Rajawali Lembah Huai

New Picture (1) 

Rajawali Lembah Huai

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Penjajahan seperti tercatat di dalam sejarah negara manapun di permukaan bumi ini, tidak pernah mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat bangsa yang dijajah. Biarpun sudah menjajah Cina hampir seabad lamanya (1280-1368), kerajaan Goan-tiauw, yaitu bangsa Mongol, tidak pernah membahagiakan sebagian besar rakyat Cina. 

Yang makmur hanyalah orang-orang yang memperoleh kedudukan di

pemerintahan, baik dia bangsa Mongol sendiri maupun bangsa

pribumi yang setelah mendapatkan kedudukan lalu melupakan

bangsanya sendiri, bahkan menjadi pemeras bangsanya sendiri

demi kesenangan diri pribadi. Para pejabat itu, dari pusat

sampai ke daerah, mabok kesenangan dan untuk membiayai

kesenangan ini, mereka tidak segan-segan menindas rakyat

dengan pemungutan pajak yang besar, dengan pengerahan

tenaga rakyat tanpa bayar dan sebagainya.

Rakyat, terutama rakyat kecil di pedesaan menderita hebat.

Kalau hasil panen mereka baik panen hasil tanaman di sawah ladang, maupun panen hasil penangkapan

ikan di perairan, sebagian dari hasil mereka masuk ke dalam gudang pejabat daerah, dan mereka

masih untung mendapatkan sisa hasil itu untuk dimakan sekeluarga mereka. Akan tetapi, celakalah

kalau alam tidak membantu mereka, kalau terjadi banjir atau musim kering yang lama. Dari sawah

ladang atau dari perairan mereka tidak memperoleh hasil, dan dari para pejabat mereka tidak

menerima bantuan, bahkan kesempatan itu dipergunakan oleh para tuan tanah dan para pejabat

untuk mengulurkan hutang kepada mereka dengan bunga yang akan mencekik leher mereka di kala

alam lebih ramah dan panen berhasil baik. Dalam keadaan seperti ini, banyak rakyat kecil terpaksa

mengorbankan puteri-puteri mereka yang berkulit bersih berwajah cantik sebagai pembayaran

hutang mereka kepada para tuan tanah dan pembesar, untuk dijadikan selir mereka. Juga banyak

anak laki-laki yang bertubuh sehat dan kuat dikorbankan menjadi hamba sahaya, seperti budak

belian. Dalam keadaan seperti itu pula, banyak terjadi hal-hal yang mengerikan. Ada keluarga yang

terpaksa membunuh anak-anak sendiri, terutama yang perempuan, karena tidak sampai hati melihat

mereka itu mati kelaparan, dan untuk meringankan keluarga! Ada pula yang menjual anak-anak

mereka untuk menjadi budak, dalam hal ini tentu saja kalau anak mereka itu sehat dan mungil.

Penjajah tetap penjajah. Mereka adalah bangsa lain yang menjajah demi kepentingan bangsa lain.

Kalaupun sekali waktu ada penjajah menunjukkan perhatian terhadap rakyat bangsa yang dijajah,

hal itu dilakukan hanya untuk mengelabui rakyat agar tunduk terhadap segala peraturan dan

perintah mereka. Pada hakekatnya mereka menguras seluruh kekayaan bangsa yang mereka jajah,

hasil tanah dan airnya, tenaganya, demi kemakmuran bangsa yang menjajah itu sendiri.

Pemerintah kerajaan Mongol, seperti para penjajah lain di manapun juga, tidak pernah berhasil

mendapatkan dukungan rakyat. Makin banyak saja rakyat yang melakukan perlawanan. Di mana-mana

timbul pemberontakan. Banyak bermunculan perkumpulan-perkumpulan yang selalu mengganggu

keamanan, merampok dan menentang semua peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Pada permulaan

abad ke empat belas, pemerintah kerajaan Goan itu semakin lemah dengan adanya pemberontakanpemberontakan,

terutama di bagian selatan. Banyak daerah dikuasai para pemberontak.

Ketika musim kering yang berkepanjangan datang melanda Cina, banyak sekali rakyat kecil yang

meninggal dunia karena kelaparan. Ditambah lagi gerombolan-gerombolan perampok dan

 

pemberontak yang membutuhkan ransum, tidak segan-segan merampoki rakyat sendiri, membuat

penderitaan rakyat semakin hebat. Bencana kelaparan itu melanda pula sepanjang Lembah Sungai

Huai. Setiap hari terdengar ratap tangis keluarga yang ditinggalkan anggota keluarga yang mati

kelaparan atau juga mati oleh penyakit yang berjangkit di antara mereka. Dan nampak setiap hari

usungan mayat yang akan diperabukan atau dimakamkan.

Bencana hebat melanda keluarga Cu di sebuah dusun kecil di Lembah Sungai Huai. Pada suatu

malam, terdengar tangis sedih seorang anak laki-laki di sebuah rumah reyot mirip gubuk. Yang

menangis itu adalah Cu Goan Ciang, seorang anak laki-laki yang usianya sekitar dua belas tahun, dan

dia menangisi mayat ibunya yang baru saja meninggal dunia karena kelaparan dan penyakit pula.

Ayahnya sudah lebih dulu meninggal beberapa pekan yang lalu. Seluruh keluarganya tewas, dan dua

orang kakaknya, seorang adiknya, ayahnya, dan kini ibunya. Seorang demi seorang mati karena

kelaparan atau penyakit.

Anak laki-laki yang kurus kering itu, tinggal kulit membungkus tulang, yang mungkin juga akan

menyusul seluruh keluarganya, entah beberapa hari lagi, kini menangis meratap-ratap dan memanggil

ibunya. Tidak ada air mata keluar dari sepasang matanya yang cekung karena dia sudah kehabisan

air mata. Tubuhnya yang kurus itu sudah tidak dapat diperas mengeluarkan keringat atau air mata

lagi sudah seperti sebatang pohon kering kerontang.

Beberapa orang tetangga datang menjenguk. Akan tetapi yang dapat mereka lakukan hanyalah

menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Apa lagi yang dapat mereka lakukan? Keadaan

mereka tidak lebih baik dari pada keadaan keluarga Cu itu. Para tetangga prianya hanya dapat

bergeleng-geleng dan menghela napas, dan tetangga wanita hanya dapat ikut menangis. Seseorang

menganjurkan Cu Goan Ciang untuk minta bantuan hartawan Ji di dusun itu, atau kepala dusun Koa.

Hanya dua orang itulah yang hidup makmur dan kaya raya di dusun itu. Hartawan Ji adalah seorang

tuan tanah yang memiliki tanah yang luas sekali, sedangkan kepala dusun Koa juga terkenal kaya raya

dan memiliki banyak ternak.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cu Goan Ciang sudah berlutut di depan pintu rumah

gedung hartawan Ji. Para pelayan yang mendengar ratapannya bahwa dia datang untuk mohon

bantuan hartawan Ji karena ibunya, satu-satunya keluarga yang masih ada, meninggal dunia semalam

dan dia membutuhkan peti mati, ada yang menaruh iba dan melaporkan kepada Ji wan-gwe

(Hartawan Ji). Akan tetapi hartawan itu yang merasa jengkel karena merasa diganggu di pagi yang

cerah itu, mengerutkan alisnya setelah dia melihat anak itu.

“Huh, kalau kami meminjamkan sebuah peti mati, lalu kapan dia akan dapat membayarnya? Dia

sendiri sudah kurus kering, dan mungkin beberapa hari lagi dia akan menyusul ibunya. Tidak, aku

tidak dapat membantu anak yang sudah mau mati ini.” Setelah berkata demikian, dia masuk lagi ke

dalam.

Cu Goan Ciang hanya dapat menangis tanpa air mata dan diapun tertatih-tatih pergi ke rumah

kepala dusun Koa, Koa-cung-cu (kepala dusun Koa) adalah seorang laki-laki berusia empat puluh

tahun yang tinggi kurus dan wataknya angkuh. Dia keluar ketika dilapori penjaga bahwa anak laki-laki

Cu datang menghadap sambil menangis untuk melaporkan kematian ibunya.

“Hemm, ibumu mati kenapa engkau menangis di sini?” tanya Koa cung-cu dengan sikap acuh dan

angkuh.

Cu Goan Ciang atau yang biasa disebut Siauw Cu (Cu Kecil) segera berlutut dan membenturbenturkan

dahinya di atas tanah. “Taijin (orang besar), saya Siauw Cu mohon dikasihani, tai-jin

adalah kepala dusun kami, kepada siapa lagi saya dapat memohon pertolongan? Mohon taijin memberi

sebuah peti mati untuk jenazah ibu saya, dan saya akan suka bekerja melakukan apa saja untuk

membalas budi tai-jin…”

Pada saat itu, banyak orang yang sedang lewat, berhenti karena tertarik melihat peristiwa itu.

Melihat adanya banyak orang, Lurah Koa tersenyum dan memasang aksi sebagai seorang dermawan

besar, apa lagi karena di antara para penduduk dusun yang nonton itu terdapat beberapa orang

 

wanita muda. Lurah Koa memang terkenal mata keranjang dan suka berlagak kalau dekat dengan

wanita-wanita muda.

“Siauw Cu, engkau benar sekali datang kepadaku untuk minta bantuan. Baiklah, aku akan memberi

peti mati dan memperbolehkan engkau menggunakan tanah kuburan untuk memakamkan jenazah

ibumu. Selanjutnya, engkau kuberi pekerjaan menggembala kerbau. Bagaimana, maukah engkau?”

Tentu saja Siauw Cu menjadi girang bukan main. Dia bukan hanya menerima pertolongan untuk

pemakaman ibunya, bahkan diberi pekerjaan sebagai penggembala kerbau. Cepat di membenturbenturkan

dahinya di tanah, menghaturkan terima kasih dan Lurah Koa tersenyum-senyum sambil

melirik ke sana sini dengan lagak seorang dewa penolong!

Kebaikan tidak mungkin dilatih. Tidak mungkin mengajar seseorang untuk menjadi baik. Kebaikan

yang dilatih, dipelajari dan disengaja, jelas bukanlah kebaikan lagi namanya. Kebaikan yang dilakukan

karena perhitungan hati akal pikiran hanyalah pekerjaan nafsu yang menjadikan perbuatan baik itu

sebagai sarana, sebagai cara untuk memperoleh sesuatu. Hasil dari kebaikan yang disengaja itu

mungkin balas jasa, atau nama baik, atau bahkan imbalan di alam baka kelak. Dan kebaikan seperti ini

adalah palsu, hanya dilakukan orang yang munafik seperti Lurah Koa. Dia melakukan kebaikan

terhadap Siauw Cu karena ingin memamerkan “kebaikannya”, ingin dipuji.

Kebaikan adalah suatu sifat dari seseorang, seperti harum setangkai bunga, seperti kicau seekor

burung, sifat dari seseorang yang tidak dikuasai nafsu pada saat melakukannya. Kalau hati terisi

kasih sayang, maka akan muncul kebaikan dalam semua perbuatannya terhadap orang yang dikasihi.

Andai kata Lurah Koa merasa iba kepada Siauw Cu atau kepada siapa saja tanpa perhitungan, maka

dorongan atau landasan iba kasih ini dengan sendirinya menjadikan perbuatannya terhadap Siauw Cu

baik, tanpa dibuat menjadi baik, tanpa disengaja dan tanpa disadari bahwa dia melakukan sesuatu

yang baik.

Demikianlah, setelah selesai memakamkan ibunya, Siauw Cu meninggalkan gubuk kosong yang

berdiri reyot hampir roboh di tanah orang lain itu, dan mulailah dia bekerja sebagai penggembala

kerbau milik Lurah Koa.

Siauw Cu bekerja dengan rajin karena di tempat Lurah Koa itu setidaknya dia mendapatkan

makan kenyang dua kali sehari. Biarpun yang diberikan kepadanya hanya makanan sederhana, namun

cukup mengenyangkan sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, kesehatannya telah pulih,

tubuhnya berisi daging dan otot dan karena pada dasarnya dia memang tinggi tegap maka anak

berusia dua belas tahun ini kelihatan seperti sudah berusia lima belas tahun saja. Dia mendapatkan

pula pakaian, walaupun dari kain kasar, namun dapat berganti pakaian setiap hari. Bagi Siauw Cu,

untuk sementara waktu semua itu cukuplah. Pada hal, sejak kecil anak yang terlahir dari keluarga

miskin ini mempunyai cita-cita yang amat besar. Dia melihat kehidupan sengsara dan miskin di

keluarganya, juga di keluarga para petani lainnya, dan hal ini menimbulkan tekad di hatinya bahwa

kelak dia harus dapat mengubah keadaan hidup yang sengsara seperti ini.

Kerajaan Mongol yang dibangun di atas genangan darah dan mayat rakyat Cina, selalu memerintah

dengan tangan besi. Sudah menjadi watak bangsa nomad ini untuk bersikap keras dan tegas, watak

yang dibentuk nenek moyang mereka karena keadaan hidup yang serba sulit dan keras di utara. Oleh

karena itu, rakyat yang tertindas selalu terhimpit dan banyak di antara rakyat yang memberontak.

Namun selalu pemberontakan itu dapat dihancurkan pasukan Mongol yang memang amat kuat dan

pandai dalam perang itu.

Bagaimanapun juga, pemberontakan-pemberontakan itu memusingkan Kaisar Togan Timur (1333-

1368), kaisar terakhir dinasti Goan. Sikap pemerintahan keras yang dilakukan oleh perdana

menterinya, yaitu Menteri Bayan, tidak menolong keadaan bahkan membangkitkan kemarahan dan

kebencian rakyat yang bernyala-nyala sehingga setiap ada gerakan pemberontakan di mana-mana

mendapat sambutan dan dukungan rakyat jelata.

Menteri Bayan memang kejam dan keras, disamping kelicikan dan kecerdikannya. Dia memerintah

dengan tangan besi. Menteri Bayan inilah yang mengeluarkan peraturan yang disetujui oleh Kaisar

Togan Timur, yaitu larangan bagi rakyat pribumi untuk menggunakan warna kuning emas pada

 

pakaian mereka, melarang rakyat menggunakan bahasa Mongol, bahkan melarang penggunaan kata

atau huruf yang bermakna “kebahagiaan” dan “usia panjang”. Bahkan kemudian, setelah mencatat

nama keluarga para pemimpin pemberontakan yang selama ini dapat dihancurkan, Menteri Bayan

mengeluarkan usulnya yang amat kejam, yaitu agar Kaisar memerintahkan pasukan di seluruh negeri

untuk mencari dan membunuh semua pribumi yang mempunyai nama keluarga Chang, Wang, Liu, Li

dan Chao! Pada hal, lima nama keluarga ini merupakan keluarga terbanyak di seluruh daratan Cina,

sehingga andai kata perintah itu dikeluarkan, usul Menteri Bayan itu diterima oleh kaisar, tentu

akan ada jutaan manusia dibantai dan lebih dari setengan jumlah rakyat akan habis binasa! Namun,

Kaisar Togan Timur tidak menerima usul ini.

Keadaan di seluruh daerah menjadi semakin kacau, kehidupan rakyat jelata semakin sengsara.

Kekacauan muncul di mana-mana sebagai akibat kurang berwibawanya pemerintah yang tidak disuka

oleh rakyat. Golongan-golongan sesat bermunculan, membentuk perkumpulan-perkumpulan yang

bersaing, bukan saja untuk menentang kekuasaan pemerintah Mongol, namun celaka bagi rakyat,

mereka bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan wilayah di mana mereka menindas rakyat.

Memang demikian watak golongan sesat. Mereka menentang pemerintah penjajah bukan karena

panggilan darah patriot, bukan untuk membela rakyat, bukan untuk membebaskan bangsa dan tanah

air dari cengkeraman penjajah, melainkan untuk kepentingan diri sendiri, untuk mencari kekuasaan

dan kemuliaan. Maka, terjadilah bentrok dan persaingan di antara mereka sendiri. Dan Menteri

Bayan yang cerdik itu mempergunakan keadaan ini untuk keuntungan pemerintahnya, yaitu sengaja

dia mengirim orang-orang untuk menyusup ke dalam perkumpulan-perkumpulan itu mengadu domba

dan menyelewengkan gerakan perjuangan menjadi gerakan persaingan antara gerombolan yang

berebutan kekuasaan!

Dalam keadaan tertindas seperti itu, mulailah rakyat giat mempelajari ilmu silat. Kalau

pemerintah menindas dan tidak ada lagi yang dapat diharapkan rakyat untuk melindungi mereka,

maka jalan satu-satunya adalah memperkuat diri untuk mempertahankan hidup. Dan mereka harus

kuat, maka di mana-mana orang gemar dan giat sekali mempelajari ilmu silat.

Di perkampungan sepanjang Lembah Sungai Huai, rakyatpun keranjingan belajar silat. Dan guruguru

palsupun bermunculan. Mereka yang hanya tahu sedikit ilmu silat, lalu membuka perguruan,

membohongi penduduk dusun yang bodoh sehingga mereka mau membayar untuk dapat berguru

kepada guru-guru silat seperti itu. Dan kalau perlu rakyat makin memperkuat ikatan pinggang

mereka demi mampu membayar guru-guru itu untuk belajar silat.

Siauw Cu atau Cu Goan Ciang juga terkena demam silat. Dia memang seorang remaja, yang

bertubuh tinggi tegap dan memiliki pembawaan tubuh yang kuat, dengan daya tahan ulet karena

sejak kecil dia hidup dalam keadaan yang sukar, dan selain tenaganya besar dan pemberani, dia juga

cerdik dan berbakat. Mulailah dia ikut-ikut mempelajari ilmu silat yang sedang mewabah di

dusunnya. Dia berbakat besar dan memiliki daya ingat yang kuat sehingga beberapa kali melihat saja

seseorang melakukan gerakan silat, dia dapat menirunya dengan baik.

Karena belajar ilmu silat merupakan mode yang sedang melanda di seluruh negeri, dan anak-anak

sampai para pemuda akan merasa ketinggalan jaman kalau tidak ikut mempelajarinya, maka dua

orang anak laki-laki dari Lurah Koa yang berusia dua belas dan empat belas tahun juga tidak mau

ketinggalan. Bahkan Lurah Koa yang ingin membanggakan para puteranya, sengaja mengundang

seorang guru silat untuk mengajarkan ilmu silat kepada mereka. Teng-kauwsu (guru silat Teng)

adalah seorang guru silat yang kabarnya datang dari kota raja dan pandai, dan dia menuntut bayaran

tinggi kalau ada orang ingin menjadi muridnya karena sudah pasti tidak akan mampu membayar

upahnya. Akan tetapi, Lurah Koa membayarnya dengan royal, bahkan memberi tempat tinggal kepada

Teng-kauwsu. Karena keroyalan sang lurah, maka guru silat Teng ini dengan penuh semangat

mengajarkan ilmu silat kepada Koa Hok dan Koa Sek, dua orang putera Lurah Koa itu.

Setiap sore, kalau Siauw Cu selesai menggiring puluhan ekor kerbau ke dalam kandangnya, dia

selalu menyapu pekarangan depan dan belakang. Dalam kesempatan inilah dia diam-diam mengintai

kedua orang putera lurah itu berlatih silat di kebun belakang, dipimpin oleh Teng-kauwsu. Dia

 

merasa tertarik sekali, dan setiap kali dia melihat gerakan-gerakan silat itu dan mendengarkan

penjelasan Teng-kauwsu kepada dua orang muridnya yang agaknya bebal dan sukar menguasai setiap

jurus gerakan silat, maka pada malam harinya, di kamarnya dekat kandang, Siauw Cu melatih diri dan

mencoba untuk memainkan jurus-jurus yang dilihatnya sore tadi. Hal ini berlangsung sampai

berbulan lamanya tanpa kecurigaan Teng-kauwsu maupun kedua orang pemuda remaja putera lurah

yang menganggap bahwa seorang anak penggembala kerbau seperti Siauw Cu, mana mungkin ikut

belajar silat? Apa lagi Siauw Cu berada di situ untuk menyapu dan membersihkan pekarangan dan

kebun.

Pada suatu sore yang cerah, seperti biasa Siauw Cu mengandangkan ternak yang digembalanya,

kemudian menyapu pekarangan dan kebun. Ketika dia menyapu kebun, diapun mengintai ke arah dua

orang putera lurah yang sedang berlatih silat dan agaknya sekali ini guru silat Teng nampak kesal

dan marah-marah.

“Bagaimana sih kalian ini? Sudah sebulan berlatih belum juga dapat menguasai sebuah jurus

tendangan saja?” katanya dengan nada tidak sabar lagi. Mendengar ini, Siauw Cu menghampiri

mereka sambil tetap menyapu, mengumpulkan daun kering yang banyak rontok berhamburan di

sekitar tempat itu. Dan diapun melihat betapa dengan susah payah, kakak beradik Koa itu mencoba

untuk melakukan jurus tendangan yang bagi mereka amat sukar itu. Dan Siauw Cu meras heran.

Jurus tendangan itu sudah dilatih sebulan lebih, bahkan dia sudah beberapa kali mengintai dan

mempraktekkannya di kamar tidurnya. Dia sudah dapat melakukan jurus tendangan itu. Memang

sukar, karena tendangan itu dilakukan dengan tubuh berputar pada tumit kiri, sedangkan kaki kanan

yang menendang membuat gerakan memutar, menendang ke arah muka lawan dengan belakang kaki.

Agaknya kedua orang kakak beradik itu tidak dapat menguasai keseimbangan tubuh mereka, pikir

Siauw Cu. Kedua tangan harus dipentang dan ini merupakan pengatur keseimbangan tubuh.

“Coba kau, Koa Sek, kau ulangi lagi jurus itu. Ingat, sasaran tendangan berputar itu adalah muka

lawan dan kena atau tidak muka lawan oleh tendanganmu, kakimu harus berputar dan berakhir

dengan tubuh membuat kuda-kuda rendah untuk menjaga serangan balasan lawan,” kata guru silat

itu dengan suara mengandung kekecewaan dan kemarahan.

Koa Sek yang berusia dua belas tahun itu mencoba lagi. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan

perhatian kepada kakinya sehingga lupa mengatur keseimbangan tubuhnya dan ketika dia sudah

melakukan tendangan berputar, hampir dia terpelanting dan ketika mengakhiri tendangan berputar,

tubuhnya sampai berjongkok. Sang guru membanting kakinya.

“Salah! Keliru lagi, sungguh bodoh! Coba kau, Koa Hok!” katanya kepada putera lurah Koa yang

berusia empat belas tahun.

Koa Hok dengan sikap takut-takut karena telah beberapa kali diapun seperti adiknya, gagal

melakukan jurus tersebut, kini bersiap untuk mencoba lagi. Melihat itu, di luar kesadarannya sendiri

Siauw Cu yang merasa penasaran itu menghentikan pekerjaannya dan diapun berdiri dan mengamati

gerakan yang dilakukan Koa Hok. Kini Koa Hok mulai dengan jurus itu, mula-mula tubuhnya membuat

kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, kedua lutut ditekuk dan kedua tangan dikepal di pinggang.

Kemudian, kakinya menggeser, mengubah kuda-kuda miring, lalu melangkah dua kali ke depan, dan

tiba-tiba tubuhnya membalik dan kaki kanannya membuat gerakan berputar dalam tendangan yang

kuat. Akan tetapi, tubuhnya kehilangan keseimbangan seperti adiknya tadi dan biarpun dia dapat

mengakhiri tendangan, namun tubuhnya terhuyung.

“Celaka! Tendangan seperti itu akan membuat kedudukanmu lemah. Sekali sapu saja lawan akan

mampu merobohkanmu karena kaki kirimu lemah. Coba ulangi lagi!” kata sang guru kepada Koa Hok

yang mukanya menjadi merah dan hampir menangis.

Pada saat dia akan membuat gerakan tendangan itu untuk kedua kalinya, tiba-tiba terdengan

seruan, “Twa-kongcu (tuan muda besar), kembangkan kedua lengan seperti burung rajawali untuk

mengatur keseimbangan tubuhmu!”

Semua orang terkejut dan menengok. Kiranya yang bicara itu adalah Siauw Cu dan anak ini,

dengan sapu di tangan, terkejut sendiri dan mukanya berubah merah. Dia telah bicara di luar

 

kesadarannya, terdorong oleh rasa penasaran melihat kakak beradik itu tidak dapat melakukan

gerakan jurus itu. Teng-kauwsu sendiri tercengang mendengar itu. Apa yang diucapkan kacung itu

sungguh tepat. Dia sendiri tidak melihat kelemahan kedua orang muridnya dan baru sekarang dia

melihat bahwa letak kesalahan yang membuat dua orang kakak beradik itu gagal adalah gerakan

kedua lengan yang kurang berkembang! Dan kacung itu begitu melihat telah dapat menemukan

kelemahan dan kesalahan mereka!

Koa Hok dan Koa Sek memandang marah. Mereka sebagai putera-putera lurah memang berwatak

tinggi hati dan sombong, selalu memandang rendah kepada orang lain, apa lagi Siauw Cu yang menjadi

penggembala dan kacung mereka.

“Siauw Cu, engkau sungguh lancang!” tegur Koa Hok.

“Siauw Cu, tutup mulutmu, engkau tahu apa sih?” tegur pula Koa Sek.

Akan tetapi guru silat itu menggapai ke arah Siauw Cu. Diapun tahu bahwa anak laki-laki jangkung

ini adalah kacung dan penggembala kerbau milik keluarga lurah.

“Siauw Cu, ke sinilah!” katanya memerintah.

Siauw Cu, dengan sapu masih di tangan, melangkah menghampiri dengan sikap menyesal mengapa

dia tadi lancang mulut. “Maafkan saya…” katanya dan siap menerima hukuman karena dia merasa

bersalah.

“Siauw Cu, mulutmu yang lancang perlu dihajar!” teriak Koa Hok yang marah karena merasa malu

di depan gurunya bahwa kacungnya berani memberi petunjuk kepadanya.

“Suhu, biar teecu (murid) yang menghajarnya!” kata pula Koa Sek marah dan dia sudah melangkah

maju menghampiri Siauw Cu, siap untuk memukul dan Siauw Cu juga diam saja, siap pula menerima

hukuman.

“Nanti dulu, jangan pukul!” kata Teng-kauwsu dan dia menghampiri Siauw Cu, lalu berkata. “Siauw

Cu, engkau berani memberi petunjuk berarti engkau dapat melakukan gerakan jurus tendangan

berputar tadi. Dapatkah engkau melakukannya?”

Siauw Cu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mengangguk. Kakak beradik itu berseru

marah. “Sombong! Tidak mungkin engkau bisa! Kami saja yang sudah berlatih selama sebulan belum

dapat menguasainya, dan kau bilang dapat melakukannya?” bentak Koa Hok.

Dia hendak menampar, akan tetapi gurunya mencegah. “Siauw Cu, kalau engkau mampu melakukan

gerakan jurus tendangan itu dua kali berturut-turut dengna benar dan baik, maka engkau akan kami

ampuni. Kalau engkau tidak mampu, akan kubiarkan kedua orang muridku menghajar atas kelancangan

mulutmu. Bagaimana, dapatkah engkau melakukannya?”

Tentu saja Siauw Cu tidak ingin dihajar. Setelah mengangkat muka memandang wajah tiga orang

itu bergantian, diapun mengangguk dan berkata tenang. “Akan saya coba melakukannya.”

Guru dan dua orang muridnya itu tentu saja merasa heran dan tertarik sekali. Siauw Cu

melepaskan sapunya, lalu mengikatkan dua ujung bajunya di depan perut, melepaskan pula sepasang

sepatunya yang butut karena kalau dipakai menendang kuat, jangan-jangan sepasang sepatu butut

yang kebesaran itu akan terlepas dari kaki dan mengenai guru dan murid-muridnya itu. Setelah itu,

diapun melakukan gerakan jurus tendangan itu, seperti yang seringkali dia latih di dalam kamarnya.

Gerakannya tangkas dan kuat, dan ketika dia melakukan tendangan, kedua lengannya berkembang

seperti sayap rajawali dan tendangan berputar itu kuat dan cepat, juga tegak dan dia melanjutkan

dengan tendangan berikutnya, diulang bukan hanya dua kali seperti yang diminta Teng-kauwsu,

melainkan lima kali berturut-turut dan diakhiri dengan kuda-kuda merendah dengan kedua tangan

disilangkan depan dada, berjaga-jaga!

Teng-kauwsu terbelalak. Gerakan itu memang belum sempurna, masih kaku, akan tetapi sudah

benar dan jauh lebih baik dibandingkan gerakan kedua orang muridnya!

“Siauw Cu, engkau pernah mempelajari ilmu silat di mana?” tanya Teng-kauwsu.

“Bagaimana saya dapat belajar ilmu silat? Saya tidak akan mampu membayar seorang guru. Saya

hanya ikut-ikut belajar dan melihat teman-teman berlatih.”

“Hemm, kalau begitu, bagaimana engkau dapat melakukan gerakan jurus tendangan tadi?”

 

“Saya… saya hanya melihat kalau kedua kongcu berlatih, sambil menyapu kebun… maafkan saya…”

Diam-diam guru silat itu merasa heran dan kagum. “Sudah, pergilah dan mulai sekarang engkau

tidak boleh mengintai lagi,” katanya kesal kepada dua orang muridnya yang bodoh. Setelah Siauw Cu

pergi, dia mengomel kepada dua orang murid itu. “Apakah kalian tidak malu? Kalian yang kulatih,

selama sebulan belum juga mampu melakukan gerakan jurus tendangan tadi, sedangkan penggembala

kerbau itu, hanya dengan mengintai saja mampu melakukannya. Kalian kalah oleh kacung kalian!”

Omelan Teng-kauwsu ini membuat kakak beradik itu menjadi malu dan diam-diam mereka menjadi

marah sekali kepada Siauw Cu. Setelah mereka berdua kembali ke dalam rumah, mereka kasak kusuk

membicarakan Siauw Cu dan mengambil keputusan untuk menghajar kacung yang membuat mereka

merasa malu itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai condong ke barat, Cu Goan Ciang atau Siauw Cu

(Cu kecil) menggiring kelompok kerbau yang digembalakannya menuruni lereng bukit yang ditumbuhi

banyak rumput segar itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul kakak beradik Koa di tempat sunyi itu dan

dari sikap mereka, jelas nampak bahwa mereka itu marah sekali.

“Berhenti dulu kau, jembel yang tak mengenal budi!” bentak Koa Hok.

Tentu saja Siauw Cu merasa terkejut dan heran. “Twa-kongcu (tuan muda besar), ada apakah?”

“Anak setan, engkau masih pura-pura bertanya setelah kemarin menghina kami depan suhu?” kata

pula Koa Sek.

Siauw Cu teringat dan menjadi semakin heran. Dia tidak merasa bersalah, kenapa kini dikatakan

tidak mengenal budi bahkan menghina?

“Nanti dulu, twa-kongcu, siauw-kongcu, apa salahku maka kalian marah-marah kepadaku?”

“Keparat kau!” Koa Hok memaki. “Kalau bukan ayah yang menolongmu, apakah engkau tidak akan

mati kelaparan?”

“Mayat ibumu tentu akan terlantar tidak dapat dikubur dan menjadi makanan anjing kalau tidak

dibelikan peti mati dan diberi tanah oleh ayahku!” teriak pula Koa Sek.

Wajah Cu Goan Ciang berubah kemerahan dan matanya bersinar penuh kemarahan yang ditahantahan.

“Jangan kalian membawa-bawa nama mendiang ibuku yang tidak tahu apa-apa. Kalau aku

dianggap bersalah, akulah yang bertanggung jawab dan tidak ada sangkut-pautnya dengan mendiang

ibuku!”

Mendengar suara yang meninggi dari kacung penggembala itu dan melihat dia mengangkat muka

dan menegakkan badan, dua orang kakak beradik itu menjadi semakin marah dan merasa ditantang.

“Eh, eh, engkau hendak melawan kami?” bentak Koa Sek, dan diapun sudah menerjang ke depan

dan menggunakan kepalan tangan kanan menjotos ke arah dada Siauw Cu.

“Dukk!!” Siauw Cu memiliki tubuh yang kuat dan biarpun pukulan itu tidak cukup keras untuk dapat

merobohkannya, namun karena dia menerimanya begitu saja tanpa mengelak atau menangkis, diapun

terhuyung ke belakang. Koa Hok tidak mau ketinggalan dan diapun menerjang maju dan menampar

muka Siauw Cu, mengenai dagunya dan membuat Siauw Cu hampir terpelanting. Dan kedua orang

kakak beradik itu lalu menghujankan pukulan dan tendangan, membuat pakaian Cu Goan Ciang robekrobek

dan muka dan tubuhnya babak-belur.

Akan tetapi, karena dua orang kakak beradik Koa itu terus saja memukulinya, akhirnya dia merasa

kesakitan juga. Mula-mula dia tidak melawan karena ingat bahwa dia berhadapan dengan dua orang

putera majikannya, akan tetapi rasa nyeri membuat dia lupa akan hal itu. Nalurinya untuk

mempertahankan diri dan menyelematkan nyawanya membuat Siauw Cu tiba-tiba melakukan

perlawanan. Ketika dia menerima tendangan kaki Koa Sek ketika tubuhnya sudah terguling ke atas

tanah, dia menangkap kaki itu dengan kedua tangannya, lalu sekuat tenaga dia menarik dan memutar

kaki itu. Tak dapat dicegah lagi, tubuh Koa Sek terputar dan terbanting ke atas tanah. Siauw Cu

menubruk dan menghantami muka anak itu dengan kedua kepalan tangannya sampai muka itu

berdarah-darah, dan Koa Sek yang tadinya berteriak-teriak itu tidak lagi mengeluarkan suara.

Koa Hok yang melihat adiknya ditindih dan dipukuli, sejak tadi menghantami Siauw Cu, namun

penggembala itu tidak memperdulikan. Ketika sebuah hantaman di belakang telinga kirinya datang

 

dengan kerasnya, tubuh Siauw Cu terguling dan dia melepaskan tubuh Koa Sek yang tak bergerak

lagi. Koa Hok marah bukan main melihat keadaan adiknya yang mukanya berlumuran darah dan

agaknya pingsan itu maka diapun memperhebat serangannya memukuli Siauw Cu sampai jatuh bangun.

Siauw Cu maklum bahwa putera majikannya yang dua tahun lebih tua darinya ini pasti tidak akan

mau mengampuninya dan mungkin akan membunuhnya. Diapun mempertahankan diri, menggigit bibir

menahan sakit dan bangkit berdiri. Ketika sebuah tendangan menyambar perutnya, diapun teringat

akan gerakan-gerakan silat yang pernah dipelajarinya dan dia menangkis dengan lengannya.

Kemudian, dia mulai melawan, mengelak, menangkis dan balas menyerang. Namun, ilmu silatnya adalah

ilmu silat yang dipelajarinya secara liar tanpa pengawasan maupun bimbingan guru, maka tentu saja

tidak teratur dan diapun beberapa kali harus menerima hantaman tangan Koa Hok yang lebih mahir

bersilat. Ketika kepalanya mulai terasa pening oleh pukulan-pukulan dan tendangan dan seluruh

tubuhnya terasa nyeri, teringatlah Siauw Cu akan jurus tendangan yang tidak dapat dilakukan

dengan baik oleh kedua orang kakak beradik itu. Dan tiba-tiba, setelah melihat kesempatan,

tubuhnya lalu membuat gerakan jurus tendangan itu. Kakinya berputar dan melayang menjadi

tendangan berputar yang kuat.

“Dess!!” Tendangan itu tepat mengenai muka Koa Hok dan sedemikian kerasnya sehingga tubuh

Koa Hok terjengkang ke belakang, terbanting keras dan tidak mampu bangkit lagi karena kepalanya

terbanting ke atas tanah keras sehingga diapun pingsan seperti adiknya.

Siauw Cu berdiri terbelalak memandang tubuh kakak beradik itu. Timbul perasaan takut dan ngeri

karena dia mengira bahwa dia telah membunuh Koa Hok dan Koa Sek, dan dia membayangkan

hukuman yang akan diterimanya sebagai pembunuh! Dia membunuh dua orang putera lurah! Tentu dia

akan disiksa, akan dihukum mati. Bayangan yang mengerikan menghantuinya, dan perasaan takut

mendatangkan tenaga baru dalam dirinya. Tanpa banyak berpikir lagi, diapun segera lagi tunggang

langgang seperti dikejar setan, meninggalkan dua orang saudara yang masih menggeletak pingsan

dan semua kerbaunya, lari menuju puncak bukit, ke arah yang berlawanan dengan dusun tempat

tinggalnya.

Malam tiba dan Siauw Cu berlari terus melewati puncak bukit. Malam itu di langit banyak bintang

dan muncul bulan sepotong sehingga biarpun dia belum pernah melintasi bukit, dia dapat terus

berjalan menuruni puncak bukit di sebelah sana. Tidak nampak atau terdengar adanya orang-orang

yang mengejarnya sehingga hatinya merasa lega dan setelah bulan menghilang di langit barat dan

cuaca menjadi gelap, diapun terpaksa berhenti dan tertidur di bawah sebatang pohon besar di kaki

bukit berikutnya.

Pada waktu fajar menyingsing, dia terbangun mendengar derap kaki kuda lapat-lapat seperti

menggugahnya. Dia teringat akan keadaannya, cepat bangkit dan ketika dia memandang ke arah

bukit yang semalam dia turuni, dia terkejut melihat bayangan beberapa orang penunggang kuda

menuruni lereng bukit itu. Tentu orang-orang yang mengejarnya, orang-orangnya Lurah Koa yang

tentu marah sekali dan hendak menangkap dan menghukumnya! Ketika terbangun tadi, dia merasa

betapa tubuhnya nyeri semua, bahkan untuk bangunpun terasa kaku dan nyeri. Akan tetapi begitu

melihat para penunggang kuda itu, lupalah dia akan semua rasa nyeri dan diapun sudah melompat dan

lari mendaki bukit ke dua yang berada di depannya. Dia berlari sambil menyusup-nyusup di balik

semak-semak agar tidak nampak dari jauh, tidak perduli betapa kulit tubuhnya yang sudah hampir

tidak tertutup pakaian yang robek-robek kini menjadi babak belur oleh semak belukar.

Akan tetapi tentu saja larinya seorang anak berusia dua belas tahun, apa lagi yang sudah lukaluka

dan kelelahan, tidak mampu melawan cepatnya larinya kuda. Para pengejar itu semakin dekat

saja, membuat Siauw Cu menjadi semakin panik. Sepatunya telah terlepas dan terpental entah ke

mana, telapak kedua kakinya sudah melepuh, dia terpincang-pincang dan mukanya pucat, tubuhnya

gemetar saking lelahnya dan terasa nyeri di mana-mana. Oleh karena itu, ketika di lereng bukit itu

dia melihat sebuah bangunan kuil di depan, tanpa ragu lagi dia berlari ke kuil itu. Melihat pintu

depan pekarangan kuil itu terbuka, diapun berlari masuk, mengejutkan beberapa orang hwesio yang

sedang bekerja membersihkan pekarangan di pagi hari itu.

 

“Heiii, siapa kau dan mau apa…” Akan tetapi pertanyaan itu dihentikan ketika hwesio itu melihat

Siauw Cu terguling roboh dan pingsan.

Ketika dia siuman, Siauw Cu mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar di kuil itu,

dan dia melihat seorang hwesio berusia lima puluhan tahun duduk di atas kursi sambil memandangnya

penuh perhatian. Dia mengeluh, bangkit duduk dan cepat dia turun dari pembaringan dan berlutut di

depan hwesio itu.

“Losuhu, saya mohon pertolongan suhu…”

“Omitohud… anak baik, siapakah engkau dan mengapa engkau berlari-lari dan luka-luka?” suara

hwesio itu lembut dan sikapnya ramah dan halus.

“Saya Cu Goan Ciang atau Siauw Cu, dari dusun Lembah Sungai Huai…” ia lalu menceritakan

tentang dirinya dan betapa dia berkelahi melawan dua orang putera majikannya sehingga mereka

roboh pingsan. Dia menceritakan sebab perkelahian dan hwesio itu mendengarkan sambil

mengangguk-angguk.

“Kalau saya tidak dihajar dan hampir dibunuh, tentu saya tidak berani melawan mereka, suhu.

Sekarang, saya dikejar-kejar dan tentu saya akan ditangkap dan dihukum, mungkin dibunuh.

Tolonglah saya, suhu…”

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan terdengar suara banyak orang di depan kuil. “Ah,

mereka telah tiba di depan kuil, suhu, tolonglah saya.” Siauw Cu meratap.

“Omitohud… jangan khawatir, Siauw Cu.” Hwesio itu mencabut sebatang pisau tajam dan

menghampiri Siauw Cu yang memandang terbelalak dengan wajah pucat.

“Engkau mau menjadi calon hwesio? Rambutmu harus dicukur habis.”

Sambil berlutut Siauw Cu mengangguk-angguk. “Saya mau… saya mau asal suhu menyelamatkan

saya…”

“Diamlah, pinceng (aku) akan mencukur rambutmu.” Dan diapun menggerakkan pisau yang tajam

itu. Luar biasa sekali, hwesio itu membabat rambut dari kepala Siauw Cu seperti membabat rumput

saja, dengan amat cepat dan rambut itupun sudah bersih, gundul dan sedikitpun kulit kepala tidak

terluka.

“Nah, kau cepat pakai jubah ini,” katanya sambil melemparkan pakaian yang diambilnya dari kotak

besar. Siauw Cu cepat mengenakan pakaian yang longgar itu, jubah hwesio, kemudian dia digandeng

dan diajak memasuki sebuah ruangan di mana sudah duduk bersila belasan orang anak yang sebaya

dengan dia. Mereka sedang tekun menghafal kitab dengan suara lirih.

“Nak, kau duduklah di sini dan contoh mereka,” kata hwesio itu sambil menyerahkan sebuah kitab,

lalu keluar dari ruangan itu.

“Kami datang untuk bertanya apakah ada seorang anak laki-laki masuk dan bersembunyi dalam kuil

ini!” terdengar seruan seseorang di luar kuil. Hwesio itu, Lauw In Hwesio yang menjadi kepala kuil,

cepat keluar dan dialah yang menjawab karena para hwesio yang berada di depan tidak berani

menjawab.

“Omitohud, apakah yang terjadi? Cu-wi (anda sekalian) mencari siapakah? Di sini tidak ada

penjahat, tidak ada orang bersembunyi.”

“Kami mencari seorang anak laki-laki yang jahat sekali, losuhu. Dia telah melukai dua orang putera

kepala dusun kami. Dia jahat dan berbahaya, oleh karena itu, kalau dia berada di sini, harap suhu

suke menyerahkannya kepada kami.”

“Omitohud, di sini tidak ada anak laki-laki jahat, yang ada hanyalah para murid yang tekun

mempelajari kitab suci. Tidak ada orang jahat…” kata hwesio itu dengan suara tegas. Di dalam

hatinya, dia tidak merasa berbohong karena kini anak yang mengaku bernama Siauw Cu itu telah

menjadi muridnya, telah menjadi calon hwesio dan tentu saja bukan anak jahat! Jadi keterangannya

itu sama sekali tidak berbohong.

“Cari ke dalam kuil! Dia pasti bersembunyi di sini tanpa diketahui para hwesio!” terdengar

teriakan seorang di antara mereka.

 

“Losuhu, terpaksa kami akan melakukan penggeledahan ke dalam kuil. Siapa tahu anak itu

menyelundup masuk tanpa ada yang mengetahui,” kata pemimpin rombongan.

“Omitohud, sudah kami katakan tidak ada. Kalau hendak menggeledah, silahkan, akan tetapi

jangan mengganggu tempat-tempat sembahyang dan tidak mengganggu para murid yang sedang

berdoa, belajar ataupun bersamadhi.”

Orang-orang utusan Lurah Koa tidak berani bersikap sembarangan terhadap para hwesio. Mereka

tahu bahwa para hwesio itu selain dihormati penduduk, juga banyak orang-orang pandai di antara

mereka. Maka, mereka lalu mengadakan pencarian di dalam kuil. Ketika melongok ke dalam ruangan

di mana terdapat belasan orang anak berpakaian dan berjubah pendeta, berkepala gundul, sedang

tekun membaca kitab, mereka hanya melongok dan mengamati sebentar saja. Semua anak di situ

berkepala gundul, jelas tidak ada anak yang mereka cari. Akhirnya, setelah yakin bahwa buronan

mereka tidak berada di dalam kuil, rombongan itu lalu meninggalkan kuil untuk mencari di tempat

lain.

Setelah para pencari itu pergi, Siauw Cu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lauw In Hwesio,

menghaturkan terima kasih dan mohon agar dia diperkenankan menjadi murid di kuil itu.

“Omitohud, kedatanganmu seperti dituntun oleh Yang Mahakuasa saja, Siauw Cu. Ceritakan

riwayatmu dengan singkat agar kami dapat mempertimbangkan apakah engkau dapat diterima

sebagai murid ataukah tidak.”

Siauw Cu lalu menceritakan keadaan dirinya, betapa keluarganya habis binasa oleh wabah

penyakit, dan betapa dia hidup sebatang kara di dunia ini, kemudian bekerja pada Lurah Koa dan

terjadi peristiwa perkelahian dengan kedua putera lurah itu.

“Sungguh, losuhu. Bagaimana mungkin teecu (murid) berani melawan kedua orang putera lurah

majikan teecu itu kalau saja teecu tidak terancam bahaya maut. Mereka memukuli dan menendangi

teecu dan sekiranya teecu tidak akan membela diri dan melawan, tentu mereka akan membunuh

teecu,” demikian dia mengakhiri ceritanya.

Lauw In Hwesio mengangguk-angguk. “Keadaanmu memang memungkinkan engkau kami terima

sebagai murid kuil ini. Akan tetapi, Siauw Cu, tahukan engkau kuil apa tempat tinggal kita ini?”

“Teecu tidak tahu, suhu, mohon petunjuk.”

“Ini adalah sebuah kuil Siauw-lim!”

Siauw Cu terbelalak. Dia sudah banyak mendengar tentang Siauw-lim-si (kuil Siauw-lim) yang

menjadi pusat orang-orang yang berilmu tinggi. Banyak pendekar silat yang terkenal merupakn

murid-murid dari Siauw-lim-pai! Maka diapun segera memberi hormat.

“Ahh, harap maafkan, karena teecu tidak tahu. Akan tetapi teecu merasa amat berbahagia kalau

dapat menjadi murid Siauw-lim…”

Lauw In Hwesio tersenyum, akan tetapi pandang matanya tetap tajam dan berwibawa. “Engkau

tahu, menjadi murid Siauw-lim-pai tidaklah mudah. Banyak orang datang untuk minta menjadi murid,

dan entah berapa ratus atau ribu orang kami tolak karena mereka tidak berbakat, atau tidak

bersemangat dan tidak tahan derita. Apa lagi murid yang menjadi calon hwesio. Engkau harus berani

dan mampu menjauhi segala macam kesenangan duniawi, mencurahkan seluruh perhatianmu hanya

kepada pembacaan kiab suci, berdoa, bermeditasi, melakukan pekerjaan berat, dan berlatih silat.

Semua ini harus kaulakukan setiap hari tanpa mengeluh!”

“Teecu sanggup, suhu!”

“Omitohud, kita lihat saja nanti. Akan tetapi karena engkau datang seolah dituntun tangan Yang

Mahakuasa, kami tidak akan menolakmu, apa lagi engkau sudah menjadi gundul dan mengenakan

jubah hwesio. Kami menerimamu dan namamu tetap Siauw Cu. Akan tetapi, kalau engkau tidak taat

kepada peraturan yang berlaku di sini, setiap saat engkau akan dikeluarkan dan tidak diperbolehkan

lagi tinggal di sini.”

Siauw Cu menyanggupi sambil berlutut, hatinya girang bukan main karena dia mengharapkan untuk

menerima pelajaran dari kuil Siauw-lim-si yang termashur itu.

 

Badan, pikiran, dan jiwa merupakan tiga kesatuan yang menghidupkan manusia di permukaan bumi

ini dan ketiganya membutuhkan “makanan” agar dapat menjadi sempurna. Makanan bagi badan tentu

saja kebutuhan hidup termasuk pangan, sandang, dan papan berikut segala keperluan dalam

kehidupan jasmani. Makanan bagi hati akal pikiran adalah pelajaran segala macam ilmu agar

kehidupan ini dapat terisi oleh pekerjaan dan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan dalam

memenuhi segala kebutuhan. Adapun makanan bagi jiwa adalah kebaktian kepada Tuhan Sang Maha

Pencipta.

Tiga kebutuhan pokok itu dapat diperoleh Siauw Cu dalam kuil Siauw-lim. Setiap hari dia disuruh

bekerja keras, merawat taman, membersihkan kuil, menyapu pekarangan, memikul air, dan mencari

kayu bakar. Pekerjaan yang amat berat namun baik sekali bagi badannya, karena selain pekerjaannya

itu menghasilkan kebutuhan hidup para hwesio, juga sekaligus melatih badannya sehingga tubuhnya

menjadi kuat. Bahkan cara-cara melakukan pekerjaan itu tidak sembarangan saja, melainkan

teratur, dengan cara-cara tertentu sehingga pekerjaan itu sekaligus merupakan semacam latihan

untuk memperoleh kekuatan dan juga keringanan tubuh.

Setelah sehari penuh bekerja keras, pada malam harinya dia digembleng oleh para hwesio untuk

belajar membaca menulis, kemudian membaca kitab suci, berdoa dan bersamadhi. Dalam hal

makanan, Siauw Cu tidak kekurangan. Dia dapat makan sekenyangnya, walaupun di kuil itu tidak

pernah disuguhkan makanan yang berasal dari makhluk bernyawa, tidak pernah ada daging, hanya

nasi dan sayur-sayuran belaka. Juga tidak ada minuman keras seperti arak atau anggur, yang ada

hanya air putih jernih, atau air teh yang bening. Namun banyak buah-buahan mereka makan karena

kuil itu memiliki ladang sayur dan kebun buah sendiri.

Keadaan itu cukup menyenangkan bagi Siauw Cu, untuk tahun-tahun pertama. Terutama sekali

karena dia dapat belajar membaca dan menulis. Ternyata dalam ilmu ini diapun amat berbakat

sehingga dalam waktu hampir dua tahun saja dia telah lancar membaca kitab-kitab yang berat, juga

tulisannya bagus dan kuat. Dan pandai pula membaca sastra, pandai pula memecahkan arti dari

sajak-sajak pasangan yang mengandung arti yang mendalam dan luas. Hwesio ahli sastra yang

bertugas mengajar di kuil itu merasa sayang kepadanya karena belum pernah selama ini dia

mendapatkan seorang murid sepandai Siauw Cu. Dan ketika di perpustakaan kuil itu Siauw Cu

menemukan kitab-kitab sejarah yang bercerita tentang kepahlawanan dan perang, dia merasa amat

tertarik dan hampir semua kitab tentang perang dibacanya sampai habis.

Kalau dalam hal pelajaran sastra Siauw Cu merasa gembira dan puas, sebaliknya dia kecewa sekali

karena setelah bekerja keras selama dua tahun, belum juga dia diajar ilmu silat! Pada hal, dia tahu

bahwa Siauw-lim-si merupakan pusat pendidikan ilmu silat yang tinggi. Sering kali dia termenung dan

kalau dia melihat para murid yang sudah dilatih ilmu silat, dia mengintai dan ingin sekali ikut

berlatih. Namun, peraturan di situ amat kera, pernah dia dihukum bekerja sampai jauh malam hanya

karena dia berani mengintai para murid yang berlatih ilmu silat.

Kini usianya sudah empat belas tahun dan bentuk tubuhnya sudah seperti seorang laki-laki dewasa

atau seperti yang sudah berusia delapan belas tahun. Wajahnya tampan dan pembawaannya gagah

dan berwibawa. Semenjak dia berada di kuil itu, belasan orang murid calon hwesio yang sebaya

dengan dia, semua tunduk kepadanya dan menganggap dia sebagai pemimpin! Memang Siauw Cu

memiliki pembawaan seorang pemimpin. Dia suka memberi contoh, suka membantu dan bertanggung

jawab sehingga para teman atau saudara seperguruannya segan dan suka kepadanya, mencontoh dan

membenarkan semua sikapnya. Dan biarpun dia belum menerima pelajaran ilmu silat, namun tidak ada

saudara seperguruan yang berani menentangnya, biarpun mereka ada yang sudah mulai dilatih ilmu

silat. Hal ini adalah karena Siauw Cu memang memiliki bakat dan tubuh yang kokoh, tenaga yang

besar dan sedikit gerakan silat yang pernah dipelajarinya dan dilatihnya dahulu telah mendarah

daging pada tubuhnya. Pernah ada dua orang calon pendeta yang ingin merampas pengaruhnya, dan di

luar kuil, hanya disaksikan para calon pendeta, Siauw Cu bertanding dikeroyok dua oleh mereka

berdua dan akhirnya dua orang calon pendeta yang sudah setahun berlatih silat itu dapat dia

 

robohkan, dan sejak saat itu, tidak ada lagi calon pendeta yang berani menentangnya. Dia disegani

dan disuka karena dia tidak bersikap jagoan, melainkan bersikap sebagai pemimpin.

Pada suatu sore, setelah menyelesaikan tugas pekerjaannya yang paling berat di antara para

rekannya, Siauw Cu memberanikan diri menghadap ketua kuil, yaitu Lauw In Hwesio. Dia

menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio yang sedang duduk bersila dan membaca kitab itu.

“Eh, Siauw Cu, ada keperluan apakah engkau menghadap pinceng?” tanya Lauw In Hwesio dengan

lembut.

“Maafkan teecu yang berani menghadap tanpa dipanggil, twa-suhu. Teecu hanya mohon penjelasan

mengapa sampai sekarang teecu belum juga diberi pelajaran ilmu silat. Teecu ingin sekali berlatih

silat, suhu.”

Mendengar ini, hwesio itu tertawa. “Omitohud, satu di antara penghalang bagi orang yang ingin

menguasai ilmu dengan sebaiknya adalah ketidaksabaran, Siauw Cu. Apakah engkau sudah tidak

sabar lagi?”

“Sama sekali tidak demikian, twa-suhu. Bukankah selama dua tahun ini teecu melaksanakan segala

perintah dan tugas dengan sebaiknya tanpa mengeluh dan tanpa bertanya-tanya? Kalau sore ini

teecu terpaksa bertanya bukan karena teecu tidak sabar lagi, melainkan karena teecu ingin tahu dan

ingin memperoleh kepastian apakah teecu di sini akan mempelajari ilmu silat ataukah tidak.”

“Apa yang mendorongmu bertanya demikian?”

“Karena teecu melihat betapa para saudara lain yang sebaya dengan teecu, yang teecu lihat tidak

berbakat dan lemah, malah sudah mulai diajar berlatih silat.”

Lauw In Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, dengarkanlah. Siauw Cu karena engkau berhak

mengetahui. Jangan dikira bahwa selama ini pinceng tidak memperhatikanmu. Justeru engkau yang

kurang perhatian sehingga tidak melihat perkembangan pada dirimu. Engkau harus menyadari bahwa

keadaan dirimu sekarang dibandingkan dua tahun lalu sudah seperti langit dengan bumi. Kiranya

tidak ada penggemblengan ilmu silat di dunia ini yang dapat membuat dirimu seperti sekarang ini

selama dua tahun. Engkau sejak datang ke sini telah digembleng dengan inti dan dasar dari semua

ilmu silat!”

“Ehhh? Apa yang twa-suhu maksudkan? Teecu tidak mengerti…”

“Siauw Cu, di sini memang ada dua cara mengajarkan ilmu silat, dan ada dua macam murid yang

mempelajari ilmu silat. Yang pertama adalah calon para hwesio dan hwesio yang memang berbakat

untuk menjadi pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat yang khas untuk menjaga kesehatan

mereka sebagai olah raga, agar jasmani mereka segar dan sehat, sesuai dengan rohani mereka yang

digembleng melalui ajaran kerohanian. Kepada mereka ini, ilmu silat yang diajarkan hanya gerakangerakan

yang bermanfaat bagi kesehatan mereka saja karena sebagai pendeta, mereka tidak

diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan. Adapun yang ke dua adalah para murid yang bukan

calon pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat melalui penggemblengan jasmaniah, sejak dari

awa; dan dari dasar. Karena itu pertama kali, sebelum mengajarkan ilmu silat, tubuh si murid harus

digembleng sehingga tubuh itu menjadi kuat, seolah-olah kulitnya menjadi tembaga, ototnya menjadi

kawat baja dan tulang-tulangnya menjadi besi. Murid seperti ini diharapkan kelak menjadi pendekar

yang mempertahankan kebenaran, membela yang lemah tertindas, dan menentang yang kuat jahat.

Mengertikah engkau?”

Kalau tadinya pemuda berusia empat belas tahun itu murung dan penasaran, begitu mendengar

keterangan ini, wajahnya berubah cerah dan matanya bersinar-sinar.

“Suhu yang mulia, kalau begitu, teecu bukan seorang calon hwesio?”

Lauw In Hwesio menggeleng kepalanya dan tersenyum. “Engkau tidak berbakat menjadi pendeta,

Siauw Cu. Engkau lebih berbakat menjadi pendekar atau pemimpin rakyat yang menentang

penindasan karena itulah, sejak semula engkau digembleng dengan pekerjaan berat yang hasilnya

akan membuat tubuhmu menjadi kuat.”

“Terima kasih, suhu! Mulai saat ini, teecu akan melakukan pekerjaan apa saja yang diberikan

kepada teecu dengan senang hati!”

 

Dan memang kenyataannya demikian. Kalau tadinya, pekerjaan berat itu dilakukan oleh Siauw Cu

walaupun secara baik namun dengan hati yang gundah dan kecewa, kini dia melakukan pekerjaan itu

dengan semangat yang meluap dan dengan wajah cerah gembira. Kemajuannyapun pesat sekali

sehingga akhirnya, mulailah dia dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Lauw In Hwesio sendiri. Ketua kuil

yang sakti ini maklum bahwa Siauw Cu memiliki bakat besar dan tulang yang baik sekali, maka dia

sendiri yang menangani penggemblengan terhadap Siauw Cu. Seperti juga cara menggembleng

tubuhnya agar kuat, ilmu silat yang diajarkanpun akan terasa amat berat bagi orang yang tidak

memiliki semangat membaja dan tekad yang kokoh kuat. Baru pelajaran bhesi (kuda-kuda) saja amat

melelahkan kalau tidak dapat dibilang menjemukan. Kuda-kuda itu harus kokoh kuat dan selalu diuji

oleh Lauw In Hwesio. Kalau dalam keadaan memasang kuda-kuda itu, tubuh Siauw Cu didorong dari

arah manapun secara tiba-tiba kedua kakiknya masih melangkah, satu di antara telapak kakinya

masih meninggalkan tanah, maka kuda-kuda itu dianggap masih belum kuat dan dia harus berlatih

terus. Latihannya, kadang Siauw Cu harus selalu dalam keadaan memasang kuda-kuda yang kokoh

kalau dia memasak air, mengipasi api sampai air itu mendidih. Ada kalanya dia diharuskan dalam

keadaan memasang kuda-kuda kalau dia membelahi kayu membuat kayu bakar yang dapat

berlangsung sampai berjam-jam! Pada mulanya, setelah latihan seberat itu, berjongkokpun dia tidak

mampu karena urat-urat di kakinya seperti telah berubah menjadi kawat yang kaku dan keras!

Namun, akhirnya dia dapat menguasai kuda-kuda yang kokoh kuat sehingga kalau tiba-tiba dia

didorong dari manapun, kedua kakinya itu hanya bergeser tanpa ada yang terangkat dari tanah.

Penggemblengan seperti itu dilakukan oleh Lauw In Hwesio selama bertahun-tahun sampai

pemuda itu berusia dua puluh tahun. Biarpun di kuil itu terdapat pula beberapa orang murid bukan

calon hwesio, namun tak seorangpun mampu menandingi Siauw Cu, baik dalam hal ilmu silat maupun

kekuatan. Bahkan makin nampaklah bakatnya untuk menjadi pemimpin karena dalam segala peristiwa

yang terjadi di kuil itu, kalau membutuhkan bantuan tenaga para murid, Siauw Cu selalu diangkat

menjadi pemimpin karena dia memang pandai mengatur, penuh semangat, dan penuh prakarsa dan

daya cipta.

Pada suatu malam terang bulan, ketika Siauw Cu sedang berlatih silat di taman bunga belakang

kuil yang dirawatnya, seorang diri dan tenggelam dalam latihannya, tiba-tiba sesosok tubuh manusia

berkelebat dan terjun ke dalam lingkaran latihan silat menyerang Siauw Cu. Pemuda ini segera

mengenal suhunya, maka giranglah hatinya. Kemajuan besar selalu didapatkannya kalau gurunya ini

mau mengajaknya berlatih silat seperti itu. Diapun, seperti selalu dianjurkan Lauw In Hwesio kalau

berlatih, tidak bersikap sungkan lagi dan dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan

seluruh tenaga karena maklum bahwa gurunyapun akan bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya!

Jurus demi jurus mereka keluarkan, saling serang dan saling desak. Diam-diam Lauw In Hwesio

kagum sekali kepada muridnya ini. Dia sendiri sudah tidak mampu mengalahkan muridnya karena

semua jurus dapat dilayani dengan baiknya oleh Siauw Cu, juga dalam hal tenaga, dia hampir tidak

dapat menandingi karena dia sudah tua sedangkan Siauw Cu sedang kuat-kuatnya! Mulailah hwesio

tua ini merasa lelah sekali dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia yang akan kalah.

Tiba-tiba hwesio tua itu mengeluarkan pekik nyaring dan gerakannya berubah sama sekali. Kini

tubuhnya melayang dan berloncatan tinggi ke atas, lalu menyambar turun dengan serangan yang

amat dahsyat dan asing bagi Siauw Cu! Pemuda ini berusaha untuk mempertahankan diri, namun dia

hanya mampu bertahan selama sepuluh jurus saja menghadapi ilmu silat aneh itu dan akhirnya

dadanya dapat diterjang Lauw In Hwesio sampai dia jadi terjengkang!

“Suhu, ilmu apakah yang suhu mainkan ini?” Tanpa memperdulikan dadanya yang agak nyeri dan

pinggulnya yang tadi menghantam tanah, Siauw Cu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya

dan mengajukan pertanyaan itu. Gurunya berdiri terengah-engah, tersenyum girang sekali.

“Omitohud… kalau pinceng (aku) tidak mempunyai ilmu simpanan tadi, tentu sudah kalah olehmu,

Siauw Cu.”

“Suhu! Selama ini teecu selalu mentaati karena teecu yakin bahwa suhu adalah seorang yang

berhati mulia, tidak pernah berbohong. Akan tetapi, suhu mengatakan bahwa semua ilmu silat

 

Siauw-lim-pai yang pernah suhu pelajari, telah suhu ajarkan kepada teecu semua. Akan tetapi

kenapa sekarang suhu mempunyai ilmu silat yang tidak teecu kenal?”

“Omitohud, berdosalah pinceng membohongimu, Siauw Cu. Pinceng tidak pernah berbohong dan

tidak akan berbohong. Memang sesungguhnyalah bahwa semua ilmu silat Siauw-lim-pai yang pinceng

kuasai, telah pinceng ajarkan kepadamu, tidak ada satupun yang tertinggal. Kalau tadi pinceng

mengeluarkan ilmu silat yang tidak kaukenal itu, adalah karena terpaksa. Kalau tidak mengeluarkan

ilmu simpanan itu, bagaimana mungkin pinceng dapat mengatasimu? Akan tetapi, ilmu silat itu

bukanlah ilmu silat aliran Siauw-lim-pai, karena itulah maka tidak pinceng ajarkan kepadamu.”

“Ah, begitukah, suhu? Kalau begitu mohon suhu mengampuni teecu yang menyangka suhu

berbohong tadi. Ilmu apakah itu tadi, suhu dan kenapa pula suhu menguasai ilmu silat yang bukan

Siauw-lim-pai, dan mengapa tidak diajarkan kepada teecu?”

“Ilmu silat itu memang bukan ilmu silat Siauw-lim-pai dan pinceng mendapatkannya secara

kebetulan saja.” Hwesio tua itu lalu bercerita. Belasan tahun yang lalu, ketika dia dan seorang

suhengnya berjalan-jalan di puncak pegunungan mereka berdua melihat seekor burung rajawali yang

besar sedang berkelahi dengan seekor harimau memperebutkan bangkai seekor kijang. Perkelahian

itu seru bukan main. Lauw In Hwesio dan Bouw In Hwesio mengintai dan menonton. Sebagai ahli-ahli

silat Siauw-lim-pai, mereka berdua sudah mempelajari semua ilmu silat Siauw-lim-pai dan mereka

telah memiliki kepandaian yang matang dan tinggi. Di Siauw-lim-pai terdapat bermacam ilmu silat,

bahkan ada ilmu silat Bangau Putih, akan tetapi ketika mereka berdua melihat perkelahian

itu,mereka tertegun. Mereka juga menguasai ilmu silat Houw-kun (Silat Harimau) yang gerakannya

meniru gerakan harimau, akan tetapi kini harimau itu tidak berdaya menghadapi burung rajawali

yang menyambar-nyambar dari atas dengan ganas dan dahsyatnya. Sebagai ahli-ahli silat tingkat

tinggi, keduanya mencurahkan perhatian dan mengingat semua gerakan rajawali ketika bertanding

melawan harimau. Akhirnya, harimau itu melarikan diri dengan tubuh luka-luka, dan rajawali itu

menyambar bangkai kijang, dibawa terbang untuk diberikan kepada anak-anaknya di sarangnya,

entah di mana.

Setelah melihat perkelahian hebat itu, Lauw In Hwesio dan suhengnya, Bouw In Hwesio, berdua

mulai merangkai ilmu silat berdasarkan gerakan rajawali ketika berkelahi melawan harimau tadi. Dan

akhirnya, setelah bersusah payah selama satu tahun, mereka berdua berhasil merangkai sebuah ilmu

silat baru, yaitu ilmu silat Rajawali Sakti. Karena ilmu itu bukan ilmu keturunan dari Siauw-lim-pai,

keduanya berjanji untuk menyimpan ilmu itu untuk mereka berdua saja, dan bahkan

merahasiakannya dari para murid Siauw-lim-pai yang lain. Di Siauw-lim-pai memang ada peraturan

keras bahwa seorang murid tidak boleh mencampurkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang asli dengan ilmu

lain, bahkan seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh memainkan ilmu silat yang bukan Siauw-lim-pai.

Peraturan kuno yang keras ini mungkin diadakan demi menjaga kemurnian ilmu silat aliran itu.

“Demikianlah, Siauw Cu. Hanya kami berdua yang menguasai ilmu silat itu dan tadi terpaksa

pinceng mainkan untuk mengatasimu. Bagaimanapun juga, bagaimana mungkin pinceng sebagai gurumu

tidak mampu mengalahkanmu?”

Mendengar ini, Siauw Cu segera memberi hormat sambil berlutut. “Suhu, teecu mohon agar suhu

sudi mengajarkan ilmu silat Rajawali sakti itu kepada teecu.”

Lauw In Hwesio adalah seorang hwesio tua yang bukan saja pandai ilmu silat dan ilmu keagamaan,

akan tetapi diapun mempelajari ilmu perbintangan dan dia dapat meramalkan bahwa muridnya ini

berbeda dengan orang lain dan kelak akan dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai seorang

pemimpin.

“Siauw Cu, ilmu ini hanya dikenal oleh pinceng dan suheng Bouw In Hwesio yang sekarang entah

merantau ke mana. Pinceng dapat mengajarkan kepadamu, akan tetapi hanya dengan dua syarat.”

“Apakah syarat itu, suhu?”

“Pertama, ilmu ini tidak boleh kaupergunakan untuk membantu pemerintah kerajaan penjajah

Mongol. Ke dua, dalam mempergunakan ilmu Rajawali Sakti ini, engkau tidak boleh mengaku sebagai

murid Siauw-lim-pai.”

 

Siauw Cu yang memang tidak ingin menjadi hwesio, juga sama sekali tidak ingin mengabdi kepada

pemerintah penjajah yang telah menyengsarakan kehidupan rakyat jelata termasuk mendiang kedua

orang tuanya, tentu saja dapat menerima syarat itu dengan gembira.

“Baik, suhu. Teecu bersumpah untuk memenuhi kedua syarat itu!” katanya tegas dan gembira.

Demikianlah, selama berbulan-bulan Siauw Cu mempelajari dan melatih Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu

Silat Rajawali Sakti) itu dari gurunya dan setelah dia berhasil menguasainya dengan baik, Lauw In

Hwesio memanggilnya menghadap.

“Siauw Cu, kini tiba saatnya bagimu untuk terjun ke dunia ramai, mempergunakan semua

kepandaian yang selama ini dengan tekun kau pelajari di sini agar semua jerih payahmu tidak sia-sia

belaka. Akan tetapi ingat, engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang selain mempelajari ilmu

silat, juga memperoleh gemblengan dasar watak yang baik sebagai seorang gagah dan budiman.

Ingatlah selain bahwa Siauw-lim-pai menentang segala bentuk kejahatan, dan bahwa engkau sebagai

murid Siauw-lim-pai kalau sampai menyeleweng dan menjadi jahat, kelak engkau akan hancur oleh

para murid Siauw-lim-pai sendiri.”

“Teecu akan selalu ingat semua petunjuk, nasihat dan perintah suhu.”

Berangkatlah Siauw Cu meninggalkan kuil itu. Ketika menuruni lereng itu, beberapa kali dia

menengok ke arah bangunan kuno yang dikelilingi pagar tembok yang kehijauan karena lumut itu, dan

hatinya terharu. Delapan tahun yang lalu, dalam usia dua belas tahun, dia melarikan diri dari kejaran

anak buah Lurah Koa dalam keadaan luka-luka ke dalam kuil dan diterima, dilindungi oleh para hwesio

di situ, bahkan diterima menjadi murid oleh Lauw In Hwesio. Andai kata tidak ada kuil itu dan para

penghuninya, tentu dia tertangkap oleh anak buah Lurah Koa dan mungkin saja dia akan dihajar

sampai mati karena dia telah berkelahi melawan dua orang putera lurah itu sampai mereka berdua

roboh pingsan.

Dia tidak mendendam kepada mereka. Selama delapan tahun di kuil itu, dia sudah menerima

gemblengan lahir batin oleh Lauw In Hwesio sehingga dia merasakan benar, bukan hanya mengerti,

betapa dendam merupakan racun yang merusak diri sendiri. Dendam dapat menghambat kemajuan

lahir batin, dendam dapat mengeruhkan pikiran, bahkan mendorong orang melakukan kekejaman dan

kejahatan demi pelampiasan dendam. Dendam merupakan satu di antara usaha setan untuk

melumpuhkan manusia, untuk membuat manusia bertekuk lutut kepada daya-daya rendah yang

menguasai hati akal pikiran.

Tidak, dia tidak menaruh dendam kepada siapapun juga. Semua yang terjadi adalah sesuai dengan

garis. Tidak perlu mendendam, karena dendam itu sendiri akan merupakan awal dari mata rantai

karma yang tiada berkeputusan. Pengertian saja tidak akan ada gunanya tanpa pelaksanaan, bagaikan

bunga yang rontok sebelum menjadi buah. Yang terpenting adalah pelaksanaannya, dan pelaksanaan

inilah yang amat sukar karena bertentangan sengan kekuasaan nafsu. Semua orang tahu belaka apa

yang disebut perbuatan jahat, namun mereka tidak mampu menahan nafsu yang mendorongnya untuk

melakukan perbuatan itu. Setiap orang pencuri tahu belaka, mengerti bahwa mencuri itu tidak baik

dan tidak sepantasnya dilakukan, namun dorongan nafsu tak dapat mereka lawan dan merekapun

mencuri, berlawanan dengan pengetahuannya tadi. Demikian pula dengan pelaku perbuatan sesat

apapun. Pengetahuan saja tidak akan mampu melawan kekuasaan nafsu.

Tidak, aku tidak mendendam, demikian Siauw Cu yang menjenguk isi hatinya berkata penuh

keyakinan dalam hatinya. Dia memang hendak menuju ke kampung halamannya, tanah tumpah

darahnya, yaitu tempat di mana darah ibunya tertumpah ketika melahirkan dia. Dia ingin menjenguk

dan bersembahyang di kuburan ayah ibunya. Selain itu, yang terpenting, dia hendak melihat keadaan

para warga dusun itu. Sudah adakah perubahan yang membaik selama delapan tahun ini? Dia ingin

melakukan sesuatu demi kesejahteraan hidup para warga dusun yang dia tahu selama ini hidup dalam

keadaan yang menyedihkan sekali, jauh di bawah garis kemiskinan!

Apa yang dapat dia lakukan untuk mereka? Dia sendiri tidak tahu. Dia sendiri adalah seorang

pemuda miskin. Dia meninggalkan kuil tanpa bekal apapun, kecuali beberapa stel pakaian sederhana

yang terbuat dari kain kasar sederhana pula, seperti pakaian para pendeta di kuil. Kepalanya tidak

 

dicukur gundul seperti para murid yang menjadi calon pendeta, namun tetap saja, ketika dia tinggal

di kuil, pakaiannya sederhana sekali, disesuaikan dengan kehidupan kuil. Tentu saja dia tidak dapat

memberikan bantuan berupa benda kepada warga dusun. Dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia

lakukan, dan hal itu akan dilihatnya saja nanti perkembangannya kalau dia sudah tiba di dusunnya.

“Suheng (kakak seperguruan)…! Perlahan dulu…!”

Seruan ini mengejutkan hati Siauw Cu. Cepat dia menahan langkahnya dan membalik. Sesosok

tubuh seorang pemuda berlari-lari dari belakang mengejarnya dan setelah dekat diapun mengenal

pemuda itu dan dia tersenyum.

“Heii, Shu-sute (adik seperguruan Shu)! Mau ke mana kau?” tanya Siauw Cu gembira. Pemuda yang

datang itu adalah Shu Ta, seorang di antara para murid di kuil itu yang bukan calon pendeta, seperti

juga dia. Bahkan Shu Ta ini tadinya seorang kacung kuil sudah bekerja di kuil sebelum dia datang,

akan tetapi Shu Ta yang sebaya dengannya, baru belajar silat sesudah dia, maka Shu Ta

menyebutnya suheng (kakak seperguruan) dan dia menyebutnya sute (adik seperguruan). Dan

biarpun dalam hal ilmu silat, sutenya itu biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, namun dalam hal

kecerdikan, Siauw Cu sering kali dibuat kagum. Sutenya ini mempunyai banyak sekali akal untuk

mengatasi kesukaran dan sudah sering kali sutenya meringankan beban pekerjaan mereka ketika

berada di kuil menggunakan akalnya yang banyak. Sutenya ini benar-benar amat cerdik dan kinipun

dia tidak terlalu heran melihat sutenya dapat keluar dari kuil, entah dengan cara bagaimana,

“Aku memang mengejarmu, suheng. Akupun meninggalkan kuil!” kata pemuda itu gembira.

Siauw Cu mengerutkan alisnya dan menatap wajah sutenya penuh perhatian dan teguran. “Shusute,

kau… minggat dari kuil?”

Pemuda itu tertawa dan walaupun usianya juga sekitar dua puluh tahun, namun dia nampak seperti

kanak-kanak ketika tertawa. “Ha-ha-ha, Cu-suheng, kaukira aku ini orang macam apa? Aku sudah

menerima budi yang berlimpah dari suhu dan para saudara di kuil Siauw-lim-si. Untuk membalas budi

itupun aku belum mampu, bagaimana mungkin aku berani minggat? Tidak, suheng. Setelah mendengar

suheng meninggalkan kuil, aku segera menghadap suhu dan mohon perkenan suhu untuk turun gunung

pula. Dan suhu sudah memberi ijin. Aku turun gunung, keluar dari kuil dengan resmi, tidak minggat.”

“Begitu mudahnya? Akal apa yang kaupergunakan maka suhu dapat memberi ijin sedemikian

mudahnya kepadamu, sute?”

Shu Ta tertawa. “Aih, suheng. Terhadap suhu, mana aku berani main akal-akalan? Aku hanya

menceritakan kepada suhu tentang kesengsaraan rakyat jelata di bawah penindasan pemerintah

penjajah Mongol seperti yang banyak kita dengar dari rakyat di sekitar daerah ini, dan aku

menceritakan keinginanku untuk membantu rakyat, berjuan untuk menentang pemerintah penjajah.

Nah, suhu memberi restu dan mengijinkan aku keluar dari kuil.”

Siauw Cu mengangguk-angguk. Dia sudah tahu bahwa sutenya ini selalu bicara tentang perjuangan

melawan pemerintah penjajah Mongol. Diam-diam dia sendiripun menyetujui sikap itu. Dia sendiripun

membenci penjajah yang jelas menyengsarakan rakyat.

“Sute, cita-citamu memang baik sekali. Akan tetapi, hanya dengan tenagamu, atau katakanlah

tenaga kita berdua, bagaimana mungkin kita akan mampu menentang pemerintah yang memiliki

pasukan ratusan ribu orang banyaknya. Untuk menentang pemerintah penjajah, kita harus

menghimpun tenaga rakyat sebanyak mungkin dan untuk pekerjaan seperti itu, bukanlah hal yang

mudah. Setidaknya kita harus memiliki biaya yang besar, sedangkan kita memiliki apa?”

“Memang benar pendapatmu, suheng. Akan tetapi, kalau memang kita memiliki kemauan besar,

memiliki semangat, kiranya pekerjaan itu tidaklah terlalu sukar, atau setidaknya bukan hal yang

mustahil. Mari kita bekerja sama untuk maksud itu, suheng.”

Siauw Cu menggeleng kepala. “Sebaiknya, kalau kita berpencar dan mencari pengalaman lebih

dahulu di dunia persilatan, sute. Kita melakukan penjajagan dan hubungan dengan orang-orang kangouw,

melihat bagaimana sikap mereka dan melihat kemungkinan untuk menghimpun tenaga. Kelak,

kalau tiba waktunya, kita dapat bergabung dan bekerja sama.”

 

Shu Ta mengangguk-angguk. “Pendapatmu baik dan tepat, suheng. Baiklah, mari kita berlumba

untuk menghimpun tenaga. Akan tetapi, sekarang suheng hendak ke manakah?”

“Aku hendak kembali dulu ke kampung halamanku, dusun Cang-cin untuk bersembahyang di makam

ayah ibuku.”

“Aih, dusunmu yang penuh kesengsaraan itu?” Shu Ta sudah pernah mendengar cerita Siauw Cu

tentang dusunnya, dan tentang keadaan suhengnya itu. “Kalau begitu, akupun ingin ikut denganmu

dan melihatnya, suheng.”

“Baik, sute. Mari kita pergi. Dusunku tidak terlalu jauh dari sini, hanya di balik bukit depan sana

itu.” Mereka lalu berjalan berdampingan menuruni bukit!

Para penghuni dusun Cang-cin sedang bekerja di sawah ladang, di luar dusun. Matahari telah naik

tinggi dan mereka semua memandang heran kepada dua orang pemuda yang berjalan menuju ke

dusun itu. Dusun di Lembah Sungai Huai itu merupakan dusun kecil yang tidak pernah dikunjungi

orang luar, maka kedatangan setiap orang asing tentu akan menarik perhatian mereka. Itulah

sebabnya, ketika dua orang pemuda itu melangkah perlahan memasuki dusun, mereka semua

memandang penuh perhatian dan keheranan.

Pemuda pertama berusia dua puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya sederhana namun

sikapnya tegak anggun berwibawa. Langkahnya tegap, wajahnya tidak dapat dibilang tampan, namun

jantan dengan dagu yang membayangkan kekerasan hati, sepasang mata yang mencorong tajam

penuh semangat dan wibawa. Langkahnya bagaikan langkah harimau. Dia menggendong sebuah

buntalan kain kuning yang tidak seberapa lebar, buntalan yang terisi beberapa stel pakaiannya.

Pakaian yang menutupi tubuhnya amat sederhana, seperti pakaian pendeta, hanya potongannya lebih

ringkas.

Pemuda kedua sebaya, akan tetapi wajahnya tampan dan tubuhnya kekar. Pada wajahnya mulai

nampak rambut halus dan dapat dilihat bahwa kelak akan menjadi seorang laki-laki tampan gagah

berewok. Pandang matanya tidak terlalu tajam seperti pemuda pertama, akan tetapi mata itu

bergerak-gerak dengan lincah dan nampaknya dia cerdik sekali. Di punggungnya juga terdapat

buntalan pakaian, akan tetapi di pinggangnya tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang

sederhana.

Mereka adalah Siauw Cu dan Shu Ta. Siauw Cu juga memandang ke arah para petani yang bekerja

di sawah ladang dan wajahnya cerah, sikapnya ramah terhadap mereka karena dia maklum bahwa

mereka adalah warga dusunnya. Akan tetapi, karena delapan tahun telah lewat, tidak ada

seorangpun di antara mereka yang dikenalnya atau mengenalnya. Ketika dia meninggalkan dusun itu,

usianya baru dua belas tahun, masih kanak-kanak, sekarang dia kembali dalam usia dua puluh tahun

lebih, sudah menjadi seorang pemuda dewasa.

Yang membuat hati Siauw Cu gembira adalah melihat betapa sawah ladang itu penuh dengan padi

dan gandum yang subur. Agaknya kini keadaan dusun itu sudah makmur, pikirnya. Mereka memiliki

sawah ladang yang demikian subur, berarti mereka tidak akan menderita kelaparan seperti ketika

dia masih tinggal di dusun itu. Melihat para penghuni dusun bekerja di sawah ladang yang subur,

mendatangkan perasaan gembira di hati Siauw Cu dan diapun mengajak sutenya untuk pergi ke tanah

kuburan yang berada di pinggir dusun sebelah barat.

Tanah kuburan itu penuh dengan kuburan, lama dan baru. Ketika mereka tiba di tanah kuburan,

keduanya berhenti dan melihat dua orang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar

membentak-bentak seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun yang tubuhnya kurus dan agak

bungkuk.

“Siang begini engkau sudah meninggalkan sawah, tua bangka tak tahu diri!” bentak seorang di

antara dua laki-laki tinggi besar itu.

“Kakek Coa, kalau engkau tidak cepat kembali ke sawah dan melanjutkan pekerjaanmu, terpaksa

kami akan menghajar dan menyeretmu biarpun engkau sudah tua dan berpenyakitan!” kata orang ke

dua.

“Apakah engkau ingin menyusul isterimu yang baru tiga hari mati?” bentak orang pertama.

 

Kakek itu tidak memperdulikan ancaman mereka, bahkan dia lalu menjatuhkan diri berlutut,

bertiarap di atas gundukan tanah kuburan yang baru itu dan menangis.

“Aku tidak sudi kembali ke sawah. Aku masih berkabung, aku ingin menemani isteriku… bunuhlah

aku kalian kehendaki!”

Dua orang tinggi besar itu saling pandang. Yang pertama yang kumisnya panjang masih mencoba

untuk membujuk kakek itu. “Kakek Coa, ingatlah, engkau tidak akan dapat mengubur mayat isterimu

tiga hari yang lalu, tidak akan mendapatkan peti mati dan tanah kuburan ini kalau tidak atas

pertolongan dan kedermawanan Ji wan-gwe (hartawan Ji). Juga setiap hari, nasi siapa yang

kaumakan? Untuk semua itu, Ji wan-gwe hanya minta engkau bekerja di sawahnya, bukankah itu

sudah adil?”

Tiba-tiba kakek itu bangkit dan biarpun tubuhnya kurus bungkuk, kini dia kelihatan penuh

semangat dan keberanian. “Pertolongan? Kedermawanan? Huh, kini aku tidak perduli lagi, aku sudah

tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, semua telah dirampas oleh Ji wan-gwe dengan alasan membayar

hutang berikut bunganya yang berlipat ganda. Semua milikku sudah diambilnya, dan sekarang masih

juga hendak memeras tenagaku yang sudah tua? Dia bukan penolong, bukan dermawan, melainkan

lintah darat, penjahat kejam yang bersembunyi di balik kekayaannya!”

“Kakek Coa tua bangka yang bosan hidup! Berani kau memaki-maki Ji wan-gwe? Kalau tidak ada

beliau, kau sudah mati kelaparan!” teriak dua orang itu marah.

“Siapa bilang? Justeru karena ada dia, kami semua warga dusun terancam kelaparan. Sawah

ladang kami telah dirampasnya, tenaga kami diperas! Jahanam, setan busuk!”

Dua orang itu marah-marah dan sekali pukul, tubuh kakek itu terpelanting keras, namun kakek itu

masih memaki-maki dengan marahnya. Dua orang tukang pukul itu hendak menghujankan pukulan lagi,

akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan sekali orang itu menggerakkan tangan

mendorong, dua orang tukang pukul terpental dan terjengkang seperti dilanda badai. Mereka

terkejut dan ketika memandangm mereka melihat seorang pemuda tinggi tegap telah berdiri di

depan mereka dengan mata mencorong. Pemuda lain yang juga tegap sedang membantu kakek Coa

bangun.

“Bocah setan, siapa kau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau minta dihajar pula?”

bentak tukang pukul yang kumisnya panjang.

Biarpun marah menyaksikan kekejaman dua orang tukang pukul itu dan mendengar pertengkaran

tadi, Cu Goan Ciang masih bersikap tenang. Dia hanya menghadapi kaki tangan hartawan Ji, dua

orang yang hanya melaksanakan tugas karena memang itu pekerjaannya, walaupun pekerjaan itu

jahat.

“Siap aku tidaklah penting. Kalian ini kaki tangan hartawan penghisap darah rakyat yang patut

dihajar! Pergilah dan jangan lagi mengganggu paman ini!”

Dua orang tukang pukul itu tentu saja tidak takut. Mereka mencabut golok dari pinggang. Sudah

terlalu sering golok itu mereka cabut untuk menakuti-nakuti orang, untuk mengancam dan kalau

perlu melukai atau membunuh. Karena golok itu merupakan modal mereka bekerja dan dipercaya Ji

wan-gwe, maka mereka selalu mengasah senjata itu sehingga nampak berkilauan tajam.

“Orang muda, engkau dan kawanmu itu agaknya bukan penduduk dusun ini. Jangan mencampuri

urusan kami dan cepat pergi keluar dari dusun sebelum terlambat. Kami masih mau memaafkan

kalian karena sebagai orang luar, kalian tidak tahu akan keadaan di dusun kami,” kata si kumis

panjang.

Pada saat itu terdengar bentakan halus namun nyaring, suara orang wanita, “Apa lagi yang terjadi

di sini? Tanah kuburan adalah tempat yang suci, kenapa kalian begini tidak tahu sopan dan aturan,

ribut-ribut di tempat suci?”

Cu Goan Ciang dan Shu Ta menoleh, demikian pula kakek itu dan dua orang tukang pukul. Ternyata

yang menegur itu adalah seorang gadis yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Shu Ta terbelalak

dan seperti terpesona melihat gadis yang wajah dan bentuk tubuhnya aduhai itu! Wajah itu cantik

manis dan bentuk tubuhnya menggairahkan, dengan, lekuk lengkung yang sedang berkembang.

 

Pakaiannya tidak terlalu mewah, namun jelas tidak sama dengan pakaian para gadis petani.

Pakaiannya juga putih mulus dan halus, tidak ada bekas pekerjaan berat.

Ketika dua orang tukang pukul yang galak itu melihat siapa yang menegur mereka, sungguh aneh

sekali, mereka kelihatan ketakutan dan sikap yang galak itu terbang entah ke mana, berubah

menjadi sikap menunduk dan menjilat. Mereka segera membungkuk-bungkuk memberi hormat

kepada gadis muda itu.

“Nona, maafkan kami. Bukan maksud kami membuat ribut di tanah kuburan, akan tetapi kakek Coa

ini yang keterlaluan. Begitu banyak dia berhutang budi kepada wan-gwe, akan tetapi dia

meninggalkan pekerjaannya dan berada di sini. Agaknya dia sudah lupa bahwa tiga hari yang lalu,

kalau tidak ada wan-gwe, dia tidak akan mampu mengubur mayat isterinya dengan baik,” kata si

kumis panjang.

Gadis itu mengerutkan alisnya, pandang matanya berkilat marah. “Huh, kiranya kalian adalah

tukang-tukang pukul menjemukan itu! Siapa bisa percaya omongan kalian? Kakek Coa, ceritakan apa

yang telah terjadi? Aku lebih percaya keteranganmu dari pada kata-kata mereka ini.” Ketika

menghadapi kakek Coa, suara nona muda itu terdengar lembut.

“Siocia, saya tidak menyangkal bahwa saya telah banyak memperoleh pinjaman uang dari Ji wangwe.

Akan tetapi semua pinjaman itu telah saya bayar dengan berlipat ganda sehingga semua sawah

ladang saya kini menjadi miliknya. Namun semua itu masih belum cukup dan saya diharuskan bekerja

di sawah ladang yang tadinya milik saya turun temurun. Karena saya masih berkabung dan saya ingin

menunggui kuburan isteri saya, maka saya hari ini belum dapat bekerja di ladang. Akan tetapi dua

orang ini datang dan hendak memaksa saya, bahkan akan memukuli saya. Kemudian datang kedua

pemuda ini yang menolong saya.”

Sepasang mata yang indah itu kini menyapu wajah Cu Goan Ciang dan Shu Ta. Melihat Cu Goan

Ciang yang berada di depan menghadapi dua orang tukang pukul, gadis itu bertanya, “Sobat, apakah

kalian hendak membela kakek Coa ini?”

“Kami selalu siap membela siapa saja yang ditindas kekuasaan jahat,” jawab Cu Goan Ciang dengan

sikap tenang.

Gadis itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar. “Hemm, agaknya kalian berdua bukan orang sini.

Beranikah kalian melawan dua orang jagoan ini? Mereka itu kuat dan lihai!”

“Kenapa tidak berani?” Shu Ta yang kini menjawab sambil tersenyum mengejek ketika dia melirik

ke arah dua orang jagoan itu. “Jangankan hanya mereka berdua saja, biar ditambah sepuluh orang

lagi kami berani melawan mereka! Akan kutonjok hidungnya sampai berdarah dan kucabut kumis

panjang itu!” Shu Ta memang berwatak lincah dan nakal, maka dia sengaja mengejek si hidung besar

yang akan ditonjok hidungnya dan si kumis panjang akan dicabut kumisnya.

“Bagus!” Gadis yang lincah itu berseru gembira, “Kalau begitu, kenapa kalian tidak bertanding

saja? Dua lawan dua, sudah adil. Heii, kalian lepaskan golok kalian dan lawan dua orang pemuda ini

dengan tangan kosong saja. Baru sekarang aku melihat ada orang berani melawan kalian, hendak

kulihat sampai di mana keberanian dan kehebatan mereka ini!”

Sungguh aneh. Dua orang jagoan itu agaknya seperti mati kutu berhadapan dengan gadis itu dan

mereka mentaati perintahnya. Mereka melemparkan golok mereka ke atas tanah, kemudiang

keduanya menghampiri Shu Ta dan Cu Goan Ciang. Si kumis panjang menghadapi Shu Ta sedangkan si

hidung besar menghadapi Cu Goan Ciang. Gadis itu sendiri lalu mendekati kakek Coa, seperti

melindungi. Kakek Coa nampak khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan

khawatir terhadap dua orang pemuda yang mencoba untuk membelanya itu. Dia tidak ingin melihat

mereka dihajar oleh dua orang tukang pukul yang dia tahu amat kejam. Karena gelisah, wajahnya

pucat dan kakinya gemetar, lalu duduk di dekat kuburan isterinya.

Shu Ta maju menghadapi si kumis panjang yang matanya sipit dan agak juling itu. Dia menggapai

dengan tangan kirinya dan berkata, “Majulah, dan berikan kumismu kepadaku untuk kucabuti!”

Ejekan ini membuat si kumis panjang marah sekali.

 

“Bocah sombong, kuhancurkan kepalamu!” bentak si kumis panjang dan dia sudah menerjang maju

sambil mengirim pukulan bertubi-tubi. Akan tetapi gerakan orang kasar itu tentu saja tidak ada

artinya bagi pendekar muda murid Siauw-lim-pai itu. Dengan mudah Shu Ta mengelak ke kanan kiri,

kemudian ketika mendapat kesempatan baik, kakinya bergerak dan ujung sepatunya mengenai perut

si kumis panjang.

“Ngekkk!” Biarpun tendangan itu tidak dilakukan dengan terlalu kuat, cukup membuat si kumis

membungkuk memegangi perutnya dan saat dia membungkuk itulad dipergunakan oleh Shu Ta untuk

menyambarkan tangan ke depan dan… sekali renggut, kumis panjang itupun jebol dan di atas bibir

itu menjadi merah karena berdarah!

“Aduh… aduh…!!” Si kumis panjang menggereng, akan tetapi Shu Ta sudah melompat ke dekat

suhengnya yang masih terus menangkis dan mengelak dari serangan bertubi yang dilakukan si gendut

besar.

“Suheng, serahkan si hidung besar ini kepadaku!” kata Shu Ta dan diapun menyambut serangan si

hidung besar. Terpaksa Cu Goan Ciang mundur dan diapun kini menghadapi si kumis panjang yang

masih marah-marah dan menerjang membabi buta.

Cu Goan Ciang hanya ingin memberi pelajaran karena dua orang ini hanyalah kaki tangan hartawan

Ji. Yang kikir, kejam dan penindas rakyat adalah hartawan itu, sedangkan kaki tangan ini hanyalah

orang-orang yang berwatak rendah, demi mendapatkan upah mereka ini tidak segan-segan

melaksanakan perintah majikan mereka untuk bersikap keras dan kejam terhadap penduduk dusun

yang miskin. Maka, melihat si kumis panjang sudah kehilangan kumisnya dan atas bibirnya berdarah,

diapun mengakhiri perkelahian itu dengan sebuah tendangan yang mengenai dada si kumis panjang.

“Desss…!” Tubuh si kumis panjang terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah.

Pada saat yang hampir berbareng, Shu Ta sudah berhasil menonjok hidung besar lawannya

seperti yang dikatakannya tadi.

“Prottt!” Bukit hidung itu pecah dan berdarah, sedangkan tubuh si hidung besar terhuyung ke

belakang.

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya gadis manis tadi yang bertepuk tangan memuji. Dua

orang tukang pukul itu menjadi marah bukan main. Mereka telah dihina orang di depan nona mereka

lagi, dan yang membuat mereka menjadi semakin mendongkol adalah karena justeru nona majikan

mereka itu memuji dan bersorak berpihak kepada dua orang pemuda asing yang telah menghina

mereka. Mereka segera mencabut golok yang tadi mereka lempar ke tanah dan memutar golok itu di

atas kepala, siap menyerang dua orang pemuda yang nampak tenang-tenang saja.

“Bocah setan, mampus kau sekarang!” bentak bekas si kumis panjang itu karena sekarang dia

tidak berkumis lagi sambil memutar goloknya, sedangkan si hidung besar hanya mengeluarkan suara

tidak karuan karena suaranya menjadi bindeng seperti orang bicara dengan hidung dijepit.

Akan tetapi sebelum dua orang pemuda itu menyambut, nampak bayangan berkelebat didahului

sinar terang dan terdengar suara berkerontangan. Dua orang jagoan itu berteriak kaget dan

terhuyung ke belakang dengan mata terbelalak karena golok di tangan mereka telah buntung.

Kiranya gadis manis itu yang tadi menyambut mereka dengan pedang di tangan, sekali tangkis ia

telah membikin buntung dua batang golok itu!

“Sudah kukatakan kalian tidak boleh menggunakan senjata golok, dan kalian masih berani

membangkang!” bentak gadis itu galak.

Dua orang jagoan tinggi besar itu menundukkan mukanya dan nampak ketakutan.

“Maafkan kami, nona,” kata yang kehilangan kumis panjang, sedangkan si hidung besar yang remuk

hanya menggumam saja.

“Sudahlah, pergi kalian dari sini. Menjemukan saja!” nona itu berseru galak dan bagaikan dua ekor

anjing yang ketakutan, dua orang itu segera membalikkan tubuh dan pergi dari situ sambil

menunduk.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta kagum sekali, terutama Shu Ta yang berwatak gembira. “Wah, hebat

sekali, nona. Sungguh tidak kusangka, di dusun yang sunyi ini terdapat seorang pendekar wanita ahli

 

pedang seperti nona!” katanya sambil memberi hormat. Siauw Cu diam saja, hanya memandang dan

tersenyum melihat sikap sutenya yang dianggapnya agak mencari muka dengan pujiannya.

Sementara itu, kakek Coa memberi hormat kepada gadis itu dan berkata dengan suara khawatir,

“Siocia, terima kasih atas pertolonganmu, akan tetapi harap siocia sampaikan kepada Ji wan-gwe

bahwa bukan sekali-kali saya bermaksud untuk membangkang dan tidak mau bekerja. Akan tetapi

saya ingin berkabung di kuburan isteri saya sampai besok. Lusa pagi saya pasti akan bekerja seperti

biasa di ladang ayahmu, siocia (nona).”

“Sudahlah, jangan khawatir, paman,” kata gadis itu dengan sikap acuh.

Mendengar ucapan kakek itu, Siauw Cu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong ketika

menyambar ke wajah gadis itu. “Jadi engkau ini puteri Hartawan Ji Sun?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan dengan suara yang kaku ini, gadis itu mengerutkan alisnya

dan balas memandang dengan kaku pula. “Benar, namaku Ji Kui Hwa, puteri Hartawan Ji Sun. Habis

mengapa?”

Siauw Cu tidak menjawab, melainkan menarik tangan Shu Ta dan tanpa memperdulikan lagi kepada

gadis itu, dia berkata, “Sute, mari kita pergi!” Diapun mengajak sutenya pergi ke kuburan ayah dan

ibunya yang berada di sudut kiri tanah kuburan itu. Gadis itu terbelalak, kemudian alisnya berkerut

karena ia mendongkol bukan main melihat sikap dua orang pemuda itu, apa lagi sikap pemuda tinggi

tegap yang memandang kepadanya dengan sinar mata merendahkan. Tadinya, ia tertarik melihat dua

orang pemuda yang mampu menghajar dua orang tukang pukul ayahnya, dan ingin berkenalan. Akan

tetapi melihat sikap pemuda tinggi tegap itu, tentu saja ia merasa malu kalau harus mengejar

mereka. Iapun membanting kaki kirinya untuk melampiaskan kejengkelan hatinya, lalu meninggalkan

tempat itu dengan bersungut-sungut.

Setelah tiba di depan kuburan ayah ibunya, Siauw Cu menjatuhkan diri berlutut dan sampai

beberapa lamanya dia termenung dan terpekur. Hatinya diliputi keharuan melihat kuburan ayah

ibunya tidak terawat, penuh dengan rumput alang-alang menjadi seperti semak belukar. Setelah

menghormati kuburan orang tuanya sambil berlutut, dia lalu membersihkan kuburan itu, mencabut

rumput dan tumbuh-tumbuhan. Tanpa diminta, Shu Ta yang tadi ikut pula berlutut memberi hormat,

kini ikut pula membantu suhengnya membersihkan makam itu.

Kakek Coa yang tadi, datang terbungkuk-bungkuk menghampiri mereka. Dia memandang kepada

dua orang pemuda itu, lalu kepada kuburan yang kini sudah dibersihkan. “Siapa… siapakah kalian?

Ada hubungan apakah dengan keluarga Cu yang dimakamkan di sini?”

Cu Goan Ciang melangkah maju menghampiri kakek itu. Tentu saja sejak tadi, setelah mendengar

disebutnya nama keluarga kakek itu, dia teringat. Kakek ini dahulu merupakan tetangga dan sahabat

baik mendiang ayahnya. “Paman Coa, apakah paman lupa kepadaku? Ini adalah kuburan ayah dan

ibuku.”

Sepasang mata yang sayu itu terbelalak dan kakek itu mengamati Siauw Cu dari kepala sampai

kaki. “Ayah ibumu…? Kalau begitu… kau… kau adalah… Siauw Cu yang dulu itu?”

Shu Ta tertawa. “Paman yang baik, suheng bukan lagi Siauw Cu (Cu Kecil), melainkan seorang

pemuda dewasa, namanya Cu Goan Ciang.”

“Ah…ahhh… kami semua mengenalmu sebagai Siauw Cu. Bukankah engkau dahulu bekerja kepada

Lurah Koa, kemudian… kemudian engkau menjadi buruan yang dikejar-kejar? Siauw Cu, kenapa

engkau berani datang ke sini? Kalau sampai Lurah Koa mengetahui berbahaya sekali bagimu.

Sebaiknya engkau cepat pergi dari dusun ini!”

“Paman Coa, tenanglah dan mari kita duduk dan bicara. Aku bahkan ingin sekali mendengar segala

tentang dusun kita ini darimu. Paman, kita berdua tadi ketika memasuki dusun, melihat para warga

dusun, bekerja di sawah ladang yang subur. Agaknya keadaan di dusun ini sudah berbeda dari

dahulu, paman. Tentu warga dusun kini tidak begitu menderita lagi, dengan memiliki sawah ladang

yang subur itu…”

 

“Siapa memiliki sawah ladang subur? Tidak ada seorangpun di antara kami warga dusun yang

memiliki sebidang tanah lagi. Semua telah menjadi milik Hartawan Ji!” kata kakek Coa dengan sikap

marah.

“Ehhh? Bukankah di dusun ini terdapat kepala dusun? Apakah warga dusun tidak lapor kepada

lurahnya?” Shu Ta membantah penasaran.

“Lurah? Hemm, Koa cung-cu (Lurah Koa) yang kaumaksudkan, orang muda? Tidak ada bedanya!

Kalau hartawan Ji itu serigala, Lurah Koa adalah harimaunya. Kami semua warga dusun diperas,

diharuskan membayar pajak dan segala sumbangan lain oleh Lurah Koa. Kemudian, kalau kami

membutuhkan biaya, hartawan Ji yang mengulurkan tangan memberi pinjaman yang bunganya

mencekik leher. Akhirnya, setelah beberapa tahun lamanya, seluruh milik kami jatuh ke dalam

tangan hartawan Ji atau Lurah Koa.”

Cu Goan Ciang mengepal tinju. “Hemm, kalau begitu, sejak delapan tahun yang lalu, keadaan di

dusun ini masih sama saja dan tidak ada perubahan, paman?” tanyanya.

“Perubahannya ada, yaitu keadaan kami menjadi semakin buruk. Dusun ini menjadi milik mereka

berdua, dan kami semua hanya menjadi semacam budak belian mereka belaka, kami menjadi tenaga

kerja yang paling murah. Kemiskinan saja bagi kami sudah terbiasa, yang lebih menyiksa adalah ulah

para jagoan mereka yang suka mengganggu anak bini orang.”

Shu Ta menjadi marah. “Suheng, keadaan macam ini tidak boleh kita diamkan saja! Kita harus

turun tangan!”

Cu Goan Ciang juga marah, namun dia dapat menguasai dirinya dan bersikap tenang. “Bersabarlah

dulu, sute. Kita harus mencari jalan terbaik untuk meluruskan yang bengkok, menertibkan keadaan

dan menolong mereka yang tertindas. Kalau hanya menuruti nafsu amarah tidak akan mengobati

penyakitnya. Paman Coa, kalau kaukatakan bahwa hartawan Ji itu kikir dan kejam, hal itupun sejak

dulu aku sudah mengetahui. Akan tetapi kulihat puterinya tadi tidaklah nampak jahat.”

“Ah, memang Ji-siocia itu amat baik. Semua orang mengetahu itu dan mereka semua

menghormatinya. Bahkan Ji-siocia banyak membantu kami, walaupun hal itu dilakukan diluar tahu

ayahnya yang kikir dan kejam. Kalau tidak ada Ji-siocia, tentu keadaan kami akan lebih parah lagi

karena selain para jagoan yang suka mengganggu anak isteri orang, juga putera tertua dari Lurah

Koa seorang mata keranjang yang suka mengganggu wanita mana saja. Akan tetapi, Ji-siocia selalu

menentangnya sehingga mereka semua itu tidaklah terlalu berani.”

“Putera Lurah Koa yang tertua, maksudmu Koa Hok, paman?”

“Benar, adiknya juga kejam, akan tetapi tidak suka mengganggu wanita.”

Setelah mendapatkan keterangan yang jelas tentang dua keluarga yang berkuasa di dusun itu,

Goan Ciang mengajak Shu Ta untuk meninggalkan tanah kuburan. Matahari telah naik tinggi.

“Apa yang akan kaulakukan sekarang, suheng? Apakah akan kaubiarkan saja hartawan Ji dan

Lurah Koa merajalela di dusun ini dan menekan warga dusun?”

“Tentu saja tidak, sute. Aku pasti akan bertindak, akan tetapi sungguh tidak baik kalau kita

hanya menyerang dan menghajar mereka. Hal itu tidak akan menolong warga dusun, bahkan

sebaliknya, kelak mereka akan semakin digencet lagi sebagai balas dendam dua keluarga itu

terhadap kita. Kita harus mencari jalan yang paling baik, akan tetapi aku belum menemukan jalan

itu.”

“Ah, serahkan saja kepadaku, suheng. Aku mempunyai akal yang baik!” kata Shu Ta dan Cu Goan

Ciang gembira sekali. Dia percaya akan kecerdikan sutenya ini, dan tentu sekali ini sutenya telah

mempunyai akal yang amat baik. Mereka berhenti dan berunding, mengatur siasat seperti yang

direncanakan Shu Ta yang cerdik, kemudian melanjutkan perjalan menuju ke rumah Lurah Koa.

Lurah dusun Cang-cin bernama Koa Tong Lun. Karena kedudukannya, dia merupakan orang yang

paling berkuasa di dusun kecil itu, dan dia merasa seolah dirinya seorang raja dan dusun itu adalah

negaranya, warga dusun adalah rakyat yang harus tunduk kepadanya. Segala peraturan yang

dibuatnya sendiri merupakan hukum yang harus ditaati, karena siapa berani melanggar peraturan

yang telah dia tetapkan, tentu akan berhadapan dengan pasukan kecil terdiri dari dua losin orang

 

yang merupakan pasukan keamanan baginya. Tentu saja sikapnya terhadap warga dusun yang miskin

itu amat kejam berbeda dengan sikapnya terhadap hartawan Ji. Hartawan itu mempunyai tukangtukang

pukul, pula dengan hartanya, hartawan itu dapat berbahaya bagi Lurah Koa, karena hartawan

Ji mempunyai hubungan dengan para pejabat yang lebih tinggi kedudukannya di kota. Oleh karena

itu, kedua orang penting di dusun ini, yang seorang penting karena kedudukannya, yang ke dua

penting karena kekayaannya, dengan sendirinya bergaul akrab, bahkan seolah menjadi sekutu

menghadapi rakyat yang mereka peras habis-habisan demi kepentingan dan kesenangan diri mereka

sendiri dan keluarga mereka.

Koa cung-cu (Lurah Koa) mempunyai tiga orang isteri, akan tetapi dari tiga orang isteri itu, hanya

isteri pertama yang mempunyai dua orang anak laki-laki yang bernama Koa Hok kini berusia dua

puluh dua tahun, dan Koa Sek yang berusia dua puluh tahun. Kedua orang anak inilah yang delapan

tahun lalu pernah berkelahi dengan Cu Goan Ciang, menyebabkan Goan Ciang terpaksa melarikan diri

dalam keadaan luka-luka dan akhirnya ditampung di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid Lauw In

Hwesio. Mereka berdua kini telah menjadi dua orang pemuda dewasa yang tampan dan gagah. Koa

Hok bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, wataknya tinggi hati dan mata keranjang. Adapun

adiknya, Koa Sek bertubuh tegap langsing, pendiam, akan tetapi dia memandang remeh kaum wanita

dan perangainya kejam dan licik. Kakak beradik ini sejak kecil mempelajari ilmu silat dari guru-guru

yang didatangkan ayah mereka dari kota dan membayar tinggi sehingga kini mereka menjadi dua

orang pemuda yang pandai silat dan tidak ada seorangpun dari para pengawal ayah mereka yang

mampu menandingi dan mengalahkan mereka dalam ilmu silat. Tentu saja mereka berdua menjadi

kebanggaan Lurah Koa yang amat memanjakan mereka sehingga kakak beradik ini malang-melintang

di dusun itu. Biarpun Lurah Koa sudah sering membujuk, namun kedua orang puteranya itu masih

belum mau menikah, walaupun mereka, terutama sekali Koa Hok, bukan pemuda-pemuda alim yang

tidak suka bergaul dengan wanita.

Matahari sudah naik tinggi. Para petani sudah lebih dari empat jam bekerja di ladang, sejak

matahari terbit. Namun, Koa Hok dan Koa Sek masih mendengkur di kamar masing-masing karena

dua orang pemuda ini, seperti biasa, bergadang sampai jauh malam. Tidur malam-malam, bangun

siang-siang, inilah kebiasaan mereka. Bekerja berat enggan, menghambur uang seenaknya, itulah

kesenangan mereka. Tidak mampu mencari namun pandai membuang.

Ketika memasuki dusun Cang-cin, Siauw Cu atau yang lebih tepat kita sebut Cu Goan Ciang karena

dia bukan anak kecil lagi, dan sutenya, Shu Ta melihat betapa dusun itu nampak sunyi. Agaknya

semua penduduk, besar kecil, pria dan wanita, semua bekerja di sawah ladang! Semua tenaga di

dusun itu dikerahkan untuk menggarap sawah ladang milik hartawan Ji dan Lurah Koa, semua warga

dusun bekerja keras demi menambah kekayaan mereka berdua.

Tak lama kemudian, dua orang pemuda itu telah berdiri di depan sebuah rumah gedung besar yang

tidak pantas berdiri di dusun yang amat miskin itu, di antara rumah-rumah penduduk yang amat

sederhana dan buruk. Kandang kuda yang nampak di sebelah kiri agak ke belakang dekat gedung itu

saja sudah mengalahkan semua rumah warga dusun dalam hal keindahannya. Goan Ciang berdiri dan

tertegun. Ketika dia masih bekerja kepada Lurah Koa, gedung itu belum sedemikian indahnya.

Sungguh besar sekali kemajuan yang diperoleh lurah itu selama delapan tahun ini.

Dua orang penjaga yang tadinya berada di gardu penjagaan depan gedung itu keluar dan

menghampiri dua orang pemuda yang berdiri di luar pintu gerbang.

“Haii! Kalian ini dua orang pemuda tidak bekerja di sawah ladang, malah berkeliaran di sini!”

bentak seorang di antara mereka. Sikap mereka galak dan mengancam sehingga mudah diambil

kesimpulan bahwa para petugas keamanan ini sudah biasa bersikap kasar dan menindas terhadap

warga dusun.

Sebelum Cu Goan Ciang atau Shu Ta menjawab, muncul seorang petugas lain dari dalam gardu. Dia

ini seorang yang bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan mukanya penuh bekas cacar atau

bopeng. Usianya sekitar empat puluh tahun dan sikapnya angkuh sekali. Dari pakaiannya dan pedang

yang tergantung di pinggang, yang berbeda dari kedua orang pertama, mudah diduga bahwa dia

 

tentulah petugas yang lebih tinggi kedudukannya. Memang orang ini adalah Bong Kit, kepala pasukan

keamanan Lurah Koa yang jumlahnya dua losin orang itu. Sebagai orang yang paling berkuasa di

antara dua losing penjaga keamanan, tentu saja Bong Kit sadar betul akan kepentingan dirinya, dan

hal ini membuat dia berwatak sombong bukan main. Bahkan dalam hal kesombongan, dia tidak mau

kalah bersaing melawan majikannya.

“Ha, kalian tentu bukan penduduk sini. Siapa kalian dan mau apa berkeliaran di dusun ini?” Bong

Kit membentak dengan sikapnya yang sombong.

Sesuai dengan rencana yang sudah diatur bersama Shu Ta tadi, Goan Ciang menjawab dengan

tenang. “Kami adalah kenalan keluarga Koa cung-cu, dan kami datang berkunjung untuk bicara dengan

Lurah Koa.”

Mendengar bahwa dua orang pemuda itu sahabat Lurah Koa, tentu saja Bong Kit dan kawankawannya

menjadi terkejut. Mereka tadi bersikap kurang hormat terhadap dua orang tamu sahabat

majikan mereka! Maka, berubahlah sikap mereka dan wajah Bong Kit yang buruk dan menyeramkan

itu, kini berubah cerah berseri dengan senyum menyeringai dia memberi hormat.

“Aih, kiranya ji-wi kong-cu (dua orang tuan muda) adalah tamu dari majikan kami. Kalau begitu,

silahkan masuk dan duduk di ruangan tamu, biar kami melaporkan kepada majikan kami tentang

kunjungan ji-wi (anda berdua).”

“Terima kasih,” kata Goan Ciang yang saling lirik dengan sutenya, diam-diam merasa geli, juga

girang bahwa siasat mereka berjalan dengan mulus.

Setelah mereka dipersilahkan duduk di ruangan tamu yang luas dan indah di sebelah kiri beranda

gedung itu, Bong Kit bertanya, “Siapakah nama ji-wi yang akan saya laporkan kepada majikan kami?”

“Namaku Cu Goan Ciang dan dia ini bernama Shu Ta” kata Goan Ciang tanpa ragu lagi. Seorangpun

di dusun itu tidak yang tahu akan namanya, karena dahulu, semua orang mengenalnya sebagai Siauw

Cu (Cu Kecil) seperti semua anak di dusun itu yang hanya dikenal nama kecil atau nama panggilannya

saja.

Bong Kit meninggalkan mereka untuk melapor ke dalam. Tak lama kemudian, muncul Koa cung-cu,

diiringkan oleh Bong Kit yang agaknya bertugas pula sebagai pengawal pribadi di samping mengepalai

pasukan pengawal yang selosin orang banyaknya. Melihat munculnya seorang laki-laki berusia hampir

lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan bersikap angkuh, dengan pakaian rapi dan mewah

seperti pakaian seorang menteri saja, Goan Ciang segera mengenalnya sebagai Lurah Koa Tong Lun.

Akan tetapi, lurah itu sendiri sama sekali tidak mengenalnya dan setelah menatap wajah kedua

orang tamu mudanya dengan penuh perhatian, dia memberi isarat dengan tangan mempersilahkan

kedua orang pemuda itu duduk, kemudian terdengar sang lurah berkata dengan nada suara seperti

seorang raja menegur hamba sahayanya.

“Pengawal melaporkan bahwa kalian datang untuk bicara denganku dan bahwa kalian adalah

kenalanku. Pada hal, rasanya aku belum pernah melihat kalian. Apa maksud kalian berbohong dan

ingin menghadap kami?”

Goan Ciang memberi hormat sambil duduk. “Maafkan kami, paman…”

Sepasang alus yang jarang itu berkerut. “Apa kaubilang? Paman? Aku bukan pamanmu!”

Goan Ciang berpura-pura terkejut dan ketakutan. “Lalu… saya harus menyebut apa?”

“Hemm, aku penguasa di sini, semua orang menyebut aku taijin (orang besar) dan sebagai tamu,

engkaupun harus menyebut taijin kepadaku,” kata sang lurah dengan sikap angkuh.

Goan Ciang mengangguk-angguk. “Baiklah, maafkan kami, taijin karena kami belum tahu akan

peraturan itu. Biarpun kita belum pernah saling berkenalan, akan tetapi kami berdua sudah

mendengar nama besar Koa-taijin dan kami mendengar bahwa dalam masa yang tidak aman ini, taijin

membutuhkan bantuan orang-orang yang boleh diandalkan. Nah, kami berdua adalah kakak beradik

seperguruan yang baru saja tamat belajar silat dan kalau taijin dapat menerima kami sebagai

pengawal, maka kami tanggung bahwa keselamatan dan keamanan taijin akan terjamin.”

Mendengar ucapan itu, Lurah Koa otomatis menengok dan memandang kepada Bong Kit. Keduanya

bertemu pandang dan wajah Bong Kit menjadi semakin buruk, kehitaman karena dia marah sekali

 

mendengar dua orang pemuda itu melamar untuk menjadi pengawal. Lurah Koa lalu tertawa bergelak

dan kembali memandang kepada dua orang pemuda itu.

“Ha-ha-ha, kalian ini dua orang bocah sungguh tekebur. Keamananku sudah terjamin dan tidak

akan ada orang yang berani mengacau di dusun kami ini! Kami tidak membutuhkan pengawal baru,

karena kami sudah mempunyai dua losing orang pengawal yang amat kuat dipimpin oleh Bong Kit ini,

selain itu, juga dua orang putera kami adalah pendekar-pendekar yang tak terkalahkan.”

Cu Goan Ciang kembali saling pandang dengan Shu Ta dan mereka tersenyum geli mendengar

kesombongan itu keluar dari mulut sang lurah. Memang sudah mereka perhitungkan kemungkinan

sambutan seperti itu, maka sesuai dengan rencana mereka, kini Shu Ta yang menjawab. “Akan

tetapi, Koa-taijin, bagaimana mungkin taijin mempercayakan keselamatan taijin sekeluarga kepada

dua losing orang pengawal yang dipimpin oleh seorang macan ompong seperti itu? Ya, macan ompong.

Memang kelihatannya saja dua losin orang pengawal taijin itu ganas dan kuat, namun mereka itu

hanyalah sekelompok macan ompong yang tidak bertaring tidak berkuku lagi.”

“Bocah sombong! Berani engkau menghina pengawalku yang dua losin itu?” Lurah Koa berseru

marah sedangkan Bong Kit mengepal tinjunya yang besar sambil melotot kepada Shu Ta.

“Koa-taijin,” kata Cu Goan Ciang. “Sute sama sekali tidak menyombongkan diri, tidak membual

atau menghina para pengawal taijin. Kalau muncul gangguan orang jahat di dusun ini, pasti pengawalpengawal

taijin tidak akan berdaya dan keselamatan taijin sekeluarga akan terancam. Untuk

meyakinkan hati taijin, bagaimana kalau kami berdua mengadakan percobaan untuk menguji

penjagaan keamanan terhadap keluarga taijin?”

Lurah Koa berkerut dan matanya memandang tajam penuh selidik. “Percobaan apa yang

kaumaksudkan? Jagalah kata-kata kalian, atau aku akan menyuruh pengawal unutk menangkap kalian

dan menghajar kalian!”

“Sekali lagi, kami tidak bermaksud menghina, melainkan bicara sebenarnya, taijin. Percobaan yang

saya maksudkan adalah begini. Biarlah kami berdua berperan sebagai dua orang penjahat yang

datang untuk menangkap dan menculik dua orang putera taijin. Dua losin orang pengawal itu boleh

mencoba menghalangi, juga dua orang putera taijin boleh melawan. Kami akan mengalahkan mereka

dan menangkap dua orang putera taijin dan membawa mereka menghadap taijin. Bagaimana?” kata

Cu Goan Ciang.

Lurah Koa terbelalak, lalu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, apakah kalian ini dua orang bocah yang

sudah gila? Kalian berdua akan menangkap dua orang putera kami dan mengalahkan semua

pengawalku dan dua orang puteraku. Kalian gila!”

“Kami gila atau tidak, kita sama lihat saja dalam percobaan ini, taijin,” kata Shu Ta.

“Akan tetapi, kalian dapat dihajar sampai mampus oleh para pengawal kami sebelum dapat

bertemu dua orang puteraku! Andai kata kalian dapat melampaui para pengawal, kalianpun akan

dihajar oleh dua orang puteraku yang lihai.”

“Koa-taijin, kami datang untuk minta pekerjaan, bukan untuk membuat ribut. Kami hanya ingin

membuktikan kemampuan kami dan membuktikan betapa lemahnya penjagaan para pengawal taijin.

Oleh karena itu, kami tidak akan mencelakai siapapun, dan kami juga tidak akan melukai dua orang

putera taijin.”

“Tapi ini berbahaya bagi kalian. Kalian dapat dihajar mampus oleh pasukan pengawal kami!”

“Kalau terjadi demikian, kami tidak akan penasaran, taijin,” kata pula Cu Goan Ciang.

“Taijin, serahkan saja dua bocah gila ini kepadaku untuk kuhancurkan mulut mereka yang lancang

sekarang juga!” kata Bong Kit yang sejak tadi hanya menahan kemarahannya. Kalau saja dia tidak

berada di depan majikannya, kalau dua orang bocah sombong itu bicara seperti itu di luar tadi, tentu

sejak tadi dia sudah turun tangan menghajar mereka.

“Koa-taijin,” kata pula Cu Goan Ciang dengan cepat. “Kami kira tidak ada yang merugikan taijin

dalam percobaan ini. Kalau kami gagal dan tidak mampu, sampai terbunuh oleh para pengawal taijin,

taijin tidak rugi dan kamipun tidak akan penasaran. Sebaliknya, kalau kami yang menang, taijin

mendapatkan kami sebagai pengawal yang dapat diandalkan, bukankah taijin pula yang untung?”

 

Mendengar ucapan masuk di akal ini, Lurah Koa mengangguk-angguk. “Baiklah, kami menerima usul

percobaan ini! Bagaimana dan kapan dimulainya?”

Tentu saja Cu Goan Ciang dan Shu Ta yang mengatur siasat agar mereka dapat menaklukkan lurah

ini dengan halus, girang melihat siasat mereka berjalan dengan baik. “Sekarang juga, taijin. Kami

berdua akan keluar dari dusun, kemudian kami memasuki dusun melalui pintu gerbang dan mulai saat

itu, semua pengawal taijin boleh menghalangi kami. Kami akan terus masuk dan mencoba untuk

menangkap kedua orang putera taijin. Tentu saja merekapun boleh bersiap siaga melawan kami.

Bagaimana?”

Lurah Koa tertawa, juga kini Bong Kit tertawa, karena mereka menganggap dua orang pemuda ini

gila atau setidaknya juga terlalu sombong dan tidak tahu diri.

“Baik, baik, kita mulai sekarang juga. Nah, keluarlah kalian dari dusun ini agar kami dapat

membuat persiapan,” kata sang lurah.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta lalu keluar dari gedung itu, terus berjalan cepat keluar dari dalam

dusun Cang-cin. Bong Kit mengumpulkan semua anak buahnya yang dua losing banyaknya dan

menceritakan bahwa ada dua orang pemuda gila yang melamar menjadi pengawal dan kini

menyombongkan diri untuk diuji, yaitu mereka mencoba untuk menculik dua orang putera lurah dan

akan menghadapi mereka semua sebagai lawan! Mendengar ini, dua losing pengawal itu tertawa geli,

akan tetapi juga marah karena mereka menganggap dua orang pemuda itu sombong dan memandang

rendah mereka. “Kalau kita mengeroyok mereka, kita hajar mereka habis-habisan, bahkan kalau

mereka mampuspun, Lurah Koa tidak akan marah kepada kita,” kata Bong Kit kepada mereka.

Sementara itu, Cu Goan Ciang dan Shu Ta, seperti yang mereka rencanakan, keluar dusun dan

menemui warga dusun yang masih sibuk bekerja di sawah ladang. Kepada semua warga dusun, mereka

menyatakan bahwa mereka berdua akan menandingi pasukan pengawal Lurah Koa, dan mereka berdua

akan menaklukkan sang lurah agar kesewenang-wenangan dan penindasan terhadap warga dusun itu

dapat dihentikan. Dua orang pemuda itu menganjurkan agar seluruh penduduk menjadi penonton dan

menyaksikan bagaimana mereka berdua akan mengalahkan semua pengawal, dan menangkap dua

orang pemuda putera sang lurah.

Mendengar ini, tentu saja semua warga dusun menjadi terkejut bukan main. Apa lagi ketika kakek

Coa muncul dan dengan lantang berteriak memberitahu bahwa pemuda yang tinggi tegap dan gagah

itu adalah Siauw Cu, yang delapan tahu lalu kematian orang tuanya kemudian menjadi penggembala

ternak milik Lurah Koa dan kemudian melarikan diri karena memukuli dua orang putera lurah itu dan

menjadi buronan yang tak pernah dapat ditemukan para kaki tangan sang lurah. Warga dusun kini

mengenal Cu Goan Ciang sebagai Siauw Cu dan merekapun semakin geger. Ada yang menjadi gembira

dan penuh semangat mendukung usaha Siauw Cu untuk membebaskan mereka dari penindasan, ada

pula yang ketakutan, takut kalau terbawa-bawa dan mereka akan menerima hukuman dari para

pengawal yang galak dan ganas. Akan tetapi, akhirnya sebagian besar warga dusun itu kembali ke

dusun dan mengikuti dua orang pemuda itu dari belakang untuk melihat apa yang akan terjadi.

Ketika dua orang pemuda murid Siauw-lim-pai itu memasuki pintu gerbang, seperti yang sudah

mereka duga, mereka dihadang oleh sekelompok penjaga keamanan yang jumlahnya lima orang.

Melihat kedua orang muda itum seorang di antara para penjaga memukul kentungan dan berlarilarianlah

para pengawal yang lain ke pintu gerbang itu. Kiranya, Bong Kit telah membagi-bagi

pasukannya untuk melakukan penjagaan di empat penjuru untuk menghadang. Kiranya, dua orang

pemuda itu memegang janji, masuk melalui pintu gerbang dan tidak menggunakan akal menyelunduo

seperti yang mereka khawatirkan. Karena bunyi kentongan itu, maka sebentar saja Cu Goan Ciang

dan Shu Ta yang sudah memasuki pintu gerbang, terkepung oleh dua losin petugas keamanan yang

dipimpin oleh Bong Kit yang berdiri dengan garang, dengan senyum sinis karena dia yakin bahwa dua

orang ini tidak mungkin akan dapat menandingi anak buahnya yang dua losin orang banyaknya, apa

lagi hendak menculik dua orang kongcu yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi dari pada dia

sendiri.

 

“Ha-ha-ha-ha, bocah-bocah sombong. Hendak kulihat, apa yang dapat kaulakukan terhadap kami

dua puluh lima orang?” Dia melihat pula betapa semua warga desa berdatangan memasuki pintu

gapura dengan sikap takut-takut akan tetapi juga ingin tahu. Melihat ini, Bong Kit tidak marah,

bahkan dengan gembira dia berteriak kepada mereka, “Haiii, kalian semua, kebetulan kalian pulang

dan dapat melihat keramaian. Dua orang bocah lancang ini ingin menjadi pengawal dan mengalahkan

kami, ha-ha-ha. Kalian lihatlah betapa kami akan menghajar mereka. Kalian boleh nonton dan nanti

segera kembali ke sawah untuk bekerja!”

Melihat lagak Bong Kit, Shu Ta sudah hendak turun tangan, akan tetapi suhengnya berbisik,

“Tunggu dulu. Lihat siapa yang datang, biar mereka menyaksikan agar mereka menyadari kekuatan

kita.”

Shu Ta mengangkat muka memandang dan dia melihat betapa Lurah Koa datang bersama dua

orang pemuda yang berpakaian mewah dan berwajah tampan karena mereka itu pesolek. Mudah

diduga siapa dua orang pemuda itu. Tentulah dua orang putera Lurah Koa. Di pinggang mereka

berdua tergantung sebatang pedang dan langkah mereka dibuat-buat seperti langkah seorang

pendekar asli, mirip langkah harimau.

Lurah Koa telah tiba di situ dan melihat dua orang pemuda itu sudah dikepung semua anak

buahnya, diapun tersenyum mengejek. “Kalian sudah dikepung, dan di sini dua orang anakku telah

siap siaga. Bagaimana kalian hendak menculik mereka? Ingin sekali aku melihatnya!”

Inilah yang dikehendaki Cu Goan Ciang dan Shu Ta. Semua telah berkumpul di situ dan warga

dusun juga telah berkumpul untuk menjadi penonton dan saksi. Cu Goan Ciang tersenyum, lalu

berkata lantang. “Koa-taijin, lihatlah betapa semua anak buahmu tidak ada gunanya. Dalam waktu

singkat, aku dan sute akan mengalahkan mereka!”

Setelah berkata demikian, Cu Goan Ciang dan Shu Ta bergerak ke depan. Para tukang pukul atau

jagoan pengawal lurah itu menyambut dengan pengeroyokan. Mereka, dipimpin oleh Bong Kit, selain

memandang rendah dua orang pemuda itu, juga tentu saja merasa malu kalau harus mengeroyok dua

orang yang tidak bersenjata itu denggan menggunakan senjata tajam pada hal jumlah mereka sudah

demikian banyaknya.

Para warga dusun yang berkumpul di situ dan menjadi penonton dari jarak yang cukup jauh,

terbelalak dan merasa khawatir sekali. Bagaimana mungkin dua orang pemuda itu akan mampu

melawan para tukang pukul yang sedemikian banyaknya? Mereka sudah mengenal benar keganasan

dan kekejaman para tukang pukul itu. Tentu tak lama lagi kedua orang pemuda itu akan terkapar di

atas tanah, berlumur darah, mungkin tewas.

Akan tetapi, mereka semakin terbelalak dan menahan napas ketika melihat betapa setiap kali dua

orang pemuda itu bergerak, pasti ada pengeroyok yang terpelanting! Dalam beberapa gebrakan saja,

dua orang pemuda itu telah membuat delapan orang pengeroyok terlempar dan terpelanting.

Bong Kit menjadi marah sekali kepada anak buahnya yang dianggapnya tidak becus. Sambil

mengeluarkan suara gerengan seperti seekor beruang, dia sendiri terjun dan dengan tubuhnya yang

tinggi besar dia menerjang ke arah Goan Ciang. Kedua lengan yang panjang itu, dengan kedua tangan

terbuka, seperti hendak menerkam ke arah kedua pundak pemuda itu. Melihat serangan yang hanya

mengandalkan tenaga seperti seekor binatang buas ini, Cu Goan Ciang mengelak ke samping dan pada

saat tubuh lawan terjerumus ke depan, kakinya menyambar, ujung sepatunya mencium sambungan

lutut kanan dan tak dapat dicegah lagi, Bong Kit jatuh berlutut. Sebelum dia mampu bangkit, sebuah

tamparan hinggap di pundaknya dan Bong Kit merasa seperti disambar petir, tubuhnya terpelanting

keras dan sejenak dia menjadi pening.

Kalau saja Bong Kit bukan orang yang selalu mengandalkan kekerasan dan memandang rendah

orang lain, tentu dia akan menyadari bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih kuat dari

padanya. Namun, dia biasanya selalu menang, selalu ditakuti orang, apa lagi mengandalkan banyak

anak buahnya. Setelah mengguncang kepala dan mengusir kepeningan kepalanya, dia bangkit berdiri,

mencabut pedangnya dan berteriak kepada anak buahnya untuk membunuh dua orang pengacau itu!

 

Sudah ada sepuluh orang yang terpelanting dalam gebrakan pertama itu, maka para pengeroyok

itupun menjadi jerih dan begitu mendengar aba-aba Bong Kit yang telah mencabut pedang, mereka

semuapun mencabut senjata mereka. Ada yang memegang golok, pedang, tombak, ruyung dan mereka

kini mengepung dua orang pemuda itu dengan sikap bengis dan mengancam. Mereka yang tadi

terpelanting juga sudah bangkit dan siap menerjang karena memang Goan Ciang dan Shu Ta tidak

berniat melukai mereka.

Melihat betapa dua puluh lima orang itu sudah memegang senjata semua, Goan Ciang lalu

berteriak ke arah kepala dusun yang masih berdiri didampingi dua orang puteranya. “Koa-taijin,

lihatlah betapa tidak ada gunanya semua pengawal tai-jin, hanya mengandalkan kekerasan saja tanpa

memiliki kepandaian yang berarti!”

Mendengar seruan ini, tentu saja Bong Kit menjadi marah. Dia menggerakkan pedangnya dan

memberi isarat kepada para pengikutnya. Ributlah dua puluh lima orang itu mengepung dan

mengeroyok Goan Ciang dan Shu Ta. Dua orang pemuda ini maklum bahwa dikeroyok demikian

banyaknya orang yang memegang senjata tajam, mereka tidak boleh lengah. Merekapun

menggerakkan kaki tangan dan berkelebatan di antara para pengeroyok. Terdengar teriakanteriakan

dan senjata-senjata itu terlepas dari tangan pemegangnya, jatuh berkerontangan dan

bagaikan serumpun alang-alang dibabat, dua puluh lima orang itu, termasuk Bong Kit, berpelantingan

dan jatuh bangun! Mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerang lagi karena

didahului oleh gerakan dua orang muda itu yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi.

Tentu saja Lurah Koa terbelalak dan terkejut bukan main. Apa lagi ketika dua bayangan itu

setelah merobohkan semua pengeroyok, tiba-tiba berkelebat dan tahu-tahu telah berada di

depannya.

“Maafkan ji-wi kong-cu (tuan muda berdua), kalian terpaksa menjadi tawanan kami!” kata Goan

Ciang.

Dua orang pemuda itu marah sekali. Biapun mereka juga terkejut melihat betapa dua orang

pemuda itu mampu merobohkan semua pengeroyok, namun mereka berdua bukan orang-orang lemah.

“Singgg…!” Keduanya sudah mencabut pedang masing-masing. Tadi mereka sudah mendengar dari

ayah mereka bahwa dua orang pemuda itu melamar sebagai pengawal dan kini sedang diuji

kemampuan mereka dengan dikeroyok dua puluh lima orang pengawal yang hendak mencegah mereka

berdua menawan kedua orang putera lurah!

“Hemm, jangan kira mudah menawan kami berdua!” bentak Koa Hok dan diapun sudah menyerang

Goan Ciang dengan tusukan pedangnya. Adiknya, Koa Sek, juga sudah memutar pedang dan

menyerang Shu Ta.

– ——————————————————————————————————

Kesenangan adalah kekuasaan. Kekuasaan memungkinkan nafsu yang menguasai diri manusia untuk

mencapai segala yang dikehendakinya, dan mencapai segala yang dikehendaki tentu saja

mendatangkan kesenangan bagi diri pribadi. Kekuasaan juga membuat kira merasa bahwa diri kita

penting, berarti, menonjol. Tanpa ada kekuasaan atas siapa saja, baik atas orang-orang yang

berkedudukan lebih rendah dari pada kita, bawahan kita, keluarga kita, anak-anak kita, tanpa

adanya perasaan bahwa kita berkuasa atas mereka, maka hidup ini akan terasa kosong, tidak ada

artinya, sepi dan membosankan. Seperti juga milik atau kelebihan yang lain pada diri kita, kekuasaan

juga memabokkan, dapat membuat kita lupa diri dan melakukan apapun demi untuk mempertahankan

atau merampas kekuasaan itu. Kekuasaan, seperti kelebihan lain, mengikat dan membelenggu kita

kuat-kuat sehingga orang yang memiliki kekuasaan tak dapat lagi melepaskan diri, bahkan tidak

dapat lagi menikmati hidup tanpa kekuasaan. Ada yang begitu kehilangan kekuasaan, orang merasa

demikian kosong, tidak berarti, duka dan sengsara. Ada pula yang mempertahankan kekuasaan

dengan taruhan nyawa. Demikian lemahnya kita kalau sudah dicengkeram dan dikuasai nafsu

sehingga segala yang sesungguhnya hanya menjadi pelengkap hidup, seperti kekayaan, kedudukan,

kekuasaan dan sebagainya, kita jadikan yang terpenting, lebih penting dari pada nyawa!

 

Mendengar, bahwa mereka telah diterima sebagai pengawal, Cu Goan Ciang dan Shu Ta memberi

hormat dan Cu Goan Ciang berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Koa-taijin. Akan tetapi, kalau

kami hanya diterima sebagai pengawal, lalu siapa yang akan menjadi kepala atau komandan kami,

orang yang lebih pandai dari kami?”

Lurah itu saling pandang dengan kedua orang puteranya, lalu menoleh kepada Bong Kit yang hanya

menunduk dengan muka merah karena dia sudah merasa kalah dan tidak lagi berani berlagak.

“Baik, kalian berdua kami angkat menjadi kepala pengawal, memimpin dua puluh lima orang

pengawal kami yang sudah ada,” kata Lurah Koa.

Cu Goan Ciang mengangguk-angguk dan sesuai dengan rencana dia dan sutenya, dia lalu berkata,

“Baik, taijin. Kami berdua menerima pengangkatan itu, dan demi keamanan dusun ini terutama

keluarga taijin, kami berdua akan mengadakan peraturan baru. Untuk itu, kami mohon taijin dan ji-wi

kong-cu untuk berunding dengan kami di rumah taijin, sedangkan kepada semua pengawal, kami

perintahkan untuk berjaga di luar.”

– ———————————————————————————————————-

-Lurah Koa menyewa tukang pukul, dan hal ini dia lakukan karena pertama, hartawan Ji memiliki juga

tukang-tukang pukul yang banyak dan kuat di samping puterinya yang lihai dan banyak membikin

pusing karena gadis itu terkenal suka menentang tindakan para tukang pukulnya terhadap warga

dusun. Dan kedua, hartawan itu telah menggunakan banyak uangnya untuk menjalin persahabatan

dengan para pembesar yang berkuasa di kota, maka diapun tidak berani sembarangan bertindak

takut akan turun tangannya para pejabat tinggi yang akan melindungi hartawan Ji. Akan tetapi

sekarang, dengan adanya dua orang pemuda perkasa yang amat lihai ini, terbuka jalan baginya untuk

memaksa hartawan Ji bertekuk lutut dan mengakui kekuasaannya di dusun itu.

Koa Hok dan Koa Sek duduk di kanan kira ayahnya. Dua orang pemuda inipun mengamati Cu Goan

Ciang dan Shu Ta dengan penuh perhatian dengan hati yang kagum dan juga penasaran. Tadinya,

mereka berdua menganggap bahwa mereka berdua merupakan orang-orang paling jagoan di dusun

itu. Kini, tidak disangka sama sekali, kebanggaan hati mereka itu hancur lebur di tangan dua orang

pemuda ini! Akan tetapi, untuk melampiaskan rasa penasaran, mereka tentu saja tidak berani. Semua

anak buah mereka telah kalah, juga mereka berdua bukanlah lawan dua orang pemuda perkasa ini!

Seperti juga jalan pikiran ayah mereka, karena merasa tidak mungkin memaksakan kehendak mereka

kepada dua orang pemuda ini, mereka berniat untuk menarik mereka menjadi kawan yang setia dan

yang menurut permintaan mereka, dan seperti Lurah Koa, dua orang pemuda yang selalu dimanja

itupun memikirkan apa yang akan dapat mereka capai dengan bantuan dua orang pengawal baru ini.

“Nah, Cu Goan Ciang dan Shu Ta, setelah kalian kini menjadi pimpinan pasukan, berarti menjadi

tangan kanan kami, lalu apa yang akan kalian lakukan, peraturan apa yang akan kalian adakan untuk

menjamin keselamatan keluarga kami? Sebagai balas jasa, kalian akan kami beri rumah tinggal yang

indah, pakaian baru dan banyak, juga segala kebutuhan kalian akan kami penuhi!” kata sang lurah

dengan wajah berseri.

“Koa-taijin, sebelum kami membuat peraturan baru, kami ingin mengingatkan taijin akna keadaan

taijin di sini. Taijin menjadi kepala dusun, menjadi lurah di sini karena adanya rakyat atau warga

dusun Cang-cin, bukan? Andai kata dusun ini kosong tidak ada penduduknya, hanya keluarga taijin

sendiri, apakah taijin akan tetap menjadi lurah?”

Pertanyaan yang diajukan Shu Ta ini membuat sang lurah dan dua orang puteranya terbelalak.

Pertanyaan yang amat aneh, belum pernah selamanya pertanyaan seperti itu terpikir oleh mereka.

“Tentu saja tidak!” akhirnya lurah itu berkata sambil mengerutkan alisnya. “Seorang kaisar

sekalipun tentu tidak akan menjadi kaisar kalau tidak ada rakyatnya. Kenapa engkau mengajukan

pertanyaan seaneh itu? Apa maksudmu?”

Shu Ta tersenyum. “Tepat sekali, taijin. Bahkan seorang kaisarpun tidak akan menjadi kaisar

tanpa adanya rakyat. Berarti yang mengangkat kaisar, juga lurah, adalah rakyat. Tanpa ada rakyat,

takkan ada lurah, sebaliknya tanpa adanya lurah sekalipun, rakyat akan tetap hidup. Bukankah

begitu?”

 

Lurah itu semakin kecut hatinya, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat membantah. “Tentu saja,

andai kata aku tidak menjadi lurah, akupun menjadi rakyat biasa. Tapi apa maksudmu?”

“Begini, taijin. Pengertian ini jelas menunjukkan bahwa yang terpenting adalah rakyat. Lurah

diadakan untuk kepentingan rakyat, untuk mengatur keperluan rakyat, bukan sebaliknya, bukan

rakyat diadakan demi kepentingan lurah. Bukankah begitu?”

Kembali terpaksa Lurah Koa mengangguk-angguk. “Lalu?”

“Contohnya dusun Cang-cin ini. Kalau taijin sebagai lurah ingin hidup aman, harus rakyatnya dulu

dibikin aman hidup mereka, kalau lurahnya ingin makmur, harus rakyatnya dibikin makmur dulu, kalau

ingin senang, harus rakyatnya lebih dulu dibikin senang. Bagaimana mungkin lurahnya hidup aman

kalau kehidupan rakyatnya tidak aman?”

“Hemm, orang muda, apa sesungguhnya maksudmu? Bukankah dusun inipun dalam keadaan aman?

Rakyat di dusun ini tidak pernah diganggu penjahat. Mana ada penjahat berani masuk ke sini? Akan

kami hancurkan!”

Kini Cu Goan Ciang yang bicara. “Memang tidak ada penjahat dari luar masuk, taijin. Akan tetapi

di dalam dusun sendiri penuh dengan orang jahat!”

Mendengar ucapan Cu Goan Ciang itu, ayah dan dua orang anaknya itu saling pandang, kemudian

mereka terbelalak memandang kepada Goan Ciang dan hampir berbareng mereka berseru, “Tidak

mungkin! Mana ada orang jahat di sini?”

Goan Ciang tersenyum. “Mungkin bagi sam-wi (anda bertiga) mereka tidak jahat, akan tetapi

tanyalah kepada warga dusun. Dua puluh lima orang anggota pasukan keamanan itu melakukan

pemerasan, penindasan, penyiksaan, pemukulan bahkan tidak segan membunuh, tidak segan

mengganggu anak isteri warga dusun. Kalau perbuatan seperti itu bukan perbuatan penjahat, lalu

apakah harus dikatakan perbuatan baik?”

“Tapi mereka itu menjaga keamanan dan menghukum warga dusun yang melanggar peraturan,

tidak kami suruh melakukan kejahatan!” teriak sang lurah.

Goan Ciang tersenyum. “Mungkin taijin tidak menyuruh mereka, akan tetapi karena merasa

berkuasa, mereka bertindak sewenang-wenang. Orang-orang seperti mereka itu bagaikan anjinganjing

liar, kalau majikannya tidak memuaskan hati, mereka akan membalik dan menggerogoti

majikan sendiri.”

“Ahhh…!” Wajah lurah itu berubah. Tak pernah terpikirkan olehnya akan kemungkinan para

tukang pukulnya itu membalik dan mengganggu dia dan keluarganya. “Lalu… lalu apa yang harus kita

lakukan?”

“Kita tadi telah sependapat bahwa yang terpenting adalah kehidupan rakyat, yaitu warga dusun

ini, taijin. Taijin harus memakmurkan mereka, barulah kehidupan taijin sekeluarga akan makmur.

Karena itu, pertama-tama yang akan kami berdua lakukan adalah menyingkirkan orang-orang yang

menindas rakyat, yaitu dua puluh lima orang pengawal itu. Sekarang juga, kita harus memecat

mereka dan mengusir mereka dari dusun ini.”

Tiga orang itu terbelalak. “Tapi… tapi… tanpa mereka… siapa yang akan menjaga keamanan?”

teriak sang lurah.

“Hemm, lupakah taijin akan peristiwa tadi? Dua puluh lima orang itu hanya bisa sewenang-wenang

mengganggu rakyat atau warga dusun yang lemah dan tidak berdosa, akan tetapi sekali menghadapi

gangguan dari luar, baru kami berdua saja yang muncul, mereka sudah tidak ada artinya! Orangorang

macam itu yang taijin andalkan untuk menjaga keselamatan taijin sekeluarga?”

Lurah itu terpaksa mengangguk-angguk. “Tapi… tapi bagaimana kalau mereka menolok dan mereka

membalas dendam karena dipecat, lalu mengganggu dusun ini…?”

Shu Ta tertawa. “Ha-ha-ha, mana mereka berani, taijin! Biar mereka itu ditambah seratus orang

lagi, kalau mereka berani membikin kacau, akan kami hadapi berdua dan akan kami tumpas sampai

habis!”

“Nah, taijin tinggal memilih. Tetap menggunakan mereka dan kami akan pergi dari sini, atau

memecat mereka dan kami berdua membantu taijin?” tanya Goan Ciang.

 

“Terserah… terserah… silahkan, akan tetapi kalian yang memecat mereka, bukan kami…”

“Mari kita keluar dan melaksanakan keputusan pertama ini sekarang juga, taijin,” kata Cu Goan

Ciang. Terpaksa lurah itu bersama dua orang puteranya ikut keluar dan mereka berlima berdiri di

beranda depan. Cu Goan Ciang memberi isarat kepada dua puluh lima orang petugas keamanan itu

untuk berkumpul dan mendekat. Mereka datang berbondong dan berkumpul di bawah anak tangga

beranda, dipimpin oleh Bong Kit. Mereka siap menerima perintah dari pimpinan baru itu. Kini mereka

tidak merasa penasaran lagi, bahkan berbesar hati karena merasa mempunyai dua orang pimpinan

yang boleh diandalkan sehingga mereka tentu akan lebih berani dalam sepak terjang mereka, lebih

buas dari pada yang sudah-sudah.

“Kalian semua dengarlah baik-baik. Kami telah mengambil keputusan bahwa karena kami tidak lagi

membutuhkan tenaga kalian dua puluh lima orang, maka mulai detik ini kalian dipecat. Kalian boleh

membawa seluruh milik kalian dan hari ini juga kalian harus meninggalkan dusun Cang-cin dan tidak

boleh lagi memasuki dusun ini. Siapa berani masuk akan berhadapan dengan kami dan akan dihukum

berat. Nah, laksanakan!”

Tentu saja semua orang itu terbelalak dan terheran-heran, bagaikan disambar petir di siang hari

terang. Sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa akan terjadi perubahan yang begini

mendadak. Setelah terhenyak sejenak saking terkejut, mulailah mereka itu berisik dan bicara

sendiri riuh rendah, semua menyatakan sikap yang tidak mau menerima dan penasaran.

Melihat ini, Cu Goan Ciang mengeluarkan bentakan yang disertai tenaga khikang sehingga

terdengar lantang dan nyaring sekali, membuat lurah itu sendiri hampir terjengkang sehingga cepat

dirangkul kedua orang puteranya. “Diaaaamm!! Kalian tidak perlu merasa penasaran. Sepantasnya

kalian diusir dengan hajaran keras karena selama ini kalian tiada ubahnya sekelompok perampok

jahat yang mengganggu keamanan dusun ini! Koa-taijin masih berlaku murah hati dan hanya memecat

dan mengusir kalian. Kalau ada yang masih penasaran, boleh maju dan menghadapi kami!”

Ditantang seperti itu, tentu saja tidak ada yang berani maju. Biarpun mereka merasa marah,

penasaran dan sakit hati, namun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi dua

orang pemuda itu.

Shu Ta menyusulkan ancamannya. “Kalau di antara kalian ada yang merasa sakit hati dan

mendendam, lalu datang mengganggu dusun ini, kami tidak akan memberi ampun lagi dan akan

membunuh kalian!”

Para penghuni dusun itu hanya terbelalak dan terheran-heran melihat dua puluh kima orang,

dipimpin oleh Bong Kit, berbondong-bondong meninggalkan dusun Cang-cin sambil membawa buntalan

besar di punggung mereka dan di belakang mereka berjalan pula isteri dan anak-anak mereka. Tidak

kurang dari seratus orang, yaitu dua puluh lima orang tukang pukul berikut keluarga mereka,

meninggalkan dusun itu! Tentu saja di dasar hati mereka merasa girang seperti melihat sekumpulan

iblis meninggalkan dusun itu, akan tetapi juga terdapat perasaan khawatir seperti yang dirasakan

Lurah Koa kalau-kalau gerombolan tukang pukul itu akan membalas dendam. Mereka adalah orangorang

yang biasa mempergunakan kekerasan, berhati kejam sekali. Hanya hartawan Ji yang diamdiam

merasa gembira. Kalau Lurah Koa ditinggalkan semua tukang pukulnya, maka dialah yang

berkuasa di dusun itu!

Mendengar betapa dua orang pemuda yang ia jumpai di kuburan itu kini menjadi pengawal Lurah

Koa dan mengalahkan dua puluh lima orang tukang pukul sang lurah, bahkan kemudian memecat dan

mengusir semua tukang pukul bersama keluarga mereka meninggalkan dusun, diam-diam Ji Kui Hwa

merasa kagum. Akan tetapi, teringat akan peristiwa di kuburan, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu

bahwa ayahnya, sebagai hartawan di situ yang mempunyai banyak sekali sawah ladang, juga

mempunyai sedikitnya dua puluh orang tukang pukul yang biasa bertindak kejam terhadap para

petani. Ia sendiri sudah seringkali menentang tukang-tukang pukul ayahnya sendiri, dan sudah sering

membujuk ayahnya agar jangan menyuruh tukang-tukang pukul itu bersikap keras kepada para

petani, namun selalu bujukannya tidak berhasil. Dan kini ia mulai merasa khawatir.

 

Ketika Kui Hwa menghadap ayahnya, dia melihat ayahnya sedang mengadakan pertemuan dengan

Ban Su Ti, kepala para tukang pukul ayahnya dan lima orang anak buahnya. Ban Su Ti adalah seorang

laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh pendek dan berperut gendut, nampak kokoh

kuat, dan dialah orang kepercayaan hartawan Ji yang mengepalai kurang lebih dua puluh orang

tukang pukul. Melihat wajah mereka yang nampak tegang, Kui Hwa menduga bahwa mereka tentu

sedang membicarakan peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu, dan mungkin juga karena laporan

dua orang tukang pukul ayahnya yang tadi dihajar oleh dua orang pemuda asing itu.

“Ayah, apakah ayah sudah mendengar tentang Lurah Koa…”

“Kami sedang membicarakan urusan itu. Kebetulan engkau datang, Kui Hwa. Duduk di sini, aku

ingin mendengar pendapatmu pula. Juga ingin bertanya kepadamu tentang peristiwa yang terjadi di

tanah kuburan tadi.”

Kui Hwa duduk di dekat ayahnya dan cemberut. “Dua orang pembantu ayah tadi keterlaluan.

Kakek Coa tidak bekerja di sawah hari ini karena dia berkabung di makam isterinya. Dua orang itu

hendak memaksanya bekerja bahkan lalu memukulinya. Ini sudah keterlaluan, ayah! Andai kata tidak

ada dua orang pemuda asing itu muncul, aku sendiri kalau melihatnya tentu akan menghajar orangorang

kita sendiri.”

“Kui Hwa! Omongan apa yang kaukeluarkan itu? Kakek Coa dihajar karena dia memang membandel

dan sudah sepantasnya dia bekerja di sawah! Dia telah menerima banyak pertolongan dariku. Bahkan

ketika isterinya meninggal, siapa yang memberinya uang sehingga dia dapat mengubur mayat

isterinya dan membayar semua keperluan sembahyang? Aku! Ketika terjadi musim kering, siapa yang

memberi pinjaman kepadanya untuk makan setiap hari dan untuk membeli benih padi? Aku! Tidakkah

sudah sepatutnya kalau dia kini bekerja untukku? Dia membandel, membangkang, sudah sepantasnya

kalau dia dihajar!”

“Ayah, aku tahu semua itu. Aku tahu pula kakek Coa telah membayar dan melunasi semua

hutangnya kepadamu berikut bunganya yang berlipat kali lebih besar dari pada jumlah pinjaman.

Sawah ladangnya telah dibayarkan kepadamu, semuanya telah habis berpindah tangan kepadamu.

Ayah, sudah sepatutnya kalau sebagai seorang hartawan ayah menolong penghuni dusun yang miskin,

kenapa ayah ingin memperbesar kekayaan dengan jalan memeras rakyat?”

“Apa kau bilang? Memeras rakyat? Kau tahu, yang kaumakan sejak engkau lahir, pakaiannmu itu,

perhiasan, semua isi rumah ini, semua itu adalah hasil usahaku! Itu yang kaukatakan hasil

pemerasan?”

Kui Hwa menarik napas panjang. Percuma saja mengingatkan ayahnya yang selalu merasa benar

sendiri. “Sudahlah. Ayah. Sekarang muncul dua orang pendekar muda itu di dusun kita. Mereka telah

menguasai Lurah Koa, mengusir semua tukang pukulnya. Nah, apa yang harus ayah lakukan? Aku yakin

bahwa mereka berdua pasti akan menentang semua sikap anak buah ayah yang kadang terlalu keras

terhadap penghuni dusun.”

“Justeru kami sedang membicarakan urusan itu. Kui Hwa, kiranya tidak percuma saja aku

mengeluarkan banyak sekali uang untuk mengundang guru-guru silat dari kota yang jauh dan

mendidikmu. Engkau harus menggunakan kepandaiannmu untuk membantu ayahmu.”

“Bantuan apa yang dapat kuberikan, ayah? Apa yang ayah rencanakan?” tanya Kui Hwa.

“Dengar, Kui Hwa. Peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu justeru amat baik dan

menguntungkan kita. Kitalah yang terkuat di dusun ini sekarang, setelah Lurah Koa tidak mempunyai

anak buah lagi.”

“Tapi, ayah di sana ada dua orang pemuda itu…”

“Ji-siocia (nona Ji), urusan dua orang bocah itu, saya yang akan membereskan kalau mereka

berani banyak ulah di dusun ini,” kata Ban Su Ti si gendut dengan sikap sombong.

Kui Hwa memandang dengan alis berkerut dan mata marah. “Huh, siapa percaya bualanmu? Dua

orang suhengku (kakak seperguruanku), yaitu kakak beradik Koa saja tidak mampu menandingi

mereka. Apa lagi engkau! Melawan akupun engkau tak mampu menang!” bentaknya.

 

“Tidak salah, siocia, kalau saya maju sendiri. Akan tetapi kalau anak buah saya lima puluh orang,

pasti kita akan dapat menghancurkan dua orang itu!” bantah Ban Su Ti.

“Lima puluh orang? Anak buahmu hanya dua puluh orang, dan aku sangsi apakah kalain dapat

mengalahkan mereka. Ingat, dua puluh lima orang anak buah Lurah Koa juga tidak mampu

mengalahkan mereka. Sudahlah, aku tidak percaya bualanmu. Ayah, bagaimana rencana ayah? Kalau

rencana itu baik, tentu aku akan membantumu.”

“Begini, Kui Hwa. Kesempatan baik ini tidak dapat kulewatkan begitu saja. Kita harus memperkuat

diri dan memperbesar kekuasaan sehingga kelak, akulah yang menggantikan Lurah Koa menjadi orang

yang paling berkuasa di sini.”

“Ayah…!!”

“Dengar dulu! Ban Su Ti akan segera menghubungi Bong Kit dan kawan-kawannya yang telah diusir

oleh Lurah Koa. Kita tarik mereka sehingga mereka akan memperkuat pasukan pengawal kita.

Kemudian, kita tundukkan dua orang pengawal baru dari Lurah Koa itu dan dengan kekuasaan kita,

mudah saja menggulingkan Lurah Koa yang kita anggap tidak mampu lagi, dan aku menggantikan

kedudukannya sebagai lurah di sini.”

“Ayah, untuk apa harus begitu? Apakah ayah ingin aku membantu ayah sehingga aku harus

bermusuhan dengan kedua orang suhengku sendiri?”

“Tidak bermusuhan, anakku. Kita bahkan membantu Lurah Koa untuk menyingkirkan dua orang

pemuda yang menekannya! Nah, setelah dua orang pemuda itu berhasil ditundukkan atau diusir

pergi, semua penghuni akan melihat betapa lemah dan tidak mampunya Lurah Koa menjadi penguasa

di sini, dan akulah yang lebih pantas. Aku yang akan menggantikannyaa menjadi orang yang paling

berkuasa dan paling kaya di dusun ini. Lurah Koa akan menjadi pembantuku, dan seorang di antara

kedua puteranya, kalau memang kau suka, dapat saja menjadi mantuku.”

“Ihh, ayah!” Kui Hwa mengerutkan alisnya dan kedua pipinya menjadi merah. “Aku hanya melihat

mereka sebagai kakak seperguruan karena kebetulan saja Lurah Koa dan yang mendatangkan

seorang guru dari selatan untuk mengajar kami. Kalau ayah hendak mengandalkan puluhan orang

mengeroyok dua orang pemuda itu, aku tidak dapat membantumu, ayah. Suhu pernah memesan agar

aku yang sudah mempelajari ilmu silat darinya, bersikap gagah dan tidak melakukan kecurangan.

Mengeroyok dua orang dengan lima puluh anak buah? Huh, memalukan!”

Selagi hartawan Ji hendak membantah dan memarahi puterinya, tiba-tiba masuk seorang anak

buah dan segera memberi hormat kepada hartawan Ji, lalu berkata, “Saya mohon maaf kalau

mengganggu, akan tetapi saya hendak menyampaikan berita yang penting.”

“Cepat bicara!” hartawan Ji berkata.

“Seorang di antara kedua pemuda yang berada di rumah Lurah Koa, dia bernama Cu Goan Ciang

dan dia dahulu adalah anak dari dusun ini, dikenal dengan nama panggilan Siauw Cu, bekas

penggembala hewan milik Lurah Koa.”

“Ahhh!” hartawan Ji berseru dengan kaget dan heran, “Sekarang aku ingat. Siauw Cu, anak yang

kematian ayah ibunya, kemudian karena ditolong Lurah Koa lalu menjadi kacung yang bekerja di

sana!”

“Siapakah itu Siauw Cu, ayah?” Kui Hwa tertarik mendengar bahwa seorang di antara dua pemuda

yang lihai itu adalah anak yang berasal dari dusun ini.

“Dia dahulu, beberapa tahun yang lalu, adalah pemuda yatim piatu dari dusun ini. Miskin dan tak

berkeluarga. Dia bekerja pada Lurah Koa, akan tetapi pada suatu hari, dia berkelahi dengan kedua

orang putera Lurah Koa dan melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Lurah Koa karena dia memukuli

dua orang anak lurah itu sampai pingsan. Namun, pengejaran itu tidak ada hasilnya. Dan sekarang,

dia muncul lagi dan mengacau di rumah keluarga Koa. Nah, kaulihat, Kui Hwa. Dia anak yang jahat

sekali. Ketika kecil ditolong Lurah Koa, bahkan penguburan jenazah orang tuanya dibiayai oleh Lurah

Koa, kemudian dia diambil sebagai kacung, diberi pekerjaan sehingga dapat makan kenyang dan

pakaian utuh. Akan tetapi apa balasannya? Dia berkelahi dengan kakak beradik Koa, memukuli

 

mereka sampai pingsan lalu minggat. Sekarang, setelah dewasa, datang lagi dan membikin kacau

keluarga Koa yang pernah menolongnya!”

Terbakar juga hati Kui Hwa mendengar ini. Pemuda itu, seorang di antara dua pemuda itu,

sungguh tidak mengenal budi. “Yang manakah dia yang bernama Cu Goan Ciang atau Siauw Cu itu?

Yang brewokan atau yang tinggi?” Ia memandang kepada pelapor tadi.

“Yang tinggi tegap, nona.”

“Hemm, suatu waktu aku sendiri akan menghajarnya!” kata Kui Hwa.

“Kau bantu saja kami, Kui Hwa. Kelak kita serbu dan tangkap mereka, dan engkau boleh

menghajarnya sampai mati!”

“Tidak, ayah! Aku tidak mau menggunakan banyak orang melakukan pengeroyokan. Aku tidak mau

bertindak curang!” Setelah berkata demikian, dengan bersungut gadis itu meninggalkan ayahnya.

Setelah semua tukang pukul berikut keluarga mereka pergi meninggalkan dusun Cang-cin, Cu Goan

Ciang dan sutenya mengajak Lurah Koa dan kedua orang puteranya masuk dan bercakap-cakap di

ruangan dalam. Setelah mereka berlima duduk mengelilingi meja besar dan air teh, Goan Ciang

memandang kepada ayah dan dua orang anak itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia bertanya.

“Nah, sekarang Koa-cungcu (Lurah Koa) dan ji-wi kong-cu (kedua tuan muda), pandanglah aku

baik-baik dan coba ingat, apakah kalian bertiga tidak lagi mengenal aku?”

Ayah dan kedua orang anaknya itu terkejut dan terheran mendengar ucapan Cu Goan Ciang yang

mengubah sikapnya itu. Namun, mereka tetap tidak dapat mengingat siapa pemuda ini sesungguhnya,

sementara itu, Shu Ta hanya tersenyum dan minum tehnya, hanya menjadi penonton saja.

Goan Ciang memandang kepada kakak beradik Koa yang kini telah menjadi dua orang pemuda yang

gagah itu. “Koa Hok dan Koa Sek, lupakah kalian ketika kalian mengeroyok aku di luar dusun dahulu

itu, ketika aku sedang menggembala ternak milik ayah kalian?”

Dua orang pemuda itu mengamati wajah Goan Ciang, kemudian mereka saling pandang dan kejutan

pada pandang mata mereka menandakan bahwa mereka mulai dapat mengingat dan mengenal siapa

pemuda tinggi tegap yang duduk di depan mereka itu.

“Kau… Siauw… Siauw Cu…?” kata mereka hampir berbareng.

Goan Ciang mengangguk sambil tersenyum, dan Lurah Koa yang tadinya tidak percaya mendengar

seruan dua orang puteranya, kini baru tahu bahwa memang benar pemuda ini adalah Siauw Cu.

“Siauw Cu…! Kau… kau berani…” akan tetapi dia menghentikan kemarahannya ketika bertemu

pandang dengan mata Goan Ciang.

“Lurah Koa, sepatutnya aku harus menghukum engkau dan dua orang puteramu, akan tetapi

mengingat bahwa engkau pernah pula berbuat baik kepadaku dan kepada orang-orang di sini, maka

aku mengambil keputusan untuk memaafkanmu asal kalian dapat mengubah cara hidup yang sesat ini.

Engkau sebagai lurah dusun ini terlalu mabok akan kekuasaan dan kesenangan sendiri, tidak perduli

akan kesengsaraan rakyat penghuni dusun. Mereka sudah diperas dengan pinjaman berbunga oleh

hartawan Ji, dirampas sawah ladang mereka sebagai pembayaran hutang, akan tetapi bukan saja

engkau tidak perduli, bahkan engkau membebani mereka dengan pajak paksaan yang besar, demi

memperbesar kekayaanmu. Engkau dan hartawan Ji berdua telah memeras dan menghisap darah

penghuni dusun, seperti dua ekor lintah gemuk, seperti dua ekor serigala buas.”

“Tapi… tapi… Siauw Cu. Bukankah aku yang menolongmu ketika ibumu meninggal dunia, memberimu

peti mati dan memberimu pekerjaan dan…”

“Engkau memberi peti mati hanya karena ingin kubalas dengan tenagaku yang bekerja

menggembala ternakmu. Mengapa tidak kautolong ketika keluarga ayahku dilanda kebinasaan karena

kelaparan? Engkau sebagai kepala dusun tidak bertanggung jawab! Dan tahukah engkau kenapa

kedua orang puteramu ini menggeletak pingsan di luar dusun itu?”

“Kata mereka… karena kaupukuli…”

“Bagus! Mereka sejak kecil belajar silat dan aku tidak boleh dekat, bagaimana mungkin aku berani

memukuli mereka? Ketahuilah, karena aku lebih cepat dapat menguasai ilmu silat, mereka

membenciku dan ketika aku menggembala, mereka menghadangku dan merekalah yang memukuli aku.

 

Aku melawan dan mereka roboh pingsan. Dan engkau mengirim tukang-tukang pukulmu untuk mencari

aku, dan andai kata aku dapat ditemukan dan ditangkap, tentu engkau akan menyuruh tukang-tukang

pukulmu untuk menyiksa dan membunuhku.”

“Ah, tidak… Siauw Cu…”

“Sudahlah, akupun tahu akan segala yang kaulakukan melalui tukang-tukang pukulmu. Akan tetapi

aku bukan datang untuk membalas dendam. Aku hanya ingin agar semua penindasan terhadap

penghuni dusun ini dihentikan!”

“Siauw Cu, maafkan kami,” kata pula Koa Hok, diikuti oleh adiknya, Koa Sek.

“Bagus, kalian minta maaf, berarti kalian menyadari akan kesalahan kalian. Kalian, adalah pemudapemuda,

jangan mengikuti jejak ayahmu yang kotor, bahkan kewajiban kalian untuk mengingatkan

ayah kalian. Sekarang, semua tukang pukul sudah kita usir. Selanjutnya, semua sawah ladang yang

pernah kausita, harus dikembalikan kepada pemiliknya semula. Dan mengenai pajak, memang sudah

semestinya penghuni dusun yang berpenghasilan, dikenakan pajak untuk membangun dusun, akan

tetapi jangan sekali-kali menekan dan sewenang-wenang. Kalau semua ini tidak segera dilaksanakan

sekarang juga, kami berduapun tidak dapat bersikap lunak.”

“Baiklah… akan kulaksanakan kehendakmu, Siauw Cu,” kata Lurah Koa.

“Lurah Koa, aku bukan anak kecil Siauw Cu lagi, namaku Cu Goan Ciang. Tidak enak dipanggil Siauw

Cu seolah aku masih seorang kanak-kanak. Nah, aku percaya bahwa engkau akan bertindak jujur dan

benar-benar hendak bertaubat. Oleh karena itu, pelaksanaan pengembalian tanah sawah kepada

para pemiliknya semula, kuserahkan kepada kakak beradik Koa!”

“Suheng, mereka ini sudah terbiasa bertindak curang, bagaimana kalau pelaksanaan itu tidak

berjalan dengan seadilnya dan mereka menipu para petani?” tiba-tiba Shu Ta berkata.

“Tidak, sute. Mereka adalah dua orang pemuda yang tentu saja akan berani mengubah sikap dan

tindakan masa lalu yang keliru, dan memulai dengan kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan

mereka. Pemuda-pemuda yang sudah mempelajari ilmu silat yang cukup baik, sudah sepatutnya

menjadi orang-orang gagah perkasa berwatak pendekar, tidak pantas menjadi penjahat yang curang

dan kejam!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi isarat dengan pandang matanya kepada Shu Ta.

Diam-diam Shu Ta kagum kepada suhengnya. Suhengnya ini, ternyata pandai bersiasat untuk

membangunkan semangat orang, untuk memberi harapan kepada orang agar dapat hidup lebih baik

dan bermanfaat!

Perhitungan Goan Ciang memang tepat sekali dengan penyerahan tugas itu kepada dua orang

pemuda Koa itu. Dua orang pemuda itu, yang tadinya dengan munculnya Siauw Cu merasa amat

terpukul dan terbanting, merasa tidak berarti, kini mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka,

merasa diri penting. Bahkan merekalah yang menghapus keraguan ayah mereka yang tidak rela

mengembalikan sawah ladang kepada penghuni dusun. Mereka berdua segera membuat daftar, dan

membuat pengumuman, memanggil para penghuni dusun yang bersangkutan dan mengembalikan hak

milik atas sawah ladang yang dahulu disita oleh kepala dusun dari mereka sebagai pembayar hutang

dan pajak.

Gegerlah seluruh dusun! Dan mereka tahu bahwa semua ini berkat pembelaan Siauw Cu. Mereka

bersyukur sekali dan memuji-muji Siauw Cu sebagai dewa penolong. Akan tetapi masih banyak di

antara mereka yang masih merasa sengsara karena tertimbun hutang mereka kepada hartawan Ji

yang kini bahkan memaksa mereka membayar hutang dengan tenaga mereka sebagai buruh tani

tanpa bayar, hanya sekedar diberi makan! Juga mereka yang dahulu terpaksa membayar hutang

mereka berikut bunganya kepada hartawan Ji dengan menyerahkan sawah ladang, kini masih belum

mendapatkan kembali tanah mereka seperti para penghuni yang menerima kembali tanah mereka

dari Lurah Koa.

“Hidup Cu-taihiap (pendekar Cu)!” terdengar seruan orang-orang di dusun itu. Kehidupan di hari

itu seperti dalam suasana pesta, kecuali mereka yang masih tertindas oleh kekuasaan Ji wan-gwe.

Dengan hati gembira Goan Ciang dan Shu Ta menyaksikan pengembalian tanah yang diatur oleh

kedua orang kakak beradik Koa, sedangkan Lurah Koa yang tidak berdaya ternyata jatuh sakit! Dia

 

tinggal di kamarnya saja, namun dia sudah benar-benar menyerah, bahkan diam-diam dia menyesali

semua sikap dan prilakunya selama ini. Dia terlalu gila kekuasaan, terlalu mabok kemewahan dan juga

dengan kekuasaannya dia mengumbar kesenangannya akan wanita cantik, melakukan pemaksaan dan

merampas anak isteri orang! Diam-diam diapun merasa terhibur dan timbul harapannya melihat sikap

dua orang puteranya yang memenuhi permintaan Goan Ciang dengan rela dan sepenuh hati. Mudahmudahan

mereka tidak seperti aku, pikirnya, agar kelak tidak harus memetik buahnya yang pahit

seperti aku.

Ketika Goan Ciang dan Shu Ta sedang menyaksikan pengembalian tanah yang dilakukan dua orang

kakak beradik Koa, tiba-tiba datang beberapa orang dusun berlari-larian menghampiri Cu Goan

Ciang. Wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, nampaknya mereka ketakutan sekali.

“Cu-taihiap… celaka… sungguh celaka…” teriak mereka setelah tiba dekat.

Cu Goan Ciang dengan sikap tenang bertanya, “Harap paman sekalian tenang. Apakah yang terjadi

maka paman kelihatan begitu ketakutan?”

Shu Ta juga ingin tahu, demikian pula Koa Hok dan Koa Sek. Seorang di antara orang-orang yang

datang berlarian itu, mewakili teman-temannya dan berkata, “Hartawan Ji… dia… dia mendatangkan

lagi semua jagoan bekas anak buah Lurah Koa yang telah diusir keluar dusun. Berbondong-bondong

mereka datang dengan lagak sombong, di sepanjang jalan menendangi penghuni yang menonton di

sepanjang jalan dan kini mereka semua memasuki perumahan hartawan Ji.”

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya dan Shu Ta menggeleng-geleng kepalanya, “Suheng, jelas ini

sebuah tantangan. Agaknya kita harus membersihkan penyakit kedua di dusun ini, hartawan Ji!”

Cu Goan Ciang mengangguk, “Agaknya demikian, sute. Akan tetapi kita harus mendidik penduduk

agar dapat membela diri terhadap penindasan penjahat. Koa Hok dan Koa Sek, kalian dengar laporan

mereka tadi?”

Dua orang kakak beradik Koa itu mengangguk.

“Kalau kalian sudah mendengar, lalu apa yang akan kalian lakukan?” tanya pula Goan Ciang.

Kakak beradik itu saling pandang, tertegun lalu memandang kembali kepada Goan Ciang. “Apa yang

dapat kami lakukan?” Koa Hok balas bertanya. “Kami tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Hemm, jawaban macam apa itu?” Kalian adalah putera-putera lurah di dusun ini yang

berkewajiban untuk mengatur dan menenteramkan dusun ini! Juga kalian adalah dua orang pemuda

yang sudah susah-payah mempelajari ilmu silat dan telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk

membuat kalian menjadi orang-orang gagah. Dan kini, melihat di dusun ini terancam penindasan

hartawan Ji yang mengumpulkan banyak penjahat sebagai anak buah, kalian mengatakan tidak dapat

berbuat apa-apa? Kalian harus bangkit dan menghadapi ancaman bahaya bagi dusun itu, kalian harus

menentangnya dan menghalau para penjahat dari dusun ini!”

“Maksudmu… kami harus melawan paman Ji?”

Ketika Goan Ciang mengangguk, Koa Sek yang berseru kaget. “Tapi itu tidak mungkin. Paman Ji

adalah sahabat baik ayah dan kedua, mungkin dia akan menjadi ayah mertua seorang di antara kami,

ke tiga, puterinya itupun adalah sumoi (adik seperguruan) kami! Dan ke empat, kami hanya berdua,

bagaimanan mungkin menentang anak buah paman Ji yang banyak apa lagi sekarang ditambah dengan

bekas anak buah ayah?”

Cu Goan Ciang memandang tajam kepada kakak beradik itu, dan sementara itu, di situ sudah

berkumpul banyak sekali penduduk dusun yang ketakutan mendengar berita bahwa semua tukang

pukul Lurah Koa kini telah dipanggil oleh hartawan Ji. Kemudian Cu Goan Ciang berkata dengan suara

lantang dan pandang mata tajam.

”Koa Hok dan Koa Sek, dengar baik-baik, kujawab satu demi satu alasanmu tadi. Pertama, kini

hartawan Ji bukan lagi sahabat ayah kalian yang telah sadar, bukan lagi sekutu hartawan Ji dalam

memeras penghuni dusun. Ke dua dan ke tiga, seorang gagah selalu bertugas untuk mempertahankan

kebenaran dan keadilan, meluruskan yang bengkok dan membela yang lurus tidak perduli calon

mertua, tidak perduli sumoi sendiri, kalau tidak benar haruslah dihadapi sebagai lawan. Yang

dimusuhi bukanlah orangnya melainkan perbuatannya. Membela yang melakukan kejahatan, sama saja

 

dengan kita sendiri membantu kejahatan itu. Alangkah akan baiknya kalau kalian dapat menyadarkan

hartawan Ji seperti halnya ayah kalian. Kemudian ke empat, untuk membela kebenaran dan keadilan,

kenapa kalian harus takut menghadapi puluhan orang anak buah hartawan Ji? Tengoklah, bukankah

semua saudara kita di dusun ini akan siap membantu kalian?” Cu Goan Ciang lalu menghadapi para

penghuni dusun yang berkumpul di situ, melihat dan mendengarkan, “Saudara-saudara sekalian, kalau

kakak beradik Koa bangkit melawan anak buah hartawan Ji, apakah kalian berani membantu mereka

demi keselamatan dusun kita dari penindasan?”

Serentak semua orang berteriak-teriak, “Berani! Berani!”

Cu Goan Ciang tersenyum. “Nah, mereka berani. Apakah kalian tidak berani, Koa Hok dan Koa

Sek?”

Kakak beradik itu saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. “Tentu saja kami berani!”

Shu Ta bertepuk tangan. “Bagus! Mari kita hajar mereka!”

Ketika semua penduduk menyambut ajakan Shu Ta itu dengan sorak-sorai, Cu Goan Ciang

mengangkat kedua tangan ke atas minta perhatian dan semua orang berdiam diri, memperhatikan.

“Saudara sekalian! Mulai sekarang, kalian sebagai warga dusun haruslah taat kepada Lurah Koa yang

telah menyadari kekeliruannya di masa lampau. Dia diwakili oleh dua orang puteranya yang gagah.

Ingat, ketaatan kalian adalah demi menjaga keamanan dusun kita sendiri. Kalau kalian, di bawah

pimpinan dua saudara Koa, bersatu padu, kiranya tidak mungkin ada gerombolan penjahat berani

mengusik dusun kita, tidak ada yang berani melakukan penindasan kepada kalian. Akan tetapi ingat,

kalian menghadapi perampok, haruslah bersikap benar dan menentang kejahatan. Jangan lalu kalian

membalas dengan jalan merampok pula sehingga tidak tahu lagi kita bedanya antara kalian dan para

perampok. Dan ingat pula, bukan maksudku mengajak kalian menjadi pembunuh kejam. Kita hajar

mereka, agar mereka bertaubat. Kita hajar kekuasaan sewenang-wenang dari hartawan Ji, bukan

hendak mencelakai dia dan keluarganya. Mengerti?”

“Mengerti!” teriak para penghuni dusun. Kalau mereka mendapatkan kembali tanah mereka, tidak

lagi ditindas dan dapat hidup aman dan tenteram di dusun mereka sendiri, hal itu sudah cukup, lebih

dari pada baik. Tentu saja mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk membalas dengan

jalan merampok dan membunuh. Mereka bukan orang-orang jahat.

“Saudara sekalian, sekarang harap kalian mempersenjatai diri, bukan dengan senjata tajam,

melainkan alat-alat pemukul saja dari kayu, atau tongkat, apa saja yang dapat kita pakai untuk

melawan, akan tetapi bukan untuk membunuh!” terdengar Koa Hok berteriak lantang, membuat Goan

Ciang dan Shu Ta saling pandang dan tersenyum girang. Para penghuni itu bersorak dan segera

mereka berlari ke sana-sini untuk mencari alat pemukul.

“Bagus, dengan semangat kalian, aku yang kalian akan menang,” kata Goan Ciang kepada kakak

beradik itu.

“Terima kasih, Goan Ciang. Akan tetapi kami membutuhkan bantuan engkau dan sutemu,” kata Koa

Sek.

Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika nampak berkelebat sesosok bayangan dan di situ telah

berdiri seorang gadis yang bukan lain adalah Ji Kui Hwa! Gadis ini berdiri tegak dengan wajah

marah, sepasang matanya bersinar dan mulut yang manis itu kini cemberut.

”Sumoi…!!” Koa Hok dan Koa Sek berseru hampir berbareng. Dalam suara mereka saja sudah

diketahui bahwa kakak beradik ini sayang kepada sumoi mereka.

“Hok-suheng dan Sek-suheng, aku datang bukan untuk berurusan dengan kalian, melainkan dengan

orang yang bernama Siauw Cu! Yang mana dia?” Ucapan itu terdengar ketus dan mata yang indah

tajam itu mengamati Goan Ciang dan Shu Ta.

Goan Ciang melangkah maju menghadapi gadis itu. “Akulah yang dipanggil Siauw Cu, nona.”

Sepasang mata itu berkilat dan mulut yang indah bentuknya itu tersenyum mengejek. “Bagus jadi

engkau yang bernama Siauw Cu, si sombong! Engkau dahulu adalah seorang anak dusun ini, akan

tetapi setelah minggat, kini engkau kembali ke sini, mengandalkan kepandaian untuk mengacau!

Jangan dikira bahwa semua orang takut padamu. Aku Ji Kui Hwa tidak takut!”

 

“Sumoi… tunggu dulu…!” seru Koa Sek sambil mendekati sumoinya. Akan tetapi, kibasan tangan

gadis itu membuat dia terpaksa mundur.

“Sek-suheng, jangan mencampuri urusanku dengan si sombong ini! Aku bahkan merasa heran

mengapa engkau akrab dengan pengkhianat ini!”

“Nona, apa sebabnya engkau mengatakan aku sombong, pengacau dan bahkan pengkhianat?” Goan

Ciang bertanya penasaran.

Kui Hwa berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang sehingga seolah ia hendak

mengukur pinggangnya yang ramping itu dengan jari kedua tangannya.

“Hemm, engkau masih bertanya? Engkau telah ditolong oleh Lurah Koa, sehingga selain jenazah

ibumu dapat dikubur selayaknya, juga engkau diberi pekerjaan menggembala ternak. Engkau diberi

makan dan pakaian secukupnya. Akan tetapi apa yang kaulakukan sebagai balas budi? Engkau

memukuli kedua suhengku ini sampai pingsan, lalu engkau melarikan diri, minggat tidak berani

mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Setelah bertahun menghilang, kini engkau kembali dan

engkau membalas budi paman Lurah Koa dengan menghinanya, bahkan membubarkan pasukannya dan

membuat kekacauan di dusun ini!”

“Sumoi, nanti dulu!” kini Koa Hok yang berteriak dan di meloncat ke depan gadis itu, menghalangi

gadis itu menentang Goan Ciang. “Engkau mendapatkan keterangan yang keliru! Memang Goan Ciang

memukuli kami berdua sampai pingsan, akan tetapi itu kesalahan kami berdua. Kami merasa iri

karena kalah pandai darinya, maka kami sengaja menghadangnya dan kami yang memukulinya untuk

melampiaskan penasaran dan iri. Dia hanya melawan untuk membela diri, dan setelah kami roboh, dia

melarikan diri, takut akan pembalasan ayah.”

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi Kui Hwa masih penasaran. “Kalau begitu, dia kini datang

untuk membalas dendam kepada kalian dan ayah kalian?”

“Tidak, sumoi!” kini Koa Sek yang bicara. “Goan Ciang datang untuk menyadarkan ayah dan kami

dari kekeliruan. Mungkin engkau sudah mendengar. Kami mengembalikan semua tanah penduduk yang

pernah dirampas ayah. Kami ingin menjadi pemimpin dan sahabat penduduk dusun kita, bukan

menjadi musuh mereka. Goan Ciang benar dan kami berterima kasih kepadanya!”

Kui Hwa merasa kecelik, akan tetapi ia memang galak dan keras hati, tidak mau sudah begitu saja.

“Jadi kalian mengangkat dia sebagai pimpinan?”

“Dia memang patut menjadi pemimpin kita, sumoi. Dia lihai, bijaksana dan adil, mengingatkan kami

akan pesan suhu bahwa kita harus membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah

tertindas…”

“Huh, aku tidak mau percaya begitu saja sebelum merasakan sendiri kelihaiannya.”

“Sumoi!” Kakak beradik itu berseru kaget.

“Cu Goan Ciang, majulah dan cabut senjatamu!” bentak Kui Hwa sambil mencabut pedangnya.

“Sumoi, jangan…!” kembali kakak beradik itu berteriak.

Shu Ta menegur mereka. “Sudahlah, saudara Koa berdua, tidak perlu mencegahnya. Nona ini

benar. Sebelum berkenalan dengan orangnya, memang lebih baik kalau lebih dahulu berkenalan

dengan ketangguhannya!”

Setelah dua orang kakak beradik itu mundur Goan Ciang melangkah maju, lebih mendekati gadis

itu. “Baiklah, nona. Kalau nona ingin menguji kepandaian, majulah. Nona boleh menggunakan

pedangmu, dan aku akan menghadapimu dengan dua tangan kosong saja.”

“Sombong, aku bisa membunuhmu!”

“Apa boleh buat, kalau aku kalah dan terbunuh olehmu, takkan ada yang menyesal, silahkan!”

“Sumoi, kau takkan menang!” teriak kakak beradik Koa itu.

Mendengar ini, kemarahan Kui Hwa bagaikan api disiram minyak. “Bagus, Cu Goan Ciang, kaulihat

pedangku dan jaga serangan ini!” pedangnya berkelebat dan gadis itu sudah menyerang dengan

tusukan ke arah dada Goan Ciang. Kalau Goan Ciang berani menghadapi gadis itu dengan tangan

kosong, hal ini bukan karena dia sombong, melainkan karena dia sudah tahu atau dapat

 

memperhitungkan sampai di mana tingkat kepandaian sumoi dari kakak beradik Koa yang sudah dia

ketahui kepandaian mereka itu.

Tusukan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Goan Ciang dan sampai sepuluh jurus serangan,

dia selalu mengelak, membuat Kui Hwa menjadi semakin penasaran. Pada jurus berikutnya, ketika

pedang itu menyambar. Goan Ciang memapaki dengan gerakan kedua tangan. Tangan kiri dengan

berani menyambut bacokan pedang itu, dan jari-jari tangannya mencengkeram pedang, lalu jari

tangan kanannya bergerak menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang. Kui Hwa

mengeluh dan tangan kanannya seperti lumpuh. Di lain saat, pedangnya telah dirampas Goan Ciang.

Akan tetapi, dasar dara ini seorang yang bandel dan tidak mau mudah mengalah, biar pedangnya

sudah dirampas, ia masih belum mau menerima kalah. Ia berteriak dan maju sambil mengirim

serangan dengan pukulan-pukulan. Goan Ciang hanya mundur sambil menangkis dan ketika tangan

kanan Kui Hwa memukulnya dengan jari terbuka, memukul dengan dorongan telapak tangan, dia

memapaki dengan telapak tangan kirinya.

“Dukkk!!” Tubuh gadis itu terjengkang roboh kalau saja Koa Hok tidak cepat menyambutnya dari

belakang dan mencegah gadis itu terbanting.

Wajah Kui Hwa menjadi merah sekali. “Sumoi, kami berduapun tidak mampu menandinginya, apa

lagi engkau seorang diri,” kata Koa Hok dan kini Kui Hwa yakin bahwa ilmu kepandaian Cu Goan Ciang

memang jauh lebih tinggi dari pada ilmunya, bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkat gurunya.

Pada saat itu, para penghuni dusun sudah berkumpul membawa kayu-kayu pemukul dan jumlah

mereka tidak kurang dari dua ratus orang. Agaknya seluruh penghuni dusun sudah berkumpul

sekarang, siap berperang! Melihat ini, Kui Hwa terkejut bukan main.

“Mau apa mereka itu? Suheng, apa yang hendak kalian lakukan?”

“Sumoi, penduduk dusun terancam, tidak tahukah engkau bahwa ayahmu telah memanggil kembali

dua puluh lima orang bekas anak buah ayah kembali ke dalam dusun ini dan agaknya menjadi anak

buah ayahmu?” kata Koa Hok.

Gadis itu bersungut. “Itulah yang membuat hatiku jengkel! Karena peristiwa di sini, ayah menjadi

marah dan dia mengumpulkan kekuatan, mengundang para jagoan yang diusir dari sini. Bahkan aku

sendiri tidak mampu mencegah, dan ketika aku memperingatkan ayah, dia malah marah kepadaku,

membuat aku jengkel dan aku mencari biang keladinya di sini!”

“Ah, engkau salah sangka, sumoi. Cu Goan Ciang adalah seorang pendekar yang hendak

membersihkan dusun ini dari gangguan dan berusaha agar kehidupan penghuni dusun menjadi

tenteram dan makmur. Kau ingat, sumoi, dia melakukan segala hal sesuai dengan nasihat guru kita

dahulu,” kata Koa Hok.

“Tapi, apa yang hendak kalian lakukan dengan para penduduk yang membawa alat pemukul itu?”

“Kami hendak menyerbu ke tempat ayahmu, sumoi,” kata Koa Sek.

“Apa?? Kalian hendak menyerang ayah? Kalian hendal menghancurkan ayah, dan membiarkan

orang-orang ini untuk merampok harta benda ayah dan membunuh ayah sekeluarga?” Wajah gadis

itu berubah pucat, lalu menjadi merah sekali.

“Jangan salah sangka, sumoi. Lihat, ketika Cu Goan Ciang datang bersama sutenya, diapun tidak

mengganggu ayah sekeluarga, hanya ingin menyadarkan kami. Yang dia usir hanyalah para tukang

pukul ayah karena merekalah yang mengganas di dusun ini. Sekarangpun, kami hendak menyerbu ke

sana bukan untuk memusuhi ayahmu, melainkan untuk menghajar para tukang pukul ayahmu dan

bekas tukang pukul ayah kami yang bergabung ke sana. Terhadap ayahmu, kami hanya ingin mengajak

agar dia menyadari kesalahannya selama ini dan dapat bekerja sama dengan kami untuk

memakmurkan dusun kita.”

“Benar, sumoi,” kata Koa Sek menyambung ucapan kakaknya. “Kita laksanakan semua nasihat guru

kita dahulu. Kita tegakkan kebenaran dan keadilan, kita bela yang lemah tertindas dan menentang

yang lalim dan yang menindas orang lain seperti ayah kami dan ayahmu. Kita harus menebus semua

kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita.”

 

Kui Hwa mengangguk-angguk. “Tapi… kalian berjanji tidak akan menyerang ayahku dan

keluargaku?”

“Kami berjanji!”

“Baik, kalau begitu, aku akan membantu kalian!”

Ucapan Kui Hwa itu disambut sorak-sorai para penduduk yang menjadi gembira bukan main. Gadis

itu memang mereka kenal sebagai seorang gadis yang wataknya baik, jauh berbeda dengan ayahnya,

bahkan sering membela mereka dari penindasan ayahnya sendiri. Ketika tadi melihat gadis itu

bertanding melawan Cu Goan Ciang, mereka merasa prihatin. Kini, mendengar betapa gadis itu

berpihak kepada mereka untuk mengusir semua tukang pukul dari tempat tinggal ayahnya sendiri,

tentu saja mereka semua merasa gembira bukan main dan berbesar hati. Juga memandang muka

gadis itu, merekapun tidak ingin mencelakai orang tua gadis itu, dan semua kebencian mereka

tumpahkan kepada para tukang pukul.

“Goan Ciang, apakah sekarang kita boleh berangkat?” tanya Koa Hok, Goan Ciang mengangguk,

gembira melihat betapa Koa Hok dan Koa Sek, kini dibantu Kui Hwa, siap memimpin para penghuni

dusun.

“Saudara sekalian,” teriaknya, “mari kita berangkat ke rumah hartawan Ji. Akan tetapi sekali lagi

ingat, kita tidak bermaksud membunuh, hanya mengusir para tukang pukul dari dusun ini untuk

selamanya. Jangan mengganggu keluarga Ji, jangan pula mengambil barang seperti perampok. Aku

sendiri yang akan menghukum siapa yang berani melanggar!”

Berangkatlah mereka berbondong-bondong menuju ke rumah keluarga Ji. Tentu saja berita ini

sudah sampai kepada hartawan Ji yang segera mengerahkan semua anak buahnya yang kini

berjumlah lebih dari lima puluh orang. “Hantam mereka! Hajar dan keroyok mereka, orang-orang tak

tahu diri itu!” Teriak sang hartawan dengan penuh semangat. Anak buahnya juga dengan penuh

semangat menyerbu keluar dari rumah itu, dengan senjata di tangan dan penuh semangat, penuh

dendam. Kini mereka berbesar hati, merasa bahwa jumlah mereka banyak sehingga mereka percaya

bahwa Cu Goan Ciang dan adik seperguruannya takkan mampu menandingi pengeroyokan banyak

orang.

Dua rombongan bertemu di jalan raya. Betapa kagetnya hati para pimpinan gerombolan tukang

pukul itu ketika dari depan, datang bagaikan banjir, banyak sekali penghuni dusun yang semua

memegang pentungan! Jumlah mereka jauh lebih banyak, ada dua ratus orang! Dan di depan mereka

berjalan dengan gagahnya, bukan hanya Cu Goan Ciang dan Shu Ta, melainkan juga Koa Hok, Koa Sek,

dan juga nona majikan mereka sendiri, Ji Kui Hwa! Tentu saja hal ini membuat mereka merasa jerih,

akan tetapi sudah kepalang, mereka sudah berhadapan dan dengan nekat para pimpinan tukang

pukul, dikepalai Bong Kit yang tinggi besar bermuka bopeng, dan Ban Su Ti yang pendek genduk,

menggerakkan golok mereka menyerbu sambil memberi aba-aba kepada anak buah mereka.

Dalam beberapa gebrakan saja, Cu Goan Ciang dan Shu Ta berhasil merobohkan Bong Kit dan Ban

Su Ti sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena tulang kaki mereka patah-patah.

Sementara itu, Koa Hok, Koa Sek dan Kui Hwa juga mengamuk. Para penghuni dusun, biarpun tidak

pandai silat, namun mereka itu rata-rata adalah para petani yang setiap hari bekerja keras di bawah

terik sinar matahari. Tubuh mereka kuat dan semangat mereka besar karena mereka berkelahi

untuk membela diri dan membebaskan diri dari penindasan. Sebaliknya, para tukang pukul itu sudah

jerih ketika melihat Cu Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok, Koa Sek, dan Kui Hwa. Ditambah lagi jumlah

besar dari semua penduduk yang melakukan perlawanan, mereka menjadi semakin panik dan kocarkacir,

dihajar oleh para penduduk dengan pukulan-pukulan kayu sampai mereka berteriak-teriak

minta ampun. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mampu meloloskan diri dari amukan

penduduk dusun. Akhirnya, mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala dengan

kedua tangan, minta-minta ampun!

“Cukup, semua mundur!” teriak Cu Goan Ciang dan para penduduk dusun itu cepat menahan diri dan

mundur, dengan sikap seperti para prajurit yang habis menang perang. Bahkan mereka yang terluka

 

terkena goresan senjata tajam lawan juga masih tetap bersemangat, seolah darah mereka yang

mengalir merupakan tanda yang membuat mereka bangga!

Cu Goan Ciang memandang kepada lima puluh orang lebih tukang pukul yang kini berlutut semua,

ada yang mengerang kesakitan, ada pula yang rebah pingsan karena pemukulan kayu yang terlalu

keras.

“Kalian ini orang-orang jahat yang agaknya tidak tahu diri! Apakah kami harus membunuh dulu

kalian agar kalian benar-benar bertaubat?”

Mereka menjadi ketakutan dan terdengar seruan mereka minta ampun. “Biarlah, sekali ini kami

memberi ampun. Kalian boleh pergi sekarang juga, cepat tinggalkan dusun ini dan siapa di antara

kalian yang berani memperlihatkan diri, tentu kaliaan akan dikeroyok semua penduduk dan dibunuh

dengan tubuh hancur lebur! Nah, pergi kalian dan bawa teman-teman kalian yang pingsan dan

terluka!” Berbondong-bondong, para tukang pukul itu meninggalkan dusun, membawa keluarga

mereka dan juga menggotong teman-teman yang terluka dan tidak mampu berjalan. Suasana menjadi

sunyi dan semua orang masih berdiri di jalan raya, di depan rumah besar hartawan Ji yang daun

pintunya tertutup semua.

Koa Hok menoleh kepada Cu Goan Ciang. Dia dan adiknya kini mempunyai perasaan yang aneh, yang

belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu perasaan bangga bahwa mereka telah berhasil

melakukan sesuatu yang baik dan gagah sesuai dengan keadaan mereka sebagai putera seorang

kepala dusun, dan sebagai laki-laki. Mereka merasa menjadi pendekar! “Apa yang akan kita lakukan

sekarang, Cu-taihiap?”

Goan Ciang tersenyum kepadanya. Baru sekarang Koa Hok menyebutnya taihiap dan diapun tidak

menanggapi sebutan ini. “Masih ada satu hal terakhir yang harus kita selesaikan,” katanya sambil

menoleh dan memandang kepada Kui Hwa, “yaitu menyadarkan hartawan Ji dan untuk tugas ini, saya

kira nona Ji lebih tepat untuk bertindak, kalau saja ia mau melakukannya/”

Kui Hwa memandang kepada Goan Ciang, memandang kagum. Orang ini memang hebat, pikirnya,

dan selain pandai memimpin orang, juga tegas, jujur dan memegang janji. Tidak ada tukang pukul

yang dibunuh, dan rumah ayahnyapun tidak dijamah. “Baik, aku siap melaksanakan tugas. Apa yang

harus kulakukan?” tanyanya dengan sikap yang tegas pula.

“Bagus, engkau sungguh nampak gagah perkasa, sumoi!” kata Koa Sek.

“Nona Ji, kami sudah berjanji padamu dan kita semua bersepakat untuk tidak mengganggu

ayahmu. Kami ingin agar dia, seperti juga Lurah Koa, menyadari kesalahannya ini dan menjadi warga

dusun yang baik. Kami ingin menyadarkannya, oleh karena itu, engkau masuklah dan bujuklah mereka

semua keluar dan bicara dengan kami di halaman depan.”

“Baik akan kulaksanakan!” kata Kui Hwa tanpa ragu lagi dan iapun berlari memasuki halaman rumah

ayahnya yang luas. Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok dan Koa Sek juga memasuki halaman, diikuti dari

belakang oleh para penduduk dusun yang baru sekali ini merasa gembira dan penuh harapan.

Kui Hwa memasuki ruangan depan rumahnya, akan tetapi daun pintunya terkunci dari dalam. Ia

mengetuk pintu dan berteriak memanggil ayah ibunya. Mendengar suara puteri mereka, hartawan Ji

memberi isarat kepada pelayan untuk membuka daun pintu. Pelayan wanita membuka daun pintu,

membiarkan Kui Hwa masuk, akan tetapi ia segera menutupkan kembali daun pintu dengan mata

terbelalak dan muka pucat melihat begitu banyaknya orang memenuhi halaman rumah.

Begitu melihat puterinya, Nyonya Ji segera menubruk dan merangkul sambil menangis. Kui Hwa

merangkul ibunya seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel. Sementara itu, hartawan Ji

mengerutkan alisnya. Dia tadi sudah mendengar betapa puterinya ini membantu pihak musuh, ikut

menyerbu dan menghajar para tukang pukul sampai mereka semua kocar-kacir dan melarikan diri

meninggalkan dusun.

“Kui Hwa, apa yang kaulakukan ini! Engkau menyerang dan memusuhi ayahmu sendiri?” bentaknya

dengan muka merah dan mata melotot.

Kui Hwa melepaskan rangkulan ibunya dan menghadapi ayahnya, “Ayah, mereka yang benar.

Memelihara tukang-tukang pukul itu mendatangkan penyakit. Mereka adalah orang-orang jahat.

 

Keluarga Lurah Koa sudah sadar dan mengubah jalan hidup mereka, hendak membangun dusun kita

dan memakmurkan kehidupan penghuninya. Saya mohon ayah juga menyadari kekeliruan sikap hidup

ayah yang sudah-sudah, tidak lagi menindas penghuni dusun, melainkan mengulurkan tangan

membantu mereka agar kehidupan di dusun ini menjadi makmur, tenteram dan damai.”

“Huh, mereka itu hanya orang-orang malas yang kini bermaksud merampok harta kita!”

“Tidak, ayah. Buktinya setelah semua tukang pukul dienyahkan, tidak ada seorangpun dari mereka

mengganggu rumah ini. Mereka menanti di halaman, menanti ayah keluar agar dapat bicara dengan

mereka. Mari kita keluar, ayah.”

“Tidak! Tidak sudi aku bertemu dan bicara dengan para perampok itu! Engkau anak murtad!

Seharusnya engkau membela keluargamu, bukan malah membantu musuh menghancurkan keluarga

sendiri!”

“Aku tidak berpihak kepada musuh. Mereka bukan musuh kita, ayah. Yang mereka musuhi adalah

para tukang pukul. Mereka hendak menyadarkan ayah dari kekeliruan.”

“Sudahlah, aku tidak mau keluar. Hendak kulihat mereka mau apa?”

“Kalau begitu, biarlah aku tinggal di sini, mati hangus bersama seluruh keluarga kita.”

“Mati hangus? Apa maksudmu?” Hartawan Ji Sun memandang wajah puterinya dengan alis

berkerut.

“Kalau ayah tidak mau keluar, mereka akan membakar rumah ini untuk memaksa semua keluarga

keluar dan membiarkan rumah ini habis dimakan api. Kalau kita tetap tidak mau keluar, berarti kita

akan mati hangus di dalam sini.” Mendengar ucapan itu, Nyonya Ji dan para pelayan menjerit.

Wajah hartawan itu menjadi pucat sekali. “Kau… kau anak murtad… anak durhaka…”

Kui Hwa menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. Dengan kedua mata basah ia berkata,

“Ayah, bukan maksudku untuk murtad dan durhaka. Bahkan aku bermaksud baik. Ayah, apa artinya

harta bertumpuk kalau penghuni dusun ini hidup sengsara dan kita dikelilingi musuh? Bukankah jauh

lebih baik hidup tenteram dan damai, menggunakan sebagian dari harta kita untuk menolong manusia

lain dari kelaparan dan kesengsaraan? Kalau ayah menganggap aku durhaka, terserah, akan tetapi

Tuhan yang tahu bahwa bukan maksudku untuk menjadi anak durhaka. Mari, ayah, mari kita keluar

dan bicara dengan mereka. Percayalah, sampai bagaimanapun, aku akan melindungi dan membela

ayah.”

Setelah Kui Hwa membujuk, juga ibu gadis itu, akhirnya hartawan Ji mau keluar dari pintu depan,

mereka disambut sorak-sorai para penghuni dusun. Hartawan itu terbelalak pucat melihat betapa

dapat dibilang seluruh penduduk dusun itu, yang pria, hadir di halaman rumahnya! Dan yang berada

di depan adalah dua orang pemuda gagah bersama dua orang pemuda Koa putera-putera Lurah Koa.

Koa Hok dan Koa Sek yang oleh Goan Ciang diserahi tugas memimpin penghuni dusun dan bicara

dengan hartawan Ji, segera melangkah maju dengan tegap dan sikap gagah, sampai mereka

berhadapan dekat dengan keluarga hartawan itu.

“Paman Ji, kami girang sekali bahwa paman suka keluar untuk bicara dengan kami,” kata Koa Hok

setelah mereka berdua memberi hormat kepada hartawan itu.

“Hemm, kalian berdua telah melupakan hubungan baik antara aku dan ayah kalian, dan kalian

membawa penduduk untuk menyerbu dan mengusir anak buahku. Mau bicara apa lagi?” tanya

hartawan itu dengan nada marah!

“Paman, justeru karena kami menyayang keluarga paman, maka kami melakukan ini. Ayah kami

telah menyadari kesalahannya selama ini, dan kami mengharap agar paman juga menyadari. Ayah

kami dan paman merupakan dua orang tokoh di dusun kita ini yang dapat memperkuat dusun,

memakmurkan kehidupan penghuni dusun, bukan menjadi dua orang tokoh yang menekan dan

menindas penghuni dusun. Dengan kekayaan kedua keluarga, dengan kedudukan ayah sebagai kepala

dusun, keluarga kita berdua dapat berbuat banyak demi kebaikan dusun dan para penghuninya.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya hartawan itu dengan alis berkerut.

“Yang terpenting, paman menyadari bahwa menggunakan tukang-tukang pukul untuk menindas

penghuni dusun kita merupakan tindakan yang salah. Kalau paman sudah menyadari, tentu paman

 

tahu apa yang dapat paman lakukan. Hal itu kiranya dapat paman tanyakan kepada puteri paman

sendiri, sumoi Ji Kui Hwa.”

Mendengar ucapan itu, hartawan Ji menoleh kepada puterinya dan gadis itu dengan suara lantang

berkata, “Ayah, sekarang bukan waktunya lagi bagi ayah untuk menumpuk harta. Apa artinya kayaraya

kalau hidup ini tidak tenteram dan dimusuhi semua penghuni dusun? Kita dapat pertama-tama

mengembalikan seluruh sawah ladang yang pernah ayah sita dari para penduduk dusun, kemudian,

kita memberi pinjaman kepada mereka berupa bibit dan lain keperluan dengan janji pinjaman itu

akan dikembalikan ketika panen, tanpa bunga! Dan kita harus membantu penduduk yang benar-benar

kekurangan, memberi mereka pekerjaan dengan upah memadai.”

Hartawan itu terbelalak, seperti mimpi saja mendengar ucapan puterinya itu dan hatinya tentu

saja membantah, “Tapi… tapi…”

“Ayah, dengan cara itu, kita akan hidup tenang dan tenteram, menjadi sahabat baik seluruh

penghuni dusun! Dan kita tidak perlu lagi mempunyai tukang-tukang pukul. Kalau ada gerombolan

penjahat berani mengacau dusun kita, maka seluruh penduduk akan bangkit melawan penjahat! Kita

semua akan membangun dusun ini menjadi tempat yang makmur dan tenteram! Atau ayah memilih

menjadi hartawan yang diasingkan semua penduduk, kalau ada gerombolan penjahat mengganggu

kita, penduduk diam saja? Apakah ayah lebih senang hidup di antara orang-orang yang membenci

kita?”

Hartawan Ji menjadi pening tujuh keliling. Mendadak dia merasa betapa kepalanya pusing dan

tubuhnya gemetar, lemas, “Sesukamulah, Kui Hwa. Kau atur sajalah, aku tidak tahu lagi… terserah

kepadamu bagaimana baiknya saja…” dan dengan terhuyung diapun masuk ke dalam dibimbing

isterinya.

“Ayah telah setuju untuk bekerja sama! Seluruh tanah yang pernah disita ayah akan dikembalikan

kepada pemilik semula!” teriak Kui Hwa, disambut sorak-sorai para penduduk dusun Cang-cin.

Dusun itu dalam suasana pesta, bukan pesta makan minum, melainkan pesta meriah yang nampak di

wajah, senyum, dan suara mereka. Orang bergembira ria dan merasa seperti orang-orang yang tibatiba

saja dibebaskan dari hukuman berat. Dengan bijaksana, Cu Goan Ciang lalu memancing

persetujuan semua penghuni, termasuk Lurah Koa dan hartawan Ji, bahwa mulai saat itu, kedudukan

kepala dusun dipegang oleh Koa Hok dan dibantu oleh Koa Sek. Kakak beradik ini bertugas untuk

mengatur keamanan dan keadilan di dusun itu, menyusun dan melatih para pemuda dusun sehingga

terbentuk pasukan keamanan yang kuat untuk menjaga keamanan dusun, menetapkan pajak yang adil

dan uang pajak dipergunakan untuk upah dan pembangunan dusun. Sedangkan urusan kesejahteraan

dan perdagangan dusun itu diserahkan kepada Ji Kui Hwa.

Diam-diam Shu Ta kagum bukan main melihat tindakan suhengnya yang tegas dan yang demikian

pandainya mengatur orang banyak sehingga dusun itu dalam sehari saja telah berubah sama sekali

keadaannya. Kalau tadinya, seolah-olah ratap tangis penghuni dusun membubung ke angkasa mohon

keadilan kepada Tuhan, kini ratap tangis itu berubah menjadi tawa riang menghaturkan terima kasih

kepada Tuhan. Setelah semua beres, beberapa hari kemudian Cu Goan Ciang dan Shu Ta

meninggalkan dusun Cang-cin, diantar oleh Koa Hok, Koa Sek, Kui Hwa dan bahkan hampir seluruh

penghuni dusun mengantar kedua orang pemuda itu sampai keluar dari pintu gerbang dusun.

Setelah tiba di luar dusun dan semua pengantar kembali ke dusun, Shu Ta memandang kepada

suhengnya. “Suheng, selain bakatmu dalam ilmu silat amat baik, juga engkau berbakat untuk menjadi

pemimpin. Semua itu dapat kulihat ketika engkau mengatur dusunmu itu.”

“Ah, sute terlalu memuji. Semua itu kulakukan karena sejak kecil aku merasa prihatin sekali

menyaksikan kehidupan penghuni dusunku. Bahkan keluargaku sendiri habis karena kehidupan yang

menderita kekurangan. Andai kata kita berdua tidak datang dan mengatur seperti itu, suatu ketika

mungkin saja penduduk akan memberontak dan keluarga Koa dan Ji akan menjadi korban

penumpahan kebencian yang terpendam selama puluhan tahun.”

 

“Engkau benar, suheng. Tindakanmu itu, selain menolong keadaan hidup para petani miskin di

dusun itu, juga telah menyelamatkan keluarga Koa dan Ji. Mereka semua kini hidup berbahagia dan

aku yakin dusun itu akan menjadi sebuah dusun yang paling makmur di seluruh daerah ini.”

“Mudah-mudahan begitu. Sekarang engkau hendak pergi ke mana, sute?”

“Seperti usulmu tempo hari, suheng, kita berpisah di sini dan mari kita berdua memperluas

pengalaman di dunia kang-ouw, menyelidiki keadaan dan menyusun kekuatan untuk menentang

pemerintah penjajah Mongol yang lalim.”

“Baik, sute. Selamat berpisah dan sampai berjumpa kembali.” Kakak beradik seperguruan itu

saling peluk, kemudian saling memberi hormat dan keduanya mengambil jalan masing-masing di

persimpangan itu.

Sungai Yang-ce merupakan sungai kedua sesudah sungai Kuning yang terbesar di seluruh Cina.

Sungai ini merupakan penampungan dari banyak sungai yang lebih kecil, mengalir sejak ribuan

kilometer dari barat, bermula dari dua sumber yang berada di pegunungan Thang-la, yang bertemu

menjadi sungai Chin-sa, mengalir turun ke selatan sampai ke propinsi Yun-nan, kemudian membelok

ke timur, menerima penumpahan banyak sungai seperti sungai Cia-ling. Sungai Han-sui dan masih

banyak lagi sungai yang lebih kecil sampai akhirnya tiba di Nan-king dan memuntahkan airnya di

sebelah timur Nan-king, ke laut Kuning. Karena sungai ini melalui banyak propinsi, banyak kota dan

dusun, maka tentu saja sungai ini merupakan sarana pengangkutan dan lalu lintas yang teramat

penting. Saking panjangnya sungai ini disebut pula sungai Panjang.

Satu di antara kota yang dilalui sungai Yang-ce adalah kota Wu-han. Kota ini menjadi besar dan

ramai, satu di antara sebabnya adalah karena menjadi kota bandar sungai Yang-ce itulah. Wu-han

menerima kiriman barang-barang yang mengalir dari barat, dan mengirim barang-barang dagangan

ke timur, sampai ke Nan-king dan kota-kota lainnya.

Pada suatu pagi, Cu Goan Ciang memasuki kota Wu-han. Dia melakukan perjalanan dari dusunnya

menuju ke selatan dan baru sekarang dia melihat sebuah kota yang demikian ramai dan besarnya

seperti Wu-han. Beberapa kali dia berhenti dan bengong penuh kekaguman memperhatikan bangunan

besar yang indah atau taman yang rapi, toko-toko penuh dengan barang yang serba aneh baginya.

Rumah-rumah makan yang mengeluarkan uap yang sedap. Namun, dia tidak berani masuk ke dalam

sebuah di antara toko-toko atau rumah makan itu karena memang dia tidak mempunyai uang. Ketika

kakak beradik Koa hendak memberi bekal kepadanya, dia menolak keras, demikian pula Shu Ta. Goan

Ciang mempunyai hati yang keras, yang tidak mau menerima pemberian begitu saja. Aku harus

bekerja untuk mencari uang pembeli makanan dan pakaian, pikirnya.

Sampai lama dia melihat para kuli angkut sedang memangguli dan membongkar muatan dari atau

ke perahu-perahu yang berlabuh di bandar sungai Yang-ce pinggir kota Wu-han. Ketika dia melihat

empat orang memanggul sebuah peti besar, dan mereka itu nampak terhuyung dan hampir tidak kuat

sehingga semua kuli yang lain merasa khawatir, Goan Ciang cepat melompat maju mendekat,

menyusup ke bawah peti di tengah-tengah, menggunakan kedua lengannya menyangga peti lalu

berteriak, “Kalian berempat lepaskan peti ini, biar kuangkat sendiri!”

Empat orang yang tadinya sudah ketakutan akan terhimpit peti yang amat berat itu, ketika tibatiba

merasa betapa peti itu tidak lagi menekan pundak mereka, diangkat oleh kedua tangan seorang

pemuda yang tiba-tiba menyusup di tengah-tengah antara mereka, segera melepaskan peti dan

melompat ke samping sehingga kini peti itu diangkat sendiri oleh kedua tangan Goan Ciang. Empat

orang itu terbelalak, lalu terdengar seruan-seruan kagum ketika Goan Ciang dengan tenang

melangkah dan menurunkan peti itu ke tempat di mana barang-barang bongkaran itu dikumpulkan.

Meledaklah sorak dan tepuk tangan memujinya karena semua orang merasa kagum bukan main. Peti

itu hampir tak terangkat empat orang kuli yang bertubuh kokoh kuat, namun pemuda yang tinggi

tegap dan sederhana itu dengan mudahnya mengangkat peti itu seorang diri, dan nampak ringan saja!

Setelah menurunkan peti itu, Cu Goan Ciang segera meninggalkan tempat itu karena maksudnya

tadi hanya hendak menyelamatkan empat orang kuli yang akan terhimpit peti, dan melihat semua

orang memujinya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.

 

“Heii, tunggu dulu, orang muda yang kuat!” terdengar seruan orang dan diapun menoleh. Seorang

pendek gendut berjalan setengah berlari terseok-seok menghampirinya, wajahnya yang bulat itu

penuh senyum lebar. Orang itu berusia sekitar empat puluh tahun dan pakaiannya menunjukkan

bahwa dia seorang mandor kuli yang mengepalai rombongan kuli yang bekerja di situ. Goan Ciang

sudah mendengar bahwa di bandar itu terdapat ratusan orang kuli, terbagi dalam beberapa

kelompok atau rombongan dan masing-masing ada mandor atau kepalanya yang mengatur dan

membagi pekerjaan.

“Ada apakah, paman?” tanyanya.

Si gendut itu mengerutkan alisnya, agaknya tidak suka disebut paman. Dia masih merasa terlalu

muda untuk disebut paman, dan biasanya para kuli menyebutnya toako (kakak tertua), sebutan yang

juga merupakan sebutan kehormatan dalam suatu kelompok, karena toako bukan saja berarti yang

tertua, melainkan juga yang terkuat, terpandai dan biasanya yang menjadi pemimpin disebut toako.

“Orang muda, maukah engkau bekerja kepada kami?”

“Bekerja apa?”

“Apa lagi? Aku adalah mandor kuli, tentu saja bekerja mengangkut barang-barang, membongkar

dan memuat di perahu-perahu yang berlabuh di sini.”

Goan Ciang berpikir sejenak. Memang dia membutuhkan uang untuk makan, dan dia harus bekerja.

“Kalau upahnya memadai…”

“Tentu saja! Kalau engkau mau mengangkat peti-peti seperti tadi seorang diri, kami akan

membayarmu lima belas keping sehari.”

Goan Ciang mengerutkan alisnya. Lima belas keping tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk makan

sehari saja. Lalu bagaimana dia dapat membeli pakaian? Bekerja seberat itu tentu cepat

menghabiskan pakaiannya. “Berapa upah mereka itu sehari?” katanya menunjuk kepada para kuli

yang sibuk bekerja.

“Sama saja, lima belas keping sehari.”

“Akan tetapi, aku dapat bekerja empat lima kali lipat dari mereka!”

“Baiklah, kuberi dua puluh lima keping untukmu, akan tetapi engkau harus bekerja dari pagi

sampai sore, hanya berhenti mengaso untuk makan di tengah hari seperti yang lain.”

Hemm, dua puluh lima keping, lumayan, pikir Goan Ciang. Diapun mengangguk dan mulailah dia

bekerja. Tenaganya memang besar, maka mandor itu merasa gembira bukan main. Dengan menerima

Goan Ciang bekerja di situ, dengan gaji kurang dari dua orang, berarti dia untung besar. Dia dapat

memasukkan di daftar gaji lima orang untuk pemuda itu, karena memang hasil pekerjaannya sama

dengan hasil pekerjaan lima orang.

Baru dua hari Goan Ciang bekerja di situ ketika terjadi peristiwa yang membuat dia kehilangan

pekerjaannya. Hari itu adalah hari gajian bagi rombongan kuli di mana dia bekerja, yang terdiri dari

dua puluh orang. Dalam dua hari bekerja, semua kuli menaruh hormat kepada Goan Ciang yang

pendiam dan bertenaga amat kuat, namun tidak sombong atau berlagak itu. Setelah sore, pekerjaan

dihentikan dan para kuli itu berdiri dalam antrian untuk menerima gaji mereka yang dibagikan oleh

si gendut yang duduk di atas bangku menghadapi meja kecil dan di belakangnya berdiri dua orang

tinggi besar yang berwajah bengis. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang mengawal mandor itu.

Tukang-tukang pukul ini bertugas untuk menjaga agar para kuli tidak malas dan tidak melakukan

pencurian terhadap barang-barang yang diangkut, dibongkar dan dimuat di perahu-perahu.

Semua berjalan lancar ketika tiba giliran seorang kuli dan Goan Ciang yang menjadi orang

terakhir dan berdiri di belakang kuli itu. Kuli itu masih muda, berusia dua puluhan tahun, kurus dan

agak pucat tanda bahwa dia tidak sehat namun memaksakan diri bekerja karena membutuhkan uang.

Ketika tiba giliran si kurus itu, mandor gendut menghitung beberapa keping uang sambil berkata,

“Nah, ini gajimu untuk sepuluh hari!”

Orang muda itu menerima dan menghitungnya, dan dia berkata heran, “Eh, Lai-toako, kurasa

engkau salah menghitung. Kenapa dikurangi begini banyak? Mestinya aku menerima seratus keping,

bukan lima puluh!”

 

“Hemm, engkau sudah lupa barangkali? Potongan pajak lima puluh keping, dan potongan yang lima

puluh keping adalah untuk mengganti kerusakan barang dari peti yang kau angkut seminggu yang

lalu.”

“Tapi, toako, itu bukan kesalahanku. Peti itu sudah kutumpuk dengan baik, lalu ada anjing yang

berlari menubruk peti sehingga terguling. Bukan salahku kalau isinya ada yang rusak!”

“Tidak perduli! Yang jelas, pemiliknya minta ganti dan mana mungkin aku minta ganti kepada anjing

itu? Engkau yang mengangkut dan menaruh di situ, engkau pula yang harus mengganti.”

“Tapi… aku butuh sekali uang ini, ibuku sakit dan…”

”Cukup, jangan banyak rewel, atau engkau ingin dihajar?” bentak mandor gendut itu dengan muka

merah dan mata melotot.

“Biarlah lain kali saja potongan itu, Lai-toako, sungguh mati, sekarang aku membutuhkan uang itu

untuk berobat ibuku…”

“Ibumu boleh mampus, apa sangkut pautnya denganku?” Si gendut itu memberi isarat kepada dua

orang tukang pukulnya. “Usir dia!”

Dua orang tukang pukul yang tinggi besar itu melangkah maju. Yang berjenggot lebat seperti

jenggot kambing bandot maju dan menangkap lengan kanan pemuda itu, lalu memutar lengan itu

sehingga si pemuda berteriak kesakitan. Tukang pukul ke dua, yang kepalanya botak, juga maju dan

mengamangkan tinjunya yang sebesar kepala kanak-kanak itu ke depan hidung si pemuda yang

menyeringai kesakitan karena lengannya masih dipuntir. “Kau ingin mukamu kuhancurkan? Hayo

cepat minggat dari sini!” bentaknya

Melihat ini, Cu Goan Ciang tidak sabar lagi. Dia melangkah ke depan dan sekali tangannya

bergerak, dia menangkap siku lengan kanan si jenggot yang sedang memuntir lengan pemuda itu.

“Aduuuuhhhhh…!” Si jenggot itu berteriak-teriak karena merasa betapa lengan di bagian siku

seperti terjepit baja dan tulang lengannya seperti retak-retak rasanya, nyeri bukan main sampai

kiut-miut rasanya menusuk jantung. Terpaksa dia melepaskan lengan si pemuda, Cu Goan Ciang tidak

berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah dagu si jenggot lebat

dan sekali dia mencengkeram dan merenggut, jenggot itu jebol dan dagu itu berdarah.

”Adoouuuhhhh… augghhhh…” Si jenggot yang kehilangan jenggotnya itu mengaduh-aduh sambil

memegangi dagunya yang berdarah, berjingkrak kesakitan.

Melihat ini, tukang pukul pertama yang kepalanya botak menjadi marah dan diapun sudah

mengayun tinjunya yang besar ke arah kepala Cu Goan Ciang. Cu Goan Ciang mengelak ke samping,

secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan yang memukul itu, kemudian dengan pengerahan

tenaga, dia mendorong tangan yang terkepal itu sehingga memukul kepala si penyerang itu sendiri.

Kepalan yang besar itu kini memukul kepala yang botak.

“Takkk…!!” Si botak itu terpelanting dan ketika dia merangkak bangun, dia mengelus kepala

botaknya yang kini tumbuh benjolan sebesar telur angsa!

Cu Goan Ciang sudah melangkah maju. Melihat mandor gendut hendak melarikan diri, tangannya

dijulurkan dan dia menangkap orang itu, mencengkeram pada pundaknya sehingga si gendut

berteriak-teriak seperti kerbau disembelih.

“Aduhhh… aduhhhh… ampun, lepaskan aku… aughhhh…”

Goan Ciang memaksanya duduk kembali di atas bangkunya. Si gendut terpaksa duduk dan

tubuhnya menggigil, mukanya pucat. “Cu Goan Ciang… apa… apa yang kauinginkan…?” tanyanya,

suaranya tiba-tiba menjadi pelo dan gemetar saking takutnya.

“Apa artinya potongan pajak tadi? Sehari pajak lima keping, apa artinya ini?”

“Ahh… itu… itu sudah peraturan, aku hanya melaksanakan saja. Sudah menjadi aturan sejak

bertahun-tahun…”

“Aturan siapa itu? Gaji sehari lima belas keping, dipotong pajak lima keping? Ini perampokan

namanya! Hayo katakan, aturan siapa ini? Aturan yang kaubuat sendiri? Kuhancurkan kepalamu!”

“Tidak, tidak…! Bukan aku… aku hanya mandor, eh, hanya pengawal, ini aturan yang telah

ditetapkan oleh Yo-loya (tuan besar Yo)…!”

 

“Tidak perduli aturan siapa, itu perampokan dan tidak boleh dilakukan! Hayo bayarkan kembali

seluruh pajak tadi kepada mereka semua, dan kerusakan barang itupun tidak boleh dipotong.

Cepat!!”

“Tapi… tapi…” si gendut itu mengambil kantung uang yang tadi telah disimpannya, akan tetapi

Goan Ciang merampasnya dan menaruh kantung uang itu ke atas meja, di mana masih terdapat

daftar para kuli, berikut alat tulis yang tadi dipergunakan untuk mencatat oleh si gendut.

“Tidak ada tapi! Cepat bayar mereka tanpa dipotong pajak atau kerusakan barang!” bentak Goan

Ciang. Sementara itu, dua puluh orang kuli yang masih berkumpul di situ, memandang dengan mata

terbelalak. Tak mereka sangka bahwa kuli baru yang bertenaga besar itu demikian beraninya, juga

demikian perkasanya, sehingga segebrakan saja dapat menghajar dua tukang pukul yang lihai dan

kejam itu. Seorang kuli yang usianya sudah lima puluh tahun, segera mendekati Goan Ciang.

“Cu-hiante… jangan mencaro gara-gara… mereka itu kuat sekali. Kalau sampai Yo-loya mengetahui,

engkau dapat celaka… lebih baik sekarang pergilah, larilah sebelum terlambat…”

Goan Ciang merasa jengkel sekali. Sikap pengecut inilah yang membuat orangnya diperas dan

ditindas! “Sudah, biarkan aku yang bertanggung jawab, paman. Engkau larilah kalau takut!” katanya

marah dan kuli itu yang bermaksud baik karena menyayangkan, kalau sampai Goan Ciang celaka,

mundur dan berkumpul lagi dengan teman-temannya.

Mendengar ucapan kuli tua itu, agaknya si gendut mendapatkan kembali semangatnya. Dia bangkit

berdiri, “Cu Goan Ciang, engkau boleh saja menghina dan memaksaku, akan tetapi tunggu sampai Yoloya

datang! Engkau akan dicincang, dan dagingmu menjadi makanan ikan sungai! Hayo, bunuh saja dia

dengan golok kalian!” teriaknya kepada dua orang tukang pukul.

Si jenggot yang kehilangan jenggotnya dan si botak yang tumbuh tanduk itu memang merasa

penasaran dan sakit hati telah dipersakiti dan dipermalukan di depan banyak orang. Bahkan

rombongan kuli-kuli yang lain tertarik oleh keributan itu dan kini datang mendekat. Mereka berdua

mencabut golok dan bagaikan gila mereka menyerang Goan Ciang sambil mengerahkan tenaga dan

mengeluarkan suara menggereng seperti dua ekor beruang marah.

Goan Ciang juga marah. Beberapa kali dia mengelak, menggunakan kegesitan gerakan tubuhnya

untuk menghindarkan diri dari sambaran dua batang golok itu. Ketika dia melihat kesempatan baik,

dia menggerakkan kedua tangannya, mengisinya dengan tenaga sin-kang sekuatnya dan begitu kedua

tangan itu bergerak menangkis dengan kedua lengan lawan, terdengar suara “krakk-krakk” dan dua

batang golok itu terpental, dan dua orang lawannya juga terpelanting dan mengaduh-aduh tanpa

mampu menggerakkan kedua lengan mereka karena tulang-tulang lengan mereka telah patah-patah!

Dengan wajah pucat dan mata terbelalak mereka hanya mampu mengaduh-aduh, bahkan sukar untuk

bangkit duduk karena kedua lengan mereka terasa nyeri kalau digerakkan.

Si mandor gendut terkejut sekali, hendak melarikan diri, akan tetapi dua kali loncatang saja

sudah cukup bagi Goan Ciang untuk menangkap leher bajunya, mengangkat tubuh itu ke atas, tangan

kanan menampar ke arah mulut sehingga rontoklah semua gigi dalam mulut itu lalu dia melontarkan

tubuh gemuk pendek itu ke air sungai.

“Byurrr…!” Air muncrat dan mandor gendut itu dengan susah payah berenang ke tepi, disambut

tawa geli secara diam-diam oleh para kuli.

Dua orang tukang pukul itu melihat ini, lalu terkulai dan pura-pura pingsan! Goan Ciang dengan

tenang lalu duduk di bangku tadi, membuka kantung uang, memeriksa daftar dan menghitung uang

memenuhi gaji dua puluh orang itu termasuk si pemuda kurus dan dia sendiri. Dia mengambil lima

puluh keping, gajinya dua hari, dan membiarkan sisanya dalam kantung di meja itu. Juga dia

mencorat-coret daftar gaji itu, menuliskan angka-angka gaji yang semestinya tanpa memotong

dengan pajak dan lain-lain.

Para mandor dan tukang pukul rombongan lain tidak berani mencampuri ketika mereka melihat

kelihaian pemuda itu, akan tetapi diam-diam mereka melapor kepada majikan mereka. Kuli yang

bekerja di bandar itu berjumlah ratusan orang, terbagi dalam kelompok-kelompok. Namun semua

berada di bawah kekuasaan majikan yang disebut Yo-loya, namanya Yo Ci, seorang hartawan yang

 

juga menjadi kepala gerombolan penjahat yang merajalela di kota Wu-han, terutama yang menguasai

bandar itu. Yo Ci inilah yang mengadakan aturan pajak, dan dia pula yang menentukan segalanya, dan

para pelaksananya adalah mandor-mandor yang dikawal dua orang tukang pukul. Begitu mendengar

berita bahwa ada seorang pengacau di bandar, Yo Ci marah dan diapun mengajak selosin pengawalnya

cepat pergi ke bandar itu.

Ketika itu, Cu Goan Ciang sudah selesai membayarkan semua gaji dan dia berkata, “Mulai

sekarang, jangan mau membayar pajak. Kalian harus berani menentang kalau ada aturan yang tidak

adil, jangan diam saja ketakutan. Nah, sekarang kalian pulanglah.”

“Tapi, Cu-taihiap, kami takut. Bagaimana kalau Yo-loya marah? Kami pasti akan dihukum!” kata

seorang di antara mereka dan ternyata semua orang membenarkan ucapan itu.

“Aku yang bertanggung jawab! Aku tidak akan lari!”

“Bagus! Sungguh ucapan yang gagah sekali!” terdengar suara orang memuji dan mendengar suara

ini, semua kuli nampak ketakutan dan cepat mereka itu membungkuk dan memberi hormat kepada

orang yang bicara tadi. Goan Ciang memutar tubuh memandang.

Dia seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun, namun masih nampak tampan dan

muda, tubuhnya masih ramping dan kokoh. Seorang pria yang gagah, dengan pakaian yang mewah

pula, memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang dilapis emas, kepalanya memakai topi bulat

hitam. Di belakang orang ini nampak selosing orang yang berpakaian seperti tukang-tukang pukul,

pakaian ringkas dan mereka semua membawa pedang di pinggang, seperti pasukan yang berpakaian

seragam saja. Goan Ciang segera dapat menduga bahwa tentu inilah yang disebut Yo-loya dan yang

ditakuti semua orang. Inilah kepala dari para penindas kuli itu.

“Bertanggung jawab atas perbuatannya adalah sikap seorang laki-laki. Mempergunakan

gerombolan tukang pukul untuk memeras dan menindas para pekerja miskin adalah sikap seorang

penjahat keji yang curang!” kata Goan Ciang dan pandang matanya dengan tajam mengamati wajah

pria itu.

Pria itu tersenyum, menghisap huncwenya dan mengepulkan asap tipis dari mulutnya, sikapnya

tenang dan juga mengandung ketinggian hati, seperti sikap seorang guru menghadapi seorang

muridnya.

“Hebat, engkau seorang pemuda yang hebat. Siapakah namamu, orang muda?” suaranya berlogat

selatan, namun cara dia bicara lembut dan sopan.

“Namaku Cu Goan Ciang, dan kalau tidak salah, engkau tentu yang disebut Yo-loya dan ditakuti

para kuli di sini, bukan?”

Orang itu mengangguk-angguk dan menyapu keadaan sekeliling. Hampir semua orang di situ, baik

kuli maupun pedagang, kini berada di situ dan menonton dengan wajah tegang dan tertarik. Yo Ci

sudah mendengar tentang kehebatan pemuda ini. Sayang kalau pemuda seperti ini dibunuh saja.

Alangkah baiknya kalau dapat ditarik menjadi anak buah, atau setidaknya menjadi sekutunya. Juga,

kalau sampai dia turun tangan di tempat umum dan dia kalau, walaupun dia amat meragukan hal ini,

hal itu akan merusak nama besarnya dan membuatnya malu.

“Cu-sicu (orang gagah Cu), namaku Yo Ci dan aku merasa bergembira sekali dapat berkenalan

dengan seorang gagah sepertimu. Harap suka memaafkan orang-orangku yang tidak tahu diri dan

percayalah, aku akan membereskan semua kekeliruan di sini. Akan tetapi, aku ingin membicarakan

urusan di sini dengan sicu, dan kami persilahkan sicu untuk ikut dengan kami agar kita dapat

bercakap-cakap dengan leluasa di rumah kami. Silahkan, sicu.”

Cu Goan Ciang merasa heran akan sikap yang amat sopan dan ramah dari orang ini. Bukankah

majikan ini yang melakukan pemerasan terhadap para kuli itu, melalui anak buahnya? Ketika dia

menoleh dan bertemu pandang dengan kuli setengah tua yang tadi memperingatkannya, dia melihat

betapa orang itu menggeleng kepala sebagai tanda agar dia menolak undangan itu. Akan tetapi

justeru sikap kuli setengah tua itulah yang membuat dia penasaran. Dia ingin melihat apa yang akan

dilakukan majikan Yo ini kepada dirinya.

 

“Baik, mari kita bicara di rumahmu, Yo-loya,” katanya gagah. Diiringkan pandang mata khawatir

dan juga kagum oleh semua kuli yang bekerja di bandar itu, Goan Ciang mengikuti rombongan Yo Ci

dan para pengawalnya dan ternyata di luar bandar terdapat sebuah kereta yang tadi dinaiki Yo Ci.

Goan Ciang dipersilahkan ikut pula ke dalam kereta bersama hartawan itu. Para pengawal

menunggang kuda di kanan kiri dan belakang kereta yang dilarikan menuju ke pusat kota Wu-han.

Rumah itu besar, megah dan mewah. Goan Ciang merasa dirinya kecil dan kotor ketika memasuki

rumah gedung mewah itu bersama Yo Ci. Belum pernah dia memasuki rumah semewah ini. Rumah

Lurah Koa dan hartawan Ji di dusunnya menjadi tidak ada artinya dibandingkan dengan rumah

majikan di kota besar ini. Akan tetapi dengan tegak dia berjalan mendampingi tuan rumah. Di

ruangan dalam, Yo Ci sengaja menyuruh semua keluarganya hadir dan dia memperkenalkan Gu Goan

Ciang kepada keluarganya. Goan Ciang hanya memandang sambil lalu saja dan membalas

penghormatan mereka. Dia diperkenalkan kepada empat orang isteri Yo Ci, dan tiga orang anaknya,

yaitu dua orang puteri yang sudah remaja dan seorang pemuda. Kemudian, setelah semua anggota

keluarga diperkenalkan dan mengundurkan diri, Goan Ciang sudah lupa lagi kepada mereka, baik nama

maupun wajah mereka, walaupun para isteri dan puteri tuan rumah itu merupakan wanita-wanita yang

cantik jelita. Dia memasuki ruangan tamu bersama tuan rumah dan di situ mereka bercakap-cakap.

“Cu-sicu, aku mendengar bahwa engkau menghajar beberapa orangku yang bertugas di bandar.

Memang ada di antara orang-orangku yang kasar dan kurang ajar, pantas untuk dihajar. Akan tetapi

kalau aku boleh mengetahui, mengapa engkau menjadi begitu marah? Apa yang menjadi sebab

perkelahian itu?”

Tak enak juga rasa hati Goan Ciang menghadapi majikan yang begini lembut dan sama sekali

berbeda dengan sikap mandor gendut dan tukang pukulnya. “Maafkan aku, Yo-loya…”

“Hemm, orang lain pantas menyebut aku loya (tuan besar), akan tetapi sebaiknya engkau

menyebut aku paman saja, sicu. Tak enak rasanya kausebut loya.”

“Baiklah, paman Yo. Maafkan aku yang naik darah melihat betapa mandor gendut itu memotong

semua gaji para kuli dengan lima keping, pada hal gaji mereka sehari hanya lima belas keping. Lebih

gila lagi, mandor itu memotong gaji seorang kuli sebanyak lima puluh keping, katanya untuk

mengganti barang rusak yang jatuh karena ditabrak anjing.”

Beberapa saat lamanya, Yo Ci diam saja dan menarik napas beberapa kali, lalu berkata, “Aku

mengerti perasaanmu, sicu. Memang sepintas lalu nampak betapa aturan yang kami tentukan itu

kejam dan memeras. Akan tetapi ketahuilah bahwa hal itu kami lakukan dengan terpaksa karena

kami harus membayar pajak besar kepada para pejabat pemerintah di kota ini. Semua yang kami

terima dari pajak itu tidak masuk ke kantong kami, melainkan ke kantong para pejabat. Kami hanya

pemungut pajak saja.”

“Kalau begitu, untuk apa diadakan mandor yang mengurusi para kuli? Biarkan mereka bekerja

sendiri dan menerima upah dari pemilik barang yang mereka bongkar dan muat.”

Yo Ci menggeleng kepala. “Hal itu tidak mungkin dilakukan, sicu. Kalau dibiarkan demikian, tentu

akan timbul kekacauan dan perkelahian di bandar. Mereka akan berebut muatan, bersaing upah dan

memperebutkan kekuasaan untuk menjadi kepala. Dengan adanya aturan yang kami adakan, mereka

semua dapat bekerja dan tidak pernah terjadi keributan.”

“Tapi mereka diperas namanya. Upah lima belas keping sudah terlalu kecil, tidak cukup untuk

hidup mereka yang sudah mempunyai anak-isteri, untuk diri sendiripun hanya cukup untuk makan.

Bagaimana mungkin dapat hidup kalau upah sekecil itu dipotong lima keping lagi? Ini tidak adil!

Untuk apa para pejabat itu diberi uang? Apakah itu sudah menjadi peraturan pemerintah?”

Yo Ci menggeleng kepala. “Agaknya engkau tidak tahu, sicu. Setiap daerah mempunyai penguasa

dan dia yang menentukan peraturan sesuai dengan seleranya. Itulah wewenangnya. Yang menentukan

peraturan di bandar tentu saja penguasa bandar itu. Kami hanya membantu kelancaran aturan itu,

bahkan, dengan usaha kami ini, maka keamanan para kuli itu terjamin.”

Goan Ciang yang belum berpengalaman, mendengar hal seperti itu merasa penasaran bukan main.

Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan menghadapi penguasa, yaitu pejabat pemerintah? Seorang

 

diri saja, bagaimana mungkin dia menentang kekuasaan pejabat yang tentu mempunyai pasukan yang

besar dan amat kuat? Sama dengan seekor capung hendak merobohkan tembok.

Melihat pemuda itu termenung dengan alis berkerut tanda penasaran, Yo Ci lalu menghiburnya.

“Cu-sicu, semua orang juga merasa penasaran, akan tetapi apa yang dapat kita lakukan terhadap

pemerintah? Kalau engkau ingin melindungi para pekerja kasar itu, bagaimana kalau engkau kuberi

pekerjaan sebagai kepala dari seluruh mandor yang berada di sana? Dengan adanya engkau yang

menjadi kepala, semua mandor tentu tidak akan berani berlaku curang dan tidak berani merugikan

para pekerja di bandar. Dan kami akan memberi upah besar kepadamu, juga rumah tinggal yang

lengkap.”

Diam-diam Cu Goan Ciang terkejut mendengar penawaran yang amat menguntungkan dirinya itu.

Dari seorang pemuda miskin setengah gelandangan, tiba-tiba dia menjadi kepala semua mandor dan

mendapat upah besar dan rumah tinggal! Akan tetapi bukan itu yang dia cari. Cita-citanya lebih

besar dari sekedar menjadi kepala mandor!

“Cu-sicu, engkau tidak perlu tergesa-gesa menerima penawaranku. Engkau tinggallah dulu di sini

beberapa lamanya dan pertimbangkan baik-baik penawaranku tadi. Sementara itu, engkau boleh

mempelajari keadaan di bandar agar kalau engkau menerima tawaranku, seketika engkau sudah

menguasai keadaan dan hafal akan lingkungan di bandar.”

Cu Goan Ciang yang masih bimbang itu mengangguk. Akan tetapi, di dalam hatinya, dia bukan minta

waktu untuk mempertimbangkan penawaran kedudukan itu, melainkan minta waktu agar dia dapat

menyelidiki keadaan di bandar dan mendapat jalan bagaiman sebaiknya untuk menolong nasib para

pekerja kasar di sana.

Yo Ci lalu menjamu Goan Ciang dengan hidangan yang mewah, kemudian pelayan mengantarnya ke

sebuah kamar yang disediakan untuk dia selama tinggal di gedung itu.

“Kongcu,” kata pelayan itu, “di dalam almari itu terdapat pakaian yang sengaja disediakan oleh Yoloya

untuk kongcu pakai.”

Setelah pelayan itu pergi, Goan Ciang berdiri tertegun, mengagumi kamar yang indah itu. Bagaikan

seorang anak kecil menemukan mainan baru, dia mencoba duduk di kursi yang terukir itu, mencoba

rebah di dipan yang lunak, dan membuka almari melihat dengan mata terbelalak pakaian yang

terbuat dari sutera halus, lengkap dan ketika dicobanya, ukurannyapun tepat dengan tubuhnya!

Mulai hari itu, Goan Ciang tinggal di rumah Yo Ci, diperlakukan sebagai seorang tamu yang

terhormat. Setiap hari dia pergi meninggalkan rumah itu menuju ke bandar untuk melakukan

penyelidikan. Dia merasa heran sekali melihat betapa dua puluh orang pekerja yang kemarin

dibantunya, kini acuh saja melihatnya, bahkan membuang muka seolah tidak mengenalnya lagi.

Mandor gendut juga tidak ada, diganti seorang mandor yang kurus dan nampak ramah.

Dalam pengamatannya, dia mendapat kenyataan bahwa semua pekerja itu bekerja dengan tertib

dan rajin, dan memang tidak pernah terjadi keributan di situ karena semua pekerja takut kepada

para pengawal atau tukang pukul. Dan memang keamanan terjaga, tidak ada barang yang hilang, tidak

pernah terjadi pencurian. Akan tetapi, dia melihat pula bahwa dalam segala bidang diadakan uang

pungutan atau semacam pajak yang besar. Hal ini dia ketahui ketika dia mendekati para pemilik

perahu. Biarpun takut-takut, para pemilik perahu inilah yang menceritakan kepada Goan Ciang bahwa

setiap orang pemilik perahu harus menyerahkan sebagian dari hasil penyewaan perahunya kepada

penguasa melalui anak buah Yo-loya. Bukan hanya pemilik perahu yang dikenakan pajak, juga pemilik

barang. Baik barang yang masuk di bandar itu, maupun yang keluar, semua dikenakan pajak yang

besar jumlahnya. Hal ini,menurut tukang perahu, membuat pekerjaan mereka tidak lancar. Terpaksa

tukang perahu menaikkan tarip sewa perahum dan para pedagang menaikkan harga dagangan mereka.

Inipun secara sembunyi, karena kalau ketahuan nak buah Yo-loya, maka pajakpun akan dinaikkan

sesuai dengan kenaikan sewa perahu atau harga barang dagangan! Cu Goan Ciang melihat betapa para

pedagang, tukang perahu, sampai pekerja kasar semua sudah dicengkeram oleh penguasa melalui

anak buah Yo-loya, dan diperas habis-habisan!

 

Malam itu, setelah makan malam yang mewah seorang diri karena Yo-loya sedang keluar rumah,

Goan Ciang berjalan-jalan di taman bunga yang luas dan indah milik keluarga itu. Kamarnya memang

berada di samping, menembus taman sehingga dia dapat dengan leluasa meninggalkan kamar untuk

keluar rumah atau memasuki taman. Malam itu terang bulan, udaranya juga hangat karena tidak ada

angin dan terangnya bulan ditambah pula dengan lampu-lampu gantung beraneka warna yang berada

di taman.

Goan Ciang duduk di atas bangku dekan kolam ikan emas, termenung. Dia bingung memikirkan

keadaan bandar. Jelas bahwa semua orang, dari pedagang sampai pekerja kasar, diperas oleh

penguasa. Para pedagang dan tukang perahu masih dapat berusaha menutup biaya pemerasan itu

dengan menaikkan tarip sewa dan harga barang. Akan tetapi bagaimana dengan para pekerja?

Mereka tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menerima nasib. Juga, kenaikan harga barang-barang

itu akhirnya menimpa pula rakyat kecil yang membutuhkannya, karena harganya otomatis menjadi

mahal. Dia memikirkan peran yang dipegang Yo Ci. Benarkah Yo Ci membantu para pekerja kasar,

membantu para pemilik perahu dan pedagang? Mengatur dan menertibkan keadaan agar mereka

semua tidak diganggu oleh penguasa setempat? Ataukah Yo Ci mempergunakan hubungannya dengan

para penguasa untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari pemerasan itu? Membagi-bagi hasil

pemerasan dengan penguasa? Dia harus berhati-hati sebelum melihat buktinya. Anak buah Yo Ci

memang memperlihatkan kekerasan dan kekejaman, akan tetapi sikap Yo Ci baik sekali, tidak seperti

orang yang suka melakukan pemerasan.

Tiba-tiba Goan Ciang dikejutkan oleh suara tawa beberapa orang wanita. Dia hendak menyelinap

pergi, namun terlambat karena pada saat itu terdengar suara yang merdu, “Aih, kiranya Cu-sicu

yang berada di sini! Maafkan kalau kami mengganggu ketenanganmu, sicu!”

Cu Goan Ciang memandang dan dia mengenal wanita yang bicara itu. Isteri ke empat dari Yo Ci.

Isteri ke empat ini masih muda, belum tiga puluh tahun usianya dan cantik manis. Di belakangnya

berjalan lima orang gadis pelayan yang juga cantik-cantik berusia dari delapan belas sampai dua

puluh tahun, dengan pakaian pelayan namun tidak menyembunyikan kecantikan wajah mereka dan

kemolekkan tubuh mereka.

“Saya yang minta maaf, toanio (nyonya besar), saya telah lancang memasuki taman keluarga…”

“Aihh, sicu, mengapa begitu sungkan dan menyebutku toanio segala? Bukankah engkau menyebut

suamiku paman? Nah, sepatutnya engkau menyebutku bibi, akan tetapi karena usia kita tidak

berselisih banyak, lebih pantas kalau engkau menyebut aku enci. Namaku Yen Li, kausebut aku enci

Yen Li, bukankah lebih mesra?” Setelah berkata demikian, wanita cantik selir tuan rumah itu

mendekatinya, dengan berani memegang tangannya dan mengajaknya duduk kembali di atas bangku

panjang dekat kolam ikan. Lima orang gadis pelayan itu sambil tersenyum-senyum juga

mengepungnya, ada yang menawarkan minuman ada yang menawarkan manisan atau buah-buahan,

semua dengan suara merdu dan merayu. Dikelilingi enam orang wanita cantik itu, Goan Ciang merasa

seolah tenggelam ke dalam air, membuatnya gelagapan karena bau harum menyesakkan dadanya. Dia

adalah seorang pemuda yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita, dan kini enam

orang wanita cantik seolah saling berebut untuk menarik perhatiannya. Sentuhan jari tangan lembut,

kerling tajam memikat dan senyum semanis madu seperti membuat dia tenggelam.

Akan tetapi, Cu Goan Ciang adalah seorang laki-laki yang keras hati. Dia memiliki cita-cita yang

tinggi dan sebelum cita-citanya itu tercapai, dia tidak mau diganggu oleh godaan wanita, apa lagi

mengingat bahwa wanita ini adalah isteri muda tuan rumah. Sungguh memalukan sekali kalau dia,

sebagai tamu yang dihormati dan diperlakukan baik, kini mengkhianati tuan rumah dengan

menyambut uluran tangan kotor wanita itu.

“Maaf, tidak baik begini, aku mau pergi tidur!” katanya dan diapun cepat menyelinap, melepaskan

diri dari kepungan enam orang wanita itu dan berlari memasuki kamarnya dan menutupkan daun

pintu, menguncinya dari dalam. Terdengar langkah-langkah kaki lembut mengejarnya dan kini daun

pintu kamarnya diketuk-ketuk dari luar.

 

“Sicu, buka pintu, biarkan aku masuk, aku ingin bercakap-cakap denganmu!” terdengar suara selir

tuan rumah itu.

“Kongcu, bukalah, saya ingin melayani kongcu!” terdengar suara gadis pelayan, disusul kata-kata

bujukan dari para gadis pelayan yang lain.

Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Bagaimana mungkin mereka begitu nekat? Andai kata mereka

adalah wanita-wanita tak bermalu, tentu tidak begitu caranya, tidak beramai-ramai dan terangterangan

seperti itu.” Timbul kecurigaan di hati pemuda ini. Sungguh tidak wajar sikap mereka,

pikirnya, seperti diatur saja. Diatur oleh Yo Ci! Kalau tidak demikian, kiranya selir itu tidak akan

senekat itu. Andai kata tertarik kepadanyapun tentu melakukan usaha hubungan secara rahasia agar

tidak diketahui para isteri lain. Akan tetapi ini demikian terang-terangan, seolah selir itu dan lima

orang pelayannya tidak takut ketahuan orang lain. Ini tidak wajar!

Diapun mendekati pintu dan berkata dengan nada suara tegas, “Haii, kalian yang berada di depan

pintu, pergilah dan hangan menggangguku, atau aku akan pergi meninggalkan rumah ini sekarang juga

dan besok aku akan melapor dan protes kepada paman Yo Ci!”

Suara di luar itu berhenti, kemudian terdengar kaki-kaki ringan melangkah pergi dan mereka

bersungut-sungut. Terdengar oleh Goan Ciang cemoohan beberapa di antara mereka, “Huh, laki-laki

banci!”

Semenjak malam itu, Goan Ciang tidak pernah lagi diganggu wanita. Beberapa hari kemudian, Yo Ci

mengajak dia bercakap-cakap di ruangan dalam. Setelah menyuguhkan anggur dan makanan kering,

Yo Ci lalu membuka percakapan.

“Bagaimana, Cu-sicu? Setelah beberapa hari tinggal di sini dan melakukan penyelidikan ke bandar,

maukah engkau menerima tawaranku untuk bekerja membantuku? Aku akan memberi kekuasaan

sepenuhnya kepadamu.”

“Terima kasih, paman. Memang sudah saya lakukan penyelidikan dan saya sudah mengambil

keputusan.”

“Bagus!” seru Yo Ci gembira. Tadinya dia sudah marah merasa hampir putus asa karena pemuda

itu demikian keras hati. Bahkan pakaian selemari penuh yang disediakannya untuk pemuda itu, tidak

pernah dipakainya. Pemuda itu selalu memakai pakaian bekalnya sendiri yang sederhana. Dan lebih

dari itu, usahanya menggoda dan menjatuhkan pemuda itu di bawah pengaruh kecantikan wanitapun

gagal!

“Saya mau membantu paman, dengan syarat!”

“Apa syaratnya? Katakan! Berapa gaji yang kauminta? Akan kupenuhi.”

“Bukan itu, paman Yo. Syaratnya adalah agar tidak dikenakan pajak kepada para pekerja kasar

itu, dan para mandor tidak perlu membawa tukang pukul, tidak perlu dilakukan kekerasan terhadap

para pekerja kasar. Selain gaji mereka tidak dipotong, juga kalau mereka sakit harus diberi biaya

pengobatan dan diberi bantuan untuk mereka dapat makan selama dalam sakit.”

“Tapi itu tidak mungkin!” Yo Ci mengerutkan alisnya dan pandang matanya berkilat marah. “Kita

harus membayar pajak kepada para penguasa, orang-orangnya pemerintah. Tanpa memungut pajak

dari para pekerja, bagaimana kita dapat membayar pajak kepada pemerintah?”

“Paman, saya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa paman sudah menyuruh orang

memungut pajak yang besar dari para pedagang pemilik barang yang dibongkar muat di bandar, dan

juga dari para juragan perahu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal, cukup pantas kalau

dikenakan pajak karena mereka memang mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, para pekerja kasar

itu hanya bermodalkan tenaga badan, sungguh tidak adil kalau harus diperas dan dikenakan pajak

dan tidak dijamin kalau jatuh sakit dan tidak dapat bekerja.”

Yo Ci mengerutkan alisnya semakin mendalam, matanya bersinar marah. “Cu-sicu, aturan yang

kauajukan ini dapat membuat aku bangkrut! Ajukan syarat lain untuk dirimu sendiri, kenapa engkau

begitu membela para pekerja kasar itu? Tahukan engkau bahwa di antara mereka itu banyak

terdapat penjahat-penjahat kecil yang kalau tidak dikendalikan akan menjadi pencuri, perampok dan

pengacau yang jahat?”

 

“Paman, betapapun jahatnya seseorang, kalau dia sudah mau bekerja keras, hal itu menunjukkan

bahwa dia berusaha untuk kembali ke jalan benar. Karena itu, perlu ditunjang agar jangan sampai

mereka kembali terperosok ke dalam kejahatan. Kalau ditekan, bukan tidak mungkin mereka akan

kembali menjadi pencuri.”

Sebelum tuan rumah membantah, tiba-tiba masuk seorang pengawal melaporkan akan kedatangan

Bhong-Ciangkun (perwira Bhong). “Ah, persilahkan dia menunggu di ruang tamu, sebentar lagi aku

akan menyambutnya,” kata Yo Ci dan setelah pengawal itu pergi, Yo Ci berkata kepada Goan Ciang,

“Nah, terpaksa kita hentikan dulu percakapan kita, sicu. Yang datang adalah perwira Bhong yang

berkuasa di kota ini, bahkan dia penguasa yang ditugaskan mengatur bandar. Kebetulan sekali, mari

kuperkenalkan dengan dia.”

Sebetulnya Goan Ciang tidak ingin berkenalan dengan perwira pemerintah yang hendak

ditentangnya, akan tetapi untuk menolak, dia merasa tidak enak kepada Yo Ci. Pula, dia ingin melihat

dan mendengar apa hubungan tuan rumah ini dengan penguasa itu.

Ketika tiba di ruangan tamu dan diperkenalkan dengan tamu itu, Goan Ciang memandang penuh

perhatian. Perwira itu masih muda, kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya, tegap tampan dan

gagah, dengan pakaian yang gemerlapan, pedang tergantung di pinggang, lagaknya angkuh ketika dia

memandang kepada Goan Ciang dengan sikap merendahkan karena Goan Ciang hanya berpakaian

sederhana. Tiga orang pengawal yang tadinya berdiri di belakang perwira itu, setelah menerima

isarat, lalu keluar dari ruangan tamu.

“Paman Yo Ci, siapakah pemuda ini?” tanyanya Bhong-Ciangkun dengan sikap angkuh. Dari lagak,

bentuk wajah dan pakaiannya, Goan Ciang dapat menduga bahwa perwira ini, bukanlah pribumi,

setidaknya tentu keturunan Mongol kalau bukan Mongol asli.

“Perkenalkan, Ciangkun. Ini adalah saudara Cu Goan Ciang, calon pembantu saya, pembantu utama

yang dapat diandalkan. Cu-hiante, ini adalah yang terhormat Bhong-Ciangkun.”

Perwira itu hanya mengangguk, dan Goan Ciang juga tidak mengangkat kedua tangan, melainkan

membalasnya dengan anggukan biasa pula. Tidak sudi dia bersikap hormat dan merendah terhadap

seorang perwira Mongol!

Melihat sikap Goan Ciang, Yo Ci merasa tidak senang dan khawatir kalau perwira itu marah, maka

cepat dia mempersilahkan perwira itu untuk duduk. Seorang pelayan wanita datang menyuguhkan

minuman dan makanan. Melihat wanita muda itu, mata sang perwira menjadi jalang dan pelayan itu

mengingatkan dia akan sesuatu, maka katanya, “Paman, mana Nona Yo? Sudah lama aku tidak

bertemu dengannya sehingga merasa rindu. Bolehkah aku bertemu dan bercengkerama dengannya?”

Terkejutlah Goan Ciang. Permintaan itu sungguh tidak pantas sekali. Minta kepada tuan rumah

agar dapat bertemu dan bercengkerama dengan gadis puteri tuan rumah! Akan tetapi agaknya Yo Ci

sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum lebar.

“Nanti dulu, Ciangkun. Kita membicarakan urusan pekerjaan dulu, nanti Ciangkun boleh bicara

sepuasnya dengannya.” Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa agaknya sang perwira memang

sudah bersahabat baik dengan puteri majikan itu! Dan teringatlah Goan Ciang akan peristiwa pada

malam hari itu. Dia menduga bahwa Yo Ci sengaja menyerahkan selirnya kepadanya sebagai umpan.

Orang yang berwatak seperti itu, bukan tidak mungkin kalau juga mengumpankan puterinya sendiri

kepada seorang penguasa seperti Bhong-Ciangkun. Diam-diam Goan Ciang merasa jijik

membayangkan betapa gadis puteri Yo Ci yang cantik jelita itu dijadikan alat untuk menyenangkan

hati sang perwira.

“Ha-ha-ha, baiklah, paman. Nah, urusan apa yang begitu penting sehingga paman mengundang aku

datang ke sini? Dan kenapa sobat Cu ini ikut hadir?”

“Justeru aku ingin bicara tentang saudara Cu Goan Ciang ini, Ciangkun. Dia adalah seorang pemuda

yang tangguh dan lihai, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Karena itu, aku ingin mengangkat

dia menjadi pembantu utama untuk mengepalai semua mandor bandar agar keamanan terjamin dan

tidak ada mandor yang curang dan mengurangi penghasilan. Akan tetapi dia mengajukan syarat…”

 

“Nanti dulu, paman. Saudara Cu ini apakah mampu untuk memimpin semua mandor dan menjamin

keamanan di sana? Dibutuhkan seorang yang benar-benar tangguh untuk pekerjaan seperti itu,

paman!” Pandang mata Bhong-Ciangkun kini penuh selidik menatap wajah Goan Ciang, alisnya

berkerut dan sikapnya penuh kesangsian.

Yo Ci tersenyum lebar. “Percayalah, Ciangkun. Sudah terbukti ketangkasannya, dan kalau perlu

boleh diuji. Akan tetapi, dia mengajukan syarat dan syarat itulah yang ingin kubicarakan denganmu,

minta pendapatmu bagaimana.”

“Hemm, apa syaratnya? Kalau gaji besar, mudah saja…”

“Justeru itulah, dia tidak menghendaki gaji besar dan lain kesenangan untuk dirinya sendiri.

Syaratnya adalah agar gaji para pekerja kasar di bandar diberikan penuh, tidak dipotong pajak…”

“Apa?? Tidak mungkin! Kita makan apa kalau pajak itu dibebaskan?” seru perwira itu melotot.

Ucapan ini dicatat dalam hati oleh Goan Ciang karena ucapan itu mengungkapkan bahwa pembayaran

pajak atau pungutan pajak dari para pekerja kasar itu merupakan penghasilan perwira ini! Yo Ci

tidak berbohong ketika mengatakan bahwa pajak itu disetorkan kepada penguasa, mungkin dibagi di

antara mereka.

“Akan tetapi, Ciangkun. Para pekerja kasar itu hanya berpenghasilan lima belas keping sehari, dan

pajaknya lima keping, sungguh amat berat bagi mereka. Apakah tidak dapat dihapuskan, atau

setidaknya dikurangi agar jangan terlalu berat dan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang

cukup untuk makan?”

Perwira itu menatap wajah Goan Ciang dengan sinar mata berkilat. “Kalau engkau ingin bekerja

pada paman Yo, kenapa mesti mencampuri urusan pemungutan pajak? Engkau bekerja saja dengan

baik, menerima upah yang besar dan urusan pajak serahkan saja kepada kami. Engkau tinggal

memerintahkan mandor untuk memotong gaji mereka, habis perkara!”

Wajah Goan Ciang mulai berubah merah. Perwira ini sungguh angkuh, sombong setengah mati,

memandang rendah sekali kepadanya dan belum apa-apa sudah menganggap dia seorang bawahannya

yang harus patuh kepadanya.

“Ciangkun, aku ingin bekerja kepada paman Yo, bukan kepadamu! Pula, syaratku itu tidak boleh

ditawar-tawar lagi. Diterima syukur, kalau tidakpun tidak apa-apa, aku tidak bekerja di bandarpun

tidak mengapa!”

“Cu-hiante, kenapa sikapmu begini? Ingat, engkau berhadapan dengan Bhong-Ciangkun, penguasa

bandar di Wu-han!” Yo Ci terpaksa menegur karena dia khawatir kalau sampai perwira itu marah.

“Paman, aku tidak perduli siapa dia. Siapapun dia, aku tidak sudi dipaksa untuk membantu orang

memeras dan menindas para pekerja kasar yang miskin itu!” kata Goan Ciang yang sudah marah pula.

“Bocah sombong!” Perwira Bhong kini bangkit dari kursinya dan menudingkan telunjuknya kepada

muka pemuda itu. “Berani engkau bersikap seperti ini di hadapanku? Engkau ini agaknya sekomplotan

dengan para pekerja kasar itu, ya? Hendak memberontak, ya? Para pekerja kasar itu seperti

segerombolan anjing, kalau tidak diperlakukan dengan keras, mereka akan banyak bertingkah! Kau

hendak memimpin mereka memberontak terhadap pemerintah?”

Bukan main marahnya Cu Goan Ciang. Tanpa disadari, tangannya mencengkeram cawan arak di

depannya dan cawan itu menjadi ringsek! Diapun bangkit berdiri dan menentang pandang mata

perwira itu dengan mata mencorong. Melihat ini, tentu saja Yo Ci khawatir sekali kalau sang perwira

akan marah kepadanya dan menyalahkan dia karena dia yang menampung Goan Ciang.

“Cu Goan Ciang, sungguh engkau mengecewakan hatiku. Engkau orang tidak berbudi. Kurang baik

bagaimana kami menerimamu sebagai tamu? Akan tetapi engkau tidak dapat menghargai budi

kebaikan kami, bahkan kini bersikap kurang ajar sekali terhadap Bhong-Ciangkun yang kami

hormati?”

Melihat betapa Yo Ci membela perwira itu dan menegurnya, Goan Ciang tersenyum mengejek.

“Majikan Yo, aku tahu bahwa selama beberapa hari ini engkau hanya ingin membujukku. Engkau

bahkan tidak segan untuk menyerahkan isterimu sebagai umpan untuk merayuku! Akan tetapi, aku

bukan orang sebodoh itu. Engkau baik kepadaku hanya untuk membujuk agar aku suka

 

menghambakan diriku kepadamu. Hemm, aku tidak sudi untuk membantumu memeras para pekerja

miskin dan menjadi antek perwira ini!”

“Keparat, engkau sungguh jahat!” Yo Ci berseru dan berteriak memanggil pengawal. Sepuluh orang

pengawal yang nampak bengis dan kuat membukan daun pintu dan berdiri di luar kamar itu, siap

untuk turun tangan apabila diperintah. Juga tiga orang pengawal perwira itu sudah siap di ambang

pintu.

“Sudahlah, aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian,” kata Goan Ciang dan diapun melangkah

hendak keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan para pengawal yang berdiri menghadang di

pintu.

“Tangkap dia!” teriak Yo Ci kepada para pengawalnya.

Mendengar perintah ini, ketika Goan Ciang sudah tiba di luar kamar tamu, para pengawal itu

menghadang. Namun, Goan Ciagn menyelinap dan meloncat, lari ke dalam kamarnya. Memang dia

selalu sudah mempersiapkan buntalan pakaiannya, maka begitu memasuki kamarnya, dia menyambar

dan mengikatkan buntalan pakaiannya di punggung, kemudian dia keluar dari kamarnya melalui taman.

Kiranya para pengawal sudah menghadang di sana, bersama Yo Ci, Bhong-Ciangkun, dan tiga orang

pengawal Bhong-Ciangkun. Tidak kurang daari dua puluh orang sudah menghadangnya.

“Pemberontak, berlutut dan menyerahlah engkau!” teriak Bhong-Ciangkun sambil menghunus

pedangnya.

“Cu Goan Ciang, engkau telah bersalah terhadap pejabat pemerintah, menyerahlah!” bentak pula

Yo Ci yang kini sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk mempergunakan tenaga pemuda yang

keras hati itu karena sia-sia saja dia membujuk, dan kini bangkit kemarahannya mengingat bahwa

pemuda ini pernah menghajar anak buahnya di bandar dan merugikannya.

“Aku tidak sudi menyerah!” bentak Cu Goan Ciang.

“Serang dia, bunuh dia!” Perwira Bhong yang sudah marah sekali itu berseru dan dia sendiri yang

memandang rendah Goan Ciang sudah menggerakkan pedangnya menyerang, disusul oleh Yo Ci yang

juga menyerang dengan menggunakan huncwenya. Ternyata serangan kedua orang ini cukup hebat

sehingga Goan Ciang cepat menggunakan kegesitannya untuk mengelak. Akan tetapi dia disambut

serangan belasan orang pengawal yang rata-rata memiliki tenaga kuat dan ilmu silat yang lumayan

tangguh.

Maklum bahwa dia berada dalam bahaya karena dikeroyok banyak lawan yang cukup tangguh dan

yang bermaksud untuk membunuhnya, Cu Goan Ciang segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu

Sin-tiauw ciang-hoat, ilmu rahasia yang dia pelajari dari gurunya, Lauw In Hwesio ketua Siauw-limsi.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya melayang ke atas bagaikan

seekor burung rajawali sehingga semua serangan lawan luput dan ketika semua pengeroyok

berdongak untuk mengikuti gerakan pemuda yang melayang seperti burung itu, Goan Ciang menukik

turun dan begitu dia menyambar dengan kaki tangannya, empat orang pengeroyok roboh

terpelanting seperti disambar petir.

Cu Goan Ciang mengamuk dan pengeroyokan semakin ketat karena para pengeroyok marah melihat

betapa pemuda itu telah merobohkan empat orang kawan mereka. Bhong-Ciangkun mengeluarkan

bentakan nyaring dan dia yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara para pengawal, menerjang

dengan pedangnya, mengerahkan tenaganya untuk memenggal leher Goan Ciang.

“Singgg…!!” Ketika Goan Ciang mengelak, pedang itu menyambar luput dan mengeluarkan suara

berdesing. Sebelum Goan Ciang mampu membalas serangan perwira yang dibencinya itu, para

pengeroyok lain sudah menyerangnya dari berbagai penjuru, bahkan huncwe emas di tangan Yo Ci

ternyata lihai sekali melakukan totokan ke arah jalan darah di lehernya. Goan Ciang kembali

membentak dan melengking nyaring, tubuhnya berkelebatan gesit sekali dan ketika dia melompat ke

atas lalu menyambar bagaikan seekor rajawali, kembali dua orang pengeroyok dapat dia robohkan!

Sekali ini yang roboh adalah pengawal Bhong-Ciangkun, maka perwira itu menjadi penasaran dan

marah. Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan cepat ke arah tubuh Goan Ciang. Karena huncwe di

 

tangan Yo Ci juga menyambar-nyambar dengan totokannya dan semua jalan keluar dihadang oleh

sambaran senjata para pengeroyok lainnya, maka Goan Ciang agak terdesak.

“Singgg… crokk…!” Pakaian di buntalan yang terletak di punggung Goan Ciang jatuh berhamburan

karena buntalan itu pecah terkena sabetan pedang di tangan Bhong-Ciangkun.

“Sekarang otakmu yang berhamburan!” Perwira yang merasa mendapat hati karena sudah berhasil

mendesak lawannya dan merobek buntalan pakaian, mendesak dengan ganasnya. Goan Ciang sengaja

menanti sampai pedang itu menyambar kepalanya. Dengan menarik kepala ke belakang, pedang itu

menyambar lewat. Secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pedang.

Perwira itu berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas. Goan Ciang menyambar pedang itu dan

sekali dia mengelebatkan senjata itu, robeklah perut Bhong-Ciangkun yang mengeluarkan suara

jeritan panjang lalu roboh mandi darah!

Bukan main kaget dan marahnya Yo Ci melihat perwira itu roboh dan tewas. Dia membentak

nyaring, menyuruh anak buahnya mencari bala bantuan, dan dia sendiri memimpin para pengawal

untuk mengeroyok. Huncwenya menyambar-nyambar dan memang ilmu silat Yo Ci cukup tinggi, lebih

tinggi dari pada semua pengawalnya. Namun sekali ini Goan Ciang tidak memberi hati lagi. Dia

menggunakan pedang rampasannya untuk mengamuk. Pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi

sinar bergulung-gulung dan dalam waktu sebentar saja, para pengeroyok itu sudah kocar-kacir dan

banyak yang roboh mandi darah. Yo Ci masih bertahan dan kini dia, dibantu sisa pengawalnya,

bertanding mati-matian melawan Goan Ciang. Sebetulnya kalau dia menghendaki, Goan Ciang tentu

sudah dapat merobohkan dan membunuh Yo Ci. Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang yang

pernah menjadi tuan rumah ini, hanya ingin merobohkan tanpa membunuh.

Pada saat itu, bermunculan banyak orang berpakaian seragam. Pasukan keamanan pemerintah!

Goan Ciang menjadi marah. “Yo Ci, engkau anjing penjilat penjajah!” bentaknya dan begitu pedangnya

diputar, huncwe di tangan Yo Ci terpental dan sebuah tendangan yang keras mengenai dada Yo Ci,

membuat dia terjengkang dan roboh pingsan! Setelah merobohkan Yo Ci, Goan Ciang lalu melompat,

merobohkan tiga orang penghadang dan lari keluar dari taman, dikejar oleh banyak prajurit

keamanan.

Gegerlah kota Wu-han di hari itu. Di mana-mana, para prajurit berlarian dan mencari-cari, namun

bayangan pemuda yang mereka cari itu lenyap. Para prajurit menggeledah semua rumah dan

kesempatan melakukan “pembersihan” ini mereka pergunakan seperti biasa, demi keuntungan diri

sendiri. Ketika menggeledah rumah-rumah orang, mereka waspada terhadap barang-barang

berharga yang kecil untuk disambar dan dimasukkan kantung, juga terhadap gadis-gadis atau ibu-ibu

muda yang cantik untuk digoda, dicolek, bahkan ada yang sempat diperkosa! Seluruh kota menjadi

geger. Semua orang kini mendengar bahwa pemuda yang bernama Cu Goan Ciang telah membunuh

Bhong-Ciangkun penguasa bandar, juga membunuh banyak prajurit pengawal di rumah Yo Ci, majikan

yang mengatur bandar. Mendengar berita ini, banyak orang merasa puas dan gembira karena mereka

semua rata-rata pernah diperas oleh Bhong-Ciangkun dan Yo Ci. Akan tetapi banyak pula yang

mengeluh karena gara-gara pemuda itu, mereka menderita rugi, ada barang yang dirampas para

prajurit yang melakukan penggeledahan, ada pula perempuan yang diganggu. Bahkan para pekerja

kasar di bandar berdebar-debar penuh kekhawatiran karena mereka takut kalau-kalau para

pembesar menyalahkan mereka, mengingat betapa pemuda yang mengamuk itu pada mulanya

membela mereka di bandar.

Ke mana perginya Cu Goan Ciang? Dia tidak mempunyai seorangpun kenalan di kota Wu-han yang

ramai itu, dan kiranya akan sukar baginya untuk bersembunyi di dalam kota karena puluhan orang

prajurit melakukan penggeledahan, bahkan semua pintu gerbang kota Wu-han dijaga ketat dan

setiap orang yang keluar dari pintu gerbang diperiksa dan diamati.

Ketika Goan Ciang melarikan diri, menyelinap ke sana-sini, di antara rumah-rumah, ke sana

bertemu penjaga dan ke sinipun bertemu prajurit sampai dia terengah-engah kebingungan karena

pengejaran semakin rapat, tiba-tiba dia melihat serombongan orang mengiringkan sebuah joli yang

 

dipanggul oleh empat orang. Rombongan itu terdiri dari enam orang wanita dan enam orang pria,

yang berjalan di belakang joli yang tertutup tirai merah.

Goan Ciang mendapat akal. Cepat dia lari ke rombongan itu dan menyusup ke tengah-tengah di

antara enam orang pria dan enam orang wanita. Dua belas orang itu memandang dan nampak marah,

akan tetapi dari dalam joli terdengara suara lembut seorang wanita.

“Sipa kau dan mau apa?”

“Aku mohon bantuan kalian untuk dibolehkan bersembunyi dalam rombongan ini, aku dikejar-kejar

pasukan keamanan!”

“Kenapa?”

Tidak ada gunanya berbohong. Untung-untungan, pikirnya. Kalau orang ini seperti Yo Ci, menjadi

antek pemerintah, tentu dia akan dikeroyok, akan tetapi kalau sebaliknya, mungkin dia akan dibantu.

“Aku telah membunuh seorang perwira.”

Dua belas orang itu mengeluarkan seruan tertahan dan suara dalam joli berkata. “Ah, kiranya

engkau yang menggegerkan kota itu? Nah, engkau bersembunyilah ke sini, di dalam joli. Turunkan

joli!” perintahnya kepada para penggotongnya. Empat orang penggotong dan dua belas orang

pengikut itu menjadi terheran-heran ketika nona mereka membuka tirai merah joli itu dan memberi

isarata kepada Goan Ciang untuk memasuki joli! Joli itu kecil saja, kalau ditumpangi dua orang tentu

akan berhimpitan! Akan tetapi karena yang menyuruhnya adalah pemilik joli, dan dia tidak melihat

tempat lain yang lebih baik untuk bersembunyi, diapun masuk ke dalam joli.

“Hayo, jalan kembali, tenang dan biasa saja, jangan panik,” kata wanita itu kepada para

penggotong dan para pengikutnya. Joli digotong lagi dan perjalanan dilanjutkan.

Cu Goan Ciang juga terkejut dan mukanya terasa panas, tentu berwarna merah sekali ketika dia

melihat bahwa yang menyuruh dia masuk ke joli yang kini duduk di sebelahnya, bahkan duduk

berhimpitan karena joli itu terlalu kecil untuk mereka berdua, adalah seorang gadis yang cantik

manis berusia kurang lebih delapan belas tahun! Gadis itu berwajah bulat telur, sepasang matanya

lebar dan jeli, senyumnya wajar dan pakaiannya dari sutera halus namun riasan mukanya sederhana

saja. Biarpun demikian, kesederhanaan itu justeru membuat kecantikannya semakin menonjol.

Keharuman yang lembut membuai Goan Ciang, dan dia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan

tubuh gadis itu yang duduk berhimpitan dengan dia, beradu sisi pinggul dan paha. Selama hidupnya,

belum pernah dia berdekatan dan akrab dengan wanita dan sekali ini, dia duduk berhimpitan seperti

itu. Tentu saja jantungnya berdebar aneh dan dia seperti seekor tikus di sudut yang dihadapi

kucing. Tidak berani bergerak, bahkan kalau mungkin dia akan menghentikan pernapasannya.

Rombongan itu menuju ke pintu gerbang timur. Di tengah perjalanan, seregu prajurit

menghentikan rombongan itu. “Berhenti!” terdengar bentakan perwira regu itu. “Kami bertugas

menyelidiki setiap orang yang lewat di sini.” Tentu saja Cu Goan Ciang merasa tegang. Celaka,

pikirnya, pasti dia akan ditangkap. Yang membuat dia menyesal adalah bahwa gadis dalam joli yang

berusaha menolongnya ini akan terbawa-bawa. Maka, diapun membuat gerakan hendak meloncat

keluar, akan tetapi tiba-tiba telapak tangan yang lunak dan hangat memegang pergelangan

tangannya. Ketika dia menoleh ke kiri, hampir saja hidungnya menyentuh pipi gadis itu saking

dekatnya mereka berhimpitan. Gadis itu menggeleng kepala perlahan sambil tersenyum. Senyum itu!

Pandang mata itu! Goan Ciang menunduk, akan tetapi biarpun dia tidak jadi meloncat keluar, seluruh

urat syaraf di tubuhnya menegang, siap melawan kalau sampai ketahuan dan akan ditangkap.

“Ciangkun, kami mengantar nona untuk ke luar kota,” seorang di antara pengawal rombongan joli

itu memberi keterangan kepada kepala regu prajurit.

“Kami harus memeriksa dengan ketat, karena ada seorang buruan melarikan diri!” jawab perwira

itu yang agaknya mengenal rombongan.

Gadis itu menguak tirai di sudut depannya dan menjenguk keluar. Ia tersenyum manis kepada

perwira itu dan suaranya terdengar halus, namun bernada teguran, “Ciangkun yang gagah, apakah

Ciangkun sudah mulai tidak percaya dan mencurigai kami dari Jang-kiang-pang?”

 

Melihat nona itu, si perwira cepat memberi hormat, “Aih, kiranya Kim Siocia (Nona Kim) sendiri

yang berada dalam joli. Harap maafkan kami karena kami bertugas untuk mencari seorang pelarian!”

Gadis itu hanya kelihatan kepalanya terjulur keluar dari tirai joli, mengangguk-angguk. “Aku

sudah mendengara akan keributan itu. Bukankah yang kaucari itu orang yang telah membunuh Bhong-

Ciangkun? Betapa beraninya orang itu! Akan tetapi kenapa engkau menghentikan rombongan kami,

Ciangkun? Apa kaukira pembunuh itu berada di dalam joliku yang kecil ini?”

“Aku tidak sebodoh itu, siocia! Akan tetapi, kami hanya ingin melihat, siapa tahu pembunuh itu

menyusup di antara para pengiring siocia.”

“Hemm, kalau begitu periksalah semua anak buahku. Kalau atasanmu mendengar bahwa engkau

mencurigai kami, tentu dia akan merasa tidak senang, dan ketua kami akan marah dan penasaran, lalu

melapor kepada atasanmu.”

Wajah perwira itu berubah. Dia sudah melihat bahwa di antara enam orang pengawal pria dan

empat orang laki-laki pemanggul joli, tidak terdapat pembunuh yang dicarinya.

“Maafkan kami, Kim Siocia. Kami hanya melaksanakan tugas dan sama sekali tidak bermaksud

mencurigai nona. Nah, silahkan rombongan nona melanjutkan perjalanan.”

Dengan sikap seperti orang marah gadis itu menutupkan tirai joli dan membentak rombongannya

untuk melanjutkan perjalanan. Joli dipanggul lagi dan rombongan itu melanjutkan perjalanan.

“Terima kasih,” Goan Ciang berbisik. Dia hanya cukup menoleh saja untuk mendekatkan mulutnya

ke telinga gadis itu.

“Belum waktunya berterima kasih, kita masih belum keluar dari kota,” gadis itu berbisik kembali.

Benar saja. Di pintu gerbang, kembali rombongan itu dihentikan oleh para penjaga. Akan tetapi,

gadis itu dapat pula mengatasi dengan sikapnya yang galak dan menantang akan melaporkan kepada

panglima sehingga kepala penjaga menjadi takut dan membiarkan rombongan itu lewat, apa lagi

karena mereka tidak melihat adanya pelarian itu di antara para pengiringnya. Gadis itu agaknya

dikenal semua prajurit keamanan dan hal ini tidaklah mengherankan. Perkumpulang Jang-kiang-pang

(Perkumpulang Sungai Panjang) merupakan perkumpulan yang amat terkenal. Para pemimpinnya

memiliki hubungan dekat dengan para pejabat tinggi di Wu-han. Dan gadis cantik itu merupakan

orang ke dua dari pimpinan perkumpulan itu karena ia adalah adik seperguruan sang ketua.

Setelah rombongan itu berhasil keluar dari pintu gerbang dengan selamat, bahkan sudah jauh

dari kota Wu-han, di dekat sebuah bukit, gadis itu menyuruh rombongannya berhenti. Joli

diturunkan dan Cu Goan Ciang keluar dari dalam joli, diikuti gadis itu. Kini mereka berdiri

berhadapan dan baru dapat saling pandang dengan jelas, tidak seperti di dalam joli tadi walaupun

saling berhimpitan, mereka merasa sungkan untuk saling bertatap muka karena terlalu dekat.

Setelah kini keduanya turun dan berdiri berhadapan, barulah Goan Ciang melihat kenyataan betapa

cantik manisnya gadis itu, terutama matanya yang jeli dan memancarkan kecerdikan. Tubuhnya

ramping padat dan agak tinggi bagi seorang wanita. Di lain pihak, gadis itupun baru sekarang dapat

melihat dengan jelas betapa gagah dan anggunnya pemuda yang ditolongnya itu. Seorang pemuda

yang masih muda, baru dua puluh tahun usianya, namun pembawaannya sudah masak dan dewasa,

dengan tubuh tinggi tegap, tegak dan anggun berwibawa, bagaikan seekor burung rajawali yang

gagah perkasa. Beberapa lamanya mereka berdiri saling berpandangan tanpa mengeluarkan katakata.

Hanya pandang mata mereka saja saling mengagumi.

Akhirnya Goan Ciang merasa betapa janggalnya sikap mereka, saling pandang seperti itu tanpa

bicara. Dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada gadis itu. “Aku Cu

Goan Ciang telah berhutang budi dan nyawa kepadamu, nona. Aku tidak akan melupakan budi

kebaikan nona dan amat berterima kasih kepadamu. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama nona

dan apakah nona seorang pemimpin dari sebuah perkumpulan besar maka begitu dihormati oleh para

prajurit penjaga keamanan?”

Melihat sikap Goan Ciang yang sopan, bicaranya yang lantang dan tegas, gadis itu tersenyum.

Iapun mengangkat kedua tangan depan dada untuk membalas penghormatan itu. “Cu-enghiong tidak

perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, apa lagi mengingat bahwa

 

engkau seorang gagah yang berani menentang seorang perwira yang bertindak sewenang-wenang.

Kami sudah mendengar akan semua sepak terjangmu yang membela kepentingan para pekerja kasar

di bandar. Engkau membela para pekerja kasar yang diperlakukan tidak adil oleh Yo Ci, bahkan

engkau telah membunuh Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han. Kami kagum kepadamu dan

sudah selayaknya kalau kami membantumu ketika engkau dikejar-kejar.”

“Nona terlalu memuji. Akan tetapi, engkau belum memperkenalkan diri, nona.”

“Namaku Kim Lee Siang, membantu suci yang bernama Liu Bi dan dijuluki Jang-kiang Sianli (Dewi

Sungai Panjang) memimpin perkumpulan kami Jang-kiang-pang. Markas kami berada di lembah sungai

Yang-ce.”

“Ah, kiranya nona Kim adalah seorang pemimpin perkumpulan besar. Pantas saja para prajurit itu

menghormatimu. Nah, harap nona suka menyampaikan terima kasihku kepada ketua Jang-kiang-pang

atas pertolongan yang diberikan kepadaku hari ini. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat

membalas budi itu. Sekarang, aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Engkau hendak pergi ke manakah, Cu-enghiong?”

“Ke mana saja nasib membawa diriku, nona. Yang jelas, aku tidak mungkin dapat tinggal di Wu-han

lagi.”

“Cu-enghiong, ketahuilah bahwa markas besar pasukan di Wu-han amat kuat dan mempunyai

banyak orang pandai. Mereka tentu tidak akan berhenti sebelum dapat menemukanmu dan mereka

pasti akan mengirim pasukan untuk melakukan pengejaran. Ke kota manapun engkau pergi, tentu akan

dikejar-kejar. Oleh karena itu, kalau engkau suka, sebaiknya engkau bersembunyi dulu di tempat

kami. Nanti setelah keadaan mereda dan tidak begitu hangat lagi, pencarian terhadap dirimu

mengendur, barulah engkau dapat melanjutkan perjalananmu.”

“Ah, aku hanya akan merepotkanmu saja, nona Kim.”

“Sama sekali tidak! Suci dan aku akan merasa girang menerimamu sebagai tamu kami. Kami

menghargai orang-orang gagah, apa lagi engkau sudah membuktikan bahwa engkau membela para

pekerja kasar di bandar. Tentu suci akan menghargaimu pula. Dan engkau akan lepas dari ancaman

bahaya pengejaran.”

Goan Ciang mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa gadis ini bicara benar. Kalau dia melarikan diri,

tentu ke manapun dia pergi, dia akan selalu terancam bahaya karena dia seorang pelarian yang akan

dikejar oleh pasukan keamanan. Memang sebaiknya kalau dia mendapatkan tempat bersembunyi yang

aman selama beberapa waktu. Dia dapat melihat bagaimana perkembangannya. Kalau sekiranya dia

tidak terlalu merepotkan orang, sebaiknya dia bersembunyi di perkumpulan itu. Andai kata

perkembangannya tidak enak, sewaktu-waktu dia dapat pergi meninggalkan tempat itu.

“Baiklah, nona Kim. Dan kembali terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi, dari sini biarlah aku

berjalan kaki saja,” katanya dan dia melihat betapa gadis itu nampak tersipu, tentu teringat betapa

tadi mereka duduk berhimpitan, seperti sepasang pengantin saja.

Kim Lee Siang mengangguk dan iapun memasuki jolinya, kemudian memerintahkan para pemikul joli

dan pengiringnya untuk bergerak cepat. Ketika para pemikul joli dan dua belas orang pengiring itu

mulai berlari, diam-diam Goan Ciang kagum. Ternyata bahwa mereka semua, juga empat orang

pemikul joli, bukan orang-orang sembarangan. Diapun mengikuti dari belakang dan betapa

cepatnyapun mereka berlari, Goan Ciang dapat mengikuti mereka.

Rombongan baru berhenti berlari ketika mereka tiba di depan pintu gerbang sebuah

perkampungan yang dikurung pagar tembok, di tepi sungai yang tinggi, merupakan tebing sungai. Di

situlah markas Jang-kiang-pang. Karena letaknya di tebing sungai, maka tempat itu tidak pernah

terancam banjir kalau musim hujan tiba dan air sungai meluap. Juga daerah perbukitan itu memiliki

tanah yang subur. Tidak nampak dusun lain di daerah itu. Agaknya Jang-kiang-pang telah menguasai

daerah itu sehingga tidak ada orang lain yang berani menempati daerah itu.

Setelah tiba di pintu gerbang, joli diturunkan dan Kim Lee Siang keluar dari dalam joli. Empat

orang pemikul joli dan dua belas orang pengiringnya agak terengah dan mereka semua menghapus

keringat dari muka dan leher. Akan tetapi ketika Lee Siang mengerling kepada Goan Ciang, ia

 

melihat pemuda itu sama sekali tidak terengah dan tidak berkeringat, maka diam-diam ia yang tadi

sengaja hendak menguji pemuda itu, merasa kagum dan tersenyum manis.

“Mari, Cu-enghiong, kita menghadap ketua kami. Kuperkenalkan kepada suciku,” katanya dan Cu

Goan Ciang mengangguk, lalu mengikuti gadis itu memasuki perkampungan yang menjadi pusat

perkumpulan itu. Setiap orang anggota perkumpulan, laki-laki dan wanita, yang bertemu dengan Lee

Siang, memberi hormat dengan sikap ramah, akan tetapi mereka semua memandang kepada Goan

Ciang dengan sinar mata curiga.

Gedung yang berada di tengah perkampungan itu, berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang

berada di situ, selain besar juga megah. Ketika Cu Goan Ciang mendaki tangga di samping Lee Siang

dan tiba di ruanga luar, dia sudah melihat adanya perabot rumah yang serba mewah, pot-pot

kembang yang indah, meja kursi yang terukir, tembok yang dicat bersih dan dihias lukisan-lukisan

dan tulisan-tulisan indah. Dua orang wanita yang berpakaian ringkas, agaknya merupakan pengawal

rumah itu, segera menyambut mereka dan kedua orang gadis manis itu memberi hormat kepada Lee

Siang.

“Di mana pangcu (ketua)?” tanya Lee Siang kepada mereka.

Sambil mengerling ke arah Goan Ciang dengan pandang mata heran, seorang di antara dua

pengawal itu menjawab, “Siocia, pangcu sejak pagi tadi pergi ke hutan bambu kuning dan pangcu

memesan agar siocia cepat menyusul ke sana.”

Lee Siang terbelalak, nampak kaget sekali. “Apakah sudah datang tantangan dari mereka?”

“Agaknya demikianlah, siocia. Pangcu tidak menceritakan kepada kami hanya memesan agar kami

melakukan penjagaan ketat di sini, dan pangcu pergi bersama Ngo-liong Ci-moi (kakak beradik lima

naga).”

“Ah, kalau begitu aku harus cepat menyusulnya. Mari, Cu-enghiong, mari kita pergi, mungkin aku

membutuhkan bantuanmu. Nanti dalam perjalanan kuceritakan!” kata Lee Siang dan iapun berlari

keluar dari situ. Cu Goan Ciang hanya mengikuti saja, dan setelah tiba di luar pintu gerbang, Lee

Siang berlari cepat sekali. Goan Ciang kagum dan diapun mempercepat larinya, menuju ke barat,

menyusuri sungai Yang-ce yang lebar.

“Perlahan dulu, nona. Aku perlu mengetahui duduknya perkara sebelum dapat membantumu,” kata

Goan Ciang dan Lee Siang menghentikan larinya, akan tetapi masih berjalan terus, didampingi oleh

Goan Ciang. Sambil berjalan, gadis itu bercerita.

“Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar, Cu-enghiong. Di Bukit Kijang, tak jauh dari sini,

tinggal seorang tokoh kang-ouw she Kwa yang mengetuai perguruan silat Yang-ce Bu-koan. Beberapa

bulan yang lalu, ketua Kwa meminang suci, akan tetapi ditolak keras oleh suci sehingga mereka

tersinggung dan selalu mengambil sikap bermusuhan dengan kami. Dan pernah ketua Kwa mengancam

akan menantang suci untuk mengadu ilmu karena penolakan suci dianggapnya suatu penghinaan. Nah,

kukira sekarang ini suci menyambut tantangannya. Kabarnya ketua Kwa itu lihai seklai, maka aku

mengkhawatirkan keselamatan suci. Kuharap engkau suka membantu kami kalau diperlukan.”

Goan Ciang mengangguk dan mengerutkan alisnya yang tebal. “Sungguh tidak tahu malu. Pinangan

ditolak mengapa lalu marah-marah dan menimbulkan permusuhan?” dia mengomel, tak puas dengan

sikap orang she Kwa itu.

Kini Lee Siang berlari lagi dan Goan Ciang juga tidak banyak bertanya. Mereka berlari cepat dan

tak lama kemudian mereka telah memasuki sebuah hutan. Mudah diduga bahwa inilah yang

dinamakan hutan Bambu Kuning karena di situ memang banyak tumbuh bambu kuning di samping

pohon-pohon lain.

Ketika mereka tiba ditengah hutan, di mana terdapat tempat terbuka dengan petak rumput tebal,

dan betapa kaget rasa hati mereka ketika melihat lima orang wanita rebah malang melintang di

tempat itu, dan suasana sepi sekali walaupun masih nampak bekas pertempuran terjadi di tempat

itu. Banyak darah melumuri rumput yang terinjak-injak, senjata tajam berserakan.

“Ngo-liong Ci-moi…!” Lee Siang berseru kaget dan cepat ia menghampiri mereka. Ternyata tiga

orang di antara mereka telah tewas, seorang terluka parah dan seorang lagi terluka ringan, akan

 

tetapi tidak mampu bergerak karena dalam keadaan tertotok. Agaknya baru saja mereka bertanding

melawan musuh yang pandai.

Setelah membebaskan totokan kedua orang yang terluka itu Lee Siang cepat bertanya, “Apa yang

terjadi? Mana pangcu?”

Wanita yang terluka parah di dadanya merintih, “Pangcu… tertawan mereka… cepat tolong ia,

siocia…” Dan iapun terkulai dan tewas pula.

Lee Siang meloncat ke orang yang terluka ringan dan menguncangnya. “Siapa yang menawan suci?

Orang-orang Yang-ce Bu-koan?”

Wanita itu menangis lirih dan sudah bangkit duduk. “Pangcu ditawan Kwa-kauwsu (guru silat Kwa),

dan kami berlima dikeroyok belasan orang anak buahnya.”

Lee Siang bangkit berdiri, mukanya berubag merah dan ia mengepal tinju. “Keparat orang she

Kwa! Enci Ciu, cepat kau pulang dan kerahkan semua saudara kita untuk menyerbu Yang-ce Bu-koan.

Aku pergi dulu menolong suci!”

“Baik, siocia,” kata wanita itu yang masih menangisi empat orang saudaranya yang tewas. Biarpun

hatinya hancur karena belum sempat mengurus jenazah empat orang saudaranya, terpaksa ia cepat

berlari pulang untuk minta bala bantuan. Sementara itu, Lee Siang menghadapi Goan Ciang.

“Cu-enghiong, kami menghadapi urusan besar. Aku akan mencoba untuk menolong suci. Akan tetapi

pekerjaan ini berbahaya sekali. Aku tidak berani memaksamu unutk membantu tetapi kalau engkau

sudi membantuku, aku akan berbesar hati dan berterima kasih sekali.”

“Nona Kim, kenapa berkata demikian? Bukankah katamu sudah sepatutnya kalau kita saling bantu?

Tentang bahaya, sudah sering aku terancam bahaya. Mari kita kejar mereka yang menawan sucimu

itu.”

Pandang mata gadis itu berkilat penuh harapan dan kegembiraan, lalu iapun meloncat dan kini ia

mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat secepat mungkin. Namun, dengan kagum ia

melihat betapa pemuda itu selalu dapat mengimbanginya, bahkan nampaknya tidak mengerahkan

seluruh tenaganya.

“Nona, harap berhenti dulu,” tiba-tiba Goan Ciang berkata dan gadis itu menahan larinya,

berhenti dan memandang kepada pemuda itu. Ia mengusap keringat dari lehernya karena tadi

mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat.

“Ada apakah, Cu-enghiong?”

“Nona, kurasa amat ceroboh kalau kita hanya langsung saja mendatangi Yang-ce Bu-koan,

menghadapi mereka yang berjumlah banyak.”

Gadis itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah, “Aku tidak takut! Untuk menolong suci, aku

rela mempertaruhkan nyawaku! Apakah engkau merasa jerih? Kalau engkau takut, biar aku sendiri

yang akan menolongnya!”

Goan Ciang tersenyum. “Bukan takut, nona. Akan tetapi aku khawatir kita berdua akan gagal kalau

menghadapi demikian banyaknya lawan…”

“Aku tidak takut!” kembali Lee Siang berkata tegas.

“Bukan soal berani atau takut, nona. Akan tetapi, apa artinya kalau kita berdua gagal? Kita

mungkin tertangkap atau tewas, akan tetapi yang jelas, kegagalan, kita tidak akan menolong sucimu

itu. Lalu apa artinya usaha yang sia-sia itu?”

“Habis, bagaimana? Apakah aku harus berpangku tangan mendiamkan saja suci ditawan mereka?”

“Tentu saja tidak, nona. Kita memang harus berusaha untuk menolong sucimu, akan tetapi tidak

secara ceroboh yang akhirnya bukannya berhasil malah membahayakan diri sendiri. Kita harus

mempergunakan akal agar dapat berhasil.”

Kalau tadinya wajah gadis itu muram dan marah, kini wajah itu beresri karena baru ia tahu akan

maksud pemuda yang dikaguminya itu. “Ah, engkau benar sekali, Cu-enghiong! Akan tetapi akal apa

yang dapat kita pergunakan untuk menolong suci?”

“Mulai saat ini, engkau harus menyebut aku twako dan aku menyebutmu siauw-moi agar orang

menduga bahwa di antara kita masih ada hubungan kekeluargaan. Kita datangi mereka dan tentu

 

mereka sudah tahu bahwa engkau adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, akan tetapi mereka

belum mengenalku. Nah, aku akan mengaku bahwa aku adalah seorang kakak misan dari sucimu. Aku

akan menuntut agar kalau kepala Yang-ce Bu-koan sungguh-sungguh mencintai sucimu, dia harus

mengajukan pinangan kepara aku sebagai walinya, agar perjodohan itu dilakukan secara terhormat.

Serahkan saja kepadaku kalau sudah berhadapan dengan dia. Yang terpenting, kita dapat

membebaskan sucimu terlebih dulu, bukan? Ini masih jauh lebih mengandung harapan berhasil dari

pada kalau kita menyerbu secara kekerasan.”

Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh harapan dan kekaguman. “Ahhh, Cu-enghiong… ah,

maksudku, twako, siasatmu sungguh bagus sekali! Mudah-mudahan saja berhasil. Engkau benar, yang

terpenting adalah membebaskan suci lebih dahulu dari tangan mereka. Kalau suci sudah bebas,

hemm… mereka mau mengajak perang sekalipun, boleh!

“Nona… eh, siauw-moi, mulai sekarang biarlah aku yang nanti bicara dengan mereka. Engkau

mudah terpengaruh emosi sehingga dapat menggagalkan rencana kita.”

Lee Siang tersenyum dan dalam pandangan Goan Ciang, belum pernah dia melihat wajah semanis

itu. “Baiklah, toako.”

Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di satu-satunya dusun yang berada di lereng Bukit

Kijang. Di dusun itulah adanya perguruan silat Yang-ce Bu-koan (perguruan silat sungai Yangce) yang

mengambil namanya dari sungai besar yang mengalir di kaki bukit. Semua penghuni dusun itu seolaholah

menjadi anggota perguruan itu karena mereka semua, yang muda-muda, menjadi murid

perguruan itu, di samping murid yang berdatangan dari kota dan dusun lain. Karena itu, ketika

penghuni dusun melihat munculnya Kim Lee Siang yang mereka kenal sebagai sumoi dari ketua Jangkiang-

pang, suasana menjadi gempar dan muncullah belasan orang jagoan perguruan itu, menghadang.

Melihat sikap mereka, Goan Ciang segera berkata dengan suara yang lantang dan berwibawa.

“Hemm, beginikah caranya orang-orang Yang-ce Bu-koan menyambut calon keluarganya? Aku, Cu

Goan Ciang, adalah kakak misan dari ketua Jang-kiang-pang Liu Bi yang sudah yatim piatu, aku

adalah walinya dan aku ingin bicara dengan Kwa-kauwsu tentang perjodohan itu! Apakah pantas kalau

aku disambut seperti seorang musuh?”

Mendengar ucapan yang lantang dan terdengara berwibawa itu, belasan orang jagoan Yang-ce Bukoan

tertegun dan bimbang. Seorang di antara mereka lalu maju dan mengangkat kedua tangan

memberi hormat kepada Goan Ciang dan Lee Siang. Bagaimana juga, yang datang dari Jang-kiangpang

hanya dua orang, tidak perlu ditakuti.

“Maafkan sikap kami, karena kedatangan ji-wi tanpa memberi kabar lebih dahulu, kami tidak

menyambut secara pantas. Kalau ji-wi hendak bicara tentang perjodohan, kami persilahkan ji-wi

untuk mengikuti kami bertemu dengan suhu kami.”

Dengan sikap gagah Goan Ciang dan Lee Siang mengikuti mereka menuju ke sebuah bangunan

besar yang megah. Di depan bangunan itu terpancang sebuah papan nama perkumpulan yang ditulis

dengan huruf-huruf besar dan gagah “Yang-ce Bu-koan”.

Agaknya telah ada anggota perguruan silat itu yang telah memberi laporan kepada Kwa-kauwsu

(guru silat Kwa), karena ketika dua orang tamu itu tiba di depan rumah yang pekarangannya luas,

guru silat itu telah menyambut dan berdiri di atas lantai bertangga dengan sikap gagah. Sambil

melangkah maju menghampiri tuan rumah, Goan Ciang memandang penuh perhatian. Guru silat itu

memang gagah. Tubuhnya tinggi besar dengan perut yang gendut, nampak kokoh seperti baru karang

dan usianya sekitar empat puluh lima tahun, matanya lebar bulat dan hidungnya besar, bibirnya

tebal. Tidak tampan memang, akan tetapi nampak jantan dan menyeramkan bagi lawan. Pakaiannya

berwarna biru, potongannya ringkas seperti pakaian ahli silat, dengan lengan baju digulung sampai ke

siku sehingga nampak sepasang lengan yang berotot dan berbulu dengan jari-jari yang panjang besar

dan kasar. Bukan penampilan yang dapat menarik hati wanita, maka Goan Ciang tidak heran mengapa

ketua Jang-kiang-pang menolah lamaran laki-laki ini.

Untung bahwa Goan Ciang sudah memesan kepada Lee Siang untuk diam saka dan membiarkan dia

yang bicara dengan guru silat itu, karena kalau saja tidak demikian, begitu bertemu dengan KwaKoleksi

Kang Zusi

kauwsu, tentu Lee Siang akan langsung memakinya atau bahkan menyerangnya untuk menuntut

dibebaskannya sucinya. Gadis itu menahan diri dan diam saja. Sementara itu, Kwa-kauwsu yang

sudah mengenal Lee Siang mengetahui bahwa gadis itu adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang

yang membuatnya tergila-gila, akan tetapi dia tidak mengenal Cu Goan Ciang walaupun tadi dia sudah

mendengar laporan bahwa Cu Goan Ciang adalah kakak misan dari calon isterinya!

“Selamat datang, Nona Kim Lee Siang, atau lebih tepat kusebut adik Kim Lee Siang saja? Dan

siapakah saudara yang datang berkunjung?” Dia pura-pura tidak tahu dan bertanya kepada Goan

Ciang sambil merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Cu Goan Ciang membalas penghormatan itu sedangkan Lee Siang diam saja. Sambil tersenyum

ramah Goan Ciang berkata, “Aku bernama Cu Goan Ciang, dan aku adalah kakak misan dari adikku Liu

Bi yang sudah bertahun-tahuntidak kujumpai. Ketika aku datang berkunjung, aku mendengar tentang

peristiwanya dengan Yang-ce Bu-koan! Aku ingin sekali bertemu dengan guru silat dari bu-koan ini

untuk membicarakan urusan itu.”

“Akulah Kwa Teng atau disebut Kwa-kauwsu pemilik Yang-ce Bu-koan,” kata guru silat itu sambil

membusungkan dada. “Aku adalah calon suami nona Liu Bi ketua Jang-kiang-pang!”

“Ah, kalau begitu aku berhadapan dengan calon adik iparku!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi

hormat lagi. “Akan tetapi aku mendengar bahwa telah terjadi keributan dan perkelahian antara

engkau dan adik misanku Liu Bi, benarkah itu? Dan engkau bahkan telah menawannya? Bagaimana

pula ini?”

Guru silat itu tertawa. “Ha-ha-ha, hanya ada sedikit perselisihan. Calon isteriku itu tadinya

memandang rendah kepadaku dan menantang untuk mengadu kepandaian dengan janji ia akan mau

menjadi isteriku kalau aku mampu mengalahkannya. Nah, ia telah kalah dan kini ia sudah berada di

sini, tinggal menanti dirayakannya pernikahan kami.”

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Aih, Kwa-kauwsu, tindakanmu itu salah besar dan hanya akan

merugikan nama besarmu sendiri saja. Seyogyanya engkau tidak menyanderanya dan setelah ia

kalah, kalau engkau mengajukan pinangan secara terhormat, tentu kelak ia akan menjadi isterimu

yang setia dan baik. Sebaliknya kalau secara menyandera begini, apa akan kata dunia kang-ouw?

Engkau tentu dianggap sebagai seorang penculik dan pemaksa, dan adik misanku tidak akan merasa

terhormat, bagaimana akan dapat menjadi isterimu yang mencinta? Juga, tentu para saudaranya

akan memusuhimu dan permusuhan takkan pernah berhenti, mengganggu ketenteraman hidupmu.”

Kwa-kauwsu tertegun. Tentu saja dia tahu akan hal itu. Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya.

Mula-mula, dia mengajukan pinangan secara resmi terhadap ketua Jang-kiang-pang yang

membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi utusannya yang melakukan lamaran itu ditolak bahkan

dihina. Lalu dia membuat surat tantangan, menantang Nona Liu Bi untuk mengadakan pi-bu (adu ilmu

silat) di hutan bambu kuning. Dengan pengeroyokan para muridnya yang jumlahnya jauh lebih banyak,

dia berhasil merobohkan lima orang anak buah gadis ketua itu dan menawannya, lalu membawanya

pulang. Karena sudah dikalahkannya, dia akan memaksa Liu Bi menjadi isterinya. Tentu saja dia

sendiri tidak menyukai cara pernikahan seperti ini yang mengandung paksaan, akan tetapi dia tidak

melihat cara lain yang memungkinkan dia menikah dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu.

Dia sendiri seorang duda dan ketika dia melihat ketua Jang-kiang-pang, seketika dia jatuh cinta dan

tergila-gila.

“Hemm, saudara Cu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan untuk dapat menikah

dengan Nona Liu Bi secara terhormat?”

“Kwa-kauwsu yang perkasa, aku adalah kakak misannya, satu-satunya keluarganya yang lebih tua

sehingga aku dapat mewakili kedua orang tuanya yang sudah tiada, dapat menjadi walinya. Aku

berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan terhormat. Kalau secara resmi engkau melamar

Liu Bi kepadaku, lalu kuterima lamaran itu dan diadakan upacara dan pesta pernikahan secara resmi,

maka pernikahan itu akan terhormat dan engkau akan mendapatkan seorang isteri yang baik dan

penurut. Sebaliknya, kalau engkau menggunakan cara paksaan seperti ini, bukankah keselamatanmu

 

akan terancam setiap saat? Engkau seperti mengawini seorang musuh besar yang tiap saat dapat

saja membunuhmu.”

Kwa-kauwsu terbelalak. Tadinya dia mengira bahwa setelah ketua Jang-kiang-pang itu menjadi

isterinya, wanita itu akan tunduk kepadanya. Baru sekarang dia melihat kemungkinan terjadinya hal

yang diucapkan tamunya itu.

“Saudara Cu, dan engkau nona Kim, mari kita bicara di dalam kamar tamu. Silahkan!” katanya dan

sikapnya kini berubah ramah karena dia melihat bahwa tamunya ini agaknya akan dapat menolongnya

dari keadaan yang gawat itu. Tentu saja dia ingin memperisteri Liu Bi secara wajar. Dia bukan pula

penjahat yang suka memperkosa wanita, apa lagi Liu Bi yang membuatnya tergila-gila dan dicintanya.

Cu Goan Ciang dan Kim Lee Siang melihat betapa tuan rumah masih bersikap waspada ketika Kwakauwsu

mengiringkan mereka masuk ke kamar tamu, sepuluh orang yang agaknya menjadi murid atau

pembantu utamanya, mengiringkannya dan ikut masuk ke kamar tamu. Ketika Kwa-kauwsu

mempersilahkan mereka berdua mengambil tempat duduk berhadapan dengan guru silat itu, sepuluh

orang itu berdiri berkelompok di sudut ruangan, berjaga-jaga. Kalau mereka berdua menggunakan

kekerasab terhadap tuan rumah, tentu sepuluh orang itu akan maju mengeroyok, dan sebentar saja

seluruh penghuni dusun itu akan mengepung mereka.

Setelah kedua orang tamunya duduk, Kwa-kauwsu berkata sambil mengamati wajah Cu Goan Ciang.

“Apa yang kaukatakan tadi memang ada benarnya dan aku sendiri menghendaki agar pernikahanku

dengan Liu Bi dapat berlangsung secara wajar dan terhormat. Akan tetapi, bagaimana kalau ia

menolak pinanganku yang resmi seperti yang pernah ia lakukan?”

Cu Goan Ciang tertawa. “Aku mengenal betul watak adik misanku itu. Wataknya memang keras dan

angkuh, tidak mudah tunduk. Karena, ketika engkau mengajukan lamaran, di pihaknya tidak ada

walinya, maka ia merasa tersinggung dan menolak. Akan tetapi aku tahu bahwa adikku Liu Bi itu

hanya mau berjodoh dengan laki-laki yang gagah perkasa dan mampu menandingi ilmu silatnya. Nah,

kurasa engkau merupakan seorang pria yang cocok sekali dan memenuhi syarat untuk menjadi

suaminya.”

“Sebaiknya kalau engkau mengundan suci ke sini untuk bicara dengan kami, Kwa-kauwsu,” kata Kim

Lee Siang yang sejak tadi diam saja.

Guru silat itu memandang curiga kepada gadis manis itu. “Hemm, aku meragukan apakah ia akan

mau menerima pinanganku dengan baik.”

Cu Goan Ciang cepat berkata, “Kauwsu, kenapa engkau masih ragu? Aku yang menanggung bahwa

adikku itu pasti akan mau menerimanya. Aku yang akan membujuknya. Sebaiknya kalai ia dipanggil ke

sini agar dapat bicara denganku. Pula, kami bertiga berada di rumahmu, di tengah dusunmu, tidak

ada yang perlu kau khawatirkan!”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, benar juga, pikirnya. Andai kata Liu Bi dan adik seperguruannya

ini mengamuk, dibantu oleh kakak misannya sekalipun, mereka bertiga tidak mungkin dapat lolos dari

pengepungan para muridnya. Dan pemuda yang jangkung tegap ini agaknya bicara serius dan dapat

dipercaya.

“Baiklah, akan kupanggil ia ke sini. Akan tetapi, kalau usaha kalian membujuknya tidak berhasil

dan ia tetap hendak menolak, terpaksa kami akan menawan kalian semua!” Kwa-kauwsu memberi

isarat kepada seorang pengawal yang segera memberi hormat dan keluar dari ruangan itu.

Dengan hati berdebar tegang, Goan Ciang dan Lee Siang menunggu dan untuk menenteramkan

suasana, Goan Ciang berkata, “Kwa-kauwsu, kenapa masih mencurigai kami? Kami datang dengan

maksud baik, untuk mendamaikan perselisihan di antara adik misanku dan engkau sebagai calon

suaminya.”

Tak lama kemudian, pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka dan muncullah seorang wanita muda

yang cantik sekali. Cu Goan Ciang sendiri sampai tertegun melihat betapa cantiknya gadis itu. Di

belakang gadis itu, berjalan dua belas orang pengawal yang memegang golok. Wajah gadis itu agak

pucat, namun pandang matanya bersinar-sinar penuh keberanian. Ia terbelalak heran melihat Lee

Siang dan Goan Ciang.

 

“Suci! Aku dan Cu-toako datang untuk menolongmu!” Lee Siang berseru dengan sikap gembira

sekali melihat sucinya dalam keadaan selamat.

Dengan sikap wajar dan wajah gembira, Cu Goan Ciang bangkit berdiri memandang gadis itu dan

berseru, “Piauw-moi (adik misan), agaknya engkau lupa kepadaku! Tidak aneh karena sudah lima

tahun lebih kita tidak saling jumpa, piauw-moi, aku adalah Cu Goan Ciang, putera bibimu!”

”Suci, aku sendiri hampir tidak mengenal lagi kepada Cu-toako ketika dia datang kemarin!” kata

Lee Siang dengan nada suara gembira.

Jang-kiang Sianli Liu Bi bukanlah seorang wanita bodoh. Sama sekali tidak. Ia seorang tokoh

kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat cerdik. Kalau sampai ia dapat tertawan oleh

Kwa-kauwsu adalah karena ia sama sekali tidak menduga bahwa guru silat itu demikian tergila-gila

kepadanya sehingga tidak segan melakukan kecurangan dan mengeroyoknya untuk mendapatkan

dirinya, secara halus maupun kasar! Kini, mendengar ucapan pemuda yang sama sekali tidak pernah

dilihatnya itu dan ucapan sumoinya, iapun mengerti bahwa siapapun adanya pemuda itu, tentu dia

datang diajak sumoinya untuk menolongnya. Ia lalu tersenyum, dan menghampiri Goan Ciang,

memberi hormat dengan ramah.

“Aih, kiranya Cu-piauwko yang datang bersama sumoi? Akan tetapi, apa yang dapat kaulakukan

piauw-ko? Aku telah menjadi tawanan Kwa-kauwsu!” Ia menoleh ke arah guru silat itu dan

memandang marah.

Cu Goan Ciang memang sengaja hendak mengulur waktu sambil menunggu datangnya bala bantuan.

Maka dia lalu memandang kepada Kwa-kauwsu. “Kwa-kauwsu, kalau kami dibiarkan bertiga saja di

sini, aku akan mencoba untuk membujuk dan mengingatkan, menyadarkan piauw-moiku ini agar ia

menyadari bahwa kini ia telah menemukan jodohnya yang cocok dan serasi. Jangan khawatir, kami

tidak akan membuat ulah macam-macam, pula, bukankah engkau dengan seluruh anak buahmu dapat

mengepung tempat ini dan kami sama sekali tidak akan dapat melarikan diri?”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, menganggap bahwa ucapan pemuda itu memang beralasan. Tentu

saja dia akan merasa berbahagia sekali kalau Liu Bi dengan suka rela suka menjadi isterinya, bukan

isteri paksaan yang kelak dapat membahayakan dirinya. Dia lalu memberi isarat kepada para murid

dan anak buahnya dan merekapun lalu meninggalkan Goan Ciang, Lee Siang dan Liu Bi bertiga saja di

dalam ruangan tamu itu. Tentu saja dia mengerahkan murid-muridnya untuk mengepung ruangan itu

dengan ketat.

Cu Goan Ciang yang sudah mengatur siasat dengan Lee Siang, lalau mulai membujuk “piauwmoi” itu

dengan kata-kata yang cukup lantang sehingga akan dapat terdengar oleh orang yang melakukan

pengintaian, sedangkan Lee Siang dengan berbisik memberitahu sucinya, suaranya tertutup oleh

ucapan Goan Ciang yang lantang, bahwa mereka bertiga harus menanti sampai datangnya para

anggota Jang-kiang-pang yang akan datang menyerbu, barulah mereka bertiga akan mengamuk. Juga

ia mengatakan dengan lirih bahwa pemuda itu adalah seorang kenalan baru yang menjadi pelarian

karena membunuh seorang perwira dan kini hendak membalas budi karena telah ditolongnya ketika

melarikan diri, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.

Liu Bi yang cerdik melayani permainan sandiwara itu dan pura-pura menolak dengan suara keras.

“Dia telah mengeroyok dan menawanku, bahkan telah membunuh Ngo-liong Ci-moi yang menjadi

pembantu utamaku, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya?” demikian antara lain dia

berteriak.

“Piauw-moi, pikirkanlah baik-baik. Kesalahpahaman yang menimbulkan perkelahian itu adalah

karena engkau menolak lamarannya dengan keras sehingga Kwa-kauwsu merasa terhina dan marah.

Sudah wajar kalau dalam perkelahian jatuh korban. Bagaimanapun juga, engkau diperlakukan dengan

sopan dan baik, bukan?”

“Itu memang benar, akan tetapi aku… aku belum ingin menikah.”

“Piauw-moi, ingat bahwa arwah kedua orang tuamu tentu akan merasa tenteram kalau melihat

engkau menikah. Usiamu juga tidak terlalu muda lagi, sudah sepantasnya kalau engkau menikah.

Engkau dahulu selalu mengatakan kepadaku bahwa engkau hanya akan menikah dengan seorang pria

 

yang mampu menandingimu. Sekarang, Kwa-kauwsu bahkan telah menawanmu. Dia memiliki

kepandaian tinggi, juga perguruan silatnya besar, namanya cukup dikenal dan disegani, selain itu,

walaupun dia seorang duda, dia belum mempunyai keturunan. Nah, mau apa lagi? Adapun tentang

peristiwa perkelahian itu, aku yakin Kwa-kauwsu suka meminta maaf dan akan mengajukan pinangan

dengan resmi kepada aku sebagai walimu.”

Sengaja kedua orang ini berbantahan secara panjang lebar mengulur waktu. Tiba-tiba terdengar

ribut-ribut di luar, dan tiga orang itu mendengar dengan jelas teriakan-teriakan bahwa orang-orang

Jang-kiang-pang datang menyerbu, bahkan mulai terdengar teriakan-teriakan perkelahian yang riuh

rendah. Inilah saatnya mereka bergerak.

Lee Siang mencabut pedangnya. Ia sengaja membawa dua batang pedang dan ia menyerahkan

sebatang kepada sucinya yang diterima dengan gembira. Adapun Cu Goan Ciang sendiri memang tidak

membawa senjata.

Pada saat itu, pintu depan ruangan itu terbuka dan nampak Kwa-kauwsu dengan golok di tangan,

bersama belasan orang muridnya berdiri di luar pintu dan dia berteriak, “Liu Bi, Lee Siang, dan Cu

Goan Ciang! Orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu. Apa artinya ini?”

Sebelum Jang-kiang Sianli Liu Bi menjawab, Cu Goan Ciang mendahului dia dan dia berkata, “Kwakauwsu,

biarkan kami mencegah mereka. Ini tentu kesalahpahaman dari mereka yang mengira bahwa

ketua mereka diperlakukan tidak baik!”

Guru silat itu meragu, akan tetapi karena keadaan gawat, diapun mengangguk dan

memperingatkan, “Cu Goan Ciang, kalau kalian menipu kami, kalian akan kami bunuh!”

“Kita adalah antara calon keluarga sendiri, kenapa harus menipu?” katanya dan dia memberi isarat

kepada Lee Siang dan Liu Bi untuk mengikutinya keluar. Guru silat itu bersama belasan orang

muridnya lalu mengikuti dari belakang dan ternyata memang para anggota Jang-kiang-pang sudah

mulai menyerbu sehingga terjadi perkelahian di pintu gerbang.

Kini, Liu Bi yang berseru nyaring kepada anak buahnya, “Tahan senjata!”

Melihat betapa ketua mereka dalam keadaan selamat, juga di situ terdapat pula Lee Siang, para

anggota Jang-kiang-pang mundur dan berteriak-teriak dengan gembira. Mereka terdiri dari puluhan

orang laki-laki dan wanita.

Liu Bi sekarang memimpin dan di sebelahnya berdiri Lee Siang dan Cu Goan Ciang. Para anak buah

Jang-kiang-pang berdiri di belakang mereka. Dengan mata berkilat kini Liu Bi berdiri tegak, pedang

di tangan kanan dan telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka Kwa-kauwsu.

“Orang she Kwa, engkau manusia curang tak tahu malu. Sekarang tinggal engkau pilih, hendak

mengadakan pertempuran mati-matian dan aku akan mengerahkan seluruh orangku untuk membakar

dan membasmi perkampunganmu, atau kita mengadu kepandaian secara orang gagah tanpa ada

pengeroyokan dan kecurangan lain!” Sikap ketua Jang-kiang-pang itu gagah sekali.

Kwa-kauwsu marah bukan main dan memandang kepada Cu Goan Ciang. “Orang she Cu, kiranya

engkau telah menipu kami! Keparat busuk, siapa engkau sebenarnya?”

Goan Ciang tersenyum. “Kami tidak menipumu, Kwa-kauwsu, hanya mengimbangi siasatmu yang

licik. Aku bernama Cu Goan Ciang dan sahabat dari nona Kim Lee Siang. Engkau menawan ketua

Jang-kiang-pang dengan menggunakan kecurangan, melakukan pengeroyokan. Nah, sekarang kami

menantangmu untuk mengadu kepandaian sebagai orang gagah, atau engkau lebih menginginkan

diserang habis-habisan?”

Kini ketua Jang-kiang-pang baru tahu akan kecerdikan pemuda yang mengaku kakak misannya itu

yang ternyata mempergunakan siasat yang nampaknya mengalah dan lunak, hanya untuk menanti

datangnya bala bantuan.

“Cu-twako,” katanya dengan sikap manis dan tidak ragu-ragu menyebut pemuda itu twako, “terima

kasih atas bantuanmu. Akan tetapi tidak perlu twako terlibat, biar aku sendiri yang akan menghajar

pengecut Kwa ini. Hayo, Kwa Teng, kita bertanding satu lawan satu! Orang macam engkau ingin

memperisteri aku? Sungguh tidak tahu malu!”

 

Tentu saja Kwa-kauwsu marah bukan main. Dia telah dihina oleh Liu Bi di depan semua muridnya.

Pada hal tadinya dia sudah mengumumkan bahwa ketua Jang-kiang-pang akan menjadi isterinya.

Akan tetapi, ketika dia mengeroyok ketua itu dengan para murid andalannya, dia tahu bahwa Jangkiang

Sianli Liu Bi amat lihai dan kalau dia seorang diri menandinginya, belum tentu dia akan menang.

Untuk mengadakan pertempuran, biarpun pihaknya memiliki anak buah yang lebih banyak, namun

para anggota Jang-kiang-pang rata-rata lihai dan selain itu, yang amat berbahaya baginya adalah

mengingat bahwa para pimpinan Jang-kiang-pang mempunyai hubungan baik sekali dengan para

pejabat di Wu-han sehingga kalau terjadi pertempuran, tentu pasukan keamanan pemerintah akan

berpihak kepada Liu Bi. Hal ini akan merupakan malapetaka baginya. Dia menjadi serba salah. Lalu

dengan mata melotot dia menghadapi Cu Goan Ciang.

“Orang she Cu! Engkau yang menjadi biang keladi dengan menipuku sehingga terjadi pertentangan

ini. Aku, Kwa Teng, menantang Cu Goan Ciang sebagai sama-sama laki-laki untuk mengadu ilmu di sini,

disaksikan oleh semua anak buah kedua pihak!”

“Kwa Teng, manusia curang! Yang bermusuhan adalah engkau dan aku! Cu-twako ini adalah orang

luar. Akulah yang akan menandingimu, bukan orang lain!” kata Liu Bi yang merasa khawatir kalaukalau

penolongnya itu akan kalah karena ia tahu bahwa tingkat kepandaian guru silat itu sudah

tinggi, bahkan tidak banyak selisihnya dengan ia sendiri. Akan tetapi, biarpun Lee Siang sendiri

belum pernah menguji ilmu kepandaian Goan Ciang, gadis ini sudah melihat betapa pemuda itu dapat

berlari cepat, bahkan memiliki tenaga lebih kuat dari padanya. Maka iapun berkata dengan senyum

bangga.

“Suci, biarkan Cu-twako memberi hajaran kepada manusia sombong dan curang itu!”

Mendengar ucapan sumoinya, Liu Bi percaya bahwa pemuda itu agaknya boleh diandalkan, maka

iapun tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, agaknya Kwa-kauwsu tidak berani menantang aku, maka

menantang Cu-twako. Biar aku menjadi penonton saja atau menunggu siapa di antara pihak Yang-ce

Bu-koan yang akan berani menantangku.”

Cu Goan Ciang lalu maju menghadapi ketua atau guru dari Yang-ce Bu-koan yang marah itu. Guru

silat itu memegang sebatang golok besar yang mengkilap saking tajamnya, akan tetapi Goan Ciang

tidak memegang senjata. Melihat ini, Lee Siang berkata, “Twako, pakailah pedangku ini!”

Goan Ciang menoleh dan tersenyum kepadanya. “Tidak perlu, Siang-moi, terima kasih. Aku tidak

biasa menggunakan pedang atau senjata lain.” Tadinya dia dan Lee Siang saling menyebut twako dan

siauwmoi hanya untuk bersandiwara dan bersiasat kepada Kwa-kauwsu, akan tetapi sekarang rasanya

canggung kalau mengubah sebutan yang sudah akrab itu.

Melihat betapa Cu Goan Ciang menghadapinya dengan tangan kosong, guru silat Kwa menjadi

semakin marah, merasa dipandang rendah. “Orang she Cu, keluarkan senjatamu!” tantangnya.

Cu Goan Ciang memandang kepadanya dengan sikap tenang. “Kwa-kauwsu, aku tidak perlu

menggunakan senjata menghadapimu. Aku bukan orang yang suka mempergunakan senjata dan

kekerasan untuk memaksakan kehendakku, apa lagi memaksa wanita yang tidak suka untuk menjadi

isteriku. Biar kulawan engkau dengan tangan kosong saja.”

“Manusia sombong! Keluarkan senjatamu atau jangan katakan aku curang kalau nanti tubuhmu

lumat oleh golokku ini!” Dia membentak sambil mengamangkan goloknya yang besar, berat dan

mengkilap.

“Majulah, Kwa-kauwsu. Dalam suatu pertandingan, kalah atau menang adalah hal wajar, terluka

atau matipun tidak perlu dibuat penasaran lagi. Aku sudah siap menghadapi golokmu dengan tangan

kosong!” kata Cu Goan Ciang pula. Memang pemuda ini, sejak menerima ilmu Sin-tiauw ciang-hoat

(Silat Rajawali Sakti), ilmu yang khas dari Lauw In Hwesio, tidak perlu lagi mempergunakan senjata.

Ilmu silat itu bahkan lebih cocok dimainkan dengan tangan kosong, karena seperti gerakan seekor

rajawali, tangan itu bukan hanya dapat dipergunakan untuk memukul dan menotok, namun juga

mencengkeram dan keampuhan tangan dari ilmu itu tidak kalah hebatnya dibandingkan senjata yang

bagaimanapun.

 

Kwa-kauwsu agaknya sekali ini ingin bersikap gagah. Dia memandang ke sekeliling dan berkata

dengan suara lantang. “Kalian semua menjadi saksi. Dia sendiri yang menantang golokku dengan

tangan kosong, dia sendiri yang mencari mati, jangan ada yang menyalahkan aku nanti. Cu Goan Ciang,

bersiaplah menyambut seranganku.”

Kedua orang itu saling berdiri berhadapan dan dengan sendirinya semua orang kedua pihak

membentuk lingkaran yang lebar dan bersikap di pihak masing-masing, menonton dengan hati tegang.

Guru silat itu memasang kuda-kuda yang gagah, dengan golok melintang di atas kepala, siap untuk

menyerang, sedangkan Cu Goan Ciang masih nampak santai saja, berdiri tegak dan mengikuti gerakan

lawan yang mengitarinya dengan sudut matanya. Sikap Goan Ciang seperti seekor burung rajawali

yang mengintai gerakan seekor ular yang mengitarinya dan yang mengancamnya, demikian tenang

namun waspada dan setiap jaringan syaraf di tubuhnya menegang.

Setelah mengitari lawan sampai dua kali putaran, tiba-tiba Kwa-kauwsu mengeluarkan bentakan

nyaring, “Hyaaaatttt…!!” dan goloknya menyambar dari samping kanan Goan Ciang, menyambar dari

atas ke arah leher lawan. Terdengar bunyi berdesing diikuti sambaran angin saking tajam dan

cepatnya golok itu menyambar. Golok itu lenyap berubah menjadi sinar terang yang menyambar, dan

semua orang menahan napas karena agaknya akan sukar menghindarkan diri dari bacokan golok

sehebat itu.

“Singg….!” Golok itu mengenai tempat kosong karena dengan mudah dan ringannya tubuh Goan

Ciang telah mengelak dengan menggesek kaki ke samping. Namun, Kwa-kauwsu sudah memutar

pergelangan tangannya sehingga golok yang menyambar tempat kosong tadi kini membalik dan

menyambar ke arah pinggang Goan Ciang. Kembali Goan Ciang mengelak dengan loncatan ke belakang

dan sekali lagi golok itu menyambar, kini ke arah kedua kakinya seperti orang membabat ilalang saja.

Goan Ciang melompat ke atas dan mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung rajawali

terbang dan kini pemuda itu mulai memainkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw Ciang-hwai. Bagaikan

seekor burung rajawali saja, tubuhnya berkelebatan dan berloncatan seperti terbang, cepat bukan

main dan dari atas, dari segala jurusan, dia membalas serangan lawan dengan tendangan,

cengkeraman dan totokan, membuat Kwa-kauwsu menjadi sibuk sekali karena biarpun semua

serangan balasan itu tidak mempergunakan senjata, namun bahanya tidak kalah dengan serangan

senjata tajam.

Kini, baik Lee Siang maupun Liu Bi sendiri tercengang. Mereka berdua adalah dua orang wanita

gagah yang memiliki ilmu silat tinggi, sudah banyak pula melihat ilmu silat sehingga mereka tadi

mengenal dasar gerakan ilmu silat Siauw-him-pai. Akan tetapi setelah Goan Ciang memainkan ilmu

silat Sin-tiauw Ciang-hwat, mereka tercengang dan tidak mengenal ilmu yang amat cepat gerakannya

dan aneh, mirip gerakan seekor burung rajawali yang menyambar-nyambar.

Sementara itu, Kwa-kauwsu dengan nekat dan membabi buta mencoba untuk membabat bayangan

tubuh yang berloncatan itu dengan bacokan goloknya. Diam-diam dia terkejut dan menyesal mengapa

dia tadi memandang rendah pemuda ini. Ternyata pemuda ini demikian lihainya, dan baginya akan

lebih menguntungkan kalau dia menandingi Jang-kiang Siang-li Liu Bi sendiri dari pada melawan

pemuda yang gerakannya lincah dan aneh ini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia hanya dapat

bertindak nekat, mempergunakan keuntungannya memegang golok sedangkan lawannya bertangan

kosong, untuk menyerang dengan ganas dan dahsyat.

Namun, semua bacokan dan tusukan golok itu tak pernah mengenai tubuh Goan Ciang, sebaliknya,

dua kali Kwa-kauwsu terhuyung karena pundaknya terkena tamparan ketika tubuh Goan Ciang

menyambar dari atas, kemudian punggungnya juga terkena tendangan. Walaupun dua kali serangan

itu membuat dia hanya terhuyung dan belum roboh, namun cukup membuat hati Kwa-kauwsu menjadi

semakin penasaran. Dia adalah seorang ahli silat yang berpengalaman, bahkan di daerah itu dia

dikenal sebagai guru silat yang pandai, mempunyai banyak murid. Kalau sekali ini, dengan golok di

tangan, dia sampai kalah melawan seorang pemuda bertangan kosong, pada hal disaksikan oleh semua

penghuni dusunnya dan oleh semua anggota Jang-kiang-pang, maka namanya akan jatuh dan tentu dia

akan menjadi bahan ejekan orang di dunia persilatan.

 

“Mampuslah…!” Dia berteriak lantang dan secara nekat dan membabi buta dia menyerangkan

goloknya dengan bacokan kilat ke arah dada Goan Ciang. Melihat kenekatan lawan, Goan Ciang

merendahkan tubuhnya dan ketika golok lewat di atas kepalanya, secepat kilat tangannya menotok

ke atas, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah, tepat menotok jalan darah di pergelangan

tangan lawan.

“Tukk!” Kwa-kauwsu mengeluh dan terpaksa dia melepaskan goloknya karena tangan kanannya

tiba-tiba menjadi lumpuh oleh totokan itu. Dia terkejut sekali dan cepat menggulingkan tubuh agar

jangan sampai tersusul serangan lawan. Tubuhnya bergulingan menjauh, kemudian dia meloncat

berdiri dan biarpun kini dia sudah tidak memegang senjata lagi, dengan nekat dia lalu menerjang dan

menyerang dengan tangan kosong!

Menggunakan golok besar saja dia tidak mampu menang, apalagi kini bertangan kosong. Dia masih

mencoba mengerahkan tenaga dan menyerang dengan dahsyat, namun tentu saja dengan mudah

serangannya dapat dipatahkan Goan Ciang, sekali ini bukan mengelak melainkan menangkis sambil

mengerahkan tenaganya.

“Dukkk!” Dua buah lengan bertemu dan akibatnya, Kwa-kauwsu terdorong mundur sampai

beberapa langkah. Goan Ciang tidak memberi hati lagi, maju dan mengirim tendangan yang membuat

tubuh guru silat itu terjengkang. Pada saat itu, sepuluh orang murid utamanya maju dengan golok di

tangan mengeroyok Cu Goan Ciang. Melihat ini, Liu Bi dan Lee Siang juga berlompatan maju dan

pedang mereka segera mengamuk di antara sepuluh orang itu.

Guru silat Kwa sudah maju lagi, agak berbesar hati karena kini sepuluh orang murid utamanya

sudah membantu, dan dia sudah menyambar sebatang golok dari tangan seorang muridnya. Namun,

Goan Ciang ang merasa marah melihat kecurangan lawan yang menggunakan pengeroyokan, sudah

mendahuluinya dan sekali tangannya menyambar, tangannya sudah menghantam dada lawan, membuat

guru silat itu terbanting dan terjengkang keras, muntah darah dan tidak dapat berdiri lagi, hanya

bangkit duduk sambil mengerang kesakitan.

Sementara itu, Lee Siang dan Liu Bi mengamuk dan dalam waktu singkat saja, kedua orang gadis

cantik itu sudah merobohkan sepuluh orang pengeroyoknya, dan mereka yang roboh oleh pedang

kedua wanita itu jelas tidak mampu bangun kembali karena mereka semua telah tewas. Mayat

sepuluh orang itu malang melintang dan kedua orang gadis itu, dengan pedang di tangan siap untuk

mengamuk atau mengerahkan anak buahnya.

“Orang she Kwa, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih hendak melanjutkan pertempuran

ini? Liu Bi menantang.

Kwa-kauwsu maklum bahwa pihaknya telah kalah. Kalau dia mengerahkan semua muridnya untuk

melawan, sama saja dengan menyuruh para murid itu membunuh diri. Dia sendiri sudah tidak mampu

melawan. Sepuluh orang murid kepala yang diandalkan telah tewas. Sedangkan di pihak musuh

terdapat pemuda yang amat lihai itu.

“Aku mengaku kalah.”katanya dengan lirih dan menundukkan mukanya.

Cu Goan Ciang maklum bahwa kalau dia tidak cepat bertindak, kekalahan ini akan menimbulkan

dendam yang berkelanjutang yang akhirnya hanya akan merugikan kedua pihak, maka dia lalu berkata

kepada guru silat itu. “Kwa-kauwsu, sebaiknya kalau permusuhan ini diakhiri sampai di sini.

Perjodohan tidak mungkin dapat dipaksakan. Engkau telah membunuh empat orang pembantu utama

pangcu dari Jang-kiang-pang di lain pihak, sepuluh orang muridmu juga tewas. Habisi saja

permusuhan ini dan anggap saja bahwa Nona Liu Bi bukan jodohmu.”

Guru silat itu dengan wajah lesu dan masih menunduk, mengangguk dan berkata lemah, “Aku

mengaku kalah….”

“Nanti dulu, terlalu enak kalau hanya bergitu, “kata Liu Bi penasaran. “Kalau dia masih tinggal di

sini, aku tidak tanggu bahwa lain kali tidak akan terjadi bentrokan lagi karena kami tentu tidak

mudah melupan begitu saja penghinaan yang telah dia lakukan terhadap kami.”

“Hemmm, lalu apa yang kau kehendaki, pangcu?” tanya Cu Goan Ciang.

 

“Dia harus pergi dari sini dan membubarkan Yang-ce Bu-koan dan tidak pernah lagi

memperlihatkan mukanya di sini. Kalau hal itu tidak dia lakukan, terpaksa aku akan membunuhnya!”

Cu Goan Ciang, mengerutkan alisnya. Memang harus dia akui bahwa guru silat itu telah membuat

kesalahan, namun hukuman yang dideritanya sekarang sudah cukup hebat. Sepuluh orang muridnya

tewas, niatnya memperisteri ketua Jang-kiang-pang gagal dan namanya pun jatuh. Akan tetapi, Liu

Bi menuntut yang lebih keras lagi, menunjukkan bahwa watak ketua Jang-kiang-pang ini berwatak

keras, tidak selembut watak Kim Lee Siang. Akan tetapi, dia hanya orang luar dan urusan itu adalah

urusan pribadi antara Liu Bi dan Kwa-kauwsu, maka diapun tidak dapat mengambil keputusan.

“Bagaimana pendapatmu, Kwa-kauwsu?”

Guru silat itu mengangguk dengan wajah muram. “Hemm, kaukira aku masih sudi tinggal di sini

setelah aku kalah oleh bocah she Cu ini? Jangan khawatir, hari ini juga aku akan membubarkan Yangce

Bu-koan dan akan meninggalkan tempat ini.”

Legalah hati Goan Ciang. Kiranya guru silat ini sudah patah hati dan malu untuk tetap tinggal di

situ sehingga memudahkan apa yang dikehendaki Liu Bi, maka tidak akan menimbulkan persoalan lagi.

Ketika dengan sikap ramah, Liu Bi mempersilakan Goan Ciang untuk singgah di perkumpulannya

untuk ikut merayakan kemenangan itu, dia hendak menolak, akan tetapi ketika Lee Siang juga ikut

mengundangnya, dia tidak dapat lagi menolak. Bagaimanapun juga, dia tertarik sekali kepada Lee

Siang dan dia ingin mengenal lebih dekat dua orang kakak beradik seperguruan itu. Mereka ini

merupakan tenaga-tenaga yang kuat dan baik sekali kalau kelak dia membutuhkan persekutuan

seperti yang dicita-citakannya. Demikianlah, diapun ikut pulang bersama Liu Bi dan Lee Siang dan

diperlakukan dengan sikap hormat oleh para anggota Jang-kiang-pang yang menganggapnya sebagai

seorang yang telah menyelamatkan ketua mereka. Karena dia sendiri masih menjadi buronan

pemerintah, maka Goan Ciang juga tidak menolak ketika Lee Siang menyarankan agar untuk

semetara dia bersembunyi di perkumpulan itu.

Setelah tinggal di perkumpulan Jang-kiang pang selam dua minggu, hubungan Goan Ciang dengan

kedua orang kakak beradik seperguruan itu menjadi akrab dan kini dia mulai mengenal betul watak

kedua orang gadis itu. Dia semakin kagum kepada Lee Siang karenaa biarpun gadis ini menjadi wakil

pimpinan perkumpulang Jang-kiang-pang yang mengutamakan kekerasan, namun pada hakekatnya Lee

Siang adalah seorang wanita yang berwatak pendekar yang gagah perkasa, bahkan dalam

percakapannya dengan gadis itu, Goan Ciang dapat menyelami watak Lee Siang yang sebetulnya

patriotik karena gadis ini diam-diam membenci penjajah Mongol, cocok dengan wataknya sendiri.

Akan tetapi sebaliknya, ketua Jang-kiang-pang, yaitu Jang-kiang Sian-li Liu Bi, adalah seorang

wanita yang haus akan kekuasaan dan kemewahan sehingga dia tidak segan-segan untuk membantu

pemerintah Mongol dan bersahabat baik dengan para pejabat tinggi.

Kedua orang gadis itu memang cantik. Bahkan kalau diukur tentang kecantikan, Liu Bi lebih cantik

dari Lee Siang karena Liu Bi pandai berhias, genit dan pandai sekali memikat hati pria, pandai

memainkan mata dan senyum memikat. Dan walau usianya sudah tiga puluh tahun, namun Liu Bi

nampaknya sebaya dengan suaminya yang baru berusia delapan belas tahun itu. Namun, dalam hal

ilmu kepandaian silat, ilmu mereka tidak banyak selisihnya, hanya ada satu kelebihan Liu Bi, yaitu

bahwa ia selain ilmu silat, juga memiliki keahlian dalam hal penggunaan racun, ilmu yang tidak

dipelajari oleh Lee Siang.

Betapapun juga, ada rasa kagum dalam hati Goan Ciang terhadap Liu Bi. Wanita itu memang genit

dan bergaul akrab dengan para pejabat pemerintahan Mongol, akan tetapi ia bukan golongan wanita

cabul. Ia bahkan angkuh terhadap pria, bukan wanita murahan. Itulah sebabnya pula mengapa sampai

berusia tiga puluh tahun, ia belum mau menikah dan seperti yang telah dilakukan terhadap Kwakauwsu,

kalau ada pria berani meminangnya, ia selalu menolak dengan cara yang kasar. Agaknya, di

dunia ini tidak ada seorangpun pria yang cukup pantas untuk menjadi suaminya!

Setelah tinggal di tempat itu selama belasan hari dan setiap hari bergaul dengan Lee Siang, kalau

bercakap-cakap selalu keduanya saling merasa cocok, kalau berlatih silat mereka saling mengagumi,

maka bukan hal yang aneh kalau mulai timbul perasaan aneh dalam hati kedua orang muda ini.

 

Perasaan yang dimulai pada saat pertama kali ketika mereka duduk berhimpitan dalam joli itu,

kemudian dipupuk oleh saling pengertian dan kecocokan hati dan selera. Mulailah terdapat sesuatu

yang lain dalam sikap mereka, dalam pandangan mereka, dalam suara mereka kalau mereka saling

berhadapan. Bahkan, tidak bertemu sebentar saja timbul perasaan rindu dalam hati Goan Ciang

terhadap Lee Siang.

Suatu senja yang indah di taman bunga belakang rumah besar Liu Bi yang juga menjadi tempat

tinggal Lee Siang dan di mana Goan Ciang menjadi tamu, Goan Ciang duduk di atas bangku,

berhadapan dengan Lee Siang, di dekat kolam ikan emas dan keduanya nampak bercakap-cakap

dengan asyik. Di antara percakapan mereka, nampak tatapan mata yang mengandung sinar

kemesraan, senyum yang membayangkan kebahagiaan hati.

“Engkau ingin tahu riwayatku, Siang moi. Ah, tidak ada apa-apanya yang menarik. Riwayatku hanya

mendatangkan kenangan sedih saja,” kata Goan Ciang menjawab pertanyaan gadis itu.

“Aih, twako, kita sudah saling kenal dengan akrab, bahkan menurut perasaanku seolah kita telah

menjadi sahabat baik selama bertahun-tahun. Tentu janggal sekali kalau aku tidak tahu riwayat

hidupmu, siapa engkau dan dari mana engkau berasal. Aku ingin tahu sekali, twako. Akan tetapi kalau

engkau berkeberatan menceritakan kepadaku, akupun tidak berani memaksamu.”

“Siang-moi, terus terang saja, kepada siapapun juga aku tidak akan suka menceritakan riwayatku

yang penuh lembaran hitam. Akan tetapi kepadamu lain lagi, Siang-moi, Aku tidak mau engkau

menyangka aku tidak percaya kepadamu. Nah, dengarlah riwayat seorang yang hanya satu kali ini

saja menceritakan riwayatnya pada orang lain”

“Cu twako…! Jangan memaksa diri, kalau engkau merasa keberatan dan hendak merahasiakan,

akupun tidak suka memaksamu dan sunggu, aku tidak akan merasa kecewa…”

Goan Ciang tersenyum. Betapa lembut dan mulia hati gadis ini. “Aku tidak akan memaksa diri,

Siang moi. Kepadamu, aku tidak mungkin dapat menyimpan rahasia. Nah, dengarlah. Aku adalah

seorang yang berasal dari sebuah dusun Cang-sun, dusun yang terletak di lembah suang Huai. Aku

sudah yatim piatu, ayah ibuku meninggal dunia karena bahaya kelaparan dan penyakit. Sejak kecil

aku hidup miskin sampai makanpun tidak dapat kenyang setiap hari.” Dengan ringkas namun jelas dan

tidak menyembunyikan rahasia, Goan Ciang menceritakan riwayatnya dengan perasaan seperti

mencurahkan segala himpitan perasaan hatinya kepada seseorang yang dipercaya sepenuhnya,

bahkan yang menjadi tempat yang dianggap paling aman untuk mencurahkan semua isi hatinya.

Diceritakannya betapa dia pernah menjadi penggembala ternak, kemudian menjadi kacung di kuil,

menerima banyak penghinaan, lalu belajar ilmu dari Lauw in Hwesio da n menjadi seorang

gelandangan sampai dia tiba di Wu-han dan dalam perkelahian membunuh Bhong-Ciangkun dan

bertemu dengan Lee Siang yang menolongnya.

“Nah, demikianlah riwayatku, Siang moi. Aku seorang pemuda dusun yang miskin dan hina…”

”Cukup, twako. Riwayatmu menarika sekali dan engkau adalah seorang yang digembleng oleh

kehidupan sejak kecil. Pantas engkau kini menjadi seorang pemuda yang kuat lahir batin. Aku kagum

sekali padamu.”

Wajah Goan Ciang berubah merah karena di dalam hatinya, dia merasa gembira bukan main.

Tadinya dia khawatir kalau riwayatnya akan membuat gadis itu memandang remeh kepadanya. Tidak

tahunya gadis itu malah memujinya. Sungguh seorang gadis yang luar biasa.

“Sekarang giliranmu, Siang moi. Setelah aku menceritakan pengalamanku, sudah sepantasnya

kalau engkaupun menceritakan riwayatmu kepadaku agar kita dapat lebih mengenal keadaan diri

masing-masing. Tentu saja kalau engkau tidak berkeberatan.”

Lee Siang tersenyum, “Riwayatku juga tidak kalah suram dibanding riwayatmu, twako. Biarpun

engkau yatim piatu, namun engkau mendapat kesempatan pernah mengenal dan melihat wajah ayah

ibumu sebelum mereka meninggal. Aku lebih parah lagi dari itu karena aku tidak pernah mengetahui

bagaimana wajah ayah dan ibu kanduku.”

“Aduhh, kasihan sekali engkau, Siong moi!”kata Goan Ciang setulus hatinya.

 

Gadis itu tersenyum manis. “Tidak perlu dikasihani, twako. Aku sendiri sudah tidak mempunyai

perasaan iba kepada diri sendiri. Sejak bayi aku telah dijual oleh orang tuaku kepada seorang

keluarga kaya she Kim. Bahkan siapa nama keluarga ayahku yang asli, akupun tidak tahu. Oleh

keluarga yang membeliku, aku diberi nama Kim Lee Siang dan kami tinggal di kota Nam-ki di selatan.

Karena tidak tahu siapa nama keluarga ayah kandungku, mana akupun menerima namaku itu sebagai

nama sendiri sampai sekarang. Tadinya aku tidak tahu bahwa aku bukan anak kandung keluarga Kim.

Akan tetapi, setelah aku remaja, aku mendengar rahasia itu dari seorang pelayan keluarga Kim,

mejelang kematiannya. Bukan aku saja yang mendengarnya, akan tetapi juga kakakku laki-laki, yaitu

putera tunggal keluarga Kim. Dan sejak itu sikapnya terhadap diriku berubah sama sekali.”

“Riwayatmu menarik sekali, Siang moi!”

“Ah, sebetulnya tidak ada yang menarik, hanya menyedihkan. Sejak kecil, aku dan kakak angkat

yang tadinya kuanggap kakak kandung itu, mempelajari ilmu silat dan karena dia memang tidak

berbakat, dia selalu kalah olehku. Setelah kami menjelang dewasa, ketika itu aku berusia enam belas

tahun dan dia berusia dua puluh tahun, pada suatu malam dia mendengar bahwa aku bukan adik

kandungnya, bahkan bukan apa-apanya, dia….dia mencoba merayuku. Ketika kutolak, dia lalu nekat

hendak memperkosaku.

“Hemmm….”Goan Ciang mengerutkan alisnya, membayangkan betapa kakak itu seorang yang

rendah wataknya.

“Aku melawan dan tanpa kusengaja, tahu-tahu aku telah membacoknya dengan pisau dan

membunuhnya.”

“Ahh…!” Goan Ciang terkejut.

“Sungguh mati, aku tidak sengaja membunuhnya, twako. Karena dia hendak memaksa aku melawan

dan aku menyambar sebatang pisau dan mengancamnya, untuk menakut-nakutinya agar dia sadar dan

tidak nekat. Akan tetapi dia agaknya sudah gila. Dia nekat bahkan menyerangku, terpaksa aku

melawan dan tanpa kusadari, pisau di tanganku sudah membacok lehernya dan diapun tewas!” Gadis

itu menghela napas panjang dan memejamkan mata, seolah hendak mengusir kenangan itu.

“Tidak perlu terlalu disesalkan dan diingat, Siang moi. Bagaimanapun juga, engkau tidak sengaja

dan tidak bersalah. Dialah yang keterlaluan.” Goan Ciang menghibur.

Gadis itu membuka matanya dan memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata berseri.

“Terima kasih, twako. Setelah peristiwa itu terjadi, ayah dan ibu angkatku menjadi marah dan bukan

saja mereka tidak mengakuiku lagi dan mengusirku, bahkan hampir saja aku dikeroyok dan dibunuh.

Aku melarikan diri dan sejak itu aku hidup sebatang kara. Akhirnya aku mendapatkan seorang guru

silat yang sakti dan bersama suci Liu Bi aku memperdalam ilmu silat. Dan sekarang aku menjadi

pembantu suci yang menjadi ketua Jang kiang-pang. Berkat pertolongan suci, maka aku seolah

mendapatkan hidup baru karena ialah yang menolongku ketika aku terlunta-lunta, dan ia pula yang

minta kepada guru kami untuk menerimaku sebagai murid. Ia melimpahkan kasih sayang kepadaku

dan aku menganggap ia sebagai pengganti keluargaku. Demikianlah riwayatku, twako, riwayat yang

sama sekali tidak menarik dan menyedihkan saja.”

“Kita berdua mempunyai latar belakang dan nasib yang tak jauh berbeda, Siang moi. Berapa

usiamu sekarang Siang moi?”

Gadis itu memandang kepada Goan Ciang sambil tersenyum. “Delapan belas tahun lebih.”

“Dan engkau belum mempunyai tunangan?”

“Apa, twako?” Gadis itu terbelalak heran.

“Maksudku, apakah engkau belum mempunyai calon jodoh, calon suami?”

Wajah itu kemerahan, tersipu dan ia menggeleng kepala, lalu bertanya, “Kenapa engkau bertanya

tentang itu, twako?”

Goan Ciang juga tersenyum, “Ah, hanya ingin tahu saja.”

Kini gadis itu menatap wajah Goan Ciang dengan penuh selidik, wajahnya sendiri berseri dan

senyumnya menggoda dan manis sekali. “Dan bagaiman engkau sendiri, twako? Berapa usiamu dan

apakah engkau belum menikah?”

 

Kini Goan Ciang yang tertegun dan mukanya berubah agak kemerahan. “Usiaku dua puluh tahun

lebih, Siang moi, dan aku belum…belum menikah dan belum mempunyai calon isteri. Akan tetapi,

kenapa engkau bertanya tentang itu?”

“Mengapa? Hanya ingin tahu saja, twako, kata gadis itu, suaranya menirukan jawaban Goan Ciang

tadi. Pemuda itu tertawa, gadis itupun tertawa dan merekapun tertawa karena merasa lucu. Akan

tetapi, seperti permulaannya, tawa mereka itupun berhenti tiba-tiba dan mereka saling pandang,

seperti terpesona.

“Twako, kenapa engkau memandang seperti itu?”

“Dan engkau mengapa pula memandang seperti itu? Sinar matamu seperti menembus jantungku

rasanya.”

“Entahlah, aku…….” Lee Siang tak dapat melanjutkan, mukanya berubah merah sekali dan iapun

menundukkan mukanya. Goan Ciang bangkit berdiri, menghampiri dan berdiri di depan gadis yang

masih duduk di bangku itu dan dia memegang kedua tangan gadis itu yang terasa dingin dan agak

gemetar. Lee Siang mengangkat muka memandang, sinar matanya penuh keheranan, juga tersipu.

“Siang moi, kita berdua berasal dari tempat yang rendah, kita sebatang kara dan tidak berarti.

Maukah engkau mengarungi samudera kehidupan yang buas ini bersamaku, mencari pantai bahagia

untuk kita berdua?”

Sepasang mata yang jeli itu menyelidik. “Apa….maksudmu, twako?”

“Siang-moi, maukah engkau menjadi isteriku?”

Kini sepasang mata itu terbelalak kaget, akan tetapi Lee Siang tidak menarik kedua tangannya

yang masih digenggam Goan Ciang.

“Kenapa, twako? Kenapa engkau melamarku untuk menjadi isterimu? Kenapa?”

Goan Ciang menatap tajam dan tersenyum. “Siang moi, masih kautanya lagi kenapa aku ingin

engkau menjadi isteriku? Karena aku kagum padamu, karena aku cinta padamu, sejak kita duduk di

dalam joli itu. Maukah engkau, Siang moi?”

Goan Ciang menarika kedua tangan itu sehingga Lee Siang juga bangkit berdiri, saling

berhadapan, dekat, kedua tangan saling berpegang.

“Akupun kagum kepadamu, twako…” akhirnya gadis itu berbisik, mengaku sejujurnya.

“Dan cinta?”

Gadis itu harus mengangkat muka untuk menatap wajah Goan Ciang. Dua pasang mata saling tatap,

bertaut seperti saling menyelidiki. “Aku…aku tidak tahu…akan tetapi aku kagum dan suka

padamu…bukan mustahil inilah perasaan cinta itu….”

“Siang moi, jadi engkau..mau menjadi isteriku?”

Gadis itu mengangguk sambil tersenym dan saking girangnya Goan Ciang mendekap kepala gadis

itu sehingga muka Lee Siang seperti hendak dia benamkan ke dalam dadanya.

Tiba-tiba terdengar bentakan lembut, Siang moi…!”

Bagaikan diserang seekor ular, Lee Siang melepaskan diri dari pelukan Goan Ciang dan mereka

berdua memutar tubuh dan melihat Liu Bi telah berdiri di situ dengan alis berkerut dan sepasang

mata memandang kepada mereka dengan tajam penuh selidik.

“Sumoi, apa yang kaulakukan ini?” kembali suara itu lembut menegur dan sinar mata itu berkilat

menyambar ke arah muka Lee Siang.

“Suci, aku…” gadis itu tergagap dan tersipu.

Sepasang alis yang indah bentuknya ditambah penghitam alis itu berkerut semakin dalam dan

sinar matanya menatap wajah kedua orang muda itu bergantian, lalu terdengar berkata, “Begitu

mudahnya? Sumoi, lupakah engkau bahwa aku adalah pengganti gurumu, keluargamu, bahkan orang

tuamu? Begitu saja engkau hendak menjadi isteri orang tanpa memperdulikan aku?”

Lee Siang terkejut dan baru menyadari bahwa ia memang terlalu lancang mengikat janji

perjodohan dengan Goan Ciang tanpa memberi tahu kepada sucinya terlebih dahulu atau setidaknya

minta persetujuannya.

“Suci, maafkan….aku…..kami…..semua terjadi begitu tiba-tiba dan….”

 

“Sumoi, masuklah. Aku mau bicara denganmu!” kata Liu Bi dan sumoinya mengangguk, mengerling

kepada Goan Ciang lalu melangkah pergi meninggalkan taman, memasuki rumah dengan patuh.

Kini Liu Bi berdiri berhadapan dengan Goan Ciang. Pemuda ini memberi hormat dan berkata,

“Pangcu, harap engkau suka memaafkan Siang moi. Ia benar, cinta kami begitu tiba-tiba, dan…”

“Sudahlah, jangan bicarakan hal itu dahulu, Cu enghiong. Biarkan kami bicara dulu karena urusan

perjodohan amatlah penting dan tidak dapat diambil keputusan sedemikian mudahnya. Engkau tentu

mengerti apa yang kumaksudkan. Kami adalah wanita, harus memperhitungkan baik-baik tentang

perjodohan agar tidak menyesal kemudian.”

Goan Ciang mengangguk, “Aku mengerti, pangcu.”

“Nah, selamat malam, Cu-enghiong.” Ketua yang cantik itu lalu membalikkan tubuhnya dan

melangkah meninggalkan Goan Ciang yang masih berdiri terlongong sambil mengikuti langkah sang

ketua. Langkah yang gontai dan indah, lenggang seperti menari, membuat pinggang yang ramping itu

berlenggang-lenggok seperti batang pohon itu tertiup angin, dan pinggul yang menonjol seperti bukit

itu menari-nari ke kanan kiri. Baru Goan Ciang menyadari bahwa senja telah berubah malam dan

diapun perlahan-lahan kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah besar itu.

“Sumoi, kenapa engkau begitu lancang, begitu mudah jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang

belum kau kenal benar keadaannya?” di dalam kamarnya di mana ia memanggil sumoinya itu, Liu Bi

menegur Lee Siang.

Gadis itu duduk di atas kursi dengan muka tunduk dan merah tersipu. “Suci, kami sudah saling

mencinta dan aku kagum kepadanya. Dia gagah perkasa, ilmu silatnya tinggi.”

“Sumoi, kau tahu berapa usiamu?”

“Delapan belas tahun lebih, suci.”

“Dan kau tahu berapa usiaku?”

“Kalau…..kalau tidak salah, suci pernah mengatakan usia suci tiga puluh tahun, wlaupun aku tidak

pernah dapat mempercayai karena suci kelihatan tidak lebih tua dari pada aku.”

“Nah, aku yang sudah tiga puluh tahun usiaku belum menikah? Apakah engkau benar-benar sudah

mencinta Cu Goan Ciang?”

“Sudah, suci.”

“Dan setelah engkau menikah dengan dia, engkau lalu akan ikut pergi dengan dia?”

Gadis itu mengangguk. “Cu-twako seorang yang hidup sebatang kara, kami berdua akan bertualang

bersama, membangun kehidupan baru dalam sebuah rumah tangga yang berbahagia, suci.”

Tiba-tiba sikap ketua Jang-kiang-pang itu berubah. Wajahnya berseri gembira dan senyumnya

manis sekali. Ia merangkul sumoinya dan mencium kedua pipinya.

“Ah, aku ikut merasa gembira, sumoi! Aku senang sekali kalau engkau berbahagia.”

Tentu saja Lee Siang yang tadinya merasa khawatir mendapat teguran dan kemarahan sucinya,

kini menjadi girang bukan main, Ia balas merangkul dan kedua matanya basah. “Terima kasih, suci.

Engkau memang orang yang paling berbudi di dunia ini bagiku. Terima kasih.”

“Aku harus memberi selamat kepadamu dan kita rayakan kebahagiaan ini dengan minum anggur!”

Liu Bi lalu pergi ke sebuah almari di mana tersimpan beberapa guci anggur yang tua dan baik. Lee

Siang yang mengetahui bahwa sucinya seorang peminum yang kuat, tersenyum. Ia sendiri tidak

begitu suka minum anggur keras seperti sucinya, akan tetapi sekali ini, untuk merayakan

kebahagiaannya dan untuk menyenangkan hati sucinya yang telah menyetujui perjodohannya dengan

Goan Ciang, ia siap untuk minum sampai mabok sekalipun.

Tak lama kemudian, di dalam kamar yang mewah dan diterangi lampu gantung berwarna warni itu,

dua orang pimpinan Jang-kiang pang sudah minum anggur dengan gembira. Dengan setulus hati Liu Bi

berkali-kali memberi selamat kepada sumoinya dengan mengajaknya minum secawan anggur. Karena

merasa telah memiliki tenaga sin-kang yang kuat, maka mereka tidak mudah menjadi mabok. Biarpun

demikian, tetap saja berkurang kewaspadaan Lee Siang, apa lagi ia merasa terlalu gembira melihat

sikap sucinya sehingga ia tidak melihat ketika sucinya menaburkan bubuk putik dari dalam sebuah

botol kecil ke dalam cawan anggurnya, ketika kembali sucinya mengajaknya minum.

 

Begitu minum habis secawan anggur yang sudah diberi bubuk putik di luar tahunya itu, tiba-tiba

Lee Siang merasa pening dan lemas. Ia terkejut sekali, memandang kepada cawannya, lalu kepada

sucinya. Nampak tubuh sucinya, seperti berputaran, demikian pula seisi kamar itu.

“Suci, aku…..aku pulang…aneh sekali…”

Dan kini terjadi perubahan pada wajah Liu Bi. Ia tertawa dan suara tawanya amat mengejutkan

hati Lee Siang. Gadis itu berusaha sekuat tenang untuk membelalakan matanya agar dapat melihat

dengan jelas.

“Tidak aneh, sumoi, karena memang anggur yang kauminum tadi telah kuisi racun!”

“Suci…..! Kau….kau meracuni aku? Suci, mengapa? Mengapa kau lakukan ini, suci?” Lee Siang

terkejut bukan main, dan terheran. Ia memaksa diri agar tidak jatuh pingsan walaupun pusing di

kepalanya semakin menghebat, pandang matanya berkunang dan tubuh terasa lemas dan berat.

“Hi-hi-hik,” ketua itu tertawa dan kini tawanya terdengar aneh dan mengerikan bagi Lee Siang.

“Aku selalu sayang padamu, sumoi, akan tetapi kalau engkau hendak merebut pria pilihanku, terpaksa

engkau kusingkirkan!”

“Apa….? Maksudmu…engkau…engkau….”

“Ya, sejak semula aku telah jatuh cinta kepada Cu Goan Ciang dan aku sudah mengambil keputusan

untuk menarik dia menjadi suamiku!”

“Tapi…..tapi..bukankah suci mencinta Perwira Khabuli….?”

“Huh, raksasa kasar itu? Itu hanya demi kedudukan, aku muak melihatnya. Aku mencinta Cu Goan

Ciang, dan engkau tidak boleh merampasnya dariku, sumoi.”

“Tapi suci, kalau benar demikian, tidak perlu suci meracuni aku. Aku suka mengalah, suci. Demi

Tuhan, kalau aku tahu suci mencinta twako, aku akan mundur, aku akan rela mengalah karena aku

sayang padamu, aku menghormatimu. Mengapa harus meracuni aku, suci?”

“Aku tahu dan aku percaya bahwa engkau akan mengalah kepadaku, akan tetapi aku meracunimu

agar dia mau menjadi suamiku.”

“Suami….” suara Lee Siang semakin lemah. Gadis ini terlalu heran melihat betapa sucinya yang

saling sayang dengannya kini dapat berlaku sedemikian curang dan kejam kepadanya! Dalam keadaan

hampir pingsan dan setengah sadar ia masih melihat sucinya tersenyum mengejek dan bicara dengan

suara yang semakin lirih.

“Tenanglah, sumoi. Kalau dia sudah setuju menjadi suamiku, engkau pasti akan kuberi obat

penawar. Akan tetapi kalau dia menolak, tidak ada jalan lain bagiku kecuali membiarkan engkau mati.

Racun itu akan membunuhmu selama tiga hari, jadi dalam waktu tiga hari ini, mudah-mudahan Cu

Goan Ciang akan suka menjadi suamiku, “ Lee Siang tidak kuat menahan lagi dan iapun terkulai dan

tentu akan roboh kalau tidak cepat sucinya merangkul kemudian memondong tubuhnya dan membawa

Lee Siang ke dalam kamar gadis itu sendiri, merebahkan tubuh yang pingsan itu ke atas

pembaringan, kemudia memanggil pelayan dan menyuruh pelayan menjaga dan merawat Lee Siang

yang ia katakan sedang menderita sakit.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Goan Ciang sudah bangun dan setelah mandi dan berganti

pakaian, dia segera pergi mengunjungi kamar Lee Siang. Akan tetapi, pintu kamar itu masih tertutup

dan dia mengetuknya perlahan. Ketika daun pintu kamar terbuka, yang muncul adalah seorang gadis

pelayan, yaitu seorang anggota Jang-kiang-pang.

“Ah, selamat pagi, Cu-enghiong,” kata pelayan itu dengan sikap hormat.

“Selamat pagi. Di mana Kim Siocia?” demikian sebutan bagi Lee Siang untuk para anggota

perkumpulan itu.

“Kim Siocia belum bangun dari tidurnya, taihiap (pendekar besar),” kata lagi pelayan itu.

“Aneh sekali! Biasanya ia bangun pagi-pagi sekali, kenapa sekarang belum bangun? Ada apakah

dengannya?”

“Kim Siocia sakit, taihiap. Malam tadi ia dipondong oleh pangcu masuk kamar ini dan tertidur atau

pingsan, sampai sekarang belum terbangun. Keadaannya mengkhawatirkan, taihiap.”

 

Mendengar ini, Goan Ciang terkejut bukan main dan dia cepat mendorong pelayan itu ke samping

lalu menerobos masuk untuk memeriksa sendiri keadaan kekasihnya. Ketika dia melihat tubuh Lee

Siang rebah telentang di atas pembaringan dan tertutup kelambu, tanpa ragu lagi dia menyingkap

kelambu dan duduk di tepi pembaringan. Dia terkejut bukan main melihat wajah kekasihnya yang

cantik manis itu, dengan rambut kusut akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya, nampak

membiru dan pucat sekali.

“Siang moi….!” dia berseru dan meraba tangan kekasihnya. Dia semakin terkejut. Tangan itu panas

bukan main. Kekasihnya menderita demam! Kenapa? Pada hal semalam dalam keadaan sehat. Cepat

dia memeriksa denyut nadi gadis itu. Denyut nadinya kacau sebentar cepat sebentar lambat.

Setelah memeriksa leher, dada, membuka pelupuk matanya, tahulah Goan Ciang bahwa sumoinya

keracunan. Keracunan hebat sekali!

Pelayan tadi berdiri di belakangnya, memandang dengan wajah khawatir. Goan Ciang

memandangnya penuh selidik. “Katakan, apa yang terjadi semalam? Apakah Nona Kim berkelahi

dengan seseorang?”

“Saya tidak tahu, taihiap. Setahu kami, semalam Kim Siocia dan pangcu bergembira di kamar

pangcu, minum-minum anggur. Akan tetapi, tahu-tahu malam tadi pangcu memondong tubuh Kim

Siocia memasuki kamar ini, merebahkannya dan menyuruh saya melakukan penjagaan dan

merawatnya.”

“Di mana pangcu?”

“Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun dan menjenguk ke sini, kemudian memesan agar saya menjaga

di sini, karena ia hendak berjalan-jalan di taman.”

Mendengar itu, cepat Goan Ciang berlari keluar kamar dan langsung dia lari ke dalam taman di

mana semalam dia saling menyatakan cinta dengan Lee Siang. Seperti ada perasaan yang

menuntunnya, dia langsung saja pergi ke dekat kolam ikan emas, tempat di mana dia bermesraan

dengan Lee Siang semalam dan benar saja di atas bangku di mana semalam Lee Siang duduk, nampak

Liu Bi duduk seorang diri, seolah-olah ia sedang melamun dan melihat ikan emas hilir mudik berenang

dengan indahnya di dalam kolam yang airnya jernih. Ketua itu nampak cantik sekali, dengan wajah

yang segar karena pagi itu telah mandi, rambutnya yang hitam halus berombak itu digelung rapi ke

atas seperti gelung rambut puteri bangsawan, dihias permata indah. Wajah itu segar dan cantik,

dengan penghitam alis, pemerah bibir dan pipi, dan pakaiannyapun baru dan indah terbuat dari

sutera mahal dan potongannya agak ketat membungkus tubuhnya yang langsing dan padat. Seorang

wanita yang amat cantik menggairahkan. Goan Ciang dapat menduga bahwa wanita itu tentu purapura

tidak tahu akan kedatangannya karena dengan ketajaman perasaan dan pendengarannya yang

terlatih, mestinya ia tentu sudah mendengar langkah kakinya.

“Selamat pagi, pangcu.”dia berkata setelah berdiri dalam jarak dua meter di belakang wanita itu.

Liu Bi menoleh dan pura-pura hanya mengangkat sepasang alis yang hitam itu ke atas, matanya

mengerling tajam dan bibirnya yang kemerahan itu tersenyum.

“Aihhh….selamat pagi, Cu-twako! Sudah berapa kali aku mengingatkan agar kau jangan menyebut

pangcu kepadaku! Sebut saja Bi moi (adik Bi), tidak maukah engkau akrab dengan aku?”

Goan Ciang yang ingin menyenangkan hatinya dan ingin sekali mendengar tentang kekasihnya,

membalas senyumnya. “Tentu saja, Bi-moi.”

“Nah, begitu lebih akrab, bukan? Toako, pagi-pagi benar engkau sudah bangun dan nampak segar,

sudah mandi dan berganti pakaian. Apakah pelayan telah mengantar sarapan pagi untukmu?”

“Belum, dan biarlah nanti saja, Bi moi. Aku sengaja mencarimu di sini untuk menanyakan sesuatu.”

“Apa yang hendak kau tanyakan, twako yang baik?”

“Aku ingin bertanya tentang Siang-moi! Apakah yang terjadi dengannya maka ia dalam keadaan

seperti itu, keracunan hebat? Apa yang terjadi semalam ketika ia minum-minum anggur denganmu,

Bi-moi?”

Mendengar ini, Liu Bi tersenyum. Senyumnya memang manis sekali. Sepasang bibir lembut itu

merekah dan nampak kilatan gigi yang berderet rapi dan putih dan karena mulut itu agak ternganga

 

ketika senyum, nampak rongga mulut yang kemerahan dan ujung lidah yang merah muda. “Engkau

tahu bahwa ia keracunan hebat? Akan tetapi engkau tentu tidak tahu bahwa kalau ia tidak

mendapatkan obat penawar yang ampuh, dalam waktu tiga hari ia pasti akan mati dan tidak ada obat

apapun di dunia yang akan mampu menyembuhkannya.”

Wajah Goan Ciang berubah agak pucat dan matanya terbelalak memandang wajah wanita itu

dengan penuh selidik. “Pangcu….eh, Si moi, apa yang telah terjadi dengannya. Mengapa ia dapat

keracunan seperti itu?”

Senyum itu melebar dan kerlingnya menyambar tajam. “Semua itu karena salahmu, twako.”

“Salahku?” Apa maksudmu, Bi-moi?”

“Semalam itu, engkau merayu dan menjatuhkan hati sumoi. Itulah kesalahanmu yang

mengakibatkan kini sumoi terpaksa harus menderita seperti itu.”

“Maksudmu?” Goan Ciang sungguh tidak mengerti dan menjadi bingung.

“Karena engkau membuat aku membenci sumoiku yang tadinya sudah kuanggap sebagai murid atau

adik sendiri. Ia minum anggur yang kucampuri racunku yang amat kuat!”

“Pangcu!!!” Goan Ciang meloncat dan mukanya berubah merah, kedua tangannya gemetar karena

timbul perasaan marah yang hebat yang membuat dia hampir tak dapat menahan diri untuk tidak

menyerang wanita cantik itu.

Akan tetapi, Liu Bwe tersenyum dan bangkit berdiri, agaknya sudah siap dan berkata lembut,

“Tenanglah, twako.”

“Pangcu….”

“Ingat, Bi-moi, bukan pangcu.”

“Baiklah, Bi-moi!” kata Goan Ciang gemas.

“Apa artinya semua ini? Kalau engkau yang meracuni Siang-moi, engkau harus cepat memberinya

obat penawar!”

“Kalau aku menolak?”

“Demi Tuhan! Aku akan memaksamu!”

“Memaksaku? Hik-hik, lucunya. Pertama, belum tentu engkau dapat mengalahkan aku, apa lagi

kalau aku mengerahkan semua anak buahku. Kedua, andaikata engkau mampu mengalahkan aku

sekalipun, menyiksa atau membunuh sekalipun, aku tidak akan mau membiarkan kau pergi dan dalam

waktu tiga hari, tetap saja sumoi akan mati dalam keadaan tersiksa! Nah, kau tetap hendak

memaksaku?”

Goan Ciang seorang cerdik dan dia tahu bahwa wanita itu bukan hanya menggertak saja. “Lalu, apa

kehendakmu, Bi-moi? Engkau meracuni sumoimu sendiri karena ia cinta kepadaku dan hal ini

membuatmu membencinya. Kenapa? Engkau tidak mau mengobatinya, kenapa?”

“Cu Goan Ciang, engkau seorang laki-laki, masihkah perlu bertanya lagi sebabnya? Aku tidak ingin

ia menjadi isterimu! Itulah sebabnya!”

“Tapi kenapa? Andaikata engkau tidak menyetujui perjodohan kami, dan engkau melarangnyapun,

tidak perlu engkau meracuninya dan mengancam nyawanya! Tidak perlu engkau membunuhnya!”

“Cu-twako, apakah engkau menghendaki agar ia hidup kembali? Engkau ingin agar sumoi

mendapatkan obat penawar dan nyawanya tidak terancam oleh racun itu?”

“Tentu saja! Bi Moi yang baik, tolonglah jangan sampai Siang-moi terancam bahaya maut. Kasihan

ia! Bukankah engkau sayang kepadanya, Bi-moi? Tolonglah, berilah obat penawar agar ia sembuh.”

“Tentu saja aku sayang kepadanya. Akan tetapi, peristiwa semalam membuat aku tega

membunuhnya, twako.”

“Akan tetapi kenapa? Apa salahnya kalau dia mencintaiku dan aku mencintainya? Apa salahnya

dengan itu?”

“Salahnya adalah karena dia membuat aku iri hati, membuat aku cemburu setengah mati.

Goan Ciang terbelalak saking kaget dan herannya. “Cemburu? Ehh…apa….maksudmu, Bi-moi?”

“Maksudku, aku tidak ingin engkau menjadi suami sumoi, akan tetapi aku ingin engkau menjadi

suamiku, Cu Goan Ciang!”

 

Goan Ciang tertegun, sejenak tidak mampu bicara, bahkan tidak mampu berpikir karena hal itu

sama sekali tidak pernah disangkanya. Selama belasan hari tinggal di situ dia hanya akrab dengan

Lee Siang. Biarpun ketua inipun bersikap ramah kepadanya, namun tak pernah dia melihat tandatanda

behwa wanita ini tertarik kepadanya. Dan sekarang, tiba-tiba saja wanita ini menghendaki

agar dia menjadi suaminya, dan tega meracuni sumoi yang disayangnya untuk merebut dia dari

tangan sumoinya.

“Tapi…tapi…aku sungguh tidak mengerti, Bi-moi. Kenapa begini mendadak dan keinginan itu

sungguh….rasanya tak masuk akal dan aneh!

“Apakah yang aneh, twako? Selama ini aku tidak menikah karena kuanggap tidak ada pria yang

cocok untuk menjadi suamiku. Ketika aku bertemu denganmu, melihat sepak terjangmu, segera aku

yakin bahwa engkaulah satu-satunya pria yang cocok untuk menjadi suamiku. Krena itu, tentu saja

aku benci dan marah melihat sumoi hendak merebutmu. Malam tadi, kami berdua masih sama-sama

bebas, kami saling mencinta dan…”

“Cukup! Sekarang tinggal terserah kepadamu. Kalau engkau suka menikah denganku, sumoi tidak

akan mati. Aku akan memberi obat pemunah racun dan ia akan sembuh kembali. Sebaliknya, kalau

engkau menolak, dalam tiga hari sumoi pasti tewas dan tidak ada obat di dunia ini yang akan mampu

menyembuhkannya.”

“Ahhh…! saking bingungnya, Goan Ciang tidak mampu bicara, hanya berdiri mematung dan

memandang wanita itu dengan m ata terbelalak mulut ternganga. Perlahan-lahan mukanya berubah

merah sekali saking marahnya. “Jang-kiang Sian li Liu Bi, engkau adalah seorang wanita berhati iblis!

Akan kuhancurkan engkau dan perkumpulanmu!” Dia membentak dan siap menyerang.

Liu Bi tersenyum mengejek dan sekali ia mengeluarkan suara bersuit nyaring, dari segenap

penjuru bermunculan anak buahnya yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang mengepung

tempat itu.

“Engkau memilih sumoi mati tersika dan engkau sendiri mampus oleh pengeroyokan kami? Ingat,

aku sendiri saja belum tentu engkau mampu mengalahkan!” katanya.

Goan Ciang tidak takut mati, tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. Akan tetapi mengingat

keadaan kekasihnya, dia gelisah sekali. “Kalau aku menuruti kehendakmu, engkau benar-benar akan

menyembuhkan Siang-moi?” akhirnya dia bertanya. “Maukah engkau bersumpah?”

“Kau laki-laki gila! Janji ketua Jang-kiang pang lebih kuat dari pada sumpah. Pula, aku sayang

kepada sumoi dan hanya karena engkau maka aku tega meracuninya.”

Diam-diam Goan Ciang mengasah otaknya. Yang terpenting adalah menyelamatkan Lee Siang lebih

dahulu, pikirnya. “Berilah waktu kepadaku sampai besok, dan biarkan aku menjaga Siang-moi dan

bicara dengannya dahulu sebelum aku memberi keputusanku besok.” Dia minta waktu sehari semalam

agar dia dapat berusaha mengobati gadis itu dengan kekuatan sin-kangnya, juga kalau gadis itu

siuman, dia ingin bicara dengan Lee Siang tentang niat gila Liu Bi yang hendak menariknya sebagai

suaminya.

Tentu saja Liu Bi dapat menduga apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Akan tetapi, dia purapura

tidak tahu dan hanya tersenyum, lalu mengangguk, “Baiklah, aku tidak tergesa-gesa. Akan

tetapi ingat, kalau sampai besok malam engkau belum memberi jawaban berati sudah terlambat

untuk menolong sumoi.. Bahkan obatku sekalipun tidak akan ada gunanya lagi. Besok siang harus

sudah ada keputusan darimu.”

“Baik,” kata Goan Ciang dan Liu Bi memberi isarat kepada semua anak buahnya sehingga mereka

mundur. Dengan langkah gontai Goan Ciang lalu menuju ke kamar Lee Siang, memasuki kamar itu dan

menyuruh pelayan yang berjaga di situ keluar. Lalu dia duduk di tepi pembaringan setelah

menutupkan daun pintu kamar itu.

Dengan hati-hati Goan Ciang lalu memeriksa lagi keadaan kekasihnya. Dia pernah mempelajari ilmu

pengobatan, walaupun tidak banyak, dari gurunya ketika dia berada di kuil Siauw-lim-pai.

Setidaknya, oleh Lauw In Hwesio dia diajar bagaimana caranya mengobati luka oleh senjata tajam,

 

bahkan sedikit tentang pengobatan menggunakan tenaga sin-kang seperti mengobati luka dalam dan

menggunakan sin-kang mengusir hawa beracun dari dalam tubuh korban.

Dengan hati-hati dia lalu duduk bersila di dekat tubuh kekasihnya, kemudian menghimpun tenaga

melalui pernapasan, dan menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Lee Siang setelah dia

membalikkan tubuh kekasihnya itu sehingga rebah miring. Dia lalu mengerahkan sin-kang, disalurkan

melalui kedua telapak tangan, menggetar memasuki tubuh Lee Siang dari punggung.

Tak lama kemudian, Lee Siang mengeluh, membuka mata, kemudian berkata, “Hentikan…twako,

hentikan….!”

Goan Ciang terkejut dan melepaskan kedua tangannya. Gadis itu telentang lagi dan napasnya

terengah, akan tetapi ia telah siuman. Dahi dan lehernya penuh keringat. Goan Ciang menggunakan

ujung lengan bajunya menghapus keringat itu.

“Bagaimana rasanya, Siang-moi?”

“Lemah….pusing…..”

“Kenapa engkau menghentikan usahaku untuk mengusir racun dari tubuhmu?”

“Twako, kalau kaulakukan itu….aku….aku akan segera mati….”

Tentu saja Goan Ciang terbelalak dan mukanya berubah pucat. “Apa? Kenapa begitu..?”

Lee Siang kini sudah sadar sepenuhnya dan ia menghela napas panjang. “Racun yang telah masuk

ke tubuhku ini amat kuat, bukan saja meracuni darahku, akan tetapi juga merampas tenaga saktiku.

Kalau diobati dengan pengerahan sin-kang, maka tenagamu yang menyusup ke dalam tubuhku tidak

dapat kubantu dengan tenagaku sendiri dan akibatnya bahkan akan mempercepat jalannya racun.

Tanpa diobati, aku akan bertahan tiga hari. Hanya suci yang memiliki obat pemunahnya…”

“Betapa kejamnya Liu-Bi…!” kata Goan Ciang dengan gemas.

“Jangan berkata demikian, twako. Suci menyayangku…”

“Omong kosong ! Menyayangmu dan meracunimu, hendak membunuhmu?”

“Hai itu ia lakukan karena ia mencintamu, twako.”

“Apa? Kau sudah tahu? Gila benar! Ia mengatakan bahwa ia baru akan memberimu obat penawar

racun kalau aku mau menikah dengannya! Aku tidak sudi!”

“Ahhh…Cu-twako…, kuminta….kuharap, jangan engkau menolak permintaannya. Menikahlah engkau

dengannya, twako…kata gadis itu dengan suara tersendat bercampur tangis.

Goan Ciang tertegun, terkejut, heran dan penasaran sekali. Kekasihnya ini bahkan minta

kepadanya agar dia mau menikah dengan Liu Bi! Kekecewaan menyusup ke dalam hatinya. Tak

disangkanya bahwa kekasihnya yang amat dia cinta dan kagumi ini ternyata pada saat terakhir

adalah seorang penakut. Takut mati. Akan tetapi dia menghibur dirinya. Siapa yang tidak akan takut

kalau sudah dicengkeram racun seperti yang dialami Lee Siang dan tahu bahwa kalau dia menolak

menikah dengan ketua Jang-kiang-pang, dalam waktu tiga hari nyawanya akan melayang?

“Tidak, Siang-moi. Dan jangan engkau takut. Aku akan mencarikan obat untukmu, kalau perlu aku

akan menangkap Liu-Bi, menyiksa dan memaksanya agar ia suka mengobatimu sampai sembuh. Kalau

perlu akan kuhancurkan seluruh Jang-kiang-pang ini!”

“Twako, engkau salah sangka! Aku tidak takut mati, twako, sama sekali bukan karena aku takut

mati maka aku memohon engkau suka menikah dengan suci.”

“Lalu kenapa engkau minta aku melakukan hal yang gila itu?”

“Twako, aku kasihan dengan suci. Aku sayang padanya, aku berhutang budi padanya, aku

berhutang budi padanya, aku ingin melihat ia berbahagia. Kalau engkau suka memenuhi permintaanya,

menjadi suaminya dan ia berbahagia, akupun akan merasa berbahagia pula. Mengertikah engkau,

twako? Bukan karena aku takut mati, melainkan aku ingin membahagiakan suci. Andaikata aku tahu

bahwa suci mencintamu, sudah pasti aku mengeraskan hati menolak cintamu, mengubur perasaan

cintaku padamu sebagai rahasia yang akan kubawa mati.”

Kembali Goan Ciang terkejut bukan main. Kekasihnya ini adalah seorang gadis luar biasa, penuh

kejutan. “Jadi, engkau sama sekali tidak menyesal telah diracuni sucimu sendiri?”

 

Mulut itu tersenyum dan ia menggeleng kepala. “Mengapa mesti menyesal? Suci melakukan ini

untuk memaksamu menerima permintaannya. Aku mengenal suci. Ia harus mendapatkan apa saja yang

dikehendakinya. Aku hanya menyesal, mengapa aku tidak tahu sebelumnya, bahwa suci mencintaimu.”

“Tapi…, lalu bagaimana dengan kau?” Dengan cintamu? Cinta kita?”

“Twako, aku rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan suci. Rela kehilangan engkau,

kehilangan cintaku, bahkan aku rela mati demi untuk suci. Maka, sekali lagi aku mohon padamu,

twako, terimalah suci sebagai isterimu. Kalau engkau menolak, aku akan mati penasaran, twako…”

Goan Ciang terkejut bukan main. Gadis ini rela patah hati, bahkan rela mati demi kebahagiaan

iblis betina itu! Melihat pemuda itu duduk tertegun dan mematung dengan wajah pucat, akan tetapi

matanya berkilat penuh penasaran dan kemarahan. Lee Siang menangis terisak-isak. Goan Ciang diam

saja, akan tetapi tangis itu semakin mengguguk seperti menusuk-nusuk jantungnya.

“Sudahlah, Siang-moi, jangan menangis. Permintaanmu itu sungguh tidak masuk akal, bagaimana

mungkin aku dapat menerimanya. Aku cinta padamu, dan aku sama sekali tidak mencintainya, bahkan

muak dan benci rasa hatiku terhadapnya karena perbuatannya terhadap dirimu.”

Mendengar ucapan itu, Lee Siang memaksa diri untuk menghentikan tangisnya. Setelah berhasil,

ia lalu berkata, suaranya gemetar, “Dengar, twako. Kalau engkau menikah dengan suci, engkau akan

membahagiakannya, berarti engkau juga membuat aku berbahagia. Sedangkan kau sendiri aku yakin

bahwa engkau akan dapat mencintai suci. Ia seorang wanita yang hebat segala-galanya melebihi

siapa saja, melebihi aku. Ia amat lembut dan penuh kasih sayang kepada orang yang dicintanya. Ia

hanya kejam dan keras kalau kehendaknya dihalangi. Kita bertiga akan merasa bahagia, twako. Akan

tetapi kalau engkau menolak, aku akan…..benci sekali kepadamu! Aku bahkan minta kepada suci agar

untuk sementara aku diberi penawar dan aku akan membantunya memusuhimu. Aku bersumpah untuk

melakukan itu, twako!”

Goan Ciang tercengang, wajahnya berubah, pucat kini. Agaknya tidak ada jalan lain. Tentu saja dia

tidak menghendaki Lee Siang mati keracunan, apa lagi kalau gadis itu sam pai membencinya, dan

kalau mati sampai arwahnya menjadi setan penasaran! Kalau dia menerima permintaan Liu Bi, berarti

dia berkorban demi kekasihnya ini.

Sampai lama dia tak bergerak seperti patung sampai tangan gadis itu menyentuh lengannya, dan

Lee Siang sudah bangkit duduk. “Bagaimana, twako? Sudikah engkau memenuhi permohonanku?”

Goan Ciang menoleh. Mereka duduk dengan muka saling tatap, lalu Goan Ciang mengangguk lesu.

“Baiklah, akan tetapi ingat, aku melakukan ini hanya demi engkau, Siang-moi, hanya demi

keselamatanmu.”

“Dan aku melakukan ini hanya demi kebahagiaan suci, twako, kita berdua berkorban, engkau untuk

aku dan aku untuk suci. Alangkah indahnya hidup ini kalau kita dapat berkorban demi orang lain….”

Gadis itu terisak, akan tetapi bukan karena duka, melainkan karena bahagia.

“Siang moi…!” Goan Ciang tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun merangkul gadis itu dan

mendekap kepalanya di dadanya. “Siang-moi, apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu,

selamanya..”

Dari dada pemuda itu, Lee Siang berbisik, “Akupun demikian, twako. Biar aku tidak menjadi

isterimu, aku akan tetap mencintaimu selama hidupku. Biar cinta kita tidak berakhir dengan

pernikahan, namun kita masing-masing menyadari bahwa kita saling mencinta, sampai akhir hayat…”

Dengan lembut Lee Siang lalu melepaskan diri dari pelukan Goan Ciang merebahkan kembali

tubuhnya yang lemah.

“Twako, keluarlah dan katakan kesanggupanmu kepada suci, agar ia cepat tahu dan berbahagia.

Percayalah, kalau ia merupakan orang yang paling berbahagia, aku adalah orang paling berbahagia ke

dua setelah dia.”

Goan Ciang menunduk dan menghentikan ucapan gadis itu dengan mencium mulutnya, dan pada

saat itu, dua titik air matanya jatuh menimpa pipi Lee Siang. Kemudian, dia cepat turun dan

meninggalkan kamar itu, diikuti pandang mata Lee Siang dan gadis inipun tersenyum bahagia!

 

Tebing bukit yang menjadi markas Jang-kiang pang itu ramai dan meriah sekali. Semua bangunan

tempat tinggal para anggotanya dirias, terutama sekali bangunan besar megah yang menjadi tempat

tinggal ketua mereka. Sang ketua yang cantik itu merayakan pernikahannya dengan Cu Goan Ciang!

Suasananya amat meriah dan semua orang nampak bergembira ria. Pesta pernikahan itu diadakan

secara mewah, dibangun panggung besar yang khusus untuk pesta dan semua anggota Jang-kiang

pang mengenakan pakaian baru. Tamu-tamu berdatangan pada sore hari itu, dan di antara para tamu

yang sebagian besar adalah orang-orang kang-ouw, terdapat pula banyak orang-orang berpakaian

sebagai pembesar dan bangsawan. Akan tetapi di antara para pembesar itu, yang nampak menyolok

dan disambut dengan penuh kehormatan adalah seorang pria raksasa. Tidak mengherankan kalau dia

dihormati karena orang ini adalah Panglima Khabuli! Usia panglima yang masih bujangan ini sudah

empat puluh tahun dan dia memang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang amat besar, karena dialah

panglima pasukan di Wu-han. Bahkan kepala desa Wu-han sendiri tunduk dan segan kepadanya bukan

hanya karena Panglima Khabuli memegang kekuasaan atas pasukan keamanan di daerah Wu-han, akan

tetapi terutama sekali karena panglima raksasa hitam ini adalah keponakan dari Menteri Bayan,

tangan kanan Kaisar yang amat terkenal di kota raja. Dengan demikian, dapat dibilang bahwa Khabuli

merupakan orang yang paling berkuasa di Wu-han! Orangnya memang mengesankan sekali. Tubuhnya

yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat seperti benteng. Kulitnya yang agak hitam itu mengkilap

seperti berminyak, namun wajah itu tidak kelihatan buruk, bahkan menarik karena nampak jantan.

Segala yang ada pada dirinya menimbulkan kesan tebal dan bulat namun tidak gemuk, melainkan

kokoh. Matanya lebar dan hidungnya besar. Mulut yang bibirnya tebal itu selalu dihias senyum, akan

tetapi tarikan hidungnya membayangkan keangkuhannya dan rasa diri penting.

Di antara para penyambut tamu, yaitu para murid kepala atau anggota tingkat atas dari Jangkiang-

pang, nampak pula kesibukan Lee Siang. Gadis ini sudah sehat kembali, berkat obat penawar

dari sucinya, semua racun telah keluar dari tubuhnya. Namun, akibat racun itu, dia masih kehilangan

tenaga sinkangnya sehingga untuk sementara waktu, menurut keterangan Liu Bi untuk waktu kurang

lebih tiga bulan, Lee Siang hanya merupakan seorang wanita yang tidak memiliki kelihaian luar biasa.

Ia memang tidak kehilangan jurus-jurus silatnya, akan tetapi kalau di dasar ilmu silat itu tidak

terkandung tenaga yang kuat, apa artinya? Tenaganya seperti tenaga wanita biasa yang sama sekali

tidak tahu ilmu silat saja.

Lee Siang nampak cantik manis dan wajahnya berseri gembira. Bukan gembira palsu, melainkan ia

benar-benar gembira dan merasa berbahagia melihat sucinya merayakan pesta pernikahannya

dengan Cu Goan Ciang! Bahkan ia sendiri yang membantu sucinya berias, dengan penuh kebanggaan

dan kegembiraan melihat betapa cantiknya sucinya dalam pakaian pengantin! Sungguh luar biasa

sekali perasaan kasih sayang dan kesetiaan dalam hati Lee Siang terhadap sucinya. Sedikitpun tidak

terkandung perasaan iri atau cemburu, walaupun sampai saat itu, ia tetap mencinta Goan Ciang

sepenuh hati.

Ketika Lee Siang menyambut para tamu dengan sikap yang ramah dan suasana amat meriah

karena musik telah dimainkan sejak tadi oleh para pemusik paling kenamaan dari Wu-han. Ruangan

panggung yang luas itu mulai dipenuhi para tamu dan ketika Khabuli dan empat orang pengawalnya

muncul, Lee Siang sendiri tergopoh menyambut, mewakili sucinya yang masih belum muncul karena

sedang dirias di kamar pengantin.

Ketika Lee Siang memberi hormat menyambutnya, Khabuli tersenyum lebar dan memandang

kepada Lee Siang seolah seekor ikan besar yang hendak menelan ikan kecil.

“Selamat datang, Ciangkun (panglima), silakan duduk di kursi kehormatan.”kata Lee Siang sambil

mempersilakan tamunya untuk duduk di deretan kursi kehormatan, yaitu dekat tempat duduk

mempelai, Khabuli memberi isarat kepada empat orang pengawalnya untuk duduk di tempat tamu

biasa, sedangkan dia sendiri dengan langkah yang gagah, menggiringkan Lee Siang yang membawanya

ke deretan kursi kehormatan, sedangkan para tamu yang sudah hadir, memandang dengan hormat,

bahkan mereka yang dilewati panglima itu bangkit memberi hormat.

 

“Ah, Kim Siocia, engkau sungguh nampak cantik jelita sekali sore ini!” demikian kata panglima itu

setelah dia dipersilakan duduk. Lee Siang yang mendengar pujian itu, memberi hormat dan tersipu.

“Terima kasih atas pujian Ciangkun.”

“Sungguh, aku tidak hanya memuji kosong. Engkau tidak kalah cantik dibandingkan sucimu.”

Lee Siang merasa tidak enak, Ia tahu bahwa antara sucinya dan panglima ini terjalin hubungan

yang akrab sekali, bahkan pernah ia mengira bahwa sucinya akan menikah dengan panglima yang

biarpun usianya sudah empat puluh tahun akan tetapi masih bujang ini.

“Tidak ada wanita yang secantik suci,” demikian katanya lirih.

Panglima itu mengangguk, “Aku tahu, apa lagi kalau sekarang ia mengenakan pakaian pengantin.

Mana pengantinnya, kenapa belum keluar?”

“Nanti, sebentar lagi, Ciangkun. Belum selesai berias, “ hati Lee Siang semakin tidak enak. Baru

kemarin panglima ini datang bertamu dan melakukan pembicaraan berdua saja dengan sucinya. Ia

dapat menduga bahwa tentu sucinya menjelaskan tentang cintanya kepada Cu Goan Ciang maka

menikah dengan pemuda itu, dan mungkin sucinya minta maaf kepada sang panglima. Dan melihat

sikap Panglima Khabuli, hatinya juga lega karena agaknya sang panglima sudah dapat menerima

kenyataan itu dan tidak akan membuat ribut. Kebetulan para tamu berdatangan lagi sehingga Lee

Siang mendapat kesempatan untuk minta maaf dan meninggalkan panglima itu yang kini bercakapcakap

dengan para tamu lain yang mendapatkan kehormatan, seperti para pejabat tinggi dan para

undangan, yaitu tokoh-tokoh dunia kang-ouw.

Hanya karena nama besar Jang-kiang Sian Li sajalah maka tak seorangpun mencurigai pengantin

pria. Andaikata ada yang mengenalinya dan menghubungkannya dengan perusuh yang membunuh

Bhong-Ciangkun di Wu-han, tentu hal itu akan dilupakan atau dianggap tidak ada. Bagaimanapun juga,

orang itu telah melangsungkan pernikahan dengan ketua Jang-kiang-pang, menjadi suami dari ketua

yang disegani itu. Akan tetapi agaknya tidak ada yang mengenal pengantin pria, dan sama sekali

tidak pernah dapat menduga bahwa pelarian itulah yang kini menjadi orang paling beruntung dapat

mempersunting ketua yang cantik jelita, gagah perkasa dan kaya raya itu.

Ketika sepasang pengantin keluar ke ruangan pesta, semua orang bangkit berdiri dan memberi

selamat. Semua orang juga kagum melihat pengantin puteri yang demikian cantiknya, seperti

bidadari baru turun dari kayangan. Dan juga mereka semua memuji pengantin pria yang gagah dan

tampan, yang cocok sekali untuk menjadi suami ketua Jang-kiang-pang. Musik dibunyikan semakin

meriah dan pestapun dimulai. Masakan-masakan yang mewah, mahal dan lezat dihidangkan, juga

anggur dan arah yang terbaik.

Panglima Khabuli mendapat kehormatan pertama, yaitu duduk semeja dalam perjamuan itu dengan

sepasang mempelai, ditemani pula oleh Lee Siang yang terpaksa ikut duduk karena diminta oleh

pengantin puteri. Meja istimew itu hanya dihadapi sepasang mempelai, Lee Siang, dan Panglima

Khabuli. Mempelai wanita nampak cantik dan berbahagia, demikian pula dengan Panglima Khabuli yang

selalu tersenyum dan tertawa-tawa, menggoda sepasang mempelai dan mengucapkan selamat

berulang kali dengan secawan arak. Ketika diperkenalkan, dia bersikap ramah kepada Cu Goan Ciang,

dan Goan Ciang juga terpaksa harus bersikap manis dan hormat kepadanya. Bahkan wajah Lee Siang

juga nampak bergembira dan murah senyum. Agaknya gadis ini tidak berbohong ketika mengatakan

bahwa ia menjadi orang kedua yang paling berbahagia setelah sucinya. Hanya Goan Ciang seorang di

antara mereka berempat yang terpaksa menggunakan kekuatan batinnya untuk menahan derita yang

dirasakannya sebagai siksaan di saat itu. Andaikata Lee Siang tidak duduk semeja dengan mereka,

agaknya tidak akan sedemikian hebat siksaan batin yang dideritanya saat itu. Gadis yang merupakan

satu-satunya wanita yang pernah dan masih dicintanya, duduk semeja dengan dia yang bersanding

sebagai pengantin pria dengan wanita lain yang tidak dicintainya! Beberapa kali dia mencuri pandang

ke arah waja Lee Siang, untuk menangkap sedikit saja rahasia hati gadis itu. Namun, tidak ada

sedikitpun kepura-puraan dalam kegembiraan gadis itu. Demikian wajar, dan diapun percaya bahwa

kekasihnya itu sungguh-sungguh telah rela, demi kasihnya kepada sucinya.

 

Diam-diam Goan Ciang terpaksa memasang muka gembira itu, dan mengeluh dalam hatinya. Dia

seoranglah yang sungguh menderita, Lee Siang juga berkorban, untuk menderita, Lee Siang juga

berkorban, untuk kebahagiaan sucinya, akan tetapi kekasihnya itu benar-benar ikut berbahagia.

Hanya dia seorang yang berkorban demi keselamatan Lee Siang, berkorban dengan hati yang hancur!

“Ha-ha-ha, kalian sungguh merupakan pasangan yang amat serasi, yang cocok, seperti pengantin

dari kahyangan saja! Belum pernah selama hidupku aku melihat sepasang mempelai yang begini

hebat. Yang wanita cantik jelita seperti dewi, yang pria tampan gagah seperti dewa. Aku harus

memberi selamat lagi,” kata Khabuli sambil tertawa dan mukanya yang hitam itu semakin mengkilap,

matanya yang lebar bercahaya. “Selamat kepada kalian!” katanya sambil mengangkat cawan pula

menyambut, dan terpaksa Lee Siang juga ikut minum pula anggur dari cawannya. Sebetulnya, ia

sudah merasa pusing karena selain ia tidak begitu suka minum banyak anggur keras, juga keadaan

dirinya yang masih lemah membuat ia tidak kuasa menolak pengaruh anggur.

“Ha-ha-ha, aku merasa gembira sekali. Malam ini adalah malam yang amat berbahagia karena

ketua Jang-kiang-pang akhirnya menemukan jodohnya. Setelah kakak seperguruannya menikah,

tinggal adik seperguruannya. Bagaimana, Kim Siocia, kapan tiba giliranmu? Ha-ha-ha!”

“Aih, Ciangkun…!” Lee Siang tersipu dan menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Sucinya

tertawa manis dan menyentuh lengan sumoinya.

“Sumoi adalah seorang gadis istimewa, harus mendapatkan suami yang istimewa pula. Bukankah

engkau juga berpendapat demikian, koko?”

Goan Ciang terkejut. Lee Siang tak pernah memandang kepadanya, melirikpun tidak. Dan kini Liu

Bi bertanya tentang jodoh Lee Siang. Akan tetapi dia menguatkan hatinya dan mengangguk.

“Pendapatmu benar.”

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Kita semua telah sepakat! Untuk itu, mari kita doakan agar nona Kim

segera menemukan jodohnya. Mari kita minum tiga cawan arak untuk itu!”

Lee Siang hendak memrotes karena ia telah merasa pening, akan tetapi melihat betapa sepasang

mempelai juga minum dengan sikap senang, iapun tidak berani mengecewakan hati sucinya. Iapun

memaksa diri minum tiga cawan anggur yang dituangkan ke dalam cawannya oleh tangan panglima

sendiri, mendahului para pelayan yang berada di sekeliling meja.

Setelah minum tiga cawan anggur, Lee Siang tidak dapat menahan lagi dan iapun berkata dengan

suara keluhan lirih, “Aih…maafkan….kepalaku pusing, suci…” dan iapun meletakkan kepalanya ke atas

kedua tangan di meja. Goan Ciang memandang dengan iba.

“Aih, sumoi, engkau memang tidak kuat minum.” Ia lalu memberi isarat kepada seorang pelayan

yang menjadi kepercayaannya. “Antar nona Kim ke kamarnya, ia perlu mengaso dan tidur.” Pelayan

itu memberi hormat lalu membantu Lee Siang yang sudah dalam keadaan setengah sadar, terhuyung

dan dipapah oleh para pelayan meninggalkan ruangan pesta. Biarpun hatinya merasa kasihan sekali,

akan tetapi Goan Ciang tidak memperlihatkan sikap ini, bahkan kini dia nampak lega dan gembira.

Lebih baik begitu, pikirnya. Biar Lee Siang mabok dan tidak ingat apa-apa lagi, terbuai dalam tidur

pulas! Maka, diapun melayani panglima yang amat kuat minum arak itu dengan gembira. Akhirnya, Liu

Bi yang kalah lebih dahulu.

“Aihh, aku sudah terlalu banyak minum, kepalaku sudah mulai terasa pusing. Lebih baik kita

istirahat, aku tidak dapat minum lagi….” ia mengeluh. Panglima Khabuli tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, pengantin wanita sudah ingin mengajak pengantin pria ke kamar. Saudara Cu,

sebaiknya engkau cepat membimbing isterimu ke kamar kalian, ha-ha-ha!”

Liu Bi tersipu, “Ihh, panglima. Agaknya engkaupun sudah mulai mabok. Hati-hati, kalau sampai

terlalu mabok engkau tidak bisa pulang!”

“Hemm, apa susahnya kalau mabok di sini? Apakah aku tidak boleh tidur di sini dan melepaskan

mabokku di sini sampai besok pagi?”

“Tentu saja boleh, panglima. Engkau adalah tamu kehormatan kami. Pelayanku akan menunjukkan

kamar tamu terbaik untukmu…” Liu Bi bangkit dan agak terhuyung. Karena di situ banyak tamu, demi

kepantasan Goan Ciang cepat menggandeng lengan isterinya sehingga mereka berdiri bergandengan.

 

“Para tamu yang terhormat!” kata Panglima Khabuli sambil tersenyum dan mukanya yang

kehitaman itu kemerahan, tanda bahwa dia sudah dipengaruhi minuman keras. “Kami

memberitahukan bahwa sepasang mempelai sudah cukup makan minum dan kini hendak meninggalkan

ruangan, memasuki kamar pengantin mereka. Mohon doa restu dari saudara sekalian!” Dia tertawatawa

dan para tamu menyambut dengan tawa gembira pula. “Silakan saudara sekalian makan minum

sampai selesai!”

Dengan tersipu Goan Ciang dan Liu Bi bergandeng tangan meninggalkan ruangan itu, diiringkan

para pelayan yang mengantar kedua mempelai sampai ke depan kamar pengantin. Keduanya lalu

memasuki kamar dan daun pintu kamar ditutup. Para pelayan yang terdiri dari gadis-gadis muda yang

manis itu meninggalkan kamar itu sambil tersenyum-senyum dan tersipu.

Biarpun hampir tanpa semangat, mau tidak mau Goan Ciang malam itu tidur sebagai suami isteri

dengan Liu Bi. Dia mendapat kenyataan bahwa apa yang dikatakan Lee Siang tentang sucinya

memang benar. Liu Bi seorang wanita yang hebat, penuh gairah dan amat mesra. Namun, tetap saja

semalam itu dia lebih banyak melamun dan memikirkan Lee Siang sehingga berulang kali isterinya

menegurnya.

Menjelang pagi, ketika dengan manja dan mesra Liu Bi merangkulnya dan dia menanggapi kembali

Liu Bi menegur, “Engkau kenapa sih?” Kita sudah menjadi suami isteri dan malam ini adalah malam

pengantin pertama kita, kenapa engkau banyak melamun? Apa yang kaupikirkan?” Dalam suaranya

yang sejak tadi lembut dan mesra, kini terkandung teguran.

“Tidak apa-apa, aku hanya lelah dan ingin tidur,” kata Goan Ciang, dan dia membalikkan tubuh

membelakangi isterinya.

Liu Bi bangkit duduk dan ia menjadi marah. “Aku tahu, engkau tentu memikirkan sumoi, bukan?

Hemm, tidak perlu kaupikirkan lagi. Pada saat engkau menjadi suamiku, ia telah menjadi isteri

Khabuli Ciangkun!”

Goan Ciang tersentak kaget, bangkit duduk dan menghadapi isterinya, memandang dengan alis

berkerut, “Apa yang kaumaksudkan!”

Liu Bi tersenyum manis. “Malam ini, sumoi juga berpengantinan dengan Panglima Khabuli di dalam

kamarnya!”

Tentu saja Goan Ciang terkejut bukan main. “Kau…..! Kau….! Ah, jadi kau sengaja membuat Siangmoi

mabok, kemudian kauberikan ia kepada jahanam itu?”

“Benar, dan apa hubungannya denganmu? Ia adalah sumoiku, dan Panglima Khabuli seorang laki-laki

yang baik dan pantaas menjadi suaminya. Mereka memang kujodohkan agar engkau tidak lagi

memikirkan sumoi dan…”

“Keparat!” Goan Ciang menyambar pakaiannya, meloncat turun dari pembaringan, mengenakan baju

dan cepat meloncat keluar dari kamar itu.

“Koko….!” Liu Bi berteriak memanggil akan tetapi dia tidak perduli. Dengan marah Liu Bi

membereskan pakaiannya sebelum lari mengejar. Hari masih pagi sekali. Hampir seluruh penghuni

rumah itu masih tertidur karena semalam mereka tidur sampai larut malam. Goan Ciang sudah lari ke

kamar Lee Siang dan dengan kemarahan meluap dia mendorong daun pintu yang tertutup dari kamar

itu. Ternyata daun pintu tidak terkunci dari dalam dan dengan mudah terbuka. Sebatang lilin masih

bernyala di atas meja dan diapun meloncat ke dalam. Tiba-tiba dia berdiri kaku dan matanya

terbelalak memandang ke atas pembaringan. Di situ, dia melihat Lee Siang rebah telentang seorang

diri dengan pakaian setengah telanjang, kedua tangannya masih memegang pedang yang menembus

dadanya sampai ke punggung! Matanya terbuka dan gadis itu telah tewas, akan tetapi agaknya belum

lama benar karena darah itu masih belum kering.

“Siang-moi….!! Goan Ciang berteriak dan menubruk ke atas pembaringan, merangkul dan

mengangkat kepala gadis itu, dirangkulnya tidak perduli betapa tangan dan pakaiannya terkena

darah.

“Siang-moi….ahhh, Siang moi….!” Dia mengeluh dan menangis, tahu atau dapat menduga apa yang

telah terjadi. Tentu dalam keadaan lemah dan mabok, mungkin juga terbius, gadis ini semalam telah

 

menjadi korban kebiadaban panglima Mongol itu, dan pada pagi harinya, ketika panglima itu pergi,

dan mendapat kesempatan, Siang-moi membunuh diri. Masih belum kering air mata yang membasahi

kedua pipi gadis itu.

“Siang-moi….!” Goan Ciang berteriak lagi mendekap muka itu ke dadanya.

Pada saat itu, terdengar suara orang di pintu. “Sumoi….! Apa yang telah terjadi?” Liu Bi memasuki

kamar itu dan berdiri di dekat pembaringan, wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat sumoinya

telah tewas dengan pedang masih menembus dadanya. Iapun mengerti apa yang telah terjadi. Tak

disangkanya sumoinya mengambil keputusan pendek dan nekat. Apa salahnya menjadi isteri Panglima

Khabuli yang selain berkuasa, juga cukup gagah dan jantan? Ia sendiri, andaikata tidak bertemu

dengan Goan Ciang, tentu akan menjadi isteri panglima itu dengan siapa ia telah menjalin hubungan

yang mesra selama lebih dari setahun ini.

Begitu mendengar suara Liu Bi, Goan Ciang seperti kemasukan setan saking marah, benci dan

sakit hati. Dia mencabut pedang dari dada Lee Siang, kemudian bagaikan seekor harimau, dia

meloncat turun dari pembaringan dan pedangnya menyambar ganas, menyerang kepada wanita yang

baru semalam menjadi isterinya.

“Koko…!” Liu Bi terkejut dan mencoba untuk mengelak, akan tetapi ia terguling oleh tendangan

Goan Ciang. Dengan kemarahan yang meluap Goan Ciang telah mempergunakan gerakan Sin-tiauw

ciang-hoat, tubuhnya melayang seperti seekor burung rajawali menyambar dan pedangnya

berkelebat cepat membacok ke arah leher Liu Bi. Wanita itu yang tidak sempat mengelak lagi,

terpaksa menggunakan tangan kirinya menangkis.

“Crokkk!” Lengan kiri itu bertemu pedang yang dibacokkan dengan sepenuh tenaga dan dengan

itupun buntung! Melihat lengan itu buntung, darah muncrat dan Liu Bi menjerit lalu roboh, Goan

Ciang seperti baru sadar. Dia berdiri tertegun. Bukan Liu Bi yang harus dibunuhnya akan tetapi

Panglima Khabuli, pikirnya. Liu Bi memang bersalah dan sudah menerima hukumannya! Pada saat itu,

berdatanganlah para anggota Jang-kiang-pang dan melihat betapa ketua mereka merintih-rintih

dengan lengan kiri buntung dan Goan Ciang berdiri di situ dengan pedang di tangan, juga melihat Lee

Siang rebah tewas di pembaringan, mereka segera mengepung dan mengeroyok Goan Ciang!

Goan Ciang mengamuk dengan pedang yang telah membunuh kekasihnya dan membuntungi lengan

ketua Jang-kiang-pang tadi. Akan tetapi, pihak pengeroyok semakin banyak sehingga dia kewalahan

dan akhirnya, setelah merobohkan belasan orang, dia sendiri terkena sabetan golok dan tusukan

tombak sehingga terluka pada pundak kiri dan paha kanannya. Maklum bahwa kalau dilanjutkan

akhirnya dia akan roboh, Goan Ciang lalu meloncat dan melarikan diri, dikejar para anggota

perkumpulan itu. Akan tetapi, cuaca yang masih gelap menguntungkan Goan Ciang dan diapun dapat

meloloskan diri di tebing itu, menyusup di antara pohon-pohon dan semak-semak.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, Goan Ciang telah berada jauh dari tempat

itu dan dia hampir pingsan saking kelelahan dan kehilangan darah ketika dia menggulingkan tubuhnya

di sebuah gua yang tertutup batu-batu dan semak-semak mengering sehingga tidak nampak dari

luar, di lereng sebuah bukit.

Biarpun seluruh tubuhnya nyeri dan lelah, namun Goan Ciang tidak merasakan semua itu karena

hati dan pikirannya masih dipenuhi kenangan tentang Lee Siang yang membuat dia serasa jantungnya

seperti diremas-remas. Ingin rasanya dia berteriak-teriak menangis, perasaan hatinya hancur penuh

penyesalan, tersayat-sayat duka yang menimbulkan dendam. Lee Siang membunuh diri, tentu karena

telah kehilangan kehormatannya, semalam dipermainkan oleh Khabuli dalam keadaan tidak berdaya,

selain lemah kehilangan tenaganya akibat racun, juga ia dalam keadaan mabok. Semua itu karena

ulah Liu Bi yang ingin menjauhkan Lee Siang darinya. Dendam kebencian memenuhi hatinya.

Terhadap Liu Bi. Terhadap Khabuli dan mengingat bahwa Khabuli adalah seorang panglima Mongol,

maka kebenciannya terhadap permerintah Mongol yang menjajah semakin berkobar.

Tiba-tiba dia bangkit duduk, seluruh sendi tubuhnya menegang. Terdengar suara banyak orang

menuju ke gua itu! Siapa lagi kalau bukan para pengejarnya? Tentu para anggota Jang-kiang-pang

yang terus mengejar. Dia lalu menyingkap semak-semak, mengintai keluar. Nampak sedikitnya dua

 

puluh orang mendaki lereng itu dan dia terbelalak ketika melihat bahwa di antara orang-orang Jangkiang-

pang terdapat pula beberapa orang yang berpakaian seragam. Perwira-perwira pasukan

pemerintah. Hemm, kiranya orang-orang Jang-kiang-pang sudah minta bantuan pasukan pemerintah,

pikirnya geram. Apakah Khabuli berada di antara mereka? Kalau benar demikian, dia akan

mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membunuh panglima itu! Dengan pedang rampasan di

tangannya yang masih berlumuran darah dan berbau amis, dia siap menanti mereka. Dia tahu bahwa

dia meninggalkan jejak, dan orang-orang itu akhirnya tentu akan sampai di gua. Kalau mereka sampai

tiba di dalam gua itu, tentu saja dia tidak akan dapat melakukan perlawanan dengan leluasa. Tempat

itu terlampau sempit dan dia akan terhimpit. Dia melupakan rasa nyeri di pundak dan pahanya,

melupakan tubuhnya yang sudah lemah. Melihat para perwira itu, seperti bangkit semangatnya

karena dia harus membunuh Khabuli! Membayangkan betapa semalam Khabuli mempermainkan dan

menghina tubuh dan kehormatan kekasihnya, kebenciannya memuncak dan melihat serombongan

pengejarnya itu tiba di tempat terbuka yang datar, diapun meloncat keluar dan dengan pekik

dahsyat seperti seekor harimau terluka, diapun menerjang mereka, terutama kepada mereka yang

berpakaian perwira.

“Hyaaaaatttt….!!” Pedang di tangannya menyambar-nyambar ganas dan biarpun pasukan itu segera

mengeroyoknya, namun dua orang di antara mereka roboh terkena sabetan pedang. Bagaikan seekor

harimau atau seekor rajawali terluka, Goan Ciang mengamuk dengan pedangnya. Dia sudah lupa akan

keadaan dirinya, yang hidup pada saat itu hanyalah semangatnya untuk melawan, mengamuk dan

membunuh musuh yang dibencinya. Ditambah lagi dia memainkan ilmu yang dia andalkan, yaitu Sintiauw-

ciang-hoat, maka gerakannya bagaikan seekor rajawali yang menyambar-nyambar menyebar

maut. Akan tetapi karena pihak pengeroyok cukup banyak dan di antara mereka terdapat banyak

perwira yang tangguh, maka biarpun Goan Ciang berhasil merobohkan sedikitnya sepuluh orang, dia

sendiri menderita luka-luka di seluruh tubuhnya. Hanya keadaan tubuhnya yang kuat itu saja yang

membuat dia mampu menerima luka-luka itu dengan pengerahan tenaga sehingga tidak ada luka yang

cukup parah untuk merobohkannya. Namun, dia merasa semakin lemah karena banyak darah keluar,

maka akhirnya terpaksa dia melarikan diri.

”Kejar!”

“Tangkap!”

“Bunuh….!!”

Pasukan pemerintah dan orang-orang Jang-kiang-pang melakukan pengejaran dengan penasaran

dan marah sekali karena banyak kawan mereka yang tewas atau terluka oleh amukan pemuda

buronan itu. Mereka mengambil keputusan untuk mengejar sampai berhasil menangkap pemuda itu,

bahkan perwiranya lalu minta bala bantuan dan menyebar pasukan untuk terus melakukan pencarian.

Sambil menahan rasa nyeri dan mengerahkan semua sisa tenaganya, Goan Ciang berhasil

meloloskan diri dari pada pengejarnya dan dapat menumpang sebuah perahu nelayan melanjutkan

pelariannya dengan perahu yang sedang mencari ikan di tepi sungai Yang-ce.

Perahu kecil itu hanya ditumpangi seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang sedang

mencoba peruntungannya menangkap ikan dengan jala. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika

tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan perahunya terguncang. Seorang pemuda bertubuh tinggi

tegap, pakaiannya robek-robek berdarah, tangan kanan memegang sebatang pedang yang juga

berlumur darah, dari darat sejauh kurang lebih sepuluh meter telah meloncat ke atas perahunya!”

“Heiii…siapa…kenapa….” Nelayan itu berseru sambil menoleh dan terbelalak, mukanya kemerahan

dan dia marah, juga takut.

“Ssttt, paman. Aku tidak akan mengganggumu, akan tetapi tolonglah aku. Aku dikejar-kejar

pasukan, aku harus menggunakan perahumu ini untuk melarikan diri.” Tanpa banyak cakap lagi Goan

Ciang mengangkat jangkar perahu, lalu mendayung perahu itu mengikuti arus dengan cepat ke tengah

sungai. Nelayan itu terpaksa menarik jalannya.

“Siapakah engkau? Apa yang terjadi?” tanyanya sambil menumpuk jala di perahu dan duduk

memandang penuh perhatian.

 

“Nanti saja kuceritakan, sekarang bantulah aku melarikan diri, paman. Kalau paman menolak, aku

tidak segan untuk menggunakan pedang ini yang telah membunuh banyak perajurit pasukan

pemerintah.

Nelayan itu memang tidak perlu diancam lagi. Dia seorang nelayan sederhana yang tentu saja

tidak ingin terlibat, akan tetapi melihat pemuda itu meloncat ke perahunya dan membawa pedang

berlumur darah, dia sudah ketakutan. Diapun mengambil dayung kedua dan membantu pemuda itu

mendayung perahu dengan cepatnya mengikuti aliran air sungai Yang-ce menuju ke timur.

Demikianlah, Cu Goan Ciang berhasil lolos dari pengejaran pasukan. Setelah dia mengaku kepada

nelayan itu bahwa dia yang pernah menggegerkan bandar sungai Wu-han membela para pekerja

kasar, nelayan itu tentu saja menghormatinya dan atas bantuan nelayan itu, Goan Ciang berhasil

membeli obat-obat untuk luka-luka di tubuhnya, membeli pula pakaian kasar beberapa stel untuk

mengganti pakaian pengantin yang masih menempel di tubuhnya, pakaian pengantin yang robek-robek

oleh senjata para pengeroyok dan bernoda darah.

Setelah meninggalkan perahu dan nelayan itu di tempat yang jauh sekali dari Wu-han, dia

melanjutkan perjalanannya melalui darat, berjalan kaki dan karena dia harus selalu hati-hati,

bersembunyi dan tidak berani memperkenalkan diri, maka dia hidup sengsara sekali sebagai seorang

buronan. Bahkan di mana dia melihat gambarnya ditempel di dalam kota dan dusun, dengan

pengumuman bahwa dia adalah seorang penjahat dan pemberontak yang dicari-cari pasukan! Hal ini

membuat dia semakin tidak leluasa bergerak. Kalau hanya dusun-dusun kecil dan dia lebih sering

melanjutkan perjalanan di waktu malam. Dia tidak mungkin dapat bekerja untuk biaya hidupnya.

Bekal uangnya sudah habis dan pakaiannya sudah tinggal menempel di tubuhnya. Itupun sudah penuh

tambalan. Cu Goan Ciang terlunta-lunta dan kalau orang seorang bertemu dengan dia, tentu

menganggap dia seorang jembel yang terlantar.

Pada suatu senja dia tiba di luar kota Nan-king. Kota yang besar, merupakan kota ke dua setelah

kota raja Pe-king. Kota tua yang pernah menjadi kota raja. Biarpun keadaannya sudah seperti

jembel dan mukanya penuh ditumbuhi brewok sehingga keadaannya berbeda sekali dengan gambar

yang ditempel di dinding kota-kota besar, namun Goan Ciang tetap tidak mau memasuki kota Nanking

di waktu senja itu. Biasanya pintu gerbang kota lebih diteliti oleh para penjaga setelah hari

mulai gelap.

Dengan perut perih karena lapar, tubuh dingin karena udara menjelang malam itu dingin dengan

angin dari timur, tubuh lelah walaupun kini luka-lukanya telah sembuh semua. Goan Ciang memasuki

sebuah kuil kosong yang berdiri terpencil di bukit kecil, sebelah kiri jalan raya yang memasuki pintu

gerbang kota Nan-king. Melihat kuil itu berdiri terpencil dan ada jalan setapak menuju ke sana,

diapun mendatangi kuil itu. Melihat bahwa kuil itu adalah kuil tua yang kosong dan tidak

dipergunakan lagi, dia lalu memasukinya mengambil keputusan untuk melewatkan malam di tempat

itu.

Akan tetapi, biarpun dari luar nampak sudah kosong, setelah dia masuk ke dalam kuil yang besar

namun keadaannya rusak dan kosong itu, di sebelah dalamnya sama sekali tidak kosong atau sepi.

Banyak sekali orang di dalam kuil itu, para pengemis atau jembel yang semuanya memang

mempergunakan tempat itu sebagai tempat bermalam mereka! Mereka tentulah para pengemis yang

setiap hari berkeliaran di kota Nam-king, bekerja dengan cara meminta-minta, kemudian setelah

matahari condong ke barat, mereka keluar kota dan melewati malam di tempat ini. Kuil ini

merupakan sarang atau istana, hotel tanpa bayar bagi para pengemis!

Akan tetapi, agaknya para pengemis itu telah menjadi penghuni tetap di kuil itu, walaupun hanya

penghuni malam karena kalau siang, tempat itu kosong sama sekali. Maka, begitu melihat ada

seorang asing memasuki kuil, sedikitnya tiga puluh pasang mata mengikuti gerak-gerik Goan Ciang

dengan penuh perhatian dan kecurigaan, Tak seorangpun dari mereka rela kalau ada sudut yang

telah menjadi tempat tinggal mereka terganggu orang asing. Mereka seperti sekumpulan binatang

yang menjaga kandang masing-masing, kalau perlu dengan perkelahian!

 

Melihat betapa kuil itu, dari ruangan paling luar sampai paling belakang sudah ditempati orang

sehingga sukar mencari tempat untuk melewatkan malam itu. Goan Ciang menjadi bingung juga.

Apalagi tempat itu berbau apek dan lembab. Dia keluar lagi dan berdiri bengong di luar kuil.

Haruskah malam ini dia berada di tempat terbuka, diterpa angin dan disiksa dingin dan kelaparan?

Dia menengadah dan melihat betapa langit yang mulai gelap itu indah, bintang-bintang mulai nampak

dengan sinar yang masih lemah disilaukan sinar matahari yang mulai mengundurkan diri. Langit cerah

tiada awan. Dia menghela napas panjang. Langit demikian bersih dan damai, betapa jauh bedanya

dengan keadaan di permukaan bumi yang kotor dan penuh penderitaan.

Dan di antara bintang-bintang yang mulai bermain mata dengannya, dia melihat sepasang mata

Lee Siang! Dan nampak pula garis bentuk wajah gadis itu, kekasihnya, satu-satunya wanita yang

pernah dikasihinya. Cantik, manis sederhana, gagah perkasa dan lembut.

“Lee Siang….moi-moi….” dia mengeluh penuh duka, teringat akan tubuh setengah telanjang yang

rebah dengan dada yang tertembus pedang. Dia meraba pedang yang disembunyikan di balik bajunya.

Dia tidak akan berpisah dari pedang itu. Betapapun menyakitkan perasaan, namun pedang itulah

satu-satunya benda terakhir yang pernah dekat dengan Lee Siang, teramat dekat karena pedang itu

telah memasuki dada kekasihnya dan menembus jantungnya! Dan pedang itu pula yang telah dia

pergunakan untuk membalaskan dendam kematian Lee Siang, membuntungi tangan Jang-kiang Sian-li

Liu Bi, dan membunuh entah berapa banyaknya orang-orang yang mengeroyok dan hendak menangkap

atau membunuhnya.

“Siang-moi..” kembali dia mengeluh.

“Tiba-tiba terdengar suara tawa di belakangnya. “Ha-ha-ha-ha, seorang laki-laki pantang

menghela napas dan mengeluh! Itu hanya sikap seorang yang lemah dan cengeng!”

Goan Ciang terkejut dan membalikkan tubuh, siap siaga menghadapi lawan. Akan tetapi dia tidak

melihat ada orang yang hendak menyerangnya, hanya nampak seorang pengemis tua duduk di sana,

bersandar dinding depan kuil, beralaskan jerami, duduk dengan santai dan memandangnya dengan

sinar mata yang tajam dan mulut di balik kumis yang tersenyum mengejek.

Goan Ciang menghampiri kakek itu. Hanya seorang saja yang duduk di bagian luar kuil, yang

terbuka dan tidak terlindung sama sekali. Kalau hujan akan kehujanan kalau angin bertiup akan

kedinginan. Akan tetapi, setidaknya tempat itu tidak berbau apek dan hawanya segar dan bersih.

“Kakek yang baik, aku tidak mengeluh karena diri sendiri, melainkan karena mengingat keadaan

orang-orang lain. Demikian banyaknya penderitaan kulihat di dunia ini.”

Kembali kakek itu tertawa, “Ha-ha-ha, kulihat engkau tadi masuk lalu keluar lagi. Tidak

mendapatkan bagian tempat duduk atau tidur? Sama dengan aku. Nah, duduklah di sini, orang muda,

kita dapat mengobrol dengan asyik!”

Goan Ciang tersenyum, mengangguk, lalu diapun duduk bersila di depan kakek itu. “Bagaimana

kalau aku membuat api unggun untuk mengusir nyamuk dan dingin, kek?”

“Heh-heh, bagus sekali kalau begitu!”

Goan Ciang bangkit lalu keluar dari pekarangan kuil, mengumpulkan kayu kering. Setelah meraih

cukup, dia kembali ke ruangan depan kuil itu dan segera membuat api unggun kecil yang ternyata

menyenangkan mereka berdua. Selain api itu dapat mendatangkan kehangatan, mengusir nyamuk,

juga mereka kini dapat saling pandang dengan cukup jelas.

”Aha, ternyata engkau seorang pemuda yang tampan dan gagah! Dan kulihat engkau juga tidak

malas dan cekatan!” kakek itu memuji setelah mereka duduk berhadapan lagi. “Engkau pantas kuberi

upah beberapa teguk arak. Nah, minumlah!” Dia menyodorkan sebuah guci arak. Tanpa sungkan lagi

Goan Ciang menerimanya, membuka tutup guci dan dia terkejut mencium bau arak yang amat sedap,

arak yang jelas bukan arak murahan! Diapun mendekatkan guci ke bibirnya, dan minum beberapa

teguk. Benar dugaannya.

“Wah, arakmu hebat, kek! Sedap dan enak sekali!”

“Heh-heh-heh, tentu saja. Arak ini mengandung jin-som dan rendaman janin kijang hanya menjadi

minuman kaisar di istana, ha-ha!”

 

Goan Ciang terkejut. Dia pernah mendengar tentang arak yang dicampur jin-som dan rendaman

janin kijang yang merupakan minuman yang selain lezat juga amat baik untuk kesehatan. Akan tetapi

bagaimana mungkin seorang jembel tua bisa mendapatkan minuman yang takkan terbeli oleh seorang

hartawan sekalipun?

“Engkau sudah makan?” tiba-tiba kakek itu bertanya dan wajah Goan Ciang berubah kemerahan.

Sejak kemarin dia belum makan! Diapun menggeleng kepalanya.

“Sejak kemarin siang aku belum makan, kek,” katanya.

Kakek itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak, lalu dia memandang ke atas dan suara

ketawanya memecahkan kesunyian malam, bergelak. Diam-diam Goan Ciang mendongkol, akan tetapi

dia mulai memperhatikan kakek itu karena merasa bahwa sikap jembel tua yang biasanya lemah dan

selalu hendak menarik perhatian dan iba hati orang lain. Kakek itu usianya sudah enam puluh lima

tahun, tubuhnya jangkung kurus rambutnya itu panjang putih tiap-tiapnya dibiarkan bergantung di

punggung dan kedua pundak, juga kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Sepasang matanya agak

sipit, akan tetapi amat tajam dan kadang mencorong penuh wibawa, akan tetapi wajahnya ramah dan

mulutnya selalu dibayng senyum sabar. Sikapnya lincah dan jenaka, ramah. Pakaiannya penuh

tambalan, akan tetapi pakaian itu bersih, jelas sering dicuci. Bukan pengemis sembarangan, pikir

Goan Ciang.

“Ha-ha-ha, aku suka sekali engkau seorang laki-laki yang jujur! Kalau begitu, kebetulan akupun

belum makan malam dan aku masih mempunyai bekal roti kering dan daging dendeng yang cukup

untuk kita berdua. Mari makan bersamaku orang muda.”

“Aku memang lapar dan akan senang sekali makan bekalmu, kek. Akan tetapi, aku merasa tidak

enak dan malu. Aku seorang pemuda bagaimana mungkin aku harus menyusahkan dan mengganggu

seorang tua sepertimu?”

Kakek itu tertawa lagi, “Heh-heh-heh siapa mengganggu siapa? Heh-heh, kalau begitu, ketika aku

mengambil makanan dan minuman ini dari orang lain, akupun mengganggu mereka? Tidak sama sekali.

Marilah, orang muda. Kita makan dulu baru nanti mengobrol melewatkan malam. Kalau sudah makan,

perut hangat dan semangat menjadi kuat!”

Goan Ciang memang lapar. Ketika kakek itu mengeluarkan bungkusan dan membuka bungkusan, dia

melihat roti dan daging yang memang cukup banyak untuk mereka berdua, maka dengan hati lega

diapun ikut makan.

Dan dia mendapat kenyataan bahwa seperti juga mutu arak tadi, roti dan dendeng yang

dimakannya bukan merupakan makanan murah, apa lagi hanya sisa. Jelas bahwa roti dan dendeng itu

bukan hasil mengemis, melainkan merupakan makanan orang mewah, lezat dan tentu mahal harganya.

Karena mereka makan dengan lahap, dan keduanya merasa kenyang, dan sehabis makan, mereka

minum arak dari guci itu, bergantian karena di situ tidak terdapat cawan untuk minum.

Setelah selesai makan, Goan Ciang menambah kayu pada api unggun, lalu mereka berdua duduk

saling berhadapan di lantai yang tertutup jerami. Angin malam semilir lembut membuat api anggun

menari-nari.

“Orang muda, siapa namamu? Dari mana kau datang dan hendak ke mana?” Dia memandang pedang

yang tadi oleh Goan Ciang dikeluarkan dan diletakkan di atas lantai. “Dan untuk apa engkau

membawa-bawa pedang tanpa sarung itu?” Pedang itu memang hanya dibuntal kain butut oleh Goan

Ciang dan selalu dia selipkan di pinggang, disembunyikan di balik bajunya. “Kalau ada perajurit

keamanan melihatmu, tentu engkau akan ditangkap karena membawa pedang ini.”

Goan Ciang menarik napas panjang. Dia seorang pelarian, seorang buruan. Tidak perlu mencari

penyakit dengan memperkenalkan nama lengkapnya, akan tetapi diapun tidak tega untuk membohongi

kakek yang telah begitu baik membagi makan malamnya dengan dia.

“Kek, namaku….biasa orang memanggilku Siauw Cu (Cu Kecil) dan aku datang ah, terus terang saja

aku hana bisa bilang bahwa aku datang dari belakang dan ingin pergi ke depan!” Melihat kakek itu

tertawa, dia cepat menyambung, “Aku, tidak mempermainkanmu, kek. Memang aku tidak mempunyai

 

tempat tinggal, tidak mempunyai tujuan perjalanan. Pedang ini adalah kawanku satu-satunya, untuk

membela diri kalau diserang orang jahat.”

“Hemm, namamu Siauw Cu dan engkau hidup sebatang kara di dunia ini, tidak mempunyai tempat

tinggal, tidak memiliki tujuan. Engkau jelas bukan anggota kaipang (perkumpulan pengemis) walaupun

pakaianmu tambal-tambal. Aku yakin engkau tidak pernah mengemis.”

“Mengemis? Ihh, aku tidak sudi mengemis, kakek yang baik. Mengemis adalah pekerjaan yang

hina!”

“Ha-ha-ha, jangan katakan bahwa engkau mencari nafkah dengan bekerja? Apa sih pekerjaanmu?”

Siauw Cu menggeleng kepalanya. “Aku memang tidak bekerja, kek, aku menganggur dan aku

menyusahkan hatiku.”

“Engkau tidak bkerja, dan mengemis tidak sudi, Lalu apa yang kaumakan setiap hari? Mencuri?”

“Lebih baik mencuri daripada mengemis!”

“Heh-heh-heh, itu kan alasan seorang pencuri. Kalau seorang pengemis tentu akan mengatakan

bahwa mengemis lebih baik daripada mencuri. Apa salahnya mengemis makanan kalau kita lapar dan

tidak mampu membeli? Setidaknya, mengemis berarti mengetuk hati nurani manusia lain agar

menaruh iba kepada sesamanya.”

“Akan tetapi, sekali mengemis akan membuat orang menjadi malas bekerja dan hanya

mengandalkan pemberian orang saja, bahkan dia lalu mengemis bukan untuk keperluan makan,

melainkan untuk mengumpulkan harta.”

“Heh-heh-heh, yang demikian bukan pengemis namanya, melainkan penipu. Sudahlah, jangan bicara

tentang pengemis, kalau mereka tersinggung, semua penghuni kuil ini akan keluar dan memaki atau

mengeroyokmu. Aku ingin bertanya, kenapa engkau tadi menghela napas dan mengeluh panjang

pendek? Engkau kelihatan seperti orang yang bersusah hati. Kenapa?”

Goan Ciang termenung. Sejak kecil, dia memang lebih banyak mengenal susah daripada senang.

“Siapa yang takkan susah hatinya melihat semua penderitaan yang mewarnai kehidupan manusia ini,

kek? Di mana-mana aku melihat kesengsaraan manusia!”

“Heh-heh-heh, maksudmu kemiskinan dan penyakit, usia tua dan kematian?”

“Bukan itu saja, juga kekecewaan-kekecewaan, harapan-harapan hampa, keputusasaan. Aku

sendiri sejak kecil belum pernah menikmati kebahagiaan. Yang kukenal hanya penderitaan, duka

nestapa, kekecewaan, dan kesusahan belaka. Apakah memang kehidupan ini berarti penderitaan dan

kesusahan, kek?”

“Heii, orang muda. Jawab terus terang, apakah engkau pernah merasakan apa yang dinamakan

kesenangan itu? Pernahkah engkau senang sejak kecil sampai sekarang?”

“Kalau itu tentu saja pernah, kek. Akan tetapi, kesenangan sekelumit yang disusul kesusahan

segunung.”

“Heh-heh-heh, itulah sebabnya! Karena engkau pernah merasakan senang, maka engkau

merasakan susah. Coba andaikata engkau selama hidupmu belum pernah merasakan senang, tidak

mengenal senang, aku yakin engkau tidak pula mengenal susah. Mengejar kesenangan sama dengan

mengejar kesusahan. Coba pikir, engkau tadi makan minum bersamaku, senang atau tidak?”

“Ya, tentu….senang, kek.”

“Nah, coba kalau sebelum makan minum engkau tidak merasakan susahnya dan derita perut lapar,

apa engkau akan dapat menikmati senangnya makan? Kalau hendak menikmati enaknya minum,

haruslah lebih dahulu menderita tidak enaknya haus. Kesenangan merupakan pengalaman, kenangan,

dan kita ingin memilikinya secara abadi, sehingga kalau kesenangan itu lepas dari tangan, kita

bertemu kesusahan. Senang dan susah sama saja, itu hanya permainan pikiran yang bergelimang

nafsu. Nafsu membentuk si-aku yang ingin senang, tidak mau susah, lupa bahwa adanya senang

karena adanya susah, adanya siang karena adanya malam. Itulah perimbangannya, yang satu

mengadakan yang lain.”

 

“Tapi, kek. Bukankah semua orang juga begitu? Siapa yang mau susah? Bahkan senangpun kalau

berekor susah, aku tidak mau. Aku ingin bahagia selamanya, akan tetapi sejak kecil aku tidak pernah

merasakan kebahagiaan.”

Kakek itu memandang penuh perhatian dan Goan Ciang menambahkan kayu pada api unggun

sehingga nyala api membesar. “Orang muda, dalam pertanyaanmu sudah terdapat jawabannya. Aku

melihat bahwa engkau bukan seorang yang tepat untuk mencapai kebahagiaan, melainkan seorang

yang memiliki kemauan besar, memiliki bakat besar untuk mendapatkan kesenangan yang sebanyakbanyaknya.

Berbakat untuk menjadi orang besar dengan kekuasaan yang tak terbatas!”

“Maksudmu bagaimana, kek?”

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. “Aku tidak dapat mengatakan lebih dari itu, aku

hanya membaca tanda-tanda pada wajahnya. Akan tetapi kembali tentang kebahagiaan, engkau

sendiri tadi mengaku bahwa sejak kecil engkau belum pernah merasakan kebahagiaan. Nah, dengan

begitu berarti engkau tidak mengenal kebahagiaan dan tidak tahu apa itu kebahagiaan, bukankah

begitu?”

“Justru, karena itu aku sedang mencarinya, kek. Aku mendambakan kebahagiaan, aku ingin

menemukan kebahagiaan.”

“Heh-heh-heh, lucunya! Siauw Cu, aku mempunyai seorang kenalan, namanya Akong. Nah, dapatkah

engkau mencarinya untukku? Engkau belum mengenalnya, belum mengetahui di mana dia dan tidak

mengenal ciri-cirinya, hanya tahu bahwa namanya Akong. Dapatkah engkau menemukannya untukku?”

“Wah, jelas tidak mungkin, kek! Andaikan aku bertemu seorang yang namanya Akong sekalipun,

aku tidak tahu apakah itu Akong yang benar ataukah Akong yang lain.”

“Bagus! Begitu pula dengan kebahagiaan. Kalau engkau belum pernah mengenalnya bagaimana

engkau dapat menemukannya? Andaikata engkau bertemu dengan sesuatu yang kaunamakan

kebahagiaan sekalipun, engkau tidak tahu apakah itu kebahagiaan yang asli ataukah yang palsu,

seperti Akong tadi! Mengertikah engkau, Siauw Cu? Orang tidak mungkin mencari sesuatu dan

menemukan sesuatu yang belum pernah dikenalnya. Kalau engkau mencari kesenangan, yaitu

pengalaman menyenangkan hati seperti yang pernah kaualami atau yang pernah dialami orang lain

dan yang engkau dengar orang lain menceritakannya kepadamu. Dan mencari kesenangan, seperti

kita bicarakan tadi, sama dengan mencari kesusahan karena keduanya kait-mengait dan tak

terpisahkan.”

Siauw Cu mengerutkan alisnya. Belum peernah dia mendengarkan pendapat seperti itu. Belum

pernah dia bercakap-cakap dengan orang lain seperti yang dilakukannya pada malam hari sunyi di

depan kuil kosong itu. Ia takjub, juga tidak mengerti. Apa yang diucapkan kakek itu hanya samarsamar

saja dapat ditangkap hatinya, namun segera menjadi kabur pula.

“Kakek yang baik, aku telah memberitahu namaku. Bolehkah aku mengetahui nama kakek yang

bijaksana?”

“Bijaksana? Heh-heh-heh, aku sama sekali tidak bijaksana, sama seperti engkau dan orang lain.

Kalau makan enak perut kenyang harus senang, heh-heh-heh! Kalau orang-orang menyebutmu Siauw

Cu, maka orang-orang menyebut aku Pek Mau Lokai (Pengemis Tua Berambut Putih). Engkau boleh

sebut aku Lo-kai (Jembel Tua) saja.”

Akan tetapi Siauw Cu adalah seorang pemuda yang pandai membawa diri. Dia tahu bahwa dia

berhadapan dengan seorang kakek yang luar biasa, dan bukan mustahil kakek seperti ini memiliki

ilmu kepandaian tinggi.

“Pek-mau locianpwe (Orang Tua Gagah Berambut Putih), aku hanya ingin bertanya dan akupun

mengharap locianpwe akan menjawab sejujurnya.”

“Heh-heh-heh, tanyalah, orang muda.” Kata kakek itu, tidak kikuk disebut locianpwe.

“Apakah locianpwe tidak seperti aku, tidak mendambakan dan tidak mencari kebahagiaan?”

Wajah yang keriputan dibungkus rambut putih itu berseri, matanya bersinar-sinar, mulutnya

tersenyum lebar sehingga kelihatan bahwa mulutnya tidak bergigi lagi, seperti mulut bayi yang

belum tumbuh gigi. “Heh-heh-heh, aku tidak butuh kebahagiaan, orang muda. Untuk apa

 

kebahagiaan? Tidak bisa dimakan, tidak bisa dipakai. Untuk apa? Aku adalah aku, seperti inilah, dan

aku tidak ingin menjadi yang lain, tidak ingin menjadi apa-apa, tidak ingin apa-apa. Kalau aku tua,

tualah, kalau miskin, miskinlah, kalau sakit, sakitlah, kenapa harus mengeluh dan tidak menerima

kenyataan? Kalau lapar, cari makan, kalau sakit, cari obat, itu saja. Aku tidak butuh bahagia. Nah,

sekarang ini perutku kenyang, tubuh terasa nyaman, mataku mengantuk. Aku tidak ingin apa-apa,

tidak butuh bahagia, hanya butuh tidur!” Setelah berkata demikian, kakek yang tadinya duduk

bersila itu lalu merebahkan tubuhnya, miring dan dalam beberapa detik saja dia sudah tidur pulas!

Siauw Cu tercengang, lalu tertegun, merenung, memandang kepada kakek yang tidur nyenyak itu,

lalu menambahkan kayu pada perapian dan termenung memandang api yang merah. Pandang matanya

kosong menerawang, menembus nyala api. Dia menemukan sesuatu, menemukan kenyataan pada diri

kakek itu. Itulah bahagia! Itukah? Keadaan tidak ingin apa-apa, ituka yang dinamakan bahagia? Akan

tetapi, bagaimana mungkin hidup tidak ingin apa-apa, seperti kakek itu? Menerima keadaan begitu

saja? Mungkin bisa dilakukan seorang yang sudah tua seperti kakek itu. Akan tetapi dia? Dia masih

muda, dia ingin memperoleh kemajuan dalam segala bidang! Dia bercita-cita. Dia ingin mengusir

penjajah Mongol. Dia ingin memimpin rakyat membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Dia ingin

menjadi pemimpin besar rakyat jelata, ingin mencapai kekuasaan tertinggi! Dia sudah cukup

menderita kekurangan, penghinaan, kerendahan. Dia ingin berkecukupan, berlebihan, dihormati dan

disembah, dia ingin kedudukan setinggi-tingginya. Salahkah itu? Dia menoleh dan melihat betapa

kakek itu tersenyum pada tidurnya.

“Engkau boleh puas dengan keadaanmu, kek. Akan tetapi aku belum puas dengan keadaanku. Kalau

sudah tercapai cita-citaku, barulah aku akan merasa puas dan bahagia. Ya, puas dengan keadaannya

itulah bahagia dan aku tidak berbahagia karena aku belum puas dengan keadaan diriku!”

Cu Goan Ciang masih diombang-ambingkan pikirannya sendiri, tidak tahu bahwa hati akah pikiran

itu sudah dikuasai nafsu daya rendah. Oleh karena itu, apapun yang kita pikirkan selalu mempunyai

satu tujuan, yaitu demi keenakan dan kesenangan diri pribadi. Dengan selimu dan kedok apapun,

berselubung apapun yang menjadi tujuan pemikiran adalah keenakan dan kesenangan diri pribadi.

Baik kesenangan dan keenakan diri jasmani maupun keenakan dan kesenangan diri bagian dalam, y

aitu batin. Orang yang haus akan kebahagiaan adalah jelas merupakan orang yang tidak berbahagia.

Kenyataannya bahwa kita ingin berbahagia menunjukkan bahwa kita tidak berbahagia. Ini merupakan

fakta. Nah, dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin dapat menemukan bahagia? Yang

tidak berbahagia itu bukan lain adalah yang mendambakan kebahagiaan itu juga. Dalam keadaan

sakit, bagaimana mungkin tubuh mendambakan kesehatan? Yang terpenting bukan mencari-cari

kesehatan, melainkan menghilangkan penyebab sakit, apakah kita butuh akan kesehatan lagi.

Demikian pula dengan kebahagiaan. Yang terpenting adalah mengamati, mempelajari, dan meyakinkan

mengapa kita tidak berbahagia! Kalau penyebab yang mendatangkan ketidakbahagiaan itu lenyap,

apakah kita butuh lagi kepada kebahagiaan? Tentu saja tidak butuh! Orang yang tidak sakit tidak

butuh kesehatan karena memang sudh sehat. Orang yang tidak ‘tak berbahagia’ tidak membutuhkan

kebahagiaan lagi karena sesungguhnya dialah orang berbahagia! Seperti juga kesehatan, kita tidak

pernah menyadari kebahagiaan. Kalau kita sehat, kita lupa bahwa kita sehat, kita tidak dapat

menikmatinya. Demikian pula kalau kita berbahagia, kita lupa atau tidak tahu bahwa kebahagiaan tak

pernah meninggalkan kita. Kalau kita sakit, baru kita rindu kesehatan, kalau kita sengsara baru kita

mendambakan kebahagiaan! Pada hal, kebahagiaan, seperti Tuhan dan kekuasaanNya, tidak pernah

meninggalkan kita sedetikpun. Kitalah yang meninggalkan Dia!

Nafsu daya rendah telah mencengkeram kita lahir batin sehingga nafsu yang diikut-sertakan

kepada kita dan yang semula dijadikan pembantu dan alat kita dalam kehidupan ini, berbalik

memperalat kita sehingga kita diperhamba. Nafsu mencengkeram kita dan mendorong kita untuk

selalu mengejar-ngejar keenakan dan kesenangan diri lahir batin. Hidup kita hanya diseret ke satu

arah, satu arah mencapai tujuan, yaitu keenakan dan kesenangan! Dan untuk mencapai tujuan ini, kita

menghalalkan segala cara karena sudah lupa diri, lupa bahwa kita ini manusia, mahluk tersayang yang

mendapat anugerah Tuhan secara berlimpah-limpah. Kita melupakan Tuhan, hanya menyebut nama

 

Tuhan dalam mulut saja, itupun kita lakukan kalau kita sedang ditimpa kesengsaraan! Kesengsaraan

yang menimpa diri kita karena akibat ulah kita sendiri, membuat kita ingat kepada Tuhan, ingat

untuk minta tolong, untuk minta dibebaskan dari kesengsaraan! Dalam keadaan menderita, baru kita

menjerit-jerit minta ampun kepada Tuhan! Permintaan ampun seperti itu biasanya tidak ada

gunanya, karena kita minta ampun dalam keadaan menderita, dengan satu tujuan terselubung, yaitu

terlepas dari kesengsaraan! Permintaan ampun seperti itu hanya suatu cara untuk memperoleh

keenakan dan kesenangan karena bebas dari derita. Kalau sudah terbebas dari derita, maka kitapun

sudah lupa lagi kepada Tuhan! Itulah ulah nafsu yang sudah mencengkeram hati akal pikiran,

sehingga apapun yang kita lakukan menuruti dorongan hati akah pikiran yang masih bergelimang

nafsu yang selalu berpamrih demi kesenangan diri.

Bebas dari cengkeraman nafsu berarti selalu berada dalam bimbingan kekuasaan Tuhan. Apapun

yang kita lakukan merupakan suatu kebaktian kepadanya karena tidak ada saat di mana kita lupa

kepadanya, seolah setiap denyut jantung, setiap gerakan, setiap hembusan napas merupakan pujian

dan pujaan kepadanya.

Malam semakin larut. Ketika Siauw Cu memandang ke arah kakek pengemis itu, dia tersenyum.

Boleh jadi kakek itu merasa puas dan berbahagia, akan tetapi bagaimanapun juga dia hanya seorang

kakek pengemis yang papa. Tidurnya saja di luar kuil tua, di tempat terbuka, keadaannya miskin

sekali. Bagaimana kalau jatuh sakit? Tidak ada obat, tidak ada yang merawatnya, terlantar dan

sengsara. Tidak ada uang pembeli makanan!

Siauw Cu menambahkan lagi kayu pada api unggun. Kehangatan api melindunginya dalam udara

malam yang semakin dingin, membuat dia mengantuk. Dia memandang api dan melamun sambil

melenggut. Dan dalam keadaan antara sadar dan tidak itu, dia melihat pelangi melengkung di

depannya, pelangi yang berwarna, indah sekali seperti tangga yang menuju ke langit. Dan diapun

bangkit, lalu berjalan menaiki tangga pelangi itu, makin lama semakin naik tinggi. Di ujung pelangi

sana dia melihat sebuah bangunan yang besar dan indah, dan banyak perajurit menyambutnya

dengan sikap hormat!

Tiba-tiba suara gaduh menariknya lepas dari dunia mimpi. Dia terkejut dan melihat bahwa tempat

dia dan kakek itu berada, telah dikepung oleh belasan orang! Ada yang berpakaian pengemis, adapula

yang berpakaian perajurit! Akan tetapi mereka itu bukan menyambutnya dengan hormat, melainkan

mengancamnya dengan senjata di tangan. Ada beberapa orang di antar mereka memegang obor dan

seorang yang berpakaian pengemis hitam-hitam berteriak dengan lantang.

“Tangkap dia!”

“Bunuh, dia berbahaya sekali!” teriak seorang pengemis berpakaian hitam yang lain.

Siauw Cu maklum bahwa tentu mereka itu datang untuk menangkapnya. Akan tetapi dia merasa

heran mengapa ada pengemis-pengemis pakaian hitam yang ikut-ikutan membantu para perajurit.

Ah, tentu mereka itu mata-mata pasukan keamanan yang menyamar pengemis dan bermalam di kuil

itu untuk melakukan penyelidikan. Merekalah yang mengenalnya dan diam-diam melapor sehingga kini

datang pasukan perajurit hendak menangkapnya. Diapun siap siaga dan cepat menyambar pedangnya

yang dia letakkan di atas lantai. Ternyata api unggun yang dibuatnya telah padam, mungkin tadi dia

telah tertidur sambil duduk dan bermimpi aneh. Mungkin sinar pelangi itu adalah sinar obor-obor

yang dipegang oleh para pengepung.

Tiba-tiba seorang pengemis yang berjenggot lebat, bertubuh tinggi besar dan memegang golok,

sudah menerjang ke depan dan mengayun goloknya, akan tetapi tidak menyerang dirinya, melainkan

membacok ke arah tubuh Pek Mau Lokai yang masih tidur pulas! Siauw Cu heran dan terkejut, akan

tetapi dia cepat menggerakkan pedangnya sambil meloncat, melindungi kakek itu.

“Tranggg…..!” Bunga api berpijar ketika pedangnya menangkis golok yang menyambar ke arah

kepala kakek pengemis itu. Penyerangan itu terkejut dan terhuyung ke belakang. Seorang yang

berpakaian perwira melangkah maju dan terbelalak memandang kepada Siauw Cu.

“Heiii! Dia itu Cu Goan Ciang, pelarian yang kita cari!”

 

“Ah, sudah jelas sekarang! Pek Mau Lokai bergabung dengan pemberontak dan pembunuh perwira

pasukan kerajaan!” Keadaan menjadi gaduh dan belasan orang itu siap mengeroyok Cu Goan Ciang dan

juga kakek yang kini terbangun dan menggosok-gosok kedua mata dengan punggung tangan.

“Wah-wah, apa yang terjadi? Begini banyak anjing menggonggong dan hendak menggigit Siauw Cu,

apa yang terjadi?” Kakek itu mengambil tongkat bututnya.

“Pek-mao Lo-kai Tang Ku it, tidak perlu berpura-pura lagi. Engkau telah bergabung dengan Cu

Goan Ciang si pemberontak!” bentak pengemis berjenggot lebat berpakaian hitam. “Bunuh dia!” Si

kumis lebat menggerakkan goloknya menikam tubuh kakek yang masih duduk setengah rebah itu Cu

Goan Ciang sendiri sudah diserang beberapa orang perajurit sehingga dia tidak lagi dapat melindungi

kakek pengemis. Akan tetapi, dia terbelalak dan girang sekali melihat betapa kakek tua itu

menggerakkan tongkatnya dan si kumis tebal terjungkal dan tidak dapat bergerak lagi. Tahulah dia

bahwa kakek ini, seperti yang sudah diduganya, amat lihai dan sama sekali tidak membutuhkan

bantuannya! Diapun menjadi bersemangat dan mengamuk di samping kakek itu yang kini memutar

tongkat bututnya dan telah merobohkan empat orang berpakaian hitam-hitam!

Akan tetapi, para pengeroyok bertambah banyak. Kiranya hampir semua pengemis yang tadi

tinggal di kuil, kini datang mengeroyok kakek rambut putih, sedangkan dari luar datang lebih banyak

perajurit mengeroyok Cu Goan Ciang.

Betapapun lihainya Cu Goan Ciang, dikeroyok oleh banyak perajurit, dia terdesak hebat. Dia sudah

berhasil merobohkan delapan orang pengeroyok, akan tetapi dia sendiri mulai menerima sambaran

senjata lawan yang membuat dia luka-luka. Masih baik baginya bahwa di situ terdapat kakek

pengemis yang ternyata lihai sekali sehingga para pengemis dan sebagian perajurit terpaksa

mengeroyok kakek itu.

Agaknya kakek itupun maklum bahwa keadaan dia dan Siauw Cu tidak menguntungkan. Kalau

dilanjutkan, tidak mungkin mereka akan mampu bertahan terus. Apa lagi kalau malam telah lewat

dan cuaca menjadi terang. Akan datang lebih banyak perajurit dan akan semakin sukar bagi mereka

berdua untuk menyelamatkan diri.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik melengking tinggi yang mengejutkan semua orang.

Tak lama kemudian, beberapa buah gulungan jerami yang diikat dan diberi minyak, terbakar

bernyala-nyala, dilemparkan orang dari luar ke tempat pertempuran! Tentu saja pengeroyokan

menjadi kacau karena semua orang takut terkena api yang bernyala-nyala itu.

Pek Mau Lokai menangkap lengan Siauw Cu. “Mari, kita tunggu kapan lagi?” katanya dan Siauw Cu

merasa dirinya ditarik amat kuat. Diapun ikut melompat dan melarikan diri ke belakang kuil di mana

terdapat sebuah hutan kecil. Kakek itu agaknya hafal akan jalan di situ, dia menyusup-nyusup dan

menyelinap di antara pohon dan semak belukar. Siauw Cu hanya mengikuti saja dengan membuta.

Tubuhnya terasa perih dan nyeri karena ada beberapa luka menggores kulitnya dan mengeluarkan

darah. Di belakang mereka, terdengar teriakan orang dan dengan derap kaki mereka yang melakukan

pengejaran.

Ketika mereka tiba di ujung yang lain dari hutan itu, terdengar derap kaki kuda dan ada tiga

orang laki-laki setengah tua berpakaian pengemis menunggang tiga ekor kuda dan menuntun dua

ekor lagi.

Silakan Pangcu (ketua), dan maafkan kelambatan kami tadi karena kami harus membuat bola-bola

jerami lebih dulu,” kata seorang di antara mereka.

“Siauw Cu, mari kita menunggang kuda dan pergi dari sini. Kalian bertiga bekerja dengan baik!”

kata Pek Mau Lokai. Siauw Cu tidak membantah, lalu mereka menunggang dua ekor kuda tadi dan

lima orang itupun membalapkan kuda melarikan diri dari tempat itu.

Cu Goan Ciang tidak merasa heran. Memang dia sudah menyangka bahwa kakek itu bukan orang

sembarangan, maka diapun menyebutnya lo-cian-pwe. Akan tetapi sama sekali ia tidak menyangka

bahwa kakek itu ternyata adalah seorang kaipang-cu (ketua perkumpulan pengemis), dan tiga orang

yang menolong mereka dengan melemparkan bola-bola jerami bernyala kemudian membawakan dua

ekor kuda itu tentulah anak buahnya. Sama sekali keliru semua perkiraannya tadi mengira bahwa

 

kakek itu hidup terlantar, miskin dan papa. Dari perjalanannya selama ini dia tahu bahwa biarpun

namanya perkumpulan pengemis, perkumpulan kaum jembel, namun di antara mereka banyak yang

memiliki kedudukan kuat dan sama sekali tidak miskin. Pakaian butut tambal-tambalan yang mereka

pakai bukan pertanda kemiskinan, melainkan lebih sebagai tanda bahwa mereka adalah anggota dari

perkumpulan pengemis tertentu! Dan melihat pakaian Pek mau Lo-kai yang penuh tambalan namun

bersih dan dari kain berkembang, juga ketiga orang pembantunya yang pakaian mereka juga tambaltambalan

akan tetapi dari kain berkembang, dia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah orangorang

Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) yang pernah didengarnya sebagai

perkumpulan pengemis yang kuat dan yang menentang pemerintah Mongol! Kini, tanpa disengaja, dia

telah bertemu dengan ketuanya, bahkan makan dan tidur bersama di depan kuil di luar kota Nanking

itu.

Lima orang itu membalapkan kuda mendaki sebuah bukit dan matahari sudah mulai mengirim

sinarnya mengusir kegelapan malam ketika mereka tiba di lereng bukit itu, di mana terdapat dinding

batu yang panjang, mengandung banyak gua-gua besar. Dan belasan orang pengemis menyambut

kedatangan ketua mereka dengan gembira.

Setelah dipersilakan turun dan memasuki gua terbesar di mana terdapat perabot rumah

sederhana, Siauw Cu duduk berhadapan dengan Pek-mau Lo kai dan tiga orang anak buahnya tadi.

Kiranya aku berhadapan dengan Hwa Kaipang-cu,” kata Siauw Cu sambil memberi hormat kepada

kakek itu. “Terima kasih, pangcu, dan terima kasih kepada tiga orang saudara ini. Kalau tidak ada

pertolongan kalian, tentu sekarang aku telah menjadi tawanan atau telah menjadi mayat.”

“Sudahlah, Siauw Cu. Kita di antara orang sendiri, kalau tidak saling bantu lalu siapa yang akan

membantu kita?” kata Pek Mau Lokai. “Begitu bertemu di depan kuil itu dan mendengar engkau

mengaku bernama Siauw Cu, aku sudah menduga bahwa engkau tentulah Cu Goan Ciang yang telah

menggegerkan itu, yang dikagumi semua pejuang karena engkau telah berani membunuh perwira,

kemudian membunuh banyak perajurit seorang diri saja, bahkan engkau berani menentang Jangkiang-

pang yang menjadi antek pemerintah Mongol. Engkau hebat, Siauw Cu, akan tetapi engkau juga

bodoh!”

Siauw Cu mengamati wajah kakek itu dengan muka berubah merah. “Aku tidak mengerti apa yang

lo-cian-pwe maksudkan.”

“Bahwa engkau bodoh? Ha-ha, mari perkenalkan dulu dengan tiga orang pembantuku ini.” Dia

memperkenalkan tiga orang itu. Lee Ti atau Lee-pangcu berusia empat puluh tahun, merupakan ketua

Hwa I Kaipang cabang wilayah barat, bertubuh tinggi besar dan mukanya brewok. Pouw Sen berusia

empat puluh tahun, ketua cabang di timur, bertubuh tinggi kurus dan mukanya putih tanpa kumis

atau jenggot. Adapun orang ke tiga adalah Kauw Bok atau Kauw Pangcu, ketua cabang selatan

bertubuh pendek gendut dan mukanya yang bulat itu selalu tersenyum cerah. Mereka itu menjadi

ketua-ketua Hwa I Kaipang di tiga wilayah, dan mereka juga merupakan murid-murid dari Pek Mau

Lokai Tang Ku It.

Setelah mereka saling berkenalan, seorang anggota kaipang datang menyuguhkan sarapan pagi.

Siauw Cu dipersilakan makan bersama dan setelah makan mereka duduk bercakap-cakap.

“Sekarang harap pangcu suka menjelaskan mengapa aku disebut bodoh.” Siauw Cu bertanya

kepada ketua itu.

Hwa I Kaipangcu Tang Ku It tertawa. “Bagus, engkau ingin mengetahui kekuranganmu sendiri? Itu

pertanda baik, karena hanya orang yang mau mengetahui dan mengakui kekurangan sendiri sajalah

yang mempunyai harapan untuk mendapatkan kemajuan dari kehidupan ini. Siauw Cu, aku mengatakan

engkau gagah dan pemberani, akan tetapi bodoh. Bagaimana mungkin engkau seorang diri saja

berjuang melawan penjajah yang merupakan sebuah kerajaan dengan ratusan ribu pasukannya? Baru

menghadapi pengeroyakan puluhan orang perajurit saja engkau sudah luka-luka dan kalau

dilanjutkan, engkau akan mati konyol. Kalau engkau berjuang seorang diri, sama saja dengan

membunuh diri dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi rakyat.

Siauw Cu mengangguk-angguk. “Aku mengerti akan kesalahanku dan mohon petunjuk.”

 

“Engkau tidak mungkin berjuang melawan pemerintah Mongol tanpa mempunyai pasukan. Engkau

harus menghimpun tenaga para patriot, barulah perjuanganmu ada artinya. Kamipun pejuang, dan

sejak lama kami menghimpun tenanga, namun juga belum merasa cukup kuat untuk melawan pasukan

pemerintah.”

“Aku tidak dapat sesabat itu, pangcu, kata Siauw Cu. “Sampai kapan kita akan bergerak

menentang penjajah kalau selalu merasa kurang kuat? Aku melihat penderitaan rakyat di manamana,

aku melihat penindasan, dan aku ingin memberontak. Aku ingin menentang semua penjajah dan

penindas, termasuk orang-orang sesat yang menjadi antek penjajah dan yang melakukan kejahatan

terhadap sesama bangsa. Aku ingin menghancurkan mereka semua, perwira-perwira terkutuk yang

mengganggu wanita, menindas rakyat!”

Pek Mau Lokai tersenyum dan mengangguk-angguk. “Kami sudah mendengar tentang nasib nona

Kim Lee Siang.”

Siauw Cu tercengang. “Ah, jadi pangcu sudah tahu akan hal itu?”

Ketua kaipang itu tersenyun. “Nah, engkau melihat bahwa kalau kita mempunyai banyak anggota,

maka di mana-mana kita dapat menaruh penyelidik, dan kita dapat mengetahui banyak hal. Andaikata

aku hanya seorang diri seperti engkau, Siauw Cu, tentu akupun tidak tahu apa-apa. Hanya ada satu

hal yang membuat kami tidak mengerti. Mengapa seorang pejuang seperti engkau, yang menurut

hasil penyelidikan mencinta nona Kim Lee Siang yang anti penjajah Mongol, dapat menjadi calon

suami ketua Jang-kiang-pang? Dan kemudian bahkan engkau menyerangnya dan membuntungi

lengannya setelah nona Kim Lee Siang membunuh diri?”

Siauw Cu mengepal kedua tangannya.

Diingatkan tentang peristiwa itu, dia teringat akan Lee Siang yang dicintanya dan wajahnya

diliputi kedukaan, juga kebencian terhadap Liu Bi.

“Perempuan keparat itu!” katanya gemas. “Ketua Jang-kiang-pang itu meracuni sumoinya sendiri

dan memaksaku untuk menikah dengannya. Kalau aku tidak mau, ia tidak akan memberi obat penawar

kepada Lee Siang. Untuk menyelamatkan nyawa Lee Siang, terpaksa aku menerima permintaannya.

Akan tetapi pada malam perayaan pernikahan itu, ia telah menyerahkan Lee Siang yang lemah dan

dibius kepada jahanam Khabuli itu!” Mukanya berubah merah dan matanya mencorong penuh

kemarahan. “Aku harus membunuh jahanam Mongol itu!!”

“Sabar dan tenanglah, Siauw Cu. Seorang laki-laki tidak hanya menuruti nafsu kemarahannya, dan

seorang pejuang mengesampingkan urusan dan kepentingan pribadi, mendahulukan kepentingan

perjuangan. Semua itu terjadi, juga semua penderitaan rakyat itu terjadi sebagai akibat dari satu

sebab, yaitu penjajahan. Andaikata engkau berhasil membunuh Khabuli karena dia menyebabkan

kematian nona Kim, akan muncul ribuan orang Khabuli yang lain, yang mengorbankan ribuan nona Kim

yang lain! Andaikata engkau membunuh seorang penindas rakyat, masih akan bermunculan ribuan

penindas yang lain. Satu-satunya jalan adalah melenyapkan penjajah dari bumi kita, barulah ada

ketenteraman dan kesejahteraan bagi rakyat.”

Diam-diam Siauw Cu kagum kepada ketua pengemis itu. Apa yang diucapkannya memang benar dan

tepat. Kalau dia ingin berhasil, dia harus menahan diri, tidak menuruti nafsu dendam pribadinya, dan

dia juga harus dapat menghimpun tenaga dari rakyat jelata. Dia tidak seharusnya hanya

mencurahkan perhatiannya untuk membalas kepada orang-orang seperti ketua Jang-kiang-pang dan

perwira Khabuli saja, melainkan kepada pusatnya, yaitu kepada pemerintah Mongol, sang penjajah

yang menjadi biang keladi kesengsaraan rakyat, kesengsaraannya. Sejak kecil, dia telah menderita

akibat penjajahan. Orang tuanya sakit dan mati karena kelaparan, dia sendiri hidup terlunta-lunta,

semua itu karena keadaan kehidupan rakyat yang miskin dan sengsara, akibat penjajahan. Dia harus

berusaha melenyapkan penjajah!

Melihat pemuda itu termenung, Pak-mau Lo-kai yang diam-diam merasa kagum dan suka kepada

pemuda itu langsung mengulurkan tangan, “Cu Goan Ciang, kalau engkau sudah dapat mengerti apa

yang kumaksudkan, tentu engkau tidak lagi memandang rendah dan hina kepada kita para pengemis.

 

“Tentu saja tidak, lo-cian-pwe. Sejak pertama kali kita berkenalan, apakah aku pernah

memandang rendah kepadamu?”

“Bagus, kalau begitu, bagaimana kalau engkau kami tarik sebagai anggota Hwa I Kaipang? Aku

ingin engkau menjadi pembantuku yang dapat ku andalkan dan kupercaya.

“Heii, tidak begitu mudah…!!” Tiba-tiba terdengar teriakan suara wanita dari luar gua.

“Wah, si rewel itu akan membuat ulah lagi, heh-heh-heh!” Pek Mau Lokai berkata sambil tertawa

dan memandang keluar gua. Tiga orang ketua cabang juga memandang keluar sambil tersenyum.

Melihat mereka semua memandang keluar gua, Siauw Cu juga menoleh dan dia melihat seorang gadis

berdiri di depan gua. Gua itu agak gelap, dan di luar demikian terangnya sehingga gadis itu seperti

berada di dalam sinar yang cerah dari atas. Seorang gadis yang manis sekali dengan pakaian tambaltambalan

dan berkembang-kembang, akan tetapi selain pakaian itu amat bersih, juga potongannya

amat manis sehingga tidak seperti pakaian pengemis, melainkan seperti pakaian mode terakhir,

model terbaru yang tentu akan menarik perhatian gadis-gadis lain! Rambutnya yang hitam dan lebat

itu digelung ke atas, sembarangan saja agak awut-awutan dan diikat pita merah dan diperkuat tusuk

sanggul dari perak berbentuk burung merak. Tidak memakai perhiasan lain, namun justeru

kesederhanaannya itu bahkan menonjolkan kecantikannya yang alami. Dahinya berkulit halus seperti

lilin, dengan anak rambut halus lembut melingkar mesra di dahi dan kening, sepasang alisnya hitam

kecil melengkung seperti dilukis dan tidak ditambah penghitam apapun. Sepasang matanya seperti

mata burung Hong, tajam dan menantang namun mengandung kelembutan yang khas wanita. Kedua

pipinya putuh kemerahan tanpa pemerah, hidungnya kecil mancung dan nampak lucu karena ujungnya

agak berdongak, mulutnya amat manis, dengan sepasang bibir yang merah basah tanpa gincu, dan

selalu dibayangi senyum dikulum dengan lesung pipit di sebelah kiri dan garis-garis manis di sebelah

kanan. Dagunya yang meruncing memberi kesan wajah itu berbentuk seperti telur. Usianya tentu

tidak akan lebih dari dua puluh tahun, dengan tubuh yang tinggi ramping, kedua kaki panjang dan

sepatu kulit hitam mengkilap itu sungguh tidak pantas dipakai seorang pengemis!

“Heii, anak bengal! Apa lagi kau ribut-ribut di situ?” teriak Pek Mau Lokai. “Kalau mau bicara,

jangan berteriak-teriak dari luar, masuklah saja dan bicara yang baik dan pantas!”

“Kong-kong (kakek), aku tidak mau masuk! Di situ ada orang asing!”

Lee Ti, atau Lee-pangcu, ketua cabang Hwa I Kaipang di barat, tertawa dan berseru, “Hui Yen,

kami adalah paman-pamanmu, bukan orang asing!”

“Lee-susiok (paman guru Lee), aku tidak maksudkan kalian bertiga!” jawab gadis yang disebut

dengan nama Hui Yen itu.

“Yen Yen, jangan tidak sopan. Tamu kita ini adalah Cu Goan Ciang, dan mulai hari ini dia menjadi

saudara kita, menjadi pembantu utamaku di sini,” kata kakek Pek Mau Lokai sambil tersenyum. Gadis

itu bernama Tang Hui Yen yang biasa disebut Yen Yen, berusia dua puluh tahun. Ia adalah cucu

dalam dari Pek Mau Lokai Tang Ku It. Ayah dan ibu anak itu telah tewas dalam pertempuran besar

antara kelompok Hwa I Kaipang yang diserbu pasukan pemerintah dan anggota kaipang lain yang

memusuhi mereka.

“Justru itulah, kek, maka tadi aku mengatakan tidak boleh begitu mudah. Pembantu kakek berarti

seorang yang akan memimpin kaipang kita, berarti dia haruslah seorang yang cakap dalam

kepemimpinan, bijaksana, cerdik, berwibawa, dan terutama sekali memiliki ilmu kepandaian yang

lebih tinggi dari pada para anggota kita. Apakah orang muda itu memiliki kesemuanya itu?”

Pek Mau Lokai memandang kepada Siauw Cu sambil tersenyum lebar. “Begitulah cucuku itu, selalu

ingin memuji orang!”

“Suhu, kami kira hal itu baik sekali. Kalau Cu-sicu ini menjadi pembantu suhu, sudah selayaknya

kalau dia memperlihatkan kepandaiannya agar dilihat oleh para anggota sehingga kelak tidak akan

ada anggota yang merasa penasaran dan ragu.”kata Lee Ti dan kedua orang rekannya juga

mengangguk menyetujui.

Siauw Cu mengerutkan alisnya. “Mana aku berani kurang ajar terhadap cucu lo-cian-pwe yang

lihai?”

 

“Ha-ha-ha, katakan saja engkau sungkan melawan seorang wanita! Akan tetapi biar ia seorang

gadis, Yen Yen telah memiliki tingkat kepandaian yang seimbang dengan tingkat para muridku yang

lain. Dan biarpun ia cucuku, akan tetapi engkau tidak berkelahi melawannya, melainkan hanya

bertanding untuk diuji kepandaianmu olehnya. Nah, sambutlah tantangannya, Siauw Cu.”

Terpaksa Siauw Cu bangkit dan keluar, diikuti Pek Mau Lokai dan ketiga orang ketua cabang.

Siauw Cu merasa panas juga perutnya melihat gadis manis itu berdiri dengan pandang mata

menantang dan senyum mengejek dan memandang rendah.

Diam-diam Yen Yen memperhatikan pemuda yang melangkah keluar dari dalam gua itu. Sejak ayah

ibunya belum meninggal dua tahun yang lalu, ayah ibunya selalu mendesaknya agar mau menikah.

Namun, Yen Yen selalu menolak. Banyak pinangan datang, namun terpaksa ayah ibunya menolak halus

karena gadis itu tidak pernah mau dan mengatakan bahwa kalau ayah ibunya menerima pinangan

orang, ia akan menolak dan pada hari pernikahan, ia akan minggat. Ia mengemukakan tekadnya bahwa

kalau belum bertemu dengan seorang pria yang menjadi pilihan hatinya, ia tidak mau menikah.

Setelah ayah ibunya meninggal, tewas dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah, tidak ada

lagi orang yang mendesaknya untuk menikah. Kakeknya, yang menjadi pengganti ayah ibunya juga

menjadi gurunya, tidak mendesak, hanya bertanya mengapa sampai berusia dua puluh tahun ia belum

juga mau menjatuhkan pilihannya. Orang macam apa sih yang diharapkannya demikian kakeknya

pernah bertanya. Ia menjawab bahwa pria itu harus memenuhi semua harapan hatinya, cocok dengan

seleranya dan terutama sekali, harus dapat mengalahkannya dalam pertandingan silat.

Kini kedua orang muda itu saling berhadapan. Siauw Cu memandang dengan sikapnya yang tenang

dan berwibawa, alisnya agak berkerut karena dia menganggap gadis ini terlalu sombong dan manja.

Dan Yen Yen berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, pandang matanya seperti seorang nona

majikan terhadap seorang muridnya. Sejenak mereka saling pandang, Siauw Cu menunggu dengan

tenang, Yen Yen mengamati pemuda itu pernuh selidik dengan sikap menantang, seperti sikap ayam

aduan berlagak sebelum bertanding.

“Hemm, orang muda, engkau memiliki kemampuan apa sih mau menjadi pembantu kakekku, ketua

Hwa I Kaipang?” kata Yen Yen dengan sikap tinggi hati sekali. Kini Pek Mau Lokai dan tiga orang

ketua cabang sudah keluar dari gua dan duduk di atas batu, menjadi penonton. Bahkan para anggota

Hwa I Kaipang yang kebetulan melihat adegan itu, tanpa dipanggil sudah datang sehingga sebentar

saja tempat itu sudah dikelilingi puluhan orang yang menonton dengan hati tegang dan wajah

gembira. Mereka mengenal watak Yen Yen yang galak dan yang suka sekali memuji kepandaian orang.

Dan banyak di antara mereka yang merasa iba kepada pemuda yang nampak pendiam dan sederhana

itu, karena sukar mencari orang yang mampu menandingi kelihaian Yen Yen.

Mendengar gadis itu bicara kepadanya seolah-olah seorang dewasa terhadap seorang kanakkanak,

wajah Siauw Cu menjadi kemerahan dan sinar matanya menyambar dan berkilat.

“Nona kecil, karena usiamu tidak akan lebih tua dari aku, maka tidak semestinya engkau menyebut

aku orang muda, seolah-olah engkau sudah tua renta dan pikun!”

Ucapan Siauw Cu ini bukan untuk melucu melainkan karena dia mendongkol, akan tetapi terdengar

lucu sehingga Pek Mau Lokai tertawa bergelak dan para anggota Hwa I Kaipang juga tersenyum

dengan hati khawatir karena tentu gadis itu akan marah sekali. Dan memang Yen Yen menjadi marah.

Mukanya yang memang sudah putih kemerahan itu kini menjadi merah, seperti seekor bunglon yang

berubah warna, matanya mencorong dan menggerakkan tangan kirinya, jari telunjuk kiri ditudingkan

ke arah muka Siauw Cu.

“Bocah sombong!” Biarpun usiamu lebih tua dariku, dalam pandanganku engkau masih kanak-kanak,

tahu? Dan seorang kanak-kanak seperti engkau ingin menjadi pembantu kakekku memimpin para

anggota Hwa I Kaipang? Tidak begitu mudah, sobat!”

Panas juga rasa perut Siauw Cu. Gadis ini terlalu memandang rendah dan lidahnya tajam melebihi

ujung pedang. Akan tetapi karena dia mengingat bahwa gadis itu adalah cucu Pek Mau Lokai, diapun

menahan diri. “Nona, bukan kehendakku untuk menjadi pembantu kakekmu, melainkan beliau sendiri

yang mengkehendakinya.”

 

“Hemm, kukatakan tadi tidak semudah itu. Kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, engkau

tidak pantas menjadi pembantu kakek. Hayo, coba kita lihat bersama apakah engkau mempunyai

kemampuan untuk menandingi ilmu silatku. “Berkata demikian, gadis itu memasang kuda-kuda dengan

lagak yang gagah sekali.

Cu Goan Ciang tersenyum dan dia menoleh ke arah Pek Mau Lokai. Biarpun kakek itu tadi sudah

menganjurkan agar dia menyambut tantangan gadis itu, tetap saja dia merasa sungkan dan tidak

enak hati terhadap ketua Hwa I Kaipang. Melihat pemuda itu menoleh kepadanya, Pek Mau Lokai

sambil tertawa mengangguk.

Siauw Cu lalu melangkah maju menghampiri gadis itu. Dia melihat betapa kuda-kuda gadis itu

gagah sekali, dengan kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang, kaki kiri ditekuk rendah, tangan

kanan diangkat ke atas kepala dan tangan kiri miring di depan dada.

Siauw Cu tidak berani memandang ringan. Gadis ini adalah cucu Pek Mau Lokai yang dia tahu amat

lihai, maka tentu gadis inipun bukan orang lemah, bahkan mungkin merupakan lawan yang tangguh.

Akan tetapi, kecerdikan Siauw Cu membuat dia dapat menduga bahwa dia a kan mampu menandingi

gadis itu. Kalau tidak demikian halnya, tidak mungkin kakek itu mengangkatnya sebagai pembantu

dan menganjurkan dia menyambut tantangan Yen Yen. Kakek yang sakti itu sudah melihat sepak

terjangnya ketika mereka di keroyok pasukan, tentu telah dapat mengukur kepandaiannya dan

membandingkan dengan tingkat kepandaian Yen Yen.

“Kuharap nona tidak bersungguh-sungguh, kita bukan musuh yang sedang berkelahi,” dia

mengingatkan.

Gadis itu cemberut. “Siapa yang memusuhimu? Kita sedang menguji kepandaian, bukan berkelahi.

Tentu saja aku bersungguh-sungguh!” katanya.

“Baik, aku sudah siap. Silakan mulai, nona.”kata Siauw Cu dan diapun sudah memasang kuda-kuda

dengan kedua kaki seperti orang menunggang kuda, kedua tangan dirangkap di depan dada seperti

memberi hormat dan begitu lawan bergerak, kedua tangannya turun ke dekat pinggang kanan kiri.

“Lihat seranganku, haiiittt….!” Yen Yen berseru dan iapun menerjang dengan gerakan yang

dahsyat. Siau Cu terkejut dan kagum ketika merasa angin pukulan menyambar dengan kuatnya.

Benar seperti dugaannya, gadis ini lihai sekali. Karena dia memang sudah menduga demikian, biarpun

kaget, dia sudah siap sedia dan cepat dia menggerakkan kaki memutar tubuh miring sambil

menangkis dengan pengerahan tenaga sinkang.

“Dukk-duk-dukk!” Tida kali berturut-turut dia menangkis pukulan berantai dari Yen Yen dan

tangkisann yang ketiga kalinya membuat gadis itu agak terdorong ke belakang.

Yen Yen merasa penasaran. Ia tahu bahwa dalam hal tenaga sin-kang, ia masih kalah kuat, maka ia

lalu mempergunakan kecepatannya dan menyerang lagi dengan cepat dan bertubi-tubi. Namun, Siauw

Cu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang terkenal memiliki pertahanan yang kokoh. Dia dapat

pula mengimbangi kecepatan gerakan lawannya dengan langkah-langkahnya, bahkan dia juga mulai

membalas dengan serangan yang tak kalah cepat dan kuatnya.

Terjadilah pertandingan yang membuat semua anggota Hwa I Kaipang merasa kagum. Inilah yang

dikehendaki oleh Lee-pangcu ketika dia menyetujui Siauw Cu menerima tantangan itu. Dengan

memperlihatkan ilmu silatnya yang ternyata mampu menandingi ilmu kepandaian Yen Yen, dengan

sendirinya para anggota Hwa I Kaipang menjadi kagum dan tentu tidak akan ada yang merasa

penasaran kalau nanti mereka mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu diangkat menjadi

pembantu utama sang ketua.

Lima puluh jurus lewat dengan ramainya dan biarpun para anggota Hwa I Kaipang semua

menganggap bahwa kedua orang itu memiliki kepandaian seimbang dan pertandingan itu seru dan

saling serang, namun Yen Yen sendiri, juga tiga orang ketua cabang dan tentu saja Pek Mau Lokai

maklum bahwa Siauw Cu telah banyak mengalah dalam pertandingan itu. Balasan serangan pemuda itu

bukan untuk mendesak, melainkan hanya dilakukan untuk membendung serangan lawan saja.

Serangan balasannya hanya untuk melindungi dirinya, bukan untuk menjatuhkan lawan. Hal ini lamakelamaan

terasa juga oleh Yen Yen, membuat ia menjadi semakin penasaran dan tiba-tiba ia

 

mengeluarkan bentakan nyaring dan kedua tangannya, dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah

dada lawan sambil mengerahkan seluruh tenaganya! Inilah serangan yang amat berbahaya sehingga

Pek Mau Lokai sendiri mengerutkan alisnya, menganggap cucunya itu keterlaluan sekali karena

serangan maut seperti itu tidak pantas dilakukan dalam pertandingan menguji kepandaian atau pi-bu

(adu silat) persahabatan, bukan mengandung kebencian atau permusuhan. Akan tetapi, karena dia

percaya akan kemampuan Siauw Cu, diapun tenang-tenang saja, tidak seperti tiga orang muridnya

yang menjadi pucat wajahnya. Tiga orang ketua cabang ini memiliki ilmu kepandaian silat yang

setingkat dengan Yen Yen dan mereka juga tahu betapa hebatnya ilmu yang juga mereka kuasai itu.

Siauw Cu merasakan sambaran angin dahsyat dari kedua tangan itu dan dia mengenal pukulan

berbahaya, maka diapun segera menggunakan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw Ciang-hwat. Tubuhnya

tiba-tiba mencelat ke atas seperti seekor burung rajawali terbang dan ketika kedua tangan lawan

lewat di bawahnya, kedua tangannya dengan tubuh menukik itu menyambar, mencengkeram ke arah

kepala Yen Yen!

“Aihhh….!!” Tiga orang ketua cabang melompat berdiri saking kaget dan khawatirnya, hanya Pek

Mau Lokai yang tetap duduk tenang walaupun mukanya berubah kaget karena kalau tadi dia dapat

mengenal ilmu silat Siauw Cu dengan jurus-jurus yang ampuh dari Siauw-lim-oai, kini dia tidak

mengenal ilmu yang dipergunakan Siauw Cu ketika tubuhnya mencelat ke atas seperti burung itu. Dia

yakin bahwa biarpun Siauw Cu dapat mencengkeram kepala dan menewaskan cucunya, namun pemuda

itu tidak mungkin mau melakukannya. Dan benar saja, Siauw Cu sudah melompat turun lagi dan

berkata lirih.

“Maafkan aku, nona.” Tangannya bergerak dan sebatang tusuk sanggul perak melayang ke arah

gadis itu. Yen Yens cepat menyambutnya dan mukanya berubah kemerahan. Kiranya, tusuk

sanggulnya telah dapat dicabut pemuda itu tanpa ia merasakannya! Ini saja sudah merupakan bukti

nyata bahwa ia telah kalah, karena kalau pemuda itu menghendaki tadi dia telah mencabut tusuk

sanggul, melainkan mencabut nyawanya melalui cengkeraman pada kepalanya!

Akan tetapi Yen Yen adalah seorang gadis yang galak dan tidak mudah mau menerima kekalahan

walaupun sesungguhnya ia tidak sombong. Ia lincah dan agak binal, memandang rendah siapa saja

sebelum ia yakin benar akan kemampuan orang itu. Kini, setelah menancapkan lagi tusuk sanggulnya

dan peristiwa itu tidak dilihat para anggota Hwa I Kaipang, kecuali kakeknya dan tiga orang ketua

cabang, ia lalu menggerakkan tangannya dan di lain saat ia telah mancabut sebatang tongkat sebesar

ibu jari kakinya yang tadi ia selipkan di punggung. Ia memutar-mutar tongkat yang panjangnya satu

meter itu di antara jari-jari tangan kirinya sehingga tongkat itu berputar cepat seperti kitiran.

“Orang She Cu, engkau boleh juga. Akan tetapi kalau engkau belum mengalahkan tongkatku, aku

belum puas. Tongkat adalah senjata keramat para pengemis untuk menaklukkan setan dan iblis.

Majulah dan keluarkan senjatamu!” tantangnya.

“Nona, aku hanya mempunyai sebatang pedang, akan tetapi pedang itu hanya akan kupergunakan

untuk menghadapi musuh.” Dia teringat akan pedangnya, pedang yang pernah menembusi dada Lee

Siang kekasihnya, pedang yang sejak saat itu selalu dibawanya dan tadi dia tinggalkan di dalam gua

karena dia tidak ingin menghadapi tantangan nona itu dengan senjata di tangannya. “Karena ini hanya

merupakan pertandingan persahabatan, aku akan menghadapi tongkatmu dengan tangan kosong

saja.”

“Ihhh, berani engkau memandang rendah tongkat kami? Ingat, ilmu tongkat kami Hok-mo-tuung

(Tongkat Penakluk Iblis) tak terkalahkan di dunia ini!”

Mendengar ini, kakeknya tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Yen Yen, jangan tekebur seperti itu!

Engkau memalukan kakekmu saja. Mana ada ilmu yang tak terkalahkan di dunia ini. Tidak ada!”

Yen Yen memandang kakeknya. “Kek, kenapa kita harus merendahkan ilmu sendiri. Orang she Cu,

kuperingatkan sekali lagi. Keluarkan senjatamu untuk menghadapi tongkatku!”

“Tidak nona, cukup dengan kedua tangan kakiku saja. Majulah, aku telah siap menghadapi

tongkatmu!”

 

Marahlah Yen Yen. Ia menganggap pemuda itu yang telah berhasil mencabut tusuk sanggulnya,

terlalu memandang rendah tongkatnya. “Baik, engkau sendiri yang mencari penyakit. Nah, sambutlah

tongkatku!” Berkata demikian, ia menerjang dengan amat cepatnya.

Dengan sigap Siauw Cu mengelak ke samping, akan tetapi ujung tongkat itu terus mengejarnya

secara aneh! Dia menggerakkan tangan untuk menangkap ujung tongkat itu, untuk merampasnya,

akan tetapi ujung tongkat tergetar dan lepas dari sambaran tangannya dan secara aneh telah

meluncur dan menusuk ke arah antara kedua matanya!

“Ehh…!” Siauw Cu terkejut dan cepat melangkah mundur, akan tetapi kembali ujung tongkat itu

telah menotoh jalan darah di depan tubuhnya secara bertubi-tubi. Dia mengelak ke sana-sini dan

dalam waktu beberapa detik saja, ujung tongkat itu telah menyerang dengan totokan ke arah lima

jalan darah di bagian tubuh depan.

Siauw Cu meloncat ke belakang dan agak terhuyung, dan tongkat itu sempat pula menotok

pundaknya. Untung dia masih miringkan pundak sehingga tongkat itu tidak tepat mengenai jalan

darah, akan tetapi tetap saja sempat membuat dia tergetar dan terhuyung, dan bajunya di bagian

pundak itupun berlubang!”

“Nah, baru engkau merasakan sedikit kelihaian tongkatku!” kata nona itu dengan suara

mengandung kebanggaan.

“Tongkatmu hebat, nona, akan tetapi aku belum kalah,” kata Siauw Cu penasaran dan begitu gadis

itu menggerakkan tongkatnya lagi, diapun cepat memainkan ilmu silat andalannya, yaitu Sin-tiauw

Ciang-hwat!

“Hemm…!” Pek-mau Lo kai berseru kagum dan dia tidak berkedip mengikuti gerakan-gerakan

Siauw Cu ketika menghadapi desakan tongkat itu dengan ilmunya yang aneh. Dia melihat gerakan

pemuda itu seperti seekor burung rajawali saja. Tangkisan yang biasanya dilakukan, lengan menuju

ke luar, kini sebaliknya tangkisan itu dari luar ke dalam, disusul cengkeraman. Juga tubuh itu

seringkali mencelat ke atas dan menukik seperti seekor burung rajawali menyambar. Kakek itu

merasa kagum dan heran. Dia tak mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai mengenai dasar gerakan ilmu

silat itu yang kokoh kuat, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan pemuda ini, walaupun memiliki dasar

gerakan kaki tangan Siauw-lim-pai, namun amat aneh gerakan kembangannya, mirip burung rajawali.

Pernah dia melihat ilmu silat yang meniru gerakan burung rajawali, seperti yang terdapat pada aliran

Kun-lun-pai, akan tetapi tauw-kun (silat rajawali) yang dimainkan pemuda ini berbeda sama sekali

dan amat hebatnya.

Yen Yen sendiri menjadi bingung. Kini tongkatnya tak pernah mampu mendekati lawan, bahkan

terancam untuk dirampas. Gerakan yang cepat, kadang mencelat ke atas itu amat

membingungkannya. Baru belasan jurus saja, dua kali tongkatnya hampir terampas. Lawannya

menangkis dari luar ke dalam diteruskan cengkeraman dan dua kali sudah tongkatnya kena

dicengkeram lawan, akan tetapi dapat ia tarik lepas kembali. Pek Mau Lokai maklum bahwa yang dua

kali itu, kalau Siauw Cu menghendaki, tentu dia sudah dapat merampas tongkat, atau setidaknya

mencengkeramnya patah-patah. Akan tetapi, agaknya pemuda itu tidak mau merusak tongkat, dan

hal ini membuat dia semakin senang dan kagum. Memang ilmu silat tongkat cucunya belum sempurna

benar. Kalau dia yang memainkan tongkat itu, tentu dia akan mampu mengimbangi ilmu silat aneh dari

Siauw Cu.

Tiba-tiba tongkat itu menyambar dan tertangkap lagi oleh Siauw Cu. Sekali ini, Siauw Cu tidak

merampas tongkat, tidak pula merusaknya, hanya menangkap dan menahan tongkat itu sehingga

biarpun Yen Yen mengerahkan tenaga untuk menariknya kembali tongkat itu tidak dapat terlepas

lagi. Hal ini menjengkelkan hati Yen Yen. Gerakan tongkatnya adalah gerakan seperti seekor ular.

Kalau tangan biasa saja jangan harap dapat menangkapnya, karena gerakannya dapat berputar dan

licin seperti tubuh ular. Akan tetapi, biarpun tadi dua kali Siauw Cu terpaksa melepaskan lagi, kini,

dengan gerakan tangan seperti paruh rajawali mematuk, dia berhasil menangkap tongkat itu

sehingga tidak dapat terlepas lagi! Dalam geramnya, Yen Yen menggunakan tangan kirinya

menghantam ke arah muka Siauw Cu. Pemuda ini menggerakkan pula tangan kana, membentuk paruh

 

rajawali dan tahu-tahu tangannya telah menangkap pergelangan tangan kiri gadis itu. Gadis itu

menarik-narik dan meronta-ronta, namun baik tangan kirinya maupun tongkatnya tidak dapat

terlepas lagi dari kedua tangan Siauw Cu. Mereka kini kelihatan saling tarik sehingga nampak lucu

seperti dua orang kanak-kanak memperebutkan mainan!

“Lepaskan!” bentaknya, akan tetapi Siauw Cu tidak mau melepaskan, karena dia maklum bahwa

begitu terlepas, gadis itu akan menyerangnya dari jarak dekat dan hal ini cukup berbahaya.

“Baik, kau menghendaki tongkatku! Nah, ambillah!” Tiba-tiba dengan marah ia melepaskan

tongkatnya, lalu tangan kanannya menotok ke arah tenggorokan Siauw Cu!

Siauw Cu sudah menduga akan hal ini, maka cepat diapun menggigit tongkat itu dan kini tangan

kirinya menyambut, menangkap pula pergelangan tangan kanan itu sehingga kini kedua tangan gadis

itu tertangkap olehnya. Yen Yen semakin marah, menarik dan meronta, namun kedua tangan Siauw

Ce seperti sepasang tangan baja yang amat kuat. Dan tiba-tiba Yen Yen menangis!

Siauw Cu terkejut bukan main, cepat melepaskan kedua tangan itu dan meloncat ke belakang, lalu

menyerahkan tongkat itu kembali. “Maafkan aku, nona, terimalah kembali tongkatmu.”

Akan tetapi gadis itu mendengus, membalikkan tubuhnya lalu berlari meninggalkan tempat itu,

membuat Siauw Cu berdiri bengong dengan muka merah dan hati menyesal karena ia telah membikin

marah cucu Pek Mau Lokai. Akan tetapi, tepuk tangan memujinya dan para anggota Hwa I Kaipang

bertepuk tangan memuji, sedangkan Pek Mau Lokai tahu-tahu sudah berada di depannya dan

menerima tongkat cucunya itu.

“Ha-ha-ha, engkau telah dapat menaklukkan cucukuyang seperti naga betina itu, ha-ha!’ Kakek itu

tertawa-tawa gembira.

Tiga orang ketua cabang itu saling pandang, lalu mereka bertiga mengangkat kedua tangan depan

dada dan berkata. “Cu-sicu, kionghi (selamat)!”

“Ehh? Apa maksud paman bertiga?” tanya Siauw Cu heran mengapa tiga orang itu memberi

selamat kepadanya. Pada hal, kemenangan dalam ujian silat itu lama sekali tidak perlu diberi

selamat, apa lagi melihat akibatnya membuat gadis itu merasa jengkel dan marah.

Pek Mau Lokai yang menjawab, “Siauw Cu, engkau tidak tahu bahwa senjata tongkat bagi kami

merupakan senjata andalan, juga merupakan tanda bahwa kami adalah anggota kaipang yang setia.

Tongkat merupakan kawan dan senjata yang setia bagi kami dan tidak akan kami tinggalkan, apa lagi

kami serahkan kepada orang lain. Kalau kami menyerahkan tongkat itu, berarti taluk, sama dengan

menyerahkan hati, nyawa, dan badan. Dan kini cucuku yang selama ini menolak semua lamaran orang,

menganggap tidak ada pria yang patut menjadi jodohnya, hari ini ia menyerahkan tongkatnya

kepadamu! Ha-ha-ha, hal itu hanya mempunya satu arti, bahwa ia taluk kepadamu, dan ia

menyerahkan hatinya kepadamu.” Dia tertawa, diikuti empat orang ketua cabang.

Mendengar ini, Cu Goan Ciang terkejut bukan main. “Ah, nona Tang menyerahkan tongkat karena

tidak mampu merampasnya kembali dariku dan aku merasa menyesal sekali telah membuat ia marah.

Bukan….bukan maksudku untuk….”

“Siauw Cu, mari kita bicara di dalam.” Mereka masuk kembali ke dalam gua basar dan duduk di

lantai bertilamkan tikar tebal. “Kuharap engkau jangan menyangka salah. Kami semua orang

mengetahui bahwa dengan penyerahan tongkat tadi, Yen Yen telah menyatakan taluk padamu, dan ia

kagum padamu, dan ia bahkan tentu akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menjadi jodohmu.

Akan tetapi, sama sekali bukan berarti bahwa ia akan memaksamu untuk menjadi jodohnya. Kami

semua percaya akan cinta kasih kedua pihak dalam perjodohan. Jadi, kalau engkau tidak membalas

perasaan hatinya, hal itupun tidak akan mendatangkan penyesalan apapun dan kami hanya akan

menganggap bahwa kalian tidak berjodoh.”

“Akan tetapi, kalau boleh saya mengemukakan pendapat saya, Cu-sicu. Bukanlah sikap yang

bijaksana kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis seperti Yen Yen. Ia cantik jelita,

berbudi mulia, patriot sejati, berwatak pendekar, cerdik, dan memiliki ilmu silat tinggi. Para pemuda

yang pernah mengenalnya, dari golongan kecil sampai golongan yang paling besar, semua kagum dan

 

mengharapkan uluran kasihnya, namun semuanya ditolaknya. Dan kalau sekarang ia memilihmu, sicu,

sungguh luar biasa sekali. Kalau engkau tidak menyambutnya….” kata Kauw Bok yang pendek gendut.

Tentu saja Siauw Cu merasa tidak enak sekali terhadap Pek Mau Lokai. Dia menarik napas panjang

dan teringatlah dia akan wajah Kim Lee Siang. Dia tahu bahwa dia mencinta Lee Siang, dan baru saja

dia ditinggal Lee Siang yang mati secara amat menyedihkan. Bagaimana dalam waktu beberapa hari

saja, dia dapat melupakan Lee Siang dan menyambut uluran cinta seorang gadis lain?

“Tadi aku mendengar bahwa Pangcu dan semua anggota Hwa I Kaipang percaya bahwa cinta kasih

kedua pihak dalam perjodohan. Kepercayaan ini sama dengan kepercayaanku. Perjodohan memang

harus diadakan dengan dasar cinta kasih kedua pihak. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku berani

mengatakan bahwa aku mencinta nona Tang yang baru saja kutemui sekarang? Aku akan bersikap

palsu kalau aku mengaku cinta padanya sekarang, karena di dalam hatiku, sama sekali belum ada

perasaan itu kepadanya kecuali perasaan kagum dan menyesal bahwa aku telah membikin dia marah.

Pula, kita menghadapi tugas yang mulia, dan besar, bagaimana mungkin memikirkan urusan

perjodohan? Oleh karena itu, kuharap agar Tang locianpwe, para pangcu dan seluruh anggota Hwa I

Kaipang, terutama sekali nona Tang Hui Yen sendiri, suka memaafkan kalau aku belum dapat

mengambil keputusan sekarang atau dalam waktu dekat mengenai perjodohan.”

“Bagus sekali!” Pek Mau Lokai berseru kagum. “Begitulah seharusnya sikap seorang pahlawan!

Mendahulukan kepentingan perjuangan dan mengesampingkan kepentigan pribadi. Aku dapat

menerima pendapatmu itu Siauw Cu, dan percayalah, Yen Yen juga bukan seorang gadis yang

berpemandangan sempit. Aku akan menyampaikan perasaan dan pendapatmu itu kepadanya.

Sekarang, mari kita bicara, tentang keadaan kita dan perjuangan kita.”

Mereka lalu berbincang-bincang, atau lebih tepat lagi, Cu Goan Ciang mendengarkan penjelasan

mereka tentang keadaann Hwa I Kaipang dan perjuangan perkumpulan itu.

Hwa I Kaipang merupakan perkumpulan pengemis terbesar di seluruh wilayah Nan-kiang. Akan

tetapi karena kaipang ini jelas anti pemerintah Mongol, bahkan beberapa kali menyerang markas

pasukan pemerinta dan membunuh banyak tentara dan perwira, tentu saja perkumpulan ini

dinyatakan sebagai perkumpulan pemberontak oleh pemerintah. Pasukan keamanan mengadakan

pembersihan dari para anggota Hwa I Kaipang. Penangkapan dilakukan terhadap para pengemis baju

kembang. Hwa I Kaipang melakukan perlawanan, akan tetapi pasukan keamanan terlampau kuat

sehingga banyak di antara mereka yang gugur, termasuk ayah dan ibu Yen Yen yang tadinya menjadi

tokoh terkemuka dari perkumpulan itu. Karena dimusuhi pemerintah dan dicap sebagai pemberontak

maka tentu saja perkumpulan itu tidak lagi berani mempunyai rumah perkumpulan yang terang.

Mereka tidak mempunyai markas tertentu, dan para anggotanya juga tidak lagi diharuskan memakai

pakaian kembang kecuali kalau mereka mengadakan pertemuan rapat di suatu tempat yang

ditentukan. Mereka tinggal di kuil-kuil tua, di gubuk-gubuk dan pondok darurat yang mereka dirikan

di dalam hutan-hutan, bahkan tinggal di gua-gua. Akan tetapi, pemimpin besar mereka, Pek Mau

Lokai Tang Ku It, walaupun usianya sudah enam puluh lima tahun, tidak pernah turun semangat. Dia

tetap memimpin para anggota Hwa I Kaipang, bahkan berusaha memperkenalkan perkumpulannya dan

kadang-kadang masih memimpin anak buahnya untuk menentang para pembesar Mongol. Karena

dikejar-kejar dan tentu ditangkap kalau ketahuan oleh petugas ada pengemis yang memakai pakaian

berkembang, maka para anggota tidak berani memakai pakaian seperti itu. Yang masih tetap berani

hanyalah para pemimpinnya saja, terutama Pek Mau Lokai sendiri, Tang Hui Yen atau Yen Yen, dan

tiga orang ketua cabang. Mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi maka mereka berani menempuh

bahaya itu.

“Berapakah jumlah anggota Hwa I Kaipang?” tanya Siauw Cu, hatinya tertarik sekali dan kagum

mendengar bahwa para pengemis, justeru orang-orang yang paling miskin, memiliki semangat begitu

besar dan keberanian yang luar biasa untuk menantang pemerintah penjajah yang amat kuat.

“Kalau dikumpulkan seluruhnya dari wilayah empat penjuru, anggota kita tidak kurang dari seribu

orang,” kata Pek Mau Lokai.

 

Siauw Cu terkejut. “Ah, kalau begitu besar juga kekuatan Hwa I Kaipang. Apakah semua pengemis

di wilayah ini menjadi anggotanya? Dan bagaimana dengan para pengemis yang mengeroyok kita di

kuil itu?”

Pek Mau Lokai menghela napas panjang. “Aihh, itulah yang merisaukan hati dan mendatangkan

penasaran. Di wilayah Nan-king terdapat banyak kelompok pengemis yang mempunyai perkumpulan

masing-masing. Hal ini tidak mengapa karena mereka adalah rekan-rekan sependeritaan kami. Akan

tetapi yang paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa ada perkumpulan pengemis yang cukup

besar telah menjadi antek Mongol, bahkan mereka memusuhi kami. Kalau tadinya, di antara para

kaipang terdapat persaingan biasa, akan tetapi yang dilakukan perkumpulan pengemis yang telah

menjadi pengkhianat bangsa itu bukan persaingan, melainkan mereka diperalat oleh orang-orang

Mongol untuk menumpas kami. Mereka adalah Hek I Kaipang (Pengemis Baju Hitam).”

Siauw Cu menggeleng-geleng kepalanya. “Sungguh aku tidak mengerti bagaimana mungkin ada

sekelompok pengemis yang mau menjadi antek Mongol? Bukankah mereka itu sampai hidup melarat

karena akibat penindasan kaum penjajah? Sepatutnya mereka itu menentang penjajah, bukan

menentang saudara sependeritaan, apa lagi sama-sama anggota kaipang.”

Ketua Hwa I Kaipang tertawa. “Di dunia ini, kekuasaan apa yang mampu menandingi kekuasaan

emas dan perak? Sebagian besar manusia diperbudak oleh harta benda karena mereka mengira

bahwa dengan harta benda merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kesenangan. Mereka

menganggap bahwa dengan harta benda, mereka dapat memenuhi semua keinginan mereka. Oleh

karena itu, mereka silau oleh mengkilapnya emas dan perak dan mau melakukan apa saja demi

memperoleh harta.”

Siauw Cu terkenang akan kehidupan orang tuanya. Mereka, ayah ibunya, dan banyak lagi penduduk

desanya, bahkan kemudian dia tahu bahwa banyak lagi yang senasih di seluruh negara, mati karena

sakit, karena kelaparan. Kalau mereka memiliki harta benda, tentu tidak akan mati kelaparan!

“Maaf, lo-cian-pwe. Bukankah manusia hidup ini memang tidak mungkin ditinggalkan harta benda?

Bahkan untuk makan saja, untuk mempertahankan hidup, untuk sandang dan untuk tempat tinggal,

kita membutuhkan harta benda.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hai itu memang benar dan tidak dapat disangkal pula. Akan tetapi

kalau orang mengejar harta benda,maka pengejaran itu mempeerbudaknya, dan dia akan mengejar

dengan cara apa saja untuk mendapatkannya.. Tidak dapat disangkal bahwa hidup ini membutuhkan

harta benda, akan tetapi apakah hanya harta yang menjadi syarat utama untuk dapt hidup senang?

Siauw Cu, coba bayangkan, engkau memiliki harta benda yang paling banyak di antara seluruh

manusia di dunia ini, akan tetapi tubuhmu tidak sehat, engkau sakit dan tak dapat turun dari

pembaringan, tak dapat menikmati apa saja karena tubuhmu menderita sakit dan setiap saat disiksa

nyeri. Dalam keadaan seperti itu, apakah harta bendamu yang berlimpah itu dapat melenyapkan

kesengsaraanmu?”

“Ah, tentu saja tidak, lo-cian-pwe. Akan tetapi, kalau kita memiliki harta benda, kita dapat

mencari obat dan mengundang tabib yang paling mahal sekalipun. Sebaliknya, kalau kita melarat, lalu

jatuh sakit, untuk membeli obatpun tidak mampu.” Siauw Cu membantah karena dia yang sejak kecil

mengalami kemiskinan tahu benar akan kesengsaraan itu.

Kakek itu mengangguk. “Ada benarnya kata-katamu itu, walaupun belum tentu tabib itu pandai dan

obat mahal dapat menyembuhkan seseorang, apa lagi menahan nyawanya di badan dan kalau memang

sudah tiba saatnya nyawa itu harus kembali ke asalnya. Sekarang, katakanlah engkau kaya raya dan

sehat badanmu, akan tetapi bagaimana kalau keluargamu yang sakit? Bagaimana pula kalau terjadi

pertentangan dan percekcokan di dalam keluargamu? Bagaimana pula kalau terjadi pertentangan

antara engkau dan tetanggamu, masyarakatmu? Bagaimana kalau harta bendamu dirampas orang,

engkau terancam kehilangan harta bendamu? Bagaimana kalau usia tua menggerumutimu, dan kalau

kematian datang menjemput?”

 

Siauw Cu tertegun. “Aih, kalau diingat tentang banyaknya persoalan dan kesulitan yang kita dapat

hadapi sewaktu-waktu dalam hidup, memang harta benda nampak tidak ada artinya, lo-cian-pwe.

Apakah kalau begitu kita tidak perlu dengan harta?”

“Ha-ha-ha, tentu saja kita memerlukan harta, Siauw Cu, karena harta merupakan satu di antara

kepentingan kita untuk dapat hidup layak di dunia ini, bahkan untuk dapat hidup wajar dan

menikmati hidup. Hanya satu di antaranya, bukan kepentingan tunggal. Ingat ini! Siapa yang hanya

mementingkan harta, mengira bahwa harta merupakan satu-satunya kebutuhan kita dalam kehidupan

ini, dia akan kecelik, bahkan menyesal. Hidup merupakan suatu keadaan yang memiliki banyak macam

kebutuhan, di antaranya harta, kesehatan, kerukunan dalam keluarga, kerukunan dalam masyarakat,

dan banyak lagi. Selama nafsu menguasai diri kita, maka kita akan selalu mengejar kesenangan, lupa

akan kebutuhan yang lain sehingga terjadi pertentangan dalam batin sendiri karena banyaknya

kebutuhan yang saling bertabrakan. Seperti halnya para pimpinan Hek I Kaipang, karena mereka

hanya mementingkan harta, maka mereka lupa diri dan rela mengkhianati bangsa sendiri, menjadi

penjilat penjajah Mongol dan mau memusuhi golongan dan bangsa sendiri.”

Siauw Cu mengangguk, mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu. “Apakah yang menyeleweng

dalam Hek I Kaipang hanya pimpinannya, lo-cian-pwe?”

Pek Mau Lokai menoleh kepada tiga orang muridnya dan berkata, “Kalian beri gambaran yang jelas

kepada Siauw Cu, tentang keadaan kita, tentang perjuangan kita, tentang keadaan pihak musuh. Aku

ingin beristirahat,” katanya dan diapun memasuki gua itu ke bagian dalam di mana terdapat ruangan

yang menjadi kamarnya.

Lee Ti, Pouw Sen, dan Kauw Bok, tiga orang ketua cabang itu, lalu memberi penjelasan kepada

Siauw Cu yang didengarkan oleh pemuda itu dengan penuh perhatian.

Dahulu, Hek I Kaipang merupakan rekan seperjuangan dari Hwa I Kaipang. Apalagi karena ketua

Hek I Kaipang masih terhitung murid keponakan Pek Mau Lokai sendiri. Akan tetapi dua tahun yang

lalu, ketua Hek I Kaipang itu gugur ketika bertempur melawan pasukan pemerintah dan semenjak

itu, ketuanya yang baru membawa Hek I Kaipang menyeleweng dan menjadi antek pemerinta

penjajah Mongol.

“Ketua Hek I Kaipang semenjak dua tahun yang lalu bernama Coa Kun dan terkenal dengan julukan

Twa-sin-to (Golok Besar Sakti). Dialah yang menguasai Hek I Kaipang dan sejak itu dia menjadi

ketua dua tahun yang lalu, perkumpulan itu merajalela karena tidak dimusuhi pemerintah, bahkan

menjadi sekutu atau anteknya. Ilmu kepandaian Coa-pangcu itu lihai, terutama sekali ilmu goloknya.

Akan tetapi, selihai-lihainya, kami masih mampu menandinginya. Hanya ilmu kepandaian puterinya

yang amat hebat. Bahkan Yen Yen sendiri pernah bentrok dengannya, dan Yen Yen nyaris celaka di

tangan puteri Coa-pangcu yang bernama Coa Leng Si itu.”

Tiga orang itu melanjutkan penjelasan mereka. Sejak Hwa I Kaipang menjadi buronan pemerintah,

tidak pernah ada lagi ada beberapa bentrokan langsung antara Hwa I Kaipang dan Hek I Kaipang,

walaupun Hek I Kaipang selalu membantu pasukan pemerintah. Seperti telah dialami sendiri oleh

Siauw Cu, ketika dia dan Pek Mau Lokai dikeroyok pasukan pemerintah, beberapa orang anggota Hek

I Kaipang ikut pula mengeroyok. Karena menjadi antek pemerintah Mongol, tentu saja pimpinan Hek

I Kaipang memiliki hubungan dekat dengan pejabat pemerintah, baik sipil maupun militer.

Demikianlah, Siauw Cu menerima penjelasan dari tiga orang ketua cabang sehingga dia tahu benar

keadaan Hwa I Kaipang dan keadaan perjuangannya, juga keadaan kota Nan-king dan siapa-siapa

yang dapat dianggap kawan seperjuangan, dan siapa lawan.

Setelah para pimpinan Hwa I Kaipang berkumpul makan malam dalam gua besar itu, mengelilingi

meja rendah dan duduk di lantai, barulah Siauw Cu bertemu dengan Yen Yen. Gadis itu bersikap

biasa saja, tersenyum dan mengangguk kepadanya seolah-olah mereka sudah lama menjadi rekan dan

tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Hanya kakeknya dan tiga orang ketua cabang itu

yang diam-diam merasa geli karena mereka melihat perubahan besar pada diri gadis itu. Biasanya,

Yen Yen berpenampilan sederhana, akan tetapi malam ini, dara itu mengenakan pakaian baru,

rambutnya disisir rapi, dan terutama sekali kalau tadinya dia lincah jenaka dan galak, periang, kini

 

mendadak saja ia menjadi pendiam. Tawanya yang bisana meledak bebas itu kini lenyap dan yang

berbekas dari kelincahan dan kejenakaannya hanya tinggal senyumnya yang manis itu! Mereka semua

tahu bahwa perubahan ini tentu karena kehadiran Siauw Cu!

Setelah makan malam, mereka duduk bercakap-cakap, dan sekali ini dihadiri pula oleh Yen Yen.

Dalam percakapan inilah Siauw Cu mengemukakan pendapat dan usulnya.

“Kukira, cara perjuangan kita harus diubah.”katanya. “Penyerangan terhadap pasukan pemerintah

merupakan perbuatan berbahaya yang akan menjatuhkan korban di pihak kita. Kita perlu

menghimpun tenaga dan bersatu dengan rakyat. Tanpa bantuan rakyat, perjuangan kita takkan

mungkin berhasil. Sebaiknya kalau kita mulai dari dusun-dusun. Kita baru menyergap kalau ada

pasukan kecil yang terpencil sehingga kita yakin bahwa tidak akan ada anggota kita yang menjadi

korban. Penyerangan ke kota harus dihentikan dan tunggu kalau sampai kekuatan kita lebih besar

dari pada pasukan keamanan, baru kita melalukan penyerangan. Dan terutama sekali, kita harus

bersatu dengan kelompok pejuang lainnya. Bahkan kalau mungkin, kita harus mendekati Hek I

Kaipang dan membujuk agar mereka kembali ke jalan suci perjuangan menentang penjajah dan

membebaskan rakyat dari penindasan.”

Pek Mau Lokai mengangguk-angguk. Pouw Sen, ketua tinggi kurus muka putih yang memimpin

cabang di timur berkata dengan nada memrotes, “Akan tetapi, kalau kita menghentikan serbuanserbuan

kita, berarti perjuangan kita mundur. Kita harus selalu ganggu dan kacaukan kedamaian di

kota agar pemerintah penjajah selalu terpukul karena hal ini akan melemahkan mereka dan akan

mengingatkan mereka bahwa para pejuang takkan pernah berhenti menentang mereka!”

“Pouw-pangcu benar, akan tetapi perjuangan bukan berarti dengan nekat menyerang dan mati

konyol, mengorbankan banyak teman. Apa hasilnya? Apa artinya membunuh beberapa orang perwira

dan beberapa puluh atau ratus tentara penjajah? Mereka dapat memperoleh penggantinya dalam

sehari, bahkan lebih banyak lagi. Kita harus bekerja dengan berencana, dengan siasat bagaimana

agar dapat merugikan dan melemahkan musuh dengan korban sedikit mungkin di pihak kita,” kata

Siauw Cu penuh semangat. “Kita harus mengikutsertakan rakyat sebanyak mungkin. Barulah

perjuangan kita ada artinya dan lebih banyak harapan untuk dapat berhasil.”

“Aku setuju dengan pendapat Cu-sicu! Memang selama ini kita hanya mengandalkan keberanian

saja tanpa menggunakan perhitungan. Buktinya, sudah banyak di andtara kita yang tewas, bahkan

ayah ibuku sendiri tewas, akan tetapi apa hasilnya? Begini-begini saja, bahkan kita menjadi orangorang

buronan yang tidak berani tampil terang-terangan. Kalau tidak diubah siasat kita seperti yang

diusulkan Cu-sicu, kita tidak akan mendapatkan kemajuan setapakpun, bahkan mundur,” kata Yen

Yen penuh semangat pula, terang-terangan menyokong pendapat pemuda itu.

Pek Mau Lokai tersenyum. “Aihh, sekarang aku baru merasakan betapa aku sudah terlalu tua

untuk perjuangan. Pendapat dan siasatku ketinggalan jaman! Memang benar pendapat Siauw Cu yang

didukung oleh Yen Yen. Nah mulai hari ini, aku wakilkan kepemimpinanku kepada Yen Yen dan Siauw

Cu yang menjadi pembantu dan pendampingnya. Aku hanya akan menjadi penasihat saja. Aku sudah

terlalu tua dan kurang semangat, aku khawatir kalau kulanjutkan memimpin langsung, Hwa I Kaipang

akan menjadi semakin lemah.”

Tiga orang ketua cabang tidak menentang keputusan itu karena merasa tua sudah melihat

kelihaian Siauw Cu. Hanya diam-diam mereka meragukan kepemimpinan pemuda yang kurang

pengalaman itu. Bagaimana pemuda itu akan mengatur untuk mendapatkan biaya bagi seluruh

anggotanya yang semua berjumlah seribu orang lebih itu?

Semua anggota yang berkumpul di tempat itu, yaitu mereka yang oleh kelompok kecil masingmasing

diangkat sebagai wakil dan jumlahnya di tempat itu tidak kurang dari seratus orang,

dikumpulkan dan malam itu juga, Pek Mau Lokai mengumumkan keputusannya, yaitu bahwa mulai

malam itu, dia menunjuk cucunya, Tang Hui Yen mewakili dia sebagai ketua umum, sedangkan Cu

Goan Ciang diangkat menjadi pembantu utama. Tiga orang ketua cabang masih tetap menjadi ketua

cabang masing-masing. Bukit penuh gua itu akan segera ditinggalkan malam itu juga dan akan tetap

menjadi tempat pertemuan berkala. Masing-masing kelompok harus memberitahu tempat

 

persembunyian masing-masing kepada ketua cabang yang berdekatan sehingga mudah mengadakan

saling hubungan. Juga ketua dan kedua wakilnya akan selalu mengadakan kontak dengan tiga ketua

cabang agar mereka dapat saling berhubungan. Ketika Pek Mau Lokai mengumumkan keputusannya,

Cu Goan Ciang yang berdiri dekat Yen Yen membisiki gadis itu yang mengangguk-angguk. Setelah

kakeknya selesai dengan pengumumannya, ia lalu mengangkat kedua tangan minta perhatian.

“Ketiga paman, pangcu dari timur, barat, dan selatan, juga semua saudara yang mewakili kelompok

masing-masing! Sebagai pimpinan yang ditunjuk dan mewakili ketua umum, kami membuat

pengumuman dan peraturan pertama yang harus dilaksanakan oleh setiap orang anggota. Mulai

sekarang, mengingat bahwa kita semua menjadi orang buronan, juga mengingat bahwa seringkali

pihak musuh menyamar sebagai anggota kita dengan pakaian berkembang, maka kita semua harus

meninggalkan kebiasaan mengenakan pakaian berkembang.”

Terdengar suara protes di sana-sini, bahkan tiga orang ketua cabang itupun tidak setuju.

“Lalu apa artinya nama perkumpulan kita Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang)

kalau kita tidak boleh mengenakan pakaian berkembang?” terdengar Pouw Sen, ketua cabang dari

timur dan semua anggota mendukung pertanyaan ini.

“Kita tetap anggota Hwa I Kaipang! Itu adalah nama perkumpulan kita. Bukankah sekarangpun

banyak anggota kita terpaksa tidak mengenakan pakaian berkembang agar tidak dikejar-kejar

petugas keamanan? Maksudku bukan untuk menghapus nama perkumpulan kita, melainkan sementara

ini, demi keselamatan kita tanggalkan dulu pakaian berkembang itu. Siapa yang merasa sayang, boleh

memakia pakaian berkembang sebelah dalam dan ditutup dengan pakaian biasa! Pula, yang penting

bukan pakaiannya, melainkan semangatnya, bukan?”

“Akan tetapi, bagaimana kita dapat saling mengenal tanpa pakaian seperti itu?” bantah pula Kauw

Bo ketua cabang selatan dan kembali semua anggota mendukung pertanyaan ini.

Yen Yen mengangkat kedua tangan dan semua orang diam mendengarkan. “Aku sudah memikirkan

hal itu. Mulai sekarang, kita boleh mengenakan pakaian apa saja asal jangan tambal-tambalan dana

berkembang seperti yang biasa kita pakai. Kita mengenakan pakaian biasa, polos akan tetapi harus

ada sulaman setangkai bunga di baju kita, di bagian mana saja dari baju kita karena itu hanya

merupakan tanda bagi sesama anggota. Atau boleh juga mengantungi setangkai bunga dan

memperlihatkan bunga itu kepada sesama anggota sebagai tanda pengenal, ditambah lagi dengan

cara penghormatan atau salam seperti ini.” Yen Yen memberi contoh, merangkap kedua tangan

dikepal di depan dada seperti penghormatan biasa, akan tetapi begitu kedua tangan yang dikepal itu

menempel di dada, tangan kiri yang tadinya mengepal tangan kanan itu dibuka atau dikembangkan

jari-jarinya ke atas, lalu ditutup kembali.

“Nah, mengertikah kalian dan apakah masih ada keberatan lainnya?”

Tidak ada yang menyatakan keberatan lagi setelah mereka mengerti apa yang dimaksudkan Yen

Yen. Mereka semua tidak merasa asing kalau kini Yen Yen mewakili kakeknya, karena biasanya ia

memang seringkali mewakili kakeknya dalam banyak hal, hanya biasanya belum diresmikan oleh ketua

Hwa I Kaipang.

Pek Mau Lokai menyatakan pertemuan itu selesai karena semua laporan telah diterima sebelum

Siauw Cu datang ke tempat itu, dan semua orang bubaran, meninggalkan tempat itu yang menjadi

sepi. Tinggal Pek Mau Lokai, Yen Yen dan Siauw Cu bertiga saja.

“Nah, sekarang akupun akan pergi. Yen Yen mulai sekarang tanggung jawabmu besar. Berhatihatilah

dan cepat engkau cari aku kalau menemui kesulitan. Jangan memusuhi Hek I Kaipang secara

terbuka. Mereka berbahaya. Sebaiknya, setelah kini ada Siauw Cu yang membantumu, segala hal

kaurundingkan dengan dia. Engkau tahu ke mana harus mencariku, bukan?”

“Baik, kek. Aku tahu dan jangan khawatir, aku akan selalu berhati-hati seperti yang selalu kakek

ajarkan.”

“Sukurlah, dan engkau masih kurang matang dalam ilmu Hok-mo tung-hoat (Silat Tongkat

Penakluk Iblis) itu. Engkau dapat mematangkannya dengan berlatih melawan Siauw Cu. Nah, selamat

tinggal. Siauw Cu, bantulah Yen Yen. Sampai jumpa.”

 

Siauw Cu cepat mengangkat kedua tangan ke depan memberi hormat dan teringat akan pesan Yen

Yen tadi, dia mengembangkan tangan kiri yang terkepal itu sebentar, lalu mengepalnya kembali. Pek

Mau Lokai tertawa. “Ha-ha-ha, bagus, bagus! Tanda sebagai isarat antar anggota itu bagus sekali.”

Sambil masih tertawa gembira kakek itu pergi dengan gerakan yang cepat sehingga sebentar saja

dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Tinggal Yen Yen dan Siauw Cu yang masih berdiri

berhadapan. Satu-satunya penerangan di situ hanya dua buah lilin besar yang berada di dinding gua.

“Heran, mengapa kita harus begini tergesa-gesa, malam-malan meninggalkan tempat ini? Apa lagi

kakekmu yang sudah tua, kasihan dia pergi malam-malam……”

“Begini, Cu-sicu….”

“Ahh, setelah kita menjadi rekan, perlukah engkau menyebut aku sicu (orang gagah) lagi, nona?”

“Hemm, dan engkau juga menyebutku nona!”

Siauw Cu menyadari kesalahannya. “Aku lebih tua darimu, sebaiknya kusebut engkau Yen-moi

(adik Yen).”

“Dan engkau kupanggil Cu-toako (kakak Cu). Nah, begini, toako, menurut laporan penyelidik kita,

mungkin sekali malam ini mereka akan menyerbu tempat ini. Berbahaya sekali kalau kita tidak pergi

sekarang!”

“Mereka? Kaumaksudkan….”

“Siapa lagi kalau bukan orang-orang Hek I Kaipang jahanam itu! Dan mereka tentu membawa

majikan mereka, pasukan Mongol. Penyelidik kita sore tadi melihat bayangan orang berkelebat di

bawah, mencurigakan sekali. Maka, kami lalu mengambil keputusan untuk cepat pergi agar jangan

terkepung. Nah, mari kita pergi sekarang sebelum terlambat. Kita dapat bicara dalam perjalanan

nanti.” Gadis itu memasuki gua dan mengambil sebuah buntalan pakaian. Kiranya dara ini sudah siap.

Setelah meniup padam dua batang lilin, Yen Yen melangkah keluar dan Cu Goan Ciang

mengikutinya. Gadis itu lebih hafal jalan di situ. Malam hanya diterangi bintang-bintang saja, kalau

tidak hafal benar jalan di daerah itu, orang dapat saja tersesat atau bahkan tergelincir ke dalam

jurang.

Baru setengah jam mereka menuruni lereng bukit yang berbatu-batu dan mempunyai banyak gua

itu, tiba-tiba mereka mendengar suara gaduh dari depan. Yen Yen dan Siauw Cu dapat menyelinap

dan bersembunyi di balik semak belukar, mengintai keluar! Nampak sinar obor dan bermunculan

puluhan orang dari bawah, orang-orang yang memegang obor dan senjata tajam, jelas di bawah sinar

api itu nampak orang-orang berpakaian perajurit dan mereka berpakaian tambal-tambalan serba

hitam. Tentara kerajaan Mongol dan orang-orang Hek I Kaipang! Tiba-tiba Yen Yen mencengkeram

lengan kiri Cu Goan Ciang. Pemuda ini terkejut dan menoleh. Dia melihat gadis itu tidak memandang

kepadanya, melainkan ke depan agak kana. Dia mengikuti pandang mata itu dan alisnya berkerut.

Jelas nampak seorang yang pakaiannya kembang-kembang! Anggota pengemis baju kembang! Dan

agaknya Yen Yen mengenal orang itu. Sepasang mata gadis itu mencorong mengeluarkan sinar dan

mulutnya terkatup tanda bahwa ia menahan kemarahan. Kemudian, tiba-tiba tangan kiri gadis ituu

bergerak ketika si baju kembang lewat dalam jarak terdekat dari tempat persembunyian mereka.

Terdengar pekik, lalu gaduh, dan Yen Yen sudah menarik tangannya, diajak menyusup pergi

meninggalkan tempat itu. Mereka terus berlari menyusup-nyusup, makin jauh meninggalkan lereng

bukit dan suara gaduh itu semakin tak terdengar, juga sinar obor itu di tangan banyak orang itu

makin tak nampak.

Mereka berlari terus dan menjelang pagi, Yen Yen baru mengajak Siauw Cu berhenti di dalam

sebuah gubuk di tepi sungai kecil. Tempat itu sunyi sekali dan agaknya gubuk ini memang merupakan

tempat yang sudah amat dikenalnya. Gubuk itu nampak reyot dan tua, namun ketika mereka berdua

masuk, ternyata rangkanya terbuat dari kayu yang kuat. Jelas ini sengaja dibuat oleh orang-orang

Hwa I Kaipang untuk tempat istirahat atau sembunyi atau bermalam kalau perlu. Dalamnya kosong,

akan tetapi di lantai terdapat banyak jerami yang bersih.

“Semalam kita tidak tidur. Kita harus tidur dulu melepas lelah dan mengumpulkan tenaga,” kata

Yen Yen.

 

Cu Goan Ciang memandang aneh. “Ti….tiduar…?” tanyanya sambil memandang ke arah tumpukan

jerami.

Gadis itu tertawa, tawanya bebas mengingatkan Goan Ciang kepada kakek Pek Mau Lokai, akan

tetapi wajah gadis itu kemerahan, hal yang diketahui oleh pemilik wajah itu sendiri karena terasa

mukanya panas dan jantungnya berdebar.

“Hushhh, maksudku, tidak tidur bergantian. Aku tidur dulu engkau berjaga di luar, nanti setelah

aku terbangun, engkau mendapat giliran tidur dan aku yang berjaga di luar. Nah, keluarlah, aku mau

tidur.” Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menjatuhkan diri, rebah miring di atas tumpukan

jerami! Goan Ciang melangkah keluar.

“Yen-moi dari sini kita akan ke mana….!” dari luar dia bertanya.

“Bukan waktunya bicara. Aku mau tidur, perlu beristirahat. Besok setelah kita memulihkan tenaga

kita bicara sepuasnya!” kata Yen Yen dan iapun tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Diam-diam Goan

Ciang tersenyum. Gadis ini luar biasa, pikirnya dan diapun teringat kepada Lee Siang. Teringat akan

gadis kekasihnya itu, wajahnya menjadi muram dan alisnya berkerut. Akan tetapi, dia mengepal

tinju. Tidak! Aku tidak boleh menjadi laki-laki cengeng! Aku harus mengalahkan semua kelemahan i

ni, pikirnya. Dia bercita-cita besar, apa akan jadinya dengan cita-citanya kalau urusan kematian

kekasih saja membuat dia terkulai lemas? Dan apa gunanya disusahkan? Dia harus berani

menghadapi kenyataan. Lee Siang sudah me ninggal dunia dan agaknya itulah yang terbaik bagi Lee

Siang. Kalau ia masih hiduppun, aib dan penghinaan itu akan menghantui kehidupan selanjutnya, akan

selalu merasa hina, rendah, kotor. Dia mengenal watak Lee Siang yang gagah dan keras. Banyak

persamaan Yen Yen dengan Lee Siang. Hanya bedanya, Yen Yen benar-benar keras seperti baja,

sedangkan Lee Siang masih memiliki kelemahan, yaitu amat setia dan penurut terhadap sucinya pada

hal sucinya adalah seorang wanita yang amat kejam dan jahat. Lega hatinya kalau mengingat betapa

dia telah membuntungi sebelah lengan Liu Bi. Setidaknya dia sudah dapat sedikit membalas

kematian Lee Siang. Akan tetapi, tidak perlu berpikir tentang urusan pribadi, demikian dia mencela

diri sendiri. Dia teringat akan percakapannya dengan Pek-mou Lo-kai. Memang, kalau dia benarbenar

hendak berjuang, dia harus mengesampingkan semua urusan pribadi, mementingkan urusan

perjuangan. Dan dia akan berjuang sekuat tenaga, demi….demi apa? Mulutnya tentu akan mudah

mengatakan demi tanah air dan bangsa, membebaskan mereka dari cengkeraman penjajah! Akan

tetapi ada bisikan di hatinya yang sesungguhnya amat dibencinya. Bisikan liirih itu berkata bahwa

dia berjuang demi mencapai puncak kekuasaan! Dia akan menunjukkan kepada dunia bahwa dia, anak

dusun yang yatim piatu dan miskin, gelandangan yang tidak mempunyai rumah, dia dapat menjadi

orang yang paling hebat di dunia ini, paling berkuasa! Dia berpegang kepada cita-cita ini, melekat

dengan cita-cita ini sehingga dia dengan mudah dapat melupakan Lee Siang dan yang lain-lain.

Biarlah Lee Siang mati sebagai pupuk bagi tercapainya cita-cita! Dan diapun duduk bersila di luar

gubug itu, tidak berani tidur sama sekali, melainkan waspada menjaga kalau-kalau ada ancaman

bahaya bagi mereka, yaitu dia dan Yen Yen.

Matahari mulai memuntahkan cahanya, menggugah ayam-ayam jantan dan burung-burung yang

berkeruyuk dan berkicau dengan gembira menyambut datangnya fajar. Sudah kurang lebih dua jam

Yen Yen tidur dan mendengar keruyuk ayam jago, dara yang peka inipun terbangun. Ia bangkit

duduk, menggeliat, menguap, lalu meraih buntalan pakaian yang tadi ia pergunakan sebagai bantal,

lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar.

Mendengar langkah lembut itu, Goan Ciang menoleh dan melihat Yen Yen yang rambutnya masih

awut-awutan, namun kebetulan ia berdiri menghadap ke timur sehingga cahaya kemerahan jatuh ke

mukanya, membuat ia nampak cantik jelita seperti dewi pagi, Goan Ciang memandang terpesona.

Akan tetapi, cepat dia dapat menekan perasaannya dan bangkit berdiri.

“Kau sudah bangun?”

Yen Yen mengangguk, sebetulnya masih merasa sayang meninggalkan jerami empuk dan hangat itu,

akan tetapi ia berkata, “Sekarang giliranmu tidur, aku berjaga di luar.”

“Tapi aku…..”

 

“Sudahlah, cepat tidur, pulihkan tenagamu, mungkin kita memerlukannya nanti.”

Goan Ciang tersenyum mendengar nada memerintah dalam ucapan itu dan seperti seekor anak

domba penurut, diapun memasuki gubuk, diikuti pandang mata gadis itu yang tersenyum.

Ketika tiga jam kemudian gadis itu menggugahnya dengan panggilan dari luar, Goan Ciang

terbangun.

“Cu-toako, bangun! Sudah siang, engkau sudah cukup tidur! Kita harus melanjutkan perjalanan

kita!” Agaknya sudah berkali-kali gadis itu memanggilnya sehingga dalam suara itu terkandung nada

jengkel.

“Baik, aku sudah terbangun!” kata Goan Ciang, menggeliat dengan enaknya mengurisr semua rasa

lelah dan pegal-pegal pada sendi-sendi tulangnya. Dia menggosok-gosok kedua matanya dengan

punggung tangan, lalu merapikan rambutnya dengan kedua tangan, bangkit berdiri dan melangkah

keluar.

Begitu tiba di luar, dia terkejut bukan main. Tidak nampak Yen Yen di situ, melainkan seorang

pemuda remaja yang pakaiannya seperti pemuda petani desa, pakaian butut dan muka serta

tangannya tidak bersih, kepalanya tertutup caping petani butut pula.

“Heiii! Siapa engkau dan di mana nona yang tadi duduk di sini?” bentak Cu Goan Ciang, siap untuk

menyerang karena dalam keadaan seperti itu, kecurigaan telah mencengkeram hatinya.

Pemuda remaja yang seperti petani lugu itu nampak ketakutan, membungkuk-bungkuk dan berkata

suara gemetar, “Jangan marah, tuan….”

“Cepat katakan siapa engkau dan di mana nona tadi, atau….akan kuhajar engkau! Cepat jawab!!”

Melihat orang itu ketakutan, kecurigaan hati Goan Ciang menjadi-jadi sehingga dia menggertaknya

agar cepat mengaku karena dia khawatir telah terjadi sesuatu dengan Yen Yen.

Pemuda itu menjadi semakin takut mendengar ancaman Goan Ciang. Dia menjatuhkan diri

berlutut. “Ampun, kongcu, ampun tai-hiap….harap jangan pukul saya….ampun…..”

“Tolol, cepat jawab, pertanyaanku tadi!” Goan Ciang membentak dengan marah.

“Nona…nona tadi telah pergi dan meninggalkan pesan untuk saya katakan kepadamu…”

“Hayo katakan, apa pesan itu!” bentak pula Goan Ciang tak sabar lagi.

“Pesan nona adalah bahwa matahari telah naik tinggi akan tetapi kalau tidak dibangunkan, taihiap

belum bangun itu tandanya taihiap malas, dan taihiap tidak mengenalnya, itu tandanya taihiap

bodoh!”

“Hah….??” Goan Ciang marah sekali dan maju hendak memukul, akan tetapi dengan gerakan kilat,

pemuda dusun itu sudah menyerangnya lebih dahulu dengan sebatang tongkat!”

“Ehhh….??” Goan Ciang cepat mengelak, akan tetapi tongkat itu menyerangnya bertubi-tubi

dengan gerakan yang amat dahsyat, dan dia segera mengenal ilmu tongkat yang hebat itu. Itulah

ilmu tongkat yang kemarin dimainkan oleh Yen Yen untuk menyerangnya! Diapun cepat memainkan

Sin tiauw wu ciang hota untuk melindunginya, danbaru setelah dia memainkan ilmu ini, pemuda dusun

itu terdesak dan akhirnya meloncat ke belakang, agak terhuyung.

“Kenapa engkau menyerangku? Siapa engkau?” tanyanya, mengira bahwa pemuda ini tentu seorang

murid lain dari Pek Mau Lokai yang lihai sekali, tidak kalah lihai dibandingkan Yen Yen.

“Hemm, bukankah kakek memsan kepadaku agar mengajakmu berlatih untuk kemajuan ilmuku?”

terdengar suara Yen Yen dan Goan Ciang kini terbelalak memandang pemuda remaja itu yang

tertawa lepas di depannya, tawa khas Yen Yen!

“Yen-moi! Kau…? Ih, apa-apaan engkau ini? Menyamar seperti ini dan mempermainkan aku….”

“Toako, aku telah dikenal banyak orang, kalau tidak menyamar tentu dalam waktu setengah hari

saja memasuki sebuah dusun atau kota aku akan dikenal dan ditangkap. Dan aku tidak

mempermainkanmu, hanya untuk menguji apakah penyamaranku cukup baik.”

“Wah, baik sekali, Yen-moi. Sungguh mati, sedikitpun aku tidak pernah mengira bahwa engkaulah

pemuda remaja dusun yang ketolol-tololan dan penakut ini! Engkau memang hebat!”

“Pemuda” yang nampak masih muda sekali itu tertawa. “Sudah, simpan pujianmu itu dan cepat

mandi. Di sana ada sumber air jernih dan ini aku membawakan pengganti pakaian untukmu.” Dari

 

buntelan pakaiannya, Yen Yen mengeluarkan satu stel pakaian berwarna biru terbuat dari kain yang

kuat dan bentuknya sederhana, seperti pakaian yang biasa dipakai orang dusun. Akan tetapi pakaian

itu bersih sekali.

Wajah Goan Ciang berubah kemerahan. “Aih, aku menyusahkanmu saja, Yen-moi. Akan tetapi, di

tempat sunyi ini, dari mana engkau bisa mendapatkan pengganti pakaian untukku?” Dia mengamati

wajah Yen Yen dan diam-diam merasa kagum dan geli. Setelah ini dia tahu bahwa ‘pemuda’ itu adalah

Yen Yen, maka dari muka yang nampak kotor itu, dia dapat mengenal wajah Yen Yen.

“Tentu saja tidak mungkin mendapatkan pakaian di sini! Aku memang sengaja membawanya,

kumintakan dari seorang di antara anggota kita yang kebetulan membawa bekal pakaian dan yang

bentuk tubuhnya sama denganmu. Sudahlah, cepat mandi dan berganti pakaian, kita harus

melanjutkan perjalanan.”

“Ke mana…..”

“Nanti saja! Mandi dulu!” kata Yen Yen dengan sikap seorang ibu membentak anaknya yang banyak

rewel.

Goan Ciang pergi ke sumber air yang memang airnya bening itu. Dia segera menanggalkan

pakaiannya dan mandi, menggosok-gosok bersih debu yang menempel di kulit tubuh bersama

keringat. Tangannya menggosok dengan batu halus, mulutnya bersiul dan matanya ber sinar-sinar,

hatinya merasa gembira bukan main. Tiba-tiba siulnya terhenti dan dia termenung. Betapa mudahnya

dia melupakan Lee Siang! Akan tetapi, segera dia mengusir penyesalan ini. Untuk apa berduka terus

mengenangkan seorang yang sudah mati? Tidak, masa depan yang harus dipandangnya, cita-citanya.

Masa lalu sudah mati dan lewat, tidak boleh mengganggu ketenteraman hatinya. Kini bukan lagi Lee

Siang yang harus dikenang, melainkan Yen Yen! Gadis inipun hebat, seperti Lee Siang, bahkan lebih

lagi. Dengan Yen Yen di sampingnya, dia akan mampu berbuat banyak! Diapun bersiul lagi dan

melanjutkan mandinya sehingga dia merasa segar lahir batin dan setelah mencuci pakaiannya, dia

kembali ke gubuk dengan pakaian bersih yang ukurannya pas dengan tubuhnya.

Yen Yen menyambutnya dengan perintah. Twako, duduklah di atas batu ini dan jangan bergerakgerak.”

Dengan heran Goan Ciang duduk dan melihat gadis itu menghampirinya dengan sebuah kotak

kecil di tangan. Ketika gadis itu berjongkok di depannya dan mengamati wajahnya dari jarak dekat

sehingga dia dapat merasakan hembusan napas gadis itu mengusap pipinya, dia semakin heran.

“Hemm, apa lagi ini, Yen-moi?” akhinrnya saking tak tahan untuk mengetahui, dia bertanya.

“Aku sedang mempelajari bentuk mukamu, apa kiranya yang paling menonjol dan mudah diingat

orang,” jawab Yen Yen. Goan Ciang tidak mengerti dan semakin heran, juga agak rikuh karena gadis

itu mengamati wajahnya seperti orang mengamati dan menilai sebuah benda yang aneh!”

“Apa sih maksudmu?” tanyanya, alisnya berkerut.

“Alismu! Benar, alismu mempunyai bentuk istimewa, harus diubah!”

“Apa? Apa maksudmu?”

“Toako, semua orang akan mengenalmu. Bahkan gambarmu dipasang di mana-mana sebagai seorang

buruan. Apakah engkau senang dengan keadaan ini? Kita tidak akan dapat bergerak dengan leluasa.

Engkaupun seperti aku, harus menyamar.”

“Hemm, itukah maksudmu! Kenapa tidak bilang sejak tadi? Akan tetapi, aku tidak pernah

menyamar dan….”

“Serahkan saja kepadaku. Bukankah engkau tadi tidak mengenalku? Aku ahli menyamar, dan kalau

aku sudah selesai dengan wajahmu, bahkan orang yang paling dekat denganmu tidak akan

mengenalmu lagi.”

“Kau hendak mencoreng moreng mukaku?”

“Tidak. Penyamaran dengan mencoreng moreng muka adalah penyamaran kasar dan bodoh, hanya

dilakukan para pemain wayang di panggung, dengan bedak tebal, gincu dan sebagainya. Nah, duduklah

diam. Aku akan mengubah sedikit bentuk alismu yang seperti bentuk golok itu.”

Goan Ciang maklum akan kebenaran pendapat Yen Yen. Memang dia akan dikenal orang di manamana

karena pemerintah Mongol telah memasang gambarnya sebagai seorang buronan. Dan dia tentu

 

tidak akan leluasa bergerak. Maka, diapun pasrah saja. Akan tetapi, melihat wajah gadis itu

demikian dekat dengan wajahnya, walaupun itu sudah seperti wajah seorang pemuda, membuat dia

merasa canggung dan untuk mengatasi getaran jantungnya, diapun memejamkan matanya. Dia tadi

melihat gadis itu mengambil alis mata palsu, dengan bulu rambut alis yang aseli, menggunakan

gunting dan merasa setelah dia memejamkan mata betapa gadis itu membongkar dan menambah

rambut alisnya, menggunakan semacam getah sebagai alat penempel. Bentuk alisnya diubah, mungkin

dipertebal dan diperpanjang.

“Alis tambahan ini akan melekat terus, biar kau gosok dan cuci dengan airpun tidak akan dapat

lepas, kecuali kalau kaucabuti. Itupun mungkin akan membuat kulinya terluka dan berdarah. Satusatunya

cara untuk melepas alis palsu itu adalah menggunakan semacam minyak jarak yang ada

padaku. Nah, sekarang giliran alismu sudah berubah. Matamu juga harus diubah bentuknya.”

Goan Ciang terkejut. “Ihh! Apakah mataku akan kausayat-sayat pelupuknya?”

Gadis itu tertawa dan Goan Ciang memejamkan mata lagi untuk melihat kilatan gigi putih seperti

mutiara berderet, ujung lidah yang merah dan rongga mulut yang lebih merah lagi.

“Tentu saja tidak! Matamu terlalu lebar, mudah diingat orang. Kalau ujungnya diberi sedikit

goresan, akan nampak sipit seperti mata orang kebanyakan.” Gadis itu kini menggunakan pena bulu

dengan semacam tinta hitam yang tidak dapat luntur, membuat garis di kedua tepi mata Goan Ciang.

Seperti seorang pelukis, ia membuat garis hitam, lalu mundur untuk melihat hasilnya, mencoret lagi

sampai akhirnya ia menghela napas lega dan puas.

“Bagus, sekarang bentuk matamu sudah berubah. Garis hitam di tepi matamu inipun tidak akan

hilang oleh air, akan tetapi jangan digosok terlalu kuat kalau engkau mandi atau mencuci muka,

terutama jangan dengan air panas. Sekarang, coba kulihat apa lagi yang perlu diubah agar wajahmu

benar-benar kehilangan jejak bentuk lamanya.”

Sekarang Goan Ciang sudah menyerah benar-benar. Jari-jari tangan yang terasa halus dan hangat

itu meraba-raba mukanya, membuat dia memejamkan mata dan merasa nyaman sekali, membuatnya

mengantuk lagi!

“Hemm, coba kulihat. Telingamu tidak menyolok, seperti telinga orang biasa, akan tetapi dahimu

terlalu lebar dan bentuknya mengandung wibawa, sebaiknya ditambah rambut di depan sehingga

akan nampak lebih kecil. Kemudian, kalau ada kumis dan jenggot, ditambah sedikit cambang, dan

bentuk gelung rambutmu diubah, hemm, tak seorangpun akan mengenalmu lagi, toako!” Gadis itu

nampak gembira lalu mengerjakan semua rencananya itu. Menempel sana menempel sini dan dalam

waktu kurang dari sejam, kini Goan Ciang telah berkumis, berjenggot dan cambangnya memanjang

sampai ke pipi, dahinya tidak selebar tadi, matanya sipit dan alisnya tebal panjang!

“Nah, coba kau periksa wajahmu sendiri, masih kurang apa untuk mengubahnya menjadi lain sama

sekali.” Gadis itu mengeluarkan sebuah cermin kecil bundar dan menyerahkannya kepada Goan Ciang.

Ketika Goan Ciang melihat wajahnya sendiri dalam cermin, dia tertegun. Mukanya berubah merah.

Dia seperti melihat seorang laki-laki lain, wajah yang tidak disukanya, dalam cermin itu! Dengan

cambang, kumis dan jenggot, matanya sipit dan alis tebal, apa lagi dahi sempit itu dia kelihatan

kejam dan licik!

“Ihh! Tampanku seperti seorang bandit!” serunya. Gadis itu tertawa senang. Makin kaget dan

marah Goan Ciang, akan makin senanglah hatinya karena hal itu membuktikan bahwa pekerjaannya

berhasil baik.

“Bagus, penyamaranmu sempurna, Hung-toako!” katanya seperti bersorak.

“Hung-toako? Apa lagi ini?”

“Toako, tentu saja namamu harus diganti. Mulai sekarang engkau bernama Hung Wu dan aku

menyebutnya Hung-toako (kakak Hung), sedangkan engkau menyebut aku Yen-te (adik Yen). Nama

Yen adalah nama umum, aku tidak perlu mengganti nama sama sekali, cukup dengan nama Siauw Yen

(Yen kecil) saja. Lebih mudah bagimu, bukan?”

Diam-diam Goan Ciang kagum bukan main. Gadis ini memikirkan segala hal. Seorang gadis yang

amat cerdik, dan sekarang dia tidak merasa heran mengapa seorang kakek bijaksana seperti PekKoleksi

Kang Zusi

mou Lo-kai menyerahkan kepemimpinan perkumpulan besar seperti Hwa I Kaipang kepada seorang

gadis! Kiranya gadis ini memang cerdik sekali.

“Baiklah, Yen-te. Sekarang, kita akan ke mana?”

“Memasuki kota Nan-king?”

Goan Ciang membelalakkan matanya, tidak menyadari betapa lucunya ketika dia terbelalak

sehingga gadis yang berubah menjadi pemuda remaja itu tertawa terpingkal-pingkal sehingga kotak

alat penyamaran yang dipegangnya terlepas, kotaknya terjatuh, tutupnya terbuka dan isinya

berantakan. Sambil mengambili isi kotak, Yen Yen masih tertawa terpingkal dan kadang memegangi

perutnya.

“Siauw Yen! Apa sih yang kau tertawakan sampai setengah mati begitu?” tanya Goan Ciang.

“Toako, ingat, jangan sekali-kali engkau membelalakkan matamu seperti tadi. Aku pasti tidak

dapat menahan untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal. Kalau matamu yang berubah sipit itu

kaubelalakkan, aduh, sungguh lucu sekali, mengingatkan aku akan seorang badut di panggung wayang

yang pernah kutonton ketika aku berkunjung ke kota raja Peking.”

“Hemm, engkau hendak mempermainkan dan mentertawakan aku?” kata Goan Ciang cemberut,

marah karena dia dikatakan seperti badut.

“Maaf, toako. Maafkan adikmmu, ya? Sungguh mati, aku tidak bermaksud mentertawakanmu.

Bahkan itu tandanya bahwa penyamaranmu amat baik. Nah, mari kita berangkat, toako, sekali lagi

maafkan aku!” Yen Yen memegang tangan pemuda itu dan menggandengnya. Lenyap seketika

kemarahan dari hati Goan Ciang ketika mereka berjalan sambil bergandeng tangan.

“Yen-te, katakan, mau apa kita ke Nan-king? Bukankah tempat itu berbahaya sekali, penuh dengan

pasukan keamanan dan mempunyai banyak perwira yang tangguh?”

“Kita harus menyelidiki para pengkhianat itu! Hek I Kaipang harus kita hancurkan! Merekalah

yang mengkhianati kita. Para pengkhianat itu lebih berbahaya dari pada orang Mongol sendiri. Kalau

orang Mongol, sudah jelas musuh kita. Akan tetapi para pengkhianat itu, merupakan musuh dalam

selimut yang amat berbahaya. Aku lebih membenci mereka dari pada para penjajah itu sendiri.”

“Hemm, itukah sebabnya engkau tadi membunuh anggotak Hwa I Kaipang yang agaknya

mengkhianati kita dan melaporkan tentang pertemuan di bukit batu?”

Yen Yen mengangguk, “Aku serang dia dengan pisau terbangku. Pengkhianat seperti dia tidak

boleh diampuni. Kalau dia tidak terlambat, tentu malam tadi kita telah dikepung pasukan! Ini semua

gara-gara Hek I Kaipang, dan para kaipang yang rela menjadi antek penjajah Mongol!”

“Akan tetapi, hanya kita berdua, apa yang dapat kita lakukan menghadapi mereka? Kakekmu

sendiri sudah memperingatkan agar kita berhati-hati kalau berhadapan dengan para pemimpin Hek I

Kaipang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apa yang dapat kita lakukan? Menyerbu Hek I Kaipang

dengan tenaga kita berdua saja?”

“Aih, toako, apakah engkau kira aku begitu bodoh? Tidak, aku belum ingin bunuh diri dan mati

konyol. Kita menyelundup ke Nan-king dan kita mempelajari keadaan. Kita menyelidiki sampai di

mana keakraban hubungan antara Hek I Kaipang dan para pembesar Mongol. Dengan penyamaran ini,

kita dapat bergerak leluasa, menjadi dua orang pemuda yang datang dari dusun ke kota itu, untuk

mencari pekerjaan, mencari pengalaman atau sekadar bertualang. Kita tidak akan dapat menyolok,

tidak akan ada yang mencurigai kita.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan hati Goan Ciang merasa lega bahwa sejauh ini, Goan Ciang

merasa lega bahwa sejauh ini, gadis yang luar biasa itu tidak pernah memperlihatkan dengan sikap,

kata-kata maupun perbuatan tentang isi hatinya, yang oleh kakek Pek-mou Lo-kai dikatakan bahwa

gadis itu telah memilih dia sebagai calon jodoh!

Kita tinggalkan dulu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang menyamar sebagai kakak beradik dari

desa yang pergi ke kota Nan-king, dan mari kita mengikuti perjalanan pemuda Shu Ta, sute dari Cu

Goan Ciang. Pemuda murid Lauw In Hwesio ini melakukan perjalanan seorang diri.

Shu Ta juga seperti Cu Goan Ciang, yatim piatu dan hidup sebatang kara di dunia ini. Usianya

sebaya dengan suhengnya, sekitar dua puluh tahun. Akan tetapi pemuda yang tampan ini memiliki

 

kecenderungan untuk brewok. Kumis dan jenggot serta cambangnya tumbuh dengan subur memenuhi

setengah wajahnya yang tampan. Karena merasa belum pantas memelihara kumis jenggot, maka dia

sering kali mencukurnya, akan tetapi baru dicukur beberapa hari saja sudah nampak rambut yang

subur itu tumbuh lagi.

Berbeda dengan Goan Ciang yang agak pendiam, Shu Ta ini orangnya cerdik dan lincah, banyak

akalnya. Ketika dia berpisah dari suhengnya, selama beberapa jam melakukan perjalanan seorang

diri, perasaan hatinya tertekan, seolah dia merasa kehilangan. Sejak kecil, dia berada di kuil Siauwlim-

si, menjadi kacung kuil sampai dia bertemu dengan Goan Ciang, belajar silat bersama. Kemudian

mereka berdua meninggalkan kuil untuk mencari pengalaman, dan bersama-sama menundukkan keluar

Ji dan keluarga Koa di dusun Cang-cin sehingga kedua keluarga yang tadinya menjadi penindas

rakyat itu berbalik kini menjadi dermawan dan pelindung rakyat di dusun itu.

Kalau Cu Goan Ciang dari dusun itu pergi ke kota Wu-han, maka Shu Ta pergi menuju ke kota Nanking.

Dia tidak menolak ketika hendak meninggalkan dusun itu dia diberi bekal oleh dua orang kakak

beradik Koa. Dia memang membutuhkan biaya dalam perjalanan, sebelum dia mendapatkan pekerjaan

untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Dan bekal yang diterimanya itu cukup untuk

membiayainya melakukan perjalanan ke kota Nan-king. Dahulu, ayah dan ibunya pernah tinggal di

kota besar ini. Di waktu dia berusia lima enam tahun, dia pernah tinggal di kota itu dan masih ingat

akan kebesaran dan keindahannya, dan oleh karena itulah maka kini dia menuju ke Nan-king.

Seperti juga Cu Goan Ciang, di sepanjang perjalanan Shu Ta melihat kesengsaraan rakyat,

terutama yang hidup di pedusunan dan dia merasa prihatin sekali. Agaknya pemerintah penjajah

sama sekali tidak mau memperdulikan nasib rakyat dari negara yang dijajahnya. Para pejabat

pemerintah penjajah hanya memikirkan kesenangan diri sendiri masing-masing, dari kaisarnya

sampai pejabat paling kecil. Bukan saja mereka tidak memperdulikan nasib rakyatnya, tidak

mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya mereka bahkan melakukan pemerasan di sana-sini,

demi untuk memenuhi kantung mereka yang sudah penuh.

Pada suatu hari, tibalah dia di jalan yang melintasi sebuah bukit kecil, di sebelah utara kota Nanking.

Dari tempat itu, ke Nan king masih sejauh tiga puluh li lagi. Tengah hari itu amatlah teriknya.

Tubuh Shu Ta sudah basah oleh keringat, maka diapun berhenti di tepi jalan, duduk di bawah pohon

besar yang rindang. Jalan itu sepi sekali. Dia menurunkan buntalan pakaiannya dan mengeluarkan

sebuah guci yang terisi air jernih.

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda. Dia memegang guci dan tidak jadi membuka

tutupnya karena dua ekor kuda yang berlari congklang ke tempat itu menimbulkan debu. Tidak sehat

kalau dia minum pada saat itu, tentu banyak debu ikut memasuki mulutnya. Dia mengangkat muka

memandang. Dua ekor kuda yang bagus, tinggi besar, jelas kuda-kuda pilihan yang mahal. Juga

pakaian kudanya menunjukkan bahwa penunggangnya adalah orang-orang kaya. Dan memang benar.

Pemuda dan gadis yang menunggang kuda itu jelas orang kaya, bahkan tentu bangsawan karena

pakaian mereka yang indah. Dari model topi mereka, Shu Ta dapat menduga bahwa mereka yang

berkedudukan tinggi dan kaya raya. Yang mengherankan hatinya, kalau mereka itu putera dan puteri

bangsawan tinggi Mongol, kenapa berkeliaran berdua saja tanpa pengawal? Biasanya, para pembesar

Mongol kalau keluar kota selalu dikawal ketat karena tentu saja ada kemungkinan mereka diserang

oleh para pemberontak, yaitu patriot-patriot yang memusuhi penjajah Mongol.

Kedua orang itu tiba-tiba menahan kuda mereka dan memandang kepada Shu Ta. Shu Ta yang tadi

mengamati mereka, merasa canggung. Pemuda Mongol itu tampan dan gagah, akan tetapi gadis itu

lebih hebat lagi. Begitu cantik jelita dan memiliki sepasang mata yang demikian tajam seperti

sepasang bintang! Dia menjadi gugup dan menuangkan air jernih dari guci mulutnya. Dia mendengar

suara wanita bicara kepada pemuda itu dan si pemuda bangsawan berseru.

“Heii, sobat, jangan dihabiskan air itu!”

Tentu saja dia terkejut dan heran, menunda minumnya dan menutupi lagi guci arinya dengan cepat

agar tidak kemasukan debu yang masih mengepal. Kini dua orang muda bangsawan itu sudah turun

dari kuda, membiarkan kuda mereka makan rumput dan mereka melangkah menghampirinya. Shu Ta

 

tidak tahu harus berbuat apa, hanya memandang seperti orang kehilangan akal. Dia merasa heran

mengapa tidak timbul kebencian dalam hatinya terhadap mereka, seperti yang dibayangkannya

dahulu ketika dia masih berada di kuil. Kalau dia membayangkan orang Mongol, selalu timbul

kebencian di hatinya karena mereka telah menjajah tanah air dan bangsanya. Akan tetapi, kini

berhadapan dengan seorang pemuda dan seorang gadis Mongol, entah mengapa, dia tidak merasakan

kebenciannya itu! Memang tidak mengherankan karena muda mudi itu sama sekali tidak mempunyai

penampilan yang cukup untuk menimbulkan perasaan benci.. Mereka memiliki gerak-gerik yang

lembut, sikap mereka halus dan pandang mata merekapun riang dan tidak mengandung kekerasan

atau kesombongan seperti yang seringkali dia dengar.

“Maafkan kami, sobat. Tadi adikku melihat engkau minum dan kami memang sedang kehausan.

Dalam keadaan hampir mati kehausan ini, tidak ada yang lebih nikmat dari pada air jernih. Kalau

engkau tidak keberatan, sobat. Bolehkah kami minta sedikit air minum dari gucimu itu?”

Shu Ta memandang bengong. Dua orang muda bangsawan Mongol yang begitu kaya raya kini minta

air minum darinya di tengah jalan yang sunyi? Dia sendiri tidak akan percaya kalau mendengar orang

bercerita seperti itu. Biasanya, demikian yang sering didengarnya, orang-orang Mongol menganggap

orang pribumi seperti binatang saja, memandang remeh dan rendah. Akan tetapi, pemuda bangsawan

ini bersikap demikian ramah, sopan dan bersahabat. Minta air minum dari gucinya! Seperti dalam

mimpi saja, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dia menyodorkan guci air minumnya yang masih

tiga perempat penuh kepada pemuda bangsawan itu.

Pemuda Mongol yang usianya sekitar dua puluh dua tahun itu menerima guci air dan

menyerahkannya kepada gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu tanpa bicara pula.

Gadis itu menerima guci, menoleh dan memandang kepada Shu Ta dengan mata bintangnya, kemudian

membuka tutup guci dan menengadahkan mukanya, lalu menuangkan air jernih dari guci itu ke dalam

mulutnya yang dibuka sedikit. Gerakannya luwes dan tidak tergesa-gesa, air yang dituangkannya pun

mengalir kecil memasuki rongga mulutnya dan nampak lehernya bergerak-gerak lembut ketika ia

minum dan menelan air itu. Agaknya ia memang haus sekali, ia tersenyum memperlihatkan deretan

gigi putih yang rapi dan memberikan guci kepada kakaknya. Terdengar suaranya yang merdu dan

sama sekali tidak terdengar asing, seolah ia seorang gadis Han aseli.

“Bukan main nikmat dan lezatnya air ini!”

Pemuda bangsawan itu tersenyum, lalu diapun minum beberapa teguk, kemudia menutup kembali

guci itu dan menyerahkannya kepada Shu Ta yang masih tertegun.

“Enak sekali! Engkau tahu, adikku, apa yang membuat air jernih ini demikian enaknya?”

“Tentu saja aku tahu. Kehausan kita itulah yang menjadikan air apapun terasa enak, bukankah

begitu?”

“Ha-ha, engkau pintar. Memang, tidak ada minuman yang enak melebihi enaknya air biasa bagi

seorang yang kehausan, dan tidak ada makanan seenak makanan bagi seorang yang kelaparan!”

Shu Ta kagum. Dua orang kakak beradik bangsawan Mongol ini jelas bukan orang-orang sombong

yang bodoh, mereka terpelajar.

“Banyak terima kasih atas kebaikanmu memberi minuman kepada kami, sobat. Kami juga ingin

beristirahat di sini. Sekalian membiarkan kedua ekor kuda kami beristirahat. Hari amat panasnya.

Kami tidak mengganggumu, bukan?” kata pemuda bangsawan itu.

Shu Ta tidak menjawab, seperti tadi, dia tidak mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala

tanda bahwa dia tidak berkeberatan. Pemuda dan gadis itupun duduk di atas batu. Pemuda itu

langsung duduk, akan tetapi gadis itu meniup untuk membersihkan debu dari batu sebelum ia

mendudukinya.

Sejak tadi, Shu Ta memandang penuh perhatian karena dia benar-benar merasa heran bukan

main. Mereka itu jelas anak-anak bangsawan Mongol, kaya-raya, pakaian mereka indah. Kuda mereka

saja demikian hebat dan mahal harganya. Orang biasa bekerja beberapa tahun lamanya belum tentu

dapat membeli seekor kuda seperti itu! Dan anehnya, mereka itu mau duduk-duduk di atas batu

 

dengan dia, bahkan telah minum air jernih biasa dari guci airnya, minum tanpa cawan, dituang begitu

saja ke mulut! Orang-orang apakah mereka ini? Dia memandang penuh perhatian.

Pemuda Mongol itu berusiah dua puluh dua tahun, tampan dan gagah sekali, juga wajahnya cerah

dan mulutnya selalu dihiasi senyum. Gerak-gerinya halus dan ketika bicara tadipun lembut dan katakatanya

menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar. Adapun gadis Mongol yang menjadi adiknya itu

berusia delapan belas tahun, juga cantik jelita, terutama sekali matanya yang lebar dan tajam

sinarnya itu dan mulutnya yang menggairahkan. Pendeknya, banyak pemuda dan gadis tentu akan

terpesona dan tergila-gila melihat mereka berdua! Agaknya sikap mereka yang lembut dan sama

sekali tidak membayangkan kecongkakan sikap para bangsawan pada umumnyalah yang membuat Shu

Ta sama sekali tidak merasa marah atau benci kepada mereka. Dia tahu bahwa andaikata kedua

orang ini bersikap tinggi hati, pasti dia akan membenci mereka karena maklum bahwa mereka ini

adalah orang-orang Mongol si penjajah!

Kakak beradik bangsawan Mongol itupun beberapa kali memandang kepada Shu Ta dan akhirnya

gadis itu tertawa, suara tawanya merdu dan agak bebas, tidak seperti tawanya gadis Han yang

biasanya menahan suara tawa mereka bahkan menutupi mulut dengan ujung lengan baju. Gadis ini

tertawa begitu saja tanpa menutupi mulutnya dan dia teringat kepada Ji Kui Hwa, puteri Hartawan

Ji di dusun Cang-cin itu. Kui Hwa juga suka tertawa bebas, akan tetapi masih menundukkan mukanya

seperti hendak menyembunyikan mulutnya. Gadis Mongol ini tidak menunuduk malah mengangkat

muka memandang langit sehingga Shu Ta dapat melihat mulut yang agak terbuka itu dan sekilas

dapat melihat rongga mulut yang merah dan deretan gigi yang putih mengkilap.

“Heh-heh-heh, koko (kakak), sobat ini melihat kita seperti orang yang selamanya belum pernah

melihat orang-orang seperti kita. Dipandang seperti itu, aku mempunyai perasaan aneh, seolah-olah

mataku tiga, atau ada tanduk di atas kepalaku!”

Pemuda itu tertawa pula dan memandang kepada Shu Ta. “Moi-moi (adik), pemuda mana yang tidak

akan memandangmu dengan terpesona? Engkau terlalu cantik jelita bagi mata setiap orang pemuda.”

“Ihhh, koko! Jangan mengejekku. Engkaulah yang terlalu tampan sehingga banyak gadis tergilagila

kepadamu dan mengitarimu seperti sekelompok kupu-kupu menyerbu setangkai kembang.”

“Wah, itu terbalik namanya, Mimi! Akulah kupu-kupu atau kumbangnya, dan merekalah kembangkembangnya,

ha-ha-ha!” Pemuda itu tertawa dan dia kini menghadapi Shu Ta. Suaranya ramah

bersahabat ketika dia bicara kepada Shu Ta.

“Sobat, agar menenangkan dan meyakinkan hati adikku yang manja ini, maukah engkau mengaku

sejujurnya, kenapa engkau memandangi kami seperti itu? Seperti orang terpesona dan terheranheran?”

Sejak tadi Shu Ta telah mampu menguasai perasaannya. Dia melihat betapa kakak beradik ini

bicara dalam bahasa pribumi yang amat fasih sehingga mudah diduga bahwa mereka memang seharihari

mempergunakan bahasa pribumi, bukan bahasa Mongol. Juga mereka saling menyebut koko dan

moi-moi seperti kebiasaan orang pribumi, Sebuah kenyataan menambah kekaguman dan

keheranannya, yaitu betapa kedua orang muda bangsawan ini berwatak jujur, terus terang dan suka

pula bergurau.

“Terus terang saja, aku memang terpesona dan terheran-heran, akan tetapi bukan karena

keindahan wajah kalian, walaupun kalian tampan dan cantik seperti dewa dan dewi.”jawab Shu Ta

yang memang pandai bicara sambil tersenyum, siap untuk menyerang keturunan penjajah ini secara

halus.

“Ehh? Kalau begitu, apa yang kauherankan?” Gadis itu bertanya, ingin tahu sekali, “Jangan-jangan

benar ada sesuatu yang aneh pada diriku! Apakah ada coreng moreng pada mukaku? Apakah ada

pakaianku yang terbalik memakkainya, atau jangan-jangan tumbuh tanduk benar-benar di kepalaku!”

Ia meraba-raba kepalanya yang tertutup topi bulu yang indah. Kakaknya tertawa mendengar kelakar

adiknya dan Shu Ta juga tersenyum. Bagaimana mungkin dia dapat menyinggung perasaan hati

seorang gadis yang begini polos dan lucu? Tapi ia seorang gadis Mongol, bantah pikirannya sendiri.

 

“Yang membuat aku heran adalah keadaan dan sikap kalian. Kalau kalian ini kakak beradik dari

dusun, orang-orang miskin yang tidak mempunyai sepeserpun uang di saku, yang mempunyai kaki

dengan sepatu butut yang melakukan perjalanan, dengan pakaian butut, yang setiapsaat disiksa rasa

lapar dan haus tanpa mampu membeli makanan dan minuman, maka aku tentu tidak akan merasa

heran melihat kalian minta air minum padaku dan duduk di sini bersamaku. Akan tetapi kalian adalah

dua orang bangsawan muda yang kaya-raya, berlebih-lebihan dan berlimpahan, dua ekor kuda kalian

saja akan mampu memberi makan kepada orang sedusun yang kelaparan kalau dijual. Dan kalian minta

air minum padaku dan duduk di atas batu. Ini aneh sekali!”

Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka senyum pahit.

Pemuda itu menarik napas panjang. “Aihh, sejak kami masih kecil, betapa seringnya kami mendengar

keluhan dan protes, walaupun belum pernah ada yang bicara sedemikian terang-terangan dan tanpa

takut seperti engkau, sobat! Kami kakak beradik sejak mulai dapat berpikir, telah melihat keadaan

rakyat jelata yang dilanda kemiskinan, akan tetapi apa yang dilakukan oleh dua orang kakak beradik

seperti kami? Eh, kalau boleh kami mengetahui, engkau ini siapakah? Jelas bukan pemuda dusun.

Cara bicaramu teratur dan berisi. Apakah engkau seorang pendekar?”

Shu Ta menunduk, sikapnya acuh dan menggeleng kepala tanpa menjawab. Kembali kakak beradik

itu saling pandang, kemudian si adik yang bicara, “Sobat, kami tidak ingin memaksakan kehendak

untuk berkenalan. Akan tetapi, engkau boleh tahu bahwa namaku Bouw Mi, biasa dipanggil Mimi, dan

ini kakakku bernama Bouw Ku Cin dan kami berdua adalah putera dan puteri Menteri Bayan yang

tinggal di kota raja Peking. Kami sedang melakukan perjalanan tamasya dengan tujuan terakhir kota

Nan-king. Nah, kami sudah memperkenalkan diri. Apakah engkau masih terlalu tinggi untuk

berkenalan dengan kami, dua orang muda bangsa Mongol yang merasa bahwa kami sama sekali bukan

orang?”

Melihat Shu Ta masih bersikap acuh, walaupun di dalam hatinya Shu Ta terkejut setengah mati

mendengar bahwa mereka ini putera Bayan, menteri yang amat berpengaruh dan besar

kekuasaannya karena menjadi tangan kanan Kaisar Togan Timur, pemuda Mongol yang bernama Bouw

Ku Cin itu menyambung kata-kata adiknya.

“Sobat, engkau sungguh tidak adil. Engkau menggambarkan kami berdua seolah-olah kami ini

bukan manusia dan tidak sama dengan engkau atau dengan rakyat jelata. Pada hal, apa sih bedanya?

Yang berbeda kan hanya pakaian kita saja. Coba engkau yang mengenakan pakaian ini dan aku

mengenakan pakaianmu, apa bedanya? Takkan ada yang tahu bahwa engkau adalah engkau dan aku

adalah aku, kalau kita bertukar pakaian.”

Shu Ta tertegun. Wah, pemuda ini bukan seorang pemuda bangsawan kaya raya yang berkepala

kosong! Juga gadis itu bicaranya sungguh lain, sedikitpun tidak mengandung sikap angkuh, bahkan

begitu rendah hati untuk lebih dahulu memperkenalkan diri padanya. Pada hal, dilihat dari

pakaiannya, mereka tentu mengira dia seorang pemuda dusun biasa! Sejak kecil Shu Ta tinggal di

kuil dan selain ilmu silat, diapun dididik sastra dan tatasusila oleh para hwesio, maka melihat sikap

kakak beradik itu, diappun merasa tidak enak. Maka, diapun bangkit dan memberi hormat kepada

kakak beradik itu yang agaknya terkejut dan cepat merekapun membalas penghormatan itu dengan

sikap yang sama, mengangkat kedua tangan depan dada.

“Harap kalian memaafkan sikapku tadi. Sudah terlalu banyak aku mendapatkan gambaran para

bangsawan yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan nasib rakyat jelata, hidup

bermewah-mewahan di atas tubuh rakyat jelata yang sekarat, dan biasanya berwatak sombong dan

memandang rendah rakyat miskin. Aku tadinya tidak mengira bahwa kalian adalah dua orang muda

yang terpelajar dan sopan, rendah hati dan tidak menghina rakyat kecil. Nah, namaku Shu Ta dan

aku seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini, melihat banyak ketimpangan hidup

dan ketidak adilan. Kalian memang memiliki sikap yang baik, otak yang cerdas, tidak sombong, namun

sayang, kalian tergolong bangsawan tinggi yang kaya raya, keluarga penindas dan penjajah yang

menyengsarakan rakyat.” Dengan berani Shu Ta menentang pandang mata mereka. Dia berdiri dan

siap menanti kemarahan kakak beradik itu.

 

Akan tetapi, kakak beradik itu tidak menjadi marah, hanya mereka saling pandang dan muka

mereka berubah agak kemerahan. Gadis itu sudah menjatuhkan diri duduk kembali ke atas batu, dan

Bouw Ku Cin yang biasa dipanggil Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw) itu menghela napas, dan diapun

duduk kembali.

“Memang apa yang kaukatakan semua itu ada benarnya, saudara Shu Ta. Akan tetapi, urusan

penjajahan itu apa sangkut-pautnya dengan kami berdua? Mengapa bangsa Mongol, bangsa nenek

moyang kam i, telah menyerbu Cina dan menundukkannya, kemudia menjajahnya. Akan tetapi hal itu

telah terjadi hampir tujuh tahun yang lalu dan kami sama sekali tidak tahu akan isi hati mendiang

Temucin, pemimpin besar bangsa Mongol yang kemudian menjadi Jenghis Khan. Kami baru dilahirkan

kurang lebih dua puluh tahun yang lalu dan ketika kami terlahir, keadaan sudah begini, penjajahan

sudah berlaku selama puluhan tahun. Kami tidak ikut melakukan penyerbuan, tidak ikut menjajah dan

ahh…., aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Hanya ini, kawan. Kalau ada nenek moyang

kita melakukan kesalahan, apakah kita juga diharuskan mempertanggung jawabkan perbuatannya?”

Shu Ta kembali tertegun dan diapun duduk kembali di atas batu, termenung memikirkan katakata

itu. “Akan tetapi, kalian menikmati hasil penjajahan! Kalian hidup bermewah-mewahan

sedangkan rakyat jelata hidup kelaparan. Apakah kalian tidak merasa malu, hidup senang di atas

mayat rakyat jelata?”

Kini gadis itu mengerutkan alisnya dan pandang matanya mencorong menatap wajah Shu Ta.

“Saudara Shu, jangan engkau sembarangan saja bicara, seenaknya saja menuduh kami! Kami

dilahirkan dalam keluarga ayah kami dan sejak kami lahir, ayah kami sudah menjadi menteri. Dengan

sendirinya kami hidup di istana ayah dan menikmati semua yang ada. Salahkah itu? Apakah kami,

anak-anak ayah, harus meninggalkan keluarga ini dan hidup menderita kemiskinan bersama rakyat?

Begitukah kehendakmu?”

Kembali Shu Ta tertegun dan tidak mampu menjawab.

“Saudara Shu Ta, kami mengerti benar perasaanmu. Kami tidak menyalahkanmu kalau engkau

membenci pemerintah karena pemerintah adalah pemerintah penjajah. Memang orang-orang Monglo

menjajah rakyat pribumi Cina. Dan percayalah, semenjak kami mampu berpikir, kami berdua sudah

tidak setuju dengan keadaan ini. Buktinya, sampai sekarang aku tidak pernah memegang jabatan

apapun, selalu menolak desakan ayah. Dan kami bergaul dengan rakyat, kami tidak menghina, tidak

menindas, tidak memusuhi rakyat. Bahkan di manapun, kapanpun, kami selalu siap membantu rakyat

dengan segala kemampuan kami. Jangan dikira bahwa seluruh bangsa Mongol merupakan orang-orang

yang suka menindas dan menjajah. Yang menjajah itu adalah pemerintahannya, kerajaannya, bukan

rakyat Mongol. Hal ini patut kauketahui, sobat! Nah, sekarang, maukah engkau bersahabat dengan

kami?” Pemuda bangsawan itu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Akan tetapi Shu Ta purapura

tidak melihat tangan itu.

“Maafkan aku. Kalau aku bersahabat dengan putera puteri Menteri Mongol, tentu semua orang

akan memandang rendah kepadaku dan menganggap aku pengkhianat bangsa!”

Mimi marah sekali mendengar ucapan itu dan menolak pemuda dusun itu menolak uluran tangan

kakaknya. Sungguh merupakan suatu penghinaan besar! Ingin ia mendamprat, akan tetapi kakaknya

berkedip kepadanya dan dengan suara sungguh-sungguh akan tetapi mulutnya tetap tersenyum dia

berkata.

“Saudara Shu Ta, apakah kaukira kalau engkau sudah memusuhi semua orang Mongol lalu engkau

menjadi pahlawan? Apa manfaatnya kalau engkau hanya membenci dan memusuhi semua orang

Mongol, apa manfaatnya bagi rakyat yang menderita? Apakah kalau engkau memperlihatkan sikap

bermusuhan dengan kami, bahkan andaikata engkau membunuh kami, hal itu dapat mengenyangkan

perut rakyat yang lapar? Sobat, memusuhi dan membenci orang-orang Mongol, bukan satu-satunya

cara untuk membela rakyat jelata.

Lihat kami ini. Kami dimaki sebagai keturunan Mongol, dibenci oleh orang-orang yang berpikiran

sempit sepertimu, akan tetapi kami dapat lebih bermanfaat bagi mereka. Sudah banyak rakyat yang

kubantu, baik sandang maupun pangan, banyak yang kami selatkan dari ancaman para penjahat! Dan

 

kau….apa yang telah kaulakukan untuk rakyat? Hanya membenci dan menghina orang Mongol. Itu

saja?”

“Koko, mari kita pergi. Dia orang yang sombong dan dungu, tidak perlu banyak bicara, takkan dia

mengerti!” kata gadis itu dan mereka berdua lalu melompat ke atas punggung kuda mereka. Cara

mereka melompat ke punggung kuda, mengejutkan hati Shu Ta. Terutama gadis itu. Bagaimana

mungkin seorang gadis bangsawan dapat melompat ke atas kuda yang tinggi itu dengan gerakan

demikian ringannya? Tidak keliru lagi dugaannya, mereka itu tentulah dua orang muda yang pandai

ilmu silat!

Shu Ta mengikuti mereka yang menjalankan kuda perlahan-lahan menuju ke selatan dengan

pandang matanya. Beberapa kali dia menghela napas panjang. Ucapan pemuda itu tadi seperti telah

menamparnya dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Kalau dipikir-pikir, dia sendiri tidak tahu apa

yang telah dia lakukan untuk rakyat semenjak dia meninggalkan kuil. Memang di dusun Cang-cin dia

telah melakukan sesuatu untuk penduduk dusun itu, akan tetapi dia hanya membantu Cu Goan Ciang!

Dia sendiri memang belum melakukan sesuatu yang bermanfaat, kecuali memperlihatkan

kebenciannya kepada penjajah Mongol, kalau perasaan kebencian itu dapat dianggap sesuatu yang

bermanfaat bagi rakyat. Dia bangkit berdiri, menyambar buntalannya dan berjalan di jalan raya itu,

ke selatan pula karena dia bermaksud pergi ke kota Nan-king.

Belum lama dia berjalan, dia melihat suara gaduh di depan dan nampak debu mengebul. Dia segera

lari ke depan dan segera melihat belasan orang mengeroyok kakak beradik Mongol tadi! Setelah

dekat, Shu Ta berdiri bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Sebetulnya, dia merasa heran kepada

diri sendiri. Seharusnya dia mengeroyok pula dua orang Mongol itu, membantu belasan orang yang

jelas merupakan orang-orang pribumi. Kenapa dia termangu dan meragu? Bukankah belasan orang itu

adalah orang-orang pribumi, rakyat tertindas dan dua orang itu adalah bangsawan Mongol, sang

penindas? Entah kenapa, dia diam saja dan memandang kagum. Tak salah dugaannya. Kakak beradik

itu pandai silat, bukan hanya pandai bahkan lihai sekali! Mereka berdua sudah turun dari kuda

mereka dan dengan pedang di tangan, mereka membela diri dan pengeroyokan enam belas orang yang

memegang golok atau pedang, akan tetapi para pengeroyok itu sedikitpun tidak mampu mendesak

kakak beradik itu! Gerakan pedang kedua orang Mongol itu cepat, kuat dan juga indah, dan Shu Ta

dapat melihat bahkan gerakan pedang mereka mempunyai dasar gerakan pedang mereka untuk balas

menyerang, dan Shu Ta maklum bahwa kalau mereka berdua membalas dengan pedang, tentu sudah

ada pengeroyok yang roboh dan terluka parah atau tewas. Agaknya dua orang itu tidak mau

melakukan pembunuhan!

“Keroyok terus!” teriak seorang yang bertubuh tinggi kurus.

“Bunuh penjajah itu!” teriak orang ke dua yang tinggi besar. Mereka berdua agaknya merupakan

pimpinan karena kini mereka setelah mengeluarkan seruan itu, cepat meloncat dan menghampiri dua

ekor kuda tunggangan kakak beradik itu, lalu melompat ke atas punggung dua ekor kuda yang besar,

tinggi, dan kuat itu.

“Jangan kau bawa kudaku!” teriak Bouw Mimi.

“Pencuri kuda berkedok pejuang!” bentak pula Bouw Kongcu atau Bouw Ku Cin dan kedua kakak

beradik ini telah meloncat dan mengejar dua ekor kuda yang akan dilarikan kedua orang pimpinan

kelompok itu. Gerakan kakak beradik itu ternyata ringan dan cepat sekali. Mereka seperti dua ekor

burung terbang saja dan sudah berada di atas punggung dua orang yang menunggang kuda. Sebelum

dua orang itu dapat membela diri, kakak beradik itu telah menggerakkan tangan kiri mereka ke arah

tengkuk dan dua orang perampas kuda itupun terpelanting roboh. Kakak beradik itu segera

menangkap kembali kuda dan menenangkan kuda mereka. Ketika belasan orang itu melihat betapa

dua orang pemimpin mereka dirobohkan, dan merekapun tadi sudah melihat betapa tangguhnya dua

orang bangsawan Mongol itu, mereka lalu melarikan diri cerai berai, tidak memperdulikan lagi dua

orang pemimpin mereka yang masih belum dapat bangun.

Sambil menuntun kuda mereka, kakak beradik itu menghampiri dua orang korban mereka. Kini, si

tinggi besar dan si tinggi kurasa sudah dapat merangkak bangkit duduk. Melihat semua anak

 

buahnya melarikan diri dan dua orang muda Mongol itu sudah berada di dekat mereka, keduanya

menjadi ketakutan dan menggigil. Mereka tahu bahwa orang yang berani melawan orang Mongol dan

tertangkap tentu akan dihukum siksa sampai mati. Saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri

berlutut di depan Bouw Ku Cin dan Mimi.

“Ampun…ampunkan kami, kongcu…..siocia…..ampunkan kami…..” mereka berdua meratap ketakutan.

Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum. Mereka menyimpan kembali pedang mereka yang

tidak bernoda darah. “Hemmm, katakan yang jujur, kalian tadi menghadang kami untuk melakukan

perampokan, ataukah kalian ini orang-orang yang mengaku pejuang dan hendak membunuh kami

karena kami adalah orang-orang Mongol?”

“Mengaku yang jujur kalau kalian ingin hidup!” Mimi membentak dengan nada mengancam.

“Ampun, kongcu dan siocia….kami….kami melihat dua ekor kuda ji-wi (kalian berdua) dan pakaian

yang indah…kami….kami perampok….”

Bouw Ku Cin mengangguk-angguk, “Hemm, sudah kami duga. Kalian hanyalah perampok-perampok

kecil yang mengaku sebagai pejuang. Begitukah? Ataukah kalian ini pejuang-pejuang yang melakukan

perampokan?”

“Kami…kami hanya perampok….”

“Dan mengaku pejuang?”

“Be…benar…”

“Manusia hina!” bentak Mimi. “Orang macam kalian ini sebenarnya tidak pantas hidup. Kalian

mengotorkan nama pejuang juga kalian mengacaukan keamanan dan mengganggu rakyat. Kalian hanya

merugikan semua pihak.”

“Ampun, siocia….ampun kongcu….” Dua orang itu berlutut dan membentur-benturkan dahi ke atas

tanah, ketakutan.

“Pergilah! Sekali lagi kami melihat engkau merampok dan mengaku pejuang, kami tidak akan

mengampunimu lagi. Pergi!”

Dua orang perampok itu mengangguk-angguk, lalu bangkit berdiri dan melarikan diri dengan cepat

meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, ketika mereka tiba di dekat semak belukar, nampak bayangan

orang berkelebat dan sinar pedang berkilat menyambar. Dua orang perampok itupun roboh dan

tewas seketika.

Kakak beradik Mongol itu terkejut dan ketika mereka memandang penuh perhatian mereka

mengenal Shu Ta yang sudah menyarungkan kembali pedangnya. Mereka saling memandang dengan

pemuda yang telah mereka kenal itu.

“Saudara Shu Ta, kami sudah mengampuni mereka berdua, kenapa engkau membunuh mereka?”

tegur Mimi dengan alis berkerut.

“Orang-orang macamm mereka itu harus dibasmi. Mereka itulah yang mencemarkan nama baik

para pejuang, membuat para pejuang dipandang rendah sebagai penjahat-penjahat rendah.

Penjahat-penjahat seperti mereka mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat, memaksakan

kehendak mereka, merampok dan membunuh.”kata Shu Ta.

Bouw Kongcu dan Mimi tidak berkata-kata lagi, dan Bouw Kongcu lalu mengambil sebatang golok

besar milik para perampok yang tercecer, kemudian mempergunakan golok besar itu untuk menggali

tanah. Shu Ta memandang dengan heran. Ketika melihat Bouw Siocia juga mengambil sebatang golok

dan membantu kakaknya tanpa bicara, Shu Ta merasa semakin heran.

“Eh, apa yang kalian lakukan?” tanyanya menghampiri.

Bouw Kongcu menghentikan pekerjaannya, mengangkat muka memandang kepada Shu Ta lalu

berkata, “Menggali lubang untuk mengubur dua mayat itu, apa lagi kalau bukan untuk itu?”

“Tapi….tapi….mereka itu penjahat yang tadi hendak merampok dan membunuh kalian!” Shu Ta

berseru heran dan kaget.

“Kalau begitu, mengapa?” kata Bouw Siocia. “Mereka memang jahat, selagi masih hidup tadi! Kini,

mayat mereka tidak dapat kita anggap jahat, dan kalau dibiarkan membusuk tanpa dikubur, hanya

akan mengotorkan tempat ini dan akan mengganggu orang-orang hidup yang kebetulan lewat di sini.”

 

Kakak beradik itu sudah melanjutkan penggalian mereka. Shu Ta merasa kagum bukan main. Dalam

keadaan biasa saja, mana ada dua orang muda bangsawan, putera dan puteri Menteri Besar Bayan,

mau menggali lubang kuburan mempergunakan golok saja? Apa lagi sekarang mereka menggali lubang

untuk mengubur mayat dua orang perampok yang tadi menyerang mereka untuk merampok dan

membunuh! Diapun merasa malu kepada diri sendiri, dan tanpa banyak cakap lagi diapun mengambil

sebatang golok dan ikut menggali membantu mereka!

Setelah lubang cukup besar dan mereka mengubur dua sosok mayat itu, ketiganya duduk melepas

lelah. Bouw Siocia atau Mimi menghapus keringat di lehernya dengan sehelai sapu tangan yang

dibasahi ketika tadi ia dan kakaknya dan Shu Ta mencuci tangan di sumber air yang terdapat tak

jauh dari situ.

Ketika tadi ikut menggali lubang, diam-diam Shu Ta berpikir bahwa apa yang diucapkan kakak

beradik bangsawan Mongol tadi benar. Perjuangan mempunyai lapangan yang luas sekali. Bukan

sekadar membenci orang Mongol, bukan sekadar memberontak dengan kasar, atau lebih-lebih lagi

bukan dengan cara merampok seperti yang dilakukan para perampok itu. Dia seorang diri saja,

menggunakan tenaga dan kepandaiannya, bagaiman mungkin mampu berjuang, apa lagi kalau

perjuangan itu bercita-cita mengusir penjajah dari tanah air? Menghimpun tenagapun tidak

merupakan hal yang mudah. Setelah bertemu kakak beradik Mongol ini, timbul suatu gagasan yang

dianggapnya baik dan merupakan satu cara untuk berjuang yang lebih banyak harapannya untuk

berhasil. Perjuangan yang dilakukan secara halus, yaitu menyusup ke dalam sarang musuh! Dia dapat

mencari kedudukan di pemerintahan Mongol sehingga banyak hal yang menguntungkan para pejuang

akan dapat dilakukan. Kalau dia bisa mendapatkan kedudukan yang baik di pemerintahan Mongol,

yang sudah jelas dia dapat mengatur agar rakyat tidak terlalu ditindas oleh peraturan-peraturan

yang mencekik dan memeras rakyat. Selain itu, dia dapat mengetahui keadaan dan kekuatan

pemerintah Mongol, dan kelak kalu terjadi penyerbuan para pejuang, dia dapat membantu dari

dalam! Tentu saja keadaan itu jauh lebih baik dari pada ka lau dia berada di luar dan hanya mampu

melakukan gangguan-gangguan kecil.

Shu Ta memandang kepada mereka. Justeru pada saat itu, pemuda dan gadis bangsawan itu

sedang memandang kepadanya, sehingga pandang mata mereka saling bertemu. “Sungguh aku merasa

kagum kepada kalian berdua, Bouw Kongcu dan Bouw Siocia. Apa yang kalian lakukan tadi, mengubur

dua jenazah itu, membuat aku sadar bahwa kalian, biarpun bangsawan-bangsawan muda Mongol,

adalah orang-orang yang berbudi baik!”

“Saudara Shu Ta, sesungguhnya tidak ada yang dinamakan manusia baik atau buruk itu, yang ada

hanyalah manusia hamba nafsu dan manusia yang menjadi majikan diri dari nafsunya sendiri. Kami

kakak beradik selalu akan berusaha agar tidak menjadi hamba nafsu, sehingga perasaan

prikemanusiaan tidak akan luntur dari hati kami. Hanya nafsu yang membeda-bedakan antara agama,

agama, bangsawan atau tidak, martabat tinggi atau rendah.”

“Ucapan-ucapan Bouw Kongcu seolah keluar dari mulut seorang pendeta saja, dan membuat aku

merasa kagum. Sekarang agaknya sikap kalian mendatangkan perubahan dalam pandanganku. Aku

tidak lagi berani memandang rendah manusia Mongol atau bangsawan apapun juga, karena pada

hakekatnya manusianya sama. Maukan kalian membantuku mencarikan pekerjaan yang sesuai untukku

di Nan-king? Tentu kalian mempunyai hubungan yang luas dan sekiranya dapat membantuku

mencarikan pekerjaan, aku akan berterima kasih sekali.”

Kakak beradik itu saling pandang dan Mimi bertanya sambil mengerutkan alisnya. “Apa yang

kudengar ini, saudara Shu Ta? Engkau yang tadinya membenci Mongol kini malah hendak

mengabdikan diri kepada pemerintah Mongol, pemerintah penjajah yang tadinya kaukutuk?”

Wajah Shu Ta menjadi kemerahan tetapi dia mengangkat muka, menatap wajah kakak beradik itu

dengan berani. “Harap kalian tidak salah paham dan mengira bahwa aku tiba-tiba saja menjadi

pengkhianat bangsaku. Baru saja aku membunuh dua orang perampok itu karena mereka adalah

pengkhianat yang tidak segan merusak dan mencemarkan nama baik para pejuang. Tidak, Siocia, aku

sama sekali bukan bermaksud mengkhianati para pejuang demi mencari kedudukan dan harta.

 

Justeru niat ini timbul setelah aku menyadari kebenaran ucapan kalian tadi bahwa perjuangan bukan

sekedar membenci pemerintah Mongol. Dengan menduduki jabatan di pemerintah penjajah, sedikit

banyak aku akan dapat membantu agar rakyat tidak terlalu ditindas. Kalau dapat, aku ingin

memperoleh kedudukan sebagai seorang perwira sehingga aku dapat mengawasi para pasukan Mongol

agar tidak sewenang-wenang kepada rakyat jelata, dan akan kupergunakan kekuasaanku untuk

menjaga ketenteraman dan membasmi para pengacau yang mengganggu rakyat.”

Kakak beradik itu mengangguk-angguk. “Hemm, keputusanmu ini bijaksana sekali, Saudara Shu Ta.

Memang dengan jalan demikian, engkau dapat berbuat lebih banyak untuk rakyat dari pada sekadar

membenci penjajah tanpa berbuat sesuatu. Akan tetapi, memasukkan engkau sebagai seorang

pejabat pemerintah sama saja dengan memasukkan harimau ke dalam rumah kerajaan Goan

(Mongol). Kalau sampai harimau itu membahayakan seisi rumah, bukankah berarti kami berdua

yangbertanggungjawab?”

“Terserah penilaian Bouw-kongcu. Aku hanya minta bantuan, tentu saja kalau engkau percaya

kepadaku. Aku hanya ingin berbuat sesuatu untuk rakyat. Kalau hanya tenagaku seorang diri saja,

aku dapat berbuat apa terhadap kerajaan Goan? Akan tetapi kalau kalian khawatir, akupun tidak

akan memaksa.”

Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Bouw Kongcu berkata, “Saudara Shu Ta, engkau

sudah minta bantuan kepada kami, hal itu saja menunjukkan bahwa engkau percaya kepada kami dan

engkau beritikad baik. Kalau sebaliknya kami tidak percaya kepadamu, hal itu sungguh akan membuat

kami merasa tidak enak sekali. Baiklah, kami akan mencoba membantumu, mencarikan pekerjaan

untukmu. Akan tetapi, karena engkau menghendaki kedudukan sebagai perwira tentu saja kami harus

melihat dulu kemampuanmu dalam ilmu silat.”

“Maksudmu, Bouw Kongcu?”

“Tentu saja kami hendak mengujimu,” kata Bouw Kongcu tenang.

“Baiklah, mudah-mudahan aku tidak akan mengecewakan, karena aku melihat tadi bahwa kalian

adalah murid-murid Butong-pai yang amat lihai.”

“Bagus, nah, mari kita bertanding pedang sejenak agar aku dapat menilai apakah engkau cukup

baik untuk menduduki jabatan perwira di Nan-king.” Berkata demikian, Bouw Kongcu sudah

mencabut pedangnya. Shu Ta juga mencabut pedangnya. Dia tadi melihat betapa lihainya bangsawan

muda ini, maka dia tidak berani memandang rendah dan setelah mencabut pedangnya, diapun sudah

memasang kuda-kuda dengan teguh. Melihat gerakan Shu Ta membuka pasangan kuda-kuda, Bouw

Kongcu berseru kagum.

“Ah, kiranya engkau murid Siauw-lim-pai!”

Diam-diam Shu Ta semakin kagum. Begitu melihat pasangan kuda-kudanya, pemuda Mongol itu

mengenal ilmu silatnya. Inipun membuktikan bahwa Bouw Kongcu telah memiliki pengetahuan yang

cukup luas tentang ilmu silat.

“Aku sudah siap, mulailah, kongcu!” tantangnya.

Bouw Ku Cin mengeluarkan teriakan nyaring dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menusuk

dada. Shu Ta mengelak ke samping sambil menangkis, lalu balas menyerang. Bouw Kongcu juga dapat

menangkis dengan baik dan keduanya segera saling menyerang dengan cepat dan kuat. Ternyata

setelah beberapa kali mengadu pedang, keduanya maklum bahwa dalam hal tenaga, mereka sama

kuat. Akan tetapi Shu Ta memiliki dasar yang lebih kuat dan matang. Hal ini tidaklah mengherankan.

Shu Ta sejak kecil menjadi murid para pendeta Siauw-lim-pai dalam kuil, biasa hidup kekurangan dan

diharuskan memiliki disiplin dan ketekunan yang luar biasa. Sejak kecil dia tidak pernah berani

melalaikan latihat silatnya, maka gerakannya lebih matang. Berbeda dengan Bouw Kongcu, putera

seorang menteri besar, seorang bangsawan yang kaya raya dan sejak kecil biasa dimanja. Tentu saja

seringkali dia malas berlatih dan guru-gurunya sendiri, para jagoan istana tidak ada yang berani

bersikap keras kepadanya. Maka tentu saja latihannya tidak setekun Shu Ta. Setelah lewat dua

puluh lima jurus, mulai nampaklah bahwa Shu Ta lebih tangguh. Mulailah Bouw Kongcu terdesak oleh

pedang Shu Ta yang makin lama makin kuat.

 

Melihat kakaknya terdesak, Mimi merasa kagum sekali dan timbul kegembiraannya. Jarang ada

pemuda yang mampu menandingi kakaknya dan ia sendiri memiliki kepandaian yang setingkat

kakaknya. Iapun mencabut pedangnya dan berseru gembira.

“Saudara Shu Ta, akupun ingin menguji kepandaianmu, menemani kakakku. Apakah engkau tidak

keberatan?”

Mendengar ucapan dengan suara ramah itu, bukan suara orang marah, Shu Ta menjawab,

“Silahkan, nona!”

Mimi menerjang maju dan kini kakak beradik itu mengeroyok Shu Ta. Setelah dikeroyok dua,

terpaksa Shu Ta mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena dia mulai merasa betapa

beratnya menandingi kakak beradik itu jika mereka maju berdua. Sekarang, barulah pertandingan

berjalan seimbang, namun kalau itu merupakan perkelahian sungguh-sungguh, agaknya Shu Ta tidak

akan mampu menang menghadapi pengeroyokan kedua orang bangsawan itu.

Setelah lima puluh jurus lebih, Bouw Kongcu berseru, “Sudah cukup!” dan diapun melompat ke

belakang, diikuti adiknya. Kini kakak beradik itu dengan pedang di tangan, tersenyum memandang

kepada Shu Ta penuh kagum, sebaliknya Shu Ta juga merasa kagum kepada mereka dan cepat dia

memberi hormat.

“Aku merasa kagum sekali dan mengaku kalah terhadap kalian!”

“Aihh, saudara Shu Ta sungguh merendahkan diri. Kami berdua maju mengeroyokpun tidak mampu

mendesakmu!” kata Bouw Kongcu. “Dengan kepandaian seperti yang kaumiliki itu, kami akan berani

mintakan pekerjaan untukmu kepada komandan pasukan yang berada di Nan-king.”

Mereka lalu berangkat memasuki kota Nan-king yang tidak jauh lagi, dan karena kakak beradik

itu hanya memiliki dua ekor kida, maka Shu Ta mempersilahkan mereka untuk pergi lebih dahulu

memasuki kota Nan-king. “Harap kongcu suka lebih dahulu memintakan pekerjaan itu kepada

komandan pasukan keamanan di Nan-king, aku akan menyusul belakangan dan kita bertemu nanti di

sana.”

Kakak beradik itu mengangguk, kemudian mereka menunggang kuda mereka mendahului berangkat

ke kota itu. Shu Ta juga segera menuju ke Nan-king, hatinya penuh kegembiraan dan harapan. Dia

harus dapat melakukan sesuatu untuk perjuangan mengusir penjajah Mongol dari tanah air, pikirnya.

Dan dia akan dapat melakukan hal yang lebih berarti kalau dia menyusup ke dalam, apa lagi kalau dia

dapat memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Setelah Shu Ta memasuki kota Nan-king, seregu pasukan yang agaknya sudah menunggu di pintu

gerbagn, menghadangnya dan pemimpin regu itu bertanya dengan hormat apakah dia yang bernama

Shu Ta. Tadinya, Shu Ta terkejut san meragu, takut kalau-kalau pasukan Mongol itu hendak

menangkapnya. Akan tetapi melihat sikap mereka yang hormat dan lembut, diapun bertanya kembali.

“Apakah maksud kalian menanyakan namaku?”

Komandan regu itu tersenyum. “Kami diperintah oleh Bouw Kongcu untuk menjemput si-cu (orang

gagah) di sini dan mengantar si-cu ke benteng di mana Bouw Kongcu dan Bouw Siocia telah menanti

bersama komandan kami.”

Shu Ta merasa girang dan diapun segera mengikuti regu itu menuju ke markas besar atau

perbentengan pasukan keamanan yang bertugas di Nan-king. Dan di kantor tempat markas itu, Bouw

Kongcu dan Bouw Siocia telah menantinya, dan di situ terdapat pula dua orang panglima. Yang

menjadi panglima di benteng itu bernama Yatucin, akan tetapi dia mempergunakan nama pribumi

menjadi Yauw Tu Cin atau lebih terkenal disebut Yauw-Ciangkun (Panglima Yauw). Dia seorang

Mongol asli, mukanya persegi penuh kejantanan, dengan brewok tebal dan matanya bersinar-sinar,

hidungnyaa dan mulutnya besar dan bibirnya tebal. Tubuhnya tinggi agak kurus, namun penuh dengan

otot melingkar-lingkar, nampak kokoh kuat.

“Inilah saudara Shu Ta yang kami ceritakan tadi, Ciangkun,” kata Bouw Kongcu, lalu dia

memperkenalkan dua orang panglima itu kepada Shu Ta. “Saudara Shu Ta, Yauw-Ciangkun ini adalah

panglima yang menjadi komandan benteng di Nan-king ini, dan yang ini adalah saudara misan kami,

 

juga seorang panglima yang menjadi komandan di kota Wu-han dan sekarang sedang datang

berkunjung ke sini, dia adalah Panglima Khabuli.”

Shu Ta memberi hormat kepada dua orang panglima itu. Orang yang diperkenalkan sebagai Yauw-

Ciangkun yang menjadi komandan pasukan di Nan-king itu memang pantas menjadi seorang panglima,

berwibawa dan pembawaannya memang sebagai seorang militer yang kokoh dan gagah perkasa,

berusia kurang lebih lima puluh tahun. Diam-diam Shu Ta kagum kepada panglima ini. Seorang

seperti ini, berbangsa apapun juga, tentu memiliki watak yang keras, kasar dan jujur, tegas dan

pemberani. Ketika dia memberi hormat dan memandang kepada panglima kedua yang diperkenalkan

sebagai saudara misan dari kakak beradik itu, Shu Ta segera merasa kurang suka kepada panglima

ini. Panglima Khabuli berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa dengan

kulit hitam tebal. Dia memang nampak gagah dan menyeramkan, akan tetapi pembawaannya

menunjukkan bahwa dia seorang tinggi hati, angkuh dan membanggakan kedudukan dan

kekuasaannya. Juga matanya yang sipit itu ketika memandang kepada Bouw Siocia, bersinar dan

mulutnya tersenyum menyeringai ceriwis, membayangkan bahwa dia seorang laki-laki yang mata

keranjang, juga sambaran kerling matanya membayangkan kelicikan.

Kalau Yauw-Ciangkun mengamati Shu Ta dengan penuh selidik, diam-diam merasa heran bahwa

orang yang dipuji setinggi langit oleh kakak beradik itu, ternyata hanya seorang pemuda sederhana

saja, dengan pakaian sederhana mendekati kasar, tubuhnya juga sedang saja, wajahnya tampan dan

mulai tumbuh brewok di dagu dan pipinya, sebaliknya, Panglima Khabuli tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, adik-adikku yang baik, bagaimana seorang pemuda dusun macam ini kalian usulkan

agar menjadi seorang perwira? Ha-ha, jangan-jangan kalau dia melihat pertempuran, mukanya

berubah pucat dan dia akan lari tunggang-langgang!” Khabuli tertawa-tawa dan pandang matanya

mengejek dan merendahkan sekali. Dia bersikap berani karena Bouw Kongcu dan Bouw Siocia adalah

adik-adik misannya. Dia sendiri adalah keponakan Menteri Bayan, maka hubungan keluarga ini

membuat dia berani bersikap kasar terhadap kakak beradik itu, berbeda dengan Yauw-Ciangkun

yang bersikap hormat, bukan saja mengingat bahwa mereka ini putera puteri menteri yang paling

berkuasa sesudah kaisar, juga karena dia tahu bahwa kakak beradik ini memiliki kepandaian yang

cukup tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.

“Panglima Khabuli, harap jangan menertawakan!” tegur Yauw-Ciangkun. “Bukankah Bouw Kongcu

dan Bouw Siocia sendiri yang telah menguji kepandaian saudara Shu Ta ini?”

“Ha-ha-ha-ha!” kembali Khabuli tertawa bergelak. Sebetulnya, dalam hal kedudukan atau pangkat,

dia masih kalah tinggi dibandingkan Yauw-Ciangkun. Akan tetapi karena mengandalkan pengaruh

pamannya, yaitu Menteri Bayan, sudah terbiasa baginya untuk mengangkat diri sendiri dan bersikap

angkuh. Dan para panglima yang biarpun memiliki kedudukan lebih tinggi darinya seperti Yauw-

Ciangkun, terpaksa mengalah, mengingat akan Menteri Bayan. “Yauw-Ciangkun, apakah engkau

mempercayai ujian yang diberikan kedua orang adikku itu? Ha ha, mereka masih amat muda,

bagaimana mungkin akan mampu menilai tingkat kepandaian seseorang?”

Melihat sikap kakak misan itu, apa lagi sejak tadi pandang mata Khabuli seperti menggerayangi

seluruh tubuhnya, Bouw Siocia sudah menjadi marah sekali.

“Kakak Khabuli, engkau terlalu memandang rendah orang!” bentaknya. “Sekarang begini saja,

Yauw-Ciangkun. Biar kakak Khabuli yang sombong itu menguji sendiri kepandaian Shu Ta! Kalau dia

kalah, dia harus minta maaf kepada saudara Shu Ta! Tentu saja kalau dia berani, atau mungkin dia

hanya pandai menghamburkan suara yang tidak ada gunanya saja!”

Wajah yang kulitnya hitam dari muka Khabuli, menjadi semakin hitam, dan sepasang matanya

mengeluarkan sinar berkilat. “Bagus! Dan bagaimana kalau pemuda dusun ini kalah olehku, Mimi yang

manis? Mau engkau berjanji bahwa kalau dia kalah olehku, engkau harus menjamu makan minum

padaku sampai mabok?” Ucapan ini mengandung kekurang ajaran, karena menjamu makan minum

sampai mabok merupakan hal yang sma sekali tidak mungkin, mengingat bahwa Mimi adalah seorang

gadis. Walaupun masih adik misannya sendiri. Akan tetapi ia sudah tahu akan tingkat kepandaian

 

Khabuli yang tidak berselisih banyak dengan tingkatnya sendiri, maka tentu saja ia merasa yakin

bahwa Shu Ta pasti akan mampu mengalahkannya.

“Baik! Kita bertaruh. Kalau kau menang, akan kujamu makan minum, sebaliknya kalau kau kalah,

jangan melanggar janji, engkau harus minta maaf kepada saudara Shu Ta karena kau telah

memandang rendah kepadanya!” kata Mimi.

Bouw Kongcu sebaliknya merasa tidak enak. Diapun tahu bahwa kakak misannya yang sombong itu

pasti tidak akan menang melawan Shu Ta, maka diapun mendekat dan berkata, “Kakak Khabuli, harap

jangan lanjutkan adu kepandaian ini, karena aku yakin bahwa engkau tidak akan menang. Sudahlah,

kita serahkan saja kebijaksanaan untuk menerima dan memberi pekerjaan kepada saudara Shu Ta

ini kepada Yauw-Ciangkun saja.”

Akan tetapi, ucapan Bouw Kongcu yang sebetulnya menyayangkan kalau sampai kakak misannya itu

nanti kalah dan mendapat malu, bahkan membuat Khabuli semakin penasaran dan marah, menganggap

bahwa adik misannya itu terlalu memandang rendah kepadanya.

“Adik Bouw Ku Cin, tanpa diuji, bagaimana kita dapat membuktikan kemampuan orang ini? Aku

juga seorang panglima, sudah menjadi kewajibanku untuk ikut menguji agar pasukan kita tidak

kemasukan orang yang tidak becus, agar Yauw-Ciangkun tidak menerima seseorang hanya karena

orang itu kauusulkan untuk diterima. Nah, Shu Ta, majulah dan ingin kulihat kemampuanmu!”

Tentu saja Shu Ta merasa tidak enak sekali. Orang ini masih kakak misan dari kakak beradik

Bouw, dan seorang panglima. Karena dia akan bekerja di bawah perintah Yauw-Ciangkun, maka tidak

akan baik kalau dia melayani Khabuli ini tanpa persetujuan dari Yauw-Ciangkun, calon atasannya.

Maka, diapun menghadapi Yauw-Ciangkun dan berkata dengan sikap tenang.

“Saya mohon petunjuk Ciangkun, apa yang harus saya lakukan.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk. Dia sendiripun kurang senang kepada Khabuli yang biasa

mempunyai watak angkuh itu. Sekarang, kakak beradik Bouw sendiri yang mengusulkan agar Khabuli

menguji kepandaian Shu Ta ini. Dia percaya bahwa kakak beradik itu tidak akan sembarangan

menyuruh orang yang mereka calonkan itu menandingi Khabuli kalau mereka tidak yakin akan

kemampuan Shu Ta. Maka, diapun mengangguk.

“Sebagai seorang calon perwira, engkau harus dapat membuktikan bahwa engkau memiliki ilmu

kepandaian yang cukup tangguh, oleh karena itu, setelah kini Khabuli-Ciangkun hendak mengujimu,

tandingilah dia, saudara Shu Ta.”

Ruangan itu memang cukup luas dan dengan sikap tenang, setelah mendapatkan persetujuan Yauw-

Ciangkun, Shu Ta lalu melangkah maju menghampiri Khabuli yang sudah berdiri di tengah ruangan

dengan sikap bengis. Pria itu memang menyeramkan, tinggi besar hitam dan nampak kokoh kuat

seperti sebongkah batu karang, namun, Shu Ta melihat titik kelemahan, yaitu pada pandang

matanya. Pandang mata Khabuli jelas memperlihatkan ketinggian hati. Orang seperti ini akan

memandang rendah lawan dan itulah kelemahannya, karena sikap memandang rendah lawan

menimbulkan kelengahan.

Kakak beradik Bouw tentu saja sudah yakin akan kemampuan Shu Ta, akan tetapi Yauw-Ciangkun

memandang dengan khawatir. Ketika dua orang yang akan bertanding itu berdiri saling berhadapan,

memang nampak jelas sekali perbedaannya, yaitu dalam penampilannya, Shu Ta kalah segala-galanya.

Kalah tinggi besar, kalah kokoh dan agaknya sekali gebrakan saja pemuda sederhana itu akan roboh!

“Ciangkun, aku sudah siap,” kata Shu Ta. Sebelum kalimat ini habis diucapkan, Khabuli sudah

mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya yang tinggi besar itu sudah menerjang ke depan.

Karena diapun dapat menduga bahwa orang sederhana ini tentu memiliki sedikit kepandaian maka

diusulkan menjadi perwira oleh kakak beradik Bouw, biarpun dia memandang rendah, namun begitu

menyerang dia sudah mengerahkan tenaganya sehingga terjangannya itu cepat dan kuat bukan main.

Khabuli adalah seorang jagoan yang selain mempelajari ilmu silat, juga dia ahli ilmu gulat yang

menjadi kebanggaan bangsa Mongol. Karena itu, terjangannya itu selain mengandung pukulan kedua

tangan yang dahsyat, juga jari-jari tangannya siap untuk menangkap anggota tubuh lawan. Sekali

bagian tubuh lawan dapat dicengkeram jari-jari tangan yang hitam panjang itu, akan celakalah lawan!

 

Namun, Shu Ta yang sudah waspada dan tidak pernah memandang rendah lawan, menghadapi

terjangan itu dengan gerakan lincah mengelak ke kanan sehingga tubuh tinggi besar itu bagaikan

seekor gajah menyuruk ke depan. Shu Ta menggerakkan kakinya menendang ke arah tepi lutut kiri

lawan, namun dalam keadaan tersaruk ke depan itu, Khabuli masih dapat mengangkat kaki mengelak

dari tendangan. Dia membalik dan menyerang lagi dengan lebih ganas dari pada tadi. Serangannya

bertubi-tubi, dan dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Shu Ta untuk membalas. Dia

menampar dari samping, menonjok dari depan, mencengkeram dari atas, dan kedua kakinya yang

panjang dan besar itupun tidak tinggal diam, melengkapi hujan serangannya dengan tendangantendangan!

Agaknya, Khabuli bernapsu besar untuk merobohkan lawan, maka dia sudah mengerahkan seluruh

tenaga dan kepandaiannya untuk menghujankan serangan. Kakak beradik Bouw yang melihat

kegarangan Khabuli ini, mau tidak mau merasa khawatir pula, apa lagi Yauw-Ciangkun yang maklum

betapa besar bahayanya melawan seorang yang kokoh kuat seperti Khabuli. Namun, Shu Ta masih

bersikap tenang saja walaupun dia dihujani serangan. Dengan elakan-elakan cepar, mempergunakan

keringanan tubuhnya, juga kadang dia menangkis dari samping, dia dapat menghalau semua terjangan

yang ganas itum dan sengaja dia mengeluarkan suara seperti orang menertawakan lawan. Hal ini

membuat Khabuli menjadi semakin marah dan penasaran. Dia menyerang terus, terpancing

kemarahannya dan tanpa memperhitungkan apa-apa lagi, diapun mengerahkan seluruh tenaga dan

menyerang bertubi-tubi. Pengerahan tenaga yang terus menerus ini, membuat dia sebentar saja,

setelah lewat dua puluh lima jurus, menjadi terengah-engah dan tubuhnya sudah mandi keringat.

Namun, panglima raksasa ini memang seorang yang terlalu tinggi hati. Dia tidak dapat melihat

betapa lawannya amat lincah dan memiliki gerakan yang amat cepat, melainkan dia menganggap

bahwa lawan yang sama sekali belum membalasnya itu terdesak dan gentar terhadap seranganserangannya

yang bertubi-tubi.

Setelah melihat lawan terengah-engah dan sambaran pukulan dan cengkeraman tangannya

tidaklah seganas tadi, tanda bahwa tenaga lawan mulai berkurang, barulah Shu Ta mengirim

serangan balasan. Ketika melihat lengan kanan lawan yang besar panjang itu menyambar lewat,

secepat kilat dia menggunakan jari-jari tangan terbuka menghantam dari samping ke arah belakang

siku lawan.

“Dukk…!!” Tangannya tepat sekali mengenai otot yang berada di dekat siku dan seketika lengan

kanan Khabuli tergetar hebat dan seperti lumpuh. Pada saat itu, kaki Shu Ta juga menyambar dan

mengenai belakang lutut kiri lawan.

“Dukkk…!!” Kembali Khabuli merasa betapa kakinya tergetar dan lumpuh, dan tak dapat pula dia

menahan dirinya untuk jatuh berlutut dengan sebelah kakinya! Kalau Shu Ta menghendaki, tentu dia

dapat mengirim serangan susulan pada saat lawan berlutut itu. Akan tetapi dia tidak melakukan hal

itu, hanya menanti dengan berdiri tegak.

Terdengar tepuk tangan. Yang bertepuk tangan adalah Mimi karena gadis ini merasa girang sekali

melihat jagoannya menang. “Kakak Khabuli, engkau sudah kalah!”teriaknya.

Akan tetapi Khabuli yang merasa penasaran dan marah, tidak percaya bahwa dia dapat dibuat

jatuh berlutut oleh lawan, menggunakan kesempatan itu untuk melompat dan sekali terkam, kedua

lengannya yang panjang itu telah berhasil menerkam tubuh Shu Ta. Mimi mengeluarkan seruan

kaget, juga Bouw Kongcu terbelalak, maklum betapa bahayanya kalau orang sudah dapat diterkam

oleh Khabuli seperti itu. Jari-jari tangan yang terlatih dengan ilmu gulat itu tentu akan dapat

mematahkan tulang, mencekik dan mengunci, membuat lawan tidak mampu melepaskan diri lagi.

Khabuli mengeluarkan gerengan seperti seekor beruang yang berhasil menangkap mangsanya.

Agaknya, rasa malu karena tadi dijatuhkan, membuat panglima raksasa ini lupa bahwa dia sedang

menguji kepandaian seorang calon, bukan sedang berkelahi melawan musuh! Dia sudah mengerahkan

tenaga dan siap mematahkan lengan atau tulang punggung lawan.

Akan tetapi, sesungguhnya, Shu Ta bukan dapat diterkam karena lengah. Dia memang sengaja

membiarkan dirinya diterkam untuk cepat menyudahi pertandingan itu. Maka, begitu kedua

 

pundaknya dapat diterkamm sebelum lawan mampu mengerahkan tenaganya, secepat kilat kedua

tangannya sudah melakukan totokan-totokan.

“Tuk! Tuk!” Dua kali jari tangannya menotok dan seketika tubuh Khabuli menjadi lemas. Walaupun

kedua lengan Khabuli masih merangkul dan menerkamnya, namun sesungguhnya, raksasa itu sudah

kehilangan tenaga karena berada dalam keadaan tertotok! Shu Ta tidak ingin membikin malu lawan,

maka diapun mengerahkan tenaga dan memanggul tubuh yang masih menerkamnya itu, membawanya

ke meja dan mendudukkan tubuh Khabuli ke atas kursinya, kemudian, secepat kilat dia

menggerakkan tangan memulihkan totokan lalu mundur, mendekati kursinya sendiri!

Bouw Kongcu dan Bouw Siocia bertepuk tangan dengan gembira. “Kakak Khabuli, engkau sudah

kalah, hayo cepat minta maaf kepada saudara Shu Ta!” kata Bouw Kongcu.

Sekali ini, Khabuli tidak dapat lagi menyangkal kekalahannya. Dia maklum bahwa pemuda

sederhana itu benar-benar amat lihai. Juga dia tahu bahwa Shu Ta sengaja tidak ingin

merobohkannya dan membikin malu, maka diapun tidak dapat berkata apa-apa lagi. Wajahnya yang

hitam menjadi semakin hitam.

“Kakak Khabuli, hayo kau mengaku kalah!” kata pula Mimi dengan gembira.

“Bouw Kongcu dan Bouw Siocia, sudahlah, sesungguhnya, Khabuli-Ciangkun telah bersikap

mengalah. Dia memang hebat, memiliki tenaga yang kuat dan ilmu silat serta ilmu gulatnya lihat

sekali,” kata Shu Ta yang tidak ingin menanam permusuhan dalam penyusupannya di pasukan Mongol.

“Saudara Shu Ta, melihat ilmu kepandaianmu, kami merasa gembira menerimamu sebagai seorang

perwira dalam pasukan kami. Engkau kami beri tugas untuk mengajarkan ilmu silat kepada para

perwira rendahan agar tingkat mereka bertambah.”

Khabuli yang merasa malu dan juga tidak enak untuk terus berada di siu, bangkit berdiri. “Ilmu

totok dari saudara Shu Ta memang sungguh lihai sekali sehingga aku dapat dibuat tidak berdaya.

Yauw-Ciangkun, aku masih mempunyai kepentingan lain di kota. Aku pergi dulu! Tanpa menanti

jawaban, Khabuli sudah melangkah keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.

Demikianlah, mulai hari itu, Shu Ta diterima sebagai seorang perwira baru, dan dia mendapat

tugas untuk melatih ilmu silat kepada para perwira lain. Dia bekerja dengan baik, dan atas desakan

kedua putera puteri Menteri Bayan itu, sebentar saja dia sudah mendapatkan kepercayaan dan

kenaikan pangkat sehingga dia dipercaya untuk memimpin seregu pasukan. Shu Ta memang cerdik

sekali. Setiap kali menerima tugas, selalu dia laksanakan dengan baik. Kalau pasukannya menerima

tugas untuk menjaga keamanan, dia bersungguh-sungguh menumpas gerombolan penjahat sehingga

setelah dia menjadi perwira keamanan, daerah Nan-king menjadi aman. Dan kalau dia menerima

tugas untuk membasmi kelompok pemberontak, dia selalu berhasil memberi kabar kepada kelompok

itu, sehingga pada saat dia dan pasukannya tiba, maka para pemberontak itu sudah kabur sehingga

tidak terjadi pembasmian atau penangkapan.

Seperti yang telah dia perhitungkan dan harapkan ketika timbul pikirannya untuk menyusup

menjadi seorang perwira kerajaan Mongol, Shu Ta dapat mulai mengumpulkan keterangan tentang

keadaan kerajaan Mongol, tentang kekuatannya, dan tentang kemunduran-kemunduran yang sedang

terjadi karena kaisarnya, yaitu Kaisar Togan Timur (1333-1368), bukan merupakan seorang kaisar

yang bijaksana dan pandai seperti nenek moyangnya. Seluruh kekuasaan dikendalikan oleh para

menteri, terutama Menteri Bayan, dan para thai-kam (orang kebiri), yaitu mereka yang

mempengaruhi kaisar dari sebelah dalam istana. Korupsi merajalela, pemerintahan lemah sekali dan

pengendalian atau pengontrolan terhadap para pejabat di daerah hampir tidak ada lagi. Para pejabat

di daerah dapat bertindak sesuka hati sendiri, dan kalaupun ada pemeriksa datang dari kota raja,

pemeriksa itu tentu melaporkan yang baik-baik saja ke pusat karena dia sudah menerima suapan

dari para pejabat daerah. Dalam keadaan pemerintah lemah seperti itu, di daerah selalu timbul

pergolakan, gerombolan-gerombolan pemberontak bermunculan, gerombolan-gerombolan penjahat

juga saling memperebutkan kekuasaan. Makin nampaklah oleh Shu Ta bahwa saatnya hampir masak

untuk mengadakan pemberontakan besar-besaran yang pasti akan mampu menggulingkan pemerintah

yang sedang dalam keadaan lemah itu. Apa lagi pemerintahan penjajah yang memiliki pamong praja

 

yang korup itu amat dibenci rakyat, karena para pejabat itu melakukan penekanan, penindasan dan

penghisapan. Pemerintah yang para pejabatnya korup, mementingkan kesenangan sendiri, di mana

terjadi perebutan kekuasaan, pemerintah yang tidak disuka oleh rakyat jelata, condong untuk

mudah berantakan dan roboh. Hanya pemerintah yang dipimpin oleh mereka yang benar-benar

mencinta negara dan bangsa, mereka yang adil dan jujur, tidak korup, yang memiliki pasukan yang

kokoh kuat dan taat serta setia, yang didukung oleh rakyat jelata, pemerintah seperti itu yang akan

berhasil memajukan kehidupan rakyat dan memperkuat negara ddan pemerintahannya.

Hubungan Shu Ta yang kini disebut Shu-Ciangkun (Panglima Shu) dan kakak beradik Bouw semakin

baik dan biarpun mereka tinggal saling berpisah jauh, karena kakak beradik itu tinggal di Peking,

namun mereka sering saling memberi kabar dan setiap kali ada kesempatan, mereka saling bertemu,

terutama kalau kakak beradik itu pergi ke Nan-king.

Kita tinggalkan dulu Shu Ta yang kini telah menjadi seorang panglima muda yang dipercaya di

Nan-king, yang mendiami sebuah gedung dan memiliki belasan orang pengawal dan pelayan walaupun

dia masih hidup membujang. Shu Ta sama sekali tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian setelah

dia menjadi panglima di Nan-king, terjadi kegemparan dengan adanya berita tentang seorang

pemberontak yang telah melakukan pembunuhan terhadap seorang perwira yang bertugas di Wuhan,

bahkan gambarnya dipasang di mana-mana agar orang-orang mengetahui dan membantu

pemerintah menangkap pembunuh itu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal

gambar itu sebagai suhengnya, Cu Goan Ciang! Akan tetapi tentu saja dia pura-pura tidak tahu,

hanya memesan kepada semua anak buahnya bahwa kalau mereka sampai dapat bertemu dengan

“pembunuh” itu, agar jangan dibunuh akan tetapi ditangkap dan dibawa menghadap kepadanya. Orang

itu amat penting, harus ditangkap dan dibawa membuka rahasia para pemberontak, demikian

katanya, maka tidak boleh dibunuh dan dihadapkan kepadanya hidup-hidup. Tentu saja perintah ini

dikeluarkan untuk melindungi Goan Ciang agar jangan sampai terbunuh.

Pada suatu pagi, seorang pemuda dusun yang nampak bodoh dan lugu, memasuki pintu gerbang

kota Nan-king bersama seorang pemuda lain yang agak jangkung, juga seorang dusun yang kelihatan

bodoh dan bermata sipit, jenggot dan kumisnya kacau tak terpelihara. Tidak ada seorangpun yang

akan mengenal mereka, karena wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali dari keadaan

asli mereka. Mereka adalah Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang melakukan penyamaran sebagai

dua orang dusun yang bodoh dan sederhana seklai. Siapa akan mengira bahwa pemuda jangkung yang

mukanya buruk dan licik, juga nampak amat bodoh itu, adalah Cu Goan Ciang yang baru saja

menggegerkan Wu-han karena dia telah membunuh seorang perwira tinggi dan beberapa orang

prajurit? Wajah aslinya tampan dan gagah, akan tetapi sekarang dia kelihatan seperti seorang

pemuda dusun yang bodoh. Adapun pemuda ke dua yang nampak muda dan juga bodoh itu, lebih

mengagumkan lagi kalau orang melihat wajah aslinya. Ia adalah seorang gadis yang cantik jelita,

lincah jenakan, bahkan ia adalah wakil ketua umum dari Hwa I Kaipang yang terkenal! Adapun Cu

Goan Ciang diangkat menjadi pembantunya.

Dua orang pimpinan Hwa I Kaipang ini sengaja menyamar dan memasuki Nan-king untuk

menyelidiki tentang Hek I Kaipang yang kini agaknya diperalat oleh pemerintah Mongol, menjadi

antek Mongol. Mereka ingin menyelidiki sampai berapa jauh hubungan atau persekongkolan antara

Hek I Kaipang dengan para pembesar Mongol sehingga perkumpulan pengemis itu tega untuk

mengkhiananti golongan sendiri, membantu para prajurit untuk menyerang Hwa I Kaipang.

Tidak sukar bagi kedua orang itu untuk membaur dengan banyak orang yang keadaannya mirip

mereka. Di kota Nan-king memang setiap hari berdatangan penduduk dusun untuk menjual hasil

sawah ladang mereka. Ratusan orang banyaknya, datang dari berbagai dusun di sekitar Nan-king.

Para penghuni dusun ini seperti keadaan mereka berabad-abad yang lalu, masih sama saja. Rajin

bekerja, sederhana, kurang akal sehingga hasil merekapun amat sederhana, namun agaknya cukup

untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sederhana pula. Setiap hari atau beberapa hari sekali,

setelah memetik hasil ladang mereka, para petani ini berangkat dari dusun pada pagi hari sekali,

bahkan yang jaraknya agak jauh berangkat malam-malam, membawa obor di tangan, memikul barang

 

dagangan berupa sayur mayur, buah-buahan dan sebagainya, untuk dibawa ke kota Nan-king dan

tidak kesiangan tiba di pasar, di mana banyak orang berbelanja. Setelah dagangan mereka habis,

biasanya mendapatkan uang tidak berapa banyak untuk ukuran orang kota, mereka menghabiskan

pula uang itu untuk berbelanja bermacam keperluan, baju baru, sepatu atau makanan yang tidak

terdapat di dusun untuk anak mereka. Mereka tidak tahu betapa hasil ladang mereka yang didapat

dengan cucuran keringat ketika menanam, merawat, kemudian memtik dan memikulnya ke pasar,

diharbai semurah-murahnya oleh orang kota, tidak tahu pula bahwa barang-barang yang mereka beli

dari orang kota, dihargai amat mahal. Orang bodoh selalu menjadi makanan orang pintar, pada hal,

sepantasnya orang pintar menjadi guru orang bodoh, orang kaya menjadi penderma orang miskin,

orang kuat menjadi pelindung orang lemah dan selanjutnya. Sayang keadaan di dunia tidaklah

demikian adanya. Yang kuat menindas yang lemah, yang pintar menipu yang bodoh, yang kaya

merendahkan yang miskin.

Cu Goan Ciang yang menggunakan nama baru Hung Wu bersama Tang Hui Yen yang memakai nama

Siauw Yen, memasuki pasar di mana terdapat banyak orang dusun. Mereka tadi telah membeli lima

buah kue bakpouw untuk sarapan pagi. Mereka, seperti orang-orang dusun itu, tidak malu untuk

makan bakpouw di tepi jalan, mendorong makanan itu ke dalam perut dengan air teh yang mereka

bawa sebagai bekal, seperti kebiasaan orang-orang dusun pula. Hung Wu menghabiskan tiga buah

bakpouw, masih menerima sepotong pula dari Siauw Yen karena gadis yang kini menjadi pemuda

remaja itu hanya mampu menghabiskan satu setengah saja.

Mereka kini sengaja menghampiri sekelompok pengemis yang berkeliaran di dalam pasar, minta

sedekah. Mereka melihat bermacam pengemis, dari yang tua sampai yang muda dan kanak-kanak,

akan tetapi mereka itu adalah pengemis biasa, yaitu mereka yang hidupnya terlantar dan tidak

termasuk pengemis yang berorganisasi. Tidak nampak seorangpun pengemis yang berpakaian hitamhitam,

yaitu anggota Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Diam-diam mereka berdua

merasa heran. Mereka tahu bahwa Hek I Kaipang berpusat di Nan-king, dan merupakan perkumpulan

pengemis yang berkuasa di Nan-king. Akan tetapi kenapa di kota Nan-king sendiri tidak nampak

seorangpun pengemis anggota Hek I Kaipang?

Tiba-tiba Siauw Yen menyentuh tangan Hung Wu dan berbisik, “Hung-twako, kita ikuti dua orang

anak itu.”

Hung Wu memandang dan melihat dua orang anak jembel yang tadinya dia lihat menghitung-hitung

uang receh berkeping-keping kini berjalan keluar melalui pintu belakang pasar. Dia tidak tahu

mengapa Siauw Yen mengajak dia mengikuti dua orang anak itu, akan tetapi dia tidak membantah

dan dengan langkah santai agar tidak kentara mereka mengikuti dua orang anak-anak yang keluar

dari dalam pasar melalui pintu belakang. Dua orang anak laki-laki berusia antara dua belas sampai

lima belas tahun itu keluar dari pintu menuju ke sebuah jembatan. Di tebing dekat jembatan, bagian

bawahnya, nampak seorang laki-laki setengah tua sedang duduk dan kini Hung Wu dan Siauw Yen

memandang penuh perhatian karena laki-laki itu adalah seorang anggota Hek I Kaipang! Dua orang

anak laki-laki itu menghampiri pengemis baju hitam yang menyambut mereka dengan mata melotot

dan sikap bengis.

“Paman, kalau boleh, hari ini setoranku kukurangi tiga keping, besok akan kutambahkan tiga

keping. Adikku sakit dan aku ingin membelikan buah yang segar untuknya,” kata anak yang lebih kecil

dengan suara memohon. Sedangkan anak yang lain sudah menyerahkan uang yang dihitung oleh

pengemis itu, jumlahnya sepuluh keping.

“Apa?” Si pengemis melotot dan membentak. “Kalau ingin mendapatkan penghasilan lebih,

bekerjalah lebih giat! Tidak boleh potong, kalau setoranmu kurang, jari tanganmu yang akan

kupotong!”

Anak itu menjadi ketakutan dan biarpun dia cemberut, dia menyerahkan semua uangnya yang

jumlahnya juga hanya sepuluh keping. Setelah pengemis itu menerima uang mereka, kedua orang

anak jembel itu pergi. Kemudian berdatangan para pengemis yang tadi dilihat oleh Hung Wu dan

Siauw Yen di pasar, dan mereka semua menyetorkan uang kepada anggota Hek I Kaipang itu.

 

Hung Wu dan Siauw Yen saling pandang. Tanpa bicarapun mereka mengerti sekarang mengapa

mereka tidak melihat seorangpum anggota Hek I Kaipang mengemis di kota Nan-king. Kiranya

mereka itu sekarang bukan lagi mengemis sendiri melainkan menjadi pemeras para pengemis. Para

pengemis yang melakukan pekerjaan mengemis, dan hasil pekerjaan itu harus disetorkan kepada

mereka sebagai semacam “pajak”! Dan orang-orang Hek I Kaipang pasti tidak akan berani melakukan

pemerasan seperti itu kalau tidak mendapat restu dari penguasa setempat. Agaknya inilah imbalan

Hek I Kaipang membantu pasukan pemerintah untuk memusuhi golongannya sendiri. Mereka

mendapatkan kekuasaan tertentu, di antaranya memungut pajak dari para pengemis lain yang bukan

anggota Hek I Kaipang.

Hung Wu dan Siauw Yen lalu meninggalkan jembatan itu dan sehari mereka berkeliaran di kota

dan melakukan penyelidikan. Akhirnya, mereka mengetahui bahwa benar seperti yang mereka duga,

Hek I Kaipang kini benar-benar telah merupakan sebuah perkumpulan yang menjadi antek

pemerintah Mongol, telah rela menjual golongan sendiri, bangsa sendiri, demi kemakmuran yang

mereka peroleh dari pejabat setempat. Hek I Kaipang yang telah bersekongkol dan menjadi antek

Mongol, dan untuk balas jasa, para pejabat tinggi memberi hak kepada mereka untuk memungut

pajak para pengemis lain, dan menguasai pula tempat-tempat hiburan, seperti rumah-rumah pelesir,

rumah-rumah judi dan lain-lain. Di tempat-tempat hiburan ini, merekapun memungut pajak besar dan

tidak ada pengusaha rumah pelesir atau rumah judi yang berani menentang mereka karena di

belakang para pengemis ini berdiri pembesar setempat. Tentu saja, Hek I Kaipang memperoleh

penghasilan besar, pemasukan uang secara mudah sekali.

Lewat tengah hari, Hung Wu dan Siauw Yen mengaso di sebuah taman di kota, duduk di bangku.

Mereka merasa lelah, juga marah, melihat betapa perkumpulan pengemis Hek I Kaipang kini jelas

menjadi antek pemerintah dan kini mereka tahu mengapa Hek I Kaipang menyerang Pek Mau Lokai.

“Sungguh aneh,” kata Siauw Yen. “Dahulu Hek I Kaipang merupakan rekan dari Hwa I Kaipang,

bahkan para pimpinan Hek I Kaipang adalah sahabat-sahabat baik kakekku. Apa lagi setelah ketua

Hek I Kaipang yang baru adalah murid keponakan kakek sendiri, hubungan di antara kedua

perkumpulan amat baik, bahkan bekerja sama dalam menentang pemerintah penjajah Mongol. Akan

tetapi, sejak Coa Kun itu menjadi ketuanya, terjadi perubahan. Dan sekarang, kita melihat sendiri

betapa Hek I Kaipang benar-benar menjadi antek dan bahkan mendapatkan kekuasaan di Nan-king.

Hal ini berbahaya sekali.”

“Kurasa, jalan satu-satunya untuk melemahkan penjajah adalah menguasai Hek I Kaipang. Kurasa,

para anggota Hek I Kaipang hanya terbawa oleh ketuanya, kalau kita mampu mengambil alih

kepemimpinan atas para anggota Hek I Kaipang, kita dapat mengubah kemudi dan mengarahkan Hek

I Kaipang kepada perjuangan.”

Mendengar usul Hung Wu atau Cu Goan Ciang itu, Siauw Yen mengangguk-angguk dan berkata,

“Memang benar. Kakek pernah mengatakan pendapat seperti itu. Akan tetapi, bagaimana kita mampu

mempengaruhi mereka atau mengambil alih kekuasaan? Dengan kekerasan, tentu akan terjadi

pertempuran antara kedua kaipang, dan mengingat bahwa pasukan pemerintah tentu akan membantu

Hek I Kaipang, sukar sekali bagi kita untuk mendapatkan kemenangan.”

“Tentu saja tidak dengan kekerasan, karena maksud kita bukan membasmi perkumpulan itu dan

memusuhi anggotanya, melainkan menundukkan para pimpinannya agar kita dapat mengembalikan Hek

I Kaipang ke jalan perjuangan.”

“Akan tetapi bagaimana caranya, toako? Hek I Kaipang memiliki pemimpin-pemimpin yang lihai.

Ketuanya, Coa Kun itu lihai sekali terutama puterinya yang bernama Coa Leng Si, biarpun usianya

baru delapan belas tahun, akan tetapi ia memiliki kepandaian yang melebihi ayahnya! Aku sendiri

bahkan pernah bertanding dengannya dalam sebuah bentrokan baru-baru ini, dan harus kuakui

bahwa ia amat lihai dan kalau dilanjutkan tentu aku akan roboh olehnya.”

“Hemm, begitu hebatkah ia?”

 

“Masih ada para pembantu pimpinan yang juga lihai dan jangan dilupakan, setelah kini mereka

membantu pemerintah, tentu mereka dekat dengan para jagoan Mongol yang berada di Nan-king.

Tidak mudah menundukkan Hek I Kaipang sekarang ini, toako.”

“Akan tetapi, kita harus mencari jalan, harus menundukkan mereka dan merenggut mereka lepas

dari pengaruh pemerintah Mongol. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita dapat bergerak bebas?”

“Ssttt… lihat di sana, toako,” tiba-tiba Siauw Yen berbisik dan matanya memandang ke arah

jalan. Hung Wu menengok dan diapun melihat apa yang menarik perhatian gadis yang menyamar

sebagai pemuda itu. Seorang laki-laki tinggi kurus, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berjalan di

tepi jalan. Yang menarik perhatian mereka berdua adalah bahwa laki-laki itu mengenakan pakaian

berkembang dan tambal-tambalan, pakaian seorang anggota Hwa I Kaipang!

“Jelas dia seorang yang menyamar sebagai anggota Hwa I Kaipang,” kata Siauw Yen. Hung Wu

mengangguk. Peraturan pertama yang mereka berikan kepada para anggota dan yang segera ditaati,

kini sudah menghasilkan buah. Dengan peraturan baru itu, kalau ada yang menyamar sebagai anggota

Hwa I Kaipang, akan mudah dilihat dan segera dikenal. Kalau orang tinggi kurus itu seorang anggota

Hwa I Kaipang yang asli tentu dia sudah tahu akan peraturan baru itu dan tidak akan mengenakan

pakaian menyolok itu! Jelas, dia seorang mata-mata yang biasa menyelidiki Hwa I Kaipang. Mungkin

orangnya pemerintah, mungkin pula orangnya Hek I Kaipang.

“Mari kita membayanginya,” kata Siauw Yen. Hung Wu mengangguk dan tersenyum, karena dia

merasa semakin kagum kepada gadis ini. Seorang gadis yang bukan saja berjiwa pahlawan, patriotik,

akan tetapi juga cerdik dan pemberani!

“Dia bukan anggota kita?” Dalam perjalanan membayangi pengemis itu, Hung Wu bertanya. Siauw

Yen menggeleng kepala dan Hung Wu merasa yakin karena tentu saja gadis yang mewakili kakeknya

memimpin Hwa I Kaipang ini sudah hafal akan semua anggota perkumpulan itu.

Tepat seperti telah diduganya, Siauw Yen melihat orang itu memasuki pekarangan rumah besar

yang menjadi pusat Hek I Kaipang. Di depan rumah itu terdapat papan nama besar dengan tulisan

Hek I Kaipang yang coretannya gagah dan di pekarangan itu terdapat sebuah gardu penjagaan di

mana terdapat belasan orang anggota Hek I Kaipang berjaga. Orang yang berpakaian pengemis baju

kembang itu berhenti sebentar karena ditahan oleh para penjaga, akan tetapi setelah bicara

sebentar, dia diperkenankan masuk.

Melihat ini, Siauw Yen berbisik kepada Hung Wu, “Toako, jelaslah bahwa pihak Hek I Kaipang

menyebar mata-mata yang menyamar seperti anggota kita. Akan tetapi, dengan adanya peraturan

baru kita, maka kini kita semua akan mudah menangkap mata-mata mereka. Kiranya sudah banyak

yang kita dapatkan dalam penyelidikan kita tadi, mari kita pulang, toako.”

Hung Wu mengangguk, akan tetapi pada saat itu nampak sebuah kereta yang ditarik dua ekor

kuda dipersiapkan orang di pekarangan rumah besar yang menjadi pusat Hek I Kaipang. Siauw Yen

memberi isarat kepada Hung Wu untuk menanti sebentar. Mereka dapat melihat seorang laki-laki

yang berusia lima puluhan tahun, bertubuh sedang dan mukanya gagah sekali, seperti muka harimau,

keluar dari dalam rumah itu bersama seorang kakek dan nenek yang keduanya sudah tua renta dan

berjalan dibantu tongkat. Mereka bertiga naik ke dalam kereta dan Siauw Yen cepat memberi isarat

kepada Hung Wu untuk segera pergi dari situ. Siauw Yen mengajaknya menyelinap di tempat sepi

dan berkata, “Toako, engkau harus membayangi kereta itu jangan dilepaskan. Laki-laki tadi adalah

ketua Hek I Kaipang, Coa Kun. Kebetulan sekali dia hendak keluar kota dan yang menemaninya hanya

seorang kakek dan seorang nenek yang sudah sangata tua. Inilah kesempatan tepat bagi kita untuk

turun tangan, membunuh pengkhianat bangsa itu. Kalau dia mati dan Hek I Kaipang dipegang orang

lain mungkin sikap mereka akan menjadi lain. Kau bayangi saja, jangan turun tangan karena dia cukup

lihai. Aku akan mencari bala bantuan.” Tanpa menanti Hung Wu menjawab, Siauw Yen sudah

menyelinap dan lenyap.

Hung Wu tinggal seorang diri, termangu. Namun, dia dapat melihat kebenaran dalam pendapat

gadis itu. Memang sayang sekali kalau Hek I Kaipang dibawa menyeleweng oleh ketuanya, menjadi

antek Mongol. Semua kekuatan yang ada pada rakyat yang terjajah harus dikerahkan, kalau hendak

 

membebaskan diri dari belenggu penjajah. Terutama semua perkumpulan, harus bersatu padu. Kalau

perkumpulan yang tidak mau bersatu, apa lagi yang bahkan berkhinat membantu penjajah, harus

dibasmi, karena hal ini berarti merontokkan sebuah di antara gigi dan kuku penjajah.

Kereta itu mulai bergerak meninggalkan pekarangan. Hung Wu segera mengikutinya dari jauh.

Untung baginya bahwa kereta itu oleh kusirnya, dijalankan lambat-lambat sehingga tidak sukar

baginya untuk terus membayangi kereta itu. Kereta itu ternyata menuju ke utara dan keluar dari

pintu gerbang utara. Hung Wu juga keluar dari pintu gerbang itu. Matahari sudah mulai condong ke

barat. Hung Wu menduga-duga apakah Siauw Yen berhasil mendapatkan bala bantuan. Ah, gadis itu

terlalu berhati-hati, pikirnya. Biarpun ketua Hek I Kaipang lihai, kalau dia, maju bersama Siauw Yen,

tentu akan mampu mengalahkannya! Bahkan dia sendiripun agaknya tidak takut menghadapinya.

Bukankah Siauw Yen pernah menyatakan bahwa gadis itu tidak gentar menghadapi ketua Hek I

Kaipang, akan tetapi yang amat lihai adalah puteri ketua itu? Dan sekarang yang berada di dalam

kereta hanyalah Coa Kun, sang ketua, bersama seorang kakek dan seorang nenek yang sudah tua

renta dan nampak loyo. Juga kusirnya itu tentulah hanya anak buah biasa saja.

Pada waktu itu, karena tadi matahari amat teriknya, jalan yang keluar dari Nan-king ke utara itu

nampak sunyi. Hal ini juga memudahkan Hung Wu untuk membayangi kereta yang kini berjalan agak

cepat sehingga dia harus berlari.

Bagaimana kalau Siauw Yen tidak berhasil mendapatkan bantuan? Dan bagaimana pula kalau Siauw

Yen tidak dapat menyusulnya, tidak tahu bahwa kereta menuju ke utara? Apakah dia harus

mengikuti terus sampai kelelahan? Atau harus membiarkan saja ketua Hek I Kaipang itu pergi tanpa

mengganggunya? Akan tetapi, kalau dia turun tangan sendiri kemudian gagal, bukankah hal itu akan

membuat Siauw Yen menjadi amat kecewa dan marah? Sungguh serba salah, pikirnya.

Setelah kini kereta tiba di jalan menuji perbukitan yang sunyi dan kereta dilarikan semakin

cepat, Hung Wu mengeluh. Kalau begini terus, akhirnya sebelum mati tiba dia akan kehabisan tenaga

dan semua usahanya membayangi akan sia-sia belaka. Sudah hampir dua jam dia membayangi dan

belum juga Siauw Yen muncul. Sebaiknya, aku turun tangan sendiri, membunuh ketua Hek I Kaipang,

pikirnya. Andai kata gagalpun, dia masih dapat menyelamatkan diri dan diapun tidak akan malu

kepada Siauw Yen akan kegagalannya, karena setidaknya dia telah berusaha! Agaknya Siauw Yen

tidak berhasil mendapatkan bantuan, atau gadis itu mengambil jalan yang keliru ketika mengejarnya,

tidak tahu bahwa kereta menuju ke utara.

Hung Wu mempercepat larinya, mendahului kereta. Setelah mendahului kereta dalam jarak tiga

puluh meter, dia berhenti, membalik dan menghadang, mengangkat kedua tangan ke atas dan

membentak kepada kusir agar menghentikan keretanya.

Kusir kereta yang duduk di depan atas, melihat seorang pemuda jangkung berpakaian seperti

seorang petani menghadang di tengah jalan dan membentak agar kerta dihentikan, tentu saja

menjadi marah sekali. Dua ekor kudanya juga menjadi ketakutan ketika dihadang orang yang

membentak-bentak. Kusir menghentikan keretanya lalu menghardik.

“Siapakah engkau yang tak tahu diri dan kurang ajar berani menghentikan kereta? Tidak tahukah

siapa yang menjadi penumpang kereta ini? Minggir, atau aku akan menerjangmu dan melindasmi!”

Tukang kereta menggerakkan cambuknya yang panjang untuk mengusir orang itu yang dianggapnya

sinting atau kurang ajar. Cambuknya yang panjang menyambar ke arah kepala Hung Wu. Akan tetapi,

pemuda ini menyambar ujung cambuk dan secara tiba-tiba seklai dia menarik cambuk itu sehingga

kusinya yang memegang gagang cambuk terkejut dan terbawa jatuh dari atas keretanya!

“Heii, apa yang terjadi?” terdengar teriakan dari dalam kereta. Pintu kereta terbuka, tirainya

tersingkap dan keluarlah tiga orang dari dalam kereta itu. Mereka adalah Coa Kun ketua Hek I

Kaipang dan dua orang tua renta tadi. Seorang kakek dan seorang nenek yang keduanya berusia

delapan puluh tahun, memegang tongkat dan kurus, nampak ringkih dan loyo. Coa Kun melihat betapa

kusirnya mengerang kesakitan dan tidak mampu bangun karena sebelah kakinya terkilir, ketika dai

terbanting jatuh dari atas kereta. Marahlah ketua Hek I Kaipang itu.

 

“Jahanam keparat! Sudah gilakah engkau? Siapakah engkau berani menghadang keretaku? Apa

matamu sudah buta, tidak melihat bahwa aku, ketua Hek I Kaipang yang menjadi penumpang kereta

ini?”

Hung Wu memandang dengan mata bersinar-sinar. “Aku tahu bahwa engkau adalah Twa-sin-to Coa

Kun, ketua Hek I Kaipang yang telah membawa perkumpulan itu menjadi pengkhianat bangsa,

penjilat orang-orang Mongol. Karena itu, aku akan membunuhmu!”

“Keparat, engkaulah yang akan mampus di tanganku!” Coa Kun membentak dan diapun sudah

menerjang maju dengan marah. Orang she Coa ini adalah ketua Hek I Kaipang, bukan saja

kepandaiannya tinggi, akan tetapi dia juga telah bersekutu dengan pasukan pemerintah, tentu saja

dia menyadari akan kekuasaannya. Kini muncul seorang pemuda dusun berani mati mengancam hendak

membunuhnya, maka tentu saja dia marah bukan main dan begitu menyerang, dia telah mengerahkan

tenaganya dan dengan bertubi, tangan kananya mencengkeram ke arah kepala sedangkan tangan

kirinya menyusul dengan tangan miring menghantam ke arah dada lawan.

Melihat gerakan lawan, tahulah Hung Wu bahwa nama besar ketua Hek I Kaipang ini bukan nama

kosong belaka. Orang ini memiliki tenaga yang kuat, hal ini dapat dia ketahui dari sambaran angin

pukulan yang menyerangnya. Diapun cepat mengelak dari cengkeraman tangan kanan ke belakang, lalu

menyambut pukulan tangan lawan dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaganya.

“Dukkk!!” Keduanya tergetar, akan tetapi kalau Hung Wu hanya tergetar lengannya yang

menangkis, dengan kedudukan kaki masih tegak, adalah pangcu (ketua) itu yang selain tergetar

hebat, juga kakinya melangkah ke belakang dua langkah. Ini saja sudah membuktikan bahwa dia

kalah tenaga melawan Hung Wu. Bukan main kagetnya Coa Kun. Tak disangkanya pemuda dusun yang

nampak bodoh ini bukan saja mampu mengelak dan menangkis serangannya, bahkan dapat membuat

dia melangkah ke belakang. Dia kalah kuat dalam hal tenaga! Kemarahan dan rasa penasaran

membuat Coa Kun meraih gagang goloknya dan segera nampak sinar berkilat ketika golok besar yang

tergantung di pinggang itu telah dicabutnya. Golok itu besarm lebar dan berkilauan, tentu tajam

bukan main.

Melihat ini, Hung Wu tidak berani memandang ringan. Ketua Hek I Kaipang ini berjuluk Twa-sinto

(Golok Besar Sakti), tentu dia ahli bermain silat golok. Oleh karena itu, Hung Wu juga mencabut

pedang yang tadinya disembunyikan di balik bajunya.

Coa Kun sudah menerjang lagi, kini sambil menggerakkan goloknya dan nampak gulungan besar

sinar yang menyambar-nyambar. Namun, Hung Wu juga sudah menggerakkan pedangnya dan karena

dia maklum betapa lihainya lawan, dan dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh ketua Hek I

Kaipang ini, diapun segera menggerakkan pedangnya, menangkis dan balas menyerang dengan dasar

ilmu silat Rajawali Sakti. Terjadi perkelahian yang seru, akan tetapi setelah lewat dua puluh jurus,

perlahan-lahan ketua Hek I Kaipang mulai terdesak oleh gulungan sinar pedang di tangan Hung Wu.

Ilmu silat Rajawali Sakti memang hebat, dan Coa Kun beberapa kali mengeluarkan seruan kaget.

Kakek dan nenek yang tua renta itu tetap menonton, berdiri seperti patung bertopang pada tongkat

mereka. Kusir kereta sudah dapat bangkit kembali dan kini menenangkan dua ekor kuda penarik

kereta, sambil memandang dengan gelisak ke arah perkelahian, karena dia melihat betapa ketuanya

mulai terdesak.

Selagi Hung Wu mendesak lawannya dan merasa gembira karena besar harapannya dia akan

berhasil, terdengar derap kaki kuda. Wajah Hung Wu berseri karena tanpa melihatpun dia hampir

yakin bahwa tentu itu rombongan bala bantuan yang didapatkan Siauw Yen dan kini mereka datang

untuk membantunya. Dengan demikian hampir dapat dipastikan bahwa ketua Hek I Kaipang tentu

akan dapat ditewaskan! Apa lagi ketika dia sempat melirik ke arah suara derap kaki kuda dia melihat

bahwa penunggang kuda terdepan adalah seorang gadis! Siapa lagi kalau bukan Yen Yen!

Kini, rombongan orang yang jumlahnya belasan itu sudah tiba di situ dan terdengar bentakan

suara wanita, “Ayah, biar aku yang melawannya!”

Nampak bayangan berkelebat dan sebatang pedang menyambar ganas ke arahnya. Dia terkejut

dan menangkis. “Tranggg…!!” Nampak bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu dan

 

Hung Wu terkejut bukan main, cepat melompat ke belakang. Ketika dia memandang penuh perhatian,

wajahnya berubah. Kiranya gadis itu bukan Yen Yen, melainkan seorang gadis yang lebih muda dari

Yen Yen, cantik pula, dengan pedang di tangan. Dan belasan orang yang bersama gadis itu, lebih

mengejutkan hatinya lagi. Terdapat seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tinggi besar

berkepala botak dengan jubah merah, dan yang lain adalah pasukan pemerintah, dapat dikenal dari

pakaian seragam mereka! Celaka, dia belum berhasil membunuh ketua Hek I Kaipang, sekarang telah

dikepung pasukan pemerintah, dan agaknya gadis berpakaian serba hijau yang tadi menyerangnya

dengan pedang adalah puteri ketua Hek I Kaipang yang pernah dia dengar dari keterangan Yen Yen.

Gadis yang membuat Yen Yen kewalahan dan katanya lebih lihai dibandingkan ketua Hek I Kaipang

sendiri. Belum lagi kakek botak itu yang kini sudah turun dari kuda, dan berdiri memandang

kepadanya dengan sinar mata mencorong, yang dia duga tentulah seorang yang lihai pula.

“Siapakah engkau dan mengapa engkau menyerang ayahku?” Gadis itu yang kini berdiri di depan

Hung Wu, bertanya dengan suara nyaring.

“Tidak perlu tahu aku siapa, aku adalah orang yang akan membunuh semua orang yang menjadi

pengkhianat bangsa dan menjadi antek penjajah Mongol!”

Mendengar ini, perwira yang agaknya memimpin pasukan itu mencabut goloknya dan berseru,

“Kiranya seorang pemberontak! Tangkap! Bunuh dia!” Teriakan ini merupakan aba-aba dan disambut

oleh anak buahnya dengan cabutan golok. Belasan orang prajurit itu segera mengepung dan

mengeroyok, membantu gadis baju hijau yang juga sudah menerjang dengan pedangnya.

Begitu mereka saling serang, keduanya terkejut bukan main. Segera Hung Wu mengenal ilmu silat

Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu Silat Rajawali Sakti) persis seperti ilmu silat yang dikuasainya! Ini tidak

mungkin! Demikian dia berpikir dengan kaget. Ilmu silat ini adalah ciptaan gurunya, Lauw In Hwesio,

dan merupakan ilmu simpanan yang hanya diajarkan kepadanya saja, tidak pernah diajarkan kepada

murid lain. Akan tetapi gadis ini kini memainkannya, dan permainannya begitu baik, bahkan tidak

kalah olehnya!

Gadis baju hijau itupun terkejut bukan main, akan tetapi dengan penasaran ia menyerang terus

sehingga terjadilah perkelahian yang seru dan aneh karena mereka memiliki gerakan yang sama!

Akan tetapi karena ternyata tingkat kepandaian antara mereka seimbang, dan masih ada belasan

orang prajurit Mongol mengeroyoknya, sebentar saja Hung Wu terdesak dan terkepung ketat.

Tiba-tiba terdengar suara parau dari kakek botak yang sejak tadi memandang penuh perhatian,

“Leng Si, mundurlah, dan suruh semua prajurit mundur. Aku sendiri yang akan menghadapi pemuda

ini!”

Mendengar ucapan parau itu, gadis berbaju hijau melompat mundur dan memberi aba-aba kepada

pasukan kecil itu untuk mundur pula. Kemudian, kakek botak tinggi besar itu sekali menggerakkan

kakinya, sudah berdiri di depan Hung Wu yang masih melintangkan pedang di depan dadanya.

Sejenak mereka saling pandang, kemudian pria botak itu berkata dengan suaranya yang parau.

“Orang muda, dari mana engkau mempelajari Sin-tiauw ciang-hoat? Apa hubunganmu dengan Lauw

In Hwesio?”

Mendengar pernyataan ini, seketika Hung Wu tersadar. Gadis itu memiliki pula ilmu Sin-tiauw

ciang-hoat, pada hal ilmu itu hanya dikuasai oleh dua orang yang merangkai ilmu itu, yaitu Lauw In

Hwesio dan Bouw In Hwesio. Karena itu, mudah diduga dengan siapa dia berhadapan.

“Lauw In Hwesio adalah guruku,” kata Hung Wu, “dan agaknya lo-cian-pwe tentu supek (uwa guru)

Bouw In Hwesio.” Kalimat terakhir ini diucapkan dengan nada agak meragu karena kakek di depannya

itu tidak gundul sepenuhnya, melainkan botak dan memelihara rambut di bagian belakang dan kanan

kirinya. Juga pakaiannya tidak seperti pakaian hwesio walaupun dia mengenakan jubah hwesio yang

berwarna merah.

Kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kiranya murid sute Lauw In Hwesio!” katanya. “Sungguh

heranm kenapa sute mengajarkan ilmu itu kepada seorang pemberontak?”

 

Hung Wu mengerutkan alisnya, “Suhu tentu akan merasa heran pula kalau mengetahui bahwa

supek mengajarkan ilmu itu kepada seorang antek Mongol!” katanya dengan berani sambil

memandang kepada gadis baju hijau tadi.

“Hemm, bocah sombong, berani engkau berkata demikian kepadaku? Aku tahu bahwa para

pemberontak adalah orang-orang jahat yang mempergunakan kedok perjuangan untuk menutupi

kejahatan mereka. Mereka hanya perampok dan mencuri. Nah, ingin kulihat sampai di mana

kehebatanmu dengan ilmu kami itu.” Setelah berkata demikian, Bouw In Hwesio yang kini tidak lagi

menjadi hwesio itu sudah menggerakkan kedua lengannya dan dia maju menyerang. Begitu kedua

tangan digerakkan, maka kedua lengan bajunya yang panjang, bagian dari jubah merahnya,

menyambar dengan dahsyat ke arah Hung Wu.

Pemuda ini sudah siap. Biarpun supek sendiri, kalau dia menjadi antek Mongol berarti menjadi

musuhnya! Maka, dia memutar pedangnya dan melawan mati-matian. Kini terjadi perkelahian yang

ditonton banyak orang, perkelahian yang menarik, di mana pedang berkelebatan disambut sepasang

lengan jubah merah. Namun, karena memang kalah matang dalam ilmu Sin-tiauw ciang-hoat dna kalah

tenaga sakti, sebentar saja Hung Wu terdesak dan hanya mampu memutar pedang melindungi tubuh

tanpa mampu membalas lagi.

Pada saat itu terdengar bentakan, “Toako, jangan khawatir aku datang membantumu!” dan

muncullah Siauw Yen.

“Siauw Yen, pergilah! Cepat larilah sebelum terlambat, siauw-te!” teriak Hung Wi, terkejut dan

khawatir sekali melihat Yen Yen muncul dengan penyamarannya, seorang diri saja tanpa bantuan!

Namun, Yen Yen adalah seorang gadis yang gagah perkasa dan pemberani. Apa lagi ia merasa amat

kagum kepada Hung Wu, bahkan pemuda itu telah diangkat menjadi pembantu utamanya. Oleh

karena itu, melihat Hung Wu terancam bahaya, bagaimana mungkin ia dapat pergi begitu saja

menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan pemuda itu terancam bahaya? Tadi ia sudah berusaha

mencari bala bantuan, akan tetapi ia telah gagal. Ia hanya bertemu dengan dua orang saja anggota

Hwa I Kaipang di kota Nan-king, dua orang anggota biasa yang ilmu kepandaiannya tidak dapat

diandalkan. Oleh karena itu, timbul kekhawatirannya kalau-kalau Hung Wu bertindak sendiri dan

terancam bahaya, maka iapun melakukan pengejaran seorang diri dan muncul pada saat Hung Wu

didesak seorang kakek yang amat lihai. Biarpun ia melihat bahwa selain kakek botak yang lihai, di

situ terdapat pula belasan orang prajurit, bahkan ia mengenal pula kehadiran ketua Hek I Kaipang,

yaitu Coa Kun, dan puterinya yang lihai di samping seorang kakek dan seorang nenek tua renta yang

tadi berkereta bersama ketua Hek I Kaipang, Yen Yen tidak merasa gentar. Ia harus membantu dan

menolong Hung Wu, apapun yang terjadi, maka iapun sudah menerjang ganas, menyerang dan

mengeroyok kakek botak yang kedua lengan jubahnya lihai bukan main itu. Tongkatnya segera

memainkan ilmunya yang paling ampuh, yaitu Hok-mo-tung.

Sesosok bayangan berkelebat dan gadis baju hijau Coa Leng Si sudah menggunakan pedang

menyambut Yen Yen. Mereka berdua segera saling serang dengan seru, dan biarpun Yen Yen maklum

akan kelihaian Leng Si, namun untuk dapat menolong Hung Wu, ia melawan dengan nekat dan

mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Hok-mo-tung.

Melihat permainan tongkat pemuda dusun yang masih remaja itu, Coa Kun segera mengenal ilmu

itu sebagai ilmu andalan dari Hwa I Kaipang. Dia cepat melompat dan membantu puterinya dengan

golok besarnya sambil berseru, “Mereka orang-orang Hwa I Kaipang. Tangkap hidup-hidup!”

Kini keadaan Hung Wu dan Siauw Yen tiada bedanya, sama-sama terdesak hebat oleh pihak lawan.

Hung Wu yang melawan mati-matian, tidak berdaya karena yang menandinginya adalah supeknya

yang tentu saja memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi. Sedangkan Siauw Yen sendiri,

melawan Leng Si seorang saja sudah kalah, apa lagi dikeroyok dua oleh gadis lihai itu dan ayahnya,

ketua Hek I Kaipang. Gadis yang menyamar itu hanya mampu menggerakkan tongkat untuk

melindungi dirinya saja. Akhirnya, hampir berbareng dengan Hung Wu, ia roboh tertotok oleh Leng

Si. Hung Wu sendiri juga roboh lemas terkena totokan ujung lengan jubah Bouw In Hwesio.

 

“Akupun mengenal ilmu tongkat dan gerakannya, ayah. Kalau tidak salah, ia adalah cucu dari Pek

Mau Lokai, gadis yang kabarnya kini menjadi pemimpin Hwa I Kaipang, yang bernama Tang Hui Yen.”

Setelah berkata demikian, Coa Leng Si berlutut mendekati Siauw Yen yang rebah lemas tak

berdaya. Leng Si menggosok sana-sini di muka, kepala dan leher. Leng Si, melepaskan kain penutup

rambut dan sebentar saja nampaklah bahwa pemuda petani itu bukan lain adalah seorang gadis

cantik!

“Hemm, benar katamu, Leng Si. Ia adalah Tang Hui Yen, tokoh Hwa I Kaipang. Kalau begitu, aku

yakin bahwa yang seorang lagi inipun tokoh Hwa I Kaipang,” kata Coa Kun dan diapun berlutut

mendekati Hung Wu dan seperti yang dilakukan puterinya tadi, dia menggosok muka Goan Ciang atau

Hung Wu sehingga penyamaran pemuda itu terbuka dan nampak wajah aslinya. Begitu kelihatan

wajah aslinya, perwira yang memimpin pasukan kecil itu berseru kaget.

“Ah, dia adalah pemberontak yang dicari itu! Dia Cu Goan Ciang!”

“Cu Goan Ciang?” kata Coa Kun. “Hemm, siapa dia?”

“Pangcu, dia adalah pemberontak yang telah membunuh Bhong-Ciangkun dari Wu-han dan

membunuh banyak prajurit kita. Bahkan Shu-Ciangkun telah memesan kepada kami bahwa kalau kami

dapat menangkap Cu Goan Ciang, agar tidak dibunuh dan cepat dibawa menghadap Shu-Ciangkun,

karena beliau hendak melakukan pemeriksaan dan memaksa dia menceritakan semua tentang para

pemberontak. Pangcu, kami harap agar pangcu suka menyerahkan kedua orang tawanan ini kepada

kami, karena sekarang juga akan kami hadapkan kepada Shu-Ciangkun.”

Pangcu dari Hek I Kaipang mengangguk-angguk. Dia mengenal siapa yang disebut Shu-Ciangkun

itu. Seorang perwira tinggi yang biarpun baru beberapa bulan bertugas di Nan-king, namun telah

membuat nama besar dan banyak juga membersihkan Nan-king dan sekitarnya dari gangguan para

penjahat. Tentu saja dia tidak ingin membantah kehendak panglima baru yang menjadi tangan kanan

atau pembantu utama Yauw-Ciangkun, panglima yang menjadi komandan pasukan keamanan di Nanking.

“Baik, akan tetapi agar kedua orang ini jangan sampai lolos dalam perjalanan, biar kita bersama

kembali ke Nan-king. Baru setelah tiba di sana kalian boleh membawa mereka ke benteng.”

Tubuh kedua orang pemberontak yang masih lemas itu lalu ditelikung dan kaki tangan mereka

dibelenggu. Mereka diangkat dan dimasukkan ke dalam kereta, kemudian rombongan itu berangkat

menuju ke Nan-king.

“Ayah, bagaimana ayah bersama kedua lo-cian-pwe (orang tua gagah) dapat berada di hutan dan

dihadang oleh Cu Goan Ciang itu?” tanya Leng Si kepada ayahnya. “Aku sedang membujuk suhu untuk

suka datang ke Nan-king, dikawal tiga belas orang prajurit seperti yang diperintahkan ayah. Akan

tetapi, kenapa tahu-tahu ayah dan kedua orang lo-cian-pwe berada di hutan itu?”

“Karena tidak sabar menanti kembalimu, maka aku mengajak suhu dan subo untuk menyusul saja

ke sana, dan aku sendiri yang akan membujuk gurumu. Syukurlah kalau beliau sudah mau datang

bersamamu. Bagaimanapun juga, karena aku tidak sabar, maka kita berhasil menangkap dua orang

tokoh Hwa I Kaipang, bahkan yang seorang adalah pemberontak yang dicari-cari oleh para panglima.

Sekali ini kita berjasa besar!” kata ketua Hek I Kaipang itu dengan gembira.

Ternyata bahwa benar seperti dugaan Goan Ciang, kakek botak itu adalah Bouw In Hwesio, atau

bekas hwesio Siauw-lim-pai. Dahulu, Bouw In Hwesio adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang

berbeda dari para hwesio yang lain, suka sekali merantau. Dia adalah suheng dari Lauw In Hwesio,

bahkan bersama Lauw In Hwesio, dia berhasil merangkai ilmu silat Sin-tiauw ciang-hoat yang ampuh.

Dalam perantauan ini dia bertemu dengan Coa Leng Si dan gadis itu lalu menjadi muridnya selama

dua tahun. Sebelum itu, Leng Si memang sudah merupakan seorang gadis yang lihai, karena ia puteri

tunggal Twa-sin-to Coa Kun. Dia tinggal di lereng Bukit Bambu di luar kota Nan-king, dibuatkan

sebuah rumah oleh muridnya dan pada hari itu, muridnya datang bersama seregu prajurit yang

membawa surat dari Panglima Yauw dari Nan-king. Juga ketua Hek I Kaipang menyuruh puterinya

untuk ikut membujuk agar Bouw In Hwesio suka datang ke Nan-king karena bantuannya amat

dibutuhkan untuk menghadapi para pemberontak yang dipimpin orang-orang pandai. Bahkan CoaKoleksi

Kang Zusi

pangcu berhasil pula mendatangkan dua orang gurunya, yaitu kakek dan nenek tua renta itu yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka berdua itu, bersama Bouw In Hwesio, diharapkan untuk

dapat membantu pemerintah menundukkan para pimpinan pemberontak. Karena tidak sabar menanti

pulangnya Leng Si, maka Coa-pangcu mengajak suhu dan subonya untuk menyusul dengan kendaraan

kereta.

Setelah tiba di Nan-king, kedua orang tawanan itu diserahkan kepada regu pasukan pemerintah

untuk dibawa ke markas atau benteng dan dihadapkan kepada Shu-Ciangkun yang oleh Yauw-

Ciangkun memang diserahkan tugas untuk mengatur keadaan di Nan-king dan sekitarnya, bukan

hanya untuk membasmi gerombolan penjahat, akan tetapi terutama sekali para pemberontak.

Cu Goan Ciang atau Hung Wu dibawa ke dalam benteng dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan

secara terpisah, walaupun bersebelahan. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk saling bicara.

Kini, Hung Wu yang dibelenggu kaki tangannya, duduk bersanding dinding kamar tahanan. Dia tahu

bahwa dia menghadapi ancaman maut. Dia tidak takut, hanya merasa menyesal mengapa semua

usahanya gagal dan kini dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu untuk negara

dan bangsanya. Semua cita-citanya kandas dan hancur. Dia memang bodoh, sesalnya kepada diri

sendiri. Terlalu memandang rendah kepada lawan sehingga bukan dia berhasil membunuh ketua Hek

I Kaipang, bahkan dia yang tertawan, dan dia pula yang menyebabkan Yen Yen ikut tertawan. Akan

tetapi, satu hal yang membuat dia paling penasaran adalah keadaannya supeknya, Bouw In Hwesio.

Menurut suhunya, yaitu Lauw In Hwesio, supeknya itu seorang hwesio perantau yang bijaksana. Pada

umumnya, para pendekar Siauw-lim-pai tidak suka kepada penjajah Mongol walaupun mereka tidak

berdaya. Akan tetapi kenapa Bouw In Hwesio itu agaknya menjadi antek orang Mongol?

Memang aneh keadaan bekas tokoh Siauw-lim-pai itu. Memang dahulu dia dikenal sebagai seorang

hwesio perantau yang bijaksana dan gagah perkasa. Akan tetapi, apa yang telah terjadi dua tida

tahun yang lalu telah mengubah jalan hidupnya sama sekali.

Hampir tiga tahun yang lalu dia merantau sampai ke daerah Secuan, menyusuri sepanjang sungai

Yang-ce. Pada suatu senja, ketika dia mendayung sebuah perahu kecil sederhana yang dibelinya dari

seorang nelayan, tiba-tiba dia mendengar jerit seorang wanita di pantai yang sunyi dan penuh semak

belukar itu. Mendengar jeritan ini, Bouw In Hwesio cepat mendayung perahunya ke tepi sungai dan

sambil memegang ujung tali perahu, dia meloncat ke darat. Setelah mengikatkan tali itu pada

sebatang pohon, dia cepat berlari ke arah suara jeritan yang kini terdengar lagi.

Dia menyusup-nyusup di antara semak belukar dan pohon-pohon, dan ketika dia tiba di tengah

hutan kecil itu, dia melihat tiga orang laki-laki sedang menggumuli seorang wanita! Wanita itu

meronta-ronta, akan tetapi tidak mampu menjerit lagi karena mulutnya didekap tangan, pakaiannya

koyak-koyak dan nyaris tiga orang laki-laki itu mencapai niat keji mereka, yaitu memperkosa wanita

itu.

“Omitohud…!” Bouw In Hwesio berseru dan dia meloncat ke depan, kaki tangannya bergerak dan

tiga orang laki-laki itu terpental dan terlempar dari wanita yang mereka gumuli. Wanita itu menangis

dan berusaha menutupi tubuhnya dengan kain robekan pakaiannya, matanya terbelalak memandang

kepada Bouw In Hwesio sambil menggeser ke belakang ketakutan, seluruh tubuh menggigil dan tidak

mampu bangkit berdiri saking takutnya.

Tiga orang laki-laki itu berlompatan berdiri dan mereka marah sekali ketika melihat bahwa yang

menarik dan melemparkan mereka adalah seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar. Adapun Bouw

In Hwesio ketika memandang kepada tiga orang itu, segera dapat menduga bahwa dia berhadapan

dengan orang-orang jahat, yang agaknya sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka kepada

orang lain, biasa mempergunakan kekerasan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Mereka

berusia empat puluh tahun lebih, memiliki perawakan yang kokoh kuat dan kini ketiganya sudah

mencabut sebatang golok besar dan memandang kepadanya dengan wajah bengis. Ketika Bouw In

Hwesio melirik ke arah wanita tadi, di melihat bahwa wanita itu berusia tiga puluh tahun lebih,

seorang wanita yang berwajah sayu namun memang memiliki daya tarik, baik pada wajahnya yang

lembut dan manis maupun pada tubuhnya yang ramping padat. Bukan wanita kaya, karena pakaian

 

yang sudah koyak-koyak itu seperti pakaian wanita dusun saja, dari kain kasar yang murah. Namun

ada sesuatu pada pandang mata wanita itu yang membuat Bouw In Hwesio mengambil keputusan

untuk melindunginya.

“Hwesio keparat! Berani engkau mencampuri urusan kami?” bentak seorang di antara tiga pria itu,

yang pipinya dihias codet.

“Omitohud, pinceng harap kalian bertiga suka bertaubat dan tidak melakukan perbuatan yang

tidak senonoh dan jahat,” kata Bouw In Hwesio sambil mengerutkan alisnya.

“Hwesio yang bosan hidup!” bentak si codet dan bersama dua orang kawannya, dia menerjang ke

depan, menyerang pendeta itu dengan goloknya. Dua orang temannya juga menyerang dari kanan kiri.

Diterjang tiga batang golok dari depan, kanan dan kiri, Bouw In Hwesio cepat menggerakkan kaki

mundur. Dari sambaran golok dan cara tiga orang itu menyerangnya, tahulah hwesio ini bahwa dia

berhadapan dengan tiga orang yang cukup tangguh. Maka, diapun segera memainkan ilmu silat

andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat. Bagaikan seekor burung rajawali, tubuhnya berkelebat di

antara tiga gulungan sinar golok.

Wanita yang nyaris diperkosa tadi tidak menangis lagi, akan tetapi kini, sambil duduk bersimpuh

di atas rumput, matanya terbelalak penuh kegelisahan memandang ke arah perkelahian. Penolongnya,

hwesio itu, dikepung dan diserang tiga orang jahat itu dengan golok, sedangkan hwesio itu sendiri

sama sekali tidak memegang senjata. Tentu saja ia merasa khawatir sekali dan merasa ngeri untuk

melihat hwesio itu nanti roboh dan mandi darah.

Akan tetapi dengan ilmu silatnya yang amat tangguh itu, Bouw In Hwesio yang bertangan kosong

sama sekali tidak dapat disentuh oleh tiga batang golok itu. Bahkan gerakannya membuat tiga orang

pengeroyoknya mulai merasa pening, tubuh lawan itu seperti beterbangan saja dan ketika mendapat

kesempatan, ujung lengan jubah Bouw In Hwesio menyambar tiga kali dan tiga orang pengeroyok

itupun terpelanting roboh, golok mereka beterbangan. Masih untung bagi mereka bahwa Bouw In

Hwesio tidak ingin membunuh mereka, maka ujung lengan jubah tadi hanya mematahkan tulang

pundak dan lengan kanan saja, membuat mereka menyeringai kesakitan, tidak mampu melawan lagi

dan begitu mereka dapat bangkit, mereka seperti dikomando, lari tunggang langgang meninggalkan

tempat itu.

Bouw In Hwesio tidak mengejar, lalu membalikkan tubuh menghadap ke arah perempuan tadi.

Ketika melihat betapa hwesio itu telah berhasil mengusir tiga orang penjahat, wanita itu lalu maju

dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio, menangis tersedu-sedu, tidak dapat

mengeluarkan kata apapun untuk menyatakan terima kasihnya.

Melihat wanita itu berlutut di depan kakinya sambil menangis, tangis yang menunjukkan kesedihan

yang mendalam, Bouw In Hwesio merasa kasihan sekali. Dia membungkuk, menyentuh kedua pundak

wanita itu dan berkata dengan lembut, “Toanio (nyonya), bangkitlah dan hentikan tangismu. Bahaya

telah lewat dan kita patut bersyukur bahwa malapetaka tidak jadi menimpa dirimu.”

Dia setengah menarik wanita itu agar mau bangkit berdiri, kemudian mengajaknya duduk di atas

rumput tebal, di mana tadi tiga orang penjahat menggumulinya. Wanita itu menurut diajak ke situ,

akan tetapi masih tetap menangis sesunggukan.

“Duduklah, toanio dan ceritakan apa yang telah terjadi. Bagaimana engkau sampai dapat dibawa

oleh tiga orang sesat tadi ke tempat ini? Di mana rumahmu, dan di mana keluargamu?”

Ditanya demikian, tangis itu menjadi-jadi. Wanita itu menutupi mukanya dengan kedua tangan,

duduknya hampir menelungkup dan dari celah-celah jari tangannya mengalir air mata.

Bouw In Hwesio menanggalkan jubahnya yang lebar, lalu menyelimuti tubuh yang setengah

telanjang karena pakaian yang koyak-koyak itu. Merasa ada kain menyelimutinya, wanita itu

membuka kedua tangan, lalu menangkap kedua ujung jubah dan menyelimuti tubuhnya rapat-rapat,

kemudian ia menangis lagi. Tangisnya amat menyedihkan dan Bouw In Hwesio hanya duduk

memandang, membiarkan tangis itu memperoleh penyaluran agar hati yang nampaknya ditekan duka

itu dapat meringan. Ketika wanita itu tadi menurunkan kedua tangan dari muka untuk memegang

ujung jubah sehingga wajahnya terbuka dan nampak jelas, diam-diam Bouw In Hwesio terkejut dan

 

jantungnya berdebar keras. Dia merasa seolah-olah isterinya yang telah meninggal dunia hidup

kembali! Dua puluh tahun yang lalu, isterinya tewas di tangan penjahat dan ketika itu, usia isterinya

seperti wanita ini, dan sungguh ajaib, ada kemiripan wajah yang luar biasa! Ketika itu, dua puluh

tahun yang lalu, dia belum menjadi hwesio, hidup bahagia dengan isterinya. Akan tetapi, karena

sejak muda dia menentang kejahatan sebagai seorang pendekar, dia dimusuhi banyak penjahat dan

pada suatu hari, penjahat-penjahat datang ke rumahnya untuk membunuhnya. Dia dapat

menyelamatkan diri, akan tetapi isterinya tewas di ujung senjata para penjahat. Karena hampir gila

oleh kematian isterinya yang tersayang, akhirnya diapun menjadi hwesio! Dan kini, dia

menyelamatkan seorang wanita dari tangan tiga orang penjahat, dan wanita itu persis isterinya!

Setelah membiarkan wanita itu menangis beberapa lamanya, akhirnya tangis itupun mereda,

tinggal isaknya saja. Bouw In Hwesio maklum bahwa kini tiba saatnya untuk mengajak wanita itu

bicara.

“Nah, sekarang ceritakanlah kepada pinceng, apa yang telah terjadi, nyonya. Siapa tiga orang

jahat itu, kenapa engkau berada di sini. Siapa engkau dan siapa pula keluargamu.”

“Nama saya Kui Lan Bi tinggal di dusun Kwa-ci bersama suami saya bernama Tang Lok. Kami hanya

tinggal berdua sebagai petani karena kami tidak mempunyai anak. Biarpun hidup kami miskin, namun

kami cukup berbahagia. Akan tetapi tadi… ketika saya dan suami saya sedang bekerja di ladang,

muncul tiga orang itu. Mereka… mereka bersikap kurang ajar kepada saya dan suami saya…” wanita

itu mengerang dan menangis lagi.

“Suamimu kenapa, nyonya?” Bouw In Hwesio bertanya, namun alisnya berkerut karena dia

menduga apa yang mungkin terjadi. Dugaannya memang benar.

“Suami saya… dia membela saya dan… dan… mereka membunuhnya… lalu melarikan saya ke sini…”

“Omitohud…! Kalau pinceng tahu begitu, tidak akan pinceng biarkan mereka melarikan diri begitu

saja! Nyonya, mari kita cepat ke sana menengok keadaan suamimu!” Wanita itu bangkit dan

berselimut jubah lebar, terhuyung berlari meninggalkan tempat itu. Khawatir kalau wanita itu

terjatuh, Bouw In Hwesio memegang tangannya dan menggandeng sambil setengah menunjang agar

wanita itu tidak sampai terjatuh.

Ketika mereka tiba di ladang itu, mayat suami wanita itu sudah dirubung banyak penduduk dusun.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa suami wanita itu, Tang Lok, tahu-tahu tewas di

ladang dengan leher hampir putus terbacok. Kini, Kui Lan Bi datang berlari-larian, berselimut jubah,

bersama seorang hwesio yang tidak mengenakan baju hanya bercelana saja, tentu hal ini membuat

para penghuni dusun menjadi semakin heran dan mereka hanya dapat memandang terbelalak ketika

Kui Lan Bi menubruk mayat suaminya dan menangis tersedu-sedu.

Dengan sabar dan tenang, Bouw In Hwesio menceritakan kepada para penghuni dusun itu apa yang

telah terjadi. Mendengar bahwa hwesio itu telah menyelamatkan Kui Lan Bi dari perkosaan yang

dilakukan oleh para pembunuh Tang Lok, para penduduk dusun baru mengerti, dan di antara mereka

ada yang memberikan pakaian kepada wanita itu dengan mengambilkan pakaiannya dari rumah. Jubah

milik Bouw In Hwesio dikembalikan oleh Kui Lan Bi yang kini sudah menjadi agak tenang.

Bouw In Hwesio merasa kasihan sekali kepada Kui Lan Bi, apa lagi ketika dia melihat betapa sikap

dan pandang mata para penduduk terhadap Lan Bi mengandung rasa tidak suka dan merendahkan,

pandang mata para pria di dusun itu mengandung kekurang ajaran dan pandang mata para wanitanya

mengandung perasaan tidak senang dan cemburu. Diapun tahu mengapa demikian, Kui Lan Bi adalah

seorang janda, tanpa anak, masih cukup muda dan berwajah manis menarik. Bahkan dia kini tahu

bahwa Kui Lan Bi hidup sebatang kara setelah kematian suaminya, maka tentu banyak mata pria di

situ menaksirnya, dan para wanitanya menjadi cemburu dan curiga. Bouw In Hwesio melihat pula

betapa miskin keadaan Kui Lan Bi. Bahkan untuk membeli peti mati saja ia tidak mempunyai uang, dan

terpaksa menjual semua perabot rumah untuk ditukarkan dengan peti mati sederhana! Dia merasa

kasihan sekali dan dengan sukarela, dia ikut berkabung, mengatur persembahyangan jenazah dan

membantu sampai jenazah itu dikubur.

 

Bouw In Hwesio yang menghibur Kui Lan Bi dengan nasihat-nasihat selama tiga hari janda itu

menangisi kemaratian suaminya yang kini telah dikubur. Dan lebih menyedihkan lagi, jarang ada

tetangga yang datang. Yang pria takut kalau dicurigai dan dicemburui isterinya, yang wanita merasa

iru dan cemburu. Mereka yang masih membujang juga merasa rikuh karena bagi para pemuda, janda

itu merupakan seorang wanita yang lebih tua dengan usianya yang tiga puluh lima tahun dibandingkan

mereka yang baru dua puluhan tahun!

Pada hari ke empat, Bouw In Hwesio berpamit kepada Lan Bi yang nampak pucat dan kurus karena

selama tiga hari itu ia hanya menangis saja, lupa makan lupa tidur.

“Nyonya, hari ini pinceng akan pergi melanjutkan perjalanan pinceng, harap engkau baik-baik

menjaga dirimu dan jangan menenggelamkan hati dan pikiran ke dalam lautan duka.”

Mendengar ini, Lan Bi yang sudah mulai mau bekerja dan pagi itu mempersiapkan makan pagi untuk

Bouw In Hwesio, terbelalak memandang kepada pendeta itu. Wajah yang pucat itu, mata yang sayu

dan kini dibuka lebar-lebar, bibir yang setengah terbuka dan gemetar, kembali mengingatkan Bouw

In Hwesio kepada isterinya, menjelang kematian isterinya yang terluka parah oleh serangan

penjahat. Kemudian, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata apapun, Kui Lan Bi menjatuhkan diri

berlutut dan menangis sesunggukan, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan, lebih baik aku mati saja… lebih baik mati saja…” demikian ratapnya di antara

tangisnya.

Diam-diam Bouw In Hwesio terkejut. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pamitnya itu akan

membuat nyonya muda itu menjadi berduka kembali, bahkan seolah kehilangan pegangan, kehilangan

harapan.

“Omitohud, kenapa begini, nyonya? Bangkit dan duduklah, mari kita bicara baik-baik dan

tenangkan hati dan pikiranmu,” katanya dan dia menarik wanita itu bangun lalu menuntunnya agar

duduk di atas bangku kasar yang tidak laku dijual.

“Nah, sekarang katakan, kenapa setelah pinceng berpamit untuk melanjutkan perjalan pinceng,

engkau menjadi berduka dan putus asa?”

Kui Lan Bi menyusut air matanya, “Suhu telah membebaskan saya dari malapetaka yang lebih

mengerikan dari pada maut, kemudian suhu membantu saya mengurus penguburan suami saya.

Sekarang, setelah saya masih dapat bertahan hidup karena ada suhu yang menghibur dan

menasihati, tiba-tiba suhu hendak pergi meninggalkan saya. Membayangkan harus hidup seorang diri

di sini, tidak mempunyai apa-apa lagi, hidup sebatang kara sebagai seorang janda… ah, saya merasa

ngeri, suhu. Saya akan menjadi bahan gunjingan, bahan ejekan, bahkan bahan penghinaan orangorang.

Saya tidak sanggup menghadapi semua itu dan lebih baik saya mati saja, suhu…” Kembali

wanita itu menangis sedih.

“Omitohud…!” berulang kali Bouw In Hwesio menggumamkan pujian ini dan di dalam hati dia

merasa kasihan sekali. Dia tahu betapa takutnya wanita ini menghadapi kehidupan seorang diri, dan

dia tahu pula bahwa kekhawatiran wanita itu bukan tak berdasar. Sebagai janda muda tanpa anak,

tanpa keluarga sama sekali, sudah pasti akan banyak pria datang menggoda dan banyak wanita

mencemburuinya. Hidupnya akan merupakan siksaan belaka, apa lagi keadaannya amat miskin.

“Nyonya, apakah engkau sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi kepada siapa engkau akan

dapat minta bantuan dan tinggal bersama mereka? Kalau tidak sanak keluarga, sanak keluarga

suamimu?”

“Tidak, tidak ada, suhu. Biarpun ada akan tetapi sama dengan tidak ada. Dahulu, dalam usia

delapan belas tahun, orang tuaku hendak memberikan aku kepada seorang hartawan unuk menjadi

selirnya. Akan tetapi aku tidak mau, dan aku lalu melarikan diri dengan Tang Lok, pemuda

tetanggaku yang menjadi suamiku kemudian. Kalau aku pulang, orang tuaku tentu tidak akan sudi

menerimaku, demikian pula orang tua Tang Lok yang semua mengutuk perbuatan kami melarikan diri.

Suhu, saya tidak mempunyai sanak keluarga lagi…”

“Hemm, kalau begitu, lalu bagaimana kehendakmu, nyonya?”

 

Wanita itu bangkit dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio,

“Hanya suhu seorang manusia di dunia ini yang sekarang menjadi harapanku. Suhu, kalau suhu pergi,

bawalah saya. Saya akan merawat dan melayani semua keperluan suhu, mencuci pakaian,

menyediakan makanan, bekerja sebagai pembantu, sebagai budak. Setidaknya ada artinya saya

hidup. Kalau suhu tidak mau menerima saya, dan meninggalkan saya di sini seorang diri, saya lebih

senang mati menyusul suami saya dari pada hidup menderita siksaan lahir batin.”

Bouw In Hwesio terkejut, sejenak tak dapat bicara. Dia sendiri seorang hwesio, perantau pula,

tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, tidak mempunyai harta kekayaan. Bagaimana mungkin

dia menerima seorang wanita, seorang janda, yang ingin mengikutinya? Sebagai pembantu? Betapa

janggal dan anehnya, seorang pendeta miskin perantau mempunyai pembantu! Menjadi murid? Kui Bi

Lan tidak memiliki bakat menjadi seorang pesilat, apa lagi ia seorang wanita, seorang janda yang

usianya sudah tiga puluh lima tahun. Akan tetapi kalau dia menolak? Dia hampir yakin bahwa tentu

wanita yang putus asa ini akan membunuh diri! Kalau dia yang hidup tidak mau diikutinya, tentu

wanita itu memilih ikut suaminya yang sudah mati! Dan kalau terjadi wanita ini membunuh diri karena

dia, berarti dia yang menyebabkan wanita itu mati, dan dia memikul karma yang buruk. Akan tetapi

kalau dia menerimanya, lalu bagaimana? Tiba-tiba timbul harapannya. Biarlah wanita ini

mengikutinya, kalau nanti merasa tidak tahan dengan kehidupan perantauan yang miskin dan sukar,

tentu wanita itu akan mundur sendiri. Dan kalau wanita itu yang meninggalkannya, bukan dia yang

meninggalkan wanita itu, lalu terjadi apa-apa dengan wanita itu, dia tidak bertanggung jawab lagi,

lahir maupun batin. Akan tetapi, bayangan inipun tidak mengenakkan hatinya. Dia sungguh merasa

kasihan kepada wanita ini, wanita yang mengingatkan dia kepada isterinya!

“Omitohud, apa yang dapat pinceng lakukan? Baiklah, nyonya, kalau itu yang kaukehendaki. Engkau

boleh ikut pinceng, hanya ketahuilah bahwa pinceng seorang pendeta perantau yang tidak mempunyai

tempat tinggal, yang miskin dan…”

Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena wanita itu sudah menubruk kakinya

dan menangis sambil mengucapkan terima kasih. Air matanya bercucuran membasahi dan membasuh

kedua kaki Bouw In Hwesio yang masih bertelanjang karena belum mengenakan sepatunya itu.

“Terima kasih, suhu, terima kasih… suhu telah menyambung kehidupan saya…”

“Nyonya, jangan begitu. Bangkitlah…!” Bouw In Hwesio mengangkatnya bangun dan kini wanita itu

memandang kepadanya dengan mata yang merah dan muka basah, akan tetapi mulutnya mengandung

senyum kebahagiaan dan penuh harapan.

“Suhu, nama saya Kui Lan Bi, panggil saja Lan Bi, harap jangan menyebut nyonya lagi, suhu sudah

siap? Biar saya ambilkan sepatu suhu…!” Dengan cekatan seolah ada semangat dan hidup baru yang

menggerakkan tubuhnya yang selama beberapa hari nampak layu dan lemah, Lan Bi setengah berlari

ke bilik dan mengambilkan sepatu hwesio itu. Dengan cekatan pula ia membawa sepatu itu, berlutut

di depan kaki Bouw In Hwesio dan hendak membantu hwesio itu mengenakan sepatunya, sikapnya

seperti seorang hamba sahaya yang setia dan taat!

Bouw In Hwesio merasa terharu. “Mulai sekarang, engkau harus mentaati semua petunjukku, Lan

Bi. Nah, perintahku yang pertama, jangan engkau membantuku memakai sepatuku, akan tetapi cepat

kauselesaikan mempersiapkan sarapan pagi. Sebelum kita pergi, engkau harus makan dulu. Sudah

tiga hari ini engkau tidak makan, engkau dapat jatuh sakit. Cepat laksanakan perintahku ini!”

Lan Bi bangkit berdiri, memandang kepada hwesio itu penuh rasa terima kasih, lalu menjawab

penuh semangat, “Baik, suhu, akan saya laksanakan perintah suhu!” Dan iapun setengah berlari pergi

ke dapur. Bouw In Hwesio menjatuhkan dirinya di atas bangku, mengenakan sepatunya lalu

termenung dan berulang kali menghela napas panjang, menggeleng kepala, tersenyum-senyum pahit,

menggeleng kepala lagi, lalu mengangguk-angguk.

Pada keesokan harinya, mereka berdua pergi meninggalkan dusun, diiringi jebiran dan gunjingan

orang sedusun. Akan tetapi Lan Bi tidak menghiraukan itu semua, bahkan setelah ia dan hwesio itu

jauh meninggalkan dusun, semakin ringan rasa hatinya, seolah seekor burung yang baru saja terlepas

dari sangkarnya.

 

Mungkin karena merasa hutang budi, apa lagi karena di dunia ini tidak ada orang lain lagi yang

bersikap baik terhadapnya, yang dapat digantungi harapan masa depannya, Lan Bi benar-benar amat

taat dan berbakti terhadap Bouw In Hwesio. Di lain pihak mungkin karena iba hati dan karena

persamaan janda itu dengan mendiang isterinya, Bouw In Hwesio juga merasa sayang. Suka duka

mereka dalam perjalanan, dalam perantauan, dalam menghadapi bahaya, ketika mereka saling

membela, saling menghibur, bukan hal yang aneh kalau akhirnya timbul perasaan lain dalam hati

masing-masing. Cinta kasih dapat bersemi di tempat manapun juga, dan dapat melanda di hati

siapapun, tua muda, kaya miskin. Bouw In Hwesio yang semenjak ditinggal mati isterinya, dua puluh

tahun yang lalu, hidup sebagai pendeta, mengekang nafsu duniawi dan menjauhi segala kesenangan,

kini setelah bergaul dengan Lan Bi yang hidup di sampingnya, tak kuasa menahan gairah cintanya.

Akhirnya, dengan sukarela, keduanya mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri! Bouw In

Hwesio rela meninggalkan kependetaannya, menjadi orang biasa yang berkepala botak, namun bagi

Lan Bi, dia merupakan pria terbaik di dunia ini, pengganti suaminya!

Cinta asmara memang sesuatu yang ajaib. Bukan monopoli pria ganteng dan wanita jelita saja.

Juga cinta asmara bukan didatangkan karena ketampanan atau kecantikan belaka. Bukan pula karena

harta kekayaan. Bahkan lebih sering dan lebih kuat cinta asmara yang dibangkitkan oleh persamaan

watak dan kebaikan pribudi ini biasanya lebih kuat dan lebih awet, sebaliknya, yang dibangkitkan

oleh keelokan wajah dan banyaknya harta benda, kadang kala malah rapuh. Memang tidak

mengherankan. Kecantikan dan ketampanan wajah hanyalah setipis kulit, tidak menembus batin.

Maka, yang tadinya nampak cantik atau tampan, setelah timbul pertikaian karena keburukan watak,

maka yang cantik atau tampan itu nampak buruk seperti setan! Demikian pula harta kekayaan, hanya

menempel di luar kulit belaka. Betapa banyaknya orang yang menikah dengan hartawan, akhirnya

menderita batinnya dan harta kekayaan yang tadinya diidamkan, kehilangan daya tariknya, bahkan

kehilangan daya hiburnya. Sebaliknya, suami isteri miskin yang tidak cantik tidak tampan sekalipun,

dapat hidup berbahagia dan saling mencinta karena mereka memang memiliki cinta yang murni, cinta

yang mendatangkan perasaan belas kasihan, mendatangkan kemesraan, mendatangkan perasaan

tenang dan aman tenteram, ada ikatan batin yang mendalam.

Setelah menjadi suami isteri, Lan Bi menceritakan kepada suaminya bahwa ia memiliki seorang

kakak misan yang juga merupakan seorang ahli silat kenamaan akan tetapi sudah lama ia tidak

pernah berhubungan dengan kakak misan itu. Suaminya, Bouw In Hwesio yang sekarang kalau

memperkenalkan diri bernama Bouw In saja, terkejut ketika mendengar bahwa kakak misan

isterinya itu bukan lain adalah Twa-sin-to Coa Kun dan karena kebetulan perantauan mereka tiba tak

jauh dari Nan-king, merekapun pada suatu hari mengunjungi Coa Kun atau Coa-pangcu (ketua Coa) di

kota Nan-king. Pertemuan antara saudara misan itu tentu tidak akan mengesankan atau pihak

keluarga Coa tidak akan menyambut dengan gembira kalau saja Lan Bi datang seorang diri. Akan

tetapi, adik misan ini datang sebagai isteri Bouw In Hwesio! Tentu saja demi bekas pendeta itu, Coa

Kun menyambut dengan penuh kegembiraan dan kehormatan dan mereka diterima sebagai tamu

kehormatan.

Akan tetapi, Bouw In Hwesio atau sebaiknya kalau kita sebut nama barunya, Bouw In tanpa

embel-embel hwesio, tidak mau tinggal menumpang di rumah besar ketua Hek I Kaipang. Atas

bantuan Coa Kun, dia memilih tinggal di sebuah dusun di luar kota Nan-king, dibelikan sebuah rumah

oleh Coa Kun. Untuk membalas budi Coa Kun, Bouw In tidak menolak ketika puteri Coa Kun, yaitu Coa

Leng Si, mengangkatnya sebagai guru. Bahkan setelah melihat bakat besar yang dimiliki Leng Si

yang memang sudah mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, Bouw In merasa suka sekali kepada murid ini

dan dia bahkan mengajarkan ilmu simpanannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat! Tentu saja Leng Si maju

pesat selama dua tahun digembleng Bouw In, dan tingkat kepandaiannya bahkan melebihi tingkat

ayahnya!

Demikianlah sedikit riwayat Bouw In mengapa dia kini dekat dengan pimpinan Hek I Kaipang.

Biarpun dahulu dia tidak pernah menentang pemerintah secara berterang, namun diapun tidak suka

membantu pemerintah Mongol. Dia tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan maupun

 

pemberontakan. Beberapa kali dia dibujuk oleh Coa Kun untuk membantu pemerintah menumpas

pemberontak, akan tetapi selalu ditolaknya dengan halus.

“Coa-pangcu, sejak semula aku sudah memberi tahu kepadamu bahwa aku tidak ingin terlibat

dalam urusan pemerintah yang bermusuhan dengan para pemberontak. Aku tidak ingin membantu

pemerintah, juga tidak mau membantu pemberontak. Aku ingin hidup tenteram di dusun bersama

isteriku, menghabiskan masa tuaku,” demikian dia memberi alasan.

Akan tetapi, pada siang hari itu, muridnya, Coa Leng Si datang bersama seregu prajurit yang

membawa surat undangan dari Panglima Yauw Tu Cin. Leng Si membujuk suhunya untuk datang

menghadap, menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Yauw-Ciangkun di rumah ayahnya. “Suhu,

urusannya bukan sekedar penumpasan pemberontakan. Suhu tidak akan dilibatkan dengan urusan itu,

akan tetapi ada hal lain yang amat penting, yang membutuhkan bantuan suhu. Bahkan ayah telah

mengundang kakek dan nenek guru untuk datang membantu.”

Bouw In tentu saja merasa tertarik. “Apasih urusannya?” akhirnya dia bertanya, karena biarpun

dia dapat menolak undangan Coa Kun, ia merasa tidak enak kalau tidak menghiraukan undangan

Yauw-Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Nan-king. Menolak undangan itu berarti dia

mengambil sikap menentang, dan dia bisa dianggap bersekutu dengan pemberontak!

“Teecu (murid) sendiri belum tahu, suhu. Agaknya urusan penting yang dirahasiakan.”

Demikianlah, Bouw In berangkat menunggang kuda bersama Leng Si dan belasan orang prajurit, dan

dapat membantu Coa Kun yang bertanding melawan Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen sehingga kedua

orang muda itu akhirnya tertawan.

Setelah dua orang tawanan itu dibawa pergi oleh pasukan untuk dihadapkan komandan mereka,

Coa Kun lalu memperkenalkan Bouw In dengan sepasang kakek dan nenek itu. Akan tetapi sebelum

dia memperkenalkan, baru berkata, “Ini adalah suhu dan suboku…” Bouw In sudah memotongnya

sambil tersenyum.

“Aku sudah mengenal mereka. Siapa yang tidak akan mengenal Thian Moko (Iblis Langit) dan Tee

Moli (Iblis Bumi)? Ha-ha, sudah bertahun-tahun tidak pernah bersua, apakah kalian baik-baik saja,

Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua)? Dan angin apa yang meniuo kalian memasuki dunia ramai?”

Sepasang kakek nenek tua renta itu saling pandang, lalu mengamati pria tinggi besar yang

kepalanya botak dan berjubah lebar itu. Kemudian, kakek tua renta yang berjuluk Thian Moko

mengerutkan alisnya, memandang tajam dan berkata, suaranya tinggi kecil, cocok dengan tubuhnya

yang tinggi kurus pula.

“Sungguh mata ini sudah terlalu tua, ingatan ini sudah terlalu pikun. Akan tetapi, kami rasanya

tidak pernah jumpa dengan si-cu (orang gagah), walaupun gerakan si-cu tadi jelas berdasarkan ilmu

silat Siauw-lim-pai yang tangguh. Siapa gerangan si-cu?”

“Ilmu silat tadi aneh, biarpun dasarnya Siauw-lim-pai, akan tetapi belum pernah aku menyaksikan

orang Siauw-lim-pai bersilat seperti itu, seperti gerakan burung!” kata si nenek tua renta yang

usianya sekitar hanya satu dua tahun lebih muda dari suaminya, yaitu sekitar delapan puluhan tahun.

Kalau kakek itu suaranya meninggi kecil, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus, nenek yang

berjual Tee Moli ini memiliki suara yang parau besar, sesuai pula dengan tubuhnya yang pendek dan

gemuk sekali.

Bouw In tertawa. “Omitohud! Apakah Siang Lomo hanya mengenal orang karena pakaiannya

belaka? Andai kata aku mengenakan jubah merah dan kepalaku gundul, lalu bersikap sebagai seorang

hwesio, agaknya baru kalian akan mengenalku. Memang aku murid Siauw-lim-pai, akan tetapi

sekarang tidak lagi menjadi seorang hwesio.”

“Ah, kiranya Bouw In Hwesio!” kini kakek itu berseru.

“Luar biasa!” kata isterinya. “Bagaimana mungkin ini? Kalau orang biasa mengubah dirinya menjadi

pendeta untuk menebus dosa dan kembali ke jalan benar, itu baru wajar. Akan tetapi kalau hwesio

mengubah diri menjadi orang biasa, menambah dosa memilih jalan sesat, barulah luar biasa!”

Bouw In tertawa. “Kembali kalian hanya menilai orang dari pakaian dan kedudukannya. Pada hal,

pakaian dan kedudukan itu hanya kulitnya belaka, dan yang terpenting adalah isinya, bukan? Bagi

 

manusia, isi dirinya nampak pada sepak terjangnya dalam kehidupan, pada pikiran, kata-kata dan

perbuatannya.”

Siang Lomo saling pandang dan tertawa. Thian Moko tertawa dengan suaranya yang kecil tinggi,

lalu berkata, “Bukan main! Sejak dahulu menjadi seorang hwesio sampai sekarang, Bouw In Hwesio

memang seorang yang aneh dan menyimpang dari orang lain, ingin sekali kami berdua melihat apakah

ilmu kepandaianmu juga tetap aneh dan menyimpang dari orang lain! Dahulu ketika engkau menjadi

hwesio, engkau tidak pernah tinggal di kuil mengajarkan agama, tidak pernah mengemis makanan,

melainkan berkelana seperti seorang petualang sejati. Kini, setelah menjadi orang biasa, engkaupun

aneh, bahkan bersembunyi di dusun dan tidak ikut dengan persaingan keramaian dunia. Heh-hehheh!”

Melihat percakapan itu menjurus kepada kritikan yang mungkin akan menimbulkan bentrokan,

atau setidaknya mengadu kepandaian, Hek I Kai-pangcu Coa Kun cepat menengahi.

“Suhu dan subo, dan juga Bouw In suhu, harap sam-wi (kalian bertiga) bersabar sampai kita tiba

di rumah, barulah kita dapat melakukan percakapan panjang yang lebih dan penting. Apa lagi,

sekarang tentu Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah kami dan saya tidak ingin mengecewakan hati

Yauw-Ciangkun dengan membiarkan dia menunggu terlalu lama.”

Mereka lalu menuju ke rumah Coa Kun dan benar saja, Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah itu.

Akan tetapi, komandan kota Nan-king ini tidak marah, bahkan dia merasa gembira sekali mendengar

ditawannya pemberontak Cu Goan Ciang dan cucu dari Pek Mau Lokai yang menjadi pimpinan Hwa I

Kaipang, perkumpulan pengemis yang dianggap menentang pemerintah. Mendengar bahwa pasukan

telah membawa merka ke benteng untuk menyerahkan mereka kepada Shu-Ciangkun, komandan ini

tertawa gembira.

“Bagus, Shu-Ciangkun tentu akan dapat memaksa mereka mengakui di mana adanya pimpinan para

pemberontak yang lain. Hanya Shu-Ciangkun yang akan mampu menindas pemberontakan dan

memadamkan api pemberontakan sebelum menjalar luas,” kata Yauw-Ciangkun yang merasa bangga

dengan pembantu barunya yang masih muda dan lihai itu.

Mereka semua lalu mengadakan pertemuan di ruangan yang luas dan memang disediakan untuk

pertemuan yang penting. Ruangan itu tertutup dan di sekelilingnya dijaga ketat oleh anak buah Hek

I Kaipang sehingga jangan harap ada orang luar akan mampu ikut mendengarkan apa yang

dibicarakan di dalam ruangan itu. Panglima Yauw Tu Cin atau nama aslinya Yatucin, komandan kota

Nan-king, duduk sebagai pimpinan di kepala meja. Coa Kun dan puterinya, Coa Leng Si, duduk di

sebelah kananya. Di sebelah kirinya duduk suami isteri Siang Lomo atau sepasang Iblis, kemudian

baru duduk Bouw In yang bersikap sederhana, bahkan agak acuh.

“Pertama-tama, kami atas nama pemerintah mengucapkan selamat datang dan terima kasih

kepada sam-wi lo-cian-pwe (tiga orang tua gagah), yaitu Huang-ho Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua

Sungai Kuning) dan lo-cian-pwe Bouw In yang sudah banyak kami dengar kesaktiannya dari saudara

Coa Kun.”

“Aihh, kami berdua adalah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua dan loyo,” kata Thian Moko

dengan suaranya yang tinggi.

“Akan tetapi, untuk murid kami Coa Kun, kami akan mempersiapkan tenaga kami kalau memang

dapat membantunya,” sambung Tee Moli dengan suaranya yang parau dan besar.

“Omitohud…, saya telah lama mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan negara,

Ciangkun,” kata pula Bouw In.

“Terima kasih kepada ji-wi Siang Lomo yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu

saudara Coa Kun. Sebetulnya, urusan ini memang bukan hanya menyangkut diri saudara Coa Kun, akan

tetapi terutama sekali menyangkut kehidupan rakyat. Bouw lo-cian-pwe, biarpun lo-cian-pwe tidak

mau mencampuri urusan negara, akan tetapi kami percaya bahwa seorang gagah perkasa dan juga

beribadat seperti lo-cian-pwe, akan suka menyumbangkan tenaganya demi kesejahteraan dan

ketenteraman rakyat, bukan?”

 

“Hemm, terus terang saja, Ciangkun. Saya menghormati Ciangkun sebagai komandan di Nan-king

yang bertanggung jawab akan keamanan dan ketertiban di sini, maka saya datang memenuhi

undangan Ciangkun. Sebelum saya menyatakan pendapat dan keputusan saya menyambut tawaran

Ciangkun, saya ingin mendengar dulu, apa yang dapat saya lakukan untuk membantu Ciangkun. Terus

terang saja lebih dulu saya beritahukan bahwa kalau saya disuruh membantu Ciangkun untuk

menumpas pemberontak, saya tidak akan dapat menerimanya. Bukan karena saya memihak

pemberontak, melainkan karena di antara para pemberontak itu terdapat banyak sahabat-sahabat

baik saya. Saya tidak ingin menjadi seorang pengkhianat terhadap para sahabat saya sendiri,

Ciangkun.”

“Baiklah, lo-cian-pwe. Kami tidak akan memaksa siapapun melakukan sesuatu yang bertentangan

dengan suara hati sendiri. Akan tetapi kamipun tidak mengajak sam-wi untuk membantu kami

menumpas pemberontakan. Kami hanya mengajak sam-wi untuk membantu agar jangan sampai

terjadi perang, jangan sampai terjadi bentrokan besar-besaran yang akan menghancurkan persatuan

orang-orang kang-ouw. Kami dari pihak pemerintah merasa amat penting menjaga keutuhan para

tokoh dunia persilatan karena kekuatan mereka yang akan mampu mempertahankan keamanan dalam

kehidupan rakyat jelata. Para penjahat tidak berani merajalela hanya karena mereka takut kepada

para pendekar, bukankah demikian? Nah, masalah yang akan kami bicarakan, yaitu tentang pemilihan

Beng-cu di antara para tokoh persilatan.”

“Apa yang dapat saya lakukan dalam urusan pemilihan Beng-cu, Ciangkun? Saya tidak ingin menjadi

Beng-cu, kalau itu yang Ciangkun maksudkan,” kata pula Bouw In Hwesio.

“Heh-heh, kamipun sudah terlalu tua untuk menjadi Beng-cu!” kata Thian Moko dan isterinya

mengangguk membenarkan.

“Harap sam-wi tidak keliru dan salah sangka. Bukan maksud kami minta kepada sam-wi untuk

menjadi Beng-cu. Akan tetapi, sam-wi tentu mengetahui apa akibatnya kalau sampai kedudukan

Beng-cu dipegang seorang pemberontak. Sudah pasti dia akan mengerahkan semua tenaga orangorang

dunia persilatan untuk memberontak terhadap pemerintah. Nah, kalau begitu maka akan

terjadi perang dan terjadi perpecahan di antara para tokoh kang-ouw. Tidakkah itu menyedihkan

sekali? Sebaliknya, kalau yang menjadi Beng-cu seorang yang tidak suka adanya perang, yang

menghendaki rakyat hidup tenteram dan sejahtera, tentu dia akan mencegah adanya perang. Di

sinilah bantuan sam-wi kami butuhkan, yaitu untuk memberi suara kepada calom yang suka damai dan

menentang dipilihnya calon yang akan menimbulkan perang.”

Setelah mendapatkan kesempatan, Coa Kun sendiri lalu bicara. “Suhu, subo dan Bouw-suhu, apa

yang dikemukakan yauw-Ciangkun tadi adalah garis besarnya, dan pokok persoalan. Akan tetapi

banyak sekali kaitannya. Pemilihan Beng-cu masih lama, akan tetapi yang sekarang perlu kita

tanggulangi adalah bahaya yang mengancam kedamaian rakyat. Baru saja sam-wi melihat sendiri

betapa kami diserang oleh dua orang pemberontak. Yang seorang sudah terkenal sebagai

pemberontak berbahaya, yaitu Cu Goan Ciang yang telah membunuhi banyak orang, dan yang ke dua

adalah cucu Pek Mau Lokai ketua Hwa I Kaipang. Nah, sudah jelas bahwa Hwa I Kaipang adalah

perkumpulan yang memberontak. Mereka mendatangkan kekacauan, pembunuhan, dan segala macam

kejahatan yang meresahkan rakyat. Akan tetapi harus diakui bahwa Pek Mau Lokai amatlah lihainya.

Untuk menghadapi dia dan para pembantunyalah kami mohon bantuan sam-wi. Selama para pimpinan

Hwa I Kaipang tidak ditangkap atau dibunuh, selalu akan timbul kekacauan dan ketidak amanan di

Nan-king.”

Huang-ho Siang Lomo tentu saja siap untuk membantu murid mereka menghadapi Hwa I Kaipang.

Bouw In tadinya merasa enggan untuk mencampuri, akan tetapi mengingat bahwa isterinya masih

adik misan Coa Kun, dan ketua Hek I Kaipang ini sudah banyak membantu dia dan isterinya,

menerimanya dengan ramah dan baik, lebih-lebih kini puteri ketua itu, Coa Leng Si, telah menjadi

muridnya yang dia sayang, maka diapun tidak dapat menolak lagi.

 

Demikianlah, sejak hari itu, Hek I Kaipang diperkuat oleh tiga orang tokoh besar ini sehingga

selain Coa Kun merasa gembira, juga Yauw-Ciangkun senang karena di pihak yang pro pemerintah

bertambah tenaga yang dapat diandalkan.

Dalam keadaan kaki tangan terbelenggu, Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen didorong jatuh

menjerembab di atas lantai, di depan seorang panglima muda yang duduk di kursinya dengan sikap

angkuh. Cu Goan Ciang mengangkat mukanya memandang dan dia terbelalak. Panglima muda itu! Dia

berani bersumpah bahwa panglima ini adalah sutenya, Shu Ta! Akan tetapi, dia membantah

keyakinannya sendiri. Tidak mungkin sutenya kini menjadi panglima yang menghambakan diri kepada

pemerintah penjajah Mongol! Mustahil! Dia mengenal benar siapa dan bagaimana watak sutenya. Shu

Ta adalah seorang yang berjiwa patriot, yang seperti juga dia, bertekad untuk berjuang mengusir

penjajah Mongol. Bagaimana mungkin kini menjadi panglima Mongol? Tentu dia salah lihat, atau

memang wajah panglima ini mirip Shu Ta.

Panglima itu memandang kepada dua orang tawanannya, lalu memberi perintah kepada para

pengawalnya. “Kosongkan ruangan ini! Aku sendiri yang akan memeriksa mereka!”

Mendengar suara panglima ini, hampir saja Cu Goan Ciang berteriak. Suara itu! Tak salah lagi,

orang ini pasti Shu Ta. Mana ada dua orang yang serupa segala-galanya, termasuk suaranya? Para

pengawal dan prajurit yang membawa dua orang tawanan itupun tidak berani membantah perintah

sang panglima. Hanya kepala regu penawan itu yang berkata, “Tai-Ciangkun, dua orang tawanan ini

lihai sekali, mereka berbahaya!”

Panglima itu melotot. “Biar mereka tidak terbelenggu sekalipun, aku dapat mengatasi mereka. Apa

lagi mereka terbelenggu. Kaukira aku takut! Hayo cepat keluar, aku akan memeriksa dan memaksa

mereka mengaku!” Dibentak demikian, semua prajurit segera meninggalkan ruangan itu.

Setelah mereka pergi, Cu Goan Ciang yang tidak dapat menahan lagi penasaran di hatinya,

berseru, “Kau…?”

“Sssttt…!” Panglima itu yang bukan lain adalah Shu Ta, cepat menaruh telunjuknya di atas bibir,

memberi isarata kepada Cu Goan Ciang untuk diam. Panglima itu lalu menulis di atas sehelai kertas

dengan cepat, dan menyerahkan “surat” itu kepada Cu Goan Ciang yang cepat membacanya. Singkat

saja, akan tetapi cukup meyakinkan. “Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal. Jangan

khawatir, aku akan membebaskanmu.” Hanya demikian isi surat. Cu Goan Ciang mengangguk dan surat

itupun diambil kembali oleh Shu Ta.

“Nah, sekarang kalian ceritakan, siapa saja dan di mana adanya kawan-kawan kalian, para pimpinan

pemberontak itu!” tiba-tiba Shu-Ciangkun membentak dengan suara nyaring.

Tang Hui Yen tadi juga membaca tulisan panglima itu. Dara ini amat cerdik sehingga melihat

sedikit tulisan itu, ia telah tanggap, apa lagi ketika Cu Goan Ciang memperkenalkan dengan bisikan.

“Dia suteku.” Tahulah gadis ini bahwa sute dari Cu Goan Ciang ini merupakan satu-satunya harapan

mereka untuk dapat lolos, maka iapun membantu permainan sandiwara panglima itu.

“Hemm, apa perlunya membujuk atau menakut-nakuti kami? Kami sudah tertawan, mau hukum,

hukumlah, mau bunuh, bunuhlah, kami tidak takut mati dan tidak perlu lagi engkau banyak bicara!”

Bentakan gadis itu nyaring sekali dan Shu Ta tersenyum, matanya bersinar gembira dan kagum.

Seorang gadis yang hebat, pikirnya.

Tadi ketika para prajurit menyerahkan tawanan, Shu Ta mendengar laporan mereka bahwa gadis

itu adalah cucu Pek Mau Lokai, pimpinan Hwa I Kaipang, maka tahulah dia bahwa gadis ini seorang

pejuang yang gagah. Diapun tertawa bergelak, suara tawa yang seperti mengejek. “Ha-ha-ha-ha,

engkau ini yang menjadi pimpinan perkumpulan jembel Hwa I Kaipang yang membuat kerusuhan dan

kekacauan di Nan-king, ya? Seorang wanita muda! Aku mempunyai cara yang membuat seorang

wanita akan menyesal menjadi manusia kalau engkau tidak cepat membuat pengakuan!”

Cu Goan Ciang tadinya terkejut bukan main ketika mengenal komandan Mongol itu ternyata

sutenya sendiri, akan tetapi sekarang diapun sudah dapat menenangkan diri. Entah apa alasan Shu

Ta menjadi seorang panglima Mongol! Apapun alasannya, dapat dibicarakan kelak. Kini yang

 

terpenting, sutenya itu berjanji akan membebaskan dia dan Yen Yen! Maka, melihat sikap Yen Yen,

diapun segera menanggapi.

“Perwira Mongol keparat! Kami memang pemberontak, kami berjuang untuk membebaskan rakyat

dari pada cengkeraman penjajah. Sekarang kami telah tertawan, tidak perlu banyak cakap lagi. Kami

siap menerima hukuman mati sekalipun!”

“Jadi kalian tidak mau mengaku siapa kawan-kawan kalian dan di mana mereka?”

“Tidak sudi!” Goan Ciang dan Hui Yen menjawab serentak.

Shu-Ciangkun tertawa lagi. “Hemm, aku memberi waktu kepada kalian sampai besok pagi. Malam

ini pikirkan baik-baik karena kalau besok kalian tetap berkeras kepala tidak mau menunjukkan

tempat sembunyi kawan-kawan kalian, maka kalian akan mati sekerat demi sekerat!” Shu-Ciangkun

bertepuk tangan memberi isarat kepada para pengawal. Biarpun para pengawal tadi tidak ada yang

berani mengintai ke dalam, akan tetapi telinga mereka dapat menangkap percakapan yang nyaring

itu.

Setelah empat orang pengawal masuk, Shu-Ciangkun memberikan perintahnya.

“Masukkan mereka ini ke dalam sel. Satukan dalam sel agar mereka dapat berunding. Biarkan

belenggu kaki tangan mereka dan baru boleh dilepaskan kalau mereka akan makan dan ada keperluan

ke belakang. Jaga ketat, dan di luar kamar tahanan mereka harus selalu dijaga oleh dua belas orang

pengawal. Malam ini, semua penjaga di luat pintu sel jangan ada yang tertidur atau aku akan

memberi hukuman berat!”

“Baik, panglima!” kata kepala pengawal dan empat orang itu lalu menarik Goan Ciang dan Hui Yen

keluar dari ruangan itu, memasukkan mereka di dalam sel yang istimewa, yaitu sel yang terpisah dan

dijaga ketat.

Setelah mereka berdua didorong masuk dalam keadaan kaki tangan terbelenggu sehingga mereka

terpelanting roboh dan rebah miring, pintu sel ditutup dan dipasangi gembok baja yang besar dari

luat. Sel itu hanya tiga kali tiga meter luasnya, tanpa ada perabot apapun sehingga mereka berdua

terpaksa harus rebah di atas lantai yang dingin. Temboknya amat tebal dan di depan terdapat pintu

baja dan juga lubang angin yang dipasangi terali baja yang kokoh kuat.

Goan Ciang bergulingan mendekati Hui Yen dan mereka rebah miring saling berhadapan. “Kenapa

sutemu menjadi panglima Mongol?” Hui Yen bertanya dalam bisikan.

“Entahlah, akan tetapi dia pejuang sejati.”

“Hemm, bagaimana kita dapat percaya padanya? Jangan-jangan sikapnya tadi hanya pancingan

agar kita tunduk dan taat, suka bekerja sama dengan dia.”

“Tidak mungkin! Aku mengenal dia sejak kecil. Dia cerdik sekali dan aku bahkan yakin bahwa

masuknya menjadi panglima Mongol merupakan siasatnya.”

“Jadi engkau percaya bahwa dia pasti akan membebaskan kita?”

“Aku percaya. Kita tunggu saja dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.”

Hening sejenak, kemudian terdengar bisikan halus Hui Yen, “Cu-twako…”

Goan Ciang memandang heran karena dalam suara gadis itu kini terkandung getaran aneh dan

ketika dia melihat mukanya, jelas nampak betapa rasa takut terbayang di sana. “Ada apakah, Yenmoi?”

Lalu melihat wajah gadis itu, dia menyambung, “Engkau takut…?”

Dalam keadaan biasa, kalau ada yang menyangka ia takut, gadis yang lincah periang dan galak ini

tentu akan marah-marah. Akan tetapi saat itu, ia sama sekali tidak marah, bahkan mengangguk!

“Twako, bagaimana andai kata… seandainya saja sutemu itu hanya berbohong dan menjebak kita?

Bagaimana andai kata ancamannya tadi bukan hanya kosong belaka? Kita akan disiksa…”

“Yen-moi, dalam keadaan seperti ini, jangan membiarkan pikiran membayangkan hal yang belum

terjadi, karena rasa takut timbul oleh ulah pikiran yang membayangkan hal-hal yang tidak enak. Kita

melihat kenyataan saja, siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam keadaan waspada dan siap

siaga, tanpa membayangkan sesuatu, tidak akan ada rasa takut. Yang akan terjadi, terjadilah, namun

kita selalu siap menanggulanginya, selalu wajib berikhtiar sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.

Kita adalah orang-orang yang berjuang demi membela rakyat dan tanah air, dan jelas bahwa

 

taruhannya adalah kalau atau terbunuh. Dan kita akan melawan sampai titik darah yang penghabisan,

bukan?”

Perlahan-lahan, bayangan rasa takut meninggalkan wajah yang cantik manis itu dan kini kembali

sepasang mata itu bersinar dan wajah itu berseri. “Terima kasih, koko. Engkau telah

menenteramkan hatiku. Maaf… rasa takut tadi menguasaiku…, sungguh memalukan sekali…”

“Ah, Yen-moi, kenapa memalukan? Takut itu wajar saja. Kaukira akupun tidak mengenal takut?

Semua manusia mempunyai rasa takut ini, akan tetapi kalau kita tidak membiarkan pikiran kita

melayang dan membayangkan hal-hal yang belum terjadi, maka rasa takut akan menghilang.”

“Terima kasih, dan kini hatiku mantap dan tenang. Andai kata sudah takdirnya aku akan matipun,

aku tidak gentar! Bukankah ada engkau di sampingku? Kalau ada engkau mendampingiku, biar matipun

aku tidak takut. Kita akan mati bersama, toako!”

Goan Ciang merasa terharu. Dia mengerti apa yang terjadi dalam hati gadis ini. Ia jatuh cinta

kepadanya! Dan dia sendiri? Ah, belum sempat dia berpikir tentang cinta, belum hilang luka di

hatinya oleh kematian Kim Lee Siang, wanita yang pertama kali menjatuhkan hatinya, yang

dicintanya dan mencintanya. Akan tetapi, dia yakin pula bahwa tidak akan sukar bagi hatinya untuk

jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Hui Yen ini. Akan tetapi, belum waktunya untuk

membiarkan diri hanyut dalam kemesraan cinta lagi. Perjuangan masih belum selesai, bahkan kini

mereka berdua menjadi tawanan dan mereka hanya dapat mengandalkan sutenya untuk dapat

meloloskan diri. Tanpa bantuan sutenya, bagaimana mungkin membebaskan diri dalam kamar tahanan

sebuah benteng?

“Yen-moi, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Semua ancaman bahaya kita hadapi bersama,

dan kalau perlu, kita mati bersama demi perjuangan!”

“Demi perjuangan!” kata pula Yen Yen dengan penuh semangat.

“Sekarang, kita harus sedapat mungkin tidur dan menghimpun tenaga untuk menghadapi segala

kemungkinan,” bisik Goan Ciang.

Sementara itu, tertawannya Cu Goan Ciang membuat Shu Ta menjadi risau. Bagaikan seekor

harimau yang tertangkap dan dikurung dalam kerangkeng, pemuda yang berhasil menjadi panglima

Mongol ini berjalan hilir mudik di dalam kamarnya. Dia memang merasa seperti seekor harimau

dalam kerangkeng. Sambil berjalan hilir mudik berjam-jam lamanya, dia mencari jalan keluar dari

dalam kerangkeng itu. Mencari akal yang baik untuk dapat keluar dari keadaan yang mencemaskan

keadaan hatinya itu. Dia harus membebaskan suhengnya dan gadis pemberani itu, apapun resikonya!

Dan dia harus mencari cara yang tepat, karena ada dua hal yang harus dapat dia kerjakan dengan

baik. Pertama tentu saja mengusahakan agar suhengnya dna gadis itu dapat lolos dengan berhasil,

dan ke dua agar usaha meloloskan dua orang itu tidak sampai melibatkan dirinya! Pada hal, dia tidak

mempunyai seorangpun yang dapat dipercaya dalam benteng itu, tidak ada seorangpun yang

mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya. Dia tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, dan

harus dia lakukan seorang diri!

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Shu Ta baru saja menghadap Yauw-Ciangkun, atasannya

dan dia melaporkan bahwa dia sedang berusaha agar dua orang tawanan itu membuka rahasia dan

mengakui tentang kawan-kawan mereka agar pasukan dapat melakukan pembersihan total.

“Mereka berdua adalah orang-orang penting dalam gerombolan pemberontak,” demikian antara

lain dia melapor dan mengajukan usul. “Oleh karena itu, saya bersikap sabar dan memberi waktu

kepada mereka semalam ini untuk berpikir dan memilih, yaitu pada besok hari, mereka menceritakan

tentang tempat persembunyian kawan-kawan mereka, atau mereka akan disiksa perlahan-lahan

sampai mereka tidak tahan dan terpaksa mengaku juga. Hal ini penting sekali, Ciangkun. Kalau

membunuh mereka begitu saja, mereka mati tanpa ada manfaatnya bagi kita. Sebaliknya kalau

mereka mau mengaku, kita untung besar dan dapat membasmi para pemberontak dengan cepat.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Aku percaya padamu, Shu-Ciangkun.

Terserah kepadamu untuk bertindak.”

 

Demikianlah, ketika malam itu turun hujan, Shu Ta merasa gembira di dalam hatinya. Agaknya

alam juga membantu lancarnya siasat yang akan dilakukannya malam itu. Dia telah mempersiapkan

segalanya. Dia lalu mengadakan perondaan, hal yang tidak luar biasa karena komandan muda ini

memang seringkali turun ke lapangan dan di waktu malam suka melakukan perondaan untuk

memeriksa sendiri para prajurit yang melakukan penjagaan. Dalam hal ini, dia bersikap keras dan

berdisiplin. Maka, ketika malam itu dia meronda, dari ujung benteng di pintu gerbang sampai ke

tempat tawanan umum dan tawanan istimewa, para penjaga tidak merasa heran. Shu Ta sempat

memberi teguran di sana-sini, dan memperingatkan bahwa malam itu terdapat dua orang tawanan

penting, maka penjagaan harus diperketat. Bahkan dia memerintahkan agar malam itu diadakan

perubahan pada cara perondaan.

“Malam ini, setiap satu jam sekali, dari menara harus dibunyikan lonceng lima kali dengan nyaring

agar semua penjaga tidak sampai tertidur. Dan setelah lonceng berbunyi, seregu penjaga harus

melakukan perondaan memutari tembok benteng dengan mengambil searah jarum jam, dari kanan

terus memutar sampai kembali, ke pintu gerbang. Hujan lebatpun, perondaan harus dilakukan! Siapa

melanggar, akan dihukum berat! Ingat, aku ikut mendengarkan lonceng itu, dan perondaan harus

tepat pada waktunya.” Setelah meninggalkan pesan ini kepada kepala penjaga, yaitu perwira yang

bertugas malam itu, Shu-Ciangkun lalu meronda ke tempat tahanan istimewa, di mana malam itu

hanya ada dua orang tahanan, yaitu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen.

Dia memeriksa keadaan ruangan tahanan itu. Ada seorang penjaga di setiap pintu dan tempat itu

mempunyai tujuh lapis pintu! Sungguh merupakan tempat yang amat kokoh kuat dan betapapun tinggi

tingkat kepandaian seseorang, kalau dia disekap di dalam tempat itu, jangan harap akan mampu

meloloskan diri. Di bagian dalam sendiri terdapat tujuh orang penjaga sehingga jumlah mereka dari

depan sampai ke dalam ada empat belas orang penjaga. Setiap tiga jam sekali, empat belas orang ini

diganti dengan tenaga yang masih baru sehingga tidak mungkin ada yang mengantuk. Kalau ada

tahanan hendak melarikan diri, lebih dahulu dia harus membunuh tujuh orang penjaga sebelah dalam

itu, lalu dia harus mampu membuka setiap pintu baja sampai tujuh kali, pada hal semua pintu

terkunci dari luar, dan harus membunuh setiap orang penjaga. Sebelum dia dapat melakukan ini, si

penjaga tentu saja dapat memukul kentungan tanda bahaya dan dalam waktu sebentar saja tempat

itu akan dipenuhi pasukan. Tidak, tidak mungkin orang dapat melarikan diri dari situ, betapapun

lihainya.

Shu Ta memesan kepada semua penjaga agar malam itu hati-hati melakukan penjagaan dan

siapapun juga orangnya, malam itu tidak diperkenankan masuk, kecuali kalau dia sendiri hendak

memeriksa tahanan.

Tak lama setelah Shu Ta kembali ke bangunan tempat tinggalnya sendiri dalam perbentengan itu,

nampak bayangan hitam berkelebat dan menyelinap di antara kegelapan bayang-bayang bangunan di

dalam benteng itu. Agaknya dia mengenal baik keadaan di situ. Dia menyusup-nyusup dan

menghindarkan pertemuan dengan para petugas yang melakukan penjagaan malam itu. Betapapun

ketatnya penjagaan karena malam itu turun hujan, maka para petugas agak enggan untuk berhujanhujan

dan mereka hanya berjaga-jaga di pos penjagaan. Tak seorangpun dapat melihat

berkelebatnya bayangan yang gerakannya amat cepat itu, apa lagi malam itu amat gelapnya, biarpun

hujan turun sejak tadi, langit masih saja gelap.

Setelah tiba di pintu pertama tempat tahanan istimewa, bayangan itu telah berubah menjadi

Panglima Shu Ta, berpakaian lengkap. Tentu saja penjaga pintu pertama terkejut melihat munculnya

komandan ini. Memang tidak aneh, kalau sang komandan melakukan perondaan, akan tetapi di malam

hujan dan gelap dingin seperti itu!

“Buka pintu, aku akan memeriksa tawanan, lalu tutup lagi pintu, kunci dari dalam dan kau ikut

mengawalku masuk,” kata sang komandan dengan singkat, namun suaranya mengandung perintah yang

tidak boleh dibantah. Penjaga itu tentu saja melaksanakan perintah ini dengan girang bahwa dia

disuruh mengawal masuk karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan panglima

yang bertangan besi terhadap para penjahat itu terhadap dua orang pemberontak yang ditawan.

 

Shu Ta mengulangi perintahnya di pintu-pintu berikutnya, yaitu mengunci pintu kembali dari

dalam dan memerintahkan penjaga ikut pula mengawalnya masuk. Sikap ini tentu saja tidak membuat

para penjaga itu seujung rambutpun tidak mencurigai panglima ini. Panglima itu menyuruh mereka

mengunci pintu dan mengajak mereka ikut masuk. Jelas ini merupakan langkah keamanan dan mereka

merasa terhormat dipercaya untuk ikut masuk ke dalam tempat yang sesungguhnya terlarang oleh

siapapun kecuali sang komandan dan petugas yang melakukan tugas jaga di dalam.

Tujuh orang penjaga di dalampun merasa heran ketika melihat komandan mereka muncul dikawal

tujuh orang penjaga pintu. Kini Shu Ta berada di depan ruang tahanan bersama empat belas orang

prajurit penjaga.

“Kalian semua harus berjaga dengan ketat di luar ruangan tahanan. Aku akan memeriksa tahanan

dan membujuk mereka agar mengaku. Awas, semua siap, akan tetapi sebelum ada perintah dariku,

jangan bergerak. Mereka terbelenggu, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kepala jaga, serahkan

kunci-kuncinya kepadaku!”

Seuntai kunci diserahkan kepala jaga kepada Shu Ta, terdiri dari dua kunci pintu baja dan dua

buah kunci belenggu kaki tangan dua orang tawanan itu. Setelah sekali lagi memperingatkan mereka

untuk berjaga-jaga di luar menanti perintahnya, Shu Ta sendiri membuka pintu ruangan itu. Ketika

dia memasuki ruangan itu, Goan Ciang dan Hui Yen yang sejak tadi sudah mendengarkan suara Shu

Ta dan mereka berdua sudah siap siaga.

“Panglima Mongol jahanam busuk, mau apa engkau masuk ke sini? Pergi, engkau memuakkan

perutku saja!” terdengar Yen Yen berteriak memaki-maki.

“Hemm, panglima Mongol, kami sudah tertawan dan kami siap menerima hukuman mati. Tidak ada

gunanya bagi engkau membujuk kami, kami tetap tidak mau membantumu. Bunuhlah kalau kau mau

membunuhku!” kata pula Goan Ciang dengan suara penuh geram.

Sementara itu, Shu Ta sudah mengeluarkan kunci dan membuka belenggu kaki tangan dua orang

itu selagi mereka memaki-makinya, dan dia berbisik, “Di luar ada empat belas orang pengawal, kita

harus membunuh mereka dengan serentak, suheng. Kalau ada seorang saja yang lolos, kita bertiga

takkan dapat lolos, dari sini!”

Goan Ciang sudah dapat mengerti dan dia merangkul Shu Ta. “Baik, sute, mari kita bunuh mereka!”

“Kalian pura-pura masih terbelenggu dan rebah, akan kupanggil mereka semua ke sini,” bisik Shu

Ta dan diapun menjenguk keluar dari pintu kamar tahanan dan berteriak, “Kalian semua ke sini, aku

membutuhkan bantuan kalian. Semua ke sini, jangan ada yang berada di luar!”

Mendengar perintah ini, empat belas orang penjaga itu seperti berlomba memasuki kamar

tahanan. Hal ini tidak aneh karena seorang di antara dua tawanan itu adalah seorang gadis yang

amat cantik manis dan mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh tugas menggarap gadis itu

agar mengaku.

Melihat empat belas orang itu sudah masuk semua, Shu Ta malah melangkah keluar dan menjaga

di pintu, seolah menjaga agar dua orang tawanan itu tidak dapat lari keluar.

Setelah empat belas orang itu memasuki kamar tahanan sehingga agak berhimpitan, mereka tidak

tahu harus berbuat apa karena belum ada perintah. Mereka semua menghadap ke arah pintu

sehingga membelakangi dua orang tawanan yang masih rebah miring. Mereka semua menanti

perintah dari sang komandan. Akan tetapi pada saat itu, dua orang tawanan yang tadinya nampak

rebah miring dengan kaki tangan terbelenggu, tiba-tiba berloncatan bangun dan begitu kaki tangan

mereka bergerak, empat orang penjaga roboh! Yen Yen merampas sebatang tombak, sedangkan Goan

Ciang merampas sebatang pedang, lalu kedua orang ini mengamuk dari dalam.

Tentu saja para penjaga itu terkejut setengah mati menghadapi amukan dua orang itu. Mereka

tadinya tertegun melihat empat orang rekan mereka roboh, tidak tahu apa yang terjadi. Ketika

melihat empat orang itu roboh oleh serangan dua orang tawanan yang tadinya rebah di lantai,

mereka tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi. Mereka segera mencabut senjata dan

melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena tempat itu sempit dan mereka tidak melakukan

 

persiapan, diserang secara mendadak sehingga panik, maka sebentar saja, empat orang roboh lagi

oleh tombak Yen Yen yang dimainkan seperti tongkat, dan pedang di tangan Goan Ciang.

Enam orang prajurit, sisa dari empat belas orang itu menjadi semakin panik dan mereka

berdesakan hendak keluar dari kamar tahanan. “Ciangkun…, bagaimana ini…?” teriak mereka dengan

bingung. Akan tetapi, sambutan yang mereka dapat dari Shu Ta menghilangkan kebingungan mereka,

Shu Ta menggerakkan pedang dan membunuh dua orang yang berada paling depan. Tahulah mereka

bahwa ini merupakan suatu pengkhianatan dari komandan mereka itu! Empat prajurit membalik dan

melawan mati-matian, namun dengan mudah Goan Ciang dan Hui Yen merobohkan mereka. Habislah

empat belas orang itu, roboh semua oleh tiga orang itu. Shu Ta tidak mau mengambil resiko, dia

mengajak Goan Ciang untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti dan menambah tusukan maut bagi

mereka yang belum tewas sehingga mereka yakin bahwa empat belas orang itu sudah tewaas semua.

“Sekarang, dengar baik-baik, suheng. Aku menjadi panglima agar kelak dapat membantumu dari

dalam. Engkau dari luar dan aku dari dalam. Bagus, bukan?”

Goan Ciang tidak menjawab, hanya merangkul dan menepuk-nepuk pundak sutenya. “Sekarang, apa

yang akan kita lakukan, sute?”

“Nah, perhatikan rencanaku ini. Siasat ini harus dilaksanakan sebaik mungkin karena kalau gagal,

membahayakan keselamatan kita dan berarti menggagalkan pula perjuangan kita.” Dia lalu bicara

berbisik-bisik namun singkat dan jelas. Setelah Goan Ciang dan Hui Yen mengangguk-angguk

mengerti, barulah Shu Ta merasa puas.

“Nah, sekarang aku akan membuka satu demi satu tujuh pintu depan. Bantu aku mengambil kuncikunci

itu dari dalam saku baju para penjaga, suheng. Yang itu, dan itu, dan di sana itu…” Bukan hanya

Goan Ciang, juga Hui Yen tanpa diperintah sudah ikut membantu, mencari dan mengambil kunci dari

saku baju para penjaga yang ditunjuk dan yang telah menjadi mayat.

Tidak lama kemudian, tujuh lapis pintu itu terbuka semua dari dalam dan yang keluar dari pintu

paling luar adalah dua orang prajurit dan seorang berpakaian dan berkedok hitam! Tentu saja si

kedok hitam adalah Shu Ta dan dua orang pelarian itu melucuti dan mengenakan pakaian dua orang

di antara para prajurit yang tewas. Karena sudah hafal benar akan keadaan dalam perbentengan itu,

tentu saja tidak sukar bagi Shu Ta untuk mencari jalan paling aman sehingga mereka dapat

mendekati pagar tembok tanpa diketahui seorangpun penjaga.

Dari dalam segerombolan semak Shu Ta mengeluarkan segulung tali yang dipasangi kaitan di

ujungnya. Semua terjadi sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkannya sore tadi. Dia mengajak

dua orang pelarian itu bersembunyi di belakang semak yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari

pagar tembok dan menanti. Hujan masih turun rintik-rintik dan malam gelap sekali. Tak lama

kemudian, terdengar bunyi pukulan lonceng dan seperti yang sudah diperintahkan Shu-Ciangkun,

beberapa orang peronda lewat.

Goan Ciang dan Hui Yen cepat keluar dari balik semak belukar, berlari mendekati pagar tembok

dan Goan Ciang segera melemparkan ujung tali yang ada kaitannya ke atas. Sekali lempar, kaitan itu

meluncur ke atas membawa tali dan berhasil menggait tepi pagar di atas. Setelah menarik-narik tali

itu dan mendapat kenyataan bahwa kaitannya cukup kuat, dia memberi isarat kepada Hui Yen dan

mereka lalu merayap naik melalui tali yang kuat itu. Setibanya di atas pagar tembok, mereka

mendekam dan Goan Ciang menarik tali itu ke atas tembok. Tali itu masih mereka butuhkan.

Meloncat begitu saja ke bawah dari pagar tembok setinggi itu, mengandung bahaya besar karena di

luar pagar tembok masih terdapat banyak penjaga yang selalu melakukan perondaan. Sesuai dengan

siasat yang sudah diatur Shu Ta, mereka kini menanti di atas pagar tembok dan memandang ke arah

pos penjagaan di depan pintu gerbang benteng. Shu Ta sudah memilih tempat yang paling tepat.

Benteng itu terkurung parit yang berisi air dan keadaannya amat berbahaya, sukar untuk dapat

diseberangi. Bagian yang dipilih Shu Ta itu dekat dengan pintu gerbang yang merupakan bagian

paling sulit dilalui karena banyaknya pasukan yang berjaga. Ketika Goan Ciang dan Hui Yen

memperhatikan ke bawah, ternyata di luar pagar tembok di bawah mereka terdapat bangunan kecil

 

seperti pondok berjajar lima. Tempat ini adalah tempat peristirahatan bagi para prajurit yang tidak

berjaga, juga menjadi tempat penyimpanan ransum, dapur dan penyimpanan senjata.

Kedua orang pelarian itu ingat benar akan pesan Shu Ta tadi, pesan yang barus dilaksanakan

dengan cermat. Sebentar lagi rombongan peronda di atas pagar tembok benteng yang tebal itu akan

lewat dan di atas itu tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri. Mereka akan ketahuan, dan kalau

ketahuan di atas tembok itu, tentu saja amat membahayakan mereka dan sukar untuk dapat

meloloskan diri.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan keributan di bawah, sebelah dalam. Tahulah Goan Ciang bahwa

sutenya sudah bertindak, sesuai dengan siasat yang telah diaturnya. Shu Ta telah memancing

perhatian di sebelah dalam pagar tembok.

“Mari kita turun cepat dan hati-hati,” bisiknya kepada Hui Yen dan diapun melepas gulungan tali

yang ujungnya sudah dikaitkan di atas itu, ke bawah. Lalu keduanya merayap turun dengan cepat

sehingga mereka dapat tiba di atas atap pondok-pondok itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Akan tetapi, tetap saja ada seorang penjaga yang melihat mereka. Penjaga itu berteriak dan

sedikitnya tiga puluh orang prajurit mengepung pondok itu sambil berteriak-teriak. Di antara

mereka bahkan ada yang sudah berloncatan ke atas genteng pondok.

Dua orang pertama yang meloncat ke atas genteng, disambut oleh Goan Ciang dan Hui Yen.

Mereka terjungkal ke bawah sambil mengaduh. Para prajurit yang berada di bawah menjadi gempar.

Kini banyak orang yang berloncatan ke atas, dan pada saat itu, Goan Ciang dan Hui Yen meloncat

turun! Dua orang pelarian ini menyelinap di antara para prajurit yang berteriak-teriak itu dan

karena tempat itu gelap, hanya remang-remang saja diterangi lampu gantung dari pondok, maka

tentu saja para prajurit menganggap mereka itu kawan sendiri.

“Ini penjahatnya!” Seorang prajurit yang berada dekat dengan Hui Yen berseru, akan tetapi

teriakannya tadi menyadarkan para rekannya bahwa dua orang yang berpakaian seperti mereka itu

adalah orang-orang yang tidak mereka kenal, maka mereka segera mengepung dan mengeroyoknya.

Goan Ciang dan Hui Yen mengamuk. Mereka dikepung oleh kurang lebih tiga puluh orang prajurit. Di

antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat itu menjadi agak terang, Goan Ciang dan

Hui Yen mengamuk, dapat merobohkan empat orang pengeroyok.

“Lari…!” teriaknya kepada Hui Yen. Seperti telah dipesankan oleh Shu Ta, mereka harus cepatcepat

melarikan diri karena kalau sampai bala bantuan tiba, mereka akan dikepung oleh ratusan,

bahkan ribuan orang prajurit dan tidak mungkin lagi mereka akan dapat meloloskan diri. Jalan satusatunya

untuk dapat keluar dari daerah perbentengan itu hanya melalui jembatan di depan pintu

gerbang. Saat itu, yang bertugas jaga di depan pintu gerbang hanya sekitar empat puluh orang.

Akan tetapi dalam waktu singkat, jumlah itu dapat bertambah menjadi puluhan kali lipat banyaknya!

Shu Ta menjamin bahwa penambahan jumlah itu tidak akan dapat terjadi dengan cepat karena dia

yang akan mengacau dan memancing perhatian di sebelah dalam sehingga tidak ada perhatian di luar

tembok. Apa lagi, puluhan orang prajurit di luar tembok itu tentu merasa tidak perlu minta bantuan

dari dalam kalau hanya menghadapi dua orang pelarian saja.

Terjadi pengejaran di sekitar pintu gerbang. Kembali Hui Yen dan Goan Ciang mendapatkan

keuntungan karena penyamaran mereka. Mereka berdua berloncatan dan berlarian, menyelinap di

antara pondok dan kadang, kalau mendadak bertemu prajurit, si prajurit agak tertegun karena

mengira rekan mereka sendiri. Keraguan yang hanya beberapa detik ini cukup bagi kedua orang

pelarian itu untuk merobohkan lawan.

Akhirnya, Goan Ciang dan Hui Yen berhasil menyeberangi jembatan setelah merobohkan belasan

orang prajurit. Para prajurit menjadi gempar, sebagian melakukan pengejaran dan ada pula yang

memukul tanda bahaya memberi isarat ke dalam!

Sementara itu, di dalam perbentengan terjadi kegemparan. Seorang yang berpakaian hitam dan

berkedok hitam telah merobohkan empat orang berturut-turut. Yang diserang adalah para peronda,

kemudian bayangan hitam itu nampak berkelebatan di dekat pintu gerbang, merobohkan lagi dua

orang prajurit. Tentu saja dia segera dikeroyok, akan tetapi dengan gesitnya dia berloncatan dan

 

menyusup ke sana sini, dikejar oleh para prajurit. Tentu saja suasana menjadi geger dan kacau.

Teriakan-teriakan para prajurit membuat suasana menjadi semakin kacau.

Ketika si kedok hitam lenyap ditelan kegelapan, ada prajurit yang memukul tanda bahaya dengan

gencarnya. Tak lama kemudian, Panglima Shu Ta muncul dengan pedang di tangan. Dia nampak

seperti baru bangun tidur dan pakaiannyapun tidak lengkap, seperti tergesa-gesa.

“Apa yang telah terjadi?” bentaknya. Para perwira juga bermunculan dan semua bertanya apa

yang terjadi.

“Ada seorang berkedok hitam mengacau dan membunuh beberapa orang prajurit, Ciangkun!”

seorang prajurit melapor.

“Ahhh! Kita cepat memeriksa tempat tahanan. Hayo ikut dengan aku!” kata Shu-Ciangkun. Tujuh

orang perwira dan belasan orang prajurit segera mengikutinya dan mereka berlari-lari menuju ke

tempat tahanan. Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya semua orang ketika mendapat

kenyataan bahwa tujuh lapis pintu itu telah terbuka semua. Mereka menyerbu masuk dan ketika

mereka tiba di tempat tahanan, mereka terbelalak melihat betapa empat belas orang prajurit

penjaga telah tewas semua dan mayat mereka bertumpuk dan berserakan di dalam kamar tahanan!

Dua orang tahanan telah lenyap!

“Celaka!” Shu-Ciangkun berteriak. “Tentu si kedok hitam itu yang membebaskan mereka. Hayo

kerahkan semua pasukan, cari dan kejar!”

Para perwira berlarian keluar untuk melaksanakan perintah itu, dan ketika Yauw-Ciangkun datang,

diapun menjadi marah bukan main. “Bagaimana mungkin dua orang tawanan yang berada di dalam

benteng dapat melarikan diri begitu saja? Ini tentu ada bantuan dari dalam!” katanya.

“Sayapun berpendapat begitu, Ciangkun!” kata Shu Ta. “Kita harus dapat menangkap si kedok

hitam itu, dan menangkap kembali dua orang tahanan!”

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya. “Shu-Ciangkun, sekali ini aku agak kecewa. Kenapa engkau

tidak segera suruh bunuh saja dua orang pemberontak itu, dan menggantungkan kepala mereka di

pintu gerbang? Kini mereka lolos dan ini merupakan pukulan hebat bagi kita.”

“Maaf, Yauw-Ciangkun. Tadinya saya berniat untuk membujuk mereka agar mengaku di mana

adanya kawan-kawan mereka. Saya memberi waktu semalam ini, bahkan malam tadi saya masih

sempat mengunjungi mereka dan membujuk serta menggertak mereka.”

“Hemm, dan apa hasil bujukan itu? Sia-sia saja.”

“Tidak sia-sia, Ciangkun,” bantah Shu Ta. “Dalam kunjungan itu saya memeriksa keadaan para

penjaga dan memesan agar mereka waspada. Selain itu, juga ada hasil lain, yaitu pengakuan tawanan

perempuan itu setelah dia saya ancam. Tapi ini, mereka yang terluka dibawa menghadap, kita dapat

menanyai mereka, Ciangkun.”

Memang Shu Ta memerintahkan agar para prajurit yang terluka dibawa menghadap agar dapat

ditanyai akan tetapi kini yang dibawa menghadap bukan hanya prajurit yang berada di dalam, juga

prajurit yang dari luar benteng! Pintu gerbang benteng sudah dibuka dan bala bantuan dari dalam

ikut pula melakukan pengejaran keluar namun sia-sia. Dua orang itu telah lenyap.

Panglima Yauw dan Panglima Shu menanyai para prajurit yang terluka. Mereka yang terluka oleh si

kedok hitam, segera menceritakan pengalaman mereka. Akan tetapi mereka hanya melihat seorang

yang berpakaian hitam dan berkedok, berkelebatan dan ketika hendak ditangkap, si kedok hitam itu

merobohkannya dengan pedang.

“Si kedok hitam itu lihai sekali, Ciangkun. Kami tujuh orang sudah mengepungnya dan

mengeroyoknya, akan tetapi dua orang di antara kami roboh dan dia sudah meloncat dan hilang.”

“Si kedok hitam mengamuk dekat pintu gerbang, merobohkan dua orang termasuk saya, dan

ketika dia dikepung, diapun dapat meloloskan diri, meloncat dan menghilang, gerakannya cepat bukan

main, Ciangkun,” kata prajurit ke dua yang terluka.

Kemudian, prajurit yang terluka di luar benteng, menceritakan pengalamannya. “Kami melihat dua

orang turun dari pagar tembok dan berada di atap pondok penjagaan di luar, Ciangkun. Kami segera

menyergap mereka, akan tetapi mereka itu lihai. Selain itu, ketika mereka berloncatan turun, kami

 

sempat dibikin bingung karena mereka mengenakan pakaian prajurit seperti kami dan malam cukup

gelap. Dalam keadaan ragu dan bingung, mereka dapat merobohkan beberapa orang di antara kami

dan mereka melarikan diri melalui jembatan.”

“Kalian semua tolol! Goblok!” Shu-Ciangkun membentak-bentak marah. “Hanya menghadapi dua

orang buronan di luar benteng, dan seorang berkedok hitam di dalam benteng saja kalian tidak

mampu menangkap mereka? Kalian semua patut dihukum!”

Akan tetapi, Yauw-Ciangkun mengajak Shu-Ciangkun untuk melakukan pemeriksaan di tempat

kejadian. Mereka mendapatkan bahwa dua orang di antara empat belas prajurit yang tewas di kamar

tahanan, hanya berpakaian dalam saja. Kemudian mereka juga menemukan tali berujung kaitan di

atas pondok penjagaan di luar pintu gerbang.”

“Hemm, sekarang jelas sudah,” kata Yauw-Ciangkun. “Si kedok hitam itulah yang membantu dua

orang tawanan. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali bagaimana dia mampu melewati pintu yang

tujuh lapis dan membunuh semua penjaga di sebelah dalam sehingga tidak ada yang mendengar atau

yang mengetahui. Setelah membebaskan dua orang tawanan yang menyamar sebagai prajurit, lalu

dua orang tawanan itu melarikan diri menggunakan tali ini. Dua orang tawanan itu berhasil

meloloskan diri karena si kedok hitam di sebelah dalam benteng sengaja menimbulkan kekacauan

sehingga para prajurit di sebelah dalam benteng tidak sempat membantu ke luar benteng untuk ikut

mengepung dan menangkap dua orang buronan. Sungguh cerdi sekali si kedok hitam!”

“Akan tetapi bagaimana dia dapat memasuki benteng?” Shu-Ciangkun membantah. “Kalau dia

orang luar, tidak mungkin dapat masuk benteng tanpa diketahui! Saya hampir yakin bahwa dia

tentulah mata-mata yang berhasil menyelundup ke dalam benteng, mungkin selama ini dia telah

bersembunyi dan kita tidak tahu di mana. Dan lebih besar lagi kemungkinan dia masih berada di

dalam benteng. Saya akan memerintahkan pasukan penyelidik melakukan penggeledahan dan

pemeriksaan di dalam benteng, Yauw-Ciangkun.”

“Memang sebaiknya begitu. Kalau saja kau suruh bunuh dua orang tawanan itu, tentu tidak akan

terjadi peristiwa malam ini. Akan tetapi tadi kau mengatakan bahwa penundaan hukuman mati

sampai besok itu tidak sia-sia dan menghasilkan pengakuan tawanan perempuan itu. Pengakuan yang

bagaimana?”

“Inilah yang saya katakan tidak sia-sia, Ciangkun. Kita dapat melakukan pembalasan atas

kekalahan kita malam ini dengan lolosnya kedua orang tawanan itu! Perempuan muda itu telah

memberitahukan di mana sarang kawan-kawannya, yaitu orang-orang Hwa I Kaipang yang kini tidak

lagi memperlihatkan diri.”

“Bagus sekali kalau begitu! Memang akupun merasa heran mengapa setelah kita ketahui bahwa

Hwa I Kaipang menentang pemerintah, dan bermusuhan dengan Hek I Kaipang, kini tak pernah

nampak seorangpun pengemis berpakaian kembang. Tentu mereka telah bersembunyi. Dan engkau

mengetahui tempat persembunyiannya? Di mana, Shu-Ciangkun?”

“Di lereng Bukit Bambu Kuning lembah sungai Yang-ce! Dan kita harus cepat bertindak sebelum

mereka melarikan diri lagi. Siapa tahu, di sana kita dapat menemukan pula dua orang buronan itu!”

Shu Ta lalu berbisik-bisik mengatur siasat dengan atasannya itu. Mendengar keterangan pembantu

utamanya ini, Yauw-Ciangkun menjadi gembira dan berkuranglah rasa tidak senangnya oleh peristiwa

lolosnya dua orang buronan itu. Apa lagi melihat bawahannya memang tidak bersalah, bahkan kini

bersungguh-sungguh untuk menumpas pemberontak.

Tak seorangpun dapat menduga bahwa lolosnya dua orang buronan itu karena siasat Shu-Ciangkun.

Para prajurit melihat betapa malam itu panglima ini masih melakukan perondaan, bahkan memesan

kepada para penjaga untuk melakukan penjagaan yang ketat. Bahkan dalam keadaan malam gelap,

hujan dan dingin itu, dia masih memeriksa penjagaan, ke pintu gerbang, ke tempat tahanan umum, ke

tempat tahanan istimewa. Siapa yang akan menyangka bahwa orang berkedok hitam yang

membebaskan dua orang pemberontak itu adalah sang panglima yang begitu getol memberantas

pemberontak dan penjahat?

 

Pasukan yang kuat telah dikumpulkan dan tak lama kemudian, Panglima Shu sendiri yang memimpin

pasukan itu, menjelang pagi bergerak menuju ke Bukit Bambu Kuning di lembah sungai Yang-ce.

Dengan tubuh lelah namun semangat tinggi dan hati penuh perasaan gembira, Goan Ciang dan Hui

Yen akhirnya dapat lolos dari pengejaran para prajurit benteng. Mereka langsung saja keluar dari

pintu gerbang kota Nan-king setelah menanggalkan pakaian prajurit yang mereka pakai di luar

pakaian mereka sendiri.

Mereka berlari terus biarpun sudah keluar kota, dan baru berhenti mengaso setelah mereka

bertemu dengan tempat persembunyian para anggota Hwa I Kaipang yang bermusuhan dengan Hek I

Kaipang yang menjadi antek Mongol sehingga Hwa I Kaipang dicap sebagai pemberontak dan dikejarkejar

pasukan pemerintah, Hwa I Kaipang terpaksa meninggalkan markas besar mereka dan hanya

mempunyai tempat-tempat pertemuan yang dirahasiakan.

Ketika para anggota Hwa I Kaipang menyambut wakil ketua mereka dan pembantunya, yaitu Tang

Hui Yen dan Cu Goan Ciang, mereka gembira bukan main. Mereka telah mendengar berita ditawannya

kedua orang pimpinan itu dan mereka sedang prihatin dan berbincang-bincang bagaimana mereka

akan dapat menolong kedua orang pimpinan mereka yang kabarnya ditawan dalam benteng pasukan

pemerintah di Nan-king.

Akan tetapi, kedua orang itu menghentikan kegembiraan mereka dengan memberi tugas kepada

mereka. Semua anggota yang berada di situ dikumpulkan. Jumlah mereka hanya ada tiga puluh orang

lebih.

“Sekarang juga, kita pergi ke Bukit Bambu Kunig dengan gerak cepat. Di lereng bukit itu terdapat

sarang gerombolan perampok yang dipimpin oleh Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai

Yang-ce), dan kita bersembunyi tak jauh dari sarang mereka. Kalau nanti sarang mereka itu telah

diserbu pasukan pemerintah, baru kita keluar dan kita terjun ke dalam pertempuran. Untuk gerakan

ini kita semua mengenakan pakaian lama Hwa I Kaipang, yaitu baju kembang,” kata Hui Yen, membuat

semua anggota Hwa I Kaipang terheran-heran.

“Maaf, nona,” kata seorang di antara mereka, seorang anggota yang sudah setengah tua dan

sudah lama menjadi anggota perkumpulan itu. “Setahu saya, kita adalah sekumpulan orang miskin

yang tidak pernah mendekati penjahat, apa lagi bersekutu dengan mereka. Menentang pasukan

pemerintah, memang tugas kita, akan tetapi membantu gerombolan perampok…??”

Cu Goan Ciang maklum akan keraguan mereka, maka cepat dia bicara. “Harap saudara sekalian

ketahui bahwa gerakan kita sekarang ini sama sekali bukan untuk membantu para perampok.

Biasanya kita bahkan menentang para perampok. Dalam gerakan kita ini, kitapun hanya berpura-pura

saja membantu mereka, yaitu dengan jalan memperlihatkan diri sebagai anggota Hwa I Kaipang

dengan pakaian kita, lalu kelihatan membantu. Hal ini merupakan siasat agar pasukan pemerintah

benar-benar mengira bahwa tempat itu adalah sarang Hwa I Kaipang seperti yang mereka duga.

Setelah kita memperlihatkan diri seperti membantu para perampok, kita harus cepat-cepat

meninggalkan gelanggang pertempuran dan melarikan diri. Jangan sampai ada seorangpun di antara

kita yang tewas. Mengerti?”

“Ada satu hal lagi. Di antara kalian yang merasa memiliki kepandaian dan kemampuan, sebelum

melarikan diri harus sedapat mungkin menanggalkan baju kembang kalian dan mengenakan baju

kembang itu pada mayat anggota gerombolan perampok agar nantinya pasukan itu mengira bahwa

yang mereka tumpas benar-benar adalah anak buah Hwa I Kaipang. Nah, kiranya sudah jelas

sekarang?”

Para anggota Hwa I Kaipang mengangguk-angguk dengan hati lega. Biarpun mereka tidak mengerti

mengapa para pimpinan mereka mempergunakan siasat itu, namun mereka mentaati, apa lagi karena

gerakan itu sama sekali bukan berarti mereka membantu para perampok, melainkan pelaksanaan dari

suatu siasat para pimpinan mereka yang tidak mereka mengerti.

Tanpa beristirahat terlalu lama, Goan Ciang dan Hui Yen kembali melakukan perjalan, akan tetapi

sekali ini, anak buah mereka menyediakan dua ekor kuda untuk mereka supaya tidak akan terlalu

lelah menempuh perjalanan ke bukit itu.

 

Bukit Bambu Kunig merupakan sebuah di antara bukit-bukit yang terdapat di lembah sungai Yangce.

Bukit ini rimbun dengan hutan bambu kuning, dan sejak lama bukit ini dianggap sebagai tempat

berbahaya bagi para penduduk daerah itu. Selain bukit yang penuh hutan bambu itu tidak

memungkinkan tumbuhnya pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan lain yang menghasilkan, juga tempat

itu sering dijadikan sarang gerombolan penjahat yang kejam. Oleh karena itu, para penghuni dusun

di sekitar daerah itu merasa lebih aman untuk menjauhinya.

Pada waktu ini, di lereng bukit itu memang terdapat sarang gerombolan perampok yang ditakuti.

Gerombolan yang anggotanya tidak kurang dari lima puluh orang ini dipimpin oleh dua orang kakak

beradik yang dijuluki Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Yang-ce), karena mereka berdua itu

ganas seperti harimau. Anak buah mereka juga terkenal kejam dan jahat, juga rata-rata memiliki

tubuh yang kekar dan watak yang buas di samping ilmu silat yang lumayan. Pekerjaan mereka adalah

merampok, atau membajak perahu para pedagang di sepanjang sungai, memaksakan kehendak

mereka kepada para penduduk dusun. Pendeknya, mereka itu merampok, membunuh, memperkosa

dan memaksakan segala kehendak mereka. Agaknya tidak ada kejahatan yang mereka pantang

melakukannya. Baru beberapa bulan gerombolan ini bersarang di lereng bukit itu, dipimpin oleh

Yang-ce Siang-houw yang sebelumnya hanya melakukan kejahatan berdua saja tanpa anak buah.

Lewat tengah hari, pada hari itu, suasana di sarang gerombolan yang biasanya lengang itu, nampak

meriah. Biarpun tidak terdapat pesta seperti yang biasa dilakukan rakyat, namun gerombolan itu

sebetulnya sedang merayakan pesta pernikahan! Pernikahan dari dua orang pimpinan mereka. Kakak

beradik Yang-ce Siang-houw itu, setelah kini menjadi pimpinan gerombolan, mengambil keputusan

untuk membangun keluarga. Mereka yang usianya hampir lima puluh tahun, menjatuhkan pilihan

masing-masing kepada dua orang gadis dusun yang mereka culik dan mereka paksa menjadi isteri.

Tentu saja tidak ada pesta perayaan yang dihadiri oleh keluarga dua orang gadis itu atau oleh

penduduk dusun asal mereka. Pesta itu hanya merupakan pesta mabok-mabokan oleh para anggota

gerombolan perampok. Para wanita yang menemani mereka makan minum adalah para wanita yang

tiada beda nasibnya dengan dua orang gadis yang dipaksa menjadi pengantin di hari itu, ialah wanitawanita

yang diculik dan dilarikan dari suami mereka atau dari orang tua mereka.

Karena lima puluh lebih anak buah gerombolan yang selalu yakin bahwa tidak ada seprangpun dari

luar yang berani naik ke lereng itu, apa lagi memasuki daerah sarang mereka, maka mereka menjadi

lengah. Mereka tidak tahu bahwa ada tiga puluh orang lebih bersembunyi di balik semak-semak, di

belakang rumpun bambu. Bahkan mereka tidak tahu bahwa dua jam kemudian, pasukan pemerintah

yang jumlahnya tiga ratus orang juga mendaki bukit iru dan mengepung sarang mereka. Pasukan ini

dipimpin oleh Panglima Shu Ta sendiri, bahkan ditemani oleh Yauw-Ciangkun karena komandan atau

panglima tertinggi di Nan-king ini merasa penasran dngan lolosnya dua orang tawanan, selain itu juga

dengan cerdik sekali Shu Ta berhasil membujuknya untuk ikut dalam gerakan penumpasan terhadap

sarang pemberontak itu!

Shu Ta memang seorang yang amat cerdik dan setelah menjadi panglima dan mempelajari ilmuilmu

perang dari kitab-kitab yang tersedia, dia menjadi semakin cerdik, seperti yang telah diduga

oleh Goan Ciang dan semua siasatnya dilaksanakan dengan patuh oleh Goan Ciang, semua siasatnya

telah diatur dengan cermat pada saat dia kebingungan melihat suhengnya tertwan. Kebetulan sekali

pada waktu itu, baru saja dia mendengar laporan para penyelidiknya tentang gerombolan perampok

yang bersarang di Bukit Bambu Kuning. Keterangan tentang sarang gerombolan itulah yang

menimbulkan gagasan untuk mempergunakannya sebagai suatu cara untuk menghilangkan kecurigaan

terhadap dirinya setelah Goan Ciang dan Hui Yen dapat dibebaskan olehnya. Tanpa adanya gerakan

penumpasan tehadap Hwa I Kaipang, tentu atasannya, Yauw-Ciangkun, akan merasa kecewa dan

marah sekali, dan mungkin akan mencurigainya. Maka, dia mengatur siasar dan telah

mempersiapkannya sebelum dia membebaskan dua orang tawanan itu secara cerdik sekali, dengan

menyamar sebagai seorang berkedok hitam. Kini siasatnya itu dilaksanakan dalam kerja sama antara

dia dan suhengnya dan dia merasa yakin bahwa saat dia memimpin pasukannya naik ke lereng Bukit

Bambu Kuning, suhengnya dan kawan-kawan suhengnya tentu sudah siap siaga pula.

 

Dapat dibayangkan betapa kacau dan paniknya para anggota gerombolan perampok itu ketika tibatiba

saja sarang mereka telah dikepung ratusan orang prajurit dan serbuan datang dari segenap

penjuru! Mereka adalah orang-orang yang biasa dengan kekerasan, maka setelah panik sejenak,

mereka segera menyambar senjata dan melawan mati-matian. Juga dua orang kakak beradik yang

sedang menjadi pengantin itu mengamuk dengan golok besar merke.

Ketika terjadi perempurarn itulah, orang-orang yang berpakaian baju kembang bermunculan di

mana-mana dan mereka membantu para perampok, menyambut serangan para prajurit pasukan

pemerintah. Tentu saja pertempuran menjadi semakin seru.

Panglima Shu Ta yang berdiri di tempat yang agak tinggi bersama Panglima Yauw, gembira sekali

melihat munculnya banyak orang berbaju kembang, dan diapun segera berkata kepada atasannya.

“Nah, itulah mereka, para anggota Hwa I Kaipang! Tawanan perempuan itu tidak berbohong dalam

pengakuannya semalam dan kita tidak terlambat. Para pemberontak itu belum sempat pergi dari

sini.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dengan hati puas. Sementara itu, Goan Ciang dan Hui Yen ikut

mengamuk, merobohkan banyak prajurit. Akan tetapi diam-diam mereka memberi isarat kepada

anak buah meeka untuk mulai menyelinap dan melarikan diri, dan merekapun menggunakan

kesempatan untuk meninggalkan baju kembang mereka pada tubuh mayat-mayat anak buah

gerombolan. Ada di antara para anggota Hwa I Kaipang yang terluka, dan mereka ini diseret dan

diangkut oleh kawan-kawan mereka untuk melarikan diri. Bahkan ada tiga orang yang tewas

ditinggalkan begitu saja, berikut baju kembang mereka! Kematian mereka itu tidak sia-sia, selain

mereka sudah berhasil membunuh banyak prajurit, juga mereka dapat menolong Shu Ta, menjadi

bukti bahwa tempat itu benar-benar menjadi sarang pemberontak baju kembang!

Serbuan pasukan itu berhasil baik. Tidak kurang dari tiga puluh orang gerombolan “pemberontak”

dibasmi, terluka parah atau tewas. Di antara yang tewas itu, lebih dari setengahnya mengenakan

jubah kembang dan di antara mereka yang tewas terdapat pula kakak beradik Yang-ce Siang-houw.

Kedua orang panglima Shu dan Yauw pulang dengan pasukan mereka, membawa kemenangan dan

kembali Shu-Ciangkun dipuji-puji oleh pemerintah Mongol sebagai seorang panglima muda yang baru

akan tetapi telah membuat jasa besar.

Akan tetapi, semua ini tidak membuat Shu Ta menjadi kehilangaan kewasppadaan. Di menerima

pujian itu dengan rendah hati dan juga sama sekali tidak mendatangkan kelengahan sehingga dia

tahu bahwa di dalam kemenangan siasatnya itu, masih terdapat bahaya besar yang datangnya dari

para pimpinan Hek I Kaipang! Hal ini diketahuinya ketika beberapa hari kemudian, Yauw-Ciangkun

menyatakan keheranannya dengan sikap dan suara yang mengandung kecurigaan.

“Sungguh aku tidak dapat mengerti sampai sekarang, Ciangkun. Ke mana perginya si kedok hitam

itu? Siapakah dia? Bagaimana dia dapat memasuki benteng dan sekarang dia berada di mana?

Menurut laporanmu, setelah diadakan penggeledahan, tidak ditemukan si kedok hitam atau bahkan

jejaknya. Apakah dia dapat menghilang? Sungguh hal ini menimbulkan penasaran. Pendeknya kalau

dia belum dapat ditemukan, hatiku selalu akan merasa gelisah memikirkan bahwa seorang di antara

kita yang berada di dalam benteng adalah seorang mata-mata musuh yang lihai dan berbahaya.”

Diam-diam Shu Ta terkejut bukan main. “Akan tetapi, Yauw-Ciangkun, saya dan para pembantu

saya sudah melakukan penyelidikan dan besar kemungkinan si kedok hitam yang dipergunakan kedua

orang buronan itu. Agaknya mustahil kalau dia masih dapat bersembunyi di dalam benteng.”

“Hemm, siapa tahu dia adalah seotang di antara para prajurit atau perwira sendiri, atau mungkin…

ha-ha, ini menurut pendapat para tokoh yang lihai dari Hek I Kaipang, mungkin juga bisa aku atau

engkau sendiri!”

Shu Ta tertawa bergelak, “Aih, kalau benar ada yang berpendapat seperti itu, mungkin dia itu

gila, Yauw-Ciangkun!”

“Gila atau tidak, mereka adalah orang-orang pandai yang kita harapkan dapat membantu kita

untuk menaruh orang yang mau bekerja sama dengan kita menjadi Beng-cu yang akan dilakukan

pemilihan beberapa bulan lagi.”

 

“Siapakah mereka itu, Yauw-Ciangkun? Setahu saya di Hek I Kaipang hanya ada Coa-pangcu

(ketua Coa) dan puterinya yang cerdik dan lihai, yaitu nona Coa Leng Si. Apakah mereka yang

mengatakan demikian?”

“Bukan, bukan mereka, melainkan tiga orang lain yang kini sudah berkumpul di sana dan siap

membantu kita. Yang pertama adalah guru dari nona Coa Leng Si, dia seorang bekas hwesio yang

amat lihai, namanya Bouw In Hwesio dan… eh, kenapa? Kenalkah engkau kepada Bouw In Hwesio?”

Shu Ta sudah dapat menenangkan hatinya kembali. Untung bahwa selama menjadi murid Lauw In

Hwesio ketua kuil Siauw-lim-si di lembah Huai, dia belum pernah bertemu dengan supeknya yang

bernama Bouw In Hwesio itu, hanya mendengar namanya saja dan keterangan dari suhunya, bahwa

supeknya itu lebih lihai dari pada suhunya. Dan sekarang, supeknya itu telah menjadi guru dari Coa

Leng Si, gadis lihai puteri ketua Hek I Kaipang!

“Nama Bouw In Hwesio dari Siauw-lim-pai telah banyak dikenal di dunia persilatan, Yauw-

Ciangkun. Siapa yang tidak pernah mendengarnya? Pantas saja nona Coa Leng Si disohorkan lihai

sekali, tidak tahunya ia adalah murid hwesio yang sakti itu.”

“Sekarang bukan lagi menjadi hwesio, melainkan seorang biasa bernama Bouw In dan dia telah

berkeluarga, menikah dengan seorang janda cantik adapun dua orang yang lain adalah suhu dan subo

dari Hek I Kai-pangcu sendiri, dan engkau tahu siapa mereka? Mereka adalah Huang-ho Siang Lomo,

sepasang kakek nenek suami isteri yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia kang-ouw akan

tetapi sekarang siap membantu murid mereka.”

“Ciangkun tadi mengatakan bahwa mereka itu yang bependapat bahwa si kedok hitam adalah

seorang di antara penghuni benteng kita?” Shu Ta mendesak.

Atasannya mengangguk, “Mereka adalah orang-orang berpengalaman, Shu-Ciangkun, dan pendapat

mereka itu berdasarkan pengalaman. Kurasa ada baiknya kita memperhatikan pandapat itu, siapa

tahu benar-benar seorang di antara anak buah kita adalah seorang mata-mata musuh. Sungguh

berbahaya sekali kalau benar begitu.”

“Jangan khawatir, Yauw-Ciangkun. Saya berjanji akan membongkar rahasia si kedok hitam itu.

Saya akan mengerahkan seluruh pembantu untuk mencari dan menangkapnya hidup ataupun mati!”

kata Shu Ta dengan sikap yang penuh semangat.

Gembira hati Panglima Yauw mendengar ini. “Bagus, Shu-Ciangkun. Baik dia orang dalam benteng,

atau orang luar, dia harus ditangkap karena dia telah merugikan kita.”

“Saya berjanji, Ciangkun!”

Dengan mengenakan pakaian biasa, Shu Ta berjalan-jalan di dalam kota. Kepada para

pembantunya, dia mengatakan bahwa dia sendiri akan turun tangan ikut melakukan penyelidikan ke

dalam kota agar dapat menangkap si kedok hitam. Dia tiba di dekap pasar di mana terdapat banyak

pengemis yang minta sedekah. Di antara para pengemis itu, dia melihat ada beberapa orang anak

buahnya yang menyamar, akan tetapi sebagian besar adalah pengemis asli. Ketika dia membagibagikan

uang receh kepada mereka, dia melihat seorang pengemis yang kaki kirinya buntung. Dia

segera mengenal pengemia ini, karena sudah lama pengemis ini menjadi penghubungnya kalau dia

hendak menyampaikan pesan kepada para pemberontak. Pengemis ini adalah seorang anggota

pejuang yang biarpun kakinya sudah buntung sebelah, namun masih bergelora semangatnya. Justeru

karena kakinya buntung ketika dia ikut bertempur melawan pasukan pemerintah, maka dendamnya

terhadap pemerintah Mongol makin menjadi. Dan karena dia buntung, diapun tidak dicurigai dan dia

dapat menyamar sebagai pengemis tanpa ada yang mencurigainya. Melihat si kaki buntung yang

dikenalnya dengan nama A Sam ini, Shu Ta yang masih membagi-bagi uang receh, juga memberikan

sedekah kepada pengemis buntung yang bertopang pada tongkatnya itu.

“Berikan kepada ketua Hwa I Kaipang,” bisik Shu Ta sambil memberi sedekah. A Sam menerima

dan membungkuk menghaturkan terima kasih, lalu pergi bersama para pengemis lain. Tidak ada

orang lain mendengar bisikan Shu Ta tadi, juga tidak ada yang melihat bahwa yang diberikan oleh

panglima itu kepada A Sam, bukan uang receh seperti yang diberikannya kepada pengemis lain,

melainkan sehelai kertas yang dilipat-lipat sekecil uang receh.

 

Setelah terpincang-pincang pergi dari pasar dan keluar dari pintu gerbang kota tanpa ada yang

mencurigainya, dan tiba di tempat sunyi, A Sam mempercepat langkahnya dan biarpun kakinya

tinggal yang kanan saja, namun dibantu tongkatnya, dia dapat berjalan cepat sekali.

Malam harinya, A Sam sudah berhadapan dengan Goan Ciang dan Hui Yen di tempat

persembunyian para anggota Hwa I Kaipang dan A Sam menyerahkan surat itu kepada Goan Ciang

yang telah dikenalnya dengan baik. Tentu saja Goan Ciang gembira seklai ketika A Sam mengatakan

bahwa surat itu diterimanya langsung dari tangan Panglima Shu Ta pribadi. Para pejuang di sekitar

daerah Nan-king sudah tahu akan rahasia Panglima Shu Ta yang diam-diam selalu membantu para

pejuang sehingga tidak sampai tertangkap.

Begitu membaca surat itu, Goan Ciang dan Hui Yen segera berunding. Surat itu singkat saja

bunyinya, tanpa menyebut nama, dan tulisannya juga dibuat-buat sehingga sehingga buruk seperti

coretan kanak-kanak yang sedang belajar menulis.

“Saya harus menangkap Si Kedok Hitam, hidup atau mati, dapatkah membantu?”

Surat itu singkat saja dan andai kata ditemukan Yauw-Ciangkun sekalipun, tidak mungkin panglima

itu akan mempercayai bahwa itu tulisan pembantu utamanya. Tanpa nama, dan juga tulisannya begitu

buruk, tulisan seperti itu tentu saja tidak cukup kuat untuk menjadi bukti bahwa Shu-Ciangkun yang

menulisnya. Biarpun surat itu singkat saja, namun Goan Ciang maklum bahwa tentu sutenya terancam

bahaya maka sampai mengirim surat seperti itu kepadanya.

“Bagaimana menurut pendapatmu, Yen-moi?” tanya Goan Ciang kepada Hui Yen setelah mereka

berdua membaca surat itu lalu berunding di ruangan dalam.

Hui Yen mengerutkan alisnya, menggigit-gigit bibir bawah, suatu kebiasaan dirinya kalau ia sedang

berpikir keras. Gadis ini memang terkenal cerdik sekali. Itulah sebabnya maka kakeknya, Pek Mau

Lokai Tang Ku It, mempercayainya dan menyerahkan tongkat pimpinan Hwa I Kaipang kepada cucu

itu.

“Jelas bahwa Shu-Ciangkun amat membutuhkan bantuan kita, dan itu tandanya bahwa di sana dia

menghadapi masalah yang amat gawat. Dia diharuskan menangkap si kedok hitam, kalimat ini dapat

diartikan bahwa kalau dia tidak dapat menangkap si kedok hitam, hidup atau mati, maka tentu dia

akan menghadapi kesulitan. Kesulitan apa kiranya? Ini yang harus kita selidiki.”

Goan Ciang mengangguk-angguk. “Peristiwa malam itu, ketika kita berdua berhasil meloloskan diri

karena bantuan si kedok hitam, tentu menimbulkan kecurigaan dan mungkin saja Shu-Ciangkun

dicurigai! Ini berbahaya sekali dan satu-satunya jalan untuk dapat menyelamatkannya dari

kecurigaan itu hanyalah apa bila si kedok hitam dapat ditangkap, hidup ataupun mati.”

“Atau setidaknya, dia akan bebas dari kecurigaan kalau si kedok hitam muncul di kota Nan-king,

di luar benteng. Akan tetapi, si kedok hitam adalah Shu-Ciangkun sendiri, bagaimana mungkin…”

“Ah, engkau benar, Yen-moi! Si kedok hitam harus memperlihatkan diri kembali, di luar benteng

dan dengna demikian, maka sute akan terbebas dari kecurigaan dan sangkaan. Kita dapat

membantunya, atau setidaknya, aku dapat membantunya dengan muncul sebagai si kedok hitam dan

membuat kekacauan di dalma kota!”

“Bagus sekali! Memang itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama Shu-Ciangkun, toako.

Akan tetapi, jangan hanya engkau seorang. Hal itu berbahaya dan sebaiknya akupun menyamar

sebagai si kedok hitam, dan kita menyuruh beberapa orang kawan kita yang memiliki kepandaian

yang boleh diandalkan agar tidak sampai tertawan. Kita hanya membuat kekacauan di sana sini, yang

penting agar tersiar berita bahwa si kedok hitam muncul di luar benteng. Kalau sudah begitu, tentu

tidak akan ada yang berani menyangka bahwa Shu-Ciangkun adalah si kedok hitam.”

Goan Ciang mengangguk-angguk dan kagum akan kecerdikan gadis itu. “Baik sekali, kita mulai

kerjakan malam ini juga.”

“Aku akan mempersiapkan penyamaran itu, toako.”

Demikianlah, mulai malam hari itu, kota Nan-king digemparkan berita tentang munculnya si kedok

hitam di mana-mana! Ada si kedok hitam yang menyerang seorang perwira itu. Ada pula si kedok

 

hitam yang memasuki rumah seorang pejabat kaya dan mencuri barang-barang berharga. Dalam

waktu semalam saja, ada lima orang berkedok hitam nampak di mana-mana.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yauw-Ciangkun menemui Shu-Ciangkun dan wajahnya

nampak serius sekali. “Engkau sudah mendengar tentang si kedok hitam, Ciangkun?” tanya Yauw-

Ciangkun.

Shu Ta mengangguk. “Tentu saja, Yauw-Ciangkun. Bahkan semalam saya dan pasukan, mencaricari,

namun kami selalu tidak dapat menemukan jejaknya. Agaknya dia memang lihai bukan main.”

Shu Ta dengan cerdik tidak mau menyinggung tentang kenyataan bahwa si kedok hitam ternyata

orang luar yang kini membuat kekacauan di luar benteng sehingga kecurigaan bahwa si kedok hitam

yang dulu membantu lolosnya dua orang tawanan tidak berdasar lagi.

Yauw-Ciangkun menghela napas pangjang. “Ternyata engkau benar, Shu-Ciangkun. Si kedok hitam

itu memang lihai, akan tetapi melihat betapa munculnya malam tadi di banyak tempat, maka aku

menduga bahwa si kedok hiatam itu bukan hanya satu orang saja. Mungkin sekarang muncul sebuah

perkumpulan rahasia yang semua anggotanya mengenakan kedok hitam.”

“Mungkin saja, Ciangkun, akan tetapi saya akan mengerahkan pasukan untuk membasmi mereka.

Saya yakin bahwa dengan penjagaan ketat dan dengan pengejaran yang sungguh-sungguh, kita dapat

membersihkan Nan-king dari bayangan si kedok hitam.”

Dan mulai hari itu, Shu-Ciangkun memimpin pasukan untuk melakukan aksi pembersihan di dalam

kota Nan-king. Rumah-rumah digeledah dan banyak disebar mata-mata. Dan memang akibatnya, kota

Nan-king semalin aman dan kini tidak lagi ada bayangan si kedok hitam, seolah-olah gerombolan itu

telah terbasmi atau setidaknya telah melarikan diri dan tidak berani lagi muncul di kota Nan-king.

Kembali Shu Ta dapat menyelamatkan diri dengan mulus berkat bantuan Cu Goan Ciang dan Tang

Hui Yen! Dia semakin dipercaya, bahkan kini Hek I Kaipang sendiri percaya bahwa Shu-Ciangkun

adalah seorang perwira yang setia kepada pemerintah!

Pada suatu haru, dua orang penunggang kuda memasuki kota Nan-king. Mereka menarik perhatian

karena mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis yang elok, yang pria tampan dan yang

wanita cantik jelita, keduanya masih muda dan kuda yang mereka tunggangi juga merupakan kuda

pilihan. Tentu saja ada prajurit penyelidik yang mencurigai dan prajurit ini cepat melapor kepada

atasan mereka. Atasan itu kebetulan adalah Panglima Khabuli, seorang di antara mereka yang

tadinya mencurigai Shu Ta, akan tetapi karena tidak terdapat bukti apapun, bahkan Panglima Shu Ta

itu berjasa besar dalam usaha membersihkan Nan-king dari pengacauan penjahat dan pemberontak,

akhirnya Khabuli yang merasa iri kepada Shu Ta tidak dapat berbuat sesuatu.

Ketika Panglima Khabuli yang tadinya bertugas di Wu-han akan tetapi sering berkunjung ke Nanking

itu mendengar dari dua orang anak buahnya bahwa pagi hari itu ada dua orang muda yang

mencurigakan memasuki Nan-king, diapun cepat keluar senriti untuk menyaksikan dan kalau perlu

menangkap dua orang yang mencurigakan itu untuk mencari pahala. Dia bergegas keluar diikuti

selosin orang anak buahnya, menuju ke jalan besar dan menghadang dua orang muda yang

mencurigakan itu. Akan tetapi, begitu bertemu dengan dua orang muda ini, wajah Khabuli menjadi

kemerahan dan di tempat itu juga dia menampar anak buahnya yang melapor.

“Plakk!!” Anak buah itu terkejut dan terpelanting. Ketika dia bangkit pipinya yang ditampar

menjadi bengkak, akan tetapi dia terbelalak dan mengeri mengapa atasannya marah kepadanya

ketika melihat betapa panglima Khabuli begitu bertemu dengan dua orang muda itu, saling tegur dan

memberi dalam dengan ramah dan akrab. Kiranya dua orang itu adalah saudara-saudara misan dari

atasannya itu, bahkan kemudian dua orang penyelidik itu mendengar bahwa dua orang muda yang

mereka curigai itu adalah putera dan puteri Menteri Bayan!

“Kakak Khabuli!” kata Bouw Mimi dengan alis berkerut ketika melihat betapa di depan mereka,

kakak misannya itu menampar seorang anak buahnya sampai terpelanting. “Engkau ini kenapa sih,

tanpa sebab memukul orang di depan kami? Apakah engkau hendak menakut-nakuti kami dengan

kekejamanmu?”

 

Khabuli tertawa menyeringai. “Ha-ha-ha. Dia pantasnya dihukum lebih berat dicongkel keluar

matanya yang seperti buta itu. Kau tahu, adik Mimi, dialah dan temannya itu yang tadi melapor

kepadaku bahwa ada dua orang muda yang mencurigakan memasuki kota Nan-king. Dia mencurigai

kalian! Tidakkah itu gila?”

Mendengar ini, kakak beradik itupun tertawa dan Bouw Ku Cin segera berkata,”Sudahlah, kakak

Khabuli. Mereka berdua belum mengenal kami, maka mereka mereka curiga. Maafkan mereka.”

Dua orang penyelidik itu sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kakak beradik itu mohon maaf

dan sekaligus menghaturkan terima kasih. Peristiwa kecil ini menarik perhatian orang-orang di jalan

itu dan melihat ini, Khabuli dengan mata melotot mengusir mereka yang berani mendekat dan

menonton.

“Adik-adikku yang baik, angin apa yang meniupmu ke selatan ini? Kuharap paman Menteri dalam

keadaan sehat-sehat saja,” kata Khabuli dan matanya yang berminyak itu seperti menggerayangi

tubuh Mimi yang cantik jelita dan kini nampak semakin dewasa itu.

Mimi mengerutkan alisnya melihat pandang mata kakak misannya yang ia tahu adalah seorang lakilaki

mata keranjang yang tidak tahu malu itu. “Kami datang dengan urusan dinas, tidak ada sangkutpautnya

dengan engkau!” katanya ketus.

Akan tetapi Bouw Kongcu merasa tidak enak dengan sikap adiknya itu, lalu dia cepat menyambung,

“Sesungguhnya, kami melaksanakan tugas dari ayah untuk menemui Yauw-Ciangkun.”

Khabuli segera merasa tertarik. “Ah, apakah urusan si kedok hitam itu sudah terdengar pula oleh

kota raja? Memang pemuda she Shu yang menjadi panglima itu patut dicurigai dan karena dia datang

dahulu kalian yang membawanya, maka kalau ada apa-apa, kalian tidak terlepas dari tanggung jawab.”

“Eh, apa yang telah terjadi dengan saudar Shu Ta?” tanya Mimi dengan hati berdebar tegang.

Khabuli tersenyum menyeringai, “Banyak sekali yang terjadi, dan hampir saja teman kalian itu

ditangkap sebagai seorang mata-mata pemberontak.”

“Ahh…!” Dua orang kakak beradik itu saling pandang dengan mata terbelalak. “Kakak Khabuli, apa

yang telah terjadi?” tanya Bouw Kongcu, tentu saja terkejut dan khawatir karena dia tahu benar

bahwa Shu Ta adalah seorang pejuang!

“Sudah kukatakan banyak yang telah terjadi. Akan tetapi agaknya kunjungan kalian ini tidak ada

hubungannya dengan Shu-Ciangkun. Marilah kuantar kalain menemui Yauw-Ciangkun, di sana engkau

aan mendengar sendiri nanti tentang sahabat kalian itu.”

Karena ingin segera mendengar tentang Shu Ta, kakak beradik itu segera melanjutkan

perajalanan menuju ke benternuntuk menemui Yauw-Ciangkun, juga Shu-Ciangkun, diiringi oleh

Panglima Khabuli yang tersenyum-senyum bangga dapat menemani kedua orang adik misannya ini.

Mereka adalah putera puteri Menteri Besar Bayan yang berkuasa, dan tentu akan disambut dengan

hormat oleh Yauw-Ciangkun dan para panglima lainnya, dan kehadirannya akan mengingatkan para

panglima itu bahwa dia adalah kakak misan mereka, bahwa dia adalah keponakan dan Menterti Bayan.

Ketika tiga orang itu memasuki kantor Yauw-Ciangkun, mereka tentu saja disambut dengan

hormat oleh Yauw-Ciangkun dan para perwira yang sedang berada di situ. Nama besar Menteri

Bayan cukup berpengaruh dan karena pemuda dan gadis itu putera dan puteri sang menteri, mereka

disambut dengan penuh penghormatan.

Begitu bertemu dan saling memberi hormat lalu dipersilahkan duduk, Bouw Siocia yang sudah

tidak sabar lagi segera bertanya, “Yauw-Ciangkun, di mana saudara Shu Ta yang dulu kami ajak ke

sini dan kabanya telah menjadi panglima? Apa yang telah terjadi dengan dia?”

Yauw-Ciangkun tersenyum. “Dia baik-baik saja, Bouw Siocia. Tunggu sebentar akan saya suruh dia

datang ke sini. Saya kita sekarang dia sedang mengawasi para perwira berlatih silat.” Yauw-Ciangkun

lalu memerintahkan pengawalnya untuk mengundang Shu-Ciangkun.

“Paman Yatucin,” kata Bouw Kongcu yang sudah biasa menyebut Yauw-Ciangkun dengan sebutan

paman dan nama aslinya, “sebetulnya apakah yang telah terjadi dengan saudara Shu Ta? Kami

mendengar dari kakak Khabuli bahwa dia hampir saja ditangkap sebagai mata-mata! Bagaimana ini?”

 

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya dan memendang kepada Khabuli. Dia memang mempunyai

perasaan tidak suka kepada pemuda keponakan Menteri Bayan yang kadang-kadang bersikap congkak

itu.

“Apa yang telah terjadi dengan Shu-Ciangkun? Banyak yang terjadi, akan tetapi dia telah berjasa

besar. Kalau Khabuli-Ciangkun mengatakan bahwa dia hampir ditangkap sebagai mata-mata, hal itu

hanya merupakan kesalah pahaman saja dan ternyata dia sama sekali bukan mata-mata.” Lalu dengan

singkat Yauw-Ciangkun bercerita tentang semua peristiwa yang telah terjadi di dalam benteng dari

lolosnya dua orang tawanan yang ditolong oleh si kedok hitam sampai munculnya si kedok hitam di

kota Nan-king.

“Memang semula ada yang mencurigai Shu-Ciangkun, karena dialah yang menjadi komandan yang

bertanggung hawab memeriksa kedua orang tawanan. Akan tetapi kemudian terbukti bahwa dia sama

sekali tidak tersangkut dengan para pemberontak, bahkan dia telah berjasa melakukan pembersihan

terhadap para pemberontak dan penjahat.” Yauw-Ciangkun mengakhiri keterangannya.

Kakak beradik itu saling pandang dan menghela napas lega. “Tentang jasa-jasanya, kami di kota

raja sudah pula mendengarnya. Maka, ketika tadi kami mendengar dari kakak Khabuli, tentu saja

kami menjadi terkejut sekali,” kata Bouw Mimi, kini melirik ke arah kakak misan itu dengan

cemberut.

“Ahh, adik Mimi, akupun tadi hanya mengatakan bahwa Shu-Ciangkun hampir ditangkap sebagai

mata-mata, bukan sudah ditangkap. Kemudian ternyata dia bukan mata-mata dan bahkan berjasa,

tentu saja akupun ikut merasa gembira. Bagaimanapun juga, dia telah bekerja untuk pemerintahan

kita, bukan?”

Kakak beradik itu tidak menanggapi, apa lagi pada saat it, Shu Ta muncul di pintu ruangan.

Melihat kakak beradik yang menjadi sahabat-sahabatnya itu, tentu saja Shu Ta merasa girang

sekali dan cepat dia memberi hormat secara militer. Kakak beradik itu memandang panglima muda

itu dengan sinar mata penuh kagum. Memang Shu Ta yang bertubuh kekar itu nampak gagah bukan

main, apa lagi kumis dan jenggot orang muda ini yang tumbuh lebat, terpelihara dengan baik,

membuat dia nampak gagah berwibawa.

“Saudara Shu Ta, engkau kelihatan gagah sekali!” seru Mimi dengan suara lantang dan ia nampak

gembira sekali. Sungguh seorang gadis luar biasa, pikir Shu Ta. Begitu jujur dan terbuka, begitu

polos.

“Ah, Mimi, jangan sebut dia saudara lagi. Dia sekarang adalah seorang panglima. Betul tidak, Shu-

Ciangkun?” kata Bouw Ku Cin dengan wajah berseri. Dia ikut merasa bangga bahwa Shu Ta yang

dipercayanya itu ternyata memegang janji dan tidak menimbulkan kekacauan di Nan-king, bahkan

berjasa menenteramkan kota itu.

“Bouw Kongcu, dan Bouw Siocia, aku masih tetap Shu Ta yang dahulu. Kuharap pakaian ini tidak

akan menyilaukan dan mendatangkan perubahan pada diriku,” kata Shu Ta dengan sikap bersungguhsungguh.

Yauw-Ciangkun mempersilahkan semua orang masuk dan duduk di ruangan yang biasa dipergunakan

untuk mengadakan rapat penting, kemudian dia bertanya kepada kakak beradik itu. “Kongcu dan

Siocia, jauh-jauh dari kota raja datang ke sini, apakah sekedar untuk pesiar, ataukah mempunyai

urusan penting yang akan disampaikan kepadaku?”

“Paman Yatucin, kami diutus oleh ayah untuk membicarakan urusan penting dengan paman,” kata

Bouw kongcu.

Yauw-Ciangkun memandang pemuda itu dengan wajah berseri. Menerima pesan dari Menteri

Bayan merupakan suatu kehormatan besar yang tinggi nilainya, hanya kalah oleh kehormatan yang

didapatkan kalau ada pesanan istimewa dari Kaisar! Dia mengerling ke kanan kiri, lalu bertanya.

“Bouw Kongcu, pesan itu akan disampaikan secara pribadi dan empat mata sajakah, atau…”

“Ah, ini adalah urusan negara, paman. Tentu saja Shu-Ciangkun dan kakak Khabuli boleh ikut

mendengarkan, bahkan dapat pula ikut memperbincangkan karena tugas negara merupakan tugas

kita bersama, bukan?”

 

Mereka duduk menghadapi meja besar dan setelah seorang petugas atas perintah Yauw-Ciangkun

mengeluarkan minuman dan makanan kecil, mereka mulai mengadakan percakapan dengan pintu

tertutup.

“Paman Yatucin, pesan ayah yang harus kami sampaikan kepada paman ini merupakan hasil

keputusan yang telah disidangkan di istana dan merupakan perintah Sribaginda Kaisar melalui ayah.”

Yauw-Ciangkun dengan tegak mengambil sikap hormat dan berkata tegas, “Saya siap

melaksanakan perintah dengan penuh ketaataan dan kesetiaan!”

Setelah semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, Bouw Kongcu menceritakan pesan

yang harus disampaikannya kepada Yauw-Ciangkun. Pergolakan di daerah selatan telah didengar oleh

Kaisar dan setelah menerima laporan-laporan, kaisar lalu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan

para menteri, panglima dan penasihat untuk membicarakannya. Akhirnya diambil keputusan untuk

menghadapi pergolakan itu dengan cara lain seperti yang biasa ditempuhnya.

“Pemberontakan-pemberontakan kecil itu terjadi di mana-mana, dilakukan oleh kelompokkelompok

kecil pemberontak dan dasar pemberontakan itu bermacam-macam. Ada yang didorong

oleh ketidak puasan, ada yang didorong oleh ambisi untuk keuntungan pribadi, ada karena sakit hati

terhadap sebagian pembesar yang menyalah gunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang

terhadap rakyat, dan sebagian kecil ada pula yang memang memiliki cita-cita membebaskan tanah

air dan bangsa dari penjajahan, “ demikian antara lain Bouw Kongcu menyampaikan pesannya. Dia lalu

melanjutkan apa yang menjadi inti pesan ayahnya itu, “Membasmi pemberontakan-pemberontakan

itu secara kelompok-kelompok tidak akan banyak hasilnya. Karena gerombolan itu banyak sekali dan

kalau yang satu dibasmi, akan muncul gerombolan yang lain. Dan makin lama, para pemberontak akan

menjadi semakin ganas karena ditambah lagi oleh dendam yang disebabkan kematian rekan-rekan

mereka. Oleh karena itu, harus dilakukan cara lain, yaitu membiarkan kelompok-kelompok itu

tumbuh dan hidup, akan tetapi mengusahakan agar mereka menjadi kelompok yang tidak memusuhi

pemerintah dengan jalan mendekati dan membaiki mereka, kalau perlu memberi sumbangan, juga

agar pemerintah di Nan-king dapat mendekati dan menarik para tokoh kang-ouw untuk mendaptkan

dukungan mereka.

“Ayah, dengan persetujuan Sribaginda, mengutus kami untuk menyampaikan semua ini kepada

paman Yatucin, dan kami berdua juga ditugaskan untuk sementara tinggal di Nan-king membantu

usaha paman. Kami berdua bukan orang peperangan, maka kami hanya mampu bekerja kalau usaha itu

untuk mencapai perdamaian dan ketenteraman.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk, demikian pula Shu-Ciangkun. Bahkan Shu Ta diam-diam

terkejut dan bingung. Kalau siasat pendekatan itu dilakukan, maka hal itu memang akan dapat

melemahkan para pejuang! Apa lagi kalau pemerintah tidak menunjukkan permusuhan, tidak

mengejar-ngejar, bahkan bersikap baik dan mengulurkan tangan, membantu dengan uang untuk

memakmurkan kehidupan mereka. Dia tahu betapa ampuhnya pengaruh uang, dapat melumpuhkan

semangat perjuangan! Bahkan dia tahu pula bahwa andai kata sejak dahulu pemerintah bersungguhsungguh

mengusahakan kemakmuran dan ketenteraman bagi rakyat jelata, mungkin tidak akan ada

perasaan benci dalam hati rakyat terhadap penjajah. Perlawanan yang timbul dari rakyat adalah

akibat dari ada penindasan, penekanan dan kehilangan kemerdekaan.

“Saya girang sekali mendengar keputusan itu, Bouw Kongcu. Sesungguhnya, kamipun sudah menuju

ke arah pendekatan, yaitu dengan cara merangkul kelompok yang tidak memusuhi kita bahkan yang

suka membantu kita. Dan ada cara yang paling teppat untuk melaksanakan rencana itu, yaitu nanti

apa bila dunia kang-ouw mengadakan pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat), kita usahakan agar yang

diangkat menjadi Beng-cu seorang tang dapat diajak bekerja sama. Kalau sekarang kita mulai

berusaha, mendekati tokoh-tokoh, mengirim hadiah, tentu kelak dalam pemilian, kita dapat

mengarahkan agar yang dipilih adalah seorang yang tidak memiliki watak anti pemerintah.”

Mereka lalu mengadakan perundingan. Terpaksa Shu Ta ikut pula memberi sumbangan pemikiran

untuk mendukung tokoh yang tidak menentang pemerintah agar menjadi Beng-cu. Mereka lalu

 

merundingkan siapa kiranya tokoh yang dapat mereka harapkan untuk membantu pemilihan Beng-cu

yang pro pemerintah.

“Saya mempunyai seorang sahabat, tokoh kang-ouw yang sepenuhnya dapat dipercaya. Nama

besarnya di dunia kang-ouw juga merupakan jaminan. Andai kata ia sendiri tidak dapat dijagokan,

setidaknya ia dapat mempengaruhi yang lain untuk memilih calon yang kita setujui. Nama besarnya

terkenal di sepanjang Jang-kiang,” kata Khabuli.

“Bagus, siapa tokoh itu, Khabuli-Ciangkun?” tanya Yauw-Ciangkun.

“Siapa lagi kalau bukan Jang-kiang Pang-cu (ketua Jang-kiang pang) yang terkenal di dunia kangouw

sebagai Jang-kiang Sianli (Dewi Sungai Panjang), yang amat lihai.”

“Dan siapa kiranya yang dapat dijagokan di sini, paman Yatucin?” tanya Bouw Mimi.

“Kami telah mempunyai beberapa orang jagoan. Pertama adalah suami dari adik misan ketua Hek I

Kaipang. Tokoh ini bekas hwesio yang bernama Bouw In, ilmu silatnya tinggi dan diapun bukan dari

golongan sesat. Dia suka membantu karena selain dia merupakan ipar dari ketua Hek I Kaipang, juga

dia guru puteri ketua itu. Selain bekas hwesio itu, juga ada sepasang suami isteri yang sudah kakek

nenek namun mereka lihai dan dapat menjadi pendukung yang kuat. Mereka adalah suhu dan subo

ketua Hek I Kaipang yang terkenal dengan julukan Huang-ho Siang Lomo.”

“Apakah di daerah Nan-king dan sepanjang sungai Yang-ce tidak terdapat lagi tokoh besar dunia

kang-ouw, paman?” tanya Bouw Kongcu.

“Masih banyak, akan tetapi yang menonjol hanya yang telah disebut tadi. Ada seorang tokoh lagi

yang sakti, yaitu Pek Mau Lokai. akan tetapi karena dia adalah pimpinan Hwa I Kaipang yang

menentang pemerintah tentu saja kita tidak dapat mengharapkan dia. Bahkan kita perlu mencari

jagoan untuk menantangnya kerena agaknya para pemberontak atau mereka yang menentang

pemerintah akan mencalonkan dia sebagai Beng-cu,” kata Yauw-Ciangkun.

“Kalau begitu, harap paman atur saja agar jangan sampai ada tokoh yang anti pemerintah yang

menjadi Beng-cu, karena kalau hal itu terjadi, perang akan semakin berkobar dan menghadapi

pemberontakan para tokoh dunia kang-ouw cukup berbahaya. Yang perlu sekali diingat bahwa selain

jangan sampai terjatuh ke tangan pemberontak, juga agar kedudukan Beng-cu jangan sampai

terjatuh ke tangan seorang datuk sesat, karena kalau Beng-cunya seorang penjahat, itupun amat

berbahaya sekali. mana mungkin kira dapat mempercayai seorang penjahat?” kata pula Bouw Kongcu.

“Tentu saja, Bouw Kongcu. Kami akan mengatur semua itu sebaiknya. Akan tetapi, apakah di

daerah selatan ini saja yang perlu diamankan? Bagaimana dengan dunia kang-ouw jauh di utara, di

barat dan di timur sepanjang pantai lautan?” tanya Yauw-Ciangkun.

“Semua telah diatur oleh pemerintah pusat, paman. Para panglima yang memimpin pasukan di

timur, barat dan juga utara telah diberi tugas yang sama, yaitu menguasai dunia kang-ouw agar

dunia persilatan berpihak kepada pemerintah sehingga tidak akan terjadi perang pemberontakan.”

Diam-diam Shu Ta memperhatikan dan mencatat semua yang didengarnya itu. Dia mengakui bahwa

kalau semua pejabat pemerintah Mongol berwatak lembut dan mempergunakan sikap halus

bersahabat seperti putera puteri Menteri Bayan ini, maka kedudukan pemerintah penjajah akan

menjadi kuat dan akan sukarlah membangkitkan semangat para pendekar untuk menumbangkan

pemerintah penjajah. Justeru sikap keras menindas dari penjajah yang membuat rakyat

mendendam, membenci dan memberontak. Kalau Cu Goan Ciang, suhengnya itu, ingin berhasil, diapun

harus mengubah siasat. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kalau tidak langsung menyerang

pasukan pemerintah, melainkan lebih dahulu menyusun kekuatan dan kalau mungkin menguasai dunia

kang-ouw. Kalau Cu Goan Ciang dapat mempersatukan semua kelompok dan menguasai atau

setidaknya mendapat dukungan dari para tokoh dunia persilatan, barulah dia memiliki kekuatan dan

akan mampu menandingi penjajah.

Mulai hari itu, kakak beradik bangsawan dari kota raja itu tinggal di dalam benteng mendapatkan

sebuah pondok yang mungil. Tentu saja mereka berdua segera menjadi akrab sekali dengan Shu Ta

yang memang telah menjadi sahabat mereka, bahkan mereka yang memungkinkan Shu Ta menjadi

seorang panglima.

 

Pada waktu itu, memang muncul banyak sekali kelompok atau gerombolan orang-orang yang

berkedok perjuangan, mengganas di daerah pinggiran. Mereka itu mengaku sebagai kelompok

pejuang, namun sesungguhnya mereka hanyalah gerombolan penjahat yang suka merampok,

memperkosa, dan membunuh. Mereka menyerbu sebuah dusun atau kota, dan tentu saja mereka

bentrok dengan pasukan yang bertugas di tempat itu, dan agaknya bentrok dengan petugas

keamanan ini yang mereka pakai sebagai kebanggaan bahwa mereka ada pejuang-pejuang yang

melawan penjajah. Pada hal, kalau dalam penyerbuan itu mereka menang, mereka lalu merampoki

siapa saja di tempat itu, mengangkut semua harta benda milik penduduk, menculik wanita dan kalau

ada yang melawan lalu membunuh!

Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen tentu saja tidak sudi melakukan perbuatan seperti itu. Mereka

selalu mendapatkan nasihat dari Pek Mau Lokai Tang Ku It yang walaupun tidak langsung memimpin

Hwa I Kaipang, namun selalu memberi nasihatnya.

Pada suatu malam, setelah Goan Ciang menjadi pembantu Hui Yen memimpin Hwa I Kaipang, Pek

Mau Lokai memanggil dua orang muda itu menghadap Pek Mau Lokai untuk sementara tinggal di

sebuah gua di lembah sungai Yang-ce di sebelah barat Nan-king dan oleh para anggota Hwa I

Kaipang, gua itu dijadikan sebuah ruangan yang cukup enak untuk dijadikan tempat tinggal.

Ketika Goan Ciang dan Hui Yen menghadap, Pek Mau Lokai bertanya,”Apa yang kalian dengar

tentang perkembangan di Nan-king? Aku tidak mendengar lagi adanya pengejaran terhadap para

kelompok pejuang. Apakah semua ini berkat adanya sutemu yang menjadi panglima itu?”

Sejak dia berada bersama Hwa I Kaipang, Goan Ciang banyak mendapat petunjuk dalam ilmu silat

dari Pek Mau Lokai, bahkan dia mengaku kakek itu sebagai gurunya walaupun dia masih menyebutnya

pangcu (ketua) seperti yang dilakukan seluruh anggota Hek I Kaipang.

“Kami telah mendengar dari para penyelidik bahwa hal itu bukan hanya karena jasa sute, pangcu.

Akan tetapi agaknya memang pemerintah penjajah kini mempergunakan siasat yang berbeda. Dan

dugaan kami itu ternyata benar karena baru siang tadi kami menerima berita dari sute melalui si

kaki buntung, A Sam. Berita itu mengabarkan bahwa kini putera dan puteri Menteri Bayan berada di

Nan-king dan mereka berdua membawa pesan dari Menteri Bayan agar kini pemerintah daerah

berikut pasukannya di Nan-king mendekati para tokoh kang-ouw, dan mereka mengubah siasat

pembasmian menjadi pendekatan. Bahkan mereka akan berusaha agar kedudukan Beng-cu di daerah

ini kelak akan terjatuh ke tangan tokoh yang suka bekerja sama dengan pemerintah.”

“Hemm, rencana yang bagus dan membahayakan kekuatan para pejuang. Memang Menteri Bayan

selain memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, juga dia amat cerdik. Kaisar Togan Timur ini

merupakan kaisar yang lemah dan hanya mengejar kesenangan belaka. Dia dungu dan menjadi

permainan para menteri durjana dan penjilat. Kalau tidak ada Menteri Bayan, sejak lama pemerintah

penjajah itu jatuh karena kelemahan Kaisar Togan Timur. Kita harus waspada dan mulai sekarang,

jangan menghamburkan tenaga dan mengorbankan anak buah menyerang pasukan pemerintah. Kita

bahkan harus menghimpun tenaga, mendekati para tokoh dunia persilatan untuk mengimbangi usaha

pemeritnah penjajah. Dan kalau ada kelompok yang melakukan kejahatan mengganggu rakyat jelata,

kita harus membasmi mereka. Dengan cara demikian, kita akan mmperoleh dukungan rakyat jelata,

setiap perjuangan tidak akan berhasil baik.”

“Kong-kong, bagaimana mengenai pemilihan Beng-cu yang akan dilakukan tiga bulan lagi di Bukit

Merak itu? Kami semua mengharapkan agar kong-kong yang tampil sebagai calon agar kedudukan

penting itu tidak sampai terampas oleh orang yang bekerja sama dengan penjajah,” kata Hui Yen.

Pek Mau Lokai menghela napas panjang. “Sebetulnya, aku sudah tidak mempunyai semangat lagi

untuk menjadi Beng-cu. Beng-cu yang akan dipilih sekarang haruslah seorang yang memiliki semangat

tinggi, kepandaian yang cukup tangguh, cerdik dan jujur, tidak mementingkan diri sendiri, dan

terutama sekali haruslah masih muda. Dia mempunyai tugas yang amat berat, karena selain dia harus

dapat mempersatukan semua tokoh di dunia persilatan, diapun harus mempunyai cita-cita tinggi dan

tujuan terakhirnya adalah menghancurkan penjajah Mongol.”

 

“Akan tetapi, Pangcu. Siapakah orangnya selain pangcu yang pantas menjadi Beng-cu? Kalau kita

salah pilih, bahkan kemudian hari akan merugikan kita semua.”kata Goan Ciang dan Yen Yen

mengangguk menyetujui. Seluruh anggota Hwa I Kaipang tentu saja condong memilih Pek Mau Lokai

menjadi Beng-cu. Bahkan kelompok lain yang sehaluan dengan mereka, yaitu yang merupakan pejuang

sejati dan tidak melakukan kejahatan, bahkan menentang kejahatan terhadap rakyat, juga sudah

menyarankan agar Pek Mau Lokai yang menjadi calon Beng-cu.

Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya yang putih sambil memandang kepada Cu Goan

Ciang. “Goan Ciang, selama beberapa bulan ini, hampir semua ilmu andalanku telah kuajarkan

kepadamu dan engkau telah memperoleh kemajuan pesat.”

Goan Ciang memberi hormat. “Terima kasih atas kemurahan hati Pangcu kepada saya.”

“Dalam beberapa bulan lagi, aku akan mengajarkan Hok-mo-tung dan semua ilmu simpananku dan

tidak sampai setahun lagi. Aku sendiri sudah tidak akan mampu lagi menandingimu lagi, Goan Ciang.

Nah, dengan demikian, berarti dalam hal ketangguan, aku akan kalah olehmu, apalagi aku sudah tua

dan engkau masih muda. Selain itu, engkaupun cerdik, tabah dan pemberani. Juga engkau jujur,

engkau tidak mementingkan diri sendiri, pendeknya, engkau memiliki segala syarat untuk menjadi

seorang pemimpin besar.”

Pemuda itu mengangkat muka, memandang kakek itu dengan sinar mata tajam menyelidik. “Pangcu,

apa yang pangcu maksudkan dengan itu?”

“Engkaulah yang akan kucalonkan sebagai Beng-cu Goan Ciang!”

Goan Ciang terbelalak. “Akan tetapi….. saya masih terlalu muda dan kurang pengalaman untuk

menjadi Beng-cu!”

“Ahh, justeru yang muda harus maju menggantikan yang tua. Dan tentang pengalaman, sejak kecil

engkau sudah digembleng pengalaman hidup yang pahit getir dan itu sudah merupakan pelajaran

yang baik sekali bagimu.”

“Aku setuju sepenuhnya, kong-kong!” kata Yen Yen dengan wajah berseri. “Memang tidak ada

orang lain yang dapat menggantikan kong-kong selain Cu-toako!”

Kakek itu mengangguk-angguk dan berkata, “Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di depan

kuil itu, aku sudah mengambil keputusan dalam hatiku bahwa engkaulah orang yang pantas menjadi

pemimpin. Setelah mengenalmu lebih lama di sini, hatiku semakin yakin maka aku mengajarkan ilmuilmu

yang sepatutnya hanya kuwariskan kepada keturunanku, kepada keluarga kami.”

“Akan tetapi saya adalah orang luar,bukan keluarga pangcu,” kata Cu Goan Ciang, merasa bahwadi

balik ucapan itu seperti terkandung maksud tertentu.

Kakek itu terkekeh. “Heh-heh-heh, engkau memang cerdik, Goan Ciang. Memang sesungguhnyalah,

aku sudah menganggap engkau sebagai keluarga sendiri. Pertama-tama, melihat hubungan dan

pergaulan di antara kalian, aku mempunyai sebuah usul, yaitu untuk menjodohkan kalian berdua. Goan

Ciang, aku ingin engkau menjadi suami cucuku Tang Hui Yen. Bagaimana pendapat kalian?”

Wajah Yen Yen segera berubah merah sekali dan ia menahan senyumnya, lalu menunduk. “Ih,

kong-kong…!”

Goan Ciang juga tersipu malu. Di dalam hatinya, pemuda ini memang harus mengakui bahwa Yen

Yen seorang gadis yang amat baik, dan hanya sebanding dengan mendiang Kim Lee Siang, kekasihnya

yang membunuh diri. Matinya Kim Lee Siang amat menyedihkan hatinya, akan tetapi setelah dia

bertemu dan bergaul dengan Yen Yen, dia merasa seolah Lee Siang hidup kembali dan menggantikan

kedudukan Lee Siang dalam hatinya. Akan tetapi, kalau dahulu dengan Lee Siang dia memang

bermaksud untuk menjadi suami isteri, dengan Yen Yen ini dia hanya bergaul sebagai sahabat, tidak

mencalonkan gadis itu sebagai isterinya. Maka, usul yang tiba-tiba dan terbuka dari kakek itu

sungguh mengejutkan hatinya dan membuat dia bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

“Ha-ha-ha, Yen Yen, tidak perlu engkau malu-malu dan tidak perlu engkau menyembunyikan. Aku

mengenalmu dan tahu bahwa engkau mengagumi dan mencinta Goan Ciang. Engkau tentu setuju kalau

menjadi calon isterinya, bukan? Katakanlah. Kalau engkau menjadi suami isteri, tentu saja Goan

Ciang akan kuresmikan menjadi ketua Hwa I Kaipang dulu dan engkau yang menjadi pembantunya.

 

Setelah menjadi ketua Hwa I Kaipang, barulah dia pantas untuk dicalonkan sebagai Beng-cu kelak

dalam pemilihan besar itu. Nah, katakan, apakah engkau suka menjadi isteri Goan Ciang?”

Yen Yen adalah seorang gadis yang lincah dan jenaka, periang dan galak, dan sama sekali tidak

pemalu. Akan tetapi, ditodong dengan pertanyaan tentang perjodohan, tentu saja ia merasa malu

dan salah tingkah, tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apa, ia makin menundukkan

mukanya. Selama hidupnya, belum pernah ia merasa semalu itu. Mukanya terasa panas dan

jantungnya berdebar keras, seluruh tubuhnya seperti gemetar rasanya. Kemudian, tiba-tiba ia

teringat akan keadaan dirinya yang sebatang kara, tidak berayah tidak beribu lagi dan tak

tertahankan pula, beberapa butir air mata menitik turun ke atas kedua pipinya. Bendungan

perasaannya amat kuat karena ia seorang gadis yang tabah, maka hanya beberapa butir saja air

mata yang membocor keluar.

“Kong-kong tahu bahwa aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kong-kong seorang, maka

tentang hal itu… aku hanya menurut saja apa yang kong-kong tentukan…”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Nah, Yen Yen sudah setuju untuk menjadi jodohmu, Goan Ciang.

Sekarang tinggal engkau. Kautahu bahwa kami adalah keluarga yang selalu bersikap terbuka, maka

sebaiknya kalau engkaupun terbuka saja mengaku. Engkau setuju menjadi jodoh Yen Yen ataukah

tidak? Andai kata tidak, katakan saja, tidak perlu sungkan dan pura-pura!”

Goan Ciang sungguh merasa tersudut. Dia tahu bahwa menghadapi kakek ini dan juga Yen Yen, dia

tidak perlu bersikap sungkan dan ragu. Menerima atau menolak, sebaiknya berterus terang saja

karena andai kata dia menolak sekalipun, kalau terus terang, tidak akan menimbulkan dendam atau

pertentangan seperti kalau dia berpura-pura. Beberapa kali dia menghela napas panjang, lalu

memandang kepada Yen Yen, kemudiang kepada kakek itu, Yen Yen masih menundukkan mukanya,

akan tetapi kakek itu mengamati wajahnya penuh selidik.

“Pangcu, dan engkau juga, Yen-moi. Aku memang tidak perlu berpura-pura dan sebelumnya aku

harap pangcu dan engkau suka memaafkan kalau ucapanku ini menyinggung perasaan. Terus terang

saja, pangcu, saya amat kagum dan suka kepada Yen-moi. Ia seorang gadis yang pandai, bijaksana

dan baik budi. Aku suka sekali kepadanya, akan tetapi aku belum berani mengatakan bahwa aku

mencintainya dan mengharapkan ia menjadi jodoh saya. Bagaimana mungkin saya dapat berpikir

sampai sejauh itu. Pangcu sudah mengetahui bahwa baru beberapa bulan saja saya kematian gadis

yang saya cinta dan yang tadinya akan menjadi isteri saya. Bahkan kematian tunangan saya itupun

belum terbalas sehingga rohnya masih penasaran, bagaimana saya berani mengalihkan cinta kepada

seorang gadis lain, walaupun saya amat kagum dan suka kepada gadis itu? Karena itu, pangcu, saya

minta waktu untuk menerima usul pangcu tentang perjodohanku dengan Yen-moi. Kalau sekarang aku

menerima begitu saja, bukankah aku menjadi seorang laki-laki yang tidak setia dan mudah melupakan

budi?”

Kakek itu mengangguk-angguk, dan Yen Yen juga mengangkat muka memandang kepada Goan Ciang

dengan sinar mata mengandung iba.

“Ucapanmu menunjukkan bahwa engkau jujur dan juga setia, Goan Ciang. Memang permintaan itu

pantas sekali dan akupun tidak dapat bersikap lain kecuali menyetujuinya. Biarlah urusan perjodohan

ini ditunda keputusannya sampai engkau sudah siap.”

“Toako, aku akan membantumu membalaskan dendam kematian tunanganmu,” kata Hui Yen penuh

semangat.

Mendengar ucapan kakek dan cucunya itu, hati Goan Ciang merasa lega dan senang. “Terima kasih,

pangcu, terima kasih Yen-moi. Kalian memang orang-orang yang baik sekali. Semoga kelak aku tidak

akan mengecewakan harapan kalian.”

Goan Ciang tidak dapat mengelak atau menolak lagi ketika dia diangkat menjadi ketua Hwa I

Kaipang! Yen Yen menjadi wakilnya, dan kakek itu menjadi penasihat. Dan diapun mulai hari itu tekun

melatih diri dengan ilmu Hok-mo-pang (tongkat penakluk iblis) dan ilmu lain yang diajarkan oleh

kakek itu.

 

Diam-diam Yen Yen ingin sekali membantu Goan Ciang membalaskan dendam kematian tunangan

Goan Ciang, menyebar anak buah untuk melakukan penyelidikan di mana adanya Panglima Khabuli

yang menyebabkan kematian tunangan Goan Ciang seperti yang didengarnya dari kakeknya. Goan

Ciang pernah bercerita kepada Pek Mau Lokai tentang kematian kekasihnya yang diperkosa Khabuli-

Ciangkun, yaitu ketika dia terpaksa mau menjadi suami Jang-kiang Sianli Liu Bi karena hendak

menyelamatkan nyawa Kim Lee Siang yang telah diracuni wanita iblis itu. Pada suatu hari, pagi-pagi

sekali Yen Yen mencari Goan Ciang.

“Toako, ada kabar penting!” Gadis itu berkata. Melihat betapa Yen Yen sepagi itu telah terengahengah

seperti habis berlari jauh dan cepat, Goan Ciang tersenyum.

“Eh, apakah yang terjadi, Yen-moi? Kenapa engkau seperti orang yang dikejar setan saja?”

“Bukan aku yang dikejar setan, akan tetapi kita harus menghajar setan pagi ini, toako!”

“Eh? Apa maksudmu, Yen-moi?”

“Toako, kini tiba saatnya kita membunuh jahanam Khabuli itu untuk membalas dendam atas

kematian tunanganmu.”

“Khabuli? Maksudmu, perwira yang menjadi komandan Wu-han itu? Yen-moi, engkau tahu bahwa

kita telah mengubah cara perjuangan, tidak menggunakan kekerasan menyerbu benteng, melainkan

menyusun kekuatan dan…”

“Aku mengerti, toako. Akan tetapi kebetulan sekali dia sedang keluar dari benteng. Dia akan

meninggalkan benteng pagi ini untuk kembali ke Wu-han. Ini kesempatan kita, toako. Kita hadang dia

di tengah perjalanan dan kita dapat membalas dendam tanpa mengacaukan kota. Menurut

penyelidikanku, panglima Khabuli hanya dikawal dua belas orang prajurit pengawal. Semua sudah

kuatur, toako. Sudah kupilih dua puluh orang pembantu kita yang akan menandingi dua belas orang

pengawal itu, sedangkan Khabuli sendiri kuserahkan kepadamu! Nah, bukankah ini kesempatan baik

sekali?”

“Tapi… kalau diketahui bahwa Hwa I Kaipang yang…”

“Ah, sudah kupersiapkan kedok hitam untuk kita semua, toako!”

Goan Ciang kagum. Gadis ini memang cekatan dan cerdik bukan main. Dengan girang diapun pergi

bersama Yen Yen dan dua puluh orang anak buah dan mereka semua mengenakan pakaian dan kedok

hitam!

Panglima Khabuli menunggang seekor kuda hitam, dikawal oleh dua belas orang prajurit yang

semuanya berkuda. Panglima yang congkak dan merasa kuat ini mengira bahwa dengan selosin

pengawal pilihan itu saja sudah cukup baginya untuk melakukan perjalanan jauh tanpa takut diganggu

orang, walaupun dia tahun bahwa para pemberontak tentu akan mengganggu kalau melihat dia

melakukan perjalanan. Sudah terlalu banyak pemberontak yang dia basmi, dia siksa dan di bunuh.

Siapa yang akan berani mengganggunya, seorang panglima, komandan kota Wu-han?

Hari itu terik sekali dan biarpun mereka melakukan perjalanan menyusuri sungai Yang-ce, tetap

saja panas matahari siang itu amat menyengat. Oleh karena itu, ketika melihat sebuah tenda di tepi

sungai di mana orang menjual minuman, Khabuli memberi isyarat kepada anak buahnya untuk

berhenti mengaso sambil minum-minum di kedai minuman sederhana yang agaknya sengaja dibuka

orang di tempat sunyi itu untuk menjual minuman dan makanan kecil kepada mereka yang kebetulan

lewat di situ dan kehausan.

Penjual minuman arak dan air teh itu hanya dua orang laki-laki setengah tua. Mereka terbongkokbongkok

menyambut tamu-tamu itu dan tentu saja kedua orang itu menjadi repot bukan main harus

melayani tiga belas orang kasar yang memesan minuman sambil membentak-bentak itu.

Baru saja tiga belas orang itu minum-minum, tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebatan dan

tahu-tahu kedai itu telah dikepung oleh dua puluh orang lebih yang membuat Khabuli dan para

pengawalnya terkejut setengah mati. Dua puluh lebih pengepung itu semua berpakaian dan berkedok

hitam!

Khabuli dan selosin orang pengawalnya tentu saja sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di

perbentengan Nan-king itu, ketika seorang berkedok hitam telah membunuh banyak penjaga dan

 

membebaskan dua orang tawanan dan kemudian betapa orang-orang berkedok hitam mengacau di

kota Nan-king. Maka kini melihat dua puluh orang lebih yang berpakaian dan berkedok hitam,

mereka terkejut dan segera berloncatan sambil mencabut senjata masing-masing.

“Serbu! Bunuh para pemberontak!” teriak Khabuli tanpa banyak tanya lagi, dan dia sendiri sudah

mencabut pedangnya.

Segera terjadi pertempuran yang seru dan mati-matian, Khabuli sendiri diserang oleh seorang

berkedok hitam yang bertubuh tinggi tegap dan yang bersenjatakan sebatang tongkat. Karena tidak

mungkin mengharapkan bantuan selosin orang pengawalnya yang harus menghadapi serbuan dua puluh

orang, Khabuli tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang si kedok hitam yang sengaja

menghadangnya itu.

“Pemberontak rendah, mampus kau!” bentaknya dengan suara yang mengandung kemarahan.

Raksasa berkulit hitam yang tubuhnya kokoh kuat ini sudah mengayun pedangnya dan nampak sinar

pedang berkelebat, terdengar bunyi mengaung saking kuatnya pedang itu diayunkan.

“Singgg…!” Ketika si kedok hitam yang bukan lain adalah Cu Goan Ciang mengelak, pedang itu

berkelebat dan membuat gerakan memutar dengan cepat sekali, sudah menyerang secara membalik

ke arah leher si kedok hitam.

Goan Ciang menggerakkan tongkat menangkis. “Tranggg…!” Bukan main kagetnya hati Khabuli.

Pedangnya terpental dan ini membuktikan bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat. Pada hal,

jarang ada orang yang akan kuat menangkis dan menahan serangannya tadi.

“Siapa kau?” bentaknya marah. Sejak tadi, begitu melihat Khabuli, Goan Ciang sudah merasa

marah sekali, teringata akan kekasihnya yang terpaksa membunuh diri karena telah dinodai oleh

raksasa hitam ini. Akan tetapi, dengan kekuatan batinnya, dia menenangkan kembali hatinya karena

maklum bahwa kemarahan akan membuat dia kehilangan kepekaan, padahal dia tahu betapa lihainya

lawan ini. Kini mendengar bentakan yang nadanya bertanya itu, dia menggumam, lirih akan tetapi

cukup jelas bagi lawannya.

“Arwah Kim Lee Siang menyuruh aku membunuhmu!” Dan kini tanpa menanti jawaban, Goan Ciang

sudah menggerakkan tongkatnya menyerang dengan totokan kilat. Totokan kilat bertubi sebanyak

tiga kali berturut-turut.

“Wuut-wuut-tranggg…!” Khabuli mengelak dua kali dan totokan terakhir tak dapat dielakkannya

lagi maka diapun menangkis dengan pedangnya dan kembali keduanya terdorong ke belakang oleh

kekuatan benturan kedua senjata. Kini wajah hitam Khabuli menjadi agak pucat karena jantungnya

berdebar keras dan mulailah dia merasa gentar. Tentu saja dia tahu siapa Kim Lee Siang dan

mengapa arwah gadis itu menyuruh orang membunuhnya. Teringat dia akan peristiwa di sarang Jangkiang-

pang itu, ketika dia menghadiri pesta pernikahan ketua Jang-kiang-pang dengan seorang

pemuda yang namanya dia lupa lagi. Dalam pesta pernikahan ketua yang pernah menjadi kekasihnya,

yaitu sumoi dari kekasihnya yang bernama Kim Lee Siang, seorang gadis yang cantik dan yang dalam

keadaan terbius sehingga dengan mudah dia mampu menggaulinya dengan paksa. Kemudian dia

mendengar bahwa gadis yang telah diperkosanya itu membunuh diri, dan mendengar pula bahwa

ketua Jang-kiang-pang dibuntungi oleh suaminya sendiri yang kemudian dia dengar adalah seorang

pemberontak yang menjadi buronan pemerintah! Dan kini, si kedok hitam ini mengaku disuruh arwah

Kim Lee Siang untuk membunuhnya.

“Kau akan kukirim ke neraka menyusulnya!” bentaknya marah setelah dia menengok dan melihat

betapa selosin pengawalnya sudah terdesak hebat oleh para penyerbu yang memakai kedok hitam.

Dia menjadi nekat. Melarikan diri tidak mungkin. Minta bantuanpun tidak mungkin karena di tempat

sunyi itu, siapa yang akan dapat membantunya? Andai kata rakyat melihatnyapun, mereka tidak akan

mau membantu sepasukan tentara pemerintah yang sedang berkelahi. Dua orang pemilik kedai

minuman tadipun sudah bersembunyi di balik meja mereka dengan tubuh menggigil, Khabuli menjadi

nekat dan melawan mati-matian.

Khabuli adalah seorang panglima yang selain tinggi besar dan kuat, juga memiliki ilmu kepandaian

yang tinggi. Dia ahli gulat Mongol, juga dia telah mempelajari berbagai ilmu silat dan sudah banyak

 

pengalamannya dalam perkelahian dan pertempuran. Akan tetapi, sekali ini dia menghadapi Cu Goan

Ciang yang bukan saja sudah lihai sekali dengan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu

Silat Rajawali Sakti), akan tetapi juga selama berbulan-bulan menerima gemblengan yang sungguhsungguh

dari Pek Mau Lokai dan kini dia menguasai ilmu tongkat Hok-mo-tung yang gerakannya aneh

dan berbahaya sekali bagi lawan!

Sementara itu, Yen Yen memimpin dua puluh orang anak buah Hwa I Kaipang yang semua

mengenakan pakaian dan kedok hitam, mendesak selosin orang prajurit pengawal Mongol.

Pertempuran yang berat sebelah terjadi dan akhirnya selosin orang itu dapat dirobohkan semua,

walaupun di pihaknya menderita tiga orang luka-luka.

Yen Yen kini hanya menonton perkelahian antara Goan Ciang dan panglima Khabuli. Pemuda itu

telah mulai mendesak Khabuli dengan sengit, sedangkan Khabuli yang melihat betapa semua

pengawalnya telah roboh, mulai merasa gentar dan permainan pedangnya mulai ngawur. Dia tidak

melihat jalan keluar, tidak dapat melarikan diri. Melihat betapa orang-orang yang berpakaian dan

berkedok hitam itu mengurung tempat itu, sedangkan dia didesak oleh lawan, dia hanya dapat

berlaku nekat dan mati-matian.

“Wuuutt… singg…!!” Pedangnya digerakkan membabi-buta, menyambar dahsyat ke arah kepala

Goan Ciang. Gerakan serangan ini sudah ngawur, lebih didorong kenekatan dan kemarahan dari pada

gerak jurus yang baik. Goan Ciang merendahkan tubuhnya, membiarkan pedang itu menyambar lewat

di atas kepalanya dan tongkatnya bergeral cepat menusuk ke arah perut lawan. Biarpun tongkat itu

hanya terbuat dari kayu, namun ditangan Goan Ciang yang mengerahkan sin-kang, senjata sederhana

itu akan mampu menembus pakaian dan kulit daging dan dapat mematikan, Khabuli maklum akan hal

ini, maka diapun melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik untuk menghindarkan tusukan,

Goan Ciang mengejar, tongkatnya menyambar-nyambar.

“Tukkk!” Tongkat itu cepat sekali berhasil menotok pergelangan tangan kanan Khabuli yang tibatiba

merasa tangan kanan itu lumpuh sehingga pedangnya terlepas. Ketika dia hendak mengambil

pedang yang terjatuh, ujung tongkat menyambar-nyambar ganas sehingga dia terpaksa meloncat ke

belakang.

“Pengecut, engkau menghadapi orang yang tidak bersenjata lagi!” bentaknya marah. Gertakannya

untuk memanaskan hati lawan ini berhasil menyinggung harga diri dan kegagahan lawan karena

mendengar ini, Goan Ciang lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah dan menghadapi panglima

Mongol itu dengan tangan kosong pula!

Akan tetapi ternyata hal ini sama sekali tidak menguntungkan Khabuli. Kalau tadi pedangnya

masih dapat menandingi tongkat lawan dan dia masih dapat membela diri dengan gigih, kini dia

terkejut bukan main karena begitu lawan memainkan Sin-tiauw ciang-hoat, Khabuli terdesak hebat

dan dalam belasan jurus saja dia beberapa kali terhuyung.

Dengan nekat, melihat Goan Ciang memiliki gerakan yang seperti seekor burung menyambarnyambar,

dia hendak mengambil kemenangan dengan ilmu gulatnya. Ketika terbuka suatu

kesempatan, begitu kedua lengan bertemu ketika dia menangkis tamparan lawan, secepat kilat

pergelangan tangannya membalik dengan putaran kuat dan dia sudah berhasil menangkap lengan

kanan Goan Ciang. Jari-jari tangannya yang panjang dan kuat itu mencengkeram dan menangkap

lengan, memuntirnya dan jari-jari tangan kirinya berhasil pula menjambak rambut kepala Goan Ciang.

Dengan satu tarikan saja dia akan dapat menjebol rambut itu atau memuntir patah sambungan

tulang lengan lawan. Akan tetapi pada saat itu, secepat kilat tangan Goan Ciang, seperti seekor

burung rajawali mematuk, telah menusuk ke arah ubun-ubun kepalanya yang tertutup topi panglima.

“Takk…!!” Topi itu tidak ada gunanya melindungi kepala terhadap totokan jari tangan Goan Ciang.

Mata Khabuli melotot, mulutnya terbuka dan terdengar suara aneh keluar dari kerongkongannya,

cengkeraman kedua tangannya pada lengan dan rambut terlepas dan tubuhnya terjengkang dan

tewaslah Khabuli dengan mata melotot dan mulut ternganga. Jari tangan Goan Ciang menembus topi

dan panglima itu tewas dengan kepala berlubang!

 

Yen Yen bertepuk tangan, diikuti oleh teman-teman mereka. Tepuk tangan ini baru menyadarkan

Goan Ciang yang berdiri memandangi mayat musuhnya dengan termenung karena dia teringat kepada

kekasihnya yang telah tewas. Dalam hatinya dia berdoa agar Kim Lee Siang tidak merasa penasaran

lagi.

“Mari kita cepat pergi!” katanya kepada Yen Yen. Mereka lalu meninggalkna tempat itu dengan

cepat, membawa tiga orang teman yang terluka.

Tinggal dua orang pemilik kedai yang kini nampak ketakutan. Biarpun mereka sama sekali tidak

mempunyai hubungan dengan orang-orang yang memakai kedok hitam tadi dan mereka tidak

tersangkut urusan perkelahian yang menyebabkan tewasnya pasukan pemerintah, namun kedai

mereka telah berubah menjadi tempat pembantaian di mana tiga belas orang pasukan pemerintah

kini menjadi mayat, berserakan di kedai mereka! Mereka hanya dapat menangis dan masih menangis

ketika pasukan pemerintah datang dari Nan-king mendengar berita tentang pertempuran itu. Dua

orang pemilik kedai itu dengan menangis ketakutan, menceritakan apa yang telah terjadi. Untung

bagi mereka bahwa yang memeriksa dan menanyai mereka adalah Shu-Ciangkun. Setelah mendengar

penjelasan kedua orang pemilik kedai bahwa yang membunuh Khabuli dan selosin anak buahnya

adalah dua puluh lebih orang-orang berpakaian hitam dan berkedok hitam pula, dua orang itupun

dibebaskan.

Yauw-Ciangkun marah-marah, akan tetapi kepada siapa dia harus marah? Para penyerang itu

berkedok hitam, sama seperti si kedok hitam yang pernah mengacau dalam benteng dan

membebaskan dua orang tawanan!

“Shu-Ciangkun, engkau harus dapat membasmi gerombolan kedok hitam ini. Kalau tidak dapat

terbasmi dalam waktu sebulan, aku akan menganggap bahwa engkau telah gagal membersihkan

daerah ini dari gangguan para pemberontak. Aku yakin bahwa gerombolan kedok hitam itu pasti

golongan pemberontak, bukan sekedar gerombolan penjahat biasa.”

Shu Ta memberi hormat. “Baik, Ciangkun. Saya akan melakukan pembersihan dan dalam waktu

sebulan, saya berjanji bahwa gerombolan kedok hitam itu tidak akan ada lagi di daerah ini!”

Shu Ta dapat menduga siapa yang melakukan pembunuhan terhadap Khabuli dan anak buahnya.

Siapa lagi yang membunuh perwira Mongol dan pasukannya dengan menggunakan kedok hitam kalau

bukang suhengnya? Dan diapun mengerti apa maksud suhengnya. Tentu penggunaan kedok hitam itu

untuk membebaskan dia dari kecurigaan! Diam-diam dia mengutus A Sam untuk menemui pimpinan

Hwa I Kaipang dan minta agar semua kegiatan para pejuan dihentikan dan agar tidak lagi muncul

kedok hitam di Nan-king. Dia sendiri memimpin pasukan dan melakukan penggeledahan di semua

rumah penduduk di kota besar Nan-king dan sekitarnya, sengaja menangkap beberapa orang yang

dicurigai untuk kemudian dibebaskan kembali karena tidak ada bukti bersalah. Akan tetapi hasilnya,

biarpun tidak dapat menangkap seorang pemberontakpun, hanya menangkapi beberapa orang

penjahat yang memang sudah lama dicari petugas keamanan, ternyata semenjak Shu-Ciangkun

melakukan pembersihan, tidak pernah lagi muncul di Nan-king! Hal ini tentu saja membuat Shu Ta

semakin dipercaya, dan pangkatnya dinaikkan sehingga kini dia menjadi wakil komandan pasukan di

Nan-king, yaitu pembantu utama dari Yauw-Ciangkun!

Perubahan siasat yang diperintahkan Menteri Bayan kepada para pejabat daerah di Nan-king,

dilaksanakan dengan baik. Semenjak Panglima Shu Ta yang kini menjadi wakil komandan Nan-king

mengadakan pembersihan terhadap gerombolan kedok hitam, tidak pernah lagi terjadi keributan

dan seolah-olah terdapat perdamaian tak tertulis antara para pemberontak dan pemerintah. Tidak

ada lagi kekacauan dilakukan para pejuang, dan juga pasukan pemerintah tidak pernah lagi

mengadakan pembersihan untuk membasmi pemberontak. Kehidupan di Nan-king dan sekitarnya

nampak tenteram dan tenang.

Untuk melaksanakan siasat mendekati dunia kang-ouw agar dapat membantu pemerintah, maka

dilaksanakan pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat) atau juga pemimpin dunia kang-ouw. Undangan

untuk pemilihan Beng-cu ini diadakan oleh Hwa I Kaipang dan Hek I Kaipang. Memang pandai sekali

siasat yang dilakukan pemerintah, Hek I Kaipang mengirim utusan mencari Pek Mau Lokai dan tokoh

 

tua Hwa I Kaipang ini diundang untuk mengadakan pertemuan dengan Coa Kun, ketua Hek I Kaipang.

Dalam pertemuan ini, Coa Kun mengajak Pek Mau Lokai untuk menghentikan pertentangan antara

kedua perkumpulan pengemis dan bersama-sama menyelenggarakan pemilihan Beng-cu. Pek Mau

Lokai maklum bahwa kalau undangan terhadap para tokoh kang-ouw dilakukan atas namanya, maka

tentu akan mendapat perhatian para tokoh kang-ouw, apa lagi masih ada nama Coa Kun, sebagai

ketua Hek I Kaipang ikut pula mengundang.

Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang serta Tang Hui Yen, maklum bahwa Hek I Kaipang dipergunakan

pemerintah Mongol untuk menarik dunia kang-ouw agar mendukung pemerintah. Oleh karena itu,

merekapun tidak tinggal diam dan anak buah Hwa I Kaipang telah disebar luas untuk menghubungi

para tokoh kang-ouw dan mengingatkan mereka agar jangan sampai terjebak dan diperalat penjajah

Mongol yang hendak menggunakan siasat lain untuk menguasai para pemberontak. Semua pihak dapat

merasakan bahwa walaupun nampaknya saja terdapat ketenangan dan suasananya penuh damai

antara pihak yang pro dan pihak yang anti pemerintah Mongol, agaknya kedua pihak mengadakan

kerja sama untuk mengadakan pemilihan Beng-cu, namun dalam pemilihan itu pasti akan terjadi

pergolakan dan pertentangan hebat. Diam-diam telah terjadi pengelompokan, yaitu kelompok yang

pro dan diperalat pemerintah Mongol, kelompok yang anti penjajahan, dan kelompok yang acuh akan

urusan politik melainkan berpamrih untuk keuntungan pribadi saja.

Harapan kedua pihak yang diam-diam bertentangan itu terpenuhi ketika pada hari yang

ditentukan, di tempat yang telah dipersiapkan untuk mengadakan pemilihan Beng-cu itu dibanjiri

pengunjung. Hampir seluruh kang-ouw di daerah Nan-king ke selatan menghadiri pemilihan itu.

Bahkan banyak pula tokoh dari utara dan barat datang sebagai penonton, bukan sebagai pengikut

pemilihan.

Adapun pihak Hwa I Kaipang diwakili oleh Pek Mau Lokai sendiri, kakek berusia enam puluh enam

tahun yang rambutnya putih riap-riapan itu, kakek yang selalu tersenyum dan matanya yang sipit

tajam sinarnya. Semua tokoh kang-ouw juga mengenal baik kakek jangkung kurus ini karena namanya

sebagai pendiri dan pemimpin Hwa I Kaipang, sudah terkenal di sepanjang lembah Yang-ce. Bahkan

para tokoh besar dunia persilatan juga segan melihat sebatang tongkat butut yang selalu menjadi

temannya karena tongkat itu kabarnya tak pernah dikalahkan lawan! Di samping kanan kakek ini

duduk seorang gadis yang berusia dua puluh satu tahun, cantik manis dengan tubuhnya yang tinggi

ramping, rambutnya hitam tebal digelung ke atas, wajahnya bulat telur manis sekali, dengan

sepasang mata indah dan jeli, dagunya runcing dan di sebelah kiri mulutnya membayang lesung pipit.

Mulut yang manis itupun selalu tersenyum seperti mulut Pek Mau Lokai, dan memang gadis ini adalah

cucu pendiri Hwa I Kaipang itu. Ia adalah Tang Hui Yen yang biasa disebut Yen Yen. Di sampingnya

duduk Cu Goan Ciang dengan sikap gagah dan tenang. Para tokoh kang-ouw diam-diam

memperhatikan pemuda tinggi tegap yang gagah dan anggunm berwibawa dan pembawaannya seperti

seekor rajawali, demikian perkasa dan matanya mencorong tajam. Semua orang sudah mendengar

akan sepak terjang pemuda ini. Dia amat dikenal karena semua orang mendengar betapa pemuda ini

berjiwa pahlawan yang menentang penjajahan dengan berani, dan mendengar pula bahwa Cu Goan

Ciang menjadi orang buruan pemerintah, namun tak pernah dapat ditangkap karena dia amat cerdik

dan pandai mengatur siasat.

Di belakang kursi ke tiga orang wakil Hwa I Kaipang ini duduk pula tiga orang ketua cabang Hwa I

Kaipang, yaitu Lee Ti dari cabang barat, Pouw Sen dari cabang timur, dan Kauw Bok dari cabang

selatan. Anak buah Hwa I Kaipang juga banyak yang hadir, akan tetapi mereka berbaur dengan para

pendatang lainnya dan tidak mengenakan pakaian perkumpulan mereka. Pemilihan ini merupakan

pemiihan pemimpin kang-ouw umum, bukan pemimpin perkumpulan, maka mereka tidak mewakili

perkumpulan, melainkan sebagai orang-orang kang-ouw. Pula, para pimpinan Hwa I Kaipang memang

melarang anak buah mereka mengenakan pakaian baju kembang karena pihak pemerintah sedang

mengincar mereka dan kalau mereka mengenakan baju kembang, tentu akan mudah ditangkap.

Kedatangan dan kehadiran para tokoh perkumpulan besar ini tentu saja mempunyai arti penting.

 

Setelah semua orang berkumpul tidak ada lagi tamu yang datang, Coa Kun sebagai ketua Hek I

Kaipang dan penyelenggara pertemuan itu bersama Hwa I Kaipang, berdiri di atas panggung dan

memberi isarat dengan tangan agar semua orang tenang. Coa pangcu (ketua Coa) yang gagah dengan

muka seperti harimau tiu mengucapkan terima kasih atas nama Hek I Kaipang.

“Cu-wi (saudara sekalian) tentu tahu bahwa sudah lama dunia persilatan tidak dipimpin seorang

Beng-cu sehingga di antara kita tidak ada persatuan. Karena itu, kita semua menyadari bahwa amat

perlu diadakan pemilihan seorang Beng-cu, agar kita semua selalu mendapat petunjuk agar kita

bersama dapat menjaga ketenteraman dan kemakmuran dalam kehidupan rakyat. Karena itu, hari ini

kita akan mengadakan pemilihan Beng-cu dan saudara sekalian dipersilahkan untuk mengajukan

calon-calon yang akan kita pilih bersama. Tentu saja kita harus memilih yang terbaik, yaitu yang

memiliki pengalaman paling banyak dan pengetahuan paling lengkap, juga yang memiliki ilmu

kepandaian silat paling lihai. Orang seperti itu barulah pantas untuk memimpin kita.”

Ketika Pek Mau Lokai, sebagai wakil Hwa I Kaipang mendapat kesempatan menyambut dan ketika

kakek yang rambutnya riap-riapan putih ini berdiri di panggung, dengan tongkat butut di tangan

kanan, semua orang memandang kagum. Dilihat keadaan tubuhnya yang jangkung kurus, kakek ini

nampaknya lemah saja, akan tetapi semua orang tahu bahwa dibalik keadaan itu terkandung

kekuatan yang hebat dan terutama tongkat butut itu kabarnya belum pernah mengalami kekalahan.

“Saudara sekalian. Apa yang diucapkan Hek I Kaipangcu tadi memang betul. Kita semua

membutuhkan seorang Beng-cu yang bijaksana. Rakyat membutuhkan bimbingan agar hidupnya tidak

tertindas dan sengsara, dan rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang selain tangguh, juga yang

bijaksana, tidak mementingkan diri sendiri dan yang mencinta rakyat jelata. Kami sebagai pihak yang

ikut menyelenggarakan pemilihan ini, mengajukan seorang calon kami, yaitu ketua Hwa I Kaipang

kami yang bernama Cu Goan Ciang!”

Mereka yang sudah mendengar nama Cu Goan Ciang, juga mereka yang menghormati Pek Mau

Lokai dan percaya akan pilihannya, menyambut dengan tepuk tangan gemuruh.

Diam-diam Coa Kun mendongkol. Pek Mau Lokai telah mendahuluinya, mengajukan wakil atau calon

lebih dahulu sehingga mampu memancing perhatian dan dukungan banyak orang. Diapun cepat

mengumumkan agar semua pihak mengajukan calon-calon mereka. Pihak Hek I Kaipang sendiri

mengajukan tiga orang calon, yaitu kakek Bouw In, Thian Moko, dan Tee Moli.

Melihat betapa Hek I Kaipang mengajukan tiga orang calon, Tang Hui Yen bangkit dari tempat

duduknya dan berseru dengan suara nyaring, “Karena Hek I Kaipang mengajukan tiga orang calon,

maka kami dari pihak Hwa I Kaipang juga menambah seorang calon lagi, yaitu kakekku sendiri, Pek

Mau Lokai! Jadi pihak kami mengajukan dua orang calon, yaitu Cu Goan Ciang dan Pek Mau Lokai!”

Kembali calon ini disambut dengan sorak-sorai. Ketika pihak lain dipersilahkan mengajukan calon,

pihak orang-orang kang-ouw yang tidak membela atau menentang pemerintah, mengajukan dua orang

calon. Yang pertama adalah Jang-kiang Sianli Liu Bi yang disambut dengan gembira pula oleh Hek I

Kaipang karena mereka tahu bahwa wanita yang lengan kirinya buntung itu jelas dapat mereka tarik

di pihak mereka karena wanita itu sudah lama dekat dengan para pejabat, bahkan pernah menjadi

kekasih panglima Khabuli yang tewas oleh gerombolan kedok hitam! Adapun calon kedua adalah

seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang tubuhnya seperti raksasa dan berotot

melingkar-lingkar, mukanya juga penuh brewok dan matanya lebar. Dia amat terkenal di dunia kangouw

sebagai seorang tokoh sesat yang amat lihai dan bertenaga gajah, dan dia dikenal dengan nama

julukan Tay-lek Kwi-ong (Raja Setan Tenaga Besar), seorang jagoan di sepanjang pantai timur, juga

terkenal di sepanjang sungai Yang-ce sebagai bajak sungai tunggal. Akan tetapi tidak seperti

perampok dan pembajak lainnya, dia hanya mau merampok harta yang besar jumlahnya saja, dan

perbuatan inipun dilakukan amat jarang. Sekali merampok, dia memperoleh harta yang banyak dan

setelah hasil rampokan itu habis, barulah dia turun tangan kembali. Tidak ada pantangan baginya,

baik pedagang yang dilindungi tukang-tukang pukul, atau pejabat yang dilindungi pasukan pengawal,

semua disikatnya dan dia tidak pernah gagal. Diapun tidak pernah mencampuri urusan politik, tidak

menentang, juga tidak membantu pemerintah penjajah Mongol.

 

Ketika para hadirin diberi kesempatan untuk mengajukan calon, ternyata tidak ada calon lain yang

berani maju. Mereka yang tadinya mempunyai minat untuk menjadi calon, kini mundur teratur

melihat tokoh-tokoh besar yang sudah ditunjuk. Ada yang merasa ngeri kalau harus bersaing dengan

Tay-lek Kwi-ong, ada yang takut menghadapi Jang-kiang Sianli, akan tetapi mereka segan untuk

bersaing dengan Pek Mau Lokai.

Kini para calon dipersilahkan duduk berjajar di tengah panggung, dan para pemilih diperbolehkan

untuk mengajukan keberatan terhadap calon-calon yang dipilih.

Giliran pertama jatuh pada Cu Goan Ciang, Coa Kun segera maju dan naik ke atas panggung.

“Saudara sekalian, kami merasa tidak setuju kalau Cu Goan Ciang diajukan sebagai calon. Pertama,

dia masih terlalu muda dan tidak berpengalaman, kedua kalinya, namanya telah tersohor sebagai

orang yang telah menimbulkan kekacauan sehingga kalu kelak dia menjadi Beng-cu, dia tidak akan

mampu mendatangkan ketenteraman dalam kehidupan dunia kang-ouw.”

Mendengar ini, Tang Hui Yen bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menghadapi para tamu.

Suaranya merdu namun lantang ketika ia bicara, “Cu-wi harap pertimbangkan baik-baik dan tidak

terpengaruh oleh keberatan yang diajukan Hek I Kaipang tadi. Alasan penolaknya kurang kuat.

Pertama, justeru usia muda yang akan membuat seorang Beng-cu dapat bekerja dengan penuh

semangat, tidak seperti orang tua yang sudah loyo! Tentang kekacauan yang dikatakan ditimbulkan

oleh Cu Goan Ciang, hal itu terlalu dilebih-lebihkan, Cu Goan Ciang adalah seorang pendekar dan

pendekar mana yang tidak akan turun tangan kalau melihat terjadinya ketidak adilan? Tentu sepak

terjangnya menimbulkan keributan, akan tetapi tokoh kang-ouw manakah yang tidak pernah

menimbulkan keributan? Kita memang belajar ilmu untuk menentang ketidak adilan dan tentu akan

menimbulkan keributan. Akan tetapi, Cu Goan Ciang tidak pernah mengacau, tidak pernah merugikan

rakyat, tidak pernah melakukan kejahatan. Karena itu, kami tetap mengajukan Cu Goan Ciang

sebagai calon Beng-cu!”

Ucapan gadis yang dilakukan penuh semangat itu disambut oleh banyak orang yang mendukungnya

sehingga terpaksa Coa Kun mengalah dan Cu Goan Ciang dinyatakan sebagai seorang calon yang telah

disetujui. Ketika Pek Mau Lokai diajukan untuk dinilai, tak seorangpun berani menyatakan tidak

setuju dan dengan sendirinya kakek pendiri Hwa I Kaipang inipun menjadi seorang calon. Demikian

pula ketika Thian Moko dan Tee Moli diajukan. Sepasang iblis ini membuat semua orang gentar

sehingga tidak ada yang berani mengajukan keberatan. Akan tetapi ketika Bouw In diajukan, tibatiba

terdengar seruan dari bawah panggung dan seorang hwesio melompat, naik ke atas panggung.

“Omitohud, pinceng dari Siauw-lim-pai merasa tidak setuju sama sekali kalau dia diajukan sebagai

calon Beng-cu!”

Semua orang memandang dan Cu Goan Ciang sendiri terkejut melihat bahwa yang melompat ke

atas panggung adalah seorang hwesio yang sikapnya lemah lembut, usianya sekitar enam puluh sati

tahun. Hwesio itu bukan lain adalah Lauw In Hwesio, ketua kuil Siauw-lim-si di Lembah Sungai Huai,

atau gurunya yang pernah mendidiknya di kuil selama delapan tahun.

Lauw In Hwesio kini menghadapi Bouw In yang duduk dengan sikap tenang, dan kedua orang itu

bertemu pandang, lalu Lauw In Hwesio memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan

dada. “Omitohud…! Bouw In Suheng, bagaimana mungkin suheng menjadi seorang Beng-cu di dunia

kang-ouw?”

“Lauw In Sute, aku Bouw In sekarang bukan hwesio lagi, bahkan aku telah menikah dan

membentuk keluarga. Apa salahnya kalau aku menjadi seorang Beng-cu kalau memang itu yang

dikehendaki oleh dunia kang-ouw?”

Sejenak Lauw In Hwesio mengamati suhengnya dan diapun berulang kali menyebut nama Buddha.

Dia terkejut dan heran bukan main mendengar bahwa suhengnya itu telah meninggalkan

kependitaannya, menjadi orang biasa, bahkan telah menikah dan kini membiarkan dirinya dipilih

menjadi calon Beng-cu!

“Suheng, katakanlah suheng bukan lagi menjadi hwesio,” katanya dengan lantang agar didengarkan

oleh orang-orang lain, “akan tetapi suheng adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai dan merupakan

 

larangan bagi murid Siauw-lim-pai untuk menjadi pemimpin golongan lain apa lagi menjadi Beng-cu.

Kami dari pihak Siauw-lim-pai tidak setuju kalau Bouw In suheng dicalonkan menjadi Beng-cu!”

Coa Leng Si yang berpakaian serba hijau, gadis yang gagah dan cantik murid Bouw In Hwesio itu

segera bangkit dari tempat duduknya dan suaranya terdengar nyaring, “Pihak Siauw-lim-pai sungguh

bersikap tidak adil dan tidak wajar. Suhu tadi sudah mengatakan bahwa dia bukan lagi seorang

hwesio Siauw-lim dan hal ini berarti dia boleh berbuat sekehendak hatinya. Kalau suhu melakukan

perbuatan yang jahat, boleh saja Siauw-lim-pai merasa tersinggung dan merasa tercemar nama

baiknya. Akan tetapi, suhu menjadi calon Beng-cu, kedudukan terhormat di dunia kang-ouw.

Sepantasnyalah Siauw-lim-pai merasa ikut bangga karena suhu adalah bekas hwesio Siauw-lim-pai,

bukan malah melarang dan menentang tanpa alasan!”

Para tamu banyak mengangguk-angguk membenarkan ucapan itu, dan Lauw In Hwesio segera

menjawab, “Omitohud… kalau benar Bouw In Suheng menyatakan tidak lagi menjadi anggota Siauwlim-

pai, tentu kami juga tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadinya!”

Kini Bouw In menjawab sambil tersenyum tenang. ‘Ha, agaknya engkau lupa bahwa engkau telah

bersikap sama sekali tidak adil, sute Lauw In Hwesio! Aku tahu bahwa Cu Goan Ciang adalah

muridmu, berarti dia murid Siauw-lim-pai pula. Akan tetapi kenapa engkau tidak menentang dia

menjadi calon Beng-cu? Cu Goan Ciang itu muridmu, berarti murid Siauw-lim-pai juga, bukan?

Apakah diapun harus keluar dari keanggotaannya di Siauw-lim-pai, abru boleh mengikuti pemilihan

Beng-cu ini?”

Diserang seperti itu, Lauw In Hwesio tertegun. Dia menghela napas panjang dan berkata dengan

suara mengeluh, “Omitohud…! Engkau tahu bahwa pinceng bicara demi kebaikanmu sendiri, suheng.

Suheng pernah menjadi tokoh besar Siauw-lim-pai sehingga setiap sepak terjang suheng akan

menjadi perhatian dunia persilatan. Adapun Cu Goan Ciang, dia seorang pemuda, tentu lebih berhak

untuk mengejar cita-citanya. Engkau sudah tua, suheng, apakah juga masih ingin mengejar

kedudukan dan kehormatan sebagai Beng-cu? Akan tetapi, kalau engkau nekat, pinceng juga tidak

dapat menghalangimu, pinceng hanya dapat berdoa semoga engkau tidak terseret ke dalam

kesesatan dan kehormatan.” Setelah berkata demikian, Lauw In Hwesio duduk kembali di bangkunya

dan wajahnya nampak kecewa dan berduka. Bouw In juga duduk dna mukanya agak kemerahan dan

dia duduk termenung.

Kini tiba giliran Jang-kiang Sianli Liu Bi, wanita yang cantik dan mewah pesolek itu. Biarpun tidak

ada peserta yang mengajukan keberatan terhadap dirinya, namun wanita ini bangkit dari tempat

duduknya dan sambil memandang ke arah Cu Goan Ciang, iapun berkata dengan suara tinggi nyaring,

“Aku Jang-kiang Sianli Liu Bi bukan orang yang haus akan kedudukan. Aku sudah cukup senang

dengan kedudukanku sebagai ketua Jang-kiang-pang dan selama ini dikenal sebagai perkumpulan

orang gagah. Kalau sekarang aku mencalonkan diri, hanyalah semata untuk menyaingi dan menantang

Cu Goan Ciang! Dia seorang laki-laki yang palsu, tidak bertanggung jawab dan tidak pantas untuk

menjadi Beng-cu. Lihat, lengan kiriku buntung karena dia! Dia telah menjadi suamiku, akan tetapi dia

tega untuk membuntungi tanganku hanya karena dia cemburu melihat adikku perempuan tidur

dengan pria lain!”

Terdengar seruan-seruan mengejek ke arah Cu Goan Ciang yang mukanya berubah merah karena

kemarahannya. Ingin dia membantah, ingin dia membongkar rahasia, busuk wanita itu yang telah

mengorbankan sumoinya sendiri kepada Khabuli, akan tetapi dia anggap tidak perlu lagi. Biarkan saja

perempuan itu bicara sesuka hatinya.

“Perempuan hina tak tahu malu!” katanya dengan lantang. “Tidak perlu kuceritakan dan kubongkar

semua rahasia busukmu, semua orang sudah tahu belaka perempuan macam apa engkau ini!” kata Cu

Goan Ciang dengan suara dingin.

“Aku tidak haus kedudukan, akan tetapi kalau Cu Goan Ciang yang terpilih, aku akan menentang

mati-matian!” teriak Liu Bi.

Terdengar suara tawa yang lembut, namun mengandung getaran kuat sehingga mengejutkan

semua orang yang menengok dan melihat ke arah Pek Mau Lokai yang tertawa.

 

“Ha-ha-ha, ketua Jang-kiang-pang muncul ke sini bukan untuk ikut pemilihan Beng-cu, melainkan

untuk urusan dendam pribadi! Kita semua adalah orang-orang dunia persilatan yang menghargai

kegagahan dan juga yang berani bertanggung jawab atas perbuatan kita. Kalau Cu Goan Ciang

menang dalam pemilihan ini, mendapatkan suara terbanyak, maka tak seorangpun boleh

menentangnya. Yang menentangnya akan berhadapan dengan aku, heh-heh! Aku sendiri, biarpun

dicalonkan, tidak akan ikut memperebutkan kedudukan Beng-cu, melainkan kuberikan kepada Cu

Goan Ciang yang lebih berhak dan lebih pantas menjadi Beng-cu!” Ucapan ini jelas menunjukkan

bahwa kakek ini berdiri di belakang Cu Goan Ciang dan akan membelanya.

Terdengar berisik sekali karena semua orang saling bicara menyambut ucapan Pek Mau Lokai itu

dan dari kelompok anak buah Hek I Kaipang terdengar teriakan-teriakan, “Jangan pilih

pemberontak! Dia akan menyeret kita ke dalam pemberontakan melawan pemerintah! Biar

pemberontak mampus!” Teriakan ini mendapat sambutan dari mereka yang memang tidak ingin

terlibat dalam pemberontakan, apa lagi mereka yang berbaik dengan para pejabat, seperti para

anggota Jang-kiang-pang.

“Jangan pilih penjilat penjajah!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari pihak Hwa I Kaipang.

“Lebih baik gugur sebagai harimau dari pada hidup sebagai babi! Pejuang yang tewas jauh lebih

terhormat dari pada penjilat yang gendut! Hidup pejuang, pahlawan nusa bangsa dan mampuslah

penjilat dan antek penjajah!”

Suasana menjadi riuh rendah dan gaduh karena terjadi perang mulut antara kedua pihak. Kini

mereka tidak merahasiakan lagi isi hati mereka, yaitu sepihak anti pemerintah Mongol dan pihak lain

mendukung pemerintah penjajah itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak. Suara itu kuat sekali, mengaung dan

mengalahkan suara gaduh sehingga semua orang memandang dan suasana dengan sendirinya menjadi

tenang. Yang tertawa itu adalah Tay-lek Kwi-ong, yaitu raksasa yang juga terpilih sebagai calon

Beng-cu. Raksasa tinggi besar ini sudah bangkit berdiri dengan gagahnya, tangan kanan bertolak

pinggang, tangan kiri mengelus brewoknya dan setelah dia tertawa dan suasana tidak segaduh tadi,

terdengar dia bicara, suaranya menggeledek dan lantang.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali! Kalian semua telah mendengarnya. Kalian akan keliru kalau memilih

satu di antara keduanya. Seperti menunggang harimau saja. Turun salah tidak turun juga berbahaya.

Memilih yang anti pemerintah berbahaya, memilih yang mendukung pemerintah juga tidak tepat.

Paling tepat dan aman adalah memilih aku, Tay-lek Kwi-ong! Aku akan memimpin dunia kang-ouw

menjadi golongan yang bebas, bukan penjilat pemerintah bukan pula pemberontak! Hidup kita akan

aman dan tenteram, dan makmur. Kita sejak kecil mempelajari ilmu bukan untuk berperang, bukan

untuk menyeret diri ke dalam bahaya, melainkan untuk dapat hidup senang, bukan? Nah, kalau kalian

semua memilih aku, aku akan memimpin kalian untuk menuju kepada hidup bahagia itu, dan persetan

dengan perjuangan!”

Banyak di antara mereka yang hadir menyambut ucapan si raksasa ini dengan gembira pula,

menunjukkan bahwa ucapannya tadi banyak yang menyetujuinya. Sementara itu, Coa Kun dan

puterinya ketika mendengar ucapan raksasa itu, otomatis menoleh ke arah dua orang yang duduk di

dekat mereka, di kursi kehormatan pula. Mereka adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis

cantik. Pemudanya tampan gagah, dan gadis itu cantik jelita. Melihat pakaian mereka, kedua orang

ini seperti orang-orang muda hartawan dan terpelajar. Mereka bukan lain adalah Bouw Kongcu atau

Bouw Ku Cin dan adiknya, Bouw Mimi atau biasa dipanggil Bouw Siocia. Putera dan puteri Menteri

Bayan ini sengaja datang sendiri menonton pemilihan Beng-cu. Biarpun keduanya memiliki ilmu

kepandaian yang cukup tinggi dan tangguh untuk melindungi diri sendiri, namun tentu saja Yauw-

Ciangkun mengkhawatirkan kehadiran mereka di antara tokoh-tokoh kang-ouw itu, maka diam-diam

Yauw-Ciangkun mengirim belasan orang jagoan yang secara diam-diam melindungi dua orang muda

bangsawan itu. Coa Kun dan puterinya telah diperkenalkan kepada mereka dan kini ayah dan anak itu

ingin melihat bagaimana tanggapan dua orang muda bangsawan itu terhadap semua percakapan yang

 

tentu terdengar tidak enak bagi kakak beradik itu. Akan tetapi, Bouw Kongcu yang juga memandang

kepada mereka, tersenyum dan mengangguk-angguk.

Coa Kun lalu memberi isarat kepada anak buahnya untuk bersiap-siap. Dari Yauw-Ciangkun, dia

telah memperoleh pesan akan siasat yang telah mereka rencanakan dalam pemilihan Beng-cu ini,

sesuai dengan pesan Menteri Bayan yang dibawa oleh Bouw Kongcu. Siasat itu adalah bahwa di dalam

pemilihan Beng-cu itu, hanya ada dua pilihan. Pertama, Beng-cu yang dipilih haruslah orang yang mau

bekerja sama dengan pemerintah. Kalau tidak berhasil, dari pada Beng-cu dipegang oleh yang anti

pemerintah, lebih baik pemilihan digagalkan sehingga dunia kang-ouw akan tetap terpecah belah.

Pendeknya, kalau mungkin, dengan Beng-cu pilihan, pemerintah ingin mengulurkan tangan mengajak

dunia persilatan bekerja sama. Kalau hal itu tidak terlaksana, maka pemerintah ingin melihat dunia

kang-ouw terpecah belah dan terjadi pertentangan dan permusuhan di antara golongan-golongan itu

sendiri, karena kalau dunia kang-ouw sampai bersatu dan menentang pemerintah, hal itu dapat

berbahaya.

Setelah suara gaduh agak mereda, Coa kun kembali bangkit dan mengangkat kedua lengan ke atas

memberi isarat agar semua orang diam dan tidak membuat gaduh. “Saudara sekalian telah

mendengarkan pendapat dan penilaian terhadap para calon. Kita semua mengetahui bahwa biarpun

kita adalah orang-orang dunia persilatan yang menghargai kegagahan, namun di antara kita terdapat

ketidak cocokan dalam hal sikap kita terhadap pemerintah. Ada pihak yang ingin bekerja sama

dengan pemerintah memakmurkan kehidupan rakyat, ada pula pihak yang menentang pemerintah, dan

ada pula pihak yang tidak pro maupun anti pemerintah. Pihak pertama diwakili oleh kami dan caloncalon

kami adalah lo-cian-pwe Bouw In, dan kedua lo-cian-pwe Huang-ho Siang Lomo. Pihak kedua

yang menentang pemerintah diwakili oleh Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang, adapun pihak yang ke

tiga adalah Jang-kiang Sianli dan Tay-lek Kwi-ong. Sekarang kita tiba pada saat penentuan siapa

yang paling tepat menjadi Beng-cu. Seorang Beng-cu haruslah memiliki ilmu silat yang paling

tangguh, dan para calon diharapkan untuk dapat membuktikan bahwa dirinya paling lihai.”

Para pemilih bersorak menyambut pengumuman ini karena memang inilah yang menarik perhatian

mereka untuk datang, yaitu menonton pertandingan silat antara orang-orang yang berilmu tinggi!

Pek Mau Lokai bangkit berdiri dan menggerakkan tongkatnya ke atas sehingga terdengar suara

mengaung dan membuat semua orang terdiam. Kakek rambut putih itu tersenyum. “Heh-heh,

pendapat yang dikemukakan Coa-pangcu tadi menggelikan hatiku. Kalau untuk memilih seorang Bengcu

dipilih orang yang paling kuat dan lihai ilmu silatnya saja, lalu apa bedanya seorang Beng-cu

dengan seorang kepala gerombolan penjahat? Kita orang-orang kang-ouw bukanlah sekumpulan

penjahat atau tukang pukul yang membutuhkan seorang pemimpin yang hanya pandai ilmu silat saja!

Untuk dapat memimpin dunia kang-ouw, memimpin rakyat, dibutuhkan orang yang selain pandai ilmu

silat, juga bijaksana, baik budi, adil dan tidak mementingkan diri sendiri, orang yang benar-benar

memiliki bakat kepemimpinan. Dan di antara kita semua, hanya Cu Goan Ciang seorang yang memiliki

bakat itu. Akan tetapi kalau Coa-pangcu ingin menguji ilmu silat kami, silahkan!”

Mendengar tantangan Pek Mau Lokai, tentu saja Coa Kun tidak berani menyambut. Dia tahu

betapa lihainya kakek itu. Baru melawan Cu Goan Ciang saja, murid Lauw In Hwesio yang menjadi

calon ke dua dari Hwa I Kaipang, dia tidak mampu menandinginya. Diapun menoleh kepada para

jagoannya, yaitu Bouw In dan Huang-ho Siang Lomo, minta bantuan.

Thian Moko yang tinggi kurus, loyo dan bertumpu pada tongkatnya, bangkit dan terdengar

suaranya yang kecil menggetar, “Benar sekali ucapan murid kami Coa Kun tadi. Seorang Beng-cu

memang harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kalau Beng-cunya lemah, bagaimana mungkin

orang-orang kang-ouw mau taat kepadanya? Sebaiknya pertandingan untuk menguji ilmu kepandaian

dimulai saja. Biar aku menguji yang muda-muda lebih dulu. Tay-lek Kwi-ong, majulah sudah lama aku

mendengar nama besarmu dan ingin sekali aku melihat sampai di mana kehebatanmu sehingga engkau

ingin menjadi Beng-cu!”

Ucapan ini disusul ucapan Tee Moli, isterinya yang pendek gendut dan yang suaranya menjadi

kebalikan dari suara suaminya, yaitu parau dan besar.

 

“Biar aku yang menguji kepandaian ketua Jang-kiang-pang!” Nenek itu berdiri di depan suaminya,

keduanya bertemu pada tongkat mereka, nampaknya suami isteri yang usianya sudah delapan puluh

tahun ini lemah. Tay-lek Kwi-ong yang ditantang kakek itu agaknya memandang rendah. Biarpun dia

sudah mendengar akan kelihaian Thian Moko, akan tetapi tokoh itu kini sudah tua renta, bagaimana

mungkin mampu menandingi kekuatannya yang dahsyat? Biar dia kalahkan kakek ini lebih dulu agar

mendapat kesan baik. Diapun bangkit dan melangkah ke tengah panggung.

“Akupun ingin sekali menerima pelajaran dari lo-cian-pwe Thian Moko yang namanya sudah lama

kukagumi!” katanya dengan suara lantang.

Akan tetapi Jang-kiang Sianli Liu Bi bersungut-sungut tidak berdiri dari bangkunya. “Aku hanya

ingin bertanding melawan Cu Goan Ciang!” teriaknya. “Hayo, Cu Goan Ciang, aku menantangmu untuk

menentukan siapa yang lebih pantas menjadi Beng-cu, aku atau engkau!”

Sejak tadi Cu Goan Ciang sudah menjadi panas hatinya melihat wanita itu. Teringatlah dia akan

kekasihnya, Kim Lee Siang, yang tewas membunuh diri setelah dikorbankan sucinya, diberikan

kepada mendiang Khabuli-Ciangkun yang telah dibunuhnya. Mendengar tantangan itu, diapun berkata

kepada Pek Mau Lokai, “Lo-cian-pwe, perkenankan saya melayani perempuan jahat itu.” Kini, setelah

dia diangkat menjadi ketua Hwa I Kaipang, Cu Goan Ciang tidak lagi menyebut pangcu (ketua) kepada

Pek Mau Lokai, melainkan menyebutnya lo-cian-pwe. Mendengar ucapan itu, Pek Mau Lokai mengelus

jenggotnya dan mengangguk. Dia tahu bahwa Cu Goan Ciang masih selalu terkenang kepada

kekasihnya yang tewas karena ulah ketua Jang-kiang-pang itu.

“Twako, hati-hatilah, ia amat jahat dan curang,” bisik Yen Yen kepada pemuda yang menjadi calon

jodohnya dan yang amat dicintanya. Goan Ciang mengangguk, lalu bangkit berdiri dan menuju ke

tengah panggung menghadapi ketua Jang-kiang-pang.

Coa Kun segera berseru, “Harap pertandingan diatur agar satu lawan satu. Kami minta agar nona

Liu Bi dan Cu Goan Ciang mundur dulu menanti giliran, karena lebih dahulu akan diuji kepandaian

antara lo-cian-pwe Thian Moko melawan Tay-lek Kwi-ong. Semua yang hadir menyetujui dan

berteriak-teriak minta kepada dua orang muda itu untuk mundur. Terpaksa Cu Goan Ciang dan Liu Bi

mundur kembali ke bangku masing-masing.

Kini, semua mata ditujukan kepada kakek loyo yang berhadapan dengan raksasa Tay-lek Kwi-ong.

Dilihat begitu saja, tentu kakek itu tidak akan dapat bertahan lebih dari lima jurus! Dia sudah

begitu tua sehingga tertiup angin yang agak keras saja sudah dapat terpelanting. Bagaimana

mungkin melawan seorang bertubuh raksasa seperti Tay-lek Kwi-ong?

Tay-lek Kwi-ong agaknya dapat merasakan apa yang dipikirkan semua orang, maka diapun merasa

agak malu harus menandingi seorang kakek loyo seperti itu, maka setelah berhadapan satu lawan

satu, diapun menjura dan berkata dengan nada mengejek, “Lo-cian-pwe, apakah tidak sebaiknya

kalau lo-cian-pwe mundur saja? Lo-cian-pwe sudah terlalu tua untuk menjadi Beng-cu, sebaiknya

kalau menghabiskan sisa waktu yang tak berapa lama lagi di rumah saja, menerima pelayanan anak

cucu, dan mengalah kepada aku yang lebih muda.” Ucapan itu seperti membujuk, pada hal

mengandung ejekan yang menyakitkan hati.

“Eh-heh-heh, Tay-lek Kwi-ong, kaukira engkau mampu mengalahkan aku? Kekuatanmu seperti

angin kosong belaka. Betapapun kuatnya angin, mana mampu merobohkan sebatang pohon cemara

yang nampak lemas dan lemah? Heh-heh, majulah dan keluarkan semua kepandaianmu!”

“Hemm, orang tua renta, engkau sendiri yang mencari penyakit. Nah, sambutlah seranganku ini!”

Tay-lek Kwi-ong membentak, kini tidak sungkan lagi karena kakek tua renta itu tadi telah

memandang rendah kepadanya dan semua orang mendengar kata-katanya. Maka, dengan niat

merobohkan kakek itu dengan sekali pukul, dia mengerahkan tenaga dan tangannya yang lebar itu

dengan jari-jari terbuka menyambar dan menampar ke arah kepala lawan. Angin bersiut keras ketika

tangan kanan itu menyambar ke arah telinga Thian Moko, dan agaknya sebelum telapak tangan itu

sendiri mengenai sasaran, lebih dahulu angin pukulan yang keras membuat tubuh kakek itu

mendoyong! Akan tetapi, justeru karena tubuhnya mendoyong itulah maka lemparan tangan Tay-lek

Kwi-ong luput! Nampaknya saja demikian, akan tetapi sesungguhnya, kakek yang berpengalaman dan

 

lihai itu memang mempergunakan kelembutan untuk mengalahkan kekasaran. Seperti juga sebuah

penggada besar yang kokoh kuat tidak mungkin dapat memukul sehelai bulu yang ringan melayanglayang,

demikian pula serangan-serangan yang dilancarkan raksasa itu tak pernah dapat menyentuh

Thian Moko yang terkekeh-kekeh dengan suaranya yang tinggi. Dan setelah belasan kali serangan

lawan tidak mampu menyentuhnya, mulailah Thian Moko sambil mengelaj menggerakkan tongkatnya.

Dan begitu kakek itu membalas serangan lawan dengan tongkat, Tay-lek Kwi-ong menjadi repot

bukan main! Ujung tongkat butut itu seperti berubah menjadi puluhan batang banyaknya dan setiap

ujung tongkat mengancam dengan totokan maut ke arah jalan darah di tubuhnya.

“Heh-heh-heh!” kakek itu terkekeh dan ujung tongkatnya menyambar ke arah mata kanan Tay-lek

Kwi-ong. Raksasa ini terkejut sekali dan nyaris matanya menjadi korban dicongkel ujung tongkat. Dia

melempar tubuh ke belakang dan terjengkang, lalu bergulingan dan begitu dia meloncat bangkit,

tangannya sudah mencabut sebatang golok besar. Wajahnya yang tertutup brewok itu kemerahan

dan matanya yang lebar membikin melotot, kemudian dengan gerengan seperti seekor harimau

terluka, diapun menerjang ke depan sambil memutar golok besarnya.

Namun, bantuan senjata berat dan besar itu sama sekali tidak mampu menolongnya. Seperti juga

serangan kedua tangannya tadi, serangan goloknya tidak ada yang menyentuh tubuh lawan. Kakek itu

seolah terdorong lebih dahulu oleh angin sambaran golok, seperti sehelai bulu melayang yang tak

pernah terkena hujan bacokan, dan sebaliknya, ujung tongkat itu terus menerus mengancam jalan

darahnya.

“Tukk!” Akhirnya ujung tongkat itu menotok jalan darah dekat siku kanan dan Tay-lek Kwi-ong

berteriak, lengan kanannya lumpuh dan golok besar itupun terlepas dari tangannya. Pada saat itu,

ujung tongkat sudah bergerak cepat menotok ke arah pinggir lutut kirinya dan sekali lagi Tay-lek

Kwi-ong berteriak lalu roboh terguling, dan terus bergulingan sampai akhirnya dia terjatuh ke

bawah panggung! Tepuk sorak menyambut kemenangan Thian Moko yang amat mudah ini. Tay-lek

Kwi-ong dengan susah payah bangkit, lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu, tidak berani

menoleh lagi karena dia merasa malu bukan main. Dikalahkan oleh seorang kakek tua renta yang

sudah loyo. Bayangkan saja!

Thian Moko tertatih-tatih kembali ke tempat duduknya, disambut oleh Coa Kun dengan gembira.

“Suhu telah mengalahkan tanpa membunuhnya, tepat seperti pesan Yauw-Ciangkun. Terima kasih,

suhu,” katanya.

“Heh-heh-heh, kalau hanya melawan raksasa sombong tadi, apa sukarnya? Akan tetapi kalau harus

bertanding melawan Pek Mau Lokai, agaknya sukar sekali menang tanpa membunuhnya atau melukai

berat. Kalau terlalu mengalah terhadap lawan seperti dia, salah-salah nyawa kita yang melayang,”

kata Thian Mokko sambil menoleh dan memandang ke arah Pek Mau Lokai.

“Cu Goan Ciang, majulah! Kini tiba giliran kita!” teriak Jang-kiang Sianli Liu Bi yang sudah

meloncat ke tengah panggung dan tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang

berkilauan saking tajamnya. Wanita cantik ini kelihatan marah, matanya mencorong dan mulutnya

cemberut, sinar matanya mengandung kebencian.

Goan Ciang bangkit dan menghampiri wanita itu di tengah panggung. Dia masih bersikap tenang

walaupun pandang matanya berkilat. “Liu Bi, ketika itu aku masih mengampunimu dan hanya

menghajarmu dengan membuntungi lengan saja. Akan tetapi sekali ini, kalau engkau memaksaku, aku

pasti akan membunuhmu. Engkau terlampau jahat untuk dibiarkan hidup. Sebaiknya, sebelum

terlambat, pergilah dan jangan ganggu aku lagi.” Ucapannya bersungguh-sungguh dan lirih sehingga

hanya dapat terdengar oleh Liu Bi dan para tamu yang duduknya di atas panggung, tidak terdengar

oleh para tamu di bawah panggung yang saling bicara sendiri. Agaknya pertandingan antara kedua

orang itu dinanti dengan hati tegang dan gembira oleh mereka yang haus akan pertandingan yang

seru.

“Cu Goan Ciang, engkau ingin aku tidak melanjutkan perkelahian ini? Mudah saja, berlututlah

minta ampun kepadaku dan biarkan aku membuntungi tangan kirimu, dan aku tidak akan

membunuhmu!”

 

Cu Goan Ciang tersenyum mengejek. “Liu Bi, engkau memang tak tahu diri! Dengan kedua

tanganmu masih lengkap saja engkau tidak akan mampu mengalahkan aku. Apa lagi tanganmu hilang

sebelah. Bagaimana engkau akan mampu menandingi aku?” Kalau saja Cu Goan Ciang belum menerima

gemblengan dari Pek Mau Lokai, yang melatihnya dengan tekun dan sungguh-sungguh mengajarkan

ilmu-ilmu yang tinggi kepadanya, kiranya Goan Ciang tidak akan berani memandang rendah lawannya.

Dia tahu bahwa wanita ini lihai bukan main. Dulupun tingkat kepandaian mereka hanya berselisih

sedikit saja dan kalau dia dapat membuntungi dengan mudah tangan Liu Bi, hal itu adalah karena dia

menyerang Liu Bi secara tiba-tiba saking marahnya melihat kekasihnya, Kim Lee Siang, tewas

membunuh dirim dan Liu Bi menangkis dengan tangan kirinya. Akan tetapi sekarang dia merasa yakin

bahwa dia akan mampu mengatasi wanita ini dengan mudah.

Kemarahan Liu Bi memuncak mendengar ejekan itu. Semenjak tangannya buntung, wanita ini telah

melatih diri, memperdalam ilmu pedangnya dan selama ini ia telah memperoleh kemajuan yang cukup

sehingga ia menganggap bahwa ia akan mampu menandingi Cu Goan Ciang.

“Jahanam busuk, lihat pedangku!” bentaknya karena ia sudah tidak sanggup bicara lebih banyak

lagi saking marahnya. Tubuhnya bergerak cepat dan pedangnya menjadi sinar berkilat yang

menyambar ke arah dada Goan Ciang!

Cu Goan Ciang cepat mengelak dan dia menggunakan Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu Silat Rajawali

Sakti) untuk menghadapi amukan lawan yang memutar pedang itu. Diam-diam ada beberapa orang

memperhatikan gerakannya. Pertama adalah Lauw In Hwesio yang diam-diam merasa bangga bahwa

muridnya itu kini telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat simpanannya itu. Kedua adalah

Bouw In dan muridnya, Coa Leng Si. Kedua orang guru dan murid ini juga kagum dan mereka harus

mengakui bahwa ilmu silat Cu Goan Ciang memang hebat. Sin-tiauw ciang-hoat dapat dimainkannya

dengan baik sekali, dan melihat gerakannya, pemuda itu jauh lebih tangguh dibandingkan Leng Si dan

hanya Bouw In sajalah yang mampu menandingi dan mengalahkannya.

Melihat betapa tunangannya menghadapi pedang yang amat dahsyat itu dengan tangan kosong

saja, Tang Hui Yen melemparkan tongkatnya kepada Goan Ciang sambil berseru. “Toako, pakai

tongkatku ini!”

Cu Goan Ciang menangkap tongkat itu dan sekali dia memutar tongkat, dia telah memainkan Hokmo-

tung-hoat yang baru saja dia pelajari dari Pek Mau Lokai.

“Aihhh…!!” Jang-kiang Sianli menjerit ketika tiba-tiba tongkat itu membuat gerakan berputar dan

pedangnya ikut pula terbawa berputar dan tongkat itu, seperti sebuah ular hidup, sudah meluncur

melalui tepi pedangnya dan menotok ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang. Untung

ia masih dapat menarik lengannya dan meloncat ke belakang. Wajahnya pucat lalu merah kembali.

Hampir saja dalam segebrakan ia kehilangan pedang!

Goan Ciang mengamang-amangkan tongkatnya. “Liu Bi, bertaubatlah dan bubarkan perkumpulan

jahatmu, lalu pergilah ke kuil menjadi biarawati, aku akan mengampunimu.” Ucapan ini bukan

dimaksudkan untuk menghina, melainkan membujuk dan memberi kesempatan terakhir kepada wanita

jahat itu. Akan tetapi, Liu Bi menganggapnya sebagai penghinaan dan sambil mengeluarkan suara

melengking panjang, iapun menyerang lagi dengan penuh kemarahan.

Andai kata Goan Ciang tidak memegang tongkat sekalipun, dengan ilmu Sin-tiauw ciang-hoat, dia

akan mampu menghadapi pedang Liu Bi dan akan amat sukar bagi wanita itu untuk mengalahkannya.

Apa lagi kini ada tongkat di tangannya, dan diapun sudah mahir memainkan Hok-mo-pang (Tongkat

Penakluk Iblis), maka gulungan sinar pedang itu makin lama semakin menyempit tertindih oleh

gulungan sinar tongkat. Begitu cepat gerakan kedua orang ini sehingga mereka hanya nampak seperti

dua bayangan berkelebatan, di antara gulungan sinar pedang dan tongkat.

“Cringg… dukk!” Liu Bi menjerit karena ketika pedangnya tertangkis tongkat dan pedang itu

melekat pada tongkat, kaki Goan Ciang telah berhasil menendang dan mengenai pahanya, membuat ia

terpelanting roboh. Goan Ciang memandang kepada wanita itu. Bagaimanapun juga, wanita ini pernah

jatuh cinta kepadanya dan menariknya menjadu suami. Melihat wanita itu telah roboh dan

menyeringai kesakitan, hatinya tidak tega dan diapun membalikkan tubuh membelakanginya.

 

“Pergilah kau!” katanya, menahan kemarahan yang timbul karena kembali dia teringat akan kematian

Kim Lee Siang.

Liu Bi bangkit berdiri sambil merintih. Tulang pahanya yang terkena tendangan terasa nyeri

bukan main, mungkin tulangnya retak. Sambil meringis ia bangkit berdiri di belakang Goan Ciang,

mukanya menunduk dan suaranya gemetar ketika berkata, “Aku… aku…” Tiba-tiba Hui Yen menjerit.

“Toako, awas…!!” Namun agaknya terlambat karena pada saat itu, sama sekali tidak diduga-duga

oleh Goan Ciang, Liu Bi menggerakkan pedangnya dan menusuk pedang itu ke punggung Goan Ciang.

Jarak antara mereka sangat dekat dan pedang meluncur dengan kecepatan kilat karena ditusukkan

dengan pengerahan seluruh sisa tenaganya.

Andai kata Yen Yen tidak berteriak sekalipun, Goan Ciang sudah dapat menangkap suara angin

gerakan itu dan secepat kilat dia mengelak ke samping sambil memutar tubuhnya dan tongkatnya

menyambar. Pedang itu menusuk lewat dekat lambungnya, sempat merobek bajunya, akan tetapi

ujung tongkatnya dengan tepat sekali menotok pelipis kiri Liu Bi.

“Tukkk!” Tubuh wanita itu terkulai dan ia roboh tewas seketika karena pelipis itu retak dan

otaknya terguncang dan terluka parah! Suasana menjadi gaduh ketika orang-orang saling bicara

sendiri.

“Omitohud! Cu Goan Ciang, di depan pinceng, engkau berani melakukan pembunuhan kejam seperti

itu?” seru Lauw In Hwesio sambil bangkit berdiri.

Goan Ciang menoleh ke arah hwesio itu dan menjura dengan sikap hormat sambil berkata, “Harap

suhu memaafkan teecu (murid).”

“Losuhu!” tiba-tiba Yen Yen berseru marah. Sepatutnya losuhu melindungi murid losuhu yang

diserang secara curang seperti itu, bukan malah memarahi Cu-twako! Kalau Cu-twako tidak dapat

bergerak cepat dengan tongkatnya, tentu dia yang sekarang mati oleh serangan curang itu. Apa

losuhu lebih senang melihat dia yang mati dari pada perempuan iblis itu?”

Melihat dirinya diserang gencar oleh gadis yang membela Cu Goan Ciang itu, Lauw In Hwesio

tertegun, merangkap kedua tangan depan dada dan berkata lirih, “Omitohud… Omitohud…!”

Terdengar suara tawa lembut dan Pek Mau Lokai yang tertawa. “Heh-heh-heh, Lauw In Hwesio,

orang tua selalu mengandalkan peraturan lama dan peradatan yang kaku, tanpa melihat duduknya

persoalan yang sebenarnya. Kita yang tua-tua ini kalah oleh yang muda-muda, karena kita tidak mau

mengikuti perkembangan jaman. Orang-orang muda lebih praktis dan pendapat mereka masuk akal

dan luwes. Jang-kiang Sianlu terkenal jahat sehingga sudah sesuai dengan keadilanlah kalau ia

menebus semua kelakuan jahatnya dengan kematian. Pula, jelas bahwa ia yang tadi melakukan

kecurangan, hal yang amat dipantang oleh orang gagah. Mati dalam pibu (adu silat) adalah hal yang

wajar, kenapa engkau seperti kebakaran jenggot pada hal tidak memelihara jenggot? Ha-ha-ha-ha!”

Pengemis tua itu tertawa bergelak.

“Omitohud…!” Lauw In Hwesio menghela napas panjang, dan dia merangkap kedua tangan ke depan

dada. “Mulai detik ini, pinceng menyatakan bahwa pinceng tidak mempunyai hubungan apapun dengan

Cu Goan Ciang, dan pinceng tidak akan mencampuri urusannya. Pinceng juga tidak akan mencampuri

urusan pemilihan Beng-cu, hanya pinceng akan mencegah suheng Bouw In menjadi Beng-cu karena hal

itu akan mencemarkan kebersihan nama Siauw-lim-pai. Pinceng telah bicara disaksikan banyak orang

dan tidak akan pinceng ubah lagi.”

Ketika perdebatan terjadi, Coa Kun sudah berunding dengan Huang-ho Siang Lomo. Kini dia

menyuruh anak buahnya membawa mayat Jang-kiang Sianli turun dari atas panggung dan mayat itu

diterima oleh anak buah Jang-kiang-pang, lalu dibawa pergi. Suasana menjadi tenang akan tetapi

tegang kembali setelah mayat itu dibawa pergi.

Menurut perhitungan Coa Kun, pihaknya tentu akan menang. Andai kata benar guru puterinya atau

iparnya, Bouw In, dihadang dan dikalahkan Lauw In Hwesio, hal yang kiranya tidak mungkin

mengingat bahwa Bouw In adalah suheng dari hwesio Siauw-lim-pai itu, yang pasti hal itu merupakan

urusan pribadi antara mereka, dan Lauw In Hwesio tentu tidak akan mencampuri pemilihan Beng-cu.

Di pihak lawan, yang tinggal hanyalah Cu Goan Ciang dan Pek Mau Lokai. Mereka itu dapat dihadapi

 

dua orang gurunya, Huang-ho Siang Lomo. Besar harapan pihaknya akan menang. Andai kata

sebaliknya sekalipun dan kedudukan Beng-cu tidak dapat diraih oleh pihak yang pro pemerintah,

sudah direncanakan untuk menimbulkan kekacauan dan menggagalkan pemilihan itu sehingga secara

resmi tetap saja tidak ada Beng-cu yang dipilih dan dunia kang-ouw belum menemukan Beng-cu dan

karenanya akan mudah diadu domba. Pesan Menteri Bayan melalui kedua anaknya adalah satu antara

dua. Rebut kedudukan Beng-cu atau gagalkan pemilihan itu. Pemerintah ingin mengulurkan tangan

menjinakkan para tokoh dunia kang-ouw agar membantu pemerintah, kalau hal ini tidak berhasil,

dunia kang-ouw harus diadu domba agar timbul perpecahan di kalangan mereka sendiri sehingga

mereka menjadi lemah.

Coa Kun sudah berdiri di panggung dan berkata lantang, “Dua orang calon telah dinyatakan kalah

dalam pertandingan adu kepandaian. Sekarang diminta agar calon berikutnya maju. Lo-cian-pwe

Bouw In dipersilahkan maju dan diharapkan ada calon lain yang berani menguji kepandaiannya!”

Sambil tersenyum Bouw In bangkit dari tempat duduknya dan dengan langkah tenang diapun maju

ke tengah panggung. Para penonton menduga-duga sampai di mana tingkat kepandaian laki-laki tinggi

besar botak yang selalu tersenyum ini. Akan tetapi pada saat itu, Lauw In Hwesio juga sudah maju

ke tengah panggung dan merangkap kedua tangan depan dada.

“Omitohud, agaknya suheng Bouw In hendak melanjutkan langkahnya yang menyimpang dari

kebenaran!” kata Lauw In Hwesio dan kini, tidak seperti biasanya, dia mengangkat muka dan

menatap wajah suhengnya itu dengan pandang mata tajam bersinar-sinar, penuh rasa penasaran.

“Hemm, Lauw In Hwesio, kenapa engkau berkepala batu dan hendak menentangku? Sudah

kukatakan bahwa aku bukan hwesio Siauw-lim-pai, dan kalau mulai saat ini aku kauanggap bukan

orang Siauw-lim-pai seperti sikapmu terhadap Cu Goan Ciang tadi, akupun tidak akan membantah.

Nah, aku bukan hwesio Siauw-lim-pai, bukan pula murid Siauw-lim-pai. Apakah engkau juga masih

hendak menghalangiku? Aku bukan menjadi penjahat, melainkan menjadi calon Beng-cu. Apa salahnya

memimpin dunia kang-ouw, membawa mereka ke jalan benar?”

“Bouw In Suheng, biar engkau mengaku bukan hwesio dan murid Siauw-lim-pai lagi, akan tetapi

dalam setiap gerakan silatmu, engkau adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai. Dan kalau dalam sepak

terjangmu engkau menyimpang dari garis yang ditentukan Siauw-lim-pai, berarti engkau akan

mencemarkan nama baik perguruan kita. Pemilihan Beng-cu dalam masa pergolakan seperti ini, hanya

akan mendatangkan permusuhan! Baik engkau berada di pihak yang bekerja sama dengan

pemerintah, atau di pihak yang menentang pemerintah, bahkan di pihak yang tidak mencampuri

politik sekalipun, tetap saja dalam jaman pergolakan seperti ini, engkau hanya akan menghadapi

permusuhan dan pertentangan! Suheng, orang seperti kita, sungguh tidak layak untuk membiarkan

diri terseret ke dalam kubangan lumpur itu!”

Pada saat itu terdengar suara merdu dan lantang. Coa Leng Si yang melihat gurunya diserang

dengan kata-kata oleh hwesio itu, menjadi penasaran sekali dan iapun berkata, “Suhu, teecu kita

pendapat losuhu itu ngawur dan kuno! Kalau memang jaman ini bergolak, sudah selayaknya kalau kita

yang menyingsingkan lengan baju untuk menanggulangi dan mengatasinya. Yang penting bekerja,

bukan bicara! Apakah jaman bergolak itu akan menjadi tenang kalau kita semua hanya bersamadhi di

dalam kamar, duduk bersila dan merangkap tangan depan dada, memejamkan mata sampai berharihari?

Suhu akan terjun langsung ke medan, memimpin dunia kang-ouw, menenteramkan kehidupan

rakyat. Itu jauh lebih bermanfaat dari pada sekedar berdoa dan membaca liam-keng (kitab doa) di

dalam kuil!”

Ucapan yang berapi-api dan bersemangat dari gadis cantik itu memancing tepuk tangan banyak

penonton, terutama kaum mudanya. Bahkan Tang Hui Yen dan Cu Goan Ciang sendiri merasa setuju

dan kagum. Akan tetapi tentu saja terdapat perbedaan pendapat dan pandangan tentang cara

pelaksanaan untuk menyumbangkan tenaga demi tercapainya ketenteraman kehidupan rakyat itu.

Namun jelas tujuannya sama, hanya caranya yang berbeda! Mungkin pihak Coa Leng Si,

menenteramkan rakyat paling baik dengan cara membantu pemerintah, meniadakan pemberontakan

dan pengacauan agar kehidupan menjadi tenteram dan damai. Sebaliknya, pihak Cu Goan Ciang

 

beranggapan bahwa yang menjadi sumber atau biang keladi pergolakan jaman adalah adanya

pemerintahan penjajah Mongol, oleh karena itu, satu-satunya cara adalah menumbangkan kekuasaan

penjajah.

Kita semua selalu tersilaukan oleh gemilangnya tujuan atau cita-cita. Semua cita-cita nampak

indah gemilang, membuat kita berebut dan berlomba untuk mendapatkannya. Cita-cita bagaikan

nyala api lilin yang indah menarik, membuat banyak binatang malam tertarik dan mereka

beterbangan, berlomba mencapai sinar yang terang itu untuk jatuh terbakar dan mati. Kitapun

sering terpukau oleh keindahan cita-cita sehingga kita menjadi mabok dan lupa, kita tidak segan

menggunakan segala macam cara untuk mencapai cita-cita itu. Kita lupa bahwa tujuan atau cita-cita

hanyalah suatu khayalan, suatu gambaran dari keadaan yang belum ada, sedangkan cara untuk

mencapainya inilah yang nyata, yang berhubungan langsung dengan kehidupan kita. Cara inilah yang

paling penting bukan tujuannya! Bagaimana mungkin cara yang salah dapat membawa kita kepada

tujuan yang benar? Bagaimana mungkin kita dapat mencapai sesuatu yang baik kalau kita

mengejarnya dengan cara yang jahat?

Kita seperti telah dibikin buta karena silau oleh cemerlang dan indahnya cita-cita. Bahkan banyak

terjadi dalam sejarah betapa manusia mengadakan perang dengan tujuan untuk mencapai

perdamaian! Betapa aneh, gila dan suatu lelucon yang tidak lucu! Perang terjadi karena satu pihak

hendak memaksakan kehendaknya, karena kedua pihak hendak mencari kemenangan. Bagaimana

mungkin terjadi kedamaian antara yang menang dan yang kalah? Bagaimana mungkin kita dapat

berdamai dengan orang lain yang baru saja kita pukul hidungnya, atau dengan orang yang baru saja

menghajar kita sampai babak belur? Perdamaian yang timbul antara yang kalah dan yang menang

merupakan perdamaian paksaan, karena yang kalah terpaksa menaati kehendak yang menang.

Mungkin karena merasa kalah, pada lahirnya dia terpaksa mau mengulurkan tangan untuk bersalaman

akan tetapi jelas bahwa dalam batinnya, dendam dan penasaran yang ada!

Tujuan menghalalkan segala cara, demikianlah kalau kita terbuai dan tersilaukan cemerlangnya

tujuan. Cita-cita menimbulkan pengejaran dan justeru pengejaran inilah yang menjadi sarang dari

kekuasaan dan pengaruh daya-daya rendah yang menciptakan nafsu. Kalau kita tidak waspada, nafsu

menguasai batin dan kitapun menjadi lupa diri, lupa bahwa diri ini majikan nafsu, bukan nafsu

majikan diri. Banyak sekali contohnya dalam kehidupan ini, di mana kita silau oleh tujuan sehingga

membiarkan diri diperhamba nafsu, mengejar tujuan dengan cara apapun. Mencari uang untuk

memenuhi kebutuhan hidup memang mutlak perlu, kalau kita mau hidup sebagai orang normal. Akan

tetapi, tujuan mencari uang dapat mengobarkan nafsu sehingga kita menggunakan cara apa saja

dalam pengejaran kita terhadap uang. Terjadilah penipuan, pencurian atau perampokan, korupsi dan

sebagainya. Hubungan sex merupakan suatu kewajaran, bahkan mutlak perlu bagi kehidupan dan

kelangsungan perkembang biakan manusia. Akan tetapi, kalau kita sudah mengejar-ngejarnya

sebagai suatu tujuan, kita dapat lupa diri dan segala carapun kita lakukan demi memperolehnya.

Terjadilah pelacuran, perjinaan, perkosaan dan sebagainya. Demikian pula, orang memperebutkan

kedudukan, nama besar dengan saling hantam, saling jegal, saling bunuh. Bahkan demikian gilanya

kita sudah, sehingga untuk tujuan terakhir yang suci dan luhur, seperti keinginan kembali kepada

Tuhan, keinginan masuk Sorga sekalipun, kadang diperebutkan dan dipertentangkan! Kalau sudah

begitu, tanpa kita sadari akan kemunafikan kita sendiri, kita bahkan tidak malu untuk

memperebutkan Tuhan! Semua berkah Tuhan untukku, bukan untukmu dan bukan untuk mereka.

Tuhanku sendirilah yang benar, Tuhan kalian dan mereka adalah palsu, dan sebagainya lagi. Dan

perang saling membunuh antara manusiapun terjadilah, saling bunuh dengan nama Tuhan, seolah

mereka itu masing-masing merasa sebagai suruhan Tuhan untuk membunuh orang lain. Kita tidak

menyadari akan hal ini. Akan tetapi kalau kita mau berhenti sejenak, merenungkan semuanya, orang

seperti itu terjadi setiap hari, setiap saat dalam hati kita. Bukan hanya perang antar negara, bukan

hanya perang antar kelompok dan antar agama, melainkan perang di dalam batin kita sendiri. Konflik

terjadi setiap saat, bentrokan kepentingan daya-daya rendah yang saling berebutan untuk

menguasai diri kita sebagai manusia. Daya-daya rendah yang membonceng kita itu memang ingin

 

mencari kesempurnaan dan kenikmatan melalui jasmani kita, dan kita tidak sadar bahwa

pembonceng-pembonceng itu berebutan untuk menjadi maling dan bahkan menjadi majikan,

merajalela dalam batin kita, menguasai kita sepenuhnya!

Apakah kalau begitu kita tidak perlu mempunyai cita-cita dan membuang cita-cita? Pendapat ini

sempit sekali. Namun, kalau kita sudah dapat mengerti benar apa sebenarnya cita-cita itu, maka

pertanyaan itu tidak akan timbul. Apakah seorang murid akan berhasil menjadi sarjana hanya karena

dia memiliki cita-cita untuk menjadi sarjana? Bukankah yang mengantarkan dia menjadi seorang

sarjana itu adalah CARA-nya, yaitu ketekunan dan kesungguhannya untuk belajar? Dapatkah

seseorang menjadi pedagang yang sukses hanya karena cita-citanya? Ataukah yang membuat dia

berhasil itu karena ketekunan dan kesungguhan dalam pekerjaan itu? Jadi, yang penting bukan citacitanya,

melainkan caranya. Kalau kita menjadi pelajar, kita belajar dengan tekun dan rajin,

bersungguh-sungguh, dan tanpa kita cita-citakan sekalipun, kita pasti akan berhasil lulus dalam

pelajaran itu. Demikian pula dengan pekerjaan dan sebagainya lagi.

Tidak mungkin mencapai perdamaian atau ketenteraman dengan jalan berperang. Justeru perang

itu meniadakan kedamaian. Kalau kita ingin damai? Mudah saja, jangan berperang! Jangan

bermusuhan! Kalau tidak berperang otomatis perdamaian ada. Tentu akan timbul bantahan dan

sanggahan. Bagaimana kalau pihak sana yang menyerang? Pihak sana yang memulai. Pihak sana yang

salah, dan sebagainya lagi. Selalu “pihak sana” yang salah, dan “pihak kita” yang benar. Justeru di

sini letaknya pertentangan yang menimbulkan permusuhan. Pertentangan pendapat. Bentrokan

kepentingan, bentrokan kebutuhan. Pada hal, yang menjadi kuncinya bukanlah mengubah pihak sana,

melainkan mengubah pihak sini. Keluhan dan pertanyaan yang setiap saat mengusik hati dan pikiran

kita dengan pertanyaan-pertanyaan, “kenapa engkau begitu tidak begini, kenapa engkau dan dia,

begini tidak seperti yang kuharapkan dan kukehendaki?” seyogyanya diubah sedemikian rupa

sehingga pertanyaan itu menjadi, “kenapa aku selalu begini, mau menang sendiri, pemarah,

pencemburu, pengiri, penakut?” dan dengan demikian kita dapat melihat kekurangan dan kesalahan

diri sendiri. Kita yang harus berubah! Dan perubahan ini, kalau terjadi dengan sungguh-sungguh,

bukan dibuat-buat, bukan palsu, pasti akan mendatangkan perubahan pula kepada orang lain yang

kita hadapi! Bukan kosong belaka petuah yang mengatakan, “hadapi kebencian orang kepada kita

dengan kasih sayang kepada orang itu.” Kalau kasih sayang kita sungguh-sungguh, maka kebencian

yang berkobar di hati orang itu pasti akan padam!

Berusaha, berikhtiar sebaiknya dan semampu kita, merupakan wajib. Bagaimana akhir usaha itu?

Kita serahkan saja kepada Tuhan Maha Pengasih! Tuhan Maha Adil! Kalau bibit yang ditanam itu

baik, cara menanamnya dan memeliharanya juga baik, besar sekali harapannya akan tumbuh dengan

baik dan menghasilkan bunga dan buah yang baik pula. Tujuan memperoleh hasil panen yang baik

tanpa bekerja keras dan tekun, tidak ada gunanya sama sekali, sebaliknya dengan bekerja keras dan

tekun hampir dapat dipastikan mendatangkan hasil panen yang baik.

Mendengar ucapan muridnya itu, Bouw In tertawa gembira. “Ha-ha-ha, kaulihat, sute. Kita

memang ketinggalan jaman, walaupun yang ketinggalan jaman atau dianggap kuno ini belum tentu

salah dan yang menamakan dirinya maju itu belum tentu benar. Nah, mari kita selesaikan urusan di

antara kita. Kalau aku kalah olehmu, sudahlah, aku tidak akan mencampuri urusan pemilihan Beng-cu

ini seperti juga engkau. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, harap jangan menghalangiku lagi.”

“Omitohud, pinceng tahu bahwa pinceng tidak akan menang melawanmu, suheng. Akan tetapi,

pinceng siap mengorbankan nyawa demi menjaga nama baik Siauw-lim-pai dan menarikmu kembali ke

jalan benar.”

Dua orang kakak beradik seperguruan itu kini berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang.

Mereka memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk lutunya, dan kedua tangan

dirangkap di depan dada, kemudian keduanya menggerakkan kedua kaki, ditarik merapat lalu tumit

diangkat, berdiri di atas jari-jari kaki, kedua tangan dipentang di atas kanan kiri membentuk sayap

burung. Mereka seperti dua ekor burung rajawali yang hendak terbang dan berhadapan! Kelihatan

lucu dan indah, akan tetapi Cu Goan Ciang dan Coa Leng Si yang mengenal pembukaan jurus ilmu silat

 

Rajawali Sakti itu memandang dengan hati berdebar tegang. Mereka tahu bahwa ilmu silat itu

dirangkai oleh kedua orang kakek itu! Dan kini mereka hendak mempergunakan ilmu yang dirangkai

bersama-sama itu untuk saling serang! Dua orang ini maklum betapa hebat dan dahsyatnya ilmu itu,

apalagi kalau dimainkan oleh dua orang penemunya!

Bagaikan dua ekor rajawali, dua orang kakek itu mulai bergerak dan saling serang. Gerakan

mereka sama. Sepasang tangan digerakkan seperti sepasang sayap yang menampar dari kanan kiri,

dan sepasang kaki bergerak menendang-nendang seperti sepasang cakar burung rajawali mencakar

dan menendang. Gerakan mereka kadang cepat kadang lambat, namun yang hebat adalah hawa

pukulan mereka yang menyambar-nyambar dahsyat, sehingga angin pukulannya terasa oleh semua

yang hadir, bahkan oleh mereka yang berada di bawah panggung. Panggung itu sendiri bergoyanggoyang

dan mengeluarkan suara gemeretak, seolah dapat ambruk sewaktu-waktu!

Bahkan Pek Mau Lokai dan juga sepasang Huang-ho Siang Lomo sendiri memandang kagum karena

mereka maklum betapa lihai kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Yang dapat mengikuti

pertandingan itu dengan cermat adalah Cu Goan Ciang dan Coa Leng Si karena mereka telah

menguasai ilmu itu, akan tetapi mereka kini maklum bahwa belum sepenuhnya mereka menguasai Sintiauw

ciang-hoat itu.

Dapat dibayangkan betapa sukarnya keluar sebagai pemenang dalam pertandingan antara dua

orang kakak beradik seperguruan itu. Tingkat kepandaian mereka memang seimbang, apa lagi ilmu

silat Rajawali Sakti itu merupakan hasil rangkaian mereka berdua! Setiap gerakan lawan telah

mereka kenal dan mereka ketahui perkembangannya sehingga tentu saja mereka selalu dapat

menghindarkan diri dengan tangkisan maupun elakan. Akhirnya, karena mengandalkan ilmu silat

mereka tidak mungkin keluar sebagai pemenang, untuk menentukan siapa yang lebih kuat, kini

mereka lebih mengandalkan kekuatan tenaga sakti mereka!

“Dess…!!” Untuk ke lima kalinya, mereka mengadu tenaga dengan menyalurkan sin-kang melalui

sepasang tangan yang didorongkan ke depan, kedua pasang telapak tangan itu bertemu dan

akibatnya, keduanya terdorong ke belakang sampai tiga langkah. Lauw In Hwesio hampir

terpelanting sehingga terpaksa dia meloncat ke samping dan merangkap kedua tangan depan dada

sambil memuji, “Omitohud…!!” Diam-diam dia maklum bahwa dalam mengadu tenaga sin-kang dia

masih kalah setingkat dibandingkan suhengnya. Walaupun mungkin tidak diketahui orang lain, akan

tetapi dia harus mengakui bahwa dia berada di pihak yang kalah.

“Uhhh…!!” Bouw In terbatuk dan muntahkan sedikit darah segar dan diapun terhuyung-huyung.

“Suhu…!!” Coa Leng Si berseru dan meloncat ke dekat gurunya dan memegang lengan gurunya agar

tidak sampai gurunya terjatuh. Bouw In tersenyum, mengusap darah dari bibirnya dan menganggukangguk.

“Hemmm, kiranya engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, Lauw In Sute. Aku mengaku

kalah!” Kemudian, kakek itu memutar tubuhnya menghadapi Coa Kun dan berkata, “Coa-pangcu, aku

sudah kalah oleh suteku, maka terpaksa aku memenuhi janji dan tidak mencampuri lagi urusan

pemilihan Beng-cu ini.” Setelah berkata demikian, dia lalu turun dari panggung dan meninggalkan

tempat itu.

Diam-diam Lauw In Hwesio merasa girang bukan main. Dia tahu bahwa sebetulnya dia yang kalah,

dan suhengnya itu telah mengaku kalah dan dengan ilmunya telah mengeluarkan darah dari mulut.

Hal ini menunjukkan bahwa suhengnya telah menyadari kekeliruannya dan tidak mau lagi diperalat

orang lain untuk menjadi Beng-cu. Tentu saja Lauw In Hwesio merasa girang bukan main.

“Terima kasih, suheng!” katanya sambil merangkap kedua tangan depan dada menghadap ke arah

perginya Bouw In. Ucapan itu dilakukan dengan pengerahan khikang sehingga tentu saja dapat

terdengar oleh suhengnya. Diapun menghadap ke arah kedua pimpinan tuan rumah. “Omitohud…

pinceng telah menyelesaikan tugas pinceng dan akan meninggalkan pertemuan ini. Terserah kepada

cu-wi (anda sekalian) tentang siapa yang akan dipilih menjadi Beng-cu. Hanya pinceng pesan agar

jangan cu-wi meninggalkan kerukunan di antara orang segolongan, tidak lupa untuk menjunjung tinggi

kebenaran dan keadilan. Selamat tinggal.”

 

“Suhu…!!” Cu Goan Ciang sudah mendekati gurunya dan memberi hormat. “Suhu tentu mengetahui

bahwa teecu melakukan semua ini demi negara dan bangsa, mohon suhu sudi memaafkan teecu.”

“Omitohud, semoga Yang Maha Kuasa memberkahimu, Siauw Cu. Lupakah engkau akan riwayat

dahulu, ketika beberapa orang murid Siauw-lim-pai melibatkan diri dengan urusan politik, akibatnya

kuil Siauw-lim-si dibakar dan banyak murid Siauw-lim-pai dibunuh? Tugas kami menyebar pelajaran

agama untuk menyadarkan manusia dari kesesatannya dan kembali ke jalan yang benar, bukan

mencampuri urusan pemerintahan. Oleh karena itu, tak seorangpun murid Siauw-lim-pai boleh

melibatkan diri dalam urusan politik sehingga akan menyeret nama baik Siauw-lim-pai. Kini, semua

yang hadir menjadi saksi bahwa kami tidak lagi mengakui engkau sebagai murid dan sejak ini, semua

sepak terjangmu tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai. Selamat tinggal!” Hwesio itu lalu

melompat turun dari panggung, diikuti pandang mata Cu Goan Ciang. Ia tidak merasa bersedih

karena maklum bahwa gurunya itu tidak melarangnya, hanya ingin agar Siauw-lim-pai tidak terbawabawa

dalam perjuangannya. Gurunya benar. Pada hal dia tahu benar bahwa di lubuk hati para

pendeta Siauw-lim-pai, mereka tidak senang melihat nusa bangsa dijajah orang Mongol. Namun, demi

keamanan dan kelancaran tugas mereka menyebar luaskan agama, mereka tidak ingin terlibat urusan

pemberontakan.

Selagi dia berdiri termangu, nampak bayangan berkelebat dan kini sepasang kakek dan nenek

Huang-ho Siang Lomo telah berdiri di hadapannya. “Cu Goan Ciang, engkau ini orang muda yang

bahkan tidak diakui oleh gurumu sendiri, dan engkau berani mengajukan diri sebagai calon Beng-cu?”

teriak Tee Moli dengan suaranya yang parau.

“Hi-hi-hik!” Suaminya tertawa dengan suaranya yang tinggi. “Kami, Huang-ho Siang Lomo maju

sebagai pasangan suami isteri, dan kami yang akan menjadi Beng-cu, kami berdua. Beranikah engkau

melawan kami, Cu Goan Ciang?” tantang laki-laki tua renta yang nampak loyo akan tetapi yang tadi

dengan mudahnya mengalahkan Tay-lek Kwi-ong itu.

Sebelum Cu Goan Ciang menjawab, Pek Mau Lokai sudah berada di situ dan tertawa, “Ha-ha-ha,

agaknya saking sudah terlalu tua, kalian menjadi pikun, Huang-ho Siang Lomo! Selain Cu Goan Ciang,

masih ada aku di sini yang tadipun dipilih menjadi calon Beng-cu. Akan tetapi, kalaupun aku yang

menang, kedudukan itu akan kuserahkan kepada Cu Goan Ciang. Dialah yang paling cocok untuk

menjadi pemimpin dunia kang-ouw. Dia masih muda, penuh semangat, gagah perkasa, berjiwa

pahlawan tidak seperti kalian yang menjadi penjilath penguasa. Juga kalian hendak main curang,

maju berdua menantang Cu Goan Ciang. Aku masih ada di sini, dan kalau kalian maju berdua, Cu Goan

Ciang dan aku yang akan menghadapi kalian. Jadi dua lawan dua. Bukankah hal ini adil sekali, saudara

sekalian?”

Teriakan Pek Mau Lokai ini disambut oleh sorakan yang riuh karena semua orang menyetujuinya.

Mereka semua adalah orang-orang dari dunia persilatan yang rata-rata menghargai kegagahan.

Kecurangan sikap sepasang kakek dan nenek tadi membuat mereka penasaran dan kini di dalam hati

mereka mendukung Cu Goan Ciang!

Huang-ho Siang Lomo menjadi marah. “Jembel tua bangka busuk, kaukira aku takut melawanmu?”

bentak Tee Moli. Nenek ini memang lebih galak dari suaminya dan iapun sudah menggunakan

tongkatnya untuk menyerang Pek Mau Lokai dengan dahsyat. Pek Mau Lokai maklum akan kelihaian

nenek loyo itu, maka diapun cepat mengelak dan memutar tongkatnya. Mereka sudah saling serang

dengan cepat.

“Cu Goan Ciang, bersiaplah untuk mampus di tanganku!” Thian Moko berseru dan kakek inipun

menggerakkan tongkatnya menyerang. Cu Goan Ciang menyambar tongkat yang dilontarkan Yen Yen

untuk kedua kalinya kepadanya dan diapun menyambut serangan kakek itu dengan tongkatnya.

Terjadilah pertandingan yang hebat di atas panggung antara dua pasangan. Mereka semua

menggunakan tongkat, dan baik Goan Ciang maupun Pek Mau Lokai memainkan ilmu tongkat Hom-motung

menghadapi sepasang kakek dan nenek yang lihai itu.

Para penonton merasa tegang sekali melihat perkelahian yang benar-benar amat hebat itu.

Biarpun sudah tua renta, namun kakek dan nenek itu ternyata masih memiliki tenaga yang kuat dan

 

gerakan merekapun masih cepat. Bahkan Cu Goan Ciang yang memiliki dua ilmu yang ampuh, yaitu

Sin-tiauw ciang-hoat dan Hok-mo-pang, harus mengakui bahwa belum pernah dia berhadapan dengan

seorang lawan yang begini ulet dan lihai. Serangan-serangan tongkat kakek itu yang menotok ke arah

seluruh jalan darah di tubuhnya, menunjukkan bahwa kakek itu seorang ahli totok yang lihai sekali.

Satu kali saja tubuhnya terkena totokan itu, tentu akan berakibat celaka baginya. Diapun

mengerahkan tenaganya dan berusaha membalas serangan lawan, namun semua serangannya dapat

dielakkan atau ditangkis oleh kakek tua renta yang kelihatan loyo namun ternyata lihai bukan main

itu. Setiap kali tongkatnya beradu dengan tongkat Thian Moko, dia merasa betapa tangannya

tergetar dan panas. Ternyata Thian Moko yang tua renta itu masih tangkas dan kuat sekali.

Pertandingan antara Pek Mau Lokai melawan Tee Moli juga terjadi dengan seru dan seimbang. Tee

Moli yang sudah tua itupun ternyata amat tangguh seperti suaminya. Sungguh mengherankan sekali

kakek dan nenek tua renta ini, walaupun kalau berjalan biasa saja harus dibantu tongkat, kini begitu

bertanding, seolah mereka itu memperoleh tenaga baru dan mereka dapat bergerak dengan tangkas

dan kuat seperti orang-orang muda saja.

Akan tetapi, berbeda dengan Cu Goan Ciang yang membalas serangan lawannya dengan dahsyat,

Pek Mau Lokai yang menghadapi Tee Moli itu seperti orang bermain-main saja! Pada hal, tingkat

kepandaian merekapun seimbang. Kakek pengemis itu lebih banyak mengelak, bahkan berlari-lari dan

berputaran di atas panggung sambil mengejek lawan.

“Heiiit, luput lagi, Moli! Ha-ha, engkau kurang cepat, kurang kuat dan sudah loyo, heh-heh-heh!”

Dipermainkan dan diejek seperti itu, nenek itu menjadi semakin marah dan ia mengejar ke mana

saja Pek Mau Lokai berlari, dan terus menyerang bertubi-tubi dengan tongkatnya.

“Wuuttt!” Tongkatnya menyambar-nyambar, mendatangkan angin pukulan yang membuat rambut

putih pengemis tua yang riap-riapan itu berkibar-kibar, dan terdengar suara berdesingan ketika

tongkat menyambar. Agaknya, nenek yang sudah marah sekali itu telah mengerahkan seluruh

tenaganya, namun gerakan si pengemis tua memang lincah dan ringan sehingga semua serangannya

dapat dihindarkan dengan elakan dan kadang juga dengan tangkisan tongkatnya.

“Hayyaaaa, hampir kena, tapi luput! Moli, apakah hanya begini kepandaianmu? Hayo cepat

keluarkan semua simpananmu, jangan membikin malu saja. Orang seloyo engkau ini hendak menjadi

Beng-cu? Memalukan dan menyedihkan!” Kembali Pek Mau Lokai mengejak sambil tertawa-tawa.

Mula-mula Cu Goan Ciang khawatir sekali mendengar ucapan pengemis tua itu yang dianggapnya

terlalu memandang rendah lawan. Pada hal dia tahu bahwa kakek pengemis itu belum tentu menang.

Akan tetapi, ketika dia mendengar pernapasan nenek itu mulai terengah, mengertilah dia akan

maksud Pek Mau Lokai. Sepasang Iblis Tua Sungai Kuning yang sudah tua renta itu memang lihai

bukan main dan kalau hanya mengandalkan ilmu silat dan kekerasan, tentu akan sukar sekali

mengalahkan mereka. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang dipergunakan Pek Mau Lokai adalah

mengambil keuntungan dari ketuaan lawan, yaitu daya tahan dan pernapasannya. Diapun segera

mencontoh pengemis tua itu dan mulailah Cu Goan Ciang mengelak dan menghindar dengan berlarilari

menjauhkan diri dan membiarkan kakek itu terus menyerang dan mengejarnya. Dengan cara ini

dia menyimpan tenaga dan menguras tenaga lawan. Biarpun dia tidak sepandai Pek Mau Lokai dalam

hal menggoda dan mengejek, namun Cu Goan Ciang berusaha memanaskan hati lawan dengan

mentertawainya, setiap kali serangan kakek itu luput.

“Ha-ha, luput, kek. Masih ada lagi seranganmu yang lebih keras? Jangan segala macam serangan

tahu kaukeluarkan!” Dia mengejek.

Huang-ho Siang Lomo adalah dua orang datuk tua yang terlalu tinggi hati dan memandang rendah

semua lawannya. Kinipun mereka berdua tidak tahu akan siasat yang dipergunakan Pek Mau Lokai dan

Cu Goan Ciang. Mereka mengira bahwa lawan mereka itu mulai gentar, maka hanya mengelak dan

berputaran, bahkan berlarian. Hal ini membuat mereka semakin besar hati dan penuh semangat

untuk segera merobohkan lawan dan mereka makin mengerahkan tenaga dan terus mengejar dan

menghujankan serangan maut. Justeru inilah yang dikehendaki Pek Mau Lokai dan yang dicontoh oleh

Goan Ciang.

 

Setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah kelihatan hasilnya. Sepasang kakek nenek itu mulai

kehabisan napas. Tubuh mereka basah oleh peluh, dari ubun-ubun kepala mereka mengepul uap dan

napas mereka terengah-engah, tenaga mereka mulai menurun cepat sehingga gerakan mereka tidak

lagi sekuat dan secepat tadi. Sungguhpun semangat mereka masih besar, namun menyedihkan dan

menggelikan melihat mereka kini terpincang-pincang dan terengah-engah melanjutkan penyerangan

mereka dengan napas yang empas-empis. Kalau Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang menghendaki, tidak

akan sukar bagi mereka untuk merobohkan dua orang lawan yang sudah kehabisan tenaga dan napas

itu. Akan tetapi Pek Mau Lokai agaknya tidak mau melakukan hal ini dan Cu Goan Ciang juga

mengikuti jejaknya, tidak mau merobohkan kedua orang itu. Akhirnya, karena kehabisan tenaga,

Thian Moko dan Tee Moli tidak kuat berdiri lagi dan seperti kain basah, tubuh mereka terkulai

roboh sendiri di atas panggung!

Sorak-sorai menyambut kemenangan Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang, dan Pek Mau Lokai yang

berdiri di atas panggung berseru dengan suara yang lantang nyaring karena dia mengerahkan khikang,

“Saudara sekalian! Jelas bahwa yang menjadi pemenang adalah Cu Goan Ciang dan dia yang

berhak menjadi Beng-cu!”

Para tokoh yang berada di situ mengangguk-angguk dan terdengar sorak-sorai menyetujui

pengangkatan Cu Goan Ciang sebagai Beng-cu. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara gegap

gempita dan pasukan pemerintah yang secara diam-diam telah mengepung tempat itu, kini maju

menyerbu!

Para pimpinan Hwa I Kaipang tidak terkejut melihat penyerbuan ini, Cu Goan Ciang memang sudah

mendapat berita dari Shu Ta tentang siasat pemerintah yang hendak menggunakan dua cara, yaitu

pertama, merebut kedudukan Beng-cu agar terjatuh ke tangan orang-orang yang pro pemerintah

dan kalau hal ini gagal, pasukan akan menyergap dan menangkapi pihak pemenang kedudukan Beng-cu

yang tidak mendukung pemerintah Mongol. Kalau Pek Mau Lokai melanjutkan pemilihan Beng-cu, hal

itu hanya untuk mencapai satu sasaran, yaitu agar dunia kang-ouw lebih dahulu mengakui Cu Goan

Ciang sebagai pemimpin karena hal ini kelak akan memudahkan pemuda itu bergerak mengumpulkan

dan menghimpun kekuatan untuk menentang penjajah.

Seperti yang telah mereka rencanakan, begitu pasukan menyerbu, Pek Mau Lokai dan Cu Goan

Ciang memimpin anak buah mereka untuk melarikan diri, melalui lereng bukit yang sudah mereka

rencanakan. Mereka bertemu pasukan yang menghadang di tempat itu dan terjadi pertempuran

mati-matian. Para anggota Hwa I Kaipang yang dipimpin tiga orang ketua daerah, yaitu Lee Ti ketua

daerah barat, Pouw Sen ketua daerah timur, dan Kauw Bok ketua daerah selatan, dengan anak buah

sebanyak kurang lebih seratus orang, mengamuk.

Pek Mau Lokai, Tang Hui Yen dan Cu Goan Ciang sendiri dikeroyok belasan orang perwira Mongol

yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sehingga terjadi perkelahian yang seru.

“Goan Ciang, Yen Yen, cepat kalian pergi!” berulang-ulang kakek Pek Mau Lokai berteriak,

menyuruh kedua orang muda itu pergi.

“Tidak, aku harus menemanimu melawan anjing-anjing busuk ini!” bantah Yen Yen penuh semangat

dan tongkat merobohkan seorang pengeroyok.

“Kita harus lari bersama atau mati bersama!” kata pula Goan Ciang dengan gagah.

Pek Mau Lokai mengeluarkan teriakan melengking panjang dan dua orang perwira roboh. “Bodoh

kalian!” bentaknya kepada cucunya dan Goan Ciang. “Goan Ciang, apakah cita-citamu harus berhenti

sampai di sini saja? Yen Yen, engkau harus menemani Goan Ciang sampai dia berhasil dengan

perjuangannya. Aku sudah tua, aku yang harus mencegah mereka mengejar kalian. Cepat pergi!”

suaranya mengandung wibawa dan Cu Goan Ciang mengerti. Dia tahu bahwa kalau pasukan bantuan

tiba, mereka semua pasti akan mati konyol. Dia menyambar tangan Yen Yen dan menariknya lari dari

situ.

“Pangcu, selamat tinggal!” teriak Goan Ciang.

“Kong-kong, jaga dirimu baik-baik,” kata pula Yen Yen dengan suara sedih.

 

Akan tetapi Pek Mau Lokai tidak sempat menjawab karena dia sudah mengamuk untuk mencegah

para perwira melakukan pengejaran terhadap Cu Goan Ciang dan Yen Yen. Gerakan kakek ini amat

dahsyat dan siapa yang berani melewatinya untuk mengejar, tentu roboh. Akan tetapi, muncullah

Coa Kun dan sepasang kakek nenek yang tadi kehabisan napas. Mereka telah agak pulih dan kini

mereka ikut mengeroyok Pek Mau Lokai.

Betapapun lihainya Pek Mau Lokai, dikeroyok demikian banyaknya lawan tangguh, dia menderita

luka-luka dan roboh, akan tetapi anak buah Hwa I Kaipang mencoba untuk menolong dan

melindunginya. Kakek perkasa, tokoh utama Hwa I Kaipang itu seperti tenggelam dalam tumpukan

mayat yang berserakan.

Anak buah Hwa I Kaipang kocar-kacir. Banyak yang tewas, sebagin melarikan diri. Cu Goan Ciang

dan Yen Yen berhasil menyelamatkan diri dengan perahu yang sudah dipersiapkan sebelumnya

sehingga para pengejar hanya dapat melihat dari tepi sungai dan mencoba untuk menyerang dengan

anak panah. Namun perahu sudah terlalu jauh dan tidak terjangkau anak panah. Cu Goan Ciang dan

Tang Hui Yen selamat.

Di tempat persembunyian mereka, di sebuah bukit kecil di lembah Yang-ce, mereka mendengar

berita tentang kematian Pek Mau Lokai dan para anggota Hwa I Kaipang, dari mereka yang berhasil

lolos dari sergapan pasukan pemerintah. Mendengar akan tewasnya kakeknya, walaupun hal itu sudah

dikhawatirkannya dan juga tidak ada yang menyaksikan sendiri tewasnya kakek yang gagah perkasa

itu, Yen Yen menangis sesenggukan dengan hati penuh duka. Kematian kakeknya itu membuat ia

merasa kehilangan segalanya. Kehilangan kakek, guru, pengganti orang tuanya. Sejak kecil ia

ditinggal mati ayah ibunya dan dirawat oleh kakeknya penuh kasih sayang. Kini kakeknya tewas tanpa

ia ketahui, bahkan jenazah kakeknyapun tidak dapat ia urus. Kenangan terakhir tentang kakeknya

adalah ketika kakeknya dikeroyok banyak orang dan terpaksa ia meninggalkan kakeknya yang

terancam bahaya.

“Ahh, kenapa aku harus meninggalkannya? Aku seharusnya membantunya dan mati bersamanya…”

ia meratap.

“Yen-moi, tenanglah,” Goan Ciang menghibur. “Engkau tahu benar bahwa kita meninggalkan kakek

di sana bukan karena kita takut mati. Aku mengerti kakek benar. Kalau kita berdua nekat dan mati

bersama, lalu bagaimana dengan perjuangan? Kita disuruh tetap hidup agar kita dapat melanjutkan

perjuangan ini, menghancurkan penjajah. Mengertikah engkau, Yen-moi?”

“Tapi… toako, kong-kong telah tewas… berarti aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, aku sekarang

sebatang kara… aku tidak punya siapa-siapa lagi…”

“Hemm, lupakah engkau bahwa engkau masih mempunyai aku, Yen-moi?” Ucapan Goan Ciang itu

disertai pandang mata yang penuh kasih sayang, mendatangkan rasa haru dalam hati Hui Yen dan

iapun menubruk pemuda itu sambil menangis. Cu Goan Ciang merangkulnya dan pemuda ini maklum

bahwa dia telah menemukan pengganti mendiang Kim Lee Siang.

“Aku sudah berjanji kepada kong-kong,” bisiknya, “kita menikah setelah aku berhasil membunuh

Khabuli, dan engkau malah yang membantuku sehingga dendam itu dapat terbalas.”

“Koko… ah, koko… terima kasih…” Yen Yen terisak.

Tiba-tiba keduanya tersentak kaget mendengar suara tawa yang amat mereka kenal. Yen Yen

melepaskan diri dari rangkulan Goan Ciang dan keduanya meloncat berdiri, terbelalak memandang