Catatan Hati Seorang Istri

Karya : Asma Nadia
Catatan Hati Seorang Istri Asma Nadia
Saat cinta berpaling
dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil
saat prahara terjadi
saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk
ditanggung sendiri
kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar
hati mampu terus bertasbih?
Telah lama saya meneropong; tidak hanya ke dalam hati
sendiri, melainkan mencoba masuk ke bilik hati perempuan
lain, lewat kisah-kisah yang mereka bagi kepada saya.
Selama bertahun-tahun pula saya mencatat berbagai kisah
itu dalam ruang hati, seraya berharap suatu hari bisa
menuliskannya. Baca lebih lanjut

Rembulan Di Mata Ibu

Bismillahirrahmanirrahim …
REMBULAN DI MATA IBU
-Asma Nadia-
Kupandangi telegram yang barusan kubaca.
Batinku galau
Ibu sakit Diah, pulanglah!
Begitu satu-satunya kalimat yang tertera di sana. Mbak Sri mnyuruhku
pulang? Tapi … benarkah Ibu sakit?
Bayangan Ibu, dengan penampilannya yang tegar berkelebat. Rasanya baru
kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian.
Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar di sana berjam-jam. Mnegawasi
rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.
Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah di malam hari. Saat semua
aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan
sangat kuat. Baca lebih lanjut

Cinta Lelaki Biasa

(Asma Nadia – True Story)
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau
menikah dengan lelaki itu.
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakakkakak,
tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang
baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Baca lebih lanjut

Dia Dalam Mimpi-Mimpi Rani

Asma Nadia

DIA DALAM MIMPI-MIMPI RANI
Ia bermimpi laki-laki itu lagi. Seperti yang sudah-sudah,
mereka berhadapan, dan Rani bisa melihat garis wajahnya
dengan jelas. sangat jelas. Seperti dalam mimpi-mimpi
sebelumnya, sosok dengan rahang keras itu terlihat sedih dan
berduka.
Mereka cuma bersitatap, tanpa kata-kata. Tapi itu lebih dari
cukup, untuk membuat Rani bangun keesokan harinya,
dengan perasaan bersalah yang pekat.
Ia tak pernah memimpikan lelaki manapun sebelumnya. Baik
dalam masa-masa kuliah hingga menikah. Hidup perempuan
beranak satu itu mengalir mulus. Lulus kuliah, menikah, dan
tanpa menunggu terlalu lama, memperoleh momongan. Baca lebih lanjut