7 Senjata – Golok Kumala Hijau (Seri 3)

New Picture

7 Senjata – Golok Kumala Hijau (Seri 3)

Karya : Gu Long / Khu Lung

Ebook oleh : Dewi KZ

Sumber : Tiraikasih Website

 

Bag 1. Musim semi di wilayah Kanglam.

Toan Giok adalah seorang lelaki muda. Kudanya pun dari jenis Giok-bin-cing-hoa-cong (Kuda mestika bulu hijau bermuka kumala) yang dilengkapi pelana baru yang indah. Di pinggir pelana tergantung sebilah golok bertangkai putih perak, bersarung kulit ikan hiu hitam yang bertatahkan tujuh butir zamrud,

sarung golok yang bersentuhan dengan tempat pijakan yang terbuat dari tembaga kuning

menimbulkan suara dentingan bagai irama musik.

Pakaian yang dikenakan pun dari kain yang ringan, sangat tipis, berwarna cerah dengan jahitan

yang pas dengan potongan tubuhnya, dilengkapi pula dengan sebuah cambuk kuda terbuat dari

kulit kerbau lemas buatan luar perbatasan.

Cambuk kuda buatan Bi-sia-u-li di kota Un-ciu memang berkualitas tinggi, apalagi gagang pecut

itu dihiasi pula dengan dua butir mutiara sebesar kelengkeng.

Saat ini tepat memasuki bulan tiga, saat pohon dan aneka bunga tumbuh subur di daerah

Kanglam, burung nuri dan burung walet beterbangan kian kemari.

Segulung angin musim semi berhembus membawa bau bunga Tho yang harum semerbak,

berhembus di tanah daratan, memberikan kelembutan dan kehangatan bagai napas seorang

Ketika angin berhembus, di permukaan air nan hijau pun muncul riak melingkar bagai saling

berkejaran, sepasang burung walet terbang lewat di antara pepohonan bunga Tho, hinggap di

atas pagar jembatan kecil berwarna merah darah dan bercicit seolah sedang berceloteh

membicarakan sesuatu.

Toan Giok mengendorkan tali les kudanya, membiarkan sang kuda perlahan-lahan

menyeberangi jembatan kecil itu.

Angin hangat berhembus sepoi-sepoi, mengibarkan baju suteranya yang hijau dan tipis.

Dalam saku di sisi kiri bajunya, berjajar tumpukan uang kertas baru dan tersusun rapi. Jumlah

uang yang cukup bagi seorang pemuda macam dia untuk hidup nyaman dan makmur selama tiga

Tahun ini usianya baru sembilan belas tahun, baru datang dari utara yang sepanjang tahun

dilapisi salju tebal. Tak heran ia begitu terpana menyaksikan keindahan daerah Kanglam yang

indah menawan.

Toan Giok menarik napas dalam-dalam, ia merasa tubuhnya seringan burung walet. Begitu

ringannya hingga seolah hendak terbang di angkasa.

Tapi sayang, dia pun tidak terbebas dari masalah yang mengganjal hatinya.

 

Tionggoan Toa-hau (Hartawan kaya dari Tionggoan) Toan Hui-him suami-istri selalu mendidik

putranya dengan ketat, tak bakal melepas putra tunggalnya datang seorang diri ke wilayah

Kanglam tanpa sebab yang jelas.

Tentu saja kedatangan Toan Giok pun membawa sebuah tugas berat.

Tugas yang diembannya adalah tiba di perkampungan Po-cu-san-ceng (Perkumpulan intan

permata) sebelum bulan empat tanggal lima belas untuk menyambangi saudara angkat ayahnya

semasa muda dulu, Kanglam Tayhiap Cu Goan, Cu-jiya dan menyampaikan ucapan panjang umur

Dia membawa golok kumala hijau, golok warisan keluarga Toan sebagai kado ulang tahun,

kemudian membawa pulang intan permata keluarga Cu.

Perkampungan Po-cu-san-ceng memiliki sebutir mutiara paling berharga, dia adalah putri

kesayangan Cu Jiya.

Tahun ini gadis itu baru berusia tujuh belas tahun, dia bernama Cu Cu.

Cu-jiya melanggar kebiasaan dalam merayakan ulang tahunnya kali ini, tak lain karena ingin

memilihkan calon suami bagi putrinya.

Keluarga Cu di wilayah Kanglam sudah tersohor sebagai keluarga persilatan yang ternama. Cutoasiocia

selain terkenal sebagai gadis cantik, dia pun terhitung seorang gadis pintar.

Ketika mendengar kabar ini, para jago muda persilatan yang belum menikah berbondongbondong

mendatangi Po-cu-in Ceng, mereka harus tiba sebelum bulan empat tanggal lima.

Apakah Toan Giok akan terpilih sebagai menantu keluarga Cu? Apakah dia akan berhasil

memboyong pulang mutiara yang tak ternilai harganya itu? Sejujurnya, pemuda ini tidak yakin.

Dan inilah ganjalan yang selalu menghantui pikirannya.

Namun berada di wilayah Kanglam yang begitu hangat, dengan aneka ragam bebungaan yang

indah menawan, ganjalan hati apa yang bisa membuat murung seorang pemuda berusia sembilan

belas tahun? Ganjalan mana.yang tak bisa terurai?

Memang benar masih ada satu hal yang membuatnya tak bebas bergerak. Di saat hendak

meninggalkan rumah, ayahnya dengan wajah serius dan mimik kereng berulang kali berpesan

kepadanya, agar jangan lupa ketujuh pantangan yang tak boleh dilanggar.

Hingga kini dia seolah masih mendengar suara ayahnya yang berpesan wanti-wanti dengan

nada tegas, “Dengan kecerdasan dan ilmu silatmu, untuk berkelana dalam dunia persilatan

memang sudah lebih dari cukup, tapi ada beberapa hal yang harus kau perhatikan dan jangan

sekali-kali kau lakukan. Kalau tidak, aku berani jamin kau pasti akan segera menjumpai berbagai

kesulitan.”

“Inilah pelajaran yang bisa kuberikan berdasarkan pengalamanku selama puluhan tahun, kau

harus mengingatnya dalam hati.”

Sejak kecil Toan Giok memang bocah penurut. Tak satu pun dari beberapa pantangan itu

berani dia lupakan. Setiap pagi setelah bangun tidur, dia akan selalu mengingatnya.

1. Dilarang mencari gara-gara atau mencampuri urusan orang lain.

2. Dilarang berkenalan dengan teman yang masih asing.

3. Dilarang bertaruh uang dengan orang asing.

4. Dilarang mengikat permusuhan dengan para pendeta, Tosu maupun pengemis.

5. Dilarang memperlihatkan uang pada orang lain.

6. Dilarang percaya begitu saja perkataan orang lain.

7. Dilarang bergaul atau berhubungan dengan wanita asing.

Toan Giok terhitung bocah yang gampang menarik perhatian orang, mudah menarik simpati

orang lain. Selain tampan, gagah dan sopan, dia pun gemar tertawa, pandai bergurau dan

 

senyumannya sangat manis. Terlebih pakaiannya indah dan mewah, kuda tunggangannya dari

jenis jempolan. Aneh, bila para gadis tak suka pemuda semacam ini.

Sebenarnya hal inilah merupakan kelebihan yang seharusnya paling dibanggakan Toan Hui-him

Toan-loyacu, tapi sekarang justru berubah menjadi bagian paling dikuatirkan.

“Perempuan pada dasarnya merupakan sumber bencana, apalagi dalam dunia persilatan. Tak

terhitung jumlah perempuan jahat yang berkelana. Bila kau tersengat salah satu saja di antaranya,

maka kesulitan yang kau hadapi tak bakal ada habisnya.”

Entah sudah berapa puluh kali Toan Hui-him mengulang perkataan itu kepada putranya, lima

puluh kali pun lebih. Bila kau sudah begitu sering mendengar nasehat semacam ini, aneh bila Toan

Giok bisa melupakannya begitu saja.

Bukankah begitu?

Bila keindahan wilayah Kanglam diberi nilai sepuluh, maka paling tidak nilal tujuh untuk kota

Kalau dibilang keindahan kota Hangciu bernilai sepuluh, maka nilai tujuh berada di telaga Seeouw.

Ada orang mengatakan keindahan telaga See-ouw bagaikan sebuah lukisan, tapi lukisan

manakah di dunia ini yang bisa memperlihatkan keindahan alam di telaga See-ouw?

Bila kebetulan lewat di kota Hangciu, alangkah sia-sianya hldupmu bila tidak berpesiar ke telaga

See-ouw. Bila kau telah singgahi telaga See-ouw, tapi tidak mencicipi ikan “Song-so-hi” di rumah

makan Sam-ya-wan, kau bakal lebih kecewa lagi.

Kini Toan Giok kebetulan melewati kota Hangciu dan mengunjungi telaga See-ouw, tentu saja

dia tak ingin meninggalkan tempat itu dengan kecewa.

Yang dimaksud ikan Song-so-hi atau ikan enso Song adalah ‘ikan masak cuka.’

Begitu ikan dibunuh langsung dikukus. Bila telah matang, baru dihidangkan dengan disiram

bumbu. Oleh karena itu saat hidangan diantar ke meja, masakan itu masih panas mengepul. Saat

itulah kau bisa merasakan daging ikan yang legar, lembut dan lezat.

Sama seperti masakan Ma-po-tou-po dari kota Seng-tok, Ikan cuka disebut ikan enso Song

karena cara memasak ikan itu merupakan ciptaan seorang perempuan marga Song pada zaman

Song selatan.

Sayang kedalaman air di telaga See-ouw kelewat dangkal, tiga jengkal di bawah permukaan air

berupa lumpur, ikan yang hidup dalam air telaga semacam ini tak mungkin bisa tumbuh besar.

Lagi pula di wilayah telaga Se-ouw dilarang menangkap ikan, karena akan membuat air telaga

yang hijau menjadi kotor dan keruh, bukankah hal ini sama seperti merusak taman dengan aneka

bunga yang indah? Seperti membakar Khim untuk memasak daging bangau? Sangat merusak

Oleh sebab itu walaupun ikan cuka tersohor karena telaga Se-ouw, namun ikan itu bukan hasil

telaga itu, melainkan didatangkan dari desa sebelah barat. Khususnya desa Thong-si, yang bukan

saja bunga Bwenya indah, ikannya pun sedap.

Di tempat ini boleh dibilang dimana-mana penuh dengan kolam ikan. Dasar perahu yang

memuat ikan menuju kota terbuat dari anyaman bambu, bentuknya lebih besar dari perahu pesiar

di telaga See-ouw. Ikan yang berada di dasar perahu seakan sedang berenang dalam air sungai.

Perahu-perahu itu berlabuh di luar Bu-lim-bun, bersandar di tepi tanggul kecil, kemudian para

penjual ikan dengan kaki telanjang memikul tong-tong berisi ikan memasuki kota.

 

Gentong air itu dipenuhi air sungai, keranjang bambu di atas tong air dipenuhi tiram hijau yang

masih segar dan hidup.

Rumah makan di sepanjang telaga pun memindahkan ikan yang baru dikirim itu ke dalam

sebuah keranjang bambu besar dan dimasukkan ke dalam telaga, menunggu kedatangan para

tamu yang ingin menikmati kelezatan ikan cuka.

Hampir semua rumah makan di telaga See-ouw menyediakan ikan cuka, seperti Hoa-kongkoan-

hi di atas jembatan Teng-hiang-kiau, rumah makan Ngo-liu-kit di atas pintu air Lo-ko-ceng.

Semuanya menjual ikan dengan cara begitu.

Hanya rumah makan Sam-ya-wan di pintu Yong-kim-bun yang lain daripada yang lain.

Yang paling menarik perhatian Toan-loyacu adalah rumah makan Sam-ya-wan. Setiap kali

berkunjung ke telaga Se-ouw, dia pasti akan berkunjung ke rumah makan itu, memotong

beberapa ekor ikan segar dan dikukus untuk teman minum arak.

Itulah sebabnya Toan Giok pun mendatangi rumah makan Sam-ya-wan.

Rumah makan itu terletak di tepi telaga, sejauh mata memandang telaga nampak hijau dan

jernih, pagar kayu sekeliling rumah setinggi satu meter mengelilingi rumah makan

Di sisi pagar merah tersedia puluhan meja makan yang teratur rapi, di atas setiap meja tersedia

umpan dan alat pancing.

Semua ikan dilepas dalam telaga yang dikelilingi pagar bambu. Bila ingin makan ikan, maka

silakan memancing sendiri.

Selain hasil tangkapan sendiri rasanya selalu lebih segar dan gurih.

Toan Giok berhasil memancing dua ekor ikan, dia minta arak hangat dan menikmatinya sambil

menikmati keindahan alam telaga. Tanpa ikan pun sudah terasa nikmat, apalagi dengan ditemani

hidangan ikan.

Karena itu belum habis dua poci arak, dia telah memesan lagi dua poci.

Toan Hui-him tidak pernah melarang dia minum arak, sebab setiap orang tahu, takaran minum

Toakongcu keluarga Toan ini luar biasa hebatnya.

Siapa pun yang ingin melolohnya hingga mabuk, pada hakekatnya sama sulitnya seperti ingin

menenggelamkan seekor ikan dalam air.

Tempat arak berupa sebuah tabung kecil terbuat dari tanah, tabung berisikan enam belas tahil

Empat tabung berarti empat kati, arak yang diteguk Toan Giok adalah arak San-liang yang

harganya satu kali lipat lebih mahal dari arak wangi lain.

Arak semacam ini memang khusus disediakan untuk tamu yang datang dari jauh. Sekalipun

harganya satu kali lipat lebih mahal dari arak wangi lain, belum tentu kualitasnya sebagus arak

wangi itu.

Arak Tiok-yap-cing yang bagus adalah arak yang tawar rasanya. Ketika masuk mulut terasa

lembut, tapi pukulan belakangnya sangat kuat, baru dua-tiga mangkuk masuk perut, kau sudah

dapat merasakan keriangan yang luar biasa.

Dia amat menyukai perasaan semacam ini, dia siap menghabiskan dua tabung arak itu,

kemudian memesan dua tabung lagi dan terakhir baru memesan semangkuk udang goreng cuka

yang lezat sebagai penghilang rasa mabuk.

Konon bakmi yang dijual di sini pun tidak kalah dengan bakmi buatan rumah makan Gui-bukoan

di simpang Koan-keng-go.

 

Kebanyakan orang Hangciu pandai minum arak. Mereka terbiasa minum arak memakai

mangkuk, satu mangkuk berisi empat tahil, biasanya meneguk enam-tujuh mangkuk tidak

terhitung sesuatu yang aneh.

Tapi kalau sekali teguk menghabiskan lima-enam kati, hal ini baru rada aneh, apalagi yang

minum adalah seorang pemuda yang usianya baru delapan-sembilan belas tahun.

Sudah mulai banyak orang memperhatikan dia, salah seorang di antara mereka yang

melototkan mata paling besar adalah seorang pemuda berwajah putih, berjubah panjang ungu

muda yang kebetulan duduk di samping mejanya.

Usia pemuda ini sekitar dua tahun lebih tua dari Toan Giok, dia mempunyai mata besar, hidung

mancung dan dandanan sangat mewah, halus dan rapi, tampaknya orang ini pun sama seperti

Toan Giok, berasal dari keluarga kaya.

Yang lebih hebat lagi adalah di atas mejanya terletak juga beberapa tabung arak yang telah

kosong. Jelas takaran minum pemuda ini pun sangat hebat.

Orang dengan takaran minum yang hebat biasanya menaruh simpatik pada orang lain dengan

takaran minum yang hebat pula.

Tiba-tiba ia melemparkan senyuman ke arah Toan Giok.

Toan Giok tidak memandangnya.

Padahal sejak semula ia sudah memperhatikan pemuda bermata besar itu, agaknya dia pun

menaruh simpatik terhadap orang itu.

Walaupun Toan kongcu baru terjun ke dalam Kangouw, namun dia tidak bodoh, dia pun tidak

buta. Kenyataan dia jauh lebih cerdas dari kebanyakan orang, matanya jauh lebih jeli dari mata

kebanyakan orang.

Sekilas pandang ia sudah tahu pemuda bermata besar itu bukan lelaki tulen, dia adalah seorang

nona yang sedang menyamar sebagai lelaki.

“Sepanjang jalan dilarang bergaul atau berhubungan dengan wanita asing”.

Toan Giok tak pernah melupakan nasehat ini, dia pun tak berani melupakannya. Selama ini dia

memang sangat penurut,

Sebagai anak berbakti dan menurut perkataan orang-tua.

Oleh sebab itu tatapan matanya dialihkan ke arah sebuah perahu pesiar yang berada di

Perahu pesiar itu baru saja meluncur keluar dari balik pohon I.iu yang rindang. Perahu dengan

atap hijau pupus, pagar merah dan tirai jendela bambu Siang-hui-tiok yang tergulung letengah di

depan jendela.

Seorang perempuan cantik bak bidadari sedang duduk di tepi jendela, mempermainkan seekor

burung kakaktua putih dalam sangkar.

Dengan tangan sebelah menyangga dagu, pergelangan tangannya tampak bulat halus, jarinya

lentik indah, tapi sayang kerutan alis matanya seakan terlapis perasaan sedih yang tipis, seolah ia

sedang menguatirkan masa muda yang segera akan berlalu, seakan merasa sedih karena berpisah

dengan sang kekasih.

Dia pun seorang wanita, hanya bedanya wanita itu agak jauh dari tempat duduknya, paling

tidak wanita itu jauh lebih aman daripada wanita yang duduk di samping mejanya.

Yang jelas, tak mungkin perempuan itu dapat terbang melampaui permukaan telaga sejauh

lima-enam tombak dan datang mencari gara-gara padanya.

 

Berbeda dengan perempuan yang duduk di samping mejanya. Bila mau, dia bisa datang

dengan mudahnya.

Dan kini, tampaknya perempuan itu memang berniat begitu.

Mendadak sambil menjura, sapanya, “Heng-tay, selamat berjumpa!”

Toan Giok mencoba menengok ke belakang, lalu menengok ke samping, seolah tidak tahu

orang yang disapa pemuda itu adalah dirinya.

“Yang kumaksud Heng-tay adalah kau,” kembali nona kecil bermata besar itu menyapa sambil

tertawa cekikikan.

Ketika hendak tertawa, hidungnya nampak berkerut lebih dulu, bagaikan riak ombak di atas

permukaan telaga yang terhembus angin.

Sebelum tertawa pun nona itu sudah tampak amat menarik, apalagi setelah tertawa,

kecantikannya bisa membuat kaum lelaki terjun dari loteng tanpa protes.

Dalam keadaan begini, Toan Giok mau berlagak pilon pun sudah tak mungkin, terpaksa dia ikut

tertawa. Sahutnya sambil tersenyum, “Jadi kau sedang mengajakku berbicara?”

“Kalau bukan dengan kau, lalu aku sedang bicara dengan siapa?” sahut si nona sambil

membelalakkan mata dan tertawa.

“Boleh tahu ada urusan apa?” tanya Toan Giok sesudah mendehem.

“Sreeet!”, nona itu mementang kipas bertangkai emasnya dan menggoyangnya perlahan,

katanya, “Daripada minum seorang diri, apa salahnya kita minum bersama? Apalagi hari begini

indah, mengapa kau tidak pindah saja ke mejaku dan kita mabuk bersama?”

Seorang buta pun dapat melihat kalau dia adalah seorang gadis, tapi nona itu justru berlagak

seolah-olah dia adalah lelaki tulen.

Toan Giok menghela napas panjang. “Sebetulnya Cayhe pun berkeinginan begitu,” sahutnya,

“Tapi sayang kita tak saling kenal, apalagi antara laki dan perempuan ada bedanya”

Nona itu tertegun, sepasang matanya terbelalak melotot, katanya lantang, “Kau bilang laki dan

perempuan ada bedanya! Memangnya kau seorang wanita?”

Kembali Toan Giok tertawa, tak tahan serunya, “Tentu saja kau pun bisa lihat kalau aku bukan

perempuan.”

“Kalau kau bukan perempuan, lalu siapa yang kau maksud perempuan?”

Kau!”

Nona cilik itu memandangnya beberapa saat dengan mata melotot besar sambil menggeleng

gumamnya, “Wah, wah, ternyata mata orang ini penyakitan!”

Dengan tangan sebelah menggoyang kipas, tangan lain minum secawan arak, sekali tenggak ia

habiskan isinya.

Nona itu minum arak, dia memang sama sekali tak mirip seorang perempuan.

Toan Giok menghela napas.

Sekarang tepat musim semi, tahun ini usianya baru sembilan belas tahun. Masa yang paling

gampang bagi seorang pemuda untuk tergoda hatinya.

Sejujumya dia ingin sekali pindah ke sana. Tapi sayang, bagaimana pun juga sukar baginya

untuk melupakan tampang ayahnya yang sangar.

Ternyata memang tak gampang untuk menjadi seorang anak yang penurut dan berbakti.

Matahari senja menyinari seluruh langit, membuat telaga See-ouw tampak lebih indah dan

Pohon Liu nan hijau, teratai merah yang setengah mekar, pegunungan nun jauh di sana yang

tampak remang. Semuanya indah di atas permukaan air telaga yang bermandikan cahaya emas

Entah siapa di kejauhan sana, membawakan lagu senandung merdu:

 

“Nona dusun bertelanjang kaki, turun kesawah memotong padi.

Baru terkumpul setumpuk rumput, berbaring nyenyak di tepi kali.

Pohon Liu menutupi wajahnya, kaki putih kecil nan mungil.

Tiga penunggang kuda datang mendekat, wajah mereka penuh senyuman.

Seorang penunggang kuda melompat turun, sambil termangu menatap kakinya.

Seorang penunggang lain bernyali baja, ia mendekat mengecup bibirnya.

Orang ketiga bermain opera, semua lagu dicatat dalam kitab.

Aduh nona cilik yang nestapa, mengapa kau tertidur nyenyak?”

Irama lagu yang indah, syair yang indah, dipenuhi nada godaan dan rayuan.

Mungkinkah seorang nona dusun yang kasmaran sedang menggunakan irama lagu untuk

memberi kisikan kepada kekasihnya agar dia lebih berani?

Tak tahan sekali lagi Toan Giok menghela napas panjang. Ia semakin tak berani melirik si nona

cilik di sampingnya.

Dia merasa dirinya sama sekali tak berguna. Kini dia tak ingin menikmati arak lebih lama lagi.

Rencananya, begitu udang goreng dihidangkan, dia akan melahapnya kemudian mencari tempat

untuk beristirahat.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul sebuah sampan kecil menerobos ombak dan melaju mendekat

dengan kecepatan tinggi.

Di atas sampan itu berdiri empat orang, empat Hwesio beralis tebal, bermata besar, bertubuh

kekar dan berkepala gundul klimis.

Biarpun angin yang berhembus membuat sampan itu terombang-ambing tiada hentinya, namun

keempat orang Hwesio itu seolah terpantek mati di ujung geladak, sama sekali tak bergerak.

Sekilas pandang, Toan Giok tahu mereka adalah jago-jago silat, bahkan memiliki kuda-kuda

yang sangat tangguh.

Di dunia Kangouw, golongan yang paling sulit dihadapi adalah hweesio, tosu dan pengemis.

Sebab mereka memiliki ilmu silat yang tangguh atau memiliki pengaruh yang luas.

Dalam suasana yang begini indah, mau apa kawanan pendeta itu muncul disitu? Bahkan

tampaknya hendak membuat huru-hara?

Toan Giok merasa heran, tapi sekarang dia putuskan untuk tidak mencampuri urusan itu.

“Gara-gara biasanya timbul karena banyak mulut, kesulitan muncul karena banyak mencampuri

urusan orang. Bila ingin selamat sepanjang perjalanan, lebih baik jangan membuat gara-gara dan

mengurusi masalah orang.”

Ketika Toan Giok selesai meneguk mangkuk arak yang terakhir, ia tinggal menunggu pesanan

bakminya, kemudian pergi dari situ.

“Blaam!”, ternyata sampan cepat itu bergerak lurus ke di i in langsung menabrak perahu pesiar

Begitu keras tabrakan terjadi, membuat perempuan cantik yang sedang duduk di samping

jendela itu nyaris terjerembab.

Keempat Hwesio itu sudah melompat naik ke atas perahu pesiar. Dengan wajah bengis dan

garang bagai malaikat jahat, menyerbu masuk ke dalam kapal, lalu sambil menuding hidung

perempuan itu mereka mencaci-maki kalang-kabut, sayang tidak terdengar apa yang mereka

Bukan hanya kakaktua putih dalam sangkar yang melompal lompat sambil menjerit karena

ketakutan, perempuan itu pun tampak begitu takut hingga sekujur badannya gemetar keras,

wajahnya pucat-pias bagai mayat, keadaannya amat mengenaskan.

 

Kawanan Hwesio itu kasar sekali, mereka seakan tak mengerti mengasihani seorang gadis

lembut, malah salah seorang di antaranya telah mementang tangannya yang besar bagai kipas,

seolah hendak menjambak rambutnya.

Tidak jelas darimana datangnya kawanan pendeta bengis itu, pada hakikatnya ulah mereka

jauh lebih buas dari penyamun di tengah siang hari bolong. Di bawah pandangan mata banyak

orang, ternyata mereka begitu berani menganiaya seorang wanita yang sendirian dan patut

dikasihani itu.

Bila urusan semacam ini pun tidak dicampuri, buat apa lagi membicarakan soal membantu

kaum lemah, membela yang benar dan menghancurkan yang jahat?

Toan Giok merasakan hawa panas menggelora dalam dadanya. Tanpa pikir panjang lagi, dia

ambil golok di atas meja, melompat bangun dan keluar dari pagar kayu.

Di luar pagar merupakan permukaan telaga, tampaknya dia segera akan tercebur ke dalam air,

si nona bermata besar itu nampak sangat terperanjat, saking kagetnya dia sampai menjerit

Siapa tahu, biarpun Toan Giok masih muda, ilmu silatnya sangat hebat. Sejak awal, dia telah

memperhitungkan tempat berpijak.

Terlihat ujung kakinya menutul di atas pagar bambu yang dipakai untuk keramba ikan,

kemudian badannya melambung ke udara, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dipergunakan

adalah Yan-cu-sam-jau-sui (Burung walet mendayung air tiga kali), sejenis ilmu Ginkang tingkat

Belum habis jeritan kaget si nona kecil bermata besar itu, Toan Giok telah berjumpalitan di

udara. Dengan gerakan “Dada ramping menembus awan”, kemudian disusul Peng-sah-lok-eng

(Manyar hinggap di pasir datar), tahu-tahu dia sudah melayang turun di atas perahu pesiar itu.

Dari empat Hwesio, salah satu di antaranya tetap tinggal di luar ruang perahu sambil berjagajaga.

Begitu melihat ada orang mendekat, dengan wajah seram hardiknya, “Siapa kau? Mau apa

datang kemari?”

Wajah Hwesio ini dipenuhi burik, sinar matanya memancarkan napsu membunuh. Sekilas

pandang, dapat diketahui kalau dia bukan seorang pendeta yang saleh.

“Kau adalah seorang pendeta? Atau jangan-jangan perampok?” seru Toan Giok sambil menarik

muka juga.

Seolah baru teringat akan dandanan sendiri, buru-buru pendeta itu merangkap tangan di depan

dada seraya berkata,

“Omitohud, masa seorang pendeta pun jadi perampok?”

“Kalau memang bukan perampok, kenapa lebih buas dari seorang perampok, bahkan perampok

benaran pun tak akan menganiaya perempuan.”

Hweesio Itu jadi gusar, bentaknya, “Kurangajar, apa hubunganmu dengan perempuan itu?

Berani kau mencampuri urusan kami?”

“Urusan lain mungkin aku enggan, tapi urusan ini aku tetap akan mencampurinya, mau apa

kau?” tantang Toan Giok sambil membusungkan dada.

Tiba-tiba dari balik ruangan perahu terdengar suara perempuan cantik itu menjerit, “Tolong …

tolong … kawanan pendeta buas itu akan berbuat tak senonoh!”

Meledak hawa amarah Toan Giok setelah mendengar teriakan Itu. Sambil tertawa dingin,

serunya, “Aku lihat kalian memang kawanan Hwesio bangsat! Besar amat nyali kalian.”

 

“Nyalimu pun cukup besar, berani bersikap kurangajar di hadapanku!” balas Hwesio itu gusar:

Sambil bicara, sepasang tangannya mulai beraksi, tiba-tiba ia memperkokoh kuda-kudanya, lalu

sepasang kepalannya dihantamkan ke pinggang dan tulang iga Toan Giok. Jurus yang digunakan

mirip Hu Hou lo-han-kun dari biara Siau-lim.

Sayang Toan Giok bukan harimau, biarpun Lo-han-kun dari biara Siau-lim, ternyata tak mampu

menundukkan dirinya.

Sedikit dia miringkan badan, tangannya sudah berbalik mencengkeram urat nadi sang pendeta,

lalu dengan teknik “Empat tahil menyingkirkan ribuan kati”, dia menarik lalu mendorong.

Sungguh hebat teknik meminjam tenaga untuk memukul balik lawan. Memang inilah lawan

tanding ilmu pukulan aliran keras, semakin besar tenaga yang digunakan Hwesio itu, semakin

parah ia jatuh terjerembab.

Tenaga pukulan Hwesio itu memang luar biasa hebatnya, sayang tiba-tiba saja dia kehilangan

keseimbangan, tubuh besarnya yang berbobot ratusan kati itu mendadak terbang ke udara, lalu …

“Plung”, tercebur ke dalam telaga.

Terdengar suara tepuk tangan bergema dari tepi telaga, entah nona kecil bermata besar itu

atau orang lain.

Toan Giok tak sempat berpaling karena sudah muncul dua orang Hwesio lagi dari dalam ruang

Gerakan tubuh kedua orang itu cekatan, gerak serangan pun amat cepat, tahu-tahu dua buah

kepalan sebesar martil telah tiba di hadapan Toan Giok. Dari suara pukulannya yang menderuderu,

bisa diduga-tenaga serangan yang digunakan maha dahsyat.

Sayang musuh yang mereka hadapi adalah putra pertama Toan Hui-him, jago nomor satu di

daratan Tionggoan. Bukan saja ilmu silatnya tidak lebih lemah dari ayahnya, bahkan jauh

melebihi siapa pun.

Apalagi ilmu meringankan tubuhnya, bukan cuma enteng dan lincah, bahkan tampak anggun

dan indah.

Begitu menghimpun tenaga dalam, tiba-tiba dengan gaya “Burung belibis membalikkan badan”,

ia sudah melayang turun di belakang kedua Hwesio itu.

Ternyata Hwesio-hwesio itu cukup tangguh, perubahan jurus mereka pun tak lambat, cepat

badannya berbalik sambil mengeluarkan gerakan Lo-han-to-ih (Lo-han melepas pakaian),

kepalannya segera disodok ke muka melepaskan pukulan balasan.

Sayang gerakan mereka kelewat lambat.

Sarung golok yang berada di tangan Toan Giok sudah mampir dulu di atas jalan darah Ciankeng-

hiat di bahu kirinya.

Baru saja dia membalik badan, bagian yang merupakan titik keseimbangan telah kena

dihantam, kontan badannya tak dapat berdiri tegak. Dengan sempoyongan, dia mundur sejauh

tujuh delapan langkah dan ..”Blaaam!” menumbuk tiang di atas perahu hingga patah jadi dua

Gerakan hweesio yang satunya lagi jauh lebih lamban dan payah.

Ketika sekali lagi Toan Giok mengulapkan tangan, maka “Plung, plung!”, kedua orang Hwesio

itu pun sudah tercebur ke dalam air.

Sisanya yang soorang lagi baru saja melangkah keluar dari ruang perahu, paras mukanya

kontan berubah hebat. Untuk sesaat dia bengong, haruskah turun tangan? Atau lebih baik berdiam

diri saja?

 

Mimpi pun dia tak menyangka pemuda yang lemah-lembut mirip pelajar itu ternyata memiliki

ilmu silat yang menakutkan.

Pada hakekatnya belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu silat

sehebat itu.

Saat itu Toan Giok pun sedang mengawasinya.

Usia Hwesio itu sedikit lebih tua dibanding kawan-kawannya, tampangnya juga lebih bersih dan

tahu aturan, yang paling penting adalah dia tak ikut memukul orang.

Tak aneh bila sikap Toan Giok terhadapnya cukup sopan dan sungkan, ujarnya sambil

tersenyum, “Teman-temanmu sudah kabur, masa kau tidak ikut pergi?”

Hwesio Itu manggut-manggut, setelah menghela napas panjang tiba-tiba tanyanya, “Boleh

tahu, Sicu she apa?”

“Aku she Toan.”

“Siapa namamu?”

“Toan Giok!”

Sekali lagi Hwesio itu menghela napas.

“Kepandaian silat Toan -sicu memang sangat hebat,” pujinya.

“Ah, hanya begitu saja, tak perlu dipuji”

Mendadak hwesio itu menarik wajah dan berkata lagi dengan nada ketus, “Sayang-nya,

walaupun Toan-situ memiliki kepandaian silat yang lebih hebat pun tak ada gunanya, sebab

setelah mencampuri urusan ini, jangan harap kau bisa mundur dari persoalan.”

“0, ya?”

“Masa Sicu tak dapat menduga berasal darimana Pinceng sekalian?”

“Setahuku, Hwesio tentu keluar dari biara, kecuali kalian adalah bandit”

Dengan gemas sekali lagi Hwesio itu melotot sekejap ke arah Toan Giok, kemudian tanpa

mengucapkan sepatah kata pun, dia menceburkan diri ke dalam telaga.

Toan Giok tertawa tergelak, gumamnya, “Ada rezeki dicicipi bersama, ada masalah dipikul

berbareng, tampaknya hwesio ini cukup setia kawan.”

Setelah mengebaskan baju, dia hendak beranjak pergi dari situ, namun dia pun ingin

menghampiri perempuan cantik berbaju putih itu, ingin bertanya apakah dia terluka.

Sementara dia masih ragu dan tak dapat mengambil keputusan, tiba-tiba dari balik ruang

perahu terdengar seseorang berseru, “Toan-kongcu, harap tunggu sebentar.”

Suaranya ibarat kicauan burung Hoa-bi. Begitu enteng, renyah, empuk dan manis, jauh

berbeda dibandingkan saat dia berteriak minta tolong tadi.

Toan Giok segera berdehem berulang kali, tentu bukan mendehem sungguh-sungguh, memang

inilah penyakit menular Toan-loyacu.

Setiap kali tenggorokan Loyacu tersumbat riak kental, apalagi hendak menyampaikan pesan

penting, dia selalu mendahului dengan deheman beberapa kali.

Jadi tak aneh jika Toan-kongcu pun tertular penyakit ayahnya, dia merasa kurang puas bila

tidak mendehem lebih dulu sebelum mulai bicara, sebab cara ini memang cara yang paling jitu.

Bag 2. Perempuan cantik dalam perahu

Siapa tahu perempuan cantik berbaju putih itu berjalan keluar lebih dulu. Sambil berpegangan

pada pintu ruangan, ia menatapnya, menatap dengan matanya yang indah dan penuh perhatian,

 

lalu dengan suara halus dan lembut, tegurnya, “Toan- kongcu jangan-jangan kau masuk angin?

Kebetulan aku punya koyo cap pipa, paling bagus untuk mengobati batuk.”

Kini Toan Giok tak berani mendehem lagi, bersuara sedikit pun tak berani, ia tertawa paksa.

“Ah, tidak usah tidak usah Cayhe baik.. baik sekali.”

“Kongcu, aku tahu kau memang baik sekali,” ucap gadis cantik itu sambil tersenyum.

Merah padam wajah Toan Giok karena jengah, selanya, “Aku bukan bermaksud begitu,

maksudku.. maksudku, aku tidak berpenyakit.”

Senyuman gadis berbaju putih itu makin manis dan menghanyutkan.

“Oh, alangkah baiknya bila kau tak berpenyakit. Dalam perahu, aku masih menyimpan sebotol

Tiok-yap-cing usia tua”

“Tidak usah, tidak usah sungkan,” tukas Toan Giok cepat,

“Cayhe akan mohon diri.”

“Bila kongcu ingin pergi, tentu saja aku tak berani menghalangi,” perlahan gadis berbaju putih

itu menundukkan vpala, ”hanya saja, semisal Kongcu sudah pergi dan kawanan hwesio jahat itu

balik lagi, apa yang harus kuperbuat?”

Toan Giok tak dapat menjawab, ia terbungkam.

Kalau ingin jadi orang baik, alangkah baiknya jadi orang baik hingga akhir.

Tiba-tiba dari tepi telaga terdengar seseorang berteriak,

“Kongcu yang berada di atas perahu, uang arakmu total satu tahil tujuh rence dan belum

dibayar ….”

Sambil tertawa, gadis cantik berbaju putih itu segera menyahut, “Uang arak kongcu ini, biar

aku ….”

“Tidak usah, kau tak perlu sungkan, aku punya uang,” potong Toan Giok segera.

Minta cewek membayar rekening araknya? Oh, suatu kejadian yang sangat memalukan.

Memangnya Toan Giok turun tangan menolongnya hanya gara-gara ingin dibayari?

Jelas hal ini sangat memalukan, dia tak ingin orang lain salah-paham, apalagi salah

mengartikan tujuan pertolongannya.

Toan Giok segera mengeluarkan kantong uangnya.

Karena gugup, dia jadi kurang hati-hati, bukan hanya uang kertas dan kepingan daun emasnya

yang jatuh berceceran di lantai geladak, bahkan golok kumala hijau pun ikut terjatuh.

Masih untung gadis berbaju putih itu tidak terlalu menaruh perhatian, sepasang matanya yang

jeli seakan sudah terpikat oleh sepasang lesung pipi di wajah Toan Giok dan begitu terpikat

sampai dia segan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

***

Arak Tiok-yap-cing memang terbukti arak bagus. Bukan hanya warnanya membuat mata jadi

lega, begitu masuk ke mulut, rasanya halus, lembut dan hangat, seperti lidah kekasih

yang dijulurkan ke dalam bibir.

Kebetulan gadis cantik berbaju putih sedang menjulurkan lidahnya yang mungil, sedang

menjilat bibir sendiri.

Buru-buru Toan Giok menundukkan kepala sambil menghabiskan arak dalam cawannya,

sekarang dia baru teringat, ternyata dalam sekali gebrakan, dia sudah melanggar beberapa

pantangan sekaligus. Pantangan pertama, keempat, kelima dan ketujuh. Empat pantangan besar

Yang lebih parah lagi, entah sejak kapan perahu pesiar itu telah berlayar menuju ke tengah

telaga. Saat ini, dia sudah tak sempat lagi pergi meninggalkan tempat itu.

 

Apalagi sekarang dia telah menganggap dirinya sebagai teman, walau pun dia sendiri belum

tahu siapa nama gadis itu.

“Aku she Hoa, bernama Ya-lay”

Hoa Ya-lay! Sebuah nama yang indah, sebuah nama yang menawan.

Cahaya rembulan yang indah ditambah suasana yang indah dan arak yang wangi.

Segala sesuatunya begitu indah dan menawan, bagaikan hidup dalam alam nirwana.

Toan Giok menghela napas, ia putuskan untuk hidup santai hari ini.

Setiap orang memang butuh waktu untuk hidup santai, bukankah begitu?

Apalagi yang dia lakukan hari ini bukan terhitung perbuatan jahat, siapa bilang menolong orang

itu perbuatan jahat? Siapa bilang minum arak itu perbuatan jahat?

Dengan cepat Toan Giok memaafkan diri sendiri.

Bukankah memaafkan diri sendiri jauh lebih mudah daripada memaafkan orang lain?

Oleh sebab itu, Toan Giok tak ingin mabuk pun akhirnya mabuk juga.

***

Bulan Purnama.

Rembulan di telaga Se-ouw, tampak sebuah perahu pesiar berlabuh ditepi pantai penuh pohon

Yang-liu.

Kemana orangnya?

Orangnya masih mabuk, terlelap tidur.

Toan Giok hanya tahu dia digotong turun dari atas perahu pesiar, digotong orang menuju ke

sebuah rumah yang dipenuhi harumnya bunga, berabring diatas pembaringan yang lebih harum

dari bunga, ia tak bisa membedakan apakah sadar atau sedang bermimpi?

Disampingnya seakan terdapat seseorang, orang itupun lebih harum dari bunga, apakah

harumnya bunga sedap malam (Ya-lay-hiang)?

Dia tak bisa membedakan dengan jelas, diapun enggan membedakan.

Mau mimpi tidak masalah, mau sadar pun bukan masalah, yang penting perasaan melayang,

perasaan samar-samar memang sangat nikmat. Sepanjang hidup, berapa orang yang bisa

merasakan kenikmatan seperti ini?

Malam itu sangat hening, suasana malam amat dingin.

Hanya angin yang berhembus di luar jendela, hanya bayangan bunga yang bergoyang dibalik

daun jendela.

Dari sisi tubuhnya seolah ada orang memanggil dengan lembut, “Toan kongcu, Giok long!”

Toan Giok tidak menjawab, dia tak ingin menjawab, tak ingin mendusin dari impiannya.

Tapi ia dapat merasakan orang yang berada disisinya mulai membalikkan badan, kemudian

terasa ada sebuah tangan yang harum bagai bunga menjulur, seakan sedang memeriksa dengus

Napasnya memang teratur, halus dan berirama.

Kemudian tangan itu mulai membelai wajahnya. Setelah itu, ia merasa orang itu merangkak

turun dari ranjang.

Orang yang lebih indah dari bunga.

Kakinya yang panjang, pinggangnya yang langsing, rambutnya yang hitam berombak sebahu,

kulit tubuh yang putih halus bagai sutera.

Bahkan rembulan pun sedang mengintip dari luar jendela, apalagi manusia?

Diam-diam Toan Giok memicingkan mata mengintip, tak tahan seruan pujian mendesah dari

dalam hatinya.

 

Untung saja desah pujian itu tak sampai meluncur keluar dari mulutnya.

Karena secara tiba-tiba ia saksikan Hoa Ya-lay sedang mengambil pakaiannya, dengan gerakan

tangan yang lembut mengambil keluar kantung uang dari sakunya.

Kemudian perlahan-lahan ia berjalan menuju daun jendela. Disisi jendela berderet beberapa pot

bunga, apakah bunga sedap malam yang berada disana?

Dia sedikit sangsi, kemudian diambilnya pot bunga yang kedua, mencabutnya keluar berikut

Kemudian dengan menggunakan gerakan yang paling cepat ia masukkan kantung uang milik

Toan Giok itu ke dasar pot, setelah itu dimasukkan kembali bunga diatasnya dan meratakan tanah

Sekarang siapa pun tak akan mengetahui apa keistimewaan pot bunga itu.

Ia menghembuskan napas lega, sewaktu membalikkan badan, sekulum senyuman bangga

tersungging di bibirnya.

Senyuman gadis ini memang sangat manis. Pada hakikatnya bagaikan seorang bocah yang

polos dan sama sekali belum mengenal arti dosa.

Tapi sayang Toan Giok sudah tak dapat menikmatinya, saat itu ia sudah kehilangan selera.

Kembali matanya dipejamkan, bahkan dari hidungnya mengeluarkan semacam dengkuran

perlahan, persis suara dengkuran orang yang sedang mabuk arak.

Hoa Ya-lay berdiri di ujung ranjang, memandang pemuda itu dengan puas. Diam-diam ia

merangkak naik ke ranjang, menggunakan lengannya yang putih halus dan lembut untuk memeluk

pemuda itu erat-erat.

Agaknya sekarang dia berharap pemuda itu tersadar dari mabuknya.

Tentu saja Toan Giok tidak mendusin.

Akhimya dia menghela napas, kemudian dengan suara lirih mulai bersenandung, “Aduh kasihan

si anak muda ….”

Senandungnya makin lama makin rendah, dengusan napasnya makin lama makin berat, lengan

yang menindih di atas badan Toan Giok pun seolah makin lama semakin berat.

Ia telah tertidur, tertidur dengan membawa perasaan bangga dan gembira.

Angin masih berhembus di luar jendela bayangan bunga masih bergoyang di luar jendela.

Perlahan-lahan Toan Giok membalik badan, memanggil dengan perlahan, “Nona Hoa, Hoa Yalay

….”

Tiada jawaban.

Dengus napasnya semakin berat, kelihatannya dia pun ikut meneguk arak Tiok-yap-cing.

Kembali Toan Giok menunggu cukup lama, lalu diam-diam merangkak bangun, mengambil

kembali pakaiannya dan menghampiri daun jendela, waktu itu cahaya putih mulai

membias di atas kertas jendela.

Toan Giok mengambil pot bunga itu. Dengan gerakan tangan paling cepat, dia tuang semua

barang yang ada dalam pot itu ke dalam saku sendiri.

Kemudian dia masukkan kembali bunga itu ke dalam pot dan meratakan tanahnya.

Sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir, namun sewaktu membalikkan badan

memandang ke arah si nona, timbul perasaan menyesal di hati kecilnya.

Pemuda yang berbudi luhur, biasanya tak ingin orang lain kecewa, apalagi terhadap seorang

wanita yang begitu cantik.

Perlahan dia menghampiri ranjang. Sembari lewat, dia ambil kembali pecut kulit kerbaunya

yang tergeletak di sana.

Tiba tiba nona itu menggeliat sambil bergumam, “Mau apa kau bangun?

 

Toan Giok berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdebar dan menyahut lembut,

“Aku harus berangkat lebih awal, karena aku mesti meneruskan perjalanan.”

Nona di atas ranjang itu manggut-manggut, matanya masih juga terpejam, gumamnya lagi,

“Sewaktu kembali nanti jangan lupa menengok aku lagi.”

“Tentu saja.”

Padahal dia pun tahu, besok belum tentu dia masih berada di tempat itu.

Dengan perasaan puas, nona di ranjang menghela napas panjang, dengan cepat ia terlelap

tidur kembali.

Tentu saja dia tak menyangka pemuda yang tampak masih hijau itu sudah mengetahui

rahasianya, kini dia hanya berharap Toan Giok segera pergi dari situ.

Bawah pot bunga memang tempat yang paling bagus untuk menyembunyikan barang.

Coba kalau dia tidak melihat secara kebetulan, ketika keesokan harinya tersadar dan tidak

menemukan kembali barang-barangnya, saat itu dia pasti tak bisa menuduh gadis itu pencurinya.

Kalau ingin menangkap maling harus berikut barang jarahannya, dia pun tahu akan teori itu,

jadi tanpa barang bukti dia bakal menelan kepahitan tanpa bisa berkeluh.

Lagi pula tuduhan semacam ini jelas tak mungkin bisa dilontarkan begitu saja, terlebih terhadap

seorang nona cantik.

Ai, perempuan, tampaknya kaum lelaki memang harus waspada menghadapi kaum wanita.

Langit hampir terang tanah, rembulan yang tampak remang masih bertengger di ujung pohon,

cahaya bintang yang redup sudah mulai bersembunyi di balik jagat raya yang kelabu.

Di atas jalan kecil beralas batu hijau, masih basah oleh embun yang dingin.

Toan Giok dengan bertelanjang kaki menembusi halaman, air embun yang dingin merasuk dari

dasar kakinya hingga tembus ke ubun-ubun.

Tiba-tiba saja ia berubah jadi lebih sadar, pada hakikatnya belum pernah dia sesadar hari ini.

Dinding itu tidak terlalu tinggi, di ujung dinding pun ditanami aneka bunga.

Harum bunga yang sedap terbawa angin semilir yang dingin, merasuk ke dalam lubuk hatinya

yang paling dalam.

Toan Giok menyelinap keluar, dari sudut dinding ia temukan sepatunya, kemudian memasukkan

benda yang diambil dari dasar pot bunga ke dalam saku bajunya, setelah mendongakkan kepala

dia menarik napas panjang, menghirup harumnya bunga di tengah hembusan angin fajar.

Tiba-tiba ia merasa keindahan telaga Se-ouw di tengah fajar jauh lebih indah daripada di saat

Ia berjalan santai menelusuri jalan di tepi telaga, menikmati keindahan alam telaga yang segar

dan cantik.

Ia memang tak perlu terburu-buru, biarpun harus berjalan selama tiga hari tiga malam sebelum

tiba di rumah penginapan kemarin juga bukan masalah baginya.

Ketika perempuan cantik yang licik itu mendusin esok, ketika menemukan pot bunganya

berubah jadi kosong, entah bagaimana perubahan mimik mukanya?

Berpikir sampai di sini, tak tahan Toan Giok tertawa geli, sekalipun muncul juga perasaan

menyesal dan iba, tapi kegembiraan karena ulahnya, karena perbuatan dosanya yang begitu

penuh misteri jauh lebih kental daripada perasaan menyesal dan iba.

Tak tahan ia merogoh ke dalam sakunya, menikmati sekali lagi benda-benda miliknya yang

semula dicuri dan kini diperoleh kembali.

Tapi dengan cepat pemuda itu tertegun.

 

Ternyata dalam kantung uang itu selain terdapat uang kertas pemberian ayahnya, daun emas,

serta golok kumala hijau pemberian ibunya, kini tertambah lagi dengan dua jenis benda.

Serenteng mutiara sebesar buah kelengkeng dan sebuah tanda pengenal terbuat dari batu

Mencari sebutir mutiara sebesar kelengkeng memang tidak terlalu susah, tapi menjadi amat

susah bila ingin mengumpulkan satu renteng mutiara dengan ukuran yang serasi.

Kepingan batu kumala itu pun bersinar hijau mulus, sama sekali tak tampak cacat atau retakan

apa pun.

Tentu saja Toan Giok tahu nilai barang. Sekilas pandang ia sudah tahu kedua jenis benda itu

merupakan barang mestika yang tak ternilai harganya.

Darimana ia memperoleh kedua jenis benda itu?

Dengan cepat Toan Giok menjadi mengerti. Sudah pasti sejak lama Hoa Ya-lay telah

menggunakan pot bunga itu sebagai gudang harta rahasianya.

Sebelum dia, pasti ada orang yang pernah tertipu oleh perbuatannya yang sama.

Sekali lagi Toan Giok tertawa geli. Ia merasa kejadian ini memang lucu dan menarik.

Sebetuknya ia bukan termasuk orang yang tamak, tapi tak ada salahnya untuk memberi sedikit

pelajaran dan hukuman kepada perempuan cantik yang tamak itu dengan cara begini, sedikit pun

ia tak merasa menyesal.

Apalagi walau sekarang dia ingin mengembalikan barang-barang itu kepadanya pun belum

tentu ia dapat menemukan kembali sarang rasenya.

Tapi sejujurnya, dia memang tak ingin mencari masalah lagi.

“Barang-barang ini memang asalnya bukan milik dia. Sekalipun harus dikembalikan, aku tak

boleh mengembalikan kepadanya” Toan Giok menghela napas, akhirnya dia mengambil keputusan

Maka sekali lagi dia masukkan seluruh barang itu kedalam saku bajunya.

Dia merasa puas karena ketenangan dan keteguhan hatinya, pada hakikatnya ia betul-betul

merasa sangat puas.

Bahkan dia berpendapat, sudah seharusnya memperoleh hadiah akan tindakan yang telah dia

Langit semakin terang.

Tiba-tiba muncul sebuah sampan kecil dari balik rimbunnya pohon Liu.

Pemilik sampan adalah seorang lelaki dengan usia tidak terlalu tua, ia mengenakan sepatu

rumput dan di kepalanya mengenakan sebuah taping lebar.

Dari kejauhan ia telah menyapa Toan Giok dengan suara keras, “Siangkong, apakah kau

hendak menyeberang telaga?”

Tiba-tiba Toan Giok merasa nasib sendiri sungguh bagus, sementara ia sedang bingung dan tak

tahu harus pergi kemana, sementara dia sedang bingung rnencari perahu untuk menyeberang,

sampan penyeberang telah muncul di depan mata.

“Kau tahu dimana letak rumah penginapan Sik-ke?”

Tentu saja tahu, tukang perahu mana di telaga Se-ouw yang tidak rnengetahui letak rumah

penginapan Sik-ke!

Maka Toan Giok pun melompat naik ke atas sampan, serunya sambil tertawa, “Cepat bawa aku

menyeberang telaga ini, akan kubayar sepuluh tahil perak.”

Di saat sedang gembira, dia berharap orang lain pun ikut merasakan kegembiraannya.

 

Gembira memang suatu kejadian yang aneh, tak mungkin berkurang sekali pun telah kau

bagikan untuk orang lain. Kadang kala semakin banyak yang kau bagikan untuk orang lain, s

semakin banyak pula yang kau peroleh.

Siapa tahu pemilik sampan itu bukan saja tak merasa gembira, bahkan sambil melototkan

mata, ia berteriak, “Jangan jangan kau adalah bandit?”

“Memangnya tampangku mirip bandit?” tanya Toan Giok sambil tertawa.

“Kalau bukan bandit, mengapa sekali menyeberang kau membayarku sepuluh tahil perak?”

tegur pemilik sampan itu dingin.

“Oh, jadi kau merasa kebanyakan?”

“Sebenarnya kebanyakan, tapi sekarang malah merasa kelewat sedikit!”

“Kenapa?” tak tahan Toan Giok bertanya.

“Kalau memang uang itu kau peroleh secara gampang, sudah sepantasnya kau bayar lebih

banyak bila ingin naik perahuku”

“Berapa yang kau minta?” kembali Toan Giok bertanya sambil mengedipkan mata.

“Berapa banyak yang kau punya, berapa banyak pula yang kuminta”

Sekali lagi Toan Giok tertawa.

“Ternyata bukan aku yang bandit, kaulah bandit yang sebenarnya” ia mengejek.

“Kalau sekarang baru sadar, keadaan sudah terlambat.”

Bambu panjangnya hanya ditutulkan beberapa kali, sampan itu sudah melesat menuju ke

tengah telaga. Kekuatan dua lengannya paling tidak mencapai tiga sampai lima ratus kati.

“Jadi perahu ini benar-benar perahu bandit?” tegur Toan Giok sambil menatapnya.

“Hm!” pemilik sampan itu tidak menjawab, dia hanya mendengus.

“Konon bila ingin membunuh orang di atas perahu bandit, biasanya berlaku dua macam cara.”

“Tak sedikit urusan yang kau ketahui.”

“Aku hanya ingin tahu, kau ingin mengundangku makan bakmi golok atau pangsit bungkus?”

“Itu tergantung berapa banyak uang perak yang akan kau serahkan padaku. Kalau orang pelit

harus mendermakan duitnya, mana mungkin ia mau memberi dengan tulus?” ejek pemilik perahu

itu sambil tertawa dingin. “Rasanya aku harus mempersilakan kau mandi lebih dulu.”

“Oh, jangan sungkan-sungkan, tadi aku telah selesai mandi,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

Tidak menunggu ia menyelesaikan perkataannya, tiba tiba pemilik sampan itu melompat masuk

ke dalam air. Menyusul sampan kecil itu mulai berputar di tengah telaga, putaran itu makin lama

semakin cepat.

Toan Giok sama sekali bergeming, bahkan tidak panic juga tidak gelisah, gumamnya, ”Kalau

hanya berputar bukan masalah, kalau sampai terguling ke air, itu baru celaka.”

Belum lagi selesai bicara, benar saja, sampan kecil itu benar-benar terguling.

Siapa sangka Toan Giok belum juga tercebur ke air.

Di saat perahu itu mulai terbalik, tubuhnya telah melambung ke udara. Menanti sang perahu

terjungkir dengan dasar menghadap ke atas, ia baru melayang turun lagi ke dasar perahu dengan

enteng, lagi-lagi gumamnya, “Kalau hanya terbalik bukan masalah, bila benar-benar tenggelam,

itu baru celaka!”

Tiba-tiba dasar sampan mulai berbunyi keras, kemudian muncul sebuah lubang besar, sampan

itu pun perlahan-lahan mulai tenggelam ke dasar telaga.

Toan Giok belum juga tercebur ke air.

Galah bambu yang dipakai untuk mendayung sampan masih terapung di atas permukaan, tibatiba

dia melompat ke depan, ujung kakinya menutul perlahan di atas galah bambu itu

 

dan meluncurlah dia ke depan.

Pada kesempatan itu ia berganti napas dan sekali lagi menutul di atas bambu tadi. Menanti

bambu itu meluncur lagi sejauh tiga tombak, ujung kakinya menutul di atas bambu. Setelah dua

kali menarik napas, tubuhnya dengan sangat ringan telah mendarat kembali di tepi telaga,

gumamnya, “Wah sayang, sayang sekali! Sebuah sampan yang begitu bagus ternyata harus

ditenggelamkan dengan percuma.”

Terdengar suara air tersibak, lalu tampak pemilik sampan muncul di atas permukaan air.

Dengan sepasang matanya yang hitam berkilat, ia mengawasi pemuda itu.

Sambil menggendong tangan dan tersenyum, Toan Giok berkata, “Saat ini air telaga pasti

dingin sekali, hati-hati kalau mandi saat seperti ini, bisa masuk angin.”

Cukup lama pemilik sampan itu melotot, tiba-tiba pujinya sambil menghela napas panjang,

“Ternyata ilmu meringankan tubuhmu sangat hebat.”

“Ah, hanya begitu saja, tak perlu kelewat dikagumi.”

Kembali pemilik perahu itu berkata dingin dengan wajah serius, “Sayang kemampuan yang

hebat tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.”

“Digunakan tidak semestinya? Kau yang tak berguna atau aku yang tak berguna?” Toan Giok

balik bertanya sambil tertawa geli.

“Ai, sebetulnya aku ingin melindungimu menunjukkan jalan terang. Sekarang tampaknya kau

harus memilih jalan kematian,” kembali pemilik perahu itu menghela napas.

Toan Giok ikut menghela napas.

“Mula-mula mengundang aku menikmati bakmi golok, lalu mengundangku mencebur telaga

untuk mandi dan sekarang jalan terang apa yang hendak kau tunjukkan pula padaku?”

Pemilik perahu itu tertawa dingin, tanpa berkata ia segera menyelam kembali ke dalam air.

“Hey, tunggu sebentar,” tiba-tiba Toan Giok berteriak memanggil.

Perlahan pemilik perahu itu muncul kembali ke atas permukaan, tanyanya, “Masih ada yang

ingin kau sampaikan?”

“Aku lupa untuk berterima kasih padamu,” ucap Toan Gio,k tertawa.

“Berterima kasih kepadaku?” pemilik perahu itu berkerut kening.

Kembali Toan Giok tersenyum.

“Terlepas perkataanmu tadi benar atau bohong, aku tetap harus berterima kasih kepadamu,”

Senyuman itu polos dan bersungguh hati. Selamanya kau tak bakal rugi bila tersenyum macam

ini terhadap orang lain.

Pemilik perahu itu menatapnya, lewat lama kemudian ia baru berkata sambil menghela napas,

“Memang kelewat sayang bila pemuda macam kau harus mati mengenaskan.”

“Aku pun tak ingin mati,” jawab Toan Giok tertawa.

Pemilik perahu itu termenung sambil berpikir, sejenak kemudian katanya lagi, “Bila sekarang

juga kau pergi ke biara Hong-lin-si dan mencari seorang she Ku, siapa tahu masih ada

secercah harapan untuk tetap hidup.”

Toan Giok tertawa getir, keluhnya, “Sekarang aku masih hidup segar-bugar, kenapa kau

menyumpahi aku untuk mati?”

“Masa kau sudah melupakan perbuatan yang pernah kau lakukan?”

“Perbuatan apa yang telah kulakukan?” Toan Giok balik bertanya dengan kening berkerut.

“Menyalahi seseorang yang tidak boleh disalahi dan tidak pantas disalahi.”

Toan Giok berpikir sejenak, mendadak seakan baru sadar, serunya, “Oh, kau maksudkan

keempat orang Hwesio itu?”

 

Agaknya tukang perahu itu sadar kalau perkataannya kelewat banyak, tanpa bicara ia segera

menyelam kembali ke dalam air.

“Hey, dimana letak Hong-lin-si?” teriak Toan Giok, ”Kalau tidak kau terangkan, aku harus

mencarinya kemana?”

Biarpun suara teriakannya keras, sayang di atas permukaan telaga sudah tak tampak lagi

bayangan tubuh si tukang perahu itu.

Jangankan manusia, bayangan sampan kecil itu pun telah lenyap.

Toan Giok menghela napas panjang, gumamnya sambil tertawa getir, “Apakah nasibku akan

berubah semakin buruk?”

Perlahan ia membalikkan tubuh, tiba-tiba dijumpai ada sepasang mata bulat besar sedang

mengawasinya dari balik pepohonan Liu yang lebat.

Ternyata nona cilik dengan mata besar telah muncul kembali, dia masih mengenakan jubah

panjang berwarna ungu yang dikenakan kemarin, hanya di sisi pinggangnya kini telah bertambah

dengan sebilah pedang antik dan indah.

Sekarang Toan Giok baru teringat, dia telah melupakan sebuah benda, golok miiliknya.

Dia hanya teringat, sewaktu mulai meneguk arak di atas perahu pesiar semalam, golok itu

masih berada di atas meja.

Kemudian dia telah melupakannya, bukan hanya golok itu terlupakan, bahkan dia sendiri pun

nyaris terlupakan.

Bi-giok-to, golok kumala hijau. Dulu merupakan senjata andalan Toan-loyacu ketika

mengembara dalam Kango uw semasa mudanya, konon terhitung benda pengikat tunangan

diberikan Toan-hujin sebelum menikah dulu.

Hingga Toan Giok berusia delapan belas tahun, Toan loyacu baru menyerahkan golok itu

Diam-diam Toan Giok menghela napas panjang. Dalam pandangan matanya seolah muncul

wajah ayahnya yang kereng, penuh wibawa dan serius.

Nona kecil bermata besar itu telah berpaling menatap ke arahnya sambil menarik muka dan

tertawa dingin, sindirnya,

“Kalau letak Hong-lin-si saja tidak tahu, buat apa kau terjun ke dunia persilatan?”

“Jadi kau tahu dimana letak Hong-lin-si?” tak tahan Toan Giok bertanya.

Nona cilik itu menengok sekejap ke belakang, lalu celingukan pula ke kiri kanan, kemudian

bertanya keheranan,

“Hey, kau sedang berbicara dengan siapa?”

“Memangnya di sini masih ada orang lain?”

“Hm, kalau sudah tahu bahwa antara laki dan perempuan itu ada bedanya, buat apa kau masih

mengajakku bicara?” seru nona cilik itu dengan muka cemberut.

Ternyata dia masih memendam sakit hati semalam.

Bisa dimaklumi, kaum wanita memang lebih gampang tersinggung daripada kaum pria. Apalagi

kalau sudah sakit hati, biasanya perasaan itu akan selalu tersimpan dalam hatinya.

Sebagai seorang lelaki sejati, sudah sepantasnya bila mereka mengalah terhadap kaum wanita.

Maka sambil tertawa, Toan Giok berkata, “Bila nona mengetahui dimana letak Hong-lin-si,

tolong berilah sebuah petunjuk kepadaku,”

Kembali nona cilik itu mendelik, dengusnya sambil tertawa dingin, “Aku tak kenal dirimu,

kenapa aku harus memberi petunjuk?”

“Cayhe Toan Giok, boleh tahu siapa nama nona?”

 

“Kalau kau berpendapat laki dan perempuan itu berbeda, bahkan arak pun tak boleh diteguk.

Buat apa mesti saling bertukar nama?”

Kelihatannya nona cilik ini selain sempit pikirannya, juga sulit dilayani.

Toan Giok bukan seorang pria yang terbiasa menerima perlakuan semacam ini. Asal di seputar

sana memang terdapat Hong-lin-si, memangnya sulit untuk mencari tahu tempat itu?

Maka sambil tertawa dia pun menjura kepada si nona sambil katanya, “Wah, aku memang tak

tahan menghadapi nona macam kau, lebih baik menyingkir saja.”

Siapa tahu kembali nona kecil itu berteriak, “Hey, kembali! Perkataanku belum selesai!”

Terpaksa Toan Giok balik kembali, tanyanya sambil tertawa getir, “Perkataan mana yang belum

selesai kau sampaikan?”

“Aku ingin bertanya,” ujar nona cilik itu sambil tertawa dingin. “Kalau kau tak boleh minum arak

semeja denganku, kenapa boleh minum arak di atas perahu orang, bahkan minum

semalam suntuk, apakah dia bukan wanita? Apakah kalian tak perlu membedakan antara pria

dan wanita?”

Ternyata persoalan inilah yang mengganjal hatinya, membuat perasaan hatinya tak senang!

Toan Giok benar-benar terbungkam.

Bagaimana pun persoalan ini memang sulit untuk dijelaskan, terkadang tidak memberi

penjelasan justru merupakan penyelesaian yang paling baik.

Lagipula kenapa dia harus memberi penjelasan kepada seorang nona cilik yang tak tahu

aturan?

Ternyata nona cilik itu belum mau melepaskan dirinya begitu saja, kembali teriaknya, “Kenapa

kau tidak menjawab? Apakah sudah tahu kalau alasanmu sangat tak masuk akal?”

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

Setelah melotot beberapa saat, mendadak nona cilik itu tertawa, katanya, “Kalau kau sadar

bahwa alasanmu tak masuk akal berarti penyakitmu masih bisa diobati. Ayo, ikuti aku!”

“Kau bersedia mengajakku pergi ke Hong-lin-si?” tanya Toan Giok tertegun.

“Kalau bukan mengajakmu ke Hong-lin-si, memangnya mengajakmu pergi mampus?” sahut

nona cilik itu sambil menggigit bibir.

“Jangan sekali-kali berhubungan dengan wanita asing, jangan sekali-kali kau lakukan!”

Toan Giok hanya bisa menghela napas, tampaknya saat ini mau tak mau dia harus

berhubungan dengan seorang wanita asing lainnya.

Kini dia hanya berharap gadis ini jauh lebih baik daripada perempuan semalam.

Angin mulai berhembus, daun Liu menari-nari di tengah udara, persis seperti bunga salju yang

mulai turun.

Sambil membelah ranting Liu, nona kecil itu perlahan-lahan berjalan ke depan. Sekalipun

berdandan sebagai seorang lelaki namun pinggulnya tampak bergoyang waktu melangkah.

Mungkinkah dia sengaja bergoyang pinggul untuk diperlihatkan pada Toan Giok? Untuk

membuktikan kalau ia bukan nona kecil, melainkan seorang gadis yang telah dewasa?

Ingin tidak melihat pun sulit bagi Toan Giok, tapi kenyataan, pinggang nona cilik ini memang

ramping bagaikan ranting pohon Liu. Sekali pun sifat kanak-kanaknya belum hilang, namun

memancarkan daya pikat yang memabukkan.

Bukankah lelaki punya mata khusus untuk menikmati keindahan tubuh seorang gadis semacam

ini?

 

Toan Giok masih muda, baru berusia sembilan belas. Tampaknya si nona tahu kalau anak muda

itu sedang memperhatikan tubuhnya, tiba-tiba ia berpaling dan tertawa. “Aku she Hoa, bernama

Hoa-hong!”

Hoa Hoa-hong, sebuah nama yang sangat indah.

Toan Giok tertawa, ia merasa dirinya telah memberikan sebuah pertanggung-jawaban pada

dirinya sendiri. Paling tidak saat ini nona cilik itu sudah tidak termasuk seorang gadis asing

Paling tidak ia sudah mengetahui namanya.

***

Biara Hong-lin-si terletak di sisi kiri dusun Sin-hoa-cun, dusun ini berada di samping komplek

kuburan Gak-ong. Merupakan salah satu hutan terbesar di antara delapan hutan telaga Se-ouw.

Banyak peziarah yang datang berkunjung ke biara ini, terutama di musim semi dan gugur.

Sekalipun para pesiar yang tidak percaya Buddha pun seringkali datang ke biara untuk sekedar

mampir dan menyulut beberapa batang hio.

Hong-lin-si adalah biara para Hwesio.

Kalau memang biara Hwesio, kenapa tukang perahu itu menganjurkan Toan Giok datang

menjumpai seorang Tojin she Ku?

Hoa Hoa-hong memutar biji matanya, lalu bertanya,

“Benarkah si tukang perahu minta kau datang mencari seorang Tojin she Ku?°’

“Ehm.”

“Kau tidak salah dengar?”

“Aku jamin telingaku tak bermasalah,” sahut Toan Giok sambil tertawa getir.

“Tapi setahuku, Hong-lin-si hanya dihuni kaum Hwesio, tak seorang Tosu pun tampak di situ.”

“Jangan-jangan keempat Hwesio yang kuhajar kemarin berasal dari Hong-lin-si?” tanya Toan

Giok sambil berkerut kening.

“Tidak benar, Hongtiang Hong-lin-si rasanya bukan ahli ahli waris biara Hoa-lam-si, sementara

ilmu silat yang digunakan keempat orang Hwesio itu jelas merupakan Siau-lim-kun.”

“Kelihatannya kau termasuk jagoan berpengalaman.”

“Hm, memangnya hanya kaum laki yang boleh berkelahi dan melarang kaum wanita berlatih

kungfu?” seru Hoa HoaI hong sambil tertawa dingin.

“Aku sama sekali tak bermaksud begitu.”

“Lantas apa maksudmu?”

“Aku hanya memuji ketajaman mata mu, seorang jago pengalaman, hebat pengetahuannya.

Masakah masih terselip maksud lain?”

“Memang betul, perkataanmu memang tak salah, tapi nada bicaramu itu yang membikin orang

penasaran, seperti sedang mengolok-olok.”

Toan Giok segera menghela napas panjang.

“Ai, sekarang pun aku mulai mengerti maksud hatimu,” katanya.

“O, ya?”

“Kau tampaknya suka mencari masalah dengan orang lain, suka mencari keributan, suka

berkelahi,” kata Toan Giok sambil tertawa getir.

“Siapa bilang aku suka mencari keributan, suka berkelahi? Aku hanya suka mencari kau.”

Begitu ucapan itu diutarakan, dia sendiri tak tahan untuk tertawa.

Melihat tertawanya yang manis, tiba-tiba Toan Giok merasa hatinya ikut manis, bahkan dia

sendiri pun tak jelas apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

 

Bila seorang wanita suka mencari masalah denganmu, mengajak kau berkelahi, semestinya

hatimu merasa sedih, merasa amat kesal.

Tapi anehnya, terkadang kau justru merasa amat senang, amat gembira.

Mungkin inilah alasan mengapa kaum wanita selalu mengatakan kaum lelaki, “dasar balung

kere (tulang miskin)”.

Tatkala Toan Giok sedang memandangnya, Hoa Hoa hong pun sedang memandang Toan Giok,

maka mereka pun saling beradu pandang, kau memandang aku, aku pun memandang kau,

seolah-olah mereka lupa kalau di dunia masih ada orang lain.

Tentu saja di tempat itu bukan hanya ada mereka berdua, tentunya orang lain pun hampir

semuanya sedang memandang mereka

Pada dasarnya Toan Giok memang sudah amat menarik perhatian, apalagi sekarang didampingi

Hoa Hoa-hong yang laki bukan perempuan pun tidak.

Bag 3 : Tosu perempuan isteri Ku-tojin

Semua orang terperangah, terkesima, berdiri melongo dengan mata terbelalak, mereka

memandang keheranan, apalagi ketika melihat gadis itu sebentar mencak-mencak gusar, sebentar

lagi tertawa manis.

Saat ini Ceng-beng (waktu tengok kubur) baru lewat saat yang paling cocok untuk berpesiar di

telaga. Sepanjang jalan mereka bertemu banyak orang, apalagi mendekati pintu biara, ada begitu

banyak laki-perempuan, tua-muda yang bertumpah ruah di sana.

Di antara mereka ada pelancong yang datang dari tempat jauh, ada pula yang datang dari kota

untuk pasang hio, ada lelaki tua yang berjualan lilin dan hio, ada juga nona cilik dengan keranjang

bunga melati, di antara mereka ada yang bicara dengan tutur bahasa sopan dan halus, ada juga

lelaki kasar dengan omongan busuk.

Padahal suasana semacam ini sangat lumrah, dapat kau jumpai dimana pun di dunia ini, orang

dengan aneka-ragam penampilan pun nyaris bisa kau jumpai di seluruh dunia.

Hanya semacam manusia yang tak nampak, mereka tidak melihat ada Tojin, jangankan

sekelompok, seorang Tosu pun tak nampak.

Memang aneh bila menjumpai Tosu berada di biara kaum hwesio.

Di sudut dinding, tampak ada dua orang Hwesio kecil sedang bersembunyi di pojokan sambil

mencuri makan gula-gula mereka berdua baru saja menyelinap keluar dari dalam Hong-lin-si.

Toan Giok tak ingin melanggar pantangan para Hwesio, dia pun tak berani masuk ke dalam

biara untuk mencari tahu, tapi untuk bertanya kepada dua orang Hwesio cilik rasanya memang tak

“Tolong tanya Siau-suhu berdua, apakah dalam biara terdapat seorang Tojin she Ku?”

“Tidak ada”

“Belum pernah ada Tosu yang berani masuk ke pintu kami, kalau ada pun mereka pasti akan

dihajar sampai kabur ”

“Kenapa?”

“Karena ada banyak orang iri setelah melihat banyak peziarah berkunjung kemari, mereka

selalu berniat merebut kekayaan biara, selalu mencari akal busuk untuk merampas

daerah kekuasaan kami”

 

“Betul, bahkan guruku sering bilang, untuk cukur rambut saja para Tosu enggan, mana

mungkin bisa menjadi seorang pendeta yang bersih hatinya dan suci pikirannya?”

“Konon ada Tosu yang punya bini!”

Tampaknya kedua Hwesio cilik ini belum lama menjadi pendeta. Kalau ditinjau dari mimik

mukanya, mereka seolah menyesal mengapa bukannya menjadi Tosu yang diizinkan

berbini, sebaliknya malah menjadi Hwesio.

Toan Giok mulai tertarik, diam-diam ia sisipkan sebongkah perak ke dalam saku mereka dan

berbisik, “Selewat dua hari, cari topi untuk menutupi kepala gundul kalian. Sana,

pergi ke rumah makan Sam-ya-wan dan cicipi ikan Song-so-hi, hidangan di sana sangat enak.”

Hwesio cilik itu meliriknya dua kejap, tiba-tiba mereka balik badan dan langsung kabur.

Hoa Hoa-hong tak bisa menahan geli, serunya sambil tertawa cekikikan, “Dasar orang jahat,

kau hanya memikat orang untuk berbuat dosa.”

“Masa makan ikan juga dosa?”

“Mana ada orang beribadah makan makanan berjiwa?”

“Daging arak hanya numpang lewat, sementara hati Buddha berada dalam hati, masa kau

belum pernah mendengar perkataan ini?”

“Untung kau tak menjadi Hwesio. Kalau tidak, pastilah kau seorang Hoa-hwesio, Hwesio cabul!”

“Seandainya harus menjadi pendeta, aku lebih suka menjadi seorang Tosu, tak bakaL menjadi

Hwesio.”

“Kenapa?”

“Seharusnya kau tahu kenapa,” jawab Toan Giok sambil tersenyum.

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong teringat kembali ucapan Hwesio cilik tadi, kontan dia mendelik, tapi

kemudian katanya sambil tertawa tergelak, “Tadinya kusangka kau jujur dan polos, siapa

sangka kau pun bukan orang baik-baik.”

Tiba-tiba lanjutnya setelah berhenti sejenak, “Tapi kau pun seorang IeIaki tolol.”

“Tolol?”

“Mendengar dari mana kalau dalam biara ini ada Tosu?”

“Dari si tukang perahu.”

“Memang kau kenal dia?”

“Tidak!”

“Jadi karena dia menyuruh kau datang kemari mencari Tosu, maka kau pun datang kemari?

Kalau dia suruh kau mencari Nikoh di sini, apakah kau pun akan datang juga?”

Toan Giok tertegun.

‘Pantangan keenam, jangan gampang mempercayai perkataan orang!’

Tiba-tiba ia merasa dirinya lagi-lagi melanggar sebuah pantangan dari ayahnya.

“Bila para Hwesio yang kau hajar benar-benar anggota biara Siau-lim, jelas kerepotan yang

bakal kau hadapi sangat besar, tapi biara Siau-lim adalah sebuah perguruan besar kaum lurus,

rasanya mustahil mereka akan mencabut nyawamu hanya gara-gara urusan kecil ini.”

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya mendengarkan.

“Lagi pula,” terdengar Hoa Hoa-hong melanjutkan, ”bila pihak biara Siau-lim betul-betul hendak

menghukurn mati dirimu, Liong-cinjin dari gunung Bu-tong pun belum tentu

Mampu menolongmu, apalagi hanya seorang Tosu yang sama sekali tak dikenal!”

Kali ini Toan Giok menghela napas panjang.

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, terusnya, ”Manusia yang begitu gampang mempercayai

perkataan orang macam ini, suatu saat dijua I orang pun mungkin kau tak sadar.”

“Aku hanya mempercayai sesuatu hal,” tiba-tiba Toan Giok menyela.

“Percaya apa?”

 

“Ucapan si tukang perahu itu pasti bukan hanya bertujuan menipu aku datang kemari dengan

sia-sia.”

“Jadi kau menganggap dia punya tujuan lain?”

“Benar!” Toan Giok mengangguk, “Jika ia berniat mencelakai aku, dapat dipastikan dia akan

menyiapkan sebuah perangkap lebih dulu di tempat ini dan menunggu aku datang.”

“Dan kau sudah datang?” tanya Hoa Hoa-hong sambil mengedipkan matanya.

Toan Giok tertawa getir.

“Sayang, dimana letak perangkap itu pun hingga sekarang aku belum tahu,” katanya.

“Kalau kau bisa tahu, bukan perangkap namanya,” seru Hoa Hoa-bong. Kemudian setelah

tertawa, tiba-tiba katanya lagi,

“Namanya perangkap, selamanya tak bakal kelihatan, maka kau baru bisa tercebur ke

dalamnya.”

“Jadi setiap waktu, aku dapat tercebur ke dalamnya?”

“Benar.”

Toan Giok ikut mengedipkan mata beberapa kali.

“Tapi aku tak kenal si tukang perahu itu. Bila manusia semacam dia ingin mencelakai aku,

bukankah bisa jadi si kusir kereta yang ada di depan itu pun rekan komplotannya?”

“Ehm, kemungkinan itu selalu ada,” jawab Hoa Hoa-hong serius.

“Kalau begitu, setiap orang yang berada di seputar sini, kemungkinan besar juga merupakan

komplotannya?” kata Toan Giok sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu.

“Ehm!”

Kontan sepasang mata Toan Giok melotot, serunya,

“Bagaimana dengan kau? Adakah kemungkinan itu?”

“Justru akulah yang paling mungkin,” teriak Hoa Hoahong sambil cemberut

“Oh”

“Sekarang juga aku ingin melolohmu dengan arak racun, semangkuk demi semangkuk,

melolohmu sampai kau mati keracunan!”

“Ai, rasanya mati keracunan memang lebih enak daripada mati tenggelam” Toan Giok menghela

“Kau berani ikut aku?” tantang Hoa Hoa-hong sambil mendelik.

“Kemana?”

Sambil menuding ke arah depan, sahut Hoa Hoa-hong,

“Kelihatannya di depan sana ada warung arak, kau ….”

Mendadak kata-katanya terhenti setengah jalan.

Karena ia menemukan arah yang dituding jari tangannya adalah tiga huruf besar.

Tiga huruf yang berbunyi, “Ku-tojin”.

***

Kain hijau yang digantungkan jauh di atas tiang bambu telah memutih karena sering dicuci, di

atas kain itu tertulis tiga huruf besar.

Ku-tojin! Tiga huruf yang besar sekali.

Ternyata Ku-tojin bukan nama seorang Tosu, Ku-tojin adalah nama sebuah warung arak.

Warung arak ini merupakan sebuah bangunan kecil yang terdiri dari dua bangunan kayu.

Suasana dalam bangunan selain gelap juga lembab.

Selain tumpukan guci arak yang menggunung dalam ruang dalam, di luar bangunan rumah, di

bawah tenda yang terbuat dari bambu pun tampak berjajar guci-guci arak yang amat besar. Di

atas guci arak itu diberi papan kayu yang merupakan meja untuk tamu, sedang di sekelilingnya

berjajar bangku kecil.

Memang banyak sekali warung arak semacam ini di kota hang-ciu yang besar dan padat.

 

Dalam warung arak semacam ini, biasanya mereka hanya menyediakan arak dingin, tak ada

hidangan panas, paling hanya tersedia kacang rebus, kedelai, garam atau hidangan ringan lain.

Oleh sebab itu kebanyakan tamu yang berkunjung adalah tamu-tamu berusia lanjut.

Bagi manusia semacam ini, cukup asal ada tempat untuk minum arak, lagi pula mereka

seringkali berkunjung tak kenal waktu. Oleh sebab itu meski saat ini belum menjelang tengah hari,

namun meja-meja di warung arak ini sudah tertata rapi.

Seorang bocah kudisan bermata juling menggotong keluar semangkuk besar wedang kacang

yang masih panas, di depan meja sudah terlihat dua orang kakek sedang minum arak.

Sudah hampir setengah harian Hoa Hoa-hong dan Toan Giok masuk ke dalam warung itu, tapi

si bocah kudisan itu belum juga datang mendekat untuk memberi pelayanan.

“Apakah kau adalah Lopan warung ini?” dengan nada menyelidik Toan Giok bertanya.

“Kalau aku adalah Lopan tempat ini, seharusnya warung ini kuubah namanya menjadi warung

kudisan,” jawab si kudis sambil melotot.

“Lalu siapa Lopannya?”

“Memangnya kau buta huruf?” si kudis balik bertanya sambil menuding tulisan di luar warung.

“Oh, ternyata di tempat ini benar-benar ada seorang Tojin bernama Ku-tojin,” sahut Toan Giok

kemudian sambil tertawa.

“Sebetulnya kalian datang untuk minum arak atau tidak?” tanya bocah kudisan itu melotot.

“Kalau tidak minum arak, mau apa kami datang kemari?” balas Hoa Hoa-hong sambil melotot

“Berapa banyak arak yang kalian pesan?”

“Siapkan dulu dua puluh mangkuk arak Hoa-tiau, tuang ke dalam tabung arak.”

Dengan matanya yang juling, si kudisan melotot sekejap ke arah gadis itu, lambat-laun mimik

mukanya berubah sedikit lebih ramah.

Hanya sejenis orang yang paling dihormati dan disambut hangat di tempat ini, orang dengan

takaran minum luar biasa.

Di samping meja kasir terlihat sepasang lian tergantung di sisi kiri dan kanannya. Sepasang lian

itu berbunyi:

“Nasi takaran kecil membuat orang kelaparan, ikan dan arak wangi membuat usus tambah

lebar.”

Membaca tulisan itu, tak tahan Toan Giok bertanya, “Jadi di sini pun tersedia ikan masak cuka?”

“Tidak!” sahut si kudis.

“Tapi sepasang lian itu ….”

“Lian adalah lian, ikan adalah ikan!” seusai bicara, si kudis segera berlaIu sambil mendelik, dia

seolah malas melihat lagi ke Toan Giok.

Menghadapi perlakuan semacam ini, Toan Giok hanya bisa tertawa getir.

“Begitu buka suara, gaya setan cilik itu seolah sedang mencari orang untuk diajak berkelahi.

Entah siapa yang telah membuatnya mendongkol?”

“Benar, manusia macam begini memang amat langka, jarang bisa ditemui,” sambung Hoa Hoahong

sambil tertawa pula.

“Tapi aku pernah bertemu manusia antik macam begitu,” bisik Toan Giok sambil mengedipkan

“Siapa?”

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa.

 

Kontan Hoa Hoa-hong mendelik, ancamnya sambil menggigit bibir, “Bila kau berani mengatakan

orang itu adalah aku, hmm, aku benar-benar akan meracunimu sampai mampus!”

Tapi selesai berkata, dia malah tertawa geli sendiri.

Biarpun mereka baru berkenalan, tapi sekarang hubungan mereka berdua justru lebih akrab

daripada sahabat yang telah kenal lama,

Pada saat itulah si kudis telah muncul kembali sambil membawa lima tabung arak, “Blam!”, dia

letakkan arak itu di atas meja kemudian balik badan dan berlalu.

Di atas meja memang sudah tersedia mangkuk kosong.

Toan Giok menuang dua mangkuk arak, baru saja dia hendak angkat mangkuk untuk diteguk.

“Tunggu sebentar” tiba-tiba Hoa Hoa-hong menahan tangannya.

“Menunggu apa lagi?”

“Tentu saja aku tak benar-benar ingin meracunimu, tapi bagaimana dengan orang lain?”

Toan Giok segera tertawa.

“Biarpun aku tak suka melihat tingkah laku setan cilik itu, masa dia pun menginginkan

nyawaku?”

Hoa Hoa hong tidak tertawa. Dengan wajah cemberut tegurnya, “Memangnya kau sudah lupa,

kedatanganmu kemari untuk mencari siapa?”

“Aku belum mabuk”

“Jika kau sudah terancam bahaya, memangnya Tosu gadungan yang menjual arak bisa

menyelamatkan nyawamu?”

“Mungkin saja dia hanya menggunakan status sebagai penjual arak untuk merahasiakan asalusulnya.

“Oleh karena itu kemungkinan besar dia adalah seorang jago lihai yang telah hidup

mengasingkan diri”

“Benar”

“Oleh sebab itu ilmu silatnya mungkin sangat hebat” sambung Hoa Hoa-hong lagi.

“Benar”

“Mungkinkah ia akan meracunimu lewat arak?”

Kalau si tukang perahu gagal menenggelamkan Toan Giok hingga mampus, bisa saja dia minta

rekan komplotannya untuk meracuni pemuda itu sampai mati.

Kemungkinan semacam ini jelas ada.

Tampaknya bukan saja jalan pikiran Hoa Hoa-hong lebih cermat dan teliti, bahkan ia benarbenar

menaruh perhatian padanya.

Toan Giok ingin bicara, tapi segera urung, sebab secara tiba-tiba ia melihat ada seseorang

sedang mengawasi mereka.

Siapa pun itu orangnya, setelah melihat orang itu, tak tahan dia pasti akan melihatnya lagi

beberapa kejap.

Tentu saja orang itu adalah seorang wanita, tentu saja wanita yang teramat cantik, bahkan

amat menawan hati, dia pun amat pandai berdandan.

Wanita yang pandai berdandan belum tentu akan menggunakan bedak dan gincu tebal.

Pada wajah oval perempuan yang cantik itu sama sekali tak nampak pupur atau pun gincu.

Tapi pakaian yang dikenakan sangat indah dan menawan, gaun berwarna hijau tua yang ketat

dikombinasikan dengan baju atas yang serasi dengan potongan badannya. Bukan cuma bahannya

berkualitas mahal, jahitan serta perpaduan warnanya pun sangat indah dan pas.

Konon berpakaian pun merupakan semacam ilmu, bukan pekerjaan gampang untuk memahami

dan menguasai ilmu semacam itu.

 

Dilihat dari usianya, perempuan itu sudah tidak termasuk muda, tapi dia memiliki kecantikan

luar biasa, kematangan yang membangkitkan napsu siapa pun.

Perempuan seusia dia, ibarat sekuntum bunga yang baru mekar, indah, cantik dan mempesona.

Toan Giok menatapnya, perasaan kagum seketika terpancar dari balik matanya.

Hoa Hoa-hong sedang mengawasi pemuda itu. Dari pancaran sinar matanya, ia segera

mengetahui kalau ia sedang mengawasi wanita lain.

Oleh sebab itu dia pun ikut berpaling.

Secara kebetulan ia saksikan perempuan itu sedang tersenyum. Senyuman yang begitu matang

dan cantik.

Hanya perempuan seusia dia yang mengerti mengulum senyuman semacam ini.

Kontan saja wajah Hoa Hoa-hong berubah cemberut, tegurnya dengan suara lirih, “Siapa

perempuan itu?”

“Tidak tahu.”

“Kau tidak mengenalnya?”

Toan Giok menggeleng.

“Kalau memang tidak kenal, kenapa dia melemparkan senyuman kepadamu?” tanya Hoa Hoahong

“Ada sementara orang memang suka melempar senyum untuk orang lain, lebih baik tersenyum

daripada setiap hari hanya memberi kesulitan pada orang,” jawab Toan Giok tawar.

“Apakah sekarang kau sedang mencari masalah denganku?” Hoa Hoa-hong melotot besar.

Toan Giok tidak menanggapi, karena saat itu perempuan cantik tadi sedang berjalan

menghampiri mereka berdua

Caranya berjalan, gayanya sewaktu melangkah, ternyata begitu indah dan mempesona.

Dengan senyum manis menghiasi bibir, as berjalan menghampiri mereka berdua

“Kelihatannya kalian berdua datang dari tempat jauh.”

“Apa urusannya denganmu?” sela Hoa Hoa-hong cepat.

“Tentu saja tak ada urusan denganku,” jawab perempuan itu masih dengan tersenyum.

“Kalau memang tak ada urusan, buat apa kau bertanya?”

“Aku hanya sekedar bertanya.”

“Apa gunanya bertanya?”

“Karena tamu yang mampir kemari biasanya hanya tamu langganan lama, jarang melihat ada

orang asing macam kalian berdua.”

“Tamu macam apa yang berkunjung kemari, memangnya ada sangkut-paut denganmu?”

“Kalau soal ini memang ada,” sahut perempuan cantik itu sambil tertawa.

“O, ya,.”

“Itulah sebabnya aku tahu nona pasti datang dari tempat jauh, Kalau tidak, masa kalian tak

tahu siapakah aku?”

Ternyata dia pun sudah tahu kalau Hoa Hoa-hong adalah perempuan yang menyaru sebagai

“Memangnya kau punya keistimewaan?” Hoa Hoa-hong semakin sewot, dia menegur sambil

tertawa dingin.

“Kalau dibicarakan, memang ada sedikit keistimewaan.”

“Dimana keistimewaannya?”

“Tidak setiap wanita dapat kawin dengan seorang Tosu, benar bukan?” ujar perempuan itu

sambil tertawa.

Hoa Hoa-hong melengak. “Apa kau bilang?” serunya.

 

“Suamiku adalah Ku-tojin, oleh karena itu ada banyak orang secara diam-diam menjuluki aku

sebagai Li-tosu, Tosu perempuan. Mereka takut aku memakai julukan itu, padahal aku amat

senang panggilan semacam itu.”

Ia tersenyum. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Kalau aku tak suka Tosu mana mungkin

kawin dengan seorang Tosu?”

Kali ini Hoa Hoa-hong tak mampu bicara lagi. Bagaimana pun juga, memang tak banyak wanita

yang mau kawin dengan seorang Tosu.

Toan Giok pun ikut tertawa.

Dia mulai merasa Tosu perempuan ini selain cantik, juga amat menawan.

Menyaksikan mimik muka pemuda itu, api amarah Hoa Hoa-hong berkobar makin besar, tibatiba

dia sambar mangkuk arak didepannya lalu ditenggak habis.

“Wah ternyata nona pun pandai minum arak?” tegur Tosu perempuan itu.

“Memangnya aku tak boleh minum?” teriak Hoa Hoa-hong keras.

“Aku hanya merasa heran, kenapa secara tiba-tiba nona tidak kuatir dalam arak telah dicampuri

racun?”

Ternyata bukan saja matanya tajam, telinga nya pun amat panjang.

Paras muka Hoa Hoa-hong sedikit agak menghijau, karena rasa dongkol yang luar biasa.

Untunglah Tosu perempuan itu segera berganti topik pembicaraan, katanya, “Orang macam

kalian, tentu bukan datang kemari hanya untuk minum arak, bukan?”

“Tepat sekali, cayhe memang khusus datang untuk menyambangi Ku-tojin,” jawab Toan Giok

sambil tersenyum.

“Kau kenal dengannya?”

“Sama sekali tidak”

“Berarti ada orang menyuruh kalian datang kemari?”

“Benar!”

“Siapa yang menyuruh kau kemari?”

“Aku sendiri pun tidak kenal”

Kelihatannya Tosu perempuan itu mulai tertarik dengan persoalan ini, katanya setelah

mengedipkan matanya beberapa kali, “Macam apakah orang itu?”

“Seorang tukang perahu”

“Tukang perahu?”

“Mungkin aslinya bukan, tapi sewaktu aku bertemu dengannya, ia memang seorang tukang

perahu” Setelah tertawa getir, lanjutnya, “Bila aku sampai tercebur ke dalam air, mungkin saat ini

sudah mati tenggelam”

Tiba-tiba Tosu perempuan menghela napas panjang.

“Sudah kuduga, pasti dia!”

“Sebenarnya siapakah orang itu?”

“Orang itu dari she Kiau, mungkin tak akan ditemukan orang kedua di kolong langit yang begitu

suka mencampuri urusan orang lain!”

“Aku setuju dengan pendapatmu!” seru Toan Giok sambil tertawa.

Tosu perempuan menatapnya cukup lama, kemudian bertanya lagi, “Benarkah dia yang minta

kau datang kemari?”

“Ehm!”

“Kau telah membunuh orang?”

Toan Giok tidak tahan untuk tidak tertawa. Dengan tertawa sama arti dia telah menyangkal.

Siapa pun orang yang telah membunuh, tak nanti dia bisa tertawa sepolos dan secerah itu.

“Dari tampangmu, kau tak mirip orang yang telah membunuh” ujar Tosu perempuan sambil

tersenyum. Dia menghembuskan napas lega, tapi dengan cepat tanyanya pula.

“Apakah belakangan kau telah melakukan satu kasus besar?”

 

Sekali lagi Toan Giok menggeleng, ia balik bertanya sambil tertawa, “Memangnya aku mirip

perampok? Bandit? Begal?”

“Atau mungkin kau membawa barang merah hingga ada yang menincar”

“Barang merah?”

“Barang merah artinya benda-benda mestika yang tak ternilai harganya, seperti intan permata,

zamrud, batu mulia”

“Rasanya tidak juga”

Tosu perempuan berkerut kening.

“Lalu masalah apa yang telah kau perbuat?” tanyanya.

“Masalah tidak ada, tapi kesulitan memang ada sedikit”

“Mungkin bukan hanya sedikit kesulitanmu, kalau tidak, mungkin Kiau losam akan menyuruh

kau kemari”

“Aku hanya sempat menghajar beberapa orang”

“Siapa yang telah kau hajar?”

“Beberapa orang hwesio”

“Hwesio? Hwesio macam apakah mereka?”

“Beberapa orang hwesio yang amat galak. Kalau didengar lagak lagunya, mereka seperti bukan

berasal dari tempat ini”

“Apakah hwesio yang pandai bersilat?”

“Benar!” Toan Giok manggut-manggut, “Kelihatannya mereka seperti pandai menggunakan

Siau-lim kun”

Untuk kesekian kalinya Tosu perempuan itu berkerut kening. Ujarnya kemudian, “Sewaktu akan

keluar rumah, apakah tak ada yang memberitahu kepadamu, selama berjalan dalam Kangouw,

lebih baik menghindari pertikaian dengan kaum pendeta, Tosu dan pengemis?”

“Pernah ada yang memberitahu, sayangnya tiba-tiba saja aku melupakannya,” sahut Toan Giok

tertawa getir.

“Ai, rupanya kau pun kelewat temperamen, tak bisa mengekang hawa napsu, “ Tosu

perempuan menghela napas panjang.

“Padahal seranganku tak kelewat berat, malah tak seorang pun yang sempat kulukai, aku tak

lebih hanya memaksa mereka terjun ke dalam air!”

“Kenapa?”

“Karena tak terbiasa melihat mereka menganiaya orang.”

“Siapa yang mereka aniaya?”

“Hanya…hanya seorang wanita”

“Sudah aku duga, pasti seorang wanita,” sela Tosu perempuan sambil tertawa, “Apakah wanita

itu amat cantik?”

Agak bersemu merah wajah Toan Giok karena jengah, sahutnya tergagap, “Dia…dia memang

tak jelek.”

“Siapa namanya?”

“Dia mengaku bernama Hoa Ya-lay.”

Untuk ketiga kalinya Tosu perempuan itu berkerut kening, bahkan keningnya dikerutkan

kencang-kencang. Sampai lama kemudian baru bertanya, “Sebelum ini kau pernah kenal

dengannya?”

“Jangankan kenal, bersua pun tak pernah”

“Kau hanya melihat beberapa orang Hwesio itu sedang menganiayanya, lalu tanpa bertanya

hingga jelas kau sudah memaksa mereka tercebur ke dalam air?” Tanya Tosu perempuan itu lagi.

“Mereka memang tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bicara”

“Lalu?”

 

“Lalu dia memaksa aku minum arak menemaninya” jawab Toan Giok dengan wajah bersemu

“Kau pasti sudah minum kelewat banyak arak, bukan?” Tanya Tosu perempuan sambil menatap

lekat wajahnya.

“Tak bisa dibilang kelewat sedikit”

“Kemudian?”

“Kemudian..kemudian aku pergi”

“Begitu sederhana?”

“Heeeh!”

“Benar kau tidak dirugikan?”

“Benar, tak ada kerugian apa pun”

“Bila kau bukan kelewat pintar, nasibmu pasti sedang bagus!” puji Tosu perempuan sambil

“Memangnya siapa wanita itu? Apakah banyak orang sering mengalami kerugian di tangannya?”

Tak tahan Toan Giok bertanya.

Tosu perempuan menghela napas panjang, ujarnya, “Kau benar-benar tidak tahu? Dia adalah

begal wanita yang amat kesohor namanya di wilayah selatan”

Toan Giok tertegun, untuk sesaat itidak bicara.

Kembali Tosu perempuan berkata, “Setelah berpisah dengannya kau pun bertemu Kiau losam?”

“Betul, waktu itu fajar baru saja menyingsing” Toan Giok mengangguk membenarkan.

“Apakah waktu itu kau masih belum tahu orang macam apakah dia?”

Toan Giok tertawa getir.

“Aku hanya tahu, bukan saja dia menghendaki semua barang dalam sakuku, bahkan

mengundangku mencebur ke dalam air telaga untuk mandi”

“Saat itu kau masih berada di atas perahunya?”

“Ya, dan perahu itu sekarang sudah tenggelam” untuk menunjukkan rasa sosialnya Toan Giok

menghela napas.

“Ha ha ha, tapi kau tak mirip orang yang pernah tercebur ke dalam air,” seru Tosu perempuan

sambil tertawa geli.

“Memang perahunya sudah tenggelam, tapi aku tak ikut tenggelam,” Tak tahan ia tertawa geli,

lanjutnya, “Mungkin juga karena nasibku memang benar-benar sedang mujur”

“Ai, aku bilang mungkin dikarenakan nasibmu yang kurang mujur,” ujar Tosu perempuan itu

sambil menghela napas.

“Kenapa?” Tanya Toan Giok tercengang.

“Seandainya kau benar-benar tercebur ke dalam air, munkin kesulitan di kemudian hari bakal

ada sedikit lebih kecil”

“Aku tak mengerti?”

“Kau pernah mendengar nama Ceng-ong (Raja pendeta) Thiat-sui?”

“Belum”

“Dulunya orang ini adalah murid Siau-lim-pay, tapi lantaran tak kuat menahan belenggu dan

segala peraturan yang berlaku dalam biara, belakangan entah mengapa ternyata dalam gusarnya

dia meninggalkan Siau-lim-pay dan mengangkat diri menjadi raja diraja kaum pendeta. Bayangkan

saja, pihak biara Siau-lim-pay sendiri pun tak bisa berbuat banyak terhadapnya. Dari sini bisa

disimpulkan orang macam apakah dirinya itu.”

“Aku lihat orang ini selain makhluk aneh, nyalinya juga cukup gede,” seru Toan Giok agak

 

“Orang ini sama seperti namanya, terkadang orangnya temperamen, berangasan dan kasar,

terkadang dia halus dan pakai aturan, membikin orang susah meraba tabiat aslinya.”

“Kalau dilihat dari keberaniannya menantang Siau-lim-pay secara terang-terangan, jelas

kungfunya sangat lihay.”

“Betul, konon ilmu silatnya terhitung jagoan nomor satu dalam Siau-lim-pay, hanya saying

lantaran perangai dan sifatnya yang kelewat jelek, kedudukannya dalam biara Siau-lim selalu amat

rendah”

“Atau mungkin lantaran hal ini, maka dia tak betah dan meninggalkan biara Siau-lim?”

“Padahal dia tak bisa dibilang orang jahat, hanya sifatnya memang kelewat kasar, latah,

angkuh, jumawa dan pendendam. Saat tak pakai aturan jauh lebih banyak daripada saat dia pakai

aturan. Barang siapa berani membuat kesalahan terhadapnya, jangan harap bisa hidup tenteram”

Bicara sampai disini, kembali Tosu perempuan menghela napas, lanjutnya kemudian.

“Baru dua tiga bulan ia datang ke Kanglam, sudah ada tujuh-delapan orang jago Bu-lim

kenamaan yang keok di tangannya. Konon asal dia turun tangan, maka lawannya kalau tidak

mampus, pasti kehilangan sebuah lengan atau kakinya. Belum lama berselang Bu-ciu Toa-hau Pui

Kong terkena sebuah sodokan tinjunya, setelah muntah darah hampir dua bulan lamanya, dia

akhirnya mati di atas ranjang”

“Apakah Pui Kong yang kau maksud adalah Cianpwe yang konon telah berlatih ilmu Kim-ciongcau

(Sangkar genta emas) serta Thiat-poh-san (Jubah baja)?”

“Betul sekali” sahut Tosu perempuan sambil menghela napas, “Sampai orang yang telah

berlatih Kim-ciong-cau saja tak kuat menahan pukulannya, apalagi orang lain?”

Toan Giok termenung beberapa saat, kemudian katanya, “Berarti keempat Hwesio yang kuhajar

itu adalah anggota perguruannya?”

Tosu perempuan manggut-manggut.

“Sejak meninggalkan biara Siau-lim, dia mulai menerima murid secara besar-besaran. Barang

siapa ingin bergabung dalam perguruannya, mereka harus menggunduli kepala seperti Hwesio,

tapi setelah menjadi anggota perguruannya jangan kuatir ada orang berani menganiayanya. Oleh

sebab itulah jumlah muridnya sekarang mungkin jauh lebih banyak daripada jumlah murid biara

Siau-lim”

Setelah menghela napas, lanjutnya, “Bayangkan sendiri jika seseorang berani menyalahi orang

semacam ini, apakah kerepotannya tidak besar?”

Toan Giok terbungkam tak sanggup berkata-kata lagi.

Kembali Tosu perempuan itu berkata, “Apalagi dalam kejadian ini, kesalahan bukan berada di

pihaknya, melainkan di pihakmu”

“Di pihakku?”

“Sudah cukup banyak jago silat wilayah Kanglam yang jadi korban Hoa Ya-lay. Sekali pun Thiat

Sui membunuhnya, hal ini pun lumrah dan merupakan tindakan adil. Tapi sekarang kau telah

membela manusia semacam ini, bukankah sama artinya mencari penyakit buat diri sendiri?”

“Wah, tampaknya aku tak ingin mengaku salah pun sudah tak mungkin lagi,” Toan Giok tertawa

“Sekarang Thiat Sui pasti sudah menganggap kau sebagai komplotan Hoa Ya-lay, maka dia

pasti tak akan melepaskan dirimu.”

“Aku bisa memaklumi”

“Apakah kau sudah lupa, seringkali dia adalah seseorang yang tak pakai aturan?”

“Maka dari itu, kecuali aku digebuk sampai mati, rasanya memang sudah tak ada pilihan lagi!”

“Mungkin masih ada sebuah jalan yang bisa kau tempuh”

“Jalan yang mana?”

 

Dengan jari tangannya yang lentik, Tosu perempuan menuding ke depan. Yang dituding adalah

sebuah pintu.

Pintu itu berada di dalam warung arak yang gelap, lembab dan sempit, berada di belakang

meja kasir yang dipenuhi kacang rebus.

Tirai di depan pintu berwarna biru dan kotor oleh bekas minyak, di atasnya tertera tiga huruf

besar: “Ku-tojin”

“Apakah Tojin masih tidur?” tanya Toan Giok.

“Sejak kemarin ia berjudi hingga sekarang, sama sekali belum tidur sekejap pun.”

“Wah, hebat betul selera Tojin,” puji Toan Giok tertawa.

Tosu perempuan ikut tersenyum.

“Biar pun dia seorang setan judi, bahkan juga setan arak, tapi kesulitan apa pun yang sedang

kau hadapi, pasti akan dihasilkan cara paling aneh dan antic untuk menyelesaikannya. Kiau losam

memang tidak salah menyuruh kau mencarinya”

“Sekarang aku sudah boleh masuk untuk menemuinya?”

“Sahabat Kiau losam, sahabat kami juga, setiap saat kau boleh masuk ke dalam,” jawab Tosu

perempuan sambil tertawa, “Hanya saja…”

Sesudah menghela napas, wajahnya memperlihatkan mimik muka apa boleh buat, lanjutnya,

“BIasanya begitu si setan judi mulai bermain judi, biar langit ambruk pun dia tak bakal

mendongakkan kepala memandangmu sekejap.”

“Aku bisa menunggunya di samping, menonton orang berjudi terkadang merupakan hiburan

yang menarik”

Tosu perempuan itu menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, “Kelihatannya

kau tertarik dengan masalah apa pun.”

Belum sempat Toan Giok buka suara, terdengar Hoa Hoa-hong menyela dengan nada dingin,

“Perkataanmu tepat sekali! Diri dia sudah dijual orang pun, dia tetap merasa hal itu sangat

menarik.”

Selama ini dia hanya duduk di samping sambil mendengarkan, tampaknya selama ini dia selalu

merasa marah.

“Kau tak usah kuatir,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

“Biar pun ada orang hendak menjualku, belum tentu ada yang suka membeli.”

“Perkataan ini pun tidak salah,” kata Hoa Hoa-hong lagi sambil tertawa dingin, “Siapa yang mau

membeli orang goblok?”

“Benarkah aku seperti orang goblok?”

“Kau benar-benar hendak masuk ke dalam?”

“Kedatanganku memang khusus untuk menyambangi Ku-tojin”

“Dan kau tak akan percaya biar orang lain mengatakan apa pun?”

Toan Giok menghela napas panjang.

“Ai, bila kau tak percaya orang lain, mana mungkin orang lain mempercayaimu?”

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong bangkit. Dengan wajah masam serunya, “Baik, kalau akan pergi,

pergilah!”

“Dan kau?”

“Aku tak tertarik melihat orang main judi, aku terlebih tak ingin menemani orang goblok

mengantar kematian, aku masih ada urusan,” seru Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin.

Dia sama sekali tidak menengok lagi ke arah Toan Giok, sekejap pun tidak. Sambil membalik

badan, dia langsung beranjak pergi dari situ.

Toan Giok hanya mengawasinya, ternyata nona itu benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

“Kau tidak menahan kepergiannnya?” tanya Tosu perempuan sambil mengedipkan matanya.

 

Toan Giok menghela napas panjang.

“Bila seorang wanita sudah memutuskan akan pergi, tak seorang pun dapat menahannya.”

“Siapa tahu dia tak sungguh-sungguh akan pergi”

“Kalau dia tak sungguh-sungguh akan pergi, buat apa pula aku menahannya?”

Sekali lagi Tosu perempuan itu tertawa.

“Ternyata kau memang sangat menarik, terkadang aku pun merasa setiap perkataanmu sangat

masuk akal.”

“Sekarang aku hanya berharap nasibku betul-betul sedang mujur,” ucap Toan Giok sambil

tertawa getir.

“Tapi aku tetap akan membujukmu satu hal,” tiba-tiba Tosu perempuan itu berkata serius.

“Aku siap mendengarkan.”

“Setelah masuk ke dalam, jangan sekali-kali kau bertaruh dengan mereka. Kalau tidak, mungkin

kau benar-benar akan mempertaruhkan dirimu sendiri”

Tentu saja Toan Giok tak akan berjudi, karena hal itu merupakan salah satu pantangan yang

selalu diajarkan ayah kepadanya.

“Dalam sepuluh kali perjudian, Sembilan diantaranya adalah menipu. Dalam persilatan penuh

tersebar kaum penipu, semakin menganggap dirinya pintar dan cekatan, makin parah kekalahan

yang dideritanya. Sebelum kau tahu jelas asal-usul dan seluk-beluk orang lain, jangan sekali-kali

pergi berjudi, jangan sekali-kali kau lakukan.”

Toan Giok memang bukan termasuk orang yang bakal sakit parah, kalau tidak berjudi, tentu

saja dia tak akan ikut berjudi.

Bag 4. Ku-tojin, si setan judi

Ruangan di bagian belakang pun dipenuhi guci-guci arak yang kasar dan berat, guci itu

ditumpuk lapis per lapis , tumpukan yang tinggi sekali. Di bagian tengah tersisa sebuah lorong

sampai menuju ke belakang.

Sesudah melalui lorong sempit, kembali harus melewati sebuah pintu, dari luar pintu sudah

terdengar suara dadu yang dilempar di atas meja.

Hanya terdengar suara dadu yang dilempar, sementara orang-orang yang sedang bertaruh

kelihatan amat tenang.

Ada empat orang sedang bertaruh, seorang hanya membisu.

Keempat orang itu duduk di atas guci arak yang dilapisi papan duduk mengelilingi sebuah

gentong arak yang amat besar, rupanya gentong arak itu pun berlapiskan papan kayu.

Rupanya mereka sedang bermain Pay-kiu.

Bandarnya adalah seorang Tojin berlengan tunggal, jubah pendeta berwarna biru yang

dikenakan telah berubah jadi putih karena terlalu sering dicuci, tulang pipinya menonjol dengan

sepasang mata bersinar tajam. Meski mengocok kartu dengan tangan tunggal, namun

kecepatannya justru melebihi mereka yang mempunyai dua tangan.

Toan Giok tahu, dia pastilah Lopan tempat ini, Ku-tojin.

Sementara tiga orang lainnya adalah seorang kakek ceking kecil berwajah cerah dan penuh

semangat dengan sepasang tangan berkuku panjang, ia mengenakan cincin kumala hijau sebesar

ibu jari di tangannya.

Orang kedua adalah seorang lelaki setengah umur berwajah penyakitan, tiada hentinya ia

menutupi mulutnya dengan saputangan putih dan batuk tiada hentinya.

 

Setiap dua kali menggunakan saputangan untuk menutup mulutnya, orang yang berdiri di

sampingnya selalu memberikan selembar saputangan baru .untuk menggantikan.

Orang ini bukan saja sangat teliti dalam menggunakanj barang, bahkan suka akan kebersihan.

Sayangnya tempat itu sangat kotor dan lembab, tapi ia sudah sehari semalam duduk di sana

bermain judi.

Bagi orang yang suka berjudi, asal bisa main judi, sekalipun harus duduk di tepi jalan, mereka

tetap akan bermain judi dengan asyiknya.

Orang berikut adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar, wajahnya penuh cambang dan

mukanya kereng, sepasang tangannya kasar sekali, kelima jari tangannya mempunyai ukuran

berimbang, jelas dia adalah jagoan yang berlatih ilmu Thiat-sah-ciang atau sebangsanya, bahkan

hasil latihannya pasti luar biasa.

Pakaian yang dikenakan ketiga orang ini sangat halus dan mewah. Dari gaya serta tingkahlakunya,

jelas mereka punya kedudukan tinggi dalam masyarakat.

Namun yang mereka pertaruhkan hanyalah puluhan lembar nomor yang terbuat dari kertas

Di atas setiap angka tercantum tiga huruf besar, “Ku-tojin”, gaya tulisannya indah menawan,

tampaknya merupakan tulisan asli Ku-tojin.

Bagi penggemar judi, asal ada yang dipertaruhkan, kalah menang, besar-kecil sudah bukan

masalah bagi mereka.

Oleh karena itu mereka berempat bermain judi dengan konsentrasi penuh, paras muka mereka

telah berubah putih pucat, namun tak seorang pun yang buka suara.

Lelaki yang berlatih ilmu Thiat-sah-ciang itu baru saja memenangkan empat angka, peluh mulai

membasahi jidatnya, bahkan sepasang tangannya yang tak pernah gemetar sewaktu membunuh

orang pun kini mulai tampak bergetar keras. Sambil menggigit bibir, akhirnya ia dorong keempat

kartunya ke depan.

Lelaki setengah umur penyakitan itu turut mengucurkan keringat, dia pun mendorong keempat

kartunya ke depan.

Kini tinggal si kakek kurus ceking berbaju perlente itu yang masih menghitung angka kartunya

dengan perlahan, tiba-tiba dia menghembuskan napas sambil mengeluh, “Hari ini aku tidak kalah,

juga tidak menang.”

“Buat apa membicarakan kalah menang di saat ini?” tegur lelaki bercambang itu dengan kening

berkerut, “Jangan-jangan, kau ingin menyudahi taruhan kali ini?”

Kakek itu manggut-manggut dan berdiri, dengan senyum tak senyum katanya, “Kalian berdua

boleh saja melanjutkan permainan, aku masih ada urusan, mohon pamit dulu.”

“Hanya tinggal kita bertiga, mau main apaan? Ci-ang, masa kau tak bisa tinggal sejenak lagi?”

pinta lelaki bercambang itu dengan paras muka berubah.

Tapi kakek itu sudah membuka tirai pintu dan beranjak keluar dari sana tanpa berpaling lagi.

Sambil menggigit bibir, dengan gemas lelaki bercambang itu mengumpat, “Dasar rase tua,

kalau sudah main judi, liciknya melebihi setan…Baiklah ayo kita bertiga lanjutkan pertaruhan ini”

Lelaki setengah umur penyakitan itu masih menghitung angka kartu di hadapannya, lalu sambil

terbatuk-batuk katanya,

“Kalau tinggal kita bertiga, bagaimana bisa melanjutkan taruhan ini? Aku rasa hari ini kita bubar

sampai di sini saja!”

“Masa sekarang juga bubar?” lelaki bercambang itu semakin panik. “Aku sudah kalah belasan

renceng uang logam.” Ternyata satu kartu hanya bernilai satu renceng uang logam.

 

Kelihatannya lelaki bercambang itu memiliki watak mencari menang sendiri, dia pantang

menyerah begitu saja. Kalau tidak, mana mungkin dia begitu pantang membuang belasan renceng

uang logamnya.

Tampaknya selera Ku-tojin bermain judi pun telah sirna. Ketika melihat dalam ruangan telah

bertambah satu orang, ia segera mengangkat wajahnya, memandang Toan Giok beberapa kejap,

lalu sapanya sambil tersenyum, “Sahabat cilik, apakah kau punya keinginan untuk ikut serta dalam

permainan kami?”

Baru saja Toan Giok hendak menjawab “Tidak”, lelaki bercambang itu sudah menyerobot bicara

lebih duluan, “Bermain kecil-kecilan, tidak masalah! Selesai bertaruh nanti, aku pasti akan

mengundangmu minum arak.”

“Uang yang mereka pertaruhkan sesungguhnya memang tak terlalu besar,” Toan Giok berpikir.

“Lagi pula aku datang mencari mereka karena ingin mohon pertolongan, kurang enak rasanya

mengganggu kesenangan mereka. Apalah artinya kalau kalah sedikit?”

Berpikir begitu, dia pun menyahut sambil tertawa, “Baiklah, aku akan menemani kalian bertiga

bermain sebentar, tapi aku tak pandai berjudi.”

Paras muka lelaki bercambang itu kontan berseri, dengan girang ujarnya, “Sobat, ternyata kau

cukup menarik.”

Dengan sorot matanya yang tajam, Ku-tojin mengamati Toan Giok beberapa saat, tiba-tiba

tanyanya sambil tersenyum, “Dari logat bicaramu, rasanya kau berasal dari wilayah utara?”

“Betul aku dari daratan Tionggoan.”

“Kau she apa?”

“Aku she Toan, bernama Giok.”

Semakin mencorong sinar terang dari balik mata Ku-tojin, katanya lagi sambil lertawa, “Sobat

Toan, bagaimana kalau kau bertaruh untuk. posisi Thian-bun saja?”

“Boleh!”

Pada posisi Thian-bun masih tersisa setumpuk kartu peninggalan kakek tua tadi, mungkin

tumpukan kartunya masih ada empat-lima puluhan.

Terdengar Ku-tojin berkata lagi, “Kita baru akan membuat perhitungan seusai bertaruh nanti,

sobat. Kau tidak usah mengeluarkan modal dulu juga tidak masalah.”

“Tidak mengapa,” jawab Toan Giok sambil tertawa. “Aku masih membawa beberapa tahil.”

Selama ini lelaki setengah umur penyakitan mengawasi dia tanpa berkedip, tiba-tiba katanya,

“Sobat, boleh tahu berapa banyak yang ingin kau pertaruhkan?”

Toan Giok mengambil semua kartu tinggalan si kakek, lalu mulai menghitung, setelah itu ia

berkata, “Sementara aku bertaruh yang ini saja, kalau semisal kalah baru kita bicarakan lagi”

Lelaki berewok tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha, bagus sekali! Kalau ingin berjudi, cara bertaruh semacam inilah baru mantap

rasanya, hari ini juga aku Ong Hui memutuskan untuk bersahabat denganmu.”

Lelaki setengah umur itu berkata pula sambil tersenyum, “Cayhe she Lu bernama Heng-kiu,

sobat-sobat menyebutku sebagai Lu Kiu”

“Syukurlah bisa bersahabat dengan kalian semua,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

Maka dia pun melempar empat kartu sebagai taruhannya.

Dadu yang dilemparkan Ku-tojin menunjukkan tujuh angka sedang sudut Thian-bun

melemparkan dadu mendapat dua angka tiga, berarti enam titik.

Berarti pihak bandar memperoleh angka yang lebih tinggi dan Toan Giok pun kalah.

 

Lemparan dadu kedua dari pihak bandar mendapatkan lagi angka tujuh, sedang pihak Thianbun

memperoleh angka enam.

Lagi-lagiToan Giok kalah.

Lemparan dadu ketiga pihak Bandar mendapat angka dua, sayang dari pihak Thian-bun

mendapat angka sepuluh, jeblok.

Akhirnya pihak Bandar memperoleh angka yang hebat. Dalam taruhan kali ini, Toan Giok lagilagi

kalah enam pasangan.

Anak muda ini memang tegar. Sekali pun sudah kalah banyak, namun paras mukanya sama

sekali tak berubah.

Kalau diperhitungkan dengan uangnya, maka enam belas kartu sama nilainya dengan seratus

enam puluh tahil perak, tapi Toan Giok masih berlagak seolah tak merasa.

Pada putaran yang kedua, secara beruntun dia kalah lagi empat kali, kembali enam belas

lembar kartu harus diserahkan orang.

Sampai di sini paras mukanya tetap belum berubah. Lu Kiu mulai memandang kea rah Ong Hui.

Mimik muka mereka mulai menunjukkan perasaan heran dan tercengang, disamping perasaan

kagum yang luar biasa.

Tampaknya Ong Hui semakin menaruh simpatik terhadap anak muda yang baru dewasa itu, tak

tahan katanya, “Lote, kalau rezeki kurang bagus, lebih baik kurangi taruhanmu,.”

“Ah, tidak masalah,” jawab Toan Giok sambil tertawa.

Kali ini dia memasang delapan lembar kartu, maksudnya biar cepat kalah dan habis, hingga ia

bisa segera membicarakan masalah pokok dengan Ku-tojin.

Baginya kalah berjudi bukan masalah, si raja pendeta Thiat Sui pun belum tentu bisa

membuatnnya mundur.

Dia tak ingin mencari masalah, terlebih lagi dia takut ayahnya tahu membuat gara-gara di

Apabila Ku-tojin dapat membantunya mengubah masalah besar menjadi kecil, masalah kecil

jadi tiada urusan sehingga dia bisa secepatnya tiba di Po-cu-san-ceng, baginya biar kalah lebih

banyak pun tetap akan dihadapinya dengan perasaan riang.

Siapa tahun pada putaran ketiga, nasibnya mulai berubah lebih mujur.

Pada lemparan dadu pertama ia memperoleh angka satu, sayangnya pihak bandar juga

mendapat angka sepuluh alias jeblok.

Maka dari delapan kartu yang dipasang, dia pun mendapat keuntungan enam belas lembar.

Ketika keenam belas lembar kartu itu dipasangkan keseluruhannya, lagi-lagi dia memperoleh

angka tinggi.

Tentu saja anak muda ini merasa sangat gembira, tapi dia tak ingin menangkan uang itu, maka

ketiga puluh dua lembar kartu itu dipasangkan semuanya, dia ingin secepatnya kalah hingga

semua uangnya ludas.

Ku-tojin yang menang kalah tak pernah berubah muka, kali ini terjadi sedikit perubahan pada

mimik mukanya.

Apalagi Lu Kiu dan Ong Hui, wajah mereka selain diliputi perasaan tercengang, rasa kagum

yang luar biasa pun semakin mengental.

“Lote, masa sekaligus kau memasang taruhan sebesar ini? Lebih baik kita bertaruh secara

perlahan-lahan,” bujuk Ong Hui.

“Tidak jadi masalah,” sahut Toan Giok sambil tersenyum.

 

Sekali lagi Ong Hui menatapnya, tiba-tiba dia acungkan ibu jari sambil memuji, “Lote, kau

memang luar biasa!”

“Luar biasa” kata Lu Kiu pula sambil menghela napas.

“Cara bertaruh Lote memang luar biasa ganasnya, ternyata Enghiong memang tumbuh pada

anak muda”

Toan Giok hanya tersenyum, ia merasa kejadian ini lucu dan menarik, bahkan berkesan sedikit

Padahal yang dia pertaruhkan tak lebih hanya tiga puluh dua lembar kartu dari karton tebal,

kenapa orang-orang itu memandangnya begitu serius dan bersungguh sungguh?

Padahal baginya hal seperti ini bukan masalah.

Dia pun lagi-lagi menang, dari tiga puluh dua lembar kartu sekarang telah berubah menjadi

seratus dua puluh delapan lembar.

Peluh sebesar kedelai mulai bercucuran membasahi jidat Ku-tojin. Sebagai bandar, dia harus

mengeluarkan sekian banyak kartu untuk membayar taruhan orang.

Toan Giok tersenyum, kali ini dia dorong seluruh kartu itu ke tengah arena pertaruhan.

“Eh, kau benar-benar hendak bertaruh sebanyak ini?” tegur Ku-tojin dengan wajah berubah.

“Betul, sebanyak itu,” jawab Toan Giok tersenyum.

Ku-tojin memandang Lu Kiu sekejap, lalu memandang Ong Hui, tiba-tiba ia mendorong balik

semua taruhannya dari tengah meja, katanya sambil menghela napas, “Ai, aku menyerah

padamu!”

“Lho, kau tak mau bertaruh?” tanya Toan Giok tertegun.

“Anggap saja hari ini aku mengaku kalah,” sahut Ku-tojin sambil tertawa getir.

Toan Giok memandang Lu Kiu, lalu memandang pula Ong Hui.

Ternyata kali ini Ong Hui pun tidak buka suara.

“Baguslah kalau kita sudahi pertaruhan sampai di sini,” kata Toan Giok kemudian sambil

tersenyum, “Mari kutraktir kalian bertiga dua-tiga cawan arak.”

Diambilnya dua lembar kartu dari tumpukan taruhannya, lalu disisipkan ke tangan seorang

pelayan yang berada di sisinya.

“Ambil, tip buatmu.”

Pucat-pias wajah pelayan itu, bisiknya tergagap, “Mana.. mana berani kuterima ….”

“Tidak apa, ambil saja, sana minum arak di luar, rekeningnya biar ditagihkan padaku.”

Memegang uang tip pemberian Toan Giok, sekujur badan pelayan itu gemetar tiada hentinya,

tiba-tiba ia melompat sambil berjingkrak-jingkrak, lalu lari keluar pintu dan tertawa tergelak

tiada habisnya..

Sambil menghela napas, ujar Lu Kiu, “Tak heran si buta Ciu pernah meramal kalau tahun ini si

Phoa kecil bakal kaya, ternyata ramalannya memang tepat.”

Ong Hui menepuk bahu Toan Giok kuat-kuat, pujinya pula, “Lote, kau memang sangat royal,

aku kagum dan benar-benar takluk.”

Toan Giok sedikit bingung, lamat-lamat ia mulai merasa kalau satu lembar kartu nilainya bukan

hanya satu renceng uang logam.

Hingga detik itu paras muka Ku-tojin baru lambat-laun pulih dalam ketenangan.

“Coba kau hitung dulu sudah menang berapa?”

“Tak usah dihitung.”

Kecuali modal awal, sisanya yang masih berjumlah delapan-sembilan puluh lembar kartu itu dia

dorong ke muka dan berkata sambil tersenyum,

”Anggap saja ini semua biaya uang arak kita, kutraktir kalian minum sampai puas.”

 

Sekali lagi muka Ku-tojin berubah, entah terkejut atau gembira, lewat beberapa saat kemudian,

ia baru berkata, “Aku tak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Jumlah ini kelewat banyak.”

Toan Giok berpikir sejenak, lalu katanya kemudian sambil tertawa, “Baiklah, kalau begitu akan

kutarik balik sepuluh lembar, anggap saja uang tip buat aku. Sedang sisanya tolong diterima,

kalau tidak, berarti kau pandang hina aku, enggan bersahabat dengan diriku.”

Ku-tojin memandangnya tajam-tajam, sampai lama kemudian baru menghela napas panjang,

“Di kemudian hari kau pasti akan mempunyai banyak teman.”

Sambil mengacungkan jempol, puji Ong Hui pula, “Lote, orang royal macam kau pasti akan

banyak mempunyai teman. Apalagi orang yang berjiwa besar macam kau, mungkin susah

ditemukan keduanya di wilayah Kanglam saat ini.”

“Bila di kemudian hari kau ada waktu, silakan mampir di perkampungan Say-hun-ceng untuk

mengobrol,” undang Lu Kiu.

“Say-hun-ceng? Jadi kau adalah Miau-jiu-wi-mo (Wi-mo berilmu tinggi) Lu Say-hun, Lu-loyacu?”

“Ha ha ha, aku rasa Lote pastilah Toasiauya dari Toan Hui-him, Toan-loyacu, bukan?” balas Lu

Kiu sambil tersenyum.

Sambil bertepuk tangan Ong Hui ikut menimbrung, “Betul, kecuali Kongcu dari keluarga Toan,

siapa lagi yang berani begitu royal?”

Toan Giok tertegun, untuk sesaat ia tak mampu berkata-kata.

Say-hun Cengcu Lu Kiu adalah seorang saudagar kaya-raya, dulunya dia adalah seorang

Kongcu kenamaan wilayah Kanglam. Bukan saja hebat dalam Bu maupun Bun, bahkan dia pun

menguasai ilmu main Khim, catur, menulis, melukis, memetik sitar dan lain-lain.

Tapi hampir semua orang persilatan tahu kalau ilmunya yang paling hebat tetap adalah ilmu

bermain judi.

Dengan kedudukannya dalam Bu-lim, dapat dipastikan dia tak akan bertaruh Pay-kiu hanya

bermodal beberapa renceng uang logam saja.

Lantas berapakah nilai satu pasangan?

“Sisanya masih ada belasan kartu, boleh tahu Toan kongcu akan mengambilnya dalam bentuk

apa?” tanya Ku-tojin.

“Terserah, apa pun mau.”

“Bagaimana kalau dibayar dengan emas lantakan?”

“Boleh saja.”

Meskipun masih tersenyum, namun dalam hati ia berusaha mengendalikan gejolak perasaan

yang luar biasa, dia tak ingin orang lain melihat perasaan terperanjatnya.

Sementara itu Ku-tojin telah menyingkirkan penutup guci arak yang didudukinya tadi dan mulai

membongkar segelnya.

Temyata isi guci itu bukan arak, melainkan lantakan emas yang sangat banyak.

“Setiap lantakan emas ini nilainya delapan ratus lima puluh tahil,” kata Ku-tojin, “karena Kongcu

minta dalam bentuk emas, berarti jumlah keseluruhannya adalah delapan puluh laksa tahil, silakan

Toan-kongcu menerimanya.”

Untuk kesekian kalinya, Toan Giok tertegun.

Ternyata satu kartu pasangan nilainya adalah seribu tahil perak!

Padahal baru saja dia mendorong puluhan laksa tahil perak untuk dijadikan barang taruhan.

 

Selama ini Toan-loyacu selalu mendidik putranya dengan sangat ketat, karena dia berharap

putra tunggalnya bisa dilatih menjadi seorang manusia jujur yang berguna, dia tak ingin putranya

menjadi seorang Kongcu hidung bangor yang melihat emas bagai sampah.

Oleh sebab itu hingga Toan Giok berusia dua belas tahun, ia baru mulai menerima uang jajan

secara rutin.

Pada mulanya uang jajan yang diterima per bulannya hanya satutahil perak, baru setelah

menginjak usia empat belas tahun, uang jajannya ditingkatkan menjadi dua tahil.

Ketika mencapai usia enam belas tahun, atas usaha ibunya, ia baru menerima uang jajan

sebesar sepuluh tahil.

Keadaan ini berIangsung terus hingga usia delapan belas tahun.

Kali ini untuk pertama kalinya dia meninggalkan rumah, meski Toan loyacu memberi sangu

sepuluh lembar uang kertas yang nilai per lembarnya mencapai seratus tahil, namun berulang kali

orang tua itu berpesan agar dia tidak memakainyasecara boros, apalagi menghabiskannya.

Seribu tahil uang kertas yang digembolnya sekarang merupakan harta kekayaan paling besar

yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Biarpun ia termasuk royal, namun semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati, bahkan daun

emas pemberian ibunya yang dipersiapkan bila keadaan mendesak pun dia sudah berencana untuk

sama sekali tidak menyentuhnya.

Dalam anggapannya, bila orang ingin menghamburkan uang, dia harus menghamburkan uang

hasil keringat sendiri.

Selama ini dia selalu memandang rendah kawanan manusia yang selalu mengandalkan

kekayaan orang-tuanya untuk berfoya-foya.

Kenyataan, belum pemah dia menghambur-hamburkan uang, walau hanya setahil pun.

Tapi barusan, tanpa diketahui apa yang sebenarnya telah terjadi, dia telah menghadiahkan

ribuan tahil untuk seorang pelayan muda, kemudian menghadiahkan enam-tujuh puluh laksa tahil

perak untuk Ku-tojin.

Toan Giok menarik napas dalam-dalam, lalu duduk kembali, dengan termangu diawasinya

tumpukan emas yang berserakan di hadapannya.

Sepanjang hidup, belum pemah dia memiliki uang sebanyak ini.

Kini ia sudah mempunyai sepuluh laksa tahil, apa pun yang dulu mustahil bisa dilakukan, kini

dapat dilakukan sepuas hati.

Mau arak wangi, perempuan cantik … apa yang dia inginkan, semuanya akan segera terpenuhi.

Paling tidak ia tak usah berusaha keras ‘mengekang diri, paling tidak dia harus mencari

kegembiraan selatna beberapa hari, menikmati semua kenikmatan yang belum pernah dicicipi.

Bagi seorang pemuda yang baru keluar rumah, jelas keadaan itu merupakan godaan yang

susah dilawan.

Sekali pun bagi seorang kakek tua, siapa bilang hal ini bukan godaan yang merangsang?

Ku-tojin menatapnya, kemudian berkata sambil tertawa,

“Menggembol sepuluh laksa tahil, naik bangau pesiar ke Hang-ciu. Setelah mempunyai uang

sebanyak ini, mau kemana pun kau bisa bermain dan berpesiar sepuas hati!”

“Betul,” sambung Ong Hui sambil tergelak. “Apalagi kalau uang itu diperoleh dari menang judi,

biar habis pun bukan masalah.”

“Padahal di kota Hangciu pun banyak terdapat tempat tempat yang menarik hati, perempuan

cantik dari Hangciu juga selama ini tersohor di seantero jagat. Toan-kongcu masih muda dan

banyak duit, kenapa tidak kau gunakan kesempatan ini untuk mencari kenikmatan duniawi?”

 

Toan Giok termenung sejenak, tiba-tiba ujarnya, “Sepuluh laksa tahil perak ini pun aku tak bisa

menerimanya.”

“Kenapa ?” tanya Ku-tojin dengan kening berkerut.

Setelah menghela napas dan tertawa getir, kata Toan Giok, “Aku sama sekali tak tahu kalau

sekali pasang adalah seribu tahil perak'”

Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk buka suara, dengan cepat dia

menambahkan, “Seandainya tahu, aku tak bakal ikut bertaruh, sebab kalau aku kalah, dengan

uang apa aku mesti membayarnya?”

“Tapi kenyataannya sekarang kau tidak kalah.”

“Kalau kalah tak mampu membayar, bila menang pun tidak seharusnya menerima uangnya!”

“Kalau kau tidak bicara, siapa pun tak tahu kalau kau tak mampu membayar bila kalah?”

“Tapi aku sendiri tahu dengan jelas, mungkin saja aku bisa membohongi orang lain, tapi tak

mampu membohongi diri sendiri, maka dari itu bila kuambil uang ini, setiap malam pasti tak dapat

tidur.”

Ku-tojin segera tertawa, setelah memandang Ong Hui dan Lu Kiu sekejap, tanyanya,

“Pernahkah kalian bertemu dengan pemuda segoblok ini?”

“Belum pernah,” Lu Kiu menggeleng.

“Ai, aku lihat pemuda masa kini makin lama semakin pintar saja,” keluh Ong Hui sambil

menghela napas.

Merah jengah wajah Toan Giok.

“Mungkin aku tidak terlalu pintar, tapi masih tahu dengan jelas mana yang boleh diambil dan

mana yang tidak boleh,” katanya.

Ong Hui segera memandang Toan Giok, lalu Lu Kiu, teriaknya tak puas, “Memangnya uang itu

kau peroleh dan mencuri?”

“Tidak,” Lu Kiu menggeleng.

Sambil tertawa tergelak, seru Ong Hui, “Setiap orang persilatan tahu, mungkin asal-usul Ku-loto

memang kurang begitu jelas, tapi yang pasti dia bukan bandit, apalagi begal.”

“Apakah kita main judi juga hanya pura-pura?” Ku-tojin menambahkan.

“Semua orang tahu, main judi di sini paling keras. Kalau tidak, hampir setiap sudut kota

Hangciu terdapat rumah perjudian, mengapa kami justru lebih suka main judi di tempat bobrok

seperti ini?” sahut Ong Hui.

Kini Ku-tojin baru berpaling, katanya sambil melotot ke arah Toan Giok, “Kalau memang uang

itu bukan diperoleh dengan mencuri, main judi pun bukan pura-pura. Setelah menang, kenapa

uang itu tidak kau ambil?”

“Aku aku,” saking cemasnya, merah padam seluruh wajah Toan Giok, ucapannya pun tergagap.

“Seandainya kalah, mungkin kau tak mampu membayar, tapi kenyataannya kau tidak kalah,

karena nasibmu memang mujur. Oleh sebab itu kau sudah sepantasnya memenangkan uang ini

dan pantas juga menikmati hidup yang lebih nyaman.”

“Tepat sekali,” sambil tertawa Ong Hui menambahkan. “Kalau nasib orang lagi mujur, sedang

berjalan di jalan raya pun kakinya bisa tersandung Goanpo.”

“Memang tak ada nasib mujur lain yang jauh lebih baik daripada kejad ian seperti ini,” kata Lu

Kiu sambil tersenyum.

“Tapi orang bemasib mujur memang tak banyak di dunia ini” sambung Ong Hui.

“Apalagi kau bukan cuma bernasib mujur, jiwamu pun sangat jujur, biasanya Thian akan

memperlakukan orang semacam ini secara istimewa,” kata Ku-tojin lagi. “Jadi semua uang itu

 

memang seharusnya menjadi milikmu. Ayo cepat bawa pergi!, kalau tidak, mungkin kami akan ikut

sial.”

“Tapi aku…”

Ku-tojin segera menukas, malah sambil menarik wajah dia berteriak, “Bila kau masih saja

berlagak sungkan, artinya kau tak sudi berkena lan dan bersahabat dengan kami.”

ToanGiok masih tampak ragu, akhirnya dia menghela napas, “Ai, kalau memang begitu, akan

kuterima uang ini.”

Kemudian dengan wajah bersemu merah dan tertawa geli, tambahnya, “Terus terang aku

bukannya benar-benar tak mau, hanya saja selama hidup belum pernah kumiliki uang sebanyak

ini. Jadi bingung cara bagaimana menghamburkan?”

“Kalau masalah ini tak perlu terburu-buru, kujamin di kemudian hari kau pasti pandai

menghamburkannya,” seru Ku-tojin tertawa,

Ong Hui ikut tertawa, “Seorang lelaki boleh saja tak sembarangan menghamburkan uang, tapi

tak boleh tak mengerti bagaimana menghamburkan uang.”

“Ha ha ha, lelaki yang tak paham cara menghamburkan uang dia pasti seorang lelaki tak

berguna!”

“Betul, oleh karena itu kau harus mengerti bagaimana menghamburkannya, lalu baru mengerti

cara mencarinya.”

Toan Giok ikut tertawa.

“Aku berjanji di kemudian hari pasti akan mempelajarinya dengan seksama,” janjinya.

“Aku pun menjamin, mempelajari ilmu semacam ini bukan saja jauh lebih cepat daripada

mempelajari ilmu lain, bahkan pasti sangat gembira,” tambah Ong Hui sambil tertawa.

“Aku percaya.”

Selama ini Lu Kiu hanya mengamati dengan seksama, tiba-tiba is bertanya, “Sebetulnya kau

datang bukan untuk berjudi, bukan?”

“Bukan!”

“Lantas apakah kau menjumpai kesulitan?”

“Darimana Cianpwe bisa tahu?” Toan Giok balik bertanya dengan tertegun.

Lu Kiu tertawa.

“Kalau bukan sedang menghadapi masalah, siapa bakal mau datang menjumpai Tojin dekil

macam dia?”

“Karena sekarang kita sudah menjadi teman, kesulitan apa pun yang sedang kau hadapi, boleh

kau utarakan,” sela Ong Hui cepat.

“Hahaha, mungkin kau masih belum tahu asal-usul orang ini,” seru Ku-tojin sambil tertawa.

“Mohon petunjuk.”

“Kalau disinggung asal-usul orang ini, sebetulnya dia amat tersohor di seantero jagat,” lanjut

Ku-tojin. “Pernah kau dengar Pi-lik-tong yang tersohor di wilayah Kanglam karena senjata apinya?”

“Sudah lama kudengar nama ini.”

“Nah, dia adalah Tongcu baru dari Pi-lik-tong, orang persilatan menyebutnya Pi-lik-hwe (Api

gedelek).”

Sambil menepuk dada, Ong Hui menambahkan, “Oleh sebab itu, bila kesulitanmu tak bisa

diselesaikan kami bertiga, mungkin di wilayah Kanglam tak ada orang lagi yang bisa

menyelesaikan masalahmu itu.”

 

Toan Giok menghela napas panjang, ujarnya, “Padahal tanpa sengaja aku telah menyalahi

seseorang.”

“Menyalahi siapa?”

“Orang menyebutnya si Raja pendeta Thiat Sui.”

“Bagaimana ceritanya sampai kau menyalahi dia?” tanya Ong Hui dengan kening berkerut.

Merah padam wajah Toan Giok lantaran jengah.

“Ai, gara-gara seseorang!”

“Siapa?”

“Hoa Ya-lay.”

“Apakah si begal wanita Hoa Ya-Iay?”

“Mungkin dia”

Ong Hui menarik muka, tegumya, “Apa hubunganmu dengan perempuan itu? Dia apamu?”

“Sesungguhnya aku tak kenal perempuan itu,” ujar Toan Giok sambil tertawa getir.

“Tapi gara-gara dia, kau tak segan menyalahi Raja pendeta Thiat Sui?”

“Aku sama sekali tak tahu kalau keempat orang Hwesio itu adalah muridnya,” kembali Toan

Giok menghela napas.

“Empat orang Hwesio?”

“Aku sendiri pun tak tahu mengapa Thiat Sui mengirim anak muridnya untuk mencari Hoa Yalay.

Waktu itu aku bahkan tidak mengetahui asal-usul mereka, juga

Aku tak tahu kalau Hoa Ya-lay sendiri pun seorang bandit. Aku hanya merasa sepak terjang

keempat orang Hwesio itu buas dan galak sekali”

“Maka kau merasa tak terima, dan tanpa mencari tahu dulu duduk persoalan langsung ikut

campur urusan mereka?” sela Ong Hui

Kembali paras muka Toan Giok berubah merah padam..

“Aku memang kelewat ceroboh dan gegabah, tapi keempat orang Hwesio itu benar-benar

kelewat buas.”

Tiba-tiba Ku-tojin menghela napas, katanya, “Thiat Sui sendiri memang seseorang yang tak

tahu aturan, tentu saja anak muridnya meniru gaya gurunya, tapi kau…. kenapa kau tidak

mencampuri urusan lain, justru mencampuri urusan Hoa Ya-lay?”

Selama ini Lu Kiu hanya mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba ia menimbrung, “Tahukah

kau mengapa Thiat Sui pergi mencari Hoa Ya-lay?”

Toan Giok menggeleng.

Lu Kiu mengambil dulu saputangan untuk berbatuk beberapa kali, setelah itu perlahan-lahan

baru berkata, “Dia berbuat begitu lantaran aku!”

Sekali lagi Toan Giok terperangah.

Terdengar Lu Kiu berkata lebih jauh, “Aku mempunyai seorang putra, bernama Lu Siau-hun.”

“Aku pernah mendengar nama ini.”

“O ya? Selama ini kau berada di daratan Tionggoan bagaimana mungkin bisa mendengar

tentang dia?”

“Karena ayah pernah memberitahu kepadaku,” sahut Toan Giok tergagap. “Beliau bilang, aku

pasti akan bertemu dengannya di Po-cu-san-ceng, bahkan minta aku menyampaikan salam untuk

kau orang-tua.”

Dia memang tidak berbohong, namun semua jawabannya pun bukan kata sejujurnya.

Toan-loyacu minta dia secara khusus mewaspadai Lu Siau-hun, sebab di antara para pemuda

yang datang mencari jodoh di Po-cu-san-ceng, hanya ada dua-tiga orang di antaran yang

merupakan musuh tangguh, Lu Siau-hun adalah salah satu di antaranya.

 

Tapi Lu Kiu sangat mempercayai perkataannya itu perlahan dia mengangguk.

“Betul, kali ini aku pun minta dia datang ke Po-cu-sa ceng untuk menyampaikan selamat ulang

tahun. Apaka lantaran alasan yang sama kau datang ke wilayah Kanglam ini?”

“Benar.”

“Tapi setibanya di kota Hangciu, tiba-tiba ia hilang!” kata Lu Kiu lebih lanjut.

“Hilang? Darimana Cianpwe tahu kalau dia hilang?”

“Sebetulnya aku datang bersamanya, karena aku harus pergi menjumpai Thiat Sui. Tapi pada

empat hari berselang, setelah bocah itu keluar rumah, dia tak pernah muncul kembali.”

Lagi-lagi dia terbatuk beberapa kali, kemudian baru melanjutkan, Pada hari itulah ada orang

melihat dia berada bersama Hoa Ya-lay, si bandit wanita itu.”

“Oh, jadi Thiat Sui memerintahkan muridnya pergi mencari Hoa Ya-lay karena ia hendak

mencari tahu kabar berita tentang putramu?”

“Betul.”

Toan Giok tak dapat bcrsuara lagi.

Tiba-tiba Lu Kiu bertanya lagi, “Tahukah kau mengapa aku datang kemari mencari Ku-tojin?”

“Memangnya bukan untuk main judi?”

“Selain main judi, masih ada sebuah alasan penting lainnya”

“Alasan apa?”

“Mencari kau”

Sekali lagi Toan Giok tertegun.

Kembali Lu Kiu berkata, “Kemarin aku mendapat laporan kalau ada seorang pemuda yang tak

jelas asal-usulnya telah membantu Hoa Ya-lay menghajar keempat Hwesio murid Thiat Sui hingga

tercebur ke air, kemudian pemuda itu pergi bersama Hoa Ya-lay dan kabar beritanya lenyap begitu

saja.”

“Maka kau pun datang ke tempatku untuk mencari tahu jejak pemuda ini?” sambung Ku-tojin.

“Untuk wilayah seputar sini, siapa lagi orangnya yang lebih jelas mengetahui berita baru di

tempat ini?”

“Tapi hingga sekarang kau belum buka suara?”

Lu Kiu tertawa.

“Siapa pun orangnya, mereka pasti tahu, untuk datang minta bantuan kepadamu paling tidak

harus menemanimu bermain judi lebih dulu hingga puas.”

Ku-tojin ikut tertawa.

“Ha ha ha, tak nyana nama besarku sebagai setan judi ternyata sudah tersiar juga sampai ke

Say-hun-san-ceng.”

Lu Kiu menatap Toan Giok sekejap, kemudian setelah berbatuk katanya, “Tadi, seandainya kau

tidak berjudi melawan kami, mungkin sekarang aku telah turun tangan terhadapmu, sebab

sewaktu berjudi paling gampang untuk menilai watak seseorang. Oleh karena itu aku percaya kau

adalah seorang pemuda jujur, maka aku pun percaya kau sama sekali tidak berbohong.”

“Sungguh tak nyana, berjudi pun ada manfaatnya,” ujar Toan Giok sambil tertawa getir.

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya lagi, “Jadi putramu lenyap sejak empat hari

berselang?”

“Benar.”

“Selama empat hari Cianpwe tak berhasil menemukan Hoa Ya-lay?”

“Jejaknya memang tak menentu dan sukar dilacak. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa hidup

hingga sekarang?” jawab Lu Kiu dingin.

 

“Tapi kenyataan dua hari berselang secara tiba-tiba ia menampakkan diri.”

“Itulah, aku sendiri pun tak menyangka, aku tak mengira bandit perempuan itu masih berani

muncul dan berpesiar di telaga.”

Toan Giok menghela napas panjang.

“Kemarin baru saja aku tiba di telaga Se-ouw, dia pun muncul. Kejadian ini terasa sangat

kebetulan.”

Ku-tojin ikut menghela napas, katanya pula, “Memang banyak kebetulan yang sering terjadi di

kolong langit.”

“Mungkin inilah yang disebut orang ‘kalau tak ada kebetulan, tak akan jadi cerita’,” ujar Ong

Hui pula.

“Jadi hingga sekarang belum ada kabar tentang Lu kongcu?” tanya Toan Giok.

“Ya, belum ada!” Lu Kiu mengangguk sedih.

“Maka persoalan ini pun belum ada penyelesaian?”

Bag 5. Arak darah

Bunga mawar yang tumbuh di atas dinding pagar bergoyang lembut terhembus angin, jalan

kecil beralas batu tampak berliku¬-liku menghubungkan kebun bunga dan bangunan kecil di

Jendela itu berada dalam keadaan terbuka, tirai bambu setengah tergulung, lamat-lamat masih

dapat terlihat beberapa pot bunga di atas beranda.

Toan Giok masih teringat dengan jelas, memang tempat inilah yang ia datangi semalam

bersama Hoa Ya-lay.

Tapi ia tak tahu kemana Hoa Ya-lay telah pergi, terlebih tak tahu darimana munculnya pendeta

berjubah hitam itu. Semua orang yang ditemui hari ini, tak seorang pun yang pernah dijurnpai

Tentu saja gadis berbaju putih itu bukan melemparkan senyuman untuknya, karena yang dia

kenal adalah Lu Kiu.

Ini berarti Lu Kiu pun pernah berkunjung ke tempat ini.

Lalu tempat apakah sebenarnya bangunan kecil ini?

Sebuah persoalan yang seharusnya amat sederhana, kini sudah berubah makin bertambah

kacau dan rumit.

Dalam pada itu pendeta berjubah hitam tadi telah menuang secawan arak untuk Lu Kiu,

tanyanya, ‘Bagaimana rasa arak ini?”

Lu Kiu mencicipinya seteguk, kemudian memuji, “Arak bagus, arak bagus!”

Arak dari daratan Tionggoan kebanyakm dibuat tepung beras, sementara arak ini dibuat dari

anggur, bisa disimpan amat lama, manis dan lembut. Dibandingkan arak Li ji yang wanya

setingkat lebih unggul.

“Betul,” sahut Lu Kiu setelah mcncicipi seteguk lagi, ”Bila diteguk, memberikan semacam rasa

yang luar biasa.’

“Arak semacam ini gampang diteguk, tapi tendangannya datang belakangan, bahkan sangat

bagus untuk menyembuhkan hawa mumi. Bukankah belakangan kondisi badanmu kurang sehat?

Minumlah barang dua cawan siapa tahu akan lebih bermanfaat untukmu.”

Temyata dia malah mengajak Lu Kiu membicarakan soal kualitas arak, bahkan cara bicaranya

seakan dia memang seorang ahli.

Hingga kini dia masih tetap tak pandang sebelah mata tcrhadap Toan Giok sekalian, sedang Lu

Kiu sendiri pun seolah telah mclupakan juga rekan-rekannya.

 

Tak tahan Ku-tojin menghela napas panjang, gumamnya, “Padahal Pinto pun seorang setan

arak, heran kenapa tuan rumah yang punya arak wangi justru tidak menawarkan barang secawan

untuk kucicipi?”

Saat inilah pendeta berjubah hitam itu baru berpaling sambil melotot, tegurnya dengan wajah

masam, “Siapa kau?’

“Pinto Ku Tiang-cing!” jawab Ku-tojin.

“Apakah kau adalah Ku-tojin yang disebut orang gila judi bagaikan orang kalap, gila arak

bagaikan orang kehausan?”

“Betul sekali.”

Mendadak pendeta berbaju hitam itu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, bagus, bagus sekali!Kalau memang kau adalah Ku-tojin, sudah seharusnya kuberi

secawan untukmu.”

Dia segera mengulap tangan, gadis herbaju putih itu segera mengangsurkan sebuah cawan.

Dengan tangan tunggalnya Ku-tojin terima cawan itu dan sekaligus menghabiskan isinya.

“Oh, benar-benar arak bagus!” teriaknya.

Pendeta berjubah hitam itu menarik wajah. Dengan dingin ia mendengus, “Hm, walaupun arak

bagus, sayang kau hanya pantas untuk mInum secawan.”

Ku tojin sama sekali tidak marah, sahutnya sambil tersenyum, “Secawan pun sudah lebih dari

cukup, terima kasih.”

Sementara itu paras muka Ong Hui telah berubah hebat, teriaknya lantang, “Kau anggap aku

tak pantas minum arakmu?”

“Siapa kau?”

“Pik-lik-hwe Ong Hui dari Kanglam.”

“Apakah kau tahu siapakah aku?’

Ong Hui tertawa dingin.

“Paling juga si Raja pendeta Thiat Sui,” sahutnya. “Hm! Biar kau akan membunuhku pun, aku

tetap akan minum arakmu.”

“Hahaha, bagus, bagus sekali,” pendeta berbaju hitam itu tertawa nyaring, “Memandang

ucapanmu itu, kau pun pantas dijamu secawan arak.”

Ternyata dia adalah si Raja pendeta Thiat Sui. Kecuali Thiat Sui mana mungkin di dunia ini

masih terdapat seorang Hwesio macam dia?

Gadis berbaju putih itu segera menyodorkan kembali secawan arak.

Sekali tenggak, Ong Hui menghabiskan isi cawan itu, jengeknya sambil tertawa dingin,

“Ternyata arak ini bukan arak yang luar biasa, aku lihat rasanya seperti air gula biasa, minum

secawan pun sudah lebih dari cukup.”

“Bagus, bagus sekali,” kembali Thiat Sui mendongakkan mendongakkan kepala sambil tertawa

tergelak. “Alas dasar ucapanmu itu, kau harus minum secawan Iagi.”

Mula-mula Ong Hui tertegun, kemudian dia pun ikut tertawa tergelak.

“Hahaha, kalau memang begitu, biar rasanya seperti air gula pun aku tetap akan

menghabiskannya.”

Ku-tojin menghela napas panjang, gumamnya, “Ai, tidak kusangka takaran minummu jauh lebih

hebat daripada diriku.”

“Kalau memang begitu, Kongcu ini pantas minum secawan arak,” tiba-tiba Lu Kiu menyela.

“Atas dasar apa dia pantas minum?” tanya Thiat Sui.

“Tahukah kau siapakah Kongcu ini?”

“Memangnya siapa dia?”

“Dia adalah Toakongcu dam Tionggoan Tayhiap Toan Hui-him, she Toan bemama Giok.”

 

“Hm, belum pantas untuk minum arak ini”

“Kenapa tak pantas? Dialah yang kemarin menghajar keempat orang muridmu di atas perahu

pesiar hingga tercebur ke dalam air!”

Berubah paras muka Thiat Sui, kontan tegurnya, “Kenapa kau mengajaknya datang kemari?”

“Bukan aku yang mengajaknya kemari, dialah yang membawa aku datang kemari.”

“Dia yang membawamu datang kemari?” Thiat Sui berkerut kening.

“Dia mengajakku kemari untuk mencari Hoa Ya-lay.”

“Mana mungkin bandit wanita itu bisa berada di sini?” teriak Thiat Sui gusar.

“Jadi dia tidak berada di sini?”

“Tentu saja tidak.”

“Berarti semalam pun dia tak berada di sini?”

“Selama ada aku di tempat ini, mana mungkin ia berani datang kemari!”

Lu Kiu mulai menghela napas. Dengan sapu-tangannya ia menutupi mulut, lalu mulai terbatukbatuk,

sembari berpaling ke arah Toan Giok, ujamya, “Sudah kau dengar?”

“Ya, sudah kudengar,” jawab Toan Giok sambil tertawa getir.

“Ai, kalau begitu kau pergilah!” ujar Lu Kiu lagi sambil menghela napas.

Belum sempat Toan Giok buka suara, Thiat Sui telah melompat bangun. Bentaknya sambil

melotot ke arah anak muda itu, “Setelah tiba di sini, memangnya kau masih ingin pergi dari

tempat ini?”

“Dia tak ingin pergi, akulah yang menyuruh dia pergi,” sela Lu Kiu cepat.

“Kenapa kau menyuruhnya pergi?”

“Karena dia adalah sahabatku.”

“Dia telah membohongimu, kau masih menganggapnya sebagai teman?”

“Mungkin bukan dia yang sedang membohongiku, tapi orang lain yang telah menipu dia.”

“Dan kau percaya?”

“Dia seorang pemuda jujur. Tak mungkin anak muda semacam ini berbohong.”

Dengan mata mendelik Thiat Sui memperhatikan Toan Giok dari atas hingga ke bawah, kembali

ia tertawa tergelak.

“Hahaha, bagus! Hei, anak muda, kemarilah untuk minum arak”

“Aku pantas untuk minum arak itu?” tanya Toan Giok.

“Terlepas orang macam apa dirimu, tidak gampang membuat Lu Kiu menaruh rasa percaya

padamu.”

“Betul, dan dia pantas meneguk arak cawan ketiga,” sambung Lu Kiu sambil tersenyum.

Gadis muda itu kembali membuka sebotol arak lalu menuang ke dalam cawan. Dengan

sepasang tangan yang putih halus dan wajah dihiasi senyuman manis, perlahan-lahan ia mendekat

ke hadapan Toan Giok.

Cahaya musim semi tampak terang menawan, angin berhembus sepoi-sepoi.

Aneka bunga yang memenuhi kebun itu sedang mekar dan tampak cantik.

Biar pun Thiat Sui jumawa dan angkuh, biarpun dia suka minum dan suka main wanita, tapi

kelihatannya tak malu disebut seorang Hohan.

Sejak zaman dulu, ada berapa banyak Enghiong Hohan yang bisa lolos dari godaan minum dan

main perempuan?

Walaupun Toan Giok belum menangsal perut dengan makanan, namun dalam keadaan dan

situasi ini tak tahan dia pun ingin turut meneguk dua cawan arak.

Arak dalam cawan emas tampak merah segar.

Sambil tersenyum Than Giok menerima cawan berisi arak itu.

Tiba-tiba senyumannya membeku, tiba-tiba sepasang tangannya gemetar, lalu membeku kaku.

 

Ternyata isi cawan itu bukan arak, melainkan darah!

Darah yang tampak masih segar!

“Tring!”, cawan emas itu terjatuk ke tanah.

Darah segar pun berhamburan rnembasahi lantai. Mendadak Thiat Sui membentak penuh

amarah, “Arak kehormatan tidak kau minum, memangnya kau sedang menanti arak hukuman?”

Toan Giok tak menjawab, hanya tertunduk, mengawasi darah berwama cerah yang perlahanlahan

mengalir membamhi rerumputan nan hijau.

“Itu bukan arak, tapi darah!” seru Lu Kiu pula dengan wajah berubah.

Paras muka Thiat Sui ikut berubah, tiba-tiba ia berpaling, mengawasi gadis muda itu dengan

penuh amarah.

Paras muka nona itu pun pucat pias bagai mayat, cepat dia membuka botol arak lain, tapi lagilagi

dia menjerit kaget, baki arak terjatuh dari pegangannya.

Ternyata cairan yang meleleh keluar dan baki itu pun cairan darah.

Semua darah itu masih tampak segar, sama sekali belum menggumpal.

Dengan suara lengking gadis itu menjent, “Tadi isi botol itu jelas masih berupa arak, kenapa

secara tiba-tiba bisa berubah jadi darah?’

“Arak berubah jadi darah, pertanda buruk,” bisik Ku-tojin dengan wajah berubah.

“Pertanda buruk?” tanya Ong Hui “Memangnya akan terjadi suatu peristiwa di tempat ini?”

“Betul,” ucap Thiat Sui sepatah demi sepatah, wajahnya telah berubah hijau membesi,

“Mungkin ada seseorang harus mati di tempat ini”

“Siapa?” tanya Ong Hui.

Thiat Sui tak menjawab, perlahan-lahan dia mendongak, sinar matanya yang tajam perlahan

menyapu wajah setiap orang yang hadir.

Sorot mata itu bagaikan sebilah golok, golok yang digunakan untuk membunuh manusia!

Golok pembunuh!

Telapak tangan setiap orang mulai terasa basah, basah oleh peluh dingin.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang muncul dari balik kebun bunga dan berjalan

mendekat dengan langkah lebar.

“Perahu pesiar milik Hoa Ya-lay telah ditemukan” teriaknya keras.

Orang itu berkepala gundul, bermata besar dan beralis tebal. Dia tak lain adalah salah seorang

Hwesio yang dihajar Toan Giok hingga tercebur ke dalam telaga.

“Ada dimana perahu pesiar itu?” Thiat Sui bertanya.

“Di sana, di samping tanggul Tiang-ti.”

Selesai berkata, Hwesio itu mending ke arah belakang, lima jari tangannya terlihat gemetar

tiada hentinya.

***

Di tepi tanggul Tiang-ti.

Sebuah perahu pesiar tanpa penghuni terapung di atas permukaan air berwarna hijau.

Atap perahu berwarna hijau pupus dengan tiang penyangga berwama merah darah. Dari balik

jendela terlihat tirai bambu tergulung setengah.

Kemana perginya orang di depan jendela?

Di tengah alam yang begitu indah, terlihat banyak perahu pesiar berlalu lalang di tengah telaga.

Namun tak satu pun di antara perahu-perahu itu yang berani mendekati perahu pesiar yang

satu ini.

Semua perahu membuang sauh jauh di tengah telaga, sementara para penghuninya dengan

mata melotot sedang mengawasi perahu pesiar itu. Sinar mata mereka tampak gugup, panik,

ngeri dan seram, seakan-akan mereka menganggap perahu itu sebagai perahu setan, perahu yang

penuh bermuatan bencana dan musibah yang menakutkan.

 

Tibadiba tampak sebuah sampan kecil menerjang ombak bergerak cepat mendekati perahu

pesiar itu.

Thiat Sui sambil bercekak pinggang berdiri bergermng di ujung sampan, jubah pendetanya

yang berwama hitam tampak berkibar kencang terhembus angin.

Ketika tiba lebih-kurang empat tombak dari perahu pesiar itu mendadak ia melompat ke atas

dan melambung ke udara.

Terlihat bagaikan segumpal awan hitam yang tiba-tiba terbang di atas ombak berwama hijau.

Dengan sekali lompatan, empat tombak telah terlampaui, dengan indahnya ia melayang turun di

atas perahu pesiar itu.

Tempik sorak pun bergema gegap-gempita, tak tahan semua orang yang berada di seputar

telaga memberi pujian alas kehebatannya.

Di tengah sorak-sorai yang nyaring, Toan Giok ikut meluncur pula ke tengah udara.

Dia bukannya ingin ikut pamer kepandaian, tapi hatinya benar-benar gelisah bercampur camas,

dia ingin secepatnya mengetahui kejadian menyeramkan apa yang telah berlangsung di atas

perahu itu.

Dan sekarang dia telah melihatnya.

Begitu melompat naik ke atas perahu pesiar, ia segera dapat melihat semuanya.

Ruang perahu itu tertata rapi dan indah, keempat dindingnya dilapisi kertas berwarna putih

salju, membuat seluruh ruang perahu tampak begaikan sebuah gua salju.

Di antara kertas dinding yang putih bagai salju itu, kini sudah dihiasi dengan berkuntumkuntum

bunga Bwe.

Bunga Bwe yang dilukis dengan darah segar.

Seseorang berdiri di bawah rangkaian bunga Bwe, kepalanya tertunduk rendah, mukanya lusuh,

layu dan pucat, darah yang meleleh dari tujuh lubang indranya kini telah mengeras, sebilah golok

terhujam di dadanya, ternyata tubuh orang itu sudah terpantek di atas dinding perahu.

Pita merah terlilit pada gagang golok, angin berhembus masuk melalui jendela, tampak cahaya

golok yang berwarna merah darah itu berkibar mengikuti hembusan angin.

Dengan gerakan cepat Thiat Sui mencabut golok itu.

Golok itu segera dicengkeram olehnya. Pendeta itu harus menggunakan seluruh tenaganya

sebelum berhasil mencabut golok itu.

Darah yang menodai tubuh golok telah mengering.

Ternyata belum seluruhnya mengering, paling tidak masih ada setetes yang masih basah.

Setetes darah perlahan-lahan menetes jatuh dari ujung golok, mata golok itu terang dan

bening, sebening air telaga.

Betul-betul sebilah golok yang indah dan menawan.

Dengan sorot mata tajam Thiat Sui mengawasi mata golok. Lama kemudian tiba-tiba ia memuji,

“Golok hebat!”

Ong Hui yang memburu mendekat ikut memuji, “Benar-benar sebuah golok yang bagus!”

“Kau mengenal golok ini?” kembali Thiat Sul bertanya.

Ong Hui menggeleng.

Thiat Sui segera membalik tubuh, sambil melotot ke arah Toan Giok, sepatah demi sepatah

tanyanya, “Bagaimana dengan kau? Apakah kenal golok ini?”

Sementara itu paras muka Toan Giok telah berubah, berubah sangat hebat.

Sejak awal tadi dia sudah mengenali golok itu.

“Kau tentunya mengenalinya, bukan?” jengek Thiat Sui lagi dengan suara dingin. “Bila aku tak

salah lihat, seharusnya golok ini adalah Bi-giok-jit-seng-to (Golok tujuh bintang kumala hijau)

keluarga Toan, bukan?”

 

Tak salah, golok itu memang Bi-giok-jit-seng-to keluarga Toan: Yakni golok milik Toan Giok

yang hilang sewaktu berada dalam kamar tidur Hoa Ya-lay.

Di ujung mata golok bahkan tertera pertanda khusus dari keluarga Toan.

Sorot mata Thiat Sui jauh lebih tajam daripada mata golok, dia mendelik, lagi-lagi tegurnya,

“Kau kenal orang ini?”

Toan Giok menggeleng.

Sejujurnya, dia memang tidak mengenali orang ini.

Walaupun raut wajah orang ini sudah berkerut dan layu, namun masih tampak jelas bahwa

semasa hidupnya dulu pastilah seorang pemuda tampan, pakaian yang dikenakan pun terlihat

indah dan mahal harganya.

Ketika golok itu tercabut, tubuh orang itu pun perlahan-lahan terperosok jatuh ke bawah,

kepalanya seakan ikut mendongak, memandang ke arah Toan Giok, biji matanya yang melotot

dipenuhi perasaan sedih, marah dan penasaran yang sulit dilukiskan dengan perkataan.

Kematiannya memang kelewat mengenaskan, bankan sampai mati pun tetap tak memejamkan

Tiba-tiba saja Toan Giok dapat menebak siapa gerangan orang ini.

Dia bukan mengenali orang ini dari bentuk wajah mayat itu, melainkan dari perubahan mimik

muka Lu Kiu.

Dalam waktu yang teramat singkat ini usia Lu Kiu seakan bertambah tua sepuluh tahun, seluruh

tubuhnya terlihat lemas dan kehilangan tenaga.

Ia bersandar di atas dinding, seakan-akan setiap saat bakal roboh terjungkal ke lantai.

Mungkinkah pemuda yang tewas secara mengenaskan di ujung golok itu adalah putra

kesayangannya, Lu Siau-hun?

Tiba-tiba hati Toan Giok bergidik, perasaannya seolah tenggelam ke dasar lautan yang paling

“Kedatanganmu ke wilayah Kanglam tentunya karena ingin turut mencari jodoh di Po-cu-sanseng,

bukan?” sambil melotot Thiat Sui menenegur.

Toan Giok tak dapat menghindar, terpaksa mengakui.

“Oleh karena itu kau anggap, asal dapat menyingkirkan dia, maka tak ada orang lain yang akan

menjadi sainganmu lagi, bukan?” lanjut Thiat Sui.

“Aku…aku…jangan lagi membunuh, bertemu muka pun belum pernah” Toan Giok mencoba

membela diri.

“Hm, membunuh orang memakai golok, bukan memakai yang lain”

Pendeta itu mengacungkan golok dalam genggamannya, kemudian bentaknya lebih jauh,

“Apakah golok ini milikmu?”

“Betul. Tapi bukan aku yang menggunakan golok itu untuk membunuh orang.”

Kontan saja Thiat Sui tertawa dingin.

“Bi-giok-jit-seng-to adalah golok mestika warisan keluarga Toan, bagaimana mungkin bisa

terjatuh ke tangan orang lain?”

“Ini disebabkan…”

“Dengan kekuatanmu seorang, tentu saja tak gampang menghabisi dirinya, Hoa Ya-lay pasti

merupakan pembantu setiamu,” tukas Thiat Sui.

“Tapi kemarin malam…”

“Bukankah kemarin malam kau tidur bersama Hoa Ya-lay?” ejek pendeta itu.

Toan Giok terbungkam, dia hanya bisa tertunduk lemas.

 

Tiba-tiba ia sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam sebuah lingkaran perangkap yang amat

keji dan busuk. Fitnah yang ditimpakan kepadanya tak nanti bisa tercuci bersih walaupun ia

berusaha menghapusnya dengan berendam dalam telaga Se-ouw.

Sementara itu sinar mata Thiat Sui telah dialihkan ke wajah Ku-tojin, ujarnya dengan suara

dalam, “Arak berubah jadi darah, memang pertanda buruk.”

“Benar, memang begitu,” Ku-tojin menghela napas panjang.

“Apakah sekarang di sini ada sescorang yang harus mati?’

“Benar.”

Tiba-tiba Thiat Sui juga menghela napas panjang, katanya, “Dalam tiga bulan terakhir, orang

persilatan hampir semuanya mengatakan Thiat Sui membunuh orang bagai mencabut rumput, tapi

apakah mereka tahu bahwa mereka yang mati di ujung golokku, tak seorang pun yang bukan

merupakan orang bersalah?”

Dia mengawasi sekejap golok dalam genggamannya, kemudian perlahan-lahan melanjutkan,

“Golok ini memang sebilah golok bagus, menggunakan golok semacam ini untuk membunuh orang

berhati keji sungguh memuaskan. Tampaknya hari ini aku lagi-lagi akan melanggar pantangan

membunuh!”

Ternyata Toan Giok seolah belum tahu siapa yang hendak dibunuh, dia ikut menghela napas

dan berkata, “Menggunakan golok mestika untuk membunuh manusia laknat memang jelas

merupakan sesuatu yang memuaskan, tapi sayang hingga sekarang kita masih belum tahu siapa

pembunuhnya?”

“Masa kau tidak tahu?” tanya Thiat Sui seakan tertegun.

Toan Giok menggeleng.

“Walaupun saat ini belum tahu, namun jaring langit maha luas, tak mungkin orang yang telah

melakukan kejahatan akan lolos dari hukuman, aku yakin suatu hari pasti akan ditemukan siapa

pembunuhnya.”

Thiat Sui menatap pemuda itu dengan melongo. Sinar matanya seolah sedang menatap

seorang idiot.

“Lebih baik Cianpwe kembalikan dulu golok itu padaku,” kata Toan Giok, “Bila kita berhasil

menemukan pembunuhnya, boanpwe pasti akan menyerahkan kembali golok ini agar Cianpwe

bisa menggunakan golok itu untuk memenggal batok kepalanya untuk membalas dendam atas

kematian Lu-kongcu.”

“Kau minta aku mengembalikan golok ini kepadamu?” tanya Thiat Sui.

Toan Giok m anggut-manggut.

“Sesuai dengan apa yang Cianpwe katakan, golok ini merupakan benda mestika keluarga

Boanpwe, sudah seharusnya golok itu berada bersamaku,” katanya.

Tiba-tiba Thiat Sui tertawa tergelak.

“Hahaha, bagus sekali, kalau memang kau minta, nih, ambillah!” serunya.

Cahaya golok tampak berkelebat. Secepat sambaran petir ia bacok bahu anak muda itu.

Golok itu memang sebilah golok yang bagus, ditambah lagi orang yang menggunakan golok itu

merupakan jagoan silat berilmu tinggi. Begitu bacokan dilontarkan, tampak cahaya golok

menyilaukan membelah angkssa, angin tajam menyambar, membuat Ku-tojin pun tak tahan ikut

bergidik, ia merasakan selapis hawa pembunuhan yang mengerikan serasa menghimpit dirinya.

“Cianpwe, kenapa kau akan rnembunuhku,” Toan Giok segera menjerit, “Kau jangan salah

orang!”

Golok itu datang dengan cepat, namun gerakan tubuhnya lebih cepat lagi.

Baru mengucapkan dua patah kata, ia sudah menghindari semua serangan itu.

 

Seluruh ruangan perahu itu tidak terlampau luas, tempat yang bisa digunakan untuk berkelit

pun tidak banyak. Andai kata Lu Kiu ikut melancarkan serangan, niscaya Toan Giok akan tewas di

ujung goloknya.

Siapa sangka Lu Kiu sama sekali tidak turun tangan.

Dia masih berdiri sambil bersandar di dinding, berdiri tertegun, seluruh tubuhnya seolah telah

kaku dan mati rasa.

Serangan golok yang dilancarkan Thiat Sui makin lama semakin cepat, ternyata tokoh silat yang

baru muncul tapi telah menggetarkan sungai telaga ini benar-benar memiliki ilmu silat yang luar

biasa hebatnya.

Biarpun ilmu silat aliran Siau-lim bukan mengandalkan golok, namun permainan golok yang dia

lakukan saat ini begitu hebat dan dahsyat, sama sekali tidak kalah dengan kehebatan jago golok

mana pun di koiong langit.

Kini permainan goloknya telah berubah, yang digunaka adalah ilmu Luan po-hong (Angin

topan) yang merupakan ilmu golok paling ganas dan paling dahsyat.

Dalam waktu singkat, cahaya golok telah menyelimuti seluruh ruangan perahu, Toan Giok

nyaris sudah tak ada tempat untuk mundur lagi.

Bahkan Ku-tojin serta Ong Hui pun sudah terdesak hingga terpaksa harus keluar dari ruang

Toan Giok sendiri bukannya tak ingin mundur dari situ, apa daya, kemana pun ia berusaha

mundur, cahaya golok selalu menyumbat mati jalan perginya.

Betul ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat hebat, tapi berada dalam tempat seperti

ini, bagaimana mungkin ia dapat menggunakannya?

Ong Hui yang menonton dari luar ruang perahu tak tahan untuk menghela napas, katanya,

“Aku masih tak percaya kalau seorang pemuda yang begitu jujur ternyata merupakan seorang

pernbunuh keji.”

“Mungkin saja selama ini dia berlagak bodoh,” kata Ku tojin setelah berpikir sejenak “Apakah

kau tak dapat melihat kalau dia pandai sekali berlagak bodoh?”

“Aku hanya dapat melihat kalau Thiat Sui adalah seorang manusia buas yang suka membunuh,”

kata Ong Hui dingin.

“Oh, ya?”

“Bila ingin membunuh Toan Glok tampaknya bukan karena dia ingin membalaskan dendam bagi

Lu Kiu melainkan karena dia sendiri memang gemar membunuh.”

Ku-tojin menghela napas panjang, katanya, “Asal orang yang dia bunuh adalah orang bersalah

….”

“Bagaimana kau tahu kalau orang yang akan dibunuhnya adalah orang bersalah,” tukas Ong

Hui cepat.

“Bukankah kenyataan sudah terpampang di depan mata?”

“Kenyataan apa? Golok itu?”

“Hm”

“Setelah membunuh seseorang, rnungkinkah kau sengaja meninggalkan golok milik sendiri?”

Ku-tojin kembali berpikir sejenak, kemudian katanya, Kenyataannya golok itu sudah terjepit di

tubuh korban, mungkin juga dia pergi tergesa-gesa hingga tak sempat mencabut kembali

senjatanya”

“Jadi kau anggap dia pantas dibunuh?” tanya Ong Hui lagi setelah termenung sejenak.

“Apakah kau anggap dia tidak pastas?”

“Bagaimana pun juga harus kita tanya dulu sebelum membunuhnya,” tukas Ong Hui.

“Berarti kau ingin menolongnya?”

 

Ong Hui bungkam, tapi tangan sebelah telah merogoh ke dalam kantong kulit yang tergembol

di pinggangnya. Dalam kantong kulit itu berisi senjata api yang nama Pi-lik-hwe di wilayah

Kanglam tersohor di seantero jagat.

Tangan Ku-tojin menarik tangannya dan berkata dengan suara dalam, “Masalah ini mempunyai

dampak yang sangat besar. Kita berdua adalah orang di luar garis. Lebih baik jangan bergerak

secara sembarangan.”

Belum sempat Ong Hui buka suara, tiba-tiba “Blam!,” terdengar suara ledakan keras yang

menggetarkan seluruh ruangan. Begitu kerasnya guncangan itu membuat seluruh perahu seolah

hendak terbalik

Dengan sendirinya para jago yang berada dalam perahu pun ikut tergetar hingga berjatuhan.

Begitu muncul kilatan cahaya golok, perahu-perahu yang sebelumnya mengerubungi untuk

menonton keramaian pun makin lama semakin banyak.

Mendadak terlihat sebuah perahu besar menerjang tiba dengan kecepatan tinggi. Di ujung

geladak terlihat seorang pemuda berbaju ungu berdiri sambil memegang galah panjang untuk

Walaupun sepintas ia nampak sangat lemah, ternyata kekuatan kedua lengannya sangat besar

dan hebat. Ketika galah bambunya ditutulkan beberapa kali, perahu besar itu segera menerjang ke

muka bagaikan panah yang terlepas dari busur dan menumbuk lambung kiri perahu pesiar itu.

Saat itu ruang lingkaran yang digunakan Toon Giok untuk menghindar makin lama semakin

bertambah sempit. Baru saja dia menyambar sebuah bangku untuk menangkis, mendadak terlihat

cahaya golok berkelebat, tahu-tahu bangku itu sudah terpapas hingga tinggal sebelah kaki.

Menyusul Thiat Sui melancarkan kembali tiga bacokan kilat. Siapa tahu lambung perahu

bergetar keras, kuda-kudanya langsung goyah, otomatis mata golok yang sedang membacok pun

meleset dari sasaran.

Tubuh Toan Giok bergetar keras hingga terpelanting keluar. Di saat cahaya golok kembali

menyambar, tubuhnya sudah mencelat keluar dari jendela dan “Plung!”, langsung tercebur ke

dalam telaga.

Tampak gelembung udara muncul di permukaan telaga, dengan cepat tubuh pemuda itu

tenggelam ke dalam air.

Tubuh perahu masih bergoncang keras, diiringi bentakan gusar, Thiat Sui melompat keluar

lewat daun jendela.

Tiba-tiba pemuda berbaju ungu yang berada di ujung geladak perahu yang menumbuk perahu

pesiar itu tertawa lebar, tangannya segera diayun, selapis cahaya tajam berhamburan menyelimuti

seluruh angkasa.

Menghadapi datangnya ancaman, Thiat Sui mengayunkan goloknya berulang kali, cahaya golok

bagai lapisan dinding tebal langsung membuyarkan cahaya tajam yang sedang menyambar tiba.

Tapi pada aat itulah pemuda berbaju ungu itu sudah lompat ke udara, lalu dengan gerakan Hieng-

ji-sui (Ikan pari masuk ke air) dia ceburkan diri pula ke dalam telaga.

Belum hilang riak di atas permukaan air, tubuhnya turut tenggelam ke dasar telaga dan lenyap.

Thiat Sui segera mcnyerbu maju. Sekali cengkeram, dia cekal ujung baju Ku-tojin, lalu

bentaknya penuh amarah, “Darimana datangnya bocah keparat itu?”

“Mungkin saja datang menguntit di belakang Toan Giok,” jawab Ku-tojin.

“Apakah kau tahu siapa dia?”

“Cepat atau lambat, akhirnya pasti akan ketahuan juga.”

 

Thiat Sui menghentakkan kaki berulang kali, serunya dengan jengkel,”Menunggu kita tahu

dengan jelas, Toan Giok sendiri sudah kabur kemana?”

“Taysu kuatir dia kabur? Tak usah kuatir ….”

“bagaimana mungkin aku tidak kuatir?” Thiat Sui semakin sewot.

“Keluarga besar Toan berdiam di daratan Tionggoan. Selama dia berada di daratan dia gagah

bagaikan seekor naga kecil, tetapi begitu bertemu air, mungkin sulit baginya merangkak keluar

lagi.”

Sambil tersenyum, ia berpaling. Tiba-tiba dijumpai Ong Hui sedang melototkan mata, mendelik

ke arahnya.

Siapakah pemuda berbaju ungu yang berdiri di ujung geladak perahu? Tanpa pikir panjang,

siapa pun pasti dapat menduga, tentu saja dia adalah Hoa Hoa-hong.

Bila seorang perempuan selalu mencari gara-gara padamu, makan cuka oleh tingkah-polahmu,

senang beradu mulut denganmu. Tentu saja perempuan semacam ini tak bakal kelewat bodoh.

Oleh sebab itu di kala kau sedang menghadapi masalah atau kesulitan, seringkali justru dialah

yang akan muncul untuk menyelamatkan jiwamu.

Sejak awal Hoa Hoa-hong sudah menduga kalau Toan Giok bukan seekor bebek, tapi ayam.

Tak ada ayam yang bisa berenang. Kalau sudah tercebur, biasanya tinggal menunggu saat

Begitu berada dalam air, ia bergerak cepat bagaikan seekor ikan, sepasang matanya yang besar

bulat bagaikan mata ikan duyung.

Akan tetapi kemana pun ia bergerak, tak dijumpai tubuh Toan Giok di seputar sana.

Bukankah dengan sangat jelas ia melihat Toan Giok tercebur ke air dan tenggelam? Mengapa

tubuhnya bisa hilang tak berbekas?

Apakah tubuhnya berat bagai timbangan besi? Begitu tercebur langsung tenggelam ke dasar

telaga?

Baru saja Hoa Hoa-hong ingin muncul ke atas permukaan untuk berganti napas, kemudian

menyelam lagi ke dasar telaga, tiba-tiba ia merasa ada semacam benda menyelinap ke arah

la segera berbalik melancarkan cengkeramen, benda itu segera menyelinap keluar dari

cengkeraman tangannya, ternyata seekor ikan kecil.

Begitu dia membalikkan badan, kembali diliharnya seekor ikan besar sedang bergerak

Anehnya, ikan besar itu mulai menggapai ke arahnya.

Ikan tak mungkin punya tangan, manusia beru memiliki sepasang tangan.

Toan Giok memiliki sepasang tangan.

Tapi sekarang dia tampak jauh lebih gesit daripada seekor. Begitu membalikkan tubuh, ia sudah

melesat jauh sekali dari posisi semula.

Sambil mengigigit bibir, sekuat tenaga Hoa Hoa-hong mengejar dari belakang, namun sayang,

bagaimana pun dia mencoba, ternyata tetap gagal menyusulnya.

Sejak kecil gadis ini hidup di wilayah Kanglam. Sudah sejak dulu, ia suka bermain air, tapi

kenyataannya sekarang, seekor itik ternyata tak mampu mengejar seekor ayam dalam air.

Kenyataan ini betul-betul membuatnya tak puas.

Dasar perahu yang begitu banyak, terlihat bagaikan wuwungan rumah yang berlapis-lapis dari

bawah air.

Dia seakan sedang berlarian di antara wuwungan rumah, perasaannya sekarang tak jauh

berbeda dengan perasaan di kale ia sedang berkejaran dengan menggunakan ilmu meringankan

 

Hanya satu yang berbeda, paling tidak ia butuh tempat untuk berganti napas, sebab bagaimana

pun juga dia bukanlah seekor ikan.

Toan Giok pun bukan seekor ikan. Ketika berenang kian kemari, tiba-tiba ia mengeluarkan dua

batang gelugu dari sakunya, ujung sini dikulum di mulut dan ujung yang lain muncul di atas

permukaan untuk menghirup udara, lalu menyerahkan sisa yang satu ke arah Hoa Hoa-hong.

Dengan menggunakan batang gelugu itulah Hoa Hoa-hong menarik napas panjang. Sekarang

dia baru tahu, ternyata hal yang paling membahagiakan bagi seorang manusia adalah hidup bebas

di dunia dan menarik napas sebanyak-banyaknya. Karena bisa hidup dalam udara babas

merupakan satu hal yang beruntung, karena itu sudah seharusnya merasa puas.

Dalam kehidupan manusia sebenarnya banyak terdapat pelajaran yang berharga, tapi seringkali

pelajaran itu baru kau pahami bila suatu ketika kau telah mengalami kejadian yang paling

Di atas telaga Se-ouw alam mau pun benda yang ada di sekitamya indah bagaikan lukisan.

Hampir setiap orang mengetahui akan hal ini, tapi orang-orang yang berada di balik keindahan

bukan saja sulit dipandang. Bahkan jauh lebih keruh daripada dasar telaga dan hal ini jarang

diketahui orang.

Orang yang bisa mengetahui semua keindahan itu tak bisa dibilang mereka beruntung,

sebaliknya justru karena mereka sedang sial. Walaupun pengalaman pahit semacam ini

sesungguhnya memang sulit dijumpai.

Ada begitu banyak manusia yang berpesiar di telaga Se¬ouw, namun ada berapa banyak di

antara mereka yang pernah terjun ke dasar telaga?

Mereka menyelam dan berenang menjauhi tempat semula. Setiap kali berganti napas,

bayangan dasar perahu yang tampak makin lama semakin sedikit jelas mereka telah tiba di sebuah

tempat yang terpencil.

Saat itulah Toan Giok baru berenang naik ke atas dan muncul dari permukaan air.

Hoa Hoa-hong segera mengikut di belakangnya, ikut muncul di atas permukaan, kemudian

dengan sepasang matanya yang besar, dia mengawasi wajah pemuda itu tanpa berkedip.

Toan Giok masih tersenyum, ia menarik napas panjang, seolah saat itu merasa gembira sekali.

Hoa Hoa-hong tak kuasa menahan diri, sambil menggigit bibir, tegurnya, “Kau masih bisa

tertawa?”

“Asal manusia masih hidup, dia tentu bisa tertawa. Asal masih bisa tertawa, seharusnya

banyaklah tertawa.”

“Aku hanya heran, mengapa kau belum juga mati tenggelam?” sumpah Hoa Hoa-hong.

Toan Giok hanya menatapnya tiba-tiba tidak bersuara lagi.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, “Sudah jelas kau adalah seekor ayam, kenapa secara

tiba-tiba pandai berenang?”

Dari logat bicaranya, dia seolah berharap Toan Giok paling tidak harus tenggelam dan setengah

mampus, kemudian memberi kesempatan kepadanya untuk datang menolong.

Namun kenyataan Toan Giok tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan

kebolehannya. Oleh sebab itu dia merasa sangat marah.

Toan Giok masih menatapnya lekat-lekat tanpa bicara.

“Hey, kenapa kau terus menatap aku?” teriak Hoa Hoa-¬hong dengan suara lantang. “Kau

anggap mukaku penuh bisul?”

Toan Giok tertawa, ujarnya sambil tersenyum, “Aku hanya secara tiba-tiba berpendapat,

seharusnya kau berada dalam air lebih lama lagi.”

 

“Kenapa?” tak tahan Hoa Hoa-hong bertanya.

“Sebab sewaktu berada dalam air, kau kelihatan amat cantik dan menarik.”

Dia tahu Hoa Hoa-hang pasti tak paham dengan maksudnya, maka kembali ia menjelaskan,

“Sewaktu berada dalam air, matamu masih tetap nampak sangat besar, tapi sayang tak mampu

buka mulut.”

Mungkin di sinilah satu-satunya bagian yang paling menyenangkan bagi seekor ikan jantan

ketimbang kaum lelaki. Sekalipun ikan betina bisa buka mulut pun, hal itu dilakukan untuk

bernapas dan bukan untuk banyak bicara.

Oleh sebab itulah sekali lagi Toan Giek menyelam ke dalam air.

la tahu Hoa Hoa-hong pasti tak akan mengampuninya, berada dalam air jauh lebih aman

Kini Hoa Hoa-hong mau bicara pun, dia tak bakal mendengarnya lagi.

Tapi sayang dia bukanlah seekor ikan, cepat atau lambat harus muncul juga di atas permukaan.

Sambil menggigit bibir Hoa Hoa-hong menunggu di atas, menunggu sampai pemuda itu muncul

lagi di atas permukaan. Siapa tahu, walau sudah ditunggu setengah hari pun belum Nampak juga

dia muncul.

“Jangan-jangan bocah keparat itu mendadak kejang otot hingga tak mampu muncul di atas

permukaan?”

Pada dasamya Hoa Hoa-hong memang seorang gadis yang tak sabaran, tak tahan ia menyelam

kembali ke dalam air, kali ini dengan cepat ia berhasil menemukan Toan Giok.

Saat itu dia sedang menarik segumpal rumput air dengan sekuat tenaga, menariknya dari dasar

telaga yang berlumpur.

Andaikata waktu itu mereka berada di atas permukaan, Hoa Hoa-hong pasti tak akan

mengabaikan kesempatan baik ini. “Sinting”, “Idiot”, “Goblok” atau kata sebangsanya pasti sudah

menerocos keluar dari mululnya. Untung tempat itu adalah di bawah air, oleh sebab itu dia hanya

bisa mengawasinya.

Tiba-tiba ia menemukan benda yang sedang dibetotnya bukan segumpal rumput air, melainkan

sebuah peti.

Lumpur maupun rumput air yang semula menempel di alas peti itu, kini sudah dibersihkan dari

Peti itu terlihat masih sangat baru, bahan kayu pun berkualitas tinggi, malah bagian atasnya

dilapisi tembaga kuning.

Tembaga kuning itu pun masih tampak baru. Hal ini membuktikan kalau benda itu belum lama

ditenggetamkan dalam air.

Siapa pun yang telah melihat benda itu, pasti tahu kalau peti itu tak mungkin berisikan pakaian

rombeng atau benda tak berharga lainnya.

Peti berharga semacam ini kenapa bisa ditenggelamkan ke dasar telaga? Mengapa tak ada

orang yang mengambilnya?

Hoa Hoa-hung segera membantu Toan Giok menyeret keluar peti itu.

Sesungguhnya dia memang terhitung seorang gadis yang besar rasa ingin tahunya. Menjumpai

kejadian semacam ini, tentu saja dia tak akan melepaskan peluang itu begitu saja.

Apa isi peti itu? Apakah menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar?

Bila ada orang melarangnya membuka peti itu, aneh bila dia tidak mengajak orang itu beradu

jiwa

***

Jarak tempat itu dengan tepi telaga sangat dekat, tak lama kemudian mereka telah menyeret

peti it naik ke daratan.

 

Saat itulah Hoa Hoa-hong baru bisa menghembuskan napas lega, keluhnya, “Peti itu berat

sekali.”

“Benar, memang tak enteng.”

“Jadi peti ini pasti bukan peti kosong.”

Toan Giok kembali mengangguk.

“Menurut dugaanmu, apa isi peti ini?” tanya Hon Hoa-hong lagi.

Toan Giok segera tertawa.

“Aku tidak memiliki mata sakti yang bisa melihat sejauh seribu li, kecerdasanku pun tak bisa

melampaui Cukat Liang.”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak segera membukanya?” desak Hoa Hoa-hong sambil

mengedipkan matanya.

“Kenapa mesti terburu napsu? Peti ini kan tak bakal kabur dari sini.”

“Apalagi yang kau nantikan?” Hoa Hoa-hong semakin tak sabar.

“Paling tidak, tunggulah kita mencari tempat untuk berganti pakaian,” sahut Toan Giok sambil

Belum habis dia berkata paras muka Hoa Hoa-hong telah berubah jadi merah padam.

Akhirnya dia pun dapat melihat keadaan dirinya saat itu. Bila pakaian yang dikenakan seorang

wanita tak lebih hanya sebuah baju yang sangat tips dan pakaian itu basah kuyup, maka

keadaannya saat ini pastilah tak sesuai untuk tampil di hadapan seorang lelaki.

Apa mau dikata saat itu Toan Giok justru sedang mengamatinya, bagian tubuh yang sedang ia

perhatikan pun kebetulan bagian-bagian yang tidak seharusnya terlihat orang lain.

Pikiran pertama yang terlintas dalam benaknya adalah secepat mungkin terjun kembali ke

dalam air, pikiran kedua adalah mencongkel keluar sepasang mata bandit Toan Giok.

Tentu saja hal itu pun hanya berada dalam pikirannya saja.

Seluruh tubuhnya terasa mulai lemas dan kaku, lantaran tatapan mata pemuda itu. Dalam

keadaan begini, dia paling hanya bisa bersembunyi di belakang peti itu.

Dengan wajah bersemu merah, umpatnya lirih, “Eh, sepasang mata banditmu memang tak bisa

memandang ke arah lain?”

Ternyata tempat itu adalah sebuah tempat yang sangat indah, bahkan Toan Giok sendiri pun

tidak menyangka di tengah hutan yang begitu sunyi ternyata terdapat sebuah rumah kecil yang

sangat indah dan menawan. Rumah itu biar pun kecil namun tak kalah indah dan mewahnya

daripada rumah kecil yang pernah dia datangi bersama Hoa Ya-lay semalam.

Hanya kali ini bukan Hoa Ya-lay yang mengajaknya ke sana, melainkan Hoa Hoa-hong,

kelihatannya kaum wanita selalu memiliki lebih banyak akal daripada kaum lelaki.

Saat ini Hoa Hoa-hong sedang berganti pakaian di dalam.

Hoa Hoa-hong belum mulai berganti pakaian.

Walaupun pakaiannya yang basah telah ditanggalkan, namun ia masih berdiri termangu-mangu

di sana, termangu-mangu sambil mengawasi bentuk tubuh sendiri.

Di hadapannya persis terdapat sebuah cermin yang besar sekali. Di depan cermin itulah ia

berdiri, berdiri sambil memandang bentuk tubuh sendiri.

Kini dia sudah bukan lagi seocang anak-anak.

Dada dengan payudara yang montok dan kenyal, pinggang yang ramping, sepasang paha yang

mulus dan halus disertai kulit badan yang begitu mulus dan lembut bagaikan kain sutera.

Bahkan dia sendiri pun sulit untuk menemukan cacat atau kotoran yang melekat di badannya,

jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun terkadang terangsang setiap kali memandang bentuk

tubuh sendiri.

 

Bagaimanakah perasaan Toan Giok bila menyaksikan tubuhnya yang bugil?

Tangan Hoa Hoa-hong mulai bergerak. Dengan lembut, dengan halus dan perlahan ia mulai

meraba payudara sendiri, lalu meraba pinggangnya, terus turun ke bawah, meraba perut sendiri…

semakin ke bawah kemudian… kemudian..

Daun jendela berada dalam keadaan tertutup, tirai bambu pun tertutup hingga ke bawah.

Tiba-tiba saja gadis itu merasakan sekujur badannya mulai panas, rasa panas yang aneh, rasa

panas yang cepat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tahun ini dia baru tujuh belas tahun.

Bukankah usia tujuh belas merupakan usia yang paling aneh, paling indah dan paling sensitif

sepanjang hidup manusia?

Akhirnya Hoa Hoa-hong selesai berganti pakaian, ia keluar dari dalam kamar.

Kini dia mengenakan sebuah gaun panjang berwarna hijau apel, potongan mau pun jahitannya

sangat pas dengan bentuk tubuhnya dan kebetulan semakin menonjolkan bentuk kematangan

tubuh seorang gadis yang telah berusia tujuh belas tahun.

Pakaian yang dikenakan merupakan mode mutakhir dari kaum gadis muda saat itu, kulit

tubuhnya yang memang halus dan lembut, kini dibedaki sedikit pupur yang amat tipis.

Bag 6. Orang dalam peti dari dasar telaga

Tentu saja tampilannya saat ini jauh lebih menawan, jauh lebih mempesona dan jelas jauh

lebih menarik daripada sewaktu ia berdandan sebagai lelaki.

Kalau dilihat dari gayanya, mungkin dia memang sengaja berdandan untuk diperlihatkan

kepada Toan Giok. Siapa bilang perempuan bukan berdandan untuk dinikmati kaum lelaki?

Kalau ada yang menentang ungkapan ini, sudah pasti orang itu sangat tidak memahami jalan

pikiran kaum wanita.

Kenyataan, setiap wanita pasti berdandan secantik mungkin karena ingin diperlihatkan kepada

kaum lelaki yang menyukai dan mencintainya.

Tapi sayang Toan Giok justru tidak memandang ke arahnya, melirik sekejap pun tidak.

Ia sedang mengamati peti itu.

Peti yang terbuat dari kayu jati kualitas tinggi, dilapisi tembaga kuning, kunci pun terbuat dari

tembaga kuning.

Peti itu sangat kokoh, begitu juga dengan kuncinya, tampaknya tidak mudah bagi siapa pun

untuk membukanya.

Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu gumamnya, “Sebelum ini, pernahkah kau

menyaksikan peti semacam ini?”

“Belum pernah!”

“Aku pernah melihatnya, peti semacam ini biasanya

dipakai keluarga kaya untuk menyimpan perhiasan, intan permata atau lukisan dan barang

berharga lainnya.”

Oh ….”

“Oleh karena itu biasanya peti semacam ini disimpan secara hati-hati dan penuh rahasia.

Mengapa sekarang bisa ditemukan di dasar telaga?”

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong tertawa dingin, ejeknya, “Siapa tahu isi peti itu hanya sesosok mayat.

Lebih baik jangan bermimpi di siang hari bolong, mengharapkan harta-karun milik orang lain.”

 

Sudah berapa kali ia berjalan mondar-mandir di hadapan Toan Giok, namun jangankan katakata

pujian, mendongakkan kepala untuk menengok sekejap ke arahnya pun tidak.

Ia betul-betul naik darah, marah bercampur mendongkol.

Dalam pada itu, setelah termenung beberapa saat Toan Giok kembali berkata sambil tertawa,

“Betul juga perkataanmu. Bisa jadi isi peti ini benar-benar adalah manusia, tapi pasti manusia

hidup, bukan orang mati.”

“Hm, lagi-lagi kau sedang bermimpi,” sekali lagi Hoa Hoa-hong mengejek sambil tertawa dingin.

Terdengar Toan Giok berkata lebih lanjut, “Dulu, aku pernah mendengar sebuah kisah yang

amat menarik.”

Tiba-tiba ia membungkam dan tidak berbicara lagi. Seandainya dia melanjutkan ceritanya,

mungkin saja Hoa Hoa-hong tak akan mendengarkan, atau paling tidak akan berlagak tidak

Tapi sekarang, setelah ia tidak melanjutkan kisahnya, Hoa Hoa-hong malah tak tahan,

tanyanya, “Kisah apa?”

“Cerita yang berhubungan dengan peti.”

“Peti macam apa?”

“Peti yang bentuknya tak jauh berbeda dengan peti ini”

“Kalau akan diceritakan, cepat katakan,” tak tahan Hoa HoaHoa hong berteriak.

Kini Toan Giok baru tertawa, ceritanya, “Konon dahulu ada seorang pemburu muda pintar dan

pemberani, suatu hari dia berhasil menangkap seekor beruang dengan perangkapnya dan

bersama rekan-tekannya mengikat beruang itu dengan tali

dan siap dibawa pulang ke rumah, tiba-tiba dari balik semak belukar dalam perjalanan

pulangnya, menemukan sebuah peti besar.”

“Apakah petinya seperti peti ini?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Peti itu jauh lebih besar. Tentu saja pemburu muda itu keheranan, mengapa peti semacam ini

bisa dibuang di tengah semak belukar?”

“Maka dia pun ingin membuka peti itu dan memeriksa isinya?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Betul.”

“Apa isi peti itu?”

“Seorang wanita yang masih muda dan cantik sekali,” jawab Toan Giok sambil tertawa.

Hoa Hoa-hong tertawa dingin, katanya menggeleng kepala, “Aku tak percaya, mana ada

perempuan masuk ke dalam peti besar?”

“Sebetulnya pemburu itu pun heran, maka ditunggunya hingga nona itu tersadar kembali, dia

pun segera bertanya.”

“Apa jawaban nona itu?”

“Ternyata dia adalah putri seorang hartawan kaya, keluarganya dirampok habis-habisan oleh

sekawanan begal, seluruh anggota keluarganya mati terbunuh.”

“Lantas darimana ia bisa lobos dari terkaman mulut harimau?”

“Dia sendiri pun tidak lolos dari ancaman bahaya, ternyata pentolan begal itu ada dua orang,

mereka adalah dua orang Hwesio. Kedua orang ini jatuh hati pada kecantikannya, maka sengaja

mereka menyembunyikan nona itu ke dalam peti dan hendak dibawa pulang.”

“Kalau memang mereka tidak bermaksud baik, mengapa pula meninggalkan peti itu di pinggir

jalan?”

“Tempat itu sebetulnya hutan yang sepi dan jauh dari keramaian manusia. Untuk menghindari

pengawasan orang banyak, sengaja peti itu disembunyikan di sana. Seandainya ada dua orang

 

Hwesio menempuh perjalanan sambil menggotong sebuah peti besar, tingkah laku mereka pasti

akan dicurigai orang banyak, bukan?”

“Oh, jadi mereka pun tidak menyangka bakal ada orang yang pergi ke tempat terpencil itu?”

tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok manggut-manggut.

“Bagaimana kemudian?” tanya si nona.

“Tentu saja kawanan pemburu itu merasa terharu dan setelah mendengar cerita nona itu, maka

mereka pun menolongnya keluar dari dalam peti dan memasukkan beruang yang baru saja

ditangkap itu ke dalam peti.”

Setelah tersenyum, lanjutnya, “Sudah kukatakan tadi, peti itu jauh lebih besar dari peti yang

ada di hadapan kita sekarang.”

Tak tahan Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap peti di hadapannya, kemudian berkata, “Peti

ini pun tidak terhitung kecil”

“Memang tidak kecil, jika dipakai untuk memasukkan seseorang, rasanya hal ini pun tidak

terlalu sulit.”

“Kau belum menyelesaikan ceritamu,” kata Hoa Hoa hong.

“Karena merasa berterima kasih kepada sang pemburu yang telah menyelamatkan jiwanya,

nona kaya itu pun kawin dengannya.”

“Ah, belum tentu begitu,” sindir Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin. “Mungkin saja dia

terpaksa kawin dengannya karena memang tak ada tempat lagi yang bisa dia tuju.”

“Mungkin pendapatmu benar, aku hanya tahu dia benar-benar menikah dengan pemburu itu.”

“Bagaimana dengan kedua orang Hwesio itu?”

“Sejak itu mereka tak pernah melihat lagi kedua Hwesio iyu hanya saja dari dalam kota tersiar

sebuah berita aneh.”

“Berita aneh apa?”

“Hari itu di sebuah rumah penginapan terbesar di kota itu kedatangan dua orang tamu, mereka

memakai baju baru, mengenakan topi baru, tapi anehnya kedua orang itu membawa sebuah peti

yang besar sekali.”

“Peti itu yang dibawa?”

Toan Giok tidak menjawab, hanya lanjutnya, “Mereka memesan kamar yang paling besar, minta

hidangan paling lezat, kemudian mengunci pintu dari dalam. Sebelum itu mereka berpesan kepada

para pelayan penginapan, meski mendengar suara apa pun, tak ada yang boleh pergi

mengganggu mereka”

“Kedua orang Hwesio bajingan itu benar-benar bukan manusia baik-baik,” sumpah Hoa Hoahong

“Kemudian, benar saja, para pelayan mendengar suara yang sangat aneh berkumandang dari

dalam kamar, sekalipun mereka tak berani bertanya, namun tak urung ingin memeriksa juga apa

gerangan yang telah terjadi.”

“Apa yang mereka saksikan?”

“Tidak lama mereka menunggu, tahu-tahu terlihat ada seekor beruang besar menerjang keluar

dari kamar, mulutnya masih dipenuhi noda darah. Menanti beruang itu kabur jauh, baru berani

masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan.”

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, “Waktu itu keadaan ruangan porak-poranda tak

keruan, bahkan terlihat kedua orang Hwesio itu mati secara mengenaskan dalam kamar itu.

Sewaktu mati, wajah mereka mengunjuk perasaan kaget, ngeri, seram dan ketakutan yang luar

biasa.”

 

Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa geli, serunya “Tentu saja mimpi pun mereka tak

menyangka kalau perempuan cantik dalam peti tiba-tiba berubah jadi beruang besar.”

Toan Giok ikut tertawa.

“Buat orang lain, tentu mereka tak pernah bisa menduga mengapa ada seekor beruang bisa

bersembunyi dalam peti besar Oleh karena itu peristiwa ini menjadi kasus besar yang diliputi

misteri, hanya sepasang muda-mudi pemburu yang kini telah menjadi suami-istri yang tahu akan

rahasia itu sebenarnya.”

Setelah tertawa, kembali ujarnya, “Mereka menyimpan rahasia itu rapat-rapat dan hidup

bahagia hingga hari tua bahkan kehidupan mereka amat kaya dan berkecukupan, sebab harta

yang dirampok Hwesio itu disembunyikan juga dalam peti.”

Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi wajah Hoa Hoa-hong, pujinya, “Ceritamu memang

sangat menarik.”

“Justru karena itu hingga sekarang aku tidak pernah melupakannya,” sambung Toan Giok.

“Apakah kau sangat mengagumi pengalaman yang dialami pemburu muda itu?” tanya Hoa Hoahong

sambil melirik sekejap ke arahnya.

“Ai, siapa tak iri dengan pengalaman yang dialaminya?” Toan Giok sambil menghela napas.

Mendadak paras muka Hoa Hoa-hong berubah hebat. Sambil cemberut, teriaknya ketus, “Jadi

kau pun berharap isi peti itu pun seorang wanita cantik yang kaya-raya?”

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa sangat riang.

Kembali Hoa Hoa-hong melotot, katanya sambil tertawa dingin, “Darimana kau tahu kalau isi

peti ini adalah perempuan cantik, bukannya beruang pemangsa manusia?”

“Karena hanya orang jahat yang akan memperoleh pcmbalasan yang setimpal. Ketika cerita ini

disampaikan kepadau dulu, orang itu pun berharap agar aku tidak melakukan perbuatan jahat.”

“Kau tak pernah melakukan perbuatan jahat?”

Toan Giok manggut-manggut sambil tertawa.

“Oleh sebab itulah isi peti ini sudah pasti bukan seekor beruang besar.”

“Dan tak mungkin seorang wanita cantik.”

“Kenapa?” sengaja Toan Giok bertanya.

“Karena tak mungkin di dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan, lagi pula kisah itu

hanya cerita karanganmu sendiri. Oleh karena baru saja kau menderita kerugian di tangan Hwesio,

maka kau mengatakan Hwesio itu bandit.”

“Kau keliru besar,” kata Toan Giok serius. “Cerita ini tidak bohong, tapi tercantum dalam

kumpulan cerita Se-yang-ca-cu buah karya Toan Seng-si. Inti cerita itu adalah siapa berbuat baik

dia akan menuai kebaikan, siapa berbuat jahat dia akan menuai kejahatan. Oleh karena itu hidup

sebagai manusia di dunia ini, lebih baik janganlah berbuat jahat.”

Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arahnya, tapi tak tahan katanya juga sambil tertawa,

“Terlepas apa pun yang akan kau katakan, aku tetap tak percaya kalau ada orang dimasukkan

dalam peti ….”

Ucapan itu tidak dilanjutkan lebih jauh, karena pada saat itulah tiba-tiba dari dalam peti

berkumandang semacam suara yang sangat aneh, seperti ada orang sedang merintih dari dalam

peti besar itu.

Tak salah lagi, ternyata isi peti itu benar-benar seorang manusia, bahkan seorang manusia

Hoa Hoa-hong mengawasi peti itu dengan mata terbelalak lebar, seakan melihat setan di siang

hari bolong, tertegun, terperangah dan ngeri.

Begitu juga Toan Giok, ia merasa amat terperanjat.

 

Sekalipun dia percaya bahwa peristiwa semacam itu bisa terjadi di dunia ini, namun tak pernah

menyangka dia akan mengalami sendiri kejadian seperti itu.

Beberapa saat kembali sudah lewat, namun suara itu masih berkumandang tiada hentinya.

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong berkata, “Kau yang menemukan peti itu, bukan?”

Terpaksa Toan Giok mengangguk.

“Jadi kaulah yang seharusnya membuka tutup peti itu,” Hoa Hoa-hong menambahkan.

Toan Giok menghela napas panjang dan tertawa getir, jawabnya cepat, “Tentu saja aku tak

akan membuangnya lagi ke dalam air.”

“Mengapa hingga sekarang kau belum turun tangan?”

“Kunci ini sangat besar, belum tentu aku sanggup membukanya,” kata Toan Giok sambil

berkerut kening.

“Kau pasti bisa membukanya, aku tahu kepandaianmu luar biasa.”

“Bagaimana dengan kau sendiri? Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak turun tangan sendiri?”

“Tentu saja tidak, aku kan seorang wanita.”

Tampaknya hingga sekarang dia baru teringat kalau dirinya adalah seorang wanita.

Bila seorang wanita tak ingin melakukan suatu pekerjaan, biasanya dengan cepat dia akan

teringat hal ini.

Dan alasan itu, kebetulan merupakan alasan yang tak bisa disangkal lelaki mana pun.

Oleh sebab itu terpaksa Toan Giok harus turun tangan sendiri membuka peti besar itu.

Cepat Hoa Hoa-hong membalikkan tubuh memandang ke arah lain.

Bukan saja dia enggan membantu, melihat pun tak mau, seolah-olah takut bila makhluk yang

melompat keluar dari dalam peti adalah setan hidup berwajah seram.

“Tring!”, akhirnya Toan Giok berhasil mematahkan kunci tembaga dan membuka peti itu.

Hoa Hoa-hong menunggu beberapa saat lamanya, ketika mendengar sesuatu gerak-gerik, tak

tahan tanyanya, “Apakah isi peti itu benar-benar manusia?”

“Ehm!”

“Manusia hidup?”

“Ehm!”

“Tua atau muda?” tanya Hoa Hoa-hong lagi sambil menggigit bibir.

“Muda.”

Kembali Hoa Hoa-hong menggigit bibir, tapi akhirnya tak tahan ia bertanya lagi, “Laki-laki atau

perempuan?”

“Laki-laki.”

Kini Hoa Hoa-hong baru menghembuskan napas lega, sekulum senyuman segera menghiasi

ujung bibirnya.

Dia lebih rela isi peti itu adalah seekor beruang besar daripada seorang gadis muda.

Ada orang bilang, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah ular. Ada juga yang

mengatakan, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah tikus.

Padahal makhluk apakah yang sebenarnya paling dibenci kaum wanita? Wanita!

Makhluk yang paling dibenci perempuan sesungguhnya adalah perempuan lain.

Apalagi wanita itu adalah seorang perempuan yang mungkin bisa menjadi musuh cintanya,

terlebih seorang wanita yang jauh lebih cantik daripada diri sendiri.

Orang yang berada dalam peti itu bukan hanya masih muda, bahkan tampan. Hanya sayang

paras mukanya pucat-pias menakutkan, pakaian yang dikenakan pun hanya pakaian dalam yang

tipis sehingga tampang dan keadaannya terlihat sangat mengenaskan.

 

Dia merintih tiada hentinya, sementara sepasang matanya masih terpejam rapat, agaknya

belum sadar,

Baru saja Hoa Hoa-hong membalikkan badan, ia sudah mengendus bau arak yang kental, tak

tahan serunya sambil berkerut kening, “Ternyata orang ini pun seorang setan arak.”

“Tapi arak yang masuk ke dalam perutnya pasti tidak sebanyak arak yang tertuang di

pakaiannya.”

Benar saja, pakaian dalam yang dikenakan orang itu terendus bau arak yang sangat kuat.

“Kalau dia tidak mabuk, mengapa belum juga sadar?” tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Aku rasa dia sudah terkena

bubuk pemabuk atau obat pelupa diri dan sebangsanya hingga tak sadarkan diri, bahkan kadar

yang merasuk ke dalam tubuhnya tidak terhitung ringan.”

“Maksudmu dia dibuat mabuk dan tak sadarkan diri lebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam

peti?”

“Siapa pun orangnya, tak mungkin ada yang bersedia dimasukkan ke dalam peti secara sukarela.”

Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap paras mukanya yang pucat-pias, tiba-tiba katanya

sambil tertawa, “Jangan¬ jangan dua orang Nikoh yang memasukkan orang ini ke dalam peti?”

Toan Giok segera mengedipkan matanya berulang kali, balasnya, “Aku rasa dia pasti sudah

kehilangan tempat tinggal dan tak tahu kemana harus pergi. Apa salahnya kalau kau ambil dia

sebagai calon suami?”

Kontan saja paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi cemberut, teriaknya ketus, “Terima kasih

banyak, idemu memang sangat bagus. Tak nyana kau bisa memikirkannya untukku.”

Toan Giok kembali tertawa, tampaknya ia merasa sedikit lebih lega.

Dengan gemas, Hoa Hoa-hong melotot ke arahnya. Setelah tertawa dingin, kembali ujarnya,

“Kau benar-benar takut aku tak mendapat jodoh?”

“Aneh, masa hanya boleh kau yang mengejek diriku, sementara aku tak boleh mengejekmu?”

“Tidak, pokoknya kau tak boleh!”

“Ai ….” Toan Giok menghela napas panjang. “Padahal anak muda ini tampaknya lumayan juga,

belum tentu dia tak pantas mendampingimu.”

“Ai ….” Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, “Sayangnya orang ini pun berpenyakit persis

seperti kau.”

“Penyakit apa?”

“Penyakit goblok!”

Setelah tertawa nyengir, tambahnya, “Kalau dia tidak mengidap penyakit goblok, kenapa bisa

dimasukkan orang ke da lam peti!”

Untuk kesekian kalinya Toan Giok menghela napas panjang. Kali ini dia benar-benar menghela

Sekarang dia memang mempunyai perasaan begitu, merasa seolah dia sendiri yang dimasukkan

ke dalam peti, bahkan dengan cepatnya peti itu tenggelam ke dasar telaga.

Yang paling menyakitkan adalah hingga sekarang dia masih belum tahu siapakah orang yang

telah memasukkan dirinya ke dalam peti itu.

Berputar sepasang biji mata Hoa Hoa-hong. Sesaat kemudian kembali ujarnya, “Menurut kau,

kenapa ia bisa dimasukkan ke dalam peti?”

Toan Giok hanya bisa menghela napas, ia menggeleng kepala berulang kali.

“Entah apakah dia sama seperti dirimu? Apa pun yang dikatakan orang lain, ia tetap tak

percaya,” kata Hoa Hoa-hong lagi.

 

Toan Giok hanya tertawa getir, tidak menjawab. “Tampaknya pasti ada orang ingin merampas

hartanya

dan menghilangkan nyawanya,” ujar Hoa Hoa-hong lebih jauh.

“0, ya?”

“Setelah merampas hartanya dan mencabut nyawanya, kemudian ingin melenyapkan semua

bukti.”

“Kalau dilihat dari pakaian dalam yang dikenakan orang ini, tampaknya dia memang berasal

dari keluarga kaya, tidak sembarangan orang bisa mengenakan pakaian semacam itu.”

“Ai, sungguh tak disangka di seputar telaga Se-ouw pun terdapat bandit seganas ini. Setelah

dia sadar nanti, kita harus bertanya kepadanya, ada dimana bandit-bandit jahanam itu.”

Hoa Hoa-hong tak perlu menunggu terlalu lama, orang itu telah tersadar kembali.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan dirinya berada di suatu tempat yang amat asing, ia tampak

kaget dan terperangah.

Dengan cepat orang itu berhasil menenangkan hatinya.

Bila berganti orang lain, tatkala tersadar kembali dalam keadaan seperti ini, pasti ada banyak

pertanyaan yang akan dia ajukan kepada Toan Giok berdua.

Tapi orang itu tidak buka suara, sepatah kata pertanyaan pun tidak diajukan, bahkan ungkapan

rasa “terima kasih” pun tak ada.

Orang lain telah menyelamatkan jiwanya, tapi dia malah menganggap orang lain terlalu banyak

Hoa Hoa-hong tak bisa menahan sabar lagi, segera tegurnya, “Tahukah kau kenapa bisa

sampai di tempat ini?”

Orang itu memandangnya sekejap, lalu menggeleng kepala berulang kali.

“Kau berhasil kami keluarkan dari dalam sebuah peti, sebelumnya peti itu berada di dasar

telaga.”

Bila berganti orang lain yang mengetahui dirinya berada dalam sebuah peti, ia pasti akan

sangat terperanjat.

Tapi orang itu sama sekali tak bereaksi, mengedipkan matanya pun tidak.

“Kenapa kau bisa dimasukkan ke dalam peti? Apakah ada orang ingin mencelakaimu?” desak

Hoa Hoa-hong.

Orang itu masih tetap tutup mulut, tapi kali ini sinar matanya dialihkan ke wajah Toan Giok.

“Orang yang sedang kau pandang saat ini she Toan bernama Giok,” kembali Hoa Hoa-hong

berkata. “Dia adalah seorang jagoan berilmu tinggi. Bila kau beritahu kepadanya siapa yang telah

mencelakaimu, pasti dia akan membantumu membalas dendam.”

Bukan saja orang itu tetap rnenutup mulut, bahkan wpasang matanya ikut dipejamkan.

“He, apa kau bisu?” tak tahan Hoa Hoa-hong berteriak. Orang ini bukan saja mirip orang bisu,

bahkan tuli pula. Hoa Hoa-hong benar-benar kehabisan daya. Sambil menghela napas dia

berpaling ke arah Toan Giok, lalu ujarnya sambil tertawa getir, “Ternyata kita keliru.”

“Bagian mana yang keliru?”

“Kelihatannya orang itu seperti secara sukarela masuk ke dalam peti itu. Buat apa kita mesti

membuang banyak pikiran dan tenaga untuk menyelamatkan jiwanya?”

“Seandainya aku sendiri yang baru dikeluarkan dari dalam sebuah peti, mungkin aku pun tak

berminat untuk banyak bicara,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

“Tapi kalau apa pun tak mau dia ucapkan, mana mungkin kita bisa membantunya membalas

dendam?”

 

“Ada sejenis orang, bila ingin menuntut balas kepada seseorang, dia akan pergi sendiri dan tak

sudi minta bantuan orang lain.”

Kontan Hoa Hoa-hong tertawa dingin.

“Hm, aku tahu, memang banyak lelaki yang mempunyai watak bau seperti itu,” jengeknya.

Mendadak orang itu membuka mata, memandang gadis itu sekejap dan akhirnya buka suara,

“Terima kasih!”

Hingga kini dia hanya mengucapkan dua patah kata itu, seakan bukan berterima kasih karena

Toan Giok yang telah menyelamatkan jiwanya, melainkan karena pemuda itu telah mengungkap

suara hatinya.

Bcgitu selesai mengucapkan perkataan itu, dia pun segera berdiri dan siap beranjak pergi.

“Sekarang juga kau akan pergi?” tegur Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

Orang itu manggut-manggut, tapi baru berjalan selangkah, tiba-tiba wajahnya menunjukkan

rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah tubuhnya tertusuk jarum tajam secara tiba¬tiba.

Menyusul tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.

Kini Toan Giok baru tahu kalau bahu belakangnya basah oleh darah.

“Kau terluka?’ jerit Hoa Hoa-hong.

Orang itu tidak menjawab, kembali dia meronta untuk bangkit, tapi sekali lagi roboh terungkal.

Begitu roboh kali ini, dia tak sadarkan diri.

Ternyata tubuhnya memang terluka.

Mulut luka berada di bahu bagian belakang, besarnya hanya semata jarum, tapi seluruh bahu

sudah berubah hijau kehitam-hitaman dan membengkak. Jelas ia sudah terkena senjata rahasia

beracun yang lembut dan tajam, kemungkinan besar ia dibokong dari belakang.

“Wah, tampaknya senjata rahasia itu beracun,” seru Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

“Bukan hanya beracun, bahkan racunnya sangat lihai.”

“Apakah masih ada harapan untuk ditolong?”

Toan Giok tertawa.

“Walaupun aku tidak ahli dalam urusan membunuh, tapi menolong orang adalah ahlinya.”

Sambil tersenyum dia menggulung lengan baju sendiri, kemudian ujarnya lebih jauh, “Kau

cukup membantu aku memanaskan sepoci arak kualitas baik, kujamin akan kubuat dia menjadi

manusia hidup lagi.”

Hoa Hoa-hong melirik sekejap ke arahnya dengan sorot mata ragu dan penuh curiga,

gumamnya, “Jangan-jangan orang ini sedang menipu arakku?”

Ternyata Toan Giok tidak sedang menipu araknya, dia pun tidak mengibul atau omong besar,

anak muda ini benar¬benar memiliki kepandaian yang luar biasa.

Mula-mula dia menghirup arak seteguk, lalu arak itu disemburkan ke atas mulut luka orang itu,

setelah itu dari dalam sakunya dia mengeluarkan Bi-giok-to yang berwarna hijau pupus itu dan

mulai mengorek daging busuk di sekeliling mulut luka.

Menanti darah hitam yang meleleh keluar dari mulut luka itu berubah merah segar, ia baru

mencampur bubuk obat ke dalam arak panas kemudian dibubuhkan di seputar luka.

Selesai semua itu, dia menghembuskan napas panjang dan berkata sambil tertawa, “Sekarang

kau tentu percaya bukan bahwa aku bukan sedang mengibul?”

“Tidak kusangka ternyata kau memang mempunyai kepandaian hebat,” sahut Hoa Hoa-hong

sambil tersenyum.

“Bukan hanya itu saja kepandaianku, sesungguhnya aku masih memiliki kemampuan lain.”

“Kau benar-benar dapat mengobati berbagai macam penyakit?”

“Hanya satu macam penyakit yang tak dapat kuobati.” “Penyakit apa?”

“Penyakit lapar.”

 

Setelah menghela napas, lanjutnya sambil tertawa getir,

“Boleh tahu, di tempatmu ini apakah tersedia obat mujarab yang bisa dipakai untuk mengobati

penyakit laparku?”

“Kau ingin makan apa?” tanya Hoa Hoa-hong sambil tertawa.

“Kau punya apa saja di sini?”

“Tempat ini hanya sebuah rumah kosong, mana mungkin tersedia aneka makanan?”

“Jadi seorang manusia pun tak ada?”

“Tak ada!”

“Kau sendiri tak bisa menanak nasi?”

” Tidak, tapi aku bisa pergi membeli.”

Kali ini ia pun tidak omong besar, nona itu membuktikan dia memang pandai berbelanja.

Baru saja Toan Giok merebahkan orang sakit itu di dalam rumah, tak selang berapa lama Hoa

Hoa-hong telah pulang membeli aneka macam bungkusan, ada bungkusan besar, ada pula

bungkusan kecil.

Ketika bungkusan pertama dibuka, ternyata isinya adalah udang bago masak saus tiram.

Berkilat mata Toan Giok, serunya sambil tertawa, “Wah, udang besar ini pasti udang masakan

rumah makan Thay-hap¬ lau!”

Bungkusan kedua berisi baikut panggang.

“Kalau masakan baikut ini pasti berasal dari rumah makan Gui-goan-koan!”

Bungkusan ketiga adalah bakpao.

“Apakah bakpao ini adalah bakpao daging bikinan rumah makan Yu-it-cun?” seru Toan Giok.

Bungkusan keempat berisi potongan daging panggang, setiap potong paling tidak tiga inci

Sambil membasahi bibirnya dengan ludah, kata Toan Giok seraya tertawa senang, “Kalau ini

daging panggang dari rumah makan Ong-heng-seng di lorong Cing-hap-hong.”

Bungkusan kelima berisi hi-wan, bakso yang terbuat dari daging ikan segar.

Kembali Toan Giok memuji, “Bakso ikan buatan Gwe-lau memang terkenal akan kegurihan dan

kekenyalannya.”

Bungkusan keenam berisi ca rebung.

“Ehm, kalau ini ca rebung!” seru Toan Giok.

Mendengar ocehan pemuda itu, Hoa Hoa-hong tertawa tergelak, pujinya, “Tak kusangka

ternyata kau memang ahli makan.”

“Ah, sekalipun belum pernah mencicipi daging babi, paling tidak aku pernah melihat babi

berjalan.”

Padahal semua hidangan itu jangankan dicicipi, melihat pun belum pernah, dia hanya pernah

mendengar orang bercerita akan hal ini.

Ca rebung dari telaga Se-ouw memang amat tersohor di seantero kolong langit.

Bungkusan terakhir berisi ayam goreng dari gang Thay peng serta sebotol arak Tiok-yap-cing

dari dusun Sin-hoa- cun.

Kecuali berada di telaga Se-ouw, mungkin hanya sewaktu bermimpi kau baru bisa mencicipi

semua hidangan itu. Kenyataan, rumah makan Gwe-goan-koan, Ong-huan-ji, Tek-gwe-lau dan

lain-lain merupakan tempat-tempat yang sering diimpikan setiap orang.

Sementara Toan Giok masih menikmati semua hidangan itu dengan santai, mendadak Hoa Hoahong

mengeluarkan selembar kertas dari dalam keranjang belanjanya, lalu dengan mengulum

senyuman yang misterius tanyanya, “Tahukah kau siapa orang yang berada dalam lukisan ini?”

 

Di atas kertas itu terlukis wajah seseorang, seorang pemuda tampan dengan senyuman yang

Di bawah lukisan itu, tertera sederet tulisan dengan huruf benar, “Dicari: hadiah lima ribu tahil

perak”.

Orang yang dikenal Toan Giok memang tidak terlalu banyak, tapi dengan lukisan orang itu, dia

sangat mengenalnya. Karena orang itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Ditatapnya lukisan di atas kertas itu, lalu meraba wajah sendiri, setelah tertawa getir

gumamnya, “Lukisan ini tidak terlalu mirip, gambar ini jauh lebih tampan ketimbang wajah asliku.”

“Mungkin kau sendiri pun tidak menyangka bukan kalau dirimu masih laku dijual lima ribu tahil

perak,” ejek Hoa Hoa¬ hong sambil tertawa.

Toan Giok menghela napas panjang.

“Ai, entah siapa yang rela mengeluarkan uang sebesar lima ribu tahil perak hanya untuk

mencari diriku?”

“Masa tak bisa kau duga?”

“Maksudmu Thiat Sui?”

“Tepat sekali!”

“Dengan orang ini aku tak punya dendam, tak punya permusuhan, aku benar-benar tak habis

mengerti, mengapa dia bermusuhan dengan aku?”

“Tampaknya dia memang enggan melepas dirimu begitu saja. Pengumuman semacam ini paling

tidak telah tersebar ribuan lembar di setiap pelosok kota, mungkin dalam setiap rumah makan

maupun rumah penginapan telah tertempel beberapa lembar.”

Kemudian setelah tertawa, kembali gadis itu melanjutkan, “Aku yakin dalam kota Hangciu saat

ini, sedikit sekali orang yang tidak mengenali wajahmu lagi.”

“Ehm, lima ribu tahil perak memang tidak terhitung sedikit.”

“Tentu saja tidak sedikit, demi uang lima ribu tahil perak, ada sementara orang yang rela

menjual nama baik leluhurnya.”

“Oleh sebab itu aku sudah tak bisa berpikir lagi cara mengatasinya.”

“Sekarang pada hakikatnya kau sudah tak dapat pergi kemana pun. Sekalipun tak ada iming

iming hadiah sebesar lima ribu tahil perak, pembunuh yang telah menghabisi nyawa seseorang

merupakan musuh masyarakat yang dibenci setiap orang. Begitu kau keluar selangkah dari tempat

ini, pasti ada orang yang segera melaporkan kemunculanmu itu kepada Thiat Sui.”

Toan Giok tertawa getir sambil menggeleng kepala berulang kali, gumamnya, “Pembunuh, aku

sendiri pun tak habis pikir, kenapa secara tiba-tiba aku bisa berubah jadi pembunuh? Janganjangan

ini pun termasuk nasibku?”

“Kau benar tak habis berpikir?” tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok menuang secawan arak, meneguknya hingga habis.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, “Coba kau pikir, paling baik lagi bila dibayangkan sejak

awal.”

Kembali Toan Giok memenuhi cawan araknya, setelah itu baru berkata, “Waktu itu, ketika

pertama kali kau melihat diriku, baru saja aku tiba di sini.”

“Kemudian?”

“Kemudian secara kebetulan aku melihat kejadian itu, Hoa Ya-lay pun secara kebetulan

muncul.”

“Kemudian kau pun mengikuti dia masuk ke kamar tidumya,” sambung Hoa Hoa-hong cepat.

“Ketika aku muncul kembali dari rumah itu, secara kebetulan aku bertemu Kiau-losam yang

suka mencampuri urusan orang.”

 

“Betul, dan dia minta kau datang ke Hong-lin-si untuk mencari Tosu bermarga Ku.”

Toan Giok manggut-manggut.

“Sebenarnya belum tentu aku bisa menemukan tempat itu, tapi secara kebetulan bertemu

dirimu.”

“Ya, karena secara kebetulan aku tabu dimana letak Hong lin-si.”

“Ternyata dalam biara Hong-lin-si memang terdapat seorang yang bernama Ku-tojin. Bukan

saja telah bertemu dengan dirinya, bahkan berkenalan pula dengan dua orang teman baru dan

berhasil menangkan puluhan laksa tahil perak, kusangka nasibku memang sedang mujur.”

“Kebetulan mereka pun mengetahui kejadian ini, maka minta kepadamu untuk pergi mencari

Hoa Ya-lay,” sambung Hoa Hoa-hong.

Toan Giok menghela napas panjang.

“Ya, karena itu secara tiba-tiba aku berubah menjadi seorang pembunuh, secara kebetulan

golok yang ditemukan di tubuh sang korban adalah golok milikku.”

“Kau anggap di dunia ini benar-benar terdapat kejadian

yang begitu kebetulan?”

“Aku rasa hal semacam ini tak mungkin terjadi, tapi apa mau dikata, aku justru telah

menjumpainya,” sahut Toan Giok tertawa getir.

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas panjang.

“Kejadian ini pada hakikatnya seperti kejatuhan segepok Goanpo dari tengah udara sewaktu

kau berjalan di tengah jalan dan Goanpo itu menimpa di atas kepalamu.”

“Tapi justru merasa seolah tubuhku saat ini sudah dimasukkan ke dalam sebuah peti besar,

bahkan peti itu adalah sebuah peti mati yang sangat rapat dan tak tembus udara.”

“Siapa yang memasukkan dirimu ke dalam peti? Hoa Ya lay atau Thiat Sui?”

“Aku tak bisa menjawab.”

“Masa kau tak pernah berpikir, mungkin saja kau sendiri yang telah memasukkan dirimu ke

dalam peti itu?”

“Sudah pasti bukan diriku sendiri, tentu ada seseorang lain dan orang itu entah mengapa

berniat mencelakai diriku. Mungkin jauh sebelum aku tiba di sini, dia telah menyiapkan sebuah

liang perangkap di tempat ini dan menanti aku terjerumus ke dalamnya.”

Selesai meneguk cawan arak keempat, sepatah demi sepatah dia menambahkan, “Tapi kau tak

usah kuatir! Cepat atau lambat aku pasti berhasil menyeret keluar orang itu.”

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, katanya, “Aku hanya kuatir sebelum kau berhasil

menyeretnya keluar, dirimu sudah terkubur lebih dulu di balik lumpur di dasar telaga.”

Ia memenuhi cawan sendiri dengan arak, kemudian menuangkan pula untuk Toan Giok.

Sekarang Toan Giok merasa seakan tak mampu lagi menghabiskan arak itu, ia merasa arak

yang diminum kini rasanya amat getir.

Dia sama sekali tidak menyadari, ada seseorang telah berjalan menghampiri mereka secara

diam-diam, kemudian mengawasi kertas pengumuman yang tergeletak di atas meja.

Orang itu mempunyai paras muka yang lebih putih daripada kertas, namun memiliki sepasang

mata yang tajam sekali.

Bila seseorang pernah dimasukkan ke dalam peti, tanpa memiliki nasib yang istimewa, rasanya

sulit untuk berjalan keluar lagi dari dalam peti dalam keadaan hidup.

Bag 7. Memancing naga hijau di bawah sinar rembulan.

Tidak banyak manusia yang pernah dimasukkan ke dalam peti, lebih sedikit lagi yang bisa lobos

dan peti dalam keadaan selamat.

 

Orang itu dapat bertemu Toan Giok, boleh dibilang merupakan nasib mujurnya.

Sekarang ia sudah bisa duduk, tapi sepasang matanya sedang mengawasi kertas pengumuman

di meja dengan mata melotot.

Paras muka Hoa Hoa-hong ikut berubah, tapi Toan Giok masih tersenyum, malah tanyanya,

“Menurut kau, apakah dia mirip seorang pembunuh?”

“Tidak mirip!” jawab orang itu.

Akhimya orang itu buka suara juga!

Tampaknya Toan Giok semakin kegirangan, lagi-lagi ujarnya sambil tertawa, “Aku pun merasa

tidak mirip.”

“Orang lain menuduh dia membunuh siapa?” tiba-tiba orang itu bertanya lagi.

“Seseorang yang sama sekali belum pernah dijumpainya, orang itu she Lu bemama Siau-hun.”

“Padahal Lu Siau-hun bukan mati dibunuh olehnya.”

“Tentu saja bukan,” sahut Toan Giok sambil tertawa getir. “Akan tetapi bila ada sepuluh orang

mengatakan kau telah membunuh orang, maka secara tiba-tiba kau pun akan berubah menjadi

seorang pembunuh.”

Perlahan-lahan orang itu mengangguk.

“Aku bisa merasakan bagaimana rasanya menerima tuduhan semacam itu, karena aku pun

pernah dimasukkan orang ke dalam peti,” katanya.

“Tapi sekarang kau berhasil lobos dari dalam peti dan dialah yang telah menyelamatkan

jiwamu,” tak tahan Hoa Hoa-hong menimbrung.

Sekali lagi orang itu mengangguk, mengangguk perlahan.

“Oleh karena itu, meski kau tak berdaya menyelamatkan dirinya, paling tidak kau pun tidak

seharusnya menginginkan lima ribu tahil perak itu,” kata Hoa Hoa-hong lagi.

Tiba-tiba terlintas perasaan pedih dan menderita di wajah orang itu, sahutnya dengan sedih,

“Aku memang tak mampu menyelamatkan dia, sekarang aku hanya ingin minum arak.”

“Oh, jadi kau pun pandai minum arak?” tegur Toan Giok sambil tertawa.

Orang itu tertawa, senyumannya amat getir, sahutnya, “Buat orang yang pernah dimasukkan

ke dalam peti, paling tidak dia pasti pandai minum.”

Ternyata arak yang diteguknya tidak sedikit.

Kenyataan dia minum arak begitu cepat dan banyak, cawan demi cawan sambung

menyambung. Pada hakikatnya dia tak pernah berhenti meneguk.

Semakin banyak yang diteguk, semakin pucat paras mukanya, mimik penderitaan pun makin

lama semakin menebal.

Toan Giok memandangnya sekejap, kemudian setelah menghela napas, katanya, “Aku tahu,

kau ingin sekali membantu diriku, namun sekalipun kau tak bisa membantu pun tak perlu sedih

dan menderita, karena sekarang memang tak ada orang yang bisa menyelamatkan aku dari dalam

peti besar.”

Mendadak orang itu mendongakkan kepala dan menatap pemuda itu, tanyanya, “Bagaimana

rencanamu?”

“Mungkin saja saat ini tinggal sebuah jalan yang dapat kutempuh,” jawab Toan Giok setelah

berpikir sejenak.

“Jalan yang mana?”

“Temukan dahulu Hoa Ya-lay, sebab hanya dia seorang yang dapat membuktikan kalau kemarin

malam aku memang berada di dalam rumah itu. Siapa tahu hanya dia pula yang tahu siapakah

pembunuh Lu Siau-hun yang sebenarnya.”

“Kenapa?” tanya orang itu.

“Sebab hanya dia pula yang tahu jejak Lu Siau-hun selama beberapa hari belakangan ini.”

 

“Atas dasar apa kau berkata begitu?”

“Selama beberapa hari ini Lu Siau-hun pasti berada bersamanya, karena itu untaian mutiara

serta lencana Giok-pay dari keluarga Lu terjatuh ke tangannya.”

“Kau dapat menemukan dirinya?” tanya orang itu.

“Hanya ada satu cara bila ingin menemukan dirinya.”

“Cara apa?”

“Dia bagaikan seekor ikan. Bila ingin memancing ikan besar, kau harus menyiapkan dulu

umpannya.”

“Kau hendak menggunakan apa sebagai umpan?”

“Menggunakan diriku sendiri!”

“Menggunakan dirimu sendiri? Tidak kuatir tertelan olehnya?” tanya orang itu dengan kening

Toan Giok tertawa getir.

“Kalau sudah dimasukkan ke dalam peti besar, apa bedanya dimasukkan ke dalam perut ikan?”

Orang itu termenung, kembali dia habiskan tiga cawan arak, kemudian baru ujamya, “Padaha]

tidak seharusnya kau ucapkan perkataan itu kepadaku, karena aku tak lebih hanya seorang asing.

Kau sama sekali tidak mengetahui asal-usulku.”

“Tapi aku mempercayaimu!”

Orang itu segera mendongakkan kepala. Dan balik matanya yang sayu segera terpancar

perasaan terharu dan terima kasihnya.

Bila tanpa sengaja kau menyelamatkan seseorang, hal semacam ini bukanlah suatu kejadian

yang mengharukan, tapi bila kau dapat memahami perasaannya, dapat mempercayainya, maka

hal ini jelas berbeda sekali.

Tapi bila secara kebetulan Toan-loyacu berada di situ, dia pasti akan marah besar.

Sebab Toan Giok kembali melupakan nasehat dan pesannya, “Jangan bersahabat dengan

seorang asing yang tak jelas asal-usulnya”.

Tiba-tiba Toan Giok membalikkan tubuh, mengambil sebuah cawan arak dari sisi jendela.

Dalam cawan itu tak ada arak, hanya ada sebuah benda yang berkilat tajam, bentuknya mirip

kait ikan, tapi di atas kait masih tersisa noda darah yang belum mengering.

“Inilah senjata rahasia yang berhasil kukorek keluar dari tubuhmu,” ujar Toan Giok kemudian.

“Tak ada salahnya kau simpan sebagai kenang-kenangan.”

“Kenang-kenangan apa?”

“Kenang-kenangan untuk pelajaran kali ini,” sahut Toan Giok sambil tertawa, “agar di kemudian

hari tidak membiarkan orang lain membokongmu dari belakang, atau paling tidak memperkecil

peluangnya untuk berbuat demikian.”

Orang itu masih meneguk arak tiada hentinya, jangankan menerimanya, berpaling untuk

melihat sekejap pun malas.

“Kau tak ingin melihat senjata rahasia macam apakah ini?” tanya Toan Giok.

Dengan malas orang itu mendongakkan kepala dan memandang sekejap.

“Kelihatannya mirip sebuah pancing ikan.”

“Ya, memang agak mirip,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

Tiba-tiba orang itu ikut tertawa, ujarnya, “Oleh sebab itu tak ada salahnya memakai kail itu

untuk memancing ikan.”

“Memangnya benda ini bisa dipakai untuk mengail ikan?”

“Bukan hanya bisa mengail ikan, terkadang malah bisa memancing seekor naga besar.”

Toan Giok mulai tertawa, dia menganggap orang itu sudah mulai mabuk.

 

Namun orang itu kembali berkata, “Di dalam air bukan saja ada ikan, juga ada naga. Ada naga

besar, juga ada naga kecil, ada naga betulan, ada juga naga gadungan, ada naga putih, naga

merah, bahkan naga hijau.”

“Naga hijau?”

“Naga hijau adalah sejenis naga yang paling susah dihadapi. Bila kau ingin memancing naga

hijau, lebih baik pergilah pada malam ini, karena malam ini adalah malam bulan dua tangggal dua,

saat naga mendongakkan kepala.”

Dia memang sudah mabuk, karena semua perkataannya adalah kata-kata orang mabuk.

Hari ini jelas sudah lewat bulan tiga, kenapa dia mengatakan masih bulan dua tanggal dua saat

naga mendongakkan kepala?

Kini dia tak bisa lagi mengangkat kepala, kemudian bukan saja mulutnya tak bisa bicara lagi,

tangannya gemetar, mendadak cawan dalam genggamannya terjatuh ke tanah, jatuh dan hancur

“Ah, ternyata dia adalah orang macam begini,” seru Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa.

“Tak heran ia dimasukkan orang ke dalam peti besar.”

Namun Toan Giok tidak menjawab, dia hanya mengawasi mata kail dalam cawan dengan

termangu, dia seolah tidak mendengar apa yang barusan dikatakan gadis itu.

Bakpao buatan rumah makan Yu-it-cun memang amat tersohor. Oleh sebab itu harganya sedikit

lebih mahal daripada bakpao buatan tempat lain, selain rasanya memang luar biasa lezat, tak

pernah ada pembeli yang protes ataupun menggerutu. Tapi bila dimakan setelah bakpaonya

dingin, rasanya jadi tak keruan, bahkan terkadang jauh lebih tak enak ketimbang bakpao hangat

buatan tempat lain.

Toan Giok sedang mengunyah bakpao dingin, tiba-tiba ia menemukan sebuah teori yang

dulunya belum pernah terpikir olehnya.

Dia menganggap tak ada kejadian yang “pasti” di dunia ini. Kalau memang tak ada bakpao

yang “pasti” enak, berarti tak ada pula bakpao yang “pasti” tak enak. Enak tidaknya sebiji bakpao

tergantung pada saat apa kau memakannya dan berada dimana.

Sebuah benda yang sama, bila berganti waktu atau dipandang dan sudut yang berbeda,

kemungkinan besar akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.

Oleh sebab itu bila kau ingin mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya dari suatu

masalah, cobalah memandang dan menganalisa dan sudut pandang yang berbeda.

Paling baik bila satu per satu dipilah dan diurai sebelum satu per satu disambung dan disatukan

Tampaknya teori ini telah memberi banyak masukan dan petunjuk bagi Toan Giok, dia seakanakan

terpesona, saking kesemsemnya sampai bakpao yang sudah dikunyah dalam mulut pun lupa

Pintu di seberang sana dilapisi sebuah tirai kain, tirai itu bersulamkan sebuah lukisan bunga di

malam musim semi.

Hoa Hoa-hong telah berjalan masuk ke dalam, tampaknya ruangan itu adalah kamar tidurnya.

Lelaki asing yang keluar dari dalam peti itu telah dipapah Toan Giok untuk dibaringkan dalam

sebuah ruangan lain.

Tampaknya dia mabuk berat. Saat ini dalam keadaan tak sadarkan diri.

Takaran arak tidak selalu menunjukkan kemampuan minum seseorang.

Sekalipun kondisi tubuhmu kuat, bila pikiran dan perasaanmu sedang kalut, sedikit saja minum

arak, kadangkala sudah cukup membuat dirimu mabuk.

 

Toan Giok menghela napas, dia memenuhi cawan sendiri dengan arak. Rencananya sehabis

minum secawan, dia akanpergi memancing ikan.

Siapa tahu ia benar-benar berhasil mendapatkan seekor naga, bukankah tak ada kejadian yang

tak mungkin di dunia ini? Pada saat itulah dari balik tirai kamar muncul sebuah tangan.

Tangan yang halus dan lembut, sedang menggapainya agar dia masuk ke dalam.

Mana boleh seorang lelaki sembarangan masuk ke kamar tidur seorang gadis?

Toan Giok agak sangsi.

“Ada apa?” tanyanya.

Tiada jawaban.

Tiada jawaban terkadang merupakan jawaban yang paling baik.

Meski dalam hati kecilnya Toan Giok masih penuh diliputi kesangsian, namun sepasang kakinya

telah bangkit dan berjalan menghampiri ruang kamar itu.

Pintu berada dalam keadaan terbuka, bau harum semerbak terendus dan balik ruangan,

menyusul di atas ranjang berkelambu teronggok beberapa stel pakaian, salah satu di antaranya

adalah pakaian yang baru saja dikenakan Hoa Hoa hong.

Jelas baru saja dia mencoba beberapa stel pakaian sebelum akhirnya memutuskan mengenakan

salah satu di antaranya.

Tapi sekarang dia telah melucuti kembali pakaiannya dan berganti dengan satu stel pakaian

hitam yang sangat ketat, rambutnya dibungkus pula dengan kain hitam, dandanannya sekarang

tak berbeda dengan dandanan bandit wanita yang siap melakukan pencurian.

“Eh, apa yang hendak kau lakukan?” tegur Toan Giok dengan kening berkerut.

Hoa Hoa-hong berputar beberapa kali di depannya, kemudian bertanya, “Menurutmu, aku mirip

orang yang mau kemana?”

“Kau lebih mirip bandit wanita.”

Hoa Hoa-hong segera tertawa, tertawa manis.

“Jika bandit wanita pergi bersama seorang pembunuh, orang yang melihatnya pasti akan

gempar.”

“Jadi kau hendak mengajak aku keluar?”

“Kalau tidak keluar, buat apa aku mesti mengenakan pakaian macam begini?”

“Tapi aku hanya ingin pergi memancing ikan.”

“Kalau begitu kita pergi memancing ikan.”

“Kau tak boleh ikut,” cegah Toan Giok. “Kenapa?”

“Orang yang memancing ikan terkadang bisa juga dilarikan ikan yang hendak dipancing, kau

tidak kuatir ditelan ikan besar?”

“Baguslah kalau begitu, setiap hari aku makan ikan, apa salahnya kalau sekali-kali aku

merasakan dimakan ikan?”

“Kau sangka aku sedang bergurau? Tahukah kau betapa berbahayanya masalah ini?”

“Kalau aku tidak melihatnya, lantas buat apa mesti pergi menemanimu?” jawab Hoa Hoa-hong

Biarpun jawaban itu disampaikan amat ringan dan tanpa beban, namun dari sorot matanya

dapat terlihat betapa perhatian dan rasa kuatirnya atas keselamatan Toan Giok, bahkan dia

menunjukkan pula sikap dan tekadnya untuk mati-hidup, gembira-susah bersama anak muda itu.

Luapan perasaan semacam ini seharusnya bisa dirasakan setiap pria yang mendengamya,

kendatipun dia adalah manusia yang terbuat dari balok kayu.

Toan Giok bukan manusia yang terbuat dari balok kayu, perasaan hatinya telah berubah

menjadi segumpal bola gula yang tercebur ke dalam air.

 

Tampaknya ia sudah tak berani memandangnya lebih Ianjut, kini dia alihkan sorot matanya

mengawasi gaun hijau apel yang tergeletak di atas ranjang.

“Pakaianmu ini sungguh indah,” katanya.

Hoa Hoa-hong mengerlingnya sekejap, tak tahan serunya sambil tertawa, “Apakah kau tidak

merasa, sejak tadi aku sedang menunggu perkataanmu itu? Apakah perkataanmu sekarang tidak

kelewat terlambat untuk disampaikan?”

Toan Giok pun tak tahan ikut tertawa.

“Disampaikan sedikit terlambat jauh lebih mendingan daripada sama sekali tidak dikatakan,

bukan begitu?”

Kembali Hoa Hoa-hong tersenyum, ia membalikkan badan dan segera menutup pintu kamar.

Bukankah sudah siap pergi dari situ? Mengapa secara tiba-tiba ia menutup pintu kamar?

Tiba-tiba jantung Toan Giok mulai berdebar, berdebar kencang sekali.

Kini Hoa Hoa-hong telah mengunci pintu kamar tidurnya..

Jantung Toan Giok berdebar begitu keras hingga nyaris melompat keluar dari rongga dadanya.

Sejak kecil hingga dewasa, belum pernah ia jumpai situasi seperti ini.

Apakah dia benar-benar tak tahu bagaimana harus bersikap?

Hoa Hoa-hong telah membalikkan badan, ujarnya sambil tersenyum, “Sekarang, biarpun orang

yang berada di kamar sebelah mendusin pun, dia tak bakal tahu apa yang sedang kita lakukan.”

Senyumannya tampak sangat manis, sangat indah menawan.

Merah padam wajah Toan Giok, tanyanya agak tergagap,

“Apa yang hendak kita lakukan?”

“Bukankah kau mengatakan akan pergi memancing ikan?”

“Masa memancing ikan dalam kamar?”

Hoa Hoa-hong tertawa cekikikan, tiba-tiba saja paras mukanya berubah merah padam.

Akhirnya dia mengerti juga apa yang sedang dipikirkan Toan Giok.

Apalagi bagi muda-mudi yang mulai menginjak dewasa.

Hoa Hoa-hong menyerahkan sebuah dayung kepada Toan Giok.

Tanpa bicara Toan Giok menerima dayung itu dan duduk di sampingnya, maka dua buah

dayung pun mulai mendayung di atas permukaan air, mendayung bersama.

Di bawah cahaya rembulan, butiran air yang gemercik tampak bagaikan perak yang berserakan.

Air telaga telah pecah, pecah menjadi pusaran air yang melingkar, lingkaran demi lingkaran

membentur pusaran yang lembut.

Siapakah yang sedang meniup seruling di kejauhan sana?

Mereka menikmati suara seruling itu dengan tenang, mendengarkan suara dayung-mereka

dengan seksama.

Ternyata suara dayung terdengar jauh Iebih merdi , daripada suara seruling, Iebih berirama,

dua pasang tangan seakan telah berubah menjadi satu tubuh.

Mereka berdua tak ada yang bicara.

Tapi kedua orang itu dapat merasakan, belum pernah mereka seakrab dan serapat ini dengan

orang lain.

Bila dua hati telah tertaut menjadi satu, buat apa banyak bicara?

Entah berapa lama sudah lewat, akhimya Toan Giok menghela napas sambil berkata, “Betapa

nikmatnya bila aku tidak direcoki berbagai persoalan yang memusingkan kepala.”

Hoa Hoa-hong tidak langsung menjawab, dia termenung sampai lama sekali sebelum

menyahut, “Bila tiada berbagai kesulitan yang menimpa dirimu, di atas perahu sekarang tiada kau,

juga tak akan ada aku.”

 

Toan Giok menatap wajahnya, begitu pula gadis itu pun menatap Toan Giok, tangan mereka

telah dijulurkan ke depan saling bersentuhan, tapi dengan cepat ditarik kembali. Meski hanya

sentuhan yang amat singkat, namun jauh lebih berarti daripada beribu patah kata.

Sampan kecil telah merapat ke tepian.

Pohon Liu tumbuh rimbun sepanjang pantai. Di sinilah Toan Giok bertemu dengan Kiau-losam.

Sambil meletakkan dayungnya, kata Hoa Hoa-hong, “Kau minta aku membawamu kemari, apa

yang harus kita lakukan sekarang?

“Sekarang kita mendarat, aku ingin melakukan pencarian sekali lagi.”

“Menyatroni rumah itu?”

“Aku tetap tak percaya telah mendatangi tempat yang salah”

“Di dunia ini banyak terdapat orang yang salah mengetuk pintu, karena mereka pun tidak

percaya kalau dirinya telah mendatangi tempat yang salah.”

“Itulah sebabnya aku harus mencarinya sekali lagi.”

Kali ini dia bertindak lebih hati-hati, nyaris setiap sudut rumah dan tempat diperiksa dan diamati

cukup lama.

Beruntung malam kelam, tiada orang yang menyaksikan perbuatan mereka. Kalau tidak, sudah

pasti perbuatannya akan dianggap sebagai usaha begal akan mencuri atau merampok.

Cukup lama mereka berdua melakukan pencarian dan penggeledahan, sudah

puluhan rumah disatroni. Kesimpulan terakhir, tempat yang didatangi Toan Giok siang hari tadi

memang tidak salah.

“Apakah tempat ini yang kau datangi bersama Ku-tojin sekalian pada siang tadi?” tanya Hoa

Hoa-hong.

Toan Giok manggut-manggut.

“Tempat ini juga rumah yang kau datangi bersama Hoa Ya-lay pada kemarin malam?”

“Rasanya tak mungkin salah.”

“Lalu mengapa Thiat Sui bisa muncul di sini? Bahkan sudah menempatinya cukup lama?”

“Inilah persoalan pertama yang harus kuselidiki hingga tuntas.”

Dalam halaman tiada cahaya lentera, juga tak terdengar suara apa pun.

“Kau ingin masuk ke dalam?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Kalau tidak masuk, bagaimana bisa menyelidiki hingga jelas?”

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, bisiknya, “Tapi kali ini bila kau tertangkap Thiat Sui

lagi, aku tak akan mampu membebaskan dirimu.”

“Oleh karena itu jangan sekali-kali kau ikuti aku masuk ke dalam.”

Hoa Hoa-hong tertawa, dia hanya tertawa dan tidak berkata apa -apa.

Toan Giok sendiri pun tak berdaya untuk bicara lebih jauh, sebab gadis itu sudah masuk lebih

dulu, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya terhitung cukup Iihai.

Suasana di dalam halaman gedung amat sepi, bunga-bunga mawar yang berada di bawah

cahaya rembulan meski tidak sesegar siang hari, namun terlihat lebih lembut dan menggoda.

Setelah berada di situ, mereka baru tahu bahwa dalam ruangan terlihat ada secercah cahaya

Cahaya lentera yang redup memancar dari balik jendela, membiaskan bayangan tiga pot bunga

yang berada di atasnya. Sambil merendahkan suaranya, Toan Giok berbisik, “Dalam ruangan itulah

kemarin malam aku tidur.”

“Hoa Ya-lay?”

“Dia pun berada di sana.”

Begitu ucapan itu diutarakan, pemuda itu segera sadar kalau dirinya telah salah bicara.

 

Seketika itu juga paras muka Hoa Hoa-hong berubah bagaikan wajah tukang tagih hutang.

Sambil tertawa dingin, ejeknya, “Hm, kalau begitu, nikmat benar tidurmu semalam.”

Merah padam wajah Toan Giok.

“Aku aku ….”

“Kalau kau sudah merasakan kenikmatan, apa salahnya sekarang merasakan sedikit

penderitaan?” teriak Hoa Hoa-hong dengan suara keras.

Dia seolah lupa kalau saat ini masih berada dalam halaman rumah orang lain, dia pun seperti

lupa apa maksud kedatangannya.

Konon bila seorang perempuan sedang minum cuka (cemburu), biar kaisar pun tidak

dipedulikan, apalagi hanya Toan Giok.

Dalam keadaan begini, Toan Giok hanya bisa tertawa getir, hatinya panik bercampur gelisah.

Siapa sangka sama sekali tiada gerakan apa pun dari dalam ruangan itu, seakan-akan

penghuninya sudah terlelap seperti babi mampus.

Terlepas mau dipandang dari sudut mana pun, mustahil Thiat Sui bisa tertidur begitu nyenyak

seperti babi mampus.

Beda dengan Hoa Ya-Iay, konon perempuan jalang biasanya amat gemar tidur.

Apakah malam ini dia tidak berada di sini? Mungkinkah Hoa Ya-lay telah balik kemari?

Sambil menggigit bibir, Hoa Hoa-hong merangsek maju, kemudian dengan kuku jarinya ia

lubangi kertas jendela.

Perempuan ini memang tak punya bakat menjadi pencuri, dia tak tahu membasahi jari

tangannya lebih dulu dengan air ludah hingga ketika merobek kertas jendela tak menimbulkan

“Kres!”, dengan cepat dia telah membuat sebuah lubang besar di kertas jendela.

Kini paras muka Toan Giok telah berubah sedikit pucat. Siapa tahu dari dalam ruangan tetap

tak terdengar sedikit suara pun.

Mungkinkah ruangan itu tanpa penghuni? Ternyata benar, rumah itu memang kosong tanpa

Bukan saja tanpa penghuni, bahkan semua barang yang berada dalam ruangan itu pun telah

dipindah keluar, kini rumah itu telah berubah menjadi sebuah rumah kosong, hanya tersisa tiga

buah pot bunga di luar jendela yang lupa dibawa pergi.

Toan Giok tertegun, begitu juga dengan Hoa Hoa-hong.

Lama sekali kedua orang itu berdiri termangu-mangu, akhirnya Hoa Hoa-hong berkata,

“Mungkin bukan tempat ini yang kau datangi siang tadi.”

Toan Giok manggut-manggut.

“Sepeninggalmu, Hoa Ya-lay pasti takut kau datang lagi mencarinya, maka cepat ia pindah dari

sini,” kata Hoa Hoa-hong lagi.

“Lalu dimanakah letak rumah yang kudatangi siang tadi?” tanya Toan Giok ragu-ragu.

“Mungkin saja berada di seputar sini, tapi sekarang kau pun gagal menemukannya kembali.”

Toan Giok menghela napas, ujarnya sambil tertawa getir, “Mungkin aku telah bertemu setan

hidup.”

“Hm, kau memang telah bertemu setan, bahkan setan perempuan,” ejek Hoa Hoa-hong sambil

tertawa dingin.

Toan Giok tak berani menjawab dan beruntung dia tidak menjawab lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara suitan yang sangat aneh berkumandang dari luar

 

Biasanya suara suitan semacam ini merupakan kode rahasia bagi mereka yang sedang

melakukan perjalanan malam. Benar saja, di luar sana terdapat orang yang sedang melakukan

perjalanan malam, terdengar ada dua ora ng sedang bercakap-cakap di luar sana.

“Kau yakin di sini tempatnya?”

“Tak mungkin salah, aku baru saja kemari satu bulan berselang.”

“Tapi mengapa tak ada orang yang keluar dari rumah itu?”

“Mungkin saja sudah tertidur.”

“Sekalipun sudah tidur, masa mereka tidur seperti orang mati?”

“Jago silat mana yang berani mencari gara-gara di sini?

Orang yang sudah terbiasa hidup tenang, biasanya akan tidur jauh lebih nyenyak.”

“Tapi ….”

“Bagaimana pun juga aku tak bakal salah tempat. Ayo, lebih baik kita masuk dulu.”

“Masuk begitu saja?”

“Kita adalah orang sendiri, apa yang mesti ditakuti?” Biarpun ucapan itu muncul dari luar

dinding pekarangan,

namun di tengah malam yang hening dapat terdengar sangat jelas.

Toan Giok segera memandang Hoa Hoa-hong sekejap,

kemudian bisiknya, “Kelihatannya kedua orang itu adalah sahabat pemilik rumah ini.”

“Oleh sebab itu kita harus menanyai mereka. Paling tidak harus tahu siapa sebenarnya tuan

rumah tempat ini.”

Tidak menunggu persetujuan dari Toan Giok, ia sudah melompat keluar lewat jendela.

Kebetulan kedua orang di luar itu sedang melompat

masuk melalui tembok pekarangan; ternyata mereka berdua

sama-sama mengenakan pakaian ringkas. Jelas merupakan jago silat yang sedang menempuh

perjalanan malam.

Begitu bertemu Hoa Hoa-hong, kedua orang itu segera membalikkan sebelah tangan

menghadap langit sementara jari

tangan yang lain menuding ke bumi, memperagakan sebuah gerakan yang aneh sekali.

Temyata Hoa Hoa-hong segera memperlihatkan pula gerakan tangan yang aneh.

Menyusul terdengar kedua orang itu mengajukan sebuah

pertanyaan yang sangat aneh, “Hari ini bulan berapa tanggal berapa?”

Hoa Hoa-hong memutar biji matanya, lalu menjawab,

“Bulan dua tanggal dua.”

Kedua orang itu segera menghembuskan napas lega,

sekulum senyuman pun tersungging di ujung bibirnya, serentak

mereka menjura sambil memberi hormat.

Salah seorang di antaranya yang berperawakan tinggi

segera menjura sambil berkata, “Siaute Ciu Lim adalah bulan tiga tanggal tiga, sedang

menjalankan tugas menuju kota Tin-kang. Karena kebetulan lewat di sini, maka kami sengaja

datang berkunjung.”

“Bagus, bagus!”

“Apakah Liong-lotoa sudah tidur?” kembali Ciu Lim bertanya.

“Dia sedang keluar daerah karena ada urusan. Bila kalian berdua ada masalah, katakan saja

kepadaku.”

Ciu Lim kelihatan agak sangsi, tapi kemudian katanya sambil tertawa paksa, “Kebetulan nasib

kami kurang mujur, waktu tiba di sini kami kehabisan bekal. Sudah lama kami dengar Liong-lotoa

sangat memperhatikan saudara sendiri, oleh sebab itu kami bermaksud mencari sedikit sangu

untuk melanjutkan perjalanan.”

 

Hoa Hoa-hong segera tertawa tergelak.

“Kita memang orang sendiri. Bila kalian tidak mampir dan sampai ketahuan Liong-lotoa, dia

justru akan marah.”

Ciu Lim ikut tertawa.

“Seandainya kami tidak tahu kalau Liong-lotoa sangat royal, tak nanti berani datang

mengganggu.”

Hoa Hoa-hong segera berpaling. Sambil menggapai ke arah Toan Giok yang berada dalam

ruangan, katanya, “Ambilkan lima ratus tahil perak dan berikan kepada dua Toako ini untuk

sangu.”

“Baik,” jawab Toan Giok cepat.

Dia terpaksa melompat keluar dan jendela. Baru saja akan mengambil lima lembar uang kertas

dari sepuluh lembar yang dikeluarkan dari dalam saku, Hoa Hoa-hong telah merampasnya dan

berkata sambil tertawa, “Sedikit hadiah, silakan Toako menerimanya.”

Dengan wajah berseri-seri Ciu Lim menerima lernbaran uang itu sambil berulang kali

mengucapkan terima kasih.

“Sungguh tak disangka nona Hoa jauh lebih royal daripada Liong-lotoa.”

“Ah, terhadap orang sendiri kenapa mesti pelit?” Ciu Lim tertawa.

“Sudah lama kami dengar nama besar nona Hoa, sungguh beruntung hari ini kami bisa

bertemu.”

“Bila kalian tidak terburu-buru, bagaimana kalau tinggal barang dua hari di sini sambil

menunggu kedatangan Liong-lotoa?”

“Kami tak berani mengganggu, lagi pula kami berdua harus segera kembali untuk memberi

laporan. Bila Liong-lotoa kembali, tolong sampaikan salam kami kepadanya, katakan saja kami

bulan tiga tanggal tiga mengucapkan terima kasih

padanya, semoga semua usahanya lancar dan cepat punya anak.”

Hoa Hoa-hong tertawa tergelak, sahutnya, “Aku pun berharap Ciu-toako mendapat nasib mujur,

sekali lempar dadu langsung memperoleh angka empa lima enam.”

Ciu Lim tertawa tergelak. Kedua orang itu mengucapkan terima kasihnya berulang kali, bahkan

setelah beranjak pergi pun masih memuji tiada hentinya kalau nona Hoa sangat royal.

“Sekarang meski dia belum lama bergabung dengan perkumpulan, tapi suatu hari nanti dia

pasti bisa naik menjadi Tongcu. Sungguh beruntung bila kita bersaudara dapat bekerja di bawah

perintahnya.”

Menanti suara mereka sudah pergi jauh, Toan Giok baru menghela napas panjang, ujarnya

sambil tertawa getir, “Kau memang benar-benar royal! Sekali menyumbang, seluruh harta

kekayaanku sudah kau berikan orang hingga ludes.”

“Ah, bukankah kau masih memiliki sepuluh laksa tahil perak hasil menang judi yang masih

dititipkan di warung arak Ku-tojin?”

“Darimana kau bisa tahu kalau dalam sakuku selalu tersedia uang perak?”

Hoa Hoa-hong tertawa.

“Ketika berada di atas perahu Hoa Ya-lay tempo hari, kau sempat memperlihatkan harta

kekayaanmu. Tidak sekalian kuberikan daun emasmu kepada mereka pun sudah terhitung cukup

sungkan terhadapmu.”

Toan Giok tertawa getir.

“Harta kekayaan tak boleh diperlihatkan orang, ternyata perkataan ini memang tepat sekali,”

 

Setelah menghela napas panjang, tak tahan kembali tanyanya, “Tapi hingga sekarang aku tetap

tak habis mengerti, sebenamya apa yang telah terjadi?”

Tiba-tiba paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi series, katanya, “Pernahkah kau mendengar

tentang Cing-liong-hwe (Perkumpulan Naga hijau)?”

Tentu saja Toan Giok pernah mendengamya. Belakangan ini ketiga huruf itu sudah berubah

menjadi semacam mantera setan yang paling misterius dalam dunia persilatan, nama itu seolah

sudah berubah menjadi semacam kekuatan. Bisa membuat orang mati, juga bisa membuat orang

Kembali Hoa Hoa-hong menerangkan, “Konon Cing¬liong-hwe memiliki tiga ratus enam puluh

lima kantor cabang, kebetulan sehari terdiri dari tiga ratus enam puluh lima hari, maka begitu

mereka bertanya kepadaku hari ini bulan berapa tanggal berapa, aku segera teringat perkataan

saudara yang baru keluar dari dalam peti besar itu.”

Berkilat mata Toan Giok, ujarnya, “Ya, betul. Dia bilang dalarn telaga terdapat naga, dia pun

bilang hari ini adalah bulan dua tanggal dua.”

“Waktu itu aku pun merasa perkataannya sangat aneh. Di balik ucapan itu pasti mengandung

makna yang dalam.”

“Oleh sebab itu kau mengatakan kalau hari ini adalah bulan dua tanggal dua?”

Hoa Hoa-hong tertawa.

“Padahal aku sendiri pun hanya bermaksud mencoba-coba, siapa sangka apa yang kulakukan

ternyata benar dan tepat sasaran.”

“Jadi menurutmu, mereka adalah anggota perkumpulan Cing-liong-hwe?”

“Tentu saja.”

“Dan tempat ini merupakan kantor cabang rahasia Cing liong-hwe?”

“Pemilik tempat ini adalah bulan dua tanggal dua, kantor cabang Cing-liong-hwe. Rasanya

mereka menggunakan tanggal dan bulan sebagai pengganti nama cabang rahasia mereka.”

Berkilat sepasang mata Toan Giok.

“Jangan-jangan si Raja pendeta Thiat Sui adalah Liong¬lotoa tempat ini?”

“Besar kemungkinan memang begitu.”

“Tapi bukankah Thiat Sui adalah seorang Hwesio? Kenapa orang she Ciu itu mendoakan agar

dia cepat punya anak?”

“Seorang Tosu saja boleh berbini, kenapa seorang Hwesio tak boleh punya anak?”

“Tapi bukankah mereka belum pernah berjumpa denganmu, mengapa begitu mempercayai

perkataanmu?”

Berkedip mata Hoa Hoa-hong, tiba-tiba tanyanya, “Tadi kau mengatakan dandananku ini mirip

apa?”

“Mirip bandit perempuan!”

Hoa Hoa-hong segera tertawa.

“Karena itulah mereka pun menganggap diriku sebagai bandit perempuan, masa kau tidak

mendengar mereka menyebutku sebagai nona Hoa?”

“Ah, ternyata mereka telah menganggap dirimu sebagai Hoa Ya-lay,” kata Toan Giok seolah

baru sadar.

“Oleh karena itu kau tidak salah tempat, Hoa Ya-lay dan Thiat Sui sama-sama adalah tuan

rumah di sini. Mereka pada

dasarnya memang berasal dari satu keluarga.”

Toan Giok menatap tajam wajah gadis itu, tak tahan ia

menghela napas panjang, tiba-tiba saja ia menemukan kalau gadis ini ternyata jauh lebih

cerdas daripada penampilannya.

 

“Padahal teori itu seharusnya sudah dapat kau duga jauh sebelumnya,” ujar Hoa Hoa-hong lagi,

“Hanya saja karena kau

sudah ditangkap ekornya lebih dulu oleh orang lain, maka pikiranmu jadi bingung.”

“Sejak kapan kau belajar memuji orang lain?” tegur Toan Giok sambil tertawa getir.

“Baru saja belajar.”

Kenyataan, persoalan ini memang kelewat rumit, persis seperti sebuah barisan pemtringung

sukma. Bila sejak awal kau sudah salah melangkah, maka kemana pun kau pergi, semua

jalan yang kau lalui adalah jalan penuh persimpangan.

Than Giok yang semula berdiri, tiba-tiba duduk kembali, duduk di atas lantai.

“Kau lelah?” tegur Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

“Tidak lelah, aku hanya masih mempunyai beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan pada

diriku sendiri.”

Hoa Hoa-hong ikut duduk, duduk di sampingnya, lalu dengan lembut dia bertanya, “Mengapa

kau tak bertanya kepadaku?”

Dua orang berpikir bersama memang jauh lebih baik daripada hanya seorang yang berpikir.

Toan Giok menatapnya. Dari balik sorot matanya terselip perasaan terima kasih, tanpa terasa

dia mengulurkan tangan.

Gadis itu pun mengulurkan tangan.

Tapi begitu tangan mereka berdua saling bersentuhan, cepat ditarik kembali.

Toan Giok menundukkan kepala, lewat lama kemudianperlahan-lahan baru berkata, “Bila Thiat

Sui benar-benar adalah Liong-thau, maka peristiwa ini pastilah merupakan salah satu siasat busuk

yang direncanakan Cing-liong-hwe.”

“Betul.”

“Tapi apa tujuan mereka? Kenapa harus aku yang dihadapi?”

“Kemungkinan besar yang mereka kehendaki adalah dirimu, tapi bisa juga mereka

menghendaki sesuatu benda yang berada dalam sakumu.”

Toan Giok manggut-manggut, dia jadi teringat kembali Bi-giok-to.

“Mereka secara khusus menyiapkan perangkap ini, jelas tujuannya adalah ingin mencelakaimu,

memaksa kau agar terpojok dan tak ada jalan lagi,” kata Hoa Hoa-hong.

“Lalu siapa yang telah membunuh Lu Siau-hun?”

“Tentu saja mereka juga.”

“Tapi Lu Kiu adalah sahabat Thiat Sui.”

“Cara kerja orang-orang Cing-liong-hwe kebanyakan keji dan menghalalkan segala cara,

terkadang bapakmu sendiri pun . bisa dijual apalagi cuma teman.”

“Dengan ilmu silat Thiat Sui ditambah kekuatan Cing liong-hwe, bukankah mereka seharusnya

bisa membunuh aku secara langsung?”

“Tapi di dunia persilatan, keluarga Toan selain punya nama dan kedudukan yang sangat tinggi,

temannya pun banyak sekali. Bila mereka membunuhmu secara langsung, pasti akan timbul

banyak masalah di kemudian hari. Selama ini cara kerja Cing-liong-hwe memang lebih suka

meminjam golok untul membunuh orang.”

“Meminjam golok untuk membunuh orang?”

Bag 8 : Siasat pinjam golok membunuh orang

“Perkiraan mereka, Lu Kiu pasti akan membunuhmu untuk membalas dendam bagi kematian

putranya tapi entah mengapa ternyata Lu Kiu sangat mempercayai dirimu”

“Karena dia tahu, aku bukan orang yang pandai bicara bohong,” sambung Toan Giok.

“Darimana dia bisa tahu? Dia tidak terlalu mengenali dirimu.”

 

Kembali Toan Giok tertawa.

“Tapi kami pernah main judi bersama, apakah kau tak pernah mendengar orang berkata, di

meja judi paling gampang melihat watak seseorang?”

Hoa Hoa-hong ikut tertawa.

“Kalau begitu, punya duit banyak tampaknya bukannya sama sekali tak bermanfaat.”

Toan Giok termenung dan berpikir sejenak, kemudian perlahan-lahan ujamya, “Di kolong langit

memang tak ada persoalan yang seratus persen jelek, bukan begitu?”

“Aku tak tahu, belum pernah aku berpikir sebanyak kau.”

Toan Giok tertawa getir.

“Hingga kini aku masih belum menemukan bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa

Thiat Sui lah pembunuh sebenarnya.”

“Ai, masalah ini memang sulit sekali,” Hoa Hoa-hong menghela napas panjang. “Karena

masalahnya kita harus berhadapan dengan saksi orang mati.”

“Tapi paling tidak aku harus membuktikan dulu kalau dia adalah anggota Cing-liong-hwe,

membuktikan kalau dia bersekongkol dengan Hoa Ya-lay.”

“Apakah kau telah berhasil menemukan cara terbaik?”

“Belum.”

“Sedemikian rapat dan tertutup Cing-liong-hwe. Bila kau ingin mencari orang lain untuk

membuktikan bahwa mereka anggota Cing-liong-hwe, aku rasa hal ini pada hakikatnya mustahil.”

“Aku pun pernah mendengar akan hal ini, rasanya dalam beberapa ratus tahun belakangan,

belum pernah dalam dunia persilatan terdapat perkumpulan yang begini rahasia dan ketatnya.”

“Oleh sebab itu walaupun tadi kita berhasil menahan Ciu Lim berdua, belum tentu is berani

membocorkan rahasia tentang Thiat Sui.”

“Maka aku sendiri pun sama sekali tak punya pikiran untuk berbuat begitu.”

“Thiat Sui maupun Hoa Ya-lay sendiri pun semakin tak mungkin akan mengakuinya.”

“Ya, tidak mungkin.”

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang.

“Jadi kau belum berhasil menemukan suatu cara terbaik?” tanyanya.

“Sekarang aku belum tahu ….” sahut Toan Giok sambil tertawa. “Yang kuketahui saat ini adalah

tak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.”

“Apakah kau benar-benar tak pernah percaya kalau tiada persoalan yang tak bisa kau lakukan

di dunia ini?”

“Ehm.”

Hoa Hoa-hong memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba dia ikut tertawa lebar.

“Apa yang kau tertawakan?” tegur Toan Giok.

“Menertawakan dirimu. Tampaknya walaupun kau benar benar dimasukkan orang ke dalam peti

pun tak pernah akan putus-asa.”

“Tepat sekali.”

“Terkadang aku sendiri pun tak tahu, sebetulnya kau ini Iebih cerdas daripada orang lain? Atau

justru lebih goblok?” “Aku sendiri pun tak tahu, tapi paling tidak aku tahu bahwa hidupku jauh

lebih riang dan gembira daripada orang lain.”

“Apa lagi yang kau ketahui?”

“Aku tahu juga, bila kita hanya duduk terus di tempat ini, tak bakal ada orang yang muncul

sendiri di tempat ini dan mengakui dirinya sebagai seorang pembunuh.”

“Lantas kau berniat pergi kemana?”

“Pergi mencari Thiat Sui.”

“Kau hendak mencarinya?” Hoa Hoa-hong menegas.

 

“Masa hanya dia yang boleh mencari aku, sementara aku tak boleh pergi mencarinya?”

“Kau benar-benar akan mengantar dirimu sendiri?”

“Selama hidup tak mungkin aku bersembunyi terus, tak berani bertemu orang,” sahut Toan

Giok sambil tertawa getir.

“Bersembunyi selama beberapa hari pun tak mau?”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Karena sebelum bulan empat tanggal lima belas, aku harus sudah tiba di Po-cu-san-ceng.”

Mendadak Hoa Hoa-hong tidak bicara lagi.

Malam semakin kelam, suasana pun semakin hening, cahaya bintang yang redup rrtemancar

masuk lewat jendela. Lamat-lamat hanya terlihat wajah cantik gadis itu serta sepasang matanya

yang jeli.

Sinar mata yang terpancar seolah terselip perasaan yang sangat aneh.

“Bulan empat tanggal lima belas adalah hari ulang tahun Cu-jisiok,” kembali Toan Giok berkata.

“Cu-jisiok adalah saudara karib ayahku.”

Hoa Hoa-hong mendongakkan kepala, menggunakan sepasang matanya yang jeli memelototi

pemuda itu, kemudian bertanya, “Benarkah kau terburu-buru berangkat ke sana hanya untuk

menyampaikan ucapan selamat panjang umur kepada Cu-jiya?”

“Masa aku bohong?”

Hoa Hoa-hong menundukkan kepala makin rendah, ditariknya ikat pinggang lalu diikatnya jari

tangan sendiri kuat kuat. Setelah termenung lama sekali, baru berkata lagi, “Aku dengar Cu-jiya

mempunyai seorang putri yang sangat cantik, benarkah dia amat cantik?”

“Aku tidak tahu, aku pun belum pemah menjumpainya.”

“Konon tujuan Cu-jiya menyelenggarakan pesta ulang tahun kali ini adalah karena dia ingin

memilih calon menantu?” Kembali dia mendongak, melotot sekejap ke arah Toan Giok dan serunya

dingin, “Kelihatannya kau punya harapan besar terpilih menjadi calon menantunya!”

Toan Giok tertawa paksa, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi kemudian ditahan, ingin

menatap wajahnya, apa mau dibilang dia tak berani bertatapan.

Angin berhembus sepoi menggoyang dedaunan, suara gemerisik mengiringi keheningan malam

yang mencekam.

Tiba-tiba pemuda itu menghela napas panjang, bisiknya, “Kau seharusnya pulang.”

“Dan kau?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Aku akan pergi mencari Thiat Sui.”

“Hm, apakah hanya kau yang boleh pergi mencarinya, sedang aku tak boleh?” dengus Hoa

Hoa-hong sambil tertawa dingin.

“Tapi persoalan ini sedikit pun tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu.”

“Sebetulnya memang tak ada sangkut-pautnya, tapi sbl6rang sudah ada.”

Akhirnya Toan Giok tak tali an untuk berpaling dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Gadis itu sama sekali tidak menghindari tatapan matanya.

Cahaya bintang menyinari matanya, sorot mata gadis itu seakan terselip perasaan sedih dan

duka yang tak dapat diutarakan.

Biarpun dia tak mampu berkata-kata, namun matanya masih dapat melihat dengan jelas.

Toan Giok tak tahan untuk mengulurkan tangan, tiba-tiba sepasang tangan mereka saling

genggam, saling berpegangan dengan kencang, kali ini siapa pun tak ingin menarik kembali

tangan mereka.

Tangannya terasa begitu lembut, halus, tapi dingin.

 

Malam semakin larut, semakin hening, cahaya bintang masih bertebaran di angkasa, angin

musim semi terasa masih lembut dan hangat.

Seluruh langit dan bumi seakan ikut mencair di tengah cahaya musim semi yang indah ini.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Toan Giok berkata, “Aku akan pergi mencari Thiat

Sui, karena aku sudah tiada jalan lain yang bisa ditempuh. Biarpun ayahku bisa menerima

kenyataan seperti apa pun, tak nanti dia tahan bila orang lain menganggap diriku sebagai seorang

pembunuh keji.”

“Aku tahu.”

“Oleh sebab itu walaupun aku tahu perbuatan ini sangat berbahaya dan amat goblok, namun

mau tak mau aku harus melakukannya juga.”

“Aku tahu.”

“Padahal aku tidak memiliki keyakinan apa pun untu1 bisa menghadapinya.”

“Aku tahu,” Hoa Hoa-hong mengangguk.

“Tapi kau masih bersikeras ingin mengikuti aku?”

“Sebetulnya bisa saja aku tak ikut pergi,” ujar Hoa Hoa¬hong sambil menggigit bibir, “Tapi

sekarang sudah tak mungkin lagi untuk tidak pergi, masa kau masih belum paham?”

Toan Giok menatap wajah gadis itu dengan lembut, akhirnya dia menghela napas panjang.

“Aku paham, tentu saja aku paham.”

Hoa Hoa-hong tersenyum manis, katanya dengan lembut, “Asal kau sudah memahami akan hal

ini, sudah lebih dari cukup!”

“Apa yang harus kita lakukan agar dapat bertemu Thiat Sui?”

“Sebenarnya kau tak perlu pergi mencarinya.”

“Kenapa?”

“Karena asal ada orang melihat jejakmu, mereka segera akan melaporkan hal ini kepadanya

dan dia sendiri langsung akan datang mencarimu.”

“Sekarangjuga kita akan ke sana?”

“Kenapa?”

“Sekarang bukan seat yang tepat.”

“Memangnya kita harus rnenunggu di sini hingga terang tanah nanti?”

“Bila kau benar-benar percaya bahwa tiada ersoalan yang tak ak mungkin di dunia ini, sekarang

tidurlah dulup dengan nyen

Toan Giok benar-benar tertidur.

Dia masih muda, seorang pemuda yang sudah kelelahan, dimana pun ia berada pasti ada

tempat untuknya beristirahat, ada tempat tidur untuknya.

Apalagi dia berada di sisinya, tempat manakah di dunia ini yang lebih hangat, aman dan lebih

tenteram daripada berada di sampingnya?

Bukankah pelukan seorang gadis yang begitu lembut dan menyenangkan sesungguhnya

merupakan surga bagi kau lelaki?

Bahkan dalam mimpi pun terbawa kehangatan dan keindahan.

Sewaktu terbangun dari tidurnya tadi, ia menjumpai dirinya tertidur di atas paha Hoa Hoahong,

di atas pahanya yang hangat.

Ia tidak ikut tidur, hanya mengawasi pemuda itu dengan perasaan lembut.

Begitu membuka mata, Toan Giok langsung melihat wajahnya, melihat kehangatan dan

kelembutan cinta yang pada saat biasa tersembunyi di balik sorot matanya.

Dalam waktu sekejap tiba-tiba ia merasa telah berubah menjadi seorang wanita sesungguhnya.

Bukan lagi gadis muda yang suka mencari cekcok dan adu mulut.

Ia menatapnya dan tertawa.

 

Tawa mereka begitu riang, begitu polos dan bersungguh hati, tiada rasa malu lagi di antara

mereka, tiada pula rasa menyesal atau permintaan maaf.

Biarpun ia bersandar di atas pahanya, namun semua itu dianggap hal yang lumrah, biasa dan

tak ada yang aneh. Perasaan hati mereka saat ini secerah udara di luar jendela, begitu segar,

bersih, penuh harapan dan cahaya terang. Sinar matahari di musim semi memang tak pernah

membuat orang kecewa.

Mereka berjalan di bawah cahaya matahari.

Mereka telah bertemu banyak orang, mereka merasa setiap orang seakan sedang gembira.

Tentu saja ada banyak orang telah melihat mereka berdua dan merasakan juga

kegembiraan sepasang muda-mudi ini.

Sesungguhnya mereka memang pasangan yang amat mengagumkan, tapi yang paling menarik

perhatian orang bukanlah Toan Giok, melainkan Hoa Hoa-hong.

Memang tidak banyak perempuan berpakaian ketat yang berlalu-lalang di tengah jalan, apalagi

perempuan dengan perawakan tubuh yang begitu indah, ramping dan padat berisi. “Semua orang

memperhatikan dirimu,” bisik Toan Giok.

“Kenapa mereka tidak memperhatikan aku?”

“Karena kau tidak semenarik aku,” sahut Hoa Hoa-hong sambil tertawa cekikikan.

“Tapi kepalaku bemilai lima ribu tahil perak.”

Kini Hoa Hoa-hong baru sedikit keheranan.

Tadi dia masih belum terpikir sampai ke situ, di saat seorang gadis sedang menjadi pusat

perhatian banyak orang, mungkinkah pikirannya dapat membayangkan persoalan yang lain?

“Mungkin saja orang yang telah melihatmu sekarang, secara kebetulan belum sempat melihat

surat pengumuman yang disebar-luaskan Thiat Sui.”

“Kau sempat melihatnya dimana?”

“Dalam warung penjual teh.”

Warung teh dimana pun di dunia ini biasanya merupakan tempat yang paling ramai. Walaupun

sekarang hari masih pagi, namun kebanyakan warung teh sudah buka.

“Pagi kulit direndam air, sore air merendam kulit”. Orang Hangciu yang paling mengerti mencari

kenikmatan, tak mungkin akan mengendon di rumah pada pagi hari sambil menikmati bubur

buatan bini.

Bakpao, kepiting goreng, soun Yang-ciu yang dijual di rumah makan kota Hangciu sama

tersohornya seperti Cha-sau, Siomay yang dijual di rumah makan Kwangtung.

Anehnya, hampir semua orang yang berada dalam warung teh itu tak ada yang menaruh

perhatian terhadapnya.

Sepasang mata mereka masih tetap mengawasi Hoa Hoa-hong tanpa berkedip.

Mungkinkah orang-orang itu semuanya setan perempuan dan tak satu pun yang tergoda oleh

harta?

Dua lelaki kekar berjalan masuk ke dalam ruangan sambil membawa sangkar burung. Tempat

yang mereka pilih kebetulan persis di bawah pengumuman berhadiah.

Orang itu sedang mendongakkan kepala memperhatikan wajah Toan Giok, lalu entah berbisik

apa kepada sobatnya.

Toan Giok segera memberi kedipan mata kepada Hoa Hoa-hong, kemudian dengan langkah

perlahan berjalan lewat, bahkan dengan gaya seakan tak sengaja berdiri di bawah pengumuman

itu sambil mengamatinya.

Dua orang lelaki yang membawa sangkar burung itu memandangnya beberapa kejap, siapa

tahu kembali mereka berpaling ke arah lain sambil berteriak kepada pelayan, “Siapkan dua porsi

bakpao dan sepoci teh Liong-cing.”

 

Mungkinkah mereka lebih tertarik pada bakpao daripada uang hadiah sebesar lima ribu tahil

perak?

Toan Giok berdehem beberapa kali, kemudian mulai membaca tulisan pada pengumuman itu

dengan suara lantang, “Barang siapa mengetahui jejak orang ini dan datang memberi laporan,

disediakan hadiah sebesar lima ribu tahil perak.”

Di bawahnya sama sekali tak tercantum alamat yang jelas.

Toan Giok segera berlagak seolah baru sadar kalau orang yang sedang diburu adalah dirinya,

segera ia memperlihatkan sikap ketakutan setengah mati.

Siapa tahu kedua orang itu masih tetap menganggapnya gadungan.

Tiba-tiba Toan Giok tertawa terhadap mereka, tegurnya, “Menurut kalian, mirip tidak lukisan di

pengumuman itu dengan wajahku?”

“Sama sekali tak mirip.”

Jawaban kedua orang itu tegas dan tuntas.

Toan Giok tertegun, sambil tertawa paksa ujarnya lagi, “Tapi mengapa aku makin melihat

merasa semakin mirip dengan wajahku?”

Dua orang itu sudah mulai minum teh, jangankan menjawab, menggubris pun tidak.

Kalau boleh, Toan Giok ingin sekali menjewer telinga kedua orang itu, ingin bertanya kepada

mereka sebetulnya orang buta? Atau orang goblok?

Seorang pelayan teh sedang menuang air putih dalam poci tamunya, Toan Giok segera menarik

tangan orang itu dan tanyanya dengan suara keras, “Coba kau perhatikan lukisan itu, mirip tidak

dengan wajahku?”

Sekuat tenaga pelayan itu menggeleng, dia seakan baru bertemu orang gila, paras mukanya

pucat-pias karena ketakutan. Untuk kesekian kalinya Toan Giok tertegun.

Sementara itu Hoa Hoa-hong berjalan menghampiri, diam-diam menarik ujung bajunya.

Berputar biji mata Toan Giok, sengaja menggunakan suara yang bisa terdengar banyak orang,

teriaknya, “Gambar wajah di pengumuman itu jelas adalah aku. Aneh, sungguh aneh, kenapa tak

seorang pun bisa melihat dan mengetahuinya?”

Sambil bicara, dia amati perubahan wajah orang lain.

Tapi seluruh tamu yang berada dalam warung teh itu seolah tiba-tiba berubah jadi setan

kelaparan semua. Bukan saja tak ada yang mendongakkan kepala untuk mengamati dia, bahkan

setiap orang menundukkan kepala sambil menghabiskan , sarapan mereka.

Toan Giok benar-benar mati kutu, dia merasa mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak

dapat!

Lima ribu tahil perak! Satu jumlah duit yang amat besar, mengapa justru tak ada yang mau

menerimanya? Dia sama sekali tak habis mengerti.

Tampaknya Hoa Hoa-hong pun tidak habis pikir. Akhirnya ia menarik Toan Giok untuk diajak

duduk, katanya sambil tertawa paksa, “Mungkin saja ada orang yang telah pergi memberi laporan,

hanya saja mereka tak berani terlihat olehmu.”

“Semoga saja begitu,” sahut Toan Giok sambil menghela napas panjang.

Maka mereka pun mulai menunggu, untung bakpao serta soun masakan tempat itu cukup lezat.

Hingga seluruh bakpo dan dua mangkuk soun habis disantap, suasana tetap tenang dan sama

sekali tidak terjadi apa pun.

Sekali lagi Toan Giok memperhatikan lukisan di atas dinding, lalu gumamnya, “Jangan-jangan

lukisan itu memang sama sekali tak mirip aku?”

“Aneh kalau tak mirip,” Hoa Hoa-hong menimpali.

 

“Kalau memang mirip, mengapa mereka tak mau mencari tambahan uang sebesar lima ribu

tahil? Sungguh aneh!”

“Betul, memang agak aneh.”

Toan Giok menghela napas panjang, kembali ujarnya sambil tertawa getir,

“Ketika aku tak ingin dikenali orang lain, mungkin saat ini hampir semua orang yang hadir

dalam ruangan ini telah mengenali diriku.”

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, katanya pula sambil, tertawa getir, “Memang banyak

kejadian di dunia ini yang begitu keadaannya.”

Belum selesai dia berkata, mendadak terlihat seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan,

kemudian satu per satu merobek semua pengumuman yang menempel di atas dinding.

Ternyata semua orang tamu yang berada dalam warung teh itu tak ada yang menaruh

perhatian, bahkan sikap mereka seakan-akan tidak melihatnya sama sekali.

Tentu saja Toan Giok melihat kejadian ini.

Orang itu berwajah hitam pekat dengan sinar mata tajam, ternyata dia tak lain adalah Kiaulosam,

orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

Baru saja Toan Giok ingin menegurnya, mengapa dia begitu suka mencampuri urusan orang

lain. Siapa tahu pada saat itu kembali terlihat seseorang yang dikenalnya berjalan masuk ke dalam

Dia adalah seorang Tojin berlengan tunggal berwajah bersih tapi kurus.

Tidak menunggu disapa Toan Giok, ia sudah berjalan menghampiri dan menegur sambil

tersenyum, “Wah, hari ini kalian berdua benar-benar amat santai, sepagi ini sudah keluar rumah

untuk minum teh.”

“Tojin pun tampak amat santai hari ini,” balas Hoa Hoa hong dengan nada ketus. “Sepagi ini

sudah keluar rumah minum teh.”

Ku-tojin tertawa.

“Aku dengar ada seorang nona amat senang mencampuri urusan orang, mungkin kaulah

orangnya.”

“Tepat sekali,” sahut Toan Giok sambil tertawa geli. Dengan gemas Hoa Hoa-hong melotot

sekejap ke arahnya, tapi dia segera menahan diri dan tidak mencari gara-gara pada pemuda itu.

Karena pada saat itulah Kiau-losam telah berjalan mendekat, melemparkan setumpukan kertas

pengumuman yang baru saja dirobeknya ke atas meja, lalu ujarnya sambil tertawa, “Inilah

beberapa lembar yang terakhir, aku seorang diri telah menarik balik tiga ratusan lembar.”

“Kenapa harus ditarik kembali?” tak tahan Toan Giok bertanya.

“Karena aku memang suka mencampuri urusan orang lain,” jawab Kiau-losam.

Toan Giok menghela napas panjang, ia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan memang

“Kalau memang senang mencampuri urusan orang, tolong sekarang tempelkan kembali semua

pengumuman itu satu per satu,” seru Hoa Hoa-hong sambil menarik muka.

“Kenapa harus menempelkan kembali semua kertas rongsok itu?”

“Siapa bilang kertas itu rongsokan?”

“Aku.”

“Masa kau tak menginginkan uang hadiah sebesar lima ribu tahil perak?”

“Ingin, sayang tak ada orang yang mau member untukku,” kata Kiau-losam.

“Bukankah Thiat Sui sudah tak ingin menangkapnya lagi?”

“Oh, baru tahu sekarang?”

Hoa Hoa-hong seketika tertegun, begitu pula dengan Toan Giok.

 

Lewat beberapa saat kemudian, tak tahan kembali Hoa Hoa-hong bertanya, “Kenapa secara

tiba-tiba Thiat Sui berubah pikiran?”

Kiau-losam memandangnya sekejap, lalu memandang pula ke arah Toan Giok, setelah itu balik

tanyanya, “Memangnya kalian belum tahu?”

“Kalau sudah tahu, buat apa aku mesti bertanya?” Kiau-losam menatapnya beberapa saat,

kemudian sambil tertawa tergelak, ujarnya, “Mungkin saja karena dia secara tiba

tiba berubah jadi orang baik.”

Kembali Hoa Hoa-hong tertegun, teriaknya keras, “Bagaimana pun juga, kami tetap akan pergi

mencarinya.”

“Kalian hendak mencarinya?” Kiau-losam seolah tertegun pula dibuatnya.

Hoa Hoa-hong tertawa dingin.

“Memangnya hanya dia saja yang boleh mencari kami, sementara kami dilarang pergi

mencarinya?”

Untuk kesekian kalinya Kiau-losam tertawa terbahak bahak.

“Hahaha, tentu saja kalian boleh mencarinya, bahkan pasti berhasil menemukannya.”

Tawanya kelihatan sangat aneh, amat misterius.

“Darimana kau tahu kami pasti berhasil menemukannya?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Karena aku bersedia mengantar kalian pergi ke sana.” Benar saja, ia benar-benar membawa

mereka pergi, bahkan dalam waktu singkat telah menemukan Thiat Sui

Temyata Thiat Sui benar-benar telah berubah menjadi orang yang sangat baik.

Orang mati memang tak mungkin melakukan kejahatan lagi.

Oleh karena itu semua orang mati adalah orang baik. Thiat Sui telah menjadi orang mati.

Mimpi pun Toan Giok tidak menyangka kalau Thiat Sui secara tiba-tiba bisa mati, bahkan mati

dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Orang pertama yang menemukan mayatnya adalah Kiau losam.

“Kau temukan mayatnya dimana?”

“Di tengah jalan raya.”

“Apa penyebab kematiannya?”

“Batok kepalanya dibacok orang hingga kutung, tubuhnya kepalanya sudah terkapar di tengah

jalan, sementara batok mencelat sejauh satu tombak .”

“Kematiannya sungguh mengenaskan! membunuhnya?”

“Tak ada yang melihat. Aku hanya melihat golok yang dipakai untuk membunuhnya!”

Golok itu berada di atas peti mati.

Peti mati itu disemayamkan dalam Hong-lin-si, sedang golok yang berada di atas peti mati

adalah Bi-giok-jit-seng-to milik Toan Giok.

Petugas yang mengurusi lelayon dalam biara itu adalah Lu Kiu.

Orang penyakitan ini, di usianya yang uzur harus menyaksikan dua kali pembunuhan sadis

dalam satu hari yang sama. Kematian mengerikan dari putranya dan kematian dari sahabat

Kedua orang itu sama-sama menjadi korban keganasan sebilah golok, Bi-giok-jit-seng-to.

Cahaya matahari tampak berubah jadi suram setelah menembus ranting pohon Boddhi yang

Cahaya yang redup itu menyinari dua buah peti mati yang berada di hadapannya, menyinari

juga paras mukanya yang pucat, dia tampak menjadi tua beberapa tahun secara tiba tiba.

Menyaksikan semua itu, perasaan Hoa Hoa-hong ikut berubah jadi sangat berat.

Lu Kiu menggunakan sapu-tangannya menutupi mulut sendiri, kemudian batuk berulang kali.

Kini sapu-tangan itu sudah kotor, namun dia seakan tak ambil peduli.

 

Setelah termenung cukup lama, akhirnya Hoa Hoa-hong berkata, “Bukankah golok itu

sebenarnya berada di tangan Thiat Sui?”

“Tapi dia tak pernah membawanya,” jawab Ku-tojin.

“Lalu ia simpan golok itu dimana?”

“Entahlah, aku hanya tahu di scat senja tadi, tiba-tiba golok itu lenyap.”

“Aku berani menjamin, senja kemarin Toan Giok selalu ada bersama diriku,” Hoa Hoa-hong

“0, ya?”

Kembali Hoa Hoa-hong berkata, “Selain aku, masih ada seorang lagi yang bisa dijadikan saksi.”

“Siapa?”

“Seseorang yang tidak kukenal.”

“Kau tidak kenal orang itu, tapi orang itu bersedia berada bersama kalian?” kata Ku-tojin

“Betul, karena kami telah menolongnya dari dalam sebuah peti, bahkan ia menderita luka.”

Ku-tojin memandang Kiau-losam sekejap, sementara Kiau-losam mendongakkan kepala

mengawasi belandar rumah.

Mimik muka kedua orang itu sangat hambar tanpa perubahan apa pun.

Sebaliknya paras muka Hoa Hoa-hong sedikit berubah merah karena gelisah. Dia pun tahu,

perkataannya memang sukar untuk membuat orang lain percaya.

Sekarang, sekalipun ia masih dapat menemukan orang itu pun sama sekali tak ada. gunanya.

Siapa yang mau percaya perkataan seorang asing?

Tiba-tiba Ku-tojin bertanya, “Kemarin malam kalian berada dimana?”

“Kami berada dalam rumah Thiat Sui.”

“Apakah di sana ada orang?”

“Bukan saja tak ada orang, bahkan semua barang dalam rumah pun telah dipindah.”

“Dan kalian berdua berada di dalam rumah kosong itu semalam suntuk?”

Paras muka Hoa Hoa-hong berubah semakin merah.

Persoalan ini pun sama saja sukar membuat orang lain mempercayainya.

Tiba-tiba Ku-tojin menghela napas panjang, katanya, “Thiat Sui bukanlah sahabatku.”

“Juga bukan temanku,” sambung Kiau-losam.

Ku-tojin segera mendongakkan kepala memandang Toan Giok, tambahnya, “Tapi kau adalah

sahabat kami.”

Toan Giok mengangguk perlahan, namun ia tak berkata apa-apa, dia memang tak mampu

berkata apa-apa.

“Walaupun kita adalah sahabat, namun apabila sekarang kau ingin pergi, aku pasti tak akan

menahanmu,” kembali Ku-tojin berkata.

Toan Giok sangat terharu dan berterima kasih.

Tentu saja dia memahami maksud baik Ku-tojin. Pendeta itu sedang membujuknya agar

secepatnya pergi meninggalkantempat penuh gara-gara ini.

Tiba-tiba Lu Kiu menghela napas panjang dan ikut berkata, “Kau memang seharusnya pergi

dari sini.”

“Aku ….”

“Inilah golok milikmu, sekarang boleh kau bawa pergi,” kembali Lu Kiu berkata.

Ia memandang sekejap golok yang berada di atas peti mati, kemudian perlahan-lahan

melanjutkan, “Karena aku pun pernah berkata, kau adalah sahabatku, lagi pula aku percaya

padamu. Setibanya di Po-cu-san-ceng, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Cu-jiya,

 

katakan katakan kalau kami ayah dan anak tak bisa pergi menyampaikan ucapan selamat

kepadanya.”

Toan Giok mengertak gigi, tidak membiarkan air atanya berlinang. Sambil menggigit bibir,

sepatah demi sepatah ujarnya,

“Tapi aku tak ingin pergi dari sini.”

“Kenapa?” tanya Lu Kiu dengan kening berkerut.

“Karena aku memang tak dapat pergi.”

“Thiat Sui sudah mati, sekarang tiada seorang pun yang bisa mempersulit di rimu.”

“Aku tahu.”

“Lantas kenapa kau tak mau pergi?”

“Karena kalau sekarang juga aku pergi, selama hidup aku akan selalu dicurigai orang sebagai

pembunuh.”

“Tapi kami semua percaya penuh kepadamu, apakah kepercayaan ini masih belum cukup?” sela

Ku-tojin.

“Kalian percaya padaku karena kalian adalah sahabatku, tapi masih banyak orang di dunia ini

yang bukan sahabatku.”

Ditatapnya golok yang berada di atas peti mati lekat-lekat, kemudian perlahan melanjutkan,

“Apalagi golok itu memang benar-benar golok keluarga Toan kami. Siapa pun yang telah

menggunakan golok keluarga Toan untuk membunuh orang, peristiwa ini jelas ada hubungannya

dengan keluarga Toan.”

“Jadi kau ingin menemukan pembunuh sebenamya?”

Toan Giok manggut-manggut.

“Dan Kau sudah menemukan titik terang?” tanya pendeta itu lagi.

“Hanya ada seekor.”

“Seekor apa?”

“Seekor naga, naga hijau.”

“Naga hijau? Maksudmu perkumpulan Naga hijau?” berubah paras muka Ku-tojin.

“Betul, Cing-liong-hwe.”

Begitu mendengar “Cing-liong-hwe” disinggung, paras muka semua orang tampak berubah.

Selama ratusan tahun belakangan, di dunia persilatan memang belum pernah terdapat sebuah

organisasi yang begitu misterius dan menakutkan seperti Cing-liong-hwe.

Organisasi ini betul-betul bagaikan seekor naga, seekor naga beracun seperti dalam dongeng.

Walaupun setiap orang pemah mendengar tentang kehadirannya, bahkan percaya akan

keberadaannya, namun belum pernah ada yang benar-benar

melihatnya, juga tak ada yang tahu macam apakah bentuk organisasi itu dan seberapa besar

daya pengaruhnya.

Semua orang hanya tahu, dimana pun kau berada, rasanya hampir setiap pelosok dunia telah

berada dalam lingkaran pengaruhnya. Setiap saat, kemungkinan besar dia akan muncul di

Bahkan ada sementara orang selalu merasa bahwa setiap waktu dirinya hidup dalam pengaruh

ancamannya, begitu terhimpit hingga untuk bernapas pun susah.

Lewat lama kemudian Ku-tojin baru menghembuskan napas panjang, katanya, “Jadi menurut

kau, persoalan ini ada sangkut-pautnya dengan Cing-liong-hwe?”

Toan Giok mengangguk.

“Aku tiba di sini pada tanggal sembilan.”

“Berarti dua hari berselang?”

 

“Betul, aku bertemu Hoa Ya-lay pada senja dua hari berselang.”

“Konon waktu itu kau sedang minum arak di rumah makan Sam-ya-wan?”

“Jejak Hoa Ya-lay selama ini amat rahasia, karena dia tahu banyak orang sedang mencarinya.

Bila seseorang berusaha menghindari kejaran orang lain, dia tak nanti akan mendatangi tempat

seperti rumah makan Sam-ya-wan, tapi buktinya hari itu

dia justru menampakkan diri di sana.”

Setelah tertawa, kembali lanjutnya, “Bahkan dia seolah kuatir orang lain tidak melihat

kehadirannya, maka sengaja dia duduk di samping jendela, bahkan sengaja menggulung tinggi

tirai bambunya dan membuka daun jendela lebar-lebar.”

“Rasanya keadaan seperti ini memang kurang sesuai dengan kenyataan yang sedang dia

hadapi,” kata Ku-tojin setelah termenung sebentar.

“Kemudian anak buah Thiat Sui secara kebetulan dating mencarinya pada saat itu, kebetulan

juga menemukan dirinya persis di hadapanku!” kata Toan Giok lebih jauh.

“Jadi menurut kau, semua kejadian ini memang sudah dirancang dan direncanakan

sebelumnya?”

“Aku tidak percaya di dunia ini benar-benar terdapat banyak kejadian yang begitu kebetulan.”

“Kalau begitu, antara Thiat Sui dan Hoa Ya-lay sudah terjalin persekongkolan jauh

sebelumnya?” tanya Ku-tojin setelah berpikir sejenak.

Toan Giok manggut-manggut.

“Aku yakin mereka telah memperhatikan gerak-gerik serta jejakku sejak awal. Begitu tahu aku

datang, mereka pun menyiapkan sandiwara itu dan memperagakan di depanku.”

“Seandainya waktu itu kau tidak ikut campur dalam peristiwa itu?” tanya Ku-tojin.

Toan Giok menghela napas, sahutnya sambil tertawa getir, “Mereka pasti sudah

memperhitungkan kalau aku tak bakal berpeluk tangan.”

Mendadak Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, selanya setelah mendengus dingin, “Seorang

lelaki muda yang berdarah panas, menganggap dirinya hebat. Baru selesai meneguk sedikit arak,

bila melihat seorang gadis cantik dianiaya segerombolan

Hwesio jahat, mana dia akan berpeluk tangan melepas kesempatan emas untuk

menyelamatkan si cantik?”

Toan Giok tertawa getir, sahutnya, “Sekalipun waktu itu aku tidak turun tangan, memangnya

kau anggap mereka akan menyudahi persoalan begitu saja?”

Hoa Hoa-hong mengerling sekejap ke arah pemuda itu, katanya cepat, “Untungnya Toankongcu

kita adalah seorang Enghiong Hohan yang tak tahan melihat ketidak-adilan, sehingga

mereka pun tak perlu membuang banyak tenaga dan pikiran untuk menjebaknya.”

Bila seorang wanita melihat ada kesempatan untuk mengumbar rasa cemburunya, dia pasti tak

akan melepaskan peluang itu begitu saja.

Ku-tojin segera berkerut kening, tanyanya, “Lalu apa maksud tujuan mereka berbuat begitu?”

“Pertama, mereka memang ingin membunuh Lu Siau-hun dan melimpahkan kesalahan itu

kepadaku.”

“Mereka menyangka Lu-kiuya pasti akan membalas dendam atas kematian Lu-kongcu,” kata

Ku-tojin.

“Benar, inilah yang dinamakan siasat sekali timpuk mendapat dua ekor burung, meminjam

golok membunuh orang.”

“Bagaimana dengan untaian mutiara dan Giok-pay milik Lu-kongcu? Apakah Hoa Ya-lay sengaja

menghadiahkan padamu?”

 

“Bukan! Kalau dia sengaja menghadiahkan untukku, sudah pasti aku tak akan menerimanya,”

sahut Toan Giok.

Kemudian setelah menghela napas, katanya lagi sambil tertawa getir, “Cara yang dia gunakan

sangat hebat dan luar biasa, sampai aku sendiri pun tertipu olehnya.”

Baru sekarang dia menyadari, ternyata Hoa Ya-lay tidak segoblok apa yang dia bayangkan

Ternyata dia sengaja mencuri uang kertas dan golok Bi giok-to milik Toan Giok, sengaja

menyembunyikan di dasar pot bunga, sengaja membiarkan Toan Giok melihatnya.

Kemudian dia baru sengaja berlagak tidur, agar Toan Giok mencuri balik semua barang

Tentu saja dia pun telah memperhitungkan. Begitu berhasil, Toan Giok pasti akan kabur secara

diam-diam.

Dalam keadaan terburu-buru, tentu saja Toan Giok tak akan menyangka kalau barang yang

diambilnya telah ketambahan benda lain, apalagi semua barang itu memang diletakkan pada satu

kantung yang sama.

Menanti Toan Giok menyadari barangnya kelebihan dan ingin mengembalikan kepadanya,

perempuan itu pasti sudah tak berada di sana lagi. Sejak saat itu, Toan Giok pasti tak akan

berhasil menemukan dirinya lagi.

Oleh karena itu Toan Giok pun akan kehabisan daya untuk menemukan seseorang yang bisa

membuktikan kalau malam itu dia berada di sana.

Apalagi setiap orang tahu bahwa Lu Siau-hun adalah musuhnya yang paling tangguh.

Seseorang demi memperistri perempuan kaya dan cantik, memang tak aneh bila secara diamdiam

dia membunuh saingannya lebih dahulu.

Menanti Lu Kiu menemukan bahwa untaian mutiara serta Giok-pay milik putranya berada di

tangan Toan Giok, dia pasti akan menuduh anak muda itu sebagai pembunuhnya.

Ku-tojin menghela napas panjang, katanya, “Sebetulnya siasat ini sangat hebat dan sama sekali

tanpa cela.”

“Sayangnya mereka tetap salah memperhitungkan satu hal,” sambung Toan Giok.

“0, ya?”

“Mereka tidak menyangka Lu-kiuya kenal aku lebih dulu di meja judi, bahkan telah

menganggap aku sebagai sahabatnya.”

Selama ini Lu Kiu hanya mendengarkan dengan wajah serius dan penuh penderitaan,

mendadak selanya, “Sebenarnya Thiat Sui pun sahabatku.”

“Aku tabu”

“Semasa masih kecil dulu, dia adalah tetanggaku, masuk biara Siau-lim di usia dua belas

tahun.”

Padahal Thiat Sui adalah putra seorang pembantu di rumah keluarganya. Justru karena dia

merasa status social sendiri teramat rendah, maka timbullah sifatnya yang sombong, ambisius dan

ingin menang sendiri.

Orang yang rendah diri dan tak percaya diri, terkadang sengaja berlagak sok hebat dan

Untuk melindungi titik kelemahan sendiri, terkadang manusia dapat melakukan tindakan dan

perbuatan aneh.

“Dia tak segan menjadi Hwesio karena ingin mempelajari ilmu silat biara Siau-lim dan menjadi

orang terkenal,” kata Lu Kiu.

“Oleh sebab itu, di saat berlatih silat di biara Siau-lim, dia berlatih paling tekun dan serius.”

“Karena itulah dia berhasil memiliki kepandaian silat yang hebat,” Toan Giok manggut-manggut.

 

“Selama ini aku sangat memahami wataknya dan percaya dia tak akan bersekongkol dengan

perempuan semacam Hoa Ya¬lay.”

“Kau pasti sudah lama tak bertemu lagi dengannya,” sela Toan Giok cepat.

Lu Kiu menghela napas panjang.

“Ai, aku memang sudah lama tak pernah berjumpa dengannya. Oleh sebab itu ketika dia

mengundangku bertemu di sini, aku sendiri pun merasa sedikit di luar dugaan.”

“Setelah lewat banyak tahun, terkadang watak dan tabiat seseorang bisa mengalami perubahan

sangat besar.”

“Sekalipun dia telah berubah, namun biara Siau-limmengutamakan disiplin, peraturan yang

berlaku di sana amat ketat. Sementara dia sudah dua puluh tahun mengendon dalam biara Siaulim,

terjun ke dunia persilatan pun belum lama berselang. Bagaimana mungkin dia bisa kenal

bandit perempuan

macam Hoa Ya-lay?”

“Dengan tabiatnya, tentu saja dia tak akan bersekongkol dengan Hoa Ya-lay,” kata Toan Giok

setelah berpikir sebentar.

“Benar, memang tak mungkin,” Lu Kiu mengangguk. “Sebetulnya dia bukan bersekongkol

dengan Hoa Ya-lay, melainkan dengan Cing-liong-hwe,” Toan Giok menerangkan.

” Cing-liong-hwe?” tanya Lu Kiu dengan kening berkerut.

“Ketika meninggalkan biara Siau-lim, dalam keadaan gusar, alasan utamanya adalah karena ia

sadar posisinya dalam biara Siau-lim sudah mentok dan tak mungkin bisa lebih menonjol lagi,

maka dia ingin pergi keluar dan melakukan perbuatan yang bisa menggemparkan kolong langit.”

“Tapi dia sebatangkara, tak punya teman, tak punya komplotan, apalagi sudah lama hidup

sebagai pendeta. Terhadap masalah persilatan maupun jago dalam Kangouw pasti terasa asing,

untuk bisa melakukan satu pekerjaan besar, dia harus menemukan seorang pembantu yang

handal dan memiliki kekuatan sangat besar.”

Setelah termenung sejenak, akhirnya Lu Kiu manggut manggut, dia seakan telah memahami

sebagian duduknya persoalan.

Kembali Toan Giok berkata, “Tampaknya Cing-liong-hwe memanfaatkan kelemahan itu untuk

menariknya bergabung dengan mereka.”

“Dengan tabiatnya, mana mungkin ia rela diperalat orang begitu saja?”

“Aku rasa dia pun ingin memperalat kekuatan’Cing-liong hwe untuk memperluas pengetahuan

serta kenalannya, jadi bisa jadi persekongkolan ini merupakan sebuah bentuk kerja sama yang

saling menguntungkan.”

Setelah menghela napas, lanjutnya, “Cing-liong-hwe adalah sebuah organisasi yang luar biasa,

mau orang segera ada orang, mau duit segera ada duit. Bagi siapa pun, kehadiran mereka jelas

merupakan sebuah daya tank luar biasa, apalagi pada dasarnya dia memang seorang temperamen

yang bertindak menurut suara hati sendiri.”

Lu Kiu terbungkam, dia tidak bicara lagi.

Dia pun tahu, apa yang diucapkan Toan Giok bukan saja tak salah, bahkan sudah disampaikan

dengan perkataan yang paling sopan.

Setelah perjumpaannya dengan Thiat Sui, dia pun merasa sepak-terjang Thiat Sui kelewat

berlebihan, terkadang apa yang dia lakukan membuat orang lain susah untuk menerimanya.

Bag 9. Memburu begal wanita Hoa Ya-lay

 

Tapi dia telah memaafkan Thiat Sui, karena dia berpendapat Thiat Sui adalah seorang

Biasanya sepak-terjang seorang Enghiong memang agak berbeda bila dibandingkan orang

“Sayangnya meski Thiat Sui kuat, Cing-liong-hwe jauh lebih kuat,” kata Toan Giok. “Oleh sebab

itu, sejak bergabung dengan Cing-liong-hwe, lambat-laun dia mulai dikuasai orang, makin lama

semakin tak bebas melakukan apa pun dan dipaksa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang

sebetulnya tak ingin dia lakukan. Bila dalam keadaan seperti ini, dia baru berkeinginan

meninggalkan Cing-liong-hwe, jelas keadaan sudah terlambat.”

Karena dia sudah terbiasa merasakan kehidupan yang serba ada, serba berlebihan dan penuh

kenikmatan. Sudah terbiasa main perempuan dan menenggak arak paling bagus.

Mungkin saja dalam hati kecilnya dia pun sadar kalau semua yang dilakukan adalah perbuatan

salah, mungkin dia pun mulai membenci diri sendiri, benci karena menceburkan diri sendiri dalam

perangkap dan kekuasaan orang lain.

Oleh karena itu dia pun semakin menceburkan diri, sekuat tenaga pergi mencari rangsangan

dan kenikmatan. Semua itu dia lakukan demi melampiaskan rasa dendam pada diri sendiri.

Setelah itu dia baru ditelan Cing-liong-hwe, dilibat dan dimusnahkan.

Lu Kiu menghela napas panjang, ujarnya sedih, “Dia menjadi pendeta karena ingin hidup

menonjol, hidup penuh kesenangan, sama sekali tak ada niat untuk mengkhianati ajaran Buddha,

namun dalam hal ini dia telah salah langkah.”

“Ai ….” Toan Giok menghela napas. “Setelah melakukan satu kesalahan, dia melakukan

kesalahan yang lain dan sekali lagi terjun ke dalam Cing-liong-hwe.”

Lu Kiu pun menghela napas panjang.

“Cing-liong-hwe memang kelewat kuat, kelewat besar. Siapa berani bergabung dengan mereka,

pada akhirnya pasti akan tertelan, terlibas hingga lenyap.”

Mendengar itu, tanpa terasa Toan Giok menghela napas panjang.

Sudah cukup lama Ku-tojin termenung tanpa bicara. Pada saat itulah, tiba-iba ia bertanya,

“Menurutmu, kejadian ini adalah rencana yang disusun Cing-liong-hwe dan dilaksanakan oleh Thiat

Sui?”

“Aku rasa pasti begitu.”

“Konon Cing-liong-hwe mempunyai tiga enam puluh lima cabang, kota Hangciu pasti

merupakan salah satu di antaranya?” tanya Ku-tojin.

“Tepat sekali.”

“Jangan-jangan Thiat Sui adalah Tongcu tempat ini?”

“Sebetulnya aku mengira dia.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku sudah mengetahui kalau ternyata masih ada orang lain. Selama Thiat Sui berada

di sini, dia selalu diawasi oleh seseorang. Oleh sebab itu, setelah terjadi peristiwa di luar dugaan

ini, dia segera dihabisi nyawanya.”

“Kenapa dia hams dibunuh?”

“Demi menghilangkan saksi, demi memperlihatkan kewibawaan.”

“Demi kewibawaan?”

“Siapa pun yang gagal melakukan tugas bagi Cing-liong¬hwe, dia harus mati!”

Setelah menghela napas, lanjutnya, “Karena itulah tak ada orang yang bekerja untuk Cingliong-

hwe, yang tidak berusaha mati-matian.”

“Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Cing-liong-hwe dapat berhasil,” kata Ku-tojin sambil

menghela napas.

“Namun dalam kejadian kali ini, mereka tidak berhasil.”

 

Dengan wajah tersenyum, Ku-tojin manggut-manggut, sahutnya, “Sekarang bukan saja kau

masih hidup segar-bugar, bahkan bila ingin pergi pun segera dapat pergi.”

“Tapi bila aku benar-benar pergi, rencana mereka pun akan berhasil,” tukas Toan Giok cepat.

“Kenapa?”

Toan Giok tertawa.

“Rencana mereka, target utama adalah melenyapkan aku serta Lu Siau-hun.”

“Sekarang Lu-kongcu telah meninggal.”

“Betul,” sahut Toan Giok sambil mengangguk, “Walaupun sekarang aku masih hidup, namun

sama artinya telah mati.” “Kenapa? Aku tak habis mengerti.”

“Karena aku telah menjadi seorang pembunuh. Paling tidak, belum terbukti kalau aku bukan

pembunuh. Oleh sebab itu biarpun aku menebalkan muka dan tetap datang ke Po-cu-san-ceng,

perjalananku kali ini pasti sia-sia.”

“Betul,” teriak Ku-tojin seakan barn mengerti. “Tentu saja Cu-jiya tak akan mengambil

seseorang yang dicurigai sebagai seorang pembunuh untuk dijadikan menantunya.”

Toan Giok tertawa getir.

“Seseorang yang sudah dicurigai sebagai seorang pembunuh, mau pergi kemana pun pasti tak

akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sekalipun secara tiba-tiba kau ditemukan mati di

tengah jalan pun, tak bakal ada yang menaruh simpatik kepadamu.”

“Oleh karena itu kau berpendapat setiap saat ada kemungkinan mereka akan mencelakaimu?”

sambung Ku-tojin. Toan Giok menghela napas panjang.

“Bahkan setelah mereka berhasil membunuhku, semua tanggung jawab dapat mereka timpakan

ke tubuh Lu-kiuya, sebab Lu-kiuya mesti tak ingin bermusuhan secara langsung dengan keluarga

Toan, dia pun tak rela membiarkan putranya mati secara mengenaskan, maka satu-satunya jalan

adalah mencari orang untuk membokongku, bukankah alasan ini sangat masuk akal?”

Ku-tojin memandangnya beberapa saat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, desahnya, “Aku

benar-benar telah salah menilai dirimu.”

“Salah menilai aku?”

Ku-tojin tertawa lebar, katanya, “Semula kusangka kau adalah seorang Kongcu hidung bangor

yang pandai minum, berjudi, main perempuan dan melakukan perbuatan busuk lainnya. Meski

kemudian jalan pikiranku berubah, namun aku sama sekali tak mengira kalau kau ternyata adalah

manusia seperti ini.”

Sudah cukup lama Hoa Hoa-hong membungkam, tiba tiba ia menimbrung, “Menurut kau, dia

adalah orang seperti apa?”

“Walaupun sekilas dia mirip seorang Toasiauya yang tak tahu apa-apa. Padahal persoalan yang

dia pahami, pada hakikatnya jauh lebih banyak daripada kami rase-rase tua.”

Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa geli, sindirnya, “Kemampuan paling utama yang dimiliki

orang ini adalah berlagak jadi babi namun menerkam harimau. Bila ada orang menyangka dia

adalah seorang lelaki goblok, maka pandangan itu keliru besar.”

Dari balik matanya terpancar sinar berkilauan, begitu juga dengan air mukanya.

“Oleh sebab itu bila aku jadi Cu-jiya, kalau bukan memilih dia sebagai menantu, mau memilih

siapa lagi?” Ku-tojin menambahkan sambil tertawa.

Tiba-tiba paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi suram.

Sambil menarik muka, dengusnya dingin, “Sayang kau bukan dia!”

Mendadak terdengar Lu Kiu terbatuk-batuk, kemudian perlahan-lahan bangkit.

Langit sudah semakin gelap, di tengah hembusan angin, terasa hawa yang dingin mencekam.

 

Ia berdiri di tengah hembusan angin, mengawasi peti mati di hadapannya, lalu katanya

perlahan, “Orang yang berbaring di dalam sana adalah putraku.”

Tak seorang pun bicara, tak seorang pun tahu apa yang harus diucapkan.

Terdengar Lu Kiu berkata lebih lanjut, “Biarpun dia tidak terlalu pintar, juga tidak terhitung

kelewat jujur, namun aku hanya memiliki seorang putra.”

Semua orang-tua pasti akan mengatakan putra sendiri paling baik. Sekalipun tidak dia

uffgkapkan, semua orang dapat memakluminya.

Kembali Lu Kiu melanjutkan, “Ibunya paling memahami tabiat anaknya. Dia tahu anakmya

keras kepala dan suka mencari menang sendiri. Orang semacam ini paling gampang

menderita kerugian dalam Kangouw, maka sebelum ia meninggal, ibunya berulang kali

memohon kepadaku, agar aku merawat dan menjaganya secara khusus.”

Paras mukanya kini berubah makin pucat, nada suaranya makin parau. Dengan nada

mengenaskan, lanjutnya, “Dia menjadi istriku sejak berusia enam belas tahun, selain rajin dan

hidup hemat, selama puluhan tahun dia hidup dalam ketidak-bahagiaan. Hingga menjelang ajal,

dia hanya memohon satu hal padaku, tapi aku ternyata aku tak mampu melaksanakannya.”

Toan Giok tertunduk sedih.

Dia cukup memahami perasaan seperti ini, karena dia pun mempunyai seorang ibu yang penuh

Lu Kiu menatapnya tajam, kemudian katanya lebih jauh, “Mengapa kuucapkan perkataan ini

kepadamu? Tak lain agar kau pun tahu bahwa aku sangat berharap dapat menemukan pembunuh

sebenarnya, agar aku bisa membalas dendam bagi bocah ini, karena keinginanku untuk balas

dendam jauh lebih kental daripada keinginanmu.”

“Aku mengerti,” Toan Giok tertunduk rendah.

“Namun sebelum kita berhasil mengumpulkan bukti, kita tak boleh mencurigai siapa pun

sebagai pembunuhnya.”

“Aku mengerti.”

“Kau tidak mengerti!”

“Kenapa?”

“Maksudku, walaupun sepak-terjang Cing-liong-hwe banyak yang tidak benar dan tidak

mencerminkan jiwa kependekaran, kita pun tak boleh mencurigai mereka.” “Kenapa?” tak tahan

Toan Giok bertanya lagi.

“Sebab, bila dalam dasar hati kita sudah tertanam pendapat, kadangkala pendapat itu bisa

membuat kita melakukan kesalahan, apalagi Cing-liong-hwe kelewat kuat, kelewat besar. Asal kita

melakukan sebuah kesalahan, niscaya kita semua akan tertelan dan lenyap dari muka bumi.”

“Sekarang aku sudah memahami maksud hatimu,” seru Toan Giok dengan serius dan sungguh

“Baguslah kalau kau sudah mengerti.”

Dia tidak berbicara lagi. Dengan sapu-tangannya dia menutupi mulut, kemudian diiringi suara

batuk, perlahan-lahan beranjak pergi dari tempat itu.

Angin berhembus datang dari arah depan, meniup di atas tubuhnya.

Dia membungkukkan pinggang, seakan tak kuat menahan hembusan angin itu.

Ketika tiba di pintu depan, kembali is terbatuk-batuk hingga seakan pinggang pun tak kuat

ditegakkan kembali.

Pada saat itulah mendadak dari balik hembusan angin berkumandang suara helaan napas yang

Tempat dimana layon itu berada adalah ruang samping Hong-lin-si. Di luar gedung merupakan

halaman kecil, di tengah halaman tertanam aneka bambu ungu serta pohon Boddhi.

 

Begitu mendengar helaan napas itu, tiba-tiba paras muka Lu Kiu berubah hebat, segera

bentaknya, “Siapa itu?”

Di tengah bentakan, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busur segera melesat ke

Kakek tua yang lemah dan berpenyakitan itu dalam waktu singkat tiba-tiba berubah segesit

burung elang.

Dalam sekejap, terdengar suara gemuruh yang ramai berkumandang dari balik daun bambu,

lalu terlihat sesosok bayangan meluncur keluar dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat

telah tiba di luar pagar pekarangan.

Walaupun gerakan tubuh Lu Kiu sangat cepat, ternyata gerakan tubuh orang ini pun tidak kalah

Di luar pagar terdapat hutan yang cukup luas, daun di sekeliling tempat itu sangat rimbun dan

lebat. Menanti Lu Kiu tiba dil uar sana, bayangan tubuh orang itu sudah lenyap.

Entah sejak kapan sinar matahari sudah tertutup di balik awan hitam, hembusan angin terasa

makin dingin menggigilkan.

Saat ini memang permulaan musim semi.

Lu Kiu berdiri termangu-mangu sambil memandang pegunungan nun jauh di sana. Mimik

mukanya menunjukkan perubahan yang sangat aneh, tak seorang pun bisa menduga apa

gerangan yang sebenarnya sedang dia pikirkan saat itu.

Toan Giok pun tak dapat menduga, maka tak tahan dia bertanya. “Apakah sudah kau ketahui

siapakah orang itu?”

Lu Kiu ragu-ragu sejenak, akhirnya dia mengangguk, kemudian secara tiba-tiba menggeleng

pula! Sebenarnya apa maksud semua itu? Tak seorang pun paham.

Sebenamya siapakah orang itu?

Mengapa bersembunyi di balik hutan bambu mengintai? Mengapa pula dia menghela napas?

Jangan-jangan Lu Kiu sudah tahu siapakah orang itu, hanya saja dia enggan mengatakan

kepadanya?

Sesudah menghela napas, kata Toan Giok, “Terlepas siapa pun orang itu, aku rasa dia tidak

mempunyai niat jahat.”

“Kalau tak punya niat jahat, mengapa harus kabur?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Mungkin saja dia tak ingin asal-usulnya diketahui kita semua.”

“Tapi kenapa dia tak ingin asal-usulnya diketahui oleh kita? Apakah dia pun mempunyai

kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain?”

“Aku rasa orang itu mirip seseorang,” mendadak Hoa Hoa-hong berkata lagi.

“Mirip siapa?”

“Walaupun aku tak melihat jelas paras mukanya, tapi dari pakaian yang dia kenakan, aku masih

dapat mengenalinya.”

“Pakaian siapa yang dia kenakan?”

“Apakah kau benar-benar tak bisa mengenali?”

Tiba-tiba saja Toan Giok tidak berbicara lagi.

Tentu saja dia tak mungkin tidak mengenali pakaian siapakah itu. Kenyataan, ia telah melihat

dengan jelas sekali. Pakaian yang dikenakan orang itu tak lain adalah jubah sutera ungu yang

dikenakan Hoa Hoa-hong sewaktu menyaru sebagai pria.

Ketika tercebur ke dalam telaga, dia masih mengenakan pakaian itu. Setelah balik ke rumah,

dia baru melepaskan pakaian itu dan membuangnya ke belakang pintu.

 

Toan Giok masih teringat dengan jelas, ketika akan keluar rumah semalam, dia masih melihat

pakaian itu berada di sana. Sambil merendahkan suaranya dan tertawa dingin, bisik Hoa Hoahong,

“Kau tak usah mengelabui aku lagi, aku tahu kau pun sudah melihat kalau orang itu adalah

orang yang kita selamatkan dari dalam peti.”

“Kalau kau tidak melihat jelas bentuk mukanya, lebih baik jangan sembarangan mencurigai

orang,” kata Toan Giok hambar.

Hoa Hoa-hong mencibirkan bibir. Sambil tertawa dingin, ia menyahut, “Hm, aku sengaja

mencurigai dia, siapa tahu dia memang ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini. Kalau tidak,

kenapa dia mesti bersembunyi tak berani ketemu orang?”

Toan Giok tertawa, dia tak lebih hanya tertawa, tak sepatah kata pun yang diucapkan lagi.

Sejak awal dia sudah melanggar sebuah pantangan lagi di antara ketujuh pantangan yang

dibuat orang-tuanya jangan mengajak debat Hoa Hoa-hong.

Ternyata Hoa Hoa-hong tak mau melepaskan dirinya begitu saja. Sambil tertawa dingin,

kembali ujarnya, “Baru saja orang mengatakan kau pintar, apakah kau merasa dirimu benar-benar

sangat pintar? Apakah orang lain goblok semua? Atau kau anggap hanya aku seorang yang

goblok?”

Biarpun Toan Giok tidak mengakui, namun dia pun tidak berusaha untuk menyangkal.

Hawa amarah Hoa Hoa-hong semakin memuncak. Kali ini sambil bercekak pinggang, teriaknya,

“Bila kau anggap dirimu benar-benar pintar, maka pendapatmu itu keliru besar.

Padahal apa yang kau ketahui, tidak sampai separoh dari apa yang kuketahui.”

Toan Giok masih mengambil keputusan untuk tidak buka suara. Kebetulan saat itu Ku-tojin

sedang berjalan mendekat, sambil tersenyum ia segera menimbrung, “Apalagi yang nona ketahui?

Bolehkah kau mengatakannya agar kami semua ikut mendengarkan?”

Dengan gemas, Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arah Toan Giok, kemudian katanya,

“Sebetulnya aku tak ingin mengatakannya, tapi orang ini benar-benar kelewat menghina, kelewat

memandang rendah diriku. Aku benar-benar tak tahan

melihat wataknya itu!”

Biarpun Ku-tojin tidak membantunya berbicara, namun sorot matanya memancarkan perasaan

simpatik dan pengertian, seakan Tosu ini pun ikut merasa tak terima dengan perlakuan yang

diperoleh gadis itu.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lebih jauh, “Untuk melepaskan keleningan, carilah pemasang

keleningan itu. Bila ingin membongkar rahasia ini, kita harus menemukan Hoa Ya lay terlebih

dahulu.”

Ku-tojin segera menyatakan persetujuannya.

Usul semacam ini memang masuk akal dan tak mungkin ditolak siapa pun.

Dengan nada dingin, kembali Hoa Hoa-hong berkata,

“Tapi mampukah kalian menemukan Hoa Ya-lay? Di antara kalian semua, siapa pula yang tahu

dimanakah ia berada?”

Mencorong sinar terang dari balik mata Ku-tojin. Dengan nada menyelidik, tanyanya, “Jadi nona

mengetahui dimanakah ia berada?”

Dengan sudut matanya Hoa Boa-hong melirik Toan Giok sekejap, lalu jawabnya, “Biarpun

sekarang aku mengatakan tahu, apakah kalian mau percaya? Karena kalian pada hakikatnya tidak

tahu siapakah diriku yang sebenamya, darimana asal

usulku dan sebenamya siapakah aku?”

Apakah nona ini mempunyai asal-usul yang luar biasa dan mengejutkan?

 

Terpaksa semua orang berpaling dan memandang Toan Giok dengan mata terpentang lebar,

seolah mereka berharap pemuda ini dapat menjawab pertanyaan itu.

Toan Giok hanya bisa tertawa getir, dia sendiri pun tidak tahu.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, “Aku tahu jalan pikiran kalian pasti sama seperti dia,

pasti mengira aku hanya seorang nona kecil yang tak mengerti urusan apa pun, seorangnona

nakal yang suka mengajak berdebat.”

Setelah tertawa dingin, lanjutnya, “Tapi pernahkah kalian berpikir, mengapa secara tiba-tiba

aku bisa muncul di sini? Kenapa muncul tepat pada saatnya? Padahal urusan ini sama

sekali tak ada hubungannya dengan diriku, kenapa pula aku justru suka mencampuri urusan

ini?”

Semua orang mulai berpikir, segera dirasakan kalau kejadian ini memang suatu hal yang sangat

aneh dan mencurigakan.

Nama Hoa Hoa-hong tak pernah terdengar sebelumnya, juga belum pernah ada orang bertemu

dengannya sebelum ini. Orang ini seakan-akan seperti mendadak terjatuh dari

langit, bahkan terjatuh persis pada senja tanggal sembilan, terjatuh tepat di samping Toan

Mana mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan di kolong langit?

Di balik semua ini pasti masih terdapat rahasia lagi. Bahkan Lu Kiu pun tak tahan untuk tidak

bertanya,

“Sebenarnya siapakah nona? Berasal darimana? Dan apa kedudukanmu dalam dunia

persilatan?”

Hoa Hoa-hong nampak sangsi sejenak, seakan sedang mempertimbangkan apakah harus

mengakui semuanya secara terus terang atau tidak.

Tapi pada akhirnya, dia mengakui juga.

“Pernahkah kalian mendengar kalau dalam kalangan Lak¬san-bun terdapat seorang opas

wanita yang tiada duanya di kolong langit, orang menyebutnya Jit-jiau-hong-huang (Burung hong

bercakar tujuh)?”

Tentu saja semua orang pernah mendengamya.

Mereka memang jago-jago kawakan yang banyak pengalaman dalam persilatan, apalagi Jitjiau-

hong-huang memang seorang opas yang amat tersohor.

Konon dalam beberapa tahun belakangan ini, kasus kejahatan yang berhasil dibongkar oleh

opas wanita itu tidakberada di bawah jumlah kasus yang berhasil dituntaskan opas

nomor wahid di kolong langit, Sin-gan-eng (Elang bermata sakti).

Kembali terdengar Hoa Hoa-hong bertanya, “Pernahkah kalian berjumpa dengan Jit-jiau-honghuang?”

“Belum pernah,” semua orang menggeleng.

“Kalau begitu, kalian telah menjumpainya hari ini.”

“Jadi. kau adalah Jit-jiau-hong-huang?” tanya Ku-tojin, agak berubah wajahnya.

“Betul sekali, memang akulah orangnya,” sahut Hoa Hoa hong dengan nada hambar.

“Jadi kedatanganmu kemari bertujuan untuk menangkap si bandit wanita Hoa Ya-lay?”

Kembali Hoa Hoa-hong mengangguk.

“Sudah kelewat banyak kasus kejah-atan yang ia lakukan, aku telah mengawasinya sejak awal.”

Ku-tojin segera menghela napas, ujarnya sambil tertawa getir, “Tampaknya kita semua benarbenar

punya mata tak berbiji. Nona, kau benar-benar seorang jagoan yang tak mau

menampakkan diri.”

 

“Padahal sudah cukup lama aku tiba di sini, diam-diam kuawasi terus tingkah-laku serta sepakterjang

bandit wanita itu. Hanya saja lantaran urusan ini adalah urusan golongan Lak-san bun

(Pengadilan), maka aku pun tak ingin kalian turut campur dalam persoalan ini.”

“Apakah nona berhasil mencari tahu dimana tempat persembunyian bandit wanita itu?” tanya

Ku-tojin lagi.

“Bandit perempuan itu memang lebih licik daripada seekor rase,” sahut Hoa Hoa-hong dengan

angkuhnya. “Sayang dia bernasib sial, karena harus bertemu dengan aku.”

Setelah melirik sekejap ke arah Toan Giok, katanya lagi, “Kau sangka dirimu pandai berlagak

bodoh? Padahal kemampuanku berlagak bodoh seratus kali lipat lebih hebat daripada

kemampuanmu. Sementara bandit wanita itu pun selalu beranggapan aku tak lebih hanya seorang

nona cilik yang tak tahu urusan, sama sekali tidak menaruh kewaspadaan terhadapku. Itulah

sebabnya ia terjatuh ke tanganku.”

Toan Giok masih tetap membungkam, dia hanya bisa tertawa getir.

Dalam keadaan seperti ini, tentu saja dia tak sanggup berkata-kata lagi.

“Aku tahu dalam dua hari terakhir, demi menghindari terpaan hujan badai, untuk sementara

waktu dia tak akan melakukan gerakan apa pun, maka sebetulnya aku pun berniat menunggu

sampai tibanya bala bantuan sebelum melakukan langkah lebih jauh!” kata Hoa Hoa-hong lagi.

Setelah menghela napas, Ianjutnya, “Sayang aku telah membocorkan rahasiaku sekarang,

berarti aku sudah tak bisa menunggu lagi sampai tibanya bala bantuan.”

“Kami pun tak akan membiarkan nona menunggu sampai datangnya bala bantuan,” kata Kutojin

cepat. “Bila kau membutuhkan pembantu, kami bersedia menyumbangkan tenaga untuk

membantu.”

“Aku tahu, demi kalian sendiri, tentu saja kalian tak bisa berpeluk tangan.”

“Lalu nona berencana kapan akan mulai turun tangan?”

Tiba-tiba paras muka Hoa Hoa-hong berubah serius, katanya, “Aku pun tahu, kalian tak bakal

membocorkan rahasiaku ini. Tapi untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, aku

berencana untuk turun tangan pada malam ini juga. Dan mulai sekarang, semua orang yang telah

mendengar rahasia ini tak boleh pergi meninggalkan sisiku, aku pun melarang kalian mengajak

bicara orang lain.”

Ternyata dia telah berubah seperti berganti orang lain.

Bukan saja berubah lebih hati-hati, bahkan setiap tindakan dan ucapannya amat tegas.

Dengan nada serius Lu Kiu segera berkata, “Kami semua pasti akan mentaati perintah nona.”

Hoa Hoa-hong segera melotot sekejap ke arah Toan Giok, tegurnya cepat, “Bagaimana dengan

dirimu?”

“Aku memang selama ini selalu menuruti perkataanmu,” sahut Toan Giok sambil tertawa getir.

“Kau suruh aku ke timur, belum pernah aku berani pergi ke barat”

Hoa Hoa-hong kembali menarik muka, katanya dingin,

“Bagus sekali, hanya saja ….”

“Hanya saja kenapa?” serentak Lu Kiu, Ku-tojin, serta Kiau-losam bertanya.

“Untuk menghindari segala kemungkinan, kita harus mencari pembantu lagi.”

“Mencari siapa?” tanya Lu Kiu.

“Tongcu dan Kang-say, Pi-lik-tong!”

“Ong Hui?”

Hoa Hoa-hong manggut-manggut.

“Untuk menangkap rase, setiap saat kita butuh menggunakan senjata peledak Pi-lik-tong.”

Padahal dirinya sekarang sudah mirip seekor rase, bahkan seekor rase tua yang sangat

 

Jangankan orang lain, bahkan Toan Giok pun merasa kagum sekali setelah menyaksikan

Kembali Hoa Hoa-hong termenung, kemudian katanya, “Aku hanya tak tahu apakah ia bersedia

mencampuri urusan ini?”

“Kujamin dia pasti mau,” Ku-tojin segera menyahut,

“Karena pada dasarnya dia memang orang yang suka mencampuri urusan orang lain.”

“Kau dapat menemukan dia?”

Ku-tojin tertawa tergelak.

“Kalau disuruh mencari orang lain, aku tak yakin akan berhasil. Kalau suruh aku mencari Ong

Hui, pada hakikatnya jauh lebih gampang daripada seekor kucing menangkap tikus.”

Ternyata untuk mencari Ong Hui memang tak terlampau sulit,

karena dia berada di luar Hong-lin-si, tepatnya berada dalam warung arak milik Ku-tojin sedang

minum arak.

Tosu perempuan yang cantik jelita sedang duduk di sampingnya, menemani.

Tampaknya perasaan wanita itu sedang sangat baik.

Setelah meneguk dua cawan arak, wajahnya kelihatan lebih bersinar dan menawan hati.

Tampaknya Ku-tojin memang orang yang bernasib mujur, tidak banyak lelaki yang bisa

memperistri wanita secantik dia.

Saat itu Ku-tojin telah menarik Ong Hui ke samping.

Cukup dengan beberapa patah kata, Ong Hui segera menganggukkan kepala berulang kali.

Tosu perempuan menggunakan ujung mata mengerling sekejap ke arah mereka, tak tahan

tegurnya, “He, kalian berdua sedang membicarakan rahasia apa? Hm, mau mencari perempuan

lain secara diam-diam?”

Buru-buru Ku-tojin menyahut sambil tertawa, “Kami tak bakal mencari terlalu banyak, paling

tiap hari mencari tiga orang saja.”

“Kalau begitu, aku pun tak akan mencari kelewat banyak,” sahut Tosu perempuan itu tertawa.

“Kau akan mencari apa?”

“Kalian boleh pergi mencari perempuan, memangnya aku. tak bisa mencari Ielaki di rumah?”

“Untung di seputar sini hanya ada kaum Hwesio.”

“Hm, jangan lupa, Hwesio pun laki-laki, Tosu perempuan memang paling cocok dijodohkan

dengan Hwesio,” kata Tosu perempuan hambar.

Ku-tojin tertawa terbahak-bahak, ternyata dia sama sekali tidak gelisah atau cemas, dia pun tak

akan minum cuka, sebab siapa pun dapat melihat kalau dia pasti amat mempercayai bininya.

Hoa Hoa-hong pun merasa sangat puas, karena ia mengetahui bahwa orang ini memang bisa

pegang rahasia, buktinya di hadapan bini sendiri pun, dia sama sekali tidak memberi bocoran apa

“Ai, aku benar-benar kagum kepadamu,” gumam Ong Hui sambil menghela napas.

“Mengagumi aku? Apa yang perlu dikagumi?” tanya Ku tojin.

“Paling tidak ada sate hal kau lebih tangguh dari aku.”

“0, ya?”

“Bila aku memiliki istri secantik ini, tak nanti aku akan berlega hati membiarkan dia berada di

rumah seorang diri.”

Kontan saja Ku-tojin tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, maka kau sering datang minum arak ketika aku tak ada di rumah, rupanya kau sudah

tertarik padanya?”

 

Tosu perempuan ikut tertawa. Sambil menggigit bibir dan mengerling Ong Hui sekejap,

serunya, “Karena dia sudah berkata begini, lain kali mari kita berikan topi hijau untuknya. Lihat

saja apa yang akan dia perbuat?”

Bag 10. Golok Kumala Hijau tanda pertunangan

Sebenarnya matahari bersinar terik, tiba-tiba saja langit berubah jadi gelap karena diselimuti

awan tebal, menyusul hujan pun turun.

Hujan turun makin lama semakin deras.

Menyaksikan tetesan air hujan yang membasahi wuwungan rumah, semua orang mulai

berkerut kening. “Hahaha, ternyata Thian menciptakan peluang indah untuk kita,” seru Hoa Hoahong

sambil tertawa.

“Kau suka turun hujan?” tanya Ku-tojin dengan kening berkerut.

“Kalau berada dalam suasana lain, aku tak suka. Tapi hujan ini memang turun tepat waktu.”

“Kenapa?” tanya Ku-tojin tak habis mengerti.

“Kalian adalah orang-orang kenamaan di tempat ini, sasaran kita pun bukan orang kecil,

kemana pun kita pergi pasti akan memancing perhatian orang banyak. Sekalipun ingin menyaru,

bukan pekerjaan yang gampang.”

Setelah tersenyum, lanjutnya, “Tapi dengan turunnya hujan, semua persoalan pun

terselesaikan.”

Ku-tojin semakin tak mengerti, begitu juga dengan yang lain.

Hoa Hoa-hong telah mengambil satu stel baju hujan yang tergantung di atas dinding, ujamya

sambil tertawa, “Asal kita kenakan jas hujan, lalu mengenakan topi caping bambu ini, siapa lagi

yang bisa mengenali kalian?”

Banyak orang beranggapan, kelebihan dari telaga Se-ouw adalah bukan saja indah di saat

musim semi, indah pula di saat musim salju, musim hujan ataupun musim dingin.

Duduk di atas perahu pesiar yang lebar, mengenakan pakaian yang bersih, mengelilingi telaga

sambil menikmati pemandangan saat hujan, benar-benar merupakan satu peristiwa yang indah

dan penuh seni.

Namun ketika kau mengenakan jas hujan, memakai caping lebar, berbasah-basah di tengah

hujan, menembusi jalanan berlumpur untuk menangkap seorang begal ulung, jelas keadaannya

sama sekali berbeda.

Di tepi telaga terdapat sebuah paviliun bersegi enam. Dalam paviliun terdapat seorang kakek

penjual teh dan wedang kacang, saat itu dia sedang mengawasi hujan dengan termangu.

Titik-titik air hujan yang menimpa permukaan telaga persis seperti kuah dalam wajan yang

sedang mendidih. Dengan jatuhnya hujan sederas ini, sama artinya dagangan hari ini bakal tak

Tiba-tiba terdengar Hoa Hoa-bong berkata, “Mari kita menangsal perut dengan beberapa butir

telur karena apakah hari ini masih bisa makan atau tidak, masih tanda tanya.”

“Kenapa kita tidak pergi ke rumah makan Lau-gwat-lau untuk menangsal perut?” usul Ku-tojin.

“Orang yang bekerja macam kita sudah terbiasa hidup susah. Jadi bila kalian ingin membantu

aku mengungkap teka¬teki kasus ini, lebih baik sedikitlah menahan din.”

Ku-tojin tidak berbicara lagi. Sambil bermuram durja, ia membeli beberapa butir telur dan

perlahan-lahan melahapnya. Hujan turun semakin deras.

Kembali Hoa Hoa-hong berkata, “Lebih baik kalian membeli beberapa butir telur lagi sebagai

sangu, bisa dimakan di tengah jalan nanti.”

 

“Sekarang juga kita akan berangkat?” tanya Lu Kiu.

“Sekarang waktu sudah larut, lagi pula kita harus menempuh perjalanan yang cukup jauh,”

sahut Hoa Hoa-hong.

“Sebenarnya dimana tempat itu?” dengan merendahkan suara Kiau-losam berbisik.

Hoa Hoa-hong segera menunjuk puncak bukit di seberang telaga, sahutnya, “Kita akan ke

sana!”

“Balk, akan kucari sebuah perahu besar, kita menyeberang dengan perahu.”

“Tidak bisa!”

“Kenapa tak bisa?” tanya Kiau-losam tertegun.

Sambil menarik wajah, sahut Hoa Hoa-hong, “Bisa jadi setiap tukang perahu di sini telah

menjadi mata-mata Cing¬liong-hwe, kita tak boleh menyerempet bahaya.”

Kiau-losam seperti masih ingin mengatakan sesuatu, namun setelah menyaksikan paras

mukanya yang dingin kaku, dia pun urungkan niatnya.

Mendadak Toan Giok berjalan menghampirinya, lalu berbisik, “Tahukah kau, tampangmu

sekarang macam apa?”

“Macam bandit wanita?”

“Tentu saja tampangmu sekarang tak mirip bandit, tapi lebih mirip kaisar Latin-0” sahut Toan

Giok sambil tertawa.

Berhubung mereka tak boleh menempuh perjalanan dengan menggunakan ilmu meringankan

tubuh, kuatir asal-usul mereka terbongkar, terpaksa mereka melanjutkan perjalanan dengan

menembusi tanah berlumpur.

Sampai hari sudah malam mereka baru tiba di kaki bukit di seberang telaga.

Gunung itu bukan Si-shia, juga bukan Ban-leng. Bukan saja jalan bukit terjal dan berliku-liku,

bahkan sekalipun pada suasana cerah pun jarang ada yang berkunjung ke sana.

Di tengah malam hujan yang begitu dingin dan becek, orang yang tak punya penyakit tak nanti

akan pergi ke atas bukit.

Lu Kiu, Ku-tojin, Kiau-losam, Toan Giok, maupun Ong Hui adalah sekelompok manusia dengan

otak waras, mereka sama sekali tak berpenyakit, apalagi penyakit tak waras.

Tapi sekarang mereka hanya mengikuti di belakang Hoa Ho-a-hong tanpa mengucapkan

sepatah kata pun.

Karena setiap orang tahu, untuk mengungkap rahasia ini, mereka harus dapat menangkap Hoa

Ya-lay.

Asal kasus ini bisa terbongkar, penderitaan yang lebih pahit pun rela mereka lakukan.

Hanya saja Hoa Ya-lay sialan itu betul-betul siluman penyiksa manusia. Tempat mana pun tidak

ia datangi, justru tempat yang begini sepi, becek dan terjal dipilihnya sebagai tempat

Hujan masih turun dengan derasnya, bahkan sama sekali tak ada pertanda akan berhenti.

Hujan musim semi di wilayah Kanglam memang tak ubahnya seperti kemurungan yang

menyelimuti hati manusia, mau dipotong di tengah jalan pun tak mungkin terpotong.

Jas hujan dan caping yang baru dibeli tampaknya tidak mampu menahan curahan hujan.

Kini pakaian mereka telah basah-kuyup, kaki pun penuh dinodai lumpur kotor.

Setiap orang merasa kedinginan, lapar dan lelah, tapi mereka tetap menahannya sekuat

Sebab semua ini memang mereka lakukan dengan sukarela, dilakukan dengan hati ikhlas.

Dengan susah payah, akhirnya tibalah mereka di punggung bukit. Saat itulah Hoa Hoa-hong

baru menghentikan langkah dan beristirahat.

 

Bagaimana pun gadis itu tetap seorang manusia, tentu saja dia pun merasa lelah.

“Apakah sudah sampai?” tak tahan Ong Hui bertanya.

Pertanyaan itu diajukan dengan suara yang amat rendah, tapi Hoa Hoa-hong masih menarik

wajah sambil melotot sekejap ke arahnya.

Biarpun dia adalah pemilik Pi-lik-tong yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, tak

urung dibuat takut juga hingga tak berani buka suara lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah depan berkumandang suara langkah manusia.

Hoa Hoa-hong segera memberi tanda sambil menyusup ke dalam hutan di balik jalanan,

menjatuhkan diri bertiarap di tanah.

Terpaksa semua mengikut di belakangnya, menyelinap masuk ke dalam hutan dan

menyembunyikan diri.

Lumpur lembab dan dingin, tapi semua tak merasakan lagi, karena suara langkah kaki itu makin

lama semakin dekat dan akhirnya tiba di hadapan mereka.

Dilihat dari balik semak belukar, tampak orang itu adalah seorang penebang kayu yang sudah

tua. Dengan mengenakan jas hujan, ia berjalan sempoyongan dari atas gunung, tangan satu

memegang payung usang, sedang tangan lain memegang buli-¬buli arak.

Tampaknya ia sudah minum terlalu banyak hingga jalan pun sempoyongan, mulutnya bahkan

sedang bergumam seperti orang mengigau, kelihatannya ia sedang dalam perjalanan turun

gunung untuk membeli arak.

Justru karena dia sudah cukup banyak minum arak, maka dalam suasana seperti ini pun tetap

turun gunung untuk membeli arak.

Bila seseorang sudah mabuk enam-tujuh bagian, memang sulit baginya untuk berhenti minum,

bahkan lebih sulit daripada seekor kucing kelaparan yang tidak mencuri ikan.

Apakah setan arak tua itu adalah anak buah Cing-liong¬hwe, mata-mata Hoa Ya-lay?

Semua orang menahan napas, bergerak pun tak berani.

Mereka adalah jago-jago silat kawakan, tentu saja mereka tak akan melakukan tindakan

“menyibak rumput mengejutkan ular”.

Setelah menunggu dengan susah-payah, akhimya setan tua itu lenyap juga di tikungan bukit

sebelah depan, lambat-laun suara langkah kakinya pun tak terdengar lagi.

Kini Ong Hui tak kuasa menahan diri lagi, segera tanyanya, “Apakah dia ….”

“Sssttt!” siapa tahu baru saja dia buka suara, ucapannya sudah ditukas Hoa Hoa-hong.

Tak boleh buka suara! Tak boleh buka suara! Kalau sampai mengagetkan Hoa Ya-lay, siapa

yang mampu memikul tanggung-jawab ini?

Terpaksa semua orang menahan napas, merangkak di tengah kubangan lumpur, menunggu

dan menunggu. Setiap orang merasa dirinya seakan telah berubah menjadi anjing liar yang tak

punya rumah.

Entah sudah berapa lama mereka menunggu, akhirnya Hoa Hoa-hong berdiri juga, memberi

tanda dan minta mereka melanjutkan perjalanan naik ke atas bukit.

Kini bukan saja kaki mereka sudah penuh dengan lumpur, pakaian mereka pun kotor oleh

Lumpur. Sepanjang hidup, belum pernah Toan Giok mengalami keadaan yang begini

Tapi tak seorang pun berkeluh-kesah atau menggerutu, bahkan Lu-kiuya yang senang akan

kebersihan pun saat ini tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Setiap orang hanya berharap bisa menangkap Hoa Ya-lay secepatnya, membalas dendam atas

kematian Lu Siau-hun dan membersihkan nama Toan Giok dari segala tuduhan.

 

Setiap orang percaya pada Hoa Hoa-hong, ternyata Jit jiau-hong-huang yang tersohor namanya

ini memang sangat berhati-hati dalam setiap tindak-tanduknya. Caranya melacak musuh dan

memecahkan kasus memang cukup mengagumkan.

Langit di atas bukit terasa lebih gelap, lebih dingin.

Sekali lagi Hoa Hoa-hong menghentikan perjalanannya secara tiba-tiba dan bersembunyi di

balik hutan.

Di balik hutan terdapat sebuah tebing curam, di bawah tebing berdiri dua bush bangunan kecil

terbuat dari kayu, cahaya lentera memancar keluar dari balik ruangan.

Apakah di sinilah tempat persembunyian Hoa Ya-lay? –

Semua orang bertiarap di atas tanah sambil menahan napas, mereka berharap bisa secepatnya

menyerbu masuk ke dalam rumah kayu itu dan membekuk Hoa Ya-lay.

Ternyata Hoa Hoa-hong termasuk seorang jago yang pandai mengendalikan diri, tampaknya ia

sudah mengambil keputusan, apabila tidak yakin seratus persen, perempuan itu tak akan

melakukan tindakan secara sembrono.

Suasana dalam rumah kayu itu tetap hening, sama sekali tak terdengar suara apa pun.

Kembali mereka menunggu sampai lama sekali, seakan sudah menunggu hampir seratus tahun

Pada akhirnya, Hoa Hoa-hong berbisik lirih, “Aku akan masuk dulu seorang diri, sementara

kalian kepung rumah ini rapat-rapat, tunggu aba-abaku sebelum kalian ikut menyerbu masuk.”

Mengapa dia hams menyerempet bahaya menyerbu masuk seorang diri? Mengapa bukannya

menyerbu masuk secara bersama-sama? Tak seorang pun mengerti.

Tapi lantaran dia telah berkata begitu dan pasti ada alasannya, terpaksa semua orang menurut.

Hoa Hoa-hong segera melejit ke depan dan menyelinap masuk bagaikan segulung asap tipis.

Temyata kungfu Jit-jiau-hong-huang memang sangat tangguh.

Tampak perempuan itu berhenti sebentar di luar rumah sambil memeriksa keadaan, kemudian

dengan sekali tendang ia hajar pintu ruangan, lalu menyerbu masuk ke dalam.

Sementara itu para jago yang lain telah bergerak cepat mengepung bangunan rumah itu.

Gerakan tubuh setiap orang tampak amat cepat, hal ini bisa dimaklumi, karena hampir semua

yang hadir adalah jago¬jago kelas satu dalam Kangouw.

Tampaknya Hoa Ya-lay meski seekor rase licik pun sulit untuk meloloskan diri.

“Blam!”, mendadak terdengar suara benturan keras di dalam rumah kayu itu, disusul kemudian

Hoa Hoa-hong membentak keras, “Hoa Ya-lay, mau kabur kemana kau?”

Ku-tojin, Ong Hui, Kiau-losam semuanya tak kuasa menahan diri. Bagaikan anak panah terlepas

dari busurnya, serentak mereka menerjang masuk ke dalam rumah.

Tapi dengan cepat mereka berdiri terperangah.

Ternyata di dalam rumah kayu hanya ada satu orang, Hoa Hoa-hong!

***

Rumah kayu itu kotor dan kacau, lamat-lamat terendus bau arak yang busuk.

Di sudut ruangan tertumpuk kayu bakar, sedang di atas meja tertaruh sebuah lentera minyak.

Hoa Hoa-hong sedang duduk santai di samping lentera, menggunakan selembar handuk

mengeringkan rambutnya yang basah

“Mana Hoa Ya-lay?”

“Tidak tahu.”

“Kau pun tidak tahu?” Ong Hui yang pertama kali bertanya.

“Aku bukan komplotannya, juga bukan sahabatnya, darimana aku bisa tahu berada dimanakah

dia,” jawab Hoa Hoa hong santai.

 

Kembali semua orang tercengang, terperangah.

Akhirnya Ku-tojin tak kuasa menahan diri, tegurnya, “Bukankah kau sendiri yang mengatakan

kalau kau berhasil melacak jejaknya?”

“Ah, itu semua bohong, sama sekali bohong,” jawab Hoa Hoa-hong sambil tersenyum lebar.

Untuk kesekian kalinya Ku-tojin tertegun.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, “Aku bukan Jit¬jiau-hong-huang, juga bukan opas

wanita, aku tak lebih hanya seorang nona cilik yang suka mencari keributan. Masa kalian sebagai

jago silat kawakan juga tak mengetahuinya?”

Memandang lumpur yang mengotori seluruh tubuh sendiri, Ku-tojin benar-benar dibuat

menangis tak bisa tertawa pun tak dapat.

Tiba-tiba ia merasa dirinya seperti seorang bloon, orang yang benar-benar goblok.

Perasaan para jago yang lain, tak berbeda jauh dengan perasaan Tosu itu.

“Aku curiga salah satu di antara kalian adalah Liong-thau Lotoa!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Hanya Liong-thau lotoa yang mengetahui jejak

Hoa Ya-lay, hanya dia yang tahu kalau aku sedang berbohong. Apa yang kulakukan sekarang pasti

diketahui olehnya, sekalipun dia tetap mengikuti perjalananku yang sia-sia ini, namun sikap serta

mimik wajahnya pasti akan memperlihatkan titik kelemahan, aku yakin dapat mengetahui

kelemahan itu.”

“Dan sekarang, apakah kau berhasil mengetahuinya?” tanya Ku-tojin sambil menghela napas.

“Belum!”

Kemudian setelah tertawa, lanjutnya, “Tampaknya kalian semua adalah orang jujur dan baik,

tidak seharusnya aku mencurigai kalian!”

Ketika seorang nona cantik memuji dirimu sebagai seorang baik, mungkinkah kau bisa

mengumbar amarahmu?

Lu Kiu pun hanya bisa menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir, “Apakah

sekarang nona masih ada perintah lain?”

“Hanya ada satu”

Setelah mengedip mata dan tersenyum, lanjutnya, “Paling baik bila kita sekarang kalian cepat

pulang ke rumah, mandi air panas, minum semangkuk teh panas, lalu tidur yang nyenyak.

***

Jendela di atas loteng itu masih dalam keadaan terbuka, cahaya lentera telah padam, hujan

pun telah berhenti.

Mereka menggunakan perahu kecil yang ditumpanginya sewaktu datang untuk balik ke rumah,

sepanjang jalan Toan Giok tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Diam-diam Hoa Hoa-hong melirik sekejap ke arahnya kemudian bertanya, “Entah apakah

saudara yang kita keluarkan dari dalam peti masih berada di sana atau tidak?”

Toan Giok masih duduk sambil menarik muka, sama sekali tidak bersuara.

“Coba kau tebak, apakah dia masih ada di sana?” kembali Hoa Hoa-hong berkata.

Toan Giok tidak menjawab, dia pun tidak menebak.

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong melompat bangun, teriaknya, “He, kenapa kau marah? Atas dasar apa

kau marah padaku? Bukankah aku berbuat demikian gara-gara kau? Memangnya hanya kau yang

menderita, sementara aku tidak? Tubuhmu berlepotan lumpur, memangnya aku tidak?”

Tiba-tiba Toan Giok melompat bangun, teriaknya pula, “Siapa bilang aku sedang marah?”

Begitu ia berteriak, Hoa Hoa-hong malah tertegun dibuatnya.

“Kalau bukan sedang marah, mengapa wajahmu dingin kaku seperti papan peti mati?”

“Karena hatiku tidak senang.”

“Kenapa tak senang?”

 

“Kalau kau jadi aku, memangnya kau bisa senang?”

Hoa Hoa-hong tak sanggup berbicara lagi.

Siapa pun orangnya, bila mempunyai masalah seperti apa yang dihadapi Toan Giok sekarang,

dapat dipastikan ia tak akan senang.

Akhirnya Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, ujarnya dengan suara lembut, “Sekarang

apa yang akan kau lakukan?”

“Tidak tahu”

Dia melompat bangun, melompat naik ke atas loteng, membuka pintu dan menyerbu masuk.

Dia pun ingin tahu apakah orang yang mereka selamatkan dari dalam peti masih berada di sana

atau tidak?

Ternyata orang itu masih berada di sana, berada di ruang luar sambil makan sisa bakpao

kemarin dan meneguk arak yang masih ada.

Pakaian yang dikenakan masih sama seperti baju yang dikenakan sewaktu keluar dari peti,

pakaian dalam yang lusuh dan kotor, kakinya masih telanjang, wajahnya tampak lebih pucat, letih

sayu daripada kemarin.

Toan Giok ikut duduk, mulai makan bakpao dan minum arak.

Tiba-tiba orang itu berkata sambil tertawa, “Bakpaonya belum bau.”

Toan Giok ikut tertawa, sahutnya, “Dagingnya juga belum bau, udangnya belum bau, Hiwannya

belum bau, hanya aku yang tambah bau.”

Orang itu tersenyum.

“Kau seperti orang yang baru saja dimasukkan ke dalam peti, bahkan peti yang kemasukan air.”

“Ai, aku lebih suka dimasukkan ke dalam peti. Paling tidak jauh lebih baik daripada ditipu orang

dan mesti bergulingan di kubangan lumpur seperti seekor anjing.”

“Siapa yang telah menipumu?”

“Aku!”

Hoa Hoa-hong berjalan masuk sambil menggendong tangan, dengan hambar lanjutnya, “Dia

memang telah kutipu hingga semalaman harus bergulingan di kubangan lumpur, tapi pakaian

ini…”

Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan jubah ungu yang pernah dikenakan

sewaktu menyamar jadi seorang pria itu.

Kini jubah ungu itu sudah kotor oleh noda lumpur.

Ditatapnya orang itu dengan sinar tajam, lalu kembali tegurnya dengan nada dingin,

“Sebetulnya bajuku ini sudah berbaring dan tidur dengan nyenyak di dalam rumah, kenapa tibatiba

bias bergulingan di luar hingga penuh lumpur, memangnya baju itu tumbuh kaki hingga bisa

berjalan keluar sendiri? Mula-mula pergi ke Hong-Lin-si untuk mencuri dengar pembicaraan orang,

kemudian secara diam-diam ikut pula bergulingan di tanah?”

Tiba-tiba paras muka orang itu berubah sedikit memerah.

Kembali Hoa Hoa-hong menyindir sambil tertawa dingin, “Tentu saja pakaian ini tak berkaki,

karena kakinya tumbuh di tubuhmu!”

Sepasang matanya melotot, melototi orang itu tanpa berkedip, mendadak teriaknya, “Aku ingin

bertanya padamu, mengapa kau menguntit kami? Sebenarnya siapa kau? Apa sangkut-pautmu

dengan persoalan ini?”

Paras muka orang itu dari merah tiba-tiba berubah lagi jadi pucat-pasi, dia seakan ingin

mengucapkan sesuatu, apa mau dikata, justru tak mampu diucapkan keluar.

Di antara suara hujan di luar jendela, mendadak terdengar suara perahu yang bergerak

 

Tanpa sadar Toan Giok dan Hoa Hoa-hong melongok keluar jendela. Pada saat itulah, tiba-tiba

pemuda misterius berwajah pucat itu melejit ke tengah udara, lalu secepat kilat meluncur keluar

dari pintu rumah.

Pada saat yang bersamaan, terlihat seseorang melompat masuk ke balik jendela dengan

kecepatan tinggi.

Orang itu adalah seorang kakek kurus tinggi, berwajah bersih tapi penuh wibawa. Dia tak lain

adalah Lu Kiu.

Pakaian yang dikenakan masih belum kering, masih berlepotan lumpur, tapi paras mukanya

justru dingin kaku seperti papan peti mati.

Dengan terperanjat Hoa Hoa-hong menatap wajahnya, lalu tanyanya sambil tertawa paksa,

“Kau belum pulang?”

“Aku belum pulang,” jawaban Lu Kiu sangat dingin.

“Untung di sini masih ada arak, bagaimana kalau minum barang dua cawan untuk mengusir

hawa dingin?” kata Toan Giok sambil tertawa.

“Aku datang bukan untuk minum arak.”

Dilihat dari paras mukanya, siapa pun dapat menduga kalau kedatangannya memang bukan

untuk minum arak.

Berputar sepasang biji mata Hoa Hoa-hong.

“Jika bukan minum arak, mau apa kau kemari?” tegurnya.

“Datang untuk membunuh orang!”

“Datang untuk membunuh? Siapa yang akan kau bunuh?” Hoa Hoa-hong tak mampu tertawa

“Selama hidup Lohu selalu memilah antara budi dan dendam secara jelas. Thiat Sui adalah

sahabat karibku, Siau-hun adalah putra tunggalku. Siapa pun yang telah membunuh mereka, aku

tak akan membiarkan dia hidup lewat malam

Toan Giok tak sanggup tertawa pula.

“Jadi kau datang untuk membunuhnya?” tanya Hoa Hoa¬hong. “Bukankah kau tahu dengan

jelas bahwa pembunuhnya bukan dia?”

Lu Kiu tertawa dingin.

“Golok pembunuh adalah Bi-giok-jit-seng-to keluarga Toan. Kalau pembunuhnya bukan dia,

lantas siapa lagi?”

Hoa Hoa-hong terkesiap dan berdiri melongo.

Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa secara tiba-tiba Lu Kiu bisa berubah pikiran.

Terdengar Lu Kiu berkata lagi, “Aku memang tak ingin bermusuhan dengan Toan Hui-him, tapi

dendam sakit hati ini tetap harus kubalas.”

“Maka di hadapan orang lain, kau berlagak sok setia kawan. Tapi begitu orang lain sudah

bubar, kau menginginkan nyawanya lagi?”

“Betul.”

“Kau tidak kuatir salah membunuh?”

“Lebih baik salah membunuh satu orang daripada melepas seorang musuh besar. Selama Lohu

berkecimpungan dalam Kangouw, tak sedikit orang yang telah kubunuh, jadi sekalipun salah

membunuh satu orang lagi pun, hal ini lumrah dan tak aneh.”

“Kau tidak takut orang lain salah membunuhrnu?” tegur Hoa Hoa-hong dingin.

“Usia Lohu sudah lewat dari setengah abad. Setelah hari ini berani datang kemari,

sesungguhnya aku sudah tidak memikirkan lagi mati hidupku.”

Dengan sorot mata setajam mata golok, ditatapnya wajah Toan Giok lekat-lekat, mendadak is

membentak nyaring, “Cabut Bi-giok-jit-seng-tomu! Kalau memang punya kemampuan, coba

penggallah batok kepala Lohu dan gunakan sebagai cawanmu minum arak.”

 

Toan Giok menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir, “Kalau ingin minum arak,

aku minum dengan cawan.”

“Tapi aku justru ingin menggunakan batok kepalamu sebagai pengganti cawan, darahmu akan

kuanggap sebagai arak, akan kugunakan darahmu untuk bersembahyang di depan arwah anakku.”

Suaranya sangat parau, sepasang matanya menatap tajam leher Toan Giok tanpa berkedip,

sementara sepasang tangannya yang kurus kering telah diangkat ke udara, mementangkan cakar

elangnya dan setiap saat dia seakan ingin mencengkeram tenggorokan anak muda itu hingga

tembus dan berlubang.

Siapa pun dapat melihat, dia telah menghimpun seluruh tenaga dalamnya hasil latihan selama

puluhan tahun pada kedua belah tangannya. Asal serangan itu dilancarkan, dapat dipastikan

korbannya bakal tewas secara mengenaskan.

Pada saat itulah terdengar seseorang berteriak, “Kau jangan turun tangan sembarangan,

jangan salah membunuh orang!”

Di tengah suara teriakan, tampak seseorang menyusup masuk ke dalam ruangan dengan

kecepatan tinggi, ternyata orang itu tak lain adalah pemuda pucat misterius itu.

Siapa sebenarnya pemuda ini? Darimana dia tahu kalau Lu Siau-hun bukan tewas di tangan

Toan Giok?

Tentu saja dia tahu.

Mungkin di kolong langit dewasa ini hanya dia seorang yang bisa membuktikan kalau Lu Siauhun

bukan tewas di tangan Toan Giok.

Karena dia tak lain adalah Lu Siau-hun!

Ternyata Lu Siau-hun belum mati!

Menyaksikan putranya yang sudah jelas telah mati ternyata berdiri segar di hadapannya,

ternyata Lu Kiu sama sekali tidak menunjukkan perasaan girang atau terkejut.

Lu Siau-hun berlutut. Sambil menundukkan kepala, berlutut di hadapan ayahnya.

“Ananda tak berbakti, hanya membuat kau orang-tua merasa kuatir saja.”

Lu Kiu masih berdiri dengan wajah membesi.

“Aku sama sekali tidak menguatirkan keselamatanmu,” Sahutnya dingin, “Karena aku tahu, kau

memang belum mati.”

Sementara itu Hoa Hoa-hong tak kuasa menahan diri lagi, tiba-tiba teriaknya, “Jadi dia adalah

Lu Siau-hun? Dia adalah putramu? Dan kau tahu kalau dia belum mati?”

Lu Kiu mengangguk.

“Sekalipun Cing-liong-hwe menggunakan jenazah yang telah disaru untuk mengelabui diriku,

aku tetap tahu kalau dia belum mati. Sekalipun dia tidak menghela napas di luar ruang layon

Hong-lin-si pun, aku tetap tahu.”

“Darimana kau bisa tahu?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Karena bagaimana pun juga dia adalah putraku!”

Jawaban ini tak bisa dianggap sebagai sebuah penjelasan yang baik, namun sudah cukup

menjelaskan segala sesuatunya. Bagaimana pun, hubungan antara ayah dan anak memang

terjalin oleh perasaan yang sensitif dan aneh. Perasaan ini tak bisa dijelaskan oleh siapa pun,

namun juga tak seorang pun bisa

Hoa Hoa-hong masih tak habis mengerti, kembali ujarnya, “Kalau memang Cing-liong-hwe

bertekad akan menghabisi nyawanya, kenapa mereka harus menggunakan tubuh orang lain untuk

mengelabuimu, sementara orang yang asli dimasukkan ke dalam peti dan ditenggelamkan ke

dasar telaga?”

 

Tiba-tiba Toan Giok tertawa, jawabnya, “Karena mereka tak ingin membiarkan Lu-kiuya

menyaksikan mata kail yang berada di tubuhnya.”

Dia seakan sudah mengetahui akan rahasia ini, maka lanjutnya, “Mereka tak ingin Lu-kiuya

menyaksikan kalau di tubuhnya masih terdapat mulut luka lain, mereka harus membuat Lu-kiuya

yakin dan percaya bahwa dia mati karena terkena bacokan golokku.”

Lu Kiu manggut-manggut, katanya, “Orang yang telah mati, wajahnya pasti berubah jadi kusut

dan kejang, mereka telah memperhitungkan kalau aku tak bakal mengetahui rahasia ini.”

Hoa Hoa-hong semakin tak mengerti, kembali tanyanya, “Kalau kau sudah tahu bahwa putramu

belum mati, mengapa masih berusaha membunuh Toan Giok untuk membalas dendam

kematiannya?”

“Karena aku pun tahu, dia pasti merasa tak punya muka untuk bertemu denganku. Bila ia tak

berhasil menangkap Hoa Ya-lay, si bandit perempuan itu dengan kemampuan sendiri,

kemudian membalas sakit hati sendiri, dia tak bakal muncul untuk bertemu denganku.”

Baru sekarang di atas wajahnya yang letih dan hambar muncul perasaan sayang dan kasihan,

perlahan-lahan terusnya, “Bagaimana pun juga dia adalah putraku, tentu saja aku mengetahui

dengan jelas tabiatnya.”

Kini Hoa Hoa-hong sedikit menjadi jelas.

“Oleh karena itu kau sengaja menggunakan cara ini untuk memancingnya keluar?” katanya.

Lu Kiu manggut-manggut, ujarnya sambil menghela napas, “Biarpun bocah ini angkuh dan

keras kepala, namun bukan seorang yang lupa budi. Dia tak akan membiarkan tuan penolongnya

mengadu nyawa dengan bapaknya.”

“Tapi darimana kau bisa tahu kalau dia berada di sini?” tanya Hoa Hoa-hong sedikit tak paham.

Akhirnya sekulum senyuman menghiasi wajah Lu Kiu, sahutnya, “Karena sejak awal sudah

kuduga kalau orang yang kalian selamatkan dari dalam peti adalah dia.”

Hoa Hoa-hong ikut tertawa.

“Kau pun sudah mendengar kalau pakaian yang dia kenakan adalah pakaian milikku,” katanya.

“Biarpun aku sudah tua dan penyakitan, namun telingaku belum tuli.”

“Hahaha, bukan saja tidak tuli, bahkan … pada hakikatnya lebih tajam lebih tajam ….”

Sebetulnya dia ingin mengatakan kalau telinganya lebih tajam dari kelinci, tapi dia tidak

melanjutkan perkataan itu, karena sekarang sudah timbul perasaan hormatnya terhadap orang-tua

Lu Kiu telah menerima baju dari tangannya dan dikenakan di tubuh putranya.

“Walaupun pakaian ini kotor. Paling tidak jauh lebih baik ketimbang tak berpakaian, hati-hati

kalau sampai masuk angin.”

“Aku aku ….” Lu Siau-hun terharu bercampur terima kasih, gejolak darah panasnya membuat

tenggorokannya tersumbat dan tak sepatah kata pun mampu diucapkan.

Hoa Hoa-hong menghembuskan napas panjang, katanya kemudian, “Karena hingga sekarang

kau masih hidup, tentunya kau bisa mengatakan sendiri bukan siapa orang yang sebenarnya telah

membokongmu?”

Lu Siau-hun tergagap, tak mampu berkata-kata.

“Kau merasa keberatan untuk mengatakannya?” tanya Hoa Hoa-hong sambil menatapnya

“Aku ….”

“Atau kau masih mempunyai kesulitan yang sukar untuk diutarakan?”

Lu Siau-hun menutup mulut rapat-rapat, bahkan mata pun dipejamkan. Butiran air mata

tampak jatuh berlinang membasahi pipinya.

 

Ternyata dia memang mempunyai kesulitan yang susah diutarakan, dia tak ingin mengatakan,

tapi sekarang mau tak mau harus dikatakan juga.

Menyaksikan air mata yang berlinang, semua orang segera mengerti apa gerangan yang telah

Hoa Ya-lay telah membohonginya, mengkhianatinya, namun selama hidup sulit baginya untuk

melupakan Hoa Ya lay.

Cinta memang sesuatu yang aneh, seorang pemuda romantis seringkali jatuh cinta pada

seorang wanita yang tidak seharusnya dia cintai.

Sekalipun dia tahu dan memahami hal itu, apa daya perasaan cinta telah merasuk ke dalam

tulangnya, ingin dihapus pun tak mungkin bisa dia lakukan.

Tampaknya Lu Kiu tak tega menyaksikan hal ini.

Perasaan sedih yang menyelimuti perasaan putranya. Sebagai seorang ayah, dia pasti

mengetahui jauh lebih jelas.

Tiba-tiba Lu Kiu berkata, “Walaupun tadi kau gagal menemukan sesuatu yang mencurigakan,

namun aku justru telah menemukan satu hal yang pantas dicurigai.”

“Menurutmu, siapa yang paling mencurigakan?” tanya

Hoa Hoa-hong.

“Ku-tojin!”

“Mengapa aku tidak melihatnya?”

“Karena kau sama sekali tak tahu manusia macam apakah dirinya.”

Hoa Hoa-hong memang sama sekali buta, sama sekali tak tahu.

“Dia adalah seorang manusia paling malas, paling ogah merasakan penderitaan,” Lu-kui

menerangkan. “Sekalipun Hoa Ya-lay benar-benar mempunyai dendam kesumat sedalam lautan

dengan dirinya, tak nanti dia mau disiksa sepanjang malam di tengah curah hujan, udara dingin

dan tanah berlumpur!”

“Tapi aku tidak mendengar suara menggerutu atau penyesalannya,” seru Hoa Hoa-hong.

“Justru itulah aku merasa keheranan.”

“Apakah karena dia tahu kalau aku sedang berbohong, juga tahu dimana Hoa Ya-lay berada,

kuatir hal ini kuketahui, maka dia rela mengalami semua penderitaan itu?”

Lu Kiu manggut-manggut.

“Padahal sekalipun tak ada kejadian hari ini pun, sejak lama aku sudah menaruh curiga

kepadanya.”

“0, ya?”

“Ketika Thiat Sui terlibat pertarungan melawan Toan Giok waktu itu, dia hanya berdiri

menonton berpangku tangan. Dari sikapnya, dia seakan berharap Toan Giok bisa tewas di tangan

Thiat Sui, berapa kali Ong Hui ingin turun tangan mencegah, tapi setiap kali selalu dicegah

olehnya.”

Berputar biji mata Hoa Hoa-hong, ujarnya, “Semula aku mengira hanya satu orang yang

berharap kau tidak mati.” “Menurut kau, siapakah orang itu?”

“Liong-thau Lotoa dari Cing-liong-hwe.”

“Sesungguhnya memang hanya satu orang yang benar¬benar berharap Toan Giok mati,” ucap

Lu Kiu.

Berkilat mata Hoa Hoa-hong, tiba-tiba serunya, “Ah, jangan-jangan Ku-tojin adalah Liong-thau

Lotoa!”

“Dia tak lebih hanya seorang Lopan warung arak kecil, tapi setiap bertaruh bisa kalah berpuluh

laksa tahil perak, darimana dia memperoleh uang sebanyak itu?”

 

Mendadak Hoa Hoa-hong mendongakkan kepala. Sambil melotot ke arah Toan Giok, tegurnya,

“He, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau tidak berbicara?”

Toan Giok tertawa.

“Karena apa yang ingin kukatakan telah kalian katakan semua!”

Lu Siau-hun yang selama ini hanya menunduk, tiba-tiba mendongakkan kepala sambil berkata,

“Waktu itu, dalam keadaan setengah sadar, aku memang melihat ada sesosok bayangan manusia

berlengan tunggal, bahkan aku seperti mendengar ia ia cekcok ramai dengan nona Hoa.”

“Senjata rahasia itu dilancarkan dari belakang tubuhmu,” kata Hoa Hoa-hong. “Bisa jadi orang

yang melepaskan senjata rahasia itu adalah dia.”

Sekali lagi Lu Siau-hun menundukkan kepala dan tidak bicara lagi.

Hoa Hoa-hong memutar sepasang biji matanya, setelah termenung sesaat, kembali ujarnya,

“Jika Ku-tojin benar-benar adalah Liong-thau Lotoa, saat ini dia pasti tak akan pulang ke rumah.”

“Kenapa?” tanya Lu Kiu.

“Sebab dia sudah tahu kalau kami tempatkan Hoa Ya-lay sebagai satu-satunya titik terang.

Dengan tabiatnya, dia pasti akan mendahului kita dan berusaha membunuh Hoa Ya-lay untuk

melenyapkan saksi!”

Paras muka Lu Siau-hun yang pucat kini semakin memucat, bahkan bibir pun tampak mulai

Hoa Hoa-hong sengaja tidak memandang ke arahnya, ujarnya lebih jauh, “Oleh karena itu

sekarang juga kita harus pergi mencari Ku-tojin, membuktikan apakah dia berada di rumah atau

tidak!”

“Dia tak akan berada di sana,” tiba-tiba Toan Giok menyela sambil tertawa tergelak.

“Darimana kau bisa tahu kalau dia tak ada di rumah?”

“Karena Lu-kiuya datang kemari dengan menguntit kita berdua, tapi di belakang Lu-kiuya pun

masih ada seseorang lain yang ikut menguntit sampai di sini!” jawab Toan Giok hambar.

“Ku-tojin?” seru Hoa Hoa-hong cepat.

Toan Giok tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia berpaling, memandang sekejap daun jendela

di luar sana, lalu sambil tersenyum, ujarnya, “Kalau sudah datang kemari, kenapa tidak masuk ke

dalam untuk minum barang dua cawan arak?”

Suasana di luar jendela sangat hening, hanya kabut yang terbang rendah di atas permukaan

Tapi begitu Toan Giok selesai menegur, dari bawah jendela segera berkumandang suara gelak

tertawa yang amat keras.

“Bocah muda, ternyata kau memang hebat, tampaknya selama ini aku terlalu rendah

menilaimu!”

Itulah suara gelak tertawa Ku-tojin.

Tapi gelak tertawanya kali ini terdengar sangat aneh dan tersisip suatu nada yang sukar

Ternyata Ku-tojin benar-benar telah muncul.

Walaupun dia masih tertawa, namun paras mukanya telah berubah pucat-pias, sinar matanya

tersisip nada ejekan yang penuh kepedihan dan sadis, dia seakan menganggap dirinya seperti

seekor serigala yang telah masuk perangkap pemburu.

Toan Giok memandangnya sekejap, tiba-tiba menghela napas, ujarnya, “Kau sama sekali tidak

menilai diriku terlalu rendah, kau telah menilai rendah dirimu sendiri.”

“0, ya?”

“Kau tidak seharusnya datang kemari!”

 

“Kenapa?” tanya Ku-tojin.

“Bila sekarang kau balik ke rumah, saat ini kau sudah berbaring nikmat di atas ranjangmu, tak

seorang pun di dunia ini yang bisa membuktikan kalau kaulah yang telah membokong Lu-kongcu.”

“Aku sendiri pun tahu akan hal ini, tapi bagaimana pun juga aku tetap harus datang kemari.”

“Kenapa?” tak tahan Toan Giok bertanya.

“Karena Lu Siau-hun belum mati, sedang kau pun tidak mati.”

“Bila kami tidak mati, berarti kaulah yang harus mati!”

Sekulum senyuman pedih menghiasi ujung bibir Ku-tojin, sahutnya, “Kau sendiri pun pernah

berkata, bagi orang yang bekerja untuk Cing-liong-hwe, kegagalan merupakan kematian, meski

melakukan sedikit kesalahan pun, hasilnya tetap sama, mati!”

Perkataan itu memang pernah diucapkan Toan Giok, diutarakan sewaktu berada di ruang layon

Thiat Sui.

Ternyata Ku-tojin teringat semua perkataan itu dengan jelas, bahkan teringat kata per kata.

“Jadi kau telah mengakui bahwa dirimu adalah Liong thau Lotoa tempat ini?” sela Hoa Hoahong

“Setelah keadaan berkembang jadi begini, buat apa aku mesti menyangkal!” sahut Ku-tojin.

“Jadi kau memang sudah berniat mencari mati?” tanya Toan Giok sambil menatap tajam

Ku-tojin menghela napas sedih.

“Bagiku, lebih baik mati di tangan kalian daripada harus mati di tangan pelaksana hukuman

Cing-liong-hwe.” “Bagaimana dengan Hoa Ya-lay?” tanya Hoa Hoa-hong.

“Mengapa kalian tidak berpikir, kalau benar dia adalah satu-satunya titik terang kalian,

mungkinkah aku akan

membiarkan dia hidup terus?”

Mendadak Lu Siau-hun melompat bangun, jeritnya dengan suara parau, “Kau … kau telah

membunuhnya untuk melenyapkan saksi?”

“Kenapa? Kau ingin membalas dendam baginya?” ejek Ku-tojin dingin.

Mendadak terlihat cahaya pisau berkelebat, sebilah pisau yang tajam telah menghujam hulu

Dia belum roboh, masih memandang Lu Siau-hun dengan pandangan dingin, katanya dengan

suara dalam, “Aku telah menyelamatkan dia, seharusnya kau berterima kasih kepadaku, aku ….”

Dia tak sempat melanjutkan kata-katanya karena darah segar telah menyembur keluar dari

lubang mata, telinga, mulut, serta hidungnya.

Langit sudah mulai terang.

Secercah cahaya fajar mulai muncul di ufuk timur, memancar masuk melalui daun jendela dan

menyinari

Akhirnya dia roboh ke tanah.

Perubahan ini berlangsung sangat tiba-tiba, kematiannya pun terjadi sangat mendadak.

Suatu peristiwa yang aneh dan penuh misteri, ternyata berakhir secara tiba-tiba begitu saja.

Memandang mayat yang membujur kaku di lantai, sorot mata aneh seolah-olah muncul dari

balik mata Toan Giok, gurnamnya, “Kau tidak seharusnya mati, kenapa kau harus mati!”

“Kalau dia tak pantas mati, apakah kau yang pantas mati?” tak tahan Hoa Hoa-hong menyela.

Toan Giok menghela napas, ternyata dia mengakuinya, “Aku memang sepantasnya mati!”

Tiba-tiba ia berpaling, memandang wajah Lu Siau-hun, kemudian mengucapkan perkataan yang

sangat aneh, “Ketika terakhir kali kau melihat Hoa Ya-lay, apakah dia sedang memancing ikan?”

Lu Siau-hun manggut-manggut.

 

Kembali dia merasa amat tercengang, sebab dia tak menyangka kalau Toan Giok bisa

mengetahui hal ini.

***

Matahari sudah berada di tengah angkasa, hari ini udara bersih dan amat cerah.

Pintu gerbang warung arak milik Ku-tojin sudah terbuka setengah, si pelayan kudisan yang

aneh itu sedang menyapu lantai depan pintu.

Gentong arak besar serta bangku kecil memang berada di luar warung sepanjang malam. Toan

Giok, Lu Siau-hun, Hoa Hoa-hong sedang duduk mengelilingi gentong arak.

Si kudis sama sekali tidak memandang ke arah mereka, melirik pun tidak, tapi mulutnya

mengomel tiada hentinya.

“Sekalipun benar-benar setan arak, tidak seharusnya datang sepagi ini untuk minum arak!”

“Mana Lopanniomu?” tiba-tiba Toan Giok menegur.

“Masih tidur.”

“Mana Lopanmu?” kembali Toan Giok mengajukan pertanyaan yang aneh.

“Masih tidur juga.”

Toan Giok membungkam dan tidak berkata apa-apa lagi.

Mereka berempat pun duduk dengan tenang, duduk menanti, siapa pun tak tahu sebenamya

apa yang sedang mereka nantikan?

Air muka mereka berat dan murung, menyampaikan sebuah berita kematian kepada istrinya

memang bukan pekerjaan yang menyenangkan.

Matahari sudah semakin meninggi.

Hoa Hoa-hong mulai hilang kesabarannya, dia mulai gelisah dan tak sanggup menahan diri,

gadis itu seakan hendak mengatakan sesuatu.

Apa yang ingin diucapkan akhirnya tak jadi disampaikan, karena secara tiba-tiba ia menjumpai

ada seseorang sedang memperhatikan mereka.

Terlepas siapa pun, setelah melihat orang ini, tak tahan mereka pasti akan memandangnya

beberapa kejap.

Tentu saja orang ini adalah seorang wanita, seorang perempuan yang lincah, bukan saja cantik,

bahkan anggun dan pandai berdandan.

Pakaian yang dikenakan sangat indah dan mewah, sebuah gaun hijau tua yang dikombinasikan

dengan gaun sutera yang panjang.

Gaun yang putih bersih bagai salju bukan saja terbuat dari bahan kain berkualitas tinggi,

jahitannya pun rajin dan bersih, perpaduan warna yang amat serasi.

Akhirnya Lopannio warung arak itu muncul.

Dandanannya sekarang sama persis seperti dandanannya ketika pertama kali Toan Giok

Hanya saja mimik wajahnya sama sekali berbeda.

Kini wajahnya sudah tak dihiasi senyuman manis dan memikat.

Ia menatap mereka, perlahan-lahan berjalan mendekat. Toan Giok dan Lu Kiu telah bangkit,

tapi mereka nampak

sangsi, seakan tak tahu bagaimana harus menyampaikan berita duka ini kepadanya.

Ternyata dia pun tidak membutuhkan pemberitahuan itu, tiba-tiba perempuan itu tertawa,

tertawa pilu, katanya lembut,

“Apakah kalian hendak memberitahu kepadaku, mulai sekarang aku telah menjanda?”

Toan Giok manggut-manggut.

“Darimana kau bisa tahu?” tak tahan Lu Kiu bertanya.

“Aku bisa melihatnya,” sahut Tosu perempuan sambil tertawa pedih.

 

“Kau dapat menebaknya dari perubahan mimik muka kami?”

“Aku telah mengetahuinya sejak awal,” sahut Tosu perempuan pilu. “Belakangan ini, dia dia

sering uring-uringan dan seperti kehilangan semangat, seolah dia sudah tahu kalau bencana besar

bakal menimpa dirinya!”

Meskipun mimik wajahnya masih tetap tenang dan tegar, namun air mata telah membasahi

kelopak matanya.

Tiba-tiba ia berpaling, lalu ujarnya, “Kalian cukup beritahu kepadaku, kemana aku harus

mengambil jenazahnya. Perkataan lain tak usah dibicarakan lagi!”

Toan Giok sama sekali tak peduli dengan perkataan itu, malah katanya, “Ketika pertama kali

melihatmu, kau pun muncul secara tiba-tiba, persis seperti hari ini!”

Tosu perempuan tidak berpaling, hanya dengusnya dingin, “Apakah setiap kali hendak keluar,

aku harus menabuh genderang lebih dulu untuk memberitahu kepadamu?”

“Kau sebetulnya bukan keluar, tapi pulang,” tugas Toan Giok.

Ditatapnya gaun putih saljunya, kemudian perlahan lahan terusnya, “Peduli siapa pun yang

baru keluar dari dalam, tak nanti dia akan sebersih ini.”

Mendadak Tosu perempuan berpaling, sambil melotot gusar, katanya, “Sebenarnya apa yang

ingin kau sampaikan?”

“Ai, aku hanya ingin memberitahu kepadamu, suamimu tidak seharusnya mati!” kata Toan Giok

sambil menghela napas.

“Apakah kau yang seharusnya mati?”

Ternyata Toan Giok mengakui.

“Benar, karena aku seharusnya sudah tahu siapakah kau!”

“Siapakah aku?”

“Hoa Ya-lay!” jawab Toan Giok sepatah demi sepatah,

“Kau adalah Hoa Ya-lay, kau juga Liong-thau Lotoa tempat ini!” Sekali lagi Tosu perempuan

melotot gusar ke arahnya, tiba-tiba ia tertawa, senyumannya berubah jadi begitu cantik dan

menawan seperti dahulu.

Sekujur badan Lu Siau-hun tiba-tiba mengejang keras dan berubah jadi kaku.

“Ketika untuk pertama kali melihatmu, dalam hatiku telah muncul semacam perasaan yang

sangat aneh,” kata Toan Giok. “Aku selalu merasa seolah dahulu pernah bertemu denganmu.”

Tosu perempuan hanya mendengarkan, dia seakan sedang mendengarkan orang lain

menceritakan suatu kisah yang sangat menarik.

Terdengar Toan Giok berkata lebih jauh, “Setiap kali kau muncul di tempat ini, tampilanmu

selalu mirip sekuntum bunga segar yang baru saja dipetik, karena pada malam hari kau tak pernah

berada di sini.”

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya, “Karena kau adalah Hoa Ya-lay. Begitu malam

tiba, kau harus keluar rumah untuk menyebar bau harummu. Di tengah malam buta, di bawah

cahaya lentera, tentu saja tak akan ada orang yang bisa mengenali penyaruanmu, semakin tak

mungkin ada orang yang menduga kalau di pagi hari kau adalah Lopannio warung arak, apalagi

kalau saat itu orang lain sudah keburu dibuat mabuk oleh bau harum semerbak tubuhmu.”

“Tampaknya kau sedang mabuk?” tegur Tosu perempuan sambil melirik ke arahnya.

Toan Giok tertawa getir.

“Aku memang pemah mabuk, untung saja segera mendusin.”

“Sejak kapan kau telah mendusin?”

“Mungkin selama ini aku seperti sadar tak sadar, tapi setelah melihat peti mati yang berisikan

Thiat Sui, aku langsung setengah sadar, begitu melihat Ku-tojin terkapar bersimbah darah, aku

baru benar-benar tersadar.”

 

“Kenapa?”

“Karena Thiat Sui tak mungkin mati di tangan Ku-tojin, aku cukup mengetahui ilmu silatnya, Kutojin

tak nanti bisa melukai seujung rambutnya.”

“Memangnya tak mungkin terjadi peristiwa di luar dugaan?”

“Tak mungkin!” jawab Toan Giok, tambahnya, “Thiat Sui memang orang yang besar rasa

curiganya, dia tak akan percaya pada siapa pun. Terhadap Ku-tojin pun tidak mempunyai kesan

baik, maka Ku-tojin pada hakikatnya tak mungkin bisa mendekati dirinya.”

Kalau untuk mendekati pun tak mungkin, tentu saja semakin mustahil untuk membunuhnya

secara mendadak, apalagi membokongnya.

Kembali Toan Giok berkata, “Aku pun tahu Lu Siau-hun tidak mungkin dibokong oleh Ku-tojin.”

“Kenapa?”

“Sebab mata kail bukanlah senjata. Bila ingin melukai orang menggunakan kail ikan, maka di

atas kail pasti ada benangnya dan saat itu yang sedang memancing ikan bukan Ku-tojin,

melainkan Hoa Ya-lay.”

Ternyata pertanyaan yang dia ajukan kepada Lu Siau-hun tadi bukanlah pertanyaan yang aneh,

rupanya dia memang mempunyai tujuan tertentu.

“Itulah sebabnya aku tak habis mengerti,” kata Toan Giok, “Kalau memang semua perbuatan

itu bukan dia yang lakukan, kenapa Ku-tojin harus memikul semua dosa dan tanggung jawabnya?”

“Bukankah kau telah memahami? Bagaimana pula penjelasannya?” tanya Tosu perempuan.

“Dia berbuat begitu tak lain karena ingin mewakili orang lain memikul dosa dan tanggungjawab

itu, seorang lelaki yang romantis memang tak akan sayang mengorbankan diri demi wanita

yang disukai dan dicintainya.”

Dengan sedih lanjutnya, “Seorang lelaki romantis bila tahu istrinya adalah wanita semacam Hoa

Ya-lay, kenyataan ini sudah pasti akan menjadi persoalan yang amat menyakitkan hati. Oleh

karena itu dia tak segan mengantar nyawa sendiri guna mengakhiri semuanya ini.”

Bukannya terharu, Tosu perempuan malah tertawa, katanya, “Hanya berdasarkan beberapa

petunjuk itu, kau sudah menuduh aku adalah Hoa Ya-lay?”

“Aku dapat melihat kalau wanita yang benar-benar dicintainya hanyalah kau, aku pun dapat

melihat di dunia saat ini hanya ada semacam orang yang dapat membunuh Thiat Sui.”

“Manusia macam apa?”

“Perempuan, perempuan macam kau!”

“Tapi kenapa aku harus membunuhnya?”

“Karena kemungkinan besar dia adalah petugas yang dikirim Cing-liong-hwe untuk mengawasi

gerak-gerikmu. Kau merasa kehadirannya merupakan sebuah ancaman bagimu, maka kau

gunakan kesempatan ini untuk membunuhnya, kemudian melimpahkan semua kesalahan ini

kepadaku.”

Kembali Tosu perempuan tertawa, hanya kali ini suara tawanya sedikit dipaksakan.

“Sebetulnya perangkap ini merupakan sebuah jebakan yang amat rumit. Kau berencana akan

menyeret semua orang yang ada masuk ke dalam perangkap ini, sayangnya setelah dihitung

pulang-pergi, kau masih tetap kekurangan satu hal.”

“Hal apa?” tak tahan Tosu perempuan bertanya.

“Perasaan,” jawab Toan Giok. “Kau tak memperhitungkan perasaan manusia, karena kau

sendiri memang hidup tanpa perasaan.”

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, “Justru karena manusia punya perasaan, maka Lukiuya

baru mempercayai aku, maka Lu Siau-hun berhasil kuselamatkan, maka Ku-tojin matt demi

kau, maka aku pun berhasil mengetahui rahasiamu.”

 

Waktu itu, seandainya Lu Kiu bekerja sama dengan Thiat Sui, niscaya Toan Giok sudah tewas

dalam ruang perahu.

Lu Siau-hun pun ikut tewas di dalam peti kayu.

Kembali Toan Giok menghela napas, katanya, “Ku-tojin ingin aku mati karena dia tahu aku pun

pernah mabuk, maka dia cemburu, sama persis seperti perasaan dia ketika menemukan kau

berada bersama Lu siau-hun.”

Itulah sebabnya, di saat Lu Siau-hun tak sadarkan diri, ia sempat mendengar suara cekcok Kutojin

dengan Hoa Ya-lay, apa yang didengarnya memang tak salah.

Dengan tenang Tosu perempuan mendengarkan semua uraian itu, sinar matanya seolah

sedang memandang tempat kejauhan, tiba-tiba dia menghela napas panjang.

“Aku memang telah salah memperhitungkan satu hal, hanya saja kau tak pernah akan mengira

kesalahan apa yang telah kulakukan.”

“0, ya?”

Lagi-lagi Tosu perempuan menghela napas panjang.

“Menyaksikan caramu membayar rekening makan sebesar satu tahil tujuh renceng serta

sikapmu yang kasar dan serba salah, sebetulnya kusangka kau hanya seorang telur busuk yang

suka mencampuri urusan orang lain.”

Tentu saja Toan Giok masih teringat jelas kejadian pada hari itu.

Dia terburu-buru mengeluarkan kantung uangnya, lalu dalam gugup dan tergesa-gesanya

karena kurang hati-hati, uang kertas serta daun emasnya terjatuh ke atas geladak. Dalam satu

hari saja dia sekaligus telah melanggar empat pantangan besar dari Toan-loyacu.

Bukan saja dia telah membuat onar, dia pun bermusuhan dengan kaum pendeta, memamerkan

harta kekayaannya, bahkan berhubungan dengan wanita asing.

Mimpi pun dia tak menyangka kalau gara gara-kejadian itu, bencana dapat berubah jadi

“Karena kau telah menyinggung peristiwa itu, aku pun jadi teringat akan satu hal.”

“Soal apa?”

“Masa kau tidak tahu? Kau harus mengembalikan uang kertasku senilai seribu tahil perak.”

Lalu setelah tertawa lanjutnya, “Kedua orang itu pasti kaulah yang sengaja mengirim ke sana,

tujuannya tak lain agar aku menyangka Thiat Sui adalah Lotoa tempat ini, kau ingin aku

beranggapan bahwa Liong-thau Lotoa dan Hoa Ya-lay adalah dua orang yang berbeda.”

“Darimana kau bisa tahu?” tak tahan Hoa Ya-lay bertanya.

“Bila anggota Cing-liong-hwe adalah setan bodoh yang begitu ceroboh, perkumpulan naga hijau

tak akan menjadi organisasi yang sangat menakutkan.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hoa Ya-lay mengembalikan seribu tahil uang kertas itu.

Bukan hanya mengembalikan uang kertas, bahkan dia pun menyerahkan setumpuk daun emas.

“Inilah hasil kemenanganmu, jadi kau seharusnya membawanya pergi,” kata Hoa Ya-lay.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya, “Sekarang kau masih ada pertanyaan lagi?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” tanya Hoa Ya-lay tercengang.

“Walaupun kau ingin mencelakai kami, kenyataannya kami masih tetap hidup. Walaupun kau

telah melakukan kesalahan, tak perlu kami yang memberi hukuman kepadamu, karena sidang

pengadilan dari Cing-liong-hwe mungkin sudah dipersiapkan untuk mengadili dirimu. Sedangkan

mengenai Kiau-losam dan Ong Hui apakah merupakan anak buahmu atau bukan, hal ini sama

sekali tak ada sangkut-pautnya dengan diriku.”

Setelah tertawa, kembali terusnya, “Biarpun aku suka mencampuri urusan orang, namun

urusan yang tak sepantasnya kucampuri, tak akan kucampuri.”

 

Inilah perkataan terakhir yang dia katakan.

Lu Siau-hun pun tidak berkata apa-apa, karena ayahnya telah menggenggam tangannya eraterat.

Mereka semua telah pergi, pergi tanpa berpaling.

Hoa Ya-lay hanya memperhatikan mereka, tubuhnya sama sekali tak bergerak, karena dia tahu,

pada hakikatnya dia memang tak punya jalan lagi untuk pergi.

Cahaya rembulan bening bagaikan cermin, permukaan air telaga pun bersih bagaikan cermin, di

balik cermin terlihat rembulan nan purnama.

Dengan termangu Hoa Hoa-hong mengawasi rembulan di atas permukaan air, tiba-tiba dia

menghela napas panjang. “Hari ini sudah tanggal dua belas.”

“Ehm?”

“Sebelum tanggal lima belas bulan empat, kau harus sudah tiba di Po-cu-san-ceng?”

“Ehm!”

“Oleh sebab itu besok pagi kau harus berangkat.”

Kali ini tiada suara yang muncul dari kerongkongan Toan Giok, tiba-tiba saja ia merasa hatinya

kecut, tenggorokannya seolah tersumbat oleh sesuatu benda.

Segulung angin berhembus, menggoyang permukaan air, bulan purnama di atas permukaan

pun hancur berantakan. “Apakah kau tetap akan mengantar Bi-giok-to itu ke Po¬cu-san-ceng?”

tiba-tiba Hoa Hoa-hong bertanya.

Toan Giok mengangguk.

“Bolehkah aku melihatnya sebentar?” pinta Hoa Hoa hong.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Toan Giok melolos Bi-giok-to itu. Di bawah sinar

rembulan, golok itu tampak hijau mulus sehijau permukaan air telaga.

Dengan termangu, Hoa Hoa-hong mengawasi senjata itu, kembali tanyanya, “Apakah golok ini

akan menjadi tanda pertunanganmu?”

Toan Giok tidak menjawab, dia tak tega untuk menjawab.

Sebenarnya dia ingin berkata, “Walaupun golok ini akan kugunakan sebagai tanda

pertunangan, tapi aku belum tentu berminat dengan pertunangan ini.”

Sayang sebelum dia mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba Hoa Hoa-hong mengayun tangannya

dan melempar Bi-giok-to itu ke tengah telaga.

Golok itu merupakan golok mestika keluarga Toan. Bila sampai hilang, akibatnya tak bisa

terbayangkan oleh siapa pun, termasuk Toan Giok sendiri.

Maka tanpa pikir panjang, dia terjun ke dalam air telaga. Dia harus menemukan kembali golok

kumala hijau itu. Tentu saja ia tak berhasil menemukannya!

Bila ingin menemukan sebilah Bi-giok-to yang begitu kecil di tengah telaga yang luas, pada

hakikatnya sama seperti mencari jarum di tengah samudra. Suatu hal yang tak mungkin terjadi.

Menanti dia muncul kembali di atas permukaan, Hoa Hoa-hong telah lenyap.

Perasaannya saat itu benar-benar amat tersiksa, jauh lebih menderita daripada kehilangan

golok kumala hijau warisan leluhurnya.

Karena dia tahu, dalam kehidupan berikutnya, tak mungkin ia dapat bertemu lagi dengan gadis

Di tengah kehidupan masyarakat yang begitu luas, harus pergi kemana mencari gadis itu?

Bukankah hal ini sama sulitnya seperti mencari Bi-giok-to di dasar telaga yang luas?

Angin kembali berhembus, menimbulkan riak-riak di atas permukaan telaga.

***

 

Sejak semula Toan Hui-him Loyacu telah tiba di Po-cu-san ceng. Bagaimana pun dia merasa tak

lega membiarkan putranya pergi seorang diri, apalagi kepergiannya kali ini adalah kepergiannya

yang pertama.

Saat itu dia sedang duduk bersanding dengan Cu Gwan, Cu-jiya di ruang utama perkampungan.

Menyaksikan putra kesayangannya ini, selembar wajah yang pada dasarnya sudah kereng dan

serius, kini seakan berubah hijau membesi.

“Bukankah aku menyuruh kau menyerahkan Bi-giok-to itu ke tangan Jisiokrnu?”

“Benar,” Toan Giok tertunduk lesu.

“Bukankah aku telah memberitahu kepadamu, lebih baik kehilangan batok kepala daripada

kehilangan Bi-giok-to?” kembali Toan loya menegas.

“Benar!”

“Sekarang dimana golok itu?”

Toan Giok bukan saja tak berani mendongakkan kepala, bahkan bemapas keras pun tak berani.

Paras muka Cu Gwan Cu-jiya jauh lebih lembut dan ramah, segera tanyanya, “Bukankah golok

itu selalu berada bersamamu, kenapa mendadak bisa hilang?”

“Aku aku aku memang kurang hati-hati, semua ini merupakan kesalahanku.”

“Bukan kesalahan orang lain?”

“Bukan.”

Cu-jiya menatapnya, sorot mata maupun mimik wajahnya kelihatan sangat aneh. Mendadak

ujarnya, “Bukankah kau pemah berkata, seorang lelaki, demi perempuan yang sangat dicintainya,

tak segan memikul semua dosa dan kesalahannya?”

Dengan terperanjat Toan Giok mendongakkan kepala, dia benar-benar tak habis mengerti

darimana Cu-jiya bisa tahu perkataannya itu.

Cu-jiya tertawa, suara tawanya pun sangat aneh, tiba-tiba tanyanya lagi, “Apakah kau benarbenar

menyukainya?”

Sambil berkata, dia menunjuk ke arah seseorang yang baru saja muncul dari belakang ruangan.

Seorang gadis bermata besar dan selalu mengernyitkan hidung sebelum tertawa.

“Hoa Hoa-hong!” hampir saja Toan Giok tak kuasa menahan diri untuk berteriak, dia benarbenar

tak menyangka Hoa Hoa-hong bisa muncul di tempat itu.

Tampak Hoa Hoa-hong mengernyitkan hidungnya yang kecil, lalu tertawa lebar, ujarnya, “Kalau

Tosu perempuan pun bisa menjadi Hoa Ya-lay, kenapa Hoa Hoa-hong tak bisa menjadi Cu Cu?”

Akhirnya Toan Giok mengerti.

Sekarang dia tahu mengapa Hoa Hoa-hong muncul pada saat yang begitu kebetulan, mengapa

dia selalu mencampuri urusannya.

Temyata dia secara pribadi sedang pergi menguji dan memeriksa watak calon suaminya, dia

ingin tahu orang macam apakah bakal suaminya itu.

Tapi ada satu hal yang Toan Giok tidak mengerti, maka tanyanya, “Mengapa kau membuang

Bi-giok-to itu ke dalam telaga?”

Temyata Bi-giok-to tidak berada dalam telaga, tapi masih berada dalam genggaman Cu Cu.

Ternyata golok yang dibuangnya adalah golok palsu. Kontan saja Toan Giok menghela napas

panjang, ujarnya sambil tertawa getir, “Mengapa kau harus membuat aku pa nik?”

“Karena aku sedang minum cuka,” sahut Cu Cu cemberu t.

“Minum cuka siapa?”

“Tentu saja minum cukaku sendiri.”

Temyata Cu Cu sedang minum cuka Hoa Hoa-hong, Hoa Hoa-hong pun sedang minum cuka Cu

Cu. Kalau sudah begini, bagaimana caramu menyelesaikan hutang-piutang ini?

 

Toan Giok telah menjadi seorang Enghiong yang amat tersohor di wilayah Kanglam, bahkan

sudah menikah dengan Cu Cu.

Namun perasaan Toan-loyacu tetap uring-uringan. Setiap hari dia bermuram-durja, bahkan

seringkali menghela napas seorang diri.

Tentu saja semua orang merasa keheranan, begitu juga dengan Cu-jiya.

“Aku benar-benar tak habis mengerti, persoalan apakah yang sebenarnya membuat hatimu tak

suka?”

“Hanya ada satu hal,” jawab Toan Hui-him.

“Kalau begitu cepat katakan, aku benar-benar ingin tahu.”

Toan Hui-him menghela napas panjang, katanya, “Sewaktu Toan Giok akan meninggalkan

rumah, aku telah memberi tujuh pantangan besar kepadanya, minta dia jangan melanggar ketujuh

pantangan itu, tapi kenyataannya dia telah melanggar semua pantangan itu!”

“Tapi aku lihat dia sama sekali tak menderita kerugian, juga tak dipusingkan masalah yang

pelik, bahkan karena itu dia berhasil menyingkap rahasia Cing-liong-hwe yang berniat

mencelakainya dan mempunyai banyak teman.”

Setelah tersenyum kembali, ujarnya, “Lagi pula bila dia tidak berbuat begitu, belum tentu

putriku mau menikah dengannya semudah itu.”

Toan Hui-him tetap menghela napas, katanya, “Justru karena itu maka aku merasa tak suka!”

“Kenapa?” Cu-jiya semakin tak mengerti.

“Coba bayangkan, aku menyuruh dia tidak melakukan hal-hal itu, tapi dia telah melanggar

semuanya. Gara-gara itu bukan saja dari bencana dia jadi mujur, bahkan telah menjadi seorang

Enghiong besar dan menikahi seorang gadis cantik.”

Dia menggeleng kepala berulang kali, terusnya sambil menghela napas panjang, “Coba

bayangkan sendiri, apakah selanjutnya dia mau menuruti semua perkataanku?”

Cu-jiya kembali tertawa, tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, bila lantaran persoalan ini kau jadi

tak suka, maka tindakanmu itu keliru besar!”

“Aku salah? Aku salah? Kau malah mengatakan aku salah?” Toan-loyacu gusar.

“Ada orang yang sejak lahir sudah pemberani, ada orang yang sejak lahir sudah pintar, Iincah

dan cekatan, tapi tak ada yang bisa menandingi orang yang sejak lahir sudah mujur. Putramu

adalah orang yang mujur sejak lahir, oleh karena itu selama hidup dia pasti akan lebih gembira

dan bahagia daripada orang lain, apalagi yang membuatmu tak gembira?”

Oleh karena itu senjata yang dimaksud bukanlah Bi-giok¬jit-seng-to, tapi kejujuran.

Hanya orang yang jujur baru memiliki nasib mujur!

Nasib Toan Giok mujur, karena dia belum pernah membohongi seorang pun, juga belum pemah

berbohong satu kali pun, kendati di saat sedang berjudi.

Oleh karena itu dia dapat mengalahkan Cing-liong-hwe. Keberhasilannya bukan lantaran dia

memiliki Bi-giok-jit-seng-to, melainkan karena dia memiliki kejujuran.

TAMAT

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s