jit-sut (Tujuh jurus

hamparan tanah).

Tampaknya kedua ilmu tersebut merupakan pelajaran silat tingkat tinggi. Meskipun

karena adanya gambar-gambar yang menerangkan cara menjalankan Tian Si Sam-sut,

maka dia bisa belajar sedikit-sedikit, tetapi terhadap Te Sa Jit-sut dia benar-benar buta

sama sekali. Hal ini bukan berarti dia tidak mencobanya. Selama sepuluh tahun entah

sudah beribu kali dia mencoba menguraikan ilmu tersebut, tetapi tampaknya dia tidak

mendapatkan hasil apa-apa.

Saat ini dia terdesak oleh pukulan yang dilancarkan oleh Cian Cong sampai kalang

kabut. Keadaannya sudah gawat sekali. Dia sadar apabila diteruskan, tentu dirinya akan

celaka. Berbagai macam ilmu yang pernah dipelajarinya tetap tidak berhasil melumpuhkan

serangan tokoh tua itu. sehingga tanpa sadar dalam keadaan terpaksa, tanpa perduli ada

manfaatnya atau tidak, secara serampangan dia menjalankan Tian Si Sam-sut tersebut.

Siapa sangka ketiga jurus bentangan langit itu justru merupakan ilmu perlindungan diri

tahap tertinggi. Walaupun asal tubruk, nyatanya hasilnya tepat sekali. Cian Cong

merasakan berpuluh jari tangan melintas di depan matanya. Dia sama sekali tidak

mendapat akal untuk memecahkan serangan tersebut. Dengan demikian dia terpaksa

menarik kembali pukulan yang dilancarkannya tadi. Biarpun dia berusaha menyerang

kembali, kejadiannya tetap menimbulkan hasil yang sama.

Meskipun ilmu yang dikerahkan oleh Tan Ki hanya terdiri dari tiga jurus, tetapi bolakbalik

dia tetap dapat menghindarkan diri dari serangan Cian Cong. Dengan demikian

ratusan jurus telah berlalu tanpa mereka sadari.

 

Bagi Cian Cong sendiri, semakin dilanjutkan hatinya semakin penasaran, semakin lama

dia semakin terkejut. Dengan nama besar yang telah dipupuknya selama ini dia telah

dijuluki salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia Kangouw saat ini, tetapi tetap tidak

sanggup mengalahkan Cian bin mo-ong. Kemungkinan besar, di dalam dunia Kangouw

saat ini, kecuali beberapa tokoh yang sudah mengasingkan diri, tidak ada orang lagi yang

sanggup menandinginya.

Meskipun dia tahu bahwa ilmu silat Cian bin mo-ong cukup tinggi tetapi belum terlatih

secara sempurna, namun dia tidak tahu kalau orang ini masih mempunyai dua macam

ilmu simpanan yang merupakan gabungan yang dahsyat. Seandainya Tan Ki berhasil

mempelajari kedua macam ilmu tersebut. Kemungkinan besar di dunia Kangouw tidak ada

orang lagi yang sanggup menandinginya.

Sayangnya Tan Ki sendiri tidak tahu bahwa ilmu Te Sa Jit-sut adalah sejenis ilmu yang

sangat hebat. Malah terhadap Tian Si Sam-sut, dia hanya mengerti kulit luarnya saja.

Sementara itu, pikiran si pengemis sakti Cian Cong segera tergerak, hawa pembunuhan

pun memenuhi hatinya. Dia langsung mengangkat lengan kanannya. Dari mulutnya

terdengar suara bentakan yang keras dan sebuah pukulan pun dihantamkan ke depan.

Orang ini sudah hampir enam puluh tahun mengasingkan diri di pegunungan yang

sunyi. Setiap hari dia berlatih ilmu silat dan mencoba menyingkap setiap rahasia ilmu yang

ada di dunia ini. Serangannya kali ini dilancarkan dengan tenaga yang telah dilatihnya

selama ini sehingga kehebatannya bisa dibayangkan.

Dalam waktu yang singkat segera terdengar jeritan mengerikan yang berkumandang

memekakkan telinga. Tubuh Tan Ki langsung terpental hingga jauh dan memuntahkan

darah segar sebanyak dua kali sebelum menghempas tanah.

Dia sudah kalah. Namun kekalahannya dialami dengan kegemilangan. Pengemis sakti

Cian Cong sudah lama menggetarkan dunia Kangouw. Sebagai seorang anak muda yang

baru berkecimpung di dunia persilatan, kekalahan yang dialami Tan Ki sama sekali tidak

Pada wajah setiap tamu yang hadir malam itu, terlihat sinar kegembiraan. Bibir mereka

menyunggingkan seulas senyum kepuasan. Tampaknya kematian Tan Ki membawa ketenangan

dan keriangan yang luar biasa pada diri mereka.

Hanya wajah Cian Cong yang bertambah kelam. Dia berdiri di tempatnya tanpa bergeming

sama sekali. Hatinya sangat menyayangkan. Seorang tunas muda berilmu tinggi

harus mengorbankan nyawa di bawah telapak tangannya. Entah berapa banyak ilmu yang

harus hilang karena kematian orang ini.

Sekelompok awan kelabu tiba-tiba melintas di atas kepala para hadirin. Keadaan di

pekarangan tersebut pun menjadi gelap seketika. Dalam hati para tamu menyelinap

serangkum firasat yang tidak enak. Jangan-jangan Cian bin mo-ong masih belum mati,

pikir mereka di dalam hati.

Mata mereka segera beralih. Entah sejak kapan, dengan susah payah Tan Ki sudah

merangkak bangun. Di sudut bibirnya masih terlihat bekas darah yang mengalir. Dia sama

sekali tidak bermaksud menghapusnya.

 

Malam yang gelap menimbulkan perasaan yang mencekam di dalam hati. Tampang Tan

Ki saat itu malah menambah keseraman suasana malam itu. Tanpa sadar para hadirin

melangkah mundur tiga tindak. Tubuh mereka menggigil dan bulu kuduk mereka

Biar bagaimana pun, nama Cian bin mo-ong masih juga membuat hati mereka tergetar,

meskipun pada saat itu dia sedang terluka parah. Dengan sebuah telunjuk saja sia-papun

dapat mendorongnya hingga terjatuh di atas tanah, tetapi kebesaran nama Cian bin moong

selama setengah tahun ini telah menanamkan semacam kengerian di dalam sanubari

mereka. Hal ini membuat mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa.

Tepat pada saat itu, Ciong San Suang-siu, Yi Siu dan si gemuk pendek Cu Mei tampak

melayang keluar dari kerumunan orang banyak. Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit

ke atas.

“Apa yang akan kalian lakukan?” tanyanya dengan nada dingin dan ketus.

Suaranya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sama sekali, tetapi nadanya

tetap dingin dan angkuh. Mendengar kata-katanya, Yi Siu langsung tertawa lebar.

“Hengte tidak tahu diri, ingin meminta pelajaran barang beberapa jurus dari saudara.”

“Aku… aku sedang terluka parah…”

“Masa? Kalau begitu malah kebetulan sekali. Hengte tidak perlu mengeluarkan tenaga

banyak untuk membunuhmu. Hal ini malah memudahkan pekerjaanku, lagipula sejak hari

ini dunia Bulim akan tenang kembali.” selesai berkata, tangan kanan Yi Siu langsung

terangkat ke atas. Tenaga dalam sudah disalurkan pada telapak tangan dan dia

bermaksud melancarkan pukulannya.

Tiba-tiba sepasang mata Tan Ki membelalak lebar-lebar. Sinar matanya menyorotkan

cahaya kilat yang tajam dan mendelik ke arah Yi Siu. Di dalam matanya seakan

terkandung kewibawaan yang besar dan kekuatan yang aneh. Hati Yi Siu tergetar

dibuatnya. Tanpa sadar kakinya mundur satu langkah.

Tampak bibir Tan Ki menyunggingkan seulas senyuman yang dingin.

“Membunuh seseorang yang tidak sanggup memberikan perlawanan, termasuk pendekar

macam apa kau ini?”

Dalam keadaan emosi, Yi Siu sama sekali tidak memikirkan persoalan ini. Sekarang dia

menjadi tertegun.

“Betul! Lohu selalu menganggap diri sendiri sebagai pendekar yang menjunjung tinggi

keadilan. Sekarang Cian bin mo-ong sedang terluka parah. Biarpun dia seorang manusia

yang dosanya tidak terampunkan, Lohu juga tidak boleh membunuhnya begitu saja. Hal ini

tentu akan menjadi bahan tertawaan para sahabat dunia Kangouw lainnya.” katanya

dalam hati.

Pikirannya masih bergerak, hatinya sudah mulai bimbang. Tepat pada saat itu terdengar

kembali suara Tan Ki…

 

“Seandainya saudara takut akan pembalasan dendam di hari nanti, lebih baik mencabut

rumput sampai ke akar-akarnya dari sekarang juga. Jangan sampai setiap malam

saudara di datangi mimpi buruk. Angin bertiup, rumputpun akan tumbuh kembali.”

Yi Siu merenung sesaat. Akhirnya dia tersenyum.

“Kau tidak perlu menggunakan tipu muslihat untuk memanas-manasi hatiku. Dilepaskan

atau tidaknya dirimu, ada Cian locianpwe yang akan menentukan. Juga ada Liu

heng sebagai tuan rumah yang lebih berhak memutuskan. Hal ini bukan hengte yang

dapat menentukan.” dengan perlahan-lahan dia menarik tangan Cu Mei dan mengajaknya

mengundurkan diri ke tempat semula.

Mendengar ucapannya, diam-diam Liu Seng mendengus di dalam hati.

‘Bagus benar, dengan beberapa patah kata saja kau mengelakkan diri dan menjatuhkan

tanggung jawab pada diriku.’ katanya membathin.

Setelah merenung sesaat, Liu Seng langsung menjura kepada Cian Cong.

“Bagaimana menyelesaikan masalah ini, boanpwe serahkan saja kepada locianpwe.”

Begitu matanya memandang, dia melihat Tan Ki sudah membalikkan tubuh dan meninggalkan

tempat itu dengan langkah terhuyung-huyung. Kakinya seperti berat sekali

sehingga jalannya pun sangat lambat.

Para tamu yang menatap kepergiannya merasa kesal tapi tidak berani mengucapkan

sepatah katapun. Mereka harus memandang muka Cian Cong dan lagipula masih tergetar

akan kebesaran nama Cian bin mo-ong. Nyatanya tidak ada seorangpun yang berani turun

tangan menghalangi kepergiannya.

Berpuluh pasang mata menatap kepergiannya. Sesosok bayangan punggung yang tegar

menjauh dengan perlahan-lahan. Diam-diam hati Cian Cong merasa kesepian yang tidak

dapat dijelaskan. Dia menarik nafas dalam-dalam.

“Biarkanlah dia pergi. Orang ini sudah terhantam pukulanku. Isi perutnya sudah terluka

parah. Meskipun dia dapat merawatnya sampai sembuh. Dalam jangka waktu tiga bulan,

belum tentu ilmu silatnya dapat pulih seperti sedia kala. Untuk sementara ini tidak perlu

khawatir dia akan berbuat sesuatu yang menggemparkan…”

Sepasang alis Liu Seng tampak berkerut.

“Bagaimana kalau sudah lewat tiga bulan?” tanyanya penasaran.

Cian Cong tertawa bebas.

“Si pengemis tua sudah mempunyai pikiran tersendiri untuk mengatasi masalah ini.

Untuk sementara kalian tidak perlu banyak bertanya.” selesai berkata, dia tidak menunggu

jawaban dari Liu Seng lagi, orang-tua itu langsung membalikkan tubuh dan keluar dari

pekarangan tersebut.

 

Liu Seng dan Ciong San Suang-siu saling lirik sekilas. Bibir mereka menyunggingkan

seulas senyuman pahit, tetapi langkah kaki mereka justru menuju ke dalam ruangan.

***

Di bawah cahaya rembulan yang redup, sesosok bayangan tampak bergerak perlahan.

Dia adalah Cian bin mo-ong, si anak muda Tan Ki!

Saat itu dia masih belum merubah wajahnya yang asli. Tampangnya masih jelek dan

menyeramkan. Sungguh membuat hati sia-papun yang melihatnya menjadi muak. Dalam

keadaan seperti itu dia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk merubah riasan

Meskipun dia memiliki kepandaian yang tinggi dalam ilmu merias wajah, tetapi dia tidak

bisa menutupi rasa sakit yang diderita akibat luka dalamnya yang parah. Di bawah sorotan

cahaya rembulan, tampak keringat dingin menetes terus dari keningnya.

Tan Ki merupakan seorang manusia berhati baja. Dengan menggertakkan gerahamnya

erat-erat, dia terus mempertahankan diri melangkah. Hatinya terus mengeluh.

“Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh tumbang begitu saja. Masih banyak urusan

yang harus aku selesaikan…! Kalau aku sampai terjatuh, maka selamanya aku tidak akan

sanggup bangun lagi…”

Dengan membawa tekad yang membara, persis seperti sewaktu dia mendaki puncak

gunung yang menuju goa kuburan Ti Ciang

Pang, dia terus melangkah tanpa memperdulikan rasa sakit yang semakin terasa. Kakinya

limbung, tubuhnya gontai dan terhuyung-huyung. Dia sendiri tidak tahu arah mana

yang ditempuhnya. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja…

Perlahan-lahan dia mulai merasakan sepasang matanya berkunang-kunang. Pandangannya

menjadi tidak jelas. Benda-benda pada jarak tiga cun saja sudah tidak terlihat

lagi olehnya. Apa yang tertangkap oleh bola matanya hanya bayangan-bayangan.

Dewa kematian seakan telah menggapaikan tangan memanggilnya dan mendekatinya

dengan perlahan-lahan. Dia merasa tidak ada kekuatan lagi. Meskipun niatnya tetap

bergejolak, namun tenaganya sudah terkuras habis. Dia benar-benar tidak sanggup lagi…

Kakinya masih diseret selangkah demi selangkah. Dia menggertakkan giginya erat-erat.

Dia masih berusaha meneruskan langkah kakinya. Dicobanya membusungkan dada,

tubuhnya malah mengayun-ayun. Akhirnya

dia terjatuh juga di atas tanah. Dia jatuh tidak sadarkan diri!

****

Entah berapa lama sudah berlalu. Perlahan-lahan dia mulai sadar. Indera penciumannya

segera mengendus serangkum keharuman yang menyegarkan. Matanya mulai

membuka, lambat-lambat dia membiasakan diri. Akhirnya dia melihat dirinya berada dalam

sebuah kamar yang mewah. Saat itu dia sedang terbaring di atas tempat tidur dan ditutupi

 

sehelai selimut yang tebal. Ruangan itu sendiri ditata dengan apik. Suasananya membuat

orang tidak ingin meninggalkan kamar tersebut.

Yang anehnya, di sebelah kiri meja ukiran terdapat pula sebuah meja rias. Tentunya

kamar ini milik seorang gadis. Tan Ki demikian terkejutnya melihat kenyataan ini.

‘Mengapa aku bisa berada di dalam kamar ini?’ tanyanya dalam hati.

Perlahan-lahan dia membangkitkan tubuhnya dan berusaha bangun. Namun serangkum

rasa nyeri yang tidak terkatakan langsung terasa olehnya. Seluruh tulang belulang dalam

tubuhnya bagai patah berserakan. Aliran darahnya terasa ngilu bagai dirayapi ribuan

semut. Tanpa tertahankan lagi, dia menjerit kesakitan.

Kejadiannya hanya sekejap mata. Namun keningnya langsung dibasahi keringat dingin

saking sakitnya. Nafasnya sampai tersengal-sengal. Tiba-tiba, telinganya menangkap nada

suara yang merdu…

“Kau sudah sadar?”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada lembut. Orang yang mendengarnya serasa terbuai

dan mendapat perhatian yang besar. Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan

wajahnya. Orang yang berdiri di hadapannya ternyata seorang gadis yang cantik jelita!

Dandanannya tidak menyolok, bentuk alisnya indah, matanya bersinar lembut, begitu

cantiknya sampai sulit diuraikan menjadi kata-kata. Penampilan gadis itu begitu polos

sehingga membuat dirinya semakin menawan.

Hati Tan Ki menjadi terlonjak. Wajahnya menjadi merah padam. Dia menganggap

dirinya sebagai seorang pendekar sejati. Tetapi dia justru begitu tidak sopan memandang

seorang gadis dengan terpana. Dia merasa malu dengan sikapnya sendiri sehingga cepatcepat

memalingkan wajahnya dan tidak berani memandang lagi.

Gadis itu mencibirkan bibirnya. Terdengar suara tawanya yang halus.

“Rupanya kau ini pemalu juga,” katanya.

Tan Ki merasa telinganya menjadi panas. Kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

“Di mana ini?” tanyanya lirih.

“Tentu saja rumahku. Siang tadi aku menemukan kau tergeletak pingsan di taman.

Cepat-cepat kupanggil pelayan untuk menggotongmu ke mari. Suhu pernah mengatakan

bahwa menolong orang adalah perbuatan yang baik…”

Tan Ki memaksakan seulas senyuman di bibirnya.

“Terima kasih atas bantuan kouwnio, kelak pasti akan kubalas.” baru berkata sampai di

situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Tanpa sadar bibirnya mengeluarkan

seruan, dia langsung mengangkat tangan dan meraba wajahnya.

Perbuatan yang tidak terduga-duga itu membuat sang gadis terkejut sekali.

 

“Apa yang tidak beres?” tanyanya gugup.

Tampak Tan Ki menghela nafas lega.

“Tidak apa-apa.”

Dia memang ahli sekali dalam ilmu merias wajah. Dia dapat merubah wajahnya hanya

dalam waktu beberapa detik saja. Tetapi obat itu hanya dapat dipergunakan dalam jangka

waktu dua belas kentungan. Selewatnya waktu itu, dia akan kembali pada wajah aslinya.

Sedangkan Tan Ki tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Barusan

ingatan itu terlintas di benaknya, untung saja daya kerja obat itu masih belum luntur.

Wajahnya saat itu masih jelek dan menyeramkan seperti sebelumnya.

Terdengar suara tawa yang merdu dari mulut gadis itu.

“Mengapa kau bisa terluka?” Sikap gadis ini sangat wajar. Suara tawanya bagai irama

lonceng yang merdu. Keseluruhan dirinya sangat mempesona. Hati Tan Ki jadi berdebardebar.

Semacam perasaan yang sulit dilukiskan menyelinap di sanubarinya. Cepat-cepat

dia menenangkan perasaannya.

“Cayhe terluka oleh pukulan si Lengan Koyak Cian Cong,” sahutnya lirih.

“Aduh… memangnya kau anggap siapa Cian Locianpwe itu, mengapa kau sampai

berkelahi dengannya? Setahuku, dia paling membenci kejahatan dan selalu membela kebenaran.

Kalau begitu, tentunya kau ini orang jahat…”

“Di bilang terlalu baik, tidak, tetapi juga tidak terlalu jahat.” sahut Tan Ki.

Mendengar kata-katanya, gadis itu langsung tertawa cekikikan.

“Cara bicaramu lucu juga,” begitu tertawa, tampaklah dua baris giginya yang putih bersih.

Bentuknya juga indah dan di bawah sorotan cahaya lampu minyak yang terdapat di

atas meja malah tampak berkilauan.

Rupanya hari sudah menjelang malam. Sinar mata Tan Ki bertemu dengan pandangan

gadis itu. Perasaan yang aneh tadi kembali merayap dalam hatinya. Perasaannya menjadi

bergejolak, pikirannya seperti melayang-layang sehingga dia sendiri tidak tahu pasti apa

yang sedang melintas di benaknya.

Justru ketika dia sedang termenung-menung itulah, terdengar kembali suara tawa gadis

itu yang merdu.

“Aku ada sedikit urusan dan ingin keluar sebentar. Apabila kau menginginkan sesuatu,

kau boleh berteriak saja. Oh ya, namaku Mei Ling…” tiba-tiba dari luar terdengar suara

langkah kaki yang membuat kata-katanya terputus.

Angin yang berhembus membawa serangkum keharuman yang lain. Tahu- tahu di

dalam kamar itu sudah bertambah seorang gadis yang juga sangat rupawan. Sepasang

alisnya lebat dan hitam. Pinggangnya kecil sekali seperti bisa putus apabila dia melenggok

terlalu kencang. Penampilannya lebih lincah dan matanya berbinar-binar. Dia memakai

 

gaun panjang dengan motif kembang-kembang. Tampak dandanannya seperti seorang

hamba pelayan.

Mei Ling tersenyum-senyum, jari telunjuknya menuding ke arah gadis tersebut namun

wajahnya menatap Tan Ki.

“Dia bernama Cen Kiau-hun. Kedudukannya memang disebut pelayan, tetapi hubu-ngan

kami sudah seperti saudara kandung. Sejak kecil kami dibesarkan bersama-sama.” katanya

Tampaknya pelayan bernama Kiau Hun itu tidak suka melihat tampang Tan Ki yang

jelek. Sepasang alisnya mengerut ke atas.

“Dia toh sudah sadar, mengapa tidak disuruh pergi saja?” gerutunya sebal.

“Aku sudah mencekokinya dengan tiga butir pil Siau Fan-tan. Meskipun orangnya sudah

sadar, tapi luka dalamnya belum sembuh sama sekali. Walaupun dia dapat berjalan,

tetapi lukanya parah sekali. Di mana dia dapat mencari tempat peristirahatan yang tenang.

Apalagi tidak ada orang yang merawatnya. Bukankah sama saja kau menyuruh dia

menunggu kematian?” sahut Mei Ling.

Kiau Hun terlihat panik sekali mendengar kata-katanya.

“Aduh, Siocia… membiarkan dia di tempat ini bukan jalan yang baik. Nanti kalau Suhu

datang…” dia seperti teringat akan sesuatu yang tidak boleh dibicarakan. Kata-katanya jaili

terhenti seketika.

“Benar… mengapa aku sampai melupakan hal ini? Seumur hidupnya, Suhu paling benci

orang laki-laki. Kalau sampai dia melihat orang ini, tentu urusannya bukan main-main lagi.

Jadi… kita harus bagaimana?” sahu Mei Ling gugup.

Kiau Ilun merenung sejenak. Tiba-tiba matanya bersinar terang.

“Aku ada akal, tapi… terpaksa membiarkan dia menderita beberapa saat.” baru saja

ucapannya selesai, dia maju dua langkah, dengan mendadak tangannya terulur dan

Gerakan tangan gadis ini sangat cepat. Tetapi kalau pada hari biasa, mungkin Tan Ki

masih bisa mengelakkannya, namun ke-adannya sekarang sedang terluka parah.

Tubuhnya tidak dapat digerakkan dengan leluasa.

Tiba-tiba dia merasa dua urat darah di bagian pinggangnya seperti kesemutan, belum

lagi sempat mulutnya mengeluarkan suara keluhan, orangnya sudah jatuh tidak sadarkan

diri. Kiau Hun telah menotok urat nadi bisu dan tidurnya. Dengan bekerja sama, mereka

berdua menggotong tubuh Tan Ki dan menyelusupkannya ke bawah tempat tidur. Setelah

itu alas tempat tidur tersebut dirapikan kembali sehingga tubuh Tan Ki tidak terlihat sama

Kiau Ilun langsung tertawa terkekeh-kekeh.

 

“Biar dia tidur dengan nyenyak. Lagipula dia juga tidak dapat bersuara. Meskipun

pendengaran Suhu sangat tajam, juga tidak mungkin mengetahui bahwa ada orang yang

disembunyikan di bawah kolong tempat tidur.”

Keduanya pun tersenyum dengan saling berpandangan.

***

Keesokan paginya, kedua gadis itu mengantarkan kepergian Suhunya sampai di depan

halaman. Setelah itu mereka masuk kembali ke dalam kamar dan menyeret Tan Ki keluar

dari kolong tempat tidur.

Begitu mata mereka memandang, keduanya langsung berseru terkejut. Bahkan mereka

sampai melangkah mundur beberapa tindak. Sesuatu yang aneh telah terjadi!

Yang dilihat oleh mereka bukan lagi laki-laki bertampang jelek dan menyeramkan tadi

malam, tetapi yang sekarang diseret keluar dari kolong tempat tidur justru seorang

pemuda yang tampan sekali. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dengan bibir

yang tampak indah dipandang.

Pakaiannya masih sama dengan laki-laki yang kemarin, tetapi kedua gadis itu hampir

tidak dapat percaya kalau dia merupakan orang yang sama. Untuk sesaat, keduanya tidak

dapat mengatakan apa-apa. Keduanya berdiri tertegun dengan mata saling pandang.

Sekian lama mereka terdiam.

Kejadian ini terlalu aneh. Mereka tidak tahu kalau Tan Ki menggunakan sejenis obat

untuk merias wajah. Setelah waktunya habis, wajahnya akan kembali seperti semula.

Lama… lama… sekali.

Akhirnya Mei Ling tertawa merdu.

“Orang ini benar-benar pintar membuat wajah setan untuk menakuti kita. Ayoh kita

angkat dia ke atas tempat tidur dan tanyakan masalah ini sampai jelas.” katanya.

Saat itu juga, rasa sebal dan benci di dalam Kiau Hun seperti sirna entah ke mana.

Malah ada semacam perasaan aneh yang menghinggapi hatinya, seperti jantungnya

berdegup dengan cepat dan perasaannya juga tersipu-sipu. Kalau anda adalah seorang

gadis, tentu anda tahu bagaimana perasaan Kiau Hun saat itu. Mungkin semacam gairah

yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Sejak kecil Kiau Hun dibesarkan bersama-sama Mei Ling. Hari demi hari, bulan demi

bulan, tahun demi tahun, yang mereka lakukan hanya membaca syair atau memetik harpa

di dalam kamar. Kadang-kadang mereka bermain di taman rumah itu, seperti berlari-larian

atau menangkap kupu-kupu. Mereka jarang bertemu dengan orang asing. Paling-paling

para pelayan laki-laki dalam gedung itu. Tetapi mereka semua adalah penduduk desa yang

tidak mampu dan kasar. Sedangkan Kiau Hun merasa dirinya cukup cantik dan

berpendidikan cukup, apalagi Mei Ling menganggapnya sebagai saudara sendiri, mana

mungkin dia memandang sebelah mata terhadap para laki-laki yang bekerja di dalam

gedung tersebut. Di tambah lagi Suhu mereka yang mempunyai adat aneh. Dia sangat

membenci kaum laki-laki. Sedangkan

 

Mei Ling lebih suka menyendiri setelah menginjak remaja. Gadis itu tekun sekali berlatih

ilmu silat. Dia bahkan jarang bertemu dengan ayahnya sendiri. Hal ini membuat Kiau

Hun merasa kesepian.

Taman belakang di mana Mei Ling tinggal tidak pernah diinjak orang lain. Ketika mereka

masih kecil, mereka sering main bersama-sama. Saat itu Kiau Hun masih belum

merasakan apa-apa. Namun setelah menginjak usia dewasa, hatinya semakin bergejolak.

Seakan ada sesuatu perasaan yang terpendam di dalam hatinya. Namun karena dia giat

berlatih ilmu silat, perasaan itu masih dapat ditekannya. Gejolak dalam hatinya menjadi

samar-samar saja.

Tetapi begitu melihat Tan Ki, seluruh hatinya langsung terpaut pada anak muda tersebut.

Perasaan dalam hatinya yang terpendam selama ini seakan meledak seketika.

Sebetulnya keadaan ini tidak berbeda dengan perasaan Tan Ki ketika pertama kali melihat

Mei Ling.

Hanya bedanya, kalau yang laki-laki hampir sepuluh tahun berdiam di pegunungan

yang sunyi dan berlatih ilmu silat tanpa mengenal waktu karena memendam dendam bagi

ayahnya. Sedangkan yang perempuan seperti dipingit sehingga merasa hatinya hampa

dan kesunyian. Namun diantara kedua laki-laki dan perempuan tersebut, masing-masing

mempunyai kekaguman dan niat yang berbeda.

Di antara mereka bertiga, hanya Mei Ling yang paling lugu dan polos. Dia sama sekali

tidak mengetahui kalau dalam waktu semalam saja di dalam hati kedua orang telah

tumbuh benih asmara yang tujuannya berbeda.

Pertama-tama melihat Tan Ki, Kiau Hun memang terkejut setengah mati. Tetapi setelah

rasa terkejutnya hilang, hatinya dipenuhi perasaan kagum dan terpesona akan

ketampanan wajah anak muda tersebut.

Akhirnya kedua orang itu tersentak dari lamunan dan menggotong Tan Ki ke atas

tempat tidur. Meskipun Mei Ling adalah seorang gadis yang polos serta lincah, namun

dalam masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, dia tetap berpegang teguh pada

adat yang kolot.

“Hun moay, kau bebaskan dirinya dari totokanmu.” katanya dengan tersipu-sipu.

Kiau Hun tersenyum manis. Tangannya terulur perlahan dan dia menepuk dua kali pada

tubuh Tan Ki. Terdengar suara keluhan dari mulut anak muda tersebut. Lambat laun dia

tersadar. Sinar matahari yang terang membuat matanya silau. Hampir saja dia tidak dapat

membuka sepasang matanya.

Setelah lewat beberapa saat, dia baru mulai dapat melihat lebih jelas. Tampak dua

orang gadis yang cantik jelita berdiri di hadapannya. Yang satu lembut dan tersipu-sipu.

Sedangkan yang satunya lagi supel dan sikapnya agak terbuka. Pemandangan ini

membuat perasaan Tan Ki seakan masih terbuai di alam mimpi. Dia berusaha

menenangkan hatinya.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ” dia memberanikan diri membuka mulut.

“Di mana ini?” pertanyaannya tetap sama dengan tadi malam. Tetapi adanya sinar

mentari membuatnya sadar bahwa satu hari telah berlalu.

 

Kiau Hun tertawa lebar.

“Lok Yang. Gedung keluarga Liu di Lok Yang.” sahutnya.

Mendengar kata-katanya, Tan Ki terkejut sekali. Badannya langsung bangkit tegak:

“Lok Yang? Apa hubunganmu dengan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng?” tanyanya cepat.

“Beliau adalah ayahku.” sahut Mei Ling.

Wajah Tan Ki berubah hebat mendengar keterangannya. Untuk sesaat dia menjadi

termangu-mangu bagai sebuah patung. Tampaknya dia seperti mendapat pukulan bathin

yang hebat. Mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar.

‘Dia adalah putri musuhku, bagaimana aku bisa membiarkan dia merawat luka dalamku

ini?’ pikirnya dalam hati.

Begitu pikirannya tergerak, entah mendapat tenaga dari mana, tiba-tiba dia melonjak

turun dari atas tempat tidur. Gerakannya yang tidak disangka-sangka itu benar-benar di

luar dugaan Mei Ling maupun Kiau Hun. Keduanya terkejut setengah mati.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Kata-kata yang mereka ucapkan sama. Namun maksud hati mereka berbeda. Kalau Mei

Ling digugah oleh perasaan kependekarannya sehingga mencemaskan keadaan Tan Ki,

Kiau Hun malah menganggapnya sebagai kekasih hati.

Tan Ki tertawa sumbang.

“Tidak usah perdulikan aku!” sahutnya ketus.

Mei Ling menjadi panik sekali.

“Luka dalammu belum sembuh. Apabila banyak bergerak, kemungkinan akan menjadi

parah kembali.” katanya gugup.

Dengan gaya kenes, Kiau Hun segera menghadang di depan Tan Ki.

“Harap Siangkong naik kembali ke atas tempat tidur. Meskipun kami kakak beradik

tidak mengerti ilmu pengobatan, tetapi kami pasti akan mencarikan obat yang mujarab

bagimu…”

Sikap Tan Ki sangat keras kepala. Apa yang ia yakin tidak boleh dilakukan, tidak ada

seorangpun yang dapat mengubah niatnya. Melihat Kiau Hun menghadang di depannya,

hawa amarah dalam hatinya meluap seketika.

“Minggir!” kakinya melangkah, dan menerjang ke depan.

Kiau Hun tahu, apabila dia turun tangan, pasti Tan Ki akan berhasil tercekal olehnya.

Namun dia takut hal ini malah akan menimbulkan kesalahpahaman dalam hati anak muda

tersebut. Lagipula, apabila dia sampai kesalahan tangan, luka Tan Ki akan lebih parah lagi.

 

Melihat Tan Ki menerjang ke arahnya, dia malah tidak berani sembarangan turun tangan,

hanya tubuhnya menggeser ke samping memberi jalan untuk anak muda itu. Dalam

sekejap mata saja tubuh Tan Ki sudah melesat keluar dari kamar tersebut.

Hati Kiau Hun panik sekali. Untuk sesaat dia tidak dapat menentukan apa yang harus

dilakukannya. Kelopak matanya membasah, tanpa terasa air matanya mengalir dengan

deras. Mei Ling hanya memandang punggung Tan Ki dengan termangu-mangu. Dia juga

tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Menghadapi

keadaan seperti ini, dia malah bertambah bingung. Dia juga mencemaskan keadaan Tan

Ki. Dia masih belum menyadari bahwa Kiau Hun sudah panik sampai mengeluarkan air

mata. Tampak bayangan tubuh Tan Ki terhuyung-huyung di ujung tangga. Hampir saja dia

terhempas jatuh di atas tanah.

Kedua gadis itu terkejut setengah mati, dalam waktu yang bersamaan keduanya

berserabutan menerjang keluar. Rupanya ketika Tam Ki menerjang keluar dari kamar

tersebut, dia hanya mengandalkan perasaannya yang dipenuh emosi. Juga karena hatinya

yang angkuh serta tidak sudi menerima pertolongan dari putri musuhnya. Tetapi karena

dia terhantam pukulan Cian Cong sehingga terluka parah, meskipun Mei Ling sudah

berusaha menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, tetapi lukanya masih belum

sembuh sama sekali. Karena sikapnya yang keras kepala, dia langsung menerjang keluar

dari kamar. Tiba-tiba tenaganya seperti membuyar. Kedua kakinya lemas dan tidak mau

diajak berkompromi. Setelah menge-luarkan suara jeritan, tubuhnya langsung terguling di

undakan tangga dan menggelinding sampai ke bawah.

Begitu terjatuh, kepalanya langsung terasa pusing tujuh keliling, matanya berkunangkunang.

Seluruh aliran darah dalam tubuhnya seakan bergejolak. Ketika Mei Ling dan Kiau

Hun sedang terkejut, dia sudah terguling jatuh ke lantai bawah. Terdengar suara seperti

orang muntah, tahu-tahu Tan Ki sudah menyemburkan segumpal darah segar. Biji

matanya bergerak-gerak. Dia jatuh tidak sadarkan diri lagi. Lukanya yang masih belum

sembuh menjadi parah kembali.

Perubahan mendadak ini, sejak semula memang sudah berada dalam dugaan kedua

gadis tersebut. Tetapi mereka tidak mengira terjadinya demikian cepat. Terdengarlah

suara seruan terkejut dari mulut mereka yang keluar dalam waktu bersamaan. Tanpa

bersepakat terlebih dahulu, keduanya langsung menghambur ke bawah.

Ilmu ginkang Mei Ling lebih tinggi. Dia yang sampai dahulu di sisi Tan Ki. Dia membungkukkan

tubuhnya dengan maksud membopong anak muda tersebut. Tiba-tiba sebuah

ingatan melintas di benaknya. Antara laki-laki dan perempuan ada batas tertentu yang

tidak boleh dilanggar. Dengan panik dia menyurutkan kembali tangannya yang sudah

terulur. Pada saat yang sama, wajahnya tampak merah padam. Dengan tersipu-sipu dia

menundukkan kepalanya dan tidak berani memandang ke arah Tan Ki.

Kiau Hun yang menyusul di belakang tidaklah demikian halnya. Dia langsung membopong

tubuh anak muda itu tanpa memperdulikan urusan lainnya. Perlahan-lahan dia

membawa anak muda itu kembali lagi ke atas loteng. Dia merasa pangkal lengan, tangan

dan dadanya menempel dengan tubuh anak muda itu. Ada semacam perasaan yang aneh

bergejolak dalam hatinya. Darahnya seakan berdesiran. Wajahnya menjadi merah

seketika. Perasaannya menjadi tidak tenang. Dia sendiri tidak mengerti apa yang

dirasakannya, namun perasaan itu sulit sekali dihilangkan.

***

 

Bagian 3

Di bagian atas telah diceritakan tentang Tan Ki yang menerjang keluar dari kamar

dalam keadaan emosi sehingga bergulingan di atas tanah dan jatuh tidak sadarkan diri

Dalam keadaan pingsan, tentu saja Tan Ki tidak dapat mengingat apapun. Entah

berapa lama dia tidak sadarkan diri, ketika matanya membuka, samar-samar dia melihat

sesosok bayangan yang duduk dihadapannya.

Dia adalah si gadis pelayan yang cantik, Kiau Hun. Keringatnya yang harum terus

menetes, nafasnya memburu, wajahnya merah padam. Di bawah sorotan lampu yang

remang-remang, wajahnya tampak jauh lebih cantik. Rupanya dia sedang menyalurkan

hawa murni ke dalam tubuh Tan Ki. Maksudnya tentu saja untuk membantu agar luka

dalam yang diderita pemuda itu dapat segera disembuhkan.

Mei Ling berdiri di sudut kamar. Sepasang tangannya meremas-remas sehelai sapu

tangan. Bibirnya digigit-gigit sendiri, tampaknya dia juga sangat mengkhawatirkan

keadaan Tan Ki.

Saat itu sudah menjelang malam, kegelapan mulai menyelimuti luar jendela. Lampu

minyak yang dipasang di atas meja bergerak-gerak, suasana yang sudah tegang menjadi

semakin menegangkan.

Lama sekali. Terdengar Kiau Hun menarik nafas panjang. Diangkatnya lengan baju

untuk menghapus keringat yang membasahi kening dan dahinya. Kemudian dia

menolehkan kepala dan berkata kepada Mei Ling…

“Siocia, mari, kau beri sedikit bantuan kepadanya.”

Mendengar ucapannya, Mei Ling menjadi serba salah. Untuk sesaat dia termangumangu.

“Ini… ini…”

Watak gadis ini masih seperti kekanak-kanakan. Tapi dia memegang teguh sekali

pendirian bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, kecuali mereka suami

isteri. Dia merasa tidak pantas menempelkan tangan pada tubuh seorang pemuda yang

tidak dikenalnya meskipun untuk membantunya menyembuhkan luka dalam. Oleh karena

itu dia hanya berdiri termenung tanpa berani melangkahkan kakinya mendekati.

Kiau Hun tidak sabar melihat sikapnya. Terpaksa dia mengerahkan tenaga membantu

Tan Ki menyembuhkan luka dalam seorang diri. Sebetulnya dia sudah merasa lelah sekali.

Tetapi dia terus menempelkan telapak tangannya ke dada Tan Ki untuk membuyarkan

darah yang membeku di tempat tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut Tan Ki. Seperti juga suara air yang

beriak-riak. Mei Ling seperti teringat sesuatu hal. Mulutnya mengeluarkan suara terkejut.

 

“Aduh… dia sudah sehari semalam tidak mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun.

Mungkin saking laparnya dia bisa jatuh pingsan!” teriaknya gugup.

Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun, dia segera berlari keluar dari kamar dengan

tergesa-gesa. Tidak berapa lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan sebuah

mangkok keramik di kedua tangannya.

Saat itu, luka Tan Ki sudah sembuh seba-giannya. Meskipun dia sekarang

menggunakan wajah aslinya, tetapi kedua gadis di hadapannya tidak tahu kalau dialah

yang di sebut Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan hati setiap orang Kangouw.

Mei Ling meletakkan mangkok keramik tersebut di atas meja. Bibirnya mengembangkan

seulas senyuman yang manis.

“Sudah sehari semalam kau tidak makan apa-apa. Aku sengaja membuatkan

semangkok sup biji teratai untukmu. Makanlah selagi masih hangat. Dengan demikian

tubuhmu akan kuat kembali.”

Tan Ki mendengus dingin.

“Aku tidak mau makan!” sahutnya ketus.

Nada suaranya begitu datar, seolah dia adalah seorang manusia yang tidak mempunyai

perasaan sama sekali. Mendengar nada suara dan kata-katanya, kedua gadis itu jadi

“Kenapa?” tanya mereka serentak.

Tampang anak muda itu juga begitu dingin. Dia mengalihkan mukanya ke arah lain dan

tidak memandang kedua gadis itu sedikitpun. Perasaan Kiau Hun lebih peka. Dia segera

dapat menduga apa yang tersirat di dalam hati Tan Ki.

“Siangkong, tampaknya kau mempunyai anggapan yang buruk terhadap keluarga Liur’

tanyanya cepat.

Tan Ki hanya tertawa dingin. Belum lagi dia mengucapkan apa-apa, sudah terdengar

seruan terkejut dari mulut Mei Ling.

“Betul. Kemungkinan besar ada ganjalan yang tidak menyenangkan antara dirinya

dengan ayahku.”

“Urusan kemarin…” sebetulnya Tan Ki ingin mengungkapkan identitas dirinya, tetapi

tiba-tiba dia teringat dirinya sedang terluka parah dan sekarangpun belum sembuh sama

sekali. Kalau sampai kedua gadis itu mengeroyoknya, dia pasti tidak dapat menahan sekali

saja pukulan mereka. Maka begitu pikirannya tergerak, ucapannya pun dihentikan

setengah jalan.

Kiau Hun malah merasa penasaran. Dia langsung mendesak anak muda itu.

“Ada apa dengan urusan kemarin?”

 

Tan Ki tidak tahu kedua gadis itu selalu dipingit di dalam rumah. Mereka tidak banyak

mengetahui urusan luar. Kehadiran Cian bin mo-ong yang menggemparkan tadi malam

pun, mereka tidak tahu sama sekali. Tetapi Tan Ki mengira mereka pura-pura bodoh. Oleh

karena itu, dia langsung tertawa dingin.

“Urusan kemarin boleh kau tanyakan saja pada orangtuamu.” selesai berkata, dia

langsung bangkit dari tempat tidur. Tetapi lukanya masih belum sembuh, di tambah lagi

perutnya sudah kosong sehari semalam, begitu kakinya mencapai tanah, dia langsung

merasa kepalanya pening. Anggota tubuhnya lemas sekali. Kakinya limbung, hampir saja

dia terjatuh kembali. Namun Tan Ki memang mempunyai sikap yang tinggi hati. Dia tidak

sudi menunjukkan kelemahannya di hadapan kedua gadis tersebut. Oleh karena itu, dia

menggertakkan giginya erat-erat. Dipaksakannya kakinya untuk terus melangkah. Dia

merasa bagian dadanya perih sekali. Kadang-kadang menghilang dan terkadang timbul

kembali. Tanpa sadar, sepasang alisnya mengerut menahan sakit. Keringat dingin menetes

dari keningnya.

Hati Kiau Hun panik sekali. Dia tidak memperdulikan tata krama lagi. Tangannya terulur

dan mencekal lengan Tan Ki.

“Kau tidak boleh pergi!” katanya gugup.

Pikiran Tan Ki sedang melayang-layang. Dia seakan tidak mendengar apa yang

dikatakan oleh Kiau Hun.

“Apa?”

Setelah berkata, Kiau Hun agak menyesal. Wajahnya merah padam. Siapa sangka Tan

Ki malah tidak mendengar dengan jelas sehingga menanyakan sekali lagi. Hal ini

membuatnya semakin malu. Hatinya berdebar-debar. Tanpa sadar dia melepaskan cekalan

tangannya pada lengan anak muda tersebut. Kepalanya tertunduk dan tidak sepatah

katapun terucap dari bibirnya.

Begitu cekalan Kiau Hun terlepas, Tan Ki langsung menerobos keluar dari kamar. Mei

Ling seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia memandangi bayangan punggung Tan Ki

dengan termangu-mangu. Tetapi dia tidak menghalanginya.

Kiau Hun semakin panik.

“Siocia, masa kau biarkan dia pergi begitu saja?” tanyanya bingung.

Mei Ling menarik nafas panjang.

“Kalau dia memang berniat meninggalkan tempat ini, biarkanlah dia pergi.” katanya

Kiau Hun tertegun. Segulung perasaan yang pedih menyelimuti hatinya. Kelopaknya

membasah. Air matanya hampir mengalir. Dia sadar dirinya tidak ingin berpisah dengan

anak muda tersebut. Tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Tampaknya seluruh cinta kasih gadis itu ikut terbawa oleh kepergian Tan Ki. Begitu dia

menolehkan kepalanya, dia melihat Mei Ling masih tetap termenung. Dia tidak tahu apa

 

yang dipikirkan oleh gadis itu. Tapi dia menduga tentunya sebuah urusan yang penting

dan janggal baginya.

Suasana di dalam kamar terasa pengap. Kepedihan seakan tidak mau ketinggalan

mengiringi. Kedua gadis itu tidak ada sa-tupun yang membuka mulut. Dengan mata

terbelalak mereka memandang ke arah pintu.

Dia sudah pergi… dia sudah pergi… hati keduanya seakan tidak berhenti mengeluhkan

kata-kata yang sama.

Tiba-tiba terdengar suara Blamm! Yang keras, disusul dengan sesosok tubuh yang

terhempas masuk. Kemudian tubuh itu bergulingan dua kali dan menggelinding lagi ke

bawah tangga.

Perubahan ini membuat keduanya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan, terdengar

seruan dari mulut mereka. Begitu mata memandang, rasa terperanjat semakin merayap di

hati mereka. Orang yang terhempas jatuh itu tidak lain dari pada Tan Ki yang baru

melangkah keluar tadi.

Tampak matanya mendelik lebar-lebar. Rahangnya digertakkan erat-erat. Mulutnya

membuka, segumpal darah segar langsung muncrat keluar. Sepanjang undakan tangga

terciprat semua. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan!

Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata. Kedua gadis itu masih merasa terkejut.

Belum lagi mereka mengerti apa yang telah terjadi, kembali sesosok bayangan berkelebat

dan satu orang lagi masuk ke dalam ruangan.

Rambutnya sudah memutih semua, panjang tergerai sampai ke bahu. Tubuhnya kurus

sekali. Dia mengenakan pakaian bermotif kembang-kembang berwarna hijau. Tangannya

membawa sebuah tongkat berbentuk aneh, wajahnya jelek sekali. Persis seperti burung

gagak yang dikatakan sebagai burung pembawa berita kematian.

Mei Ling dan Kiau Hun yang melihat munculnya nenek tersebut, terkejut setengah mati.

Keduanya langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.

“Suhu!” panggil mereka serentak.

Nenek tua itu mendengus satu kali. Dia tidak menyahut panggilan mereka. Tangannya

malah menunjuk ke arah Tan Ki.

“Nenek kira kau mempunyai kehebatan yang tidak terkirakan. Tidak tahunya

kebisaanmu hanya sedemikian saja.”

Tan Ki marah sekali mendengar ucapannya.

“Mau bunuh, silahkan! Tidak perlu banyak omong. Kalau kau terus memaksa, aku akan

memaki-maki dirimu!”

Nenek tua itu tertawa dingin.

“Bagus sekali, aku Ciu Cang Po (Nenek kurus bertongkat) ingin melihat sampai di mana

kerasnya tulang belulangmu!”

 

Tongkatnya yang aneh langsung diangkat ke atas. Terdengar suara hembusan angin

yang keras dan tongkatnya segera menyapu ke arah Tan Ki. Tenaga dalamnya sangat

hebat. Begitu melancarkan serangan, kecepatannya bagai kilat. Suara angin yang timbul

menderu-deru.

Mei Ling dan Kiau Hun melihat gurunya turun tangan dalam keadaan marah. Tanpa

sadar keduanya berseru terkejut. Mereka langsung berdiri. Tetapi gerakan tangan Ciu

Cang Po demikian cepat. Seadainya mereka berniat menolongpun pasti tidak keburu lagi.

Hati mereka tercekat. Tangan keduanya langsung terangkat ke atas dan tidak berani

melihat apa yang bakal terjadi. Mereka sadar serangan gurunya ini paling tidak

mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Biarpun tulang Tan Ki lebih keras lagi juga

tidak akan sanggup menahannya.

“Habislah… tamatlah riwayatnya kali ini…” kata mereka di dalam hati.

Dalam sekejap mata, suara angin yang timbul dari tongkat Ciu Cang Po memenuhi

seluruh ruangan tersebut. Dia melihat anak muda itu tetap memejamkan matanya dengan

tenang. Dia tidak berusaha mengelak atau menghindar. Hatinya penasaran sekali.

Pergelangan tangannya memutar, dengan panik dia menarik kembali serangannya.

Mei Ling dan Kiau Hun mengintip dari balik lengan baju. Melihat keadaan yang sudah

berubah, hati mereka menjadi agak lega. Keduanya menarik nafas dalam-dalam.

Kemudian sinar mata merekapun saling pandang.

Terdengar suara bentakan Ciu Cang Po yang memekakkan telinga.

“Mengapa kau tidak menghindar ataupun menyambut seranganku? Apakah kau benarbenar

tidak takut mati?”

“Kematian bagiku tidak ada yang perlu ditakuti.” sahut Tan Ki tenang.

“Benar?” tanya Ciu Cang Po kurang percaya.

“Kalau kau sanggup turun tangan terhadap seseorang yang tidak bisa melawan,

mengapa tidak coba-coba saja? Aku orang she

Tan mengaku diri sendiri sebagai laki-laki sejati. Apabila aku mengerutkan kening

sedikit saja, anggaplah aku sebagai binatang anjing yang paling menjijikkan.”

Watak Ciu Cang Po juga sangat sombong. Mendengar ucapan Tan Ki, hawa amarah

dalam dadanya meluap seketika.

“Bagus! Biar nenek tua lihat sampai di mana kekerasan hatimu!” bentaknya keras.

Terdengar lagi suara angin berhembus. Dengan sekuat tenaga Ciu Cang Po

menghantamkan tongkatnya. Kalau saja tongkat tersebut sampai mengenai tubuh Tan Ki,

anak muda itu pasti akan mati dengan kepala gepeng.

Dalam keadaan genting… tiba-tiba tubuh Kiau Hun melesat ke depan secepat kilat.

 

“Suhu, tunggu dulu!” teriaknya gugup.

Ciu Cang Po marah sekali. “Minggir!” bentaknya.

Telapak tangan kirinya menghantam. Tubuh Kiau Hun terdorong. Sedangkan tongkat di

tangan kananya terus meluncur mengancam kepala Tan Ki.

Jurang kematian semakin menganga lebar! Keadaan sudah sedemikian gawat! Untuk

sesaat, keadaan semakin menegangkan.

Kiau Hun yang terdorong oleh telapak tangan Ciu Cang Po merasa lengannya ngilu.

Tapi dia tidak mengalami luka sedikitpun. Matanya menatap suhunya yang sedang

menggerakkan tongkat untuk menghantam kepala Tan Ki. Hatinya terkesiap sekali. Dia

menggertakkan rahangnya erat-erat. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung menerjang

ke depan. Gerakannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat. Tepat pada saat itu juga,

hatinya telah mengambil sebuah keputusan.

Tampak gadis itu mengulurkan telapak tangannya dan menghantam pergelangan

tangan Ciu Cang Po. Serangannya ini mengandung seluruh kekuatan tenaga dalam yang

dimilikinya. Kehebatan maupun kecepatannya benar-benar mengagumkan.

Gerakannya yang tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan Ciu Cang Po. Bermimpi pun

dia tidak pernah kalau muridnya berani melakukan hal tersebut. Tiba-tiba dia merasa

pergelangan tangannya tergetar, tongkatnya pun melesat dari sasaran dan menghantam

tepat di atas tiang kayu di samping Tan Ki.

Praak! Terdengar suara gemuruh, pecahan kayu berhamburan. Tiang penyangga loteng

itu patah seketika. Beberapa orang langsung tertegun. Ciu Cang Po tidak pernah

membayangkan muridnya berani menentangnya secara terang-terangan. Bahkan

menghantam pergelangan tangannya. Meskipun tenaga dalamnya tinggi sekali, namun

pukulan yang tidak terduga-duga itu membuat tangannya menjadi sakit.

Bahkan Tan Ki juga ikut terpana. Dia tidak menyangka bahwa seorang gadis yang tidak

mengenalnya berani mengkhianati guru sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari

Perlu diketahui, bahwa di dunia Bulim ada sebuah peraturan yang amat keras, yakni

tidak boleh mengkhianati guru sendiri. Tidak perduli siapapun orangnya, hukumannya

tetap kematian. Dosa ini lebih berat dari pada membangkang terhadap orangtua sendiri.

Dalam keadaan panik, Kiau Hun langsung turun tangan menyelamatkan Tan Ki, namun

dirinya sudah melanggar dosa yang paling berat di mana dia harus menebusnya dengan

Yang lainnya menjadi tertegun akan perubahan yang mendadak ini. Sebaliknya sikap

Kiau Hun justru demikian tenang seakan tidak pernah terjadi apapun. Penampilannya yang

acuh tak acuh membuat rasa amarah Ciu Cang Po semakin meluap.

Apa yang kau lakukan?” bentaknya kesal.

Tampaknya Kiau Hun agak menyesal juga. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya

dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Begitu marahnya Ciu Cang Po sampaiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sampai rambutnya yang berwarna putih berjingkrakan ke atas. Mulutnya mengeluarkan

suara tertawa dingin.

“Bagus… muridku yang baik juga berani menentang aku sekarang.” katanya.

Hati Kiau Hun terasa pedih. Air matanya langsung mengalir dengan deras membasahi

pipi. Dalam keadaan terdesak, seseorang pasti akan membayangkan banyak persoalan.

Terlebih-lebih masa lalunya.

Saat itu juga, berbagai ingatan melintas di benak gadis itu. Sejak kecil, dia sudah yatim

piatu. Dia menjual dirinya kepada keluarga Liu sebagai seorang budak. Sejak kanak-kanak

dia sudah biasa mendengar omelan dan berbagai caci maki. Dia tidak mempunyai hak

untuk berbicara ataupun kebebasan sama sekali.

Setelah dewasa, Siocia menerimanya sebagai pendamping. Kehidupannya berubah lebih

layak. Mei Ling sangat baik kepadanya. Gadis itu juga menganggapnya seperti saudara

sendiri. Dari seorang budak yang bekerja serabutan, dia mengganti profesi menjadi

sahabat karib nonanya. Sebetulnya dia sudah harus merasa cukup puas. Hatinya menuntut

lebih. Dia masih terus merasa ti-dak ada sedikitpun kebebasan. Perasaan rendah diri

menyelimuti hatinya.

Entah pada tahun berapa, Ciu CangPo yang berwatak aneh dan keras menerima Mei

Ling sebagai murid. Dia mengatakan bahwa baik Mei Ling maupun Kiau Hun samasama

memiliki bakat yang tinggi untuk belajar silat.

Tetapi dia hanya menerima Mei Ling sebagai murid. Sedangkan dirinya tidak. Mengapa?

Mengapa harus pilih kasih?

Tentu saja. Dirinya hanyalah seorang pelayan yang berkedudukan rendah, sedangkan

Mei Ling adalah nona besar. Kedudukan mereka sudah jauh berbeda. Apalagi Mei Ling

merupakan putri tunggal Bu Ti Sin-kiam seorang pendekar yang namanya sudah terkenal

di mana-mana. Semuanya itu merupakan kelebihan sang nona. Dia sendiri, tidak ada yang

dapat dibanggakannya.

Setelah dia memohon terus menerus, akhirnya Ciu Cang Po bersedia juga menerimanya

sebagai murid yang tidak diangkat secara resmi. Hal ini justru membuat perasaan rendah

dirinya semakin mendalam. Tetapi selama ini dia memendamnya dalam hati. Dia tidak

menunjukkannya di hadapan siapapun.

Saat ini, hanya karena sepatah ucapan Ciu Cang Po yang membuatnya teringat akan

nasib dan riwayat hidupnya, untuk sesaat hatinya digelayuti keperihan yang tidak

terkirakan. Tanpa dapat di tahan lagi air matanya mengucur dengan deras.

Perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan kepalanya. Di pipinya masih terlihat bekas air

“Tecu belum mengenal orang ini secara mendalam. Tetapi hati Tecu tidak rela

melihatnya terluka ataupun mati di tangan Suhu. Hal ini disebabkan semacam perasaan

yang aneh. Tecu tidak dapat menerangkannya…”

 

Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po terkejut sekali. Hatinya tergetar. Diam-diam dia

berpikir: ‘Rupanya kau sudah jatuh cinta kepada orang ini, tapi dirimu sendiri masih tidak

menyadarinya? Tanpa sadar, dia mengangkat tangannya dan mengelus wajahnya sendiri.

Wajah yang sangat buruk dan menyebalkan…

Siapa yang sangka kalau tiga puluh tahun yang lalu, wajahnya itu tidak kalah cantiknya

dengan wajah Kiau Hun maupun Mei Ling sekarang? Siapa yang nyana kalau wajahnya

dulu pernah membuat puluhan laki-laki tergila-gila?

Memang benar, dahulunya dia adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyak sekali

tokoh-tokoh Bulim yang menaruh hati kepadanya. Kemudian, dia mencurahkan seluruh

cinta kasihnya kepada seorang pemuda. Tetapi pemuda itu mengkhianatinya.

Orang itu bukan saja merenggut kesucian dirinya, tetapi juga membuat wajahnya

menjadi rusak seperti sekarang ini. Dari seorang wanita yang cantik jelita, dia berubah

seperti seorang nenek sihir yang menyeramkan. Perasaan sakit dalam hatinya tidak

teruraikan oleh kata-kata!

Setiap kali teringat akan hal ini, ingin rasanya dia membunuh habis seluruh laki-laki

yang ada di dunia ini. Justru karena hal ini pula, ketika Tan Ki berjalan keluar sampai di

halaman dan tanpa sengaja membentur tubuhnya, dia menjadi kalap. Yang satu berwatak

keras dan tinggi hati. Yang seorang lagi menderita sakit di hati dan membenci kaum lakilaki.

Karena beberapa patah ucapan yang tidak menyenangkan, mereka langsung

Ciu Cang Po merenungi masa lalunya. Dia seakan tidak mendengarkan kata-kata

selanjutnya yang diucapkan oleh Kiau Hun. Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang

lembut…

“Hun moay, kau tidak boleh kurang ajar kepada Suhu. Cepatlah minta maaf kepada dia

orangtua.”

Kiau Hun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya masih terus mengalir.

“Tecu menolong orang ini sehingga tanpa sadar menyalahi Suhu. Biar bagaimanapun

Tecu menjelaskan, dosa ini sudah tidak terelakkan. Tecu bersedia menerima hukuman dari

Suhu.”

Wajah Ciu Cang Po dingin sekali. “Sejak hari ini, kau bukan muridku lagi. Pergilah!” Ciu

Cang Po mengangkat tongkat di tangannya dan mengarahkannya ke ubun-ubun Kiau Hun.

Tentu saja nenek itu bermaksud memusnahkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga. Serangkum tenaga yang

dahsyat menyusul setelah suara bentakan dan terhantam ke arah Ciu Cang Po. Perubahan

ini memang terjadi secara mendadak, tetapi Ciu Cang Po seakan telah menduganya.

Dengan marah dia membentak…

“Bocah busuk, kau benar-benar ingin mati?” tongkatnya segera bergeser dan disapukan

ke samping.

 

Kekuatan tenaganya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Tan Ki menarik

kembali jurus serangannya dan mundur beberapa langkah. Dia mengerti keadaannya

sekarang sangat lemah. Tenaga dalamnya hampir musnah. Mana mungkin dia berani

mengadu kekerasan dengan nenek tua itu?

Namun gerakannya tadi sudah menyelamatkan Kiau Hun dari kecacatan tubuh yang

akan dialaminya apabila ilmu silatnya dimusnahkan oleh Ciu Cang Po. Keadaan semakin

Mei Ling melihat keadaan semakin lama semakin kacau. Ingin rasanya dia mencegah,

tetapi tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih berdiri di sudut dengan mata

jelalatan dan hati cemas.

Begitu pandangannya beralih, dia melihat Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai

bergebrak. Dalam sesaat, suara sapuan tongkat dan hantaman telapak tangan terdengar

silih berganti.

Tenaga dalam Tan Ki masih terpaut jauh dengan Ciu Cang Po. Dengan tangan kosong

menghadapi tongkat nenek kurus, dia semakin terjepit keadaannya. Setelah belasan jurus,

dia mulai terdesak dan kondisinya mulai membahayakan.

Waktu merayap dengan perlahan-lahan. Hawa kematian semakin terasa. Secara

menyolok dapat terlihat jelas, bahwa yang akan kalah dalam pertarungan ini pasti Tan Ki.

Air mata Kiau Hun mengalir semakin deras. Dia berdiri mematung tanpa bergerak

sedikitpun. Pikirannya seperti melayang-layang. Kadang-kadang bibirnya tersenyum.

Kadang-kadang wajahnya kembali muram. Ada kalanya dia mengangguk seorang diri.

Tampaknya dia masih belum menyadari bahwa Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai

(Bersambung ke Jilid 3)

Jilid : 3

Dia sedang membayangkan kehidupannya di masa mendatang. Bencana?

Keberuntungan? Kesedihan yang menggerogoti seumur hidup? Atau kebahagian yang

abadi? Dia tidak tahu. Dia juga tidak dapat menduganya, tetapi dia rela

membayangkannya dengan khayalannya sendiri.

Hanya Mei Ling yang berdiri sambil meremas-remas jari tangannya. Matanya terpaku

memandangi perkelahian di antara kedua orang tersebut. Dia khawatir gurunya akan

dikalahkan, namun dia juga tidak ingin melihat pemuda itu terluka.

Tidak ada perasaan yang istimewa dalam hatinya. Dia hanya merasa siapapun yang

terluka atau berdarah, tetap bukan hal yang menyenangkan.

Tiba-tiba terdengar Ciu Cang Po mengeluarkan suara tertawa dingin. Tongkatnya

langsung dihantamkan ke depan. Kekuatannya, sapuannya, mengandung kekejian yang

dahsyat. Dia melihat Tan Ki tidak mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri lagi.

Dalam sekejap mata anak muda itu pasti akan terluka parah. Hatinya terkejut sekali.

Tanpa sadar Tan Ki mengeluarkan seruan terkejut… “Aduh…!”

 

Suara teriakannya membuat Kiau Hun tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat dia

menolehkan kepalanya memandang. Kejadiannya terlalu cepat!

Terdengar suara jeritan dari mulut Tan Ki. Lengan kirinya memutar di udara dan tibatiba

telapak tangannya menghantam. Jurus Tian Ping Tiang Ciang (Prajurit dan Jenderal

Langit) yang dikerahkan sangat aneh. Telapak tangannya meluncur dengan gerakan yang

berubah-ubah. Kadang-kadang seperti menepuk, kadang-kadang seperti mencengkram.

Ciu Cang Po merasa jurus yang dilancarkannya berbeda dengan orang lain. Seumur

hidup dia belum pernah melihat jurus seaneh ini. Bayangan tangannya berubah menjadi

puluhan. Dia sendiri tidak mengerti bagian tubuh sebelah mana yang diincar oleh anak

muda itu. Hatinya menjadi tercekat. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya.

Dia tidak tahu bahwa ilmu yang digunakan oleh Tan Ki adalah salah satu jurus dari Tian

Si Sam-sut. Dia hanya merasa kekuatan serangan ini kuat bukan main dan benar-benar di

luar dugaannya. Kenyataan ini membuatnya kebingungan bagaimana harus mengelakkan

diri ataupun menangkis.

‘Ternyata anak muda ini mempunyai beberapa macam kepandaian yang dapat

diandalkan,’ pikirnya dalam hati.

Begitu pikirannya tergerak, perasaan memandang ringan lawannya tersapu bersih

dalam hati. Dia memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh dan menyerang dengan

tongkatnya kembali.

Serangannya ini lebih hebat dari yang pertama. Dia telah melipatgandakan tenaga

dalamnya. Dalam sekejap mata saja Tan Ki sudah terdesak sampai mengucurkan keringat

dingin. Dia hampir kehabisan tenaga untuk membalas serangan. Dalam keadaan yang

genting, kembali dia melancarkan jurus Tian Si Sam-sut yang lain yakni Tian Lo-te Bang

(Jerat Langit dan Bumi). Jurus ini tidak kalah aneh dengan yang sebelumnya. Lagi-lagi Ciu

Cang Po menjadi kelabakan dan terpaksa menarik kembali serangannya.

Beberapa jurus berlalu lagi. Semakin lama hati Ciu Cang Po semakin cemas.

“Kalau begini terus, sampai kapan aku bisa mengalahkannya? Jangan kata

membunuhnya, untuk menyentuh ujung lengan bajunya saja tidak ada peluang sama

sekali.” katanya dalam hati.

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Dia seperti sudah menemukan akal

yang baik. Di wajahnya tersirat hawa pembunuhan yang tebal. Cepat-cepat dia himpun

tenaga dalamnya dan menanti kesempatan yang baik. Ketika telapak tangan Tan Ki

meluncur ke arahnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke bagian punggung anak muda itu.

Sambil meraung terdengar raungan yang keras dan sebuah dengusan berat dalam waktu

yang hampir bersamaan.

Tampak Tan Ki memuntahkan darah segar dua kali berturut-turut kemudian tubuhnya

terhempas di atas tanah. Rupanya ketika Ciu Cang Po bergerak dengan cepat, hatinya

sudah curiga. Dia segera memutar tubuhnya dan menghantamkan telapak tangannya.

Dengan meraung keras, Ciu Cang Po menggerakkan tangannya dan telapak tangannya

menghantam dengan kekuatan penuh yang telah dihimpun sebelumnya. Tenaga dalam

kedua orang itu memang terpaut terlalu jauh. Dengan cara mengadu pukulan

 

mengandalkan keras lawan keras, otomatis Tan Ki yang mendapat kerugian besar. Itulah

sebabnya dia langsung memuntahkan darah segar sebanyak dua kali.

Baik Kiau Hun maupun Mei Ling terkejut setengah mati. Keduanya langsung menjerit

kaget. Kiau Hun terlebih-lebih tidak dapat menahan perasaan hatinya. Air matanya yang

sudah mengering mulai mengalir lagi.

Dikiranya Tan Ki sudah mati. Tanpa berpikir panjang lagi, dia berlari menghambur ke

samping anak muda itu dan memeluknya sambil menangis meraung-raung. Suara

tangisannya lebih mirip ratapan kepiluan hatinya.

Mei Ling tidak tahu bahwa cinta kasih Kiau Hun sudah tercurah pada anak muda

tersebut. Senjata atau golok yang setajam apapun tidak akan bisa memutuskan benang

kasih yang ada dalam hatinya. Dia malah mengira Kiau Hun merasa berhutang budi karena

anak muda itu tadi telah menolongnya.

Ciu Cang Po berdiri tanpa bergeming sedi-kitpun. Wajahnya kelam dan tidak enak di

lihat. Tiga puluh tahun yang lalu, dia juga pernah menangis meratap sedemikian rupa. Dia

tidak menyangka kalau tiga puluh tahun kemudian, dia akan menyaksikan pemandangan

yang serupa di depan matanya.

Malam semakin larut. Di luar jendela yang terlihat hanya kegelapan. Seakan sedang

meratapi nasib manusia yang demikian tragis dan menyayat hati. Tanpa sadar Ciu Cang Po

menarik nafas panjang.

‘Nasib yang dialami Hun Ji hampir sama dengan apa yang kualami tiga puluh tahun

yang lalu. Dia sudah cukup menderita. Mana boleh aku menepuk ubun-ubunnya untuk

memusnahkan ilmu silatnya. Bukankah hal ini berarti menambah penderitaan yang telah ia

rasakan sekarang?’ pikirnya dalam hati.

Sembari berpikir, matanya melirik ke arah gadis itu. Kiau Hun sudah menghentikan

ratapannya. Wajahnya yang cantik saat itu seperti tidak memiliki perasaan apa-apa. Dia

sudah memastikan apa yang akan dilakukannya dan tidak ada seorangpun yang bisa

Kemudian, tampak gadis itu mengulurkan tangannya dan membopong tubuh Tan Ki.

Perlahan-lahan dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya terasa demikian

berat. Lentera yang tergantung bergoyang-goyang. Seperti sedang menggelengkan kepala

melihat cinta kasih kedua pemuda-pemudi itu yang demikian mengenaskan…

****

Bagian 4

“Mau ke mana kau?” bentak Ciu Cang Po.

Kiau Hun yang baru sampai di depan pintu segera menghentikan langkah kakinya.

“Tecu akan mencari tabib yang sakti untuk mengobatinya…” kata-katanya berhenti.

Sinar matanya beralih sekilas ke arah Mei Ling. “Di dalam rumah Siocia, Tecu masih

merupakan murid engkau orangtua. Tetapi setelah melangkah keluar dari pintu ini, kita

 

tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi… terhadap perhatian dan kasih sayang yang

telah Suhu curahkan, Tecu tidak akan melu-pakannya seumur hidup.”

Perlahan-lahan dia membalikkan badan dan melangkah pergi.

Kata-katanya itu diucapkan dengan nada yang datar, dia seolah sudah tidak perduli lagi

terhadap mati hidupnya sendiri. Meskipun Ciu Cang Po sudah cukup berpengalaman di

dunia Kangouw, tetapi menghadapi urusan seperti ini, dia juga tidak tahu bagaimana

harus menyelesaikannya.

Mei Ling segera maju beberapa langkah.

“Hun Moay, tunggu dulu!” panggilnya.

Kiau Hun memalingkan kepalanya. Bibirnya mengulum seulas tertawa yang sumbang.

“Suhu sudah tidak menginginkan aku, untuk apa lagi Siocia memanggilku?”

“Tidak, tidak. Suhu hanya sedang emosi karena perbuatanmu. Maka dia mengucapkan

kata-kata yang menyakitkan hatimu. Nanti kalau hawa amarahnya sudah padam, pasti dia

masih menganggap kau sebagai muridnya.” kata Mei Ling gugup.

“Maksud baik Siocia, budak hanya dapat mengenangnya dalam hati. Tapi watak Suhu

bukannya kau tidak tahu. Apa yang sudah diucapkannya, selamanya tidak pernah di tarik

kembali…”

Mei Ling menarik nafas panjang.

“Sebetulnya, kau tidak perlu memukul Suhu hanya untuk menolong orang itu.”

Kembali Kiau Hun tertawa sumbang.

“Demi dirinya, aku rela berkorban apa saja.”

Mei Ling jadi tertegun mendengar ucapannya. Dia merasa heran sekali.

“Kenapa? Kau toh tidak ada hubungan apa-apa dengannya?” nada suaranya seakan

tidak mempercayai kata-kata Kiau Hun.

Kiau Hun tertawa getir. Dia tidak mengatakan apa-apa. Perlahan-lahan dia

membalikkan tubuhnya dan meneruskan langkah kakinya. Tiba-tiba terlihat sesosok

bayangan berkelebat dan Ciu Cang Po sudah menghadang di depan pintu.

“Letakkan anak muda itu!” katanya tegas.

“Suhu, dia sudah terluka sedemikian parah. Apakah kau benar-benar menginginkan

kematiannya baru merasa puas?”

“Aku bilang letakkan!” bentak Ciu Cang Po.

 

Watak orang ini keras sekali. Kata-kata yang telah diucapkannya tidak pernah bisa

dirubah oleh siapapun. Mei Ling mengerti sekali sifat gurunya. Tampak dia menarik nafas

“Hun Moay, letakkan orang itu.”

Kiau Hun merasa bimbang sejenak. Tadinya dia sudah hampir meletakkan tubuh Tan Ki

di atas tanah, tapi tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat.

“Tidak!” sahutnya tegas.

“Bagus sekali, kau juga berani membantah apa yang akan kulakukan!” kata Ciu Cang

Po. Di wajahnya mulai tersirat hawa pembunuhan.

Kiau Hun seakan sudah dapat menduga bahwa sebentar lagi pasti akan terjadi sesuatu

yang mengerikan, namun penampilannya demikian datar dan tenang. Tidak tampak

sedikitpun ketakutan menjelang kematian.

Begitu paniknya Mei Ling sampai-sampai dia terus menggigit bibirnya sendiri. Hatinya

terkejut sekali tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tendengar suara dengusan dingin dari hidung si nenek kurus. Tongkat di tangannya

langsung dikibaskan ke kepala Kiau Hun. Hati Mei Ling tercekat melihat keadaan itu.

Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut.

Kiau Hun sama sekali tidak menghindar. Dia hanya memejamkan sepasang matanya

rapat-rapat dan menunggu datangnya dewa kematian. Sebetulnya hati gadis ini sadar

sekali, biarpun dia berusaha menghindar, tetapi tetap saja dia bukan tandingan Suhunya.

Dari pada dia melanggar dosa melawan guru, lebih baik dia menghadapi kematian dengan

perasaan tenang.

Tampak tongkat Ciu Cang Po dengan gerakan yang cepat serta keji menyapu datang.

Tiba-tiba…

Terdengar suara tertawa yang panjang berkumandang memenuhi seluruh ruangan.

Sesosok bayangan berkelebat di depan mata dan melewati bahunya. Kumandang suara itu

datangnya begitu mendadak. Gerakan tubuh orang itu tidak terduga-duga. kembali

terdengar suara benturan yang tidak seberapa keras, dan tahu-tahu Ciu Cang Po bersuit

marah sambil mundur tiga langkah. Hatinya tergerak, dia tahu di tempat itu telah

kedatangan seorang tokoh berilmu tinggi.

Pandangan matanya beralih, di hadapannya telah berdiri seseorang, rambutnya riapriapan.

Sebelah lengan bajunya koyak sebagian. Dia adalah seorang pengemis, pakaiannya

penuh tambalan. Tetapi karena dia berdiri membelakangi Ciu Cang Po, nenek kurus itu

tidak dapat melihat bagaimana tampang orang itu.

Ciu Cang Po memperhatikan orang itu lekat-lekat. Hatinya terkejut sekali. Serangan

yang dilancarkannya tadi paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Tetapi

dengan mudah orang ini dapat menahan serangannya sehingga buyar begitu saja.

Pengalamannya mengatakan bahwa orang ini bukan tokoh sembarangan dan bukan lawan

yang dapat dipandang ringan.

 

“Siapa kau?” bentaknya dengan suara keras.

“Pengemis tua! Orang-orang biasa memanggilku si lengan koyak. Lengan bajuku yang

koyak inilah yang menjadi lambang diriku.”

Timbul sedikit perasaan tegang dalam hati Ciu Cang Po.

“Rupanya salah satu dari dua tokoh sakti di dunia. Nenek tua benar-benar beruntung

dapat berjumpa denganmu di tempat ini!”

Cian Cong mengibas-ngibaskan tangannya.

“Sudahlah, sudahlah. Tidak usah berbasa basi…” dia memperhatikan sejenak tongkat

aneh di tangan si nenek kurus. “Apakah kau yang dipanggil Ciu Cang Po?”

“Tidak salah!”

“Sebetulnya apa kesalahan kedua bocah cilik ini sehingga kau ingin membunuh

mereka? Si pengemis tua sudah hidup sampai setua ini. Kecuali makan dan minum,

apapun tidak ada yang bisa kukerjakan. Tadi aku mendengar suara ribut-ribut, aku masih

mengira pasangan pengantin baru sedang bertengkar maka sengaja aku menyelinap ke

tempat ini untuk menyaksikan keramaian. Tidak tahunya seekor kucing tua sedang

menghina dua ekor tikus kecil. Malah tampaknya bangga sekali. Si pengemis tua paling

tidak biasa melihat pemandangan seperti ini. Oleh karena itu, aku terpaksa untuk

menanyakan persoalannya sampai jelas.” kata Cian Cong panjang lebar.

Ciu Cang Po tertawa dingin.

“Ini merupakan urusan pribadi keluarga kami, kau tidak perlu turut campur!” sahutnya

“Biar bagaimanapun si pengemis tua tetap ingin mencampuri urusan ini. Tidak bisa

tidak, harus ikut campur!” teriak Cian Cong.

Tampaknya dia seperti mengerti sekali kebiasaan Ciu Cang Po yang aneh dan angkuh.

Sengaja dia mengeluarkan kata-kata yang membuat amarahnya meluap. Benar saja! Ciu

Cang Po sampai menjingkrakkan kakinya berkali-kali saking jengkelnya.

“Bagaimana kalau aku tidak mengijinkannya?”

“Kalau perlu, kita tentukan lewat perkelahian.” sahut Cian Cong.

Watak orangtua yang satu ini agak angin-anginan. Urusan main tinju atau pukul

baginya merupakan pekerjaan yang ringan. Atau mungkin semacam rekreasi yang

menyenangkan. Selesai berkata, wajahnya masih tetap tersenyum simpul seperti orang

yang tidak serius menantang lawannya. Tidak tampak sedikitpun kecemasan tersirat pada

mimik wajahnya.

Pandangan Kiau Hun terpusat pada diri orangtua tersebut. Sinar matanya menyorotkan

perasaannya yang kagum sekali.

 

‘Kalau aku mempunyai setengah dari sikapnya yang tenang dan santai saja, apabila

bertemu dengan musuh tangguh kelak, berarti aku sudah menang satu langkah,’ pikirnya

dalam hati.

Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba dia merasa tubuh yang digendongnya bergeliatgeliat.

Rupanya Tan Ki sudah siuman dari pingsannya. Tampaknya dia sama sekali tidak

membayangkan kalau dirinya tersadar dari pingsan bisa berada dalam bopongan seorang

gadis. Begitu matanya memandang, wajahnya merah padam seketika. Perlahan-lahan ia

berusaha memberontak dan kemu-dian turun dari gendongan Kiau Hun.

Dalam keadaan panik, dia terlupa akan luka dalam yang dideritanya. Ketika sepasang

kakinya menginjak tanah, dia merasa dadanya sakit sekali. Hampir saja dia terjungkal ke

atas tanah.

Untung saja jarak Mei Ling tidak jauh dengannya. Begitu melihat keadaan Tan Ki,

tangannya bergerak dengan cepat. Dia mengulurkan pergelangan tangannya dan

mencekal anak muda itu, meskipun demikian, Tan Ki sudah kesakitan sehingga

mengucurkan keringat dingin. Kepalanya berdenyutdenyut.

Tiba-tiba Mei Ling tersadar bahwa dirinya adalah seorang gadis suci, tentu tidak pantas

memeluk laki-laki seperti itu, wajahnya berona merah, cepat-cepat dia melepaskan

tangannya dan mundur setengah langkah.

Meskipun dia masih polos, tetapi segulungan perasaan jengah sebagaimana layaknya

seorang gadis tetap saja ada dan hal ini membuat wajahnya jadi tersipu-sipu.

Dengan santai Kiau Hun berjalan menghampiri. Dia memegang tangan Tan Ki dan

berdiri berendengan. Walaupun di sekitarnya terdapat beberapa orang tetapi dia tidak

merasa malu sedikitpun. Selamanya dia selalu beranggapan, seorang gadis atau wanita

juga mempunyai hak untuk menunjukkan rasa senangnya. Apa yang ingin dilakukan

kontan dilakukannya tanpa berpikir dua kali. Ia merasa tidak perlu berpura-pura, yang

akhirnya menyesal sendiri. Asal perbuatan yang tidak melanggar hukum Thian, boleh saja

dilakukan sesuka hati.

Kedua gadis itu tumbuh besar bersama sejak kanak-kanak, tapi cara dan sikap dalam

melakukan sesuatu jauh berlainan. Kalau Mei Ling pemalu dan takut-takut dalam

bertindak, maka Kiau Hun supel serta romantis.

Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar!

Di antara Cian Cong dan Ciu Cang Po telah beradu tenaga dalam. Begitu kerasnya

sehingga meja dan kursi dalam kamar itu beterbangan ke mana-mana. Kedua orang ini

telah beradu keras lawan keras. Ciu Cang Po merasa telapak tangannya menjadi panas,

lambat laun terasa nyeri yang berdenyut-denyut. Serangkum tenaga berarus deras

menerpa datang dan tanpa dapat menahan diri lagi, dia tergetar mundur setengah

Sedangkan di pihak Cian Cong, sepasang alisnya mengerut. Tubuhnya bergoyanggoyang

sejenak. Begitu keduanya mengadu telapak tangan, kalah menang sudah dapat

ditentukan. Ilmu silat kedua orang ini sebetulnya hampir seimbang. Hanya Cian Cong lebih

tinggi segaris.

 

Untuk sesaat keduanya berdiri terpaku dengan mata saling pandang. Mereka tidak

bergeming sedikitpun. Keduanya terpana oleh kehebatan ilmu silat yang dikuasai masingmasing

Tentu saja mereka sadar telah bertemu dengan lawan yang setanding. Tampak kedua

pasang mata mereka menyorotkan sinar tajam bagai kilatan cahaya dan menatap lekatlekat

pada lawannya. Mata mereka mendelik tanpa berkedip sama sekali.

Apabila tokoh silat kelas tinggi saling bergebrak, kejadiannya berlangsung dengan

cepat. Begitu telapak tangan beradu, diri mereka segera berpencar kembali. Dalam

sekejap mata, mati hidup sudah dapat ditentukan.

Mereka berdua merupakan tokoh kelas tinggi yang sudah sulit dicari tandingannya di

dunia ini. Mereka sadar kelihaian masing-masing. Maka dari itu, setelah memencarkan diri,

mereka segera menghimpun tenaga kembali dan bersiap-siap untuk melancarkan

Awan bergerak dan angin berhembus. Pertandingan yang hebat segera akan

berlangsung. Setelah gelombang tegang yang pertama, kali ini malah terasa suasana sunyi

mencekam. Tidak ada seorangpun yang membuka suara.

Waktu merayap perlahan-lahan…

Kedua tokoh kelas tinggi itu masih tidak bergerak sedikitpun. Siapapun di antara

keduanya tidak ada yang sudi mendahului lawannya melancarkan serangan. Mereka bagai

mengadu tingkat kesabaran dalam hati masing-masing.

Diam-diam Kiau Hun melirik Tan Ki. Pemuda itu sedang menatap Mei Ling dengan

terpesona. Matanya sampai tidak berkedip. Dari sinar matanya menyorot cahaya yang

aneh. Hati gadis itu menjadi tertegun. Harapannya yang bergairah menjadi mendatar

Dia tidak habis mengerti, dia sudah dua kali menempuh bahaya untuk menolong

pemuda ini, tetapi mengapa perhatiannya kepada Siocia lebih besar dan kesannya lebih

dalam? Kenapa?

Apakah pemuda, ini juga belum paham, walaupun dia sudah mencetuskan perasaannya

lewat perbuatan dengan terang-terangan? Rasanya mustahil kalau dia tidak mengerti!

Kalau dikatakan bahwa pemuda itu merasa dia menyebalkan, mengapa dia membiarkan

tangannya dipegang?

Akh… betul, Siocia adalah keturunan orang yang berada dan tokoh terkenal, sedangkan

aku hanya seorang pelayan yang menjual dirinya pada keluarga tersebut…

Dengan membawa pikiran demikian, hatinya langsung merasa pedih dan hancur

seketika. Akhirnya dia mengerti, pandangan orang di dunia ini hanya berdasarkan kulit

luarnya saja. Dengan menempuh bahaya, Kiau Hun telah menyelamatkan Tan Ki sebanyak

dua kali. Tetapi kesan yang ditimbulkannya toh masih kalah dengan asal-usul Mei Ling.

Padahal kesohoran dan kekayaan baginya hanya merupakan nama kosong saja.

Riwayat hidup Kiau Hun sangat mengenaskan. Perasaan rendah diri di dalam hatinya

otomatis lebih hebat daripada orang lain. Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar

 

dia melepaskan pegangannya pada tangan Tan Ki. Perlahan-lahan dia melangkah mundur

dua tindak.

Barusan dia sudah membayangkan hal-hal yang indah. Dia bersedia melewati hidup ini

dengan Tan Ki selama-lamanya. Berdua sampai tua dan tidak terpisahkan lagi…

Tetapi pada saat ini, ketika dia melepaskan genggaman tangannya dan melangkah

mundur, hatinya pun hancur berkeping-keping. Tan Ki tidak bergeming sedikitpun. Tadinya

dia bersandar pada diri Kiau Hun. Tetapi waktu ini, matanya sedang terpaku menatap Mei

Ling. Dia malah tidak merasakan ketika Kiau Hun melepaskan genggamannya.

Kiau Hun merasa hatinya dilanda serangkum kepedihan. Air mata sebesar kacang

kedelai menetes turun membasahi pipinya. Dia merasa kedudukannya lebih rendah

daripada orang lain. Nasib juga seakan dipermainkan oleh kedudukannya…

Otaknya melintas banyak penderitaan yang dialaminya, tanpa sadar dia tertawa

sumbang. Tawa di sudut bibirnya melambangkan ratusan kuntum bunga yang berguguran.

Pilu dan sendiri…

Perlahan-lahan dia mengangkat lengan bajunya untuk menghapus air mata yang

berderai di pipinya.

“Selamat tinggal, kekasih pujaanku…” ratapnya dalam hati. Pinggangnya yang kecil

melenggok, sebentar saja dia sudah menghambur keluar dari kamar tersebut. Dalam

sekejap mata bayangan tubuhnya sudah menghilang.

Seorang gadis yang malang telah pergi. Kepergiannya tanpa menimbulkan suara

sedikitpun. Juga tidak seorangpun yang menahan kepergiannya. Seumur hidup dia belum

pernah mencelakai siapapun. Tetapi, ketika dia pergi secara diam-diam, hatinya yang

hancur berkeping-keping pun mengikuti langkah kakinya yang berat.

Sementara itu, di dalam kamar berkumandang dua kali suara yang menggelegar!

Cian Cong dan Ciu Cang Po sudah mengadu pukulan lagi. Keduanya merupakan tokoh

kelas tinggi dunia Bulim. Kehebatan serangan maupun kekuatan tenaga dalam serta cara

memukul maupun menahan diri, tidak ada satu pun yang dapat dipandang ringan dan

semuanya mengandung kekejian yang mengerikan.

Suara pukulan menghempas-hempas. Bayangan tongkat membuat mata berkunangkunang,

tampak bayangan kedua orang itu kadang melesat ke udara dan kadang

melayang turun kembali. Kadang berputaran dengan cepat dan kadang berjungkir balik

membuat salto di udara. Mei Ling terpesona sekali memandang pertandingan tersebut.

Berkali-kali tanpa sadar dia bertepuk tangan dan berseru. Bagus!

Pandangan mata Tan Ki masih terpusat pada wajahnya. Seakan dia sedang mencari

sesuatu yang masih belum ditemukannya sejak tadi. Tiba-tiba Mei Ling memalingkan

wajahnya dan menatap ke arahnya. Saat itu juga dua pasang mata bertemu. Mereka

berdua merasa hatinya tergetar. Cepat-cepat keduanya memalingkan wajah ke arah yang

 

Dalam waktu yang bersamaan, mereka berdua merasakan wajahnya menjadi panas dan

rona merah menjalar sampai ke leher. Mereka bagaikan baru meminum beberapa cawan

arak dan hatipun berdebar-debar.

Sampai saat itu, Tan Ki. baru menyadari kepergian Kiau Hun. Mulutnya mengeluarkan

suara seruan terkejut dan dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat

tersebut. Dia sadar isi perutnya terluka cukup parah. Itulah sebabnya dia tidak berani

berlari namun berjalan perlahan-lahan.

Mei Ling tidak tahu untuk apa dia keluar dari ruangan tersebut. Hatinya menjadi

penasaran dan dia pun membuntuti dari belakang. Toh Suhunya sedang bertanding

dengan Cian locianpwe. Ilmu silat keduanya hampir seimbang. Dalam waktu yang singkat,

tentu sulit menentukan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan.

Di bagian depan, Tan Ki melangkah dengan perlahan-lahan. Dalam sekejap mata dia

sudah sampai di taman bunga. Tampak cahaya keperakan berkilauan, ratusan bintang

bertaburan di langit. Sungguh malam yang indah.

Segulungan angin yang lembut membawa keharuman bunga yang berlainan jenis. Di

dalam taman itu ditanami bermacam-macam jenis bunga yang indah. Pemandangannya

membuat orang terlena.

Tan Ki seperti tidak tertarik dengan keindahan pemandangan yang terbentang di hadapannya.

Dia hanya ingin menemukan Kiau Hun secepatnya. Dia berjalan lagi beberapa

depa. Ehem! Begitu matanya memandang, tampak sesosok bayangan hitam berdiri

mematung di bawah sebatang pohon yang rimbun. Dia adalah seorang gadis yang berdiri

memunggunginya. Badannya langsing. Tampaknya usia orang ini tidak lebih dari delapan

belas atau sembilan belas tahunan.

“Cen kouwnio…!” panggil Tan Ki sambil menghambur ke arahnya. Dia tidak berani

berteriak terlalu keras karena takut akan mengejutkan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng. Kalau

sampai asal-usulnya terbongkar, tentu akan datang banyak kesulitan bagi dirinya. Oleh

karena itu sapaanya hanya lirih saja.

Mendengar panggilannya, gadis itu membalikkan tubuh. Begitu Tan Ki memandang, dia

menjadi tertegun. Pinggangnya memang ramping dan kecil. Pakaiannya berwarna hitam.

Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang. Sepasang matanya menatap Tan Ki

dengan curiga. Tapi dia bukan Kiau Hun yang dicari oleh anak muda tersebut.

Setelah tertegun beberapa saat, lambat laun Tan Ki mengundurkan langkah kakinya.

“Tunggu dulu!” terdengar suara bentakan gadis itu yang dingin dan berat.

Hati Tan Ki tergetar. Namun dia segera menghentikan langkah kakinya. Tampaknya

nyali gadis berpakaian hitam itu sangat besar. Dia langsung melangkahkan kakinya

menghampiri. Dalam jarak kira-kira tiga empat cun, dia berhenti.

“Apa hubunganmu dengan keluarga Liu?” tanyanya ketus.

“Tidak ada hubungan apa-apa.” sahut Tan Ki.

Perlahan-lahan bibir gadis itu mengembangkan seulas senyuman.

 

“Bagaimana caranya membuktikan bahwa kata-katamu itu bukan dusta belaka?”

Tan Ki menjadi termangu-mangu.

“Mengapa harus dibuktikan? Aku dan engkau toh tidak saling mengenal…” dia berhenti

sejenak, kemudian melanjutkan kembali. “Aku sedang mencari seseorang.”

Tiba-tiba gadis itu tertawa dingin.

“Seumur hidupku, paling jarang aku sembarangan berbicara dengan orang lain. Malam

ini aku melanggar pantangan dan berbicara agak banyak denganmu. Lebih baik kau

tinggalkan tempat ini secepatnya. Jangan sampai menempuh bahaya yang tidak

diinginkan. Aku lihat usiamu masih muda, tidak tampak seperti orang Kangouw. Itulah

sebabnya aku menasehatimu. Urusan malam ini sangat berbahaya dan lain dari

biasanya…”

“Benar?” mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut sekali.

“Kemungkinan iblis yang gemar membunuh orang itu akan datang kembali. Aku justru

sedang menantikannya di sini.” sahut gadis itu.

“Apakah yang Kouwnio maksudkan adalah Cian bin mo-ong?”

“Tidak salah.”

Diam-diam Tan Ki menghela nafas lega. Mimiknya yang tegang pun rada mengendur.

‘Aku justru sedang berdiri di hadapanmu.’ katanya dalam hati.

Sementara itu, gadis berpakaian hitam mengibaskan tangannya perlahan-lahan.

“Cepat pergi, jangan mengoceh sembara-hgan di sini.”

Tampaknya watak gadis ini sangat tidak sabaran. Malah terkesan agak angkuh. Ketika

berbicara wajahnya sudah mulai tampak garang. Kalau saat itu Tan Ki masih tidak pergi

juga, kemungkinan akan mendapat gebukan darinya.

Oleh karena itu, Tan Ki segera mengembangkan seulas senyuman dan membalikkan

tubuh meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya hanya ingin mencari Kiau Hun, dia tidak

ingin ada masalah lain yang timbul. Lagipula luka dalamnya masih belum sembuh.

Tenaganya pun masih belum dapat dikerahkan sepenuhnya.

Tampaknya dia masih belum sadar kalau Mei Ling masih membuntutinya dari belakang.

Setelah mencari kurang lebih sepeminuman teh lamanya, akhirnya dia melihat bayangan

hitam seorang gadis.

Gadis itu terus mondar-mandir di bawah tembok pekarangan. Dia memang Kiau Hun

adanya. Tampangnya mengenaskan sekali. Perasaannya bagaikan tertekan. Tiba-tiba Tan

Ki merasa jantungnya berdebar-debar. Hatinya tegang sekali. Setelah bimbang sejenak,

akhirnya dia melangkah perlahan-lahan mendekati.

“Cen Kouwnio.” panggilnya lembut.

 

Mulut gadis itu mengeluarkan suara desahan dan tubuhnya seperti bergetar. Hatinya

merasa terharu. Banyak sekali kata-kata yang ingin diucapkannya, tetapi tidak ada

sepatahpun yang keluar dari mulutnya.

Tan Ki juga memandanginya dengan termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana

memulai percakapan. Di bawah sorotan cahaya rembulan, dua bayangan tubuh rebah di

atas rerumputan tanpa bergeming sedikitpun.

Sinar mata keduanya saling tatap menatap. Mereka seakan sedang mengukir wajah

lawan jenisnya agar terlekat di dalam hati. Sampai lama tidak ada seorangpun yang

membuka suara. Dalam keheningan… saat ini suasana menjadi mencekam. Begitu

sunyinya sehingga terdengar desahan nafas dan degupan jantung kedua orang tersebut.

Perasaan kaum perempuan biasanya memang lebih peka. Mei Ling yang bersembunyi di

balik gunung-gunung buatan mendadak mengerti apa yang sedang berlangsung di

hadapannya. Dia merasa bergairah menghadapi situasi seperti ini. Juga merasa penasaran.

Tetapi hatinya sangat baik dan sifatnya polos, maka dia seperti samar-samar mengerti

tentang urusan hati laki-laki dan perempuan. Dia tidak pernah membayangkan yang

bukan-bukan.

Lama…! Lama sekali… Tan Ki mencoba membangkitkan keberaniannya.

“Cen Kouwnio, atas budi pertolonganmu tadi, suatu hari pasti akan kubalas…”

“Apakah hanya beberapa patah kata itu yang ingin kau ucapkan kepadaku?”

Tan Ki mendongakkan kepalanya. Dia tiba-tiba merasa bahwa dalam pancaran sinar

mata Kiau Hun terkandung perasaan yang hangat dan penuh harapan. Hatinya perlahanlahan

mulai tergetar. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya ke tempat lain dan tidak berani

memandang lagi ke arah Kiau Hun.

Setelah hening sesaat lagi, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang lembut namun

“Tan Siangkong, kau kira mengapa aku menempuh bahaya kematian untuk menolong

dirimu?”

“Atas perhatian Kouwnio yang dalam, Cayhe pasti akan membalasnya.” sahut Tan Ki.

Kiau Hun tahu dia sengaja mengalihkan diri dari pokok pertanyaannya. Yang

dijawabnya malah urusan yang lain. Tanpa sadar dia mengembangkan seulas senyuman

yang pilu. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

Dia mengerti bahwa Tan Ki tidak mempunyai perasaan apapun terhadap dirinya. Tentu

saja, hal ini karena riwayat hidupnya yang hina dan membuat orang lain menganggapnya

rendah. Tapi bagaimanapun dia tidak habis pikir mengapa dirinya bisa mencintai pemuda

itu demikian dalam? Kenapa?

Apakah percintaan antara seorang pemuda dan pemudi demikian rumitnya dan begitu

anehnya sehingga dia sendiri tidak sanggup memberi penjelasan kepada dirinya sendiri?

 

‘Orang dulu sering mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin hal

inilah yang terjadi pada diriku sekarang.’ pikirnya dalam hati.

Mengingat hal itu, kembali dia tertawa getir. Tampangnya menjadi muram tanpa

semangat sedikitpun. Tiba-tiba dia seperti mengingat suatu hal, bibirnya tersenyum.

“Tan Siangkong, kau mengatakan bahwa kau kelak akan membalas budiku. Entah

bagaimana cara kau membalasnya?” tanyanya.

Tan Ki benar-benar merasa di luar dugaan bahwa dia akan mengajukan pertanyaan

seperti itu. Dia tertegun beberapa saat.

“Satu budi dibalas satu kali. Ini sudah pasti. Tetapi bagaimanapun harus dilihat dari

situasi yang akan dihadapi kelak. Sekarang ini apabila Cayhe disuruh menjelaskan, tentu

saja belum bisa.” sahutnya kemudian.

Kiau Hun tersenyum.

“Tidak usah menunggu sampai kelak. Sekarang juga sudah ada, asal kau bersedia

saja.” katanya.

“Cayhe bersedia mendengar penjelasan Kouwnio. Asalkan Cayhe dapat melakukannya,

tentu permintaan Kouwnio tidak akan ditolak.”

Kiau Hun mengangkat tangannya dan merapikan rambutnya yang terurai angin.

Tampak mimik wajahnya seperti tersipu-sipu.

“Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Hanya… hanya ingin meme…luk dirimu

sekejap.” katanya dengan suara lirih.

Wajah gadis itu menjadi merah padam, kepalanya tertunduk dalam-dalam dan seperti

orang yang kemaluan. Tan Ki sama sekali tidak membayangkan bahwa kata-kata seperti

itu dapat terucap dari mulut seorang gadis. Hatinya terkejut sekali. Untuk sesaat dia tidak

sanggup menyahut sepatah katapun.

Kiau Hun tetap menunggu. Lama sekali dia tidak mendapat jawaban dari Tan Ki.

Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya dan bertanya dengan suara yang hampir

tidak terdengar.

“Tan Siangkong, apakah kau tidak bersedia memenuhi permintaanku?”

Suaranya demikian pilu, bagai ucapan syair seseorang yang sudah putus asa. Siapa pun

yang mendengarnya pasti turut merasa pilu. Sinar mata Tan Ki bertemu pandang

dengannya sekilas. Tiba-tiba dia menyadari bahwa sorotan matanya mengandung harapan

yang besar. Juga tersirat kepedihan yang tidak terkatakan, hatinya menjadi lemah, dia

tidak tega menyakiti perasaan gadis itu. Oleh karena itu cepat-cepat dia memejamkan

matanya dan menarik nafas panjang.

“Baiklah, aku bersedia memenuhi permintaanmu…” belum lagi ucapannya berhenti,

tiba-tiba dia mengendus keharuman yang terpancar dari rambut Kiau Hun.

 

Matanya dipejamkan rapat-rapat, dia tidak dapat melihat pemandangan apapun.

Namun dia tetap seorang manusia hidup yang mempunyai perasaan peka. Dia merasa di

dadanya menempel sesosok tubuh yang lembut. Yang mana dengan perlahan-lahan

bersandar padanya. Perasaannya bagai dihinggapi kegairahan yang panas dalam waktu

Dikatupnya rahangnya erat-erat. Hawa murni ia himpun segera. Diam-diam dia

berusaha mengosongkan pikiran agar gairah yang tidak menentu dapat tersapu bersih.

Namun biar bagaimanapun Tan Ki juga seorang perjaka yang belum pernah berpelukan

dengan seorang perempuan. Meskipun dia sudah berusaha sekuat kemampuan, perasaan

aneh itu tidak dapat dihilangkan sampai tuntas. Dia merasa gadis itu memeluknya

demikian erat seperti takut sekali kehilangan dirinya.

Sambil memeluk anak muda itu erat-erat, perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan

wajahnya. Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan pandangan sayu dan kelopak

mengembangkan air mata. Dia seakan takut Tan Ki akan lenyap dari pandangannya…

Tetapi, apa yang diharapkannya, pada saat itu juga telah memberinya kepuasan yang

tidak terkirakan. Lambat laun, bibirnya mengembangkan seulas senyuman penuh

penderitaan. Hatinya sadar, kelak dia harus meninggalkan anak muda ini untuk selamalamanya.

Dia berharap dapat memperoleh kelembutan dan kasih sayang sesaat dari pelukan itu.

Kelak, dia tidak mungkin punya harapan dari permohonan lagi, dia ingin menggunakan

waktu yang singkat ini dan menjadikan kenangan yang tidak akan terlupakan olehnya

seumur hidup.

Cahaya rembulan yang terang menyoroti bayangan mereka. Satu panjang dan yang

satu pendek…

Mei Ling melihat apa yang sedang berlangsung di hadapannya dari tempat persembunyiannya.

Sepasang matanya yang indah membelalak lebar-lebar. Semacam perasaan

yang aneh seperti kehampaan tiba-tiba merasuki hatinya. Lambat laun dia merasa

wajahnya menjadi panas membara.

Dia sendiri tidak dapat menguraikan apa yang tersirat di hatinya saat itu. Dia hanya

merasa bahwa yang terpendam dalam hatinya pasti adalah sesuatu hal yang memalukan.

Kemudian, pandangan di depan matanya membuat hatinya berdebar-debar, jantungnya

berpacu dengan cepat. Dia merasa bergairah namun jengah.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, perlahan-lahan Tan Ki mendorong tubuh

Kiau Hun.

“Cen Kouwnio, ke mana tujuanmu setelah ini?” tanyanya lembut.

Kiau Hun tertawa sumbang.

“Suhu sudah mengusir aku dari pintu perguruan. Aku sendiri juga tidak tahu ke mana

tujuanku. Pokoknya di mana aku sampai, di sanalah tujuanku.” sahutnya pilu.

“Di mana orangtuamu?”

 

“Mereka sudah meninggal.”

Tan Ki menarik nafas panjang.

“Meskipun kolong langit ini luas sekali, jalanan juga sangat panjang. Tetapi kau tidak

mempunyai rumah untuk kembali…”

Pada saat itu juga, perasaan ibanya terhadap Kiau Hun terbangkit seketika. Setelah

berhenti sejenak dia baru meneruskan kembali kata-katanya. “Sama halnya dengan diriku,

aku juga termasuk yatim piatu. Meskipun aku mempunyai seorang kakak misan yang

menikah di daerah Barat, sayangnya sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya.

Entah sekarang dia masih hidup atau sudah mati.”

“Apakah Tan Siangkong bermaksud mencarinya?” tanya Kiau Hun.

“Betul.”

Hati Kiau Hun menjadi gembira.

“Bagaimana kalau kita jalan bersama?” tukasnya segera.

Watak gadis ini sangat terbuka. Apa yang dipikirkannya dalam hati langsung

dicetuskannya keluar. Lagipula, Tampaknya dia masih belum putus asa mendekati Tan Ki.

Cintanya yang dalam kemungkinan sudah mencapai titik akhir.

Siapa kira, sikapnya yang berani dan terus terang justru membuat Tan Ki merasa tidak

tenang. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Urusan ini boleh sih boleh saja, tetapi di daerah ini aku masih ada beberapa macam

urusan yang harus diselesaikan…”

Kiau Hun tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya.

“Aku bisa menunggu.” tukasnya cepat.

Mendengar ucapannya, Tan Ki merasa serba salah. Biar bagaimana dia merupakan

wujud asli dari Cian bin mo-ong, mana mungkin dia membiarkan orang tahu identitas

dirinya. Apabila dia berjalan bersama-sama gadis itu, ada kemungkinan rahasianya bisa

terbongkar. Namun melihat tampangnya yang mengenaskan dan penuh harapan, dia

merasa tidak sampai hati menolaknya. Di tundukkannya kepala dalam-dalam sambil

berpikir. Akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Boleh juga, sementara ini kau cari penginapan di tengah kota dan tunggu di sana.

Setelah urusanku selesai, aku akan menemuimu di tempat itu.”

Kiau Hun segera tersenyum manis.

“Baik, aku akan menunggumu. Sehari kau tidak datang, aku menunggumu satu hari.

Sepuluh hari kau belum datang, aku akan menunggumu sepuluh hari. Seumur hidup kau

tidak datang, aku akan menunggumu seumur hidup.” sahutnya.

 

Air matanya yang sebesar kacang kedelaipun menetes turun dengan deras. Tan Ki

mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut mengusap air mata di pipinya.

“Jangan curiga, aku bukan manusia semacam itu.” katanya menghibur.

Sembari menangis, Kiau Hun mengembangkan seulas senyuman.

“Aku pergi sekarang, aku akan menunggu di sebelah barat kota setiap hari.” dia

membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Sekejap saja bayangannya sudah

menghilang dari pandangan.

Orangnya memang sudah pergi, tetapi cinta kasihnya yang dalam masih tertinggal. Tan

Ki memandangi bayangan punggungnya sampai menghilang di kejauhan. Dia berdiri

termangu-mangu sesaat. Kemudian dia melangkahkan kakinya yang berat dan kembali ke

rumah Mei Ling.

Dia masih tidak sadar bahwa Mei Ling sudah mendahuluinya beberapa saat. Sekejap

mata dia sudah sampai di kamar gadis itu. Begitu mata memandang, dia melihat Cian

Cong dan Ciu Cang Po masih bertarung dengan sengit.

Ini merupakan pertarungan kelas tinggi di antara dua tokoh yang namanya sudah

menggetarkan dunia persilatan!

Meskipun dalam hal tenaga dalam Cian Cong masih menang setingkat dari Ciu Cang Po,

tetapi mengenai jurus pukulan ataupun tendangan, sulit membandingkan siapa yang lebih

hebat diantara keduanya.

Sampai saat ini, ribuan jurus telah berlalu, namun masih belum tampak pihak mana

yang akan tumbang terlebih dahulu.

“Bertarung dengan cara seperti ini, sampai kapan baru ada penyelesaiannya?” kata Tan

Ki dalam hati.

Pikirannya masih bertanya-tanya, tiba-tiba…

Ciu Cang Po mengeluarkan suara suitan panjang. Tongkatnya yang aneh melancarkan

tiga jurus berturut-turut, Cian Cong sampai terdesak mundur sejauh dua langkah. Nenek

itu pun segera melesat keluar dari arena.

“Tunggu dulu!’ bentaknya.

Cian Cong mendelikkan sepasang matanya lebar-lebar.

“Teriak apa, si pengemis tua masih belum puas berkelahi!” sahutnya kesal.

Wajah Ciu Cang Po semakin kecut. Dia menunjuk ke arah luar jendela.

“Coba kau lihat, sekarang sudah waktu

apa?”

Cian Cong mengikuti arah telunjuknya. Tanpa sadar mulutnya berseru terkejut.

 

“Akh… rupanya sudah pagi. Masa bodoh! Pokoknya kita harus bertarung lagi sebanyak

tiga ratus jurus!” sepasang telapak tangannya memutar, dia sudah bersiap-siap

melancarkan sebuah serangan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang lantang…

“Locianpwe, harap berhenti sebentar!” kumandang suaranya masih belum sirap, dari

luar kamar telah terdengar suara derap langkah kaki.

Tampak bayangan berkelebat, secara berturut-turut masuk tiga orang ke dalam kamar

itu. Tan Ki menolehkan kepalanya. Pertama-tama masuk Bu Ti Sin-kiam Liu Seng ke dalam

kamar dengan tergesa-gesa. Ciong San Suang-siu, Cu Mei dan Yi Siu mengikuti di

Tenyata Cian Cong mempunyai sikap yang ugal-ugalan. Dia tidak pernah

memperdulikan segala tata krama atau etiket. Seorang diri dia berjalan ke taman bunga

dan kemudian duduk terkantuk-kantuk di tempat tersebut. Tadi malam secara berturutturut

Ciu Cang Po memukul hancur tiang penyangga loteng dan beberapa pot bunga serta

pajangan di dalam kamar Mei Ling. Kegaduhan itu membuat si pengemis sakti yang paling

benci segala macam kejahatan jadi tergugah. Oleh karena itu, dalam keadaan yang

membahayakan, dia keburu muncul sehingga jiwa Kiau Hun dan Tan Ki sempat tertolong

Tetapi, meskipun dia sudah lama menggetarkan dunia persilatan serta dikagumi orang

banyak, namun dia mempunyai semacam kebiasaan yang menyebalkan. Yaitu gaya

hidupnya yang santai. Dia boleh tidak tidur atau berkelahi selama tiga hari tiga malam.

Tetapi kalau suruh orangtua ini tidak makan setengah harian saja, dia merasa lebih baik

dibunuh mati. Belum lagi seleranya yang tinggi. Dia tidak dapat makan kalau tidak ada

daging ayam, ataupun arak bagus. Setiap hari menjelang pagi, selera makannya justru

bertambah besar. Secara diam-diam dia menyelinap ke dalam dapur dan makan serta

minum sepuasnya. Dengan demikian dia baru dapat mempertahankan diri dan tidur

nyenyak. Kalau tidak, entah rumah makan besar atau kedai arak mana yang akan tertimpa

kesialan karena dapur mereka kebobolan. Pemilik rumah makan atau kedai tersebut malah

mengira kalau tempat mereka telah digerayangi siluman serigala.

Liu Seng paham sekali kebiasaan orangtua ini, itulah sebabnya setiap malam dia

menyuruh para pelayannya menyiapkan hidangan yang lezat serta arak yang harum di

dapur. Siapa tahu pagi ini ketika dia melongok ke dapur, hidangan dan arak masih belum

tersentuh sedikitpun. Berdasarkan pengalamannya yang luas, Liu Seng segera merasa

telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Dengan tergesa-gesa dia mengajak Ciong Sang

Suang-siu mencari ke taman bunga. Kebetulan dia mendengar suara perkelahian dan

segera menuju kamar Mei Ling.

Ciu Cang Po melihat pihak lawannya telah kedatangan bala bantuan, langsung tertawa

dingin. Tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

****

BAGIAN V

 

“Hayo jawab, hayo jawab! Nenek pengemis, si pengemis tua sedang menunggu kau

membuka mulut emasmu!”

Cian Cong memalingkan wajahnya sambil mendelik lebar-lebar. “Urusan si pengemis

tua kalian jangan ikut campur!” bentaknya.

Sekali lagi Ciu Cang Po tertawa dingin.

“Kentungan ketiga malam ini, aku akan menantikanmu di sebelah Barat kota, tepatnya

di rumah makan Cui Sian Lau!”

Mata nenek itu segera beralih pada diri Tan Ki.

“Terlalu enak membiarkan kau hidup sehari lagi!” gumamnya sambil melotot. Tubuhnya

berkelebat dan dalam sekedipan mata dia sudah menghilang dengan menerobos

jendela kamar.

Kegesitan dan kecepatan gerakannya membuat para hadirin meleletkan lidah saking

kagumnya. Terdengar Cian Cong bersin satu kali. Dia mengelus-elus perutnya dan

bergumam seorang diri,

“Kalau tidak berkelahi, cacing arak si pengemis tua ini mulai bertingkah lagi.”

Tentu saja Liu Seng mengerti bahwa ucapan itu ditujukan kepadanya. Dia segera

menjura dalam-dalam.

“Sekarang juga Boanpwe akan menyuruh para pelayan menyiapkan.” dia langsung

membalikkan tubuh dengan maksud menepati ucapannya. Tiba-tiba terdengar Cian Cong

berkata…

“Bagus sekali, si pengemis tua kalau sudah datang malasnya, rasanya sudah tidak

kepingin bergerak sedikitpun. Suruh saja pelayanmu mengantarkan makanan dan arak ke

mari.”

Liu Seng langsung tertegun mendengar ucapannya. Tingkahnya jadi serba salah. “Ini…

ini kamar peristirahatan putri…” Cian Gong langsung mendelik lebar-lebar.

Dengan tampang tidak senang dia berkata…

“Apa sih kamar peristirahatan atau kamar tidur, kalau si pengemis tua hatinya senang,

mungkin bocah perempuan ini akan diterima sebagai murid.” tanpa memperdulikan yang

lainnya, dia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur Mei Ling.

Tempat tidur itu indah dan kasurnya lembut dengan kelambu yang terbuat dari kain

sulaman yang mahal. Tanpa memperdulikan pakaiannya yang kotor dan koyak, seenak

perutnya dia rebah dan memejamkan mata, kenikmatan. Liu Seng menundukkan

kepalanya sambil merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Perlahan-lahan Cu Mei

menjawil ujung lengannya sembari memberi isyarat dengan kedipan mata. Akhirnya ketiga

orang itu keluar dari kamar tersebut.

 

Cian Cong melepaskan kendi arak dari selipan ikat pinggangnya. Mula-mula dia meneguk

arak sebanyak dua tegukan dan kemudian ditutupnya kembali, lalu diletakkan di

belakang kepala sebagai bantal.

“Bocah perempuan, ke mari dan tonjokkan paha si pengemis tua yang terasa pegal ini!”

Mendengar permintaannya, Mei Ling segera menghampiri. Dia duduk di tepi tempat

tidur dan memukul paha Cian Cong dengan kepalan tangannya yang mungil secara bergantian.

“Bocah busuk, apakah lenganmu tidak patah terkena pukulan si nenek pengemis tadi?”

teriak Cian Cong dengan nada menggerutu.

Tan Ki mengiakan dengan suara lirih. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri. Tapi karena

Mei Ling menghalangi jalannya, dia terpaksa melepaskan sepatu dan naik ke atas

tempat tidur.

Dia mengendus serangkum bau harum yang samar-samar. Keletihannya sepanjang

malam bagai sirna dan pikirannya jadi ikut tergetar. Sudah tentu bau harum itu terpancar

dari tubuh Mei Ling.

Cian Cong memperhatikan dirinya dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Tiba-tiba

sepasang alisnya menjungkit ke atas.

“Bocah cilik, usiamu masih begitu muda, mengapa memakai jubah semacam itu? Mana

lebar mana kedodoran, seperti yang biasa dikenakan oleh orangtua. Ketika pertama kali

melihat dirimu, si pengemis rasanya tidak asing, tetapi sekarang malah lupa siapa yang

memakai jubah seperti ini.”

Hati Tan Ki tercekat.

‘Orangtua ini tampaknya ugal-ugalan, tetapi sikapnya teliti seekali. Sekali lihat saja dia

sudah tahu bahwa pakaian ini bukan milikku. Untung saja dia masih belum menyadari

bahwa aku yang menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu. Saat itu aku juga mengenakan

pakaian yang sama.’ pikirnya dalam hati.

Hatinya tergerak, mulutnya malah tidak berani menyahut sepatah katapun. Dia tidak

ingin Cian Cong sampai memperpanjang masalah itu yang akhirnya rahasia samarannya

mungkin akan terbongkar.

Terdengar Cian Cong menghembuskan nafas panjang.

“Si pengemis tua sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakan kesenangan seperti

ini. Ah… rasanya nyaman sekali…” tiba-tiba sepasang alisnya mengerut kembali. Dia

seperti teringat akan sesuatu hal. Cepat-cepat dia melanjutkan kata-katanya. “Tadi malam

ketika kau menyelinap pergi, apakah kau bertemu dengan seorang gadis berpakaian hitam

yang dipunggungnya terselip sebatang pedang panjang? Kalau si pengemis tua tidak salah

menerka, kau pasti kena caci makinya.”

 

Tan Ki tidak menyangka bahwa Cian Cong yang sedang bertarung dengan sengit tadi

malam masih sempat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Hatinya terkejut

“Apa? Locianpwe telah menyaksikan semuanya?”

Cian Cong tertawa lebar.

“Kalau si pengemis tua sudah menyaksikan terlebih dahulu baru berbicara, namanya

bukan kepandaian lagi.”

Tan Ki menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Ketemu sih memang benar, tetapi tidak terkena caci makinya.”

“Gadis berpakaian hitam itu, di daerah Utara, Barat dunia Kangouw paling terkenal

sebagai manusia yang tidak kenal aturan. Siapapun yang bertemu dengannya berarti di

timpa kesialan, kalau hanya memaki beberapa patah kata saja masih tidak aneh.”

“Kalau mendengar ucapan Locianpwe, tampaknya kena caci maki gadis itu beberapa

patah kata adalah hal yang lumrah. Kalau Boanpwe tidak melihat dia seorang gadis, ingin

rasanya memberi pelajaran sedikit biar jera.”

“Gadis itu paling susah dihadapi, lebih baik kau jangan mencari gara-gara dengannya.”

kata Cian Cong.

“Apakah Locianpwe mengenalnya?”

Cian Cong mengambil hiolo araknya kembali dan meneguk setegukan besar. Bibirnya

“Si pengemis tua tidak takut langit dan bumi, tapi terhadap bocah perempuan ini justru

kepala selalu pusing. Aku saja tidak berani mencari perkara dengannya, kau terlebih-lebih

tidak boleh. Kalau tidak, pasti akan ketemu batunya…”

Sikap Tan Ki pada dasarnya keras kepala dan angkuh. Mendengar nada bicaranya yang

begitu hebat menggembar-gemborkan kegalakan si gadis berpakaian hitam, semangatnya

malah terbangkit dan semakin penasaran.

“Kalau begitu, apabila kelak bertemu dengannya lagi, Boanpwe justru ingin meminta

pelajaran darinya.”

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Emosi si bocah busuk ini cepat juga terbangkitnya… oh ya, kita sudah bicara panjang

lebar, si pengemis tua masih belum tahu siapa namamu dan nama gurumu yang mulia?”

“Boanpwe She Tan dengan nama tunggal Ki. Sedangkan nama Suhu… nama Suhu…”

Tan Ki menjadi gagap gugup menjawab pertanyaannya.

Ilmu silat Tan Ki secara keseluruhan didapatkan dari hasil curian di kuburan para ketua

Ti Ciang Pang. Mana mungkin dia mempunyai guru atau nama perguruan yang dapat

 

disebutkannya? Kalau dia di suruh asal sebut sebuah nama saja, tentunya kebohongannya

pasti bisa terbongkar seketika.

Cian Cong hanya mengucapkan sepatah ‘Oh…’ dan tidak mendesaknya lebih lanjut.

Kemudian tampak orangtua itu menundukkan kepalanya seakan ada suatu pikiran rumit

yang melintas di benaknya.

Mimik wajahnya itu malah membuat perasaan Tan Ki semakin tidak tenang.

‘Beberapa malam yang lalu aku menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu, pakaian inilah

yang kukenakan malam itu. Apakah dia tiba-tiba teringat siapa yang mengenakan pakaian

ini?’ tanyanya dalam hati.

Pikirannya melayang-layang. Semakin direnungkan rasanya semakin benar. Tanpa

terasa tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sebelum dirinya terluka saja, dia sudah

bukan tandingan Cian Cong. Saat ini apabila terjadi perkelahian tentu dia tidak bisa

melepaskan diri lagi dari maut.

Tiba-tiba terdengar lagi suara langkah kaki yang riuh. Tiga orang pelayan masuk ke

dalam kamar dengan membawa berbagai hidangan. Liu Seng dan Ciong San Suang Siu

mengiringi dari belakang.

Tan Ki memperhatikan situasiyang dihadapinya. Diam-diam hatinya berpikir lagi.

“Kalau si pengemis tua itu sudah mengetahui atau curiga dengan identitas diriku, atau

terus mendesak aku dengan berbagai pertanyaan, kemungkinan lama-lama rahasiaku akan

ketahuan juga. Waktu itu apabila aku berniat meloloskan diri, tentu tidak sempat lagi.”

Karena mempunyai pikiran seperti itu, cepat-cepat dia berdiri dan menjura dalam-dalam,

“Boanpwe mohon diri.”

Cian Cong segera meletakkan cawan arak di tangannya dan mendongakkan wajahnya.

“Kau hendak ke mana?”

Wajah Tan Ki merah padam. Hatinya tetap merasa tidak tenang, tetapi dia berusaha

untuk tidak menunjukkannya.

“Di sebelah Barat kota ada seorang teman yang sedang menunggu aku. Boanpwe

sudah sepanjang malam tidak kembali, tentunya teman itu akan tidak tenang memikirkan

aku…”

Cian Cong tertawa lebar. “Rasanya yang tidak tenang bukan temanmu itu.”

Hati Tan Ki berdebar-debar. Dia semakin yakin Cian Cong sudah mengetahui identitas

dirinya. Dia mana tahu kalau Cian Cong yang mempunyai mata awas melihat Kiau Hun

pergi dan tidak kembali lagi. Kemudian dia juga melihat Mei Ling yang mengikuti di

belakangnya, kembali dengan wajah, bermuram durja. Orangtua yang berpengalaman luas

itu segera dapat menduga bahwa terjadi sesuatu diantara ketiga orang itu bukan karena

dia telah berhasil mengungkap identitas diri Tan Ki.

 

Sementara itu, tampak Tan Ki membalikkan tubuh dan bergegas meninggalkan kamar

itu. Liu Seng serta rekan-rekannya mengira dia saling kenal dengan Cian Cong, maka dari

itu mereka tidak menghalangi kepergiannya, malah memberi jalan dengan bergeser agar

dia dapat melewati pintu kamar.

Tiba-tiba tubuh Tan Ki yang menghambur keluar dengan tergesa-gesa tadi, mendadak

surut kembali seakan melihat sesuatu yang di luar dugaannya. Orang-orang yang ada di

dalam kamar itu jadi tertegun.

Begitu mata memandang, di ambang pintu, entah sejak kapan telah berjalan masuk

seorang gadis berpakaian hitam. Dengan mimik wajah yang datar dan dingin, dia menghampiri

Cian Cong. Bibirnya langsung tersenyum mengejek.

“Hm, sebagai seorang tokoh angkatan tua dunia Bulim, ternyata bisa mengeluarkan

ocehan yang bukan-bukan dengan menceritakan keburukan diriku. Benar-benar orangtua

yang tidak waras!” makinya.

Mendengar ucapannya, si pengemis sakti langsung menoleh ke arah Tan Ki dan

menjungkitkan sepasang alisnya. Gadis berpakaian hitam itu juga menoleh ke arah Tan Ki

serta menggerak-gerakkan bibirnya bagai berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah sebesar

ini, di belakang punggung orang masih berkicau terus. Seperti tidak rela mengalah kepada

generasi yang lebih muda. Kalau disiarkan keluar, tentu akan menjadi bahan tertawaan.”

Kata-katanya ini diucapkan dengan santai dan wajar, tapi orang yang bersangkutan

tentu akan merasa sakit hati. Perlahan-lahan Tan Ki melirik Cian Cong sekilas. Tampak

orangtua itu malah mengalihkan wajahnya ke tempat lain seakan tidak mendengar apa

yang dikatakan oleh gadis berpakaian hitam itu. Melihat keadaannya, Tan Ki segera sadar

bahwa orangtua ini benar-benar enggan berurusan dengan si gadis.

Diam-diam hatinya tergerak.

‘Dengan kedudukan si pengemis tua sebagai tokoh kelas tinggi dan sikapnya yang ugalugalan,

mengapa terhadap gadis berpakaian hitam ini malah demikian segan dan

mengalah?’ pikirnya bingung.

Apakah kata-kata Cian Cong tentang gadis ini bahwa dia merupakan orang yang paling

sulit dihadapi benar adanya? Hatinya rada kurang percaya. Tanpa sadar dia menoleh

beberapa kali ke arah gadis tersebut. Tampaknya gadis berpakaian hitam itu juga sangat

memperhatikan Tan Ki. Begitu pemuda tersebut menoleh, dia langsung mendelikkan

matanya lebar-lebar.

“Apa yang kau lihat?” bentaknya dengan nada marah.

Mendengar bentakannya, tanpa terasa wajah Tan Ki menjadi merah saking jengahnya.

Tapi dia memang merupakan seorang manusia yang tinggi hati. Kata-kata gadis itu

membuat amarahnya meluap seketika.

“Apapun yang ingin kulihat, rasanya tidak ada hubungannya dengan dirimu.” sahutnya

Rupanya si gadis tidak menyangka Tan Ki akan memberi jawaban seperti itu. Dia jadi

tertegun beberapa saat…

 

“Tentunya kau belum tahu siapa aku sehingga berani berbicara dengan aku dengan

nada membentak seperti tadi. Kalau kau sudah tahu, pasti kau tidak akan seberani itu…”

Tan Ki tertawa dingin.

“Lihat tampangmu yang begitu sombong dan tidak sopan terhadap angkatan yang lebih

tua. Kalau saja kau seorang laki-laki, aku pasti akan memberi pelajaran yang keras

untukmu.”

Gadis berpakaian hitam itu seperti tidak percaya. Wajahnya menyiratkan mimik seperti

orang yang sedang tertawa tapi tidak bisa.

“Kau berani?”

“Mengapa tidak berani?” bentak Tan Ki kembali.

Gadis berpakaian hitam itu menarik nafas perlahan-lahan. Dia menatap wajah Tan Ki

sampai lama sekali.

“Sejak keluar dari rahim ibu, aku belum pernah menerima hinaan apapun. Di seluruh

dunia ini, orang yang berani memaki aku secara terang-terangan, aku rasa kaulah orang

yang pertama…”

“Kalau begitu aku malah harus merasa bangga.” sahut Tan Ki tenang.

Gadis berpakaian hitam itu mengedarkan pandangannya ke orang-orang di dalam kamar.

Kemudian dia memalingkan wajahnya.

“Kau berani memaki aku secara terang-terangan, mungkin karena kau anggap ada

beberapa orang yang dapat kau andalkan. Aku justru ingin melihat sampai di mana

kehebatanmu itu!” begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kecil dan langsing langsung

melesat ke udara dan ketika pergelangan tangannya memutar, secara berturut-turut dia

melancarkan tiga buah serangan dan delapan buah totokan.

Sebetulnya serangan ini berjumlah empat jurus. Kecepatannya bagai cahaya kilat. Meskipun

dia melancarkan serangannya satu per satu, namun begitu cepatnya sehingga

tampak dikerahkan dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak tangan

yang sedang mengincar diri Tan Ki.

Hati anak muda itu sampai tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa penasaran.

Usianya masih begitu muda, namun kungfunya sudah demikian hebat. Benar-benar suatu

hal yang jarang terdengar maupun dijumpai. Kalau ia belum terluka, tentu tidak ada hal

yang perlu ditakutinya. Tapi kenyataan yang terpampang di depan mata, justru lukanya

masih belum sembuh. Tentunya dia belum bisa menggunakan anggota tubuh maupun

tenaga dalamnya dengan leluasa. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia mundur

beberapa langkah.

Diam-diam dia merasa heran.

‘Mengapa ilmu silat gadis ini hampir mirip dengan ilmu yang aku pelajari?’ tanyanya

dalam hati.

 

Tampak di wajahnya tersirat perasaan yang tidak tenang. Sementara Cian Cong sedang

merasa cemas sekali. Sepasang alisnya mengerut erat-erat. Mulutnya tidak mengeluarkan

sepatah katapun. Dia takut Tan Ki tidak memperdulikan cara turun tangannya sehingga

gadis berpakaian hitam itu akan terluka. Tapi dia juga sadar bahwa gadis ini sangat licik

serta keji. Sedikit-sedikit selalu main bunuh. Ada kemungkinan Tan Ki yang akan terluka di

Matanya perlahan-lahan mengedar, dia melihat Liu Seng dan Ciong San Tiau Siu bertiga

juga menyiratkan perasaan khawatir yang sama dengan dirinya. Wajah mereka tampak

Tiba-tiba terdengar suara bentakan gadis itu…

“Jangan lari!” pergelangan tangannya bergerak, sekaligus dia melancarkan dua belas

pukulan. Tampak bayangan telapak tangan yang banyak seperti ombak yang

menghempas-hempas. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya berderu-deru. Seluruh

ruangan itu sampai dipenuhi terpaan angin dari telapak tangannya.

Tan Ki menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba dia melangkah mundur tiga langkah. Dia

mengerti luka dalamnya masih belum sembuh. Kalau bisa dia tidak ingin menyambut

serangan gadis itu dengan kekerasan.

Siapa tahu sikap gadis itu sungguh bera-ngasan. Dia tidak senang melihat Tan Ki

seakan menghindarkan diri dari serangannya. Secara mendadak dia menarik kembali

sepasang tangannya. Dengan posisi menahan di depan dada, tahu-tahu dia melancarkan

sebuah pukulan.

Serangan ini mengandung tenaga yang sepenuhnya. Begitu dilancarkan, kekuatannya

bukan alang kepalang. Terpaan angin yang timbul dari pukulannya bagai badai yang

melanda dan sulit dibendung.

Meskipun kamar Mei Ling ini cukup luas, namun besarnya paling-paling dua depaan.

Sedangkan Tan Ki sudah mundur dua kali berturut-turut. Punggungnya sudah menempel

pada meja rias yang terdapat dalam kamar tersebut. Melihat datangnya serangan yang

hebat itu, dia tidak mempunyai tempat untuk melindungi diri lagi. Hawa amarah dalam

hatinya jadi meluap. Dengan menggertakkan gigi erat-erat, dia melancarkan sebuah

Dalam sekejap mata… waktu yang sesaat itu begitu cepatnya sehingga mata para

hadirin menjadi berkunang-kunang. Telinga mereka mendengar suara dengusan sebanyak

dua kali yang saling susul menyusul. Bayangan manusia berpencaran ke kiri dan kanan, di

susul dengan sebuah suara yang menggelegar. Gadis berpakaian hitam yang pertamatama

terhem-pas ke atas lantai kamar.

Wajah Tan Ki pucat pasi. Di sudut bibirnya terlihat tetesan darah. Tampangnya kusut.

Seperti orang yang sudah tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Dia berdiri dengan

tubuh bersandar pada meja rias.

Perubahan yang mendadak ini, benar-benar di luar dugaan setiap orang. Penglihatan

Cian Cong sangat tajam. Meskipun dengan jelas dia melihat keduanya beradu pukulan,

 

tapi walaupun hatinya berniat menolong, namun sudah terlambat. Dia terkejut sekali

melihat kenyataan yang terpampang di depannya.

“Celaka!” serunya sambil menggerakkan tubuh dan melesat ke depan.

Tiba-tiba terlihat wajah Tan Ki berubah hebat. Begitu mulutnya terbuka, dua kali

berturut-turut dia memuntahkan darah segar. Sepasang matanya membelalak dan diapun

terkulai jatuh entah dalam keadaan masih hidup atau sudah mati.

Perubahan yang saling susul menyusul ini terjadinya begitu cepat sehingga sulit diuraikan

dengan kata-kata. Hal ini membuat orang-orang tidak sempat memberi pertolongan.

Walaupun Cian Cong yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi juga menjadi kalang kabut

menghadapi situasi seperti ini. Dia tidak tahu pihak mana yang harus ditolongnya terlebih

Untuk sesaat, Liu Seng beserta rekannya juga menjadi termangu-mangu. Untung Cian

Cong lebih sigap. Setelah rasa terkejutnya hilang, dia mengatur nafasnya sejenak dan

berpikir matang-matang. Pertama-tama dia menghambur ke arah gadis berpakaian hitam.

Dia membungkukkan tubuh dan mengulurkan tangannya ke arah dada gadis berpakaian

hitam tersebut. Belum lagi tangannya sempat menjamah ke arah yang ditujunya,

tiba-tiba gerakannya terhenti. Tampaknya dia teringat sesuatu hal dan membatalkan

Sepasang alisnya bertaut erat. Setelah tertegun sesaat, akhirnya dia menolehkan

kepala dan menggapai ke arah Mei Ling.

“Bocah perempuan, coba kau ke mari dan tempelkan telapak tanganmu pada dadanya.

Lihat apakah jantungnya masih berdenyut atau tidak?” perintahnya.

Mei Ling tersenyum simpul.

‘Begitu baru benar. Aku kira saking paniknya kau ingin menolong orang sehingga bagian

terpenting dari tubuh seorang gadis juga akan kau jamah begitu saja…!’ pikirnya

dalam hati.

Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri lalu

bergegas berjalan menuju ke tempat si gadis berpakaian hitam seperti yang diperintahkan

oleh Cian Cong. Dia mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke dada gadis itu.

“Masih berdenyut, namun sudah lemah sekali.” sahutnya.

Mendengar ucapannya, Cian Cong sampai menghentak-hentakkan kakinya sambil

menggerutu panjang lebar.

“Bocah bagus, tidak perduli pukulan tangan sendiri ringan atau berat malah berani

melukainya sedemikian parah. Nanti kalau kakek moyangnya datang, kita terpaksa harus

mengadu tinju sampai puas!” mendengar nada bicaranya, dia seperti pusing sekali

menghadapi masalah ini. Kepalanya digelengkan berkali-kali.

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba sebuah suara yang dingin berkumandang dari

depan pintu…

 

“Rupanya Cian Cong masih mempunyai gairah sehebat itu?”

Suara ini datangnya mendadak sekali. Tanpa sadar Cian Cong berseru terkejut. Cepatcepat

dia membalikkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke depan pintu…

Di ambang pintu, entah sejak kapan telah berdiri seorang laki-laki yang tua dan bertubuh

kurus. Dia mengenakan jubah berwarna hijau, wajahnya bersih dan tenang. Tetapi

penampilannya menimbulkan kesan bahwa dia bukan orang yang mudah didekati, bahkan

agak angkuh.

Tampak di ujung lengan baju sebelah kiri, tersembul sebuah telapak tangan yang mengeluarkan

kilauan cahaya yang menyolok mata. Pertama-tama Cian Cong tertegun agak

lama. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Lok Laotao (bapak tua) jangan bergurau, kita sudah lama sekali tidak berjumpa lho!”

Orangtua berjubah hijau itu tertawa dingin.

“Masih lumayan, hengte masih belum masuk liang kubur, akhir-akhir ini Cian heng

rasanya…” begitu matanya beredar, dia langsung mengeluarkan seruan terkejut. Tidak

terlihat bagaimana caranya bergerak, tahu-tahu orangnya sudah sampai di samping gadis

berpakaian hitam.

Ketinggian ilmu ginkang yang diperlihatkannya, membuat wajah Liu Seng beserta Ciong

San Tiau Siu berubah hebat. Pandangan mereka sampai berkunang-kunang. Begitu

penglihatan dialihkan kembali, tampak tubuh orangtua berjubah hijau itu bergetar keras.

Dia seperti baru saja mendapat pukulan bathin yang hebat.

Terdengar suara ratapannya yang pilu dengan suara parau dan tersendat-sendat.

“Ingji, oh Ingji, kau pergilah. Setelah kau mati, Kong kong pasti akan membunuh seratus

tokoh Bulim sebagai korban untukmu dan teman di saat penguburanmu.”

Hati Cian Cong tercekat sekali.

“Hei, Lok laotao, masa nyawa cucu perempuanmu bernilai begitu tinggi?” teriaknya

Begitu kesal dan sedihnya orangtua berjubah hijau sampai mengeluarkan suara tertawa

yang panjang.

“Kau kira siapa dan apa kedudukan cucu perempuanku ini. Biarpun seratus atau seribu

lembar nyawa tokoh Bulim juga hanya pantas dibandingkan dengan selembar bulu kakinya

saja!”

Cian Cong ikut-ikutan tertawa dingin.

“Nyawa cucu perempuanmu begitu berharga, apakah nyawa orang lain bukan nyawa

juga, tapi sampah?” sahutnya kesal.

 

Tampaknya kesedihan orangtua berjubah hijau sudah mencapai puncaknya. Emosi

yang meluap-luap dalam hatinya tiada tempat untuk disalurkan. Oleh karena itu, dia

mengangkat telapak tangannya dan menghantam meja bundar di tengah ruangan yang

terbuat dari kayu. Terdengar suara geprakan yang keras, meja itu pun sompal bagian

Matanya mendelik lebar-lebar. Sinar matanya mengandung api yang berkobar-kobar.

“Siapa yang membunuh cucu perempuanku yang baik?” tanyanya marah.

Nada suaranya melengking tinggi. Bagai ratapan dan tangisan setan-setan di malam

hari. Orang yang ada di dalam ruangan kecuali Cian Cong, tidak ada satupun yang tidak

tergetar. Bulu kuduk mereka seakan merinding semua.

Cian Cong malah tertawa lebar.

“Kau datang-datang langsung marah-marah seperti orang gila, bukannya lihat dulu

keadaan dengan jelas. Apakah kau yakin cucu perempuan kesayanganmu itu benar-benar

sudah mati? Hm, tindakanmu yang membabi buta itu, apa pantas menjabat sebagai

pangcu dari Ti Ciang Pang yang tersohor itu?” sindirnya tajam.

Kata-katanya yang terakhir, membuat Liu Seng serta rekan-rekannya terperanjat. Hati

mereka tergetar…

Diakah pangcu dari Ti Ciang Pang? Tokoh yang gerak-geriknya bagai naga sakti?

Perlu diketahui bahwa Ti Ciang Pang adalah sebuah perkumpulan yang menjunjung

tinggi keadilan. Beberapa tahun ini kebesaran nama mereka benar-benar ibarat matahari

yang terbit di pagi hari.

Kekuasaan mereka sudah tersebar luas. Kehebatan mereka menjadi buah bibir di mana-

mana. Kebesaran nama perkumpulan ini boleh dikatakan malah lebih hebat dari lima

partai besar.

Sedangkan pangcu dari Ti Ciang Pang, dalam pandangan tokoh-tokoh Bulim lainnya,

seperti seorang tokoh yang misterius, berwibawa, angker… membuat mereka berperasaan

seakan suatu benda pusaka yang hanya boleh dilihat namun tidak boleh tersentuh.

Justru pada saat ini, ketiga orang itu melihat wajah asli pangcu Ti Ciang Pang ini. Tentu

saja mereka merasa terkejut dan penasaran. Tanpa sadar mereka malah melihat terus

berkali-kali.

Sementara itu, tampak pangcu Ti Ciang Pang yang bernama Lok Hong itu membungkukkan

tubuhnya dan memeriksa hembusan nafas dari hidung si gadis berpakaian hitam.

Setelah agak lama, akhirnya dia menghela nafas lega. Tampangnya yang tadi tegang juga

sudah jauh mengendur. Bibirnya tersenyum.

“Kalau bukan disadarkan oleh kata-kata Ciang heng, hengte hampir saja berbuat kesalahan

besar.”

Cian Cong ikut-ikutan menarik nafas panjang.

 

“Lok Laotoa, apapun yang kau perbuat selama ini, selalu menerbitkan kekaguman di

hati si pengemis tua ini. Tapi terhadap-cucu perempuanmu ini, tampaknya kasih sayangmu

agak berlebihan. Seandainya dia kehilangan selembar rambutnya saja, mungkin lebih baik

kau kehilangan seluruh janggutmu yang panjang itu.” gerutunya.

Lok Hong hanya tersenyum simpul. Dia tidak memperdulikan ocehan Cian Cong. Pa-da

dasarnya sikap orang ini berjiwa lapang. Kalau marah hanya sebentar. Sesudahnya dia

akan kembali seperti biasa lagi. Sekarang tampak dia mengangkat sebelah telapak

tangannya kemudian menempelkannya pada punggung si gadis berpakaian hitam.

Setelah lewat beberapa saat, mula-mula terdengar suara keluhan dari mulut si gadis

berpakaian hitam, perlahan-lahan matanya membuka dan sadarkan diri. Sedangkan luka

yang diderita Tan Ki lebih parah. Oleh karena itu, sadarnya lebih lama daripada sang

Lok Hong menggendong si gadis berpakaian hitam dan berdiri. Tangannya diselusupkan

ke balik pakaian, lalu dikeluarkannya sebutir pil yang lalu dimasukkan ke dalam mulut si

gadis, bibirnya tersenyum.

“Anak baik, yang pintar ya. Biar Yaya menyayangimu.” katanya. Tangannya terulur

untuk mengelus-elus kepala gadis itu. Sikapnya lembut sekali, tak terlihat lagi tampangnya

yang garang seperti pembunuh tadi.

Gadis berpakaian hitam menatap ke arah kakeknya. Pertama-tama dia agak tertegun

sampai tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Setelah mendengar ucapan kakeknya

yang menyentuh hati, dia langsung membuka mulut dan menangis meraung-raung.

Tangannya menuding Tan Ki yang baru merangkak bangun.

“Dia… dia menghina aku…” katanya.

Lok Hong tersenyum simpul.

“Nyali bocah ini sungguh besar. Beraninya dia menghina cucu perempuanku yang baik.

Coba kau lihat, Yaya akan mengajar adat padanya!” begitu kata-katanya selesai, sebelah

tangannya bergerak dan menghantamkan sebuah pukulan.

Kecepatannya bagai kilat…

Tan Ki sedang memperhatikan tanya jawab antara kakek dan cucu tersebut. Tiba-tiba

dia merasa pipinya ditempeleng dengan keras. Baru saja dia hendak mengangkat

tangannya untuk menangkis, telapak tangan Lok Hong sudah mendarat di pipi kirinya dan

tahu-tahu orangtua itu sudah kembali mengelus-elus kepala si gadis berpakaian hitam.

Benar-benar datang tanpa wujud, pergi tanpa jejak. Kecepatannya membuat orang

terkesiap. Pukulannya ini menimbulkan suara keras. Tetapi tenaga yang terkandung di

dalamnya justru lembut. Tan Ki meraba pipinya dan termangu-mangu. Dengan adatnya

yang tinggi hati dan keras kepala, ternyata dia tidak berani maju dan melawan orangtua

Rupanya, dia sudah melihat telapak tangan kiri Lok Hong yang mengeluarkan cahaya

berkilauan, dia tahu lambang itu merupakan ciri khas Ti Ciang Pang!

 

Ilmu silat yang dimilikinya merupakan hasil curian dari perkumpulan orangtua itu. Kalau

sampai dia bergerak, tentu asal-asul ilmunya akan diketahui oleh orangtua tersebut. Kalau

sampai membuat Lok Hong kalap, biarpun Tan Ki mempunyai sepuluh lembar nyawa juga

tidak akan bisa menahan diri terhadap satu hantamannya!

Oleh karena itu, meskipun pukulan telapak tangan Lok Hong tadi membuat hawa

amarah di dalam dadanya meluap, tapi dia tetap berusaha menahan emosinya dan tidak

berani mengambil tindakan apa-apa.

Melihat kedua kakek dan cucu itu saling menyayangi dan tampak begitu berbahagia,

tiba-tiba hatinya merasa hampa dan pedih. Kenyataannya, dia hanya seorang anak yatim

piatu. Seorang pemuda yang malang!

Ayahnya yang baik hati dan mengasihinya telah dibunuh oleh empat puluh delapan

tokoh persilatan dengan senjata rahasia yang berbeda. Kematiannya begitu mengenaskan

dan penuh penderitaan.

Sedangkan ibunya…

Dia adalah seorang perempuan yang… akh! Dia tidak berani memikirkan lebih lanjut.

Hal itu merupakan peristiwa yang menyakitkan hati!

Tiba-tiba terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Lok Laotoa, cucu perempuanmu ini benar-benar berangasan sekali. Si pengemis tua

tidak pernah takut terhadap langit dan bumi tetapi justru pusing kepala kalau menghadapinya.”

hatinya seperti mempunyai pertimbangan sendiri sehingga tidak mengatakan

mengapa cucu perempuan Lok Hong sampai berkelahi dengan Tan Ki.

Lok Hong tersenyum lembut. “Cian Heng menyalahkan hengte memang tidak salah.

Tetapi kau juga tahu, sejak kedua orangtuanya menghilang, dia jadi sebatang kara tanpa

tempat berlindung. Sungguh kasihan. Hente sudah hidup sampai setua ini, juga tidak tahu

kapan akan kembali ke sisi-Nya. Kalau tidak menyayanginya, siapa lagi yang akan

menaruh perasaan iba kepadanya?”

Sebetulnya Cian Cong masih ingin berbicara lagi, tapi tiba-tiba dia berpikir.

‘Orang ini mempunyai perasaan kasih yang dalam. Hal itu merupakan ungkapan yang

wajar dan sikap seseorang tidak mudah diubah. Untuk apa aku berkata panjang lebar?’

Berpikir demikian, perlahan-lahan dia menarik nafas dalam-dalam. Mulutnya pun tidak

mengeluarkan sepatah kata lagi. Sementara itu, Tan Ki berjalan menghampiri Cian Cong

serta mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Sekalian dia memohon diri.

Tepat sekali dia membalikkan tubuh dan bermaksud meninggalkan ruangan itu, mendadak

terdengar panggilan gadis berpakaian hitam.

“Yaya, suruh dia berhenti dulu.”

“Kenapa? Yaya tadi sudah menempelengnya dengan keras, apa kau masih belum merasa

puas?”

 

“Tidak mau, pokoknya aku tidak akan membiarkan dia pergi sekarang.” sahut si gadis

berpakaian hitam.

Lok Hong tersenyum simpul.

“Hati anak perempuan paling sulit ditebak. Tiba-tiba kau ingin menahan seorang

pemuda, sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu?” mulutnya menggerutu tetapi

dia tetap menoleh kepada Tan Ki dan berkata. “Kalau cucu perempuanku sudah berkata

demikian, lebih baik kau jangan pergi dulu untuk sementara. Berdirilah di situ diam-diam.”

Nada bicaranya seperti sebuah perintah yang tidak boleh dibantah. Terdengar suara

dengusan dari hidung Tan Ki, namun dia menuruti juga kata-kata Lok Hong dan

menghentikan langkah kakinya. Luka yang dideritanya cukup parah, sedangkan tadi Cian

Cong belum menyembuhkannya sampai tuntas. Oleh karena itu, dia pasti sulit melarikan

diri dari tempat itu. Lagipula dia juga takut kartunya terbuka oleh Lok Hong. Akhirnya dia

terpaksa menahan rasa amarah dan berdiri tanpa bergeming sedikitpun.

Terdengar suara si gadis berpakaian hitam yang datar dan ketus.

“Terimalah, ini adalah obat penyembuh luka dalam. Dengan meminumnya, lukamu

akan lebih cepat sembuh.”

Sambil berbicara, dia melemparkan sesuatu benda kecil berwarna kehitaman ke arah

Tan Ki. Watak anak muda itu sangat keras. Setelah menyambut obat tersebut, tadinya dia

bermaksud membuangnya agar hati gadis itu menjadi mangkel. Tetapi pikirannya segera

tergerak. Keadaannya sekarang kurang menguntungkan apabila dia tetap berkeras. Oleh

karena itu, setelah tertawa dingin dua kali, dia memasukkan obat itu ke dalam mulut dan

Tampang gadis berpakaian hitam sepertinya kurang senang.

“Aku sudah memberikan obat kepadamu, tetapi kau malah kurang senang.”

“Tidak salah. Aku memang membencimu, benci sekali!”

“Apa yang kau katakan? Coba ulangi sekali lagi!” bentak si gadis berpakaian hitam.

“Benci!”

Si gadis berpakaian hitam marah sekali.

“Bagus! Kau berani memaki aku. Mari kita ulangi lagi perkelahian kita tadi!”

Lok Hong tersenyum simpul.

“Lahir sebagai orang dari keluarga Lok, mana boleh menerima hinaan orang begitu

saja. Anak baik, pukullah dia beberapa kali biar hatimu puas. Yaya justru ingin lihat sampai

di mana kehebatan anak muda ini dan berasal dari perguruan mana dia.”

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki tergetar. Dalam keadaan terkejut, tiba-tiba dia

mendengar suara keplakan sebanyak dua kali. Tahu-tahu kedua belah pipinya telah ditempeleng

oleh si gadis berpakaian hitam.

 

Watak gadis ini sungguh berangasan dan adatnya juga keras kepala. Pertama dia kesal

terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Tan

Ki, kedua dia mengira keberanian anak muda itu karena merasa mempunyai tulang

punggung yang kuat. Padahal dia sendiri yang mengandalkan kakeknya sehingga berani

berbuat semena-mena.

Sekaligus dua tamparan dia hadiahkan kepada Tan Ki, namun tampaknya dia masih

belum puas. Tangannya bergerak dan dia menampar Tan Ki sekaligus empat lima kali.

Pada saat itu juga, tampak wajah Tan Ki membengkak satu kali lipat. Tampangnya jadi

lucu namun mengenaskan. Bekas-bekas jari tangan tertera nyata di kedua belah pipinya.

Namun Tan Ki tidak mengumpat maupun mendengus sedikitpun. Diam-diam dia berkata

dalam hati: ‘Baiklah, kau boleh pukul sepuas hatimu. Kelak apabila kau terjatuh ke

tanganku, aku akan menagih hutang ini berikut bunganya sekalian!

Setelah memukul beberapa kali, rasa amarah dalam hati gadis itu agak berkurang, dia

melihat Tan Ki tidak menghindar atau menangkis pukulannya dan wajahnya sudah

menjadi bengkak dan merah. Hatinya terasa tidak tega melanjutkan lagi. Perlahan-lahan

dia menarik nafas panjang.

“Kau harus tahu sifatku, lain kali jangan sengaja memanas-manasi hatiku lagi.” katanya

Tan Ki mendengus dingin. Dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun. Kekerasan

adatnya benar-benar jarang ditemui pada orang lain.

Sementara itu, terdengar Cian Cong bertanya kepada Lok Hong.

“Mengapa kau bisa datang ke tempat ini?”

Lok Hong memperdengarkan segulungan suara tawa yang getir.

“Tidak khawatir ditertawakan oleh Cian Heng, hengte menempuh jarak sejauh ribuan li,

tujuan utamanya adalah untuk mencari cucu perempuanku ini.”

“Apa? Jadi dia itu kabur dari rumah?”

“Justru itulah. Sepanjang hari sepanjang malam dia terus ribut ingin mencoba ilmu silat

yang dimiliki oleh Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan rimba persilatan.

Hengte takut terjadi sesuatu di luar dugaan pada dirinya, maka terpaksa melindungi

secara diam-diam. Juga sekalian menggunakan kesempatan ini untuk menjajal kepandaian

Cian bin mo-ong yang katanya hebat sekali itu.”

Mendengar sampai di sini, hati Tan Ki merasa terkejut sekaligus senang. Dia tidak

menyangka namanya akan terkenal sampai daerah barat daya di mana terletak pusat

markas Ti Ciang Pang.

“Kalau Tia (ayah) sampai tahu urusan ini, di alam baka dia pasti akan merasa bangga

sekali.” pikirnya dalam hati.

 

Sayang sekali ayahnya sudah meninggal. Bahkan mati terbunuh dengan cara yang demikian

mengenaskan serta menyayat hati!

Begitu pikirannya tergerak ke masalah itu, tanpa terasa kelopak matanya membasah

dan air mata pun hampir menetes turun. Dia menggertakkan giginya erat-erat. Dia tidak

sudi meneteskan air mata di tempat itu. Dia mempunyai kekerasan hati yang hampir tidak

dimiliki oleh orang lain. Baginya orang yang gampang menguraikan air mata adalah orang

yang rendah dan lemah serta tidak sanggup melakukan pekerjaan besar.

Sementara itu, Lok Hong sedang berpamitan kepada Cian Cong. Tan Ki memang berharap

agar kakek dan cucunya itu segera meninggalkan tempat tersebut. Namun tiba-tiba

telinganya mendengar kembali suara Lok Ing.

“Yaya, ajak orang ini pergi dengan kita.”

Mendengar ucapannya, sukma Tan Ki seperti melayang setengahnya. Tanpa sadar

tubuhnya gemetar. Dia merasa marah sekali.

“Sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu? Mengapa kau memaksa dan mendesak

aku sedemikian rupa?” teriaknya kesal.

Lok Hong tersenyum lebar.

“Dia ingin mengajak engkau, tentu tidak bermaksud mencelakaimu. Mengapa harus

takut? Aku rasa Cian Locianpwe juga setuju dengan usul ini, bukankah demikian Cian

Heng?”

Cian Cong cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

“Betul, betul. Kau bocah cilik ini ikut dengan Lok Kouwnio, pasti akan memperoleh

manfaat yang besar. Pasti tidak mengalami kerugian apapun.”

Dengan demikian, kakek dan cucu She Lok itupun meninggalkan tempat tersebut

dengan menyeret Tan Ki. Ketika hendak berangkat, berkali-kali Tan Ki menoleh ke arah

Mei Ling seakan berat berpisah dengan gadis itu. Mei Ling hanya tersenyum simpul dan

tidak menunjukkan reaksi apapun.

Tentu saja dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Tan Ki, hanya kesan pemuda

tersebut dalam hatinya tidak terlalu buruk. Diam-diam Tan Ki menarik nafas

panjang. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Dia merasa gadis itu bagai rembulan di atas

langit. Demikian cemerlang dan indah tapi manusia hanya dapat memandang namun tidak

dapat menyentuhnya… sambil berpikir, ketiga orang itu pun meninggalkan gedung

keluarga Liu.

Kurang lebih satu kentungan telah berlalu, mereka sampai di sebuah bukit yang tidak

berapa tinggi. Di sana terdapat sebuah pondok yang atapnya dialasi dengan daun rumbia.

Kemungkinan besar merupakan tempat tinggal sementara. bagi kakek dan cucu dari

keluarga Lok tersebut.

Gadis berpakaian hitam Lok Ing berusaha memancing pembicaraan dengan Tan Ki sepanjang

perjalanan. Tidak tahunya, pemuda itu tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut

 

sepatah katapun. Saking kesalnya, gadis yang keras hati ini sampai memalingkan

wajahnya ke arah lain dan tidak mau melayani Tan Ki lagi.

Setelah masuk ke dalam pondok tersebut, Lok Ing turun tangan sendiri ke dapur menyiapkan

sarapan pagi untuk Tan Ki. Tampaknya hati gadis itu sedang merencanakan

sesuatu sehingga sikapnya terhadap pemuda itu berubah menjadi lembut dan penuh

perhatian. Gaya bicara maupun tingkah lakunya jauh berbeda dengan tadi malam.

Sudah dua hari satu malam Tan Ki tidak mengisi perutnya dengan air ataupun makanan.

Oleh karena itu dia tidak sungkan lagi. Cepat-cepat dihabiskannya sarapan yang

disediakan oleh Lok Ing. Gadis itu juga menyediakan kamar tidur untuknya bahkan

membawakan sebaskom air hangat untuk membasuh muka.

Benar-benar sebuah penampilan yang meyakinkan. Begitu lembut dan penuh perhatian!

Diam-diam Tan Ki merasa geli, dia tahu gadis itu pasti mempunyai rencana tertentu

atau ada suatu hal yang diinginkan Lok Ing dari dirinya. Tapi dia tidak habis pikir apa itu

dan mengapa?

Yang aneh justru sikap Lok Hong terhadap gerak-gerik yang dilakukan oleh cucu

perempuannya seperti orang yang masa bodoh. Kadang-kadang dia malah sengaja keluar

dari pondok tersebut dan membiarkan mereka berdua. Pada saat tengah hari, Lok Hong

mengatakan bahwa ada urusan yang harus diselesaikannya. Dengan tergesa-gesa dia

keluar dari pondok tersebut.

Lok Ing juga tidak menanyakan maksud kepergiannya. Dia menunggu sampai Tan Ki

tertidur pulas baru bersedia meninggalkannya. Karena dia sendiri yang memaksakan

kehendaknya agar Tan Ki ikut mereka. Maka dari itu dia khawatir Tan Ki akan melarikan

diri apabila dia tidak menjaga dengan ketat.

Satu hari telah berlalu, akhirnya tiba saat bagi para manusia untuk masuk ke dalam

peraduan. Malam ini kembali tidak terlihat cahaya rembulan, bintang-bintang menjauhkan

diri sehingga yang tampak hanya bekas yang samar-samar. Pemandangan di sekeliling

terselubung oleh kegelapan. Benda-benda yang jaraknya lebih dari tiga depa sudah tidak

tertangkap oleh penglihatan lagi.

Dari jauh terdengar suara kentungan diketuk. Hanya berbunyi satu kali. Saat ini berarti

sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam, dengan kegesitan seekor

kucing mengendap-endap ke arah kamar tidur Tan Ki. Potongan badan orang itu kecil dan

langsing. Tidak usah ditanya sudah pasti ia seorang perempuan.

Angin malam berhembus semilir, keadaan di sekeliling tetap sunyi.

Di tempat ini, ternyata sedang berlangsung peristiwa Fan Jai Hwa. Biasanya kaum lakilaki

yang mengendap-endap ke kamar seorang gadis untuk merusak kesuciannya. Orang

ini umumnya disebut Jai Hwa Cat alias maling pemetik bunga. Tetapi yang akan terjadi

saat ini justru kebalikannya. Seorang perempuan yang mengendap-endap ke kamar

seorang pemuda untuk memperko-sanya. Maka dari itu disebut Fan Jai Hwa yang berarti

 

Seorang perempuan mencari kesenangan dari laki-laki dengan cara seperti ini. Sungguh

memalukan! Benar-benar perbuatan yang rendah!

Tidak seharusnya Lok Ing menotok urat darah tidur Tan Ki ketika meninggalkannya.

Sekarang dia jadi pulas tidak sadar apapun. Tentu saja dia juga tidak bisa memberikan

Siapa perempuan itu? Mungkinkah Lok Ing yang pura-pura keluar dari kamar dan

masuk lagi dengan mengendap-endap? Mungkinkah dia yang melakukan perbuatan

serendah itu?

Tidak! Kakek moyangnya merupakan salah satu dari tokoh sakti di dunia Bulim.

Namanya direndengkan dengan Cian Cong. Kewibawaannya sebagai pangcu dari Ti Ciang

Pang sudah menggemparkan dunia Kangouw. Walaupun ada kemungkinan Lok Ing bisa

melakukan perbuatan demikian, tapi Lok Hong tidak mungkin membiarkan cucu

perempuannya ini merusakkan nama baik keluarga Lok yang telah dipupuk dengan susah

payah selama ini.

Kalau begitu siapa? Apakah Mei Ling yang polos dan kekanak-kanakan? Apakah Kiau

Hun yang cintanya berkobar-kobar?

Memang betul, siapapun di antara mereka, kemungkinannya ada. Tetapi kalau ditilik

dari latar belakang kehidupan mereka dan pendidikan yang mereka kenyam selama ini,

rasanya tidak mungkin mereka melakukan perbuatan yang demikian tidak tahu malu.

Siapakah orangnya? Siapa? Hal ini seperti sebuah permainan teka-teki yang membutuhkan

BAGIAN VI

Malam semakin larut. Di sekitar hening mencekam. Beberapa buah pondok yang

terdapat di daerah itu begitu sunyinya bagai areal pekuburan.

Tampak gerakan perempuan itu begitu lincah dan cepat luar biasa. Begitu kakinya

mendarat di tanah, tidak terdengar suara sedikitpun. Tapi nyalinya juga sangat besar.

Krek! Jendela kamar dibuka, diapun menyelinap ke dalam.

Ketika Lok Ing meninggalkan Tan Ki, sebelumnya dia sudah menotok urat darah tidur

dan gagu pemuda itu. Suara deritan jendela yang didorong oleh perempuan itu cukup

jelas. Tapi tetap saja Tan Ki tidak sadarkan diri.

Sepasang mata perempuan itu jelalatan ke sana ke mari. Dia memperhatikan isi

ruangan tersebut. Dia menyalahkan lampu minyak yang tergantung di dinding. Ruangan

kamar yang tadinya gelap gulita itu, lambat laun menjadi agak terang.

Di bawah sorotan lampu yang remang-remang, masih tertampak raut wajah perempuan

tersebut. Usianya sekitar dua puluh empat tahunan. Tampangnya cantik jelita. Di antara

kedua alisnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam.

 

Tanda itu seperti melambangkan kegenitan, kegairahan yang bergelora. Ketika dia

melihat Tan Ki, kakinya maju lagi dua langkah, kemudian dia duduk di sisi tempat tidur,

matanya bersinar terang, dia menatap Tan Ki lekat-lekat. Diperhatikannya mulut, hidung,

mata, alis… seluruh raut wajah Tan Ki dengan pandangan yang tidak bosan-bosannya.

Tiba-tiba, terdengar suara tertawanya yang ringan, dia mengulurkan tangannya dan

mengusap wajah Tan Ki sebanyak dua kali. Gerakannya santai, seperti tidak ada perasaan

jengah ataupun malu sedikitpun. Suara tertawanya yang bebas malah membuat hati orang

yang mendengarnya jadi berdebar-debar. Mendadak tangannya menepuk, dia telah

membebaskan urat darah Tan Ki yang tertotok.

Lambat laun, dia tersadar dari totokannya. Begitu mata memandang, ternyata di

hadapannya adalah seorang perempuan, tentu saja dia merasa hal itu di luar dugaan dan

terkejut sekali.

“Siapa kau?” bentaknya.

Perempuan itu tertawa dengan santai.

“Orang yang datang untuk menolongmu.” sahutnya tenang.

“Menolong aku? Kau tidak takut tertangkap basah oleh Lok Locianpwe?”

“Mereka sedang tidak ada.”

Tiba-tiba Tan Ki teringat, kentungan ketiga malam ini, Cian Cong dan Ciu Cang Po telah

berjanji untuk bertemu di Cui Sian Lau. Mereka akan bertarung sekali lagi. Tentunya kakek

dan cucu dari keluarga Lok itu ikut menyaksikan keramaian tersebut. Mulutnya segera

mengeluarkan suara, “oh!” satu kali kemudian menundukkan kepalanya merenung.

Kemudian telinganya menangkap lagi suara perempuan itu yang lembut.

“Hengte, kau diringkus oleh Lok Laotao ke tempat ini, mengapa kau tidak berusaha

untuk melarikan diri?”

Panggilan Hengte yang keluar dari mulutnya, terdengar demikian mesra. Tampaknya

perempuan ini sangat terbuka dan tidak malu-malu. Tetapi dalam pendengaran Tan Ki

justru menyeramkan dan membuat wajahnya menjadi merah padam. Hatinya menjadi

tidak tenang.

Dia tertegun beberapa saat. “Isi perutku terluka sehingga sulit menggerakkan anggota

tubuh dengan leluasa.” sahutnya kemudian.

“Hengte, aku mempunyai akal untuk menyembuhkan luka dalammu, tetapi…” dia

sengaja menghentikan kata-katanya di tengah jalan dan membungkam.

“Tetapi apa?” tanya Tan Ki cepat.

Perempuan itu tersenyum misterius.

“Aku akan menyembuhkan luka dalammu. Tetapi setelah dirimu sembuh kau harus

melakukan sesuatu hal sebagai imbalannya.”

 

Tan Ki termenung sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, asal bukan perbuatan membunuh orang atau mencelakakan orang, tetapi

urusan yang masuk akal, aku tentu akan melakukannya dengan sekuat kemampuan.”

Baru saja ucapannya selesai, hidungnya mengendus serangkum keharuman yang

samar-samar. Perlahan-lahan membuai perasaannya. Ternyata gadis itu sedang

menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Tan Ki.

Pada saat itu, musim panas sudah mencapai pertengahannya. Udara memang agak

panas. Perempuan itu mengenakan pakaian tanpa lengah dan agak tipis. Tampak

sepasang lengannya yang putih dan indah. Gulungan angin yang membawa keharuman

langsung menerpa indera penciuman Tan Ki.

Tan Ki merasa kulit tubuh perempuan itu menempel dengan tubuhnya. Sejuk dan

lembut. Sekumpulan perasaan yang sulit diuraikan memenuhi hatinya. Pikirannya seperti

bergelora, wajahnya terasa panas dan dia langsung mengerutkan sepasang alisnya

dengan pikiran yang tidak tenang.

‘Mengapa urusan yang terjadi beberapa hari ini, selalu ada kaitannya dengan kaum

perempuan dan selalu yang bukan-bukan saja?’ pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba terlihat perempuan itu tersenyum lembut. Tangannya bergerak dan secara

berturut-turut dia menepuk tiga puluh enam urat nadi Tan Ki. Gerakannya ini tentu saja

mengandung maksud tertentu. Ketika dia selesai menepuk ketiga puluh enam urat nadi di

tubuh Tan Ki, wajahnya langsung menjadi merah padam dan keringatnya yang harum

mengalir dengan deras.

Dia mengeluarkan tiga butir pil dari balik sakunya yang kemudian disuapkan ke mulut

Tan Ki. Setelah itu dia mengatur nafasnya sejenak dan tersenyum.

“Hengte, kau boleh menarik nafas beberapa kali. Coba lihat apakah masih merasakan

sesuatu di dalam tubuhmu?” katanya.

Tan Ki menuruti kata-katanya dan menarik nafas beberapa kali. Dia merasa hawa

murninya beredar dengan lancar, begitu pula aliran darah dalam tubuhnya. Ternyata luka

dalamnya sudah sembuh secara tuntas. Hatinya gembira sekali. Dia cepat-cepat turun dari

tempat tidur dan menjura dalam-dalam kepada perempuan tersebut.

“Terima kasih atas budi pertolongan Toa-ci, Siaute tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”

Perempuan itu mengangkat lengan bajunya untuk menutupi mulutnya. Dia tertawa

terkekeh-kekeh.

“Jangan gembira dulu, meskipun pengobatanku ini sangat manjur, tetapi bukan berasal

dari aliran yang lurus. Dalam dua belas kentungan kau tidak boleh sembarangan

menggerakkan hawa murni dalam tubuhmu ataupun bergebrak dengan orang. Kalau tidak,

luka lama akan kambuh kembali bahkan lebih parah dari yang pertama. Kalau sampai hal

 

ini terjadi, walaupun si tabib sakti Huo To hidup kembali, dia juga tidak dapat memberikan

pertolongan apa-apa.”

Tan Ki tertegun mendengar ucapannya.

“Benar?”

Perempuan itu tersenyum simpul.

“Buat apa aku membohongimu?” matanya menyiratkan cahaya yang penuh gairah.

“Udara panas sekali.” katanya kemudian.

Terdengar suara, Bret! Tahu-tahu dia telah membuka kancing bajunya. Sesaat

kemudian terlihatlah kutangnya yang berwarna merah menyolok mata. Rupanya dia

benar-benar membuka pakaiannya yang sebelah atas. Wajahnya menghadap cahaya

lampu, terang berkilauan. Membuat gairah dalam hati jadi terbangkit.

Hati Tan Ki berdebar-debar melihatnya, wajahnya yang tampan jadi merah padam.

Sejak dilahirkan, dia belum pernah melihat tubuh seorang perempuan. Bahkan kali ini,

mungkin merupakan pemandangan yang baru baginya.

Serangkum bau yang harum terendus lewat hembusan angin. Dengan berani

perempuan itu mengulurkan tangannya dan memeluk leher Tan Ki. Kulit tubuh saling

bersentuhan, pelukan yang lembut dan menyegarkan. Perasaan di hatipun terasa aneh.

Tan Ki jadi terbuai.

Pandangan yang tertangkap oleh matanya hanya semacam kehangatan dan selembar

wajah yang cantik. Dia merasa hampir tidak dapat mempertahankan diri lagi. Segulung

arus birahi seperti mengalir ke atas otaknya.

Nafasnya mulai memburu, matanya mulai memancarkan sinar yang membara!

Telinganya kembali menangkap suara tawa perempuan itu yang genit. Bagai irama

pembetot sukma. Tiba-tiba dengan gerakan yang mendadak dia memeluk pinggang

perempuan tersebut, matanya yang membara menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.

Tepat pada saat itu, dia merasa perempuan itu demikian menawan hati dan mempunyai

keistimewaan yang tidak dapat diuraikan dengan katakata.

Dia merasa setiap tetes keringat yang membasahi wajah perempuan itu bagaikan

puluhan bunga yang bermekaran. Hal mana membuat orang yang melihatnya jadi jatuh

hati. Dia jadi termangu-mangu seketika.

Lama-lama sekali, tidak ada sepatah ucapanpun yang keluar dari bibir mereka. Kamar

itu menjadi senggang, tiada suara yang terdengar, udara bagai diselimuti semacam

kegairahan yang tidak terkendalikan!

Tan Ki sudah terbuai oleh pemandangan indah di depan matanya. Pikirannya mulai

kacau. Dia hampir tidak dapat mengendalikan gelombang ombak yang menghempashempas

Tiba-tiba dia mengencangkan pelukannya. Seluruh tubuh perempuan itu yang lembut

dan mungil otomatis terjerembab dalam pelukannya. Gulungan hawa yang harum terus

menerpa hidungnya. Dia merasa aliran darahnya berdesir. Jantungnya memacu lebih

 

cepat. Ini merupakan suasana yang panas serta merangsang, seorang pemuda yang

masih hijau dan seorang gadis yang kesepian saling berpelukan dengan erat di dalam

kamar. Jurang dosa tengah mengincar keduanya agar jatuh ke dalam perangkap!

Bibir Tan Ki bergerak-gerak seakan sedang bergumam seorang diri… “Siapa kau

sebetulnya? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?” nada suaranya tidak

mengandung kebencian, malah kegembiraan. Perempuan itu tertawa merdu. “Cici adalah

Siau Yau Sian-li (Dewi pecinta kebebasan) Liang Fu Yong…”

Mendengar keterangannya, Tan Ki terkejut sekali. Pikirannya yang melayang-layang

agak tersentak.

“Benar?” serunya dengan hati tergetar. “Benar, Cici tidak ingin membohongimu!”

Mendengar nada suaranya yang tegas, dengan panik Tan Ki mendorong tubuh perempuan

itu. Gairah panas yang memenuhi hatinya langsung surut separuh. Keterangan yang di

luar dugaannya malah membuat dia sedemikian terkejut sehingga untuk sesaat dia

terdiam tanpa sanggup mengeluarkan sepatah katapun.

Setelah tertegun beberapa saat, dia membentak dengan nada marah…

“Perempuan jalang, lihat pukulan!” baru saja ucapannya selesai, tinjunya sudah

melayang ke depan. Tiba-tiba dia merasa serangkum rasa nyeri menyerang dadanya.

Tulang belulang tubuhnya bagai patah berserakan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Dengan panik dia menarik kembali pukulannya kemudian memejamkan mata mengatur

Meskipun kejadiannya berlangsung dengan cepat, namun dia sudah kesakitan sampai

meneteskan keringat dingin. Tampaknya dewi pecinta kebebasan Liang Fu Yong sudah

biasa melihat perubahan seperti ini. Dia tidak tampak terkejut malah mencibirkan bibirnya

dan tersenyum mengejek.

“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh menggerakkan hawa

murni dalam tubuhmu atau bergebrak dengan orang. Kau malah seperti sengaja mencari

kesusahan untuk dirimu sendiri.”

Dia segera menghampiri Tan Ki. Tangannya terulur dan mengusap keringat yang

membasahi dahinya. Kemudian dengan gerakan yang lembut dia meraba dada Tan Ki

seakan ingin membantu anak muda itu meringankan penderitaannya.

Tan Ki memandangnya dengan mata menyiratkan hawa amarah.

“Minggir, kau…” dadanya kembali terasa sakit sekali. Dengan panik dia menghentikan

kata-katanya. Matanya dipejamkan kembali untuk mengatur pernafasan.

Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Ada apa dengan Cici?”

“Kau lebih rendah dari pelacur-pelacur yang menemani tamu di rumah mesum!” maki

Tan Ki.

Dia sadar apa yang dikatakan perempuan itu memang benar. Apabila dia

menggerakkan hawa murninya, kemungkinan lukanya akan bertambah parah. Tetapi dia

tetap mengucapkan kata-kata itu dengan nada penuh emosi.

 

Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. “Kau menganggap apa yang dilakukan Cici tidak

benar bukan?” tanyanya tetap dengan suara lembut.

Tan Ki mendengus satu kali. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

“Orang-orang mengatakan bahwa kau Sia Yau Sian-li tidak tahu malu dan seorang perempuan

rendah. Ungkapan ini ternyata tidak salah. Aku sudah berkeliaran di seluruh

Kangouw, di mana-mana hanya ada laki-laki yang menjadi Jai Hwa Cat. Tapi seumur hidup

belum pernah mendengar ada perempuan yang melakukan hal yang hina ini…” dia merasa

kata-kata selanjutnya yang hendak diucapkan terlalu kasar, maka dari itu, dia segera

membungkam dan tidak melanjutkan kembali.

Liang Fu Yong tersenyum simpul.

“Apapun yang dikatakan oleh orang lain, biarkan saja. Asal Cici tidak mendengarnya

sendiri.” sahutnya santai.

“Apakah kau benar-benar tidak tahu malu?”

“Tidak tahu malu? Kalau aku memperdulikan cemoohan itu, tentu aku tidak akan

mendapat julukan perempuan rendah, dan digelari dewi pecinta kebebasan yang setiap

hari bebas bercinta dengan laki-laki manapun.”

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki jadi kesal sekaligus marah. Untuk sesaat dia jadi

termangu-mangu tanpa tahu apa yang harus dicacinya lagi. Akhirnya dia memejamkan

sepasang matanya dengan gaya acuh tak acuh.

Telinganya mendengar lagi nada suara perempuan itu yang seperti irama pembetot

sukma itu.

“Baik-baiklah kau rebah di atas tempat tidur. Cici tidak akan membuatmu kecewa.”

lengannya yang lembut meraba-raba kemudian menggendong Tan Ki dan membopongnya

ke atas tempat tidur.

Kali ini perasaan Tan Ki menjadi bimbang. Ingin rasanya dia menghentakkan tangan

perempuan itu atau memberontak, tetapi mengingat luka yang dideritanya, dia tidak

berani bergerak sembarangan untuk menjajal. Tapi kalau dia mendiamkan saja, peristiwa

selanjutnya yang bakal terjadi sudah dapat dibayangkan!

Begitu pikirannya tergerak, beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengambil keputusan.

Sementara itu, saking malunya, selembar wajah Tan Ki yang tampan sudah berubah

merah padam. Persis seperti orang yang baru menenggak beberapa cawan arak yang

keras sekaligus.

Tiba-tiba dia merasa punggungnya menyentuh sesuatu yang lembut. Rupanya dia

sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Di bawah sorotan lampu yang remang-remang.

Tan Ki melihat sebuah bayangan yang sedang melepaskan pakaian bahkan celana

Hati Tan Ki tercekat tidak kepalang.

 

‘Celaka!’ serunya dalam hati.

Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali dan tidak berani melihat pemandangan

yang ada dihadapannya. Hatinya bagai tertekan sesuatu benda yang berat sehingga

nafasnya tersendat-sendat.

Perasaan hatinya saat ini lebih kacau dari sebelumnya. Pikirannya semakin kalut dan

mulai lupa akan dirinya sendiri. Dia bagai seekor domba yang terkejut juga takut serta tak

sanggup memberikan perlawanan!

Perasaan terkejutnya belum sirna, dia merasa sesosok tubuh yang lembut telah

menindihnya dari atas. Nafasnya jadi memburu, hatinya semakin tegang. Matanya yang

dipejamkan erat-erat semakin tidak berani dibuka.

Dia merasakan serangkum bau harum yang lain terpancar dari tubuh Liang Fu Yong.

Malah lebih mempesona dari hawa harum yang terpancar dari rambut maupun mulutnya.

Hatinya benci tidak kepalang kepada perempuan yang rendah ini. Namun pada saat

demikian, mau tidak mau gairah kelaki-lakiannya tergerak juga.

Seumur hidupnya, baru kali ini dia bersentuhan dengan tubuh seorang perempuan.

Apalagi dalam keadaan yang demikian merangsang dan mendebarkan hati. Perasaannya

mulai tidak dapat dikendalikan!

Terdengar nada suara Liang Fu Yong yang diiringi nafasnya yang tersengal-sengal.

“Siaute, kau tidak boleh membuat aku kecewa dan membiarkan aku terhempas-hempas

seperti ini…” suaranya lirih sekali namun mengandung pengaruh yang kuat.

Diam-diam Tan Ki menarik nafas panjang.

‘Habislah aku kali ini.’ keluhnya dalam hati.

Segulung angin yang dingin menerpa masuk lewat jendela. Tanpa terasa hatinya

menggidik. Begitu mata memandang, entah sejak kapan Liang Fu Yong sudah melepas

jubah luarnya. Rasa terkejutnya jangan dikatakan lagi. Dalam benaknya tiba-tiba terlintas

bayangan dua orang gadis.

Juga entah dari mana dia mendapat keberanian, mulutnya mendadak meraung keras

dan kesadarannya segera tergugah. Dia menggelindingkan tubuhnya sehingga terjatuh

dari atas tempat tidur. Liang Fu Yong terkejut sekali melihat hal yang diluar dugaannya.

“Siaute, apa yang terjadi dengan dirimu?”

Tan Ki mendelikkan matanya dengan marah.

“Benar-benar perempuan yang tidak tahu malu. Siapa yang sudi menjadi adikmu?”

cepat-cepat dia mengaitkan kancing jubahnya kemudian melangkah keluar dari kamar

 

Gerakannya yang spontan ini membuat Liang Fu Yong menatapnya dengan tertegun.

Tiba-tiba tubuhnya melesat dan menghadang di depan pintu. Gerakan tubuhnya demikian

cepat sehingga benar-benar mengejutkan.

Hati Tan Ki tercekat. Dengan sendirinya dia mundur dua langkah.

“Apa yang kau inginkan?” bentaknya kesal.

“Kau lupa syarat yang kuajukan ketika akan menyembuhkan lukamu?”

Tan Ki terkejut sekali.

“Syarat apa, cepat katakan!”

“Aku ingin kau menemaniku malam ini.’ sahut Liang Fu Yong.

Sekali lagi Tan Ki tertegun. Setelah lewat beberapa saat, tampaknya dia baru dapat

mencernakan arti ucapan perempuan tersebut. Hawa amarah dalam dadanya jadi meluap

“Apa-apaan? Kau memiliki kepandaian, si-lahkan paksa aku melakukannya. Tetapi kalau

kau berharap aku akan melayanimu dengan suka rela, kau hanya mimpi di siang bolong!

Biarpun luka dalamku ini akan bertambah parah, aku juga akan mencoba beberapa jurus

ilmu silatmu itu!”

Baru saja ucapannya selesai, kakinya tiba-tiba maju dan menerjang ke depan.

Serangkum gelombang angin yang dahsyat menerpa ke depan. Dalam waktu yang sekejap

mata, dia sudah melancarkan lima enam jurus serangan.

Melihat serangannya yang hebat dan keji, Liang Fu Yong tidak berani menyambut

dengan kekerasan. Dia menggeser tubuhnya ke samping, bayangan tubuh Tan Ki yang

tinggi dan panjang menerobos dari sisinya. Dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah

mencapai jarak beberapa puluh depa. Wajah Liang Fu Yong menjadi datar seketika. Di

wajahnya tersirat juga hawa pembunuhan yang tebal.

“Jangan lari!” bentaknya.

Dengan tergesa-gesa dia mengejar. Tiba-tiba dia teringat bahwa tubuhnya belum mengenakan

pakaian. Meskipun saat itu baru memasuki kentungan kedua, malam larut dan

jarang ada penduduk yang berlalu lalang, tetapi dia juga tidak enak telanjang bulat seperti

itu mengejar seorang laki-laki.

Cepat-cepat dia kembali lagi ke kamar dan mengenakan pakaian. Ketika keluar lagi, Tan

Ki sudah berada dalam jarak kurang lebih empat lima li jauhnya. Anak muda itu seperti

mempertahankan diri dalam keadaan terluka dan tetap ingin terlepas dari cengkeraman

Liang Fu Yong. Caranya berlari benar-benar seperti orang yang melihat setan.

Liang Fu Yong memperdengarkan dengusan dari hidung dan mempercepat langkahnya

mengejar. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah melihat bayangan punggung Tan Ki.

Rupanya, anak muda tersebut tidak mengenal seluk-beluk jalanan di daerah tempat itu.

Dia hanya terus berlari sekuat tenaga tanpa arah yang tepat. Dia sendiri tidak tahu dirinya

sudah sampai di mana.

 

Sedangkan Liang Fu Yong hapal sekali jalanan di daerah itu. Lagi pula saat ini ilmu

ginkangnya jauh lebih tinggi daripada Tan Ki. Oleh karena itu dalam waktu yang tidak

berapa lama dia sudah berhasil menyusul anak muda tersebut.

Ketika Tan Ki melihat Liang Fu Yong, dia terkejut setengah mati. Dia tahu tempat itu

hanya berjarak setengah li dari Lok Yang. Asal dia dapat masuk ke dalam kota dan

menemukan Cian Cong maupun Lok Hong, tentu dia tidak perlu takut lagi terhadap

perempuan ini.

Begitu pikirannya tergerak, dia memacu langkahnya lebih cepat dan terus berlari ke

depan. Tetapi lambat laun dia merasakan dadanya mulai nyeri kembali. Keringat dingin

mulai menetes di keningnya. Dia tahu apabila dia berlari terus, luka dalamnya pasti akan

kambuh kembali. Namun wataknya keras kepala membuat Tan Ki tidak menghentikan

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuh Liang Fu Yong melesat maju

beberapa langkah kemudian menghadang di depannya. Perubahan yang mendadak ini

terjadinya begitu cepat. Saat itu Tan Ki sedang berlari seperti orang kalap. Tiba-tiba dia

melihat Liang Fu Yong menghadang di depan. Dengan panik dia menghentikan langkah

kakinya, namun dia tetap tidak dapat mengimbangi gerakan kakinya dengan baik. Setelah

menjerit satu kali, tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan lawan.

Dengan lembut Liang Fu Yong memeluknya. Tampangnya aneh sekali, entah apa yang

sedang dipikirkannya dalam hati. Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya sambil menarik

nafas panjang.

“Adik yang tampan, mengapa kau begitu keras kepala dan sengaja mencari kesulitan

untuk dirimu sendiri?”

Tan Ki segera memberontak dan melepas diri dari pelukannya. Mulutnya

memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Siapa yang meminta belas kasihan da…” tiba-tiba dadanya terasa sakit, kata-kata

selanjutnya tidak sanggup diucapkan lagi.

Sepasang mata Liang Fu Yong yang berbinar-binar menatap Tan Ki dari atas kepala

sampai ke ujung kaki. Dia seperti ingin menemukan sesuatu yang entah apa pada wajah

anak muda tersebut. Beberapa saat berlalu lagi…

“Meskipun Cici sudah bertemu dengan ratusan atau ribuan laki-laki, tetapi belum ada

satu pun yang seperti dirimu ini.” katanya dengan nada perlahan.

“Seperti apa?”

“Menyenangkan namun keras kepala.”

Tan Ki mendengus dingin. Dia memalingkan kepalanya ke arah lain. Mulutnya malah

memaki lagi.

“Perempuan rendah yang tidak tahu malu!”

 

Liang Fu Yong tersenyum simpul. Dia sama sekali tidak ambil hati terhadap makian Tan

Ki. Justru dia maju ke depan dan mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian

digunakan untuk menghapus keringat yang membasahi keningnya. Gerak-geriknya mesra

dan lembut serta penuh perhatian.

Tiba-tiba hati Tan Ki jadi tergerak. Di benaknya melintas sebuah pemikiran yang aneh…

‘Apakah sikap perempuan ini benar-benar demikian rendah dan memuakkan? Apabila

menasehatinya baik-baik, apakah dia dapat berganti haluan menjadi orang yang benar?’

Dengan membawa pikiran seperti itu, tanpa sadar dia jadi termenung.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Liang Fu Yong.

“Memikirkan engkau.”

Liang Fu Yong terpana mendengar jawabannya. Kemudian terlihat dia mengembangkan

seulas senyuman yang kenes.

“Tampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat juga. Apakah kau sedang

memikirkan bahwa sebetulnya aku cukup cantik?”

Wajah Tan Ki tampak serius.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku ingin bertanya kepadamu, setiap kau

memaksakan kehendakmu pada seorang laki-laki, apakah kau pernah memikirkan suatu

hal?”

“Tentang apa?”

“Cinta!”

Mendengar kata-katanya, mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Kemudian dia malah

tertawa terkekeh-kekeh.

“Berapa sih nilai benda tidak berwujud itu? Kaisar sekarang boleh mempunyai tiga isteri

dan enam selir, dan malah dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Tetapi, kalau

perempuan, biarpun suaminya mempunyai simpanan di luar, sang isteri tetap tidak boleh

menyeleweng. Ini… ini benar-benar tidak adil, apakah karena terlahir sebagai seorang

perempuan, kami-kami ini tidak ada harga-nya sama sekali?”

“Jadi, karena pikiran demikian, kau anggap tidak ada cinta dalam kamus seorang

perempuan?” tanya Tan Ki dengan penampilan yang tenang.

“Tidak salah, aku justru mempunyai pikiran seperti itu. Makanya aku merubah

pandangan hidupku dan berbuat sesuka hati.”

“Tapi, coba pikir, apa yang kau dapatkan? Kehampaan diri, kerinduan akan cinta,

semuanya tetap tidak terselesaikan.”

Pertanyaan ini, membuat Liang Fu Yong menjadi termangu-mangu. Mulutnya

membungkam tanpa tahu apa yang harus dikatakannya.

 

Betul! Apa yang didapatkannya? Tidak ada.

Apa yang diperoleh hanya kesenangan yang diperoleh dengan cara memaksa. Setelah

semuanya berlalu, hatinya tetap terasa hampa bagai sebuah perahu kecil di tengah

samudera yang terhempas-hempas ombak tanpa tujuan yang pasti. Juga bagai sekuntum

bunga yang layu dan tidak mendapat perhatian dari siapapun…

Siapa yang dapat menambal kekosongan dalam hatinya? Tidak ada.

Dia ingat ketika melakukan perjalanan, pada suatu hari dia terserang penyakit yang

parah. Pada saat itu, siapa yang datang menjenguknya? Siapa yang mengasihani dirinya?

Siapa yang menghiburnya? Tidak ada, tidak ada yang diperolehnya…

Berpikir sampai di sini, segulung kesedihan menyelinap di dalam hatinya. Air matanya

berderai dengan deras. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tan Ki melihat hati perempuan ini mulai tergerak oleh kata-katanya. Diam-diam dia

merasa gembira. Sengaja dia mengujinya kembali.

“Apakah kata-kata yang kuucapkan tidak benar?”

Liang Fu Yong merasa rendah diri dan iba terhadap dirinya sendiri.

“Tidak, lanjutkanlah kata-katamu. Meskipun salah, aku tetap tidak akan menyalahkan

engkau.” sahutnya lirih.

Tan Ki tersenyum lembut.

“Baiklah. Kalau begitu kau ikut denganku!”

“Untuk apa?”

“Aku akan memperlihatkan keajaiban kepadamu, yakni mencari cinta yang sejati.

Dengan demikian kau tidak akan menyimpan perasaan kecewamu dan pandanganmu

terhadap hidup ini akan berubah. Kalau tidak kau akan semakin terjerumus dalam lembah

kenistaan yang kau sendiri tidak sadari selama ini.”

Liang Fu Yong merenung sejenak. Dengan perasaan curiga dia bertanya…

“Benarkah cinta mempunyai kekuatan yang demikian besar? Sehingga dapat membuat

aku berganti haluan dan menjadi orang baik-baik?”

“Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya saja? Tetapi, gerak-gerikmu sejak

sekarang harus mengikuti perkataanku. Kalau tidak, malam-malam kau akan menyelinap

keluar dan mengulangi lagi perbuatan terkutuk itu. Apabila demikian halnya, biarpun dewa

turun dari langit juga tidak dapat menyembuhkan penyakit kejiwaanmu itu.”

Sepasang alis Liang Fu Yong mengerut ketat. Dia merenung beberapa saat kemudian

menganggukkan kepalanya.

 

“Baiklah, Cici akan mendengar perkataanmu. Tetapi kau harus memberi sebuah batas

waktu. Kalau tidak, apabila seumur hidup aku tidak mendapatkan jawaban, bukankah Cici

harus mendengar perintahmu seumur hidup?”

Tan Ki tidak menduga dia akan mengeluarkan permintaan seperti itu. Diam-diam dia

berpikir beberapa saat.

“Bagaimana kalau tiga bulan?”

“Ucapan seorang laki-laki sejati…”

“Seperti kuda yang berlari cepat.” sahut Tan Ki segera.

Kedua orang itu mengangkat telapak tangan kanannya dan saling menepuk satu kali.

Semacam isyarat terkukuhnya sebuah perjanjian. Hal ini biasa dilakukan oleh para tokoh

BAGIAN VII

Dari musuh, kedua orang itu berubah menjadi sepasang sahabat. Malam semakin larut.

Tidak terdengar suara sedikitpun. Keduanya berdiri saling bertatapan dan tidak

mengucapkan sepatah katapun untuk sekian lama.

Lama, lama sekali… akhirnya Liang Fu Yong menarik nafas panjang

“Adik, siapakah namamu?”

“Tan Ki.”

“Orangtuamu?”

Pertanyaan ini menerbitkan rasa sakit di dalam hati Tan Ki. Wajahnya tampak berubah

“Jangan tanya persoalan ini!” bentaknya keras.

Perasaan hati Liang Fu Yong sangat peka. Setelah tertegun sekian lama, akhirnya dia

dapat menduga bahwa riwayat hidup Tan Ki pasti penuh liku-liku dan tidak mudah

mencetuskan penderitaan hatinya. Oleh karena itu dia tersenyum lembut dan mengalihkan

pokok pembicaraan.

“Baik, jangan tanya ya sudah. Tetapi ke mana tujuan kita, seharusnya kau boleh

jelaskan bukan?”

Tan Ki mendongakkan kepalanya menatap langit.

“Kita menuju sebelah Barat kota. Lihat pertarungan antara dua tokoh yang berilmu

tinggi.” katanya.

 

“Baik.” tampaknya Liang Fu Yong sudah menaruh kepercayaan yang dalam terhadap

Tan Ki. Bibirnya hanya mengucapkan sepatah kata ‘baik’ dan tidak menanyakan hal

Sekali gerak tubuhnya langsung melesat. Kedua orang itupun berlari bersama-sama ke

depan. Tiba-tiba terdengar Tan Ki mengeluarkan suara aduhan yang lirih. Alisnya langsung

bertaut dengan erat. Liang Fu Yong terkejut sekali melihatnya.

“Adik, ada apa?”

“Dada. Dadaku masih terasa sakit.”

Liang Fu Yong mengeluarkan suara seruan. Dia langsung tertawa bebas.

“Hampir saja aku lupa.” dia mengulurkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan

empat butir pil. Disodorkannya ke mulut Tan Ki. “Setelah menelan obat ini, luka dalam

sudah terhitung sembuh secara keseluruhan. Sebetulnya, tiga butir obat yang kuberikan

sebelumnya daya kerja obatnya lambat sekali karena dosisnya rendah. Tidak cukup untuk

membuyarkan darah yang membeku, itulah sebabnya kau tetap merasa sakit.”

“Kalau begitu, kau mengatakan aku tidak boleh menggerakkan hawa murni dan

bergebrak dengan orang selama dua belas kentungan hanya bohong belaka?” tanya Tan

“Betul, kalau tidak demikian, mana mungkin kau membiarkan aku menggerayangimu?

Yang lucu justru para tokoh Bulim lainnya yang mengalami kejadian serupa. Setelah

mendengar perkataanku, mereka tidak berani bergerak sedikipun, tampang mereka pada

ketakutan. Hanya engkau yang tidak berhasil kukelabui. Hal ini karena watakmu yang

keras sehingga lolos dari cengkeraman Cici.”

Tan Ki hanya tersenyum simpul. Dia tidak marah. Diam-diam dia menggerakkan hawa

murninya melewati seluruh urat nadi dalam tubuhnya. Dia tidak merasakan adanya

sesuatu kelainan.

“Mari berangkat!” katanya segera. Tubuhnya melesat dan dengan kecepatan tinggi dia

menghambur ke depan.

Di bawah cahaya rembulan yang redup, yang tertampak hanya dua sosok bayangan.

Keduanya berkelebat dengan cepat. Dalam waktu tidak berapa lama, mereka sudah

memasuki kota Lok Yang.

Tan Ki mengajak Liang Fu Yong menuju ke sebelah Barat kota di mana terletak Cui Sian

Lau. Tujuannya untuk menyaksikan pertarungan antara Cian Cong dan Ciu Cang Po. Dia

ingin sekali lihat siapa yang lebih unggul diantara keduanya.

Ketika sedang berjalan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat, sesosok bayangan

hitam berdiri di depan pada jarak kurang lebih tujuh depa. Gerakan orang ini demikian

cepat. Sekali melesat tahu-tahu dia sudah menghentikan langkah kaki dan berdiri tegak di

depan sana. Melihat keadaan itu, diam-diam Tan Ki merasa terkejut.

“Siapa?” bentaknya.

 

Terendus serangkum bau harum mengiringi semilirnya angin, Orang itu perlahan-lahan

menghampirinya. Begitu mata memandang, Tan Ki segera mengeluarkan suara kejutan.

“Kiau Hun!” panggilnya.

Tidak salah, orang yang mendatangi itu memang dayang Mei Ling yang cantik, Kiau

Hun adanya. Pertama-tama wajahnya menunjukkan kegembiraan. Ketika matanya

beredar, dia melihat Siau Yau Sian-li yang berdiri di samping Tan Ki. Tampangnya yang

riang langsung berubah menjadi dingin.

Dalam waktu yang singkat, wajahnya berubah dua kali berturut-turut. Tan Ki masih

belum menyadarinya. Dia menghambur ke depan dan mencekal sepasang tangan Kiau

“Rupanya kau juga sudah dalang ke tempat ini.” katanya.

Siapa tahu Kiau Hun malah menepis tangannya dengan kasar.

“Tentunya urusanmu sudah selesai!” ucapannya dingin sekali.

Tampaknya, untuk sesaat Tan Ki tidak paham maksud ucapannya. Mendengar katakata

gadis itu dia malah tertegun. Kiau Hun tertawa dingin.

“Apa? Kau tidak bisa mengatakan apa-apa lagi?”

“Aku… aku tidak ingat urusan apa yang kau maksudkan?”

“Ketika aku hendak pergi, bukankah kau mengatakan agar aku menunggumu di sini,

karena kau mempunyai beberapa macam urusan yang harus diselesaikan. Itulah sebabnya

kau tidak bisa mengajak aku serta…” dia berhenti sejenak, kemudian telunjuknya

menuding Liang Fu Yong. Dengan suara tajam dia berkata, “Apakah urusan penting yang

kau katakan itu adalah mencarinya?”

Tan Ki menggelengkan kepalanya.

“Kouwnio jangan salah paham, urusan yang aku katakan tidak ada hubungannya

dengan dia.”

Kiau Hun tertawa dingin satu kali. Tawanya itu mengandung kepiluan yang tidak

“Aku mengerti sekarang, kau pasti menganggap aku tidak pantas bersanding

denganmu, maka kau sengaja membawanya untuk mengesalkan hatiku!” tiba-tiba hatinya

menjadi perih dan air matanya pun mengalir dengan deras.

Meskipun hati gadis ini panas bagai api yang berkobar-kobar, tetapi terhadap masalah

cinta kasih, dia justru memandangnya dari sudut yang pesimis. Begitu kecurigaannya

timbul, penjelasan apapun tidak masuk lagi ke telinganya. Dia hanya mempertimbangkan

urusan ini dengan keyakinan hatinya saja.

 

Pengalaman Liang Fu Yong lebih luas. Sekali lihat saja dia sudah dapat menduga apa

yang sedang terjadi. Dia tidak ikut campur dalam masalah ini melainkan hanya berdiri di

samping dan memperhatikan dengan pandangan datar.

Tan Ki berdiri di sudut satunya. Begitu paniknya dia sampai seperti orang linglung.

Kesannya terhadap Kiau Hun hanya perasaan kasihan saja, sama sekali tidak memendam

perasaan cinta kasih. Tetapi, pada saat ini, bagaimana dia harus mengatakannya.

Tentunya kata-katanya akan menambah perasaan antipati di kedua pihak.

Dia tidak berani mengatakannya, juga tidak sanggup mengucapkannya. Biar

bagaimanapun, dia merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong. Di bahunya masih

terpanggul beban dendam ayahnya. Mana mungkin dia mendahulukan urusan cinta kasih

antara muda-mudi?

Begitu pikirannya tergerak, dia membangkitkan rasa berani dalam hatinya.

“Cen Kouwnio, kau tidak boleh salah paham terhadapku.” katanya.

“Salah paham? Apakah semua ini hanya kesalahpahaman saja?”

Untuk sesaat Tan Ki benar-benar tidak tahu bagaimana harus memberi penjelasan

kepada Kiau Hun. Dia berdiri termangu-mangu dengan mulut membungkam.

Begitu matanya memandang, dia melihat wajah Kiau Hun basah oleh air mata.

Tampangnya sungguh mengenaskan. Diri gadis itu bagai sekuntum melati yang diterpa

hujan sehari semalam. Tan Ki merasa dirinya agak bersalah. Perlahan-lahan dia

menundukkan kepalanya. Perasaan gadis ini terhadapnya bagai api yang membara,

memangnya dia tidak tahu? Tetapi, dia masih menanggung beban dendam sedalam

lautan. Untuk saat ini dia belum ingin membicarakan soal cinta. Lagipula, orang yang

menawan hatinya, justru gadis yang lainnya…

Tetapi kata-kata ini, dia tidak berani mengutarakannya. Karena dia sendiri tidak tahu

apakah gadis itu juga mencintainya? Kadang-kadang urusan di dunia ini demikian aneh

dan kebetulan!

Kiau Hun mencintainya sepenuh hati sehingga menyeretnya ke lembah kasih yang

mana dia hanya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan dia juga mencintai seorang gadis

yang lain, bahkan merindukannya setiap saat.

Kiau Hun tidak tahu kalau Tan Ki mempunyai kesulitan yang tidak dapat

dikemukakannya. Melihat dia membungkam seribu bahasa, dia bertambah yakin bahwa

dugaannya memang benar. Hatinya semakin pedih. Perasaannya menjadi hancur seketika.

Dia menangis terisak-isak.

Dia melampiaskan perasaannya yang tertekan dan gundah dengan air mata. Suara

tangisannya begitu rendah. Di malam yang sesunyi ini, mirip dengan ratapan seorang

wanita yang kehilangan suaminya. Orang yang mendengarnya akan ikut merasa tertekan

dan sedih.

Lama, lama sekali… terdengar suara Kiau ,Hun yang tersendat-sendat.

 

“Rupanya kau juga memandang rendah diriku. Malah sengaja berpura- pura serta

mendustai perasaanku.” suaranya begitu pilu. Di dalamnya terselip penderitaan yang tidak

terkatakan. Ucapannya selesai, air mata sebesar kacang kedelai terus mengalir membasahi

Mendengar makian itu, Tan Ki semakin termangu-mangu. Dia membungkam sekian

lama. Perlu diketahui bahwa gadis ini terlahir sebagai orang yang tidak mampu dan

terpaksa menjadi dayang keluarga Liu. Keberhasilannya hari ini, semua berdasarkan kasih

sayang Mei Ling yang sudah menganggap dia seperti saudara sendiri. Tetapi, di dalam

hatinya, terkandung perasaan rendah diri yang kuat. Dia selalu menganggap orang lain

demikian mulia dan hidup dalam keme-wahan. Sedangkan dirinya adalah seorang gadis

yang papa dan hina.

Justru karena mempunyai perasaan demikian, dia semakin yakin Tan Ki melihat dia

hanya sebagai seorang dayang dan memandang rendah dirinya. Dia membenci nasibnya

sendiri! Dia juga membenci Tan Ki! Perasaan cinta di dalam hatinya telah berubah menjadi

benci!

Seandainya dia tidak menolong Tan Ki, dia juga tidak terusir dari perguruannya.

Sehingga sekarang dia menjadi terlunta-lunta tanpa tempat bernaung diri? Lagipula, dia

menganggap cinta sucinya telah dikhianati oleh Tan Ki.

Sungguh seorang laki-laki yang memuakkan! Seorang laki-laki yang tipis budinya! Oleh

karena itu, diapun memperdengarkan suara tawa yang memilukan. Perlahan-lahan dia

membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Seorang gadis yang malang telah pergi.

Dia tidak membawa apa-apa. Hanya sekeping hati yang hancur dan perasaan benci

yang terpendam mengiringi kepergiannya. Angin malam berhembus lembut seperti

mengantarnya. Bayangan pungguk yang mengenaskan, menghilang dengan perlahanlahan…

Langkah kaki yang berat tidak memperdengarkan suara lagi. Tan Ki memandang

bayangan punggungnya yang menghilang di kejauhan dengan termangu-mangu. Lama

sekali dia tidak membuka suara. Bahkan tubuhnya pun tidak bergerak sedikit juga.

Sebetulnya, dia tahu, menghalangi kepergian Kiau Hun hanya perbuatan yang sia-sia

saja. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga sadar bahwa dirinya telah melukai hati

seorang gadis. Dia telah menghancurkan impian indah seorang dara! Dia merasa, jauh di

dalam sanubarinya, dia seperti menanggung semacam hutang yang membuat hatinya

tidak tenang. Dia berhutang cinta kasih kepada Kiau Hun. Berpikir sampai di sini, dia

menarik nafas panjang. Perasaannya menjadi gelisah dan tertekan.

Tiba-tiba terdengar suara keluhan dari mulut Liang Fu Yong.

“Adik, aku tidak jadi ikut denganmu.” katanya.

Tan Ki terkejut setengah mati. “Kenapa?”

Sepasang alis Liang Fu Yong mengerut dengan erat.

 

“Rupanya inilah yang disebut cinta, begitu menyayat hati dan pilu. Semuanya hanya

merupakan penderitaan. Apabila Cici ikut denganmu, rasanya tidak mungkin mendapatkan

manfaat apa-apa. Malah kalau aku yang mengalaminya, setiap hari aku akan berurai air

mata dan meraung-raung seperti orang gila.” setelah berhenti sejenak, dia meneruskan

lagi kata-katanya. “Apakah kau tidak lihat, ketika hendak pergi, tampang gadis tadi begitu

kusut dan patut dikasihani. Kalau aku yang mengalami hal serupa, bukankah berarti sudah

tahu malah mencari kesulitan untuk diri sendiri?”

Tan Ki tertawa getir.

“Rasa simpati diantara seorang laki-laki dan perempuan, harus terbit dari perasaan

kasih diantara keduanya. Dengan demikian, baru ada kebahagian kelak di kemudian hari.

Kalau hanya cinta sebelah pihak, namanya bertepuk sebelah tangan dan otomatis

penderitaan yang akan diterimanya. Mana bisa kau membandingkan kedua hal itu dengan

pandangan yang sama?”

Liang Fu Yong memalingkan wajahnya dan bertanya, “Benarkah demikian?” nada

suaranya seperti masih kurang percaya.

Tan Ki tersenyum simpul.

“Maka dari itu, kau ikut aku dan mencobanya sendiri. Pada saat kau menyadari betapa

mulianya arti kata cinta itu, kau pasti akan berterima kasih kepadaku. Tetapi ingat, aku

melakukan semua ini sebagai imbalan karena kau telah membantuku menyembuhkan luka

dalam.”

Liang Fu Yong menarik nafas perlahan-lahan.

“Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini. Bencana atau keberuntungan, semuanya

tentu dapat diketahui dalam jangka waktu tiga bulan.”

Mendadak tubuhnya berkelebat! Sekali melesat dia sudah mencapai jarak sekitar tiga

Dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai di depan Cui Sian Lau yang sangat

terkenal itu. Pada saat itu, waktu kurang lebih baru lewat kentungan ketiga. Di sekitar

hanya kesenyapan semata, tanpa suara sedi-kitpun.

Bulan sabit menyorotkan cahayanya yang remang-remang menyinari jalanan tersebut.

Tidak ada satu orangpun. Perlahan-lahan Tan Ki menarik ujung lengan baju Liang Fu Yong

dan mengajaknya ke toko tahu yang ada di sebelah kiri jalan.

Saat ini, tenaga dalamnya sudah pulih kembali. Gerakannya begitu cepat sehingga

tampaknya tidak kalah dengan Liang Fu Yong. Perempuan itu tersenyum melihat

kenyataan ini.

“Adik, tampaknya ilmu silatmu lumayan juga.” katanya.

Tan Ki hanya tersenyum-senyum. Dia tidak berkata apa-apa. Dengan tampang serius,

dia mengajak Liang Fu Yong bersembunyi di bawah atap toko tahu tersebut.

 

Waktu merayap dengan perlahan, satu menit, satu jam… setelah lewat agak lama,

masih belum tampak ada kejadian apa-apa. Liang Fu Yong adalah seorang perempuan

yang tidak bisa diam. Hatinya mulai tidak sabar. Tiba-tiba terdengar Tan Ki mendehem.

“Hati-hati, ada orang datang.” katanya.

Begitu mata memandang, dari kejauhan terlihat setitik bayangan yang berlari dengan

pesat. Gerakan orang itu bagai hembusan angin melayang datang. Kecepatan gerakannya

membuat hati tercekat. Dalam sekedipan mata, dia sudah sampai di bawah gedung Cui

Sian Lau.

Tampak jubahnya yang berwarna hijau berkibar-kibar. Bagian belakang kepalanya

diikat dengan sehelai pita. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Wajahnya putih bersih.

Matanya menyorotkan sinar tajam bagai naga sakti. Alisnya tebal bak alis harimau.

Penampilannya mengesankan kewibawaan seorang yang gagah.

Dengan seksama dia memperhatikan daerah sekitarnya. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat

dan tahu-tahu dia sudah melayang ke atas. Sungguh gerakan yang mencengangkan!

Dua pasang mata dari Tan Ki dan Liang Fu Yong tidak sempat melihat bagaimana orang

itu menggerakkan tubuhnya. Yang terlihat oleh mereka hanya kelebatan bayangan dan

tahu-tahu orang itu sudah hilang dari pandangan.

Diam-diam hati mereka tercekat. Tanpa sadar keduanya saling memandang tanpa

mengucapkan sepatah katapun. Tan Ki sudah pernah melihat gerakan tubuh Cian Cong.

Ketinggian ilmu silatnya, kalau ditilik dari keadaan sekarang, mungkin sudah sulit mencari

tandingannya. Tetapi gerakan orang yang barusan, tampaknya masih lebih tinggi lagi dari

Cian Cong.

Siapa orang itu? Seorang tokoh yang misterius.

Kedua orang itu masih tergetar hatinya. Tiba-tiba terdengar suara siulan yang panjang

dan suara teriakan yang keras berkumandang dalam waktu yang bersamaan. Dari arah

Barat dan Timur mendadak muncul dua sosok bayangan. Gerakan tubuh kedua orang ini

sama cepatnya dan dalam sekejap mata sudah tiba dia atap Cui Sian Lau.

Begitu mata memandang, hati Tan Ki terkejut juga gembira. Yang datang ternyata

memang Cian Cong si pengemis sakti dan Ciu Cang Po yang merupakan tokoh nomor satu

di dunia Kangouw zaman ini.

Terdengar Cian Cong mengeluarkan suara tawa yang bebas.

“Nenek pengemis, kau juga sudah datang?”

Ciu Cang Po tertawa dingin.

“Jangan kata Cui Sian Lau. Meskipun gunung golok maupun lautan berapi, aku juga

akan menepati janji.”

Baru saja dia berkata sampai di situ, tiba-tiba Tan Ki menyadari sesuatu hal. Di

seberang jalan, berdiri Pangcu dari Ti Ciang Pang, yakni Lok Hong. Jenggotnya melambaiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

lambai dan bibirnya tersenyum. Cucu perempuan kesayangannya Lok Ing malah tidak tabu

ke mana perginya. Gadis itu pun tidak terlihat di sekitar tempat tersebut.

‘Orang-orang yang datang malam ini, mungkin banyak juga.’ pikir Tan Ki dalam hatinya.

Ketika benaknya sedang bekerja, tiba-tiba dia merasa di atas kepalanya berkelebat

beberapa bayangan. Semuanya berjumlah tiga orang. Dari atap toko tahu mereka melesat

ke seberang jalan dan menghilang di kegelapan malam.

Mata dan perasaan Siau Yau Sian-li Liang Fu Yong lebih peka serta awas. Begitu

melihat ketiga orang itu semuanya berkepala gundul dan mengenakan (jubah) abu-abu

yang longgar, dia segera menarik tangan Tan Ki.

“Mereka adalah para Hwesio. Kemungkinan dari Siau Lim Pai.” kata- katanya terhenti

sejenak, dia mendongakkan wajahnya dan melanjutkan kembali. “Lihat, di sana ada

beberapa orang tojin!”

Sinar mata Tan Ki mengikuti arah yang ditunjuknya. Ternyata dia melihat orang

bertampang pendekar dan dengan mengendap-endap menyelinap ke bagian belakang Cui

Sian Lau. Meskipun orang-orang ini jumlahnya lebih banyak, namun masing-masing dari

mereka mempunyai gerakan yang gesit dan lincah. Langkah kaki mereka tidak

menimbulkan suara sedikitpun. Hal ini membuktikan bahwa mereka tentunya Tosu Bu

Tong Pai yang memiliki ilmu tinggi. Hatinya tergetar.

‘Tampaknya urusan malam ini, bukan lagi masalah kalah menangnya pertandingan

antara Cian Cong dengan Ciu Cang Po. Di balik semua ini pasti ada persoalan yang lain…’

pikirnya dalam hati.

Begitu perasan seperti itu menyelinap di dalam kalbu, tanpa sadar tubuhnya

menggelinjang seperti orang yang kedinginan. Dia terus merasa bahwa dalam

pertandingan malam ini mungkin terselubung rencana yang keji!

Tiba-tiba, di benaknya juga terlintas suatu ingatan.

‘Mungkinkah orang-orang ini sedang memasang perangkap untuk menjebak Cian bin

mo-ong? Hm, hm… aku justru berada di sini, apakah kalian dapat menangkapku? Sayang

sekali, kalian bahkan tidak tahu wajah asliku…’ ejeknya dalam hati.

Berpikir sampai di sini, dia tersenyum penuh kebanggaan. Tindak-tanduknya selama

setengah tahun belakangan ini dengan nama Cian bin mo-ong, telah menggetarkan hati

para tokoh Bulim. Dia sudah menjadi bagian tertentu dalam tindak-tanduk tokoh-tokoh

kelas tinggi dunia Bulim.

Tiba-tiba segumpal awan besar berwarna hitam menyelubungi rembulan yang sedang

bersinar. Sekitar tempat itu menjadi gelap gulita. Tetapi terdengar suara bentakan dan

siulan panjang yang memecah keheningan malam. Angin yang timbul dari pukulan tangan

malah membisingkan telinga.

Rupanya, dalam waktu yang singkat, Cian Cong dan Ciu Cang Po sudah mulai

bergebrak. Tan Ki segera memusatkan perhatiannya. Begitu seriusnya dia memperhatikan

jalan pertarungan sehingga tubuhnya tidak bergerak dan matanya hampir tidak pernah

berkedip. Hanya terasa angin malam yang menghembus mengibar-ngibarkan lengan

 

Sementara itu, tampak juga beberapa orang sedang bergerak. Mereka rupanya berganti

posisi persembunyian. Sejenak kemudian, awan hitam tadi pun mulai berarak.

Cahaya rembulan kembali bersinar. Kesenggangan yang ada di jalanan pun pulih

Ini merupakan malam yang sunyi mencekam. Dalam keheningan, juga terselip marabahaya

yang mengintai. Begitu mata memandang, di atas atap Cui Sian Lau, bayangan

tubuh manusia masih berkelebat ke sana ke mari. Pertarungan masih berlangsung dengan

Si pengemis sakti Cian Cong tahu bahwa lawannya jarang berkeliaran di dunia

Kangouw. Tetapi ilmu silat yang dikuasainya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Oleh

karena itu, dia tidak berani memendam perasaan memandang ringan lawannya. Telapak

tangannya yang besar bak kipas itu mengibas, serangkum angin yang dahsyat pun

terpancar keluar.

Tampaknya dalam hati Ciu Cang Po juga mengerti bahwa orang yang ada di depan

matanya mempunyai tenaga dalam yang dahsyat. Kibasan tangannya itu seakan tidak

terlalu istimewa tetapi sebetulnya mengandung kekuatan tenaga dalam yang telah

dilatihnya selama ini tak boleh dianggap enteng.

Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Pinggangnya meliuk dan

tahu-tahu tubuhnya berputar serta mundur tiga langkah. Tiba-tiba dia merasa bagian

bawah kakinya licin sekali. Tubuhnya menjadi tidak seimbang dan bergoyang-goyang

seperti orang mabuk. Hampir saja dia tergelincir ke bawah.

Rupanya atap genting dari Cui Sian Lau terbuat dari bahan kaca keluaran Su Couw

yang sangat terkenal. Benda ini keras dan licin. Orang yang berdiri di atasnya, terasa

bagai menginjak kumparan minyak, maka tubuhnya akan semponyongan. Justru karena

hati Ciu Cang Po terlalu yakin akan dirinya sendiri, dia hampir saja tidak menyadari bahaya

tersebut, nyaris saja tubuhnya tergelincir ke bawah.

Hatinya tercekat, cepat-cepat dia menggeser ke samping sejauh dua langkah kemudian

mengangkat tongkat ke depan untuk melindungi bagian dadanya. Sikap Cian Cong

meskipun ugal-ugalan, tetapi pada dasarnya dia adalah seorang pendekar berjiwa mulia.

Dia tidak menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Ciu Cang Po. Hanya mulutnya

saja yang mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak.

Tampak wajah Ciu Cang Po menjadi merah padam. Dari malu dia menjadi marah.

Mulutnya meraung murka dan tongkatnya yang anehpun bergerak menimbulkan ribuan

bayangan yang bergelombang-gelombang menghempas datang!

Dalam satu jurus, enam buah urat darah penting di depan dada sudah terkurung

bayangan tongkat si nenek kurus tersebut. “Ilmu tongkat yang bagus!” teriak si pengemis

sakti Cian Cong. Tubuhnya menghentak dan tiba-tiba mencelat ke atas. Meskipun dia

sedang mengelakkan serangan, tetapi dia tetap tidak lupa menyerang musuhnya.

Orangnya masih di tengah udara, saling susul menyusul dia melancarkan empat buah

pukulan dan tiga kali tendangan.

 

Ciu Cang Po melihat Cian Cong menyerang dengan gencar, dengan kalang kabut

tubuhnya mencelat mundur sembari diamdiam mengagumi ketinggian ilmu silat si

pengemis sakti yang tinggi sekali. Di samping itu dia juga merasa penasaran.

Watak nenek ini pada dasarnya memang picik dan tinggi hati. Kalau tidak demikian, dia

tidak mungkin menantang Cian Cong malam ini untuk pertarungan sengit hanya karena

urusan Tan Ki yang sepele.

Maka dari itu, persoalan yang membuatnya semakin penasaran, pandangan pun

menjadi semakin picik. Dia tidak sudi mengalah. Walaupun ilmu silat si pengemis sakti

lebih tinggi lagi, dia juga ingin bertarung sampai ada penentuan siapa yang kalah serta

siapa yang menang baru hatinya merasa puas.

Begitu mencelat mundur, nenek kurus itu langsung menghimpun tenaga dalam dan

mengatur hawa murni di dalam tubuhnya kemudian sekali lagi mengibaskan tongkat ke

depan. Dalam waktu yang singkat dia telah melancarkan delapan belas jurus berturutturut.

Serangan yang gencar ini membuat Cian Cong terdesak sehingga dia terpaksa mundur f

tiga langkah kemudian memaksakan diri menyambut serangan itu. Ketika pukulannya

datang, terdengar angin menderu-deru. Hal ini membuat Ciu Cang Po menahan dari

sebelah kanan dan menghindar ke sebelah kiri. Berturut-turut kakinya mundur ke tempat

Kedua orang itu hilir mudik, maju mundur saling menyerang serta menangkis dengan

sengit. Perkelahian diantara kedua orang itu merupakan pertarungan yang sengit di antara

dua tokoh berilmu tinggi yang mengeluarkan segenap kemampuannya!

Hal ini membuat Tan Ki yang menyaksikan pertandingan itu menjadi terpesona dan

terpaku. Bahkan orang-orang yang bersembunyi di dalam kegelapan juga hampir

kelepasan mulut berseru memuji. Tetapi karena mereka mempunyai rencana tertentu,

maka tidak berani berteriak dengan suara keras. Kentungan ketiga sudah berlalu. Menang

atau kalah di antara kedua orang itu masih sulit ditentukan.

Kentungan keempat… kentungan kelima, juga segera berlalu.

Di batas langit, lambat laun tersembul cahaya kuning keemasan. Hari yang baru telah

datang. Namun, kedua orang yang bertarung di atap genting Ciu Sian Lau masih belum

Mereka sudah bertarung sebanyak ribuan jurus. Sampai sekarang masih belum dapat

menentukan siapa yang lebih unggul di antara keduanya. Hal ini tampaknya membuktikan

bahwa ilmu silat mereka setali tiga uang alias seimbang. Siapapun diantara mereka sulit

merubuhkan lawannya.

Tan Ki mengalihkan pandangannya, dia melihat ke sekeliling. Tampak orang-orang yang

sedang bersembunyi di kegelapan sedang memusatkan perhatiannya menyaksikan

jalannya pertarungan. Tetapi mimik wajah mereka agaknya sudah mulai tidak sabar.

Beberapa kali mereka menegakkan tubuh dan memperhatikan sekitar. Kadang-kadang

mereka berbincang-bincang beberapa patah kata dengan rekannya kemudian

menggelengkan kepala sambil tertawa getir.

 

Tan Ki tidak tahu apa yang sedang mereka nantikan. Tetapi kalau ditilik dari mimik

wajah mereka, kemungkinan orang yang mereka tunggu tidak akan muncul malam ini.

Ketika benaknya sedang merenung, tubuh Liang Fu Yong yang kecil dan mungil entah

sejak kapan telah menyelusup ke dalam pelukannya. Saat ini pikiran Tan Ki sedang

bekerja keras, dia tidak memperdulikan tingkah perempuan itu.

Tetapi tampang perempuan itu kelihatannya agak aneh. Seperti seorang yang sedang

mengkhayal, juga seperti sedang menyimpan sesuatu rahasia. Di wajahnya tersirat mimik

yang kadang tertawa tetapi ka-dangkala malah cemberut.

Padahal dia sendiri merasa bingung. Mengapa hatinya bisa berdegup-degup sehebat

itu? Indera penciumannya, mengendus serangku m bau yang terpancar dari tubuh Tan Ki.

Bau itu menunjukkan desah nafas dari seorang laki-laki yang gagah. Dia merasa hatinya

menjadi gelisah dan pikirannya melayang-layang.

Bernaung di dalam pelukan Tan Ki yang bertubuh kekar dan berotot, dia dapat

mendengar denyut jantung anak muda itu. Dak!

Duk! Dak! Duk! Bagai irama musik yang mengiringi degup jantungnya sendiri.

Hatinya sendiri, entah mengapa timbul semacam perasaan yang aneh. Tetapi dia

sendiri tidak dapat menjelaskannya. Dia hanya merasa perasaan ini amat ajaib, membuat

hatinya terlena.

Dia teringat beberapa tahun yang lalu, ketika dia menyerahkan sesuatu yang paling

berharga dari diri seorang gadis kepada seorang pemuda yang dicintainya. Dia juga

mempunyai perasaan seperti sekarang ini… kemudian, perasaan seperti ini tidak

dirasakannya lagi… bagai sesuatu terombang-ambing di tengah lautan dan sulit ditemukan

lagi. Ingin sekali rasanya dia mencari kem-bali perasaan yang hilang itu. Walaupun hanya

sedikit kenangannya saja. Oleh karena itu, diapun memaksakan kehendaknya kepada

setiap laki-laki yang ditemuinya, dia berharap laki-laki itu dapat mengajaknya naik ke

puncak gunung yang tinggi dan beterbangan di awan biru…

Tapi, dia selalu gagal. Setiap kali gelombang birahi sudah berlalu, dia merasakan

kehampaan yang membingungkan. Hatinya menjadi kosong melompong. Padahal dia

sadar, apabila dia mengulangi perbuatan itu, yang didapatinya hanyalah penyaluran

sesaat, kesenangan sekejap. Dia tidak mungkin memperoleh ketenagan bathin. Tetapi

setiap gairah dalam hatinya bergejolak, kembali bara api di dalam dadanya berkobarkobar.

Hal ini membuat dia tidak sanggup mempertahankan diri.

Sekarang, dia bergelayutan di pelukan Tan Ki. Kembali dia mengendus bau nafas yang

istimewa pada diri seorang laki-laki. Wajahnya menjadi merah padam. Dia merasa hatinya

berdebar-debar.

Seluruh tubuhnya terkulai lemas seperti tidak mempunyai tenaga sedikitpun. Dia tidak

tahu mengapa, tapi dapat merasakan bahwa hal ini merupakan peristiwa yang aneh.

Karena setiap kali dia berhubungan dengan seorang laki-laki, dia belum pernah

mempunyai perasaan yang seaneh ini.

Tepat pada saat hatinya sedang gundah, tiba-tiba segulungan angin yang dingin

menghembusi wajahnya. Tanpa sadar tubuhnya menggigil.

 

“Adik, aku merasa kedinginan.” katanya dengan suara lirih.

Sepasang mata Tan Ki sedang terpaku ke atap genting. Dia malah tidak berkedip

sekalipun. Tetapi setelah mendengar ucapannya, dia segera mengulurkan lengannya dan

memeluk pinggang perempuan itu.

Sebetulnya, seluruh perhatian Tan Ki sedang terpusat pada pertarungan yang terjadi

antara Cian Cong dengan Ciu Cang Po. Dia mengulurkan lengannya memeluk pinggang

Liang Fu Yong hanya bertujuan agar perempuan itu mendapat sedikit kehangatan. Dia

tidak mempunyai maksud lain sedikitpun. Hanya semacam gerakan refleks pada saat

Liang Fu Yong tertawa lebar. Tawanya mengandung kegenitan dan kejalangan yang

dinyatakan secara menyolok. Dia merasa lengan Tan Ki begitu kekar, juga mengandung

tenaga yang kuat seakan sanggup meremukkan setiap bagian dari tubuhnya.

Tentu saja apa yang dipikirkan dalam hatinya, orang lain tidak mungkin bisa tahu.

Sementara itu, pertarungan di atas atap genting telah mencapai puncak

ketegangannya. Suasana terasa semakin mencekam.

Tampak gerakan Cian Cong dan Ciu Cang Po berdua berubah menjadi lambat sekali.

Setiap kali tangan diangkat dan kaki menginjak seakan membawa beban ribuan kati

sehingga sulit digerakkan.

Tapi tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan ataupun kibasan tongkat,

tampaknya mengandung kekuatan dahsyat yang tidak berwujud sehingga atap genting Cui

Sian Lau itu pecah berhamburan.

Untung sebelumnya Bu Ti Sin-kiam Liu Seng sudah menyuruh orang berjaga di dalam

Cui Sian Lau. Maksudnya pertama untuk melindungi setiap tamu yang berkunjung ke

penginapan itu, sekaligus menyatakan bersedia mengganti kerugian apabila terjadi

kerusakan. Kalau tidak diberitahukan terlebih dahulu, kemungkinan para pelayan maupun

tamu-tamu yang datang akan terkencing-kencing ketakutan mengetahui adanya

pertarungan di atap genting rumah makan sekaligus dengan datangnya berbagai tokoh

yang ingin menyaksikan keramaian.

Terdengar suara bentakan nyaring dari mulut Ciu Cang Po. Seluruh rambutnya yang

telah memutih seakan berjingkrakan ke atas. Sepasang matanya menyorotkan sinar api

yang berkobar-kobar. Tampangnya garang menyiutkan nyali orang yang memandangnya.

Meskipun marah, tapi penampilan si pengemis sakti Cian Cong lebih tenang. Justru

setelah pihak lawan meraung nyaring, dengan dahsyat dia melancarkan sebuah pukulan

untuk menyambut datangnya serangan tongkat Ciu Cang Po yang keji.

Dua gulungan tenaga yang kuat langsung beradu. Timbul suara yang menggelegar

seperti genderang yang ditabuh dengan keras. Kemudian terlihat dua sosok bayangan

mereka berpencar. Kedudukan tetap seimbang.

Tiba-tiba… setelah berhenti sejenak, keduanya mengeluarkan suara teriakan dan saling

menerjang lawannya. Kejadiannya hanya sekejap mata!

 

Dalam waktu yang singkat itu, kedua orang tersebut kembali beradu pukulan!

Mendadak sesosok bayangan melesat ke atas dan menerjang ke depan. Dia adalah

pangcu Ti Ciang Pang, Lok Hong. Gerakan orang ini cepat tidak terkira. Ketika dia melesat

ke atas genting, matanya langsung mengedar. Tanpa terasa dia jadi termangu-mangu.

Tampak si pengemis sakti Cian Cong sedang memegang dada dengan tangan kirinya.

Tubuhnya tetap berdiri tegak. Mimik wajahnya menyiratkan bahwa dia sedang menahan

rasa sakit. Sedangkan Ciu Cang Po terbaring di atas genting tanpa bergerak sedikitpun.

Matanya terpejam rapat-rapat. Kalau tidak sampai mati, paling tidak menderita luka yang

sangat parah.

Perlahan-lahan Lok Hong menarik nafas panjang.

“Cian heng, bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Si pengemis tua Cian Cong masih dapat tertawa terbahak-bahak.

“Si pengemis tua termakan tendangan nenek pengemis itu satu kali. Tapi dadanya juga

terkena serangan pukulan si pengemis tua. Kedua-duanya tidak ada yang rugi…” tiba-tiba

mulutnya terbuka dan ‘Hoakkk!’ diapun memuntahkan darah segar. Tubuhnya

semponyongan beberapa saat kemudian terkulai jatuh.

Lok Hong terkejut sekali. Dengan panik dia mengulurkan tangan dan segera memapah

orangtua itu. Tampak Cian Cong menghembus nafas panjang-panjang. Bibirnya masih

juga tersenyum.

“Ilmu silat si nenek pengemis ini benar-benar membuat si pengemis tua kagum

kepadanya. Tetapi watak orang ini benar-benar terlalu picik, tidak dapat diajak

bersahabat…”

Mendadak rasa sakit di dadanya terkena tendangan Ciu Cang Po semakin sakit. Cepatcepat

dia menutup mulutnya dan tidak berani berbicara lagi. Saking sakitnya, keringat

dingin telah membasahi kening orangtua tersebut.

Lok Hong tersenyum simpul.

“Membiarkan orang seperti dia hidup di dunia sama sekali tidak ada manfaatnya. Biar

hengte yang membereskannya saja…”

Dalam pandangan tokoh-tokoh Bulim, Cian Cong dianggap sebagai salah satu dari dua

tokoh sakti yang masih hidup di dunia ini. Hal ini bukan kebetulan, tetapi selain ilmu

silatnya yang tinggi, hatinya juga welas asih dan adil dalam memutuskan sesuatu.

Mendengar kata-kata Lok Hong, dia jadi panik sekali. Orangtua itu segera mencegah.

“Tidak boleh, ilmu silat yang dimiliki orang ini, mungkin telah menghabiskan separuh

usianya, baru ia mencapai tingkat setinggi ini. Kalau kau membunuhnya begitu saja,

benar-benar patut disayangkan. Apalagi, aku dengar tindak-tanduk orang ini sebetulnya

tidak terlalu…”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang dingin menukas…

 

“Perbuatannya tidak terlalu apa? Cian Cong, kau anggap perbuatanmu seumur hidup

selalu benar dan tidak pernah ada terkandung niat busuk sedikitpun?”

Mendengar ucapan itu, Cian Cong benar-benar merasa di luar dugaan. Untuk sesaat dia

jadi termangu-mangu. Begitu mata memandang, dia melihat seseorang sedang melangkah

dengan santai di atap genting, ilmu ginkang yang dimilikinya, mungkin malah lebih tinggi

daripada dirinya sendiri. Hatinya langsung tercekat.

Setelah di perhatikan baik-baik, dia melihat orang ini mengenakan jubah hijau dengan

rambut disanggul ke atas. Tangannya memegang sebatang kipas yang terbuat dari sejenis

tulang yang keras. Tampangnya biasa-biasa saja. Namun penampilannya seperti playboy

kawakan. Tetapi membuat orang yang menatapnya menjadi sebal.

Sepasang alis Cian Cong langsung terjungkit ke atas.

‘Entah di mana aku pernah berjumpa dengan orang ini… benar-benar kurang ajar,

justru pada saat diperlukan aku selalu tidak bisa mengingatnya….’ katanya dalam hati.

Tampaknya Lok Hong sudah dapat melihat bahwa orang yang baru muncul ini

mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali. Dia segera merangkapkan sepasang tangannya

“Entah siapa nama Saudara yang mulia. Harap maafkan kalau pandangan hengte sudah

kurang jelas.” katanya.

Meskipun Lok Hong adalah seorang pang-cu, tetapi seumur hidup dia sibuk berlatih

ilmu silat dan mengurusi tetek bengek di perkumpulannya. Oleh karena itu dia jarang

berkelana di dunia Kangouw. Kecuali dua tiga orang sahabat lamanya, tokoh yang lain dia

hanya pernah mendengar namanya saja dan belum pernah bertemu muka. Apalagi kalau

orang berjubah hijau ini sudah lama mengasingkan diri dan baru muncul kembali.

Tampak laki-laki berjubah hitam itu melirik Lok Hong sekilas dengan sinar matanya

yang datar. Bibirnya tersenyum. Tatapannya beralih kepada Cian Cong.

“Pengemis tua, jurus seranganmu yang dinamakan “Hui Siu Jut Lim” (Lengan baju

terbang memasuki hutan) tampaknya boleh juga!”

Tampaknya watak orang ini sulit dimengerti. Ketika berbicara dan tertawa, rasanya

tidak terselip rasa permusuhan. Tetapi entah mengapa, Cian Cong yang mendengar suara

tawanya, tanpa sadar jadi menggidik.

Mata manusia berjubah hijau itu beredar lagi. Kali ini berhenti pada diri Lok Hong.

Mulutnya kembali memperdengarkan suara tertawa yang nyaring.

“Apakah saudara tetap ingin membunuh Ciu Cang Po?”

Nada bicaranya tajam sekali meskipun diucapkan dengan bibir tersenyum. Lok Hong

yang mendengarnya menjadi tidak tenang. Wajahnya merah padam. Dia sampai tidak

sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sengaja dia membuang muka dan melihat ke

tempat lain. Tampaknya dia tidak ingin bertemu pandang dengan orang ini.

Orang berjubah hijau itu tersenyum simpul.

 

“Nenek ini mempunyai hubungan yang erat denganku. Kalau kalian berdua tidak

senang melihatnya, bagaimana kalau kubawa pergi saja?” tanpa menunggu jawaban, dia

langsung membungkukkan tubuhnya memondong Ciu Cang Po.

Tindak tanduknya ini seperti menyatakan, “Biarpun kalian tidak setuju, aku tetap akan

membawanya. Lihat apa yang dapat kalian lakukan terhadap diriku?”

Wajah Lok Hong langsung berubah hebat. Baru saja dia hendak meluapkan perasaan

amarahnya, dia merasa ujung lengan bajunya telah dijawil oleh Cian Cong. Dia segera

mengalihkan tatapannya. Dia melihat mimik wajah si pengemis tua itu mengandung

kecurigaan yang berat. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Hatinya seakan sedang

menghadapi masalah yang rumit, dan tidak dapat dipecahkannya.

Padahal dia tahu sikap Cian Cong biasanya sangat bebas. Bibirnya selalu tersenyum.

Kalau tidak menghadapi masalah yang serius, tampangnya tidak pernah seperti itu. Lok

Hong menjadi terpana. Tetapi dia melihat orangtua itu mengerutkan sepasang alisnya.

Cian Cong sedang merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia merasa tidak enak

untuk mengajukan pertanyaan pada saat seperti itu. Akhirnya dia terpaksa menahan emosi

dalam dadanya dan mendelik lebar kepada manusia berjubah hijau seperti menunjukkan

bahwa hatinya merasa kurang senang.

Hal ini karena kedudukannya sebagai pangcu sebuah perkumpulan yang namanya telah

menggetarkan dunia persilatan. Apabila dia sampai disudutkan oleh seorang tokoh tidak

dikenal dan tidak berani mengambil tindakan apa-apa, tentu dirinya akan dicemooh orang.

Manusia berjubah hijau itu melihat kedua orang itu saling lirik beberapa kali. Tetapi

mereka tidak memberikan jawaban. Setelah menunggu sekian lama, hatinya mulai kurang

sabar. Oleh karena itu dia langsung memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Apakah kalian tidak ingin mengatakan apa-apa? Kalau begitu aku akan membawa

orang ini. Selama gunung masih menghijau dan air masih mengalir, kelak kita pasti akan

berjumpa kembali!” tubuhnya berkelebat dan orangnya sudah mendarat di atas tanah.

Gerakannya sungguh cepat dan indah.

Tanpa menolehkan kepala sekalipun, dia langsung melesat ke depan. Dalam waktu

yang singkat, bayangannya pun sudah tidak terlihat lagi. Dari kejauhan, tiba-tiba

berkumandang suara orang itu yang diucapkan dengan sungkan…

“Si pengemis tua harap menunggu dengan sabar. Tiga bulan kemudian, aku akan mengajarkan

kepada nenek ini mengembalikan jurus serangan Hui Siu Jut Lim milikmu itu!”

Meskipun suara itu terpancar dari jauh dan di telinga Cian Cong maupun Lok Hong

terdengar lirih sekali, namun kata-katanya sangat jelas. Pengalaman maupun pengetahuan

kedua orang ini sangat luas. Begitu mendengar suaranya, mereka segera sadar bahwa

pihak lawan menggunakan semacam ilmu tingkat tinggi dan mengumpulkan ucapannya

menjadi gabungan yang kemudian dikirimkan dari jarak jauh. Tanpa terasa keduanya

saling pandang sambil tertawa getir. Tidak sepatah katapun terucap dari bibir mereka.

Ilmu semacam ini kedua orang itu otomatis juga bisa. Tetapi kalau dibandingkan,

ucapan yang terdengar tidak sejelas manusia berjubah hijau tersebut. Begitu manusia

 

berjubah hijau itu membawa pergi Ciu Cang Po, hawa pembunuhan yang tadi memenuhi

tempat itu juga buyar seketika.

Tetapi… di dalam hati orang-orang yang ada di sekitar daerah itu, timbul sebuah

Siapa dia? Siapa kiranya tokoh yang misterius itu? Siapa?

Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya. Pertanyaan itu bagai teka teki

terselubung dan harus dicari dulu pemecahannya.

Sekian lama Cian Cong dan Lok Hong termenung memikirkan pertanyaan yang sama.

Kadang-kadang mereka saling lirik dengan harapan rekannya dapat memberi keterangan

tentang masalah yang rumit ini.

BAGIAN VIII

Sementara itu, dari sekitar Cui Sian Lau dan ujung jalan, keluar sekerumunan orang.

Ada Rahib, Tosu, Nikouw, Hwesio dan berbagai kalangan. Tampak langkah kaki mereka

semuanya sangat ringan. Gerakan tubuh juga sangat cepat. Hal ini membuktikan bahwa

mereka bukan tokoh sembarangan.

Untuk apa mereka datang ke tempat ini? Melihat keadaan ini, Tan Ki yang bersembunyi

di kegelapan menjadi terkejut setengah mati. Pengalaman memberitahukan, bahwa

kedatangan orang-orang ini yang mana termasuk tokoh-tokoh dari lima partai besar, pasti

bukan sekedar kebetulan.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Lok Hong dan Cian Cong saling susul menyusul

melayang ke atas tanah. Begitu mata memandang, keduanya menjadi tertegun.

Tampaknya, mereka juga tidak tahu apa yang direncanakan orang-orang ini.

Seorang angkatan tua dari Siau Lim Pai, yakni Pun Bu Taisu, merupakan orang pertama

yang segera menghampiri. Dia merangkapkan sepasang tangannya dan mengucapkan

nama Budha.

“Entah bagaimana kabar Cian Sicu setelah sekian lama tidak berjumpa?” sapanya

Sepasang biji mata Cian Cong jelalatan ke sana ke mari.

“Apakah kau Hwesio busuk ini mengharap aku mati cepat-cepat atau mati kekenyangan

makan daging anjing?” sahutannya malah merupakan gerutuan.

Tampaknya Pun Bu Taisu sudah paham sekali watak Cian Cong yang suka ceplasceplos.

Ucapan seperti ini entah telah didengarnya berapa puluh kali. Oleh karena itu,

terhadap sahutan Cian Cong, dia hanya tersenyum simpul.

“Mana mungkin, mana mungkin. Tentunya Sicu hanya bergurau.”

 

“Untuk apa kalian datang ke mari? Untuk menyaksikan si pengemis tua berkelahi

dengan si nenek kurus itu bukan?”

Pun Bu Taisu masih tersenyum-senyum.

“Dapat menyaksikan kehebatan Cian Sicu, sungguh merupakan keberuntungan bagi

kami. Tetapi, sebetulnya kedatangan kami ini adalah untuk menunggu seseorang.”

Tampaknya Cian Cong tertarik sekali dengan ucapannya. Dia langsung tertawa lebarlebar.

“Siapa yang kalian tunggu?”

“Cian bin mo-ong!”

Cian Cong tertegun.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau Cian bin mo-ong benar-benar akan ke tempat ini?”

“Cian Sicu merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia Bulim. Dan malam ini

mengadakan perjanjian untuk bertarung dengan Ciu Cang Po. Pertandingan ini pasti

sangat seru dan mendebarkan hati. Dalam hati pinceng berpikir Cian bin mo-ong memiliki

ilmu silat yang tinggi. Masa dia tidak mendengar berita ini dan bergegas datang untuk

menyaksikan keramaian? Oleh karena itu, pinceng segera mengajak beberapa orang

kawan dan menunggu di sini untuk berjaga-jaga, tapi…”

Cian Cong tertawa terkekeh-kekeh. “Tapi, orang yang kalian tunggu ternyata tidak

datang bukan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Biar aku beritahukan kepadamu, Kwesio busuk. Beberapa malam yang lalu, si

pengemis tua justru sudah bertemu dengan Cian bin mo-ong. Bahkan kami sempat

bergebrak. Sayangnya dia hanya terkena satu pukulan si pengemis tua, akhirnya dia

berhasil meloloskan diri…” kata-katanya terhenti dan tangannya menunjuk ke arah Lok

Hong. “Pangcu dari Ti Ciang Pang ini juga mende-ngar kabar tentang tindak tanduk Cian

bin mo-ong yang menimbulkan huru-hara di dunia Kangouw. Perbuatannya tidak

mengenal bumi dan langit. Dia sengaja meninggalkan markas Ti Ciang Pang dan bersiapsiap

diri bertemu dengan Cian bin mo-ong. Si pengemis tua tahu, setelah terkena

pukulanku, dalam waktu tiga atau lima hari pasti belum pulih. Lebih baik kita menuju

gedung keluarga Liu untuk sementara. Biar kita tidak usah menganggu dia beberapa hari,

sekalian merundingkan cara menghadapi Cian bin mo-ong ini.”

“Bisa memperoleh bantuan dari Cian Sicu serta Lok Sicu ini, meskipun urusan yang

lebih hebat juga pasti dapat diselesaikan.” sahut Pun Bu Taisu.

Si pengemis tua tertawa terkekeh-kekeh.

“Jangan cepat-cepat menempelkan emas di muka si pengemis tua ini. Siapa tahu kalian

kelak yang tidak becus, sehingga belum apa-apa sudah ketakutan. Hal inilah yang akan

menjadi bahan tertawaan.” ucapannya ini seperti tidak berani memandang rendah Cian bin

mo-ong.

 

Kemudian, dengan diiringi si pengemis sakti Cian Cong dan Lok Hong, tokoh-tokoh dari

kelima partai besar berbondong-bondong menuju gedung kediaman keluarga Liu. Dalam

sekejap mata, kerumunan orang itu sudah bubar sampai bersih.

Meskipun dalam masalah tadi, Tan Ki tidak ikut campur, tapi melihat saja hatinya sudah

tergetar. Tahu-tahu keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya!

‘Rupanya tokoh-tokoh dari kelima partai besar masih belum sudi melepaskan diriku.’

pikirnya dalam hati.

Mendadak mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

‘Pada suatu hari nanti, Cian bin mo-ong akan berkunjung kelima partai besar dan

menantang kalian satu persatu.’ katanya dalam hati.

Mendadak, terdengar suara Liang Fu Yong yang membersin.

“Adik, ke mana lagi tujuan kita setelah ini?” tanyanya kemudian.

Tan Ki menggelengkan kepalanya.

“Aku sendiri tidak tahu.”

Dia tahu Cian Cong, Lok Hong dan yang lain-lainnya semua berada di rumah Liu Seng.

Apabila dia ingin membunuh Liu Seng untuk membalaskan dendam ayahnya, sekarang ini

dia juga tidak sanggup menandingi mereka. Satu-satunya jalan hanyalah menghindari

mereka selam tiga atau lima hari.

Tetapi, dalam waktu beberapa hari ini, apa yang harus dilakukannya? Dan ke mana dia

harus pergi? Tidak ada.

Dia tidak mempunyai rumah. Meskipun dunia ini begitu luas, tetapi dia tidak tahu harus

pulang ke mana?

Berpikir sampai di sini, tanpa sadar dia menarik nafas panjang. Kepalanya tertunduk

dalam-dalam dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Kemudian, perlahan-lahan dia

mendorong tubuh Liang Fu Yong.

“Mari kita pergi pesiar saja.” katanya kemudian.

Liang Fu Yong mengangkat sebelah tandannya dan merapikan rambutnya yang acakacakan.

Dengan penuh perasaan dia mengembangkan seulas senyuman.

“Terserah engkau saja. Pokoknya dalam tiga bulan ini, ke manapun kau pergi, Cici akan

mengikutimu. Aku tidak akan banyak tanya ataupun membantah.”

Sinar mata Tan Ki segera beredar ke sekitarnya.

“Lebih baik kita cari rumah penginapan dan beristirahat sejenak.”

 

Demikianlah, kedua orang itupun segera meninggalkan toko tahu dan mencari

penginapan yang sederhana. Tan Ki meminta dua kamar tidur dan berpencar dengan

Liang Fu Yong untuk beristirahat.

Hal ini malah membuat perasaan Liang Fu Yong menjadi tertekan.

‘Hari ini terpaksa aku memeluk bantal seorang diri…’ katanya dalam hati.

Keesokan paginya, kedua orang itu mencari kuda tunggangan dan mengambil arah ke

Lung Si. Satu hari… dua hari telah berlalu…

Tan Ki menceritakan berbagai kisah para wanita yang menjadi pahlawan bangsa dan tri

==================

Jilid 5 Hal 50 51 Hilang

Kalo ada yang punya silahkan contact lavilla.dry@gmail.com

==================

seorang tokoh persilatan. Meskipun ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi mungkin dia

bisa mengenali senjata-senjata rahasia ini!’

Tetapi, begitu dia menghambur ke dalam kamar ibunya, ternyata di sana tidak ada

seorangpun. Hatinya tercekat. Dia merasa aneh sekali. Kembali hatinya berpikir:

‘Mungkinkah ibu mendengar suara ayah yang berkelahi dengan seseorang, maka dia lalu

keluar dengan tergesa-gesa?’

Matanya menerawang, di tembok masih tergantung sepasang golok berbentuk bulan

sabit. Pasangan golok itu merupakan senjata yang digunakan oleh ibunya sehari-hari.

Kalau dia tidak membawanya, pasti dia bukan keluar untuk melihat ayah.

Tiba-tiba dia melihat sehelai sapu tangan laki-laki di tengah-tengah kamar, hatinya

berdebar-debar, cepat-cepat dia memungutnya. Sekali pandang saja dia sudah tahu

bahwa benda itu bukan milik ayahnya.

Untuk apa seorang laki-laki asing masuk ke kamar ibunya?

Pikiran ini melintas di kalbunya yang masih bersih. Tanpa sadar dia menjadi marah

sekali. Meskipun usianya masih kecil, tetapi terhadap urusan laki-laki dan perempuan,

cukup banyak yang diketahuinya.

‘Ketika ayah sedang dalam keadaan di ambang maut, ibu malah kabur dengan seorang

laki-laki.’ pikirnya dalam hati.

Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa dugaannya tidak salah. Tanpa sadar, air

matanyapun mengalir dengan deras. Dia sudah menjadi seorang anak yatim piatu…

Sampai saat ini, dia baru mengerti apa yang dinamakan penderitaan. Ayahnya sudah

mati, ibunya kabur dengan seorang laki-laki, dalam keadaan dilanda dua macam pukulan

bathin, diapun menangis meraung-raung.

 

Sebab sebelumnya, dia adalah seorang bocah yang cerdas dan lincah, hidupnya

bahagia dengan keluarga yang harmonis. Dia tidak tahu hal lainnya kecuali kegembiraan.

Tetapi, dalam waktu yang singkat, dunianya seakan ambruk. Diapun berubah menjadi

Dia tahu apa yang dinamakan kegagahan seorang laki-laki. Dia sudah dapat memburu

para laki-laki sehingga menggemparkan dunia persilatan. Setiap malam dia selalu bercinta

dan melampiaskan hasrat hatinya. Kadang-kadang dalam satu malam dia mencari tujuh

atau delapan orang laki-laki.

Tetapi sejak mengikuti Tan Ki, ternyata dia dapat juga menuruti nasehat anak muda itu

dan berusaha menenangkan gairah yang bergejolak dalam dadanya. Meskipun baru tiga

hari yang singkat, tetapi sebetulnya tidak mudah. Kalau dia merasa iseng atau sumpek, hal

ini tidak boleh disalahkan.

Kemudian terdengar lagi suara Liang Fu Yong yang merdu, “Adik, bolehkah aku datang

ke kamarmu dan bercakap-cakap?”

“Apa yang akan kita percakapkan?”

Kamar sebelah menjadi hening. Tampaknya Liang Fu Yong sedang merenung. Agak

lama kemudian, terdengarlah suara tawanya.

“Kita bicarakan masalah apa saja. Kalau tidak, kau boleh bercerita lagi. Saat ini Cici

tidak dapat pulas. Hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu.” sahutnya.

“Baiklah, kau datang saja ke mari.”

Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, tiba-tiba tampak sesosok bayangan

menyelinap masuk lewat jendela kamar. Pertama-tama Tan Ki tertegun kemudian dia

tersenyum simpul.

“Mungkin dulu kau selalu menggunakan cara seperti ini untuk menyelinap ke dalam

kamar seorang laki-laki…” tiba-tiba dia merasa kata-katanya ini bisa menyinggung

perasaan Liang Fu Yong, maka dari itu dia tidak jadi melanjutkan. Tetapi di wajahnya

sudah terlihat jelas rona kemerah-merahan.

Liang Fu Yong tertawa-tawa. Tampaknya dia tidak mengambil hati terhadap ucapan

Tan Ki barusan. Dia langsung duduk di tepi tempat tidur. Tan Ki menegakkan badannya

dengan maksud turun dari tempat tidur. Tapi Liang Fu Yong segera mencegahnya.

Bibirnya tersenyum.

“Kau berbaring saja. Cici hanya ingin melihatmu, tidak ada niat lainnya.”

Begitu mata memandang, wajah Tan Ki yang tampan begitu polos bagai bayi yang baru

dilahirkan. Bersih dan menawan hati. Di bawah sorotan cahaya lampu yang remangremang,

tampangnya semakin memukau.

Hatinya langsung berdebar-debar, seakan ada terselip perasaan jengah yang naik ke

atas kepala. Cepat-cepat dia menundukkan wajahnya dan tidak berani memandang lebih

lama. Tiba-tiba telinganya mendengar suara Tan Ki.

 

“Konon ada seorang wanita, namanya Liang Ang Giok. Dia hidup sebagai seorang

penyanyi yang melayani tamu-tamu di rumah pelesiran. Begitu cantiknya dia sampai

namanya terkenal ke daerah-daerah yang jauh…”

Liang Fu Yong merasa hatinya gelisah. Pikirannya melayang-layang. Dia sedang

memikirkan sesuatu hal. Apa yang dikatakan oleh Tan Ki selanjutnya sama sekali tidak

masuk dalam pendengarannya.

Lambat laun, dari sepasang sinar matanya menyorot cahaya yang aneh…

Suasana di dalam ruangan juga seakan dipenuhi gairah yang misterius. Yang seorang

terus berbicara, sedang yang satunya lagi mendengarkan dengan setengah hati.

Orang yang bercerita justru memusatkan perhatian pada kisah yang diceritakan.

Bagaimana wanita bernama Liang Ang Giok itu terpaksa menjual diri guna menutupi

hutang-piutang suaminya. Orang yang mendengarkan malah membiarkan pikirannya

melayang-layang dan saat itu seperti ada kobaran api di dalam hatinya yang naik semakin

Tiba-tiba dia memejamkan matanya dan berteriak, “Tidak usah diteruskan lagi!”

Tan Ki jadi tertegun.

“Apakah kau tidak senang dengan cerita yang satu ini?” tanyanya bingung.

Perlahan-lahan Liang Fu Yong menggigit bibirnya yang sebelas atas.

“Tidak, adik. Apapun yang kau ceritakan, Ciri selalu senang mendengarnya. Biarpun kau

memarahi aku juga tidak apa-apa. Tetapi saat ini, aku… aku…”

Entah mengapa, kata-kata yang selanjutnya begitu sulit dicetuskan oleh Liang Fu Yong.

Sebelumnya, apabila dia berhadapan dengan laki-laki manapun, dia selalu mencetuskan

perasaannya terang-terangan, bahkan tanpa perasaan malu sedikitpun. Siapa nyana, saat

ini, di hadapan Tan Ki dia malah merasa jengah dan tidak sanggup membuka mulut.

Tan Ki merasa terpana.

“Ada apa dengan dirimu?”

“Aku… aku…” setelah setengah harian, dia juga belum sanggup mengatakan apa yang

tersirat dalam hatinya.

Tan Ki melihat sinar matanya yang pilu. Air mata berderai dengan deras. Hatinya timbul

sebuah pemikiran yang menyeramkan. Tanpa sadar tubuhnya menggigil.

Tiba-tiba… dengan gerakan spontan, Liang Fu Yong menerjang ke tubuh Tan Ki.

Gerakannya yang tidak disangka-sangka ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Dia

segera dapat merasakan bahwa peristiwa malam ini agak tidak beres.

Telinganya menangkap gumaman Liang Fu Yong…

 

“Adik, aku membutuhkan… membutuhkan…” suaranya gugup. Nafasnya memburu. Di

balik semua ini seakan terkandung sesuatu permintaan.

Hati Tan Ki semakin tercekat. Dalam waktu yang bersamaan, dia segera sadar apa yang

dibutuhkan oleh Liang Fu Yong. Tiba-tiba dia berusaha menegakkan badannya, namun dia

ditekan kembali oleh Liang Fu Yong. Dalam keadaan panik dia malah sulit memberikan

Begitu terkejutnya Tan Ki sehingga gerakannya semakin gugup.

‘Datang lagi, datang lagi. Kali ini habislah…!’ jeritnya dalam hati.

Dia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Liang Fu Yong. Tetapi, meskipun sebetulnya

dia merupakan seorang anak muda yang cerdas, namun menghadapi kejadian seperti ini,

yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Dia juga tidak tahu harus bertindak apa.

Tampak selembar wajah Tan Ki yang tampan menjadi merah padam saking paniknya.

Kadang-kadang wajahnya berubah pucat pasi. Tetapi untuk sesaat dia tidak dapat

meluapkan kemarahannya. Perlahan-lahan Liang Fu Yong mengangsurkan wajahnya yang

merah membara mendekati…

Tiba-tiba Tan Ki merasa nafasnya memburu, perasaannya menjadi tegang, sepasang

tangannya entah harus diletakkan di sebelah mana. Suasana semakin panas, kalau saja

ada orang lain yang menyaksikan, mereka tentunya dikira sepasang pengantin baru yang

masih hijau dalam urusan tempat tidur…

“Tidak boleh… Cici, tidak boleh begini…!” teriak Tan Ki.

Tapi kalau ada yang mencuri dengar percakapan yang berlangsung di dalam kamar itu,

tentu orang tersebut akan merasa heran mengapa yang mengeluarkan jeritan justru

pengantin laki-lakinya.

“Adik, aku harap kau bersedia membantu, Cici benar-benar tidak sanggup

mempertahankan diri lagi…” di bawahnya masih ada kata-kata yang lain, tetapi dia tidak

berani mengatakannya.

Mendadak Liang Fu Yong menempelkan sepasang bibirnya di atas wajah Tan Ki. Pada

saat itu juga, Tan Ki merasa seperti ada arus listrik yang menjalari seluruh tubuhnya. Dan

dia langsung tergetar.

“Cici, kau tidak boleh melakukan hal seperti ini. Tidak boleh…!” seru Tan Ki panik sekali.

Kali ini bibirnya yang disekap oleh Liang Fu Yong. Tan Ki hanya merasa suatu benda

yang hangat dan harum bermain di atas bibirnya. Tan Ki dicium sedemikian rupa sampai

gelagapan. Ciuman itu demikian hangat dan mesra.

Benda-benda yang ada di sekitar seperti lenyap satu persatu. Meskipun dunia ini sangat

luas, tetapi sepertinya hanya milik mereka berdua. Liang Fu Yong hanya digelayuti satu

macam pikiran. Yaitu apa yang dikehendakinya sekarang…..

Sedangkan di pihak Tan Ki, begitu terkejutnya dia sampai tidak sanggup mengucapkan

sepatah katapun. Matanya terbelalak lebar-lebar……

 

Sepasang tangannya telah basah oleh keringat dingin, jantungnya berpacu cepat

seperti orang yang baru saja berlari dalam jarak jauh. Segulung demi segulung bau harum

yang terpancar dari tubuh perempuan itu menerpa hidungnya. Dia merasa pikirannya

mulai kacau, sepasang matanya berkunang-kunang… tetapi di hati kecilnya masih terselip

sedikip kesadaran.

Tegang! Romantis! Panas! Merangsang!

Suasana yang hangat memenuhi kamar itu. Sungguh saat-saat yang mendebarkan hati

dan sulit melepaskan diri!

Tiba-tiba… Tan Ki berteriak sekeras-kerasnya. Dengan kuat dia mendorong tubuh Liang

Fu Yong dan melonjak turun dari tempat tidur tersebut. Perubahan yang mendadak ini,

membuat Liang Fu Yong termangu-mangu. Dia tidak menyangka kalau Tan Ki dapat

melepaskan diri dari rangsangan bi-rahi yang hampir memenuhi benaknya.

Dalam keadaan tertegun, dengan sekali loncat Tan Ki sudah keluar dengan menerobos

jendela. Liang Fu Yong terkejut setengah mati.

“Adik, jangan pergi!” kakinya menutul dan diapun menyusul dari belakang.

Di bawah sorotan rembulan yang terang, tampak kedua orang itu berlarian dengan

saling mengadu kecepatan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berlari sejauh dua

belas li.

Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berdiri di atas puncak sebuah bukit

dengan tidak bergerak sama sekali. Hembusan angin membawa keharuman yang

terpancar dari tubuh seorang perempuan. Liang Fu Yong sudah mendarat di sampingnya.

Tempat ini sudah tidak jauh dari hutan. Daerahnya agak tinggi. Begitu di bagian de-i

pan bertiup segulungan angin malam, tanpa terasa tubuh Liang Fu Yong menjadi

menggigil. Kobaran api dalam dadanya pun padam seketika.

Matanya beralih, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan wajahnya menatap langit.

Matanya menerawang, seakan ada sesuatu hal yang menggelayuti pikirannya. Dia berdiri

tegak tanpa mengucapkah sepatah katapun.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia baru menarik nafas panjang.

“Cici, tidak seharusnya kau berbuat begitu terhadapku.”

Mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tan

Ki. Sesaat kemudian, akhirnya dia tersadar. Otomatis wajahnya jadi merah padam dan

kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Tan Ki melihat tampangnya seperti orang yang menderita malu. Oleh karena itu dia

segera tersenyum.

“Aku juga mengerti. Selama ini tindak-tandukmu selalu mengikuti kata hati. Apa yang

ingin kau lakukan, tidak pernah dihalangi oleh siapapun. Kalau mengharapkan kau

 

berubah dalam waktu beberapa hari, tentu tidak mungkin. Apa yang terjadi barusan,

anggaplah tidak pernah terjadi. Biarkanlah berlalu begitu saja.”

Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendongakkan kepalanya. Di wajahnya yang merah

jengah sudah mengalir dua tetes air mata.

“Adik, apakah kau marah kepadaku?”

Air matanya menetes bukan karena perasaannya takut ataupun sedih. Justru karena dia

merasa malu sekali. Hati Tan Ki jadi tergerak.

Dia juga bisa mengeluarkan air mata, hal ini membuktikan bahwa di otaknya masih ada

sedikit kesadaran dan belum tertutup sama sekali. Kalau aku menasehati lebih gencar lagi,

mungkin tidak sulit mengajaknya kembali ke jalan yang lurus dan menjadi orang baik-baik,

pikirnya dalam hati.

Setelah mempunyai renungan seperti itu, bibirnya langsung mengembangkan seulas

“Urusan kecil seperti ini, tidak mungkin aku memasukkannya ke dalam hati.”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada tulus. Justru membuat perasaan Liang Fu Yong

semakin tergugah.

Kalau saat ini Tan Ki mendampratnya habis-habisan, mungkin perasaan Liang Fu Yong

lebih lega. Tetapi Tan Ki justru mengucapkan kata-kata yang wajar dan tidak mengandung

sedikit kemarahan pun. Hatinya segera dilanda perasaan rendah diri. Perlahan-lahan dia

membalikkan tubuh dan menuruni bukit tersebut.

Gerakannya dilakukan dengan tiba-tiba, Tan Ki menjadi termangu-mangu. Dia tidak

mengerti mengapa Liang Fu Yong mendadak pergi begitu saja. Sebetulnya, dia memang

tidak memahami perasaan seorang perempuan. Dia merasa hati seorang wanita paling

sulit diraba. Mimpi pun dia tidak mengira bahwa justru sikapnya yang terbuka dan lembut

serta kata-katanya yang menghibur itulah yang bukan saja terpatri dalam-dalam di

sanubari Liang Fu Yong. Malah membuat perempuan itu merasa dirinya begitu rendah dan

tidak tahu malu. Serta merasa baik tindak-tanduknya maupun mutu dirinya sendiri tidak

dapat dibandingkan dengan anak muda tersebut.

Biar bagaimana dia hanya seorang perempuan yang jalang, genit dan rendah.

Kepergian Liang Fu Yong meninggalkan Tan Ki, sebetulnya karena dia tidak berani

menghadapi kenyataan yang terpampang didepannya.

Tan Ki sama sekali tidak memikirkan bahwa menjelang kepergiannya, hati Liang Fu

Yong digelayuti berbagai macam tekanan bathin. Setelah tertegun sejenak, dia segera

menggerakkan langkahnya mengejar.

“Cici, cici, mengapa kau pergi?” Liang Fu Yong menyahut dengan suara tersendatsendat.

“Aku ingin meninggalkan tempat ini, meninggalkan engkau dan meninggalkan

semuanya yang ada…”

 

Hatinya seperti dipenuhi berbagai katakata, tetapi dia tidak sanggup mencetuskan-nya.

Setelah mengucapkan beberapa patah kata di atas, tiba-tiba mulutnya membungkam.

Pada saat berbicara, dia sudah menghentikan langkah kakinya. Tetapi dia masih belum

membalikkan tubuh. Dia berdiri memunggungi Tan Ki, dia takut menatap wajahnya yang

selalu tersenyum dan matanya yang berbinar-binar…

Terdengar Tan Ki tertawa getir.

“Kau tidak boleh pergi. Kecuali kalau kau mempunyai keyakinan bahwa kau tidak akan

mengulangi perbuatanmu yang dulu, tentu kau boleh pergi. Tetapi kalau kau belum

mempunyai kesanggupan untuk merubah tindak-tandukmu, lebih baik kau ikut denganku.

Dengan demikian, masih ada orang yang mengawasimu sehingga perbuatan terkutuk itu

tidak akan terulang lagi.” kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas. Suaranya

juga serius sekali serta mengandung kewibawaan yang tidak dapat ditolak.

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.

“Untuk apa? Di dalam hatiku telah tertanam akar jahat yang tidak dapat dicabut lagi.

Dan aku juga tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Setiap gairah itu datang, aku seperti

tidak memperdulikan hal lainnya lagi. Bahkan sikapku berubah menjadi demikian rendah

serta tidak tahu malu. Dengan bisa memperoleh perhatianmu, sebetulnya aku sudah

merasa bahagia. Apa lagi yang aku inginkan? Namun, di dalam hatiku justru terselip

perasaan pesimis dan rendah diri yang bertambah berat sehari demi sehari…”

Tan Ki memutar tubuhnya dan berdiri dihadapannya. Dia segera meraih tangan Liang

Fu Yong dan menggenggamnya erat-erat. Bibirnya tersenyum lembut. “Kau salah. Orang

yang tahu kesalahannya sendiri dan berniat merubah, merupakan

pahala yang besar sekali. Siapa orangnya yang berani menyatakan bahwa dirinya tidak

pernah melakukan kesalahan? Para dewa yang sudah menetap di atas langit juga tidak

berani mengucapkan kata-kata yang demikian takabur, apalagi kita yang terlahir sebagai

manusia biasa?”

“Apakah kau benar-benar memaafkan aku dan tidak menaruh benci sedikitpun terhadap

perbuatanku tadi?”

“Cici, apakah kau tetap tidak percaya?” suaranya demikian tulus, persis seperti sebilah

pedang tajam yang langsung menembus jantung hatinya.

Sedemikian terharunya Liang Fu Yong sampai-sampai air matanya mengalir dengan

deras. Yang diteteskan olehnya adalah air mata persahabatan yang tulus dan perasaan

kasih yang dalam.

Perlahan-lahan Liang Fu Yong memejamkan sepasang matanya.

“Adik, kalau kau benar-benar memaafkan aku, sudikah kau memeluk aku… walaupun

hanya sekejap saja?” tanyanya dengan nada berat.

Tan Ki tersenyum lembut. Kedua tangannya terulur dan dia memeluk Liang Fu Yong

erat-erat. Tubuh perempuan yang mungil itupun terjatuh dalam pelukannya…

 

Dia merasa nafasnya sesak, seluruh tubuhnya lemas, menggunakan kesempatan ini dia

menyelusup ke dalam pelukan Tan Ki. Untuk sesaat, suasana jadi sepi senyap, tetapi

mengandung keperihan yang dalam.

Lama, lama sekali… dia masih tetap memejamkan sepasang matanya, tubuhnya tidak

bergerak sedikit juga. Saat itu juga, apa yang didambakannya dan benda yang

diharapkannya seperti terlampias dalam pekikan anak muda tersebut.

Tiba-tiba matanya mengejap. Dua tetes air mata mengalir turun membasahi pipinya.

Tan Ki mengusapkan wajahnya pada rambut Liang Fu Yong.

“Cici, yang lalu biarkanlah berlalu. Tidak perlu dipikirkan lagi. Yang kita kejar sekarang

hanya kecerahan masa depan… kau mengerti maksudku bukan?” nada suaranya demikian

tulus. Seperti seorang ibu yang bijaksana yang menasehati putrinya dengan suara lembut

dan tidak kenal jenuh.

“Aku tahu, lain kali aku pasti bisa berubah.”

Tan Ki tersenyum lebar.

“Baiklah, kita sudah harus pulang sekarang.”

Malam semakin larut, angin yang dingin tetap berhembus…

Tan Ki dan Liang Fu Yong segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan

kembali ke penginapan. Kemudian, Tan Ki mengantarkan Liang Fu Yong ke kamar sebelah.

Dia memperlakukan perempuan itu bagai perlakuan seorang ibu terhadap putrinya. Dia

menyelimuti tubuh perempuan itu, bahkan menyenandungkan lagu…

Sampai Liang Fu Yong tertidur dengan pulas, dia baru menghembuskan nafas panjang

dan kembali ke kamarnya sendiri.

Tiba-tiba… Liang Fu Yong menarik nafas panjang dan membuka matanya. Di sudut

matanya terlihat buliran air mata yang menggantung. Sebetulnya, dia belum tertidur.

Namun dia hanya pura-pura terpulas.

Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin dia dapat tidur dengan nyenyak? Tindaktanduk

Tan Ki membuat dia menekan keras-keras kobaran birahi di dalam dadanya.

Namun setelah dia pergi, otomatis gairah itu terbangkit kembali.

Terjadi peperangan di antara kesadaran serta keinginan di dalam hatinya. Liang Fu

Yong membolak-balikkan tubuhnya tanpa bisa pulas sedetikpun. Memangnya dia sendiri

tidak berniat berubah, tetapi, ada semacam keinginan yang kuat di dalam bathinnya yang

terus menerus merongrongnya dan membuatnya tidak dapat mengendalikan diri!

Dia rela meloncat dari sebuah tepi jurang yang dalam… terjun ke bawah…

Cahaya lampu di dalam kamar lambat laun menjadi suram, malam telah bertambah

larut. Liang Fu Yong merasa, di dalam tubuhnya terdapat setungku api yang terus

berkobar-kobar, semacam keinginan yang mendesak yang membuat pikirannya menjadi

kebal… Dari sepasang sinar matanya tersorot cahaya yang dipenuhi oleh hasrat yang kuat,

namun justru membuat wajahnya semakin cantik.

 

“Aku tidak sanggup lagi… aku tidak dapat menahannya… aku ingin…” gumamnya

seorang diri.

Terdengar desahan nafas yang lirih, di mimik wajahnya mulai tersirat gairah yang

meluap-luap. Pada saat itu juga, dia sudah tahu apa yang akan diperbuatnya. Walaupun

bagaimana Tan Ki berusaha menasehatinya, akhirnya semua sia-sia.

Dia sadar mengapa dirinya begitu gelisah… justru karena kesadarannya hampir lenyap

dari benaknya. Tampak bayangan manusia berkelebat. Cahaya lampu berkibar-kibar. Dia

sudah menyelinap keluar dari kamarnya.

Gerakannya pesat bagai kilat, namun langkah kakinya tidak menimbulkan suara

sedikitpun. Cahaya rembulan yang suram, sesosok bayangan meninggalkan tanah seakan

terbang, dan menerjang terus ke depan.

Sekali lagi perbuatan terkutuk akan diulanginya.

BAGIAN IX

Malam semakin larut. Di sekitar yang terlihat hanya kesunyian. Tampak di bawah

sorotan cahaya rembulan, sesosok bayangan melesat bagai kilat menerjang terus ke

Angin malam bertiup kencang, tidak henti-hentinya menyapu wajah Liang Fu Yong,

namun hembusan angin yang dingin itu tidak dapat memadamkan api yang berkobarkobar

di dalam dadanya. Sebaliknya, malah menambah hasrat di dalam kalbunya yang

menuntut hal yang didambakannya.

Dalam waktu yang singkat dia sudah berlari sejauh sepuluh li. Di depan terdapat

sebuah kota, begitu mata memandang, yang terlihat hanya kegelapan, tidak ada cahaya

lampu setitikpun. Tentu saja, para penduduk saat ini sedang pulas dalam mimpi. Siapa

yang akan menduga bahwa seorang perempuan yang terkenal kejalangannya akan

mencari mangsa di kota mereka.

Sesaat kemudian, dia menghentikan langkah kakinya. Seperti biasa, dia mengedarkan

pandangannya ke sekeliling tempat itu. Beberapa saat kemudian, tubuhnya berkelebat

dengan kaki menghentak, dia menuju ke arah sebuah gedung besar yang ada di sebelah

kiri. Sepasang kakinya segera menutul, tubuhnya melayang ke atas dan orangnya pun

mendarat di taman belakang.

Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Di hadapannya terdapat sebuah ruang

perpustakaan. Di sana masih ada cahaya lampu yang menyorot lewat dedaunan yang

rimbun di depan jendela.

Sayup-sayup, hembusan angin membawa suara seseorang yang sedang membaca

syair. Dari pengalamannya, Liang Pu Yong segera mengetahui bahwa yang ada dalam

ruangan itu pasti seorang pelajar yang lemah. Lagipula, keadaan di dalam ruangan itu

begitu hening. Seakan tidak ada pihak ketiga di sana.

 

Bibirnya tersenyum simpul. Dengan berani dia melangkah ke arah ruangan tersebut dan

mengetuk daun jendelanya.

“Siapa?” dari dalam terdengar suara seorang laki-laki bertanya.

Sekali lagi terlihat seulas senyuman di bibir Liang Fu Yong.

Dengan berani dia menyahut, “Aku.”

“Oh, apakah Ie Cin Moay-moay yang datang? Sekarang sudah larut sekali, kau datang

ke mari…”

Belum lagi kata-katanya selesai, secercah sinar menerobos keluar, orang itu sudah

membuka jendelanya.

Dia langsung tertegun.

Selembar wajah yang tampan namun menunjukkan perasaannya yang kebingungan

muncul di depan mata Liang Fu Yong.

Kenyataannya, laki-laki itu balikan tidak pernah bermimpi bahwa pada saat ini dan

tempat ini akan muncul seorang perempuan yang cantik jelita serta bukan Ie Cin Moaymoay

seperti yang diduganya.

Kejadian yang benar-benar di luar dugaan itu, membuat dirinya terkejut untuk sesaat.

Diapun berdiri dengan termangu-mangu. Hanya terlihat Liang Fu Yong bergerak sedikit,

tahu-tahu orangnya sudah masuk ke dalam ruangan dengan menerobos jendela. Dia

malah merapatkan daun jendela ruangan tersebut. Dia berdiri sambil menatap laki-laki itu

lekat-lekat. Pancaran matanya me-ngandung perasaannya yang terang-terangan dan

senyumannya juga begitu mesra.

Dia sedang memperhatikan laki-laki itu. Tapi pihak lawan justru begitu ketakutannya

sehingga pucat pasi.

“Siapa… kau… sebenar…nya?” tanyanya gugup.

Liang Fu Yong tersenyum simpul.

“Aku adalah aku. Memangnya siapa? Tetapi, kau adalah seorang laki-laki sedangkan

aku adalah seorang perempuan…” senyumnya itu bagai sekuntum mawar yang baru

mekar namun mempunyai duri yang tajam dan dapat menusuk.

Diam-diam timbul perasaan ngeri di dalam hati laki-laki itu. Tanpa sadar tubuhnya

bergetar. Tampangnya yang tegang dan menyiratkan perasaan takutnya, membuat Liang

Fu Yong yang sedang menatapnya malah bertambah senang. Dia berjalan menghampiri

sambil menepuk bahunya beberapa kali.

“Apa yang kau takuti? Laki-laki sejati harus mendongakkan kepala menatap langit dan

menginjakkan kaki di bumi dengan keras. Kalau terhadap seorang perempuan saja sudah

takut sedemikian rupa, bukankah orang yang menyaksikannya bisa tertawa terbahakbahak

sampai giginya copot?”

 

Laki-laki itu membangkitkan keberaniannya dan memaksakan sebuah senyum di

“Aku hanya seorang pelajar yang miskin. Aku tidak mempunyai apa-apa. Apabila Li

Enghiong mencari harta benda atau batu permata, harap mencari di tempat lain saja.”

Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek.

“Aku tidak ingin segala harta benda ataupun batu permata.”

Laki-laki itu jadi tertegun.

“Lalu apa yang kau inginkan?”

“Sesuatu yang ada pada tubuhmu.”

Mula-mula laki-laki itu terpana. Sesaat kemudian dia menjadi gusar.

“Perempuan tidak tahu malu, cepat menggelinding dari sini! Aku berasal dari keluarga

yang taat pada ajaran Kong Beng, mana boleh aku melakukan perbuatan rendah seperti

itu?” bentaknya keras.

Liang Fu Yong malah cengar-cengir menatapnya.

“Aduh, galak benar!” dia sengaja melangkah maju dan merapat kepada laki-laki itu.

Laki-laki itu semakin ketakutan. Cepat-cepat dia mundur dua langkah.

“Pergi! Kalau kau tetap tidak mau pergi, aku akan berteriak sekeras-kerasnya!” ancam

laki-laki itu.

Tiba-tiba, terdengar suara prang! Prang! Beberapa kali. Rupanya laki-laki itu begitu

panik sehingga sebuah pot kembang yang terdapat di atas meja tersentuh sikut tangannya

dan pecah berantakan. Suasana semakin menegangkan dan membuat jantung berdebardebar.

Liang Fu Yong seperti seekor kucing yang maju setindak demi setindak mendesak

ke arah tikus kecil tersebut. Berani sekali dia!

Laki-laki itu mundur lagi beberapa langkah. Akhirnya dia sudah merapat pada ujung

tempat tidur. Dalam keadaan seperti ini, dia sadar dirinya sudah dalam ambang bahaya,

tanpa dapat di pertahankan lagi, mulutnya terbuka lebar-lebar dan berteriak sekeraskerasnya.

“Tolong! Tolong!”

Dia masih ingin berteriak terus, tetapi tiba-tiba terdengar suara aduhan dari mulutnya

dan diapun terkulai di atas tanah. Rupanya Liang Fu Yong sudah menotok jalan darah lakilaki

tersebut. ”Di dalam ruangan itu terdapat sebuah lampu gantung yang cahayanya

terang sekali. Saat itu tengah menyinari wajah Liang Fu Yong yang telah berona merah

dan membuat diri perempuan itu semakin menawan.

Perlahan-lahan dia mengangkat laki-laki itu dan meletakkannya di atas tempat tidur.

Meskipun dalam keadaan tertotok, tetapi pikiran maupun perasaannya masih tetap sadar.

Menilik situasi yang dihadapinya, biar seorang yang paling pandir sekalipun, tetap dapat

 

menduga apa yang akan terjadi. Hatinya menjadi mangkel dan marah. Pada, dasarnya dia

memang seorang pemuda yang sopan dan berpendidikan. Meskipun mulutnya ingin

mencaci maki, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Untuk sesaat dia

menjadi termangu-mangu tanpa tahu harus mengucapkan apa.

Dengan tenang Liang Fu Yong membaringkan laki-laki itu di atas tempat tidur. Bibirnya

tersenyum manis.

“Aku tidak akan menelan dirimu. Kau jangan khawatir.”

Dengan marah laki-laki itu memalingkan wajahnya. Dia tidak memperdulikan Liang Fu

Yong. Tetapi bathinnya justru sedang membara, jantungnya berdegup-degup. Telinganya

mendengar segulungan suara yang merdu dan membetot sukmanya.

“Koko yang baik, kau tidak perlu merasa takut. Kau hanya diminta untuk meminjamkan

tubuhmu malam ini kepadaku. Kalau tidak bisa juga, bayangkan saja aku sebagai Ie Cin

Moay-moay, kekasihmu itu.”

‘Perempuan yang tidak tahu malu. Kata-kata yang begitu rendah masih bisa diucapkan

dengan santai!’ makinya dalam hati.

Ketika benaknya sedang bergerak, tiba-tiba dia merasakan selembar wajah yang panas

merapat ke arahnya. Hatinya semakin berdebar-debar. Dia merasa pikirannya menjadi

tegang. Nafasnya sesak dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Dia ingin membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada suara

sedikitpun yang keluar. Dua belah bibir yang hangat dan harum tahu-tahu telah menempel

di atas bibirnya.

Pada saat itu juga, dirinya bagai kena sambaran petir. Sehingga dia merasa seluruh

tubuhnya dijalari perasaan yang aneh. Perasaan itu demikian janggal, ajaib dan belum

pernah ia rasakan sebelumnya. Sampai-sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana harus

menjelaskannya…

Dalam waktu yang singkat, dia seperti tiba-tiba menjadi dewasa.

Dia mulai mengerti bahwa di antara laki-laki dan perempuan terselip hubungan yang

demikian ajaib. Hatinya menjadi lemas. Dia tidak dapat mempertahankan diri dari

keindahan bayangan di hadapannya. Ciuman yang mendadak itu telah membuat hatinya

menjadi luruh.

Entah mendapat kekuatan dan keberanian dari mana, tiba-tiba dia menggulingkan

tubuhnya dan menindih Liang Fu Yong. Terdengar suara tawa yang genit, centil, dan

bebas. Seakan seluruh manusia di dunia ini juga tidak dapat menolak suara tawa yang

satu ini.

Terdengar suara hembusan angin, Liang Fu Yong menghantamkan sebuah pukulan

jarak jauh dan lampu di dalam ruangan itu-pun padam seketika. Di dalam ruangan

sekarang yang ada hanya kegelapan.

Hening seketika, yang terdengar hanya suara desiran baju yang dibuka. Sesuatu yang

luar biasa akan berlangsung di dalam ruangan tersebut.

 

Tiba-tiba… dari luar jendela berkumandang serangkum suara tawa yang dingin!

Datangnya suara tawa ini demikian mendadak, sehingga benar-benar di luar dugaan.

Tapi sempat membuat dua orang yang sedang bergelut di atas tempat tidur itu menjadi

tertegun. Otomatis gerakan tangan pun terhenti.

Dalam kegelapan, wajah Liang Fu Yong yang cantik segera berubah hebat. Hawa

pembunuhan mulai tersirat di keningnya. Dalam waktu yang singkat, dia sudah

mengenakan kembali pakaiannya. Karena dia sadar, musuh yang datang di luar jendela

pasti merupakan seorang tokoh dari aliran lurus!

Sedangkan laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya dengan wajah pucat pasi. Dia

meringkuk di sudut tempat tidur tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dia takut orang

yang ada di luar jendela adalah Ie Cin Moay-moay atau keluarganya. Kalau urusan yang

memalukan ini sampai tersebar keluar, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat tertahan lagi, keringat dingin pun membasahi

tubuhnya. Gairah yang berkobar-kobar dalam dadanya pun padam seketika. Tepat pada

saat itu, kembali terdengar suara tertawa dingin dari luar jendela.

“Siau Yau Sian-li, keluarlah!” bentak orang itu.

Liang Fu Yong menjadi tertegun. ‘Mengapa orang ini bisa mengenali aku?’ tanyanya

dalam hati.

Di samping itu, hatinya juga merasa marah, peristiwa menyenangkan yang sudah di

depan mata, jadi gagal gara-garanya. Bagaimana hatinya tidak jadi benci!

Oleh karena itu, dia meraung sekeras-kerasnya. Sebuah kursi bundar langsung

ditimpukkannya keluar jendela. Sepasang kakinya menutul, seiring melayangnya kursi tadi,

tubuhnya pun menerobos keluar.

Ketika sepasang kakinya baru menginjak tanah, dia melihat kibaran pakaian berwarna

hijau melesat ke arah depan. Dia tidak tahu orang yang tertawa dingin sengaja

memancingnya keluar dari gedung tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera

Telinganya menangkap suara gaduh dari belakang. Bayangan manusia

berbondongbondong mengejar keluar. Rupanya suara jendela pecah karena sambitan

kursi Liang Fu Yong telah mengejutkan seisi gedung tersebut dan merekapun keluar

beramai-ramai untuk melihat apa yang telah terjadi.

Di bawah sorotan cahaya rembulan yang remang-remang, kedua orang itu berlari

dengan cepat. Yang satu kabur dan yang satu lagi mengejar. Dalam waktu yang singkat,

mereka sudah berlari sejauh dua puluh li.

Tiba-tiba terlihat orang itu menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.

Tepat pada saat itu, Liang Fu Yong sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Nyaris dia

tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan bertumbukan dengan orang itu.

 

Untung saja ilmu silatnya cukup tinggi. Dengan gugup dia menahan gerakan tubuhnya

dan berputaran sebanyak dua kali baru perlahan-lahan berhenti. Begitu matanya

memandang, dia melihat orang itu mengenakan pakaian berwarna hijau, usianya sekitar

empat puluh tahunan. Wajahnya pucat pasi

dan datar sekali. Tidak dapat kita menentukan bagaimana perasaan orang itu yang

Tampang yang menyeramkan muncul di tengah malam yang dingin mencekam.

Meskipun nyali Liang Fu Yong cukup besar namun tanpa dapat di tahan lagi, tubuhnya

juga bergidik. Kakinya sampai mundur dua langkah.

“Siapa kau?” bentaknya.

“Cian bin mo-ong!” sahut orang itu dengan nada suara yang sinis.

Keempat huruf itu diucapkan dengan lambat dan panjang. Di dalamnya seakan

terkandung ketegasan seorang laki-laki yang penuh wibawa. Mendengar kata-katanya,

Liang Fu Yong terkejut setengah mati. Wajahnya berubah hebat dan tanpa sadar kakinya

sampai mundur dua langkah.

Cian bin mo-ong yang namanya telah menggetarkan dunia persilatan dan membuat

para tokoh di dunia Bulim jadi pusing kepalanya, ternyata muncul di hadapan dirinya

sendiri. Hal ini bahkan tidak pernah terbayang dalam impiannya. Tentu saja, dia masih

belum tahu kalau Cian bin mo-ong merupakan samaran dari Tan Ki.

Dalam keadaan terkejut dan ketakutan, Liang Fu Yong meliriknya sekali lagi. Dia

berusaha memberanikan dirinya dan memperdengarkan suara tawa yang genit.

“Setiap orang mengatakan bahwa Cian bin mo-ong dapat merubah dirinya menjadi

ribuan orang. Bahkan kabarnya dapat membunuh orang dalam sekejap mata. Tapi dalam

pandanganku, biar bagaimana kau juga tetap seorang manusia biasa.”

Cian bin mo-ong Tan Ki tersenyum simpul, “Betul, aku juga manusia. Tidak mempunyai

tiga kepala atau enam pasang tangan. Gerak-gerikku juga tidak mirip dengan setan

gentayangan. Adik Tan Ki juga sering menasehati bagaimana caranya menjadi manusia

yang wajar, apakah kau sudah melupakah kata-katanya?”

Hati Liang Fu Yong tercekat mendengar ucapannya.

“Bagaimana kau bisa tahu urusan ini?”‘ tanyanya dengan suara tajam.

Tan Ki tertawa lebar.

“Cian bin mo-ong sudah berkelana menjelajahi seluruh Kangouw. Tentu saja

mempunyai kepandaian yang tidak dimiliki orang lain. Urusan sekecil ini, seandainya dapat

mengelabui pandanganku, mana pantas aku mendapat sebutan iblis nomor satu di dunia

ini?” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia berhenti. Wajahnya berubah menjadi serius dan

penuh wibawa. “Kau sudah mengadakan perjanjian dengan Tan Ki bahwa dalam waktu

tiga bulan ini kau tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan ataupun mencelakai

orang lain. Kalau malam ini dihitung juga, kau baru menepati janjimu selama tiga hari dan

 

mengulangi lagi perbuatan yang terkutuk itu. Apakah kau kira Tan Ki itu orang yang bodoh

sehingga tidak mengetahuinya sama sekali?”

Liang Fu Yong mendengar kata-katanya semakin lama semakin keras. Di dalamnya

terkandung kemarahan yang meluap-luap. Bahkan orang itu sampai menghentakkan

kakinya beberapa kali saking jengkelnya. Sedangkan di bathinnya sendiri, semakin

didengarkan, perasaannya semakin menggigil. Entah mengapa, di dalam hatinya timbul

semacam ketakutan. Dia khawatir Cian bin mo-ong akan membeberkan urusan malam ini

kepada Tan Ki.

Liang Fu Yong tidak sempat mempertimbangkan lagi keadaan yang terbentang di depan

matanya. Mengapa orang ini begitu jelas tentang dirinya sendiri, seperti orang yang

menatap telapak tangannya sendiri. Mengapa ketika mengungkit persoalan Tan Ki, nada

suaranya begitu marah dan tajam, mengapa…?

Pada saat itu juga, dia merasa otaknya seakan menjadi kosong melompong.

Perlu diketahui bahwa hubungannya dengan Tan Ki berlangsung selama tiga hari.

Meskipun semuanya masih demikian singkat, tetapi di dalam hati Liang Fu Yong telah

timbul perasan hormat yang dalam pada adik Tan Ki-nya. Dia merasa setiap tindaktanduknya

demikian wajar, lembut, penuh perhatian dan mengandung curahan kasih yang

tidak terkatakan.

Meskipun dia sudah pernah bertemu dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki, tetapi ia

belum pernah melihat orang seperti Tan Ki. Orang yang mana dapat membuat

perasaannya tergugah. Bahkan setiap ucapan maupun senyum anak muda itu, tidak ada

satupun yang membuat dirinya bertambah gagah dan tampan. Perempuan manapun yang

bertemu dengannya, tentu sulit menahan rasa simpatinya. Rasa hormat yang timbul dalam

hati Liang Fu Yong kepada Tan Ki adalah berda-sarkan perasaannya yang tulus. Dia

merasa adiknya yang satu ini membuat sejarah hidupnya bertambah dengan terukirnya

nama seorang laki-laki. Tetapi dia masih belum sadar bahwa perasaan hormat yang ada

sekarang merupakan bagian dari cinta kasihnya yang mulai tumbuh. Dalam pikirannya,

apabila dia dapat berdekatan dengan adiknya itu, hatinya sudah merasa puas dan senang.

Apabila Cian bin mo-ong memberitahukan urusan malam ini kepada Tan Ki, akibatnya

sungguh tidak berani ia bayangkan. Mungkin, saking marahnya, Tan Ki akan

meninggalkannya begitu saja. Dan pasti untuk selamanya tidak sudi memperdulikan

dirinya lagi.

Berpikir sampai di sini, sekali hatinya tergetar. Dia segera mengambil sebuah

keputusan. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa dingin.

“Apakah kau bermaksud menceritakan urusan malam ini kepada adikku?” tanyanya

“Tidak salah!”

Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Segulung hawa pembunuhan yang tebal segera

merasuki jiwanya. Sekali lagi dia tertawa dingin.

“Kalau begitu aku terpaksa membunuh agar mulutmu bungkam!” kata-katanya yang

terakhir baru terucap, telapak tangannya segera mendatangkan serangkum angin dari

diapun menghantam ke depan.

 

Saat itu, hawa amarah yang memenuhi hatinya telah berganti dengan niat membunuh.

Begitu pukulannya dilancarkan, kekuatannya mengandung kekejian yang tidak tertandingi.

Tampak angin yang timbul dari telapak tangannya laksana putaran roda. Batu-batu kerikil

maupun debu-debu beterbangan. Kehebatannya sungguh tidak dapat dipandang enteng.

Apalagi serangannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat.

Untuk sesaat Tan Ki tidak menduga kalau dia akan diserang sedemikian rupa. Hatinya

tercekat. Dengan panik dia meliukkan pinggangnya dan mencelat mundur tiga langkah.

Setelah serangannya yang pertama berhasil membuat lawan terdesak, Liang Fu Yong

tentu saja tidak sudi berhenti setengah jalan. Setelah berteriak lantang, sepasang

tangannya langsung mengeluarkan pukulan-pukulan. Dalam sekejap mata dia sudah

melancarkan tiga pukulan dan tujuh totokan.

Serangan yang gencar ini jauh lebih hebat dari yang pertama. Setiap pukulannya

mengarah pada bagian yang mematikan. Setiap totokannya mengincar tempat mematikan.

Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat.

“Tidak disangka ilmu silatnya juga setinggi ini. Kalau berganti orang lain, mungkin sulit

meloloskan diri dari tiga pukulan dan tujuh totokannya ini.” katanya dalam hati.

Sambil membawa pikiran seperti itu, tubuhnya berputaran beberapa kali. Dia berhasil

mengelakkan diri dari serangan yang gencar itu dan malah membalas dengan sebuah

Ilmu silat yang dimilikinya sekarang adalah hasil curian dari kitab-kitab peninggalan

ketua Ti Ciang Pang. Jurus serangannya ini kelihatannya biasa-biasa saja. Tetapi begitu

dilancarkan, terdapat kekompakan yang serasi diantara setiap gerakannya. Liang Fu Yong

terpaksa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Dengan gugup dia mencelat mundur tiga

Apabila tokoh kelas tinggi berkelahi, kecepatannya bagai kilat. Liang Fu Yong menggerakkan

tubuhnya menghindar. Begitu kakinya menginjak tanah, Tan Ki segera

menggunakan kesempatan ini untuk mengatur nafasnya dan bergerak kembali.

Tiba-tiba, Liang Fu Yong meraung keras, dan kembali dia melancarkan sebuah

serangan. Secercah bau harum berhembus mengiringi gerakannya. Sepasang telapak

tangannya bagai beterbangan di udara dan menimbulkan hempasan angin yang kuat.

Yang mana semuanya memenuhi sekitar tubuh Tan Ki.

Di antara bayangan pukulan, terlihat lengan baju Tan Ki berkibar- kibar. Dia menerobos

dari kiri dan mengelak ke kanan. Kecepatannya bagai terjangan seekor srigala.

Biarpun bayangan telapak tangan memenuhi sekitarnya, namun jangan kata mengenai

di-rinya, bahkan menyentuh ujung bajunya pun tidak.

Tampak Tan Ki hanya membalikkan telapak tangannya, tetapi Liang Fu Yong langsung

terdesak mundur. Perempuan itu sulit menemukan kesempatan untuk mendekati Tan Ki.

Hal ini bukan karena ilmu silat anak muda itu mengandung jurus-jurus yang aneh atau

tenaga dalamnya yang jauh lebih tinggi dari pada Liang Fu Yong. Tetapi setiap

 

serangannya selalu mempunyai kecepatan yang tidak terduga-duga, dan lagi bagian yang

diarahnya selalu di luar dugaan perempuan itu.

Kadang-kadang, secara nyata dia mempunyai kesempatan untuk melukai Liang Fu

Yong, tetapi entah mengapa, setiap kali pula dia selalu merubah gerakannya di tengah

jalan atau merubah sasarannya ke arah yang lain sehingga membuat perempuan itu

mendapat kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Biar bagaimana bodohnya, Liang Fu Yong tetap menyadari bahwa Cian bin mo-ong

sengaja mengalah kepadanya. Hanya saja dia tidak mengerti mengapa dia melakukan hal

seperti itu.

Tiba-tiba… Tan Ki berteriak lantang, lengan kirinya membuat lingkaran di tengah udara.

Telapak tangan segera terulur ke depan. Jurus Tian Ping Tian-ciang pun dilancarkan

dengan keras, jurus ini merupakan jurus pertama dari Tian Si Sam-sut. Di dalamnya

terkandung kekuatan tenaga yang dahsyat. Terasa angin yang menderu-deru menerpa

dari depan!

Melihat serangan itu, hati Liang Fu Yong langsung tercekat. Dia tidak sempat lagi melancarkan

jurus serangan ke arah lawannya. Dengan cepat dia meliukkan Pinggangnya dan

mendadak mencelat mundur ke belakang sejauh tujuh delapan depa. Pada saat itu juga,

sukmanya seakan melayang dan jantungnya berdegup dengan kencang.

Tidak usah diragukan lagi, Liang Fu Yong juga seorang tokoh kelas tinggi di dunia

Bulim. Tenaga dalamnya cukup kuat. Tetapi setelah bergebrak dengan Cian bin mo-ong

sebanyak dua puluhan jurus, dirinya seperti ombak kecil dihantam ombak besar. Setiap

serangannya berhasil dielakkan dengan mudah. Tampaknya ilmu silat kedua orang itu

terpaut agak jauh.

Diam-diam hatinya merasa kagum.

“Ternyata Cian bin mo-ong tidak bernama kosong. Ilmu silatnya memang benar-benar

mengejutkan!” pikirnya.

Pada saat itu, api yang berkobar-kobar dalam hatinya, sudah lenyap tanpa bekas sejak

tadi. Tetapi hawa pembunuhan yang tersirat di wajahnya masih kentara dengan jelas.

Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mendapatkan sebuah kenyataan yang

mengejutkan hatinya, yakni ilmu silat Cian bin mo-ong ternyata lebih tinggi dari pada

dirinya. Begitu pikirannya tergerak, mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang dan

tubuhnya mencelat ke belakang.

Tan Ki jadi tertegun. Dia masih belum dapat menebak maksud perbuatan lawannya,

tiba-tiba dia melihat Liang Fu Yong berputaran dengan gerakan yang gemulai. Tangannya

menari dan kakinya diangkat ke atas. Ternyata dia memang benar-benar menari di

hadapan Tan Ki!

Tentu saja Tan Ki jadi termangu-mangu. Perubahan gerakan lawannya yang tiba-tiba

ini membuat dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi hati kecilnya seperti

memperingatkan bahwa urusan malam ini semakin lama semakin membahayakan.

Kalau tidak, mana mungkin Liang Fu Yong malah menari pada saat segenting ini?

 

Begitu matanya memandang, dia melihat cahaya rembulan yang remang-remang

menyoroti rambut perempuan itu sehingga tampak berkilauan. Angin malam pun

mengibar-ngibarkannya sehingga beterbangan. Di antara gerakan kaki dan tangannya,

tampak seperti mengandung tenaga namun lemah sekali. Liuk pinggangnya yang gemulai

membuat hati orang tergerak.

Beberapa menit telah berlalu, Liang Fu Yong masih terus berputar. Tariannya semakin

lama semakin cepat. Mata Tan Ki sampai berkunang-kunang melihatnya. Dia sendiri jadi

bingung. Hatinya tetap khawatir kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan melancarkan

serangan. Diam-diam dia menghimpun hawa murninya untuk berjaga-jaga terhadap

segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba terdengar suara desiran angin, tahu-tahu Liang Fu Yong telah melepaskan

pakaian luarnya. Dia mengangkat tangan-nya ke atas dan melempar ke mari. Pada saat

itu, Tan Ki merasa jantungnya berdebar-debar dan pikirannya menjadi kacau. Tanpa sadar

dia mengulurkan tangannya menyambut. Begitu telapak tangannya menyentuh pakaian

tersebut, dia merasa pakaian itu begitu lembut dan serangkum bau yang harum terpancar

keluar dari pakaian tersebut.

Dia hanya merasa hatinya tergetar dan wajahnya menjadi panas!

Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong kembali melepaskan gaunnya

yang panjang. Sepasang pahanya yang putih dan berkilauan langsung terlihat jelas. Pada

saat itu juga, gerakannya semakin erotis seakan mengandung kekuatan yang dahsyat dan

membuat orang yang melihatnya tidak sanggup mengalihkan pandangan.

Padahal Tan Ki tidak mengerti sedikitpun tentang nyanyian dan tarian. Tetapi karena

dia memusatkan perhatiannya dan menatap dengan lekat-lekat setiap lekuk tubuh Liang

Fu Yong, maka dia merasakan bahwa setiap kali perempuan itu bergerak seakan

mengiringi irama debaran jantungnya.

Setiap melihat gerakan yang dilakukan oleh perempuan itu, hatinya tergetar pasti.

Ketika tariannya semakin cepat, jantungnya berdegup dengan keras. Hatinya berdebardebar.

Perasaannya pun menjadi tidak tenang.

Begitu dia memandang sekali lagi, kali ini hatinya malah seperti terlonjak keluar dari

dadanya. Wajah Tan Ki berubah hebat. Rasa terkejutnya segera menyentak kesadarannya.

“Kalau dia menari lebih cepat lagi, bukankah jantungku bisa terputus saking kerasnya

berdegup-degup?” pikirnya dalam hati.

Kesadarannya tersentak, cepat-cepat dia menjatuhkan diri dan duduk bersemedi.

Dengan menghimpun hawa murni dan memaksakan dirinya menolak daya tarik yang

terpancar dari tarian tersebut.

Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki keseluruhannya merupakan hasil curian. Tidak

ada seorang gurupun yang memberi pelajaran kepadanya. Mengenai ilmu pengaturan

nafas maupun cara menghimpun hawa murni untuk diedarkan ke seluruh tubuh, dia

memang tidak mengerti sama sekali.

 

Baru saja dia menjatuhkan diri untuk bersemedi, tiba-tiba dia merasa dadanya dipenuhi

hawa yang sesak. Dia tidak sanggup mencairkannya agar normal kembali seperti semula.

Hatinya menjadi kalut dan sedih.

Kali ini, begitu paniknya Tan Ki sampai seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin.

Dia tidak pernah menduga bahwa tarian Liang Fu Yong yang erotis dan indah ini ternyata

mengandung kekuatan yang demikian dahsyat!

Hatinya menjadi gelisah. Dengan panik dia memejamkan matanya kembali dan

berusaha mengosongkan pikirannya. Saat ini, keadaan Liang Fu Yong tetap telanjang

bulat. Sembari menari, lambat laun dirinya semakin merapat ke arah Tan Ki. Kulit yang

mulus dengan bentuk yang indah, di bawah sorotan cahaya rembulan malah menimbulkan

rangsangan yang tidak terkirakan. Semakin membetot sukma orang yang melihatnya.

Seumur hidup, Tan Ki belum pernah melakukan hubungan seks dengan seorang

perempuan. Dalam keadaan seperti ini, dia memandang sampai matanya terbelalak dan

mulutnya terbuka lebar. Padahal tadi dia sudah memejamkan matanya, namun ada

semacam perasaan aneh yang membuat hatinya tidak tahan untuk melihat. Saat ini,

hampir saja dia melonjak bangun dan memeluk Liang Fu Yong erat-erat.

Suasana semakin menegangkan!

Suasana yang panas dan mendebarkan itu ditambah lagi dengan gejolak birahi yang

meluap-luap. Tampak wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi. Seluruh tubuhnya bergetar

dengan hebat. Rasanya dia tidak sanggup mempertahankan diri lagi. Tetapi, dia tetap

menggertakkan rahangnya erat-erat dan memaksakan dirinya duduk bersila tanpa

bergerak sedikitpun. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres di balik semua ini.

Apabila dia melihat terus, tentu hanya ada satu jalan kematian yang dapat ditempuhnya.

Hatinya mengambil keputusan untuk tidak memperdulikan banyak lagi. Bunuh saja

perempuan itu, baru pikirkah akibatnya nanti. Oleh karena itu, sebelah telapak tangannya

pun perlahan-lahan diangkat ke atas.

Siapa nyana baru saja tangannya terangkat, tiba-tiba terkulai kembali. Perlahan-lahan

dia menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ternyata ketika tangannya

terangkat ke atas, dia baru merasakan bahwa tenaganya seakan lenyap. Dia tidak

mempunyai kekuatan sedikitpun. Tentu saja, semua ini merupakan pengaruh dari tarian

Liang Fu Yong yang mengandung kekuatan aneh. Hal mana membuat tenaganya bagai

terkuras dan tidak dapat memberikan perlawanan.

Hatinya bertambah panik. Tiba-tiba dia merasa segulungan hawa panas menerjang ke

atas dan terhenti di rongga tenggorokannya. Kemudian terdengar suara ‘Hoakk!’ yang

keras dan diapun memuntahkan darah segar yang muncrat bagai anak panah. Tan Ki tidak

dapat mempertahankan diri lagi. Dia berusaha untuk berdiri, tetapi tubuhnya malah

terkulai jatuh di atas tanah.

Kali ini rasa terkejutnya tak terkatakan lagi. Terdengar suara bentakan nyaring dari

mulut Liang Fu Yong, orangnya pun langsung menerjang datang!

Saat-saat yang membahayakan!

Tan Ki sudah kehilangan daya untuk melawan. Seandainya dia terkena satu pukulan

atau sekali tendangan dari Liang Fu Yong, kalau tidak sampai mati, dia pasti akan terluka

 

parah. Dalam keadaan yang membahayakan, tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara tawa

yang sumbang.

“Cici, tindakanmu sungguh keji…!” dia berusaha berteriak dengan suara sekeraskerasnya.

Liang Fu Yong langsung tertegun. Panggilan “Cici” tadi membuatnya merasa bingung.

Tetapi dia sudah menghentikan gerakan tubuhnya dan tidak jadi mengeluarkan pukulan.

Setelah tertegun sejenak, dia segera membentak.

“Siapa kau?” meskipun dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Cian bin mo-ong

memanggilnya ‘Cici’, tetapi dia dapat merasakan bahwa suara itu sama sekali tidak asing

di telinganya. Suara itu seperti amat dekat dengan dirinya.

“Aku… tentunya Cian bin mo-ong!” baru berkata sampai di sini, kembali mulutnya

membuka dan lagi-lagi dia memuntahkan segumpal darah segar.

Bercak darah yang berwarna merah segar seakan mewakili sesuatu yang tidak

kelihatan. Begitu mata Liang Fu Yong memandang, tanpa terasa tubuhnya juga menggigil.

Bulu kuduknya meremang seketika. Setelah berusaha memberanikan dirinya selama

beberapa saat, dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Cian bin mo-ong? Yang kutanyakan adalah

wujudmu yang asli!” tampangnya dingin dan mengandung hawa pembunuhan yang tebal.

Kata-katanya bahkan terdengar sangat sinis.

Sepasang mata Tan Ki membalik. Dia tahu isi perutnya sudah terluka parah sekali.

Tetapi dia m menggertakkan giginya erat-erat dan menahan rasa sakit yang menggigit.

“Aku… aku ada… lah… a… dik… mu…Tan… Ki…” dia memaksakan dirinya mengucapkan

beberapa patah kata itu.

Ucapan yang terakhir tercetus dari bibirnya, orangnya pun langsung jatuh tidak

sadarkan diri. Keempat anggota tubuhnya terasa dingin dan nafasnya lambat laun menjadi

lemah!

Sekali lagi Liang Fu Yong tertegun mendengar kata-katanya. Orang yang ada

dihadapannya berusia sekitar empat lima puluh tahunan. Mana mungkin adiknya Tan Ki?

Hal ini benar-benar sulit diterima oleh akal sehat.

Tetapi, suaranya memang suara adik Tan Ki! Dua macam pikiran yang saling

bertentangan melintas di benak perempuan itu. Dia malah menjadi kalang kabut dan

untuk sesaat tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Matanya menatap ke arah Tan Ki

dengan wajah termangu-mangu. Bahkan dia sampai lupa mengenakan pakaiannya.

Tiba-tiba dia mencengkeram lengan Tan Ki dan menyingkapkan lengan bajunya.

Ternyata tidak salah, di bawah sikutnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam.

Ketika dia bermaksud memperkosa Tan Ki tadi, dia sempat melihat andeng-andeng

tersebut. Sekarang bukti sudah ada, saking terkejutnya dia menjadi terpana seketika.

 

Betul, orang yang ada dihadapannya memang Tan Ki, adiknya. Ternyata dialah yang

merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong. Tetapi rasa takut di dalam hatinya malah

lebih dalam daripada rasa terkejutnya barusan.

Perlu diketahui bahwa Tian Ti Mo-bu (Ta-rian Iblis Tubuh Surga) merupakan semacam

ilmu sesat yang sudah ratusan tahun menghilang. Ilmu ini dapat membetot pikiran sampai

kita kehilangan kesadaran. Siapa nyana Tan Ki menggunakan tenaga dalamnya untuk

menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia menggunakan tenaga

dalamnya untuk menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia

menggunakan cara keras lawan keras. Hal ini membuat hawa murni di dalam tubuhnya

berbalik arah dan menghantam isi perutnya sendiri sehingga terluka parah.

Meskipun Liang Fu Yong menguasai ilmu Tian Ti Mo-bu ini, tetapi terhadap luka yang

diakibatkannya, dia tidak mempunyai kesanggupan untuk mengobati. Pikirannya tergerak,

hatinya semakin panik. Air mata menetes dengan deras namun mulutnya mengeluarkan

suara tawa yang pilu.

“Adik, aku telah mencelakaimu..,” suaranya lirih, di dalamnya terkandung penyesalan

yang tidak terkirakan. Sayangnya Tan Ki sudah tidak dapat mendengarnya lagi.

Angin malam bertiup sepoi-sepoi. Dia merasa udara semakin dingin. Dan dalam waktu

yang bersamaan dia baru menyadari bahwa dirinya belum mengenakan pakaiannya

kembali. Dengan lembut dia mengusap wajah Tan Ki. Hatinya seakan hancur berkepingkeping,

pilunya tidak terkatakan. Dua bulir air mata bagai pancuran terus mengalir

membasahi kedua pipinya. Sampai lama sekali dia berdiam diri, akhirnya dia menarik nafas

panjang dan melangkah ke tempat di mana bajunya berserakan.

Cahaya rembulan bagai air yang beriak menyoroti tubuh yang mulus dan indah serta

melenggok dengan gemulai…

Ini merupakan pemandangan yang dapat membuat manusia terlena!

Tiba-tiba… sebuah suara tawa yang panjang, berkumandang memecahkan keheningan.

Suara tawa yang keras dan menggetarkan hati. Bayangan manusia berkelebat, seorang

laki-laki setengah baya yang mengenakan pakaian berwarna hijau tahu-tahu telah berdiri

di depan mata.

Gerakan orang ini demikian cepat sehingga sulit ditangkap oleh penglihatan. Apalagi

kehadirannya tidak menimbulkan suara sama sekali. Ketika Liang Fu Yong melihat

bayangan berkelebat, tanpa terasa hatinya menjadi tercekat, kakinya sampai mundur tiga

langkah!

Begitu matanya memandang, manusia berpakaian hijau itu seakan melihat sesuatu

yang ada di luar dugaannya. Dia menatap

Liang Fu Yong lekat-lekat. Sinar, matanya menyiratkan keheranan, penasaran,

gembira… dan sesuatu yang kurang, beres.

Tanpa sadar, dia menundukkan kepala dan melihat keadaannya sendiri. Tiba-tiba dia

menjerit kaget. Sepasang lengannya segera bergerak untuk menutupi dua bagian

terpenting di tubuhnya. Sepasang pahanya merapat dan meringkukkan badannya.

 

Dulu, dia memandang kaum laki-laki bagai harta benda, sering dia menggunakan

keindahan tubuhnya untuk merayu mereka dan menukar kegembiraan dengan mereka.

Tetapi saat ini, dia juga bisa merasa malu?

Apakah ini termasuk keahliannya, yakni berpura-pura? Tidak. Dalam hatinya telah

terukir bayangan Tan Ki. Suaranya, nasihatnya, setiap saat melintas di dalam benaknya.

Membuat hatinya mempunyai keinginan untuk, merubah wataknya. Malam ini, dia

menghindari Tan Ki dan mencari pelajar itu untuk bertukar kesenangan. Semua ini

merupakan spontanitas di mana untuk sesaat dia tidak dapat mengendalikan dirinya

Sekarang di depan matanya tiba-tiba muncul manusia berpakaian hijau ini, se

dangkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Bagaimana

hatinya tidak menjadi tegang dan malu setengah mati.

Justru ketika dia meringkukkan badannya, selembar wajahnya sudah berubah merah

padam. Ya panik, ya malu, ingin rasanya dia menyelusupkah dirinya ke dalam sebuah liang

di tanah agar tidak kelihatan lagi.

Manusia berjubah hijau itu menatap Liang Fu Yong sekian lama, akhirnya dia seperti

telah memuaskan pandangan matanya, bibirnya tersenyum.

“Kouwnio, apakah kau yang dipanggil Siau Yau Siau-li?”

Hati Liang Fu Yong tercekat.

“Tolong lemparkan pakaian yang ada di bawah kakimu,” katanya gugup. Manusia

berpakaian hijau itu semakin acuh tak acuh.

“Malam demikian dingin dan berkabut pula. KouWnio tidak takut masuk angin? Dengan

bertelanjang bulat seperti ini, sebetulnya…” bibirnya tersenyum simpul. Dia

menggelengkan kepalanya dan menghentikan kata-katanya. Tetapi tubuhnya tidak

bergeming, tampaknya dia memang tidak ingin Liang Fu Yong mengenakan pakaiannya.

Saat itu Liang Fu Yong hanya merasa takut dan malu. Wajahnya yang cantik

menyiratkan kegelisahan. Begitu paniknya sampai dia ingin meraung keras-keras. Akhirnya

terpaksa dia berkata dengan suara memohon…

“Pek Pek yang baik, berbuatlah sedikit kebaikan, lemparkanlah pakaian itu untukku.”

Manusia berpakaian hijau itu melirik sekilas ke atas tanah. Kaki kirinya ternyata

menginjak di atas pakaian dalam yang berwarna merah. Tiba-tiba hatinya tergerak.

Terdengar suara tawanya yang licik.

“Kau ambillah sendiri!”

Melihat tampangnya yang cengar-cengir, Liang Fu Yong langsung sadar bahwa orang

itu mengandung maksud yang tidak baik. Hatinya menjadi bimbang dan tidak berani maju

ke depan. Tetapi kalau begini terus, tidak lama lagi fajar akan menyingsing dan pasti ada

 

orang yang berlalu lalang di sekitar tempat itu. Hai ini juga bukan jalan yang baik. Setelah

berpikir ke sana ke mari, dia malah menatap orang itu dengan termangu-mangu.

BAGIAN X

Terlihat manusia berpakaian hijau itu mengembangkan tertawa lebar. “Ke marilah!”

Wajah Liang Fu Yong semakin merah.

“Tetapi kau tidak boleh sembarangan!”

“Tentang ini, kita lihat saja nanti.” dari kata-katanya sudah jelas bahwa dia memang

mengandung maksud yang tidak baik. Setelah berhenti sejenak, sinar mata manusia

berpakaian hijau itu beralih kepada Tan Ki. “Tampaknya orang ini mempunyai hubungan

dengan dirimu. Lukanya parah sekali, mungkin kau sendiri tidak sanggup mengobatinya.”

selesai berkata, dia kembali tertawa terkekeh-kekeh. Tampangnya seakan menyimpan

sebuah rencana yang licik.

Liang Fu Yong menundukkan kepalanya merenung. Dia sedang memikirkan ucapan

lawannya barusan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu seperti

menginginkan sesuatu dan saat itu sedang melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.

Hatinya terkesiap, kakinya menutul di atas tanah dan mendadak mencelat mundur sejauh

tiga depa. Tubuhnya sedang telanjang bulat dan gerakannya otomatis cepat sekali, tetapi

dia tetap tidak berani menegakkan badannya dan dia mundur dalam keadaan agak

Tiba-tiba wajah manusia berpakaian hijau menjadi kelam.

“Apakah kau sengaja ingin membangkang terhadapku?” nada suaranya mengandung

“Sejak hari ini Siau Yau Sian-li tidak seperti dulu lagi…”

Manusia berpakaian hijau itu tertawa dingin.

“Kalau begitu aku ingin menjajal-jajal, biar kubunuh dulu orang ini.” kata-katanya yang

terakhir terucap, terdengar hembusan angin dari telapak tangannya yang bergerak dengan

keji ke arah ubun-ubun kepala Tan Ki.

Gerakannya cepat sekali. Jurus serangan yang dilancarkan ini sama sekali di luar

dugaan Liang Fu Yong. Begitu matanya memandang, hatinya langsung tercekat. Dia tidak

memperdulikan lagi keadaan tubuhnya yang telanjang bulat atau perasaan malunya.

Dengan panik tubuhnya melesat ke atas dan mulutnya mengeluarkan suara teriakan…

“Kau berani?” pergelangan tangannya memutar, dengan sengit dia melancarkan sebuah

pukulan ke arah manusia berpakaian hijau.

Segulung angin yang kencang terpancar dari telapak tangannya yang menghantam ke

depan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu membalikkan tubuh sedikit dan

 

dia juga melancarkan sebuah serangan balasan. Hati Liang Fu Yong terperanjat sekali. Dia

segera merasakan sesuatu yang tidak beres.

Kejadiannya cepat sekali. Baru saja dia merasa bahwa tenaga dalamnya kalah jauh

dibandingkan dengan orang itu dan bermaksud menghindar. Tetapi sudah terlambat.

Terdengar suara dengusan yang berat, tubuh Liang Fu Yong yang mungil berturut-turut

mundur sejauh tujuh delapan langkah. Tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia

terjungkal ke atas tanah. Matanya terasa berkunang-kunang, mulutnya membuka dan dia

langsung memuntahkan segumpal darah segar.

Tetapi, meskipun dia mengalami kerugian yang cukup parah, paling tidak, nyawa Tan Ki

sudah tertolong. Di bawah cahaya rembulan, terlihat tampangnya yang sungguh

mengenaskan dan menderita sekali.

Dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh manusia berpakaian hijau… tetapi, tenaga

dalamnya hebat sekali, jauh lebih tinggi dari padanya puluhan kali lipat. Kalau dia

memaksakan diri untuk melawan, mungkin hanya ada satu jalan kematian yang akan

Berpikir sampai di situ, diam-diam dia melirik ke arah Tan Ki dan menarik nafas

panjang. Untuk sesaat dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba, di benaknya

terlintas sebuah jalan…

Tampak Liang Fu Yong tertawa getir.

“Sebetulnya apa yang kau inginkan?” tanyanya.

Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak.

“Kau ikut denganku, hal lainnya kita bicarakan kemudian.”

“Baik, boleh saja aku ikut denganmu, tetapi ada syaratnya.”

“Syarat? Coba kau katakan, kalau aku tidak rugi apa-apa, tentu saja aku akan mengabulkannya.”

Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa getir.

“Pertama-tama kau harus menolong adikku, Tan Ki. Aku akan ikut denganmu. Sekarang

aku sudah tahu, kau adalah Cianpwe yang muncul di atas genting Cui Sian Lau beberapa

hari yang lalu, kau juga membawa pergi Ciu Cang Po. Luka yang tidak seberapa parah ini,

bagimu tentu bukan hal yang serius…”

Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia menekan dalam-dalam keperihan di hatinya.

Diberanikannya dirinya untuk mengeluarkan isi hati. Tujuannya adalah mengobarkan diri

demi Tan Ki. Dia ingin menyelamatkan nyawa anak muda itu. Dengan demikian dia dapat

menebus kesalahan yang telah dilakukannya.

Berbicara sampai di situ, dia tidak dapat lagi menahan keperihan hatinya. Dua bulir air

mata menetes membasahi pipinya, semakin lama semakin deras bagai air hujan yang

tercurah dari atas langit.

 

Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak.

“Hal ini mudah sekali.” katanya.

Dia menyingsingkan lengan bajunya, tidak terlihat bagaimana dia bergerak. Tahu-tahu

dia telah menepuk tiga puluh enam urat darah di tubuh Tan Ki. Mungkin cara

penyembuhan seperti ini sangat efektif, tetapi menguras tenaga. Begitu dia selesai

menepuk, saking letihnya, seluruh tubuh orang itu sudah basah kuyup oleh keringat,

nafasnya tersengal-sengal.

Namun terdengar keluhan dari bibir Tan Ki. Kepalanya menggeleng dengan perlahan

beberapa kali. Tetapi orangnya sendiri belum sadar. Dengan demikian, tugasnya seperti

sudah selesai, dia pun menghela nafas lega dan tertawa lebar.

“Tugasku sudah selesai.” katanya.

Air mata Liang Fu Yong masih mengalir dengan deras. Dia menggumam seorang diri…

“Adik, aku terpaksa mengingkari nasehat yang kau berikan. Maafkan aku… maafkan

aku…” sebetulnya di dalam hati perempuan ini terselip banyak perkataan yang ingin

diucapkannya, tetapi pada saat ini, entah mengapa dia tidak sanggup mengatakannya. Air

matanya semakin deras mengalir seakan mewakili ucapan yang tersimpan dalam kalbu.

Juga hati yang mengandung perasaan kasih…

Sayangnya Tan Ki tidak bisa mendengarkan ucapannya, dia masih terkulai di atas tanah

dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiba-tiba angin malam berhembus, dua sosok

bayangan melesat, satu di depan dan satunya lagi di belakang.

Mereka sudah pergi, di tempat itu hanya tertinggal seorang pemuda yang terluka…

Angin masih bertiup sepoi-sepoi, kurang lebih setengah kentungan kemudian, dia masih

tidak sadarkan diri. Kalau ditilik dari keadaannya, apabila tidak ada orang yang berteriak

memanggilnya, dia tidak mungkin sadar sendiri.

Saat ini, di batas langit telah muncul secercah sinar, fajar telah menyingsing. Seluruh

permukaan bumipun menjadi terang. Kegelapan malam seakan terusir pergi…

Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang memacu dengan cepat. Seiring dengan

angin yang berhembus, tampaklah tiga ekor kuda berlari ke tempat tersebut. Di bagian

paling depan adalah seorang gadis yang matanya tajam, dia langsung menghentikan

“Siapa orang itu?” tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Sepasang kakinya segera

menghentak perut kudanya. Tubuhnya mencelat meninggalkan pelana kuda, gerakannya

bagai seekor burung walet yang melayang di angkasa, indah menawan.

Terlihat gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, alisnya bagus, hidungnya

mancung menantang, seakan seluruh syair indah di dunia ini dapat melukiskan

kecantikannya. Begitu mempesona sehingga setiap orang yang bertemu dengannya tidak

dapat menahan diri untuk menoleh sekali lagi.

 

Di belakangnya mengikuti dua orang. Yang satu pendek gemuk dan tinggi tubuhnya

tidak mencapai tiga ciok. Dengan duduk di atas pelana, dari jauh ia terlihat seperti sebuah

bola besar. Tampangnya pun lucu sekali. Sedangkan orang yang satunya lagi berpakaian

seperti seorang pelajar. Pakaiannya rapi dan tangannya memegang sebuah kipas di atas

kepala seperti melindungi wajahnya dari sinar matahari.

Kedua orang itu ternyata tidak lain tidak bukan dari Ciong San Suang-siu, yakni Cu Mei

dan Yi Siu. Dan gadis yang paling depan merupakan gadis yang dirindukan oleh Tan Ki

selama ini, yaitu putri tunggal Bu Ti Sin

Kiam Liu Seng, Mei Ling adanya.

Ketika dia menghambur ke arah Tan Ki, yang tertangkap oleh penglihatannya adalah

seorang laki-laki setengah baya dan sama sekali tidak menduga bahwa dia adalah

samaran dari Cian bin mo-ong yang namanya telah menggemparkan dunia Kangouw.

Karena riasan wajah Tan Ki masih belum luntur, dia juga belum tahu bahwa laki-laki

setengah baya ini merupakan pemuda tampan yang sempat dirawatnya beberapa hari

yang lalu.

Tampak matanya yang indah mengejap-kejap dan melirik Tan Ki beberapa kali.

“Rupanya orang ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.” katanya.

Sepasang alis si pendek gemuk Cu Mei bertaut dengan erat.

“Lebih baik kita selesaikan urusan kita sendiri, untuk apa mengurusi hal yang bukanbukan?”

Sepasang alis Mei Ling langsung terjungkit ke atas.

“Aih, apakah Cu Siok Siok tidak sudi menolong orang yang sedang dalam kesulitan?”

Cu Mei menarik nafas panjang.

“Demi menghadapi Cian bin mo-ong, kita telah berusaha sekuat kemampuan untuk

mengumpulkan para sahabat di dunia Kang-ouw. Tidak ada seorangpun yang memiliki

kepandaian cukup yang tidak datang ke Lok Yang. Kita tinggal menunggu perintah untuk

bertindak. Sekarang, balikan kelima partai besar juga telah diundang, aku justru merasa

tidak tenang. Biar bagaimanapun Cian bin mo-ong mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali,

jarang menemukan tandingan. Untuk apa kita membesar-besarkan persoalan yang sepele

yang mungkin akan mengacaukan hubungan baik antara golongan hitam dan putih. Kali

ini, tujuan kita adalah Ming San, kita diperintahkan untuk mencari seorang tokoh Go Bi Pai.

Entah kita berhasil atau tidak. Kalau kita menolong orang ini terlebih dahulu, tentu banyak

waktu yang akan terbuang, aku khawatir Cianpwe itu keburu pergi pesiar ke tempat lain.”

Wajah Mei Ling menjadi kelam.

“Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menolong orang ini untuk menyembuhkan

lukanya, tapi paling tidak kita bisa antarkan orang ini ke sebuah penginapan. Jangan

sampai dia terbaring di sini diterpa angin dan disinari terik mentari. Dengan demikian,

bukankah lukanya akan bertambah parah? Lagipula, kita sudah menempuh perjalanan

 

yang demikian jauh. Sehari semalam kita tidak berhenti sama sekali. Setidaknya kita juga

perlu mencari tempat untuk beristirahat.” katanya dengan nada kurang senang.

Yi Siu merasa kata-katanya memang mengandung kebenaran, maka diapun tersenyum

sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, nonaku yang manis. Terserah’ bagaimana kehendakmu saja.” sahutnya.

Mei Ling segera tertawa senang. Dia membungkukkan tubuhnya dengan maksud

hendak membopong Tan Ki, tetapi tiba-tiba dia merasa kurang pantas, bagaimanapun dia

adalah seorang gadis yang suci, mana boleh sembarangan membopong tubuh seorang

laki-laki yang tidak dikenal. Wajahnya jadi merah padam seketika. Cepat dia

mendongakkan kepalanya dan berseru…

“Yi Siok Siok, tolong kau angkat orang ini. Aku akan berjalan duluan untuk mencari

tempat peristirahatan.” baru saja ucapannya selesai, dia tidak menunggu jawaban dari Yi

Siu, tubuhnya melesat ke atas kuda kemudian menghentakkan kendalinya dan menerjang

ke depan dengan kecepatan tinggi.

Melihat hal itu, Yi Siu menggelengkan kepalanya beberapa kali.

” Anak ini juga benar-benar, meskipun jiwa kependekarannya sangat kuat, tetapi

berbuat apa-apa selalu tanpa berpikir panjang lagi. Lagipula peradatannya terlalu kukuh,

tidak sudi menyentuh tubuh seorang laki-laki sedikitpun.” sambil berkata, dia langsung

melonjak turun dari kudanya, digendongnya tubuh Tan Ki, kemudian ia mencelat kembali

ke atas pelananya.

Terdengar suara ringkikan kuda memecah keheningan. Debu jalanan beterbangan di

udara. Dua ekor kuda langsung melesat seperti anak panah dan menghambur ke arah

yang sama dengan Mei Ling tadi.

Tidak berapa lama kemudian, tampak Mei Ling berdiri di depan sebuah penginapan. Dia

segera menggapaikan tangannya seakan takut kedua orang itu tidak melihat dirinya.

Ternyata penginapan yang dipilihnya merupakan penginapan yang sama di mana Tan Ki

dan Liang Fu Yong bermalam.

Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Tan Ki siuman dari pingsannya. Begitu mata

memandang, di depan matanya terlihat berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan

berpenampilan anggun. Gadis itu tentu saja Mei Ling, putri tunggal Bu Ti Sin Kiam Liu

Seng. Tanpa terasa mulutnya mengeluarkan seruan terkejut dan dia langsung melonjak

dari tempat tidurnya.

“Rupanya engkau!” katanya spontan.

Sejak bertemu dengan gadis ini beberapa hari yang lalu ketika dirinya terluka, dalam

hati Tan Ki terus merindukannya siang dan malam. Kekolotannya justru menunjukkan

bahwa dia seorang gadis yang tidak sembarangan. Kecantikannya bagaikan mewakili

semua bunga-bunga yang indah yang terdapat di dunia ini.

Tan Ki sendiri belum lama berkecimpung di dunia Kangouw. Malah dia menggunakan

nama Cian bin mo-ong yang menggetarkan hati setiap tokoh di rimba persilatan. Selama

 

ini dia belum pernah tertarik kepada gadis manapun. Entah mengapa, hanya bayangan

Mei Ling seorang yang terus menggelayuti pikirannya.

Saat ini, gadis pujaannya tahu-tahu ada di depan mata, bagaimana hatinya tidak jadi

terkejut serta gembira?

Tampak Mei Ling tersenyum simpul. Dia merasa heran terhadap sikap Tan Ki.

“Aih, kau juga mengenal aku?”

“Di tengah kota Lok Yang pernah melihat Kouwnio beberapa kali, oleh karena itu Cayhe

jadi tahu siapa Kouwnio ini.” matanya beredar, dia melihat tangan Mei Ling memegang

sebuah mangkok berisi ramuan obat.. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

‘Ini adalah untuk ketiga kalinya aku ditolong oleh Liu Kouwnio’ keluhnya dalam hati.

Dalam keadaan tidak sadar, dia tidak tahu mula-mula Liang Fu Yong yang menolong

jiwanya dengan mengorbankan diri rela diajak oleh manusia berpakaian hijau. Dia mengira

Mei Ling juga yang menolongnya kali ini. Tetapi dia takut gadis itu akan mengetahui wajah

aslinya, maka cepat-cepat dia memalingkan ke arah lain.

Diam-diam dia melirik ke arah gadis itu. Dia melihat sepasang mata Mei Ling yang

indah sedang menatap lekat-lekat sambil tersenyum simpul. Seakan ada sesuatu yang

Hatinya menjadi khawatir. Tanpa dapat menahan diri lagi dia bertanya…

“Apa yang Kouwnio pikirkan?”

Mei Ling tersemyum lembut.

“Aku merasa seakan pernah melihat sinar matamu itu, tetapi untuk sesaat aku tidak

dapat mengingatnya kembali.”

“Apakah kau merasa tidak asing?”

“Tidak salah, sinar matamu ini persis dengan sinar mata seseorang yang ingin aku

temui, tapi usianya jauh lebih muda daripadamu.”

Hati Tan Ki berbunga-bunga. Belum apa-apa dia sudah kesenangan setengah mati.

“Apakah orang yang Kouwnio maksudkan itu bernama Tan Ki?”

Mendengar pertanyaannya, sepasang mata Mei Ling langsung berbinar-binar

menunjukkan kegembiraan hatinya.

“Apakah kau kenal dengannya?” tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dia menarik nafas

panjang satu kali baru melanjutkan kembali. “Aih, sebetulnya biar kau mengenal dia juga

tidak ada gunanya. Urusan ini bukan hanya dia seorang yang dapat menyelesaikannya.”

Kalau ditilik dari nada suaranya, tampaknya hati gadis ini sedang dilanda kegundahan

yang dalam, yang mana ada persoalan yang tidak dapat dipecahkannya.

 

“Entah apa maksud Kouwnio mencarinya? Meskipun Cayhe tidak mempunyai

kepandaian apa-apa, tetapi Cahye rela membagi suka duka dengan Kouwnio. Hal ini tentu

saja untuk membalas budi pertolongan Kouwnio.” kata Tan Ki.

Mei Ling menarik nafas panjang sekali lagi.

“Karena urusan dia dan Kiau Hun Moay Moay, akhirnya timbul persengketaan antara

guruku dengan si pengemis sakti Cian Cong Locianpwe. Kemudian mereka menentukan

waktu untuk bertanding sekali lagi. Kemudian, karena ilmu silat guruku terpaut segaris

dengan Cian Locianpwe, akhirnya beliau terkena serangan ‘Hui Siu Jut Lim’ milik tokoh tua

tersebut…”

Terdengar seruan terkejut dari mulut Tan Ki, cepat-cepat dia menukas.

“Peristiwa ini aku sudah tahu. Kemudian gurumu ditolong oleh seorang manusia

berpakaian hijau dan menjanjikan bahwa dalam waktu tiga bulan, dia akan mengajarkan

ilmu yang sama kepada Ciu Gang Po dan membayar hutang Cian Locianpwe.”

“Aku justru dipusingkan oleh masalah ini. Setelah itu, Cian Locianpwe mencari info ke

sana ke mari, akhirnya dia berhasil mengetahui bahwa manusia berpakaian hijau itu

adalah tokoh yang disebut iblis nomor satu di dunia Bulim sepuluh tahun yang lalu.

Julukannya ‘Sam Jiu San Tian-sin’ (Dewa Kilat Bertangan Tiga) nama aslinya Oey Kang,

Usia orang ini belum terlalu tua, tetapi ilmu silatnya sudah mencapai taraf tertinggi,

bahkan Cian Locianpwe dan tokoh lain yang seangkatan dengannya, mengaku sendiri

bahwa mereka masih bukan tandingan orang tersebut. Apalagi dia bisa mengeluarkan tiga

macam senjata rahasia sekali kibas. Maka kehebatannya dapat dibayangkan. Selama

ratusan tahun, belum pernah ada tokoh lain yang sanggup melakukan hal yang sama…”

“Sekali kibas tiga macam senjata rahasia?” tanpa sadar Tan Ki mengulangi sekali lagi

ucapannya. Ayahnya mati di bawah serangan berbagai senjata rahasia. Tentu saja dia

menaruh perhatian besar terhadap orang yang dapat menggunakan senjata rahasia

dengan baik.

Diam-diam hatinya jadi tergerak. “Apa hubungannya masalah ini dengan Tan Ki?”

Wajah Mei Ling bagai diselimuti awan gelap.

“Asal dia muncul dan meminta maaf kepada guruku, tentu urusan ini akan lebih mudah

dibicarakan. Bayangkan saja, Suhuku merupakan orang yang tinggi hati. Kalau pamornya

dapat dikembalikan seperti semula, mungkin perselisihan antara dirinya dengari Cian

Locianpwe juga dapat didamaikan. Kalau tidak, dengan mengikuti seorang iblis yang sudah

terkenal di dunia persilatan, kemungkinan dia akan terjerumus ke jalan yang sesat.”

selesai berkata, dia menarik nafas lagi dalam-dalam.

Sepasang alis Tan Ki bertaut erat.

“Menurut apa yang kuketahui, orang yang

Kouwnio cari itu juga memiliki watak yang keras. Kalau mengharapkan dia minta maaf

begitu saja, rasanya tidak mungkin dia bersedia.”

 

“Kalau begitu aku akan memohon kepadanya. Aku tahu, pada dasarnya hati orang ini

sangat baik, dia tidak akan membuat aku kecewa.” kata Mei Ling panik.

Hati Tan Ki tergetar mendengar ucapannya “Mengapa kau bisa tahu kalau dia adalah

orang baik-baik? Dan di mana letak kebaikannya?”

Sepasang mata Mei Ling yang indah mengejap-kejap. Dia berbicara dengan nada polos.

“Aku dapat melihat dari sinar matanya, lagipula sikapnya terhadapku…” tiba-tiba dia

merasa ucapannya jadi ngelantur. Wajahnya berubah merah padam dan ia tidak

melanjutkan kata-katanya kembali. Tampangnya menyiratkan rasa jengah yang tidak

Melihat tampangnya yang demikian rupa, hati Tan Ki semakin tertarik. Tanpa dapat

mempertahankan diri lagi, dia menarik nafas panjang.

“Kentungan ketiga malam ini, harap kau tunggu di sekitar kota sebelah Barat. Di sana

ada sebuah jembatan kecil. Kouwnio pasti akan bertemu dengan orang yang dicari. Saat

itu, permintaan apapun yang kau ajukan, dia pasti akan mengabulkannya…”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang riuh. Bayangan manusia berkelebat. Yi Siu

masuk dengan langkah tergesa-gesa. Bibirnya tersenyum.

“Apakah orang itu sudah sembuh?” tanyanya cepat.

Tan Ki tetap berbaring di atas tempat tidur. Dia menjurakan sepasang kepalan

“Terima kasih atas bantuan Saudara. Cay-he akan mengenangnya dalam hati.” katanya.

Yi Siu tertawa lebar.

“Kita sama-sama orang dari dunia Bulim. Memang sudah seharusnya saling tolong menolong.

Semua ini toh merupakan hal yang wajar, buat apa sungkan-sungkan?” dia segera

menoleh kepada Mei Ling dan melanjutkari perkataannya. “Kouwnio, kita sudah boleh

pulang sekarang.”

Mei Ling jadi tertegun mendengar kata-katanya.

“Kenapa? Apakah kita tidak jadi menemui Yuan Kong Taisu?”

Sekali lagi Yi Siu tersenyum simpul.

“Ini yang di namakan, gunung jauh-jauh hendak didatangi, tidak tahunya sudah ada di

depan mata. Kita malah jadi hemat tenaga. Kita hendak mencari tokoh sakti tersebut,

orangnya justru sudah sampai di sini mencari kita. Sekarang sedang berbincang-bincang

dengan Cu Siok Siokmu.”

Mendengar percakapan kedua orang itu, hati Tan Ki langsung terkesiap. Dari kitab hasil

curiannya di kuburan para ketua Ti Ciang Pang, di dalamnya ada keterangan tentang Yuan

Kong Taisu yang dinyatakan sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan ilmunya

sudah mencapai taraf yang tertinggi. Sedangkan dalam hal angkatan-angkatan tua,

 

bahkan dua tokoh sakti di dunia Kangouw saat ini, yakni Cian Cong dan Tian Bu Cu masih

lebih rendah dari orangtua ini setengah angkatan.

Selain terkejut, hatinya juga merasa bangga. Ternyata namanya sendiri bisa begitu

terkenal sehingga membuat para tokoh dari dua golongan, baik hitam maupun putih

menjadi cemas bukan kepalang.

Sementara itu, tampak Mei Ling tertawa lebar.

“Aku ingin menemuinya.” dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.

Melihat kelincahannya, Yi Siu tersenyum simpul.

“Keponakanku ini sungguh nakal, tidak pernah memperdulikan adat istiadat, sungguh

menjadi bahan tertawaan Saudara saja.”

“Mana bisa orangnya anggun dan lincah, maka tampaknya seperti nakal, padahal itu

hanya kepolosan jiwanya dan sikapnya yang masih kekanak-kanakan. Malah membuat

orang senang melihatnya. Cahye malah sudah menerima budi pertolongannya satu kali,

entah bagaimana harus membalasnya.” karena hatinya sendiri sudah tertarik kepada Mei

Ling, kata-katanya jadi memuji gadis itu terus. Tanpa sadar, sering dia mengutarakan isi

hati yang sebenarnya.

Untung saja Yi Siu menganggap ucapannya sebagai ungkapan yang wajar. Dia segera

merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Tan Ki.

“Lebih baik kita juga ke sana dan berbincang-bincang dengan mereka.” katanya.

“Baik, Cayhe juga ingin sekali bertemu dengan Yuan Kong Taisu yang terkenal itu.”

Kedua orang itu lalu keluar berendengan dan masuk ke kamar sebelah. Begitu mata

memandang, di dalam kamar itu telah dipenuhi oleh sejumlah orang. Baik Tan Ki maupun

Yi Siu jadi tertegun.

Sekilas perasaan gentar segera merasuk hati Tan Ki. Tanpa sadar, tubuhnya bergetar.

“Mungkinkah mereka telah mengetahui rahasiaku dan sengaja mengatur perangkap ini

untuk menjebakku?”

Dengan membawa pikiran demikian, perasaannya semakin tegang. Dia berdiri di depan

pintu dengan hati bimbang.

Rupanya di dalam kamar tersebut, kecuali seorang Hwesio tua yang rambutnya sudah

putih semua dan berpakaian abu-abu, di sana masih terdapat Bu Ti Sin Kiam Liu Seng, si

pendek gemuk Cu Mei, Tian Tai Tiau-siu, Kok Hua Hong dan tujuh delapan orang laki-laki

bertampang gagah. Mereka semuanya pernah dilihat oleh Tan Ki di rumah Liu Seng di kota

Lok Yang. Hanya si pengemis sakti Cian Cong yang tidak menyukai keramaian maka tidak

Perlahan-lahan dia mengalihkan pandangannya, tampaknya Yi Siu juga tidak

menyangka akan kehadiran Liu Seng dan yang lainnya. Melihat kemunculan orang-orang

 

itu, hampir saja dia tertawa terbahak-bahak kalau bukan karena hadirnya Yuan Kong Taisu

yang dihormati semua orang.

Tampak Liu Seng berdiri sambil tersenyum-senyum.

“Harap saudara berdua duduk di dalam.” sapanya.

Dia mengira Tan Ki adalah teman Yi Siu. Maka ketika mempersilahkan dia menyebutkan

kedua-duanya. Pada saat itu Tan Ki masih merenung. Melihat Yi Siu menjura kepada para

hadirin, terpaksa dia memberanikan diri dan ikut melangkah ke dalam.

Riasan wajahnya masih belum luntur, tampangnya yang kaku sekaan tidak

menunjukkan perasaan apapun. Yuan Kong Taisu adalah seorang angkatan tua Siau Lim

Pai yang sudah lama mengasingkan diri. Matanya sangat awas. Ketika Tan Ki baru

melangkah sampai di depan pintu, mulutnya langsung mengeluarkan suara ‘Ehem’ yang

lirih. Rasa curiganya sudah tergugah. Begitu Tan Ki masuk ke dalam, dia malah

memperhatikan dengan pandangan yang lebih teliti.

Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengan tokoh tua tersebut. Dia segera merasakan

sinar matanya tajam menusuk, seperti ingin menembus pribadinya dalam-dalam.

Diam-diam hatinya terkesiap, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya dan pura-pura

melihat ke arah yang lain.

Tiba-tiba Yuan Kong Taisu menyerukan nama Buddha. Suaranya bagai bunyi genta

berdentang. Begitu kerasnya sehingga menggetarkan gendang telinga. Melihat keadaan

itu, wajah orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut segera berubah hebat.

Perlahan-lahan Yuan Kong Taisu bangkit dari tempat duduknya. Tendengar suaranya

yang parau dan mengandung kewibaan yang dalam.

“Apa kabar Sicu setelah sekian lama tidak bertemu, tentunya masih mengenali Pinceng

bukan?”

Datangnya pertanyaan itu begitu mendadak, Tan Ki yang mendengarnya sampai

termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena dia tidak merasa kenal dengan

Hwesio tua tersebut.

Sampai-sampai orang-orang yang ada dalam ruangan itu juga merasa heran. Puluhan

pasang mata segera beralih pada diri Tan Ki. Suasana menjadi mencekam.

Dari perhatiannya yang teliti tadi, Yuan Kong Taisu sudah mengetahui bahwa

kedatangan Tan Ki ke dalam ruangan ini bukan menggunakan wajahnya yang asli.

Tampang dan gerak-geriknya persis dengan musuh bebuyutannya puluhan tahun yang

lalu. Sekarang melihat Tan Ki diam saja serta tidak menyahut sepatah katapun,

kecurigaannya semakin dalam. Sepasang alisnya yang sudah putih segera terjungkit ke

“Apakah Sicu benar-benar sudah lupa dengan Pinceng? Mungkin, jurus serangan ‘Tian

Wu Te-am’ ini akan mengingatkanmu kembali?” bentaknya marah. Deraan pukulan

langsung dihantamkan ke depan. Rangkuman angin yang terpancar dari telapak

tangannya menimbulkan suara suitan yang panjang.

 

Tan Ki merasa segulungan angin yang kencang mendorong ke arahnya. Nafasnya jadi

sesak, hatinya terperanjat dan dengan gugup dia segera melesat keluar dari ruangan

tersebut untuk menghindarkan diri dari serangan yang dahsyat itu. Terdengar suara yang

bergemuruh. Pukulan lewat di sampingnya dan menghantam pintu kamar, pintu kayu

itupun hancur berkeping-keping dan berhamburan ke mana-mana.

Sekali lagi Yuan Kong Taisu berdehem. Serangannya ditarik kembali. Sinar matanya

bagai kilat memperhatikan diri Tan Ki.

“Apa hubunganmu dengan ‘Cian Tok Kui-ong’ (Raja Setan Seribu Racun)?” bentaknya

Tan Ki tertegun.

“Aku tidak mengenal segala raja setan maupun dewa-dewa, aku juga tidak

mengenalmu. Mengapa baru saja bertemu, tanpa menyatakan dengan jelas, kau langsung

melancarkan pukulan?” sahutnya kesal.

Yuan Kong Taisu tertawa dingin.

“Kalau, kau bukan Cian Tok Kui-ong sendiri, pasti kau juga mempunyai hubungan yang

erat dengannya. Kalau tidak, ilmu merias wajah kelas wahid di dunia seperti yang kau

kuasai tidak mungkin diwariskannya kepadamu!”

Sejak puluhan tahun yang lalu, Hwesio tua ini sudah mengasingkan diri dan tidak

mencampuri urusan duniawi. Selama ini dia hanya bersemedi melatih ilmu dan membaca

ayat-ayat suci. Sebetulnya hawa emosi dalam dirinya sudah padam. Tetapi saat ini,

kemarahannya demikian meluap-luap. Hal ini menandakan bahwa kebenciannya terhadap

Cian Tok Kui-ong sudah merasuk ke tulang sumsum.

Tan Ki memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman.

“Aku tidak tahu siapa itu Cian Tok Kui-ong. Kalau pun aku tahu, karena seranganmu

tadi, aku juga tidak akan mengatakannya!” dia langsung membalikkan tubuh dan

bermaksud meninggalkan tempat itu.

Penampilannya keras kepala seperti biasa. Dia memang bukan manusia yang dapat

dihadapi dengan kekerasan.

Tampak Yuan Kong Taisu mengibaskan lengan bajunya dan berteriak.

“Jangan lari!” dia langsung mengerahkan langkah kakinya mengejar. Dalam waktu yang

singkat, tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan hilang dari pandangan.

Beberapa perubahan yang mendadak benar-benar di luar dugaan para hadirin, ketika

mereka bermaksud mencegah, ternyata sudah tidak keburu lagi.

Tampak Liu Seng menarik nafas panjang. Kepalanya menggeleng beberapa kali.

“Karena kemunculan Cian bin mo-ong, Yuan Kong Taisu yang sudah mengasingkan diri

berpuluh tahun ikut merasa marah dan berkecimpung lagi di dalam dunia Kangouw. Tidak

 

di sangka orang tadi merupakan sahabat dari Cian Tok Kui-ong atau mungkin muridnya.

Kalau sampai karena persoalan tadi Cian Tok Kui-ong jadi muncul kembali, dunia Bulim

mungkin akan bertambah lagi satu masalah yang pelik.”

Sekali lagi dia menarik nafas panjang. Wajahnya jadi kelam seketika. Para hadirin juga

tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka merasa banyak bicara pada saat seperti itu

hanya menambah pusing pikiran saja.

Cian Tok Kui-ong sebetulnya seorang iblis yang gemar membunuh dan berhati keji.

Orang ini pernah menggemparkan dunia Kangouw. Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dia

mempunyai keahlian yang khas. Yakni merias wajah seperti yang dikuasai oleh Tan Ki.

Kebesaran namanya hampir berimbang dengan Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.

Apa yang dikatakan oleh Liu Seng memang tidak salah. Seandainya muncul lagi

seorang Cian Tok Kui-ong, para sahabat golongan putih di dunia Bulim pasti harus

mengeluarkan tenaga sekuatnya untuk menghadapi tiga orang lawan yang tangguh.

Cian bin mo-ong, Sam Jiu San Tian-sin, Cian Tok Kui-ong.

Bencana besar mungkin akan melanda lagi dunia Kangouw. Tetapi, para hadirin sama

sekali tidak mengerti. Tan Ki sebetulnya memang tidak mengenal Cian Tok Kui-ong. Dia

juga tidak tahu siapa orang itu. Dia hanya tahu bahwa ilmu merias wajahnya diperoleh

dari sebuah kitab yang dihadiahkan oleh Bu Beng Lo Jin (Orangtua tanpa nama).

Siapakah Bu Beng Lo Jin?

Tan Ki tidak tahu banyak orangtua itu langsung menghembuskan nafas terakhir setelah

menghadiahkan kitab berisi ilmu merias wajah itu kepadanya.

Sementara itu, terdengar Yi Siu mengeluarkan suara batuk yang keras untuk memecah

keheningan yang mencekam.

“Ada apa dengan kalian? Hanya karena kemunculan seseorang yang asal-usulnya tidak

jelas, kalian jadi kalang kabut tidak karuan. Mari, mari. Kita panggil pelayan agar

menyediakan arak yang bagus banyak-banyak. Setelah itu kita minum sampai puas, kalau

perlu tujuh hari tujuh malam. Apabila benar ada masalah yang rumit, sampai waktunya

pasti ada jalan keluarnya!”

Liu Seng tertawa getir.

“Bicara memang mudah, sekarang saja, para sahabat yang hadir di sini sudah

dipusingkan oleh urusan Cian bin mo-ong, memangnya…” dia berhenti sejenak, wajahnya

tiba-tiba berubah menjadi serius. “Memangnya Yi Heng sudah mempunyai rencana yang

bagus untuk menghadapi kenyataan di depan mata?” tanyanya kemudian.

Yi Siu mendongakkan kepalanya merenung sejenak, kemudian tampak dia

menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.

“Rencana yang bagus sih belum ada. Tetapi menurut pandangan Hengte, kita sudah

mengerahkan tenaga mengumpulkan para sahabat di dunia Bulim. Setidaknya pihak lawan

juga merasa agak gentar menghadapi situasi seperti ini, yang penting…”

 

Liu Seng mengibaskan tangannya dua kali mencegah Yi Siu meneruskan kata-katanya.

“Aku tahu, aku tahu. Demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak di antara para

sahabat kita di dunia Kangouw, kecuali akal tadi, aku mohon tanya kepada Yi Heng,

apakah jalan keluar yang lebih baik yang mana tidak akan makan banyak korban?”

Kata-kata ini diucapkan dengan kewibawaan yang dalam. Pertanyaannya membuat Yi

Siu bungkam dan sampai sekian lama tidak sanggup memberikan jawaban. Memang

benar, mereka bisa saja mengumpulkan para tokoh di Bulim untuk menghadapi Cian bin

mo-ong maupun Oey Kang. Tetapi tidak diragukan lagi, pasti banyak korban yang akan

Untuk sesaat suasana di dalam ruangan menjadi hening. Perasaan hati para hadirin

semakin tertekan. Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong yang dari awal hingga akhir tidak

mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba angkat suara.

“Ada orang yang datang!”

Baru saja kata-katanya selesai, mendadak terdengar suara langkah kaki, tanpa terasa,

para hadirin menolehkan kepalanya seketika. Tampak pakaian berwarna abu-abu

bergerak-gerak. Seseorang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun melesat masuk ke dalam

Para hadirin masih belum melihat jelas siapa orang yang datang, tetapi hidung mereka

sudah mengendus harumnya daging panggang. Si gadis cantik jelita memperhatikan

dengan seksama, sejenak kemudian terdengar dia berseru dengan suara gembira. “Bagus,

Cian Pek Pek sudah datang!”

“Po Siu-cu Cian Cong bisa tiba-tiba muncul, benar-benar di luar dugaan para hadirin.

Begitu mata memandang, orang-orang yang hadir di dalam ruangan langsung tertegun.

Sampai Liu Seng sendiri juga merasa heran.

Cian Cong sama sekali tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Dengan tenang

dia melangkah masuk ke dalam ruangan dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Rupanya mulut orangtua ini sedang menggerogoti sepotong paha ayam. Dia sampai tidak

sempat bicara. Cian Cong tampaknya baru saja membeli paha ayam tersebut, dagingnya

masih banyak dan harumnya sampai menyebar ke seluruh ruangan.

Tapi caranya memakan paha ayam itu sangat berlainan dengan sebelumnya. Biasanya

dia menggerogoti dengan rakus dan kadang-kadang air liurnya sampai menetes keluar.

Sedangkan sekarang cara makannya sangat sopan dan seakan menikmati dengan tenang.

Tiba-tiba, Mei Ling maju beberapa langkah dan muncul di hadapannya.

“Cian Pek Pek, kau pernah mengatakan bahwa apabila bertemu lagi nanti, kau akan

mengajarkan sejurus ilmu pukulan kepadaku!”

Wajah Cian Cong agak berubah mendengar ucapannya. Kakinya pun segera mundur

dua langkah.

“Jangan ribut, aku ada sesuatu yang akan diberikan kepada ayahmu.”

 

Hati Liu Seng tiba-tiba tergerak. Dia merasa gerak-gerik Cian Cong hari ini bukan saja

agak janggal, malah ucapannya juga tidak beraturan, jauh berbeda dengan sikap dan

jiwanya yang welas asih.

Setelah mempunyai pemikiran demikian, tanpa dapat ditahan lagi dia melirik Cian Cong

berulang kali. Padahal, si pengemis sakti yang juga merupakan ketua Kai Pang (Partai

Pengemis) yang ada di hadapan mereka sekarang ini, memang merupakan samaran dari

Cian bin mo-ong Tan Ki.

Setelah berhasil meloloskan diri dengan susah payah dari kejaran Yuan Kong Taisu, dia

segera mencari kesempatan dan merias wajahnya menjadi si pengemis sakti Cian Cong.

Tujuannya adalah membunuh Liu Seng guna membalas dendam bagi ayahnya.

Justru ketika hati Liu Seng mulai bimbang, tiba-tiba terdengar Mei Ling tertawa

terkekeh-kekeh.

“Cian Pek Pek, ke mana perginya hiolomu itu?”

Rupanya Tan Ki merias wajahnya dengan tergesa-gesa, dia melupakan beberapa hal

yang kecil-kecil. Meski dalam waktu yang singkat dia berhasil membeli sepotong paha

ayam panggang, sepasang sepatu rumput, tetapi dia justru lupa membeli sebuah hiolo

untuk mengisi arak. Sebetulnya barang ini justru merupakan sahabat seumur hidup si

pengemis sakti dan belum pernah lepas dari sisinya. Setelah diteriaki oleh Mei Ling, kepalsuannya

hampir saja terbongkar.

Untuk sesaat, perasaan curiga di hati Liu Seng makin dalam. Tetapi karena Cian Cong

adalah seorang tokoh sakti yang namanya sudah terkenal di empat samudera dan lima

pegunungan, kalau sampai terjadi kesalahan, pasti akan timbul perselisihan di antara

mereka. Dari kawan malah menjadi lawan. Oleh karena itu, lama sekali dia tidak berani

menyatakan apa-apa.

Tampak wajah Cian Cong berubah hebat. Kakinya sampai mundur tiga langkah. Dengan

memaksakan sebuah senyuman dia menyahut dengan gugup…

“Hioloku itu tertinggal di atas pohon tadi, aku sampai lupa mengambilnya kembali.”

Lambat laun Liu Seng semakin tertegun. Kata-katanya ini juga tidak tepat. Pada hari

biasanya, Cian Cong selalu mengatakan: ‘Barang kesayanganku ini’ selamanya dia tidak

pernah menyebut kata ‘hiolo’.

Begitu matanya mengedar, tiba-tiba dia melihat bahwa di pinggang kiri Cian Cong ini

juga tidak terselip tongkat bambunya! Padahal tongkat itu merupakan senjata yang

dipakai oleh Cian Cong sehari-harinya. Mengapa dia tidak membawanya? Rasanya tidak

mungkin kalau tertinggal juga…

Suasana yang hening lambat laun terselip semacam ketegangan. Mimpi pun Tan Ki

tidak menyangka kalau riasannya hari ini menunjukkan banyak kelemahan. Bahaya yang

mengerikan perlahan-lahan mendekati dirinya!

Tiba-tiba… Liu Seng tertawa terbahak-bahak dan menegakkan badannya.

 

BAGIAN XI

Kata-kata dengan nada yang berat segera tercetus dari mulutnya.

“Entah urusan apa yang menggelayuti pikiran Cian Locianpwe sehingga tindaktanduknya

hari ini menjadi jauh berbeda dengan biasanya. Sampai-sampai senjata yang

sehari-harinya digunakan juga ketinggalan…!” mendadak mimik wajahnya menjadi dingin.

Dia langsung membentak dengan suara keras. “Siapa kau sebenarnya?”

Suara bentakannya bagai guntur yang menggelegar, sehingga menggetarkan hati orang

yang mendengarnya. Padahal wajahnya penuh welas asih dan murah senyum, tetapi

begitu hawa amarah dalam dadanya meluap, tiba-tiba suaranya pun berubah ketus dan

tajam. Di dalamnya seakan terkan-dung kewibawaan yang besar sekali.

Hati Tan Ki tercekat. Dia memaksakan seulas senyuman di bibirnya.

“Aku adalah aku, memangnya ada orang lain yang berani memalsukan?” mungkin

orang yang melakukan kesalahan pasti gugup. Tawanya ini demikian janggal serta aneh.

Liu Seng langsung tertawa dingin.

“Selamanya Cian Locianpwe selalu menyebut dirinya sendiri ’si pengemis tua’. Mengapa

tiba-tiba cara bicara saja bisa berbeda…” dibenaknya, tiba-tiba terlintas sebuah ingatan,

wajahnya langsung berubah hebat. “Kau… kau adalah… Cian bin mo-ong?”

Kata-kata ini sebetulnya baru saja terlintas di otaknya. Tetapi karena hatinya tersirat

rasa takut yang dalam, maka begitu dicetuskan, suaranya pun terdengar gemetar dan

tersendat-sendat.

Ketika kata-kata tadi sudah tercetus dari mulutnya, suasana di dalam ruangan itu bagai

diselimuti hawa kematian yang tebal. Wajah orang-orang yang hadir hari itu langsung

berubah hebat. Mereka berdiri serentak. Suasana semakin menegangkan. Akhirnya Tan Ki

tahu samarannya sudah terbongkar. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini samarannya

berhasil dibongkar orang. Dia sadar percuma meneruskan sandiwaranya. Oleh karena itu,

dia mengeluarkan suara tertawa yang panjang. Suara tawanya itu sampai menggetarkan

atap penginapan tersebut. Begitu kerasnya sampai me-mekakkan telinga orang yang

mendengarnya. Namun di dalamnya seperti tersirat perasaannya yang penuh penderitaan

dan kesedihan.

Dengan demikian, rencananya untuk membalaskan dendam bagi ayahnya tercinta

kembali gagal. Kemudian, dia tertawa dingin sambil memalingkan wajahnya.

“Benar. Aku memang Cian bin mo-ong. Untungnya mata Saudara bagai dewa, belum

apa-apa sudah membongkar samaranku ini. Kalau tidak, mungkin saat ini kau sudah rebah

di atas tanah bermandikan darah!” ketika berbicara, nada suaranya yang tercetus keluar

mengandung hawa pembunuhan yang tebal rasa benci yang dalam.

Tiba-tiba, terlihat bayangan-bayangan, berkelebat. Orang-orang yang ada dalam

ruangan itu segera memencarkan diri dan mengambil posisi mengurung Tan Ki. Meskipun

hanya ada seorang Cian bin mo-ong, namun

 

sanggup membuat mereka khawatir dan tidak tenang. Gerakan mereka ini tentu saja

berniat mengeroyok Tan Ki. Mereka tidak perduli lagi peraturan dunia Kangouw yang

menganggap perbuatan itu sangat rendah.

Tan Ki mengeluarkan suara tawa yang dingin. Dia tetap berdiri tanpa bergerak sedikit

pun. Dia tahu segelombang pembunuhan segera akan berlangsung di depan mata. Diamdiam

dia menghimpun tenaga dalamnya dan siap-siap melancarkannya setiap waktu.

Penampilannya malah berubah menjadi tenang dan dingin. Bagai seekor rajawali yang siap

tempur, berani dan gagah.

Tiba-tiba terdengar Liu Seng membentak dengan suara lantang.

“Ini yang dinamakan dikejar malah hilang, tidak diundang malah datang sendiri!”

keberhasilan yang tidak perlu mengeluarkan tenaga. Karena engkau seorang, Lohu sampai

mengirimkan surat undangan kepada para sahabat di dunia Bulim agar mereka berkumpul

di Lok Yang. Tak nyana sama sekali, di tempat seperti ini dan saat seperti ini, Saudara

justru datang berkunjung. Tampaknya kita memang berjodoh, terimalah!”

Begitu kalimatnya yang terakhir diucapkan, tampak Liu Seng memajukan langkah

kakinya dengan diiringi segulungan hembusan angin dia pun melancarkan sebuah pukulan.

Terasa gulungan angin bagai putaran roda, di dalamnya terkandung searus gelombang

yang kuat. Belum lagi serangannya sampai di sasaran, pakaian Tan Ki sudah terhembus

sehingga berkibaran.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuh Tan Ki sudah menghilang dari

pandangan. Dalam waktu yang sekejap dia sudah sampai di belakang punggung Liu Seng.

Bahaya datang mengincar!

Kalau pada saat ini Tan Ki melancarkan sebuah pukulan, tidak ayal lagi Liu Seng pasti

akan terluka parah walaupun tidak sampai ajal. Pada saat yang genting ini, para hadirin

sampai mengeluarkan seruan terkejut saking paniknya. Keringat dingin membasahi tubuh

mereka. Saat itu, merupakan detik-detik yang kritis!

Sebuah suara yang merdu menjerit memecahkan kesunyian! Angin yang bertiup

membawa serangkum bau yang harum. Bagai seekor walet, tubuh Mei Ling melesat keluar

dari tempat berdirinya!

Gerakannya yang cepat bagai anak panah yang meluncur. Seandainya Tan Ki berhasil

melukai Liu Seng tanpa memperdulikan segalanya, dia sendiri pasti terhantam oleh

pukulan Mei Ling sehingga terluka parah.

Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus menyelamatkan jiwanya dulu.

Dia terpaksa melepaskan kesempatan yang bagus untuk membunuh Liu Seng.

Dendam di. dalam hati anak muda ini sudah mendalam sekali. Melihat kesempatannya

membunuh musuh gagal, dia meluapkan segala kekecewaan dan kemarahan hatinya pada

orang yang menyerangnya dari belakang.

Sayangnya, dia tidak tahu orang yang menyerangnya dari belakang adalah gadis

pujaan hatinya! Dia hanya ingin mengumbar kemarahannya. Tiba-tiba dia meraung murka

dan secepat kilat memutar lengan tangannya dan menghantamkan sebuah pukulan.

 

Jurus Tian Lui Ci-ming (Guntur di langit bagai ratapan) langsung dikerahkan pada saat

itu juga. Jurus yang digunakannya ini merupakan salah satu jurus yang paling ampuh dari

ilmu Tian Si Sam-sut. Kecepatannya mengandung kekejian yang dahsyat.

Hati Mei Ling khawatir ayahnya dalam keadaan bahaya, tanpa memperdulikan dirinya

sendiri, dia terus menerjang ke depan!

Sesaat yang kritis itu menimbulkan kenyataan yang menyayat hati. Tiba-tiba terdengar

suara jeritan ngeri yang berkumandang memenuhi seluruh ruangan disusul dengan

sesosok bayangan manusia yang terkapar di atas tanah.

Perubahan yang mendadak ini, membuat para hadirin tidak sempat lagi memberikan

pertolongan. Untuk sesaat mereka malah jadi terpana. Tan Ki sendiri langsung tertegun.

Mimpipun dia tidak pernah menduga bahwa serangannya tadi justru melukai gadis

pujaan hatinya. Hal ini benar-benar di luar dugaannya, dia merasa hatinya bagai disiram

oleh air es dan keringat dingin segera membasahi keningnya.

Meskipun, perasaan cintanya terhadap Mei Ling hanya sepihak saja, tetapi dia juga

merasa bahwa tidak seharusnya dia membuat gadis itu berduka. Pukulan yang melukai

Mei Ling benar-benar merupakan suatu kesalahan yang besar.

Dalam keadaan panik, tanpa dapat ditahan lagi seluruh tubuhnya basah oleh keringat

dingin. Tiba-tiba dia juga teringat suatu persoalan.

‘Apakah aku boleh membunuh Liu Seng?’ tanyanya dalam hati.

Dia jadi termenung. Semakin dipikirkan hatinya semakin bimbang. Dia sendiri tidak

dapat mengambil keputusan yang tepat. Untuk sesaat, dia bahkan lupa bahwa dirinya

masih terkurung oleh lawan-lawan yang hebat.

Tepat pada saat itu, terdengar bentakan dari mulut Liu Seng.

“Hari ini aku akan mengadu jiwa denganmu. Kalau bukan kau yang mati, maka akulah

yang akan menghadapi ajal!”

Dia melihat putri tunggal kesayangannya rebah di atas tanah dengan mata dan mulut

tertutup rapat, rambut acak-acakkan, dan tidak bergerak sedikitpun. Dia mengira Mei Ling

sudah mati. Dalam waktu yang singkat, rasa bencinya kepada Cian bin mo-ong Tan Ki

segera menyusup sampai ke tulang sumsum.

Begitu kumandang suaranya sirap, dengan cepat dia melancarkan tiga pukulan. Ketiga

pukulan ini dilancarkan dalam keadaan marah, deraan angin dari telapak tangannya kuat

sekali. Udara bagai sesak dan sayup-sayup terdengar suitan panjang yang terpancar dari

pukulannya. Sasarannya merupakan bagian yang mematikan dari tubuh Tan Ki.

Pikiran Tan Ki masih kalut. Dia tidak tahu apakah dia harus membunuh Liu Seng untuk

membalaskan dendam ayahnya. Kalau dilihat dari ilmu silat yang dimilikinya sekarang,

apabila bertarung satu lawan satu, hal ini merupakan urusan yang mudah baginya.

 

Tetapi kalau urusan ini berhasil, dia pasti kehilangan kesempatan untuk memperoleh

cinta kasih Mei Ling.

Dendam ayahnya? Cinta kasih? Dua macam pikiran yang bertolak belakang ini

membuahkan bayangan penderitaan dalam sanubarinya. Hatinya menjadi gundah. Dia

tidak dapat menentukan pilihan yang tepat. Entah mana yang lebih baik di antara

keduanya!

Di kala dia masih merenung, tiga pukulan yang gencar dan mengandung kekuatan yang

dahsyat menerjang ke arahnya. Dengan panik dia menggeser tubuhnya ke samping sejauh

dua tindak. Dengan demikian Tan Ki pun berhasil meloloskan diri dari serangan tersebut.

Saat ini dia sudah terperangkap dalam kurungan para hadirin. Baru saja dia berhasil

menghindarkan diri dari tiga pukulan Liu

Seng. Di belakang kepalanya terdengar lagi desiran angin yang lain. Sebatang golok

sedang menebas di belakang kepalanya dari atas ke bawah.

Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap seketika. Di tambah lagi dengan perasaan

khawatir dan takut. Segala keresahan dalam hatinya belum sanggup disalurkan. Oleh

karena itu, dia langsung tertawa dingin.

“Bagus, kalian ingin mengandalkan orang banyak untuk meraih kemenangan?”

bentaknya sinis.

Pinggangnya meliuk, dia berhasil menghindar dari serangan golok. Kemudian dengan

gerakan yang kilat, dia melesat ke sebelah kiri orang tersebut. Gerakan tubuhnya sangat

aneh, seperti setan gentayangan layaknya.

Detik-detik yang hanya sekejapan mata saja, membuat pandangan para hadirin jadi

berkunang-kunang. Tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang menggetarkan indera

pendengaran. Sesosok tubuh yang tinggi besar tahu-tahu melayang keluar dan terjatuh di

sudut tembok. Mulut orang itu terbuka lebar, matanya membelalak. Nyawanya pun

melayang seketika. Sebatang goloknya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, tertancap

dalam-dalam di tanah dan yang terlihat hanya gagangnya saja.

Kematiannya yang mengenaskan dan menyayat hati. Membuat orang-orang yang ada

dalam ruangan itu memandang dengan terbelalak dan nyali mereka pun ciut seketika.

Perasaan takut yang tidak terkirakan menyusup di dalam hati mereka. Mereka seperti

melihat Dewa Kematian telah menggapaikan tangannya kepada mereka.

Kengerian dalam menghadapi kematian!

Ketegangan yang mencekam!

Semuanya terpatri dalam bathin mereka. Setelah berhasil membunuh satu orang, Tan

Ki memperdengarkan suara tertawa yang panjang. Suaranya bagai ratapan. Melihat

keadaan itu, hati para hadirin semakin berdebar-debar.

Dalam suara tawanya seperti menyatakan, biarpun dia sudah membunuh satu orang,

namun hatinya masih belum merasa puas. Betul! Dendam ayahnya belum terbalas tuntas.

Kalau urusan ini belum beres, selamanya dia tidak akan merasa puas.

 

Dalam suasana yang diselimuti dengan hawa pembunuhan ini, terlihat tangan Liu Seng

bergerak. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebilah pedang panjang. Pedang itu

segera dihunus dan tampaklah cahaya yang berkilauan. Cahaya itu demikian terangnya

sehingga menyilaukan dan untuk sesaat para hadirin sulit membuka matanya lebar-lebar.

Bagi orang yang ahli, sekali pandang saja tentu dapat mengetahui bahwa pedang

tersebut terbuat dari bahan baja yang murni dan dapat memotong besi dengan sekali

tebasan. Pedang ini sudah pasti bukan sembarangan pedang tetapi merupakan benda

pusaka yang langka. Hati Tan Ki sampai tercekat melihatnya. Mimik wajahnya yang dingin

dalam sesaat berubah menjadi kelam. Tampaknya dia tidak berani berbesar hati.

Terdengar suara

Trak! Dia pun mengeluarkan sebatang suling kumala yang berbentuk antik.

Pandangannya beredar. Karena tidak tahu nasib putrinya yang entah sudah mati atau

masih hidup, Liu Seng sampai sakit hati saking kesalnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara

teriakan dan langkah kakinya pun menerjang datang. Tangannya bergerak-gerak dan

menebaskan pedangnya dari atas ke bawah.

Meskipun kekuatan serangan ini tidak terlalu dahsyat, tetapi karena hawa dingin yang

terpancar dari atas pedangnya bagai air sungai di kutub yang beriak-riak, maka orang

yang memandangnya merasa ada segulungan angin yang menggigilkan menerjang

datang, Tan Ki seakan merasa hidungnya menyedot segulungan hawa yang dingin. Cepatcepat

dia bertindak mundur. Suling kumala yang ada di tangannya merupakan hasil curian

dari kuburan para ketua Ti Ciang Pang. Dia tidak tahu di mana letak keistimewaannya,

baru pertama kali ini dia menggunakannya. Oleh karena itu dia tidak berani menggunakan

suling tersebut untuk menangkis datangnya serangan pedang Liu Seng.

Ketika kakinya melangkah mundur, dia melihat cahaya dingin bagai kilat dan

memancarkan bintang-bintang berwarna keperakan yang memenuhi udara. Dalam waktu

yang singkat, Liu Seng sudah melancarkan delapan belas tusukan ke arahnya.

Gerakannya yang indah dipadukan dengan serangannya yang gencar, membuahkan

kekuatan yang dahsyat. Depan belakang kiri kanan bagai diselimuti cahaya dingin yang

Serangan yang gencar ini membuat hati Tan Ki tercekat saking terdesaknya. Dia

merasa hal ini di luar dugaan. Biar bagaimanapun, ilmu silatnya merupakan peninggalan

para ketua Ti Ciang Pang yang masing-masing memiliki ilmu pukulan maupun ilmu pedang

yang tinggi sekali. Suling kumalanya segera digerakkan, terdengar suara suitan yang

seperti ratapan dari suling tersebut! Dalam sekejap mata dia sudah berhasil

menghindarkan diri dari delapan belas tikaman pedang Liu Seng. Dalam waktu yang

bersamaan, dia pun melancarkan tiga tusukan dengan serulingnya dan satu buah

Perkelahian di antara kedua orang ini sama-sama menggunakan kecepatan yang sulit

diikuti pandangan mata. Setiap jurusnya dapat mematikan pihak lawannya. Orang-orang

yang ada dalam ruangan ini membelalakkan matanya lebar-lebar agar dapat melihat lebih

jelas. Suasanapun semakin menegangkan.

Diam-diam Tian Tai Tiau-siu Kok Hua-hong mengeluarkan dua butir bola besi yang kecil

dari dalam sakunya. Dia bermaksud menimpukkan senjata rahasia tersebut ke arah Tan Ki.

 

Tapi pertarungan di antara kedua orang itu berlangsung dengan sengit. Tubuh keduanya

melesat ke sana ke mari. Tampaknya dia tidak mempunyai kesempatan untuk menurutkan

niatnya tersebut.

Ciong Sang Suang-siu melihat Liu Seng melancarkan serangan dengan gencar. Setiap

jurus yang digunakannya seperti sedang pengadu nyawa dan tidak memperdulikan

keselamatan dirinya sendiri. Tanpa sadar keduanya saling pandang sekilas, dan dalam

Waktu yang bersamaan mereka pun mengerahkan tenaga dalamnya pada ujung telapak

tangan serta bersiap-siap memberikan perto-longan kepada Liu Seng di saat yang kritis.

Begitu mata memandang, tampak Cian bin mo-ong lebih banyak menahan diri daripada

melancarkan serangan. Penampilannya begitu tenang. Meski bagaimana caranya Liu Seng

menusukkan pedangnya, dia tetap dapat memecahkannya atau menghindarkannya

dengan mudah. Kalau tiba-tiba dia melancarkan serangan, maka tampak Liu Seng segera

terdesak dalam keadaan yang membahayakan sehingga mau tidak mau orang itu terpaksa

menggerakkan tubuhnya mundur ke belakang.

Julukan Liu Seng, yakni Bu Ti Sin-kiam, bukan sekedar nama kosong belaka. Tetapi

karena saat ini hatinya sedang gelisah dan kalut. Maka hawa amarah dalam dirinya

membuat akal sehatnya tidak dapat bekerja dengan sempurna. Boleh dibilang dia

melancarkan serangan dengan kalap. Tanpa perhitungan yang matang. Setiap jurus yang

dikembangkannya seperti tidak mengandung perubahan yang hebat. Di tambah lagi ilmu

silat yang dikuasai oleh Tan Ki boleh dibilang semuanya aneh-aneh. Setiap serangannya

merupakan jurus yang belum pernah ditemui maupun didengar olehnya. Sasarannya

malah merupakan bagian tubuh yang harus dilindungi.

Dari dua kelebihan ini saja, meskipun Liu Seng mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi,

tetap sulit baginya untuk meraih keuntungan. Walaupun demikian, cahaya pedang dan

bayangan suling memenuhi seluruh ruangan. Kadang menebas, menikam, menyapu,

menerjang, membuat orang yang melihatnya menjadi kagum bukan main dan

menyayangkan kedudukannya yang hanya sebagai pe-nonton.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu

mulai dapat merasakan, apabila pertarungan ini diteruskan, maka pihak yang akan

tumbang pasti si Pedang Sakti tanpa tandingan, Liu Seng.

Hawa kematian yang semakin menebal ditambah lagi dengan ketegangan yang

menyesakkan dada!

Entah siapa yang bersuara, tiba-tiba terdengar teriakan lantang.

“Saudara-saudara sekalian, menghadapi raja iblis yang gemar membunuh ini, kita tidak

perlu membicarakan peraturan dunia Kangouw lagi. Mari kita maju bersama untuk

membasminya!”

Baru saja suara teriakan sirna, tiba-tiba terlihat cahaya yang dingin berkelebat,

sebatang trisula sudah meluncur ke arah Tan Ki. Di dalamnya terkandung kekuatan yang

dahsyat. Serangannya sendiri belum sampai, sudah terasa angin yang menggigilkan

menerpa wajah dan dinginnya bagai sayatan golok.

Perlu diketahui, bahwa setiap orang yang ada di dalam ruangan itu memiliki ilmu yang

tinggi dan merupakan tokoh Bulim yang sudah menyandang nama besar. Biarpun

 

serangan yang dilancarkan tampaknya sederhana, namun sanggup mencabut nyawa

seseorang sehingga tidak boleh dipandang ringan.

Melihat keadaan itu, hati Tan Ki marah sekali.

“Bagus, Kalian turun tangan saja sekaligus!” tubuhnya menggeser dan dihindarinya

serangan trisula tersebut.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuhnya memutar dan

menerjang ke arah Kok Hua-hong. Tampak bayangan suling dalam jumlah yang banyak

seperti gulungan ombak yang menyapu ke depan.

Jurus serangan yang tidak alang kepalang cepatnya!

Pada dasarnya Kok Hua-hong memang sudah bersiap melancarkan serangan. Melihat

Tan Ki mendahului, mulutnya segera mengeluarkan suara bentakan:

“Bagus!”

Lengannya yang bak besi itu dibenturkan dengan keras untuk menangkis serangan

suling kumala. Dan dalam waktu yang bersamaan, pergelangan tangannya memutar, dua

buah bola besi yang tergenggam dalam telapak tangannya dan mengandung kekuatan

yang dahsyat tiba-tiba dilontarkan secara terturut-turut sehingga melayang ke depan

Benda ini merupakan senjata rahasia, bentuknya agak besar (seperti bola kasti) dan

telah membuat nama Kok Hua-hong terkenal di dunia Bulim. Bola besi tersebut sangat

berat serta dapat menebus berbagai jenis logam. Begitu dilancarkan kali ini, tampaknya

lebih hebat dari yang sudah-sudah. Bola besi itu melayang di udara kemudian menerobos

ke dalam bayangan suling kumala dan meluncur terus ke depan.

Jarak di antara mereka hanya kurang lebih satu setengah meter. Meluncurnya bola besi

itu begitu cepat bagai kilat, dan datangnya juga mendadak. Tan Ki baru merasakan

adanya suara yang bergema di udara, hebatnya bukan main. Dia segera tahu bahwa yang

meluncur datang merupakan senjata yang berat, dia bermaksud menghindar namun tidak

keburu lagi. Terlihat bola-bola besi itu menerobos melewati bayangan sulingnya dan tahutahu

sudah mengincar bagian yang membahayakan di depan dada.

Keadaan yang genting segera terpampang

di depan mata!

Hati Tan Ki tercekat, bulu kuduknya merinding seketika. Tanpa dapat mempertahankan

diri lagi, dia mengeluarkan suara bentakan dan tubuhnya pun melesat ke atas. Gerakan

yang hebat. Caranya mencelat ke atas tadi sebetulnya merupakan kesalahan bagi kaum

persilatan, tetapi karena ilmu silat Tan Ki tidak dapat dipandang ringan, dua bola besi pun

meluncur lewat di bawah kakinya. Dia tidak menunggu sampai para hadirin

mengeroyokinya, tiba-tiba terdengar suara tawanya yang panjang, kepala di bawah dan

kaki di atas, laksana seekor elang yang menukik, dia menerjang ke bawah.

Terdengar suara Trang! Trang! Sebanyak dua kali berturut-turut. Diantara para hadirin,

sudah ada dua orang yang senjatanya terpental. Pada saat ini, Tan Ki sedang

mengumbarkan hawa amarahnya kepada para penyerang. Cara turun tangannya menjadi

 

keji. Begitu mendarat di tanah, kakinya segera maju dan sejurus Si U Kua-sa (Burung

Gagak Mengais Pasir) pun langsung dikerahkan.

Kembali terdengar suara jeritan memenuhi seluruh ruangan. Segera terlihat seseorang

terhantam mundur dua langkah. Orang itu memuntahkan darah segar dan rubuh

bermandikan darah!

Diiringi suara jeritan yang menyayat hati, orang kedua pun tumbang, mati. Kembali

terdengar suara Prang! Prang! Yang keras dan memekakkan telinga. Pintu kayu ruangan

tersebut hancur ambruk dengan dua lubang besar bekas hantaman kedua bola besi milik

Kok Hua-hong.

Rupanya, ketika Tan Ki mencelat ke udara dan mementalkan senjata lawan serta

melukai seseorang, kejadian berlangsung secara berturut-turut. Tepat pada saat itu juga,

kedua bola besi yang dilontarkan oleh Kok Hua-hong pun menghantam pintu ruangan

sehingga hancur. Dapat dibayangkan sampai di mana kecepatan gerakannya. Begitu mata

para hadirin ikut memandang, mereka merasa terkejut juga penasaran. Dalam sesaat,

timbul niat untuk menghabisi musuh dan merekapun turun tangan serentak.

Terjadilah pertarungan yang sengit!

Cahaya pedang bayangan golok melayang ke sana ke mari memenuhi ruangan. Deruan

angin yang timbul dari pukulan dan tinju menyesakkan di setiap sudut. Yang dapat terlihat

saat itu hanya bayangan tubuh manusia yang berkelebat, tanpa dapat dibedakan mana

kawan dan mana lawan.

Dengan merayapnya waktu, pertarungan semakin lama semakin sengit!

Tiba-tiba terdengar suara bentakan Tan Ki…

“Enyah!”

Blamm! Segera ada seseorang yang memuntahkan darah segar dan terkapar di atas

tanah. Hawa kematian yang memenuhi ruangan, semakin lama semakin menebal. Para

hadirin mengandalkan tenaga gabungan sejumlah tujuh delapan orang, meskipun belum

sanggup menyentuh ujung pakaian Tan Ki, tetapi membuat anak muda itu letih sekali.

Kening dan dahinya telah dibasahi oleh keringat.

Keadaan yang membahayakan semakin merapat pada dirinya. Tiba-tiba dia menjadi

sadar. Apabila dia masih tidak mencari jalan untuk menerobos keluar, setiap saat pasti

akan timbul bencana yang mungkin membuat nyawanya melayang.

Tiba-tiba, Liu Seng bersiul dengan kalap dan tanpa berpikir panjang lagi dia menikam

ke depan. Jurus serangannya ini tidak mempunyai nama. Dia hanya melancarkannya tanpa

memperdulikan keselamatan nyawanya sendiri. Suling kumala di tangan Tan Ki baru saja

menangkis pukulan Yi Siu. Tiba-tiba dia merasa cahaya dingin menyilaukan mata dan

menekannya dari atas. Hatinya terkesiap. Baru saja dia bermaksud menggeserkan

tubuhnya menghindar, si pendek gemuk Cu Mei sudah memutar pegelangan tangannya

dan melancarkan sepasang pukulan yang mengandung tenaga dahsyat!

Kali ini, dia menghadapi dua musuh yang menyerang sekaligus. Meskipun Tan Ki

mempunyai kepandaian yang tinggi, tetap saja sulit baginya untuk menyelamatkan dirinya

 

dari kedua serangan tersebut. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia menarik kembali

suling kumalanya dan memutar lengannya untuk menghindari serangan kedua pukulan

dari belakang. Justru pada saat yang sedetik itu, tanpa dapat dipertahankan lagi mulutnya

mengeluarkan suara keluhan. Terasa pinggang sebelah kiri bawah agak dingin dan

darahpun merembes keluar.

Tusukan pedang ini hebat sekali. Darah mengalir dari pinggang sebelah kiri bawah anak

muda tersebut. Dagingnya tersayat kurang lebih tiga cun dan menimbulkan guratan

Dia menggigit bibirnya sendiri dan mempertahankan diri untuk tidak mendengus

sedikitpun. Telapak tangan kiri dan suling di tangan kanan, secara gencar melancarkan

beberapa serangan. Dia sadar, apabila saat ini dia hanya melihat ke arah lukanya, malah

memberi kesempatan pada pihak lawan. Oleh karena itu, dia segera melancarkan tiga

kibasan suling dan dua pukulan. Dia berusaha menerobos keluar dari kepungan lawan.

Tampak jelas bahwa pihak lawannya merupakan orang-orang yang sudah

berpengalaman dalam menghadapi pertempuran. Apalagi mereka tidak memakai

peraturan lagi mengeroyoknya. Bagaimana Tan Ki bisa mendapat kesempatan untuk

mengatur nafasnya, sedangkan deruan pukulan, tinju dan berbagai macam senjata rahasia

mengepungnya dengan ketat.

Dalam waktu yang singkat, Tan Ki sudah menjadi kalang kabut. Nafasnya tersengalsengal.

Belum lagi rasa sakit di bagian atas pahanya semakin lama semakin terasa. Seiring

dengan gerakan tubuhnya, bercak darah terlihat di mana-mana. Membuat orang yang

melihatnya menjadi ngeri.

Keadaan yang kritis! Bayangan kematian! Tan Ki sudah hampir kehilangan daya untuk

memberikan perlawanan. Orang-orang yang ada dalam ruangan itu dapat melihat keadaan

Cian bin mo-ong sudah mulai payah. Hal ini malah membangkitkan semangat mereka.

Secara berturut-turut mereka menerjang ke depan. Rasanya ingin menebas mati Tan Ki

dalam satu gebrakan.

Beberapa saat dia masih dapat mempertahankan diri. Dengan seorang diri, Tan Ki

menghadapi lima enam jago kelas tinggi dari dunia Bulim. Sebetulnya dia sudah

memaksakan diri mati-matian. Tenaganya bagai terkuras habis.

Tiba-tiba…

Brak! Brakkk! Terdengar dua suara menggelegar. Jendela kayu yang menghadap ke

arah pegunungan hancur seketika. Pecahan kayu jendela menimbulkan suara yang bising.

Sesosok bayangan berwarna hijau melesat ke dalam ruangan.

Gerakan orang ini cepatnya luar biasa. Meskipun hal ini di luar dugaan para hadirin,

tetapi pada saat ini, keadaan sedang genting, kesempatan untuk membunuh Cian bin moong

merupakan urusan yang akan terjadi dalam satu dua detik. Siapa yang sudi

memencarkan perhatiannya pada orang yang baru datang itu?

Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menghalangi para

hadirin. Dengan santai dia membopong tubuh Mei Ling yang tidak sadarkan diri karena

lukanya yang parah.

 

Ketika Liu Seng melihat keadaan ini, dia hampir jatuh pingsan saking kagetnya. Kemarahannya

berubah menjadi kehilangan kesadaran. Untuk sesaat dia malah berdiri

termangu-mangu.

Manusia berpakaian hijau itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia

memperhatikan situasi yang berlangsung beberapa saat. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan

suara bentakan yang keras.

“Berhenti!”

Suara bagai guntur yang menggelegar. Begitu kerasnya sampai ke telinga para hadirin

seperti tergetar dan lama sekali baru sirna. Kekuatan tenaga dalam orang ini sudah terlihat

jelas dari bentakannya ini. Kalau dikatakan secara kasar, tidak ada seorangpun diantara

para hadirin yang dapat menyamai setengahnya saja.

Rasa terkejut yang tidak diduga-duga timbul dari suara bentakan tadi. Tanpa

bersepakat terlebih dahulu, serentak para hadirin mencelat mundur dan menarik kembali

serangan masing-masing.

Begitu mata memandang, terlihat di wajah para hadirin seakan tersirat datangnya

kesulitan yang besar. Begitu terkejutnya mereka sampai mencelat mundur sejauh dua

langkah. Mereka benar-benar tidak menduga, bahwa biang iblis nomor satu di dunia

Kangouw yakni Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang bisa muncul di tempat ini dan pada saat

seperti ini.

Oey Kang melihat tampang para hadirin yang pucat pasi. Dia langsung mendongakkan

kepalanya dan tertawa dengan penuh kebanggaan.

“Apakah kalian semua merasa takut kepadaku?”

Yi Siu yang merupakan salah satu Ciong San Suang Siu berusaha membangkitkan keberaniannya.

“Takut sih belum tentu, namun ingin tahu tujuan Locianpwe muncul di tempat ini.”

Oey Kang menunjuk ke arah Mei Ling yang berada di dalam pondongannya.

“Aku memerlukan gadis ini untuk melengkapi barisan yang kuciptakan.” matanya

beralih dan berhenti pada diri Tan Ki. “Pernah dengar cerita orang banyak bahwa Po Siucu

Cian Cong pernah bergebrak dengan si Tosu tua Tian Bu Cu selama tujuh hari tujuh

malam. Bahkan masih belum dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Urusan ini menjadi buah bibir orang-orang Bulim. Tetapi pertemuan dengan Saudara hari

ini, benar-benar membuat aku rada kecewa.”

Yi Siu tertawa dingin. Dia segera menukas.

“Cian Heng merupakan salah satu tokoh sakti dari dunia Bulim. Jiwa pendekarnya tidak

usah diragukan lagi. Meskipun kami-kami ini mempunyai kedudukan di perguruan masingmasing,

juga tidak berani kurang ajar terhadap orangtua itu. Sedangkan orang ini…”

Oey Kang tersenyum simpul.

 

“Dia adalah Cian bin mo-ong bukan?”

Mulut orang ini manis namun tajam menusuk. Liciknya bukan main. Tampangnya selalu

tersenyum dan ramah. Kalau orang-orang yang hadir bukan tokoh-tokoh yang sudah

berpengalaman, pasti akan termakan rayuan manisnya.

Tan Ki tertawa sumbang.

“Aku memang Cian bin mo-ong. Tampaknya pandangan Saudara cukup tajam.” katanya

Wajah Oey Kang agak berubah mendengar ucapan ini, tetapi dalam sekejap mata

sudah normal kembali.

“Kau ikutlah denganku!” sahutnya.

Nada suaranya datar, tetapi mengandung kekuatan yang tidak terkirakan. Membuat

orang yang mendengarnya ragu-ragu mengambil keputusan. Tan Ki sendiri sampai

Tiba-tiba terdengar bentakan Liu Seng… “Kembalikan putriku!”

Terdengar suara Trang!!!

Sebuah serangan dilancarkan. Oey Kang tersenyum simpul.

“Segala macam kutu busuk juga berani banyak lagak!” pada saat berbicara, tidak

terlihat bagaimana tubuhnya bergerak, tiba-tiba terdengar Liu Seng menjerit, tubuhnya

sempoyongan dan kakinya mundur satu langkah. Disusui dengan suara dentingan,

pedangnya pun terjatuh di atas tanah.

Jurus yang ampuh dan ajaib, kecepatannya membuat orang tidak sempat melihat

bagaimana cara dia melakukannya.

Jurus yang dilancarkan oleh Oey Kang ini membuat para hadirin yang melihatnya

menjadi terperanjat dan sekaligus marah. Tetapij tidak ada seorang pun yang berani

mengambil tindakan apa-apa. Dia telah membuat orang-orang itu ciut nyalinya. Oey Kang

tertawa lebar. “Siapa lagi yang merasa tidak puas?” tanyanya angkuh.

Matanya beredar, wajah para hadirin menunjukkan kegusaran hati mereka, tetapi tidak

ada seorangpun yang berani untuk menyambut tantangan Oey Kang. Orang itu kembali

tersenyum simpul.

“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa pergi si Cian bin mo-ong ini, tampaknya

kalian tidak ada yang merasa keberatan.”

Kemarahan di hati Tan Ki hampir meledak. Begitu jengkelnya sampai sepasang

matanya mendelik lebar, rambutnya berjingkrakan ke atas dan baru saja dia berniat

menerjang ke depan untuk mengadu jiwa, tiba-tiba dia dicekal erat-erat oleh Kok Huahong.

Akhirnya dia menarik nafas panjang, dan dari kedua matanya mengalir air mata

seorang pendekar.

 

Padahal dia juga tahu sampai di mana ketinggian ilmu silat Oey Kang, hanya dengan

sebuah telunjuknya saja dia sanggup membunuh Liu Seng. Sedangkan kematian tetap

tidak dapat menyelamatkan putrinya.

Tan Ki melihat gadis pujaannya dibopong oleh Oey Kang. Meskipun dia tidak bisa menunjukkan

reaksi apa-apa, tetapi hatinya terasa perih. Kenyataan yang terpampang di

depan mata, hanya membawa kerugian bagi dirinya. Kemungkinan yang paling baik

adalah mengikuti Oey Kang. Meskipun hal ini agak menjatuhkan pamornya, tapi dalam

keadaan terdesak, dia tidak mempunyai pilihan yang lain. Oleh karena itu dia menahan

gejolak hatinya dan tersenyum-senyum.

“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu.” perlahan-lahan dia

melangkah menuju ambang jendela.

Liu Seng yang melihat mereka akan pergi, hatinya menjadi panik.

“Jangan pergi!” bentaknya keras.

Terdengar suara hembusan angin dan sebuah serangan dihantamkan ke depan.

Kekuatan yang terkandung dalam serangannya merupakan luapan emosi. Oleh karena itu

terselip kekejian yang hebat.

Tan Ki tertawa sumbang.

“Biar aku yang menjajal dirimu kali ini!” baru saja ucapannya selesai, dia segera

mengulurkan tangan kanannya menyambut serangan Liu Seng.

Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curiannya. Dia tidak pernah

mempunyai guru yang membimbingnya. Oleh karena itu, semua ilmu silat yang

dikuasainya hanya berdasarkan perkiraannya saja. Demikian pula tenaga dalamnya.

Keseluruhannya merupakan pelajaran yang dipaksakan. Begitu serangannya dilancarkan,

dia tidak bisa mengira-ngira seberapa banyak tenaga yang harus digunakannya. Itulah

sebabnya serangan anak muda itu selalu terlihat keji karena mengandung tenaga yang

sepenuhnya. Tenaga dalamnya bagai air yang meluap tanpa dapat dibendung. Terdengar

suara beradunya pukulan yang keras sekali. Seluruh ruangan bahkan ikut bergetar. Tubuh

merekapun terhuyung-huyung. Wajah menjadi merah padam. Tiba-tiba terdengar Liu Seng

mengeluarkan suara jeritan, kakinya limbung, dan tanpa dapat mempertahankan diri lagi,

dia tergetar mundur tiga langkah.

Habislah sudah! Dia sudah kalah! Nama besar yang dipupuk Liu Seng selama ini goyah

bersamaan dengan langkah kakinya yang tergetar mundur.

Putri kesayangannya diculik orang, nama baiknya hancur, dalam pukulan bathin yang

bertubi-tubi itu, dia meraung sekeras-kerasnya dan jatuh tidak sadarkan diri.

Perubahan yang mendadak ini berlangsungnya terlalu cepat. Begitu paniknya para

hadirin sampai kalang kabut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Telinga mereka menangkap suara tawa Oey Kang yang terbahak-bahak.

“Mari kita pergi!” tubuhnya berkelebat dan melayang keluar menerobos jendela.

 

Kemudian, terlihat Tan Ki segera menyusul di belakangnya. Tidak ada seorangpun yang

menghalangi. Nama besar Oey Kang yang menggemparkan dunia Kangouw, kehebatan

tenaga dalam Tan Ki, membuat para hadirin jadi terpana dan membiarkan mereka pergi

begitu saja.

Entah mengapa, Cianpwe Bulim yang dihormati setiap orang, yakni Yuan Kong Taisu

masih belum menampakkan diri lagi sejak mengejar Tan Ki.

Sementara itu, Tan Ki terus mengikuti belakang Oey Kang. Mereka meninggalkan

penginapan tersebut dengan terus berlari kencang. Dalam waktu yang singkat, mereka

sudah mencapai jarak kurang lebih enam tujuh puluh li.

Sembari berlari, otak Tan Ki terus berputar. Bagaimana caranya menolong Mei Ling?

Karena hatinya digelayuti masalah dan lagipula ilmu Oey Kang memang jauh lebih tinggi

daripadanya, lambat laun jarak antara kedua orang itu semakin lama semakin jauh.

Tiba-tiba terlihat Oey Kang menghentikan langkah kakinya pada sebuah padang rumput

dan mendongakkan kepalanya seakan sedang merenungkan sesuatu. Tan Ki juga diam

tidak bersuara. Hatinya justru lagi memecahkan persoalan yang membingungkan…

Beberapa hari yang lalu, Oey Kang membawa pergi Ciu Cang Po, entah apa tujuannya?

Beberapa hari kemudian, yakni saat ini, Oey Kang juga menculik gadis pujaannya bahkan

menolong dirinya. Mungkinkah di balik semua ini juga terselip rencana yang licik?

Dua pertanyaan ini terus berputaran di benaknya. Tetapi dia tetap tidak sanggup

memberi jawaban yang memuaskan kepada dirinya sendiri. Tetapi hati kecilnya berkata,

bahwa tindakan Sam-jiu San Tian-sin ini pasti tidak mengandung niat yang baik!

Dalam keadaan merenung, tiba-tiba terdengar suara tawa Oey Kang.

“Saudara mengaku sebagai Cian bin mo-ong, apakah ada bukti yang dapat dipercaya?”

“Kalau kau tidak percaya, aku juga tidak dapat berbuat apa-apa.” sahut Tan Ki.

Setidaknya anak muda ini sudah mempunyai cukup banyak pengalaman. Sebelum

mengetahui tujuan lawannya, dia tidak ingin berterus terang tentang dirinya. Sembari

berbicara, dia mengeluarkan obat penyembuh luka dan mengobati bagian atas pahanya

yang tersayat pedang Liu Seng.

Terdengar kembali suara tawa Oey Kang yang lepas.

“Baik, pokoknya aku mempercayaimu. Mulai hari ini, kau kuangkat sebagai Koanke

(semacam kepala pelayan) di Pek To San (Gunung Unta Putih) sebagai salah satu

pembantu yang paling kuandalkan. Tetapi, kau jangan mencoba-coba mengandung

maksud lain terhadapku! Soal membereskan para pengkhianat, aku mempunyai keahlian

tersendiri.” ujarnya kemudian.

Tan Ki menjadi tertegun.

“Apa yang kau katakan?”

Oey Kang tertawa lebar.

 

“Apakah kau masih belum jelas? Aku bilang mulai hari ini, aku menerima kau sebagai

Koanke, guna membantu menyelesaikan berbagai urusan.”

Sekali lagi Tan Ki tertegun. Tiba-tiba dia tersadar dan memperdengarkan suara tawa

yang dingin.

“Urusan seperti ini, seharusnya atas persetujuan kedua belah pihak. Sama sekali tidak

boleh dipaksakan. Lagipula, siapa memangnya Cian bin mo-ong, mana sudi ia memangku

jabatan serendah itu?”

Lambat laun wajah Oey Kang berubah kelam. Tetapi dalam waktu yang singkat sudah

pulih kembali. Isi hati orang ini sungguh sulit diterka, perubahan mimik wajahnya terjadi

demikian cepat. Sejenak kemudian dia sudah tersenyum kembali.

“Kau tidak boleh terlalu keras kepala. Pertimbangkan dengan kepala dingin. Biar

bagaimana aku tidak akan merugikan dirimu.”

Selesai berkata, sepasang matanya mengeluarkan sinar yang tajam dan menatap lekatlekat

kepada Tan Ki. Dia seakan sedang menunggu jawaban dari anak muda itu.

BAGIAN XII

Tiba-tiba, Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.

“Urusan ini sulit diterima!” katanya dengan nada berat.

“Apakah kau demikian kukuh?”

Tan Ki tertawa dingin.

“Meskipun Cayhe juga termasuk orang jahat, dan belum bisa membedakan antara

kemuliaan dan kebathilan…”

Oey Kang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berkata lebih lanjut, dia

langsung menukas dengan suara membentak…

“Aku tidak percaya kau tidak menurut pada kata-kataku!”

Tan Ki tersenyum datar. Baru saja dia ingin membantah, tiba-tiba dadanya terasa

sesak. Nafasnya sulit, serangkum tenaga yang dahsyat telah menerpa ke arahnya.

Oey Kang dijuluki Sam-jiu San Tian-sin. Bukan saja ilmu senjata rahasianya mempunyai

keistimewaan tersendiri, dalam hal ilmu silat pun ia lihai bukan main. Cara melancarkan

serangannya kali ini, cepat bagai kilat dan kekuatannya hebat sekali.

Serangan yang mendadak ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Pundaknya

dimiringkan dan ia melesat keluar dari samping. Gerakan tubuh yang cepat serta aneh,

membuat Oey Kang yang melihatnya jadi termangu-mangu. Bagaimanapun dia mendapat

sebutan sebagai Raja Iblis nomor satu di dunia Kangouw saat ini, sampai di mana

 

tingginya ilmu silat yang dimiliki dapat dibayangkan. Hanya dengan satu gerakan yang

aneh, Tan Ki berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bagaimana dia tidak menjadi

terkejut dan tertegun melihatnya?

Oleh karena itu, dia segera memperdengarkan suara tawa yang mengandung

“Coba sambut sekali lagi seranganku ini!” Hembusan angin dari telapak tangannya

segera terpancar keluar, diiringi dengan suara bentakan, gulungan angin tersebut melanda

seperti gelombang ombak yang besar.

Hati Tan Ki terperanjat melihatnya. Dia merasa hantaman telapak tangan lawan

mengandung tenaga yang dahsyat sekali. Tampaknya bahkan lebih hebat dari tenaga

dalam yang dimiliki oleh si pengemis sakti Cian Cong. Untuk sesaat dia tidak berani

menyambut dengan kekerasan. Tubuhnya bersalto di udara kemudian mencelat ke

belakang dan melesat keluar dari serangan Oey Kang.

Menghindari serangan dengan cara seperti tadi, dilakukannya dengan kecepatan kilat.

Tiba-tiba terdengar Oey Kang tertawa dingin, tubuhnya menggeser ke samping kemudian

bagai harimau yang mengamuk dia menerjang ke depan.

Tubuh Tan Ki baru mendarat ke tanah, belum lagi dia melihat jelas pemandangan di

hadapannya, ia terkejut sekali ketika dia merasakan ada serangkum angin kencang yang

menerjang dari depan, tiba-tiba pundaknya terasa seperti kesemutan dan orangnya pun

segera terkulai di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Waktu terus merayap, entah berapa lama sudah berlalu, perlahan-lahan dia siuman dari

tidurnya yang panjang dan membuka matanya seketika. Begitu dia memusatkan

perhatiannya, tempat di mana dia berada adalah sebuah kamar yang besar. Meja dan

kursinya terbuat dari batu kumala. Terdapat juga beberapa guci antik sebagai hiasan.

Meskipun hanya beberapa macam barang yang ada di dalamnya, tetapi menimbulkan

kesan nyaman dan enak dipandang.

Setelah memperhatikan sekelilingnya beberapa saat, diam-diam Tan Ki merasa heran.

“Tempat apakah ini?” tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya terkena totokan Oey Kang tadi sehingga tidak

sadarkan diri. Mengapa sekarang dia bisa berada di tempat ini? Perasaan herannya

semakin terbangkit. Tanpa dapat menahan rasa ingin tahunya, dia langsung memberontak

dan melonjak turun dari tempat tidur. Namun dia merasa hawa murninya bagai tersumbat.

Sedikitpun tenaga dalam tidak sanggup ia kerahkan. Tentu saja dia terkejut setengah

Semacam ingatan lantas lewat di benaknya. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

“Rupanya aku sudah terperangkap oleh Oey Kang. Entah obat apa yang dicekokan-nya

padaku, sehingga membuat seluruh tenagaku lenyap dan tubuh terasa lemas seperti ini.

Tampaknya kali ini, riwayatku akan tamat…” keluhnya seorang diri.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendatangi. Otomatis

lamunannya jadi tersentak. Dia mendongakkan kepalanya memandang, seorang nenek tua

 

bertubuh kurus dan berwajah jelek masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan di

tangan. Tan Ki terkejut sekali, tanpa sadar dia berseru…

“Locianpwe, mengapa kau juga bisa berada di tempat ini?”

Rupanya nenek tua yang kurus dan rambutnya sudah penuh uban itu bukan lain

daripada guru Mei Ling, Ciu Cang Po. Tampak wajahnya datar sekali, mimik mukanya

kaku, seakan tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Tan Ki. Langkah kakinya seperti

dihitung, setindak demi setindak dia maju dan berhenti di depan anak muda itu.

“Makanlah.” dia meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja kemudian

membalikkan tubuhnya dengan perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut.

Gerakannya aneh sekali seperti sudah kehilangan kelincahannya di waktu lalu.

Keadaannya sekarang lebih mirip mayat hidup. Wajahnya tidak memperlihatkan perasaan

apa-apa seperti pikirannya telah menjadi kebal dan kehilangan kesadarannya. Hati Tan Ki

menjadi panik. “Harap Locianpwe tunggu sebentar. Entah mengapa tubuhku kehilangan

tenaga sama sekali. Kalau tidak bisa bergerak, bagaimana aku bisa makan?” teriaknya

Ciu Cang Po tetap seperti orang yang indera pendengarannya kurang beres. Tanpa

memperdulikan Tan Ki, dia langsung keluar dari kamar kemudian membelok dan hilang

dari pandangan.

Begitu paniknya Tan Ki sampai digigitnya bibir sendiri berulang kali. Lalu tampak dia

menarik nafas panjang.

“Bagaimana baiknya? Ingin mendapat sedikit keterangan darinya saja tidak mungkin.”

gumamnya seorang diri.

Dia merasa perutnya mengeluarkan suara seperti air yang beriak-riak. Haus dan lapar

menyiksanya. Dengan mata terbelalak dia menatap ke arah nampan. Tampangnya seperti

orang yang tidak berdaya. Bau harum nasi dan daging terpancar keluar dari kotak

makanan yang ada di atas nampan. Keharuman yang menusuk dan hanya dapat ditatap

itu membuat perutnya semakin keroncongan, hampir-hampir saja dia jatuh pingsan

kembali saking laparnya.

Diam-diam dia menghembuskan nafas panjang. Dia berusaha untuk mengalihkan

“Kalau tidak salah, di atas genting Cui Sian Lau, Ciu Cang Po terkena pukulan si

pengemis sakti Cian Cong sehingga terluka parah. Kemudian dia dibawa oleh Oey Kang…

akh, jangan-jangan tempat ini merupakan kediaman iblis itu? Mungkinkah dia telah

mencekoki semacam obat kepada Ciu Cang Po yang mana dapat membuat kesadarannya

jadi hilang?”

Pikirannya tergerak, semakin direnungkan rasanya dugaan itu semakin benar. Saat itu

juga seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan

dilakukan Oey Kang terhadapnya. Kalau caranya sama seperti Ciu Cang Po, yakni

meminumkan sejenis obat yang dapat merubahnya seperti orang-orangan yang kaku,

yang tidak mempunyai perasaan maupun pikiran sama sekali, maka seumur hidup ia akan

sama saja berada dalam alam antara manusia dan setan, selamanya tidak akan muncul

 

dari laut penderitaan…

Berpikir sampai di sini, hatinya semakin takut dan terkesiap. Saking paniknya, ingin

rasanya menegakkan badannya dan kabur dari tempat itu. Tapi keempat anggota

tubuhnya tetap tidak mau diajak bekerja sama. Tanpa sadar, lagi-lagi dia menarik nafas

panjang. Akhirnya dia memejamkan mata dan tidak mau berpikir lebih lanjut lagi.

Setelah agak tenang, pikirannya malah menjadi peka. Diam-diam dia menghapalkan

ilmu pernafasan yang terdapat dalam kitab yang diambilnya dari kuburan para ketua Ti

Ciang Pang. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba dia menggelenggelengkan

kepalanya dan menggumam seorang diri…

“Sayang sekali aku tidak pernah mempelajari ilmu Lwe Kang yang benar. Kalau tidak,

ilmu pernafasan dan cara menghimpun hawa murni tingkat tinggi yang ada dalam kitab itu

pasti bisa membantu aku menembus urat darah dan menyembuhkan…”

Belum lagi kata-katanya selesai, kembali telinganya menangkap suara langkah kaki

orang yang menuju ke arahnya. Dia mengira tentunya Ciu Cang Po yang balik kembali,

dengan kesal dia memalingkan wajahnya dan tidak mau melirik sedikitpun.

Tiba-tiba dia mendengar suara ratapan serta tangisan.

“Adik…”

Seiring angin yang berhembus, tercium bau yang harum. Sesosok tubuh perempuan

tahu-tahu telah menelungkup di atas dadanya dan menangis tersedu-sedu.

Pertama-tama Tan Ki tertegun, dia merasa heran, ketika dia melihat jelas siap

perempuan itu, rasa tertegunnya berubah menjadi terkejut. Tanpa sadar dia berseru…

“Mengapa kau juga datang ke sini?”

Begitu melihat Tan Ki, hati perempuan itu langsung diserang oleh kegembiraan yang

meluap-luap. Rasa sedih dan gundahnya selama beberapa hari, bagai terlampias keluar

dalam waktu seketika. Tentu saja dia tidak mendengar jelas ucapan Tan Ki.

Anak muda itu menarik nafas panjang-panjang. Dia memaksakan diri untuk

mengangkat sebelah lengannya dan menggenggam pergelangan tangan perempuan itu.

“Cici, jangan menangis lagi. Urusan apapun sulit dibereskan dengan deraian air mata

saja.” katanya menghibur.

Setelah menangis beberapa saat, perempuan itu mendongakkan wajahnya yang masih

basah dengan air mata.

“Apakah kau tidak membenci aku? Kau tidak kesal karena aku mengingkari janjiku

sendiri? Lagipula pada waktu itu aku tidak tahu bahwa orang itu adalah dirimu, sehingga

menggunakan cara’yang begitu rendah yakni ilmu tarian iblis dan membuat dirimu

terluka…”

 

Tan Ki tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya. Dia segera menukas.

“Urusan yang sudah lewat tidak perlu dibicarakan lagi. Apakah kau tahu tempat apa

ini?”

Rupanya, perempuan yang baru saja masuk itu tidak lain daripada Siau Yau Sian-li

Liang Fu Yong yang membuat Tan Ki hampir kehabisan akal membimbingnya ke jalan

yang benar.

Tampak Liang Fu Yong tertawa getir.

“Seluruh gedung ini merupakan villa kepunyaan Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.”

“Mengapa kau juga berada di sini?”

Pertanyaan ini membuat Liang Fu Yong tertegun. Hari itu, di bawah paksaan Oey Kang

dan demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia terpaksa ikut dengan iblis tersebut.

Siapa kira, meskipun usia orang ini sudah di atas lima puluh tahun tetapi gairahnya masih

berkobar-kobar. Yang diinginkannya, justru tubuh perempuan itu.

Di hadapan Tan Ki, mana berani dia mengucapkan kata-kata ini. Hatinya merasa hina

dan malu bukan kepalang. Meskipun tekadnya sudah bulat untuk berubah dan tidak

pernah mengabulkan permintaan iblis tersebut, tetapi dia justru menerima banyak hinaan.

Oleh karena itu, begitu bertemu dengan Tan Ki, dia langsung mencurahkan segala

keperihan hatinya dalam bentuk tangisan.

Hukum karma memang ada. Seakan semuanya merupakan takdir dari Yang Kuasa.

Kalau dulu dia sering memaksakan kehendaknya agar orang lain memberi kepuasan sesaat

kepadanya, siapa yang berani membangkang, pokoknya mati. Sekarang, dia diperlakukan

seperti itu juga…

Hal ini merupakan hukum karma yang akibatnya terasa langsung.

Tan Ki melihat dia termenung-menung tanpa memberikan jawaban untuk sekian lama,

dia segera menduga bahwa perempuan itu mempunyai kesulitan yang tidak dapat

diutarakan. Oleh karena itu Tan Ki segera tersenyum simpul.

“Kalau begitu kau juga diculik ke mari?”

Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya sambil tertawa getir.

“Mengapa tidak berusaha untuk melarikan diri? Berdiam di sini sama saja menunggu

kematian di sarang harimau.” kata Tan Ki kembali.

Tampak Liang Fu Yong tertawa sumbang.

“Urusan ini kalau dibicarakan memang mudah. Karena ada sesuatu yang diinginkan Oey

Kang dari diriku, maka aku diberi kebebasan. Tidak terkekang sedikitpun. Tetapi begitu

melangkah keluar dari beberapa bangunan ini, setiap saat dan setiap waktu alat rahasia

yang dipasang akan bergerak atau kita akan terperangkap dalam barisannya yang aneh.

Lagipula, ketiga puluh enam jen-deral langit yang merupakan bawahan Oey Kang, setiap

orangnya mempunyai kepandaian masing-masing yang istimewa…” tiba-tiba Liang Fu

 

Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan, tetap saja ia tidak bisa merubah

keadaannya, oleh karena itu dia segera mengubah bahan pembicaraan sambil tersenyum

“Tadi mulutmu seperti sedang mengha-palkan pelajaran, apakah kau sedang

memikirkan dirimu yang belum pernah mempelajari Lwe Kang sehingga merasa putus

asa?”

“Betul…”

Liang Fu Yong tertawa lebar.

“Bagus sekali. Ilmu Lwe Kang maupun pernafasan, Cici pernah belajar sedikit. Di mana

letak kesulitannya, sekarang boleh kau utarakan. Coba lihat apakah aku dapat

mencernakan artinya.”

Tampang Tan Ki menjadi penuh semangat. Hampir saja dia melonjak bangun. Urusan

ini sudah lama menggelayuti hatinya dan tidak berhasil mendapat pemecahannya. Tetapi

karena dirinya telah dikenal sebagai Cian bin mo-ong yang telah menggemparkan dunia

persilatan, dia tidak berani meminta petunjuk dari golongan lurus. Oleh karena itu, selama

ini dia hanya menghapal mati ilmu tersebut dan tidak tahu cara penggunaannya.

Tan Ki menundukkan kepalanya dan berpikir sejenak.

“Apa yang disebut dengan Su-siang (Empat Persamaan)?”

Hati Liang Fu Yong menjadi terkejut mendengar pertanyaannya.

“Masa pelajaran serendah ini kau juga tidak paham?”

Wajah Tan Ki yang tampan jadi merah padam. Dia menyahut dengan tersipu-sipu.

“Ilmu silatku keseluruhannya merupakan hasil dari belajar sendiri. Tidak ada guru yang

mewariskan. Tentu saja aku jadi tidak mengerti.”

Liang Fu Yong tersenyum.

“Tidak heran kau tidak bisa menolak daya tarik dari ilmu tarian iblisku.” dia merandek

sejenak. Tiba-tiba ia teringat kejadian tempo hari. Tanpa dapat ditahan lagi wajahnya jadi

merah padam. Rasa malunya semakin bertambah. Setelah terdiam agak lama, perlahanlahan

dia menggigit bibirnya sendiri dan melanjutkan kembali. “Renungan terpusat, cinta

kasih diabaikan, tubuh kosong hawa murni terhimpun, hati mati jiwa hidup, Yang bangkit

Im tenggelam. Itu yang disebut sebagai ‘Empat Persamaan’.

Hal ini berarti ketika kau duduk bersila dan bersemedi, tubuh harus dilemaskan agar

hawa murni berjalan dengan lancar. Pikiran tidak boleh melayang-layang, jiwa tidak boleh

terbawa emosi.”

Pada dasarnya Tan Ki adalah seorang pemuda yang mempunyai bakat tinggi.

Kecerdasannya melebihi orang lain. Kalau tidak, dengan menyembunyikan diri selama

sepuluh tahun, mana mungkin dia bisa mempelajari sendiri keenam puluh empat kitab

yang ditemukannya bahkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk menghadapi musuh.

 

Mendengar penjelasan dari Liang Fu Yong, dia langsung hapal di luar kepala. Menanti

sampai keterangannya usai, dia langsung bertanya lagi…

“Cici, apa artinya menyembunyikan di dalam perahu?”

“Badan perahu mempunyai bobot yang berat. Kalau berada di atas air, gerakannya jadi

lancar, tetapi mudah terbakar api. Hal ini berarti gerakan harus lancar bagai perahu dalam

air tetapi hati tidak boleh mudah terbakar. Dalam keadaan yang tenang, latihan baru bisa

berhasil dan ibarat kata tubuh kita mempunyai bobot yang berat ibarat perahu itu sendiri.”

Sembari mendengar keterangan Liang Fu Yong, bibir Tan Ki terus mengembangkan

senyuman dengan kepala terangguk-angguk. Perasaan hatinya demikian terharu sehingga

tangannya yang mencekal pergelangan tangan Liang Fu Yong pun terus bergetar. Dia

sendiri sadar bahwa ilmu yang dipelajarinya ibarat masakan kekurangan bumbu. Dia tidak

bisa mengimbangi tenaga dalamnya dengan baik. Hal ini karena dia belum pernah

mendapat bimbingan seorang ahli. Dia juga tidak paham cara menggunakan daya im

untuk menambal tenaga yang-nya yang mana merupakan pelajaran tingkat tertinggi

dalam ilmu silat. Meskipun dia sudah hapal luar kepala kitab yang ditemukannya, tapi

tanpa adanya pengarahan dari seorang guru, dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk

Saat ini, lewat penjelasan Liang Fu Yong, kesadarannya menjadi terbangun. Tanpa

dapat ditahan lagi, bibirnya terus tersenyum. Otaknya bagai disengat aliran listrik, banyak

bagian yang tadinya kurang paham menjadi terang seketika. Begitu terharunya Tan Ki

sampai air matanya menetes dengan deras.

Liang Fu Yong mengeluarkan sapu tangan dari saku pakaiannya. Dengan penuh

perhatian, dia mengusap air mata yang membasahi pipi pemuda tersebut.

“Tidak ada hujan tidak ada angin malah menangis, memangnya tidak takut menjadi

bahan tertawaan kalau sampai ada yang melihatnya.”

Dengan rasa haru Tan Ki menyahut…

“Cici, kunci pelajaran Lwe Kang dan pernafasan ini mempunyai kaitan yang erat dengan

diriku. Aku ingin menggunakannya untuk membalaskan dendam ayahku. Aku… aku…

terlalu bahagia.”

Jari jemari Liang Fu Yong yang lentik segera menutup mulutnya dengan lembut Dia

mencegah Tan Ki berkata lebih lanjut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang

“Aku tahu kau pasti ingin mengungkit segala budi, kasih, membuat orang yang

mendengarnya menjadi salah tingkah. Lebih baik kau hemat saja tenagamu itu.” berkata

sampai di sini, dia langsung teringat keadaannya sendiri yang terkenal jalang dan rendah.

Bahkan keadaan yang memalukan inilah yang membuat dirinya menjadi terkenal. Mana

berani dia mengharap cinta kasih dari adiknya, Tan Ki?

Berpikir sampai di sini, segulungan perasaan yang pedih segera menyelimuti hatinya.

Tanpa dapat ditahan lagi, air mata kepiluan mengalir dengan deras. Dengan tersendatsendat

dia melanjutkan kata-katanya…

 

“Cici juga tidak mengharapkan balasan darimu. Asal di sanubarimu masih terselip

bayangan Cici, hati ini sudah puas sekali…”

Melihat Liang Fu Yong tiba-tiba menangis dengan terisak-isak dan sebelumnya tertawa

senang, dia malah menjadi kalang kabut. Dengan termangu-mangu Tan Ki

memandangnya lekat-lekat. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apapun.

Setelah puas menangis, kesedihan hati Liang Fu Yong bagai sudah terlampias semua.

Dia mengusap sisa air matanya sambil tersenyum.

“Adik, kalau kau masih mempunyai kesulitan lain yang belum kau mengerti, cepat

katakan. Jangan sampai…”

Belum lagi perkataannya selesai, tiba-tiba telinga mereka menangkap suara tertawa

yang panjang. Keduanya jadi terkejut setengah mati. Mereka segera memalingkan

wajahnya. Entah sejak kapan, di depan pintu sudah berdiri Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.

Ilmu orang ini sudah mencapai taraf tertinggi. Gerakan tubuhnya bagai hembusan

angin. Kedatangannya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Meskipun ilmu Tan Ki sendiri

sudah termasuk lumayan dan indera pendengarannya sangat tajam, dia juga tidak tahu

kapan orang ini muncul di kamar tersebut.

Terdengar Oey Kang tertawa terbahakbahak. Dia melangkahkan kakinya masuk ke

“Rupanya kalian sudah saling mengenal. Hal ini malah kebetulan, aku tidak

mengakukan lidahku ini untuk memperkenalkan kalian.” katanya sambil cengar-cengir.

Pertama kali dia melihat Tan Ki, yakni ketika dia membawa pergi Liang Fu Yong. Namun

saat itu Tan Ki merias dirinya menjadi laki-laki setengah baya. Sekarang Tan Ki sudah

kembali pada wajah aslinya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui bahwa kedua orang

yang pernah ditemuinya itu merupakan orang yang sama.

Tan Ki tertawa dingin. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia melihat

tubuh Liang Fu Yong bergetaran, mimik wajahnya menyiratkan perasaan takut yang

dalam. Kepalanya tertunduk, tangannya terkulai. Bahkan bernafaspun tidak berani kuatkuat.

Tampaknya dia takut sekali melihat orang ini. Hati Tan Ki merasa heran bukan

kepalang, kata-kata yang tadinya sudah siap dilontarkan jadi tertelan kembali. Dengan

wajah datar dia melihat perkembangan yang akan dihadapi.

Begitu matanya beralih, tiba-tiba wajah Oey Kang berubah garang. Suaranya pun

dingin sekali.

“Untuk apa kau berdiri di situ? Barusan aku membawa seseorang, sekarang ada di

ruangan sebelah. Cepat ke sana dan layani dia!” bentaknya dengan suara keras.

Mendengar ucapannya, wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Hawa amarahnya hampir

meledak, tetapi dia seperti teringat akan sesuatu hal, sehingga hatinya menjadi bimbang.

Kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan melirik ke arah Tan Ki. Dengan

perasaan berat dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.

 

Lirikan mata menjelang kepergiannya seakan mewakili ribuan kata-kata yang ingin

diucapkan. Juga tersirat cinta kasihnya yang dalam. Semuanya tertera jelas dalam sinar

matanya. Tan Ki sendiri seakan menemukan sesuatu rahasia dengan tidak diduga-duga.

Hatinya bergetar, nyeri dan ngilu. Tanpa sadar, dia memperhatikan bayangan punggung

Liang Fu Yong dengan termangu-mangu. Rasanya dia ingin mengucapkan beberapa patah

kata untuk menghibur hati perempuan itu, tetapi kata-kata yang sudah sampai di ujung

lidah, akhirnya ditariknya kembali.

Bayangan tubuh berkelebat, sesosok bayangan yang mengenaskan menghilang di balik

pintu. Oey Kang menunggu sampai Liang Fu Yong pergi jauh, lalu bibirnya pun

mengembangkan seulas senyuman yang licik.

“Bagaimana? Apakah kau sudah merubah keputusanmu?”

Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.

“Kalau kau mengharapkan aku menuruti kemauanmu, maka kau sedang bermimpi.”

sahutnya dengan nada penuh kebencian.

Oey Kang tertawa dingin.

“Sungguh kata-kata yang congkak. Kau sudah menelan pil pembuyar hawa murni

milikku, seluruh tenaga dalammu lenyap. Kalau suatu hari kau tidak meminum obat

penawarnya, berarti satu hari kau kehilangan kebebasanmu. Biarpun dua tokoh sakti di

dunia ini bergabung, mereka juga belum tentu dapat menyembuhkan dirimu. Kecuali kalau

kau membuka mulut memohon kepadaku. Tetapi kalau ditilik dari adatmu, mungkin kau

lebih suka menerima penderitaan ini. Tiga atau lima hari kemudian, aku akan

menjengukmu kembali. Pertimbangkanlah baik-baik.” selesai berkata, dia mendongakkan

wajahnya dan tertawa terbahak-bahak. Tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia

langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar tersebut. Saking jengkelnya,

sepasang mata Tan Ki sampai mendelik lebar-lebar kemudian membuka mulut mencaci

Hari lambat laun mulai menggelap. Ruangan itu tidak mempunyai penerangan

setitikpun. Sekitar sunyi senyap, tidak tampak bayangan seorangpun. Tanpa sadar Tan Ki

menarik nafas panjang. Berulang kali dia menyalahkan nasib yang seakan

Di benaknya terlintas sebuah ingatan. Tiba-tiba penjelasan Liang Fu Yong tentang kunci

ilmu pernafasan dan Lwe Kang terngiang kembali di telinga. Timbul secercah harapan

dalam hatinya.

“Penjelasan ini berisi ilmu tingkat tinggi dari kitab yang kutemukan. Mengapa aku tidak

mencobanya? Siapa tahu di dalam kesalahan malah terselip kebenaran yang mana dapat

menyembuhkan penyakit aneh yang reaksinya lambat ini?” katanya kepada diri sendiri.

Dengan membawa pikiran demikian, cepat-cepat dikosongkannya pikiran dan ia memejamkan

mata untuk berlatih. Begitu perasaannya tenang, indera mata maupun

pendengarannya menjadi tajam. Entah kapan, tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa

cekikikan yang terpancar sayup-sayup dari ruangan sebelah.

 

Setelah didengarkan dengan seksama, Tan Ki segera tahu bahwa suara tawa tadi

berasal dari ruangan sebelah kiri. Jumlahnya tidak lebih dari dua orang. Untuk sesaat dia

jadi tertegun. Dia merasa suara itu tidak asing dalam pendengarannya, tetapi dalam

keadaan panik, dia malah tidak dapat mengingatnya kembali.

Sementara hatinya masih terkejut dan terpana, tiba-tiba dia mendengar Liang Fu Yong

menarik nafas panjang.

“Moay Moay, setelah sampai di tempat seperti ini, kau masih mempunyai

kegembiraan?”

Dari ruangan sebelah kiri sayup-sayup terdengar suara tawa yang merdu, disusul

dengan suara sahutan seorang gadis.

“Ketika paman berpakaian hijau itu membawa aku ke mari, memang aku merasa agak

takut. Kemudian dia mengatakan bahwa tempat ini bagai istana, di dalamnya banyak

permata serta taman yang indah-indah. Pokoknya penuh dengan pemandangan fantasi

seperti istana para dewata. Dia juga mengatakan bahwa di sini banyak permainan yang

aneh-aneh, maka aku tidak merasa takut lagi.”

“Kau percaya pada ucapannya?”

“Paman berpakaian hijau itu memperlakukan aku dengan lembut. Mengapa aku harus

tidak percaya?”

Terdengar lagi suara helaan nafas Liang Fu Yong.

“Tidak kusangka pembawaanmu demikian polos dan menawan hati.”

Mendengar sampai di sini, Tan Ki segera tahu bahwa orang yang mereka katakan

adalah Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.

Diam-diam dia berpikir…

‘Gadis ini sungguh lugu. Diri sendiri sudah terperangkap dalam sarang harimau,

ternyata masih belum sadar. Tampaknya dia masih belum tahu bahwa Oey Kang

merupakan manusia yang licik dan berhati keji’.

Nalurinya mengatakan bahwa akan terjadi bencana yang dahsyat, hal itu membuat

perasaannya jadi bergidik. Hatinya tergetar, emosinya pun terbangkit, hampir saja dia

tidak dapat mempertahankan diri. Dengan panik dia segera menghembuskan nafas

panjang dan menghimpun hawa murninya. Setelah sibuk sekian lama, akhirnya dia

berhasil menekan perasaannya yang gundah. Keadaannya menjadi normal kembali. Tetapi

tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia merasa hawa murninya kembali berjalan

dengan lancar. Segulung demi segulung mengaliri seluruh tubuhnya. Di dalam urat

darahnya seakan terdapat sebuah selang yang mengalir kian ke mari sesuka hati.

Perasaannya jadi nyaman seketika.

Entah kapan, dari ruangan sebelah kiri terdengar lagi suara si gadis…

 

“Betul. Ketika aku dibawa, aku mendengar sendiri dia mengatakan, berlatih ilmu Tou Li

Mi-hun Toa Ceng.”

“Itu dia. Tujuannya membawa kau ke mari justru karena barisan Gadis Pengait Sukma

ini. Setahu Cici, barisan ini memang kekurangan seorang anggota. Mungkin dia bermaksud

menjadikan dirimu sebagai pelengkap barisan tersebut. Siapa sangka kau malah percaya

penuh dengan segala omong kosongnya…”

Tampaknya gadis itu mulai mempercayai kata-kata Liang Fu Yong. Hatinya mulai di

serang rasa takut. Dengan nada gugup dia berkata…

“Cici, bagaimana baiknya? Ketika aku diculiknya, meskipun ada Ciong San Suang-siu

yang melihat, tetapi mereka mana tahu kalau aku terperangkap di tempat ini. Cici yang

baik, kalau kau bersedia membantu, tunjukkanlah sebuah jalan keluar yang baik agar aku

dapat melarikan diri dari tempat ini. Dengan demikian kau sudah berbuat kebaikan.”

Berkata sampai di sini, ruangan sebelah menjadi hening kembali. Mungkin Liang Fu

Yong sedang mengasah otaknya. Lama sekali dia tidak berkata apa-apa. Keheningan yang

berlangsung lama ini membuat perasaan orang menjadi tertekan.

Pada saat itu, Tan Ki yang berbaring di atas tempat tidur terkejut setengah mati.

Wajahnya berubah hebat. Dia sudah mengenali suara tadi sebagai suara gadis pujaan

hatinya, Liu Mei Ling.

Hatinya menjadi panik, hampir saja dia membuka suara berteriak agar mendapat

perhatian dari kedua orang yang ada di ruangan sebelah. Namun karena saat itu,

latihannya sedang sampai pada masa kritis, biarpun ingin berteriak, tetap saja tidak ada

suara yang keluar. Saking gelisahnya, mata Tan Ki yang membelalak terasa berkunangkunang

dan tubuhnya basah oleh keringat.

Tepat pada saat itu, telinganya menangkap lagi suara Liang Fu Yong yang bertanya

dengan lirih…

“Moay Moay, apakah kau masih seorang gadis yang suci?”

Pertanyaan ini diajukan, ruangan sebelahpun menjadi hening kembali. Di depan mata

Tan Ki seperti muncul bayangan selembar wajah yang polos kekanak-kanakan dan sering

tersenyum tersipu-sipu dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Hampir saja dia tertawa

keras-keras. Pertanyaan yang diajukan Liang Fu Yong ini rasanya terlalu bodoh? Biar

bagaimanapun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, ketika otaknya masih

berputar, tiba-tiba kesadarannya tersentak. Pertanyaan Liang Fu Yong ini tidak mungkin

tanpa sebab musabab.

Mungkin kediaman Mei Ling bagi Liang Fu Yong merupakan suatu jawaban. Terdengar

dia menarik nafas panjang sekali lagi.

“Hal ini semakin mencurigakan. Barisan Gadis Pengait Sukma itu justru membutuhkan

para perempuan yang sudah tidak suci lagi. Kalau kau masih perawan, kemungkinan Oey

Kang akan mengambil keuntungan lebih dahulu sebelum menggunakan engkau sebagai

pelengkap barisannya.”

 

Hati Tan Ki semakin kelam, dia semakin panik. Rasanya ia ingin dipunggungnya tibatiba

tumbuh sayap dan terbang ke samping Mei Ling agar dapat menghiburnya beberapa

patah kata.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa Mei Ling yang merdu.

“Tidak mungkin. Kalau Siau Moay memilih mati daripada menuruti kehendaknya, dia

juga tidak bisa berbuat apa-apa.”

Liang Fu Yong menghentakkan kakinya sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Aduh, orang sudah kebingungan setengah mati, kau masih tenang-tenang saja bahkan

bicara yang bukan-bukan. Kau percaya ilmu silatmu bisa menandinginya? Kau kira bisa

dengan mudah melarikan diri dari tempat ini? Orang ini tampangnya ramah hatinya licik.

Dia juga pandai menggunakan ratusan macam racun. Dapat membuat orang tertipu dalam

situasi apapun. Sejenis obat yang tampaknya biasa-biasa saja sudah dapat membuat

pikiranmu menjadi kehilangan akal sehat dan menuruti apa saja yang dikatakan olehnya.

Atau pikiran tetap sadar namun seluruh anggota tubuh tidak mempunyai tenaga sama

sekali sehingga tidak dapat bergerak serta lemas…”

Baru Liang Fu Yong berkata sampai di sini, Mei Ling sudah membuka mulut dan

menangis tersedu-sedu. Dia adalah seorang gadis yang lincah dan polos. Walaupun

pernah mempelajari ilmu silat yang lumayan tingginya, tapi bagaimanapun dia belum

melihat dunia yang luas. Nyalinya kecil, baru mendengar Liang Fu Yong mengucapkan

beberapa patah kata, dia sudah begitu terkejut sehingga ketakutan setengah mati. Apalagi

berpikir tentang urusan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan, apabila dia benarbenar

diperkosa, bagaimana dia harus menghabiskan sisa hidupnya di kemudian hari?

Semakin dibayangkan hatinya semakin takut, suara tangisnya pun semakin keras dan air

matanya tercurah bagai hujan.

Tan Ki juga panik sekali sampai kening serta dahinya basah oleh keringat. Tubuhnya

terbaring di atas tempat tidur, matanya mendelik menatap langit-langit kamar. Hatinya

gelisah dan perih. Di benaknya seperti muncul bayangan-bayangan. Dia mulai

membayangkan yang bukan-bukan. Dia seperti melihat tubuh Mei Ling yang telanjang

bulat berdiri di hadapannya. Sesosok bayangan manusia berwarna hitam sedang

memaksakan kehendak setan di bathinnya…

Tanpa dapat ditahan lagi, Tan Ki menguraikan air mata. Dia seperti melihat orang itu

sedang memperkosa Mei Ling. Tiba-tiba dia merasa aliran darahnya seperti bergejolak dan

hampir saja termuntah dari mulutnya.

Untuk sesaat tenggorokannya menjadi dingin dan matanya gelap. Nyaris dia jatuh tidak

sadarkan diri. Sayup-sayup dia seakan mendengar suara ratapan Mei Ling yang menusuk

hatinya dalam-dalam.

Justru ketika perasaannya gundah dan hatinya gelisah, telinganya menangkap suara

langkah kaki seseorang yang menuju ke ruangan sebelah. Kemudian terdengar pula suara

tawa Oey Kang yang seperti orang gila.

“Fu Yong, apakah kau sudah menasehati-nya?”

 

“Aih, Locianpwe sebagai seorang angkatan tua di dunia Bulim, untuk apa memaksa

seorang gadis yang masih suci bersih?”

Oey Kang tertawa seram.

“Kau berani mengajari aku?”

“Tidak, tidak berani…”

Tan Ki mendengar suara sahutannya setiap kali selalu agak gemetar. Hal ini benarbenar

di luar dugaannya.

‘Kalau berani membantah perbuatannya, serta bermaksud menolong Mei Ling, mengapa

setelah bertemu dengan iblis ini, dia begitu ketakutan?’ pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang merdu…

“Biar matipun, Kouwnio tidak akan menuruti kata-katamu!”

“Moay Moay jangan menimbulkan masalah.” kata Liang Fu Yong gugup.

Suara bentakan dan gerakan kedua orang itu terdengar hampir dalam waktu yang

bersamaan. Mungkin dalam hati Mei Ling timbul rasa benci sehingga dia nekat menerjang

akhirnya malah ditotok oleh Oey Kang.

Justru karena hal ini pula, kemarahan dalam dada Oey Kang jadi terbangkit.

“Fu Yong, ikat dia!” teriaknya.

Liang Fu Yong panik sekali.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Oey Kang tersenyum simpul. Senyumnya tersirat keinginan hatinya yang menakutkan.

“Malam ini rembulan bersinar indah. Kau keluarlah, aku tidak memerlukan pelayananmu

lagi di sini.”

Liang Fu Yong mengalihkan pandangannya. Mei Ling terkulai di atas tanah dalam

keadaan tertotok, dia tidak bergerak sama sekali. Namun orangnya masih sadar.

Wajahnya yang cantik tampak murung, dua bulir air mata membasahi pipinya.

Kecantikannya semakin mempesona, bak bunga-bunga yang mekar di pagi hari. Tanpa

dapat ditahan lagi, Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Usia Locianpwe sudah cukup tua, ternyata masih tidak tahu malu bisa menyimpan

keinginan untuk merusak sekuntum bunga yang baru mekar…”

Liang Fu Yong sudah mendapat nasehat dari Tan Ki. Walaupun hanya beberapa hari,

tetapi sudah mampu membedakan antara kebaikan dengan kejahatan. Hatinya menjadi

sadar. Maka ketika mengucapkan kata-kata tadi. Suaranya terdengar tegas dan

mengandung kemuliaan hatinya.

 

Tampaknya Oey Kang merasa sindiran Liang Fu Yong barusan benar-benar di luar

dugaan. Dia jadi tertegun sekian lama kemudian membentak dengan nada marah. “Tutup

mulutmu!”

Lengan kirinya terangkat, dengan gerakan secepat kilat, dia menggerakkan tangannya

menggampar. Kaki Liang Fu Yong sampai goyah terkena pukulannya, dia tergetar mundur

dua langkah. Pipi sebelah kirinya langsung merah membengkak dan terlihat bekas guratan

telapak tangan.

Sejak dilahirkan oleh ibunya, Liang Fu Yong mana pernah ditampar orang. Kali ini

mendapat pukulan Oey Kang, dia jadi tertegun beberapa saat. Hatinya terasa perih dan

tanpa ditahan lagi, air matanya mengalir turun dengan deras membasahi pipinya.

Tetapi dengan keras hati dia menggertakkan giginya, dia berusaha untuk tidak

mengeluarkan suara ratapan atau isak tangis sedikit juga. Malah dia memberanikan dirinya

“Adik ini masih muda. Hatinya polos dan lugu. Jiwanya masih belum mengerti

kekotoran manusia yang licik seperti dirimu. Kalau kau sampai mencemarkan kesucian

dirinya, bukankah berarti kau menghancurkan kebahagiaannya seumur hidup? Kalau kau

memang menginginkannya, mengapa tidak mengincar diriku saja?”

“Kau kira aku tidak berani!” bentak Oey Kang. Tubuhnya berkelebat, sembari

melangkahkan kaki, lengannya terulur. Sekali loncat dia langsung memeluk pinggang Liang

Fu Yong yang ramping dan menatapnya lekat-lekat.

Dari sinar matanya terpancar kebuasan serta kekalapan seekor binatang yang

kelaparan. Sinar itu demikian menakutkan…

Liang Fu Yong merasa hatinya tercekat, kaki tangannya menjadi dingin seketika.

Hatinya sadar bahwa segelombang badai topan akan melanda dirinya. Tidak mungkin

baginya untuk menghindarkan diri. Dengan panik dia memejamkan matanya erat-erat.

Dua butir air mata bak mutiara justru berderai lagi pada saat seperti ini.

Mei Ling dalam keadaan tertotok, tubuhnya terasa lemas dan ngilu. Dia tidak dapat

bergerak sama sekali. Matanya melibat Oey Kang memeluk Cici yang dia tidak tahu siapa

namanya itu. Baru saja dia membuka mulut dengan maksud ingin mencaci maki, tiba-tiba

dia melihat Oey Kang menundukkan wajahnya dan mencium Cici tersebut dengan buas.

Hatinya terperanjat sekali, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke tempat lain.

Wajahnya mendadak menjadi panas. Dia merasa jengah sekaligus benci.

Begitu dia memalingkan wajahnya, tiba-tiba terasa serangkum angin yang kuat

menerjang ke arahnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah ditendang oleh Oey Kang sehingga

menggelinding keluar dari kamar. Terdengar suara alat rahasia menimbulkan bunyi yang

berderak-derak. Dua bilah pintu rahasia yang terbuat dari besi merapat perlahan-lahan.

Mei Ling jadi tergetar oleh perubahan yang mendadak ini. Untuk sesaat dia menjadi

bingung tidak karuan. Ketika lambat laun dia mengerti maksud serta keinginan Oey Kang,

bayangan Liang Fu Yong sudah lenyap di balik pintu besi tersebut. Tanpa dapat ditahan

lagi, dia segera menangis meraung-raung.

 

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat, Tan Ki sudah menerjang ke tempat itu. Tampak

mimik wajahnya menyiratkan penderitaan yang luar biasa. Dia sama sekali tidak

memperdulikan Mei Ling. Menghambur sampai di depan pintu, dia langsung mengulurkan

tangannya mendorong. Jangan kata terbuka, bergeming saja tidak. Pada saat itu dia baru

merasa tangannya terasa dingin. Tentu saja dia terkejut setengah mati. Sekarang dia baru

melihat kalau pintu itu terbuat dari besi yang kokoh dan tebal.

Dalam waktu yang bersamaan, harapannya yang menggebu-gebu untuk menolong

Liang Fu Yong hampir surut secara keseluruhan. Hidungnya terasa perih, air matanya pun

berderai…

Rupanya Tan Ki berhasil menghilangkan pengaruh obat yang diberikan Oey Kang

dengan ilmu pernafasan yang kuncinya diberitahukan oleh Liang Fu Yong. Mula-mula dia

mengalami kesulitan. Beberapa kali dia mencoba namun tidak terlihat hasilnya. Justru

pada saat itulah dia mendengar jeritan Liang

Fu Yong. Dia segera tahu sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung, juga tidak

tahu dari mana datangnya kekuatan, dia memberontak sekuatnya dan langsung

menerjang keluar. Sayangnya pengaruh obat yang diberikan Oey Kang tidak hilang secara

tuntas. Tenaganya hanya cukup kuat untuk berlari.

Dia tahu apa yang dilakukan oleh Liang Fu Yong adalah pengorbanan dirinya untuk

menolong Mei Ling dari aib. Perbuatannya ini membuat orang menaruh hormat padanya.

Tetapi memikirkan perempuan itu yang masih terkurung di dalam kamar dan apa yang

akan dilakukan Oey Kang kepadanya, darah dalam tubuh Tan Ki seakan bergejolak.

Hatinya terasa sedih dan sakit. Dia juga merasa kebencian memenuhi kalbunya. Meskipun

Mei Ling adalah gadis pujaannya, tetapi pada saat ini dia tidak memperdu-likannya lagi.

Setelah mengetahui bahwa kedua belah pintu tersebut terbuat dari bahan besi, dia

tertegun sejenak, tiba-tiba dia membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya.”

“Cici, cici, apakah kau mendengar perka-taannku?”

Dalam keadaan panik serta sakit hati, suara teriakannya menjadi semakin keras dan

nyaring, memecahkan keheningan seluruh ruangan dan bahkan bergema ke mana-mana.

Setelah berteriak satu kali, suasana di dalam kamar itu tetap sunyi senyap. Tidak

terdengar sahutan dari Liang Fu Yong.

Semacam firasat buruk melintas di hati kecil Tan Ki. Tanpa terasa tubuhnya jadi

menggigil. Dia berteriak sekali lagi:

“Cici, jawablah… aku Tan Ki…!”

Tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar. Tiba-tiba Mei Ling juga merasa telah terjadi

sesuatu yang tidak beres, air matanya tidak tertahankan lagi. Dia menangis tersedu-sedu.

Ratapan isak tangis menambah kepedihan suasana di luar kamar. Hati Tan Ki semakin

panik. Dengan kalap dia terus berteriak:

“Cici, Cici, dengarlah ucapanku! Jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…!”

nafasnya mulai tersengal-sengal. Namun dia tidak berhenti. Dia seakan takut Liang Fu

 

Yong tidak mendengarkan kata-katanya. “Cici, apakah kau mendengarkan kata-kataku?

Cici, apakah kau dengar?”

Air mata mengiringi suara teriakannya. Dia menggerakkan sepasang kepalan tangannya

dan memukuli pintu besi tersebut.

Blamm! Blamm! Blammm!

Suara gedoran itu bagai irama kepedihan yang menyayat hati Mei Ling. Pintu besi itu

juga menjadi batas antara dua alam. Tan Ki menjadi kalap. Tingkah lakunya seperti orang

yang tidak waras lagi. Dia terus berteriak, menggedor, meraung-raung…

“Cici, jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…! Cici, jangan biarkan tua bangka itu

melakukan hal yang tidak senonoh kepadamu…!”

Dalam keadan yang kacau dan bising itu, sayup-sayup terdengar isak tangis

berkumandang dari dalam kamar. Tan Ki merasa hatinya pedih tidak terkira. Keringat dan

air mata membaur menjadi satu membasahi pipinya. Suaranya semakin lama semakin

parau, tetapi dia terus meneriakkan kata-kata yang sama.

“Jangan biarkan dia menghinamu…! Jangan biarkan dia menghinamu…!”

Dia sudah kehilangan ilmu silatnya. Tenaga dalamnya hampir lenyap. Sepasang kepalan

tangannya yang terus menggedor pintu besi tersebut hanya timbul dari emosinya yang

meluap-luap. Sampai saat itu, sepasang kepalan tangannya sudah merah membengkak,

tetapi perasaan Tan Ki seakan menjadi kebal. Dia tidak merasa sakit sedikitpun.

Hatinyalah yang sakit. Akhirnya dia terkulai dan duduk di atas tanah. Tampangnya

kusut. Penderitaannya tersirat jelas di wajah. Dia juga tampak lelah sekali, perlahan-lahan

dia menyandar pada pintu besi dan mengalirkan air mata kepedihan.

Tiba-tiba… serangkum suara tawa yang keras dan panjang berkumandang dari dalam

kamar. Kemudian disusul dengan jeritan histeris Liang Fu Yong. Setelah itu hening

kembali. Setelah mendengar suara jeritan Liang Fu Yong barusan, benak Tan Ki bagai

disengat aliran listrik. Otaknya seperti pecah berhamburan seiring dengan suara tersebut.

Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu, habislah sudah.

BAGIAN XIII

Tan Ki tahu kali ini semuanya sudah selesai. Segulung api kemarahan seakan berkobarkobar

dalam hatinya!

Tampangnya yang terlongong-longong berbaur dengan kepedihan hatinya. Penasaran,

kecewa semuanya campur aduk menjadi satu. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya

berdiam diri sambil menguraikan air mata. Sampai saat ini, apalagi yang dapat

dikatakannya?

Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna, tidak mempunyai kesanggupan

untuk menolong Cicinya. Telinganya menangkap suara ratapan dan isak tangis yang

terputus-putus terpancar dari dalam kamar. Suara itu bagai sebilah golok, sebatang

 

pedang yang tajam menusuk dan menyayat kalbunya. Yang mana membuat air matanya

mengalir tambah deras.

Sekitar ruangan tersebut masih sunyi senyap seperti sebelumnya. Gedung ini sangat

besar tetapi seakan tidak ada penghuni lainnya. Tidak ada seorang pun yang menyusul ke

tempat tersebut untuk melihat apa yang telah terjadi. Atau… mereka sudah terbiasa

dengan situasi seperti ini. Juga tidak terdengar suara seorangpun… hanya ratap tangis dari

bibir Mei Ling.

Kurang lebih satu kentungan telah berlalu. Hati Tan Ki masih dilanda kesedihan. Tibatiba

dia mendengar suara alat rahasia yang berderak-derak. Setelah berbunyi sesaat, baru

pikiran Tan Ki tergugah, tahu-tahu kedua belah pintu besi telah bergerak dan menyusut ke

dalam dinding.

Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong duduk di ujung tempat tidur

tanpa bergerak sedikitpun. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.

Rambutnya acak-acakkan, pakaiannya tidak karuan. Tampangnya kusut serta terlihat letih.

Seakan badai topan yang baru melanda dirinya telah menguras habis tenaganya.

Wajahnya juga pucat pasi, dia telah kehilangan kecemerlangan yang terpancar dari kedua

pipinya tadi. Oey Kang sendiri entah kabur ke mana. Dia tidak berada di dalam kamar.

Setelah menatap sejenak, perasaan Tan Ki menjadi sedih dan iba. Dia memanggil

dengan suara sekeras-kerasnya.

“Cici…!”

Sambil merangkak dan menggelinding, dia menerjang ke dalam kamar. Liang Fu Yong

yang melihat Tan Ki seperti orang kalap menghambur ke dalam kamar hanya

menganggukkan kepalanya sedikit. Bibirnya mengembangkan senyuman yang pilu.

Belum lagi dia sempat mengucapkan sepatah katapun, air matanya sudah berderai

dengan keras.

Di bagian sebelumnya telah diceritakan tentang pengorbanan Liang Fu Yong demi aib

yang akan dialami oleh Mei Ling. Begitu melihat perempuan itu, Tan Ki segera menerjang

ke dalam kamar.

Liang Fu Yong yang melihat Tan Ki menerjang bagai orang kalap, tidak bergerak sama

sekali. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa sumbang. Badai topan yang

melandanya kali ini seperti membuat dirinya menjadi tua beberapa tahun dalam waktu

yang sekejap. Butiran air matapun tidak sekilau kemarin-kemarinnya.

Tan Ki menghambur ke dalam kamar. Dia tidak memperdulikan lagi batas antara lakilaki

dan perempuan, sekali loncat dia langsung menyusup ke dalam pelukan Liang Fu Yong

dan menangis dengan sedih.

“Cici, mengapa kau begitu ceroboh, mengapa bersedia mengorbankan diri sendiri

sehingga menyerahkan tubuhmu…?” kata-katanya belum selesai, tenggorokannya seperti

tercekat, dia tidak sanggup melanjutkan kembali. Air matanya mengalir semakin deras.

Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa sumbang.

 

“Laki-laki di kolong langit ini, entah sudah berapa banyak yang pernah berhubungan

badan denganku. Ditambah satu lagi tidak ada artinya. Buat apa kau menangis meraungraung

seperti anak kecil?” sahutnya dengan mengeraskan hati.

Tampaknya kata-kata Liang Fu Yong benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Dia menjadi

termangu-mangu untuk beberapa saat.

“Apakah penghinaan semacam ini tidak membuat hatimu menjadi pedih?” tanyanya

Wajah Liang Fu Yong agak berubah. Tangan yang tadinya hampir terulur untuk

membelai kepala Tan Ki ditariknya kembali. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya

dan berdiam diri.

Penerangan di dalam kamar bagai dihimpit oleh kegelapan malam. Cahaya semakin

mere-mang. Tapi Tan Ki dapat melihat jelas sepasang alis Liang Fu Yong yang terus

mengerut. Isak tangis yang lirih menyusupi indera pendengarannya. Untuk sesaat dia

menjadi maklum akan isi hati perempuan itu. Kata-kata yang diucapkannya tadi pasti

bermaksud meringankan beban hatinya. Akhirnya Tan Ki menatapnya sambil menarik

nafas panjang.

“Sebetulnya kau juga tidak dapat disalahkan. Kalau ada yang harus disalahkan, Thianlah

yang mengatur sampai semua ini terjadi. Sayangnya aku juga tidak mempunyai kebisaan

apapun, benar-benar manusia yang tidak berguna!” gerutunya kepada diri sendiri.

Liang Fu Yong tertawa getir.

“Anak bodoh, Oey Kang sudah meninggalkan tempat ini lewat jalan rahasia… buat apa

kau menyalahkan dirimu sendiri?”

“Aku benci… benci kepada diriku yang tidak bisa memberi pertolongan kepada Cici!” dengan

kalap dia meninju ujung tempat tidur sekeras-kerasnya. Sekejap saja tangannya

sudah merah membengkak.

Liang Fu Yong menangkap pergelangan tangannya dan mencegah Tan Ki meneruskan

perbuatan tolol itu.

“Meskipun telapak tanganmu sampai hancur, tidak akan ada orang yang perduli. Lagi

pula kau juga tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Tenangkanlah hatimu dan

dengarkan ucapan Cici ini.”

Tangannya terulur dan diangkatnya bantal bersulam di sisinya. Di bawah bantal

tersebut terdapat sebuah bungkusan kertas. Kelihatannya biasa-biasa saja. Tidak ada

keistimewaannya sama sekali. Tetapi Liang Fu Yong malah memandangnya seperti barang

pusaka, dia mengambilnya dengan hati-hati.

“Pertemuan beberapa hari, meskipun belum membuat aku mendapatkan apa-apa,

tetapi kesungguhan hatimu yang ingin mengubah aku menjadi orang baik-baik serta

kembali ke jalan yang lurus, aku menyadari sekali. Bahkan kau tidak menganggap aku

hina serta bersedia memanggil Cici kepadaku. Di antara laki-laki yang pernah kukenal, aku

tidak pernah bertemu dengan seorangpun yang hatinya lebih mulia dari padamu…!” tibatiba

Liang Fu Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan hanya menambah kepedihan

 

hatinya saja. Dan apa yang diharapkannya, mungkin akan diketahui oleh Tan Ki. Oleh

karena itu dia menarik nafas panjang dan memadamkan kobaran api dalam hatinya.

“Sekali bertemu, kita terhitung memiliki jodoh. Obat penawar ini anggaplah sebagai hadiah

perpisahan. Semoga kelak namamu akan menjulang tinggi di dunia Kangouw dan

mempunyai masa depan yang cerah.”

Hati Tan Ki terkesiap. “Apa, hadiah perpisahan?”

“Tidak salah. Aku sudah mengambil keputusan untuk tetap menetap di sini. Mungkin

sepanjang hidupku, aku tidak akan keluar lagi ke dunia ramai. Mengingat persaudaran kita

yang meskipun baru terjalin dalam beberapa hari, tunggulah sejenak, nanti ada orang

yang mengantarmu keluar dari perkampungan ini. Pergilah ke depan sana.”

Kata-katanya yang terakhir, walaupun diucapkan dengan nada yang kaku serta tegas,

namun dia juga tidak sanggup menutupi kepiluan hatinya menjelang perpisahan ini.

Perasaannya semakin tertekan. Di kelopak matanya kembali menggenang air mata yang

siap berderai setiap waktu.

Tanpa disangka-sangka, Tan Ki mengibaskan tangannya dan melempar bungkusan obat

itu ke atas tanah. Dia tertawa sumbang dua kali. Saking kesalnya, air matanya ikut

mengalir turun.

“Rupanya kau mengorbankan diri, hanya…

untuk menolong aku. Kata-kata apa yang kau ucapkan barusan? Meskipun obat ini

dapat merubah aku menjadi dewa, aku juga tidak mau meminumnya!”

Mendengar perkataannya yang tulus dan air matanya yang berderai deras, tanpa dapat

ditahan lagi, serangkum rasa pedih menyusup dalam sanubarinya. Tetapi dia menguatkan

hatinya agar air matanya jangan menetes. Berulang kali dia mengibaskan tangannya dan

sengaja berkata dengan suara yang dingin serta ketus.

“Pergilah, pergilah! Di sini bukan tempat yang baik untuk berdiam lama-lama!”

Tiba-tiba terlihat Tan Ki mengangkat lengan bajunya untuk mengusap air mata yang

membasahi pipinya, kemudian dia memeluk Liang Fu Yong erat-erat.

“Cici, katakanlah terus terang. Apakah kau mengorbankan diri hanya untuk memohon

obat penawar ini? Katakanlah, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri…!”

Liang Fu Yong tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut sepatah katapun. Namun

kepedihan hatinya tidak tertahankan lagi. Dua butir air mata berurai ke bawah. Tan Ki

semakin panik melihatnya. Dia mengguncang tubuh

Liang Fu Yong keras-keras… “Katakanlah!”

“Jangan memaksa aku mengatakan apa-apa! Jangan memaksa aku…!” suaranya

semakin parau dan tiba-tiba dia mengulurkan “sepasang lengannya serta memeluk Tan Ki

erat-erat. Dengan wajah bersandar pada pundaknya, dia menangis tersedu-sedu.

Air mata kepedihan terus mengalir…

 

Bukan kerena takut atau terkejut, tetapi air mata yang berderai karena curahan kasih

dalam hati. Penerangan dalam kamar semakin lama semakin suram. Suasana dingin

mencekam. Hanya terlihat sepasang pemuda-pemudi yang saling berpelukan sambil

terisak-isak… sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati.

Setelah menangis beberapa saat, perasaan Tan Ki menjadi agak tenang.

“Cici, terima kasih…” baru mengucapkan sepatah kata, hidungnya terasa pedih kembali.

Kata-kata selanjutnya tidak sanggup ia lanjutkan kembali.

Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendorong tubuhnya. Dia mengeluarkan sehelai sapu

tangan dan diusapnya bekas air mata yang membasahi pipi Tan Ki. Gerakannya sangat

lembut dan penuh perhatian. Persis seperti seorang ibu yang menghibur putranya yang

sedang bersedih hati.

“Orang sebesar ini masih menangis meraung-raung…” tiba-tiba dia teringat bahwa

dirinya sendiri juga tidak berbeda, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat kata-katanya

Tan Ki tersenyum lembut. Dia tidak langsung menyahut kata-kata perempuan itu.

Delipan mata yang memancarkan perasaan penuh kasih, dia menatap Liang Fu Yong lekatlekat.

“Cici, maukah kau menikah denganku?” tanyanya kemudian.

“Apa?”

Liang Fu Yong terkejut sekali. Sepasang matanya memandang terpana. Hampir saja dia

tidak berani mempercayai pendengarannya sendiri, padahal dia mendengarnya dengan

“Jangan sembarang mengoceh, mana boleh…”

“Ucapan yang kukatakan tadi bukan gurauan. Malah aku sudah mempertimbangkannya

matang-matang. Sekarang kita sudah mendapatkan obat penawar, ilmu silatku dapat pulih

kembali. Walaupun tidak ada yang mengantar kita keluar dari Pek Hun Geng ini, dengan

asal terjang aku yakin kita bisa menemukan jalan keluarnya. Pada waktu itu, samudera

luas dan batas langit kapan saja dapat kita datangi. Kau hanya perlu menunggu aku

membalaskan dendam ayahku, kemudian kita cari pegunungan yang sunyi dan

berpemandangan indah sebagai tempat tinggal kita di hari tua…”

“Tidak bisa…” Tan Ki tertawa lebar.

“Bukan masalah bisa atau tidak, tetapi kau bersedia atau tidak?”

“Aku adalah seorang perempuan yang penuh dosa, mana pantas aku bersanding…”

Tiba-tiba Tan Ki mengangkat tangannya dan menutup bibir perempuan itu.

“Jangan berkata apa-apa lagi. Aku tahu sebetulnya kau bersedia. Hanya perasaan

harga dirimu yang mencegah kau mengatakannya.”

 

Mendengar ucapan Tan Ki, Liang Fu Yong tahu isi hatinya telah terbongkar oleh anak

muda tersebut. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya, jari jemarinya

mempermainkan ujung pakaian. Dia tidak berani menatap sinar mata Tan Ki. Sedangkan

jantungnya berdegup semakin keras.

Ketika perasaannya masih malu dan wajahnya tersipu-sipu, dia mendengar Tan Ki melanjutkan

kata-katanya.

“Kau duduk saja di sini, tunggulah aku sebentar. Aku akan bersemedi sesaat untuk memulihkan

tenaga dalamku, setelah itu, kita bersama-sama melarikan diri dari tempat ini.”

Tan Ki langsung membalikkan tubuh dan memungut bungkusan obat yang tadi dilemparkannya

di atas tanah. Dia segera membuka bungkusan obat itu dan menelannya

sekaligus. Sejenak kemudian terasa serangkum hawa yang sejuk mengalir di dalam

tubuhnya, dia merasa nyaman sekali.

Setelah itu, Tan Ki duduk bersila di atas tanah. Dia mengembangkan seulas senyuman

lembut kepada Liang Fu Yong. Kemudian matanya dipejamkan rapat-rapat dan mulai

bersemedi. Mata Liang Fu Yong memandang wajah tampan Tan Ki lekat-lekat. Dia sendiri

tidak tahu apa yang terasa dalam hatinya. Sakitkah? Pedihkah? Terkejut? Atau gembira?

Mendengar lamaran Tan Ki yang dinyatakan secara langsung. Sejenak dia tertegun tanpa

tahu keputusan apa yang harus diambilnya.

Beberapa hari menempuh perjalanan bersama, membuat hati Liang Fu Yong jadi

memiliki semacam perasaan yang aneh terhadap pemuda di hadapannya ini. Tetapi masa

lalunya terlalu suram sehingga dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan

perasaan yang terkandung di dalam hatinya.

Apalagi setelah dia membandingkannya, ketampanan, keceriaan, kegagahan Tan Ki

membuat Liang Fu Yong merasa dirinya semakin rendah dan hina. Sedangkan pada saat

seperti ini, tiba-tiba Tan Ki melamarnya, tentu saja hati perempuan ini menjadi curiga.

Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun bergaul dengan kaum laki-laki,

Liang Fu Yong dapat melihat bahwa tindakan anak muda itu hanya lampiasan emosinya

sesaat. Dia belum mempertimbangkannya dengan matang-matang. Seandainya ada orang

yang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini dapat membawa kebahagiaan, maka di

dunia tidak ada tragedi lagi.

Meskipun demikian, bayangan Tan Ki sudah terpatri dalam hatinya. Dia tahu perasaan

ini ajaib sekali. Biar bagaimanapun sulit baginya untuk menghapuskan bayangan tersebut,

tetapi dia tidak tahu mengapa. Perasaannya saat ini seperti bercampur

aduk, asam manis, pahit, pedas, semuanya bersatu di dalam kalbu. Air matanya bagai

untaian mutiara yang jatuh berderai. Hati kecilnya ingin sekali menerima lamaran Tan Ki,

namun perasaan rendah dirinya seperti mencegah. Dia menjadi serba salah.

Burung-burung kecil yang berkeliaran di atas jendela tidak hentinya mencuit-cuit.

Suaranya terputus-putus seakan menambah di dalam kamar itu menjadi semakin

 

Entah berapa lama sudah berlalu, di atas ubun-ubun kepala Tan Ki terlihat uap putih

yang mengepul ke atas. Perlahan-lahan memenuhi ruangan. Tampaknya semedi anak

muda itu sudah hampir mencapai puncaknya dan sebentar lagi akan selesai.

Liang Fu Yong sadar bahwa sejenak lagi Tan Ki akan membuka matanya. Dia menggertakkan

giginya erat-erat dan menarik nafas panjang dengan wajah yang muram.

Dirapikannya pakaiannya yang tidak karuan. Matanya yang mengandung kasih sayang dan

penyesalan diri terus menatap Tan Ki lekat-lekat. Dia seperti khawatir Tan Ki tiba-tiba akan

menghilang dari pandangannya. Dia tidak mengedipkan matanya sama sekali. Tetapi

langkah kakinya perlahan-lahan bertindak menuju pintu.

Tan Ki sedang bersemedi, dia seperti meragakan kalau Liang Fu Yong akan meninggalkannya.

Tiba-tiba sepasang matanya membuka dan melihat ke arah perempuan itu. Saat

itu keadaannya sedang pada puncak krisis. Mulutnya tidak boleh bicara sama sekali.

Melihat Liang Fu Yong melangkah perlahan-lahan dengan maksud pergi dari situ, dia

hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan keras, wajahnya menunjukkan kepanikan.

Dua pasang mata saling pandang, hati Liang Fu Yong menjadi tertekan. Wajahnya

berubah hebat. Dia merasa dari sinar mata Tan Ki terpancar semacam kekuatan yang

memaksa dirinya untuk kembali. Untuk sesaat tubuhnya terasa lemas. Dia tidak

mempunyai tenaga untuk melangkah. Cepat-cepat dia memejamkan matanya dan

bersandar pada daun pintu. Dia mengatur nafasnya beberapa saat.

Ketika Liang Fu Yong memaksa diri untuk membuka matanya. Tampak dua bulir air

mata telah membasahi wajah Tan Ki. Air mata yang mengalir dari cinta kasih dalam hati

pemuda itu membuat pikiran Liang Fu Yong seakan mendapat pukulan bathin yang hebat.

Dia berteriak sekeras-kerasnya dan menghambur keluar dari tempat tersebut.

Rupanya di dalam hati perempuan itu telah tertanam semacam perasaan rendah diri

yang dalam. Dia menganggap dirinya sebagai perempuan jalang dan rendah, sama sekali

tidak pantas bersanding dengan Tan Ki. Melihat air mata kepedihan yang keluar dari

sepasang kelopak mata Tan Ki, hatinya semakin menderita. Dua arus perasaan yang

berbeda, yakni sesat dan lurus berkecamuk di dalam bathin-nya. Untuk sesaat dia menjadi

kehilangan akal sehat dan menerjang keluar seperti orang yang kerasukan setan.

Hati Tan Ki sendiri bertambah panik. Dengan kalap dia melonjak bangun dan

bermaksud mengejar. Siapa nyana saat itu semedinya sedang mencapai puncak krisis,

hawa murninya sedang mengalir mengelilingi seluruh tubuh. Mendadak dia melonjak

bangun, otomatis hawa murni yang sedang mengalir itu seperti kehilangan kendali dan

buyar seketika. Malah secara perlahan-lahan menyerang isi perutnya sendiri. Ketika

kakinya baru berdiri tegak, dia sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia langsung

menjerit keras-keras dan terkulai di atas tanah.

Agak lama kemudian, lambat laun dia mulai tersadar dari pingsannya. Dia merasa

kepalanya seperti digelayuti beban yang berat dan terasa pusing tujuh keliling. Tubuhnya

seperti terserang penyakit yang parah serta tidak bertenaga sama sekali. Tanpa dapat

mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah segar beberapa kali berturut-turut.

Tan Ki juga tidak memperdulikan bercak darah yang membasahi pakaiannya, dia juga

tidak menghapus sisa darah di ujung bibirnya. Matanya mengedar ke sekeliling.

Penerangan sudah padam. Ruangan tersebut menjadi gelap gulita. Untung saja

penglihatannya sangat tajam. Biarpun malam gelap sekali, dalam jarak tiga depa dia masih

 

dapat melihat dengan jelas. Tetapi dia tidak berhasil menemukan bayangan Liang Fu

Yong. Meja maupun kursi di dalam ruangan tersebut masih sama dengan sebelumnya.

Tanpa sadar dia menarik nafas dalam-dalam. Dia memaksakan dirinya untuk bangun.

Sepasang tangannya bertumpu pada dinding ruangan. Setindak demi setindak dia berjalan

keluar dari kamar tersebut.

Karena emosi sesaat, hawa murni dalam tubuhnya malah berbalik arah melukai isi

perutnya sendiri. Meskipun tenaga dalamnya dapat pulih kembali, tapi dia sudah

mendapatkan kerugian yang besar.

Setelah berjalan sejenak, dia keluar dari halaman lewat koridor yang panjang. Dia

sudah kelelahan. Keningnya berkeringat. Dihentikannya langkah kakinya, wajahnya didongakkan

dan menatap rembulan.

“Meskipun dapat keluar dari tempat ini, tapi dalam waktu tiga kentungan, luka ini

mungkin dapat mengakibatkan kematian.” katanya kepada diri sendiri.

Berkata sampai di sini, gambaran dirinya menjelang kematian seakan membayang di

depan pelupuk mata. Tanpa sadar dia menarik nafas dengan tampang mengenaskan!

Angin bertiup rumputpun melambai-lambai, daun serta ranting pepohonan

menimbulkan suara yang gemerisik. Seakan mengalunkan irama yang menyayangkan

umur Tan Ki yang pendek. Tiba-tiba terdengar suara kibasan baju yang terpancar dari

empat penjuru. Meskipun hati Tan Ki dalam keadaan gundah dan sedih, tetapi

pendengarannya justru semakin peka. Begitu mendengar sedikit suara, dia langsung

tersentak. Matanya segera mengedar dengan seksama. Justru dalam waktu yang sekejap

ini, di bagian depan dan belakangnya telah berdiri tiga puluh enam lakilaki berpakaian

hitam. Mimik wajah mereka masing-masing sangat kaku. Mata mereka membelalak,

seperti manusia yang tidak mempunyai sukma. Mereka juga tidak bergerak. Ketika angin

malam berhembus, perasaan Tan Ki seperti sedang dikelilingi oleh sekumpulan hantu

Dalam hati timbul firasat yang buruk. Diam-diam dia berpikir…

‘Kalau ditilik dari gerakan mereka, tentunya semua orang ini tergolong tokoh tingkat

tinggi. Tapi mengapa tampang mereka lebih mirip dengan mayat hidup, berdiri termangumangu

dengan mata membelalak. Sehingga perasaan orang yang melihatnya jadi tidak

karuan’.

Baru saja pikiran ini melintas dalam benaknya, tiba-tiba matanya terasa berkunangkunang,

gulungan tenaga yang kuat dalam jumlah yang tidak terkira telah mendesak ke

arahnya. Begitu kerasnya sehingga tubuh Tan Ki berputaran beberapa kali dan hampir

tidak dapat tegak kembali.

Pekarangan ini luasnya sedang-sedang saja. Dikatakan besar tidak, dibilang kecil juga

tidak. Laki-laki berpakaian hitam yang berdiri di sana ternyata tidak merasa sesak, tetapi

apabila bertambah satu orang lagi, malah terasa seperti tidak ada tempat lagi untuk

Tan Ki justru berdiri di tengah-tengah pekarangan. Dalam keadaan seperti ini, dengan

hadirnya sedemikian banyak laki-laki berpakaian hitam, di tambah lagi dengan dirinya

 

seorang, seakan terasa berlebihan. Seperti sebutir abu di dalam mata, yang mana terasa

menusuk dan menimbulkan perasaan tidak enak.

Sejak tadi dia sudah menghimpun tenaga dalam untuk melindungi dirinya. Secara tibatiba

dia didesak oleh rangkuman tenaga dalam dari kiri kanan depan belakang, tentu saja

timbul serangkum tenaga tolakan yang membuat tenaga yang mendesaknya seperti buyar

Setelah itu, dengan kecepatan kilat dia mengirimkan dua pukulan ke arah lawannya.

Terdengar suara bentakan yang menggelegar. Empat rangkum angin pukulan yang

dahsyat menerjang ke arahnya.

Rupanya para laki-laki berpakaian hitam ini merupakan Barisan Jenderal Langit yang

dididiknya sendiri. Ketiga puluh enam orang ini terbagi dalam sembilan kelompok. Setiap

kelompok mempunyai keahlian masing-masing yang berbeda. Ada yang menggunakan

pukulan untuk melancarkan serangan, ada yang menggabungkan tenaga dalam meraih

kemenangan. Hal ini membuat pihak lawannya sulit meraba bagaimana cara bekerjanya

barisan itu dan mengadakan persiapan sejak semula.

Sedikit saja kurang berhati-hati, hampir saja Tan Ki terjerat dalam perangkap. Dengan

panik dia menghimpun tenaga dalamnya ke arah telapak tangan dan dengan posisi

menahan di depan dada, dia mendorong ke depan.

Meskipun serangan ini dilancarkan dalam keadaan terluka, tetapi kekuatannya tidak

dapat dipandang ringan. Gagahnya bukan main, meskipun manusia berpakaian hitam itu

menyerangnya dengan cara menggabungkan tenaga dalam empat orang sekaligus, tetapi

dia berhasil menahannya.

Mengadu pukulan dengan kekerasan yang hanya berlangsung satu jurus itu, tubuh Tan

Ki hanya terhuyung-huyung sedikit kemudian tegak kembali. Telinganya menangkap suara

desiran angin, serangan kelompok ketiga sudah menerjang tiba. Serangan kali ini tentu

saja berbeda dengan yang sebelumnya. Empat orang itu memencarkan diri menjadi dua

orang di kiri dan duanya lagi di kanan. Suara yang terpancar dari kepalan tangan dan

bayangan telapak menerjang ke arahnya.

Diam-diam sepasang alis Tan Ki mengerut dengan ketat. Mulutnya mengeluarkan suara

bentakan yang keras. Sepasang telapak tangannya ditekapkan di bawah ketiak kemudian

dihantamkan kedua arah yang berlawanan.

Baru saja dia berhasil mendesak mundur orang-orang dari kelompok ketiga, orangorang

dari kelompok keempat sudah menyerbu ke arahnya. Serangan demi serangan

dilancarkan dengan gencar. Semuanya memiliki keahlian yang berbeda-beda. Apalagi

serangan mereka semakin lama semakin kuat dan juga semakin membahayakan.

Dengan berturut-turut dia menyambut serangan sembilan kelompok dari barisan

tersebut. Diam-diam hatinya menjadi gelisah.

“Mereka menyerang dengan cara bergiliran. Tampaknya tidak ada henti-hentinya. Kalau

begini terus, sampai kapan aku harus bertarung, sampai kapan baru berhenti? Tenagaku

yang seorang ini melawan tenaga mereka yang menggunakan cara bergilir, kalaupun tidak

terpukul mati, lambat laun pasti akan mati lemas. Apalagi luka dalamku sangat parah,

apabila dipaksakan, malah bisa-bisa mempercepat kematian. Lebih baik himpun seluruh

 

tenaga dan menerjang keluar. Siapa tahu benar-benar berhasil keluar dari kepungan

barisan ini.” katanya kepada diri sendiri.

Baru saja pikirannya tergerak, dia langsung mengumpulkan seluruh tenaganya dan

bersiap-siap melancarkan beberapa pukulan yang dahsyat. Dia berniat menggunakan

siasat menggertak terlebih dahulu, kemudian menerjang. Tiba-tiba telinganya menangkap

suara siulan yang nyaring dan berkumandang dari kejauhan. Laki-laki berpakaian hitam itu

mendadak menghentikan gerakannya dan mundur ke tempat semula.

Tampak sebelah telapak tangan mereka menahan di depan dada dan berdiri dengan

termangu-mangu. Wajah mereka tidak menunjukkan perasaan sedikitpun. Empat orang

dalam setiap kelompoknya berbaris dengan rapi. Apabila diperhatikan, barisan itu tampak

angker sekali.

Hati Tan Ki terkejut setengah mati.

‘Mungkin kali ini, seluruh barisan akan bergerak serentak.’ pikirnya dalam hati.

Suatu ingatan melintas di benaknya. Cepat-cepat dia maju dua langkah, telapak

tangannya mengambil posisi menahan di depan dada, seakan-akan dia ingin melancarkan

sebuah serangan ke arah kelompok yang berjarak satu depa di depannya.

Ilmu silat Tan Ki sudah tergolong jago kelas satu dalam dunia Kangouw. Meskipun

sedang terluka parah dan hawa murninya telah terhambur banyak, tetapi kecepatan

gerakannya ini bukan alang kepalang. Lawannya baru melihat jelas kakinya melangkah

maju dua tindak, tahu-tahu dirinya sudah kembali pada posisi semula.

Ternyata di bagian belakang punggungnya terasa melanda tiba sebuah kekuatan yang

besar. Kekuatan itu demikian besar laksana ombak yang bergulung-gulung. Tan Ki

menggertakkan giginya erat-erat. Secepat kilat dia membalikkan tubuhnya dan

menghantamkan sepasang telapak tangannya.

Begitu matanya memandang, tanpa terasa dia jadi tertegun. Ternyata dibelakangnya

tidak ada orang yang mengejar, hanya sekelompok orang-orang dari barisan yang berdiri

berbaris. Masing-masing mengulurkan telapak tangan kanannya dengan gaya mendorong

ke depan. Jarak mereka kira-kira setengah depa dari tempat Tan Ki, tapi ternyata

gulungan tenaga yang terpencar dari pukulan mereka sudah sampai di belakang punggung

anak muda tersebut.

Kumpulan laki-laki berpakaian hitam itu merupakan tokoh-tokoh dari dunia Bulim yang

dipaksa dengan berbagai macam cara oleh Oey Kang untuk mengikuti perintahnya.

Mereka juga mendapat didikan langsung dari iblis tersebut. Kekuatannya tidak dapat

dipandang ringan, setiap orang memiliki keahlian tersendiri. Begitu gabungan tenaga

dalam mereka dilancarkan, otomatis kekuatannya jadi melipat ganda. Tadinya Tan Ki

berpikir, apabila orang yang mengejar di belakangnya tiba, dengan tidak terduga-duga dia

akan melancarkan sebuah serangan yang mengandung seluruh kekuatannya agar

kelompok itu dapat terdesak mundur. Dengan demikian, dia bisa merebut posisi

menyerang duluan kemudian menerjang keluar. Tetapi kenyataannya berbeda dengan apa

yang dibayangkan. Justru dia yang terkejut setengah mati.

Kalau diceritakan memang panjang, kejadiannya sendiri berlangsung dengan cepat

sekali. Tenaga dalam yang terpancar dari telapak tangannya baru beradu dengan

 

kekuatan gabungan empat orang tersebut, tiba-tiba dia membentak marah, lengannya

tergetar dan tubuhnyapun mencelat ke tengah udara. Dia merasa tenaga hantaman

keempat orang itu terus meluncur di bawah kakinya, kalau saja dia tidak bersiap sedia

dengan menghimpun tenaga dalamnya, akibatnya sulit diba-yangkan. Sungguh detik-detik

yang menegangkan!

Begitu terpental, dia segera melambungkan tubuhnya sampai setinggi tiga depa,

kepalanya menoleh ke bawah. Ternyata barisan ini memang hebat sekali. Gerakan mereka

sangat kompak. Di dalamnya juga terkandung kekuatan yang dahsyat.

Pada saat ini, kesembilan kelompok dari barisan itu sudah bergerak serentak ke arah

pusat. Tampak bayangan manusia berkelebat ke sana ke mari, tetapi kibaran pakaian

mereka tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Sementara itu, tubuhnya pun sedang meluncur ke bawah. Entah mengapa, tenyata

orang-orang dari barisan itu tidak ada satupun yang mendongakkan kepala

memandangnya. Hati Tan Ki segera tergerak, dia meliukkan pinggangnya dan merubah

gerakan jurusnya, sebuah pukulan ia lancarkan ke arah seseorang yang di bagian penutup

kepalanya tertancap sekuntum bunga merah.

Apabila pukulan ini mencapai sasarannya, orang itu pasti akan terkapar mati seketika.

Siapa nyana orang itu sama sekali tidak ambil perduli, dia tetap melangkahkan kakinya ke

pusat barisan. Ketika pukulan Tan Ki hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba serangkum

tenaga dari samping menyampoknya sehingga angin pukulannya menghantam ke bawah

Saat itu dia sudah kehabisan akal dan kehilangan tenaga, dia tidak tahu apa lagi yang

harus diperbuatnya. Dia merasa tenaga dalam tersebut sedemikian kuat sehingga

tubuhnya tergeser ke samping dan kecepatannya semakin bertambah ketika menukik ke

Dia sudah kehilangan banyak hawa murni dalam tubuhnya. Dengan mengandalkan kekerasan

hati dan kenekatannya dia tidak sampai rubuh dan dapat mempertahankan diri

beberapa saat. Tetapi setelah mengadu kekerasan beberapa kali dengan pihak lawan,

tenaga dalamnya sudah banyak terkuras, tubuhnya sudah basah oleh keringat. Dia sadar,

apabila mengadu kekerasan dua kali lagi dengan pihak lawan, dia pasti tidak kuat lagi dan

pasti rubuh. Apalagi saat ini tubuhnya sedang menukik ke bawah, tentu saja sulit baginya

untuk mengedarkan hawa murni guna melindungi badannya. Terdengar suara gubrakan

yang keras, Tan Ki pun terjatuh di atas tanah dalam posisi duduk.

Beberapa perubahan yang mendadak ini terjadinya begitu cepat. Begitu terjatuh di atas

tanah, Tan Ki langsung merasa kepalanya pusing tujuh keliling, matanya sampai

berkunang-kunang. Belum lagi kesadarannya pulih semua, tiba-tiba terlihat orang-orang

yang dari kelompok di hadapannya sudah mengulurkan telapak tangan dan berjalan

Dari jauh saja kekuatan tenaga dalam yang terpancar dari pukulan mereka sudah

terasa. Herannya gerakan mereka sangat kompak dan barisan itu begitu rapi seperti

barisan para prajurit yang sudah terlatih.

Kali ini, siapa yang lemah dan siapa yang kuat sudah terlihat jelas. Keadaan sungguh

membahayakan. Tan Ki sudah tidak bisa menghindar lagi. Semacam perasaan yang

 

merupakan harapan mencari kehidupan di ambang kematian tiba-tiba menyusup dalam

hatinya. Dia meraung sekeras-kerasnya. Telapak tangannya terulur ke depan dan

dipaksakannya untuk melancarkan beberapa pukulan sekaligus. Kedua pukulan ini

dilancarkan dalam keputusasaan. Hampir seluruh kekuatan dalam tubuhnya dihimpun

sekaligus. Tampak deruan angin yang bergulung-gulung, kehe-batannya malah seperti

berlipat ganda. Tenaga dalam yang merupakan gabungan dari kelompok tersebut ternyata

berhasil ditolaknya. Begitu kerasnya benturan itu sehingga tubuh keempat orang itupun

terpental dan melayang ke belakang. Namun setelah melancarkan dua buah pukulan

tersebut, Tan Ki pun tidak dapat mempertahankan diri lagi. Mulutnya membuka dan

segumpal darah segar terlihat muncrat dari mulutnya.

Baru saja Tan Ki meghantam.empat orang yang sebelumnya sehingga terpental ke

belakang dan dirinya sendiripun memuntahkan segumpal darah segar, satu kelompok yang

lain telah tiba di sampingnya. Tinju dan pukulan bagai curahan hujan menerpa di atas

Terdengar suara bentakan Tan Ki, sepasang lengannya bergerak dengan kalap. Dengan

memberontak dia melonjak bangun, ditangkisnya serangan tinju dan pukulan dari keempat

orang tersebut. Tiba-tiba kepalanya terasa pening, langkah kakinya menjadi goyah

kemudian ia terpaksa mundur dua tindak.

Tepat pada saat itu juga, otaknya langsung diasah, kalau dia tidak mengerahkan jurus

yang ampuh melukai orang-orang ini, malah dirinya sendiri yang akan rubuh dan mati

tanpa kuburan.

Dengan tujuan mencari hidup, pikirannya pun bekerja keras. Suatu ingatan mendadak

melintas di benaknya. Dia seperti melihat bayangan-bayangan yang keadaan posisinya

berbeda-beda. Ada yang berdiri, ada yang membungkuk, ada lagi yang pahanya

direntangkan ke depan dan ada yang tangannya diangkat ke atas. Semuanya berputaran

di depan pelupuk matanya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan ingatannya, secara kilat kedua

tangannya terulur dan tahu-tahu dia sudah berhasil mencekal dua orang lawannya.

Dengan bertumpu pada kedua orang tersebut, sepasang kakinya dihentakkan

meninggalkan tanah dan dua orang manusia berpakaian hitam lainnyapun tertendang

Gerakannya ini merupakan salah satu jurus dari Te Sa Jit-sut, yakni Si Goat-liu Sing

(Malam Purnama Bintang Kejora). Apabila telah terlatih sampai mencapai kesempurnaan,

begitu tangan terulur untuk mencekal, pasti tidak akan luput. Meskipun baru kali ini Tan Ki

menggunakannya, tetapi rumus ilmu itu sendiri sudah dihapalnya luar kepala. Di saat

ilhamnya datang, tiba-tiba dia mengerahkan jurus yang ampuh tersebut. Begitu tangan

terulur dan kaki menendang, empat orang sekaligus rubuh olehnya.

Seandainya pikiran dan kesadaran orang-orang ini masih ada, tentu mereka, akan

terkejut mengetahui bahwa dalam waktu yang singkat ilmu silat Tan Ki seakan bertambah

tinggi. Sayangnya orang-orang ini telah dice-coki semacam obat oleh Oey Kang, sehingga

kesadarannya hilang. Mereka seakan tidak mempunyai perasaan lagi. Meskipun melihat

dengan mata kepala sendiri keempat rekan mereka terluka oleh pihak lawan, tidak ada

satupun yang menerjang datang atau melampiaskan kemarahannya.

 

Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Diam-diam dia mengedarkan hawa

murninya agar jalan darah yang terguncang tadi dapat pulih kembali. Kemudian telapak

tangannya kembali bergerak, dia melancarkan sebuah jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Dalam

waktu yang singkat dia sudah berhasil menotok tujuh manusia berpakaian hitam.

Ketujuh manusia berpakaian hitam yang tertotok urat nadinya, tetap berdiri tanpa

bergeming sedikitpun. Tan Ki mengulurkan tangannya dan mencekal bagian punggung

orang tersebut. Dikerahkannya tenaga dalam sambil membentak keras. Orang itu

dilemparkan pada kelompok orang-orang yang paling dekat dengannya. Baru tangannya

bergerak, kembali dia mencekal manusia berpakain hitam lainnya dan dilemparkannya

kembali ke sebelah kiri.

Dua kelompok manusia berpakaian hitam itu tampaknya tidak bersiap siaga. Melihat

rekannya sendiri melayang datang, keraguan sempat menyelinap dalam hati mereka.

Sebelum sempat mengambil tindakan apa-apa, tubuh rekannya sudah membentur keras

ke arah mereka.

Terdengar suara bentakan dan seruan terkejut. Dua manusia berpakaian hitam segera

terhantam ke belakang dan bergulingan di atas tanah. Seluruh bentuk barisan menjadi

kacau balau.

Seandainya saat itu Tan Ki membangkitkan keberaniannya untuk terus menyerang,

serta menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk membuka jalan, meskipun belum

tentu dapat memecahkan barisan tersebut tetapi ada kemungkinan untuk meloloskan diri.

Tetapi, justru pada saat ini luka dalamnya kambuh. Keringat dingin membasahi seluruh

tubuhnya. Bukan saja dia tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah, bahkan

untuk berdiri tegak mengatur nafas saja sulitnya bukan main. Dia merasa keringatnya

menetes terus dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya dia

ingin membaringkan tubuhnya di atas tanah. Dengan demikian mungkin keadaannya lebih

Penderitaan di masa kecilnya membuahkan semacam watak pada dirinya. Dia sama

sekali tidak membiarkan tubuhnya terkulai. Bayangan di benaknya melintas secepat kilat.

Dia sedang merenungkan jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Pikirannya terpusat. Dia sampai lupa

bahwa dirinya berada dalam kepungan musuh-musuh yang tangguh. Dia malah berdiri

termangu-mangu.

Justru ketika pikirannya terpusat penuh, Tiba-tiba dia merasa bagian punggungnya

tergetar. Tahu-tahu dia sudah termakan sebuah pukulan. Pukulan ini mengandung

kekuatan yang dahsyat. Jantungnya serasa membalik. Tubuhnya terhuyung-huyung dan

diapun terjatuh sejauh empat lima langkah.

Begitu tubuhnya terjatuh di atas tanah, kembali ada sekelompok orang yang menerjang

ke arahnya. Kecepatan gerakan mereka bagai kilat. Begitu melesat langsung sampai.

Delapan buah lengan dari empat orang tersebut menyerang bagian berbahaya di tubuh

Tan Ki dalam waktu yang bersamaan.

Tiga empat rangkum tenaga yang kuat secara bergulungan menerpa tiba. Kalau sampai

terhantam telak, meskipun tubuhnya terbuat dari baja, tetap saja dia tidak sanggup

mempertahankan diri. Terdengar suara angin yang menderu-deru. Keadaannya sungguh

 

membahayakan. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang kemudian memejamkan matanya

menunggu kematian.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara teriakan yang memecahkan keheningan. Entah

apa sebabnya, serangan telapak tangan, tinju maupun pukulan yang gencar menjadi

terhenti seketika.

Tan Ki jadi termangu-mangu diserang rasa terkejut yang di luar dugaannya. Cepatcepat

dia mengalihkan matanya memandang. Dia segera melonggo, wajahnya jadi berseriseri

seketika. Entah sejak kapan, Liang Fu Yong sudah berdiri di sampingnya.

Tampak tangannya mengibarkan sebuah bendera merah, dia sedang mengatur barisan

manusia berpakaian hitam tersebut. Bendera merah itu panjangnya kira-kira tiga mistar,

kalau diperhatikan seperti biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaan apa-apa. Entah

mengapa, manusia berpakaian hitam yang tadinya berwajah kaku menyeramkan, begitu

melihat bendera ini, tampang mereka seperti setan kecil di hadapan iblis besar. Mimik

wajah mereka yang tidak menunjukkan perasaan apa-apa, tiba-tiba juga menunjukkan

kilasan rasa ketakutan setengah mati. Dengan ber-pencaran mereka mengundurkan diri.

Setelah mengatur beberapa saat, Liang Fu Yong menggebah orang-orang itu seperti

gembala yang menggebah kambing-kambing pulang ke kandang. Dalam waktu yang

singkat, pekarangan itu langsung bersih dan hanya tersisa mereka berdua. Perlahan-lahan

dia membalikkan tubuhnya sembari menyimpan kembali bendera merah tersebut. Matanya

beralih menatap Tan Ki.

Setelah memperhatikan beberapa saat, dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun.

Wajahnya yang cantik masih tersirat kepedihan, membuat orang yang memandangnya

menaruh rasa iba kepadanya.

Dalam waktu yang kurang lebih sepena-nakan nasi itu, Tan Ki sudah mengatur hawa

murninya kembali. Tenaga dalamnya pun sudah pulih walaupun lukanya masih belum

sembuh. Tiba-tiba dia melonjak bangun dengan bibir tersenyum.

“Cici, kembali kau menolongku. Sekarang aku tidak akan membicarakan masalah balas

budi segala, tetapi kali ini aku juga tidak akan membiarkan kau pergi lagi.”

Liang Fu Yong mendengar Tan Ki mengungkit masalah tadi, wajahnya jadi merah

padam seketika. Bibirnya mengembangkan tertawa yang getir.

“Aku memang dilahirkan dengan nasib yang buruk, tidak pantas merasakan

kebahagiaan, mengapa kau mendesak aku sedemikian…”

Wajah Tan Ki langsung berubah.

“Asal aku masih mempunyai sedikit nafas, tetap aku tidak membiarkan kau berdiam di

tempat seperti ini dan menjadi permainan tua bangka itu. Kecuali kalau dirimu sendiri

senang melakukannya!” katanya kesal.

Tanpa menunggu jawaban dari Liang Fu Yong, tubuhnya tiba-tiba bergerak, jurus Bulan

Purnama Bintang Kejora kembali dikerahkan, tahu-tahu pergelangan tangan perempuan

itu sudah tercekal olehnya dan langsung diseret meninggalkan pekarangan tersebut.

 

Hati Liang Fu Yong jadi panik.

“Mana boleh begini?”

Meskipun mulutnya menolak, tetapi karena tangannya ditarik oleh Tan Ki, mau tidak

mau langkah kakinya jadi terseret mengikuti gerakan Tan Ki yang menghambur secepat

Para manusia berpakaian hitam yang berada di luar pekarangan seperti menyandang

beban bathin yang berat, mata mereka melihat kedua orang itu meninggalkan tempat

tersebut, tetapi tidak ada satupun yang mencegah. Wajah mereka masih kaku seperti

sebelumnya dan berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun.

Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, tampak dua sosok bayangan yang

berlari dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka seakan tidak menginjak tanah. Setelah

melewati taman bunga, mereka sudah keluar dari

Pek Hun Ceng (Komplek Awan Putih, nama tempat tinggal Oey Kang). Begitu mata memandang,

seluruh permukaan bumi seperti samar-samar, sulit menentukan mana Barat

dan mana sebelah Timur. Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berulang

kali mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Rupanya karena keadaannya masih letih dan hawa murninya banyak berkurang dan

sekarang malah memaksakan diri untuk berlari, lukanya menjadi kambuh kembali.

Keadaannya saat ini hampir seperti lampu yang kehabisan minyak. Baru saja langkah

kakinya berhenti, dia segera menyandarkan kepalanya pada bahu Liang Fu Yong, dia tidak

mempunyai tenaga lagi untuk bergerak. Tapi tangan-nya yang mencekal pergelangan

tangan perempuan itu semakin erat, seakan takut Liang Fu Yong akan kabur

meninggalkan dirinya.

BAGIAN XIV

Begitu kulit tubuh mereka saling menyentuh, Liang Fu Yong baru merasakan suhu

badan Tan Ki panas membara. Tangannya seperti menyentuh api yang berkobar-kobar.

Hatinya terkesiap, dia segera menundukkan kepalanya untuk melihat. Tampak bola mata

Tan Ki yang menerawang telah kehilangan sinarnya yang cemerlang. Wajahnya pucat pasi,

seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah. Hatinya terasa pedih sekali. Dia

mengulurkan tangannya mengambil sapu tangan dari dalam saku, dengan hati-hati dia

menghapus noda darah yang membasahi wajahnya. Gerakannya begitu lembut dan sangat

Pada saat itu juga, dari seorang perempuan jalang serta rendah, tiba-tiba dia berubah

menjadi wanita lemah lembut dan berhati mulia. Baik mimik wajah maupun gerak-geriknya

menunjukkan daya pikat seorang wanita yang lembut serta penuh perhatian.

Di bawah cahaya rembulan, angin malam berhembus semilir, di sini hanya terdapat dua

anak manusia yang saling berangkulan…

Tepat sepeminuman teh kemudian, Tan Ki baru mengeluarkan suara yang lemah dan

ter-sendat-sendat, tampaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat.

 

“Tadinya aku berpikir untuk mengajak Cici meninggalkan tempat ini, kemudian mencari

tempat yang tenang untuk hidup sampai hari tua. Namun manusia memang hanya bisa

berharap, semuanya Thian yang menentukan, ternyata umurku demikian pendek…”

Hati Liang Fu Yong menjadi perih mendengarnya. Air matanya turun bagai curahan

hujan. Cepat-cepat dia mengulurkan tangannya dan mendekap mulut anak muda itu.

“Jangan mengucapkan kata-kata yang putus asa. Lebih baik hemat tenagamu agar

tubuhmu dapat bertahan. Setelah mendengar kata-katamu tadi, Cici pasti akan mati

meram.”

Tan Ki dapat mendengar suaranya yang pilu. Di dalamnya seakan terkandung

penderitaan yang tidak kepalang. Hampir saja dia tidak dapat menahan air matanya yang

akan mengalir. Cepat-cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan mengulurkan tangannya

menghapus air mata Liang Fu Yong. Kemudian dia membelai rambut perempuan itu

dengan kasih sayang. Mulutnya bergerak-gerak, tampaknya seperti ingin mengatakan

sesuatu, tetapi sepatah katapun tidak sanggup ia cetus-kan keluar.

Menghadapi belaian Tan Ki yang demikian mesra, seluruh urat darah di dalam tubuh

Liang Fu Yong seakan berdesir aneh. Apalagi mereka berdiri berhadapan dengan wajah

saling menempel, jaraknya tidak sampai setengah inci, masing-masing dapat mendengar

denyut jantung yang lainnya.

Perasaan nyaman serta indah yang mereka alami, bukan suatu hal yang dapat

diuraikan dengan kata-kata. Rasanya Liang Fu Yong ingin waktu yang beredar di seluruh

dunia ini berhenti pada saat itu juga. Dia berharap waktu berhenti berputar, tetapi begitu

teringat akan nama busuknya di masa lalu, harapannya yang menggebu-gebu langsung

surut seketika. Air matapun tidak tertahankan lagi.

Akhirnya Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Tempat ini masih dalam lingkungan Pek Hun Ceng, meskipun kita sudah berhasil

melarikan diri, tapi keadaan belum aman. Mumpung tidak ada seorangpun, kita harus

berlari lebih jauh sedikit.” katanya.

Tan Ki menggelengkan kepalanya perlahan.

“Aku tidak sanggup berjalan lagi,” sahutnya lirih.

Liang Fu Yong merasa kata-katanya memang beralasan. Setelah merenung sejenak,

akhirnya dia mengambil keputusan. Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat

kemudian dibopongnya tubuh Tan Ki. Dengan menghimpun hawa murni ia bergerak

secepat kilat dan melesat meninggalkan tempat tersebut.

Ketika Liang Fu Yong membungkukkan tubuhnya ingin menggendong Tan Ki, anak

muda tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera mengecup pipinya yang

harum dan manis itu. Bibirnya malah tersenyum simpul.

“Cici, usiamu hanya bertaut tiga tahun denganku. Meskipun kau lebih besar daripada

aku, hal ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh membicarakan masalah perkawinan. Tadi

 

waktu masih di dalam kamar, mengapa kau sengaja menghindarkan diriku? Apakah kau

benar-benar tidak sudi menikah denganku?”

Liang Fu Yong meliriknya sekilas. Wajahnya menjadi merah padam.

“Ini… ini…” perempuan itu menjadi gugup sekali.

Setelah beberapa saat, dia tetap tidak sanggup memberikan jawaban. Padahal, hati perempuan

itu memang sudah jatuh cinta kepada Tan Ki, tetapi dia sendiri belum

menyadarinya. Dia hanya merasa, apabila dapat menemani Tan Ki seumur hidup, sudah

merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dalam ba-thinnya. Sedangkan ucapan Tan Ki

barusan, datangnya terlalu mendadak, di tambah lagi dengan penyesalannya terhadap

masa lampaunya. Mendapat kasih sayang dari Tan Ki malah membuat dirinya merasa

serba salah. Untuk sesaat dia tidak berani menerima lamaran itu, sekian lama dia

termenung akhirnya mengembangkan senyuman yang pahit.

“Lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini. Masalah lainnya kita bicarakan kemudian.”

katanya seakan mengelak dari pokok pembicaraan.

Tubuhnya melesat seperti terbang. Dia terus menghambur ke depan karena ingin

cepat-cepat meninggalkan tempat yang penuh bahaya itu. Sebentar saja dia sudah berlari

cukup jauh. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara mengaduh. Langkah kakinya pun

terhenti, tubuhnya agak meringkuk seperti menahan sa-kit.

Tan Ki terkejut sekali.

“Ada apa?” tanyanya panik.

“Bagian bawah perutku…” wajahnya menjadi merah padam dan langsung bungkam.

Tan Ki menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan diapun melorot turun dari bopongan

Liang Fu Yong. Matanya segera mengalih, tampak Liang Fu Yong setengah meringkuk

seperti sedang menahan sakit. Kedua tangannya terus meremas bagian bawah perutnya

dan tidak bisa berdiri tegak.

Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas.

“Apakah perutmu terasa sakit?”

Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Hanya wajahnya tampak muram. Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang,

tampangnya sungguh mengibakan.

Tan Ki tidak tahu bahwa Liang Fu Yong diperkosa habis-habisan oleh Oey Kang. Lakilaki

itu meminum semacam obat perangsang yang membuat gairahnya menggebu-gebu

dan seperti tidak terpuaskan. Pertama-tama dia hanya merasa letih dan lemas. Tetapi

karena barusan dia memaksa diri membopong Tan Ki sambil berlari, tiba-tiba dia merasa

bagian bawah perutnya perih sekali bagai disayat pisau.

Itulah sebabnya dia mengaduh kesakitan. Sedangkan Tan Ki hanya mengira perempuan

itu sakit perut. Dengan gugup dia menggosok-gosokkan telapak tangannya.

 

“Pada saat seperti ini tiba-tiba ribut sakit perut. Aku malah tidak bisa memberi

pertolongan apa-apa. Bagaimana baiknya sekarang?” katanya gugup.

Dia segera mengedarkan matanya memandang daerah sekitar. Kemudian jari

tangannya menunjuk ke arah hutan.

“Kita sembunyi saja di sana untuk sementara. Meskipun Oey Kang mempunyai

kemampuan menembus langit, dalam waktu yang singkat belum tentu dapat menemukan

kita.”

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa. Hutan ini tampaknya biasa-biasa saja. Tetapi sebetulnya telah dirancang

sedemikian rupa dengan unsur Pat Kwa oleh Oey Kang. Orang yang masuk ke dalamnya

laksana terombang-ambing di tengah lautan, memandang ke manapun sama saja. Yang

terlihat hanya pepohonan yang rimbun. Untuk selamanya tidak bisa menemukan jalan

keluar.”

Sembari berkata, perlahan-lahan dia menegakkan badannya. Bibirnya tersenyum.

“Sekarang tidak terasa sakit lagi. Tetapi, kita tidak bisa berjalan cepat-cepat.”

Tan Ki menjadi bingung.

“Bukankah kau mengatakan bahwa semakin cepat kita tinggalkan tempat ini semakin

baik, mengapa tidak berlari saja? Masa kita mau merayap seperti seekor siput serta

menunggu sampai si tua bangka berhasil menyusul kita?”

Wajah Liang Fu Yong semakin merah.

“Jangan tanya macam-macam. Urusan perempuan biar aku katakan, kau juga belum

tentu mengerti. Hayo jalan!”

Kedua orang itu saling membimbing mengambil jalan memutari balik hutan. Tiba-tiba,

dari lembah sebelah Timur, terdengar suara suitan yang panjang dan perlahan-lahan suara

itu semakin jelas seakan sedang menuju ke arah mereka.

Kedua orang itu saling lirik sekilas. Wajah mereka tampak sama-sama terkejut. Entah

tokoh kelas tinggi dari mana yang tiba-tiba berkunjung ke Pek Hun Ceng. Liang Fu Yong

menarik tangan Tan Ki. Dia bermaksud mengajaknya menyembunyikan diri di balik semaksemak

yang rimbun, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang dingin terpancar dari lebatnya

dedaunan yang ada di sebelah kiri.

“Berhenti!” suara bentakan pun menyusul tiba.

Suara bentakan yang tidak diduga-duga itu membuat orang tersebut menghentikan

langkah kakinya secara otomatis. Tan Ki segera mengedarkan pandangannya, tidak

terlihat bayangan seorangpun, yang ada hanya dedaunan yang melambai-lambai. Tetapi

dari nada suaranya, Tan Ki tahu bahwa orang itu bukan si iblis Oey Kang.

Dari dalam hutan berkumandang lagi suara orang itu yang datar dan dingin.

 

“Sebelum masuk ke wilayah ini, apakah kalian tidak membaca papan peringatan yang

tertancap di dekat kaki kalian itu?”

Kedua orang itu langsung menolehkan kepalanya mencari-cari. Ternyata dalam jarak

kurang lebih sepuluh langkah dari kaki mereka, terdapat sebuah papan peringatan yang

bertuliskan:

– Sebelum masuk ke wilayah ini, urus dulu masalah penguburan –

Begitu mata Liang Fu Yong memandang jelas, dia merasa tulisan ini membawa

keangkeran yang menggidikkan hati. Tanpa terasa tubuhnya gemetar dan wajahnya

berubah hebat. Sedangkan Tan Ki hanya tertawa dingin, diam-diam dia berpikir dalam

hati: ‘Sungguh kata-kata yang congkak. Kalau keadaanku tidak sedang terluka parah, aku

justru ingin masuk dan melihat apa gerangan yang ada di dalamnya’.

Sementara itu, orang yang bersembunyi dalam kegelapan seakan mempunyai suatu

ganjalan dalam hatinya. Terdengar dia menarik nafas panjang.

“Di sini ada sebungkus obat bubuk, berikan pada sahabat itu. Walaupun tidak dapat

sembuh dalam sekejap mata, tetapi mempunyai khasiat membantu memulihkan tenaga

dalam. Apabila Kouwnio sudah membawanya keluar dari tempat ini, jangan sekali-kali

kembali lagi ke sini. Ingat baik-baik! Ingat baik-baik!’ katanya berulang kali.

Baru kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara desiran di tengah udara, seperti

suatu benda yang melayang ke arah mereka. Menggunakan cara menyambut senjata

rahasia, Liang Fu Yong mengangkat tangannya menangkap benda tersebut. Begitu sampai

di tangannya, dia segera melihat bahwa benda itu ternyata merupakan bungkusan obat.

Belum juga dibuka, baunya sudah menusuk hidung. Bau itu harum sekali. Orang yang

menghirupnya merasa nyaman seketika.

Tiba-tiba terdengar Tan Ki menarik nafas panjang sambil memuji.

“Ilmu ginkang orang ini hebat sekali. Tampaknya tidak berada di bawahku.”

“Apakah kau berhasil melihat orangnya?” tanya Liang Fu Yong.

“Lihat jelas sih tidak. Tetapi aku mendengar kibaran pakaiannya begitu lembut dan

seperti ada dan tiada. Dari gerakan ini saja, dapat dibayangkan bahwa ilmu silat orang ini

sama sekali tidak lemah.” dia berhenti sejenak, kemudian menarik nafas lagi. “Tetapi,

mengapa dia bermaksud menolong aku?” tanyanya tidak mengerti.

Liang Fu Yong tersenyum.

“Orang sengaja mengantarkan obat, bagaimanapun bermaksud baik. Kau tidak perlu

berpikir yang bukan-bukan, cepat minum obat ini.”

Tan Ki seperti masih ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi Liang Fu Yong sudah

membuka bungkusan obat itu dan menjejalkannya ke dalam mulut anak muda tersebut.

Tiba-tiba sepasang alis Tan Ki mengerut ke atas.

“Obat ini pahit sekali. Ada air tidak, aku tidak bisa menelannya, obat ini masih tercekat

dalam tenggorokan.”

 

Wajah Liang Fu Yong menjadi muram.

“Tengah malam buta seperti ini, di mana aku harus mencari air.”

Tan Ki sengaja memperlihatkan tampangnya yang sedih.

“Kalaupun ada, Cici juga belum tentu bersedia memberikannya, buat apa banyak

bicara?” dia mengulurkan tangannya dan mengelus-elus tenggorokan, seakan hendak

mengurut obat itu agar tertelan ke dalam perut, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya.

Liang Fu Yong menjadi panik.

“Kalau memang ada air, masa Cici tidak mau memberikan kepadamu. Masa Cici tega

melihat obat itu tercekat di tenggorokanmu dan tidak bisa tertelan? Cepat katakan, di

mana air itu?”

Tan Ki tersenyum simpul.

“Tempat di mana ada air, ya di mulutmu itu.”

Pertama-tama dia tertegun mendengar ucapan Tan Ki, kemudian dia seperti tersentak.

Wajahnya tertunduk tersipu-sipu. Kakinya goyah sehingga mundur dua langkah. Rasanya

ada segulungan perasaan yang aneh berkecamuk dalam hatinya. Tahu-tahu air mata

sudah membasahi kelopak matanya.

“Rupanya kata-katamu yang manis hanya karena masa laluku yang suram. Kau

menganggap aku perempuan rendah dan hanya ingin mempermainkan cinta kasihku.”

Selesai berkata, tubuhnya berkelebat, sekejap saja dia sudah mencapai jarak tujuh

delapan mistar.

Sekali lagi kakinya menutul, orangnya sudah mencapai dua belas depaan, sejenak

kemudian menghilang dalam kegelapan.

Tan Ki sama sekali tidak menduga akibatnya akan seperti ini. Hatinya terkejut sekaligus

panik. Dia tidak mengira ucapannya yang merupakan gurauan tadi membuat perasaan

perempuan itu tersinggung dan meninggalkannya. Hatinya menjadi sedih seketika. Dia

berteriak sekeras-kerasnya…

“Cici, jangan lari. Aku bukan…!”

Tiba-tiba dia merasakan serangkum hawa dingin menyerang dirinya. Bahkan sebentar

saja sudah menjalar sampai keempat anggota tubuhnya. Dia segera sadar bahwa reaksi

obatnya sudah bekerja. Cepat-cepat dia memutuskan ucapannya dan diam-diam duduk

bersila serta bersemedi. Dia menghimpun hawa murninya yang kemudian dialirkan ke

tujuh puluh dua urat darah dalam tubuhnya. Dia sudah hapal luar kepala isi kitab yang

tertuliskan ilmu pernafasan dan Lwe Kang, Lewat penjelasan Liang Fu Yong, meskipun

tidak bisa maju lebih jauh lagi, sehingga mencapai taraf kesempurnaan, namun terhadap

ilmu pernafasan yang biasa-biasa saja, dia sudah dapat memanfaatkannya.

 

Begitu menenangkan diri bersemedi, pikirannya langsung terasa kosong. Dipusatkannya

reaksi obat dengan bagian yang terluka agar kerjanya lebih cepat. Dia merasa di dalam

tubuhnya mengalir hawa murni yang lancar dan menimbulkan perasaan nyaman.

Dalam waktu yang singkat, kesehatannya sudah lebih pulih. Tampangnya tidak begitu

kusut seperti orang yang baru saja bekerja keras. Rasa sakitnya juga jauh berkurang.

Perlahan-lahan dia membuka matanya memandang, rembulan bersinar dengan indah.

Cahayanya berwarna keperakan. Sungguh suatu, alam yang romantis. Tiba-tiba

perasaannya jadi tersentuh. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

‘Seandainya dapat duduk bersama kekasih hati di bawah pancaran rembulan, tentunya

segala keruwetan hidup ini dapat terlupakan sejenak. Bersama-sama menikmati indahnya

rembulan yang memancarkan cahaya berkilauan, meskipun waktu segera berlalu, dan

masa remaja sebentar sudah lenyap. Tapi rasanya sudah menikmati kehidupan seperti

para dewata.’ katanya kepada diri sendiri.

Setelah pikirannya melayang-layang sejenak, dia merasa hatinya seperti terlena. Tibatiba

dari kejauhan berkumandang suara beradunya senjata tajam. Di susul dengan suara

bentakan kemarahan. Dia menjadi tertegun untuk sesaat.

‘Tempat ini tidak jauh dari Pek Hun Ceng, siapa yang nyalinya begitu besar, beraniberanian

memasuki sarang harimau?’ tanyanya dalam hati.

Berpikir sampai di sini, hatinya semakin bingung. Tangannya mengetuk-ngetuk batok

kepalanya sendiri dan merenung beberapa saat. Kemudian seperti teringat akan suatu

urusan. Liang Fu Yong baru meninggalkan tempat ini, mungkinkah dia bertemu dengan

musuh dan terjadi pertarungan diantara mereka?

Untuk sesaat hatinya menjadi khawatir sekali. Semakin dibayangkan rasanya semakin

tepat. Perasaannya menjadi tercekat. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Dia menoleh ke

arah sumber suara dan menghentakkan kakinya untuk menghambur ke sana.

Kurang lebih sepenanakan nasi, secara berturut-turut dia sudah melalui dua celah

pegu-nungan dan sampai di sebuah lembah yang kosong. Di sana dia menghentikan

langkah kakinya.

Hatinya sedang khawatir, cara larinya tadi seperti orang kesetanan. Orang biasa pasti

tidak dapat melihat kalau dia sedang berlari. Kakinya seperti tidak menginjak tanah, seolah

terbang saja.

Begitu matanya memandang, tenyata dugaannya tidak salah. Tiga orang berdandanan

tosu, sedang menggerakkan pedang menyerang Liang Fu Yong. Tampak perempuan itu

tidak menggunakan senjata apapun. Dengan sepasang tangan kosong, dia menerobos ke

kanan dan melesat ke kiri. Dia baru saja menghindarkan diri dari tiga serangan pedang

yang gencar. Tampaknya perempuan itu sudah kewalahan. Dia tidak mempunyai

kesempatan untuk membalas menyerang setengah juruspun. Keadaannya sungguh

Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap seketika.

“Menghina seorang perempuan, kalian masih punya muka?” bentaknya keras.

Tubuhnya langsung melayang, jaraknya masih kurang lebih dua depaan, dia melesat ke

 

tengah udara. Ketika sepasang kakinya mendarat di atas tanah, dirinya tepat berada di

bagian belakang punggung tosu sebelah kiri. Dengan membentak keras, dia langsung

menghantamkan dua buah pukulan.

Begitu kedua pukulannya dilancarkan, segera terasa ada serangkum tenaga yang mengandung

hawa panas menerpa datang. Tampaknya ketiga tosu tadi terkejut sekali

melihat gerakannya yang begitu cepat, serta tenaga dalamnya yang mengandung

kekuatan dahsyat. Serentak mereka terdesak ke samping seiring dengan suara deruan

angin pukulan Tan Ki.

Pertarungan yang menegangkan tiba-tiba ditambah oleh serangkum tenaga kuat yang

membawa hawa panas. Suasana semakin mencekam. Kejadian di luar dugaan ini

menyebabkan dada mereka terasa sesak.

Sinar mata Tan Ki perlahan-lahan menyapu wajah ketiga tosu tersebut. Terdengar

suara tawa dingin dari bibirnya. Kemudian dia menoleh ke arah Liang Fu Yong dengan

pandangan khawatir.

“Apakah kau terluka?” tanyanya penuh perhatian.

Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Tidak…”

Tan Ki melihat beberapa bagian bajunya telah terkoyak di sana-sini, tetapi tidak ada

bekas darah sedikitpun. Tampaknya perempuan itu memang belum mendapatkan luka

apa-apa. Hanya dari bagian bajunya yang koyak, tersembul kulitnya yang putih mulus.

Hatinya terasa pedih dan kasihan. Cepat-cepat dia melepaskan jubah panjangnya dan

disodorkan kepada perempuan itu.

“Cici, tadi aku hanya bergurau. Siapa sangka kalau kau malah jadi tersinggung. Cici,

maafkanlah aku kali ini. Lain kali aku pasti tidak akan mengulanginya kembali.” ucapannya

ini terdengar lucu sekali. Seperti anak usia tiga tahun yang memohon pengampunan dari

ibunya. Hati Liang Fu Yong menjadi pedih. Air matanya langsung mengalir turun.

“Aku tidak marah, hanya merasa agak sedih saja.”

Dengan hati-hati Tan Ki menghapus air matanya. Baru saja dia ingin mengucapkan

beberapa patah kata untuk menghibur hatinya, tiba-tiba dia melihat tosu yang ada di

sebelah kirinya menggenggam pedang dengan kedua tangannya, serta menegakkan

tubuhnya dan berjalan ke depan.

“Rupanya perempuan jalang ini sudah mempunyai kekasih hati. Maaf kalau Pinto belum

menyatakan selamat.” selesai berkata, dia benar-benar menjura dalam-dalam kepada Tan

Mendengar ucapannya, pertama-tama Tan Ki tertegun. Sepasang alisnya bertaut erat.

Dia hampir mengira pendengarannya kurang beres. Oleh karena itu dia bertanya sekali

“Apa yang kau katakan?”

Tosu tersebut mendonggakkan wajahnya dengan angkuh.

 

“Siau Yau Sian-li jalangnya bukan main. Orang-orang dunia Kangouw, siapa yang tidak

tahu, siapa yang belum dengar. Eh… entah dari mana tahu-tahu bisa menggaet seorang

pemuda gigolo…”

Sepasang alis Tan Ki langsung mengerut mendengar sindirannya yang tajam ini. Dia

merasa ada serangkum hawa panas berkobar dalam tubuhnya. Untuk sesaat wajahnya

jadi berubah hebat. Dia tidak menunjukkan kemarahan, tetapi malah tertawa.

“Dia adalah perempuan jalang, aku adalah gigolo. Sungguh paduan kata-kata yang

tepat sekali, tepat sekali!” selesai berkata, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa

terbahak-bahak tanpa henti-hentinya.

Suara tawanya yang panjang dan mengandung kemarahan besar ini, tinggi dan nyaring

sekali. Di dalamnya terkandung kepedihan yang tidak terkira, namun kegagahannya tetap

terlihat jelas. Getarannya sampai membuat dedaunan di dalam hutan jatuh berguguran.

Seluruh lembah kosong itupun bergema dengan suara tawanya.

Mendengar suara tawanya yang hebat itu, ketiga orang tosu jadi terkesiap dan berubah

hebat wajahnya. Mereka segera mempersiapkan diri, berjaga-jaga apabila diserang oleh

lawannya secara mendadak. Tapi hati mereka mempunyai pikiran yang sama: ‘Tidak

disangka usianya masih begitu muda, ternyata mempunyai

tenaga dalam yang demikian hebat. Apabila kita tiga bersaudara tidak memiliki

ilmu yang lumayan, mungkin suara tawanya saja dapat menggetarkan isi perut kami

sehingga terluka parah.’

Baru saja pikiran mereka terhenti, suara tawa Tan Ki yang panjang pun sirap pada saat

yang hampir bersamaan. Wajah anak muda itu berubah kelam sekali.

“Biar kalian rasakan dulu sampai di mana tingginya ilmu silat gigolo ini!” katanya

dengan nada ketus.

Kakinya langsung maju, tubuhnya melesat, tepat pada saat kata-katanya yang terakhir

terucap, terdengar suara deruan angin, sebuah pukulanpun dilancarkan ke depan.

Serangan ini dilancarkan dalam kegusaran, hampir seluruh tenaga dalamnya

dikerahkan. Sungguh pukulan yang keji dan datangnya bagai badai topan yang melanda.

Tosu itu sudah tahu kalau Tan Ki bukan tokoh sembarangan. Tentu saja dia tidak

berani memandang ringan. Pedang panjang dikibaskan. Timbul rangkaian cahaya yang

memenuhi angkasa. Kemudian berubah menjadi serangan yang gencar.

Tan Ki tertawa dingin.

“Anak murid Go Bi Pai memang lain dari yang lain. Sambutlah seranganku sekali lagi!”

pergelangan tangannya memutar perlahan-lahan. Lima jarinya membentuk cakar, secepat

kilat dia mencengkeram ke arah lawannya.

Perubahan jurus ini sedemikian cepat. Belum lagi jurusnya dilancarkan dengan

sempurna, gulungan anginnya sudah menerpa badan. Tentu saja tosu itu terkejut sekali.

Pedang panjangnya segera digerakkan untuk menyambut datangnya cengkeraman lawan.

Terdengar suara bentakan dari mulut Tan

 

“Enyah!”

Diiringi suara bentakan, pedang panjang tosu itupun sudah tiba di hadapannya untuk

menyambut serangan Tan Ki. Tiba-tiba tubuh anak muda itu melesat ke depan.

Kecepatannya bagai pancuran air terjun. Tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan tosu

tersebut, tangannya yang terulur, dengan perlahan-lahan menepuk di dada lawan.

Tampaknya seperti tidak mengandung tenaga sama sekali. Namun kecepatannya bukan

alang kepalang, tahu-tahu dada tosu itu telah terhantam telak.

Terdengar suara jeritan ngeri dari mulut tosu tersebut. Pedangnya merenggang dan

terjatuh di atas tanah. Tubuhnya yang tinggi besar pun segera melejit di udara. Tosu

muda yang berdiri di sebelah kanan, melihat suheng-nya terjungkal di tangan lawan tidak

sampai tiga jurus, dia merasa terkejut sekali karena kejadian itu benar-benar di luar

dugaannya. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.

Aduh!”

Begitu matanya memandang, Ji Suhengnya sudah mengulurkan lengan dan tubuhnya

pun melesat ke tengah udara. Dia menyambut tubuh Toa Suhengnya yang sedang

melayang turun. Tubuh tosu itu tidak goyah dan turun dengan mulus meskipun tangannya

membopong seseorang. Gerakannya sungguh indah. Tanpa memperdulikan hal yang

lainnya lagi, dia segera menundukkan kepalanya melihat keadaan Toa Suheng tersebut.

Tampak darah mengalir dari ke tujuh lubang panca indera Toa Suhengnya itu. Ternyata

Toa Suhengnya sudah melayang jiwanya.

Melihat perkembangan yang terjadi, tosu muda itu merasa hatinya pedih sekali. Air

matanya mengalir dengan deras. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang histeris dan

dengan kalap dia menerjang ke arah Tan Ki.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari tosu yang satunya. “Berhenti!”

Mendengar suara bentakan tersebut, tosu muda itupun menghentikan langkah kakinya.

Wajahnya basah oleh air mata, cepat-cepat dia menoleh kepada Suhengnya yang satu.

“Apakah Suheng memanggil aku?”

Dengan menahan rasa pilu di hatinya tosu

tersebut berkata, “Kalau kau menerjangnya, sama saja mengorbankan nyawa dengan

sia- sia.” matanya segera beralih kepada Tan Ki. Dia memperhatikan anak muda itu dari

atas kepala sampai ke bawah kaki. “Ilmu silat Sicu ternyata tinggi sekali.”

Tan Ki tertawa dingin.

“Totiang hanya memuji.” sahutnya datar

Sepasang mata tosu itu mendelik lebar-lebar. Dari dalamnya terpancar sinar kepedihan

dan kebencian yang tidak terkirakan.

 

“Mohon tanya siapa julukan Sicu yang mulia. Apabila Pinto bertemu lagi denganmu

kelak, tentu lebih mudah meminta pelajaran.”

“Kau ingin membalas dendam? Ini, akulah yang disebut Cian bin mo-ong!”

Mendengar keterangannya, kedua tosu langsung terkesiap. Karena tiba-tiba mendengar

empat kata Cian bin mo-ong mereka terkejut setengah mati. Tanpa dapat ditahan lagi,

keduanya memperhatikan Tan Ki sekali lagi.

Liang Fu Yong yang sejak tadi berdiri di samping juga tidak kurang terkejutnya. Benarbenar

keterangan yang di luar dugaannya dan rasa pedih diantara kegembiraan. Hal ini

malah membuat perempuan itu jadi termangu-mangu dan menatap Tan Ki dengan

Untuk sesaat, suasana di tempat itu jadi hening. Setiap orang mempunyai renungan

masing-masing. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, tosu yang tua itu baru membuka

suara dengan perlahan-lahan…

“Gunung tetap menghijau, lain kali kita akan berjumpa lagi!” tanpa menunggu sahutan

dari Tan Ki, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Tampaknya si tosu

muda merasa, kurang senang. “Masa kita lepaskan orang ini begitu saja?” katanya.

Dengan menahan kepedihan hatinya, tosu yang lebih tua membentak, “Jangan banyak

bicara! Suheng sudah mempunyai rencana tersendiri!” tiba-tiba dia mempercepat

langkahnya dan dia melesat ke arah sebuah jalan tapak di samping sungai.

Tosu muda itu tampaknya masih tidak sanggup menenangkan hawa amarah dalam

dadanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menuding hidungnya sendiri.

“Ingat baik-baik, aku bergelar Ceng Hong Tojin, murid Bu Tong Pai. Malam ini kami.

melepaskan dirimu. Pada suatu hari, kalau sampai bertemu lagi, meskipun aku tidak dapat

menandingimu, aku juga akan berusaha membokongmu dari belakang!”

Selesai berkata, tubuhnya langsung menjungkir balik di udara dan melesat sejauh tujuh

langkah. Kemudian dia menghimpun tenaga dalamnya dan melesat ke depan mengejar Ji

Suhengnya. Dalam waktu yang singkat dia sudah menghilang dari pandangan.

Liang Fu Yong memperhatikan sampai keduanya tidak terlihat lagi. Barulah dia

menghela nafas lega. Tampaknya pikirannya yang tegang ikut terhembus keluar. Matanya

segera dialihkan, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan kepalanya menatap langit

dengan termangu-mangu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Tiba-tiba sepasang matanya dipejamkan. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk

batok kepalanya perlahan-lahan. Dia termenung beberapa saat. Tiba-tiba dia mengulurkan

kepalan tangannya dan meninju beberapa kali. Kemudian kakinya menendang. Setelah itu

tampak dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menarik nafas panjang berulang

Gerak-gerik yang aneh, membuat Liang Fu Yong yang melihatnya jadi tertegun. Tetapi

pikiran perempuan ini memang amat peka. Melihat sebentar saja, dia sudah dapat

menduga bahwa saat ini Tan Ki sedang merenungkan semacam ilmu silat tingkat tinggi.

 

Untuk sesaat dia tidak berani menegurnya dan terpaksa berdiam diri serta berdiri tegak di

Kembali Tan Ki merenung dengan pikiran terpusat. Tiba-tiba telapak tangannya

diangkat ke atas dan menepuk kepalanya satu kali. Tahu-tahu air matanya telah mengalir

dengan deras.

“Rupanya aku orang yang begini bodoh, masih memikirkan soal balas dendam segala!”

keluhnya kesal.

“Kau sama sekali tidak bodoh.” sahut Liang Fu Yong.

“Masih bilang tidak bodoh. Kalau saja aku bisa menggabungkan Tian Si Sam Sut dan Te

Sa Jit Sut, sekarang juga aku bisa mencari Oey Kang untuk membalaskan sakit hatimu.

Sayangnya aku terlalu bodoh, malah melupakan kesempatan yang langka ini.”

Liang Fu Yong tertawa lebar.

“Renungkan saja perlahan-lahan, toh sama saja. Saat ini kau dilanda keputusasaan dan

sakit hati, mana bisa mengingatnya. Lebih baik cari suatu tempat yang tenang dan

renungkan kembali. Siapa tahu, kalau perasaan tenang, otakmu pasti akan lebih

cemerlang.” dia mengulurkan tangannya dan menarik tangan Tan Ki serta mengajaknya ke

padang rumput di tengah pegunungan.

Untuk sesaat Tan Ki juga tidak mempunyai pertimbangan apa-apa. Begitu ditarik oleh

Liang Fu Yong, otomatis langkah kakinya pun mengikuti. Liang Fu Yong mengajaknya

berjalan beberapa langkah. Mereka sudah sampai di padang rumput yang ditumbuhi

ilalang tinggi-tinggi. Dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Tampaknya

tempat ini cukup aman dan tersembunyi. Dia mengajak Tan Ki rebah di sana.

Padang rumput ini ditumbuhi ilalang yang tinggi serta lebat. Luasnya kurang lebih

sepuluh depaan. Apabila bersembunyi di dalamnya, orang yang ada di luar tentu tidak

mudah menemukannya. Hanya saja malam agak dingin dan kabut tebal. Sehingga tanah

di atasnya agak basah karena endapan embun.

Baru saja Liang Fu Yong merebahkan tubuhnya, dia merasa air embun membasahi

punggungnya. Rasanya dingin sekali, tanpa dapat ditahan lagi, tubuhnya agak gemetar.

“Dingin betul!” katanya.

Tubuhnya perlahan-lahan meringkuk, hatinya ingin sekali merapat pada tubuh Tan Ki

agar terasa hangat. Tan Ki tersenyum lembut. Dia juga tidak mengatakan apa-apa.

Tubuhnya bergeser sedikit, lalu ditariknya Liang Fu Yong. Sepasang lengannya bagai

ranting pohon yang kokoh dan memeluknya erat-erat. Perlahan-lahan dia memejamkan

sepasang matanya kemudian menghimpun hawa murni sambil mengatur pernafasan.

Cahaya rembulan terasa sejuk. Malam dingin belum berlalu. Di dalam rumpun ilalang

yang lebat ini, terbaring sepasang pemuda-pemudi. Kepala mereka saling bersandar

dengan mata terpejam. Pada zaman yang kolot dan peradaban manusia belum seterbuka

sekarang, apa yang mereka lakukan merupakan hal yang jarang terlihat dan dapat

menimbulkan kesan yang bukan-bukan dalam tafsiran orang lain.

 

Cukup lama telah berlalu, Tan Ki membuka matanya menatap cahaya rembulan dan

berkata dengan nada terharu:

“Dalam sepuluh tahun ini, dari seorang bocah cilik aku tumbuh menjadi pemuda

dewasa. Sejak pertama berlatih ilmu silat sampai berkecimpung di dunia Kangouw, dari

awal sampai akhir, rasanya aku belum pernah merasakan apa yang disebut santai. Kau

lihat, walau bagaimana redupnya sinar rembulan, cahayanya masih dapat menerangi

tempat sekitar sepuluh depaan. Walaupun tempat ini sunyi senyap, tetapi masih ada

engkau dan aku yang terbaring di sini. Bukankah hal ini merupakan hal yang

membangkitkan semangat? Selama sepuluh tahun ini, untuk pertama kalinya aku

merasakan malam yang tenang dan syahdu…”

Setelah berkata panjang lebar, dia tetap tidak mendengar sahutan dari Liang Fu Yong.

Dia merasa heran, wajahnya segera dipalingkan. Begitu memandang, hatinya jadi

terperanjat. Entah sejak kapan, tahu-tahu ujung mata Liang Fu Yong telah mengalir dua

bulir air mata yang cahayanya berkilauan.

“Tidak hujan tidak angin, kok tiba-tiba menangis lagi?”

Liang Fu Yong tertawa sumbang. “Cepat-cepat dia mengangkat tangannya dan

menghapus air mata yang masih mengalir.

“Siapa yang menangis, justru karena terlalu bahagia…”

Tan Ki tak membiarkan dia meneruskan kata-katanya.

“Aku tahu kau mengingat terus ocehan Tojin tadi, jadi merasa sedih.”

Mendengar Tan Ki langsung bisa menebak isi hatinya, wajah Liang Fu Yong jadi merah

padam. Air mata yang mulai mengering kembali mengalir lagi. Setelah beberapa saat dia

baru menyahut:

“Aku yang dulu hanya tahu mengejar kesenangan. Ke mana-mana mencari laki-laki

untuk dipermainkan. Aku tidak pernah tahu hal yang lainnya kecuali melampiaskan hasrat.

Oleh karena itu, para sahabat di dunia Kangouw menjuluki aku Siau Yau Sian-li. Mereka

bahkan memaki aku sebagai perempuan jalang. Sejak mengenal dirimu, baru aku

menyesal atas kelakuanku di masa lalu. Aku berniat merubah kebiasaanku yang buruk dan

menjadi orang baik-baik. Tidak terduga muncul ketiga murid Bu Tong Pai tadi yang

langsung membuka mulut mencaci maki diriku. Mereka mengatakan bahwa di dunia ini

tidak ada lagi perempuan yang lebih rendah daripada diriku. Dengan menggabungkan diri,

mereka ingin menghukum mati diriku. Untung saja kau datang tepat pada waktunya

sehingga aku belum sempat terluka sedikit-pun. Akupun terhindar dari kematian.”

“Kalau Cici masih merasa benci terhadap mereka. Lain kali aku akan naik ke gunung Bu

Tong untuk mengobrak-abrik perguruan mereka. Biar rasa sakit hatimu terlampiaskan,

bagaimana?” tanya Tan Ki.

Liang Fu Yong tertawa sumbang.

“Tidak perlu melakukan hal itu. Perguruan Bu Tong Pai terkenal sebagai golongan putih

yang paling membenci segala macam kejahatan. Bertemu dengan manusia busuk seperti

aku ini, tentu saja mereka tidak sudi melepaskan. Kalaupun tadi aku sempat terbunuh,

 

mereka juga tidak dapat disalahkan. Tetapi karena masalah ini, aku teringat sebuah

pepatah yang mengatakan, “Sekali maling, selamanya tetap maling! Meskipun aku sudah

berniat menjadi orang baik-baik, tetapi pandangan orang lain terhadapku tetap sebagai

Siau Yau Sian-li, si perempuan jalang. Siapa yang mau tahu kesusahan dalam hatiku

bahwa aku telah berubah?” kata-katanya diucapkan dengan ke-pedihan yang tidak terkira.

Dua butir air mata diiringi suara yang gemetar terus mengalir turun.

Seumur hidupnya, baru kali ini Tan Ki melanggar tata susila dengan rebah bersama

seorang perempuan di atas rerumputan. Bersama-sama menikmati cahaya rembulan. Dia

juga baru kali ini menghadapi perempuan yang menangis dengan tersedu-sedu. Akibatnya

dia jadi kelabakan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Setelah termangu-mangu beberapa saat, cepat-cepat dia mengulurkan tangannya

menghapus air mata Liang Fu Yong. Bibirnya tersenyum lembut.

“Untuk apa kau berpikir banyak-banyak? Sama saja mencari kesulitan sendiri. Urusan

orang lain kita tidak perlu turut campur, demikian pula urusan kita sendiri. Biar mereka

mencerca dirimu, asal kau tetap berada di jalan yang lurus, suatu hari nanti, mereka pasti

akan mengerti sendiri.”

“Bicara memang mudah. Tetapi biar bagaimana sulit rasanya mencuci bersih dosaku di

masa lampau.” Liang Fu Yong menarik nafas dalam -dalam. Di wajahnya tersirat

penderitaan yang tidak terperikan.

Mendengar nada suaranya, Tan Ki menyadari bahwa Liang Fu Yong hampir merasa

putus asa menyongsong masa depannya yang tidak menentu. Lambat laun dia semakin

tertegun. Tiba-tiba teringat olehnya bahwa kaum wanita maupun anak gadis, apabila

mengalami suatu hal yang merupakan pukulan bathin, sering mengambil jalan pendek,

umpamanya masuk biara untuk menjadi biarawati atau bunuh diri agar terlepas dari

segala kesulitan. Hatinya menjadi terkesiap. Tangannya memeluk tubuh Liang Fu Yong

erat-erat. Seakan merasa takut kalau perempuan itu akan melarikan diri dari sampingnya.

Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Tunggu sampai kita sudah menikah, aku ingin lihat siapa yang berani mencaci dirimu.

Hm, hm… kalau sampai terdengar oleh telingaku, jangan salahkan apabila aku merobek

mulutnya!”

Mendengar kata-kata Tan Ki, hati Liang Fu Yong diliputi perasaan bahagia yang tidak

ter-kirakan. Wajahnya yang muram jadi berseri-seri. Bibirnya pun tersenyum.

“Pernikahan adalah masalah seumur hidup. Bukan semacam permainan. Perkataanmu

seperti yakin sekali bahwa bagaimanapun kau harus menikah dengan Cici. Apakah kau

memang sudah mempertimbangkannya matang-matang atau karena perasaan iba yang

timbul sesaat?”

Mendapat pertanyaan yang mendadak itu, Tan Ki jadi terpana.

‘Betul, mengapa aku tidak pernah memikirkan masalah ini. Apakah aku memang

mencin-tainya atau hanya kasihan kepadanya?’ tanyanya dalam hati.

 

Hatinya berpikir, otaknya bagai tersengat aliran listrik. Dia merasa kedua macam

pemikiran itu sama-sama memungkinkan. Tapi kalau dipertimbangkan kembali, keduaduanya

juga seperti benar namun juga salah. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana

harus menjawab pertanyaan itu.

Liang Fu Yong dapat melihat tampangnya yang serba salah. Tiba-tiba hatinya seperti

ter-tusuk puluhan jarum. Semacam kesedihan yang aneh menyelinap dalam hatinya.

Perasaannya seperti hancur lebur. Tetapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan

perasaan tersebut pada mimik wajahnya. Bibirnya malah tersenyum lembut.

“Urusan sepenting ini saja tidak kau pikirkan baik-baik. Jangan ceroboh asal comot

sehingga merusakkan kebahagiaanmu seumur hidup.”

Setelah mempertimbangkan sesaat, tiba-tiba dia seperti telah mengambil keputusan

yang tepat.

“Apapun yang kau katakan, aku tetap ingin hidup bersamamu sampai hari tua!” katanya

Mata Liang Fu Yong mengerling ke kiri dan kanan. Kemudian tampak dia tersenyum

lem-but.

“Apabila kau ingin aku menerimanya, boleh saja. Tapi ada syaratnya.” sahutnya

kemudian. “Apa syaratnya? Coba kau katakan, biar

aku pertimbangkan baik-baik.”

“Syaratku ini aneh sekali. Belum tentu kau dapat mengabulkannya.” dia berhenti

sejenak. Tiba-tiba sepasang matanya terpejam. Dengan penuh rasa haru dia berkata.

“Ciumlah aku…”

Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki agak tertegun. Kemudian dia malah tertawa

“Aku kira urusan sebesar apa, rupanya begitu. Cici sengaja memutar arah pembicaraan

sehingga aku jadi bingung. Kalau itu keinginanmu, Siaute terpaksa menurut.”

Tangan kirinya segera mengangkat dagu Liang Fu Yong sedikit. Agak lama juga dia

memandangnya. Dia melihat bibir itu begitu indah, menantang bahkan kemerahan

walaupun tidak diolesi gincu. Nafas yang keluar dari hidungnya sebentar lambat sebentar

cepat. Malah terendus keharuman yang khas.

Hatinya jadi tergerak, perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan menekankan

bibirnya di atas bibir tersebut. Begitu sepasang bibir bertemu, Tan Ki segera merasa

seluruh tubuhnya bagai disengat aliran listrik. Dia agak gemetar. Maklumlah, baru pertama

kali ini dia mencium seorang perempuan. Keempat anggota tubuhnya seperti kehilangan

Ada semacam perasaan yang melenakan serta membuat dirinya merasa nyaman.

Tetapi dia tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaan itu sesungguhnya. Tanpa dapat

dipertahankan lagi, sepasang lengannya memeluk Liang Fu Yong semakin erat.

 

Pada saat itu juga, dia telah memejamkan matanya seakan sedang menikmati apa yang

sedang berlangsung. Entah sejak kapan, sepasang mata Liang Fu Yong yang juga

terpejam mengalirkan dua bulir air mata. Kalau saja Tan Ki tahu apa yang sedang tersirat

dalam hatinya saat itu, maka ciuman itu menjadi ciuman yang paling mengenaskan.

Tampak sepasang lengannya yang indah memeluk leher Tan Ki erat-erat. Ciumannya

semakin mesra. Rembulan masih bersinar. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi. Kurang lebih

sepeminuman teh, Tan Ki mendorong tubuh Liang Fu Yong perlahan-lahan. Dua pasang

matapun bertemu. Tanpa terasa wajah keduanya jadi merah padam.

Dengan gerakan yang lemah gemulai, Liang Fu Yong mengulurkan tangannya untuk

memeluk sekali lagi.

“Sekali lagi…” katanya lirih.

Tan Ki tersenyum lembut. Dia menurut apa yang diminta oleh Liang Fu Yong dengan

men-ciumnya sekali lagi. “Sekali lagi…”

Hal ini berlangsung terus. Entah berapa kali sudah bibir mereka saling bertautan. Tan Ki

seperti terlena. Bahagianya bukan main. Akhirnya mereka saling melepaskan diri juga.

“Cici, sisakan untuk malam pernikahan kita. Hari sudah hampir terang, kita boleh melanjutkan

perjalanan sekarang.”

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya beberapa kali. Rasanya seperti ingin

memandang Tan Ki terus menerus. Tapi dia tetap membungkam seribu bahasa. Pada

dasarnya, Tan Ki memang seorang pemuda yang berotak cerdas. Pikirannya cepat

tanggap terhadap suasana sekitar. Tiba-tiba dia merasa ada yang tidak beres. Dia

merenungkan kembali gerak-geriknya sejak awal hingga akhir. Semakin dipikirkan,

hatinyapun semakin yakin akan dugaannya sendiri. Perempuan itu pasti sudah

merencanakan sesuatu.

Pandangan mata Liang Fu Yong tajam sekali. Melihat sepasang bola mata Tan Ki terus

bergerak memperhatikan dirinya lekat-lekat. Hatinya menjadi panik. Terdengar tarikan

nafas perempuan itu. Tarikan nafasnya seperti menyiratkan perasaan hatinya yang pedih.

Pada malam yang sesunyi ini, kedengarannya malah tambah menyayatkan hati.

Tepat pada saat perempuan itu selesai menarik nafas panjang, tiba-tiba tangannya

terulur dengan cepat dan tahu-tahu dia menotok salah satu urat darah di tubuh anak

muda tersebut.

Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Hatinya menjadi

tercekat. Tiba-tiba urat nadinya terasa kesemutan dan seluruh tubuhnya jadi lemas tidak

bertenaga. Dia langsung membentak dengan suara keras.

“Apa yang kau lakukan?”

Meskipun dirinya sudah tertotok, tetapi cara turun tangan Liang Fu Yong memang

sudah dipertimbangkan matang-matang. Jadi dia tetap dapat berbicara. Tampak Liang Fu

Yong melonjak bangun. Bibirnya tersenyum.

“Dengan demikian kau tidak bisa mengejar aku lagi.”

 

Dia membalikkan tubuhnya dan menghambur ke depan secepat kilat. Tetapi di kala

tubuhnya baru bergerak, sudah terlihat air matanya mengalir dengan deras. Wajahnya

tampak muram sekali.

BAGIAN XV

“Cici, kau hendak ke mana?” teriak Tan Ki panik.

“Dunia ini luas sekali, ke manapun aku bisa pergi…”

Entah karena hati Tan Ki terlalu panik sehingga tidak dapat mendengar jelas ucapannya

atau perasaan Liang Fu Yong yang terlalu pedih sehingga suaranya seperti tercekat di

tenggorokan. Pokoknya setelah mengucapkan beberapa patah kata itu, orangnya sudah

jauh sekali dan sekejap mata kemudian menghilang dari pandangan.

Yang tersisa hanya gema suaranya yang terdengar begitu menyayat dan mengandung

penderitaan yang hebat. Sampai saat ini Tan Ki baru tersadar. Liang Fu Yong mendapat

caci maki dari para murid Bu Tong Pai, hal ini membangkitkan kenangan masa lalunya

yang gelap. Dalam keadaan tertekan, juga pukulan bathin yang hebat. Meskipun dirinya

sendiri sudah berniat bertobat, tetapi dia seperti kehilangan rasa percaya diri. Dengan

terang-terangan dia minta dicium oleh Tan Ki, pada dasarnya hanya sebagai kenangan

menjelang perpisahan.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat dipertahankan lagi, dia memaki-maki dirinya sendiri.

Mengapa sampai hal sekecil ini dia juga tidak menyadarinya sejak semula?

Sembari menyalahkan dirinya sendiri, matanya terus memandang arah di mana Liang

Fu Yong pergi. Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu. Tiba-tiba wajahnya terasa

sejuk. Setetes embun menyadarkannya dari rasa sedih.

Dia mendongakkan kepalanya. Di ujung langit telah terbit seberkas sinar. Fajar

sebentar lagi akan menyingsing, angin masih terasa sejuk. Hal itu membuat perasaan anak

muda itu semakin pilu.

Setelah berbaring sejenak, hatinya berpikir untuk membalikkan tubuhnya, tetapi

tenaganya tidak ada sama sekali. Keinginannya pun tidak dapat terkabul. Tanpa sadar dia

menarik nafas panjang.

‘Seandainya aku pernah mempelajari Lwe Kang, tentu aku dapat melancarkan hawa

murni untuk menerobos urat yang tertotok. Sayangnya Cici hanya menjelaskan sedikit

pelajaran tersebut. Sehingga totokan yang tidak seberapa berat ini pun membuat aku

tidak berdaya!’ pikirnya dalam hati.

Tepat pada saat itu juga, telinganya menangkap kibaran pakaian yang sedang menuju

ke tempatnya. Cepat-cepat dia mengerlingkan matanya memandang. Hatinya menjadi

gembira bukan kepalang.

“Aku tahu kau pasti akan kembali.” katanya sambil tersenyum.

 

Liang Fu Yong hanya tertawa datar. Tampaknya dia tidak merasa heran. Wajahnya juga

tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Tan Ki tersenyum.

“Kau meninggalkan aku terbaring seorang diri di tempat ini, apalagi aku tidak dapat

bergerak sama sekali. Kalau aku sampai tergigit ular berbisa atau disantap binatang buas,

tamatlah riwayatku. Aku rasa setelah kau pergi, tentu kau baru teringat akan hal ini. Itulah

sebabnya kau kembali lagi.”

Liang Fu Yong tertawa getir.

“Tekadku untuk pergi sejak semula sudah kupertimbangkan matang-matang. Meskipun

gunung Thai San menjulang di hadapanku, niatku juga tidak akan berubah. Kali ini aku

kembali, hanya untuk menyampaikan beberapa patah kata. Pertemuan kita terlalu lambat,

dalam hal ini entah siapa yang harus disalahkan. Dunia memang penuh dengan tragedi.

Mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir kalinya…”

Berkata sampai di sini, dia merandek sejenak. Dia membuka jubah panjang yang

diberikan oleh Tan Ki. Dia menyelimuti anak muda tersebut dengan jubahnya sendiri.

Kemudian dia mengeluarkan bendera merah yang terselip di pinggangnya. “Bendera ini

dinamakan Tiat Hiat (Darah Besi). Di lihat dari luar memang biasa-biasa saja. Tidak ada

keistimewaannya sama sekali. Tetapi benda ini merupakan lambang perintah dari Barisan

Jendral Langit. Keampuhannya sampai di mana, kau sudah pernah menyaksikan sendiri.

Tetapi harap kau ingat baik-baik, si tua bangka Oey Kang merupakan manusia yang

sangat licik. Ilmu senjata rahasianya tinggi sekali. Barisan Jendral Langit merupakan hasil

didikannya langsung. Setiap orangnya dapat menimpukkan tiga macam senjata rahasia

sekaligus. Apabila kelak kau kebetulan datang lagi ke Pek Hun Ceng, maka kau harus

berhati-hati terhadap bokongan senjata rahasia mereka. Aku sudah berkhianat terhadap

Pek Hun Ceng, bahkan mencuri Tiat Hiat Ki ini. Oey Kang pasti membenci aku sampai ke

tulang sumsum. Kelak apabila aku sampai terjatuh ke tangannya. Hidup atau mati sulit

ditentukan.”

Otaknya segera membayangkan bagaimana Oey Kang membereskan seorang murid

yang mengkhianatinya. Cara turun tangannya yang demikian keji, rasanya tiada duanya

lagi di dunia ini. Tanpa terasa tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi

Sejenak kemudian dia meletakkan bendera tersebut di atas kepala Tan Ki.

“Baik-baiklah menjaga diri, aku pergi…” kata-katanya pendek, tetapi mengandung

makna yang dalam. Tan Ki yang mendengarnya sampai tertegun. Dia melihat kaki Liang

Fu Yong melangkah mundur setindak demi setindak. Tampaknya sebentar lagi dia akan

meninggalkan Tan Ki. Hati anak muda itu menjadi panik. Rasanya dia ingin berteriak

sekeras-kerasnya agar Liang Fu Yong membatalkan maksudnya. Tetapi dia tidak tahu

kata-kata apa yang harus diucapkannya. Dia hanya merasa ada segulung kepedihan yang

memenuhi hatinya. Perasaannya bagai hancur lebur. Ingin rasanya dia mengorek hatinya

sendiri agar Liang Fu Yong dapat melihat bagaimana khawatirnya dia saat itu.

 

Akhirnya, dia hanya melihat saja Liang Fu Yong meninggalkan dirinya setindak demi setindak.

Ketika akan melangkah pergi, Liang Fu Yong seperti merasa berat berpisah dengan Tan

Ki. Meskipun kakinya terus maju, namun setiap tiga langkah, dia pasti menoleh kembali.

Dari sinar matanya terpancar kerinduan dan kepedihan yang tidak terkirakan.

Sebagian sukma Tan Ki seakan dibawa pergi juga oleh perempuan itu. Meskipun Liang

Fu Yong sudah meninggalkannya cukup lama, namun dia masih memandangi arah

kepergiannya dengan termangu-mangu. Tampak air matanya mengalir dengan deras

membasahi kedua pipinya.

Yang Kuasa seperti mempermainkan nasib anak manusia. Takdir memang tidak dapat

ditolak. Dia ingat ketika pertama kali bertemu dengan Mei Ling serta pelayannya Kiau Hun.

Meskipun, gadis itu hanya seorang budak, tetapi api asmara di dalam kalbunya juga

berkobar-kobar. Namun, gadis itu juga meninggalkan dirinya dengan membawa hati yang

terluka…

Kalau dibandingkan, tampaknya penderitaan Liang Fu Yong lebih hebat, belum lagi

pukulan bathin yang diterimanya, juga berlipat ganda!

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia menarik nafas panjang. Air matanya mengalir

semakin deras. Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang dingin yang datang dari

samping tubuhnya.

“Seorang laki-laki sejati lebih memilih terjun ke jurang yang dalam daripada cengeng

seperti perempuan. Coba lihat dirimu, menangis tersedu-sedu, menarik nafas panjang

pendek, masa pantas disebut seorang pendekar yang gagah?” sindir orang itu.

Mendengar ucapan orang itu, Tan Ki terkejut setengah mati. Dirinya tenggelam dalam

kesedihan sampai sedemikian rupa, sampai ada orang yang berdiri di sampingnya, dia

tidak menyadarinya sama sekali. Begitu terperanjatnya Tan Ki, sampai seluruh tubuhnya

basah oleh keringat. Dia segera memalingkan wajahnya. Si pengemis sakti Cian Cong

dengan tubuhnya yang tinggi besar sudah berdiri dalam jarak kurang lebih lima langkah di

sebelah kirinya. Cepat-cepat dia mengembangkan seulas senyuman.

“Locianpwe…” sapanya.

Belum lagi kumandang suaranya sirap, Cian Cong sudah mendengus dingin. Mulutnya

langsung mengomel.

“Pagi-pagi buta ada tempat tidur tidak ditiduri, malah datang ke tempat ini dan purapura

gila. Kau kira si pengemis tua tidak menjadi marah?” tiba-tiba sebelah kakinya

terjulur dan ditendangnya Tan Ki keras-keras.

Orang ini memang tidak malu disebut sebagai salah satu dari dua tokoh sakti di dunia

ini. Pengetahuannya sangat luas. Sekali pandang saja dia sudah tahu kalau Tan Ki dalam

keadaan tertotok. Tendangannya tadi begitu cepat, namun begitu sampai di tubuh Tan Ki,

tidak terasa sakit sama sekali. Malah jalan darahnya yang tertotok jadi terbuka.

Dengan pandangan kagum, Tan Ki langsung meloncat bangun. Dia menggerakkan

anggota tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian dia mengambil bendera merah yang

 

ditinggalkan Liang Fu Yong dan menyelipkannya di pinggang. Setelah itu dia menjura

dalam-dalam kepada Cian Cong.

“Terima kasih atas pertolongan Locianpwe. Kalau tadi Locianpwe tidak menghadiahkan

sebuah tendangan, entah sampai kapan Boanpwe harus terbaring di tempat ini.” hatinya

teringat kesedihan Liang Fu Yong ketika akan meninggalkannya. Hatinya masih terasa pilu.

Tetapi di hadapan seorang tokoh sakti, dia tidak berani berlaku kurang ajar. Selesai

berkata, sekali lagi dia membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.

“Menurut Ciong San Suang-siu, kau mengejar Oey Kang. Sampai sekarang dua hari

sudah berlalu, mengapa kau malah terbaring di tempat ini dan bermimpi yang bukanbukan?”

Tan Ki tertawa getir. Dia menceritakan bagaimana dirinya ditolong oleh Mei Ling,

sampai ia dibawa oleh Oey Kang. Seluruhnya dikisahkan dengan jelas. Tetapi dia menutupi

nama busuk Liang Fu Yong di luaran, malah mengisahkan bagaimana dia mengorbankan

diri sehingga diperkosa oleh Oey Kang.

Cian Cong mendengarkan dengan seksama. Akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Di dunia ini ternyata ada seorang gadis yang begitu mulia hatinya. Pada suatu hari

nanti, si pengemis ingin sekali belajar kenal dengannya.” dia merandek sejenak. Kemudian

mengalihkan ‘pokok pembicaraan. “Tua bang-ka itu benar-benar jahat. Mengapa tidak

mencari wanita penghibur saja malah…”

Dia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Seperti ada sesuatu yang terlintas dalam

benaknya. Rupanya orangtua ini memang membenci sekali segala macam kejahatan. Dan

wataknya juga agak aneh. Tindak-tanduknya kadang-kadang menyimpang dari jalur dan

selalu di luar dugaan orang lain. Sejak bertarung dengan Ciu Cang Po di atas genting Cui

Sian Lau tempo hari, meskipun dia berhasil melukai nenek tua tersebut, namun dia juga

dikejutkan oleh gerakan tubuh Oey Kang ketika datang dan pergi. Dia menjadi kagum

sekali. Timbul perasaan menyayangkan dalam hatinya. Saat ini, mendengar keterangan

Tan Ki bahwa orang itu juga mata keranjang, memang tepat kalau disebut sebagai raja

iblis nomor satu di dunia ini. Hatinya menjadi tergerak, tanpa sadar dia menarik nafas

panjang kembali.

Mendengar ucapannya yang sepotong itu, Tan Ki sudah paham isi hati tokoh tua

tersebut. Dia teringat saat-saat di mana Liang Fu Yong diperkosa oleh raja iblis itu, hawa

amarahnya langsung meluap-luap. Sepasang alisnya terjungkit ke atas.

“Sikap Locianpwe terhadap orang tersebut seakan menutupi sesuatu, hal ini benarbenar

membuat Boanpwe tidak habis pikir…” tiba-tiba dalam perutnya terdengar suara air

yang beriak-riak. Rupanya dia sudah kelaparan setengah mati. Sudah dua hari dua malam

dia tidak mengisi perut, malah dirinya tidak sadar akan hal ini.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Cian Cong malah seperti tidak mendengarkan.

Tampak dia tertawa terbahak-bahak.

“Mari ikut aku.” katanya.

Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia menghambur menuju lembah sebelah kiri.

Melihat tindak-tanduknya, mula-mula Tan Ki tertegun. Tetapi pada dasarnya dia memang

 

seorang pemuda yang cerdas. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera menggerakkan

kakinya mengejar ke depan.

Meskipun si pengemis sakti Cian Cong tidak menolehkan kepalanya sama sekali. Tetapi

setiap gerak-geriknya dapat diketahui oleh tokoh sakti tersebut. Begitu Tan Ki mengejar,

dia pun menambali kecepatan langkahnya.

Tampaknya dia ingin mengadu kecepatan kaki dengan Tan Ki. Langkahnya mendadak

dipercepat, gerakan tubuhnya laksana terbang dan menerjang ke depan. Sepasang alis

Tan Ki bertaut erat.

‘Rupanya kau ingin menguji diriku?’ katanya dalam hati.

Dipertahankannya luka dalam yang dideritanya, kecepatan kakinya ditambah. Dikerahkannya

ilmu ginkang tingkat tinggi. Tubuhnya pun seakan melayang di udara. Pakaiannya

berkibar-kibar, menimbulkan deruan angin.

Gerakan mengadu kecepatan kedua orang ini benar-benar seperti dua ekor kijang yang

saling mengejar. Di bawah sorotan terik matahari, tampak dua titik hitam yang berendeng

dan melesat ke depan. Dalam pandangan orang biasa, tentu tidak mengira bahwa kedua

titik hitam itu merupakan dua orang tokoh silat kelas tinggi yang sedang berlari.

Dalam waktu yang singkat mereka sudah berlari sejauh dua li. Jarak diantara mereka

tetap kurang lebih dua depa. Tan Ki tidak dapat lebih dekat satu inci pun, dan Cian Cong

juga tidak sanggup menarik jarak lebih jauh satu langkahpun.

Tiba-tiba tampak sepasang lengan Cian Cong bergerak sedikit, tahu-tahu tubuhnya

sudah mencelat ke atas setinggi satu depa. Dia melayang melewati sebuah batu karang

dan tahu-tahu hilang dari pandangan.

Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan memandang ke daerah sekitar. Dia melihat

semak belukar di mana-mana. Udara terasa agak lembab. Rupanya kedua orang itu terus

berlari dan tidak memperhatikan arah sama sekali. Tahu-tahu mereka sudah sampai di

pegunungan yang ditumbuhi rumput-rumput serta semak-semak belukar.

Mula-mula Tan Ki agak ragu, tetapi akhirnya dia melangkah perlahan-lahan memanjat

batu karang. Segulungan angin gunung menghembuskan bau harum arak dan daging

bakar. Tanpa sadar kakinya mengikuti sumber bau harum itu.

Begitu matanya memandang, dia melihat si pengemis sakti Cian Cong sedang duduk

ber-sandar di batang pohon. Matanya terpejam, dia sedang beristirahat. Di hadapannya

terdapat tiga bongkah batu yang mana di atasnya menangkring sebuah panci. Tungku api

alami yang dibuatnya sudah menyala. Uap mengebul-ngebul dari dalam panci. Sehingga

tutup di atasnya bergerak-gerak. Entah apa yang dimasaknya. Bau daging yang menusuk

terendus dari panci tersebut.

Hidung Tan Ki mengendus bau harum masakan. Dia memandang panci yang sedang

mengepulkan uap panas tersebut. Perutnya semakin keroncongan. Matanya sampai

berkunang-kunang. Diam-diam dia meneguk air liur, tetapi tidak berani membuka mulut

meminta makanan itu.

 

Setelah berdiri agak lama, terdengar suara bersin dari hidung si pengemis sakti.

Dengan gerak lambat dan kemalas-malasan, dia mengeluarkan tujuh delapan biji bakpao

yang sudah gepeng karena terlalu sering tertekan. Dia melemparkannya ke arah Tan Ki.

“Sambutlah!”

Caranya melempar bakpao itu seakan menggunakan ilmu yang khas. Jarak bakpao itu

kurang lebih masih kurang lebih dua inci, sudah terasa hembusan angin yang terpancar

dari lemparannya.

Hati Tan Ki diam-diam merasa kagum. Dengan cepat dia mengulurkan tangannya dan

secara berturut-turut dia berhasil menangkap lima butir bakpao. Tampak Cian Cong

tersenyum simpul kepadanya.

“Gerakan yang bagus. Tampaknya mau tidak mau, kau harus ikut ke Pek Hun Ceng kali

ini.”

Tan Ki langsung tertegun.

‘Rupanya lemparan bakpao ini mempunyai maksud tersendiri. Tampaknya kau ingin

menguji kesigapanku dalam menyambut senjata rahasia.’ pikirnya dalam hati.

Begitu hatinya tergerak, tadinya dia bermaksud mengajukan beberapa pertanyaan.

Tetapi rasa lapar di perutnya tidak tertahankan lagi. Dengan lahap dia menikmati makanan

di tangannya. Dalam waktu yang singkat, kelima butir bakpao tersebut sudah habis

tertelan ke dalam perutnya.

Sementara itu, tangan kanan Cian Cong menggenggam sepotong paha ayam.

Sedangkan tangan kirinya memegang hiolo arak kesayangannya. Setiap menggigit ujung

paha ayamnya sekerat, dia pun minum araknya seteguk. Tampaknya dia sangat menikmati

cara makannya itu.

Tan Ki tahu, diantara tokoh-tokoh sakti di dunia Bulim, ada beberapa yang wataknya

aneh. Biasanya mereka tidak suka segala peradatan. Melihat Cian Cong menikmati

makanannya dengan lahap, dia jadi tidak enak hati mengganggunya dengan pertanyaanpertanyaan.

Diam-diam dia berdiri di samping dan menunggu kurang lebih setengah

kentungan. Akhirnya sepotong paha ayam dan sekendi arak itu habis juga. Tan Ki baru

berani menghampiri tokoh tua itu.

“Kalau mendengar kata-kata Locianpwe tadi, apakah yang dimaksudkan sebagai Pek

Hun Ceng adalah tempat tinggal si raja iblis Oey Kang?”

“Tidak salah. Orang yang pergi ke sana bukan hanya si pengemis tua saja. Masih ada

orang-orang dari lima partai besar yakni, Siau Lim, Bu Tong, Kun Lun, Go Bi dan Ceng

Cen. Kalau seluruh Hwesio dan Tojin dihitung sekaligus, jumlahnya tidak kurang dari

seratus orang. Mereka semua berbondong-bondong menuju Pek Hun Ceng. Bahkan ada

beberapa pendekar yang tidak termasuk perguruan maupun partai lima besar ikut

mengambil bagian.” selesai berkata, dia langsung mendongakkan wajahnya dan tertawa

terbahak-bahak. “Dengan berkumpulnya tokoh-tokoh ini, tentu ada keramaian yang dapat

disaksikan.”

 

“Kalau para pendekar dunia Bulim semuanya menggabungkan diri, meskipun Oey Kang

mempunyai kepandaian setinggi langit, juga tidak sanggup menghadapi kemarahan

mereka. Satu Pek Hun Ceng yang demikian kecil, tentu tidak sanggup menahan…”

Wajah Cian Cong menjadi serius. Dia segera menukas ucapan Tan Ki yang belum

“Si pengemis tua sengaja menerjunkan diri ke dunia Kangouw untuk kedua kalinya,

karena mendengar gerak-gerik Cian bin mo-ong yang sudah keterlaluan. Itulah sebabnya,

si pengemis tua tiba-tiba muncul di Lok Yang. Dalam beberapa hari ini, tidak terdengar

berita si iblis seribu wajah itu, malah perasaan si pengemis tua semakin khawatir.

Sekarang karena terdesak oleh keadaan, hati si pengemis tua malah dibebani persoalan

yang lain…”

Diam-diam Tan Ki merasa geli.

‘Cian bin mo-ong justru ada di hadapan kau, si pengemis sakti. Sayangnya

pandanganmu kurang tajam sehingga tidak mengenali…’ katanya dalam hati.

Meskipun hatinya berpikir demikian, tetapi wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan

“Apa persoalan yang lainnya itu?” tanyanya tenang.

“Ya, urusan Oey Kang itulah. Orang ini mempunyai berbagai macam kepandaian.

Ilmunya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Bukan si pengemis sakti memujinya,

kalau suruh si pengemis tua bertarung dengannya tiga hari tiga malam juga tidak menjadi

persoalan, tetapi dia mempunyai keahlian dalam senjata rahasia. Itulah yang membuat

kepala si pengemis tua menjadi pusing tujuh keliling. Sekali bergebrak, senjata rahasianya

langsung disambitkan ke mana-mana. Hebatnya, pukulan maupun totokan jarinya tidak

berhenti melancarkan serangan. Hal ini membuat orang yang diserangnya tidak dapat

menduga-duga atau mengadakan persiapan sebelumnya. Walaupun dapat meloloskan diri

dari tiga batang pisaunya, atau sembilan keping uang logam emas, tetap sulit menghindar

dari dua puluh tujuh jarum beracunnya. Malah pernah dengar orang mengatakan, sejak

berhasil melatih ilmu tersebut, dia tidak pernah melancarkan ketiganya sekaligus.”

Tan Ki seperti kurang percaya.

“Benarkah sampai sedemikian hebat ilmunya?”

“Benar atau tidaknya, asal sudah dicobakan bisa ketahuan. Kita juga sudah boleh

berangkat. Kalau sampai terlambat mengikuti pertemuan, mungkin akhirnya bisa menyesal

seumur hidup.”

Orangtua itu segera berdiri kemudian menepis-nepis pantatnya yang kotor.

Tan Ki tertawa lebar.

“Dengan adanya bantuan dari Locianpwe, kekuatan para pendekar menjadi berlipat

ganda.”

 

Sembari berkata, kedua orang itu segera mengerahkan ilmu ginkangnya. Secepat kilat

mereka berlari. Tampak dua baris pepohonan yang ada di kiri dan kanan seakan bergerak

mundur dengan pesat. Angin terus menimbulkan suara dengungan di telinga.

Pada saat sedang berlari itulah, tiba-tiba terdengar Cian Cong berkata:

“Ulurkan tanganmu ke mari!”

Tan Ki segera mengikuti perkataannya dengan mengulurkan tangan kanan.

Dibiarkannya Cian Cong menggandeng tangannya itu meskipun dia tidak mengerti maksud

si pengemis sakti tersebut. Namun langkah kaki keduanya tidak berhenti, mereka terus

berlari ke depan. Mendadak dia merasa ada segulungan hawa panas mengalir dari telapak

tangan orangtua itu yang mendorong masuk lewat tangannya lalu menyusup ke dalam

dada serta isi perutnya.

Aliran hawa panas ini kuat sekali, setingkat demi setingkat, segulung demi segulung,

terus mendesak ke dalam. Setingkat demi setingkat bertambah panas, segulung demi

segulung bertambah cepat. Seluruh anggota tubuh terasa hangat, ada semacam

kenyamanan yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Tanpa dapat ditahan lagi, keringat

segera membasahi seluruh tubuh Tan Ki. Pikiran seakan menjadi lebih terang, nafaspun

lebih teratur, luka yang dideritanya pun sudah pulih sebagian besar.

Rasa terkejut serta gembira bercampur aduk dalam hatinya. Orangtua ini mempunyai

watak yang aneh. Kalau bicara selalu ceplas-ceplos yang mana sering membuat orang

menjadi jengah dan serba salah. Tapi setiap tindak-tanduknya, tidak ada satupun yang

tidak membuat orang menjadi kagum. Bahkan terhadap seseorang yang tidak ada

hubungannya seperti aku ini, dia juga tidak sayang menyalurkan hawa murninya guna

membantuku menyembuhkan luka dalam. Tindakan yang demikian bijak dan berhati

mulia, di dunia ini masih ada berapa orang yang bersedia melakukannya? Gerakan kakinya

tetap tidak berhenti, sembari berlari dia sanggup menyalurkan hawa murni dengan lancar

menerobos seluruh tubuh. Hal ini membuktikan bahwa ilmu orangtua ini telah mencapai

taraf yang tidak terkira tingginya.

Begitu pikirannya tergerak, dalam hati Tan Ki pun timbul rasa hormat kepada si

pengemis sakti tersebut. Tanpa sadar dia menolehkan kepalanya melirik Cian Cong

beberapa kali. Di wajahnya tersirat perasaan terima kasih serta haru yang tidak

Cara lari kedua orang itu demikian ringan dan cepat. Tidak berapa lama kemudian,

mereka sudah sampai di sebuah hutan yang lebat sekali. Sampai di tempat ini, mendadak

Cian Cong menghentikan langkah kakinya. Matanya menatap ke arah papan peringatan

yang bertuliskan: ‘Sebelum masuk wilayah ini, urus dulu masalah penguburan.’ Cian Cong

langsung tertawa dingin, dia menolehkan kepalanya dan berkata:

“Kau tunggu di sini, si pengemis tua ingin masuk ke dalam dan meninjau sebetulnya

ada persiapan apa yang mengejutkan orang.”

Tan Ki tahu orangtua itu merasa sayang kepadanya, dia tidak ingin dirinya terjerumus

dalam bahaya, tetapi karena hatinya merasa kagum serta hormat kepada orangtua ini,

tanpa sadar diapun mengkhawatirkan keselamatannya.

 

“Locianpwe hendak masuk ke sarang harimau, mana boleh Boanpwe ketinggalan. Kalau

memang mau meninjau, biar kita tinjau sama-sama, hidup atau mati kita jalani bersama.

Untung rugi kita bagi rata.”

Mendengar ucapannya yang gagah, Cian Cong langsung tersenyum simpul. Dia segera

menganggukkan kepalanya.

“Boleh juga, kalau si pengemis tua sampai pulang ke rumah kakek moyang, toh jadi

tidak kesepian karena ada yang menemani.”

Selesai berkata, dia langsung mendahului masuk ke dalam hutan tersebut.

Sejak mendapat saluran hawa murni dari si pengemis sakti, luka Tan Ki sudah hampir

pulih. Hanya saja dalam beberapa hari ini dia terus dikecewakan masalah cinta kasih, jadi

tekanan bathinnya yang agak parah itu masih terasa. Melihat Cian Cong sudah mendahului

masuk ke dalam hutan, dia segera menghimpun hawa murninya guna melindungi tubuh.

Kakinya langsung berlari mengejar Cian Cong.

Baru saja sebelah kakinya menginjak ke dalam hutan, tiba-tiba matanya terasa

berkunang-kunang. Keadaan langsung berubah. Tampak di depan belakang kiri maupun

kanannya semua merupakan pepohonan. Dirinya bagai terkepung. Dia mempertajam

penglihatannya memperhatikan, tetapi dirinya malah seperti berada di lautan luas yang

tidak terlihat tepiannya. Dia juga tidak berhasil menemukan arah dari mana dia masuk

Saat itu, tengah hari belum lagi tiba. Matahari bersinar cerah. Tetapi diri Tan Ki yang

terperangkap dalam hutan itu malah tidak dapat melihat sinar sedikitpun. Cahaya matahari

yang terik itu seakan diselimuti oleh dedaunan serta pohon-pohon yang lebat sehingga

tidak dapat menerobos sedikitpun. Meskipun biasanya nyali Tan Ki sangat besar,

menghadapi situasi seperti ini, diam-diam hatinya tercekat juga. Perubahan ini memang

terlalu aneh.

‘Ketika berdiri di luar, tampaknya hutan ini tidak ada kelainan apa-apa. Mengapa begitu

masuk ke dalam, semuanya jadi berubah? Kecuali tempat di mana aku berdiri, di manamana

yang terlihat hanya bayangan pepohonan, bahkan sedikit tempat yang kosongpun

tidak terlihat.’ pikirnya dalam hati.

Pada saat pikirannya dilanda kebingungan itulah, tiba-tiba terdengar Cian Cong

mendengus dingin. Tan Ki segera mengalihkan pandangannya. Tampak mimik wajah

orangtua itu kelam sekali. Mulutnya terus bergerak-gerak, seakan sedang menghitung

sesuatu. Oleh karena itu, Tan Ki hanya berdiri di belakangnya tanpa berani menganggu

pikiran si pengemis sakti.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, di wajah Cian Cong yang tadinya kelam

mulai merekah seulas senyuman.

“Si maling tua Oey Kang itu ternyata memang bukan tokoh sembarangan. Dia sanggup

menggabung perubahan Pat Kua dan Kiu

Kong sehingga pengaruhnya lebih kuat. Hampir saja si pengemis tua tertipu olehnya.”

 

Tiba-tiba dia menghimpun hawa murninya, kaki kiri digerakkan perlahan-lahan seakan

takut ada jebakan yang terpasang di hadapannya. Dengan hati-hati orangtua itu maju

setengah langkah, orangnya pun segera membelok di balik sebatang pohon.

Tan Ki sadar dirinya tidak mengerti unsur langkah seperti Pat Kua maupun Kiu Kong.

Biasanya perubahan unsur-unsur ini memang ajaib sekali. Dia takut kehilangan jejak Cian

Cong, maka dari itu, cepat-cepat dia menyusul dari belakang. Langkah kaki Cian Cong

baru saja berhenti, Tan Ki sudah sampai di belakangnya.

Cian Cong menolehkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian dia melangkah ke dalam

sejauh sembilan tindak. Setelah itu menggeser ke kanan sejauh empat tindak. Tan Ki terus

mengikuti dengan ketat, ternyata memang tidak terdapat halangan apapun. Dalam waktu

yang singkat, mereka sudah masuk sejauh lima enam puluh depa, hati Tan Ki diam-diam

menghitung. Dia tahu apabila mereka melangkah beberapa tindak lagi, mereka segera

dapat menerobos keluar dari bayangan pepohonan yang menyeramkan itu. Tanpa terasa

hatinya menjadi gembira. Perasaan hormatnya kepada Cian Cong semakin bertambah.

Pikirannya melayang-layang, tetapi sebetulnya hanya sekejap mata. Tiba-tiba terdengar

suara keluhan dari mulut Cian Cong. Langkah kakinya mendadak terhenti. Wajahnya

menyiratkan rasa terkejut serta penasaran.

Tan Ki jadi tertegun. Baru saja dia ingin bertanya, sudah terdengar Cian Cong menarik

nafas panjang.

“Tadinya pengemis tua mengira bahwa barisan pepohonan ini hanya merupakan

gabungan dari unsur Pat Kua dan Kiu Kong, tidak tahunya masih banyak unsur lainnya

yang terdapat di dalamnya. Malah Im dan Yang dapat diputar balikkan sehingga arahnya

menjadi berubah…”

Tan Ki terkejut sekali.

“Apa? Jadi kita sudah tersesat dan tidak dapat keluar lagi?”

Wajah Cian Cong berubah kelam kembali.

“Walaupun belum sampai tersesat, tetapi babak kali ini, si pengemis tua rela mengaku

kalah. Memang sulit untuk keluar dari barisan pepohonan ini.”

Tan Ki tersenyum simpul.

“Seseorang salah menduga, merupakan hal yang wajar. Kita bisa mundur kembali ke

tempat semula dan mulai lagi dari awal.” katanya menghibur.

Cian Cong tidak berkata apa-apa. Dia hanya menarik tangan Tan Ki dan mengajaknya

kembali ke tempat semula. Setelah berputar ke kiri dan membelok ke kanan beberapa kali,

akhirnya mereka sampai di luar hutan.

Tan Ki melihat mimik wajah Cian Cong jauh berbeda dengan biasanya. Kali ini sungguh

tidak enak dipandang. Hatinya jadi sedih. Dia tetap membungkam seribu bahasa. Perlu di

ketahui, seorang tokoh Bulim, apabila namanya menjulang semakin tinggi, maka ia akan

memandang harga dirinya semakin tinggi juga. Si pengemis tua ini merupakan salah satu

dari dua tokoh sakti di dunia Kangouw. Nama besarnya sudah menggemparkan dunia

 

persilatan. Tapi justru dia terkurung di dalam barisan pepohonan ini dalam waktu yang

dibilang lama juga tidak, tapi sebentar juga tidak. Tentu saja dia merasa malu sekali.

Padahal dia orang yang optimis dan selalu berpandangan luas, tetapi kali ini mau tidak

mau menelan seluruh kekesalan hatinya dalam-dalam.

Sementara itu, di sekeliling mereka kembali terkepung pepohonan dalam jumlah yang

tidak terhitung. Angin lembut berhembus. Pikiran yang tegangpun seakan ikut terbang

seiring dengan tiupan angin tersebut. Tetapi wajah Cian Cong masih murung seperti tadi.

Keriangannya di waktu kemarin-kemarin seolah lenyap entah ke mana.

Mata Tan Ki segera beredar, tiba-tiba dari bagian depan terlihat belasan orang sedang

berlari dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Gerakan setiap orang itu seperti burung

camar yang terbang melayang. Jarak yang masih empat puluh depaan, dalam sekejap

mata, tahu-tahu sudah ada di hadapan mereka.

Orang yang paling depan, mungkin yang bertindak sebagai pemimpin, merupakan

seorang pemuda berwajah tampan. Alisnya bagus matanya bersinar terang. Tampaknya

dia melihat Cian Cong dan Tan Ki berjalan keluar dari hutan maka merasa di luar dugaan

sehingga terkejut sekali. Langkah kakinya pun otomatis terhenti. Dia memperhatikan

kedua orang itu dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Dari mulutnya terdengar suara

keluhan yang lirih. Kemudian dia merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura

dalam-dalam.

“Yang ini mungkin ’si lengan koyak’ Cian Cong Locianpwe yang namanya sudah menggetarkan

dunia Kangouw?”

Cian Cong mengeluarkan suara dengusan dari hidungnya.

“Baju rombeng milik si pengemis tua ini, lengannya memang sudah koyak sebagian. Ini

merupakan lambang gelar si pengemis tua.”

Anak muda itu tersenyum lembut. Tiba-tiba sepasang alisnya mengerut di atas.

Matanya beralih kepada Tan Ki.

“Kenapa kau kembali lagi?”

Tan Ki yang mendengar nada suaranya serasa tidak asing. Hatinya jadi tergerak. Dia

segera maju dua langkah dan menjura dalam-dalam.

“Apakah Saudara ini yang bersembunyi di dalam hutan dan memberikan obat

penyembuh luka kepadaku?”

Alis anak muda itu bergerak-gerak. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu namun

seperti ada suatu ingatan yang melintas di benaknya. Tiba-tiba dia mengibaskan ujung

pakaiannya dan melesat ke tengah udara. Dalam dua kali loncatan saja, tahu-tahu

orangnya sudah berada dalam jarak dua depaan.

Melihat keadaan itu, Tan Ki jadi termangu-mangu. Hatinya sedang berpikir mengapa

anak muda itu tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa, dalam waktu yang bersamaan,

telinganya menangkap suara panggilan ‘Locianpwe…! Locianpwe!’ sebanyak beberapa kali

berturut-turut.

 

Kepalanya segera menoleh untuk melihat apa yang telah terjadi. Entah sejak kapan Bu

Ti Sin Kiam Liu Seng, Ciong San Suang-siu, Kok Hua-hong beserta delapan orang lainnya

yang tidak dikenal oleh Tan Ki sedang mengerumuni Cian Cong.

Melihat kehadiran Liu Seng, tanpa dapat ditahan lagi hawa amarah dalam hati Tan Ki

meluap seketika. Tubuhnya sampai gemetar melihat musuh yang membunuh ayahnya ada

di depan mata dan apabila dia mengulurkan tangannya saja, tubuh orang itu dapat

tersentuh. Tetapi terasa begitu jauh dan hanya dapat dipandang saja. Begitu bencinya

perasaan Tan Ki terhadap orang yang satu ini, sampai-sampai matanya mendelik lebarlebar.

Dari dalamnya terpancar sinar yang dingin menusuk serta mengandung hawa

pembunuhan yang tebal. Dia menatap Liu Seng lekat-lekat. Seakan setiap waktu dia sudah

siap melancarkan serangan yang mematikan ke arah orang tersebut.

Tan Ki menggunakan berbagai samaran dengan nama Cian bin mo-ong hampir

setengah tahun lamanya. Tapi begitu pandai pemuda itu merahasiakan identitas dirinya.

Orang yang mengetahui masalah ini hanya Liang Fu Yong serta dua Tosu Bu Tong Pai

yang sempat dibiarkan pergi oleh Tan Ki. Bahkan tokoh sakti seperti Cian Cong dan lainlainnya

tidak ada seorangpun yang tahu. Malah mereka melakukan kesalahan berulang kali

dengan menolong jiwa anak muda itu.

“Sebetulnya urusan apa yang membuat kalian mengejar pemuda tadi?” terdengar Cian

Cong bertanya.

Liu Seng segera maju satu langkah lalu menjura dalam-dalam.

“Pemuda tadi adalah anak angkat Oey Kang, yakni Pek I Tay-hiap (Pendekar Baju

Putih) Oey Ku Kiong.”

Cian Cong langsung tertawa dingin mendengar keterangannya.

“Usia semuda itu, memangnya pantas disebut segala Tayhiap?”

Tiba-tiba si gemuk pendek Cu Mei yang merupakan salah satu dari Ciong San Suang-siu

terdengar menukas…

“Dia sendiri yang mengatakan hal ini kepada kita. Itulah sebabnya kita bisa tahu. Aku

pikir, tadinya mungkin dia hanya ingin membanggakan dirinya sendiri agar pandangan kita

terhadap harga dirinya jadi lebih tinggi.”

Mendengar ucapannya, Cian Cong tampak berdiam diri. Seakan ada sesuatu yang

sedang dipikirkan olehnya. Setelah agak lama’ baru dia berkata:

“Pertama kali melihat wajah tampan serta gagah dari pemuda tadi, pikiranku tiba-tiba

teringat seorang sahabat lama yang sudah berpuluh tahun tidak pernah berjumpa lagi.”

dia menarik nafas panjang-panjang. Kemudian dia mengalihkan pokok pembicaraannya.

“Kalian datang ke Pek Hun Ceng untuk menolong orang. Lebih baik kalian pergi sekarang

juga. Si pengemis tua kali ini dibuat bingung sekian lama, rasanya seluruh kegembiraan

sampai kabur jauh-jauh. Diri si pengemis tua pun jadi enggan menemani lama-lama.”

Tiba-tiba dia mengerahkan ginkangnya, dengan kecepatan tinggi dia melesat

meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap mata saja, orangnya sudah menghilang dari

 

Para hadirin tidak tahu kalau hati tokoh tua ini sedang penasaran. Melihat dia tiba-tiba

pergi begitu saja, mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Oleh karena itu, semuanya

saling pandang sekilas kemudian termangu-mangu untuk beberapa saat.

Justru ketika para hadirin masih termangu-mangu itulah, Tan Ki segera menggunakan

kesempatan itu untuk ngeloyor pergi secara diam-diam. Orang-orang yang disekitarnya

merupakan tokoh kelas tinggi di dunia Bulim. Pendengaran mereka tajam sekali. Ternyata

mereka tidak sadar kapan Tan Ki pergi dari tempat tersebut. Kalaupun ada yang melihat,

juga mengira bahwa anak muda itu hendak menyusul Cian Cong, maka tidak ada yang

mengajukan pertanyaan kepadanya.

Sebetulnya, Tan Ki pergi secara diam-diam, tujuannya sama sekali bukan menyusul

Cian Cong. Justru setelah melihat Liu Seng juga hadir di sana, gejolak kebenciannya

membara di dada. Dia ingin memikirkan cara membalas dendam, itulah sebabnya dia

ngeloyor secara diam-diam.

Penderitaan di masa lalu menghasilkan watak yang luar biasa pada dirinya. Tabah,

angkuh dan dingin. Harapan untuk membalas dendam atas kematian ayahnya juga lebih

dalam dari orang lain. Sejak mendapat petunjuk dari Bu Beng Lojin (Orangtua tanpa

nama) serta berhasil mencuri belajar dari kuburan para ketua Ti Cian Pang, keinginan

dalam hatinya semakin bergejolak. Itulah sebabnya, belum sampai setengah tahun dia

terjun ke dunia Kangouw, secara berturut-turut dia telah membunuh dua puluh tujuh

orang pendekar kenamaan.

Dia selalu beranggapan, pada mayat ayahnya terdapat empat puluh delapan jenis

senjata rahasia, dari sini dapat dibuktikan bahwa musuh yang membunuh ayahnya ada

empat puluh delapan orang. Dalam perhitungannya saat ini, sisa musuh ayahnya tinggal

dua puluh satu orang. Nama Liu Seng sangat terkenal. Lagipula dia juga termasuk seorang

pendekar yang gagah serta menjunjung tinggi keadilan. Meskipun dia sudah menggantung

pedangnya sekian tahun, tapi kebesaran namanya tetap tersohor. Sedangkan Hek Hong

Ciam adalah senjata rahasia andalan keluarganya. Ilmu tersebut hanya diwariskan kepada

anak laki-laki dan tidak diwariskan kepada anak perempuan. Justru senjata rahasia

tersebut termasuk salah satu jenis yang membunuh ayahnya. Hal ini pula yang akhirnya

menimbulkan kegemparan di kota Lok Yang.

Sepanjang perjalanan dia terus berpikir, kakinya tidak pernah berhenti melangkah.

Tidak di sadari oleh Tan Ki bahwa dia malah kembali ke jalan semula.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara tawa yang dingin. Kemudian di

susul dengan bentakan dari mulut seorang gadis.

“Berhenti!”

Mendapat bentakan yang tidak terduga-duga ini, hati Tan Ki terkejut sekali.

Lamunannya jadi tersentak. Untuk sesaat dia tidak dapat mengendalikan diri, kakinya

tetap melangkah maju dua tindak baru kemudian terhenti. Perlahan-lahan dia

membalikkan tubuhnya dan memusatkan perhatiannya memandang. Entah sejak kapan, di

belakang punggungnya sudah berdiri seorang gadis berpakaian hitam dengan sebatang

pedang panjang terikat di punggungnya.

Hati Tan Ki langsung tercekat.

 

“Apakah nona memanggil aku?”

Gadis berpakaian hitam itu tertawa dingin.

“Di sekitar ini tidak ada orang lainnya, kalau bukan kau yang dipanggil, habis siapa

lagi?”

Diam-diam Tan Ki mengusap keringat yang membasahi keningnya.

‘Perempuan ini sungguh tidak tahu aturan. Ketusnya bukan main. Bahkan tokoh sakti

seperti Cian Cong Locianpwe saja enggan mencari gara-gara dengannya…’ pikirnya dalam

Meskipun hatinya berpikir demikian, tetapi tampangnya tetap tenang. Dia segera

merang-kapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura kepada gadis tersebut.

“Kalau Nona memang memanggil, bolehkah Cayhe tanya untuk urusan apa gerangan?”

Gadis berpakaian hitam itu segera memalingkan wajahnya. Dia mendengus lirih.

“Rupanya kau memang pandai berpura-pura. Tempo hari kau ikut dengan kakekku

pulang ke pondok kami. Kau justru menggunakan kesempatan di saat aku tidak ada untuk

melarikan diri secara diam-diam. Hari ini ke-pergok olehku…”

Semakin dibicarakan hatinya semakin kesal. Tubuhnya sampai gemetaran, Seakan baru

saja mendapat penghinaan yang tidak kepalang pahitnya. Berbicara sampai di situ, dia

tidak sanggup meneruskan lagi.

“Dengan seorang diri berada di daerah pegunungan seperti ini pasti membahayakan

sekali. Apakah kakekmu tidak ikut bersamamu?”

Gadis berpakaian hitam itu tambah jengkel.

“Tidak perlu kau urus masalah ini. Kalau aku sampai mati, hatimu malah merasa

tentram!”

Jantung Tan Ki sampai berdebar-debar mendengar perkataannya.

‘Mulai lagi, adatnya selalu keras kepala serta tidak tahu aturan kalau bicara.’ pikir Tan Ki

dalam hati.

Tiba-tiba, dia seperti teringat sesuatu hal. Sepasang kakinya berjinjit ke atas dan

diedar-kannya pandangannya ke sekeliling tempat itu. Setelah yakin di sana tidak ada

pihak ketiga, hatinya baru merasa tenang.

Memang ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian dari kuburan para leluhur Ti Ciang

Pang. Dia menimbulkan huru hara di dunia Kangouw, selama ini boleh dibilang tidak ada

yang ditakutinya. Justru terhadap Pangcu Ti Ciang Pang, Lok Hong, dia merasa pusing

tujuh keliling. Setiap kali bertemu, hatinya pasti ketakutan. Sedangkan gadis ini adalah

cucu kesayangan ketua Ti Ciang Pang tersebut. Mencari perkara dengannya sama saja

mencari gara-gara dengan Lok Hong.

 

Berpikir sampai di situ, hatinya yang sudah agak tenang menjadi gelisah kembali.

Gadis berpakaian hitam itu melihatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dalam

jangka waktu sekian lama, tanpa terasa hatinya jadi marah kembali.

“Mengapa tidak bicara? Apakah mulutmu tiba-tiba menjadi bisu atau telingamu yang

mendadak budek?”

“Perkataan Nona setiap kali selalu menyindir orang dengan tajam. Hal ini membuat aku

jadi serba salah. Kalau aku diam saja, Nona malah marah kembali. Kalau aku lancang

mengucapkan kata-kata yang salah, hasilnya sama saja.”

Lok Ing menjadi kesal mendengar jawabannya.

“Aku justru ingin kau bicara!” pinggangnya meliuk ke samping, kemudian secara

mendadak menegak kembali. Tangannya diulurkan ke kiri lalu merentang ke depan. Dalam

waktu yang singkat dia sudah melancarkan empat buah pukulan dan satu buah totokan.

Serangan yang gencar ini, kecepatannya tidak terkirakan. Empat buah pukulan

diarahkan ke tempat yang berlainan. Seiring dengan gerakan tubuhnya, serangan yang

dilancarkan gadis itu pun menyerang datang. Pukulannya belum sampai, angin yang

ditimbulkannya sudah menerpa duluan.

Padahal Tan Ki sudah berusaha untuk tidak berurusan dengannya. Melihat kekasaran

gadis itu, tanpa dapat ditahan lagi hawa amarah dalam dadanya jadi meluap. Dia menarik

nafas dalam-dalam. Tiba-tiba kakinya mundur tiga langkah, menunggu gerakan tubuh Lok

Ing hampir mencapai dirinya, sepasang telapak tangannya segera menghantam ke depan.

Tampak bayangan pukulan berkibar-kibar. Angin yang terpancar keluar menderu-deru.

Dalam sekejap mata, dia sudah melancarkan dua belas pukulan secara berturut-turut.

Lok Ing mencibirkan bibirnya sambil tersenyum mengejek.

“Bagus, kau benar-benar ingin berkelahi?”

Dua jari tangannya terjulur keluar. Dengan kecepatan kilat meluncur ke arah urat darah

di bagian pinggang sebelah kiri Tan Ki.

Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas.

“Sifat Nona sungguh keras kepala. Kalau tidak mengajar adat padamu sekali-sekali,

tentu kau tidak tahu kemarahan dalam hatiku.”

Kegagahannya sebagai seorang laki-laki seakan terbangkit karena kata-katanya yang

di-ucapkannya sendiri. Untuk sesaat dia tidak berpikir panjang lagi. Lengan kirinya

menghimpun tenaga dalam dan menyambut totokan gadis itu. Dalam waktu yang hampir

bersamaan, telapak tangannya terulur keluar melancarkan sebuah pukulan.

Dalam satu jurus dia melakukan dua gerakan. Secara bergantian dikerahkannya, angin

yang kencang segera terpancar keluar serta menimbulkan suara seperti siulan.

 

Terdengar suara keluhan dari mulut Lok Ing. Tubuhnya sempoyongan dan langkah

kakinya tergetar mundur lima tindak. Bibirnya bergerak-gerak, dia seakan sedang

bergumam kepada dirinya sendiri.

“Jurus Bintang-Bintang Berputaran ini baru diajarkan oleh Yaya beberapa hari yang lalu.

Mengapa dia juga bisa?”

Hati Tan Ki jadi tercekat mendengar gu-mamannya. Keringat dingin segera membasahi

seluruh tubuhnya. Gadis ini merupakan cucu kesayangan ketua Ti Ciang Pang, tentu saja

dia dapat melihat ilmu yang kugunakan ini sama dengan yang dipelajarinya:

Dari kuburan para leluhur Ti Ciang Pang, Tan Ki berhasil mempelajari berbagai ilmu.

Kecuali Bu Beng Lojin yang sudah mati itu, tidak ada orang ketiga lagi yang mengetahui

hal ini. Kalau sampai karena kecerobohan sesaat, gadis itu berhasil membongkar

rahasianya, tentu merupakan hal yang gawat bagi Tan Ki.

Hatinya mempertimbangkan bolak balik. Akhirnya dia mengambil keputusan lebih baik

melarikan diri saja. Tiba-tiba telinganya mendengar suara siulan yang panjang.

Kumandangnya menimbulkan gema yang bergaung-gaung. Lok Ing langsung tertawa

“Bagus, kakekku sudah datang. Lihat kau bisa kabur ke mana?”

Hati Tan Ki terkesiap mendengar kata-katanya. Saat itu juga dia merasa sukmanya

seperti terbang entah ke mana. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa takut

menghadapi apapun. Justru terhadap kakek gadis itu, rasa gentarnya tidak terkirakan.

BAGIAN XVI

Justru dalam waktu yang sekejap mata dari kejauhan, berkelebat tubuh seseorang.

Tampak pakaiannya yang berwarna hijau berkibar-kibar. Tampangnya demikian tenang.

Tidak seperti orang yang sedang berlari kencang.

Begitu pandangan mata Tan Ki berhasil melihat orang yang mendatangi itu, hatinya

langsung tercekat. Perasaannya yang tidak tenang semakin menebal. Seumur hidup

memang dia tidak gentar menghadapi apapun.

Justru orang ini yang paling enggan ditemuinya.

Dalam sekejap mata, sebuah pikiran yang cemerlang segera melintas di otaknya. Tibatiba

dia memutar tubuhnya dan mengambil langkah seribu. Lok Ing segera tertawa dingin.

Dengan nada marah dia membentak…

“Dari tadi aku sudah mengatakan bahwa kakekku sedang menuju ke mari. Pokoknya

kau tidak bisa lari lagi!” kakinya langsung digerakkan untuk mengejar Tan Ki.

Ilmu Tan Ki memang hasil curian dari kuburan leluhur Ti Ciang Pang. Sedangkan Lok

Hong merupakan Pangcu Ti Ciang Pang generasi sekarang. Apabila Tan Ki bertemu

dengannya, ibarat maling kecil yang bertemu dengan pemilik barang. Bagaimana dia tidak

merasa takut?

 

Tanpa berpikir panjang lagi, Tan Ki lari terbirit-birit. Dia seperti dikejar setan

gentayangan. Ilmu silat Lok Ing masih kalah satu tingkat dengan Tan Ki, otomatis jarak di

antara mereka semakin lama semakin jauh. Hati gadis itu menjadi panik. Oleh karena itu

dia segera berteriak sekeras-kerasnya.

“Yaya, jangan biarkan dia kabur!”

Lok Hong tertawa terkekeh-kekeh.

“Anak baik, kau tidak perlu khawatir.”

Sambil berkata, dia menghimpun tenaganya. Sepasang lengan bajunya bergerak-gerak.

Orangnya sendiri sudah mencelat ke tengah udara.

Tan Ki sedang dalam keadaan terluka. Lewat pemberian obat si Pendekar Baju Putih

Oey Ku Kiong dan penyaluran hawa murni si pengemis sakti Cian Cong, tampaknya sudah

hampir pulih seperti sedia kala. Saat ini dia ingin meloloskan diri dari kesulitan. Oleh

karena itu, gerakan kakinya pun berlari secepat kilat. Tubuhnya bagai melayang di udara.

Siapa nyana, baru berlari kurang lebih dua belas depaan, tiba-tiba dia merasa kerah

lehernya mengetat. Tahu-tahu tubuhnya telah ditarik oleh Lok Hong. Kakinya menggapai

di atas tanah. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun.

Tampak lengan Lok Hong bergerak. Mulutnya mengeluarkan suara bentakan.

“Pergilah!” dilemparkannya tubuh Tan Ki jauh-jauh.

Anak muda itu terkejut sekali. Dia tidak berani menggunakan ilmu silatnya untuk

berjungkir balik di udara. Begitu dilempar oleh Lok Hong, tubuhnya bagai sebutir bola

yang melayang di angkasa. Terdengar suara Blukk! Yang memekakan telinga, tubuh Tan

Ki terhempas di atas tanah. Kaki tangannya terasa ngilu. Sepasang matanya terasa

berkunang-kunang.

Lok Ing tersenyum senang melihat keadaan itu. Dia berjalan lambat-lambat

menghampiri. “Bagaimana? Begitu kakekku datang, meskipun di punggungmu tiba-tiba

tumbuh sayap, kau juga tidak bisa lari ke mana-mana. Kata-kataku ini bukan sekedar

omong besar bukan?” sindirnya tajam.

Tulang belulang dalam tubuh Tan Ki seperti berpatahan. Tetapi dia memaksakan dirinya

untuk bangun.

“Mengandalkan kehebatan orang lain, apa yang patut dibanggakan?” teriaknya marah.

Mula-mula Lok Ing tertegun. Setelah sadar maksud ucapan Tan Ki, wajahnya segera

berubah hebat. Biar bagaimanapun, dia memang Seorang gadis yang angkuh, mana

mungkin dia sudi menerima caci maki orang lain. Kakinya sampai dihentak-hentakkan di

atas tanah.

“Kau bilang aku mengandalkan nama besar kakekku untuk menghina dirimu. Baiklah,

kita boleh mengulangi perkelahian kita. Lihat siapa diantara kita yang lebih unggul!”

sepasang tangannya segera digerakkan. Dengan kalap dia melancarkan serangan. Yang

digunakannya justru Bintang-Bintang Bertaburan yang dikerahkan Tan Ki tadi.

 

Tadinya dia mengira ilmu silat Tan Ki hampir seimbang dengan dirinya. Serangan yang

dilancarkannya kali ini sangat keji, tetapi dia tidak menyangka dapat melukai lawannya.

Matanya melihat Tan Ki tidak mengelak maupun menangkis, seakan memandang ringan

serangannya itu. Diam-diam hatinya jadi tergetar.

‘Mungkinkah dia sudah berhasil melatih semacam ilmu yang istimewa dan dapat

memba-likkan tenaga seranganku?” tanyanya kepada diri sendiri.

Begitu ingatan itu melintas dalam benaknya, otomatis dia menarik kembali tenaga

dalam yang terhimpun di telapak tangannya sebanyak sembilan bagian, tetapi gerakannya

tidak berhenti. Dengan gencar serangannya terus meluncur.

Kejadiannya berlangsung dengan cepat. Terdengar suara Plak! Yang keras. Dengan

telak pukulan Lok Ing mendarat di dada lawannya. Tubuh Tan Ki langsung terhuyunghuyung.

Kemudian tergetar mundur sejauh dua langkah. Mulutnya terbuka diapun

memuntahkan segumpal darah segar. Tampak sepasang alisnya bertaut ketat. Seolah

sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan. Tetapi dia tetap menggertakkan giginya

serta memaksakan dirinya untuk berdiri tegak.

Lok Ing jadi termangu-mangu seketika.

“Mengapa kau tidak menghindar?” tanyanya penasaran.

“Siapa yang sudi dikasihani olehmu!” teriak Tan Ki sambil membalikkan tubuhnya.

Tanpa menoleh sekalipun dia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut.

Lok Ing memandangi bayangan punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.

Dia hanya merasa ada serangkum rasa pedih yang memenuhi hatinya. Tapi dia tidak,

dapat menjelaskan bagaimana rasanya. Dan dia pun tidak turun tangan menghalangi

kepergian Tan Ki.

Perlahan-lahan Lok Hong mendekatinya. Dia menepuk-nepuk pundak gadis itu. Bibirnya

“Apa yang kau pikirkan? Mengapa sampai tertegun seperti itu?” nada suaranya

mengandung kasih sayang yang dalam.

Tanpa bergerak sedikitpun, Lok Ing berdiri termangu-mangu.

Ditanya sedemikian rupa oleh Lok Hong, tanpa sadar dia menyahut, “Aku sedang

memikirkan dia…”

Lok Hong tersenyum simpul.

“Apakah dia jahat sekali?”

Lok Ing menganggukkan kepalanya seperti burung pelatuk. Kata-kata yang tercetus

dari mulutnya seperti sedang bergumam seorang diri, tetapi seperti juga sedang

memberikan jawaban atas pertanyaan kakeknya.

 

“Betul, dia memang jahat… jahat sekali. Menyebalkan… tetapi, aku kok tidak tahu di

mana letak kejahatannya?” di dasar hatinya yang paling dalam, Long Ing seakan sedang

menimbun segudang rahasia. Kata-kata ini diucapkan dengan terputus-putus. Nada

suaranya juga tidak menentu. Kadang tinggi, kadang pula rendah. Meskipun ilmu silat Lok

Hong tinggi sekali, tetap saja ada beberapa patah yang kurang jelas tertangkap oleh

Tetapi, biar bagaimanapun dia merupakan seorang pangcu dari sebuah perkumpulan

yang sudah terkenal sekali. Pengetahuan maupun pengalamannya sangat luas. Gerakgerik

Lok Ing yang seperti orang kehilangan kesadaran serta terlena dalam lamunan,

sekali lihat saja dia sudah mengerti bahwa di dalam lubuk hati gadis itu pasti ada masalah.

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Pada dasarnya orangtua ini memang

bukan orang yang bodoh. Tampak dia menarik nafas panjang kemudian mengalihkan

pokok pembicaraan.

“Mari kita berangkat. Pek Hun San Ceng merupakan tempat yang berbahaya. Boleh

dibilang sebuah sarang harimau. Kepergian kita kali ini mungkin akan menghadapi ajang

pembunuhan yang menyeramkan. Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan jangan bertindak

gegabah.”

“Aku sudah tahu. Yaya, aku tidak akan menurunkan derajat perkumpulan kita.”

Pada saat berbicara itu, keduanya sudah mengerahkan ilmu ginkangnya dan melesat

secepat bidikan anak panah. Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, mereka sudah

keluar dari daerah pegunungan. Begitu memandang dari kejauhan, tampak sebuah

bangunan yang besar sekali. Sekelilingnya ditumbuhi pepohonan yang merambat dan

lebat sehingga temboknya hampir tertutup.

Justru ketika sedang berlari pesat melesat ke depan. Dari balik sebatang pohon yang

baru saja mereka lalui, muncul seorang pemuda berwajah tampan. Dia tidak lain dari Cian

bin mo-ong Tan Ki.

Tadinya dia berpikir, setelah meninggalkan rombongan Liu Seng, dia akan merias

dirinya menjadi orang lain. Dengan demikian, apabila dia ingin menolong orang atau pun

membalas dendam, dia dapat bergerak dengan leluasa. Siapa tahu Lok Hong dan cucunya

juga datang ke Pek Hun Ceng. Meskipun dia mempunyai nyali sebesar apapun, tetap saja

ia tidak berani bertemu lagi dengan Lok Hong. Dia bermaksud menghindarkan diri dari

orang ini sejauh-jauhnya. Dengan demikian, hatinya bisa menjadi tenang. Mana sudi dia

pergi ke Pek Hun Ceng saat ini?

Tetapi mengingat musuh besar yang membunuh ayahnya juga ada di dalam, kebencian

di dalam hatinya semakin menjadi-jadi. Rasanya sulit untuk memadamkan kobaran api

kemarahan dalam dadanya.

Pikirannya melayang-layang. Otaknya terus berputar. Untuk sesaat dia merasa mundur

salah, maju juga salah. Hatinya gelisah luar biasa. Kakinya melangkah ke depan, tetapi

tidak membedakan utara selatan timur maupun barat. Pokoknya dia hanya melangkah

Matahari bersinar terik, angin hangat bertiup sepoi-sepoi. Keadaan ini membuat

perasaan orang jadi terlena. Hati Tan Ki sedang gundah. Dengan termenung-menung dia

 

terus melangkah. Telinga maupun matanya seperti kehilangan kepekaannya. Entah sejak

kapan, dari belakangnya terlihat mengikuti seorang gadis. Wajahnya cantik jelita.

Penampilannya agung, langkahnya lemah gemulai. Seperti hembusan angin yang lembut

bergerak-gerak. Diantara ketegarannya terselip kelembutan.

Gadis ini seperti selir Ong Sun Ping di masa lampau. Di atas kepalanya terdapat sebuah

mahkota yang bertahtakan batu permata. Cahayanya berkilauan. Dandanan maupun

pakaiannya mewah sekali. Sekali lihat saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia bukan dari

golongan orang biasa.

Tampaknya dia mempunyai maksud tertentu dengan mengikuti Tan Ki dari belakang.

Gerak-geriknya juga berani sekali. Dia tidak menyembunyikan diri atau berjalan dengan

mengendap-endap. Jaraknya juga segitu-segi-tu saja. Dia berjalan perlahan-lahan dalam

batas lima langkah dengan Tan Ki. Sudah cukup lama juga mereka berjalan.

Tiba-tiba, kedua orang itu melintasi sebuah padang rumput. Pek Hun Ceng sudah mulai

tampak di depan mata. Dari belakang tubuh kedua orang itu mendadak berhembus

segulungan angin.

Lamunan Tan Ki seperti tersentak. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

Kepalanya didongakkan dan hidungnya pun mengendus-endus. Perempuan itu terkejut

sekali. Dia menundukkan kepalanya serta mencium-cium tubuhnya sendiri. Kemudian dia

mendengus dingin.

“Tidak perlu mencari lagi. Aku ada di sini!” Tan Ki membalikkan tubuhnya dengan

gerakan terperanjat. Begitu matanya memandang, tanpa dapat di tahan lagi dia terkejut

sekali karena merasa hal itu di luar dugaannya. “Kau, Kiau Hun?” Kiau Hun tertawa dingin.

“Aku kira kau sudah lama melupakan namaku…”

Ketika pertama kali berkenalan dengan Tan Ki, dia langsung tertarik dengan

ketampanan serta kegagahan anak muda itu. Malah tanpa memperdulikan keselamatan

nyawanya sendiri, dia menolong pemuda itu sebanyak dua kali. Akhirnya dia malah

dikeluarkan dari perguruan oleh Ciu Cang Po yang merasa marah sekali akan tindakannya

yang kurang ajar. Kemudian mereka berjanji untuk bertemu kembali di sebelah barat kota

Lok Yang. Tidak disangka, bintang jodoh Tan Ki sedang bersinar terang, sekaligus sedang

gelap. Dia bertemu dengan kakek Lok Hong serta cucunya Lok Ing. Waktu itu dia berhasil

diringkus oleh mereka. Kemudian dia berhasil ditolong Liang Fu Yong, keduanya terlibat

berbagai masalah yang bersangkutan dengan hubungan antara pemuda-pemudi. Bersamasama

mereka menuju ke Cui Sian Lau yang mana menyebabkan salah paham di pihak Kiau

Hun. Gadis itu meninggalkan dirinya dengan hati yang marah.

Gadis ini mempunyai perasaan hati yang romantis namun selalu sirik dan cemburunya

besar sekali. Malah melebihi orang lain. Begitu mengucapkan kata-kata tadi, tampangnya

dingin dan datar sekali, namun di dalamnya terselip kepedihan yang disembunyikan.

Tan Ki tersenyum simpul.

“Cen Kouwnio, urusan hari itu sebetulnya hanya sebuah salah paham…”

 

Kiau Hun tidak menunggu sampai dia menyelesaikan kata-katanya. Dia segera

“Kalau memang hanya kesalahpahaman, mengapa kau melamarnya?” kembali tertawa

dingin, namun hatinya pilu tidak terkira. “Kau hanya manis di bibir dan menganggap aku

tidak tahu apa-apa.”

Hati Tan Ki tergetar mendengar ucapannya.

“Tidak ada kejadian seperti itu. Aku menerima budi pertolongan Nona sebanyak dua

kali, belum lagi aku sempat membalasnya. Mana mungkin aku mempunyai pikiran jahat?

Meskipun Cayhe hanya seorang Bu Beng Siau-cut (Prajurit Tidak Ternama), tetapi tahu

mengingat budi. Mendongak tidak memalukan langit, menunduk tidak meludah di atas

tanah.”

Mulut Kiau Hun bergerak-gerak. Tadinya dia bermaksud mencaci maki anak muda itu

sehingga kekesalan hatinya dapat terlampiaskan. Ucapan sudah sampai di ujung bibir,

bergerak-gerak, namun tiba-tiba membungkam seribu bahasa. Ada segulungan kesedihan

yang rumit terlihat pada sepasang alisnya yang berkerut.

Tan Ki maklum sekali perasaan gadis ini. Asmaranya bagai kobaran api, keberaniannya

tidak perlu diragukan lagi, kalau bukan mengalami urusan yang besar sekali, tampangnya

pasti tidak akan demikian sedih dan tidak bersedia mengucapkan sepatah katapun.

Di pihak lain dia juga sadar bahwa kesalahpahaman di antara mereka bukan hal yang

dapat dijelaskan dengan satu dua kalimat. Tanpa terasa dia menundukkan kepalanya

merenung. Dia berusaha mencari jalan keluar yang baik agar semuanya dapat diselesaikan

dengan tuntas.

Di hati mereka masing-masing terdapat berbagai masalah. Untuk sesaat lamanya

mereka tidak membuka suara. Meskipun mereka berdiri berhadapan, tetapi suasananya

seakan ruwet sekali. Angin yang hangat berhembus, jubah panjang Tan Ki serta gaun Kiau

Hun berkibar-kibar.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, Kiau Hun seperti teringat akan sesuatu hal.

Mulutnya mengeluarkan suara keluhan. Dia segera mendongakkan kepalanya menatap

“Hari sudah siang, aku akan pergi sekarang juga…” dia merandek sejenak. Di wajahnya

tersirat kepedihan menjelang perpisahan. Dengan lambat dia melanjutkan kata-katanya,

“Mengenai urusan kita, aku… tidak berani berharap lagi.” tenggorokannya seperti tercekat.

Kata-kata yang belum selesai diucapkan tidak sanggup diteruskannya lagi. Perlahan-lahan

dia berjalan ke depan.

Tan Ki menjadi panik.

“Kau hendak ke mana?”

Mendengar pertanyaannya, tanpa sadar Kiau Hun menghentikan langkah kakinya.

Hatinya ingin sekali kembali dan bercakap-cakap dengan Tan Ki. Tetapi rasanya sulit

memuntahkan penderitaannya menjadi kata-kata. Apabila dapat melihat wajah Tan Ki

 

untuk terakhir kalinya, hati Kiau Hun sudah merasa puas. Tetapi gadis ini mempunyai

perasaan rendah diri yang dalam sekali. Meskipun dia ingin berjalan kembali, tetapi

hatinya terasa kesal. Dia memaksakan dirinya menahan gejolak asmara dalam hati,

perlahanlahan dia meneruskan langkah kakinya.

Perasaan hatinya saat ini sangat gundah. Dia dibimbangkan dua pilihan antara kembali

atau tidak. Langkah kakinya pun semakin berat. Jalannya bagai siput merayap.

Tan Ki berdiri membelakangi punggung gadis itu. Dia tidak tahu dalam waktu yang

singkat wajah gadis itu sudah berubah berapa kali. Melihat dia berjalan pergi, hatinya

menjadi panik.

“Cen Kouwnio, biarkan aku mengucapkan beberapa patah dahulu. Pada saat itu kalau

kau tetap ingin pergi, juga belum terlambat. Kalau kesalahpahaman ini tidak dibikin

terang, kau malah akan salah tanggap terhadap pribadiku sebagai seorang laki-laki.

Dengan demikian, apakah kelak aku masih mempunyai muka untuk bertemu denganmu?”

teriaknya gugup.

Kiau Hun tidak menyahut sepatah katapun. Langkahnya terus dipercepat dan tubuhnya

pun melesat ke depan. Dia seakan takut mendengarkan penjelasan dari mulut Tan Ki.

Gerakannya seperti kilat. Dalam sekejap mata, dia sudah melesat sejauh empat puluh depaan.

Tiba-tiba terasa kibaran pakaian melesat ke depan. Tan Ki merentangkan kedua

tangannya dengan kalap. Dia menghadang di depan Kiau Hun. Tubuh gadis itu sedang

menerjang secepat kilat, tahu-tahu sudah teringkus olehnya.

Diam-diam Tan Ki merasa terkejut setengah mati.

‘Melihat gerakannya yang ringan dan mantap, rasanya tidak dipaksakan sedikitpun.

Meskipun sedang berlari begitu cepat, dia dapat menghentikan gerakannya pada tepat

waktunya… mungkinkah ilmu silatnya sudah mendapat kemajuan yang pesat…? Kalau

dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, tampaknya lebih hebat sepuluh kali lipat.’

pikirnya dalam hati.

Meskipun hatinya berpikir demikian, bibirnya tetap tersenyum simpul.

“Apakah kau benar-benar masih merasa marah terhadapku?”

Kiau Hun menghembuskan nafas panjang-panjang.

“Aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Tetapi saat ini aku sedang

tidak tenang, malas berbicara dengan siapapun.”

“Kalau memang tidak tahu, mengapa kau tidak memperdulikan aku, malah

memalingkan kepala dan pergi begitu saja?” tanya Tan Ki kembali.

Mendengar pertanyaannya, Kiau Hun jadi termangu-mangu. Dia merasa di balik ucapan

Tan Ki terselip semacam maksud yang aneh. Pada dasarnya, dia memang seorang gadis

yang mudah curiga. Begitu pikirannya melintas, wajahnya jadi merah padam. Setelah

beberapa lama berlalu, dia tetap tidak dapat memberikan jawaban.

 

Tan Ki menunggu beberapa saat, tetapi Kiau Hun tetap diam saja. Hatinya menjadi

panik. “Mengapa kau tidak berbicara?” Kiau Hun menarik nafas dalam-dalam. “Apa yang

harus aku katakan?”

“Apa saja boleh, asal kau yang berbicara, soal apapun aku akan senang

mendengarkannya.” Kiau Hun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sayangnya aku tidak

mempunyai kegembiraan seperti itu. Maaf, aku tidak dapat menemani lebih lama lagi.”

perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya dan lewat di samping Tan Ki.

Dari jawabannya yang dingin dan kaku, Tan Ki sadar salah paham yang terjadi di

antara mereka sulit sekali diselesaikan. Dia melihat Kiau Hun sama sekali tidak

menolehkan kepalanya dan berjalan terus ke depan.

Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

‘Pengalaman yang berlangsung beberapa hari ini, tampaknya semua menyangkut jodoh

yang tidak berkelanjutan dengan kaum perempuan. Setiap orangnya mempunyai watak

yang berlainan dan sulit dimengerti. Keketusan Lok Ing membuat kepala menjadi pusing

dan takut. Kepedihan serta rasa tertekan dalam hati Liang Fu Yong ketika meninggalkan

diriku…’

Berpikir sampai di sini, pengalaman yang berbeda-beda selama beberapa hari ini

melintas satu per satu di benaknya. Tanpa terasa, kakinya terus melangkah ke depan,

diam-diam dia mengikuti di belakang Kiau Hun.

Angin bertiup sepoi-sepoi. Perhiasan di seluruh tubuh maupun pakaiannya

menimbulkan suara gemerincing yang tiada berhenti. Telinga Tan Ki seakan tidak

mendengar suara apapun. Dengan termangu-mangu dia terus mengikuti di belakang gadis

itu. Langkah kakinya bagai mayat hidup, tampang wajahnya tidak menunjukkan perasaan

apapun. Dia benar-benar seperti orang yang telah kehilangan kesadarannya.

Kiau Hun tahu Tan Ki mengikuti di belakangnya. Tetapi dia tidak pernah menolehkan

kepalanya sedikitpun. Perasaan hatinya yang gundah, membuat sepasang alisnya

mengerut. Bibirnya sering digigit sendiri. Hal ini membuktikan bahwa masalah yang

memenuhi hatinya pasti besar sekali.

Begitu mata memandang, kurang lebih sepuluh depaan di depan sana, terdapat sebuah

bangunan yang luas sekali. Pintu gerbangnya sangat tinggi, juga lebar. Cukup untuk tiga

buah kereta yang keluar masuk sekaligus. Di dalam halaman gedung itu terlihat kamarkamar

yang berderetan. Sebaris demi sebaris dari depan hingga belakang. Ruangannya

besar-besar dan dekorasinya indah. Entah berapa luas tanah yang mencakup seluruh

bangunan ini. Tetapi kalau diperhatikan dari luar, dapat diketahui bahwa bangunannya

sendiri begitu luas sehingga mengejutkan.

Kiau Hun menghentikan langkah kakinya dan menatap, sejenak. Dari hidungnya

terdengar suara dengusan yang dingin. Dia membalikkan tubuhnya. Tanpa dapat ditahan

lagi, seseorang yang sedang berjalan dengan termangu-mangu di belakangnya langsung

berbenturan dengan dirinya.

 

Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan keduanya. Meskipun otaknya

cerdas dan nyalinya besar sekali, tetapi dari mulutnya terdengar suara aduhan yang keras.

Secara refleks dia mengulurkan tangannya dan memeluk orang itu.

Rupanya, meskipun Tan Ki berjalan dengan mata terbuka lebar, tetapi pikirannya

melayang-layang. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan apa yang ada di

hadapannya. Dengan tidak terduga-duga Kiau Hun menghentikan langkah kakinya lalu

membalikkan tubuh, dia masih belum menyadari. Dengan termangu-mangu dia terus

melangkah. Sampai Kiau Hun memeluk dirinya, lamunannya baru tersentak, dia langsung

mengeluarkan suara aduhan, wajahnya yang tampan menjadi merah padam seketika.

Malunya bukan main. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepa-lanya dalam-dalam.

Saking kesalnya, Kiau Hun sampai menghentakkan kakinya di atas tanah beberapa kali.

“Bagaimana sih kau ini? Tempat begini luas tidak memilih jalan yang lain malah

menabrak badan orang!” bentaknya dengan nada jengkel.

Tan Ki tersenyum cengar-cengir.

“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya merasa pemandangan di depan mata seakan

samar-samar. Apapun tidak dapat terlihat dengan jelas. Mungkin karena masalah yang

kupikirkan sudah terlampau banyak sehingga…” tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya

menatap ke sekeliling. Mulutnya langsung mengeluarkan seruan heran. Jari tangannya

menunjuk ke arah bangunan yang besar itu.

“Aneh, mengapa aku bisa kembali lagi ke Pek Hun San Ceng?”

“Benar-benar lucu! Kau sendiri yang mengikuti di belakangku. Setelah menempuh

perjalanan sedemikian jauh, apakah kau masih tidak merasa?”

Tan Ki langsung menepuk batok kepalanya sendiri.

“Apakah tujuanmu memang bangunan ini?”

“Tidak salah!” sahut Kiau Hun dingin.

“Untuk apa?”

“Bukan urusanmu!”

“Aku menanyakanmu tentang hal ini hanya karena bermaksud baik. Sama sekali tidak

ter-kandung niat lainnya. Mengapa kau selalu bicara dengan ketus dan nada dingin

kepadaku? Pemilik bangunan ini merupakan raja iblis yang paling ditakuti di zaman ini. Di

dalam bangunan ini, setiap langkah telah dipasang perangkap. Di mana-mana terdapat

bahaya mengintai. Begitu masuk ke dalam, ibarat terjerat jaring maut, hidup tidak

mungkin, mati sudah pasti. Meskipun kau sudah mendapat didikan ilmu silat dari Ciu Cang

Po, namun tetap saja tidak boleh ceroboh. Dengan tidak berpikir panjang lagi langsung ini

masuk ke dalam.” kata Tan Ki menasehati.

Ucapan ini dicetuskan dengan lancar. Maknanya sangat dalam dan keluar dari lubuk

hati yang paling dalam. Nadanya mengandung perasaan khawatir dan penuh perhatian.

 

Kiau Hun yang mendengarnya sampai terharu. Hatinya terasa pilu, air matanya pun

mengalir dengan deras. Tetapi dia masih merasa kesal.

“Kau toh sudah mempunyai perempuan jahat itu, mengapa masih berpura-pura seakan

penuh perhatian terhadap diriku?”

Tan Ki menarik nafas panjang.

“Aku sudah mengatakan bahwa semua itu hanya salah paham, kau masih juga tidak

percaya. Apalagi yang dapat kulakukan?”

Di saat bicara itulah, tiba-tiba terdengar suara suitan yang panjang. Dibawa oleh

hembusan angin bagai kilat yang menyambar sebelum hari hujan. Kumandangnya

memecahkan keheningan. Kedua orang itu merasa hatinya tercekat. Jantungpun laksana

diganduli beban yang berat. Dalam waktu yang bersamaan, mereka memalingkan

wajahnya, tampak sesosok bayangan sedang melesat keluar bagai terbang. Kedua kakinya

terus bergerak. Kecepatannya bagai anak panah yang meluncur. Dalam sekejap mata, dia

sudah berdiri di atas jembatan yang terdapat di depan bangunan.

Kekuatan sinar mata kedua orang itu tajam sekali. Meskipun jarak mereka masih kirakira

empat puluh lima depaan, tetapi mereka dapat melihat dengan jelas, pakaian, raut

wajah maupun senjata yang digunakan orang itu.

Orang itu adalah seorang nenek yang jelek dan sudah tua sekali. Tubuhnya yang kurus

berdiri di atas jembatan, seakan-akan bisa terbang melayang bila dihempas oleh angin

yang agak kencang. Tangannya menggenggam sebatang tongkat berbentuk aneh yang

digunakan sebagai tumpuan.

Hati Tan Ki langsung tergetar.

“Suhumu sudah datang.” katanya dengan suara lirih.

Sepasang alis Kiau Hun terjungkit ke atas satu kali. Matanya memancarkan hawa pembunuhan

yang tebal. Dia tertawa dingin.

“Nenek itu sudah mengusir aku dari perguruannya. Hubungan di masa lalu sudah hilang

tanpa tersisa sedikitpun. Kalau dia berani menghalangi apapun yang akan kuperbuat,

maka aku akan menyuruh dia mencoba barang dua jurus ilmu pukulanku ini.” sahutnya

Baru saja kata-katanya yang terakhir diucapkan, tiba-tiba dia mengerahkan tenaga

dalamnya dan melesat ke depan. Tan Ki mengikuti di belakangnya dengan ketat.

Kecepatan mereka hampir seimbang. Tetapi anak muda itu merasa gerakannya ringan dan

cepat sekali. Gaunnya yang berkibar-kibaran menentang angin menimbulkan suara yang

berdesir-desir. Di udara bagai ada serangkum kekuatan yang bergerak-gerak mengiringi

berkelebat-nya tubuh Tan Ki dan mendesaknya dari dua arah.

Hati Tan Ki terkejut sekali.

‘Baru beberapa hari tidak berjumpa, ternyata ilmu silatnya sudah maju sedemikian

pesat,’ katanya kepada diri sendiri.

 

Tepat pada saat pikirannya tergerak keduanya sudah melesat ke atas jembatan lalu

menghentikan langkah kakinya. Tampaknya untuk sesaat Kiau Hun agak bimbang. Dia

merasa serba salah. Masuk atau jangan. Tetapi tiba-tiba dia menggertakkan giginya eraterat.

Dengan wajah mendongak dan dada dibusungkan dia melangkah maju.

Dia membungkam seribu bahasa. Langkah kakinya merapat ke arah Ciu Cang Po.

Meng-hadapi bekas gurunya, ini, perasaan Kiau Hun agak tenang. Tampaknya dia juga

tidak berani memandang ringan.

Cuaca yang cerah, udara yang lembut, tiba-tiba diselimuti dengan ketegangan yang

luar biasa. Tan Ki melihat kedua bekas guru dan murid itu sebentar lagi akan bergebrak,

tanpa terasa seluruh tubuhnya dibasahi keringat dingin. Hatinya bermaksud mendamaikan

mereka, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan panik dia berdiri di

samping sambil meremas kedua tangannya serta menghentakkan kakinya berulang kali.

Tetapi dia tidak berani maju ke depan.

Tiba-tiba terlihat Ciu Cang Po mengangkat lengannya ke atas. Tongkatnya yang aneh

di-rentangkan ke depan menghadang Kiau Hun. Nenek itu sudah dicekoki obat Li Hun Tan

(Pil Pelenyap Sukma) oleh Oey Kang. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan apapun. Tapi

membawa kesan yang angker. Meskipun berdiri di bawah sorotan terik matahari, namun

ada semacam perasaan yang menyeramkan yang membuat seluruh tubuh gemetar dan

hati menggidik.

Sepasang alis Kiau Hun terjungkit ke atas.

“Apakah kau bermaksud menghadangku?” bentaknya marah. Hawa murninya di

himpun. Tiba-tiba, dengan cepat dia maju dua langkah. Dirinya menyongsong ke arah

tongkat aneh di tangan Ciu Cang Po.

Ciu Cang Po telah dicekoki pil pelenyap sukma oleh Oey Kang. Pikirannya hilang, tetapi

ilmu silatnya tetap seperti biasa. Melihat Kiau Hun menerjang ke arahnya, tiba-tiba

mulutnya mengeluarkan suara raungan yang keras, lengannya disurutkan, tongkatnya pun

tertarik ke belakang, pergelangan tangannya memutar, timbul beratus-ratus bayangan

tongkatnya. Dengan gencar dia menyerang ke arah dada Kiau Hun.

Nenek tua ini pernah bergebrak dengan Cian Cong sebanyak ratusan jurus. Meskipun

akhirnya dia dikalahkan oleh jurus Hui Siu-jut lin, tetapi dia menggunakan detik-detik yang

membahayakan itu untuk menendang Cian Cong sehingga terluka. Hal ini membuktikan

bahwa ilmu silat nenek kurus ini tidak dapat dipandang ringan.

Kali ini, serangan tongkatnya ini mengandung kekuatan yang luar biasa. Angin yang

terpancar sangat keras, seiring dengan gerakan tangannya menimbulkan suara seperti

siulan. Pengaruh suara itu hebatnya bukan main.

Kiau Hun tertawa ringan, dihimpunnya hawa murni ke bagian dada, tiba-tiba dia

melesat mundur kurang lebih tiga mistar. Dengan tubuh agak membungkuk, tongkat di

tangan Ciu Cang Po terus meluncur ke depan. Ketika pergelangan tangannya bergerak,

selalu membawa suara seperti siulan, tongkat ini mengincar salah satu urat darah Kiau

Hun yang mematikan.

 

Gadis itu seperti sengaja mengalah. Dia tidak pernah membalas menyerang, dengan

gerak tubuh yang lemah gemulai, orangnya sudah sampai di ujung jembatan.

Tadinya dia menganggap Ciu Cang Po adalah manusia yang angkuh. Tiga jurus

dilancarkan, Kiau Hun seakan terdesak mundur, dia pasti menggunakan kesempatan itu

untuk mendesak terus. Tetapi dugaannya ternyata salah. Ketika dirinya terus mencelat

mundur dan sudah sampai di ujung jembatan, ternyata nenek itu tidak menyerang lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mengundurkan diri ke tempat semula.

Wajahnya yang datar dan tidak menunjukkan perasaan apa-apa masih terlihat. Dia berdiri

tegak dengan mencekal tongkat di tangannya erat-erat.

Kiau Hun jadi tertegun. Tiba-tiba dia berteriak dan tubuhnya bergerak menerjang ke

depan, dengan jurus Ci Yang Tian Bun (Terus Menerjang Menuju Pintu Langit), tangannya

mengambil posisi menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan.

Ciu Cang Po tetap membungkam. Tongkatnya segera terulur ke depan. Dengan jurus

‘Menahan Gulungan Angin’ dikerahkannya tenaga dalam sebanyak sepuluh bagian seakan

hendak mengadu kekerasan dengan Kiau Hun.

Gadis itu memperdengarkan suara tertawa yang dingin, pukulan di tangan kirinya terus

menyerang tanpa perubahan apa-apa, pukulan di tangan kanannya segera menyusul di

belakang. Tahu-tahu dia mengganti jurus serangannya. Yang dikerahkan sekarang adalah

‘Daun-daun berguguruan di musim semi’.

Ciu Cang Po mendapat tugas menjaga jembatan. Dia tidak boleh membiarkan siapapun

masuk ke dalam. Jurus serangan Kiau Hun ini tampaknya merupakan ilmu yang biasabiasa

saja. Tetapi dalam satu jurus dia menggabungkan dua macam gerakan, begitu

dilancarkan dapat meraih manfaat yang besar. Tanpa diduga hal itu menambah kekuatan

pengaruhnya. Angin pukulan serta bayangan lengan memenuhi atas jembatan tersebut.

Sepasang kaki Ciu Cang Po berdiri tanpa bergerak, bagian atas tubuhnya bergeser

sedikit untuk menghindari serangan Kiau Hun. Tiba-tiba dia membentak dengan suara

keras, lengan kanannya menambah kekuatan dan datangnya serangan begitu mendadak

serta cepat tidak kepalang tanggung.

Terdengar suara beradunya pukulan yang menggelegar memecahkan keheningan.

Ternyata mereka memang mengadu kekerasan, hasilnya kedua orang itu tergetar mundur

satu langkah.

Melihat keadaan itu, hati Tan Ki terkesiap.

‘Dengan tangan kosong, Kiau Hun mengadu kekerasan melawan tongkat Ciu Cang Po.

Nyatanya dia hanya tergetar mundur satu langkah. Entah ilmu perguruan mana yang

digunakan olehnya?’ pikirnya diam-diam.

Justru ketika otaknya sedang mereka-reka, dengan keberanian yang luar biasa, Kiau

Hun yang baru mundur sudah maju kembali. Sepasang telapak tangannya dirangkapkan.

Dengari jurus Dua Gulung Angin Berhembus Di Telinga, dia menerjang ke depan. Pada

saat yang hampir bersamaan, kaki kirinya terangkat ke atas serta mengirimkan sebuah

tendangan ke arah perut lawan. Begitu bergerak maju, dia langsung melancarkan dua

buah serangan yang keji sekaligus.

 

Meskipun Ciu Cang Po sudah kehilangan kesadarannya karena dicekoki pil pelenyap

sukma oleh Oey Kang, namun reaksi refleks yang terdapat di benaknya belum hilang

secara keseluruhan. Melihat Kiau Hun begitu berani, justru setelah mereka mengadu

kekerasan dan bahkan tidak mengatur pernafasannya lagi, kembali menyerang dengan

demikian keji. Hati kecilnya agak tergetar, dia bermaksud menghindarkan diri, tiada

kesempatan lagi baginya. Terpaksa dia mengulurkan lengan kanannya, dalam posisi

menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan, dan sekali lagi mengadu

kekerasan dengan hantaman Kiau Hun.

Paha kanannya juga mengerahkan sebuah tendangan menyambut tendangan kiri gadis

itu. Terdengar lagi suara benturan yang keras, tiga pukulan dan dua tendangan bertemu

dalam saat yang hampir bersamaan.

Kembali hati Tan Ki tercekat.

‘Cara bertarung yang tidak perduli mati hidup ini, benar-benar merupakan hal yang

belum pernah kudengar apalagi menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Apabila salah

satu pihak tenaga dalamnya lebih tinggi sedikit saja, lawannya pasti akan terpukul mati…’

pikirnya diam-diam.

Terdengar suara tertawa yang dingin dan dengusan hidung yang terpancar dalam

waktu bersamaan, kedua orang itu sama-sama tergetar mundur tiga langkah. Mengadu

kekerasan secara berturut-turut sebanyak dua kali, membuat hawa murni di dalam mereka

agak bergejolak, mereka sama-sama merasakan aliran darah seakan membalik dan

membuat sesak nafas.

Begitu kakinya berdiri dengan mantap, Ciu Cang Po segera memejamkan matanya

mengatur pernafasan. Sedangkan Kiau Hun seakan sudah bertekad untuk menyelesaikan

pertarungan tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia kembali menerjang ke

depan. Pergelangan tangannya terulur, jari tangannya membentuk totokan dan langsung

dilancarkan ke dada lawan.

Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dia menerjang kembali, benar-benar di luar

dugaan orang. Dalam perasaan Ciu Cang Po, pukulan yang dikerahkan oleh Kiau Hun tidak

lebih kuat dari dirinya sendiri. Tetapi setelah mengadu kekerasan sebanyak dua kali, hati

kecilnya merasa dirinya tidak kuat bertarung lagi. Oleh karena itu, berdasarkan

anggapannya, dia mengira pihak lawannya juga pasti tidak kuat lagi meneruskan

pertarungan. Itulah sebabnya dia berani memejamkan mata mengatur pernafasan. Siapa

sangka kenyataannya benar-benar lain dari dugaannya. Ketika dia tersadar, telapak

tangan Kiau Hun sudah menghantam telak dadanya.

Nenek itu sedang dalam keadaan kehabisan tenaga, ditambah lagi kesadaran

pikirannya yang hilang. Tentu saja kegesitan ataupun kecepatan daya tangkapnya tidak

dapat dibandingkan dengan biasanya. Yang mana dia mempunyai akal untuk menentukan

apa yang harus dilakukannya. Saat ini sepasang matanya baru saja terbuka kembali, tahutahu

dadanya sudah terkena pukulan Kiau Hun yang dahsyat. Pada saat itu juga, dia

seakan merasa dadanya terhimpit oleh beban yang berat. Isi perutnya seperti menjungkir

balik di dalam. Sepasang kakinya tidak dapat dipertahankan lagi, mulutnya membuka dan

diapun memuntahkan segumpal darah segar, tubuhnya sendiri langsung melayang sejauh

tujuh delapan mistar.

 

Terdengar suara dentangan yang keras, tongkatnya yang aneh terjatuh ke samping

jembatan. Sedangkan nenek itu terhempas jatuh dalam posisi duduk di atas tanah.

Tan Ki melihat permukaan jembatan penuh dengan bercak darah. Tiba-tiba hatinya

menjadi khawatir, cepat-cepat dia menghambur maju ke tempat itu.

“Cen Kouwnio, meskipun suhumu tempo hari pernah berbuat hal yang menyakitkan

hatimu, tetapi diantara kalian pernah terjalin hubungan yang dekat. Tidak seharusnya kau

turunkan tangan sekeji ini dan membuatnya terluka sedemikian rupa. Kalau sampai urusan

ini tersebar di luaran kelak, orang pasti akan menyalahkan dirimu. Aih! Sayangnya

gerakanmu terlalu cepat, membuat orang yang berniat menolongpun tidak mempunyai

kesempatan sama sekali. Seandainya aku keburu…”

Kiau Hun tertawa dingin.

“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa di antara kami tidak ada hubungan apaapa

lagi. Dia sudah mengusir aku dari pintu perguruan, di dalam hatiku juga tidak

menganggapnya sebagai guru lagi. Aku tidak membunuhnya saja, dia sudah harus

berterima kasih.”

Sembari berkata, orangnya sendiri sudah berjalan sampai hadapan Ciu Cang Po. Tanpa

melirik sedikitpun, dia terus melangkah ke dalam bangunan tersebut. Tampangnya

demikian dingin serta angkuh.

Tan Ki menatap Ciu Cang Po sekilas. Tampak wajahnya yang pucat pasi masih juga

kaku dan datar. Tidak menunjukkan perasaan apapun. Angin terus bertiup sepoi-sepoi,

bahkan menerpa diri nenek itu, tetapi dia seperti tidak merasakannya. Sepasang matanya

yang membelalak seperti orang yang termangu-mangu. Dia tidak bergerak ataupun

mengeluarkan suara. Dengan terduduk di atas jembatan, dibandingkan dengan orang

mati, dia hanya kelebihan satu hal, yakni nafasnya yang tersengal-sengal. Kalau dipikir,

biar bagaimanapun dia adalah seorang tokoh Bulim yang lihai sekali. Namanya sudah

terkenal. Ilmu silatnya tinggi, tenaga dalamnya hebat, bahkan tidak jauh berbeda dengan

si pengemis sakti Cian Cong. Sekarang justru terjatuh dalam keadaan yang demikian

mengenaskan. Hati Tan Ki jadi iba. Diam-diam dia menarik nafas panjang. Kepalanya

digeleng-gelengkan, kemudian meneruskan langkah kakinya menyusul Kiau Hun.

Begitu mata memandang, jalan setapak yang ditata rapi ternyata sunyi senyap. Tetapi

keheningan yang berlebihan itu malah menambah ketegangan yang tidak berwujud.

Jantungnya semakin berdebar-debar. Dari luar tampangnya masih tenang seakan tidak

merasakan apa-apa. Tetapi sepasang alisnya terus mengerut menandakan hatinya yang

tidak tenang.

Setelah meninggalkan rombongan Bu Ti Sin Kiam Liu Seng, tadinya dia hendak

merubah dirinya sebagai Cian bin mo-ong kembali. Dengan merias wajahnya dia akan

masuk ke dalam Pek Hun Ceng seorang diri. Tidak disangka-sangka dia malah bertemu

lagi dengan Kiau Hun. Terpaksa dia membatalkan rencananya semula. Dia sudah pernah

menghadapi barisan Jendral Langit yang dididik langsung oleh Oey Kang. Kalau bukan

karena otaknya segera mendapat ide pada saat dirinya terancam bahaya, yang mana

kebetulan dia berhasil memecahkan sedikit perubahan Te Sa Jit-sut hampir saja dia tidak

dapat menyelamatkan dirinya. Meskipun demikian, hatinya sudah merasa ngeri

terperangkap lagi dalam jebakan yang sama. Dia takut tiba-tiba ketiga puluh enam orang

 

yang membentuk barisan menyerang.

Jendral Langit itu muncul dengan tidak terduga di depan matanya. Tanpa sadar dia mengedarkan

pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia meningkatkan kewaspadaan

Begitu kepalanya menoleh, dia melihat di wajah Kiau Hun tersirat mimik yang aneh.

Bibirnya tersenyum, namun seperti bukan niatnya sendiri untuk mengembangkan

senyuman. Dia melangkahkan kakinya dengan mantap. Seakan mempunyai keyakinan

tersendiri dalam menghadapi orang-orang di dalam Pek Hun San-ceng. Hati Tan Ki jadi

tergerak, tanpa dapat menahan rasa ingin tahu di dalam bathinnya, dia segera bertanya…

“Cen Kouwnio, aku mempunyai suatu masalah yang tidak dimengerti. Bolehkah aku

mohon tanya?”

Langkah kaki Kiau Hun tidak berhenti. Dengan gerakan yang sama dia terus berjalan ke

depan. Bibirnya tersenyum licik.

“Yang ingin kau tanyakan, bukankah mengenai ilmu silatku yang tiba-tiba maju pesat

dari sebelumnya?”

Tan Ki tertawa lebar.

“Cen Kouwnio memang cerdas sekali. Urusan sekecil ini mana mungkin dapat

mengelabui dirimu? Tetapi aku memang tidak habis pikir, mengapa ilmu seseorang bisa

berlainan? Padahal menurut apa yang kuketahui, biasanya ilmu seseorang itu dipelajari

sedikit demi sedikit. Semakin lama latihannya, gerakannya pun semakin lancar, otomatis

makin hebat. Meskipun mempunyai bakat yang tinggi, tetap tidak bisa berhasil dalam

waktu tiga atau lima hari. Apalagi ilmu silat Cen Kouwnio merupakan hasil didikan Ciu

Cang Po. Seandainya kau bisa mengalahkan dia, tetap bukan hal yang akan terwujud

dalam tiga atau lima hari. Tetapi dalam tiga gebrakan tadi, kau sudah sanggup melukai Ciu

Cang Po. Kalau aku tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, aku benar-benar

tidak percaya bahwa hal ini merupakan kenyataan.”

Kiau Hun tersenyum simpul.

“Seseorang yang menyimpan harapan, tentu tidak dapat terkabul dalam satu hari.

Tetapi aku rasa kau sudah dapat menduga, aku memang bertemu dengan jodoh yang

langka.”

“Aku juga berpikir demikian. Tetapi entah bagaimana kejadian yang sesungguhnya,

hatiku benar-benar penasaran.”

Kiau Hun tersenyum lembut.

“Sebetulnya aku juga ingin menceritakannya. Tetapi keadaan di depan mata tidak memungkinkan

untuk berbicara panjang lebar. Kelak apabila ada kesempatan, aku akan menceritakannya

perlahan-lahan.”

Kedua orang itu berjalan berdampingan. Tampaknya kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya

sudah agak berkurang. Kiau Hun juga tidak sedingin dan seketus sebelumnya.

 

Tampangnya mulai memperlihatkan perasaannya yang romantis. Bibirnya sedikit-sedikit

tersenyum. Seakan banyak ucapan yang ingin disampaikannya kepada Tan Ki, tetapi

kesempatan itu memang belum ada.

Ilmu silat kedua orang ini, boleh dibilang sudah termasuk jago kelas satu di dunia

Kangouw. Gerakan tubuh mereka melesat bagai sambaran kilat. Dalam waktu yang

singkat mereka sudah sampai di bawah sebuah gedung yang bertingkat. Belum lagi Tan Ki

sempat memperhatikan keadaan di sekitarnya, telinganya sudah mendengar suara tawa

Kiau Hun yang merdu.

“Di sinilah tempatnya.”

Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan berdiri tegak.

Tan Ki termangu-mangu. Otomatis gerakan kakinya juga terhenti.

“Tempat apa ini?” tanyanya heran.

“Gedung tinggi di depan itu merupakan tempat si raja iblis menyambut tamunya.”

BAGIAN XVII

Sepasang alis Tan Ki mengerut beberapa kali. Tiba-tiba hatinya tergerak, dia merasa

curiga sekali. Begitu Kiau Hun selesai berbicara, dia langsung mengajukan pertanyaan

yang mengganjal di hatinya.

“Tampaknya kau jelas sekali mengenai seluk-beluk tempat ini? Malah tidak pernah

tersesat sekalipun.”

Dari sinar mata Kiau Hun terpancar kasih yang berkobar-kobar. Dia melirik Tan Ki

sekilas dan tersenyum penuh rahasia. Tetapi dia belum memberikan jawaban. Perlahanlahan

dia melangkahkan kakinya dan dengan nyali yang besar masuk ke dalam gedung

besar tersebut.

Hati Tan Ki sedang diliputi kecurigaan. Saat ini dia malah tidak mengikuti Kiau Hun,

tetapi berdiri di depan dengan termangu-mangu. Dia terus merasa senyuman gadis itu tadi

mengandung kemisteriusan yang tidak terkatakan. Mungkin juga menyimpan rencana

yang keji. Kalau Kiau Hun memang murid Ciu Cang Po, mengapa dalam beberapa hari

yang singkat saja ilmunya sudah melampui nenek tua itu? Hal ini benar-benar perlu

direnungkan baik-baik. Selain itu pengetahuannya tentang seluk beluk Pek Hun Ceng juga

jelas sekali. Memangnya siapa Oey Kang itu, mana mungkin dia membiarkan orang luar

keluar masuk seenaknya menyelidiki tempat tinggalnya itu. Kalau dipikirkan kembali,

seandainya dia mengkhawatirkan keselamatan bekas suhunya yang disandera orang,

maka dia menyusul ke mari, dalam waktu yang demikian singkat, dia juga tidak mungkin

berhasil menyelediki sampai sedemikian mendetail. Apalagi bukti sudah menyatakan

bahwa dia sampai hati melukai Ciu Cang Po, berarti kedatangannya bukan karena nenek

itu. Namun suatu masalah yang perlu dicari jawabannya…

Otaknya terus tidak habis pikir, semakin direnungkan, kemungkinannya semakin

banyak. Hatinya juga makin curiga. Setelah berdiri dengan diam-diam sekian lama, dia

 

mendongakkan wajahnya memandang, tampak gedung itu dibangun dengan bentuk pat

kua. Ibarat pagoda yang bersusun tinggi. Setingkat lebih mewah dari tingkat lainnya.

Jendelanya terbuat dari kaca. Namun semuanya tertutup rapat. Bagian yang paling dasar

dikelilingi oleh rotan yang dijadikan sebagai pagar. Di balik rotan tersebut terdapat

berbagai pot bunga yang ditanami tumbuhan yang indah. Se-juk dan segar rasanya. Di

tengah-tengahnya terdapat lantai yang didasari batu kumala putih.

Hati Tan Ki terasa nyaman. Seakan-akan kegagahannya terbangkit karena mencium

harum bunga tersebut. Oleh karena itu, dia menarik nafas dalam-dalam. Kakinya pun

melangkah lebar-lebar dan berjalan terus ke dalam gedung. Diam-diam dia menghimpun

tenaganya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Saat itu, matahari bersinar dengan terik. Tetapi rupanya cara pembuatan bangunan ini

sangat istimewa. Baru saja dia melangkahkan kakinya ke bawah atap gedung dan berjalan

masuk, dari dalam sudah terpancar hawa yang sejuk bahkan agak lembab sehingga tanpa

sadar bulu kudukpun jadi merinding.

Begitu Tan Ki memusatkan perhatiannya, Kiau Hun sedang menempelkan telinganya ke

dinding. Tangannya berulang kali mengetuk-ketuk. Setelah mendengarkan beberapa saat,

dia berjalan maju beberapa langkah kemudian melakukan hal yang sama. Entah apa yang

sedang dicarinya.

Tan Ki jadi tertegun. Perlahan-lahan dia berjalan menghampiri dan baru saja

bermaksud mengajukan pertanyaan, tiba-tiba dia melihat wajah Kiau Hun kelam sekali.

“Coba kau perhatikan, di mana letak kejanggalan tempat ini?” tanyanya dengan suara

Sepasang mata Tan Ki segera mengedar memperhatikan dengan seksama. Dia hanya

merasa bahwa ruangan itu tidak terlalu besar namun ukurannya juga tidak kecil. Hampir

tidak berbeda dengan kamar di rumah-rumah lainnya. Tetapi di dalamnya justru kosong

melompong. Hatinya sedang merasa heran, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan Kiau

Hun pada dinding agak berat dan dalam, tanpa dapat tertahan lagi, Tan Ki terkesiap.

“Jangan-jangan dinding ini dilapisi logam sejenis besi?”

Kiau Hun tersenyum simpul.

“Kalau dibayangkan, si raja iblis Oey Kang itu, mana mungkin mempunyai tempat

tinggal yang biasa seperti orang lainnya. Tembok di sekeliling ini bukan terlapis bahan

besi, tetapi mempunyai jalan rahasia yang menembus ke tempat lain.”

Hati Tan Ki langsung tergetar.

“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa Pek Hun San-ceng ini penuh dengan

jebakan dan di mana-mana terdapat alat rahasia…

Kiau Hun tampaknya tidak puas dengan ucapan ini. Wajahnya segera dipalingkan dan

tertawa dingin.

 

“Sebuah gedung yang begini kecil, paling-paling hanya dipasangi beberapa permainan

anak kecil. Apanya yang perlu diherankan?” tangannya terulur dan menekan pada celah

dinding. Dengan kecepatan kilat dia langsung mencelat ke belakang.

Tampaknya gadis itu sendiri takut kalau dugaannya salah. Oleh karena itu dia menekan

dinding itu lalu mencelat mundur. Tampaknya dia berjaga-jaga terhadap segala

kemungkinan. Meskipun perbuatannya merupakan hal yang biasa dilakukan oleh para

tokoh Bulim, tetapi mengingat gadis itu tadinya hanya seorang pelayan yang tidak pernah

menginjak dunia ramai dan tidak berpengalaman sama sekali, tetap saja terlihat janggal.

Kecuali dia mendapat petunjuk dari seorang tokoh sakti, tidak mungkin dalam waktu tiga

atau lima hari, pengetahuannya bisa bertambah luas dengan sendirinya.

Tiba-tiba terdengar suara berderak-derak yang memekakkan telinga. Sumbernya

berasal dari bawah tanah. Dan dinding yang berlapis besi itu pun memperlihatkan sebuah

lubang besar. Suara derakannya begitu keras. Seluruh gedung sampai bergetar dibuatnya.

Seakan setiap waktu bisa ambruk ke bawah..

Kira-kira sepeminum teh kemudian, suara yang membuat jantung berdebar-debar itu

pun mulai mereda. Lubang itupun sudah terbuka seluruhnya. Ukurannya cukup untuk

tubuh seseorang menyelinap ke dalam.

Tan Ki melihat dinding itu memperlihatkan sebuah celah, tetapi tidak ada

perkembangan apa-apa, hatinya yang tertekan jadi agak mengendur dan diapun

menghembuskan nafas panjang. Tetapi celah yang terlihat di dalamnya gelap gulita. Entah

seberapa dalam dan jauhnya. Dia mempertajam penglihatannya serta mengawasi dengan

seksama. Namun yang dapat tertangkap oleh pandangannya hanya beberapa undakan

batu yang menurun ke bawah. Tampaknya seperti sebuah tangga rahasia yang menuju ke

bawah dan dapat menembus ke tempat lain.

Tanpa terasa mulutnya mengeluarkan suara keluhan.

“Tadi ketika hendak masuk ke mari, aku sudah memperhatikan pagoda bersegi delapan

ini. Keseluruhannya bertingkat delapan. Tetapi cara membuat bangunan ini tampaknya

sangat istimewa. Dekorasinya juga janggal. Pertama, tidak ada sebuahpun lukisan atau

gambar yang tergantung pada dindingnya. Kedua, tidak ada perabotan satupun. Bahkan

jendelapun tidak ada. Kecuali pintu masuk, yang lainnya merupakan dinding kokoh. Begitu

rapatnya seolah angin pun tidak dapat menembusnya, juga tidak ada tangga yang dapat

naik ke atas maupun turun ke bawah, kecuali ruang rahasia ini. Tapi kalau dibilang

sarananya terletak di sini, undakan batu yang terlihat hanya menuju ke bawah. Bagaimana

orang bisa naik ke atas?”

Seperti bergumam seorang diri, dia mengoceh panjang lebar. Tetapi sebetulnya dia

sedang memperingatkan Kiau Hun, bahwa tempat ini penuh dengan perangkap, alat

rahasia dan dia tidak boleh bertindak ceroboh.

Pada dasarnya Kiau Hun juga seorang gadis yang cerdas, memangnya dia tidak

mengerti isi hati yang terkandung dalam ucapan Tan Ki. Matanya menatap pemuda itu

dengan perasaan sayang. Bibirnya tersenyum lembut.

“Aku juga tahu kalau bangunan ini telah dipasang berbagai perangkap dan tidak boleh

dianggap ringan. Tetapi sebelum aku datang ke mari, aku telah mendapat beberapa

 

petunjuk dari seorang Cianpwe. Meskipun penuh bahaya, tetapi aku sudah mempunyai

pegangan untuk meloloskan diri di saat genting.”

“Apakah ada seseorang yang melindungimu secara diam-diam?” tanya Tan Ki.

Tampaknya Kiau Hun tidak bersedia mengemukakan identitas orang itu. Bibirnya hanya

tersenyum sedikit dan sengaja mengalihkan pokok pembicaraan.

“Yang penting, kau harus mengikuti di belakangku dan tidak boleh sembarangan

berkeliaran. Biar menghadapi urusan yang bagaimana gawatnya, kau harus tenang. Aku

jamin tidak akan terjadi apa-apa.”

Meskipun ucapannya dicetuskan dengan santai, tetapi di dalamnya terkandung rasa

percaya diri dan keangkuhan yang dalam. Seperti menunjukkan, bahwa meskipun dunia ini

luas sekali, tetapi hanya ada aku seorang yang paling hebat.

Tepat pada saat itu, keadaan di depan pintu masuk menjadi remang- remang seperti

tertutup bayangan seseorang. Hati Kiau Hun terkejut sekali. Dia sadar telah kedatangan

seorang musuh. Oleh karena itu dia segera memperdengarkan suara tawa yang dingin.

Lengannya bergerak dan tiga macam senjata rahasia dilontarkan sekaligus.

Ilmu silat Kiau Hun sudah mencapai tahap di mana mendengar suara angin saja dia

sudah dapat menentukan arah. Meskipun dia tidak menolehkan kepalanya, namun senjata

rahasia yang dilontarkan mempunyai daya lempar yang tepat. Kelebatannya membawa

kilasan cahaya yang dingin, kecepatannya bagai kilat, bahkan timbul segulungan suara

suitan yang lirih.

Tan Ki melihat lengan Kiau Hun bergerak dan melemparkan senjata rahasia. Kecepatan

gerakannya hanya berlangsung dalam sekedi-pan mata. Diam-diam dia membayangkan,

serangan yang mendadak ini apabila ditujukan kepadanya, mungkin dia tidak sempat lagi

Ketika masih merenungkan kepandaian gadis itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara

tawa yang panjang. Ketiga senjata rahasia tadi seakan tenggelam ke dasar lautan, tidak

terdengar suara sedikitpun.

Kiau Hun menjungkitkan sepasang alisnya ke atas. Mulutnya tertawa dingin.

“Gerakan saudara yang menggunakan jurus Po Hong Cut-hun (Menambal Angin

Menangkal Bayangan) ternyata boleh juga!”

Orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Terima kasih, terima kasih. Sambitan ketiga jarum perak ini juga kuat sekali!”

Kata-kata yang diucapkannya sebagai sindiran membuat hati Kiau Hun jengkel

setengah mati. Wajahnya yang cantik sampai memutih. Begitu mata memandang, dia

melihat usia lawannya paling banter dua puluh tahunan. Dia mengenakan jubah berwarna

putih, alisnya bagus, hidungnya mancung. Penampilannya gagah. Ketampanan maupun

gayanya tidak kalah dengan Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi memandangnya

dengan termangu-mangu.

 

Meskipun dia tidak mengenal orang ini, tetapi Tan Ki sendiri sudah mengenalinya. Anak

muda itu tidak lain adalah putra angkat Oey Kang yang menyebut dirinya sendiri Pendekar

Baju Putih Oey Ku Kiong. Dia segera maju dua langkah dan bermaksud mengucapkan

terima kasih atas pemberian obatnya, tiba-tiba anak muda itu telah mendahuluinya.

“Ayah menunggu di ruangan pendopo, harap mendapat kunjungan dari Saudara

berdua.”

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa kami telah masuk ke dalam bangunan ini?” tanya Tan

“Kalau menilik dari ucapanmu, tampaknya kau menganggap Pek Hun Ceng sebagai

tempat umum yang orang-orang bisa keluar masuk seenak perutnya sendiri.” sahut

pemuda itu.

Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tersebut, dia langsung membalikkan

tubuhnya dan berjalan keluar.

Tan Ki memandangi bayangan tubuh orang itu yang kekar dan menyiratkan

‘Tampaknya orang ini mempunyai watak yang terbuka, tetapi kemarahan dan

kegembiraan cepat sekali berubah-ubah. Benar-benar membuat orang sulit

mendekatinya…’

Oey Ku Kiong seakan sengaja ingin menjajal kedua orang itu. Begitu mereka menyusul

di belakangnya, setelah jarak diantara mereka kurang lebih empat lima mistar, tiba-tiba

dia menghimpun hawa murninya dan melesat ke depan.

‘Bagus, rupanya kau hendak menjajal ilmu ginkang kami!’ maki Kiau Hun dalam hati.

Gadis itu segera menarik nafas dalam-dalam dan menambah kecepatannya. Tubuhnya

berkelebat bagai kilat yang menyambar. Dia terus mengejar di belakang pemuda tersebut.

Angin yang berhembus membuat perhiasan di seluruh tubuhnya memperdengarkan suara

gemirincingan yang tidak putus-putus.

Di bawah sorotan cahaya matahari, tampak tiga sosok bayangan yang membentuk titik

hitam seakan melayang di udara. Kecepatannya bagai hembusan angin yang meniup

kumpulan asap. Baru terlihat sudah membuyar. Diiringi dengan suara kerincingan yang

timbul dari perhiasan di tubuh Kiau Hun, bak irama di pulau dewata.

Setelah melintasi tiga buah halaman, Oey Ku Kiong juga tidak dapat menarik dirinya

lebih jauh. Sedangkan Kiau Hun dan Tan Ki juga tidak sanggup lebih mendekat.

Tampaknya ilmu ginkang ketiga orang itu memang hampir seimbang.

Tiba-tiba terdengar Oey Ku Kiong mengeluarkan suara siulan yang panjang. Lengannya

merentang, tubuhnya mencelat dan tahu-tahu sudah berada di tengah udara. Dengan

gerakan yang indah dia mencelat ke atas tembok pekarangan kemudian menghilang dari

Tampaknya tanpa berpikir panjang lagi Kiau Hun juga ikut mencelat ke atas tembok.

Kemudian terlihat dia menggapaikan tangannya ke arah Tan Ki lalu meloncat ke bawah.

 

Tan Ki takut di balik tembok itu terdapat perangkap. Dia menghimpun hawa murninya

kemudian mencelat ke atas tembok, dia mengedarkan pandangannya sejenak, baru

kemudian meloncat turun. Dia mendarat tepat di samping Kiau Hun. Begitu mata

memandang, Oey Ku Kiong sendiri lenyap entah ke mana. Halaman berhias rumput

kosong melompong. Di sana hanya terdapat mereka berdua.

Mata Kiau Hun yang indah mengedar ke sekeliling. Dia memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Kemudian terlihat jari telunjuknya menuding.

“Coba lihat, apa itu?”

Tan Ki mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Kiau Hun. Dia melihat

rumpun bambu yang tersusun rapi membentuk pagar sebuah pondok. Hatinya jadi

“Pemuda tadi membawa kita ke tempat ini. Mungkin itulah pendopo yang dimaksud

oleh-nya.”

Tepat pada saat itu, kebetulan angin berhembus dari arah Kiau Hun ke tempat dirinya

berdiri. Jarak diantara mereka sangat dekat. Ketika Tan Ki sedang berbicara, hidungnya

dapat mengendus segulungan bau harum yang terpancar dari tubuh seorang gadis. Bau

harum itu samar sekali, namun sanggup membuat perasaan Tan Ki menjadi aneh. Dia

bagai terlena untuk beberapa saat. Seakan sedang menikmati suasana itu.

Justru ketika dia sedang terbuai, tidak terdengar olehnya sahutan Kiau Hun. Rupanya

gadis itu telah melangkah maju setindak demi setindak.

Tan Ki melihat dia berjalan menuju pondok tersebut, dia juga tidak enak berkata apaapa

lagi. Kakinya bergerak, tidak cepat dan tidak lambat, namun dengan tenang dan jarak

yang tetap, dia mengikutinya dari belakang.

Tampak wajah Kiau Hun memperlihatkan mimik yang aneh. Seperti ada suatu masalah

rumit di dalam hatinya. Sepasang alisnya berkerut-kerut. Jalannya seperti merayap. Jarak

dari tempat mereka ke pondokan itu hanya sekitar dua belas depaan. Dia malah

memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapainya.

Di dalam hati Kiau Hun ada persoalan, dia sendiri malah tidak merasa bagaimana.

Justru Tan Ki melihat tampangnya yang termangu-mangu, tiba-tiba merasa tidak tenang.

Diam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya dan berjaga-jaga terhadap segala

kemungkinan. Matanya segera beralih, dia melihat pintu rumah pondok itu tertutup rapat.

Tidak dapat diketahui keadaan di dalamnya. Delapan orang gadis yang cantik jelita dengan

pinggang masing-masing terselip sebilah pedang pendek. Mereka terbagi menjadi dua

kelompok yang menjaga di kiri kanan pintu pendopo tersebut. Penampilan mereka keren,

mereka tidak bergerak sedikitpun. Mungkin mereka bertugas sebagai penyambut tamu

Oey Kang.

Ketika kedua orang itu sudah dekat, kedelapan orang gadis itu segera membungkukkan

tubuhnya dengan penuh hormat. Tangannya direntangkan sebagai tanda mempersilahkan.

Gerakannya kompak tidak ada yang salah sedikitpun.

 

Pada saat itu, Tan Ki baru sempat melihat, meskipun usia gadis-gadis itu baru sekitar

dua puluh tiga atau dua puluh empat tahunan, tetapi mata mereka masing-masing

menyorotkan sinar yang tajam menusuk.

‘Sinar mata mereka begitu tajam. Tampaknya tenaga dalam perempuan-perempuan ini

tidak lemah juga. Apabila kita sudah terlanjur masuk ke dalam dan mereka menutupi

depan pintu, pada saat itu, apabila ingin meloloskan diri juga sulitnya bukan main. Lebih

baik tingkatkan kewaspadaan.’ pikirnya dalam hati.

Dengan membawa pikiran seperti itu, cepat-cepat dia menjawil ujung lengan Kiau Hun.

Tiba-tiba terdengar gadis itu tertawa lepas.

“Aku kira biasanya dia menerima tamu di bagian paling bawah pagoda bertingkat

delapan itu. Mengapa waktu kita pergi, bayangan hantupun tidak kelihatan. Rupanya

tempat itu kurang sesuai. Di sini lebih leluasa untuk merencanakan berbagai jebakan.”

Mendengar Kiau Hun seperti berguman seorang diri, diam-diam hati Tan Ki jadi

tergetar. Tadinya dia curiga, Kiau Hun sudah diterima sebagai murid oleh Oey Kang dalam

beberapa hari ini, kemudian dia berpura-pura memainkan sandiwara dan memancing

dirinya dengan berbagai cara. Maksudnya ingin menyelidiki gerak-gerik yang akan

dilakukan oleh golongan putih dalam menghadapi Oey Kang. Tetapi mendengar nada

suaranya yang mengandung rasa permusuhan. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri yang

terlalu banyak curiga. Perlahan-lahan dia menepuk batok kepalanya sendiri. Rasa curiga

dalam hatipun lenyap dalam seketika.

Dalam waktu yang singkat itu, keduanya memikirkan persoalan masing-masing. Siapa

pun tidak menyadari bahwa mimik wajah rekannya agak janggal. Sekejap mata kemudian,

keduanya sudah sampai di depan pintu pendopo tersebut.

Pintu pendopo ini juga digerakkan dengan alat mereka. Ada orang yang menekannya

secara diam-diam. Ketika mereka baru menginjak di depannya, otomatis kedua belah pintu

pun bergeser kedua arah.

Di depan mata mereka tiba-tiba terlihat cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya api

berkibar-kibar. Rupanya ruangan di dalam itu agak gelap. Meskipun belum mencapai

tengah hari namun di dalamnya terpasang lilin-lilin dalam jumlah yang banyak. Puluhan

meja tersusun rapi. Semuanya hampir dipenuhi tokoh-tokoh Bulim. Meskipun jumlah

orangnya cukup banyak, tetapi di wajah setiap orang tersirat hawa pembunuhan yang

tebal. Semuanya membungkam seribu bahasa. Begitu mencekamnya suasana di dalam,

mungkin sebatang jarum yang terjatuh di atas lantaipun dapat terdengar dengan jelas.

Tan Ki dan Kiau Hun saling pandang sejenak, kemudian bibir mereka mengembangkan

seulas senyuman, perlahan-lahan mereka melangkah masuk. Tetapi senyuman yang

terlihat di bibir Tan Ki seakan dipaksakan. Seakan membalas senyuman yang

dikembangkan oleh Kiau Hun.

Usia mereka hampir sebaya. Langkah kaki mereka tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Yang satu tampan dan gagah, wajahnya tenang. Sedangkan yang satunya lagi, cantik

namun mengandung kesan agak binal. Tanpa terasa, kehadiran kedua orang itu

membangkitkan perhatian para hadirin. Puluhan pasang mata terpusat pada diri kedua

orang itu. Wajah mereka memperlihatkan rasa terkejut. Seakan kehadiran mereka yang

 

tiba-tiba itu benar-benar di luar dugaan mereka semua. Mereka juga merasa kagum

melihat gerakan keduanya yang begitu ringan.

Dalam beberapa hari yang singkat, Kiau Hun dari seorang pelayan tiba-tiba menjadi

tokoh kelas tinggi dunia Bulim. Pengetahuannya pun menjadi luas. Di dalam hal ini,

meskipun disebabkan oleh penemuan yang langka seperti yang diakuinya sendiri, namun

tidak ada seorangpun yang tahu sampai di mana sebetulnya ketinggian ilmu silat gadis itu

sekarang. Jangan cuma dilihat bibirnya terus mengembangkan senyuman, dan lagaknya

lemah gemulai, tapi sebetulnya dia juga sedang memperhatikan orang-orang yang ada di

dalam ruangan tersebut.

Matanya tajam sekali, satu per satu orang yang hadir di dalam ruangan diperhatikannya

dengan seksama. Dia sudah melihat bahwa sebuah meja yang terdapat di tengah-tengah

ruangan duduk seorang laki-laki setengah baya. Usianya kurang lebih empat puluhan ke

atas. Wajahnya putih bersih. Tidak memelihara kumis maupun jenggot. Kepalanya diikat

dengan sebuah pita. Pada meja sampingnya, duduk Liu Seng, Kok Hua-hong, Yi Siu dan

Cu Mei. Dia segera menunjukkan senyum yang lebar. Setelah mengitari tiga buah meja,

dia sampai di belakang Liu Seng. Dengan santai dia mengulurkan tangannya dan

menyentuh pundak orang itu.

“Loya Cu, apakah kau masih mengenali aku?” tanyanya sambil mengembangkan seulas

Mata Liu Seng langsung mendelik lebar-lebar.

“Lepaskan tanganmu. Di hadapan orang banyak, tidak boleh berlaku kurang ajar.”

Kiau Hun tampaknya memang sengaja ingin mencari gara-gara. Dia memalingkan

wajahnya sambil tertawa dingin.

“Aku bukan lagi budak keluarga Lu. Loya Cu juga tidak perlu menasehati aku.”

perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas dan mengambil sesuatu dari mahkota

di kepalanya. Setelah itu dia melanjutkan lagi kata-katanya yang terhenti. “Tusuk konde ini

terbuat dari emas murni. Meskipun harganya tidak seberapa, tapi rasanya cukup untuk

menebus kebebasanku.”

Dia meletakkan tusuk konde berbentuk burung hong itu di atas meja, kemudian

terdengar suara tawanya yang terkekeh-kekeh. Tanpa menunggu jawaban dari Liu Seng,

dia segera menarik tangan Tan Ki dan mengajaknya ke tempat Oey Kang duduk.

Karena putrinya diculik orang, hati Liu Seng sedang gelisah bukan main. Meskipun dia

berhasil menemui Oey Kang untuk membahas masalah ini, tetapi rasanya sulit diselesaikan

tanpa gerakan ujung pedang. Suasana dalam ruangan itu seakan dipenuhi bahan peledak.

Hal ini membuat perasaan mereka menjadi tidak tenang. Siapa sangka malah muncul

seorang Kiau Hun yang seakan sengaja mengolok-oloknya di hadapan orang banyak.

Untuk sesaat dia merasa hawa amarah dalam dadanya meluap-luap. Tapi bagaimana pun

Liu Seng adalah tokoh angkatan tua yang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan.

Dia merasa malu berdebat dengan seorang gadis. Oleh karena itu, terpaksa dia menelan

dalam-dalam kejengkelan hatinya dan hanya mendengus dingin satu kali.

Kiau Hun berjalan menghampiri Oey Kang, tampaknya di sini dia juga bermaksud

mencari perkara. Dia tidak menyapanya sama sekali. Dengan tenang dia duduk di bagian

 

bawah Oey Kang. Dia menghentakkan tangannya dan menarik Tan Ki dengan setengah

memaksa untuk duduk di sampingnya.

Perlu diketahui, peradatan di zaman itu sangat kolot. Diantara laki-laki dan perempuan

mempunyai batas yang tidak boleh dilanggar. Kedudukan kaum pria selalu dianggap lebih

tinggi, tidak seperti zaman emansipasi sekarang ini. Kiau Hun adalah seorang gadis yang

sudah dewasa. Sebetulnya Oey Kang bisa menurunkan perintah secepatnya dan

mempersilahkan dia duduk di tempat yang lain. Apalagi di sana masih ada beberapa

tempat duduk yang kosong.

Tetapi Kiau Hun sudah menghampiri dengan gaya bebas dan duduk di dekatnya. Sama

sekali tidak memperdulikan peradatan yang kukuh di zaman itu. Seperti perbuatannya tadi

yang menepuk pundak bekas majikannya. Itu saja sudah kelewatan. Sekarang di depan

umum dia menarik seorang pemuda dengan terang-terangan dan mengajaknya duduk

bersama. Hal ini bukan saja menimbulkan perhatian yang besar dari para hadirin.

Perasaan mereka pun terkejut sekali melihat keberaniannya.

Mendapat perhatian dari para hadirin, entah mengapa di dalam hati Tan Ki timbul

semacam perasaan yang tidak enak. Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya melirik

sekilas ke arah Kiau Hun. Mata gadis itu memandang ke arah lain. Seakan tidak perduli

pandangan orang-orang terhadap dirinya. Sinar matanya berbinar-binar, sebentarsebentar

dia mengerling ke arah makanan serta hidangan yang tersedia di atas meja.

Seakan dia berselera sekali. Tangannya segera menyambar sepasang sumpit. Dengan

santai dia mencomot sepotong ayam panggang dan di-endus-endusnya di depan hidung.

“Harum sekali, harum sekali!”

Gerak-geriknya maupun tingkah lakunya terlalu dibuat-buat. Sehingga ada beberapa

orang yang mengeluarkan suara tawa yang mengandung ejekan. Meskipun Oey Kang

bertindak sebagai tuan rumah, namun dia menatap dengan pandangan datar. Wajahnya

tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Dia berusaha setenang mungkin.

Terdengar suara dengusan dari hidung Kiau Hun. Sepasang alisnya berkerut. Ujung

bibirnya tertawa dingin.

“Meskipun daging ini memang harum sekali, tetapi takutnya mengandung racun. Kalau

karena kerakusan sesaat, malah diracuni orang sampai mati, maka kejadian ini merupakan

kejadian yang paling mengenaskan yang pernah kutemui.” tenaga dalamnya segera

disalurkan. Sembari berbicara, tangannya yang menggenggam sepasang sumpit bergerak

perlahan. Potongan ayam panggang tadipun mencelat ke tengah udara kemudian melesat

keluar sampai sejarak tujuh langkah dan menancap di tubuh sebatang pohon.

Terdengar suara desiran yang lirih. Batang pohon itu pasti sangat keras, tetapi

potongan ayam panggang yang lembut itu dapat menancap ke dalamnya sehingga

amblas!

Kekuatan tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Hal ini membuat

para hadirin yang melihatnya menjadi terpana. Wajah mereka berubah hebat. Sampai Oey

Kang sendiri juga terkejut bukan kepalang. Dua gurat alis yang menjuntai ke bawah

tampak bergerak-gerak. Wajahnya agak berubah, namun dalam sekejap mata sudah pulih

seperti sedia kala.

 

Bibirnya malah menyunggingkan seulas senyuman.

“Entah dari pegunungan terkenal yang mana Nona ini berasal? Harap maafkan

pandangan orang she Oey yang dangkal sehingga tidak mengenali dalam sesaat.” sapanya

Kiau Hun tertawa lebar.

“Aku datang dari asalku.” sahut gadis itu seenaknya.

Oey Kang tersenyum lembut.

“Nona ini sungguh lucu. Orang she Oey ini meskipun tidak becus, juga tidak berani

berlaku kurang ajar pada kelima partai besar apalagi dengan menyebarkan racun.” orang

ini memang tidak malu disebut sebagai raja iblis nomor satu di zaman ini. Hatinya licik,

pengalamannya luas. Meskipun kebencian dalam dadanya berkobar-kobar, tetapi

penampilannya masih tenang, cara bicaranya pun santai dan wajar.

Kiau Hun mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek. Baru saja dia ingin

mengucapkan sesuatu, tampak Liu Seng bangkit dari tempat duduknya dan menjura

dalam-dalam.

“Tadi Oey Cengcu telah mengabulkan untuk melepaskan putriku. Entah bagaimana kelanjutannya

sekarang?” tanya orang itu dengan suara lantang.

Oey Kang merenung sejenak.

“Tanpa memperdulikan perjalanan yang jauh, Liu heng datang untuk menolong

putrimu. Kasih sayang yang besar ini sungguh membuat orang kagum. Kalau orang she

Oey tidak menuruti permintaan yang kau ajukan, tampaknya seperti orang yang tidak

punya rasa kemanusiaan sama sekali. Kalian hampir tidak pernah mengunjungi rumahku

yang jelek ini, tetapi sekali datang sampai berbondong-bondong, benar-benar merupakan

kebanggaan orang she Oey. Pepatah kuno me-ngatakan: ‘Penghormatan harus dibalas

dengan baik! Sebelum berpisah, sebagai tuan rumah yang baik, orang she Oey harus

memberikan kenangan yang manis untuk kalian semua.” selesai berkata, dia segera berdiri

dan menjura tiga kali berturut-turut.

Meskipun kata-katanya sangat masuk di akal dan seakan mengandung ketulusan yang

dalam, namun para tokoh yang datang hari ini merupakan orang yang rata-rata sudah

mempunyai nama besar di dunia Kangouw. Pengalaman mereka sangat luas. Mana

mungkin mereka tidak mengerti kalau ucapan Oey Kang tadi mengandung makna yang

dalam. Setelah mendengar kata-katanya, wajah mereka satu per satu menjadi berubah.

Tanpa dapat ditahan lagi, mereka segera menegakkan badannya. Wajah masing-masing

menunjukkan semacam ketegangan yang tidak teruraikan dengan kata-kata.

Kiau Hun malah memalingkan wajahnya dan mengerling Tan Ki berulang kali. Bibirnya

terus mengembangkan senyuman. Sebelum masuk ke dalam Pek Hun Ceng ini dia sudah

merencanakan apa yang akan dilakukannya. Tampaknya dia mempunyai keyakinan diri

yang dalam. Biar menghadapi bahaya yang bagaimanapun, dia masih bisa meloloskan diri.

Oleh karena itu, menghadapi suasana yang tegang seperti saat itu, dia tidak ambil perduli

sama sekali. Wajahnya tidak menyiratkan perasaan gentar sedikitpun.

 

Sebaliknya, hati Tan Ki semakin lama semakin tidak tenang. Dia bagai duduk di atas

puluhan jarum. Ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut dan semakin

jauh semakin baik.

Dia takut Oey Kang akan membongkar rahasia dirinya. Apabila orang-orang yang hadir

dalam ruangan ini tahu bahwa dialah Cian bin mo-ong yang telah menggemparkan dunia

Kangouw selama setengah tahun ini, bagaimana akibatnya, dia sendiri tidak berani

Untuk sesaat berbagai macam pikiran melintas di benaknya. Semakin dipikir semakin

menakutkan. Dia benar-benar tidak berani berpikir lebih jauh, tetapi situasi yang

dihadapinya saat ini, membuat Tan Ki mau tidak mau memikirkan dari segi buruknya dulu.

Justru ketika hatinya semakin tidak tenang, tiba-tiba telinganya mendengar suara irama

musik yang mengalun-alun. Hatinya jadi tergetar. Perasaannya menjadi tegang. Mendadak

dia merasa irama musik itu seperti mengiringi jantungnya yang berdegup kencang. Seakan

hari cerah sebelum badai topan melanda.

Pendengarannya dipertajam, dia merasa irama musik itu lembut sekali. Seperti jauh

tetapi dekat. Membuat orang bingung menentukan dari mana asal alunan irama tersebut.

Dalam waktu yang singkat, udara seperti terasa pengap. Suasana di dalam ruangan bagai

diselimuti ketegangan yang tidak terkirakan.

Ketika irama musik itu baru terdengar, wajah para hadirin bagai diselimuti keangkeran

serta keseriusan yang aneh. Mata mereka serentak beralih ke arah musuh tangguh yang

ada di hadapan mereka. Mereka memandang dengan mata terbelalak dan mulut

Irama musik itu terus mengalun. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dua pintu

sebelah dalam perlahan-lahan terbuka. Seorang gadis yang cantik jelita berjalan keluar.

Begitu dia melangkah masuk, serentak pandangan mata para hadirin langsung beralih.

Dalam waktu yang bersamaan, mata mereka terbelalak, hati mereka berdebar-debar.

Mereka melihat wajah gadis itu begitu rupawan. ‘Alisnya berbentuk indah. Di balik

kecantikannya terselip kesucian dan keanggunan yang sulit diuraikan dengan kata-kata.

Seakan seluruh syair indah yang terdapat dalam dunia ini tergabung dalam dirinya. Tetapi

yang lebih mengejutkan, adalah tubuhnya yang tidak di-tutupi oleh selembar benangpun.

Hanya tangannya yang mengibarkan sehelai selendang yang tipis dan pada dasarnya tidak

berarti sama sekali.

Benar-benar merupakan sebuah pemandangan erotis yang di luar dugaan semua orang.

Pemandangan ini juga membawa daya pikat serta rangsangan yang sulit diuraikan dengan

kata-kata. Meskipun orang-orang yang hadir dalam ruangan itu rata sudah berusia

setengah baya, namun tanpa dapat ditahan lagi, mereka juga memandang dengan

terpana dan hati tegang.

Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengan tatapan gadis yang telanjang itu. Selembar

wajahnya yang tampan jadi merah padam seketika. Cepat-cepat dia memalingkan

wajahnya dan tidak berani melihat lagi.

Rupanya gadis ini bukan orang lain. Dia adalah gadis yang selama ini dirindukan oleh

Tan Ki. Liu Mei Ling. Juga merupakan putri kesayangan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng.

 

Sebagian besar dari orang-orang yang hadir juga mengenalnya. Sampai Kiau Hun juga

me-ngeluarkan suara seruan terkejut. Kemudian terlihat bibirnya bergerak-gerak seakan

sedang bergumam seorang diri.

“Kenapa Siocia bisa berubah menjadi seperti ini? Aneh!” hubungannya dengan Mei Ling

sudah seperti saudara sendiri. Tetapi karena selama ini dia sudah terbiasa memanggilnya

dengan sebutan ‘Siocia’, meskipun sekarang dia bukan lagi pelayan dalam keluarga Liu,

namun kebiasaan itu sudah sulit dirubah.

Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, wajahnya sendiri jadi merah jengah. Dia

menarik nafas panjang-panjang kemudian menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang keras. Sesosok tubuh berkelebat dan

meraung marah…

Rupanya Liu Seng baru melihat bahwa anak gadis yang sedang menari dengan tubuh

telanjang, dia segera sadar bahwa di balik semua ini pasti ada sesuatu yang tidak wajar.

Tetapi hawa amarah dalam dadanya sudah terlanjur meluap. Tanpa berpikir panjang lagi,

dia menggebrak meja sekeras-kerasnya sambil meraung murka dan menerjang ke depan.

Justru dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara kliningan yang tidak

putus-putus disusul dengan serangkum bau harum yang tebal menerpa hidung. Dua belas

orang gadis yang juga tidak memakai selembar benangpun masuk ke dalam ruangan

untuk menyanyi sambil menari.

Tangan dan kaki mereka semuanya dipasangi kliningan yang bunyinya terus terdengar.

Tampaknya kedua belas gadis itu sudah mendapat latihan yang profesional. Gerakannya

amat teratur, barisan mereka terlihat rapi. Dalam sekejap mata mereka sudah mengelilingi

Mei Ling, bagai dayang-dayang yang mengelilingi putri raja. Tubuh Mei Ling diangkat

beramai-ramai, namun dendang lagu maupun tarian tidak terhenti sama sekali. Gerakan

mereka semakin erotis.

Tadinya Liu Seng ingin maju dan menghibur hati putrinya. Tetapi kemunculan gadisgadis

lainnya terlalu mendadak. Dalam sekejap mata tahu-tahu mereka sudah di depan

mata. Dengan panik dia mengempos nafasnya serta menahan dirinya yang sedang

menerjang ke depan. Begitu perhatiannya dipusatkan, dia melihat gadis-gadis bugil itu

sudah mengerumuninya dari kiri kanan. Tetapi dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah

mereka. Hatinya jadi terkejut sekali.

Tarian mereka cepat sekali, pikirnya diam-diam.

Rupanya, baru saja langkah kaki Liu Seng berhenti, tahu-tahu dirinya telah dikelilingi

dua belas orang gadis. Tepat pada saat itu juga, dia mencium aroma harum yang agak

aneh. Bau itu membuat orang terlena sedemikian rupa, seolah-olah tubuh gadis itu

memancarkan bau harum yang berbeda-beda yang terpancar seiring dengan gerakan

tubuh mereka sewaktu menari-nari.

Orang yang menciumnya seperti terlena bahkan terselip sedikit rasa iba di hati.

Pikiranpun tidak dapat dipusatkan dengan baik, seluruh hawa amarah yang tadinya

berkobar-kobar di dada lenyap entah ke mana.

 

Tapi, biar bagaimanapun Liu Seng adalah seorang tokoh tua yang sudah banyak

pengalaman. Melihat gadis-gadis bugil yang mengelilinginya dari depan belakang bahkan

kiri kanan, dia segera menyadari bahwa keadaan tersebut tidak wajar. Bau harum yang

terpancar dari tubuh para gadis ini begitu tajam menusuk, sanggup membuat perasaan

orang menjadi lengah dan sulit menggunakan akal sehat. Dengan demikian, rasa

permusuhan di dalam hati pun jadi hilang. Apabila mereka menggunakan kesempatan ini

untuk…

Pikiran itu bagai sambaran kilat yang melintas di benaknya. Tanpa terasa hawa

amarahnya jadi meluap-luap. Dia mendongakkan wajahnya serta menarik nafas dalamdalam.

Mulutnya mengeluarkan raungan sekeras-kerasnya. Dia mengangkat tangannya ke

atas dan tiba-tiba dia mencengkeram ke arah gadis yang terdekat dengannya.

Serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar. Tenaga yang terpancar demikian kuat

sampai menimbulkan suara seperti suitan panjang. Siapa sangka, menghadapi

serangannya yang begitu hebat, gadis itu seakan tidak memandang sebelah mata. Dia

masih terus mendendangkan lagu serta menari-nari. Tampaknya dia tidak perduli sama

Cengkeraman Liu Seng begitu tajam bagai sebilah pedang. Sejenak lagi dada gadis itu

pasti tercengkeram olehnya. Melihat gadis itu tetap tidak perduli, hati Liu Seng jadi tidak

Aku dengan dia tidak ada permusuhan apapun, mengapa aku harus membunuhnya?

Kata laki-laki itu dalam hati.

Biar bagaimanapun Liu Seng adalah seorang pendekar yang mulia. Begitu pikirannya

tergerak, tanpa sadar dia menarik kembali tenaga dalamnya beberapa bagian. Tepat pada

saat itu juga, tiba-tiba langkah gadis itu bergeser, dengan perlahan-lahan tubuhnya

berputar. Dengan demikian, cengkeraman tangan Liu Seng pun luput dari sasarannya.

Liu Seng jadi tertegun. Cengkeramannya mengandung kecepatan dan gerakan yang

aneh. Meskipun di tengah jalan dia sempat menarik kembali beberapa bagian tenaga

dalamnya, namun jurus yang dilancarkan tetap hebat. Tubuh gadis itu berputar seakan

merupakan gerakan dari tariannya, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindarkan diri dari

cengkeraman tokoh tersebut.

Hati Liu Seng hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Cengkeramannya segera

ber-ubah menjadi tepukan dan diarahkannya kepada gadis yang ada di sebelah kiri.

Tampak tubuh yang putih mulus itu berkelebat, bau harum kembali menerpa hidung Liu

Seng. Entah bagaimana, tahu-tahu serangannya yang kali ini luput pula. Akhirnya hawa

amarah dalam dada laki-laki itu jadi meluap. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang

keras. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan dia langsung melancarkan dua buah

Angin yang timbul dari pukulannya terpancar keluar, terdengar suara yang menderuderu.

Kehebatannya tak perlu dikatakan lagi. Tetapi kedua rangkum tenaga yang

terpancar dari pukulannya bagai tenggelam ke dasar lautan. Yang dihantamnya justru

tempat kosong. Tenaga dalam yang hebat itu tidak sempat menyentuh apapun.

 

Rupanya gerak lagu dan tarian yang dilakukan para gadis itu merupakan semacam ilmu

silat yang aneh. Di dalamnya terkandung kehebatan yang luar biasa. Dalam tiap

gerakannya terselip perubahan yang tidak terduga-duga. Sekalipun Liu Seng sudah

berusaha menyerang dengan gencar, justru sembari bernyanyi dan menari, tahu-tahu

semua serangannya dapat dihindarkan dengan mudah.

Liu Seng sudah terjun ke dalam dunia Kangouw sejak tiga puluhan tahun yang lalu.

Baik barisan besar maupun keroyokan musuh atau keadaan yang bagaimana bahayapun

sudah pernah ditemuinya. Tetapi dia justru belum pernah mengalami kejadian yang begitu

aneh seperti sekarang ini. Untuk sesaat, hatinya menjadi terkejut juga takut. Di mimik

wajahnya tersirat perasaannya yang penasaran. Tanpa sadar dia memandang para gadis

itu dengan termangu-mangu.

Tampak para gadis itu bergerak dengan lemah gemulai, mereka menerobos ke mari

palu menyelinap ke sebelah sana. Kadang-kadang kaki mereka terangkat ke atas, kadangkadang

tubuh mereka membungkuk ke permukaan lantai. Gayanya sungguh indah namun

erotis sekali. Suasana di dalam ruangan itu ibarat ajang pembangkit birahi. Orang-orang

yang hadir ada beberapa yang mema-lingkan wajahnya tidak berani melihat. Sedangkan

sebagian diantara mereka masih tetap memandang, namun wajah mereka sudah berubah

merah padam dan hati mereka terasa berdebar-debar. Cepat- cepat mereka mengerahkan

tenaga dalam dan mempertahankan diri sekuat kemampuan.

Suasana semakin tegang. Di balik nyanyian dan tarian tersebut terselip bahaya yang

mengintai. Setiap waktu dan setiap saat dapat terjadi bencana yang mengerikan.

Tiba-tiba terdengar Kiau Hun mendengus dingin.

“Sungguh barisan pemikat sukma yang hebat!” sejak awal hingga akhir, matanya tidak

dialihkan dari wajah Mei Ling. Mula-mula dia juga memandang dengan terkesima,

sehingga wajahnya merah padam dan hatinya berdegup dengan keras. Tetapi dia masih

sanggup mem-pertahankan ketenangannya sehingga tidak seberapa terpengaruh.

Setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba dia merasa bahwa arena yang dijadikan

ajang nyanyian dan tarian para gadis itu sebetulnya cukup luas. Setelah Liu Seng

terperangkap dalam barisan tersebut, gerakan kaki mereka menjadi agak kacau. Tetapi

apabila laki-laki itu ingin bergerak satu langkah saja, rasanya tidak ada tempat lagi untuk

berpijak. Setelah berhasil melihat keadaan itu, tanpa sadar dia mengeluarkan seruan

terkejut, tetapi mimik wajahnya masih tetap tenang seperti sebelumnya.

Oey Kang tertawa datar.

“Mata Nona sungguh tajam. Ternyata keampuhan barisan ini sanggup terlihat olehmu.

Benar-benar membuat orang jadi kagum!”

“Kepandaian tidak berarti, yang diperlukan hanya keawasan mata saja.” sahut Kiau

Hun. Dengan gaya santai dia mengambil sumpit giok yang ada di atas meja.

Dikerahkannya tenaga dalam secara diam-diam dipatahkannya sumpit yang keras itu

menjadi dua bagian. Dia menggenggamnya dalam telapak tangan kemudian mengedarkan

matanya. Dia melihat Mei Ling sudah diturunkan kembali oleh kedua belas gadis yang

sedang menari-nari tadi. Posisinya terkurung di tengah-tengah. Dia berdiri tegak seperti

sebuah patung yang indah. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Kiau Hun tersenyum

simpul. Lengannya digerakkan, tampak dua titik sinar putih yang halus sekali melesat ke

 

depan bagai kilat. Rupanya dia menggunakan patahan sumpit itu sebagai pengganti

senjata rahasia. Sasarannya dua urat nadi yang berbahaya di bagian dada dan

tenggorokan Mei Ling.

Hati Tan Ki tercekat sekali melihatnya.

“Apa yang kau lakukan?” bentaknya marah.

Meskipun demikian, tidak ada peluang lagi baginya untuk mencegah. Hatinya panik

sekali. Dia tidak perduli atau menyempatkan diri untuk bertanya kepada Kiau Hun.

Kepalanya dipalingkan, mungkin Kiau Hun memang berniat membunuh gadis itu.

Serangannya ini menggunakan tenaga yang sepenuhnya. Melesatnya pun demikian cepat.

Dalam keadaan yang hanya sekejap mata saja, dua patahan sumpit tadi sudah sampai di

hadapan Mei Ling.

Kalau diceritakan memang rasanya panjang, kejadiannya sendiri hanya beberapa detik

saja. Justru pada saat yang bahaya dan menegangkan itu, tiba-tiba terlihat salah seorang

gadis yang sedang menari itu menggeser kakinya beberapa langkah. Dia menghadang di

depan Mei Ling. Gerakannya seperti tidak sengaja, seakan memang termasuk gerakan dari

tariannya itu. Lengan kirinya bergerak dua kali berturut-turut. Ternyata dia berhasil

mementalkan kembali dua batang patahan sumpit yang melesat dengan kekuatan dahsyat

itu. Kemudian tampak pinggangnya melenggok-lenggok mengikuti irama lagu, langkahnya

kembali ke tempat semula. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Seakan tidak

pernah terjadi sesuatupun.

Gayanya yang luwes dan indah serta gerakan yang tidak terduga-duga, mana pernah

Tan Ki melihatnya. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi termangu-mangu. Matanya tanpa

sadar beralih pada diri gadis yang satu itu.

Setelah memperhatikan sejenak, dia merasa gerakan tari yang dilakukan gadis itu tidak

terselip perasaan malu sedikitpun. Malah ketika sepasang buah dadanya berayun-ayun,

dalam gerakannya terselip rangsangan serta sanggup mempesona siapapun yang

melihatnya. Tiba-tiba jantungnya jadi berdebar-debar. Dadanya seakan dipenuhi udara

sehingga terasa sesak. Kalau dihembuskan, rasanya mengganjal di hati. Wajahnya jadi

merah padam. Perasaannya sendiri sulit dijelaskan. Pikirannya terasa buntu.

Tan Ki adalah seorang pemuda yang luar biasa cerdasnya. Begitu merasa keadaan

dirinya tidak wajar, dia segera sadar bahwa dirinya telah terpengaruh tarian bugil gadis

itu. Gairah birahi di dalam hatinya jadi berkobar-kobar. Dia terperanjat sekali. Tetapi dia

belum pernah mempelajari ilmu Lwekang. Apalagi pikirannya agak terganggu. Untuk

sesaat dia tidak bisa mengerahkan hawa murninya untuk menolak pengaruh tersebut.

Tangannya menekan di depan dada, matanya cepat-cepat dipejamkan rapat-rapat dan

tidak berani melihat lebih lama.

Tiba-tiba terdengar suara yang keras, seakan ada suatu benda berat yang terjatuh dari

atas. Tadinya dia tidak ingin melihat, tetapi dia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

Diam-diam dia mengintip, wajahnya langsung berubah hebat. Entah apa sebabnya,

tahu-tahu Liu Seng sudah jatuh tidak sadarkan diri.

Perubahan yang mendadak ini, seakan memang sudah dalam dugaan para pendekar.

Begitu dia terjatuh, terdengar beberapa orang menarik nafas panjang.

 

Saat itu, irama musik maupun bunyi gendang yang berkumandang dari luar masih tidak

putus-putusnya berbunyi. Orang-orang yang hadir saling melirik pada waktu yang

bersamaan, bibir mereka menyunggingkan tawa yang sumbang. Perasaan mereka sedang

berada di puncak ketegangan. Hati mereka mengerti, irama musik itu merupakan sumber

perintah para gadis yang sedang menari-nari itu. Kalau irama itu tidak berhenti dan tetap

diteruskan, orang-orang itupun terus diancam bahaya.

Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu, kalau bukan pendekar setempat, pasti

tokoh-tokoh yang sudah punya nama. Pengalaman mereka banyak sekali. Pengetahuan

merekapun sangat luas. Setelah menyadari adanya bahaya yang mengancam, tanpa

diperintah mereka segera menundukkan kepala merenung. Bagaimana caranya

menghadapi situasi seperti ini? Bahkan ada beberapa orang yang memejamkan matanya

rapat-rapat agar pikirannya dapat terpusat penuh. Tiba-tiba…

Terdengar lagi suara Trang! Trang! Sebanyak beberapa kali. Setelah didengarkan

dengan seksama, rupanya suara tadi merupakan bunyi genta yang ditabuh sebanyak tiga

Tabuhan yang berjumlah tiga kali itu seakan merupakan isyarat untuk kedua belas

gadis yang sedang menari dengan tubuh bugil itu. Gerakan mereka mendadak berubah

serentak. Perlahan-lahan mendekat ke arah tempat duduk para pendekar.

BAGIAN XVIII

Alis Kiau Hun perlahan-lahan terjungkit ke atas, dia meningkatkan kewaspadaannya.

Tangan kanannya secara diam-diam mengeluarkan tiga batang jarum Bwe Hua Ciam, siap

dilancarkan setiap saat.

Sambil menyanyi dan menari, kedua belas gadis itu semakin merapat ke arah para

pendekar yang hadir dalam ruangan tersebut. Suasana yang memang sudah tegang

semakin menjadi-jadi.

Tan Ki melihat para gadis itu mulai meninggalkan Mei Ling yang masih berdiri

termangu-mangu. Dia menganggap inilah kesempatan yang paling baik. Tangannya

bertumpu di atas meja, sekali sentak tubuhnya melesat ke tengah udara kemudian dengan

kecepatan yang bagai kilat dia meluncur ke depan. Ketika kakinya mendarat lagi di atas

tanah, posisinya tepat di samping Mei Ling.

Hampir tepat pada waktu yang sama, diantara para pendekar yang sedang duduk

sudah ada beberapa orang yang bangkit berdiri. Wajah mereka yang serius menyiratkan

ketegangan yang tidak terkatakan. Tampaknya mereka sudah siap menghadapi musuh

tangguh di depan mata. Tetapi kedua belas gadis yang bugil itu sudah semakin mendekat,

hidung mereka mengendus bau harum yang memikat. Bau harum itu semakin lama

semakin menebal. Hati mereka terkesiap, wajah mereka pun mulai terasa panas.

Rupanya bau harum yang terpancar dari tubuh-tubuh para gadis ini bukan sejenis

minyak pengharum yang sering digunakan oleh para wanita penghibur, tetapi semacam

obat dari golongan sesat yang dianggap sebagai benda pusaka. Obat ini diramu dari jenis

rumput-rumputan yang hanya tumbuh di wilayah bercuaca dingin. Khasiatnya dapat

 

membius perasaan maupun pikiran orang. Juga merupakan obat yang keras. Entah

bagaimana, ternyata Oey Kang dapat memilikinya, kemudian dia menaburkannya pada

tubuh-tubuh para gadis itu sehingga mengacaukan pikiran para pendekar. Dalam golongan

sesat juga menggunakan obat ini sebagai ramuan perangsang.

Terdengar suara raungan yang keras dari tengah ruangan. Seorang laki-laki bertubuh

tinggi besar tidak dapat menahan gairah yang berkobar-kobar dalam dadanya. Dia

menerjang ke depan secara tiba-tiba.

Pikiran atau akal sehat orang ini sudah lenyap. Dalam sekejap mata dia sudah sampai

di hadapan seorang gadis. Tampak matanya menyorotkan sinar yang menyeramkan.

Sepasang lengannya terbuka lebar-lebar dan dengan tampang garang dia menubruk ke

arah gadis itu dengan kalap.

Tampaknya gadis itu masih belum melihat laki-laki bertubuh tinggi besar itu sedang

menerjang ke arahnya. Tangannya masih bergerak dengan lemah gemulai, pinggangnya

melenggok-lenggok. Perlahan-lahan dia mengayunkan langkahnya.

Saat itu juga, mata para pendekar lainnya sudah terbelalak lebar- lebar. Mereka bahkan

tidak berkedip sedikitpun. Rasanya mereka ingin melihat bagaimana caranya gadis itu

melepaskan diri dari rangkulan laki-laki bertubuh besar itu nanti. Dalam pikiran mereka,

meskipun terjangan laki-laki itu tidak bagaikan kilat, tetapi kecepatannya sudah termasuk

luar biasa. Kalau ia cuma salah seorang Bu Beng Siau-cut di dunia Kangouw, jangan harap

bisa berhasil.

Waktu yang demikian singkat justru merupakan saat-saat yang paling menegangkan

bagi para pendekar. Tampak sepasang lengan laki-laki itu begitu kokoh dan kekar.

Lilitannya pun pasti kuat sekali seperti belitan ular. Sejenak lagi pinggang gadis tersebut

pasti terangkul olehnya. Tiba-tiba, tampaknya gadis itu seperti tersentak, mulutnya

mengeluarkan seruan terkejut. Dengan gerakan yang aneh tubuhnya berputar. Selendang

di tangannya otomatis ikut berputar dan melambai-lambai di udara. Gayanya itu seakan

refleksi dari rasa terkejutnya, namun dengan telak selendangnya menerpa wajah laki-laki

bertubuh tinggi besar itu.

Terdengar suara dengusan yang lirih. Disusul dengan suara berdebum yang keras. Dua

hal terjadi dalam waktu yang bersamaan. Begitu mengeluarkan suara dengusan yang lirih,

laki-laki bertubuh tinggi besar itu tahu-tahu sudah terkulai di atas tanah, jatuh tidak

sadarkan diri. Sementara itu, Tan Ki tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia segera

memeluk tubuh Mei Ling kemudian membopongnya lari ke depan pintu. Tangannya segera

terangkat dan dihantamkan ke arah pintu tersebut. Suara berdebum keras yang terdengar

tadi justru hasil dobrakan yang menyebabkan pintu kayu itu hancur seketika. Diantara

hamburan kepingan kayu-kayu tersebut, tubuh Tan Ki pun menerjang keluar.

Dia takut Oey Kang menyuruh orang mengejarnya. Kalau benar, dia tentu akan

mendapat tidak sedikit kesulitan. Oleh karena itu, begitu menerjang keluar, dia segera

mengerahkan tenaga sepenuhnya dan lari terbirit-birit. Ingin rasanya dia mempunyai

sepasang sayap di punggung agar dapat terbang sejauh mungkin. Dalam pikirannya dia

membayangkan, seandainya bisa lebih cepat meninggalkan tempat tersebut, justru

semakin baik.

Dengan jelas Kiau Hun melihat orang yang dicintainya malah menolong gadis

saingannya meninggalkan tempat tersebut. Dia merasa ada serangkum kebencian yang

 

memenuhi hatinya. Hidungnya terasa tersumbat. Perasaannya menjadi pilu. Apabila saat

itu dia langsung mengerahkan tenaga mengejar keluar, meskipun ilmu ginkang Tan Ki

lebih hebat dari sekarang, dia juga tidak dapat melepaskan diri dari kejaran Kiau Hun.

Tetapi Kiau Hun mempunyai rencana yang besar sekali. Bahkan lebih penting daripada

urusan asmara. Oleh karena itu, dia mendengus dingin dan menahan kebencian yang

menyelinap dalam hatinya. Dipaksakannya dirinya untuk duduk tenang.

Pada saat itu, keadaan di dalam ruangan itu sudah berubah menjadi kacau balau. Para

pen-dekar yang melihat rekannya yang bertubuh tinggi besar itu dengan mudah

dilumpuhkan oleh pihak lawan, tidak ada satupun yang tidak terperanjat. Dalam pikiran

mereka, dari pada duduk menunggu diserang, mengapa tidak mengambil tindakan terlebih

dahulu. Kalau bisa bunuh beberapa orang dari gadis itu untuk melampiaskan kemarahan.

Oleh karena itu, dengan perasaan gusar, beramai-ramai mereka menerjang keluar.

Terdengar suara dentangan yang bising. Meja kursi pecah berantakan, mangkok maupun

cawan-cawan pecah berhamburan.

Para pendekar itu menyerang serentak. Hati mereka tergerak seketika, suara bentakan

mereka penuh kegusaran, bagai burung berapi yang sudah lama padam tiba-tiba bergolak

kembali dan bisa meletus setiap saat. Suaranya menggetarkan hati siapapun yang

Siapa nyana, tampaknya para gadis itu sudah menduga para pendekar akan mengambil

tindakan demikian. Ketika mereka membalikkan kursi meja dan bangkit berdiri, tubuh para

gadis itu juga bergerak serentak. Masing-masing mengeluarkan suara teriakan dan

menyambut terjangan para pendekar itu.

Terdengar suara tertawa cekikikan dan jerit menyeramkan. Keadaan semakin kalut.

Suara itu bagai saling susul menyusul. Dalam sekejap mata sudah tiga orang pendekar

terkapar di atas tanah dengan jiwa melayang.

Ternyata para gadis yang menari-nari itu mendekati para pendekar, mereka tidak melancarkan

pukulan maupun menyerang dengan senjata rahasia. Tetapi justru di saat para

pendekar mengendus bau harum yang terpancar dari tubuh mereka, untuk sesaat mereka

jadi termangu-mangu. Pikiran maupun akal sehat bagai terpengaruh. Dalam waktu yang

bersamaan, tangan para gadis itu melambaikan selendangnya dengan lemah lembut yang

mereka kibaskan ke arah para pendekar tersebut. Meskipun tampaknya lemah gemulai

namun kecepatannya hebat tidak terkira.

Kalau dikatakan memang aneh. Wajah para pendekar terkibas oleh selendang yang tipis

itu, mereka segera mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati. Tubuh mereka

terhuyung-huyung dan akhirnya terkulai jatuh.

Perubahan yang mendadak ini, juga merupakan kejadian yang belum pernah didengar

atau ditemui oleh para pendekar. Tanpa dapat ditahan lagi, mereka menghembuskan

nafas panjang. Hati mereka terkejut sekali. Semacam kengerian di ambang kematian bagai

menyelimuti benak mereka.

Diantara para pendekar, ilmu Liu Seng yang paling tinggi. Tetapi saat ini dia sudah

jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah dan tidak tahu apa-apa lagi. Sisanya seperti Cu Mei,

Yi Siu, Kok Hua-hong malah seperti naga yang kehilangan kepalanya. Usaha besarpun sulit

diharapkan untuk berhasil. Meskipun mereka sudah mengetahui bahwa selendang yang

tipis itu merupakan faktor terpenting yang menyebabkan kekalahan para pendekar, tetapi

 

dalam situasi yang kalang kabut seperti ini, mau tidak mau mereka memikirkan

keselamatan dirinya masing-masing terlebih dahulu. Akibatnya tidak ada satu orangpun

yang menyambut para gadis itu. Malah begitu melihat mereka semakin mendekat, para

pendekar pun meninggalkan tempat duduk masing-masing dan menyingkir sejauhjauhnya.

Di tempat duduk para hadirin, hanya Kiau Hun seorang yang masih duduk di tempat

semula dengan tenang menyaksikan apa yang berlangsung di hadapannya. Tubuhnya pun

tidak bergerak sama sekali. Kalau dibandingkan dengan tampang para pendekar yang

ketakutan, justru ketenangannya makin tersirat nyata. Bahkan pertahanan dirinya sangat

mengagumkan dan menandakan nyalinya yang besar.

Pada saat ini di tengah arena telah terjadi lagi perubahan yang besar. Para pendekar

dikepung oleh gadis-gadis yang berjumlah dua belas orang itu sampai terdesak mundur

terus. Akhirnya mereka tidak ada jalan mundur lagi. Bagian belakang mereka merupakan

dinding ruangan. Terpaksa mereka melawan sebisanya, tetapi mimik wajah mereka

menyiratkan perasaan khawatir dan tidak tenang.

Udara kematian semakin memadat seakan memenuhi seluruh ruangan tersebut. Kalau

para gadis itu maju lagi satu langkah, maka para pendekar terpaksa mengadu nyawa matimatian.

Tapi kalau ditilik dari keadaan yang berlangsung sejak tadi, tampaknya mereka

juga bukan tandingan para gadis tersebut.

Yi Siu dari Ciong San Suang-siu biasanya banyak akal dan lebih berani daripada yang

lain. Tetapi menghadapi keadaan seperti ini, dia juga menjadi kalang kabut. Matanya

melihat rekan-rekannya didesak oleh pihak lawan sampai mengeluarkan suara raungan

sekeras-kerasnya. Kipas di tangan kanannya direntangkan. Kakinya melangkah ke depan

dengan menerjang, jurus Ceng Tian Tiong-ho (Sungai Panjang Di Hari Yang Cerah)

langsung dikerahkan, sasarannya seorang gadis yang ada di hadapannya.

Jurus ini dilancarkan dalam keadaan marah dan hampir putus asa, angin yang

terpancar dari serangannya begitu kuat bagai himpitan gunung atau ombak yang

bergulung-gulung. Pengaruhnya sungguh mengejutkan.

Gadis itu seakan tidak bersiap sedia, begitu terkena serangannya, dia langsung

berteriak terkejut. Kepalanya menunduk dan menerjang ke samping kira-kira dua mistar.

Entah kebetulan atau bukan, pokoknya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan

kipas Yi Siu.

Ketika melihat serangannya gagal, hati Yi Siu langsung tercekat. Tanpa menunggu

kipasnya ditarik kembali, lengan kirinya langsung diulurkan. Segera dilancarkannya sebuah

pukulan ke depan. Dalam keadaan gusar, rupanya dia mengerahkan sejenis ilmu yang

hebat bukan main. Tidak perduli orang akan mengatakan yang tua menghina yang muda,

atau mengejeknya karena menyerang seorang gadis yang tidak terkenal.

Biar bagaimana, Yi Siu merupakan seorang tokoh yang sudah malang melintang di

dunia Bulim selama puluhan tahun. Nama besarnya bukan didapatkan dengan begitu saja.

Tetapi karena ilmu silatnya memang hebat. Begitu serangannya dilancarkan, pukulannya

saling susul menyusul, kecepatannyapun tidak terkirakan. Meskipun gadis itu berusaha

untuk menghindarkan diri, tetapi tampaknya sudah agak terlambat. Tentu saja hati Yi Siu

diam-diam menjadi senang.

 

Kali ini hendak kulihat ke mana kau akan mengelak, pikirnya dalam hati.

Dia segera mengempos hawa murninya dan menambah tenaga serangannya sebanyak

dua bagian. Tiba-tiba dia merasa ada serangkum bau harum yang tajam menghembus ke

arahnya…

Telinga dan matanya sangat tajam, Yi Siu segera sadar bahwa ada seseorang yang

nyerang dari sebelah kirinya, dia mendengus satu kali. Baru saja dia bermaksud

mengibaskan kipasnya untuk menyambut, tiba-tiba dia merasa dadanya sesak. Seluruh

tenaga dalam tubuhnya lenyap. Hampir saja dia terkulai jatuh. Hatinya terkejut bukan

kepalang. Dengan panik dia menutup pernafasannya dan tidak berani lagi mengendus bau

harum yang dapat membuat dirinya seperti terbius itu.

Justru ketika Yi Siu masih sibuk mengendalikan dirinya, ada seorang gadis yang menggunakan

kesempatan itu untuk mendekatinya. Pergelangan tangan gadis itu bergerak

serta mengibaskan selendang ke arahnya.

Beberapa gerakan ini, terjadinya dalam waktu yang hampir bersamaan. Saking

cepatnya, mata Yi Siu sampai berkunang-kunang dan tidak dapat melihat dengan jelas.

Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan pihak lawan akan menyerangnya dengan

kecepatan yang membuatnya terperanjat setengah mati. Ketika dia menyadarinya, sudah

sulit baginya untuk menghindarkan diri. Diam-diam dia menarik nafas panjang. Hatinya

berniat memejamkan mata saja untuk menunggu kematian. Tiba-tiba dia melihat tiga titik

sinar putih berkilauan yang melayang datang bagai kilat. Dalam waktu yang hampir

bersamaan, telinganya menangkap suara jeritan yang menyeramkan. Suara jeritan itu

hanya satu kali kemudian sirap. Menyusul gadis yang barusan menyerangnya pun terkulai

Yi Siu berhasil terlolos dari kematian. Untuk sesaat dia sampai termangu-mangu.

Namun sesaat kemudian dia sudah tersentak sadar, matanya beralih ke arah datangnya

senjata rahasia tadi. Dia langsung tahu siapa yang memberi pertolongan kepadanya. Oleh

karena itu dia segera menganggukkan kepalanya kepada Kiau Hun. Setelah itu mulutnya

mengeluarkan suara raungan yang keras, telapak tangan kiri dan kipas di tangan kanan

menyerang dengan berturut-turut. Para gadis itu terkejut sampai mundur beberapa

Oey Kang melirik Kiau Hun sekilas.

“Cara menimpukkan Bwe Hua-ciam Nona sungguh bagus!” katanya dengan suara datar.

Isi hati orang ini benar-benar sulit diraba, dia sanggup memendam perasaannya dalamdalam.

Meskipun dia kesal melihat Kiau Hun melancarkan bokongan sehingga salah satu

gadis tadi terluka, namun tampangnya masih tenang dan tidak menyiratkan kemarahan

Kiau Hun tersenyum simpul.

“Kepandaian tidak berarti, hanya menjadi bahan tertawaanmu saja.”

Jarak diantara kedua orang itu sangat dekat, asal mengulurkan tanganpun mereka

dapat bersentuhan sebaliknya mereka justru berbicara dengan tersenyum-senyum, seperti

 

dua orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa. Penampilan merekapun sangat

Oey Kang mendengus satu kali, namun sedikit banyaknya dia merasa kagum juga

terhadap Kiau Hun.

“Keberanian maupun kepandaian Nona, benar-benar di luar bayangan orang she Oey.

Apabila barisan gadis pemikat ini dikepalai oleh Nona, paling tidak kekuatannya akan

bertambah menjadi dua kali lipat. Aku pikir…”

Tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang berkumandang memenuhi seluruh

ruangan, sehingga kata-kata Oey Kang jadi terputus. Rupanya para pendekar yang melihat

Yi Siu mulai menerjang, beramai-ramai merekapun ikut menyerbu.

Tampak cahaya golok dan pedang berkilauan, cemeti menimbulkan bayangan yang

melambai-lambai ke sana ke mari. Berpuluh macam senjata tajam maupun tidak berlainan

jenis berkelebat kian ke mari. Seluruh ruangan dipenuhi suara bising benturan senjata

Kedua belas gadis tadi sudah berhenti menari, mereka mulai melakukan gerakan

menghadapi musuh tangguh. Orang-orang ini sudah mendapat didikan langsung dari Oey

Kang. Ilmu mereka sangat tinggi. Meskipun belum terhitung jago kelas tinggi di dunia

Bulim, tetapi kalau dibandingkan dengan sekumpulan busu (guru silat) yang umum saja

masih terpaut jauh.

Tampak mereka melangkahkan kakinya sambil melancarkan pukulan, kecepatannya

bagai luncuran ular berbisa, dalam sekejap mata mereka dapat melancarkan tiga empat

buah serangan.

Sejenak saja, kedua belah pihak sudah terlibat pertarungan yang sengit. Tenaga dalam

para pendekar rata-rata sangat kuat, jurus serangannya juga termasuk ilmu kelas tinggi.

Angin yang timbul dari pukulan mereka menderu-deru. Serangan dapat dilancarkan sesuka

hati. Namun gerakan yang dilakukan oleh para gadis itu sangat aneh, mereka

mempertahankan diri dalam jarak dekat, dari jauh mereka malah menyerang. Sungguh

ilmu yang hebat. Biar bagaimana caranya para pendekar itu melakukan penyerangan,

tetapi sedikitpun mereka tidak dapat menarik keuntungan.

Selagi pertarungan berlangsung dengan sengit, terdengar beberapa kali suara

dengusan yang berat, kemudian menyusul empat orang terkulai jatuh. Rupanya selendang

yang digunakan oleh para gadis itu mengandung taburan sejenis obat yang lebih lihai dari

Bong Hun-yok (Obat Penggetar Sukma) yang biasa digunakan oleh kaum sesat. Begitu

tercium, mereka langsung jatuh tidak sadarkan diri. Lagipula reaksinya begitu cepat

sehingga orang tidak sempat berjaga-jaga.

Sisa para pendekar yang masih ada melihat rekan-rekan mereka kembali tumbang

empat orang. Wajah mereka segera berubah hebat. Hati mereka terguncang melihat

kenyataan ini. Semangat berjuang yang tadinya meluap-luap otomatis terpengaruh.

Sementara pihak lawan dengan licik menggunakan kesempatan yang baik ini. Mereka

menyerang dengan gerakan yang aneh. Saat itu juga keadaan menjadi kacau balau,

kedudukan para pendekar semakin kritis. Tiba-tiba…

 

Sayup-sayup terdengar suara siulan panjang yang menyusup ke dalam gendang

telinga. Suaranya tinggi melengking, seakan orang yang mengeluarkan suara siulan itu

berada di tempat sejauh setengah li, tetapi juga seperti berada dalam jarak yang sangat

dekat. Suara itu sendiri bagai raungan naga yang marah, namun suara irama yang

mengiringi tarian para gadis itu jadi tertekan. Mungkin karena gangguan suara siulan tadi,

para gadis itu mendadak menghentikan serangannya.

Para pendekarpun mendapat kesempatan untuk mengatur nafasnya sejenak, dengan

cepat mereka memperbaiki posisi masing-masing, merubah kedudukan pada posisi yang

menguntungkan. Setiap dua orang membentuk satu kelompok, dengan bahu saling

menempel dan wajah menghadap ke depan sehingga dapat bekerja sama melawan

Sejak awal hingga akhir, Oey Kang memperhatikan keadaan yang berlangsung dengan

tenang. Tetapi sejak berkumandangnya suara siulan barusan, wajahnya berubah menjadi

serius. Kepalanya menoleh ke arah pintu depan. Dari suara siulan itu saja, dia sudah dapat

menerka bahwa ilmu pihak lawan sangat tinggi. Kemungkinan tidak di bawah dirinya

Suara siulan yang sayup-sayup itu terus berkumandang. Begitu suara itu berhenti,

irama musik kembali mengalun. Para gadis itu kembali bergerak melancarkan serangan.

Namun saat ini posisi para pendekar sudah berubah. Dengan punggung saling menempel,

mereka tidak khawatir akan dibokong oleh musuh dari belakang. Kalau ditilik dari

keadaannya sekarang, rasanya untuk sementara mereka masih dapat mempertahankan

Tiba-tiba tampak bayangan menghalang di depan pintu. Seseorang melangkah masuk

dengan tenang. Terlihat wajahnya ditutup oleh sehelai cadar yang tipis. Dia mengenakan

jubah panjang. Dengan langkah setindak-setin-dak dia melangkah masuk. Penampilannya

santai sekali.

Gerakannya sangat lambat, bagai orang penyakitan yang tidak kuat berjalan cepatcepat.

Kakinya seolah diganduli benda yang berat. Tetapi sebetulnya gerakan langkah kaki

orang itu sangat cepat. Dalam sekejap mata dia sudah sampai di depan meja Oey Kang.

Wajah si raja iblis Oey Kang menjadi kelam seketika. Perlahan-lahan dia bangkit dari

tempat duduknya.

“Saudara ini…”

Manusia bercadar ini tidak menyahut, tiba-tiba tubuhnya berputar. Lengan bajunya dikibaskan

dan segulungan tenaga tidak berwujud segera terpancar keluar. Dua batang lilin

yang jaraknya kurang lebih dua depa langsung padam seiring dengan gerakan tangannya.

Begitu memandang lagi ke arahnya, orang itu sudah berdiri dengan santai sambil berpeluk

tangan. Seakan tidak pernah terjadi apapun.

Melihat gerakannya yang hebat itu, rasa terkejut Oey Kang semakin menjadi-jadi.

Tetapi dia berusaha mempertahankan ketenangannya. Mulutnya mengeluarkan suara

tertawa dingin.

 

“Kehadiran Saudara ke rumah kami yang jelek ini, rupanya hanya ingin memamerkan

kekuatan, meskipun orang she Oey ini tidak becus, tetapi masih ada dua bagian

kepercayaan diri untuk menemani barang beberapa jurus!”

Manusia berkerudung itu mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya

sekali lagi diangkat kemudian dikibaskan, kembali tiga batang lilin padam

Dalam waktu sekejapan mata saja dia sudah memadamkan lima batang lilin secara

berturut-turut. Pada saat ini, matahari sedang bersinar dengan terik di atas kepala.

Padamnya lima batang lilin tadi tidak berpengaruh banyak bagi penerangan di dalam

ruangan. Tetapi suatu hal yang aneh langsung terlihat seiring dengan perbuatannya tadi.

Sisa sebelas orang gadis yang masih terus bergerak dengan lemah gemulai mengikuti

alunan musik, kadang-kadang menyerang dengan mendadak ke arah para pendekar.

Tetapi pada saat kelima batang lilin dipadamkan si manusia berkerudung, gerakan mereka

yang cepat bukan kepalang lambat laun berubah jadi perlahan. Langkah kaki mereka

seakan tiba-tiba jadi berat. Jauh berbeda dengan kelincahan yang mereka perlihatkan tadi.

Ada kalanya mereka melancarkan sebuah serangan, padahal lawannya terang-terangan

menghindar ke arah kiri dengan cepat, namun mereka masih menerjang terus dengan

membabi buta, mereka terus melancarkan serangan ke tempat yang kosong atau

menendangkan kakinya asal-asalan. Gerakan mereka persis seperti orang buta yang tidak

tahu ke mana lawannya mengelak.

Perubahan yang benar-benar di luar dugaan ini, juga merupakan kejadian bagi para

pendekar. Tentu saja mereka jadi termangu-mangu dibuatnya.

Begitu diperhatikan, tampak biji mata gadis-gadis bugil tadi masih normal seperti biasa

dan tetap mengerling ke sana ke mari, tetapi sinar kehidupan seakan telah pudar dan

seolah tidak bisa melihat lagi. Mereka menyerang dengan kalap. Gerakan kaki pun tidak

sekompak sebelumnya lagi.

Kiau Hun adalah seorang gadis yang luar biasa cerdasnya. Sekali pandang saja, dia

sudah berhasil mengetahui rahasianya. Rupanya lilin-lilin yang tertebar di sekeliling

ruangan merupakan titik pengendali gerakan para gadis tersebut. Juga merupakan pusat

penglihatan mereka. Begitu lilin itu padam, mata mereka pun kehilangan daya gunanya.

Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya merasa menyesal sekali.

Ketika aku masuk tadi, mengapa aku tidak merasa heran, pada siang bolong seperti ini

banyak lilin yang dinyalakan? Bukankah ini merupakan hal yang aneh? Seandainya sejak

semula aku menyadari hal ini, dengan sekali gerak aku dapat memadamkan lilin tersebut,

tentu gadis-gadis itu dapat dikendalikan sejak awal. Tentunya aku bisa menimbulkan

kesan yang baik di hati para pendekar, juga kepercayaan. Setelah itu tinggal mencari akal

yang baik agar mereka tergugah untuk mengadakan rapat memilih Bulim Beng-cu dan

mencari pemecahan untuk menghadapi Oey Kang. Setelah itu tambah sedikit rencana

yang lain untuk merebut jabatan Beng-cu. Pada saat itu, apabila Toa Suheng menyertai

Suhu bergerak dari Selatan dan menguasai Tionggoan, aku akan menjadi mata-mata yang

baik. Apabila semuanya sudah terlaksana, tidak usah takut lagi urusan besar akan gagal.

Sayang sekali, manusia bertopeng ini justru yang berhasil mendahului, sehingga rencana

ini jadi rusak… keluhnya dalam hati.

 

Kiau Hun terus menyalahkan dirinya sendiri dalam hati, tetapi sepasang matanya terus

mengedar ke sana kemari memperhatikan keadaan yang berubah-ubah. Sejenak kemudian

dia mengeluarkan empat batang Bwe Hua-ciam dari dalam kantung kulit rusa. Pergelangan

tangannya bergerak, empat batang Bwe Hua-ciam tadi disambitkannya ke arah empat

batang lilin yang masih menyala.

Dia sudah melihat bahwa jumlah para pendekar lebih banyak dari pihak lawan.

Meskipun kedudukan mereka sekarang masih di bawah angin, tetapi tidak diragukan lagi

manusia berkerudung itu berdiri di pihak mereka. Hal ini memberi dorongan semangat

yang tidak kecil bagi para pendekar tersebut. Walaupun Oey Kang mempunyai kepandaian

setinggi langit, dia juga tidak dapat mengalahkan orang banyak. Hal ini membuat perasaan

menyesal dalam hati Kiau Hun agak berkurang, malah saking gembiranya dia hampir

melonjak bangun dan bertepuk tangan. Tapi dia ti-dak melakukan hal itu, karena pada

dasarnya dia memang seorang gadis yang cerdas sekali. Dia hanya mengiringi kesempatan

yang ada.

Tampak sepasang alis Oey Kang menjungkit ke atas. Wajahnya menyiratkan kegusaran.

Lengan kirinya mengibas. Dengan jurus telapak sakti seratus langkah dia menggetar

kembali Bwe Hua-ciam yang disambitkan oleh Kiau Hun sehingga terpental jatuh. Telapak

tangan kanannya bagai seorang tukang kayu yang mengayunkan kapaknya. Tenaga yang

terkandung di dalamnya sangat dahsyat, dia melancarkan sebuah tebasan ke arah kepala

gadis itu.

Kiau Hun tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya menekan pegangan kursi. Dengan gaya

yang mengagumkan, tubuhnya melayang dalam keadaan posisi duduk di atas kursi dan

melesat mundur sejauh dua mistar. Tangan kirinya kemudian terangkat, kembali beberapa

titik sinar berwarna keputihan meluncur ke depan.

Terdengar suara yang memecahkan keheningan. Sret! Sret! Cahaya lilin berkibar-kibar,

akhirnya padam. Rupanya secara berturut-turut, dia berhasil mematahkan tiga batang lilin

dengan sambitan Bwe Hua-ciam dari tangannya.

Dengan menggunakan kesempatan yang baik itu, para pendekar malah berbalik

menyerang. Berbagai jurus segera dilancarkan. Dalam waktu yang singkat, dari pihak yang

kewalahan, mereka berhasil meraih posisi yang lebih baik.

Oey Kang melihat bahwa seluruh rencananya yang sudah dipersiapkan dengan

sempurna jadi rusak akibat kehadiran manusia berkerudung itu. Kemungkinan besar malah

pihaknya yang akan mengalami kekalahan. Pada dasarnya dia seorang manusia yang

pandai menyembunyikan perasaan senang ataupun gusarnya, serta isi hatinya sangat licik.

Namun demi melihat kenyataan yang terpampang di depan mata, tanpa dapat ditahan

lagi, hawa amarah di dalam dadanya jadi berkobar-kobar. Terdengar mulutnya

mengeluarkan suara tawa yang dingin. Nadanya begitu tajam menusuk, bagai serangkum

angin yang berhembus di daerah bersalju. Panjang serta menyeramkan. Sepasang

matanya mendelik lebar-lebar, di dalamnya terpancar sinar kemarahan. Dia menatap

manusia berkerudung itu lekat-lekat.

“Siapa kau sebenarnya? Kalau kau masih tidak bersedia melaporkan nama besarmu,

jangan salahkan kalau aku bertindak kasar!” bentaknya kesal.

Manusia berkerudung itu menyahut dengan nada suara yang tidak kalah dinginnya.

 

“Meskipun kau tidak dapat melihat dengan jelas raut wajahku, tetapi apakah bentuk

tubuh Hengte maupun suara Hengte sudah kau lupakan?”

Begitu mendengar ucapannya, Oey Kang terkejut setengah mati. Cukup lama dia

berdiam diri merenungkan. Setelah mengingat-ingat hampir seluruh tokoh Bulim yang

pernah dikenal ataupun bertemu dengannya, dia tetap tidak dapat menebak siapa

manusia berkerudung yang ada di hadapannya.

Biar bagaimanapun, Oey Kang merupakan seorang iblis yang sudah terkenal.

Kedudukannya dalam dunia Kangouw juga cukup tinggi. Paling tidak dia merupakan

seorang tokoh angkatan tua dari golongan hitam. Di hadapan begitu banyak musuh yang

hadir di dalam ruangan itu, ternyata dia tidak sanggup mengetahui asal-usul manusia

berkerudung hitam tersebut. Hal ini membuat dirinya malu sekali. Namun dia memang

merupakan seorang manusia yang pandai serta berpengetahuan luas. Sebelum jelas siapa

adanya manusia berkerudung hitam itu, dia sendiri masih berusaha untuk bersikap tenang.

Setelah merenung sekian lama, akhirnya dia berkata dengan suara perlahan-lahan.

“Manusia she Oey sudah lama malang melintang di dunia Kangouw. Julukan Sam Jiu

San Tian-sin pasti pernah didengar setiap orang. Kalau bukan sahabat yang mempunyai

kepala serta wajah, seumur hidup memang belum pernah ditemui, tetapi paling tidak

namanya sudah pernah kudengar. Tetapi kalau angkatan yang tidak mempunyai nama

sedikitpun, orang she Oey mengingatnya pun enggan. Hanya membuang-buang waktu

saja!”

Manusia berkerudung segera mendengarkan suara tertawa yang dingin. Meskipun dia

sadar Oey Kang menggunakan akal memanaskan hati agar identitas dirinya terbuka,

namun dia juga pura-pura marah sekali.

“Ketika Hengte masih malang melintang di dunia Kangouw, julukan kecil seperti Coan

Lam Taihiap juga sempat menggetarkan sampai daerah Tibet. Apakah kau belum pernah

mendengarnya atau kau memang sudah melupakannya?” tanyanya marah.

Mendengar ucapannya, seluruh tubuh Oey Kang sampai bergetar. Tampaknya rasa

terkejut orang itu tidak dibuat-buat.

“Apa? Kau adalah Coan Lam Taihiap Yibun Siu San?” setelah merandek sejenak, dia

menundukkan kepalanya untuk merenung. Kemudian tampak dia menggelengkan

kepalanya beberapa kali. Tanpa menunggu bantahan dari pihak lawannya, dia melanjutkan

lagi dengan nada curiga. “Hal ini benar-benar membuat orang sulit untuk percaya, Yibun

Siu San yang kukenal sepuluh tahun lalu, merupakan seorang manusia sederhana yang

mencintai keterbukaan. Dia tidak seperti Saudara yang main rahasia-rahasiaan, pakai

kerudung penutup muka segala macam!”

Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara manusia berkerudung yang

tinggi melengking…

Dari Pak Hay aku pindah ke Lam Hay, mengirimkan kabar dengan perantara burung

elang tentu tidak mungkin, di musim semi memetik buah tho sambil menikmati secawan

arak, malam-malam berhujan selama sepuluh tahun lentera menerangi dunia Kangouw.

 

Berdiam di rumah yang terlihat hanya empat tembok mengelilingi, mengobati penyakit

dengan tiga macam cara yang berlainan, pikiranpun…!”

Baru membaca syair tersebut setengah jalan, tahu-tahu telah terdengar suara bentakan

dari mulut Oey Kang.

“Tutup mulutmu!”

Tampangnya terlihat tegang sekali. Tidak henti-hentinya dia mengusap keringat yang

membasahi keningnya dengan ujung lengan baju, seakan bentakannya yang keras tadi

telah menghambur tenaga yang banyak dan menguras seluruh kekuatannya.

“Apakah kau sudah percaya dengan keterangan Hengte?” tanya si manusia

Oey Kang tertawa dingin satu kali. Dari bawah mejanya dia mengeluarkan sepasang

cakar harimau, jenis senjata yang terbuat dari baja dan berbentuk cakar harimau.

“Saudara dapat membaca syair tadi sebagai identitas diri, rasanya memang sahabat

lama orang she Oey. Tetapi aku justru mempunyai pikiran, nama mungkin dapat

dipalsukan, yang pasti ilmu silat tidak. Mungkin ada baiknya kita tunjukkan sedikit

kejelekan agar asli atau palsunya dapat dibuktikan segera!”

Sambil berbicara, sepasang lengannya direntangkan, kaitan berbentuk cakar

harimaunya bagai naga sakti yang menimbulkan dua carik cahaya dingin. Dari kanan dan

kiri dia melancarkan sebuah serangan.

Ilmu silat orang ini sudah mencapai taraf yang tertinggi. Senjata yang panjang maupun

pendek dapat digunakannya dengan sempurna. Sejak semula dia memang sudah

mempersiapkan beberapa macam senjata di bawah meja yang mana dapat digunakannya

dalam keadaan terdesak. Para pendekar yang berkumpul di dalam ruangan itu merupakan

tokoh-tokoh yang sudah luas pengalamannya, namun mereka tidak menyangka Oey Kang

selicik itu.

Manusia aneh yang mengenakan kerudung dan mengaku bernama Yibun Siu San

menarik nafas dalam-dalam. Dengan mendadak kakinya mencelat mundur tiga langkah.

Tidak disangka di belakangnya justru terdapat sebuah meja yang justru menghalangi

jalannya. Andai kata Oey Kang terus mendesak maju, maka tidak ada tempat lagi baginya

untuk mengundurkan diri.

Yibun Siu San paham sekali watak Oey Kang yang licik serta keji. Dengan adanya

kesempatan baik seperti ini, mana mungkin dia membiarkannya? Begitu pikirannya

tergerak, dia segera memusatkan perhatiannya. Matanya beredar. Dia melihat Kiau Hun

sudah mulai bergerak. Tubuhnya melayang bagai seekor camar yang melintasi lautan

meninggalkan kursinya dan mencelat ke tengah arena untuk memberikan bantuan kepada

para pendekar yang sedang sibuk meringkus para gadis yang mulai kehilangan kendali

itu…

Tiba-tiba dia melihat sebatang golok tergeletak di samping bawah, kakinya segera

dihen-takkan. Dalam sekali gerak saja, golok itu sudah tergenggam dalam tangannya.

 

Tepat pada saat itu, Oey Kang sudah menerjang ke arahnya. Kecepatannya bagai

luncuran sebatang anak panah. Orangnya belum sampai, kaitan cakar harimaunya sudah

berada di depan mata. Dengan jurus Ular berbisa keluar dari goa, dia melancarkan

serangan ke dada Yibun Siu San.

Coan Lam Taihiap Yibun Siu San segera membalas dengan jurus Burung Hong

menembus awan. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan kaitan cakar harimau

sekaligus mengembalikan serangan tersebut. Tampaknya cahaya golok berkilauan dan

menyapu ke depan.

Oey Kang tertawa terbahak-bahak. “Begini baru seru!”

Tubuhnya tiba-tiba bergerak, kaki yang baru saja menginjak tanah dengan mendadak

mencelat ke belakang sejauh empat lima mistar. Dia mengelakkan diri dari serangan golok

Yibun Siu San, dan pada saat itu juga, perge-langan tangannya bergerak dan melancarkan

sebuah serangan kembali.

Begitu berhadapan, keduanya langsung terlibat dalam pertarungan yang sengit. Dalam

sekejap mata, tampak cahaya golok bagai salju. Bayangan kaitan bergerak-gerak. Untuk

sesaat keduanya bersaing untuk saling menyerang terlebih dahulu.

Setelah bergebrak belasan kali, terdengar Yibun Siu San mengeluarkan suara siulan

yang panjang. Tiba-tiba gerakan goloknya berubah, dia segera membuka serangan dan

mengerahkan jurus golok Cap Pek Lohan dari Siau Lim Pai. Begitu jurus itu dilancarkan,

ternyata tidak terlihat adanya cahaya golok yang berkilauan juga tidak tampak adanya

perubahan gerak yang mengejutkan. Tetapi setiap serangan goloknya selalu mengandung

tenaga yang dahsyat serta gencar sekali dan tidak dapat dipecahkan dengan mudah oleh

Keadaan di dalam ruangan perlahan-lahan mulai berubah. Sejak nyala lilin yang

memenuhi seluruh ruangan padam, kesebelas gadis bugil itu kehilangan gaya tempurnya.

Apalagi di pihak para pendekar telah bertambah seorang Kiau Hun. Gerakan gadis itu

bagai kilat. Ilmu silatnya tinggi sekali, jurus-jurus yang dikerahkannya sangat aneh. Dalam

waktu yang sekejap saja, keadaan telah berubah dengan drastis. Para gadis itu berhasil

ditekan sedemikian rupa oleh para pendekar. Beberapa orang pendekar sibuk membopong

rekan mereka yang jatuh tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat yang tersebar di

selendang para gadis itu tadi. Kemudian mereka lalu berdiri dari kejauhan dan

menyaksikan jalannya pertarungan.

Tiba-tiba terlihat tangan Oey Kang bergerak-gerak, tubuhnya sendiri mencelat ke

belakang, tampaknya dia bermaksud membingungkan pandangan lawan kemudian dengan

mendadak mengibaskan pergelangan tangannya. Timbul segulungan angin tajam yang

langsung menerpa ke depan. Cara turun tangan orang ini selalu mengandung kelicikan

yang tidak terduga-duga. Kaitan harimau di tangannya bukan diserang ke arah lawan,

malah diputar sehingga terbit cahaya yang menyilaukan mata. Setelah mengiringi sinar

golok yang berpijar-pijar, dengan tiba-tiba Oey Kang meluncurkan kaitan cakar harimau

tersebut menerobos ke dalamnya.

Yibun Siu San merupakan seorang tokoh yang sudah lama mengasingkan diri. Ilmu

silatnya sangat tinggi. Pengetahuannya juga sangat luas. Tetapi dia juga sempat terpana

melihat cara menyerang yang baru kali itu dijumpainya. Cepat-cepat dia menarik nafas

dalam-dalam dan mencelat mundur sejauh tiga langkah.

 

Terdengar suara siulan yang membuat telinga berdengung-dengung. Kaitan cakar

harimau di tangan Oey Kang menimbulkan kuntuman bunga-bunga yang setajam golok.

Dengan berderai-derai meluncur ke arah beberapa urat darah Yibun Siu San yang

Terdengar Yibun Siu San mengeluarkan suara bentakan, “Sungguh jurus Pohon Besi

Bunga Perak yang hebat!”

Tangan kanannya segera mengerahkan jurus Bintang-Bintang Melintasi Sungai.

Gulungan tenaga dalam yang dahsyat bagai disatukan ke ujung telapak tangannya dan

bagai ombak yang pasang surut melanda ke arah kaitan cakar harimau Oey Kang.

Cara menghimpun hawa murni dan tenaga dalam yang disatukan dan tersalur ke

tempat tertentu, kalau bukan tokoh kelas tinggi yang sudah menguasai tenaga dalamnya

sesuka hati, tentu tidak dapat melakukannya.

Melihat serangan Yibun Siu San ini, wajah Oey Kang segera berubah hebat. Hatinya terperanjat

sekali, dengan cepat dia mengempos tenaga dalamnya dan menarik kembali

luncuran serangan kaitan cakar harimaunya. Kemudian diapun mencelat mundur sejauh

lima langkah.

Terdengar suara meja dan kursi yang terbalik kemudian pecah berantakan. Rupanya

tubuh Oey Kang yang bergerak mundur secara tidak sengaja membentur meja kursi yang

ada di belakangnya.

Melihat serangannya berhasil, Yibun Siu San segera memperbaiki posisinya dan kembali

melancarkan sebuah serangan yang lain. Tangan kirinya segera bergerak ke depan dan dia

mengerahkan jurus Angin Gelap Menggoyangkan Pohon Liu. Ketika pergelangan

tangannya memutar, secara mendadak diluncurkan ke depan dan secara keras meluncur

menerobos ke dalam kaitan cakar harimau di tangan Oey Kang.

Serangannya ini sungguh aneh. Memang merupakan gerakan yang hanya dapat

dilakukan oleh tokoh kelas tinggi. Orang-orang yang menyaksikan jalannya pertarungan

merasa terpana. Diam-diam hati mereka kagum bukan main.

Meskipun Oey Kang sendiri terkejut sekali, namun dia tidak menjadi kalang kabut.

Secara diam-diam dia menambah tenaga yang ada dalam pergelangan tangannya, tibatiba

kaitan cakar harimau berganti arah dan meluncur ke arah pundak Yibun Siu San.

Hati Yibun Siu San tercekat bukan kepalang.

Sepuluh tahun tidak bertemu, ternyata ilmu silat Jiko sudah maju sedemikian pesat.

Tidak heran dia sampai mendapat julukan Raja iblis nomor satu di dunia Kangouw,

pikirnya diam-diam.

Begitu pikirannya tergerak, tangan kirinya bergerak ke samping menghindar dari

serangan kaitan cakar harimau Oey Kang. Tubuhnya pun melesat dengan cepat dan

menerjang ke depan.

 

Setelah berhasil menghindarkan diri dari bahaya dengan kaitan cakar harimaunya,

tubuh orang itu membungkuk sedikit, tangan kiri yang menggenggam kaitan cakar

harimau segera terulur dan perlahan-lahan dia mengerahkan jurus Elang Sakti

Mengibaskan Sayap. Kehebatan jurus ini tak perlu dikatakan lagi.

Serangannya ini benar-benar di luar dugaan Yibun Siu San. Kalau tidak cepat-cepat

menarik kembali serangannya, pasti dirinya akan terluka oleh kaitan cakar harimau lawan.

Kebetulan tempatnya berdiri penuh dengan meja serta kursi yang terbalik, jadi jalannya

menjadi terhalang. Hatinya terkejut setengah mati. Mulutnya mengeluarkan suara raungan

yang keras, tangan kirinya segera dirubah menjadi totokan. Dengan kecepatan kilat dan

totokan bagai pisau tajamnya, dia menyambut datangnya kaitan cakar harimau yang

dilancarkan oleh Oey Kang.

Beberapa jurus serangan yang berlangsung terus menerus ini, tidak ada satupun yang

tidak mengandung kekejian. Serangan Oey Kang hebat bukan main, sedangkan perubahan

gerakan yang dilakukan oleh Yibun Siu San sangat serasi dan indah. Apabila sampai terjadi

kesalahan sedikit saja, pasti nyawa keduanya terancam bahaya.

Ketika menggerakkan pergelangan tangannya untuk menarik kembali jurus serangan

yang sudah dilancarkan, tiba-tiba dia melempar kaitan cakar harimaunya. Tangan kirinya

secepat kilat meluncur dan menjepit ujung golok Yibun Siu San. Wajahnya tampak serius,

diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya lewat ujung golok

Cara menyalurkan tenaga dalam ke ujung senjata lawan dengan maksud menggetarkan

pergelangan tangan lawan sehingga terluka, merupakan ilmu tingkat tinggi. Kalau bukan

orang yang memiliki tenaga dalam sampai mencapai taraf tertinggi, tentu sulit

Diam-diam hati Yibun Siu San jadi tergetar. Keadaan yang mendesak membuat dia

tidak sempat berpikir lama-lama. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghimpun

tenaga dalamnya untuk mendorong tekanan tenaga yang tersalur lewat goloknya itu.

Dua rangkum tenaga yang sanggup melukai lawannya segera bertemu, tanpa dapat

ditahan lagi. Hati Yibun Siu San berdebar-debar, namun Oey Kang justru terdorong oleh

pantulan tenaganya sehingga sempoyongan kemudian langkah kakinya pun terpaksa

mundur ke belakang.

Sifat orang ini memang jahat sekali. Meskipun dirinya tergetar mundur, namun

kekejiannya belum padam. Mulutnya mengeluarkan suara dengusan, tangan kirinya yang

menjepit ujung pedang bergetar. Dia menambah beberapa bagian tenaga dalam. Sebilah

golok yang terbuat dari baja ternyata patah menjadi dua bagian karena getaran tenaga

Meskipun wajah Yibun Siu San ditutupi cadar hitam, tetapi matanya tetap tajam sekali.

Dia melihat Oey Kang tidak memperdulikan pantulan tenaga dalamnya yang dapat

menimbulkan bahaya, dan dengan nekat mengerahkan tenaga yang lebih besar agar

goloknya terpatah menjadi dua bagian. Orang ini benar-benar menempuh jalan apa saja

asal dirinya terlepas dari kesulitan.

 

Para pendekar yang melihat dari samping malah dikelabui oleh gerakan yang indah.

Mereka mengira orang itu tergetar mundur karena golok yang menjadi perantara diantara

mereka tergetar putus, bukan karena tenaga dalamnya yang kalah kuat.

Setelah tergetar mundur, hati Oey Kang diliputi kebencian yang dalam. Namun dia

sengaja memperlihatkan kewajaran, malah mendongakkan wajahnya sambil tertawa

terbahak-bahak. Potongan golok di tangannya dilemparkan ke atas tanah.

“Saudara yang ada di hadapanku ini, tidak diragukan lagi pasti Samte. Sepuluh tahun

lamanya tidak dengar kabar berita sama sekali, benar-benar membuat Giheng rindu

setengah mati.” katanya tenang.

Dengan nada sedingin es Yibun Siu San menyahut…

“Tutup mulut! Siapa yang sudi menjadi Samte-mu, kalau kau dapat membuat Toako

hidup kembali, tali persaudaraan kita yang sudah terjalin sekian lama tentu akan

tersambung kembali. Sayangnya Toako sudah mati selama sepuluh tahun. Dalam waktu

yang sedemikian panjang, Toaso setiap hari bermuram durja. Dengan tekun dia melatih

ilmu silat, tetapi tidak ada satu haripun yang tidak dilaluinya dengan berurai air mata.

Hidupnya penuh dengan penderitaan…”

Berkata sampai di sini, hatinya seakan dilanda keharuan yang dalam. Tetapi dia

melanjutkan juga kata-katanya. “Kalau bukan Toaso memesankan sampai berulang kali,

bahwa bagaimanapun harus menunggu sampai anaknya kembali untuk membalas dendam

dengan tangannya sendiri, hari ini aku pasti akan membuatmu sulit melepaskan diri dari

keadilan!”

Oey Kang merasa ada serangkum perasaan pilu yang memenuhi hatinya. Tubuhnya

bergetar dengan hebat.

“Maksudmu Cen Lam Hong tinggal di tempatmu?” tanyanya marah.

“Sepuluh tahun lamanya, aku terus mengikuti Toaso. Aku tidak meninggalkannya

selangkahpun. Apalagi lusa merupakan peringatan kematian Toako, Toaso sudah

mempersiapkan…”

Tiba-tiba dia merasa mulutnya telah kelepasan bicara. Sepasang mulutnya

membungkam rapat-rapat dan dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

Sepasang mata Oey Kang mengedar ke kiri dan kanan. Kemudian dia mendengus

“Toaso sudah terhitung seorang janda. Sedangkan kau adalah seorang bujang lapuk.

Seorang laki-laki yang kesepian dengan seorang wanita yang ditinggal mati, hidup dalam

satu atap. Pasti akan terjadi hal-hal yang melanggar tata susial!” kata-katanya ini

merupakan sindiran yang tajam sekali.

Yibun Siu San menjadi gusar bukan kepalang.

“Siapa diri Toaso, kau dan aku sama-sama mengerti! Kalau kau ingin mengucapkan

kata-kata seperti ini, mengapa tidak dinyatakan di depan Toaso sendiri? Membusukkan

nama baik orang di belakang punggungnya, mana pantas disebut sebagai laki-laki sejati.

 

Hari ini aku enggan bersilat lidah denganmu. Aku hanya ingin membawa pergi orangorang

ini. Apakah aku keberatan?” wajahnya tertutup oleh sehelai cadar, hal ini membuat

orang tidak dapat melihat mimik wajahnya, apakah sedang bergembira atau bersedih.

Namun dari nada suaranya dapat diketahui bahwa tokoh ini sedang gusar sekali.

“Kata-kata yang bagus. Bagaimana caranya mengurusi orang-orang ini, giheng tidak

mem-punyai gagasan sama sekali. Tetapi tolong sampaikan kepada Toaso bahwa dua hari

lagi giheng pasti akan hadir di depan perabuan Toako dan memasang hio sebagai tanda

duka cita.”

Yibun Siu San mendengus dingin. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Kok

Hua-hong.

“Tinggalkan tempat ini!” katanya.

Tanpa menunggu jawaban dari para pendekar, dia menyingsingkan lengan bajunya dan

dengan perlahan-lahan berjalan keluar.

Para pendekar saling lirik sekilas, lambat laun merekapun menggerakkan kakinya dan

berbondong-bondong meninggalkan ruangan tersebut. Meskipun pertarungan yang

sempat menentukan mati hidup sudah berlalu, namun di wajah mereka masing-masing

masih tersisa ketegangan dan rasa takut yang tidak terkatakan.

Setelah para pendekar meninggalkan pen-dopo tersebut, dari belakang berkumandang

suara tawa yang panjang yang melengking. Suara itu begitu menusuk pendengaran dan di

dalamnya terkandung rasa gembira serta semangat yang meluap-luap. Seakan ada

sesuatu hal yang membuat perasaan Oey Kang demikian senang. Si gemuk pendek Cu Mei

membopong Liu Seng yang tidak sadarkan diri. Langkah kakinya dipercepat dan mengejar

sampai belakang Yi Siu.

“Lotoa, kalau menurut pandanganmu, ilmu Coan Lam Taihiap ini lebih tinggi atau si raja

iblis itu yang lebih unggul?” tanyanya dengan nada lirih.

Yi Siu terpekur sejenak.

“Hal ini… sulit dipastikan…”

Cu Mei tertawa kecil.

“Untung saja orang yang muncul ini merupakan pendekar yang menjunjung tinggi

keadilan. Apabila dia satu komplotan dengan Oey Kang, rasanya kau dan aku sulit keluar

lagi dari pintu gerbang Pek Hun Ceng, kita pasti mati…” mengingat hal itu hatinya jadi

tergetar cepat-cepat dia menutup mulutnya dan tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Suara pembicaraan kedua orang itu begitu lirihnya sampai tidak bisa dikecilkan lagi,

entah bagaimana Yibun Siu San seakan dapat mendengarnya. Tiba-tiba dia membalikkan

tubuhnya dan melirik sekilas kepada kedua orang itu, kemudian seakan tidak ada apa-apa,

dia meneruskan langkah kakinya.

Rombongan itu berjumlah sepuluh orang, setelah memutari taman bunga dan melewati

dua.halaman terbuka, akhirnya mereka sudah bisa melihat pintu gerbang Pek Hun Sanceng.

 

Tiba-tiba Yibun Siu San menghentikan langkah kakinya, dia menjura kepada para

pendekar:

“Cayhe masih ada urusan lainnya sehingga hanya bisa menemani sampai di sini.

Apabila Cuwi sudah melewati pintu gerbang tersebut, tentu tidak akan terjadi apa-apa lagi.

Tapi harap Cuwi ingat baik-baik, lain kali kalau melakukan apapun harus ukur dulu

kekuatan sendiri, jangan bertindak mengikuti kata hati saja.”

Kok Hua-hong segera membalas penghormatan Yibun Siu San.

“Apa yang Tuan katakan memang tepat sekali. Nasehat yang baik ibarat emas

beratnya, kami tentu akan perhatikan baik-baik.”

Yibun Siu San seperti mempunyai ganjalan dalam hati. Tampak dia menarik nafas

“Menurut pertimbanganku setelah meninjau selama beberapa hari ada kemungkinan,

komplotan kaum sesat dari luar samudera, iblis-iblis dari daerah barat akan melakukan

gerakan. Sejak sekarang dunia Bulim tidak dapat tenang lagi, bisa jadi gelombang badai

yang akan melanda kali ini besar sekali… aih! Aku tidak akan mengatakan lebih lanjut,

harap Cuwi jaga diri baik-baik!”

Sembari berkata, dia menghentakkan kakinya. Tiba-tiba sudah melesat di udara dengan

ketinggian kurang lebih satu depa. Gerakannya ringan dan lemah gemulai. Begitu kakinya

mendarat lagi di atas tanah, tahu-tahu orangnya sudah mencelat sampai sejauh dua

depaan jauhnya. Bukan main hebatnya ginkang orang ini.

****

Kembali kepada Tan Ki yang membopong Mei Ling. Menerjang keluar dari pendopo

dengan mendobrak pintu, dia berlari terbirit-birit. Kecepatannya bagai sambaran kilat.

Telinganya sampai mendengar jelas desiran angin. Benda-benda maupun pepohonan yang

ada di kedua sisinya seperti berjalan mundur dengan cepat.

Setelah berlari kurang lebih setengah kentungan, tenyata tidak terjadi hal apapun yang

di luar dugaan, hati Tan Ki menjadi agak lega. Kembali berlari sejauh beberapa depa, baru

dia menghentikan langkah kakinya. Dia melepaskan jubah luarnya dan menggunakannya

untuk menutupi tubuh Mei Ling yang bugil. Dia takut dirinya sendiri tidak tahan untuk

terus melihat, sehingga pikirannya melayang ke hal yang bukan-bukan.

Matahari bersinar dengan terik, pepohonan berdiri tegar dengan daunnya yang

melambai-lambai. Angin berhembus dengan lembut, tetapi di dalam hatinya ada bara api

yang sedang berkobar-kobar. Dia merasa gugup. Ingin rasanya ada sepasang sayap yang

tumbuh di punggungnya agar dapat meninggalkan Pek Hun San-ceng secepat mungkin.

Setelah itu dia akan mencari seorang tabib sakti supaya gadis yang dicintainya dapat

disembuhkan seperti sedia kala.

Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda berpakaian putih memutar keluar dari balik

sebatang pohon. Orang itu menghadang di tengah jalan. Dia adalah si pendekar baju putih

Oey Ku Kiong.

 

Tan Ki diam-diam jadi tertegun. Terdengar pemuda itu tertawa bebas.

“Aku mendapat perintah dari Ayah untuk menunggu di sini dan menghadang setiap

orang yang akan keluar dari Pek Hun Ceng ini.” selesai berkata, orangnya maju perlahanlahan

menghampiri Tan Ki. Pakaiannya berkibar-kibar, langkah kakinya tidak menimbulkan

suara sedikitpun.

Mendengar ucapannya, diam-diam Tan Ki menjadi terperanjat.

Pantas saja sepanjang perjalanan aku berlari keluar, tidak menjumpai seorangpun,

rupanya Oey Kang sudah mengutus anak angkatnya menunggu di sini, pikirnya dalam

Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan dan bersiapsiap

menjaga segala kemungkinan.

Tiba-tiba terdengar Oey Ku Kiong menarik nafas satu kali. Dia menghentikan

langkahnya tidak jauh dari Tan Ki.

“Gadis yang ada dalam gendonganmu itu, mengapa bukan gadis she Cen yang datang

bersama-sama denganmu ke Pek Hun Ceng ini?”

Tan Ki tertegun sejenak.

“Buat apa Saudara menanyakan hal ini?” Oey Ku Kiong agak marah mendengar

“Aku suruh kau menjawab bukan malah bertanya…” dalam hatinya bagai ada ribuan

kata-kata yang tercekat di tenggorokan dan tidak dapat tercetus keluar. Dia berhenti

sejenak seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, kemudian dengan cepat dia

melanjutkan lagi. “Aku menyukainya. Sejak pertama kali melihatnya, di dalam hatiku telah

timbul kesan yang dalam terhadapnya.”

Tan Ki melihat tampang wajahnya seperti orang yang terharu. Diam- diam dia berpikir

di dalam hati: Apakah di dunia ini benar-benar ada kejadian jatuh cinta pada pandangan

pertama?

Tiba-tiba dia teringat ketika dirinya pertama kali bertemu dengan Mei Ling, bukankah

dia juga mempunyai perasaan yang sama? Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan

lagi, dia jadi tersenyum simpul.

Begitu matanya memandang, tiba-tiba dia melihat jari kelingking sebelah kiri Oey Ku

Kiong tampak berkilauan. Rupanya dia melengkungkan tiga jarum Bwe Hua-ciam milik

Kiau Hun dan memakainya sebagai cincin. Benda ini memang halus sekali, tetapi bagi

pemuda itu tentu mengandung makna yang besar. Seandainya sulit bertemu dengan

orangnya sendiri, apa salahnya menumpahkan kerinduan di hati dengan memandangi

benda yang ditinggalkannya. Hal ini membuk-tikan sampai di mana dalamnya cinta kasih

pemuda itu terhadap Kiau Hun. Juga merupakan hal yang mengibakan hati.

“Tan Heng, tentunya kau mengenal baik Cen Kouwnio itu bukan? Di sini aku

mempunyai sebuah akal yang menguntungkan kedua pihak, harap kau sudi

mengabulkannya.”

 

“Coba kau uraikan saja, biar aku mempertimbangkannya baik-baik.”

“Gadis yang ada dalam gendongan Tan Heng itu telah dicekoki obat Li Hun Tan alias pil

pelenyap sukma oleh Ayah. Kesadarannya sudah hilang, Tan Heng dapat

menggendongnya secara terang-terangan, tentu kau sudah menganggapnya sebagai

orang yang dekat sekali hubungannya. Mungkin kau juga berharap agar gadis itu dapat

segera pulih kembali seperti sedia kala?”

“Hal ini tidak perlu dikatakan lagi.”

Oey Ku Kiong tersenyum simpul.

“Aku bisa mencuri obat penawarnya untukmu. Tetapi kau harus melakukan suatu tugas

untukku sebagai imbalannya.”

“Urusan apa?” tanya Tan Ki.

“Kau harus katakan kepada Cen Kouwnio bahwa aku akan menikahinya. Tidak perduli

syarat apapun yang dia ajukan, aku pasti akan menerimanya. Kau hanya perlu mengatur

pertemuan di antara kami dan bertindak sebagai mak comblang.”

Mendengar ucapannya, Tan Ki jadi terpana.

BAGIAN XIX

Untuk sesaat, mata Tan Ki jadi terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Dia sama sekali

tak mengira permintaan Oey Kang merupakan hal yang sedimikian rupa…

Cukup lama dia tidak sanggup memberikan jawaban. Dengan identitas Cian bin mo-ong

Tan Ki muncul di dunia Kangouw, dalam setengah tahun dia sudah menimbulkan

kegemparan yang hebat. Entah sudah berapa banyak marabahaya yang dihadapinya,

belum lagi memecahkan berbagai kesulitan yang pelik. Tetapi, urusan di depan matanya

sekarang, merupakan persoalan yang paling rumit dalam seumur hidupnya!

Mungkin, dia tidak sanggup menyelesaikan masalah pelik kali ini…

Karena kalau menurut makna kata-kata Oey Ku Kiong, dia memang sudah jatuh cinta

kepada Kiau Hun. Sekarang Tan Ki diminta menjadi perantara dan mengenalkan gadis itu

kepadanya?

Tidak mungkin, tidak mungkin…

Hatinya terus berpikir keras, kepalanya pun terus menggeleng. Matanya beralih

memandang ke arah Mei Ling yang ada dalam bopongannya. Tanpa dapat

mempertahankan diri lagi, bibirnya tertawa sumbang.

Kalau dia tidak mengabulkan permintaan Oey Ku Kiong, tentu dia juga tidak bisa mendapatkan

obat penawarnya. Kesadaran Mei Ling juga sulit dipulihkan untuk selamanya…

Bukankah hal ini merupakan kejadian yang mengenaskan serta menakutkan?

 

Berpikir sampai di sini, tanpa sadar tubuhnya bergetar. Seluruh bulu kuduk dirinya

meremang. Hatinya kalut bukan main, hal ini malah membuat keringatnya terus menetes

membasahi keningnya!

Oey Ku Kiong sudah menunggu sekian lama, namun dia masih belum memperoleh

jawaban dari Tan Ki. Anak muda itu malah berdiri termangu-mangu dan mata

menerawang. Hatinya mulai kehabisan sabar, dia mengembangkan seulas senyuman yang

“Urusan ini ada dalam genggaman Tan Heng sendiri. Kau hanya perlu menyampaikan

beberapa patah kata, bukan urusan yang sulit sekali. Tetapi kalau, Tan Heng tidak

bersedia, aku juga tidak berani memaksa.”

“Ini…” Tan Ki tampaknya masih bimbang, suaranya tersendat-sendat seakan tidak tahu

apa yang harus diucapkannya.

Oey Ku Kiong tertawa dingin.

“Dalam hal ini Tan Heng tidak mempunyai pilihan lain. Oleh karena itu tidak perlu

mengulur waktu. Bersedia atau tidak tergantung dirimu sendiri. Kau hanya perlu

menganggukkan kepala atau menggeleng saja.”

“Urusan ini menyangkut diri Cen Kouwnio secara langsung, bukan aku yang dapat

menen-tukan. Kau suruh aku harus bagaimana?”

“Jadi kau sudah setuju?” suara Oey Ku Kiong seakan mengandung kegembiraan yang

besar sekali.

Tan Ki menggelengkan kepalanya.

“Kata-kata yang aku ucapkan tadi hanya ungkapan kesulitan dalam hati. Mana pernah

aku mengatakan setuju?”

Begitu kata-katanya itu terucapkan, tampang Oey Ku Kiong benar-benar di luar dugaan.

Wajahnya yang tampan dan kurus langsung berubah hebat.

“Kalau begitu, Tan Heng benar-benar tidak sudi membantu sama sekali?” bentaknya

Tan Ki tersenyum simpul.

“Oey Heng salah paham terhadap maksud Cayhe, hal ini sulit dilaksanakan meskipun

niat untuk membantu ada. Aku lihat…”

Tiba-tiba mulut Oey Ku Kiong mengeluarkan suara raungan yang keras. Tangannya

mencengkeram, saat itu juga timbul bayangan jari yang banyak dan mengancam dada Tan

Ki. Kecepatan gerakannya seakan tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk mengatur

nafas sedetik pun.

 

Serangan yang tidak terduga ini, benar-benar tidak boleh dianggap ringan. Hati Tan Ki

langsung tercekat. Dia menarik nafas panjang- panjang kemudian mencelat ke belakang

sejauh tiga langkah.

Tan Ki sedang menggendong Mei Ling. Dengan demikian beban tubuhnya menjadi

semakin berat, tetapi ketika dia mencelat ke belakang, gerakannya demikian ringan dan

Terdengar Oey Ku Kiong mendengus dingin.

“Sambut lagi sejurus seranganku ini!”

Dua buah pukulan yang mengeluarkan suara menderu-deru secara berturut-turut

dilancarkan. Angin yang ditimbulkannya sangat dahsyat, bahkan debu dan pasir yang

terhampar di atas tanah jadi beterbangan sehingga menimbulkan kumpulan yang

menyamarkan pandangan mata. Meskipun sebutir pasir yang halus, namun terhempas

angin pukulannya dapat menjadi benda tajam yang beterbangan. Setiap butirnya bagaikan

anak panah yang menyakitkan apabila terkena pada kulit.

Tan Ki menduga usia lawannya hampir sebaya dengan dirinya sendiri, namun tenaga

dalamnya sudah begitu hebat. Tanpa sadar hatinya jadi tercekat.

“Bagus!” teriaknya memuji.

Pundaknya dimiringkan sedikit dan kakinya melancarkan sebuah tendangan, kemudian

secara mendadak dia mencelat ke belakang sejauh tujuh delapan langkah. Rangkuman

tenaga pukulan yang dahsyat menggetarkan pakaiannya sampai berkibar-kibar.

Dua orang ahli silat apabila bergebrak, kecepatannya bagai kilat yang menyambar.

Kedua orang itu sudah bertarung dalam dua jurus, gerakan mereka selalu maju kemudian

mundur kembali. Dalam waktu sekejap saja mereka sudah sadar bahwa kali ini mereka

telah bertemu dengan lawan yang seimbang.

Wajah Oey Ku Kiong tampak kelam. Dia menunggu sampai kaki lawannya baru

menginjak tanah, tiba-tiba dia maju ke depan dan merapat ke arah lawannya. Dengan

jurus Jubah Indah Menutupi Daya Im, dia melancarkan sebuah pukulan yang mengancam

arah pinggang lawannya.

Tenaga dalamnya sangat kuat, dengan berturut-turut dia melancarkan tiga jurus.

Gerakannya semakin lama semakin cepat. Jurusnya belum dikerahkan sampai selesai,

angin yang timbul dari pukulannya sudah menghempas dengan kuat ke arah wajah Tan Ki

sampai terasa agak perih.

Tan Ki sedang membopong Mei Ling, tentu saja dia tidak bisa melepaskan serangan

balasan. Terpaksa tubuhnya melesat lagi ke samping untuk menghindarkan diri. Kedua

orang itu terus bergebrak, yang satu menyerang, yang lain menghindar. Lambat laun

dapat dipastikan bahwa Tan Ki yang akan berada di pihak pecundang.

Tiba-tiba… terdengar suara tawa panjang yang memecahkan keheningan dan

berkumandang menggetarkan gendang telinga kedua orang itu. Tanpa dapat ditahan lagi,

keduanya jadi tertegun. Pada waktu yang bersamaan, keduanya memalingkan wajahnya

serentak…

 

Masih lumayan kalau tidak melihat, sekali pandang wajah Tan Ki yang tampan segera

berubah hebat. Hatinya menjadi gentar, keringat dingin pun langsung mengucur

membasahi keningnya. Tanpa terasa dia berseru…

“Celaka! Kali ini belum tentu aku dapat meloloskan diri!”

Rupanya Tan Ki melihat orang yang paling ditakutinya. Dalam jarak berapa depa di depannya,

berdiri seorang tua yang mengenakan jubah hijau. Di sampingnya berdiri seorang

gadis berpakaian hitam dengan bahu menyandang pedang. Siapa lagi kalau bukan kakek

serta cucunya, Lok Hong dan Lok Ing.

Tampaknya dari kejauhan mereka sudah melihat Tan Ki. Sepasang alis Lok Ing

perlahan-lahan terjungkit ke atas. Lambat laun dia melangkah mendekati Tan Ki. Dia

berhenti kurang lebih setengah depa di hadapan anak muda itu.

“Siapa yang kau gendong itu?” tanyanya dengan suara membentak.

“Seorang teman.” tampaknya Tan Ki juga tidak berani membohongi gadis itu.

Jawabannya wajar sekali.

Lok Ing langsung tertawa dingin.

“Masa cuma teman biasa?”

Mendengar sindirannya, Tan Ki jadi tertegun. Kalau ditilik dari ucapannya, tampaknya

ada sedikit nada cemburu di dalamnya, jangan-jangan gadis ini juga…

Begitu pikirannya tergerak, saking terkejutnya seluruh tubuh Tan Ki sampai

mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdebar-debar!

Tiba-tiba terlihat Lok Ing mengulurkan tangannya dan dengan cepat meluncur ke

arahnya. Dalam waktu yang bersamaan terdengar mulutnya berkata, “Biar aku lihat siapa

gadis itu, berani-beraninya…”

Kata-kata berikutnya seolah sulit diteruskan, Dia merasa jengah. Baru mengucapkan

setengahnya saja, mulutnya langsung membungkam. Gerakan tangannya justru

bertambah cepat.

Tan Ki paham sekali watak gadis ini yang ugal-ugalan dan tidak pernah pakai aturan.

Melihat gerakannya yang begitu hebat, dia jadi terkejut setengah mati. Kedua pundaknya

segera dimiringkan dan kakinya mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Melihat niatnya tidak tercapai, hawa amarah dalam dada Lok Ing meluap seketika. Wajahnya

sungguh tidak enak dilihat.

“Kau berani menghindar?” bentaknya keras.

Pergelangan tangannya memutar. Kakinya mendesak ke depan dua langkah. Sekali lagi

dia menyerang lagi ke arah dada Tan Ki. Tenaganya sangat dahsyat, timbul gulungan

angin yang mengeluarkan suara menderu-deru!

 

Perlahan-lahan Tan Ki menggeser tubuhnya dan melesat ke samping. Meskipun dia

seorang manusia yang angkuh dan tinggi hati. Tetapi karena hatinya ada ganjalan, dia

tidak berani membalas menyerang setengah jurus pun. Menghadapi sikap Lok Ing yang

ugal-ugalan, tampaknya dia kehabisan akal dan terpaksa menahan kekesalan yang

berkecamuk dalam hatinya.

Bahkan Oey Ku Kiong yang berdiri di samping menyaksikan kejadian yang berlangsung

di depan matanya, meskipun ia sendiri barusan berhadapan dengan Tan Ki sebagai

musuh, juga benci dengan tindakannya yang semena-mena. Diam-diam dia mengerahkan

tenaga dalamnya dan bersiap memberikan bantuan kepada Tan Ki.

Oey Ku Kiong bukan bermaksud mencari gara-gara dengan gadis itu. Namun sikap Lok

Ing yang bertindak seenak perutnya sendiri, membuat anak muda itu menjadi tidak

senang melihatnya.

Tepat pada saat itu, terdengar lagi suara bentakan Lok Ing…

“Coba kalau kau masih berani menghindar!”

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan yang hebatnya bukan main!

Berkali-kali Tan Ki didesak sedemikian rupa. Sepasang alisnya langsung terjungkit ke

atas. Hawa amarahnya mulai meluap. Begitu matanya memandang, pandangannya

menangkap diri Lok Hong yang berdiri di sudut dengan tertawa terkekeh-kekeh. Terpaksa

dia menelan kembali kemarahannya yang sudah mulai berkobar. Malah hatinya jadi

bergidik. Secepat kilat tubuhnya menggeser ke samping dan dengan mudah dia dapat

menghindarkan diri dari serangan Lok Ing yang untuk ketiga kalinya itu.

Secara tiga kali berturut-turut, serangan Lok Ing mengalami kegagalan. Dia merasa

dadanya menjadi sesak seakan baru saja mendapat hinaan yang hebat. Tangannya

menuding ke arah Tan Ki. Saking kesalnya dia sampai tidak sanggup mengucapkan

sepatah kata-pun. Kemudian tampak dia menghentakkan kakinya di atas tanah berkalikali.

Air matanya pun mengalir dengan deras.

Lok Hong cepat-cepat menghampirinya. Bibirnya tersenyum lembut.

“Cucu yang baik, dari tadi kau terus mengoceh ingin bertemu dengannya. Mengapa

setelah bertemu malah mengajaknya berkelahi? Bahkan pakai menangis segala… aih, aku

benar-benar kewalahan menghadapi sifatmu.”

Orangtua ini merupakan seorang pangcu dari sebuah perkumpulan besar. Tetapi

menghadapi cucunya yang satu ini, dia menyayanginya bagai permata hati. Melihat gadis

itu demikian kesal dan sakit hati bahkan sampai mengalirkan air mata, terpaksa dia

mendekatinya dan menghiburnya dengan kata-kata yang lembut.

Siapa nyana, masih mending kalau Lok Hong tidak menasehatinya. Begitu

mengucapkan kata-kata yang menghibur hati, tingkah laku Lok Ing semakin menjadi-jadi..

Dia langsung menubruk ke dalam pelukan Lok Hong dan menangis dengan suara

meraung-raung.

Lok Hong jadi kelabakan, dia terus membelai rambut gadis itu dan menghiburnya

dengan kata-kata yang lembut.

 

“Jangan menangis, jangan menangis, Cucuku yang tersayang, anak manis.”

Setelah menangis sesaat, Lok Ing seakan merasa tangisan itu tiada artinya. Dia mendongakkan

wajahnya, tangannya menuding

Tan Ki.

“Dia… dia menghina aku. Yaya, kau tempeleng mukanya tiga kali, agar kekesalan

hatiku agak surut!”

Lok Hong tersenyum simpul.

“Hal ini mudah sekali.”

Tidak tampak bagaimana dia menggerakkan tubuhnya, hanya terlihat bayangan

berkelebat, tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan Tan Ki.

Gerakan yang aneh dan cepat, benar-benar membuat orang yang melihat jadi

terkesiap!

Bahkan Oey Ku Kiong juga terkejut sekali melihat hal yang di luar dugaannya itu. Dia

tidak menyangka orangtua yang tampangnya tidak istimewa sama sekali, ternyata memiliki

ilmu yang demikian tinggi!

Terdengar suara Plak! Plak! Plak! Sebanyak tiga kali. Tampak telapak tangan Tan Ki

meraba pipinya sembari mencelat mundur. Sebetulnya, apabila dia berniat menghindar,

tentu saja bukan hal yang sulit. Tetapi mengingat seluruh ilmu silatnya merupakan hasil

curian dari kuburan para leluhur orangtua yang ada di hadapannya ini, tentu saja dia tidak

berani memamerkan kepandaiannya sedikitpun juga. Dirinya bagai seorang maling kecil

yang berhadapan dengan si pemilik barang. Kalau dia berani mengelak, berarti dirinya

sendiri yang mencari bencana. Oleh karena itu, melihat ta-ngan Lok Hong bergerak

menampar pipinya secara bergantian sebanyak tiga kali, dia bahkan tidak berani

menggeser sedikit juga. Setelah hukuman itu selesai dijalankan, Tan Ki baru berani

mencelat mundur ke belakang. Dia menahan hawa amarah dalam dadanya dalam-dalam.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari mulut Lok Ing.

“Bagus! Rupanya kau hanya takut kepada Yaya. Terhadap diriku kau malah

menganggap berhadapan dengan seorang bocah berusia tiga tahun.”

“Bukan begitu persoalannya!” bentak Tan Ki marah. Biar bagaimana, dia merupakan

seorang pemuda yang tinggi hati namun jujur. Mendapat caci maki dari Lok Ing, tanpa

sadar dia kelepasan bicara. Tetapi setelah mencetuskan ucapannya, dia malah merasa

menyesal secara diam-diam.

Lok Hong tersenyum simpul.

“Beberapa kali bertemu muka, Laote selalu menghindar saja dan tidak membalas

sedikitpun. Kalau hatimu merasa tidak puas, mengapa tidak main-main saja dengan Lohu

beberapa jurus?”

 

“Ini…” Tan Ki tidak berani langsung menyetujui.

“Tidak usah begini, begitu… ayolah!” sembari berkata, Lok Hong maju beberapa

langkah kemudian berhenti di hadapannya. Bibir orangtua itu tersenyum simpul. Wajahnya

tidak menunjukkan kegarangan sama sekali. Tidak seperti orang yang akan berhadapan

dengan musuhnya.

Menghadapi keadaan seperti ini, Tan Ki jadi serba salah. Saat ini dia sedang

membopong Mei Ling, mana mungkin dia tega melepaskannya dan melawan Lok Hong?

Lagi pula, ilmu silat yang dimilikinya merupakan…

Untuk sesaat, dia menjadi bimbang tak menentu. Dalam waktu yang cukup lama dia

hanya berdiri dengan termangu-mangu dan tidak berani maju selangkah pun.

Tiba-tiba…

Serangkum angin terasa menerpa, sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Oey Ku

Kiong sudah berdiri di antara kedua orang itu. Kemunculannya begitu cepat dan tidak

terduga-duga. Hal itu benar-benar di luar perkiraan Lok Hong. Melihat dia muncul dengan

tiba-tiba, orangtua itu terkejut sekali. Namun untuk sesaat, penampilannya pulih kembali.

“Apa yang kau inginkan?” bentaknya dengan suara keras.

Oey Ku Kiong tertawa dingin. “Seorang perempuan yang sama sekali tidak tahu aturan,

didampingi orangtua yang tidak tahu diri. Benar-benar pasangan yang serasi. Beraniberaninya

datang ke Pek Hun Ceng untuk menghina orang, hal ini sungguh membuat

pandangan orang she Oey jadi tidak enak. Sekarang aku berharap dapat menjajal barang

beberapa jurus.”

Lok Hong mendengus berat. “Orang lain boleh menganggap Pek Hun Ceng seperti

tempat bersemayamnya seekor naga sakti atau gua harimau. Tetapi dalam pandangan

Pangcu ini, malah hanya seperti liang kelinci atau sangkar burung. Tidak ada hal yang

istimewa sama sekali.”

“Jangan sangka karena kau bisa masuk dengan seenaknya, maka kau seakan

melangkah ke tempat yang kosong. Kau kira kau bisa datang dan pergi seenaknya.

Sebentar kalau kau bertemu dengan ketiga puluh enam Jendral Langit, baru kau tahu

rasa!”

Lok Hong mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. Suaranya bagai geraman

seekor naga yang berkumandang sampai kejauhan serta menggetarkan hati orang yang

“Omong kosong saja buat apa, aku justru ingin mencoba sampai di mana kehebatan

Pek Hun Ceng yang dapat membuat hati para pendekar di dunia Kangouw kebat-kebit.”

Oey Ku Kiong mendengus satu kali. Ujung lengan bajunya disingkapkan, telapak tangan

kanannya diulurkan. Terdengar suara yang menderu-deru, dalam keadaan marah dia

melancarkan sebuah pukulan.

Lok Hong menganggap dirinya sebagai angkatan tua dalam dunia Kangouw, mana mau

dia mengambil keuntungan dari anak muda itu? Dia menarik nafas dalam-dalam,

 

kemudian mencelat mundur sejauh tiga empat langkah. Tadinya dia bermaksud mengalah

tiga empat jurus kepada Oey Ku Kiong.

Tetapi siapa memangnya Oey Ku Kiong itu, mana boleh disamakan dengan pemuda

sembarangan. Ketika Lok Hong mencelat mundur, otomatis dia sudah kehilangan

kesempatan menyerang terlebih dahulu. Tiba-tiba mulut Oey Ku Kiong mengeluarkan

suara bentakan, kakinya melangkah maju. Dia mendesak ke depan kemudian dalam waktu

yang bersamaan, dia mengerahkan delapan jurus secara berturut-turut, kakinya pun

mengirimkan dua buah tendangan.

Tampak bayangan telapak tangan diiringi deru angin yang keras. Suaranya mendesingdesing,

seperti setan-setan gentayangan yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan

menyerang serentak. Suara ratapannya menggetarkan hati.

Lok Hong merasa hatinya tercekat, dia tidak menyangka seorang pemuda yang masih

ingusan dapat memiliki tenaga dalam sehebat itu. Bahkan kecepatannya juga

mengagumkan. Begitu terperanjatnya sampai-sampai wajah orangtua ini langsung

berubah. Hampir saja dia terkena tendangan Oey Ku Kiong. Secepat kilat tubuhnya

menghentak serta melayang ke belakang.

Kali ini, Lok Hong benar-benar tidak berani memandang ringan musuhnya lagi. Dia

segera memusatkan perhatiannya untuk menghadapi anak muda itu dengan sungguhsungguh.

Lok Hong merupakan Pangcu dari Ti Ciang Pang. Meskipun dia j arang berkelana di

dunia Kangouw dan namanya tidak termasyhur seperti si pengemis sakti Cian Cong. Tapi,

ilmu silatnya tidak kalah dibandingkan tokoh-tokoh tua yang lainnya. Begitu perhatiannya

dipusatkan, biar bagaimana pun gencar dan kejinya serangan Oey Ku Kiong, tetap saja

dapat dielakkan maupun dipecahkan dengan mudah oleh Lok Hong.

Dalam waktu yang singkat, dia telah diserang sebanyak belasan jurus, tetapi semuanya

hanya saling bergebrak kemudian mundur kembali. Kejadiannya berlangsung cepat dan

keji. Bahkan Tan Ki dan Lok Ing yang melihatnya sampai merasa mata mereka berkunangkunang.

Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar, seluruh permukaan tanah langsung

bergetar, tampak sosok tubuh Oey Ku Kiong terhuyung-huyung kemudian terdesak

mundur sejauh tujuh delapan langkah.

Rupanya tiba-tiba Lok Hong merasa dirinya sebagai Pangcu Ti Ciang Pang yang besar.

Apabila untuk meringkus seorang bocah ingusan saja dia tidak sanggup tentu akan

menjadi bahan tertawaan para sahabat di dunia Kangouw kalau sampai berita ini tersebar

keluar. Pada saat itu, ke mana kegagahannya yang dibanggakan dan di mana wajahnya

harus diletakkan?

Begitu pikirannya tergerak, hawa pembunuhan pun langsung memenuhi hatinya.

Sepasang telapak tangannya telah terhimpun seluruh kekuatannya, dengan posisi

menahan di depan dada dia menghantamkan sebuah serangan.

Serangannya ini telah diperhitungkan matang-matang. Dia sudah dapat mengira

dengan tepat arah mundur Oey Ku Kiong, sehingga mau tidak mau dia harus menyambut

pukulan Lok Hong.

 

Begitu kekuatan keduanya telah beradu, Oey Ku Kiong merasa aliran darahnya seakan

membalik, langkah kakinya menjadi goyah dan tanpa dapat dipertahankan lagi dia tergetar

mundur beberapa langkah.

Biar bagaimanapun, tenaga dalam Lok Hong memang jauh lebih tinggi dibandingkan

dengan anak muda itu. Cara beradu pukulan dengan kekerasan juga sangat berbahaya.

Lagipula sulit dihindarkan. Meskipun silat Oey Ku Kiong mengandung berbagai macam

jurus yang aneh, tetapi karena dalam bidang tenaga dalam mengalami kekalahan,

akhirnya dialah yang menjadi pecundang.

Dengan mengandalkan kelebihan dirinya, Lok Hong memaksa Oey Ku Kiong

menyambut pukulannya dengan kekerasan. Setelah itu dia tidak memberi kesempatan

sama sekali kepada anak muda itu untuk mengatur pernafasannya. Mulutnya

mengeluarkan suara bentakan, lengannya yang kokoh bagai besi langsung terulur kembali.

Serangkum angin yang kuatnya bukan main langsung menerpa datang. Ketegangan,

kematian seakan mendesak ke arah Oey Ku Kiong!

Kalau Lok Hong benar-benar melancarkan pukulannya, Oey Ku Kiong pasti tidak sempat

lagi mengerahkan tenaganya untuk menyambut.

Tiba-tiba…

Terdengar suara siulan yang panjang memecahkan keheningan. Sesosok bayangan

berkelebat ke arah mereka dengan cepat!

Hati Lok Hong terkesiap, rangkuman tenaga pukulannya yang kuat ternyata berhasil

didorong oleh pukulan orang itu dengan cara kekerasan. Tubuhnya lalu melesat lewat di

samping Oey Ku Kiong.

Begitu matanya memandang, ternyata orang yang turun tangan itu adalah Tan Ki yang

selalu mengalah dan dipukul berkali-kali tanpa pernah membalas. Tentu saja dia jadi

tertegun seketika.

Rupanya, meskipun Tan Ki adalah seorang

pemuda yang tinggi hati namun dia juga orang j yang mengenal budi. Melihat Oey Ku

Kiong terjerumus dalam keadaan yang membahayakan jiwanya hanya karena persoalan

dirinya, rasa kegagahannya pun terbangkit. Rasa takutnya terhadap Lok Hong seolah

tersingkirkan. Oleh karena itu, dia meletakkan Mei Ling perlahan-lahan di atas tanah,

kemudian tubuhnya bergerak serta melayang di udara. Dengan tepat dia menyambut

serangan Lok Hong yang keji ke arah Oey Ku Kiong.

Pada saat itu juga, dia tidak mempertimbangkan akibat apapun. Begitu mengeluarkan

suara siulan yang panjang, dia sudah mengambil keputusan untuk melancarkan sebuah

pukulan dan dengan keras menyambut serangan Lok Hong. Dirinya sendiri terdorong oleh

rangkuman tenaga yang dahsyat sehingga tergetar mundur dua langkah.

Tepat pada saat itu juga, suasana yang tegang seakan menjadi dua kali lipat. Oey Ku

Kiong sudah agak tenang dari rasa terkejutnya. Di wajahnya tersirat perasaan kemalumaluan.

Dia menjura dalam-dalam kepada Tan Ki.

 

“Terima kasih atas budi pertolongan Tan Heng. Teman sepertimu ini sudah pasti kujalin.

Tentang Cen Kouwnio, kelak kita bicarakan kembali…” matanya beralih kepada

Lok Hong. Dia mengalihkan pokok pembicaraan. “Kalian berdua berani menyusup ke

dalam Pek Hun Ceng, setidaknya pasti mempunyai keyakinan beberapa bagian. Aku orang

she Oey mengaku kalah, tetapi tempat tinggal kami ini memang dibangun sedemikian rupa

untuk menyambut kedatangan tamu-tamu. Apakah kalian mempunyai nyali yang cukup

besar untuk mengikuti aku mengelilinginya?”

Lok Hong tertawa terbahak-bahak.

“Aku justru ingin melihat sampai di mana kehebatan Tiga puluh enam Jendral Langit

itu…!”

Lok Ing langsung mencibirkan bibirnya dengan kesal.

“Yaya, apakah kau tidak sudi menyelesaikan urusanku lagi?” tanyanya gugup. Rupanya

dia masih juga belum puas mempermainkan Tan Ki. Atau mungkin dia merasa berat

berpisah dengannya?

Lok Hong melirik Tan Ki sekilas. Dia tertawa datar.

“Sudah tahu bentuknya seperti ini, biar sudah jadi abupun masih bisa dikenali.

Memangnya dia bisa lari ke mana?” tangannya direntangkan dengan gaya

mempersilahkan. “Harap kau menunjukkan jalan. Biar Lohu belajar kenal sebentar apa

perbedaan Barisan Tiga Puluh Jendral Langitmu dengan Cap-pat Lo-han dari Siau Lim

Pai?”

Oey Ku Kiong mendengus satu kali. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tubuhnya

langsung melesat ke depan.

Lok Hong dan Lok Ing segera mengerahkan ginkangnya dan mengikuti dari belakang.

Da-lam sekejap mata mereka sudah menghilang di balik rumpunan pohon bambu.

Sebelum me-ninggalkan tempat itu Lok Ing sempat menatap Tan Ki sekilas. Pandangan itu

demikian aneh, bukan kebencian ataupun penyesalan, tetapi semacam sinar yang sulit

dijelaskan dengan kata-kata.

Tan Ki berdiri tertegun beberapa saat. Setelah Lok Hong dan yang lainnya pergi dari

sana, baru dia membopong Mei Ling kembali. Direnungkannya apa yang berlangsung

barusan. Semuanya bagai khayalan dan impian, tetapi justru merupakan peristiwa yang

menegangkan. Kematian dan kehidupan hanya terpaut demikian tipis.

Perlahan-lahan dia berjalan, langkah kakinya seakan berat sekali…

Entah sejak kapan, tahu-tahu dia sudah meninggalkan Pek Hun-ceng. Telapak kakinya

mulai berpijak di atas rerumputan. Rupanya dia sudah sampai di sebuah padang rumput.

Tetapi ia sendiri masih belum menyadarinya.

Hatinya kalut sekali. Pikirannya ruwet. Benaknya seakan digelayuti berbagai masalah.

Namun masalah yang paling dirisaukannya justru bagaimana caranya menolong Mei Ling

agar kesadarannya pulih kembali.

 

Masih mending kalau tidak berpikir. Begitu dipikirkan, rasanya harapan semakin tipis. Li

Hun Tan merupakan ramuan khas Oey Kang sendiri. Di mana dia bisa menemukan tabib

sakti yang sanggup menyembuhkan penyakit ini? Kalau dia tidak berhasil menemukan

orang yang sanggup menyembuhkannya, untuk seumur hidupnya Mei Ling akan menjadi

manusia yang seolah kehilangan sukma. Untuk selamanya Tan Ki tidak dapat melihat lagi

senyumnya yang polos…

Hatinya diganduli perasaan yang pilu. Dia melangkah terus tanpa menyadari apapun.

Perlahan-lahan dia mendaki sebuah bukit. Dari arah depan terasa angin berhembus,

sejuknya bukan main. Rambut Mei Ling sampai berkibaran, pakaian atau tepatnya jubah

yang dikenakan gadis itu juga melambai-lambai.

Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Dengan termangu-mangu dia berdiri tegak. Di

hadapannya terlihat gunung menjulang tinggi. Pemandangannya indah sekali. Tetapi Tan

Ki seolah tidak melihat. Dia terus membopong Mei Ling seperti orang yang terpana.

Dengan berdiam diri, tubuhnya tampak tidak bergerak sedikitpun…

Saat yang sekejap itu, sepertinya lebih panjang dari biasa. Hening mencekam. Di

benaknya terdapat banyak bayangan para gadis, tetapi sekarang semuanya sudah lenyap,

yang teringat olehnya hanya Mei Ling seorang.

Angin masih berhembus, pegunungan tetap sunyi, semuanya tetap sama, tidak ada

satu-pun yang berubah. Hanya perasaan Tan Ki yang makin tenggelam dalam kekalutan

dan kesedihan. Keringatnya mengalir dengan deras, giginya digertakkan erat-erat.

Tubuhnya bergetar karena hatinya dirisaukan oleh berbagai penderitaan. Pikirannya sama

sekali tidak tenang. Kejadian itu berlangsung lama sekali.

Tiba-tiba dia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan dia menurunkan Mei Ling dari bopongannya.

Dibiarkannya gadis itu berdiri tegak. Penyesalan di dalam hatinya masih belum

sirna juga.

Kalau tadi aku mengabulkan permintaan Oey Ku Kiong, dengan memperkenalkan Kiau

Hun kepadanya, aku akan memperoleh obat penawarnya serta dapat menyembuhkan Mei

Ling segera. Urusan lainnya biar lihat perkembangannya saja. Kelak, apakah Kiau Hun juga

cinta atau tidak kepada pemuda itu, bukan urusanku lagi. Biar bagaimanapun, Kiau Hun

sendiri yang berhak menentukannya, sedangkan aku tidak mungkin mengambil keputusan

apa-apa. Pada saat itu aku sudah mendapatkan obat penawar, meskipun belakang hari

Oey Ku Kiong marah kepadaku. Aih… mengapa aku demikian bodoh, dalam segala hal

selalu mendahulukan kepercayaan dan tata krama, akhirnya Liu Moay Moay menjadi

menderita seumur hidup. Dia kehilangan kebahagiaan untuk selamanya! Keluhnya dalam

Berpikir sampai di sini, dia semakin menyesal. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya

kemudian menampar pipinya sendiri berulang kali. Dalam waktu yang bersamaan,

mulutnya pun terus memaki dirinya sendiri…

“Bodoh, tolol, mampus saja kau…!”

Sambil memukul dia terus memaki, tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras

membasahi pipinya.

 

Tan Ki menangis. Baru pertama kalinya dia menguraikan air mata demi gadis yang

dikasi-hinya. Dia merasa hal itu cukup berharga baginya untuk ditangisi.

Airmata terus mengalir, mengiringi ucapannya yang lirih sekali yang tercetus dari hati

kecilnya…

“Liu Moay, sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan untuk menolongmu, tetapi

dengan mudah aku mengabaikannya. Dua kali aku mendapat uluran tanganmu sehingga

aku terlepas dari kesulitan. Malah sekarang aku membiarkanmu sedemikian rupa.

Walaupun aku dihukum seribu bacokan, dosa ini tetap tidak tertebus. Liu Moay, apakah

kau mendengarkan ucapanku? Aku harap kau bersedia memaafkan…”

Tenggorokannya bagai tercekat, untuk sesaat dia tidak sanggup melanjutkan katakatanya.

Dua baris air mata mengalir semakin deras. Bahkan kerah bajunya sudah basah

karena rembesan air matanya. “Aku mencintaimu…”

Nada suaranya begitu tulus, di dalamnya terkandung kepiluan dan cinta kasih yang

murni. Tampaknya setelah bergumam beberapa saat, dia masih belum juga mencetuskan

seluruh perasaannya. Itulah sebabnya kemudian dia mengucapkan juga kata-kata yang

terakhir itu.

Mei Ling berdiri termangu-mangu dengan bibir tersenyum. Wajahnya tidak menyiratkan

perasaan apapun. Gadis itu telah dicekoki Li Hun Tan oleh Oey Kang. Kesadarannya telah

hilang. Meskipun kata-kata Tan Ki begitu romantis dan mengungkapkan perasaan yang

sedalam-dalamnya, tetap saja dia tidak mengerti.

Suasana semakin mencekam, di dalamnya juga terselip semacam kesunyian yang

menge-naskan…

Tiba-tiba, pundak Tan Ki disentuh oleh sebuah tangan. Telinganya mendengar suara

yang parau namun mengandung kelembutan…

“Mengapa Abang kecil ini begitu sedih? Bolehkah Yibun Siu San mendengar apa yang

telah terjadi, biar kita dapat berbagi sedikit suka dan duka.”

Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara sedikitpun. Seperti setan gentayangan

yang kakinya tidak berpijak pada tanah. Meskipun Tan Ki dalam keadaan sedih, ternyata

dia tidak tahu sejak kapan orang itu berdiri di belakangnya. Setelah orang itu menegurnya,

otomatis dia terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia memalingkan kepalanya untuk

Ketika Tan Ki menolong Mei Ling dan membawanya lari keluar dari pendopo

pertemuan, barulah Yibun Siu San muncul. Sampai Coan Lam Taihiap itu melepaskan para

pendekar dari mara bahaya, Tan Ki tidak sempat melihatnya. Oleh karena itu, dia tidak

kenal siapa orang ini.

Apa yang dilihatnya sekarang, hanya seorang manusia yang wajahnya tertutup cadar

dan sedang berdiri di belakangnya. Tentu saja Tan Ki jadi tertegun.

Sejak kecil Tan Ki hidup seorang diri dalam pegunungan yang sunyi. Yang membuat semangatnya

tidak patah hanya keinginan membalas dendam yang berkobar-kobar dalam

hatinya- Dia mempelajari ilmu silat dengan tekun. Diam-diam dia menghabiskan waktu

 

selama sepuluh tahun tanpa teman seorangpun. Dia juga tidak pernah bertemu dengan

siapa-siapa. Hal ini menyebabkan wataknya yang suka menyendiri, angkuh dan keras

kepala. Tetapi sebetulnya dia mempunyai hati yang hangat, semacam perasaan yang aneh

terus menyelimuti hatinya, meskipun dia tidak mempunyai tempat untuk mengadu dan

selalu memendam perasaan hatinya dalam-dalam. Semakin lama dia semakin merasa

kesepian. Meskipun hatinya pernah diusik oleh kecentilan Liang Fu Yong, keromantisan

Kiau Hun, bahkan Lok Ing yang tidak tahu aturan. Hanya Mei Ling yang lugu yang baru

benar-benar merupakan gadis pujaan hatinya, terutama sejak mengacau di rumah

keluarga Liu dan berhasil ditolong oleh gadis itu. Begitu pertama kali melihatnya, dia

langsung jatuh hati. Bayangannya terus menggelayuti benak Tan Ki. Setiap saat dia selalu

merindukan gadis itu.

Oleh karena itu, begitu mendengar ucapan Yibun Siu San, apalagi melihat keadaan Mei

Ling yang termangu-mangu seperti orang bodoh serta sulit disembuhkan, hatinya semakin

hancur. Air matanya pun mengalir dengan deras. Meskipun untuk sesaat dia sempat

tertegun melihat orang di hadapannya, tetapi penderitaan di dalam hatinya semakin

menjadi-jadi. Tanpa sadar dia mencetuskan perasaannya, tangannya menunjuk ke arah

Mei Ling.

“Dia kehilangan kesadarannya dan berubah menjadi manusia yang tidak tahu apa-apa.

Semua ini merupakan kesalahanku…” kesedihan di dalam hatinya sedang meluap-luap. Di

tambah lagi tenggorokannya yang kering. Kata-kata yang diucapkannya jadi terputusputus.

Kalimatnya tidak jelas. Persis seperti anak kecil yang berhadapan dengan

saudaranya serta mencetuskan kekesalan hatinya dengan ratapan. Orang yang

mendengarnya ikut merasa pilu. Apalagi dia tidak membedakan antara kawan lawan dan

tidak mempunyai persiapan sama sekali.

Yibun Siu San memperhatikan Mei Ling sekilas. Bibirnya mengeluarkan suara tawa yang

“Nona ini cantik bak bidadari, wajahnya juga menampilkan keanggunan. Tidak heran

kau begitu khawatir bahkan menyalahkan diri sendiri. Lalu, sekarang apa yang kau

rencanakan?”

“Tadinya aku bermaksud mencari seorang tabib sakti yang dapat mengobatinya. Dunia

ini memang luas sekali, namun rasanya tidak ada seorangpun yang sanggup

menyembuhkan atau menawarkan racun Li Hun Tan milik si iblis Oey Kang.”

Yibun Siu San terkejut sekali.

“Apa? Dia menelan racun Li Hun Tan?”

“Tidak salah.”

Tampak Yibun Siu San merenung sejenak.

“Kalau begitu, urusannya jadi rada sulit. Li Hun Tan merupakan ramuan dari berbagai

jenis rumput-rumputan langka. Oey Kang menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk

mendapatkan hasil yang sempurna. Di bawah kolong langit ini, meskipun banyak kejadian

yang kebetulan, tetapi untuk menawarkan racun jenis yang satu ini, sulitnya bukan

kepalang!”

 

Wajahnya ditutupi dengan sehelai cadar, hal ini membuat orang sulit menebak

bagaimana perasaannya saat itu. Tetapi dari nada suaranya yang tegas serta yakin,

tampaknya dia sendiri tidak dapat melakukan apa-apa.

Hati Tan Ki semakin panik. Dia menarik nafas panjang-panjang.

“Lalu bagaimana baiknya?” tanyanya dengan nada putus asa.

“Apakah kau benar-benar ingin menolongnya?”

“Asal dapat menyembuhkannya, meskipun harus mati seribu kali, aku rela!”

“Baik, mari kau ikut denganku.”

Selesai berkata, orang itu tidak menunggu lagi jawaban dari Tan Ki, dia langsung

membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi.

Untuk sesaat, Tan Ki seolah tidak mempunyai pertimbangan apa-apa. Dia langsung

membopong tubuh Mei Ling dan mengikuti dari belakang.

Matahari bersinar dengan terik, tampak dua sosok bayangan berkelebat secepat kilat.

Bagai dua gumpal awan, tubuh mereka melesat jauh. Liku-liku pegunungan telah dilalui,

akhirnya mereka sampai di bukit yang sunyi.

Tiba-tiba Yibun Siu San menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri di bawah celah batu

yang menonjol.

“Di puncak bukit ini, merupakan gubuk tempat tinggalku. Sayangnya sekarang ini tidak

sempat mengajak abang kecil ini meninjau-ninjau.”

“Mengapa?”

“Memangnya racun yang diderita nona cilik ini tidak mau disebuhkan lagi?”

Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki tertegun. Setelah merenung sejenak, dia

seperti tersentak dari lamunan. Wajahnya langsung berseri-seri.

“Harap Cianpwe bersedia mengulurkan tangan membantunya.” selesai berkata, dia

segera menjura dalam-dalam.

Yibun Siu San tertawa lepas. Dia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan melalui

tepi sungai di puncak bukit. Setelah melewati hutan bambu yang tidak seberapa luas,

begitu mata memandang, di depan terdapat sebuah rumah peristirahatan. Ukurannya

sedang-sedang saja. Dinding sebelah dalamnya terbatas pada batu bukit.

Yibun Siu San merentangkan tangannya dengan tanda mempersilahkan.

“Masuklah. Aku ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan di dalam nanti.”

Tan Ki tersenyum terharu. Dia mendahului melangkah ke dalam. Pada saat ini hatinya

panik sekali. Rasanya ingin ia menyuruh orang ini langsung turun tangan menyembuhkan

 

penyakit yang diderita Mei Ling agar kesadarannya dapat dipulihkan seperti sedia kala.

Bahkan dia tidak sedikitpun melirik dekorasi rumah itu.

Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Yibun Siu San sendiri menarik sebuah bangku

dan dibimbingnya Mei Ling duduk di sana. Dengan ramah dia bertanya, “Mohon tanya

nama dan she Abang kecil yang mulia, serta di mana rumah tinggalnya?”

“Aku bernama Tan Ki. Tinggal di tepi telaga Hoan Yang.”

“Ayahmu?”

“Ayah bernama Tan Ciok San. Orang-orang menjulukinya Miau Jiu Su- seng (Pelajar

ber-tangan sakti).

Mulut Yibun Siu San mengeluarkan suara ‘Oh…’ kemudian tersenyum simpul sambil

menganggukkan kepalanya.

“Rupanya ayahmu juga merupakan seorang tokoh yang cukup terkenal. Kalau begitu

ibumu kemungkinan besar juga merupakan sahabat dari dunia Kangouw.”

Wajah Tan Ki langsung berubah hebat.

“Bukan!” sahutnya dengan nada enggan.

“Tampaknya kau kurang menyukai ibumu?”

“Bukan hanya kurang menyukai saja, malah bencinya setengah mati… aih, sekarang ini

aku segan membicarakan urusan ini. Harap Locianpwe segera turun tangan saja.”

Yibun Siu San tersenyum simpul. Tiba-tiba wajahnya menjadi serius, segera tersirat

kewibawaan yang dalam.

“Terus terang aku katakan kepadamu, ayahmu merupakan sahabat lamaku.”

Tan Ki terkejut sekali mendengar keterangannya. Dia langsung berdiri tegak dan

bermaksud mengucapkan sesuatu. Tampak Yibun

Siu San menarik nafas panjang, seakan dia sedang merenungi masa lalu. Perlahanlahan

dia memejamkan matanya.

“Selama berkelana di dunia Kangouw, apakah Abang kecil ini pernah mendengar nama

Lu Wi Sam-kiat alias tiga jago dari Lu Wi?”

“Sejak berkelana di dunia Kangouw sampai sekarang, Boanpwe rasa baru kurang lebih

setengah tahun. Pengalaman maupun pengetahuan masih cetek. Jadi belum pernah

mendengar nama tersebut.”

BAGIAN XX

Yibun Siu San berdehem lirih satu kali. Sinar matanya mengandung perasaan yang pilu.

Dia menarik nafas dalam-dalam.

 

“Hal ini tentu tidak dapat disalahkan. Ketika Lu Wi Sam-kiat menggetarkan dunia

Kangouw, kau masih dalam gendongan ibumu. Teringat kami bertiga mengangkat tali

persaudaraan, hubungan kami demikian dekat…”

Sepasang alis Tan Ki mengkerut-kerut. Tiba-tiba dia memotong pembicaraan Yibun Siu

San, “Apakah ayahku merupakan salah satu anggota dari Lu Wi Sam-kiat?”

“Betul. Kami mengambil urutan berdasarkan usia masing-masing. Ayahmu adalah

Lotoa, sedangkan aku berada pada deretan nomor tiga.”

“Lalu siapa yang menduduki urutan kedua?”

“Orang ini pasti sudah kau kenal, dialah pemilik Pek Hun-ceng, si raja iblis nomor satu

Oey Kang.”

Seluruh tubuh Tan Ki langsung bergetar mendengarnya, dia merasa terkejut sekali.

“Apa? Jadi dialah Ji-siokhu Boanpwe?” (Ji-siokhu artinya paman kedua).

“Hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak. Kalau kau tidak percaya,

setelah bertemu dengan ibumu, kau boleh menanyakannya lebih jelas.”

Mendengar ucapannya, Tan Ki segera menutupi kedua belah telinganya dengan tangan.

Dia menghentak-hentakkan kakinya dengan penuh kebencian.

“Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar! Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak

mau berbicara tentang ibuku, Locianpwe malah sengaja membuat hatiku menjadi kacau,

sebetulnya apa maksudmu?”

Yibun Siu San tertawa dingin.

“Tampaknya kesanmu terhadap ibumu sendiri bukan hanya buruk tapi jahat!”

Tampaknya orang ini menaruh rasa hormat yang dalam kepada ibu Tan Ki. Mendengar

anak muda itu terus-terusan mengatakan bahwa dia membenci ibunya, tanpa dapat

ditahan lagi hawa amarah dalam dadanya jadi meluap-luap. Ketika ucapannya selesai,

tiba-tiba tubuhnya berdiri dan dengan kecepatan kilat ia menghambur mendekati. Tangan

kanannya terangkat dan terdengar suara Plak! Satu kali. Dengan kecepatan yang sulit

ditangkap pandangan mata, tahu-tahu pipi Tan Ki sudah kena ditempeleng oleh orang itu.

Gerakannya demikian cepat, sehingga laksana anak panah yang meluncur. Tan Ki tidak

sempat lagi menghindar. Dia hanya merasa wajahnya panas sekali. Juga terselip rasa

perih yang tidak terkatakan. Tanpa sadar dia meraba pipinya dan mundur sejauh dua

“Mengapa kau memukul orang seenaknya?”

Rupanya tamparan Yibun Siu San ini keras sekali. Tampak orang itu mengeluarkan

suara tawa yang dingin.

 

“Masih keenakan kalau memukul saja. Aku ingin bertanya padamu, sebagai seorang

anak, apa yang terutama harus dilakukan?”

“Bakti!”

“Lalu, mengapa kau demikian tidak becus? Bahkan berani-beraninya merasa benci

kepada ibu yang melahirkan dirimu dengan susah payah? Hm, baru mendengar orang

mengungkitnya sudah sedemikian rupa, apabila suatu hari nanti kalian ibu dan akan dapat

bertemu lagi, entah peristiwa tragis apa yang akan terjadi pada saat itu!”

Tan Ki mendengar suara bentakannya semakin lama semakin keras. Tangannya

menuding dan kakinya dihentakkan. Tampangnya seakan kesal sekali. Hatinya diam-diam

timbul kecurigaan: ‘Tampaknya dia mengenal Ibu dengan baik…’

Pikirannya tergerak, dengan luapan amarah dia menyahut, “Kalau dia pantas menjadi

orangtua bagi seorang anak, aku juga tidak akan demikian kurang ajar!”

Tubuh Yibun Siu San bergetar hebat.

“Mengapa?” desaknya.

Dengan mata menyorotkan kebencian Tan Ki melanjutkan kata-katanya…

“Justru ketika Ayah mati secara mengenaskan malam itu, dia malah lari bersama

kekasih gelapnya.

“Mengapa kau bisa yakin begitu kejadiannya? Apakah saat itu kau melihat dengan mata

kepalamu sendiri?”

“Meskipun aku tidak melihatnya sendiri, tetapi di dalam kamar Ayah aku menemukan

sehelai sapu tangan seorang laki-laki. Di atasnya tersulam sepasang burung camar yang

sedang terbang melayang di atas lautan. Juga terdapat sebaris syair yang menyatakan

perasaan cinta. Hatiku tahu, bahwa benda itu bukan milik ayahku. Sedangkan di atas syair

itu, tertulis nama ibuku semasa gadis. Apakah bukti-bukti ini masih belum cukup?”

Tampaknya dalam sesaat Yibun Siu San teringat akan sesuatu hal. Dia langsung

membentak, “Jangan sembarangan bicara, sapu tangan itu…” dia merandek sejenak.

Kemudian tampak dia membungkam seribu bahasa.

Rupanya dalam hati dia merasa panik sekali, hampir saja dia kelepasan bicara. Tadinya

dia ingin mengatakan: ‘Sapu tangan itu adalah milikku…’ tetapi dia tersadar bahwa hal itu

malah bisa semakin memperdalam kesalahpahaman dalam hati Tan Ki. Oleh karena itu,

cepat-cepat dia menutup mulutnya.

Tetapi Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas. Mendengar nada suaranya yang

seakan menyimpan suatu rahasia, mana mungkin dia sudi membiarkan begitu saja. Dia

segera mencekal kesempatan itu baik-baik. “Milik siapa?”

Nada suara dalam pertanyaan itu sangat tajam. Tampaknya kalau tidak dijelaskan, Tan

Ki pun tidak mau menyudahi begitu saja. Bahkan apakah Yibun Siu San benar-benar Samsioknya

atau bukan, dia tidak perduli lagi.

 

Yibun Siu San merenung sejenak.

“Ini…” tampaknya dia mempunyai ganjalan dalam hati. Untuk sesaat dia merasa

bimbang tak menentu. Kata-kata yang hanya sepatah itu ditariknya sampai panjang sekali,

bahkan dia masih tidak sanggup meneruskannya.

Tan Ki hampir kehabisan kesabarannya.

“Katakanlah!” teriaknya gugup. –

Akhirnya tampak Yibun Siu San menarik nafas panjang.

“Benar tidaknya dugaanmu, suatu hari pasti akan terungkap sampai jelas. Mengapa kau

begitu panik dan mendesak terus…?”

Kata-katanya belum selesai, tiba-tiba jari tangannya meluncur ke arah tenggorokan Mei

Ling…

Tindakan yang mendadak ini, benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Lagipula totokan yang

dilancarkan juga demikian cepat!

Melihat hal itu, Tan Ki terkejut setengah mati. Dia segera membentak dengan gusar,

“Apa yang kau lakukan?” terdengar suara angin menderu, dia langsung melancarkan

sebuah pukulan!

Meskipun serangannya dilancarkan secara mendadak bahkan dalam keadaan marah

dan tanpa persiapan sama sekali, tetapi kecepatannya tidak terkirakan. Tenaga dalamnya

pun sangat kuat.

Yibun sengaja melakukan hal ini karena hendak menghindari desakan pertanyaan Tan

Ki. Setelah totokannya yang ringan mengenai tenggorokan Mei Ling, luncuran pukulan Tan

Ki yang dahsyat pun menerjang tiba. Dia merasa ada serangkum angin yang kuat menerpa

dari samping tubuhnya. Tiba-tiba terlihat Yibun Siu San memutar, dengan gerakan yang

indah dan jurus yang ajaib, tahu-tahu dia sudah berada di belakang Mei Ling. Gerakannya

itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangan Tan Ki, sekaligus dia masih

sempat mengulurkan tangannya menotok tujuh delapan tempat urat darah di belakang

punggung Mei Ling.

Tubuh Mei Ling yang kecil langsing terkena tujuh totokan Yibun Siu San secara

berturut-turut. Setelah mendengus satu kali, tubuhnya pun terkulai di atas tanah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, dengan kemarahan yang meluap-luap, mulut

Tan Ki mengeluarkan suara raungan yang keras. Dia menerjang dengan kalap. Jurus Api

Membara Di Hari Yang Cerah langsung mengarah ke dada Yibun Siu San.

Sebetulnya Yibun Siu San hanya menghindarkan diri dari pertanyaan Tan Ki yang

bertubi-tubi. Dia sama sekali tidak berniat berkelahi dengan anak muda itu. Pundaknya

digerakkan ke kiri dan kakinya pun mencelat mundur setengah langkah. Dia segera

mengibaskan tangannya berkali-kali.

“Tunggu dulu, dengarlah perkataanku!”

 

Air mata Tan Ki terus mengalir. Wajahnya menyiratkan kepedihan yang dalam.

“Kau sudah mencelakakan kekasihku sampai mati. Apalagi yang harus kita bicarakan?”

bentaknya marah.

Lengannya yang kokoh seperti besi terus bergerak. Ternyata dia tidak sudi mendengar

penjelasan Yibun Siu San. Dengan jurus Burung Melayang Dengan Gusar, dia menebas

dari atas ke bawah. Sasarannya kali ini ubunubun kepala Yibun Siu San. Sungguh

merupakan serangan yang keji!

Belum lagi kakinya yang tiba-tiba melangkah ke depan sampai tangan satunya lagi

langsung melancarkan sebuah pukulan ke dada Yibun Siu San. Hatinya pedih sekali karena

mengira keka-sihnya telah mati. Dalam satu jurus dia melancarkan dua buah serangan.

Kecepatannya hampir pada waktu yang bersamaan. Rangkuman tenaga yang dahsyat

belum mencapai sasaran, anginnya sudah menerpa wajah sehingga menimbulkan rasa

Langkah kiri Yibun Siu San bergeser sedikit. Dia menghindarkan diri dari tebasan

tangan Tan Ki. Lengan kanannya terulur secepat kilat. Gerakannya meluncur ke depan.

Tetapi karena dia memang tidak berniat melukai Tan Ki, biarpun kecepatannya bagai kilat

yang menyambar, tetapi tenaga yang terkandung di dalamnya demikian ringan sehingga

tidak menimbulkan angin sedikitpun. Dengan demikian kekuatannya tidak cukup untuk

melukai orang.

Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat, kakinya melangkah mundur setengah mistar,

Sekaligus dia menggerakkan lengan kanannya, dari tebasan diubah menjadi hantaman

tenaga dalam yang sudah dipersiapkan di telapak tangan seketika dikerahkan.

Jurus ini dilancarkan dengan keras lawan keras. Jadi tidak main-main, bahkan

bermimpipun Yibun Siu San tidak mengira Tan Ki demikian setia. Hanya karena melihat

Mei Ling terkulai di atas tanah, dia langsung berubah kalap. Serangan yang dilancarkannya

seperti mengadu jiwa saja. Tentu saja Yibun Siu San jadi tertegun.

Justru ketika dia masih terpana, tanpa terasa dua arus tenaga dalam sudah saling

membentur. Terdengar suara menggelegar yang keras sekali. Rumah peristirahatan itu

sampai bergetar bagai dilanda gempa bumi. Dalam keadaan tidak siap sama sekali,Yibun

Siu San malah terdorong oleh rangkuman tenaga dalam Tan Ki yang dahsyat sehingga

terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Yibun Siu San merasa wajahnya menjadi panas. Dalam hatinya timbul perasaan malu.

Apabila aku sampai dikalahkan oleh keponakan kesayangan ini, benar-benar

keterlaluan, pikirnya dalam hati.

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung memperdengarkan suara tawa yang gagah.

Kakinya melangkah maju dan menerjang ke depan. Dalam waktu yang singkat, terlihat dia

menghantam, kakinya menendang, secara berturut-turut dia melancarkan serangan

sebanyak tujuh delapan jurus.

Tampak totokannya menimbulkan angin kencang, bayangan telapak tangannya

berkibar-kibar. Semuanya berkumpul di kiri dan kanan, dengan bergulung-gulung melanda

 

datang. Bahkan tubuh Yibun Siu San sendiri hampir tidak kelihatan karena tertutup

bayangan totokan dan telapak tangannya.

Hati Tan Ki jadi terkesiap bukan kepalang. Dia merasa serangan lawan yang gencar mengandung

kekuatan yang dahsyat. Seumur hidupnya hal ini justru merupakan peristiwa

yang paling menggetarkan yang pernah dijumpainya. Untuk sesaat mana berani dia

menyongsong ke depan serta menyambut serangan itu. Terpaksa tubuhnya mencelat

mundur ke belakang setelah menarik nafas dalam-dalam.

Apabila tokoh kelas tinggi bergebrak, kejadiannya hanya sekejapan mata saja. Tubuh

mereka bergerak maju dan tahu-tahu sudah mundur kembali. Yibun Siu San tidak menyianyiakan

kesempatan untuk mendesak terus. Tangan kiri melancarkan jurus Memetik

Teratai Emas, tangan kanan dalam waktu yang bersamaan mendorong ke depan,

sasarannya langsung ke dada Tan Ki. Baik gerakan jurus maupun tenaga dalamnya

mengandung kehebatan yang tidak terkirakan.

Satu jurus dua gerakan, dilancarkan hampir bersamaan waktunya, malah dalam saat

yang sama menggunakan dua arus tenaga dalam yang berlainan bobotnya. Tangan kiri

mengambil gaya memetik, tangan kanan menghantam sekuat tenaga. Gerakan kelas tinggi

yang jarang terlihat ini, membuat mata Tan Ki sampai berkunang-kunang kebingungan.

Terpaksa dia mencelat mundur kembali.

Semacam pikiran yang buruk segera terlintas di benaknya di saat kakinya mencelat

mundur ke belakang. Dia sudah tahu, orang yang mengaku sebagai paman ketiganya

memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Niat untuk membalaskan

dendam bagi kekasihnya, mungkin hanya impian kosong saja.

Tanpa dapat ditahan lagi, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa sumbang. Suara

tawanya melengking tinggi dan mengandung kepiluan yang tidak terkatakan. Dapat

dibayangkan penderitaan yang dialaminya saat itu.

Seseorang bila sudah mencapai rasa putus asanya, pasti akan membayangkan banyak

hal. Oleh karena itu, berbagai pikiran berkecamuk dalam hati Tan Ki saat itu. Setiap

kenangan bagai ombak yang bergulung menerpa benaknya yang mulai rapuh.

Di dalam kitab yang kutemukan terdapat ilmu Te Sa Jit-sut yang hebat sekali. Meskipun

di dalam Pek Hun Ceng, ketika bertempur melawan tiga puluh enam jendral langit, aku

sempat mengingatnya di saat terdesak. Tetapi sekarang aku malah melupakannya

kembali. Kalau tidak, meskipun Yibun Siu San ini mempunyai ilmu yang lebih hebat dan

keji, kemungkinan aku masih sanggup mengadu nyawa dengannya!

Dengan membawa pikiran seperti itu, penyesalan di dalam hatinya semakin bertambah.

Dia juga terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri yang dianggapnya bodoh.

Tiba-tiba… terdengar suara tawa yang memekakkan telinga, bayangan manusia

berkelebat dan tahu-tahu di depan Tan Ki sudah bertambah satu orang.

Ilmu silat orang ini hebatnya bukan main. Kedatangannya begitu cepat. Benar-benar di

luar dugaan sehingga Tan Ki terkejut setengah mati.

 

Begitu matanya memandang, dia melihat orang itu mengenakan pakaian yang penuh

tambalan. Kakinya beralas sepatu rumput, dia adalah salah satu dari dua tokoh sakti di

dunia Kangouw saat itu yakni Po Siu Cu Cian Cong atau disebut juga si pengemis sakti.

Sesudah terkejut, Tan Ki malah jadi termangu-mangu. Dia tidak mengerti mengapa

Cian Cong bisa muncul di saat yang demikian tepat?

Terdengar orangtua itu tertawa terbahak-bahak.

“Yibun Loji, harap berhenti sebentar. Bagaimana kalau menjual sedikit muka kepada si

pengemis tua?” lengan kanannya terulur dan langsung menyambut ke atas. Dalam waktu

yang bersamaan dengan kata-kata yang diucapkannya, jurus serangan Yibun Siu San

sudah berhasil dipecahkannya dengan mudah.

Yibun Siu San paling suka kebersihan. Tampaknya dia tidak mau menyentuh tubuh Cian

Cong yang hitam dan dekil. Baru saja kakinya menginjak tanah, dia cepat-cepat mencelat

mundur ke belakang. Bibirnya tersenyum.

“Untuk apa kau datang ke mari?”

“Si pengemis tua belum juga mengajukan pertanyaan, kau malah yang bertanya

duluan. Lihat saja dirimu, sudah hidup sampai setua ini, masih mencari urusan dengan

bocah cilik seperti ini. Malah main tinju dan tendangan segala macam.”

Yibun Siu San melirik Tan Ki sekilas.

“Kau kenal dengannya?”

“Pernah bertemu beberapa kali.”

Sembari berkata, mata Cian Cong menatap Tan Ki. Sinarnya memancarkan kasih

Yibun Siu San merenung sejenak. Di dalam hatinya seolah terdapat ganjalan. Setelah

be-berapa saat, dia mendekati telinga si pengemis sakti dan membisikkan beberapa patah

kata. Tampak Cian Cong berdehem dua kali sambil menganggukkan kepalanya, seakan

menyetujui apa yang dikatakan Yibun Siu San.

Melihat keadaan itu, Tan Ki semakin terpana. Diam-diam dia berpikir: Rupanya mereka

sahabat karib…

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, Cian Cong membalikkan tubuhnya dan berkata

kepada Tan Ki.

“Ikut si pengemis tua keluar, kita bicara di sana!”

Tanpa memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menolak, dia segera mengulurkan

tangannya dan menarik tangan kanan Tan Ki lalu mengajaknya berlari keluar.

Tan Ki tampak gugup sekali.

 

“Locianpwe, tunggu sebentar. Orang ini sudah mencelakai Liu Kouwnio, mana boleh

kita lepaskan dia begitu saja, aku…!” kata-kata selanjutnya belum lagi sempat diteruskan.

Cian Cong malah menambah tenaga tarikannya sehingga langkah kaki Tan Ki terseret.

Biarpun dia berusaha melepaskan diri, ternyata tidak bergeming sedikitpun.

Kedua orang itu meninggalkan rumah peristirahatan Yibun Siu San. Langkah kaki

mereka tidak berhenti, terus menerjang ke arah barat. Dalam waktu yang singkat mereka

sudah berlari kurang lebih tiga li.

Dari depan terasa angin berhembus, suara desirannya mendengung-dengung di telinga.

Setelah berlari beberapa saat, kobaran api di dalam dada Tan Ki hampir surut

setengahnya. Tetapi dia tetap membisu, dibiarkannya Cian Cong menarik tangannya

sambil berlari.

Kurang lebih sepeminum teh lagi, tiba-tiba Cian Cong menghentikan langkah kakinya.

Cara berlari seperti orang yang dikejar setan tadipun terhenti sampai di situ. Dia

membalikkan tubuhnya sambil tertawa.

“Tidak usah lari lagi. Kita bicara di tempat ini saja.”

“Apa yang akan kita bicarakan?”

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Masalah yang akan dibicarakan, rasanya tidak kalah dengan bintang-bintang yang bertaburan

di langit. Dalam sehari semalam saja belum tentu dapat selesai…” dia merandek

Dengan sengaja dia merenung beberapa saat, kemudian baru melanjutkan kembali. “Si

pengemis tua berdiam cukup lama di dalam hutan Pek Hun Ceng. Dengan kesal akhirnya

aku pergi, tetapi aku tahu Liu Seng membawa beberapa rekannya datang dari ribuan li

untuk menolong putrinya. Tentu saja mereka bukan tandingan si iblis tua itu. Itulah

sebabnya si pengemis tua cepat-cepat datang ke sini dan mengundang sahabat baik Yibun

Loji ini agar menuju Pek Hun Ceng membantu para pendekar meloloskan diri dari maut…”

Tan Ki terkejut mendengarnya, dia segera menukas.

“Orang yang dapat menjadi sahabat baik Locianpwe pasti seorang pendekar yang

gagah serta tidak mengejar nama besar. Kalau Yibun Siu San merupakan sahabat lama

Locianpwe, mengapa dia bisa membunuh seorang gadis yang tidak berdosa?” selesai

berkata, tampaknya hati anak muda itu masih mendongkol, dia segera mengeluarkan

suara dengusan dingin dari hidungnya.

“Tidak mungkin. Yibun Loji seorang manusia yang berbudi luhur. Dia tidak akan melukai

orang sembarangan. Perbuatannya ini pasti mengandung maksud tertentu. Apa alasannya,

setelah senja nanti, pasti akan diketahui. Buat apa kau panik tidak karuan?” Tan Ki malah

semakin panik. “Locianpwe jangan sampai dikelabui olehnya. Cara turun tangan maupun

jurus yang dilancarkan Yibun Siu San selalu mengandung kekejian. Kalau Boanpwe tidak

menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, tentu tidak percaya dia dapat dalam

melakukan hal itu. Lagipula dia sudah menotok tujuh jalan darah Liu Kouwnio yang

mematikan, mana mungkin dia mengandung maksud lainnya?” Cian Cong tersenyum

 

simpul. “Si pengemis tua sudah mengatakan bahwa dia tidak berniat mencelakakan orang,

kalau kau masih tidak percaya juga, apa boleh buat?” tiba-tiba sepasang alisnya berjungkit

ke atas. Dia segera mengalihkan pokok pembicaraannya. “Ada orang yang datang.”

sepasang lengannya terentang, tubuhnya bagai burung yang terbang melesat ke dalam

hutan. Kemu-dian dia mencelat ke atas dan bersembunyi di balik dedaunan pohon Siong

yang rimbun.

Kemudian, terlihat sesosok bayangan berkelebat. Tahu-tahu Tan Ki sudah sampai di

sam-pingnya, Cian Cong melihat gerakannya yang mencelat ke atas dan melayang turun di

sampingnya dilakukannya dengan indah, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya tersenyum

“Meskipun ilmu ginkangmu cukup baik, tetapi tampaknya kau tidak pernah mempelajari

ilmu lwekang. Tenaga dalammu belum dapat dikendalikan. Dengan demikian, ilmumu

belum cukup tinggi untuk malang melintang di dunia Kangouw. Apalagi mencapai

kedudukan…”

Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba berkelabat dalam benaknya. Dia segera

menghentikan kata-katanya di tengah jalan.

Tan Ki menyibakkan dedaunan yang menghalangi pemandangan. Kepalanya melongok

ke depan. Dia melihat rombongan orang berjumlah kurang lebih belasan melangkah

dengan cepat. Ketika Cian Cong menghentikan kata-katanya, mereka sudah sampai di

bawah pohon di mana Cian Cong dan Tan Ki bersembunyi.

Diam-diam hatinya jadi terperanjat. Dia tidak mengerti Kiau Hun memimpin Liu Seng,

Kok Hua-hong, Yi Siu, Cu Mei beserta yang lainnya ke tempat ini dengan tujuan apa. Yang

aneh, Ciu Cang Po juga termasuk di antara rombongan itu. Tampaknya kesadaran nenek

itu belum pulih. Wajahnya masih kaku dan datar. Sepasang matanya menerawang, bahkan

dengan dibimbing oleh dua orang di kiri kanannya, dia baru dapat melangkah.

Rupanya Yibun Siu San telah berhasil menolong para pendekar dan membantu mereka

keluar dari Pek Hun Ceng. Sesampai di jembatan perbatasan, mereka melihat Ciu Cang Po

yang terduduk di atas papan jembatan dan segera memberi pertolongan kepadanya. Saat

itu kesadaran Ciu Cang Po memang sudah hilang, apalagi dia dalam keadaan terluka

akibat serangan Kiau Hun. Begitu ada orang yang mengajaknya pergi, dia pun tidak

Kalau tidak karena kebetulan muncul Lok Hong yang lalu berselisihan dengan Oey Ku

Kiong, sampai anak muda itu kalah dan akhirnya mereka pergi bersama. Dengan adanya

anak muda itu, kemungkinan para pendekar akan mendapat kesulitan lagi sebelum

meninggalkan Pek Hun Ceng. Paling tidak akan terjadi pertarungan sengit yang memakan

waktu cukup panjang.

Tak berapa jauh mereka meninggalkan Pek

Hun Ceng, orang yang pingsan mulai sadar. Yang terluka pun sudah mulai bisa jalan

sendiri. Hanya tinggal Ciu Cang Po yang lukanya agak parah dan kesadarannya masih

hilang sampai memerlukan bimbingan orang lain.

Tampaknya Kiau Hun memang berniat mengambil hati para pendekar dan mencari

muka. Dia segera mengeluarkan berbagai macam obat yang mujarab dan membagikannya

 

kepada para pendekar. Tetapi terhadap luka yang dialami oleh Ciu Cang Po, dia tidak

melirik sekilaspun. Karena dulu ia diusir dari pintu perguruan, rasa bencinya kepada nenek

itu masih meluap-luap. Meskipun ada di antara para pendekar yang mengetahui urusan

ini, mereka hanya berpikir bahwa itu merupakan masalah pribadi mereka antara guru dan

murid. Lebih baik jangan turut campur. Oleh karena itu tidak ada seorangpun yang banyak

Setelah mengalami pertarungan yang hampir menentukan hidup mati, baru berjalan

sampai di sini, mereka sudah kelelahan setengah mati. Ada yang menyandarkan diri pada

batang pohon, ada yang langsung duduk di atas rerumputan, sebagian besar

memejamkan matanya untuk beristirahat.

Namun di wajah mereka masih tersirat sisa kecekaman dan ketakutan akan peristiwa

hebat yang baru mereka lalui. Entah orang yang mana, tiba-tiba menarik nafas panjang

dan berkata, “Kali ini kepergian kita ke Pek Hun Ceng untuk menolong orang. Tidak

tahunya nyawa sendiri hampir melayang dan untung saja masih sempat keluar dalam

keadaan hidup.”

“Si raja iblis Oey Kang itu ternyata benar-benar lihai…” tukas yang lainnya.

Kiau Hun tertawa datar.

“Biar bagaimana hebatnya, tetap saja tidak dapat mengalahkan orang banyak.

Meskipun Oey Kang sangat lihai, tetapi bagaimanapun ia tidak dapat mengalahkan kita

yang jumlahnya lebih banyak.” katanya.

Mendengar ucapannya, sebagian pendekar itu tidak mengerti apa yang dimaksudkan,

merekapun jadi termangu-mangu. Terdengar salah satu dari Ciong San Suang-siu, yakni si

tinggi Yi Siu berdehem satu kali.

“Apa maksud ucapan Kouwnio ini?”

Meskipun dia tahu Kiau Hun tadinya hanya seorang pelayan dalam keluarga Liu, tetapi

karena ilmu silatnya tinggi, apalagi ia sudah menanam budi kepada para pendekar, maka

panggilannya pun jadi menaruh rasa hormat.

Kiau Hun mengangkat lengannya dan perlahan-lahan merapikan rambutnya yang acakacakan.

Gayanya sungguh memikat. Sebagian pendekar langsung memalingkan wajahnya.

Hati mereka agak tergetar. Hanya telinga mereka yang mendengar suara gadis itu yang

merdu sekali.

“Meskipun ilmu silat serta tenaga dalam si raja iblis Oey Kang sudah mencapai taraf tertinggi,

mampukah dia mengalahkan para pendekar di seluruh Bulim yang menggabungkan

diri menghadapinya?”

Yi Siu mengeluarkan suara terkejut. Pikirannya jadi tersentak.

“Maksud Kouwnio, para pendekar di seluruh Bulim harus bergabung di bawah pimpinan

seorang dan mencari jalan untuk menghadapi Oey Kang?”

“Tidak salah.” sahut Kiau Hun.

 

Yi Siu merenung sejenak.

“Kata-kata ini memang beralasan, tetapi…” dia merasa mengumpulkan para pendekar

di seluruh Bulim dan memilih seorang Bengcu memang mudah mengatakannya, tetapi

pelaksanaannya justru sulit sekali. Oleh karena itu, dia langsung menundukkan kepala

merenung, kata-katanya tidak dapat diteruskan lagi.

Tiba-tiba terdengar Liu Seng tertawa panjang sambil bangkit berdiri.

“Urusan ini serahkan saja kepada Hengte. Dalam waktu setengah bulan, para sahabat

yang tersebar di sekitar sungai telaga utara maupun selatan, pasti sudah berkumpul untuk

menghadapi si raja iblis Oey Kang.”

Mendengar kata-katanya, tubuh Yi Siu malah jadi gemetar!

Dia tahu, sejak putrinya diculik, Liu Seng sudah mengumpulkan beberapa sahabat

untuk menempuh bahaya menyelinap ke dalam Pek Hun Ceng. Kebenciannya terhadap

Oey Kang sudah merasuk ke dalam tulang sumsum. Maka dari itu, tanpa berpikir panjang

lagi dia langsung menawarkan diri menjalankan tugas yang berat ini.

Tetapi, hati Yi Siu menjadi semakin khawatir. Mungkinkah pemilihan Bengcu kali ini

merupakan permulaan munculnya badai di dunia Kangouw seperti yang dikatakan oleh

Yibun Siu San?

Kembali hatinya tergetar. Berbagai macam pikiran yang menggelayut di dadanya

membuat perasaan orang ini bertambah kalut. Sebetulnya, orang lain yang ada di sana

juga mempunyai tekanan dalam hati mereka masing-masing. Memilih Bengcu harus orang

yang sudah mempunyai nama serta kewibawaan yang besar. Memangnya hal itu semudah

diucapkan? Tetapi, tampaknya untuk menghadapi Oey Kang, memang hanya ini satusatunya

jalan yang dapat dipilih.

Tambah lagi di hadapan mereka sekarang masih ada lagi seorang Cian bin mo-ong

yang mengacaukan dunia Bulim dengan serentetan pembunuhan? Kalau dunia Kangouw

ingin menikmati kembali hari-hari yang tenang, memang ini juga jalan satu-satunya yang

Dalam waktu yang bersamaan, para pendekar mempunyai pemikiran yang tidak

berbeda. Hati mereka bagai terhimpit beban yang berat. Tidak ada satupun yang

bersemangat untuk membuka mulut. Masing-masing memikirkan persoalan yang

menggelayuti hati mereka.

Untuk sesaat, suasana terasa semakin mencekam. Keheningan semakin merayap!

Tidak lama kemudian, entah siapa yang mengajak terlebih dahulu. Satu persatu mulai

menggerakkan langkahnya dan berlari ke arah gedung keluarga Liu.

Angin bertiup sepoi-sepoi, seolah menarik nafas panjang demi gejolak yang akan

melanda dunia Kangouw dalam waktu yang dekat…

Tiba-tiba terdengar suara kibaran baju, tahu-tahu di tempat Kiau Hun berdiri sudah

melayang turun dua sosok manusia. Mereka tentu saja Tan Ki serta si pengemis sakti Cian

Cong. Tampak wajah orangtua itu berubah menjadi kelam. Seakan ada persoalan berat

 

yang memenuhi pikirannya. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Matanya dengan

termangu-mangu menerawang di kejauhan.

Melihat tampangnya, Tan Ki sampai tertegun. Kemudian dia bertanya dengan suara

“Apa yang Locianpwe pikirkan?”

“Apakah kau sudah mendengar dengan jelas kata-kata yang mereka ucapkan tadi?”

Tan Ki menganggukkan kepalanya.

“Memangnya ada hubungan apa dengan diri Locianpwe sehingga kau orangtua jadi

kebi-ngungan serta gelisah seperti ini. Dalam dunia Bulim, keadilan dikesampingkan dan

muncul yang sesat sehingga terjadi badai gelombang adalah hal yang sering didengar

maupun ditemui…”

Cian Cong menarik nafas panjang.

“Betul. Bila perbuatan seseorang sudah keterlaluan, tentu mendapat hambatan dari

para pendekar di seluruh Bulim. Hal ini sama sekali tidak aneh. Tetapi apabila

mengumpulkan seluruh sahabat yang tersebar di seluruh dunia, ini bukan hal yang mainmain

lagi. Perlu diketahui, seorang yang selalu memandang diri sendiri sangat terkenal,

pasti merasa harga dirinya tinggi sekali. Dalam pandangannya tidak ada orang lain,

sementara itu orang yang ilmu silatnya masih tanggung-tanggung, jumlahnya bagai pasir

di dalam sungai. Dihitung pun susah. Coba bayangkan. Dalam sebuah pertemuan besar

berkumpul begitu banyak orang dari segala penjuru, mungkinkah dapat dipastikan bahwa

mereka semua akan mendengar perintah Liu Seng?”

Hati Tan Ki jadi tercekat. Diam-diam dia mulai sadar gawatnya masalah yang

dibicarakan tadi.

“Benar juga. Kalau diantara mereka ada satu dua orang saja yang merasa dirinya paling

hebat, tentu dia tak akan sudi menerima perintah orang lain. Pada saat itu keadaan pasti

jadi kacau, malah kemungkinan bisa terjadi pertumpahan darah. Bukannya pertemuan,

malah mengundang kesulitan yang tidak kecil.”

Cian Cong menghembuskan nafas yang panjang agar beban hatinya agak berkurang.

“Si pengemis tua lihat, untuk urusan ini pasti akan dipilih seorang Bulim Bengcu yang

dapat memimpin gerakan ini. Tetapi belum terpilih Bulim Bengcunya, mungkin sudah

banyak orang yang jatuh jadi korban.”

“Bukan hal yang tidak mungkin. Apabila jatuh korban beberapa orang tetapi bisa menghentikan

kekacauan yang terjadi diantara para pendekar, boleh dihitung suatu

keberuntungan juga.” sahut Tan Ki dengan penuh perhatian.

Perlahan-lahan Cian Cong mendongakkan wajahnya. Dipandangnya langit biru lekatlekat.

“Kalau menurut pandanganmu, siapa kiranya yang cocok untuk menjadi Bulim Bengcu

yang bakal memimpin seluruh pendekar ini?” hatinya saat ini sedang memikirkan masalah

 

yang besar sekali. Berbagai pikiran terus melintas di benaknya. Meskipun sedang

berbicara, tetapi dia tidak, melirik Tan Ki sekilaspun. Matanya yang bersinar tajam bagai

mata harimau kadangkala menyiratkan cahaya kebimbangan.

Tan Ki maklum sekali bahwa orangtua ini mempunyai jiwa yang terbuka. Orangnya

ramah dan sering tersenyum. Hatinya juga mulia sekali. Apabila bukan urusan yang maha

besar yang tidak dapat dipecahkannya, dia tidak akan memperlihatkan mimik wajah

seperti itu. Oleh karena itu dia berdiri di samping dan tidak berani mengeluarkan suara

sedikit-pun yang dapat menganggu pikiran orangtua itu.

Tiba-tiba terlihat Cian Cong menundukkan kepalanya sambil menarik nafas. Sepasang

ta-ngannya terlipat ke belakang kemudian berjalan mengelilingi tempat itu. Tan Ki melihat

orangtua itu memejamkan sepasang matanya.

Tetapi cara jalannya semakin lama semakin cepat. Dia mengitari padang rumput yang

kosong itu sebanyak dua lingkaran. Mendadak langkah kakinya terhenti. Matanya terbuka

dan ia tersenyum simpul. “Sudah ketemu.”

“Apanya yang sudah ketemu?” tanya Tan Ki tanpa dapat menahan rasa ingin tahu

dalam hatinya.

Karena berhasil memecahkan sebuah masalah yang besar, Cian Cong tampaknya girang

sekali. Tangannya terulur dan dilepaskannya hiolo yang terikat di pinggang, kemudian dia

meminum araknya beberapa tegukan. Wajahnya berseri-seri.

“Bocah cilik, ayo ikut aku!” dia segera membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah jalan

Hati Tan Ki terus menduga-duga, tetapi dia merasa tidak enak hati banyak bertanya.

Dengan menahan rasa ingin tahunya, dia langsung berlari di belakang orangtua tersebut.

Kedatangan maupun kepergian kedua orang itu selalu dilakukan dengan kecepatan

tinggi. Namun waktu yang diperlukan juga kurang lebih satu kentungan perjalanan.

Matahari sudah mulai bergeser. Tengah hari sudah berlalu.

Cian Cong menghentikan langkah kakinya. Tetapi dia tidak langsung masuk ke dalam

rumah. Dengan berdiri di luar dia berteriak dengan suara keras, “Tua bangka, sudah

selesai belum?”

Baru suaranya sirap, dari dalam rumah berjalan keluar Yibun Siu San sambil mendorong

pintu yang terbuat dari kayu. Langkahnya tergesa-gesa. Wajahnya masih ditutupi

kerudung hitam, sehingga tidak dapat terlihat bagaimana mimik perasaannya.

“Bagaimana?” tanya Cian Cong sekali lagi.

“Lumayan, kalau beristirahat beberapa hari lagi pasti akan pulih seperti sediakala.”

sahut Yibun Siu San sambil memperdengarkan suara tawa yang ringan.

“Sekarang kita tinggalkan kedua bocah ingusan ini biar membuka isi hati. Kau dan aku

sama-sama bujang lapuk, kita tidak perlu ikut campur urusan ini. Mari kita naik lagi ke

puncak bukit.” tangannya langsung mencekal pergelangan Yibun Siu San, mulutnya

 

kembali berkata, “Tua bangka, tadi kami menemui sua-tu masalah yang besar sekali. Nanti

kita rundingkan bagaimana menanggulanginya. Cepat jalan!”

Yibun Siu San tertawa terkekeh-kekeh.

“Kau sebagai kepala kaum pengemis, berjiwa gagah dan berhati mulia. Bumi dan

langitpun kau tidak takut. Kalau mampu membuat kepalamu pusing tujuh keliling, pasti

urusannya besar bukan kepalang. Buat apa kau cari aku untuk berunding?”

Sembari bercakap-cakap, kedua orang itu segera mengerahkan ginkangnya dan berlari

ke puncak bukit. Dalam waktu sekejapan mata saja, keduanya sudah menghilang di

Mendengar nada pembicaraan kedua orang itu, tampaknya mereka ingin merundingkan

masalah pemilihan Bulim Bengcu. Dia juga mendengar bahwa Mei Ling bukan saja tidak

mati, malah penyakitnya sudah disembuhkan oleh Yibun Siu San. Hatinya menjadi terkejut

sekaligus gembira.

Untuk sesaat, saking girangnya, dia jadi berdiri termangu-mangu. Kemudian seperti

orang yang baru tersentak dari lamunan dia menghambur ke dalam rumah peristirahatan.

Begitu matanya memandang, sekali lagi dia jadi terpana!

Dia melihat meja dan kursi serta tempat tidur masih tetap seperti semula ketika dia

meninggalkannya, tetapi di dalam ruangan itu tidak terdapat seorangpun. Ke mana

perginya Mei Ling?

Setelah tertegun beberapa saat, hatinya menjadi tercekat. Di benaknya melintas

berbagai bayangan buruk. Diam-diam tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya jadi

meremang!

Tanpa dapat ditahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya. ..

“Mei Ling! Mei Ling! Di mana engkau? Mei Ling!!!”

Setelah memanggil beberapa saat, tetap saja tidak terdengar jawaban. Hatinya semakin

terkejut juga takut. Pada saat itu juga, keringat dingin mengucur membasahi keningnya.

Hidungnya terasa…

Dia menjadi kalap, tubuhnya membalik dan menerjang keluar rumah. Perubahan yang

benar-benar di luar dugaan, membuat Tan Ki kehilangan akal sehat. Pikirannya tidak dapat

bekerja secara rasional. Dalam keadaan beban penderitaan yang mengganduli hati, dia

menerjang keluar seperti orang yang tiba-tiba tidak waras. Suara teriakannya sampai

berkumandang ke mana-mana…

“Mei Ling!!! Mei Ling!!!”

Tetap saja tidak ada jawaban dari seorangpun. Angin bertiup semilir, rerumputan

maupun dedaunan melambai-lambai. Seakan mewakili keresahan dalam hati anak muda

itu. Dia jadi bingung. Hatinya terasa hancur lebur. Dia merasa ada segulungan rasa pedih

yang meluap dalam dadanya. Tanpa dapat ditahan lagi dua baris air mata mengalir

dengan deras membasahi pipinya.

 

Dalam beberapa hari ini, ada beberapa perempuan yang mengisi kehidupannya, seperti

Liang Fu Yong, Kiau Hun, Lok Ing, tetapi yang dapat membuatnya gelisah serta rindu

bukan kepalang hanya Mei Ling seorang.

Dia menggertakkan giginya erat-erat. Dia mulai mencaci maki Yang Kuasa karena mempermainkan

nasib manusia. Siapa yang menculik kekasihnya?

Siapa?

Dia merasa kepedihan dalam hatinya tidak terkirakan lagi. Seakan ada sekumpulan bom

yang siap meledak setiap saat. Kalau tidak dilampiaskan, pikirannya pasti bisa jadi gila.

Oleh karena itu dia meraung sekeras-kerasnya

dan sepasang tangannya pun meluncur seketika.

Pukulan ini dilancarkan dalam keadaan gusar. Tenaga yang terkandung di dalamnya

hebat bukan main. Boleh dibilang dia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Timbul

suara menderu yang memecahkan keheningan. Malah lebih kuat satu kali lipat daripada di

saat dia bergebrak melawan musuh yang tangguh.

Terdengar suara yang memekakkan telinga. Dua batang pohon besar yang jaraknya

kurang lebih satu depaan tumbang dalam waktu yang hampir bersamaan, tanah yang

tenang tampak debu-debu beterbangan karena hempasan tenaga yang kuat itu.

Pandangan matapun menjadi samar-samar.

****

BAGIAN XXI

Agak lama kemudian, debu yang mengepul memenuhi udara mulai sirna sedikit demi

sedikit. Begitu mata Tan Ki mengedar, dia menjadi terbelalak dan terperanjat bukan

kepalang!

Tampak tubuh Mei Ling yang langsing berdiri tegak di samping pohon yang rubuh tadi.

Angin yang bertiup sepoi-sepoi mengibarkan pakaiannya. Debu masih beterbangan, tampangnya

memang masih agak lemah, tetapi tidak mengurangi kecantikannya yang

gemilang. Sepasang matanya yang sayu menyorotkan sinar terharu dan kesucian seorang

Begitu Tan Ki melihat dengan jelas, dia menjadi terperanjat sekaligus gembira. Keju-tan

yang tidak terduga-duga ini malah membuatnya jadi tertegun beberapa saat. Kemudian

dia tersadar kembali. “Mei Ling! Mei Ling!” teriaknya keras-keras.

Tiba-tiba, dia menghentikan langkah kakinya. Jaraknya dengan Mei Ling kurang lebih

dua mistar. Dia merasa ada ribuan kata-kata yang memenuhi hatinya dan ingin

dicetuskannya segera. Tetapi dia malah seperti orang terpana, tidak sepatah katapun

terucapkan olehnya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Untuk sesaat, dia hanya berdiri

memandangi Mei Ling dengan termangu-mangu. Wajahnya menyiratkan mimik seperti

orang yang serba salah.

 

Mei Ling sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan berbagai ucapan yang romantis

yang ingin dibicarakannya bersama Tan Ki. Tetapi melihat tampang anak muda itu yang

termangu-mangu memandanginya, dia benar-benar merasa di luar dugaan. Pada dasarnya

dia memang seorang gadis yang pemalu, tentu saja dia tidak berani membuka

pembicaraan terlebih dahulu. Dia takut harga dirinya sebagai seorang gadis malah jadi

jatuh akibatnya”.

Suasana menjadi hening seketika. Tetapi malah membuat orang menjadi tidak sabar

menghadapinya. Tidak ada yang membuka suara. Kedua muda mudi itu hanya berdiri

saling memandang untuk sekian lama. Dua pasang mata saling menatap, di dalamnya

terkandung isi hati masing-masing.

Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba…

Tan Ki mengangkat tangannya dan menepuk batok kepalanya sendiri. Mulutnya

mengeluarkan suara terkejut. “Mei Ling, apakah kedua pukulanku tadi sempat

melukaimu?”

Coba kalau pertanyaan ini diajukan lebih awal, di dalamnya pasti tersirat cinta kasih

serta perhatian yang dalam. Setelah lewat beberapa saat baru dicetuskan, bukannya tidak

bermanfaat, setidaknya dapat memecahkan keheningan yang mencekam.

Mei Ling menggigit-gigit bibirnya sendiri. Kemudian terdengarlah suaranya yang merdu

dan polos.

“Tidak. Tadinya aku memang berdiri di belakang pohon itu, tapi karena tumbangnya ke

samping, akupun tidak mendapat luka apa-apa.”

Tan Ki menghembuskan nafas lega. kekhawatirannya menjadi hilang. Rupanya setelah

Yibun Siu San pergi, dia memutar dari belakang ke arah depan. Malah Tan Ki mencarinya

sampai kalang kabut.

Anak muda itu tersenyum lembut, dengan penuh perhatian dia bertanya, “Apakah

penyakitmu sudah sembuh?”

“Penyakit apa?” mendengar pertanyaannya, Mei Ling jadi bingung. Untuk sesaat dia

lupa keadaannya sendiri selama beberapa hari ini.

“Setelah kau diculik oleh Oey Kang, dia mencekokimu dengan semacam racun, yakni Li

Hun Tan. Kesadaranmu jadi hilang. Apakah kau sendiri tidak mengetahuinya?”

Mulut Mei Ling mengeluarkan seruan terkejut.

“Rupanya begitu kejadiannya. Setelah aku disuruh meminum sejenis ramuan oleh si

raja iblis Oey Kang, rasanya aku langsung tertidur dan tidak tahu apa-apa lagi. Tetapi

seperti juga orang yang sedang bermimpi, semuanya menjadi samar-samar dan hanya

berbentuk bayangan. Aku tidak tahu bagaimana aku melewati hari. Pokoknya ada orang

yang memerintahkan aku berbuat begini, begitu, aku hanya menurut saja. Meskipun ada

terselip keinginan untuk menolak, tetapi tidak sedikit pun aku memiliki kesanggupan.

Kalau bukan Yibun Lopek yang menceritakan apa yang kualami, aku sendiri tidak tahu

kalau kesadaranku sudah hilang, bahkan tidak dapat mengenali orangtua maupun sanak

 

kenalan sendiri…” berkata sampai bagian yang sedih, tanpa dapat ditahan lagi airmatanya

mengalir dengan deras.

“Jangan bersedih hati. Pokoknya sekarang penyakit jahat itu sudah hilang, kau

seharusnya merasa gembira.” hibur Tan Ki.

Perlahan-lahan Mei Ling mengusap air matanya.

“Aku tahu kau sangat memperhatikan aku, malah kau yang menolong aku keluar dari

Pek Hun Ceng…”

“Jangan ungkit lagi masalah itu. Aku telah menerima budi pertolongan Nona sebanyak

dua kali. Sampai sekarang aku masih belum membalas semuanya. Kalau Nona masih

mengatakan terus, malah membuat aku merasa malu.”

“Dalam hal ini bukan masalah budi pertolongan saja, tetapi masih terselip sesuatu hal

lainnya.”

“Hal apa?”

“Cinta!”

Begitu kata-kata ini terucapkan, Mei Ling seolah telah menggunakan segenap

keberanian hatinya. Setelah tercetus keluar, dia malah merasa pipinya menjadi panas.

Hatinya malu sekali. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap

Tan Ki.

Mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut bukan kepalang. Dia merasa di luar dugaan

bahwa gadis itu berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Setelah tertegun beberapa saat

ke-sadarannya baru pulih kembali.

“Mengapa kau bisa berkata demikian?” tanyanya lirih.

“Yibun Lopek yang mengatakan kepadaku, kau sangat mencintai aku bukan?”

Tentu saja Tan Ki tidak berani menjawab sepatah katapun. Pada saat itu juga, dia

mendadak merasa Mei Ling seperti berubah menjadi orang lain. Sikapnya yang terlalu

kolot, serta sifat kekanak-kanakannya sudah lenyap. Dia malah berubah menjadi dewasa

dan terbuka. Setiap kata-kata yang diucapkannya, tampaknya wajar dan tidak dibuat-buat.

Karena tidak mendapat jawaban, hati Mei Ling malah menjadi panik.

“Katakanlah, pertama-tama ketika kau bertemu dengan Yibun Lopek, bukankah kau

sedang menangisi aku? Malah kau mengucapkan ‘Aku cinta padamu…”, bukankah benar?”

Di desak sedemikian rupa, hati Tan Ki menjadi kelabakan. Tetapi karena pada dasarnya

dia memang mencintai Mei Ling, terpaksa dia mengaku terus terang. Setelah

mengumpulkan keberaniannya, akhirnya dia menyahut dengan tersendat-sendat.

“Kata-kata…! Itu… me… mang aku mengucapkan… nya.”

Dengan perasaan puas Mei Ling mengembangkan seulas senyuman yang manis.

 

“Sebetulnya, ketika Yibun Lopek menceritakan hal ini kepadaku, aku masih tidak

percaya. Ketika kau datang bersama Cian Locianpwe, aku bermaksud menguji dirimu.

Ternyata memang tidak salah dugaan Yibun Lopek, apabila kau tidak berhasil menemukan

diriku, kau pasti akan menerjang keluar dengan kalap. Malah dua batang pohon yang tidak

bersalah apa-apa jadi sasaran kekesalan hatimu.”

Tan Ki terperanjat mendengarnya.

“Rupanya kau sengaja menyembunyikan diri. Apakah Yibun Locianpwe juga yang

menyuruhmu berbuat demikian?”

Mei Ling menganggukkan kepalanya, “Betul, dia malah mengatakan… malah

mengatakan…”

Tiba-tiba dia merasa kata-kata yang diba-wahnya tidak pantas diutarakan. Karena

membuat dirinya menjadi malu. Oleh karena itu, setelah bimbang sekian lama, dia masih

belum sanggup melanjutkan kata-katanya.

Tan Ki menjadi panik.

“Apa yang dikatakan lagi oleh Yibun Locianpwe?”

“Dia mengatakan…”

“Cepatlah katakan. Aih… aku jadi bingung setengah mati.”

Wajah Mei Ling jadi merah padam. Dengan terpaksa dan tersipu-sipu akhirnya dia

mengatakan juga…

“Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi comblang kita.”

Mendengar keterangannya, hati Tan Ki langsung terlonjak. Dia terkejut juga gembira.

Semacam gerakan refleksi yang tidak di duga-duga membuatnya langsung menubruk ke

arah gadis itu dan memeluknya erat-erat.

“Benar?”

Dengan tersipu-sipu, Mei Ling memejamkan matanya. Dia membiarkan Tan Ki memeluknya.

Dia membiarkan sepasang lengan Tan Ki yang kokoh merangkul pinggangnya yang

kecil…

Tiba-tiba, di dalam hatinya ada semacam rahasia besar yang tidak berani diutarakannya!

Dia merasa takut!

Seandainya dia berterus terang kepada Tan Ki, dia khawatir anak muda itu akan

memalingkan wajahnya segera dan pergi meninggalkan dirinya.

 

Sebetulnya, Mei Ling sendiri tidak berharap untuk jatuh cinta kepada laki-laki manapun,

karena dirinya mempunyai suatu penyakit. Apabila dia menikah dengan laki-laki manapun,

dia tidak sanggup memberi kebahagiaan kepada lawan jenisnya.

Dia tidak takut Tan Ki membencinya. Sebaliknya, apabila Tan Ki tidak mencintainya, dia

malah lebih senang. Dia takut Tan Ki akan mencintainya semakin dalam sehingga tidak

dapat melepaskan diri darinya lagi. Tentu dia akan membuat hidup anak muda itu menjadi

sengsara selamanya…

Tetapi meskipun dia sudah berusaha mengendalikan perasaannya sendiri, malah dia

menjadi terharu melihat kesetiaan Tan Ki. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, begitu

tidak menemukannya, anak muda itu menjadi kalap seperti orang gila. Bahkan dia

melancar-kan pukulan untuk melampiaskan hawa amarah dalam dadanya dengan

menumbangkan dua batang pohon. Apalagi Tan Ki merupakan pemuda pertama yang

pernah ditemuinya seumur hidup. Sedangkan Tan Ki demikian tampan, baik hati serta

penuh perhatian. Bagaimana dia tidak tertarik dengan pemuda seperti ini?

Oleh karena itu, dia juga tidak sampai hati menolak pelukan Tan Ki. Malah dirinya

sendiri ikut terbuai oleh kesetiaan anak muda itu. Tubuh kedua orang itu saling

berangkulan. Otomatis kulitpun saling bersentuhan. Di dalam tubuh mereka bagai ada

aliran listrik yang sedang mengalir. Kira-kira sepeminum teh kemudian, perlahan-lahan Mei

Ling membuka matanya. Wajahnya masih tersipu-sipu.

“Ki Koko, urusan kita, meskipun keputusan kita pribadi, tetapi bagaimanapun harus

melewati ijin orangtua, baru terhitung sah. Sebelum Yibun Lopek menyatakan lamaran

kepada ayahku, aku tidak mengijinkan kau menyatakan perasaanmu secara menyolok di

depan umum. Kalau kau merasa rindu kepadaku, boleh mengajak aku keluar ketika tidak

ada siapa-siapa.”

Tan Ki tertawa getir. Dengan gaya pasrah sepasang bahunya terangkat ke atas.

“Kalau pandanganmu masih demikian kolot, aku juga tidak berani mengatakan apa-apa

lagi.”

“Aku hanya terharu karena cintamu yang tulus. Kalau kau tidak bersedia mengabulkan

permintaanku,sudahlah.”

Tan Ki jadi terkejut setengah mati.

“Tidak, tidak. Aku tidak mempunyai maksud demikian. Tetapi kalau kau yang merasa

rindu padaku, bagaimana?”

“Aku sendiri bisa mengendalikan perasaan dalam hatiku.” Mei Ling tersenyum simpul.

Dia melanjutkan lagi kata-katanya. “Kalian para lelaki lebih banyak diatur oleh emosi.

Sedikit-sedikit tidak bisa menahan diri dan…”

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, wajahnya jadi berubah merah padam.

Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya

dan berlari ke dalam rumah peristirahatan.

 

Tan Ki memandangi bayangan punggungnya yang indah, diam-diam dia menarik nafas

panjang, bibirnya tersenyum simpul. Akhirnya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan,

asal Yibun Siu San bersedia mewakilinya melamar gadis itu, urusan kan pasti beres.

Justru tidak lama setelah Mei Ling baru memasuki rumah peristirahatan, dia merasa di

belakang punggungnya ada angin yang berhembus, disusul dengan suara kibaran lengan

baju. Hatinya tercekat seketika, tangannya mendorong ke belakang dan tubuhnya pun

segera melesat ke depan kira-kira dua depa, setelah itu dia baru berani memalingkan

Begitu mata memandang, dia melihat Yibun Siu San dan Cian Cong berdiri berdampingan

sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tampaknya ketika naik ke atas puncak bukit, mereka sudah merundingkan banyak hal.

Malah ada bagian yang menyangkut diri Tan Ki. Itulah sebabnya mereka tergesa-gesa

kembali lagi ke bawah.

Kedua orang itu saling lirik sekilas, mula-mula Cian Cong si pengemis sakti yang

membuka suara.

“Kami sudah merundingkan suatu hal, yang mana kau yang harus melaksanakannya.”

Tan Ki menarik nafas panjang.

“Boanpwe sudah berkali-kali menerima budi pertolongan dari Locianpwe. Masalah sebesar

apapun, asal ada kesanggupan, pasti Boanpwe akan memberi balasan yang

memuaskan hati Locianpwe.”

“Bagus sekali kalau begitu. Kami berdua telah meneliti cukup lama. Akhirnya kami

mengambil keputusan bahwa pertemuan besar para enghiong kali ini, hanya kau seorang

yang pantas memanggul beban seberat ini. Apalagi kau merupakah keponakan tunggal

Yibun Loji, dia bersedia membantumu melenyapkan segala kesulitan dan mengangkat

namamu menjadi terkenal.”

Mendengar keterangan yang tidak diduga-duga ini, Tan Ki terkejut setengah mati. Dia

tidak pernah membayangkan bahwa hasil rundingan kedua orang itu adalah memilih

dirinya menjadi Bulim Bengcu, Setelah rasa terkejutnya agak reda, dia segera

menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak mungkin, ilmu silat Boanpwe masih belum cukup tinggi. Lagipula seorang Bulim

Bengcu harus berhati mulia dan memikirkan kepentingan umum daripada kepentingan

pribadi. Dan bukan atas kehendak Locianpwe berdua saja. Kedudukan Bulim Bengcu selalu

melalui pertandingan ilmu silat dan penilaian orang banyak. Kemampuan Boanpwe masih

jauh dari cukup. Tidak mungkin menerima perintah ini.”

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Urusan yang telah dipertimbangkan matang-matang oleh si pengemis tua, selamanya

tidak pernah salah. Tetapi juga paling tidak suka memaksakan kehendaknya kepada orang

lain. Kalau kau tidak menerimanya juga tidak apa-apa. Marilah, tua bangka.”

 

Dia langsung menarik lengan Yibun Siu San serta membalikkan tubuhnya pergi dari

tempat itu.

Dengan perasaan menyayangkan, Yibun Siu San menatap Tan Ki sekilas. Seperti sengaja

tapi juga tidak, dia menarik nafas panjang.

“Kau tidak menerima urusan ini, masalah pernikahan dengan Liu Kouwnio juga tidak

usah diungkit lagi. Si Bu Ti Sin-kiam Liu Seng itu merupakan seorang tokoh yang sudah

pu-nya nama besar di dunia Kangouw, pergaulannya luas sekali. Sedangkan kau hanya

seorang bocah tanpa nama, siapa yang sudi menyerahkan anak gadis kesayangannya

begitu mudah kepadamu? Kalau kau tidak mencari sedikit nama di luaran, pasti sulit

mendapat…”

Kata-katanya belum selesai, kedua orang itu sudah berlari belasan depa. Sedikit lagi

mereka akan sampai di ujung bukit dan menghilang di sana.

Hati Tan Ki menjadi panik. Dia merasa kata-kata paman ketiganya itu sama sekali tidak

salah. Setelah tersentak, dia segera berteriak sekeras-kerasnya, “Liongwi tunggu dulu

sebentar, Boanpwe menerima…”

Baru mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba dia merasa serangkum angin menerpa

ke arahnya. Tahu-tahu Cian Cong dan Yibun Siu San sudah berdiri lagi dengan berdampingan

sambil tersenyum simpul tanpa mengucapkan apa-apa.

Rupanya mulut mereka memang mengatakan akan terus pergi, tetapi langkah kakinya

seperti berat sekali karena memang sengaja mengulur waktu. Ketika Tan Ki membuka

mulut menyatakan kesediaannya, dengan gerakan secepat kilat mereka kembali lagi. Pergi

dan datang hanya menghabiskan waktu sekejap saja.

Tan Ki langsung mengetuk kepalanya sendiri.

“Rupanya kalian memang memaksa aku menerima urusan ini!”

Cian Gong tertawa terbahak-bahak.

“Kalau jurus ini masih tidak mempan, si pengemis tua terpaksa memutar otak mencari

akal yang lain. Tetapi si pengemis tua yakin, demi pernikahan dengan Liu Kouwnio,

meskipun urusan yang lebih sulit lagi, kau tetap akan menerimanya.”

Dia menolehkan kepalanya dan mengedipkan mata kepada Yibun Siu San. Kedua orang

itu pun langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ilmu silat Boanpwe masih cetek. Belum tentu bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu.

Apakah Locianpwe berdua mempunyai keyakinan?”

Cian Cong mengidapkan tangannya. Bibirnya tersenyum simpul.

“Liu Loji menyatakan akan mengumpulkan para jago dari seluruh dunia dalam setengah

bulan ini. Dengan mempergunakan waktu yang ada, si pengemis tua dan Yibun Loji ini

secara bergantian akan memberikan pengarahan kepadamu tentang pelajaran

menyalurkan hawa murni serta jalan pernafasan.”

 

Sembari berbicara, mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah peristirahatan…

****

Waktu satu hari berlalu dengan cepat.

Yibun Siu San dan Cian Cong berdua mulai mengajarkan ilmu lwekang golongan putih.

Pada dasarnya otak Tan Ki memang cerdas, lagipula dia mempunyai bakat yang tinggi

dalam mempelajari ilmu silat. Sedangkan tokoh-tokoh yang mengajarinya, satunya

merupakan salah seorang dari Lu Wi Sam-kiat yang namanya pernah menggetarkan dunia

Kangouw belasan tahun yang lalu, sedangkan yang satunya lagi merupakan salah satu

dari tokoh sakti yang ada di dunia saat ini. Keduanya bekerja sama memusatkan segenap

perhatian memberikan pelajaran kepada Tan Ki. Hanya dalam jangka waktu satu hari saja,

anak muda itu sudah mendapat pengarahan yang tidak sedikit. Hawa murninya sekarang

dapat dialirkan dengan lancar ke seluruh tubuh.

Dalam waktu satu hari itu pula, perasaan cinta di dalam hati Tan Ki dan Mei Ling semakin

Setelah hari kedua…

Ilmu lwekang Tan Ki berkembang semakin pesat. Hubungannya dengan Mei Ling

seperti alat perekat. Keduanya tidak terpisahkan sedetikpun. Meskipun mereka selalu

bersembunyi-sembunyi dan menghindari pandangan mata Cian Cong maupun Yibun Siu

San, tetapi malah membuat perasaan rindu mereka semakin menggebu-gebu. Cinta kasih

mereka semakin mendalam. Bahkan Mei Ling sudah bersumpah dalam hati, kalau tidak

dengan Tan Ki, dia tidak mau menikah dengan siapapun.

Hari ketiga.

Suasana malam ini lain dari biasanya. Bahkan Cian Cong yang terkenal ugal-ugalan

serta tidak bisa diam, juga acap kali mengerutkan sepasang alisnya. Dia berdiri di depan

jendela dan melongokkan kepalanya keluar sambil memandang ke sekeliling.

Pasti hatinya sedang diganduli masalah yang berat dan tampaknya dia juga sedang

menantikan kedatangan seseorang. Diam-diam Tan Ki bertanya-tanya dalam hati. Dia

menjadi khawatir. Namun dia melihat Yibun Siu San juga duduk di atas tempat tidur

dengan memejamkan matanya sambil mengatur pernafasan. Tentu saja dia tidak berani

mengganggu kedua orang itu dengan berbagai pertanyaan. Terpaksa dia memendam rasa

ingin tahu dalam hatinya dan menemani Mei Ling duduk di samping meja sambil berdiam

Saat demikian seakan lewat dengan merayap. Bahkan setiap detik maupun menitnya

dapat terhitung. Sebuah lampu minyak yang terdapat di atas meja menyorotkan sinar

yang remang-remang. Cahaya apinya berkibar-kibar terhembus angin yang bertiup dari

arah jendela.

Suasana terasa mencekam, hal ini membuat perasaan mereka menjadi sumpek dan

Tiba-tiba…

 

Suara siulan yang panjang sayup-sayup berkumandang ke dalam gendang telinga. Tan

Ki segera merasa bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan itu memiliki tenaga

yang kuat sekali, bahkan jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri. Tanpa dapat ditahan

lagi, wajahnya langsung berubah hebat. Secara refleks dia berdiri dari tempat duduknya.

Cian Cong tertawa lebar.

“Ternyata tidak salah, si iblis tua sudah datang.” dia mendorong jendela di depannya

agar terentang lebih lebar dan menyelinap keluar.

Yibun Siu San mendengus dingin. Dia juga langsung bangkit dari tempat tidur.

Sepasang kakinya menutul dan tubuhnya pun melesat keluar. Secara berturut-turut

mereka menghambur keluar dari rumah peristirahatan tersebut. Kecepatan gerakan

mereka benar-benar mengejutkan!

Hampir bersamaan waktu dengan melayang turunnya kedua orang itu, terasa angin

menerpa, tepat pada saat itu juga melayang turun seseorang yang mengenakan jubah

Laki-laki setengah baya ini sama sekali tidak asing bagi Tan Ki. Dialah Pek Hun Cengcu,

si raja iblis nomor satu saat ini, Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.

Begitu melihat Oey Kang, apalagi setelah menatap wajahnya yang menyiratkan kelicikan,

dia segera membayangkan pengalaman, Liang Fu Yong ketika diperkosa oleh orang

ini. Suara ratapan gadis itu yang menyayat hati seakan berkumandang lagi di telinganya.

Hatinya jadi benci bukan kepalang. Kalau Yibun Siu San tidak memerintahkan agar dia

menjaga Mei Ling yang tubuhnya belum sehat kembali, rasanya dia ingin menerjang keluar

dan menguji sampai di mana kemajuan ilmu silatnya setelah mendapat pengarahan

selama tiga hari oleh Cian Cong dan Yibun Siu San.

Tanpa sadar, dia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Di bawah sorotan cahaya

rembulan yang kekuningan, dia melihat jelas bayangan ketiga orang itu. Keadaan di

bawah sana tampaknya sangat menegangkan.

Tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum yang samar-samar, entah sejak kapan Mei

Ling sudah mendekati dirinya. Lengannya yang lembut melingkar di tangan kirinya. Seakan

dia takut sekali mengetahui kehadiran si iblis Oey Kang.

Suara tawa yang panjang tiba-tiba memecahkan keheningan malam. Yibun Siu San

berkata dengan suara lantang.

“Kentungan pertama baru berlalu, rembulan malam ini hanya remang- remang, mengapa

Jiko juga datang ke tempat yang sunyi seperti ini?”

Oey Kang tersenyum lembut.

“Tanpa memperdulikan perjalanan yang panjang, Giheng sengaja datang ke sini untuk

mengunjungi Toaso, harap Samte bersedia mengijinkannya.”

 

Orang ini benar-benar mempunyai watak yang licik. Sudah terang keadaan di

hadapannya amat berbahaya, menegangkan, bahkan pertarungan antara mati hidup dapat

terjadi kapan saja, tetapi dia masih bisa pura-pura seakan tidak ada sesuatupun. Mimik

wajah-nya tampak wajar sekali. Bahkan dirinya terus mengembangkan senyuman.

Yibun Siu San seakan teringat sesuatu yang mengerikan, tubuhnya sampai bergetar.

Tetapi sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Memangnya siapa Toaso itu, mana sudi dia bertemu dengan orang yang mengkhianati

toakonya! Pergilah, jangan menimbulkan hawa amarah dalam hatiku!”

Tan Ki dapat mendengar bahwa dalam suara tawa Yibun Siu San terkandung penderitaan

yang tidak terkirakan. Malah suara tawanya ini timbul dari perasaan hatinya yang

terlalu pilu.

Tanpa dapat ditahan lagi, hati Tan Ki jadi tergetar. ‘Rupanya antara Sam Siok dan Oey

Kang juga ada dendam yang belum diselesaikan,’ pikirnya diam-diam.

Belum lagi pikirannya selesai, terdengar lagi suara tertawa dingin dari mulut Oey Kang.

“Kalau kau mengijinkan juga tidak apa-apa. Biar Giheng naik sendiri ke atas.” perlahanlahan

dia melangkahkan kakinya, ternyata dia benar-benar menuju ke atas bukit.

Terdengar Yibun Siu San membentak dengan suara keras.

“Berhenti!”

Mendengar bentakannya, Oey Kang pun menghentikan langkah kakinya. Kepalanya

menoleh ke belakang.

“Apakah kau memanggil aku?” tanyanya tenang.

“Tentu saja memanggil engkau. Apakah di sini ada orang lain lagi?” dengan kesal dia

melanjutkan kata-katanya. “Aku tahu selama beberapa hari ini kau terus menyelidiki

sekitar tempat ini, Aku yakin, Toaso tinggal di puncak bukit juga sudah kau ketahui

sebelumnya.”

Oey Kang tertawa lebar.

“Terima kasih atas pujianmu.” sambil berbicara dia mengeluarkan sebatang kipas dari

balik sakunya. Dia membuka kipas itu dan mengibas-kibaskannya dengan gaya angkuh.

Dengan penuh kebencian, Yibun Siu San mendengus keras-keras.

“Toaso pernah berpesan kepada Siaute, siapapun yang bermaksud mendaki ke atas

bukit, Siaute harus menghalanginya. Mau bunuh atau hanya melukai, tergantung Siaute

sen-diri.”

“Kalau begitu, kau ingin menghalangiku dengan kepandaianmu?”

“Rasanya terpaksa demikian.” suara sahutan Yibun Siu San datar sekali.

 

Tampaknya Oey Kang tidak merasa takut sama sekali. Tiba-tiba dia tertawa terbahakbahak.

“Coba saja…!” suaranya belum sirna, tiba-tiba lengannya terentang, tubuhnya bagai sebatang

anak panah yang dibidikkan dari busurnya dan dengan kecepatan tinggi melesat ke

Gerakannya ini menggunakan kecepatan yang tidak teruraikan dengan kata-kata dan

dilakukan secara tidak terduga-duga. Hal ini di luar perkiraan Yibun Siu San. Dia terkejut

setengah mati. Tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti biasa. Setelah

mengempos semangat sambil berteriak keras, dia menghambur ke depan mengejar si raja

iblis itu.

Ilmu silat kedua orang ini, merupakan jago kelas satu di dunia Bulim saat ini. Yang satu

lari, yang lain mengejar. Sama-sama menggunakan kecepatan tinggi. Tubuh mereka bagai

segulungan angin yang menghempas ke depan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah

berada dalam jarak dua belas depaan.

Tiba-tiba…

Lengan Oey Kang mengibas ke belakang. Terpancarlah segumpal kabut atau asap yang

memenuhi udara. Hanya terlihat tebaran bayangan berwarna keputihan tertiup ke

Rupanya Oey Kang sudah mempersiapkan segumpal debu dari hancuran batu dan

menggunakannya sebagai senjata rahasia. Benda seperti itu sangat ringan dan halus.

Tetapi jangan lupa bahwa orang ini mempunyai julukan Dewa Kilat Bertangan Tiga,

keahliannya menggunakan senjata rahasia sudah tersohor di dunia Kangouw. Belum

pernah ada saingannya. Bahkan debu yang disebarkannya dapat menusuk mata lawan.

Dengan kerahan tenaga dalamnya, butiran debu itu bagai biji perak yang kecil-kecil

berjumlah ratusan me-luncur datang. Terdengar suara yang berde-sing-desing

memecahkan kesunyian.

Perubahan yang mendadak itu benar-benar mengejutkan!

Yibun Siu San terperanjat setengah mati. Cepat-cepat dia mencelat mundur dan dalam

waktu yang bersamaan dia mengibaskan lengan bajunya ke depan, matanya pun segera

Bahkan si pengemis sakti Cian Cong yang berdiri di belakangnya juga tidak berani

memandang ringan debu beracun itu. Mulutnya mengeluarkan suara siulan. Dengan posisi

me-nahan di depan dada, dia menghantamkan sepasang telapak tangannya. Tenaga

dorongannya yang kuat membuyarkan debu-debu itu seketika.

Tepat pada saat itu juga, udara dipenuhi dengan debu berwarna putih. Tersebar ke mana-

mana. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, debu itu perlahan-lahan membuyar.

Sinar rembulan memancarkan cahayanya, lambat laun pemandangan pun menjadi jelas

Begitu mata memandang, tanpa dapat ditahan lagi, Yibun Siu San dan Cian Cong berseru

serentak. Wajah mereka langsung berubah hebat. Dalam waktu yang singkat, Oey

Kang sudah sampai di pertengahan bukit. Apabila naik lagi kurang lebih seratusan depa,

 

dia akan mencapai rumah peristirahatan Yibun Siu San, bagaimana mereka tidak menjadi

tercekat?

Hampir dalam waktu yang bersamaan, mereka mengempos semangatnya serta mengerahkan

ginkang untuk mengejar. Hanya dalam beberapa detik saja, mereka sudah

menghilang. Hatinya pun menjadi agak lega. Pikirannya juga tidak begitu tertekan lagi.

Tiba-tiba serangkum suara tawa yang dingin seperti es berkumandang dari belakang

punggungnya. Datangnya suara tawa ini begitu mendadak. Dalam waktu yang bersamaan,

Tan Ki serta Mei Ling terkejut bukan kepalang. Tanpa dapat ditahan lagi, keduanya segera

menolehkan kepala.

Entah sejak kapan, kurang lebih tiga mistar di belakang mereka tahu-tahu sudah berdiri

sepasang laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bertubuh tinggi besar, wajahnya penuh

dengan benjolan-benjolan daging. Dia mengenakan pakaian tosu dan tangannya

menggenggam serenceng tasbih.

Orang satunya adalah seorang wanita setengah baya yang jeleknya jangan dikatakan

lagi. Pakaian atasnya berlengan pendek dengan warna hijau pupus, bagian bawahnya

merupakan gaun lebar dengan warna yang sama. Pada bagian pinggangnya tersampir pita

ikatan berwarna merah menyala. Tubuhnya pendek dan gemuk. Hidungnya seperti singa,

matanya seperti babi. Dua buah gigi depannya besar dan tonggos. Warnanya kuning pula.

Benar-benar tidak ada bagian yang enak untuk dilihat. Entah dosa apa yang dipikul

orangtua-nya sehingga melahirkan anak seperti itu.

Hati Tan Ki sampai sebal melihatnya. Sepasang alisnya langsung terjungkit ke atas.

“Siapa kalian? Aturan mana yang membolehkan kalian sembarang memasuki rumah

orang lain?” bentaknya marah.

Pinggang wanita yang jelek itu melenggok-lenggok, dia malah sengaja mengeluarkan

gaya yang memuakkan.

“Kami memang sengaja datang mencarimu!”

Wajah Tan Ki jadi merah padam.

“Ngaco belo! Kalau kalian masih tidak mau menjelaskan maksud kedatangan kalian ini,

jangan salahkan kalau aku bertindak kurang sopan!” kakinya segera memasang kudakuda,

tampaknya dia sudah siap menghadapi lawan. Sedangkan sepasang matanya

memancarkan sinar yang dingin menusuk. Seakan setiap saat dia dapat melancarkan

serangan yang hebat.

Wanita yang jelek itu malah tertawa terkekeh-kekeh.

“Buat apa kau begitu serius? Seperti orang yang baru keluar dari goa saja. Aku Lu Sam

Nio tidak akan menyantap dirimu.”

Pada dasarnya perempuan ini sudah jelek setengah mati. Sekarang dia sengaja

memperlihatkan gaya seperti seorang gadis remaja yang sedang dalam masa puber. Tentu

saja kelakuannya makin menyebalkan orang yang melihatnya.

 

Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya. Dengan nyali yang cukup besar dia me-rapat

ke arah Tan Ki. Sepasang alis anak muda itu mengerut ketat. Hawa pembunuhan mulai

timbul dalam dadanya. Tangan kanannya direntangkan untuk melindungi Mei Ling.

“Wanita jalang, kau benar-benar cari mati!”

Terdengar deruan angin, telapak kirinya langsung mengirimkan sebuah pukulan ke depan.

Tenaga pukulannya hebat bukan main. Hawa dalam ruangan itu menjadi sesak. Serangannya

bagai gunung berapi yang siap meletus menerjang ke arah perempuan jelek itu.

Tampaknya wanita gemuk pendek lagi jelek itu tidak takut menghadapi serangannya.

Mulutnya pura-pura mengeluarkan seruan terkejut. Kakinya terhuyung-huyung seperti

orang yang ketakutan, dengan gerakan gemulai dia bergeser ke samping tiga langkah.

Tidak lebih jauh ataupun lebih dekat, tetapi dengan tepat ia dapat menghindarkan diri dari

serangan pukulan Tan Ki.

Gerakannya itu seperti dibuat-buat, tetapi kecepatannya sungguh mengagumkan. Tan

Ki yang melihatnya jadi termangu-mangu. Padahal hatinya terperanjat sekali. Rupanya

ilmu silat wanita yang jelek ini tidak berada di bawah dirinya sendiri.

Pikirannya tergetar, mulutnya segera mengeluarkan suara raungan yang keras. Telapak

tangan kiri dan kanannya serentak dihantamkan ke depan.

Baru saja dua pukulan dilancarkan keluar, terdengar Tosu yang berdiri di sampingnya

tertawa seram.

“Sam Nio, jangan main-main lagi. Toa Ie (bibi) mengirimkan surat lewat merpati pos,

isinya demikian mendesak. Kalau sampai karena sedikit kecerobohan akhirnya gagal, tentu

wajah engkau dan aku tidak enak dilihat lagi.” sembari berbicara, tahu-tahu orangnya

menerjang datang sambil membentak…

“Biar aku yang menghadapi bocah ini. Kau cepat bawa ‘barang permintaan’

meninggalkan tempat ini!” pergelangan tangannya memutar, tampak bulu kuduk di

tangannya meremang semua. Setelah mengibas dua kali berturut-turut, dengan mudah

dia sudah berhasil melepaskan diri dari serangan kedua pukulan Tan Ki.

Tampaknya ilmu silat orang ini bahkan lebih tinggi setingkat daripada Lu Sam Nio. Baru

saja melepaskan diri dari serangan Tan Ki, tiba-tiba tubuhnya merapat ke depan dan tahutahu

dia sudah melancarkan tujuh delapan jurus serangan.

Angin yang timbul dari pukulannya tampak bagai ombak yang bergulung-gulung.

Kekuatan tenaganya hebat bukan main. Serangan tasbihnya demikian cepat. Untuk sesaat,

ru-angan itu dipenuhi bayangan tasbih yang tidak terhitung jumlahnya. Benar-benar ilmu

yang tidak dapat dipandang enteng.

Serangannya yang gencar ini membuat Tan Ki terdesak sampai mengelak ke kiri,

menangkis ke kanan. Langkah kakinya terus mundur ke belakang. Apabila dua tokoh kelas

tinggi bergebrak, mati hidup hanya ditentukan dalam sesaat saja. Begitu serangannya

gagal, kedudukan Tan Ki semakin membahayakan. Tosu yang garang itu terus mendesak

maju, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mengatur nafas. Tasbihnya terus

bergerak ke sana ke mari, bahkan menimbulkan suara yang berdesing-desing. Dengan

 

sengit dia melancarkan dua jurus. Kaki kirinyapun menendang dalam waktu yang

bersamaan. Kecepatannya bagai kilat. Sasarannya bagian bawah perut yang mematikan.

Saat ini Tan Ki sudah terdesak sampai bawah jendela. Di belakangnya adalah dinding

rumah. Tidak ada tempat lagi untuk mundur. Meskipun hatinya tercekat melihat dua jurus

serangan serta sebuah tendangannya, tetapi pada dasarnya dia merupakan manusia yang

banyak akal. Meskipun menghadapi bahaya, ia tetap dapat mempertahankan ketenangan.

Ce-pat-cepat dia menghimpun hawa murninya. Dengan jurus Pelangi Di atas Langit, dia

segera membalas serangan yang hasilnya segera terlihat, memecahkan dua jurus dan

sebuah tendangan yang keji itu.

Pertarungan ini merupakan pertempuran dua jago kelas tinggi yang seakan sedang mengadu

jiwa. Satu jurus atau satu gerakan, sudah cukup untuk membunuh orang. Baik

menyerang ataupun melindungi diri, semua dilakukan dengan cepat. Baru dilancarkan

tahu-tahu sudah ditarik kembali. Setelah belasan kali, sulit lagi membedakan mana lawan

dan mana diri sendiri.

Tiba-tiba…

Sebuah suara teriakan yang mengejutkan memecahkan keheningan!

Hati Tan Ki langsung tergetar. Meskipun dia sedang menghadapi lawan tangguh, namun

dengan jelas dia mengetahui bahwa jeritan yang barusan terdengar keluar dari mulut

Mei Ling yang dicintainya.

Hatinya menjadi panik. Dengan gencar dia melancarkan beberapa serangan ke arah lawannya.

Untuk beberapa saat, tosu itu sampai terdesak mundur. Matanya segera beralih,

tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi tergetar. Jantungnya bagai terlonjak keluar pada saat

itu juga!

Entah sejak kapan, wanita yang jelek itu sudah berhasil meringkus Mei Ling dan sekarang

gadis itu sudah berada dalam gendongannya. Pada saat itu juga, hawa amarah

dalam dadanya jadi meluap. Jurus Menggetarkan Langit dan Bumi yang belum pernah

digunakannya langsung dilancarkan. Serangan ini menggunakan segenap kekuatannya

yang ada.

Selama tiga hari berturut-turut, dia menerima gemblengan dua tokoh sakti dunia

Kangouw saat ini. Tenaga dalamnya sudah berlipat ganda dan dapat dilancarkan sesuka

hati. Sekarang ini dikerahkan dalam keadaan gusar. Seluruh kekuatannya dihimpun dan

tentu saja kejinya bukan main. Suaranya melengking tinggi.

Tosu itu biasanya paling memandang tinggi dirinya sendiri. Melihat serangannya itu,

tampaknya dia tidak gentar sama sekali. Malah dia tertawa terbahak-bahak. Tasbihnya

dipindahkan ke tangan kiri, telapak tangannya dihantamkan ke depan untuk menyambut

serangan Tan Ki.

Serangkum angin yang kuat segera menerjang ke arah serangan Tan Ki yang dilancarkan

dalam keadaan gusar. Terdengar suara menggelegar yang memekakkan telinga.

Seluruh rumah peristirahatan itu jadi bergetar bahkan bergoyang-goyang beberapa detik,

setiap waktu selalu ada kemungkinan ambruk ke bawah.

 

Setelah pukulan itu beradu, ternyata tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung

beberapa saat. Sulit membedakan siapa yang lebih unggul. Serangan yang dilancarkan

Tan Ki lebih kuat dari biasanya, apalagi hatinya sedang gusar sekali. Kalau ditinjau dari hal

ini, tentu anak muda ini masih kalah setingkat dari tosu jahat itu.

Tepat pada saat itu, terdengar suara Lu Sam Nio…

“Im Ka Toyu, orangnya sudah berhasil kudapatkan. Kita sudah boleh kembali memberikan

laporan. Mari pergi!” matanya melirik ke arah Tan Ki sambil tersenyum

menyeramkan. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan pergi dari rumah itu.

Perubahan yang tidak terduga-duga ini berlangsung cepat sekali. Tan Ki jadi tertegun

sesaat. Tiba-tiba Im Ka Tojin kembali menyerangnya secara gencar tiga jurus berturutturut,

Tan Ki sampai terdesak mundur tiga langkah.

Untuk sesaat, dia merasa hatinya dilanda keperihan yang tidak terkatakan, melebihi

luapan amarah dalam bathinnya. Mendadak dia mendongakkan wajahnya dan

mengeluarkan suara siulan yang pilu. Sepasang kakinya menutul, tubuhnya melesat ke

udara dan menerjang ke arah wanita jelek itu.

Im Ka Tojin tertawa dingin.

“Diri sendiri saja masih belum tentu selamat, saat ini masih berpikir untuk menolong

orang lain!”

Lengan kanannya menghantam ke udara, timbul kekuatan yang dahsyat sekali, menghadang

tubuh Tan Ki yang sedang melesat. Dalam waktu yang sekejap saja, Lu Sam Nio

sudah menerjang keluar dan menghilang dalam kegelapan.

Tan Ki terhalang jalan perginya oleh hantaman Im Ka Tojin yang kuat. Tubuhnya terhuyung-

huyung beberapa saat, hawa murninya tidak dapat dikerahkan dengan lancar,

akibatnya diapun terjatuh di atas tanah.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Im Ka Tojin sudah melesat ke arah pintu. Ilmu

silat orang ini sangat tinggi. Begitu berkelebat, kecepatannya bagai kilat. Dalam dua kali

lon-catan dia sudah sampai di depan pintu.

Hati Tan Ki panik sekali, dia langsung melonjak bangun dan meraung sekeras-kerasnya.

Dia melihat gerakan tosu itu demikian cepat, apalagi jaraknya kurang lebih satu depaan,

untuk menghadang tentu tidak keburu lagi. Lengan kanannya segera terulur, dia mencekal

sebuah kursi kemudian dengan sepenuh tenaga dia menyambitkannya ke arah tosu

Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Kursi yang dilemparkan sekuat

tenaga itu tidak mengenai diri tosu itu malah membentur daun pintu. Pecahan kayu

langsung berhamburan ke mana-mana.

Begitu mata memandang, Im Ka Tojin sudah melesat keluar dari rumah peristirahatan

itu. Kepedihan yang berlebihan, membuat Tan Ki berdiri dengan termangu-mangu. Untuk

se-saat dia lupa menyelamatkan Mei Ling. Sebetulnya dia dapat menyandak Im ka Tojin,

toh ilmu mereka memang seimbang. Mana ada kesempatan baginya untuk menolong

orang?

 

Oleh karena itu, hatinya tertekan sekali…

Air matanya pun mengalir dengan deras. Dia merasa tidak pernah mengenal kedua

orang tadi. Mengapa mereka harus menculik Mei Ling?

Dia benar-benar tidak habis pikir apa alasannya, dia hanya merenung seperti orang

bodoh. Impiannya yang indah kandas sudah…

***

BAGIAN XXII

Setelah tertegun beberapa saat, tiba-tiba bagai seekor binatang buas, dia menerjang

ke-luar!

Begitu matanya memandang, yang terlihat hanya sinar rembulan yang semakin

meredup. Benda langit itu seakan memaksakan dirinya muncul dari balik awan yang tebal,

cahayanya hanya remang-remang. Angin malam masih berhembus seperti orang yang

menghela nafas panjang. Rerumputan bergerak-gerak menimbulkan alunan suara yang

pilu. Di sekitar sunyi senyap. Tak terlihat lagi bayangan wanita jelek itu.

Pada saat itu juga, dia merasa hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Sakit dan

marah. Serangkum rasa perih memenuhi dadanya. Dua baris air mata bagai curahan hujan

lebat membasahi wajahnya.

Tadinya dia berpikir dapat bertemu lagi dengan Mei Ling setelah diculik oleh Oey Kang,

bahkan racun Li Hun Tan dapat disembuhkan oleh Yibun Siu San. Sejak hari itu, mereka

tidak akan terpisah lagi. Untuk selamanya mereka dapat mereguk kenikmatan anggur cinta

yang tumbuh dalam hati mereka berdua.

Siapa tahu bencana memang tidak dapat ditolak. Tiba-tiba bisa muncul seorang Lu Sam

Nio dan seorang Im Ka Tojin yang menculik Mei Ling. Bagi Tan Ki, hal ini merupakan suatu

pukulan bathin yang tidak terkatakan beratnya.

Ketika dia melihat jelas bahwa kedua orang itu sudah menghilang, hatinya menjadi

hancur. Berbagai penderitaan berkecamuk dalam dadanya. Bagai seorang anak yang

menerima hinaan dari kawan-kawannya. Dia berdiri termangu-mangu dan memandangi

rembulan yang suram seperti orang yang kurang waras.

Padahal dia sedang mengerahkan segenap pikirannya untuk mencari tahu asal-usul

sepasang laki-laki dan perempuan tadi. Tetapi bagaimanapun dia tetap merasa belum

pernah bertemu dengan mereka. Dan Toa Ie yang mereka katakan tadi, entah siapa

orangnya. Yang dapat diduganya, Toa Ie ini pasti bukan tokoh sembarangan. Dan dia pula

yang memerintahkan tosu serta wanita jelek tadi untuk menculik Mei Ling.

Tanpa dapat ditahan lagi dia tertawa getir. Berbagai macam penderitaan dalam waktu

yang singkat memenuhi sanubarinya. Dia sendiri tidak tahu apa arti tawanya itu. Tetapi

dia membayangkan, dunia begini luas, daratan, pegunungan, lautan, semuanya dapat

dijadikan tempat tinggal. Lalu ke mana dia harus mencari orang yang hanya dia tahu

sebutannya Toa Ie itu?

 

Keperihan yang tidak terkatakan memenuhi seluruh hatinya. Akal sehatnya bagai lenyap

tanpa bekas. Pikirannya kalut. Tiba-tiba dia mendengus satu kali. Dengan termangumangu,

dia mulai tertawa lebar.

Tawanya ini masih belum seberapa mengejutkan. Tetapi seperti sedang melampiaskan

kekecewaan hatinya. Namun tawanya semakin lama semakin keras. Lama kelamaan

menjadi tawa yang terbahak-bahak. Suara tawanya melengking, di dalamnya terkandung

keperihan yang tidak teruraikan dengan kata-kata. Seluruh bukit dan lembah bagai

tergetar, gaungnya bertalu-talu ke segala penjuru.

Tawanya yang panjang berlangsung kurang lebih sepeminum teh lamanya. Lalu tibatiba

terhenti. Di wajahnya yang tampan tersirat kedukaan yang aneh, kemudian dia

menarik nafas panjang.

Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan berjalan ke atas bukit. Dalam waktu sesaat,

dia merasa kehidupannya di dunia ini tidak ada artinya sama sekali. Juga tidak tahu sejak

kapan, ternyata di dalam hatinya terlintas pikiran untuk menggundulkan rambutnya

menjadi hwesio.

Dia berjalan dengan lambat, langkahnya seakan demikian berat…

Dari hadapannya berhembus segulungan angin, tetapi tetap saja tidak menghentakkannya

dari lamunan. Embun yang membasahi rumput dan bunga-bungaan berulang kali

memercik kakinya. Namun dia tidak merasa dingin sama sekali. Seluruh perasaannya

seolah sudah kebal.

Selangkah demi selangkah dia berjalan. Tampang dan penampilannya lebih mirip

sesosok mayat hidup. Dalam kegelapan malam seperti ini, suasana semakin mengerikan!

Tiba-tiba…

Terasa angin berkibar, sesosok bayangan kehitaman dengan tergesa- gesa berkelebat

datang. Orang ini terpana ketika tiba-tiba bertemu dengan Tan Ki. Mulutnya sampai

menge-luarkan seruan terkejut. Secara mendadak dia menahan luncuran tubuhnya yang

sedang melesat ke depan. Ketika dia berhenti, jarak antara kedua orang itu hanya tiga

langkah saja.

Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tampak orang itu bertubuh langsing.

Alisnya bagai dilukis, kepalanya terikat sebuah pita berwarna ungu, pakaiannya berwarna

merah jambu. Bahunya menyandang sebilah pedang panjang, usianya kira-kira empat

Kemunculan wanita setengah baya yang cantik ini begitu tiba-tiba. Seharusnya Tan Ki

bisa terkejut setengah mati. Tetapi kenyataannya benar-benar di luar dugaan, dia tidak

mengucapkan sepatah katapun. Seperti sebelumnya dia terus berjalan, seolah matanya

tidak melihat apa-apa.

Gerakan yang tidak biasanya ini, malah membuat wanita setengah baya itu terperanjat.

Kakinya menggeser ke kanan kurang lebih setengah tindak, dia membiarkan Tan Ki lewat

di sampingnya.

 

Begitu mata memandang, dia melihat tampang Tan Ki pucat sekali. Di bawah cahaya

rembulan, wajah itu adalah tanpa perasaan. Hatinya menjadi perih. Semacam perasaan

yang timbul dari kasih seorang ibu, memenuhi dadanya seketika. Membuat dia tidak dapat

menahan kedukaan dalam bathinnya. Air mata pun mengalir dengan deras. Tanpa dapat

ditahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya. “Anakku!”

Setelah memanggil satu kali, nada suara-nya begitu mengharukan. Siapa kira, Tan Ki

seakan tidak mendengarnya, dia terus melangkahkan kakinya ke depan.

Kalau saja pikiran Tan Ki saat itu sadar seperti biasa, tentu dia dapat mengenali wanita

yang tiba-tiba muncul di hadapannya tadi adalah ibu yang sangat menyayanginya tetapi

juga sangat dibencinya, Cen Lam Hong. Meskipun dia telah berpisah dengan ibunya

selama sepuluh tahun.

Angin gunung terus berhembus, seakan tidak hentinya menarik nafas panjang melihat

tragedi yang menimpa anak manusia. Suasana semakin pilu serta menyayat hati…

Tadinya Cen Lam Hong mendapat laporan dari Yibun Siu San. Oleh karena itu, dengan

hati penuh harapan dia cepat-cepat turun untuk menemui putranya tersayang. Meskipun

Yibun Siu San sudah memperigatkannya berkali-kali bahwa Tan Ki mempunyai salah

paham yang dalam terhadap dirinya. Setelah bertemu, ada kemungkinan timbul suasana

yang tidak enak. Tetapi dia tetap tidak perduli segalanya. Meskipun putra kesayangannya

akan memaki ataupun memukul dirinya, dia bersedia menerima semuanya. Dia hanya

berharap dapat melihat Tan Ki satu kali saja. Ingin tahu sampai di mana perubahan

anaknya setelah berpisah selama sepuluh tahun, seperti apa rupanya sekarang. Dengan

demikian pun hatinya sudah merasa puas.

Tidak disangka kenyataan yang terpampang di hadapannya benar-benar di luar dugaan

wanita setengah baya ini, akibatnya dia malah jadi terpana.

Tubuhnya berkelebat, dia menghadang di depan Tan Ki. Wajahnya menyiratkan perasaan

sayangnya yang dalam. Dengan lembut dia berkata…

“Anakku, apa yang terjadi padamu?”

Suaranya demikian keibuan dan penuh perhatian. Orang yang mendengarnya pasti

akan terharu dibuatnya. Mendadak Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Dia

memandang Ceng Lam Hong dengan tertegun. Kemunculan wanita setengah baya itu

dihadapannya membuat dia jadi termangu-mangu.

Sepeluh tahun berpisah, meskipun terhitung waktu yang panjang, tetapi bagi ingatan

seseorang belumlah terlalu lama. Tetapi pikiran Tan Ki sekarang sedang sekarat, dia

hampir tidak tahu apa-apa lagi. Dia hanya merasa wajah wanita setengah baya di

hadapannya ini begitu welas asih, tetapi tidak dapat mengingat bahwa dia mempunyai

hubungan dengan dirinya. Setelah memandangnya dengan termangu-mangu beberapa

saat, tiba-tiba dengan ketolol-tololan dia tertawa terkekeh-kekeh. .

“Siapa kau?”

Ceng Lam Hong menarik nafas panjang.

“Aku adalah ibumu, apakah kau tidak mengingatnya lagi?”

 

Tan Ki seolah tertegun.

“Kau adalah ibuku?” bola matanya bergerak-gerak, dia memperhatikan Ceng Lam Hong

dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Ti-dak

benar, ibuku tidak selembut dirimu. Dia juga tidak sebaik dirimu, makanya dia bisa kabur

dengan seorang laki-laki. Lagipula dia sudah bersembunyi begitu lama serta tidak sudi

menemui diriku… kau mengatakan bahwa kau adalah ibuku, apakah kau juga pernah

kabur dengan seorang laki-laki?”

Mendengar kata-katanya, Ceng Lam Hong jadi tertegun. Beberapa saat kemudian, dia

baru tersadar apa makna ucapan Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi dia menghentakkan

kakinya ke atas tanah.

“Ngaco!”

Tan Ki menaikkan sepasang bahunya.

“Ngaco juga tidak apa-apa, omong kosong juga boleh. Pokoknya, di dalam hatiku sudah

tidak ada lagi bayangan ayah ibuku. Kalau kau ingin memalsukan dirinya dan mengaku

sebagai ibuku, berarti kau juga mempunyai hubungan yang kotor dengan seorang lakilaki!”

selesai berkata, mendadak dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahakbahak,

kemudian dengan cepat tubuhnya melesat ke depan.

Hati Ceng Lam Hong tergetar. Secara jelas dia tahu bahwa saat ini pikiran Tan Ki

sedang kacau, kata-kata yang diucapkannya pasti seenaknya saja. Tetapi hal ini

membuktikan kepadanya bahwa kenyataannya memang Tan Ki benci sekali kepadanya.

Tiba-tiba tubuh Tan Ki menerjang ke depan, meskipun dia sangat terkejut. Secara otomatis,

dia bergeser dua langkah dan membiarkan Tan Ki lewat. Ketika anak muda itu

sudah mencapai jarak tiga depaan, tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia memanggil

dengan suara keras, “Anak Ki…!”

Suaranya tajam dan pilu. Lebih mirip ratapan dari suara panggilan. Tampangnya

sungguh mengharukan, mimiknya menyorotkan ketulusan. Meskipun dia sudah

berpisah dengan Tan Ki selama sepuluh tahun, tetapi kasih sayangnya sebagai seorang ibu

tetap tidak hilang.

Rembulan yang menyembul di balik awan, menyorotkan cahaya ke arah wajahnya yang

mulai berkerut, dua baris air mata mengalir dengan deras…

Kasih sayang seorang ibu yang lembut, seakan meluap memenuhi hatinya saat itu juga.

Tetapi Tan Ki masih belum menyadari bahwa panggilan ibunya sangat berharga,

pikirannya kurang waras, dia bahkan tidak mendengar panggilan itu.

Diantara angin malam, sayup-sayup berkumandang suara tawa yang panjang, seperti

sebilah pedang yang tajam menusuk kalbunya sebagai seorang ibu yang mencintai

anaknya. Hatinya sangat terluka.

“Aku… tidak tahu malu…? Perempuan yang kabur dengan seorang laki-laki…?”

gumamnya seorang diri.

 

Mulutnya bergumam, hatinya terasa semakin dingin. Sakit yang menusuk… dua baris

air mata kembali berderai.

Suaminya dibunuh mati dengan empat puluh macam senjata rahasia, meskipun hatinya

sedih sekali, namun tidak sehebat kali ini. Dua baris air mata ibu ini mengalir dari

ketulusan hatinya. Air mata yang tidak terkira nilainya. Dia dimaki oleh Tan Ki sebagai

wanita jalang yang tidak tahu malu, bagaimana perasaannya tidak menjadi sakit?

Kemudian, tampak dia menggertakkan giginya erat-erat. Tangannya terangkat dan

dihapusnya air mata yang mengalir turun. Mulutnya mengeluarkan tawa yang getir.

“Baiklah, biar saja dia memarahi aku sedemikian rupa, pokoknya dia tetap anakku!”

Tubuhnya berkelebat, dengan membawa penderitaan dan rasa sakit di hatinya, dia berlari

ke arah yang diambil Tan Ki dengan maksud mengejar anaknya itu.

Cahaya rembulan semakin redup. Namun cukup untuk menyinari seluruh perbukitan itu.

Tampak Ceng Lam Hong berlari dengan mengerahkan ilmu ginkangnya, kadang-kadang

kakinya meloncat ke atas, kadang melayang turun lagi ke bawah. Dalam waktu yang

singkat dia sudah jauh sekali. Sekali loncatan saja, dia mampu mencapai satu depaan.

Tidak berapa lama kemudian, dia sudah dapat melihat bayangan punggung Tan Ki yang

melangkah di tengah perbukitan. Diam-diam Ceng Lam Hong menghembuskan nafas

panjang. Hatinya menjadi agak lega setelah berhasil menyusul anaknya. Langkah kakinya

diperingan dan tanpa diketahui oleh Tan Ki, dia mengikutinya dari belakang.

Seorang ibu serta seorang anak membawa perasaan yang berbeda terus mendaki ke

atas bukit tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba

terdengar suara tawa yang panjang bergema di daerah perbukitan itu. Gaungnya bahkan

membuat gendang telinga seakan menjadi berdengung-dengung.

Setelah mendengar suara tawa yang berulang-ulang itu, hati Ceng Lam Hong menjadi

khawatir. Dia tahu suara tawa itu timbul dari mulut Yibun Siu San yang mengerahkan

tenaga dalamnya, tetapi diselingi juga oleh suara Oey Kang yang sinis. Yang satu berniat

melindungi dirinya, sedangkan yang satu lagi ingin menemui dirinya. Kedua orang itu

bagai api dan air yang tidak dapat dipersatukan…

Pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba berkumandang lagi suara dengusan dan

bentakan. Deru angin menghempas-hempas. Tidak usah diragukan lagi, kedua orang itu

mulai terlibat dalam perkelahian yang sengit. Pada saat itu juga, mendadak Tan Ki tertawa

keras. Dengan suara lantang dia berteriak…

“Liu Moay Moay, jangan takut! Aku datang menolongmu!” baru saja ucapannya selesai,

dengan segera dia menarik nafas panjang dan tubuhnya langsung berkelebat menerjang

ke depan.

Meskipun pikirannya sedang kacau, namun ilmu silatnya masih tetap. Begitu

mengemposkan tenaga, tubuhnya melesat bagai seekor kijang. Kecepatannya tidak

terkirakan. Ceng Lam Hong cepat-cepat mengerahkan ginkang-nya mengejar, semakin

lama semakin cepat.

 

Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di puncak bukit di mana terdapat

sebuah padang rumput yang cukup luas. Saat itu rembulan masih menyembunyikan

sebagian dirinya di balik awan, cahayanya yang redup menyinari seluruh permukaan bukit

itu. Namun masih ada beberapa bintang yang berkelap-kelip. Yibun Siu San dan Oey Kang

bertarung dengan sengit dengan tangan masing-masing menggenggam sebilah pedang

Si pengemis sakti Cian Cong malah duduk di atas rumput pada jarak dua depaan. Tangannya

menggenggam hiolo berisi arak. Berulang kali dia meneguk araknya dengan

nikmat. Kadang-kadang matanya membelalak apabila menyaksikan bagian pertarungan

yang hebat. Wajahnya menyiratkan perasaan khawatir.

Tepat pada saat Tan Ki dan ibunya mendaki ke puncak bukit. Terdengar suara Oey

Kang membentak dengan suara keras. Dengan jurus Naga Menggerakkan Ekor, orang

beserta pedangnya meluncur ke arah Yibun Siu San!

Serangannya ini dilancarkan dengan kecepatan yang hebatnya bukan main. Kaki Yibun

Siu San baru berdiri dengan mantap, pedang kayunya sudah menimbulkan suara desingan

yang meluncur dari tengah udara ke hadapannya!

Dengan panik Yibun Siu San mengerahkan jurus Berpacu di atas kuda. Dia

mengelakkan diri dari serangan pedang kayu Oey Kang, sekaligus menendangkan kaki

kanannya ke arah pergelangan tangan lawan yang menggenggam pedang kayu.

Terdengar suara tawa Oey Kang yang mengandung kelicikan luar biasa. Dia tidak berusaha

menghindarkan diri dari serangan lawan, malah tangan kirinya terulur mengincar

urat darah di bagian paha Yibun Siu San yang sedang menendang ke arahnya.

Yibun Siu San terkejut setengah mati melihat iblis itu menyambut serangannya dengan

serangan pula. Laki-laki itu terdesak sampai dua tiga depa. Dia merasa serangkum angin

menghembus lewat selangkangannya. Meskipun jalan darahnya tidak tertotok, namun

sapuan anginnya saja sudah menimbulkan rasa perih dan panas.

Dalam keadaan masih terperanjat, tiba-tiba dia melihat Oey Kang bagai camar yang

terbang di angkasa. Diiringi suara orang meniup dengan keras, dia melintas di atas kepala

Yibun Siu San. Pedangnya berubah menjadi bayangan yang mengitarinya dan tiba-tiba

orang beserta pedang kayunya meluncur ke arah Ceng Lam Hong.

Yibun Siu San melihat dia menggerakkan pedang sambil melayang di udara.

Kepandaian orang ini sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga pedangnya

sudah berhasil dikuasai sedemikian rupa tergantung kemauan-nya. Hatinya menjadi

tercekat, sambil meraung dengan keras, dia menggetarkan pedang kayunya serta

menyapu ke depan.

Terdengar suara benturan yang keras. Dua batang pedang kayu saling beradu. Dengan

menggunakan daya pental dari dorongan tenaga lawan, tubuh Oey Kang melayang lagi di

udara sejauh satu depaan. Dia berjungkir balik sebanyak dua kali. Sambil tertawa

terbahak-bahak, pedang kayunya kembali meluncur ke arah jalan darah penting di bagian

punggung Yibun Siu San. Angin yang keras timbul dari totokan pedangnya, gerakannya

ringan dan lincah sekali.

 

Dengan panik Yibun Siu San menerjang ke depan sejauh beberapa depa. Tangannya

membalik dan dengan jurus Mematri lonceng emas, dia membalas sebuah serangan. Siapa

nyana gerakan iblis ini jauh lebih cepat dari pada dirinya. Sepasang kakinya baru menutul

di atas tanah, tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat kembali di udara. Serangan Yibun Siu

San sampai, tubuhnya sudah melayang kembali. Dengan jurus Camar menerobos awan,

dia sudah melesat ke atas kepala Yibun Siu San dan pedang kayunya secepat kilat

menebas ke bawah!

Jurus ini anehnya bukan main. Meskipun Yibun Siu San sudah banyak menghadapi lawan

tangguh, pengalamannya juga luas. Tetapi dia juga dibuat kalang kabut oleh

serangan Oey Kang ini. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya di udara dan menghindar

sejauh beberapa depa. Begitu kakinya menginjak tanah, dengan jurus Pelangi mewarnai

langit dia lancarkan kembali serangan dari udara. Kehebatannya mengagumkan, dia

langsung menyambut datangnya serangan lawan.

Terdengar lagi suara pedang kayu mereka beradu, kembali Oey Kang meminjam tenaga

dorongan akibat benturan itu dengan melayang lagi di udara. Pergelangan tangannya

memutar dan dia menebas lagi ke arah Yibur Siu San.

Cara menyerang yang belum pernah terdengar atau terlihat ini, justru merupakan ilmu

andalan Oey Kang yakni, Mo-hun Cap Pat-cai atau Delapan belas jurus meraba awan.

Gerak-annya selalu meminjam tenaga pantulan pedang lawan untuk mencelat ke atas dan

menyerang dari udara. Acap kali sampai lama sekali tubuhnya tidak mendarat turun di atas

Ketika mula-mula menghadapi lawannya, Yibun Siu San masih belum merasa adanya

keistimewaan apa-apa. Dia hanya merasa ilmu meringankan tubuh Jikonya itu maju pesat

dibandingkan waktu lalu. Dengan pertimbangan waktu yang tepat, dia dapat meminjam

tenaga pantulan senjata lawannya untuk mencelat ke tengah udara. Tetapi setelah

bergebrak kurang lebih sepeminum teh lamanya, dia baru mulai merasa ada yang tidak

beres. Dia melihat tubuh lawannya yang melayang di udara bagai burung camar

beterbangan. Melesat ke sana menerobos ke mari. Serangannya semakin lama semakin

gencar. Perubahan jurusnya mengejutkan. Terang-terangan dia melihat serangan

dilancarkan dari arah depan, tahu-tahu tubuhnya berkelebat dan serangannya sudah

mengancam dari belakang. Gerakan tangannya seperti asal-asalan saja, namun

sasarannya selalu bagian tubuh yang berbahaya. Pedang kayu di tangannyapun semakin

lama gerakannya semakin aneh. Tiba-tiba menyerang ke kiri dan kadang-kadang

berpindah ke kanan. Kedatangannya selalu tidak terduga-duga.

Lambat laun Yibun Siu San terpaksa harus memusatkan perhatian sepenuhnya untuk

menghadapi lawan. Tokoh kelas tinggi di dunia Bulim ini, dibuat kalang kabut oleh gerakan

tubuh Oey Kang yang bergerak bagai hempasan angin. Biarpun kepandaiannya sangat

tinggi, namun dia sama sekali tidak sempat menggunakannya.

Karena ilmu Cap Pat Mo-hun milik Oey Kang ini merupakan sejenis ilmu yang sangat

istimewa, tubuhnya sambil melayang di udara dapat melesat ke kiri dan ke kanan.

Gerakan tubuhnya seakan tidak pernah berhenti. Meskipun tenaga dalam Yibun Siu San

lebih tinggi lagi, tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Si pengemis sakti yang terus menyaksikan jalannya pertempuran dari samping, menjadi

tercekat hatinya. Diam-diam dia berpikir…

 

‘Nama si iblis tua ini ternyata bukan nama kosong. Dia merupakan musuh tertangguh

yang pernah aku lihat. Kalau dibiarkan terus, Yibun Loji pasti akan kena pukulannya. Lebih

baik aku memanas-manasi hatinya agar bertempur dengan cara yang biasa…’

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung berteriak dengan keras, “Cara bertempur yang

seperti mainan ini, mana terhitung ilmu sejati. Tampaknya julukanmu Sam-jiu San Tian-sin

hanya ejekan para sahabat dunia Kangouw saja. Pada dasarnya tidak berani bertempur

dengan cara jantan dengan lawan!”

Mendengar sindirannya itu, ternyata Oey Kang langsung menghentikan serangannya

dan berjungkir balik di udara satu kali kemudian mendarat turun pada jarak dua depaan.

Tangannya masih menggenggam pedang kayu, mulutnya mengeluarkan suara tertawa

yang dingin.

“Pengemis tua tidak perlu menyulut api membakar hati. Tidak perduli permainan apa

yang kalian keluarkan, aku tetap akan menemani. Tetapi harus ada taruhannya baru

seru!”

Yibun Siu San tertawa terbahak-bahak.

“Taruhan apa boleh kau katakan saja, bahkan taruhan kepala yang ada di atas leher

inipun, aku tidak akan menolaknya!”

Oey Kang melirik Ceng Lam Hong sekilas. Tampak wajah wanita setengah baya itu

masih memancarkan sisa kecantikannya ketika masa muda dulu. Tiba-tiba dia menarik

nafas panjang.

“Kalau aku yang kalah, maka aku akan mematahkan pedangku dan mencukur rambut.

Kemudian mengasingkan diri di pegunungan yang sunyi. Sejak hari ini juga aku tidak akan

mencampuri urusan dunia Kangouw lagi!”

Yibun Siu San menganggukkan kepalanya. “Baik. Kalau aku yang kalah, maka aku akan

mengutungkan sebelah lenganku ini dan untuk selamanya tidak membicarakan ilmu silat

lagi!”

Oey Kang menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Untuk apa Samte berbuat demikian? Kalau kebetulan Giheng bisa meraih kemenangan,

aku hanya minta diijinkan berbicara beberapa patah kata dengan Toaso.”

Mendengar ucapannya, Yibun Siu San segera menyadari bahwa cinta kasih di dalam

hati Jikonya terhadap Toasonya ini masih belum pupus juga walaupun belasan tahun telah

berlalu. Dia menjadi terperanjat. Untuk sesaat kepalanya tertunduk ke bawah dan tidak

mampu memberikan jawaban. Tetapi karena wajahnya ditutupi dengan sehelai cadar

hitam, maka tidak terlihat bagaimana perasaannya saat itu.

Yibun Siu San paham sekali watak Ceng Lam Hong. Meskipun dari luar, wanita ini

terlihat lembut dan ramah, tetapi hatinya lebih keras dari pada baja. Kalau dia sampai

mengetahui seluk beluk di balik kematian sang Toako, mungkin…

 

Tiba-tiba tubuhnya jadi menggigil, dia tidak berani membayangkan kelanjutannya.

Wajahnya didongakkan kembali, dengan nada yang berat dia berkata, “Baiklah, apabila

kau bisa memenangkan aku, maka aku tidak akan ikut campur lagi urusan ini!”

Dia sudah bertekad untuk mengadu jiwa dengan Oey Kang. Selesai berkata, dia segera

menghimpun tenaga dalamnya ke keempat anggota tubuhnya dan mengerahkan hawa

murni untuk melindungi diri. Kakinyapun langsung memasang kuda-kuda dengan posisi

menunggu datangnya serangan.

Kedua orang itu berdiri berhadapan saling menunggu beberapa saat. Akhirnya Oey

Kang yang kehabisan sabar. Pergelangan tangannya terulur dan pedang kayunya langsung

meluncur mengincar dada Yibun Siu San.

Tangan Yibun Siu San membalik dengan melingkar. Timbul segulungan angin yang

terpancar dari pedangnya. Dia berhasil mengelak dari serangan lawan. Pedang di

tangannya menukik, berbalik menerjang ke bawah ketiak Oey Kang.

Sekali berkelebat saja, Oey Kang berhasil menghindarkan diri, disusul dengan meluncurnya

sebuah serangan balasan darinya. Perkelahian mereka kali ini agak berbeda

dengan sebelumnya. Gebrakan kali ini bukan hanya jurus serangannya yang gencar, tetapi

mengandung tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya. Setiap serangan maupun

gerakan yang mereka lakukan mengandung tenaga dalam seberat ribuan kati. Siapapun

yang menunjukkan sedikit saja kelemahannya, maka lawan segera menggunakan

kesempatan itu untuk merandek ke depan. Tenaga yang sudah tersalur ke ujung pedang

bagai gulungan ombak besar yang menerjang datang.

Itulah sebabnya, mereka tidak ingin turun tangan secara asal-asalan. Setiap kali

menge-rahkan satu jurus, yang dipilihnya tentu jurus yang mematikan. Kalau diperhatikan

pada awalnya, mereka bukan sedang berhadapan untuk mengadu jiwa. Untuk sekian lama

mereka hanya berdiri saling memandang, kemudian baru tiba-tiba saling menyerang dua

jurus. Di antara berkelebatnya cahaya pedang, terdengarlah suara benturan, namun setiap

kali selalu beradu lalu berpisah lagi. Masing-masing langsung mencelat ke samping.

Sebetulnya, pertarungan ini merupakan pertarungan yang sulit ditemui dalam dunia

Bulim. Setiap jurus serangan kedua orang itu memang hanya beradu lalu berpisah lagi.

Namun di dalamnya terkandung kekuatan, siasat, pengalaman dan perubahan jurus yang

diandalkan. Dari luar memang sulit menemukan keistimewaannya, tetapi sebetulnya ibarat

telor di ujung tanduk, mati dan hidup dapat ditentukan dalam waktu sekian detik.

Setelah bergebrak kurang lebih sepenanakan nasi, masih juga sulit ditentukan siapa

yang lebih unggul di antara keduanya. Tetapi gerakan mereka semakin lama semakin

mem-bahayakan. Jurus serangannya makin lama makin aneh. Lambat laun Oey Kang

menjadi habis rasa sabarnya. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang,

tubuhnya mencelat ke udara seakan hendak mengerahkan lagi ilmu Cap-pat Mo-hun nya

yang hebat.

Mana mungkin Yibun Siu San memberinya kesempatan, pergelangannya bergetar,

pedangnya langsung ditusukkan ke depan!

Meskipun pedang di tangannya hanya sebilah pedang kayu, tetapi karena tenaga dalamnya

telah disalurkan pada badan pedang tersebut, maka tampaklah cahaya berwarna

keperakan bagai kilat yang menyambar, menukik ke atas. Tampaknya sebentar lagi

 

bokong Oey Kang pasti akan tertotok. Dengan panik Oey Kang mengerutkan sepasang

kakinya. Di tengah udara dia berjungkir balik, tubuhnya melesat menghindarkan diri dari

serangan Yibun Siu San. Kemudian pinggangnya meliuk, ujung pedang meluncur

membalas sebuah serangan.

Belum lagi serangan Yibun Siu San sampai, cepat-cepat dia mengempos hawa

murninya, pedang panjangnya dimiringkan dan langsung menotok. Telapak tangan kirinya

mengambil posisi menahan di depan dada, dengan tenaga sepenuhnya, dia bersiap

melancarkan sebuah pukulan.

Tepat pada saat itu…

Sebuah suara yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan keheningan!

Tampak Tan Ki melangkahkan kakinya menerjang ke depan sambil berteriak…

“Orang jahat, kembalikan Liu Moay-moayku!”

Telapak tangannya langsung terulur ke depan dan menghantam ke arah dada Yibun Siu

San!

Perubahan yang mendadak, tanpa hujan tanpa angin, tentu saja Yibun Siu San yang

melihatnya sampai terpana. Tetapi dia dapat merasakan bahwa pukulan yang dilancarkan

Tan Ki mengandung kekuatan yang dahsyat sekali. Sama sekali tidak boleh dipandang

ringan. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia menghirup nafas

sekuat-kuatnya kemudian mencelat mundur sebanyak tiga langkah.

Tiba-tiba terasa serangkum angin yang timbul dari tebasan pedang menerpa dari

depan, rupanya Oey Kang yang tubuhnya masih melayang di tengah udara dan

melancarkan sebuah serangan pada saat yang bersamaan.

Dengan tampang ketolol-tololan, Tan Ki tertawa terkekeh-kekeh.

“Ternyata kau satu komplotan dengan penculik Liu Moay-moayku!” bentaknya.

Tangan kirinya mengambil posisi menahan di depan dada. Tiba-tiba dia melancarkan

sebuah pukulan, serangkum tenaga yang kuat menimbulkan suara yang menderu-deru

dan dengan telak mendorong hawa pedang Oey Kang yang sedang meluncur datang.

Dengan kecepatan yang sulit ditangkap pandangan mata, dia mengerahkan jurus Naga

muncul dari balik awan tiga kali yang mengandung kekuatan dahsyat, secara berturutturut

dia melancarkan tiga buah serangan. Tiga rangkum tenaga langsung mengincar tiga

urat darah Oey Kang yang mematikan.

Serangan yang gencar dan cepat ini, dilakukan dengan membalas serangan dengan

serangan pula. Oey Kang yang melihatnya sampai terperanjat setengah mati. Pedang

kayunya segera berputar membuat lingkaran. Seiring dengan timbulnya angin pedang

yang tajam, dia melesat ke depan sejauh tujuh langkah kemudian mendarat turun di

sebelah kiri.

Dalam waktu sekejapan mata, serentak Tan Ki berhasil menghindarkan diri dari

serangan dua tokoh kelas tinggi di dunia Bulim saat ini. Bukan hanya Ceng Lam Hong

merasa sedih sekaligus gembira. Bahkan si pengemis sakti Cian Cong juga sampai

 

mengeluarkan suara seruan terkejut. Dia benar-benar merasa di luar dugaan. Sepasang

alisnya langsung terjungkit ke atas. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah

Ceng Lam Hong.

“Apakah kau sudah turun ke kaki bukit?”

“Hm…”

Cian Cong mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Tan Ki.

“Kenapa dia? Uring-uringan, tidak seperti biasanya!”

Mendengar pertanyaannya, serangkum rasa pedih kembali menyelimuti dada Ceng Lam

Hong. Tanpa dapat tertahan lagi, air matanya mengalir dengan deras.

“Ketika aku bertemu dengannya, keadaannya memang sudah begitu.”

“Apakah kau melihat Liu Kouwnio?” tanya Cian Cong mulai panik.

“Tidak, tetapi kalau mendengar nada bicaranya, tampaknya gadis itu telah diculik oleh

seseorang.”

Cian Cong terkejut sekali.

“Apa? Apa yang kau katakan?”

Kata-kata yang diluar dugaannya itu, benar-benar jauh dari perkiraan orangtua itu.

Meskipun biasanya Cian Cong merupakan manusia yang pandai mengendalikan diri dan tenang

menghadapi masalah apapun, namun kali ini dia benar-benar terlonjak saking

terkejut-nya. Sepasang alisnya langsung mengerut erat. Sepatah katapun tidak tercetus

dari mulutnya. Diam-diam dia merenungkan siapa kiranya yang paling besar

kemungkinannya menculik gadis itu.

Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas dalam benaknya. Dia ingat Oey Kang pernah

menculik Mei Ling. Mungkinkah orang itu menggunakan siasat Memancing harimau

meninggalkan gunung kemudian diam-diam dia memerintahkan orang untuk menculik Mei

Ling?

Begitu pikirannya tergerak, hawa amarah dalam dadanya meluap seketika. Dia

mendongakkan wajahnya dan mulutnya mengeluarkan siulan panjang. Tubuhnya

berkelebat ke tengah arena.

“Iblis tua tidak tahu malu! Terimalah jurus serangan Memukul anjing meneteskan liur

dari si pengemis tua ini!”

Lengan kanannya bergetar, dengan sengit dia melancarkan sebuah serangan.

Hatinya sudah yakin betul bahwa Oey Kang yang menculik Mei Ling. Dalam keadaan

marah, dia tidak memperdulikan peraturan dunia Kangouw lagi, tangannya bergerak dan

sebuah pukulan diarahkan ke dada Oey Kang.

Sepasang alis Oey Kang langsung terjungkit ke atas. Tiba-tiba hatinya tergerak…

 

‘Aku sudah berkelahi melawan Samte selama setengah harian, hawa murni dalam tubuhku

sudah terhambur banyak. Apabila bergebrak lagi melawan si pengemis tua ini, aku

tidak akan sanggup mempertahankan diri lebih dari dua puluh kali serangannya.

Kenyataan di depan mata, meskipun Ceng Lam Hong sudah terlihat, namun terpaksa kali

ini aku melepaskannya. Kelak cari lagi akal yang lain dan memaksanya menikah

denganku…’

Begitu pikirannya bergerak, dia berusaha sekuat mungkin menahan hawa amarah dalam

dadanya. Kakinya menutul dan tubuhnya mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Mulut-nya mengeluarkan suara tawa yang dingin.

“Memangnya kenapa kalau tidak tahu malu?”

Cian Cong mendengus satu kali. Baru saja dia menggerakkan bibirnya dengan maksud

ingin memaki iblis tua itu, tiba-tiba dia melihat

Tan Ki sedang tertawa sendirian. Tangannya menggapai-gapai dan menari-nari.

Mulutnya pun terus berteriak, “Liu Moay Moay, jangan lari. Tunggu aku!” baru saja

ucapannya selesai, dia langsung memacu kakinya menghambur ke depan.

Melihat seorang pemuda yang gagah dan tampan dalam waktu yang singkat berubah

menjadi idiot dan kurang waras, tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang.

Kepa-lanya terus menggeleng berkali-kali.

Hatinya sedang merasa berduka dan menyesalkan kemalangan Tan Ki, tiba-tiba

terdengar Ceng Lam Hong berteriak dengan nada yang menyayat hati. Tubuhnya langsung

melesat mengejar. Dalam sekejap mata, dia sudah mencapai jarak sepuluh depa.

Tadinya Yibun Siu San bermaksud mengadu jiwa dengan Oey Kang. Tetapi tampaknya

orang ini selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Ceng Lam Hong. Baginya diri wanita itu

lebih penting dari segalanya. Dari kata-kata Tan Ki yang ngaco tidak karuan, dia sudah

dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Mei Ling. Oleh karena itu, dia segera

menyimpan kembali pedangnya dan tanpa memperdulikan Oey Kang lagi, dia langsung

mengerahkan ginkangnya mengejar.

Terdengar suara hembusan angin yang kemudian disusul dengan berkelebatnya

sesosok bayangan. Rupanya Cian Cong cepat-cepat menenteng hiolo araknya dan ikut

menerjang ke depan mengejar Yibun Siu San.

Dalam sekejapan mata, semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Di atas padang

rerumputan hanya sisa Oey Kang seorang. Dia berdiri sendirian sambil mendongakkan wajahnya

menatap rembulan.

Secara mendadak dia ditinggalkan oleh orang-orang tanpa dilirik sekilaspun. Tapi dia

tidak menaruh dalam hati persoalan ini. Malah mulutnya mengeluarkan suara tawa yang

licik serta menyeramkan.

“Dengan membiarkan aku mengetahui tempat tinggal kalian, pokoknya entah pagi

entah malam, suatu hari aku pasti akan berkunjung kembali dan menemui Toaso.”

gumamnya lirih.

 

Suaranya senyap, orangnyapun mencelat ke udara. Tubuhnya melesat ke depan bagai

sebatang anak panah meluncur ke bawah bukit. Dalam sekejapan mata sudah menghilang

dalam kegelapan.

Di bawah sorotan cahaya rembulan yang remang-remang, tampak empat sosok bayangan

berlari seperti barisan. Jarak mereka hampir tidak berbeda. Di depan mereka tampak

Tan Ki. Pemuda itu baru saja menggerakkan kaki tangannya dengan lincah menghindarkan

diri dari serangan dua tokoh kelas tinggi saat ini. Tetapi sekarang dia berjalan dengan

perlahan. Langkah kakinya seakan berat sekali. Seperti orang yang menyandang penyakit

parah dan cara jalannya pun hampir tidak bertenaga.

Melihat keadaan itu, hati Ceng Lam Hong perih tidak terkatakan. Hatinya semakin

sedih. Untuk sesaat air matanya tidak tertahan lagi berderai dengan deras membasahi

Keempat orang itu dengan perasaan hati yang berbeda berjalan dengan perlahanlahan.

Dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang mengucapkan sepatah kata. Di atas

pa-dang rumput yang luas, suasana semakin mencekam dan memilukan.

Tanpa sadar mereka telah berjalan kembali ke arah rumah peristirahatan. Tiba-tiba Tan

Ki seperti menemukan sesuatu, mendadak dia menjerit histeris dan menerjang ke dalam

ru-mah.

Tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba ini benar-benar di luar dugaan semua orang.

Ceng Lam Hong yang paling terkejut. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu seakan meluap

seketika. Dialah yang pertama-tama menghambur ke dalam rumah agar dapat berjagajaga

terhadap segala kemungkinan.

Begitu mata memandang, dia melihat Tan Ki sedang berdiri termangu-mangu di depan

jendela. Matanya menatap ke arah sebuah kursi goyang yang ada di sebelah kiri dengan

perhatian terpusat.

Ceng Lam Hong tidak tahu kursi itu, tidak lama sebelumnya diduduki oleh Mei Ling.

Sedangkan Tan Ki menatap kursi itu lekat-lekat karena mengenang pembicaraan mereka

yang romantis malam sebelumnya di tempat yang sama.

Sementara itu, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong juga sudah sampai di

rumah itu. Seperti telah disepakati sebelumnya, wajah mereka langsung menyiratkan

perasaan mereka yang tertekan.

Mereka menyadari bahwa pikiran Tan Ki pasti terserang pukulan bathin yang hebat

sehingga jadi kurang waras. Oleh karena itu pula, tampangnya menjadi ketolol-tololan dan

uring-uringan. Hanya saja mereka merasa tidak sampai hati menyampaikannya di hadapan

Ceng Lam Hong.

Dengan tampang seperti orang bodoh, Tan Ki berdiri termangu-mangu sekian lama.

Tiba-tiba bibirnya mengulumkan seulas senyuman. Perlahan-lahan dia berjalan menuju

kursi itu dan duduk di atasnya. Kemudian tampak dia menarik nafas panjang. Dua baris air

mata segera mengalir dengan deras. Seakan membayangkan diri Mei Ling yang akan

menderita setelah diculik.

 

Namun dalam sekejap mata, wajahnya tiba-tiba berubah hebat. Dia mendongakkan

kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. “Kurang ajar! Kau berani menyentuh Liu Moay

Moay-ku!” bentaknya keras.

Baru saja bicaranya selesai, orangnya sudah mencelat ke atas, gerakan tubuhnya cepat

bukan main. Dia melesat ke sebelah kiri, tinjunya langsung menghantam. Kakinya

menendang. Hampir semua meja dan kursi yang ada dalam ruangan itu jungkir balik dan

pecah berantakan.

Tenaga dalamnya sekarang sudah tinggi sekali. Meskipun dalam keadaan kacau pikiran,

tetapi tenaga dalam yang terpancar keluar tidak dapat dipandang ringan. Rumah

peristi-rahatan itu atapnya terbuat dari daun rumbia. Sebagian dindingnya juga terbuat

dari kayu-kayu berbentuk balok. Mendapat hantaman yang kalap dari tangan dan

tendangan kaki Tan Ki, saat itu juga seluruh rumah bergetar bagai dilanda gempa bumi.

Melihat keadaan itu, Yibun Siu San terkejut sekali. Diam-diam dia berpikir, kalau tindakan

Tan Ki ini tidak dihentikan, kemungkinan besar rumah peristirahatannya akan ambruk.

Oleh karena itu, tubuhnya segera berkelebat, lengan kanannya segera terulur. Dengan

gerakan yang aneh, Yibun Siu San mengincar jalan darah di belakang punggung Tan Ki.

Gerakannya ini seakan mengandung kekejian yang tidak terkirakan, wajah Ceng Lam

Hong langsung berubah hebat.

“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.

Lengannya terulur ke depan, sebuah hantaman diluncurkan ke depan menyambut

totokan Yibun Siu San.

Kedua orang itu hidup bersama di perbukitan itu sudah ada sepuluh tahunan. Sejak

awal hingga akhir selalu sering menghormati. Keadaan seperti sekarang ini boleh dibilang

baru berlangsung untuk pertama kalinya. Boleh dibilang saling membentak pun tidak

pernah. Otomatis Yibun Siu San jadi tertegun.

Ceng Lam Hong menarik nafas dalam-dalam.

“Dia sudah berubah seperti orang bodoh. Apakah kau masih sampai hati menotok jalan

darahnya?”

Suara tarikan nafasnya begitu berat, di dalamnya terselip kedukaan yang tidak terkirakan.

Hati Yibun Siu San yang mendengarnya jadi pilu. Tanpa terasa dia melangkah

mundur dua tindak dan berdiri kembali di tempatnya semula.

Begitu matanya memandang, dia melihat tingkah laku Tan Ki seperti orang gila sudah

berhenti. Tetapi dia berdiri tegak sambil menatap ke arah pintu lekat-lekat. Jari tangannya

menunjuk, mulutnya tertawa lebar.

“Liu Moay Moay, kau sudah kembali? Aih, kau benar-benar membuat aku menderita

memikirkan dirimu…”

Hatinya mendapat pukulan bathin yang hebat. Tetapi karena dia terlalu merindukan Mei

Ling, di depan matanya seakan muncul bayangan gadis itu. Dia seakan melihat Mei Ling

sedang tersenyum ke arahnya, tanpa sadar dia mulai melangkah ke arah pintu. Tiba-tiba

ia seperti tersandung sesuatu, kakinya menjadi goyah kemudian tersuruk ke depan.

 

Ceng Lam Hong terkejut setengah mati.

“Anak Ki…!”

Sambil berteriak, orangnya sudah menghambur ke depan. Dia membungkukkan tubuhnya

dan memeriksa seluruh tubuh Tan Ki dengan teliti. Dia takut anaknya itu mendapatkan

luka karena terjatuh tadi. Siapa nyana, Tan Ki benar-benar sudah berubah. Begitu

terjatuh, dia langsung bangkit kembali. Tiba-tiba dia merasa ada segumpal darah yang

hangat meluap melalui ulu hatinya. Kedua matanya langsung berkunang-kunang. Hoak!

Hoak! Anak muda itu memuntahkan darah sebanyak dua kali berturut-turut. Seluruh

kepala dan wajah Ceng Lam Hong sampai terciprat sehingga penuh noda berwarna merah.

Kali ini Ceng Lam Hong benar-benar kalang kabut. Dia menjadi panik sekali. Untung

saja Yibun Siu San berdiri di sampingnya. Laki-laki itu segera maju dan mengulurkan

jarinya untuk menotok tiga buah jalan darah Tan Ki.

Cian Cong malah tersenyum simpul.

“Bocah cilik ini sudah mengeluarkan gumpalan darah yang membeku dalam hatinya.

Hal ini malah mempermudah masalah yang ada.” katanya.

Ceng Lam Hong mendongakkan wajahnya yang basah oleh air mata dan penuh noda

“Apa yang harus kita lakukan?”

Cian Cong mengangkat hiolo araknya dan minum sebanyak dua teguk. Kembali bibirnya

mengembangkan seulas senyuman.

“Penyakit hati terus harus diobati dengan hati pula. Rencana kita sekarang, lebih baik

biarkan dia beristirahat dulu sejenak. Lalu perlahan-lahan kita mencari akal untuk

menemukan Liu Kouwnio. Sayangnya, pertemukan besar dunia Bulim tinggal beberapa

hari lagi. Apabila kesehatan anak Ki sudah pulih kembali, tentu sudah terlambat merebut

kedudukan Bengcu.”

Yibun Siu San menarik nafas panjang.

“Apa boleh buat, asal anak Ki bisa disembuhkan kembali, sudah merupakan

keberuntungan besar diantara kemalangan.”

***

BAGIAN XXIII

Tampang Ceng Lam Hong muram sekali.

“Dunia ini begitu luas. Ke mana kita harus mencari Liu Kouwnio?”

 

Pertanyaan ini diajukan, Cian Cong dan Yibun Siu San sama-sama tidak pernah memikirkan

hal ini, otomatis keduanya jadi tertegun. Tidak seorangpun sanggup memberikan

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tampak Cian Cong menggaruk-garuk

kepalanya sendiri. Dia menghembuskan nafas panjang.

“Kata-kata ini memang tepat sekali. Kolong langit ini luasnya jangan ditanyakan lagi. Ke

mana kita dapat menemukan jejak si penculik?”

Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara Tan Ki yang ada dalam bopongan

Ceng Lam Hong seperti sedang bergumam seorang diri…

“Liu Moay Moay… di mana kau? Liu Moay Moay…”

Hati Cian Cong sedang panik, mendengar kata-katanya yang mesra dan mengandung

kerinduan, dia merasa bulu kuduknya seakan merinding semua. Kekesalannya semakin

ber-tambah-tambah. Matanya segera mendelik lebar-lebar. Kakinya dihentakkan ke atas

tanah berkali-kali.

“Tutup mulutmu yang menggonggong terus! Orang lain justru sedang kebingungan

gara-gara dirimu, kau malah buka mulut! Kata-kata yang mengerikan masih bisa

diucapkan dengan santai. Kalau si pengemis tua sampai marah, besok juga aku akan

menikahi seorang nenek pengemis agar kau lihat!”

Yibun Siu San tertawa terbahak-bahak.

“Cian Heng merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia saat ini. Kemuliaan

hatimu tidak ada yang dapat menandingi. Mengapa mengambil hati atas ocehan seorang

bocah yang sedang linglung?”

Tadinya dia bermaksud mengalihkan bahan pembicaraan agar jangan sampai kata-kata

si pengemis sakti itu membuat perasaan Toasonya semakin pilu. Siapa tahu, baru saja

ucap-annya selesai, tiba-tiba tampak Cian Cong mengeluarkan suara mendesah, lalu

kepalanya mengangguk berulang kali dan langsung memejamkan matanya.

Dia merasa ada titik terang yang melintas dalam benaknya. Mendadak bayangan

seseorang seakan muncul di depan matanya, mulutnya langsung mengeluarkan suara

gumam-an…”

“Dua tokoh sakti? kecuali aku si pengemis tua, masih ada satunya lagi…” berkata

sampai di sini, tiba-tiba dia membuka matanya, seakan-akan telah menemukan sesuatu

yang amat berharga. Kemudian tampak dia menepuk tangannya satu kali. “Betul! Hanya

orang ini yang dapat menolong anak Ki!”

Yibun Siu San melihat si pengemis sakti ini berbicara seorang diri, gerak-geriknya

mencurigakan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia menjadi tertegun.

“Siapa yang Cian Heng maksudkan orang yang dapat menolong anak Ki?”

 

Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Wajahnya berseri-seri tanda hatinya sedang

gembira sekali.

“Kalau ingat tempo dulu, si pengemis tua pertama kali naik ke atas Bu Tong San, lalu

mencari si hidung kerbau (ejekan untuk para tosu) untuk bertanding ilmu silat. Akhirnya

kami bergebrak selama tiga hari tiga malam lamanya. Sepasang lengan baju si pengemis

tua ini tertarik robek oleh jurus Ki Liong Pat-cao atau Naga sakti delapan jurus milik si

hidung kerbau. Sejak saat itu, si pengemis tuapun mendapat julukan Si lengan koyak.

Selama berkelana di dunia Kangouw selama puluhan tahun, entah siapa orangnya yang

memulai ejekan itu. Sejak pertarungan itu pula, para sahabat di dunia Kangouw

memanggil kami sebagai dua tokoh sakti. Ketika pertama-tama mendengarnya, bulu kuduk

si pengemis tua sampai merinding semua. Akhirnya lama-kelamaan jadi terbiasa juga…”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Rupanya bintang penolong yang Cian Heng maksudkan adalah seorang Cianpwe dari

Bu Tong Pai yang bergelar Tian Bu Cu, betulkan?” tukasnya cepat.

Cian Cong ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak.

“Memang betul, kecuali dia, siapa lagi yang dapat menyembuhkan penyakit kejiwaan

ini?”

Mendengar keterangannya, Ceng Lam Hong seperti menemukan setitik sinar terang

dalam kegelapan. Cepat-cepat dia mengusap air matanya dan mengembangkan seulas

senyuman. Dia segera berdiri dan menjura kepada Cian Cong dalam-dalam.

“Mohon kesediaan Toa Pek mengulurkan tangan agar semuanya berjalan dengan baik.

Sebelumnya Siau Hujin (Nyonya muda) di sini mengucapkan banyak terima kasih.

Tetapi… menurut berita yang tersebar di dunia Kangouw, Tian Bu Cu Cianpwe sudah lama

mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi lagi. Takutnya kalau kita sampai

di sana, bukan saja menganggu ketenangan orang, malah pulang dengan tangan kosong.

Kalau ternyata demikian, apa yang harus kita lakukan?” tampaknya hati wanita ini masih

bimbang. Dia takut akhirnya akan mendapat kekecewaan.

Cian Cong mendongakkan wajahnya ke atas, perlahan-lahan dia mendengus satu kali.

“Si pengemis tua mana pernah memohon kepada orang. Tetapi kalau ucapan sudah

dikeluarkan, memangnya takut dia tidak mengabulkan? Kalau penyakit anak Ki satu hari

tidak sembuh, aku akan merongrongnya satu hari. Kalau dua hari tidak sembuh, artinya si

hidung kerbau memang sengaja ingin membuat si pengemis tua menjadi marah. Maka aku

akan mengajaknya berkelahi lagi selama tiga hari tiga malam!”

Tampak Yibun Siu San menundukkan kepalanya merenung.

“Tian Bu Cu Toyu tinggal di Bu Tong San, jaraknya dari sini masih ada tiga ratusan li.

Jangka yang pendek pasti tidak bisa sampai. Meskipun penyakit anak Ki bisa disembuhkan,

rasanya tidak sempat lagi menghadiri Bulim tay hwe.”

Sepasang alis Ceng Lam Hong bertaut erat. Kemudian dia menarik nafas panjang.

 

“Mohon perlindungan dari Thian yang kuasa, agar penyakit anak Ki dapat disembuhkan.

Hal itu sudah merupakan keberuntungan dalam hidupku. Persoalan lainnya, biarpun

sebesar apa, saat ini tidak sempat kita perdulikan lagi.”

Mendengar nada bicaranya yang penuh dengan kasih sayang seorang ibu, Yibun Siu

San merasa terharu. Dalam hatinya timbul rasa hormat yang semakin tinggi. Kalau

terkenang kembali belasan tahun yang lalu, mereka tiga bersaudara jatuh cinta pada gadis

yang sama. Tetapi karena dirinya memang tidak pandai berbicara dan jarang bergaul,

akibatnya malah Toako dan Oey Kang yang bersaing ketat. Akhirnya, karena Toako lebih

tampan dan gagah, juga ilmu silatnya lebih tinggi serta ramah, hati Toaso pun terpikat

padanya. Justru pada malam pernikahan mereka, dengan membawa perasaan malu,

dirinya dan Oey Kang pergi secara diam-diam.

Waktu terus berlalu, dalam sekejap mata hampir setengah dari kehidupan mereka telah

terlewati. Mimpipun dia tidak pernah membayangkan bahwa selama belasan tahun ini dia

bisa menemani Toaso setiap hari. Meskipun hubungan mereka dibatasi peraturan tertentu,

dan otomatis dia sendiri tidak berani berlaku tidak sopan sedikitpun, namun hatinya sudah

cukup terhibur dan kerinduannya seakan sudah terobati. Seandainya sepuluh tahun yang

lalu, di malam hujan lebat, dia tidak kebetulan bertemu dengan Toaso yang sedang

mengejar seorang manusia bertopeng, mana mungkin terjadi kebetulan ini. Kalau manusia

bertopeng itu tidak menaruh belas kasihan, Toaso juga tidak mungkin dapat hidup sampai

hari ini…

Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba ada sesuatu yang teringat olehnya.

“Kalau begitu, kita harus berangkat secepatnya. Tempat ini sudah diketahui oleh Oey

Kang. Bukan tidak mungkin kalau kapan waktu saja dia akan datang mengacau…” sambil

berkata, dengan penuh perhatian dia melirik ke arah Ceng Lam Hong sekilas. Setelah itu

cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan mempersiapkan bekal perjalanan.

Pandangan mata Ceng Lam Hong sempat bertaut dengan sinar mata Yibun Siu San.

Hatinya menjadi terlonjak. Tetapi cepat-cepat dia menundukkan kepalanya. Dia

mengeluarkan dua butir pil dari dalam sakunya dan memasukkannya dalam mulut Tan Ki.

Tindakannya ini sebetulnya untuk menghindari sinar mata Yibun Siu San. Mana

mungkin dia tidak tahu perasaan hati paman kecilnya ini terhadap dirinya sendiri. Sejak

kematian suami, Yibun Siu San selalu mendampinginya. Baik suka maupun duka telah

mereka lalui bersama. Bahkan sepuluh tahun sudah berlalu, sejak awal hingga akhir belum

pernah Ceng Lam Hong mendengar laki-laki itu mengeluh sepatah katapun. Malah

sebaliknya, meskipun dia jarang berbicara, tetapi tindak-tanduknya terhadap Ceng Lam

Hong selalu lembut dan penuh perhatian. Bahkan kasih sayangnya tidak di bawah

suaminya sendiri. Tetapi, Ceng Lam Hong berpikir kembali, bahwa dirinya adalah wanita

yang bersuami. Meskipun suaminya sudah meninggal, namun dia masih belum

membalaskan dendamnya. Mana mungkin dia berani menerima uluran tangan laki-laki itu?

Setiap kali berpikir sampai di sini, dia langsung menekan perasaan ibanya dalam-dalam

dan hanya bisa menguraikan air mata seorang

diri…

Saat ini, melihat kembali sinar mata Yibun Siu San yang mengandung kasih yang

bahkan lebih dalam daripada biasanya, dia tidak tahu apa sebabnya. Namun dia dapat

 

merasakan bahwa sinar mata itu tidak menampakkan kebahagiaan, malah sebaliknya

mengandung penderitaan yang tidak terkirakan…

****

Tiga hari kemudian…

Pada sebuah jalanan berpasir kuning, muncul dua ekor kuda dengan sebuah kereta.

Ini merupakan sebuah jalan penting di daerah utara Hu Pak. Dua ekor kuda dan kereta

itu berlari dengan pesat. Setiap kali roda berputar, di sekelilingnya timbul debu-debu yang

Saat tengah hari, matahari bersinar dengan terik. Kedua ekor kuda dan kereta itu

terpaksa mencari sebuah penginapan untuk bermalam dan beristirahat.

Ternyata orang yang menunggang kedua ekor kuda itu adalah si pengemis sakti Cian

Cong dan Yibun Siu San. Sedangkan orang yang ada di dalam kereta, tidak lain adalah

Ceng Lam Hong serta Tan Ki yang pikirannya kacau.

Meskipun si pengemis sakti Cian Cong ladalah seorang tokoh yang sudah sangat

terkenal di dunia Bulim, tetapi dia sudah terbiasa melalui jalan pegunungan dan bahkan

dengan berlari saja. Sepanjang perjalanan ini mereka selalu menunggang kuda, belum

pernah menggunakan sepasang kaki. Jadi kepandaiannya percuma saja. Hal ini malah

membuat pinggang si pengemis sakti jadi nyeri tidak terkatakan. Begitu masuk ke dalam

kamar penginapan, dia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menjerit

Siapa nyana, suara jeritannya mengejutkan tamu di kamar sebelah. Terdengar suara

bentakan dari mulut seorang gadis…

“Siapa sih yang kematian ayah bunda sehingga menjerit-jerit begitu keras?”

Cian Cong biasa bergelut dengan pedang dan golok. Namanya sudah sangat terkenal.

Kejadian sehebat apapun sudah pernah ditemuinya, tetapi menghadapi bentakan

semacam ini, dia tak menyangka sama sekali. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu dan

tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Diam-diam dia meleletkan lidahnya.

“Galak sekali nenek ini, si pengemis tua benar-benar ketemu batunya.”

Kembali dia menarik nafas panjang.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat di depan pintu, lalu langsung

melangkahkan kakinya lebar-lebar ke dalam.

“Siapa yang memaki orang?”

Cian Cong mengalihkan pandangannya. Dia melihat seorang gadis yang kurang lebih

berusia tujuh atau delapan belas tahun. Wajahnya penuh dengan titik-titik hitam. Tanpa

dapat ditahan lagi, dia jadi tertegun. Kemudian dia tertawa lebar.

 

“Biasanya si pengemis tua tidak pernah membicarakan orang lain di balik punggungnya.

Memangnya siapa yang memaki dirimu? Malah kau yang sembarangan masuk ke

kamar orang, sama sekali tidak pantas!”

Gadis itu mendengus dingin satu kali.

“Nonamu ini mempunyai kekuasaan yang besar. Tempat manapun boleh didatangi asal

hatiku senang! Akh…!”

Gadis itu memperhatikan Cian Cong dari atas kepala sampai ke jbawah kaki. “Apakah

kau anggota Kai Pang?” tanyanya.

Cian Cong tertawa lebar. “Si pengemis tua tidak pernah menanyakan jurusan Kai Pang.

Tiba-tiba Nona menanyakan hal ini, apakah anak murid atau cucu murid Kai Pang ada

yang melakukan kesalahan terhadapmu?”

Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya mempermainkan kepang rambutnya yang

panjang menjuntai.

“Aku hanya ingin berkelahi. Ingin menjajal sampai di mana sebenarnya kehebatan ilmu

silat Kai Pang yang terkenal itu!”

Tampaknya watak gadis ini senang sekali mencari gara-gara dengan orang. Tetapi hatinya

sendiri masih polos. Apa yang dikatakannya lansung segera dilakukan tanpa berpikir

panjang lagi. Selesai berkata, pergelangan tangannya langsung membalik, sebuah totokan

langsung dilancarkan ke depan.

Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan. Gerakannya juga demikian

cepat serta aneh. Hati Cian Cong jadi terkesiap. Baru saja dia bermaksud melesat ke

samping untuk menghindarkan diri, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terasa ketat.

Rupanya serangan gadis itu yang tadinya berupa totokan di tengah jalan tiba-tiba berubah

menjadi cekalan. Ketika Cian Cong menyadarinya, pergelangan tangannya sudah

tercengkeram oleh gadis itu. Tenaga yang baru saja disiapkan secara diam-diam lenyap

entah ke mana.

Rasa terkejut Cian Cong kali ini bukan kepalang tanggung. Dia tidak menyangka gadis

itu dapat melancarkan serangan sedemikian cepat. Dia sendiri yang memiliki ilmu tinggi,

masih tidak dapat menghindarkan diri dari cengkeramannya.

Bahkan Ceng Lam Hong dan Yibun Siu San yang berdiri di sampingnya juga terkejut

sekali. Mereka hampir tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri.

Sementara itu…

Biarpun pergelangan tangan Cian Cong tercekal oleh lawannya, tapi bagaimanapun dia

merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia ini. Nama besarnya bukan didapatkan

dengan mudah, oleh karena itu, dia segera menghimpun hawa murninya dan

menyalurkannya ke arah pergelangan tangan.

Serangan gadis itu belum menggunakan segenap tenaganya. Dia mengira dengan

cekalannya kali ini, lawan pasti tidak sanggup mengerahkan tenaganya. Asal dia

 

mencengke-ram lebih keras sedikit saja, kemungkinan lengan kanannya bisa terlepas dari

Siapa nyana, pergelangan tangan kanan Cian Cong tiba-tiba berubah sekeras baja. Dia

merasa kesulitan untuk menggerakannya, diam-diam dia jadi terkejut. Telinganya

mendengar suara bentakan yang keras, tahu-tahu pergelangan tangan lawannya yang

tercekal sudah terlepas!

Begitu berhasil melepaskan diri dari cekalan gadis itu, dalam waktu yang bersamaan

Cian Cong membentak dengan keras. Telapak tangannya mengeluarkan suara desiran

angin. Dengan cepat bagian dada lawannya sudah terancam pukulan orangtua itu. Cara

turun tangannya aneh dan hebat, bahkan secepat kilat.

Mendengar suara pukulan yang dahsyat, wajah gadis itu yang penuh dengan bintikbintik

hitam itu langsung berubah, pertanda hatinya terperanjat sekali. Kakinya segera

menutul, terdengar suara kibaran pakaiannya, tubuhnya mencelat ke atas dan tangannya

segera membalik serta melancarkan dua buah pukulan sekaligus.

Serangannya yang dilakukan dari udara ini sangat indah. Bagai tarian para bidadari,

bagai dewi naik ke atas rembulan. Sama sekali tidak mirip dengan orang yang sedang

berkelahi atau mengadu kekerasan.

Namun tenaga yang terkandung dalam serangannya sangat dahsyat. Lagipula gerakannya

aneh. Begitu serangan Cian Cong gagal, bagian lehernya sudah terasa terhembus oleh

angin yang kencang, tahu-tahu dirinya sudah diserang dengan gencar.

Hati Cian Cong tergetar seketika, dia langsung bersuit marah. Sekali celat ia langsung

menghindarkan diri dari serangan lawan. Sepasang matanya yang bersinar tajam. Dia

memperhatikan gerakan tangan serta tubuh gadis itu. Diam-diam pikirannya bekerja,

tetapi dia tidak dapat menduga asal-usul lawannya. Dia hanya merasa jurus-jurus yang

dilancarkan gadis itu begitu asing, bahkan mendengarnya pun belum pernah.

Perlu diketahui bahwa si pengemis sakti

Cian Cong ini sudah malang melintang di dunia Bulim hampir enam puluh tahun lamanya.

Pengetahuannya sangat luas. Asal pihak lawannya memainkan beberapa jurus saja,

dia langsung menebak asal-usul orang itu. Tetapi gerakan gadis ini aneh dan keji. Dia

bahkan belum pernah melihat gerakan seperti ini sekalipun. Oleh karena itu, hatinya

langsung yakin bahwa gadis itu bukan berasal dari daerah Tiong Goan.

Justru ketika hati Cian Cong masih diliputi kebimbangan, tiba-tiba gadis itu tertawa

terkekeh-kekeh. Dengan sepenuh tenaga dia melancarkan sebuah pukulan.

Pukulan yang dilancarkan ini bagai memecahkan keheningan di dalam kamar itu.

Suaranya berdesing-desing, serangkum tenaga yang kuat laksana ambruknya sebuah

gunung mendesak ke arah Cian Cong.

Hati si pengemis sakti itu langsung tergerak. Tiba-tiba dia berniat menjajal sampai di

mana kekuatan tenaga dalam gadis itu. Bukannya mundur, dia malah bergerak maju.

Dalam waktu yang bersamaan, dia mengulurkan telapak tangannya dan menyambut

serangan gadis tersebut.

 

Terdengar suara yang menggelegar. Gadis itu menyambut serangan dengan kekerasan,

hatinya terasa dilanda hawa panas. Ternyata dia sudah dibuat tergetar oleh Cian Cong

sehingga mundur tiga langkah. Wajahnya yang penuh dengan bintik-bintik hitam jadi

pucat pasi.

Tepat pada saat itu juga…

Suara bentakan yang merdu menyusup di telinga para tokoh yang ada dalam kamar itu.

Disusul dengan suara seorang gadis yang terdengar panik sekali…

“Jangan berkelahi!”

Bayangan manusia berkelebat, di hadapan Cian Cong tahu-tahu telah berdiri seseorang.

Usianya paling-paling sekitar dua puluhan. Matanya bening dan sayu. Hidungnya bangir.

Bibirnya demikian merah bak api yang membara. Mungkin karena terlalu panik sehingga

tampak gemetar.

Tiba-tiba dia menghambur ke dalam kamar. Tanpa memperdulikan orang lainnya sama

sekali, dia langsung menghampiri gadis yang wajahnya bintik-bintik hitam itu. Dengan

penuh perhatian dia bertanya…

“Ie Moay, apakah kau terluka?”

Gadis yang wajahnya berbintik-bintik itu merasa pukulan Cian Cong tadi mengandung

tenaga dalam yang dahsyat sekali. Saat ini telapak tangannya terasa perih. Wajahnya

langsung meringis dan seperti orang yang akan menangis.

“Sekarang tangan rasanya kebal.” katanya dengan sedih.

Gadis yang cantik jelita itu tersenyum simpul. Dia menepuk-nepuk pundak gadis yang

wajahnya berbintik-bintik itu.

“Biasanya kau paling senang mencari gara-gara. Malah mengacau ke kamar orang.

Merasakan sedikit pelajaran baik juga bagi dirimu.” sembari berkata, dia membalikkan

tubuhnya dan menjura ke arah Cian Cong dan yang lainnya. Dengan nada menyesal dia

berkata. “Adikku ini tidak tahu apa-apa. Kali ini malah mengganggu ketenangan kalian.

Harap sudi memaafkan.”

Cian Cong tertawa lebar.

“Jangan sungkan, jangan sungkan. Hanya urusan sepele saja, si pengemis tua tidak

sanggup menerima penghormatan sebesar ini.” sahutnya. Tiba-tiba wajahnya berubah

serius. Dia membalas penghormatan yang diberikan gadis itu. “Mohon tanya nama kedua

nona yang mulia.”

Gadis yang cantik jelita itu merenung sejenak. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya

menjawab pertanyaan Cian Cong. Namun gadis yang wajahnya penuh bintik-bintik

hitam itu langsung mendahului menjawab…

“Aku bernama Cin Ie, dia adalah kakakku Cin Ying, kami berasal dari…”

 

Gadis yang cantik jelita itu melihat mulut adiknya tidak bisa ditahan. Hampir saja

menyebutkan asal-usul mereka. Wajahnya langsung berubah.

“Tutup mulut!” bentaknya.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu, tiba-tiba dia merasa ada nada ucapannya terlalu

tajam, mungkin perasaan adiknya bisa tersinggung. Tanpa terasa, mimik wajahnya jadi

lembut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

“Ie Moay, kedatangan kita kali ini, kecuali berpersiar, masih ada tugas lainnya yang

penting sekali. Oleh karena itu harus dijaga, jangan sampai orang tahu asal-usul kita,

mengerti?”

Tampaknya Cin Ie sangat menghormati kakaknya. Mendengar ucapan Cin Ying, dia

langsung meleletkan lidahnya.

“Baiklah, aku tidak akan berkata apa-apa.”

Sejak tadi Yibun Siu San memperhatikan kedua kakak adik ini. Yang satu cantiknya

bukan main, yang satunya lagi jeleknya kelewatan. Tetapi sepasang mata mereka

menyorotkan sinar yang tajam. Hatinya jadi berdebar-debar. Cepat-cepat dia maju

beberapa langkah. “Nona…”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terasa ada serangkum angin yang berhembus

ke arahnya. Yibun Siu San langsung membentak.

“Apa yang kau lakukan?”

Kakinya menutul, dengan cepat dia mencelat mundur menghindarkan diri dari cekalan

tangan Cin Ie.

Tampak gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Cadar hitam yang menutupi wajahmu itu lucu sekali. Bolehkah aku meminjamnya

sebentar untuk bermain?”

Cin Ying segera memarahinya dengan bibir

“Adik Ie tidak boleh kurang ajar. Orang pasti ada persoalan tersendiri makanya

mengenakan cadar untuk menutupi wajah aslinya. Mana boleh kau sembarangan

menjamahnya?”

Mulut Cin Ie mengeluarkan suara keluhan kekecewaan. Dia menarik nafas panjang.

Wajahnya jadi muram seketika. Yibun Siu San tertawa santai.

“Kata-kata nona ini terlalu berat. Kalau adik ini ingin bermain dengan cadar ini, tidak

menjadi masalah. Tetapi jangan bergerak turun tangan secara tidak terduga-duga, hal ini

bisa mengakibatkan kesalahpahaman di antara kedua pihak. Tetapi, di dalam hati Cayhe

ada beberapa persoalan yang belum jelas, ingin mohon tanya kepada nona berdua.”

 

Cin Ie mendengar Yibun Siu San bersedia meminjamkan cadar kepadanya, hatinya

menjadi gembira kembali. Dengan tampang ketolol-tololan dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Cepat tanyakan saja. Kalau hal yang aku tahu, pasti aku akan memberitahukannya.

Tetapi kalau memang aku tidak tahu, ya… apa boleh buat?”

Yibun Siu San tersenyum lembut.

“Ilmu silat yang nona lancarkan tadi benar-benar mengagumkan.” Yibun Siu San ingin

menyelidiki asal usul kedua gadis itu. Oleh karena itu, begitu buka mulut dia langsung

Otak Cin Ie memang kurang cerdas. Tindak-tanduknya selalu kekanak-kanakan. Hatinya

polos, tidak kenal akal busuk manusia di dunia ini. Mendengar pujian Yibun Siu San,

dia segera tertawa lebar.

“Akh… biasa-biasa saja. Ilmu silatku ini adalah hasil didikan ayahku sendiri. Apanya

yang hebat?”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Kalau begitu, tentunya ayahmu merupakan tokoh yang ilmunya sangat tinggi di dunia

Bulim?”

Bibir Cin Ie sudah bergerak-gerak. Dia sudah bermaksud mengatakan nama ayahnya.

Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Cin Ying. Kata-kata yang hampir keluar terhenti seketika.

Gadis yang cantik itu langsung tertawa dingin.

“Tampaknya sahabat ini susah payah menyeldiki riwayat hidup orang, sebetulnya apa

tujuanmu?” tanyanya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Yibun Siu San benar-benar tidak menduga sama

sekali. Untuk sesaat dia jadi tertegun, namun sekejap saja sudah pulih kembali. Dia

langsung tertawa lebar.

“Dulu Cayhe mempunyai seorang sahabat lama, namun dia sudah lama mengasingkan

diri. Melihat gaya serangan Nona ini tadi, mirip sekali dengan ilmu andalannya yang tidak

diwariskan kepada orang luar. Oleh karena itu, Cayhe memberanikan diri untuk bertanya.

Tidak disangka malah menerbitkan salah paham Nona, maafkan saja.”

Sebetulnya, Yibun Siu San sudah mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Mana

mungkin dia mempunyai teman? Kata-katanya tadi hanya sebagai alasan yang

diucapkannya dalam keadaan terdesak. Namun karena suaranya yang lembut dan katakatanya

yang halus, Cin Ying agak percaya.

‘Meskipun Gihu (ayah angkat) adalah Beng-cu terdahulu dari samudera luar, tetapi

dalam pembicaraan sehari-hari sering kegagahan para tokoh Bulim di Tionggoan. Ayah

juga memuji bahwa mereka cinta negara, berjiwa pendekar dan suka menolong yang

lemah. Mungkinkah Gihu tadinya juga seorang tokoh Bulim di Tionggoan ini dan juga

merupakan sahabat lama Tuan yang mengenakan kerudung ini?’ tanyanya dalam hati.

 

Begitu pikiran ini melintas di benaknya, Cin Ying jadi mulai percaya. Tetapi dia masih

merasa bimbang, sehingga bertanya kembali, “Ayah selamanya jarang keluar rumah. Juga

tidak banyak bertanya masalah orang lain. Locianpwe kalau memang kenal dengan Gihu,

Siau li memberanikan diri menanyakan nama besar atau gelar Cianpwe yang mulia.”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Mungkin kau pernah mendengar ayahmu bercerita tentang Coan Lam Tajhiap Yibun

Siu San. Orangtua itu adalah Po Siu Cu Cian Cong yang namanya sudah terkenal sekali di

dunia Kangouw.”

Cin Ying memejamkan matanya merenung sejenak. Di dalam benaknya terlintas ingatan

samar-samar bahwa dia rasanya memang pernah mendengar nama kedua orang ini. Rasa

bimbangnya pun sirna seketika. Bibirnya merekah mengembangkan seulas senyuman yang

“Rupanya Lopek berdua, harap terima penghormatan Ying Ji. Selesai berkata, dia

langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.

Wajahnya cantik jelita memang sulit dicari tandingannya. Begitu tersenyum,

kecemerlang an wajahnya semakin mempesona, Yibun Siu San dan Cian Cong sampai

merasa antung mereka berdebar-debar. Cepat-cepat mereka memalingkan wajahnya,

tidak berani nelihat lagi. Bahkan mereka lupa membangunkannya, meskipun gadis itu

sudah mendiri berlutut di atas tanah.

Cin Ie melihat kakaknya melakukan penghormatan kepada kedua orang itu dengan

berlutut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera ikut berlutut di samping Cin Ying.

Perlu diketahui, adat zaman dulu sangat mementingkan penghormatan terhadap orang

yang lebih tua. Cara berlutut seperti inilah yang justru harus dilakukan. Orang yang

menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah, apabila belum disuruh bangun oleh yang

bersangkutan, maka ia harus berlutut terus selamanya.

Setelah berlutut beberapa saat, Cin Ie melihat Yibun Siu San serta Cian Cong tetap

melihat ke arah lain tanpa memperdulikan sama sekali. Dia mulai kehabisan sabar. Dasar

sikapnya memang ketolol-tololan. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung berteriak,

“Hei, kenapa tidak berbicara lagi. Sepasang lutut Nonamu ini sudah pegal setengah mati!”

Yibun Siu San dan Cian Cong bagai tersentak dari lamunan, keduanya mengeluarkan

seruan terkejut.

“Bangun, bangun!” kata mereka serentak.

Sembari tersenyum Cin Ying berdiri. Matanya beralih dan berhenti pada diri Tan Ki yang

sedang terbaring di atas tempat tidur.

“Entah ada hubungan apa antara Lopek dengan Heng Tai yang berada di atas tempat

tidur itu?” tanyanya perlahan.

“Keponakan.” sahut Yibun Siu San.

“Apakah dia terluka?”

 

“Tidak. Hanya pikirannya yang terkena pukulan bathin yang hebat. Kesadarannya hilang

dan orangnya menjadi kalap. Kami memberinya pil penenang dan sekaligus menotok jalan

darah tidurnya. Dengan demikian dia dapat beristirahat dengan tenang beberapa saat dan

jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.”

“Adikku suka sekali cadar penutup wajah Lopek itu, untung saja Lopek bersedia

menghadiahkan. Dengan demikian, kami jadi berhutang budi. Meskipun keponakan tidak

mempunyai kepandaian yang mengejutkan, namun almarhum ayah pernah mengajarkan

cara pengobatan dengan totokan jari. Rasanya masih boleh dicoba. Kalau Lopek dapat

menaruh kepercayaan, sekarang juga Tit li (keponakan perempuan) akan mengobati

penyakit Heng Tai ini sebagai balas jasa Lopek yang menghadiahkan cadar muka kepada

adikku.” kata Cin Ying sambil tersenyum manis.

Mendengar kata-katanya, Yibun Siu San jadi termangu-mangu. Hatinya menjadi serba

salah. Untuk sesaat dia merenungkan hal ini dengan kepala tertunduk dan tidak bisa

mengambil keputusan apapun.

Di lain pihak, dia mengagumi kepandaian Cin Ying mengatur tata bahasanya sehingga

tidak menyolok maksud hati yang sebenarnya. Gadis ini sangat cerdas. Meskipun hatinya

mulai percaya kalau Yibun Siu San adalah sahabat almarhum ayahnya, tetapi dia tetap

berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Apabila dia berhasil mengobati penyakit Tan

Ki, berarti dia sudah membalas budi Yibun Siu San yang berjanji akan menghadiahkan

cadar mukanya kepada Cin Ie. Dengan demikian, diantara mereka tidak ada hutang

piutang lagi dan tentu saja Yibun Siu San tidak enak hati apabila bertanya terus mengenai

asal-usul dan tujuan mereka datang ke Tionggoan.

Di benaknya terlintas dua macam masalah yang terus menggelayuti pikirannya. Dia curiga

sekali terhadap kedua gadis ini. Kemungkinan besar mereka merupakan mata-mata

yang dikirim oleh golongan sesat luar samudera. Kalau dia menyatakan persetujuannya,

maka dia akan kehilangan kesempatan menyelediki apa tujuan mereka dan otomatis

terputus sumber berita yang baik…

Lalu apabila dia menolaknya, penyakit Tan Ki yang menyangkut kejiwaan ini, mungkin

sulit disembuhkan. Seumur hidupnya dia akan menjadi orang yang ketolol-tololan.

Bukankah hal itu merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir?

Semakin dipikirkan, Yibun Siu San merasa semakin serba salah. Dua masalah yang

sama-sama pentingnya terus berputar di benaknya, hal ini membuatnya tidak berani

sembarangan mengambil keputusan…

Untuk sesaat, hatinya seolah diganduli beban yang berat sekali. Kacau, kalut, ruwet!

Sampai cukup lama, dia masih belum bisa memberikan jawaban. Matanya perlahan-lahan

mengerling. Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan sinar mata Ceng Lam Hong.

Hati Yibun Siu San tergetar. Dia menjadi tertegun seketika.

Dia merasa wajah wanita itu menyiratkan kegelisahan yang tidak terkirakan. Sinar matanya

mengandung penderitaan dan harapan. Serangkum cinta kasih seorang ibu tersirat

jelas pada diri wanita itu…

 

Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang, hatinya tidak tega melihat

kesedihan Ceng Lam Hong. Bibirnya langsung memaksakan seulas senyuman.

“Kalau begitu terpaksa merepotkan Nona.” dia menjura satu kali, kemudian menggeser

tubuhnya ke samping.

Tiba-tiba terdengar suara bergesernya tubuh seseorang. Ceng Lam Hong sudah berdiri

di sampingnya.

“Toako, terima kasih. Kalau anak Ki bisa selamat tanpa kelainan apapun, semuanya

berkat ucapan Toako tadi.”

Suara itu bening dan lirih, seolah bisikan saja. Namun bagi pendengaran Yibun Siu San

bagai guntur yang menggelegar, di dalamnya tersirat perasaan terima kasih yang tidak

terhingga. Tanpa dapat ditahan lagi, dia melirik ke arahnya sekilas. Bibirnya tertawa

“Asal anak Ki bisa pulih kembali seperti sedia kala, urusan menyelidiki para gembong

iblis dari luar samudera yang ada kemungkinan ingin mengacau Tionggoan, terpaksa kita

tunda kesempatan yang lain.”

Ceng Lam Hong tersenyum lembut.

“Aku tahu selamanya Toako tidak suka melihat aku menderita dan memperhatikan aku

secara luar biasa…” tiba-tiba dia melihat Cian Cong melangkahkan kakinya mendekati

mereka, cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan membungkam seribu bahasa.

Matanya segera dialihkan, dia melihat Cin Ying dan Cin Ie sedang berjalan ke arah

tempat tidur di mana Tan Ki berbaring. Saat itu juga seraut wajah yang tampan hadir di

dalam bola mata kedua gadis itu. Cin Ying dibesarkan di samudera luar. Mana pernah dia

bertemu dengan pemuda yang begitu gagah dan tampan seperti Tan Ki. Begitu matanya

memandang, jantungnya langsung berdebar-debar. Kedua pipinya menjadi merah jengah.

Tanpa dapat ditahan lagi dia memalingkan wajahnya. Cepat-cepat dia mengatur

pernafasannya dan menekan perasaannya yang memalukan.

Watak Cin Ie ketolol-tololan. Akal dan pikirannya tidak secerdas kakaknya. Dia melihat

wajah tampan Tan Ki yang mana belum pernah dilihatnya seumur hidup, mulutnya segera

mengeluarkan suara deheman sebanyak dua kali.

“Pemuda yang tampan sekali, aku juga jadi senang melihatnya.”

Cin Ying langsung mendelik kepadanya.

“Jangan banyak bicara, hanya menjatuhkan harga dirimu sendiri.”

Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya, kemudian menekan dada Tan Ki. Dia

segera menghimpun hawa murninya dan mendorongnya ke telapak tangan. Dengan tepat

disalurkannya tenaga dalamnya ke tubuh anak muda itu.

Cara pengobatan seperti ini menimbulkan penderitaan yang hebat. Tiba-tiba tubuh Tan

Ki seperti disengat aliran listrik, melonjak-lonjak dua kali dan mulutnya terus

 

mengeluarkan suara rintihan. Namun sekejap kemudian, tubuhnya tidak bergerak lagi

serta mulutnya juga berhenti merintih. Keadaannya kembali seperti sebelumnya.

Ceng Lam Hong meremas tangannya sendiri berulang kali. Tampangnya sangat tegang.

Berhasil atau gagalnya Cin Ying mengobati Tan Ki menyangkut kebahagiaan anak muda itu

seumur hidupnya…

Meskipun wajah Yibun Siu San ditutupi, cadar hitam sehingga orang tidak tahu bagaimana

perasaannya saat itu, tetapi secara diam-diam dia sudah mengerahkan tenaga

dalamnya, siap sedia setiap waktu untuk dilancarkan apabila Cin Ying memperlihatkan

gerak-gerik yang mungkin akan mencelakai Tan Ki.

Kurang lebih sepeminum teh telah berlalu…

Telapak tangan Cin Ying masih belum dilepaskan, tiba-tiba terlihat sekumpulan uap

putih mengepul dari atas kepalanya dan melayang di udara. Wajahnya sudah berubah

merah padam, keringat menetes memenuhi bagian kepalanya bagai curahan hujan. Tetapi

dia tetap menggertakkan giginya erat-erat, raut wajahnya kelam sekali. Tampaknya dia

telah berusaha sekuat tenaga.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan dan tangan kanannya mengayunayun,

kemudian meluncur ke bagian ubun-ubun Tan Ki!

Perubahan yang mendadak ini, benar-benar tidak disangka-sangka oleh orang yang

lainnya. Meskipun Yibun Siu San sudab mempersiapkan diri, tak urung ia terkesiap juga.

Hati-nya berpikir untuk menerjang ke depan dan memberikan pertolongan, tetapi dia

melihat Cin Ying mencelat mundur sejauh setengah langkah setelah memukul ubun-ubun

kepala Tan Ki. Dalam waktu yang bersamaan, lengannya terangkat, sepasang jari telunjuk

serta jari tengahnya menutul secara berturut-turut.

Dalam waktu yang singkat, delapan belas urat nadi di tubuh Tan Ki telah tertotok

olehnya. Sampai saat ini, Cin Ying baru menghembuskan nafas panjang. Tangannya

terangkat ke atas dan mengusap keringat yang bercucuran di seluruh wajah dengan ujung

lengan bajunya.

“Heng Tai ini hanya perlu istirahat selama satu hari lagi, tentu ia akan pulih kembali

seperti semula.”

Setelah selesai mengobati Tan Ki, tampaknya gadis ini sudah kelelahan setengah mati.

Begitu selesai bicara, dia tidak menunggu jawaban dari yang lainnya, namun langsung

duduk bersila di atas tanah sambil memejamkan matanya mengatur pernafasan.

Yibun Siu San dan Cian Cong melihat usia gadis ini masih muda sekali. Namun dia

sudah memahami pelajaran ilmu lwekang kelas tinggi. Dia mampu mendesak hawa murni

sendiri agar mengalir ke tubuh seseorang kemudian menembus urat nadinya yang

tersumbat. Tentu saja mereka terperanjat sekali. Keduanya saling lirik sekilas dan tidak

mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba terdengar suara tawa Cin Ie yang ketolol-tololan sembari bergumam seorang

diri, “Kalau membiarkan kau berbaring satu hari lagi, tentunya iseng sekali. Cici toh sudah

membantumu, biar aku juga membantumu sejenak.”

 

Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya

ke dada Tan Ki. Kurang lebih sepeminuman teh lagi berlalu, terdengar suara keluhan

dari bibir Cin Ie. Wajahnya juga telah basah oleh keringat yang mengucur dengan

Mendadak dia menarik kembali telapak tangannya kemudian melangkah mundur sejauh

empat depa. Lalu berhenti. Matanya yang bulat dan hitam itu menatap Tan Ki lekat-lekat

tanpa berkedip sedikitpun.

Meskipun tidak ada lagi bahaya yang mengancam, namun masih terselip ketegangan

yang tidak terkatakan. Hati setiap orang berdebar-debar tanpa sebab musabab yang

pasti…

Lambat laun…

Tangan Tan Ki mulai bergetar, perlahan-lahan dia membuka matanya dan mulai sadarkan

diri. Tadinya dia tertotok jalan darah tidurnya oleh Yibun Siu San, tetapi dengan bergiliran

Cin Ying dan Cin Ie telah menyalurkan hawa murni mereka sehingga jalan darah

yang tertotok itu terbuka kembali.

Saat itu juga, tampak bibir Ceng Lam Hong merekahkan senyuman. Akhirnya dia malah

tertawa lebar. Mimik wajahnya yang tegang dan gelisah sudah lenyap seketika. Dalam

sekejap mata, suasana tegang sudah mencair dan digantikan dengan suasana riang.

Karena Tan Ki sudah sadarkan diri, orang yang berkerumun di kamar itu satu per satu

memperli-hatkan senyumannya.

Cin Ying juga sudah selesai mengatur pernafasannya. Sepasang tangannya bertumpu di

atas tanah dan diapun melonjak bangun. Ketika matanya bertemu pandang dengan mata

Tan Ki, dia merasa jantungnya berdebar-debar. Semacam perasaan aneh yang belum

pernah ia rasakan sebelumnya terasa memenuhi hatinya saat itu. Wajahnya jadi merah

jengah. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dengan tersipu-sipu.

Sementara itu, tampak Ceng Lam Hong berjalan perlahan-lahan menuju jendela. Dia

memandang langit dengan terpana. Untuk sesaat, Cin Ying tidak tahu ada berbagai pikiran

yang berkecamuk di dalam dada wanita itu. Dibalik kegembiraan melihat anaknya sudah

sembuh kembali, juga terselip kepedihan yang tidak terkirakan.

BAGIAN XXIV

Dia sadar di dalam hati Tan Ki masih tersimpan kesalahpahaman yang besar terhadap

dirinya. Apabila dia sampai melihat ibunya juga ada di dalam kamar itu, apa yang terlintas

di benaknya? Apakah dia akan membuka mulut mencaci maki Ceng Lam Hong atau

semakin membenci melihat kehadirannya?

Tentu saja, semua ini ada kemungkinannya.

Oleh karena itu, perlahan-lahan dia meninggalkan kamar itu dan menghindarkan diri

dari pandangan Tan Ki.

 

Orangtua di kolong langit ini, mana ada yang tidak mencintai anaknya sendiri. Antara

Ceng Lam Hong dan Tan Ki sudah berpisah selama sepuluh tahun, betapa dalam hati

kecilnya dia mendambakan mendengar Tan Ki memanggilnya ‘Ibu’.

Namun, kenyataan yang terpampang di depan mata malah mendesak ibu dan anak itu

terpisah oleh jurang yang dalam. Seharusnya saat ini mereka berangkulan melepaskan

kerinduan yang terpendam selama ini. Tetapi semuanya tidak mungkin terjadi. Bagaimana

hatinya tidak menjadi pilu dan sakit?

Cian Cong dan Yibun Siu San maklum sekali penderitaan dalam hati wanita ini.

Meskipun mereka berniat memberikan bantuan, tetapi untuk saat ini mereka tidak tahu

apa yang harus dilakukan. Mereka hanya berdiri di samping tanpa mengucapkan sepatah

Sementara itu kesadaran Tan Ki lambat laun pulih kembali. Sekali loncat dia langsung

turun dari tempat tidur. Begitu matanya beredar, tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi

termangu-mangu.

‘Mengapa aku bisa berada di sini?’ tanyanya dalam hati.

Dia tidak tahu bahwa dalam beberapa hari ini, pikirannya menjadi kacau karena putus

asa. Dia hanya merasa bahwa setelah Mei Ling diculik orang, dia lalu tertidur dan sekarang

baru bangun kembali. Tahu-tahu dia menemukan dirinya di tempat yang asing. Lagipula

kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan seluruh tubuhnya terasa tidak enak. Tanpa

dapat ditahan lagi, dia mengedarkan pandangannya ke orang-orang dalam ruangan, itu

dengan perasaan curiga. Mimik wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan sangsi.

Perlahan-lahan Cin Ie menghampirinya.

Wajahnya sengaja diperingiskan sehingga seperti muka setan. Mulutnya tertawa lebar.

“Kau sudah baik?”

Sebetulnya gadis ini kalau diperhatikan tidak terlalu jelek sekali. Tetapi gayanya dan

cara tertawanya seakan disengajakan sehingga bintik-bintik di wajahnya semaian kentara

jelas. Hal inilah yang membuat orang merasa sebal.

Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas.

“Siapa kau?” tanyanya ketus.

“Aku bernama Cin Ie.” sahut gadis itu dengan tersipu-sipu. Matanya melirik Tan Ki

berulang kali.

Tan Ki merasa tingkah laku dan gerak-gerik gadis itu persis perempuan murahan yang

sering tampil di atas pentas. Hatinya semakin muak melihatnya. Oleh karena itu, dia

segera mendengus dingin dan menyahut dengan enggan.

“Senang sekali dapat berkenalan dengan nona yang namanya sudah lama terkenal!”

tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Tindakannya ini secara

menyolok menyatakan rasa sebalnya terhadap Cin Ie.

 

Tentu saja perbuatannya juga tidak sopan sama sekali, apalagi mengingat kedua kakak

beradik itulah yang menjadi dewa penolongnya!

Cin Ying yang melihat keadaan ini merasa hatinya menjadi tidak enak. Tanpa dapat

ditahan lagi mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin. Namun pada dasarnya watak

gadis ini lembut dan berpandangan luas. Meskipun dia merasa tidak seharusnya Tan Ki

mem-perlakukan adiknya seperti itu sehingga bisa mengakibatkan orang menjadi sakit

hati. Tetapi dia tetap berusaha menekan hawa amarah yang mulai bangkit dalam hatinya.

Tangannya segera mencekal pergelangan Cin Ie. Dengan nada kurang senang dia berkata,

“Ie Moay, mari kita pergi!”

Begitu dia menarik, terasa diri Cin Ie bagai sebuah patung kayu yang ditancapkan di

atas tanah dan ternyata Cin Ying tidak sanggup menggerakkannya. Hatinya merasa heran.

Dia mendongakkan wajahnya memandang. Tampak mimik wajah Cin Ie menyiratkan

senyuman yang aneh. Dia bagai orang yang dihipnotis, matanya memandang lekat-lekat

ke arah pintu.

Sejak kecil Cin Ying dibesarkan bersama-sama adik angkatnya ini. Dia tahu sekali watak

dan kebiasaannya, namun dia belum pernah melihat tampang Cin Ie seperti sekarang

ini. Tentu saja dia jadi terkejut sekali.

“Ie Moay, kenapa kau?” tanyanya gugup.

Mulut Cin Ie mengeluarkan seruan terkejut. Dirinya seakan baru tersadar dari mimpi.

Tanpa terasa dia bergumam seorang diri.

“Sungguh seorang pemuda yang tampan sekali, Ie Ji sampai merasa suka sekali.”

Mendengar ucapannya, mula-mula Cin Ying tertegun. Dia tidak mengerti makna ucapan

adiknya itu. Tetapi lambat laun dia tersadar, rupanya Cin Ie sudah terpikat oleh

ketampanan Tan Ki. Wajahnya jadi merah padam. Hatinya bermaksud mencacinya

beberapa patah kata bahwa anak gadis tidak boleh merendahkan derajatnya sendiri dan

berbicara yang bukan-bukan di depan umum. Namun dia merasa hatinya sendiri juga

mempunyai perasaan yang sama. Akhirnya dia tertawa sumbang.

“Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Mari kita pergi!” dia langsung menarik

tangan Cin Ie dan mengajaknya keluar dari tempat tersebut.

Yibun Siu San langsung melepaskan cadar penutup wajahnya dan mengejar ke depan

dua langkah.

“Nona harap tunggu sebentar. Sehelai cadar ini tidak berharga sama sekali, tetapi

merupakan syarat yang telah disetujui sebagai imbalan nona berdua yang telah

menyalurkan hawa murni kepada keponakan Cayhe. Harap diambil cadar ini, kalau tidak

hati Cayhe akan tidak tenteram karena merasa masih berhutang.” katanya.

Cin Ying tertawa pilu.

“Tidak usah. Tadi aku sudah ke jalan raya dan sengaja membelikan, berbagai macam

mainan untuk adikku ini. Kalau aku keburu sampai, tentu dia juga tidak masuk ke kamar

 

ini dan menimbulkan kekacauan yang mengganggu ketenangan kalian. Harap Lopek

simpan saja cadar itu. Kami kakak beradik tidak menginginkannya lagi.”

Selesai berkata, tubuh kedua gadis itu tepat sudah berada di depan pintu. Mereka

langsung membelok dan hilang dari pandangan.

Yibun Siu San memperhatikan bayangan punggung kedua gadis itu sampai tidak kelihatan

lagi. Di dalam hatinya dia merasa berterima kasih sekali. Perlahan-lahan dia menarik

nafas panjang. Kepalanya menggeleng-geleng tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dia sudah melihat ilmu silat Cin Ie: Tampaknya tidak sama dengan ilmu silat yang ada

di daerah Tionggoan. Dalam hatinya timbul kecurigaan. Dia mulai yakin kalau kedua kakak

beradik itu apabila bukan berasal dari Samudera luar, pasti merupakan keturunan suku

Biao dari wilayah Barat. Kemungkinan tujuan mereka datang ke Tionggoan adalah untuk

menyelidiki gerak-gerik para tokoh Bulim saat ini dan kalau keadaan memungkinkan,

mereka akan menyerbu masuk ke daerah Kang Lam.

Tetapi demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia harus melepaskan kesempatan

menyelidiki bukti yang sudah ada ini. Melihat kakak beradik itu pergi dalam situasi yang

kurang menyenangkan, dia hanya bisa menarik nafas panjang. Hatinya terasa kalut.

Sementara itu, setelah kembali ke kamarnya, tiba-tiba Cin Ying merasa hatinya dilanda

kehampaan yang aneh. Dadanya terasa sesak seperti orang yang kekurangan udara. Dia

seperti tidak mempunyai gairah terhadap segala sesuatu.

Rupanya dia memang dibesarkan di Samudera luar dan yang sering didengar ataupun

ditemuinya hanya serangkaian pembunuhan dan pertarungan. Wajah setiap orang,

mungkin karena pengaruh wilayah dan situasinya, hampir semuanya bertubuh tinggi besar

dan tampangnya garang. Penduduk di wilayah itu juga sangat kasar. Mana ada pemuda

yang gagah dan tampan seperti Tan Ki. Bahkan seujung jarinya pun tidak. Oleh karena itu

begitu melihat anak muda tersebut, hatinya sudah terpikat oleh kegagahan dan

Dengan enggan dia duduk di atas kursi dan langsung termenung lesu! Untuk sesaat,

pikirannya melayang-layang. Duduk salah berdiri pun salah. Tetapi dia sendiri tidak

mengerti apa sebetulnya yang ia pikirkan. Tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk oleh

seseorang, lalu terdengar suara Cin Ie yang sedang tertawa terkekeh-kekeh.

“Toaci, coba kau lihat sebentar!”

Hati Cin Ying memang sedang kalut. Dia berharap dapat menenangkan diri beberapa

saat. Ditep