Kun Lun Hiap Kek

New Picture (1)

 

KunLun Hiap Kek

Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

 Nona Berbunga Hijau

1. Ternak Berbicara di Tibet. Pegunungan Himalaya memanjang tanpa batas. Puncak-puncaknya menjulang tinggi menyambung bumi dengan langit. Puncak-puncak yang putih tertutup salju, tak pernah tampak, ditelan awan. Kokoh kuat tak pernah goyah diterjang awan setiap saat.

Dilihat dari jauh seperti naga raksasa tengah tidur bertapa. Belum

pernah ada kaki manusia dapat menjelajah puncak-puncak yang tersembunyi dibalik awan.

Jangankan manusia, malah segala macam burung yang bersayap sekalipun tidak kuat terbang

sampai ke puncak-puncak itu.

Daerah propinsi Tibet memang merupakan daerah pegunungan, dimana-mana hanya pegunungan dan tanah tinggi. Di sebelah selatan dan barat terbaris Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncak pegunungan Kun-lun

dan di sebelah timur menghadang pegunungan Tangla. Dikepung gunung-gunung

raksasa ini, Tibet merupakan daerah terpencil, terasing dari dunia luar menjadi daerah

yang penuh rahasia dan kegaiban.

Di mana-mana tampak salju keputihan kalau kita melihat daerah ini dari angkasa.

Hanya di sana-sini ada kelompok batu-batu, hutan-hutan kecil yang hanya ditumbuhi

pohon-pohon yang tahan dingin, kalau boleh bicara tentang tanah subur, agaknya

hanya disepanjang sungai Yalu-cangpo saja yang merupakan lembah yang

mengandung tanah subur. Di sinilah tempat orang-orang Tibet bercocok tanam,

bertani. Di sini pula banyak orang yang tinggal.

Seperti juga keadaan di seluruh Tibet pada masa itu, di sepanjang lembah sungai ini

yang berkuasa adalah bangsawan-bangsawan kaya raya yang menjadi tuan-tuan tanah,

dan tentu saja para pendeta Lama. Sesungguhnya para pendeta Lama inilah yang

memegang kekuasaan tertinggi karena pengaruh agama Buddha yang sudah diputar

balik menjadi semacam kepercayaan tahyul. Para Lama ini memegang kekuasaan

dengan pengaruh mereka yang penuh rahasia, yang membuat mereka menjadi

Buddha-Buddha hidup, menjadi semacam makhluk super-human, lebih tinggi tingkat

hidup mereka dari pada manusia biasa. Tentu saja ini anggapan rakyat Tibet yang

sudah dijejali pelbagai ketahyulan, di”lolohi” cerita gaib dan ditipu dengan

pertunjukan-pertunjukan ilmu sulap dan ilmu hitam.

Akan tetapi oleh karena para tuan tanah dan bangsawan itu kaya raya dan dapat

mendatangkan banyak barang-barang indah dari dunia barat dan timur, royal pula

dengan membagi-bagi hadiah atau menyuap, maka para pendeta Lama ini bahkan

menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja bukan semua pendeta Lama berwatak rakus,

Koleksi Kang Zusi

mata duitan dan jahat. Akan tetapi sedikit yang baik dan betul-betul saleh

menjalankan kewajiban agamanya, merupakan beberapa butir beras baik di antara

sepanci beras buruk, mereka ini tidak berpengaruh lagi dan bahkan takut akan suara

hati sendiri. Memang sudah lazim bahwa orang-orang baik di antara banyak orang

jahat, malah dianggap jahat.

Di sebelah utara sungai, di lembah yang paling subur tanahnya tampak bangunanbangunan

indah dari gedung para tuan tanah, rumah-rumah besar para bangsawan,

yaitu para pembesar yang ditunjuk atau diangkat oleh perwakilan dari kerajaan besar

di timur, yaitu kerajaan Goan-tiauw (Mongol) yang dengan cepatnya telah dapat

menguasai seluruh Tiongkok dan malah merembes keluar Tiongkok. Pembesarpembesar

yang hanya beberapa belas orang banyaknya ini hidup dari pajak-pajak

yang mereka atur sendiri, dan terutama sekali hidup dari sokongan tuan-tuan tanah

yang kaya raya itu sehingga mereka inipun merupakan kaki tangan tuan tanah yang

berhak mengadili dan membenar atau mensahkan segala macam perbuatan para tuan

tanah. Selain bangunan besar-besar tempat tinggal para tuan tanah dan para pembesar

ini, juga tampak bangunan-bangunan kelenteng yang besar-besar tempat tinggal para

pendeta Lama.

Bangunan ini berada di tempat yang tinggi, agak jauh di sebelah utara sungai.

Sedangkan dekat dengan sungai, di antara sawah ladang, adalah perkampungan

hamba tani atau hamba sahaya yang menjadi budak belian dan menjadi milik para

tuan tanah itu. Budak-budak ini tidak mempunyai kemerdekaan dan hak sama sekali.

Bahkan mereka tidak berhak atas nyawa dan tubuh sendiri, tiada bedanya dengan

ternak. Ya, memang mereka ini dianggap ternak dan disebut “ternak berbicara” oleh

para tuan tanah. Dan apa kata pendeta-pendeta yang dianggap sebagai manusia super

human yang murni. Buddha-Buddha hidup itu? Mereka menegaskan dengan suara

sungguh bahwa para hamba tani atau budak itu adalah orang-orang yang dilahirkan

untuk menebus dosa-dosa mereka dalam penjelmaan dahulu.

“Jadilah kamu orang-orang yang taat akan perintah tuanmu, memberontak adalah

dosa besar sekali. Hanya dengan hidup taat dan saleh, kamu akan dapat mengurangi

sedikit dari dosa-dosamu yang sudah bertumpuk-tumpuk dan kelak dalam penjelmaan

mendatang akan menjadi orang yang lebih baik nasibnya.” Demikianlah ucapan yang

selalu terdengar oleh para budak, dan tentu saja mereka percaya penuh karena ucapan

ini keluar dari mulut pendeta-pendeta Lama yang suci murni.

Di dusun Loka ini hanya ada lima orang tuan tanah dan yang paling kaya dan paling

berpengaruh adalah Yang Can. Kalau tuan tanah-tuan tanah yang lain hanya memiliki

paling banyak dua ratus orang hamba sahaya, Yang Can mempunyai tiga ratus

keluarga budak yang terdiri dari empat ratus jiwa lebih. Tanahnya luas sekali,

merupakan tanah-tanah yang paling subur di sepanjang sungai Yalu-cangpo.

Yang Can adalah seorang peranakan Nepal yang semenjak kecil dibawa ayahnya

merantau ke pedalaman Tiongkok. Ibunya seorang suku bangsa Tibet dan semenjak

kecil ia telah menjadi tuan tanah yang kaya raya di Tibet. Pengaruhnya amat besar

dan selain kaya raya, ia juga dianggap paling pandai karena banyak berkelana ke

“dunia barat” dan dunia timur. Rumah gedungnya paling besar dan boleh dibilang di

desa Loka ia menjadi raja kecil yang kekuasaannya tak terbatas. Gedungnya yang

besar amat mewah. Lantai gedungnya dihias permadani dari Persi, dindingnya penuh

Koleksi Kang Zusi

lukisan dan tulisan indah dari Tiongkok. Perabot-perabot rumahnya dari bahan kayu

terbaik, diukir aneka macam dan terutama sekali, gandum di gudangnya yang besar

sampai banyak yang membusuk.

Di pinggir sungai, hanya beberapa ratus meter dari rumahnya diperkampungan para

budak, rumah-rumah para hamba sahaya itu amat menyedihkan keadaannya.

Sebetulnya tidak patut disebut rumah tempat tinggal manusia. Lebih pantas kalau

disebut kandang-kandang babi atau paling baik kandang-kandang kuda. Rumah gubuk

tanpa perabot sama sekali, makan, duduk, tidur di atas tanah saja yang ditilami abu

dari tai lembu-yak yang dibakar untuk penahan kedinginan tanah yang lembab. Inipun

hanya merupakan sisa abu yang dipergunakan sebagai rabuk tanah. Bukan hal aneh

kalau seorang budak dicambuki sampai mati hanya karena lantai rumahnya ditutupi

abu tai lembu-yak terlampau tebal yang berarti pemborosan dan penghamburan

Waktu itu musim panen tiba. Berkat kerja paksa yang tak pernah kenal lelah,

pemeliharaan tanaman yang tertib, panen kali ini berhasil baik. Semua tenaga budak

dikerahkan untuk mengumpulkan hasil panen. Gandum membanjiri gudang-gudang

terutama gudang tuan tanah Yang Can sampai melimpah-limpah. Penjagaan

diperkeras sehingga tak sebutirpun dapat dicuri budak.

Seorang pemuda yang berpakaian mewah, berwajah tampan dengan bertopi tinggi dan

pakaian sutera, bertolak pinggang sambil tertawa-tawa, menjaga di depan gedung

mengawasi para budak yang terbungkuk-bungkuk memanggul hasil panen dan

memasukkannya ke dalam gudang. Pemuda ini adalah Yang Nam, putera tunggal tuan

tanah Yang Can yang terkenal lebih kejam dari pada ayahnya dan mempunyai watak

yang amat buruk, mata keranjang dan licik. Dia lebih disegani dari pada ayahnya

karena siapakah yang tidak tahu akan kepalan besinya? Siapa tidak takut menghadapi

pemuda ini yang biarpun usianya baru delapan belas tahun namun memiliki tenaga

melebihi sepuluh orang? Yang Nam adalah murid dari Lama Besar Thouw Tan

Hwesio seorang pendeta Buddha berkepala gundul berjubah kuning, seorang ahli ilmu

silat juga seorang ahli ilmu hoatsut (sihir).

Pemuda pesolek ini sikapnya jumawa sekali, dengan sebatang tongkat bambu kecil ia

memeriksa setiap angkutan gandum dan membentak-bentak kalau seorang membawa

muatan terlampau sedikit. Kadang-kadang ia mencambuk punggung seorang hamba

sambil tertawa-tawa dan hamba itupun hanya tersenyum menyeringai, tak berani

mengaduh tak berani mengeluh.

Seorang gadis Tibet yang berusia lima belas tahun, datang terbungkuk-bungkuk

memanggul muatan gandum. Gadis ini seperti juga hamba-hamba lain, berpakaian

butut seperti pakaian jembel, akan tetapi pakaian butut itu tak dapat menyembunyikan

bentuk tubuhnya yang menarik, langsing dan penuh seperti bunga baru mulai mekar.

Kulit mukanya agak menghitam terbakar teriknya matahari di sawah, namun tak dapat

menyembunyikan halusnya kulit dan jelinya mata, mancungnya hidung dan manisnya

bentuk mulutnya, ditambah warna kemerahan di kedua pipinya oleh santernya jalan

darah akibat kerja keras. Inilah Ci Ying, puteri seorang hamba bernama Ci Leng yang

pada waktu itu juga tengah sibuk bekerja di sawah.

Koleksi Kang Zusi

Sudah seringkali Ci Ying digoda secara kurang ajar oleh Yang Nam, akan tetapi gadis

itu tidak melayaninya, berpura-pura bodoh dan selalu menjauhkan diri. Yang Nam

tidak pernah berhenti merindukan gadis ini, akan tetapi ia agak malu untuk melakukan

paksaan oleh karena ayah gadis ini, Ci Leng, terkenal sebagai hamba yang agak

pandai dari pada yang lain, yang mengenal huruf dan sering kali membantu ayahnya

dalam mengerjakan pembukuan.

Akan tetapi pada saat itu, melihat gadis manis itu berjalan dengan lenggang

menggiurkan, lenggang yang tidak dibuat-buat akan tetapi menggairahkan karena

gadis itu sedang memanggul muatan berat, hati Yang Nam berdebar dan kurang

ajarnya timbul.

“Ci Ying, jangan kau memanggul gandum terlalu banyak, kasihan kedua lengan dan

pundakmu yang halus,” kata Yang Nam dengan suara dibuat-buat agar terdengar

manis. Akan tetapi Ci Ying berjalan terus sambil menundukkan mukanya, sedikitpun

tidak melirik.

“Kau malah boleh beristirahat, tak usah bekerja. Kau di sini saja, membantu aku

mengawasi pemasukan gandum,” kata Yang Nam lagi.

“Harap tuan muda jangan menahanku, di sawah banyak pekerjaan. Kalau terlihat aku

berhenti, tentu Thiat-tung Hwesio akan marah,” kata Ci Ying lirih menahan marah.

Thiat-tung Hwesio atau Hwesio Bertongkat Besi adalah seorang pendeta Lama yang

ditugaskan menjaga orang-orang yang bekerja menuai gandum. Hwesio ini berdiri

atau berjalan hilir mudik dengan toya besinya dipanggul, toya besi yang berat dan

besar. Matanya melotot memandang ke sana ke mari seperti seekor anjing besar

menjaga sekelompok domba.

Mendengar kata-kata Ci Ying, Yang Nam hanya tertawa hahah-heheh dan

membiarkan gadis itu menyimpan gandum di dalam gudang yang sudah penuh padat.

Akan tetapi ketika gadis itu berjalan keluar dari gudang, dengan secara kurang ajar

sekali Yang Nam menggunakan tongkat bambunya mencolek baju gadis itu yang

robek di bagian atas dada dekat pundak, mencoba untuk menyingkap baju robek itu.

Untuk sedetik nampak kulit dada yang putih bersih.

“Kongcu (tuan muda) …..!” Ci Ying berseru, cepat menutupkan kembali bajunya yang

robek. Mukanya merah, matanya menentang berani, bernyala-nyala, kepalanya

dikedikkan dan dadanya terangkat turun naik. Entah mengapa, sinar mata gadis ini

membuat Yang Nam kehilangan nyalinya. Ada sesuatu pada gadis ini yang amat

berpengaruh, yang membuat pemuda itu tidak berani bertindak lebih lanjut kecuali

tersenyum-senyum menyeringai kuda.

“Ci Ying jangan kurang ajar kepada tuan muda. Kau berdosa ……” terdengar suara

teguran seorang kakek hamba yang sudah biasa hidup menjilat-jilat pantat tuan tanah

dan puteranya dalam usahanya memperbaiki nasibnya. Ci Ying meninggalkan tempat

itu dengan kemarahan ditahan di dada dan dua titik airmata menetes pada pipinya tak

Kakek penjilat itu sambil membungkuk-bungkuk di depan Yang Nam, dengan sikap

bermuka-muka berkata, “Maafkan dia kongcu yang mulia. Seorang anak perawan

Koleksi Kang Zusi

memang suka berpura-pura galak, akan tetapi kalau sudah dapatkan dia, heh-heh-hehheh

…..”

Yang Nam sedang jengkel karena sikap Ci Ying tadi yang tidak menyenangkan

hatinya, tidak memuaskannya. Kini melihat kakek ini bermuka-muka, ia menjadi

sebal dan sebuah tendangannya membuat kakek itu terjungkal. Celakanya ketika ia

jatuh, padi gandum yang tadi dipanggulnya menimpa kepalanya sehingga keningnya

menumbuk batu dan berdarah. Akan tetapi sambil mengumpulkan gandum yang

berantakan ia masih terheh-heh tidak berani memperlihatkan rasa sakit, masih sempat

bermuka-muka biarpun hatinya berdebar ketakutan. Sifat pengecut dan menjilat-jilat

seperti inilah yang membuat nasib para budak di Tibet makin memburuk sampai

berabad lamanya. Orang macam penjilat ini memang tidak lebih patut diperlakukan

seperti seekor anjing. Biarpun ia menjilat dengan usaha memperbaiki nasib dan

memperingan beban hidupnya, namun dengan jalan menjilat berarti ia hanya

memikirkan diri sendiri dan sudah dapat dipastikan bahwa seorang penjilat adalah

seorang keji yang tidak segan-segan mengorbankan kawan-kawan demi keselamatan

diri sendiri.

Kakek itupun tidak segan-segan memperlihatkan sifatnya yang buruk dengan berkata

perlahan ketika hendak pergi dari gudang itu untuk mengangkut gandum lagi. “Kalau

kongcu menghendaki, hamba dapat bicara dengan Ci Leng ….”

“Pergi kau, anjing!” Yang Nam memaki dan orang itu pergi, masih tidak lupa

mengangguk-angguk seperti orang berterima kasih mendapat hadiah besar.

Hanya Ci Leng yang dapat melihat perubahan pada muka anaknya yang biasanya

periang itu ketika Ci Ying kembali ke sawah. Ci Leng yang berusia empat puluh lima

tahun itu bertubuh tinggi kurus bersemangat besar, mendekati puterinya dan bertanya

lirih, “Ying-ji (anak Ying), ada apakah?”

Mendengar pertanyaan ini, seperti air sungai Yalu-cangpo membanjir air mata dari

sepasang mata yang bening itu. Ci Ying tidak biasa dimanja, ia menggigit bibir

menahan perasaan, hanya menjawab singkat.

“Yang Nam kongcu kurang ajar.”

Ci Leng menghela napas panjang. Ketika ibu anaknya melahirkan Ci Ying, iapun

dahulu menarik napas panjang. Alamat buruklah bagi keluarga budak apabila

melahirkan seorang anak perempuan. Kalau buruk rupa takkan laku kawin, kalau

cantik akan menjadi korban tuan-tuan tanah. Ini sudah merupakan kelaziman yang tak

dapat dibantah pula. Makin besar Ci Ying, makin cantik anak itu, makin besar pula

kekhawatiran hati Ci Leng dan sekarang kekhawatirannya mulai memperlihatkan

kenyataan. Ia hanya bisa menggunakan ujung bajunya yang butut menyusut air mata

dari pipi Ci Ying.

“Tenanglah, jangan kehilangan semangat. Selama aku masih terpakai oleh tuan besar,

kau aman. Biar sore nanti aku bicarakan tentang ikatan perjodohanmu dengan pandai

besi Wang Tun,” katanya menghibur.

Koleksi Kang Zusi

Mendengar ini, makin merah muka Ci Ying, bukan merah karena marah, melainkan

merah karena jengah. Akan tetapi hatinya berdebar gembira dan ia mulai bekerja lagi

penuh semangat mengumpulkan gandum. Peristiwa yang menyakitkan hatinya tadi

sudah terlupa oleh kata-kata ayahnya. Terbayanglah di depan matanya wajah seorang

pemuda yang tegap dan gagah, Wang Sin, berwajah gagah bertubuh kokoh tegap,

paling pandai menunggang kuda, bertenaga besar dan terkenal sebagai seorang

pemuda pemberani. Wang Sin pemuda berusia tujuh belas tahun, tunangannya.

Tiba-tiba terdengar teriakan ngeri disusul makian dan suara orang bersambatan minta

ampun. Ci Leng dan puterinya, juga semua budak yang sibuk bekerja, menengok

untuk menyaksikan peristiwa yang tidak asing lagi, malah terlampau sering terjadi di

antara mereka. Seorang hamba laki-laki berusia tiga puluhan sedang dihajar oleh

Thiat-tung Hwesio karena berusaha menyembunyikan beberapa batang gandum di

balik bajunya. Sekali pukul dan sekali tendang saja sudah cukup membuat hamba itu

menggelepar di atas tanah, setengah pingsan.

Thiat-tung Hwesio memanggil seorang tukang pukul yang biasa dijuluki anjing-anjing

penjaga tuan tanah dan budak yang mencuri gandum itu diseret pergi.

“Losuhu …. ampunkan suami saya …., ampunkanlah dia dan jangan dilaporkan kepada

Loya (tuan besar) …. dia mengambil gandum untuk anak kami yang baru lahir ….”

Seorang hamba wanita memohon-mohon sambil berlutut dan menyembah-nyembah

hwesio itu.

Thiat-tung Hwesio menendang perempuan itu sampai bergulingan di atas tanah

lumpur. Air susu bercucuran keluar dari dada perempuan yang belum lama

melahirkan anak itu, bercampuran dengan air mata dan air lumpur. “Losuhu, ampuni

dia … ampuni ….!” tangisnya dengan suara serak.

“Diam kau! Hayo bekerja lagi! Maling-maling hina dina tak tahu diri. Kalau banyak

cerewet ku kemplang kepalamu,” bentak hwesio itu.

Beberapa orang budak segera membangunkan perempuan itu dan menghiburnya agar

bekerja kembali karena kalau tidak tentu hwesio itu menjadi makin marah dan akan

terjadi lain penyiksaan. Dengan isak tangis tertahan perempuan itu melanjutkan

pekerjaannya, setiap kali teringat akan nasib suaminya ia tersedu, hatinya seperti

ditusuk-tusuk. Dari jauh terdengar suara teriakan-teriakan para “anjing penjaga” tunan

tanah. “Potong tangan! Kerat lidahnya!” Semua orang yang mendengar ini meremang

bulu tengkuknya dan perempuan itu menjadi makin pucat dan tentu akan roboh

pingsan kalau Ci Leng tidak cepat-cepat memeluk dan menolongnya.

Ci Leng menarik napas panjang lagi, menggeleng-geleng kepala dan mengangkat

kepala memandang langit yang agaknya ayem saja menyaksikan peristiwa-peristiwa

ini. “Hidup yang sekarang untuk kebaikan hidup kemudian ….. ini kata suci para

pendeta. Sampai berapa ratus kali penjelmaankah hidup akan menjadi baik?”

demikian pikirnya dan kembali ia menarik napas panjang.

Sementara itu, seorang nenek tua di dalam gubuk butut, kedua kakinya sudah lumpuh,

menimang-nimang seorang bayi yang baru berusia beberapa hari, bayi merah

telanjang yang menangis menjerit-jerit. Nenek itu menggerak-gerakkan pahanya dan

Koleksi Kang Zusi

menyeret kedua kaki tangannya itu untuk mencoba maju mundur mendiamkan tangis

“Diamlah cucuku manis ….. diamlah jangan menangis saja. Ayah bundamu sedang

bekerja di ladang, panen sawah baik hasilnya, pembagian para budak tentu agak

banyakkan …! Diamlah, nanti ayah bundamu pulang membawa hadiah gandum ….

kau akan dibelikan baju.” Anak itu menangis terus sampai megap-megap. Nenek tua

itu dengan mengesot menghampiri bilik di mana tergantung beberapa padi gandum,

mengambil beberapa butir lalu mengunyah beras gandum dengan mulutnya yang

sudah ompong. Biarpun sukar, karena terkena air ludah lama-lama gandum itu hancur

juga dan dimasukkannya dari mulut ke mulut bayi itu yang agaknya kelaparan dan

“Nah, diamlah, cucuku manis. Mari berselimut abu hangat, anakku? Cucuku gagah,

cucuku manis, kelak menjadi pelayan di gedung tuan besar!” Nenek itu menimangnimang

cucunya yang kecapaian menangis dan kini tertidur. Anak itu, juga neneknya,

tidak tahu betapa ayah bayi itu disiksa hanya karena hendak mengambil beberapa

batang gandum untuk keluarganya.

Sampai jauh senja pekerjaan menuai gandum itu selesai di bagian yang ditentukan dan

semua budak pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh lemas kelelahan. Tidak

hanya tubuh yang lemas karena lelah dan lapar, akan tetapi juga hati dan pikiran

menjadi lemas.

“Tidak ada waktu membagi gandum, besok saja!” Ucapan singkat dari Yang Nam

putera tuan tanah ini merupakan keputusan mati yang tidak dapat ditawar lagi dan

ketika mengucapkan kata-kata ini sambil menyeringai, pemuda ini melirik ke arah Ci

Dan kakek penjilat mengomel sepanjang jalan, menyalahkan gadis itu yang

dikatakannya menjadi gara-gara sehingga tuan muda menjadi murung dan kesal yang

akibatnya merugikan semua budak. Hanya setelah Ci Leng membentaknya, kakek

penjilat itu tidak berani banyak cerewet lagi.

Malam itu mereka terpaksa menahan lapar. Baiknya kaum tertindas ini sudah

mengenal setia kawan dan dengan secara gotong royong mereka mengumpulkan

gandum seadanya dan membagi-bagi di antara mereka. Dengan jalan ini mereka

seringkali dapat mengatasi bahaya kelaparan. Sayang seribu sayang gotong royong ini

hanya dipergunakan untuk melawan bahaya kelaparan dan sedikitpun tidak pernah

timbul dalam benak mereka untuk mempergunakan persatuan itu di bidang lain yang

lebih penting, misalnya untuk menentang tuan tanah. Pada masa itu, siapa sih yang

berani? Menentang tuan tanah sama dengan menentang para pendeta, menentang

pendeta-pendeta itu sama dengan menentang Lama-Lama Besar dan menentang

orang-orang suci ini sama dengan menentang Sang Buddha sendiri, menentang

Tuhan! Demikianlah pelajaran yang sudah digoreskan dalam-dalam di hati semua

budak, sudah mendarah daging.

******

Koleksi Kang Zusi

Langit di barat merah seperti terbakar dikala matahari mulai mengundurkan diri. Dan

semua makhluk di dunia pun biasanya ikut pula mengundurkan diri untuk beristirahat

menanti datangnya esok berikutnya.

Segerombolan domba muncul dari kaki langit ketika mereka menanjak sebuah bukit

kecil. Perut binatang-binatang ini menyendul kekenyangan, tanda bahwa dengan baikbaik

pengembalanya telah membawa mereka ke padang rumput dan membiarkan

mereka makan sekenyangnya.

“Hiyooo …. sini hitam! Kau selalu mau menyeleweng saja. Apa sudah lupa jalan

pulang?” demikian terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali. Kemudian

muncullah orangnya, seorang pemuda tegap yang memegang sebuah cambuk. “Hayo

pemalas, hayo sini kumpul dengan rombongan!”

Setelah domba-dombanya berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke kandang,

pemuda yang usianya tujuh belas tahun itu bernyanyi sekuat dadanya :

“Wahai, Himalaya yang tinggi.

Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang.

Dapatkah kalian memberi jawaban?

Kedua tanganku kuat bekerja berat.

Tapi tiada seperseratus hasilnya.

Menjadi bagianku!

Aku punya mulut.

Tak dapat mengeluarkan suara hati.

Telingaku disusur tuli.

Mataku disusur buta.

Aku punya nyawa.

Aku punya nyawa.

Tak lebih berharga seekor domba!

Wahai, Himalaya sembunyikan aku

dipuncak-puncakmu!

Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku

di muaramu!”

Suara nyanyiannya nyaring dan mengandung keluhan jiwa para budak, akan tetapi

terdengar bersemangat. Kemudian cambuknya dibunyikan di udara dan ia

menyumpah-nyumpahi domba itu. “Hiyooo ….! Domba-domba pemalas, jangan

menyeleweng! Tak pandai kerja, makan sekenyangnya. Kalah orang yang bekerja

melebihi kuda, makanpun hampir tak kenyang!” Suara ini disusul bunyi “tar-tar-tar!”

cambuknya yang dihantamkan dengan gemas di udara.

Tiba-tiba ia melihat bocah yang berteriak-teriak girang. Kuda tua larilah! Kuda tua

lucu ….!!”

Ia melihat seorang anak laki-laki berusia lima-enam tahun menunggangi punggung

seorang hamba tua yang kurus. Kakek itu terengah-engah dan berlari menggunakan

sepasang tangan dan kaki seperti kuda dan bocah ini menjambak rambut dengan

tangan kiri sedangkan tangan kanannya yang memegang cambuk memukul-mukul

leher kakek itu.

Koleksi Kang Zusi

Kakek itu berlari makin keras dan sebentar saja lenyap di sebuah tikungan. Yang

terdengar hanya teriak kegirangan bocah itu di antara napas yang megap-megap dari

si hamba kakek.

“Anak iblis!” pemuda itu menggertak gigi dan mengepal tinju, kemudian cambuknya

diayun memukul sebatang pohon dengan keras sampai menimbulkan suara keras dan

kulit pohon itu lecet-lecet. Pemuda itu, Wang Sin, marah sekali. Sudah terlalu banyak

ia menyaksikan kejadian-kejadian yang menyakitkan hatinya, sudah terlalu sering ia

mendengar cerita ayahnya tentang kesengsaraan-kesengsaraan budak-budak di daerah

ini, namun sebegitu lama ia dan ayahnya tidak berdaya.

Ayahnya Wang Tun, adalah satu-satunya pandai besi yang menjadi hamba tuan tanah

Yang Can. Semenjak masih muda ayahnya sudah menjadi hamba sahaya, kerjanya

setiap hari di perapian, menggembleng dan membentuk alat-alat pertanian dan alatalat

lain yang dibutuhkan oleh tuan besarnya. Kadang-kadang tuan besar

membutuhkan barang-barang yang harus ditempa dan dijadikan secepat mungkin

sehingga ayahnya harus bekerja siang malam, kadang-kadang sampai ketiduran di

dapur kerja saking lelah dan mengantuknya.

Ayahnya bukan seorang lemah. Sudah dua kali ayahnya mencoba melarikan diri,

yaitu ketika belum menikah, masih seorang pemuda yang kuat. Akan tetapi, anjinganjing

penjaga dan pendeta-pendeta Lama yang kosen dapat mengejar dan

menangkapnya. Ia dipukuli habis-habisan, lebih mati dari pada hidup dan semenjak

saat itu kedua kaki ayahnya dipasangi belenggu yang berantai panjang. Ayahnya

dapat berjalan akan tetapi tidak mungkin dapat lari cepat. Dengan kedua belenggu di

kaki ayahnya menikah, atau lebih tepat dinikahkan oleh tuan besar untuk menjadi

pengikat yang lebih kuat dari pada belenggu. Setelah ia terlahir dan ibunya mati

karena kekurangan darah, ayahnya membawanya lari lagi. Melarikan diri akan tetapi

tidak berlari, hanya berjalan cepat di tengah malam. Malang tertawan lagi dan

belenggu dikakinya diperpendek rantainya dan diperkuat. Semenjak itu, hati ayahnya

yang sekuat baja melumer dan tidak mencoba melarikan diri lagi sampai sekarang,

sudah lima puluh tahun usianya.

Alangkah buruknya hidup. Ketika ia masih kecil, sudah sering kali Wang Sin

mengalami gebukan dan penghinaan. Pernah dia dijadikan kuda tunggangan tuan

muda Yang Nam sampai kedua tangannya hampir patah karena dipakai berlari seperti

binatang. Akhirnya, karena dia merupakan orang muda terkuat, ia dipilih sebagai

pengembala domba. Ia harus melindungi dan menjaga domba-domba itu dengan

seluruh jiwanya karena hilang seekor domba saja mungkin harus diganti dengan

sebelah kaki atau tangannya. Ah, betapa buruknya hidup.

Kembali saking gemasnya Wang Sin mengayun cambuknya, memukuli batang pohon

yang ia umpamakan sebagai tuan besar dan tuan kecil, sebagai anjing-anjing penjaga

tuan tanah dan pendeta-pendeta gundul yang kejam. “Tar-tar-tar-tar!” bunyi

cambuknya berkali-kali.

“Tar-tar-tar-tar!” Di lain tempat, tak jauh dari situ, cambuk lain diayun mencambuki

sesuatu. Akan tetapi kalau cambuk di tangan Wang Sin hanya membikin lecet-lecet

kulit-kulit pohon saja, cambuk yang lain ini memecah kulit mengiris daging punggung

orang sehingga darah muncrat ke sana-sini diiringi rintihan yang makin lama makin

Koleksi Kang Zusi

lemah sampai akhirnya tidak terdengar lagi biarpun cambuknya masih terus berbunyi

membuat kulit hancur bersama dagingnya.

“Rasakan kau, bangsat hina dina, berani mencuri gandum!” kata Yang Can, tuan

tanah yang menyuruh tukang pukulnya menyiksa budak yang berani mengambil

gandum di sawah tadi sambil meludahi muka budak itu yang sudah tidak keruan

macamnya karena menjadi korban cambuk.

Budak itu diikat pada sebuah tiang di pekarangan samping rumah tuan tanah, dan

kepala yang tadinya sudah lemas itu mendadak diangkat lagi, matanya yang bengkakbengkak

itu dibuka dan mulutnya mengeluarkan rintihan terakhir. “Menebus dosa …..,

menebus dosa ….. untuk hidup kemudian …” Dan budak itu menghembuskan napas

terakhir. Kasihan orang ini, dan saat terakhir pengaruhnya dongeng para pendeta

Lama masih menguasainya sehingga siksaan yang membuat nyawanya melayang itu

ia anggap sebagai penebus dosa-dosanya.

“Suamiku ….!” Seorang wanita, isteri dari hamba yang disiksa sampai mati itu,

dengan rambut riap-riapan berlari datang sambil menangis. Dari sawah ia langsung

lari ke situ ketika mendengar dari budak-budak lainnya bahwa suaminya disiksa oleh

tuan tanah. Melihat suaminya terikat dan kepalanya menggantung tak bergerak-gerak

lagi, mandi darah, ia menjerit ngeri dan menubruk mayat suaminya sambil memeluki

kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu. “Suamiku …. suamiku …. jangan

tinggalkan aku dan anakmu yang masih kecil ….”

Yang Nam, putera tuan tanah yang keluar mendengar suara ribut-ribut ini, melotot

marah melihat perempuan itu menjerit-jerit. Juga Yang Can marah sekali. Tukang

pukulnya yang tadi menyiksa hamba itu sampai mati, melihat kemarahan pada wajah

tuan besar dan tuan muda, segera mengangkat kaki menendang perempuan itu. “Pergi

kau!”

Perempuan itu terguling-guling memegangi dadanya yang kena tendang, kemudian

tiba-tiba ia melompat berdiri, rambutnya riap-riapan, matanya merah, kedua

tangannya mengepal.

“Iblis! Biadab kau! Anjing penjilat tuan tanah, kau dan tuan tanah akan mampus

dibakar api neraka!” Karena duka dan marah, wanita ini sudah tidak ingat apa-apa

lagi, tidak kenal takut, sambil menuding-nudingkan telunjuknya kepada Yang Nam

dan Yang Can dan tukang pukul itu, ia memaki-maki.

Kembali sebuah pukulan tukang pukul membuat ia roboh terguling.

“Bunuh anjing betina ini!” seru tuan tanah Yang Can.

“Tidak, ayah. Dia berani memaki kita. Potong lidahnya!” kata Yang Nam, marah

sekali karena dia yang semenjak kecil didewa-dewakan oleh semua budak, sekarang

mengalami dimaki-maki oleh hamba perempuan itu.

“Betul, potong lidahnya!” ayahnya membeo.

Koleksi Kang Zusi

Tukang pukul yang mencari muka cepat menangkap wanita itu yang meronta-ronta,

mengikatnya menjadi satu dengan mayat hamba yang disiksanya tadi, kemudian

secara keji, di luar batas prikemanusiaan, ia memaksa membuka mulut wanita itu,

menarik keluar lidahnya dan memotong lidahnya dengan pisau.

Terdengar pekik meraung mengerikan sekali dan di lain saat tubuh wanita malang itu

berkelonjotan, nyawanya melayang menyusul nyawa suaminya.

“Kumpulkan semua budak, suruh menonton biar tidak ada lagi yang berani main

gila,” gerutu Yang Can yang pergi memasuki rumah bersama puteranya.

2. Perlakuan Manis Berhati Palsu.

Kelihatannya Yang Nam berbisik-bisik minta sesuatu kepada Yang Can. Ayahnya ini

memandang tajam mengerutkan kening dan menggeleng kepala. Anaknya membujuk

terus dan akhirnya ayah itu tersenyum mengangguk.

“Selirmu sudah tujuh, masih ditambah lagi? Baiklah, jangan khawatir,” terdengar

ayah ini berkata.

Sementara itu, tukang pukul itu lalu memanggil para budak dan mengabarkan bahwa

hamba itu mati karena mencuri gandum dan isterinya dicabut lidahnya karena berani

memaki yang dipertuan. Semua budak menjadi pucat, akan tetapi tak seorangpun

berani mengeluarkan suara.

Wang Sin melihat dua mayat ini terikat pada pohon ketika ia menggiring dombadomba

ke dalam kandang. Ia terkejut sekali dan sebuah makian tergumam di dalam

mulutnya. Tanpa menghiraukan perutnya yang sudah lapar karena sehari belum diisi,

setelah mengunci pintu kandang, ia lalu menghampiri pohon itu dan melepaskan

ikatan pada dua mayat. Seorang anjing penjaga tuan tanah menghampirinya.

“Budak Sin, kau mau apa?” tanya tukang pukul itu.

“Kau lihat sendiri, melepaskan ikatan mereka,” jawab Wang Sin dengan muka

Kalau lain hamba yang berani memberi jawaban seperti ini kepada seorang tukang

pukul, tentu ia akan menerima cambukan atau setidaknya akan ditampar mulutnya.

Akan tetapi terhadap Wang Sin, sembarangan tukang pukul saja tidak berani

sewenang-wenang. Dahulu, setahun yang lalu pernah Wang Sin melawan seorang

tukang pukul sampai tukang pukul itu rebah dengan kepala benjol-benjol dan tuan

tanah yang sayang kepada tenaga kerja Wang Sin, tidak menghukumnya.

“Budak Sin, apa kau mencari mampus? Maling ini dihukum oleh tuan besar sendiri

karena ia mencuri gandum dan bininya dihukum karena berani kurang ajar dan

memaki tuan besar. Dan kau sekarang berani melepaskan mereka?”

“Kau yang cari mampus, bukan aku,” jawab Wang Sin tenang.

“Bagaimana kau berani bilang begitu, bocah lancang?” tukang pukul itu marah.

Koleksi Kang Zusi

“Tentu saja, karena kau sebagai hamba tidak tahu akan kewajiban. Mereka ini sudah

menjadi mayat, apakah kau mau mendiamkan saja dua mayat ini membusuk di sini

dan mengotorkan tempat tinggal tuan besar, meracuni semua keluarga tuan besar?

Masih belum dikatakan lagi kalau roh mereka mengamuk. Apa kau berani

bertanggung jawab?”

Mendengar itu, tukang pukul itu menjadi pucat karena kaget dan takut. Ia menjadi

bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu dari dalam muncul Yang

Nam. Tukang pukul itu menjadi makin pucat dan mengira tuan muda pasti akan

marah sekali. Wang Sin telah menyelesaikan pekerjaan melepaskan dua orang mayat

itu dan ia bersikap tenang, sudah terlalu biasa menghadapi kemarahan tuan-tuannya

sehingga tidak ada kekhawatiran lagi dalam hatinya.

Akan tetapi aneh, benar-benar di luar dugaan tukang pukul itu, malah di luar dugaan

Wang Sin sendiri. Yang Nam bersikap manis, tersenyum-senyum kepada Wang Sin

dan berkata.

“Tepat sekali kata-katamu, Wang Sin. Memang seorang pekerja harus mengetahui

kewajibannya sendiri.”

Kemudian dibentaknya tukang pukul itu disuruh pergi.

Setelah berdua saja dengan Wang Sin, Yang Nam memandang kepada kepada Wang

Sin dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Wang Sin, pakaianmu sudah robek

semua. Setelah kau selesai mengurus dua mayat itu, mintalah makan ke dapur dan

nanti kau kuberi pakaian baru satu stel. Biar kusuruh pelayan-pelayan gila itu

membantumu.”

Wang Sin berdiri melongo saking herannya. Sampai datangnya pelayan-pelayan atau

tukang pukul-tukang pukul itu, dua orang banyaknya untuk membantu ia mengangkut

dua orang mayat, ia masih berdiri keheranan. Ia bekerja tanpa membuka mulut, dan

timbul kekhawatiran dan kesangsian besar. Ia sudah terlalu kenal watak tuan muda,

Yang Nam. Apakah kehendaknya maka ia begitu manis dan baik hati kepadaku.

Pikirnya gelisah. Biasanya, belum tentu dua tahun sekali ia mendapat pakaian apalagi

pakaian baru. Dan menyuruh dia makan. Dalam mimpi pun belum pernah ia mendapat

perlakuan semanis itu. Aneh, ada apakah? Demikian suara hatinya berbisik, membuat

ia makin gelisah.

Sampai setelah sikap manis tuan muda itu menjadi kenyataan, yaitu ia sudah makan

kenyang dan benar-benar mendapat hadiah satu stel pakaian yang tebal dan bagus

sekali baginya. Wang Sin masih gelisah bukan main. Pakaian itu hangat dan membuat

ia merasa enak badannya, akan tetapi tidak membuat enak hatinya. Sikap manis atau

sikap baik dari tuan-tuan itu tidak pernah dikenal oleh para budak. Dan sikap tuan

muda Yang Nam itu sudah berlebihan manisnya.

Wang Sin tidak dapat tidur. Jangankan tidur, meramkan mata saja hampir tidak dapat.

Belum pernah ada perlakuan manis pada dirinya, dari ayahnya yang pemarahpun

belum. Kecuali …. Ci Ying. Hanya gadis itulah orang satu-satunya di dunia ini yang

amat manis budi baginya. Entah bagaimana, bertemu saja dengan gadis itu sudah

membuat dunia menjadi lebih terang. Setiap gerakan Ci Ying melembutkan hatinya,

Koleksi Kang Zusi

seakan-akan gadis itu sengaja menghiburnya, dengan senyum, dengan pandangannya,

dengan suaranya yang halus. Memang Ci Ying tunangannya, itulah satu-satunya

orang yang pernah dan selalu bersikap manis kepadanya. Akan tetapi Yang Nam?

Teringat akan tunangannya, terhibur hati Wang Sin. Ci Ying selain manis budi juga

amat cerdik seperti ayahnya. Pandai melukis pandai menulis, pandai berhitung dan

selalu banyak ceritanya yang hebat-hebat. Ci Ying gadis pandai, tentu akan dapat

menerangkan arti sikap berlebihan dari tuan muda. Akan kutanyakan kepadanya,

besok. Dengan wajah Ci Ying membayang di depan matanya, akhirnya Wang Sin

dapat pulas juga.

Kalau saja ia dapat mendengar percakapan antara tuan besar Yang Can dan Yang

Nam, agaknya bayangan wajah Ci Ying bahkan akan membuat ia tidak dapat tidur

sama sekali.

Di dalam rumah gedung hanya beberapa belas meter jauhnya dari tempat tidur Wang

Sin di kandang domba, dalam kamar duduk yang indah dan mewah Yang Can sedang

bercakap-cakap dengan Yang Nam. Tuan besar itu duduk di kursi malas setengah

berbaring. Dua orang selir muda dan cantik mengawaninya, seorang mengipasinya

dengan kipas bulu domba, yang kedua memijit-mijit kaki tuan tanah itu yang

kelelahan karena seharian tadi banyak berdiri dan berjalan ikut sibuk memeriksa hasil

panen tanahnya. Yang Nam duduk di atas kursi di depan ayahnya, mukanya yang

tampan ditundukkan, akan tetapi sepasang matanya yang sipit itu kadang-kadang

mencuri pandang dan melirik dari ujung mata ke arah selir yang mengipasi ayahnya,

selir yang cantik dan muda dan yang seringkali ia ajak bermain mata di luar tahu

“Panen tahun ini bagus sekali. Sayang ada saja gangguan sehingga terpaksa kita

kehilangan dua orang tenaga budak,” terdengar suara tuan besar Yang Can. Dari

ucapan ini saja sudah dapat diketahui bahwa nyawa para budak bagi tuan besar ini

tidak ada artinya sama sekali, yang penting dan disesalkannya adalah hilangnya

tenaga mereka, tenaga orang-orang yang ia peras untuk menumpuk harta kekayaan.

“Akan tetapi ada baiknya juga, ayah,” bantah puteranya. “Mereka itu perlu

dikorbankan, tidak saja untuk menebus dosa mereka yang telah berani mencuri dan

menghina kita, akan tetapi perlu untuk menjadi contoh dan membikin takut para

budak. Orang-orang seperti mereka itu kalau tidak diatur dengan tangan besi, mana

bisa taat? Mereka itu memang sudah berwatak rendah sehingga setiap saat dan

kesempatan pasti akan mereka gunakan untuk mencuri dan memberontak.”

Yang Can mengangguk-angguk, cocok sekali dengan pikiran anaknya ini. Juga selir

yang sedang menggoyang-goyang kipas tersenyum senang. Akan tetapi selir yang

memijit-mijit kedua kaki tuan tanah itu menundukkan kepala dan menahan kedukaan

hatinya. Dia ini tahu apa yang menyebabkan para budak kadang-kadang melakukan

pencurian karena diapun berasal dari budak. Karena kebetulan ia cantik wajahnya dan

halus putih kulitnya maka ia mendapat nasib baik menjadi selir tuan tanah itu. Ia tahu

bahwa para budak terpaksa mencuri karena terlalu sering kelaparan, mencuri untuk

menambah kebutuhan perut mereka.

Koleksi Kang Zusi

“Nam-ji (anak Nam), tentang permintaanmu tadi, tentu saja tidak menjadi soal kalau

kau ingin menambah seorang selir lagi, akan tetapi gadis Ci Ying itu, bukankah sudah

ditunangkan dengan anak si pandai besi? Dulu pernah kukatakan kepada mereka

bahwa dua orang itu akan menjadi pasangan terbaik di antara para budak.”

“Pertunangan antara budak bisa dibatalkan!”

Tuan tanah itu mengangguk-angguk, berpikir. “Tentu saja, akan tetapi mereka itu

tenaga-tenaga terbaik, Yang Nam. Kita akan rugi kalau kehilangan tenaga mereka. Ci

Leng selain seorang petani baik, juga pandai membantu mengatur catatan-catatan dan

perempuannya itupun rajin dan cepat. Harus diingat lagi Wang Sin yang amat setia

dan pandai merawat domba. Malah ayahnya juga pandai besi satu-satunya.”

“Apa salahnya? Mereka, orang-orang tua itu, tentu akan senang sekali kalau dapat

berjasa kepada kita, tentu mereka senang kalau Ci Ying menjadi selirku. Tentang

Wang Sin, ah, biar aku yang mengurus dia. Diberi hadiah-hadiah sedikit saja masa ia

tidak rela melepaskan Ci Ying?”

Ayahnya mengangguk-angguk. “Sesukamulah, kau atur sendiri. Akan tetapi sedapat

mungkin jangan sampai mengecewakan hati mereka yang amat kita butuhkan

tenaganya.”

Demikianlah percakapan di dalam kamar, di gedung itu yang tentu akan membuat

Wang Sin gelisah dan tak dapat tidur kalau ia mendengarnya.

******

Di dalam sebuah gubuk seperti kandang butut itu, nenek tua yang lumpuh menangis

terisak-isak sampai tidak ada suara lagi terdengar dari lehernya. Kedua tangannya

memondong bayi yang menangis lirih karena kehabisan suara.

“Cucuku …. ahhh ….. cucuku yang manis …. kau harus lekas besar …. cucuku harus

lekas besar …. bagaimana aku bisa meninggalkan kau seorang diri di dunia ini?

Cucuku …. siapa yang akan menyusuimu sekarang, siapa … siapa yang akan

menyambung hidupmu ….?”

Nenek lumpuh ini sudah mendengar tentang kematian anak dan menantunya. Dapat

dibayangkan betapa hancur hatinya, betapa hebat kedukaannya. Akan tetapi

kebingungan dan kegelisahannya lebih besar lagi. Seorang nenek tua yang tak mampu

bekerja seperti dia, tentu sudah dibiarkan mati kelaparan kalau saja anak dan

mantunya tidak bekerja keras, membanting tulang dan membagi sedikit hasil makanan

mereka dengan dia. Sekarang anak dan mantunya sudah mati, siapa lagi dapat

diharapkan untuk memberi dia dan cucunya makan?

Keadaan cuaca masih gelap karena masih amat pagi. Sesosok bayangan memasuki

gubuk melalui pintunya yang reyot.

“Nenek, jangan terlalu berduka,” kata Ci Ying dengan suara terharu sambil minta bayi

itu yang segera dipondongnya dengan cara yang kaku namun penuh kasih sayang. Ci

Koleksi Kang Zusi

Ying tidak pernah mempunyai adik kandung, maka ia tidak biasa menggendong anak

kecil, canggung benar ia memondong bayi itu, takut-takut kalau terlepas dan jatuh.

Kedatangan dan hiburan Ci Ying ini membuat nenek itu makin merasa nelangsa dan

makin tersedu-sedu. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara,

“Ci Ying …. bagaimana aku takkan …. berduka …. bagiku yang sudah tua bangka ….

mati kelaparan bukanlah soal lagi …. akan tetapi …. cucuku ini ….. cucuku …. yang

belum punya nama ini ….. ia akan kelaparan ….. akan mati sedikit demi sedikit …aduh,

alangkah ngerinya … cucuku, dosa apakah yang kau lakukan dalam hidup yang

terdahulu ….?”

Ci Ying terharu sekali. Sebagai anak seorang budak, ia maklum benar nasib sengsara

apa yang dihadapi anak ini dan neneknya.

“Nenek, jangan khawatir. Aku akan memeliharanya, aku akan membagi makananku

dengan nenek dan anak ini …….” hiburnya.

Nenek itu memandang gadis ini dengan mata terbelalak, kemudian runtuh pula air

matanya yang agaknya tidak mau habis. Terseok-seok ia mengesot bergerak dengan

pahanya menghampiri gadis itu. Ci Ying maklum akan maksud nenek itu

memeluknya sambil menangis.

“Ci Ying, kau baik sekali … semoga Sang Buddha membersihkan kau dari sisa dosadosamu

dan mengangkatmu ke dalam penghidupan lebih bahagia. Kau …. kau

bawalah cucuku itu, tentang aku … biarkan aku mati di gubuk ini, biarlah aku

menyusul anak dan mantuku. Tidak mau aku membiarkan gadis seperti kau

kekurangan makan karena aku …. Pergilah, anak yang baik, pergilah!”

Ci Ying maklum bahwa ia takkan dapat memaksa nenek ini. Ia berdiri dan

mendukung bayi itu ke pintu …. Sampai di pintu ia berhenti dan menoleh. “Akan

tetapi kau …. bagaimana dengan kau, nenek?”

“Aku dapat mengemis makanan atau mati kelaparan, bagiku sama saja. Eh, bawa anak

itu sekali lagi ke dekatku, Ci Ying.”

Gadis itu datang lagi dan berlutut membiarkan nenek itu memeluk dan menciumi bayi

itu. “Cucuku, kalau kau sudah besar, ingatlah semua yang menimpa ayah bundamu.

Kau … kau, kuberi nama Wang Tui.”

Kemudian dengan isyarat tangannya karena tidak kuasa mengeluarkan suara lagi

saking terharunya, menyuruh Ci Ying pergi. Gadis itu lalu meninggalkan rumah

gubuk dan berlari pulang ke rumah ayahnya.

Setiba di rumah, ia melihat ayahnya berdiri, seperti patung dengan muka agak pucat

dan di depannya berdiri seorang hamba tukang cuci yang kerjanya mencuci pakaian

keluarga tuan tanah. Setiap hari, pagi-pagi sekali hamba ini mengambil pakaianpakaian

kotor dari rumah tuan besar untuk dibawa ke sungai dan dicuci.

Koleksi Kang Zusi

Melihat kedatangan puterinya yang memondong seorang bayi yang menangis, Ci

Leng bertanya, suaranya ketus seperti orang marah.

“Ci Ying, anak siapa yang kaugendong itu?”

Ci Ying terkejut melihat ayahnya seperti orang marah. Belum pernah ayahnya marah

kepadanya, biasanya bicaranya selalu manis terhadapnya. Memang Ci Leng agak

memanjakan anaknya, karena anak yang sudah tidak beribu lagi ini mengingatkan dia

kepada isterinya yang tercinta, isteri yang juga meninggal dunia karena gara-gara tuan

tanah. Isteri Ci Leng amat cantik, seperti juga Ci Ying. Semenjak menjadi isterinya,

tuan tanah selalu berusaha mendapatkan isterinya itu dan nafsu buruk ini ditahantahan

karena isteri Ci Leng mengandung. Setelah Ci Ying terlahir, tuan tanah itu

makin menjadi rindu dan gila. Dipergunakan segala daya upaya untuk mendapatkan

isteri hambanya, namun isteri Ci Leng tidak sudi meladeninya. Akhirnya saking

gelisah dan selalu ketakutan isteri Ci Leng jatuh sakit sampai matinya.

“Ayah, inilah cucu nenek lumpuh. Ayah bundanya sudah meninggal, siapa lagi yang

akan memeliharanya? Biarlah aku membagi makananku dengannya.” Kemudian

dengan sikap manja untuk menyenangkan hati ayahnya. “Ayah, bukankah kau ingin

mempunyai anak laki-laki? Nah, dia ini laki-laki dan oleh nenek lumpuh diberi nama

Wang Tui. Bagus, bukan? Lihat, anaknya sehat dan montok …..”

“Gila kau!” ayahnya memaki dan kembali Ci Ying menjadi kaget. Selamanya belum

pernah ayahnya memakinya.

Kemudian ayahnya menarik napas panjang, menundukkan muka tidak sudi melihat

bayi itu. “Memang malapetaka tidak datang sendirian. Kau tambah lagi dengan beban,

seakan-akan beban dan malapetaka yang menimpa kita masih kurang berat.”

Ci Ying pucat. “Ayah, ada apakah ….?”

Ayahnya tidak menjawab, hanya memandang kepada hamba yang datang ke situ,

perempuan tukang cuci itu. Ci Ying menengok kepadanya. “Bibi, ada apakah?”

Perempuan yang mukanya dimakan cacar itu berkata, “Celaka besar, Ci Ying. Aku

diberitahu oleh nyonya besar ke lima bahwa tuan muda berkehendak mengambil kau

sebagai selir ke delapan.”

“Ayah ….!” Hampir saja Ci Ying melepaskan bayi yang dipondongnya kalau ia tidak

ingat dan cepat-cepat memeluk bayi itu makin erat sambil memandang ayahnya

dengan mata terbelalak lebar.

Ayahnya hanya menghela napas sekali lagi. “Celakanya, tuan besar yang kuharapkan

akan dapat mengatasi tuan muda, malah sudah menyetujui kehendak tuan muda itu.”

“Betul,” sambung budak tukang cuci. “Nyonya besar ke lima mendengar sendiri

percakapan antara tuan besar dan tuan muda.” Yang dimaksudkan nyonya besar ke

lima itu adalah selir Yang Can ke lima yang dahulunya menjadi budak pula, selir yang

memijiti kakinya ketika terjadi percakapan antara ayah dan anak di malam itu. Selir

ini betapapun juga masih ingat akan asal-usulnya, mereka kasihan kepada Ci Ying

Koleksi Kang Zusi

dan diam-diam memberi kabar melalui tukang cuci yang setiap pagi mengambil

cucian. Kebetulan sekali dialah yang mempunyai tugas mengumpulkan pakaianpakaian

Hampir tidak terdengar lagi oleh Ci Ying kata-kata budak pencuci pakaian itu.

Pikirannya tidak karuan, bingung, sedih, marah, takut menjadi satu. Pada saat itu ia

teringat kepada Wang Sin, tunangannya. Bayangan Wang Sin menjadi sinar terang

yang mencegahnya jatuh pingsan. Tiba-tiba ia lari keluar sambil berseru perlahan.

“Aku tidak mau …..! Aku tidak mau ….!”

Melihat akibat berita yang dibawanya, tukang cuci itu menjadi takut kalau-kalau

perbuatannya terlihat oleh para centeng tuan tanah. Maka ia cepat-cepat angkat kaki

menuju ke sungai untuk memulai pekerjaannya.

Ci Leng kembali menarik napas berulang-ulang, lalu meninggalkan gubuknya. “Aku

harus bicara dengan tuan besar,” katanya lirih kepada diri sendiri.

Sementara itu, sambil mengendong Wang Tui yang kembali menangis, Ci Ying lari

terus ke bukit di mana ia tahu Wang Sin membawa domba-dombanya. Ia takut

terlambat menghadang tunangannya itu dan kalau pemuda itu sudah melewati bukit,

ia harus menyusul ke tempat yang agak jauh. Ia merasakan tubuhnya lemah sekali,

namun ia paksakan diri, mendaki bukit sambil berlari.

Tiba-tiba ia menjadi girang sekali dan terusirlah semua kesengsaraan hatinya ketika ia

mendengar suara nyanyian yang sudah dikenalnya amat baik itu.

“Wahai, Himalaya yang tinggi.

Ahoi Yalucangpo yang panjang.

Dapatkah kalian memberi jawaban?”

“Wang Sin ….!” teriak Ci Ying, mempercepat larinya.

Suara nyanyian itu berhenti dan dari atas bukit berlari turun pemuda itu.

“Ci Ying …! Kebetulan sekali kau datang, aku memang ingin bertemu dengan kau!”

Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan dan saling berpandangan. Kabut

tebal masih tidak kuasa melenyapkan sinar mata mereka ketika kedua orang remaja

ini saling pandang penuh perasaan.

“Pakaianmu baru …!” seru Ci Ying, baru ia melihat pakaian pemuda itu yang indah

dan tebal.

“Kau menggendong bayi …!” Wang Sin juga berseru heran. Perhatiannya tadi

seluruhnya dikuasai oleh wajah gadis itu sehingga baru sekarang ia melihat dan

mendengar tangis bayi di dalam pondongan Ci Ying.

“Ini anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh kemarin. Ku ambil dari nenek

lumpuh,” jawab Ci Ying mengalah. Kemudian ia cepat mengulangi pertanyaannya,

“Wang Sin, dari siapa kau mendapatkan pakaian baru yang indah ini?”

Koleksi Kang Zusi

Wajah Wang Sin menjadi merah, setengah malu-malu setengah bangga dan girang

mendapat kesempatan memperlihatkan diri dalam pakaian itu di depan tunangannya.

Tentu ia kelihatan gagah dan tampan. Otomatis tanpa disadarinya, tangan kirinya

bergerak ke atas dalam usaha membereskan rambutnya. Pemuda mana di dunia ini

takkan berlagak memperbagus diri di depan wanita, apalagi tunangan sendiri yang ayu

seperti Ci Ying?

“Aku mendapat hadiah dari tuan muda. Inilah yang hendak kutanyakan kepadamu.

Menurut pikiranmu, mengapa dia memberi hadiah pakaian kepadaku?”

Mendengar ini, malapetaka yang menimpa dirinya teringat kembali oleh gadis itu dan

ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Bukan main kagetnya hati

Wang Sin melihat reaksi yang sebaliknya ini dari tunangannya. Ia cepat menjatuhkan

diri berlutut pula sambil memegangi pundak Ci Ying.

“Ci Ying, ada apakah? Kenapa kau menangis?” tanyanya.

Ci Ying tak dapat menjawab karena bayi itu menangis lagi karena lapar. Ia berusaha

mendiamkan bayi itu sambil menyusuti air matanya sendiri.

“Kenapa dia? Lapar?” tanya Wang Sin masih bingung.

Ketika gadis itu mengangguk, Wang Sin lalu cepat menghampiri kelompok

dombanya, memegang kepala seekor domba yang sedang menyusui anaknya dan

menuntun domba itu ke dekat Ci Ying.

“Si putih ini banyak air susunya, beri dia air susu,” katanya.

Ci Ying menahan gelora hatinya sendiri, menahan mulutnya yang ingin menceritakan

semua kesengsaraan dirinya untuk mendahulukan kebutuhan bayi itu. Ia membawa

bayi ke dekat susu domba itu dan tak lama kemudian bayi itu menyusu dari susu

domba. Lahap sekali bayi itu yang sudah sehari semalam tidak diberi apa-apa.

Setelah bayi itu kenyang, ia tertidur pulas dalam gendongan Ci Ying. Baru ia teringat

akan keadaan diri sendiri. Sambil menangis ia bercerita.

“Wang Sin malapetaka menimpa diriku. Pagi tadi bibi pencuci membawa berita

celaka. Ia mendengar dari nyonya besar ke lima bahwa … bahwa tuan muda … hendak

… hendak mengambil aku sebagai … sebagai selirnya yang ke delapan … dan … tuan

besar sudah menyetujuinya ….” Ia menangis makin keras.

Wang Sin menjadi pucat. Ia serentak berdiri, mengepalkan tinjunya, matanya

bersinar-sinar, mukanya menjadi muram dan giginya berbunyi.

“Bedebah! Si keparat!” makinya dan di lain saat ia telah menanggalkan pakaian

barunya yang menutupi pakaian butut. Dikoyak-koyaknya pakaian itu, hancur

berkeping-keping. “Si keparat jahanam makanan neraka!” Kembali ia memaki. “Jadi

itulah gerangan sebabnya ia berbaik kepadaku? Bedebah!” Ia melemparkan kepingankepingan

baju itu ke atas tanah dan menginjak-injaknya dengan gemas

membayangkan bahwa si pemberi yang ia injak-injak itu.

Koleksi Kang Zusi

“Wang Sin, bagaimana baiknya? Aku ….. lebih baik aku mati dari pada menjadi

selirnya.”

“Aku akan pergi kepadanya! Aku yang akan membantah, aku yang akan melarang.

Biar kuputar batang leher si keparat.”

“Wang Sin, apa kau gila? Kau takkan menang melawan anjing-anjing penjaga, kau

akan dipukul sampai mati …!”

“Tidak apa mati untuk membelamu!” Pemuda itu hendak pergi akan tetapi Ci Ying

memegang lengannya sambil menangis.

“Wang Sin, kalau kau dipukuli sampai mati, apa kau kira aku dapat terlepas dari

malapetaka ini? Tiada bedanya! Lebih baik aku melarikan diri. Bantulah aku lari dari

neraka ini.”

Wang Sin sadar akan kebenaran kata-kata gadis itu. Kalau ia mengamuk, berarti ia

mengantar nyawa dengan sia-sia dan gadis itu tetap saja akan dipaksa menjadi selir

tuan muda. Kalau sudah begitu, apa arti pengorbanannya? Tidak ada sama sekali.

“Lari Ci Ying? Ke mana?”

“Ke mana saja asal terlepas dari tangan tuan muda. Biar aku pergi dibawa aliran

sungai Yalu-cangpo ke timur. Wang Sin, kau carikan sebuah perahu untukku, aku

akan naik perahu itu mengikuti aliran Yalu-cangpo.”

“Akan tetapi ….. ke mana tujuanmu dan bagaimana kita bisa bertemu lagi?”

“Aku akan terus mengikuti aliran Yalu-cangpo sampai sungai itu berbelok. Aku

pernah mendengar cerita ayah bahwa jauh di timur sungai itu membelok ke selatan.

Nah, di belokan itulah aku mendarat dan menanti kau. Lekaslah, Wang Sin, sebelum

kaki tangan tuan muda menyusul ke sini.”

Karena hanya itu jalan satu-satunya, Wang Sin cepat bekerja. Ia menangkap dua ekor

domba yang gemuk, membunuhnya untuk dipakai bekal rangsum tunangannya

sedangkan domba yang mempunyai susu itupun ia bawa ke pinggir sungai. Mudah

baginya mencuri sebuah perahu dan tak lama kemudian Ci Ying yang menggendong

bayi itu sudah naik ke atas perahu. Domba yang menyusui itu diikat mulutnya

sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, lehernya diikat pada tiang. Bangkai dua ekor

domba ditumpuk di situ dan di dekatnya terdapat sepikul rumput untuk makanan

domba yang menyusui.

Untuk penghabisan kali Wang Sin memegang pundak Ci Ying, matanya membasah.

“Hati-hatilah, Ci Ying. Mudah-mudahan kita bisa bersua kembali.”

Ci Ying juga mengucurkan air mata, mengangguk dan berkata. “Mungkin aku akan

tewas diperjalanan. Akan tetapi lebih baik mati diperjalanan dari pada mati di tangan

tuan muda, bukan?”

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin mengangguk dan mendorong perahu itu ke tengah, lalu Ci Ying

mendayung perahu itu terus ke tengah sampai aliran air yang kuat membawa perahu

itu meluncur cepat.

Dengan air mata berlinang Wang Sin berdiri di pinggir sungai melihat perahu itu

lenyap ditelan kabut yang masih tebal menutupi permukaan sungai. Hatinya lega.

Dengan adanya kabut itu, tak mudah perahu yang melarikan Ci Ying itu terlihat oleh

para centeng tuan tanah.

“Wang Sinnn …..!!” Teriakan keras ini membuat pemuda itu terkejut dan cepat-cepat

ia lari kembali ke bukit di mana tinggalkan domba-dombanya. Kembali suara

panggilan itu menggema dan ternyata ayahnya yang memanggil dari bukit itu.

Melihat Wang Sin muncul, Wang Tun menegur. “Ke mana saja kau meninggalkan

domba-dombamu?” Tiba-tiba orang tua itu menudingkan telunjuknya ke bawah.”Eh,

ini banyak darah. Celaka! Tentu domba-dombamu ada yang ganggu!”

Wang Sin bersikap tenang. “Ayah, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, ada

keperluan apakah ayah mendaki ke sini? Mengapa ayah bersusah payah mencariku?”

Memang tidak mudah bagi Wang Tun yang terikat rantai kedua kakinya itu untuk

mendaki bukit. Hal ini membuktikan bahwa tentu ada keperluan yang amat penting

yang membawa orang tua ini datang ke situ menyusul puteranya.

“Ada peristiwa hebat. Ci Ying hendak dijadikan selir tuan muda. Ayahnya sudah

menghadap akan tetapi ditolak malah diancam supaya segera menghantarkan Ci Ying

ke gedung. Celakanya, Ci Ying dicari-cari tidak ada. Aku khawatir kau yang

menyembunyikannya. Betul tidak?”

Wang Sin mengangguk. “Ci Ying sudah pergi dengan aman, ayah. Melarikan diri

dengan perahu kubawai bekal dua bangkai domba dan sebuah domba hidup untuk

memberi susu bagi bayi yang dibawanya.”

“Bayi?”

“Cucu nenek lumpuh.”

Pandai besi itu menggeleng kepalanya. “Hebat! Kalian orang-orang muda sungguh

hebat! Ci Ying menolong bayi itu mempertaruhkan nyawa sendiri dan kau menolong

Ci Ying, tidak perduli akan bahaya yang mengancam dirimu. Ah, kalau semua budak

bersemangat seperti kalian dan bersatu melawan tuan tanah, kiranya nasib kita takkan

begini.”

“Ayah, kau tidak marah …….?”

Ayahnya tersenyum. “Mengapa mesti marah? Lihat, akupun sudah siap

mempertaruhkan nyawa.” Kakek itu mengeluarkan dua batang pedang panjang yang

dibuatnya secara sembunyi di dalam dapur pekerjaannya. Ia berikan sebatang kepada

Wang Sin. “Mereka tentu akan mencurigaimu, tentu akan memaksa kita dan menyiksa

kita supaya mengaku di mana adanya Ci Ying. Daripada mampus seperti domba, lebih

baik mati sebagai harimau, bukan?”

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin mengangguk-angguk tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharunya,

akan tetapi tangannya menangkap lengan ayahnya kuat-kuat. Dua orang laki-laki

gagah, satu tua satu muda, dalam saat itu merasa bersatu dan senasib sependeritaan.

Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berlari-lari naik ke bukit itu. Terengah-engah

ia berhenti di depan Wang Tun dan Wang Sin.

“Paman Ci Leng ……!” tegur Wang Sin.

“Apa kalian melihat Ci Ying?” tanya orang tua ini terengah-engah, memandang tajam

kepada Wang Sin.

“Aku tidak melihatnya,” jawab Wang Tun.

“Paman, untuk apa kau mencari Ci Ying? Untuk diserahkan kepada tuan muda?”

tanya Wang Sin penuh curiga.

3. Pengorbanan Orang Tua.

Ci Leng melangkah maju dan dengan mata melotot tangannya menampar pipi Wang

Sin. “Kau kira aku orang macam apa?”

Wang Sin mengusap-usap pipinya yang panas dan tersenyum puas lalu memberi

hormat. “Bagus paman, Ci Ying sudah kubantu melarikan diri dengan perahu.”

Dengan singkat ia menuturkan apa yang terjadi.

Ci Leng merangkapkan kedua tangannya, berdongak ke udara.

“Terima kasih kepada Dewi Sgrolma Putih. Semoga Dewi melindunginya.”

Kemudian ia teringat. “Wang Sin, mereka tentu akan menyiksamu!” Ia nampak

“Saudara Ci Leng, demi untuk kebaikan anakmu sendiri, Wang Sin juga harus dapat

melarikan diri menyusul Ci Ying. Biar kita yang tua-tua bertanggung jawab

menghadapi kemurkaan tuan tanah.” Kata Wang Tun.

“Tidak, ayah! Bagaimana aku bisa membiarkan kau dan paman Ci Leng menjadi

korban?”

“Diam kau! Kami sudah tua, tak lama lagi kalau tidak mampus di tangan tuan tanah,

tentu akan mampus juga. Kau masih muda, kau diharap-harap oleh Ci Ying.”

“Betul sekali,” sambung Ci Leng. “Biar aku pergi ke kuil menemui Gi Hun Hosiang.

Sehari ini kau harus dapat bersembunyi Wang Sin, dan malam nanti kau pergilah ke

kuil Gi Hun Hosiang. Dia pasti ada jalan untuk menolongmu. Kalau kau pergi

sekarang, terlambat. Semua jalan keluar melalui air tentu sudah terjaga. Aku pergi

dulu.” Setelah berkata demikian, dengan terburu-buru Ci Leng meninggalkan ayah

dan anak itu.

Koleksi Kang Zusi

Tak lama kemudian dari bawah bukit terdengar teriakan orang-orang. Dari jauh

nampak serombongan tukang pukul antek-antek tuan tanah yang mencari-cari Ci

Ying. “Tangkap Wang Sin! Tentu dia tahu di mana adanya Ci Ying!” terdengar

teriakan-teriakan mereka.

“Wang Sin, kau harus bersembunyi. Lekas!” kata Wang Tun.

Memang Wang Sin sudah bersiap sedia. Ia telah mempersiapkan sebuah jerami

panjang dan dengan benda itu di tangan kiri dan pedang pemberian ayahnya di tangan

kanan, ia lalu berlari ke jurusan lain, menuju ke sungai. Ayahnya maklum apa yang

akan diperbuat anaknya karena memang ia sudah memberi nasehat anaknya, yaitu

kalau tiba masanya anak itu hendak menyembunyikan diri, tempat yang paling aman

adalah di bawah permukaan air sungai dan jerami itu dapat dipasang di mulut untuk

menyedot hawa dari permukaan air.

Belum lama Wang Sin melenyapkan diri, berlarilah dua belas orang antek tuan tanah

mendaki bukit itu. Melihat Wang Tun seorang diri di situ dan domba-domba yang

biasa digiring oleh Wang Sin berkeliaran di situ pula, mata para tukang pukul itu liar

mencari-cari Wang Sin. Namun tidak terlihat bayangan orang muda itu.

“Pandai besi Wang Tun, kenapa kau di sini? Mana Wang Sin anakmu?” tanya

pemimpin rombongan tukang pukul.

“Aku sendiripun sedang mencari anak itu.” Jawab Wang Tun yang terkenal pendiam

di antara tukang-tukang pukul. Seperti juga terhadap Wang Sin, terhadap kakek

pandai besi ini, para begundal tuan tanah itu tidak begitu berani bersikap kasar dan

sewenang-wenang seperti terhadap budak-budak lain.

Hal ini karena selain Wang Tun merupakan pandai besi satu-satunya yang tangannya

amat dibutuhkan tuan besar, juga kakek ini sikapnya keras dan suka melawan. Akan

tetapi pada waktu itu, para tukang pukul ini sudah mendapat kekuasaan penuh oleh

tuan muda untuk mencari Ci Ying sampai dapat dan kalau perlu orang-orang seperti

Wang Tun, Wang Sin, dan Ci Leng boleh disiksa untuk memaksa mereka mengaku di

mana adanya gadis itu.

“Pandai besi tua bangka, jangan pura-pura. Kalau tidak ada hubungan dengan

hilangnya Ci Ying, masa sepagi ini kau sudah di sini? Hayo katakan di mana adanya

Wang Sin yang menyembunyikan Ci Ying? Mengakulah sebelum kami hilang

kesabaran!”

“Kalian punya mata, carilah sendiri dan jangan ganggu aku!”

“Tangkap saja dan siksa, tentu mengaku si tua bangka ini,” kata seorang tukang pukul

sambil mengamang-amangkan tombaknya.

“Ketemu si Wang Sin tentu ketemu pula Ci Ying, tentu si tua bangka ini yang

menyembunyikan.”

“Tangkap ….”

Koleksi Kang Zusi

Mendengar suara-suara ini dan melihat sikap mereka mengancam, Wang Tun

tersenyum mengejek, matanya bersinar-sinar. Ia mengedikkan kepala dan mengangkat

dada, kakinya bergerak sehingga rantai yang mengikat kedua kakinya mengeluarkan

bunyi berdencingan. “Kalau aku tidak sudi memberitahu, kalian mau apa?”

“Bangsat, budak hina dina! Kau mau melawan?” bentak kepala rombongan yang

memegang toya.

Tiba-tiba Wang Tun tertawa bergelak, tangannya bergerak dan sebatang pedang sudah

berada di tangannya. “Hayo, majulah kalian anjing-anjing penjilat pantat tuan tanah!

Majulah, ini saat yang kutunggu-tunggu sejak dahulu!”

Tukang-tukang pukul itu maklum bahwa si pandai besi ini biarpun tua, amat kuat dan

pandai silat, akan tetapi mereka mengandalkan keroyokan. Dengan memaki-maki

marah mereka lalu maju menyerbu Wang Tun yang segera mengamuk sambil

memutar-mutar pedangnya.

Dengan garangnya Wang Tun menerjang maju, seputaran pedangnya dapat

menangkis semua penyerang dan cepat sekali ia lanjutkan dengan menyerampang ke

depan sambil merendahkan tubuhnya. Para tukang pukul yang sedikit-sedikit juga

pernah belajar ilmu silat, meloncat ke atas, akan tetapi seorang di antara mereka

kurang cepat loncatannya sehingga sebelah kakinya, dekat mata kaki, terbabat pedang

sampai putus berikut sepatu-sepatunya.

Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya menggelinding ke belakang, lalu berdiri lagi

melonjak-lonjak dengan sebelah kaki, berputaran saking sakitnya. Tak lama kemudian

ia terguling dan pingsan.

Para tukang pukul menjadi makin marah. Kepungan makin rapat dan datangnya

senjata yang menyerang seperti hujan. Namun Wang Tun tidak keder. Ia malah

tertawa bergelak ketika pedangnya merobohkan korban pertama. “Ha-ha-ha-ha!”

Tukang pukul yang memegang toya menggebuknya dari belakang dan karena pada

saat itu Wang Tun menghadapi hujan senjata dari depan dan kanan kiri, gebukan ini

tepat mengenai punggungnya.

“Blek!” dan toya yang terbuat dari kayu itu patah. Wang Tun mengeluarkan seruan

menahan sakit. Cepat memutar tubuh dan pedangnya meluncur. “Cepp ….!” Pedang

itu amblas memasuki perut tukang pukul itu sampai tembus ke belakang.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Wang Tun tertawa terbahak-bahak ketika darah lawan

menyemprot membasahi bajunya. Ia cepat mencabut pedangnya dan menggulingkan

tubuh ke kiri untuk menghindarkan hujan senjata. Akan tetapi karena kedua kakinya

terikat, gerakannya ini kurang cepat dan sebuah penggada menghantam pundaknya.

Punggung dan pundaknya sudah terkena pukulan. Namun Wang Tun benar-benar kuat

sekali. Ia hanya mengeluarkan gerakan seperti harimau terluka lalu mengamuk lagi.

Dalam beberapa gerakan pedangnya sudah merobohkan lagi tiga orang pengeroyok.

Koleksi Kang Zusi

Para tukang pukul yang tinggal tujuh orang menjadi gentar menghadapi amukan

pandai besi itu yang seperti harimau terganggu ini. Kepungan mengendur dan mereka

hanya menyerang secara hati-hati sekali sambil berteriak-teriak memaki.

“Mundurlah, anjing-anjing tiada guna. Biarkan aku menghadapi sendiri!” Teriakan ini

membuat para tukang pukul mundur dengan muka pucat karena mengenal suara tuan

muda Yang Nam. Tidak berhasil mengalahkan seorang budak dengan pengeroyokan

dua belas orang, benar-benar merupakan kesalahan besar dan kalau mereka nanti

hanya menerima makian-makian saja sudah boleh dibilang untung.

Melihat kedatangan tuan muda yang membawa sebatang toya kuningnya, Wang Tun

hanya berdiri, dengan pedang melintang di depan dada. Seperti pedang ditangannya

yang berlumur darah, juga pakaiannya penuh oleh darah para korbannya dan darahnya

sendiri ia telah menderita luka di sana sini. Wajahnya beringas dan matanya berapiapi.

“Wang Tun baik kau katakan saja di mana Ci Ying dan Wang Sin. Kalau kau mau

berterus terang, aku akan mengampunkan kau dan biarlah anjing-anjing yang sudah

kau robohkan ini karena memang mereka tak berguna. Mengakulah, di mana adanya

anakmu itu dan di mana ia menyembunyikan Ci Ying?” kata Yang Nam dengan nada

suara halus.

Tergetar pedang di tangan kakek pandai besi itu. Sudah tahu ia akan kelicikan pemuda

ini yang lebih jahat dari pada ayahnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata.

“Hamba tidak dapat memberitahu karena tidak tahu di mana adanya mereka.”

“Wang Tun, jangan kau membohong kepadaku,” suara Yang Nam mulai mengeras,

penuh gertakan.

“Hamba tidak membohong. Akan tetapi, lepas dari pada soal membohong atau tidak,

hamba tidak setuju kalau Ci Ying yang sudah dijodohkan dengan putera hamba itu

hendak tuan rampas,” jawabnya ini membayangkan ketegasan dan kenekatan.

Yang Nam tersenyum, mengangguk-angguk. “Ah, begitukah? Wang Tun apa kau kira

aku begitu serakah? Kalau Ci Ying tidak mau, biarlah sekarang juga aku atur

perkawinan antara dia dan anakmu. Pokoknya keluarkan dulu mereka dari tempat

persembunyian mereka.” Ucapan ini halus dan membujuk.

Namun Wang Tun sudah cukup mengenal pemuda licik ini, ia menggeleng kepala.

“Hamba tidak tahu di mana mereka ….”

“Eh, itulah mereka!” Tiba-tiba Yang Nam menuding ke kanan, “Wang Sin! Ci Ying,

kalian ke kanan saja?”

Wang Tun terkejut sekali dan menengok ke arah yang ditunjuk oleh tuan muda itu. Ia

tidak melihat apa-apa dan tahulah dia bahwa tuan muda yang licik itu telah

menipunya. Cepat dia berpaling kembali untuk bersiap sedia, akan tetapi terlambat.

Toya di tangan Yang Nam sudah menyerangnya dengan hebat dan sebuah sodokan ke

arah dadanya tak dapat ia hindarkan lagi.

Koleksi Kang Zusi

Tubuhnya terjengkang ke belakang dan pukulan kedua yang amat keras mematahkan

lengannya yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas dan terlempar.

Namun Wang Tun tidak bersambat, hanya memandang dengan mata melotot.

Melihat pandai besi itu sudah roboh tak berdaya, menyerbulah tukang-tukang pukul

itu dengan senjata mereka dan di lain saat mereka sudah memukuli tubuh Wang Tun.

“Bak-bik-buk” mereka menggebuki Wang Tun seperti kelompok anak-anak

menggebuki seekor ular sampai Wang Tun tak dapat bergerak lagi, rebah mandi

“Tuan muda sungguh gagah perkasa …” seorang tukan pukul menyeringai dan memuji

Yang Nam.

Akan tetapi jawaban pujian ini adalah sebuah tendangan kaki tuan muda itu yang

membuat si pemuji terjengkang.

“Gentong-gentong nasi tak punya guna. Hayo lekas cari lagi Ci Ying dan Wang Sin.

Biarkan bangkai pandai besi ini membusuk di sini dan dimakan binatang buas.”

Mereka lalu pergi sambil menyeret kawan-kawan yang terluka dalam pertempuran

tadi. Juga Yang Nam setelah meludah ke arah tubuh Wang Tun yang mandi darah,

lalu pergi uring-uringan. Yang Nam dan antek-anteknya tidak tahu betapa sejam

kemudian setelah mereka pergi tubuh yang dikira sudah menjadi mayat itu bergerak

lemah, mengerang perlahan lalu mata yang bengkak-bengkak itu terbuka.

“Wang Sin …. Wang Sin ….” demikian bisik Wang Tun lirih, kemudian dia diam

kembali tak bergerak. Darah menetes turun dari keningnya.

******

Ci Leng tergesah-gesah berjalan menuju ke kuil besar yang menjadi tempat pujaan

seluruh rakyat di daerah itu. Ia membawa sebuah “hata” yaitu sehelai kain selendang

yang menjadi tanda penghormatan dan kebaktian, dan sekeranjang gajih. Hata dan

gajih ini merupakan barang sumbangan yang harus dibawa oleh setiap orang yang

hendak bersembahyang. Tanpa barang-barang itu jangan harap akan dapat memasuki

ruangan kuil. Jadi benda-benda itu merupakan pembuka kunci pintu kuil.

Ketika Ci Leng tiba di luar kuil, di situ sudah banyak terdapat budak-budak yang

berlutut di atas batu-batu lantai di luar kuil. Mereka ini datang untuk minta berkah.

Selain patung-patung di dalam kuil, siapa lagi yang menaruh kasihan kepada mereka?

Siapa lagi yang dapat menolong mereka? Kepada patung-patung inilah para budak itu

berlari untuk minta perlindungan dan minta berkah.

Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di antara pemuja. Batu-batu lantai itu sampai licin

sekali, halus dan di sana sini berlubang saking sering dan banyaknya orang datang

berlutut. Lubang-lubang kecil bekas telapak tangan dan lutut. Sambil berlutut dan

berkali-kali mengangguk-anggukkan kepala, Ci Leng seperti yang lain menggerakgerakkan

bibir membisikkan doa-doa sambil memutar-mutar tasbeh.

Koleksi Kang Zusi

Serombongan pendeta lama yang masih kecil-kecil, di antaranya baru berusia lima

enam tahun, lewat di dekat mereka sambil menggotong ember-ember berisi air. Anakanak

kecil yang berkepala gundul dan berpakaian gerombongan itu dengan susah

payah menggotong air, terhuyung-huyung ke kanan kiri. Mereka ini adalah pendetapendeta

Lama kecil, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah budak juga dalam pakaian

Lama dan berkepala gundul.

Mereka bekerja setengah mati, diperas sampai tak kuat lagi untuk melayani para

pendeta Lama yang merupakan “orang suci” di dalam kuil. Anak-anak ini mencuci,

memasak, mencari kayu bakar, mencari air, menyapu yah pekerjaan apa saja mereka

lakukan untuk para pendeta Lama. Kalau para budak hamba dijadikan ternakberbicara

oleh para tuan tanah, adalah kacung-kacung ini diperkuda oleh para pendeta

Setelah mengucapkan doa-doa di depan kuil bersama para tamu kuil yang datang

bersembahyang, Ci Leng memasuki halaman kuil di mana orang-orang itu secara

bergiliran menyerahkan kain-kain, harta dan barang sumbangan atau disebut juga

“korban” kepada seorang pendeta Lama yang bertugas untuk menerima barangbarang

berharga itu. Setelah menyerahkan barang sumbangannya, Ci Leng memasuki

bangunan sebelah kiri.

Ia berjalan melalui gang di mana penuh dengan lukisan-lukisan di tembok kanan kiri

lorong, lukisan tentang manusia-manusia lelaki perempuan bertelanjang bulat yang

sedang disiksa dan menderita di dalam neraka. Bermacam-macam lukisan yang

mengerikan, dan cukup mendatangkan rasa takut dalam hati para pengunjung kuil,

sehingga mereka itu takkan berani melakukan dosa-dosa di dalam hidup agar kelak

jangan disiksa seperti dalam lukisan itu?”

Lukisan-lukisan itu betapapun juga merupakan lukisan indah, dan patung-patung yang

tak terbilang banyaknya menghias di sana sini. Akan tetapi sepasang mata Ci Leng

seakan-akan tidak melihat ini semua. Ia langsung menuju ke sebelah bangunan kecil

yang letaknya di ujung kiri, di dekat dapur dan dekat tembok pagar pekarangan kuil.

Inilah ruang kerja di mana Lama-Lama yang ahli dalam membuat patung-patung

“Losuhu …..!” Ci Leng memberi hormat ketika ia melihat seorang hwesio seorang diri

bekerja di dalam ruangan itu.

Hwesio ini usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya lembut dan kulit mukanya

putih tak pernah terbakar sinar matahari, agak pucat. Kedua tangannya penuh dengan

lumpur karena ia tengah bekerja, membentuk tanah lihat untuk dijadikan patung. Di

seluruh ruangan itu penuh dengan patung-patung yang sudah jadi, setengah jadi dan

belum jadi. Pakaiannya yang butut penuh dengan kotoran lumpur dan cat.

Sepasang mata yang jernih dan muka yang agak muram itu berseri ketika Gi Hun

Hosiang pendeta Lama itu, memandang kepada Ci Leng.

“Eh, kaukah itu, saudara Ci Leng? Terima kasih bahwa kau tidak melupakan pinceng

dan mau menjenguk pinceng di tempat ini.”

Koleksi Kang Zusi

Akan tetapi pendeta itu menjadi heran dan kaget ketika tiba-tiba Ci Leng menjatuhkan

diri berlutut di depannya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara penuh

“Losuhu yang mulia, tolonglah kami …..”

Gi Hun Hosiang meletakan tanah lempung yang dikerjakannya dan mengangkat

bangun Ci Leng. “Eh, eh ada apakah, saudara yang baik? Sang Buddha telah memberi

jalan kepada semua manusia untuk menolong diri sendiri. Hanya dengan perbuatan

baik orang dapat menolong diri sendiri, tidak ada orang lain dapat menolong kita

terbebas kesengsaraan.”

“Malapetaka telah menimpa keluarga kami, losuhu. Dewa-dewa telah menampakan

kemurkaan kepada kami.” Dengan singkat Ci Leng menceritakan betapa tuan muda

hendak merampas Ci Ying dan betapa gadis itu karena tidak sudi dijadikan selir dan

karena sudah bertunangan dengan Wang Sin, telah melarikan diri membawa pergi

cucu nenek lumpuh.

“Sekarang Wang Sin dicari-cari dan kalau pemuda itu bisa ditangkap tentu akan

disiksa oleh mereka. Oleh karena itu, tolonglah losuhu beri jalan kepada Wang Sin

agar supaya dia bisa melarikan diri dari tempat ini. Malam nanti tentu dia akan datang

ke sini dan memohon perlindungan losuhu.”

“Omitohud ….!” Hwesio itu mengucapkan pujian sambil merangkap kedua tangan di

depan dada. “Tuan Yang dan anaknya terlalu menghumbar nafsu. Apa jadinya kelak

dengan mereka dalam penjelmaan mendatang? Jangan kau khawatir, saudaraku Ci

Leng. Pinceng tak dapat berbuat banyak akan tetapi kalau Wang Sin berada di sini,

tentu ia akan terlindung dan pinceng akan berusaha mencarikan daya upaya …..”

Ci Leng berlutut lagi menghaturkan terima kasih. “Keluarlah supaya jangan

menimbulkan kecurigaan. Semoga Sang Buddha melindungimu,” kata pendeta itu

sambil merangkap kedua tangan.

Ci Leng lalu keluar dari ruangan itu dan Gi Hun Hosiang berkemak-kemik membaca

doa, lalu disambungnya dengan kata-kata lirih. “Aku hendak membuatkan sebuah

patung Sang Buddha yang indah dan besar, patung emas yang akan menjadi

kebanggaan kuil ini. Itulah pekerjaanku terakhir setelah itu akan bersihlah aku dari

pada dosa-dosaku. Akan tetapi sebagai tambahan baik juga kutolong anak-anak yang

patut dikasihani itu ….” Kembali Hwesio yang baik hati dan saleh ini membaca

mantra sebelum ia melanjutkan pekerjaannya membuat patung.

Baru saja Ci Leng keluar dari ruangan pembuatan patung dan berjalan sampai di

lorong: “hukuman di neraka,” tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan parau. “Hemm,

kau di sini?”

Ketika Ci Leng menengok, ia melihat Thouw Tan Hwesio, seorang Buddha hidup,

seorang pendeta besar yang mengepalai kuil itu. Thouw Tan Hwesio berjubah kuning

bersih, bertopi tinggi dan wajahnya keren sekali. Tubuhnya tinggi besar dan lengan

tangannya berbulu. Sepatunya juga dilapis besi dan sepasang matanya yang bundar itu

Koleksi Kang Zusi

kini menatap wajah Ci Leng yang ketakutan. Ci Leng cepat-cepat menjatuhkan diri

berlutut memberi hormat kepada manusia dewa ini.

“Hemmm, Ci Leng. Keluargamu telah membuat kacau. Anakmu yang tak tahu malu

minggat bersama setan cilik Wang Sin. Calon besanmu Wang Tun memberontak dan

membunuh beberapa orang penjaga sebelum ia sendiri terbunuh. Kau yang dilumuri

dosa-dosa keluargamu sekarang berani menginjak lantai kuil ini? Benar-benar kau

mengotori kuilku. Hayo, keluar cepat sebelum aku memanggil halilintar untuk

menyambarmu menjadi abu!”

Ci Leng dengan muka pucat, bukan hanya takut mendengar ancaman ini namun juga

terkejut mendengar tentang kematian Wang Tun, cepat-cepat ia keluar dari kuil itu.

Akan tetapi baru saja sampai di luar kuil, beberapa orang antek tuan tanah telah

menyergapnya, mengikatnya dan menyeretnya ke gedung tuan tanah Yang Can.

“Jahanam keparat tak kenal budi!” datang-datang ia dimaki oleh tuan tanah Yang

Can. “Semejak belasan tahun kau dan anakmu dapat hidup karena ada aku yang

menolong, setiap hari kau dan anakmu yang keparat itu makan dan minum dari

pemberianku. Dan semua ini kau balas dengan penghinaan hari ini?” Muka Yang Can

merah saking marahnya.

“Ampun tuan besar. Hamba sekali-kali tidak merasa telah melakukan penghinaan,”

bantah Ci Leng.

“Plakk!” tangan Yang Nam menampar pipi orang tua itu. Karena Yang Nam adalah

seorang pemuda ahli silat, tamparannya keras dan seketika darah menyembur dari

mulut Ci Leng karena beberapa buah giginya copot. Matanya berkunang-kunang, dan

terpaksa ia meramkan mata.

“Iblis tua, pintar kau bicara!” maki Yang Nam. “Kalau bukan kau yang mengaturnya,

mana bisa anakmu, seorang gadis muda, berani melarikan diri. Hayo mengaku di

mana sembunyinya Ci Ying dan Wang Sin?”

“Hamba tidak tahu …. hamba tidak tahu …..”

Beberapa kali pukulan dan tendangan jatuh di tubuhnya, akan tetapi Ci Leng hanya

mengucapkan, “Hamba tidak tahu …. hamba tidak tahu …..” Sampai akhirnya ia tidak

bisa mengeluarkan suara lagi karena telah pingsan.

“Jangan bunuh dia, kau merugikan kita saja,” bentak Yang Can. “Bawa dia pergi,”

perintahnya kepada para tukang pukul. “Suruh bekerja keras dan ikat kakinya dengan

rantai supaya tidak mencoba untuk lari.”

Tubuh Ci Leng yang sudah lemas itu diseret keluar dari halaman gedung tuan tanah

Yang Can.

******

Wang Sin memang memiliki tubuh yang sangat kuat. Sehari penuh tubuhnya

terendam di dalam air sungai tak sekejap pun ia berani memperlihatkan kepala ke atas

Koleksi Kang Zusi

permukaan air. Tak perlu diceritakan lagi penderitaannya selama sehari itu, direndam

di dalam air yang amat dingin. Beberapa kali ia hampir tidak kuat menahan, hampir

pingsan dan hasrat untuk naik ke dalam udara segar membuat ia hampir tak kuat

menahan lagi. Namun kekerasan hatinya memang luar biasa. Dengan hanya

menghisap hawa dari jerami panjang yang ia gigit, ia dapat bertahan menyelam

sampai sehari.

Setelah kegelapan malam menembus air, baru ia berani muncul. Paru-parunya serasa

akan meledak ketika tiba-tiba ia dapat menghisap hawa udara sepuasnya, tidak

melalui jerami kecil-kecil itu. Setelah melihat bahwa dipinggir sungai tidak ada orang

menjaga, ia berenang ke pinggir, mendarat dan sambil menahan hawa dingin yang

makin meresap ke dalam tulang, ia menyusup ke tempat gelap, hendak menuju ke kuil

untuk menemui Gi Hun Hosiang sebagaimana telah dipesan oleh Ci Leng.

Tiba-tiba ia merandek dan cepat bersembunyi ke balik batang pohon. Ia mendengar

suara berkeresekan, lalu terdengar keluhan perlahan sekali disusul suara bisikan,

“Wang Sin …..”

“Ayah …..!” Wang Sin mengenal suara ayahnya dan cepat menghampiri. Di lain saat

ia telah memangku ayahnya yang ternyata lebih baik mati dari pada hidup, dengan

tubuh rusak berlumur darah dan hanya hati dan semangat membaja saja yang dapat

menahan nyawa itu belum meninggalkan raga. Malah Wang Tun dengan kemauan

keras tiada bandingnya lagi, berhasil merangkak menuruni bukit dan sengaja

mencegat di situ untuk menemui anaknya untuk memberi pesan terakhir.

“Syukur …. Dewata masih kasihan kepadaku ….Wang Sin ….. dengar baik-baik …..” Ia

terengah-engah. Sukar sekali kata-kata keluar dari kerongkongannya yang sudah

tersumbat darah.

“Tuan muda …. dia curang …Wang Sin, kalau kau bisa lari ….. kelak pergilah cari

guruku …. Cin Kek Tosu …. di Kun-lun-san …..kelak …. tolonglah para budak …..

tolonglah mereka, bebaskan dari cengkeraman tuan tanah …. ahhh … selamat …” Dan

kakek yang kuat ini akhirnya tak dapat menahan nyawanya yang melayang

meninggalkan raganya.

Wang Sin mengepal tinju. Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia mengamuk,

membalas dendam ini dan kalau mungkin membunuh tuan muda Yang Nam dan yang

lain-lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman getir membuat pemuda ini dapat

menahan nafsu dan dapat berpikir panjang. Tiada gunanya, pikirnya. Ayahnya yang

gagah perkasa sekalipun tak dapat menang.

Apalagi dia yang hanya memiliki kepandaian terbatas sekali. Ia harus dapat keluar

dari neraka ini, harus mempelajari kepandaian dan kelak kembali untuk membalas

dendam. Ah, tidak, ayahnya lebih betul. Bukan semata-mata membalas dendam,

melainkan yang terutama sekali membebaskan saudara-saudaranya para budak.

“Ayah, ampunkan anakmu tidak dapat merawatmu sebagaimana mestinya.” Dengan

airmata bercucuran saking sedih melihat mayat ayahnya rebah tak terawat atau

terurus, ia terpaksa meninggalkan mayat itu di situ kalau tidak mau tertangkap oleh

kaki tangan tuan tanah.

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin mencari jalan di dalam gelap dan akhirnya ia berhasil memasuki kuil. Tak

seorangpun kaki tangan tuan tanah menjaga tempat ini. Siapa mengira bahwa pemuda

yang mereka kira sudah melarikan diri bersama Ci Ying itu berani bersembunyi di

dalam kuil?

Perhitungan Ci Leng memang tepat. Tempat sembunyi di kuil itu baik sekali.

Seandainya Wang Sin mengikuti jejak Ci Ying, melarikan diri menggunakan perahu,

tentu ia akan tertangkap karena para antek tuan tanah sudah menjaga sampai jauh di

Gi Hun Hosiang menerimanya dengan ramah, tanpa banyak suara. Ternyata hwesio

ini sudah membuat persiapan lebih dulu karena begitu Wang Sin masuk ia lalu

mengambil satu stel pakaian hwesio berikut topinya yang tinggi.

“Buka pakaianmu dan pakai ini,” perintahnya.

Wang Sin juga tidak banyak cakap lagi, segera menanggalkan pakaian budak yang

butut dan melemparkan pakaian ini di sudut ruangan. Kemudian ia mengenakan

pakaian hwesio itu dan tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang pendeta Lama.

“Kau sembunyi di sini dulu, pinceng akan memeriksa keadaan di luar,” kata hwesio

itu kemudian, lalu ia pergi ke luar dengan tenang.

4. Murid Cheng Hoa Suthai.

Wang Sin yang ditinggal seorang diri di ruangan penuh patung itu, merasa seram

juga. Semenjak kecil ia sudah dijejali dongeng dan kepercayaan bahwa patung-patung

itu menjadi tempat tinggal para roh suci, para dewa yang menghubungi manusia

melalui patung. Ia merasa seram dan takut, akan tetapi ketika melihat sebuah patung

Dewi Kwan Im yang berwajah cantik sekali dan membayangkan budi luhur.

Ia cepat berlutut di depan patung ini, bersujud dan merasa aman. Ia tahu bahwa

patung ini adalah pujaan Ci Ying dan patung yang mempunyai wajah demikian

lembut tak mungkin jahat. Tentu Ci Ying akan mendapat perlindungannya.

Menjelang tengah malam, Gi Hun Hosiang kembali. Melihat Wang Sin berlutut

memuja patung Dewi Kwan Im, ia mengangguk-angguk.

“Kau akan selamat,” gumamnya. Setelah Wang Sin berdiri, ia berkata lagi, lirih akan

tetapi bersungguh-sungguh. “Kau pergilah ke kandang kuda. Penjaganya sudah pulas

semua terkena obatku. Ambillah seekor kuda yang baik, kemudian tuntun kuda itu ke

luar terus ke tempat sepi. Kemudian kau boleh mulai dengan perjalananmu. Ke mana

tujuanmu pertama?”

“Menyusul Ci Ying, di mana air sungai Yalu-cangpo berbelok ke selatan,” jawab

Wang Sin dengan suara tetap.

“Baik, akan tetapi kalau sudah bertemu, harus pergi ke utara. Pergilah ke Kun-lunsan.”

Koleksi Kang Zusi

“Memang ayah memesan supaya teecu pergi ke Kun-lun-san mencari guru ayah, Cin

Kek Tosu.”

Gi Hun Hosiang mengangguk-angguk. Ia merogo saku dan mengeluarkan segumpal

emas. “Benda ini di dunia luar dihargai orang. Bawalah untuk bekal. Nah

berangkatlah, Wang Sin!”

Pemuda itu menghaturkan terima kasih, lalu menyelinap ke luar dengan hati-hati,

terus menuju ke kandang kuda milik tuan tanah. Tiga puluh ekor lebih kuda yang

berada di situ, akan tetapi Wang Sin yang sudah kenal baik kuda-kuda itu tahu harus

memilih yang mana. Ia pilih kuda berbulu putih tunggangan tuan tanah Yang Can

pribadi. Inilah kuda terbaik dan terkuat.

Karena kuda-kuda itu sudah mengenal Wang Sin, mereka tidak menimbulkan gaduh,

bahkan kuda putih yang dituntun ke luar juga menurut saja. Pemuda itu terus

menuntunnya dengan hati-hati sampai mereka berada jauh dari situ, baru ia melompat

dan mengaburkan kuda itu, jauh dari sungai, akan tetapi terus ke timur menurutkan

aliran sungai Yalu-cangpo.

Menjelang pagi Wang Sin masih terus larikan kudanya, kini sudah jauh sekali

meninggalkan perkampungan itu. Hatinya lega dan girang seperti seekor burung yang

terlepas dari sangkar. Akan tetapi kalau ia teringat akan nasib ayahnya, ia menjadi

sedih sekali.

“Aku akan kembali ….. aku akan kembali ….” katanya kepada diri sendiri, penuh

kebencian kepada tuan tanah dan antek-anteknya. Teringat akan ini, kedukaannya

lenyap dan ia menggigit bibir mengepalkan tinju, terus membedal kudanya lebih cepat

lagi, menyongsong matahari di timur, menyongsong kemerdekaan.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa bukan hanya ayahnya dan ayah Ci Ying saja yang

menjadi korban pelariannya. Pada keesokan harinya, gegerlah tuan tanah dan kaki

tangannya ketika melihat bahwa kuda milik tuan tanah telah lenyap dicuri orang.

“Tentu si bedebah Wang Sin, tak bisa lain orang!” maki tuan tanah Yang Can sambil

membanting-banting kaki dengan muka merah. “Kalian anjing-anjing tolol!” makinya

kepada semua anteknya yang menundukkan kepala. “Masa puluhan orang tidak

mampu menangkap seorang anak-anak seperti Wang Sin. Kalian melapor tidak ada,

sudah minggat dan lain-lain obrolan kosong. Ternyata malam tadi ia masih berada di

sini bahkan dapat mencuri kudaku. Setan!”

“Tuan besar, keparat itu dapat bersembunyi di sini, tentu ada pembantunya. Kalau

tidak ada orang yang membantunya, kiranya tak mungkin dia bisa bersembunyi,”

seorang di antara antek-anteknya memberanikan diri.

Yang Can berpikir. Betul juga pendapat ini. Akan tetapi pikiran ini malah

membangkitkan marahnya. “Tentu ada budak pengkhianat yang menyembunyikan di

gubuknya. Kalian semua buta barangkali, tidak dapat melihat dia bersembunyi di

gubuk para budak!”

Koleksi Kang Zusi

Tukang pukul yang mengajukan pendapat itu terkejut. Celaka, pendapatnya malah

memukul mereka sendiri.

“Tidak mungkin tuan besar, tidak mungkin. Hamba sekalian teliti, malah semalam

suntuk meronda di sekitar gubuk para budak dan di pinggir kali, sepanjang lembah

sungai.”

“Hemm, kalau begitu di mana sembunyinya?”

“Hamba rasa …. kalau tidak salah dugaan hamba, tentu di sekitar kuil. Di sanalah

yang tidak terjaga.”

Yang Can sadar, namun penuh kesangsian. Para pendeta Lama boleh dibilang semua

membantunya. Mungkinkah Wang Sin dapat bersembunyi di sana? “Kita selidiki ke

kuil!” akhirnya ia berkata dan beramai-ramai para anteknya mengikuti majikan

mereka ini menuju ke kuil pada pagi hari itu.

Thouw Tan Hwesio, pendeta Lama jubah kuning ketua kuil itu, mengerutkan kening

dan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal ketika ia mendengar penuturan tuan tanah

Yang Can.

“Hemm, pinceng sudah menaruh curiga ketika kemaren Ci Leng berkeliaran di kuil.

“Jangan-jangan Gi Hun …..” Hwesio tinggi besar ini bangkit dari tempat duduknya.

“Harap duduk dulu, biar pinceng pergi menyelidiki.” Kemudian dengan langkah lebar

hwesio tua yang masih kuat itu memasuki kuil, langsung menuju ke ruangan

pembuatan patung, tempat kerja Gi Hun Hosiang.

Gi Hun Hosiang menyambut kedatangan pendeta kepala itu dengan tenang dan

hormat. Ia memberi hormat dan melanjutkan pekerjaannya yang dimulai pagi-pagi

sekali. Thouw Tan Hwesio pura-pura melihat-lihat patung, pura-pura memeriksa

pekerjaan hwesio bawahannya itu, akan tetapi matanya yang besar itu melirik ke sana

ke mari. Akhirnya ia melihat setumpuk pakaian butut, pakaian Wang Sin yang

dilemparkan di pojok. Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia menghempaskan

kakinya ke atas lantai sambil membentak.

“Gi Hun. Apa yang telah kau lakukan malam tadi?”

“Apa yang dimaksudkan twa-suhu yang mulia?” balas tanya Gi Hun Hosiang penuh

ketenangan karena ia memang sudah siap sedia memikul semua akibat bantuannya

kepada Wang Sin.

“Ha! Kau masih berani berpura-pura? Kau penjahat yang masih bodoh, melakukan

perbuatan terkutuk tanpa membersihkan bekas kejahatanmu. Pakaian kotor siapa ini?”

“Itu bekas pakaian Wang Sin.”

Thouw Tan Hwesio tercengang juga mendengar pengakuan terang-terangan ini.

“Keparat, kau telah membantu seorang penjahat melarikan diri dan mencuri kuda, kau

telah membikin kotor kuil ini. Manusia tak tahu budi. Ketika kau datang keleleran,

Koleksi Kang Zusi

bukankah pinceng yang menolongmu dan memberi pekerjaan serta makan dan tempat

tinggal? Kiranya kau berkhianat, membantu orang jahat dan memalukan pinceng!”

“Twa-suhu yang baik, teecu tidak pernah melakukan pekerjaan jahat.”

“Keparat, kau telah membantu Wang Sin melarikan diri. Apa kau mau bilang itu tidak

jahat?”

“Tidak twa-suhu. Teecu mentaati pelajaran dari Sang Buddha yang menghajarkan kita

harus mengutamakan keadilan dan prikebajikan. Wang Sin adalah seorang budak

yang baik, seorang yang hidupnya penuh derita dan karenanya patut dikasihani. Akan

tetapi, oleh keganasan orang lain, ayahnya dibunuh, tunangannya dirampas dan dia

sendiri kalau tidak dapat melarikan diri tentu dibunuh pula. Teecu membantu dia

terlepas dari pada ancaman angkara murka, bukankah teecu berarti mengutamakan

keadilan dan kebajikan?”

“Tikus busuk! Dasar kau murid tosu gila. Kau hanya mengotorkan kuilku. Kau harus

dihukum mati!” Sambil berkata demikian Thouw Tan Hwesio yang sudah marah

sekali menyerang Gi Hun Hosiang dengan toyanya yang tadi memang sudah ia bawabawa.

Gi Hun Hosiang berlaku cepat, mengelak sambil berkata, suaranya keren.

“Thouw Tan Hwesio, kau lah yang tersesat. Ucapan dan sikapmu ini menyatakan

bahwa kau bukanlah murid Buddha yang baik.”

“Jahanam!” Thouw Tan Hwesio menyerang lagi lebih hebat, menghantamkan toyanya

ke arah kepala Gi Hun Hosiang. Gi Hun Hosiang kembali mengelak, dan “prakkkk!”

sebuah patung Buddha yang hampir jadi hancur berkeping-keping terkena pukulan

“Kau hwesio sesat! Berani kau menghancurkan patung suci, hasil jerih payahku!” Gi

Hun Hosiang berseru marah sambil menyambar sebuah pisau yang biasa ia

pergunakan untuk membuat patung. Terjadilah pertempuran yang seru di ruangan itu.

Toya di tangan Thouw Tan Hwesio menyambar-nyambar ganas dan beberapa buah

patung hancur lagi terkena angin pukulan toya.

Repot juga Gi Hun Hosiang menghadapi serangan in. Ia adalah seorang murid Kunlun,

murid dari Cin Kek Tosu seorang tokoh Kun-lun, akan tetapi dibandingkan

dengan Thouw Tan Hwesio, ia masih kalah jauh, baik dalam ilmu silat maupun dalam

kekuatan. Ia masih mencoba untuk membela diri, namun akhirnya ia mengakui

keunggulan Thouw Tan Hwesio ketika toya yang berat itu tepat menangkis pisaunya

sampai terlempar disusul oleh sambaran toya yang meremukkan kepalanya. Nyawa Gi

Hun Hosiang melayang pergi tanpa mulutnya sempat bersambat lagi.

Pada saat itu Yang Can dan Yang Nam mendengar suara ribut-ribut, menyusul ke

dalam dan melihat Thouw Tan Hwesio berdiri dengan muka merah dan memandang

mayat Gi Hun Hosiang.

Koleksi Kang Zusi

“Pinceng kehilangan ahli patung yang pandai. Apa boleh buat, dia telah berkhianat

dan membantu larinya Wang Sin. Akan tetapi, pinceng akan menyuruh beberapa

orang hwesio mengejarnya sampai dapat. Tak salah lagi tentu keparat itu lari ke Kunlun-

san.”

Setelah diketahui bahwa yang membantu Wang Sin melarikan diri adalah Gi Hun

Hosiang yang telah dibunuh, Yang Can tidak mengganggu para budak lainnya,

kecuali Ci Leng yang semenjak hari itu makin celaka hidupnya, disuruh bekerja berat

sampai jauh malam, dikurangi makannya sehingga orang tua ini menjadi kurus dan

pucat. Namun ia masih mempertahankan hidupnya karena di dalam hatinya, Ci Leng

menaruh kepercayaan akan kembalinya Wang Sin dan Ci Ying untuk membalas

dendam, untuk membebaskan para budak.

******

Kalau orang sudah menjelajah daerah Tibet, baru ia akan mengerti mengapa para

budak yang hidupnya diperas oleh para tuan tanah, jarang ada yang berani melarikan

diri. Selain bahaya besar yang merupakan kaki tangan tuan tanah yang tentu akan

mengejar mereka dan menyiksa mereka secara keji kalau mereka tertangkap kembali,

dan ancaman bahaya dari tuan tanah-tuan tanah di lain daerah yang tentu akan

menggencet hidup mereka seperti tuan-tuan tanah lainnya, juga daerah yang amat

sukar itu merupakan ancaman bagi hidup para pelarian.

Daerah Tibet sebagian besar terdiri dari bukit-bukit salju, padang rumput yang amat

luas, hutan-hutan di sana sini. Orang akan mudah sesat jalan dan dalam jarak ratusan

kilometer takkan bertemu dengan manusia. Selain bahaya kelaparan di jalan, juga

masih banyak bahaya mengancam, seperti binatang buas dan lain-lain.

Hanya oleh kenekatan luar biasa Ci Ying dapat mengemudi perahunya yang hanyut

oleh air sungai Yalu-cangpo. Baiknya Wang Sin membekali seekor domba yang dapat

ia ambil air susunya untuk Wang Tui, bayi yang ia bawa lari itu. Kalau tidak, tentu

bayi itu akan mati kelaparan. Baginya sendiri, daging domba yang ia bawa cukup

untuk menyambung nyawanya.

Siang malam perahunya bergerak terus ke depan, makin jauh meninggalkan

kampungnya yang telah merupakan neraka baginya itu. Ci Ying berlaku tabah dan ini

semua karena ia mempunyai harapan akan tersusul oleh Wang Sin. Kalau saja ada

pemuda itu di sisinya, tentu akan lebih besar dan tabah lagi hatinya.

Pada hari ke lima ia sudah mendekati belokan sungai Yalu-cangpo yang mengalir ke

selatan. Malam itu perahunya bergerak perlahan karena aliran sungai di daerah ini

tidak cepat. Wang Tui sudah tidur nyenyak setelah diberi air susu domba yang kini

kelihatan agak kurus karena kekurangan rumput segar.

Ci Ying duduk di kepala perahunya, memandang ke sekeliling. Hatinya agak gentar

juga ketika perahunya memasuki daerah berhutan yang nampak mengerikan. Ia

memperhatikan sungai terus menerus, mengharap-harap melihat sungai itu berbelok

untuk mendarat dan menanti Wang Sin di tempat itu.

Koleksi Kang Zusi

Malam itu indah sekali. Bulan purnama sudah muncul dan menyulap keadaan di

sekitar dan di sepanjang kanan kiri sungai menjadi pemandangan alam yang luar biasa

indahnya. Di permukaan air tampak bulan dan pohon-pohon yang menjadi bayangbayang

Tiba-tiba Ci Ying menahan napas wajahnya berubah pucat sekali. Anehnya, pada saat

itu Wang Tui menangis, agaknya digigit nyamuk, Ci Ying cepat mengangkat bayi itu

dan dipeluknya erat, disuruh diam.

Yang mengejutkan hatinya adalah munculnya bayangan orang di pantai sebelah kiri.

Orang itu agaknya sudah melihat perahu kecil itu dan seorang di antara mereka

berseru, “Hai, siapakah yang berperahu pada malam hari membawa anak kecil itu?”

Ci Ying tidak berani menjawab, takut sekali karena mengira bahwa mereka tentulah

kaki tangan tuan tanah yang berhasil mengejarnya. Otaknya sudah diperas untuk

mencari jalan melarikan diri dari mereka. Akan tetapi bagaimana? Ia melihat mereka

bertiga meloncat ke dalam sebuah perahu dan mendayung perahu itu ke tengah.

Ci Ying menaruh bayi yang menangis itu, lalu dengan kedua tangannya ia mendayung

sekuat tenaga untuk melarikan diri. Namun, perahu yang didayung oleh tiga orang itu

cepat sekali meluncur mendekati perahunya, malah kini melampauinya dan

menghadang di tengah, dan tiga orang laki-laki itu memberi isyarat supaya berhenti.

“Seorang perempuan muda!” seru seorang di antara mereka, heran dan terkejut. Ci

Ying menjadi lega hatinya. Bukan, melihat pakaian dan sikap mereka, tiga orang ini

bukanlah kaki tangan tuan tanah, biarpun mereka itu orang-orang Tibet, mungkin

pemburu-pemburu binatang. Ia tidak takut lagi. Biasanya, bangsanya sendiri adalah

orang-orang ramah dan hampir tak pernah terjadi ada orang lelaki mengganggu

wanita, kecuali tentu saja, kaki tangan tuan-tuan tanah yang merupakan serigalaserigala

“Kawan-kawan harap memberi jalan kepadaku. Biarkan aku meneruskan perjalanan,”

katanya ramah.

Bulan purnama memancarkan cahayanya sepenuhnya ke wajah Ci Ying, membuat

tiga orang itu dapat melihat bahwa dia adalah seorang gadis Tibet yang cantik dengan

bentuk tubuh yang menarik.

“Eh, bukankah ini gadis bernama Ci Ying yang melarikan diri dari tuan besar Yang

Can?” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.

Kekagetan Ci Ying seperti pada saat itu ia disambar geledek mendengar seruan itu,

sampai ia menjadi bengong terbelalak memandang mereka tanpa dapat mengeluarkan

suara lagi.

“Betul, tentu ini anaknya. Ah, pantas saja tuan muda Yang Nam itu mau

mengambilnya sebagai selir. Kiranya begini cantik. Aha, kalau kita tangkap dan bawa

kepada tuan muda Yang Nam, tentu kita mendapat hadiah besar!” kata orang kedua.

Koleksi Kang Zusi

“Apa tidak baik antarkan kembali kepada tuan tanah Yang Can? Tentu kita dihadiahi

….” kata yang ke tiga.

“Ah, keliru. Bunga begini cantik amat dibutuhkan oleh tuan tanah Nam, mengapa

harus jauh-jauh diantar kepada tuan tanah Yang Can?”

Mendengar percakapan mereka, makin takutlah hati Ci Ying. Tidak salah lagi, mereka

ini tentulah antek-antek tuan tanah lain yang tidak kalah kejam dan jahat dari pada

Yang Can. Akan tetapi ia masih mencoba dan meletakkan bayi itu di atas geladak

“Saudara-saudara harap kasihani aku yang berusaha melarikan diri dari neraka,

melarikan diri dari tindasan tuan tanah yang selalu menggencet kita semua para

budak. Harap saudara lepaskan aku dan aku akan selalu berdoa kepada Dewi Putih

Sgrol-ma untuk kalian bertiga …..”

“Ha-ha-ha, berkah Dewi dan Dewa tidak akan sebaik berkah tuan tanah berupa

pakaian dan bahan makanan anak manis. Lebih baik kau menurut saja, menjadi selir

tuan Nam. Dia tentu akan membuat hidupmu serba cukup dan bahagia.”

Ci Ying tidak dapat mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih baik mati, pikirnya. Ia

melarikan diri karena tidak sudi diselir tuan muda Yang Nam, masa sekarang harus

menyerahkan diri untuk diselir oleh tuan tanah lain yang selama hidupnya belum

pernah ia lihat? Lebih baik mati! Cepat sekali ia lalu melompat dari perahu dan

membuang diri ke dalam sungai.

“Setan, dia membuang diri ke sungai!” seru seorang di antara tiga orang laki-laki yang

ternyata adalah orang-orang Tibet yang biarpun bukan antek-antek tuan tanah namun

mereka itu adalah sebangsa keliaran yang pekerjaannya memburu atau berdagang atau

melakukan apa saja untuk mendapat hasil, termasuk pekerjaan jahat merampok atau

melakukan sesuatu untuk tuan tanah-tuan tanah dan mendapatkan upah.

Melihat Ci Ying melempar diri ke air, dua orang di antara mereka cepat melepas

pakaian dan terjun berenang dan tak lama kemudian mereka telah dapat menangkap

dan menaikkan ke perahu mereka tubuh Ci Ying yang sudah pingsan. Mereka

tertawa-tawa dan sama sekali tidak perdulikan lagi kepada Wang Tui, bayi yang

menangis menjerit-jerit terbawa oleh perahu yang sudah hanyut lagi ke depan.

Ketika siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di atas kuda dipeluk oleh

seorang di antara tiga orang penculiknya yang tertawa-tawa gembira, Ci Ying

merontah dan menangis, menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun segala usahanya siasia

belaka, malah membuat gelak tiga orang itu makin menjadi. Ci Ying memaki-maki

saking marahnya.

“Ha-ha-ha, sekarang kau memaki-maki kami. Akan tetapi kelak kalau sudah menjadi

nyonya besar, kau akan bersyukur kepada kami dan memberi hadiah. “Ha-ha-ha!”

Pada saat itu, tiba-tiba mereka menjadi kaget dan menghentikan kuda mereka. Entah

dari mana datangnya, tahu-tahu di depan mereka. Di tengah jalan menghadang berdiri

seorang wanita tua berpakaian putih seperti pendeta, wajahnya bersih dan matanya

Koleksi Kang Zusi

bersinar terang, usianya kurang lebih lima puluh tahun sedangkan kedua tangannya

memegang seuntai tasbeh dan sebuah kebutan warna merah.

Tiga orang itu adalah orang-orang kasar yang tidak takut apapun juga, akan tetapi ada

sesuatu pada diri nenek ini yang membuat mereka tidak berani berlaku sembrono.

Mereka adalah orang-orang yang percaya akan tahyul, maka munculnya nenek ini

membuat mereka selain kaget dan heran, juga serem di hati. Apalagi nenek ini

berpakaian pendeta, golongan orang yang mereka pandang tinggi.

“Nenek tua, harap minggir agar jangan tertubruk kuda,” kata seorang di antara

“Akan tetapi nenek itu tidak mau minggir, malah memandang tajam ke arah Ci Ying.

“Kalian mau apa dengan perempuan muda itu?” tanyanya, dalam bahasa Tibet yang

agak kaku tapi cukup jelas.

Tiga orang itu ketika mendengar suara ini, berkurang rasa hormat mereka karena

maklum bahwa nenek ini adalah bangsa Han dari timur dan karenanya tak mungkin

merupakan pendeta suci titisan para dewi. Orang yang memeluk Ci Ying tertawa

sambil menjawab.

“Ha-ha, perempuan ini adalah biniku yang bandel, tidak mau diajak pulang.”

Ci Ying merontah dan berteriak, “Bohong! Mereka ini orang-orang jahat yang

menculikku, hendak menjualku kepada tuan tanah ….” Ci Ying tak dapat bicara terus

karena tangan yang lebar dari orang itu menutupi mulutnya.

Sepasang mata nenek itu yang tadinya bening dan lembut, kini menyinarkan

pandangan tajam berapi. Mukanya yang putih menjadi kemerahan dan ia membentak

nyaring. “Keparat-keparat jahanam, di tempat sesunyi ini masih ada saja manusia

berhati binatang! Lepaskan dia!”

Akan tetapi tiga orang ini mana mau menurut? Terhadap orang-orang kuat belum

tentu mereka takut, apalagi menghadapi seorang nenek tua yang lemah? Yang paling

depan tertawa, menggerakkan kudanya sambil berkata, “Kau nenek bawel, tidak mau

minggir jangan menyesal kalau mampus terinjak kuda!”

Kudanya tersentak maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan orang

yang menunggang kuda itu terguling roboh dari atas kudanya yang lari ketakutan ke

kanan. Ketika kedua orang kawannya memandang, ternyata orang itu sudah tak

bernapas lagi, mati dengan mata mendelik dan lidah keluar!

Bukan main herannya mereka. Nenek itu tidak terlihat menggerakkan tangan,

bagaimana kawannya bisa tewas secara demikian mengerikan? Akan tetapi

kemarahan mereka melebihi keheranan itu dan serentak orang kedua maju sambil

memaki. “Siluman dari mana berani kurang ajar?”

Untuk kedua kalinya terdengar pekik mengerikan dan sekarang karena orang ketiga

memandang penuh perhatian, ia melihat nenek itu menggerakkan kebutannya dan

Koleksi Kang Zusi

ujung kebutan merah itulah yang mengenai dada kawannya yang terguling sambil

menjerit dan tewas di saat itu juga. Gerakannya itu demikian cepat dan lemah

sehingga hampir tidak kelihatan.

Orang kedua juga tewas seketika itu juga. Sebelum orang ketiga yang menjadi pucat

itu dapat bergerak, nenek lihai ini sudah menggerakkan tubuh ke depan, tasbehnya

bergerak berbareng dengan kebutannya. Orang yang memeluk tubuh Ci Ying sudah

mencabut golok dan mencoba untuk menangkis tasbeh.

Namun goloknya terlepas dan tasbeh terus menimpa kepalanya. Terdengar suara

“prakk!” dan orang inipun terguling tak bernyawa lagi dengan batok kepala retakretak.

Adanya kebutan itu telah membelit tubuh Ci Ying dan tahu-tahu gadis ini telah

melayang turun dari kuda.

Kalau tidak mengalami sendiri, mungkin Ci Ying takkan mau percaya. Tak mungkin

ada manusia, apalagi wanita sesakti itu, kecuali kalau seorang dewi yang menjelma

menjadi manusia. Dewi! Ah, nenek itu memang masih kelihatan cantik dan kulitnya

putih. Tidak salah lagi, dia tentulah Dewi Putih Sgrol-ma! Serta merta Ci Ying yang

dipengaruhi oleh jalan pikirannya yang sudah penuh ketahyulan itu menjatuhkan diri

berlutut di depan nenek itu sambil berkata.

“Dewi yang mulia, terima kasih atas pertolongan Dewi. Harap Dewi sudi menolong

Wang Tui yang terbawa hanyut oleh perahu di sungai. Dewi tolonglah segera ….!”

Nenek itu memang kurang pandai bahasa Tibet. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan

oleh gadis itu menyebut-nyebutnya Dewi Sgrol-ma segala macam. Ia tidak tahu

bahwa ia dianggap Kwan Im Pousat oleh gadis itu.

“Aku bukan Dewi, jangan ngaco!” bentaknya dan suaranya berubah keren galak.

“Juga aku tidak sudi menolong orang lain. Kalau ia hanyut, biarkan hanyut. Masa

bodoh!”

Kaget sekali Ci Ying mendengar ini. Betapa jauh bedanya dengan tadi. Tadi nenek itu

menolongnya, mengapa sekarang bisa mengeluarkan kata-kata begitu kejam dan tidak

mau menolong Wang Tui?

“Nenek budiman, tolonglah dia. Wang Tui masih bayi, dia tadi bersamaku di perahu

sampai aku diculik oleh penjahat dan bayi itu dibiarkan hanyut di dalam perahu.

Kasihanilah dia, dia anak baik ….” ia memohon lagi, bingung teringat nasib Wang

“Hu, anak baik? Tidak ada orang baik di dunia ini. Yang baik hanya kita sendiri.

Tidak usah kau banyak ribut, aku bukan orang yang biasa diperintah. Kau bernama

siapa dan dari mana? Bagaimana kau bisa diculik orang-orang rendah ini?”

Biarpun bingung sekali karena nenek itu tidak mau menolong, Ci Ying terpaksa

menjawab dengan singkat. “Aku bernama Ci Ying, seorang budak yang melarikan diri

karena hendak dipaksa menjadi selir tuan tanah. Nenek yang baik kalau kau tidak mau

menolong Wang Tui, biarlah aku mencoba untuk menolongnya.”

Koleksi Kang Zusi

Setelah berkata demikian, Ci Ying lalu lari secepatnya menuju ke sungai kembali

untuk mengejar perahu yang hanyut. Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa

tindak, tiba-tiba pinggangnya terlibat sesuatu dan ia tidak dapat maju lagi. Ternyata

kebutan di tangan nenek itu telah melibat pinggangnya.

“Berhenti kau!” bentak nenek itu, “Kau berjodoh untuk menjadi muridku. Kau telah

hidup tergencet, sengsara dan menderita. Apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian

dan kelak membasmi orang-orang jahat yang telah merusak hidupmu?”

Mendengar kata-kata ini, teringatlah Ci Ying akan semua sakit hatinya. Teringat ia

betapa ayahnya tentu akan disiksa atau mungkin dibunuh. Teringat pula akan

kesaktian wanita tua ini dan kalau saja ia bisa mempelajari ilmu seperti tadi, tentu ia

akan dapat menolong ayahnya, atau kalau sudah terlambat dapat menolong para

budak lain dan membasmi tuan tanah dan kaki tangannya. Tentang Wang Tui,

seandainya ia kejar juga, mana ia bisa menyusul?

Dengan tersedu-sedu menangisi nasib Wang Tui, Ci Ying lalu menjatuhkan diri

berlutut dan berkata perlahan, “Teecu bersedia menjadi murid Dewi….” Ia lupa dan

menyebut Dewi.

“Aku manusia biasa, namaku Cheng Hoa Suthai. Ci Ying marilah ikut aku ke

tempatku di gunung Heng-toan-san.”

“Baik, Suthai.” Dan berangkatlah dua orang wanita ini meninggalkan tempat itu.

Siapakah Cheng Hoa Suthai ini? Namanya tentu saja asing dan tidak ada yang kenal

di daerah Tibet, akan tetapi makin ke Timur, makin dikenal oranglah wanita perkasa

ini. Dia seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, seorang sakti yang lihai dan

terkenal berwatak aneh dan ganas terhadap musuh-musuh atau orang-orang yang

dibencinya. Cheng Hoa Suthai bertapa di puncak gunung Heng-toan-san, akan tetapi

ia suka sekali berkelana sampai jauh ke timur, pernah menggegerkan pantai lautan

Sekarang ia sedang berkelana ke barat sampai di Tibet. Melihat Ci Ying, ia amat

tertarik dan ingin sekali mengambil murid gadis sengsara itu. Keanehan wataknya

terlihat ketika ia membantu Ci Ying membunuh para penculik gadis itu, akan tetapi

sama sekali tidak perduli akan nasib bayi yang hanyut terbawa perahu di sungai Yalucangpo.

Memang wanita ini aneh dan berwatak keras, malah lebih sering bersikap

ganas dan jahat dari pada baik sehingga di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai tokoh

yang ganas dan jahat.

Ci Ying gadis yang semenjak kecil menderita sengsara lahir batin, sekarang menjadi

murid wanita aneh ini dan pengalaman-pengalaman pahit getir dalam hidupnya

membuat ia mudah saja mengoper watak gurunya, yakni membenci orang-orang dan

selalu menaruh dendam di dalam hatinya.

Ci Ying juga seorang gadis yang berwatak keras sekali, tahan uji dan sudah mengeras

oleh penderitaan-penderitaan, biarpun sebelah kakinya tidak bersepatu karena sepatu

bututnya yang kiri terlepas ketika ia meronta-ronta ditangkap tiga orang penjahat tadi.

Akan tetapi biarpun kakinya pecah-pecah ketika ia mengikuti Cheng Hoa Suthai, ia

Koleksi Kang Zusi

tidak mengeluh dan dengan keras kepala berjalan terus sampai akhirnya ia roboh dan

oleh gurunya ia diangkat dan dibawa lari cepat seperti angin.

5. Anak Murid Kun-lun-pai.

Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya

baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang

menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang

sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan

moncongnya yang besar.

Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu

maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan

perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu

menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling.

“Siancai …. siancai …. setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk

tangan saja?” terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan

seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu

yang sudah terbalik. Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar

tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi

orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari

permukaan air.

Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua

kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar

dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini,

bayi itu baru bisa menangis lagi.

“Kasihan, anak siapakah ini?” Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan

tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar,

terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikanikan

Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia

adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya

jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya

berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di

punggungnya tergantung sebatang pedang.

Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang

tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw

jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang

besar. Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar

Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat

orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong

kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To).

Koleksi Kang Zusi

“Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau

tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai

Yalu). Ha-ha-ha!”

Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari

pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu.

******

Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur

mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan

dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalaukalau

terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih

belum berkelok.

Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di

bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah

hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan

kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari.

Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik,

berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang

dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh

kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan

bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu.

Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci

Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi

kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci

Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi

tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat. Akan tetapi

mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat

melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di

kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil

memanggil-manggil, “Ci Ying …… Ci Ying …..!”

Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar

di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda

itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah

meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki.

Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia

sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah.

Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa

sekuruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi

kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan

diri, akhirnya gadis itu terjatuh juga ke dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan

orang lain yang jahat?

Koleksi Kang Zusi

“Ci Ying…….” keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyunghuyung

melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu.

Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucekkucek

matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini

pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah

batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik.

“Ci Ying…!” seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu

dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu

tidak mendengar ada orang mendekatinya.

“Ci Ying…….!” Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk

gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya.

Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan “Plaakk!” kepala Wang Sin sudah

ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan

jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan

matanya sambil memaki.

“Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!”

Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang

dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis

bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya

karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti

bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan

menghampirinya dengan mata mengancam.

Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak

bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi

membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa

meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu

hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya.

“Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?”

Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis

itu makin marah. “Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?” Ia angkat pedangnya hendak

“Hui-ji (anak Hui)……. jangan bunuh orang!” tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan

muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun

bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang

cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal

pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. “Ada

apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?”

“Dia kurang ajar, ayah. datang-datang ia…… ia menubruk dan memelukku. Biar

kubunuh anjing gila ini!!”

Koleksi Kang Zusi

“Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit,” kata ayahnya sambil memandang

kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan

kepala masih puyeng.

“Orang muda, kau siapakah?” tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali

tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang

Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet

yang cukup lancar dan jelas.

“Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?”

Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam

bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. “Harap tuan besar sudi

memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal nona ini, hamba kira dia….”

Kakek itu mengangguk. “Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan

diri, ya?”

Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan

perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya.

“Tidak…., tidak….! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!” serunya

dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada

kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah

mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap

Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah

itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat

Kun-lun-ciang-hoat? Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin

menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama.

Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku

Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan

tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan

itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali,

tenaga luar yang mengagumkan.

Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda

itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa

mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran.

Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang

kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai,

belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet

bisa mainkan ilmu silat ini?

Koleksi Kang Zusi

“Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!” kata kakek itu sambil menangkis sebuah

Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini

dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti

kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan,

ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai

menjadi lemas sekali.

Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok

dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang

kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut

atau menyerah.

“Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik,” kata kakek

itu sambil membebaskan totokannya tadi.

Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, “Aku tidak sudi kembali, lebih baik

kau bunuh aku sekarang juga!”

Gadis yang sama sekali tidak mengerti percakapan antara ayahnya dan pemuda itu,

melihat sikap Wang Sin terus melawan dan melotot-lotot, menjadi gemas. “Ayah,

mampuskan saja orang kurang ajar ini, habis perkara!”

Ayahnya memberi tanda dengan tangan supaya gadisnya bersabar. Lalu ia berkata

kepada Wang Sin, “Orang muda kau salah duga. Aku sama sekali tidak akan

membawamu kembali, hanya ingin bertanya. Kau siapa dan kenapa tadi kau bersikap

kurang ajar? Pula, kau mempelajari ilmu silat dari siapakah?”

Wang Sin masih menaruh curiga maka ia segan untuk menceritakan keadaannya, akan

tetapi ia menjawab juga, “Aku belajar dari ayahku sendiri.”

“Siapa nama ayahmu?”

“Ayah bernama Wang Tun……”

Kakek itu nampak tercengang. “Apa? Ayahmu bernama Wang Tun? Ah, dia murid

suheng Cin Kek Tosu. Orang muda kita adalah orang-orang sendiri. Di mana

ayahmu? Mengapa kau sampai di sini?” Dia memegang pundak Wang Sin dengan

Wang Sin juga terkejut. Ayahnya telah berpesan supaya ia mencari guru ayahnya

yang bernama Cin Kek Tosu di Kun-lun-san dan kalau kakek ini masih adik

seperguruan Cin Kek Tosu, berarti kakek ini adalah paman guru ayahnya. Pantas

demikian lihai.

“Ayah…… ayah telah dibunuh oleh tuan tanah…..”

Kakek itu menarik napas panjang. “Hemmm, lagu lama terulang kembali. Tuan tanahtuan

tanah di Tibet mulai mengganas, memperlakukan hamba-hambanya seperti

Koleksi Kang Zusi

hewan. Anak, ceritakanlah dengan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jangan raguragu,

ketahuilah bahwa aku adalah Ong Bu Khai, terhitung paman guru dari ayahmu

sendiri dan ini adalah puteriku, Ong Hui. Di antara orang sendiri kau tidak perlu

menyembunyikan sesuatu, barangkali kami akan dapat menolongmu.”

Kemudian ia berkata kepada gadis itu. “Hui-ji bocah ini bukan orang lain. Dia adalah

putera dari Wang Tun si pandai besi, murid dari supekmu Cin Kek Tosu.”

“Kenapa dia kurang ajar?”

“Hushh, dengarkan dulu riwayatnya, tentu ada sebab-sebabnya.”

Wang Sin mulai percaya dan berceritalah dia tentang semua penderitaannya. Tentang

para budak yang dijadikan “ternak berbicara” oleh tuan tanah Yang Can, tentang

semua penindasan dan akhirnya tentang Ci Ying yang melarikan diri karena hendak

dipaksa menjadi selir tuan muda, tentang ayahnya yang terbunuh dan dia sendiri yang

melarikan diri sampai ke tempat itu.

“Aku tidak dapat menemukan Ci Ying, hanya sepatunya…… dan anak bayi itu….. ah,

apa yang terjadi dengan mereka?” Wang Sin mengakhiri penuturannya yang disalin

dalam bahasa Han oleh Ong Bu Khai kepada puterinya.

Ayah dan anak itu terharu sekali mendengar penuturan Wang Sin.

“Ayah, dia memang patut dikasihani. Akan tetapi dia belum menceritakan tentang

sikapnya yang kurang patut kepadaku tadi,” kata Ong Hui kepada ayahnya setelah ia

mendengarkan pula penuturan itu melalui terjemahan ayahnya.

“Wang Sin, penuturanmu mengharukan kami, biarpun aku tidak heran lagi mendengar

akan kekejaman para tuan tanah. Akan tetapi, kenapa kau tadi bersikap tidak patut

kepada anakku?”

Wajah Wang Sin menjadi merah dan ia melirik kepada Ong Hui, kelihatan jengah

sekali. “Lo-enghiong, aku…. aku tadi mengira bahwa puterimu adalah Ci Ying. Dari

belakang ia seperti Ci Ying, yaitu…. bentuk tubuhnya dan…… dan pakaiannya yang

tambal-tambalan …..”

“Apanya sih Ci Ying itu?” tanya Ong Hui setelah mendengar jawaban ini, merasa lega

bahwa pemuda itu tadi memeluknya bukan karena kurang ajar, melainkan karena

salah lihat. Pertanyaan ini diulang oleh Ong Bu Khai dalam bahasa Tibet.

Mendengar pertanyaan ini, Wang Sin menjadi bingung dan ragu-ragu. “Dia…. dia

itu….. adalah adik misanku …. puteri tunggal paman Ci Leng yang pandai membaca

dan menulis dan juga berani berkorban menolong bayi cucu nenek lumpuh,” kata

Wang Sin dengan suara bangga.

Mendengar jawaban ini, Ong Hui mengangkat dadanya.

Koleksi Kang Zusi

“Akupun pandai membaca dan menulis kiranya tidak kalah oleh gadis bernama Ci

Ying itu. Akupun berani membela orang, kalau tuan tanah jahat itu berada di sini,

akan kupatahkan lehernya.”

Ayahnya tersenyum dan kata-kata ini tidak ia terjemahkan kepada Wang Sin yang

memandang kepada gadis itu dengan kagum. Ia tadi sudah merasai tamparan gadis ini

dan tahulah ia bahwa gadis ini tentulah pandai silat. Teringatlah ia akan pesan

mendiang ayahnya dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Bu Khai.

“Lo-enghiong, setelah mendengar riwayat teecu, harap lo-enghiong sudi memberi

pelajaran silat kepada teecu, agar kelak teecu dapat membalaskan kematian ayah,

dapat membebaskan kawan-kawan budak dari cengkeraman tuan tanah jahat dan

antek-anteknya.

Ong Bu Khai menarik napas panjang, teringat akan keadaan di tanah airnya sendiri, di

pedalaman Tiongkok. “Dunia ini di mana sama saja,” katanya mengeluh, “Si kaya

memeras si miskin, si kuat menindas si lemah. Nafsu jahat menguasai manusia,

hukum negara diinjak-injak, yang berwajib silau oleh harta dunia melupakan tugas,

pembesar-pembesar tidak merupakan pimpinan bijaksana hanya berusaha mati-matian

membesarkan kesenangan pribadi melupakan rakyat. Di Tiongkok, di Tibet dan di

mana-mana rakyat kecil menderita…..”

Diam-diam Wang Sin merasa heran mendengar ini. Apakah di lain tempat juga terjadi

penindasan seperti di Tibet?

“Lo-enghiong, apakah di negerimu juga terdapat budak-budak yang hidupnya lebih

sengsara daripada kuda atau kerbau?” ia memberanikan hatinya bertanya.

Kembali orang gagah itu menarik napas panjang. “Perbudakkan sudah hapus, tidak

ada lagi budak-budak yang dapat diperjual belikan. Akan tetapi apa bedanya? Yang

bekerja paling berat mendapatkan hasil paling sedikit. Para petani yang menggarap

sawah, dari meluku tanah sampai menanam dan menuai padi, mereka yang

menghasilkan bahan makan dengan pupuk peluh dan darah, malah kadang-kadang

tidak dapat makan dan mati kelaparan. Memang aneh, tidak sesuai dengan hukum

alam, akan tetapi nyata. Yang membuat tidak memakai, yang menanam tidak

memakan hasilnya. Celaka…… celaka……”

Wang Sin menjadi makin penasaran. “Kalau begitu, lo-enghiong, para dewa tidak

adil! Siapa menjadi penegak hukum yang adil kalau para pembesar sendiri tidak

melakukan kewajibannya dan silau oleh harta dunia?”

“Kita yang harus bertindak, kita yang harus turun tangan membela keadilan. Biarpun

tenaga kita terbatas, biarpun tindakan kita hanya merupakan setetes air dalam

samudera, setidaknya kita bisa menghukum orang-orang jahat dan membela yang

lemah tertindas. Itulah tugas pendekar-pendekar yang mempelajari ilmu semenjak

kecil dengan susah payah. Untuk membela keadilan, aku dan anakku ini tidak segansegan

mempertaruhkan nyawa.”

Wang Sin kagum bukan main dan kini ia memandang kepada gadis itu dengan

hormat. Ia lalu berlutut kembali. “Lo-enghiong kalau begitu mohon kau sudi

Koleksi Kang Zusi

menerimaku sebagai murid agar akupun dapat ikut-ikut membela kebenaran

membasmi yang jahat.”

Ong Bu Khai mengangguk-angguk, lalu berkata, “Wang Sin, oleh mendiang ayahmu

kau disuruh menemui suhengku Cin Kek Tosu di Kun-lun-san. Oleh karena itu

marilah kau ikut dengan kami ke Kun-lun-san dan sesampainya di sana terserah

keputusan suheng. Kalau suheng suka menerimamu sebagai murid, itu baik sekali.

Kalau seandainya suheng yang sudah tua itu sekarang malas mengajar, barulah kau

boleh belajar sedikit ilmu yang kumiliki.”

Bukan main girangnya hati Wang Sin. Sambil berlutut ia menghaturkan terima

kasihnya berulang-ulang. Dan beberapa hari kemudian ia telah kelihatan berjalan di

samping ayah dan anak itu, dengan rukun ia berjalan di sebelah Ong Hui sambil

mempelajari bahasa Han sedikit demi sedikit.

******

Cin Kek Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal, sudah terlalu tua untuk

menerima murid baru. Akan tetapi mendengar bahwa Wang Tun dianiaya sampai

tewas oleh tuan tanah, dan mendengar pula penuturan tentang riwayat Wang Sin,

kakek ini menjadi marah dan minta kepada sutenya, Ong Bu Khai untuk mendidik

pemuda Tibet itu di bawah pengawasannya sendiri. Kesempatan baik ini

dipergunakan pula oleh Ong Hui untuk memperdalam ilmu silatnya dibawah petunjuk

supeknya yang memang memiliki tingkat lebih tinggi daripada ayahnya.

Sebetulnya, biarpun Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu, akan tetapi

pandai besi Tibet ini sebetulnya hanya belajar selama setengah tahun saja kepada tosu

Kun-lun itu. Terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika rombongan besar yang

mengantar Puteri Wen Ceng datang di Tibet. Karena peristiwa ini juga merupakan hal

yang menarik, baiklah kita mundur dua puluh empat tahun yang lalu dan mengikuti

jalannya peristiwa pernikahan antara seorang raja Tibet dengan seorang Puteri dari

Tiongkok, yaitu Puteri Wen Ceng puteri dari maharaja Tai Cung dari dinasti Tang.

Pada masa itu, raja di Tibet yang bernama Turfan atau Sron Can Gampo yang baru

berusia enam belas tahun, mendengar berita dari orang-orang yang datang dari timur

bahwa puteri maharaja yang cantik jelita dan terkenal cerdas dan pandai dalam hal

bermacam-macam pekerjaan tangan, juga pengetahuannya tentang ilmu luas sekali.

Gandrunglah raja yang masih muda ini dan ia segera mengutus seorang menterinya

yang terkenal cerdik dan gagah perkasa bernama Gar untuk pergi ke Tiang-an dan

meminang puteri itu.

Berangkatlah menteri ini dengan membawa berpeti-peti barang berharga, pusakapusaka

terbuat daripada emas dan perak, dihias ratna mutu manikam yang tidak

ternilai harganya. Benda-benda ini dibawa untuk dihaturkan kepada maharaja Tang

sebagai mahar atau boleh juga disebut sebagai mas kawin.

Ketika menteri Gar tiba di Tiang-an, ternyata bahwa selain dia, banyak juga utusanutusan

dari negara lain yang berdatangan di ibukota kerajaan Tang untuk meminang

Puteri Wen Ceng. Maharaja Tai Cung yang tidak ingin membeda-bedakan dan

Koleksi Kang Zusi

menyinggung perasaan negara lain, lalu mengadakan sayembara, yaitu ia menguji

kecerdikan para utusan itu.

Akhirnya, berkat kecerdikan Menteri Gar, ia menang dan pinangan rajanya diterima.

Dengan diantar rombongan-rombongan ahli kerajinan tangan, ahli pertanian, ahli

musik dan lain-lain, Puteri Wen Ceng diboyong ke Tibet. Dalam rombongan inilah

Cin Kek Tosu ikut, yaitu diperintahkan oleh pembesar yang bertugas mengumpulkan

orang-orang gagah untuk mengawal perjalanan Puteri Wen Ceng ke barat.

Setelah puteri itu tiba dengan selamat di Lasha ibu kota Tibet, Cin Kek Tosu lalu

menjelajah daerah Tibet. Ia tertarik oleh keadaan penduduknya yang masih amat

sederhana hidupnya, dan terutama ia mencari bahan pedang yang baik, yang kabarnya

banyak terdapat di daerah liar ini.

Dalam penjelajahannya inilah ia bertemu dengan Wang Tun, pandai besi yang pandai

membuat pedang. Ketika itu Wang Tun baru berusia dua puluhan tahun, biarpun

sudah menjadi budak, namun masih berdarah panas dan suka memberontak.

Cin Kek Tosu tertarik ketika kebetulan datang di dusun itu dan mendengar bahwa di

situ terdapat seorang pandai besi yang pandai. Didatanginya pondok pandai besi ini

dan ia melihat dengan kagum seorang pemuda Tibet sedang menempa besi merah

dengan kuatnya. Melihat sinar kebiruan yang berpijar setiap kali besi merah itu

dipukul, diam-diam Cin Kek Tosu mengagumi baja tulen itu. Ia lalu masuk dan

pandai besi menunda pekerjaannya, memandangnya dengan mata marah.

Wang Tun ketika itu sedang marah. Terlalu banyak pesanan pekerjaan dihujankan

oleh tuan tanah kepadanya. Hendak menolak tidak berani karena antek-antek tuan

tanah selalu siap mengeroyok dan menyiksanya. Kalau diterima, berarti siang malam

ia akan bekerja keras.

“Kau siapa dan mau apa?” bentaknya melihat seorang berpakaian pendeta berwajah

asing dan kepucatan.

Cin Kek Tosu tersenyum. Ia sudah cukup lama berada di Tibet dan sudah mempelajari

bahasa daerah itu. “Namaku Cin Kek Tosu dan aku datang hendak menonton kau

bekerja.”

Wang Tun merasa diejek. Pekerjaan baginya bukan pekerjaan lagi, melainkan siksaan

dan orang yang menonton dia disiksa tiada lain artinya hanya untuk mengejek.

“Apa kau datang hendak menertawakan aku?” bentaknya dengan mata merah.

Cin Kek Tosu terheran, lalu tersenyum melihat sikap yang galak dari pandai besi yang

hitam penuh arang dan debu tubuhnya itu. “Tidak kawan. Aku tidak mengejek

melainkan mengagumi pekerjaanmu. Mengapa pula aku harus mengejek?”

“Apalagi kerjaan orang-orang Han selain untuk mengejek kami para budak?”

“Eh, kenapa kau bilang begitu? Apa salahnya orang Han?”

Koleksi Kang Zusi

6. Kembalinya Budak Pelarian.

Wang Tun makin mendongkol. Ditinggalkannya pekerjaannya dan ia menghampiri

Cin Kek Tosu dengan langkah lebar dan sikap mengancam. “Kau masih pura-pura

bertanya? Katanya negara orang Han adalah negara besar, orang-orangnya adalah

orang-orang pandai, tidak tahunya tiada bedanya dengan bangsa penjilat. Kalian

datang hanya untuk menyenangkan hatinya para bangsawan dan para tuan tanah. Apa

peduli kalian akan budak-budak yang hidup tersiksa? Siksaan yang diderita para

budak kalian anggap tontonan yang menyenangkan, ya? Hayo lekas minggat dari sini,

jangan sampai kesabaranku hilang. Kalau terjadi begitu, jangan salahkan Wang Tun

kalau sampai lehermu patah-patah.”

Diam-diam Cin Kek Tosu merasa terharu, juga mendongkol melihat kecongkakan

pandai besi ini. Namun ia harus akui bahwa dalam ucapan kasar tadi terkandung

kebenaran. “Kawan, sebetulnya aku mencari baja yang baik untuk bahan membuat

pedang. Kulihat bahan baja yang kau tempa itu amat baik, maka kalau kau mau

memberi untuk bahan pedang aku mau menukarnya dengan apa yang kau minta.”

“Setan, kau malah hendak mencuri dan membujuk aku menjadi pencuri? Wang Tun

biarpun budak hina dina kurang makan, belum begitu rendah untuk mencuri barang

orang lain. Tahu?”

Cin Kek Tosu menarik napas panjang, kagum sekali. “Sukar mencari orang sejujur

engkau, segagah engkau, akan tetapi juga sebodoh engkau.”

“Keparat, kalau tidak pergi kupatahkan batang lehermu.”

“Cobalah kalau bisa,” Cin Kek Tosu menantang karena ia ingin menyaksikan gerakan

dan tenaga orang yang diam-diam menimbulkan rasa suka dihatinya ini.

“Kau…. kau menantang?” Terbayang keheranan dalam pandang mata Wang Tun. Ia

melangkah maju dan kedua lengan tangannya yang kuat berotot itu sudah bergerak

maju hendak mencekik leher tosu tua kurus di depannya, akan tetapi ia turunkan lagi

tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Tidak, aku tidak mau menjadi pengecut, hanya berani menyerang seorang kakek

kurus selemah engkau. Pergilah!” Wang Tun kembali ke tempat kerjanya dan

menempa besi lagi dengan kuatnya untuk menghilangkan kegemasan hatinya.

Cin Kek Tosu tertawa, makin suka kepada pemuda sederhana ini. Ia melihat sebatang

tombak di dekat situ, diambilnya tombak ini dan dengan mudah ia membekuk dan

membelit-belitkan besi itu ke lengannya.

Wang Tun menghentikan pekerjaannya dan memandang dengan mata terbelalak.

“Kau mempunyai ilmu sihir…… seperti pendeta-pendeta Lama……!” serunya.

“Bukan ilmu sihir, orang muda. Melainkan ilmu mempergunakan tenaga secara baik.

Oleh karena itu aku tadi berani menantangmu untuk mencoba tenagamu kepadaku.

Kau takkan menang.”

Koleksi Kang Zusi

“Betulkah? Kalau begitu, coba kau menerima pukulanku, hendak kulihat sampai

bagaimana kuat tanganmu.”

Wang Tun meloncat maju dan tangannya yang besar melayang mengirim pukulan ke

arah dada tosu itu. Akan tetapi hampir saja ia terjungkal karena pukulannya yang ia

lakukan dengan sekuat tenaga itu mengenai angin belaka dan tahu-tahu kakek itu

sudah berada di sebelah kanannya. Ia membalik dan memukul lagi bertubi-tubi

sampai lima kali, akan tetapi sia-sia belaka.

“Kau curang! Kenapa tidak membiarkan aku memukulmu?”

“Ini namanya ilmu silat, orang muda. Ilmu silat mengajar orang supaya jangan sampai

terpukul oleh lawan.”

“Kalau begitu, balaslah memukul!”

Cin Kek Tosu tersenyum. Sambil mengelak sekali lagi ia berkata, “Coba kau terima

tamparan ini.” Dan tangan kirinya menampar pundak Wang Tun.

Wang Tun berseru kesakitan dan terguling roboh. Ia merasa seakan tadi ditumbuk

oleh sebuah toya besi yang amat kuat. Ia menjadi penasaran marah. Tangannya

bergerak dan sebuah pisau belati telah berada ditangannya. Tanpa banyak cakap lagi

ia menyerbu, pisau itu bergerak dan sinar kebiruan meluncur ke arah dada Cin Kek

Tosu itu mengeluarkan seruan kaget, cepat mengelak dan ketika tangannya

menyambar, pisau itu sudah terampas olehnya. Wang Tun menubruk, tapi sebuah

dorongan tangan kiri tosu itu lagi-lagi membuat ia tercengang. Pemuda itu tidak

segera berdiri, hanya memandang dengan mata terbelalak keheranan. Ia melihat kakek

itu memegang belatinya, bukan untuk balas menyerangnya melainkan untuk diamatamati

secara seksama sambil berkali-kali mengeluarkan seruan kagum.

“Baja bagus….. luar biasa…..” Ditekan-tekannya pisau itu, dikerahkannya tenaga

untuk membuat pisau itu patah atau melengkung, namun sia-sia. Pisau itu terbuat dari

pada bahan yang benar-benar kuat luar biasa.

Wang Tun tertawa dan merayap bangun. “Biarpun kau sekuat seratus ekor lembu yak,

tidak nanti kau dapat membuat pisau itu patah,” katanya.

Cin Kek Tosu memandang kepadanya.

“Orang muda, dari mana kau memperoleh bahan baja sehebat ini?”

“Sukar….. carinya sukar, orang tua yang gagah. Akan tetapi, betapun baiknya pisau

itu, menghadapi orang sepandai engkau, tiada gunanya…..” Pemuda itu menarik napas

panjang dan mukanya membayangkan kekecewaan hatinya. Baru sekarang ia tahu

bahwa dia adalah seorang yang tidak ada artinya. Menghadapi seorang kakek tua

kurus lemah saja ia kalah dan tidak berdaya sama sekali.

Koleksi Kang Zusi

“Dengar orang muda. Mari kita berjanji dan mengadakan pertukaran. Kau carikan

bahan baja seperti ini untukku dan aku akan memberi pelajaran ilmu berkelahi seperti

yang kupergunakan mengalahkan kau tadi kepadamu. Bagaimana?”

Wang Tun girang sekali. “Bagus, aku suka sekali. Akan tetapi ketahuilah, bahan baja

itu adanya hanya di dasar sungai, merupakan pasir-pasir biru yang hanya seperseratus

bagian daripada pasir-pasir di dasar sungai. Untuk membuat pisau itu saja, aku

mengumpulkan pasir-pasir biru itu selama berbulan-bulan.”

“Aku membutuhkan bahan untuk membuat pedang,” kata kakek itu. “Carikanlah, biar

sampai berapa lama akan kunanti dan selama itu pula kau boleh belajar ilmu silat

kepadaku.”

Demikianlah, selama setengah tahun lebih Wang Tun belajar ilmu silat dari Cin Kek

Tosu dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan pasir biru itu. Setelah cukup banyak

untuk membuat sebatang pedang pendek, selesai pula Cin Kek Tosu mengajarnya dan

pada waktu itu Wang Tun telah mewarisi ilmu silat Kun-lun-pai yang cukup kuat.

Demikian pula riwayat singkat bagaimana Wang Tun mengaku sebagai murid Cin

Kek Tosu. Tosu ini lalu kembali ke Kun-lun-pai dan bahan baja yang biru itu

dibuatnya menjadi sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan, amat tajam

dan kuat mengalahkan semua bahan logam yang bagaimanapun kerasnya.

Kemudian ketika ia mendengar riwayat Wang Sin, hatinya tergerak dan biarpun sudah

amat tua, ia menyediakan tenaga untuk memimpin pemuda putera Wang Tun itu

untuk mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai. Malah dengan suka rela ia memberikan

pedang sinar biru yang dulu bahannya ia dapatkan dari Wang Tun kepada pemuda

Tibet ini sehingga Wang Sin memperoleh ilmu silat pedang yang luar biasa.

Waktu berjalan amat cepatnya dan lima tahun terlewat sudah selama Wang Sin belajar

ilmu silat di Kun-lun. Dia memang berbakat baik dan berkemauan keras. Susioknya

(paman guru) Ong Bu Khai dan suhunya Cin Kek Tosu, merasa amat kagum melihat

pemuda ini tiada hentinya siang malam berlatih diri sehingga sebentar saja sudah

melampaui kepandaian Ong Hui, malah sudah dapat menyamai tingkat Ong Bu Khai

Melihat watak yang baik dari Wang Sin, diam-diam Ong Bu Khai timbul niatan untuk

mengambil mantu pemuda Tibet ini. Dengan terus terang ia merundingkan hal ini

dengan suhengnya, Cin Kek Tosu yang juga merasa setuju dan girang sekali bahwa

sutenya tidak memiliki watak tinggi hati seperti kebanyakan orang Han yang

memandang suku bangsa-suku bangsa lain lebih rendah derajatnya dari pada tingkat

bangsa mereka sendiri.

Adapun hubungan antara Wang Sin dan Ong Hui juga akrab. Ong Hui memang

seorang gadis lincah yang peramah dan jujur. Juga gadis ini menaruh simpati kepada

pemuda Tibet yang telah mengalami hidup penuh penderitaan ini. Setelah Wang Sin

menjadi saudara seperguruannya, ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini memang

berjiwa gagah dan berwatak baik, sayang agak pendiam.

Koleksi Kang Zusi

Di pihak Wang Sin, semenjak pertama bertemu memang ia menaruh kekaguman

terhadap gadis ini. Hal ini adalah wajar. Di tempatnya yang dahulu, orang-orang

perempuan merupakan makhluk lemah yang selalu hanya menjadi permainan lakilaki.

Maka melihat Ong Hui yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan

berkepandaian tinggi, siapa orangnya tidak menjadi kagum? Malah sering kali

sebelum matang ilmu silatnya, ketika mula-mula sedang belajar seringkali ia

mendapat petunjuk dan bantuan gadis ini sehingga timbul kasih sayang dan

hormatnya kepada sumoi (adik seperguruan) ini.

Biarpun kalau menurut tingkat, Ong Hui lebih dulu belajar daripadanya dan terhitung

suci (kakak seperguruan), akan tetapi karena dia adalah murid Cin Kek Tosu yang

menjadi kakak seperguruan ayah gadis itu, maka ia menjadi lebih tua kedudukannya

dan menyebut sumoi kepada Ong Hui. Sebaliknya gadis itu menyebut suheng.

Tidak bisa dibilang bahwa dua orang muda ini mengandung hati saling mencintai,

terutama di pihak Wang Sin, akan tetapi tak dapat disangkal pula bahwa mereka

saling suka dan menaruh simpati. Wang Sin yang pendiam tak pernah menceritakan

hubungannya dengan Ci Ying kepada orang lain, akan tetapi sebetulnya tak pernah ia

dapat melupakan Ci Ying. Yang menjadi kenangan malam menjadi impian.

Pada suatu hari Wang Sin dipanggil oleh suhunya dan ia menjadi agak heran melihat

suhunya sudah duduk di situ bersama susioknya, menanti kedatangannya. Wajah

mereka berisi dan pandangan mata mereka kepadanya membuat hatinya berdebar

karena tidak seperti biasa. Tentu ada sesuatu yang amat penting, pikirnya. Setelah ia

maju berlutut dengan hormat, suhunya yang sudah tua sekali itu mengurut-urut

jenggot sambil berkata.

“Wang Sin, muridku. Kau telah lima tahun belajar di sini dan pinto harus mengaku

bahwa kami merasa puas melihat ketekunanmu. Karena itu, pinto hadiahkan pedang

sinar biru itu kepadamu. Sebetulnya bukan hadiah karena sesungguhnya pedang itu

tadinya ayahmu yang mencari bahannya, maka sudah semestinya pinto kembalikan

kepadamu. Pergunakanlah pokiam ini baik-baik, jangan sekali-kali kau pergunakan

untuk menurutkan nafsu belaka. Tentu kau masih ingat akan semua nasehat pinto.”

Berdebar hati Wang Sin. Ucapan ini sekaligus memperingatkan dia bahwa tentu dia

sudah akan diperbolehkan turun gunung, kembali ke Tibet untuk membalas dendam,

eh…. salah, seperti yang dinasehatkan oleh suhunya, soal balas dendam itu hanya

akibat, yang terutama adalah menolong para budak dari penindasan.

“Segala nasehat suhu akan tetap teecu ingat dan taati,” jawabnya tegas.

“Wang Sin,” kata lagi tosu itu, “karena usiamu sudah lebih dari cukup dan mengingat

sudah sepatutnya kalau kau mempunyai teman hidup, pinto dan susiokmu sudah

bersepakat untuk menjodohkan kau dengan sumoimu. Kalian akan menjadi suami

isteri yang cocok sekali.”

Bukan main kagetnya hati Wang Sin mendengar ini, apalagi ketika ia melihat

susioknya memandang kepadanya sambil mengangguk-angguk membenarkan kataKoleksi

Kang Zusi

kata suhunya itu. Inilah suatu kejadian yang amat langka, malah terhitung aneh dan

tak masuk akal baginya. Dia, seorang bekas budak, hendak dijodohkan dengan Ong

Hui? Ia telah ditolong oleh Ong Bu Khai.

Di dalam lubuk hatinya ia menganggap susioknya ini seperti tuan penolongnya,

seperti tuan besar, Ong Hui seperti nona muda. Mana ia pantas menjadi suami Ong

Hui? Jodohnya yang paling tepat adalah seorang budak pula, Ci Ying. Teringat

kepada Ci Ying ia lalu menundukkan mukanya yang tadi merah, sekarang berubah

“Wang Sin, kau tidak lekas menghaturkan terima kasih susiokmu, calon mertuamu?”

Cin Kek Tosu berkata lagi, tertawa melihat muridnya tunduk kemalu-maluan.

Sambil berlutut Wang Sin berkata, suaranya terharu.

“Teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada suhu dan susiok yang sudah

demikian baik terhadap diri teecu yang miskin dan yatim piatu. Sesungguhnya kalau

tidak ada suhu dan susiok, entah menjadi apa orang macam teecu ini, oleh karena itu,

sampai matipun teecu takkan dapat melupakan budi suhu berdua dan akan selalu

mentaati perintah suhu dan susiok. Hanya saja….. tentang perjodohan…….” Pemuda

itu ragu-ragu dan tidak berani melanjutkan ucapannya.

“Ada apa dengan perjodohan? Lanjutkan, jangan takut dan ragu,” kata Cin Kek Tosu

Dengan kepala masih tunduk Wang Sin menjawab. “Sesungguhnya ….. teecu….. telah

bertunangan, ditunangkan oleh ayah semenjak kecil. Dan tunangan teecu itu…… Ci

Ying…… entah kemana. Setelah oleh ayah ditunangkan, bagaimana teecu bisa

menerima ikatan jodoh lain?”

Mendengar ini, Ong Bu Khai mengerutkan keningnya. Baru sekarang ia tahu akan hal

ini dan mengerti pula ia kenapa lima tahun yang lalu pemuda itu bersikap kurang ajar

ketika melihat Ong Hui yang disangkanya Ci Ying tunangannya itu.

“Ah, kiranya gadis yang hilang itu tunanganmu?” katanya. “Wang Sin, kau memang

betul sekali menyatakan hal ini kepada kami. Memang seorang anak harus berbakti

terhadap pesan orang tua, juga harus mempunyai watak setia. Akan tetapi gadis

tunanganmu itu lenyap tidak meninggalkan bekas.

Selama ini, belum pernah aku mendengar tentang dia, biarpun diam-diam aku ikut

menyelidiki untuk mencari gadis yang tadinya kusangka hanya adik misanmu itu.

Usiamu sudah dua puluh lebih, demikianpun anakku sudah cukup usia, tidak bisa

menanti lagi. Andaikata tunanganmu itu sudah tidak berada lagi di dunia ini seperti

kukhawatirkan, apakah kau juga tidak menerima ikatan jodoh lain?”

Wang Sin bingung. Memang iapun sudah bersangsi apakah Ci Ying masih hidup? Ke

mana mencarinya? Sudah lima tahun tiada kabar ceritanya tentang gadis itu masih

hidup. Susioknya sudah begitu baik kepadanya, tidak saja ia berhutang budi malah

boleh dibilang berhutang jiwa karena tanpa bantuan susioknya sukarlah hidup

merdeka di daerah Tibet.

Koleksi Kang Zusi

Kalau sekarang ikatan jodoh itu ia tolak, bukankah itu berarti ia membalas kebaikan

dengan penghinaan? Ia menjadi bingung, hatinya masih berat terhadap Ci Ying.

Menolak sukar menerimapun sulit.

“Wang Sin, kau tidak usah ragu-ragu. Baiknya diatur begini,” kata pula Ong Bu Khai.

“Kau menikah dengan anakku dan kalau kelak ternyata Ci Ying masih hidup dan ia

mau melanjutkan ikatan jodohnya denganmu, kau boleh menikah lagi dengan dia.”

Kembali Wang Sin terkejut mendengar ini. Memang iapun tahu bahwa pada waktu

itu, menikah dengan lebih dari dua orang gadis adalah wajar, yakni bagi kaum

bangsawan dan mungkin orang-orang Han. Akan tetapi bagi seorang bekas budak

seperti dia, benar-benar merupakan hal yang amat ganji dan aneh. Betapapun juga,

terhadap pemecahan persoalan jodoh ini ia tidak dapat membantah lagi dan terpaksa

ia berkata.

“Teecu hanya dapat mentaati semua perintah susiok dan suhu.”

“Bagus!” Cin Kek Tosu berseru girang. “Wang Sin perjalananmu kelak ke selatan

bukannya perjalanan mudah dan kau memerlukan seorang pembantu yang kuat dan

boleh dipercaya. Hanya sumoimu yang dapat menjadi kawan seperjalanan yang tepat.

Akan tetapi kalau kalian belum menikah, hal itu bukan merupakan sesuatu yang patut

dan baik. Karena itu, sebelum kau turun gunung mengembara ke Tibet, lebih baik kau

melangsungkan perjodohanmu lebih dulu dengan Ong Hui.”

Demikianlah, secara sederhana dan hanya diramaikan oleh para penduduk di sekitar

pegunungan Kun-lun-san, dirayakan perjodohan antara Wang Sin dan Ong Hui. Dan

pada malam harinya, Ong Hui menangis di dalam kamar penganten.

“Mengapa kau menangis, sumoi?” tanya Wang Sin perlahan.

Mula-mula Ong Hui tidak menjawab, malah tangisnya makin menjadi.

“Sumoi, apakah…. apakah sedih hatimu karena pernikahan ini? Tidak sukakah kau……

?”

Ong Hui menggeleng kepala dan menyusut air matanya.

“Aku berjanji……” katanya terputus-putus, “aku…. akan mencari Ci Ying….. mencari

dia untukmu……”

Wang Sin terkejut, juga terharu. Tidak disangkanya bahwa gadis ini sudah tahu akan

hal ini. Tentu susioknya yang berterus terang kepada gadisnya. Memang aneh watak

orang-orang kang-ouw ini. Dengan terharu Wang Sin memegang tangan isterinya.

“Harap kau tidak menaruh hati cemburu. Pertunanganku dengan Ci Ying adalah

pertunangan semenjak kecil, oleh orang tua kami. Kini Ci Ying sudah lenyap dan

sebagai gantinya aku mendapatkan kau. Aku tidak menyesal, malah girang sekali,

karena… karena aku cinta padamu Hui-moi, mencinta semenjak pertama kali aku

melihatmu…….”

Koleksi Kang Zusi

Ong Hui menarik napas panjang, lega dan bahagia.

Sebagai isterimu, aku akan membantumu, suamiku. Membantumu mengangkat

kehidupan saudara-saudara di Tibet, membantumu mencari Ci Ying cici…….”

Suasana menjadi sunyi, sunyi yang mengamankan hati dan mendatangkan

kebahagiaan bagi dua suami isteri baru itu.

******

Semenjak itu, selama lima tahun itu telah terjadi perubahan di dusun Loka, dusun

sebelah utara sungai Yalu-cangpo itu. Tuan tanah Yang Can sudah mulai tua dan tidak

lagi dibantu oleh puteranya karena Yang Nam sudah menikah dengan puteri seorang

bangsawan dari ibukota Lasha dan pindah ke sana karena berkat pertolongan

mertuanya Yang Nam mendapat kedudukan pula di sana.

Akan tetapi, perubahan yang banyak terjadi hanya di dalam rumah tangga tuan tanah

itu. Nasib para budak tetap saja buruk seperti dulu, tetap mereka diperas dan bekerja

seperti binatang ternak. Kalau di dalam rumah tuan tanah sudah lupa akan peristiwa

lima tahun yang lalu, mereka ini, para budak masih ingat dan sering kali mereka

menarik napas panjang kalau mereka teringat akan keluarga Ci Ying dan Wang Sin.

Pada suatu pagi, para budak sudah sibuk bekerja di sawah. Hari itu panen dimulai dan

keadaannya tidak ada bedanya dengan lima tahun yang lalu ketika peristiwa

pembasmian dua keluarga itu mulai terjadi. Tiada bedanya.

Para budak bekerja mati-matian dan di pinggir sawah nampak tukang pukul-tukang

pukul dan pendeta-pendeta Lama menjaga dan mengawasi, untuk mencegah para

budak bekerja lambat atau mencuri hasil panen. Juga Thiat-tung Hwesio, si pendeta

bertongkat besi, masih tetap berjaga di situ, berdiri dengan kedua kaki terpentang

lebar, memanggul tongkat besinya dan diam tak bergerak seperti sebuah patung yang

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari sebelah timur datang dua ekor kuda yang

ditunggangi oleh sepasang orang muda. Kejadian yang ganjil ini tentu saja menarik

perhatian orang. Para budak sampai berani melupakan pekerjaan mereka dan para

tukang pukul memandang pula ke arah dua orang penunggang kuda itu.

Setelah dua orang penunggang kuda itu dekat, terdengar seruan-seruan perlahan di

antara para budak.

“Wang Sin….. bukankah dia itu Wang Sin.”

Memang, seorang di antara dua orang penunggang kuda itu adalah Wang Sin. Mudah

saja mengenal wajahnya yang tampan dan keras penuh garis-garis yang yang

membuat ia kelihatan gagah, tubuhnya yang makin tegap berisi. Akan tetapi dia

sekarang mengenakan pakaian Han dan dipinggangnya tergantung sebatang pedang.

Orang kedua adalah isterinya, Ong Hui yang cantik jelita dan bersikap gagah pula.

Koleksi Kang Zusi

Setelah para budak mengenalnya, semua tidak memperdulikan lagi pekerjaan mereka,

yang jauh datang berlari dan berkumpullah para budak menjadi gerombolan, penuh

keheranan, kekaguman, dan kecemasan. Bagaimana pemuda yang telah berhasil

melarikan diri, membebaskan diri dari mereka ini sekarang datang kembali?

Demikian mereka bertanya-tanya.

Sebaliknya para tukang pukul dan hwesio yang tua, yang masih mengenal Wang Sin,

menjadi terheran dan marah bercampur gelisah. Mau apakah pemuda setan ini

sekarang tiba-tiba muncul? Toya, tongkat, dan golok dipegang erat-erat, para antek

tuan tanah itu siap menghadapi segala kemungkinan. Malah beberapa orang di antara

mereka sudah gatal-gatal tangan untuk menangkap pemuda yang telah melarikan diri

dan berdosa kepada tuan tanah maupun kepada pendeta kepala itu.

Sementara itu, ketika Wang Sin melihat para budak, mengenal banyak wajah-wajah

lama di antara wajah budak-budak baru, tak tertahan lagi dua titik air mata menuruni

pipinya. Namun ia memaksa sebuah senyum lebar dan tangan kanannya ia angkat,

dilambaikan. “Selamat bertemu kembali saudara-saudaraku yang tercinta.”

Beberapa orang petani sudah meninggalkan sawah dan hendak lari menjemputnya,

akan tetapi sekarang para antek tuan tanah yang melihat betapa budak-budak itu

melalaikan pekerjaan mereka, segera bertindak. Tendangan, pukulan dan makian

menghujani budak-budak itu. Terdengar jeritan kesakitan dan para budak itu dengan

panik kembali ke pekerjaan masing-masing.

Akan tetapi seorang budak perempuan yang bertubuh kurus kering tak dapat bangun

setelah terkena tendangan kaki Thiat-tung Hwesio yang marah sekali, matanya

melotot lebar, tongkat besinya sudah diayun-ayun mengancam para budak.

Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau disertai bentak lembut. “Keparat keji!” dan tubuh

Ong Hui sudah melompat dari atas kudanya, menyerbu para centeng yang sedang

menghajar hamba-hamba tani. Dalam segebrakan saja dua orang kaki tangan tuan

tanah roboh terpukul lehernya dan yang seorang lagi ditendang lambungnya.

Para centeng lain menjadi marah dan kaget melihat terjangan nyonya muda cantik ini.

Sambil berteriak-teriak marah lima orang centeng dengan golok atau tongkat di

tangan mengurung Ong Hui yang juga sudah mencabut pedangnya.

“Anjing-anjing srigala! Setelah aku datang, tidak bisa nyonya besarmu membiarkan

kalian berbuat sewenang-wenang!” seru Ong Hui sambil memutar pedangnya yang

berkelebatan cepat dan kuat sekali. Antek-antek tuan tanah itu adalah sebangsa

manusia tiada gunanya, pandainya hanya menjilat majikan, gagahnya hanya kalau

menghadapi hamba-hamba tani yang lemah, setiap hari kerjanya hanyalah berlagak

gagah-gagahan dan menyiksa para budak.

Sekarang menghadapi amukan Ong Hui yang gagah perkasa, mana mereka sanggup

melayani? Baru belasan jurus saja, dua di antara lima orang tukang pukul sudah roboh

mandi darah dan yang tiga lalu berteriak-teriak ketakutan.

“Losuhu, tolong……!”

Koleksi Kang Zusi

Thiat-tung Hwesio melompat maju mengayunkan tongkat besinya dan tiga orang

tukang pukul itu segera melompat mundur dan melarikan diri. Memang sebangsa

pengecut baru kelihatan belangnya kalau sudah menghadapi keadaan genting dan

berbahaya bagi mereka.

Thiat-tung Hwesio lihai sekali. Dia bertenaga besar dan toyanya yang berat itu

menyambar-nyambar mengeluarkan angin. Dalam pertemuan pertama antara toya dan

pedang di tangan Ong Hui, nyonya muda ini tergetar tangannya, maka cepat ia

menarik kembali pedangnya, menyelusup ke kiri dan mengirim serangan cepat

menusuk ke arah lambung pendeta itu. Inilah gerak tipu Giok-wi-yauw (Sabuk

Kumala Melilit Pinggang), sebuah jurus ilmu pedang Kun-lun Kiam-hoat yang indah

dan lihai.

Thiat-tung Hwesio tidak hanya bertenaga besar tetapi dia telah mendapat latihan dari

Thouw Tan Hwesio, Lama yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja ilmu silatnya

juga lumayan. Menghadapi serangan yang cepat dan tidak terduga dari samping ini ia

tidak gugup, cepat ia miringkan tubuh dan memalangkan toya melindungi

Kembali dua senjata bertemu yang mengakibatkan Ong Hui merasa telapak tangannya

menjadi panas. Nyonya muda ini tidak gentar, segera menggunakan kelincahannya

untuk mengirim serangan-serangan selanjutnya.

Wang Sin melihat bahwa isterinya akan sukar mengalahkan hwesio kosen itu, tidak

tinggal diam dan cepat ia melompat sambil memutar pedangnya.

“Thiat-tung Hwesio pendeta keparat. Sekarang tiba saatnya aku Wang Sin membalas

dendam!” Pedang di tangan orang muda ini menyambar dan kagetlah hati hwesio itu.

Tidak disangkanya bahwa Wang Sin masih hidup dan lebih-lebih di luar dugaannya

pemuda itu sekarang memiliki kepandaian yang begini lihai. Sambaran pedang di

tangan pemuda itu cepat dan kuat sekali. Dalam tangkisan toyanya menghadapi

pedangnya amat berbahaya. Namun ia masih membuka mulut besar.

“Ha-ha-ha, budak hina dina. Baik sekali kau mengantarkan diri, tidak susah-susah aku

mencari. Ha-ha!” Suara ketawanya terpaksa berhenti ketika pedang di tangan Wang

Sin dan isterinya berkelebatan merupakan tangan-tangan maut yang berlumba

merenggut nyawanya. Hwesio ini memutar tongkatnya dan berusaha memukul runtuh

pedang dua orang lawannya menghandalkan tenaganya.

Akan tetapi, Ong Hui adalah puteri seorang tokoh Kun-lun-pai yang cerdik. Tidak

mau ia mengadu senjatanya dengan tongkat musuh, sedangkan Wang Sin yang

memiliki tenaga besar tidak takut menghadapi toya itu.

Di lain saat hwesio itu sudah tidak mempunyai kesempatan untuk tertawa sama sekali.

Ia didesak hebat dan hanya sanggup bertahan saja sambil main mundur, tiada

kesempatan lagi baginya untuk membalas serangan dua orang lawannya yang gagah.

7. Membasmi Tuan Tanah atau Mati.

Koleksi Kang Zusi

Para hamba tani yang tadinya ketakutan diamuk kaki tangan tuan tanah, sekarang

berdiri menonton dengan mata terbelalak kagum. Tidak ada lagi antek-antek tuan

tanah di situ, kesemuanya lari ketakutan untuk melapor kepada majikan mereka, maka

para hamba tani itu tidak takut untuk meninggalkan sawah. Maka sekarang terbangun

semangat mereka ketika melihat betapa seorang bekas kawan mereka, Wang Sin,

sekarang dengan gagahnya berani melawan Thiat-tung Hwesio, malah kelihatan

mendesak hwesio yang mereka semua amat benci itu.

“Kawan-kawan, kenapa kita diam saja? Wang Sin telah datang mari kita bantu dia!”

teriak seorang kakek dengan semangat meluap dan gembira. Mendengar ini, mereka

bersorak dan majulah puluhan orang yang bekerja di bagian itu sambil mengamangamangkan

tinju, cangkul, pikulan, batu, dan alat-alat lain dengan sikap mengancam.

Bagaikan arus gelombang, mereka mendatangi tempat pertempuran. Empat orang

tukang pukul yang tadi roboh oleh Ong Hui dan belum tewas akan tetapi belum

sempat melarikan diri karena luka mereka, mereka memandang dengan mata

terbelalak ke arah gelombang para budak ini. Mereka seperti mendapat firasat akan

datangnya malapetaka, apalagi ketika para budak itu sudah datang dekat dan mereka

melihat sinar kebencian memancar keluar dari mata para budak itu.

Seorang budak yang membawa arit, yaitu seorang perempuan setengah tua yang

bertubuh kurus sekali menghampiri seorang antek yang tadi terkena pukulan Ong Hui.

Dengan mata melotot penuh kebencian ia mengangkat aritnya yang tajam. Perempuan

ini teringat akan puteranya yang dulu disiksa sampai mati oleh antek tuan tanah ini

dan sekarang tiba saatnya untuk membalas dendam yang sudah ia tahan bertahuntahun

Anjing tuan tanah itu memekik ketika sabit diayun ke arah kepalanya. Ia berusaha

mengelak, akan tetapi karena tadinya terkena pukulan Ong Hui dan membuat seluruh

tubuhnya lemas, elakannya kurang cepat dan “crakkk!” ujung arit itu menembus kulit

dan daging pundak, menghantam tulang punggungnya.

“Aduuhhh……. ampunnnn….. nenek Namal…… ampunkan aku……” Ia merengekrengek

dan terdengar suara mengejek dari nenek itu, diikuti oleh suara ketawa para

hamba tani lainnya. Kembali arit itu diayun “crak-crak-carak!” Darah menyembur

keluar dan terdengar anjing tuan tanah itu melolong-lolong kesakitan dan ketakutan.

Pekik dan jerit pengecut para tukang pukul yang tiga orang lagi segera menyusul

kawannya ketika para hamba tani mendatangi mereka dan menghujankan senjatasenjata

kepada empat orang tukang pukul yang apes itu. Akan tetapi tidak lama,

karena sebentar saja tubuh mereka sudah hancur lebur, habis dihajar oleh puluhan

orang yang rata-rata menyimpan sakit hati dan dendam yang amat besar turun

Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Thiat-tung Hwesio melihat hal ini.

Permainan tongkatnya kacau balau dan ujung pedang Wang Sin sudah melukai

pahanya, membuat celananya penuh darah. Para hamba bersorak girang dan mereka

ini tiada ubahnya seperti harimau-harimau yang haus darah.

Koleksi Kang Zusi

Mereka mendesak maju hendak membantu Wang Sin dan isterinya. Mereka tidak

kenal takut dan sama sekali tidak mau mundur ketika tongkat hwesio itu yang

disapukan ke belakang membuat dua orang hamba terjungkal roboh dengan kaki lukaluka.

Mereka maju terus.

Sakit hati dan dendam yang ditahan-tahan bisa membuat orang menjadi kejam hati.

Kebencian yang meluap-luap dapat membuat orang mata gelap. “Tangkap pendeta

cabul ini!” teriak seorang wanita muda dengan rambut riap-riapan dan mata

berputaran penuh kebencian.

“Jangan bunuh dulu, siksa biar dia minta-minta ampun.”

“Potong sedikit-sedikit dagingnya.”

“Kubur dia hidup-hidup.”

“Bakar dia.”

Demikianlah teriakan-teriakan para hamba tani, laki-laki dan perempuan, kakekkakek,

nenek-nenek, dan kanak-kanak. Mendengar teriakan-teriakan ini, wajah

hwesio itu menjadi pucat sekali dan diam-diam ia memeras otak mencari hafalan doadoa

selamat yang pernah ia pelajari sebagai seorang pendeta. Akan tetapi karena

selama ini kerjanya hanya menurutkan nafsunya menjadi kaki tangan tuan tanah Yang

Can, ia sudah lupa lagi akan semua doa.

Rasa takut dan ngerinya membuat ia tidak dapat bertahan lagi menghadapi pedang

Wang Sin dan Ong Hui. Ujung pedang Ong Hui lagi-lagi mencium pundaknya dan

sekali pedang Wang Sin menyambar darah mengucur dari dadanya…..

“Mati aku……!” Thiat-tung Hwesio mengeluh ketika ia terhuyung roboh. Puluhan

pasang tangan hamba tani menyambutnya dan di lain saat tubuhnya sudah diseretseret

ke tengah sawah seperti seekor babi hutan yang baru saja ditangkap untuk

disembelih beramai-ramai.

Melihat semangat para hamba tani bangkit, Wang Sin gembira. Apalagi ketika

melihat dari kanan kiri, hamba-hamba tani yang lain datang pula berlari-lari untuk

berkumpul sehingga mereka merupakan serombongan hamba tani yang jumlahnya

seratus orang lebih, hatinya menjadi makin gembira.

Ternyata bahwa para kaki tangan tuan tanah di bagian lain segera melarikan diri

meninggalkan pekerjaan ketika mendengar bahwa Wang Sin datang bersama seorang

wanita Han yang cantik dan mengamuk.

“Kawan-kawan, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk menghancurkan tuan tanah

Yang Can. Aku, Wang Sin yang kalian sudah kenal, dan ini isteriku, Ong Hui, kami

sudah bertekad untuk membasmi tuan tanah Yang Can dan membebaskan kalian dari

penindasan. Siapa ikut?”

Koleksi Kang Zusi

Para hamba tani bersorak dan semua mengacungkan tangan yang kini sudah berlumur

darah, darah empat orang centeng dan darah Thiat-tung Hwesio, di mana mereka

bercucuran air mata.

Wang Sin membawa kepalan tangan kirinya ke muka untuk menghapus dua butir air

matanya sendiri. “Bagus, mari kita serbu tuan tanah Yang Can dan kaki tangannya!”

Demikianlah, dipimpin oleh Wang Sin dan Ong Hui, mereka ini merupakan

sepasukan orang-orang yang nekad, yang pada saat itu hanya mengenal satu tekad :

Membasmi Tuan Tanah atau Mati!

Sementara itu, Yang Can sudah bersiap sedia. Ia terkejut setengah mati ketika melihat

kaki tangannya berlari-lari mendatangi dengan muka pucat melaporkan segala

kejadian. Hampir ia tidak dapat percaya ketika mendengar laporan bahwa Thiat-tung

Hwesio juga sudah tewas di tangan Wang Sin. Thiat-tung Hwesio amat gagah,

bagaimana bisa tewas di tangan pemuda hina itu?

“Lekas beritahukan Thouw Tan Losuhu dan panggil semua pendeta lama untuk

membantu!” teriaknya dengan muka pucat.

Thouw Tan Hwesio, Lama jubah kuning yang bertubuh tinggi besar, tokoh pertama di

dusun Loka dan dianggap sebagai manusia dewa, menjadi marah bukan main

mendengar bahwa Wang Sin datang membuat ribut. Apalagi ketika mendengar betapa

Wang Sin sudah membunuh Thiat-tung Hwesio, kemarahannya memuncak.

“Bocah ingusan itu berani membunuh seorang pendeta di sini? Biarkan dia datang,

lihat akan pinto patahkan lehernya!”

Ucapan hwesio ini sombong sekali, akan tetapi tidak aneh kalau dia menyombong.

Thouw Tan Hwesio bukanlah orang sembarangan. Dia menjadi kepala pendeta di kuil

Loka adalah karena pengangkatan dari kuil pusat di Lasha. Dan sudah tidak asing

lagi, bahwa pendeta yang datang dari Lasha tentulah orang gemblengan yang

memiliki kepandaian tinggi, baik dalam bidang ilmu silat maupun ilmu kebatinan dan

Tentu saja mendengar tentang diri Wang Sin, dia memandang rendah. Apa sih

kelihaian seorang pemuda yang baru menekuni ilmu selama lima tahun. Biarpun

dididik oleh orang sakti, tidak mungkin akan dapat melawannya. Apalagi di situ

terkumpul banyak murid-muridnya dan kaki tangan tuan tanah yang rata-rata juga

memiliki kepandaian silat.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati tuan tanah Yang Can ketika ia mendengar

bahwa Wang Sin dan isterinya orang Han itu kini menyerbu ke dusunnya diikuti oleh

seratus lebih budak-budak yang kini telah memberontak. Dari kaget ia menjadi marah

bukan main. Saking marahnya tuan tanah ini merenggut topi dari kepalanya, dan

membanting-banting topinya di atas tanah.

“Setan jahanam! Keparat Laknat! Bunuh budak Wang Sin itu bersama siluman wanita

yang dibawanya. Tangkap semua budak dan beri rangketan lima puluh kali setiap

orang, jangan beri makan sampai tiga hari!”

Koleksi Kang Zusi

Kemudian ia menghadap Thouw Tan Hwesio sambil berkata. “Losuhu, tolonglah

kami, harap jangan biarkan orang-orang hina itu menginjak-injak kehormatan kita.”

Thouw Tan Hwesio yang sedang menghadapi meja, sedang dijamu hidanganhidangan

lezat dan arak wangi, tertawa bergelak sampai tubuhnya yang tinggi besar

itu bergerak-gerak. “Ha-ha-ha, jangan khawatir ….. jangan khawatir. Sekali pinceng

menggerakkan tongkat, akan remuk batok kepala orang berdosa Wang Sin itu. Dua

kali pinceng menggerakkan tongkat, siluman perempuan itu takkan dapat bernyawa

lagi!”

Baru saja ia berkata demikian, di luar terdengar sorak sorai ramai di susul pekik yang

riuh rendah. Para budak yang dipimpin Wang Sin dan Ong Hui telah tiba di situ dan

sudah mulai “perang” melawan antek-antek tuan tanah.

Tentu saja para budak yang tidak bisa ilmu silat itu bukan tandingan para anjing tuan

tanah, akan tetapi mereka berjumlah banyak, bersemangat tinggi dan sudah nekat.

Apalagi di situ terdapat Wang Sin dan Ong Hui yang mengamuk bagaikan dua ekor

naga sakti. Pedang suami isteri ini berkelebatan dan sukar ditahan. Karena para kaki

tangan tuan tanah yang hanya berjumlah tiga puluh orang itu mulai terdesak mundur.

Beberapa orang di antara mereka sudah roboh oleh pedang Wang Sin dan Ong Hui,

atau roboh oleh serbuan para budak yang sudah nekat dan tidak takut mati itu. Tentu

saja di pihak para pemberontak sudah banyak pula yang roboh dikemplang toya atau

dibacok golok.

Pertempuran makin hebat, para pemberontak makin mendesak dan mulai mendekati

gedung besar tempat tinggal tuan tanah Yang Can. Keadaan amat mengancam bagi

keselamatan keluarga tuan tanah itu.

Pada saat keadaan sedang ramai-ramainya, tiba-tiba dari samping gedung itu berlari

seorang kakek yang terbungkuk-bungkuk dan tangannya meraba-raba ke depan. Ia

nampak bingung dan mulutnya keluar kata-kata penuh gairah.

“Wang Sin pulang, Wang Sin pulang….. mana anakku Ci Ying?” Lalu ia berlari ke

depan, tersandung jatuh, berdiri lagi dan berteriak-teriak. Ci Ying……! Ci Ying……!

Kesinilah kau…….!”

Semua orang yang sedang bertempur, baik dari pihak para budak maupun pihak tuan

tanah, tidak memperhatikan atau memperdulikan orang ini. Akan tetapi ketika Wang

Sin mendengar suara ini, ia cepat menengok sambil melompat mundur dari kepungan

lawan. Bukan main kaget dan terharunya ketika melihat bahwa orang itu adalah ayah

Ci Ying.

“Paman Ci Leng…..!” serunya sambil menubruk maju melihat orang tua itu lagi-lagi

tersandung dan terguling roboh sehingga ia masih sempat memeluknya.

Wang Sin merasa kasihan sekali. Bagaimana kakek ini sekarang menjadi begini rusak

tubuhnya dan buta matanya?

Koleksi Kang Zusi

Ci Leng memeluk Wang Sin sambil meraba-raba pundak dan muka orang muda itu,

mulutnya tertawa lebar. “Wang Sin ….. ah, kau benar Wang Sin…… aku mendengar

kau datang bersama seorang wanita cantik, tentu dia Ci Ying……. mana dia?”

Tertikam hati Wang Sin mendengar ini. Tidak boleh disalahkan orang tua ini.

Memang tentu saja semua orang pun mengharapkan dia kembali bersama Ci Ying,

karena bukankah dia dahulunya melarikan diri bersama gadis itu?

“Bukan paman, bukan Ci Ying…..” katanya lemah.

Naik sedu sedan putus asa di kerongkongan kakek itu.

“Bukan Ci Ying…..? Habis siapa dia….. dan mana Ci Ying……..?”

Belum sempat Wang Sin menjawab, terdengar bentakan nyaring, “Budak hina, kau

berani kembali mengantarkan nyawa?”

Wang Sin kaget mendengar sambaran angin yang amat kuat. Cepat ia mengayun

pedangnya ke belakang sambil melompat meninggalkan Ci Leng. “Traangggg…..!”

Tangannya tergetar dan ia kaget melihat tongkat di tangan penyerangnya tidak patah

seperti tongkat-tongkat lain ketika bertemu dengan pedang pusakanya. Ketika ia

memandang, ternyata bahwa penyerangnya itu bukan lain adalah Thouw Tan Hwesio,

si pendeta jubah kuning yang dulu amat ia takuti.

“Pendeta keparat, aku kembali untuk membasmi setan-setan macam-macam engkau!”

seru Wang Sin yang cepat melakukan serangan. Di lain saat kedua orang ini sudah

bertempur hebat dan segera Wang Sin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian

pendeta kepala ini benar-benar hebat dan masih jauh di atas tingkat kepandaiannya

sendiri. Ketika ia melirik dan melihat isterinya pun didesak oleh tujuh orang pendeta

murid Thouw Tan Hwesio, diam-diam ia mengeluh.

Sementara itu, para budak masih terus menerjang maju, berkelahi dan bergumul

melawan kaki tangan tuan tanah. Pekik kemarahan dan jerit kesakitan bercampur aduk

membuat keadaan di situ makin kacau dan mengerikan. Yang Can sendiri bersama

keluarganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri di dalam gedung.

Ci Leng yang tidak dapat melihat lagi, ketika mendengar bahwa anaknya tidak ikut

Wang Sin datang, menangis tersedu-sedu dan menjadi putus harapan.

Lima tahun ia menguatkan diri, menahan segala macam siksaan, dipukuil, dihina,

dicokel matanya, akan tetapi ia masih hidup karena memang ia ingin hidup, ingin

anaknya datang kembali menolong dan membalaskan dendam untuknya. Benar saja

Wang Sin kembali dan melakukan pembalasan, akan tetapi Ci Ying, anaknya, calon

isterinya Wang Sin, kenapa tidak datang? Itu tentu hanya satu artinya, yaitu Ci Ying

anaknya itu sudah mati.

“Ci Ying……! Ci Ying……!” Kakek buta ini menangis.

Koleksi Kang Zusi

Seorang tukang pukul yang kebetulan berada di dekat situ, melihat Ci Leng menjadi

meluap kemarahannya. Inilah orangnya yang menjadi biang keladi sampai sekarang

Wang Sin datang menggerakkan semua budak untuk memberontak.

“Anjing buta, mampuslah dulu kau!” serunya sambil mengayun golok membacok ke

arah leher Ci Leng. Orang tua ini maklum bahwa dia yang dimaki dan hendak

diserang, akan tetapi ia sudah tidak mempunyai nafsu untuk hidup, maka tanpa takut

sedikitpun ia menanti datangnya maut.

Pada saat golok itu hampir menyentuh leher Ci Leng, terdengar jerit melengking yang

amat tinggi dan nyaring, jerit yang membuat semua orang merasakan bulu tengkuknya

berdiri. Malah hebatnya, jerit ini membuat banyak orang menggigil karena

mengandung pengaruh yang mujijat. Bahkan Wang Sin dan Ong Hui sendiri sampai

melompat mundur ketika merasakan goncangan hebat dalam dada mereka mendengar

jerit itu.

Lebih hebat lagi, terdengar suara “krakk!” dan tukang pukul yang tadi menyerang Ci

Leng, telah terlempar dengan kepala remuk. Di lain saat orang-orang melihat Ci Leng

telah dipeluk oleh seorang perempuan cantik yang menangis dan mendekap kepala

orang buta itu ke dadanya.

“Ayah…… ayah…..!” wanita itu menangis sambil mengeluh.

“Ci Ying…….” Wang Sin terbelalak dan girang, akan tetapi ia harus cepat mengelak

karena kembali Thouw Tan Hwesio sudah menyerangnya. Juga Ong Hui sudah

dikeroyok lagi. Nyonya muda ini sudah lelah sekali dan pundaknya sudah terpukul

toya, maka geraknya amat lambat dan ia terancam bahaya besar. Keadaan Wang Sin

tidak lebih baik, ia didesak habis-habisan oleh Thouw Tan Hwesio yang lihai.

“Ci Ying datang …..! Ci Ying datang …..!” Para budak meningkat semangat bertempur

mereka melihat kedatangan Ci Ying. Mereka mengamuk terus biarpun sudah banyak

di antara mereka yang tewas.

Ketika pertempuran sudah berlangsung lagi hebat dari pada tadi, kini tak seorangpun

dapat memperhatikan Ci Ying. Gadis ini masih seperti dulu, lima tahun yang lalu,

masih cantik manis. Hanya pakaiannya yang kini sudah berganti seperti pakaian

wanita Han. Rambutnya digelung tinggi, membuat wajahnya makin manis dipandang.

Senyumnya yang dulu masih membayang di bibirnya dan pipinya masih tetap

kemerahan dihias lesung pipit di sebelah kiri. Akan tetapi kalau orang melihat

sepasang matanya, ia akan menjadi kaget sekali. Mata ini luar biasa sekali, tajam dan

mempunyai sinar yang aneh, malah menyeramkan.

Ci Leng menggerak-gerakkan pelupuk matanya yang buta dan dari mata yang sudah

bolong itu mengalir air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum. “Ci Ying ….anakku

….., syukurlah kau masih hidup…”

Kakek ini terengah-engah, memeluk anaknya erat-erat dan di lain saat ia telah

menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anaknya. Rupa-rupanya karena selama

bertahun-tahun menderita sengsara dan mempertahankan diri untuk hidup karena

Koleksi Kang Zusi

ingin bertemu kembali dengan anaknya, setelah sekarang bertemu, kegirangan luar

biasa menyebabkan kakek ini tidak kuat menahan dan jantungnya menjadi pecah

mendatangkan kematiannya,

“Ayah …. Ayah….!” Ci Ying meraung-raung, akan tetapi hanya sebentar saja ia

menangis. Tiba-tiba ia terdiam dan meletakkan tubuh ayahnya di atas tanah.

Kemudian bangkit berdiri, memutar tubuh dan sepasang matanya yang aneh itu

menyapu-nyapu semua orang di situ. “Ayah, kau telah dibikin buta, disiksa, dibunuh

…. lihat, lihat baik-baik ayah. Anakmu akan membasmi mereka!”

Tubuhnya mencelat ke tengah pertempuran, sambil mengeluarkan pekik

menyeramkan. Hebat sepak terjangnya. Sekali mengulurkan tangan ia menyerang dua

orang tukang pukul. Dua orang itu dengan penuh kengerian mengangkat senjata

mereka, seorang membacok dengan golok dan yang kedua mengemplang dengan toya

Akan tetapi Ci Ying tidak mempedulikan serangan ini. Tangan kirinya menyampok

golok yang segera terpental patah dan toya yang mengemplang pundaknya tidak

ditangkis, akan tetapi terpental ketika mengenai pundak. Di lain saat kedua tangannya

sudah menyambar, tepat dua orang itu kena dicengkeram lehernya dan sekali remas

terdengar suara keras dan …. tulang leher dua orang itu patah-patah. Tubuh mereka

terkulai tak bernyawa lagi.

Sambil mengeluarkan lagi pekik mengerikan, Ci Ying melemparkan dua mayat itu ke

arah tukang pukul-tukang pukul yang lain. Hebatnya, lemparan ini mengandung

tenaga luar biasa kuatnya sehingga sekali gus dua orang tukang pukul dan seorang

budak yang kena tertumbuk dua mayat itu terjungkal tak dapat bangun lagi.

Kembali dia melompat maju dan menangkap dua orang tukang pukul yang sekali gus

ia bunuh dalam cengkeraman kedua tangannya yang lihai. Terdengar suara keras dan

ternyata sekarang sebuah lengan tangan dari masing-masing tukang pukul telah …..

putus terlepas dari pundak karena dibetot oleh Ci Ying. Dengan dua buah lengan ini ia

lalu mengamuk ke kanan kiri dan dalam sekejap mata saja roboh enam orang tukang

pukul lagi yang mengeroyok Ong Hui yang sudah kepayahan.

Melihat Wang Sin didesak oleh hwesio tinggi besar, Ci Ying melemparkan dua buah

lengan itu ke arah pertempuran. Terdengar suara angin bersiut dan Wang Sin cepat

mengelak sambil menangkis dengan tangan kiri. Alangkah terkejutnya ketika ia

merasa lengan tangan kirinya itu menjadi sakit dan linu sekali. Bukan main,

bagaimana Ci Ying bisa memiliki tenaga demikian hebat dan kepandaian demikian

lihai?

“Ci Ying…….!” Ia berseru girang, kaget dan ngeri.

“Hi, hi, hi Wang Sin. Serahkan saja anjing budak bangkotan ini kepadaku!”

Adapun Thouw Tan Hwesio yang juga menangkis lengan itu dengan toyanya, merasa

pula betapa telapak tangannya pedas. Ia kaget sekali dan jerih, akan tetapi serangan Ci

Ying sudah tiba secara mendadak sehingga terpaksa ia melayani wanita aneh ini.

Koleksi Kang Zusi

Tahu-tahu Ci Ying sudah menggunakan senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk

merah yang bergerak-gerak lemas bagaikan ular, akan tetapi jangan dipandang ringan

sabuk sutera ini karena setiap ujung sabuk tidak kurang ganasnya dari pada seekor

ular beracun. Sabuk ini digerakkan dengan tenaga lweekang yang mujijat, di samping

dapat menotok urat-urat kematian, juga sabuk ini telah direndam racun yang hebat

dan berbahaya sehingga andaikata pukulan sabuk dapat ditahan oleh ahli lweekang,

namun pengaruh racun tetap saja merupakan ancaman maut.

Melihat dua ujung sabuk itu dengan ganasnya menyambar ke arah kepala dan

dadanya, Thouw Tan Hwesio kaget sekali dan cepat ia memutar toyanya untuk

menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Akan tetapi kali ini ia bertemu tandingan.

Toyanya adalah senjata yang keras dan kaku, mana bisa mempengaruhi senjata sabuk

sutera yang lemas.

Di lain saat toyanya sudah dilibat dan begitu Ci Ying membetot, hampir saja toya itu

terlepas dari tangannya. Dalam kekagetannya, Thouw Tan Hwesio mengeluarkan

seruan keras dan kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan, sedangkan

keringat dingin membasahi mukanya.

Ci Ying mengeluarkan suara ketawa mengejek sambil menarik sabuknya dan

mengelak ke belakang, kemudian ujung sabuknya kembali menyambar untuk

menyambut kaki yang menendang, Thouw Tan Hwesio cepat-cepat menahan

tendangannya. Celakalah kalau sampai kakinya kena terlibat.

Segera keduanya mengeluarkan kepandaian masing-masing dan bertempur seru, akan

tetapi selalu hwesio itu berada di pihak terdesak oleh permainan sabuk yang amat

aneh dan ganas sekali itu. Melihat ini, Wang Sin timbul kegembiraannya, dan cepat ia

melompat dan menggerakkan pedangnya membantu Ci Ying.

Melihat majunya pemuda ini Thouw Tan Hwesio menjadi khawatir sekali. Ia memutar

toyanya dan tiba-tiba mulutnya kemak-kemik dan di lain saat ia berseru dengan suara

keras dan amat berpengaruh. “Rebahlah kalian!”

Hebat sekali suara Thouw Tan Hwesio ini. Dia adalah seorang ahli hoat-sut (sihir)

yang merupakan ilmu hitam dan yang biasanya dipergunakan para pendeta Lama

untuk mempengaruhi dan menakut-nakuti para budak. Seruan itu adalah semacam

ilmu sihir yang pengaruhnya merampas semangat orang, membuat orang menurut

akan kehendak yang menjalankan ilmu ini.

Wang Sin ketika mendengar seruan ini, tanpa dapat ditahan lagi lalu terhuyung dan

hampir roboh. Andaikata dia hanya menghadapi hwesio itu seorang diri, tentu dalam

keadaan seperti itu ia akan dapat diserang dan mengalami kecelakaan. Akan tetapi,

alangkah heran dan terkejutnya hati Thow Tan Hwesio ketika melihat Ci Ying tertawa

terkekeh-kekeh menghadapi serangannya dengan ilmu hitam tadi.

“Hi, hi, hi, anjing tua bangkotan, jangan membadut di depanku!” Dan Ci Ying terus

menyerang sambil berkata kepada Wang Sin. “Wang Sin, mundurlah. Biarkan aku

merampas kepala anjing gundul ini.”

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin tidak berani maju lagi. Ia menoleh dan melihat isterinya masih mengamuk

dan dikeroyok lagi oleh beberapa orang hwesio dan tukang pukul, ia melompat dan

membantu isterinya. Semangat suami isteri ini bangkit kembali melihat datangnya

bantuan Ci Ying yang lihai.

Mereka tidak menghiraukan luka-luka mereka dan dalam beberapa jurus telah

merobohkan pula empat orang hwesio murid Thouw Tan Hwesio. Para budak juga

terus menyerbu, malah sekarang sudah mulai memasuki ruangan sebelah dalam

gedung keluarga tuan tanah Yang Can.

Tuan tanah Yang Can ketika melihat keadaan yang amat berbahaya itu, telah

mempersiapkan kuda dan berlari dari pintu belakang. Tuan tanah yang pengecut ini

tidak memperdulikan lagi nasib keluarganya. Dengan sepuluh orang tukang pukul

sebagai pelindung, ia melompat ke atas kuda dan melarikan diri.

“Tuan tanah keparat lari!” teriak Wang Sin. “Tahan dia jangan sampai lolos!”

Besama-sama isterinya, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya dan mengejar.

Akan tetapi sepuluh orang tukang pukul menghalangi mereka dan kuda yang

ditunggangi oleh Yang Can sudah mulai kabur.

Tiba-tiba kuda itu meringkik dan roboh, membawa tuan tanah itu roboh bersama.

Ternyata sebuah pisau belati telah dilontarkan oleh Ci Ying dan tepat menancap di

leher kuda itu. Melihat tuan tanah yang dibencinya itu hendak lari, Ci Ying

mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa. Sebuah ujung sabuknya menotok

pergelangan tangan kiri Thouw Tan Hwesio membuat hwesio itu memekik kesakitan

dan melepaskan toya, akan tetapi tangan kanan yang memegang toya masih

digerakkan, mengayun toya ke arah leher Ci Ying.

Anehnya, Ci Ying sama sekali tidak mengelak, menerima saja gebukan ini. Benarbenar

hebat gadis ini. Toya yang menghantam lehernya terpental dan sebelum Thouw

Tan Hwesio hilang kagetnya, lengan kanannya sudah kena dicengkeram sampai patah

tulangnya. Ia menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi tidak sempat mengelak

ketika ujung sabuk merah menyambar dan melilit lehernya.

Hwesio tinggi besar ini kaget sekali. Tangan kanannya sudah patah dan tidak dapat

digerakkan. Dengan tangan kiri ia merenggut sabuk yang melibat leher, ditariktariknya

sekuat tenaga namun sia-sia. Sabuk itu membalut leher makin erat, ia

terhuyung dan roboh, namun bagaikan ular hidup sabuk merah itu membelit terus

sampai akhirnya kedua matanya melotot dan lidahnya keluar. Ia menghembuskan

napasnya dalam keadaan mengerikan setelah kaki tangannya berkelonjotan.

Sambil tertawa mengerikan Ci Ying melompat dan mengejar Yang Can. Tuan tanah

ini ketika roboh dari kuda, dengan ketakutan merangkak-rangkak hendak melarikan

diri. Akan tetapi tiba-tiba lehernya ditangkap orang dan tubuhnya diangkat ke atas.

Sekelebatan ia melihat wajah Ci Ying yang cantik akan tetapi dengan sinar mata yang

membuat rambut kepalanya sampai berdiri saking takutnya. Sinar mata itu bukan

sinar mata manusia lagi, melainkan sinar mata iblis yang haus darah. Ia memekikKoleksi

Kang Zusi

mekik sampai lehernya kering dan tidak ada suara lagi keluar dari lehernya ketika Ci

Ying menyeretnya ke depan mayat Ci Leng.

8. Keganasan Calon Isteri Tercinta.

Pada saat itu, semua budak di dusun Loka ternyata sudah ikut berontak dan menyerbu

rumah tiga orang tuan tanah yang lain. Tidak terdapat banyak perlawanan pada tuan

tanah yang lain itu karena semua pendeta Lama mementingkan tuan tanah Yang Can

untuk mereka lindungi.

Tuan-tuan tanah yang lain itu siang-siang sudah melarikan diri, meninggalkan rumah

dan harta benda mereka. Kini para budak sudah menggabungkan diri dengan budakbudak

tuan tanah Yang Can sehingga kekuatan mereka benar-benar tak dapat

dibendung oleh para tukang pukul yang biasanya galak-galak dan kejam-kejam.

Akan tetapi, ketika melihat sepak terjang Ci Ying, semua pemberontak menjadi ngeri.

Wang Sin dan Ong Hui yang sudah kehabisan lawan karena tukang pukul-tukang

pukul yang masih hidup sudah pada melarikan diri cepat-cepat dari tempat

pertempuran, kinipun memandang ke arah Ci Ying.

Gadis ini menyeret tuan tanah Yang Can dan melemparkannya ke depan mayat Ci

Leng. Kemudian sambil terisak-isak gadis ini menyambar sebuah kursi, lalu ia

mengangkat mayat ayahnya dan mendudukkan mayat itu di atas kursi.

Yang Can sudah menggigil seluruh tubuhnya, mukanya menyaingi muka mayat itu

pucatnya dan ia mendeprok di atas tanah tidak bergerak lagi.

Setelah puas menangis di depan mayat ayahnya yang sekarang duduk di kursi dengan

kepala disandarkan ke belakang sehingga seperti sedang berdongak, Ci Ying

membentak tuan tanah itu. “Hayo berlutut memberi hormat kepada tuan besar Ci

Leng!”

Sambil berkata demikian tangannya mendorong pundak sampai tuan tanah itu roboh

terguling. Dengan ketakutan hebat Yang Can lalu merangkak dan berlutut di depan

mayat Ci Leng, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tiada hentinya meminta

“Ayah, ini musuh besarmu, anjing hina dina Yang Can minta ampun atas semua

perbuatannya yang keji kepadamu. Ayah, sukakah kau mengampuninya?” Ci Ying

berkata lagi sambil memandang ayahnya. Sikapnya demikian sungguh-sungguh

seperti sedang bicara dengan seorang hidup dan hal ini membuat semua orang yang

berada di sini melongo dan ngeri.

Mayat Ci Leng masih lemas, belum kaku dan karena disandarkan tanpa ada yang

memegangnya, tiba-tiba kepalanya terkulai ke kiri, Ci Ying cepat menahan tubuh

ayahnya supaya jangan terguling dan membenarkan letak duduknya.

“Ah, jadi kau tidak mau mengampuninya, ayah? Baik, anak akan mengambil

jantungnya untuk ayah dahar.”

Koleksi Kang Zusi

Mendengar ini, Wang Sin sendiri sampai menjadi pucat mukanya. Tidak salah lagi,

gerak gerik dan omongan gadis yang menjadi tunangannya itu menandakan bahwa Ci

Ying sudah miring otaknya. Tiba-tiba gadis itu yang sudah menggerakkan tangan,

tertawa bergelak melihat Yang Can menggigil minta-minta ampun.

“Ayah, biar dia merasai penderitaanmu lebih dulu.” Setelah berkata demikian, begitu

tangan kirinya bergerak dengan dua jari dibuka, sepasang mata tuan tanah itu telah ia

korek keluar. Yang Can menjerit melolong-lolong kesakitan, dari dua matanya yang

bolong keluar darah.

Bukan main ngerinya. Sambil tertawa-tawa Ci Ying membawa dua biji mata itu

kepada ayahnya dan memasukkan dua biji mata itu ke dalam rongga mata ayahnya

yang sudah bolong. “Biar matanya menggantikan matamu, ayah,” katanya lagi,

suaranya nyaring tinggi dan masih merdu, akan tetapi mengandung pengaruh yang

membuat orang merasa bulu tengkuknya meremang.

“Anjing hina, sekarang berikan jantungmu kepada ayah!” Tangan kanannya bergerak

dengan jari-jari terbuka dan….. sekali tusuk tangannya itu telah masuk ke dalam dada

Yang Can dan di lain saat tangan itu sudah membetot keluar sebuah benda kecil

kemerahan yang berlepotan darah.

Itulah jantung Yang Can. Tubuh tuan tanah itu berkelonjotan tapi hanya sebentar,

karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. Dadanya terbuka lebar dan darah

membanjir di lantai itu.

Ci Ying mengambil sebuah meja, dan menaruh jantung manusia di atas meja yang

dipasang di depan mayat ayahnya. Kemudian matanya menyambar ke sana-sini, lalu

tubuhnya mencelat dan di lain saat ia telah menghampiri dua orang tukang pukul yang

masih rebah merintih-rintih. Dua kali tangannya bekerja dan leher tukang pukul itu

telah ia tabas hancur dan putus hanya dengan tangan kosong. Ia membawa dua kepala

itu dan ditaruhkan di atas meja pula.

Melihat ini, semua orang merasa ngeri. Wang Sin dan Ong Hui terkejut bukan main.

Dengan tangan kosong sekali tabas memutuskan leher orang inilah kepandaian yang

selain mengerikan, juga luar biasa lihainya. Saking heran dan seram, mereka tidak

dapat mengeluarkan kata-kata, hanya mengikuti Ci Ying dengan pandangannya.

Sambil tertawa Ci Ying masih mencari tukang pukul-tukang pukul yang belum mati

dan seperti tadi, ia memutus leher mengambil kepala orang sampai sebentar saja meja

itu penuh kepala tukang-tukang pukul dan pendeta-pendeta Lama yang belasan

“Itulah Thai-lek Pek-kong-jiu…..” bisik Ong Hui, suaranya gemetar. Gadis ini adalah

puteri seorang jagoan, sudah banyak ia menghadapi pengalaman-pengalaman hebat,

sudah sering ia melihat orang-orang pandai dan ilmu-ilmu yang lihai, akan tetapi baru

kali ini dia menghadapinya dengan hati berdebar ngeri. Ia pernah mendengar dari

ayahnya tentang ilmu pukulan Thai-lek Pek-kong-jiu yang amat lihai, yang membuat

tangan orang menjadi sekuat baja, setajam golok. Maka melihat perbuatan Ci Ying,

tanpa terasa lagi ia mengeluarkan ucapan itu.

Koleksi Kang Zusi

Biarpun ia hanya berbisik di dekat suaminya, namun ternyata Ci Ying mendengarnya

juga. Gadis ini cepat memutar tubuh dan sepasang matanya liar menentang Ong Hui.

Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya menyambar ke arah Ong Hui

dengan tangan mencengkeram.

Ong Hui kaget, cepat mengelak ke kanan. Ia merasai dinginnya hawa pukulan yang

lewat di dekat lehernya, membuat ia bergidik. “Berbahaya……” katanya dalam hati.

Sementara itu, Ci Ying kelihatan heran melihat serangannya tidak berhasil.

Dikeluarkannya sabuk merahnya yang lihai dan ia hendak menyerang lagi. Akan

tetapi Wang Sin melompat maju dan mencegat.

“Ci Ying, jangan …..!”

Mendengar suara Wang Sin, gadis ini menengok dan agaknya baru ia teringat bahwa

Wang Sin berada di situ. Ia ragu-ragu dan sambil memandang ke arah Ong Hui

dengan mata liar penuh ancaman, ia bertanya.

“Siapa dia …..?”

Wang Sin bingung. Kalau keadaan Ci Ying tidak seperti itu, tentu ia akan mengaku

terus terang malah hendak bicara dengan jelas mengapa ia sampai menikah dengan

gadis lain. Akan tetapi di situ banyak orang, pula keadaan Ci Ying demikian

menyeramkan, ia khawatir akan terjadi hal-hal lebih hebat kalau berterus terang.

“Dia …. dia orang sendiri, Ci Ying, bukan musuh.”

Ci Ying tersenyum mengejek dan melempar rasa ejekan kepada Ong Hui. “Hemmm,

baiknya ada tunanganku ini yang mengingatkan. Baiklah, melihat muka tunanganku,

aku bebaskan kau dari kewajiban mengantar roh ayah.”

Sebelum Ong Hui yang menjadi marah sekali itu sempat menjawab, seperti orang

diingatkan, Ci Ying berpaling kepada Wang Sin, memegang tangannya dan berkata

girang, “Ah, hampir aku lupa, Wang Sin. Cita-cita kita sejak dulu belum juga

terlaksana. Sekarang selagi ayah masih duduk di sana, mari kita langsungkan

perkawinan kita di depan ayah.” Ia menarik tangan Wang Sin, diajak bersembahyang

di depan mayat ayahnya.

Wang Sin menjadi pucat. Tak terasa lagi ia merenggut tangannya, terlepas dari

pegangan Ci Ying. Gadis itu memandangnya dengan kerling dan senyum seperti dulu

ketika mereka masih berada di situ. Manis dan menarik. Ternyata gadis ini masih

belum kehilangan sifat-sifat cantiknya masih menarik dan manis. Hanya sepasang

matanya itu saja yang membuat jantung Wang Sin berdenyut tak enak. Sepasang mata

yang membayangkan sinar aneh menakutkan. Apa yang sudah terjadi atas diri gadis

ini?”

Melihat keraguan Wang Sin, Ci Ying bertanya, “Wang Sin, kanda Wang Sin yang

baik, kenapa kau ragu-ragu?”

Wang Sin bingung tak dapat menjawab. Akhirnya ia menarik napas panjang dan

Koleksi Kang Zusi

bertanya, “Ci Ying, alangkah berubahnya engkau. Apakah yang sudah terjadi dengan

dirimu? Bagaimana kau tahu-tahu bisa memiliki kepandaian sehebat ini?”

Ci Ying tertawa, masih merdu dan nyaring, akan tetapi kembali jantung Wang Sin

berdenyut aneh mendengar suara ketawa yang seram ini. Setelah tertawa bergelak

tanpa menjawab pertanyaan Wang Sin, Ci Ying tiba-tiba mengangkat kedua

tangannya, memandang kepada semua budak yang berdiri di situ sambil berseru,

“Hai, kawan-kawan semua! Hayo kalian semua berlutut dan memberi hormat kepada

tuan besar Ci Leng, ayahku!”

Para budak tidak ada yang berani membantah. Serentak mereka menjatuhkan diri

berlutut, bahkan di antaranya ada yang mulai menangis untuk menyatakan kesedihan

karena kematian Ci Leng. Wang Sin sendiri yang menaruh hormat kepada orang tua

itu, tanpa ragu-ragu lalu berlutut pula memberi hormat. Ci Ying menangis dan tertawa

bergantian seperti orang gila, kemudian ia berkata.

“Wang Sin, ketika aku melarikan diri, aku diculik oleh anjing-anjing tuan tanah.

Kemudian aku ditolong oleh Cheng Hoa Suthai yang selanjutnya membawaku ke

Heng-toan-san dan aku menjadi muridnya. Guruku itu setuju aku turun gunung

membasmi para tuan tanah, dan setuju pula aku menikah denganmu, dengan siapa saja

yang ku suka. Aku hanya suka kepadamu seorang Wang Sin. Sekarang mari kita

bersumpah di depan ayah untuk menjadi suami isteri seperti yang kita cita-citakan

dulu.”

Wang Sin sudah mengambil keputusan untuk memutuskan tali perjodohannya dengan

Ci Ying, gadis yang sekarang berubah menjadi wanita menyeramkan ini. Ia tahu

bahwa tidak akan mungkin ia mengawini gadis ini disamping isterinya. Maka dengan

suara gemetar saking tegang hatinya akan tetapi dengan pandangannya jujur ia

“Hal itu tak mungkin dilakukan, Ci Ying, karena …..”

“Apa katamu? Karena apa …..? Hayo katakan, kenapa kau menolak?” Suara Ci Ying

berubah beringas, penuh ancaman.

“Karena …..karena aku sudah menikah! Dia itu, Ong Hui puteri suhuku, dialah

isteriku,” jawab Wang Sin sambil menunjuk ke arah Ong Hui.

Ci Ying menengok dan memandang Ong Hui yang tentu saja kelihatan jelas karena

dia ini tidak ikut berlutut seperti semua orang yang berada di situ. Melihat bahwa

isteri Wang Sin adalah wanita yang tadi hendak diserangnya, kekagetan hati Ci Ying

berubah menjadi kemurkaan hebat. Mukanya yang tadi berubah agak pucat

mendengar jawaban Wang Sin, kini menjadi merah dan matanya makin liar berapi.

“Hei, kau berani merampas kekasihku? Kau sudah bosan hidup!” Sambil

mengeluarkan pekik keras, tubuh Ci Ying mencelat dan ia mengirim serangan ke arah

dada Ong Hui.

Wang Sin yang sudah menaruh hati khawatir dan sudah siap siaga, melompat maju

dan cepat menangkis. Serangan Ci Ying tadi hebat sekali, sampai-sampai Wang Sin

Koleksi Kang Zusi

yang menangkis dari samping terpental mundur tiga langkah dengan lengan terasa

sakit. Akan tetapi pukulan Ci Ying itupun meleset tidak mengenai Ong Hui yang

sudah meloncat ke kiri.

Semenjak tadi, muka Ong Hui yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah.

Sebetulnya ia merasa amat kasihan kepada Ci Ying yang sudah ia dengar riwayat

hidupnya dari Wang Sin. Semenjak dulu iapun sudah siap sedia dan rela untuk

membiarkan suaminya itu menikah dengan Ci Ying kalau mereka dapat saling

bertemu kembali. Hanya sama sekali ia tidak mengira bahwa Ci Ying tunangan

suaminya itu ternyata demikian ganas wataknya. Betapapun juga ia mengenal aturan

maka ia merasa berat hatinya seperti tertikam pedang ketika mendengar tuduhan Ci

Ying bahwa ia telah merampas kekasih orang.

“Enci Ci Ying……, sudah lama kami mencari-carimu. Kau menikahlah dengan dia

kalau kau menghendaki….., aku….. aku biarlah aku pergi kalau kau tidak suka menjadi

saudara tuaku…..” Setelah berkata demikian, dengan isak ditahan nyonya muda ini

membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Hui-moi……!” Wang Sin memanggil isterinya. Ketika Ong Hui tidak menoleh dan

juga tidak kembali ia melompat mengejar. Tiba-tiba angin bersiut di pinggir kanannya

dan tahu-tahu Ci Ying sudah berdiri menghadang di depannya, memandang

kepadanya dengan sinar mata marah dan mulut tersenyum mengejek.

“Dia telah merampas hak orang lain dan sekarang pergi dengan aman, aku tidak turun

tangan membunuh ia, juga sudah amat baik baginya.”

:Ci Ying, dia…. dia isteriku….” kata Wang Sin dengan hati terpukul.

“Hemmm, kalau aku…. apamukah? Sungguh rendah, dapat yang baru lupa yang lama.

Apa kau hendak mengingkari janji lama yang diadakan oleh orang-orang tua kita?”

Wang Sin tidak dapat menjawab, ia bingung. Ia melihat bayangan isterinya sudah jauh

sekali. Kembali ia hendak mengejar, akan tetapi dengan sekali dorong di pundaknya

Ci Ying dapat menahannya, membuat Wang Sin hampir terjengkang. Orang muda ini

kaget sekali dan maklum bahwa Ci Ying sudah memiliki kepandaian yang luar biasa

dan ia takkan dapat melawannya.

“Akan tetapi dia….. dia sudah mengandung. Ci Ying, kau kasihanilah dia……”

Wajah Ci Ying yang cantik itu berubah ketika sinar matanya kembali menjadi liar. Ia

bertolak pinggang dan suaranya penuh ancaman. “Wang Sin, hanya ada dua jalan

kalau kau hendak kembali kepada kuntilanak itu. Pertama kau bunuh aku kalau kau

bisa, dan kedua aku akan mencari dia dan membunuh dia dan anaknya!”

Inilah kata-kata yang hebat, yang membuat jantung Wang Sin berdebar keras. Tak

dapat ia mengambil keputusan di saat itu. Hati kecilnya berkata bahwa dalam hal ini,

dialah yang salah. Ci Ying hanya menuntut haknya sebagai akibat dari ikatan jodoh

yang lalu. Dia maklum akan hal ini maka ketika ia hendak dinikahkan dengan Ong

Hui dahulu, dia sudah ragu-ragu dan sudah berterus terang kepada Ong Hui dan

Koleksi Kang Zusi

ayahnya. Akhirnya dia menerima karena dia berpengharapan kalau Ci Ying masih

hidup, ia dapat mengawini tunangannya itu disamping Ong Hui.

Siapa kira bahwa Ci Ying benar-benar masih hidup dan gadis ini tidak rela

membiarkan dia menikah dengan wanita lain. Siapa kira Ci Ying sudah begini

berubah, membuat cintanya yang dahulu lenyap. Cinta kasihnya yang dulu terhadap

Ci Ying telah diganti dengan cinta kasih terhadap Ong Hui, terhadap isterinya, ibu

dari calon anaknya.

“Wang Sin, di mana semangatmu?” Ci Ying menegur. “Bukankah kau kembali untuk

menolong kawan-kawan dan saudara-saudara kita? Benar kita sudah berhasil

membasmi tuan tanah-tuan tanah dan kaki tangannya di Loka, akan tetapi bukankah

musuh besar kita yang utama, si anjing Yang Nam, masih hidup?”

Wang Sin sadar mendengar ini. Baiklah, pikirnya, urusan penting ini diselesaikan

dulu. Kelak mudah dia menyusul isterinya. Adapun tentang perjodohannya dengan Ci

Ying, perlahan-lahan ia dapat menyadarkan gadis ini bahwa ikatan jodoh itu tidak

mungkin dilanjutkan mengingat bahwa dia sudah mempunyai isteri lain, malah sudah

hampir menjadi seorang bapak. Akan ia ceritakan perlahan-lahan kepada Ci Ying

tentang pertemuannya dengan Ong Hui dan mengapa ia sampai menikah dengan gadis

Han itu.

Setelah kembali memikirkan nasib kawan-kawannya, para budak itu, bangkit kembali

semangat Wang Sin dan ia dapat melupakan kebingungannya karena urusan

pribadinya. Ia melihat semua budak dari dusun Loka sudah berkumpul di tempat itu

dan segera ia mendengar laporan mereka.

Ternyata bahwa semua tuan tanah telah melarikan diri berikut keluarga mereka,

dilindungi oleh beberapa orang tukang pukul, pendeta dan alat-alat negara yang ikut

melarikan diri ke utara. Dusun Loka sudah kosong ditinggalkan, yang ada hanya sisa

para budak yang tidak tewas dalam pertempuran.

“Nak Wang Sin dan Ci Ying, kalian telah menolong kami dari penindasan para tuan

tanah di Loka, untuk itu kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali. Impian

yang sudah berabad-abad dimimpikan oleh para budak hari ini menjadi kenyataan.

Akan tetapi, harap kalian tidak kepalang tanggung menolong kami,” kata seorang

budak tua yang bersemangat dan tadi ikut bertempur mati-matian.

“Apa maksudmu paman tua?” tanya Wang Sin.

“Masih ada tuan tanah dan kaki tangannya yang berhasil melarikan diri,” jawab budak

itu. “Sudah dapat dipastikan bahwa mereka tentu akan melaporkan diri ke Lasha.

Kejadian hari ini di Loka tentu takkan dibiarkan begitu saja oleh pembesar-pembesar

di Lasha, juga kematian pendeta-pendeta Lama yang membantu tuan-tuan tanah tentu

takkan dibiarkan oleh pendeta-pendeta kepala di sana. Pembalasan tentu akan segera

tiba dan sukar dibayangkan apa yang akan terjadi kalau bala tentara dan para pendeta

itu datang membalas dendam ke sini,”

“Takut apa?” tiba-tiba Ci Ying berseru keras mengagetkan semua orang. “Biarkan

mereka datang akan kuganyang satu demi satu?”

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya.

“Tidak bisa begitu, Ci Ying. Kau dan aku mungkin bisa menjaga diri dan melakukan

perlawanan. Akan tetapi bagaimana dengan kawan-kawan yang lemah ini? Kalau

pembalasan dari Lasha datang jumlah mereka tentu akan lebih banyak dan tidak dapat

kita membiarkan kawan ini menjadi korban.”

Ci Ying hendak membantah, akan tetapi setelah ia mulai berbaik kembali dengan

tunangannya ini, tidak mau ia bertengkar. Ia tertawa dan berkata. “Kanda Wang Sin

yang baik, terserah kau yang urus. Sebagai istrimu aku menurut saja.”

Kecut-kecut hati Wang Sin mendengar ini, akan tetapi ia tidak dapat membantah,

hanya tersenyum saja. Lalu ia menghadapi semua budak dan berkata, suaranya keras

dan nyaring.

“Kawan-kawan semua! Urusan menghadapi musuh kalian serahkan saja kepada aku

dan Ci Ying. Sekarang harap kalian suka memenuhi permintaanku ini. Lebih dulu

kalian urus semua jenazah kawan-kawan kita yang gugur, kubur baik-baik dan rawat

yang terluka. Kemudian kumpulkan semua harta milik tuan tanah dan bagi-bagi yang

rata. Setelah itu kalian harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan carilah

penghidupan baru di tanah timur di mana kalian akan terbebas dari penghisapan dan

penindasan tuan tanah yang kejam. Biar aku dan Ci Ying menjaga keamanan kalian

sampai kalian dapat keluar dari tapal batas Tibet.”

Semua budak setuju dan beramai-ramai mereka lalu bekerja siang malam. Permintaan

Wang Sin ini dapat diselesaikan dalam waktu dua hari dan pada hari ketiga

berangkatlah mereka itu, lebih dari tiga ratus orang budak, berbondong-bondong

melarikan diri ke timur.

Setelah mengawal rombongan pengungsi ini selama dua hari, Ci Ying lalu berkata

kepada Wang Sin. “Cukup, kita tidak boleh mengawal terus. Kita harus kembali!”

“Kenapa?” tanya Wang Sin kaget.

“Kita harus mengejar ke Lasha. Anjing Yang Nam masih belum mampus!” Ketika

menyebut nama ini matanya memancarkan sinar kilat.

Wang Sin mengangguk. “Kau betul, setelah sampai di sini, sebelum membasmi Yang

Nam, tugas kita belum selesai. Membasmi pohon jahat harus dengan akar-akarnya,

dan di antara semua musuh kita, Yang Nam paling busuk.” Sama sekali dia tidak

menyangka bahwa sebetulnya adanya Ci Ying mengajak dia kembali ke barat untuk

menyerbu ke Lasha, sebetulnya karena gadis ini khawatir kalau-kalau Wang Sin

hendak menyusul Ong Hui.

Wang Sin lalu mengumpulkan para pengungsi dan berkata.

“Sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan dan sebaiknya dilakukan secara

berpencar. Kalau terlalu banyak bergerombol bisa menimbulkan kecurigaan dan juga

lebih mudah terdapat jejak kalian kalau ada pengejaran.”

Koleksi Kang Zusi

Wang Sin maklum bahwa nasib para budak ini belum tentu baik semua. Ada bahaya

mereka bertemu orang jahat atau dapat dikejar oleh kaki tangan tuan tanah. Maka

kalau berpencar, setidaknya bukan semua yang akan celaka.

Para budak kecewa akan tetapi tak dapat membantah. Ketika mereka berkemas

terdapat keributan tentang kawan-kawan yang terluka. Mereka saling menolak,

keberatan kalau harus membawa kawan-kawan yang terluka berat dan tidak dapat

berjalan sendiri.

Memang, dalam penderitaan dan menghadapi bahaya orang-orang dapat bersatu padu

dan saling membela, akan tetapi sekali keluar dari bahaya, sifat mementingkan diri

sendiri timbul dan masing-masing hendak menyelamatkan diri dan keluarga sendiri.

Wang Sin menjadi bingung melihat kegaduhan ini. Di antaranya para budak, yang

terluka berat dan harus ditolong ada tiga puluh orang lebih. Mereka hendak

berpencaran dan saling menolak untuk membawa kawan-kawan terluka. Bagaimana

baiknya?

“Coba kumpulkan mereka yang terluka berat ke sini!” tiba-tiba Ci Ying yang tidak

sabar lagi membentak.

Semua orang lalu sibuk, mengangkuti mereka yang terluka berat, dikumpulkan di

lapangan. Yang luka-luka berat ini menyedihkan sekali keadaannya. Mereka terluka

karena bacokan senjata tajam dan keluhan mereka menimbulkan sedih dalam hati.

“Selain tiga puluh satu orang ini, yang lain-lain dapat berjalan sendiri?” tanya Ci

“Bisa!” jawab para budak serampak.

Tiba-tiba Ci Ying meloncat dan tubuhnya berkelebat seperti burung walet menyambar

ke sana ke mari, tangannya kiri kanan digerakkan ke arah orang-orang yang terluka

“Ci Ying……!!” Wang Sin berseru kaget sekali melihat gadis itu sekali pukul

membunuh orang yang terluka itu satu demi satu. Ia juga melompat hendak

mencegah, akan tetapi gerakan Ci Ying luar biasa cepatnya, pukulan tangannya

ampuh sekali sehingga dalam beberapa menit saja tiga puluh satu orang itu telah

menggeletak tak bernyawa lagi.

“Ci Ying, apa yang kaulakukan ini?” kata Wang Sin, suaranya gemetar karena ia

menahan marahnya.

Ci Ying tersenyum manis padanya. “Dibawa pergi, tidak seorangpun mau

melakukannya. Ditinggal di sini, akan mati kelaparan. Tertangkap tuan tanah, akan

mati disiksa. Bukankah lebih baik mati begini, tidak menderita?” jawaban ini tenang

saja seakan-akan membunuh tiga puluh satu orang itu hanya soal kecil tak berarti saja.

Kemudian ia berteriak kepada semua orang. “Hayo kubur mereka lalu lanjutkan

perjalanan kalian!”

Koleksi Kang Zusi

Semua budak yang tadinya menjadi pucat karena ngeri, tidak berani membantah

perintah nona yang hebat itu. Cepat mereka mengubur mayat tiga puluh satu orang

kawan mereka itu, lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan ketakutan,

khawatir kalau-kalau dapat dikejar tuan tanah.

“Kanda Wang Sin, mari kita kembali, menuju ke Lasha.”

Ketika mengucapkan kata-kata, sikap Ci Ying sudah berubah lagi, lemah lembut dan

manis. Sepasang mata dan senyumnya membayangkan cinta kasih mesra. Ia malah

menggandeng lengan tangan Wang Sin untuk diajak pergi. Orang muda itu menurut

saja, berkali-kali menarik napas panjang. Tak dapat disangkal lagi, setelah Ci Ying

bersikap manis seperti ini, terbayanglah hubungan mesra di waktu mereka masih

remaja dahulu dan harus ia akui bahwa sebetulnya cinta kasih pertama yang bersemi

di dalam hatinya masih belum mati.

“Kanda Wang Sin, kau kenapa menghela napas?” tanya Ci Ying, bibirnya tetap

tersenyum akan tetapi matanya yang jeli memandang penuh selidik.

Wang Sin tidak mau kalau disangka ia menyedihkan perpisahannya dengan isterinya.

Ia tidak mau membangkitkan cemburu di dalam hati gadis ini yang sekarang berubah

menjadi seorang berwatak aneh. Ia hendak menyadarkan gadis ini perlahan-lahan.

“Ci Ying, aku bingung melihat perubahan pada dirimu. Terhadap tuan tanah kau

berlaku kejam, itulah sudah semestinya dan aku mengerti karena kita memang sejak

lahir di dunia selalu menderita sengsara karena mereka. Akan tetapi tadi….. kau

membunuh kawan-kawan sendiri yang terluka begitu saja seperti orang membunuh

tikus…. ah, benar-benar aku tidak mengerti!”

“Membunuh orang-orang luka yang tidak ada harapan lagi, untuk menolong banyak

orang yang masih sehat, bagaimana bisa dibilang kejam? Apalagi kalau diingat

pembunuhan itu untuk menolong keselamatan mereka dan diri sendiri, lebih-lebih

bukan kejam namanya. Kejam adalah tuan-tuan tanah dan kaki tangannya yang

membunuh orang untuk kesenangan diri sendiri.”

“Menolong diri sendiri?” tanya Wang Sin heran.

“Tentu saja. Kalau mereka tidak dibunuh, perjalanan terlambat dan kita terpaksa

mengawal terus. Kalau kita mengawal terus, kita tidak akan bergerak leluasa dan

bebas kalau terjadi pertempuran. Tentu kita menjadi rugi dan terancam.”

“Eh, kenapa begitu?”

Ci Ying cemberut. “Kau carilah sendiri. Hayo kita percepat jalan, sudah gatal-gatal

tanganku untuk mencekik leher jahanam Yang Nam dan membetot keluar

jantungnya.”

Wang Sin tidak berkata-kata lagi, melainkan mengerahkan tenaga untuk mengimbangi

kecepatan larinya gadis itu yang bergerak ringan sekali. Diam-diam hatinya

mengeluh. “Ganas……. ganas…….”

Koleksi Kang Zusi

9. Kembang Hijau Batu Kumala.

Ketika hari menjadi malam, dua orang muda ini tiba di sebuah padang rumput yang di

sana sini ditumbuhi beberapa batang pohon. Di waktu musim salju, tempat ini penuh

salju dan pohon-pohon itu gundul tak berdaun. Baiknya waktu itu musim salju sudah

lewat dan biarpun tidak gemuk tanah di situ ditumbuhi rumput hijau dan pohon-pohon

itu mengeluarkan daun. Mereka berhenti di bawah sebatang pohon dan duduk di atas

rumput yang lunak.

Dari jauh terdengar menguaknya beberapa ekor binatang yak dan mengembiknya

kambing-kambing yang berkeliaran. Itulah binatang peliharaan tuan tanah di Loka

yang dalam keributan tadi telah lari cerai berai.

“Tunggu aku mencari susu dan makanan!” kata Ci Ying. Tubuhnya berkelebat dan

sebentar saja ia lenyap dari dari depan Wang Sin. Orang muda ini kagum sekali. “Dia

begitu hebat kepandaiannya. Benar-benar mengherankan. Aku yang berlatih siang

malam dibawah pimpinan suhu yang pandai, ternyata masih kalah jauh olehnya,

padahal dia dahulu seorang gadis lemah,” pikirnya.

Tak lama gadis ini pergi. Ia telah kembali lagi membawa sebuah paha domba yang

gemuk dan di lain tangan memegang sebuah tempat minum yang tadi dibawanya,

penuh dengan susu murni yang segar. Ia tertawa-tawa gembira dan lagaknya kembali

sebagai Ci Ying lima tahun yang lalu.

“Kanda Wang Sin. Aku memanggangkan daging domba yang gemuk dan

memanaskan susu yang segar untukmu.”

Timbul lagi kegembiraan Wang Sin melihat sikap gadis ini. Ah, kalau saja Ci Ying

seterusnya seperti ini, seperti dahulu lagi. Mudah mengajaknya berunding.

“Aku membuat apinya,” katanya sambil tertawa. Melihat pemuda itu sudah mau

tersenyum, Ci Ying makin gembira.

Wang Sin membuat api unggun sedangkan gadis itu memotong-motong daging

domba. Entah dari mana dapatnya, ia mengeluarkan bumbu-bumbu dari dalam saku

bajunya. Tak lama kemudian tercium bau sedap daging domba dipanggang dan segera

kedua orang muda yang sudah lapar itu makan daging panggang dengan air susu.

Nikmat sekali rasanya, apalagi dimakan di bawah sinar bulan yang sudah muncul di

langit yang bersih cerah.

Hawa malam itu sangat dingin. Ci Ying merebahkan diri di atas rumput dengan

kepala di atas pangkuan Wang Sin. Pemuda itu tidak menolak dan membiarkan saja

Ci Ying menaruh kepalanya di atas paha. Sebentar saja Ci Ying tertidur dengan

senyum manis di bibirnya.Wang Sin memandang wajah manis di pangkuannya itu

yang nampak luar biasa cantiknya di bawah sinar bulan. Kembali ia menarik napas

“Alangkah cantik manisnya Ci Ying ….sayang sekali ia berubah menjadi seorang

berhati ganas.” Kemudian ia melamun, teringat akan pengalaman-pengalaman Ci

Ying dahulu. Belum sempat ia mendengarkan cerita Ci Ying semenjak mereka

Koleksi Kang Zusi

berpisah. Bagaimana nasib bocah kecil yang dulu dibawa oleh gadis ini? Besok akan

kutanyakan dia dan perlahan-lahan akan kujelaskan tentang pernikahanku dengan

Ong Hui, demikian pikir Wang Sin.

Dengan pikiran ini ia menjadi lega. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.

Dilihatnya tubuh Ci Ying bergerak seperti kedinginan ketika angin bertiup. Ia melepas

baju luarnya dan menyelimuti gadis itu.

“Kanda Wang Sin…..” gadis itu berbisik perlahan tanpa membuka matanya. Kiranya

dia sedang bermimpi, Wang Sin lalu memeramkan matanya dan saking lelahnya ia

tertidur sambil bersandar pada pohon. Api unggun masih menyala, lidah api mobat

mabit (bergoyang-goyang) tertiup angin. Wang Sin telah menaruh sebatang cabang

kering yang besar sehingga dalam waktu dua tiga jam api itu takkan padam.

Tiba-tiba Wang Sin terkejut ketika mendengar suara berisik. Ia membuka matanya

dan segera melompat bangun ketika melihat Ci Ying tertawa-tawa sambil bergerakgerak

ke sana ke mari. Dia sedang dikeroyok tiga orang laki-laki tinggi besar yang

wajahnya tidak kelihatan nyata dalam sinar yang suram itu. Api unggun sudah hampir

padam sedangkan bulan bersembunyi di balik awan hitam yang tebal.

Sebelum ia sempat bergerak, terdengar suara “Krakkk!” disusul jerit mengerikan.

Ternyata seorang pengeroyok telah kena dihantam dadanya oleh tangan kiri Ci Ying

sehingga ia terjungkal roboh di dekat api unggun. Sambil melayani lawan yang dua

orang lagi, Ci Ying tertawa dan kakinya menyambar. Tubuh orang itu terlempar dan

…… jatuh ke atas api yang masih marong dan merah.

Orang itu berkelojotan, Wang Sin mengkirik. Cepat ia melompat dan menggunakan

kakinya menyingkirkan orang yang mulai terbakar itu dari atas api unggun. Siapa pun

juga itu, tidak tega ia melihat orang dibakar hidup-hidup.

“Kanda Wang Sin, kau sudah bangun? Lihat aku robohkan dua ekor kadal busuk ini!”

kata Ci Ying. Cepat sekali sabuk merahnya bergerak-gerak seperti ular dan dua orang

yang bersenjata golok itu repot sekali menghadapi desakan Ci Ying yang lihai. Bagi

mereka, ujung sabuk merah itu berubah menjadi belasan, membuat mata mereka

kabur dan permainan golok mereka kacau.

Padahal menurut penglihatan Wang Sin, ilmu golok dua orang itu tidak lemah, bahkan

cepat dan kuat sekali. Pada waktu sebuah golok menyambar leher Ci Ying dan golok

kedua menusuk perutnya, gadis itu menggunakan ujung sabuknya melibat golok

pertama dan kakinya menendang golok kedua yang mengancam perut. Hebat sekali

gerakan gadis ini. Tangkisan golok menggunakan tendangan kaki membuktikan

bahwa tingkat kepandaiannya memang sudah tinggi, kalau tidak demikian tidak nanti

dia berani menendang golok yang sedang menusuk perutnya.

Golok terpental dan tendangan susulan tepat mengenai perut orang yang gemuk.

“Blukkk!” Perut yang besar seperti perut kerbau itu terkena ciuman ujung sepatu Ci

Ying mengeluarkan suara seperti tambur dipukul. Orangnya terjengkang dan tidak

bangun lagi.

Koleksi Kang Zusi

Adapun orang ketiga yang goloknya terkibat, mencoba untuk membetot senjatanya,

akan tetapi sia-sia. Malah tiba-tiba goloknya itu terbang terlepas dari tangannya,

terayun-ayun dibelit ujung sabuk dan alangkah kaget ia melihat goloknya sendiri itu

membalik dan “terbang” ke arah kepalanya. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi

golok itu yang dipegangi oleh libatan sabuk terus mengejarnya dan akhirnya

“Crakkk!” kepalanya terbela oleh goloknya sendiri.

“Hi-hi-hi, baru kalian merasa kelihaian nonamu!” Ci Ying tertawa girang. Golok

rampasan di ujung sabuknya itu ia gerak-gerakan lagi, kini menyambar kepada dua

orang yang lain yang sudah ia robohkan lebih dulu. Terdengar bunyi “crakk-crakk!”

dua kali dan kepala dua orang inipun terbelah dua.

Wang Sin hendak mencegah sudah tidak keburu lagi. Apalagi ia sedang terkejut

mendengar datangnya suara kaki kuda dan kaki orang yang banyak sekali, disertai

teriakan-teriakan marah. Tiba-tiba angin besar bertiup dan api unggun yang sudah

kehabisan umpan itu padam, tinggal bunga apinya yang berterbangan ke sana sini

mendatangkan penglihatan yang amat indah. Keadaan menjadi gelap sekali dan angin

bertiup makin keras sampai hampir tidak tertahan lagi.

Wang Sin bertiarap dan di lain saat ia meraba muka Ci Ying yang ternyata juga sudah

bertiarap dekat sekali dengannya. Muka gadis itu begitu dekat sampai ia dapat

merasai napas yang hangat dan bau yang harum. Hatinya berdebar lagi seperti tadi

ketika gadis itu tertidur di atas pangkuannya. Benar aneh, ganas dan lihai sekali,

“Hi-hi, kanda Wang Sin. Bagaimana kau melihat jurus-jurusku tadi?” Gadis itu

berkata kuat-kuat karena suara angin membuat orang sukar bicara dan takkan

terdengar kalau tidak berteriak. “Kau mau tahu namanya? Ketika aku robohkan orang

pertama, itulah jurus Hek-mo-to-sim (Iblis Hitam Menyambar Hati), ketika aku

menendang perut kerbau gemuk itu aku menggunakan jurus tendangan Toat-beng-twi

(Tendangan Merenggut Nyawa) dan yang terakhir tadi sabuk merahku bergerak

merampas golok dengan jurus Iblis Terbang Mencari Mayat. Bagus, bukan?”

Wang Sin bergidik. Sudah banyak ia mendengar ilmu-ilmu silat di dunia Kang-ouw

dari suhunya, juga dari Ong Hui, akan tetapi belum pernah ia melihat jurus-jurus yang

demikian ganas dan lihai, malah juga nama jurus-jurus itupun mengerikan.

“Memang lihai……” jawabnya, “akan tetapi……. terlalu ganas. Ci Ying, kenapa kau

bunuh orang-orang itu, malah kau membunuh secara demikian mengerikan?” Iapun

harus bicara keras untuk melawan riuhnya suara angin ribut.

“Apa kau bilang? Bicara dekat telingaku sini!” Ci Ying mendekatkan mukanya

sehingga mulut Wang Sin sampai menempel di pipinya, dekat telinga. Jantung Wang

Sin berdebar dan mukanya terasa panas saking jengahnya.

“Eh, bibirmu kok panas amat?” Ci Ying berseru.

Wang Sin menjauhkan mukanya akan tetapi, Ci Ying menempelkannya lagi. “Biarlah,

panaspun tidak apa. Lekas kau bilang, apa yang kaukatakan tadi.” Wang Sin

mengulangi kata-katanya.

Koleksi Kang Zusi

“Hi-hi, kau bilang ganas? Kau anggap aku keji membunuh tiga ekor kadal busuk itu?

Kanda Wang Sin, tahulah kau siapa mereka itu? Mereka adalah sebangsa srigalasrigala

hitam.”

Wang Sin kaget. Pernah ia mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di daerah

itu, orang-orang jahat sekali yang tidak segan melakukan kejahatan macam apapun

juga. Kadang-kadang menjadi saudagar-saudagar, bisa juga menjadi pencuri kuda,

perampok atau penculik. Orang-orang begini disebut srigala hitam.

Ia sekarang mengerti mengapa Ci Ying membunuh mereka, akan tetapi kalau ia ingat

akan cara keji yang dipergunakan gadis itu, ia berkata perlahan. “Membunuh orangorang

jahat memang tugas orang gagah, hanya cara kau membunuh mereka itu terlalu

ganas.”

Rambut Ci Ying terlepas dari sanggulnya karena tiupan angin yang amat keras.

Rambut itu menyambar-nyambar muka Wang Sin, mendatangkan rasa geli dan gatal.

Sia-sia saja ia mencoba untuk menyingkirkan rambut itu karena amat banyak dan

panjang. Di saat itu juga ia mencium bau harum yang keluar dari rambut panjang itu.

Ci Ying di dalam gelap cepat mengetahui ini, dengan tertawa kecil ia menyingkap

rambut dan membetulkan lagi.

“Kau tahu apa yang terjadi dengan diriku kalau sampai aku terjatuh ke dalam tangan

kadal-kadal itu? Lebih ganas lagi mereka!”

Wang Sin tadinya tidak mau melayani gadis ini berbicara, hatinya sudah tak senang

dan marah menyaksikan gadis ini begitu ganas dan kejam. Akan tetapi suara gadis ini

menimbulkan ingin tahunya.

“Bagaimana?” tanyanya singkat.

Suara Ci Ying berubah dingin ketika menjawab. “Hemm, kalau mereka tidak kubunuh

dan sampai aku dapat tertawan, mereka itu bertiga, mungkin dengan konco-konconya

yang lebih banyak lagi, akan mempermainkan diriku sampai mereka merasa bosan,

kalau sudah bosan mereka akan menjual diriku kepada siapa juga yang berani

membayar. Huh!”

Merah muka Wang Sin dan kembali ia bergidik. Sebagai seorang gadis, bagaimana Ci

Ying bisa bicara tentang hal ini demikian terang-terangan terdengarnya tanpa malumalu.

Ia makin tak puas.

Angin ribut masih terus mengamuk sehingga kedua orang muda itu belum berani

bangun, masih bertiarap di atas rumput. Sampai lama mereka diam saja. Kemudian

Wang Sin yang mengetahui keadaan gadis itu mengajukan pertanyaan.

“Ci Ying, dulu kau pergi membawa anak kecil itu, di mana sekarang?”

Gadis itu menghela napas. “Kau maksudkan Wang Tui? Ah, dia telah mati.”

“Mati?” Suara Wang Sin mengandung iba, “Bagaimana dia sampai mati?”

Koleksi Kang Zusi

“Aku ditangkap anjing-anjing hina dan anak itu hanyut terus dalam perahu.

Bagaimana lagi kalau tidak mati?”

Wang Sin dapat menduga apa yang terjadi kemudian. “Lalu kau ditolong oleh orang

yang menjadi gurumu, bukan? Orang macam apakah gurumu itu Ci Ying.

“Orang macam apa? Guruku adalah Cheng Hoa Suthai, ratu dari Heng-toan-san.

Siapa tidak mengenalnya?” kata Ci Ying bangga. Wang Sin diam saja, ia anggap

ucapan gadis ini sombong. Mana ada ratu di Heng-toan-san?

“Kanda Wang Sin, masih ingatkah kau ketika dahulu kau suka bernyanyi untukku

ketika kau menggembala domba-domba? Sekarang angin ribut masih mengganas,

tidak dapat kita duduk dengan enak. Supaya tidak membosankan dan mengusir hawa

dingin, maukah kau bernyanyi untukku seperti dulu lagi?”

Hati Wang Sin sebetulnya sudah dingin, akan tetapi ia merasa tidak enak juga kalau ia

bersikap terlalu kaku kepada bekas tunangannya ini. Apalagi bau rumput di bawa

mukanya dan keadaan di situ mengingatkan dia akan penghidupan masa lalu, lalu

membuka mulut bernyanyi.

Nyanyian yang merupakan keluhan para budak yang hidupnya tertindas. Suaranya

keras dan nyaring. Nyanyian ini membangkitkan kembali semangatnya dan membuat

ia merasa lebih dekat dengan Ci Ying malah menghidupkan lagi cinta kasih terhadap

gadis itu.

“Wahai, Himalaya yang tinggi.

Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang.

Dapatkah kalian memberi jawaban?

Kedua tanganku kuat bekerja berat.

Tapi tiada seperseratus hasilnya.

Menjadi bagianku!

Aku punya mulut.

Tak dapat mengeluarkan suara hati.

Telingaku disusur tuli.

Mataku disusur buta.

Aku punya nyawa.

Tak lebih berharga seekor domba!

Wahai, Himalaya sembunyikan aku

dipuncak-puncakmu!

Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku

di muaramu!”

Setelah selesai bernyanyi, Wang Sin melihat gadis itu telah merebahkan kepala di atas

dadanya sambil memeluknya. Ia makin terharu dan mengira bahwa gadis itu tentu

menangis. Di dalam gelap itu mana ia tahu bahwa Ci Ying sama sekali tidak

menangis malah tersenyum? Agaknya bagi gadis ini yang sudah menjadi keras hati,

tidak ada lagi watak untuk menangis. Karena terharu dan mengingat akan nasib gadis

yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai seorangpun di dunia yang dapat

memikirkannya kecuali dia sendiri, Wang Sin mengelus-elus kepala Ci Ying, cinta

kasih yang lama terpendam sekarang timbul kembali.

Koleksi Kang Zusi

“Ci Ying, jangan berduka, jangan kau menangis. Aku kan sudah berada di

sampingmu?” katanya perlahan.

Ci Ying tidak menjawab, agaknya memperhatikan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara

berbisik, sama sekali di dalam suara ini tidak ada tanda-tanda bekas menangis.

“Kanda Wang Sin, tahukah kau bahwa telah datang banyak orang?”

“Aku tahu. Tadi sebelum datang angin ribut aku mendengar suara kaki orang dan

kuda.”

“Kita telah dikurung oleh belasan orang.”

Wang Sin terkejut dan tubuhnya bergerak hendak bangun. Angin ribut telah mereda.

Akan tetapi Ci Ying menahannya untuk rebah terus.

“Perlu apa ribut-ribut ? Kita perlu mengaso, lebih baik kita tidur dulu. Di dalam gelap

mereka takkan menyerang. Andaikata menyerang juga, dengan kepandaian kita

berdua, apa yang kita takuti? Kau lihat, besok terang tanah aku akan menghajar

mereka dan kita merampas dua ekor kuda.” Gadis itu tertawa perlahan.

Terpaksa Wang Sin rebah kembali, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Musuh

mengepung, jumlah mereka belasan orang, Inilah berbahaya! Bagaimana Ci Ying bisa

enak-enak tidur? Ia bangun duduk dan melihat gadis itu benar-benar sudah pulas

dengan kepala rebah di pangkuannya.

Napas gadis itu perlahan dan rata, tanda sudah pulas. Dia sendiri tidak dapat tidur dan

duduk diam melakukan siulan (samadhi) seperti yang ia pelajari dari gurunya untuk

mengumpulkan semangat dan tenaga.

Menjelang pagi ia sudah dapat melihat bayangan-bayangan orang dan benar seperti

ucapan Ci Ying malam tadi, ada belasan orang yang berdiri merupakan pagar

mengurung mereka. Dia menghitung. Enam belas orang dan di tangan tiap orang

terlihat golok besar. Tiga orang yang malam tadi dibunuh Ci Ying sudah tidak

kelihatan mayatnya lagi. Mungkin diambil oleh kawan-kawannya.

Agak jauh dari situ tampak segerombolan kuda diikat pada pohon. Dia tidak dapat

melihat jelas muka belasan orang itu, hanya dari bayangan mereka ia tahu bahwa

mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tinggi besar.

Sementara itu, enam belas orang yang mengurung ketika melihat gadis tidur pulas

dengan kepala di pangkuan seorang pemuda, mengeluarkan seruan marah. Mereka

mulai bergerak maju dan mengurung makin rapat.

Wang Sin melihat ini menjadi khawatir. Ia hendak menurunkan kepala Ci Ying dari

atas pangkuannya agar ia dapat melompat berdiri untuk menghadapi keroyokan

mereka itu. Akan tetapi hebatnya ketika ia mengangkat kepala gadis itu, ternyata tidak

bergeming. Kepala itu terasa amat berat olehnya dan tak dapat didorong turun.

“Ci Ying….. Ci Ying…… bangunlah! Mereka mulai mengancam……!” katanya di dekat

telinga gadis itu.

Koleksi Kang Zusi

Gadis itu mengeluarkan suara lirih, menggeliat dan mengangkat dua lengannya ke

atas. Dengan belakang tangan kiri ia menutupi mulutnya yang menguap kecil.

“Aiiihhh, enaknya aku tidur…….” katanya lirih, matanya disipitkan dan mulutnya

tersenyum. Bertahun-tahun baru kali ini aku tidur nyenyak.” Ia lalu mengulur

tangannya mengusap dagu Wang Sin yang licin.

Wang Sin menjadi kaget dan jengah sendiri. Bagaimana gadis ini begitu tak tahu

malu, di depan banyak orang asing membelai-belainya? Perlahan ia mendorong

tangan gadis itu dan berkata. “Ci Ying, orang-orang mulai mengurung rapat dan

hendak menyerang. Kita harus siap sedia!”

Akan tetapi gadis itu malah meramkan matanya kembali lalu berkata sambil

tersenyum. “Sepagi ini sudah banyak kadal berkeliaran, sungguh menjemukan!”

Ketika tiga orang malam tadi terbunuh, keadaan hanya remang-remang, maka semua

orang itu tidak melihat jelas bagaimana kawan-kawan mereka terbunuh dan siapa di

antara dua orang muda itu yang membunuh. Sekarang mendengar gadis itu memaki

kadal kepada mereka, tentu saja mereka menjadi marah sekali.

Seorang di antara mereka, yang berkumis panjang, mengangkat golok dan berseru

memberi komando. “Tangkap yang betina, bikin mampus yang jantan!”

Wang Sin mendongkol sekali. Sikap dan kata-kata semua orang itu seakan-akan

sedang mengurung dua ekor atau sepasang binatang hutan saja. Ia kembali hendak

melompat, akan tetapi tetap saja ia tidak kuat menurunkan kepala Ci Ying yang masih

meramkan mata sambil tersenyum manis.

Pada saat itu, belasan orang itu sudah mendesak maju dan di antara mereka sudah

mengangkat golok hendak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan

kedua tangan Ci Ying bergerak. Sinar perak berkelebat dan tahu-tahu terdengar jeritjerit

Lalu empat orang di antara para penyerbu itu roboh terjengkang, berkelonjotan dan

diam tak bergerak lagi. Ternyata di tenggorokan mereka sudah menancap sebatang

jarum perak.

Selagi semua pengeroyok tertegun, Ci Ying sudah melompat bangun sambil tertawa

mencabut sabuk suteranya.

“Kanda Wang Sin, kau lihat baik-baik ujung sabukku!” kata Ci Ying tertawa dan tibatiba

sinar merah berkelebat ke depan. Tahu-tahu ujung sabuknya yang kanan kiri

sudah menyerang. Dua orang yang diserang mencoba untuk menyabet sabuk itu

dengan golok mereka. Akan tetapi gerakan sabuk ini terlalu cepat bagi mereka

sehingga yang nampak hanya sinarnya. Sabetan golok mereka meleset dan tanpa

dapat dicegah lagi, kedua ujung sabuk itu telah menotok jalan darah di dekat leher.

“Auukkk!” Dua orang itu melepaskan golok dan memuntahkan darah segar, tubuh

mereka terguling dan napas mereka empas-empis.

Koleksi Kang Zusi

Kagetnya para penyerang itu bukan kepalang. Dalam dua kali gerakan saja

berkuranglah mereka dengan enam orang anggauta. Si Kumis Panjang tahu bahwa

wanita cantik di depannya ini bukan sembarangan orang maka sambil melintangkan

golok ia berseru menahan kawan-kawannya jangan maju, kemudian ia merangkapkan

kedua tangannya ke dada sambil menghadapi Ci Ying dan bertanya.

“Nona muda yang gagah siapakah dan dari partai mana? Harap sudi memberi tahu

agar kami tidak salah tangan menyerang orang segolongan!”

Ci Ying mengeluarkan suara mengejek, “Apa matamu buta dan kau tidak melihat

ini?” Ia menunjuk ke arah kepala sendiri di mana terdapat sebuah penghias rambut

terbuat dari perak dan batu permata hijau, merupakan setangkai bunga berwarna hijau.

Terdengar seruan-seruan kaget dan si kumis panjang itupun pucat. “Cheng-hoa-pai

….!” Memang Cheng Hoa Suthai, guru Ci Ying, adalah pendiri dari partai yang ia beri

nama Cheng-hoa-pai (Partai Bunga Hijau) yang ia ambil dari namanya. Tak

seorangpun sebetulnya mengetahui siapa nama asli Cheng Hoa Suthai.

Ia mendapat panggilan Cheng Hoa Suthai adalah karena rambutnya selalu dihias

bunga hijau, biarpun ia sudah menjadi seorang pendeta. Karena banyak pengikut dan

anak muridnya, maka ia mendirikan Cheng-hoa-pai yang berkedudukan di Heng-toansan.

Cheng-hoa-pai ini terkenal sekali di dunia kang-ouw, anak-anak murid Cheng-hoa-pai

adalah wanita-wanita yang selalu berwatak ganas dan berilmu tinggi, maka nama

partai itu ditakuti orang. Apalagi oleh para penjahat karena biarpun ganas dan kejam,

harus pula diakui bahwa yang dimusuhi oleh Cheng-hoa-pai memang sebagian besar

adalah penjahat-penjahat. Hal ini bukan berarti bahwa partai ini, adalah partai bersih.

Bagi Cheng-hoa-pai, tidak ada istilah baik maupun buruk, pendeknya yang

menghalangi dan menentang, mereka ganyang semua, baik maupun buruk. Adanya

nama ini ditakuti sebagian besar oleh kalangan penjahat, mudah pula dimengerti,

Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita dan banyak di antaranya yang cantikcantik,

tentu saja membuat orang-orang jahat suka datang mengganggu. Maka

banyaklah orang jahat yang sudah menjadi korban keganasan Cheng-hoa-pai.

Demikianlah, tidak mengherankan apabila si kumis panjang itupun menjadi pucat

ketika mengenal bunga hijau di rambut Ci Ying. Akan tetapi ia kelihatan bersangsi.

Dia sudah banyak mendengar tentang Cheng-hoa-pai.

Anak-anak murid atau anggauta-anggauta Cheng-hoa-pai biasanya mempunyai hiasan

kembang hijau yang hidup dan yang memakai kembang hijau dari batu kumala

hanyalah Cheng Hoa Suthai sendiri dan beberapa orang anak murid yang bertingkat

tinggi, yang sudah berusia tua. Masa gadis remaja ini sudah memakai kembang

tiruan? Jangan-jangan gadis ini hanya mendapatkan di jalan lalu dipakai dan

dipergunakan untuk menggertak.

“Nona….. nona dari Cheng-hoa-pai ….? Akan tetapi……” Ia menggagap.

Koleksi Kang Zusi

Ci Ying belum lama turun gunung. Ia tahu bahwa orang belum mengenalnya, maka

menjadi sangsi dan mengira dia membohong. Sambil tertawa sabuk merahnya

bergerak, meluncur ke depan, ke arah si kumis panjang. Orang ini kaget sekali dan

melangkah mundur, namun tiba-tiba golok di tangannya terbetot secara tiba-tiba

sehingga terlepas dari pegangannya. Ia melihat ujung sabuk merah yang membetot

goloknya itu membawa goloknya terbang.

Sekali menggerakkan tangan gadis itu membuat golokanya terlempar ke udara,

kemudian gerakan kedua menggetarkan ujung sabuk yang menyambar ke arah golok

ditengah-tengah. “Krakk!” Golok itu patah menjadi dua kena dipecut oleh sabuk.

“Hebat ….!” seru si kumis panjang. Ia sudah mendengar akan kelihaian Cheng Hoa

Suthai bermain kebutan atau hudtim, dan permainan sabuk inipun menunjukkan

bahwa gadis ini luar biasa lihainya. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri

berlutut, diturut oleh kawan-kawannya, yang kesemuanya dengan dia tinggal sepuluh

orang itu.

“Siauwjin (hamba yang rendah) mempunyai mata tapi tidak melihat Gunung Thaisan

di depan mata. Hamba sekonco telah membikin marah lihiap (pendekar wanita),

mohon lihiap sudi memberi ampun.” Kata si kumis panjang dengan muka ketakutan.

Kembali Ci Ying mengeluarkan suara menghina dari hidungnya. “Hemmm, sebelum

dihajar mana kalian bisa melihat orang. Kalian sudah kurang ajar, sekarang aku mau

membunuh kalian semua. Kalian mau apa?” Sambil berkata demikian, nona ini

melangkah maju, sikapnya mengancam.

“Ampun, lihiap…. ampun….!” Suara minta ampun dari sepuluh orang ini riuh rendah.

Benar-benar hebat dan mengherankan sekali. Sepuluh orang ini adalah bangsa kasar

yang biasanya tidak takut pada setan sekalipun, dapat membunuh orang tanpa

berkedip, dapat menyiksa orang sampai mati sambil tertawa-tawa. Akan tetapi

menghadapi Ci Ying mereka minta ampun.

Melihat ini Ci Ying kelihatan gembira sekali. “Hi-hi-hi-hi, aku mau bunuh kalian.

Akan kubeset kulit dadamu seorang demi seorang, kucabut jantungmu untuk

diberikan kepada srigala-srigala liar. Hi-hi-hi!”

Seperti ayam-ayam makan padi di tanah, sepuluh orang itu mengangguk-anggukkan

kepala sampai jidat mereka berdarah membentur batu, minta ampun dengan suara

mohon dikasihani.

Wang Sin melompat bangun. “Ci Ying kauampunkan mereka!” Suaranya keren, ia

menahan kemarahannya karena tidak tahan melihat sikap Ci Ying yang amat ganas

Ci Ying menengok kepadanya dan wajah yang tadinya keren itu berubah lembut.

“Kau menghendaki demikian kanda Wang Sin? Baiklah, aku ampuni jiwa sepuluh

ekor kadal ini, akan tetapi aku tidak bisa mengampuni matanya yang tidak melihat

orang.” Ia memutar tubuh dan membentak. “Bekas-bekas bangkai! Hayo kalian copot

mata kirimu dan berikan kepadaku. Baru aku mau ampuni kalian!”

Koleksi Kang Zusi

10. Hwesio Murtad dari Tibet.

Wang Sin hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Sepuluh orang itu terlalu girang

kalau hanya menerima hukuman seperti itu, dianggap amat ringan. Dengan cepat

mereka hampir berbareng menggunakan telunjuk menusuk mata kiri masing-masing,

mencokelnya keluar dan berganti-ganti menyerahkan biji mata mereka itu kepada Ci

Ying. Gadis ini sambil tertawa-tawa menerima sepuluh buah biji mata itu dan

memasukkannya ke dalam kantong jarum rahasia.

“Kalian boleh pergi. Bawa pergi bangkai-bangkai yang bau ini dan tinggalkan dua

kuda terbaik lengkap dengan perbekalan jalan!”

Sepuluh orang itu sambil menggunakan tangan kiri menutupi mata kiri yang sudah

bolong dan mengalirkan darah, tergesa-gesa pergi dari situ membawa mayat sembilan

orang dan meninggalkan dua ekor kuda besar yang paling baik. Sebelum pergi, tidak

lupa mereka menjura menghaturkan terima kasih kepada Ci Ying.

Hebat pemandangan ini. Wang Sin sampai merasa betapa kedua kakinya menggigil.

Orang lain boleh takut setengah mampus kepada Ci Ying, akan tetapi dia tidak.

Dalam pandangannya, gadis itu masih tetap Ci Ying yang dahulu, tunangannya yang

lincah jenaka. Mengapa sekarang berubah begini?

“Ci Ying, kau benar-benar mengerikan. Untuk apa kau simpan sepuluh mata itu?”

tanyanya, suaranya masih gemetar.

Ci Ying tertawa, lalu mengambil sebotol minyak dari sakunya. Dengan muka

tersenyum ia menuang isi botol ke dalam kantong sehingga sepuluh buah mata itu

terendam minyak yang berwarna merah.

“Kau tidak tahu. Dengan obat ini kesepuluh buah mata itu menjadi keras seperti

gundu-gundu beling yang indah. Selain indah untuk permainan, juga berguna untuk

dijadikan senjata am-gi (senjata gelap). Bukankah lebih bagus dari segala macam

pelor besi ? Hi-hi-hi!”

“Kau terlalu ganas, Ci Ying, terlalu kejam kepada mereka…..”

“Mereka orang-orang jahat!”

“Biarpun begitu, cukup kau mengancam dan menakuti mereka, agar mereka

mengubah hidup menjadi orang-orang baik.”

“Heh, tidak ada orang baik di dunia ini, semuanya jahat. Yang baik hanya kita, eh,

kanda Wang Sin, yang tidak hanya kau dan aku!” Inilah “filsafat” yang selalu

diajarkan oleh Cheng Hoa Suthai ketua Cheng-hoa-pai. Semua anggota Cheng-hoapai

menganggap bahwa di dunia ini hanya sendiri yang baik. Orang-orang lain semua

jahat, karena harus dimusuhi, dibasmi dan kalau perlu dibunuh.

Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka. Sekarang perjalanan dapat

dilakukan dengan cepat karena mereka sudah mendapatkan dua ekor kuda yang baik

dan yang sudah sering kali dipergunakan orang menjelajah daerah pegunungan itu.

Koleksi Kang Zusi

Mula-mula Wang Sin berpikir bahwa nanti kalau dia dan Ci Ying sudah berhasil

membunuh Yang Nam, ia akan menjauhkan diri dari gadis ini, untuk kembali ke Kunlun,

mencari isterinya.

Akan tetapi makin lama melakukan perjalanan dengan Ci Ying, makin tahulah ia akan

sifat gadis ini dan hatinya menjadi terharu. Ci Ying sebetulnya masih seperti dulu,

lincah jenaka. Hanya saja, ada pengaruh aneh yang meliputi diri gadis ini dan

pengaruh ini seperti penyakit dan kadang-kadang datang kadang-kadang pergi. Kalau

lagi waras, gadis ini tiada bedanya dengan Ci Ying tunangannya dulu. Akan tetapi

kalau “kumat”, wah, benar mengerikan. Watak lincah jenaka berubah menjadi dingin

keras, kehalusan berubah kekasaran, seorang dewi berubah menjadi seorang siluman

Ia dapat menduga bahwa ini tentu akibat dari pelajarannya, akibat dari hubungannya

dengan Cheng-hoa-pai dan diam-diam ia menaruh kasihan. Akan tetapi dalam

keadaan bagaimanapun juga, sedang waras atau sedang gila, gadis itu tetap baik

kepadanya dan selalu menunjukkan cinta kasih yang amat besar. Bagaimana ia tega

untuk meninggalkan gadis ini?

Dalam hal ilmu silat, ia kalah jauh. Ia mengerti bahwa hal ini bukan sekali-kali karena

ia kalah rajin belajar, melainkan karena orang yang menggembleng diri Ci Ying

memiliki kesaktian luar biasa, memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada

guru-gurunya di Kun-lun-pai. Diam-diam ia sering bergidik kalau memikirkan

bagaimana hebatnya kepandaian dari Cheng Hoa Suthai orang yang menjadi guru Ci

Ying, yang menjadi ketua Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san

Hari masih pagi sekali ketika dua orang muda ini sudah tiba di luar kota Lasha. Dari

jauh sudah nampak bangunan-bangunan yang tinggi dan megah. Mereka menjadi

kagum dan terpesona. Sampai lama mereka menghentikan kuda dan memandang ke

depan, merasa seperti mimpi. Sudah semenjak kecil mereka mendengar hebatnya

pemandangan di kota Lasha. Kota tempat tinggal para dewa.

******

Pada masa itu, Tibet masih diperintah oleh seorang raja. Akan tetapi, biarpun Tibet

merupakan kerajaan, namun sebetulnya yang berkuasa adalah para pendeta Lama.

Mereka ini besar sekali pengaruhnya dan tidak ada keputusan raja dikeluarkan tanpa

lebih dulu minta persetujuan dari para pendeta-pendeta kepala.

Sudah terkenal sampai ke daratan Tiongkok bahwa di Lasha ini adalah kedungnya

ilmu-ilmu yang aneh dan bahwa para pendeta Tibet ini banyak yang memiliki ilmu

kepandaian tinggi. Kabarnya Tat Mo Couwsu banyak meninggalkan kitab-kitab yang

tinggi luar biasa di daerah ini yang menjadi kedungnya agama Buddha.

Tempat inilah merupakan “stasiun”, tempat agama Buddha menyeberang dari India ke

Tiongkok, maka tidak mengherankan apabila di situ terdapat banyak sekali pendetapendeta

yang pandai. Raja yang masih muda seakan-akan hanya boneka di tangan

para pendeta kepala.

Koleksi Kang Zusi

Sudah jamak di dunia ini bahwa segala keadaan adalah dwipura. Ada tinggi ada

rendah, ada besar ada kecil, ada baik ada buruk. Bukan hanya jamak, memang sudah

seharusnya demikian menurut hukum Im-Yang. Tidak ada Im, mana bisa ada Yang?

Tidak ada sebutan tinggi, mana bisa muncul sebutan rendah?

Kalau manusia tidak mengenal apa itu artinya buruk, mana bisa mengenal pula artinya

baik? Dua sifat bertentangan, Im dan Yang inilah yang menghidupkan sesuatu yang

menjadi sumber dari pada pengertian kita sehingga timbullah pengertian untuk

mengenal, membedakan, dan karenanya panca indera kita dapat dipergunakan.

Demikian pula kehidupan di kalangan para pendeta Lama. Sungguhpun mereka itu

semenjak kecil dijejali ajaran-ajaran agama yang selalu mengutamakan kebaikan

melulu, namun dasar manusia ada yang baik tentu ada yang buruk. Kalau semua

manusia baik, dunia tidak sekacau sekarang ini, tentu berubah menjadi taman

Bukan hanya terdapat perbedaan-perbedaan, malah di antara pendeta-pendeta yang

sudah tinggi tingkatnya, timbul bermacam aliran. Memang banyak terdapat pendetapendeta

Lama yang betul-betul penganut agama yang amat saleh, beribadat dan taat

sehingga merupakan orang-orang alim yang menyucikan diri.

Akan tetapi, tidak kurang-kurang pula banyaknya yang tersesat, menyeleweng dari

ajaran agama atau lebih tegas menyelewengkan agama menjadi ilmu-ilmu setan atau

ilmu-ilmu hitam. Malah banyak diantaranya yang begitu rendah sampai mau menjadi

penjilat-penjilat para bangsawan untuk dapat mengecap kenikmatan duniawi sepuaspuasnya

dan sekenyang-kenyangnya.

Seperti telah diketahui, putera tuan tanah Yang Can di Loka, yaitu Yang Nam, setelah

menikah dengan puteri seorang berpangkat di Lasha, dia mendapat kedudukan

pangkat yang lumayan. Di Lasha pada waktu itu, seperti di kota-kota besar lain di

negara yang belum sempurna keadaannya, kemuliaan seseorang ditentukan oleh

pangkat dan hartanya. Kalau ia berpangkat, apa pula berharta, mulialah dia. Besarlah

pengaruh dan kekuasaannya.

Yang Nam adalah putera tuan tanah yang kaya raya, maka dengan menggunakan

hartanya, amat mudah baginya untuk menarik bantuan para pendeta Lama yang silau

matanya oleh emas untuk menjadi pelindungnya. Malah ia berhasil pula

mempengaruhi Thu Bi Tan, seorang di antara “empat besar” yaitu empat orang guru

besar di antara pendeta Lama yang dianggap paling pandai dan paling tinggi

Memang banyak di antara para hwesio yang menyeleweng, akan tetapi selama ini,

empat orang guru besar itu tetap dapat menjaga kesucian diri. Hanya setelah Yang

Nam pindah ke Lasha dan diam-diam mengadakan perhubungan dengan Thu Bi Tan,

hwesio kepala ini akhirnya kena dipengaruhi dan merupakan pelindung Yang Nam.

Makin besarlah kekuasaan Yang Nam setelah semua orang mengetahui bahwa orang

muda ini adalah “sahabat baik” Thu Bi Tan yang ditakuti orang.

Ketika Yang Nam mendengar tentang kejadian di Loka, di mana ayahnya dan antekanteknya

tewas oleh Ci Ying dan Wang Sin, ia terkejut setengah mati. Sambil berlutut

Koleksi Kang Zusi

ia menangis di depan Thu Bi Tan Hwesio, menceritakan malapetaka yang menimpa

keluarga ayahnya di Loka. Sebetulnya, Yang Nam lebih banyak merasa takut dari

pada berduka, karena ia maklum bahwa tentu dua orang bekas budak itu akan

mengetahui bahwa ia telah pindah ke Lasha dan mencarinya untuk membalas dendam.

“Sudahlah, Taijin, jangan berduka. Mati hidup bukan milik raga kita dan ayahmu

sudah mati biarlah ia mendapat tempat yang tenteram. Adapun dua orang

pemberontak itu, biar mereka berkepala tiga berlengan enam, ada pinceng yang akan

menangkapnya agar kau dapat menghukumnya,” kata Thu Bi Tan menghibur.

Akan tetapi ketika mendengar dari para hwesio yang dapat melarikan diri dari Loka

ke Lasha betapa banyak pula pendeta dikepalai Thouw Tan Hwesio terbinasa di Loka,

Thu Bi Tan Hwesio menjadi marah sekali. Tidak hanya dia seorang yang marah,

malah tiga orang pendeta kepala yang lain diam-diam merasa tak senang.

Mereka dapat mengerti kalau ada budak yang memberontak dan membunuh tuan

tanah, akan tetapi membunuh pendeta-pendeta, itulah keterlaluan, pikir mereka. Tentu

saja para pendeta kepala kerjanya hanya bersembahyang di dalam kelenteng ini tidak

tahu akan sepak terjang murid-murid mereka yang menyeleweng itu.

Biasanya tiga orang pendeta kepala yang lain, adalah orang-orang yang beribadat dan

tidak mudah marah, akan tetapi kali ini mereka tidak membantah ketika Thu Bi Tan

Hwesio memberi tugas kepada seorang murid kepala yang bernama Ga Lung Hwesio

untuk membawa beberapa orang saudara dan melakukan pengejaran serta menangkap

dua orang muda yang telah mengamuk di Loka itu.

Ga Lung Hwesio adalah seorang pendeta gemuk yang berilmu tinggi. Kepandaiannya

masih jauh lebih tinggi daripada Thouw Tan Hwesio dan dia merupakan murid nomor

satu Thu Bi Tan Hwesio, Peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari”

terbukti kebenarannya di sini. Karena Thu Bi Tan Hwesio menjadi “sahabat” Yang

Nam, tentu saja murid-murid ini bukan hanya sekedar bersahabat, malah boleh

dibilang dia menjadi antek pembesar muda itu.

Kalau di Loka Yang Nam dahulu mengandalkan Thouw Tan Hwesio, maka di Lasha

ia mempunyai Ga Lung Hwesio sebagai pengawal pribadinya. Maka terdengar

perintah guru besar ini kepada muridnya. Diam-diam Yang Nam lalu cepat

menghujani Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya dengan hadiah-hadiah dan

janji-janji muluk sambil dibisiki supaya kalau sukar menangkap hidup, dua orang

muda yang mengamuk di Loka itu “dibereskan” saja yang artinya dibunuh.

Demikianlah, Wang Sin dan Ci Ying yang telah tiba di luar kota Lasha, tiba-tiba

melihat lima orang hwesio datang dengan langkah lebar dan cepat. Melihat gerakan

kaki lima orang hwesio yang amat ringan ini, diam-diam Wang Sin dan Ci Ying

terkejut dan dapat menduga bahwa yang datang ini adalah orang-orang dengan

kepandaian tinggi.

“Kanda Wang Sin, kita telah disambut. Tapi jangan takut, aku akan menghadapi

mereka!” kata Ci Ying, sikapnya memandang rendah sekali.

Koleksi Kang Zusi

“Ci Ying, musuh kita hanya Yang Nam. Jangan mencari gara-gara dengan para

hwesio di sini.” Wang Sin memperingatkan akan tetapi gadis itu tersenyum mengejek.

Lima orang hwesio itu bukan lain adalah Ga Lung Hwesio yang memimpin empat

orang sutenya. Baru saja hendak berangkat mencari dua orang muda yang mengamuk

di Loka, mereka sudah mendengar laporan mata-mata di luar tembok kota bahwa

yang mereka cari sudah datang. “Bagus,” kata Ga Lung Hwesio, anjing-anjing sudah

datang tinggal menggebuk saja!”

Lalu bersama empat orang sutenya, ia berlari keluar kota untuk menghadang Wang

dan Ci Ying.

Melihat bahwa pasangan muda mudi itu benar-benar masih amat mudah, Ga Lung

Hwesio menjadi heran sekali. Masa Thouw Tan Hwesio sampai kalah oleh dua orang

muda ini?

“Apakah kalian yang bernama Wang Sin dan Ci Ying, dua orang bekas budak yang

menimbulkan huru-hara di Loka?” tanya Ga Lung Hwesio sambil mengangkat muka

dengan sikap angkuh.

Dengan tenang Wang Sin menjawab. “Betul.” Akan tetapi Ci Ying tertawa dan

menyambung, “Hwesio cebol, kalau nonamu yang membikin huru-hara di Loka, kau

mau apa?”

Ga Lung Hwesio adalah seorang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya.

Mendengar makian ini ia dapat menindas perasaan marahnya dan ia hanya tersenyum.

“Orang-orang muda suka besar kepala, mengira di dunia ini tidak ada yang bisa

mengalahkan mereka. Ah, anak-anak yang masih hijau, lekas kalian turun dan

berlutut. Pincengan tidak akan menggunakan kekerasan, hanya akan menggiring

kalian ke kota di mana kalian akan dihadili.”

“Hwesio sialan, siapa sudi dengar omonganmu yang busuk? Menyingkirlah biar kami

lanjutkan perjalanan!” bentak Ci Ying, tangan kirinya bergerak dan lima benda

bundar mengkilap menyambar ke arah jalan darah berbahaya di tubuh Ga Lung

Hwesio dan adik-adik seperguruannya. Itulah serangan gelap yang amat cepat dan

sukar dikelit. Akan tetapi dengan tenang lima orang hwesio itu menggerakkan tangan

dan lima buah benda bundar itu sudah dapat mereka tangkap dengan telapak tangan.

Ga Lung Hwesio melihat benda itu dengan keningnya berkerut. Dengan tongkatnya

yang kecil panjang, tongkat terbuat dari sebangsa bambu kuning, ia mencongkel tanah

di depannya kakinya, melempar benda itu ke dalam tanah dan menguruknya lagi

dengan ujung tongkat.

Sambil mengeluarkan seruan kaget, empat hwesio yang lain juga mengikuti perbuatan

ini, lalu kelimanya mengucapkan doa-doa pendek sambil merangkap kedua tangan ke

depan dada. Kemudian Ga Lung Hwesio membuka matanya, memandang Ci Ying

sambil membentak.

“Bocah keji! Dari mana kau mendapatkan mata manusia itu?”

Koleksi Kang Zusi

“Orang-orang telah dengan suka rela. menyumbangkan sebelah matanya kepadaku,

semua ada sepuluh biji. Sekarang kalian lima orang hwesio sinting membuang lima

biji, harus ditukar dengan sebelah mata kalian?” jawab Ci Ying sambil mendelikkan

Dua orang hwesio mengeluarkan seruan keras, tak dapat menahan kemarahannya.

Serentak mereka melompat ke depan, seorang menubruk Ci Ying dan yang seorang

lagi menubruk Wang Sin untuk menyeret dua orang muda itu turun dari kuda.

Sambaran mereka ini hebat sekali, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak dan

tangan kiri dihantamkan kepada punggung kuda.

Wang Sin yang merasai datangnya angin pukulan yang amat keras, kaget bukan main.

Ia melompat ke arah lain sambil menggulingkan tubuh, hampir saja ia roboh terguling

kalau tidak lekas-lekas ia menggunakan tangannya mendorong tanah, sehingga ia

dapat berdiri tegak lagi.

Adapun Ci Ying sambil mengeluarkan suara nyaring, dengan ringan sekali tubuhnya

melompat dari atas kuda menghindarkan cengkeraman, akan tetapi tidak seperti Wang

Sin, sambil melompat sabuk merahnya meluncur ke arah leher lawan merupakan

serangan balasan yang sekali gus mengarah urat kematian.

Terdengar suara keras ketika tangan kiri dua orang hwesio itu mengenai punggung

kuda. Dua ekor binatang itu meringkik hebat, melompat jauh dan berlari keras. Akan

tetapi baru beberapa belas meter mereka lari, sekali lagi mereka meringkik dan

terguling roboh berkelonjotan terus mati. Kiranya hajaran tangan kiri dua orang

hwesio tadi telah meremukkan isi perut mereka.

Adapun hwesio yang menyerang Ci Ying, ketika melihat datangnya ujung sabuk

mengarah jalan darah di lehernya, kembali mengeluarkan seruan keras, tangan

kanannya yang luput mencengkeram tadi ditarik untuk menangkap ujung sabuk dan

merampasnya. Akan tetapi, Ci Ying lihai sekali.

Sekali sendal ujung sabuknya melejit dan lolos dari cengkeraman malah dapat

memecut lengan hwesio itu yang cepat mundur dengan seruan kaget. Kulit lengannya

itu pecah dan biarpun tak mendatangkan luka berbahaya tetap saja terasa amat sakit.

Di lain saat Ci Ying sudah tertawa ha-ha-ha-hi-hi sambil mengobat-abitkan sabuknya.

“Mari, mari, cucuku gundul, mari kalau hendak menerima hajaran nenekmu!”

Dua orang hwesio itu memuncak kemarahannya. Dengan geram mereka

mengeluarkan senjata mereka, sebuah toya yang besar dan berat. Langsung mereka

menerjang maju, seorang menyerang Wang Sin yang kedua menyerang Ci Ying.

Wang Sin sudah menarik pedangnya dan segera ia bertempur dengan hwesio itu.

Diam-diam ia mengeluh karena selain toya lawannya amat kuat tidak terpatahkan

pedang mustikanya, juga tenaga lawannya ini besar sekali, membuat telapak

tangannya sakit-sakit tiap kali senjatanya menangkis toya. Ia segera mengeluarkan

semua kepandaiannya, mainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat cepat. Benar

juga, setelah ia menggunakan kecepatannya, ia dapat mengimbangi lawan.

Koleksi Kang Zusi

Di lain pihak, sambil tertawa-tawa mengejek, Ci Ying melayani dan mempermainkan

hwesio kedua. Toya adalah sebuah senjata yang kaku dan keras, maka menghadapi

senjata sabuk yang amat lemas dan digerakkan dengan amat cepat secara aneh,

hwesio itu segera terdesak hebat.

Harus diakui bahwa dalam hal tenaga dalam, Ci Ying masih tidak mampu menangkan

hwesio ini yang sudah memiliki pengalaman dan latihan puluhan tahun. Akan tetapi

Ci Ying mewarisi ilmu silat yang aneh dan ganas. Setiap pukulan merupakan tangan

maut yang mengarah jalan darah-jalan darah yang paling berbahaya, tidak

mengherankan apablia hwesio lawannya menjadi bingung dan kacau permainan

“Hi-hi-hi, hwesio bau. Orang macam kau biar ada sepuluh, mana bisa melawan aku?

Konco-koncomu itu apa jerih menghadapi aku? Biar mereka maju bersama!”

tantangnya, sombong dalam kemenangannya.

Melihat seorang saudaranya menghadapi Wang Sin sudah cukup dan dapat mendesak,

hwesio-hwesio itu tidak mau membantu. Akan tetapi melihat saudaranya yang

terdesak oleh Ci Ying mereka gelisah.

Akan tetapi Ga Lung Hwesio dan empat orang adik seperguruannya ini adalah

hwesio-hwesio berkedudukan tinggi di Tibet, mana mereka sudi mengeroyok ? Hanya

setelah mendengar tantangan Ci Ying, seorang di antara mereka menjadi panas hati

dan mendapatkan kesempatan selagi lawan menantang, ia segera melompat maju

memutar tongkatnya.

“Bocah ganas, lihat toya!” serunya sambil menyerang dengan hebat.

Ci Ying diam-diam sudah siap sedia. Melihat hwesio itu maju, ia tertawa dan sekali

tangan kirinya bergerak kembali lima biji mata yang masih berada di kantongnya, ia

sambitkan kepada hwesio itu, mengarah lima jalan darah di tubuhnya. Jarak antara

mereka hanya tiga empat meter, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan

mendesak ini.

“Makan ini!” seru Ci Ying. Sebetulnya, menurut sopan santun dunia persilatan,

menyerang secara menggelap merupakan pantangan besar. Oleh karena itu, setiap kali

hendak membuka serangan, orang selalu membentak dan setiap kali menggunakan

senjata rahasia, selalu didahului dengan seruan agar lawan bersiap sedia. Akan tetapi

Ci Ying yang licik sekali berseru setelah senjata rahasianya menyambar lawan.

Bukan main kagetnya hwesio ini. Hwesio pertama yang tahu kawannya diserang

secara menggelap, hendak mencegah dengan mengirim serangan ke arah kepala Ci

Ying, akan tetapi ia terlambat. Lima buah benda itu sudah dilontarkan dan dengan

cekatan Ci Ying sudah dapat mengelak dari serangannya.

Hwesio yang menghadapi ancaman maut dari lima butir biji mata itu, melempar diri

ke belakang untuk menghindarkan serangan, akan tetapi dua butir biji mata yang

menyambar lutut kiri dan bawah pusarnya sukar dikelit dan agaknya ia akan segera

mendapat celaka.

Koleksi Kang Zusi

Pada saat itu terdengar bentakan keras dan sebatang tongkat kecil panjang meluncur

memapak dua butir biji mata itu sehingga terdengar suara “tak-tak” dan biji mata itu

terlempar ke pinggir, tidak mengenai sasaran. Itulah tongkat dari Ga Lung Hwesio

yang dilontarkan untuk menangkis.

Hwesio yang baru saja terbebas dari bahaya maut, melompat bangun dengan muka

pucat. Keringat dingin membasahi jidatnya. Ia bersyukur bahwa suhengnya sudah

bergerak cepat dan dapat menyelamatkan nyawanya.

Ia memungut tongkat itu dan menyerahkan kepada Ga Lung Hwesio dengan sinar

mata terima kasih. Kemudian ia menerjang Ci Ying, memaki. “Setan licik, kau benarbenar

ganas dan pantas menjadi penghuni neraka!”

Hi-hi-hi, hwesio bau. Suruh kawanmu yang dua lagi maju. Itu hwesio cebol mana

berani?”

Ga Lung Hwesio hanya tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali dimaki oleh

gadis itu. Akan tetapi sutenya seorang lagi marah lalu memutar toya dan menyerbu

sehingga di lain saat Ci Ying sudah dikeroyok tiga. Tentu saja Ci Ying menjadi repot

Melawan seorang hwesio saja, ia dapat mengimbangi dan menang di atas angin hanya

karena ia mengandalkan kecepatannya pada hal ia kalah tenaga. Apalagi sekarang

dikeroyok tiga. Lebih-lebih lagi kegelisahannya ketika melihat Wang Sin sudah repot

sekali dan dalam jurus berikutnya Wang Sin terkena serampangan kakinya. Ia

mencoba untuk melompat, akan tetapi kurang cepat dan tulang keringnya terkena

hajaran toya sampai patah tulangnya.

Orang muda itu mengeluh dan melompat jauh menggunakan satu kakinya yang belum

terluka. Hwesio itu hendak mengejar, akan tetapi Ci Ying keburu melompat jauh

menghadang di depan Wang Sin sambil berseru.

“He, hwesio tengik! Kawanku sudah terluka dan kalah, kau masih mendesak terus,

apakah tua bangkotan tidak malu menghina yang muda?”

Mendengar ucapan ini, hwesio itu melengak dan otomatis ia bergerak mundur. Tentu

saja, sebagai seorang yang berkedudukan tinggi ia pantang sekali dianggap “yang tua

menghina yang muda”, ia ragu-ragu dan menengok ke arah Ga Lung Hwesio sambil

menanti keputusan.

“Bocah ganas, apakah setelah kawanmu terluka kau masih tidak mau menyerah?”

tanya Ga Lung Hwesio.

Ci Ying cerdik sekali, akan tetapi ia maklum bahwa kali ini ia tidak berdaya. Maka ia

sengaja hendak mengulur waktu dan tidak mau menyerah secara mentah-mentah.

“Hwesio cebol, siapa sudi menyerah? Kawanku terluka, akan tetapi, aku belum kalah,

kau tahu?”

“Kalau begitu, kami akan merobohkan kau lebih dulu!” seru hwesio yang tadi hampir

menjadi korban senjata rahasia dan ia melompat maju dengan serangannya, diikuti

Koleksi Kang Zusi

dua orang kawannya. Mereka bertiga yang tadi mengeroyoknya hendak cepat-cepat

mengalahkan Ci Ying, maka begitu menerjang mereka menggunakan tongkat mereka

mainkan jurus yang paling ampuh.

Ci Ying cepat mengelak sambil mengebut dengan sabuknya, “Cih, tak tahu malu!

Tiga monyet bangkotan mengeroyok seorang nona muda. Mana di dunia kang-ouw

ada macam aturan itu? Tebal muka!”

Tiga orang hwesio itu menjadi bohwat (tak berdaya). Mereka merasa malu sekali dan

terpaksa mereka menahan senjata mereka.

“Kau sendiri yang tadi menantang minta dikeroyok!” seorang di antara mereka

mencoba untuk membentak.

“Celaka, aku bicara main-main, kiranya kalian kakek-kakek tua begitu tidak tahu

malu menggunakan kesempatan orang muda main-main lalu mengeroyok sungguhsungguh.”

Ci Ying memang sejak dulu berwatak lincah jenaka dan pandai bicara. Sekarang

menghadapi ancaman pihak yang lebih kuat, keganasannya bersembunyi dan

muncullah sifat-sifatnya dahulu yang cerdik.

Melihat tiga orang sutenya nampak bengong, Ga Lung Hwesio tertawa sambil

memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah. “Sute sekalian mundurlah. Biar

pinceng menghadapinya seorang lawan seorang.”

Ci Ying melihat akalnya berhasil membuat ia tidak akan dikeroyok lagi. Apa pula

yang maju adalah hwesio cebol gemuk ini. Yang lain-lain boleh lihai, akan tetapi si

cebol gemuk ini mana bisa main silat dengan baik?

Ia cepat menghampiri Ga Lung Hwesio dan menyerang dengan serentak. “Bagus!

Siapa kalah dalam pertempuran ini berarti haknya kalah dan harus mundur. Janji

orang gagah tak dapat ditarik kembali!”

Para hwesio itu melengak. Siapa yang berjanji? Benar-benar seorang bocah yang licik

sekali, lihai ilmu silat dan mulutnya. Akan tetapi Ga Lung Hwesio yang sudah melihat

ilmu silat Ci Ying, tanpa ragu-ragu lagi berkata, “Baiklah, siapa kalah berarti

pihaknya kalah. Majulah!”

Ci Ying tidak berlaku seji (sungkan) lagi. Sabuknya menyerang cepat, mengarah jalan

darah yang-goat-hiat dan kin-ceng-hiat. Anehnya Ga Lung Hwesio tidak mengelak

mundur, bahkan melangkah setindak dan menyodokkan tongkatnya ke arah leher

nona itu. Gerakan tongkatnya yang kecil panjang itu cepat bukan main, tahu-tahu

sudah mengancam leher Ci Ying.

Gadis ini terkejut. Kalau dia melanjutkan serangannya, sebelum ujung-ujung

sabuknya mengenai tubuh lawan, lebih dulu ia akan “dimakan” tongkat. Terpaksa ia

mengelak sambil menggerakkan sabuknya lagi, sekali gus menotok ke arah iga dan

pergelangan tangan Ga Lung Hwesio. Gerakannya indah dan cepat lagi ganas,

membuat hwesio pendek gemuk itu mengeluarkan seruan memuji.

Koleksi Kang Zusi

Akan tetapi secepat-cepatnya Ci Ying, ia masih kalah cepat oleh hwesio murid kepala

Tibet itu. Tongkat sudah diputar lagi, sekali gus menangkis dua ujung sabuk. Ci Ying

menggetarkan sabuknya hendak membelit tongkat, namun lawannya sudah menarik

kembali tongkatnya dan di lain saat ia sudah berjongkok dan dua kali ujung

tongkatnya menusuk sambungan lutut kedua kaki Ci Ying.

Gadis itu berseru kesakitan dan roboh terguling. “Ikat gadis liar ini!” seru Ga Lung

Hwesio kepada seorang sutenya. Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan Wang

Sin sudah berdiri dengan sebelah kaki pincang.

Orang muda ini menghadang dengan sikap gagah, pedang melintang di dada sambil

berseru. “Jangan kurang ajar! Siapa berani mengganggu Ci Ying akan menjadi

makanan pedangku!”

11. Pembalasan Para Pendeta Lama.

Ga Lung Hwesio tertawa dan tongkatnya digerakkan, Wang Sin menangkis dengan

pedangnya, mengerahkan tenaganya.

“Tranggg….!” Pedangnya terlepas dan terlempar jauh dengan cepat, meluncur

merupakan sinar kebiruan dan dia sendiri segera roboh ketika tongkat hwesio pendek

itu menotok pundaknya.

Selagi lima orang hwesio itu kegirangan karena melihat dua orang muda yang

mengamuk sudah tertawan, tiba-tiba mereka kaget karena sinar biru dari pedang

Wang Sin yang terlempar tadi terhenti di tengah jalan dan tahu-tahu sudah disambar

oleh tangan seorang wanita yang berusia lima puluh tahun lebih.

Wanita ini berpakaian serba putih seperti seorang pendeta, tangan kirinya memegang

kebutan merah dan tangan kanan memegang seuntai tasbeh. Tasbeh inilah yang tadi

diputar dan “menangkap” pedang yang sedang terbang itu.

Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya melihat wanita ini menjadi kaget karena di

rambut kepala wanita ini terdapat sekuntum bunga hijau yang mengeluarkan sinar

gemilang. Mereka teringat akan bunga hijau yang menghias kepala Ci Ying dan

tahulah mereka siapa orangnya yang telah datang ini.

Akan tetapi Ga Lung Hwesio pura-pura tidak mengenalnya dan segera menjura

dengan hormat. Sebagai seorang hwesio, melihat pendeta dari aliran agama lain, ia

berlaku hormat.

“Omitohud…… ada saudara datang tidak keburu menyambut karena gangguan anakanak

muda. Harap toyu sudi memaafkan pinceng berlima.”

Nenek itu mengeluarkan suara dingin sambil memandang tajam. “Hwesio-hwesio

bangkotan menindas orang-orang muda, sungguh tak tahu malu!”

“Suthai, bikin mampus mereka. Mereka telah menghina muridmu!” kata Ci Ying yang

girang sekali melihat kedatangan nenek itu yang bukan lain adalah gurunya, Cheng

Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san.

Koleksi Kang Zusi

Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya sudah mendengar kehebatan nenek tua Cheng-hoapai

ini, akan tetapi karena belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, mereka tidak

takut. Adalah karena mendengar ucapan Ci Ying tadi mereka menjadi khawatir sekali

kalau-kalau nenek itu terlalu memihak murid sendiri, maka Ga Lung Hwesio cepat

“Kiranya Cianpwe adalah ketua dari Cheng-hoa-pai yang ternama. Harap cianpwe

suka mempertimbangkan urusan ini. Semua adalah kesalahan muridmu sendiri yang

telah membunuh sute Thouw Tan Hwesio dan banyak pendeta-pendeta lain. Dia

memberontak di Loka dan…….”

“Ci Ying, kenapa kau membunuh keledai-keledai gundul di Tibet?” tanya Cheng Hoa

Suthai kepada muridnya. Pertanyaan ini terdengar keren, akan tetapi dengan

menggunakan sebutan “keledai gundul” berarti dia telah memaki para hwesio di Tibet

yang agaknya tak diindahkan olehnya.

Ci Ying sudah mengenal baik watak gurunya. Nenek ini amat ganas dan kejam

hatinya, akan membunuh setiap orang tanpa berkejap mata. Akan tetapi dia amat

pantang untuk menodai nama baik Cheng-hoa-pai dan berlaku keras kepada muridmuridnya.

Setiap orang murid harus menjunjung tinggi nama baiknya Cheng-hoa-pai.

Siapa melanggar berarti mati. Maka dengan suara tetap ia menjawab.

“Suthai telah mengerti bahwa teecu pergi hendak membalas sakit hati kepada tuan

tanah di Loka yang telah menyiksa teecu dan semua budak, malah sudah membunuh

ayah. Manusia binatang macam tuan tanah itu sudah sepatutnya dibasmi, bukan?”

Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk sambil melirik tajam ke arah lima orang

hwesio itu. “Memang lebih dari patut dibasmi sekeluarganya berikut antek-anteknya!”

Ci Ying tersenyum. “Nah, teecu hanya berhasil membunuh tuan tanah yang tua

berikut antek-anteknya di Loka, sedangkan yang muda sudah pindah ke Lasha, para

pendeta bangkotan palsu di Loka membantu tuan tanah, kiranya bangkotan ini yang

berkepala gundul berpakaian pendeta, juga menjadi kaki tangan mereka. Mereka

inipun pantas dibasmi!”

Terkejut hati Ga Lung Hwesio mendengar ini dan melihat wajah Cheng Hoa Suthai

berubah keras, mereka siap sedia.

“Pantas……. pantas sekali dibasmi. Eh, hwesio-hwesio Tibet yang tahu malu,

perbuatan kalian membantu tuan-tuan tanah jahat benar-benar tidak cocok dengan

kedudukan kalian. Apakah Su Thai Losu (Empat Guru Besar Tua) di Lasha akan

membiarkan saja penyelewengan kalian?”

Mendengar sebutan ini, Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya dengan girang dapat

menduga bahwa nenek yang lihai ini masih gentar terhadap guru-guru besar mereka,

maka Ga Lung Hwesio segera menjawab.

“Cianpwe, pinceng dan sute-suteku ini adalah murid-murid Su Thai Losu, malah

guru-guru pinceng yang menitahkan pinceng menangkap dua orang pemberontak ini.

Harap Cianpwe ketahui bahwa dosa mereka ini besar sekali tidak saja mengacau

Koleksi Kang Zusi

malah merendahkan nama besar guru-guru kami. Pinceng berjanji akan membawa dua

orang muda ini supaya menerima pengadilan di Lasha.”

“Hwesio bau! Kau tidak melihat aku, ya? Kau kira aku takut kepada empat keledai tua

di Lasha? Rebahlah kau!” Cepat sekali gerakan tangan Cheng hs, tahu-tahu pedang

biru sudah melayang ke arah Ga Lung Hwesio sedangkan tasbeh dan kebutannya

bergerak ke arah empat orang hwesio yang lain.

Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang sudah memiliki kepandaian tinggi.

Melihat sinar biru menyambar dadanya, ia menangkis dengan tongkat. Terdengar

suara keras dan bunga api berhamburan, akan tetapi pedang itu sudah dapat

ditangkisnya sehingga menyeleweng dan menancap sampai ke gagangnya di atas

tanah. Sedangkan dia sendiri mundur tiga langkah dengan kedua tangan merasa

tergetar hebat.

Wajahnya menjadi pucat, apalagi ketika ia melihat betapa empat sutenya berturutturut

terjungkal, tak dapat menahan serangan Cheng Hoa Suthai. Dua orang yang

terpukul tasbeh patah-patah tulang iganya sedangkan yang dua orang lagi terkena

sambaran kebutan, terlepas sambungan tulang pundaknya.

Ga Lung Hwesio terkejut sekali. Keempat orang sutenya itu sudah memiliki

kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi sekali serang saja Cheng Hoa Suthai sudah

dapat merobohkan mereka. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya

nenek ini.

Akan tetapi karena marah sekali, Ga Lung Hwesio menjadi nekad. Ia memutar

tongkatnya lalu menyerbu sambil mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan

semua tenaganya.

Sebagai seorang berkedudukan tinggi, yaitu menjadi ketua partai, Cheng Hoa Suthai

memiliki keangkuhan. Terhadap orang-orang yang tingkatnya lebih rendah, dia tidak

mau terlalu mendesak. Sekali turun tangan ia harus berhasil dan tidak sudi

mengulangi lagi. Kalau Ga Lung Hwesio tidak menyerangnya, dia tentu mengampuni

hwesio ini karena tadi ia sudah menyerang hwesio ini dengan lontaran pedang Wang

Sin dan hwesio itu sudah dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi sekarang Ga Lung Hwesio menyerangnya, maka bangkitlah

kemarahannya. Begitu melihat tongkat Ga Lung Hwesio menyambarnya, kebutan di

tangan kiri bergerak menggulung ujung tongkat. Ga Lung Hwesio adalah seorang

yang sudah banyak pengalamannya bertempur. Melihat senjatanya kena terlibat, ia

mengerahkan tenaga untuk membetot akan tetapi tongkat itu seakan-akan telah

tertanam buluh kebutan menjadi akar-akarnya, tak dapat ditarik kembali.

Dan pada saat itu tiba-tiba Cheng Hoa Suthai mengendurkan kebutannya, sehingga

oleh tenaga yang dilepas tiba-tiba ini, Ga Lung Hwesio hampir terjengkang ke

belakang. Di saat itu bayangan putih berkelebatan, ialah tasbeh di tangan kanan

Cheng Hoa Suthai yang menyambar ke arah kepalanya.

“Celaka……!” seru Ga Lung Hwesio sambil melepaskan tongkatnya dan menjatuhkan

diri kebelakang.

Koleksi Kang Zusi

“Melihat muka Su Thai Losu, aku mau mengampuni jiwa anjingmu!” terdengar ketua

Cheng-hoa-pai itu berkata dengan suara dingin, gerakan tasbehnya diturunkan dan

sebagai pengganti kepala hanya pundak Ga Lung Hwesio saja yang “dimakan” tasbeh,

“Krakkk!” patahlah pundak kiri hwesio itu yang menjerit kesakitan terus roboh tak

berdaya lagi.

Cheng Hoa Suthai menghampiri muridnya dan menotok lutut untuk membebaskan

totokan tongkat Ga Lung Hwesio tadi. Ci Ying segera melompat dan berlutut di depan

gurunya, girang bukan main.

“Siapa pemuda yang membantumu itu?” tanya Cheng Hoa Suthai, menunjuk ke arah

Wang Sin.

Dengan muka merah akan tetapi dengan suara nyaring, Ci Ying mengaku terus terang.

“Suthai, dia itulah Wang Sin tunanganku yang pernah teecu tuturkan kepada suthai

dulu.”

Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk. “Kita pergi dari sini. Ajak tunanganmu itu

bersama.”

“Tetapi Suthai, teecu belum berhasil membunuh Yang Nam, tuan tanah muda yang

paling kurang ajar di dunia ini….” bantah Ci Ying.

“Jangan membantah! Dengan kepandaianmu menghadapi ke lima ekor anjing ini saja

tidak bisa menang apalagi menghadapi Su Thai Losu? Jangan mimpi. Pulang!”

Ci Ying tidak berani membantah. Kalau gurunya saja gentar menghadapi pendetapendeta

kepala di Lasha, dia sendiri bisa berbuat apakah? Tanpa banyak cakap lagi ia

lalu menghampiri Wang Sin dan memondong tubuh tunangannya itu, lalu berlari

cepat meninggalkan tempat itu.

Di lain saat gurunya telah berkelebatan di sampingnya dan nenek ini agaknya tidak

tega melihat muridnya harus memondong laki-laki yang tentu berat, maka diulurnya

tangannya dan tiba-tiba Ci Ying merasa tubuhnya ringan sekali dan kakinya bergerak

maju seperti terbang.

Yang paling tidak enak hatinya adalah Wang Sin. Karena sebelah kakinya pincang

dan tulangnya patah, ia terpaksa harus dipondong oleh Ci Ying. Ia mengeluh perlahan

dan hal ini dikira oleh Ci Ying karena sakit di kakinya. Murid ini lalu minta gurunya

berhenti untuk memeriksa luka di kaki Wang Sin.

“Hemmm, tulangnya patah,” kata Cheng Hoa Suthai. Tanpa banyak cakap lagi nenek

ini lalu menyambung tulang patah itu dan memberi obat, dan lenyaplah rasa nyeri,

diam-diam Wang Sin makin berterima kasih kepada Ci Ying dan gurunya.

Tanpa bantuan Ci Ying di Loka saja, dia dan isterinya sudah gagal dan besar

kemungkinan akan berkorban nyawa dan tadi untuk kedua kalinya, tanpa ada Cheng

Hoa Suthai kiranya tak dapat disangsikan lagi ia akan tewas di tangan hwesio Tibet.

Makin tidak enak hatinya karena tahu bahwa makin sukarlah ia melepaskan diri dari

ikatan Ci Ying.

Koleksi Kang Zusi

******

Enam belas tahun kemudian ………………………..

Pegunungan Kun-lun merupakan barisan gunung yang panjang dan luas sekali. Di

puncak ini tersebar tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang banyak, akan tetapi yang

merupakan pusat dari pada partai persilatan Kun-lun-pai berada di puncak paling

timur yang menjadi sumber atau mata air dari sungai Cin-sa dan puncak ini yang

menjadi tapal batas antara pegunungan Kun-lun dan Bayangkara.

Di pusat ruangan ini pula duduk guru besar dari partai Kun-lun-pai bernama To Gi

Couwsu yang sudah sangat tua. Sudah belasan tahun tosu tua ini tidak menguruskan

lagi keramaian dunia dan hanya bertapa di puncak gunung. Murid-murid dan cucucucu

muridnya cukup banyak untuk mengurus semua kewajiban dan menjaga nama

baik Kun-lun-pai sehingga partai persilatan ini mempunyai nama besar yang amat

harum di dunia kang-ouw, ditakuti orang jahat disegani orang gagah.

Tidak seperti biasanya pada hari itu di dalam markas besar Kun-lun-pai, di ruangan

lian-bu-thia (ruang belajar silat) nampak tosu-tosu kepala berkumpul, duduk di kursikursi

yang diatur memutari ruangan itu. Para anak murid lain berdiri di belakang,

menonton sambil memanjangkan leher agar dapat melihat lebih jelas ke tengah

Di kursi kepala duduk To Gi Couwsu yang sudah amat tua, duduknya tegak dan di

tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang tak pernah berpisah dari badannya.

Tosu ini sudah begitu tua sehingga untuk berjalan saja ia harus dibantu oleh

Di tengah ruangan itu terdengar angin mendesir-desir dan berkelebatannya bayangan

putih yang meloncat ke sana ke mari. Itulah hawa pukulan yang dahsyat, menandakan

bahwa di ruangan itu ada seorang yang sedang bermain silat dengan hebatnya.

Ketika bayangan itu berhenti bersilat, baru dapat dilihat bahwa dia adalah seorang

gadis muda berusia kurang lebih enam belas tahun, berpakaian serba putih, berwajah

cantik berkulit putih. Pakaian gadis ini sederhana sekali, akan tetapi hal ini malah

menonjolkan kecantikannya yang wajar.

Setelah ia berhenti bersilat, para tosu kepala ruangan itu mengangguk-angguk dan

mengeluarkan suara pujian.

“Sumoi benar-benar telah mencapai kemajuan yang pesat,” kata mereka. Akan tetapi

To Gi Couwsu menggeleng-gelengkan kepalanya nampak tidak puas.

“Bi Hong, coba kau mainkan ilmu pedangmu biar dinilai oleh para suhengmu,” kata

To Gi Couwsu, suaranya perlahan dan lambat seperti orang lelah.

Bi Hong, gadis cantik itu, memberi hormat kepada gurunya lalu menjurus kepada para

tosu yang duduk mengitari tempat itu, belasan orang banyaknya. “Suheng sekalian

harap jangan mentertawakan permainan pedang siauwmoi yang masih buruk,”

Koleksi Kang Zusi

Di lain saat tangan kanannya bergerak dan tampak sinar kuning emas berkelebat,

disusul oleh gulungan sinar pedang yang ternyata telah dimainkan dengan amat

dahsyatnya. Apalagi yang dimainkan adalah sebuah pedang pusaka dari Kun-lun-pai,

yaitu Kim-Hui-Kiam (Pedang Emas Terbang) yang dihadiahkan oleh To Gi Couwsu

kepada muridnya ini, cepat dan dahsyat sampai tubuh gadis itu lenyap terbungkus

gulungan sinar pedang yang kuning emas.

Para anak murid Kun-lun-pai yang masih belum tinggi tingkatnya, yang menonton di

belakang sambil berdiri, menjadi kabur pandangannya dan mereka memuji dengan

penuh kekaguman dan kebanggaan. Bukankah gadis itu murid Kun-lun-pai yang patut

mereka banggakan?

Setelah mainkan jurus-jurus yang sulit, tiba-tiba gadis itu berseru, “Suhu, teecu

mohon diijinkan menggerakkan jurus terakhir!”

To Gi Couwsu menganggukkan kepalanya dan tahu-tahu sinar pedang itu melesat

keluar ruangan, melampaui kepala para anak murid Kun-lun-pai yang berdiri di luar.

Semua orang mengikuti sinar pedang ini dan melihat betapa dengan gerakan amat

indah, gadis itu telah mainkan jurus terakhir dari Kun-lun Kiam-hoat yang disebut

Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan), jurus yang amat sukar

dimainkan karena banyak orang harus memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh)

yang sudah tinggi dan kesempurnaan menggerakkan pedang.

Ketika semua orang sedang ternganga kagum, gadis itu sudah turun kembali dan di

tangan kirinya ia memegang seekor burung yang kedua sayapnya telah ia sabet putus

dengan pedangnya. Burung gereja itu tadi sedang terbang dan burung inilah yang

menjadi sasaran jurus Hui-kiam-kan-goat tadi sehingga putus kedua sayapnya.

Burung itu kini mencicit di atas telapak tangan kiri Bi Hong, tidak dapat terbang lagi.

Semua tosu kepala yang duduk di situ kembali memuji.

“Siancai….. hebat ilmu pedang sumoi.”

Akan tetapi lagi-lagi To Gi Couwsu, guru kepala Kun-lun-pai, menggeleng-gelengkan

kepalanya dan tanpa berkata apa-apa ia menggapai kepada Bi Hong supaya mendekat.

Setelah gadis itu menghampirinya, tosu ini lalu mengambil burung gereja dari tangan

gadis itu, mengelus-elusnya penuh kasih sayang, dan memeriksa kedua sayap yang

sudah tidak berbulu lagi.

“Kau harus bersabar tiga puluh hari lebih, menanti sayapmu tumbuh, burung…….”

katanya perlahan lalu memasukkan burung yang tak bersayap itu ke dalam kantong

bajunya yang lebar.

“Bi Hong, apa yang kauperlihatkan tadi indah dilihat, akan tetapi belum ketahuan

bagaimana kalau menghadapi lawan. Coba kau minta twa-suhengmu untuk menguji,”

kata pula To Gi Couwsu dengan suaranya yang perlahan dan tenang.

Gadis itu nampak gembira sekali. Cepat ia menghampiri seorang tosu, murid paling

tua di Kun-lun-pai, berusia lima puluh tahun lebih. Di antara semua murid To Gi

Couwsu, yaitu para tosu di Kun-lun-pai, dia inilah yang paling tinggi ilmu silatnya,

Koleksi Kang Zusi

juga paling alim dan selalu mengutamakan kebajikan dan berwatak sabar sekali

seperti gurunya.

Gadis itu menjura kepada tosu ini dan berkata sambil tersenyum. “Twa-suheng, di

antara para suheng, hanya kau yang selalu menolak untuk menguji kebodohan

siauwmoi. Sekarang atas perintah suhu, siauwmoi harap twa-suheng tidak berlaku

pelit lagi.”

Lee Kek Tosu menarik napas panjang lalu berdiri dari tempat duduknya. “Suhu yang

memerintah siapapun tak boleh menolak. Siauwmoi, kepandaianmu tinggi, darahmu

panas, pinto seorang tua lemah mana bisa menangkan kau?”

Bi Hong tertawa dan dengan sikap yang manja ia menarik tangan tosu itu ke tengah

ruangan, diikuti senyum para tosu lain. Setelah sampai di tengah ruangan itu, Bi Hong

berkata. “Suheng yang baik, harap kau menaruh kasihan kepadaku dan jangan

menurunkan tangan besi.”

Gadis itu pintar sekali. Ia maklum bahwa di antara semua tosu yang menjadi

suhengnya, twa-suheng ini adalah orang yang paling pandai, maka ia sengaja hendak

menjajal kepandaiannya sendiri dengan tangan kosong dan kemudian baru

menggunakan pedang. Sebelum tosu itu menjawab, ia sudah menerjang maju sambil

berkata, “Twa-suheng, awas, siauwmoi mulai menyerang!”

Bi Hong yang maklum akan kelihaian twa-suhengnya, tidak mau membuang waktu

dengan jurus-jurus biasa, melainkan segera menyerang dengan jurus-jurus yang paling

lihai dari Kun-lun Ciang-hoat. Mula-mula ia membuka serangannya dengan gerak

tipu Kong-ciak-khai-peng (Merak Membuka Sayap) lalu diteruskan dengan Pai-buntwi-

san (Atur Pintu Tolak Gunung). Gerakannya cepat dan bertenaga sekali ketika

tangan kanannya mendorong ke arah dada twa-suhengnya.

“Bagus!” Lee Kek Tosu memuji ketika merasa betapa sambaran angin dorongan ini

amat kuat tanda lweekang dari adik seperguruannya sudah mencapai tingkat tinggi.

Dengan sigapnya ia miringkan tubuh, tangan kiri menangkis dan tangan kanannya

membalas dengan serangan To-tui-kim-ciang (Merobohkan Lonceng Emas),

disabetkan dengan jari tangan miring ke arah leher gadis itu.

Bi Hong cepat mengelak dan mengebutkan tangan kirinya. Ia merasai betapa pukulan

tangan twa-suhengnya amat berat membuat tangannya tergetar. Tahulah ia bahwa

dalam hal tenaga lweekang, ia masih kalah jauh. Maka ia lalu menggunakan

kelincahan tubuhnya menerjang dengan mempercepat gerakannya.

Namun dengan tenang sekali tosu itu menghadapinya dan demikianlah, dalam serang

menyerang selama belasan jurus kelihatan perbedaan antara mereka. Si tosu bersikap

tenang, gerak geriknya lambat tapi mantap dan bertenaga penuh. Sebaliknya Bi Hong

bergerak cepat sekali sehingga ia dapat mengimbangi twa-suhengnya dan menutup

kekurangannya dalam kekalahan tenaga lweekang.

Makin lama gerakan Bi Hong makin cepat, pukulan-pukulannya makin berbahaya dan

setelah berlangsung empat puluh jurus lebih, gadis ini sudah bukan main-main atau

berlatih lagi melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak, tosu itu

Koleksi Kang Zusi

masih tenang saja dan selalu menjaga agar jangan sampai ia kesalahan tangan melukai

“Cukup, ganti dengan pedang,” terdengar To Gi Couwsu berkata. Keduanya

melompat mundur, wajah Bi Hong merah sekali namun suhengnya masih biasa saja.

Gadis ini diam-diam merasa penasaran bagaimana setelah menyerang sehebathebatnya

ia masih belum dapat mendesak suhengnya yang berlaku lambat-lambatan

itu. Harus ia akui bahwa dalam ilmu silat tangan kosong suhengnya itu terlalu tangguh

baginya. Ia boleh dibilang sudah jauh di bawah angin dan kini ia hendak menebus

kekalahannya dengan pedang.

“Suhu sudah memerintahkan, mari keluarkan pedangmu, suheng,” katanya sambil

menghunus Kim-hui-kiam.

Si tosu tua tertawa. “Sudah kukatakan tadi, sumoi. Kau lihai dan darahmu panas,

mana pinto bisa mengatasimu?” Ucapan ini sabar sekali kedengarannya dan dengan

gerakan lambat tosu ini mencabut sebatang pedang dari balik bajunya.

Pedang ini biasa saja kelihatannya, malah tidak bersinar dan kelihatan kotor. Logam

yang dijadikan pedang ini kelihatan seperti batu saja. Namun Bi Hong sudah tahu

bahwa pedang twa-suhengnya itu adalah pedang pusaka yang tidak kalah ampuhnya

dari Kim-hui-kiam dan disebut Toan-kang-kiam (Pedang pemotong baja).

“Twa-suheng, lihat pedang!” bentak Bi Hong dan pedangnya meluncur cepat ke arah

tenggorokan orang. Tosu itu menangkis, terdengar suara nyaring dibarengi bunga api

berhamburan. Di lain saat keduanya sudah sudah bertempur hebat. Seperti juga tadi,

gerakan-gerakan Bi Hong lincah dan teguh penjagaannya.

Biarpun demikian, diam-diam Lee Kek Tosu terkejut ketika mendapat kenyataan

bahwa ilmu pedang sumoinya ini benar-benar hebat dan sudah mewarisi dari ilmu

pedang Kun-lun-pai. Harus ia akui bahwa biarpun dengan lweekangnya ia dapat

menahan, namun untuk menjatuhkan sumoinya ini bukanlah soal mudah lagi baginya.

Setelah lewat seratus jurus, ia melompat mundur, menghela napas panjang dan

berkata, “Hebat…. hebat sekali kiam-hoatmu, sumoi. Pinto merasa girang sekali dan

bangga.”

Juga semua tosu memuji gadis ini yang cepat menjura sambil berkata. Twa-suheng

terlalu mengalah. Semua yang siauwmoi dapatkan ini semata-semata berkat

kemurahan hati suhu yang mulia dan para suheng yang berbudi.”

To Gi Couwsu menggerak-gerakan tongkatnya di atas lantai. Bi Hong, twa-suhengmu

berkali-kali mengingatkan kepadamu, apakah kau masih tidak sadar?”

Bi Hong terkejut, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya. “Suhu, teecu

mohon penjelasan.”

“Eh, bocah bodoh. Suhengmu berkali-kali mengatakan darahmu panas, itulah

peringatan yang harus kau ingat betul. Kalau kau tidak terlalu panas darah, kalau kau

ingat akan pelajaran lweekang dan menekan perasaan, dapat berlaku tenang seperti

suhengmu, kau malah lebih kuat dari pada twa-suhengmu. Menghadapi lawan ringan

Koleksi Kang Zusi

kau dapat berlaku sesukamu menurut perasaan, akan tetapi sekali berhadapan dengan

lawan berat, darah panasmu akan merugikan gerakan-gerakanmu. Kenapa kau begitu

bernafsu dalam gerakan-gerakanmu?”

Tiba-tiba Bi Hong menangis. “Maaf, suhu. Teecu terlalu bernafsu karena selalu

teringat akan musuh-musuh besar yang belum terbalas. Teecu ingin segera turun

gunung untuk membalas sakit hati, ingin membasmi orang-orang yang telah

membunuh Kong-kong dan membikin ibu mati karena duka.”

To Gi Couwsu menarik napas panjang, terbayanglah semua peristiwa enam belas

tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat tosu tua ini terpaksa menerima lagi seorang

murid, padahal tadinya sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri karena

terlalu tua.

Gadis itu Wang Bi Hong, bukan lain adalah puteri dari Ong Hui. Seperti telah

diceritakan di bagian depan setelah bersama suaminya menyerbu ke Loka dan

bertemu dengan Ci Ying yang membencinya.

Ong Hui mengalah dan pergi meninggalkan suaminya, kembali ke rumah ayahnya di

Kun-lun-san. Sambil menangis sedih, ia menuturkan semua pengalamannya kepada

ayahnya dan supeknya, Cin Kek Tosu. Ayahnya menghela napas panjang.

“Hui-ji, semua ini kesalahanku. Sudah tahu Wang Sin mempunyai seorang tunangan,

aku setengah memaksanya untuk menjadi mantuku. Biarlah, aku akan mencari dia dan

tentu dia bisa menerima usulku untuk disamping tunangannya itu, mempunyai isteri

kedua.”

“Tidak usah, ayah. Enci Ci Ying tidak rela melihat dia mempunyai isteri lain,” kata

Ong Hui sambil menyusut air matanya.

Cin Kek Tosu membanting kakinya, “Kurang ajar anak itu! Mana bisa dia menyianyiakan

isterinya yang sudah hampir mempunyai anak? Pinto yang akan

menghajarnya, kalau kelak dia tidak mau kembali kepadamu.”

Demikianlah, Ong Hui melewatkan hari-hari yang sunyi di atas gunung dengan hati

selalu mengandung kedukaan hebat. Beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang

anak perempuan yang diberi nama Wang Bi Hong. Semenjak melahirkan anak,

tubuhnya menjadi lemah dan sering kali sakit. Ini semua disebabkan oleh penderitaan

batinnya yang amat berat.

Beberapa bulan kemudian, terjadilah serbuan hebat ke gunung itu. Ga Lung Hwesio

dan empat orang sutenya, dikawani oleh Thu Bi Tan Hwesio sendiri yang berilmu

tinggi menyerbu ke situ.

Hwesio-hwesio Tibet ini datang untuk membalas dendam atas kematian Thouw Tan

Hwesio dan karena mereka tahu bahwa Wang Sin adalah murid Cin Kek Tosu.

Mereka lalu mencari ke gunung itu dan terjadilah pertempuran hebat antara hwesiohwesio

Tibet itu melawan Cin Kek Tosu yang dibantu oleh sutenya, Ong Bu Khai,

ayahnya Ong Hui.

Koleksi Kang Zusi

Ong Bu Khai dan Cin Kek Tosu adalah jago-jago Kun-lun-san yang berkepandaian

tinggi. Akan tetapi, Cin Kek Tosu sudah amat tua dan pula enam orang lawannya

adalah hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi, maka keduanya tidak dapat

menandingi mereka. Biarpun melakukan perlawanan mati-matian dan dengan gagah,

akhirnya dua orang jago tua ini tewas di tangan Thu Bi Tan dan keponakankeponakan

Untung bagi Ong Hui yang sakit-sakitan ia terlalu lemah untuk melakukan

perlawanan. Andaikata dia tidak sedang sakit, tentu nyonya muda ini tidak akan

melihat saja ayah dan supeknya menghadapi para penyerbu itu dan tentu iapun akan

mengalami nasib serupa, tewas di tangan para hwesio Tibet. Karena tubuhnya lemah,

ia tidak membantah ketika ayahnya menyuruh dia melarikan diri bersama puterinya

yang baru berusia beberapa bulan itu.

Sambil menangis sedih, nyonya muda ini membawa anaknya melarikan diri naik

seekor keledai. Tujuannya adalah puncak Kun-lun di mana berdiri pusat Kun-lun-pai,

tempat tinggal susiok-couwnya, yaitu To Gi Couwsu yang masih terhitung supek dari

12. Barisan Ngo-heng-tin Pendeta Lama

Baru tiga empat jam ia melarikan keledainya, ia mendengar suara teriakan-teriakan

dari belakang dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat enam orang

hwesio itu berlari-lari cepat sekali melakukan pengejaran.

“Bunuh dia! Dialah isteri Wang Sin si pemberontak. Bunuh saja anaknya!” demikian

teriakan Ga Lung Hwesio dan jarak antara dia dan para pengejarnya makin dekat.

Ong Hui adalah puteri seorang pendekar. Dia tidak takut mati, juga tidak jerih

menghadapi lawan betapa kuatpun. Apabila lawan yang sudah membunuh ayahnya.

Hanya ia mengkhawatirkan nasib puteranya yang baru berusia empat bulan itu.

Terpaksa Ong Hui mencambuk keledainya dan membalapkan binatang itu.

Usahanya sia-sia belaka. Para pengejarnya sudah datang dekat sekali. Empat buah

kaki keledai itu tidak dapat berlari lebih cepat dari pada enam orang hwesio yang

berilmu tinggi.

“Perempuan busuk, kau hendak lari ke mana?” bentak Ga Lung Hwesio.

Tahu bahwa ia tidak akan dapat lolos, timbullah kegagahan Ong Hui. Nyonya muda

ini melompat turun, menghunus pedangnya. Dengan anak dipondongan tangan kiri

dan pedangnya di tangan kanan, ia menanti dengan sikap gagah. Mukanya pucat akan

tetapi sepasang matanya memancarkan sinar berapi.

“Keledai-keledai gundul keji! Majulah, hari ini nyonya besarmu akan mengadu nyawa

dengan kalian!” bentaknya nyaring.

Ga Lung Hwesio tertawa bergelak. Seorang sutenya lalu menerjang maju sambil

memutar toyanya. Toya baja itu berat dan diayun dengan tenaga besar. Dalam sekali

sambar saja pedang Ong Hui tentu akan dipukul patah atau jatuh. Karena tidak dapat

Koleksi Kang Zusi

mengelak, nyonya muda itu terpaksa mengerahkan tenaga dan mengangkat pedang

“Traaaaanngg…..!!”

Aneh bin ajaib! Bukan pedang di tangan Ong Hui yang patah atau terpental,

sebaliknya nyonya muda ini tidak merasakan kehebatan tenaga lawan dan malah si

hwesio yang memekik kaget, toyanya terlepas dari tangannya dan telapak tangannya

berdarah karena kulitnya terbeset.

Semua hwesio melengak terheran-heran. Hwesio itupun penasaran dan dengan tangan

kosong ia menubruk maju, mengerahkan tenaga dan menggunakan ilmu Kim-na-jiu

untuk merampas pedang orang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan

mengancam ke arah bocah digendongan Ong Hui.

“Celaka!” jerit nyonya itu yang tidak kuasa melindungi puterinya. Akan tetapi

kembali terjadi keanehan yang langka. Sebelum kedua tangan hwesio itu mengenai

sasaran, tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia jatuh berlutut di depan Ong Hui.

Ia hendak menggerakkan tubuh atasnya, akan tetapi kembali kedua pundaknya terasa

lemas seperti tertotok dan mau tak mau ia membungkukkan tubuh, benar-benar kini

berlutut dan menyembah.

Ga Lung Hwesio melangkah maju dan menepuk punggung sutenya itu sambil

mengurut tulang belakang. Baru sutenya itu dapat bangun berdiri dan melompat ke

belakang dengan mata terbelalak heran dan takut. Sementara itu, hwesio kedua

melompat maju lagi, diikuti dua orang hwesio lain dan segera Ong Hui diserang oleh

tiga orang hwesio kosen itu dari tiga jurusan.

Ong Hui sendiri masih terheran-heran melihat hwesio yang menyerangnya tadi tibatiba

roboh. Ia menduga tentu ada orang sakti membantunya, akan tetapi dari mana,

siapa dan bagaimana? Ia tidak ada waktu lagi untuk menyelidiki melihat tiga orang

hwesio menyerangnya dengan hebat.

Ia cepat memutar pedangnya melindungi diri dan anaknya. Kembali terdengar suara

nyaring tiga kali ketika pedangnya menangkis, terlempar tiga batang toya dan seperti

juga tadi, tiga batang toya itu terlempar dan di lain saat angin besar dari arah belakang

Ong Hui yang membuat tiga orang hwesio itu terjengkang roboh dan babak

bundas(luka-luka). Empat orang sute Ga Lung Hwesio itu telah mendapat hajaran

tidak berani maju lagi.

Ga Lung Hwesio berseru keras. “Perempuan rendah! Ilmu siluman apa yang kau

keluarkan?” Ia menyangka bahwa robohnya empat orang sutenya itu adalah karena

Ong Hui mempergunakan ilmu siluman, karena kalau menggunakan ilmu silat saja

tidak mungkin wanita muda ini dapat merobohkan empat orang sutenya. Ia lalu

membaca mantera berkemak-kemik lalu membentak dengan disertai tenaga dalamnya

yang amat hebat. “Berlututlah engkau!”

Ilmu yang dikeluarkan oleh Ga Lung Hwesio ini adalah ilmu “mentaklukkan

semangat”. Lweekang yang disertai ilmu hitam ini memang luar biasa dan semacam

Koleksi Kang Zusi

tenaga luar biasa memaksanya dari dalam untuk segera menjatuhkan diri berlutut di

depan Ga Lung Hwesio yang bertubuh pendek gemuk dan mengangkat tongkat

bambu kuning itu ke atas dengan sikap agung.

Tiba-tiba nyonya muda merasa ada hawa hangat meresap ditubuhnya dan seketika itu

lenyaplah semua perasaan yang hendak memaksa ia berlutut. Sebaliknya Ga Lung

Hwesio menggigil kedua kakinya. Ia mengerahkan tenaga dan membentak lebih

keras. “Berlutut!”

Celaka baginya. Makin kerasnya ia mengerahkan tenaga menyuruh orang berlutut,

makin keras tak tertahan lagi ia menguasai kedua kakinya dan mendadak ia

menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Hui sambil mengangguk-anggukan kepalanya

yang gundul.

Ia merasa terkejut dan heran sekali. Mengapa ilmunya itu malah menguasai dirinya

sendiri? Dia mencoba untuk menahan diri, namun tidak berhasil. Terdengar suara

ketawa perlahan dibelakangnya dan tongkat di tangan Thu Bi Tan mencongkel

pantatnya membuat tubuhnya melayang ke atas dan dapat berdiri lagi.

Marahlah Ga Lung Hwesio. “Iblis betina, mampuslah!” Tongkat bambu kuning di

tangannya menyambar. Ong Hui melompat mundur karena merasa betapa hebatnya

serangan ini.

Tiba-tiba Ga Lung Hwesio menghentikan serangannya dan terhuyung mundur karena

semacam hawa pukulan datang dari belakang nyonya muda itu menyambar dadanya.

Ia sudah mengerahkan lweekang dengan muka pucat saking kagetnya.

Sementara itu sabil tertawa bergelak, Thu Bi Tan melompat jauh, tahu-tahu tiba di

dekat sebuah batu besar yang berada di belakang Ong Hui. Tongkatnya diayun

menghantam batu sambil berseru. “Siluman, keluarlah kau!”

Terdengar suara keras dan batu itu pecah berhamburan. Demikian hebatnya pukulan

Thu Bi Tan yang menandakan bahwa ilmu kepandaian dan tenaganya bukan main

hebatnya. Selenyapnya debu batu yang terpukul hancur, muncullah dari balik batu itu

seorang kakek tinggi kurus yang rambut, jenggotnya panjang putih, sikapnya agung

lagi tenang.

Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Bocah ini bermuka

tampan dan bermata tajam. Melihat Ong Hui didesak Ga Lung Hwesio, bocah itu

berlari-larian dengan beberapa loncatan saja ia sudah tiba di dekat Ong Hui.

“Bibi, larilah lekas dengan keledai, jangan layani orang-orang jahat ini!”

Sambil berkata demikian, ia menghadang di depan Ong Hui untuk mencegah Ga Lung

Hwesio mendesak terus. Ong Hui ragu-ragu akan tetapi mengingat akan keselamatan

anaknya, lalu melompat ke atas keledainya dan membalapkan keledai itu sambil

berseru. “Terima kasih atas pertolongan Locianpwe!”

Koleksi Kang Zusi

Melihat Ong Hui hendak melarikan diri, tanpa memperdulikan bocah yang

menghadang di depannya, Ga Lung Hwesio membentak sambil mengejar.

“Perempuan hina, kau hendak lari ke mana?”

Akan tetapi bocah itu dengan gerakan yang amat ringan sudah melompat di depannya,

mementangkan kedua tangan dan berseru.

“Orang jahat, mau apa kau mengejar?”

Baru sekarang Ga Lung Hwesio memperhatikan bocah ini. Usianya paling banyak

tujuh tahun, pakaiannya sederhana dari kain kasar. Tidak ada apa-apa yang istimewa

pada bocah ini kecuali sinar matanya yang tajam dan sepasang alisnya yang hitam

“Setan cilik, minggirlah!” Tongkatnya menyambar untuk menghantam bocah itu ke

samping. Akan tetapi dengan amat mudah bocah itu mengelak dan tongkatnya

mengenai tempat kosong.

Ga Lung Hwesio terkejut dan marah. Kalau saja ia tidak ingin mengejar Ong Hui,

tentu ia mengirim serangan lagi. Melihat bocah itu sudah mengelak ke samping, ia

lalu melompat dan mengejar terus.

Alangkah heran, kaget dan marahnya ketika tiba-tiba ia melihat bocah itu sudah

berada di depannya lagi menghadang dan mencegah ia mengejar terus.

“Anak setan, apa kau ingin mampus?” bentaknya.

“Hidup bukan kau yang menghidupkan, matipun mana bisa kau yang mematikan?”

jawab bocah itu sambil tersenyum simpul. Ga Lung Hwesio tertegun sejenak. Ucapan

seperti itu benar-benar tidak pantas keluar dari mulut seorang bocah berumur tujuh

Akan tetapi kemarahannya masih kalah oleh keinginannya mengejar Ong Hui, maka

tanpa memperdulikan bocah itu, ia menggerakkan kaki melompati bocah di depannya.

Tentu saja bagi orang sepandai dia, melompati atas kepala bocah itu adalah mudah

Akan tetapi kali ini ia kecele. Bocah itupun melompat ke atas dan ketika kedua

tangannya di ayun, dua batu menyambar ke arah jalan darah di kedua pundak hwesio

Ga Lung Hwesio kaget dan marah sekali, akan tetapi mana ia memandang mata

seorang bocah? Tangan kirinya digerakkan menyampok dua butir batu dan tubuhnya

terus bergerak maju dengan tangan kanan mencengkeram dada bocah itu untuk

menangkap dan melemparkan bocah itu ke samping agar ia dapat terus mengejar Ong

“Hayaaaa, hwesio palsu lihai sekali!” Dengan lucu bocah itu membanting diri ke

belakang, berpoksai tiga kali dan turun ke atas tanah, masih menghadapi hwesio itu

dan menghadang.

Koleksi Kang Zusi

Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang kedudukannya tinggi sekali di Tibet. Di

ibukota Lasha, jangankan penduduk biasa, bahkan tuan tanah dan pembesar menaruh

hormat kepadanya. Sekarang ia digoda dan dipermainkan seorang bocah tentu saja

amarahnya naik ke ubun-ubunnya dan ia menggertak giginya.

“Kau benar-benar bosan hidup!” bentaknya dan tiba-tiba ia harus mengelak karena

ada debu berhamburan di depan mukanya, debu dari tanah dan pasir yang tengah

disambitkan oleh bocah itu kepadanya. Celakanya, setelah mengelak lagi-lagi ada

hujan batu kecil dan pasir dicampur debu mengebul menyerang muka. Untuk

sambitan ini tentu saja Ga Lung Hwesio tidak takut, akan tetapi kalau sampai

mukanya terkena hujan debu, tentu mata hidung, mulut, dan telinganya terancam

bahaya kemasukkan debu kotor.

Saking marahnya, Ga Lung Hwesio lupa akan kedudukannya sebagai seorang tokoh

besar dan ia mulai mengamuk, menyerang bocah itu dengan tongkatnya bukan hanya

serangan gertakan lagi, melainkan serangan maut dengan maksud membunuh. Akan

tetapi ternyata bocah itu lincah sekali gerakan-gerakannya.

Bagaikan seekor burung walet saja layaknya ia “terbang” di antara sambaran tongkat

sambil mulutnya tiada hentinya berseru. “Hwesio palsu! Hwesio jahat!” dan

sebagainya, membuat Ga Lung Hwesio menjadi makin marah dan lupalah ia akan

Ong Hui yang sekarang sudah kabur jauh sampai tidak kelihatan lagi.

Sementara itu, Thu Bi Tan Hwesio yang tadi sudah dapat menduga bahwa Ong Hui

dibantu orang pandai yang bersembunyi di belakang batu, telah memukul hancur batu

besar itu sehingga kelihatan bocah itu bersama seorang kakek tinggi kurus berjenggot

panjang dan putih. Sudah banyak Thu Bi Tan mengenal orang-orang kang-ouw di

daerah Kun-lun, akan tetapi kakek tua ini belum pernah dilihatnya. Namun sebagai

seorang tokoh utama di Tibet, ia tidak mau berlaku sembrono. Ia mengawasi kakek itu

lalu berkata.

“To-yu siapakah dan pernah apa dengan perempuan Kun-lun-pai yang kami kejar?”

Pertanyaan yang dikeluarkan dengan bahasa Han yang kaku ini adalah pertanyaan

yang biasa dipergunakan orang berkedudukan tinggi, singkat akan tetapi sudah

mencakup semua persoalan antara mereka.

Kalau tosu tua itu mengaku masih ada hubungan, maka otomatis tosu inipun musuhmusuh

para hwesio Lama. Kalau bukan apa-apa, berarti tosu itu melanggar peraturan

kang-ouw, mencampuri urusan orang lain.

Kakek itu tersenyum ramah, “Hwesio, wanita muda itu dan anak kecil yang

digendongnya adalah saudaraku, juga kau dan kawan-kawanmu adalah saudaraku.”

Thu Bi Tan Hwesio melengak mendengar jawaban yang aneh ini. Selagi ia hendak

membentak minta penjelasan, kakek itu lalu mengucapkan kata-kata bersyair,

“Di empat penjuru samudra semua adalah saudara!”

Koleksi Kang Zusi

Kemudian ia memandang Thu Bi Tan Hwesio dan melanjutkan kata-katanya.

“Sebagai saudara aku berkewajiban untuk membantu yang lemah, mengingatkan yang

sesat, wajib menolong yang lemah tertindas, memberantas yang menindas.”

Thu Bi Tan Hwesio juga seorang tokoh agama maka ia mengerti akan maksud katakata

ini. Dia tertawa menyindir lalu berkata keras, “Tosu sombong! Sekali bertemu

bagaimana kau tahu mana yang benar mana yang keliru? Apa kau tidak tahu sedang

berhadapan dengan siapa? Pinceng adalah Thu Bi Tan, seorang di antara Su Thai

Losu di Lasha. Apa kau sengaja mengandalkan kepandaian dan berani menentang Su

Thai Losu?”

Nama Su Thai Losu di Tibet dan daerah Kun-lun terkenal sekali dan selama ini tidak

pernah ada orang berani menentangnya. Dengan memperkenalkan diri, Thu Bi Tan

ingin menggebah pergi tosu ini supaya jangan banyak rewel lagi agar dia dan para

keponakan muridnya dapat melanjutkan pengejaran terhadap Ong Hui.

Akan tetapi dengan masih tenang-tenang saja, kakek itu menjawab, “Tidak ada

persoalan berani atau tidak dan siapa menentang siapa tidak, yang ada hanya

menolong yang lemah dan memberantas yang menindas.”

Marahlah Thu Bi Tan. Tongkat kecil panjang ia keluarkan dan tangannya gemetar

menahan nafsu. “Kakek tua, beritahukan namamu sebelum pinceng turun tangan.”

“Apa artinya nama? Diberitahukan juga kau tidak akan mengenalku. Aku tidak

terkenal seperti Su Thai Losu. Thu Bi Tan, aku tidak ingin berkelahi. Lebih baik kau

dan lima orang kawanmu dengan damai kembali ke Lasha, biarkan perempuan lemah

dan anaknya itu pergi dengan aman.”

“Tosu siluman, enak saja kau bicara. Keluarkan senjatamu!”

Kini sikap kakek tua itu keren sekali dan ia pandang Thu Bi Tan Hwesio seperti

seorang guru memandang muridnya. “Senjata hanyalah alat penyambung tangan dan

dipergunakan untuk melindungi diri, bukan untuk menindas sesamanya. Kalau ada

bahaya mengancam diri, barulah senjata dikeluarkan.”

Ucapan ini biarpun dapat diartikan menegur Thu Bi Tan Hwesio yang menggunakan

kepandaian dan senjata untuk menindas orang lain akan tetapi juga bersikap

mengejek, menyatakan bahwa menghadapi Thu Bi Tan tanpa senjatapun kakek itu

merasa tidak berbahaya.

“Kakek tua bangka, siapapun adanya engkau, hari ini pasti tubuhmu hancur seperti

batu itu!” bentak Thu Bi Tan yang menjadi makin marah karena sikap kakek itu yang

ia anggap amat sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepadanya. Ia dapat

menduga, bahwa kalau seorang bisa bersikap demikian tenang dan sombong tak kenal

takut, sudah tentu memiliki kepandaian tinggi, maka paling perlu menghantamnya

sehingga tewas agar tidak rewel-rewel lagi.

Dengan gerakan perlahan ia menghantam. Tongkatnya kelihatannya bergerak lambat

ke arah dada kakek itu, akan tetapi sebetulnya apa yang kelihatan ini adalah

sebaliknya dari pada kenyataannya.

Koleksi Kang Zusi

Seorang ahli lweekeh seperti dia ini, memang di dalam serangannya terkandung unsur

“kosong berisi” atau “lemah kuat”, kelihatan lemah dan perlahan akan tetapi

sebetulnya luar biasa kuatnya. Dengan kekuatannya seperti inilah maka tongkat kayu

bisa menghancurkan batu, dan pukulan yang kelihatan perlahan dapat merusak bagian

dalam tanpa merusak bagian luar.

Kakek itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, hanya berdiri diam acuh tak

acuh, seakan-akan tidak tahu bahwa dirinya sedang diserang, bahkan diancam

serangan maut yang sekali kena akan mengakibatkan kematiannya. Thu Bi Tan bukan

seorang biasa, dia tokoh besar dan tentu saja dia tidak sudi membunuh seorang lemah

yang tidak melawan sama sekali.

Melihat kakek ini tidak mengelak dan tidak menangkis, hatinya terguncang dan

otomatis ia menarik kembali tenaganya sehingga tongkat itu kini bergerak cepat sekali

akan tetapi tidak mengandung tenaga lweekang sehingga apabila mengenai dada

kakek itu hanya akan membuat kakek itu terguling roboh tanpa menderita luka hebat.

“Werrrr……!” Tongkat menyambar cepat sampai tidak kelihatan bayangannya. Kakek

tetap tidak bergerak tapi ….. alangkah herannya hati Thu Bi Tan ketika tongkatnya itu

mengenai angin, sama sekali tidak menyentuh tubuh orang tua itu.

Padahal menurut penglihatannya, kakek itu sama sekali tidak mengelak dan

sekarangpun masih berdiri di tempat yang tadi tanpa mengubah kedudukan kaki,

masih tersenyum ramah memandangnya.

“Setankah dia……??” ia berpikir dengan penasaran lalu menghantam lagi, kali ini

lebih cepat dan lebih keras daripada tadi, masih belum mengisi gerakannya dengan

tenaga lweekang. Sekali lagi luput serangan itu tanpa lawannya berpindah tempat.

Karena Thu Bi Tan sekarang menyerang sambil memasang mata ia melihat betapa

serangannya tadi digagalkan oleh gerakan kakek itu dengan amat cepat dan halus,

yaitu menyedot bagian tubuh yang yang terserang sehingga legok dan tongkat itu

tidak menyentuh kulit. Ia kaget sekali.

Sedemikian tingginya lweekang kakek ini sehingga semua bagian tubuhnya seakanakan

bermata? Ia menjadi penasaran karena terang-terangan kakek itu tidak

memandang sebelah mata kepadanya sehingga menghadapi dua serangannya seperti

seorang guru menghadapi serangan murid.

“Bagus! Coba tahan serangan ini!” bentaknya dan kini tongkatnya diputar tiga kali di

atas kepala, lalu langsung dipakai membabat tubuh lawannya bagian tengah. Tak

mungkin dapat mengelak tanpa memindahkan kaki, pikirnya. Akan tetapi sekali lagi

pukulannya mengenai angin dan tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap dari depan matanya.

Setelah tongkatnya menyambar lewat, tubuh kakek itu kelihatan lagi, masih berdiri

tersenyum seperti tadi.

Thu Bi Tan kaget setengah mati. Ia dapat menduga bahwa tanpa mengubah

kedudukan kaki, kakek tua ini telah membuang diri ke belakang tanpa menggeser kaki

sehingga tubuhnya telentang di atas tanah, akan tetapi hanya sebentar saja karena

begitu tongkat lewat, ia sudah menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegak. Inilah

Koleksi Kang Zusi

perbuatan yang benar-benar hebat dan sukar dilakukan biarpun oleh seorang ahli yang

amat ulung.

“Mengalah hanya bertingkat tiga,” kata kakek tua itu masih tersenyum, “pertama

berdasarkan kesabaran, ke dua berdasarkan anggapan bahwa orang telah mendesak

karena terburu nafsu, dan ke tiga berdasarkan anggapan bahwa orang melakukan

karena kebodohannya.

Kalau sudah mencapai tingkat ke empat, berarti orang itu memang berwatak jahat dan

suka mencelakakan sesamanya. Hwesio, sekali lagi kuperingatkan kau dan kawankawanmu,

pergilah dengan damai.”

Pada saat itu bocah berusia tujuh tahun tadi masih digempur hebat oleh Ga Lung

Hwesio. Hwesio ini sudah marah sekali, mencak-mencak dan memaki-maki karena

sampai puluhan jurus belum juga ia berhasil merobohkan bocah itu, belum berhasil

tongkatnya mengenai tubuh si bocah. Benar-benar hal ini merupakan hal yang amat

menakjubkan sampai empat orang sutenya berdiri melongo saking herannya.

Bocah itu lebih gesit daripada seekor monyet dan biarpun tubuhnya kadang-kadang

terbawa oleh hawa pukulan Ga Lung Hwesio yang mengandung tenaga lweekang,

namun tetap saja selalu dapat menghindarkan diri. Yang aneh adalah gerakan kaki

bocah itu yang diatur sedemikian sempurna merupakan langkah-langkah kedudukan

bintang di langit.

“Eh, eh, bukan aku yang pintar melainkan kau yang goblok tidak dapat mengenaiku.

Kenapa marah?” balas bocah itu tertawa-tawa ketika Ga Lung Hwesio mulai memakimaki.

Ga Lung Hwesio segera sadar. Dia seorang ahli silat tinggi dan sekarang tahulah ia

bahwa kegagalannya itu sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Dia terlalu

bernafsu dan menganggap lawannya hanya seorang bocah.

Padahal sekarang kenyataannya bahwa biarpun masih cilik, bocah ini sudah

mengetahui dasar-dasar ilmu silat tinggi dan memiliki kedudukan kaki yang amat

teratur. Biarpun menghadapi bocah, ia harus menggunakan taktik pertempuran, bukan

membabi buta seperti tadi. Ia mulai mengurangi serangannya dan maju dengan

tongkat dan tangan kiri, menyerang dengan mantap dan kuat.

“Suhu, susah teecu kalau begini ….” bocah itu melompat ke kiri menghindarkan

sambaran tongkat dan membuang diri ke belakang ketika pundaknya hampir kena

dicengkeram oleh Ga Lung Hwesio.

Pada saat itu kakek tua tadi menoleh dan dengan sabar kakek itu menjemput sebatang

ranting yang menggeletak di dekat kakinya. Dilontarkan ranting itu ke arah bocah tadi

sambil berseru, “Sun-ji, sambutlah!”

Bocah itu biarpun sudah menjauhkan diri ke belakang, begitu melihat sambaran

ranting ke arahnya, cepat mengulur tangan menangkap ujung ranting. Hebat tenaga

sambaran ranting ini karena begitu terpegang, bocah itu terbang terbawa oleh ranting

melayang-layang lalu membelok dan kembali kepada si kakek.

Koleksi Kang Zusi

“Duduk di punggungku!” kata kakek itu dan bocah tadi dengan gembira lalu

menjambret pundak si tua dan duduk nongkrong di punggung, kepalanya dengan

wajah yang berseri mengintai dari balik pundak ke depan. Benar-benar dia seperti

seekor monyet kecil yang nakal. Hidungnya dicungar-cungirkan kepada Thu Bi Tan

dengan lagak mengejek sekali.

“Hwesio tua, apa kau sudah makan?” tanyanya tiba-tiba.

Thu Bi Tan yang sedang terheran-heran dan kagum menyaksikan kepandaian kakek

yang luar biasa ketika “mengambil” muridnya tadi, mendengar pertanyaan tiba-tiba

ini, tanpa disadarinya lagi menjawab.

“Apa….. belum ….. belum makan.”

Bocah itu memperlihatkan muka menaruh kasihan, lalu menyodorkan sepotong kue

kering dari sakunya. “Nah, kau makanlah.” Tapi tiba-tiba ia menarik kembali kuenya

dan berkata cepat-cepat. “Eh, maaf aku lupa. Kue ini mengandung minyak babi. Nih,

sayang hanya tinggal tiga helai dan sudah agak kering.”

Ia menyodorkan ranting yang masih dipegangnya. Di ujung ranting itu terdapat tiga

helai daun yang sudah hampir kering.

Thu Bi Tan menjadi merah mukanya. Bocah itu secara memutar telah memakinya.

Para hwesio memang biasanya tidak makan daging dan selalu makan sayur-sayuran,

maka selalu dimaki keledai. Sekarang bocah itu menawarkan daun, sama saja dengan

memaki keledai. Akan tetapi karena ia maklum bahwa lawannya amat lihai, ia segera

membentak lima orang murid keponakannya. “Kurung dengan Ngo-heng-tin!”

Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya tadipun melongo menyaksikan kepandaian kakek

yang mereka anggap mengeluarkan ilmu siluman itu. Sekarang mendengar bentakan

Thu Bi Tan, mereka cepat melompat maju sambil memegang toya masing-masing.

Dengan teratur lima orang ini lalu mengurung dan di lain saat sudah membentuk

barisan Ngo-heng-tin.

Maju seorang saja mereka ini mungkin tidak berarti bagi lawan, akan tetapi sekali

maju bersama dalam bentuk barisan yang disebut Ngo-heng-tin, biarpun lawan

memiliki kepandaian tinggi, tidak mudah mengalahkan mereka.

Dengan terbentuknya barisan ini, tidak saja tenaga mereka tergabung menjadi satu

sehingga lima kali lebih kuat, juga mereka seperti seorang sakti yang mempunyai lima

macam kedudukan, lima macam tenaga, dan lima macam keampuhan. Disamping

Ngo-heng-tin ini, di situ masih ada lagi Thu Bi Tan yang sudah merupakan seorang

lawan sakti yang tidak boleh dipandang ringan.

Tapi kakek tua itu kelihatannya masih tenang saja, malah berkata kepada bocah di

gendongannya. “Yalu Sun, berlatih kau, lawanlah enam orang hwesio ini.”

Bocah itu nampak gembira. “Baik, suhu. Hei, liok-wi losuhu, majulah!” Sambil

berkata demikian ia menggerak-gerakkan ranting di tangannya.

Koleksi Kang Zusi

Thu Bi Tan tercengang. Orang terlalu memandang rendah kepadanya karena dia yang

berkedudukan tinggi sudi melawan seorang bocah? “Binasakan saja kakek dan bocah

ini, mereka terlampau memandang rendah dan menghina kita!” serunya kepada lima

orang murid keponakannya.

Ngo-heng-tin bergerak mengitari kakek itu yang berdiri tegak sambil menggendong

bocah itu. “Perhatikan gerakan mereka, rasakan bagaimana aku mengambil

kedudukan dan buka mata telinga dengarkan jurus-jurus yang kau mainkan,” dengan

suara tenang sekali kakek itu memberitahukan kepada bocah di gendongannya.

“Baik, suhu,” jawab bocah itu dengan gembira dan wajah berseri.

Barisan Ngo-heng-tin bergerak-gerak makin lama makin cepat mengitari tubuh kakek

itu. Tiba-tiba Ga Lung Hwesio yang menjadi pemimpin Tin (barisan) ini berseru

dalam bahasa Tibet memberi perintah kepada sute-sutenya. Dua orang yang ketika itu

kedudukannya di depan dan di belakang si kakek, serentak mengayun toya melakukan

serangan, yang di depan menghantam kepala dan yang di belakang menyerampang

kaki. Serangan atas bawah ini cepat, kuat dan berbahaya sekali.

“Pek-in-ci-tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat)” seru kakek itu sambil melompat ke

atas sehingga serampangan toya dari belakang yang mengarah kakinya mengenai

angin, sedangkan bocah itu yang mendapat petunjuk gurunya lalu menggunakan

ranting kayu seperti pedang digerakkan ke atas menangkis datangnya toya ke arah

Melihat bocah itu menangkis toyanya menggunakan ranting kecil, hwesio yang

menyerangnya menjadi girang dan cepat mengempos semangatnya. Ia tidak ragu-ragu

lagi bahwa toyanya tentu akan mematahkan ranting terus menghancurkan kepala

orang, karena mana ada seorang bocah kecil dapat menangkis tongkatnya dengan

ranting?”

13. Cucu Sungai Yalu-cangpo

Akan tetapi kesudahannya membuat ia berteriak kesakitan dan melompat mundur

dengan kaget karena telapak tangannya sakit-sakit ketika toyanya tertangkis oleh

ranting itu. Tentu saja bocah ini menjadi lihai karena secara diam-diam kakek yang

menggendongnya menyalurkan hawa sinkang ke dalam tubuh bocah itu dan

disalurkan ke arah tangan yang memegang ranting……..

Ternyata kakek itu hanya “meminjam” tangan muridnya untuk menangkis pukulan

tadi. Ga Lung Hwesio melihat kegagalan serangan pertama lalu berteriak lagi

memberi aba-aba. Mendengar aba-aba ini empat orang hwesio serentak memutar toya

dan barisan ini menyerang kalang kabut dan secara bertubi-tubi. Dari lima jurusan

datanglah hujan toya ke arah kakek dan muridnya ini.

“Hui-po-lui-hong (Air Tumpah Terbang, Bianglala Melengkung), Im-mo-sam-bu

(Payung Awan Tiga Kali Menari). Hui-in-toan-san (Awan Terbang Memutus

Gunung)!” Kakek itu berloncatan ke sana ke mari pula sambil memberi perintah

Koleksi Kang Zusi

Dengan penuh ketekunan dan perhatian, bocah itu secara otomatis mainkan

rantingnya menurut petunjuk suhunya dan……. semua serangan toya dapat ditangkis

dan dipunahkan oleh jurus-jurus yang ia mainkan itu.

Ga Lung Hwesio mendesak terus bersama empat orang kawannya. Gerakan kakek itu

halus seperti tidak bergerak, tetapi selalu dapat mengisi tempat kosong dan ranting di

tangan si bocah itupun selalu dapat mengusir bahaya yang datang mengancam. Lima

puluh jurus lebih tin ini mengurung tanpa dapat melukai guru dan murid itu karena

penjagaan ranting amat kuat.

Tiba-tiba kakek itu berkata. “Yalu Sun, sekarang kita membalas. Awas! Sian-jinhoan-

eng (Dewa Menukar Bayangan)! Sian-jin-sia-ciok (Dewa Memanah batu)! Katin-

liok-liong (Menunggangi Enam Ekor Naga)!”

Hebat sekali ranting di tangan bocah itu. Selain ranting membuat gerakan menyerang,

barisan itu kalang kabut dan kacau balau. Ga Lung Hwesio masih berseru ke sana sini

untuk menjaga agar barisan tidak kacau, namun tetap saja serangan-serangan bocah

yang digendong oleh si kakek membuat mereka terdesak hebat.

Melihat ini, Thu Bi Tan yang tadinya merasa terheran-heran kini menjadi marah

bukan main. Sambil mengeluarkan seruan keras ia menerjang maju dan menyerang

dengan tongkatnya. Bocah itu terkejut sekali karena seruan yang merupakan pekik

dahsyat ini membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua tangannya tergetar.

Itulah pekik yang dikerahkan dengan lweekang tinggi dan dia sendiri yang belum

memiliki tenaga lweekang cukup kuat terpengaruh oleh pekik ini.

Gurunya mengulur tangan dan menepuk punggungnya sehingga pengaruh itu lenyap

kembali akan tetapi ranting yang dipegangnya sudah berpindah ke tangan gurunya.

Kini kakek itu sendiri yang menggerakkan ranting menangkis serangan tongkat Thu

Bi Tan.

Terdengar suara keras, ranting patah akan tetapi tongkat itupun terlepas dari tangan

Thu Bi Tan. Kakek tua itu tertawa nyaring lalu berkata. “Yalu Sun, sudah cukup

berlatih, mari kita pergi!”

Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah melompat jauh sekali, seperti

terbang saja. Tiga empat lompatan lagi dan kakek itu lenyap bayangannya,

meninggalkan enam orang hwesio yang berdiri bengong.

“Sudahlah…… sudahlah……!” Thu Bi Tan Hwesio membanting-banting kaki sambil

menghela napas berulang-ulang. “Benar kata mendiang suhu bahwa di timur banyak

sekali orang Han yang sakti. Tidak perlu kita mengejar bocah murid Kun-lun-pai itu.

Dengan hati penuh penasaran enam orang hwesio itu lalu kembali ke barat. Enam

orang murid kepala itu tidak membantah karena hati mereka juga sudah gentar

menghadapi kakek tua dan bocah yang aneh sekali itu.

Demikianlah, dengan selamat Ong Hui membawa anak perempuannya ke puncak

Kun-lun untuk mengungsi ke Kun-lun-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa

ayah dan supeknya kepada To Gi Couwsu ketua Kun-lun-pai. Ia sama sekali tidak

Koleksi Kang Zusi

tahu. siapa kakek dan bocah yang telah menolongnya dari tangan enam orang hwesio

dari Lasha itu.

Sambil menangis ia melaporkan keadaannya kepada para tokoh Kun-lun-pai. Karena

kejadian itu merupakan pukulan hebat bagi Kun-lun-pai, yaitu tewasnya Cin Kek

Tosu yang menjadi murid keponakan To Gi Couwsu sendiri, maka para murid Kunlun-

pai memberanikan diri melaporkan hal ini kepada To Gi Couwsu yang sudah

mengasingkan diri di dalam kamarnya.

Tosu tua itu menarik napas panjang, “Siancai…… para hwesio di Tibet benar-benar

masih tidak dapat mengekang nafsu duniawi, Cin Kek tewas dalam kebenaran, biarlah

tak usah dipikirkan lagi.”

Ketika ia mendengar penuturan Ong Hui tentang kakek dan bocah yang menolongnya,

wajah kakek ini berseri. “Ah, kiranya twa-suheng (kakak seperguruan tertua) masih

hidup dan masih suka main-main. Heran sekali mengapa dalam usia tua dia masih ada

kesempatan menerima murid?”

Kakek ini memandang bayi dalam pondongan Ong Hui, kembali ia menghela napas

panjang. “Bocah ini telah mengalami penasaran, sebelum lahir ditinggalkan ayah,

sesudah lahir dikejar-kejar maut. Twa-suheng telah mengambil murid dihari tua,

kenapa aku tidak meniru? Biarlah bocah ini kelak mewarisi ilmu di Kun-lun.”

Kedukaan hati Ong Hui membuat tubuhnya tidak kuat menahan derita. Suaminya

terpisah darinya, ayahnya terbunuh dan hal ini membuat ia begitu berduka sampai tak

kuat ia menahan. Baru saja Bi Hong berusia satu tahun, nyonya muda ini meninggal

dunia di Kun-lun-san.

Bi Hong dirawat oleh para tosu dan menjadi kesayangan semua tosu di situ. Malah To

Gi Couwsu sendiri amat menaruh kasihan dan menyayanginya sehingga guru besar ini

kemudian berkenan menurunkan kepandaiannya, melatih dan memberi pimpinan

kepada Bi Hong.

Demikianlah, enam belas tahun kemudian, Bi Hong telah menjadi seorang nona yang

berjiwa sederhana, berwatak riang jenaka, dan mewarisi ilmu kepandaian tinggi dari

Kun-lun-pai.

******

Kita kembali ke puncak Kun-lun-san di mana Bi Hong baru saja diuji ilmu

kepandaiannya oleh para tosu. Kemudian gadis itu menangis karena teringat akan

musuh-musuh besarnya, hwesio-hwesio di Lasha yang telah membunuh kongkongnya

dan supekcouwnya, malah yang sudah membuat ibunya sampai mati dalam usia muda

karena berduka. Mendengar gadis itu keras sekali kehendaknya hendak turun gunung

dan mencari musuh besar menuntut balas. To Gi Couwsu menghela napas.

“Balas membalas, bunuh membunuh, ahh…… dunia suram-muram penuh hawa

kebencian. Bi Hong, kau bicara tentang membalas dendam, tahukah engkau siapa

yang telah membunuh kong-kongmu dan yang menyerbu ke tempat tinggal supekcouw

mu?”

Koleksi Kang Zusi

“Menurut keterangan yang teecu kumpulkan dari para suheng yang mendengar cerita

mendiang ibu, yang menyerbu adalah Thu Bi Tan Hwesio bersama Ga Lung Hwesio

dan empat orang hwesio lain dari Lasha.”

“Jadi kau hendak mencari enam orang hwesio itu.

“Betul suhu. Setidaknya teecu harus dapat membalas dendam kepada Thu Bi Tan

Hwesio dan Ga Lung Hwesio, karena mereka itu yang memimpin penyerbuan?”

“Bi Hong, tahukah kau siapa ayahmu?”

Ditanya begini, muka gadis itu berubah. Dia menggigit bibir menahan gelora hatinya

lalu mengangguk menjawab, “Teecu mendengar dari para suheng bahwa dahulu ibu

pernah menyatakan siapa adanya ayah teecu. Ayah adalah suheng ibu sendiri, murid

supek-couw bernama Wang Sin.”

“Anak, kau tidak tahu banyak. Ketahuilah urusan permusuhan dengan hwesio Tibet

sebetulnya adalah urusan ayahmu. Ibumu hanya terbawa-bawa dan karena ayah

ibumu sudah membunuh beberapa orang hwesio Tibet, maka hwesio-hwesio dari

Lasha itu membunuh kong-kong dan supek-couwmu.

Pinto tidak keberatan kau membalas dendam kong-kongmu, akan tetapi agar tidak

terjadi urusan permusuhan sampai terlalu mendalam, dan untuk mengetahui duduk

perkaranya urusan yang berbelit-belit ini, sebelum membalas lebih dulu kau carilah

ayahmu itu. Segala sepak terjang harus didasarkan atas keadilan, tidak boleh membabi

buta menurutkan nafsu membenci dan dendam.”

Bi Hong mengangkat mukanya. “Suhu, ke manakah teecu harus mencari ayah? Yang

teecu ketahui hanya berita tidak jelas bahwa……. bahwa ayah sudah meninggalkan

ibu…….” suaranya berubah perlahan, wajahnya nampak berduka dan penasaran. Sejak

kecil, sejak mendengar bahwa ayahnya meninggalkan ibunya, diam-diam anak ini

membenci atau setidaknya tidak suka kepada ayahnya.

“Ayahmu seorang Tibet, ke mana lagi mencari dia kalau tidak ke barat? Dahulu

ayahmu tinggal di desa Loka, kau bisa mencarinya di sana atau di sekitarnya.”

Bi Hong girang. Ia memberi hormat lalu berkata, “Kalau begitu, harap suhu

mengijinkan teecu pergi sekarang juga.”

Tosu tua itu mengangguk-angguk. “Pergilah Bi Hong, Hanya pesanku, hati-hatilah

kau. Hwesio di Lasha adalah orang-orang sakti dan tidak boleh dipandang ringan.”

“Teecu akan memperhatikan semua nasehat suhu.” Setelah memberi hormat lagi

kepada suhu dan suhengnya, nona ini lalu pergi ke kamarnya untuk membawa

Para tosu di Kun-lun diliputi suasana sunyi. Semua tosu di situ menyayangi gadis itu

dan mereka tahu bahwa sepergi gadis itu dari puncak, tempat itu akan menjadi sunyi

bagi mereka. To Gi Couwsu sendiri merasa kehilangan ini.

Koleksi Kang Zusi

Semenjak Bi Hong masih kecil, dia melatih anak itu dan menyayanginya seperti cucu

sendiri. Tosu ini maklum bahwa kepergian gadis itu akan menempuh bahaya yang

tidak kecil dan masih diragukan apakah dia yang sudah amat tua akan dapat bertemu

kembali dengan Bi Hong.

“Lee Kek, jangan tegakan hatimu. Kau kawanilah sumoimu itu pergi mencari ayahnya

ke barat!”

Bukan main girangnya hati Lee Kek Tosu murid kepala Kun-lun-pai itu. Ia cepat

berlutut dan berkata, “Suhu, teecu akan menjaga sumoi dengan segenap jiwa raga

teecu.” Ia lalu mengundurkan diri menyusul sumoinya.

Tak lama kemudian, dua orang itu, seorang tosu tua dan seorang gadis muda belia

turun dari puncak diikuti pandang mata puluhan orang tosu. Beberapa kali Bi Hong

menengok dan melambaikan tangan. Semua tosu di situ, suheng-suhengnya, baginya

seperti paman-paman sendiri, maka iapun merasa terharu harus meninggalkan puncak

yang sudah dialami selama belasan tahun itu.

******

Kiranya tidak sukar untuk diduga siapa adanya kakek tua aneh dan bocah nakal yang

telah menolong Ong Hui belasan tahun yang lalu itu. Bocah itu bukan lain adalah

Wang Tui yang sudah berganti nama menjadi Yalu Sun. Seperti telah dituturkan di

bagian depan, Wang Tui, bayi cucu nenek lumpuh yang kehilangan kedua orang

tuanya karena kekejaman tuan tanah di Loka, akhirnya dibawa lari oleh Ci Ying.

Akan tetapi bayi itu berpisah dari Ci Ying dan hanyut terbawa perahu. Tentu akan

habis riwayat bayi itu kalau saja ia tidak ditolong oleh seorang kakek sakti yang

kemudian menjadi gurunya. Kakek itu sebetulnya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai

yang sudah mengasingkan diri puluhan tahun lamanya. Ia malah masih pernah kakak

seperguruan dari To Gi Couwsu, pada saat itu merupakan orang terutama di Kun-lun

memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Orang-orang sudah tidak mengenalnya lagi dan dia hanya disebut Pek-kong Kiamsian

(Dewa Pedang Sinar Putih). Adapun Wang Tui, bocah itu, tentu saja tidak

diketahui namanya dan oleh Pek-kong Kiam-sian diberi nama Yalu Sun (cucu sungai

Yalu-cangpo), sesuai dengan keadaannya, ditemukan di atas perahu yang berada di

sungai Yalu-cangpo.

Selama dua puluh tahun lebih, Pek-kong Kiam-sian yang dahulunya bernama Tok Tek

Cinjin, menurunkan ilmu kepandaiannya kepada muridnya ini, yang ternyata amat

cerdik dan berbakat. Bakatnya ini sudah dibuktikan ketika dalam usia tujuh tahun dia

sudah dapat menghadapi Ga Lung Hwesio mengandalkan kelincahan tubuhnya.

Dengan amat tekun Wang Tui atau Yalu Sun, (lebih baik kita menyebutnya Yalu Sun

karena bocah itu sendiri tidak tahu bahwa ia bernama Wang Tui) belajar ilmu dan

akhirnya ia berhasil mewarisi ilmu kepandaian suhunya. Melihat muridnya telah

tamat dan tidak ada apa-apa lagi yang dapat ia ajarkan, Pek-kong Kiam-sian lalu

berpisah dari muridnya.

Koleksi Kang Zusi

“Muridku, ada saat berkumpul harus ada saat berpisah. Kau sudah tamat belajar,

kepandaianmu sudah tak kalah olehku hanya tinggal mematangkan dalam latihan saja.

Sekarang tugasku selesai, kau boleh pergi kemana sesukamu.”

Yalu Sun berlutut dan menangis. “Suhu, mohon kasihan. Teecu tidak sanggup

meninggalkan suhu. Biarlah teecu merawat suhu yang sudah tua, teecu tidak tega

meninggalkan suhu seorang diri dalam usia tua.”

“Anak bodoh, berapa lama kau hendak mengeram dirimu di sampingku? Kalau

umurku masih panjang, apakah kau hendak mengawaniku sampai kau menjadi

seorang tua pula? Usiamu kini sudah dua puluh dua tahun, sudah lebih dari dewasa

untuk hidup sendiri mencari pengalaman.”

“Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang teecu kenal, suhu adalah guruku

juga pengganti orang tuaku. Bagaimana teecu tega untuk berpisah selagi suhu sudah

amat tua?”

“Heh, apa kau masih banyak bantahan? Tidak terpisah sekarang, tentu akan datang

saatnya berpisah. Mana ada manusia hidup kekal di dunia ini? Kau seorang manusia,

tentu dahulu ada yang melahirkan kau, tentu ada ayah dan ibumu. Sudah menjadi

kewajibanmu setelah kau sekarang memiliki kekuatan dan kepandaian, kau mencari

ayah ibumu itu. Aku sendiri tidak tahu siapa mereka, akan tetapi karena kau

mempunyai darah Tibet, tidak salah lagi orang tuamu tentulah tinggal di barat.

Berangkatlah ke Lasha dan di sana kau boleh mencari-cari keterangan tentang ayah

bundamu itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah, Sun-ji, karena aku sendiri tidak tahu siapa

mereka itu dan siapakah kau ini sebenarnya. Nah, berangkatlah dan berhati-hatilah.

Aku sendiri hendak merantau, mencari tempat yang cocok untuk melewati hari tua

dengan aman dan damai.”

Terbangun semangat Yalu Sun ketika gurunya bicara tentang orang tuanya. Memang

semenjak kecil ia amat rindu untuk mengetahui dan mencari ayah bundanya yang

sama sekali tidak dikenalnya, tidak diketahui pula namanya. Ia berlutut lagi untuk

menghaturkan terima kasih atas pimpinan yang penuh cinta kasih selama dua puluh

tahun lebih dari suhunya.

Akan tetapi sebelum ia mengucap sesuatu, berkelebat bayangan putih dan kakek itu

sudah lenyap dari depannya. Hanya sebatang pedang terletak di depan Yalu Sun

sebagai pengganti kakek itu. Yalu Sun menghela napas dan mengambil pedang itu.

“Suhu benar-benar mengharuskan aku turun gunung, pedang Pek-kong-kiam

ditinggalkan untukku. Kalau aku tidak dapat mencari orang tuaku sampai berhasil

bukankah sia-sia saja pengharapan suhu?”

Tak lama kemudian pemuda inipun meninggalkan puncak itu mulai dengan

perjalanannya ke barat. Yalu Sun berusia dua puluh satu tahun atau dua puluh dua

tahun, tubuhnya tegap, wajahnya berseri matanya kocak tanda wataknya periang.

Pakaiannya sederhana sekali dan pedang Pek-kong-kiam tergantung di pinggang kiri.

Dengan ilmu meringankan tubuh, ia berlari cepat sekali.

******

Koleksi Kang Zusi

Sungguh merupakan hal yang amat kebetulan bahwa waktu Yalu Sun turun gunung,

hanya sebulan yang lalu Bi Hong juga meninggalkan Kun-lun-pai menuju ke barat.

Marilah kita mengikuti perjalanan Bi Hong yang juga melakukan perjalanan cepat dan

hanya terpisah dua-tiga ratus lie saja dari Yalu Sun.

Dengan penuh semangat, gadis itu bersama twa-suhengnya, yaitu Lee Kek Tosu,

melakukan perjalanan ke barat. Menurut keterangan yang mereka dapatkan di tengah

perjalanan, dusaun Loka berada di lembah sungai Yalu-cangpo dan ke dusun inilah

mereka menuju.

Pada suatu sore ketika mereka tiba di luar sebuah hutan kecil, mereka mendengar

suara laki-laki yang amat nyaring memaki-maki dan suara ketawa perlahan. Lee Kek

Tosu terkejut mendengar suara ketawa ini yang menunjukkan bahwa orangnya

tentulah seorang ahli lweekang yang berkepandaian tinggi.

Agaknya orang sedang bertengkar di dalam hutan. Mari kita lihat, twa-suheng,” kata

Bi Hong.

“Marilah, akan tetapi di tempat asing ini harap kau suka bersabar dan jangan

mencampuri urusan orang lain,” tosu itu memperingatkan sumoinya.

Sambil beridap mereka menghampiri tempat itu dan bersembunyi di balik pohonpohon.

Ternyata bahwa suara ribut-ribut itu datang dari tengah hutan dan di situ

mereka melihat seorang pemuda sedang berdiri berhadapan dengan dua orang hwesio

Pemuda ini masih muda sekali, paling banyak berusia enam belas atau tujuh belas

tahun, akan tetapi tubuhnya tegap dan kelihatan amat kuat, wajahnya membayangkan

kegagahan dan dipunggungnya tampak sebatang pedang panjang. Pemuda ini sedang

marah-marah dan sambil membanting kaki ia berseru.

“Hwesio-hwesio bau! Sudah kukatakan namuku Kalisang dan aku bertanya baik-baik

kepada kalian tentang kota Lasha. Mengapa sebaliknya kalian tidak tahu malu

bertanya-tanya tentang keluargaku? Minggirlah, aku Kalisang tidak sudi bicara lagi

denganmu.”

Bi Hong yang mengintai dari balik pohon menjadi heran sekali. Pemuda tegap itu

berpakaian seperti orang Han, akan tetapi air muka dan bahasanya membayangkan

bahwa dia adalah seorang Tibet.

Seorang di antara dua orang hwesio itu, yang tua bertubuh gemuk dan memegang

tongkat bambu kuning kecil panjang tertawa. Suara ketawanya perlahan akan tetapi

menggetarkan dan inilah suara ketawa yang tadi mengejutkan hati Lee Kek Tosu.

“Ha-ha-ha, pemuda bernyali harimau. Biarpun kau berlagak seperti orang Han, semua

orang dapat melihat bahwa kau seorang bocah Tibet. Sebagai orang Tibet, mengapa

kau begini kurang ajar berani bersikap kasar terhadap seorang pendeta Lama? Bahkan

srigala-srigala hitam yang berkeliaran di sini tidak berani berlaku kurang patut

terhadap pinceng. Hayo lekas katakan kau anak siapa, murid siapa dan apa

Koleksi Kang Zusi

keperluanmu mencari kota Lasha?”Ucapan terakhir ini mengandung ancaman dan

“Pendeta bau! Justeru aku tidak mau menghormat semua pendeta Lama yang jahatjahat,

habis kau mau apa? Orang tuaku tidak ada sangkut paut, gurukupun tidak, tak

perlu kau kenal mereka. Kau mau tahu mengapa aku hendak ke Lasha? Dengarlah,

aku hendak membasmi keledai-keledai gundul!”

Hwesio gemuk pendek itu marah sekali, kawannya mengeluarkan suara. “Iihhh…..”

dan meraba-raba kepalanya yang gundul. Bi Hong juga kaget dan twa-suhengnya

berbisik, “Hemmmm, bocah ini lancang mulut dan nekad sekali.”

Akan tetapi Bi Hong memuji kagum. “Dia benar-benar bernyali harimau.”

“Bocah gila!” hwesio yang tadi meraba kepalanya membentak. “Setan cilik macammu

ini berani mengeluarkan omongan seperti itu? Lihat, kedua tanganku cukup untuk

membekuk lehermu, jangan sebut lagi para guru besar di Lasha itu? Jagalah!” Hwesio

ini yang memegang sebuah tongkat kayu sebesar mulut mangkuk, benar-benar

melemparkan tongkatnya ke tanah, lalu dengan kedua tangan kosong ia menubruk,

tangan kiri menghantam kepala, tangan kanan mencengkeram dada pemuda tanggung

Serangan ini hebat sekali dan dari bunyi angin pukulannya dapat diketahui bahwa

hwesio yang mukanya putih ini memiliki kepandaian lumayan dan tenaganya besar.

Akan tetapi lebih hebat sambutan anak muda itu. Pukulan ke arah kepalanya ia

tangkis dengan tangan kanan, sedangkan cengkeraman ke arah pundak ia biarkan saja.

Sambil mengerahkan tenaganya ia malah membalas dengan pukulan telapak tangan ke

arah jidat hwesio itu.

“Plakkk……!!” Hwesio itu terkena tampar jidatnya, menjerit ngeri dan tangannya yang

sudah mencengkeram pundak pemuda itu terlepas, tubuhnya lemas dan ia roboh

telentang di atas tanah, tak bernapas lagi. Di atas jidatnya terdapat tanda lima buah

jari tangan hitam dan seluruh mukanya berubah hijau.

“Ganas sekali…….!” Bi Hong bersru kaget.

Hwesio pendek gemuk itupun kaget melihat kawannya tewas seketika, lebih-lebih

kagetnya melihat muka kawannya itu yang berubah kehijauan. Hampir berbareng,

hwesio gemuk pendek ini dan Lee Kek Tosu berseru kaget. “Cheng-hoa-pai …..!”

Hwesio gemuk pendek itu dengan seruan marah lalu menyerang si pemuda,

menggunakan tongkat bambunya dan ternyata ia lihai bukan main. Pemuda itupun

mencabut pedangnya, pedang yang mengeluarkan sinar ungu. Ilmu pedangnya juga

dahsyat dan ganas dan di lain detik mereka sudah bertempur mati-matian.

“Twa-suheng, apakah itu Cheng-hoa-pai?” tanya Bi Hong terheran-heran sambil

memandang ke arah pertempuran.

Koleksi Kang Zusi

Lee Kek Tosu menggelengkan kepalanya. “Tidak baik….. tidak baik……. maka suhu

tidak pernah bercerita, juga pinto dan para sute tidak mau menceritakan kepadamu.

Cheng-hoa-pai berpusat di Heng-toan-san, jadi masih tetangga kita.

Akan tetapi oleh karena sepak terjang mereka tidak cocok dengan kita, maka di antara

kita dengan mereka tidak ada hubungan sesuatu. Ketuanya adalah Cheng Hoa Suthai,

seorang pendeta wanita yang amat lihai.”

Tadinya Bi Hong menengok suhengnya, kini ia melirik lagi ke arah pemuda itu dan

melihat bahwa pertempuran makin hebat di mana kedua pihak sama kuatnya. Ia

makin heran. Pemuda itu baru belasan tahun, dan pendeta gundul yang melawannya

amat lihai, akan tetapi kenyataannya pemuda itu dapat mempertahankan diri dengan

amat baiknya.

“Suheng tadi menyebut Cheng-hoa-pai setelah melihat dia, apakah dia anggautanya?”

“Sukar dikatakan demikian. Menurut pendengaran dan setahuku, Cheng-hoa-pai

adalah perkumpulan wanita, tidak pernah mempunyai anak murid pria. Akan tetapi

pukulannya tadi, yang mematikan hwesio itu, tidak salah lagi, itulah pukulan Chenghoa-

tok-jiu (Pukulkan Beracun Kembang Hijau) dari Cheng-hoa-pai.” Pendeta Kunlun

ini menggeleng-geleng kepala lalu menggerendeng. “Apakah Ceng Hoa Suthai

telah mengambil murid seorang pria?”

Sementara itu, pertempuran di depan makin seru. Hwesio pendek itu tadinya masih

tertawa-tawa dalam marahnya, akan tetapi sekarang tidak bisa ia ketawa lagi, tidak

sempat. Ternyata bocah itu benar-benar lihai dan gerakan-gerakannya amat dahsyat

dan ganas.

“Setan kecil, pernah apa kau dengan siluman betina Ci Ying?” bentak pendeta gundul

itu sambil menahan pedang lawan dengan tongkatnya.

Mendadak pemuda itu marah sekali mendengar pertanyaan ini. “Tutup mulutmu yang

kotor, hwesio keparat!”

Dan pedangnya menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi hwesio itu menang

pengalaman. Agaknya sekarang ia tahu bagaimana harus menghadapi pedang si

pemuda. Ia berlaku lambat dan menghadapi lawannya dengan mengerahkan tenaga

“lembek”.

Seorang ahli lweekang dapat menguasai tenaganya dan dapat menggunakan

tenaganya dalam bentuk keras maupun lembek. Tahu bahwa pemuda itu keras hati,

bernafsu dan bertenaga besar, ia lalu menggunakan siasat, melawan dengan tenaga

Pemuda itu kaget sekali ketika mendadak pedangnya terbetot dan seperti mengenai

tempat kosong apabila bertemu dengan tongkat lawan. Dalam kagetnya, ia segera

didesak dan sebentar saja repotlah ia karena berada dalam keadaan terdesak.

“Twa-suheng, mari kita bantu dia.”

Koleksi Kang Zusi

“Bantu siapa?” tanya Lee Kek Tosu sambil memandang sumoinya. “Kedua-duanya

kita tidak kenal, mengapa mesti mencampuri urusan orang lain?”

Merah wajah Bi Hong, lalu gadis ini tersenyum. “Twa-suheng, jangan salah sangka.

Sekali-kali siauwmoi bukan hendak mencampuri urusan orang dan juga tidak hendak

pilih kasih dan berat sebelah. Aku hendak turun tangan dengan alasanku yang kuat.”

“Alasan apa? Siapa yang hendak kau bantu?”

“Tentu saja membantu si pemuda itu. Dengan dia kita tidak pernah kenal, akan tetapi

bukankah lawannya itu seorang pendeta Lama dari Tibet? Twa-suheng maklum

bahwa yang membunuh kong-kong dan supek-couw adalah hwesio-hwesio dari Tibet.

Semua hwesio Lasha jahat dan harus dibasmi. Karena itu biarpun tidak tahu

urusannya, sudah terang yang jahat adalah si hwesio itu.”

Lee Kek Tosu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. “Alangkah

banyaknya penganut-penganut To yang menyeleweng. Apakah dengan adanya tosutosu

yang menyeleweng, kaupun lalu menganggap bahwa semua tosu itu jahat? Tidak

bisa demikian, sumoi. Memang banyak hwesio Tibet yang jahat, akan tetapi tidak

mungkin kita menyama ratakan saja dan menganggap seluruh hwesio Tibet itu jahatjahat

belaka. Kita harus berhati-hati, dapat membedakan mana yang buruk dan mana

yang baik. Kalau kita turun tangan secara sembrono lalu salah tangan membantu yang

jahat mencelakakan yang baik dan benar, ke mana kita hendak menaruh muka sebagai

murid-murid Kun-lun-pai?”

14. Pencaharian Sang Ayah.

Bi Hong terbelalak memandang suhengnya, baru ia sadar bahwa ia tadi memang

terburu nafsu. Ia menepuk pipi sendiri sambil berkata. “Ah, bocah tolol, hampir saja

kau menimbulkan onar!” Melihat lagak sumoinya, mau tak mau tosu itu tersenyum.

“Biarpun begitu, kalau didiamkan saja, seorang di antara mereka tentu akan tewas.

Mari, kita pisahkan mereka, sumoi!”

Ajakan Lee Kek Tosu ini pada saat yang tepat karena pada waktu itu pemuda tegap

itu sudah kena ditendang lututnya dan roboh terguling. Hwesio itu tertawa mengejek

dan mengejar dengan tongkat diputar-putar, siap menjatuhkan pukulan maut.

Tiba-tiba hwesio gemuk pendek itu melihat sinar kuning emas yang panjang dan cepat

menyambar tongkatnya. Tongkatnya terpental dan ia kaget sekali melihat bahwa

penangkisnya adalah seorang gadis cantik yang memegang sebatang pedang.

Ia kaget dan kagum sekali akan gerakan pedang yang demikian cepatnya dan tahu

bahwa yang datang adalah seorang lawan yang berat pula. Namun ia penasaran sekali

karena datang-datang gadis itu menolong pemuda itu, maka ia lalu mengayun tongkat

menyerang Bi Hong.

“Siancai…..!” terdengar orang memuja dan tongkatnya kembali tertangkis pedang

lain. Tangan hwesio itu tergetar dan ia merasa telapak tangannya sakit sekali. Ia

Koleksi Kang Zusi

menjadi semakin kaget melihat penangkisnya seorang tosu tua yang memegang

pedang di tangan.

Celaka, pikirnya, kalau gadis tadi memiliki kiam-hoat yang amat cepat dan lihai,

adalah tosu ini memiliki lweekang yang luar biasa kuatnya. Ia menarik napas panjang,

cepat membungkuk untuk memberi hormat akan tetapi sekalian ia menyambar mayat

kawannya, lalu memutar tubuh dan berlari cepat.

“Pinceng Ga Lung Hwesio tidak bersedia untuk bertempur, lain kali bertemu

kembali.” Dengan kata-kata ini, ia lalu melompat ke atas punggung seekor kuda yang

ternyata dilepas begitu saja di dekat tempat itu, lalu membalapkan tunggangannya.

Baik Bi Hong maupun Lee Kek Tosu terkejut bukan main mendengar hwesio itu

menyebut namanya Ga Lung Hwesio. Itulah orangnya, atau seorang di antaranya,

yang dicari-cari oleh Bi Hong, musuh besar yang dulu sudah menyerbu tempat tinggal

kong-kong dan ibunya. Akan tetapi mereka tidak berdaya mengejar karena hwesio itu

sudah membalapkan kudanya dan sudah jauh sekali, tidak mungkin dikejar dengan

lari cepat.

“Manusia-manusia sombong! Perlu apa kalian datang mengganggu aku?” tiba-tiba

suara yang galak dan nyaring ini membuat dua orang kakak adik seperguruan itu

memutar tubuh dan memandang kepada pemuda tegap yang kini sudah berdiri

menghadapi mereka dengan dada terpentang. Pemuda itu benar-benar gagah sekali,

akan tetapi mudah diduga bahwa dia keras hati dan keras kepala.

Bi Hong adalah seorang gadis yang lincah gembira, akan tetapi mendengar suara dan

melihat sikap yang galak ini naiklah darahnya. Ia menghadapi pemuda itu dan berkata

“Setan, kenapa tingkahmu begini? Kalau tidak twa-suheng dan aku datang

mengganggu, apakah kau sekarang bukannya sudah menjadi setan tak berkepala?

Huh, ditolong orang tidak mengerti, malah memaki orang sombong. Yang sombong

engkau, bukan kami.”

Ditegur begitu, pemuda itu merah mukanya, akan tetapi matanya melotot berani

kepada Bi Hong. “Siapa membutuhkan pertolonganmu?”

“Eh, eh, sudah terang kau jatuh dan hampir dibinasakan hwesio itu, masih bilang tidak

butuh pertolonganmu!” kata Bi Hong penasaran.

Pemuda itu tersenyum mengejek. “Aku belum mati, mana bisa dihitung kalah? Kalau

kalian tidak datang mengganggu, hwesio jahanam itu pasti sudah mampus di

tanganku. Hemm, kalian benar-benar mengganggu. Sudahlah!” Pemuda itu memutar

tubuh dan hendak pergi.

“Congsu (tuan gagah), tunggu dulu!” Lee Kek Tosu berseru dan mengejar. Setelah

pemuda itu membalikkan tubuh menghadapinya, sambil menjura tosu tua ini bertanya.

“Bolehkah pinto mengetahui congsu masih ada hubungan apa dengan Cheng Hoa

Suthai dan kenapa congsu memusuhi Ga Lung Hwesio dari Lasha?”

Koleksi Kang Zusi

Mendengar pertanyaan ini, baru Bi Hong ingat bahwa pertanyaan kedua itu penting

sekali. Dia sendiri turun gunung dengan maksud membalas dendam kepada Ga Lung

Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio, mengapa sekarang bocah kepala batu ini juga

memusuhi Ga Lung Hwesio?

Dengan matanya yang lebar dan bersinar tajam, bocah itu memandang Lee Kek Tosu

lalu menjawab, suaranya nyaring dan mantap, tanda bahwa dia orang jujur, terbuka,

keras hati dan tidak mau mengalah akan tetapi penuh dengan kegagahan dan keadilan.

“Cheng Hoa Suthai adalah sucouwku (nenek guru) dan aku tidak mengenal siapa itu

Ga Lung Hwesio. Pendeknya, semua hwesio Tibet kepala gundul adalah musuhmusuhku

yang harus kubunuh semua. Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi, harus

mengejar keledai gundul itu!” Setelah berkata demikian pemuda itu melompat jauh

dan berlari cepat sekali melakukan pengejaran.

“Twa-suheng, pemuda itu agaknya juga mempunyai permusuhan yang sama dengan

kita,“ kata Bi Hong. “Mari kita juga menuju ke Lasha. Jika kita dan dia bekerja sama,

kedudukan kita lebih kuat.”

Lee Kek Tosu memandang sumoinya dengan sinar mata tajam menyelidik. “Sumoi,

bukankah karena kau mengkhawatirkan bocah itu dan ingin membantunya

menghadapi para pendeta Lasha yang lihai?”

Bi Hong menjadi merah mukanya. Karena berkumpul sejak kecil, ia maklum bahwa

pandangan twa-suheng ini tajam luar biasa.

Iapun tidak bisa membohong terhadap twa-suheng ini, maka sambil mengangguk, ia

menarik napas dan berkata, “Pemuda itu kasar dan keras hati, suheng. Akan tetapi

entah mengapa, aku mendapat perasaan bahwa dia bukan orang sembarangan, ada

sifat-sifat gagah pada dirinya, dan tentu ia mengandung sakit hati besar sekali

terhadap para pendeta di Lasha. Akan tetapi karena dia kasar dan sembrono, pasti dia

akan celaka. Kitapun bertujuan mencari musuh besar kong-kong, terutama Ga Lung

Hwesio yang lari ke Lasha, apakah tidak baik kita sekalian menyusul dan membantu

pemuda itu?”

Lee Kek Tosu mengangguk-angguk, lega hatinya karena sumoinya tertarik dan kagum

melihat pemuda itu adalah sewajarnya, bukan terselip kekaguman wanita terhadap

“Memang perasaanmu tidak jauh dengan perasaanku, sumoi, Pemuda itu itu bukan

sembarangan, dia murid Cheng Hoa Suthai yang terkenal ganas, akan tetapi pemuda

itu sendiri gagah dan jujur. Akan tetapi, di daerah Tibet ini sejak dulu penuh dengan

soal-soal penasaran, banyak terjadi penindasan dan sakit hati. Kalau kau menuruti hati

dan perasaan, jangan-jangan akan terjadi apa yang dikhawatirkan oleh suhu, yaitu

permusuhan yang tiada habisnya antara Tibet dan Kun-lun. Persoalanmu dengan para

pendeta di Lasha seperti kata suhu adalah urusan ayahmu, maka lebih baik kita

mencari dulu ayahmu sebelum turun tangan. Kalau kita salah tangan, bukankah suhu

akan marah sekali?”

Koleksi Kang Zusi

Bi Hong tidak dapat membantah. Memang ia tadi terlalu menurutkan nafsu, ingin

lekas-lekas membalas musuh besarnya dan juga khawatir melihat pemuda tadi

melakukan pengejaran seorang diri. Urusan sendiri belum beres, mengapa melibatkan

diri dengan urusan orang lain? Ia mengangguk dan dua orang itu lalu melanjutkan

perjalanan mereka, tidak ke Lasha, melainkan ke Loka, dusun di lembah sungai Yalucangpo.

Memang mendiang Ong Hui tidak banyak bercerita kepada para tosu Kun-lun-pai.

Bagaimana nyonya muda itu dapat bercerita mengeluarkan isi hatinya tentang

suaminya yang dirampas wanita lain? Ia menderita seorang diri, sama sekali tidak

mau menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan Ci Ying yang merampas

suaminya. Oleh karena itulah, puterinya tidak mendengar banyak dari para tosu di

Kun-lun.

Bahkan To Gi Couwsu sendiri hanya tahu bahwa anak itu puteri Wang Sin murid Cin

Kek Tosu dan bahwa Wang Sin berasal dari Loka. Ong Hui menceritakan ke mana

perginya Wang Sin, hanya bilang bahwa suaminya itu meninggalkannya untuk

menyelesaikan urusan dendam para budak di Tibet.

Maka ketika memasuki dusun Loka, Bi Hong dan Lee Kek Tosu sama sekali tidak

tahu bahwa dusun ini sudah berubah banyak. Para hamba taninya sudah berganti lain

orang, juga tuan tanahmya.

Akan tetapi melihat cara para budak bekerja di sawah, tidak dijaga tukang-tukang

pukul, bekerja rajin sambil bernyanyi-nyanyi, Bi Hong dan Lee Kek Tosu mengerti

bahwa keadaan para budak itu tidak boleh dibilang sengsara, dan kenyataan bahwa

mereka suka bekerja dengan gembira tanpa dijaga tukang pukul, membuktikan bahwa

jaminan hidup mereka tentu saudah mencukupi. Mereka berhenti bekerja dan

memandang dengan heran dan kagum ketika melihat kedatangan seorang gadis Han

yang cantik jelita bersama seorang tosu.

“Apakah di antara saudara ada yang tahu di mana tempat tinggal seorang bernama

Wang Sin?” tanya Bi Hong dalam bahasa Tibet yang fasih. Memang gadis ini, juga

Lee Kek Tosu, paham bahasa Tibet, bahkan Bi Hong sejak kecil sudah diberi

pelajaran bahasa ini oleh To Gi Couwsu yang tahu bahwa ayah anak ini adalah

seorang Tibet. Tidak mengherankan apabila bahasanya cukup baik.

Akan tetapi para budak itu tidak mengenal Wang Sin dan mereka menggeleng-geleng

kepala setelah saling bertanya kalau-kalau ada yang mengenalnya. Tiba-tiba seorang

kakek tua yang memegang cangkul membungkuk-bungkuk maju menghadapi Bi

Hong. Wajah orang tua ini keriputan dan kulitnya coklat karena dimakan panas

matahari. Matanya yang sipit hampir meram itu mengamat-amati Bi Hong, lalu ia

“Nona masih ada hubungan apakah dengan orang yang bernama Wang Sin?”

Suaranya mengandung curiga dan pandang matanya menyelidik. Bi Hong dapat

menangkap suara curiga ini, maka ia tersenyum manis untuk melegakan hati orang.

“Lopek,” katanya manis budi, “Aku masih ada hubungan dekat dengan Wang Sin itu,

apakah lopek kenal padanya dan di mana adanya dia sekarang?”

Koleksi Kang Zusi

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu menarik napas panjang. “Dia pahlawan

besar ….. pahlawan besar….” setelah berkata demikian ia lalu kembali ke tempat

kerjanya sambil berkata kepada kawan-kawannya. “Kawan-kawan, hayo kita bekerja

lagi, kita tidak bisa meninggalkan pekerjaan!”

Semua orang teringat akan pekerjaannya dan kembalilah mereka sibuk dengan

pekerjaannya di sawah. Bi Hong girang sekali mendengar ucapan tadi, akan tetapi

iapun heran mengapa kakek itu agaknya tidak suka banyak bercerita tentang Wang

Sin, ayahnya. Sambil berkedip pada twa-suhengnya, ia lalu menghampiri kakek itu

dan berbisik.

“Lopek kau curiga padaku, itu sudah sepatutnya. Akupun tahu bahwa dia itu seorang

pahlawan besar. Ketahuilah, aku ini puterinya dan semenjak kecil aku tidak melihat

ayahku itu. Aku hendak mencari dia, tolonglah kau memberi petunjuk.”

Kakek itu tampak kaget lalu memandang Bi Hong penuh perhatian. “Kau….. kau tidak

sama dengan Ci Ying, apa betul kau anak Ci Ying?”

“Bukan, lopek. Ibuku she Ong….”

“Ah, nyonya muda Han itu?”

Bi Hong terkejut dan makin girang. Tentu orang tua ini dapat bercerita banyak, maka

ia lalu menggandeng tangannya diajak keluar dari sawah. “Lopek tolonglah aku,

ceritakanlah tentang ayah. Biarkau tinggalkan pekerjaanmu sebentar, aku yang

bertanggung jawab kalau tuan tanah marah kepadamu.” Bi Hong menepuk-nepuk

gagang pedangnya.

Kakek itu memandang kagum. “Kau gagah, seperti dia……! Baiklah, dengar ceritaku.”

Ia lalu duduk di galengan sawah dan bercerita, didengarkan oleh Bi Hong dan Lee

Kek Tosu yang duduk di depannya, di atas tanah lempung.

Berceritalah kakek itu tentang diri Wang Sin dan Ci Ying, bagaimana mereka menjadi

korban tuan tanah sampai mereka itu lari minggat, bagaimana ayah dua orang muda

itu tewas oleh kaki tangan tuan tanah.

Kemudian ia bercerita pula dengan gembira, betapa Wang Sin enam belas tahun yang

lalu datang lagi dengan isterinya, seorang nyonya muda bangsa Han yang cantik dan

gagah dan betapa suami isteri ini membasmi tuan tanah di Loka dan membebaskan

semua budak yang tertindas.

Juga ia ceritakan bagaimana kemudian muncul Ci Ying yang sudah berubah menjadi

seorang wanita gagah yang amat ganas dan mengerikan, dan kemudian betapa isteri

Wang Sin itu diserang oleh Ci Ying lalu pergi meninggalkan suaminya.

Bi Hong mendengarkan cerita itu dengan amat terharu. Ia sampai mengucurkan air

mata ketika mendengar penuturan tentang ayahnya di waktu muda dan

menggertakkan giginya mendengar penindasan tuan tanah. Akan tetapi ia berdebar

dan menjadi pucat ketika mendengar tentang pertemuan Ci Ying, tunangan ayahnya

Koleksi Kang Zusi

itu dengan ibunya sampai ibunya diserang kemudian ibunya pergi meninggalkan

ayahnya dan gadis Tibet itu.

“Kemudian bagaimana, lopek yang baik?” tanyanya, suaranya gemetar dan wajahnya

masih pucat.

Kakek itu sekarang percaya bahwa gadis ini benar-benar puteri Wang Sin dan nyonya

Han itu, sekarang ia ingat bahwa wajah gadis ini memang sama dengan wajah nyonya

Han yang menjadi isteri Wang Sin. Ia menghela napas dan melanjutkan penuturannya.

“Memang Ci Ying, gadis yang dulu riang jenaka itu telah berubah menjadi wanita

ganas sekali. Ia membunuh-bunuhi kaki tangan tuan tanah dengan amat kejam.

Kemudian Wang Sin dan Ci Ying mengawal kami para budak untuk melarikan diri ke

timur. Semua budak sudah pergi membawa bekal yang cukup untuk memulai hidup

baru. Jasa mereka amat besar, selama hidup akan diingat oleh kami bangsa budak.

Sayang sekali dalam kehidupan Wang Sin muncul peristiwa yang amat sulit dan ruwet

antara dia, isterinya orang Han itu, dan tunangannya. Aku sendiri setelah merantau

sepuluh tahun lebih, tidak dapat menahan rinduku akan kampung halaman di Loka di

mana aku dilahirkan dan dibesarkan, biarpun dalam keadaan menderita maka aku lalu

kembali ke sini, bekerja lagi sebagai budak. Akan tetapi, keadaannya sekarang lain.

Para budak tidak tertindas seperti dulu. Kalau masih seperti dulu, mana aku sudi

bekerja lagi seperti budak?”

Saking bingung dan terharunya mengingat akan nasib yang diderita oleh ibunya,

sampai lama Bi Hong tidak dapat berkata-kata. Adalah Lee Kek Tosu yang berkata.

“Terima kasih banyak atas semua penuturanmu, loheng. Hanya sekarang kami mohon

keterangan penting darimu. Apakah kau tahu, di mana sekarang kami dapat

menjumpai Wang Sin?”

“Mana aku bisa tahu? Dia dan Ci Ying setelah mengantar kami sampai jauh, lalu

pergi dan sampai sekarang tidak pernah muncul kembali. Akan tetapi, perbuatannya

yang gagah dan mulia itu ternyata telah membuat para tuan tanah berubah dan

kehidupan para budak sekarang tidak begitu buruk seperti dahulu. Sampai mati aku

tak dapat melupakan Wang Sin dan Ci Ying!”

Karena tidak bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang di mana adanya

ayahnya, setelah berada di dusun tempat kelahiran ayahnya itu selama tiga hari, Bi

Hong dikawani twa-suhengnya, lalu mulai dengan perjalanannya mencari Wang Sin.

Banyak dusun mereka jelajahi dan ternyata nama Wang Sin dan Ci Ying terkenal

sekali, dikenal oleh hampir semua budak di daerah itu.

Akan tetapi sungguh menyedihkan sekali, keadaan para budak yang baik nasibnya

atau setidaknya yang tidak begitu tertindas lagi oleh tuan tanah dan begundalbegundalnya

hanyalah di dusun Loka itulah. Di dusun-dusun lain, keadaan masih

seperti dahulu ketika Wang Sin masih menjadi budak.

Sampai berbulan-bulan Bi Hong dan Lee Kek Tosu mencari Wang Sin di dusundusun

sekitar Tibet, namun hasilnya sia-sia, bukan saja Wang Sin tidak dapat

ditemukan, bahkan namanya hanya dikenal di kalangan budak sebagai dongeng

Koleksi Kang Zusi

seorang pahlawan budak. Memang, semenjak berabad-abad para budak ini hidup

seperti hewan ternak, tidak ada yang memikirkan nasib mereka, jangankan membela.

Maka pembelaan Wang Sin untuk membebaskan para budak di Loka merupakan hal

yang mirip dengan dongengan bagi mereka itu.

“Suheng, kiranya sudah cukup kita mencari ayah di daerah ini. Ayah tidak ada di sini

dan kurasa kalau ayah tidak pindah ke timur, tentu ayah berada di Lasha,” akhirnya Bi

Hong berkata kepada suhengnya dengan hati kecewa.

“Tidak mungkin di Lasha. Di sana berkumpul musuh-musuh besar ayahmu, mana bisa

ia tinggal di sana? Agaknya betul kalau dia sudah pindah jauh dari Tibet yang kini

menjadi tempat berbahaya baginya karena semua pendeta tentu memusuhinya setelah

dia membunuh pendeta-pendeta di Loka.”

“Suheng, pesanan suhu untuk mencari ayah lebih dulu sudah kita penuhi, sekarang

setelah tidak berhasilmencari ayah, aku mau langsung saja pergi ke Lasha untuk

mencari Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio.”

“Apa kau sudah pikir masak-masak akan hal ini, sumoi? Di Lasha berkumpul banyak

pendeta-pendeta yang sakti.”

“Apa kau takut, suheng? Biarlah siauwmoi pergi sendiri dan twa-suheng kembali saja

ke Kun-lun-pai memberi laporan kepada suhu.”

Lee Kek Tosu mengerutkan keningnya. “Kau bicara apa ini, sumoi? Kau yang masih

begini muda tidak gentar menghadapi musuh, apakah kau kira aku yang sudah tua

takut mati? Tugasku membantu dan melindungimu, biar bertaruhkan nyawa sekalipun

pinto harus mengawanimu ke Lasha.”

Bi Hong cepat-cepat menjura kepada suhengnya minta maaf, hatinya gembira.

Memang dengan bantuan suhengnya ini, ia tidak takut biarpun mendengar di Lasha

banyak terdapat orang-orang sakti. Sebagai seorang harimau betina yang muda mana

ia takut melawan musuh? Maka ia segera mengajak suhengnya berangkat ke Lasha

dengan penuh kegembiraan.

Berbeda dengan sumoinya, diam-diam Lee Kek Tosu berkhawatir karena tosu ini

sudah cukup maklum bahwa tempat yang mereka tuju adalah pusat di mana

berkumpul hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi. Ia tidak takut akan keselamatan

diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan sumoinya yang masih begini

Pada suatu hari mereka tiba di luar kota Lasha, di sebelah timur kota kurang lebih dua

puluh lie dari kota Lasha. Karena hari itu amat panasnya, mereka menjadi lelah dan

beristirahat di bawah pohon yang teduh, yang tumbuh di pinggir jalan. Bi Hong

mengeluarkan makanan kering yang dibekalnya dan Lee Kek Tosu mengeluarkan

tempat airnya untuk minum. Sudah hampir satu tahun dua kakak beradik seperguruan

ini merantau di daerah Tibet dan perhubungan mereka sudah seperti kakak dan adik

atau malah seperti keponakan dan paman.

Koleksi Kang Zusi

“Twa-suheng, kau banyak membuang waktu dan tenaga untuk kepentinganku. Benarbenar

kau seorang suheng yang amat baik,” kata Bi Hong terharu melihat kakek yang

sudah tua itu menenggak air.

Lee Kek Tosu tersenyum. “Sumoi, mengapa kau mengeluarkan kata-kata sungkan?

Semenjak kau masih bayi, aku sudah berada di sampingmu, malah dahulu akulah

yang menggendongmu dan menimang-nimangmu. Terhadap kau, aku adalah suheng

menurut hubungan perguruan, akan tetapi di dalam hatiku kau tiada bedanya seperti

anak, keponakan, atau cucuku sendiri.”

Bi Hong terharu, akan tetapi karena dia mempunyai watak gembira, ia tertawa. “Twasuheng,

mana kau pantas menjadi engkong (kakek). Eh, twa-suheng, apakah kau

dahulu tidak mempunyai keluarga sama sekali?”

Ditanya begini, wajah kakek itu menjadi muram. “dahulu aku mempunyai seorang

isteri, akan tetapi….. kami tidak cocok pikiran, kami cekcok lalu…..lalu bercerai.

Semenjak itu aku masuk menjadi tosu.”

Bi Hong menyesal telah mengajukan pertanyaan itu yang berarti mengingatkan twasuhengnya

kepada pengalaman yang tidak bahagia itu. Ia tidak tahu bahwa sebetulnya

dahulu ketika masih muda, isteri twa-suhengnya itu tidak setia dan melakukan

perbuatan hina dengan seorang teman baik suhengnya itu sendiri.

Dalam kemarahannya, twa-suhengnya itu membunuh teman dan isterinya, kemudian

merasa menyesal dan menjadi seorang tosu di Kun-lun-pai, menjadi murid kepala dari

To Gi Couwsu. Ini pula sebabnya mengapa melihat nasib Ong Hui, seorang isteri

yang amat setia akan tetapi ditinggalkan suaminya, Lee Kek Tosu merasa kasihan dan

terharu sekali karena Ong Hui mempunyai watak baik dan nasib yang sebaliknya dari

pada isterinya. Maka tidak mengherankan apabila ia menyayang puteri Ong Hui dan

menganggap Bi Hong seperti anak sendiri.

Selagi Lee Kek Tosu dan Bi Hong bercakap-cakap sambil mengasoh di bawah pohon

yang rindang, tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi empat orang hwesio. Langkah

kaki mereka yang ringan dan gerakan yang cepat dalam berlari menandakan empat

orang hwesio itu adalah orang-orang yang memiliki ginkang tinggi dan

“Hwesio-hwesio itu tentu hwesio dari Lasha dan hendak pergi ke kota itu,” kata Lee

Kek Tosu. “Lebih baik kita jangan mencampuri urusan di sini, kita baik menyimpan

tenaga untuk menghadapi musuh-musuh kita yang sebenarnya.”

Akan tetapi setelah hwesio-hwesio itu datang dekat Bi Hong mengeluarkan seruan

marah. “Ihhh, bukankah dia si jahanam Ga Lung Hwesio!” Ia melompat sambil

menghunus pedangnya. Lee Kek Tosu juga melihat bahwa seorang yang berlari di

pinggir kiri adalah Ga Lung Hwesio, maka iapun ikut bersiap sedia. “Bagus,” katanya,

“kita tak usah sukar-sukar mencari!”

Ga Lung Hwesio juga sudah melihat nona dan tosu itu. Ia menghentikan larinya dan

berkata kepada kepada tiga orang kawannya itu. “Harap samwi suheng (kakak

Koleksi Kang Zusi

seperguruan bertiga) berhenti sebentar. Siluman betina dan tosu bau dari Kun-lun-pai

ini agaknya hendak menghadang kita.”

Lee Kek Tosu memperhatikan tiga orang hwesio yang disebut suheng oleh Ga Lung

Hwesio. Mereka ini adalah orang-orang Tibet asli, bertubuh tinggi besar berkulit

hitam. Melihat sinar mata mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli

lweekang yang tidak boleh dipandang ringan.

Sebelum Bi Hong mengeluarkan suara, Lee Kek Tosu yang tidak ingin menanam bibit

permusuhan dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan

mereka, cepat menjura kepada tiga orang hwesio hitam itu dan berkata.

“Pinto dan sumoi mempunyai permusuhan dengan dua orang hwesio Lasha, yaitu Ga

Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio. Dengan para losuhu yang lain, kami berdua

tidak mempunyai urusan dan tidak ingin menimbulkan keributan.”

Ga Lung Hwesio mengeluarkan suara mengejek dan seorang di antara tiga orang

hwesio tinggi besar itu menjawab, “Kami bertiga, Ge Khan, Ge Bun, dan Ge Thun

adalah tiga orang murid Thu Bi Tan suhu. Entah urusan apa yang hendak toyu

bereskan dengan suhu dan Ga Lung sute?”

Kagetnya hati Lee Kek Tosu bukan main mendengar bahwa tiga orang hwesio ini

adalah murid-murid Thu Bi Tan Hwesio. Tidak bisa lain, ia harus menggempur

mereka semua karena sebagai murid-murid Thu Bi Tan, tentu saja mereka akan

membela guru mereka. Sementara itu Bi Hong sudah membentak Ga Lung Hwesio.

“Ga Lung Hwesio, bukankah kau bersama Thu Bi Tan Hwesio belasan tahun yang

lalu telah menyerbu ke Kun-lun dan membinasakan Ong Bu Khai, Cin Kek Tosu, dan

merusak tempat tinggalnya?”

Ga Lung Hwesio tertawa lagi. “Betul kata-katamu. Dua orang itu telah membiarkan

murid-murid mereka melakukan pengacauan di Loka dan karenanya kami telah

menghukum mereka. Apa hubungannya dengan kamu?”

Muka Bi Hong menjadi merah dan matanya berapi-api, “Hwesio keparat! Ketahuilah,

bahwa aku Wang Bi Hong adalah cucu Ong Bu Khai. Ga Lung Hwesio, hutang nyawa

bayar nyawa, bersiaplah kau untuk mati!”

“Ha-ha-ha, begitukah? Kiranya masih ada buntutnya peristiwa itu. Kau ini bocah

kemaren sore, sombong amat hendak melawan Ga Lung Hwesio? Ha-ha-ha!”

“Hwesio tengik lihat pedang!” Cepat sekali pedang Bi Hong menyambar ke arah leher

hwesio itu. Ga Lung Hwesio sudah pernah menyaksikan kelihaian dan kecepatan

pedang Bi Hong ketika nona ini membantu Kalisang, maka ia tidak berani berlaku

Biarpun mulutnya mentertawakan karena ia berada di dekat para suhengnya, namun di

dalam hati ia tidak berani memandang rendah. Ia lalu mengelak dan menggerakkan

toyanya. Di saat lain mereka sudah bertempur hebat sekali.

Koleksi Kang Zusi

Tiga orang hwesio itu bukanlah hwesio sembarangan. Tingkat mereka malah lebih

tinggi dari tingkat Ga Lung Hwesio yang terhitung sutenya, karena mereka ini adalah

tiga orang murid Thu Bi Tan Hwesio dan di Lasha mereka mempunyai kedudukan

yang cukup tinggi. Oleh karena itu, mereka tentu saja tidak sudi melakukan

pengeroyokan dan hanya melihat saja sute mereka bertanding dengan gadis itu.

Apalagi kalau mereka ingat bahwa sute mereka itu jauh lebih tua dari pada lawannya

dan dalam hal ilmu silat, dilihat sekelebatan saja sute mereka takkan kalah.

Lee Kek Tosu juga maklum akan hal ini dan iapun tidak berani sembarangan turun

tangan membantu sumoinya yang berarti mengeroyok Ga Lung Hwesio. Kalau ia

terjun mengeroyok, maka tiga orang hwesio itupun mendapat alasan untuk turun

tangan mengeroyok pula. Oleh karena itu, tosu yang cerdik ini lalu menjura kepada

mereka sambil berkata.

“Karena Thu Bi Tan adalah suhu sam-wi, untuk menentukan siapa yang lebih unggul,

pinto persilahkan di antara sam-wi maju mewakili suhu sam-wi. Pinto percaya penuh

mengingat kedudukan kita, sam-wi tidak akan begitu rendah untuk melakukan

pengeroyokan!”

Di antara tiga orang hwesio ini, kepandaian Ge Khan hwesio yang paling tinggi, juga

dia yang paling tua dan paling berangasan. Mukanya menjadi makin hitam ketika

mendengar ucapan itu.

“Tosu Kun-lun! Kau anggap pinceng ini siapakah maka mengeluarkan kata-kata

demikian? Untuk menghadapi seorang tosu seperti kamu, pinceng seorang diri, sudah

lebih dari cukup, untuk apa mencapaikan suhu? Sambutlah toyaku!”

Ge Khan Hwesio sudah menerjang maju dengan memutar toyanya yang

mendatangkan angin bersiutan. Lee Kek Tosu bersikap waspada, cepat melompat

mundur mencari tempat yang lega sambil menghunus pedangnya. Dua orang kakek

jagoan ini lalu mulai bertempur.

Dua orang hwesio yang lain hanya menonton sambil menahan napas karena sudah

dapat dilihat bahwa pertempuran-pertempuran itu, baik sute mereka Ga Lung Hwesio

yang melawan nona itu, maupun Ge Khan Hwesio yang melawan tosu, adalah

pertempuran mati-matian yang seimbang. Pedang nona itu cepat dan lihai, sedangkan

pedang di tangan tosu itu mantap dan tenang, keduanya merupakan lawan yang amat

15. Bercinta dengan Puteri Musuh besar

Pertempuran antara Ga Lung Hwesio dan Bi Hong lebih ramai kelihatannya karena

jalannya lebih cepat. Hal ini adalah karena kelihaian ilmu pedang Bi Hong memang

terletak kepada kecepatan dan kelincahannya. Ilmu pedangnya memang tidak ada

bedanya dengan suhengnya, akan tetapi kalau Bi Hong dapat mewarisi kecepatannya

adalah Lee Kek Tosu mewarisi kekuatannya.

Inipun tidak aneh kalau diingat bahwa waktu yang dipergunakan oleh Lee Kek Tosu

lebih lama dan tosu inipun lebih kuat ilmu batinnya, maka tentu saja memiliki

lweekang yang lebih dalam. Dengan kecepatan gerakan pedangnya Bi Hong dapat

Koleksi Kang Zusi

membuat Ga Lung Hwesio menjadi sibuk sekali. Dalam jurus ke tujuh puluh ujung

pedang Bi Hong yang berkelebat-kelebat seperti kilat menyambar telah berhasil

melukai ujung pundak kiri Ga Lung Hwesio.

Bukan main marah, kaget dan penasaran rasa hati hwesio ini. Ia mengempos

semangatnya, mengerahkan lweekangnya dan pandangannya menjadi amat tajam

menusuk, mulutnya bergerak-gerak dan sambil melayani serangan-serangan Bi Hong,

ia berkata, suaranya halus dan manis seperti seorang ibu membujuk anaknya.

“Nona Wang Bi Hong, kau tentu lelah…… lelah sekali. Untuk apa bertempur terus?

Lebih baik mengaso….. ah, nyamannya angin, enaknya mengaso dan tidur……”

Inilah ilmu yang disebut “merampas semangat” atau semacam ilmu hypnotisme yang

menguasai semangat dan pikiran orang. Suaranya lemah lembut dan manis, sungguh

jauh bedanya dengan mata yang berubah seperti mata setan itu.

Bi Hong tidak tahu mengapa musuhnya bicara seperti itu, akan tetapi ia benar-benar

merasa lelah dan ingin sekali mengaso. Hanya karena merasa heran akan sikap

musuhnya, ia mempertahankan diri dan mencoba untuk membantah kehendak

“Nona, bukankah kita sudah bertempur seratus jurus lebih?” kembali hwesio itu

bertanya dengan suara halus.

Entah mengapa, di luar kehendaknya mulut Bi Hong menjawab. “Betul, seratus jurus

lebih.” Sambil berkata demikian, ia masih mengirim tusukan yang dapat ditangkis

oleh hwesio itu. Bi Hong merasa bahwa tangkisan itu tidak bertenaga, maka ia girang

sekali dan terus mendesak.

Ia tidak tahu bahwa karena tenaga lweekangnya dikerahkan untuk menjalankan ilmu

“merampas semangat” itu, maka tentu saja tenaga Ga Lung Hwesio menjadi banyak

“Kalau begitu, tentu enak mengasoh, bukan?” hwesio itu menyusul pertanyaannya

cepat-cepat.

“Yah….. tentu enak sekali…..” jawab Bi Hong dan otomatis ia memperlambat

serangannya, merasa lelah dan ingin mengaso.

“Kalau begitu mengasohlah, duduklah, tidurlah…..” suara Ga Lung Hwesio itu

mendesak dan mempunyai pengaruh luar biasa besarnya.

Lee Kek Tosu sudah berpengalaman luas, mendengar pula suara-suara ini dan tahulah

ia apa yang akan dilakukan oleh Ga Lung Hwesio terhadap sumoinya. Ia melihat

gerakan sumoinya makin lemah dan bukan main gelisahnya.

“Sumoi, jangan dengarkan dia. Lawan terus!” Ia berseru dan karena perhatiannya

terpecah inilah maka dia membuka lowongan dalam pertahanan sinar pedangnya.

Lawannya Ge Khan Hwesio yang berilmu tinggi melihat lowongan ini. Tadinya

hwesio ini biarpun memiliki tenaga yang lebih besar, merasa bingung karena biarpun

Koleksi Kang Zusi

ia berada di pihak yang mendesak, namun pertahanan pedang lawannya amat kuat dan

tidak dapat ditembus oleh toyanya.

Sekarang, pada saat tosu itu mengkhawatirkan keselamatan sumoinya dan

memecahkan perhatian, kelihatan lowongan itu. Cepat toyanya menyambar ke depan,

dan……. lambung Lee Kek Tosu sudah terkena sodokan toya dengan tepat sekali. Tosu

itu mengeluarkan jerit tertahan, mukanya pucat dan tubuhnya terdorong ke belakang.

Dengan tangan kiri ia menekan lambungnya lalu mulutnya dipentang dan darah segar

tersembur keluar.

Ge Khan Hwesio tertawa terbahak, akan tetapi tiba-tiba berseru kesakitan. Ketika ia

sedang tertawa karena girang tadi, Lee Kek Tosu yang sudah menderita luka hebat

sekali, setelah memuntahkan dara segar lalu mengayunkan tangannya yang

memegang pedang.

Pedang meluncur bagaikan naga terbang menyambar ke arah tenggorokan Ge Khan

Hwesio. Inilah gerak tipu Sin-liong-hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya),

sebuah jurus terakhir dari ilmu pedangnya yang amat lihai. Jurus ini memang

dipelajari untuk dipergunakan pada saat terakhir setelah menderita luka untuk

membalas lawan.

Ge Khan Hwesio melihat berkelebatnya sinar pedang cepat miringkan tubuh, namun

tetap saja pedang itu mengenai pundak kirinya, amblas dibawah tulang pundak sampai

menembus ke belakang. Biarpun tidak binasa karena luka itu, harus diakui bahwa rasa

sakitnya luar biasa sekali dan merupakan luka yang cukup hebat.

Ge Khan Hwesio terhuyung dan roboh pingsan dalam pelukan Ge Bun Hwesio yang

cepat menolong suhengnya itu. Adapun Lee Kek Tosu sendiri sudah roboh dan tewas

tak lama kemudian. Isi perutnya telah rusak oleh sodokan toya yang dilakukan dengan

pengerahan tenaga lweekang.

Sementara itu, ketika Bi Hong tadi sudah hampir terjatuh ke dalam pengaruh sihir Ga

Lung Hwesio, tiba-tiba suhengnya memberi ingat. Ia kaget dan mengempos semangat

untuk melawan pengaruh itu sambil mempercepat gerakan pedangnya. Namun Ga

Lung Hwesio juga memperhebat tenaga batinnya, lalu berkata keras.

“Nona, kau lelah sekali. Kau sudah tidak kuat lagi. Kau duduklah!”

Seperti ada dua tangan yang tidak kelihatan menekan pundak Bi Hong. Gadis ini tidak

dapat mempertahankan diri lagi, tubuhnya tiba-tiba terasa lemah tidak bertulang

agaknya dan otomatis mendengar seruan ini ia lalu jatuh duduk di atas tanah dengan

pedang masih di tangannya. Ga Lung Hwesio tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ia cepat melangkah maju untuk menjatuhkan pukulan maut dengan tongkat

Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara melengking keras dan tinggi, suara aneh sekali,

yang bukan seperti suara manusia, lebih menyerupai suara seruling yang ditiup

dengan tenaga luar biasa dan dengan nada yang amat tinggi. Berbareng dengan suara

itu, tanpa terlihat oleh mata semua orang, dua butir batu kecil sekali menyambar dan

Koleksi Kang Zusi

sebutir menyambar tongkat Ga Lung Hwesio menahan serangan maut tongkat itu,

yang sebutir lagi menotok jalan darah di tengkuk Bi Hong.

Sambaran batu kecil yang tidak kelihatan pada tongkat amat hebat karena tiba-tiba Ga

Lung Hwesio merasa tongkatnya tertolak balik ke arah dirinya. Ia mengira bahwa

gadis yang diserangnya masih bisa menangkis. Akan tetapi totokan batu pada tengkuk

gadis itu lebih lihai. Begitu terkena sambaran batu pada jalan darah di tengkuknya,

sekali gus Bi Hong sadar dari pengaruh ilmu sihir Ga Lung Hwesio.

Seperti disiram air dingin gadis itu sadar dari keadaannya yang lemah tadi. Ia melihat

hwesio musuhnya itu sedang melangkah dua tindak ke belakang sambil mengawasi

tongkatnya dengan mata heran.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bi Hong. Dengan pekik dahsyat gadis ini lalu

meloncat, menggunakan gerakan Sin-wan-teng-ki (Monyet Sakti Loncat Cabang)

disusul dengan gerak tangan Giok-li-sia-niau (Dewi Memanah Burung) pedangnya

meluncur ke depan mengirim tusukan maut.

Ga Lung Hwesio yang sedang terkejut dan heran, mana bisa menduga datangnya

serangan ini? Ia terkejut akan tetapi tahu-tahu pedang itu telah menikam hulu hatinya.

Ia memekik dan ketika pedang ditarik kembali, tubuhnya terjengkang roboh mandi

darah dan tewas seketika itu juga.

Ge Bun Hwesio sedang memondong suhengnya, Ge Khan Hwesio yang terluka berat

di pundaknya. Melihat Ga Lung Hwesio tewas, Ge Thun Hwesio dengan marah maju

hendak menyerang Bi Hong. Akan tetapi lagi-lagi sebuah batu kecil memukul

pergelangan tangannya.

“Traaanggg…!” Toya yang dipegangnya terlepas. Hwesio ini kaget sekali dan tidak

jadi menyerang melainkan menyambar mayat Ga Lung Hwesio, kemudian bersama

Ge Bun Hwesio yang memondong tubuh Ge Khan Hwesio, mereka lari cepat-cepat

meninggalkan tempat itu menuju ke Lasha.

Bi Hong tidak memperdulikan mereka. Musuh besarnya hanyalah Ga Lung Hwesio

dan tiga orang hwesio lain itu bukan musuhnya. Akan tetapi ia terkejut dan sedih

sekali ketika menengok ke arah suhengnya dan melihat tosu itu sudah roboh tak

bernyawa lagi. Ia menubruk tosu itu dan menangis sedih.

“Twa-suheng kau……. kau telah mengorbankan nyawa untukku…..” Ia ingat bahwa

tadi lawan twa-suhengnya juga terluka hebat, pedang suhengnya menancap di dada

lawan itu yang tubuhnya dibawa pergi oleh hwesio lain. Ia menduga bahwa lawan

twa-suhengnya itupun tewas.

Setelah menangis sedih, gadis itu lalu berlutut dengan kedua tangan dibentangkan ke

atas, ia berkata.

“Kong-kong, ibu….., supek-couw….., aku telah berhasil membunuh Ga Lung Hwesio.

Seorang musuh besar yang menyebabkan kematian kalian dan menebus dosa. Hwesio

jahat yang menghina Kun-lun-pai telah berkurang satu. Hanya tinggal seorang lagi.

Koleksi Kang Zusi

Thu Bi Tan si keparat!” Setelah berdoa demikian ia lalu menangisi lagi mayat twasuhengnya.

Pada saat itu, terdengar suara orang batuk-batuk dan muncullah seorang pemuda yang

berpakaian sederhana, berwajah tampan gagah dan bertubuh kekar. “Aduh, kasihan!”

kata pemuda itu sambil memandang dan tidak berani terlalu mendekati nona itu.

Sinar mata pemuda itu yang tadinya berseri, dan wajahnya yang membayangkan

kegembiraan, untuk sedetik menjadi lembut. “Nona, apakah dia ayahmu?”

Mendengar suara orang, Bi Hong menengok dan memandang pemuda itu melalui air

matanya. Akan tetapi mendengar orang bertanya apakah yang mati itu ayahnya,

sekaligus membuat dia teringat akan ayah bundanya, ibunya sudah mati dan ayahnya

tidak tahu di mana adanya. Tadinya masih ada twa-suhengnya yang amat baik

kepadanya seperti ayah sendiri, sekarang dia benar-benar merasa sebatang kara

sehingga pertanyaan ini memancing keluar air matanya lebih deras.

Pemuda ini menduga bahwa si tosu adalah ayah nona itu karena tadi ia mendengar

nona itu berdoa kepada kong-kong, ibu dan supek-couw, tanpa menyebut ayahnya.

Maka ia menduga yang tewas adalah ayah nona itu. Sekarang melihat nona itu makin

sedih, dugaannya makin kuat. Ia berlutut dan berkata menghibur.

“Nona, setiap orang takkan terluput dari pada kematian. Ada lahir dan mati, maka soal

kematian adalah wajar dan tidak perlu disedihkan. Yang penting adalah cara manusia

mati. Sekelebatan tadi aku melihat bahwa kau dan ayahmu bertempur melawan orangorang

berkepala gundul. Tentu mereka itu orang jahat dan kalau ayahmu tewas dalam

melawan orang jahat, boleh dibilang matinya itu mati sebagai orang gagah. Tidak

perlu penasaran.”

Ucapan itu dikeluarkan dengan nada menghibur dan amat halus penuh perasaan, maka

sedikit banyak dapat menghibur juga hati Bi Hong. Ia menyusuti air matanya lalu

berkata. “Dia bukan ayahku, dia twa-suhengku. Aku berduka karena twa-suheng telah

tewas dalam membela urusanku, dia tewas karena aku. Siapa tidak menjadi sedih dan

terharu?”

Pemuda itu mengangguk-angguk, diam-diam heran sekali bagaimana seorang nona

muda belia ini menjadi saudara seperguruan seorang kakek tua. Akan tetapi mulutnya

berkata memuji, “Kalau begitu lebih sempurna lagi matinya. Mati dalam membela

orang lain hanya dapat dilakukan oleh orang gagah dan mulia. Lebih baik kau segera

menguburnya nona, dan mari aku membantumu.”

Tiba-tiba Bi Hong meloncat berdiri. Ia makin bernafsu untuk segera mengejar hwesiohwesio

itu dan memasuki Lasha untuk mencari Thu Bi Tan Hwesio dan sekalian

membalaskan kematian twa-suhengnya. Akan tetapi pemuda ini tidak dikenalnya dan

bagaimana dia bisa muncul di tempat sunyi ini. “Siapakah kau?” tanyanya sambil

meraba gagang pedang.

Pemuda itu nampak terkejut melihat nona itu meraba gagang pedang. “Aku…. aku

seorang pelancong, nona. Namaku Yalu Sun. Bolehkah aku ketahui siapa nona dan

kenapa bersama totiang ini sampai bertempur dengan hwesio di tempat ini?”

Koleksi Kang Zusi

Melihat pemuda itu terkejut ketika ia meraba gagang pedang dan melihat sikap dan

gerak gerik pemuda itu seperti seorang yang lemah, Bi Hong tidak menaruh banyak

perhatian. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sepotong emas, lalu memberikan

potongan emas itu kepada si pemuda sambil berkata.

“Saudara, kau tolonglah aku, kuburkan jenazah suhengku ini di sini. Terimalah sedikit

hadiah ini dariku. Aku sendiri hendak cepat-cepat mengejar hwesio-hwesio jahat itu

untuk membalaskan kematian twa-suheng.”

Pemuda itu mengerutkan kening dan memandang potongan emas di tangan nona itu

tanpa menggerakkan tangan untuk menerimanya. Ia menggelengkan kepala lalu

berkata, “Sudah semestinya sesama manusia saling menolong di tengah jalan. Aku

akan mengurus penguburannya, nona, dan aku tidak membutuhkan hadiah. Yang

perlu hanya mengenal namamu dan nama totiang ini agar kalau ada orang lewat dan

bertanya, aku dapat menjawab dan tidak timbul persangkaan yang bukan-bukan.”

Muka Bi Hong menjadi merah. Ia merasa jengah menghadapi orang yang bersikap

begini baik, tidak mau menerima hadiah emas. Padahal jarang ada orang yang

menolak hadiah sebanyak itu.

Dengan bersyukur ia menjura sambil berkata, “Aku Wang Bi Hong, merasa berterima

kasih kepadamu, saudara Yalu Sun. Namamu akan selalu kuingat dan biarlah lain

waktu aku akan mendapat kesempatan untuk membalas budimu ini.”

Pemuda itu memandang kepadanya dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar dan

pada saat itu, hati Bi Hong berdebar aneh. Entah bagaimana, dalam saat itu si pemuda

kelihatan gagah dan tampan sekali dalam pandangan matanya dan ia makin berterima

“Jangan sungkan-sungkan nona Bi Hong. Aku hanya mewakili kau mengurus jenazah,

akan tetapi …. dia ini, dia telah mengorbankan nyawa untukmu. Totiang ini jauh lebih

baik daripadaku.” Ia balas menjura dan berdiri memandang seperti orang termenung

ketika nona itu membalikkan tubuh dan mempergunakan ilmu lari cepat melesat ke

arah kota Lasha.

Kemudian ia menarik napas panjang dan mulai menggali tanah dengan…… sepuluh

jari tangannya. Kalau saja Bi Hong berada di situ tentu gadis ini akan melongo

keheranan melihat betapa jari tangan dapat dipergunakan seperti cangkul dan dapat

membongkar tanah keras demikian mudahnya. Hanya seorang yang memiliki

lweekang tinggi sekali yang mampu bekerja seperti itu.

Padahal kejadian ini tidak perlu mendatangkan keheranan kalau saja orang tahu

bahwa pemuda ini, Yalu Sun namanya, adalah ahli waris tunggal dari ToTek Cinjin

yang berjuluk Pek-kong Kiam-sian, tokoh sakti yang aneh jarang keduanya.

Biarpun di ibukota Tibet pada waktu itu sudah bukan merupakan pemandangan asing

lagi kalau melihat orang-orang Han, namun sekiranya bukan pada hari itu Bi Hong

memasuki Lasha, tentu ia akan menarik perhatian orang juga.

Koleksi Kang Zusi

Orang-orang Han yang terdapat di kota Lasha adalah orang-orang pria adapun

wanitanya biarpun ada juga, yakni keluarga-keluarga para pendatang bangsa Han,

namun jarang keluar dari rumah. Apalagi Bi Hong merupakan seorang gadis muda

cantik dan gagah membawa-bawa pedang. Pasti menimbulkan kecurigaan.

Akan tetapi untung baginya, hari itu adalah hari istimewa. Hal ini dapat dilihat ketika

ia memasuki pintu gerbang kota Lasha, selain dia juga banyak terdapat orang-orang

Han, malah ada juga beberapa orang wanita tua yang nampaknya gagah dan orangorang

perantauan atau orang kang-ouw. Maka penjaga pintu gerbang juga tidak

bercuriga kepoadanya, malah seperti terhadap para tamu bangsa Han yang lain,

penjaga-penjaga itu menjura dengan hormat sambil mulutnya mengucapkan dalam

bahasa Tibet. “Selamat datang di Lasha.”

Bi Hong dapat merasai keramaian ini maka ia lalu mengikuti orang-orang Han yang

berbondong-bondong menuju ke suatu tempat. Di antara rombongan ini terdapat

banyak pula orang-orang suku bangsa lain, akan tetapi semua kelihatan gagah dan

orang-orang yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh.

Memang ada kejadian luar biasa di Lasha. Hari itu seorang tuan tanah kaya raya

sedang merayakan pesta pernikahan seorang puterinya, dan selain tuian tanah kaya,

dia juga seorang bangsawan yang menduduki pangkat tinggi. Karena calon mantunya

adalah ahli silat, seorang murid Cheng-hoa-pai, tentu saja tamu-tamunya terdiri dari

ahli-ahli silat dari barat dan timur, maka munculnya banyak orang kang-ouw di situ

bukan soal yang mencurigakan.

Siapakah yang mengadakan pesta? Bukan lain ialah Yang Nam, bekas putera tuan

tanah di Loka yang kini sudah menjadi seorang bangsawan di Lasha. Dan siapa

mantunya? Dia adalah…. Kalisang, pemuda kasar pemarah tapi gagah yang pernah

dijumpai Bi Hong dan suhengnya, ketika pemuda ini bertempur dengan Ga Lung

Hwesio beberapa bulan yang lalu.

Siapakah sebetulnya pemuda gagah itu dan bagaimana dia bisa menjadi mantu Yang

Nam? Untuk mengetahui semua ini, baiklah kita mundur dulu dan berkenalan dengan

pemuda itu yang bernama Kalisang.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Wang Sin dan Ci Ying telah mendapat

pertolongan tepat pada waktunya oleh Cheng Hoa Suthai ketika kedua orang muda itu

terancam bahaya di tangan Ga Lung Hwesio dan kawan-kawannya. Kemudian mereka

diajak oleh ketua Cheng-hoa-pai itu ke Heng-toan-san.

Wang Sin tidak dapat membantah lagi, pertama karena sudah timbul lagi kasih

sayangnya yang dahulu kepada Ci Ying, kedua karena dia merasa kasihan dan berat

untuk meninggalkan tunangannya, dan ketiga karena ada tekanan dari Cheng Hoa

Suthai yang lihai. Malah ia tidak dapat membantah lagi ketika di Heng-toan-san ia

dikawinkan dengan Ci Ying oleh partai itu.

Wang Sin hidup cukup senang di Heng-toan-san. Dia dan isterinya tinggal di lereng

bukit dekat puncak, karena Cheng-hoa-pai yang tidak pernah mempunyai anggauta

pria, merasa tidak enak kalau di situ terdapat seorang laki-laki. Akan tetapi biarpun

tidak tinggal di tempat ketua Cheng-hoa-pai, hubungan antara mereka dengan Cheng

Koleksi Kang Zusi

Hoa Suthai amat dekat, malah Ci Ying dan Wang Sin dapat memperdalam ilmu

silatnya di bawah petunjuk ketua itu sendiri.

Setahun setelah mereka menikah, Ci Ying melahirkan seorang anak laki-laki yang

mereka beri nama Kalisang. Wang Sin dan Ci Ying adalah orang-orang Tibet asli,

maka tentu saja anak mereka juga diberi nama Tibet, biarpun pakaian mereka dan

bahasa mereka adalah bahasa Han karena mereka hidup di lingkungan Cheng-hoa-pai.

Cheng Hoa Suthai amat mencinta Kalisang yang dianggap sebagai cucunya sendiri.

Malah nenek ini sendiri yang memberi gemblengan kepada Kalisang setelah bocah ini

agak besar. Kalisang ternyata memiliki tubuh yang amat kuat, sayang kecerdasan

otaknya sedang-sedang saja maka dalam hal ilmu silat, ia tidak bisa mewarisi

kelihaian Cheng Hoa Suthai.

Betapapun juga, karena menjadi muridseorang pandai, ilmu silatnya sudah amat jauh

kalau dibandingkan dengan ahli-ahli silat kebanyakan. Dia sudah menjadi seorang

pemuda yang tangguh, kuat dan lihai ilmu silatnya. Semenjak masih kecil, sudah

kelihatan nyata bahwa anak ini memiliki watak yang amat keras, akan tetapi jujur dan

tidak kenal takut.

Ketika Kalisang berusia enam belas tahun, ibunya menceritakan pengalamannya

dahuluketika masih menjadi budak di Loka. Bercerita tentang kekejaman tuan-tuan

tanah dan tentang kesengsaraan para budak. Mendengar penuturan ibunya tentang

pengalaman-pengalaman pahit getir yang dialami ayah bundanya, darah Kalisang

mendidih dan dengan marah ia berkata keras.

“Ibu kenapa tidak kita sapu bersih saja anjing-anjing tuan tanah itu?”

Ibunya tersenyum, girang melihat semangat puteranya.

“Sudah dilakukan oleh ayah bundamu, Kalisang.” Lalu ia berbicara tentang

pembasmian terhadap tuan tanah dan begundal-begundalnya di Loka. “Sayang sekali

putera tuan tanah yang bernama Yang Nam sudah pindah ke Lasha maka ia terluput

dari hukuman.”

“Kenapa tidak disusul ke Lasha, ibu?” desak Kalisang.

Ci Ying menggeleng kepala. “Berbahaya sekali. Bahkan Suthai sendiri menyatakan

terlalu berbahaya untuk menyerang ke Lasha. Di sana berkumpul pendeta-pendeta

Lama yang sakti dan sukar dilawan.”

Setelah mendengar penuturan ibunya, beberapa malam Kalisang tidak dapat tidur. Ibu

dan ayahnya adalah orang gagah. Dia sendiri putera tunggal mereka, masa ia akan

berpeluk tangan saja melihat bahwa seorang musuh besar masih hidup enak-enak di

Lasha?

Para pendeta Lama itu menurut ibunya juga merupakan pelindung-pelindung tuan

tanah, jadi mereka juga jahat, perlu dibasmi. Kalau aku tidak memperlihatkan

kepandaian dan menyerang ke Lasha, apakah pantas aku menjadi putera ayah ibu dan

murid ketua Cheng-hoa-pai? Demikian pikirnya dan pada malam hari yang amat

Koleksi Kang Zusi

sunyi, pemuda ini diam-diam meninggalkan orang tuanya lalu melakukan perjalanan

cepat ke Lasha untuk mencari Yang Nam dan kaki tangannya.

Demikianlah, dalam perjalanan ke Lasha, pemuda yang baru berusia enam belas tahun

dan sudah memiliki keberanian luar biasa itu bertemu dengan Ga Lung Hwesio dan

kawan-kawannya sehingga terjadi pertempuran dan ia ditolong Bi Hong dan Lee Kek

Tosu. Karena wataknya yang keras dan sedikit memiliki kesombongan ibunya,

Kalisang bersikap kasar terhadap Bi Hong dan melanjutkan perjalanannya ke Lasha

dengan tabah, sedikitpun tidak gentar biar dia sudah tahu akan kelihaian para pendeta

di Lasha.

Karena dia sendiri seorang Tibet, pandai berbahasa Tibet, maka gerak geriknya dan

air mukanya sebagai orang Tibet banyak menolongnya, membuat ia dengan mudah

dapat memasuki Lasha tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan mudah ia dapat

menyelidik di mana tempat kediaman Yang Nam. Setelah mendapat tahu bahwa Yang

Nam telah menjadi seorang pembesar di kota itu, ia sama sekali tidak takut dan pada

suatu malam ia meloncat ke atas genteng dan mengunjungi gedung Yang Nam.

Malam itu terang bulan, akan tetapi di langit terdapat beberapa kelompok awan putih

sehingga kadang-kadang bulan teraling awan. Mempergunakan kesempatan selagi

puteri malam bersembunyi, Kalisang melompat tembok yang mengurung gedung

besar itu, lalu melompat ke dalam.

Ternyata ia tiba di taman bunga di belakang gedung. Karena bulan muncul pula dari

balik awan, ia cepat menyelinap di balik gerombolan pohon bunga, bersembunyi dan

memperhatikan keadaan di situ. Benar-benar taman bunga itu indah sekali. Pelbagai

macam bunga dari timur sengaja didatangkan dan ditanam di taman itu.

Sayup-sayup Kalisang mendengar suara orang di sebelah depan. Ia berindap-indap

menghampiri dan alangkah kagetnya ketika ia melihat dua bayangan hitam melompat

dari balik pohon dan langsung menyerbu ke depan di mana terdapat seorang nona

muda bersama bujangnya.

Nona itu berpakaian indah dan wajahnya demikian cantik, membuat Kalisang

melongo saking kagum dan herannya. Belum pernah Kalisang selama hidupnya

melihat seorang gadis demikian cantiknya. Akan tetapi melihat gerak gerik dua

bayangan itu, ia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu dan bersiap-siap sedia untuk

Akan tetapi dua bayangan yang ternyata adalah dua orang laki-laki bertubuh tinggi

besar itu, agaknya tidak bermaksud mencelakakan si gadis dan bujangnya. Mereka

tidak mencabut senjata dan begitu tiba di situ, sebelum gadis dan bujangnya sempat

berteriak, dua orang itu bergerak cepat dan gadis itu bersama bujangnya sudah ditotok

Seorang di antara mereka lalu memondong tubuh gadis cantik itu sambil berkata.

“Nona jangan takut, kami hanya ingin menahan kau sebentar untuk minta uang

tebusan kepada ayahmu yang kaya raya. Ha-ha-ha.”

Koleksi Kang Zusi

Dua orang itu setelah berhasil menculik gadis tadi, sambil tertawa-tawa hendak pergi

dari situ. Akan tetapi tiba-tiba muncul Kalisang yang memegang pedangnya di tangan

sambil membentak marah. “Anjing-anjing hina dina! Lepaskan nona itu!” Sambil

berseru demikian ia sudah menyerang dengan pedangnya kepada orang yang

memondong gadis tadi.

Bukan main kagetnya dua orang penculik itu. Mereka menyangka bahwa yang

muncul tentulah kaki tangan tuan tanah atau pembesar pemilik gedung. Mereka cukup

maklum bahwa di tempat ini mereka tidak boleh main-main. Sekali perbuatan mereka

ketahuan, akan celakalah mereka karena banyak terdapat pendeta-pendeta yang

“Angin ribut, lari!” bentak orang kedua sambil menarik tangan kawannya. Orang

yang memondong gadis tadi juga tahu diri. Kalau sudah ketahuan, tidak mungkin

mereka bisa membawa pergi gadis yang diculiknya. Dengan marah ia lalu

melontarkan tubuh gadis itu ke arah pemuda yang sedang menyerangnya.

Kalisang terkejut. Ditariknya kembali pedang yang sudah ia serangkan, lalu cepat

tangan kirinya diulur untuk menjambret baju gadis itu sehingga tidak terbanting jatuh.

Akan tetapi ketika ia sudah menurunkan gadis itu ke tanah, dua orang penjahat tadi

sudah lari menghilang di luar tembok. Kalisang tidak mengejar melainkan cepat ia

membebaskan gadis itu dan pelayannya dari totokan.

Begitu terbebas dari totokan, gadis itu tertawa manis dan memandang kepada

Kalisang dengan sinar mata penuh kekaguman. Sama sekali ia tidak kelihatan takut.

“Ah, kau gagah sekali, telah bisa mengusir penjahat dan membebaskan totokan. Entah

bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu!” katanya.

Berdebar aneh jantung Kalisang melihat gadis itu tertawa begitu manisnya dengan

sinar mata berseri-seri menatap wajahnya. Ia tiba-tiba menjadi bingung dan kikuk.

“Aku….. aku….. hanya kebetulan melihat kejahatan itu, mana bisa aku

mendiamkannya saja? Sayang mereka keburu pergi, kalau tidak, belum puas hatiku

sebelum memenggal leher mereka. Bedebah-bedebah itu!”

“Kau memang hebat! Siapa namamu dan….. eh, bibi, di mana kau? Lekas beritahukan

ayah!” Nona itu menengok dan melihat pelayan masih berjongkok sambil gemetar

seluruh tubuhnya, ia tertawa. “Penjahat-penjahat sudah pergi, kenapa kau masih

ketakutan?”

16. Syarat Ikatan Jodoh.

Pelayan-pelayan itu menunjuk kepada Kalisang yang membawa pedang dengan

menggigil ketakutan. “Bibi yang bodoh, tuan muda ini adalah penolong kita, kau mau

samakan dia dengan orang-orang jahat? Hayo pergi beritahukan ayah!”

Setelah berkata demikian, dengan ramah dan tanpa malu-malu lagi gadis itu menarik

tangan Kalisang. “Akupun pernah belajar silat, akan tetapi tidak tahu tentang ilmu

menotok. Kau bisa membebaskan totokan tadi, tentu kau pandai ilmu menotok!” Sifat

gadis itu masih kekanak-kanakan akan tetapi polos dan amat ramah, sungguh

membuat Kalisang tercengang girang, dan juga jengah.

Koleksi Kang Zusi

“Kakakku yang gagah, aku bernama Kiang, siapakah kau? Dan kau malam-malam

datang ke sini benar-benar amat kebetulan sekali. Kau dari mana, putera siapa?”

Kalisang terpaksa duduk di atas bangku ke mana gadis itu menariknya. Setelah

menyimpan pedangnya, ia lalu berkata, suaranya agak gemetaran.

“Namaku Kalisang, aku….. aku……”

Gadis itu bersorak girang. “Sudah kuduga. Kau tentu bangsaku sendiri, biarpun

pakaianmu seperti orang Han, akan tetapi mukamu adalah muka bangsaku. Ah, aku

girang sekali, Kalisang. Baru sekarang aku melihat seorang pemuda bangsa kita yang

gagah. Biasanya, yang pandai ilmu silat hanyalah pendeta-pendeta Lama yang

berwajah buruk dan sudah kakek-kakek.”

Kembali gadis itu tertawa dan sekali lagi jantung pemuda itu berjungkir balik dalam

dadanya. Dalam pandang matanya, gadis ini cantik sekali, manis dan menarik hati

sikapnya yang lincah jenaka dan peramah. Di Lain saat, semua maksud hatinya yang

membawanya ke kota Lasha, telah dilupakan sama sekali.

Di lain saat, pemuda yang keras hati dan berani ini sudah duduk di atas bangku,

sejajar dengan nona yang mengaku bernama Kiang itu dan bicara ke barat ke timur

dengan asyiknya seperti dua orang sahabat baik, bicara tentang ilmu silat. Si nona

tersenyum-senyum dan Kalisang berseri wajahnya.

Tak lama kemudian dari dalam gedung terdengar suara ribut-ribut dan muncullah

banyak orang menuju ke taman bunga. Yang berjalan paling depan adalah seorang

laki-laki setengah tua berpakaian indah seperti seorang pembesar, diikuti oleh seorang

wanita cantik yang bermuka agak pucat seperti orang dalam kegelisahan. Di belakang

mereka, dengan toya-toya besar di tangan berjalan beberapa orang pendeta Lama dan

di belakang sekali ada belasan orang laki-laki yang berpakaian seperti ahli-ahli silat,

mereka ini adalah tukang pukul.

“Anakku……” Wanita cantik itu berseru girang ketika melihat nona Kiang sedang

duduk mengobrol dengan seorang pemuda dan berada dalam keadaan sehat.

Tadi ia gelisah bukan main ketika mendengar laporan pelayan bahwa di taman datang

orang-orang jahat yang hendak menculik nonanya. Sebelum pelayan itu bercerita

lebih lanjut, Yang Nam pembesar yang menjadi ayah nona itu, bersama isterinya dan

dilindungi oleh pendeta-pendeta kosen dan kaki tangannya, segera berlari-lari ke

taman bunga.

Melihat anaknya sehat dan tidak apa-apa, nyonya itu memeluk dan menangis

kegirangan. Juga Yang Nam kelihatan girang sekali. Dalam pernikahannya dengan

puteri Lasha itu, dia hanya mempunyai seorang anak, malah dari selirnya ia tidak

mempunyai lain anak. Maka kasih sayangnya terhadap Yang Kiang, puterinya itu,

luar biasa besarnya.

“Ayah, ibu……. dia ini Kalisang, dialah yang menolong aku dan mengusir dua orang

penjahat yang menculikku tadi. Penjahat-penjahat itu hendak menculikku dan minta

Koleksi Kang Zusi

uang tebusan dari ayah. Baiknya dia ini, eh, kakak Kalisang yang gagah perkasa dan

berkepandaian tinggi, datang mengusir mereka.”

Dengan sikapnya yang lincah dan suaranya yang ramai gadis ini lalu menceritakan

pengalamannya tadi. Wajah Kalisang menjadi merah karena dalam penuturannya itu

gadis itu melebihkan secara keterlaluan dan memuji-mujinya setinggi langit.

Yang Nam memandang kepada Kalisang dengan wajah berseri. Biarpun dia seorang

berpangkat dan hartawan besar, juga jauh lebih tua dari pada pemuda itu, namun

mendengar bahwa pemuda itu telah menolong puterinya, ia tidak ragu-ragu lagi

menjura dengan hormat dan berkata.

“Budi tuan penolong yang besar takkan dilupakan oleh aku Yang Nam dan

keluargaku ……”

Baru saja dia menyebutkan namanya, tiba-tiba wajah Kalisang berubah pucat dan

seperti kilat cepatnya pemuda ini mencabut pedangnya lalu berteriak. “Kau bernama

Yang Nam? Bagus! Hari ini sakit hati ayah Wang Sin dan ibu Ci Ying terbalas.

Siaplah untuk mati!”

Ia lalu menyerang dengan tusukan dahsyat ke arah dada pembesar itu. Serangan itu

demikian cepatnya sehingga para pendeta dan tukang pukul yang mengiringkan Yang

Nam dan tidak menduga jelek, tidak keburu melindungi tuan mereka. Akan tetapi,

Yang Nam bukanlah orang lemah.

Semenjak mudanya ia sudah belajar ilmu silat, maka begitu mendengar bentakan

pemuda itu dan melihat berkelebatnya pedang, ia sudah membanting tubuhnya ke

kanan. Ia lolos dari serangan akan tetapi terhuyung-huyung karena terlalu keras ia

membanting diri. Kalisang mengejar, akan tetapi tiba-tiba terdengar jerit dan Yang

Kiang telah berlari, menghadangnya. Gadis itu dengan muka pucat memandangnya,

mengangkat dada dan berkata.

“Kakak Kalisang, kau tidak boleh membunuh ayah!” teriaknya dengan mata

Menghadapi Yang Kiang, Kalisang menjadi lemas.

“Dia…. dia musuh besar ayah ibuku!” jawabnya.

“Tidak…. tidak …. kalau kau memaksa, lebih baik kau bunuh aku lebih dulu. Marilah,

kau bunuh aku lebih dulu!” tantang gadis itu dengan air mata bercucuran.

Kalisang terpukul hatinya. Begitu bertemu dengan gadis ini, semangatnya terbetot dan

setelah tadi mengobrol dengan senangnya ia sudah jatuh hati. “Aku….. aku tidak bisa

membunuhmu….. melukaimu saja aku tidak mau…..”

“Kakak Kalisang, apakah…… apakah kau suka kepadaku?”

Koleksi Kang Zusi

Ditanya secara terang-terangan didepan orang banyak, wajah Kalisang menjadi merah

sekali. Akan tetapi dia seorang pemuda yang berani, jujur dan tidak peduli akan orang

lain. Ia mengangguk.

“Aku suka padamu, nona Kiang!”

“Kalau begitu, jangan kau bunuh ayahku. Kalau kau bunuh dia, aku akan bunuh diri

dan setanku akan selalu mengejar-ngejarmu selama kau hidup.”

Kalisang menjadi pucat mendengar ini. “Tidak….. tidak…….”

“Berjanjilah, kau takkan membunuh ayahku. Hayo, berjanjilah, baru aku senang dan

suka padamu.” Gadis itu mendesak sambil memegang kedua tangan pemuda itu.

“Aku berjanji….” Kalisang menundukkan kepalanya. Betapapun besar semangatnya

untuk membunuh musuh-musuh ayah bundanya, menghadapi gadis ini, mati kutunya.

Sementara itu, para pendeta dan tukang pukul yang tadi melongo dan kaget sekali

melihat sikap pemuda itu, putera Wang Sin dan Ci Ying, lebih heran melihat sikap

puteri majikan mereka terhadap pemuda itu. Sekarang mereka sadar dari kaget dan

heran, maka serentak maju dengan sikap mengancam sambil menggerakkan

“Bagus, bocah setan. Jadi kau anak dari pemberontak Wang Sin dan Ci Ying? Syukur

kau sudah datang, tak usah kami mencari jauh-jauh!” bentak seorang pendeta yang

cepat menggerakkan toyanya memukul kepala Kalisang. Pemuda itu cepat menangkis

dengan pedangnya, namun tetap saja ia mundur tiga langkah karena pukulan toya itu

ternyata mengandung tenaga yang hebat sekali.

Diam-diam Kalisang terkejut dan maklum bahwa ia berada dalam bahaya besar. Baru

seorang pendeta saja sudah begini kuat, apalagi di situ banyak terdapat pendetapendeta

Lama dan tukang-tukang pukul, kalau mereka itu maju semua, celakalah ia.

Tiba-tiba Yang Kiang menarik tangan Kalisang dan dia sendiri berdiri di depan

Kalisang, melindungi pemuda itu.

“Mundur semua! Mundur kalian, jangan mengganggu dia seujung rambutpun!”

Dengan kedua mata terbelalak gadis itu dengan sikap gagah melindungi Kalisang.

Tentu saja pendeta kaki tangan tuan tanah menjadi kaget dan tidak berani turun

tangan terhadap puteri majikan mereka itu.

Karena bingung tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya bisa memutar tubuh dan

memandang kepada Yang Nam minta keputusan. Juga Yang Kiang kini menatap

wajah ayahnya, sinar matanya penuh permohonan akan tetapi agak menantang.

Memang anak ini semenjak kecil dimanja sekali sehingga ia tidak takut ayah

Yang Nam adalah seorang cerdik. Ia maklum bahwa anaknya jatuh hati kepada

pemuda itu. Dia sendiri sejak tadi memandang Kalisang dan di dalam hatinya ia harus

Koleksi Kang Zusi

mengakui bahwa Kalisang adalah seorang pemuda Tibet yang gagah dan tampan,

jarang dicari bandingannya di Lasha.

Kalau aku mengambil dia sebagai mantu, pikirnya, tentu aku akan terbebas dari pada

ancaman dari pihak Wang Sin dan Ci Ying. Selama ini ia selalu ketakutan karena

maklum bahwa dua orang itu tentu akan mencarinya. Akhirnya ia mengambil

keputusan dan ia tertawa bergelak, mengherankan semua orang.

“Kalisang bagus sekali bahwa kau adalah putera Wang Sin dan Ci Ying. Kau tahu,

diwaktu masih kecil, dua orang tuamu adalah kawan-kawanku bermain-main. Ha-haha,

sekarang mereka sudah mempunyai putera begini gagah. Bagus, kita orang-orang

sendiri, mari, nak. Mari kita masuk ke dalam dan bercakap-cakap.”

Ia lalu membubarkan semua pendeta dan kaki tangannya, lalu digandengnya sebelah

tangan Kalisang. Karena pemuda itupun digandeng sebelah tangannya oleh Yang

Kiang, ia tidak berani melawan. Apalagi ia terheran-heran melihat sikap Yang Nam

dan diam-diam dia merasa ragu-ragu apakah orang yang begini ramah, ayah dari

seorang gadis seperti Yang Kiang, bisa menjadi seorang jahat.

Demikianlah, dengan bujukan dan kata-kata manis dari Yang Nam, dan terutama

sekali karena hatinya sudah jatuh betul-betul kepada Yang Kiang, akhirnya Kalisang

menerima ikatan jodoh antara dia dan Yang Kiang.

“Dalam hal ini, aku harap Taijin (panggilan untuk pembesar) suka memberitahukan

kepada ayah dan ibu,” katanya.

“Tentu saja, tentu saja. Bahkan gurumu Cheng Hoa Suthai yang mulia, akan kukirim

undangan.”

Segera Yang Nam menulis surat kepada Wang Sin dan pemuda itupun menulis surat

kepada ayah bundanya, menceritakan semua pengalamannya. Pendeta-pendeta pandai

dikirim ke Cheng-hoa-pai membawa surat itu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya

Wang Sin membaca surat ini. Akan tetapi setelah berunding masak-masak dengan

isterinya, ia menghela napas dan berkata.

“Kalau dipikir-pikir, belum tentu Yang Nam jahat seperti ayahnya. Dahulu itu adalah

di masa ia masih muda, karena terlampau dimanja, mungkin ia ketularan sifat

ayahnya. Sekarang setelah menjadi orang tua, agaknya ia berubah sikapnya. Kalau ia

jahat, mana ia sudi mengambil mantu anak kita?”

Ci Ying mengangguk-angguk. “Betapapun juga, kita harus mengajukan syarat.”

Setelah mereka berunding, suami isteri ini mengajukan syarat bahwa ikatan jodoh

mereka setuju asal Yang Nam mau berjanji untuk memperbaiki nasib kehidupan

semua budak di Tibet.

Yang Nam menerima syarat ini dan berjanji akan membujuk pemerintahnya untuk

melindungi nasib para budak. Surat menyurat antara mereka ini terjadi berbulan-bulan

dan akhirnya ditetapkan hari kawinnya dan pada hari pernikahan itu, suami isteri

Wang Sin dan Ci Ying akan datang ke Lasha, bahkan Cheng Hoa Suthai juga akan

datang berkunjung.

Koleksi Kang Zusi

Ga Lung Hwesio dan kawan-kawannya yang bertemu dengan Bi Hong di tengah

jalan, adalah utusan terakhir yang pergi untuk menyambut suami isteri itu dari Hengtoan-

san. Akan tetapi Wang Sin menyuruh mereka pulang lebih dulu dan berjanji

akan segera menyusul bersama isterinya dan ketua Cheng-hoa-pai.

Tentu saja ia tidak mau melakukan perjalanan bersama para pendeta Lama. Hal ini

tidak enak bagi ketua Cheng-hoa-pai. Maka pertempuran di tengah jalan itupun tidak

******

Kita kembali mengikuti perjalanan Bi Hong yang berhasil memasuki kota Lasha dan

bersama orang-orang yang hendak bertamu pada pesta pernikahan di gedung Yang

Nam ia menuju ke tempat keramaian itu. Ditelan dalam gelombang manusia yang

menjadi tamu, Bi Hong juga ikut masuk ke ruangan depan gedung.

Dia sengaja masuk ke situ ketika melihat betapa di tempat keramaian ini penuh

dengan pendeta-pendeta Lama yang menduduki tempat tersendiri di pojok kiri. Tentu

di antara mereka terdapat musuh besarnya, Thu Bi Tan, pikirnya.

Para penyambut juga menyambut tanpa curiga dan mempersilakan duduk di antara

tamu-tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw. Kebetulan sekali Bi Hong duduk

di dekat seorang wanita tua, maka tanpa membuang banyak waktu lagi ia lalu

mengajak wanita itu berbicara. Dengan pandai gadis ini mengaku sebagai puteri

seorang penjual obat keliling dan ia menanyakan kepada wanita itu apakah di antara

para hwesio yang hadir ada yang bernama Thu Bi Tan Hwesio. Wanita tua itu nampak

“Thu Bi Tan losuhu? Tentu saja ada. Dia seorang di antara Su Thai Losu di sini,

seorang pendeta lama yang memiliki kedudukan besar. Masa ia tidak hadir?”

Dengan sikap menghormat nenek ini menunjuk ke arah seorang hwesio, tua tinggi

besar yang duduk di deretan paling muka. Di deretan ini duduk empat orang hwesio

tua, kesemuanya mengenakan jubah pertapaan yang indah, memakai topi hwesio dan

memegang tongkat-tongkat besar, sikap mereka agung dan angker.

Melihat musuh besarnya duduk di situ, Bi Hong yang sudah berbulan-bulan

menyimpan dendam, menjadi panas hatinya dan tidak dapat menahan sabar lagi.

Apalagi kalau ia ingat betapa twa-suhengnya juga sampai tewas dalam usaha

membalas dendam. Ia menjadi nekad dan tidak memperdulikan segala apa lagi.

Dengan cepat ia melompat ke tengah ruangan dan di lain saat ia sudah menghadapi

Thu Bi Tan Hwesio.

“Apakah kau yang bernama Thu Bi Tan Hwesio?” tanyanya dalam bahasa Tibet.

Hwesio itu terkejut dan heran, akan tetapi sebagai seorang yang mempunyai

kedudukan tinggi ia hanya tersenyum dan menjawab tenang. “Benar dan kau ini anak

siapa dan apa kehendakmu?”

Koleksi Kang Zusi

Semua tamu kaget bukan main melihat ada seorang gadis muda begini berani mati

bersikap tidak sopan terhadap guru besar itu. Apalagi ketika mereka mendengar suara

gadis itu nyaring berseru.

“Thu Bi Tan, aku datang dari tempat yang ribuan lie jauhnya sengaja hendak

mencarimu dan menantangmu. Berdirilah dan mari kita bertempur untuk

membereskan perhitungan lama!”

Thu Bi Tan menjadi marah. Gadis ini benar-benar kurang ajar, pikirnya. Orang

mencari dia untuk bertempur, inilah tidak aneh dan sudah ratusan kali ia menghadapi

musuh. Akan tetapi gadis begini muda, pula menantangnya di depan ratusan orang,

dalam tempat pesta pula, benar-benar keterlaluan. Ia membanting ujung tongkatnya di

lantai dan bangkit berdiri dengan mata melotot.

Pada saat itu Yang Nam buru-buru lari menghampiri dan menjura kepada Thu Bi Tan.

“Mohon losuhu suka mengalah dan bersabar demi mengingat saat bahagia ini.”

Hwesio itu mengangguk.

Kemudian tuan rumah itu memutar tubuhnya memandang Bi Hong. Ia tercengang

melihat kecantikan gadis yang masih muda ini. “Nona, apa maksudmu membikin

ribut dan mengacau tempat pesta kami?” tegurnya.

Bi Hong menjadi malu hati. Ia memang tidak tahu siapa Yang Nam, tidak tahu bahwa

sebetulnya yang berdiri di depannya juga musuh besar ayahnya ketika dahulu.

Ia balas menjura dan berkata, “Harap tuan maafkan kelancangan saya. Sebetulnya

saya adalah tamu yang tak diundang dan kedatanganku bukan menjadi tamu,

melainkan untuk mencari hwesio ini. Setelah bertemu, aku menantangnya dan ini

merupakan urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut paut dengan tuan atau orang

lain. Kurasa Thu Bi Tan Hwesio yang sudah berani membunuh-bunuhi orang, tidak

akan takut menghadapi tantanganku sebagai akibat dosa-dosanya.”

Thu Bi Tan marah bukan main. “Siluman betina, kau siapa dan apa sebabnya kau

berani kurang ajar kepada pinceng?”

“Hemm, hwesio jahat, Ingatkah kau belasan tahun yang lalu ketika kau menyerbu

Kun-lun-san dan membunuh beberapa orang tokoh Kun-lun-pai?”

Hwesio itu tertawa bergelak. Ha-ha-ha, kukira siapa, tidak tahunya hanya seorang

budak Kun-lun. Ha-ha-ha, bocah andaikata To Gi Couwsu sendiri yang datang

mencari pinceng, akupun tidak takut. Apalagi kau!”

“Majulah, biar aku mengadu nyawa denganmu!” bentak Bi Hong.

Yang Nam berkata perlahan. “Losuhu, harap jangan merusak suasana pesta. Tidak

boleh ada pertempuran di ruang ini.”

“Yang-taijin, biar pinceng membereskan pengacau cilik ini di luar. He, bocah! Kalau

kau memang hendak berkenalan dengan kelihaian Thu Bi Tan, mari keluar!”

Koleksi Kang Zusi

Dengan langkah tegap dan sikap gagah, Bi Hong mendahului hwesio itu keluar ke

halaman depan rumah gedung itu. Di halaman depan tadinya banyak orang menonton

keramaian, sekarang mereka mundur keluar karena takut.

Bi Hong menanti musuhnya besarnya di tengah halaman yang luas, pedangnya sudah

berada di tangannya. Ia maklum bahwa musuhnya tentulah orang pandai, akan tetapi

ia sudah nekad hendak membalas dendam, sama sekali tidak takut.

Bi Hong memandang penuh kebencian kepada hwesio yang sudah membunuh kongkongnya,

supek-couwnya, dan yang sudah menjadi gara-gara kematian ibunya itu,

begitu melihat hwesio itu sudah datang di depannya, segera ia membuka serangan

sambil membentak. “Jahanam, lihat pedang!”

Tadinya Thu Bi Tan Hwesio tentu saja memandang rendah kepada nona muda ini.

Biarpun murid Kun-lun-pai, kalau hanya seorang gadis muda, sampai dimanakah

kepandaiannya maka berani melawan dia? Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan

kematian Ga Lung Hwesio yang katanya juga diserang oleh seorang nona muda, maka

ia membentak.

“Tahan dulu! Apakah pembunuhan terhadap Ga Lung Hwesio baru-baru ini dilakukan

olehmu?”

Bi Hong tertawa. “Betul, dan sekarang aku akan mengirim kau menyusul setan Ga

Lung Hwesio!”

Thu Bi Tan kaget dan juga marah sekali. Kalau sudah dapat mengalahkan murid

keponakannya itu maka kepandaian nona ini tidak boleh dipandang ringan. Ia

membentak keras dan toyanya bergerak cepat, namun Bi Hong tidak gentar. Dengan

lincah ia mengelak lalu balas menikam sehingga dilain saat mereka sudah terlibat

dalam pertempuran yang hebat.

Dalam mempelajari ilmu pedang Kun-lun-pai, To Gi Couwsu menyesuaikan ilmu

dengan bakat pada di Bi Hong, maka gadis ini menerima sari pelajaran “lembek” yang

mendasarkan kelincahan dan kelemasan, berpegang kepada huikang (lweekang) yang

mengutamakan kehalusan dan meminjam tenaga lawan. Sedangkan lawannya, Thu Bi

Tan Hwesio adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga dahsyat sekali.

Maka Bi Hong dapat menghadapi lawannya ini dan setiap kali toya menyambar yang

tak dapat dielakkan lagi, pedangnya lalu menempel toya lawan dan mencuri tenaga

serangan lawan untuk balas menyerang. Thu Bi Tan beberapa kali kaget sekali karena

toyanya yang diserangkan dengan tenaga sepenuhnya, seperti amblas dan hilang

bertemu dengan tenaga yang menghisap, malah tiba-tiba pedang lawan muda yang

menempel toyanya dapat menyelinap dari bawah toya dan melakukan serangan

Ia kaget sekali karena tidak pernah disangkanya bahwa lawan semuda ini ternyata

sudah memiliki kepandaian tinggi dan kecerdikan seorang ahli. Akan tetapi, Thu Bi

Tan sudah berpengalaman, jauh lebih berpengalaman kalau dibandingkan dengan Bi

Koleksi Kang Zusi

Segera ia dapat melihat bahwa biarpun ilmu pedang gadis itu lihai dan cepat, namun

tenaganya kurang dan gerakannya biarpun sempurna kurang terlatih sehingga masih

kurang isi. Kalau ia mendesak dengan ujung toyanya dibarengi pukulan ujung lengan

bajunya yang kiri, ia percaya akan dapat menjatuhkan gadis ini dalam waktu yang

tidak berapa lama.

“Bocah, lihatlah kelihaian kakekmu!” Sambil berkata demikian, hwesio itu mengubah

gerakan toyanya, kini dimainkan dengan tangan kanan, diputar cepat seperti kitiran

angin menahan semua serangan pedang sedangkan tangan kirinya bergerak dan ujung

lengan bajunya yang panjang itu lalu menotok-notok ke arah jalan darah di bagian

tubuh yang berbahaya.

Sekejap saja keadaan berubah. Kalau tadi mereka masih saling serang, sekarang

keadaan Bi Hong terdesak sekali. Gadis itu merasa betapa pedangnya menghadapi

dinding baja yang amat kuat, yang dibentuk oleh putaran toya lawan, sedangkan

serangan ujung baju yang kadang-kadang menyambar dari balik dinding baja ini

benar-benar membuat ia repot kewalahan sekali. Pada saat yang malang baginya,

ujung lengan baju itu berhasil menotok pergelangan tangan kanannya, disusul

sambaran kaki ke arah lututnya.

Bi Hong mengeluarkan keluhan tertahan, pedangnya terlepas jatuh di atas lantai

mengeluarkan suara nyaring dan biarpun ia sudah meloncat untuk menghindarkan

sambaran kaki ke arah lututnya yang akan mencelakakannya, tidak urung betisnya

kena ditotol ujung sepatu dan ia roboh terguling.

Sementara itu, para tamu yang terdiri dari ahli-ahli silat yang sudah memburu keluar

dan menonton pertandingan. Bahkan Yang Nam dan Kalisang juga terdapat di antara

Kalisang yang melihat bahwa gadis yang mengacau adalah gadis yang dulu

menolongnya ketika ia menghadapi Ga Lung Hwesio, diam-diam terkejut dan

berkhawatir sekali. Sekarang melihat gadis itu roboh dan Thu Bi Tan hendak

mengirim pukulan maut, ia lupa diri dan melompat ke depan.

“Thu Bi Tan Losuhu, jangan bunuh dia!” Ia lalu menghampiri Bi Hong dan berkata

“Nona, Thu Bi Tan Losuhu amat lihai bukan lawanmu. Harap kau tahu diri dan

mundur. Betapapun juga kau takkan menang. Lebih baik hilangkan semua

permusuhan dan kau menjadi tamu kami yang terhormat. Untuk apa menanam

permusuhan dan saling mendendam?”

Bi Hong adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia sudah melompat berdiri

lagi. Betisnya mengucurkan darah akan tetapi hanya terasa sakit, tidak merupakan

luka berat. Cepat ia menyambar pedangnya kembali dan ia membentak.

“Siapa membutuhkan pertolonganmu? Manusia sombong, menyingkirlah kau. Aku

belum mati, berarti belum kalah!” Bi Hong menggunakan kata-kata Kalisang sendiri

yang marah-marah ketika dahulu ia tolong bersama suhengnya.

Koleksi Kang Zusi

Merah wajah Kalisang. “Nona, kau takkan menang!”

“Huh! Begitu anggapanmu? Lihat!” Secepat kilat gadis yang nekad ini sudah

menyerang lagi kepada Thu Bi Tan Hwesio. Terpaksa Kalisang menarik napas

panjang dan mundur. Bi Hong terheran melihat pemuda itu berada di situ dan

berpakaian sebagai mempelai, akan tetapi ia tidak perduli akan hal itu dan menyerang

makin hebat pada musuh besarnya.

“Ho-ho-ho, siluman cilik. Kau benar-benar sudah bosan hidup,” bentak Thu Bi Tan

Hwesio dan menggunakan siasatnya seperti tadi. Sebentar saja Bi Hong kembali

terdesak, malah lebih hebat lagi karena luka kecil di betisnya sedikitnya

memperlambat gerakan kakinya.

Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, ia tidak dapat mengelak lagi ketika ujung

lengan baju hwesio itu menotok pundak kirinya. Bi Hong terhuyung mundur,

wajahnya pucat. Ia tahu bahwa sambungan tulang pundak kirinya terlepas. Akan

tetapi sambil menggigit bibir menahan sakit ia maju lagi mengirim serangan maut.

Diam-diam Thu Bi Tan Hwesio terkejut dan kagum.

Bocah ini benar-benar ulet dan nekad, kalau tidak segera dirobohkan bisa

mendatangkan kekacauan hebat, pikirnya. Maka kedua tangannya bekerja makin

cepat, tangan kirinya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah yang mematikan.

Pada saat itu terdengar suara yang halus tapi nyaring yang diucap seperti orang

“Yang terlembut,

dapat menembus yang terkeras.

Yang tak berujud,

dapat memasuki benda berujud

Karena ini diketahui bahwa,

tidak bertindak ada gunanya.

Mengajar tanpa berkata.

Berguna tanpa bertindak.

Di kolong langit jarang yang mencapainya!”

Inilah kata-kata dalam kitab To-tek-keng, kitab para tosu penganut agama To. Dasar

pelajaran ilmu silat dari Kun-lun-pai memang berhubungan erat dengan pelajaran

Agama To, karena sebagian besar guru besarnya adalah pendeta-pendeta To. Maka

ilmu pedang Kun-lun-pai juga intisarinya diambil dari sajak-sajak dan kitab-kitab suci

agama To. Tentu saja bagi orang lain sajak itu tidak ada artinya untuk ilmu silat, akan

tetapi tidak demikian bagi Bi Hong.

17. Kepergian Pahlawan Jantan Para Budak.

Gadis ini semenjak kecil hidup di Kun-lun-pai di antara para tosu, tentu saja ia hafal

akan isi kitab-kitab sucinya. Mendengar ini sadar dan tahu bagaimana harus

menghadapi keganasan lawannya. Terbukalah matanya sejak tadi ia memang salah

Koleksi Kang Zusi

Ia dibikin bingung oleh terputarnya toya di tangan kanan lawannya, toya yang

diputar-putar seperti kitiran yang mengeluarkan angin mengaung seakan-akan

harimau hendak menerkam. Sejak tadi pedangnya selalu sibuk ia pergunakan untuk

menghadapi dinding baja dari tosu itu, maka pertahanannya terhadap serangan

totokan ujung lengan kiri lawannya menjadi amat lemah.

Setelah mendengar suara itu, tiba-tiba Bi Hong mengubah ilmu silatnya. Kalau tadi ia

menggunakan delapan puluh prosen dari tenaga dan perhatiannya untuk menghadapi

toya dan hanya dua puluh prosen untuk menghadapi tangan lawan sekarang tiba-tiba

ia balik.

Ia hampir tidak perdulikan gerakan toya lawan itu dan mencurahkan semua kegesitan

dan perhatiannya kepada lengan baju itu. Ia menggerakkan pedang dengan cepat

ketika lengan baju menyambar dan pada saat yang tepat, pedangnya berkelebat

menembus tangan kiri lawannya.

“Celaka….!” Thu Bi Tan Hwesio mengeluh dengan kaget sekali. Cepat-cepat ia

menarik lengan kirinya dan biarpun ia dapat menyelamatkan pergelangan tangannya,

tidak urung jari kelingking tangan kirinya terbabat putus berikut ujung lengan

Bi Hong girang sekali melihat hasil serangannya dan ia mendesak hebat. Luar biasa

sekali ilmu silat yang sudah mencapai tingkat tinggi. Kalau tadi Bi Hong terdesak

hebat, sekarang hanya karena melihat cara-caranya sendiri yang keliru dan dapat

mengubah, dalam sedetik saja ia sudah dapat menebas putus kelingking kiri lawan

dan balas mendesaknya dengan hebat sekali.

Thu Bi Tan Hwesio bukan orang bodoh. Ia cepat dapat menenangkan hatinya yang

kaget dan cepat ia mengubah ilmu silatnya. Kini toyanya tidak hanya diputar

melindungi diri seperti tadi, melainkan diputar untuk menyerang, malah ia

menggunakan kedua tangan untuk memutarnya.

Makin lama lingkaran toya makin luas dan angin menyambar makin hebat. Toya itu

sudah berputar-putar seperti sebuah roda besar yang hendak menggilas hancur tubuh

gadis itu.

Bi Hong kaget sekali dan kembali keadaan berubah. Ia terdesak hebat dan sibuk sekali

menangkis gulungan sinar toya yang menindihnya itu. Makin lama ia makin mundur

dan jalan keluar makin sempit.

Akan tetapi suara seperti tadi terdengar lagi. “Tiga puluh ruji berpusat pada roda. Dari

tanah lempung membuat jembangan. Pada tempat yang kosonglah terletak

kegunaannya!”

Kata-kata inipun adalah ayat-ayat dari kitab To-tek-kheng yang menunjukkan bahwa

pada kekosongan itulah terletak kegunaannya, karena apa artinya roda kalau hanya

ada lengkungannya di luar? Juga jembangan takkan ada artinya kalau tidak ada

“kekosongan” di dalamnya.

Koleksi Kang Zusi

Bagi orang lain sajak ini tidak ada artinya, namun bagi Bi Hong berarti sekali. Tadi ia

sibuk menghadapi ilmu toya yang diputar-putar merupakan lingkaran-lingkaran besar

yang menutup semua jalannya, akan tetapi begitu mendengar ini, ia segera teringat

bahwa ia terlampau memperhatikan gulungan sinar toya yang melingkar-lingkar.

Begitu mendengar sajak itu, Bi Hong cepat menggerakkan pedang dan menyerang

hebat ke arah tengah-tengah lingkaran.

Thu Bi Tan Hwesio terkejut sekali. Ia mengeluarkan teriakan kaget dan marah, namun

tetap saja ujung pedang Bi Hong berhasil melukai pangkal lengannyasehingga

mengeluarkan banyak darah. Setelah dua kali melihat bahwa sajak-sajak itu ternyata

membantu Bi Hong, hwesio ini terperanjat dan kemarahannya memuncak.

“Bangsat, kau dulu kubikin habis!” Ia melompat dan menyerang seorang pemuda

yang berdiri di antara para penonton. Pemuda itu bukan lain adalah Yalu Sun dan

melihat hwesio menerjang keluar, para penonton menjadi geger, dan cepat-cepat lari

Pada saat itu, dari luar datang tiga orang tamu. Begitu toya Thu Bi Tan Hwesio

menyambar, Yalu Sun melangkah mundur. Hwesio yang sudah marah sekali itu tidak

memperdulikan apa-apa lagi, toyanya terus menghantam dan hampir saja mengenai

kepala seorang nenek tua.

Dengan senyum mengejek nenek ini tenang-tenang saja mengangkat tangan kiri

dengan dua jari terbuka, dijepitnya toya itu dan dilain saat Thu Bi Tan Hwesio sudah

teruyung ke belakang sampai lima tindak ketika toyanya didorong oleh nenek itu.

Semua orang terheran-heran, akan tetapi tanpa memperdulikan sesuatu nenek itu terus

berjalan masuk, diikuti oleh dua orang yakni sepasang suami isteri yang setengah tua

dan nampaknya gagah sekali.

“Ayah …. ibu….!’ Kalisang menyambut dan pihak tuan rumah juga juga buru-buru

menyambut. Nenek itu ternyata Cheng Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai. Thu Bi

Tan Hwesio juga mengenalnya maka ia menjura dan berkata.

“Harap suthai sudi memaafkan karena tadi dalam mengejar seorang bangsat pinceng

hampir kesalahan tangan.”

Akan tetapi Cheng Hoa Suthai tidak meladeninya dan duduk di kursi yang sudah

disediakan untuknya. Yang Nam maju dan menyambut Wang Sin dan Ci Ying dengan

ramah tamah sekali.

Akan tetapi sebelum tamu baru ini sempat bercakap-cakap, tiba-tiba Thu Bi Tan

Hwesio sudah berseru marah dan menyerang lagi pemuda yang masih berdiri di situ

dengan senyum tenang. Serangannya hebat mengarah kepala, akan tetapi lebih hebat

lagi sambutan pemuda itu.

Dengan tangan kiri ia menyambut toya, ditangkapnya lalu digentakkan ke kiri. Tubuh

Thu Bi Tan Hwesio terbawa dan terguling roboh. Pada saat itu, Bi Hong sudah

melompat maju dan sekali pedangnya disabetkan, leher Thu Bi Tan Hwesio sudah

Koleksi Kang Zusi

Suami isteri yang datang bersama Cheng Hoa Suthai tadi adalah Wang Sin dan Ci

Ying. Mereka dengan bingung memandang Bi Hong. Wajah Wang Sin menjadi agak

pucat dan Ci Ying juga memandang dengan mata terbelalak.

Tangannya otomatis menyentuh lengan suaminya, dan biarpun keduanya tidak

mengucapkan sepata perkataan, hati mereka sama-sama terkejut melihat seorang gadis

yang wajahnya serupa benar dengan wajah Ong Hui. Siapakah gadis ini? Demikian

pikir mereka dengan hati berdebar.

Sementara itu, melihat Thu Bi Tan Hwesio sudah menggeletak tak bernyawa lagi di

depan kakinya, tiba-tiba Bi Hong menangis dan berkata nyaring sambil berdongak ke

“Kong-kong Ong Bu Khai! Supek-couw Cin Kek Tosu! Ibu Ong Hui, kalian lihatlah,

aku telah berhasil mengirim roh musuh besar kita kepada kalian!” Kemudian nona ini

menangis tersedu-sedu.

Terdengar teriakan menyayat hati dan Wang Sin sudah melompat ke depan Bi Hong

terus memeluknya. Gadis itu tentu saja kaget sekali dan hendak menggerakkan tangan

memukul, akan tetapi Wang Sin cepat berkata. “Anakku…. kau…. kau anak Ong

Hui….? Ah, kalau begitu, akulah ayahmu nak….”

Wajah Bi Hong menjadi pucat, tubuhnya menggigil. Ia masih tidak percaya dan

membentak. “Kau siapa?”

“Namaku Wang Sin, aku ayahmu….. apakah ibumu tak pernah memberitahu?”

Mendengar ini, Bi Hong lalu memeluk ayahnya sambil berkata. “Ayah….. anakmu Bi

Hong setengah mati mencari kau…..”

“Bi Hong anakku. Di mana ibumu….? Mengapa kau tadi….. kau sebut ibumu…..”

Tiba-tiba Bi Hong merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan ayahnya, lalu melompat

mundur. Wajahnya masih pucat akan tetapi matanya menatap wajah ayahnya dengan

sinar kemarahan.

“Ayah, kalau betul kau suami mendiang ibuku, kenapa kau meninggalkan ibu?

Kenapa kau tidak muncul sampai ibu meninggal karena duka? Kenapa kau diam saja

ketika Kong-kong dibunuh Thu Bi Tan Hwesio si keparat ini. Ayah, apa artinya ini

semua? Kenapa kau malah tak pernah….. tak pernah menengok aku?”

Wang Sin menundukkan mukanya. “Aku salah…. aku bersalah, anakku. Sekarang kau

turut aku, dia itu dia…. ibu tirimu,” ia menuding ke arah Ci Ying, lalu ke arah

Kalisang. “Dan dia itu, yang sekarang akan menjadi penganten, dia itu adik tirimu. Bi

Hong mulai sekarang ayahmu akan merawatmu.”

Tiba-tiba Bi Hong mengeluarkan suara ketawa, suara ketawa yang menegakkan bulu

roma karena suara itu lebih banyak menangis daripada tertawa. “Huh, jadi kau

meninggalkan ibu, lupa anak isteri, karena…. karena perempuan ini? Jadi kau menyiaKoleksi

Kang Zusi

nyiakan ibu untuk menikah lagi? Ayah, biarpun aku anakmu, aku harus katakan

bahwa kau bukan seorang berjiwa gagah!”

“Tutup mulutmu, setan!” terdengar teriakan nyaring dan sesosok tubuh melompat

cepat. Tahu-tahu sebatang pedang berkelebat ke arah leher Bi Hong. Melihat bahwa

yang menyerangnya adalah wanita yang disebut ibu tirinya. Bi Hong bangkit

marahnya, cepat menangkis dengan pedangnya dan di lain saat dua orang wanita

garang ini sudah saling serang dengan hebatnya.

Selagi Wang Sin dan semua orang kebingungan melihat peristiwa yang berlarut-larut

menjadi makin hebat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari Cheng Hoa Suthai

dan nenek ini tahu-tahu sudah melayang dan dengan kedua tangannya menyerang

kepala seorang pemuda yang bukan lain adalah Yalu Sun.

Pemuda ini terkejut dan mengelak sambil membentak. “Nenek tua apa kau sudah gila

tiada hujan tiada angin menyerangku?”

“Huh-huh, kau tentu takkan tinggal diam kalau gadis itu kalah. Lebih baik aku

menghalangimu lebih dulu.”

Memang nenek ini tadi sudah melihat gerakan Yalu Sun dan maklum akan kelihaian

bocah itu. Ia tahu pula bahwa kalau bocah itu turun tangan membela Bi Hong,

muridnya takkan menang. Maka sebelum hal itu terjadi, ia sengaja menyerang lebih

Siapa kira, serangannya gagal dan pemuda itu ternyata lebih lihai dari pada

dugaannya semula. Dengan marah ia lalu mengeluarkan senjatanya, yaitu sebuah

tasbeh di tangan kanan dan sebuah kebutan merah di tangan kiri. Dengan sepasang

senjatanya ini, Cheng Hoa Suthai menyerang Yalu Sun.

Pemuda itu kaget sekali melihat kehebatan si nenek, cepat ia mencabut pedang Pekkong-

kiam yang selalu ia sembunyikan di balik baju, lalu memutar pedangnya dengan

tenaga menyambut. Cheng Hoa Suthai menggerakkan kebutan merahnya dengan

tenaga Im-jiu, sedangkan tasbehnya dengan tenaga Yang-kang. Kedua senjata ini

menyambar-nyambar, angin yang menyambar dari senjata itu sangat dahsyat.

Akan tetapi Yalu Sun yang telah menerima warisan ilmu pedang dari Pek-kong Kiamsian,

dengan tenang menyambut semua serangannya, bahkan dapat balas menyerang

tak kalah hebatnya. Melihat dua pertandingan silat tinggi ini, semua tamu menjadi

gembira dan tegang, karena tidak mereka sangka-sangka di tempat ini mereka akan

disuguhi pertandingan yang demikian hebat.

Orang yang paling bingung adalah Wang Sin. Yang seorang isterinya, yang seorang

lagi anaknya. Bagaimana dia tidak menjadi bingung? Di samping kebingungannya,

iapun gelisah dan menyesal bukan main, insyaf bahwa kejadian hari ini adalah akibat

dari sikapnya yang kurang jantan ketika dahulu menghadapi Ci Ying.

Apalagi mendengar bahwa Ong Hui mati karena berduka memikirkannya. Hatinya

seperti ditusuk-tusuk dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah. Ia

menghampiri tempat pertempuran itu.

Koleksi Kang Zusi

Melihat Wang Sin maju, Bi Hong berseru. “Ayah, kau mau membantu dia? Baik, kau

bunuhlah anakmu ini!”

Ci Ying membentak. “Mau membantu anakmu? Boleh kau serang aku!”

Wang Sin mencoba untuk memisah mereka, katanya. “Ci Ying…. Bi Hong…..

kasihanilah aku, sudahilah pertempuran ini…..”

Akan tetapi mana mau dua jago betina berhenti? Keduanya panas hati dan keduanya

hendak saling bunuh. Bukannya berhenti, malah pertempuran makin hebat.

“Sudahlah…. sudahlah Ci Ying….. Ong Hui, kalian semenjak dulu tidak mau

bersatu…. aku yang bodoh dan berdosa, biar aku menebus dosa. Ong Hui, kau

tunggulah, aku!” Dan dengan pedangnya, orang gagah ini menusuk dadanya sendiri

sampai hampir tembus. Ia memekik dan roboh mandi darah.

“Wang Sin….!” Ci Ying memburu dan menjerit.

“Ayah….!” Bi Hong melempar pedangnya dan loncat menubruk.

Kalisang membelalakkan matanya, lalu menubruk sambil menjerit pula. Tiga orang

itu menangis dan mendekati tubuh Wang Sin.

Wang Sin membuka matanya, terengah-engah. Melihat tiga orang itu berlutut dan

menangis, ia berkata terputus-putus.

“Ci Ying…. Bi Hong….. setelah aku mati…. janganlah…. jangan kalian bermusuhan

lagi…..”

Ci Ying sesenggukan. Bi Hong menangis terisak-isak.

“Berjanjilah…..” Wang Sin mendesak.

Dua orang itu saling pandang, tak dapat menjawab karena kebencian masih meracuni

“Berjanjilah…. kalau kalian tidak …. mau menurut…. aku takkan mati meram…..”

Bi Hong menggelengkan kepala. “Aku akan, menurut ayah. Aku…. aku takkan

memusuhi….. dia….”

“Ci Ying berjanjilah….. dia sudah yatim piatu, apa… masih ….masih benci padanya?”

Ci Ying yang lebih dulu menjawab. “aku berjanji, pesanmu…..”

Wang Sin menarik napas panjang, kelihatan lega sekali. Ia memandang puteranya,

tersenyum. “Ci Ying kulihat Yang Nam berubah baik….. kau langsungkan pernikahan

anak kita…. jangan lupa syarat-syarat yang kita ajukan dahulu…. harus dipenuhi….

kasihan para budak…. sudahlah selamat semua…. aku pergi….”

Koleksi Kang Zusi

Orang gagah yang menjadi buah bibir sebagai seorang pahlawan jantan para budak di

Tibet itu menghembuskan napas yang terakhir diiringi tangisan Ci Ying, Bi Hong dan

Yang Nam melihat ini segera maju dan menghibur, lalu mengurus jenazah itu dibawa

ke dalam. Sementara itu pertempuran antara Cheng Hoa Suthai dan Yalu Sun masih

berlangsung terus dengan hebatnya. Mereka berdua tidak memperdulikan akan semua

kejadian di situ.

Sebetulnya Yalu Sun merasa tidak enak sekalipun ingin menghentikan pertempuran

akan tetapi mana dia bisa? Cheng Hoa Suthai yang selama ini belum pernah

menemukan tandingan, sekarang menghadapi pemuda itu ia tidak mampu

merobohkannya, sudah menjadi penasaran dan marah sekali, menyerang dengan hebat

dan tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk keluar dari kalangan

pertandingan. Mereka sudah bertempur selama tiga ratus jurus lebih dan Yalu Sun

mulai terdesak.

Tiba-tiba terkesiur angin dan tahu-tahu di dekat pertempuran sudah berdiri seorang

kakek tua yang bertubuh jangkung kurus. Kakek ini mengelus-elus jenggotnya yang

sudah panjang, lalu berkata halus.

“Cheng Hoa, sampai tua kau masih saja galak sekali!” Ia menghela napas dan

mengebutkan tangan kirinya. Ujung bajunya menyambar ke tengah pertempuran dan

dua orang yang sedang bertanding itu terhuyung mundur dan perkelahian mereka

“Suhu…..” Yalu Sun berseru girang dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

“Kau…..?” kata Cheng Hoa Suthai dan…. aneh sekali, wajah nenek itu menjadi merah

seperti orang malu, akan tetapi matanya memancarkan sinar ganjil, seperti orang yang

tiba-tiba teringat akan sesuatu yang mesra. “Jadi dia ini muridmu? Lihai sekali kau,

makin tua makin hebat!”

“Cheng Hoa, pertempuran kali ini sebetulnya menggirangkan, sayang terjadi peristiwa

menyedihkan dengan kematian mantu muridmu.”

Pada saat itu, Ci Ying, Bi Hong, dan Kalisang juga sudah keluar dan semua mata

memandang kakek yang baru datang ini dengan heran. Cheng Hoa Suthai lalu

memperkenalkan kakek itu kepada Ci Ying.

“Dia ini…. dia Pek-kong Kiam-sian To Tek Cinjin, dia dahulu….. dia dahulu….

suhengku.” Tentu saja nenek ini malu untuk mengaku bahwa sebenarnya kakek ini

dahulu adalah kekasihnya. Mereka berpisah karena watak Cheng Hoa Suthai yang

amat galak sehingga terjadi percekcokan yang memisahkan mereka.

Cheng Hoa Suthai memandang kepada Yalu Sun dan berkata kagum. “Orang muda,

kau tidak memalukan menjadi muridnya.”

To Tek Cinjin tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya, memandang Ci Ying dan

berkata. “Muridmu ini juga hebat, biarpun galak seperti kau tapi dapat memaafkan

Koleksi Kang Zusi

anak tirinya. Ci Ying, ketika kau ditolong oleh gurumu, ingatkah kau akan bocah yang

dulu kau bawa minggat dari Loka? Dia itulah bocah itu. Aku tidak tahu namanya,

maka kuberi nama Yalu Sun.”

Ci Ying terkejut dan memandang kepada pemuda itu. Lalu ia terisak dan berlari maju,

memegang kedua tangan Yalu Sun. “Kau…. kau Wang…..!”

Yalu Sun melongo, tidak tahu apa artinya ini semua. Dengan ringkas Ci Ying lalu

menuturkan riwayatnya ketika masih bayi, bagaimana orang tuanya terbunuh oleh

kaki tangan tuan tanah Yang Can dan bagaimana ia membawa anak itu melarikan diri.

Mendengar ini, Yalu Sun menjatuhkan diri di depan Ci Ying dan berkata sambil

menangis. “Kalau begitu, kau sudah menolong jiwaku…. banyak terima kasih atas

semua budimu, bibi…..”

Semua orang terharu melihat adegan ini dan tidak ada orang yang membuka suara.

Maka amat jelas kedengaran suara Pek-kong Kiam-sian ketika ia berkata.

“Dunia ini merupakan tempat ujian bagi manusia, juga tempat hukuman. Siapa tidak

kuat pasti tergoda dan melakukan perbuatan-perbuatan sesat. Makin besar

penyelewengannya makin besar pula hukumannya. Namun betapapun besar

penyelewengannya, asal orang itu dapat sadar, insaf, dan bertobat kembali ke jalan

benar, dia boleh dibilang manusia berbahagia. Kasihanilah orang yang tidak

menyadari kesalahan sendiri dan terus membuta dan tidak tahu bahwa dia menindak

ke jalan sesat, menganggap diri sendiri baik dan menimpakan semua kesalahan

kepada orang-orang lain. Permusuhan antara Yang Nam dan Wang Sin disudahi

dengan pengikatan jodoh anak-anaknya, itulah baik sekali. Semoga selanjutnya

masing-masing akan dapat bekerja sama demi kebahagiaan orang-orang yang patut

ditolong. Dan kau, Bi Hong. Gurumu To Gi Couwsu adalah suteku sendiri, maka kau

adalah murid keponakanku. Kau sudah membunuh hwesio-hwesio Tibet, akan tetapi

hal ini adalah karena Thu Bi Tan Hwesio dan Ga Lung Hwesio atas kehendak mereka

sendiri telah menyerbu ke Kun-lun dan membunuh Cin Kek Tosu dan Ong Bu Khai.

Maka dengan pembalasan ini, hutang piutang sudah lunas.”

Setelah berkata demikian, kakek ini memandang ke arah para hwesio Tibet dengan

mata berpengaruh. Adapun Bi Hong ketika mendengar bahwa kakek itu adalah

supeknya sendiri lalu memberi hormat.

Dari golongan hwesio yang berkedudukan tinggi, berdiri seorang hwesio yang sudah

tua, bertubuh kurus dan bersikap agung. “Omitohud, apa yang To-yu katakan tiada

salahnya. Baru sekarang pinceng beramai tahu bahwa sute Thu Bi Tan telah

membinasakan orang-orang Kun-lun-pai. Biarlah hutang nyawa, bayar nyawa, semua

sudah ditentukan oleh Karma masing-masing. To-yu suka menghabiskan sampai di

sini saja, pinceng mengucapkan banyak terima kasih.”

Diam-diam To Tek Cinjin kagum sekali dan ia berkata kepada muridnya.

“Yalu Sun, Bi Hong, marilah kau ikut pinto kembali ke Kun-lun-san.” Dua orang

muda itu tidak membantah, setelah berpamitan kepada Ci Ying yang menjadi terharu

sekali. Kedua orang muda itu lalu mengikuti Pek-kong Kiam-sian kembali ke timur.

Koleksi Kang Zusi

Pernikahan dilangsungkan dan semenjak saat itu, terjadi perubahan besar bagi para

budak di Tibet. Kalisang mendapat pangkat di Lasha dan pemerintahan mengeluarkan

undang-undang supaya para tuan tanah lebih memperhatikan nasib para budak.

Adapun Ci Ying, dia bertindak sebagai pemeriksa. Dia berkelana di Tibet untuk

memeriksa apakah perintah ini dijalankan baik-baik oleh para tuan tanah di dusundusun

sehingga nasib para budak agak terjamin.

Akan tetapi usia manusia terbatas. Setelah orang-orang seperti Ci Ying dan Kalisang

meninggalkan dunia ini, siapa lagi yang memperdulikan nasib para budak? Tuan

tanah, mereka mempunyai pegangan sendiri bahwa tanpa memeras para budak,

kekayaan mereka takkan bertambah dengan mudah.

Bagi mereka, mengeluarkan modal setail harus mendapat keuntungan sepuluh tail,

biarpun dengan jalan apa juga, kalau perlu menindas para budak agar mereka bekerja

lebih hebat dengan mendapat upah lebih rendah. Selama sistem tuan tanah dan

perbudakan belum hapus dari muka bumi, selama itu pula nasib para budak, para

buruh tani akan tergencet.

Banyaknya peluh yang keluar dari badan tidak cukup untuk memuaskan dahaga,

untuk mengenyangkan kelaparan, untuk menyelimuti tubuh yang telanjang. Beberapa

puluh tahun kemudian, kembali para budak di Tibet mengalami penindasan, kembali

tuan-tuan tanah menjadi raja kecil dengan begundal-begundalnya berikut pendetapendeta

yang hanya bersih kulit kepalanya, namun kotor hatinya.

Rakyat kecil tetap menderita. Akan tetapi Tuhan bersifat Adil, pasti akan tiba saatnya

si penderita menang, si penindas hancur.

TAMAT

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s