Serial Rumah Judi – Elang Pemburu (Seri 1)

New Picture (2)

 

Serial Rumah Judi – Elang Pemburu (Seri 1)

Karya : Khu Lung

Saduran : Tjan I.D

Asap Ungu yang Membunuh

Menjelang fajar. Suasana masih hening, sepi, kegelapan masih menguasai seluruh jagad. Angkasa masih diliputi warna keabu-aban, awan juga berwarna abu-abu, kota besar yang masih tenggelam dalam lelap tidurnya belum lagi mendusin. Beribu-ribu buah rumah masih nampak seperti selapis tinta yang sangat tawar, membuat seluruh warna yang ada terlebur dalam selapis warna kelabu yang amat luas.

Dari kejauhan sana terdengar suara anjing yang menggonggong, di bawah lapisan kelabu yang semakin mengental tiba tiba terlihat asap tebal muncul di kejauhan sana. Asap berwarna ungu.

Ruang kamar itu terletak di atas sebuah loteng kecil. Sebuah loteng letaknya

selalu lebih tinggi bila dibandingkan bangunan di sekelilingnya, orang harus

menaiki belasan anak tangga untuk bisa sampai dalam ruangan.

Pintu ruangan amat sempit, tangga, loteng juga sempit, tapi tata ruangan sangat

bersih dan rapi, daun jendela pun sangat lebar sehingga bila melongok dari balik

jendela kita bisa menyaksikan pemandangan seluruh kota.

Saat itu ada tiga orang sedang duduk di tepi jendela sambil mengawasi

pemandangan seluruh kota.

Orang pertama adalah seorang lelaki setengah umur berperawakan gemuk,

matanya panjang, wajahnya kotak, pakaiannya sangat rapi hingga nampak

sangat berwibawa. Jari tanganriya lembut dan halus dengan kuku yang panjang

tapi terawat rapi. Jelas orang ini jarang sekali melakukan pekeraan kasar di

waktu biasa.

Orang kedua adalah seorang kakek kurus kecil, berhidung bengkok seperti

elang, mata segitiga tapi bersinar tajam dan lengan penuh berotot, satu tampang

orang yang sudah terbiasa hidup berbanting tulang bahkan jelas menguasai ilmu

sebangsa Eng-jiau-kang (ilmu cakar elang).

Orang ke-tiga masih muda sekali, wajahnya putih bersih, alisnya tajam dengan

mata yang lebar, dia adalah seorang pemuda tampan. Selain sebuah kemala

yang menghiasi konde rambutnya, tak nampak perhiasan lain di seluruh

 

Biarpun tingkah lakunya sangat halus dan lembut, namun dua orang rekannya

meski berusia lebih tua, sikap mereka terhadapnya ternyata sangat menaruh

Mereka bertiga telah melihat munculnya asap ungu itu, paras muka mereka

nampak berubah hebat…

“Komandan Sin, kau tahu asap itu berasal dari daerah mana?” tiba-tiba lelaki

setengah umur itu bertanya.

Dengan sorot mata yang tajam bagai mata kail, kakek kurus kecil itu mengawasi

sekejap daerah asal asap itu, kemudian setelah berpikir sejenak, sahutnya,

“Kalau dilihat arahnya, kemungkinan besar asap itu berasal dari daerah sekitar

Ma yu mo, distrik Oh khee Kiau. Kalau meleset pun paling banter selisih satu

dua gang.”

Dia sudah tigapuluh dua tahun lamanya bertugas di tempat ini, dimulai sebagai

penjaga berpangkat rendah hingga sekarang berpangkat komandan polisi. Tentu

saja dia sangat menguasai daerah sekitar tempat itu, jauh melebihi siapa pun.

Walaupun pemuda tampan itu baru malam itu muncul di sana, tampaknya dia

sangat percaya dengan lelaki setengah umur itu. Tanpa bertanya lagi ia segera

bangkit berdiri seraya berseru, “Ayo kita berangkat!”

Tenyata dugaan Komandan Sin memang tepat sekali.

Asap ungu itu memang benar benar berasal dari daerah Ma yu mo, distrik Oh

Khee Kiau, tepat nya berasal dari sebuah rumah di dalam sebuah lengkong kecil.

Rumah itu sangat sederhana dan merupakan sebuah rumah kuno dengan lima

buah bilik. Bangunannya cukup kokoh, ruang dapurnya juga istimewa luasnya,

cerobong asap dibuat sangat tinggi, itulah sebabnya asap ungu yang memancar

keluar dari cerobong itu bisa menyebar sampai ke daerah yang luas.

Namun ketika Komandan Sin bertiga tiba di tempat itu, asap, sudah mulai

muncul dari setiap rumah di sekitar sana, sementara asap ungu tadi justru

hampir padam. Kini tinggal asap yang tipis muncul di udara membentuk satu

lapis kabut yang tipis sekali.

“Adakah seseorang di sini?”

Rumah itu kosong, tak ada penghuninya.

Tungku masih terasa hangat, di atas tungku itu sedang ditanak satu baskom

bubur kentang yang masih mengepulkan uap panas. Di atas sebuah meja bulat

yang terbuat dari kayu putih tersedia empat macam sayur, sepiring ayam kecap,

sepiring rebung cah, sepiring cah sayur ditambah sepiring tahu kecap yang

merupakan menu istimewa daerah Ma yu mo.

Selain itu tampak juga sepasang sumpit dan sebuah mangkuk yang masih

tersisa sedikit bubur di dalamnya.

 

Kemana perginya penghuni rumah itu? Mungkinkah dia sudah pergi dari situ

setelah memasak dan sarapan pagi?

“Santai betul kerja orang ini,” seru lelaki setengah umur itu sambil tertawa

“Kalau seseorang sudah kelewat banyak membunuh orang, maka dalam

mengerjakan pekerjaan yang lain pun dia tak akan terburu buru,” sambung

pemuda tampan itu tawar.

Mendadak lelaki setengah umur itu merasa seperti ke¬dinginan, dia berjalan

mendekati bangku api kemudian baru bertanya kepada Komandan Sin, “Kau

menemukan sesuatu?”

Kakek itu sedang mengorek sesuatu dari dalam tungku api dan saat itu sedang

memeriksanya dengan teliti.

“Apa yang terjadi kali ini, persis sama seperti apa yang kita temukan beberapa

kali sebelumnya. Asap ungu itu berasal dari sesuatu bahan yang istimewa,

ketika dibakar bercampur kayu bakar maka akan menimbulkan asap yang khas

cirinya.”

“Bahan apa itu?” tanya si pemuda.

“Mirip bahan yang sering dipakai orang untuk membuat mercon kembang api,”

sahut Komandan Sin, “hanya saja, bahan yang dia gunakan rasanya merupakan

bahan yang khusus dibuat oleh Perusahaan Po yu tong di ibu kota, karena itu

warna yang timbul sangat pekat dan lagi bisa membakar cukup lama.”

lbu kota … ? Perusahaan Po Yutong … ? Mungkinkah orang yang memasang

asap ungu itu datang dari ibu kota?

Pemuda itu berkerut kening, tapi hanya sejenak kemudian ia sudah bersikap

tenang kembali, tanyanya lagi, “Komandan Sin, sudah kali ke berapa

kemunculan asap ungu itu?”

“Ke enam kalinya!”

“Enam kali selalu muncul di tempat yang berbeda?”

“Benar!” Komandan Sin membenarkan, “pertama kali muncul di dalam sebuah

kuil yang berada di pelosok, kali kedua muncul di dalam sebuah gedung

perusahaan yang sudah lama menghentikan kegiatan usahanya, kali ke tiga

sampai kali ini selalu terjadi di dalam sebuah rumah kosong.”

“Enam kali asap ungu muncul di udara, lima lembar nyawa manusia melayang!”

“Betul!”

Nada suara Komandan Sin makin berat dan dalam, wajahnya pun semakin

serius, lanjutnya, “Tiga hari setelah munculnya asap ungu, selalu ada seorang

 

ternama yang mati dibunuh, bahkan dalam setiap kejadian si pembunuh tak

pernah meninggalkan jejak apa pun yang bisa dipakai sebagai titik pelacakan.”

“Bagaimana dengan korbannya?” tanya pemuda itu, “apakah antara kelima

korban pembunuhan itu ada ikatan hubungan tertentu atau mungkin punya

hubungan istimewa lainnya?”

” Tidak ada, sama sekali tak ada,” Komandan Sin menggeleng.

Setelah berpikir sejenak, lanjutnya, “Biarpun kelima orang korban pembunuhan

itu rata rata merupakan orang kenamaan, namun asal usul serta latar belakang

mereka berbeda, boleh dikata di antara mereka tidak saling mengenal apalagi

punya hubungan.”

“Leng kongcu,” tiba tiba lelaki setengah baya itu menyela, “Komandan Sin sudah

tigapuluh dua tahun makan gaji sebagai petugas polisi, analisa serta

penyelidikannya tak bakal keliru.”

“Aku mengerti.”

Tiba tiba sekilas cahaya terang memancar keluar dari balik mata pemuda she

Leng itu, katanya lagi perlahan, “Secara lamat lamat aku hanya merasa bahwa di

antara kelima orang itu pasti mempunyai suatu hubungan atau keterkaitan yang

istimewa, seolah olah nyawa kelima orang itu telah terikat oleh seutas tali yang

tak terlihat, hanya sayang hingga kini kita belum berhasil menemukan tali yang

mengikat mereka berlima itu.”

Pelan pelan dia berjalan mendekati tempat duduk di mana di depannya terletak

mangkuk bubur serta sepasang sumpit itu, lama sekali dia awasi sisa bubur dan

sisa sayur di meja, tiba tiba dia menggerakkan tangannya untuk mengambil

sumpit itu tapi dengan cepat tangannya ditarik kembali, sekilas cahaya terang

memancar dari balik matanya.

Sepasang mata Komandan Sin ikut berkilat.

“Pembunuh adalah orang kidal, ia selalu memakai tangan kiri!”

“Betul!”

“Tampaknya dia agak suka makan tahu kecap.”

Sumpit terletak di sebelah kiri mangkuk, sayur lain sama sekali tak tersentuh,

hanya tahu kecap yang berkurang dan sisanya sekarang pun tinggal tak banyak.

Diam diam Komandan Sin marah dengan diri sendiri, dia tak mengira dengan

pengalaman kerjanya hampir tigapuluhan tahun, ternyata ketelitian serta

kejelian matanya kalah dibandingkan dengan seorang pemuda kemarin sore.

Tak tahan dia pun menghela napas panjang.

 

“Leng kongcu,” katanya, “tak heran semua orang mengatakan bahwa Leng Giok

hong adalah seorang tokoh Lak san bun yang sangat hebat, hari ini hamba

betul-betul percaya dan dibuat sangat kagum! ”

Leng Giok hong berkelit dari sikap hormat orang itu, tiba tiba ia teringat akan

satu pertanyaan yang sangat aneh.

Tak tahan segera tanyanya, “Komandan Sin, dewa apa yang disembah dalam

kelenteng kecil di mana pertama kali asap ungu itu muncul?”

“Dewa uang!”

II. Lagi lagi Dewa Uang

Begitu selesai mengucapkan kata “dewa uang,” diam diam Komandan Sin ikut

merasa terperanjat. Baru sekarang ia teringat akan cerita tentang organisasi

rahasia yang sering didongengkan orang, jangan-jangan rangkaian pembunuhan

yang terjadi saat ini ada hubungannya dengan organisasi rahasia itu?

Walaupun kelima korban pembunuhan itu mempunyai latar belakang serta

pekerjaan yang berbeda, tapi hampir semuanya adalah orang kaya yang memiliki

kekayaan berlaksa laksa banyaknya. Lagipula kematian mereka paling tidak

memiliki satu kesamaan yang serupa.

… Menurut hasil penyelidikan keluarga korban, sebelum kematian mereka,

orang orang itu pernah mengirim keluar sejumlah besar uang, tapi ke mana

uang dalam jumlah besar itu dikirim tak ada yang tahu. Jangan lagi orang

awam, orang orang kepercayaan mereka pun tak ada yang tahu.

… Mungkinkah dalam masa hidupnya dulu mereka pernah atau bahkan sering

berhubungan dengan “Dewa uang?” Atau sering melakukan transaksi dengan

“Dewa uang?” Karena transaksi gelap semacam ini seringkali justru

mendatangkan bencana kematian bagi diri sendiri.

Komandan Sin tidak menjelaskan jalan pikirannya itu. Terhadap pemuda dari

keluarga Leng ini sedikit banyak ia menaruh perasaan was was bahkan sedikit

rasa takut, karena berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, Leng Giok

hong termasuk seseorang yang amat menakutkan.

Nama : Leng Giok hong.

Usia : Duapuluh empat tahun,

Tinggi badan : Lima depa sembilan inci.

Ilmu silat : Mempelajari banyak ilmu dari banyak aliran, tak pernah

menggunakan jenis senjata tertentu

Asal usul : Kakeknya punya pahala dalam militer, pangkatnya kelas satu dan

menduduki posisi sebagai Panglima di daerah Hosay. Ayahnya seorang sarjana

yang menduduki pangkat tinggi, punya kekuatan politik dan menjabat sebagai

guru besar di bidang pendidikan negara.

 

Kegemaran : Tidak ada.

Cacad badan : Tidak ada.

Bila seseorang sama sekali tak punya kegemaran, biasanya orang itu adalah

seseorang yang sangat menakutkan, dalam hal ini hampi sebagian besar orang

Yang lebih menakutkan lagi adalah dia berasal dari satu keluarga terpandang

yang punya posisi penting di bidang militer maupun politik. Bukan saja tak ada

cela, juga tak jelas pangkat setinggi apa yang dijabatnya sekarang. Seolah olah

masa lalunya adalah selembar kertas kosong. Hingga kini pun tak ada yang tahu

apa yang sedang emban.

Jangankan orang lain, bahkan Komandan Sin sendiripun tidak tahu.

Komandan Sin cuma tahu dia mempunyai organisasi kerja yang teramat rahasia,

mempunyai kekuasaan sangat besar, bahkan bisa menentukan mati hidupnya

Di dalam surat tugas yang dibawanya, selain terdapat cap dari Departemen

Kejaksaan, dilengkapi Juga dengan cap cap pembesar tinggi dari berbagai

propinsi. Dalam surat tugas itu jelas tertera:

“Pejabat Leng Giok hong bebas bergerak kesemua tempat dan melakukan

tindakan apa pun, semua pejabat eselon empat ke bawah diwajibkan tunduk di

bawah perintahnya.”

Kedatangannya kali ini khusus untuk menyelidiki serentetan pembunuhan

berantai yang dimulai dari klenteng Dewa Uang.

Di balik tugas penyelidikan itu, mungkinkah dia masih mengemban tugas lain

yang lebih penting dan rahasia?

Berpikir sampai disini, mau tak mau Komandan Sin harus meningkatkan

kewaspadaannya. Sedikit banyak seorang petugas polisi yang sudah tigapuluhan

tahun makan gaji tentu pernah melakukan kesalahan maupun penyelewengan,

sekalipun kecil sekali kadamya.

Leng Giok hong seperti sama sekali tidak memperhatikan jalan pikiran si rase

tua ini, penampilan maupun sikapnya masih tetap terbuka, polos dan jujur.

“Sekarang kita sudah tahu sesuatu, berhasil menemukan setitik petunjuk yang

bisa kita pakai sebagai sumber pelacakan…” katanya lagi.

“Harap Tayjin memberi petunjuk!”

“Pertama, seperti apa yang sudah kita ketahui, dalam tiga hari setelah

muncuInya asap ungu, pasti ada seseorang mati dibunuh!”

“Benar!”

 

“Kedua, tempat munculnya asap ungu bukan tempat kejadian yang secara

kebetulan, lokasinya juga selalu berbeda. Hal ini membuktikan bahwa semua

tindakan tersebut telah diatur secara khusus dan direncanakan dengan matang,

tentu mempunyai satu tujuan istimewa. Kemungkinan besar semacam kode

rahasia yang digunakan antar organisasi gelap.”

Seolah olah menjawab pertanyaan sendiri, kembali Leng Giok hong melanjutkan,

“Tak disangkal persoalan ini pasti ada hubungan yang erat sekali dengan

pembunuhan berantai itu.”

… Sebuah organisasi pembunuh yang sangat rahasia, menetapkan satu tempat

yang rahasia untuk berkumpul, kemudian setelah sang korban menyerahkan

uang tebusannya, mereka mcmasang asap ungu sebagai tanda bahwa mereka

telah menerima transaksi itu. Karena transaki telah dilakukan, tak sampai tiga

hari kemudian ada orang yang bakal mati di ujung golok mereka.

…Besar kemungkinan pembunuh yang diutus untuk melaksanakan tugas

pembunuhan kali ini adalah seorang pembunuh kidal.

III. Di Balik Tembok Pekarangan Tinggi

Warung penjual bakmi ini semestinya belum buka usahanya, tapi sekarang

sudah ada tamu yang muncul di situ.

Warung bakmi ini sangat sederhana dengan perabot ala kadamya. Kecuali

berjualan bakmi di siang dan malam hari, warung ini pun berjualan sarapan

dengan menu sangat sederhana, semacam bakpao berisi sayuran, bakpao yang

kurang cocok bagi mereka dengan lambung kurang baik karena bakpao

semacam ini agak sukar dicernakan dalam perut.

Saat itu ada seorang tamu sedang duduk dekat pintu sambil menikmati sarapan.

Meski pakaian yang dikenakan tidak termasuk halus dan mewah tapi

mempunyai potongan serta jahitan yang rapi dengan bahan pilihan. Sebuah topi

lebar menghiasi kepalanya, nyaris menutup hingga di atas alis matanya.

Sewaktu sarapan pun dia tidak lepaskan topi lebar itu, seolah olah khawatir ada

orang mengenali wajahnya.

yang terlihat dengan jelas tinggal hidung, mulut serta tangannya.

Hidungnya kelihatan sangat mancung, garis bibirnya juga sangat kentara…

memberi kesan kalau dia adalah seorang lelaki yang keras kepala dan ulet.

Agaknya bibir itu seringkali dibiarkan tertutup rapat, jelas dia termasuk

seseorang yang tidak terlalu suka bicara.

Jari tangannya panjang panjang tapi penuh tenaga, seharusnya terhitung

sepasang tangan yang sangat indah, hanya saja bentuk tulangnya sedikit lebih

besar daripada orang kebanyakan.

Bila ditinjau dari beberapa segi ini, semestinya dia adalah seorang lelaki yang

bertubuh kekar, berwajah tampan dan punya watak yang mantap.

 

Kenapa sepagi ini, orang macam dia sudah muncul di dalam, warung bakmi

yang begitu sederhana?

Di depan warung bakmi itu berdiri dinding pekarangan yang amat tinggi. Pintu

rumah gedung bertembok tinggi itu masih tertutup rapat, jarang kelihatan ada

orang keluar masuk dari tempat itu, bahkan suara pun sama sekali tak

kedengaran. Rumah siapakah itu? Siapa yang berada dibalik tembok pekarangan

tinggi itu? Tak seorang pun yang tahu.

Tampaknya seluruh perhatian pemuda yang berada di dalam warung bakmi itu

sedang tertuju ke dalam gedung besar di balik dinding pekarangan tinggi itu.

Kelihatannya dia memang sengaja datang ke situ lantaran masalah gedung besar

di balik tembok pekarangan tinggi.

Ketika selesai sarapan pagi, cahaya putih baru saja muncul dari ufuk timur.

Suara ayam berkokok bergema dari kejauhan sana, terlihat sebuah kereta

muncul dari kejauhan berjalan di atas jalan berlapis batu dan menimbulkan

suara gemerutuk yang nyaring.

Pada saat itulah tiba tiba terlihat pintu sempit di depan warung itu dibuka

orang, terbuka dengan menimbulkan suara denyit yang keras.

Mungkin pintu itu sudah kelewat lama tak pernah dibuka orang, maka sewaktu

dibuka menimbulkan suara denyit yang keras seakan akan suara raungan

seseorang yang sedang sekarat.

Dari balik pintu berjalan keluar seseorang, dia kelihatan sangat segar dan penuh

semangat. Bukan saja wajahnya bersinar, bahkan kelihatan merah bercahaya

seolah-olah baru saja melakukan sesuatu pekerjaan yang memuaskan hati.

Dia adalah seorang lelaki berusia limapuluh tahunan yang berdandan sangat

mewah. Biarpun sudah berusia lewat setengah abad, namun penampilannya

masih tetap rajin dan bersih. Jelas dia adalah seseorang yang sudah biasa

dihormati orang.

Baru saja pintu pekarangan terbuka, sebuah tandu kecil telah menyusul muncul

dari balik gedung itu, berjalan mendahului orang tadi dan berhenti di depannya.

Orang itu segera naik ke dalam tandu, pintu gedung pun ikut ditutup kembali.

Tak selang berapa saat tandu beserta orang tadi sudah berada jauh di ujung

lorong jalan lalu lenyap dari pandangan mata.

Kerjasama antara orang tadi dengan tandunya benar benar sangat serasi, seakan

akan mereka sudah cukup lama melatihnya.

Gedung dengan dinding pekarangan tinggi itu kembali tercekam dalam

keheningan, sepi dan misterius seperti semula.

Misteri. yang paling penting memang misteri.

 

Bukan saja bangunan gedung itu penuh diliputi misteri, lelaki setengah umur

yang nampak kaya dan berwibawa itu pun menampilkan kemisteriusan yang

sangat mencengangkan.

Bila ditinjau dari penampilan serta dandanannya, orang itu semestinya adalah

seorang saudagar kaya raya yang dihormati dan disanjung orang banyak. Tapi

bila ditinjau dari sikap serta gerak-geriknya tadi, perbuatan orang itu tak

ubahnya seperti perbuatan seorang pencuri.

Dengan berlalunya tandu tadi, pemuda yang duduk dalam warung bakmi pun

ikut bangkit berdiri, meletakkan kembali sumpitnya, membayar uang sarapan

lalu keluar dari tempat itu dan menelusuri lorong sempit menyusul ke arah

mana lenyapnya tandu tadi.

Langkah kakinya sangat ringan.

Ketika meletakkan kembali sumpitnya tadi, dia lakukan sama seperti apa yang

dilakukan orang lain, diletakkan disamping mangkuk. Hanya saja ia letakkan di

sebelah kiri dari mangkuknya.

Ternyata pemuda itu menggunakan tangan kirinya untuk memegang sumpit, dia

adalah seorang kidal. Orang semacam ini, biasanya selagi membunuh orang pun

dia akan gunakan tangan kirinya juga.

IV. Interogasi

Usia kakek penjual bakmi ini sudah sangat tua. Pandangan matanya sudah

mulai rabun, pendengaran telinganya juga mulai kabur bahkan cara berbicara

pun mulai tak jelas. Sama seperti kebanyakan tauke warung bakmi lainnya,

sudah cukup lama dia hidup susah dan setiap hari harus banting tulang

memeras keringat.

Dia tak punya kekayaan terlalu banyak, juga tak punya sanak keluarga. Dari

muda hingga tua hidupnya selalu susah dan menderita. Terhadap orang dengan

kondisi semacam ini, bagaimana mungkin kau bisa berharap dia dapat melihat

setiap masalah dengan jelas, mendengar dengan jelas dan menerangkan dengan

jelas?

Walaupun begitu, namun ada satu hal yang pasti; yaitu dialah satu satunya

orang yang telah “melihat” semua kejadian ini.

Saat fajar hari itu, ketika Chee Gwat sian mati terbunuh, dialah satu satunya

orang yang telah melihatnya. Si kakek yang mata, telinga serta bicaranya sudah

mulai,tak jelas ini.

Hanya dia seorang yang pernah berjumpa dengan pemuda itu. Si Pembunuh

bertangan kidal.

Menyangkut kasus pembunuhan yang sangat menggemparkan dan sangat

menghebohkan dunia persilatan ini, bukan saja hanya dia satu satunya

saksi mata, dia juga merupakan satu satunya titik terang yang bisa dilacak. Oleh

 

sebab itu untuk melacak kasus pembunuhan itu, kau harus bertanya

Saat itu, Komandan Sin sedang menginterogasi kakek itu. Semua tanya jawab

dilangsungkan dengan sangat jelas, pendengamya adalah Leng Giok hong serta

si lelaki setengah umur.

“Hari itu, kelihatannya kau membuka warungmu lebih awal. Apakah biasanya

juga seawal itu?” komandan Sin mulai bertanya.

“Benar, bila seseorang sudah merasa dirinya mulai tua, tahu kalau dirinya

sudah tak akan hidup terlalu lama lagi, biasanya dia akan terjaga dari tidurnya

lebih awal dari orang lain.”

“Masih sepagi itu, sudah ada tamu yang mampir di warungmu?”

“Benar. Biasanya memang tak ada tamu yang datang seawal itu. Kedatangan

tamu itu memang kelewat pagi.”

“Macam apakah orang itu?”

“Seorang pemuda dengan perawakan sedang, dia makan tak terlalu banyak tapi

persenan yang diberikan kepadaku cukup banyak.”

“Sepintas memandang, apakah dia mempunyai sesuatu keistimewaan?”

“Tidak, dia tak punya keistimewaan apapun. Paling gerakan tubuhnya yang lebih

lincah dan ringan ketimbang orang lain. Sewaktu bersantap, dia makan dengan

sangat lambat, dikunyah dengan sangat teliti, seperti… seperti seekor kerbau

yang sedang mengunyah rumput, setelah dikunyah dan ditelan setiap saat siap

ditumpahkan keluar lagi untuk dikunyah sekali lagi.”

… Hanya orang yang sering kekurangan bahan makanan sehingga sangat

membutuhkan makanan baru akan melakukan hal seperti ini. Tentu saja

Komandan Sin, Sin Wai yang sangat matang pengalamannya dalam sungai

telaga, memahami teori ini.

Tapi kelihatannya dia kurang menaruh perhatian atas masalah itu. Dengan

cepat dia telah bertanya lagi, “Apakah kau melihat ada orang berjalan keluar dari

pintu sempit di balik dinding pekarangan itu dan pergi dengan naik tandu?”

“Yaaa, aku melihat dengan jelas sekali, orang itu berdandan sangat mewah dan

parlente, agaknya seorang yang sangat berduit. Tapi anehnya ia justru keluar

lewat pintu belakang di pagi buta itu, seolah-olah sedang berusaha melarikan

diri saja…”

“Dalam dua bulan terakhir, pernahkah kau melihat lelaki setengah umur itu

berjalan keluar dari pintu belakang dan melakukan hal seperti yang dia lakukan

pada pagi buta itu?”

“Rasanya belum pernah.”

 

Seperti amat kecewa Komandan Sin menghela napas panjang.

Tiba tiba kakek itu berkata lagi, “Seandainya pernah pun aku tidak tahu”

“Kenapa?”

“Sebab selama dua bulan terakhir aku selalu menderita sakit hingga pintu

warung belum pernah dibuka. Hari itu adalah hari pertama aku berdagang lagi.”

Komandan Sin tertawa getir, dia tidak komentar apa apa.

Kembali kakek itu berkata, “Ketika orang kaya itu berjalan keluar hari itu, ada

orang lain dengan menggunakan tandu segera menyambutnya. Baru saja dia

melangkah keluar, tandu itu sudah mendekat. Bukan saja perhitungan

waktunya sangat tepat, kerja sama mereka pun amat sempuma. Kelihatannya

hal itu sudah dilatihnya berulang kali.”

“Hal ini membuktikan kalau orang kaya itu tak ingin gerak-geriknya diketahui

orang lain, bahkan kalau bisa tidak terlihat siapa pun. Maka dari itu mereka

telah berlatih berulang kali.”

“Yaaa, rasanya memang begitu.”

“Sepeninggal tandu itu, apakah pemuda itu juga ikut pergi?” tanya komandan

Sin kemtidian.

“Benar. Sepeninggal tandu itu, pemuda tersebut segera meletakkan sumpitnya

dan ikut pergi dari sini. Kepergian mereka sangat cepat, hanya sebentar saja

sudah sampai di ujung lorong sana. Gerakan tubuh si penandu maupun anak

muda itu cepat sekali, jauh lebih cepat daripada kebanyakan orang.

“Kemudian?”

“Kemudian aku mendengar suara teriakan!”

“Suara teriakan? Teriakan macam apa?”

“Teriakan yang sangat memilukan hati, seperti ada orang sedang menggorok

lehernya. Teriakan itu pendek sekali, rasanya hanya cukup dengan dua tusukan,

orang itu sudah mati terbantai.”

Komandan Sin tertawa dingin, “Butuh dua gorokan untuk menghabisi nyawa

seseorang, cara kerja orang itu tidak termasuk cepat,” jengeknya.

Tiba tiba Leng Giok hong menyela, ujamya dengan suara hambar, “Jika senjata

yang digunakan bukan golok melainkan gergaji, begitu jeritan bergema sang

korban pasti sudah putus napas. Nah, itu baru cepat namanya!”

Komandan Sin menarik napas panjang. Membunuh orang dengan memakai

gergaji? Bagaimana rasanya sang korban yang digergaji? Bagaimana pula

rasanya menggergaji seseorang?

 

“Kenapa mesti pusing pusing? Lakukan saja otopsi atas mayat korban itu, kau

akan segera tahu sang pembunuh melakukan pembantaian dengan

menggunakan golok atau gergaji.”

Sekarang tugas pertama yang harus dilakukan adalah melihat jenasah korban.

Dalam hal ini semua orang merasa sangat setuju dan tak punya usul lain.

Belum keluar dari pintu warung tiba tiba Leng Giok hong balik kembali, dengan

suara yang perlahan tapi amat serius kembali tanyanya kepada kakek penjual

bakmi itu, “Tadi kau bilang, kau telah melihat pemuda kekar itu melakukan

sesuatu sebelum pergi meninggalkan warungmu?”

“Benar!”

“Apa yang telah ia lakukan?”

“Membayar uang sarapannya. Untuk semangkuk bakmi kuah plus dua buah

bakpao sayur dia telah membayar satu tahil perak, jumlah persenan yang sangat

besar untukku. Dia benar benar royal”

“Apa lagi yang ia lakukan?” Kakek penjual bakmi itu tak paham apa yang

dimaksud orang itu, ia tak mampu menjawab.

Agaknya Leng Giok hong tahu kalau kakek itu tak paham, kembali ujamya,

“Tentunya dia letakkan dulu sumpitnya di atas meja?”

“Tentu saia, ia harus letakkan sumpitnya di meja.”

“Sumpit itu diletakkan di mana?”

“Di sebelah mangkuk bakmi.”

“Maksudku di sisi yang mana?”

Kembali kakek penjual bakmi itu tak bisa menjawab. Pedagang semacam dia

memang jarang memperhatikan hal sedetil ini, terutama hal yang menyangkut

pekerjaan rutin.

Sekali lagi Leng Giok hong merasa kecewa, pelan pelan ia balik badan dan keluar

dari warung.

Tiba tiba kakek itu berkata lagi, “Aku sudah tak ingat di sisi yang mana ia

letakkan sumpitnya, tapi ada satu hal yang masih kuingat jelas. Sewaktu

bersantap, sumpitnya sempat menyenggol botol cabe hingga tumpah. Botol cabe

itu terletak dekat dinding, sedang dia duduk menghadap ke pintu. Berarti

dinding itu di samping kirinya, botol cabe itu juga berada di sisi kirinya.”

“Berarti bisa disimpulkan dia makan dengan memakai tangan kirinya?”

“Benar!”

 

“Berarti orang itu adalah seorang kidal yang sudah terbiasa memakai tangan

kirinya?”

“Benar!”

“Dan pekerjaan pemuda itu, adalah seorang pembunuh?”

“Mungkin saja!”

Leng Giok hong tertawa, sekilas cahaya tajam memancar keluar dari matanya.

Setelah termenung sejenak, kembali terusnya, “Kalau dugaanku tak keliru,

sekarang aku sudah bisa menggambarkan potongan wajahnya secara garis

besar.”

Sudah banyak tahun Leng Giok hong bekerja di Lak san bun (kantor

pengadilan), hampir semua polisi kenamaan di sungai telaga mengakui dia

sebagai seorang opas jempolan. Tentu saja tidak sulit baginya untuk

mengumpulkan bahan bahan berharga serta bukti yang menyangkut pekerjaan

seorang pembunuh.

“Bila diperiksa dari data yang kumiliki, pembunuh bertangan kidal tak banyak

jumlahnya. Orang yang mampu membantai Song Thian leng dalam sekejap mata

paling banter cuma ada tiga orang, sedang orang yang berusia antara dua

tigapuluh tahun hanya, ada satu orang saja.”

“Siapakah orang itu?”

“Orang itu berasal dari satu keluarga kenamaan. la sangat menaruh perhatian

dalam hal berpakaian, gemar memakai baju warna hijau, perawakan badannya

hampir sama seperti aku, ilmu silat yang dipelajari beraneka ragam, oleh karena

itu dia bisa menggunakan banyak cara untuk membunuh seseorang.”

“Aku percaya tidak sulit bagi kita untuk menemukan orang semacam ini.”

Dalam hal ini, Leng Giok hong juga percaya.

Jabatan sebagai seorang komandan opas bukan diperoleh Komandan Sin secara

kebetulan, tidak heran kalau dia punya banyak mata mata dan informan yang

tersebar di seluruh kota. Bila di sana benar benar pernah kedatangan seorang

asing macam begitu, seharusnya tak sampai duabelas jam ia sudah bisa

menemukan jejaknya.

“Selain itu,” lanjut Leng Giokhong, “aku harap kau bisa kirim orang untuk

menyelidiki siapa pemilik gedung besar ini. Seandainya pemiliknya Sudah ganti

belakangan ini, aku harap semua data yang menyangkut pemilik lama maupun

pemilik baru telah disiapkan dalam waktu secepatnya, aku harus tahu tentang

semuanya itu!”

Dia tak perlu menunggu terlalu lama, sejenak kemudian ia sudah memperoleh

data itu, walau hanya sebagian.

 

Seorang nenek penjual ketan manis baru saja berjalan melewati depan mereka

menuju ke pintu sempit di gedung seberang.

Tiba tiba pintu kecil itu dibuka orang.

Seorang nona kecil berbaju merah yang punya kepang besar muncul dari balik

pintu sambil membawa sebuah mangkuk besar. Dia mempunyai sepasang mata

yang besar dan indah dengan sepasang lesung pipi yang manis.

Sekarang, semua orang sudah tahu siapa penghuini gedung besar itu. Paling

tidak salah satu penghuninya adalah seorang dayang kecil yang cantik

V. Sang Korban

Sudah lima orang jadi korban pembunuhan. Kelima korban itu sermuanya

dibunuh dengan lima cara yang berbeda. Ada yang dibantai menggunakan

kampak, ada yang dijerat dengan tali, ada yang mati karena dijotos dengan tinju,

ada pula yang mati tenggelam. karena dilempar seseorang ke dalam sungai.

Semua pembantaian dilakukan sangat bersih dan tuntas. Satu-satunya jejak

yang bisa dilacak hanya tusukan golok yang menghabisi nyawa Chee Gwat sian.

Golok itu bukan menembusi jantung di dada kirinya, tapi hati di sebelah

Hati orang itu terkoyak hingga hancur berantakan, kehancuran yang merenggut

nyawanya. Seperti juga jantung, organ tubuh itu termasuk salah satu organ

tubuh yang sangat mematikan.

Bagi kebanyakan pembunuh berpengalaman, sasaran yang dituju untuk

mencabut nyawa seseorang biasanya selalu tertuju ke jantung dan bukan hati.

Bila satu tusukan yang datang dari depan langsung menghancurkan hati dan

bukan jantung korbannya, maka hal ini bisa disimpulkan kalau si pembunuh

pasti seorang kidal.

Tapi, kalau hanya berdasarkan petunjuk ini saja, masih belum cukup untuk

membuktikan kalau si pembunuh pasti bertangan kidal.

Sebab bila seseorang menusuk sambil membalikkan badannya, tusukan golok

tersebut sama saja bisa menghancurkan hati korbannya.

Oleh sebab itulah seperti apa yang dipikir Leng Giok hong, otopsi yang

dilakukannya kali ini sama sekali tidak memperoleh hasil yang pasti.

“Ada,” tiba tiba Leng Giok¬hong berkata, “penyelidikan kita kali ini masih ada

sedikit hasil!”

“Apa itu?”

 

“Paling tidak kita telah membuktikan bahwa si pembunuh adalah seorang

pembunuh berpengalaman, kecepatan serangannya luar biasa, tapi ia tak suka

turun tangan sembarangan!”

Latar belakang serta asal usul kelima orang korban pembunuhan itu memang

sama sekali berbeda. Chee Gwat sian adalah seorang pedagang barang antik.

Konon dia menjadi kaya raya lantaran berhasil menggali keluar sejumlah barang

antik peninggalan jaman Kim, serta mempunyai kemampuan serta ketajaman

mata yang luar biasa dalam menilai barang antik.

Empat orang korban lainnya ada yang berasal dari keluarga kenamaan, ada

scorang pedagang besar, seorang tuan tanah dan satu lagi adalah pejabat yang

telah pensiun bernama Song Bwee san. Tapi menurut isu, orang ini bukan

seorang pejabat negara sungguhan. Dia adalah seorang perampok ulung yang

pernah merampok duapuluh tiga perusahaan ekspedisi di masa lalu. Song Thian

leng, perampok ulung yang bukan saja menguasai ilmu gwakang (tenaga luar),

ilmu golok Kiu huan to yang dimilikinya pernah menggetarkan sungai telaga. Dia

adalah seorang jagoan nomor satu dalam kalangan hoklim.

Kali ini dia pun tewas di tangan seorang pembunuh bertangan kidal, ia mati

dijerat dengan seutas tali. Kematian yang berlangsung sangat cepat.

Dari kelima orang korban itu, hanya ada satu hal yang sama.

. . ..Mereka semua adalah hartawan yang berlimpah harta kekayaannya, bahkan

pernah melewati penghidupan yang gemerlapan dan kemewahan yang,

bermandikan uang dan emas.

“Tapi sebelum dibunuh orang, mereka sama sekali tidak mengeluarkan uang

dalam jumlah banyak. Hal ini membuktikan kalau pembunuhan ini bukan

berlatar belakang perampokan atau urusan harta,” lapor Komandan Sin.

“Tapi pembunuhnya telah menerima uang yang seharusnya diperoleh, dan

jumlahnya cukup banyak,” kata Leng Giok hong, “sudah ada orang yang

membayar ongkos pembunuhan tersebut, karena itulah dia tak akan mengambil

uang milik orang lain barang setahil pun. Inilah etika yang selalu dipegang

seorang pembunuh profesional.”

VI. Wanita Pemilik Gedung yang Misterius

Leng Giok hong memang tak malu disebut jagoan nomor satu dari pengadilan.

Bukan hanya kemampuan penyelidikannya yang hebat, kemampuannya

mengambil kesimpulan juga luar biasa, bahkan seperti mempunyai insting atau

naluri yang sangat tajam bagai seekor hewan pemburu.

Kali ini pun tidak terkecuali. Biarpun ia sama sekali tak tahu menahu tentang

pemilik gedung itu, tapi nalurinya mengatakan dalam berapa waktu belakangan

pasti pernah berganti pemilik. Hasil penyelidikan Komandan Sin dengan cepat

diantar ke tangannya. Dugaan Leng Giok hong tidak meleset, lagi lagi dugaannya

sangat tepat.

 

Dulu, pemilik bangunan besar itu adalah seorang sastrawan kenamaan dari

marga Wong. Orang itu sangat mahir dalam ilmu sastra, main khim, main catur,

menulis maupun melukis. Tapi belakangan kondisi keuangannya sangat mundur

hingga terpaksa bangunan gedungnya dijual kepada orang lain, sedang ia sendiri

dengan memboyong keluarganya pergi entah ke mana.

Oleh karena itu tidak mungkin bila penyelidikan dimulai dari pemilik lama,

apalagi untuk mengetahui asal usul si pemilik baru.

Menurut dokumen jual beli, gedung besar itu dibeli atas nama seseorang yang

bernama Lenghou Put heng. Konon dia adalah seorang lelaki berewokan yang

bermata cekung, jelas bukan dari etnik Han. Kata orang dia adalah seorang

lelaki keturunan etnik Tartar. Selain bertenaga luar biasa, katanya dia pernah

menahan lajunya seekor kuda.

Tapi orang itu bukan pemilik gedung yang sebenarnya. Membetulkan atap

rumah, mengapur dinding pekarangan, menata kebon maupun menyapu bersih

lantai, semua dilakukan orang itu. Tapi pada hari kepindahan, bukan dia yang

masuk ke gedung itu, melainkan seorang nyonya muda berbaju hijau yang

datang dengan diusung tandu.

Tak seorang pun yang sempat melihat manusia macam apakah dia itu.

Bagaimana rupanya? Dan berapa usianya? Tapi ada satu hal yang jelas dan

diketahui setiap orang, sikap Lenghou Put heng terhadap perempuan itu sangat

Di samping tandu mengikuti seorang dayang berwajah bulat bermata bulat. Dia

adalah dayang kepercayaan perempuan itu, dan dayang tersebut bukan lain

adalah si nona kecil yang membeli ketan manis tadi.

Nona kecil itu bernama Wan wan. Lalu siapakah wanita pemilik gedung itu? Dari

marga apa? Siapa namanya? Berasal dari mana? Uang dari mana untuk membeli

gedung sebesar itu? Setelah pindah ke situ, apa usaha pekerjaannya untuk

melanjutkan hidup? Tak ada yang tahu.

Kini semua orang hanya tahu, perempuan pemilik rumah itu suka makan yang

manis manis, suka makan ketan manis, dan lagi tidak suka makan ketan buatan

sendiri. Membeli dari penjual eceran memang selalu memberikan kenikmatan

Kebiasaan semacam ini jarang ditemukan pada kebanyakan orang. Mungkinkah

perempuan pemilik gedung yang misterius itu berasal dari sebuah keluarga kecil

yang hidup di dusun atau kota kecil?

Berita yang menyangkut pemuda kidal itu baru diperoleh tengah hari

keesokannya. Waktu itu Leng Giok hong sedang menikmati makan siangnya

yang paling komplit dan lezat. Di antara menu makanannya ada burung dara,

ayam, ikan, tiete, iga sapi muda, sayuran segar dan buah buahan.

Berada dalam kondisi dan situasi apa pun, ia selalu akan berusaha untuk

menikmati hidangan seperti ini. Setiap hari ia butuh makanan dalam jumlah

 

banyak untuk mengganti kalori serta energi yang banyak terbuang, Ketika

sedang bersantap ia pun sangat teliti dan bersungguh-sungguh. Tampaknya ciri

semacam ini memang merupakan ciri khas dari seseorang yang hidupnya penuh

tantangan, menyerempet bahaya dan tiap hari mesti berpontang panting dalam

sungai telaga.

Seekor serigala pun mempunyai sifat semacam ini. Setiap kali sedang bersantap,

cara makan mereka selalu begitu menikmati, seakan akan itulah hidangan

terakhir buat mereka dalam kehidupannya.

Pemuda kidal itu pernah tinggal di sebuah rumah penginapan di dalam kota.

Sewaktu mendaftar, ia memakai nama Thia Siau cing, dan malam kemarin dia

masih menginap di rumah penginapan itu.

Secara ringkas Komandan Sin memberikan laporannya, “Menurut tauke Ong

pemilik rumah penginapan itu, dia sudah duapuluh hari menginap di situ. Ini

berarti dia pertama kali masuk ke losmen pada tanggal tujuh belas bulan

berselang.”

“Kapan kalian pertama kali menemukan asap ungu itu?”

“Tanggal sembilan belas bulan berselang.”

Leng Giok hong tertawa dingin, “Hmmm, besar amat nyali orang yang mengaku

bernama Thia Siau-cing itu. Bukan saja berani memakai nama asli, berani juga

menginap di losmen yang sama selama berhari-hari.”

“Kongcu, kau punya keyakinan kalau dialah pembunuhnya?” tak tahan

Komandan Sin bertanya.

“Yakin!”

“Siapa pula yang menyewanya untuk membunuh kali ini?”

“Tidak ada, kali ini adalah atas kehendak dia sendiri untuk datang kemari!”

“Konon pembunuh bayaran macam mereka punya kebiasaan yang sama, yaitu

tak akan membunuh orang secara gratis. Apa benar?”

“Tiap orang pasti punya saat untuk bertindak di luar kebiasaan.”

“Berarti kali ini dia membunuh secara gratis? Tapi untuk siapa dia membunuh?”

“Untuk diri sendiri!”

“Maksud tuan, kali ini dialah yang beniat membunuh Chee Gwat sian berlima

itu?”

“Benar!”

“Dia punya alasan untuk membunuh mereka?”

 

“Ada!”

“Apa alasannya?”

“Sebuah alasan yang amat bagus,” Leng Giok hong menerangkan dengan suara

tawar. “Dalam situasi dan kondisi apa pun, alasan ini adalah sebuah alasan

yang sangat bagus dan tepat. Mungkin tak akan ditemukan alasan lain di dunia

ini yang lebih tepat daripada alasannya itu!”

Kematian Chee Gwat sian sekalian berlima bukan lantaran harta, ini berarti

tinggal satu alasan saja yang tersisa.

“Apakah alasan ini lantaran perempuan?”

“Tepat sekali!” Leng Giok hong tersenyum, “alasannya membunuh kali ini

lantaran seorang wanita yang bernama Ang ang (si merah)!”

***

Ang ang dengan mengenakan baju serba putih sedang duduk tenang di sebuah

ruangan dengan warna putih dominan di seluruh tempat. Putih, putihnya salju.

Selain warna putih tak nampak warna lain ditempat itu, bahkan asap wangi

yang keluar dari tempat dupa pun berwarna putih saIju.

la duduk tenang di samping jendela. Sudah setengah harian ia, duduk di situ

tanpa melakukan apa pun. Tiba tiba ia berpaling, kepada gadis kecil yang selama

ini berdiri menanti di sisinya dan berkata, “Beritahu paman Lenghou, suruh dia

siapkan meja perjamuan esok malam, siapkan juga sekeranjang bunga teratai

putih.”

Walaupun ia telah berusaha untuk mengendalikan diri, nada suaranya masih

kedengaran gemetar lantaran menahan gejolak emosi dalam hatinya.

Nona berwajah bulat yang berdiri di sisinya segera cemberut, omelnya, “Lagi lagi

bunga teratai putih, lagi lagi menjamu tamu… lagi lagi minum arak, apa apaan

itu?”

Ang ang pura pura tidak mendengar omelan tersebut, matanya dialihkan ke

tempat kejauhan. Lamunan masa lalu sudah mulai luntur, kelihatan bagaikan

selapis asap kabut…

Selapis kabut berwarna ungu yang membawa percikan darah…

***

Leng Giok hong telah selesai bersantap. la sedang berjalan mondar mandir di

ruang depan. Orang ini seakan akan memiliki tenaga yang tak ada habisnya,

jarang nampak ia menghentikan aktivitasnya. Sekarang, dia sedang memberi

perintah kepada Komandan Sin. Perintah itu amat singkat tapi harus

dilaksanakan tepat waktu.

 

“Aku tahu, dalam sepuluh tahun terakhir kau berhasil melatih lima orang jago

buru sergap yang tangguh. Bukankah mereka terpilih dari tigaratus enampuluh

orang jagoan tangguh yang ada?”

Komandan Sin amat terkejut, selain kaget dia pun terperangah. Kejadian ini

merupakan “tugas rahasia” nya. Dia tak habis mengerti masalah yang begitu

rahasia kenapa bisa bocor keluar, lebih tak paham lagi kenapa Leng Giok hong

bisa tahu?

Terdengar Leng Giok hong bertanya lagi, “Berapa orang di antara kelima jago

buru sergap itu berada di kota sekarang?”

“Semuanya ada di sini.”

“Bisa kumpulkan mereka semua di losmen dalam satu jam?”

“Bisa!”

“Bagus, kita bersua lagi di situ satu jam mendatang.”

VII. Golok Iblis

Lenghou Put heng punya perawakan badan setinggi delapan depa tiga inci, berat

badan duaratus tiga kati. Seluruh tubuhnya terdiri dari otot kawat tulang baja,

sama sekali tak nampak lemak sedikit pun, apalagi dadanya kelihatan begitu

bidang dan berotot, lebih tebal daripada tembok dinding halaman rumah itu.

Dari data yang berhasil dikumpulkan mengenai jago jago tangguh dari sungai

telaga, terbaca perincian data pribadinya sebagai berikut:

Nama : Lenghou Wan.

Julukan : Lenghou Put heng (Lenghou yang tak mampu).

Ciri ciri badan : Bercambang, berambut ikal, mata hijau, panjang lengan kanan

tiga depa empat inci, lebih panjang satu depa lebih dibandingkan lengan orang

kebanyakan, juga lebih panjang sepuluh inci dibandingkan lengan kirinya.

Ilmu silat : Mahir bermain golok, mampu menggunakan enam belas macam

senjata golok, menguasai delapanpuluh dua jenis i1mu golok yang bisa

membunuh musuhnya dalam lima jurus saja. Senjata kesayangannya adalah

sebuah golok lengkung. Besar kemungkinan golok tersebut adalah golok pusaka

milik ketua Mokau di masa silam yang disebut “Siau lo It ya Tia cun yu”

(semalaman mendengar hujan musim semi dari atas loteng). Konon mampu

berjumpalitan dan menari di udara, dapat memenggal kepala musuh dari jarak

seratus langkah.

Jejak : Jejaknya tak jelas semenjak tigapuluh tahun berselang, konon pernah

ada yang berjumpanya di daerah sekitar Kanglam, setelah bermabok-mabokan

dengan sahabatnya seorang pendekar kenamaan Kou Siok selama tiga hari tiga

malam, kabar beritanya tak pernah terdengar lagi. Tapi kejadian tersebut sudah

terjadi dua puluhan tahun berselang.

 

Lenghou Put heng bertelanjang dada, dengan memakai rantai baja yang sangat

besar dan kuat dia ikat lengan kanan sendiri dan menggantung badannya di atas

tiang penglari. Dengan kelima jari tangannya yang kuat dia melakukan gerak

olah raga dengan mengerek badannya naik turun. Suara gemerutukan keras

bergema dari ruas ruas tulangnya mengikuti irama badannya yang naik turun,

keras seperti suara mercon renteng yang berbunyi susul menyusul.

Tidak diketahui sudah berapa lama dia menggantungkan diri, otot otot hijaunya

sudah pada menonjol keluar bagaikan ular ular hijau kecil yang sedang merayap

disekujur tubuhnya. Ia nampak begitu menyeramkan dan menggidikkan hati.

Wan wan masuk dengan amat santai, ia seperti sudah terbiasa dengan

pemandangan semacam mi, berjalan masuk dengan membawa sebuah handuk

kecil. Dengan handuk itu dia bantu mengusap peluh yang membasahi jidat serta

badan lelaki itu.

“Nona mau pesta lagi,” katanya, “ia suruh kau siapkan segala sesuatunya malam

nanti. Entah apa dia tidak kuatir ada orang yang bakal kehilangan nyawa lagi

gara gara ulahnya itu?”

Lenghou Put heng tidak bicara, tapi paras mukanya berubah makin serius,

suara gemerutuk yang terpancar dari ruas ruas tulangnya pun makin lama

semakin bertambah cepat.

Wan wan masih saja menggerutu, Cuma suaranya makin lama semakin

perlahan, semakin lirih.

“Hingga hari ini sudah lima orang menemui ajalnya, apakah tuan Thia. . . ”

“Blummm!” tiba tiba rantai besi itu patah menjadi berapa bagian, Lenghou Put

heng segera berjumpalitan di udara dan beruntun bersalto beberapa kali.

“Blaaammm … !” diiringi suara gaduh, tahu tahu atap ruangan itu sudah jebol

dan muncul sebuah lubang besar. Atap rumah dan bebatuan sudah berguguran

ke lantai.

Dengan sebuah gerakan yang sangat ringan tapi cepat, Lenghou Put heng telah

menerobos keluar lewat lubang besar itu dan berdiri di atas wuwungan rumah

bagaikan seorang jenderal langit. Di tangannya telah bertambah dengan sesosok

tubuh manusia, seperti seorang bocah yang sedang menenteng boneka kain.

Celana yang dikenakan orang itu sudah basah kuyup karena terkencing kencing.

Entah sejak kapan ternyata Wan wan juga telah muncul di atas wuwungan

rumah, tapi setelah tahu siapa yang tertangkap, dia gelengkan kepalanya

berulangkali sambil menghela napas.

“Hei kura kura kecil, suruh kau jangan kasak kusuk dan kelayapan seenaknya,

kau tak menurut. Sekarang sudah kau rasakan kelihaiannya bukan? Asal

Paman Put heng lepaskan cengkeraman itu, badanmu pasti bakal remuk karena

terbanting hancur!”

 

Usia si kura kura kecil itu seharusnya sudah tak muda lagi, pakaian yang

dikenakan termasuk rajin dan perlente. Tapi sekarang dia kelihatan seperti kura

kura kecil sungguhan.

Kembali Wan wan berkata, “Besok nona mau mengadakan pesta lagi, lebih baik

undanglah tiga orang sebagai teman, sebelum jam tujuh malam suruh mereka

sudah berkumpul di sini.”

Kura kura kecil itu mengangguk berulang kali.

“Pergi sana!” hardik Lenghou Put heng keras.

Begitu tangannya diayunkan ke depan, tubuh si kura kura kecil segera terlempar

jauh ke depan. Untung enam kaki dari situ tumbuh sebuah pohon besar, kurakura

kecil segera menyambar batang pohon untuk berpegangan.

“Kraaak!” tiba tiba batang pohon itu patah jadi dua. Tapi dengan adanya

penahan tadi, kekuatan lemparan pun sedikit berkurang. Menggunakan

kesempatan itu si kura kura kecil segera melejit ke samping dan meluncur turun

ke balik semak belukar dengan gerakan ringan. Tak nyana ternyata orang itu

adalah seorang jagoan dalam ilmu meringankan tubuh.

Dalam pada itu Lenghou Put¬heng sudah balik kembali ke dalam ruangan, ia

sudah berbaring sambil minum arak dari dalam sebuah cupu cupu besar. Sorot

mata yang semula penuh pancaran amarah, kini sudah berubah jadi begitu

lembut bagai pandangan genit seorang nona dari wilayah Kanglam.

Tak seorang pun pernah melihat goloknya, golok kenamaan “Siau Io It ya Tia cun

yu” yang pernah malang melintang dan menggemparkan seluruh sungai telaga

VIII. Pasukan Buru Sergap

Waktu itu, Leng Giok hong telah tiba di rumah penginapan. Thia Siau cing tidak

berada di dalam kamamya di bagian belakang losmen itu. Saat itu dia sedang

bersantap malam, di hadapannya tersedia aneka ragam hidangan yang nyaris

memenuhi seluruh meja.

Sang pelayan Siau bu sit berkata, “Dia telah memesan satu hidangan lengkap

seharga delapan tahil perak, empat jenis masakan dalam porsi besar, empat

jenis sayuran dan hidangan kecil ditambah berapa macam pencuci mulut.”

“Luar biasa takaran makan tamu ini. Tiap hari dia selalu memesan hidangan

yang cukup untuk menjamu enam orang, tapi seorang diri dia dapat

menghabiskan semua hidangan itu.”

Leng Giok hong tidak komentar, dia cuma tersenyum. Waktu itu si pelayan Siau

bu sit sudah akan pergi dari situ, tapi secara tiba tiba ia berkata lagi, “Tapi hari

ini, kami kedatangan seorang tamu lagi yang takaran makannya tidak berada di

bawah orang itu. Dia sudah menghabiskan empat mangkuk besar Ang sio Jin

 

Som ditambah seekor bebek panggang dan seekor bebek goreng. Sampai

sekarang dia masih makan terus, benar benar mengerikan cara makannya!”

“Apakah tamu ini adalah seorang lelaki yang kurus kering tinggal kulit

pembungkus tulang?” tanya Leng Giok hong dengan sorot mata berkilat.

“Betul!”

Leng Giok hong tertawa dingin. “Bagus sekali, yang seharusnya datang ternyata

sudah berdatangan.”

Di luar ruangan untuk bersantap merupakan sebuah halaman yang sederhana

lagi jelek. Leng Giok hong segera mengebaskan bajunya, tidak nampak gerakan

apapun yang dilakukan, tahu tahu dia sudah melejit ke depan dan melayang ke

atas pohon besar.

Dia telah menurunkan perintahnya kepada Komandan Sin. “Panggil pasukanmu

dan segera habisi nyawa Thia Siau cing! Lebih bagus lagi jika bisa menghabisi

nyawanya dalam sekali sergapan!”

“Kapan kita mesti turun tangan?”

“Sekarang!”

Kembali Leng Giok hong berpesan, “Sewaktu turun tangan nanti, kalian mesti

ingat baik baik, jangan sekali kali kalian usik lelaki penyakitan yang kurus

kering itu! Lebih baik lagi bila melirik ke arahnya pun tidak. Anggap saja seolah

olah di sini tak pernah hadir seorang manusia macam dia.”

Pesan ini memang sangat penting. Bukan saja orang itu tak boleh disentuh, tak

boleh diganggu, tak boleh didekati, dilihat pun lebih baik jangan.

Kwan Say, Kwan ji adalah manusia semacam itu. “Manusia cerdas Kwan Kiem

hwat, Manusia berotot Kwan Giok bun.” Satu satunya pengharapan dari Leng

Giok hong saat ini adalah Kwan Giok bun sendiri pun bersikap seolah olah tidak

melihat kehadiran mereka.

Di dalam ruang bersantap penginapan itu, biasanya saban hari paling tidak ada

enam tujuh meja yang dipenuhi tetamu. Namun hari ini hanya dua meja yang

terisi. Semenjak kehadiran lelaki penyakitan yang kurus kering tinggal kulit

pembungkus tulang itu, semua tamu sudah merasakan gelagat yang kurang

beres. Tentu saja mereka tak berkeinginan untuk melanjutkan santapannya

dalam situasi serta suasana semacam ini. Lelaki berpenyakitan itu sejak masuk

hingga saat itu sama sekali tidak mengganggu orang lain, dia hanya asyik

bersantap dan berpesta sendiri. Kecuali cara bersantapnya yang tak sedap

dilihat karena kelewat rakus, ia tak pernah mengucapkan sepatah kata kasar

pun, apalagi perbuatan atau tindakan yang kasar.

Tapi bagi pandangan orang lain, tindak tanduknya justru mendatangkan suatu

firasat yang tak beres, seakan akan hembusan angin dalam ruangan pun ikut

 

berubah jadi lebih dingin, begitu dingin menggidikkan hati, bikin bulu roma

setiap orang pada berdiri. Siapa yang betah tetap tinggal di situ?

Hampir semua tamu sudah menyingkir jauh jauh, hanya satu orang yang tidak

bergeming. Dia tak lain adalah Thia Siau cing.

Sikapnya masih amat tenang, dia seakan akan tidak melihat kehadiran Kwan Ji.

Sebaliknya Kwan Ji pun seolah olah tidak melihat kehadirannya. Mereka berdua

bersikap begitu acuh, seperti di dalam dunia saat ini hanya ada diri masing

masing saja, dan tak tahu kalau ada orang lain macam lawannya.

Ditinjau dari sikap mereka berdua, rasanya mustahil kalau kedua orang itu

pernah kenal satu dengan lainnya.

Kwan Ji sedang mengambil sepotong Ang sio jin som dengan sumpitnya. Sekali

jepit dia sudah angkat potongan jinsom itu ke atas, lalu bagai seekor ikan emas

yang mencaplok serangga, Kwan ji pentang mulutnya lebar lebar dan, …

“Haaapp!” ia sudah caplok habis potongan jinsom tersebut. Caranya bersantap

bukan saja begitu nikmat, bahkan orang yang melihat pun ikut merasa tertarik.

Pada saat itulah… ada orang sudah mulai dengan aksinya. Semua gerakan dan

aksi dilakukan hampir pada saat yang bersamaan, lima orang dengan lima

macam senjata serentak melancarkan serangan kilat mengancam lima bagian

tubuh yang berbeda, sedang sasarannya hanya satu… nyawa Thia Siau cing.

Betul betul luar biasa kerja sama serangan dari kelima orang itu, lapisan cahaya

yang menyambar ke tubuh lawan bagaikan deburan ombak raksasa di tengah

samudra luas, tepat, dahsyat dan mengerikan hati.

Mereka sangat berbeda bila dibandingkan para pembunuh lainnya. Mereka

berlima adalah petugas kerajaan, pasukan buru sergap yang khusus disiapkan

untuk membekuk para pencoleng ulung, gembong perampok atau pembunuh

bayaran. Karena itu, meskipun membantai lawannya, mereka tak perlu

mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Tak heran kalau serangan yang dilancarkan begitu dahsyat dan kejam, apalagi

sebelum dilakukan sergapan tadi, Leng Giok hong telah berpesan, wanti

wantinya, “Bunuh dalam sekali sergapan, kemudian segera mundur dari arena

peristiwa!”

Menghadapi datangnya serangan maut yang begitu dahsyat bagaikan terjangan

badai angin ini, Thia Siau cing masih bersikap tenang. Dia seakan akan sedang

melamun, sedang mengkhayalkan sesuatu.

Bila seseorang sedang berada dalam situasi macam ini, jangan lagi di bawah

ancaman serangan dari pembunuh pembunuh ulung, semisalnya sedang

berjalan di jalan raya pun gampang ditabrak kereta kuda.

Mata golok sudah berada tak sampai satu depa dari ulu hatinya, sementara

beberapa utas tali nyaris mulai menjerat tenggorokannya…

 

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak terdengar suara bentakan gusar

menggelegar memecahkan kesunyian…

“Tak tahu malu! Masa lima orang mengerubuti satu orang!”

Di tengah suara bentakan, Kwan Ji si lelaki penyakitan itu sudah melejit ke

tengah udara, tulang belulangnya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus

tulang seolah olah sedang saling berbenturan nyaring menimbulkan suara

gemerutukan yang sangat aneh.

Hampir bersamaan waktu dengan terjangan tersebut, tahu-tahu empat dari

kelima orang jagoan yang sedang menyerang itu sudah dibetot hingga mundur

ke belakang, lalu terlempar keluar dari arena pertarungan. Sementara sisa yang

satu lagi masih dicengkeram tangannya erat erat, seakan akan setiap saat lengan

itu akan dirobek menjadi dua bagian.

“Harimau ganas merobek-robek mangsanya Kwan Giok-bun!”

Anggota buru sergap ini sudah cukup lama dilatih menjadi seorang pembunuh

profesional. Meskipun bukan terhitung orang yang takut mati, tapi sekarang,

dalam kondisi dan situasi seperti ini, ia benar-benar sudah pecah nyalinya.

Tanpa bisa dibendung air matanya jatuh bercucuran, ingusnya meleleh tak

tertahan, air liur, air keringat malahan air kencing pun pada meleleh keluar tak

tertahankan lagi.

Kwan ji tertawa dingin. “Boleh boleh saja bila ingin membunuh orang, tapi

jangan mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak! Selama aku

Kwan Say, Kwan ji hadir di sini, jangan harap keinginan kalian dapat terpenuhi.”

Lalu sambil melepaskan cengkeraman atas anggota buru sergap yang satu itu,

kembali ia berujar, “Kalian ingin membunuh orang, pergilah sendiri. Pergi

sendirian. Asal kau berani satu lawan satu, bukan saja aku tak akan

mencampuri urusanmu, malahan aku bersedia untuk menjaga di pinggir arena!”

Bersama dengan selesainya perkataan itu, dia benar benar lepaskan tawanannya

lalu ngeloyor pergi dari situ, kembali ke tempat duduknya dan mulai bersantap

lagi dengan lahap.

Sampai detik ini dia belum memandang ke arah Thia Siau cing barang sekejap

pun, sepertinya apa yang dia lakukan barusan, tak ada sangkut pautnya dengan

orang itu.

Thia Siau cing pun tidak pernah memandang ke arahnya walau hanya sekejap.

Tapi hawa amarah telah menyelimuti wajahnya, garis-garis merah darah telah

muncul di balik matanya. Mendadak ia menggebrak meja keras keras, menyusul

kemudian kakinya menendang meja itu hingga mencelat ke tengah udara.

Tak jelas apa yang dia lakukan, ketika pandangan semua orang dialihkan ke

arahnya, tahu tahu Thia Siau cing telah pergi meninggalkan ruang makan dan

berlalu tanpa berpaling lagi.

 

Semua peristiwa seakan akan berlangsung dan berakhir pada saat yang

bersamaan. Hampir setiap aksi, setiap rincian peristiwa dapat diikuti Leng Giok

hong dengan sangat jelas, Komandan Sin juga mengikutinya dengan jelas.

Peluh dingin sebesar kacang kedelai sudah mulai bercucuran, membasahi jidat

Komandan Sin.

“Diakah Kwan Say, Kwan Giok-bun?”

Bukan satu pekerjaan yang gampang untuk bisa berjumpa dengan jago tangguh

dari Kwan say ini, tapi Komandan Sin berharap perjumpaannya kali ini adalah

perjumpaan pertama juga perjumpaan terakhirnya dengan orang itu.

“Kau masih belum bergerak?” tiba tiba Leng Giok hong menegur.

“Bergerak? Kemana?”

“Tentu saja menangkap Kwan Giok bun, manusia yang telah menghalangi

petugas kerajaan melaksanakan tugasnya,” perkataan Leng Giok hong sangat

tenang. “Menghalangi petugas kerajaan bekerja adalah pelanggaran hukum yang

sangat berat. Menurut anggapanmu, itu pelanggaran yang ringan atau berat?”

Komandan Sin tak dapat menjawab, ia terbungkam. Sekarang ia baru menyadari

kelihayan Leng Giok hong. Sudah menjadi kewajibannya untuk menangkap

Kwan Giok bun sebagai orang yang merintangi petugas negara bekerja, tapi…

apa yang harus ia lakukan? Bertindak sama artinya menggadaikan nyawa

sendiri. Mungkin saja badannya akan dirobek jadi dua. Tidak bertindak berarti

mengabaikan perintah atasan dan lari dari tugas…

“Kau tidak bertindak?”

“Aku. . .”

“Baik, jika kau tidak bertindak, aku yang akan lakukan!”

Seringan daun kering yang rontok dari ranting Leng Giok hong melayang turun

dari atas pohon, kemudian dengan sebuah kebasan baju dia buka pintu ruangan

lalu menerobos masuk ke dalam.

Kwan ji baru mendongakkan kepalanya setelah Leng Giok hong tiba di

hadapannya. Dia awasi sekejap pemuda tersebut dari atas hingga bawah, lalu

tegurnya dingin, “Kau kemari untuk menangkapku?”

Bukan baru sekarang ia mengetahui jejak Leng Giok hong. Semua gerak gerik

serta tanya jawab mereka di luar ruangan tadi tak satu pun yang lolos dari

ketajaman mata serta pendengarannya.

Menghadapi jagoan tangguh macam Kwan Ji, Leng Giok hong tidak banyak

bicara. Dia mengeluarkan borgol dari saku dan pelan pelan diletakkan di atas

meja, persis di depan orang itu.

 

“Silahkan,” katanya kepada Kwan ji, “ini tugas resmi. Tugas resmi harus

dilaksanakan secara resmi, tidak terkecuali terhadap Kwan ji sianseng.”

Kwan ji tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.

Kembali Leng Giok hong berkata, “Dengan lima melawan satu, dengan jumlah

banyak mengungguli yang sedikit, semuanya memang tindakan. keliru. Tapi

untuk menjalankan tugas resmi, tugas dari kerajaan, menangkap tersangka

pembunuhan berantai, rasanya kita tak usah berbicara soal itu lagi.”

“Tak usah bicara soal yang mana?” Kwan ji masih tertawa dingin. “Kelima orang

itu hampir semuanya terdiri dari jagoan tangguh, serangan yang dilancarkan

merupakan jurus jurus mematikan. Begitukah cara kalian melaksanakan tugas

resmi?”

“Betul, untuk menghadapi tersangka yang sangat berbahaya, kami bebas

menggunakan cara apa pun, daripada tersangka menggunakan kesempatan ini

untuk berusaha melarikan diri.”

“Tersangka? Apa yang telah dilakukan Siau cing?”

Pancaran hawa amarah menyorot keluar dari balik mata Kwan Ji. Ditatapnya

wajah Leng Giok hong tanpa berkedip, sementara tulang belulangnya yang kurus

kering tinggal kulit pembungkus tulang itu mulai berbunyi lagi, mengeluarkan

suara yang sangat aneh seakan akan ada siluman yang sedang marah

bersembunyi di balik kegelapan sambil menabuh genderang perang.

Suara genderang perang tak lain adalah sumber dari munculnya kekuatan maha

“Brakkkk! ” entah sejak kapan ia bertindak, tahu tahu borgol yang terletak di

atas meja telah dihancurkan menjadi segumpal besi rongsokan yang kemudian

dibuangnya keluar dari jendela. Kini hancuran besi itu menancap di atas pohon

hingga tak nampak dari permukaan.

Leng Giok hong tidak menunjukkan perubahan mimik wajah. la cuma berjalan

keluar dengan langkah lambat, menggerakkan tangannya dengan lambat, lalu

menepuk pelan di atas dahan pohon itu.

Gumpalan besi itu segera mencelat keluar dari batang pohon dan jatuh ke dalam

Leng Giok hong menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.

Sesaat kemudian, tidak jelas gerak tangan apa yang dilakukan, borgol besi yang

telah berubah jadi gumpalan besi itu tiba tiba telah berubah bentuk, kian lama

bentuknya kian mirip dengan sebuah borgol.

Sekalipun belum kembali ke bentuk semula, paling tidak modelnya sudah sangat

mirip, satu demonstrasi kekuatan tenaga dalam yang amat luar biasa.

Kwan Say Kwan Ji terkesiap, berubah hebat paras mukanya.

 

Leng Giok hong masih tetap bersikap santai, dengan langkah perlahan dia

berjalan balik ke tempat semula, kemudian pelan-pelan meletakkan “borgol” itu

ke hadapan Kwan Ji.

Dia seperti tidak merasa pernah terjadi sesuatu kejadian di sana, dia pun seakan

akan tidak merasa telah melakukan satu demonstrasi kekuatan yang

menggidikkan hati lawannya. Malah dia pun seperti tidak melihat perubahan

wajah yang diperlihatkan Kwan ji.

Dengan suara lembut tapi cepat katanya, “Belakangan ini, wilayah Cilam telah

digemparkan oleh munculnya lima pembunuhan berantai. semua korban adalah

orang kenamaan, dan bukan saja kami tak tahu siapa pembunuhnya, juga tak

tahu apa maksud serta tujuan dari pembunuhan itu.”

Dia bicara sangat cepat, tanpa disertai titik maupun koma.

“Dari tubuh para korban kami hanya menemukan satu persamaan.”

“Persamaan apa?” tak tahan Kwan Ji bertanya.

” Mereka semua terbunuh setelah munculnya asap berwarna ungu, mereka pun

pernah menjalin satu hubungan yang luar biasa dengan seseorang yang sama.”

“Seseorang yang sama? Siau-cing maksudmu?”

“Bukan Siau cing,” kata Leng Giok hong, “mereka sama sekali tak ada sangkut

pautnya dengan Thia Siau cing.”

“Tapi Siau cing yang sedang kau cari?”

“Ya! Ini disebabkan karena Thia Siau cing punya hubungan erat dengan orang

yang satu itu, dan orang ini punya sangkut paut yang erat sekali dengan mereka

semua.”

“Siapa?”

“Ang ang!”

Ang Ang! Tatkala mendengar nama perempuan ini, tiba tiba saja wajah Kwan Ji

mengejang keras, seakan akan ada orang yang menghajar tubuhnya dengan

cambuk tajam.

Leng Giok hong sangat gembira ketika melihat mimik wajah yang diperlihatkan

Kwan Ji, tapi perasaan girang itu disembunyikan rapi di dalam hatinya.

Dengan suara yang sangat datar dan tenang, kembali terusnya, “Entah siapa

pun orang itu, asal mereka sudah mempunyai hubungan istimewa dengan Ang

ang, maka. Thia Siau cing akan mencabut nyawanya. Analisis seperti ini sangat

masuk di akal dan kemungkinan besar bisa terjadi.”

 

Setelah tarik napas, lagi lagi terusnya, “Ditinjau dari kehebatan ilmu silat yang

dikuasai Thia Siau cing saat ini, rasanya tak banyak orang di sungai telaga yang

mampu lolos dari tiga jurus serangan pencabut nyawanya.”

Lama sekali suasana diliputi keheningan. Entah berapa saat kemudian Kwan ji

baru menghembuskan napas panjang, seakan akan sedang berusaha untuk

membuang semua kesesakan yang memenuhi dadanya.

“Kau punya bukti?’ dia bertanya.

“Tidak, tapi dalam dua hari aku bisa menemukan seluruh bukti yang

dibutuhkan.”

“Bagaimana cara mencarinya?”

“Aku mempunyai caraku sendiri, tapi aku pun punya syarat!”

“Katakan!”

“Selama dua hari ini, kau tak boleh meninggalkan losmen ini biar satu langkah

pun!”

Senja telah menjelang tiba Waktu Itu Thia Siau cing sudah mabuk hebat. la

roboh bersandar di bawah dinding pekarangan tinggi. Tidak diketahui dinding

pekarangan milik siapakah itu, tidak diketahui juga keluarga macam apa yang

tinggal di balik dinding pekarangan tersebut.

Dia hanya mengetahui satu hal. Di seluruh dunia, di mana pun tempat itu, asal

rumah dikelilingi pagar tinggi maka akan terjadi pemisahan antara orang yang

satu dengan lainnya. Mereka tak pernah rela membiarkan orang lain saling

berkunjung, saling berkumpul.

Begitu juga manusia, ada sementara orang yang tak pernah mau bergaul, tak

mengijinkan orang lain mendekat, persis seperti pagar tinggi yang memisahkan

dua dunia. Dari balik pagar tinggi lamat-lamat terdengar suara musik yang

merdu, tampaknya ada seseorang sedang menyanyikan sebuah lagu yang ada

hubungannya dengan percintaan. Lagu yang amat menyedihkan hati.

. . . Mengapa lagu yang menyangkut masalah percintaan selalu adalah lagu lagu

sedih?

Thia Siau cing sudah tak sadarkan diri karena mabuk. Ketika tak sadarkan diri

itu, air matanya diam diam telah menetes keluar, membasahi bajunya.

IX. Ni Siau cong (Si Ulat Kecil Ni)

Malam semakin larut, hanya angin malam di musim gugur masih berhembus

menggoyang ranting dan dedaunan. Tiada Suara lain, suasana bahkan terasa

lebih sepi daripada tak ada suara.

 

Leng Giok hong duduk seorang diri di bawah cahaya lentera. Orang lain tidak

mendengar suara apapun, tapi ia seperti telah menangkap satu suara aneh.

Tiba tiba dia mendongakkan kepalanya lalu. memberi tanda ke luar jendela.

Sesosok bayangan manusia yang kecil kurus segera melayang turun dari atas

pohon dengan gerakan yang sangat enteng, lebih enteng dari daun kering yang

rontok ke tanah.

la berjongkok di depan jendela, di bawah sinar bintang yang redup, secara lamat

lamat dapat terlihat paras mukanya yang putih memucat.

Walaupun tampangnya seperti seorang pencuri malam, bermata tikus berkepala

kecil, kalau diamati lebih cermat sesungguhnya dia punya wajah yang tak

terlampau jelek.

Ternyata orang itu tak lain adalah orang yang pernah ditangkap dan dilempar

Lenghou Put heng dari atas wuwungan rumah. Dia bernama Ni Siau cong (si ulat

kecil Ni).

“Bagaimana dengan tugas yang kuberikan? Sudah kau laksanakan?” tanya Leng

Giok hong.

Ni Siau cong mengangguk.

“Kapan?” kembali Leng Giok-hong bertanya.

“Besok, sebelum jam tujuh malam”

“Berapa banyak tamunya?”

“Tiga orang!”

“Siapa saja orang orang itu?”

“Yang satu adalah seorang pedagang besar jinsom asal propinsi Kwan Tang yang

bernama Hong Po kak, kebetulan saja orang Itu sedang lewat kota ini. Sedang

yang satunya lagi adalah si hwesio gadungan Im taysu.”

“Bagus, bagus sekali” Leng Giok hong segera mengayunkan tangannya, sekeping

daun emas segera muncul dari sakunya dan dilempar ke arah orang itu.

Ni Siau cong mundur ke belakang sambil putar badan. Baru saja dia hendak

menerima lemparan daun emas itu sembari melejit ke udara, mendadak dari

balik kegelapan malam terdengar orang membentak keras.

“Pundak rata, serang!”

Diiringi suara hardikan, belasan cahaya tajam yang menyi1aukan mata segera

menyambar ke tengah udara. Belasan jenis senjata rahasia datang dari empat

penjuru. yang berbeda serentak meluncur tiba dan mengancam tubuhnya.

 

Buru buru Ni Siau cong menggerakkan tangannya menangkap daun emas itu

dan cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku, lalu dengan gerakan burung walet

menukik di angkasa ia bersalto beberapa kali di tengah udara sementara

tangannya bergerak cepat menyambar ke sana menyambar ke mari. Tak jelas

gerakan apa yang digunakan, tahu-tahu belasan macam amgi yang mengancam

tubuhnya Itu sudah ditangkap semua olehnya.

Kemudian dengan satu gerakan yang enteng dia meluncur balik ke posisinya

semula. Semua gerakannya sejak berkelit, menerima ancaman senjata rahasia

hingga balik ke tempat asal dilakukan dalam sekejap mata, benar benar satu

kepandaian kelas wahid yang sangat luar biasa.

Bayangan manusia berkelebat lewat, kembali muncul seseorang menerjang ke

depan Ni Siau cong, lalu dengan ilmu Eng jiau kang (ilmu cakar elang) dia ancam

persendian penting di tubuh lawan. Ni Siau cong mendengus dingin, dengan

gesit ia berkelit ke samping lalu balas melancarkan satu tonjokan.

Diiringi suara keluhan tertahan, tahu tahu orang itu sudah roboh terjungkal ke

Siapa pun tak mengira, bahwa bukan saja serangan yang mereka lakukan tidak

membuahkan hasil, sebaliknya malah mereka yang berhasil dirobohkan Ni Siau

cong. Ilmu mengait, mencakar, mencengkeram dan mengunci yang dikuasai Ni

Siau cong benar benar luar biasa! Tampaknya dia amat menguasai ilmu 72 jurus

Kinna jiu yang amat tersohor itu.

Sambil bergendong tangan Leng Giok hong berjalan keluar dari ruangan dengan

wajah penuh senyuman. la hanya berdiri tenang di bawah pohon, semua

kejadian yang berlangsung di hadapannya hanya ditonton sebagai suatu atraksi

Dalam pada itu Ni Siau cong sudah lenyap di balik kegelapan, sementara jagoan

yang dirobohkan tadi juga sudah tak nampak batang hidungnya. Suasana di

dalam halaman kembali pulih dalam keheningan yang mencekam.

Tiba tiba Leng Giok hong menghampiri sebuah pohon di tengah halaman, lalu

serunya sambil tertawa, “Komandan Sin, udara di atas pohon kelewat dingin,

kenapa kau tidak segera turun untuk minum arak?”

Arak Cu yap cing, arak Bi kuiliok, ikan asap, daging sapi masak kecap, cah

terong plus tauge, tiga macam sayur ditambah dua jenis arak. Satu hidangan

yang cukup lengkap dan mewah.

Sudah tiga cawan arak masuk ke dalam perut, biar araknya dingin tapi

manusianya tetap hangat.

“Sungguh tak disangka. . . sunggguh di luar dugaan!” gumam Komandan Sin

sambil menghembuskan napas panjang. “Tadinya aku sudah siap sedia

melindungi dia dari ancaman musuh dan berusaha melindunginya, tak disangka

ternyata si ulat kecil Ni Siau cong sesungguhnya adalah seorang jagoan yang

berilmu tinggi! ”

 

“Buat apa kau menahannya di sini? Mengundangnya minum arak?” kata Leng

Giok hong. Biarpun wajahnya sedang tertawa namun sorot matanya sama sekali

tidak terbesit mata untuk tertawa. Tertawa semacam ini jauh lebih menakutkan

daripada tertawa biasa.

Tapi Komandan Sin tidak memperhatikan hal itu, kembali ujarnya, “Mana ada

arak wangi di Lak san bun kita? Kalau toh harus mengundangnya minum, paling

tidak dia pun harus muntahkan sesuatu untuk kita.”

“Muntahkan apa? Kejadian sebenarnya? Pengakuan sejujurnya? Rekan

rekannya? Barang jarahannya?” perkataan Leng Giok-hong sangat hambar. “Kau

ingin Ni Siau cong muntahkan apa lagi? Apa yang dia muntahkan, memangnya

bisa kau telan semua dengan begitu saja?”

Komandan Sin masih tertawa tapi nada tertawanya sudah sedikit dipaksakan,

akhimya ia sadar bahwa persoalan ini sedikit kurang beres. Yang lebih aneh lagi,

ternyata sikap Leng Giok hong justru berubah makin santai dan lebih melihat

“Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan bahwa pemilik baru gedung besar

itu tak lebih hanya seorang pelacur kelas tinggi yang melakukan perdagangan

gelap. Saban berapa hari satu kali dia selalu akan mengadakan perjamuan, yang

diundang selalu calon calon korban yang kayaraya. Setelah diperas duitnya,

dicabut nyawanya. Orang yang mencarikan langganan baginya adalah Ni Siau

cong. Di antara para korban yang telah mati diujung goloknya adalah Chee Gwat

sian berlima!”

Setelah berhenti sejenak, ia lanjutkan, “Besok, aku akan menjadi korban ke

enam!”

Paras mukanya berubah semakin riang, terusnya dengan wajah berseri, “Tapi

kali ini akan terjadi sebuah kejutan kecil, satu kejutan yang lain daripada yang

lain. Ketika nanti si pembunuh datang untuk menghabisi nyawaku, maka

aksinya akan menjadi aksinya yang terakhir!”

“Ah, aku sudah mengerti maksud kongcu. Benar benar satu siasat yang amat

brilian!” puji Komandan Sin.

“Sekarang kau pasti sudah mengerti bukan, bila kita tangkap si Ulat Kecil Ni

Siau cong maka orang yang bertugas mencarikan langganan jadi tak ada. Calon

tetamu pun tak bisa tiba di tempat pertemuan.”

Setelah berpaling dan tertawa, katanya lagi, “Bukan begitu Komandan Sin?”

“Seharusnya memang begitu.”

Bila sang tetamu tak bisa hadir di pertemuan maka sang pembunuh pun tidak

mempunyai sasaran korban, otomatis dia pun tak akan tampilkan diri. Bila

sampai terjadi keadaan seperti ini maka akan semakin sulit untuk menangkap

basah sang pembunuh itu.

 

“Komandan Sin, bukankah begitu?” kembali Leng Giok hong bertanya.

Komandan Sin mulai sibuk menyeka keringat, keringat dingin.

Tiba tiba Leng Giok hong berganti topik pembicaraan, katanya, “Sebenarnya tak

mungkin bagi Kwan ji untuk tampil bersama dengan keponakannya di satu

tempat yang sama. Tapi kali ini dia sudah melanggar tradisi dan jauh-jauh dari

Chi lam datang kemari. Mungkinkah ada orang yang telah memberi kabar

kepadanya kalau di tempat ini ada orang hendak mencelakai Thia Siau cing?”

“Besar kemungkinannya begitu.”

“Tapi siapakah orang itu?” kata Leng Giok hong sambil tertawa. Tiba tiba ia

menoleh ke arah Komandan Sin dan melanjutkan, “Jangan jangan kau

orangnya!?”

“Aku? Mana mungkin aku?” seru Komandan Sin terperanjat.

“Untuk melatih sepasukan pembunuh kepercayaan, orang butuh dana dalam

jumlah yang amat besar. Belum tentu dana sebesar ini sanggup dipikul seorang

komandan polisi. Seandainya muncul donatur yang bersedia mendanai latihan

pasukan khusus itu, tentu saja hal ini akan disambut dengan gembira oleh siapa

pun!”

Setelah berhenti sejenak, kembali Leng Giok hong melanjutkan, “Bila suatu

ketika terjadi satu kejadian yang ada sangkut pautnya dengan donatur itu, tentu

saja si komandan polisi ini harus secepat mungkin menyampaikan berita ini

kepada pelindungnya … Oleh sebab itu, seorang donatur selalu dianggap orang

persilatan sebagai salah satu grup yang paling cepat dan paling tepat beritanya. .

.”

Otot otot hijau di sepasang tangan Komandan Sin telah menonjol keluar semua,

bentuknya seperti kawat baja yang amat tebal, bahkan kulit tangannya pun kini

telah berubah warna jadi merah kehitam hitaman seperti kulit bersisik seekor

ular; memuakkan siapa pun yang melihatnya.

Agaknya Leng Giok hong amat senang melihat warna semacam itu, dia awasi

terus sepasang tangannya tanpa berkedip, tiba tiba tanyanya lagi, “Komandan

Sin, menurut kau benar tidak kejadiannya?”

“Ya, tepat sekali!” kali ini Komandan Sin menjawab, tapi suaranya kedengaran

sangat parau, memang begitulah kejadian yang sebenarnya!”

Bersamaan dengan menggemanya suara jawaban itu, ia sudah melancarkan

serangan. Dengan jurus yang paling mematikan dari ilmu Eng jiau kang (cakar

garuda) dia berusaha mencongkel mata Leng Giok hong dengan tangan kirinya,

sementara. ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya dengan gerakan “mata

harimau” mengancam nadi besar di tenggorokan lawan sementara jari tengah,

jari manis dan kelingkingnya menotok tiga buah jalan darah kematian di wajah

pemuda itu.

 

Bukannya berkelit, Leng Giok-hong malah merangsek maju ke depan. Agaknya

dia menyambut, datangnya serangan lawan dengan menggunakan ilmu dan

jurus yang mirip, hanya kepandaian yang digunakan satu tingkat lebih tinggi,

dari ilmu Eng jiau kang, sejenis ilmu Kin na jiu kelas atas yang khusus

digunakan untuk membetot otot dan merenggangkan ruas; tulang musuh.

Dia selalu mengajar orang untuk melancarkan serangan yang paling mematikan

pada serangan pertama, tentu saja kali ini pun dia tidak memberi peluang untuk

musuhnya. Dia tak ingin memberi kesempatan kedua untuk lawannya

melancarkan serangan susulan.

Ketika melancarkan serangan¬nya kali ini, semua jurus yang digunakan adalah

jurus jurus mematikan yang tidak ada belas kasihan. Seperti juga yang

dilakukan kawanan iblis di masa lalu, iblis kenamaan Mayat hidup Sam yang

coat jiu, asal dia turun tangan maka dalam sekejap mata mati hidup sudah

Hal ini bukan disebabkan aliran ilmu silat yang dipelajarinya adalah aliran

macam begitu, tapi lebih dikarenakan wataknya memang begitu.

Orang yang tidak berperasaan selalu akan turun tangan tanpa perasaan. Bisa

menjadi penentu mati hidupnya orang lain merupa¬kan pekerjaan yang paling

menggembirakan dalam hidupnya.

Tiba tiba tampak seseorang berlarian masuk dengan langkah lebar, sambil lari

teriaknya berulang kali, “Leng kongcu, tahan serangan! Tahan serangan!”

Sayang teriakan itu sudah tertambat sekali, tidak keburu menahan tibanya

serangan yang mematikan. Seandainya tidak terlambat pun sama saja

keadaannya, tak mungkin bisa mengubah situasi yang sebenarnya. Karena di

saat Leng Giok hong turun tangan tadi, nasib Komandan Sin telah diputuskan.

Tak seorang manusia pun dapat merubah keputusan yang telah diambil itu.

Orang yang muncul di saat kritis itu tak lain adalah lelaki setengah umur yang

sejak awal munculnya asap berwarna ungu telah melakukan penyelidikan

bersama. Tampaknya dia pun termasuk seseorang berpangkat tinggi yang sudah

terbiasa menentukan matihidupnya orang lain, perkataan orang semacam ini

biasanya adalah perintah, perintah yang tak boleh dibangkang.

Sayang sekali ketika ia mulai berteriak tadi, komandan Sin sudah mulai menjerit

kesakitan. Di tengah jeritan ngeri itu tersisip suara tulang betulang yang remuk

dihajar sesuatu.

Suara tulang belulang yang remuk tentu saja jauh lebih kecil ketimbang suara.

teriakan maupun jeritan kesakitan, tapi justru terdengar lebih nyata dan jelas.

Suara remukan setiap ruas tulang-belulang kedengaran sangat jelas sekali,

demikian jelasnya hingga membangkitkan rasa bergidik yang mendirikan bulu

Paras muka lelaki setengah umur itu berubah hebat. Leng Giok hong masih

berdiri tenang, katanya dengan suara hambar, “Phoa tayjin, jangan salahkan

 

aku, sedari tadi aku sudah mengampuni dia! Luka itu terjadi karena tenaga

pantulan yang dia gunakan sendiri. Kau toh mengerti ilmu Eng jiau kang yang

dilatih Komandan Sin sangat hebat dan luar biasa.”

“Dia sudah mati?”

“Belum, belum mati. Jika dia mau mengobati lukanya dan beristirahat dengan

tenang, masih ada kemungkinan baginya untuk hidup lebih lama ketimbang

kebanyakan orang!”

Apa mungkin seorang jagoan macam Komandan Sin dapat beristirahat dengan

tenang selama bertahun tahun di atas pembaringan? Daripada tersiksa hidup

memang lebih baik mati saja. Phoa tayjin menghela napas panjang, kini nada

bicaranya mulai menjadi tenang kembali, katanya, “Leng kongcu, kau memang

tak bisa disalahkan. Aku rasa seandainya dia jadi kamu pun dia akan

melakukan tindakan yang sama. . .”

Setelah tarik napas, ia ganti topik pembicaraan, terusnya, “Aku hanya merasa

heran dengan sesuatu…”

“Soal apa?”

“Apa benar Thia Siau cing adalah keponakan Kwan ji sianseng?”

“Benar.”

“Tapi sewaktu bertemu tadi, mereka berdua seolah olah tidak saling kenal?”

“Ya, hal ini disebabkan urusan perempuan.” sahut Leng Giokhong. “Bukan

karena satu perempuan, tapi dua orang perempuan sekaligus!”

Tampaknya semua kesulitan, kemurungan dan pertikaian yang dialami seorang

lelaki di dunia ini tak terlepas dari masalah wanita. Seorang wanita saja sudah

cukup bikin kepala pusing, apalagi sekarang dua orang wanita sekaligus.

Sebaliknya bagaimana untuk kaum wanita? “Salah satu dari dua orang Wanita

itu adalah ibu Thia Siau cing. Dia adalah adik perempuan Kwan Giok bun.

Untuk wilayah Kwan say dan sekitamya, orang menyebutnya sebagai Sam Kounay

nay (nyonya muda ke tiga) Kwan Sam nio”

“Lalu siapa perempuan kedua? Apakah Ang ang?

“Benar!”

X. Daftar Menu

Ang-ang duduk di tengah sebuah ruangan.dengan warna putih dominan dimana

mana. Kecuali rambutnya yang hitam dan sepasang matanya yang bening, hanya

warna putih yang nampak.

 

Bunga kamelia dengan tiga belas lembar kelopak bunganya yang berwarna putih

menghiasi sebuah vas bunga berwarna putih. Embun yang berubah jadi butiran

air masih kelihatan membasahi kuntum kuntum bunga itu.

Satu perangkat alat makan yang berwarna sama putihnya dengan vas bunga itu

sudah disiapkan di atas meja. Daftar menu hidangan yang disiapkan pada

malam ini terdiri dari: 1 piring paha babi kukus, 1 piring paohi masak bebek, 1

piring daging ikan tim, 1 piring lidah sapi masak saus, 1 piring angsio ati babi, 1

piring ayam cah mete.

Selain itu juga disiapkan: 1 piring kepiting goreng, 1 piring udang goreng, 1

piring kerang masak taoco serta 1 piring telur bebek dadar. Untuk kuahnya

disediakan: 1 mangkuk besar bebek masak Yan oh, 1 mangkuk ayam masak

rebung, 1 mangkuk ginjal babi masak haisom, serta 1 mangkuk kalkun masak

sayur asin.

Di samping i tu disediakan juga: Ikan mas goreng taoco, sayap ayam masak

kecap, irisan daging bebek cah jamur dan ayam goreng wortel. Untuk pengiring

hidangan adalah: 1 tenong mantao kecil 1 piring jerohan babi masak daun kol,

satu piring kue kukus, 1 bakul nasi kukus, 1 mangkuk besar bubur teratai, 1

keranjang aneka macam buah buahan.

Untuk minuman disiapkan sepoci teh Wu long tea yang khusus didatangkan dari

Hokkian. Tampaknya Ang ang merasa puas sekali dengan daftar menu hidangan

itu. Sambil menoleh ke arah Wan wan, tanyanya, “Bagaimana dengan araknya?”

“Arak Cuang goan ciu yang diminum di luar dan arak teratai putih yang

diminum di dalam sudah disiapkan semuanya.”

“Bagaimana dengan tamunya? Kapan mau datang?”

“Tamu akan hadir sebelum jam 7 malam. Meski cara kerja si kura-kura kecil Ni

Siau cong tampaknya lamban, dia belum pernah datang terlambat.”

“Bagaimana dengan paman Put heng?”

“Masih sama seperti dulu dulu, sekarang sedang bersembunyi seorang diri di

dalam kamar sambil mengasah goloknya.”

Cahaya golok berwarna merah kehitam hitaman, persis seperti warna darah yang

akan membeku. Konon warna darah yang mengucur keluar di saat terbacok oleh

golok iblis adalah warna merah kehitam hitaman macam begitu. Mata golok

memang selalu tipis, setipis nasib perempuan cantik.

Lenghou Put heng tidak sedang mengasah golok. Sudah tak ada batu asahan di

dunia ini yang bisa digunakan untuk mengasah goloknya lagi. Golok tersebut tak

bisa diasah dengan batu asahan tapi harus diasah dengan batok kepala musuh

bebuyutannya. Bentuk golok melengkung persis seperti lengkungan rembulan,

memancarkan sinar yang begitu dingin dan menggidikkan hati. Oleh karena itu,

di saat dia mengayunkan goloknya, tak ada orang yang bisa menduga sabetan

 

senjatanya yang melengkung tersebut bisa berubah ke sudut yang mana dan

mengancam arah yang mana.

“Sudah berapa lama golok itu tak pernah menghirup darah segar musuhnya?”

“Masih hidupkah musuh-musuh besamya?”

Dengan ujung jarinya Lenghou Put heng menyentuh mata golok, lalu dengan

perlahan membelai ketujuh huruf kecil yang tertera ditubuh golok,

“Siau lo it ya tia cun yu.”

Tak sedikit orang orang dalam dunia persilatan yang tahu kalau ketua Mokau di

masa lalu punya julukan sebagai “Siau lo” (loteng kecil), juga pernah mendengar

kisah percintaannya dengan seorang nona yang bernama “Cunyu” (hujan di

musim semi). Syair “Siau lo it ya tia cun yu ” (semalaman menikmati hujan di

musim semi dari atas loteng) memang khusus ditulis untuk memperingati kisah

percintaan itu.

Tapi mungkinkah di balik kesemuanya itu masih terkandung maksud lain?

Mungkinkah ketua Mokau masa itu sengaja menciptakan syair tersebut sebagai

sebuah teka teki dan menyimpan satu rahasia yang maha besar di balik teka teki

itu? yang paling membuat orang tertarik dan kesemsem adalah…

Mungkinkah teka teki besar yang tersembunyi di balik syair itu ada sangkut

pautnya dengan sejumlah harta karun yang dimiliki Mokau di masa lalu?

Mungkinkah teka teki itu menyangkut juga rahasia ilmu silat maha sakti yang

pernah dimiliki ketua Mokau?

Harta karun yang berjumlah luar biasa, ilmu silat yang maha sakti, memang

selalu akan menjadi daya tarik orang orang persilatan. Sejak dulu hingga

sekarang, entah sudah berapa banyak jagoan yang mati gara gara masalah itu.

Bagi Lenghou Put heng pribadi, sudah banyak tahun ia tak pernah memikirkan

masalah itu. Yang dipikirkan olehnya saat ini hanya tiga orang.

Leng Giok hong, Im hweesio, Hong Poo kak.

Kini daftar menu sudah muncul. yang akan menjadi hidangan Siapakah di

antara ke tiga orang itu ternikmat?

XI. Golok Iblis Keluar Dari Sarung

Hong Poo kak tahun ini berusia 49 tahun, tinggi badan delapan depa delapan

inci. Sewaktu masih kecil ia disebut orang sebagai “raksasa.”

Dia sangat menguasai ilmu gwakang. Apalagi sepanjang tahun hidup di tengah

gunung di daerah perbatasan yang selalu diselimuti salju tebal, tubuhnya benar

benar kuat, kekar dan tak malu disebut seorang lelaki bertubuh baja.

 

Di samping itu, dia pun seorang pedagang yang sangat berhasil. Walaupun dia

sangat royal, uang yang dikeluarkan bagai aliran air sungai, namun keuntungan

yang diperoleh setiap harinya juga luar biasa banyaknya.

Bila seseorang mampu berdagang besar, mampu mendapat laba besar, paling

tidak dia harus seorang yang punya kemampuan dan pengetahuan. Selain

hokkie nya mesti luar biasa, otaknya juga mesti encer. Sebelum melakukan

sesuatu, biasanya dia akan melakukan persiapan dan penyelidikan yang cermat.

Tak mungkin orang semacam ini bertindak secara ceroboh dan gegabah. Tidak

terkecuali kali ini.

… Sebenarnya manusia macam apakah “Ang Ang,” si pelacur tingkat tinggi yang

belakangan sangat tersohor namanya itu? Peraturan apa saja yang harus diikuti.

Siapa pula dua orang tamu lain yang akan datang bersamanya?

Dengan segala upaya dan sarana yang dimiliki, dia lakukan satu penyelidikan

yang cermat. Kesimpulannya: Asal usul, latar belakang serta cara kerja Ang ang

menimbulkan rasa ingin tahu dalam hatinya. Dia pun sangat memandang hina

manusia yang bernama Im hweesio.

Ya, siapa yang tak akan memandang rendah seseorang yang mencatut nama

“Taysu,” sebuah panggilan terhormat sebagai pendeta untuk membuat sensasi di

mana mana dan menjadikan seorang wanita berduit, sebagai sasaran

penipuannya?

Hong Poo kak ingin sekali mencari sebuah peluang yang paling cocok untuk

menghadiahkan kepalannya di atas batang hidung hweesio gadungan itu.

Terhadap Leng Giok hong, Hong Poo kak menaruh perasaan ingin tahu yang

lebih besar. Kenapa seorang pemuda. tampan dengan latar belakang keluarga

yang begitu ternama bisa datang kemari untuk mencari Ang-ang? Padahal lelaki

seusia dia, biasanya tak akan mau mengobral duitnya untuk mencari

perempuan macam begini. Tapi, bagaimana pun juga Hong Poo kak merasa

sangat lega hatinya. Dia anggap kedua orang itu bukan tandingannya.

Ia sudah mulai mempersiapkan diri untuk menikmati secara pelan pelan.

jam 7 malam.

Mangkuk dan cawan telah dipersiapkan. Beberapa macam sayur sudah mulai

dihidangkan di meja ketika Hong Poo kak melangkah masuk ke dalam ruang

mungil itu. la segera melihat ada seorang lelaki tinggi besar yang bercambang

sedang duduk di atas sebuah pembaringan dekat pintu.

Hoo Poo kak sendiri tersohor sebagai seorang lelaki kekar. Tapi bila

dibandingkan lelaki raksasa itu, ia merasa dirinya kalah jauh. Ketika berada di

hadapan lelaki kekar bercambang itu, dia seolah-olah merasa dirinya seperti

tidak setinggi apa yang dibayangkan pada hari hari biasa.

Tempat ini adalah gudang pencari uang, sedang dia adalah seorang toaya

pemberi uang. Biasanya orang orang yang berada di tempat seperti ini pasti akan

 

sangat menaruh hormat kepadanya. Sangat berbeda dengan lelaki kekar

bercambang ini. Bukan saja sikapnya dingin dan kaku, bahkan terkesan sangat

“Kau adalah Hong Poo kak?” terdengar ia menegur dengan suara ketus.

“Ya benar, aku adalah Hong Poo kak. Semua orang panggil aku Hong toa tauke!”

Sikap jumawa lelaki bercambang itu sudah menimbulkan perasaan tak puas

dalam hati kecil tauke besar ini, dia mulai menunjukkan sikap perlawanan.

Lenghou Put heng seperti tidak memahami ketidak senangan tamunya. Kembali

tanyanya dengan suara dingin, “Apa betul kau membawa empat macam hadiah,

sepasang jinsom tua dari gunung Tiang Pek san, empat stel mantel kulit berbulu,

dua belas pasang tusuk konde emas dengan total berat lima puluh tahil serta

seperangkat alat tulis yang terbuat dari batu kemala hijau?”

“Betul!”

Belum sempat Hong Poo kak mengumbar amarahnya karena terpacu rasa tak

senang yang semakin menjadi, tiba tiba tampak seorang pendeta berjubah putih

telah muncul di pelataran gedung. Dia lah Im taysu. Kepalanya yang gundul

kelihatan berkilat tertimpa sinar lentera, dari kejauhan sudah terendus bau

harum bunga melati yang tersiar dari tubulmya.

“Kau Liem Im?” kedengaran Lenghou Put heng menegur.

“Betul, betul sekali. Nama pinceng sebelum menjadi pendeta adalah Liem Im.”

“Kau tidak pantang makanan berjiwa?”

“Tidak, tidak pantang,” jawab Im taysu dengan wajah berseri, empat penjuru

dunia berasal dari kekosongan, semua benda semua kehidupan di dunia ini juga

berasal dari tidak ada. Pinceng tak pernah pantang apa pun, toh kembalinya

juga kekosongan karena yang ada sebetulnya tidak ada.”

Tak diragukan Lenghou Put heng sendiri pun menaruh rasa heran dan ingin

tahu yang sangat besar terhadap hweesio kenamaan ini. Namun setelah

memperhatikan sekejap dari atas hingga ke bawah, sinar matanya segera

dialihkan jauh ke tempat lain, seakan akan dia sudah putuskan untuk tidak

melihatnya lagi sepanjang masa.

“Benarkah keempat buah hadiah yang kau bawa terdiri dari sepasang Kuda

kemala hijau, Sebuah kopiah bertaburkan mutu manikam dari negeri Persia,

enambelas pasang gelang, kalung dan cincin yang bertaburkan berlian dan batu

zamrud serta seperangkat kotak perhiasan yang terbuat dari kayu cendana

dilengkapi sebuah cermin yang terbuat dari kristal?” terdengar Lenghou Put heng

“Benar!”

 

Siapa pun tak ada yang mengira kalau hadiah yang dibawa seorang hweesio

ternyata jauh lebih mewah, mahal dan berharga ketimbang hadiah yang dibawa

seorang pedagang besar macam Hong Toa tauke.

Hong Poo kak betul betul naik darah. la tak sanggup mengendalikan emosinya

lagi, tiba tiba bentaknya, “Keledai gundul sialan!”

Tanpa banyak bicara dia segera maju ke depan dan melepaskan sebuah jotosan

ke wajah pendeta itu. Bukan cuma lengannya saja yang panjang lagi besar, gerak

serangan yang dilancarkan pun cepat luar biasa! Tampaknya ia benar benar

telah menguasai ilmu gwakangnya secara sempuma.

Tampaknya batang hidung Im, hweesio segera akan terhajar hingga hancur…

Suatu peristiwa aneh tiba tiba saja terjadi. Ternyata tonjokan itu tidak bersarang

di atas hidung Im hweesio, melainkan menghantam dada Lenghou Put heng

keras-keras.

Entah sejak kapan dan memakal gerakan apa, tahu tahu Lenghou Put heng yang

semula masih duduk bersila di atas pembaringan, kini sudah berdiri

menghadang persis di depan Im hweesio.

“Bluuukkk … !” jotosan Hong Poo kak seketika menghantam telak di atas dada

lelaki bercambang itu.

Hong Toa tauke tiba tiba merasa terkesiap. Ternyata ia seperti menghantam

sebuah orang-orangan yang terbuat dari rumput. Bukan musuhnya yang

mencelat, justru dia sendiri yang merasakan getaran yang maha dahsyat

menghantam badannya. Tak tahan ia mundur beberapa langkah dengan

sempoyongan sebelum berhasil berdiri tegak.

Paras muka Lenghou Put heng sama sekali tak berubah. la masih berdiri dengan

sikap hambar dan tanpa perasaan, golok lengkungnya masih tergantung di

pinggangnya, sama sekali tak disentuh.

Dalam pada itu Hong Poo kak telah merogoh ke dalam sakunya dan cabut keluar

sebilah golok lemas yang selama ini disembunyikan di balik jubah lebarnya.

Sinar mata berapi memancar keluar dari balik matanya.

“Cabut golokmu!’.’ Hardiknya penuh emosi.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa?”

“Tempat ini bukan tempat untuk membunuh orang.”

Hong Poo kak membentak gusar, cahaya golok berkilauan bagaikan bianglala

senja, begitu tajam sinarnya hingga menyilaukan mata.

“Golok bagus!” puji Im taysu dari sisi arena.

 

Belum selesai pujian itu dilontarkan, tiba tiba terdengar suara gemerincing

bergema di udara, tahu tahu golok tipis itu udah patah menjadi enam tujuh

Sama sekali tak terlihat gerakan apa yang digunakan Lenghou Put-heng untuk

mamatahkan senjata lawan. Orang cuma melihat berkelebatnya cahaya merah

kehitam hitaman membelah angkasa, disusul kemudian suara dentingan nyaring

bergema susul menyusul, ke enam tujuh bagian golok yang patah itu sudah

berhamburan di seluruh lantai.

“Hong toa tauke,” terdengar Im taysu berseru, “padahal di antara kita berdua tak

usah saling berebut. Toh masih ada satu tamu lagi yang bakal datang, Leng

kongcu. Rasanya tak berguna kita bersaing duluan. Apalagi kehadiran pinceng

hari ini hanya kepingin menikmati hidangan lezat dari nona Ang, lain tidak.”

Padri gadungan ini betul betul hebat dan menyenangkan, padahal untuk bisa

makan minum sepuasnya di hadapan perempuan cantik sudah merupakan satu

kejadian yang langka dan tak gampang.

Leng Giok hong hanya menonton di tepi arena dengan pandangan dingin, dalam

waktu singkat ia sudah ambil dua keputusan penting dalam hatinya.

Pertama, selidiki asal usul Im hweesio. Tempat lahirnya, tempat asalnya,

keluarganya, pengalaman di masa lampau, aliran ilmu silat yang dimiliki, titik

kelemahan yang di miliki, kekasihnya, sanak keluarganya. Semuanya harus

sudah diketahui menjelang malam nanti.

Kedua. Golok milik Lenghou Put heng. Golok yang berada di tangannya apa

benar golok iblis seperti yang tersiar dalam dunia persilatan? Seberapa cepat

serangan yang dimiliki? Apa benar dia adalah jagoan golok nomor dua di dunia

kangouw, Lenghou Wan?

” Siapa yang bernama Leng Giok hong, Leng kongcu?”

Orang yang bertanya kali ini bukan Lenghou Put heng, melainkan si nona kecil

yang bermata besar, berwajah bulat dan sewaktu tertawa mempunyai dua lesung

pipit yang kecil bulat.

“Ya, aku orangnya!”

Dengan sepasang matanya yang bulat kecil Wan wan mengawasi pemuda itu dari

atas hingga ke bawah, sinar gembira terpancar dari balik matanya.

“Kado yang dibawa Leng kongcu telah diterima nona kami. Harap Leng kongcu

bersedia untuk bicara di halaman belakang selesai santap malam nanti.”

Diiringi suara tertawa yang merdu, nona kecil itu lari masuk ke dalam. Dari

sakunya jatuh selembar kartu, itulah catatan kado yang dikirim Leng Giok hong.

 

Im hweesio segera memungutnya dan mulai dibaca, “Kado ada empat macam,

satu kotak kueh manis lapis madu, satu kotak jeruk manis, dua kati arak wangi,

sepasang anting perak seberat dua tahil.”

Sambil berpaling ke arah Leng Giok hong, tiba tiba tanyanya, “Jadi inilah kado

mu?”

“Benar.”

Bila kado tersebut dibanding¬kan dengan dua kado yang lain, nilai barang

tersebut mungkin hanya sepersekiannya saja. Tapi orang yang terpilih justru

pemuda itu.

Im hweesio segera tertawa, tertawa tergelak, “Ternyata bila satu orang dibanding

bandingkan dengan orang yang lain, kejadian ini cukup bikin jengkel hati…

XII. Jago Tangguh yang Tersembunyi

Di belakang warung bakmi di mana Thia Siau cing pernah bersantap terdapat

sebuah loteng tiga tingkat. Dulu tempat itu digunakan seorang hartawan untuk

menemani istrinya menikmati bulan pumama, tapi sekarang tempat itu telah

dipakai oleh Phoa tayjin, Phoa Ki seng, pejabat eselon empat dari kota Chi lam.

Di atas loteng itu terdapat empat buah jendela besar yang luas sekali

pemandangannya. Saat itu suasana hening telah menyelimuti malam yang

semakin kelam, Phoa tayjin seorang diri duduk di tepi jendela, mengawasi rumah

rumah penduduk yang penghuninya mulai terlelap tidur.

Membayangkan suka duka yang dialami setiap keluarga dalam kota itu, ia tak

tahu bagaimana harus mengungkap perasaan tersebut.

Paling tidak saat ini dia tidak akan merasakan sesuatu, karena seluruh pikiran

dan perhatiannya sedang tertuju ke tubuh seseorang; Leng Giok hong yang telah

memasuki gedung besar di seberang sana seorang diri.

Esok pagi apakah Leng Giok hong juga akan keluar dari gedung itu lewat pintu

belakang yang sempit lagi jelek itu, seperti juga halnya dengan apa yang dialami

Chee Gwat sian? Apakah pembunuh itu juga akan menanti kedatangannya

seperti apa yang telah diduganya semula?

Ketika Phoa tayjin, pembesar negara yang mempunyai jabatan tinggi ini sedang

menghela napas seorang diri, tiba tiba dari luar jendela terdengar ada seseorang

melayang turun dari atap rumah, lalu sambil mendekap di lantai dia ikut

menghela napas juga, meski suaranya lebih kecil.

“Hamba Ni Siau cong menghadap Phoa tayjin,” katanya.

Phoa Ki seng tidak menjadi terkejut atau terkesiap lantaran kehadirannya yang

tiba tiba itu. Tak bisa disangkal, kehadiran Ni Siau cong memang sudah diatur

 

Kemudian dengan sikap dan suara yang lembut dia ajukan banyak pertanyaan,

sedang Ni Siau-cong dengan seksama menjawab setiap pertanyaan yang

“Siapa nama asli Ang ang?”

“Dia bernama Lie Lam ang, berasal dari kota Tay goan propinsi Shansi. Keluarga

Lie dari Tay goan maupun keluarga Thia dari Kwan-say, semuanya adalah sukusuku

kenamaan di daerah setempat.

“Jadi dia memang kenal dengan Thia Siau cing?”

“Mereka sudah kenal semenjak masih kecil, boleh dibilang mereka tumbuh

dewasa bersama. Kalau bukan lantaran Lie Lam ang sudah dijodohkan sejak

lama, mungkin mereka sudah menjadi suami istri yang bahagia sekarang.”

“Maksudmu sebenarnya secara diam diam mereka berdua sudah saling

mencinta?”

“Benar.”

“Kemudian Lie Lam ang kawin dengan siapa?”

“Dia kawin dengan Pek Sian kui, keturunan dari Kou siok sam yu (tiga kawanan

dari Kou siok). Tapi kemudian keluarga Pek dibantai orang hingga semua

keluarganya ludas terbunuh. yang tersisa tinggal Lie Lam ang seorang yang

berhasil meloloskan diri dari pembantaian. Sejak itu dia kabur balik ke rumah

keluarganya di kota Tay goan.”

“Siapa musuh besar mereka? Mengapa mereka turun tangan sekejam itu?”

“Tidak jelas,” jawab Ni Siau cong, “kematian tragis keluarga Pek hingga kini

masih menjadi teka teki yang sukar dijawab.”

Phoa tayjin berkerut kening, diteguknya air teh satu tegukan. Ia tak teringat

siapa yang menjadi wali kota Kou siok waktu itu.

Terdengar Ni Siau cong kembali berkata, “Setelah pulang ke rumah, nona Lie

baru tahu kalau Thia Siau cing ternyata masih mencintainya, bahkan rasa

cintanya terhadap nona itu tak pernah luntur. Nona Lie sangat iba melihat

kejadian itu, tanpa disadari rasa haru membangkitkan kembali rasa cintanya

kepada pemuda itu.”

Orang kangauw kalau sedang bicara selalu ceplas ceplos tanpa tedeng aling

aling, biasanya mereka hanya bicara secara garis besar dan tak suka mendetil.

“Nona Lie masih muda sudah menjanda, sedang Thia kongcu masih membujang,

sebetulnya jodoh di antara mereka berdua masih punya harapan dan bisa

dilangsungkan. Sayang sekali Kwan sam kou nay nay, ibu kandung Thia Siau

cing bersikukuh menentang perkawinan ini, bahkan berhasil membujuk kakak

 

keduanya, Kwan Giok bun, untuk memisahkan sepasang kekasih ini secara

paksa.”

Tampaknya Ni Siau cong merupakan seorang dunia persilatan yang sensitif

emosinya. Ketika bercerita tentang kisah percintaan kedua orang itu, ia bisa

melukiskan bagaikan seorang pencerita ulung.

Phoa tayjin tidak tertawa, dengan wajah serius katanya, “Tak heran kalau Thia

Siau cing begitu acuh sikapnya sewaktu bertemu engkit nya, seolah olah tidak

saling mengenal saja. Tak heran juga kenapa Lie Lam ang bisa nekad menjalani

profesi seperti ini, kadangkala kehidupan seorang pelacur tak ada bedanya

dengan kehidupan seorang padri.”

“Betul juga perkataan tayjin.”

“Sayang sekali Thia Siau cing masih tak bisa menahan emosinya. Lantaran dia

tak mampu mencegah Lie Lam ang menjalani profesi sebagai pelacur tingkat

tinggi, terpaksa ia lampiaskan rasa dendam dan sakit hatinya kepada tamu tamu

yang pernah menginap bersama nona itu.”

Setelah menghela napas panjang, tambahnya, “Kadangkala kata “cinta” memang

sangat menakutkan!”

Ni Siau cong tidak menjawab, namun dari kerutan alisnya tiba-tiba terbesit

perasaan sedih yang tak terlukiskan dengan kata.

Mungkinkah dia pun mempunyai kisah masa lalu yang sama sedih dan pedihnya

seperti kisah cinta Lie Lam ang? Mungkinkah kisah sedih itu tak pernah

diceritakan kepada orang lain?

Tapi, sesungguhnya siapakah orang di dunia ini yang benar benar dapat lolos

dari perangkap “cinta?”

Lewat berapa saat kemudian Phoa Ki seng baru buka mulut. Dengan

menggunakan sikap yang serius dan sungguh sungguh dia berkata kepada Ni

Siau cong. “Biarpun aku bekerja sebagai pejabat tinggi kerajaan, sedikit banyak

masalah dunia persilatan cukup kupahami,” katanya. “Aku pernah mendengar

cerita orang, katanya walaupun kau hidup di kalangan ok pa namun tak pernah

melakukan kejahatan serius. Bila kau bersedia, aku bisa angkat kau sebagai

komandan polisi menggantikan posisi Komandan Sin yang sedang kosong.”

“Lapor tayjin, hamba Cuma pingin melakukan pekerjaan yang bisa menghasilkan

uang banyak. Asal ada keuntungan yang bisa kuperoleh, apapun pekerjaan itu

pasti akan kulaksanakan. Hanya satu pekerjaan yang tak akan kulakukan.”

Pekerjaan apa yang dimaksudkan? Tentu saja bekerja sebagai hamba negara.

Hanya saja perkataan itu. tak sampai diucapkan, dan dia memang tak perlu

mengucapkannya keluar.

 

Kembali Phoa Ki seng menghela napas. “Orang yang terbiasa hidup di sungai

telaga memang tak suka melakukan pekerjaan yang mengikat, aku paham

dengan perasaanmu. ”

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, “Padahal walaupun bekerja sebagai

hamba negara, kita masih bisa bebas pergi ke mana pun kita mau. . . ”

Kedua orang itu saling berpandangan dan tidak bicara lagi. Keheningan segera

mencekam sekeliling tempat itu.

Dalam pada itu malam hari telah mencapai ujungnya, setitik cahaya merah

mulai nampak di ufuk timur.

Baru saja Ni Siau cong akan pergi dari situ, tiba tiba dari balik langit yang

berwarna kelabu muncul asap yang tebal, asap berwarna ungu.

Dari mana asap ungu itu?

Baik, Phoa tayjin maupun Ni Siau-cong dapat melihat dengan jelas sekali.

Tempat di mana muncuInya asap ungu itu tak lain adalah di tengah gedung

berpekarangan tinggi yang berada persis di hadapan mereka.

Ni Siau cong terkesiap. Ia terkejut bukan lantaran munculnya asap ungu itu. Dia

terperanjat karena sama sekali tak menyangka Phoa Ki seng, Phoa tayjin yang

selama ini dianggap sebagai seorang pejabat negara yang lemah, ternyata adalah

seorang jagoan yang berilmu tinggi, seorang jago tangguh yang selama ini selalu

menyembunyikan identitas sendiri.

Bersamaan dengan munculnya asap ungu itu, Phoa tayjin segera mengebaskan

ujung bajunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya dengan jurus

mendorong jendela melihat rembulan, langsung meleset keluar lewat daun

jendela, Ujung kakinya segera menutul di atas pagar loteng kemudian menutul

ranting pohon di luar pagar. Dengan gerakan Yancu sam Cau Sui (burung walet

menyambar air) ia sudah menerobos tembok pekarangan rumah seberang yang

tinggi itu. Dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya sudah lenyap dari

Ni Siau Cong tertegun, Untuk berapa saat lamanya ia cuma berdiri termangu,

tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Bagaimana pun juga dia adalah manusia, punya rasa ingin tahu. Sebetulnya dia

pun ingin menyusul ke situ untuk ikut melihat keramaian, tapi kasus

pembunuhan ini terlalu besar dan menyangkut banyak orang kenamaan. Dapat

dipastikan situasinya sangat berbahaya. la kuatir bila terlibat kelewat dalam

maka setiap saat mungkin akan mengundang datangnya kematian bagi diri

Yang lebih menakutkan lagi adalah semua tokoh yang terlibat dalam kasus

pembunuhan ini bukan orang orang biasa. Phoa Kiseng, Leng Giok hong, hampir

setiap orang seperti menyembunyikan banyak rahasia, bahkan rahasia itu

 

adalah rahasia yang menakutkan. Terbukti jagoan ampuh macam Komandan Sin

pun tak luput dari kematiannya gara-gara kasus tersebut.

Pertimbangan itulah yang membuat Ni Siau cong jadi sangsi, ragu ragu untuk

melanjutkan niatnya.

Belum sempat dia mengambil keputusan, tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang

memilukan hati bergema memecahkan keheningan. Jeritan itu mirip ringkikan

seekor keledai yang terbunuh, ringkikan yang mengandung rasa takut

menghadapi maut, terkandung juga perasaan kecewa serta putus asanya

menghadapi kehidupan.

Jerit kematian itu berasal dari balik gedung di seberang sana. Ketika Phoa Kiseng

mendengar suara jeritan ngeri itu, dia pun melihat Leng Giok-hong. Waktu

itu Leng Giok-hong sedang berdiri di tempat asal munculnya asap berwarna

ungu itu.

XIII. Tertangkapnya Si Pembunuh

Di balik halaman kecil di bagian belakang gedung megah itu terdapat sebuah

bangunan kecil tempat untuk menyimpan kayu bakar. Dalam ruang yang kecil

itu terdapat sebuah cerobong asap yang besar sekali.

Dari cerobong asap itulah asap berwarna ungu berasal. Ketika Phoa Ki seng tiba

di situ, Leng Giok-hong telah berdiri di bawah cerobong asap.

Siapa yang membakar asap ungu itu? Mungkinkah Leng Giok-hong?

Tentu saja bukan.

Leng Giok hong bisa menyusul kesitu justru karena melihat munculnya asap

berwarna ungu itu. Ketika ia tiba di tempat kejadian, orang yang membakar asap

ungu itu sudah pergi dari situ.

Apa yang telah dilakukan Leng Giok hong semalaman? Apakah ia berhasil

menemukan sesuatu keganjilan atau keanehan di tempat itu?

Belum sempat Phoa Ki seng mengajukan pertanyaan, mereka sudah mendengar

suara jeritan ngeri seperti apa yang terdengar oleh Ni Siau cong tadi.

Tiba tiba paras muka Leng Giok hong berubah hebat.

“Aaah… Ang ang … ! Itu suara Ang ang!”

Dugaannya sangat tepat, jeritan itu berasal dari Ang ang.

Tubuh Ang ang sudah roboh terkulai di atas genangan darah, mulut luka yang

mematikan berada di atas hatinya. Senjata pembunuh adalah sebilah pisau

pendek, tetesan darah masih nampak meleleh keluar lewat ujung pisau itu,

pisau yang masih tergenggam di tangan seseorang.

 

Jari tangan yang digunakan orang itu untuk menggengam pisau belati sudah

tampak memutih, putih karena ia menggenggam kelewat bertenaga. Paras

mukanya yang pucat pasi kini berubah menghijau, rasa kaget dan ngeri tampak

menghiasi wajahnya. Dia seperti tidak percaya kalau dirinya dapat melakukan

perbuatan semacam ini.

Orang itu tak lain adalah Thia Siau cing. Hampir pada saat yang bersamaan

Phoa Ki seng dan Leng Giok hong tiba di tempat kejadian. Peristiwa tragis yang

terbentang di depan mata tidak sampai membuat kedua orang itu mengumbar

emosi. Bukan saja mereka tidak menegur, tidak menghardik bahkan turun

tangan pun tidak. Paras muka mereka sama sekali tidak berubah banyak.

Satu satunya tindakan yang mereka lakukan hanya berdiri berpisah, seakan

akan suatu tindakan yang tidak disengaja, kedua orang itu masing masing

berdiri di depan pintu, jalan mundur dari kamar di mana Lie Lam ang tergeletak.

Pada saat itulah mereka berdua lagi lagi saling bertukar pandangan, seakan

akan baru sekarang mereka tahu bahwa lawannya mempunyai banyak

kemiripan dengan diri sendiri.

… Pembesar eselon empat dari ibu kota ini bukan cuma memiliki ilmu silat yang

luar biasa, ternyata dia pun pandai mengendalikan diri dan tetap bersikap

tenang dalam situasi apa pun. Asal usul serta latar belakangnya hingga kini

masih merupakan tanda tanya besar bagi Leng Giok hong.

Mungkinkah dia mampu mengungkap teka teki seputar dirinya dalam waktu

singkat?

Thia Siau cing masih berdiri pada posisi semula, sama sekali tak bergerak. Leng

Giok hong maupun Phoa Ki seng juga tidak bergerak, seakan akan mereka ingin

memberi peluang untuk lawannya mengendalikan gejolak emosi dalam hatinya.

Mereka tak ingin merangsang lawannya untuk melakukan pertarungan nekad

karena menganggap posisinya sudah terdesak.

Mereka bisa menahan diri, sayang ada orang lain yang tak mampu

mengendalikan emosinya dan sudah turun tangan duluan. Terdengar suara

sambaran golok membelah angkasa, sekilas cahaya golok berwarna merah

kehitam hitaman telah menerobos masuk lewat jendela. Setelah berputar satu

lingkaran di udara, lingkaran cahaya tersebut makin lama makin mengecil dan

segera menggorok leher Thia Siau cing.

Mendadak terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan.

“Blummm!” daun jendela hancur berhamburan ke empat penjuru menyusul

tibanya sesosok bayangan manusia menerjang masuk ke dalam lingkaran

cahaya golok itu.

Ilmu silat yang digunakan orang itu adalah ilmu Kin na jiu tingkat tinggi yang

disebut ilmu “Hun kong po im” (membelah cahaya memukul bayangan), ilmu ini

konon diciptakan seorang pendeta dari gunung Hong san.

 

Dengan sepasang tangan kosong bayangan manusia itu menerobos ke dalam

lingkaran cahaya golok musuh yang meng¬gidikan hati, kemudian bagaikan

cakar elang tiba tiba mencengkeram senjata golok lawan.

Mendadak cahaya golok yang berkilauan seperti sambaran halilintar itu lenyap

tak berbekas. Sebilah golok lengkung berwarna merah kehitam hitaman kini

sudah berada dalam cengkeraman orang itu.

Hampir pada saat yang bersamaan kembali terlihat sesosok bayangan manusia

yang tinggi besar menerobos masuk lewat jendela. Setelah berputar selingkaran

di udara bagai burung rajawali raksasa, ia menyambar ke bawah sembari

menghantam jalan darah Tay yang hiat di kennig orang itu.

“Blam, blaam, blaaam . . .” tigabelas kali benturan dahsyat menggelegar di

angkasa. Dalam waktu sekejap mata dua orang itu sudah saling menyerang

sebanyak tigabelas pukulan.

Orang yang berdiri di atas tanah tak lain adalah Kwan Giok bun, Kwan ji dari

propinsi Kwan an, sementara orang yang masih melayang di udara adalah

Lenghou Put heng.

Selewat tigabelas gebrakan yang seru itu, kini tubuh Lenghou Put heng sudah

mencelat balik ke belakang. Namun golok lengkung yang semula berhasil

dirampas Kwan Giok bun, kini sudah direbut kembali oleh Lenghou Put heng.

Biarpun pertarungan antar dua orang jagoan tangguh ini hanya berlangsung

sekejap, namun cukup membuat orang yang menonton jadi berdebar hati tidak

Kwan Giok bun dengan tubuhnya yang kurus kering masih berdiri tegak di posisi

semula. Walapun bajunya yang lebar berkibar kencang terhembus angin getaran,

tianitm ja tak mundur walau setengah langkah Pun! Dengan sinar mata yang

memancarkan cahaya tajam, bentaknya, “Cayhe Kwan Giok bun adalah Keluarga

dari orang she Thia itu. Urusan yang menyangkut keluarga Kwan biar kami

keluarga Kwan yang selesaikan. Sekalipun dia telah melakukan kesalahan, biar

kami sendiri yang menghukumnya dengan aturan keluarga. Hmmm! jika ada

orang luar pingin ikut campur, jangan salahkan kalau aku orang she Kwan

bertindak kejam!”

Selesai bicara, tanpa menunggu reaksi orang lain dia segera menyambar lengan

Thia Siau cing dan menariknya untuk diajak pergi.

“Ayoh, ikut aku pulang!”

Thia Siau cing seperti tak ingin pergi bersamanya, dia seperti ingin berkelit dari

tarikan itu. Namum Kwan Giok bun bukan jago sembarangan. Cahaya golok

yang sedang melancarkan serangan maut saja berhasil dia rampas, apalagi

hanya sebuah pergelangan tangan yang sedang berdiam kaku.

Begitu pergelangannya tertangkap oleh sepasang tangan yang mempunyai

kekuatan dahsyat itu, pemuda tersebut tak sanggup lagi untuk meronta dan

 

melepaskan diri. Thia Siau cing sangat gusar, dengan mata melotot penuh

amarah dan kebencian dia pelototi orang itu sekejap, kemudian teriaknya

dengan Suara parau, “Lepaskan aku!”

“Ibumu masih menunggu kau, ayo pulang bersama aku!”

“Kalau aku tak mau pulang?”

“Tidak mau pulang pun tetap harus pulang!”

Thia Siau cing tertawa dingin. “Biar harus pulang pun aku tetap tak pulang!”

Cengkeraman Kwan Giok bun semakin mengencang. Siapa yang bisa

melepaskan cengkeramannya dalam keadaan begini?

Thia Siau cing masih tertawa dingin, mendadak pisau belati yang tergenggam di

tangan kanannya diayunkan ke bawah, langsung memotong pergelangan tangan

sendiri yang masih dicengkeram kuat kuat oleh Kwan Giok bun.

Muncratan darah segar segera menyembur mengotori wajah Kwan Ji, tak tahan

ia mundur tiga langkah dari posisi semula. Sekarang ia baru sadar apa yang

telah terjadi, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Walaupun sampai sekarang dia masih menggenggam pergelangan tangan

pemuda itu kuat kuat, tapi kini pergelangan tangan itu tinggal kutungan

pergelangan tangan keponakannya yang masih berlumuran darah. Noda darah

yang berceceran mengotori juga baju serta sepatunya.

Thia Siau cing sendiri ikut mundur dengan sempoyongan. Peluh sebesar kacang

kedele membasahi jidat serta wajahnya, tapi dia masih berusaha mempertahan

diri, katanya sambit menggigit bibir, “Aku telah membunuh orang, aku harus

bayar hutang nyawa ini, kau tak usah mencampuri urusanku, kau tak usah ikut

urusan. . .”

“Jadi kau benar benar telah membunuhnya?” tanya Kwan ji dengan perasaan

Sambil menggigit bibir Thia Siau cing mengangguk. Dia seperti ingin mengatakan

sesuatu, sayang sebelum kata kata itu sempat diucapkan ia sudah roboh tak

sadarkan diri.

Dengan wajah sangat mengenaskan Kwan Ji memandang Phoa Ki seng sekejap,

kemudian memandang juga Leng Giok hong. Tiba tiba ia mendongakkan

kepalanya dan tertawa panjang.

Daun kering masih berguguran di luar jendela karena hembusan angin pagi,

suara ayam berkokok mulai kedengaran dari empat penjuru. Kwan ji tidak bicara

lagi. Tiba tiba ia melejit ke udara lalu menerobos keluar dari ruangan itu lewat

jendela, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah tak nampak dari

 

Menyusul di belakang Kwan ji tadi, terlihat sesosok bayangan manusia melompat

juga meninggalkan ruangan itu, dia adalah Lenghou Put heng.

Dari kejauhan terdengar Kwan Ji berseru, “Leng Giok hong, kuserahkan Thia

Siau cing kepadamu. Tapi ingat, kau harus mengadilinya secara jujur! Kalau

tidak, aku akan datang lagi untuk mencabut nyawamu!”

Hukuman yang pantas untuk seorang pembunuh adalah hukuman mati. Hukum

negara tetap merupakan hukum yang harus dipatuhi. Jangankan rakyat biasa,

seorang raja atau seorang pembesar tinggi pun tak akan bisa lolos dari hukum.

Sejak dulu hingga sekarang hukum tetap tak berubah, dan tak seorang pun bisa

menghindar dari jeratan hukum.

Thia Siau cing terbukti melakukan serangkaian pembunuhan berdarah.

Hukuman yang dijatuhkan kepadanya adalah hukuman mati, hukum penggal

kepala akan dilaksanakan selewat musim gugur tahun ini.

XIV. Catatan akhir

Musim gugur telah tiba, inilah saat bunga. seruni mulai berbunga. Arak merah

yang harum mulai dihidangkan, memenuhi cawan di atas meja.

Phoa Ki seng sudah meneguk tiga cawan besar.

“Leng Kongcu, silahkan!” katanya. Leng Giok hong juga telah meneguk habis tiga

cawan arak.

“Silahkan Phoa tayjin!”

Mereka berdua sama sama angkat kepala saling memandang, empat mata saling

beradu sampai lama tanpa berkedip. Tampaknya banyak sekali persoalan yang

ingin dibicarakan, namun tak sepatah kata pun yang terucap keluar.

Yang terdengar saat ini hanya suara dedaunan yang saling bergesek tertiup

angin, seekor burung camar terbang melintas di udara meninggalkan suara

pekikan yang panjang dan nyaring.

KAWANAN SERIGALA

I. Dua Sisi Uang Logam

Pedang mestika mempunyai dua mata pedang yang tajam. Uang tembaga juga

mempunyai dua sisi. Tidak demikian dengan golok.

Bila kau periksa dua sisi dari uang tembaga tersebut, dari sisi mana pun kau

periksa, kecuali gambar yang berbeda hampir semuanya berbentuk sama.

Begitu juga dengan dua mata pedang dari pedang mestika. Dari sudut mana pun

kau periksa, mata pedang tetap terasa dingin dan tajam.

Tapi bagaimana dengan golok? jika kau periksa dari sudut mata golok,

bentuknya pasti setipis kertas. Kau akan merasa seperti berada di ujung

 

kematian. Sebaliknya bila kau pandang dari sudut punggung golok, maka kau

tak akan merasakan datangnya ancaman yang bisa membahayakan jiwamu.

Bahkan untuk melukai tangan pun tak mungkin.

Oleh karena itu meski golok tidak setajam pedang, lebih lamban ketimbang gerak

pedang, namun dalam kenyataan golok masih memiliki keistimewaan lain,

kelicikan serta kepandaian untuk menyembunyikan identitas sendiri. Dan di

dunia ini agaknya terdapat sejenis manusia yang mempunyai sifat persis seperti

Kisah yang akan diceritakan berikut adalah kisah dari manusia jenis itu.

Semua orang tahu perjudian adalah satu organisasi yang maha besar dan sangat

rahasia sepak terjangnya. Bahkan belakangan ini perkembangan perjudian

sudah mencapai pada masa yang paling gemilang. Organisasi ini telah

berkembang melampaui perkembangan partai maupun perguruan mana pun di

dunia persilatan. Tapi tak ada yang tahu kepedihan serta kesulitan mereka.

Penderitaan terbesar dari seorang bandar judi adalah harus terus berjudi. Di

saat kau tak ingin berjudi pun kau tetap harus berjudi. Selama ada orang

memasang taruhan maka kau harus menerima taruhan tersebut, kendati pun

kau tahu kalau pertaruhan itu berat sebelah, tak adil dan pihaknya pasti akan

mengalami kekalahan.

Dalam keadaan ini, taruhan toh tetap harus berlangsung, judi tetap harus

dilaksanakan. Paling banter kau hanya bisa berusaha untuk memperkecil

kekalahan yang diderita.

Itu semua dikarenakan kau adalah “Tempat Perjudian.” Tempat perjudian yang

tak berjudi sama artinya seperti rumah pelacur yang tidak menyediakan pelacur.

“Hanya bicara tanpa pelaksanaan,” “hanya memukul genderang tanpa menjual

minyak,” semuanya merupakan pantangan terbesar bagi orang persilatan.

Taruhan yang harus dilaksanakan dalam perjudian kali ini. merupakan satu

taruhan yang sangat tidak adil. Datanya adalah sebagai berikut:

Tanggal pelaksanan : Bulan sembilan tanggal sembilan.

Tempat pelaksanaan : Tebing naga Ciong liong leng di puncak gunung Hoa san.

Sistim pertaruhan : Tiga lawan satu.

Peserta taruhan : Tong Ci, Ni Siau ciok.

Acara taruhan : Ilmu meringankan tubuh.

II. Terbang Ke Gunung Hoa san

Musim gugur di bulan sembilan tanggal sembilan, matahari bersinar terang di

tengah udara.

Angin yang berhembus di atas gunung sangat kencang, kabut tebal hampir

menyelimuti seluruh permukaan. Gunung Hoa san dengan anak bukitnya

sepanjang tiga li membentang bagai seekor naga sedang tidur. Tebing tebing

 

yang curam setinggi ribuan kaki tampak dari kejauhan bagai sebilah golok yang

sangat tajam, menancap dari balik awan putih.

Orang bilang Hoa san adalah gunung tercuram di kolong langit. Tempat ini

adalah tempat tercuram dari bagian gunung Hoa san. Di antara tebing tebing

curam yang terjal itulah kini sudah terbentang selembar karpet bulu kambing

dari Persia yang berwarna hijau tua, sehijau tanah lapang berumput yang subur.

Tiga orang manusia sedang duduk di atas karpet itu, mengelilingi sebuah meja

pendek, sebuah khim kuno dan sepoci air teh pahit.

Kabut tebal berwarna putih bagai susu kambing menyelimuti permukaan,

mengitari ketiga or¬ang itu; seorang hwesio, seorang tosu dan seorang preman.

Sang padri adalah seorang pendeta berjubah putih, berwajah kuning pucat,

tampangnya seperti orang penyakitan seakan akan sudah banyak tahun tidak

melihat cahaya matahari dan lagi kekurangan gizi.

Si tosu berwajah angker dan sangat berwibawa, wajahnya mirip sekali dengan

cousuya mereka Lou Cu. Selain pakaiannya rapi dan bersih, tubuhnya pun

tegap. Sebilah pedang tersoren di punggungnya, pita kuning di ujung gagang

pedangnya terlihat menari kian kemari terhembus angin.

Si orang preman adalah seorang kakek berambut putih yang memakai jubah

berwarna merah. Sebetulnya dia punya perawakan badan tinggi besar. Tapi

sekarang walaupun sudah agak bungkuk seperti udang yang digoreng, namun

masih, menimbulkan satu kesan yang aneh bagi yang melihatnya, seakan akan

secara mendadak mereka berjumpa dengan sejenis makhluk aneh yang sangat

langka. Walaupun tahu kalau dia tak akan melukai dirimu, tapi tetap

mendatangkan kesan aneh, misterius dan seram yang sulit dilukiskan dengan

kata kata.

Si baju hijau pemusnah sukma, si jubah merah pembetot nyawa.

KaIau orang ini adalah It kiamto mia (Pedang sakti pembetot nyawa) Toa li si

jubah merah, lalu siapa pula tosu dan padri itu?

Dalam dunia persilatan saat ini sudah tak banyak orang yang bisa duduk sejajar

dengan kakek berjubah merah itu. Kebanyakan mereka sudah pada mati atau

tak tahu kabar beritanya lagi.

Yang tersisa berapa orang pun kalau bukan seorang sesepuh perguruan besar,

dia pasti seorang bulim cianpwee yang sangat tinggi dan terhormat

Tentu saja orang orang semacam itu bukan orang goblok, Tapi apa yang sedang

mereka lakukan? Kenapa mereka jauh-jauh datang ke puncak gunung Hoa san

hanya untuk duduk, seperti orang goblok?

 

Selisih tak jauh dari mereka bertiga tumbuh sebuah pohon cernara kuno. Pohon

itu tumbuh persis di samping sebuah tebing karang yang curam, akar pohon

yang besar tampak mencengkeram permukaan tanah kuat kuat.

Sesosok manusia terlihat berdiri bersandar pada batang pohon itu. Dia

mengenakan jubah berwarna hitam, bertelanjang kaki dan menggantungkan

sepasang sepatu berwarna kuning emas yang berbentuk aneh dan terbuat dari

karung jerami di lehernya, sementara di tangannya memegang sebuah kantung

arak terbuat dari kulit kambing yang biasa dipakai para petemak di luar

Waktu itu, orang berbaju hitam tersebut sedang meneguk arak dengan lahapnya.

Arak putih seperti susu kambing, manis rasanya tapi begitu sampai dalam perut

segera akan berubah jadi gumpalan api yang panas sekali.

“Putra sulung harus ternama, arak harus memabukkan.”

“Lantunan setelah mabuk, pasti kata kata yang jujur!”

Irama nyanyian itu kedengaran sangat memilukan, selain terkandung juga

gejolak perasaan yang tak terlukis dengan kata. Dia seolah olah menganggap

dahan pohon yang kecil itu sebagai sebuah dataran yang sangat luas. Angin

lembut menggoyang rerumputan, dia seakan akan melihat gerombolan domba

dan kerbau sedang berlarian di padang rumput yang luas.

Si pelantun lagu seperti sedang membayangkan kembali tempat kelahirannya,

tempat yang tak mungkin bisa dikunjungi lagi.

Po Ing.

Dari atas dahan pohon yang lebih tinggi, tiba tiba terjulur sebuah tangan yang

putih mulus. Dengan lima jari tangannya yang lembut sedang menggenggam

serenteng anggur, buah yang tak mungkin bisa terlihat dalam situasi dan

kondisi seperti ini; anggur hijau yang kelihatan begitu segar penuh cairan, tapi

mirip juga dengan anggur tiruan.

Orang itu pun kelihatan seperti orang tiruan, dia memiliki rambut panjang yang

hitam pekat terurai di sepasang bahunya.

Dia pun mengenakan satu stel jubah berwarna hitam, satu-satunya bagian yang

berbeda dengan jubah yang dikenakan Po Ing adalah pada ujung bajunya.

Ujung baju yang dia kenakan dipenuhi dengan sulaman bunga, Sulaman bunga

dari benang berwarna emas.

Buas bagai harimau Kwan Giok-bun, ringan bagai walet Oh Kim siu!

Setiap orang yang hidup dalam dunia persilatan pasti akan tahu kalau dia

adalah satu-satunya kekasih dari Po Ing, sang bandar judi nomor wahid di

 

kolong langit. Memang tidak banyak lagi perempuan di dunia ini yang mampu

bertahan berpacaran selama tiga hari dengan Po Ing.

Sebenarnya kemampuan Oh Kim siu yang lebih hebat sehingga dapat

menaklukan Po Ing, atau sebalikriya, kemampuan Po Ing yang jauh lebili hebat

sehingga bisa menaklukan Oh Kim siu?

Tak seorang pun yang bisa menjawab persoalan ini.

Ketika buah anggur jatuh ke dalam mulut Po Ing, suara Oh Kim siu kedengaran

somakin merdu, merdu bagai suara keleningan.

“Wah, tampaknya perjudian yang diadakan kali ini betul-betul sangat ramai!

Coba lihat, si jubah merah u dan si jubah kuning Tu sampai ikut datang untuk

ikut memeriahkan pertaruhan ini!”

“Mereka bukan datang untuk ikut memeriahkan keramaian ini, sahut Po Ing.

“Mereka khusus diundang pihak keluarga Tong dengan biaya tinggi untuk

bertindak sebagai juri.”

Setelah menghela napas panjang, kembali tambahnya, “Coba kau bayangkan

sendiri, kalau tidak dibayar dengan uang perak dalam jumlah besar, mana

mungkin si setan tua berjubah merah itu mau mengejakan?”

“LaIu siapakah padri itu?”

“Dia adalah seorang tokoh persilatan yang punya nama besar,” jawab Po Ing, “Cia

gu hwesio yang tinggal di biara Gu-ciok sie, hutan Gu ciok lim lautan timur,

adalah dirinya!”

“Waaah… kedengarannya Cia-gu hwesio betul betul seorang padri yang cia gu

(makan kesengsaraan),” desis Oh Kim Siu sambil menghela napas.

Po Ing segera tertawa.

“Padalial di Tong hay (samudra timur) sama sekali tak ada daerah yang bernama

Hutan Gu-ciok lim. Sekalipun ada, hwesio gundul itu juga tak pernah

mendatangi karena semua nama julukan itu tak lebih hanya karangan dia

sendiri!”

Setelah tertawa ringan, kembali Lanjutnya, “Dan satu hal lagi, menurut apa yang

kuketahui hwesio ini cia (makan) apa saia, namun ada satu yang tidak di cia

yaitu cia gu alias makan kesengsaraan.”

Oh Kim siu tertawa geli.

“Padahal manusia semacam itu bukan cuma dia! Banyak sekali orang, di dunia

ini yang berbuat persis seperti dia. Saban hari di mulut berkaok kaok bilang

dirinya cia gu, padahal orang yang benar benar cia gu itu orang lain, sedang diri

sendiri tak pernah merasakan.”

 

Persoalan yang mereka bahas saat ini kelewat dalam dan mengandung kritikan

yang kelewat tajam, sangat gampang menyinggung perasaan orang lain. Tentu

saia Po Ing dan Oh Kim siu tak mau berbuat begitu. Sekarang mereka sedang

gembira, karena itu pokok pembicaraan segera dialihkan ke persoalan lain.

“Menurut dugaanmu, siapa yang bakal keluar sebagai pemenang dalam

pertaruhan kali ini?”

“Menurut kau?” Po Ing balik bertanya. “Nona besar Oh yang bisa terbang

seringan burung walet merupakan seorang jago paling tangguh dalam soal ilmu

meringankan tubuh. Semestinya perkiraanmu jauh lebih akurat ketimbang

dugaanku.”

Oh Kim siu memang sangat yakin kalau ilmu meringankan tubuh yang

dimilikinya sangat hebat dan tiada tandingan. Tanpa berpikir lagi ia segera

menjawab, “Walaupun keluarga Tong dari jwan pak dan keluarga Tong dari jwan

tiong punya hubungan sebagai saudara Tong, tapi andalan ilmu silat kedua

keluarga ini sangat berbecda.”

Dalam masalah ini kebanyakan orang persilatan sudah tahu dengan jelas bila

keluarga Tong dari wilavah tengah sangat mengandalkan senjata amgi yang

beracun. Asal orang sudah melihat kantung senjata rahasia milik khas keluarga

Tong beserta sarung tangan kulit menjangannya, kebanyakan orang persilatan

akan mengambil langkah seribu untuk menyingkir jauh jauh.

Sebaliknya keluarga Tong yang berasal dari utara lebih mengandalkan ilmu

meringankan tubuh. Mereka sangat menguasai ilmu ginkang dan seringkali

menggunakan ilmu kuno yang sudah lama punah dari dunia persilatan.

“Yang lebih penting lagi adalah setiap anggota keluarga Tong dari utara memiliki

kesabaran yang luar biasa. Apalagi mereka sudah terbiasa hidup di daerah

pegunungan, tentu saja sifat tersebut berhubungan sangat erat dengan kondisi

tempat kelahiranya.”

“Betul, jalanan di wilavah Yunnan sangat sulit dilewati, sulit seperti jalan

menuju langit,” imbuh Po Ing cepat. “Karenanya orang orang di wilayah itu

sangat kuat dalam berjalan kaki.”

“Tapi aku dengar orang yang dikirim keluarga Tong dari Utara kali ini adalah

Tong Ci. Konon dia merupakan jago paling tangguh dari angkatan ke dua

perguruan itu. Wajahnya sangat ganteng. Orang memanggilnya si macan

kumbang kemala.”

Po Ing tertawa.

“Jika seorang pria berwajah tampan, maka apa pun yang dia lakukan, dalam

pandangan kaum wanita dia selalu tampak lebih hebat dan luar biasa,” katanya.

“Bagaimana dengan kau sendiri? Masa kau tidak menjagoi Ni Siau ciok, si

burung gereja dari keluarga Ni?”

 

“Apa salahnya jika kujagoi Ni Siau ciok?”

“Keluarga Ni terkenal sebagai satu keluarga maling. Biarpun ilmu meringankan

tubuh yang dimiliki kaum maling selalu hebat, tapi tak bagus dalam prakteknya.

Bila aku mesti bertaruh, tak bakalan aku menjagoinya.”

“Bukan cuma kau yang tidak pegang dia. Orang lain pun tak ada yang

menjagoinya,” Ujar Po Ing sambil menghela napas. “Dalam kenyataan, tidak

seorang manusia pun yang mau membeli dia.”

“Cuma kau seorang?”

Kembali Po Ing menghela napas panjang.

“Yah, apa boleh buat? Kalau semua orang pegang Tong Cu dan aku pun

memegang dia, lantas pertaruhan ini mana bisa jalan?”

“Tanpa taruhan berarti tak ada arena perjudian.”

“Betul!”

“Kalau mau buka arena perjudian berarti kau harus terima taruhan dari orang

lain. Tong Ci telah memenangkan angka taruhan ini.”

“Betul.”

“Kau sudah terima berapa banyak uang taruhan?”

“Kurang lebih delapanratus ribu tahil.”

“Emas atau perak?”

“Kali ini perak. Kalau tidak, mungkin kau sudah kalah habis-habisan sampai

mesti menjual rumah untuk nombok!”

“Siapa bilang aku pasti kalah?”

“Memangnya kau masih punya harapan untuk menang?”

“Paling tidak harapan tetap ada, meski sedikit,” sahut Po Ing tertawa. “Kalau

dagang potong kepala saja ada yang mau kerjakan, masa kau mau melakukan

pekerjaan yang pasti merugi? jika taruhan ini betul betul bakal kalah dan tak

ada harapan lagi untuk menang, biar kau potong kepalaku pun aku tak bakal

akan mengerjakannya! ”

III. Siasat Jitu

Sistim pertaruhan yang berlaku dalam perjudian kali ini adalah kee tiga, atau

tiga lawan satu. Artinya bila kau ingin memegang Tong Ci, maka jika Tong Ci

kalah kau mesti bayar tiga tahil, sebaliknya jika menang hanya menang satu

 

Biarpun begitu, ternyata masih banyak orang yang membeli Tong Ci, sebab

semua orang menganggap Ni Siau ciok sama sekali tak punya peluang untuk

menangkan pertaruhan kali ini. Biar mesti kee tiga, dapat dipastikan si bandar

judi bakal kalah habis-habisan hingga mesti jual celana sendiri.

Yang menjadi bandar dalam perjudian kali ini adalah Po Ing.

Si bandar judi segera akan menjadi seorang pecundang, tapi sekarang dia

nampak masih berdiri santai bahkan senyumannya masih begitu lepas dan

Di bawah pohon cernara, di atas permadani, hampir semua orang yang berada di

situ termasuk tiga orang yang duduk mengelilingi meja kecil sedang berbicara

seputar taruhan yang diadakan kali ini. Semua orang tak pernah lepas

membicarakan nama kedua orang tersebut.

“Sungguh tak nyana Po Ing berani mengadakan pertaruhan ini dengan sistim kee

tiga. Mungkin dia masih punya keyaknian untuk bisa menangkan taruhan ini,”

kata si baju kuning Tu sambil berkerut kening. “Tapi aku betul betul tak habis

mengerti, dengan cara apa Ni Siau ciok bisa menangkan Tong Ci?”

“Banyak sekali cara untuk membuat seseorang menderita kekalahan,” jawab Cia

gu hwesio perlahan. “Siapa tahu dia sudah mencampuri obat racun ke dalam

arak yang diminum Tong Ci, sehingga sepanjang jalan Tong Ci mesti berak berak

sampai tujuh delapan kali. Bisa juga dia telah kirim seorang wanita cantik ke

ranjang Tong Ci dan semalam perempuan itu sudah menguras habis semua

tenaga dan energi yang dipunyai Tong Ci.”

“Aku benar benar tak habis pikir,” Tu berjubah kuning tertawa getir. “Bagaimana

mungkin seorang hwesio macam kau bisa berpikir sejauh itu?”

Cia gu hwesio tetap santai, setelah meneguk araknya satu tegukan, lanjutnya

“Aku si hwesio saja bisa berpikir sampai ke situ, masa Po Ing tak bisa berpikir

begitu?”

“Tapi aku yakin dia tak bakal berbuat begitu.”

“Kenapa?”

“Po Ing bukan manusia macam itu, sedang Tong Ci juga bukan seorang tolol.

Setolol-tololnya Tong Ci, anggota keluarga Tong yang lain pasti tak akan

membiarkan dia masuk perangkap dengan begitu gampang.”

Cia gu hwesio tidak bicara lagi, dia menghirup cawannya dengan amat santai,

seolah olah dia memang seorang padri yang Saleh.

“Bagaimana dengan orang-orang keluarga Ni? Masa mereka rela membiarkan si

burung gereja kecil itu kalah habis habisan di tangan orang lain?”

 

Si jubah merah Li melirik hwesio itu sekejap, tiba tiba timbrungnya, “Kalau kau

si hwesio adalah anggota keluarga Ni, aku rasa memang sudah tak punya cara

apa apa lagi.”

“Ya, kalau aku memang tak punya cara lain, tapi secara kebetulan aku tahu

kalau Ni Siau¬-ciok sesungguhnya punya saudara. kembar, saudara kembamya

bernama Siau cong, jika sebelum pertandingan dimulai Siau cong sudah

sembunyi di sisi lain dari gunung ini, kemudian ketika si burung gereja mulai

bertanding dan sembunyikan diri lalu Siau-cong munculkan diri dan mulai

memetik khim di sini, aku pikir si pemenang pastilah keluarga Ni!”

“Ehm, memang satu muslihat yang jitu!” kata si jubah merah Li dingin. “Cuma

ada satu yang perlu disayangkan.”

“Apa?”

“KaIau kau saja tahu jika Ni Siau ciok punya saudara kembar, memangnya

orang orang dari keluarga Tong tidak mengetahui juga rahasia ini?”

Cia gu hwesio baru saja meneguk habis isi cawannya, mendengar perkataan

tersebut ia jadi sangat mendongkol hingga sepasang matanya mendelik besar.

Di sisi lain, Po Ing yang berada di bawah pohon sudah tertawa terbahak bahak

saking gelinya, sehingga arak yang ada di dalam mulut nyaris tersembur keluar.

Tentu saja keluarga Tong sudah memperhitungkan sampai di situ, bahkan

sudah tahu kalau belakangan ini Ni Siau cong selalu berada di daerah Chi lam.

Bahkan tahu juga kalau mereka telah berjanji akan bertemu di loteng Im bun lo

di kota Chi lam pada bulan sembilan tanggal sembilan fajar. Bila sampai

waktunya Siau-cong tidak datang, keluarga Ni pasti akan menelan kekalahan

dalam pertandingan kali ini.

“Cara kerja keluarga Tong dari Yunnan selalu teliti bagai air dalam tempayan,

tak mungkin akan terjadi kebocoran di sana-sini,” Oh Kim siu menyela sambil

tertawa. “Sungguh tak disangka si keledai gundul itu bisa berpikir sampai ke

situ.”

Po Ing ikut tersenyum, satu senyuman yang mengandung sesuatu maksud

tertentu. Orang lain tak akan tahu apa arti dari senyuman itu, tapi bagi Oh

Khim-siu, hanya sekali kerlingan mata saja ia sudah memahami apa yang dipikir

“Apa yang sedang kau tertawakan?” tegumya. “Rencana busuk apa lagi yang

sedang kau persiapkan?”

“Aku cuma menemukan sesuatu secara tiba tiba. Ternyata perhitungan yang

dilakukan orrang dari perguruan yang kenamaan tak bisa menangkan

perhitungan dari kaum maling (Ngo bun)!”

“Maksudmu?”

 

“Sekalipun cara kerja keluarga Tong sangat teliti dan tak ada bocornya, pihak

yang benar benar meraih keuntungan tetap adalah keluarga Ni,” jelas Po Ing.

“Kedatangan Ni Siau cong ke kota Chi lam kali ini, terlepas apa yang hendak dia

lakukan, yang pasti dia bisa mencapai keberhasilan dan pulang dengan

selamat.”

“Kenapa?”

“Sebab kali ini dia berhasil menemukan sebuah tulang punggung yang sangat

kuat dan tak mungkin meleset. Dijamin dunia pasti aman dan tenteram.”

Akhimya Oh Khim-su mengerti juga apa yang dia katakan.

“Demi pertaruhan kali ini, orang yang diutus keluarga Tong ke kota Chi lam pasti

seorang jagoan yang sangat tangguh dan setiap saat setiap detik pasti akan

selalu mengawasi gerak gerik Ni Siau-cong. Orang lain yang tidak mengetahui

duduk perkara tentu masih mengira Ni Siau cong berhasil mengundang seorang

jagoan tangguh dari keluarga Tong untuk menjadi pengawalnya. Dalam keadaan

demikian, siapa lagi yang berani mengganggunya?”

Setelah tertawa cekikikan, kembali Oh Kim siu melanjutkan, “Tampaknya si ulat

kecil dan si burung gereja kecil dari keluarga Ni bukan lentera yang kehabisan

minyak.”

Tiba tiba Po Ing bertanya, “Tahukah kau dari lima partai yang dianggap sembilan

tianglo dari dunia persilatan di masa lalu sebagai kelompok maling, kini tinggal

berapa partai?”

“Masa tinggal partai dari keluarga Ni?”

“Tepat sekali! Yang tersisa cuma aliran partai mereka,” Po Ing menghela napas

panjang. “Bila sebuah aliran partai sudah dicap sebagai kelompok maling,,,

maka urusan untuk melanjutkan hidup akan berubah menjadi satu pekerjaan

yang tak gampang. Coba bila kesembilan orang tianglo tersebut bisa berpikir

akan hal ini tempo dulu, mungkin mereka tak akan menuduh satu aliran partai

sebagai kelompok maling hanya gara gara aliran tersebut bisa menggunakan

dupa pemabok Kie ming ngo ku huan-hun hio (dupa wangi pembalik, sukma

yang memabukkan hingga fajar.)”

Nada suaranya masih kedengaran sangat dingin dan tawar, terusnya, “Padahal

kalau mau bicara jujur, banyak sekali aliran partai yang tak pandai

menggunakan dupa pemabuk, tapi perbuatan serta sepak terjangnya justru jauh

lebih busuk dan memuakkan ketimbang aliran aliran yang dicap sebagai

kelompok maling.”

“Aku tahu kalau selama ini kau amat bersimpatik terhadap mereka,” kata Oh

Kim siu sambil menatap wajahnya lekat lekat. “Sayang sekali… keluarga Ni tetap

akan menjadi pihak pecundang dalam pertaruhan kali ini.”

“Hmmm, aku rasa belum tentu,” sahut Po Ing sambil tertawa dingin.

 

Pada saat itulah tiba tiba terlihat sesosok bayangan manusia meluncur datang

dari balik tebing karang di puncak naga. Gerak geriknya amat lincah bagai

monyet yang berlompatan, dengan empat lima kali salto ia sudah melayang

turun dengan kecepatan tinggi.

Tiba tiba gerak monyet yang gesit berubah jadi gerakan burung walet yang

sangat ringan. Dengan gerakan “dada mungil menembus awan” ia melayang di

udara lalu meluncur turun persis di atas permadani berwarna hijau itu, dengan

setengah berlutut dia raih khim kuno di meja.

“Cring… cring. . .,” dentingan nyaring bergema membelah angkasa dan mengema

hingga menembus jauh ke atas awan, ini membuktikan bahwa jari tangan yang

memainkan senar khim itu mengandung tenaga dalam yang luar biasa.

Orang itu bertubuh ramping, berwajah kurus dan mimik mukanya seperti orang

yang hidup dalam ketakutan. Hanya sepasang matanya yang memancarkan

sinar tajam, membuktikan kalau dia adalah seorang yang cerdas.

“Aaah, rupanya dia!” Oh Kim-siu berseru tertahan.

“Yaa, memang dia, memang dialah orangnya. Ni Siau ciok, si burung gereja

kecil!” sahut Po Ing dengan suara dingin. “Kali ini kelompok maling yang berhasil

memenangkan pertarungan ini!”

Hingga berapa tahun kemudian setelah peristiwa itu, setiap kali Po Ing bercerita

tentang hal tersebut ia selalu berkata bahwa ada satu kejadian yang tak akan

terlupakan olehnya, yaitu secara tiba tiba si Li berjubah merah bangkit berdiri,

berjalan ke hadapannya lalu dengan wajah yang serius dan sikap yang sangat

menghormat, berkata kepadanya, “Tuan Po, kau memang luar biasa. Aku kagum

kepadamu!”

Po Ing bercerita pula, “Dalam tiga puluhan tahun dia mengembara di dalam

sungai telaga, mungkin baru pertama kali itu Li berjubah merah menyebut orang

lain sebagai Tuan. Mungkin kali itu adalah kali pertama juga merupakan kali

terakhir dia berkata begitu.”

“Kemudian? Bagaimana ceritanya setelah itu?” ada orang bertanya kepada Po

“Kemudian, tentu saja aku dan Ni Siau ciok pergi minum arak kemenangan,”

jawab Po Ing sambil tertawa. “Sewaktu kami pergi dari situ, orang orang dari

keluarga Tong terus menerus mengawasi aku, jika sorot mata orang orang

keluarga Tong itu sama beracunnya dengan senjata rahasia yang mereka miliki,

mungkin hari itu aku sudah mati keracunan!”

Oh Kim siu menghela napas panjang dan ikut menimbrung, “Waktu itu,

sejujurnya aku agak menaruh simpati terhadap mereka, sebab mereka sama

seperti aku. Sampai kejadian telah berakhir pun masih belum mengerti dari

mana Po Ing bisa menduga kalau Ni Siau ciok lah yang bakal memenangkan

pertarunan itu.”

 

Di kemudian hari ada orang yang sempat bertanya kepada Ni Siau ciok, “Kalau

mesti menjawab secara jujur, ilmu meringankan tubuh siapa yang lebih tangguh,

kau atau Tong Ci?”

“Tentu saja dia lebih tangguh!”

“Siapa yang lebih besar kemungkinannya untuk menang?”

“Tentu saja peluang dia lebih besar.”

“Tapi kau berhasil menangkan pertarungan itu?”

“Rasanya memang begitu.”

“Ilmu meringankan tubuhnya lebih tangguh ketimbang kau, kemungkinan

menang juga dia lebih besar, lantas kenapa justru kau yang keluar sebagai

pemenang?”

Ni Siau ciok tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawanya sama sekali tidak

mirip seekor burung gereja. Senyuman itu lebih mirip seekor rase kecil, penuh

IV. Arak Kemenangan

Pada malam hari tanggal sembilan bulan sembilan, di kaki bukit Hoa san telah

didirikan sebuah tenda panjang. Aneka ragam lentera menyinari setiap sudut

tenda, belasan meja perjamuan juga telah dipersiapkan. Perjamuan ini

sebetulnya dipersiapkan untuk merayakan kemenangan Tong Ci serta para

petaruh yang memegang Tong Ci.

Sejak tengah hari, para enghiong hohan yang datang dari pelbagai sudut sungai

telaga sudah mulai minum arak di dalam tenda itu. Sambil minum mereka

menunggu, menunggu datangnya kabar gembira.

Apa mau dikata, berita yang datang dari puncak gunung ternyata sangat tidak

menyenangkan; Ni Siau ciok yang berhasil naik ke puncak gunung duluan

sambil memetik khim. Mana mungkin bisa terjadi hal demikian?

Meskipun para petaruh yang berkumpul di dalam tenda mulai merasa kikuk,

tapi semua orang masih setengah percaya setengah tidak.

Sampai kemudian Tong Ting, jago tangguh dari keluarga Tong yang khusuIs

datang dari utara guna menyelenggarakan pertarungan ini turun dari gunung,

berita burung itu baru mendapat kepastian.

“Tong Ci betul betul sudah kalah, bahkan hingga sekarang masih belum

ketahuan ke mana dia telah pergi.”

Meskipun paras Muka Tong Ting telah berubah sangat berat dan serius, namun

punggungnya masih berdiri tegak, setegak sebatang tombak.

 

Memang beginilah sikap kebanyakan jago tangguh dari keluarga Tong. Sewaktu

menang sikapnya begini, sewaktu kalah pun mereka tetap bersikap demikian.

Tidak banyak anggota keluarga Tong yang bersikap macam Tong Ci, ketika

menderita kekalahan langsung melenyapkan diri dari hadapan orang lain.

Seperti juga apa yang pernah dikatakan Coh Liu hiang, “Semakin hebat

seseorang mempelajari ilmu meringankan tubuh, semakin lemah perasaan orang

itu. Mungkin hal ini disebabkan reaksi yang timbul dalam perasaan orang

semacam ini jauh lebih cepat daripada orang lain.”

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coh Liu hiang terhitung nomor satu di

kolong langit. Tentu saja apa yang ia jelaskan dalam masalah ini sangat masuk

di akal dan mempunyai dasar serta fakta yang kuat.

Apalagi pada dasamya dia memang termasuk seseorang yang sangat lemah dan

sensitif dalam berperasaan. Ketika Tong Ting tiba di kaki gunung, dengan cepat

ia telah membuktikan akan dua hal. Tong Ci memang kalah dalam pertarungan

ini, dia ketinggalan tigaratus jari dari Ni Siau ciok.

Satu sentilan jari dianggap sebagai “satu jari,” maka tigaratus jari berarti satu

jarak waktu yang panjang sekali. Konon sistim menghitung waktu macam ini

diciptakan oleh Coh Liu hiang di masa Iafu. ‘Sekalipun tak diakui oleh

masyarakat umum, namun orang persilatan telah menggunakan sistim

perhitungan seperti ini.

… Ni Siau cong masih tetap berada di kota Chi lam, pagi tadi Tong Ting baru saja

menerima surat yang dikirim lewat merpati pos oleh anak buahnya yang

ditugaskan di kota Chi lam. Bahkan dalam surat itu ditulis juga bahwa

belakangan di kota Chi-lam telah terjadi serangkaian pembunuhan berantai yang

amat misterius dan pembunuhan itu ada sangkut pautnya dengan Ni Siaucong.

Maka untuk sementara waktu Orang itu tak bisa pergi meninggalkan kota.

Meskipun berita buruk yang disampaikan Tong Ting ini sangat melukai selera

makan para petaruh yang memegang Tong Ci, tapi karena koki sudah datang,

perjamuan pun telah dipersiapkan, mau tak mau hidangan tetap harus

dimakan. Cuma saja mereka harus menyantap hidangan itu tanpa mengerti

bagaimana rasa hidangan tersebut.

Sepanjang perjamuan kemenangan itu berlangsung, si pemenang yang

sesungguhnya serta si pecundang sama sama tak diketahui kabar beritanya.

Bahkan bayangan tubuh mereka pun tidak kelihatan.

Ke mana mereka telah pergi?

Dalam pertaruhan kali ini, si pemenang yang sesungguhnya tentu saja bukan

hanya Po Ing seorang. Kim si burung elang tersebut sedang mengajak si burung

gereja memasuki sebuah lorong kecil. Di tengah lorong sempit itu terdapat

sebuah warung kecil. Sebuah tirai kain yang tebal dan sudah menghitam terkena

asap minyak terbentang di depan pintu.

 

Oh Kim siu, si nona besar yang pada hari hari biasa suka akan kebersihan, kini

ikut hadir juga dalam warung tersebut. Belakangan ini dia seperti tak bisa

meng¬ambil keputusan sendiri, selalu mengekor di belakang Po Ing.

Seorang perempuan yang telah berusia tigapuluhan tahun bisa mengambil

keputusan macam ini, rasanya keputusan tersebut bukan hal yang keliru.

Di dalam warung hanya terdapat tiga buah meja persegi yang sudah berubah

warna. Suara pisau di dapur yang sedang mencincang daging terdengar

memecahkan keheningan. Hidangan sudah Mulai dimasak.

Po Ing periksa empat penjuru sekejap, melihat tak ada tamu lain ia segera

bertanya, “Hanya dia seorang sedang memasak?” Ni Siau ciok tertawa sambil

“Tampaknya ia sedang gembira hari ini. Dia bersikeras ingin turun tangan

sendiri untuk mempersiapkan hidangan,” katanya.

Po Ing segera tertawa, wajahnya berseri seri. Kelihatannya ia sedang gembira

sekali, lebih gembira daripada berhasil memenangkan taruhan sebesar

delapanratus ribu tahil perak, “Bagus, bagus sekali. . ,” serunya pelan.

Kemudian setelah tarik napas panjang, lanjutnya, “Masakan apa yang dia

hidangkan pertama nanti? Dadar telur?”

“Ya, yaaa. . ., dadar telur,” si burung gereja tertawa. “Dadar telur adalah aturan

kunonya. Kalau pingin minum arak, mesti makan dadar telur lebih dulu!”

Po Ing tertawa tergelak, sebaliknya Oh Kim siu gelengkan kepalanya berulang

kali. Dia tak tahu siapakah “dia” yang sedang memasak dadar telur itu?

Mungkinkah orang itu bisa memasak sepiring dadar telur yang luar biasa?

Konon bila usia seseorang bertambah tua maka mulutnya akan berubah makin

rakus. usia Po Ing memang sudah tak muda, tak heran kalau belakangan ini dia

seperti makin menjaga jarak dengan dirinya.

Sementara Oh Kim siu masih melamun, dadar telur telah dihidangkan; sepiring

dadaran telur berwarria kuning tua dengan rajangan daun brambang disebar di

atasnya. Selain wangi, juga empuk, lembut dan sangat menggiurkan hati.

Sebenarnya Oh Kim siu hanya pingin mencicipi satu sumpitan. Tapi begitu telur

dadar dicicipi, mata dan sumpitnya seakan akan tak bisa meninggalkan

hidangan itu lagi.

Menyusul kemudian dihidangkan terong masak pedas, hati sapi masak kecap,

tahu masak udang cacah, misoa masak gambas dan lainnya. Walaupun

semuanya terdiri dari hidangan sehari hari, tapi hidangan yang dimasak seorang

ahli mendatangkan kelezatan yang jauh berbeda; bikin napsu makan orang

bertambah saja.

Sekarang, mau tak mau Oh Kim siu harus mengakui juga akan kehebatan sang

“koki” itu.

 

Tapi siapakah “koki” itu? Kenapa Po Ing tampak begitu misterius dan sangat

mencurigakan gerak geriknya ketika menyinggung soal “orang” itu?

Sampai ketika “dia” selesai cuci tangan, cuci muka dan berjalan keluar dari

dapur sambil tertawa, Oh Kim siu baru betul betul terperanjat.

“Koki” yang masak telur dadar di dapur bukan Ni Siau ciok, siapakah dia?

V. Rahasia

Bagaimana pun juga, dalam dunia ini cuma ada satu orang yang benama Ni Siau

ciok. Kalau dibilang orang yang memasak telur dadar adalah Ni Siau ciok, lalu

siapakah orang yang memetik khim di puncak gunung Hoa san kemudian diajak

datang ke warung itu oleh Po Ing?

Dengan pandangan melongo Oh Kim siu mengawasi orang itu tanpa berkedip,

lalu memandang pula orang yang berada di sampingnya lekat lekat.

“Kau pastilah Ni Siau cong!

Ternyata secara diam diam kau telah tinggalkan kota Chi lam dan menyusup

kemari!” katanya.

“Bukan, aku bukan Ni Siau cong.

Siau cong masih berada di kota Chi lam,” jawab orang itu polos. “Aku bernama

Siau bu.”

“Siau bu?”

“Betul, Siau bu,” jawab orang itu. “Bu artinya tidak ada.”

“Tidak ada apa?”

“Tidak ada aku,” sahut orang itu. “Di dunia ini cuma ada Siau-ciok dan Siau

cong, tak pernah ada Siau bu!”

“Tidak ada Siau bu artinya tidak ada kau?”

“Betul!”

“Kalau tak ada kau, lantas siapakah kau?”

“Aku tak lebih hanya seseorang yang sama sekali tak ada.”

Bukan saja ia tak nampak sedih, malahan sambil tertawa gembira terusnya,

“Orang lain pun tak ada yang tahu kalau di dunia saat ini masih ada seseorang

macam aku.” Makin berkata, ucapannya semakin membingungkan. Oh Kim siu

benar benar tak habis mengerti.

 

Rupanya keluarga Ni mempunyai “kembar tiga.” Siau-ciok si burung gereja, Siau

cong si ulat kecil dan Siau bu si tak ada. Tapi orang persilatan hanya tahu dua

di antaranya, sementara Siau-bu belum pernah tampil di depan umum. Hingga

detik terakhir di mana kehadirannya sangat dibutuhkan ia baru munculkan diri.

Menggunakan kesempatan orang lain belum tahu apa yang sebenarnya telah

terjadi, ia kacaukan pertaruhan itu dan selesaikan persoalan pelik yang

membelenggu keluarganya.

Padahal mereka sendiri pun kadang kadang tak bisa membedakan secara jelas

mana yang Siau bu, mana yang Siau-cong dan mana si burung gereja.

Oh Kim siu menghela napas panjang, gumamnya, “Po Ing, sekarang aku benar

benar merasa kagum kepadamu. Rupanya sedari awal kau sudah tahu kalau

dalam pertaruhan kali ini mereka tak bakal kalah.”

Po Ing tersenyum.

“Aku toh sudah berkata kepadamu; jika tahu pasti kalah dan tak punya peluang

untuk menang, biar mesti potong kepala pun aku tak bakal menerima

pertaruhan ini.”

“Tidak mungkin. Kau masih tetap akan pergi bertaruh karena kau memang

sorang penjudi sejati,” ujar Oh Kim-siu dengan nada sedih. “Jika seseorang baru

akan bertaruh bila yakin seratus persen akan menang, dia tak bisa dianggap

seorang penjudi sejati.”

Ni Siau-ciok si burung gereja ikut menghela napas panjang.

“Perkataan semacam ini benar-benar merupakan kata yang tak pernah berubah

sejak jaman kuno; siapa pun yang pernah mendengar pasti akan selalu

mengingatnya di dalam hati.”

“Padahal aku belum pantas disebut sorang penjudi sejati, karena kemampuanku

belum mencapai taraf itu,” kata Po Ing tertawa.

“Kalau kau tidak pantas, siapa yang pantas?”

“Kwan Ji, Kwan Giok-bun. Padahal aku mengira dia pasti akan datang kali ini.”

Asal ada kesempatan untuk bisa bertaruh dengan Po Ing, Kwan Ji memang

selalu tak akan melewatkan peluang itu, hanya sayang….

“Kwan Ji masih berada di kota Chi-lam saat ini. Seperti halnya Siau-cong, ia

sedang terlibat dalam satu kasus pembunuhan berantai yang sangat

menghebohkan, “ jelas Ni Siau-ciok. “Tapi semalam aku telah menerima surat

yang dikirim Siau-cong lewat burung merpati, konon si pembunuh sudah

tertangkap. Ternyata orang itu adalah keponakan Kwan Ji-ya, putra tunggal dari

nyonya muda ke-tiga keluarga Kwan yang bernama Thia Siau-cing.”

“Thia Siau-cing?” Po Ing mengerutkan dahinya. “Masa Thia Siau-cing bisa bunuh

orang? Aku tidak percaya!”

 

“Kabarnya dia bukan hanya bunuh satu orang saja, bahkan ketika ditangkap ia

masih berada di tempat kejadian,” jelas si burung gereja. “Malahan

kedengarannya orang yang berhasil membongkar kasis pembunuhan ini adalah

seorang jago nomor wahid dari Lak-san-bun, kepala kejaksaan Leng Giok-hong.”

Po Ing mengerutkan dahinya semakin kencang. Setelah termenung sesaat ia

baru bertanya lagi, “Bukankah penguasa kota Chi-lam adalah seorang bermarga

Phoa?”

“Mungkin saja. Konon dulunya dia adalah seorang pembesar tinggi pemerintahan

yang bertugas mengontrol sembilan propinsi dan mempunyai pedang Sio-hong

pokiam hadiah dari kaisar. Dia punya wewenang untuk menghukum mati orang

terlebih dulu sebelum membuat laporan.”

“Berarti dia sudah menghukum mati Thia Siau-cing?”

“Sementara ini belum, tapi hukuman akan segera dilaksanakan secepatnya.”

“Ayoh berangkat!” tiba-tiba Po Ing bangkit berdiri, “kita berangkat dulu ke Chilam,

di situ sedang berlangsung satu pertunjukkan menarik, kita tak boleh

sampai ketinggalan kereta.”

Ni Siau-bu yang selama ini jarang berbicara tiba-tiba menyela sambil tertawa,

“Kakak Ing, bila kau cuma pingin bertemu Kwan Ji-ya, rasanya tak perlu jauhjauh

pergi ke kota Chi-lam.”

Waktu itu Kwan Ji sudah tiba di gunung Hoa-san, ia sedang duduk di dalam

tenda panjang di kaki bukit sambil minum arak. Arak yang diminum jauh lebih

banyak dari hidangan yang disantap.

VI. Rekor Yang Spektakuler

Keluarga Ni memang merupakan sebuah keluarga yang penuh misteri. Mereka

seringkali menggunakan cara yang aneh dan penuh misteri untuk melakukan

sesuatu perbuatan atau pekeraan yang tak bakal dipahami dan dimengerti orang

Urusan yang menyangkut Kwan Ji merupakan satu contoh yang paling bagus. Po

Ing pernah bertanya kepada Siau bu, “Kau bilang Kwan ji sudah datang? Kapan

datangnya?”

“Barusan!”

“Barusan kapan?”

“Sewaktu kau menyinggung masalah Phoa tayjin.”

“Waktu itu ada orang memberi kabar kepadamu?”

“Benar!”

 

Po Ing segera tertawa.

“Biarpun mataku kurang jelas, paling tidak aku belum buta. Biar telingaku

kurang bagus, aku belum sampai tuli. Kalau waktu itu ada orang menyampaikan

berita kepadamu, kenapa aku tidak tahu?”

Tentu saja dia tidak buta tidak tuli. Dia mempunyai sepasang mata yang lebih

tajam dari mata elang, punya pendengaran yang lebih peka dari pendengaran

harimau, bahkan mempunyai indera ke enam seperti seekor serigala. Tapi waktu

itu, ia sama sekali tidak melihat, tidak mendengar dan tidak merasakan apa apa.

Namun dia pun tahu Ni Siau-bu bukan seseorang yang suka berbohong. Maka

dia lebih tercengang, lebih keheranan, lebih tak habis mengerti. Itulah sebabnya

ia mendesak terus.

“Kenapa? Kenapa aku sama sekali tak tahu?”

Akhimya Ni Siau bu menjawab, jawaban yang amat jitu, katanya, “Tentu saja

kakak Ing tidak tahu, sebab kakak Ing bukan anggota keluarga Ni. Keluarga Ni

masih mempunyai banyak kemampuan yang sangat aneh. Mungkin masih

banyak yang kakak Ing tak ketahui.”

Setelah berhenti sebentar, kembali ia menambahkan, “Tegasnya, persoalan yang

menyangkut keluarga Ni tak akan diketahui siapa pun di dunia ini. Bahkan

termasuk juga kami tiga bersaudara.”

Kembali Po Ing tertawa. Kali ini dia benar benar tertawa, suara tertawanya pulih

kembali seperti semula, nyaring dan lantang.

“Bagaimana pun juga, aku merasa sudah lebih dari cukup asal tahu akan satu

hal,” ia mem¬beri penjelasan untuk diri sendiri. “Asal aku tahu kalau tiga

bersaudara dari keluarga Ni adalah sahabatku, biar lagi tidur di tengah malam

pun aku bisa merasa sangat lega.”

Bagaimana dengan Kwan ji?

Waktu itu, Kwan ji betul betul sudah berada di seputar gunung Hoa san. Di

manakah dia saat itu? “Kalian tiga bersaudara adalah satu jenis manusia, tapi

Kwan ji merupakan jenis manusia yang lain,” ujar Po Ing.

“Jenis manusia macam apa?”

“Di dunia saat ini masih ada sejenis manusia di mana jika dia adalah sahabatmu

maka jangan harap kau bisa tidur nyenyak di malam hari,” jelas Po Ing. “Hal ini.

bukan lantaran kau bisa dicelakai sewaktu sedang tidur, melainkan kau harus

menguatirkan dia setiap saat setiap waktu, takut kalau dia bisa melakukan satu

perbuatan yang bodoh dan memusingkan kepala.”

“Masa Kwan Ji ya adalah jenis orang yang selalu membuat sahabatnya

menguatirkan keselamatan jiwanya?”

 

“Ya, tepat sekali!”

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya, “Orang ini sudah tersohor ketika

masih berusia belasan tahun. Dengan mengandalkan ilmu pukulan baja serta

kekuatan saktinya ia malang melintang di sungai telaga hampir puluhan tahun

lamanya. Konon sepanjang hidup belum pernah ketemu tandingan. Anehnya

orang semacam dia ternyata kalau bekerja sangat ngawur dan berangasan

seperti tingkah laku anak muda saja.”

“Ing toako adalah sahabatnya?”

“Bukan, aku bukan sahabatnya. Aku tak lebih hanya tempat penampungan

baginya.”

“Tempat penampungan? Tempat penampungan apa?”

“Tempat penampungan ada banyak macam. Kalau pingin minum kau harus

punya tempat penampungan untuk peminum. ‘Mau kongkouw, kau harus punya

tempat penampungan untuk kongkouw. Bahkan kalau pingin berjudi pun kau

harus punya tempat penampungan bagi kaum penjudi. Bila seseorang ingin

hidup senang di dunja ini maka sebuah tempat penampungan yang bagus tak

boleh tak ada!”

“Sayang sekali mencari sebuah tempat penampungan yang baik jauh lebih susah

ketimbang mencari seorang bini yang baik!” “Ya, memang jauh lebih susah!”

“Oleh sebab itu kakak Ing tak mau membuat dia menderita dan bersedih hati.

Lebih lebih tak ingin dia mengalami satu peristiwa di luar dugaan, bukan

begitu?” tanya Ni Siau ciok.

“Betul, tepat sekali perkataanmu itu!”

“Berarti kakak Ing pasti sudah tahu juga dia berada di mana sekarang?” lanjut

Ni Siau ciok sambil tersenyum. “Jika kakak Ing tidak tahu, berarti kau bukan

satu tempat penampungan yang baik baginya.”

Tiba tiba Ni Siau bu menghela napas sambil menyela, “Sayang untuk menjadi

satu tempat penampungan bagi orang mati bukanlah satu pekerjaan yang

menggembirakan!”

“Untung saja untuk satu dua jam ke depan, dia belum bakal mati.”

Ni Siau bu ikut tertawa.

“Ya, bila seseorang sudah mempunyai tempat penampungan macam kakak Ing,

pingin mati pun rasanya tak bakal mati!”

Saat ini Kwan Ji memang benar benar punya keinginan untuk segera mati,

sebab hampir semua Jagoan tangguh yang paling susah dihadapi di dunia

persilatan saat ini telah menjadi musuhnya semua.

 

Memang bukan satu pekerjaan yang gampang untuk menjalin permusuhan

dengan begitu banyak orang dalam waktu teramat singkat. Tapi Kwan Ji telah

Dalam bidang ini, tampaknya dia memang ahlniya. Dan mungkin tak ada orang

kedua yang bisa mengunggulinya dalam melakukan tugas sejenjs ini.

Menurut perhitungan orang tani, hanya dalam sehari, semalaman ini, dalam

waktu yang relatif amat singkat bahkan sesingkat orang lain belum selesai

menghabiskan secawan air teh, dia telah menjungkir balikkan tujuhbelas buah

meja, menghancurkan tujuhpuluh mangkuk besar, dua ratus tiga buah

mangkuk kecil, duaratus dua puluh satu buah cawan arak, tigaratus tujuh buah

piring, ditambah lagi merusak empat puluh dua buah bangku dan tigabelas

buah meja bulat besar.

Selain itu, dia masih sempat sempatnya menjotos gepeng hidung duapuluh

sembilan orang dan merompalkan gigi tigapuluh empat orang. Bila semua gigi

yang rontok ke lantai dijumlah semuanya, maka akan diperoleh seratus

enampuluh lima biji potongan gigi.

Rekor yang ia buat saat ini bukan saja spektakuler dan belum pernah dibuat

sebelumnya, bahkan orang macam Po Ing pun mau tak mau harus ikut merasa

“Kadangkala aku merasa orang ini seolah olah mempunyai tujuh delapanbelas

pasang tangan Saja,” kata Po Ing. “Coba lihat sewaktu dia makan sesuatu, orang

itu seperti mempunyai tujuh-delapanbelas buah mulut dan tujuh delapanbelas

lambung!”

Takaran makan Kwan Ji memang seakan akan tak ada habisnya. Walaupun

berhadapan dengan sekelompok manusia yang baru saja dihajar hingga kocarkacir,

nafsu makannya masih tetap sama besamya seperti semula.

Setelah memecahkan rekor spektakuler seperti yang tercatat di atas tadi, ia

sudah menghabiskan seekor ayam panggang utuh, seekor bebek panggang utuh,

dua mangkuk besar sup bibir ikan, semangkuk nasi delapan warna serta

duapuluh delapan biji mantao.

Padahal saat itu dia sedang berhadapan dengan sekelompok jagoan tangguh.

Dari kelompok itu paling tidak terdapat duapuluhan orang yang mampu

membunuh seseorang dalam sekejap mata.

Di atas tebing bukit di sisi seberang sana masih ada tiga orang sedang duduk di

atas permadani berwarna hijau rumput sambil mengelilingi sebuah meja kecil;

seorang padri, seorang tosu, seorang preman, sepoci air teh, seguci arak dan

sekeranjang bua¬-buahan. Sebuah perpaduan lukisan yang sangat indah.

Di belakang bukit, di tempat kegelapan yang tak tembus oleh cahaya bintang

dan lentera, terlihat pula sesosok bayangan manusia sedang berdiri seorang diri

di atas batu cadas. Yang terlihat hanya sepasang matanya yang tajam, sepasang

lengannya yang kuat bagai baja, sepuluh jari tangan yang satu kali lipat lebih

 

besar dari jari tangan biasa serta sebuah kantung arak terbuat dari kulit

kambing yang tergantung di pinggangnya.

Dipandang dari balik kege¬lapan malam yang mencekam, ia mirip sckali dengan

malaikat bengis yang datang dari langit.

… Masih untung tak ada yang melihat goloknya, golok itu tersoren di

Tentu saja para kawanan jago tangguh yang bisa bunuh orang dalam sekejap

mata juga membawa senjata. Aneka ragam senjata yang mereka gunakan rata

rata tergantung di pinggang mereka.

Bagian pinggang yang ramping memang seringkali digunakan jago jago kalangan

persilatan untuk menyembunyikan senjata yang dibawa. Karena itu pinggang

orang persilatan rata rata membesar bagai ular.

Orang biasa menyebutnya “Pinggang ular.”

Tiba tiba Kwan Ji mengalihkan pandangan matanya dari cawan berisi arak ke

wajah seorang lelaki setengah umur yang punya bahu lebar dan pinggang

gemuk. Lalu dengan mata melotot bentaknya, “Si pinggang ular Ting Jin cun

mahir dalam jarum, beracun, ilmu lembek, menyusut tulang dan Kin na jiu.

Konon ilmu silatnya hebat dan merupakan satu di antara tiga jagoan tangguh

dari gerombolan perampok asal gunung Ing san. Apa kau adalah Ting Jin cun?”

“Benar!” jawab Ting Jin cun lantang. Bukan cuma mengakui nama sendiri,

balikan tambahnya, “padahal julukanku yang sebenarnya adalah Si Pinggang

ular Bersisik Merah.”

Walaupun ular bersisik merah belum terhitung sebagai ular yang paling

beracun, paling tidak ular jenis Itu merupakan salah satu dari ular beracun yang

punya nama.

Kata Ting Jin cun lagi dengan pongah, “Tidak lucu kalau aku dipanggil orang si

pinggang ular sanca. . .”

“Bagus, bagus sekali! Si ping¬gang ular bersisik merah, nama ini memang cocok

untukmu! Coba kalau dipanggil si pinggang ular sanca, jelas sangat tidak bagus.

. .”

Ting Jin cun tertawa terkekeh-kekeh. Kwan Giok bun ikut tertawa tergelak juga.

Mereka berdua saling tertawa keras; satu keras, satu lunak, membuat yang

mendengar jadi bergidik, peluh dingin pada bercucuran dan bulu kuduk pada

bangkit berdiri.

Untung saja gelak tawa Kwan Ji segera berhenti. Kembati tanyanya kepada Ting

Jin cun, “”Kau pernah bunuh orang?”

“Tentu saja!”

 

“Sudah bunuh berapa orang?”

“Tiga orang!” jawab Ting Jin-cun sambil tertawa seram. “Setiap hari tak lebih dari

tiga orang!”

Sekali lagi Kwan Ji menatapnya tajam tajam. Sesaat kemudian ia baru

mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.

“Bagus, satu kebiasaan yang sangat bagus! Tiap hari hanya membunuh tiga

orang, rasanya satu jumlah yang tidak kelewat banyak, juga tak terlalu sedikit.”

“Kadangkala aku bisa melanggar kebiasaan, bisa membunuh hingga tujuh

delapan-sembilan orang!”

“Kalau begitu jumlah orang yang telah kau bunuh sudah mencapai seratus

duaratus orang?”

“Bisa lebih, mustahil kurang!”

“Bagaimana dengan kau sendiri? Sudah mati belum?”

“Rasanya aku sih masih hidup,” sahut Ting Jin cun. “Setahuku, orang yang

sudah mati tak bisa berbicara lagi.”

Dia masih tertawa, tertawa dengan suara yang menyeramkan karena dia belum

melihat kalau mimik wajah Kwan ji telah berubah. Kwan ji seolah olah sudah

berubah menjadi orang lain, otot otot hijau sudah mulai menongol pada

lengannya, garis-garis darah pun mulai terlihat dari kelopak matanya.

Inilah pertanda awal Kwan ji sebelum membunuh orang. Dia selalu berubah jadi

macam begini tiap kali sebelum membunuh banyak orang.

Sebetulnya jarak Kwan ji dengan Ting Jin cun masih ada sekitar dua kaki lebih,

bahkan terhalang sebuah meja bundar. Tapi sekarang tangannya tiba tiba

menjulur ke depan, terdengar suara “kroook, kroook, kroook,” bagai suara

rentetan mercon bambu. Terlihat sesosok bayangan manusia melambung ke

udara lalu berhembus segulung angin keras yang tajam sekali. Ketika menengok

lagi ke arah Kwan ji, ternyata dia sudah balik ke tempat duduknya semula.

Hanya kali ini dia tidak duduk melainkan masih berdiri dengan satu kaki

menempel di tanah, kaki yang lain menginjak di atas bangku. Di tangan sebelah

dia masih memegang paha ayam goreng, sementara di tangan yang lain

memegang sebuah lengan.

Itulah lengan milik Ting jincun.

Si pinggang ular bersisik merah yang nampak sangat menyeramkan bagai wajah

setan iblis itu, kini sudah berkerut seperti ular yang sedang melingkar.

Tubuhnya tertelungkup di atas meja bundar di depan Kwan ji, sebelah

tangannya mulai pangkal lengan sudah terbetot kutung oleh serangan Kwan ji

 

“Hmm, orang ini betul betul bedebah,” katanya dengan suara parau. “Sudah

bunuh ratusan orang, bukan saja masih bisa hidup bebas dan jauh dari

jangkauan hukum, sekarang malah berani memamerkan keberingasannya!”

Suaranya makin lama semakin parau dan penuh kepedihan, lanjutnya, “Padahal

ada orang yang cuma membunuh tiga lima orang, tapi sekarang terancam

hukuman mati. Setiap saat jiwanya bakal melayang, benar benar tidak adil…,

sangat tidak adil. . .”

Setelah tarik napas panjang, teriaknya lebih lanjut, “Coba kalian jawab, apakah

ini adil?”

Tak ada yang menjawab, tak seorang pun berani buka suara. Lewat lama

kemudian dari atas tebing di seberang sana baru kedengaran seseorang

menghela napas panjang.

“Hai… tahun ini lohu sudah mencapai usia delapanpuluh tiga tahun, tapi baru

sekarang aku memahami akan satu hal.”

Suaranya lemah seperti seseorang yang tak bertenaga, dia memakai jubah

berwarna merah cerah, warna kegemaran gadis muda belia. Wajahnya kurus

kering dan pucat kekuning-kuningan, malahan ia seperti memakai pupur di

wajahnya yang berkerut itu.

“Hei setan tua berjubah merah, apa yang sedang kau katakan?” bentak Kwan Ji.

“Apa yang telah kau pahami?”

“Akhirnya aku benar benar paham bahwa di kolong langit ini benar benar

terdapat banyak orang bloon macam kau,” ujar kakek Li berjubah merah itu

perlahan. “Sebab hanya orang bloon macam kau yang bisa menuntut keadilan di

dunia macam begini!”

“Apakah di dalam dunia saat ini betul betul sudah tak ada keadilan?”

“Ada sih tetap ada, seperti misaInya kejadian yang barusan kau bicarakan itu.

Rasanya kejadian itu sedikit lebih adil daripada kejadian lainnya.”

“Kejadian apa yang kau maksud” tanya Kwan ji, satu pertanyaan yang sedikit

bodoh. Tapi dalam keadaan seperti ini mau tak mau harus ditanyakan juga.

“Setelah membunuh ratusan orang, Ting si ular bersisik merah masih bisa hidup

segar bugar dan bersombong ria dengan bangganya, sedangkan keponakanmu

Thia Siau cing, gara gara membunuh tiga sampai lima orang, bahkan masih

belum pasti apakah benar dia yang membunuh semua orang itu, sudah dijatuhi

hukuman mati selepas musim gugur nanti dan sekarang harus membersihkan

tengkuknya setiap hari dalam penjara sambil menunggu mati!”

Sambil berpaling ke arah Kwan Ji, terusnya, “Bukankah kau anggap kejadian ini

sangat tidak adil?”

 

Tidak menanti Kwan ji buka suara, kembali dia melanjutkan sambit menghela

napas panjang.

“Padahal kejadian ini adil sekali!”

Kwan ji sangat gusar, tak tahan teriaknya, “Atas dasar apa kau mengatakan

kejadian ini sangat adil?”

“Karena keponakanmu pingin mati, dia sendiri yang ingin mati! Jika seseorang

sudah mengambil keputusan untuk mati, apa lagi yang bisa dikatakan orang

lain? Buat apa lagi kita berbicara soal adil atau tidak?”

“Darimana kau tahu kalau dia sendiri yang pingin mati?”

Kakek Li berjubah merah tersenyum.

“Bila ia sendiri tak ingin mati, dengan kau berada di sampingnya, siapa yang

bisa membuat dia mati?”

Kwan ji tertegun, ia tak bisa menjawab lagi.

VII. Taruhan Kepala

Kwan ji tak mampu menjawab, tapi dari kejauhan ada seseorang yang

“Aaah, belum tentu begitu,” jawaban orang itu penuh mengandung daya pikat

yang sangat kuat. “Secara kebetulan aku tahu masih ada seorang lagi yang bisa

menolong jiwanya.”.

“Siapa?”

“Aku?!”

“Po Ing!” seru kakek Li berjubah merah sambil tertawa licik. “Sudah kuduga kau

pasti akan muncul di sini. Aku selalu menunggu kehadiranmu.”

“Mau apa menunggu aku?”

“Bukan menunggu kau, tapi menunggu sekian juta tahil perak yang berhasil kau

raih belakangan ini.”

Po Ing tertawa tergelak.

Dengan langkah lebar ia muncul dari balik kerumunan orang banyak. Kepalanya

yang botak memantulkan cahaya terang ketika tertimpa cahaya lentera, Persis

seperti pasir kuning di tepi sungai, memantulkan cahaya keemas emasan.

“Kau keliru besar, uang yang berhasil kuraih belakangan ini tak lebih dari sekian

ratus ribu tahil. Sayang sekali, bukan pekerjaan yang gampang bila ada orang

ingin mengambilnya, biar cuma satu dua tahil perak!”

 

Suara tertawa kakek Li berjubah merah semakin nyaring, wajahnya kelihatan

semaki licik. Selanya, “Kebetulan sekali aku telah menemukan satu cara yang

sangat hagus.”

“Cira apa?”

“Berjudi!”

Po Ing segera merasa semangatnya bangkit kembali. Setiap kali mendengar kata

“judi,” semangatnya selalu berkobar dan meningkat tajam.

“Kau ingin bertaruh denganku?” tanya Po Ing.

“Benar!”

“Apa taruhannya?”

“Taruhannya? Kau pun tak mampu menolong Thia Siau-cing!”

“Baru bertaruh berapa banyak?”

Sepasang mata Kakek Li berjubah merah yang selama ini seperti orang

mengantuk tiba tiba memancarkan cahaya tajam.

“Aku tahu kau adalah seorang kaya raya, bahkan makin lama semakin berduit.

Tapi aku tak ingin menangkan terlalu banyak.”

Setelah berhenti sejenak, dengan mata melotot kakek Li berjubah merah

melanjutkan, “Bagaimana kalau kita bertaruh satu juta limaratus ribu tahil

saja?”

Suasana gempar segera menyelimuti hadirin yang berada di seputar arena.

Sebaliknya Po Ing menghela napas panjang.

“Angka satu juta limaratus ribu tahil hanya diucapkan begitu mudah dan santai,

kau anggap sedang dagang kueh talam atau gimana?” kata Po Ing sambil

gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. “Kelihatannya orang ini sama

sekali tak punya gambaran tentang satu angka yang menyangkut masalah duit. .

.”

“Kau anggap jumlah itu kelewat banyak?”

“Tidak, tidak banyak,” Po Ing menggeteng. “Dalam bertaruh uang aku selalu

anggap jumlah segitu adalah jumlah yang sangat kurang. Tidak, tidak banyak.

Justru makin besar angka taruhannya semakin asyik rasanyal”

“Kalau begitu bagus sekali!”

Tiba tiba terdengar Kwan ji berteriak keras, “Po Ing, kenapa kau mesti bertaruh

denganya? Apakah kau hendak pakai alasan itu untuk menolong Thia Siau-

¬cing?”

 

“Dengan Thia Siau cing, aku sama sekali tak kenal. Sanak ¬keluarga pun bukan.

Kenapa aku mesti menolongnya?” sahut Po Ing santai. “Aku hanya ingin

menangkan sedikit tahil perak milik tua bangka berbaju merah itu.”

Setelah tersenyum, tambahnya, “Aku tahu dia pun termasuk seseorang yang

berduit banyak. Bila dia kalah taruhan kali ini, mungkin kekayaannya akan

berkurang sedikit.”

VIII. Muncul Tersangka Baru

Suara roda ketera Yang bergelinding di atas jalan berbatu menggema memenuhi

angkasa. Kereta yang ditarik kuda jempolan itu berlari sangat kencang,

tujuannya adalah kota Chi lam.

Soal kuda, Po Ing sama sekali tak tertarik. Berminat pun tidak. Tapi Oh Kim siu

adalah pakarnya. Kuda hasil pilihannya bukan cuma dari ras kenamaan, bahkan

selalu merupakan kuda jempolan kelas atas. Bedanya, dia memilih kuda

jempolan hanya untuk menarik kereta. Tapi setelah dilatih secara ketat, keempat

ekor kuda dengan enambelas buah kakinya bisa berlari dengan satu gerakan

Yang sama.

Kereta itu berlari sangat stabil, demikian stabilnya sampai arak dalam cawan

yang berada dalam genggaman Po Ing pun tak sampai tertumpah keluar biar

hanya setetes pun.

Dia sedang duduk bersandar dalam ruang kereta, sepasang kakinya yang cuma

memakai kaus kaki itu diangkatnya tinggi tinggi. Untung saja dia tak punya bau

kaki yang kurang sedap; dan lagi belum pernah ada orang yang menuduh

kakinya sangat bau.

Oh Kim siu sudah setengah harian melototi wajahnya tanpa bicara. Tapi

akhimya ia tak tahan, tiba tiba ujarnya, “Aku sama sekali tidak menduga kalau

kau akan bertaruh denganya. Kau yakin bisa menang?”

“Tidak,” sahut Po Ing sambil tertawa santai. “KaIau yakin menang, aku tak perlu

bertaruh lagi.”

… Tepat sekali perkataan itu. Bila yakin pasti menang, pertaruhan itu jadi tak

menarik lagi. Bila tak ada daya tariknya lagi, buat apa mesti bertaruh?

Ada sementara orang tak pernah akan melakukan pekerajan yang tidak yakin

akan keberhasilannya. Tapi seorang penjudi sejati tak pernah akan melakukan

pertaruhan yang diyakini pasti menang. Teori semacam ini sangat dipahami oleh

Oh Kim siu.

“Tapi yang kau pertaruhan kali ini adalah Thia Siau cing! ” seru Oh Kim siu.

“Aku saja ikut jadi beriba hati setelah melihat mimik muka Kwan ji. Aku yakin

dia tak pernah begitu emosi, terharu dan berterima kasih kepada seseorang

selama ini!”

“Kau anggap dia emosi dan terharu lantaran aku?”

 

“Tentu saja!”

“Jadi kau anggap aku bertaruh dengan kakek Li berjubah merah lantaran aku

benar benar ingin selamatkan jiwa Thia Siau cing?”

“Betul!”

“Jadi kau mengira aku menolong Thia Siau cing hanya demi Kwan ji?”

“Betul!”

“Betul, betul. . . betul kentut¬mul” seru Po Ing sambil tertawa dingin. “Kwan ji

tak lebih hanya tempat penampungan bagiku untuk berjudi. Dan lagi dia adalah

tempat penampungan yang sangat baik bagiku. Selain berani bertaruh, berani

juga menerima kekalahan, bahkan sanggup membayar untuk kekalahannya.

Selain itu memangnya aku punya hubungan kentut anjing dengannya? Kenapa

aku mesti menolong keponakannya?”

Oh Kim siu tertawa lebar hingga terlihat dua baris giginya yang putih bersih.

Entah ia betul-betul sedang tertawa atau hanya pura pura tertawa.

“Memang paling baik begitu. Kalau tidak, aku masih menduga dia adalah

sahabat karibmu,” kata Oh Kim siu sambil tertawa paksa. “Bila seorang penjudi

menganggap lawan tandingnya adalah seorang sahabat, sudah pasti pertaruhan

ini jadi sama sekali tidak menarik!”

Sebetulnya dia sudah mengupas sebuah jeruk untuk diberikan kepada Po Ing,

tapi sekarang, ia kirim jeruk yang telah dikupas itu ke dalam mulut sendiri.

Dia seakan akan beranggapan bahwa seseorang yang tidak punya teman, tidak

pantas untuk makan biar cuma sebiji jeruk pun. Karena itu tanyanya lagi, ‘Lalu

dengan cara apa kau hendak menangkan pertaruhan ini?”

“Bila ingin menangkan pertaruhan ini, maka kita mesti menolong Thia Siau cing

lebih dahulu.” jawab Po Ing. Dan untuk berhasil menolong Thia Siau cing maka

kita mesti pecahkan dulu kasus pembunuhan ini.”

“Membongkar kasus pembunuhan? Kau anggap kasus pembunuhan ini belum

terbongkar?”

“Tentu saja belum!”

“Jadi Thia Siau cing bukan pembunuh sesungguhnya?”

“Pasti bukan””

“Kenapa dia mengaku dirinya sebagai pembunuh?”

“Mungkin lantaran dia melihat kekasihnya sudah mati, hingga secara tiba tiba

merasa kecewa dan putus asa, maka dia anggap mati lebih baik ketimbang

 

hidup.” jelas Po Ing. “Seringkali di dunia ini memang terdapat satu jenis manusia

bloon semacam ini.”

“Atas dasar apa kau berpendapat demikian?”

“Walaupun kelihatannya kasus pembunuhan ini telah terbongkar tuntas,

padahal masih terdapat banyak hal yang sangat mencurigakan.”

“Apa saja?”

“Kecurigaan terbesar adalah dalam kasus ini; kelebihan satu orang yang tidak

seharusnya ada di kejadian ini, dan kekurangan satu orang yang seharusnya

ada dalam kasus ini.”

“Siapa yang kau maksud dengan kelebihan satu orang yang tidak seharusnya

ada di kejadian ini?”

“Phoa tayjin dari kota Chi-lam!”

“Lantas, siapa pula kekurangan satu orang yang seharusnya ada dalam kasus

ini? Apa Wan wan?” tanya Oh Kim siu.

“Tepat sekali jawabanmu!”

Wan wan adalah dayang kepercayaan nona Ang. Setiap kali Ang ang

mengadakan perjamuan, dia selalu berada di samping majikannya serta

melayani semua kebutuhannya. Sekalipun ketika mengajak tamu naik ranjang,

dia hanya kebagian berdiri di luar pintu kamar. Tapi sesaat sebelum dan sesaat

setelah kematian Ang ang, dia sama sekali tak terlihat batang hidungnya.

“Terus terang saja, hingga kini aku masih belum begitu jelas tentang kasus ini,”

ujar Oh Kim siu. “Maukah kau mengulang sekali lagi cerita tentang kasus

pembunuhan ini?”

IX. Kisah Di Balik Asap Berwarna ungu

Untuk bercerita tentang kasus ini maka kita harus berbicara dari dua hal.

Pertama tentu saja menyangkut masalah asap berwarna ungu.

Bulan lalu, di kota Chi lam setiap fajar selama beberapa hari di udara di kota itu

selalu tampak asap berwarna ungu yang muncul secara tiba tiba.

Kejadian semacam ini total terjadi sebanyak enam kali. Setiap kali sumber

muncuinya asap berwarna ungu itu selalu berbeda, dan tiap kali asap berwarna

ungu sudah muncul maka ada seorang kenamaan di kota Chi lam yang mati

terbunuh. Antara korban yang satu dengan lainnya sama sekali tak ada sangkut

paut atau hubungan khusus apa pun.

Tapi di antara para korban mempunyai satu kesamaan yaitu sehari menjelang

munculnya asap berwarna ungu itu, mereka pernah dijamu dan menginap

 

dengan seorang pelacur kenamaan dari kota Chi lam yang bernama Ang-ang.

Bahkan mereka semua selalu mati dibunuh oleh seorang pembunuh gelap

bertangan kidal. Kematian dalam satu serangan, bersih, cepat dan tidak

meninggalkan jejak.

Masalah kedua adalah kisah asmara yang melibatkan Tlna Siau cing dengan Ang

Percintaan mereka mendapat halangan. Sejak Ang ang kawin dengan orang lain,

lalu kembali, ke rumah orang tuanya dengan predikat janda, perempuan itu tak

pernah berhasil mengikat tali perkawinan dengan Thia Siau cing.

Dalam keputus asaan dan kekecewaan yang berat, perempuan itu bukannya

masuk biara menjadi nikoh, ia justru menempuh jalan yang radikal yaitu

menjadi seorang pelacur tingkat tinggi; satu tindakan menghancurkan diri

sendiri. Tampaknya dia ingin mencari pelepasan dengan melakukan tindakan

menghancurkan diri.

Melihat kekasihnya jadi pelacur, tentu saja Thia Siau cing sakit hati. Apa mau

dikata, dia sendiri pun tak sanggup mencegah niat bekas kekasihnya itu karena

penghalang utama bagi perkawinan mereka justru terletak pada diri ibu

kandung pemuda itu, yakni adik perempuan Kwan ji, Kwan Giok bun. Orang

persilatan mengenalinya sebagai nyonya muda ke tiga dari keluarga Kwan,

Oleh sebab itulah, dia melampiaskan semua kemarahan dan sakit hatinya

kepada para tamu yang telah meniduri Ang-ang. Oleh sebab itulah di kota Chilam

terjadi serentetan pembunuhan berantai yang sangat menghebohkan.

Semua korban pembunuhan adalah orang orang kenamaan, bahkan semuanya

kaya raya. Karena menyangkut banyak orang kenamaan, kasus ini pun jadi satu

kasus pembunuhan yang menggemparkan.

Untuk membongkar kasus pembunuhan yang menggemparkan ini, pihak

pengadilan khusus mengutus seorang jagoan yang sudah amat tersohor di

kalangan Lak san bun sebagai penyelidiki nomor wahid saat itu, Leng Giok-hong,

untuk melakukan penyelidikan.

Dengan sistim kerja yang teliti dan cermat, Leng Giok hong berhasil mengungkap

banyak bukti seperti yang diceritakan di atas. Bahkan berkat jasa Ni Siau-cong

yang bertindak sebagai perantara, dia berhasil menjadi tamu agung dari Ang

Malam itu, ketika Phoa Kiseng, Phoa tayjin dari kota Chi lam sedang bercakap

cakap dengan Ni Siau cong, tiba tiba dari tengah bangunan rumah yang dihuni

Ang ang kembali muncul asap berwarna ungu.

Pada saat itulah Phoa tayjin yang dikenal orang sebagai seorang sarjana yang

lemah lembut ternyata menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi

untuk meluncur ke arah sumber asap ungu itu dengan kecepatan tinggi, disusul

kemudian oleh Leng Giok hong dan Ni Siau Cong

 

Saat itulah mereka kembali mendengar jeritan ngeri dari Ang-ang, dan ketika

mereka menyusul ke dalam kamar tidurnya, tampak nona Ang yang cantik jelita

itu sudah tergeletak mati di atas ranjangnya. Mati dibunuh seseorang.

Ada satu orang masih berdiri di tepi ranjang sambil memegang pisau yang penuh

noda darah. Orang itu ternyata tak lain adalah Thia Siau cing.

Yang aneh, pada waktu itu dayang kesayangan Ang ang, yaitu Wan wan, sama

sekali tak kelihatan batang hidungnya.

“Apa mungkin ini yang dikatakan orang lantaran cinta kembali jadi kebencian?”

ujar Oh Kim siu sedih. “Orang kuno sering berkata, batasan antara cinta dan

benci itu mirip sekali dengan mata pisau, dan batasan seperti inilah yang paling

sukar dipertahankan secara baik.”

Setelah tertawa lebar, terusnya lagi sembari melirik ke arah Po Ing, “Maka dari

itu kau mesti hati-hati, siapa tahu suatu hari nanti aku pun bakal bunuh kau?!”

“Tapi pembunuh yang menghabisi nyawa Ang ang bukan Thia Siau cing!” kata Po

“Bukan? Bukti maupun orangnya sudah ada, bahkan tertangkap basah. Kenapa

kau masih berkata bukan dia pembunuhnya?”

“Sekalipun ada orang menyaksikan dengan mata kepala sendiri drama

pembunuhan berdarah itu, aku tetap akan mengatakan bahwa pembunuhnya

bukan dia!”

“Kenapa?” tanya Oh Kim siu keheranan. “Apakah dikarenakan kau selalu

menganggap dalam kasus ini kelebihan seseorang dan kekurangan seseorang?”

“Benar!”

“Tapi… Phoa tayjin memang pembesar yang ditugaskan di kota Chi lam untuk

membongkar kasus pembunuhan ini. Kenapa kau bilang kelebihan seseorang?”

“Karena dulunya dia adalah satu orang tapi kemudian berubah jadi dua orang.

Satu orang sebagai pembesar eselon empat yang terpelajar dan lemah, dan

seorang lagi sebagai jagoan dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat

tinggi!”

Setelah termenung berpikir sejenak, kembali Po Ing berkata, “Yang tidak

kuketahui, sebenarnya dia jenis manusia yang mana? Seorang pembesar lemah

yang tahunya hanya baca buku dan belajar? Ataukah seorang jago dari sungai

telaga yang sudah terbiasa bunuh orang dalam hidupnya?”

Oh Kim siu ikut termenung sambil peras otak, sampai lama kemudian ia baru

berkata, “Terlepas dia merupakan orang yang kau anggap sebagai kelebihan atau

bukan, yang pasti tidak seharusnya gadis kecil bernama Wan wan tidak berada

di tempat kejadian. Menurut kau, mungkinkah dia dibunuh si pembunuh yang

 

sesungguhnya karena sewaktu terjadinya pembunuhan berdarah, dia hadir di

situ sebagai saksi mata?”

“Kecurigaanmu memang sangat beralasan, oleh sebab itu sisa pertanyaan yang

harus dijawab tinggal satu.”

“Soal apa?”

“Kalau betuI dia telah dibunuh untuk membungkam mulutnya mayatnya berada

di mana?”

“Mayatnya tidak ditemukan?”

“Tidak ditemukan,” jawab Po Ing. “Bahkan seluruh bangunan dan halaman

sudah dibongkar, tapi jejaknya tetap tak ketahuan.”

“Ya, padahal waktu itu Phoa Ki seng dan Leng Giok hong berada di situ. Tak

mungkin si pembunuh setelah melakukan pembunuhan berdarah masih punya

cukup waktu untuk membawa kabur jenasah Wan-wan, karena waktu untuk

dirinya sendiri pun tidak banyak.”

“Betul!”

“Oleh karena itu analisis yang mengatakan Wan wan dibunuh sama sekali tak

masuk diakal.”

“Benar!”

“Lalu. . . mungkinkah dia sendiri yang mengambil keputusan untuk melarikan

diri? Kenapa dia kabur sementara nona yang begitu dekat hubungannya dengan

dia mati terbunuh? Bahkan sampai kini jejak tubuhnya tidak ketahuan?

Mugkinkah si dayang cilik ini mempunyai satu rahasia?”

Oh Kim siu tahu, hanya Wa¬-wan sendiri yang bisa menjawab teka teki ini.

Tapi Wan wan sudah lenyap. Dia menjadi orang yang disebut Po Ing sebagai

“kekurangan seseorang.” Mustahil dia bisa menjawab pertanyaan itu.

“Masih untung kita masih mempunyai kelebihan seseorang,” kata Oh Kim siu.

“Selama ini Phoa Ki seng dikenal sebagai seorang pembesar yang punya

kemampuan besar. Paling tidak terhadap kasus ini dia pasti mempunyai rahasia

yang lebih banyak ketimbang yang diketahui orang lain.”

“Tapi kita mesti bertanya kepada yang mana?” kata Po Ing. “Bertanya kepada

Phoa tayjin, atau bertanya kepada Phoa tayhiap?”

“Kedua orang itu sebetulnya adalah satu orang yang sama, bertanya kepada

yang mana pun rasanya sama saja.”

 

“‘Tidak sama,” jelas Po Ing. “Kalau ingin bertanya kepada Phoa tayjin, maka kita

harus berpakaian necis, menghaturkan kartu nama dan mohon bertemu

dengannya.”

“Aaah, kurang menarik kalau harus berpenampilan resmi!”

“Kalau begitu kita harus memakai Ya heng ie (pakaian ketat untuk berjalan

malam), menggembol senjata tajam dan mengunjungi kantor pengadilan di

tengah malam buta. Apa pun yang bakal terjadi kita harus berhasil mengorek

sedikit berita dari mulutnya!”

“Nah yang ini baru menarik!” seru Oh Kim siu dengan mata berkilat.

Po Ing menghela napas panjang. “Menarik sih memang menarik. Yang

dikuatirkan justru kita tak berhasil mempermainkan orang lain, sebaliknya

orang lain yang mempermainkan kita.”

Ilmu silat yang dikuasai Phoa Ki seng pada dasarnya memang hebat dan penuh

misteri. Ditambah Leng Giok hong yang belakangan namanya amat tersohor

dalam dunia persilatan, masih ditambah pula dengan kawanan jago dari Lak san

bun yang tersebar di seputar rumah pengadilan kota itu. Mereka memang nyata

merupakan satu kelompok manusia yang tak mudah dihadapi.

Oh Kim siu tidak berbicara, dia hanya tertawa terkekeh kekeh seakan akan sama

sekali tak perduli dengan kekuatiran kekasihnya.

Di saat suara tertawanya amat riang dan nyaring itulah, tiba tiba tubuhnya

melesat keluar dari ruang kereta dengan kecepatan bagai burung walet yang

terbang di angkasa.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya mungkin belum terhitung sebagai

lima besar dalam urutan jago kenamaan dunia persilatan. Bahkan dalam urutan

sepuluh besar pun tidak tercantum. Namun keindahan gerak tubuhnya betul

betul mempersonakan hati siapa pun yang melihatnya.

Bahkan ketika ia sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki pun,

gerak tubuh perempuan itu masih sangat menggiurkan bagai seorang nona yang

sedang jalan santai di bawah pepohonan yang rindang.

Apalagi ketika bajunya tersingkap hingga nampak sepasang kakinya yang putih

mulus dan kecil itu, keindahannya benar benar tak terlukis dengan kata.

Sekali lagi Po Ing menghela napas panjang, sambil tertawa getir gumamnya, “Hai,

sampai sekarang penyakit yang terbawa sejak masih nona kecil berusia enam

tujuhbelas tahun masih belum juga hilang..”

Sementara itu tubuh Oh Kim-siu sudah melejit keluar kemudian melayang ke

atap ruang kereta, disusul kemudian terdengar beberapa kali suara bentakan

nyaring serta hembusan angin pukulan yang menderu deru.

 

Po Ing seolah olah seperti tidak mendengar suara itu. Bahkan misalnya

mendengar pun, urusan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan

Kini dia pejamkan kembali sepasang matanya.

Ketika matanya dibuka kembali, di hadapannya kini telah bertambah dengan

satu orang.

X. Pejabat Eselon Empat

Orang itu berwajah angker penuh wibawa dengan sorot mata yang sangat tajam.

Senyumannya penuh simpatik dan ramah. Dia mengenakan baju berwarna biru,

nyaris tak terlihat perhiasan apapun menghiasi tubuhnya. Perhiasan yang

tampak hanya sebuah benda berbentuk cincin yang berwarna hitam pekat,

berbentuk sangat aneh, tidak jelas berbuat dari emas atau besi yang melingkar

di jari manisnya.

Po Ing tampak sedang mengerutkan dahinya dan pura-pura tidak

memperhatikan cincin itu, padahal setiap waktu setiap saat dia selalu melirik ke

arah benda tadi.

Semakin banyak ia melirik, sorot matanya nampak berubah semakin berat dan

serius hingga akhimya raut mukanya ikut berkerut kencang. Belum pernah ia

memperlihatkan mimik muka seserius ini, kendatipun di saat ia bertemu dengan

Liu Cing ho yang punya julukan sebagai Bu tek kim kiam (pedang emas tanpa

tandingan).

Mungkinkah cincin berwarna hitam pekat itu termasuk juga sebagai sebuah

senjata maut yang bisa digunakan untuk membunuh orang?

Akhimya lelaki setengah umur yang mengenakan jubah berwarna, biru itu tak

bisa menahan diri. Dia buka suara lebih dulu, suaranya rendah, berat tapi

penuh tenaga dengan nada memerintah yang tegas dan tandas, ia berseru, “Tuan

Po Ing!”

“Ya!” sahut Po Ing, lalu balik bertanya. “Phoa tayjin?”

“Benar … !”

Po Ing tersenyum, ujarnya lagi, “Phoa tayjin, hebat betul gerakan tubuhmu.

Orang lain selalu berkata bahwa aku punya mata elang telinga kelinci hidung

anjing, tapi kali ini… nyaris aku pun tak tahu sedari kapan Phoa tayjin telah tiba

di sini.”

Phoa Ki seng mendeham beberapa kali, lalu sambil mengalihkan pokok

pembicaraan, tanyanya, “Tentunya Po sianseng telah berjumpa dengan Kwan jiya?”

 

“Ya, sekarang dia sudah pulang ke guanya di wilayah barat laut, pergi menengok

adik kesayangannya yang patut dikasihani dan sudah banyak tahun hidup

menjanda,”

Hidup menjanda memang benar, tapi patut dikasihani mah belum tentu! jika

Kwan sam koh-nay nay patut dikasihani, maka tak ada orang lagi yang perlu

dikasihani dalam dunia saat ini.

“Apakah si Lamkong yang tempo dulu pernah malang melintang di kolong langit

dengan mengandalkan golok besarnya juga ikut pergi ke barat laut?” tanya Phoa

Ki seng lagi.

“Kenapa dia selalu memata matai dia?”

“Pertama, karena dia suka. Kedua, karena dia sedang menganggur, dan ketiga,

siapa tahu dia sedang menunggu kesempatan untuk membunuh Kwan ji?” jawab

Po Ing. “Kau toh mengerti, bukan satu pekerjaan yang gampang untuk

membunuh Kwan Ji. Apalagi menunggu datangnya kesempatan macam itu,

Mungkin lebih sulit daripada mendaki ke langit.”

Sementara itu suara pertarungan dan gerak putar tubuh yang bergema dari atap

kereta tiba tiba makin menjauh. Jelas orang yang sanggup bertarung sekian

lama melawan Oh Kim siu itu bukan seorang jagoan sembarangan.

Tiba tiba terdengar Phoa Ki-seng mengalihkan kembali pokok pembicaraan ke

soal lain, tanyanya kepada Po Ing, “Mana Wan wan?”

“Wan wan?”

“Aku lihat Po sianseng sudah tahu tentang kasus yang menimpa Kwan Ji,

tentunya juga sudah jelas mendalami seluk beluk kasus pembunuhan ini. Aku

pikir kau tak mungkin tak kenal soal Wan-wan bukan?”

“Ada satu persoalan yang hingga kini tak kupahami,” kata Po Ing tawar. “Tolong

tanya sebetulnya tempat ini adalah ruang Sidang pengadilan kota Chi lam atau

dalam kereta ku?”

Phoa tayjin tak malu disebut seorang jago kenamaan yang punya kemampuan

hebat dalam pengendalian emosi. Wajahnya sama sekali tak berubah walaupun

mendapat ejekan seperti itu.

Setelah tarik napas dan berbatuk batuk, kembali katanya, “Aku hanya secara

iseng mengajukan pertanyaan itu. Semisal Wan wan bisa ditemukan, maka

kehadirannya akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Sebab kalau tidak. . .

mungkin nyawa Thia kongcu akan berakhir sebelum ujung musim gugur tahun

ini.”

“Sebelum akhir musim gugur? Kenapa?”

“Sebab dia sudah banyak hari mogok makan. Bukan cuma mogok makan dan

mogok minum, bertemu dengan orang lain pun tak mau. Terpaksa kami pun tak

 

berani memaksa,” jelas Phoa Ki seng. “Jika seorang narapidana sampai mati

kelaparan di dalam penjara milik pemerintah, siapa pun tak bisa lolos dari

tanggung jawab ini.”

Po Ing termenung dan berpikir sejenak, lalu serunya keras, “Kalau begitu biar

kutengok dirinya lebih dulu.”

“Kau tak bakal bertemu dengannya. Siapa pun tak bisa bertemu dengannya,

termasuk Po sianseng sendiri. Aku rasa tak mungkin aku memberi pengecualian

kepadamu.”

Tiba tiba berkilat sepasang mata Po Ing. Sambil memandang Phoa Ki seng

dengan mata melotot serunya, “Berani kau taruhan denganku?”

“Taruhan? Taruhan apa?”

“Aku pertaruhkan kopiah jabatan eselon empat yang kau kenakan itu!”

“Jika kau kalah?”

“Kalau aku kalah, kupertaruhkan batok kepalaku!”

“Berapa lama batasannya?”

“Sehari semalam,” jawab Po Ing. “Bila sampai besok pada saat yang sama seperti

sekarang aku belum berjumpa dengan Thia Siau cing, anggap saja aku yang

kalah.”

Lama sekali Phoa Ki seng mengawasi lawannya, akhimya sambil tertawa ia

berkata, “Po sianseng, kau memang seorang penjudi sejati. Sudah kuduga Po

sianseng pasti akan mengajak aku hertaruh!”

Tampaknya ia benar benar sudah tahu, sebab kereta kuda itu sudah berhenti,

berhenti persis di belakang tembok pekarangan kantor pengadilan kota Chi lam.

Halaman di balik tembok pekarangan itu tak lain adalah tempat tahanan yang

digunakan Phoa tayjin untuk mengurung para narapidana.

XI. Kawanan jago Tangguh

Di luar tembok pekarangan terdapat sebuah lorong panjang. Dua tiga kaki di

depan kereta itu berhenti terdapat sebuah warung teh.

Waktu itu fajar baru menyingsing, saat yang paling ramai bagi warung teh untuk

melayani tamunya. Banyak orang mencari sarapan di situ; ada pedagang kecil,

ada penjual kelontong, keliling, pelbagai lapisan masyarakat hampir berkumpul

di sana.

Memandang dari kejauhan, warung teh itu nampak tak berbeda jauh dengan

kebanyakan warung teh di negeri ini. Tapi sewaktu Po Ing masuk ke dalam

warung, ia segera menemukan bahwa keadaan di situ sama sekali berbeda. Di

 

antara tetamu yang Sedang sarapan dalam warung itu ternyata paling tidak

sepuluh orang adalah jago silat berkepandaian tinggi dari dunia persilatan.

Sebetulnya ada jago silat dari dunia persilatan sedang sarapan di warung the

bukanlah satu kejadian yang aneh. Justru keanehan terletak pada sorot mata

mereka yang begitu tajam, sepasang kening dengan jalan darah tay-yang hiat

yang begitu menonjol serta sepasang kulit tangan yang begitu berkilat dengan

aliran darah yang nampaknya begitu cepat di bawah kulit tangan mereka. Jelas

orang orang itu memiliki ilmu silat yang sangat luar biasa.

Di waktu biasa, bukan satu pekerjaan yang gampang untuk bertemu dengan

seorang saja di antara kawanan jago lihay itu. Terlebih tak mungkin mereka

berkumpul jadi satu bila tak ada suatu perkara yang amat serius.

Jika mereka sampai berkumpul jadi satu, maka di tempat itu pasti sudah terjadi

satu peristiwa besar yang sangat menghebohkan dan menggemparkan sungai

telaga. Sekalipun belum terjadi, tak perlu diragukan peristiwa itu segera akan

… Kasus asap ungu kini sudah berakhir, kejadian menghebohkan apa lagi yang

bakal terjadi di tempat itu?

Po Ing mencari tempat duduk, memesan air teh dan makanan kecil, bahkan

membeli selembar kertas yang berisi acara opera yang akan mengadakan

pertunjukkan hari itu.

Sekilas dia seperti sedang membaca kertas acara opera. Padahal secara diam

diam dia awasi kawanan jago tangguh itu, Memperhatikan sorot mata mereka,

gerak gerik mereka, gaya sewaktu ambil cawan, gaya sewaktu duduk bahkan

memperhatikan juga gerak tangan mereka termasuk ruas ruas persendian jari

tangan mereka.

Tentu saja dia pun tahu kalau kehadirannya mustahil bisa mengelabuhi mereka.

Dia sendiri memang tak ingin mengelabuhi mereka. Dia sengaja berbuat begini

tak lain hanya ingin memberi muka kepada mereka semua.

Dengan cepat ia berhasil menemukan tanda khusus dari seorang jagoan kelas

satu, dan ternyata tanda khusus itu ditemukan di tubuh mereka semua.

Jagoan tangguh macam mereka sebetulnya tak mungkin bisa diutus atau

diperintah oleh seseorang. Sebab setiap orang dari mereka sanggup berdiri

sendiri setiap orang mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk memerintah

orang lain.

Oleh sebab itu kehadiran mereka di sini seharusnya mustahil dikarenakan

sedang menjalankan perintah seseorang.

Po Ing coba peras otak untuk memecahkan persoalan itu. Tapi ia tetap gagal

untuk menemukan jagoan tangguh manakah dalam dunia persilatan saat ini

yang sanggup memberi perintah kepada mereka semua.

 

Yang lebih penting lagi adalah Po Ing seharusnya bisa mengenali asal usul

mereka dengan cepat. Dari sepuluh orang jagoan tangguh seperti itu, paling

tidak dia seharusnya kenal lima sampai enam orang di antaranya.

Tapi sekarang jangan lagi lima enam orang. Seorang pun di antara mereka tak

ada yang dikenal Po Ing.

Tak bisa disangkal lagi kawanan jago tangguh itu pasti sudah dirubah wajahnya

sedemikian rupa sehingga identitas aslinya menjadi kabur. Hal ini semakin

membuktikan bahwa ada seorang jago yang lebih tangguh lagi dari mereka yang

telah melakukan perubahan wajah tersebut. Bukan saja dia memiliki

kepandaian merias muka yang bebat, bahkan sangat mahir mengubah identitas

Setahu Po Ing, sudah tak banyak jago dalam dunia persilatan saat ini yang

memiliki kemahiran merubah wajah seampuh ini. Kalau ada pun paling banter

cuma ada dua orang.

Kedua orang ini pun merupakan jago jago yang biasa hidup menyendiri. Mereka

punya pandangan yang sangat tinggi. Di hari biasa teramat jarang bergaul

dengan orang lain. Bukan satu pekerjaan yang gampang untuk mengundang

mereka keluar, apalagi berkarya demi orang itu.

Kehebatan apa yang Sebenarnya dimiliki orang misterius itu? Bagaimana

caranya untuk mengundang mereka?

Po Ing menghela napas panjang. la mulai merasa semenjak campur tangan

dirinya, persoalan itu telah berubah makin lama semakin rumit.

Di antara sekian banyak jago tangguh yang hadir di situ, orang yang paling

menarik hati Po Ing adalah seorang kakek kecil berwajah kuning kepucat

Tampaknya usia orang itu sudah tua sekali. Giginya berwarna kuning dan

tinggal berapa biji yang belum tanggal. Sepasang cakar tangannya panjang persis

seperti cakar burung, kuku di jari kelingking tangan kanannya dipelihara sampai

panjang sekali, begitu panjang hingga hampir menggulung jadi satu lingkaran,

Bukan satu pekerjaan yang gampang untuk memelihara kuku jari tangan

sampai sepanjang itu. Paling tidak butuh duapuluh tahun untuk memperoleh

kuku sepanjang itu.

Yang lebih aneh lagi adalah kakek yang kurus kecil itu ternyata memiliki sorot

mata yang tajam sekali, setajam sinar matahari yang memantul di atas

permukaan air, membuat orang yang memandangnya merasakan satu

kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata. Sorot mata kakek kurus kecil itu

mirip sekali dengan sorot mati seorang nona kecil.

Jika dia berniat merubah identitas sendiri menjadi seseorang yang lain,

seharusnya dia bisa menggunakan selapis kristal yang tipis untuk menutupi

sorot matanya itu, menahan kilatan cahaya yang memancar dari matanya.

 

Tapi dia justru tidak berbuat begitu. Dia seperti sengaja meninggalkan titik

kelemahan itu agar orang lain bisa menyelidiki identitas dirinya yang

Po Ing merasa semakin tertarik dan gembira dengan penemuannya ini.

. . . Jangan jangan si kakek kurus kecil itu benar benar adalah seorang nona

kecil? Atau mungkin dia adalah Wan-wan, seseorang yang telah “berkurang” itu?

Sorang pelayan warung yang kurus dan lemah dengan membawa sebuah teko air

teh berjalan mendekat. Ketika tiba disisi kakek kurus kecil itu, tiba-tiba kakinya

sempoyongan. Bukan saja tubuhnya akan segera jatuh menimpa di tubuh kakek

kurus itu, air teh panas yang berada di tekonya juga nampaknya segera akan

mengguyur di tubuh kakek itu.

Hampir semua orang yang berada dalam warung berteriak kaget, malahan ada

orang yang berlarian untuk datang membantu. Tapi kalau. berbicara dari situasi

saat itu, tampaknya tak seorang pun bisa memberikan bantuannya.

Yang lebih penting lagi adalah kawanan jago tangguh yang berhasil dikenali Po

Ing tadi ternyata tetap duduk tak berkutik di tempat semula, seakan akan

mereka memang sengaja hendak menonton keramaian itu. Seperti juga mereka

telah memperhitungkan kalau si kakek kurus itu punya kemampuan untuk

menghadapi situasi itu dan tak perlu orang lain mencampurinya.

Mereka tidak bergerak, tentu saja Po Ing pun tidak bergerak. Tapi kakek kurus

kecil itu tak bisa tak bergerak. Siapa yang tahan jika sekujur badannya diguyur

sepoci besar air teh yang masih mendidih?

Tapi seandainya dia melakukan gerakan, maka tindakan itu sama halnya dengan

membongkar identitas sendiri, agar orang lain tahu asal-usul ilmu silatnya dan

membiarkan orang tahu kalau dia adalah seorang jagoan tangguh berilmu tinggi.

Sementara Po Ing masih putar otak memperkirakan tindakan apa yang akan

digunakan kakek kecil itu, tampak langkah kaki si pelayan tahu tahu sudah

berdiri stabil. Bukan saja air teh dalam teko yang dibawanya tidak mengguyur ke

tubuh kakek kecil itu, bahkan muncrat keluar setetes pun tidak.

Ternyata di saat yang paling kritis itulah tiba tiba kakek kecil itu menggerakkan

tangannya mendorong sikut pelayan yang memegang poci teh itu perlahan. Si

pelayan segera merasakan ada segumpal kekuatan yang sangat besar

menstabilkan keseimbangan tubuhnya. Dia merasa ada segumpal aliran hawa

panas yang mencengkeram semua ruas tulang di tubuhnya, seperti ada tujuhdelapanbelas

buah tangan yang memegangi badannya secara bersamaan.

Sebetulnya dorongan itu sangat enteng dan sederhana, bahkan orang lain tak

sampai menaruh perhatian khusus ke situ. Namun Po Ing yang menyaksikan hal

ini seperti melihat sesuatu kejadian yang amat mengagetkan hatinya. Begitu

terkesiap hatinya hingga kelopak matanya pun ikut berkerut.

 

Pada saat yang bersamaan, mendadak ia mendengar ada orang berbisik ke

arahnya dari belakang dengan suara rendah, “Harap ikuti aku!”

Suara orang itu sangat aneh. Di balik suara yang parau terkandung nada tajam

yang menusuk telinga, bahkan nada suara itu begitu aneh hingga sulit baginya

untuk membedakan suara tersebut berasal dari suara seorang lelaki atau suara

seorang wanita?

. . . Sejak masuk ke dalam warung teh, Po Ing sudah menemukan ada beberapa

orang di antara mereka yang sulit dibedakan lelaki atau perempuan.

Yang bisa dipastikan saat ini adalah suara bisikan tersebut sama sekali tidak

mengandung maksud jahat. Bila orang itu berniat jahat, sesungguhnya dia tak

perlu buka suara. Kalau bisa membokong dari belakang punggung Po Ing, buat

apa banyak bicara?

Ketika Po Ing berpaling, lagi-lagi dia merasa terperanjat, seolah-olah dia telah

menyaksikan satu kejadian yang mengejutkan hati.

Padahal yang terlihat olehnya saat itu hanya seseorang, satu or¬ang dengan

selembar wajah dan sepasang mata.

Sepasang mata yang membuat Po Ing amat terperanjat!

XII. Ilmu Sakti Yang Menggetarkan Dunia

Orang itu berperawakan sedang, usianya sekitar empatpuluh tahunan. Kalau

dibandingkan orang biasa, ia lebih kurus dan lemah. Saat itu ia mengenakan

baju berwarna abu abu. Wajahnya sangat sederhana, jenggotnya tak seberapa

banyak bahkan dibiar¬kan tumbuh tak beraturan; seorang lelaki setengah umur

yang amat bersahaja.

Yang lebih penting lagi adalah sepasang matanya sangat biasa. Kecuali Po Ing,

mungkin orang lain tak akan merasakan sesuatu yang istimewa dengan orang

ini. Sudah barang tentu tak akan dibuat terperanjat oleh kehadiran¬nya.

Apa yang membuat Po Ing sangat terperanjat?

Tak sepatah kata pun yang dia ucapkan, dengan mulut terbung¬kam ia berjalan

keluar mengikuti di belakang orang itu.

Di luar ruangan adalah sebuah halaman yang tidak terlalu besar juga tak terlalu

kecil. Kayu bakar ditumpuk di sisi halaman, di seberang sana adalah sederet

bangunan rumah rata, asap putih mengepul dari balik ruangan itu. Bahkan

kelihatan banyak pelayan yang hilir mudik di sana. jelas tempat itu adalah

Ketika berjalan menyeberangi halaman itulah, mendadak satu kejadian aneh

telah berlangsung.

 

Ketika lelaki setengah umur yang kurus dan lemah itu berjalan sampai di tengah

halaman, tiba¬-tiba perawakan tubuhnya seakan-¬akan telah berubah. Bukan

saja badannya menjadi lebih tinggi dua inci, bahunya juga menjadi lebih lebar

berapa inci. Hanya sepasang tangannya yang sejak tadi berada di luar baju

masih tetap nampak panjang dan lembut. Sepasang tangan yang halus dan tak

pernah dipakai untuk mengangkat tong berisi air.

Semakin berjalan ke depan, perawakan badannya seolah olah berubah semakin

tinggi dan besar. Sekalipun tidak nampak bagaimana mimik mukanya saat itu,

namun kalau dipandang dari belakang, dia seakan akan telah berubah menjadi

seseorang yang lain.

Menyaksikan semua peruba¬han yang sangat mengejutkan itu, Po Ing malahan

tidak kaget. Dia seperti sudah menduga sejak awal kalau akan terjadi banyak

peru¬bahan pada tubuh orang itu. Bahkan seberapa mengejutkannya

perubahan itu, asal perubahan terjadi pada orang ini maka perubahan tersebut

dipandangnya sebagai suatu kejadian yang sangat biasa.

Jalan punya jalan, tiba tiba or¬ang itu melambung ke udara lalu dengan sekali

lompatan dia sudah naik ke atap rumah di seberang sana. Waktu melompat dia

seperti orang biasa yang sedang, naik ke anak tangga saja, sama sekali tak

ngotot atau pun mengeluarkan banyak tenaga.

Ketika tiba di atap rumah, perawakan tubuh orang itu seperti semakin

bertambah besar; kini setiap ayunan langkah kakinya paling tidak bisa mencapai

dua-tiga kaki.

Ilmu meringankan tubuh semacam ini memang pernah dibicarakan orang

persilatan di masa lalu. Tapi orang yang benar-benar pernah menyaksikan

dengan mata kepala sendiri mungkin cuma berapa orang saja. Po Ing segera

mengikuti di belakangnya.

Sambil mengembangkan jubah panjangnya, Po Ing melayang di tengah udara

bagaikan seekor rajawali sakti. Satu kali dia pernah menggunakan gerakan itu

untuk melewati sebuah lembah lebar di puncak gunung Hoa san.

Inilah ilmu sakti andalannya, juga merupakan ilmu meringankan tubuh yang

jarang dijumpai dalam dunia persilatan. Dengan mengandalkan ilmu

meringankan tubuh ini, nama Po Ing pernah berada pada urutan ke empat.

Tapi sekarang, Po Ing harus mengerahkan tenaga yang paling besar untuk bisa

mengikuti di belakang orang itu dengan susah payah.

Orang itu sama sekali tidak berpaling, katanya dengan suara hambar,

“Belakangan ini kau terlalu banyak mencampuri urusan tetek bengek. Selain

kelewat banyak bertaruh, kau pun kelewat banyak minum. Tampaknya kau

harus pulang bersama aku untuk makan berpantang selama beberapa hari.”

Po Ing segera tertawa.

 

“Kau makan barang tak berjiwa, aku makan daging. Kau menikmati kehidupan

yang tenang dan tak terganggu banyak urusan, aku lebih suka hidup dengan

urusan tetek bengekku. Lebih baik kita berdua saling mempertahankan

kehidupan semula.”

Kalau ditinjau dari nada pembicaraan ini, jelas mereka berdua sudah saling

kenal sejak lama. Bukan saja saling mengenal, bahkan sudah kenal sangat lama.

Hubungan mereka pun amat akrab.

Siapakah orang ini? Mungkinkah dia adalah salah satu dari tiga tauke yang

mengadakan sarang perjudian?

Mereka berhenti di atas gunung gunungan di tengah sebuah kebun bunga.

Kebun bunga itu indah sekali, aneka jenis bunga yang sedang mekar

menyiarkan bau harum semerbak. Di seberang gunung-gunungan itu adalah

sebuah ruang yang sangat indah, perabot dalam ruangan itu hampir semuanya

diatur dengan rapi dan bersih, sepasang lian tergantung di sisi pintu.

“Mabuk arak membuat kuda jempolan harus dicambuk.”

“Kasih cinta yang terlambat membuat wanita cantik terbengkalai.”

Di atas meja tersedia arak. Tak banyak jumlah arak itu tapi baunya sangat

kental. Tersedia pula hidangan sayur; semua hidangan sedikit jumlahnya tapi

dibuat sangat lezat.

Lelaki setengah umur itu kini telah berubah menjadi tinggi besar dan sangat

kekar, dan wajahnya pun ikut berubah. Kalau semula dia mempunyai wajah

yang sangat bersahaja, sekarang telah berubah menjadi begitu angker dan

penuh wibawa. Wajah itu membawa hawa pembunuhan yang sangat gelap,

bagaikan awan gelap yang menyelimuti angkasa menjelang datangnya hujan

badai, membuat dada orang yang melihatnya terasa seperti terhimpit.

Po Ing memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu. Sebentar dia pandang orang

itu, sebentar mengawasi arak dan sayur yang ada di atas meja, lalu sambil

menghela napas panjang gumamnya, “Kelihatannya belakangan ini kau makan

lebih sedikit.”

“Semenjak Sie Hong ing mati karena penyakit ginjal, aku memang makan Iebih

sedikit. Tapi tidak makan toh tidak bisa,” sahut orang berbaju abu abu itu

sambil tertawa. “Sungguh tak disangka penyakit ginjal adalah penyakit yang

susah diobati.”

“Kalau begitu seharusnya kau tetap tinggal di atas gunung untuk

menenteramkan hati. Kemunculanmu kali ini betul-betul membuat aku

terperanjat!” kata Po Ing.

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, “Melihat kehadiranmu

dalam persoalan ini, aku lihat kasus ini tampaknya jauh lebih serius sepuluh

persen daripada apa yang kubayangkan semula.”

 

“Bukan hanya sepuluh persen, paling tidak enam tujuhpuluh persen lebih serius

daripada apa yang kau pikirkan!”

Tiba tiba ia bertanya lagi kepada Po Ing, “Kau sempat lihat tidak siapakah kakek

kecil yang nyaris terguyur air mendidih tadi?”

“Tentu saja dia tak bakal terguyur air mendidih,” sahut Po Ing sambil

mengangguk. “Jika Siau hun siau cing ie (si baju hijau pembetot sukma) sampai

mati terguyur air mendidih, waah… itu baru satu kejadian yang sangat

menggelikan!”

Si baju hijau pembetot sukma, si jubah merah pencabut nyawa.

Sedikit sekali orang dalam dunia persilatan yang bisa sejajar nama besarnya

dengan kakek Li si jubah merah, apalagi bila urutan namanya masih di atas

orang ini. Bisa dibayangkan sampai di mana kehebatan ilmu silat yang dimiliki si

baju hijau pembetot sukma.

Kepandaian apa yang sebenarnya dia miliki? Tak banyak orang persilatan yang

mengetahui hal ini, sebab kepandaian yang dia kuasai benar benar kelewat

banyak. Hampir semua aliran ilmu silat yang ada di dunia kangouw saat ini

diketahui olehnya, terutama dalam hal ilmu melepaskan senjata rahasia dan

keterampilan lainnya. Ci Kim-hoat menaruh nama besarnya pada urutan ke dua

dari jago paling tangguh di kolong langit.

Ilmu bersalin rupa yang dia miliki pun termasuk nomor wahid. Tak disangkal

kawanan jago tangguh yang hadir dalam warung teh itu hampir semuanya telah

dirubah identitasnya.

Oleh sebab itulah pertanyaan yang hendak diajukan Po Ing sekarang adalah,

“Apakah dia dan mereka adalah satu kelompok?”

“Benar!”

“Bagaimana mungkin kawanan jago yang selama ini malang melintang sendirian

dan selalu meletakkan matanya di atas ubun-ubun bisa satu kelompok

dengannya?.”

“Karena mereka mempunyai satu organisasi yang istimewa!”

“Dan oraug orang itu adalah anggota organisasi itu?”

“Benar!”

“Organisasi ini bisa menjaring begitu banyak jago tangguh, bahkan sampai si

baju hijau pembetot sukma pun termasuk satu di antaranya, kehebatan dan

kedahsyatan organisasi ini benar-benar mengerikan!” kata Po Ing sambil

menghela napas. “Kelihatannya, belakangan ini aku memang terlalu banyak

mengurusi masalah tetek bengek sehingga munculnya satu organisasi yang

begitu dahsyat pun sampai tak kedengaran!”

 

Setelah termenung sejenak, kembali tanyanya, “Dengan hadirnya mereka semua

di sini, jelas menunjukkan kalau organisasi misterius itu telah bersiap siap ikut

campur dalam kasus ini. Tapi kenapa mereka harus mencampuri urusan ini?”

Orang berbaju abu abu itu tidak menjawab. Pertanyaan ini harus dijawab Po Ing

sendiri, dan pertanyaan ini hanya ada satu jawabannya.

“Mereka campur tangan dalam kasus ini karena si pembunuh juga merupakan

anggota dari organisasi ini!”

Dengan kening berkerut Po Ing berkata lagi, “Jika jagoan macam Siau cing pun

sudah ikut campur dalam kasus ini, kelihatannya akan menjadi sangat sulit bila

kita hendak mengusik pembunuh yang sesungguhnya.”

Orang berbaju abu abu itu tertawa hambar.

“Pikiranmu kelewat jauh,” katanya. “Hingga sekarang kita masih belum tahu

siapakah pembunuh yang sebenarnya. Darimana kita bisa mengusiknya?”

“Berarti kau pun menganggap Thia Siau cing bukan pembunuh yang

sebenarnya?”

Orang berbaju abu abu itu seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian

ditahan kembali. Mendadak wajahnya kelihatan sangat letih hingga paras

mukanya ikut berubah semakin menghitam. Tiba tiba dia ulapkan tangannya

sembari berkata, “Aku sangat lelah, kau boleh pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Mencari Thia Siau cing!”

Sesungguhnya dia memang harus segera mencari Thia Siau-cing. Banyak

persoalan dan teka-teki yang baru bisa dipahami dia bertemu dengan pemuda

“Tapi, apakah tidak kelewat pagi untuk pergi mencarinya sekarang?” tanya Po

Ing. “Apa tidak lebih baik menunggu setelah hari gelap nanti?”

“Kalau menunggu sampai malam nanti, penjagaan di tempat itu akan semakin

ketat dan gawat. Kalau pergi sekarang justru di luar dugaan mereka,” kata orang

berbaju abu abu itu menjelaskan. “Apalagi orang yang sedang dipenjara persis di

sebelah kamar tahanan itu adalah seorang perampok ulung yang sudah

mengundurkan diri. Harta kekayaannya sangat banyak, maka dia sudah

menyogok semua pegawai dan penjaga yang berada dalam penjara itu. Tiap hari

ada orang rumah yang datang mengirim sayur dan arak. Bila kau bisa temukan

cara terbaik untuk menggantikan petugas penghantar makanan, rasanya tak

sulit bagimu untuk bisa bertemu dengan Thia Siau cing!”

Po Ing menghela napas panjang.

 

“Penyakitmu membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat. Alangkah baiknya

jika kau tak usah banyak berpikir. Kalau kali ini kau tak perlu turun tangan,

lebih baik jangan ikut ikutan.”

Orang berbaju abu abu itu tertawa angkuh, sahutnya, “Bukan urusan yang

mudah untuk memaksaku ikut ikutan. Apalagi di kolong langit saat ini tinggal

berapa orang saja yang pantas untuk bertanding denganku!”

XIII. Serangan Kilat

Sesuai dengan rencana yang dibuat orang berbaju abu abu itu, dengan sangat

mudah Po Ing berhasil menemukan Thia Siau cing. Satu satunya masalah yang

patut disesali adalah Thia Siau-cing enggan bertemu dengannya.

Ruang penjara yang dihuni Thia Siau cing berhubungan dengan kamar penjara

yang dihuni perampok ulung itu. Biarpun ilmu silat yang dimiliki perampok itu

tidak hebat, tapi cara kerjanya sangat mengagumkan.

Selama duapuluh tahun malang melintang di kalangan Liok lim, harta kekayaan

yang berhasil dihimpunnnya sudah amat banyak. Setelah mengundurkan diri,

dia pun pandai menyembunyikan ketenarannya. Oleh sebab itu orang persilatan

banyak yang mengira dia sudah lenyap tak berbekas.

Siapa tahu begitu Phoa Ki seng tiba di kota Chi lam dan menjadi pembesar di

kota itu, ekor rasenya segera terbongkar. Tidak sampal setengah bulan, dia

sudah berhasil ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Ternyata dia kenal dengan Po Ing. Sekalipun harus mengamatinya sampai lama

tapi pada akhirnya dia mengenali juga. Begitu mengenali siapa yang berada di

hadapanya, perampok itu jadi ketakutan setengah mati, sampai sampai kakinya

jadi lemas semua. Apa saja yang ditanyakan Po Ing, dia langsung jawab dengan

Menurut penuturannya semenjak Thia Siau cing masuk ke dalam ruang penjara,

dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan dia selalu mogok makan

maupun minum. Itulah sebabnya kondisi tubuhnya saat ini sangat loyo dan tak

Menurut kondisi yang ada saat ini, rasanya memang tak ada orang lagi yang bisa

menyelamatkan jiwanya. Jika seseorang sudah punya niatan untuk mati, siapa

pula yang bisa selamatkan jiwanya?

Po Ing tidak segera pergi walaupun menghadapi kenyataan seperti ini. Dia malah

mengambil bangku yang biasa dipakai sipir penjara dan duduk di pintu masuk

penjara. Sipir penjara yang ada di kamar sebelah buru buru menuangkan

secawan air teh untuknya.

Po Ing duduk dengan santainya di atas bangku sambil menikmati air teh panas.

Dia seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

 

Selama ini, hanya si perampok yang berbicara terus sementara Thia Siau cing

hanya duduk di sudut ruangan. Jangan lagi bicara, mengangkat kepalanya pun

tidak. Lewat berapa saat kemudian, tiba tiba Po Ing berseru, “Akhirnya kau

datang juga, aku tahu kau pasti akan datang kemari!”

Yang muncul memang Phoa Ki seng. Dia masih mengenakan jubah

kebesarannya sebagai pembesar eselon empat, tapi kopiah kebesarannya telah

dicopot dan berada di tanganya. “Lagi lagi kau yang berhasil menangkan

pertaruhan ini, makanya aku khusus kemari untuk mempersembahkan kopiah

kebesaran ini kepadamu.”

“Ehm, tampaknya kau sudah ikhlas dengan kekalahan ini.”

“Biarpun aku kalah bertaruh hingga mesti kehilangan kopiah kebesaran, masih

untung ada barang lain yang belum sampai kalah kupertaruhkan,” ujar Phoa Ki

seng sambil tertawa. “Nyawaku belum sampai kalah dipertaruhkan!”

“Setiap orang hanya memiliki selembar nyawa, apa gunanya kau pertahankan

nyawamu itu?” Po Ing sengaja bertanya. “Meman¬nya kau pingin beradu nyawa?”

Padahal dia sama sekali tak membayangkan kalau Phoa Ki-seng bakal beradu

nyawa. Beradu nyawa hanya perbuatan orang tolol, seorang jagoan yang benar

tangguh jarang sekali melakukan perbuatan ini.

Tapi kali ini, Phoa Ki seng telah melakukannya.

Tak bisa dipungkiri dia memang terhitung seorang jagoan yang berilmu tinggi,

bahkan termasuk jagoan kelas satu di dunia. Tapi begitu serangan dilancarkan

dia selalu menggunakan serangan serangan maut yang mengadu jiwa. Ketika

jurus serangan macam itu digunakan dalam ruang penjara yang sempit, maka

ancaman bahaya yang tercipta pun semakin mengerikan.

Po Ing tidak menjadi terdesak karena serangan lawan. Sambil mengembangkan

bajunya hingga tubuhnya melambung di udara bagai sayap burung elang, ia

seperti daun bakau yang terombang ambing oleh arus laut, setiap saat seperti

dapat berputar menuju ke arah yang berbeda, bahkan seringkali melancarkan

serangan dari sudut yang mustahil bisa dilakukan kebanyakan orang.

Ketika gerakan tubuh semacam ini dikembangkan di dalam tempat yang sempit,

maka kekuatan yang timbul pun semakin mencengangkan hati.

Thia Siau cing belum juga berpaling, sebaliknya perampok yang berada di ruang

sebelah sudah dibuat terperangah dan berdiri tertegun.

Dalam tiga sampai lima gebrakan kemudian, Po Ing telah sekali berhasil

mendesak Phoa Ki seng hingga tak sanggup melancarkan serangan balasan. Dia

tampak mulai keteter dan segera akan mengalami kekalahan total.

Tapi Po Ing tak pernah melancarkan serangan yang mematikan. Seakan akan tak

disengaja dia selalu mendesak Phoa Ki seng hingga mundur berulang kali, tapi

setiap kali selalu menyediakan jalan kehidupan baginya.

 

Pada saat itulah pintu kamar dari ruang penjara di sebelah ruang Thia Siau cing

tiba tiba terbuka lebar, si perampok yang sudah lama mengundurkan diri dari

Liok lim dan selama ini hanya berdiri, tertegun itu tiba tiba melompat keluar

bagai seekor harimau kelaparan. Bahkan dengan ilmu Pa nau kang (ilmu cakar

harimau) yang jauh lebih hebat dari Eng jiau kang, dia serang urat nadi di

kening kiri Po Ing yang menonjol keluar.

Sipir penjara yang tadi menuangkan air teh untuk Po Ing pun kini ikut

melancarkan serangan kilat.

Kepandaian silat yang dia gunakan adalah sejenis ilmu pukulan keras yang

mengandung tenaga lunak. Di antara jurus jurus serangan yang sebentar lembek

bagai sutera, sebentar keras bagai baja itu, dia selipkan juga ilmu-ilmu pukulan

sejenis Han yang sin ciang dari aliran Mokau. Kemungkinan besar orang ini

adalah sisa sisa pengikut aliran Mokau di masa silam.

Orang ke tiga menerjang masuk dari luar pintu, ilmu silat yang digunakan

adalah ilmu pukulan Kim kong ciang yang berhawa pukulan keras. Deruan

angin pukulan yang tajam dan kuat hampir menutup seluruh jalan mundur Po

Ketiga orang ini bukan saja memiliki ilmu silat yang hebat, serangan yang

mereka lancarkan pun sama sekali diluar dugaan. Dalam sekilas pandangan saja

Po Ing segera mengenali mereka adalah orang yang pernah muncul di warung teh

tadi, bahkan paling tidak ia berhasil mengetahui asal-usul ilmu silat yang

digunakan kedua orang itu.

Setelah mereka munculkan diri, mungkinkah si baju hijau pembetot sukma juga

akan segera menampilkan diri?

Persoalan inilah yang sesungguhnya amat dikuatirkan Po Ing. Sangat tidak

beruntung apa yang paling dikuatirkan justru segera akan terjadi. Di atas

bangku panjang yang tadi didudukinya, tiba tiba sudah bertambah dengan

Orang itu adalah seorang kakek kecil yang sangat sederhana.

Melihat kemunculan kakek kecil itu, Po Ing sangat terperanjat. Phoa Ki seng

segera memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari ruang penjara.

Siapa pun orangnya, bila dia sudah tahu asal usul yang sebenarnya dari kakek

kecil itu, mereka pasti akan dibuat terkesiap setelah menyaksikan

Sementara itu Po Ing tak mampu mencegah kepergian Phoa Ki seng. Dia pun tak

mampu melakukan pengejaran, sebab semua jalan perginya telah dihadang

Terdengar kakek kecil itu dengan menggunakan suaranya yang tinggi

melengking dan sangat aneh bertanya kepada Po Ing, “Po toa tauke, apakah kau

sudah teringat akan sesuatu?”

 

“Soal apa?”

“Semua orang berkata, tempat di mana aku pernah kunjungi, semua barang

yang ada di situ kemungkinan besar beracun. Apakah kau percaya dengan cerita

ini?”

“Tentu saja percaya!”

“Apakah kau tidak berpikir, kemungkinan besar dalam air teh yang kau minum

tadi juga mengandung racun?”

“Mungkin saja!”

“Tampaknya kau telah menghabiskan air teh tersebut. Apa sedikit pun kau tidak

merasa takut?”

“Oooh, takut sekali!”

Namun sikap maupun gerak gerik Po Ing masih amat santai, tak sedikit pun

perasaan takut yang dia perlihatkan.

“Justru karena takut maka aku telah bertindak sangat hati hati,” kata Po Ing

santai. “Karena aku sangat berhati hati, maka air teh yang kau berikan tadi

sama sekali tak kuminum biar cuma satu tegukan pun!”

Lama sekali kakek kecil itu mengawasi wajahnya, tiba tiba ia tertawa terkekeh,

kemudiam dia ambil keluar kantung berisi tembakau dan mulai menyulut

huncwee yang berada di tangannya. Asap putih yang tebal dengan cepat

menyelimuti seluruh wajahnya.

Dari balik asap huncweenya yang putih tebal itulah kembali dia berkata dengan

suara yang aneh, seperti suara kaca yang bergesekan dengan benda logam.

“Tahukah kau bahwa aku masih memiliki sejenis dupa pemabuk yang sangat

beracun? Dupa pemabuk itu bernama Cap-li siau hun cing ie san (bubuk hijau

pembetot sukma sejauh sepuluh li). . .”

“Ya, aku pernah dengar nama itu. ”

“Kira kira kau takut tidak jika dalam huncweeku ini telah kutaruh bubuk hijau

pembetot sukma itu?”

“Wah… takut… takut sekali!”

“Sayang sekali, walaupun kau takut tapi tak mampu kabur dari sini. Sekalipun

kau bisa menahan napas, sampai berapa lama kau bisa tahan napasmu itu?”

“Yaaa, aku memang sedang menguatirkan persoalan ini.”

“Lantas apa rencanamu selanjutnya?”

 

“Sekarang aku belum menemukan cara terbaik untuk menghadapi ancaman itu,”

ujar Po Ing sambil menghela napas. “Bila sampai akhirnya aku tetap gagal

menemukan cara yang terbaik, yah… apa boleh buat. Terpaksa aku biarkan kau

meracuni aku sampai mati!”

Sambil tertawa terkekeh-kekeh kakek kecil itu manggut-manggut, sahutnya,

“Bukan suatu kejadian yang sulit untuk mati terkena racunku. Bila kau

menahan napas, mungkin masih bisa bertahan beberapa saat lagi. Tapi kini, kau

bicara melulu, aku kuatir. . .” Belum selesai perkataan itu diucapkan, tubuh Po

Ing sudah mundur dengan langkah sempoyongan. Mukanya yang semula merah

kini telah berubah jadi pucat pias.

Terdengar kakek kecil itu berkata lagi, “Tapi kau tak perlu kuatir, aku tak akan

meracunimu hingga mati. Paling banter aku hanya akan membuat kau pingsan

berapa saat.”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya, “Bahan obat-obatan yang

dibutuhkan untuk membuat bubuk hijau ini mahal harganya. Aku tak tega

untuk memakainya terlalu banyak…”

Po Ing sudah tak sanggup berbicara lagi. Mungkin apa yang diucapkan si kakek

kecil itu sudah tak terderigar lagi olehnya. Tiba tiba terdengar seseorang berseru

sambil tertawaa tergelak, “Hahaha… ternyata Po Ing yang begitu menggemparkan

sungai telaga tak lebih hanya begitu saja!”

Suara tertawa itu sangat keras dan nyaring, penuh rasa bangga dan nada

mengejek. Tapi rasa bangga itu hanya, berlangsung sekejap. Tiba tiba terlihat Po

Ing yang setengah sadar itu sudah tertawa keras sambil melejit ke udara,

kemudian dengan menggunakan gerakan seekor rajawali dia meluncur melewati

atas kepala kawanan jago itu.

Begitu berhasil melewati para jago, dengan gerakan selicin ikan yang berenang

dalam air, dia melejit ke luar dari ruang penjara melalui sudut yang tak terduga

siapa pun! Tahu tahu dia sudah lolos dari kepungan mereka.

Orang yang semula tertawa mengejek, kini tak sanggup tertawa lagi. Sementara

si kakek kecil segera berseru sambil tertawa terkekeh kekeh ‘ “Hahaha, . . . mesti

diakui Po Ing yang tersohor di kolong langit memang punya ilmu andalan!”

XIV. Hukuman Mati

Bagi Po Ing, bukan pekerjaan yang terlalu sulit bila ingin kabur dari tempat itu;

entah mau kabur ke arah mana pun.

Bahkan ada banyak orang yang beranggapan bahwa di kolong langit saat ini tak

ada tempat yang mampu menahan dia, juga tak seorang manusia pun yang

sanggup menghalangi dia. Padahal cara yang dia gunakan adalah sebuah cara

yang sederhana, tapi justru cara yang paling sederhana memberikan hasil yang

paling manjur.

Tidak terkecuali kali ini.

 

Biasanya, orang yang berhasil kabur dari cengkeraman maut si baju hijau

pembetot sukma pasti akan mengalami perubahan besar. Berubah dari seorang

manusia hidup menjadi sesosok mayat hidup. Tapi tidak demikian dengan Po

Ing. Setelah berhasil kabur dari cengkeraman maut itu, dia tetap sehat walafiat

tak kekurangan apa Pun.

Hanya butuh waktu satu sentilan jari dia telah berhasil loIos dari kamar penjara

dan tiba di halaman luar. Tapi dengan cepat dia telah melihat seseorang,

seseorang yang sama sekali tak terduga bisa terlihat pada saat dan keadaan

seperti ini.

Dia telah melihat Phoa Ki-seng.

Halaman luas itu merupakan halaman yang khusus dipakai untuk menyimpan

kayu bakar serta batu arang. Persis di tengahnya tumbuh sebuah pohon besar.

Ketika itu Phoa Ki seng sedang berdiri seorang diri di bawah pohon.

Orang yang tadi masih menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk

meloloskan diri, sekarang justru berdiri santai di bawah pohon, Sama sekali tak

terlihat ada maksud atau niat untuk melarikan diri. Bahkan sangat mirip pada

saat ini, di tempat ini dia sedang menanti kedatangan seseorang. Siapa yang dia

tunggu?

Po Ing ingin sekali menghampiri untuk menanyakan hal ini sampai jelas. Tapi

belum sampai dia bergerak, ada seseorang bergerak lebih cepat darinya; seorang

pemuda tampan bertubuh tegap, berpakaian rapi dengan kecepatan tinggi telah

muncul ke hadapan Phoa Ki seng.

Gerakan tubuh orang itu sangat cepat. Belum sempat Po Ing mengetahui siapa

gerangan orang itu, dalam sekejap mata dia telah tiba di hadapan Phoa Ki seng.

Bahkan sambil tersenyum telah menyapa pembesar eselon empat ini.

Phoa Ki seng tampak balas menyapa, bahkan mulai berbicara. Tampaknya

mereka sudah saling kenal, bahkan akrab sekali hubungannya. Sayang jarak Po

Ing dengan mereka jauh sekali, apalagi nada bicara mereka berdua amat rendah

dan lirih hingga sulit bagi Po Ing untuk mengetahui apa yang sedang

dibicarakan. Dia hanya melihat paras muka kedua orang itu sangat gembira.

Berapa saat kemudian, kira-kira mereka telah berbicara sebanyak belasan kata,

tiba tiba pembicaraan berakhir.

Po Ing ingin sekali maju menghampiri mereka, dia ingin tahu siapakah pemuda

itu? Tapi akhirnya niat itu diurungkan, sebab secara lamat lamat ia sudah bisa

menduga siapa gerangan pemuda itu.

Tampaknya pemuda itu segera akan berlalu… tiba tiba dia membalikkan badan

dan mengatakan sesuatu lagi kepada Phoa Ki seng. Untuk sesaat lamanya Phoa

Ki-seng nampak ragu, dia seperti sedang mempertimbangkan jawaban apa yang

harus di¬ucapkan. . . Pada detik itulah mendadak pemuda itu mencabut keluar

sebilah pisau belati, dengan mata pisau yang berkilat setajam halilintar dia

tusuk ulu hati Phoa Ki seng kuat kuat.

 

Raut muka Phoa Ki seng segera mengejang keras. Rasa terkejut bercampur ngeri

segera membayangi wajahnya. Tapi dengan cepat perasaan kaget berubah jadi

rasa takut yang luar biasa…

Pemuda itu masih berdiri tenang di tempat. Ia sedang memandang lawannya

dengan pandangan sangat dingin, tak terlintas pikiran untuk melarikan diri dari

tempat kejadian.

Apakah dia tidak kuatir Po Ing menuntut pertanggungan jawabannya?

Dalam pada itu sekujur tubuh Phoa Ki seng telah mengejang keras, dia seperti

ingin menjerit minta tolong tapi sayang otot tenggorokannya sudah mulai

mengejang juga. Tak setitik suara pun yang sanggup diucapkan. Terpaksa ia

berpaling ke arah Po Ing, memandangnya dengan sinar mata penuh

permohonan, minta belas kasihannya untuk menolong jiwanya…

Dalam keadaan seperti ini, bila Po Ing masih tetap berlagak pilon, tidak bertanya

juga tidak mendengar, maka pastilah Po Ing adalah seorang yang sudah mati.

Yang lebih aneh lagi ternyata pemuda itu masih belum punya niat untuk pergi

dari situ, malahan dengan ramah dan penuh sopan santun dia menyapa,

“Apakah tuan adalah Po Ing sianseng?”

“Ya, akulah Po Ing!”

“Barusan Po sianseng telah melihat bagaimana aku membunuh orang dengan

pisau. Tapi sikapku hingga kini masih tetap tenang seolah olah tak ada kejadian

apa pun. Tentunya kau merasa agak heran bukan?”

“Betul, aku memang merasa heran.”

“Tahukah Po sianseng, kenapa aku masih tetap bersantai ria walaupun baru saja

membunuh seseorang?”

“Tidak tahu… Bukan cuma tak tahu, menebak pun tak bisa.”

“Aku bisa membunuh tanpa harus kuatir lantaran kedudukanku!”

“Oh ya?”

“Aku dari marga Leng bernama Giok hong, komandan polisi dari sektor kriminal.

Pembunuhan yang kulakukan semuanya sesuai dengan prosedur hukum.”

Ternyata anak muda ini adalah jago nomor wahid dari golongan Lak-san bun,

komandan polisi Leng Giok hong. Tapi Po Ing tidak merasa tercengang, sebab hal

ini sudah terduga olehnya sejak awal kejadian.

“Sekalipun kau adalah seorang komandan polisi dari sektor kriminal, rasanya

tak ada hukum yang mengatakan bahwa seorang komandan polisi boleh

sembarangan membunuh,” kata Po Ing kemudian. “Biarpoun dia seorang petugas

 

hukum, jika melanggar peraturan dengan melakukan pembunuhan, dia tetap

harus menerima hukuman.”

“Tentu saja ini tergantung pada siapa yang telah dibunuh,” jelas Leng Giok hong.

“Bila orang itu adalah seorang buronan kelas kakap, bukan saja tak berdosa,

bahkan bisa peroleh pahala besar!”

“Phoa Ki seng adalah seorang pejabat tinggi eselon empat, dosa apa yang telah

dia lakukan? Sekalipun dia telah bersalah, sepantasnya kalau hukuman

dijatuhkan setelah melalui persidangan yang adil.”

Leng Giok hong tidak langsung menjawab, dari sakunya dia keluarkan secarik

surat perintah, surat perintah yang sangat resmi dari kerajaan.

“Segera tangkap buronan kelas kakap Phoa It hui, nama lain Phoa Kiseng. Tak

perlu melalui persidangan, segera laksanakan hukum mati di tempat!”

Dalam surat perintah itu bukan saja dilengkapi dengan cap jabatan pembesar

perbagai propinsi, disahkan juga oleh Menteri Kehakiman.

“Cukup tidak surat perintah ini?” tanya Leng Giok hong kemudian.

“Ya, cukup!”

“Biarpun Phoa Ki seng adalah seorang pejabat tinggi negara dengan pangkat

setingkat eselon empat, tapi dia mempunyai sisi lain. Dulu dia adalah seorang

perompak ulung yang biasa mangkal di seputar sungai Huangho. Bukan saja

menguasai ilmu silat tinggi, ilmu dalam airnya pun sangat mahir. ”

Setelah menghela napas panjang, kembali Leng Gok hong melanjutkan, “Orang

ini menguasai bun (sastra) maupun bu (ilmu silat) secara mahir. Sesungguhnya

dia termasuk seorang jago berbakat alam yang langka di dunia persilatan saat

ini.”

Po Ing ikut menghela napas.

“Sayangnya bila harus dibandingkan dengan seseorang yang lain, dia masih

ketinggalan jauh sekali,” katanya.

“Siapa yang kau maksud?”

“Kau!” sahut Po Ing hambar. “Bila dia lebih tangguh darimu, bagaimana mungkin

bisa berakhir tragis di tanganmu?”

Berbicara sampai di situ dia tidak melanjutkan lagi, hanya serunya, “Selamat

tinggal!”

Tiba tiba Leng Giok hong berseru, Po sianseng, kelihatannya urusan di sini telah

selesai semua. Mau ke mana kau?”

“Aku harus pergi menengok seseorang, seorang yang tak bernama!”

 

Leng Giok hong tertawa.

“Orang yang tak bernama rasanya selalu lebih menakutkan daripada orang yang

bernama. .”

“Itu sih tergantung.

“Tergantung?”

“Tergantung siapakah orang tak bernama itu. Seringkali ada manusia tak

bernama yang menemui ajalnya sebelum menyadari apa yang telah terjadi.”

“Itu pun tergantung,” sela Leng Giok hong, “Tergantung siapakah manusia tak

bernama itu.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya, “Aku kenal dengan seorang manusia tak

bernama. la pernah membantai tigabelas orang jago silat yang menggetarkan

Sungai telaga dalam dalam waktu sekejap mata.”

Po Ing menatapnya tajam-tajam, lalu tanyanya perlahan, “Bukankah manusia

tak bernama yang kau maksudkan adalah dirimu sendiri?”

Leng Giok hong tertawa.

“Aku hanya tahu, di kolong langit saat ini hanya ada dua orang manusia tak

bernama yang paling menakutkan.”

“Oh ya?”

“Konon, dari tiga orang toatauke pemilik Rumah Perjudian, dua di antaranya

adalah manusia tak bernama. Mereka bisa membantai orang hanya dalam waktu

satu kedipan mata saja!”

“Ohhh … !”

Kembali Leng Giok hong tertawa, lanjutnya, “Untung sekali kau bukanlah satu di

antara kedua orang itu. Sebab kau adalah orang kenamaan, orang yang sangat

ternama.”

Po Ing tertawa tergelak.

“Tepat sekali perkataanmu itu,” katanya. “Tak malu kau menjabat sebagai

seorang komandan polisi dari sektor kriminal. Sayangnya ada satu hat yang

masih belum kau pahami!”

“Soal apa?”

Mendadak Po Ing menghentikan gelak tertawanya, lalu sepatah demi sepatah

kata lanjutnya, “Orang yang ternama pun sama saja bisa membunuh orang!”

 

Leng Giok hong tidak bicara lagi, sementara Po Ing juga tutup mulutnya. Mereka

berdua saling berpandangan dengan mata tajam, namun wajah mereka tidak

menampilkan hawa nafsu membunuh yang menakutkan.

Angin musim gugur selalu berhembus kencang, jauh lebih kencang dari

hembusan angin di musim lain. Deru angin yang kencang membuat daun kering

pada berguguran.

Dalam suasana yang membeku itulah kedua orang itu saling berpandangan

tanpa melakukan sesuatu gerakan pun.

Sampai lama kemudian akhirnya Leng Giok hong menghembuskan napas

panjang, katanya, “Jangan sekarang, saat ini tidak cocok. Kalau ingin bertarung

seru, lebih baik pilih waktu yang lebih tepat.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Sebelum menghitung saat yang

baik, sebelum memilih tempat yang menguntungkan, pertarungan jangan

dilakukan. Apalagi kalau hawa nafsu membunuh belum muncul, Iebih baik

pertarungan ditunda.”

Po Ing sangat setuju dengan ucapan itu.

“Bila harus turun tangan di saat tak ingin turun tangan, kekalahan pasti akan

terbentang di depan mata.”

“Untungnya, cepat atau lambat, suatu saat nanti pertarungan pasti dapat

dilangsungkan.”

“Semua orang persilatan tahu kalau Po sianseng amat jarang turun tangan.

Selama duapuluh tahun malang melintang dalam dunia persilatan, dia hanya

tiga kali bertarung,” kata Leng Giok-hong. “Tapi kau tak usah kuatir, aku pasti

akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertarung melawanku.”

XV. Analisis

Saat ini tengah hari sudah. menjelang tiba. Setelah beristirahat hampir satu jam

lamanya, kakek berbaju abu abu yang tak bernama itu sudah nampak lebih

segar. Paras mukanya sudah mulai memerah, sementara jidatnya yang semula

kehitam hitaman, kini sudah nampak pantulan cahaya.

Dia sedang bersantap, semua bahan makanan yang disantapnya telah melalui

seleksi yang amat ketat. Tak boleh kelewat berminyak, juga tak boleh sama

sekali tak berminyak. Tak boleh kelewat berprotein, tapi juga tak boleh

kekurangan protein. Hidangan sebangsa daging-dagingan serta kacang kacangan

tidak boleh makan kelewat banyak, tapi juga tak boleh kekurangan. Sedang

minuman sebangsa arak jangan lagi diminum, disentuh pun jangan.

Penyakit ginjal atau lever memang penyakit yang sangat merepotkan. Selama ini

dia jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan. Hal ini

dikarenakan sepanjang tahun ia selalu bertarung melawan keganasan penyakit

 

Mengenai hidangannya, Po Ing sama sekali tak tertarik. Seringkali dia merasa

keheranan bagaimana mungkin seseorang bisa melanjutkan hidup hanya

mengandalkan bahan makanan semacam ini.

Manusia berbaju abu abu itu melahap hidangannya dengan penuh nikmat.

Katanya, “Jika kau, menganggap jenis makanan ini sangat lezat maka makanan

itu akan sangat lezat kalau dimakan.”

Inilah prinsip hidup yang selalu dipegangnya. Ketika Po Ing muncul di situ, dia

baru saja selesai melahap satu piring bihun yang dimasak dengan terong.

Kepalanya segera didongakkan.

“Apakah kau telah berjumpa dengan Thia Siau cing?” tanyanya. “Sudah” jawab

Po Ing.

“Sayangnya dia seperti tidak melihat kehadiranku.”

“Bagaimana dengan Wan wan? Sudah mendapat kabar beritanya?”

“Sama sekali belum,” Po Ing menggeleng. “Tapi aku telah bertemu dengan Phoa

Ki seng serta Leng Giok hong. Si baju hijau pembetot sukma ternyata muncul

juga di situ. Ilmu bersalin rupa yang dia kuasai benar benar nomor wahid di

kolong langit! Sampai sekarang aku masih belum melihat wajah aslinya.”

Semua persoalan itu sama sekali tidak ditanggapi orang berbaju abu abu itu

sebagai hal yang luar biasa. Sebaliknya pertanyaan yang diajukan orang berbaju

abu abu itu justru sangat mencengangkan hati.

“Bagainiana dengan Phoa Ki-seng?” tanyanya kepada Po Ing. “Phoa Ki seng

sudah mati di tangan Leng Giok hong atau di tangan si baju hijau?”

Po Ing termasuk orang yang jarang terkejut, tapi kali ini dia benar benar

terkesiap. Serunya tak tertahan, “Darimana kau bisa tahu kalau Phoa Ki seng

telah mati ditangan orang lain?”

Orang berbaju abu abu itu tertawa.

“Banyak persoalan di dunia ini hampir semuanya selalu begini; yang

sepantasnya mati memang seharusnya segera mati, yang terlalu banyak

mengetahui persoalan juga harus segera mati.” Setelah berhenti sejenak,

terusnya, “Phoa Ki seng dan Wan-wan adalah mereka yang terlalu banyak tahu

tentang persoalan ini. ”

“Apa yang mereka ketahui?” tanya Po Ing tak tahan.

Orang berbaju abu abu itu tidak menjawab, dia malah balik bertanya, “Apa saja

yang telah kau ketahui?”

Po Ing termenung dan mulai berpikir, lewat lama kemudian dia baru menjawab,

“Aku tahu sejak permulaan mereka sudah keliru, bukan saja keliru pilih orang

juga keliru memilih jalan!”

 

“Lanjutkan. . .”

“Mereka selalu menganggap Thia Siau cing dan Ang ang adalah sepasang

kekasih yang sedang memadu cinta. Ang ang terpaksa kawin dengan orang lain

hanya lantaran Sam Kou nay nay tidak setuju dengan perkawinan mereka.

Kemudian setelah menikah ia mengalami lagi nasib yang tragis. Dalam keputus

asaan dan kekecewaanya akhirnya dia menceburkan diri menjadi seorang

pelacur.”

“Kenapa dia tidak melakukan pekerjaan lain, tapi ngotot menjadi seorang

pelacur?”

“Maksudmu kenapa tidak menjadi nikoh saja? Sama sama jauh dari pergaulan

orang banyak?”

“Mungkin. .

“Sayang apa yang kita bayangkan selama ini keliru besar,” kata Po Ing. “Ang ang

bisa terjun sebagai pelacur bukan lantaran kegagalannya kawin dengan Thia

Siau cing, tapi semuanya disebabkan Tuan muda Pek!”

“Pek Sian kui?”

“Pek Sian kui adalah suami Ang ang. Dia adalah keturunan dari Pek sam ya dari

Hong yan-sam yu,” jelas Po Ing.

Setelah tarik napas panjang, kembali lanjutnya, “Keluarga Pek adalah sebuah

keluarga persilatan kenamaan di wilayah Kou siok. Semenjak kecil tuan muda

Pek adalah seorang bocah ajaib. Sayang kepandaian yang dipelajari bukan ilmu

silat, melainkan sastra: membuat syair, main khim, melukis dan berpantun.

“Untuk ukuran sebuah keluarga yang termashur karena ilmu silatnya, bocah

semacam ini dianggapnya sebagai anak yang put-hau, anak tidak berbakti yang

merusak citra keluarga.

“Oleh sebab itu semua orang beranggapan perkawinannya dengan Ang ang tidak

harmonis. Ang ang pasti tak puas dengan kemampuan suaminya, karenanya

setelah ditinggal mati dan hidup menjanda, ia sama sekali tidak bersedih hati

karena perasaan cintanya selarna ini hanya tertambat pada kekasih lamanya

Thia Siau cing seorang.”

Setelah tertawa getir, Po Ing melanjutkan, “Padahal, analisis kita selama ini

keliru besar!”

“Oh ya?”

“Ang ang tak pernah memikirkan Thia Siau cing. Hubungan percintaan antara

mereka berdua hanya bertepuk sebelah tangan. Hanya Thia Siau-cing yang

selama ini masih mencintai gadis itu. Sebaliknya Ang ang tak pernah

menanggapinya, dia tak pernah masukkan perasaan cinta pemuda itu ke dalam

hatinya!”

 

“Padahal orang yang benar benar dia pikirkan dan perhatikan adalah suaminya

Pek kongcu,” sambung orang berbaju abu abu itu. “Baginya, Thia Siau cing tak

lebih hanya seorang sahabat yang tumbuh jadi dewasa secara bersama sama.”

“Walaupun Thia Siau cing sangat mencintainya, tapi dengan hubungan yang

sudah terjalin selama ini, tak mungkin dia akan membohongi perasaan pemuda

itu. Ang ang pasti sudah memberitahu Thia Siau cing secara jujur bagaimana

perasaan hatinya yang sebenarnya.”

“Betul” Po Ing mengangguk. “Tak mungkin dia tega untuk rnembohongi bekas

kekasihnya. Dia pasti sudah bercerita secara jujur.”

“Ya, memang seharusnya begitu.”

“Oleh karena itu, terjunnya Ang ang sebagai pelacur bukan lantaran masalah

Thia Siau cing. Dalam hal ini aku berani memastikannya.”

“Lalu untuk siapa dia jadi pelacur?”

“Tentu saja demi Pek kongcu!” Po Ing menjelaskan lebih jauh, “Semenjak

kematian Hong yan-sam yu secara beruntun, keluarga Pek dari kota Kou siok

sudah tak di kenal sebagai keluarga persilatan yang unggul karena ilmu silatnya.

Waktu itu Pek kongcu sudah bersiap siap mengubah citra keluarganya. Dia ingin

orang lain mengenali keluarganya sebagai satu keluarga sastrawan yang pandai

dalam ilmu bun (sastra). Sayang sekali Pek Sam ya selama masih berkelana di

dalam dunia persilatan banyak mengikat tali permusuhan dengan orang banyak.

Tentu saja musuh-musuhnva tak mau melewatkan peluang tersebut dengan

begitu saja. Akibatnva dalam semalaman seluruh keluarga besar Pek telah

terbantai habis. Hanya Ang ang seorang yang berhasil meloloskan diri, itupun

berkat pertolongan dari Lenghou Put heng yang secara kebetulan sedang

berkunjung malam itu. Tujuhpuluh lembar nyawa keluarga Pek tertumpas pada

malam itu juga!”

“Tampaknya tidak banyak orang persilatan yang mengetahui kasus berdarah

ini?” kata orang berbaju abu abu itu.

“Ya, hal ini disebabkan si pembunuh melakukan pembantaian dengan sadis dan

kejamnya. Kelewat telengas! Bahkan dalam hal ini menyangkut juga nama baik

dari kaum wanita yang ada di keluarga Pek. Oleh sebab itu hanya beberapa

orang saja yang mengetahui peristiwa ini. Banyak yang tak tega untuk

menceritakannya kembali.”

“Siapakah pembunuhnya?”

“Hingga kini siapa pembunuhnya masih merupakan tanda tanya besar,” jawab

Po Ing; “Pernah ada orang yang melakukan penelitian atas seluruh musuh besar

dari Pek Sam ya semasa hidupnya. Tapi sewaktu terjadinya kasus pembantaian

itu, ternyata tak satu pun di antara mereka yang berada di sekitar kota Kou

siok.”

 

“Karena keluarga suami sudah terbantai habis, sedang dia sendiri pun mungkin

mengalami pelecehan seks yang sangat memalukan, dalam sedih dan

dendamnya maka dia pun terjun sebagai seorang pelacur,” kata orang berbaju

abu abu itu. “Mungkin inilah sebab utama kenapa Ang ang terjun sebagai

pelacur kelas tinggi.”

“Secara garis besar memang seharusnya begitu, tapi bagaimana kejadian yang

sesungguhnya mungkin hanya Ang ang sendiri yang bisa jelaskan.”

“Menurut pendapatmu masih ada alasan apa lagi selain alasan tadi?”

“Mungkin tujuan yang paling utama kenapa Ang ang jadi pelacur adalah untuk

mencari jejak pembunuh sesungguhnya.”

“Mencari pembunuh sesungguhnya? Kenapa harus jadi seorang pelacur?”

“Nah, di sinilah kunci utama dari semua persoalan. Asal kita temukan Ang ang

maka semua persoalan akan menjadi jelas!”

“Tapi Ang ang sudah mati!”

“Kalau begitu kita harus mencari orang yang paling dekat dengan Ang ang!”

“Wan wan?”

“Betul!” Po Ing membenarkan.

“Ada masalah tertentu yang tak mungkin Ang ang bicarakan dengan Lenghou

Put heng. Hanya di hadapan Wan wan ia bisa menumpahkan seluruh isi hatinya.

Oleh sebab itu rahasia dari Ang-ang mungkin hanya diketahui Wan-wan

seorang.”

“Sayang sekali Wan wan telah lenyap secara tiba tiba di saat Yang paling kritis.

Hingga kini tampaknya belum ada yang mengetahui kabar beritanya.”

“Kemungkinan besar masih ada seseorang yang tahu, hanya orang ini yang

mengetahui segalanya,” tegas Po Ing.

“Siapa yang kau maksud?”

“Phoa Ki seng!”

Kembali Po Ing menjelaskan, “Sewaktu terjadi peristiwa berdarah pagi itu, hanya

Phoa Ki seng yang berada di gedung seputar tempat tinggal Ang ang. Waktu itu

kemungkinan besar Wan wan sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan,

maka ia gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Phoa Ki-seng pasti

melihat kejadian ini, maka dia pun menghalangi kepergiannya, bahkan mungkin

menyembunyikan dia di suatu tempat yang paling aman. Phoa Ki seng adalah

pembesar kota Chi lam, tentu saja dia sangat menguasai medan di sekitar situ.

Bukan pekerjaan yang terlalu sulit baginya untuk menyembunyikan seseorang.”

 

“Masuk di akal!” puji orang berbaju abu abu itu.

“Waktu itu asap ungu sudah mulai muncul dari dalam gedung, disusul

kemudian ditemukannya Thia Siau cing sambil menggenggam pisau berdarah

berdiri di depan ranjang sang korban, bahkan dengan cepat mengakui dia

sebagai pembunuhnya!” lanjut Po Ing. “Setelah kejadian berkembang jadi begitu,

apa pun yang ingin diucapkan Pho Ki-seng juga tak ada gunanya lagi, maka

diapun membungkam.”

“Ehmm, masuk di akal.”

“Semenjak kehadiranku di kota Chi-lam, berulangkali Pho Ki-seng mencari

kesempatan untuk bertemu denganku. Rupanya dia ingin mencari kesempatan

untuk membeberkan rahasia itu kepadaku.”

“Kenapa dia tidak langsung saja membawa pergi menemui Wan-wan? Kenapa dia

malah membawamu ke warung penjual teh itu?”

“Karena dia tahu, di dalam warung penjual teh itu hadir banyak sekali jago

tangguh yang khusus datang untuk menyelesaikan persoalan ini. Semua orang

tak ingin melihat Thia Siau-cing bebas dari sangkaan!” jelas Po Ing. “Phoa Kiseng

sengaja membawaku ke sana alasannya tak lain hanya ingin tahu apakah

kemampuanku bisa digunakan untuk menghadapi kawanan jago tersebut.”

“Bila kemampuanmu tak sanggup menghadapi mereka, tak ada gunanya Phoa

Ki-seng membeberkan rahasia tersebut kepadamu?

“Benar,” Po Ing mengangguk. “Phoa Ki seng memang seorang yang sangat berhati

hati dalam melakukan pekerjaannya.”

“Tapi sampai akhir pun dia tak sempat memberitahukan rahasia itu kepadamu?”

“Benar! ” Po Ing membenarkan. “Oleh karena itu ketika tiba waktunya dia ingin

membeberkan rahasia itu kepadaku, waktu sudah terlambat. Padahal sewaktu

masih berada di dalam ruang penjara Thia Siau cing, aku masih mengira dia

sengaja ingin menghindari aku. Rupanya dia ingin memancing aku keluar untuk

mengejarnya lalu menggunakan kesempatan itu mengajakku pergi menemui

Wan wan. Dia sengaja mengajakku bertarung tak lebih hanya sengaja ingin

diperlihatkan kepada orang lain.”

Setelah berhenti sebentar untuk tarik napas, lanjutnya, “Ketika berpapasan

dalam ruang penjara tadi, aku mengira si baju hijau sekalian khusus meluruk ke

situ karena ingin menolong Thia Siau cing. Sungguh tak disangka ternyata

mereka datang untuk membunuh Phoa Ki seng. Tak heran kalau dia

menungguku di tengah halaman. Sayang sebelum aku tiba di situ, dia sudah

keburu dibantai orang.”

“Yang membunuhnva adalah Leng Giok hong?”

“Benar, Leng Giok hong membawa surat perintah resmi dari kerajaan. Dia

diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati kepadanva. Ditinjau dari peristiwa

 

ini, bisa disimpulkan kalau dia pun termasuk salah satu anggota dari organisasi

rahasia itu. Selama ini dia tinggal di kota Chi lam tak lain hanya ingin

mengaburkan identitas aslinya.”

“Bagaimana dengan Leng Giok hong? Apakah dia pun termasuk salah satu

anggota organisasi rahasia itu?”

“Kemungkinan besar begitu!”

Orang berbaju abu abu itu manggut manggut, katanya, “”Itulah sebabnya setelah

Wan-wan melarikan diri dari tempat kediaman Ang ang, Phoa Ki seng sama

sekali tidak berniat masuk ke dalam kamar untuk membekuk si pembunuh

sadis itu, karena mungkin dia juga tahu kalau pembunuh yang sesungguhnya

adalah Leng Giok hong! justru lantaran peristiwa ini, organisasi rahasia itu pasti

beranggapan bahwa Phoa Ki seng hendak berkhianat. Mereka pun segera

mengutus orang untuk melenyapkan jiwanya!”

“Betul” Po Ing mengangguk.

“Oleh karena itu dalam kasus berdarah ini, tinggal dua teka teki yang belum

terjawab!”

“Dua hal yang mana?”

“Pertama, kenapa Ang ang ngotot ingin jadi pelacur? Kedua, kenapa Leng Giok

hong harus membunuh perempuan itu?”

Ingin mencari musuh besamya bukan berarti harus jadi seorang pelacur, di balik

teka teki ini pasti terdapat satu alasan yang amat besar.

Leng Giok hong membantai Ang ang bukan saja melewati satu perencanaan yang

cermat dan teliti, bahkan dia masih di dukung oleh satu organisasi maha

dahsyat yang menjadi tulang punggungnya.

Sekalipun Leng Giok hong adalah pembunuh yang telah membantai seluruh

keluarga Pek, dan kali ini dia bantai Ang ang hanya sebagai tindakan mencabut

rumput hingga akamya, tapi berbicara dari status dan kedudukan Ang ang

dalam percaturan dunia persilatan, rasanya tak berharga baginya untuk berbuat

berlebihan semacam ini.

Dua persoalan yang merupakan teka teki besar ini memang betul betul sukar

dijelaskan. Kecuali…

” Kecuali Wan wan tahu akan rahasia itu, sedang kita berhasil menemukan dia

tepat pada waktunya.”

“Sayang sekali sebelum Phoa Ki seng sempat membeberkan jejaknya, dia sudah

keburu mati dibantai orang,” ujar manusia berbaju abu abu itu. “Tapi untung…

kadangkala orang mati juga bisa membocorkan sedikit rahasia!”

“Kali ini rahasia apa yang telah dibocorkan orang mati?”

 

“Paling tidak Phoa Ki seng telah beritahu kepada kita bahwa dia mengetahui Wan

wan bersembunyi di mana. Kemungkinan besar tempat itu terletak dekat sekali

dengan gedung besar yang ditempati Ang ang semasa hidupnya,” kata orang

berbaju abu abu itu.

Kemudian tanyanya lagi kepada Po Ing, “Jika kau menjadi Phoa Ki seng, kira kira

Wan wan akan kau sembunyikan di mana?”

Po Ing termenung sambil putar otak, lalu jawabnya dengan serius, “Malam

sewaktu terjadinya kasus pembunuhan itu, Phoa Ki seng selalu berkumpul

dengan Ni Siau cong di atas sebuah loteng sambil mengamati situasi. Sewaktu

dia menjumpai Wan wan melarikan diri, kemungkinan besar dia akan

sembunyikan gadis itu dalam bangunan loteng tersebut.”

“Ehmmm, kemungkinan besar memang begitu.”

“Tapi setelah Thia Siau cing mengaku dia sebagai pembunuhnya, dan kasus pun

kemudian ditutup, Phoa Ki seng pasti akan memindahkan Wan wan ke suatu

tempat yang jauh lebih aman. Untuk menghindari pengawasan orang banyak,

tempat itu pasti terletak di sekitar loteng itu.”

Kemudian ia mengambil satu kesimpulan, “Tempat itu, kemungkinan besar

adalah gedung besar yang pernah didiami Ang-ang semasa hidupnya!”

Tampaknya orang berbaju abu abu itu setuju sekali dengan analisis yang

dibeberkan Po Ing. Paras mukanya nampak jauh lebih cerah dan bersinar.

Kembali Po Ing berkata, “Sejak terjadinya peristiwa pembunuhan berdarah itu,

gedung tersebut selalu dibiarkan kosong dan terbengkalai. Bahkan kemungkinan

besar telah disegel pihak kerajaan. Berarti semua penghuni yang ada di dalam

gedung pasti telah diusir keluar semua, sedang orang luar tak mungkin masuk

ke dalam. Gedung kosong yang terbengkalai semacam ini rasanya merupakan

tempat yang paling cocok untuk menyembunyikan diri.”

Setelah berhenti sejenak lanjutnya, “Apalagi Wan wan sudah cukup lama

berdiam di situ. Sekalipun ada orang yang menerobos masuk ke dalam, dengan

sangat mudah ia bisa menghindarkan diri dari pengawasan orang orang itu.”

“Jadi kau simpulkan saat ini mereka pasti berada dalam gedung besar itu?”

“Aku hanya memastikan Wan wan berada di situ.”

“Bagaimana dengan Ni Siau cong?”

“Kalau Ni Siau cong sih susah dikatakan,” sahut Po Ing sambil tertawa getir.

“Keluarga Ni banvak memiliki rahasia yang tak diketahui orang luar, jadi sulit

bagiku untuk menebaknya.”

“Keluarga Ni memang merupakan satu keluarga persilatan yang sangat aneh.

Ada orang bilang mereka adalah kelompok keluarga dari golongan bandit, selain

mahir dalam ilmu meringankan tubuh, mereka pun menguasai Suo kut kang

 

(ilmu mengunci, tulang), Sut kut hoat (ilmu menciutkan tulang), ilmu bersalin

rupa, senjata rahasia, dupa pemabuk, obat racun. . . asal kepandaian yang

berhubungan dengan kaum bandit hampir semuanya mereka kuasai,” kata

orang berbaju abu abu itu menjelaskan.

“Kalau soal itu memang tak perlu diragukan lagi. Tapi selain itu semua, konon

keluarga mereka juga masih mempunyai banyak hal yang aneh!”

“Ya, memang ada yang berkata bahwa dari keluarga mereka pernah muncul

beberapa orang jago yang sangat mahir dalam tenaga dalam. Bahkan ada yang

berhasil melatih ilmu Bu tong-khikang yang maha dahsyat. Hanya saja, sewaktu

melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mereka seringkali berganti

nama,” kata orang berbaju abu abu itu.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Malahan ada yang bilang, satu

di antara keempat tianglo dari Bu tong pay berasal dari keluarga Ni!”

“Menurut aku, kepandaian paling khas yang dimiliki keluarga Ni adalah sistim

mereka untuk bertukar berita dan informasi,” kata Po Ing. “Sewaktu mereka

saling bertukar informasi dan kabar, kalau bukan anggota keluarga Ni, jangan

harap kalian bisa merasakannya!”

“Konon kaum wanita dari keluarga ini pun termasuk orang-orang yang sangat

aneh, bahkan mereka semua adalah orang kenamaan di dalam dunia persilatan.”

Berbicara sampai di sini, tiba-tiba orang berbaju abu abu itu mengalihkan pokok

pembicaraan. Tanyanya kepada Po Ing, “Tahukah kau kita berada di mana

sekarang?”

Po Ing langsung tersenyum.

“Bila tebakanku tak salah, seharusnya tempat kita berada sekarang adalah

halaman belakang dari gedung yang pernah ditempati Ang ang!”

Orang berbaju abu abu itu ikut tertawa, bahkan suara tertawanya amat keras.

“Belakangan ini kemajuan yang berhasil kau capai memang sangat

mengagumkan. Tak heran kalau setiap kali bertaruh pasti menang. Tampaknya

dewa uang pun kalah bertaruh melawan kau!”

“Berapa orang dari dewa uang memang tak pantas disebut seorang penjudi

sejati.”

Setelah berhenti sejenak, Po Ing mengalihkan pembicaraan. Tanyanya kepada

orang berbaju abu abu itu, “Bila sekarang kita berada di halaman belakang

gedung itu, bukankah berarti Wan wan juga berada di sini?”

“Benar!”

XVI. Tangan Suci Pencabut Nyawa

 

Seorang nona cilik berbaju putih bersih, dengan membawa sebuah nampan bulat

berisi sayur dan arak berfalan masuk ke tengah halaman. Dia mempunyai wajah

bulat, mata bulat dan sepasang lesung pipi yang bulat juga.

Akhirnya Wan wan (si bulat) muncul juga. Tapi senyuman belum muncul di

wajahnya. Maklum, nona besar keluarga mereka baru saja mati dibunuh orang.

Bukan saja dia adalah orang terdekatnya, dia juga merupakan satu satunya

sanak baginya.

“Ketika tengah malam menjelang tiba, aku sudah tahu ada gelagat yang tidak

beres, sebab Leng Giok hong tidak lain adalah pembunuh yang telah melakukan

pembantaian terhadap keluarga. Pek!” cerita Wan wan. “Oleh karena itu aku

gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Maksudku aku ingin mencari

bala bantuan.”

“Ketika melarikan diri, apakah niat ini muncul atas keinginanmu sendiri?”

“Benar!”

“Kenapa nonamu tak setuju untuk ikut melarikan diri?”

“Sebab dia ingin balas dendam dengan tangannya sendiri,” tiba-tiba Wan wan

kelihatan agak sangsi. Dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi

kemudian lanjutnya, “Dia tak ingin kisah memalukan yang menimpa dirinya

tersebar keluar.”

“Balas dendam adalah satu tindakan yang heroik, kenapa kau katakan sebagai

hal yang memalukan?”

Wan wan segera tutup mulutnya rapat rapat, jelas dia tak ingin mengungkit

masalah itu. Karenanya Po Ing segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

“Mana Ni Siau cong?”

“Dia sudah pergi, kelihatannya dalam keluarganya telah terjadi satu masalah

yang cukup gawat. Lagipula dia tak ingin bertemu dengan Leng Giok hong,

terlebih lagi dia tak ingin berjumpa dengan si baju hijau.”

“Kenapa?” tanya Po Ing keheranan. “Apakah di antara mereka berdua juga

mempunyai hubungan khusus?”

“Soal itu aku kurang jelas,” Wan wan menggeleng. “Urusan yang menyangkut

keluarga Ni, bahkan kau sendiri pun tak jelas, apalagi aku?”

“Berarti Ni Siau cong juga beranggapan bahwa pembunuhnya adalah Leng Giok

hong?”

“Dia memang berkata begitu!”

“Atas dasar apa kalian berani memastikan kalau Leng Giok-hong lah

pembunuhnya?”

 

“Berdasarkan sebuah bekas bacokan golok!”

“Bekas bacokan? Bekas bacokan macam apa?” tukas Po Ing.

“Sebuah bekas bacokan yang bentuknya mirip seekor kelabang, panjang sekali

dan jelek sekali. Sebab setelah terkena bacokan golok dulu, dia segera menjahit

mulut luka itu dengan sebuah benang yang terbuat dari kulit kerbau. Ketika

mulut luka itu sembuh maka ujung benang di kedua sisi bekas lukanya yang

mencuat keluar berubah jadi kaki-kaki kelabang Yang sangat panjang.”

Setelah berhenti sejenak, kembali Wan wan melanjutkan, “Tapi seekor kelabang

yang sebenarnya tak akan sepanjang itu.”

“Berapa panjangnya?”

“Paling tidak ada satu depa Iebih tiga empat inci,” sahut Wan-wan. “Bacokan

golok itu sangat kuat dan dalam. Sayangnya Leng Giok hong mengenakan baju

tebal waktu itu. Kalau tidak, mungkin bacokan itu sudah menewaskan dia! ”

“Kalau begitu, orang yang ingin membunuhnya waktu itu adalah seorang jagoan

tangguh yang sangat mahir menggunakan golok?”

“Bukan cuma orang yang membawa golok adalah jagoan tangguh, orang yang

menjahitkan mulut lukanya juga pasti seorang jago hebat!”

Kalau betul di tubuhnya terdapat sebuah bekas bacokan yang begitu panjang,

kenapa selama ini aku tak pernah melihatnya?”

Sekali lagi Wan wan menutup mulutnya rapat rapat.

Dengan menggunakan sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, Po Ing

mengawasi gadis itu lekat lekat, kemudian baru katanya, “Aku tidak melihatnya,

apakah dikarenakan bekas Iuka itu berada di suatu tempat yang tak mungkin

dilihat orang lain? Apakah bekas luka itu tidak bisa terlihat bila dia tidak

melepaskan semua pakaian yang dikenakan?”

Wan wan masih juga tidak menjawab, tapi wajahnya telah menunjukkan mimik

muka yang sangat aneh, selain amat gusar juga amat sedih.

Sebenarnya gadis ini merupakan seorang gadis lincah yang sangat pandai

berbicara. Tapi setiap kali mengungkit persoalan itu, air mukanya segera

berubah hebat, seakan akan dia ingin sekali melayangkan satu tonjokan untuk

menghajar mulut Po Ing, merontokkan giginya agar dia tak bisa mengungkit lagi

persoalan itu untuk selamanya.

Padahal tak perlu gadis itu memberikan penjelasan pun, Po Ing sudah paham

… Tak diragukan lagi, Leng Giok hong adalah pembunuh yang telah melakukan

pembantaian atas keluarga Pek.

 

… Banyak perempuan dari keluarga Pek yang mengalami kekerasan seks. Ang

ang adalah salah satu di antaranya.

… Di salah satu bagian yang paling rahasia dari Leng Giok-hong terdapat sebuah

bekas luka bacokan yang panjangnya lebih dari satu depa dan berbentuk

kelabang. Bekas luka itu baru terlihat jika dia dalam keadaan telanjang bulat.

… Ang ang sengaja bekerja sebagai pelacur karena dia ingin menciptakan

kesempatan seperti ini, karena hanya seorang pelacur yang bisa melihat seorang

lelaki asing dalam keadaan telanjang bulat.

… Tentu saja dia tak sanggup menemukan pembunuh itu. Tapi dia percaya bila

si pembunuh mendengar ada seorang pelacur macam dia, cepat atau lambat dia

pasti akan datang sendiri untuk mencarinya.

Atas dasar beberapa sebab dan alasan itulah bisa ditarik kesimpulan, apa alasan

sang pembunuh untuk menghabisi nyawa Ang ang.

Jelas peristiwa ini adalah suatu peristiwa yang memalukan. Wan-wan enggan

menyinggungnya, tentu saja Po Ing segan untuk mengungkitnya kembali.

Katanya kemudian, “Sekarang, tampaknya tinggal satu persoalan yang belum

kita kerjakan.”

“Membunuh Leng Giok hong?”

“Sekalipun tidak dibunuh, paling tidak juga harus ditangkap dan diadili!”

Manusia berbaju abu abu yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata juga,

“Sekarang kasus asap berwarna ungu sudah terungkap. Walaupun Thia Siau

cing masih mencintai Ang ang, bahkan rela menemaninya mati, tapi sekarang

rasanya dia tak perlu pergi mati.”

“Sekalipun dia ingin mati, mungkin keinginannya tak akan kesampaian.”

“Oleh sebab itulah pertaruhanmu dengan kakek Li berjubah merah telah kau

menangkan. Buat apa kau mesti mencampuri urusan ini lagi?”

“Selama dia belum mati, rasanya aku belum puas!”

“Semenjak berusia dua belas tahun, Leng Giok hong telah berhasil membongkar

satu kasus perampokan yang rumit. Satu persatu rampok rampok licik dan buas

itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Aku rasa orang seperti dia

pasti sangat ahli juga dalam hal melarikan diri. Aku rasa tak gampang jika kau

ingin menangkapnya.”

“Aku mengerti, untungnya aku tak perlu melakukannya!”

“Tak perlu mengejarnya?”

“Betul!”

 

“Kenapa?”

“Karena aku percaya pasti ada orang yang mewakiliku untuk melaksanakan

tugas ini,” kata Po Ing. “Kecuali aku, pasti masih ada orang lain yang tak ingin

membiarkan dia hidup terus.”

Lagi lagi apa yang dikatakan tepat sekali.

Tiba tiba dari luar dinding pekarangan muncul sebuah tangan. Tangan itu

seakan akan muncul dari dalam air, tenang dan sangat lembut, bukan saja tidak

menimbulkan suara, juga tak tampak ada dinding yang retak atau rusak. Setitik

debu pun tak nampak gugur dari atas dinding pekarangan itu. Tangan itu sangat

indah, jari jemarinya ramping lagi panjang. Satu satunya cacad yang patut

disesali hanyalah ruas jari tangan itu kelihatan agak besar dan kasar. Oleh

sebab itulah semua jari tangannya dihiasi dengan enam buah cincin berbatu

mutu manikam yang terdiri dari mustika berwarna wami.

Tak bisa disangkal tangan itu adalah tangan seorang wanita. Dia sedang

menggapai ke arah Po Ing. Tanpa ragu atau sangsi Po Ing segera menghampiri.

Dengan langkah lebar dia berjalan melewati tembok itu, seakan akan di

hadapannya sama sekali tak ada dinding pembatas.

Ketika ia sudah berjalan lewat, di atas dinding pekarangan itu baru muncul

sebuah lubang besar, sementara Po Ing telah keluar dari dinding pemisah itu.

Di luar pagar adalah sebuah gunung gunungan dengan pancuran air yang

mengalir deras.

Di antara bayangan yang ter¬pantul dari permukaan air, lamat-lamat tampak

sesosok bayangan hijau berkelebat lewat.

Ketika Po Ing menyusul sampai di luar pagar, bayangan itu sudah berada di atas

gunung-gunungan di seberang sana. Orang itu mengenakan baju berwarna hijau

muda, sekalipun seseorang yang tak tahu kualitas kain pun dalam sekilas

pandangan sudah dapat melihat kalau pakaian yang dikenakan orang itu sangat

mewah dan mahal harganya.

Perawakan tubuhnya termasuk sangat indah, ramping, kecil mungil dan sangat

menggiurkan. Hanya sayang ia berdiri membelakangi Po Ing sehingga tak

nampak raut muka sebenarnya.

Po Ing tidak berusaha untuk mengejar. Karena dia sudah bergerak duluan, maka

jaraknya dengan Po Ing sekarang sudah terpaut tujuh delapan kaki, sekalipun

mau dikejar juga sulit untuk menyusulnya.

Apalagi di luar sana masih terdapat sebuah benda yang jauh lebih menarik

perhatian Po Ing… ditepi kolam air di bawah gunung-gunungan itu ternyata

terbujur sebuah peti mati.

Po Ing tidak mengejar, orang berbaju hijau itu juga tidak pergi. Sampai Po Ing

mulai membuka peti mati itu pun dia sama sekali tidak berpaling.

 

Sudah barang tentu dia tahu apa isi peti mati itu.

Biasanya isi dari sebuah peti mati adalah mayat seseorang. Tidak terkecuali isi

peti mati ini. Leng Giok hong yang masih kelihatan begitu gagah dan segar

setengah hari berselang, kini sudah membujur kaku di dalam peti mati itu.

Benarkah mayat itu adalah mayat dari Leng Giok hong asli? Tiba tiba terdengar

orang berbaju hijau yang berada di atas gunung gunungan itu tertawa terkekeh

kekeh. Suara tertawanya sangat aneh, tajam melengking dan sangat menusuk

pendengaran, katanya, “Lebih baik jangan kau sentuh dia. Juga tak perlu

memeriksa bekas bacokan golok di tubuhnya, karena kemungkinan besar

sekujur badannya saat ini sudah mengandung racun ganas. Bila kau sentuh

kakinya maka kakinya akan membusuk, bila tanganmu menyentuh tangannya

maka tangan itu akan membusuk. Akhimya seluruh badannya akan muIai

membusuk dan hancur lebur!”

Sembari berkata, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang. la mundur

dengan langkah biasa. Walaupun menguasai ilmu meringankan tubuh yang

sangat hebat, dia sama sekali tidak menggunakannya.

Ketika ia mundur beberapa langkah lagi maka terlihatlah manusia berbaju abu

abu itu muncul dari sisi gunung-gunungan yang lain. Setiap langkah ia mundur

ke atas gunung-gunungan, manusia berbaju abu-abu itu maju selangkah lebih

ke depan.

Tentu saja ia tak mampu mengetuarkan ilmu meringankan tubuhnya untuk

melarikan diri, karena saat ini semua jalan darah kematian disekujur tubuhnya

sudah berada dibawah ancaman pukulan orang berbaju abu abu itu. Satu

serangan yang bisa mencabut nyawanya setiap saat.

Demikian hebatnya tenaga ancaman itu sampai Wan wan yang berdiri di tempat

kejauhan pun dapat merasakan kekuatan itu. Sedemikian tegangnya nona kecil

ini sampai telapak tangannya ikut mengeluarkan peluh dingin.

Tentu saja tenaga tekanan yang dirasakan orang berbaju hijau itu jauh lebih

dahsyat lagi. Asal dia beniat kabur maka jiwanya pasti akan terancam. Entah ke

mana pun kau hendak lari dan memakai cara apa pun untuk menghindar, sulit

rasanya untuk meloloskan diri dari ancaman manusia berbaju abu abu itu.

Pada saat itulah tiba tiba manusia berbaju abu abu itu menghentikan

Si baju hijau tidak menyianyiakan kesempatan baik itu, ia segera bersalto di

tengah udara. Dengan jurus “dada ramping menembus awan,” satu gerak jurus

yang amat sederhana, ia melesat mundur jauh ke belakang.

Tampaknya dia sudah menduga kalau Po Ing tak bakal melepaskan dirinya,

maka sebelum diserang orang, dia berusaha melancarkan serangan duluan.

Ketika badannya meluncur ke bawah, tiga buah serangan kilat segera

dilancarkan dalam waktu sekejap. Tiba tiba paras muka Po Ing berubah hebat.

Mimik muka yang sangat aneh terlintas di wajahnya. Dia seolah olah baru saja

 

menyaksikan suatu peristiwa yang sebenamya mustahil bisa terjadi di situ. Si

baju hijau tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat dia mundur ke

belakang dan melarikan diri dari situ.

Wan wan menyaksikan perubahan wajah Po Ing dengan sangat jelas, tak tahan

segera serunya, “Paman Po, kau seperti baru saja melihat setan. Sebenarnya apa

yang kau lihat?”

Sampai lama sekali Po Ing berdiri tertegun, akhimya setelah menghela napas

panjang katanya, “Aku telah melihat wajah seseorang. Tidak seharusnya wajah

orang itu muncul di wajah si baju hijau.”

“Siapakah orang itu?”

“Ni Siau cong!”

“Maksudmu wajah si baju hijau tadi adalah wajah Ni Siau-cong?”

“Benar!”

Wan wan ikut tertegun, gumamnya, “Masa Ni Siau cong adalah si baju hijau?

Masa si baju hijau adalah Ni Sijau cong?”

“Tapi Ni Siau cong sudah pergi, bahkan pasti pergi bersama Oh Kim siu!”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Karena orang yang menghadang perjalananku di tengah jalan bersama Phoa Ki

seng tadi, kemudian memancing keluar Oh Kim siu dari dalam kereta, adalah Ni

Siau cong.”

“Benar!”

“Konon keluarga Ni Siau cong sedang dilanda masalah serius dan dia harus buru

buru pulang ke rumah. Oh Kim siu pasti pergi bersamanya,” kata Po Ing. Setelah

tertawa getir lanjutnya, “Belakangan ini nona besar Oh tampak seperti amat

tertarik dengan urusan yang menyangkut keluarga Ni.”

“Maka kau tak pernah menanyakan kabar beritanya?”

“Kalau kau pun tidak bertanya, tentu saja aku merasa sangat lega,” sahut Po

Ing. “Apalagi ada baiknya juga bila kami berdua berpisah berapa saat, daripada

tiap hari hidung menyenggol hidung, mata menyenggol mata, lama kelaman jadi

bosan juga!”

Tiba tiba manusia berbaju abu abu itu menyela, “Masuk diakal juga

perkataanmu itu. Suami istri memang harus diingat dalam hati saja, ketimbang

tiap hari ketemu dan beradu mulut!”

 

Walaupun dia sedang tersenyum tapi wajahnya kelihatan sangat lelah, paras

mukanya kelihatan jauh lebih hitam ketimbang barusan. Matanya juga mulai

nampak kekuning-kuningan.

“Walaupun si baju hijau telah pergi, tapi dia toh tak ada sangkut pautnya

dengan kasus ini. Padahal kasus pembunuhan ini telah terbongkar dan selesai

sampai di sini,” kata manusia berbaju abu-abu itu.

Kemudian setelah melihat Po Ing sekejap, tambahnya, “Aku lihat wajahmu mulai

pucat dan kurang sehat. Konon ilmu memasak dari nona besar Oh sangat hebat

dan sangat berguna untuk menambah kekuatan lelaki. Kenapa kau tidak

mencarinya untuk makan barang satu dua mangkuk?”

Po Ing tersenyum. Dia pun sedang memandang wajah orang berbaju abu abu itu;

pandangan penuh rasa kuatir dan perhatian.

“Kau juga mesti baik baik jaga diri,” pesannya. “Obat paling manjur untuk

mengobati penyakit ginjalmu adalah “istirahat dengan tenang.” Lebih baik jangan

banyak marah dan mengumbar emosi. “tidak baik untuk kesehatan badanmu.”

Manusia berbaju abu abu itu tersenyum. “Aku tahu, asal kau tidak selalu

mencari gara gara di luaran, mungkin aku pun tak perlu marah marah lagi,”

Selesai berkata, ia segera bertepuk tangan dua kali, dari balik tembok

pekarangan tiba-tiba melayang masuk sebuah tandu. Tandu bersama

penandunya melayang masuk dengan kecepatan tinggi. Bukan hanya cepat,

gerakan badannya juga amat ringan, sedemikian ringannya seolah olah tandu

dan penandunya hanya terbuat dari kertas biasa.

Manusia berbaju abu abu itu segera naik ke dalam tandu. Orang bersama

tandunya kembali melayang di udara dan meluncur keluar dari pagar

Dari kejauhan sana, terdengar ia berseru lagi, “Jangan lupa, orang yang

memakai cincin besi berwarna hitam itu besar kemungkinan adalah satu

komplotan dengan si baju hijau. Biarpun kali ini dia tidak turun tangan, jika ia

sampai turun tangan, mungkin kau akan semakin kerepotan!”

Organisasi rahasia apakah yang dimaksud? Untuk sementara waktu Po Ing tak

ingin memikirkannya. Bagaimana pun juga persoalan itu adalah persoalan

dalam kisah cerita yang lain.

TAMAT

Lanjutan seri ini Sarang Perjudian

 

Iklan

One thought on “Serial Rumah Judi – Elang Pemburu (Seri 1)

  1. Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penulis, penyadur, dan pemilik blog ini dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas usaha, waktu, tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan hingga para pembaca dapat memperoleh bacaan yang bermanfaat khususnya cerita silat klasik…Semoga Tuhan yang Maha Esa memberikan limpahan rahmat, karunia dan rejeki kepada penulis, penyadur dan pemilik Blog ini…dan semoga penulis, penyadur, dan pemilik blog selalu dalam kesehatan yang baik…Amin YRA

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s