Api di Bukit Menoreh (Buku 81-90)

New Picture

Api di Bukit Menoreh

(Buku 81-90)

Karya: SH. Mintardja

 BUKU 81

KIAI GRINGSING memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apa pun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu.

Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak dapat memberikan kesan yang dapat dipertimbangkan. Bahkan ia sendiri bingung menghadapi keadaan itu. Sehingga karena itu, seperti kedua anak muda murid Kiai Gringsing, ia duduk berdiam diri sambil menunggu perkembangan keadaan lebih lanjut.

 

Sesaat kemudian mereka mendengar Kiai Gringsing berkata, “Marilah, Ki Juru. Jika diperkenankan aku akan melihat keadaan Ki Gede Pemanahan.”

 

“Tentu, bahkan kehadiranmu memang sudah ditunggu-tunggunya.”

 

Demikianlah maka Kiai Gringsing pun kemudian beringsut dari tempatnya. Tetapi ketika kedua muridtnya bergerak pula, Kiai Gringsing berkata, “Tunggulah di sini bersama Ki Demang dan Raden Sutawijaya. Agaknya lebih baik aku menengoknya sendiri supaya tidak justru mengejutkan dan menimbulkan kesan yang agak lain.”

 

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi termangu-mangu. Demikian pula Ki Demang Sangkal Putung yang untunglah belum bergerak sama sekali dari tempat duduknya.

 

Yang ragu-ragu kemudian adalah Sumangkar. Tetapi karena Kiai Gringsing tidak menahannya, maka ia pun kemudian beringsut pula sambil berdesis, “Aku akan ikut menghadap Ki Gede sambil mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan yang aku terima sampai saat ini.”

 

Kiai Gringsing memandanginya sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah. Mungkin Ki Gede Pemanahan akan senang melihatmu. Dan kesempatan berikutnya tentu akan diberikan pula kepada Ki Demang dan kedua anak-anak itu.”

 

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun kemudian mengikuti Ki Juru Martani masuk ke ruang dalam. Sementara Sutawijaya sendiri masih harus tetap tinggal bersama tamu-tamunya yang lain.

 

“Maaf, Ki Demang,” berkata Raden Sutawijaya, “agaknya Kiai Gringsing lebih senang menengok ayahanda tanpa mengganggunya.”

 

“Ah, aku mengerti, Raden. Ayahandamu memang sedang sakit dan perlu banyak beristirahat. Tentu tidak baik baginya, jika kami akan berimpitan di dalam bilik Ki Gede Pemanahan.”

 

“Tetapi ayahanda tentu akan senang sekali menerima Ki Demang nanti.”

 

“Dan aku pun akan senang sekali atas kesempatan itu,” sahut Ki Demang.

 

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing dengan hati yang berdebar-debar melangkah mengikuti Ki Juru Martani. Mereka langsung menuju ke bilik Ki Gede Pemanahan yang sedang ditunggui oleh seorang pelayan yang duduk di luar pintu.

 

“Apakah Ki Gede sudah bangun?” bertanya Ki Juru kepada pelayan yang menunggui itu.

 

Pelayan itu mengerutkan keningnya, lalu jawabnya berbisik, “Aku kurang tahu, Ki Juru.”

 

Ki Juru mengangguk. Katanya, “Baiklah, aku akan menengoknya.”

 

Dengan hati-hati Ki Juru Martani pun kemudian mendorong pintu bilik itu. Ketika pintu itu terbuka sedikit dilihatnya Ki Gede Pemanahan terbaring diam.

 

Perlahan-lahan Ki Juru Martani melangkah masuk. Dipandanginya wajah yang pucat itu. Bahkan wajah yang pucat itu ternyata dibasahi oleh keringat yang mengembun di kening dan dahi. Namun nampaknya Ki Gede sempat tertidur meskipun hanya sejenak.

 

Ketika Ki Juru Martani berdiri di sisi pembaringan, maka Ki Gede Pemanahan membuka matanya. Ketika dilihatnya Ki Juru maka ia pun tersenyum. Katanya, “Oh, silahkan, Kakang. Aku sempat tertidur sejenak.”

 

“Itu baik sekali, Adi. Tidur adalah obat yang baik bagi kesehatanmu.” Ki Juru berhenti sejeniak, lalu, “Kecuali itu Adi, di saat ini orang yang menamakan Kiai Gringsing itu telah benar-benar datang. Ia berada di luar pintu bilik ini. Jika diijinkan, ia akan masuk dan menengok Adi barang sejenak.”

 

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Juru Martani sejenak. Namun di sorot matanya nampak sesuatu yang bergejolak di dadanya.

 

Ternyata sepercik kekecewaan telah melonjak di hati Ki Gede Pemanahan. Selama ini ia mengharap bahwa orang yang bernama Kiai Gringsing itu memiliki sesuatu yang rahasia di dalam dirinya. Sudah cukup lama ia ingin bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Dan dalam waktu yang lama ini Kiai Gringsing selalu menghindarkan pertemuan itu, seolah-olah ada sesuatu yang dirahasiakan. Sedang Ki Gede Pemanahan yang tidak pernah dapat bertemu dengan Kiai Gringsing itu telah mereka-reka di dalam angan-angannya, bahwa Kiai Gringsing adalah seseorang yang bukan orang kebanyakan. Seseorang yang memiliki sesuatu yang menempatkannya pada kedudukan yang khusus.

 

“Jika tiba-tiba saja ia dengan suka rela datang kemari, maka agaknya ia memang sebenarnya Kiai Gringsing. Seorang dukun yang datang dari Dukuh Pakuwon. Tidak lebih dan tidak kurang,” Ki Gede berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya. “Jika ia adalah orang yang aku harapkan memiliki sesuatu yang tersembunyi, maka apakah ia dengan demikian mudah dapat dibawa oleh Sutawijaya datang kemari dan menemui aku setelah sekian lamanya ia berusaha menghindarkan diri?”

 

Pertanyaan itulah yang ternyata justru bergejolak di dalam hati Ki Gede Pemanahan.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani yang masih berdiri di sisi pembaringan itu pun kemudian mendesak karena Ki Gede masih tetap berdiam diri, “Bagaimana, Adi?”

 

“O,” Ki Gede tergagap, “baiklah. Bawalah ia masuk, Kakang. Mungkin kedatangannya ada manfaatnya bagiku.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Ia sudah berada di depan pintu bersama Ki Sumangkar.”

 

“Sumangkar dari Jipang?” Ki Gede bertanya.

 

“Ya. Sumangkar. Orang kedua yang memiliki tongkat berkepala tengkorak.”

 

Ki Gede termenung sejenak. Lalu, “Biarlah ia ikut masuk bersamanya, Kakang.”

 

“Ya. Ia akan ikut bersama Kiai Gringsing masuk ke dalam bilik ini, sedang Ki Demang Sangkal Putung masih akau menunggu.”

 

“O, kenapa ia tidak dibawa serta sama sekali.”

 

“Kiai Gringsing mengharap ia menunggu lebih dahulu di luar. Ia ingin masuk tanpa orang lain kecuali Sumangkar yang menyatakan dirinya ingin bertemu denganmu pula.”

 

Sesuatu terasa bergetar di dada Ki Gede. Kekecewaannya menjadi kabur. Namun berbagai macam tanggapan telah bergejolak di dalam dadanya.

 

“Kakang,” berkata Ki Gede kemudian, “aku persilahkan mereka masuk.”

 

Ki Juru Martani pun kemudian meninggalkan bilik itu. Di luar Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menunggu tanpa sepatah kata pun yang meluncur dari mulut mereka. Mereka masing-masing seakan-akan sedang tenggelam dalam angan-angan yang jauh mengawang mengarungi alam yang lain.

 

Mereka terkejut ketika Ki Juru kemudian datang mendekat sambil berkata, “Silahkah, Kiai. Adi Pemanahan baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.”

 

“O, seharusnya Ki Gede tidak dibangunkan.”

 

“Tidak. Aku memang tidak membangunkannya. Tetapi ia telah terbangun sendiri.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian ia pun mengikuti Ki Juru Martani melangkah mendekati pintu. Namun nampaknya langkah Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu.

 

Di belakang Kiai Gringsing, Sumangkar berjalan dengan kepala tunduk. Agaknya ia pun merasakah sesuatu yang bergetar di dalam dadanya.

 

Ketika Ki Juru Martani sampai ke pintu, ia pun berhenti dan menepi. Dipersilahkannya Kiai Gringsing melangkah mendahului masuk ke dalam bilik.

 

Kiai Gringsing yang tidak menduga, termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkahkan kakinya ke pintu bilik itu.

 

Di depan pintu, ternyata langkahnya terhenti sejenak. Ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan terbaring, wajahnya menegang. Apalagi ketika kemudian Ki Gede Pemanahan pun memandanginya pula.

 

Untuk sesaat Kiai Gringsing berdiri diam di pintu bilik itu. Tetapi hanya sejenak. Kemudian wajahnya yang tegang itu pun menjadi cair kembali.

 

Tetapi yang sekejap itu dapat ditangkap oleh Ki Juru Martani yang memiliki ketajaman batin. Bahkan Sumangkar yang tidak dapat melihat wajah Kiai Gringsing karena ia berada di belakangnya pun merasakan, bahwa langkah Kiai Gringsing tertegun sejenak, bukan oleh karena wadagnya, tetapi justru karena sikap batinnya.

 

Perlahan-lahan Kiai Gringsing mendekati pembaringan Ki Gede Pemanahan yang memandanginya dengan saksama. Seperti Ki Juru Martani, Ki Gede Pemanahan dicengkam oleh berbagai macam pertanyaan tentang orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu.

 

Namun seperti juga Ki Juru Martani, Ki Gede Pemanahan tidak begitu tergesa-gesa. Seperti yang sudah diduganya, bahwa ia tidak akan dapat menemukan ciri-ciri lahiriah untuk mengenal orang yang dengan sengaja menyembunyikan diri, karena penyamaran lahirlah adalah pekerjaan yang mudah sekali dilakukan.

 

Tetapi justru karena Ki Gede Pemanahan sedang mencari sesuatu pada tamunya, ia kemudian tergagap ketika tiba-tiba saja Kiai Gringsing telah berdiri di sampingnya sambil berdesis, “Maaf, Ki Gede Pemanahan, bahwa aku dan Adi Sumangkar telah mengganggu Ki Gede yang sedang beristirahat.”

 

“Tidak, tidak,” jawab Ki Gede terputus-putus, “silahkan. Silahkan, Kiai,” jawab Ki Gede Pemanahan.

 

Ia akan mencoba bangkit, tetapi ditahan oleh Kiai Gringsing sambil berkata, “Jangan, Ki Gede. Sebaiknya Ki Gede tetap berbaring. Agaknya Ki Gede benar-benar memerlukan istirahat sepenuhnya.”

 

Ki Gede mengurungkan niatnya. Namun terasa bahwa nafasnya telah memburu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan diri dan mengatur pernafasannya.

 

Tetapi agaknya Ki Gede tidak segera berhasil. Bahkan terasa seakan-akan nafasnya menjadi sesak.

 

Kiai Gringsing melihat gejala itu. Maka katanya kemudian sambil meraba tangan Ki Gede Pemanahan, “Berbaringlah seenaknya, Ki Gede. Ki Gede harus beristirahat lahir dan batin. Jangan memaksa diri berbuat sesuatu yang memerlukan tenaga. Baik tenaga bagi badan wadag, mau pun tenaga bagi batin Ki Gede.”

 

Ki Gede menggeleng lemah. Jawabnya di antara deru nafasnya, “Tidak, Kiai, aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya berusaha untuk bangkit. Itu pun telah aku urungkan.”

 

“Itu adalah gerak lahiriah,” sahut Kiai Gringsing.

 

“Lalu maksud Kiai?”

 

“Apakah Ki Gede tidak sedang memikirkan sesuatu yang dapat merampas banyak tenaga?”

 

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Agaknya pertanyaan Kiai Gringsing itu adalah pertanyaan yang wajar. Namun bagi Ki Gede Pemanahan, pertanyaan itu bagaikan suatu peringatan, bahwa ia tidak perlu mencari sesuatu selain yang nampak oleh matanya. Sesuatu yang tidak kasat mata.

 

Ternyata bukan Ki Gede Pemanahan saja yang dapat merasakan sentuhan serupa. Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar pun merasakan pula peringatan yang lembut itu.

 

Perlahan-lahan Ki Gede Pemanahan mulai dapat menguasai pernafasannya kembali. Tanpa disadarinya ia mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Katanya, “Kiai. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa. Tentu saja aku tidak dapat membuktikan bahwa aku sedang mencoba mengosongkan perasaan dan pikiranku.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Syukurlah. Aku cemas bahwa Ki Gede Pemanahan terlampau berpikir tentang puteranda. Aku sudah mendengar dari Raden Sutawijaya apa yang telah terjadi.”

 

“O,” Ki Gede yang tengah berbaring itu mengerutkan keningnya. Sesuatu bergetar di dalam dirinya. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar yang dimaksud Kiai Gringsing itu seperti yang dikatakannya. Karena aku terlampau memikirkan Sutawijaya atau memikirkan teka-teki tentang diri orang tua itu?”

 

Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar pun menarik nafas panjang. Mereka juga tergetar oleh kata-kata Kiai Gringsing. Seolah-olah ia ingin mengarahkan persoalan yang tidak nampak oleh indera itu pada Raden Sutawijaya yang memang sedang dibelit oleh persoalan yang rumit.

 

Sementara itu, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun telah dipersilahkan duduk di atas sebuah dingklik kayu di sebelah pembaringan Ki Gede Pemanahan. Ki Juru Martani yang duduk di tepi pembaringan itu pun kemudian berkata, “Kiai Gringsing. Menurut pendengaran kami, Kiai adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Itulah sebabnya kami mengundang Kiai mengunjungi Mataram, justru karena Ki Gede Pemanahan berada dalam keadaan yang nampaknya semakin lama menjadi semakin gawat.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnyalah yang aku lakukan sekedar berusaha seperti yang sudah sering aku katakan. Segala sesuatunya tergantung kepada Tuhan Yang Maha pengasih. Jika Tuhan berkenan, maka mudah-mudahan penyakit yang aku obati itu dapat sembuh. Tetapi bahwa pada suatu saat, aku pun dapat gagal jika usahaku tidak sejalan dengan guratan kehendak Yang Maha Kuasa.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk pula. Dipandanginya wajah Ki Gede yang pucat. Namun nampak pada wajah itu sesuatu yang bergejolak di dalam hati.

 

“Apakah ada sesuatu yang akan kau katakan, Adi Pemanahan, atau barangkali sebuah pertanyaan?”

 

Ki Gede Pemanahan memandang wajah Ki Juru Martani. Namun kemudian ia menggeleng lemah, “Tidak, Kakang. Aku tidak ingin mengatakan dan menanyakan sesuatu.”

 

“Jika demikian, silahkan Kiai. Kiai dapat melihat keadaan Ki Gede Pemanahan. Silahkan berbuat sesuatu, mudah-mudahan yang Kiai lakukan itu akan berguna.”

 

Kiat Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya, “Aku akan berusaha, Ki Juru. Tetapi Ki Gede Pemanahan pun harus membantu aku berusaha sebaik-baiknya.”

 

Ki Gede mengerutkan keningnya. Jawaban Kiai Gringsing itu telah menyentuh perasaannya pula. Seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin. Dan ia melihat dirinya sendiri yang nampaknya sedang berputus asa.

 

Namun Ki Gede Pemanahan tidak segera menyahut. Tetapi tatapan matanya yang sayu bagaikan tersangkut pada atap bilik itu.

 

Kiai Gringsing pun kemudian mendekatinya. Perlahan-lahan ia meraba-raba pergelangan tangan Ki Gede Pemanahan. Kemudian meraba dadanya dan lambungnya.

 

Ki Gede masih saja berbaring diam. Dibiarkannya Kiai Gringsing mengamati seluruh keadaannya. Dari ujung kakinya sampai ke ujung rambutnya.

 

Kiai Gringsing merasa betapa tubuh Ki Gede itu bergetar oleh debar di dalam diri Ki Gede Pemanahan. Namun juga karena kelemahan yang semakin mencengkam tubuh yang menjadi sangat lemah itu.

 

Sementara itu, luka di tubuh Ki Gede Pemanahan sendiri sebenarnya sudah dapat dikatakan sembuh sama sekali.

 

“Yang menyebabkannya sakit bukannya karena luka yang tergores di wadagnya itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi justru yang batin, karena luka wadagnya itu sebenarnya sudah sembuh.”

 

Karena itulah maka Kiai Gringsing kini menghadapi persoalan yang lebih rumit dari penyakit yang biasa dihadapinya.

 

Ki Juru Martani yang kemudian duduk di atas dingklik kayu dan membiarkan Kiai Gringsing duduk di sisi Ki Gede Pemanahan di tepi pembaringannya, memperhatikan semua yang dilakukan oleh Kiai Gringsing dengan saksama. Ia melihat dengan tajamnya, sentuhan tangan Kiai Gringsing.

 

Sejenak kemudian Kiai Gringsing pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Ki Juru Martani sambil berkata, “Ki Juru. Sebagian terbesar obat bagi Ki Gede Pemanahan justru berada ada di dalam diri Ki Gede sendiri. Mudah-mudahan Ki Gede dapat memahaminya.”

 

Ki Gede Pemanahan yang terbaring itu pun berkata, “Mungkin keadaanku memang dipengaruhi oleh perkembangan jiwaku di saat terakhir. Tetapi bukankah yang wadag ini dipengaruhi pula oleh pengobatan yang wadag pula.”

 

“Benar, Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi bahwa yang wadag itu sangat dipengaruhi oleh yang halus, agaknya Ki Gede tentu sudah mengetahuinya pula.”

 

Tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan tersenyum. Lalu, “Jika demikian, maka kau adalah seorang dukun yang sebenarnya pandai. Kau melihat bahwa wadagku sudah tidak mampu lagi mengatasi kelemahan jiwaku. Dan itulah yang kau lihat sekarang ini.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru Martani sejenak, lalu katanya, “Tentu bukan demikian, Ki Gede. Bukankah yang wadag dan yang halus itu saling mempengaruhi dan saling mendorong selama masih ada keserasian, keseimbangan nalar dan budi.”

 

“Benar, Kiai,” jawab Ki Gede, “tetapi nalar dan budi yang pribadi kadang-kadang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dalam bebrayan yang luas. Mungkin dengan mementingkan diri sendiri kita dapat melepaskan pengaruh lingkungan kita. Tetapi bahwa di dalam bebrayan itu kita diselubungi oleh kepentingan yang saling mengisi, yang mementingkan diri sendiri dan yang nampaknya dipengaruhi oleh pertimbangan pengaruh lingkungan tetapi yang sebenarnya juga karena dorongan kepentingan sendiri semata-mata, bahkan yang nampaknya sebuah pengorbanan bagi sesama. Tetapi arti yang sebenarnya adalah pamrih yang terselubung.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar yang menegang. Namun kemudian jawabnya, “Ki Gede. Tidak ada hubungan yang dapat lepas sama sekali dari kepentingan sendiri. Pengorbanan yang tulus bagi sesama memang harus dilandasi dengan perbuatan yang tanpa pamrih. Namun itu adalah jangkauan yang seperti Ki Gede katakan, jauh sekali adanya, sejauh bintang yang bergayutan di langit. Meskipun demikian, seperti kita meyakini ada adbmcadangan.wordpress.com bintang yang gemerlapan itu, maka kita pun meyakini bahwa pengorbanan yang tulus itu sebenarnya memang ada.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi pengorbanan yang tulus tergantung sekali pada arah dan landasannya.”

 

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “jika arah dan landasam itu kuat, maka apakah yang tulus itu dapat merupakan beban pada yang wadag.”

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah tangan kekuasaan yang tidak kasat mata. Tetapi menurut jangkauan nalar yang picik seharusnya tidak. Namun bahwa yang pasrah itu dapat mengabaikan usaha lahiriah itulah agaknya yang dapat membebani wadagnya. Tetapi seperti yang sudah aku katakan semuanya tergantung sekali kepada tangan Yang Maha Kasih adanya.”

 

“Dan Kiai melihat yang manakah yang Kiai hadapi sekarang?”

 

Wajah Kiai Gringsing menegang. Dipandanginya wajah Ki Juru sejenak, lalu katanya, “Jawaban itu ada pada Ki Gede Pemanahan sendiri.”

 

Mereka yang ada di dalam bilik itu melihat Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Pengorbanan yang tidak berarti seharusnya tidak disebut sebagai pengorbanan. Ia hilang seperti hilangnya garam di dalam lautan. Tetapi jika itu memberikan kepuasan jiwa, maka apakah salahnya jika itulah yang diberikannya.”

 

“Meskipun demikian, kita dapat mengadakan pertimbangan. Langkah yang manakah yang akan lebih berarti,” sahut Kiai Gringsing.

 

“Adakah dalam keadaan tertentu, di dalam gejolak jiwa yang miskin akan keseimbangan, ada juga pertimbangan itu? Kiai, apakah juga memberikan arti yang lebih jika seseorang menghindar dari dirinya sendiri?”

 

Pertanyaan itu telah mengejutkan Kiai Gringsing. Sejenak wajahnya menjadi tegang dan kerut-merut di keningnya menjadi bertambah dalam.

 

Namun semua itu hanya terjadi dalam beberapa kejap saja. Wajah itu pun kemudian menjadi pulih kembali seperti tidak terjadi sesuatu.

 

Ki Juru Martani, Ki Gede Pemanahan, dan Ki Sumangkar melihat dengan jelas perubahan wajah Kiai Gringsing. Tetapi mereka sama sekali tidak memberikan tanggapan apa pun juga.

 

“Aku tidak mengerti maksud Ki Gede Pemanahan,” beikata Kiai Gringsing kemudian, “adakah seseorang dapat menghindari dari dirinya sendiri? Dan apakah hubungannya dengan keadaan Ki Gede Pemanahan sekarang ini?”

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Namun wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat. Katanya perlahan-lahan, “Kiai. Mungkin Kiai berpendapat bahwa sebaiknya aku memberikan arti yang lebih besar bagi hidupku. Jika aku tidak membiarkan diriku hanyut dalam keadaanku sekarang, maka langkah yang akan aku ambil tentu memberikan lebih banyak arti dari pada keadaanku sekarang.”

 

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya.

 

“Kiai. Aku tidak dapat menghindar dari perasaan yang mencengkam. Dan inilah kelemahanku sekarang ini. Namun kadang-kadang seseorang akan menjadi lebih berarti jika ia tidak memberikan arti apa-apa lagi bagi masa-masa selanjutnya.”

 

“Ah. Itu mirip dengan sikap putus asa. Memang yang tidak berbuat sesuatu itu lebih bermanfaat dari langkah yang salah. Namun tidak sebaiknya usaha yang dipertimbangkan dengan masak itu terhenti sama sekali.”

 

“Kiai mungkin benar. Tetapi bagaimana dengan pertanyaanku? Apakah akan memberikan arti yang lebih jika seseorang menghindar dari dirinya sendiri?”

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak.”

 

“Tetapi, jika jalan itu ditempuh pula?” desak Ki Gede Pemanahan.

 

Kiai Gringsing masih menggeleng, “Aku kira tidak ada seorang pun yang akan melakukannya dengan tujuan yang pasti.”

 

“Maksud Kiai, jika itu terjadi adalah semata-mata karena tidak ada lagi pegangan?”

 

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dan Ki Gede Pemanahan mendesaknya pula, “Apakah itu juga berarti bahwa sikap itu mirip dengan sikap putus asa?”

 

Perlahan-lahan kepala Kiai Gringsing terangguk kecil. Suaranya menjadi datar dan dalam, “Ki Gede benar. Jika ada orang yang menghindar dari dirinya sendiri, maka orang itu sudah berada di ambang pintu keputus-asaan. Setidak-tidaknya orang itu telah kehilangan cita-citanya.”

 

Ki Juru Martani yang mendengarkan pembicaraan itu kemudian menyela, “Memang seorang dapat kehilangan cita-citanya oleh sesuatu sebab. Tetapi seperti yang Kiai harapkan dari Adi Pemanahan, dapatkah orang yang kehilangan cita-citanya itu dianggap menyia-nyiakan umurnya sendiri karena dengan demikian hidupnya seakan-akan telah terhenti.”

 

Kiai Gringsing mengangkat kepalanya. Lalu katanya, “Ki Juru. Ada cita-cita kewadagan, dan ada cita-cita yang lebih luhur lagi. Seorang yang mengasingkan diri dan bertapa di atas bukit yang sepi, adalah orang yang tidak lagi mempunyai cita-cita kewadagan. Tetapi ia justru sedang tekun berusaha untuk mewujudkan cita-cita yang lebih luhur lagi.”

 

“Tetapi itu adalah sikap seorang pendeta,” tiba-tiba Sumangkar pun ikut berbicara, “kita dapat mengerti bahwa itu adalah cara yang benar bagi seorang pendeta. Tetapi tidak bagi seorang kesatria. Pengabdian kita memang berbeda meskipun bukan berarti bahwa kesatria dapat mengabaikan pendekatan rohani bagi masa abadinya. Namun setiap pengabdian adalah jasa dan ujud dari kasih sesama.”

 

Kiai Gringsing memandang Sumangkar sesaat. Kemudian jawabnya, “Adi Sumangkar. Apakah seseorang dapat menempatkan dirinya dalam pilihan, apakah ia seorang kesatria atau seorang pendeta atau ulama, seseorang tidak akan dapat menyebut dirinya sendiri dan menempatkan kakinya di mana ia harus berdiri pada saat ia lahir. Kelahiran belum menunjukkan jalan hidup yang akan ditempuhnya.”

 

“Tetapi lingkungannya akan memberikan warna bagi kelahiran itu, Kiai,” sahut Sumangkar.

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Bagiku tidak. Kelahiran tidak melahirkan perbedaan apa pun juga. Kita dapat menyebutnya justru setelah seseorang melakukan sesuatu dengan menempatkan pilihannya.”

 

Ki Gede Pemanahan yang terbaring di pembaringannya memotong kata-kata Kiai Gringsing, “Tetapi Kiai, yang kadang-kadang menumbuhkan pertanyaan dan kekaburan sikap adalah mereka yang sudah menempuh jalan hidupnya, tetapi tiba-tiba saja ia kehilangan arah dan mencari pegangan-pegangan baru yang goyah.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Gede yang pucat. Kemudian sambil memijit tangan Ki Gede yang lemah, Kiai Gringsing berkata, “Setiap pribadi mungkin sekali mengalami perkembangan. Mungkin perkembangan yang tumbuh semakin subur, tetapi perkembangan sikap yang surut. Tetapi bahwa perubahan dapat terjadi, kita tidak akan dapat mengingkarinya.”

 

“Tentu ada sesuatu yang memaksa perubahan itu terjadi. Suatu kejutan atau persoalan-persoalan yang tidak dapat lagi diatasinya atau penyesalan yang tidak ada habisnya.”

 

Hampir di luar sadarnya Kiai Gringsing menyahut, “Tidak. Tidak selalu, Ki Gede.”

 

Jawaban yang tiba-tiba itu memang sangat menarik perhatian. Apalagi jawaban itu terlontar dengan serta-merta dari wajah yang menegang.

 

Namun wajah Kiai Gringsing itu segera menjadi kendor. Sebuah senyum membayang di bibirnya. Katanya, “Aku kira tidak selalu demikian. Memang mungkin, kejutan perasaan dan persoalan yang tidak dapat lagi diatasi dapat mendorong seseorang untuk berpaling dari sikapnya yang semula. Tetapi tidak setiap perubahan ditumbuhkan oleh sebab yang serupa.”

 

“Tentu tidak, Kiai,” Ki Juru Martani-lah yang menyahut. “Memang ada alasan lain yang membuat seseorang merubah pandangan dan cara hidupnya. Mungkin karena usianya, mungkin karena kesadaran akan arti dan nilai-nilai yang lain dari pandangan hidup yang dianut sebelumnya, atau hal-hal lain lagi.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Ternyata kita telah terlibat dalam pembicaraan yang tidak ada ujung pangkalnya. Bukankah kehadiranku di sini sekedar untuk mengobati sakit Ki Gede Pemanahan, sedang Adi Sumangkar masih akan mengucapkan terima kasihnya karena Ki Gede tidak berbuat apa-apa atasnya selagi Ki Gede masih menjadi seorang panglima di Pajang atas kesalahannya?”

 

Ki Gede Pemanahan memandang Sumangkar sejenak. Katanya, “Ia sudah mengucapkan terima kasih pada saat itu. Pada saat aku masih berada di Pajang. Ia mengucapkan terima kasih pula ketika aku menyerahkan kembali senjatanya yang aneh, yang merupakan kembarnya senjata Macan Kepatihan. Karena itu, ia tidak perlu menambah dengan ucapan terima kasih yang lain. Bahkan sekarang akulah yang harus menyampaikan terima kasih kepadanya, karena ia telah ikut serta bersama Sutawijaya menembus ke dalam sarang Panembahan Agung yang tidak terlawan itu.”

 

Tetapi Ki Sumangkar menggelengkan kepalanya, “Aku tidak banyak berbuat apa-apa. Dan Panembahan Agung bukannya orang yang tidak terlawan. Jika Ki Gede Pemanahan sempat menjumpainya, maka Ki Gede pun akan dapat menundukkannya.”

 

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tanpa kalian sulit bagi Sutawijaya untuk dapat keluar lagi dari jebakan yang mereka pasang. Aku sudah mendengar semuanya.”

 

Ki Sumangkar tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

 

Namun dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun berkata seterusnya, “Dan di situlah Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing menunjukkan, bahwa bagaimana pun juga, kalian masih tetap seorang kesatria. Kalian mengabdikan diri kalian bagi kesejahteraan sesama.”

 

“Ah,” desis Kiai Gringsing, “kita akan terlibat lagi dalam pembicaraan yang tidak berujung pangkal.”

 

“Bukan maksudku, Kiai. Tetapi bahwa perubahan sikap di dalam setiap pribadi tidak selalu merubah pandangan hidup seseorang. Bagaimana pun juga Kiai Gringsing sampai saat ini masih juga selalu berjuang untuk membasmi kejahatan. Justu sebagai suatu pengabdian yang tulus.”

 

“Bagiku, yang aku lakukan bukannya suatu perubahan sikap atau cara pengabdian. Sejak masa mudaku, aku telah menempuh jalan yang sama.”

 

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Sekilas ditatapnya wajah Ki Juru Martani. Namun Ki Gede Pemanahan itu menjadi heran. Agaknya ada sesuatu yang menarik perhatian Ki Juru Martani.

 

Karena itulah, Ki Gede Pemanahan pun segera berkata untuk menarik perhatian Kiai Gringsing, “Maksudku, Kiai. Kiai dapat memberikan pengabdian dengan menolong sesama dengan ilmu obat-obatan yang Kiai miliki. Tetapi pada suatu saat Kiai menyelamatkan seseorang dari tangan-tangan yang hitam dengan ilmu olah kanuragan yang mantap.”

 

“Ah. Sudahlah, Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing sambil tersenyum. “Tetapi apakah aku sudah dapat mulai dengan suatu usaha untuk berbuat sesuatu atas Ki Gede Pemanahan? Mungkin aku masih memerlukan beberapa jenis tumbuh-tumbuhan. Empon-empon atau akar-akaran. Grandel dari akar, batang, kulit, daun sampai kepada bunga dan buahnya. Aku harus melumatkannya dan mengambil airnya. Barangkali obat itu dapat menyejukkan tubuh Ki Gede untuk sementara.”

 

Ki Gede tidak menyahut. Sekilas dipandanginya Ki Juru Martani yang menarik nafas dalam-dalam. Namun tampak pada wajahnya, bahwa sesuatu sedang bergejolak di dalam hatinya.

 

Ketika ia melihat Kiai Gringsing masih saja memijit-mijit tubuh Ki Gede, maka tiba-tiba katanya, “Kiai, jika Kiai memerlukan, biarlah Kiai menyuruh satu dua orang pelayan yang barangkali juga mengerti serba sedikit tentang obat-obatan. Barangkali Kiai tinggal menyebut jenisnya. Biarlah mereka mencarinya.”

 

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak boleh keliru, Ki Juru. Karena itu, aku sendiri akan mencarinya meskipun pelayan itu dapat menyertaiku dan menunjukkan kemana aku harus mencari di kebun belakang atau di pinggir sungai.”

 

Ki Juru Martani mengerti bahwa Kiai Gringsing harus yakin bahwa dedaunan, akar-akaran dan barangkali empon-empon atau jenis yang lain itu tidak boleh keliru. Namun hal itu ada baiknya karena dengan demikian ia akan dapat berbicara dengan Ki Gede Pemanahan tentang sesuatu yang sangat menarik perhatiannya atas Kiai Gringsing yang dibayangi oleh rahasia pribadinya itu.

 

Karena itu, maka Ki Juru Martani pun kemudian berkata kepada Kiai Gringsing, “Baiklah, Kiai. Jika memang demikian, biarlah seseorang mengantar Kiai dan menunjukkan di mana Kiai mendapat jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang Kiai perlukan.”

 

Demikianlah, maka Kiai Gringsing pun kemudin diantar oleh Ki Juru Martani keluar bilik itu setelah Ki Gede Pemanahan menyebut seseorang yang akan dapat melayani Kiai Gringsing di dalam memilih jenis dedaunan yang diperlukan. Oleh Ki Juru Martani maka disuruhnya seorang pelayan memanggil orang yang diperlukannya dan kemudian menyerahkannya kepada Kiai Gringsing. “Silahkan Kiai. Orang ini juga mengerti serba sedikit tentang jenis-jenis dedaunan dan empon-empon yang dapat dijadikan obat, sehingga barangkali ia akan dapat menunjukkan di mana Kiai harus mencari obat-obatan itu.”

 

“Baik, Ki Juru. Mudah-mudahan aku dapat menemukannya dan barangkali dapat sedikit menolong,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Ada sesuatu yang akan dikatakannya. Tetapi agaknya Kiai Gringsing ragu-ragu.

 

Ki Juru Martani adalah seorang yang mempunyai tanggapan yang cukup tajam. Karena itu maka ialah yang kemudian bertanya, “Kiai, apakah ada sesuatu yang akan Kiai katakan tentang Ki Gede Pemanahan yang sedang sakit itu?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Juru. Semuanya memang tergantung kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetapi baiklah aku mengatakan kepada Ki Juru, bahwa sakit Ki Gede Pemanahan sudah menjadi terlampau parah. Hanya karena Ki Gede Pemanahan adalah seorang prajurit yang luar biasa dan mempunyai kelebihan yang jauh melampaui ketahanan jasmaniah orang kebanyakan, maka Ki Gede Pemanahan masih dapat berbicara dengan lancar dan bahkan masih dapat tersenyum dan sedikit bergurau. Tetapi bagi manusia biasa yang lain, jika ia mengalami sakit seperti itu, maka orang itu tentu sudah kehilangan segala kemampuan ketahanan jasmaniahnya. Bahkan mungkin ia sudah kehilangan kesadaran dan harapan sama sekali untuk dapat sembuh.”

 

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia pun sudah melihat kemungkinan serupa itu. Tetapi keterangan Kiai Gringsing, seseorang yang khusus mempelajari masalah-masalah serupa itu, menambah keyakinannya, bahwa Ki Gede Pemanahan berada di dalam keadaan yang gawat. Dan seperti Kiai Gringsing, Ki Juru pun mengetahui bahwa penyakit yang sebenarnya dari Ki Gede Pemanahan telah datang dari dirinya sendiri.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru, “aku tahu kecemasan Kiai. Tetapi kita memang berwenang untuk berusaha. Adalah goncangan perasaan yang tidak dapat dibayangkan telah melanda hati Ki Gede Pemanahan. Ia adalah seorang prajurit bahkan seorang Panglima Wira Tamtama. Ki Gede Pemanahan adalah orang yang paling disegani lawan di peperangan. Namun agaknya adbmcadangan.wordpress.com kali ini persoalannya tidak dapat dihadapinya dengan pedang. Dengan demikian maka Ki Gede pun telah dicengkam oleh kerisauan, kegusaran, dan berbagai macam perasaan yang lain tanpa dapat disalurkannya keluar dari dirinya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Demikianlah agaknya sehingga pengobatan yang bersifat wadag harus disertai dengan pengobatan yang lain, yang barangkali Ki Juru Martani jauh lebih mengerti daripadaku.”

 

“Bukan jauh lebih mengerti, Kiai. Tetapi aku akan berusaha. Mataram sudah mulai nampak besar. Karena itu, maka sebaiknya Ki Gede segera sembuh meskipun sifatnya hanya sekedar penundaan waktu, agar ia dapat melihat Mataram dalam keseluruhan sebelum saat terakhir itu benar-benar merenggutnya dari Tanah garapan yang besar ini.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru sejenak, lalu, “Kita akan berusaha bersama-sama. Baiklah aku mohon diri, Ki Juru. Mudah-mudahan aku mendapatkan yang aku perlukan.”

 

Demikianlah Kiai Gringsing kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Gede Pemanahan. Kedua muridnya pun tidak ditinggalkannya. Mereka berempat kemudian menuju ke sebuah kebun yang khusus ditanami berbagai jenis pepohonan yang dapat dipergunakan untuk obat-obatan.

 

Sementara itu, Ki Juru Martani telah kembali pula ke dalam bilik Ki Gede Pemanahan. Sekilas terngiang kata-kata Kiai Gringsing tentang Ki Gede.

 

“Sebenarnyalah hanya karena ia memiliki kelebihan dari orang kebanyakan sajalah maka ia masih sempat tersenyum,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Namun dengan demikian kecemasan yang sangat telah menggetarkan dadanya. Wajah yang pucat, mata yang redup, dan kadang-kadang tanpa disadari telah terpejam sama sekali meskipun di saat yang lain Ki Gede masih dapat berbicara dengan lancar dan tersenyum cerah.

 

Ki Juru pun kemudian duduk di bibir pembaringan. Disentuhnya tubuh Ki Gede Pemanahan yang terasa sangat dingin.

 

“Tubuh ini kadang-kadang terasa sangat panas,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tetapi kadang-kadang sangat dingin.”

 

Ki Juru tidak segera menyahut, sedang Ki Sumangkar duduk sambil termangu-mangu.

 

“Kakang Juru,” berkata Ki Gede tiba-tiba, “aku melihat ada sesuatu yang sangat menarik perhatian Kakang pada Kiai Gringsing. Apakah Kakang menemukan sesuatu adanya?”

 

Ki Juru mengerutkan keningnya, lalu, “Adi. Aku memang melihat sesuatu. Selagi ia memijit-mijit tangan Adi Pemanahan. Aku melihat sebuah goresan pada pergelangan tangannya. Goresan yang mengingatkan aku kepada sesuatu yang pernah aku kenal, meskipun mungkin aku tidak dapat mengambil kepastian bahwa yang pernah aku kenal itu adalah yang tergores di tangan dukun tua itu.”

 

Wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang sejenak. Demikian pula Sumangkar. Mereka adalah orang-orang tua yang memiliki pengetahuan yang luas dan pengenalan atas berbagai masalah yang pernah terjadi di pusat pimpinan pemerintahan sejak akhir dari pemerintahan Demak.

 

“Kakang Juru,” bertanya Ki Gede Pemanahan, “apakah yang sudah Kakang lihat pada tangan Kiai Gringsing?”

 

“Adi,” berkata Ki Juru, “ketika lengan baju Kiai Gringsing tersingsing sedikit, aku melihat guratan di pergelangan tangannya.”

 

“Guratan apa Ki Juru?” Sumangkar pun menjadi kurang sabar.

 

“Tidak begitu jelas. Tetapi rasa-rasanya aku pernah mengenalnya.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Di pergelangan tangan itu tergurat sebuah gambar cakra kecil, yang tersangkut pada ujung cambuk.”

 

“Cakra,” hampir berbareng Ki Sumangkar dan Ki Gede Pemanahan berdesis. Bahkan Ki Gede yang terkejut mengangkat kepalanya. Namun Ki Juru dengan tenang menahannya dan berkata, “Jangan bangkit, Adi. Keadaan Adi Pemanahan tidak memungkinkannya. Sebaiknya Adi berbaring saja di pembaringan.”

 

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian suaranya yang datar terdengar seolah-olah bergumam di dalam mulutnya saja, “Bukankah sebuah cakra kecil di ujung cambuk itu merupakan ciri dari sebuah perguruan?”

 

Ki Sumangkar menarik nafas dalam. Katanya, “Aku adalah orang yang sudah jauh lebih lama bergaul dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu. Tetapi, aku belum pernah berkesempatan melihat cakra kecil yang tergores di pergelangannya. Bahkan aku pernah melihat Kiai Gringsing membuka bajunya dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan sesuatu pada dirinya.”

 

Ki Juru Martani termenung sejenak. Lalu katanya, “Agaknya memang suatu kebetulan. Selama ini Ki Sumangkar tidak menyangka bahwa di pergelangan tangan Kiai Gringsing tergores sebuah guratan kecil itu. Atau mungkin kemampuan Kiai Gringsing dapat menutup, atau setidak-tidaknya menyamarkan guratan itu sehingga tidak begitu jelas. Tetapi karena ia mengenakan bajunya saat ini, maka ia tidak berusaha menyamarkannya. Dan adalah kebetulan sekali bahwa aku sempat melihatnya.”

 

“Kakang,” berkata Ki Gede Pemanahan, “Jika aku tidak salah ingat, atau barangkali karena aku sudah menjadi semakin lemah ini, ingatanku pun menjadi lemah pula, bahwa ciri yang demikian itu adalah ciri perguruan Empu Windujati.”

 

Ki Juru Martani tersenyum. Dipandangnya Sumangkar sejenak, lalu ia pun bergumam, “Ingatanmu masih cerah. Menurut ingatanku pun demikian. Nama itu adalah nama yang pernah mengumandang di seluruh daerah Demak pada masa-masa terakhir. Tetapi jika benar, Kiai Gringsing mempunyai hubungan dengan perguruan Empu Windujati, maka kita akan kembali ke dalam suatu teka-teki yang melingkar. Adakah seseorang yang tahu pasti, siapakah Empu Windujati?”

 

“Pangeran Windupati,” sahut Ki Sumangkar.

 

Tetapi Ki Juru Martani bertanya pula, “Pangeran Windupati adalah nama yang kita kenal kemudian. Tetapi Pangeran Windupati pun masih harus dicari.”

 

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi tabir yang menyelubungi Pangeran Windupati tidak segelap yang kini menyamarkan Kiai Gringsing. Kita sama sekali tidak dapat membayangkan, siapakah sebenarnya orang itu. Baru ketika Ki Juru melihat sebuah guratan yang melukiskan sebuah cakra di ujung sebuah cambuk, maka kita sedikit dapat menghubungkannya dengan orang lain kecuali kedua muridnya.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Seperti kepada dirinya sendiri ia bergumam, “Ada gelar lain yang sering dipergunakan Pangeran Windupati. Ketika ia masih menjadi seorang senapati di masa terakhir Kerajaann Majapahit ia bergelar Kebo Kumara.”

 

“Ya. Dan kekecewaan demi kekecewaan telah mendesaknya ke sebuah padepokan kecil. Kegagalan beberapa orang pemimpin pemerintahan Majapahit, ketamakan dan nafsu pribadi telah membuatnya kehilangan harapan bagi masa datang dari sebuah negeri yang pernah menjadi lambang kesatuan Nusantara yang besar ini,” sahut Ki Gede Pemanahan perlahan-lahan. Lalu, “Tetapi aku kira, jika yang kau lihat benar, Kakang, sebuah cakra diujung cambuk, maka kemungkinan itu adalah dekat sekali. Tetapi cakra itu harus bergerigi sembilan ditambah satu.”

 

“Ya sepuluh,” desis Ki Sumangkar, “ada sepuluh wewaler yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut Empu Windujati.”

 

Ketiga orang tua itu termenung sejenak. Mereka mencoba mengingat-ingat, apa saja yang pernah mereka kenal dari Empu Windujati itu.

 

Tetapi ternyata pengenalan mereka tidak lebih dalam dari yang pernah dikenal oleh Ki Argapati dari Tanah Perdikan Menoreh. Dalam keadaan yang serupa. Ki Argapati pun pernah melihat lukisan di pergelangan tangan Kiai Gringsing itu. Dan ia pun langsung menghubungkan orang tua itu dengan nama Empu Windujati. Tetapi Kiai Gringsing seakan-akan sama sekali tidak pernah mengenal nama Empu Windujati.

 

Meskipun demikian, namun Ki Juru Martani kemudian berkata, “Aku akan berusaha untuk mengenal Kiai Gringsing lebih banyak lagi lewat guratan di pergelangan tangannya itu. Satu-satunya ciri yang dapat kita ketemukan itu harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

 

Ki Gede Pemanahan yang sedang sakit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Ki Sumangkar merenung sambil menundukkan wajahnya. Ia ingin dapat melihat, apa yang telah dilihat oleh Ki Juru Martani. Agaknya, Ki Juru memang mempunyai ketajaman melampaui dirinya. Meskipun ia pernah bergaul lebih lama dengan Kiai Gringsing, tetapi ia tidak pernah berkesempatan untuk melihat guratan di pergelangan tangan itu.

 

Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan kedua muridnya diantar oleh seorang yang sedikit banyak juga mengenal berbagai jenis pepohonan dan dedaunan yang dapat dipergunakan sebagai obat, sedang sibuk mencari di antara berbagai macam jenis tanaman tersebut. Agaknya Kiai Gringsing tidak mendapatkan kesukaran karena jenis tanaman itu cukup banyak. Apa yang disebutnya, orang yang melayaninya dapat menunjukkannya. Hanya kadang-kadang ada sejenis daun yang mereka agak lama memperbincangkannya karena mereka mempunyai istilah yang berbeda untuk menyebutnya. Namun setelah mereka menemukan daunnya, maka mereka pun segera sependapat.

 

Tetapi di dalam penggunaanya, reramuan dan campurannya, pengetahuan Kiai Gringsing ternyata jauh lebih luas dari orang yang melayaninya. Karena itulah maka orang yang melayani menjadi sangat senang karena dengan demikian ia dapat menambah pengetahuannya.

 

Apalagi Kiai Gringsing agaknya memang tidak merahasiakan beberapa jenis reramuan. Hanya jika memungkinkan timbulnya bahaya dari reramuan itu, Kiai Gringsing tidak memberitahukannya lebih banyak lagi. Misalnya reramuan yang harus dicampur dengan berbagai macam bisa atau racun. Yang apabila campurannya tidak mapan dalam perbandingan yang benar, akan dapat membuat obat itu justru sangat berbahaya.

 

Dengan demikian maka Kiai Gringsing pun bekerja dengan tekun dilayani oleh orang yang telah ditunjuk oleh Ki Gede Pemanahan dibantu oleh kedua muridnya. Mereka menyusup di antara berbagai jenis dedaunan yang memang ditanam di tempat tersendiri untuk kepentingan obat-obatan.

 

Selama itu, Ki Demang Sangkal Putung lebih senang duduk sambil minum dan saling bercerita dengan beberapa orang yang mengawaninya. Mereka bercerita tentang usaha membuat saluran air. Membuat bendungan dan menyusun hubungan antara padesan yang satu dengan yang lain.

 

“Tetapi pengalamanku tidak lebih dari menyusun tata padesan yang kecil dan sempit,” berkata Ki Demang kepada kawannya berbicara. Beberapa orang yang datang sengaja menemaninya.

 

“Tetapi pengalaman Ki Demang sangat berguna bagi kami yang baru mulai ini,” berkata salah seorang dari mereka yang menemaninya.

 

“Ki Sanak baru mulai di Mataram ini. Tetapi sebelumnya Ki Sanak tentu sudah memiliki pengalaman yang luas. Pengalaman mengenai tata kota dan padesan.”

 

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku sebelumnya hanya seorang prajurit di medan perang. Sekarang aku harus mempelajari seluk beluk tata kota sehingga hal ini benar-benar merupakan hal yang baru bagiku.”

 

Ki Demang memandang orang itu sambil tersenyum. Kepalanya kemudian terangguk-angguk sambil berkata, “Bagaimanapun juga, Ki Sanak akan segera menguasai persoalan yang Ki Sanak hadapi.”

 

Dengan demikian maka pembicaraan mereka itu bergeser dari satu persoalan ke persoalan yang lain. Dan satu kesulitan kepada yang lain yang masih harus diatasi untuk menyusun kota Mataram yang luas dan ramai.

 

“Mataram harus memenuhi syarat sebagai kota yang memuat segala macam kegiatan. Mataram harus sedikitnya menyamai Pati dan bahkan menyamai Pajang,” berkata orang itu.

 

Ki Demang mengerutkan keningnya. Sedikit banyak ia juga merasakan nafas persaingan antara Mataram, Pati yang sudah lebih dahulu berkembang dan ramai, dan Pajang sendiri sebagai pusat pemerintahan.

 

Namun rencana perkembangan kota Mataram memang mempunyai persoalannya tersendiri. Meskipun demikian orang-orang yang bekerja tanpa mengenal lelah itu agaknya akan segera dapat mengatasinya. Daerah yang ternyata masih tergenang air di musim basah, harus mendapatkan cara yang tepat menyalurkan air sehigga daerah itu menjadi kering. Tetapi sebaiknya daerah persawahan yang luas harus mendapat pengairan yang ajeg di musim kering. Dengan demikian maka daerah itu akan dapat ditanami padi sepanjang tahun. Tidak hanya di musim hujan saja.

 

Tetapi juga penguasaan banjir dan tanggul memerlukan pemikiran. Sungai yang nampaknya tidak begitu besar, bahkan di musim kering airnya tidak lebih tinggi dari mata kaki di musim hujan dapat mendatangkan bencana jika tidak dipersiapkan sebaik-baiknya untuk menguasainya.

 

Pembicaraan itu pun kemudian terputus ketika kemudian Kiai Gringsing dan kedua muridnya datang menghampiri mereka yang sedang sibuk berbicara tentang tata kota. Kiai Gringsing agaknya sudah mendapat bahan obat-obatan secukupnya, sehingga ia tinggal meramunya dan kemudian membawanya kepada Ki Gede Pemanahan.

 

“Bagaimana dengan penyakit Ki Gede itu, Kiai?” bertanya Ki Demang.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia hanya menjawab, “Aku akan segera mencoba mengobatinya. Mudah-mudahan, mudah-mudahan saja aku dapat berguna di sini.”

 

Ki Demang mengerutkan keningnya. Ia merasakan nada yang kurang meyakinkan pada kata-kata Kiai Gringsing itu. Namun Ki Demang tidak bertanya lebih banyak lagi.

 

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian tidak segera kembali ke dalam bilik Ki Gede, ia masih harus meramu obatnya. Karena itu, maka ia pun kemudian berpesan agar disampaikan kepada Ki Gede, bahwa ia masih harus menyiapkan obatnya lebih dahulu.

 

Karena itulah maka yang kemudian dipersilahkan memasuki bilik Ki Gede yang sedang sakit itu adalah Ki Demang dan kedua murid Kiai Gringsing.

 

Tetapi mereka tidak terlalu lama berada di dalam bilik itu, karena Ki Demang pun kemudian menyadari bahwa Ki Gede harus banyak beristirahat.

 

“Ki Demang,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “aku sangat berterima kasih atas kunjungan ini. Kita adalah tetangga yang dekat, Sangkal Putung terletak tidak begitu jauh dari Mataram yang sedang berkembang ini. Karena itu pada suatu saat kita tentu akan banyak bekerja bersama-sama untuk kepentingan bersama pula.”

 

“Ah,” desah Ki Demang, “tentu ada perbedaan. Aku adalah seorang Demang di Sangkal Putung. Aku sudah tidak tahu lagi, berapa keturunan dari leluhurku yang telah menjabat tugas ini. Sejak pemerintahan masih belum berpindah dari Demak. Dan untuk seterusnya Sangkal Putung akan tetap menjadi sebuah kademangan yang kecil seperti sekarang. Agaknya berbeda sekali dengan adbmcadangan.wordpress.com Mataram. Bukan karena rakyat Sangkal Putung tidak mau bekerja memperluas tanah garapan dengan membuka hutan di sekitarnya, tetapi di Sangkal Putung tidak ada seseorang seperti Ki Gede Pemanahan yang disuyuti oleh rakyat Pajang dan tidak ada anak muda seperti Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, putera angkat Kanjeng Sultan di Pajang. Nama-nama itulah yang memungkinkan Mataram akan menjadi besar dan berkembang terus.”

 

Ki Gede tersenyum. Dan Ki Demang berkata seterusnya, “Apalagi di sini ada Ki Juru Martani. Meskipun secara resmi Ki Juru bukan seorang pemimpin di pusat pemerintahan Pajang, tetapi pengaruhnya atas Kanjeng Sultan dan bahkan atas para pemimpin di Pajang cukup besar.”

 

“Kau memuji, Ki Demang. Terima kasih. Tetapi bagaimana pun juga Sangkal Putung adalah daerah yang penting. Baik bagi Pajang sekarang, maupun jika Mataram kelak berkembang,” sahut Ki Juru Martani.

 

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Yang dapat kami lakukan di Sangkal Putung adalah pasrah diri kepada kemungkinan yang bakal berkembang di hari depan atas Pajang dan Mataram.”

 

“Kenapa?” Ki Gede Pemanahan tiba-tiba saja bertanya.

 

Ternyata pertanyaan itu agak membingungkan Ki Demang Sangkal Putung, namun ia pun kemudian menjawab, “Bukankah akan menjadi kenyataan bahwa Mataram berkembang di samping Pajang?”

 

Ki Juru tertawa kecil. Katanya, “Benar, Ki Gede. Memang kita tidak dapat melepaskan kenyataan itu.”

 

“Karena itu, bagi daerah sekecil Sangkal Putung tidak akan dapat berbuat banyak, dan apalagi ikut menentukan apa yang bakal terjadi.”

 

Ki Juru Martani tidak menjawab lagi. Tetapi ia menyadari bahwa hubungan yang dingin antara Mataram dan Pajang tentu sudah terasa di seluruh daerah yang terutama berada di jalur lurus antara Pajang dan Mataram.

 

Demikianlah Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian minta diri untuk memberikan kesempatan Ki Gede beristirahat. Demikian pula Ki Sumangkar dan Ki Juru pun meninggalkan bilik itu pula.

 

Sementara Ki Sumangkar dan Ki Demang pergi ke bilik mereka, maka Ki Juru Martani pun pergi mendapatkan Kiai Gringsing yang baru melumatkan beberapa jenis dedaunan di atas sebuah pipisan.

 

Ketika Ki Juru Martani mendekat, maka sambil tersenyum Kiai Gringsing berkata, “Apakah Ki Juru juga ingin menjadi seorang dukun seperti aku?”

 

“Tentu, Kiai. Aku ingin dapat mengobati orang-orang yang sakit meskipun hanya pertolongan untuk sementara.”

 

“Mungkin jalan kita memang berbeda, Ki Juru. Aku mempunyai sedikit pengetahuan tentang obat-obatan. Sedang Ki Juru mempunyai ketajaman pandangan batin terhadap beberapa hal yang bakal terjadi.”

 

“Ah. Apakah Kiai menganggap aku dapat melihat sesuatu yang bakal terjadi?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Entahlah, Ki Juru. Tetapi ada kelebihan pada Ki Juru.”

 

Ki Juru tertawa. Katanya, “Aku hanya orang yang terlampau banyak berbicara. Karena itu mungkin ada di antara bicaraku yang banyak itu agak sesuai dengan peristiwa yang kemudian menyusul. Tetapi itu hanya suatu kebetulan.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak sempat bertanya karena Ki Juru mendahului, “Kiai, bukalah lengan baju. Kiai menjadi basah karena Kiai melumatkan obat-obatan di atas pipisan tanpa menyingsingkan lengan baju. Aku tadi melihat Kiai justru membuka gulungan lengan baju Kiai pada saat aku melihat.”

 

Sekilas warna merah tampak di wajah Kiai Gringsing. Tetapi hanya sesaat. Seperti biasa ia pun segera berhasil menyembunyikan perasaannya.

 

“Ah, aku tidak sengaja berbuat demikian. Aku tidak tahan menyingsingkan baju terlampau lama. Tubuhku sudah terlampau lemah.”

 

Ki Juru tertawa. Katanya, “Tubuh Kiai masih mampu bertahan atas tusukan pedang.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru sejenak. Tetapi ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Agaknya Ki Juru telah mendengar cerita dari Raden Sutawijaya tentang seseorang yang mempunyai ilmu kebal bernama Panembahan Alit. Orang itulah yang mampu bertahan atas tusukan pedang. Tetapi bukan aku. Oleh tusukan angin pun badanku akan segera merasa dingin dan nyeri di ujung-ujung tulang.”

 

Ki Juru pun tertawa pula. Di sela-sela suara tertawanya Ki Juru berkata, “Itukah ucapan seseorang yang ternyata mampu membunuh Panembahan Alit.”

 

Kiai Gringsing pun tertawa pula. Tetapi ia tidak menyahut. Bahkan tangannya telah sibuk dengan reramuan yang sedang dilumatkannya dengan pipisan.

 

Ki Juru yang mendekatinya kemudian berjongkok di sampingnya. Diperhatikannya reramuan yang menjadi lembut dan kemudian diberi beberapa titik air jeruk pecel.

 

“Obat itu harus diminum oleh Adi Pemanahan?” bertanya Ki Juru.

 

“Ya, Ki Juru. Obat ini hanya sekedar menguatkan tubuhnya. Tetapi tidak menyembuhkan sakitnya. Tidak ada obat yang dapat mengobati sakit Ki Gede Pemanahan selain dirinya sendiri.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk.

 

“Aku mengatakannya kepada Ki Juru, karena aku yakin bahwa Ki Juru pun sebenarnya telah mengetahuinya. Ki Juru adalah orang yang bijaksana dengan memiliki pengamatan batin yang tajam.”

 

“Siapakah yang mengatakannya demikian?”

 

“Setiap orang penting di Pajang mengetahuinya.”

 

“Apakah Kiai mengenal orang-orang penting itu?”

 

Kiat Gringsing termenung sejenak, lalu, “Aku tidak mendengarnya langsung. Tetapi para pemimpin prajurit di Mataram pernah mendengar hal itu dari orang-orang penting di Pajang. Juga para prajurit di Sangkal Putung yang kemudian bergeser ke Jati Anom setelah Sangkal Putung tidak diganggu lagi oleh berbagai macam kerusuhan.”

 

“Untara maksud Kiai?”

 

“Bukan, tetapi banyak orang yang berkata demikian kepadaku.”

 

“Dan bagaimana dengan Kiai sendiri?”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru, “apakah aku boleh bertanya sesuatu kepada Kiai.”

 

“O, tentu, tentu. Kenapa?”

 

“Apakah Kiai memang dilahirkan di Dukuh Pakuwon dekat Sendang Gabus itu?”

 

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi tangannya masih saja sibuk melumatkan obat dipipisan.

 

“Bukankah Kiai berasal dari Dukuh Pakuwon? Menurut cerita yang sampai padaku lewat Ki Gede Pemanahan, bahwa Kiai menemukan Agung Sedayu ketika ia bersama Untara bersembunyi di rumah Kiai. Dan menurut cerita itu pula Kiai adalah kawan baik dari Ki Sadewa. Ayah Untara dan Agung Sedayu. Benarkah begitu?”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru Martani sejenak. Lalu sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Begitulah. Aku kenal Ki Sadewa dari Jati Anom sebelum ia meninggal. Dan Untara telah mengenalku pula pada waktu itu.”

 

“Kiai, apakah sejak kanak-kanak Kiai berada di Dukuh Pakuwon, atau Kiai merupakan pendatang bagi padukuhan itu.

Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Ditatapnya dedaunan yang bergerak di kejauhan, sehingga tanpa disadarinya maka tangannya pun terhenti pula.

 

“Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “apakah gunanya Ki Juru mengetahui beberapa hal tentang diriku? Sebenarnyalah Ki Juru, bahwa yang telah terjadi padaku bukannya hal yang baik-baik saja. Tetapi juga yang penuh dengan pedih dan nyeri. Karena itu, sebaiknya aku melupakan saja masa-masa lampau itu. Tetapi jika Ki Juru ingin tahu, secara kasar dapat aku katakan bahwa adbmcadangan.wordpress.com aku adalah anak kabur kanginan, berkandang langit berselimut mega. Aku merantau dari pintu ke pintu rumah yang lain mohon belas kasihan, sehingga akhirnya aku sampai ke Dukuh Pakuwon. Aku di pungut anak oleh seseorang yang kini sudah tidak ada pada saat aku dewasa. Sejak itulah aku berada di Dukuh Pakuwon.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Ada yang lupa Kiai. Darimanakah Kiai mendapatkan cambuk itu? Maksudku ilmu mempergunakan cambuk yang demikian dahsyatnya?”

 

“O, sejak kanak-kanak aku adalah gembala yang selalu bermain-main dengan cambuk.”

 

“Jadi Kiai Gringsing menggembalakan kambing sambil merantau dari pintu ke pintu?”

 

Sekilas wajah Kiai Gringsing menegang. Namun kemudian ia tertawa, “Demikianlah. Maksudku, hidupku sama sekali tidak berketentuan. Kadang-kadang aku mendapat upah sebagai gembala kambing. Pernah aku tinggal selama tiga tahun pada seseorang selagi aku berumur kira-kira dua belas tahun sampai limabelas tahun, sebelum aku berada di Dukuh Pakuwon. Aku adalah penggembala waktu itu.”

 

Ki Juru menarik nafas dalam sekali. Terasa betapa Kiai Gringsing ingin menghindarkan diri dari pengamatannya. Karena itu, maka Ki Juru itu pun kemudian bertanya, “Kiai, apakah di dalam pengembaraan itu Kiai pernah bertemu atau melihat perguruan-perguruan yang dapat memberikan bekal yang demikian banyaknya kepada Kiai.”

 

“Tentu Ki Juru menganggap bahwa ilmuku tentu aku sadap dari seorang guru. Bukankah begitu?”

 

Ki Juru Martani tidak segera menjawab. Jika ia memaksakan pertanyaan-pertanyaannya maka jawabannya akan menjadi berbelit-belit dan tidak sampai pada sasarannya.

 

Karena itu, Ki Juru yang bijaksana tidak mendesaknya terus. Tetapi ia sudah memberikan kesan kepada Kiai Gringsing bahwa ada sesuatu yang telah tersingkap dari tabir yang dipasangnya.

 

“Ah,” desah Ki Juru kemudian, “agaknya aku mengganggu saja, Kiai. Baiklah Kiai menyelesaikan obat itu. Mungkin Ki Gede Pemanahan segera memerlukannya.”

 

“Ya, Ki Juru. Ki Gede memang segera memerlukan.”

 

Demikianlah, maka Ki Juru Martani pun kemudian meninggalkan Kiai Gringsing yang segera sibuk kembali. Tetapi Ki Juru telah mempunyai bahan yang lebih banyak lagi. Ia sudah bertekad untuk mengetahui latar belakang kehidupan Kiai Gringsing. Hubungannya dengan sebuah perguruan yang memiliki tanda sebuah cakra yang tersangkut di ujung sebuah cambuk. Tetapi tentu tidak dapat dengan serta-merta.

 

Sehari itu, maka Kiai Gringsing telah menyiapkan obat yang dapat menambah kekuatan tubuh Ki Gede Pemanahan. Kiai Gringsing dengan berterus terang mengatakan bahwa yang dibuatnya itu belumlah obat yang sebenarnya, karena ia masih harus menemukan sakit Ki Gede yang sebenarnya. Tetapi dalam pada itu, Kiai Gringsing pun berkata, “Obat yang aku buat itu sekedar untuk menambah daya tahan jasmaniah Ki Gede. Tetapi obat yang paling baik akan datang dari Ki Gede sendiri.”

 

Ki Gede tersenyum. Tetapi rasa-rasanya senyumnya adalah senyum yang terlampau dalam. Seolah-olah wajah itu diselubungi oleh dinding yang tinggi, yang di dalamnya nampak semakin lama menjadi semakin buram.

 

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing sendiri telah didesak ke dalam persoalannya yang selama ini tidak pernah nampak pada permukaan hatinya, karena ia selalu mencoba meuyembunyikannya. Tetapi yang pada akhirnya memang harus dibicarakannya.

 

Ketika Mataram kemudian disentuh oleh gelapnya malam, maka untuk beberapa saat lamanya, setelah Ki Juru Martani dan Sutawijaya makan bersama tamu-tamunya, berbicara sejenak mengenai beberapa hal tentang perkembangan Mataram, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawan serta murid-muridnya pun dipersilahkan beristirahat di tempat yang telah disediakan.

 

Sejenak Kiai Gringsing masih sempat menengok Ki Gede Pemanahan. Nampak bahwa dalam keadaannnya, Ki Gede Pemanahan tetap tenang dan yang mencemaskan Kiai Gringsing, seakan-akan Ki Gede Pemanahan memang sudah tidak mempunyai gairah.

 

“Aneh sekali,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “Ki Gede Pemanahan adalah seorang Panglima. Seharusnya ia memiliki kemampuan untuk bertahan atas segala keadaan. Baik jasmaniah mau pun batiniah. Ia seharusnya tidak segera menjadi putus asa menghadapi persoalan Raden Sutawijaya yang dalam keadaan seperti itu justru harus mendapat perhatian sejauh-jauhnya.”

 

Namun kemudian, seolah-olah terdengar jawaban di dalam hatinya, “Tetapi Ki Gede bukan saja seorang Panglima perang, ia adalah orang yang memiliki kebijaksanaan dan meskipun tidak sejauh Ki Juru Martani, namun Ki Gede Pemanahan mempunyai ketajaman mata hati. Mungkin ia sudah melihat bahwa ia sudah berjalan sampai ke batas.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia justru menjadi kagum, bahwa jika Ki Gede Pemanahan memang sudah merasa bahwa hari-hari terakhirnya memang sudah tiba, namun ia masih tetap tenang dan tabah. Tanpa kegelisahan sama sekali.

 

“Seakan-akan Ki Gede Pemanahan telah dekat sekali dengan kesempurnaan lahir dan batin. Perjalanan kembali ke asalnya sama sekali tidak mencemaskan dan menggelisahkannya. Dengan tenang dari tabah ia menunggu saat Yang Menciptakannya memanggilnya kembali.”

 

Dengan persoalan-persoalan yang menggelepar di dalam hatinya tentang Ki Gede Pemanahan, tentang dirinya sendiri, dan tentang berbagai persoalan yang desak-mendesak di dalamya, Kiai Gringsing masuk ke dalam bilik yang disediakan baginya dan bagi Ki Sumangkar serta Ki Demang Sangkal Putung.

 

Sedang kedua murid Kiai Gringsing agaknya lebih senang berada di regol bersama Raden Sutawijaya.

 

Namun di antara mereka tidak banyak lagi yang dibicarakan. Seakan-akan mereka telah dibebani oleh kelelahan, sehingga mereka pun segera berbaring di tempat masing-masing.

 

Yang terdengar kemudian adalah desah angin malam yang dingin. Angin yang basah, yang menggetarkan dedaunan di halaman.

 

Dan menjelang tengah malam, maka Mataram seakan-akan telah menjadi lelap. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru pun telah berada di dalam bilik pula. Yang terdengar kemudian selain sentuhan angin di dedaunan adalah suara cengkerik dan bilalang yang berderik di batang-batang pepohonan. Lamat-lamat suara angkup terdengar ngelangut di kejauhan.

 

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia dibebani oleh rahasia tentang dirinya sendiri, sehingga seakan-akan ia telah didorong ke dalam keadaan yang telah menyudutkannya.

 

Lewat tengah malam, Kiai Gringsing yang tidak dapat tidur itu tiba-tiba terperanjat. Di antara bunyi malam yang mengiba-iba ia mendengar bunyi yang lain. Bunyi yang mempunyai pertanda khusus bagi dirinya sendiri.

 

Kiai Gringsing menjadi heran. Bahkan hampir tidak percaya bahwa ia mendengar bunyi itu. Bunyi yang sudah lama sekali tidak pernah didengarnya.

 

Tetapi Kiai Gringsing tidak dapat tinggal diam. Bunyi itu sangat menarik perhatiannya sehingga ia tidak dapat berbaring saja di tempatnya.

 

Perlahan-lahan Kiai Gringsing bangkit. Dilihatnya Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung masih tetap tidur nyenyak di tempatnya.

 

Dengan hati-hati Kiai Gringsing pun kemudian melangkah ke pintu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Jika ia membuka pintu itu dan pintu itu berderik, maka ia akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

 

“Tetapi aku harus keluar,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati, “bunyi itu aneh sekali bagiku. Seharusnya aku tidak mendengarnya lagi.”

 

Perlahan-lahan Kiai Gringsing terpaksa membuka pintu itu. Ia sudah menyediakan jawaban jika Ki Sumangkar kemudian terbangun dan bertanya.

 

Gerit yang lembut ternyata memang sudah membangunkan Ki Sumangkar. Ketika ia mengangkat kepalanya, dan melihat Kiai Gringsing di depan pintu, maka ia pun bertanya, “Kemana, Kiai?”

 

Pertanyaan itu memang sudah diperhitungkannya, sehingga dengan segera ia menjawab, “Ke belakang. Ke pakiwan sebentar.”

 

Ki Sumangkar tidak menghiraukannya lagi. Dan Kiai Gringsing pun menganggap bahwa meskipun Ki Sumangkar mendengar bunyi seperti yang didengarnya, namun Ki Sumangkar tentu tidak akan menghiraukan dan bahkan sama sekali tidak mengerti apakah di sela-sela bunyi cengkerik, bilalang, dan angkup pohon nangka itu terdengar bunyi yang lain, yang penting artinya bagi Kiai Gringsing.

 

Ketika Kiai Gringsing sudah berdiri di longkangan di muka gandok, ia termangu-mangu sejenak. Di antara suara-suara malam ia masih mendengar suara yang sudah lama sekali tidak didengarnya itu.

 

“Apakah Ki Juru Martani?” bertanya Kiai Gringsing di dalam hatinya. Lalu, “Jika memang Ki Juru mengenal bunyi itu dan mampu menirukan tepat seperti seharusnya, maka aku kira aku memang tidak akan dapat lari lagi.”

 

Karena itu, maka Kiai Gringsing tidak menghindarkan diri dari bunyi itu. Telinganya yang tajam segera menangkap dari mana arahnya.

 

Sejenak Kiai Gringsing berdiri tegak di tempatnya. Masih terasa sangat sepi dan dingin.

 

Selangkah demi selangkah ia maju mendekati sumber bunyi itu. Meskipun ia kenal benar akan bunyi itu, namun ia harus berhati-hati, karena sama sekali tidak menduga, bahwa pada suatu saat di Mataram ia akan mendengar bunyi itu lagi.

 

Tetapi selain Kiai Gringsing harus berhati-hati terhadap sumber bunyi itu, ia pun harus berhati-hati pula, agar tidak ada orang yang dapat melihatnya.

 

Sekali-sekali Kiai Gringsing berpaling. Dan akhirnya ia pun menjadi yakin bahwa Ki Sumangkar agaknya tidak mengikutinya.

 

Setelah Kiai Gringsing melewati longkangan, maka ia pun dapat melangkah lebih cepat lagi. Semakin lama semakin dekat dengan sumber bunyi itu.

 

Tetapi Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Ternyata sumber bunyi itu bergerak. Meskipun ia menjadi semakin dekat, tetapi rasa-rasanya sumber itu pun bergerak menjauh.

 

“Hem,” Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, “siapakah yang masih ingin bermain-main dalam saat seperti ini.”

 

Sejenak Kiai Gringsing terhenti. Dipusatkannya ketajaman pendengarannya. Dan ia yakin bahwa sumber bunyi itu agaknya telah bergerak pula.

 

Kiai Gringsing pun termangu-mangu di tempatnya. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya gelap malam menyelubungi rumah Ki Gede Mataram. Sedang Ki Gede Mataram sendiri pada saat itu sedang terbaring diam di pembaringannya karena luka-lukanya. Tetapi saat itu pula di rumah Ki Gede Mataram terdapat dua orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar, di samping Ki Gede Mataram sendiri.

 

Ketika suara itu didengarnya lagi, Kiai Gringsing bergeser pula mendekat. Di regol butulan ada beberapa orang penjaga yang bertugas. Karena itu, ia harus menghindari penjaga-penjaga itu jika ia tidak ingin timbul keributan.

 

Dengan hati-hati Kiai Gringsing melintasi halaman belakang. Dengan mempergunakan kelebihan yang ada padanya, Kiai Gringsing berhasil sampai ke dinding halaman bagian belakang tanpa diketahui orang.

 

Sejenak Kiai Gringsing menunggu. Akhirnya suara itu terdengar lagi. Agak dekat di balik dinding itu.

 

“Jika sumber suara itu seseorang,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “orang itu tentu memiliki kelebihan. Ia dapat melihat aku mendekatinya sehingga ia berusaha untuk memancing aku ke tempat yang terpisah.”

 

Tetapi Kiai Gringsing pun memiliki ketajaman indera pula, sehingga ia mampu menangkap suara yang bergeser itu dengan saksama.

 

Akhirnya Kiai Gringsing tahu pasti jarak antara dirinya dan suara itu. Dan ia pun yakin, bahwa ia akan dapat mendekatinya. Tetapi karena agaknya sumber suara itu sengaja memancingnya keluar halaman, maka Kiai Gringsing pun menanggapinya.

 

Sejenak kemudian, sama sekali tidak dilihat oleh seorang penjaga pun, Kiai Gringsing sudah berada di luar dinding halaman. Tanpa disadarinya ia meraba cambuk yang membelit di lambungnya.

 

Perlahan-lahan Kiai Gringsing maju terus mengikuti suara itu. Bahkan akhirnya ia sendiri merasa bahwa sebaiknya ia berada di tempat yang lebih jauh lagi dari rumah Ki Gede Pemanahan.

 

Dada Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar, ketika ia berhasil melihat sesosok bayangan di dalam kegelapan. Karena itu maka ia semakin pasti bahwa ia akan dapat mendekat dan setidak-tidaknya bertanya tentang sesuatu kepada bayangan itu.

 

Tetapi ketika bayangan itu kemudian berada di sebuah jalan sempit maka bayangan itu pun kemudian berjalan semakin cepat. Karena Kiai Gringsing mengikutinya semakin cepat pula, maka bayangan itu pun akhirnya berlari-lari kecil.

 

Kiai Gringsing tidak mau melepaskannya. Apalagi ia memang yakin bahwa bayangan itu sengaja ingin menjumpainya.

 

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah berada di jalan persawahan. Kiai Gringsing menjadi semakin jelas melihat bayangan yang berlari ke tengah-tengah bulak itu. Dan karena itulah maka Kiai Gringsing selalu mengikutinya terus.

 

Namun demikian Kiai Gringsing masih saja selalu dibayangi oleh teka teki tentang orang yang diikutinya itu. Bunyi yang khusus itu seharusnya sudah lama tidak terdengar lagi. Bunyi yang mirip sekali dengan desis seekor ular. Bunyi yang tidak begitu banyak menarik perhatian selain mereka yang memahami benar-benar arti daripada bunyi itu.

 

Ketika keduanya sudah berlari semakin jauh dari padukuhan dan berada di tengah bulak, maka Kiai Gringsing melihat bayangan itu berhenti. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun segera berhenti pula pada jarak yang tidak terlampau dekat.

 

Perlahan-lahan dan dengan penuh kewaspadaan Kiai Gringsing melangkah mendekat. Selangkah demi selangkah. Sedang bayangan itu masih saja tetap berdiri di tempatnya.

 

Ternyata bahwa Kiai Gringsing yang berdiri beberapa langkah dari orang itu tidak segera dapat mengenalnya. Ia melihat dalam keremangan malam wajah yang agak asing baginya. Namun ketajaman tatapan matanya yang memiliki kelebihan dari tatapan mata orang kebanyakan itu pun segera mengenal, bahwa ada yang tidak wajar pada wajah itu.

 

“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Kiai Gringsing tiba-tiba.

 

“Kau belum mengenal aku,” jawab orang itu dengan suara yang besar dan berat.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdesis, seperti kepada diri sendiri, “Jika aku belum mengenalmu, aku kira kau tidak perlu menyamar wajahmu dan merubah suaramu yang sebenarnya.”

 

Orang itu termenung sejenak. Namun kemudian terdengar ia tertawa sambil berkata, “Pikiranmu aneh. Aku memang menyamar. Tetapi tidak karena kau. Aku sadar bahwa seorang pemimpin yang luar biasa di Mataram ini akan dapat mengenalku. Dan aku kira, orang itulah yang mendekatiku. Ternyata kau orang tua bangka yang tidak tahu malu.”

 

Kiai Gringsing tertegun sejenak. Lalu katanya, “Kenapa aku tidak tahu malu,”

 

“Kenapa kau mengikuti aku? Aku memberikan isyarat bagi orang yang penting bagiku. Tidak kepadamu.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian aku minta maaf. Aku tidak sengaja mencampuri persoalanmu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kenapa kau memanggil salah seorang pemimpin Mataram dengan isyarat itu?”

 

“Itu urusanku,” sahut orang itu.

 

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengamati orang itu dengan saksama. Mula-mula ia menyangka bahwa orang itu adalah Ki Juru Martani. Tetapi ternyata menurut bentuk tubuhnya, Kiai Gringsing menganggap bahwa orang itu tentu bukan Ki Juru. Bukan pula Ki Sumangkar dan apalagi Ki Gede Pemanahan yang sedang terbaring itu. Ki Gede Pemanahan adalah orang yang bertubuh tegap, tinggi dan kekar, meskipun tidak berlebih-lebihan.

 

“Sekarang,” berkata orang itu, “kembalilah ke rumah itu. Jangan ganggu aku lagi. Aku harus mengulangi memberikan isyarat bagi pemimpin yang aku cari itu.”

 

“Siapakah yang kau cari.”

 

“Itu juga bukan urusanmu.”

 

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ia mendengar dengan pasti bahwa isyarat itu adalah isyarat yang mempunyai arti khusus baginya. Sedang orang itu memberikan isyarat untuk orang lain.

 

“Tentu tidak,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “orang itu tentu mencari aku.”

 

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian melangkah maju. Katanya, “Kau jangan berputar-putar. Katakan saja apakah perlumu. Siapakah kau dan apa yang dapat aku lakukan bagimu.”

 

“Aku tidak memerlukan kau,” bentak orang itu, “bukankah sudah aku katakan. Pergilah dan kembalilah ke gandokmu sebelum kau menyesal.”

 

“Aku tidak akan kembali. Aku lebih senang berada di sini bersamamu.”

 

“Gila,” suara orang itu semakin tidak keruan. Kadang-kadang rendah dan dalam. Kadang-kadang melengking tinggi.

 

Dan Kiai Gringsing pun kemudian menyahut, “Lebih baik kau tidak usah merubah-rubah suaramu. Kau akan menjadi serak. Jika benar aku belum mengenalmu, maka suaramu pun tentu tidak aku kenal pula.”

 

“Persetan. Pergilah sebelum aku bertindak atasmu.”

 

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “aku menjadi curiga padamu. Karena itu, baiklah kita berbicara dengan baik. Kita sudah bukan anak-anak yang harus bergurau lagi. Katakanlah, siapakah kau dan apakah maumu.”

 

Orang itu terdiam sejenak. Di dalam keremangan malam Kiai Gringsing merasa bahwa orang itu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “Kau sama sekali tidak berarti bagiku. Pergilah. Jangan mencampuri persoalan orang-orang besar di dalam dunia kanuragan. Kau tidak lebih dari tikus kecil yang akan ikut serta di dalam persoalan kucing-kucing yang buas. Karena itu aku peringatkan, lebih baik kau kembali dan tidur di bawah selimut yang hangat daripada kau ada di sini.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan orang itu meneruskan, “Aku masih mempunyai belas kasihan yang cukup bagi orang-orang yang tidak berarti seperti kau. Tetapi jika orang yang aku perlukan itulah yang datang, maka aku akan menyelesaikannya.”

 

“Baiklah,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi apakah kau mau menyatakan dirimu yang sebenarnya. Kenal atau tidak kenal?”

 

Orang itu menggeleng. Namun kemudian membentak, “Setan alas. Kau membuat aku menjadi jengkel. Pergi, cepat pergi sebelum kau menjadi lumat di sini.”

 

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu. Orang itu cukup aneh baginya. Bahkan kemudian Kiai Gringsing itu menjadi keheranan. Ia sendiri adalah orang yang senang bermain-main seperti itu. Menyamar diri dengan topeng, dengan tutup wajah dari ikat kepalanya, dengan cara-cara yang aneh-aneh. Tetapi kini ia dihadapkan kepada orang yang berbuat serupa itu pula.

 

“He, kenapa kau diam saja,” orang itu hampir berteriak sehingga Kiai Gringsing terkejut.

 

Bahkan dengan serta-merta Kiai Gringsing berkata, “Jika kau berteriak semakin keras, maka orang-orang yang paling dekat dengan tempat ini akan terbangun.”

 

“Tidak, kita berada di antara tanah-tanah kosong yang luas. Bukankah Mataram masih mempunyai tanah yang berkelebihan? Orang-orang tidur itu seperti mati. Mereka tidak akan mendengar.”

 

“Juga mereka tidak akan mendengar jika kau sebut namamu.”

 

“Gila. Ternyata kau termasuk orang yang keras kepala,” jawab orang itu, lalu. “Baiklah. Jika kau berkeras untuk mengetahui namaku. Dengarlah baik-baik. Namaku Kudabaruna.”

 

Mendengar nama itu Kiai Gringsing tertawa pendek. Katanya, “Memang akulah yang bodoh. Kau dapat menyebut namamu dengan siapa saja. Kudabaruna, Kebowisesa, Taliprahara atau siapa saja. Tetapi apakah kau punya ciri yang mantap dan dapat dipercaya?”

 

Orang itu termenung sejenak. Lalu katanya, “Kau memang aneh, Orang Tua yang gila. Marilah kita berjanji untuk tidak bergurau seperti anak kecil.”

 

“Maksudmu?”

 

“Aku akan menyebut ciri yang ada padaku. Tetapi sebut dulu siapa kau, Orang Tua yang bodoh. Kau sangka bahwa kau bukan orang yang suka bergurau seperti kanak-kanak. Hanya bedanya aku adalah orang besar, sedang kau adalah orang yang berpura-pura besar. Kau salah menilai dirimu sendiri, Kiai.”

 

Kiai Gringsing terkejut mendengar pertanyaan itu. Dan sebelum ia menyahut orang itu sudah berkata seterusnya, “Jangan bingung. Aku tahu bahwa nama Kiai Gringsing tidak lebih dari nama yang kau sebut Kudabaruna, Kebowisesa atau Taliprahara atau Ki Tanu Metir atau apa pun lagi.”

 

Wajah Kiai Gringsing menjadi tegang. Kini ia yakin bahwa orang itu dengan sengaja telah memancing dirinya dan kini sudah pasti baginya, bahwa orang itu ingin memaksa agar ia menyatakan dirinya yang sebenarnya.

 

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Agaknya kita memang orang-orang yang aneh, yang bergurau di tengah malam tanpa arti. Aku tidak mengerti pertanyaanmu. Tetapi kau tentu tidak akan percaya. Nah, jika demikian kita akan saling menghadapi jalan buntu dengan pertanyaan kita masing-masing.”

 

“Mungkin. Tetapi kita tidak dapat berhenti begitu saja.”

 

“Apa masih ada persoalan?”

 

“Tentu,” jawab orang itu, “kau telah melihat kehadiranku di sini. Dan kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan untuk pergi. Sekarang semuanya sudah terlambat. Apalagi kau tidak mau menyebut dirimu, ciri-cirimu, dan kau dalam keseluruhan. Meskipun kau sekedar tikus kecil, tetapi lebih baik jika menyebut jenismu. Tikus tanah, cecurut atau tikus kayu. Jika kau menyesal, itu adalah salahmu sendiri.”

 

Kiai Gringsing justru tertawa, seakan-akan ia melihat sebuah permainan yang lucu. Bahkan kemudian ia menyahut, “Kau ternyata mengenal berbagai jenis tikus. Tetapi baiklah. Sebenarnya kita sudah saling mengerti, bahwa baik kau mau pun aku sedang diliputi oleh teka-teki tentang diri kita masing-masing. Karena itu, baiklah kita biarkan saja kita saling berteka-teki.”

 

“O, sudah aku katakan. Kau harus mati. Kau sudah mengenal sebagian dari aku.”

 

Kiai Gringsing masih tertawa. Namun demikian sekilas terbayang kembali Ki Juru Martani. Orang itu memang orang yang luar biasa. Tetapi menilik beberapa unsur pada orang itu, maka agaknya ia bukan Ki Juru Martani.

 

“Apakah ada orang lain di sini? Penjawi dari Pati atau barangkali Ki Wila atau Wuragil atau bahkan Ki Pramanca dari Pajang yang mendapat petunjuk dari Ki Juru Martani?”

 

Selagi Kiai Gringsing termangu-mangu, maka orang itu menggeram, “Jangan menyesal. Aku akan menghilangkah jejak pengenalanmu yang sedikit itu. Bersiaplah untuk mati.”

 

“Jadi kita akan berkelahi sekarang?” bertanya Kiai Gringsing.

 

Mendengar pertanyaan Kiai Gringsing itu, orang yang tidak mau menyebut dirinya sendiri itu pun termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Ya. Kita akan berkelahi sekarang.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sebenarnya tidak tahu pasti maksud orang itu. Apakah ia sekedar bergurau, atau ia memang mempunyai kepentingan lain. Bahkan dengan caranya, ia bersungguh-sungguh untuk mencelakainya.

 

Sekilas terbayang pula wajah Panembahan Agung, Panembahan Alit, Daksina dan orang-orangnya. Katanya di dalam hati, “Apakah orang ini salah seorang dari mereka yang masih tertinggal dan berusaha membalas dendam atas kematian Panembahan Agung atau Panembahan Alit? Jika demikian maka ia pun harus pergi kepada Ki Waskita untuk membuat perhitungan yang sama.”

 

Tetapi agaknya ada sesuatu yang lain lagi melonjak di dalam hati Kiai Gringsing. Jika orang itu datang dari pihak Panembahan Agung, mungkin ia datang dari Pajang. Seorang Senapati yang pilih tanding yang marah karena kehilangan Daksina di padukuhan terpencil itu.

 

Namun bagaimanapun juga Kiai Gringsing sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Jika ia harus bertempur, maka ia pun akan bertempur. Jika ia harus mempergunakan senjatanya, apa boleh buat, meskipun mungkin akan mengejutkan banyak orang yang dapat mendengar letupan senjatanya.

 

Kiai Gringsing pun segera bersiap sepenuhnya. Ia merasa bahwa ia sudah pulih kembali. Bekas luka-lukanya sama sekali tidak lagi mengganggu.

 

Sejenak mereka saling berhadapan. Namun sejenak kemudian orang yang menyamar wajahnya itu pun melangkah maju. Tubuhnya yang agak miring ke sebelah kanan dan langkahnya yang seperti berat sebelah itu sangat menarik perhatian Kiai Gringsing.

 

“Nah, kau ternyata telah terjerumus ke dalam bencana karena kesombonganmu,” berkata orang itu. “Seharusnya kau tidak keluar dari gandok itu karena kau mendengar isyaratku. Isyaratku adalah suara dari neraka, dan siapa yang menanggapinya berarti maut.”

 

Kiai Gringsing tidak menjawab. Ia berdiri tegak menghadap orang itu. Ketika ia melihat orang itu meletakkan berat tubuhnya pada sebelah kakinya, maka Kiai Gringsing yang memiliki ketajaman pandangan melampaui kebanyakan orang itu pun segera mengetahui, bahwa orang itu sudah siap untuk mulai.

 

Ternyata dugaan Kiai Grinsing benar, ia tidak menunggu terlalu lama. Orang itu pun tiba-tiba meloncat maju, disusul dengan sebuah loncatan yang aneh. Ternyata ia tidak langsung menyerang. Tetapi selangkah ia meloncat ke samping. Baru kemudian serangannya menyambar lambung.

 

Tetapi yang diserangnya adalah Kiai Gringsing. Orang yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang luar biasa itu, sehingga karena itu, maka dengan cepat ia dapat menilai tata gerak lawannya, dengan sigapnya Kiai Gringsing menarik kakinya surut, kemudian berputar setengah lingkaran.

 

Tetapi lawannya tidak melepaskannya. Seperti seekor tupai ia meloncat cepat sekali. Kali ini serangannya pun agak aneh. Sambil menghadap penuh ke arah Kiai Gringsing, orang itu meloncat dan menyerang dengan sebelah kakinya.

 

Kiai Gringsing mencondongkan tubuhnya, tetapi ia curiga terhadap gerakan lawannya itu.

 

Dan ternyata kemudian bahwa orang itu menggeliat miring dan kini kakinya yang lainlah yang menyambar dengan cepat sekali.

 

Kiai Gringsing bukan saja mencondongkan tubuhnya. Tetapi ia bagaikan berbaring di tanah. Tetapi dalam pada itu, kaki Kiai Gringsing itu pun dengan cepat menyambar kaki lawannya yang berpijak di tanah.

 

Serangan balasan Kiai Gringsing yang tidak terduga-duga itu mengejutkan lawannya. Namun sebuah gerakan yang mengagumkan telah melepaskannya dari sentuhan kaki Kiai Gringsing. Ternyata orang itu mampu meloncat dengan sebelah kakinya berjejak di atas tanah, karena kakinya yang lain masih terjulur. Meskipun demikian, loncatannya cukup meyakinkan bahwa ia memiliki ilmu yang cukup tinggi.

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ketika orang itu kemudian berdiri di atas kedua kakinya yang renggang, maka Kiai Gringsing pun telah melenting berdiri pula. Ia merasa bahwa melawan orang yang tidak dikenalnya itu memerlukan kemampuan sepenuhnya, karena ternyata lawannya adalah orang yang masih asing baginya.

 

“Tetapi aku harus memaksanya melepaskan unsur-unsur geraknya yang sebenarnya,” berkata Kiai Gringsing. “Mungkin aku dapat mengenal serba sedikit, dari manakah orang itu datang.”

 

Karena itulah maka Kiai Gringsing pun kemudian tidak hanya sekedar mempertahankan dirinya. Ia menganggap bahwa lawannya adalah lawan yang seimbang. Sehingga karena itu, ia wajib bertempur dengan segenap kemampuannya.

 

Demikianlah maka keduanya pun bertempur. Semakin lama semakin seru. Sedikit demi sedikit, Kiai Gringsing mulai melepaskan ilmunya Dan ternyata bahwa orang itu masih tetap mampu mengimbanginya. Bahkan Kiai Gringsing pun yakin, bahwa orang itu pun belum sampai ke puncak ilmunya.

 

Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama meningkat semakin sengit. Masing-masing mulai meningkatkan ilmunya, sehingga tata gerak mereka pun menjadi semakin lama semakin sulit dan cepat. Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan bagaikan tidak berjejak di atas tanah.

 

Sekilas Kiai Gringsing sempat mengenang orang-orang berilmu yang terpaksa pernah dilawannya di medan. Dan kini ia masih harus berhadapan lagi dengan orang seperti itu.

 

Tetapi Kiai Gringsing tidak dapat sekedar merenungi lawan-lawannya itu. Ia kini benar-benar sedang bertempur. Dan lawannya benar-benar seorang yang pilih tanding.

 

Beberapa saat lamanya mereka bertempur, maka mulailah keduanya tidak lagi dapat berpura-pura. Dalam keadaan yang sulit, maka kadang-kadang mereka harus melepaskan ilmunya yang sebenarnya. Namun, karena sebagian besar dari tata gerak mereka masih dilapisi oleh penyamaran, maka mereka masing-masing tidak segera dapat melihat, dari manakah sumber ilmu mereka masing-masing.

 

Agaknya lawan Kiai Gringsing pun masih tetap berusaha untuk tidak dapat dikenal oleh lawannya lewat ilmunya. Itulah sebabnya, kadang-kadang ia melakukan beberapa kesalahan sehingga semakin lama ia menjadi semakin terdesak. Namun demikian, yang menjadi perhatian Kiai Gringsing, bahwa lawannya itu sama sekali tidak berusaha mempergunakan senjatanya.

 

Sebagai seseorang yang menyimpan perbendaharaan pengalaman yang cukup Kiai Gringsing tidak dapat melepaskan perimbangannya dari sikap lawannya itu. Meskipun demikian, ia masih harus meyakinkannya.

 

Karena itu, maka akhirnya Kiai Gringsing berusaha untuk memaksa orang itu bersikap. Dengan dahsyatnya Kiai Gringsing menyerang semakin sengit.

 

Tetapi meskipun orang itu harus bergeser surut, namun ia sama sekali tidak mempergunakan senjata apa pun.

 

“Aneh,” desis Kiai Gringsing, “atau pada suatu saat ia akan melepaskan senjata rahasia dengan tiba-tiba?”

 

Oleh pikiran itu, maka Kiai Gringsing harus menjadi semakin berhati-hati. Meskipun demikian, ia pun masih belum mempergunakan senjatanya pula. Apalagi di malam hari. Tidak terlalu jauh dari tempat mereka berkelahi terdapat padukuhan. Jika cambuknya meledak, maka orang-orang di padukuhan itu tentu ada yang akan mendengarnya. Apalagi para peronda di gardu-gardu.

 

Karena itu, apabila tidak terpaksa sekali, Kiai Gringsing tidak akan mempergunakan senjatanya yang mengejutkan itu.

 

Meskipun Kiai Gringsing belum mempergunakan senjatanya, tetapi ia berhasil mendesak lawannya. Tetapi Kiai Gringsing sadar bahwa bukan karena lawannya tidak dapat mengimbangi ilmunya, tetapi karena lawan itu pun masih saja berusaha untuk melindungi diri dengan ilmu yang masih disamarkan. Karena itulah maka kemampuannya bertahan bukanlah kemampuannya sepenuhnya.

 

Namun pada suatu saat, maka orang itu pun telah kehilangan kesempatannya untuk tetap menyembunyikan diri. Karena serangan Kiai Gringsing yang semakin dahsyat, akhirnya satu dua unsur geraknya tidak lagi dapat terhindar dari pengamatan Kiai Gringsing. Namun untuk mengenal adbmcadangan.wordpress.com bentuk dan watak ilmu dari sebuah perguruan, tidak dapat ditilik dari satu dua unsur gerak. Tetapi dari hasil pengamatan atas sikap dan tata gerak yang tidak dengan sengaja disamarkan.

 

Namun demikian Kiai Gringsing masih berusaha terus. Dengan tajam ia mendesak lawannya. Setiap kali ia menyerangnya dengan tiba-tiba, sehingga lawannya hampir tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir. Dengan demikian maka semakin banyak pula unsur-unsur gerak yang dapat dikenalnya.

 

Ketika orang itu sudah menjadi semakin terdesak, maka memang tidak ada cara lain yang dapat dilakukan kecuali mempertahankan dengan kemampuan yang ada padanya.

 

Dengan demikian, maka yang terjadi kemudian adalah benturan dua macam ilmu yang dahsyat. Ilmu yang jarang ada duanya di muka bumi. Sehingga perkelahian yang berlangsung kemudian hampir tidak dapat diikuti dengan penglihatan mata wadag saja.

 

Kiai Gringsing yang kemudian menyerang dengan dahsyatnya mencoba untuk mengenal ilmu lawannya yang menjadi mapan. Ia mencoba memperhatikan setiap benturan kekuatan dan setiap unsur-unsur gerak yang menentukan. Tetapi karena ia harus mempertahankan dirinya oleh tekanan yang tidak kalah dahsyatnya pula, maka untuk mengenal ilmu lawannya diperlukannya waktu pula.

 

Namun tiba-tiba saja Kiai Gringsing itu terkejut. Ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Tetapi ia tidak boleh terlambat. Jika ia terseret oleh arus yang terasa kurang wajar itu barang sekejap, maka yang akan terjadi adalah sangat merugikannya. Itulah sebabnya, maka Kiai Gringsing pun segera mengenakan ilmu penglihatan mata hatinya. Ia tidak saja mempergunakan mata wadagnya, tetapi ketajaman penglihatan yang lain, yang dapat menembus batas penglihatan lahiriah.

 

Itulah sebabnya, ketika ia melihat lawannya tiba-tiba saja menyerangnya sekaligus dari dua jurusan, ia meloncat surut. Ia masih mendapat kesempatan sekejap untuk menilai keadaan dengan saksama.

 

Dalam waktu yang sekejap itulah ia mengetahui, di manakah lawannya yang sebenarnya itu berada. Dengan demikian, maka Kiai Gringsing pun segera bersikap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ia pun menyadari bahwa lawannya tidak akan dapat bertindak lebih cepat dari pengenalannya, karena untuk melepaskan ilmu seperti itu, lawannya pun memerlukan waktu.

 

Sejenak Kiai Gringsing berdiri dengan kesiagaan sepenuhnya. Ia menghadapi lawannya yang tiba-tiba saja menjadi dua orang. Tetapi dengan ketajaman pandangan mata hatinya, Kiai Gringsing dapat mengetahui, yang manakah lawannya yang sebenarnya, itulah sebabnya, maka ia berhasil menghadapi lawannya ke arah yang tepat.

 

Sejenak mereka yang bertempur itu berdiri termangu-mangu. Seakan-akan mereka justru dengan sengaja beristirahat barang sejenak.

 

Ternyata bahwa sikap Kiai Gringsing membuat lawannya seakan-akan menjadi ragu-ragu. Seakan-akan lawannya itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak diduganya. Tetapi sebenarnya bahwa Kiai Gringsing memiliki kemampuan untuk menilai keadaannya dengan tepat.

 

Namun Kiai Gringsing tidak kehilangan kewaspadaan. Meskipun dengan ilmu yang sedang dihadapinya itu, ia mulai menemukan arah pengenalannya terhadap lawannya.

 

“Ki Sanak,” tiba-tiba saja lawannya yang masih dalam keadaan siaga sepenuhnya itu berkata, “apakah kau dapat membedakan dua bentuk yang serupa ini?”

 

Kiai Gringsing merenung sejenak. Kemudian katanya, “Kau memang luar biasa. Kau dapat merubah dirimu menjadi dua. Tetapi kau tidak akan dapat melakukan sesuatu, bersama-sama. Satu di antara kau berdua adalah bentuk semu yang hanya dapat menyentuh penglihatan batin yang dipengaruhi oleh ilmumu. Tetapi bentuk itu tidak akan dapat berbuat apa-apa atasku. Karena itu, dua, tiga atau lebih dari bentuk-bentuk serupa itu tidak akan menggoncangkan perlawananku atasmu.”

 

Lawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi kau benar-benar memiliki ilmu penglihatan yang dapat mengatasi kebohongan dari bentuk-bentuk semu serupa ini.”

 

Kiai Gringsing tertawa pendek. Bahkan kemudian ia melihat salah seorang bentuk dari kedua lawannya itu menjadi kabur dan hilang sama sekali.

 

“Kenapa kau hapus bayangan itu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Tidak ada gunanya,” jawab orang itu, namun kemudian. “Tetapi kenapa kau tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi Panembahan Agung? Jika saat itu tidak ada seseorang yang menyebut dirinya Jaka Raras, apakah yang akan terjadi atasmu dan seluruh pasukan Mataram dan Menoreh?”

 

“Jasanya cukup besar bagi Mataram dan Menoreh.”

 

“Dan kau sama sekali tidak berbuat apa-apa, padahal kau mempunyai ilmu penglihatan yang melampaui ketajaman penglihatan aji Sapta Pandulu.”

 

Kiai Gringsing masih tertawa. Katanya, “Aku sudah mengatakan kepada murid-muridku, bahwa aku mempunyai kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk semu. Untuk melihat yang manakah yang benar dan yang manakah yang sebenarnya hanya bentuk semu. Sebenarnya ilmu itu sekedar perisai yang menghindarkan aku dari pengaruh ilmu semacam ilmumu itu.”

 

“Apa pun namanya, tetapi kau mampu menyelamatkan dirimu.”

 

“Ya, tetapi sekedar diriku sendiri.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Meskipun demikian, jika terpaksa sekali aku dapat mempengaruhi orang lain dengan tingkah laku. Jika aku menunjukkan bahwa yang mereka lihat itu sekedar bentuk semu, maka mereka pun akan berbuat sesuatu tanpa menghiraukan bentuk-bentuk yang dilihatnya. Misalnya ular naga yang besarnya justru tidak masuk akal. Jurang yang tiba-tiba saja menganga.”

 

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing benar-benar orang yang pilih tanding. Semula aku menyangka, bahwa dengan ilmu kebohongan itu aku dapat menundukkan orang yang dikagumi oleh penghuni Alas Mentaok yang sekarang sudah dibuka menjadi sebuah negeri yang ramai.”

 

“Kau salah. Tidak ada orang yang mengagumi aku di mana pun juga.”

 

“Kau memang seorang yang aneh. Tetapi aku tahu bahwa seluruh Mataram dan Menoreh mempercakapkan kau. Meskipun ada yang mengira bahwa orang yang disebut bernama Jaka Raras itulah yang telah menolong pasukan Mataram dan Menoreh, tetapi ternyata bahwa secara pribadi, Jaka Raras tidak akan dapat berbuat apa-apa di hadapan Kiai Gringsing.

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa, “Tentu tidak. Orang yang bernama Jaka Raras itu dapat menyelamatkan pasukan Mataram.”

 

“Aku tidak dapat mengatakan demikian. Siapakah sebenarnya yang membebaskan pasukan Mataram dari reruntuhan tebing di mulut lembah itu meskipun ada unsur kebetulan pula. Sedangkan tanpa Jaka Raras, Kiai Gringsing mampu mengatasi bentuk-bentuk semu yang betapa pun dahsyatnya.”

 

“Tetapi aku tidak dapat membuat lawan menjadi bingung dengan bentuk-bentuk semu pula seperti yang telah dilakukan oleh Jaka Raras.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Nah, sekarang sebut namamu yang sebenarnya.”

 

“Tetapi aku masih akan bertanya, Kiai, kenapa saat itu Kiai hampir tidak berbuat apa-apa atas bentuk-bentuk semu itu?”

 

“Ah, aku sudah berbuat banyak. Aku sudah memberitahukan kepada muridku bahwa mereka harus mengikuti aku. Meskipun sebelum aku memastikannya, aku masih ragu-ragu apakah aku dapat mengatasi bentuk-bentuk serupa itu.”

 

“Tetapi Kiai mempunyai kemampuan yang melampaui dugaanku. Kiai dapat menangkap keadaan yang Kiai hadapi hanya dalam sekejap saja.

 

“Baiklah,” Kiai Gringsing pun kemudian melepaskan segala ketegangan, “apakah maksud kedatangan Ki Sanak yang sebenarnya. Aku tahu bahwa Ki Sanak tidak bermaksud jahat. Ki Sanak tentu hanya sekedar ingin bergurau. Tetapi bahwa Ki Sanak memilih tempat ini, aku benar-benar tidak mengerti.”

 

“Aku akan membunuhmu,” tiba-tiba orang itu membentak, “tetapi agaknya aku tidak akan berhasil. Ternyata selain ilmu kebohongan itu, secara kanuragan aku tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari Kiai. Demikian juga Panembahan Agung.”

 

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ia masih berdiri termangu-mangu. Tetapi ia masih tetap yakin bahwa orang yang memancingnya itu sebenarnya memang tidak bermaksud jahat, meskipun ia harus mengerahkan tenaga untuk mengatasi perkelahian yang telah terjadi beberapa saat itu.

 

Namun dalam pada itu Kiai Gringsing pun berdesah di dalam hati, “Agaknya orang ini dengan sengaja ingin memancing unsur-unsur gerak untuk dapat dikenalnya.”

 

Tetapi ternyata bahwa Kiai Gringsing pun telah berhasil mengenal orang itu pula.

 

Sejenak kemudian, setelah mereka termangu-mangu beberapa saat, maka orang itu pun berkata pula, “Nah, Kiai. Apakah kira-kira aku dapat memenangkan perkelahian ini jika diteruskan?”

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi aku sudah lelah. Jika kau mau, biarlah besok saja kita lanjutkan. Mungkin aku dapat minta agar Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar menjadi saksi.”

 

Lawannya termenung sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa. “Kiai. Baiklah. Agaknya aku tidak usah berpura-pura lagi, karena aku yakin bahwa permainanku telah gagal.”

 

“Tidak. Ki Sanak telah berhasil.”

 

Orang itu masih tertawa. Kemudian diusapnya wajahnya hingga jambangnya pun terlepas. Demikian juga penyamaran yang lain telah direnggutnya sama sekali.

 

Kiai Gringsing sama sekali tidak terkejut lagi melihat wajah itu. Bahkan kemudian ia tertawa pula sambil berkata, “Ah sudah pasti, bahwa aku berhadapan dengan Jaka Raras.”

 

Ki Waskita yang juga bernama Jaka Raras itu menarik nafas dalam-dalam.

 

“Mula-mula aku benar-benar bingung menghadapi Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi akhirnya aku menyadari, siapakah sebenarnya lawan yang tidak dapat aku kalahkan ini.”

 

“Tentu bukan begitu, Kiai,” sahut Ki Waskita. “Ternyata bahwa Kiai memiliki kelebihan yang hampir tidak dapat terbayangkan sebelumnya.”

 

“Ah, tentu tidak. Aku tidak mempunyai ikat pinggang yang mampu melawan anak panah Panembahan Agung.”

 

“Cambuk Kiai tidak kalah dahsyatnya, Panembahan Alit yang memiliki ilmu kebal dapat Kiai kalahkan. Menurut penilaianku, Panembahan Alit justru lebih berbahaya dari Panembahan Agung bagi Kiai karena secara pribadi Kiai dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu semunya.”

 

“Ya. Hanya untuk diriku sendiri,” sahut Kiai Gringsing, “seperti yang pernah aku katakan kepada Raden Sutawijaya bahwa aku dapat menguasai indera wadagku dan menghapuskan bayangan semu. Tetapi tidak lebih dari diriku sendiri. Aku tidak dapat mempergunakan ilmuku untuk mempengaruhi orang lain.”

 

“Dan itu agaknya telah membuat Kiai menjadi sempurna.”

 

“Adakah orang yang sempurna di muka bumi ini?” bertanya Kiai Gringsing tiba-tiba.

 

“Tentu tidak, Kiai,” jawab Ki Waskita, “tetapi Kiai adalah orang yang tidak ada duanya.”

 

“Seperti juga Ki Waskita. Ki Waskita mempunyai kelebihan tersendiri. Dan itulah ujud kita masing-masing. Kita masing-masing mempunyai kelebihan dari orang lain, tetapi juga kekurangan-kekurangan. Sehingga karena itu, maka tidak seorang pun yang berhak menyebut dirinya orang yang paling mumpuni di dunia ini. Mungkin seseorang memiliki kelebihan yang tidak terjangkau di bidang ilmu kanuragan, tetapi orang lain yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan ilmu kekasaran semacam ini memiliki kelebihan yang tidak dapat kita jangkau pula. Misalnya keluhuran budi dan pengabdian beralaskan kasih yang tulus.”

 

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kiai benar. Dan Kiai mempunyai banyak kelebihan daripada aku yang masih terlampau dipengaruhi oleh persoalan lahiriah. Karena itulah maka Kiai tidak tertarik kepada ilmu semu seperti yang pernah aku pelajari dengan tekun, justru karena Kiai terlampau jujur. Sifat kesatria yang ada di dalam diri Kiai agaknya telah menahan untuk tidak berbuat licik seperti yang pernah aku lakukan. Sebagai seorang kesatria, Kiai menghadapi lawan dengan dada tengadah tanpa kebohongan dan kepura-puraan.”

 

“Ah. Tentu bukan begitu. Dan Ki Waskita pun telah berbuat tidak seperti itu dengan ilmu yang mengerikan itu.”

 

Ki Waskita tersenyum. Lalu katanya, “Dan ternyata tidak sia-sialah perjalananku sampai ke tempat ini. Ketika aku mencari Kiai ke padukuhan induk di Menoreh, ternyata Kiai telah berada di Mataram, sehingga aku pun kemudian menyusul Kiai kemari.”

 

“Begitu penting?”

 

“Penting sekali. Setelah aku sedikit demi sedikit dapat memperkenalkan isteriku dengan sifat-sifat anakku yang telah berkembang itu, maka aku telah minta diri kepada mereka untuk mencari Kiai. Tentu saja aku tidak pernah mengatakan bahwa cara inilah yang telah aku pilih untuk menemukan Kiai. Bukan saja Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir, tetapi aku mulai melihat ciri-ciri dari perguruan yang pernah aku kenal sebelumnya.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Banyak orang aneh di dunia ini.”

 

“Kenapa Kiai?”

 

“Aku tidak mengerti, kenapa begitu banyak orang yang bersusah payah mencari keterangan tentang diriku. Sebenarnya bahwa aku adalah aku ini. Tetapi Ki Argapati di Menoreh, Ki Juru Martani, Ki Gede Pemanahan, bahkan Ki Sumangkar yang sudah sekian lamanya hilir-mudik bersamaku, masih juga belum mengenal aku. Dan sekarang datang giliran Ki Waskita.”

 

Ki Waskita tersenyum. Kemudian terdengar ia tertawa tertahan-tahan. Dalam keremangan malam nampak Ki Waskita, mengusap wajahnya yang berkeringat.

 

“Itu suatu pertanda bahwa Kiai memang menyimpan rahasia. Jika tidak, maka kita semuanya tidak akan bersusah payah mencari keterangan tentang Kiai,” berkata Ki Waskita kemudian.

 

“Itulah anehnya,” sahut Kiai Gringsing, “seandainya ada rahasia apa pun padaku, maka apakah aku ini orang yang demikian penting sehingga Ki Waskita dan bahkan Ki Juru Martani merasa perlu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak aku mengerti.”

 

Kini Ki Waskita tertawa lebih keras. Katanya, “Mungkin kami memang ingin mengetahui apa yang Kiai tidak mengetahui. Tetapi apakah Kiai secara kebetulan saja sampai ke tempat ini?”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu ia pun tertawa pula. Katanya, “Ki Waskita tentu akan bertanya, kenapa aku mengenal isyarat yang Ki Waskita perdengarkan. Bukankah begitu? Tentu Ki Waskita akan menghubungkan aku dengan perguruan yang memiliki isyarat khusus itu.”

 

Keduanya tertawa berkepanjangan. Memang tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan di antara keduanya, seakan-akan keduanya saling dapat melihat isi hati masing-masing.

 

Meskipun demikian Ki Waskita pun kemudian berkata, “Demikianlah, Kiai. Aku harus heran, bahwa Kiai mengenal pertanda khusus dari perguruan itu.”

 

“Jadi Ki Waskita murid dari suatu perguruan yang memiliki isyarat khusus itu untuk saling mengenal?”

 

“Kiai tentu tahu bahwa aku bukan murid dari perguruan itu. Tetapi Kiai tentu akan bertanya, kenapa aku mengenal pertanda itu?”

 

“Ya. Kenapa Ki Waskita mengenal pertanda itu?”

 

“Aku mempelajarinya dari seorang sahabat.”

 

“Jadi, agaknya tidak semua orang yang mengenal pertanda itu adalah murid dari perguruan yang memilikinya. Bukankah begitu? Dan aku pun tidak mengenal perguruan itu sama sekali. Yang membawa aku kemari adalah tanggapan naluriah. Aku mendengar sesuatu yang asing bagiku, sehingga aku menjadi curiga. Itulah sebabnya maka aku pun segera mencarinya. Mungkin isyarat itu datang dari pihak yang tidak senang melihat Mataram berkembang. Ternyata aku keliru. Isyarat itu datang dari Ki Waskita.”

 

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “di Mataram ada orang-orang yang memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri seperti yang Kiai katakan. Ki Gede Pemanahan. Tetapi agaknya Ki Gede baru sakit. Ki Juru Martani yang mempunyai indera yang sangat tajam. Bukan saja indera lahiriahnya, tetapi juga indera batinnya. Ki Sumangkar dan mungkin juga Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi kenapa adbmcadangan.wordpress.com mereka tidak berpendapat seperti Kiai. Kenapa mereka tidak menganggap bahwa mereka telah mendengar suara yang khusus? Padahal tentu sulit bagi kita, untuk menyangka bahwa Ki Juru Martani yang memiliki ketajaman pendengaran melampaui aji Sapta Pangrungu itu tidak mendengarnya.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Mereka tentu mendengarnya. Tetapi mereka bukan orang yang hatinya sekecil menir seperti hatiku. Mereka adalah orang-orang linuwih yang tidak perlu mencemaskan apa pun juga, termasuk suara itu. Bahkan seandainya ada bahaya sekali pun mereka tidak perlu gentar. Tetapi aku tidak. Aku selalu dibayangi oleh kecemasan karena aku tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.”

 

“Ah,” Ki Waskita memotong, “itu adalah ciri Kiai Gringsing selama ini. Merendahkan diri sendiri dan seolah-olah tidak akan pernah dapat menolong diri sendiri. Tetapi Kiai lupa bahwa sifat itu pun dimiliki oleh sahabatku yang memberitahukan isyarat yang aneh dan yang ternyata telah menarik perhatian Kiai.”

 

“O, Ki Waskita benar. Aku pun mendengar tentang isyarat itu dari seseorang yang demikian,” Kiai Gringsing tertawa. Dan Ki Waskita pun tidak dapat menahan tertawanya pula.

 

“Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “sudahlah. Jangan membuat aku bingung. Aku tidak mempunyai persoalan apa pun yang aku sembunyikan. Baik terhadap Ki Waskita maupun terhadap Ki Gede Pemanahan.”

 

“Baiklah, Kiai,” berkata Ki Waskita, “tetapi aku masih ingin mengatakan, bahwa sahabatku adalah seorang murid dari dua perguruan atas ijin kedua gurunya. Gurunya yang seorang adalah seorang yang memiliki sikap dan watak yang mantap dan bersungguh-sungguh. Tetapi gurunya yang lain adakah seorang yang senang bergurau. Keduanya memiliki ilmu yang berbeda, tetapi luluh menjadi satu pada sahabatku itu.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi di dalam gelapnya malam, perubahan wajah yang hanya sekejap itu tidak dapat dilihat oleh Ki Waskita. Dan Ki Waskita pun melanjutkan, “Tetapi ternyata sahabatku itu tidak seorang diri, ia mempunyai saudara seperguruan. Saudara tua. Ia tidak berguru kepada dua orang guru. Tetapi ia sendiri ternyata mampu menyusun ilmu yang melampaui kemampuan gurunya sehingga akhirnya ia mendapat kepercayaan sepenuhnya dari gurunya itu.”

 

“Ah, cerita yang menarik sekali. Agaknya yang tua itu adalah Ki Waskita sendiri. Yang muda adalah Panembahan Agung.”

 

“Tidak. Kiai salah.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Waskita beberapa saat lamanya. Lalu tiba-tiba saja ia tertawa sambil berkata, “Jika demikian agaknya terbalik, Ki Waskita-lah yang muda, Panembahan Agung adalah yang tua.”

 

“Kiai sudah mengetahui bahwa yang Kiai katakan itu bukan yang seharusnya,” sahut Ki Waskita. Lalu, “Karena itu Kiai, kenapa kita tidak berbicara dengan hati terbuka? Apakah demikian dalamnya perasaan kecewa menusuk hati Kiai, sehingga sampai saat ini Kiai masih tetap mengesampingkan diri sendiri.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Kemudian sambil tertawa kecil ia berkata, “Ki Waskita seolah-olah tahu pasti sesuatu tentang diriku. Tetapi sebenarnyalah aku menjadi bingung. Jika Ki Waskita mengetahui seseorang yang dikecewakan oleh keadaan, apakah tidak sebaiknya Ki Waskita langsung menyebut namanya. Barangkali aku dapat mengatakan serba sedikit tentang orang itu, sehingga Ki Waskita tidak selalu salah sangka.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam sekali. Katanya, “Mungkin, memang belum datang waktunya. Tetapi pengenalanku atas Kiai dengan bunyi isyarat itu menjadi semakin dekat.”

 

“Lupakan, Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “sekarang marilah kita datang kepada Ki Juru Martani dan Ki Gede Pemanahan. Aku tidak dapat mengatakan apakah yang akan terjadi atas Ki Gede Pemanahan. Tetapi sakitnya rasa-rasanya menjadi semakin parah. Tentu ia akan senang sekali bertemu dengan Ki Waskita karena ia mengetahui apa yang telah terjadi dalam perjuangan melawan Panembahan Agung.”

 

“Ah, bukan maksudku untuk menampakkan diri dengan penuh kebanggaan atas hasil kerja yang tidak seberapa itu.”

 

“Tentu bukan. Tetapi apakah Ki Waskita tidak ingin sekedar memperkenalkan diri dengan ayahanda Raden Sutawijaya?”

 

Ki Waskita termangu-mangu sejenak.

 

“Tentu tidak ada salahnya, Ki Waskita.”

 

Ki Waskita masih merenung. Namun kemudian ia berharap bahwa jika ia dapat bertemu dengan Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Martani, maka ia akan dapat berbicara serba sedikit dengan keduanya. Juga dengan Ki Sumangkar. Kiai Gringsing sendiri mengatakan bahwa mereka pun seolah-olah selalu dibayangi oleh teka-teki tentang Kiai Gringsing.

 

Karena itu, maka Ki Waskita pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Aku akan singgah sebentar.”

 

“Tentu bukan sebentar dalam arti yang sebenarnya. Mungkin sehari atau dua hari.”

 

Ki Waskita tertawa. Katanya, “Ya. Sehari atau dua hari.”

 

“Jika demikian, marilah kita masuk kembali ke dalam regol halaman.”

 

“Apakah Kiai juga keluar lewat regol?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas. Jawabnya seperti kepada diri sendiri, “Aku meloncati dinding. Tetapi tidak ada salahnya kita masuk lewat regol.”

 

“Kita dapat meloncat lagi,” berkata Ki Waskita.

 

“Kehadiran Ki Waskita besok akan menumbuhkan pertanyaan, karena tidak seorang pun yang melihat Ki Waskita masuk.”

 

“Sebaliknya, para penjaga juga akan heran melihat Kiai sudah ada di luar regol, sedang tidak seorang pun yang melihat Kiai keluar.”

 

“Aku keluar lewat regol yang lain dari regol yang aku lalui ketika aku keluar.”

 

Ki Waskita tertawa pendek. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Terserahlah kepada Kiai. Aku hanya akan mengikut saja.”

 

Demikianlah maka keduanya pun kemudian berjalan ke rumah Ki Gede Pemanahan. Seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita, para penjaga regol menjadi heran melihat Kiai Gringsing sudah berada di luar regol.

 

Sambil tertawa Kiai Gringsing berkata, “Aku tadi keluar lewat regol butulan.”

 

“Dan siapakah kawan Kiai itu?” bertanya seorang penjaga.

 

“Ki Waskita. Seorang sahabat yang baik.”

 

Penjaga regol itu mengangguk-angguk. Dipersilahkannya keduanya masuk. Meskipun para penjaga itu dibebani oleh perasaan heran, bahwa keduanya datang di malam hari, tetapi mereka pun tahu bahwa Kiai Gringsing adalah tamu Ki Gede Pemanahan. Bahkan hampir setiap pengawal sudah mendengar bahwa Kiai Gringsing telah banyak berbuat bagi kepentingan Mataram. Karena itu para pengawal itu pun tidak sepantasnya mencurigainya.

 

Kedatangan Ki Waskita digandok telah menumbuhkan berbagai macam tanggapan. Dengan heran Ki Sumangkar dan Ki Demang yang kemudian terbangun melihat bahwa Ki Waskita telah ada di Mataram.

 

Agung Sedayu dan Swandaru yang kemudian terbangun, pula saling berpandangan dan perlahan-lahan Swandaru berbisik, “Kapan orang itu datang?”

 

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Kita hampir bersamaan bangun.”

 

“Besok Ki Gede tentu akan heran melihat kehadiranku,” berkata Ki Waskita.

 

“Aku akan menjelaskan persoalannya,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Ya. Mudah-mudahan Ki Gede Pemanahan mengerti pula bahasa isyarat itu.”

 

Ki Sumangkar yang mendengarkan pembicaraan itu pun bertanya, “Bahasa isyarat yang mana?”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Bahasa isyarat Ki Waskita.”

 

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

 

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian mempersilahkan tamunya untuk beristirahat bersama mereka di gandok itu. Sambil tertawa Kiai Gringsing berkata, “Meskipun bukan aku pemilik rumah ini, tetapi biarlah aku mempersilahkan Ki Waskita.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apakah Ki Waskita akan mandi dahulu?”

 

Ki Waskita pun tertawa. Jawabnya, “Tidak ada artinya. Aku tidak membawa ganti pakaian sama sekali. Seperti kebiasaan para perantau. Jika aku mandi sekarang, akhirnya aku akan memakai pakaian kotor pula.”

 

“Dan Ki Waskita dapat tidur tanpa membersihkan diri?” bertanya Ki Demang.

 

Ki Waskita memandang Ki Demang sejenak. Memang agak berbeda sedikit tata cara hidup Ki Demang yang serba teratur di rumahnya, seperti yang dilakukan oleh Ki Waskita sendiri di rumahnya. Tetapi Ki Waskita pernah menjadi seorang perantau yang dapat tidur di sembarang tempat. Demikian ia berhenti berjalan, maka ia pun segera merebahkan diri di atas rerumputan kering di pinggir jalan.

 

Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Sebentar lagi fajar akan menyingsing Ki Demang. Mungkin aku sudah tidak sempat tidur.”

 

“Tentu masih sempat,” berkata Ki Sumangkar, “aku pun akan tidur lebih dahulu sebelum aku tahu, kenapa tiba-tiba saja Ki Waskita sudah ada di sini.”

 

Ki Waskita tersenyum sambil menjawab, “Kiai Gringsing yang akan memberikan penjelasan tentang segala-galanya.”

 

“Nah, jika demikian, silahkan tidur. Aku akan memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit ini,” berkata Sumangkar.

 

Ketika mereka melihat Sumangkar kemudian melingkar lagi dipembaringan, maka mereka pun tertawa. Ki Waskita kemudian bergumam, “Ki Sumangkar memang memiliki kekhususan. Di medan perang Ki Sumangkar berjaga selama tiga hari tiga malam bahkan lebih tanpa memejamkan mata barang sekejap pun, tetapi di gandok ini Ki Sumangkar merupakan seorang tua yang menjadi sangat manja.”

 

Ki Sumangkar masih dapat tertawa sambil menjawab, “Di peperangan aku mempergunakan aji mata ikan. Di sini aji mata ayam.”

 

Agung Sedayu dan Swandaru yang tidak ikut dalam pembicaraan itu pun ikut tertawa. Bahkan Swandaru pun kemudian berbaring sambil berdesis, “Aku sependapat, aku masih kantuk sekali.”

 

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah kembali berbaring di tempat masing-masing. Ki Waskita pun kemudian ikut berbaring pula di amben yang besar. Dengan pakaian kotor dan kaki kotor yang dijulurkan terayun di bibir pembaringan.

 

Tetapi mereka tidak dapat tidur terlampau lama, karena sejenak kemudian mereka telah mendengar ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu.

 

Swandaru yang kemudian menggeliat sambil duduk di pembaringan bergumam, “Rasa-rasanya aku belum tidur sama sekali. Hari sudah pagi.”

 

Agung Sedayu yang sudah terbangun pula, tetapi masih tetap berbaring menyahut, “Kita harus bangun lebih dahulu dari Raden Sutawijaya. Kita tamu di sini.”

 

“Apakah kita juga akan mengisi jambangan di pakiwan seperti di Menoreh?” bertanya Swandaru.

 

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Seharusnya. Tetapi aku sudah mendengar senggot timba berderu. Tentu di sini ada beberapa orang pelayan. Meskipun Mataram belum menemukan bentuknya yang pasti, tetapi rasa-rasanya kita berada di sebuah kadipaten. Apalagi Raden Sutawijaya adalah putera angkat terkasih dari Kanjeng Sultan di Pajang.”

 

Swandaru mengangguk-angguk. Lalu, “Jadi kita harus berbuat apa?”

 

“Kita keluar dari gandok. Jika Raden Sutawijaya keluar ke pendapa kita Sudah ada di pendapa.”

 

“Di mana Raden Sutawijaya sekarang? Apakah ia tidur di dalam, atau di ujung gandok ini atau bahkan di serambi itu?”

 

Agung Sedayu tidak menyahut. Ia pun kemudian bangkit dan sambil mengusap matanya ia pergi ke pintu.

 

Tetapi ketika pintu itu terbuka, Agung Sedayu terkejut. Ia melihat Raden Sutawijaya duduk di amben di serambi gandok itu seorang diri.

 

Sambil membenahi pakaiannya, Agung Sedayu mendekatinya. Kemudian beberapa langkah di sebelah amben itu ia berhenti sambil bertanya, “Sepagi ini Raden sudah berada di sini?”

 

Raden Sutawijaya memandang Agung Sedayu sejenak. Lalu, “Ketika kau meninggalkan regol masuk ke dalam gandok, aku kembali berada di regol.”

 

“Jadi Raden tidak tidur sama sekali?”

 

Raden Sutawijaya menggeleng. Katanya, “Aku menunggui Ayahanda beberapa saat. Itulah yang akan aku katakan kepada Kiai Gringsing.”

 

“Kenapa dengan ayahanda Raden?”

 

“Tidak apa-apa. Ayah masih selalu tersenyum. Tetapi pernafasannya nampaknya agak lain.”

 

“Kenapa Raden tidak memanggil Kiai.”

 

“Aku tidak ingin mengganggu.”

 

“Guru juga hampir tidak tidur semalam. Barangkali sekarang Guru sudah siap pula untuk menghadap jika Raden memerlukan.”

 

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Tetapi dalam pada itu Kiai Gringsing sudah berada di pintu. Katanya, “Aku memang akan segera menghadap Raden. Maksudku jika sudah terang. Tetapi jika perlu, aku dapat menghadap sekarang.”

 

Raden Sutawijaya memandang Kiai Gringsing sejenak. Nampak wajahnya menjadi sangat murung. Matanya seakan-akan tidak lagi bercahaya seperti biasanya.

 

“Marilah, Raden. Tetapi biarlah aku berkemas sejenak. Dan biarlah aku membawa tamu yang tentu akan menarik sekali bagi Ki Gede Pemanahan,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

 

“Siapa?”

 

“Silahkan Raden menunggu sejenak. Aku akan membawa tamu itu ke pakiwan sebentar, membersihkan diri dan kemudian menghadap.”

 

Sejenak Kiai Gringsing menghilang di balik pintu. Namun sejenak kemudian ia pun muncul lagi bersama seseorang yang disebutnya.

 

“Ki Waskita,” Raden Sutawijaya terlonjak.

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Selamat pagi, Raden. Barangkali aku mengejutkan.”

 

“Menyenangkan sekali. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Kedatangan Ki Waskita akan menggembirakan hati ayahanda. Setiap kali ayahanda mengatakan bahwa ayahanda ingin bertemu dengan orang-orang yang sudah banyak berjasa bagi Mataram. Termasuk Ki Waskita.”

 

“Ah, apakah jasaku yang berarti?”

 

“Tanpa Ki Waskita, Panembahan Agung merupakan hantu bagi Mataram.”

 

“Tidak. Jika Kiai Gringsing masih ada, maka Panembahan Agung bukan orang yang berbahaya. Jika Kiai Gringsing berhasil bertemu seorang dengan seorang, maka semuanya akan dapat diselesaikan.”

 

“Ah,” sahut Kiai Gringsing, “jangan berlebih-lebihan. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Ki Waskita telah melakukannya. Sekarang, marilah kita membersihkan diri sejenak. Kemudian kita akan menghadap.”

 

Demikianlah, mereka yang ada di gandok itu pun segera membersihkan diri dan sesuci. Setelah semua kewajiban lahir dan batin mereka tunaikan dengan baik, maka mereka pun kemudian pergi menghadap Ki Gede Pemanahan di pembaringannya, meskipun matahari masih belum terbit sehingga pagi masih disaput oleh kegelapan dan rerumputan masih dibasahi oleh embun.

 

Kehadiran mereka di bilik Ki Gede Pemanahan benar-benar telah menarik perhatian. Agar bilik itu tidak menjadi penuh sesak, maka Agung Sedayu dan Swandaru harus menunggu di luar.

 

Ki Juru Martani yang sudah ada lebih dahulu di bilik itu pun kemudian mempersilahkan tamu-tamunya mendekat. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung dan masih ada seorang lagi.

 

Karena baik Ki Juru Martani, maupun tatapan mata sayu Ki Gede Pemanahan agaknya melontarkan pertanyaan tentang tamunya yang seorang itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Gede, maafkan bahwa aku telah membawa seorang tamu lagi yang datang malam tadi.”

 

“O,” Ki Gede mengangguk lemah, “siapakah tamu Kiai itu?”

 

“Orang inilah yang menyebut dirinya Ki Waskita dan yang juga bernama Jaka Raras. Ialah orang yang telah ikut bersama Raden Sutawijaya menyerang padukuhan terpencil yang ternyata dihuni oleh orang yang menyebut dirinya bernama Panembahan Agung.”

 

“O,” hampir bersamaan Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Martani berdesis.

 

“Jadi, Ki Sanak-lah yang telah menyelamatkan pengawal dari Mataram itu?” bertanya Ki Gede Pemanahan kemudian.

 

“Ah, bukan begitu, Ki Gede. Aku hanya sekedar membantu, bahkan karena kehadiran Raden Sutawijaya yang membawa pasukan dari Mataram dan para pengawal dari Menoreh, maka anakku telah diselamatkan.”

 

“O,” Ki Gede mengangguk.

 

“Sebenarnyalah bahwa kepergianku ke padukuhan terpencil itu bukan karena aku seorang yang memiliki rasa pengabdian yang tinggi. Tetapi, juga didorong oleh pamrih pribadi, bahwa anakku ternyata telah hilang dan disembunyikan di dalam sarang Panembahan Agung. Ki Sumangkar-lah orang yang sebenarnya telah menyelamatkan anakku.”

 

“Tetapi bagaimana pun juga kehadiran Ki Waskita sangat berarti bagi perjuangan para pengawal dari Mataram,” berkata Ki Juru Martani.

 

“Sebaliknya, tanpa para pengawal dari Mataram dan Menoreh, aku tentu sudah kehilangan satu-satunya anakku. Dengan demikian maka hidupku akan tidak berarti lagi. Isteriku pun akan menjadi sangat sedih. Jika demikian, maka apabila dendam telah menyala di dalam hatiku yang lemah, aku tidak tahu apakah aku dapat bertahan lagi untuk tetap hidup menyelusuri jalan Tuhan. Jika iblis berkuasa di dalam hati, maka aku tentu akan menjadi manusia yang lebih jahat lagi dari Panembahan Agung, karena sebenarnyalah bahwa perjalanan hidupku bukanlah perjalanan hidup yang lurus.”

 

“Tetapi agaknya Tuhan masih memelihara kita semua untuk tetap berada dijalan-Nya,” sahut Ki Juru Martani. “Itulah agaknya maka kita masih harus selalu mengucapkan terima kasih atas kebesaran-Nya.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

 

“Sekarang,” berkata Ki Gede Pemanahan, “adalah kesempatan yang baik sekali bagiku untuk mengucapkan terima kasih kepada semuanya. Semuanya yang telah memungkinkan Mataram dapat berdiri tegak sampai saat ini. Mudah-mudahan semuanya untuk selanjutnya akan tetap bersedia membantu Sutawijaya untuk mengembangkan Mataram.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi wajah Ki Gede Pemanahan. Wajah yang pucat meskipun masih selalu tersenyum.

 

Dalam pada itu Kiai Gringsing sempat memperhatikan wajah Ki Waskita yang diusap oleh cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan. Di luar cahaya pagi mulai meraba dinding. Namun sisa-sisa keburaman malam masih bertebaran di halaman.

 

Kiai Gringsing menahan nafasnya ketika dilihatnya wajah Ki Waskita menegang sejenak. Namun agaknya Ki Waskita itu pun segera berusaha rnenghilangkan kesan itu dari wajahnya.

 

Tetapi yang sekejap itu telah tertangkap oleh Kiai Gringsing. Ia sudah mencemaskan keadaan Ki Gede Pemanahan menurut penilikan ilmu pengobatannya. Sedang agaknya Ki Waskita pun melihat isyarat yang hitam pada kesehatan Ki Gede Pemanahan. Namun demikian Kiai Gringsing masih tetap berdiam diri dan seakan-akan tidak melihat apa pun juga di dalam bilik itu.

 

Bahkan Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Gede. Sebenarnya kedatangan kami sepagi ini adalah karena kami mendengar bahwa Ki Gede memerlukan sesuatu untuk membantu pernafasan Ki Gede yang agak berat.”

 

“O,” Ki Gede masih juga tersenyum, “aku tidak apa-apa. Siapakah yang mengatakan?”

 

“Aku, Ayahanda,” sahut Raden Sutawijaya, “aku melihat pernafasan Ayahanda yang agak lain.”

 

Ki Gede memandang anaknya sejenak. Lalu katanya, “Kau terlalu mencemaskan keadaanku Sutawijaya. Aku tidak apa-apa.”

 

Sutawijaya tidak menjawab.

 

“Dimanakah kedua murid Kiai Gringsing?” berkata Ki Gede.

 

“Di luar, Ayahanda.”

 

“Kenapa mereka tidak kau bawa masuk?”

 

“Ruangan ini terlampau sempit.”

 

Ki Gede masih saja tersenyum. Katanya, “Jika demikian, kawanilah mereka di luar.”

 

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun segera beringsut. Katanya, “Baiklah, Ayah. Aku akan berada di luar.”

 

Sutajwijaya pun kemudian meninggalkan bilik ayahandanya. Di pintu ia masih terhenti sejenak. Namun kemudian ia melanjutkan langkahnya. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang memberatinya. Tetapi Sutawijaya tidak dapat menolak perintah ayahandanya.

 

Di luar, Agung Sedayu dan Swandaru duduk termenung di sebuah amben kayu yang diberi alas sebuah tikar pandan yang tebal. Ketika mereka melihat Raden Sutawijaya menghampirinya, maka hampir berbareng keduanya bertanya, “Bagaimana dengan Ki Gede Pemanahan?”

 

Raden Sutawijaya duduk di sebelah mereka sambil menjawab, “Nampaknya menjadi semakin baik. Aku tidak dapat membedakan keadaan ayah yang sebenarnya. Apakah keadaannya bertambah baik atau sebaliknya.”

 

Agung Sedayu dan Swandaru termangu-mangu sejenak.

 

“Ayahanda masih selalu tersenyum.”

 

“Mudah-mudahan keadaannya berangsur baik. Apakah kata Guru ketika ia masuk ke dalam bilik Ki Gede Pemanahan,” bertanya Agung Sedayu.

 

“Kiai Gringsing tidak mengatakan apa-apa. Kiai Gringsing hanya memperkenalkan ayahanda dengan Ki Waskita. Ia sama sekali tidak menyentuh ayahanda, apalagi memberikan obat apa pun kepadanya.”

 

Kedua murid Kiai Gringsing itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun mengerti, bahwa Ki Gede Pemanahan harus minum obat pada waktu-waktu tertentu.

 

“Tetapi kenapa Raden justru keluar dari bilik itu?”

 

“Ayahanda memerintahkan aku keluar. Mungkin bilik itu terasa terlampau panas, karena ada beberapa orang di dalamnya.”

 

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lebih banyak lagi. Karena itu maka untuk beberapa saat lamanya mereka hanya duduk diam sambil menerawang ke dunia angan-angan masing-masing.

 

Dalam pada itu, Kiai Grinsing yang ada di dalam bilik menjadi cemas melihat perkembangan kesehatan Ki Gede Pemanahan. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan meraba tangannya yang dingin.

 

Namun bukan saja Kiai Gringsing yang menjadi sangat cemas. Sebenarnyalah bahwa Ki Waskita yang sepintas melihat isyarat tentang Ki Gede Pemanahan, nampak bahwa kesehatannya menjadi akan sangat mundur. Bahkan akhirnya nampak di dalam isyarat itu, bahwa saat untuk kembali ke dunia yang baka menjadi semakin dekat bagi Ki Gede Pemanahan.

 

“Apakah memang demikian?” Ki Waskita bertanya kepada diri sendiri.

 

Namun menilik keadaan tubuhnya yang lemah, wajahnya yang pucat dan pernafasannya yang sendat, maka isyarat itu agaknya mendekati kebenarannya.

 

Karena itulah maka Ki Waskita pun menjadi sangat cemas seperti Kiai Gringsing yang melihat keadaan Ki Gede dari segi yang lain, namun dengan kesimpulan yang sama.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani yang memiliki ketajaman penglihatan batin pun seakan-akan telah melihat, bukan saja isyarat, tetapi jelas nampak padanya, bahwa Ki Gede Pemanahan memang sudah sampai saatnya untuk kembali menghadap kepada Tuhannya. Bukan sekedar karena perasaan kecewa bahwa anaknya telah meloncati pagar ayu, bukan pula karena penyesalan, tetapi justru demikianlah yang seharusnya terjadi.

 

Demikianlah maka suasana di dalam bilik itu menjadi hening sepi. Meskipun Ki Demang di Sangkal Putung secara pribadi tidak dapat mengetahui keadaan Ki Gede Pemanahan yang sebenarnya, tetapi karena umurnya yang sudah cukup dibekali oleh berbagai macam pengalaman, maka ia pun dapat merasakan suasana yang agak lain di dalam bilik itu. Meskipun Ki Demang masih juga melihat Ki Gede Pemanahan tersenyum, tetapi senyumnya rasa-rasanya adalah senyum yang lain.

 

“Kiai,” tiba-tiba terdengar Ki Gede Pemanahan berdesis, “apakah menurut penglihatan Kiai, kesehatanku sangat mundur, dan tidak dapat diharapkan untuk sembuh lagi?”

 

“Ah, tentu tidak demikian, Ki Gede,” jawab Kiai Gringsing.

 

“Berkatalah sebenarnya, Kiai. Kiai tidak berhadapan dengan anak-anak yang menangis jika ditunjukkan kelemahan sendiri.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Setapak ia bergeser maju sambil berkata, “Ki Gede. Kita masih harus berusaha. Kita masih dapat memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan kesembuhan. Tuhan Maha Pengasih. Betapa pun juga keadaan kita menurut pengamatan manusiawi, tetapi bahwa kuasa-Nya memang tiada taranya.”

 

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Kiai benar. Kita tidak akan dapat menebak secara pasti, apakah yang dikehendaki dan akan berlaku oleh kuasa-Nya. Tetapi secara manusiawi kita dapat memberikan pertimbangan.”

 

Kiai Gringsing tidak menjawab. Namun kediamannya itu telah memberikan jawaban yang sebenarnya, sehingga Ki Gede Pemanahan berkata sambil tersenyum, “Baiklah, Kiai. Aku mengerti bahwa sudah barang tentu Kiai tidak akan dapat mengatakan berterus terang kepadaku. Tetapi aku sudah menangkap apa yang tersirat di hati Kiai.”

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “tidak seorang pun dapat melihat rahasia yang tersembunyi di balik kuasa dan kasih-Nya.”

 

“Ya, Kiai. Aku mengerti.” Ki Gede termenung sejenak. Lalu tiba-tiba katanya kemudian, “Tetapi kuasa dan kasih-Nya pulalah agaknya yang telah mendekatkan aku kepada-Nya. Agaknya aku telah diperkenankan menghadap dengan sepenuh kesadaran. Aku masih mendapat kesempatan untuk memohon ampun kepada-Nya atas segala kesalahanku. Itu merupakan suatu kebahagiaan yang tiada taranya, karena aku akan memasuki kehidupan yang abadi. Di perbatasan itulah jalan hidup abadiku akan ditentukan. Dan bukankah kesempatan yang terakhir untuk memohon agar aku diperkenankan memilih pintu di perbatasan itu adalah suatu kebahagiaan?”

 

Kiai Gringsing tidak dapat merjawab. Kepalanya tertunduk lesu.

 

“Kakang Juru,” berkata Ki Gede kemudian, “Kakang adalah orang yang mumpuni. Satu-satunya orang yang aku percaya untuk mengasuh Danang Sutawijaya selanjutnya.”

 

Ki Juru memandang Ki Gede Pemanahan dengan wajah sayu. Lalu katanya, “Kita masih dapat memohon, Adi.”

 

Tiba-tiba saja Ki Gede menjawab sambil tersenyum, “Bertanyalah kepada Ki Waskita. Menurut pendengaranku, Ki Waskita dapat melihat apa yang terjadi.”

 

“Tidak. Tidak, Ki Gede. Bukan dapat melihat apa yang terjadi. Sekedar melihat isyarat yang kabur.”

 

“Nah, apakah kata isyarat itu.”

 

“Tentang apa Ki Gede?”

 

“Tentang diriku.”

 

“O,” keringat dingin mengembun di punggung Ki Waskita. Adalah sulit sekali baginya untuk mengatakan, apa yang melintas di dalam penglihatan batinnya. Isyarat yang buram dari ujung jalan yang dilalui oleh Ki Gede Pemanahan.

 

Tetapi Ki Gede berkata selanjutnya, “Kediaman Kiai Gaingsing, keragu-raguan Ki Waskita dan tatapan mata Ki Juru Martani yang suram telah memberikan gambaran kepadaku, apakah yang sebenarnya kalian pikirkan.”

 

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya dengan nada yang dalam, “Adi Pemanahan. Memang kami tidak dapat menyembunyikan perasaan cemas di dalam hati kami. Tetapi apakah itu berarti bahwa kita semua harus menghentikan segala usaha karena kita sudah berputus asa? Tidak. Kita selalu percaya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Jika masih ada kemurahan-Nya, maka kita sudah memohon dengan sepenuh hati. Tetapi, jika kau memang sudah waktunya dipanggil mendekat, kita pun akan mengucapkan terima kasih pula. Adalah jarang orang yang sadar sepenuhnya setelah ia berdiri di ambang pintu perbatasan dan dunia yang fana ini dengan dunia yang tanpa akhir.”

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Senyumnya masih saja nampak jernih. Dan dari senyumnya yang jernih itu terbayang hatinya yang jernih pula Apalagi di saat-saat terakhir.

 

“Baiklah, Kakang,” berkata Ki Gede Pemanahan, “adalah tidak baik untuk mendahului keputusan Yang Maha Agung. Karena itu kita harus berbuat seakan-akan kita masih akan tetap hidup untuk waktu yang lama, tetapi tidak kecewa, menyesal dan apalagi menolak jika keputusan itu jatuh.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang kosong.

 

“Untuk sementara biarlah Danang berada di luar mengawani kedua murid Kiai Gringsing,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

“Ya, Adi,” sahut Ki Juru.

 

“Tetapi masih ada yang aku inginkan di saat terakhir ini,” berkata Ki Gede Pemanahan pula.

 

“Apa itu, Adi?”

 

Ki Gede masih dapat tertawa. Tertawanya masih juga sejernih senyumnya, sambil menatap wajah Kiai Gringsing yang tertunduk.

 

Hampir bersamaan semua orang berpaling memandang Kiai Gringsing. Tetapi hanya sekilas. Mereka yang sudah memiliki kemampuan menanggap keadaan itu, segera mengetahui bahwa sebelum saat terakhir tiba, Ki Gede Pemanahan masih dibebani oleh suatu keinginan untuk mengetahui siapakah sebenarnya Kiai Gringsing itu.

 

Kiai Gringsing pun menyadari persoalan yang sedang dihadapinya. Karena itu, hatinya rasa-rasanya menjadi bergejolak tidak menentu.

 

Di hadapan orang yang sudah tidak memiliki kelanjutan bagi hidup fananya, bukan waktunya lagi untuk menyembunyikan dirinya. Tetapi adalah sulit sekali bagi Kiai Gringsing untuk menyatakan dirinya sendiri. Ia tidak pernah bermimpi untuk pada suatu saat ia harus menyebut nama lain daripada Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon atau nama yang kemudian menyusul, Kiai Gringsing yang mula-mula sekedar untuk bergurau dengan Agung Sedayu. Tetapi yang kemudian justru nama itulah yang dipakainya sehari-hari, meskipun sebelumnya Untara dan orang tuanya menyebutnya Ki Tanu Metir pula.

 

Dalam pada itu, dengan suara yang melemah, Ki Gede Pemanahan berkata, “Nah, terserahlah kepada Kiai Gringsing. Apakah aku masih sempat mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik kain gringsingnmu itu?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang berkeliling. Dilihatnya wajah-wajah yang tiba-tiba saja menjadi bersungguh-sungguh. Wajah Ki Juru Martani, Ki Waskita, Ki Sumangkar, dan Ki Demang di Sangkal Putung. Seolah-olah wajah-wajah itu telah menekannya untuk mengatakan sesuatu kepada Ki Gede yang nampaknya menjadi semakin lemah itu.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru Martani, “memang sulit untuk memenuhi permintaan itu. Tetapi itu adalah permintaan Ki Gede yang sedang sakit.”

 

“Dan barangkali itu adalah permintaanku yang terakhir. Adalah lamban sekali rasanya perjalanan ini jika aku tidak mengenal yang satu ini. Mungkin aku tidak akan selalu dibayangi oleh teka-teki yang aneh ini, jika aku yakin bahwa Kiai sama sekali tidak aku kenal sebelumnya seperti Ki Waskita, meskipun aku pernah mendengar serba sedikit tentang ilmunya. Tetapi rasa-rasanya bagiku, Ki Waskita yang juga bernama Jaka Raras adalah Ki Waskita yang sekarang aku kenal. Tidak ada sesuatu yang terasa sandat di perasaan.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Ki Waskita sudah mendahului, “Aku sudah mengatakan Kiai, bahwa aku adalah Jaka Laras, saudara seperguruan orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu. Dan namaku yang sebenarnya memang Waskita, tidak lebih dan tidak kurang. Aku datang dari daerah tidak dikenal dan aku pun kemudian tinggal di daerah yang tidak dikenal.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu katanya di dalam suasana yang menegang itu, “Ah. Ki Waskita dengan tergesa-gesa menyelamatkan dirinya, seolah-olah aku ingin mendapatkan kawan untuk bersembunyi.”

 

Ki Gede Pemanahan masih dapat tertawa pula. Katanya dengan lemah, “Demikianlah, sehingga teka-teki yang aneh telah memaksa aku untuk bertanya tentang Kiai Gringsing. Seorang dukun yang berada di daerah terpencil di dekat Jati Anom, sahabat Ki Sadewa yang dikenal oleh setiap orang Pajang, kemudian melakukan pengembaraan tiada berbatas waktu. Perhatian Kiai terhadap Pajang, kemudian perkembangan Mataram memang sangat menarik adbmcadangan.wordpress.com. Bukan sekedar kebetulan saja. Bahkan kadang-kadang Kiai telah berbicara tentang masa kebesaran Demak dan saat-saat Pajang berhenti sejak Sultan Hadiwijaya merasa dirinya sudah sampai kepada puncak pencapaiannya. Saat Sultan Hadiwijaya mulai berpaling dari perjuangan yang pernah dilakukan pada masa mudanya.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Gede Pemanahan sejenak. Kemudian beralih kepada Ki Juru Martani.

 

“Kiai mempunyai syarat?” bertanya Ki Juru Martani.

 

Kiai Gringsing menggeleng. Tetapi katanya kemudian, “Sebenarnya aku ingin menganjurkan agar Ki Gede beristirahat sebanyak-banyaknya. Dengan demikian badannya akan menjadi segar dan akan sangat berpengaruh bagi kesehatannya.”

 

“Ya Kiai,” sahut Ki Gede Pemanahan, “aku memang akan beristirahat sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk waktu yang pendek. Bahkan tidak hanya sehari dua hari. Tetapi aku memang sudah mendekati tempat peristirahatanku yang abadi.”

 

“Ah,” desah Kiai Gringsing.

 

“Adakah orang yang dapat lari dari kenyataan itu?” bertanya Ki Gede Pemanahan. “Mungkin sehari ini aku masih akan tetap dapat tersenyum. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam nanti. Aku juga tidak tahu apakah besok aku masih sempat melihat matahari itu terbit dan melemparkan sinarnya menembus lubang-lubang dinding.”

 

“Tentu, Ki Gede.”

 

“Kiai, apakah Kiai merasa bahwa kemampuanmu dengan obat-obat, akan dapat menerobos takdir yang pasti berlangsung.”

 

“Tidak seorang pun yang melihat takdir itu sebelum terjadi. Ki Waskita pun hanya melihat isyarat-isyarat,” sahut Kiat Gringsing. “Namun sebenarnyalah bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika yang terjadi itu harus terjadi, tidak seorang pun dapat merubahnya.”

 

Ki Gede tersenyum. Lalu, “Nah, jika demikian apakah Kiai dapat memberikan bekal sehari ini, agar aku tidak tersendat di perjalanan ini.”

 

Dada Kiai Gringsing tergetar. Ki Gede Pemanahan ternyata memiliki firasat yang tajam tentang dirinya, dan sebagai orang yang mapan, ia sama sekali tidak menjadi gelisah.

 

Tetapi justru orang lainlah yang menjadi gelisah. Orang-orang yang mengerti bahwa Ki Gede Pemanahan akan meninggalkan mereka untuk suatu perjalanan yang sangat panjang tanpa batas.

 

Namun yang paling gelisah dari mereka yang sedang gelisah itu adalah Kiai Gringsing. Selain ia menyadari bahwa Ki Gede Pemanahan benar-benar akan meninggalkan mereka, hari ini atau malam nanti, juga karena ia tidak akan dapat menghindarkan diri lagi dari pertanyaan Ki Gede Pemanahan. Justru karena Ki Gede Pemanahan akan meninggalkan mereka itulah maka Kiai Gringsing tidak sampai hati untuk mengelakkan diri lagi.

 

“Bagaimana Kiai?” justru Ki Gede Pemanahan masih tetap tersenyum.

 

“Ki Gede,” Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, “apakah dasar dan titik tolak yang dapat aku pergunakan untuk membuat suatu cerita yang menarik tentang diriku sendiri?”

 

“Tentu banyak sekali,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sikap dan cara hidup Kiai yang lain dari orang lain. Juga kelebihan Kiai mempergunakan cambuk atau bertanyalah kepada Ki Juru.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru Martani. Sebelum ia bertanya sesuatu Ki Juru-lah yang mendahului, “Sebaiknya Kiai bercerita tentang guratan di pergelangan tangan Kiai.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Barangkali cerita ini sangat menjemukan. Tetapi apa boleh buat. Aku akan menceritakan, kenapa tanganku terdapat sebuah guratan hitam.”

 

“Berceritalah, Kiai,” berkata Ki Gede, “rasa-rasanya aku akan mendengarkannya seperti anak-anak yang mendengar kidung menjelang tidur. Aku pun ingin mendengarkan kidung yang merdu itu sebelum aku tidur nyenyak dan tidak terbangunkan lagi.”

 

“Ah,” desis Kiai Gringsing, “jangan membuat hatiku kuncup. Dengan demikian aku akan kehilangan baris demi baris dari kidungku ini.”

 

“Baiklah. Mulailah.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya setiap wajah sejenak. Rasa-rasanya semua orang menjadi tegang, termasuk Ki Gede Pemanahan sendiri.

 

“Seperti anak-anak muda yang lain pada waktu itu,” Kiai Gringsing mulai dengan ceritanya, “kami senang sekali membuat lukisan pada badan kami. Beberapa orang di antara anak-anak muda ada yang membuat lukisan yang mengerikan di lengannya, di bahunya bahkan di punggungnya. Mereka mencocok tubuh mereka dengan duri ikan yang sudah mereka keringkan dan membuat gambar tengkorak, gambar ular naga, dan gambar-gambar yang lain.”

 

Ki Juru tertawa. Katanya memotong, “Kiai mulai lagi dengan cerita tentang pembuatan gambar itu, bukan makna dari lukisan yang ada di tangan Kiai.”

 

“O,” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, “aku memang akan sampai ke sana. Bahkan aku pun telah membuat lukisan di pergelangan tanganku dengan arti yang khusus.”

 

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Yang khusus itulah yang ingin aku dengar Kiai.”

 

“Baiklah.” Kiai Gringsing bergeser sedikit, “memang bentuk lukisan di tanganku ini adalah khusus sekali. Sehelai cambuk dengan sebuah cakra bergerigi sepuluh di ujungnya.”

 

“Itu yang sangat menarik,” berkata Ki Juru Martani.

 

Yang lain menjadi semakin tegang. Ki Demang Sangkal Putung yang berkesempatan mendengarkan pembicaraan itu menjadi termangu-mangu. Seakan-akan ia mendapat kesempatan untuk mendengarkan sebuah rahasia yang sangat besar.

 

Sekilas terkenang olehnya makhluk yang tidak berhak mendengarkan sebuah rahasia yang maha besar, tanpa disengaja telah ikut mendengarkannya. Cerita itu berkembang seakan-akan benar-benar telah terjadi. Seekor cacing yang ada di dalam segumpal tanah liat yang dipergunakan oleh orang arif menyumbat sebuah lubang kecil dari sebuah perahu adbmcadangan.wordpress.com yang dipergunakan oleh mereka untuk membicarakan sesuatu yang bersifat sangat rahasia. Akhirnya cacing itu justru telah berubah menjadi manusia atas kesaktian sabda salah seorang arif yang ikut di dalam pembicaraan rahasia di lautan itu. Justru menjadi manusia yang sakti pula.

 

“Aku merasa seperti cacing itu,” berkata Ki Demang di Sangkal Putung di dalam hatinya.

 

Tetapi ia tidak berbuat apa pun juga selain duduk di tempatnya. Katanya di dalam hati, “Jika kesempatan itu ada padaku, alangkah baiknya. Aku sempat mengetahui siapakah sebenarnya orang yang selama ini dikenal sebagai seorang dukun dari Dukuh Pakuwon dan bernama Ki Tanu Metir itu.”

 

Dakam pada itu, Kiai Gringsing pun bercerita terus, “Gambar yang ada di pergelangan tanganku ini memang ciri dari suatu perguruan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi tidak semua orang yang melukiskan ciri itu adalah murid dari perguruan itu. Tetapi mereka yang mendapat perlindungan daripadanya, mendapat ciri itu pula. Mereka yang karena kedudukannya atau keadaannya menjadi salah seorang yang mendapat belas kasihan dari perguruan yang besar itu.”

 

“Dan apakah benar Kiai membuat lukisan itu dengan duri ikan?” tiba-tiba Ki Juru bertanya.

 

Kiai Gringsing memandanginya sejenak. Lalu perlahan-lahan ia menggeleng, “Tidak, Ki Juru. Memang tidak.”

 

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyesali keterangan Kiai Gringsing sebelumnya, karena ia tahu Kiai Gringsing sebenarnya tidak bermaksud buruk. Ia hanya sekedar ingin menyembunyikan diri lebih lama lagi. Tetapi agaknya menghadapi Ki Gede Pemanahan yang rasa-rasanya sudah tidak akan mempunyai waktu kelak, Kiai Gringsing tidak sampai hati untuk mengelakkan diri lagi.

 

Karena itulah, maka tidak ada jalan lain bagi Kiai Gringsing untuk memenuhi keinginan Ki Gede Pemanahan.

 

Dalam pada itu, Ki Juru pun bertanya selanjutnya, “Jadi, dengan apa Kiai membuat lukisan di pergelangan tangai Kiai itu?”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Juru sejenak, lalu jawabnya, “Sebenarnya jawabnya tentu sudah ada di dalam hati Ki Juru. Aku yakin Ki Juru sudah mengetahuinya, demikian juga yang lain-lain.”

 

“Sebutlah, Kiai,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

“Baik. Baiklah,” sahut Kiai Gringsing. “Aku membuat lukisan ini dengan bara besi baja.”

 

Hampir bersamaan Ki Juru Martani, Ki Gede Pemanahan, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan mereka mendengar sesuatu yang telah lama menyesak di dalam hati mereka. Jawaban Kiai Gringsing itu telah membenarkan dugaan yang tersimpan di dalam dada masing-masing.

 

Hanya Ki Demang Sangkal Putung sajalah yang agak terkejut mendengar hal itu. Sebagai orang tua ia pun berusaha menempatkan dirinya, sehingga ia masih tetap menahan berbagai macam pertanyaan di dalam dirinya.

 

Kiai Gringsing memandang orang-orang yang ada di sekitarnya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah kalian telah menduga bahwa demikianlah jawabanku?”

 

“Ya,” jawab Ki Waskita, “sejak semula aku menduga, bahwa lukisan yang ada di dalam tubuh Kiai jika ada, tentu, dibuat dari bara besi baja. Besi baja yang merah oleh api dilekatkan pada tubuh Kiai dan akan meninggalkan bekas luka bakar yang sepanjang hidup tidak akan lenyap. Dan lukisan di pergelangan tangan Kiai itu tentu merupakan bentuk tertentu.”

 

“Aku sudah melihatnya,” sahut Ki Juru.

 

“O,” Ki Waskita mengangguk-angguk, “tetapi teruskanlah Kiai. Seandainya Ki Argapati ada di antara kita, ia tentu akan mengangguk-angguk pula bersama kita semuanya.”

 

“Ki Argapati pernah melihat lukisan di pergelangan tanganku.”

 

“Benar begitu?” Ki Waskita heran.

 

“Tentu jawab Kiai atas pertanyaan Ki Argapati itu sama dengan jawaban Kiai kepadaku pada saat aku melihat lukisan di pergelangan itu,” sahut Ki juru Martani.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Kepalanya terangguk kecil sambil menjawab, “Ya, begitulah. Aku mengatakan bahwa aku telah membuat lukisan itu tanpa maksud apa-apa.”

 

Ki Sumangkar yang masih saja mengangguk-angguk menyahut, “Tetapi tentu tersimpan dugaan pada Ki Argapati seperti apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi Ki Argapati tidak akan memaksa agar Kiai Gringsing mengatakan sesuatu tentang dirinya, apabila hal itu tidak dikehendakinya.”

 

“Demikianlah agaknya. Pada saat itu Ki Argapati juga sedang terluka parah. Pada saat aku mengobatinya, maka aku kurang memperhatikan pergelangan tanganku, sehingga tiba-tiba saja ia menangkap tanganku dan bertanya tentang lukisan itu.”

 

Ki Juru yang juga mengangguk-angguk berkata, “Nah, jika demikian maka aku berhadapan dengan murid dari perguruan Windujati.”

 

“Ada beberapa orang murid dari perguruan itu,” sahut Ki Waskita, “meskipun aku tidak akan dapat membedakan yang satu dengan yang lain, tetapi apakah Kiai bersedia menyebut serba sedikit, barangkali dapat membuka hati kami untuk menyebut nama Kiai yang sebenarnya? Bukan sekedar Kiai Gringsing, Ki Tanu Metir, dan nama yang mana lagi.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kini berkata sebenarnya. Bukan hanya murid-murid dari perguruan Windujati sajalah yang boleh memakai tanda seperti ini. Tetapi mereka yang sudah dianggap keluarga paling dekat dari perguruan Windujati, diberi pula tanda serupa. Tentu saja mereka yang bersedia, dan menganggap dirinya satu dengan keluarga Windujati.”

 

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi perguruan Windujati adalah perguruan yang dibatasi dengan ketat dari lingkungan perguruan yang lain.”

 

“Tetapi itu bukan berarti bahwa Empu Windujati tidak mempunyai sahabat-sahabat terdekat.”

 

“Apakah Kiai masih akan mengatakan bahwa Kiai bukan murid dari perguruan Windujati, tetapi sekedar orang yang dianggap keluarga terdekat?”

 

“Ya. Dan itu adalah yang sebenarnya. Aku adalah orang yang berada di dalam lingkungan perguruan Empu Windujati.”

 

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “bukankah aku sudah mengatakan, bahwa seorang murid dari perguruan Windujati mempunyai guru yang lain dari Empu Windujati sendiri, tetapi justru atas persetujuan Empu Windujati. Ilmu dari murid itu merupakan ilmu yang dahsyat sekali, karena ilmu kedua gurunya telah luluh di dalam dirinya.”

 

Kiai Gringsing menelan ludahnya.

 

“Alangkah dahsyatnya,” desis Ki Juru Martani, “aku tidak berani menyebutnya demikian. Tetapi Ki Waskita telah menebaknya. Dan jika benar demikian, maka yang tampak selama ini adalah bukan seluruh kemampuan yang ada di dalam dirinya. Kedahsyatan yang tersembunyi tentu merupakan ilmu yang tiada bandingnya.”

 

BUKU 82

 

KIAI GRINGSING tidak segera menjawab. Tetapi terasa sebuah getaran yang aneh telah mengguncangkan dinding jantungnya.

 

Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, “Tetapi semuanya itu masih harus dijelaskan. Dan agaknya Kiai Gringsing akan dapat menjelaskannya.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun justru bertanya, “Ki Waskita, apakah aku harus mulai dengan Empu Windujati sebelum sampai kepada murid-muridnya?”

 

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu suatu cerita yang menarik. Banyak orang yang telah menceritakan suatu perguruan yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Empu Windujati. Tetapi tidak banyak orang yang dapat bercerita tentang orang itu yang sebenarnya. Sekarang agaknya Kiai Gringsing akan mulai dengan cerita tentang Empu Windujati sebagai orang yang langsung mengenalnya.”

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “sebenarnyalah bahwa aku tidak mengenal Empu Windujati dengan baik.”

 

“Ah,” desis Ki Juru Martani, “Kiai seperti seorang gadis yang sedang dilamar seorang anak muda.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum. Katanya, “Aku menyadari, bahwa karena selama ini aku sering mengatakan yang tidak sebenarnya tentang diriku, maka setiap ceritaku tentu akan dicurigai kebenarannya.”

 

Ki Gede Pemanahan yang pucat pun masih tertawa pula meskipun terasa suara tertawanya bagaikan melayang di udara.

 

“Kiai benar,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

“Nah, baiklah aku mencoba berkata sebenarnya tentang diriku, tentang perguruan Windujati dan tentang orang yang bernama Windujati itu sendiri.”

 

“Baiklah, Kiai, silahkan. Kami tidak akan terlampau banyak memotong,” sahut Ki Waskita.

 

“Kecuali jika perlu,” desis Ki Sumangkar sambil tersenyum.

 

Kiai Gringsing pun tersenyum pula. Lalu katanya, “Aku akan mencoba mengingat apakah yang telah terjadi sebenarnya. Meskipun saat itu aku masih terlampau kecil untuk dapat mengenal orang yang sebenarnya bernama Empu Windujati itu.”

 

“He,” orang-orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.

 

“Kiai masih terlampau kecil untuk mengenal Empu Windujati?” bertanya Ki Juru Martani.

 

“Ya. Aku memang dibawa menghadap. Aku belum genap lima belas tahun waktu itu.”

 

“Dan berapa usia Empu Windujati saat itu? Dua puluh?” bertanya Ki Waskita.

 

“Ah tentu tidak,” sahut Ki Juru Martani, “jika Kiai Gringsing kemudian berguru kepadanya, maka pada saat itu umur Empu Windujati tentu sudah lebih dari tiga puluh tahun.”

 

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia memandang Kiai Gringsing seakan-akan mendesaknya untuk segera menjawab pertanyaannya.

 

“Ki Juru,” berkata Kiat Gringsing, “usia Empu Windujati saat itu adalah kira-kira tujuh puluh tahun.”

 

“Tujuh puluh tahun?” semua orang mengulang.

 

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “tujuh puluh tahun. Pada saat itu Demak masih belum berdiri tegak. Sisa-sisa pemerintahan Majapahit masih terasa. Sepeninggal Raden Patah, maka Adipati Unus harus bertempur melawan Prabu Udara yang telah merebut kekuasaan Majapahit dari kekuasaan lain yang juga mendapat kekuasaan atas Majapahit setelah mengalahkan Brawijaya ke lima.”

 

“Ya,” Ki Juru mengangguk-angguk, “Prabu Brawijaya harus mengakui keunggulan Kediri. Tetapi pemimpin-pemimpin Kediri sendiri pada waktu itu agaknya tidak bersesuaian pendapat sehingga Prabu Udara tampil ke atas tahta Majapahit. Namun akhirnya Majapahit dapat dikuasai oleh keturunan Majapahit yang berkedudukan di Demak.”

 

“Begitulah kira-kira,” berkata Kiai Gringsing, “saat itulah aku bertemu untuk pertama kali dengan seorang tua berjanggut putih dan berambut putih bernama Empu Windujati.”

 

“Aneh,” desis Sumangkar, “menurut dugaanku, Empu Windujati belum setua itu. Jika demikian, siapakah sebenarnya Empu Windujati yang kita kenal pada saat permulaan Pajang berkuasa? Apakah juga Empu Windujati yang sudah menjadi semakin tua itu?”

 

“Tentu tidak mungkin. Empu Windujati saat itu masih menjelajahi daerah Utara dari ujung sampai ke ujung. Bahkan bukan saja daerah Utara, tetapi kadang-kadang orang-orang menjumpainya pula di daerah Pajang. Di kota Pajang itu sendiri,” berkata Ki Waskita.

 

“Kita sekarang memang sudah cukup tua,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi masih terlampau muda untuk mengetahui siapakah Empu Windujati yang sebenarnya. Tetapi dalam suatu kesempatan aku dapat melihat ciri perguruan Windujati itu pada sebuah rontal. Dan rontal itu ternyata ditulis menurut nama yang tercantum di dalam rontal yang terbentuk surat itu oleh seseorang bernama Wirawardana. Seorang putera dari Majapahit yang kecewa melihat perebutan kekuasaan yang selalu terjadi. Kemudian mengasingkan diri dan menyebut dirinya dengan nama yang lain.”

 

“Apakah Empu Windujati itu juga Pangeran Wirawardana itu?” bertanya Ki Juru Martani.

 

Kiai Gringsing merenung sejenak. Tetapi kali ini nampak bahwa wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, maka orang-orang yang ada di sekitarnya menganggapnya bahwa Kiai Gringsmg memang tidak sedang bergurau seperti biasanya.

 

Sesaat kemudian Kiai Gringsing itu pun berkata, “Memang sulit untuk mengatakan siapakah sebenarnya Empu Windujati. Tetapi demikianlah agaknya. Surat itu ditulis oleh Empu Windujati bagi murid-murid yang pada suatu saat akan ditinggalkannya.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ki Waskita yang tertarik sekali kepada cerita itu bergeser mendekat sambil bertanya, “Jadi ketika Kiai berguru kepada Empu Windujati, Empu itu sudah berusia tujuh puluh tahun?”

 

“Aku bukan murid perguruan Windujati seutuhnya,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Aku menjadi bingung,” desis Ki Sumangkar.

 

“Empu Windujati sudah terlampau tua untuk langsung memberikan tuntunan olah kanuragan. Memang dalam kesempatan-kesempatan tertentu Empu Windujati turun sendiri ke sanggar. Melatih murid-muridnya yang hanya ada dua orang. Tetapi aku adalah seorang penonton waktu itu.”

 

Ki Gede Pemanahan yang berbaring dengan lemahnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Teruskan cerita itu, Kiai. Aku kira Kiai memang bukan murid langsung Empu Windujati. Tetapi Kiai adalah murid dari perguruan itu.”

 

“Ketika aku menjadi semakin besar, Empu Windujati pun menjadi semakin tua. Tetapi kedua muridnya itu pun menjadi semakin sempurna.”

 

Namun dalam pada itu Ki Sumangkar memotong, “Aku tetap tidak dapat mengerti bahwa saat mulainya kekuasaan Demak, Empu Windujati sudah berusia tujuh puluh tahun. Rasa-rasanya tidak sesuai dengan nalar.”

 

“Ki Sumangkar, waktu itu aku hanya mengira-ira. Tetapi mungkin usianya justru lebih tua. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, tentu dalam usia yang tua itu nampaknya ujud jasmaniahnya masih lebih muda dari usia yang sebenarnya.”

 

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

 

“Bagaimana dengan kedua murid itu, Kiai?” bertanya Ki Gede Pemanahan perlahan-lahan.

 

“Pada saatnya keduanya pun kemudian berpencar. Keduanya membawa pesan guru mereka untuk melakukan pengabdian kepada sesama. Dan keduanya pun telah melakukannya.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi keduanya adalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan lahiriah dan tingkah laku.”

 

“Tetapi kapankah cerita ini sampai kepada cerita tentang Kiai Gringsing atau yang juga disebut Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan bercerita panjang. Apakah cerita ini menjemukan?”

 

“Tetapi jangan sampai malam nanti Kiai,” desis Ki Gede Pemanahan, “aku ingin mendengar akhir dari cerita tentang Kiai Gringsing dan tentang perguruan Windujati. Jika cerita Kiai berkepanjangan, aku cemas bahwa aku tidak akan dapat mendengar akhir dari cerita itu.”

 

“Ah, jangan begitu, Ki Gede.”

 

“Aku bukan mendahului kehendak Yang Maha Kuasa. Tetapi rasa-rasanya, Yang Maha Kuasa sudah memberitahukannya kepadaku.”

 

Kiai Gringsing memandang wajah yang pucat itu. Lalu katanya, “Baiklah, Ki Gede, barangkali aku dapat mengatakannya bahwa cerita ini akan aku persingkat.”

 

“Kiai,” berkata Ki Gede Pemanahan, “aku tidak berkeberatan mendengarkan seluruh cerita tentang Empu Windujati yang memang sangat menarik justru karena orang yang bernama Empu Windujati dan yang kemudian menurut dugaan Kiai adalah Pangeran dari Majapahit terakhir yang bernama Wirawardana itu. Tetapi bagiku, yang lebih menarik adalah cerita tentang Kiai sendiri. Ternyata cerita yang sudah Kiai ungkapkan itu belum nampak hubungan langsung dengan Kiai Gringsing sendiri.”

 

Kiai Gringsing memandang wajah yang pucat itu. Sambil menarik nafas ia berkata, “Baiklah, Ki Gede. Tetapi …” kata-kata Kiai Gringsing terputus.

 

“Kiai masih berkeberatan?”

 

“Tidak. Tidak, Ki Gede. Aku sudah bertekad untuk menyatakan diri di hadapan Ki Gede sekarang ini. Tetapi aku minta dengan sangat, bahwa tidak seorang pun dari antara kita sekarang ini yang mengatakan kepada siapa pun juga tentang diriku, tentang asal-usulku dan tentang perguruanku.”

 

“Aku tidak akan sempat mengatakan kepada siapa pun juga, Kiai,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Jika nanti Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan pemimpin-pemimpin Mataram yang lain mendekatiku pada saat-saat yang gawat, aku tidak akan mengatakannya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian hampir di luar sadarnya ia berpaling kepada Ki Demang Sangkal Putung.

 

“Aku menyadari Kiai,” berkata Ki Demang, sebelum Kiai Gringsing mengucapkan pesan, “murid Kiai adalah anakku. Tetapi aku pun tidak akan menyampaikannya kepadanya. Bukankah saat ini Swandaru belum waktunya untuk mengetahui? Apalagi aku sendiri tidak begitu banyak mengerti tentang cerita yang sudah Kiai katakan itu.”

 

“Terima kasih,” desis Kiai Gringsing, “jika demikian, baiklah aku menyebut diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku bercerita lebih banyak tentang perguruan Windujati.”

 

Semua orang yang ada diruangan itu menjadi tegang. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Mereka ingin lekas mengetahui hubungan apakah yang ada di antara Kiai Gringsing yang membuat lukisan di tangannya dengan memahatkan ciri khusus dari perguruan Windujati, dengan perguruan itu sendiri.

 

“Ki Gede,” suara Kiai Gringsing merendah, “sebenarnyalah bahwa ada hubungan langsung antara aku dan Empu Windujati. Bukan hubungan antara guru dan murid, tetapi hubungan keluarga dalam garis lurus.”

 

Semua orang menjadi semakin tegang.

 

“Aku adalah cucu Empu Windujati.”

 

“O,” Ki Gede Pemanahan menahan nafas sejenak. Kemudian terasa nafasnya yang panjang mengalir lewat lubang hidungnya. Rasa-rasanya nafasnya yang sesak tiba-tiba menjadi lancar dan mengalir dengan wajar.

 

Pengakuan itu benar-benar telah menggetarkan setiap hati. Ki Juru Martani, yang duduk sambil menyilangkan tangan di dadanya, seakan-akan diam mematung. Sedang Ki Waskita mengangguk-angguk perlahan.

 

“Meskipun ada dugaan yang mendekati pengakuan itu,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi kami tentu tidak mengira bahwa Kiai adalah keturunan langsung dari Empu Windujati yang tentu tidak lagi diragukan bahwa Empu Windujati adalah Pangeran Wirawardana. Dan itulah agaknya Kiai berada dalam peranan yang hidup pada saat-saat Pajang masih diganggu oleh sisa-sisa pasukan Arya Penangsang.”

 

Kiai Gringsing sendiri kemudian menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berniat sebelumnya, untuk mengatakan kepada siapa pun tentang dirinya. Tetapi di saat Ki Gede Pemanahan menghadapi saat akhir, ia tidak sampai hati menolaknya. Meskipun dengan demikian beberapa orang mendengar pengakuannya, tetapi yang beberapa orang itu dapat dipercayanya untuk tidak menambah jumlah orang-orang yang akan dapat mengenal dirinya.

 

“Itulah kenyataan tentang diriku,” berkata Kiai Gringsing, “karena itulah maka aku dapat mempergunakan ciri khusus dari perguruan Windujati.”

 

“Ternyata Kiai lebih dari seorang murid dari perguruan Windujati. Sebagai seorang cucu dari Empu Windujati, maka Kiai tentu mewarisi kedahsyatan segala macam ilmunya. Ilmu yang sekarang hampir tidak lagi dapat dikenal.”

 

“Itulah agaknya yang pernah aku lihat. Meskipun orang yang menyebut dirinya bernama Panembahan Alit itu mempunyai ilmu yang sangat dahsyat, ilmu kebal, tetapi ia tidak mampu menahan ilmu perguruan Windujati yang dilontarkan bukan saja oleh murid-muridnya, tetapi oleh cucu Empu Windujati itu sendiri,” desis Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

 

“Dan itulah agaknya maka ilmuku dan ilmu Panembahan Agung yang dibanggakan itu sama sekali tidak berhasil mengelabuinya.” Ki Waskita melanjutkan seolah-olah berbicara kepada diri sendiri, “Bagi Kiai Gringsing, maka ilmu semacam itu agaknya tidak ada artinya sama sekali.”

 

“Sudahlah. Tidak ada bedanya antara Kiai Gringsing yang kalian kenal dengan Kiai Gringsing yang sekarang.”

 

“Kiai,” berkata Ki Gede Pemanahan, “apakah pilihan atas jalan kehidupan Kiai terpengaruh oleh jalan hidup Empu Windujati yang mengasingkan diri dari lingkungannya? Apakah persoalan yang sebenarnya telah menyingkirkan Empu Windujati sehingga menghilang dari pergaulan para bangsawan?”

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “Empu Windujati yang sangat kecewa melihat pertentangan demi pertentangan yang telah terjadi itu, telah menjauhkannya dari pemerintahan. Ia lari selagi umurnya belum sampai pada masa remajanya dari Istana Majapahit, saat istana itu diduduki oleh kekuatan yang datang dari Kediri. Kemudian dari pengasingannya ia melihat perebutan kekuasaan yang terjadi atas Majapahit itu oleh Prabu Udara. Kecuali kekuatan itu, Demak telah bangkit pula dan yang akhirnya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit meskipun kemudian dipindahkannya ke Demak. Tetapi itu belum merupakan suatu kenyataan dari sebuah perdamaian.”

 

“Dan kekecewaan itu telah diwariskan pula kepada Kiai Gringsing sehingga Kiai pun tidak lagi bangkit seorang cucu dari Pangeran Wirawardana. Jika Kiai bersedia menyebut diri cucunda Pangeran Wirawardana, maka Sultan di Pajang akan menerima kehadiran Kiai di istana dengan senang hati. Seperti yang Kiai lihat sekarang. Pajang tidak ada lagi sesepuh yang dapat diandalkan di antara banyak persoalan. Apalagi yang memang sebenarnya hak disebut sesepuh,” berkata Ki Juru Martani.

 

“Tidak, Ki Juru. Di Pajang sekarang ada seorang sesepuh yang karena kebijaksanaannya memungkinkan Pajang masih tetap tenang. Bukankah saat ini Ki Juru Martani diakui baik oleh Pajang maupun oleh Mataram sebagai satu-satunya orang yang bijaksana? Kanjeng Sultan di Pajang lebih banyak mendengarkan pendapat Ki Juru daripada patih, atau para adipati yang lain.”

 

“Tetapi aku tidak lebih dari seorang padesan. Seorang yang datang dari Padukuhan Sada. Dan setiap orang Sada mengenal aku sejak kanak-kanak, bahwa aku memang anak dari Sada. Tidak seperti kehadiran Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir di Dukuh Pakuwon.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dan dalam pada itu Ki Gede Pemanahan bertanya, “Nah, seterusnya apakah Kiai masih sempat menceritakan perkembangan perguruan Windujati kepada kami?”

 

Kiai Gringsing memandang wajah Ki Gede yang pucat. Kemudian katanya, “Cerita itu mungkin akan menjemukan. Tetapi jika dikehendaki, maka aku tidak akan berkeberatan untuk menceritakannya menurut ingatanku.”

 

“Ceritakanlah, Kiai. Mungkin dapat sekedar melupakan kegelisahanku di saat terakhir.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Menurut ingatanku, Empu Windujati memang masih sempat melihat Pajang tegak sepeninggal Arya Penangsang. Empu Windujati juga melihat tahta yang tidak terisi beberapa saat lamanya sepeninggal Sultan Trenggana. Dalam pada itu putera-putera dan menantu-menantu Demak saling bertengkar untuk memperebutkan tahta. Selain mereka, adalah kemenakannya, Arya Penangsang. Bahkan agaknya Arya Penangsang-lah yang dengan tanpa pengekangan diri telah melakukan banyak pembunuhan di antara keluarga sendiri, sehingga akhirnya ia sendiri terbunuh oleh Raden Sutawijaya yang waktu itu masih terlampau muda, dengan petunjuk Ki Juru Martani.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Empu Windujati telah terlampau tua. Bahkan beberapa saat kemudian Empu Windujati meninggal setelah usianya melampaui satu abad.”

 

“Melampaui satu abad,” desis Ki Juru Martani.

 

“Ya. Dan di saat terakhir Empu Windujati masih selalu berjalan-jalan mengelilingi padepokan. Pada hari yang terakhir, Empu Windujati membawa aku melihat-lihat kebun padepokannya. Masih seperti di hari-hari yang lampau. Namun agaknya Empu Windujati tidak akan pernah melihat kebun itu lagi. Ketika kami berhenti di ujung jalan setapak di kebun itu, Empu Windujati nampak menjadi pucat. Katanya, “Bawalah aku ke dalam sanggar.”

 

Aku membantunya berjalan ke sanggar. Tetapi Empü Windujati menjadi semakin lemah. Di saat itulah Empu Windujati sampai pada saat terakhir dari hidupnya. Murid-muridnya tidak sempat dipanggilnya. Yang ada saat itu hanyalah aku saja. Tetapi aku adalah cucunya. Karena itu, maka aku pun berhak menerima warisan yang sangat berharga dari padanya. Rontal yang pernah aku lihat sebelumnya itulah yang diberikannya kepadaku. Rontal berisi kidung yang memberikan banyak petunjuk tentang jalan kehidupan ini.”

 

“Dan barangkali ilmu dari perguruan Windujati?”

 

Kiai Gringsing merenung sejenak. Lalu, “Tetapi yang ada hanyalah sekedar isyarat. Watak, sifat perbuatan, dan sikap. Uraian dari bentuk-bentuk yang terlukis di dalam rontal itu harus dicari sendiri.”

 

“Dan Kiai mencarinya sendiri?”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk lemah. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebelumnya Empu Windujati pernah memberikan beberapa unsur gerak yang dapat menghubungkan watak dan sifat dari perbuatan dan sikap yang terdapat pada lukisan dalam rontal itu.”

 

“Kiai sebenarnyalah adalah murid sepenuhnya dari perguruan Windujati, dan apalagi Kiai adalah cucunya.”

 

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Memang aku menyadap ilmu dari perguruan Windujati. Tetapi aku bukan hanya menghisap ilmu dan perguruan itu saja. Di masa aku kecil, sebelum aku pernah menghadap kakekku yang menamakan dirinya Empu Windujati di sebuah pedukuhan terpencil, aku adalah murid dari orang lain. Aku memang pernah menghadap pada umur sebelum lima belas tahun, tetapi aku hanya sekedar datang untuk mengenal kakekku. Setelah itu, aku tetap berguru kepada orang lain. Hanya kemudian, setelah aku meningkat dewasa sepenuhnya, aku sering datang berkunjung kepada kakekku dan dengan sendirinya aku ikut serta mempelajari bagian-bagian dari ilmu perguruan Windujati atas ijin guruku.”

 

“Siapakah guru Kiai sebenarnya?”

 

“Bukan orang lain. Meskipun perkembangannya agak berbeda, tetapi guruku adalah adik seperguruan kakekku sendiri.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai membayangkan jalan kehidupan yang ditempuh oleh seseorang yang menamakan dirinya Empu Windujati. Tetapi cerita Kiai Gringsing masih belum mencakup segi-segi yang mewarnai kehidupan sebenarnya dari Empu Windujati.

 

“Siapakah guru Kiai?” Ki Gede Pemanahan-lah yang mengulang pertanyaan itu.

 

“Sudah aku katakan, adik seperguruan kakekku. Tetapi guruku seperti yang aku katakan memiliki sedikit kelainan di dalam perkembangan ilmunya dengan kakekku. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar. Di masa terakhir Demak, nama itu tidak terdengar lagi.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jiwanya yang dewasa, seperti juga jiwa adiknya, Ki Ageng Pengging, maka keduanya berpisah dengan dada lapang tanpa goresan perasaan sama sekali. Keduanya bersepakat untuk berpisah karena perbedaan yang sulit dipertemukan. Tetapi keduanya menyadari, bahwa perbedaan itu adalah hakekat dari sikap manusia, sehingga karena itu, maka perpisahan itu pun sama sekali tidak menumbuhkan persoalan. Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

 

Ki Juru Martani masih mengangguk-angguk. Sekilas ia melihat wajah Ki Gede Pemanahan yang pucat. Namun kini nampak sesuatu pada sorot matanya, justru karena ia telah tidak lagi dibebani oleh teka-teki tentang orang yang telah banyak memberikan jasa kepada Mataram.

 

“Ternyata orang yang selama ini seolah-olah melindungi Mataram itu adalah salah seorang yang langsung berada di bawah garis keturunan Majapahit,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. Dengan demikian, timbullah kepercayaan pada dirinya, bahwa Mataram akan mampu menegakkan dirinya sendiri. Jika Kiai Gringsing yang dicengkam oleh kekecewaan seperti juga penglihatan kakeknya atas pertentangan yang selalu tumbuh di atas tanah ini, maka sikap Kiai Gringsing atas Mataram tentu bukan sekedar hanya kebetulan saja.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun berkata, “Kiai, pada jamannya, orang yang bernama Kebo Kanigara itu adalah orang yang memiliki kelebihan dalam olah kanuragan. Ia memiliki ilmu gurunya dengan lengkap. Bahkan pengembaraannya telah membuatnya semakin masak. Sultan Pajang adalah salah seorang yang mengenalnya dengan baik.”

 

“Kebo Kanigara adalah pamannya,” desis Kiai Gringsing.

 

“Ya. Ia adalah pamannya. Tetapi meskipun jarak mereka dilihat dari waktu, tempat dan kepercayaan, antara Kebo Kanigara dan Sultan Pajang yang juga pernah menjelajahi pulau ini selagi ia masih seorang anak muda yang disebut Jaka Tingkir adalah jauh, namun keduanya seakan-akan tidak pernah merasa dibatasi oleh apa pun juga.”

 

“Ternyata guru Kiai Gringsing adalah sahabat dari orang yang hampir tidak ada duanya itu,” potong Ki Waskita, “karena itulah agaknya ilmu Kiai Gringsing memiliki unsur ilmu dari perguruan Pengging itu.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

 

“Unsur itu nampak jelas sekali.”

 

“Menurut penglihatan Ki Waskita, karena Ki Waskita kenal dengan baik ilmu dari perguruan Pengging dan sekaligus ilmu perguruan Windujati. Bahkan ciri-ciri isyarat dari perguruan Windujati pun telah dikenalnya pula.”

 

“Agaknya ada hubungannya antara keduanya,” desis Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Ki Waskita mendahului, “Kiai Gringsing telah melihatnya. Aku dipaksa untuk meskipun hanya sedikit, melepaskan unsur-unsur gerak itu. Memang aku mengenal dengan baik salah seorang murid dari perguruan Windujati. Murid Empu Windujati langsung. Dengan demikian, kami tidak dapat menghindari pengaruh timbai balik di antara kami.”

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Dan Ki Waskita pun tertawa, “Ya. Agaknya memang bukan begitu.”

 

Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar pun tertawa pula. Bahkan Ki Gede Pemanahan masih juga sempat tersenyum, sementara Ki Demang Sangkal Pulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun merasakan sesuatu yang agak janggal dari cerita Ki Waskita.

 

“Aku salah,” desis Ki Waskita, “maksudku, agaknya Kiai Gringsing pun telah mengenal saluran ilmuku. Bukan ilmu yang dapat melepaskan bentuk-bentuk semu yang ternyata tidak ada artinya sama sekali bagi Kiai Gringsing, tetapi ilmu kanuraganku.”

 

“Nah,” desis Ki Juru, “begitulah agaknya. Jika aku sempat melihat tata gerak yang tersembunyi itu, barangkali aku juga dapat menyebutnya.”

 

“Ah, tidak banyak artinya. Perguruanku adalah perguruan kecil yang tidak berarti.”

 

“Tetapi sempat melahirkan orang-orang seperti Ki Waskita dan Panembahan Agung.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

 

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Nah, barangkali tidak ada lagi yang harus aku ceritakan. Itulah kenyataan yang selama ini aku sembunyikan. Sebenarnya aku benar-benar ingin memisahkan diri dari kesibukan pemerintahan yang mana pun juga. Mungkin aku terpengaruh oleh sikap Empu Windujati yang kecewa. Hanya kadang-kadang didorong oleh perasaan yang tersimpan di lubuk hati yang paling dalam, maka tanpa disadari aku sudah terlibat pula. Seperti pada saat-saat pasukan Tohpati berada di Sangkal Putung. Saat Mataram mulai tumbuh dan saat-saat yang lain. Aku memang selalu menghindari Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Martani, dan pemimpin-pemimpin adbmcadangan.wordpress.com Pajang yang lain, yang apabila dapat melihat pergelanganku, akan timbul banyak persoalan tentang diriku. Tetapi ternyata selain pemimpin-pemimpin di Pajang, Ki Argapati pun pernah mempersoalkannya.”

 

“Hampir setiap orang mengenal Empu Windujati,” berkata Ki Gede Pemanahan, lalu, “tetapi kemanakah murid-murid perguruan Windujati itu?”

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “mereka telah berpisah dengan tugas di pundak masing-masing. Untuk mengatakan di mana mereka sekarang, maka aku kira aku harus menyusun suatu cerita tersendiri. Panjang dan barangkali tidak menarik karena tidak ada hubungan langsung dengan persoalan yang kini kita hadapi.”

 

“Dan guru Kiai yang bersahabat dengan Ki Kebo Kanigara itu?”

 

Kiai Gringsing termenung sejenak. Sebenarnya ia masih ingin menghindari cerita yang berkepanjangan. Tetapi rasa-rasanya orang-orang yang ada di dalam bilik itu selalu mendesaknya.

 

“Aku sudah terlanjur mengucapkan nama-nama Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Pengging Sepuh,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “nama-nama yang tidak terpisahkan dari nama Sultan di Pajang yang kini masih bertakhta.”

 

Setelah termenung sejenak, maka Kiai Gringsing itu pun berkata, “Guruku pun pernah memutari pegunungan Merapi dan Merbabu, kemudian menyusur pantai Utara sampai ke daerah Timur. Kemudian menyeberang ke sebuah pulau yang manis, pulau Bali. Ke daerah Barat guruku pernah menjelajahi tempat demi tempat dan sempat tinggal di rumah Respati yang juga disebut Menak Ujung.”

 

Yang mendengar cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mendengar kelanjutannya, “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

 

“Dan Kiai terpisah dari Kakek Kiai, Empu Windujati yang juga bernama Pangeran Wirawardana?”

 

“Aku memang sering terpisah dari Kakek. Tetapi kadang-kadang aku berada di padepokannya. Atas ijin guruku, aku belajar juga kepada kakek. Justru kemampuanku mempergunakan cambuk aku dapatkan dari Empu Windujati.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Tetapi ada sesuatu yang tidak nampak oleh mata wadag, tetapi nampak oleh mata hati. Ilmu yang tidak kasat mata itu dapat Kiai salurkan lewat kemampuan Kiai mempergunakan cambuk.”

 

Kiai Gringsing termenung sejenak, lalu, “Ya. Ilmu itu aku dapatkan dari guruku.”

 

“Apakah ada persamaannya dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin tanah perdikan yang disegani di daerah Utara Gunung Merbabu?”

 

“Siapa?”

 

“Ki Gede Banyubiru yang sekarang?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Gede Banyubiru memiliki saluran ilmu yang serupa dengan ilmu Ki Kebo Kanigara. Jika ada persamaan dari ilmunya dengan ilmu yang pernah Ki Waskita lihat padaku, itu bukan hal yang mustahil. Tetapi tentu tidak sama sepenuhnya. Terutama di dalam sifat dan ungkapannya.”

 

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mengakui kekuasaan Pajang sepenuhnya. Ilmunya benar-benar mengagumkan.”

 

Kiai Gringsing termenung sejenak. Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil, “Memang ada persamaannya. Aku menyadap ilmu itu sepenuhnya. Tetapi kemudian luluh menjadi satu dengan ilmu yang diberikan oleh Guru. Apalagi Guru dan Ki Kebo Kanigara sudah saling bersetuju untuk saling menyadap unsur-unsur gerak dari ilmu masing-masing. Tetapi jiwanya masih tetap berbeda meskipun tidak begitu jauh.”

 

Ki Gede Pemanahan yang berbaring di pembaringaninya itu tiba-tiba berdesis, “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pernah bertemu dengan Ki Gede di Banyu Biru. Ia lebih muda sedikit dari aku. Hanya sedikit di bawah Kanjeng Sultan Pajang.”

 

“Apa yang dikatakannya tentang Pajang?”

 

“Ia merasa dirinya bagian dari Pajang. Tetapi ada juga sepercik kekecewaan, justru karena Pajang seakan-akan telah berhenti.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pada masa itu, banyak perguruan bertebaran. Tetapi kadang-kadang ada yang hanya mengenal namanya saja, tetapi tidak pernah bersentuhan di dalam satu persoalan. Atau masing-masing mengenal ciri perguruan yang lain dengan baik. Tetapi mereka tidak saling mengganggu.”

 

“Pada saat keris Kiai Nagasasra hilang dari gedung perbendaharaan pusaka di Demak, maka gemparlah seluruh perguruan di seluruh daerah Demak,” desis Ki Waskita.

 

“Ya, juga Kiai Sabuk Inten,” sambung Ki Sumakar.

 

“Apakah Kiai mengetahui persoalan itu?” bertanya Ki Juru Martani.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Kebo Kanigara banyak mengetahui tentang kedua keris itu, karena seorang murid dari perguruan Pengging langsung melibatkan diri dalam pencaharian kedua pusaka itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Dari golongan lain pun bagaikan sarang semut disentuh air. Perguruan yang lebih banyak mementingkan kepentingan lahiriah semata-mata, tanpa diimbangi oleh pertimbangan rohaniah, berebut pula untuk mendapatkan kedua pusaka itu. Tetapi semata-mata karena pamrih pribadi. Sedang murid dari perguruan adbmcadangan.wordpress.com Pengging yang langsung mencari kedua pusaka itu, adalah semata-mata karena pengabdian. Pengabdiannya kepada kesejahteraan Demak, apalagi ia memang seorang perwira Demak yang merasa bertanggung jawab pada saat kedua pusaka itu diketahui hilang dari perbendaharaan pusaka.”

 

Orang-orang yang ada di dalam ruang itu terdiam sejenak. Di luar sadar mereka, maka terbayanglah masa lampau yang pernah menyaput kerajaan Demak, dekat saatnya Pajang berdiri.

 

“Lebih dari tiga puluh tahun yang lampau,” desis Ki Sumangkar.

 

“Tentu lebih,” desis Ki Waskita, “aku masih seorang yang meningkat dewasa waktu itu.”

 

Ki Gede Pemanahan yang berbaring itu pun menarik nafas. Rasa-rasanya dadanya menjadi lapang setelah teka-teki yang satu itu, tentang seorang tua yang banyak berbuat untuk Mataram bahkan Pajang, tetapi tidak pernah memperkenalkan dirinya.

 

Sejenak ruangan itu menjadi hening. Seakan-akan terbayang di dalam angan-angan masing-masing peristiwa yang pernah terjadi di Demak. Hilangnya pusaka yang sangat penting dari gedung pusaka, telah mengguncang seluruh kekuatan yang ada di Demak. Selain petugas-petugas sandi yang disebar ke segala penjuru, juga orang-orang yang didorong oleh nafsu pribadi, ketamakan dan pamrih yang berlebih-lebihan, telah berusaha untuk menemukannya.

 

Pada saat itu, Sultan Pajang masih seorang anak muda yang mempunyai kegemaran menjelajahi sudut-sudut Kerajaan Demak, sehingga akhirnya ia berhasil masuk ke dalam lingkungan istana karena ia memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Dengan demikian, maka anak muda yang bernama Mas Karebet dan yang juga disebut Jaka Tingkir itu berkesempatan untuk menempatkan diri ke dalam suatu kemungkinan, bahwa akhirnya ialah yang memegang pimpinan pemerintahan yang dipindahkannya ke Pajang.

 

Selagi suasana di ruang itu dicengkam oleh kenangan masa lampau, maka di luar Raden Sutawijaya menjadi sangat gelisah. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan hilir-mudik. Tetapi jika ia berdiri di muka pintu, dan mendengar salah seorang yang berada di dalam ruangan itu tertawa pendek, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Tentu tidak terjadi sesuatu dengan ayahandanya.

 

“Mungkin Kiai Gringsing dapat mengobatinya,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hati.

 

Agung Sedayu dan Swandaru pun duduk dengan gelisah pula. Tetapi keduanya tidak berbuat apa-apa.

 

“Aku mendengar Paman Juru Martani tertawa,” berkata Raden Sutawijaya kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

 

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya.

 

“Mungkin keadaan Ki Gede sudah menjadi baik,” desis Agung Sedayu.

 

“Apakah Raden akan mencoba masuk pula ke dalam bilik itu?” bertanya Swandaru.

 

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Tetapi Agung Sedayu berkata, “Jika keadaan memerlukan maka Raden tentu akan dipanggilnya.”

 

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, aku akan menunggu saja.”

 

Raden Sutawijaya pun kemudian duduk pula dengan jantung yang berdebar-debar.

 

Sementara itu matahari mulai memanjat langit. Para penjaga di regol sudah meninggalkan tempatnya, diganti oleh kelompok yang baru.

 

Akhirnya anak-anak muda itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi duduk dalam ketegangan. Karena itu, maka ketika Raden Sutawijaya mengajak mereka turun ke halaman, maka Agung Sedayu segera menyahut, “Marilah. Rasa-rasanya tubuhku menjadi beku duduk dalam ketegangan.”

 

“Kita dapat berjalan-jalan keluar,” desis Swandaru.

 

“Jangan terlampau jauh. Setiap saat aku dapat dipanggil ke dalam bilik itu,” sahut Raden Sutawijaya.

 

Dengan demikian maka ketiganya pun hanya berjalan di halaman saja. Mereka berhenti sejenak di regol. Tetapi mereka pun berjalan lagi ke regol butulan di samping.

 

Dua orang penjaga butulan itu mengangguk hormat, ketika Raden Suawijaya lewat di sebelah mereka.

 

Selagi Raden Sutawijaya berjalan sambil merenungi keadaan ayahandanya, dan merenungi dirinya sendiri yang sudah terlanjur melanggar pagar hubungannya dengan gadis Kalinyamat, sehingga ayahandanya menjadi sangat berprihatin karenanya, maka di dalam bilik Ki Juru Martani berkata, “Agaknya Sutawijaya mempunyai sifat yang sama dengan ayahanda angkatnya.”

 

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya.

 

“Karena itu, aku percaya bahwa Kanjeng Sultan benar-benar tidak marah kepada Sutawijaya karena peristiwa itu.”

 

“Ya, Kakang,” sahut Ki Gede, “seharusnya Kanjeng Sultan menjadi marah dan menghukum aku.”

 

“Berterima kasihlah bahwa Kanjeng Sultan tidak marah. Gadis dari Kalinyamat itu tentu akan melahirkan seorang yang pilih tanding, karena ia keturunan Ki Gede Pemanahan dan keturunan Sunan Prawata. Bukankah dengan demikian tetesan darah Majapahit yang ada di dalam diri puteri Sunan Prawata itu akan luluh dengan tetesan darah dari Kiai Ageng Sela yang mampu menguasai api bahkan petir?”

 

“Ah,” Ki Gede Pemanahan berdesah.

 

“Kita tentu masih ingat, bagaimana Jaka Tingkir itu diusir dari istana Sultan Demak,” berkata Ki Juru Martani pula.

 

“Itu lebih baik,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

“Tetapi itu sikap pura-pura. Kanjeng Sultan Demak tentu tidak sebenarnya ingin menghukum Jaka Tingkir. Kanjeng Sultan Trenggana adalah seorang yang berhati keras. Jika ia benar-benar marah, Mas Karebet itu tentu akan diremas sampai lumat dengan aji Narantaka yang dimilikinya. Bahkan Sultan Trenggana mempunyai seribu macam ilmu.”

 

“Juga Mas Karebet,” desis Ki Sumangkar.

 

“Tetapi waktu itu ilmunya masih belum mapan, meskipun sudah mengagumkan, sehingga Sultan Trenggana tertarik karenanya.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Dan sekarang Raden Sutawijaya berbuat hampir serupa.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Meskipun orang-orang yang berada di dalam bilik itu tidak saling berjanji, namun mereka bersama-sama telah membayangkan apa yang terjadi pada saat Sultan Trenggana berada di halaman Masjid Demak.

 

Seorang anak muda yang sedang berjongkok di pinggir kolam tidak mendapat kesempatan untuk bergeser dari tempatnya. Tetapi Sultan Trenggana sudah begitu dekat. Untuk meninggalkan tempat itu, ia tidak berani berdiri lagi, karena Sultan telah berada di depan hidungnya. Sedangkan untuk tetap berada di tempatnya, ia pun takut kepada para pengawal. Untuk mundur, di belakangnya adalah kolam berair cukup dalam. Karena itu, maka anak muda itu pun kemudian meloncati kolam di belakangnya. Ia meloncat mundur sambil tetap jongkok seakan-akan tidak bergerak sama sekali.

 

Ternyata hal itu sangat menarik perhatian Sultan Demak. Tanpa kekuatan yang tidak kasat mata, tidak seorang pun yang dapat melakukannya. Meloncat mundur sambil berjongkok melampaui sebuah kolam yang cukup lebar.

 

Namun kemudian ketika Mas Karebet itu mendapat kesempatan untuk mengabdi di istana Demak, maka terjadilah hubungan yang tidak diharapkan itu. Hubungan diam-diam dengan puteri Sultan Trenggana.

 

Yang bersalah harus dihukum. Demikian juga Mas Karebet. Namun Sultan Trenggana tahu pasti, bahwa kedua anak muda itu sudah saling mencintai. Karena itu, maka dengan berat hati, Mas Karebet itu diusirnya dari istana, meskipun ia tahu, bahwa hati puterinya pun akan menjadi hancur karenanya.

 

Tetapi kesempatan untuk menerima Karebet kembali pun ternyata terbuka. Ketika Kebo Danu dari Banyubiru mengamuk di daerah perburuan, maka Mas Karebet mendapat kesempatan untuk menjinakkannya. Dan Kebo Danu itu adalah kekuatan yang hampir tidak terlawan dari Banyu Biru.

 

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Ki Demang Sangkal Putung, agaknya Ki Demang pun sedang merenungkan peristiwa yang pernah terjadi pada masa menjelang kekuasaan Pajang.

 

“Dan sekarang,” berkata Ki Juru Martani di dalam hatinya, “Sultan Pajang harus dengan ikhlas menyerahkan gadis Kalinyamat itu kepada Raden Sutawijaya yang dengan diam-diam pula telah mencuri hatinya.”

 

Ki Gede Pemanahan yang terbaring diam itu pun menarik nafas dalam-dalam. Semua yang terjadi itu rasa-rasanya masih jelas di dalam ingatannya. Umurnya yang sebaya dengan Mas Karebet yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya itu, agaknya menganggap peristiwa yang terjadi di istana Demak itu sebagai suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan. Betapa rapatnya pihak istana menutup rahasia tentang puteri Sultan Trenggana, namun akhirnya setiap telinga mendengar pula.

 

Tetapi dalam pada itu setiap mulut mengatakan bahwa Jaka Tingkir telah diusir dari istana karena ia telah membunuh seorang yang mengalami pendadaran, ketika memasuki lingkungan keprajuritan. Anak muda yang bernama Dadungawuk telah mati terbunuh oleh Jaka Tingkir yang menjadi marah mendengar kesombongannya dan kemudian menusuk Dadungawuk itu hanya dengan sadak kinang.

 

Orang-orang yang berada di ruangan itu tiba-tiba berpaling serentak ketika mereka mendengar Ki Sumangkar hampir di luar sadarnya berdesis, “Sebuah kenangan yang manis.”

 

Ki Waskita menggamitnya dan bertanya, “Kenangan tentang Ki Sumangkar agaknya tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Jaka Tingkir.”

 

Ki Sumangkar tersenyum. Jawabnya, “Tidak. Aku mengenang masa muda Sultan Hadiwijaya, dan kemudian Raden Sutawijaya yang mengalami masa-masa yang serupa.”

 

“Tetapi tentu kenangan manis buat Ki Sumangkar sendiri,” potong Ki Juru Martani.

 

Orang-orang tua di dalam bilik itu ternyata sedang tenggelam dalam alam angan-angan. Memang kadang-kadang terasa kerinduan yang mencengkam. Tetapi masa lampau itu sudah berlalu. Tidak seorang pun yang akan dapat mengulanginya. Yang dapat dilakukannya hanyalah mengenang kembali. Mengenang masa muda yang penuh dengan gelora dan gemuruhnya perjuangan untuk merebut masa depan masing-masing.

 

Juga kenangan masa-masa mereka mengagumi nama orang-orang sakti yang pernah mereka kenal. Yang kadang-kadang menumbuhkan bayangan dan angan-angan untuk dapat berbuat seperti itu.

 

Tetapi ketika kemudian mereka sampai pada pencapaian keinginan itu, terasa bahwa kemampuan yang mereka capai itu bukannya sekedar sebagai kebanggaan. Tetapi justru disertai dengan perasaan tanggung jawab terhadap lingkungannya. Dan pada keadaan yang demikian itulah, seseorang akan dapat menilai diri sendiri, apakah ia telah memberikan pengabdian kepada sesama dan tidak terlepas dari kebaktian kepada Penciptanya, atau sekedar dicengkam oleh ketamakan dan nafsu semata-mata.

 

Meskipun pada masa itu, orang-orang tua yang ada di dalam bilik itu masih termasuk anak-anak muda, namun mereka dapat melihat benturan kekuatan yang berlawanan pada saat-saat keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten hilang dari gedung pusaka istana Demak.

 

“Dan kini,” tiba-tiba Ki Juru Martani berdesis, “tentu tidak sedikit orang yang menginginkan memiliki Kangjeng Kiai Pleret, karena Kanjeng Kiai Pleret pun kini merupakan lambang wahyu kerajaan di atas tanah ini.”

 

Tiba-tiba saja Ki Juru menjadi gelisah. Seakan-akan ia ingin segera melihat, apakah Kiai Pleret masih ada di tempatnya.

 

Tetapi Ki Gede Pemanahan sendiri tidak memberikan kesan kegelisahan itu. Ialah yang menyimpan Kiai Pleret di dalam ruang pusaka yang rapat. Dan tempat menyimpan pusaka itu tidak jauh dari tempatnya berbaring sekarang, yang hanya disekat oleh sebuah dinding.

 

Dalam pada itu, tanpa mengerti kegelisahan yang menyentuh hati Ki Juru Martani, maka Ki Gede Pemanahan pun bertanya dengan suara yang lambat dan lamban, “Kiai. Kiai belum mengatakan, siapakah sebenarnya yang dikenal sebagai Empu Windujati pada masa permulaan Pajang. Jika Empu Windujati itu Pangeran Wirawardana seperti yang Kiai katakan, maka pada permulaan kekuasaan Pajang, ia sudah terlampau tua untuk berkelana di seluruh wilayah Pajang. Bahkan belum begitu lama menurut ingatanku, Empu Windujati masih terdengar namanya dan nampak ciri-cirinya. Disaat orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi dari goa Susuhing Angin di daerah sebelah Utera Gunung Merbabu menampakkan dirinya di daerah Pajang, dan mengancam akan menghancurkan Pajang jika Pajang berkeras menentang kekuasaan Arya Penangsang, muncullah ciri-ciri perguruan Windujati itu. Tentu kita masih ingat, dan terutama Ki Sumangkar yang berada di Kepatihan Jipang, seorang pendukung Arya Penangsang yang sangat ditakuti saat itu. Ia datang ke Jipang beberapa hari setelah Arya Penangsang gagal memerintahkan dua orang untuk membunuh Adipati Pajang, meskipun orang itu sudah dibekali dengan keris Brongot Setan Kober yang terkenal. Orang yang menyebut darinya Kiai Pager Wesi itu menyatakan kesanggupannya untuk membinasakan Adipati Pajang meskipun masih harus diuji kebenarannya, karena ia belum pernah melakukannya.”

 

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya sambil mengingat-ingat, “Ya. Orang itu bernama Kiai Pager Wesi. Tetapi orang-orang di kepatihan sendiri, maksudku Kepatihan Jipang, tidak yakin bahwa ia akan mampu melakukannya karena setiap orang mengetahui betapa tinggi dan dahsyatnya ilmu yang tersimpan di dalam diri Adipati Pajang waktu itu, yang kini telah bergelar Sultan Hadiwijaya. Yang paling mungkin melakukan hanyalah Arya Penangsang sendiri, atau Ki Patih Mantahun. Tetapi Ki Patih Mantahun telah terlalu tua. Sedangkan tidak seorang pun yang percaya kepadaku waktu itu. Juga kepada Macan Kepatihan yang masih terlalu muda.”

 

“Dan orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi hadir di dalam pergolakan itu. Namun sebelum ia bertindak, di Jipang telah diketemukan panji-panji kecil berciri perguruan Empu Windujati.”

 

“Ya,” sahut Ki Sumangkar, “bahkan di dalam bilik tempat Kiai Pager Wesi bermalam di istana Adipati Jipang Arya Penangsang, terdapat panji-panji kecil itu. Dan tidak seorang pun yang mengetahui siapakah yang meletakkan panji-panji itu di dalam bilik yang disediakan khusus bagi tamu-tamunya dari goa Susuhing Angin itu. Dan setiap orang di Jipang mengetahui bahwa panji-panji itu merupakan peringatan bagi Kiai Pager Wesi, bahwa jika ia ikut campur di dalam persoalan Jipang dan Pajang, maka perguruan Windujati akan turun pula di medan pertentangan itu.”

 

“Ya. Suatu tantangan bagi Kiai Pager Wesi. Dan agaknya Kiai Pager Wesi masih segan berhadapan dengan Empu Windujati,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Ternyata Kiai Pager Wesi tidak pernah berbuat apa-apa atas Sultan Pajang yang memang sudah siap menghadapinya.”

 

“Terutama Lurah Wiratamtama saat itu di Pajang yang terkenal,” desis Ki Sumangkar, “yang bergelar Ki Gede Pemanahan.”

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Aku sudah gemetar mendengar nama Kiai Pager Wesi.”

 

“Ah, setiap orang tahu, Ki Gede Pemanahan hampir tidak ada bedanya dengan Kanjeng Sultan di Pajang itu sendiri. Apalagi Ki Juru Martani dari Sada. Meskipun Ki Juru tidak dengan resmi menjadi prajurit di Pajang, tetapi pengaruhnya sampai saat ini melampaui pengaruh Ki Patih di Pajang sendiri.”

 

“Ah,” desis Ki Juru, “aku sudah berdiam diri. Tetapi jika kita berbicara tentang Empu Windujati, sebenarnyalah Empu Windujati hadir saat itu. Bukan saja Kiai Pager Wesi yang ingin mencampuri persoalan Pajang dan Jipang, tetapi saat-saat pertentangan itu memuncak dan segenap perhatian tertumpah pada persoalan Pajang dan Jipang, banyak orang yang mempergunakan kesempatan itu. Orang-orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan cukup mulai memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. Perampokan, pembunuhan dan kejahatan-kejahatan yang lain mulai mereda, ketika tersebar panji-panji kecil seperti yang terpahat di pergelangan tangan Kiai Gringsing itu. Dan yang tentu ingin kami ketahui, apakah Empu Windajati yang saat adbmcadangan.wordpress.com itu dengan gigih melawan kejahatan dan bahkan memberikan tantangan atas Kiai Pager Wesi itu juga Empu Windujati yang bergelar Pangeran Wirawardana?”

 

Semua orang memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya, seakan-akan langsung ingin mengetahui apakah yang ada di dalam pusat jantungnya.

 

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah pernah ada orang yang merasa bertemu dengan Empu Windujati saat itu?”

 

“Tidak,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi, nama Windujati saat itu kami kenal.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk lemah. Sekilas ia memandang wajah Ki Gede Pemanahan yang pucat, namun nampak membayang keinginan untuk sebanyak-banyaknya mengetahui masalah-masalah yang baginya merupakan teka-teki selama ini.

 

Kiai Gringsing bergeser sejengkal. Kemudian setelah merenung sejenak, maka ia pun menjawab, “Yang kita kenal dengan nama Empu Windujati pada masa permulaan Pajang itu bukannya Empu Windujati yang juga bergelar Pangeran Wirawardana.”

 

“Jadi siapakah Empu Windujati yang saat itu berani menempatkan diri berhadapan dengan Kiai Pager Wesi yang merasa dirinya mempunyai ilmu yang dahsyat sehingga sanggup melawan Adipati Pajang?” bertanya Ki Juru Martani.

 

Kiai Gringsing merenungi Ki Juru sejenak, lalu ia pun bertanya, “Jadi perlukah aku menerangkan siapakah orang yang saat itu menyebut dirinya Empu Windujati dengan ciri perguruan Windujati?”

 

“Agaknya memang demikian, Kiai,” Ki Waskita memotong. “Rasa-rasanya memang menarik untuk mengetahui serba sedikit tentang orang sakti pada masa-masa lampau.”

 

“Memang menarik,” sahut Kiai Gringsing. “Juga menarik untuk mengenal perguruan Banyu Biru sampai saatnya Ki Gede Banyu Biru menyerahkan kekuasaan Tanah Perdikannya kepada puteranya yang memimpin Tanah Perdikan itu sampai sekarang.”

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tidak ada apa-apa di Banyu Biru.”

 

“Justru putera Ki Gede Banyu Biru itu mendapatkan ilmunya sebagian terbesar bukan dari ayahnya sendiri. Sedang ayahnya ternyata kemudian mempunyai murid-murid tersendiri.”

 

“Anak padesan yang tidak berarti,” potong Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Dan Ki Waskita pun berkata, “Kiai belum menjawab. Siapakah Empu Windujati itu?”

 

“Apakah Ki Waskita dapat menjawab? Bukankah Ki Waskita mengenal isyarat perguruan Windujati? Dengan demikian tentu ada sangkut paut antara perguruan Ki Waskita dan perguruan Windujati.”

 

“Ah,” desah Ki Waskita , “sudahlah, sebaiknya Kiai Gringsing menyebutnya.”

 

“Ki Juru,” berkata kiai Gringsing kemudian, “pada saat yang gawat, kadang-kadang seseorang perlu bertindak tepat. Aku kira, seseorang tahu dengan pasti, bahwa Kiai Pager Wesi mempunyai pertimbangan tersendiri terhadap perguruan Windujati, sehingga orang itu telah mnempergunakan nama perguruan Windujati untuk mencegah niatnya. Karena menurut perhitungan nalar, jika seandainya Kiai Pager Wesi berhasil membunuh Adipati Pajang pada waktu itu, maka yang akan terjadi justru kekeruhan. Tidak akan mungkin Kiai Pager Wesi bersedia membantu Arya Penangsang tanpa pamrih.”

 

“Semata-mata karena dendam,” berkata Ki Sumangkar, “Kiai Pagar Wesi mendendam Adipati Pajang, karena Adipati Pajang di dalam petualangannya di masa mudanya pernah membunuh seorang penghuni Goa Sarang Angin yang disebut Goa Susuhing Angin itu.”

 

“Itu adalah alasan yang dikemukakan dan memang masuk akal,” jawab Kiai Gringsing. “Tetapi setiap orang yang pernah mendengar tentang goa itu, maka mereka tentu akan berpendapat lain.”

 

“Ya,” sahut Ki Waskita, “aku pernah mendengar tentang goa yang disebut Sarang Angin itu. Goa yang berada di bawah bukit karang dan mempunyai lubang lurus ke atas menembus kulit pegunungan. Jika angin kencang bertiup maka lubang-lubang goa itu bagaikan lubang-lubang seruling raksasa yang menimbulkan bunyi yang mendebarkan jantung.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Dan tentulah bersarang sebuah kelompok yang tidak dapat disebut orang-orang baik. Termasuk Kiai Pager Wesi yang sampai sekarang masih tetap berada di tempatnya dan sekitarnya. Tetapi perkembangan di Pajang telah mendesaknya untuk tidak pernah menampakkan dirinya lagi, apalagi Kiai Pager Wesi harus mengakui kemampuan Sultan Pajang dan pimpinan Wira Tamtamanya Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Terhitung pula saudara tua mereka, Ki Juru Martani.”

 

Mereka yang mendengarnya tersenyum karenanya. Ki Demang Sangkal Putung yang selama itu berwajah tegang pun tersenyum pula.

 

“Tetapi masih belum terjawab,” Ki Sumangkar menyela, “siapakah yang pada saat-saat itu melepaskan ciri-ciri khusus perguruan Windujati?”

 

“Sudah aku katakan. Seseorang yang ingin menolong keadaan.”

 

“Tetapi tidak seorang pun yang akan berani berbuat demikian jika memang ia tidak berhak,” potong Ki Juru Martani. “Sedangkan yang berhak atas ciri itu adalah murid-muridnya turun-temurun, atau keturunan langsung dari Empu Windujati.”

 

Kiai Gringsing tidak menyahut.

 

“Ada seorang dukun di Dukuh Pakuwon,” Ki Sumangkar bergumam, “yang ternyata adalah keturunan langsung dari Empu Windujati.”

 

“Ah, kau.”

 

“Coba, Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “selama ini Kiai berdiri di tepi arena. Kiai yang kecewa seperti kekecewaan yang mencengkam hati Empu Windujati atas segala macam pertentangan sampai saat Sultan Pajang bertakhta, tetapi tidak sampai hati melepaskannya sama sekali. Yang nampak, Kiai sekarang berada di tempat ini. Tentu karena Kiai tidak dapat melepaskan sama sekali kebanggaan Kiai sebagai keturunan dalam garis lurus dari Majapahit, bahwa kekuasaan di atas Tanah ini akan menjadi semakin surut. Tetapi Kiai masih tetap pantang untuk terjun langsung di dalam arena yang kacau ini.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak, kemudian tatapan matanya merambat kepada orang lain yang ada di dalam ruangan itu. Yang terakhir Kiai Gringsing memandang Ki Gede Pemanahan yang pucat berbaring di pembaringannya.

 

Sekilas Kiai Gringsing melihat, seolah-olah isyarat baginya bahwa sebenarnya Ki Gede Pemanahan sudah tidak akan dapat bertahan lagi untuk waktu yang panjang. Mungkin sehari mungkin dua hari. Tetapi tidak lebih dari itu.

 

Karena itu, maka ia tidak akan dapat selalu ingkar akan kenyataan tentang dirinya. Apalagi beberapa orang tua-tua yang memiliki pengalaman yang luas berada di ruang itu, dan seakan-akan mereka semuanya memandanginya dengan tajamnya.

 

“Ki Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “aku tahu bahwa Ki Sumangkar telah menganggap akulah yang telah melepaskan ciri-ciri itu untuk menentang Kiai Pager Wesi agar tidak ikut melibatkan diri ke dalam pertentangan itu.”

 

“Demikianlah agaknya,” Ki Waskita-lah yang menyahut.

 

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “tentu waktu itu kita semuanya masih lebih muda dari sekarang. Aku memang tidak akan dapat ingkar bahwa aku terlibat pada saat itu. Aku tidak sampai hati melihat Pajang dan Jipang yang sebenarnya masih bersangkut paut dalam lingkungan keluarga besar itu dapat menumbuhkan persoalan yang akan menjadi sangat gawat bagi kelangsungan hidup Demak. Jika ada orang lain yang ikut campur, dan apalagi terjun ke dalam arena pertentangan itu, maka persoalannya akan dapat bergeser dari persoalannya yang semula.”

 

Semua orang menarik nafas lega. Ternyata dugaan mereka sebagian terbesar sesuai dengan pengakuan Kiai Gringsing itu.

 

“Tetapi apakah dengan demikian bukan berarti bahwa Kiai Gringsing telah berpihak kepada Pajang?” bertanya Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia tahu pasti bahwa saat itu Sumangkar berada di Jipang. Bagamana pun juga, pada waktu itu Ki Sumangkar tentu mengharap Jipang akan menang.

 

“Ki Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “mungkin karena sikapku waktu itu, memang dapat ditarik kesimpulan, bahwa aku berpihak kepada Pajang. Tetapi yang penting bagiku adalah menolak campur tangan pihak lain yang hanya akan mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. Apalagi orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi itu. Selagi ia berada di Jipang dan selagi ia ikut mengobarkan pertentangan antara Jipang dan Pajang, maka anak buahnya akan dengan leluasa bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Masih pula Kiai Pager Wesi akan menuntut banyak hal yang dapat terjadi kemudian karena jasa-jasa yang telah ia berikan kepada Jipang meskipun jasa-jasa itu sebenarnya tidak akan berarti apa-apa. Menurut penilaianku, Kiai Pager Wesi bukannya orang yang pantas ditakuti, karena ia tidak akan lebih baik dari Ki Patih Mantahun, atau adik seperguruannya yang juga memiliki tongkat berkepala tengkorak yang berwarna kuning, yang sekarang berada di antara kita.”

 

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam.

 

“Itulah sebabnya maka aku memberanikan diri untuk mencoba mencegah terlibatnya Kiai Pager Wesi di dalam persoalan Pajang dan Jipang.”

 

Ki Gede Pemanahan yang berbaring itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pada saat itu, kita yang berada di Pajang harus memperhitungkan dengan saksama kehadiran orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi. Dan kita pun harus mengikuti perkembangan keadaan dengan munculnya ciri-ciri khusus perguruan Windujati. Agaknya Kiai Gringsing-lah yang waktu itu telah menempatkan tantangan dengan ciri-ciri itu di hadapan Kiai Pager Wesi.”

 

“Aku tidak berdiri sendiri,” berkata Kiai Gringsing, “jika sesuatu benar-benar terjadi, maka aku berada bersama murid-murid yang sebenarnya dari perguruan Windujati.”

 

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendapat gambaran serba sedikit tentang apa yang pernah terjadi beberapa saat yang lampau atas Pajang dan Jipang. Ternyata baru sekarang hal itu dimengerti meskipun tidak terlalu gamblang.

 

“Nah,” berkata Kiai Gringsing, “tidak ada lagi yang dapat aku katakan tentang diriku, tentang perguruanWindujati dan tentang orang-orang lain yang bersangkut paut. Aku juga tidak dapat menceritakan lebih banyak lagi tentang hubungan antara guruku dengan Kebo Kanigara. Pengaruh ilmu yang dahsyat dari Ki Kebo Kanigara yang nampak pada ilmuku sekarang, dan yang senafas meskipun wataknya agak berbeda dengan ilmu yang tentu kalian kenal pada Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, yang pernah berguru kepada seorang yang memiliki pengabdian yang luar biasa kepada Demak pada saat-saat keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten hilang dari gedung pusaka.”

 

Ki Waskita mengerutkan keningnya.

 

“Tentang perguruan Banyu Biru, bertanyalah kepada Ki Waskita. Ia tidak akan dapat menyembunyikan ilmu dari perguruan itu meskipun juga sedikit ada garis pemisah dari Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, karena pengaruh yang terkuat yang ada di dalam diri mereka juga berlainan.”

 

“Ah,” desis Ki Waskita, “tidak ada apa-apa di Banyu Biru. Dahulu mau pun sekarang selain pegunungan-pegunungan kecil di kaki gunung Merbabu di lereng Utara menghadap pada tanah yang berawa-rawa.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Dipandanginya Ki Waskita sejenak. Namun sebelum ia berkata sesuatu, justru Ki Waskita-lah yang mendahului, “Tanah berawa-rawa itu bukannya sesuatu yang penting, selain sebagai sarang uling. Sebenarnya uling dan pada masa sebelum Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, terdapat sepasang uling yang bertubuh manusia.”

 

“Uling putih dan Uling Kuning maksudmu?” bertanya Ki Juru Martani.

 

“Ya.”

 

“Bukankah mereka terbunuh oleh Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, tetapi yang saat itu masih cukup muda.”

 

Ki Waskita menganggukkan kepalanya. Katanya, “Begitulah. Tetapi bekasnya tidak hilang sama sekali. Orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi di pegunungan Sarang Angin itu pun merupakan jalur perguruan yang sama dengan kedua uling itu.”

 

“Jika demikian,” berkata Kiai Gringsing, “seharusnya Ki Waskita-lah yang paling berkepentingan dengan orang itu.”

 

Ki Waskita tersenyum. Tetapi sebelum Kiai Gringsing berkata lebih lanjut, Ki Waskita mendahului pula, “Tetapi Kiai, barangkali pertanyaanku menjadi terlampau jauh. Jika Kiai bersedia memberikan jawabnya karena aku yakin bahwa Kiai mengetahuinya, apakah hubungannya antara Empu Windujati yang juga bergelar Pangeran Wirawardana dengan seorang yang pada saat yang mungkin hampir bersamaan meskipun pada umur yang terpaut, bergelar Pangeran Buntara dan yang kemudian menamakan dirinya Panembahan Ismaya. Jelasnya, apakah hubungan antara Empu Windujati dengan Panembahan Ismaya dari Karang Tumaritis?”

 

Nampak wajah Kiai Gringsing menegang. Namun kemudian wajah itu telah berubah dalam sekejap, seolah-olah tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dengan nada datar ia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku memang sudah mengenal seseorang yang menyebut dirinya Panembahan Ismaya.”

 

“Hanya sekedar mengenal?”

 

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya.

 

Tetapi Ki Waskita justru tertawa. Bahkan Ki Juru Martani pun mendehem sambil berkata, “Pertanyaan itu wajar sekali.”

 

“Ya. Dan jawabanku pun wajar pula.”

 

Yang mendengar jawaban Kiai Gringsing itu tertawa. Bahkan Ki Gede Pemanahan pun masih tertawa pula sambil berkata, “Kita telah menemukan satu jawaban dari teka-teki yang selama ini tersimpan. Tetapi pada suatu saat kalian tentu akan mendengar jawaban dari teka-teki yang lain, yaitu hubungan antara perguruan Karang Tumaritis dan perguruan Windujati.”

 

“Seharusnya bukan sesuatu yang asing bagi perguruan Sela, Ki Gede.”

 

Ki Gede tersenyum pula. Tetapi sebelum ia menjawab Ki Juru berkata, “Baiklah kita menyimpan teka-teki yang satu ini. Mungkin Kiai Gringsing masih ingin mempunyai simpanan, yang pada suatu saat dapat kita pakai sebagai bahan pembicaraan.”

 

“Tidak. Aku tidak tahu-menahu hubungan yang ada itu.”

 

Ki Gede Pemanahan pun kemudian berkata, “Jangan dikeringkan sampai tuntas. Biarlah tinggal beberapa hal yang tersangkut dalam rahasia pribadi Kiai Gringsing. Tetapi yang penting kita sudah mengetahui, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing. Cucunda Pangeran Wirawardana yang juga disebut Empu Windujati. Namun masih ada satu pertanyaan lagi Kiai. Siapakah nama Kiai yang sebenarnya. Tentu bukan Ki Tanu Metir dan tentu bukan Kiai Gringsing.”

 

“Apa pentingnya nama-nama itu bagi Ki Gede?”

 

“Tidak apa-apa. Tetapi bukankah nama itu merupakan suatu kelengkapan pengenalan kita.”

 

Ketika Kiai Gringsing memandang berkeliling, nampaklah sorot-sorot mata yang tegang memandanginya. Dengan demikian Kiai Gringsing sadar, bahwa mereka benar-benar ingin mengetahui nama Kiai Gringsing yang sebenarnya.

 

“Tidak banyak yang menganggap namaku penting untuk diketahui. Tetapi baiklah, jika memang kalian ingin mendengar.”

 

“Ya,” desis Ki Demang Sangkal Putung tiba-tiba.

 

“Namaku bukannya nama yang baik. Sekedar tanda atau sebutan untuk memanggil aku.”

 

“Sebutlah,” desis Ki Sumangkar.

 

“Namaku sama jeleknya dengan aku sendiri, dan tidak lebih baik dari sebutan Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir.”

 

“Hem,” Ki juru menarik nafas dalam-dalam, “rasa-rasanya kita sedang menggali cengkerik di dalam tanah berpasir. Rasa-rasanya kita sudah hampir mendapatkannya, namun ternyata lubang itu masih terlampau dalam.”

 

Semuanya tertawa. Ki Gede Pemanahan pun masih juga tertawa.

 

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “namaku yang sebenarnya, yang diberikan oleh orang tuaku adalah Pamungkas.”

 

“Pamungkas,” hampir bersamaan terdengar beberapa orang bergumam.

 

“Apakah kalian pernah mendengar nama itu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

Ki Sumangkar menggeleng, “Belum. Nama itu masih asing bagiku.”

 

“Kalian bergumam seperti kalian sudah mengenal nama itu dengan baik,” Kiai Gringsing tersenyum.

 

“Bukan mengenal dengan baik,” sahut Ki Waskita, “tetapi nama itu sendirilah yang sangat baik.”

 

Kiai Gringsing memandang wajah Ki Waskita sejenak. Ketika terpandang olehnya senyum di bibir Ki Waskita, maka mau tidak mau Kiai Gringsing harus tersenyum pula sambil bertanya, “Apakah Ki Waskita tidak percaya?”

 

“Tidak. Bukan tidak percaya, Kiai. Agaknya kali ini Kiai berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi selama ini memang sulit dibedakan antara yang sebenarnya dan yang sekedar cerita seperti cerita tentang nama seorang dukun di dukuh Pakuwon.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya dengan senyum yang masih nampak di bibirnya, “Agaknya memang sulit bagiku untuk berkata dengan sesungguhnya.”

 

“Biarlah kali ini aku percaya. Nama Kiai adalah Pamungkas. Raden Pamungkas, cucu Pangeran Wirawardana. Agaknya Kiai memang anak wuragil. Apakah benar Kiai anak bungsu?”

 

“Kenapa?”’

 

“Pamungkas menyimpan arti mengakhiri.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi Ki Juru menyahut, “Mungkin maksudnya agar Kiai Gringsing tidak lagi disusul oleh seorang adik. Tetapi mungkin pula nama itu mengandung harapan agar Kiai Gringsing dapat memecahkan setiap persoalan yang dihadapi.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Dan agaknya yang kedua itulah yang nampak sekarang. Ternyata Kiai Gringsing dapat memecahkan dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh orang lain.”

 

“Agaknya semuanya adalah harapan baik,” sahut Kiai Gringsing. “Nama adalah tanda, sekaligus harapan yang di berikan oleh orang tua kita. Karena itu pada umumnya nama seseorang dapat saja mempunyai arti yang kadang-kadang terlampau tinggi dibandingkan dengan keadaannya. Tetapi tentu itu bukan suatu kesalahan.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Yang lain pun mengangguk-angguk pula. Agaknya mereka dapat mengerti dan menerima keterangan Kiai Gringsing itu. Meskipun sebelumnya mereka selalu melihat banyak masalah yang tersamar padanya, tetapi agaknya saat itu Kiai Gringsing berkata bersungguh-sungguh.

 

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan yang terbaring dengan wajah pucat itu pun kemudian berkata, “Terima kasih atas segala keterangan Kiai. Aku sekarang mengerti bahwa Kiai memang memiliki alasan yang kuat untuk selalu membayangi setiap daerah yang mulai bangkit. Kekecewaan yang ada pada Kiai sejak Pangeran Wirawardana meninggalkan Majapahit, kadang-kadang mendorong Kiai untuk menemukan harapan-harapan di saat-saat seperti saat lahirnya adbmcadangan.wordpress.com Mataram sekarang, seperti juga saat lahirnya Pajang. Kiai sudah mulai membayangi kekuatan yang saat itu ingin mengganggu perkembangan Pajang ketika Pajang mulai bangkit. Tetapi agaknya Kiai pun menjadi kecewa meskipun Kiai tidak sampai hati melepaskannya sama sekali. Ternyata dengan usaha Kiai membatasi gerak Macan Kepatihan yang saat itu masih di tunggui oleh Ki Sumangkar dengan tongkat baja berkepala tengkoraknya.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Dipandanginya Sumangkar sambil berkata, “Memang menarik sekali untuk berkenalan langsung dengan Ki Sumangkar saat itu. Sebelumnya, aku hanya mengenal namanya dan ilmunya, serta kepercayaan banyak orang bahwa pemegang tongkat berkepala tengkorak itu mempunyai simpanan nyawa rangkap.”

 

Ki Sumangkar pun tertawa katanya, “Jika aku mempunyai dua nyawa, maka yang satu akan aku jual kepada Kiai Gringsing dengan harga yang sangat tinggi.”

 

Yang mendengarnya pun tertawa. Sementara itu Ki Gede Pemanahan masih bertanya, “Tetapi apakah sebenarnya yang membuat Kiai kecewa atas Pajang?”

 

“Ah, tidak apa-apa, Ki Gede. Aku tidak kecewa.”

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kiai memang tidak kecewa. Mudah-mudahan Kiai juga tidak kecewa terhadap Mataram.”

 

Kiai Gringsing memandangi Ki Gede Pemanahan dengan tajamnya. Tetapi sorot matanya mengandung kesungguhan dari sikap batinnya, sekaligus harapan, sehingga Ki Gede Pemanahan berkata di dalam hatinya, “Agaknya Kiai Gringsing sendiri mengharap, agar ia tidak selalu kecewa sepanjang hidupnya. Tergantung kepada Sutawijaya, apakah ia dapat mengemudikan Mataram dengan baik dalam bimbingan Ki Juru Martani.”

 

Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Juru Martani berkata, “Kita sudah terlampau banyak memaksa Kiai Gringsing bercerita. Nah, sekarang apakah ada yang akan Kiai lakukan atas Ki Gede Pemanahan?”

 

Tetapi sebelum Kiai Gringsing menyahut, Ki Gede Pemanahan telah mendahuluinya, “Tidak ada yang akan dilakukannya, Kakang Juru. Yang paling tepat dilakukan adalah ceritanya tentang dirinya.”

 

“Mungkin Kiai Gringsing mempunyai obat yang dapat melancarkan jalan pernafasanmu atau untuk kepentingan lain agar kesehatanmu bertambah baik.”

 

Ki Gede menggeleng, “Bukan aku menolak setiap usaha, karena sebenarnyalah bahwa usaha itu merupakan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Tetapi rasa-rasanya aku sudah mendapat isyarat, bahwa hari-hariku tinggal terlampau pendek. Sehari, mungkin dua. Tetapi sama sekali bukan bermaksud mendahului batas yang digariskan oleh-Nya, namun rasa-rasanya garis itu memang sudah diperlihatkan kepadaku.”

 

Kiai Gringsmg menggeleng lemah. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Seperti juga orang lain, rasa-rasanya isyarat itu benar-benar memang telah nampak.

 

Namun demikian Ki Juru Martani yang bijaksana masih juga berkata, “Adi Pemanahan. Selagi yang nampak itu belum terwujud, sebaiknya Adi jangan menolak suatu usaha. Mungkin pernafasan Adi sekarang dapat menjadi lancar. Mungkin terasa tubuh menjadi segar.”

 

Ki Gede Pemanahan memandang Kiai Gringsing sejenak lalu, “Baiklah, Kiai. Ibarat orang berada di ujung jalan, biarlah badan ini merasa segar dan pikiran menjadi tetap bening.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas. Tetapi ia pun kemudian menyahut, “Aku memang sudah menyediakan obat buat Ki Gede. Mungkin akan dapat memperlancar jalan pernafasannya.”

 

“Tetapi tidak akan memulihkannya,” sahut Ki Gede Pemanahan.

 

“Sebaiknya kita tidak memikirkannya,” berkata Kiai Gringsing. “Jika pernafasan Ki Gede menjadi semakin baik adalah pertanda bahwa usaha kita berhasil. Selebihnya, kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Jika usaha kita mencapai hasil seperti yang kita harapkan, maka yakinlah kita betapa terbatasnya kemampuan manusia. Dan kita adalah manusia yaug sangat terbatas itu.”

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Demikianlah agaknya Kiai. Kita memang tidak dapat memohon yang bukan hak kita.”

 

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan berkata, “Aku akan mencari air panas sejenak. Aku memerlukannya untuk meramu obat.”

 

“O,” Ki Juru Martani berdiri, “biarlah anak-anak melayani Kiai.”

 

“Terima kasih. Aku harus meramunya sendiri,” Kiai Gringsing pun kemudian melangkah ke luar pintu dan langsung pergi ke dapur untuk mencari air panas dan mangkuk untuk meramu obat.

 

Dalam pada itu, maka Ki Demang Sangkal Putung, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun minta diri kembali ke gandok karena agaknya Ki Gede Pemanahan nampak menjadi lebih baik. Nafasnya tidak lagi tersumbat dan bahkan sekali-sekali ia masih tersenyum. Yang tinggal menunggui kemudian adalah Ki Juru Martani. Namun Ki Juru itu pun berpesan, “Ki Sumangkar. Persilahkan Raden Sutawijaya masuk ke dalam bilik ini.”

 

“Baik, Ki Juru,” jawab Ki Sumangkar sambil meninggalkan bilik itu.

 

Ketika kemudian Ki Sumangkar menemukan Raden Sutawijaya di regol depan bersama Agung Sedayu dan Swandaru, maka ia pun menyampaikan pesan Ki Juru kepadanya.

 

Dengan tergesa-gesa Raden Sutawijaya pergi ke bilik ayahandanya, diikuti oleh Agung Sedayu dan Swandaru. Namua hatinya tidak terlampau gelisah karena Ki Sumangkar sudah mengatakan bahwa keadaan Ki Gede Pemanahan justru berangsur baik.

 

Meskipun demikian, ketika Raden Sutawijaya memasuki bilik ayahandanya, hatinya masih juga berdebar-debar. Dilihatnya Ki Juru Martani duduk di bibir pembaringan, merenungi Ki Gede yang terbaring diam.

 

“Masuklah,” desis Ki Juru Martani.

 

Dengan ragu-ragu ketiga anak-anak muda itu memasuki bilik Ki Gede Pemanahan dan duduk di sisi pembaringan.

 

Ki Gede Pemanahan tersenyum melihat anak-anak muda itu. Katanya, “Dari mana kalian sepagi ini?”

 

“Kami tidak pergi ke mana-mana, Ayahanda. Kami berada di halaman saja.”

 

“O,” Ki Gede Pemanahan menyahut, “bukankah tidak ada persoalan yang penting di hari-hari terakhir?”

 

“Tidak, Ayahanda. Tidak ada persoalan yang perlu mendapat perhatian khusus. Jalan-jalan masih terus dikerjakan. Parit-parit di ujung Selatan sudah mulai mengalir.”

 

“Bagaimanakah dengan keadaan para pekerja?”

 

“Baik, Ayah. Semuanya baik.”

 

“Ya. Kau kemarin juga sudah mengatakan, semuanya baik,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Mudah-mudahan untuk selanjutnya semuanya berjalan dengan baik.”

 

“Mudah-mudahan, Ayahanda. Jika Ayahanda nanti sudah sembuh, aku akan menunjukkan kemajuan yang telah kita capai di daerah Selatan seperti yang sudah aku laporkan setiap kali.”

 

“Tetapi kau harus selalu ingat pesanku Sutawijaya, jangan menyentuh sama sekali daerah wewenang Tanah Perdikan Mangir.”

 

“Aku selalu mengingatnya, Ayahanda. Tetapi aku tidak tahu pasti, yang manakah batas antara Mangir dan Alas Mentaok yang sudah diserahkan dengan resmi kepada kita. Hutan Mentaok masih meluas sampai ke daerah Selatan di sisi Barat. Sedang di bagian Timur, beberapa bagian tanah yang sudah menjadi padesan, masih juga harus diteliti, apakah benar daerah itu dibuka atas perlindungan dan memang berada di atas Tanah Mangir.”

 

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sementara kau dapat menghindarkan diri dari setiap persoalan. Kau dapat membuka daerah baru sejauh dapat kau kerjakan. Untuk beberapa lamanya, kau masih belum akan bersentuhan dengan perbatasan, karena tanah yang masih sangat luas. Bagian dari Hutan Mentaok bagian Selatan di sisi Barat tidak akan habis dibuka sampai waktu yang bertahun-tahun.”

 

“Tetapi bagaimanakah sikap kita jika Mangir menganggap Alas Mentaok bagian Selatan itu miliknya?”

 

“Itu akan bertentangan dengan keputusan Sultan Pajang. Yang disebut Alas Mentaok itu adalah daerah yang diberikan kepada kita. Termasuk bagian-bagiannya yang mempunyai nama-nama tersendiri.”

 

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Meskipun ia sadar, bahwa nama-nama yang tersendiri dari bagian sebelah Selatan Alas Mentaok akan dapat menimbulkan tafsiran yang berbeda. Tetapi karena ayahandanya sedang dalam keadaan yang lemah, maka Raden Sutawijaya tidak mendesaknya lagi.

 

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “kau kini sudah benar-benar menjadi seorang yang dewasa. Yang sudah melampaui masa mudamu. Karena itu kau harus mencoba berpikir dan bertindak dewasa. Terlebih-lebih menghadapi Mataram yang sedang dibuka ini, yang berbatasan dengan daerah-daerah yang sudah dibuka lebih dahulu. Namun agaknya kau akan menempatkan Mataram menjadi Tanah yang lebih terkemuka dari daerah yang sudah lebih dahulu terbuka itu.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Untuk mencapai tujuan itu kau tidak boleh mengorbankan hubungan baik dengan daerah di sekitar Alas Mentaok ini.”

 

Raden Sutawijaya mengangguk lemah. Sebenarnya ia ingin bertanya, kenapa ayahandanya berpesan terlampau jauh kepadanya. Bukankah selama ini ia masih tunduk kepada segala keputusan yang diambil oleh ayahandanya sehingga ia tidak akan dapat berbuat lebih banyak dari menjalankan perintah dan pantangan-pantangan.

 

Tetapi sebelum Sutawijaya mengucapkan pertanyaannya terdengar Ki Gede berkata, “Sutawijaya. Tidak sepantasnya lagi ayah selalu menuntun kau. Memberikan perintah dan petunjuk. Mulailah sekarang untuk menunjukkan bahwa kau adalah putera terkasih dari Sultan Hadiwijaya di Pajang yang mampu memimpin pemerintahan. Tentu mula-mula di daerah yang kecil. Namun suatu saat daerah yang kecil itu akan menjadi besar.”

 

Sutawijaya memandang ayahandanya dengan tajamnya. Kemudian ditatapnya wajah Ki Juru Martani. Tetapi ia tidak mengerti apa yang tergores pada dinding hati orang tua itu.

 

“Sutawijaya,” berkata ayahandanya pula, “di sini aku melihat Agung Sedayu dan Swandaru, murid-murid Kiai Grhigsing yang juga disebut Ki Tanu Metir. Mereka adalah orang-orang yang akan dapat membantumu. Di saat-saat Mataram menghadapi kesulitan dalam tingkat permulaan ini, mereka telah menunjukkan jasanya kepadamu. Karena itu, bawalah mereka untuk seterusnya.”

 

Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar. Nampaknya keadaan Ki Gede menjadi semakin baik. Tetapi pesan-pesannya membuatnya sangat gelisah.

 

Agaknya Ki Gede melihat kegelisahan yang terpercik di tatapan mata anaknya. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku tidak akan banyak memberikan pesan-pesan kepadamu sekarang. Mungkin besok atau jika aku sudah sembuh sama sekali. Tetapi sementara itu baiklah aku masih akan memberikan satu pesan. Selagi aku tidak dapat menjalankan kewajibanku, kau tidak boleh berbuat sekehendakmu sendiri. Di Mataram ada uwakmu Ki Juru Martani. Ialah yang akan menggantikan aku dan akan memberikan banyak petunjuk dan nasehat kepadamu. Kau tidak boleh menolak. Dan kau harus menganggapnya seperti kau berhadapan dengan aku sendiri, sampai saatnya aku sembuh kembali dan dapat menjalankan tugasku sebagai seorang tetua Tanah Mataram dan sebagai orang tuamu.”

 

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Dan Ki Gede masih melanjutkan, “Selain Ki Juru Martani, maka kau dapat minta bantuan, dan perlindungan kepada orang-orang tua yang selama ini selalu membantumu. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, dan Ki Demang Sangkal Putung. Bagimu Sangkal Putung adalah penting sekali. Kademangan itu terletak di sebelah Timur Prambanan, di sebelah Selatan Jati Anom. Pada suatu saat kau akan memerlukan bantuan dari daerah itu.”

 

Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah, Ayahanda.”

 

“Kecuali semuanya itu, sampai saat ini kau masih putera angkat yang sangat dikasihi dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Karena itu, kau mempunyai kewajiban ganda untuk mentaati perintahnya, Kanjeng Sultan Hadiwijaya bagimu adalah orang tua, raja dan justru sekaligus gurumu. Bukankah kau pernah mendapat tuntunan ilmu kanuragan daripadanya? Bahkan Sultan Hadiwijaya pernah membuka jalur ilmu yang sangat mengagumkan. Ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Semula, semasa mudanya, Mas Karebet mengenal ilmu itu pada Sultan Trenggana. Dengan sedikit petunjuk, Mas Karebet berhasil menguasai ilmu itu, meskipun menjadi agak lain sifatnya, karena terbentuk oleh kemampuan Mas Karebet sendiri. Ilmu itu semula disebut Tameng Waja. Dan bukankah Sultan Hadiwijaya menamakannya juga Tameng Waja? Dan bukankah kau sudah mendapat petunjuk tentang ilmu itu. Jauh lebih banyak dari yang didapat oleh Mas Karebet waktu itu dari Sultan Trenggana. Nah, cobalah kembangkan ilmu itu di dalam dirimu. Dan kau adalah sebenarnya murid yang baik dari Mas Karebet. Selain aji Tameng Waja, kau juga dapat mempelajari ilmu-ilmu yang lain yang pernah terbuka bagimu. Terserahlah kepadamu. Jika Mas Karebet yang mendapat kesempatan itu, ia berhasil menguasainya dengan baik. Lembu Sekilan, Sapu Angin adbmcadangan.wordpress.com dan yang lain. Dan bagaimana dengan kau?” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Semuanya itu dapat kau padu dengan ilmu yang kau pelajari daripadaku. Jika ilmu itu nanti dapat berkembang dan sempurna bersama-sama, maka kau akan menjadi gambaran dari Mas Karebet. Dan itu tidak cukup. Murid yang baik, adalah mereka yang dapat melampaui gurunya yang mana pun juga.”

 

Sutawijaya hanya menundukkan kepalanya saja. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa ayahandanya Sultan Pajang telah banyak memberikan ilmu kepadanya, meskipun hanya sekedar jalan yang masih harus dikembangkannya sendiri.

 

“Jika Ayahanda Sultan mampu melakukannya, kenapa aku tidak?” gumam Raden Sutawijaya di dalam dadanya.

 

Namun sementara itu, Agung Sedayu dan Swandaru yang berada di dalam bilik itu pun menjadi kagum. Raden Sutawijaya yang masih muda itu ternyata telah memiliki dasar-dasar ilmu yang lengkap untuk membekali dirinya. Meskipun ilmu itu belum matang, tetapi pada saatnya, maka Raden Sutawijaya akan menjadi seorang yang tidak ada duanya.

 

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Nah, Sutawijaya, hadapilah masa depanmu dengan penuh gairah. Kau tentu akan berhasil.”

 

“Restu Ayahanda bagi masa depanku,” jawab Raden Sutawijaya.

 

Ki Gede Pemanahan, tersenyum. Lalu, “Kau harus selalu mendengarkan nasehat Ki Juru Martani. Sebagai pemimpin di Tanah Mataram yang sedang berkembang ini, atau di dalam usahamu mencari bentuk ilmu kanuragan.”

 

Sutawijaya merasa aneh dengan segala pesan ayahandanya. Seolah-olah ayahandanya tidak akan dapat melakukannya sendiri.

 

Sekilas Raden Sutawijaya mencoba mengamati keadaan ayahandanya. Nafasnya justru menjadi semakin baik. Dan sekali-sekali ayahandanya masih tersenyun cerah. Namun demikian bentuk lahiriah itu rasa-rasanya mempunyai kesan yang berlawanan dengan pesan-pesan yang telah diterimanya.

 

Agaknya Ki Gede Pemananan melihat kebimbangan di hati anaknya. Maka katanya kemudian, “Kau jangan ragu-ragu, Sutawijaya. Atau barangkali cemas dan terlebih-lebih lagi bingung. Kau adalah seorang laki-laki. Jika kau melihat sesuatu, kau tidak usah mencoba mengingkarinya. Lihatlah dengan saksama. Meskipun penglihatan seseorang dapat keliru, tetapi seorang laki-laki tidak perlu takut menghadapi segala macam kenyataan. Yang pahit maupun yang manis. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak berusaha berbuat apa pun juga.”

 

Terasa dada Sutawijaya berdesir. Namun ayahandanya pun kemudian berkata seterusnya, “Nah, sekarang kau dapat meninggalkan bilik ini. Biarlah pamanmu Ki Juru Martani saja yang menunggui aku. Sebentar lagi Kiai Gringsing tentu akan datang pula membawa obat bagiku.”

 

Sutawijaya ragu-ragu sejenak. Namun dengan isyarat Ki Juru Martani maka ia pun kemudian minta diri bersama Agung Sedayu dan Swandaru.

 

“Jangan pergi ke mana pun,” berkata Ki Gede Pemanahan, “mungkin aku memerlukan kau setiap saat.”

 

“Aku akan selalu berada di halaman, Ayahanda.”

 

“Baiklah. Ajaklah tamu-tamumu melihat-lihat kebun buah-buahanmu di halaman belakang.”

 

“Ya, Ayahanda.”

 

Ki Gede memandang anaknya sejenak. Tatapan matanya yang tiba-tiba menjadi buram membayangkan hatinya yang buram pula memikirkan anak laki-laki satu-satunya itu.

 

Ketiga anak-anak muda itu pun kemudian pergi ke luar bilik Ki Gede Pemanahan. Seperti yang dipesankan Ki Gede, mereka pun kemudian pergi ke kebun buah-buahan di halaman belakang. Tetapi mereka tidak meninggalkan halaman. Bagaimana pun juga, rasa-rasanya anak-anak muda itu pun menangkap isyarat yang mendebarkan jantung mengenai Ki Gede Pemanahan yang sedang sakit itu.

 

Sejenak kemudian maka Kiai Gringsing pun masuk pula ke dalam bilik dengan membawa obat-obat. Ki Gede Pemanahan tidak menolak obat itu dan diminumnya sampai habis.

 

Ternyata bahwa obat itu membuat tubuhnya menjadi lebih segar. Tetapi kesegaran tubuh Ki Gede itu sama sekali tidak dapat menahan perjalanan Ki Gede Pemanahan yang memang sudah hampir sampai ke batas.

 

Karena itulah, maka Ki Juru Martani sama sekali tidak meninggalkannya. Jika terpaksa ia pergi sejenak ke pakiwan, maka dimintanya orang lain menggantinya barang sejenak. Sedangkan Kiai Gringsing masih tetap berusaha dengan pengetahuan yang ada padanya untuk memperingan sakit Ki Gede Pemanahan. Justru menurut pengamatan Kiai Gringsing sekedar memperingan beban jasmaniahnya di saat terakhir.

 

Tetapi orang-orang tua yang melihat perkembangan keadaan Ki Gede Pemanahan serasa sudah dapat melihat apa yang bakal terjadi. Namun demikian, tidak seorang pun di antara mereka yang berani mendahului garis ketentuan Yang Maha Kuasa.

 

Kiai Gringsing, seorang dukun yang memiliki kemampuan yang kadang-kadang di luar nalar dalam usahanya menyembuhkan penderitaan dan sakit sesamanya, harus mengakui kenyataan, betapa kecilnya arti manusia. Betapa dangkalnya pengetahuan yang ada padanya untuk menjajagi ketentuan dari Maha Kuasanya.

 

Karena itu, tidak ada yang dapat dilakukan selain berusaha. Usaha yang nampaknya tidak akan berarti. Tetapi tanpa memutuskan kesempatan yang diberikan oleh-Nya.

 

Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, nafas Ki Gede Pemanahan mulai terganggu lagi. Tetapi hanya sebentar, karena Ki Gede sendiri berusaha untuk mengatasinya.

 

Namun demikian tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Wajahnya menjadi semakin pucat, meskipun masih nampak di bibirnya senyum yang jernih.

 

Ki Juru Martani menjadi semakin tekun menungguinya. Ia sama sekali sudah tidak meninggalkan Ki Gede dalam keadaannya. Bahkan kemudian Kiai Gringsing pun selalu berada di dalam bilik itu pula.

 

Di pendapa Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung, dan beberapa orang tua di Mataram, para pemimpin serta Raden Sutawijaya beserta Agung Sedayu dan Swandaru duduk melingkar. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Rasa-rasanya mereka sedang menunggu sesuatu yang sangat mendebarkan.

 

Sejenak kemudian Ki Gede masih memanggil beberapa orang pemimpin Tanah Mataram yang baru dibuka itu. Diberikannya beberapa pesan tentang tugas-tugas mereka. Dengan demikian maka para pemimpin itu pun seolah-olah telah mendapat isyarat, bahwa sebenarnyalah Ki Gede Pemanahan tidak dapat ditahan-tahan lagi.

 

Malam yang kemudian turun menyelimuti Tanah Mataram, rasa-rasanya membuat setiap hati menjadi suram pula. Lampu minyak yang dinyalakan di pendapa dan di sudut-sudut rumah dan regol nampak berkeredipan ngelangut.

 

Mereka yang duduk di pendapa hampir tidak beringsut sama sekali dari tempatnya. Jika ada yang harus pergi, maka dengan tergesa-gesa ia kembali lagi ke tempatnya.

 

Semakin dalam malam menukik ke pusatnya, maka nampaknya Ki Gede Pemanahan menjadi semakin lemah. Sekali-sekali nampak wajahnya menjadi tegang. Namun hanya sejenak. Ketika terpandang olehnya Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing, maka agaknya dadanya menjadi lapang.

 

Sebagai orang yang memiliki tangkapan pengalaman atas perasaan seseorang, maka Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing pun mengerti, bahwa kadang-kadang masih juga terasa sesuatu menyentuh perjalanan Ki Gede Pemanahan. Agaknya Mataram yang baru dibuka ini, masih juga merupakan hambatan betapa pun kecilnya. Tetapi jika kemudian disadarinya, bahwa ia dapat mempercayakannya kepada Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing, maka jalannya pun menjadi lapang kembali.

 

Menjelang tengah malam, maka Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Kakang Juru. Apakah Sutawijaya belum tidur?”

 

“Belum, Adi. Ia berada di pendapa bersama Agung Sedayu dan Swandaru.”

 

“Hanya bertiga?”

 

“Tidak. Di pendapa ada banyak orang berjaga-jaga.”

 

Ki Gede tersenyum. Katanya lemah, “Apakah mereka menunggui aku?”

 

Ki Juru ragu-ragu sejenak. Namun kemudian, “Begitulah.”

 

“Agaknya mereka pun sudah melihat, bahwa aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun Ki Gede berkata, “Jangan tersinggung Ki Pamungkas. Bukan karena Kiai Gringsing tidak mampu mengobati orang sakit. Tetapi sakitkulah yang sudah menjadi parah.”

 

Kiai Gringsing memandang Ki Gede dengan seksama. Kemudian perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak seorang pun yang dapat melawan keharusan Yang Maha Kuasa, Ki Gede. Semua yang harus terjadi akan terjadi.”

 

Ki Gede tersenyum, katanya kemudian, “Kakang, apakah Kakang dapat memerintahkan memanggil Danang?”

 

“O, baiklah, Adi,” sahut Ki Juru. Namun dengan demikian hatinya menjadi cemas. Agaknya waktu yang terakhir bagi Ki Gede itu memang sudah hampir datang.

 

Sejenak kemudian, Sutawijaya sudah ada di dalam bilik itu. Dengan wajah yang tegang dipandanginya ayahandanya yang pucat.

 

“Sutawijaya,” desis Ki Gede.

 

“Ya, Ayahanda,” sahut Sutawijaya.

 

“Malam ini rasa-rasanya terlampau panjang bagiku, sehingga aku tidak dapat mengharap melihat matahari terbit esok pagi.”

 

“Ayah,” Sutawijaya bergeser mendekat.

 

“Kau seorang anak muda yang perkasa. Yang menjadi pusat dari segala gerak dan putaran di atas Tanah Mataram ini. Sadari itu.”

 

Sutawijaya mengerutkan keningnya.

 

“Kau harus bersikap seperti yang seharusnya bagi seorang pemimpin. Kau bukan kanak-kanak lagi yang hanya dapat merengek sambil kehilangan akal.”

 

Sutawijaya masih terdiam.

 

“Bersikaplah sebagai seorang kesatria. Juga jika pada saatnya kau hadapi aku dalam keadaan yang lain.”

 

Terasa sesuatu menyumbat di kerongkongan. Tetapi setiap kali terngiang kata-kata ayahandanya, “Kau bukan anak-anak lagi yang hanya dapat merengek sambil kehilangan akal.”

 

Karena itu Sutawijaya berusaha untuk menahan hatinya.

 

“Itulah pesanku terakhir kepadamu, Sutawijaya. Pesanku yang lain sudah cukup banyak. Sekarang panggillah orang-orang tua itu kemari. Lebih dahulu tamu-tamu kita yang perkasa.”

 

Sutawijaya hampir tidak dapat beringsut dari tempatnya. Namun tatapan mata ayahandanya yang sayu seolah-olah menusuk jantungnya dengan tajam dan selalu melihat apakah pesan-pesannya diperhatikan.

 

“Aku seorang laki-laki,” geram Sutawijaya di dalam hati.

 

Sejenak kemudian maka Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung telah berada di dalam bilik itu bersama Ki Juru dan Kiai Gringsing. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat nafas Ki Gede yang sudah menjadi semakin lambat.

 

“Aku mohon diri,” desisnya

 

“Ki Gede,” Kiai Gringsing meraba tangannya.

 

Ki Gede Pemanahan masih tersenyum. Lalu, “Aku titipkan Mataram kepada kalian. Ki Juru yang bijaksana, Kiai Gringsing yang selalu berahasia, dan yang lain-lain.”

 

Ki Juru Martani bergeser semakin dekat. Terasa tubuh Ki Gede Pemanahan bergetar sejenak. Namun kemudian tubuh itu berangsur-angsur menjadi sejuk dan dingin.

 

“Biarlah para pemimpin Tanah Mataram melihat aku di saat terakhir,” suara Ki Gede menjadi semakin lemah.

 

Beberapa orang tua-tua dan pemimpin-pemimpin Tanah Mataram yang baru dibuka itu pun kemudian berdesakan di dalam bilik itu pula. Mereka masih sempat melihat wajah yang sayu dau pucat, namun masih selalu tersenyum itu.

 

“Tanah Mataram, ada di tangan kalian,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

Orang-orang itu pun kemudian menunduk. Sesaat mereka masih melihat Ki Gede memandang mereka. Namun mata itu pun kemudian perlahan-lahan terpejam.

 

Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing mendekat semakin rapat. Bahkan Ki Juru masih mendengar Ki Gede berdesis dan mengucapkan beberapa kata pamitan.

 

Sesaat kemudian semua orang yang ada di dalam bilik itu melihat Ki Gede Pemanahan seolah-olah memperbaiki letak tubuhnya. Menyilangkan tangannya di dada dan memejamkan matanya rapat-rapat. Seakan-akan sesuatu telah bergerak merambat dari ujung kakinya perlahan-lahan naik ke lututnya dan bahkan seperti nampak di bawah pakaiannya sesuatu itu merayap terus. Akhirnya, seakan-akan setiap orang melihat sesuatu yang merayap itu sampai ke ujung ubun-ubun Ki Gede Pemanahan.

 

Yang nampak kemudian adalah sebuah senyuman kecil di bibir yang pucat itu. Namun senyum itu tidak berubah lagi untuk selama-lamanya.

 

Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Tanah Mataram yang baru dibukanya. Meninggalkan anak laki-lakinya yang berlutut di sampingnya. Dan meninggalkan semuanya yang pernah dikenalnya di muka bumi ini.

 

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Sutawijaya, dilihatnya mata anak muda itu menjadi basah. Tetapi Sutawijaya tidak menangis. Ia memenuhi pesan ayahnya. Ia adalah seorang kesatria. Ia bukan lagi anak-anak yang hanya dapat merengek dan kehilangan akal.

 

Sesaat bilik itu dicengkam oleh ketegangan. Tidak seorang pun yang bergerak. Mereka menatap tubuh Ki Gede Pemanahan yang terbujur diam di atas pembaringannya.

 

Namun kemudian terdengar suara Ki Juru Martani menyobek sepi, “Angger Sutawijaya. Ayahmu telah menghadap Tuhannya kembali.”

 

Sutawijaya mengangguk lemah. Sekilas ia memandang wajah ayahandanya yang pucat. Tetapi Sutawijaya memang tidak menangis.

 

“Ki Sanak semuanya,” berkata Ki Juru Martani, “baiklah kalian meninggalkan bilik ini. Siapkan segala sesuatunya untuk menyelenggarakan tubuh yang ditinggalkan oleh Ki Gede Pemanahan yang telah menghadap kembali kepada Penciptanya.”

 

Demikianlah maka orang-orang yang ada di dalam bilik itu bagaikan terbangun dari mimpi. Mereka baru menyadari sepenuhnya apa yang telah mereka saksikan. Ki Gede Pemanahan telah mendahului mereka kembali ke asalnya.

 

Sejenak kemudian maka di rumah itu pun segera menjadi sibuk. Setiap orang berdesis tentang Ki Gede Pemanahan yang telah meninggal.

 

“Seperti sedang tidur saja,” desis seseorang yang sempat melihat Ki Gede Pemanahan di saat terakhir.

 

“Ki Gede memang seorang yang besar,” sahut yang lain, “yang seakan-akan telah mengatur segalanya menjelang saat terakhirnya.”

 

Dan setiap orang pun berbicara di antara mereka dengan cara masing-masing.

 

Malam itu juga tubuh Ki Gede Pemanahan itu pun dibersihkan. Kemudian diperlakukan seperti seharusnya menurut adat dan kepercayaannya.

 

Sutawijaya benar-benar berusaha untuk tetap memenuhi pesan ayahandanya. Ia sama sekali tidak kehilangan akal dan kemudian justru menjadi beban beberapa orang tua-tua. Tetapi Sutawijaya sadar sepenuhnya, bahwa semuanya harus diselenggarakan sebaik-baiknya.

 

Dalam saat itulah nampak, bahwa Sutawijaya memang seorang pemimpin. Pada saat ayahandanya yang sangat dicintainya meninggal, bahkan sepercik penyesalan dan kecewa atas dirinya sendiri telah melonjak di dalam hatinya, namun ia masih tetap melakukan semua tugas yang dapat dikerjakannya. Bahkan ia seakan-akan telah memimpin semua pekerjaan untuk menyelenggarakan jenazah ayahandanya, meskipun ia tidak meninggalkan orang-orang tua yang mengerti segala macam tata cara dan adat kepercayaan.

 

Berita tentang meninggalnya Ki Gede Pemanahan itu pun segera menjalar ke seluruh Tanah Mataram, sehingga Tanah Mataram itu pun telah diliputi oleh suasana berkabung.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani yang menjadi pusat dari penyelenggaraan jenazah Ki Gede itu pun memanggil beberapa orang tua-tua dan para pemimpin Tanah Mataram beserta Raden Sutawijaya. Dengan hati-hati ia berkata, “Apakah sebaiknya menurut pertimbangan kalian, kita akan memberitahukan kepada Kanjeng Sultan di Pajang?”

 

“Adalah sebaiknya demikian,” sahut Ki Lurah Branjangan, “disaat terakhir, Ki Gede masih tetap merasa dirinya dekat dengan Kanjeng Sultan. Meskipun seandainya Kanjeng Sultan di Pajang tidak dapat menengok jenazah Gede karena sesuatu hal.”

 

Yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak seorang pun di antara mereka yang menolak.

 

Namun ketika tatapan mata Ki Juru Martani menyentuh wajah Sutawijaya nampaklah bahwa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Meskipun demikian, Sutawijaya sama sekali tidak mengatakan apa pun juga.

 

Ki Juru Martani yang melihat sekilas wajah itu, segera dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak berkenan di hati anak muda itu. Tetapi karena Sutawijaya tidak mengatakan apa pun juga, maka Ki Juru pun tidak menanggapinya.

 

Bahkan Ki Juru Martani pun kemudian bertanya, “Siapakah di antara kita yang paling pantas menghadap Kanjeng Sultan di Pajang?”

 

Beberapa orang tanpa menyadarinya berpaling kepada Kiai Gringsing. Namun sebelum salah seorang dari mereka menyebut namanya, Ki Juru yang tahu pasti bahwa Kiai Gringsing tidak akan bersedia memenuhinya berkata, “Sebaiknya salah seorang pemimpin Tanah Mataram yang sedang berkembang.”

 

Wajah-wajah yang memandang Kiai Gringsing pun segera berpaling. Mereka kini memandang Ki Lurah Branjangan. Namun Ki Lurah telah mendahului, “Aku adalah seorang pelarian dari Pajang. Mungkin bukan akulah orang yang paling tepat untuk menghadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

 

Ki Juru pun dapat mengerti alasan Ki Lurah Branjangan, sehingga karena itu, maka akhirnya ia pun menunjuk seorang setengah baya yang datang ke Mataram bukan sebagai seorang pelarian dari Pajang. Tetapi ia benar-benar seorang yang datang untuk ikut serta membuka Alas Mentaok.

 

“Aku belum pernah menghadap Sultan di Pajang,” berkata orang itu, “unggah-ungguh dan adat tata cara aku sama sekali tidak mengenal. Karena itu mungkin kedatanganku justru akan membuat Kanjeng Sultan menjadi murka.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali Ki Juru Martani sendirilah yang akan pergi ke Pajang.

 

“Baiklah jika demikian. Aku sendirilah yang akan pergi ke Pajang. Aku serahkan jenazah Ki Gede Mataram di dalam penjagaan kalian. Tunggulah sampai aku kembali. Aku akan berpacu tanpa berhenti ke Pajang dan demikian aku menghadap Sultan aku akan segera kembali.”

 

“Apakah, jenazah ini harus bermalam semalam di rumah ini, Ki Juru?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

 

“Ya. Jenazah ini akan bermalam satu malam. Besok pagi-pagi jenazah ini akan dikebumikan.”

 

“Jadi Pamanda akan pergi sendiri?” bertanya Sutawijaya lalu. “Apakah Pamanda memerlukan pengawal?”

 

Ki Juru memandang Sutawijaya sejenak.Tetapi ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukan pengawal, Angger. Yang aku perlukan adalah seekor kuda yang tegar. Suruhlah seseorang menyiapkan kuda. Aku tidak akan menunggu sampai pagi. Aku akan segera berangkat. Mudah-mudahan malam nanti aku sudah berada di sini kembali.”

 

“Pamanda,” berkata Sutawijaya, “sebaiknya Pamanda membawa pengawal secukupnya. Pamanda harus ingat, apa yang telah terjadi atas ayahanda. Meskipun, ayahanda meninggal bukan semata-mata karena lukanya ketika ia dicegat oleh orang-orang yang tidak dikenal itu, namun kemungkinan serupa akan dapat terjadi atas Pamanda. Setelah Pamanda adbmcadangan.wordpress.com menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Kemudian di perjalanan kembali peristiwa itu dapat terulang. Orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang menganggap bahwa Pamanda telah menggantikan kedudukan ayahanda di sini dan mereka pun akan menyergap Pamanda seperti yang pernah mereka lakukan atas ayahanda.”

 

Ki Juru Martani memandang Sutawijaya sejenak. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya, “Semua orang mengetahui bahwa aku tidak akan dapat menggantikan kedudukan Adi Pemanahan. Aku hanya orang yang kebetulan dekat dengan ayahandamu. Tetapi bukan semestinya aku menggantikan kedudukannya di dalam lingkungan apa pun.”

 

“Tetapi orang-orang itu tidak akan mau mengerti Pamanda,” jawab Sutawijaya. “Karena itu, apakah salahnya jika Pamanda menjadi berhati-hati setelah terjadi kecurangan atas ayahanda. Para pemimpin di Pajang sudah tidak lagi mengenal sopan santun dan sifat-sifat jantan seorang kesatria.”

 

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab Kiai Gringsing berkata, “Ki Juru. Ada juga kebenarannya pendapat Raden Sutawijaya. Tetapi tentu juga tidak sepantasnya jika Ki Juru membawa pengawal yang lengkap memasuki kota Pajang dalam keadaan serupa ini.”

 

“Pengawal-pengawal itu dapat menunggu di luar kota,” potong Sutawijaya.

 

“Memang akan dapat timbul salah paham dengan pengawal kota.”

 

“Lalu?”

 

“Menurut pendapatku, sebaiknya Ki Juru Martani menghadap Kanjeng Sultan Pajang dengan seorang kawan yang bukan berasal dari Pajang. Orang itu adalah Ki Waskita. Jika terjadi sesuatu, maka Ki Waskita akan dapat membantu Ki Juru Martani di dalam beberapa hal.”

 

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, “Biaklah, Kiai. Aku tidak berkeberatan jika Ki Waskita bersedia.”

 

“Aku mohon,” desis Raden Sutawijaya.

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan pergi menemani Ki Juru Martani. Tetapi di dalam perjalanan itu, aku adalah seorang pengawal Tanah Mataram. Tidak lebih. Sehingga aku tidak akan berbuat lain kecuali mengawal Ki Juru Martani.”

 

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengenal Ki Waskita dengan baik, sehingga karena itu, maka ia tidak akan selalu dikejar oleh kecemasan akan kepergian Ki Juru Martani.

 

Sebenarnya Raden Sutawijaya lebih senang apabila selain Ki Waskita berangkat juga Ki Sumangkar atau Kiai Gringsing. Tetapi Raden Sutawijaya itu pun kemudian menyadari bahwa keduanya pun agaknya akan berkeberatan.

 

Dengan demikian, maka Ki Juru Martani pun kemudian memerintahkan menyiapkan dua ekor kuda. Kemudian katanya, “Maaf, Ki Waskita. Ki Waskita adalah tamu yang seharusnya mendapat penghormatan dan hidangan. Namun di sini Ki Waskita harus ikut disibukkan dengan tugas ini.”

 

“Ah. Tidak apa-apa, Ki Juru. Kiai Gringsing berada di Tanah Perdikan Menoreh sebagai tamu. Tetapi setiap kali ia turut pula di dalam keadaan yang sulit.”

 

Demikianlah maka kedua orang itu pun minta diri kepada para tetua dan pemimpin Tanah Mataram. Mereka menitipkan jenazah Ki Gede agar dijaga baik-baik. Kepada Raden Sutawijaya Ki Juru memberikan banyak pesan. Sebagai seorang pemimpin yang masih muda ia harus banyak belajar dan mendengar dari orang-orang tua. Terutama Kiai Gringsing dan kawan-kawannya.

 

Sebelum matahari naik, kedua orang itu sudah berpacu meninggalkan Mataram menuju ke Pajang. Mereka tidak menghiraukan apa pun juga di perjalanan itu selain secepat-cepatnya sampai ke Pajang menghadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya menyampaikan berita kematian Ki Gede Pemanahan. Seorang yang pernah menjadi Panglima Prajurit Wira Tamtama di Pajang dan yang pernah mendapat kepercayaan Kanjeng Sultan sepenuhnya.

 

Lebih dari itu, Ki Gede Pemanahan adalah ayah Raden Sutawijaya, putera angkat Kanjeng Sultan yang sangat dikasihinya.

 

Angin pagi yang dingin mengusap wajah kedua orang tua yang sedang berpacu itu. Langit yang menjadi semakin merah membayang di atas cakrawala. Dan kedua ekor kuda itu berderap semakin cepat.

 

Ki Waskita sempat juga memandangi tanah persawahan yang subur di sepanjang perjalanan. Tanah yang kini sudah menjadi tanah garapan.

 

“Beberapa saat yang lewat, tanah ini adalah bagian dari hutan yang lebat. Tetapi kini tanah ini sudah menjadi tanah persawahan yang hijau subur,” desis Ki Waskita. “Benar-benar suatu kerja raksasa yang sebelumnya sulit dibayangkan.”

 

“Hampir setiap orang semula meragukan hasil yang akan dapat dicapai oleh Adi Pemanahan serta puteranya yang keras hati itu. Apalagi dengan berbagai macam rintangan yang dialami oleh mereka. Namun akhirnya Mataram telah terwujud, dan semakin lama menjadi semakin ramai,” sahut Ki Juru Martani. “Tetapi agaknya iri hati justru menjadi semakin membakar hati orang-orang yang tamak di Pajang”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ketika ia memandang ke depan, di hadapannya terhampar sebuah bulak yang sangat panjang, yang seakan-akan tidak berbatas sampai ke ujung cakrawala.

 

Dalam pada itu kedua ekor kuda itu berpacu semakin cepat. Jalan-jalan nampaknya sudah menjadi semakin baik, dan keamanan pun menjadi semakin maju.

 

Menjelang matahari terbit, beberapa orang sudah nampak berjalan menuju ke pusat pemerintahan Tanah Mataram dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Barang-barang anyaman, hasil kebun, dan gula kelapa. Bahkan nampak beberapa buah pedati kayu berjalan terguncang-guncang di atas jalan yang panjang.

 

Padukuham demi padukuhan telah mereka lalui. Namun akhirnya mereka melihat seleret pepohonan bagaikan pebukitan yang terbaring melintang perjalanan mereka.

 

“Alas Tambak Baya,” desis Ki Juru.

 

“Alas yang masih belum terbuka,” sahut Ki Waskita.

 

“Alas itu cukup lebat, meskipun tidak selebat Alas Mentaok. Tetapi sekarang, jalur jalan yang membelah hutan itu telah cukup baik dilalui. Kelompok-kelompok pedagang tidak lagi ketakutan melintasi hutan itu meskipun kadang-kadang masih ada penjahat yang berani menyamun. Namun pada umumnya perjalanan di hutan itu sudah aman.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Justru di tempat yang sudah ramai Ki Gede Pemanahan menemui kesulitan di perjalanannya kembali ke Mataram.”

 

“Ya. Di Prambanan, di pinggir Kali Opak.”

 

“Bukankah daerah itu sudah ramai sejak lama?”

 

“Tetapi kesulitan itu adalah suatu keadaan yang khusus. Yang sengaja dipasang untuk mencegat perjalanan Adi Pemanahan. Bukan merupakan keadaan yang umum dialami oleh pejalan yang lewat.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk pula. Wajahnya yang dibayangi oleh cahaya pagi yang kemerah-merahan nampak bersungguh-sungguh.

 

Ki Juru tidak berbicara lebih banyak lagi. Kuda-kuda mereka pun kemudian menyusup Hutan Tambak Baya yang masih nampak buram.

 

Demikianlah keduanya berpacu terus. Hampir tidak ada sesuatu yang mereka alami di perjalanan. Mereka melintasi daerah Prambanan tanpa persoalan. Ketika mereka lewat di daerah Telaga, daerah-daerah hutan kecil yang menjadi daerah perburuan, kemudian memasuki Sangkal Putung dan selanjutnya terasa bahwa perjalanan mereka benar-benar tidak lagi dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

 

Di daerah Sangkal Putung Ki Waskita sempat melihat kesibukan orang-orangnya. Di pagi-pagi benar agaknya orang sudah mulai sibuk bekerja dengan rajinnya.

 

Beberapa orang sudah nampak berada di sawah masing-masing. Sedang beberapa buah pedati berjalan lambat membawa hasil sawah untuk diperdagangkan.

 

Ki Juru Martani pun agaknya tertarik pada dataran yang hijau, seakan-akan terbentang sampai ke kaki Gunung Merapi.

 

“Mataram akan dapat menjadi sesubur ini,” desis Ki Juru Martani. “Apabila orang-orang yang membuka hutan itu tetap rajin seperti sekarang, maka dapat diharapkan dalam waktu yang singkat, Mataram akan menjadi negeri yang ramai. Meskipun bukan semata-mata karena tanahnya yang subur serta luas, tetapi juga karena yang memimpin Tanah yang baru tumbuh itu adalah Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”

 

“Ki Gede Pemanahan mempunyai pengaruh yang luas sekali,” gumam Ki Waskita.

 

“Ya. Seluruh daerah Pajang mengakuinya. Ia adalah seorang perwira yang pilih tanding.”

 

Ki Waskita mengangguk.

 

“Tetapi bukan karena kemampuan dan ilmunya saja Ki Gede Pemanahan disegani, tetapi lebih-lebih lagi karena ia seorang yang baik. Baik dalam melakukan tugasnya, dan baik sebagai seseorang yang hidup di dalam suatu lingkungan yang luas.”

 

“Pajang tentu merasa kehilangan,” desis Ki Waskita.

 

“Sebagian besar akan merasa kehilangan. Tetapi yang lain merasa lapang. Mereka sudah lama menginginkan Ki Gede dilenyapkan. Ternyata dengan peristiwa yang terjadi di pinggir Kali Opak itu. Jika Untara dan kemudian Raden Sutawijaya tidak datang tepat pada waktunya, maka Ki Gede tentu sudah gugur di perkelahian melawan penjahat-penjahat yang memiliki kemampuan yang tinggi itu.”

 

“Siapakah kira-kira yang telah mengupah mereka?” bertanya Ki Waskita.

 

“Tentu tidak mudah untuk segera mengetahui. Orang-orang yang tertangkap di antara mereka benar-benar tidak mengerti. Yang mereka ketahui semata-mata adalah pemimpin-pemimpin mereka itu saja.”

 

Ki Waskita mengerutkan keningnya.

 

Dan tiba-tiba Ki Juru Martani bertanya, “Apakah dalam persoalan yang demikian, Ki Waskita dapat melihat dengan ilmu yang Ki Waskita miliki itu?”

 

KI Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, Ki Juru. Aku tidak dapat melihat jawaban dalam persoalan serupa itu. Tidak ada isyarat yang dapat aku baca yang kemudian dapat dihubungkan dengan nama-nama orang.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa yang dapat dilihat oleh Ki Waskita adalah sekedar isyarat-isyarat. Tentu tidak akan dapat nampak wajah-wajah orang yang telah melakukan kejahatan dengan mengupah orang untuk membunuh Ki Gede Pemanahan.

 

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Kuda-kuda mereka masih berlari kencang menyusuri jalan yang sudah menjadi semakin baik.

 

Tidak ada persoalan yang mereka jumpai di perjalanan. Mereka berpacu terus dengan kencangnya. Hanya sekali-sekali mereka berhenti sejenak untuk melepaskan penat dan memberi kesempatan kuda mereka beristirahat dan sedikit meneguk air parit yang jernih.

 

Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah kadang-kadang ada pula yang mengangkat kepalanya memandang kedua orang yang sedang berpacu itu. Namun mereka tidak memperhatikannya lagi karena mereka sudah terlampau sering melihat orang-orang berkuda lewat di bulak itu.

 

Demikianlah akhirnya, keduanya pun memasuki kota Pajang dengan selamat. Mereka melampaui gerbang kota sambil menyeka keringat yang membasahi wajah mereka yang berdebu.

 

“Kita sudah sampai,” berkata Ki Juru Martani, “kita akan langsung pergi ke istana, untuk mohon langsung menghadap Kanjeng Sultan.”

 

Demikianlah keduanya segera menemui petugas yang berwenang mengatur hubungan dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Seorang lurah prajurit yang sedang bertugas menerima kedatangan Ki Juru dengan heran.

 

“Bukankah aku berhadapan dengan Ki Juru Martani?”

 

“Ya, kenapa? Aku mohon ijin untuk menghadap langsung Kanjeng Sultan.”

 

“Kenapa?” bertanya lurah prajurit itu. “Apakah ada sesuatu yang sangat penting?”

 

“Ya, Ki Lurah.”

 

“Tetapi aku tidak tahu, apakah Kanjeng Sultan bersedia menerima kehadiran Ki Juru.”

 

“Beritahukan abdi yang akan menyampaikan pesanku, bahwa Ki Juru membawa berita penting mengenai Ki Gede Pemanahan di Mataram.”

 

“Tetapi ini bukan waktunya untuk menghadap.”

 

“Persoalan yang akan aku sampaikan hanya berlaku hari ini. Jika aku hari ini tidak berhasil menghadap, maka persoalannya sudah tidak perlu lagi aku bawa ke Pajang.”

 

Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak kuasa mengatur. Biarlah disampaikan kepada narpacundaka.”

 

“Jangan lupa. Pesanku harus disampaikan lengkap, agar Kanjeng Sultan sudi mempertimbangkan kemungkinan untuk mengizinkan permohonanku untuk menghadap.”

 

Ki Lurah itu pun segera menyampaikan pesan itu lewat seorang abdi yang sedang bertugas kepada petugas-petugas di dalam istana. Merekalah yang dapat langsung berhubungan dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

 

Ketika seorang hamba datang menghadap Kanjeng Sultan yang sedang beristirahat di bangsal, sudah nampak seolah-olah ada firasat yang menyentuh hati Kanjeng Sultan itu.

 

Sejenak dipandanginya hamba yang duduk tepekur menunggu pertanyaan Kanjeng Sultan yang telah melihatnya.

 

“Mendekatlah,” panggil Kanjeng Sultan.

 

Hamba itu pun kemudian beringsut mendekati beberapa jengkal.

 

“Apakah keperluanmu menghadap?”

 

“Ampun, Tuanku,” jawab hamba itu, “hamba menyampaikan permohonan seseorang untuk menghadap Tuanku.”

 

“Kapan?”

 

“Jika Tuanku berkenan, orang itu ingin menghadap sekarang.”

 

“Apakah ada persoalan yang amat penting?”

 

“Demikianlah menurut pengakuan orang itu. Lurah prajurit yang menerimanya mengatakan, bahwa orang itu adalah Ki Juru Martani yang datang dari Mataram.”

 

“Kakang Juru Martani?” Kanjeng Sultan mengulang.

 

“Hamba, Tuanku.”

 

Terasa debar jantung Kanjeng Sultan menjadi semakin keras. Tentu ada sesuatu yang penting, bahwa Ki Juru Martani sendirilah yang datang menghadap dari Mataram.

 

“Baiklah,” berkata Kanjeng Sultan kemudian, “aku akan menerimanya sekarang.”

 

Hamba itu menjadi heran. Biasanya orang yang datang menghadap tidak akan dapat segera diterima pada saat itu juga. Secepat-cepatnya malam nanti. Tetapi kali ini, Kanjeng Sultan yang sedang beristirahat itu memerlukan menerima tamunya segera.

 

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun mendapat kesempatan untuk segera dapat menghadap Kanjeng Sultan yang seolah-olah telah mendapat firasat kurang baik dengan kehadirannya.

 

Karena itu, demikian Ki Juru itu berjalan sambil berjongkok mendekatinya, segera Kanjeng Sultan bertanya, “Apakah ada berita yang sangat penting, Kakang?”

 

Ki Juru Martani menyembah sambil membungkuk dalam-dalam diikuti oleh Ki Waskita. Kemudian katanya, “Ampun, Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah hamba datang membawa berita yang sangat penting bagi Tuanku.”

 

“Katakanlah, Kakang.”

 

“Tuanku,” berkata Ki Juru, “hamba mohon maaf bahwa sebelumnya hamba tidak pernah menyampaikan berita apa pun tentang Adi Pemanahan.”

 

“Ya. Aku sudah mendengar bahwa Kakang Pemanahan menderita sakit. Sejak ia mengalami bencana di pinggir Kali Opak maka ia menderita sakit, bukan saja karena lukanya, tetapi seakan-akan ada sesuatu yang menekan perasaannya.”

 

“Demikianlah, Tuanku. Tetapi lebih daripada itu, Ki Gede seakan-akan sudah melihat, bahwa ia sudah sampai di perbatasan sehingga usaha yang mana pun tidak akan banyak memberikan pertolongan, karena tidak ada seorang pun dapat menembus kuasa Yang Maha Pencipta.”

 

“Jadi maksudmu?” wajah Kanjeng Sultan menjadi tegang.

 

“Ampun, Tuanku,” berkata Ki Juru Martani ragu-ragu. Namun ia meneruskannya, “Adi Pemanahan tidak lagi dapat menembus batas umur yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.”

 

“Kakang Juru Martani,” Kanjeng Sultan tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekat, “maksudmu bahwa Kakang Pemanahan telah menyelesaikan perjalanan hidupnya sampai ke batas?”

 

“Ampun, Tuanku. Adi Pemanahan telah dipanggil kembali oleh Yang Menciptakannya.”

 

Sejenak Kanjeng Sultan berdiri mematung. Seolah-olah ia menjadi beku oleh berita yang didengarnya. Namun sejenak kemudian ia pun melangkah kembali ke tempat duduknya. Dengan lemahnya ia terkulai duduk seolah-olah telah kehilangan seluruh tulang belulangnya.

 

Ketika Ki Juru Martani menatap wajahnya, dan hampir di luar sadarnya Ki Waskita pun memandanginya, nampaklah mata Kanjeng Sultan itu menjadi berkilat-kilat oleh setitik air pelupuknya.

 

“Kakang Juru Martani,” berkata Kanjeng Sultan dengan nada yang parau, “kenapa baru sekarang Kakang memberitahukan hal itu kepadaku.”

 

“Ampun, Tuanku,” jawab Ki Juru, “semula hamba berharap bahwa Ki Gede Pemanahan akan dapat sembuh kembali. Apalagi ketika seorang dukun yang pandai datang mengobatinya. Tetapi ternyata bahwa tidak seorang pun yang mampu memperpanjang garis perjalanan hidup walau hanya selangkah.”

 

“Siapakah dukun yang pandai itu?”

 

“Kiai Gringsing.”

 

“Kiai Gringsing,” ulang Kanjeng Sultan, “aku pernah mendengar namanya. Namun ternyata bahwa kepandaiannya adalah kepandaian manusia semata-mata.”

 

“Hamba, Tuanku. Kepandaian manusia yang sangat picik.”

 

Kanjeng Sultan terdiam sejenak. Dipandanginya cahaya matahari yang serasa membakar longkangan di depan bangsal, dari sela-sela pintu yang sedikit renggang. Di luar beberapa orang prajurit pengawal berjalan hilir-mudik dengan memandi tombak di bahunya.

 

“Ternyata Kakang Pemanahan pergi lebih dahulu dari padaku.”

 

Ki Juru mengangkat wajahnya. Lalu, “Kanjeng Sultan. Itu adalah wajar sekali. Agaknya usia Adi Pemanahan pun terpaut meskipun hanya sedikit dari Kanjeng Sultan.”

 

“Tetapi ia masih lebih muda dari Kakang Juru Martani.”

 

Ki Juru tidak menyahut.

 

Kanjeng Sultan pun kemudian terdiam pula sesaat. Direnunginya hubungannya dengan Ki Gede Pemanahan sejak puluhan tahun yaug lampau, pada saat mereka bertiga bersama Ki Penjawi menyusuri lembah dan lereng-lereng pebukitan. Pada saat mereka bertiga menuntut ilmu. Dan terngiang sebuah pesan dari seorang yang seakan-akan melihat masa depan mereka, “Jangan terpisah-pisahkan.”

 

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede Pemanahan seolah-olah adalah saudaranya sendiri. Ketika Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang karena ia terlambat memberikan Tanah Mataram, maka hatinya menjadi sangat sedih.

 

“Kenapa Kakang Pemanahan sampai hati melepaskan kedudukannya dan meninggalkan Pajang? Apakah ia sudah lupa sama sekali akan pesan yang pernah kami dengar bertiga dari seorang yang seolah-olah mengetahui apa yang akan terjadi?”

 

Ketika itu, Kanjeng Sultan yang masih muda, yang masih bernama Mas Karebet dan yang juga disebut Jaka Tingkir, pergi berguru bertiga dengan Pemanahan dan Penjawi. Mas Karebet yang baru pertama kali menghadap seorang yang memiliki ketajaman penglihatan itu, duduk agak jauh di belakang Pemanahan dan Penjawi. Tetapi orang yang memiliki ketajaman penglihatan itu melambaikan tangannya dan memanggilnya, “Karebet, kemarilah. Duduklah di paling depan, karena engkaulah kelak yang akan memimpin di antara kalian bertiga. Tetapi aku harap bahwa kalian bertiga akan tetap merupakan satu kesatuan. Jangan terpisah-pisahkan lagi.”

 

Ternyata kemudian bahwa Mas Karebet-lah yang paling berhasil di antara mereka bertiga. Ketika ketiganya merasa telah cukup berguru, maka mereka bertiga ingin mendapatkan pengalaman masing-masing. Meskipun mereka untuk sementara akan berpisah, tetapi mereka berjanji, bahwa kelak mereka akan bersatu dan tidak akan terpisah-pisahkan lagi setelah mereka adbmcadangan.wordpress.com memiliki pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup mereka. Dalam pada itu Mas Karebet masih sempat tinggal di padepokan Karang Tumaritis, menjadi seorang Putut pada Panembahan yang menyebut dirinya Panembahan Ismaya. Kemudian lewat Banyu Biru dan kembali ke istana sebagai menantu Kanjeng Sultan Trenggana.

 

Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pernah disebut Mas Karebet itu menundukkan kepalanya. Ia masih saja dikuasai oleh ingatannya. Sekilas terbayang sikap Ki Gede Pemanahan yang keras dan meninggalkannya sendiri, setelah Ki Penjawi berada di Pati.

 

“Kenapa Kakang Pemanahan mempunyai tuntutan sekeras itu. Apakah ia sudah tidak percaya lagi kepadaku, dan melupakan pesan bahwa kami tidak akan berpisah lagi?” Namun kemudian Kanjeng Sultan itu mengusap dadanya sendiri dan berkata pula di dalam hatinya, “Akulah yang bersalah. Kakang Penjawi yang seharusnya juga tidak terpisahkan itu sudah aku beri hadiah Tanah Pati yang sudah terbuka.”

 

Kepala Kanjeng Sultan Hadiwijaya menjadi semakin tunduk dan ia masih berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati, “Akulah yang khilaf. Kenapa aku berbuat seperti itu? Aku merasa bahwa kelak Sutawijaya-lah yang akan menerima hadiah terbesar sehingga Ki Gede Pemanahan tidak memerlukannya lagi. Tetapi tanggapan Kakang Pemanahan agaknya berbeda, dan aku adalah raja yang tidak menepati janjinya.”

 

Dan kini akibatnya, ia seakan-akan telah terpisah dari Ki Gede Pemanahan dan terlebih-lebih lagi dengan anak angkatnya yang sangat dikasihinya.

 

“Hati Sutawijaya agaknya sekeras hati ayahandanya,” berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya di dalam hatinya.

 

Kembali angan-angannya menerawang ke masa silam. Ketika Raden Sutawijaya akan lahir terjadilah sesuatu yang aneh. Bayi itu tidak segera lahir, sehingga ibunya mengalami penderitaan yang lama.

 

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam sekali lagi. Dipandanginya wajah Ki Juru yang tertunduk.

 

“Orang itu pula yang memanggil aku,” berkata Kanjeng Sultan di dalam hatinya sambil memandang Ki Juru Martani.

 

Sebenarnyalah bahwa Ki Juru Martani telah memanggil Kanjeng Adipati saat itu. Dan sebenarnyalah setelah Adipati Pajang itu datang, Raden Sutawijaya pun segera lahir. Ternyata bahwa kedatangan Hadiwijaya memberikan pengaruh atas kelahiran anak itu, karena restunya.

 

Karena itulah, maka Raden Sutawijaya pun pada saat itu juga dinyatakan menjadi anak angkatnya yang dipersamakan dengan anak-anaknya sendiri.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun menjadi tegang. Ia mengerti, bahwa hati Kanjeng Sultan pasti tergores karena kematian Ki Gede Pemanahan. Karena itu, ia tidak berani mengganggu angan-angan yang agaknya sedang mencengkam Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

 

Baru sesaat kemudian terdengar Kanjeng Sultan berbicara dengan suara parau, “Kakang Juru Martani. Jika itu sudah menjadi garis hidup Kakang Pemanahan, maka apa yang dapat kita lakukan. Tetapi aku merasa menyesal bahwa Kakang Pemanahan meninggalkan aku dengan kesan yang kurang baik.”

 

“Maksud Kanjeng Sultan?”

 

“Ketika Kakang Pemanahan datang kemari, maka di jalan kembali ke Mataram ia mengalami cidera. Langsung atau tidak langsung, hal itu tentu berpengaruh pula atas badannya. Kemudian yang lebih besar dari itu, ia belum berhasil melihat Mataram berkembang dengan baik. Bukankah dengan demikian kesan yang buruk terhadap diriku masih belum terhapus.”

 

“Ah tidak, Tuanku. Adi Pemanahan telah melupakan semuanya. Bahkan Adi Pemanahan merasa menyesal bahwa ia dengan tergesa-gesa meninggalkan Pajang sekedar menuruti perasaannya yang sedang bergejolak tidak terkendalikan. Apalagi ketika kemudian Sutawijaya berkeras hati untuk tidak mau datang menghadap Tuanku sebelum Mataram menjadi sebuah negeri. Bukan karena Sutawijaya tidak tahu diri akan kasih Tuanku. Tetapi gejolak darah mudanya benar-benar merasa terhina karena para senapati telah menyangkal tekadnya untuk menjadikan Mataram sebuah negeri.”

 

Kanjeng Sultan Hadiwijaya mengangguk-angguk. Tetapi bagaimana pun juga ada sepercik penyesalan yang tidak dapat disingkirkan dari hatinya. Ia merasa bahwa Ki Gede Pemanahan pernah di dalam suatu saat di dalam hidupnya merasa hatinya dilukainya. Dan hal itu ternyata pada sikap Ki Gede yang dengan serta-merta meninggalkan Pajang.

 

Tetapi yang terjadi itu adalah suatu kenyataan. Kanjeng Sultan tidak dapat berbuat lain dari mengakui kenyataan yang sudah berlaku. Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Mataram dan semua yang dikasihinya.

 

Meskipun demikian, namun Kanjeng Sultan akhirnya berkata, “Aku merasa sangat kehilangan dengan perginya Kakang Pemanahan, Kakang Juru. Tetapi karena tugas-tugasku yang tidak dapat aku tinggalkan, maka aku tidak dapat melihat saat-saat terakhir dari Kakang Pemanahan. Tetapi percayalah bahwa sebenarnyalah aku merasa prihatin atas kepergiannya, dan atas Sutawijaya yang ditinggalkannya. Demikian juga atas saudara-saudara Sutawijaya.” Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Apakah adik-adik Sutawijaya ada di Mataram?”

 

“Kebetulan sekali mereka tidak ada di Mataram Kanjeng Sultan karena mereka berada di Sela dan di Pajang. Tetapi seorang utusan telah menyampaikan kabar ini kepada mereka.”

 

“Baru sekarang?”

 

“Kami hampir-hampir tidak percaya bahwa Adi Pemanahan benar-benar akan meninggalkan kita semuanya, sehingga kami terlambat memanggil keluarganya yang lain. Namun agaknya Ki Gede Pemanahan sendiri tidak berusaha untuk bertemu dengan mereka di saat terakhir. Mungkin ia tidak akan sampai hati melihat mereka bersedih hati menjelang saat terakhirnya.”

 

Kanjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya, “Bukan hanya Ki Gede Pemanahan sajalah yang berbuat demikian. Bahkan ada di antara mereka, yang merasa hampir sampai saatnya meninggal, keluarga yang ada di dekatnya dimintanya untuk meninggalkannya pergi, agar jalan yang akan dilaluinya menjadi lapang, tanpa sentuhan sama sekali.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk.

 

“Nah, Kakang Juru Martani,” berkata Kanjeng Sultan, “sebaiknya Kakang beristirahat barang sejenak. Aku akan mempersiapkan apa saja yang dapat Kakang bawa ke Mataram.”

 

“Ampun, Tuanku. Hamba akan segera kembali ke Mataram. Di sana tidak ada orang tua yang cukup berpengaruh bagi Sutawijaya.”

 

Kanjeng Sultan merenung sejenak, lalu, “Baiklah, jika demikian, aku akan memerintahkan seseorang membawamu dan memberikan sesuatu kepadamu untuk jenazah Kakang Pemanahan.”

 

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun kemudian menyembah sambil mohon diri untuk meninggalkan ruang itu dan selanjutnya kembali ke Mataram.

 

Kanjeng Sultan Hadiwijaya tidak sempat bertanya siapakah kawan Ki Juru Martani itu. Ia menyangka bahwa ia adalah seorang di antara para pemimpin Tanah Mataram.

 

Ketika Ki Juru Martani kemudian meninggalkannya, maka diperintahkannya seseorang untuk ikut bersama Ki Juru dan memberikan seperti yang dipesankannya.

 

“Bawalah songsong yang memang sudah aku siapkan untuk waktu yang agak lama itu ke Mataram,” berkata Kanjeng Sultan itu kepada Ki Juru Martani sesaat Ki Juru akan pergi, “dan berikanlah kepada Sutawijaya. Aku memberikan wisuda kepadanya untuk menjadi senapati di Mataram yang baru dibukanya itu.”

 

Dada Ki Juru menjadi berdebar-debar. Raden Sutawijaya telah dengan resmi diangkat oleh Kanjeng Sultan di Pajang menjadi Senapati Ing Ngalaga. Dan lebih dari itu, telah di serahkan pula sebuah songsong yang berwarna kuning.

 

“Songsong kebesaran seorang yang memiliki kedudukan tertinggi,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat lagi bertanya.

 

Diterimanya songsong itu dari seorang abdi yang mendapat perintah untuk mengambilkan dan menyerahkan kepada Ki Juru Martani. Sudah barang tentu abdi itu tidak tahu sama sekali apakah maksud Kanjeng Sultan dengan menyerahkan songsong tersebut kepada Raden Sutawijaya.

 

“Apakah kau tidak keliru?” hanya itu yang dapat ditanyakan kepada abdi itu.

 

“Tidak, Ki Juru. Songsong inilah yang dimaksudkan. Aku tahu pasti, karena akulah yang menjaganya, membersihkannya dan memasang dan membuka selongsongnya setiap kali.”

 

Ki Juru Martani menarik nafas. Katanya, “Terima kasih. Jika kau yakin bahwa kau tidak keliru, maka baiklah aku menerimanya.”

 

Kemudian setelah ditutup dengan selongsong berwarna putih. maka Ki Juru Martani pun segera membawa payung itu ke luar istana.

 

Seperti pada saat Ki Gede Pemanahan datang menghadap, maka kehadiran Ki Juru pun sangat menarik perhatian. Beberapa orang kemudian mendapatkannya dan bertanya, kenapa dengan tergesa-gesa ia pergi menghadap Kanjeng Sultan. Karena Ki Juru sudah mengatakannya kepada Kanjeng Sultan, maka ia tidak berkeberatan untuk mengatakan kepada orang-orang itu, bahwa Ki Gede Pemanahan telah meninggal dunia.

 

Berita itu memang mengejutkan. Ki Gede Pemanahan memang belum terlampau tua. Bahkan agak lebih muda dari Ki Juru Martani dan hanya sedikit lebih tua dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.

 

Namun di antara mereka ada pula yang menerima berita itu dengan hati yang lega. Seolah-olah usahanyalah yang telah berhasil menyingkirkan Ki Gede Pemanahan dari Mataram.

 

Dengan demikian maka berita tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan itu pun segera tersebar. Baik yang menyesali mau pun yang memang mengharapkannya, segera memperbincangkannya.

 

Namun dalam pada itu, sekelompok senapati dengan sungguh-sungguh telah menilai wafatnya Ki Gede Pemanahan itu dari segala segi.

 

“Agaknya Ki Juru Martani akan menggantikan kedudukan Ki Gede Pemanahan di Mataram. Meskipun ia tidak akan dapat memegang pimpinan sebagaimana dengan Ki Gede Pemanahan sendiri, namun ia dengan cerdik dapat mengendalikan Raden Sutawijaya,” berkata salah seorang di antara mereka.

 

“Sebenarnyalah bahwa Ki Juru Martani adalah orang yang sangat berbahaya. Ia seorang bijaksana, tetapi kadang-kadang ia menjadi agak licik. Bagiku Ki Juru Martani jauh lebih berbahaya dari Ki Gede Pemanahan. Meskipun barangkali di dalam olah kanuragan, Ki Juru Martani sendiri tidak melampaui Ki Gede Pemanahan, namun akalnya tidak ada habis-habisnya. Ialah yang dahulu mengatur siasat untuk menjebak Arya Penangsang dari Jipang, sehingga Arya Penangsang yang tidak terkalahkan itu mati oleh goresan kerisnya sendiri pada ususnya,” sahut yang lain.

 

“Kini ia menghadap Kanjeng Sultan,” berkata yang lain lagi, “dan ia membawa sebuah songsong di dalam selongsong putih. Tidak seorang pun yang tahu payung di dalam selongsong itu berwarna apa. Tetapi itu pertanda kehormatan yang besar bagi Raden Sutawijaya. Meskipun seandainya payung itu berwarna hijau sekali pun tanpa geleng kuning.”

 

Para Senapati itu mengangguk-angguk. Mereka memang melihat pertanda, bahwa Kanjeng Sultan agaknya sama sekali tidak berusaha menghambat perkembangan Mataram, meskipun jelas bagi Kanjeng Sultan bahwa Sutawijaya sama sekali tidak mau menghadap ke Pajang.

 

Tetapi lebih daripada itu, puncak dari segala niat untuk menghentikan kegiatan Raden Sutawijaya adalah pamrih yang lebih besar lagi.

 

“Pajang memang sudah tidak dapat diharapkan lagi,” berkata seorang senapati di dalam hatinya, “tetapi merebut kedudukan Hadiwijaya tidak akan berarti tanpa melenyapkan Sutawijaya terlebih dahulu.”

 

Dan alasan itulah sebenarnya, maka seorang senapati yang memiliki kemampuan olah kanuragan, tetapi juga kemampuan berpikir yang cerdas, telah berhasil membuat jarak yang nampak semakin jauh antara Pajang dan Mataram. Meskipun ia belum berhasil membenturkan dengan langsung Pajang dan Mataram.

 

Tetapi senapati itu berhasil mendapat dukungan dari beberapa orang kawannya dengan alasan yang lain. Hanya satu dua orang sajalah yang telah bersepakat untuk menjatuhkan Sultan Hadiwijaya sebagai alasan yang sesungguhnya. Sedang yang disebarkannya adalah perasaan benci kepada Raden Sutawijaya seolah-olah Raden Sutawijaya telah bersiap untuk memberontak melawan Pajang.

 

Jika ia berhasil menghasut Pajang untuk melenyapkan Mataram selagi Mataram belum terlalu kuat, maka kemudian tinggallah merebut kedudukan Pajang dari tangan Sultan Hadiwijaya yang rasa-rasanya menjadi semakin lemah. Ia dapat menghasut rakyat dan para prajurit kemudian para adipati di pasisir dan Bang Wetan.

 

Pangeran Benawa, putera Sultan Pajang, agaknya memang seorang yang lemah hati. Meskipun agaknya kemampuan ilmu ayahandanya sebagian temurun juga kepadanya, tetapi rasa-rasanya Pangeran Benawa bukannya seorang yang kuat untuk memegang pemerintahan. Bahkan seakan-akan Pangeran Benawa sendiri sama sekali tidak mempunyai hasrat untuk mewarisi kedudukan ayahandanya. Ia lebih senang menyelusuri kedamaian hati di pegunungan dan padepokan-padepokan kecil. Bukan untuk berguru dan mendapatkan ilmu yang berlebihan agar ia kelak menjadi seorang yang pilih tanding. Tetapi benar-benar untuk menikmati ketenteraman dan menjauhi kesibukan yang tiada henti-hentinya.

 

“Tetapi Sutawijaya harus dilenyapkan dahulu,” berkata Senapati itu.

 

“Bagaimana jika kami langsung menghancurkan Mataram,” bertanya seorang kawannya yang dipercayainya.

 

“Justru kita akan berhadapan dengan Sultan Hadiwijaya.”

 

Senapati-senapati itu berdiam. Mereka masih selalu melangkah dengan sangat hati-hati karena setiap kekeliruan akan membawa mereka ke tiang gantungan.

 

Karena itu, mereka masih harus tetap merahasiakan diri. Meskipun orang-orang yang di bawah pengaruhnya sudah bertindak jauh, bahkan Daksina telah terbunuh di sarang Panembahan Agung, namun tidak seorang pun di antara mereka yang diumpankan itu tahu dengan pasti, siapakah sebenarnya yang berada di ujung segala macam rencana itu. Hantu-hantuan di Alas Mentaok, penjahat yang mengganggu lalu lintas, usaha membunuh orang-orang Mataram di Jati Anom dengan cara yang sebaliknya membunuh senapati-senapati Pajang sendiri, dan usaha-usaha lain yang sudah terlampau banyak dilakukan, dan yang terakhir adalah kerja sama dengan Panembahan Agung. Kerja sama yang sebenarnya mengandung bahaya yang cukup besar bagi para senapati itu sendiri, karena Panembahan Agung adalah seorang yang pilih tanding dan mempunyai pengaruh serta kekuatan yang cukup. Tetapi Senapati yang menggerakkan semuanya itu, dan yang seakan-akan tidak dikenal oleh orang lain, adalah seorang yang merasa dirinya dapat mengimbangi kemampuan Panembahan Agung.

 

Dan kini, selagi usaha mereka belum ada tanda-tandanya dapat berhasil, bahkan kegagalan mereka membunuh Ki Gede Pemanahan, maka mereka mendengar berita itu. Ki Gede Pemanahan telah wafat.

 

Dengan demikian, maka beberapa orang yang pernah ikut merencanakan pembunuhan atas Ki Gede Pemanahan di pinggir Kali Opak, merasa berbangga. Mereka menganggap bahwa wafat Ki Gede disebabkan oleh luka yang dideritanya dalam pencegatan itu dan tidak berhasil lagi disembuhkan.

 

Tetapi orang-orang yang berbangga karena mereka telah menghubungi orang-orang yang berhasil melukai Ki Gede Pemanahan itu tidak dapat mengetahui, kepada siapa mereka harus berbangga, karena mereka tidak mengetahui dengan pasti, siapakah sebenarnya yang telah menggerakkan mereka. Namun orang-orang yang menghubungi mereka adalah orang-orang adbmcadangan.wordpress.com yang memberikan janji dan harapan, bahwa jika terjadi perubahan, apalagi apabila usaha Ki Gede di Mataram gagal, mereka akan mendapat kedudukan yang sangat baik. Apalagi sebelum harapan itu dapat mereka hayati, mereka sudah lebih dahulu menerima hadiah-hadiah berharga dari orang yang tidak mereka ketahui dengan pasti.

 

Dalam pada itu, berita tentang kehadiran Ki Juru Martani di Pajang, dan yang kemudian keluar dari istana justru membawa sebuah payung berselongsong putih, telah terdengar oleh sepasang telinga seorang yang merasa sangat berkepentingan.

 

Karena itulah, maka orang itu pun segera memanggil pembantu-pembantunya yang paling dapat dipercaya untuk berbicara mengenai Ki Juru Martani.

 

“Aku memerlukan suatu tindakan yang cepat,” berkata senapati yang selalu dibayangi oleh penyamaran di hadapan anak buahnya kecuali orang-orang yang paling dekat, yang jumlahnya tidak lebih dari tiga orang.

 

“Apakah yang Kakang kehendaki?” bertanya salah seorang senapati pengikutnya.

 

Senapati yang memimpin usaha menggagalkan berdirinya Mataram itu merenung sejenak. Wajahnya yang keras dan matanya yang dalam, seakan-akan tersembunyi di sela-sela keningnya itu menjadi tegang.

 

“Sepeninggal Pemanahan, agaknya Juru Martani akan mengambil alih pimpinan.”

 

“Tentu tidak,” jawab yang lain, “ia hanya dapat menjadi penasehat Sutawijaya karena ia tidak mempunyai hak apa pun atas Mataram.”

 

“Tidak ada bedanya. Sutawijaya akan tunduk atas segala petunjuk dan nasehat-nasehatnya. Dan Juru Martani adalah orang yang licik. Ia mempunyai banyak akal.”

 

“Kami memang sudah membicarakannya,” desis seorang senapati, “dan hampir setiap orang menilai demikian.”

 

“Karena itu, Ki Juru Martani tidak boleh dibiarkan kembali ke Mataram dengan songsong yang didapatkannya dari Kanjeng Sultan itu.”

 

“Kita akan mencegatnya seperti Ki Gede Pemanahan?”

 

“Ya. Usahakan bahwa Ki Juru dan kawannya yang mengawalnya itu benar-benar mati. Kebodohan kalian di masa kalian mencegat Ki Gede Pemanahan tidak boleh berulang. Untunglah waktu itu tidak ada orang-orang penting yang dapat ditangkap oleh Sutawijaya mau pun Untara, sehingga dengan demikian kalian tidak perlu melakukan pembunuhan untuk memutuskan jalur penyelidikan orang-orang Pajang dan Mataram.”

 

Senapati yang lain mengangguk-angguk.

 

“Nah, sekarang lakukanlah. Tetapi ingat, jika terpaksa kalian gagal dan ada di antara orang-orang penting yang tertangkap, kalian harus bertindak cepat. Kalian harus membunuh senapati penghubung itu, agar tidak ada seorang pun yang dapat menarik garis sampai kepada kita di sini.”

 

“Baik, Kakang Panji,” jawab Senapati yang lain hampir bersamaan.

 

“Tidak ada orang yang mengenal aku kecuali kalian. Itu harus kau sadari. Salah seorang dari kita memang dapat dipercaya. Maksudku, salah seorang dari kita akan memilih mati daripada membuka rahasia. Tetapi kita tidak dapat beranggapan demikian terhadap senapati-senapati yang lain. Jika mereka tertangkap maka mereka tentu akan berbicara. Mereka akan menganggap lebih baik menyebut salah seorang dari kita yang menghubunginya daripada harus mengalami hukuman yang paling berat.”

 

Senapati yang lain mengangguk-angguk.

 

“Nah, berbuatlah dengan cepat. Ki Juru Martani tentu akan segera meninggalkan Pajang, karena ia masih harus menyelenggarakan pemakaman Ki Gede Pemanahan.” Senapati yang disebut sebagai pemimpin mereka itu terdiam sejenak, lalu, “Ingat, jika terjadi kesalahan, bunuhlah jalur perantara itu. Dengan demikian kita akan tetap tidak dikenal.”

 

Demikianlah maka para senapati itu segera bertindak. Mereka tidak mau terlambat. Segera mereka menghubungi kawan-kawan mereka. Juga beberapa orang perwira. Tetapi merekalah yang disebut jalur-jalur yang harus segera diputuskan apabila usaha mereka gagal. Dan senapati yang langsung berhubungan dengan orang yang mereka sebut Kakang Panji itulah yang harus mengakhiri hidup mereka.

 

Senapati-senapati itu merasa beruntung bahwa mereka belum terlambat. Ki Juru Martani dan seorang pengawalnya masih berada di Pajang. Mereka masih berbicara dengan beberapa orang sahabat-sahabatnya terdekat sebelum mereka kembali ke Mataram.

 

“Kita pergi bersama,” berkata seorang perwira yang akan pergi ke Mataram untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada Ki Gede Pemanahan.

 

“Tentu kami akan sangat berterima kasih atas kehadiran kalian. Tetapi maaf, kami akan pergi lebih dahulu, masih banyak yang harus dikerjakan.”

 

Sahabat-sahabatnya dapat mengerti kesibukan Ki Juru Martani sehingga mereka pun kemudian berkata, “Baiklah, Ki Juru. Kami akan segera menyusul.”

 

Kesediaan beberapa orang pemimpin Pajang untuk menghadiri pemakaman Ki Gede Pemanahan membuat hati Ki Juru menjadi sejuk. Tetapi mereka tentu memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri, sedang Ki Juru Martani tidak dapat menunggu mereka karena masih banyak yang harus dikerjakan, sehingga dengan demikian maka mereka pun tidak dapat pergi bersama.

 

“Ki Juru,” berkata seorang senapati, “hati-hatilah di perjalanan. Rasa-rasanya aku teringat perjalanan Ki Gede Pemanahan beberapa saat yang lampau. Meskipun barangkali Ki Juru bukan orang yang dianggap menjadi ujung dari usaha untuk membuka Alas Mentaok, tetapi rasa-rasanya perjalanan Ki Juru juga merupakan perjalanan yang berbahaya. Apalagi Ki Juru hanya membawa seorang pengawal.”

 

Ki Juru tersenyum. Sambil berpaling kepada Ki Waskita, ia berkata, “Apalagi pengawalku bukan pengawal yang mumpuni dalam olah keprajuritan. Tetapi aku memang tidak mempunyai niat untuk berkelahi dengan siapa pun.”

 

“Itu pulalah sebabnya Ki Gede beberapa waktu yang lalu tidak membawa pengawal. Ia pun sama sekali tidak berniat untuk berkelahi. Tetapi adalah haknya untuk mempertahankan diri dari usaha pembunuhan orang lain.”

 

“Aku tidak sepenting Ki Gede Pemanahan.”

 

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berdesis, “Kenapa Ki Juru tidak mau menunda barang sedikit dan kemudian kita bersama-sama pergi ke Mataram?”

 

“Maaf,” Ki Juru menjawab, “sekali lagi aku mengucapkan diperbanyak terima kasih. Aku harus segera berada di antara keluarga Ki Gede yang tentu sudah dijemput pula dari Sela.”

 

Para pemimpin Pajang itu tidak dapat menahan Ki Juru lagi. Karena itu maka dilepaskannya Ki Juru yang kemudian mendahului. Namun demikian Ki Juru masih sempat singgah barang sekejap untuk memberitahukan wafatnya Ki Gede Pemanahan kepada puteri dan menantunya yang tidak dapat menunggui saat Ki Gede Pemanahan sedang sakit.

 

Tetapi Ki Juru pun tidak dapat pergi bersama mereka, karena mereka pun harus berbenah dahulu. Sehingga dengan demikian Ki Juru pun kemudian kembali ke Mataram hanya berdua saja dengan Ki Waskita.

 

“Kita harus segera sampai di Mataram, Ki Waskita,” berkata Ki Juru sambil berpacu. “Agaknya semua orang menanti kita dengan gelisah.”

 

“Ya, Ki Juru. Mungkin mereka juga mencemaskan nasib kita di perjalanan.”

 

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Bukankah aku sudah membawa seorang pengawal. Aku sudah mengatakan kepada para pemimpin di Pajang seperti yang Ki Waskita kehendaki. Sekedar seorang pengawal. Tidak lebih dan tidak kurang.”

 

Ki Waskita pun tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Ternyata Ki Juru telah memenuhi pernintaanku.”

 

Keduanya tertawa. Namun dalam pada itu keduanya berpacu semakin cepat.

 

Tetapi dalam pada itu, ternyata orang-orang yang mendapat tugas dari orang yang disebut Kakang Panji oleh senapati-senapati kepercayaannya itu pun dapat bekerja dengan cepat pula. Mereka tidak lagi sempat menghubungi orang-orang lain yang dipercaya untuk memotong perjalanan Ki Juru Martani, namun mereka telah menunjuk beberapa orang untuk melaksanakan tugas itu langsung.

 

“Ki Legawa,” berkata seorang senapati kepercayaan orang yang menghendaki kematian Ki Juru itu, “perintahkan kepada sepuluh orang pengikutmu. Hati-hati. Ki Juru adalah orang yang tidak kalah saktinya dari Ki Gede pemanahan. Dan hati-hati pula jika ia mulai berbicara. Karena itu, jangan beri kesempatan kepadanya untuk mengatakan apa saja yang dapat membuat hati orang-orangmu menjadi luluh.”

 

Ki Legawa mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah sepuluh orang itu sudah cukup? Bukankah ia membawa seorang pengawal?”

 

“Dua orang itu agaknya membuat kau ragu-ragu. Baiklah. Bawalah lima belas orang. Cepat. Kalian dapat memilih tempat sebaik-baiknya. Di tengah bulak atau di pinggir kali. Tidak usah terlalu jauh dari batas kota, agar kau tidak terlambat. Kalau kau yakin usahamu berhasil, kau tidak usah memerintahkan orang-orangmu memakai penyamaran apa pun. Tetapi ingat, kau sendiri tidak perlu ikut di dalamnya, karena kau sudah terlalu banyak dikenal. Jika ada orang di sawah yang melihatmu, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat.”

 

Ki Legawa mengetahui dengan pasti maksud perintah itu. Karena itu, maka ia pun segera pergi. Ia tidak perlu mencari orang ke mana-mana, karena memang tidak ada waktu lagi. Karena itu diperintahkannya saja lima belas orang untuk melakukan tugas itu.

 

“Jangan pergi bersama-sama.”

 

Demikianlah maka lima belas orang itu pun segera pergi keluar kota dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak menumbuhkan kecurigaan. Mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian keprajuritan mereka, meskipun mereka tidak perlu memakai penyamaran wajah, karena mereka yakin bahwa Ki Juru dan pengawalnya itu akan binasa.

 

“Ingat peristiwa yang terjadi saat kita berusaha membunuh Ki Gede Pemanahan. Meskipun akhirnya ia mati terbunuh juga, tetapi jika saat itu ada orang-orang penting yang tertangkap, maka persoalannya akan dapat diungkap. Dan kita tidak akan dapat berusaha untuk berbuat apa-apa lagi.”

 

Mereka yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan itu pun menyadari sepenuhnya, bahwa yang mereka lakukan adalah suatu tindakan yang sangat gawat. Tetapi mereka menyadari bahwa tindakan mereka adalah dalam rangka menggagalkan usaha untuk mendirikan Mataram sebagai tandingan Pajang.

 

Demikianlah sekelompok prajurit pengikut Ki Legawa telah mulai bertindak. Mereka merasa bahwa yang mereka lakukan adalah semata-mata karena kesetiaan mereka terhadap Pajang. Tetapi mereka pun sadar, bahwa yang mereka lakukan itu bukan atas perintah Panglima Pasukan Wira Tamtama.

 

“Pimpinan prajurit Pajang terlampau lemah menghadapi Mataram, seperti juga Kanjeng Sultan sendiri,” berkata seorang senapati kepada mereka pada suatu saat. “Karena itu, maka kita harus menunjukkan pengabdian kita. Tidak usah menunggu perintah. Kita harus menggagalkan berdirinya Mataram. Karena kita sadar, jika Mataram menjadi besar maka Pajang akan menjadi semakin kecil. Dan kita akan kehilangan segala-galanya. Karena itu, berjuanglah untuk kebesaran Pajang. Ada beberapa orang hartawan yang menyediakan dana bagi kita, sehingga kita akan mendapatkan imbalan atas kesetiaan kita terhadap Pajang saat ini juga.”

 

Para prajurit itu tidak menaruh keberatan apa pun. Mereka memang ingin Pajang tetap besar sehingga kedudukan mereka tidak akan goyah. Selain itu mereka pun langsung menerima upah khusus jika mereka melakukan tugas-tugas khusus seperti itu.

 

Kelompok-kelompok kecil itu pun kemudian memintas lewat pematang-pematang dan tanggul-tanggul parit langsung ke tengah bulak panjang. Di sebuah tikungan yang masih dibayangi oleh gerumbul-gerumbul liar mereka menunggu. Sekelompok-sekelompok kecil mereka datang berkumpul, siap melakukan tugas itu.

 

Ki Juru Martani yang merasa tugasnya sudah selesai memacu kudanya semakin cepat. Ia ingin segera sampai di Mataram dan mempersiapkan lebih jauh lagi pemakaman Ki Gede Pemanahan besok.

 

Tetapi selagi kudanya berpacu di bulak panjang, maka Ki Juru Martani itu memperlambat lari kudanya ketika ia mendengar Ki Waskita berkata, “Ki Juru. Rasa-rasanya ada sesuatu di hadapan kita.”

 

“Apakah Ki Waskita melihat sesuatu?”

 

“Belum Ki Juru. Tetapi aku merasakan isyarat meskipun terlampau lemah. Apakah Ki Juru bersedia berhenti sejenak?”

 

Mereka berdua pun segera berhenti. Dengan ketajaman penglihatan mata hatinya, maka Ki Waskita mencoba untuk melihat sesuatu di depannya pada jarak yang terlampau pendek.

 

“Memang ada sesuatu, Ki Juru,” berkata Ki Waskita.

 

“Apa?”

 

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi tentu rintangan yang harus di atasi.”

 

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah dalam keadaan seperti ini ada juga orang yang sampai hati mengganggu perjalanan kita?”

 

BUKU 83

 

KI WASKITA tidak menyahut.

 

“Memang terlalu sekali. Mereka sama sekali tidak menghormati perjalananku untuk menyampaikan kabar wafatnya Ki Gede Pemanahan. Setiap orang berhak membenci aku, dan bahkan berusaha untuk mencelakai aku sekalipun. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini.”

 

“Ki Juru,” berkata Ki Waskita, ”tetapi agaknya hal itu akan terjadi di hadapan kita sekarang ini.”

 

Ki Juru mengerutkan keningnya.

 

“Apakah kita akan berjalan terus atau mencari jalan lain?” bertanya Ki Waskita.

 

Sekilas Ki Juru memandang songsong berwarna kuning yang ditutup dengan selongsong putih.

 

Tiba-tiba saja ia menggeram, ”Kita berjalan terus. Aku memandi payung tertinggi yang dihadiahkan oleh Kanjeng Sultan kepada Danang Sutawijaya yang akan bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk.

 

“Ki Waskita,” berkata Ki Juru, ”apakah Ki Waskita mempunyai pertimbangan lain? Sebenarnyalah bahwa Ki Waskita tidak boleh mengalami perlakuan seperti itu, karena Ki Waskita tidak terlibat apa pun juga di dalam pertentangan antara Mataram dan beberapa orang di dalam pimpinan pemerintahan Pajang. Apalagi Ki Waskita adalah seorang tamu bagi Mataram.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kita memang bukan prajurit, Ki Juru. Tetapi kita dapat saja bersikap seperti seorang prajurit yang menghadapi medan betapa pun beratnya. Dan Ki Juru jangan lupa, aku adalah orang pengawal yang mengikuti Ki Juru.”

 

Ki Juru Martani masih sempat tersenyum. Ia sudah mendengar bahwa Ki Waskita mempunyai kemampuan bertempur yang tidak ada taranya. Karena itu Ki Juru berkata, ”Baiklah. Aku mempunyai seorang pengawal yang pilih tanding. Sekarang pengawalku harus membuktikan kepadaku kemampuannya. Kemudian aku akan menentukan apakah ia masih akan tetap dapat menjadi pengawalku atau aku harus memecatnya.”

 

Ki Waskita pun kemudian tertawa pula. Katanya, ”Baik, Ki Juru. Marilah. Kita berjalan terus. Sebenarnyalah pekerjaanku kali ini tidak akan terlampau berat, karena orang yang aku kawal memiliki kemampuan hampir tidak ada batasnya.”

 

“Ah,” desah Ki Juru. Tetapi ia tidak menjawab.

 

Demikianlah maka kuda mereka pun mulai bergerak kembali. Tidak terlampau cepat. Tetapi mereka menjadi sangat berhati-hati.

 

Terasa angin yang lembut mengusap wajah-wajah yang tegang itu. Sehelai-sehelai rambut Ki Juru yang sudah mulai dihiasi dengan warna putih, seakan-akan menggelepar di luar ikat kepalanya. Sedang matanya dengan tajamnya memandang ke depan, ke segala bentuk yang ada di hadapannya.

 

Ki Juru Martani itu pun kemudian menarik nafas panjang. Ia melihat sesuatu bergerak di balik gerumbul-gerumbul liar.

 

Ternyata bahwa bukan hanya Ki Juru sajalah yang melihat sesuatu yang bergerak di balik gerumbul, tetapi Ki Waskita pun mulai melihatnya pula.

 

“Agaknya kita memang harus mengatasi kesulitan ini, Ki Juru,” berkata Ki Waskita.

 

Ki Juru Martani merenung sejenak. Ia membawa payung pemberian Sultan Pajang. Karena itu, ia harus mempertahankannya jika ada orang lain yang ingin merampasnya.

 

Perlahan-lahan kepalanya terangguk. Katanya seperti kepada dirinya sendiri, ”Tidak ada pilihan lain.”

 

Mereka berdua pun kemudian terdiam. Bayangan yang bergerak di balik gerumbul itu pun seakan-akan menjadi semakin banyak.

 

“Cukup banyak orang,” berkata Ki Juru, ”agaknya mereka merasa berhasil dengan cara itu. Meskipun Ki Gede tidak langsung terbunuh, tetapi menurut anggapan mereka, akhirnya Ki Gede Pemanahan pun wafat pula.”

 

“Mereka mengulangi cara yang pernah dilakukannya itu.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, ”Mengulangi cara yang pernah dilakukan di dalam persoalan seperti ini sebenarnya adalah perbuatan yang bodoh. Tetapi ternyata mereka pun agaknya akan berhasil. Kitalah yang sebenarnya lebih bodoh dari mereka, karena kita telah mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan.”

 

Ki Waskita tidak menyahut, tetapi kepalanya terangguk-angguk.

 

Kuda kedua orang Mataram itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan gerumbul liar di pinggir sawah itu. Orang-orang yang menunggu itu pun menjadi gelisah pula. Sebentar lagi mereka harus meloncat menerkam lawan yang menjadi semakin dekat.

 

“Memang hanya dua orang,” desis salah seorang prajurit yang mencegat perjalanan Ki Juru itu.

 

“Mereka memang orang-orang dungu,” berkata lurah prajurit yang memimpin mereka. “Mereka mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan.”

 

Tetapi yang lain menjawab, ”Bukan karena dungu. Tetapi mereka adalah orang-orang sombong yang merasa dirinya tidak terkalahkan. Mereka menganggap bahwa orang-orang Pajang tidak akan berdaya menghadapi Ki Juru Martani dan pengawalnya itu.”

 

“Bukan main,” desis yang lain, ”keduanya benar-benar harus dibinasakan. Bukan saja karena perintah dalam hubungannya untuk mencegah meluasnya Mataram. Tetapi mereka memang sudah menghina kita.”

 

Para prajurit itu pun segera bersiap. Mereka berada di sebelah-menyebelah jalan. Namun mereka sudah bersepakat, apabila mereka mendengar aba-aba diteriakkan, mereka akan berloncatan bersama-sama menerkam Ki Juru Martani dan pengawalnya.

 

Demikian teliti lurah prajurit yang memimpin pencegatan itu mengatur anak buahnya, sehingga siapa yang harus menerkam Ki Juru Martani, dan siapa yang harus menyerang pengawalnya sudah ditentukan pula.

 

“Sepuluh orang harus melawan Ki Juru Martani,” berkata Lurah prajurit itu, ”selebihnya melawan pengawalnya.”

 

Dengan hampir tidak sabar lagi prajurit itu menunggu. Kuda Ki Juru Martani dan pengawalnya rasa-rasanya berjalan terlampau malas.

 

Akhirnya kuda itu menjadi semakin dekat. Lurah prajurit itu pun sudah siap meneriakkan aba-aba. Demikian kedua ekor kuda itu memasuki daerah mereka, maka aba-aba pun harus diteriakkan.

 

Ki Juru dan Ki Waskita yang sudah melihat orang-orang yang bersembunyi itu pun menjadi semakin berhati-hati. Meskipun tidak pasti jumlahnya, tetapi mereka berdua dapat menduga, bahwa orang-orang yang mencegat mereka itu jumlahnya cukup banyak.

 

“Kita memerlukan waktu yang panjang,” berkata Ki Juru, ”sedang jenazah Adi Pemanahan minta segera diselesaikan.”

 

“Ya, Ki Juru,” berkata Ki Waskita, “Atau bahkan kita tidak akan dapat kembali sama kali untuk selamanya.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang yang mencegatnya tentu orang-orang pilihan. Mereka tentu menyadari bahwa yang harus mereka hadapi adalah Ki Juru Martani.

 

“Apakah orang-orang itu juga seperti orang-orang yang mencegat Ki Gede Pemanahan,” bertanya kedua orang yang menyadari bahaya yang dihadapinya itu di dalam hati masing-masing.

 

“Ki Juru,” berkata Ki Waskita kemudian, ”agaknya jika kita harus bertempur melawan mereka, kita akan memerlukan waktu lama, atau barangkali malahan kita tidak akan dapat kembali sama sekali.”

 

“Lalu, apa maksud Ki Waskita?” bertanya Ki Juru.

 

“Bagaimana jika kita lari saja meninggalkan mereka sebelum mereka mengepung kita.”

 

“Kembali ke Pajang?”

 

“Tidak. Tetapi kita dapat menerobos tanah persawahan dan meninggalkan orang-orang itu sebelum terlambat. Meskipun sawah itu basah, dan barangkali berlumpur, tetapi kuda akan lebih cepat dari orang-orang itu.”

 

Ki Juru memandang sawah yang basah di sebelah-menyebelah. Katanya, ”Lumpur itu cukup dalam. Jika kaki kuda kita terperosok, maka kita akan terikat di tengah-tengah sawah dan menjadi sasaran yang lunak bagi mereka.”

 

Ki Waskita merenung. Lalu, ”Jadi tidak ada jalan lain kecuali kembali ke Pajang?”

 

Ki Juru mengangguk.

 

Tetapi tiba-tiba Ki Waskita berkata, ”Kita berhenti sejenak dan bersembunyi di balik gerumbul seperti mereka.”

 

“Maksudmu?”

 

“Marilah, Ki Juru. Barangkali kita dapat berunding sejenak.”

 

Ki Juru Martani termangu-mangu. Dipandanginya wajah Ki Waskita dengan sorot mata yang mengandung berbagai macam pertanyaan.

 

“Kita turun sejenak, Ki Juru,” berkata Ki Waskita kemudian.

 

Ki Juru menjadi semakin heran. Katanya kemudian, ”Apakah dengan demikian kita tidak akan kehilangan waktu lebih banyak lagi.”

 

“Mungkin kita dapat mengatasi kesulitan ini dengan tidak usah bertempur. Dengan demikian kita akan dapat mempersingkat waktu.”

 

Ki Juru masih bimbang, tetapi ketika Ki Waskita meloncat turun, Ki Juru pun segera turun pula.

 

“Marilah kita bersembunyi, Ki Juru,” ajak Ki Waskita.

 

“Tetapi mereka tentu sudah melihat kita.”

 

“Apa salahnya?”

 

Ki Juru Martani menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak membantah lagi. Diikutinya Ki Waskita menuntun kudanya dan kemudian berlindung di balik gerumbul-gerumbul liar.

 

“Maaf, Ki Juru, sebaiknya payung itu pun ditundukkan sedikit agar tidak dapat dilihat oleh orang-orang itu.”

 

Ki Juru tidak menjawab. Tetapi payung itu pun ditundukkannya di balik sebatang pohon perdu.

 

“Nah, marilah kita mulai bermain-main dengan orang-orang itu, Ki Juru.”

 

“Maksud Ki Waskita?”

 

Ki Waskita tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap dengan ilmunya. Karena itu, sejenak kemudian maka seekor kuda yang tegar berlari kencang dari balik gerumbul itu melintas tanah persawahan.

 

Ki Juru terkejut melihat bentuk itu seolah-olah dirinya sendirilah yang melarikan diri di atas kudanya sambil membawa payung pemberian Kanjeng Sultan. Namun sejenak kemudian Ki Juru itu dapat menguasai dirinya. Ia pun segera menyadari bahwa Ki Waskita sedang bermain-main dengan bentuk semunya.

 

Seperti Kiai Gringsing, sebenarnyalah Ki Juru mempunyai kemampuan yang mampu membedakan antara bentuk semu dan bentuk sebenarnya. Karena itulah maka ia pun segera melihat, bagaimana dirinya sendiri memacu kudanya di dalam lumpur, sambil tersenyum. Kudanya yang tegar seolah-olah mendapat kesulitan karena kakinya yang terbenam. Namun kuda itu dapat berlari cukup kencang.

 

Ki Juru Martani tertawa tertahan ketika ia menyadari maksud Ki Waskita sebenarnya. Karena sejenak kemudian ia melihat beberapa orang yang bersembunyi di balik gerumbul itu pun berlari-larian mengejar kuda yang berlari-lari di tengah-tengah sawah itu.

 

“Jangan sampai lolos,” teriak pemimpin kelompok prajurit yang mencegatnya itu.

 

Beberapa di antara mereka pun memburu dengan senjata telanjang. Mereka berlari-larian di pematang sambil mengacu-acukan senjata mereka.

 

Kuda yang berlari di dalam lumpur itu nampaknya memang mendapat kesulitan. Tetapi kuda itu dapat juga berlari cukup cepat.

 

Ki Juru yang tertawa melihat permainan itu pun kemudian menyadari, bahwa kesempatan itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.

 

Ketika ia mencoba menghitung orang-orang yang mengejar kuda yang berlari di tengah sawah itu. Ia melihat beberapa orang yang sudah dikenalnya. Di antara mereka adalah lurah prajurit itu sendiri.

 

“Hem, jadi merekalah yang telah mencoba mengacaukan hubungan antara Mataram dan Pajang,” desisnya.

 

Orang-orang yang mengejar kuda yang berlari di tengah sawah itu menjadi semakin lama semakin jauh. Akhirnya mereka telah melintasi beberapa kotak sawah dengan nafas terengah-engah. Sedang kuda yang berlari itu masih belum dapat berlari terlampau kencang, sehingga orang-orang itu masih mengharap dapat menangkap penunggangnya.

 

Beberapa orang berusaha mendahului melalui pematang dan tanggul-tanggul parit, kemudian melingkar mencegatnya.

 

Dalam pada itu, ternyata masih ada beberapa orang yang tinggal. Lurah prajurit itu memerintahkan tiga orang untuk tinggal dan menangkap pengawal Ki Juru yang tidak ikut berlari ketengah-tengah sawah.

 

Ketiga orang itu pun perlahan-lahan mencoba merunduk. Menurut perhitungan mereka, pengawal Ki Juru masih bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul liar. Karena itu, maka mereka pun merayap dengan senjata teracu, siap untuk membunuh.

 

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, tanpa mereka sadari, terasa tengkuk mereka tersentuh sisi telapak tangan Ki Juru Martani. Dua orang dari mereka pingsan. Sedang orang ketiga tidak dapat berbuat lain kecuali menyerah, karena sebilah keris telah melekat di lambungnya.

 

Ki Juru Martani dan Ki Waskita tidak menunggu lebih lama lagi. Ki Waskita kemudian melepaskan bentuk semunya yang sudah terkepung. Dengan serta-merta maka Ki Juru dan Ki Waskita segera meloncat ke punggung kudanya sambil membawa seorang tawanan bersama mereka, yang harus berkuda bersama dengan Ki Waskita.

 

Ketika kedua ekor kuda itu berpacu, maka bentuk yang sudah terkepung itu mulai menjadi kabur dan kemudian bahkan lenyap seperti asap ditiup angin.

 

Orang-orang yang mengepung Ki Juru yang lenyap itu tertegun diam. Mereka bagaikan dicengkam oleh pesona yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Bahkan beberapa orang di antara mereka telah menggosok-gosok matanya.

 

“Apakah kita sudah gila,” teriak lurah prajurit itu.

 

Prajurit-prajurit yang lain masih berdiri mematung. Mereka memandang dengan mata tanpa berkedip ketempat bekas seekor kuda dan penunggangnya berdiri tegak setelah terkepung rapat. Namun tiba-tiba kuda dan penunggangnya itu lenyap begitu saja.

 

Dalam pada itu, mereka pun terkejut ketika mereka mendengar kuda berderap. Ketika mereka berpaling, mereka melihat dua ekor kuda berpacu dengan penunggangnya masing-masing.

 

“Itulah Ki Juru Martani dan pengawalnya,” teriak seorang prajurit.

 

Yang lain diam membeku. Bahkan lurah prajurit itu berkata, ”Di siang hari begini kita bertemu dengan hantu. Tentu bukan sekedar hantu-hantuan seperti yang pernah kita dengar di Alas Mentaok. Tetapi yang kita lihat sebenarnya adalah hantu jadi-jadian.”

 

“Apakah ini tuah Ki Gede Pemanahan yang meninggal itu?”

 

Terasa bulu tengkuk mereka meremang. Jika benar yang mereka alami adalah karena tuah Ki Gede Pemanahan, maka untuk seterusnya mereka akan selalu dikejar oleh hantu-hantuan serupa itu tidak henti-hentinya.

 

Selagi para prajurit itu kebingungan, maka pemimpinya pun berkata, ”Marilah kita lihat kawan-kawan kita yang tinggal.”

 

Para prajurit itu pun kemudian dengan tergesa-gesa kembali kepada kawan-kawan mereka. Namun mereka menjadi semakin gelisah, bahwa dua di antara mereka pingsan dan yang seorang telah hilang.

 

“Aku tidak tahu apakah yang sedang kita alami ini di percaya oleh pemimpin-pemimpin kita nanti,” berkata lurah prajurit itu. ”Agaknya Ki Legawa akan menjadi sangat marah. Jika seorang kawan kita yang dibawa oleh pengawal Ki Juru tadi dapat diperas, maka persoalannya tentu akan berkepanjangan.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Nama kita akan disebutnya dan terlebih-lebih lagi Ki Legawa, karena orang yang tertangkap dan dibawa oleh Ki Juru itu tahu pasti bahwa kita mendapat perintah dari Ki Legawa,” berkata lurah prajurit itu.

 

Dengan demikian, maka mereka pun menjadi sangat gelisah. Mereka sadar, bahwa yang mereka lakukan itu bukanlah tugas mereka yang sewajarnya. Mereka adalah orang-orang yang membenci perkembangan Mataram, bukan karena persoalan yang sebenarnya dapat tumbuh antara Mataram dan Pajang, tetapi karena mereka mempunyai pamrih pribadi. Apalagi upah adbmcadangan.wordpress.com yang langsung mereka terima di dalam tugas-tugas seperti itu dan janji-janji yang menggairahkan di masa depan yang gemilang bagi Pajang setelah Mataram runtuh.

 

“Tetapi tanggung jawab terbesar tidak terletak kepada kami,” berkata lurah prajurit itu. ”Memang mungkin kita akan dihukum. Tetapi Ki Legawa dan senapati-senapati yang lebih tinggilah yang akan memikul tanggung jawab terbesar.”

 

Prajurit-prajuritnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, ”Siapakah yang akan mengusut persoalan ini lebih jauh? Kita adalah prajurit-prajurit Pajang. Apakah orang-orang Mataram dapat menangkap prajurit Pajang.”

 

“Kau sangat bodoh,” sahut lurahnya, ”bukan orang-orang Mataram. Tetapi orang-orang Pajang sendiri.”

 

“Apakah para senapati dan pemimpin Pajang tidak justru akan melindungi kami?” bertanya seorang prajurit.

 

“Pemimpin di Pajang tidak bulat pendapatnya mengenai Mataram. Ada pemimpin-pemimpin yang tidak berkeberatan melihat kenyataan Mataram berkembang. Tetapi ada yang berkeberatan. Dan kita adalah prajurit-prajurit yang berkeberatan melihat adbmcadangan.wordpress.com Mataram berkembang. Pajang akan menjadi susut, dan barangkali akan musna sama sekali. Kita hanya akan dapat mengenang kebesaran Pajang dan tugas-tugas kita sebagai prajurit. Itulah sebabnya aku bersedia bekerja di bawah perintah Ki Legawa.”

 

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka tidak dapat menyisihkan perasaan gelisah.

 

Bahkan kemudian seorang prajurit yang lain berkata, ”Apalagi Kanjeng Sultan Pajang. Kasihnya kepada Raden Sutawijaya membuatnya sangat lemah menghadapi perkembangan daerah baru itu.”

 

“Persetan semuanya,” lurah prajurit itu akhirnya menggeram, ”kita akan kembali dan melaporkannya kepada Ki Legawa.”

 

“Bagaimana dengan kedua kawan kita yang pingsan?”

 

“Mereka sudah sadar,” sahut yang lain.

 

Keduanya memang sudah sadar meskipun rasa-rasanya masih sangat lemah. Namun keduanya telah dapat bangkit berdiri dan kemudian berjalan tertatih-tatih bersama kawan-kawannya kembali ke kota.

 

“Kita harus memencar seperti saat kita berangkat,” perintah Lurahnya.

 

Demikianlah mereka membagi diri ke dalam kelompok-kelompok yang kecil. Mereka bertiga atau berdua menuju ke kota sambil menyembunyikan senjata-senjata mereka di bawah kain panjang.

 

Namun perasaan mereka masih saja selalu dibebani oleh kecemasan, bahwa akan datang utusan dari Mataram dan mengusut peristiwa itu. Bahkan mungkin juga peristiwa terbunuhnya Ki Gede Mataram.

 

“Jika Raden Sutawijaya sendiri datang menghadap Kanjeng Sultan, maka persoalannya akan menjadi semakin pahit bagi kita.”

 

“Ia tidak berbuat demikian meskipun ada beberapa orang yang tertangkap pula saat Ki Gede Pemanahan dicegat di pinggir Kali Opak. Bahkan Untara pun dapat menawan beberapa orang dari mereka yang berusaha membunuh Ki Gede.”

 

“Tetapi jalur itu terputus. Tidak ada di antara mereka yang dapat menghubungkan jalur ke atas.”

 

Prajurit yang sedang berbicara itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah pada waktu itu, mereka yang mencegat Ki Gede Pemanahan berada di bawah perintah empat orang bersaudara yang memiliki ilmu yang tinggi itu. Jika pada saat itu Untara tidak datang dan kemudian disusul dengan kehadiran Sutawijaya, maka Ki Gede Pemanahan tentu sudah binasa.

 

Orang-orang yang kemudian tertangkap, tidak mengetahui urutan yang lain, kecuali keempat bersaudara itu, sehingga bagaimana pun mereka diperas, namun tidak akan ada seorang pun yang dapat menyebut nama pemimpin-pemimpin di Pajang.

 

“Berbeda dengan keadaan yang baru saja terjadi itu,” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hati.

 

Dalam pada itu, maka Ki Juru Martani dan Ki Waskita yang berhasil menawan seorang prajurit Pajang, semakin lama menjadi semakin jauh. Mereka tidak lagi berpaling karena mereka yakin, bahwa orang-orang yang mencegat mereka tidak akan dapat mengejarnya.

 

Namun demikian kemungkinan itu masih dapat terjadi. Jika orang-orang yang kehilangan seorang kawannya itu merasa perlu untuk menghilangkan jejak, maka mereka tentu akan berusaha untuk merebut kawannya yang dibawa oleh Ki Waskita.

 

“Tetapi jarak yang sudah ada cukup panjang,” berkata Ki Juru kepada diri sendiri, ”orang-orang itu tentu akan kembali terlebih dahulu ke Pajang untuk mengambil beberapa ekor kuda. Barulah mereka akan mengejar sementara itu aku sudah menjadi jauh sekali dan tidak mungkin dapat dikejarnya lagi meskipun seekor dari kuda-kuda kami harus membawa beban dua orang.”

 

Namun beban yang terlampau berat itu mempengaruhi laju kuda Ki Waskita. Meskipun kadang-kadang tawanan itu harus berpindah ke kuda yang dipergunakan oleh Ki Juru, tetapi perjalanan mereka menjadi semakin lama.

 

“Kita meminjam kuda di perjalanan,” berkata Ki Waskita.

 

“Apakah ada orang yang sudah kau kenal?” bertanya Ki Juru.

 

“Barangkali justru Ki Juru yang mempunyai banyak sahabat di sepanjang jalan antara Pajang dan Mataram.”

 

“Ki Waskita,” berkata Ki Juru, ”sekarang amat sulit untuk memilih sahabat yang manakah yang sebenarnya bersedia membantu kita setulus hati. Jika aku singgah di rumah yang salah, karena sikapnya yang tidak sesuai dengan sikap kita terutama tentang Mataram, maka perjalanan kita justru akan semakin terganggu.”

 

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian katanya, ”Kita justru singgah di rumah orang yang sama sekali belum kita kenal, kita meminjam seekor kuda.”

 

“Mereka akan berkeberatan.”

 

“Kita meninggalkan sesuatu kepada mereka, Ki Juru. Aku mempunyai sesuatu yang bernilai lebih dari seekor kuda. Kita titipkan barang itu kepadanya dan kita meminjam kudanya barang tiga hari. Besok kita dapat mengembalikannya jika pemakaman Ki Gede sudah selesai.”

 

“Apakah yang dapat Ki Waskita titipkan?”

 

“Cincin ini,” sahut Ki Waskita sambil menunjukkan cincin emas yang melingkar di jarinya.

 

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum.

 

“Kenapa Ki Juru?”

 

Ki Juru menggeleng. Disela-sela senyumnya ia menjawab, ”cincin itu adalah cincin sebenarnya.”

 

“Tentu, Ki Juru. Bukan sekedar sebuah permainan dari ilmu kebohongan itu. Aku tidak akan dapat berbuat demikian kepada seseorang yang tidak mempunyai sangkut paut apa pun.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun katanya, ”Tetapi mungkin mereka masih tetap berkeberatan, karena kuda bagi seseorang kadang-kadang mempunyai nilai lebih dari nilai kuda itu sendiri. Seekor kuda kadang-kadang dapat dianggap sebagai sahabat yang akrab dan baik.”

 

“Bukankah Ki Juru membawa payung itu? Setiap orang tentu akan menghargainya.”

 

Ki Juru merenung sejenak. Lalu, ”Baiklah. Kita akan mencoba. Justru kepada orang yang belum kita kenal sama sekali.”

 

Dan ternyata bahwa usaha yang mereka lakukan itu berhasil. Mereka memperoleh seekor kuda yang cukup. Tetapi mereka harus menunggu sejenak di rumah orang itu selama kuda itu dipersiapkan.

 

Dalam pada itu, seperti yang sudah diperhitungkan oleh Ki Juru dan Ki Waskita, ketika laporan mengenai kegagalan para prajurit yang mencegat Ki Juru itu sampai ke telinga Ki Legawa, maka wajahnya pun menjadi merah padam. Kegagalan itu dan sekaligus bahwa seorang anak buahnya dapat ditangkap membuatnya menjadi sangat marah dan lebih-lebih lagi menjadi cemas.

 

“Kau tahu akibat dari kebodohanmu itu?” bertanya Ki Legawa kepada Lurah prajurit.

 

“Yang terjadi adalah di luar kemampuan kami Ki Legawa. Kami dihadapkan pada permainan yang tidak kami mengerti.”

 

Tetapi ketika Lurah prajurit itu bercerita, maka Ki Legawa membentak, ”Bohong. Kalian ingin melindungi kebodohanmu. Aku tidak peduli kepada ceritamu itu. Sekarang kita harus mengejar mereka. Merebut seorang yang tertawan itu dan membunuh keduanya. Kuda mereka tentu tidak akan dapat berlari cepat, karena yang seekor harus dibebani oleh dua orang bersama-sama.”

 

Prajurrit-prajuritnya tidak membantah lagi. Mereka pun segera mempersiapkan kuda masing-masing meskipun harapan untuk menyusul Ki Juru agaknya sangat tipis.

 

Prajurit-prajurit itu tidak dapat lagi membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil. Yang dapat mereka lakukan hanyalah memilih jalan yang paling sepi dan jauh dari padukuhan-padukuhan yang ramai.

 

Sebenarnyalah ketika sekelompok prajurit memacu kudanya di antara padukuhan-padukuhan kecil yang sepi, maka orang-orang di padukuhan itu menjadi saling bertanya-tanya. Apakah sebenarnya yang telah terjadi.

 

Namun seorang tua di antara mereka berkata, ”Prajurit-prajurit itu akan pergi ke Mataram.”

 

“Kenapa?”

 

“Ki Gede Pemanahan telah meninggal. Mereka tentu akan pergi untuk memberikan penghormatan yang terakhir.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari mereka bertanya, ”Kenapa mereka tidak melalui jalan raya?”

 

“Mereka mencari jalan memintas. Ki Juru agaknya telah mendahului kembali ke Mataram.”

 

Yang lain sekali lagi mengangguk-angguk. Dan mereka tidak bertanya apa pun lagi.

 

Sementara itu, sekelompok orang-orang berkuda itu memacu kudanya semakin cepat. Mereka harus dapat menyusul Ki Juru Martani sebelum Ki Juru memasuki daerah yang ramai, daerah yang akan dapat mengenal apa yang telah mereka lakukan.

 

“Jika kita dapat menyusulnya di Sangkal Putung, kita harus membawa keluar dari daerah itu lebih dahulu,” berkata Lurah Prajurit itu.

 

Demikianlah mereka berpacu semakin cepat. Di luar kota mereka berbelok dan menuju ke jalan raya satu-satunya yang menghubungkan Pajang dan Mataram. Selain jalan itu, adalah jalan yang sekedar dapat dilalui. Sempit, jelek dan barangkali terputus.

 

Dengan kecemasan yang mendera di dalam hati setiap prajurit itu, mereka pun telah mendera kuda-kuda mereka. Semakin lama semakin cepat. Beberapa ratus langkah lagi mereka akan segera sampai di jalan raya. Di jalan itu mereka tidak akan kehilangan jejak Ki Juru Martani.

 

Tetapi ketika mereka mendekati jalan raya, tiba-tiba lurah prajutir itu terkejut. Di kejauhan mereka melihat beberapa orang berkuda di dalam iring-iringan.

 

“Siapakah mereka?” bertanya lurah itu.

 

Seorang prajurit di sebelahnya menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata, ”Kita tidak memerlukan mereka. Kita lampaui saja iring-iringan itu.”

 

Namun semakin dekat mereka dengan jalan raya semakin jelas pada mereka, bahwa iring-iringan itu adalah iring-iringan beberapa orang pemimpin, bahkan Senapati Pajang.

 

“Gila. Ke manakah mereka akan pergi?” geram Lurah prajurit itu.

 

Setiap orang di dalam kelompok prajurit berkuda itu menjadi berdebar-debar. Ternyata di hadapan mereka, di jalan raya, beberapa orang pemimpin dari Pajang sedang menuju ke Mataram dalam iring-iringan.

 

“Ki Lurah,” berkata seorang prajurit, ”agaknya mereka pun akan memberikan penghormatan terakhir.”

 

“Selain mereka siapa lagi, he?” bentak lurah prajurit itu.

 

“Maksudku, maksudku mereka akan pergi ke Mataram.”

 

“Setan alas,” lurah prajurit itu menggeram. Ia terpaksa memperlambat lari kudanya. Agaknya para pemimpin yang sedang berkuda ke Mataram itu sudah melihat prajurit-prajurit itu pula. Tetapi mereka tidak begitu menghiraukannya. Agaknya mereka juga mengira bahwa prajurit-prajurit itu akan pergi ke Mataram untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Gede Pemanahan.

 

“Lalu, apakah kita akan mendahului mereka, Ki Lurah?” bertanya seorang prajurit.

 

“Tidak mungkin.”

 

“Kita akan mencari jalan lain?”

 

“Juga tidak mungkin. Jika kita mencari jalan lain, maka perjalanan kita akan menjadi sangat lama dan panjang. Tentu kita akan terlambat. Ki Juru tentu sudah berlalu.”

 

“Jadi?”

 

Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menggeram, ”Yang harus kita lakukan, teryata ada di luar kemampuan kita. Sekarang aku baru sadar, bahwa kita memang tidak mampu melakukan tugas ini. He, apakah kau ingat cerita tentang Panembahan Agung yang dapat dikalahkan oleh orang-orang Mataram dan Menoreh?”

 

“Kenapa?”

 

“Panembahan Agung dapat membuat ujud yang sebenarnya tidak ada. Bukankah kita mengalaminya?”

 

“Maksud Ki Lurah?”

 

“Kuda yang seakan-akan berlari-larian di tengah sawah dengan Ki Juru Martani di punggungnya itu? Ternyata ujud itu adalah ujud yang semu. Seperti ujud yang diciptakan oleh Panembahan Agung. Dan bukankah yang sampai ke telinga kita, orang-orang Mataram dan Menoreh memiliki ilmu seperti itu pula.“

 

Prajurit-prajuritnya mengangguk-angguk. Namun akhirnya salah seorang dari mereka bertanya pula, “Lalu, apa yang akan kita kerjakan sekarang?”

 

“Kembali kepada Ki Legawa dan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kita tidak akan dapat merebut seorang kawan kita yang tertawan itu. Keadaannyalah yang tidak mengijinkannya.”

 

Prajurit-prajurit itu tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun segera berbalik dan memacu kuda mereka kembali ke barak untuk melaporkan semua peristiwa yang mereka alami itu kepada Ki Legawa.

 

Namun prajurit-prajurit itu tidak menyadari, bahwa sepasang mata selalu mengikuti perjalanan mereka. Dan sepasang mata itu pun segera dapat mengerti, bahwa perjalanan itu telah gagal justru karena di depan mereka sebuah iring-iringan pemimpin-pemimpin dan senapati-senapati Pajang sahabat-sahabat Ki Gede Pemanahan sedang lewat.

 

“Kegagalan yang jauh lebih berbahaya dari kegagalan yang pernah terjadi atas Ki Gede Pemanahan,” desis orang itu.

 

Karena itu, maka ia pun segera berpacu secepat-cepatnya kembali menghadap orang yang disebutnya Kakang Panji.

 

“Jadi tidak ada cara lain untuk merebut orang itu?” bertanya orang yang di sebut Kakang Panji.

 

Senapati yang mengamati perjalanan kembali prajurit-prajurit yang gagal itu menggeleng. Katanya, ”Mereka kembali dengan tangan hampa.”

 

Pemimpinnya mengerutkan keningnya. Kemudian dengan suara parau ia berkata, ”Jalur itu harus diputuskan. Jika tidak semua rencana kita akan gagal.”

 

Senapati yang diajak berbicara itu mengerti. Perintah itu adalah perintah yang juga tidak boleh gagal agar jalur itu terputus. Jika ia gagal memutuskan jalur itu, maka ia sendirilah yang harus dilepaskan dari jalur itu pula.

 

“Baiklah, Kakang Panji,” berkata senapati itu, ”aku minta diri.”

 

“Kau tidak usah pergi ke mana-mana. Legawa akan mencarimu dan melaporkan semua kegagalannya,” jawab pemimpinnya. ”Ki Juru tidak akan segera sempat memeras keterangannya dari kawannya itu.”

 

“Tetapi bagaimana jika Ki Legawa menyadari keadaannya, dan segera menghilang?”

 

Orang yang disebut Kakang Panji itu pun mengangguk-angguk. Lalu, ”Baiklah. Pergilah menurut perhitunganmu. Yang penting adalah jalur ini dapat diputuskan.”

 

Senapati itu pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke tempat Ki Legawa menunggu orang-orangnya. Ketika ia sampai di tempat itu ternyata prajurit-prajuritnya sudah berada di tempat itu dan pemimpinnya sedang melaporkan apa yang terjadi.

 

“O,” berkata senapati itu, ”silahkan, barangkali aku mengganggu. Lebih baik aku berada di luar. Jika yang sedang kalian bicarakan adalah rahasia.”

 

Ki Legawa mengerutkan keningnya. Lalu, ”Tidak apa-apa. Silahkan.”

 

“Tidak. Silahkan menyelesaikan. Aku menunggu. Kedatanganku sama sekali tidak ada persoalan yang penting.”

 

Ki Legawa termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyadari bahwa seharusnya senapati itu tidak langsung dikenal oleh prajurit-prajuritnya. Sehingga karena itu, maka dipersilahkannya senapati itu menunggu di luar.

 

“Apakah senapati itu mengetahui rencana kita?“ bertanya lurah prajurit kepada Ki legawa.

 

Ki Legawa menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Tidak. Tidak ada orang yang mengetahuinya selain orang tertinggi dari jalur perintah ini. Orang yang akan dapat menempatkan dirinya sejajar dengan Ki Gede Pemanahan.”

 

Prajurit-prajurit itu tidak bertanya lagi. Mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dapat mengetahui lebih banyak dari yang sudah mereka ketahui.

 

“Tidak ada seorang pun yang tahu, siapakah sebenarnya orang itu,” berkata Ki Legawa, ”aku pun tidak. Dan kita memang tidak memerlukan lebih banyak dari meyakini cita-citanya yang luhur.”

 

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.

 

Ketika laporan itu dianggap sudah selesai, maka Ki Lurah itu pun segera meninggalkan Ki Legawa yang bukan saja marah, tetapi juga cemas dan gelisah. Tetapi ia masih ingin mendengar sikap dan pendapat senapati yang datang kepadanya itu.

 

“Aku telah gagal,” berkata Ki Legawa, ”aku menyadari bahwa hal ini akan dapat berakibat buruk bagiku.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kau dapat menjadi lantaran untuk memutuskan jalur yang melalui aku, karena ada seorang yang sudah tertawan.”

 

“Aku tidak mengerti,” desis senapati itu. Tetapi ia sudah menjadi gelisah. Jika Ki Legawa menyadari kedudukannya dan bersiap di tengah-tengah anak buahnya, maka ia akan mendapat banyak kesulitan karenanya.

 

“Kau jangan pura-pura bodoh,” desis Ki Legawa.

 

Senapati itu termenung sejenak, lalu, ”Ki Legawa. Kita harus bertindak cepat. Aku tidak mengerti bagaimana tanggapanmu. Tetapi kita harus pergi ke Mataram. Mungkin tidak ada orang lain yang pantas untuk pergi selain aku. Jika kau bersedia, kita akan pergi bersama dengan seorang lagi yang dapat kau tunjuk di antara orang-orangmu.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kita menyusul mereka yang sedang melayat. Jika kita sudah ada di Mataram, maka tawanan itu harus kita ambil atau kita bungkam untuk selamanya. Tugas ini memang tugas yang berat, yang bahkan akan dapat berakibat mati. Tetapi apa boleh buat.”

 

Ki Legawa termangu-mangu.

 

“Jika kau merasa kurang yakin, bawalah dua orang pengawal yang terpercaya.”

 

Ki Legawa masih merenungi tawaran itu. Lalu, ”Jadi apakah kita akan pergi.”

 

“Secepatnya. Kita masih harus singgah sebentar kerumah Kakang Senapati Sanggabumi. Ia memiliki jarum-jarum beracun yang dapat kita pergunakan untuk membunuh dari jarak yang agak jauh. Aku sudah diajarinya mempergunakan jarum-jarum yang sudah dirancang dalam warangan keris itu.”

 

Ki Legawa termenung sejenak. Ia masih tetap bercuriga meskipun nampaknya senapati itu bersungguh-sungguh. Bahkan senapati itu sudah menawarkan kepadanya untuk membawa dua orang pengawal.

 

“Nah, jika kau sependapat, bersiaplah. Kaulah yang tahu pasti yang manakah orangmu yang tertangkap itu.”

 

Ki Legawa mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya, ”Jadi kita bergabung dengan orang-orang yang melayat itu?”

 

“Ya. Dengan demikian tidak akan ada kecurigaan apa pun atas kehadiran kita di Mataram. Tentu Ki Juru Martani belum sempat bertanya apa pun kepada tawanan itu, karena ia harus menyelenggarakan pemakaman Ki Gede Pemanahan. Dan barangkali Ki Juru pun tidak akan mengira bahwa kita akan segera menyusulnya.”

 

Ki Legawa merenung sejenak. Kemudian, ”Baiklah. Aku akan membawa dua orang pengawal. Aku akan pergi mendahului, bergabung dengan para pemimpin dan senapati yang pergi ke Mataram. Kau sajalah singgah di rumah Kakang Senapati Sanggabumi. Kemudian kau menyusul aku pula ke Mataram. Kita akan bertemu di perjalanan, karena orang-orang yang melayat itu tentu tidak akan berpacu secepat kau dan aku.”

 

Senapati itu menegang sejenak. Agaknya ia menemui kesulitan untuk melenyapkan Ki Legawa, karena agaknya Ki Legawa sudah mengerti apa yang dapat terjadi atasnya karena kegagalannya.

Tetapi senapati itu masih mencoba membujuknya, ”Apakah kita tidak sebaiknya pergi bersama-sama?”

 

“Aku akan pergi lebih dahulu.”

 

Senapati itu berpikir sejenak. Agaknya ia masih mempunyai harapan untuk membinasakan Ki Legawa di perjalanan, atau sesudah mereka memasuki daerah Mataram di antara sibuknya orang yang menyelenggarakan pemakaman itu.

 

Karena itu maka senapati itu pun berkata, ”Baiklah, Ki Legawa. Jika demikian, aku akan mendahului menghadap Kakang Senapati Sanggabumi.”

 

Ki Legawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Jangan terlampau lama. Aku menunggu kau di perjalanan.”

 

Senapati itu menjadi tergesa-gesa. Ia harus segera meninggalkan rumah itu dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia tidak dapat pergi seorang diri. Apalagi Ki Legawa dengan demikian akan mendapat kesempatan tidak hanya membawa dua atau tiga pengawal. Tetapi lebih daripada itu.

 

“Tentu tidak terlalu banyak,” berkata Senapati itu di dalam hati. “Jika ia membawa pengawal lebih dari tiga orang, maka ia pasti akan dicurigai,” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

 

Karena itu, maka ia pun segera minta diri. Ia akan membawa senapati yang bernama Sanggabumi dan beberapa orang petugas sandi yang terpisah-pisah. Ki Legawa harus dibungkam untuk selama-lamanya agar dalam suatu saat ia tidak menyebut-nyebut nama para senapati yang terlibat di dalam usaha pembunuhan Ki Juru Martani yang gagal itu, yang tentu akan segera dihubungkan dengan usaha pembunuhan Ki Gede Pemanahan beberapa waktu yang lampau.

 

“Baiklah, Ki Legawa,” berkata Senapati itu, ”segera sajalah bersiap. Aku juga akan segera berangkat setelah aku mendapatkan jarum-jarum beracun itu.”

 

Ki Legawa tidak menjawab. Ia mengantarkan senapati itu sampai ke pintu.

 

Tetapi ketika senapati itu melangkahkan kakinya melewati tlundak pintu, maka terasa bajunya ditarik dari dalam. Senapati itu terkejut. Dengan serta-merta ia berpaling. Yang dilihatnya adalah wajah Ki Legawa. Tetapi wajah itu bukanlah wajah KI Legawa yang cemas dan menyesal oleh kegagalannya, dan ketakutan atas kemungkinan buruk yang akan terjadi atasnya. Namun wajah itu bagaikan wajah hantu yang siap menerkam sesosok mayat yang baru saja diletakkan di dalam kubur.

 

“Ki Legawa,” senapati itu menggeram.

 

Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan. Yang terasa adalah sengatan nyeri yang tiada taranya pada lambungnya.

 

Ketika matanya menjadi kabur, ia masih sempat melihat tangannya yang basah oleh darah yang menyembur dari luka di lambungnya itu.

 

“Pengecut,” senapati itu mencoba membelalakkan matanya. Tanpa disadarinya tangannya meraba hulu kerisnya.

 

Tetapi ia tidak sempat berbuat apa pun juga. Matanya menjadi semakin kabur dan lambungnya terasa menjadi semakin nyeri.

 

Akhirnya Senapati itu jatuh terjerembab di lantai. Sekilas ia masih sempat melihat wajah Ki Legawa yang bagaikan hantu itu. Namun sejenak kemudian, maka ia pun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

 

Ki Legawa berdiri termangu-mangu. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa menjadi gemetar. Ternyata ia telah melakukan sesuatu di luar sadarnya. Oleh ketakutan dan kecemasan yang sangat akan nasib buruk yang menimpanya karena kegagalannya, maka ia telah berbuat terlebih dahulu atas senapati itu yang diyakininya akan membunuhnya di suatu saat.

 

Sejenak Ki Legawa mematung. Namun kemudian ia pun dengan tergesa-gesa memanggil prajurit-prajurit kepercayaannya.

 

Lurah prajurit yang memimpin penyergapan yang gagal itu pun menjadi heran. Tetapi sebelum ia bertanya Ki Legawa berkata, ”Singkirkan. Jangan ada orang yang mengetahuinya.”

 

Ki Lurah termangu-mangu. Tetapi Ki Legawa membentak, ”Cepat. Jangan bertanya sekarang. Nanti aku jelaskan semuanya.”

 

Lurah prajurit itu masih termangu-mangu. Ketegangan yang sangat telah membayang di wajahnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya, ”Bukankah yang terbunuh itu seorang senapati?”

 

“Ya,” bentak Ki Legawa, ”carilah akal untuk menyingkirkan tanpa diketahui oleh siapa pun selain kalian. Ingat. Kedatangam senapati ini ada hubungannya dengan kebodohan kalian karena kalian gagal membunuh Ki Juru Martani. Ia sudah memanggil kalian untuk menjatuhkan hukuman mati karena kegagalan itu agar kalian tidak membuka mulut. Kawan kalian yang tertangkap itu dapat membahayakan kedudukan kalian, aku dan senapati itu. Karena itu ia akan membunuh semua yang terlibat.”

 

Ki Lurah termangu-mangu sejenak.

 

“Cepat!”

 

Para prajurit itu tidak sempat berpikir. Mereka pun kemudian mencari akal untuk menyingkirkan mayat itu.

 

“Kita sembunyikan saja dahulu sampai malam hari. Nanti malam baru kita bawa keluar kota dan kita kuburkan di mana saja.”

 

“Sekarang?”

 

“Kita masukkan ke dalam kolong amben yang besar itu. Kita bungkus dengan tikar dan kita ikat seperti seonggok kayu bakar.”

 

Para prajurit itu pun kemudian mencari selembar tikar yang besar. Setelah senapati yang terbunuh itu dibungkus dan diikat, maka mayat itu pun kemudian disembunyikannya di bawah kolong. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian membersihkan darah yang memercik di lantai dan di tlundak pintu.

 

Namun peristiwa itu membuat setiap hati dari oranng-orang yang terlibat menjadi cemas. Tentu akan ada peristiwa- peristiwa berikutnya yang dapat berakibat buruk bagi mereka.

 

“Aku harus meninggalkan tempat ini,” berkata Ki Legawa kepada diri sendiri. ”Aku akan pergi ke Mataram dan pasrah diri kepada Raden Sutawijaya.”

 

Namun ia menjadi ragu-ragu. Seorang senapati telah dibunuhnya. Senapati yang dikenalnya sebagai seorang penghubung dengan pimpinan tertinggi yang disebut Kakang Panji. Tetapi Ki Legawa sendiri tidak tahu pasti, siapakah sebenarnya yang bernama Panji itu. Mungkin ia telah mengenal orangnya, atau bahkan bergaul setiap hari. Tetapi ia tidak tahu bahwa orang itulah yang menyebut dirinya Panji dan dipanggil oleh kawan-kawannya Kakang, sebagai pertanda bahwa ia adalah orang tertua dari kelompok itu.

 

“Apakah yang dapat aku katakan kepada Raden Sutawijaya tentang orang-orang tertentu yang telah melakukan pengkhianatan terhadap Ki Juru Martani? Orang yang tertangkap itu tentu akan menyebut nama lurah prajurit itu dan tentu namaku pula. Jika aku tidak dapat mengatakan nama orang yang lebih tinggi tatarannya di dalam tugas ini, maka aku tentu akan dicurigai. Atau bahkan mungkin akulah yang harus mengalami akibatnya.”

 

Ki Legawa yang menjadi bingung itu akhirnya memutuskan di dalam hatinya, ”Apa pun yang akan aku lakukan, tetapi aku harus melarikan diri dari tempat ini. Kemana pun.”

 

Ki Legawa pun kemudian berkemas di dalam biliknya. Barang-barang yang dianggapnya penting dibawanya serta. Sebilah keris pusakanya diselipkan di punggungnya, sedang sebilah lagi dianggarnya di lambung, tergantung pada ikat pinggangnya. Selain kedua kerisnya, ia telah mempersiapkan sebuah pedang yang akan digantungkan pada kudanya.

 

“Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui,” berkata Ki Legawa di dalam hatinya. ”Dan aku tidak perlu menunggu sampai gelap. Semuanya tentu sedang berlangsung sekarang ini, seperti roda yang berputar perlahan-lahan akan menggilas tubuhku.”

 

Karena itu, setelah semuanya siap, maka Ki Legawa pun keluar dari biliknya. Ia harus menyiapkan kudanya. Anak buahnya pun tidak boleh mempunyai kesan bahwa ia akan meninggalkan Pajang untuk waktu yang tidak ditentukan.

 

Lurah prajurit yang melihatnya mendekatinya sambil bertanya, ”Apakah yang harus kita lakukan setelah mayat itu dikubur?”

 

Ki Legawa termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”Aku akan menghubungi beberapa orang kawanku. Mungkin mereka akan dapat memberikan jalan, bagaimana kita harus menghindarkan diri dari pemimpin-pemimpin kita yang kecewa atas kegagalan itu.”

 

“Kenapa kita yang harus melakukannya sehingga kita sekarang mendapat kesulitan?” bertanya lurah prajurit itu.

 

“Itu adalah akibat yang wajar karena kita sudah memilih pihak. Tetapi dalam keadaan yang gawat adalah wajar pula bahwa kita mencari jalan keluar.”

 

Lurah itu mengangguk-angguk.

 

“Jagalah anak buahmu baik-baik. Mayat itu masih berada di bawah kolong. Sebaiknya aku berusaha untuk kepentingan kalian. Aku mempunyai banyak kawan di Pajang ini.”

 

Ternyata Ki Legawa telah menemukan kesempatan untuk menyiapkan kudanya di muka pintu. Ia pun kemudian masuk ke dalam biliknya sejenak untuk mengambil bekal yang sudah disiapkan. Dengan tanpa menumbuhkan kecurigaan, ia pun kemudian meloncat ke punggung kuda dan sesaat kemudian kuda itu sudah berpacu.

 

Ki lurah termangu-mangu di antara beberapa orang prajurit. Apalagi ketika seorang dari prajurit-prajuritnya bertanya, ”Ki Legawa membawa dua bilah keris pusakanya, sebuah pedang dan pakaian rangkap.”

 

“Maksudmu?”

 

“Pakaian yang dikenakan bukan hanya selembar.”

 

Lurah prajurit itu termangu-mangu. Ia mulai curiga terhadap kepergian Ki Legawa. Karena itu maka ia mulai mempertimbangkan setiap kemungkinan yang akan terjadi.

 

Apalagi ketika salah seorang prajuritnya berkata, “Ki Lurah, aku melihat sebuah kampil tergantung diikat pinggang Ki Legawa.”

 

“Kampil?” bertanya Lurah prajurit itu.

 

“Tentu kampil uang,” jawab prajurit itu.

 

“Jadi apa artinya?”

 

Prajurit-prajuritnya saling berdiam diri.

 

“Apakah Ki Legawa melarikan diri dan meninggalkan kita dalam keadaan yang tidak menentu?”

 

Beberapa wajah menjadi tegang. Dan seorang prajurit berkata, ”Memang mungkin sekali.”

 

Lurah prajurit itu menggeram. Tiba-tiba ia berkata, ”Siapkan kudaku. Kita bertiga akan pergi mencarinya.”

 

“Bertiga dengan siapa?”

 

Ki Lurah segera menunjuk dua orang prajurit yang terbaik. Kemudian setelah kuda mereka siap, maka mereka pun segera meloncat ke punggung kuda itu.

 

“Tunggulah di sini. Aku tidak akan lari seperti Ki Legawa. Apa pun yang dapat terjadi atas kita semua, akan kita alami bersama. Aku akan mencari Ki Legawa dan membawanya kembali hidup atau mati.”

 

Sejenak kemudian ketiga orang itu pun segera berpacu meninggalkan kawan-kawannya yang termangu-mangu.

 

“Apakah mereka juga akan lari seperti Ki Legawa?” bertanya salah seorang dari mereka.

 

“Tidak. Menurut perhitunganku, Ki Lurah tidak akan meninggalkan kita. Jika ia harus lari, maka ia akan lari bersama-sama dengan kita.”

 

Demikianlah Ki Lurah itu pun dengan kemarahan yang memuncak berusaha untuk menyusul Ki Legawa. Namun, ketika ia sampai di jalan simpang, seorang pengawalnya bertanya, ”Kita akan pergi ke mana?”

 

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, ”Jalan lari yang terbaik adalah ke Mataram. Berkhianat dan mencari perlindungan.”

 

“Tetapi apakah ia tidak akan ditangkap justru karena salah seorang kawan kita yang tertawan akan menyebut namanya?”

 

“Ia akan pasrah diri dan menyebut nama-nama lain yang harus mempertanggung-jawabkan semua rencana ini. Ia akan bebas dari segala pertanggungan jawab. Sedang kitalah yang akan dibebani oleh kegagalan yang baru saja terjadi. Mungkin kita akan ditangkap dan diserahkan kepada Mataram atau akan dihukum oleh pemimpin Pajang yang tidak berkeberatan melihat perkembangan Tanah Mataram.”

 

“Jika demikian Ki Legawa harus tertangkap,” desis seorang prajuritnya.

 

“Mungkin ia akan menggabungkan diri dengan orang-orang yang akan melayat ke Mataram,” desis lurah prajurit itu.

 

“Marilah kita lihat.”

 

“Apakah kita tidak akan dicurigai?”

 

“Untuk sementara tentu tidak. Tetapi jika tidak kita jumpai Ki Legawa di antara mereka kita akan kembali. Ia tentu masih bersembunyi di kota ini.”

 

Prajurit-prajuritnya tidak menyahut. Mereka pun berpacu semakin kencang. Orang-orang yang pergi ke Mataram itu tentu sudah menjadi semakin jauh. Tetapi agaknya mereka tidak berkuda terlampau cepat.

 

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Ki Legawa akan mencoba untuk pergi ke Mataram. Ia mempunyai beberapa rencana. Jika ia berhasil, ia akan membunuh saja tawanan itu. Tetapi pekerjaan itu tentu pekerjaan yang sangat sulit. Ia harus mencari di mana tawanan itu disimpan. Sedangkan Mataram merupakan daerah yang asing baginya.

 

“Tetapi jika aku gagal, maka aku akan menyerah. Atau barangkali aku akan mengambil keputusan lain. Yang penting aku harus lolos dari orang-orang gila itu,” berkata Ki Legawa di dalam hatinya. Lalu, ”Meskipun aku barangkali tidak dapat menyebut orang-orang yang memegang peranan terpenting di dalam usaha memecah Mataram dan Pajang, sehingga akibatnya akan menenggelamkan Mataram, aku dapat menyebut salah seorang di antara mereka. Penting atau tidak penting. Senapati yang bernama Sanggabumi itu.”

 

Dengan demikian maka Ki Legawa pun berpacu terus. Ia pun ingin menyusul para pemimpin Pajang yang akan melayat ke Mataram dan bergabung bersama mereka. Dengan demikian untuk sementara perjalanannya akan menjadi aman.

 

Tetapi tiba-tiba saja ia terkejut. Ditikungan dilihat seorang yang duduk di punggung kudanya. Agaknya dengan sengaja kuda itu menyilang jalan yang akan dilaluinya.

 

Ki Legawa menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak berhenti. Ia ingin meyakinkan, siapakah yang melintang di tengah jalan itu. Namun hampir di luar sadarnya, sebelah tangannya telah meraba hulu kerisnya yang tergantung di lambung.

 

Beberapa langkah dari kuda yang menyilang itu, Ki Legawa berhenti. Dengan kerut-merut di kening ia bertanya, ”Apakah Ki Sanak sengaja menghentikan perjalananku?”

 

“Ya, Ki Legawa.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Bukan aku, tetapi orang di belakangmu itulah yang berkepentingan denganmu.”

 

Ki Legawa termangu-mangu. Dan orang itu berkata seterusnya, ”Kenapa kau tidak mau berpaling. Apakah kau kira aku akan berbuat sesuatu atasmu selagi kau berpaling?”

 

Ki Legawa menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang itu mengerti keragu-raguannya. Namun demikian Ki Legawa masih belum berpaling karena sebenarnyalah bahwa ia mencurigai orang yang belum dikenalnya itu.

 

“Ki Legawa,” berkata orang yang menyilangkan kudanya itu, ”apakah Ki Legawa menganggap bahwa aku berniat buruk dan dengan curang akan menyerang selagi kau lengah? Tidak, Ki Legawa. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Tugasku hanya menghentikan perjalananmu sekarang. Persoalan seterusnya ada di tangan orang yang berdiri di belakangmu itu.”

 

“Sebut, siapakah yang berdiri di belakangku?”

 

“Berpalinglah. Jika kau takut aku menyerangmu, maka aku akan mengangkat kedua tanganku dengan jari-jari yang terkembang.”

 

Ki Legawa masih berdiam diri. Tetapi orang itu benar-benar mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang terkembang.

 

“Jika aku ingin membunuhmu selagi kau lengah, maka aku telah menyerangmu tanpa menghentikanmu lebih dahulu. Aku dapat melemparkan sebuah tombak pendek, atau melepaskan sebuah anak panah atau cara lain.”

 

Ki Legawa menarik nafas. Alasan orang itu dapat dimengertinya sehingga ia pun kemudian berpaling meskipun ia tidak melepaskan kewaspadaan.

 

Namun dalam pada itu, ketika ia melihat orang yang berdiri di belakangnya, darahnya serasa berhenti mengalir. Orang itu sudah dikenalinya meskipun secara pribadi belum terlampau akrab.

 

“Sanggabumi,” Ki Legawa berdesis.

 

“Ya. Aku adalah Senapati Sanggabumi,” orang itu menyahut.

 

“Apa maksudmu menghentikan perjalananku?”

 

“Ki Legawa,” suara Sanggabumi datar, ”aku tidak mempunyai banyak kepentingan dengan kau. Tetapi aku hanya ingin bertanya barang sedikit.”

 

“Apa yang ingin kau ketahui?”

 

“Ki Legawa, dimanakah senapati yang datang kepadamu hari ini?”

 

Terasa dada Ki Legawa terguncang. Namun ia masih berusaha menahan perasaannya. Dengan hati-hati ia berkata, ”Ia datang kepadaku dan memaksa aku untuk pergi ke Mataram. Sekarang aku sedang memenuhi perintahnya.”

 

“Maksudku, di manakah orang itu sekarang?”

 

Ki Legawa menjadi semakin berdebar-debar. Jawabnya, “Tentu aku tidak tahu, Ki Sanggabumi. Aku dengan tergesa-gesa mengemas diri dan berangkat.”

 

“Apakah Senapati itu pergi lebih dahulu dari kau?”

 

Ki Legawa menjadi bingung. Jawabnya, ”Tidak. Aku pergi lebih dahulu.”

 

“Jadi ia masih menunggui barakmu?” Ki Sanggabumi maju selangkah, ”Bukankah itu mustahil bahwa tamumu kau tinggal sendiri di barakmu, sedang kau pergi ke Mataram.”

 

“Aku tidak pergi ke Mataram atas kehendakku sendiri. Tetapi aku pergi ke Mataram atas perintahnya. Ia sengaja tinggal beberapa saat lamanya agar tidak menumbuhkan kecurigaan. Aku tidak tahu, siapakah yang akan mencurigainya.”

 

“Ki Legawa,” berkata Ki Sanggabumi, ”kau jangan menganggap aku anak-anak yang baru pandai bertanya tentang oleh-oleh jika ibu pergi ke pasar. Aku adalah orang yang mempunyai pengalaman yang cukup seperti kau, Ki Legawa. Kau ternyata seorang yang memiliki pengamatan yang tajam dan memiliki kecepatan berpikir. Kau agaknya telah bertindak lebih cepat dari senapati yang ragu-ragu itu.”

 

“Aku tidak tahu maksudmu.”

 

“Baiklah aku jelaskan,” Ki Sanggabumi menarik nafas dalam-dalam, ”aku adalah senapati yang dekat dengan Kakang Panji. Ketika Kakang Panji memerintahkan senapati untuk membunuhmu, Kakang Panji sudah ragu-ragu. Aku mendapat perintah untuk mengamati apa yang terjadi. Dan aku mengambil kesimpulan bahwa sebelum kau dibunuhnya, kau sudah membunuhnya lebih dahulu. Kemudian kau akan pergi ke Mataram atau ke mana pun juga untuk menghilangkan jejak dan mencari perlindungan.”

 

Wajah Ki Legawa menjadi tegang. Namun ia berusaha untuk menguasai perasaannya. Bahkan kemudian ia masih dapat berkata, ”Ki Sanggabumi. Aku tidak mengerti, kenapa kau segera menarik kesimpulan buruk.”

 

“Ki Legawa. Aku tidak tahu apakah kesimpulanku itu benar atau salah. Sebaiknya marilah kita pergi menghadap Kakang Panji. Kau akan mendapat kehormatan untuk mengenalnya. Mungkin kau diperlukan sebagai ganti senapati yang kau bunuh itu, atau katakanlah, jika hal itu tidak benar, senapati yang hilang itu.”

 

Ki Legawa termangu-mangu sejenak. Namun seperti terhadap senapati yang datang kepadanya, ia tetap bercuriga terhadap Sanggabumi.

 

Karena itu, maka Ki Legawa pun segera mencari jalan keluar. Ia sadar bahwa jalan di sebelah-menyebelah telah tertutup. Tetapi ia tidak percaya bahwa apabila ia menghadap orang yang disebutnya Kakang Panji itu ia akan dapat keluar lagi dengan selamat.

 

Tetapi ternyata Ki Legawa masih dapat mengatasi gejolak perasaannya dengan bertanya, ”Di manakah rumah Kakang Panji itu.”

 

“Marilah, ikutlah bersamaku.”

 

“Kau hanya berjalan kaki?”

 

“Kudaku ada di belakang gerumbul itu.”

 

Ki Legawa mengangguk-angguk. Desisnya, ”Apakah kau dapat aku percaya?”

 

“Kenapa? Kau memang selalu diliputi oleh kecurigaan dan prasangka. Ki Legawa, jika demikian maka kau sepanjang umurmu tidak akan dapat hidup tenang.”

 

Ki Legawa termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang orang berkuda yang melintang di tengah jalan. Wajahnya yang gelap dan tatapan matanya yang garang.

 

“Aku belum pernah mengenalnya,” berkata Ki Legawa di dalam hatinya. ”Jika ia orang Pajang, tentu aku sudah pernah melihatnya. Atau setidak-tidaknya aku mengenal ujud dan coraknya. Tetapi agaknya orang ini mempunyai ciri orang asing di daerah ini.”

 

Dengan demikian kecurigaan Ki Legawa menjadi semakin tumbuh. Tetapi ia masih tetap diam di atas punggung kudanya.

 

“Kenapa kau termangu-mangu?” bertanya Senapai yang bernama Ki Sanggabumi.

 

Ki Legawa mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Marilah. Tetapi kau harus menjamin bahwa orang yang kau namakan Kakang Panji itu tidak boleh berbuat apa pun atasku.”

 

“Aku berjanji.”

 

Ki Legawa mengangguk-angguk pula.

 

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja kaki Ki Legawa menghentak perut kudanya. Selangkah kudanya melonjak, kemudian meloncat berlari ke arah Ki Sanggabumi.

 

Ki Sanggabumi terkejut bukan buatan. Dengan gerak naluriah ia meloncat menghindari terkaman kaki kuda yang terkejut dan berlari seperti didera hantu. Namun karena loncatan yang tergesa-gesa dan di luar pertimbangan, maka Ki Sanggabumi pun terdorong beberapa langkah dan terperosok ke dalam parit.

 

Hanya karena ia seorang yang memiliki ilmu yang cukup sajalah ia mampu menjaga keseimbangannya, sehingga ia tidak jatuh terlentang.

 

Namun demikian orang berkuda yang terkejut pula, segera meloncat berlari mendekatinya.

 

“Bagaimana, Ki Senapati?” ia bertanya.

 

“Bodoh. Cepat kejar orang itu.”

 

Orang itu pun segera berlari dan meloncat kembali ke punggung kuda. Sejenak kemudian kudanya pun berpacu mengejar kuda Ki Legawa.

 

Ketika Ki Legawa muncul dari sudut padukuhan, dan berlari di tengah bulak panjang, ia melihat beberapa ekor kuda berlari ke arahnya. Sejenak Ki Legawa termangu-mangu. Namun kemudian ia memutuskan untuk memacu kudanya terus. Jika ia kembali, ia akan berhadapan dengan Ki Sanggabumi dan kawannya. Bahkan mungkin tidak hanya dua orang itu.

 

Ketika kuda-kuda di bulak itu menjadi semakin dekat, maka Ki Legawa pun segera mengenal, bawa mereka adalah prajurit-prajuritnya. Karena itu, maka serasa setitik embun telah membasahi jantungnya yang sudah menjadi kering.

 

Dalam jarak yang masih agak jauh, Ki Legawa sudah memberikan isyarat kepada ketiga orang prajuritnya. Diangkatnya tangannya tinggi-tinggi.

 

Dalam pada itu, Ki Lurah dan kedua orang prajuritnya yang juga sudah melihat Ki Legawa menjadi heran. Karena pada dasarnya mereka sudah bercuriga, maka mereka pun selalu berhati-hati menghadapi kedatangan Ki Legawa yang agaknya tergesa-gesa.

 

Ketika mereka bertemu, maka kuda-kuda itu pun berhenti berhadapan beberapa langkah. Ki Legawa-lah yang pertama-tama bertanya, ”Kemanakah kalian?”

 

Lurah prajurit itu menjadi termangu-mangu. Tetapi akhirnya ia pun berkata berterus terang. ”Ki Legawa. Sebenarnya kami memerlukan penjelasan. Kemanakah sebenarnya Ki Legawa akan pergi? Kami melihat sesuatu yang kurang wajar pada Ki Legawa.”

 

“Aku akan pergi ke Mataram.”

 

“Meninggalkan kami begitu saja?”

 

“Tentu tidak. Aku harus mengambil kawan kita yang tertawan itu. Besok sebelum fajar, aku harus sudah kembali ke barak kita. Aku membawa uang yang aku tabung bertahun-tahun, apabila perlu untuk mempermudah usahaku. Aku tidak yakin bahwa orang-orang Mataram tidak mau menerima uang.”

 

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun ia pun tidak segera percaya kepada keterangan itu sehingga ia bertanya pula, ”Tetapi kenapa Ki Legawa tidak berterus terang kepada kami?”

 

“Sebenarnyalah bahwa aku selalu dibayangi oleh kecurigaan. Siapa tahu di antara kalian ada orang yang akan melaporkan kepergianku. Entah kepada Ki Sanggabumi atau kepada orang-orang yang berpihak kepada Mataram.”

 

Lurah prajurit itu menarik nafas. Tetapi sebelum ia bertanya lagi, maka Ki Legawa sudah berkata, ”Lihatlah orang berpacu itu. Ia mengejar aku. Orang itu adalah anak buah Sanggabumi. Mereka benar-benar berusaha membunuh kita semua. Kali ini aku, mungkin besok atau bahkan nanti kau dan prajurit-prajurit yang terlibat.”

 

Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya.

 

“Sebentar lagi Sanggabumi pun tentu akan datang. Kita tidak akan dapat terus-menerus lari.”

 

“Maksud Ki Legawa.”

 

“Kita binasakan saja Ki Sanggabumi.”

 

Lurah prajurit itu bimbang sejenak, lalu, ”Apakah hal itu tidak justru menambah kesulitan saja.”

 

“Kita memang sudah berdiri di atas seribu macam kesulitan. Kita bunuh Sanggabumi, kemudian kita kubur diam-diam di tengah pategalan yang rimbun itu.”

 

“Lalu, bagaimana dengan kita?”

 

“Aku tetap akan mengambil tawanan itu. Hidup atau mati.”

 

Mereka tidak sempat berbincang lebih lama lagi. Kuda yang menyusul Ki Legawa itu sudah semakin dekat. Tetapi Ki Legawa tidak lagi berpacu melarikan diri. Justru ialah yang kemudian melintangkan kudanya di tengah jalan.

 

Dalam pada itu Lurah prajurit yang semula mengejar Ki Legawa dengan penuh kecurigaan itu menjadi termangu-mangu. Sejenak ia memandang kedua prajuritnya berganti-ganti. Tetapi pada wajah prajurit-prajurit itu, ia pun melihat kebimbangan seperti di hatinya sendiri.

 

“Jangan bingung menghadapi keadaan seperti ini,” berkata Ki Legawa, ”kita harus mengambil sikap.”

 

Lurah prajurit itu tidak menjawab. Tetapi ia mengambil sikap, bahwa ia akan berpihak Ki Legawa untuk sementara. Jika ada perkembangan keadaan, ia akan mengambil sikap lain.

 

Dalam pada itu, orang yang berpacu mengejar Ki Legawa sudah menjadi semakin dekat, dan kemudian berhenti beberapa langkah di hadapannya.

 

“Kau tidak lari terus?” bertanya orang itu.

 

“Tidak,” jawab Ki Legawa, ”aku memang menunggu kau berdua. Di mana Ki Sanggabumi?”

 

Tetapi orang itu tidak perlu menjawab. Mereka segera mendengar derap kaki kuda mendekat. Ternyata Ki Sanggabumi telah menjadi semakin dekat pula.

 

“Bagus,” berkata Ki Legawa kemudian, “sekarang kita harus saling berterus terang. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki dari kami.”

 

“Bertanyalah kepada Ki Sanggabumi.”

 

Ki Legawa mengerutkan keningnya. Ia menunggu sejenak sehingga Ki Sanggabumi sudah menjadi semakin dekat dan berhenti di samping kawannya.

 

“Ki Legawa,” berkata Ki Sanggabumi dengan suara bergetar karena getar jantungnya yang menjadi semakin cepat, ”kenapa kau lari?”

 

“Aku tidak lari. Seperti yang kau lihat, aku berhenti di sini.”

 

“Tetapi bukankah pembicaraan kita belum selesai.”

 

“O,” Ki Legawa mengangguk-angguk, ”baiklah. Jika demikian apakah kita akan menyelesaikannya sekarang.”

 

“Tentu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa Kakang Panji memerlukan kedatanganmu?”

 

Ki Legawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Baiklah, aku berterus terang Ki Sanggabumi. Aku tidak dapat mempercayaimu. Kau tentu tidak ubahnya seperti kawan-kawanmu yang ingin memutus jalur yang menghubungkan orangku yang tertawan dengan orang yang kau sebut Kakang Panji itu.”

 

“Kau terlampau berprasangka.”

 

“Dalam keadaan seperti aku sekarang ini, maka aku harus berwaspada.”

 

“Kau keliru, Ki Legawa.”

 

“Tidak. Aku tidak keliru.“ Ki Legawa berhenti sejenak, lalu, ”Ki Sanggabumi, sebaiknya kau tidak usah menghiraukan aku lagi. Aku tetap bertanggung jawab atas orangku yang hilang itu. Jika kau memang bermaksud baik, biarlah aku pergi ke Mataram mengurus orangku yang tertawan itu. Aku akan mengambilnya hidup atau mati. Jika kau ingin memutuskan jalur itu, aku pun demikian. Tetapi tentu saja bahwa aku tidak ingin jalur yang terputus itu adalah pada diriku. Bagiku lebih baik membunuh tawanan itu dengan cara apa pun dari pada aku sendiri yang harus mati.”

 

Ki Sanggabumi mengerutkan keningnya. Ia melihat kecurigaan yang memuncak pada tatapan mata Ki Legawa. Karena itu, maka ia tidak membuang waktu lebih lama lagi. Katanya berterus terang, “Baiklah, Ki Legawa. Agaknya kau memang sudah tidak dapat diajak berbicara. Jika kau mencurigai kami sampai ke ujung ubun-ubun, maka aku pun wajib mencurigamu sampai ke pusat jantung. Jika kau akan pergi ke Mataram, tentu bukan untuk mengambil tawanan itu. Tetapi adbmcadangan.wordpress.com kau tentu akan mencari perlindungan. Kau tentu akan menyebut namaku dan Kakang Panji meskipun kau belum mengetahui siapakah Kakang Panji itu sebenarnya. Tetapi bahwa ada di antara Senapati Pajang yang disebut Kakang Panji, tentu akan kau katakan untuk kepentingan keselamatanmu sendiri. Kau tidak akan segan-segan berkhianat atas kami semuanya.”

 

“Terserahlah penilaianmu, Ki Sanggabumi,” berkata Ki Legawa, ”tetapi aku akan berusaha untuk keselamatanku dan orang-orangku. Jika aku berhasil membunuhnya, maka aku dan anak buahku yang lain akan selamat. Sebenarnya kau pun akan selamat pula.“

 

“Itu bagi kami merupakan sebuah dongeng ngayawara. Bagi kami, kau tentu hanya sekedar akan melarikan diri setelah kau membunuh seorang senapati yang bertugas memanggilmu dengan niat yang baik.”

 

“Omong kosong!”

 

“Jika demikian, maka di antara kita tidak ada lagi yang dapat dibicarakan. Yang dapat dicari persesuaiannya. Kau teguh pada sikap curiga dan prasangka. Sedang aku mencoba untuk menemukan jalan keluar yang sebaik-baiknya.”

 

“Ki Sanggabumi. Hanya ada satu pilihan bagiku. Pergi ke Mataram untuk menyalamatkan anak buahku. Jika karena itu aku akan ditangkap dan digantung oleh orang-orang Mataram atas ijin Kanjeng Sultan Pajang, aku tidak peduli.”

 

Wajah Ki Sanggabumi menjadi merah padam. Katanya, ”Jangan menjadi besar kepala. Kau kira bahwa tiga orang anak buahmu itu dapat menggetarkan dadaku. Ki Legawa, aku tahu bahwa kau adalah seorang prajurit pilihan. Tetapi aku adalah Sanggabumi dan kawanku yang seorang ini adalah tamuku dari pesisir Utara yang di kenal dengan sebutan Angin Laut. Sedang sebenarnya namanya adalah Kuda Pradapa. Kami adalah saudara seperguruan. Karena itu Ki Legawa, kalian berempat tidak akan banyak berarti bagi kami berdua.”

 

Sebelum Ki Legawa menyahut, tiba-tiba Ki Lurah berkata, “Ki Legawa. Aku kira kami bukan empat ekor tikus yang bertemu dengan dua ekor kucing.“

 

Mendengar jawaban lurah prajurit itu, Ki Legawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat menangkap makna yang tersirat. Dengan demikian lurah prajurit itu akan berpihak kepadanya.

 

Meskipun demikian, Ki Legawa yang sedang diliputi oleh kecemasan dan kecurigaan itu tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh prajurit-prajuritnya setelah pertengkaran dengan Ki Sanggabumi selesai.

 

Namun dalam pada itu, jawaban lurah prajurit itu membuat Ki Sanggabumi menjadi semakin marah. Katanya, ”Kalian seharusnya mengerti siapa Senapati Sanggabumi. Seterusnya terserah kepada kalian.”

 

“Hampir setiap prajurit mengerti siapakah Sanggabumi. Tetapi juga setiap prajurit tidak akan membiarkan kepalanya dipenggal tanpa berbuat apa pun juga. Selebihnya, aku adalah seorang lurah prajurit yang dalam keadaan tanpa pilihan. Karena itu, adbmcadangan.wordpress.com sebaiknya aku mempertahankan diriku. Jika aku dapat tetap hidup, meskipun Ki Legawa tidak ada ke mana pun ia pergi, aku akan dapat mengatakan, bahwa orang yang lebih tinggi kedudakannya di dalam hubungan antara prajurit, yang menghendaki runtuhnya Mataram adalah Ki Sanggabumi, seorang senapati linuwih.”

 

“Persetan,” geram Sanggabumi. Lalu katanya kepada kawannya, ”Kuda Pradapa, kita akan membagi tugas. Biarlah aku mengurus Ki Legawa. Jika prajurit-prajurit itu akan membantunya, aku tidak berkeberatan. Kau bungkam saja mulut lurah itu untuk selamanya, agar ia tidak lagi dapat menyebut namaku di hadapan orang Pajang atau orang Mataram.”

 

Orang yang bernama Kuda Pradapa itu menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Aku memang sudah muak mendengarnya. Meskipun aku baru mengenalnya hari ini, tetapi benciku kepadanya melampaui benciku kepada musuh bebuyutan.”

 

”Bagus,” sahut Ki Lurah, ”agar kita dapat bertempur bersungguh-sungguh, maka kita harus saling membenci sampai ke ujung ubun-ubun.”

 

Kuda Pradapa sama sekali tidak menjawab. Tetapi gejolak perasaannya sudah tidak terkendali lagi. Dengan serta-merta ia pun langsung menyerbu lurah prajurit yang dianggapnya terlampau sombong itu.

 

Tetapi lurah prajurit itu memang sudah bersiap. Dalam sekejap ia sudah menggenggam senjata. Ketika serangan itu tiba, ia menggerakkan kendali kudanya dan siap untuk melawan.

 

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kuda mereka berlari-larian melingkar di jalan yang terlampau sempit bagi pertempuran di atas punggung kuda. Karena itu, maka kuda-kuda itu pun segera turun ke sawah yang sedang kering.

 

Dua orang prajurit yang mengawal Ki Lurah itu tidak membiarkan pimpinannya bertempur seorang diri. Mereka pun segera terjun ke dalam arena, sehingga empat orang berkuda berkejar-kejaran dengan senjata telanjang di tangan.

 

Dalam pada itu Ki Legawa pun sudah siap pula menghadapi Ki Sanggabumi. Ki Legawa sadar sepenuhnya, bahwa orang yang bernama Sanggabumi itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetapi Ki Legawa sendiri yakin akan dirinya. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, ”Aku baru mendengar nama dan kelebihannya dari mulut ke mulut. Tetapi aku belum pernah melihatnya di medan perang.”

 

Seenak kemudian Ki Sanggabumi yang sudah sampai ke puncak kemarahannya itu pun mendekat. Dengan wajah yang merah ia berkata, ”Ki Legawa. Sebutlah nama ibu bapamu untuk yang terakhir. Sebentar lagi, yang tinggal hanyalah namamu saja. Ki Legawa. Seorang yang tidak pernah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.”

 

Ki Legawa mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia mendera kudanya sehingga kudanya meloncat maju

 

Sebentar kemudian keduanya pun telah bertempur pula dengan sengitnya. Seperti Ki Lurah yang bertempur bersama kedua pengawalnya melawan Kuda Pradapa di tengah-tengah sawah, maka kuda Ki Legawa dan Sanggabumi pun telah menginjak-injak tanaman palawija yang sedang tumbuh.

 

Kedua belah pihak di dua lingkaran pertempuran itu pun mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ternyata ada satu dua orang yang melihat dari kejauhan perkelahian berkuda di tengah-tengah sawah tanpa menghiraukan tanaman yang rusak.

 

Tetapi kedua belah pihak tidak mau melepaskan kesempatan untuk keluar dari arena dengan selamat. Ki Sanggabumi yang merasa dirinya seorang senapati pilihan menjadi heran, bahwa ternyata Ki Legawa adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas di dalam perang tanding. Ia adalah seorang penunggang kuda yang baik. Senjatanya berputaran dan sekali-sekali mematuk dengan cepatnya.

 

Karena itu Sanggabumi tidak lagi menganggap dirinya seorang senapati yang memiliki kemampuan jauh di atas lawannya. Semakin lama terasa olehnya, bahwa jika Ki Legawa berani menentang dan melawannya langsung berhadapan, adalah karena Ki Legawa memang memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.

 

Sementara itu, Kuda Pradapa pun bertempur dengan gigihnya. Ki Lurah adalah seorang yang kasar, kuat dan kadang-kadang tidak dapat diduga tata geraknya. Dibantu oleh dua orang prajuritnya, menjadikannya seorang yang berbahaya. Karena itu, Kuda Pradapa yang memiliki gelar di Pasisir Utara Angin Laut itu ternyata harus memeras segenap kemampuannya untuk melawan tiga orang yang dapat bergerak dengan cepat, kasar, dan bahkan mengejutkan sama sekali.

 

Tetapi orang yang bergelar Angin Laut itu memiliki pengalaman yang luas pula seperti Sanggabumi dan Ki Legawa.

 

Bahkan, ia mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan sehingga ia disebut Angin Laut. Angin yang kencang dan dapat menimbulkan prahara di lautan. Jika Angin Laut mengerahkan segenap kemampuannya, maka lautan pun bagaikan diaduk dan batu-batu karang menjadi retak dan pecah berguguran.

 

Orang yang bernama Angin Laut itu menjadi heran melihat lawan-lawannya. Ia adalah seorang lurah prajurit yang biasa bertempur dalam kelompok yang besar dan hanya mempunyai sekedar kemampuan membela diri di peperangan apabila diperlukan harus bertempur seorang lawan seorang. Tetapi lurah prajurit Pajang ini mempunyai kemampuan perang tanding yang luar biasa. Kekasarannya kadang-kadang dapat menumbuhkan kecemasan di hati lawannya. Apalagi sekali-sekali lurah itu berteriak nyaring sambil mengayunkan senjatanya.

 

Pertempuran itu memang menarik perhatian orang yang melihat dari kejauhan. Beberapa orang menjadi ketakutan. Tetapi yang lain justru memanggil kawan-kawannya.

 

“Sawah Ki Panut menjadi debu. Tanamannya hancur,” berkata seorang petani kepada kawannya.

 

“Panggil Ki Panut.”

 

“Tidak ada gunanya. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

 

“Siapakah yang bertempur itu?”

 

“Tidak tahu. Di antaranya ada prajurit Pajang.”

 

“Mungkin prajurit Pajang sedang mengejar penjahat.”

 

Tetapi mereka tidak dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka melihat perkelahian itu dari kejauhan. Mereka tidak melihat, bahwa prajurit Pajang ada di kedua belah pihak yang sedang bertempur itu.

 

Demikian besar usaha mereka untuk saling membunuh, maka mereka pun telah mengerahkan segenap tenaga yang ada. Segenap kemampuan dan ilmu.

 

Ki Legawa yang mempunyai ilmu yang tangguh, berusaha untuk dapat mengimbangi kemarahan Ki Sanggabumi. Seorang senapati yang pilih tanding.

 

Tetapi Ki Sanggabumi tidak mengetahui, bahwa sebenarnyalah Ki Legawa telah membawa bekal yang cukup ketika ia harus melakukan pendadaran. Ki Legawa tidak perlu menunjukkan separo dari kemampuannya untuk dapat mencapai batas kemampuan yang harus dimiliki oleh calon prajurit. Kemudian kedudukannya dengan cepat meloncat.

 

Namun akhirnya ia terperosok ke dalam lingkungan para prajurit yang mempunyai sikap tersendiri. Kebenciannya kepada Mataram dan ketamakannya atas kemungkinan yang berlebihan di masa datang, telah menyeretnya ke dalam lingkungan orang-orang seperti Ki Sanggabumi. Kemampuannya yang tinggi itulah yang membuatnya mendapat kepercayaan dari senapati penghubung yang telah dibunuhnya dan disimpannya di kolong amben.

 

Dan kini Ki Legawa itu berhadapan dengan Ki Sanggabumi sendiri dalam perang tanding di atas punggung kuda.

 

Dan perang tanding itu adalah perang tanding yang sangat sengit. Masing-masing telah memeras kemampuan mereka mengendalikan kuda masing-masing, selain mengerahkan segala macam ilmu yang pernah mereka pelajari. Ilmu ketangkasan, olah kanuragan dan senjata. Tetapi juga akal dan kepandaian memperhitungkan waktu. Sekejap pun akan dapat berarti maut di dalam perang tanding yang demikian.

 

Ki Sanggabumi yang menganggap bahwa membunuh Ki legawa bukan suatu tugas yang berat, menjadi sangat marah ketika ia melihat kenyataan bahwa Ki Legawa mampu mempertahankan dirinya untuk waktu yang lama. Bahkan sampai saat terakhir masih belum ada tanda-tanda bahwa ia akan mampu membinasakan orang yang menjadi salah satu mata rantai yang dapat menghubungkan nama orang yang tertawan dengan orang yang disebut Kakang Panji.

 

Karena itu, Ki Sanggabumi menjadi tidak sabar lagi. Ia harus dapat membunuh Ki Legawa dengan cara apa pun juga.

 

Karena itu, maka Ki Sanggabumi pun menjadi semakin garang. Segenap tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya segera dikerahkannya, sehingga tandangnya menjadi semakin cepat dan garang.

 

Tetapi ternyata bahwa Ki Legawa pun berbuat serupa. Tenaga cadangan dan ilmu pamungkas yang dibawanya dari perguruannya sejak ia memasuki lingkungan keprajuritan telah dikerahkannya pula untuk melawan kedahsyatan ilmu Ki Sanggabumi.

 

Dalam pada itu, saudara seperguruan Ki Sanggabumi pun harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan lurah prajurit bersama kedua kawannya. Mereka bertempur bersama dengan dahsyatnya. Semakin lama menjadi semakin kasar dan bahkan menjadi agak buas.

 

Kuda Pradapa yang juga disebut Angin Laut itu pun harus berbuat seperti saudara seperguruannya. Ia harus mengerahkan segala kemampuan yang ada padanya. Namun ketiga lawannya ternyata memiliki ilmu yang tangguh. Setiap kali Kuda Pradapa mendesak salah seorang lawannya, maka yang lain pun segera mengisi kelemahan itu dengan serangan yang sengit. Sehingga dengan demikian, Kuda Pradapa tidak sempat untuk membinasakan salah seorang pun dari ketiganya.

 

“Aku harus membinasakan mereka bersama-sama,” geram Kuda Pradapa di dalam hatinya.

 

Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri. Jika ia tidak berhasil maka ia tidak akan dapat segera menyelesaikan perkelahian itu. Apalagi ketika ia sadar, orang yang melihat perkelahian itu semakin lama menjadi semakin banyak meskipun dari kejauhan.

 

“Pada suatu saat, maka prajurit-prajurit Pajang akan mendapat laporan dan segera akan mengepung kami semuanya,” berkata Kuda Pradapa di dalam hatinya. Seperti juga lurah dan kedua prajuritnya bergumam di dalam diri masing-masing.

 

Dengan demikian mereka pun bersama-sama telah mengerahkan kemampuan yang ada di dalam diri mereka masing-masing, sehingga pertempuran itu menjadi semakin dahsyat.

 

Namun karena itu maka kemampuan mereka pun bersama-sama meningkat, sehingga pertempuran itu masih tetap seimbang.

 

Ki Kuda Pradapa tidak dapat membiarkan dirinya terlibat terlampau lama dalam peperangan itu. Ia tidak mau menjadi seorang tawanan prajurit Pajang karena terlibat dalam persolan yang tidak menyangkut dirinya dan perjuangan bagi dirinya sendiri, selain karena permintaan saudara seperguruannya.

 

Karena itu, maka Kuda Pradapa pun mempersiapkan senjata pamungkasnya. Seperti saudara seperguruannya, Ki Sanggabumi, maka Kuda Pradapa pun mempunyai senjata yang aneh. Ia mempunyai semacam pisau kecil beracun. Dalam keadaan yang genting ia dapat mempergunakan senjata itu.

 

Kuda Pradapa merasa bahwa keadaannya memang sudah sangat gawat baginya. Setiap saat prajurit Pajang akan segera datang. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia mengambil pisau kecil itu dari ikat pinggangnya.

 

Ki Lurah masih sempat melihat ikat pinggang Kuda Pradapa yang dipenuhi dengan pisau-pisau kecil yang berjajar melingkar sepanjang ikat pinggangnya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan berbuat apa pun juga. Memang sekilas ia teringat kata-kata Ki Legawa bahwa Ki Sanggabumi mempunyai semacam jarum beracun. Agaknya pisau-pisau kecil itulah yang dimaksud.

 

Belum lagi ia sempat menentukan sikap, ia melihat seperti kilat meloncat di langit, tangan Kuda Pradapa itu terjulur ke arahnya. Ia merasa sesuatu menyentuh dadanya. Namun kemudan ia sadar, bahwa yang menyentuh dadanya itu adalah sebilah pisau kecil.

 

Agaknya kedua prajuritnya pun melihat hal itu. Tetapi ternyata mereka masih mempunyai kesempatan. Selagi Kuda Pradapa melemparkan pisau itu maka mereka sempat mendera kuda mereka dan berlari menjauh ke arah yang berbeda.

 

Kuda Pradapa tidak segera mengejar mereka. Ia masih bersiap menghadapi sikap terakhir dari Ki Lurah itu.

 

Ternyata Ki Lurah masih berusaha untuk menyerangnya dengan senjata teracu. Tetapi racun yang bekerja di dalam tubuhnya adalah racun yang sangat tajam, sehingga dalam beberapa saat yang pendek, Ki Lurah sudah kehilangan tenaganya. Karena kudanya masih saja berlari, tubuh Ki Lurah yang menjadi lemah itu seolah-olah tertunduk dan menelungkup di punggung kudanya.

 

Dalam pada itu, Ki Legawa melihat senjata yang dipergunakan oleh Kuda Pradapa. Sekilas ia teringat bahwa Ki Sanggabumi pun tentu memiliki senjata yang serupa. Sehingga karena itu, maka ia pun segera memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sanggabumi.

 

Tidak mustahil bahwa Ki Sanggabumi pun akan segera menyerangnya dengan senjata beracun itu.

 

Apa yang diduga oleh Ki Legawa agaknya benar-benar akan dilakukan. Karena itu, Ki Legawa tidak mau melepaskan ketempatan untuk membela diri pada saat terakhir. Dengan cepatnya ia mencabut kerisnya. Ia tidak menyerang dengan mendera kudanya maju mendekat, karena dengan demikian ia akan kehilangan waktu.

 

Yang dilakukannya kemudian adalah menyerang Ki Sanggabumi dengan kerisnya dari jarak yang agak jauh. Keris pusakanya itu telah dilontarkannya dengan sekuat tenaganya.

 

Namun bersamaan dengan itu, ternyata sebelah pisau telah meluncur pula dari tangan Ki Sanggabumi. Seperti Ki Legawa, Ki Sanggabumi pun terkejut melihat senjata yang dengan kecepatan yang tak terelakan telah menyambarnya.

 

Hampir pada saat yang bersamaan, terdengar keluhan tertahan dari kedua belah pihak. Pada saat yang hampir bersamaan kedua senjata yang melayang di udara itu telah menyambar sasaran masing-masing. Keris Ki Legawa menghunjam di dadanya Ki Sanggabumi hampir mengenai jantungnya, sedang pisau Ki Sanggabumi telah menancap di bahu kiri Ki Legawa

 

Meskipun pisau kecil itu sebenarnya tidak menusuk tempat yang berbahaya, tetapi racunnyalah yang telah merambat ke segenap urat nadi Ki Legawa seperti juga warangan di kerisnya yang seakan-akan telah membekukan darah Ki Sanggabumi.

 

Keduanya masih sempat berpandangan sesaat. Betapa kemarahan nampak memancar dari mata masing-masing. Namun sejenak kemudian mereka pun tidak lagi dapat bertahan. Perlahan-lahan mereka menjadi lemah, dan akhirnya terjatuh dari punggung kuda masing-masing.

 

Kuda Pradapa melihat keduanya menghembuskan nafas terakhir seperti juga lurah prajurit yang dikenalnya. Sekilas ia melihat dua orang prajurit berkuda yang memandanginya dengan penuh kebencian.

 

Tetapi agaknya kedua prajurit itu hanya memandanginya saja dari kejauhan. Setelah lurahnya terbunuh, mereka tidak lagi berniat untuk melanjutkan pertempuran. Apalagi mereka pun sadar, bahwa pisau-pisau kecil itu pun akan dapat membunuh mereka seperti membunuh lurahnya yang lengah itu.

 

Kuda Pradapa masih berada di tempatnya. Di atas punggung kuda di tengah sawah yang ditanami palawija. Tetapi tanaman itu sudah berserakkan seperti di bajak lagi.

 

Tiba-tiba saja Kuda Pradapa melihat debu mengepul di kejauhan. Ia pun segera sadar, bahwa tentu ada seseorang yang telah melaporkan pertempuran itu. Karena itulah maka ia tidak berpikir terlampau panjang lagi. Segera ia mendera kuda yang meloncat dan berlari kencang seperti sedang berpacu dengan hantu, meninggalkan mayat lawannya dan mayat saudara seperguruannya.

 

Namun demikian Kuda Pradapa itu rasa-rasanya masih saja seperti bermimpi, bahwa saudara tua seperguruannya, Ki Sanggabumi tiba-tiba saja sudah mendahuluinya. Baru beberapa saat lamanya, saudara seperguruannya itu mengajaknya menunggu Ki Legawa lewat. Kini ia sudah tidak lagi dapat berbuat apa pun juga.

 

“Aku datang untuk menengoknya. Sudah lama aku tidak pernah bertemu. Baru sehari aku di sini, ia sudah meninggalkan aku dalam perkelahian yang seru. Agaknya Ki Legawa itu pun seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi,” katanya di dalam hati.

 

Dalam pada itu kudanya masih berpacu terus. Ia tidak tahu dengan pasti, kemana ia pergi. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Ia harus menjauhi arena pertempuran sebelum para prajurit di Pajang mengepung dan menangkapnya.

 

Ketika ia berpaling, ternyata tidak ada seorang pun yang mengejarnya. Jaraknya memang terlampau jauh. Karena itu maka ia tidak perlu berpacu secepat-cepatnya lagi.

 

“Apakah kedua prajurit itu tidak melarikan diri?” bertanya Kuda Pradapa di dalam hatinya.

 

Sebenarnyalah kedua prajurit yang bertempur melawan Kuda Pradapa itu tidak melarikan diri. Mereka tidak dapat ingkar lagi bahwa pada suatu saat mereka akan dapat tertangkap. Karena itu, daripada mereka harus bersembunyi dan hidup dalam ketakutan, lebih baik menyerahkan diri.

 

“Kami bukan orang yang bertanggung jawab,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu kepada kawannya, ”karena itu biar sajalah kami menyerah.”

 

Yang lain menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Aku sependapat. Tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi. Mudah-mudahan pimpinan prajurit di Pajang mengerti duduk persoalannya.”

 

“Kita dapat memberikan penjelasan.”

 

Dengan demikian maka keduanya sudah sependapat bahwa mereka akan menyerah saja kepada sekelompok prajurit berkuda yang datang.

 

Prajurit-prajurit yang datang itu pun terkejut ketika mereka melihat dua sosok mayat yang tergolek di tanah. Mereka sudah mengenal keduanya dengan baik.

 

“Dua orang senapati pilihan,” desis lurah prajurit berkuda yang memimpin kelompok itu.

 

“Ya, Ki Legawa dan Ki Sanggabumi.”

 

Prajurit-prajurit berkuda itu pun kemudaan melihat mayat yang lain. Lurah prajurit yang mereka kenal juga.

 

Lurah yang memimpin pasukan berkuda itu pun kemudian memandang kedua orang prajurit yang sudah turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, ”Siapakah yang telah membunuh mereka?”

 

Salah seorang prajurit itu berkata, ”Kedua Senapati itu saling berbunuhan. Mereka telah mati sampyuh dalam petang tanding.”

 

“Dan lurahmu itu.“

 

”Seorang yang bernama Kuda Pradapa telah membunuhnya.”

 

“Siapa Kuda Pradapa?”

 

“Menurut keterangan yang aku dengar sebelum kami berkelahi, Kuda Pradapa adalah saudara seperguruan Ki Sanggabumi.”

 

“Apakah sebabnya kalian berkelahi?”

 

Kedua prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka pun berkata berterus terang apa yang sebenarnya sudah terjadi. Sejak mereka mendapat tugas untuk mencegat Ki Juru Martani. Kemudian perselisihan antara Ki Legawa dengan seorang senapati yang memberikan perintah kepadanya, sehingga Ki Legawa telah membunuhnya. Akhirnya sampyuh dengan Ki Sanggabumi dan lurahnya terbunuh oleh Kuda Pradapa.

 

Prajurit itu menceritakan segala-galanya sehingga lurah yang memimpin kelompok prajurit berkuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Bukan main,” berkata Lurah prajurit itu, ”suatu usaha pembunuhan yang tidak terduga-duga sama sekali. Ternyata bahwa usaha pembunuhan yang dilakukan atas Ki Gede Pemanahan beberapa saat yang lalu masih juga ada ekornya. Ternyata di Pajang memang ada sekelompok prajurit yang benar-benar tidak mau melihat Mataram tumbuh dan berkembang.”

 

“Ya.”

 

“Maaf, Ki Sanak,” berkata lurah itu, ”kalian berdua terpaksa kami tangkap. Mungkin tidak terlalu lama. Setelah kalian memberikan keterangan seperlunya, kalian akan dibebaskan lagi.”

 

“Atau digantung di alun-alun,” desis salah seorang dari kedua prajurit itu.

 

Lurah prajurit berkuda yang datang kemudian mengangkat bahunya.

 

“Semuanya akan diputuskan oleh yang berwenang,” berkata Lurah itu.

 

Demikianlah, maka kedua prajurit itu dengan tanpa berbuat apa pun telah menyerahkan diri. Sementara Ki Lurah yang menangkapnya telah memerintahkan beberapa orang penghubung untuk melaporkan kematian senapati yang di bunuh oleh Ki Legawa.

 

“Mayat itu adalah di dalam barak. Karena itu harus diusahakan agar dapat diambil tanpa salah paham. Biarlah orang yang berkepentingan menghubungi pimpinan yang masih ada di dalam barak itu,” berkata Ki Lurah kepada penghubung yang diperintahkannya untuk melaporkan peristiwa itu.

 

Namun dalam pada itu, kematian Ki Legawa dan Ki Sanggabumi itu telah sampai pula ke telinga orang yang disebut Kakang Panji itu.

 

Dengan kemarahan yang memuncak, orang yang disebut Kakang Panji itu berjalan hilir-mudik di dalam biliknya. Ia telah kehilangan dua orang pembantu setia sekaligus pada hari yang sama. Bahkan seakan-akan mereka terbunuh dalam keadaan yang tidak berarti sama sekali.

 

“Keduanya gila dan bodoh,” geram orang yang disebut Kakang Panji itu, ”kenapa mereka harus mengorbankan diri hanya oleh seekor kelinci gila yang bernama Legawa itu.”

 

Seorang pembantunya yang ada di dalam bilik itu hanya menundukkan kepalanya saja.

 

“He, Adi Dadap Wereng. Kau pun seorang senapati pilihan seperti Sanggabumi. Tetapi kau jangan lengah dan ragu-ragu. Akibatnya sudah dapat kau lihat.”

 

Orang bernama Dadap Wereng itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, ”Bagiku kematian mereka tidak perlu disesali.”

 

“Mereka adalah tenaga yang baik bagiku dan dapat dipercaya. Dari mulut mereka tidak akan dapat keluar rahasia apa pun juga. Kini kita tinggal bertiga dengan Sorohpati. Pada suatu saat kita akan kehabisan tenaga.”

 

Dadap Wereng tertawa. Katanya, ”Kakang Panji tidak perlu cemas. Bukankah kita dapat mengangkat kawan-kawan baru. Bukankah masih ada Ki Taksini, Ki Reksanata yang kadang-kadang disebut Kiai Bandotan.”

 

“Aku belum meyakini kesetiaan mereka di dalam hubungan sehidup semati di antara kita.”

 

“Kita tidak tergesa-gesa. Yang penting, kali ini kita sudah diselamatkan oleh kematian Ki Legawa. Memang sayang sekali bahwa kedua kawan kita itu mati. Tetapi apa boleh buat. Mungkin besok atau lusa akulah yang akan mati atau Sorohpati. Tetapi kita sudah menyadari bahwa semua itu adalah akibat langsung dari cita-cita kita untuk menenggelamkan Mataram, kemudian adbmcadangan.wordpress.com meringkihkan Pajang. Dengan demikian maka adalah wajar jika ada korban yang harus diberikan. Memang aku berharap agar korban itu bukan aku, sehingga aku dapat menikmati kamukten yang bakal kita dapatkan.”

 

“Kau gila.”

 

Dadap Wereng tertawa. Katanya, ”Bukankah Kakang Panji juga berharap akan dapat hidup sampai saat Pajang jatuh? Bahkan kemudian menjadi seorang pemimpin tertinggi? Barangkali Kakang Panji memang tidak ingin menjadi raja karena seorang raja memerlukan banyak pertimbangan. Tetapi bagaimana dengan guru Kakang Panji yang menurut cerita adalah keturunan langsung dari Majapahit itu?

 

“Kau jangan mengigau. Jangan pula kau sebut-sebut guru.”

 

“Kenapa? Bukankah Kakang Panji yang mengatakan bahwa guru Kakang Panji itu putera Pangeran Banjarpati, seorang Pangeran dari Majapahit?”

 

Orang yang disebut Kakang Panji itu mengerutkan keningnya. Tetapi kepalanya terangguk-angguk lemah.

 

“Dan bukankah Kakang Panji yang mengatakan bahwa guru Kakang Panji itu kini hidup sebagai pertapa yang terasing dan sama sekali tidak menunjukkan derajadnya yang sebenarnya?”

 

“Ya. Tetapi ia tetap berhak menuntut warisan nenek moyangnya.”

 

Dadap Wereng mengangguk pula. Katanya, ”Barangkali ia memang lebih berhak dari Karebet. Apalagi anak Pemanahan yang kini berkuasa di Mataram sepeninggal ayahnya. Kenapa guru Kakang Panji itu tidak menyatakan dirinya saja sebagai Banjarpati Kedua sehingga dengan demikian ia akan segera mendapat dukungan dari orang-orang yang masih merindukan kebesaran Majapahit?”

 

“Bukankah keturunan Majapahit telah tersingkir?”

 

“Orang akan menyadari bahwa akhirnya mereka memerlukannya. Apa yang dapat diberikan oleh Karebet bagi Pajang sekarang ini selain kehidupan yang mewah bagi dirinya sendiri. Isteri yang berlimpah jumlahnya. Tetapi tanpa usaha yang nyata bagi kebesaran Pajang?”

 

Orang yang disebut Kakang Panji itu tidak segera menyahut.

 

“Kakang Panji, saatnya sudah tiba. Sebaiknya Kakang Panji menghadap Putera Pangeran Banjarpati itu. Ia tentu menyadari betapa gawat saat sekarang ini. Sebelum terlambat maka kita wajib segera bertindak.”

 

Tetapi orang yang disebut Kakang Panji menggeleng. Katanya, ”Kita tetap dalam rencana. Pajang dan Mataram pada suatu saat akan berbenturan. Barulah kita akan mulai dengan perjuangan yang sebenarnya.”

 

“Kakang. Tetapi Kakang harus ingat, bahwa sudah ada orang yang mampu mengalahkan Panembahan Agung. Bukankah menurut perhitungan kita, Panembahan Agung hanya dapat dihancurkan oleh guru Kakang Panji itu?”

 

“Semua sudah diperhitungkan. Meskipun demikian, aku akan menghadap. Setelah Ki Gede Pemanahan dimakamkan, kita akan melihat ke arah manakah Mataram akan berkembang di bawah pimpinan Sutawijaya.”

 

“Disampingnya ada Ki Juru Martani. Dan meskipun tidak menentukan, tetapi orang bercambuk itu sangat memuakkan. Selebihnya kekuatan yang telah menghancurkan Panembahan Agung harus diperhitungkan sebaik-baiknya.”

 

“Aku mengerti. Aku menunggu sampai satu dua pekan lagi setelah Ki Gede Pemanahan dimakamkan. Siapakah yang akan memegang peranan di Mataram. Ki Juru Martani atau orang bercambuk itu.”

 

Dadap Wereng mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku hampir tidak sabar lagi. Tetapi Kakang Panji-lah yang memegang pimpinan di sini.”

 

Orang yang disebut Kakang Panji itu tidak menyahut. Ia berjalan hilir-mudik dengan gelisahnya. Bermacam-macam bayangan berganti-ganti nampak di rongga matanya.

 

“Guru memang sudah sangat tua,” katanya di dalam hati, ”ia harus ada di pusat kerajaan sebelum umurnya merenggut hidupnya. Kemudian aku adalah satu-satunya muridnya dan guru memang tidak mempunyai anak keturunan, sehingga apabila adbmcadangan.wordpress.com benar-benar guru mendapat dukungan untuk memegang kekuasaan karena derajat keturunannya dari Majapahit, maka semuanya tentu akan mengalir kepadaku.”

 

“Apa yang sedang kau renungkan?” bertanya Dadap Wereng.

 

“Sutawijaya,” jawab Panji itu, ”ia tidak akan berkuasa lebih dari Alas Mentaok sekarang.”

 

Dadap Wereng mengangguk-angguk.

 

“Dadap Wereng,” berkata orang yang disebut Kakang Panji itu, ”kau harus membicarakan perkembangan keadaan ini dengan Sorohpati. Mungkin aku akan bertemu dengan Ki Reksanata, tetapi tidak dalam kedudukanku ini. Aku ingin menjajagi pendapatnya lebih dahulu. Aku memang lebih tertarik kepada Reksanata daripada Taksini yang tamak.”

 

“Terserahlah kepada Kakang Panji. Tetapi bagiku Taksini adalah orang yang bodoh dan keras hati.”

 

“Aku akan melihatnya kelak. Sekarang, meskipun Legawa dan bahkan kedua senapati kita sudah mati, kau harus tetap berhati-hati. Awasilah perkembangan keadaan.”

 

“Aku akan melihat, apakah yang akan dilakukan oleh prajurit-prajurit Pajang atas mayat-mayat itu. Mungkin mereka akan menangkap anak buah lurah yang terbunuh itu.”

 

“Mereka akan menyerahkan kepadamu. Kau sebagai seorang senapati yang langsung bertanggung jawab atas kelompok prajurit yang mendapat tugas pengamanan kota hari ini.”

 

Dadap Wereng tertawa. Katanya, ”Mungkin sudah ada satu dua orang yang menunggu aku di gardu induk. Tetapi Adi Surapada ada di gardu. Ia akan mengambil kebijaksanaan selama aku tidak ada. Ia adalah seorang perwira yang cekatan. Aku mempercayainya sehingga aku tidak perlu gelisah.”

 

Orang yang disebut Kakang Panji itu mengangguk-angguk. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, ”Bagaimana dengan Surapada itu?

 

“Ia seorang perwira yang baik. Tangkas. Tetapi ia adalah seorang prajurit yang baik. Tidak mudah untuk berbicara dengan dia tentang pendirian kita.”

 

“Selain kedua Senapati yang terbunuh, kita memerlukan orang yang dapat menggantikan kedudukan Daksina. Seorang yang dengan cekatan berpetualang di luar kota Pajang dan bahkan sampai ke sekitar tanah yang sedang berkembang itu. Ia adalah seorang pembantu Panembahan Agung yang baik, tetapi juga pengawas yang teliti.”

 

Dadap Wereng mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, ”Sulit bagi kita untuk menemukan orang seperti Daksina. Tetapi aku akan berusaha.”

 

“Perhatian Mataram harus terpecah. Jika mereka hanya sekedar menatap ke Pajang, apalagi Sultan Pajang masih tetap bersikap memanjakan Sutawijaya, maka kita akan segera dapat diketahuinya. Karena itu, Mataram harus memperhatikan gangguan-gangguan lain di luar Pajang.”

 

Dadap Wereng menarik nafas panjang sekali. Katanya, ”Ah, lain kali sajalah kita berbicara tentang pengganti Daksina. Sekarang aku akan melihat, apa yang sudah dilakukan oleh prajurit-prajuritku atas orang-orang yang terbunuh itu. Sikap apakah yang sudah diambil oleh Surapada.”

 

Orang yang disebut Kakang Panji tidak menahannya lagi. Dibiarkannya Dadap Wereng kembali ke tugasnya. Tetapi semuanya sudah ditangani oleh pembantunya, Ki Surapada. Mayat-mayat yang ada di tengah sawah, dan bahkan yang ada di barak Ki Legawa pun sudah diambil tanpa terjadi sesuatu

 

Meskipun demikian, ketegangan telah memuncak ketika sekelompok prajurit datang mendekati barak tempat senapati yang terbunuh oleh Ki Legawa itu disembunyikan. Baru ketika para prajurit di dalam barak itu mendapat penjelasan bahwa mereka hanya akan mengambil mayat yang disembunyikan di bawah kolong di dalam bilik Ki Legawa, mereka tidak berbuat apa-apa, meskipun prajurit yang ada di dalam barak itu telah menyisipkan senjata masing-masing.

 

Dengan bijaksana, Suradapa sendiri yang memimpin prajuritnya mengambil mayat itu menjelaskan bahwa tidak akan ada tindakan apa-apa, karena tanggung jawab atas kematian senapati itu ada pada Ki Legawa.

 

Tetapi Suradapa masih harus bekerja dengan tekun. Ia harus mencari sebab kematian senapati itu. Kemudian kematian Legawa yang bertengkar dengan Sanggabumi.

 

“Apakah mereka mempunyai persoalan pribadi?” bertanya Suradapa kepada diri sendiri. Sedang orang yang kemudian akan diajaknya memperbincangkannya adalah senapati atasannya langsung yang bernama Dadap Wereng.

 

Karena itu, maka semua penyelidikan menjadi sangat sulit. Apalagi Dadap Wereng agaknya mengambil kesimpulan yang sangat mudah seperti dugaannya semula, ”Tentu ada perselisihan pribadi. Apalagi ternyata bahwa Sanggabumi telah membawa seorang saudara seperguruannya yang bernama Kuda Pradapa, dan Legawa membawa tiga orang prajurit seteleh ia membunuh seorang senapati di baraknya. Senapati itu tentu sahabat Sanggabumi.”

 

Suradapa tidak puas dengan kesimpulan itu. Tetapi untuk sementara ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan laporan sementara kepada pimpinan prajurit Pajang pun berbunyi demikian.

 

Tetapi Suradapa bertanya kepada diri sendiri, ”Bagaimanakah jika prajurit-prajurit itu kelak mulai memberikan keterangan?”

 

Ternyata keterangan-keterangan yang kemudian diterimanya dari para prajurit, terutama dua orang prajurit yang bertempur dengan Kuda Pradapa memberikan sedikit petunjuk, apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka menyebut pula bahwa seorang kawan mereka telah ditangkap oleh Ki Juru Martani. Dan mereka memberikan gambaran bahwa Legawa terpaksa melakukan hal itu untuk membela diri.

 

Suradapa mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata kepada diri sendiri, ”Ternyata kematian Ki Legawa dan Sanggabumi telah memutuskan jalur penyelidikan selanjutnya.”

 

Ketika Dadap Wereng mendapat laporan tentang keterangan yang dapat disadapnya dari prajurit, ia terkejut. Lalu katanya, ”Jika demikian, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di Pajang ada sekelompok prajurit yang ingin berkhianat. Mereka ingin mengeruhkan hubungan antara Pajang dan Mataram. Agaknya mereka juga yang telah mencegat Ki Gede Pemanahan beberapa waktu yang lalu.”

 

“Aku belum sampai pada pertanyaan tentang itu,” jawab Ki Suradapa.

 

“Baiklah,” berkata Dadap Wereng, ”prajurit-prajurit itu harus tetap ditahan. Aku sendiri akan memeras keterangan dari mereka.”

 

Ki Suradapa mengangguk-angguk. Tetapi terlintas di kepalanya bahwa nasib prajurit-prajurit itu akan sangat buruk di tangan Dadap Wereng.

 

“Ki Dadap Wereng tentu marah sekali mendengar pengkhianatan serupa itu,” berkata Ki Suradapa di dalam hatinya, “dan agaknya kekasarannya akan membuat prajurit-prajurit itu menderita.”

 

Tetapi Suradapa tidak dapat berbuat apa-apa, karena Dadap Wereng adalah atasannya.

 

Dalam pada itu, Dadap Wereng sama sekali tidak merasa cemas lagi terhadap keterangan yang dapat diberikan oleh prajurit-prajurit itu. Yang mereka ketahui tidak lebih dari Ki Legawa. Kemudian prajurit-prajurit itu sekedar menduga, bahwa Sanggabumi pun agaknya terlibat pula. Ki Legawa dan Sanggabumi berusaha untuk saling melenyapkan. Tetapi selebihnya dari Sanggabumi yang telah mati mereka tidak tahu siapa pun juga. Menduga pun tidak akan mampu.

 

Dengan demikian maka Dadap Wereng pun tidak segan-segan lagi bertindak seperti yang biasa dilakukannya terhadap anak buahnya yang berbuat salah. Dan setiap keterangan yang keluar dari mulut prajurit itu, membuat mereka menjadi semakin terdesak untuk mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui.

 

Namun apa pun yang mereka katakan, mereka tidak akan pernah mengetahui bahwa Dadap Wereng itu sendiri sebenarnya salah seorang dari para senapati yang telah menggerakkan mereka dari balik tirai.

 

Sementara itu, selagi orang-orang di Pajang sibuk membicarakan perkelahian yang tidak mereka ketahui ujung pangkalnya, maka orang-orang Mataram menyambut kedatangan Ki Juru Martani di ujung malam dengan berbagai pertanyaan. Kecuali kedatangannya membawa seorang yang mencurigakan, juga karena Ki Juru membawa sebuah payung yang ditutup dengan selongsong putih.

 

“Pamanda,” bertanya Sutawijaya, ”apakah yang telah terjadi?”

 

“Perjalanan ayahandamu akan terulang kembali atasku Sutawijaya,” jawab Ki Juru Martani.

 

“Maksud Pamanda, perjalanan Pamanda juga dicegat oleh beberapa orang di pinggir Kali Opak?”

 

“Tidak di pinggir kali Opak. Aku baru saja meninggalkan kota. Salah seorang dari mereka berhasil aku tangkap. Ki Waskita-lah yang membuat sebuah permainan yang menarik.”

 

Wajah Sutawijaya menjadi merah. Tetapi Ki Juru berkata, ”Jangan digoncangkan oleh perasaan semata-mata. Kita masih akan menyelenggarakan pemakaman ayahandamu. Biarlah orang ini ditawan dan dijaga sebaik-baiknya. Kita akan mengurus jenazah ayahmu.” Ki Juru Martani berhenti sejenak, lalu, ”Bagaimana dengan keluarga yang lain? Apakah semuanya sudah terkumpul?”

 

“Sudah, Pamanda. Keluarga dari Sela sudah datang seluruhnya.”

 

“Jika demikian semuanya akan dapat berlangsung sesuai dengan rencana.”

 

“Ya, Pamanda,” sahut Sutawijaya. Tetapi ia pun tidak dapat menahan keinginannya untuk mengetahui, payung apakah yang telah dibawa oleh Ki Juru Martani dan Ki Waskita itu.

 

“Apakah aku boleh mengetahui serba sedikit?”

 

“Ini adalah songsong hadiah dari Kanjeng Sultan Pajang.”

 

“Maksudnya?”

 

Ki Juru tersenyum. Sambil berpaling kepada Ki Waskita ia berkata, ”Ah, sebaiknya setelah ayahandamu dimakamkan, aku akan bercerita tentang perjalananku. Untunglah aku membawa seorang pengawal yang luar biasa.”

 

“Ah,” desis Ki Waskta.

 

Sutawijaya menyadari bahwa mereka sedang disibukkan oleh acara pemakaman ayahandanya. Jenazah Ki Gede masih akan bermalam semalam lagi. Dan agaknya Ki Juru sudah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan. Ketika Ki Juru menginjakkan kakinya di pendapa, langit menjadi semakin kelam, dan gelap yang pekat menyelubungi Tanah Mataram.

 

Betapa pun keinginan orang-orang yang ada di pendapa itu untuk mendengar ceritanya, tetapi mereka terpaksa menahan sampai kesempatan yang lain. Orang-orang tua yang menyambut kedatangannya, kemudian mempersilahkannya membersihkan diri terlebih dahulu bersama Ki Waskita, sebelum mereka di persilahkan makan malam, karena yang lain telah mendahuluinya.

 

Ki Juru Martani dan Ki Waskita pun kemudian pergi ke ruang belakang. Setelah mereka masing-masing mandi di pakiwan, maka mereka pun duduk menghadapi makan malam yang sudah dingin. Tetapi orang-orang di dapur sempat memanaskan sayur asam yang pedas dan pecel lele.

 

Ternyata bahwa selama keduanya bersiap untuk makan, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung ikut duduk pula bersama mereka, meskipun ketiganya telah makan lebih dahulu.

 

“Silahkan, Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Sebentar lagi tentu akan datang tamu-tamu dari Pajang. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Gede Pemanahan. Aku kira sebelum tengah malam mereka sudah akan datang.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, ”Siapa sajakah di antara mereka?”

 

“Sudah barang tentu sahabat-sahabat Ki Gede. Para senapati dan pemimpin pemerintahan. Sayang Kanjeng Sultan sendiri tidak dapat hadir.”

 

Kai Gringsing mengangguk-angguk. Sementara Sumangkar bertanya, ”Jadi, orang-orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram masih saja mencoba mengganggu? Untunglah Ki Juru dan Ki Waskita sempat melepaskan diri dari mereka.”

 

“Agaknya mereka juga tergesa-gesa,” berkata Ki Waskita, ”sehingga mereka sekedar berpegangan kepada jumlah orang yang banyak. Ada seorang pemimpinnya yang mungkin memiliki kemampuan yang dapat dipercaya. Namun kami dapat melepaskan diri, bahkan menangkap salah seorang dari mereka.”

 

“Dengan sedikit permainan,” Ki Juru Martani menyahut sambil tersenyum.

 

Kiai Gringsing pun tersenyum. Dan Ki Demang Sangkal Putung menyambung, ”Agaknya jaring-jaring itu benar-benar sudah mempunyai akar yang kuat di Pajang. Apakah kira-kira tawanan itu dapat memberikan petunjuk tentang usaha pembunuhan itu? Terutama nama pemimpinnya?”

 

“Aku tidak tahu. Tetapi aku kira sulit untuk menyadap keterangan daripadanya. Meskipun demikian orang itu mungkin akan ada artinya.”

 

Yang mendengarkannya mengangguk-angguk dengan hati yang berdebar-debar. Namun kemudian Kiai Gringsing mempersilahkan Ki Juru Martani dan Ki Waskita yang masih belum juga mulai untuk makan malam.

 

Meskipun kemudian mereka menyenduk nasi ke dalam mangkuk dan kemudian mulai menyuapi mulut mereka, namun Ki Sumangkar masih juga bertanya, ”Bagaimana dengan payung itu?”

 

Ki Juru Martani ragu-ragu sejenak. Diedarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya. Katanya, ”Aku akan mengatakannya kepada Raden Sutawijaya pada kesempatan yang paling baik.” Ia berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi sebelumnya, aku tidak berkeberatan mengatakan kepada orang-orang tua yang ada di dalam ruangan ini. Tetapi khusus dan tidak akan sampai kepada siapa pun.”

 

Ki Sumangkar menarik nafas. Dan Ki Juru Martani berkata, ”Maaf, bahwa aku telah memberikan pesan seperti kepada anak-anak. Tetapi bukan maksudku untuk berbuat demikian.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, ”Tidak apa-apa, Ki Juru. Semuanya itu didorong oleh maksud baik, Ki Juru.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Kemudian sesuap nasi masuk ke dalam perutnya. Katanya kemudian sambil memandang Ki Waskita, ”Ki Waskita sajalah yang bercerita.”

 

“Ah,” desah Ki Waskita, ”aku lebih baik makan saja, Ki Juru.”

 

Ki Juru tersenyum. Katanya, ”Baiklah. Aku sudah biasa makan sambil bercerita. Tetapi tentu ceritaku menjadi lamban.”

 

Yang mendengar kata-kata itu pun tersenyum pula. Tetapi mereka tidak menyahut.

 

Namun agaknya Ki Juru tidak segera mengatakan apa yang dilihatnya di Pajang dan yang dialaminya di sepanjang jalan. Baru setelah suap yang terakhir masuk ke dalam mulutnya dan setelah ia meneguk minumannya dari mangkuk mulailah ia menceritakan serba sedikit tentang perjalanannya. Yang terpenting bagi orang tua-tua itu adalah payung yang dibawanya. Payung berselongsong putih itu.

 

“Payung itu berwarna kuning seluruhnya,” berkata Ki Juru, ”payung yang melambangkan keagungan tertinggi seperti warna payung Kanjeng Sultan sendiri.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah ada pesan?”

 

“Angger Sutawijaya diwisuda di luar kehadirannya menjadi Senapati Ing Ngalaga di Mataram.”

 

Yang mendengarkan keterangan itu terdiam sejenak. Jabatan itu pada dasarnya adalah jabatan di dalam lingkungan keprajuritan. Tetapi di balik jabatan itu, Sutawijaya telah disahkan mendapat kekuasaan tertinggi di Mataram. Bahkan dengan songsong berwarna kuning emas itu, agaknya Kanjeng Sultan telah memberikan perlambang bahwa Sutawijaya yang kemudian bergelar Senapati Ing Ngalaga itu akan mendapat kekuasaan yang lebih besar lagi. Bukan saja di Mataram, tetapi di seluruh daerah Pajang.

 

Namun agaknya masih terlampau pagi untuk mempersoalkan maksud yang sebenarnya dari Kanjeng Sultan karena Kanjeng Sultan sendiri mempunyai seorang putera laki-laki. Meskipun Pangeran Benawa bukan seorang Pangeran yang kuat hatinya meskipun sebagai seorang putera Mas Karebet yang kemudian menjadi Sultan Pajang, ia memiliki kemampuan ilmu yang tinggi, namun masih banyak yang harus dipersoalkan antara putera angkatnya dan puteranya sendiri itu.

 

Dengan keterangan Ki Juru Martani tentang songsong dan pesan Kanjeng Sultan, maka mereka yang mendengarkan cerita itu mempunyai berbagai macam tanggapan. Namun mereka masih menyimpannya di dalam hati karena semuanya masih tetap suram bagi mereka, bahkan bagi Ki Juru Martani sendiri.

 

Dalam pada itu, setelah Ki Juru dan Ki Waskita selesai dengan makan malam, maka Ki Juru pun kemudian berkata, ”Kita masih akan mendapat tamu-tamu dari Pajang. Sebaiknya kita bersiap menerima mereka dan mempersiapkan tempat bagi mereka, karena jika ada di antara mereka yang lelah dan ingin beristirahat, kita sebaiknya menyediakan satu dua bilik di gandok sebelah-menyebelah.”

 

“Siapa saja di antara sahabat-sahabat Ki Gede itu, Ki Juru?” bertanya Ki Sumangkar.

 

“Aku tidak tahu dengan pasti. Tetapi sahabat-sahabat Ki Gede itu benar-benar ingin memberikan penghormatan yang tulus di saat terakhir.”

 

Demikianlah maka mereka pun kemudian meninggalkan ruang belakang itu. Ki Juru pun kemudian minta agar Sutawijaya memerintahkan mempersiapkan beberapa ruangan dan mempersiapkan jamuan bagi tamu-tamu yang masih akan datang.

 

Seperti yang dikatakan oleh Ki Juru, maka tamu-tamu yang dikatakan itu benar-benar datang menjelang tengah malam. Raden Sutawjaya dan beberapa orang pengawal serta Agung Sedayu dan Swandaru sibuk menerima kuda-kuda mereka dan menambatkannya di pinggir halaman. Sedang orang-orang tua mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

 

Kedatangan mereka ke Mataram membuat keluarga Ki Gede Pemanahan menjadi berbesar hati. Meskipun mereka sudah tidak berada di pusat pemerintahan lagi, namun kawan-kawan dan sahabat-sahabatnya masih juga datang di saat terakhir kali.

 

Dan di antara para tamu yang datang melayat itu terdapat seorang senopati yang berwajah tampan dengan sikap rendah hati dan penuh pengertian atas kesusahan yang telah menimpa keluarga Ki Gede Pemanahan, sehingga wajah yang tampan itu nampak muram dan sedih seperti wajah langit yang dibayang oleh mendung yang tipis.

 

“Mengejutkan sekali,” berkata senapati itu kepada Ki Juru Martani, ”aku sama sekali tidak menyangka. Karena itu aku menyampaikan perasaan berduka cita yang sedalam-dalamnya.”

 

“Terima kasih,” berkata Ki Juru dengan tulus. Kemudian dipersilahkan senapati itu duduk pula di pendapa bersama dengan tamu-tamu yang lain. Ia sama sekali tidak menaruh prasangka apa pun terhadap senapati yang ramah-tamah di dalam pergaulan sehari-hari. Penuh pengertian dan bersahabat dengan setiap orang itu.

 

Sinapati itu adalah senapati pilihan. Tandangnya di peperangan agak berlawanan dengan sikapnya sehari-hari, karena di peperangan, senapati itu oleh kawan-kawannya sering disebut Pencabut Nyawa.

 

Dan nama senapati itu adalah Sorohpati.

 

Tidak ada seorang pun yaag pernah menyangka bahwa Sorohpati sebenarnya adalah tangan kanan orang yang sering disebut Kakang Panji. Ia adalah kawan yang baik dari Dadap Wereng dan Sanggabumi yang telah terbunuh. Tetapi sikap Sorohpati agak berbeda dengan sikap Dadap Wereng yang kasar. Ia adalah seorang senapati yang sangat menarik perhatan. Ia selalu tersenyum dan tertawa. Kadang-kadang justru merendah dan sama sekali tidak mengagung-agungkan pangkat senapatinya.

 

Namun di balik itu semua, ia benar-benar seorang pencabut nyawa yang tidak ada duanya di Pajang. Bukan saja di peperangan. Tetapi di mana pun ia kehendak.

 

Kedatangannya di Mataram bersama-sama dengan para pemimpin dan senapati yang melayat adalah dalam rangka tugas yang diberikan oleh kelompoknya di bawah pimpinan orang yang disebutnya Kakang Panji. Ia tahu bahwa ada seorang prajurit yang tertangkap. Dan ia tahu bahwa Ki Juru telah membawa sebuah payung berselongsong putih dari dalam istana. Tetapi ia tidak tahu bahwa Sanggabumi telah terbunuh oleh Ki Legawa meskipun Dadap Wereng kemudian telah memerintahkan seorang penghubung untuk memberikan berita itu kepadanya dan perintah-perintah selanjutnya dari orang yang disebut Kakang Panji. Tetapi penghubung itu masih belum berhasil menghubungnya dan menyampaikan semuanya itu kepadanya, meskipun ia berhasil sampai pula ke Mataram dengan selamat.

 

Sorohpati yang berada di Mataram itu mendapat tugas untuk mengetahui, apakah arti payung itu bagi Ki Gede yang telah meninggal atau bagi Sutawijaya. Kemudian ia harus mengetahui pula kekuatan dan kemampuan yang sebenarnya tersimpan di Mataram.

 

Untuk menghormati Ki Gede Pemanahan yang akan dimakamkan dengan segala kehormatan itu, maka sebagian besar kekuatan di Mataram akan nampak. Senapati-senapati tertinggi dan pengawal-pengawalnya yang terpilih akan dapat dikira meskipun hanya sepintas dan dalam bentuk dan ujud kasarnya saja.

 

Malam itu, para tamu setelah mendapat jamuan sekedarnya dipersilahkan beristirahat di bilik-bilik yang sudah disediakan. Besok mereka akan ikut serta memberikan penghormatan pada saat Ki Gede dimakamkan.

 

Dalam biliknya, beberapa orang pemimpin dari Pajang itu masih sempat menilai sikap Raden Sutawijaya. Berbeda dengan yang mereka gambarkan, bahwa Sutawijaya menjadi sombong dan angkuh tanpa bersedia datang menghadap lagi ke Pajang. Tetapi ternyata Sutawjaya masih tetap Sutawijaya yang dahulu. Bahkan ia masih dengan rendah hati menerima kedatangan para pemimpin dari Pajang, bahkan menerima kuda-kuda mereka.

 

“Sikapnya tidak mudah dimengerti,” desis seorang dari mereka.

 

Sorohpati mendengar pembicaraan itu dengan acuh tak acuh. Ia bahkan berbaring di sebuah pembaringan yang disediakan untuknya bersama-sama dengan beberapa orang senapati yang lain, seolah-olah ia tidak mendengar pembicaraan itu sama sekali. Namun dengan demikian, ia dapat menjajagi tanggapan para pemimpin Pajang sendiri terhadap Raden Sutawijaya.

 

“Apakah arti payung yang dibawa oleh Ki Juru?” tiba-tiba saja seorang dari mereka bertanya di antara kawan-kawannya.

 

Yang lain menggeleng. Dan seorang senapati yang sudah separo baya berkata, ”Tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi, kita tidak dapat mengabaikan cerita-cerita yang pernah aku dengar. Meskipun cerita itu sekedar desas-desus.”

 

“Tentang apa?”

 

“Raden Sutawijaya,” sahut senapati itu, ”tetapi aku tidak berani mengatakannya semasa hidup Ki Gede Pemanahan. Aku adalah orang yang sangat hormat dan kagum kepadanya. Baik ia sebagai manusia maupun pada saat Ki Gede menjadi panglima di Pajang.”

 

“Apa?” yang lain ingin mendengar,

 

“Tentu di antara kalian ada yang pernah mendengar, siapa sebenarnya Raden Sutawijaya itu.”

 

“Ah,” tiba-tiba seorang perwira yang bertubuh tinggi berdesis, ”cerita khayalan yang tidak masuk akal.”

 

“Kau sudah mendengar?” bertanya yang lain.

 

“Ya, Aku pernah mendengar dongengan tentang Raden Sutawijaya. Pada saat Raden Sutawjaya lahir, Kanjeng Sultan secara kebetulan mengunjunginya. Itulah sumber dari dongeng ngayawara itu.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu tersenyum. Seolah-olah ia yakin bahwa ia mengetahui lebih banyak dari cerita tentang secara kebetulan itu.

 

“Apa yang kau dengar?”seorang senapati yang lain mendesak.

 

“Kau masih terlalu muda untuk mengetahui,” perwira yang lain lagi menyahut, ”aku juga sudah mendengar. Tetapi aku pun menganggap bahwa cerita itu tidak benar.”

 

“Tetapi bukankah kalian juga mengetahui bahwa saat ini tombak Kanjeng Kiai Pleret ada di Mataram? Dan kalian juga melihat songsong yang dibawa oleh Ki Juru Martani itu?”

 

“Tetapi kita belum melihat warna payung itu.”

 

Perwira yang separo baya itu mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya. Kita belum melihat.”

 

Seorang senapati yang masih muda menunggu cerita yang akan dikatakan oleh perwira yang lebih tua itu. Tetapi ternyata ia masih tetap berdiam diri.

 

Tidak ada orang yang menanyakan lagi kepadanya. Agaknya mereka ragu-ragu untuk membicarakannya. Bahkan beberapa orang pun kemudian bergeser dan duduk di antara mereka, membicarakan masalah-masalah yang lain.

Tetapi perwira yang sudah separo baya itu agaknya tidak merasa lelah dan mengantuk sama sekali, meskipun tengah malam sudah lewat. Bahkan ia pun kemudian berdiri di depan pintu butulan memandang ke dalam kegelapan di luar sinar obor yang ada di regol nampak memerah pada dedaunan. Dan sekali-sekali ia masih melihat beberapa orang yang masih saja sibuk menyiapkan pemakaman Ki Gede Pemanahan besok.

 

Namun agaknya udara yang panas telah mendorongnya untuk melangkah keluar pintu. Sambil mengibaskan bajunya perwira itu merasakan udara yang agak sejuk di luar.

 

Tetapi di luar dugaannya, senapati muda yang menunggu ceritanya itu pun mengikutinya. Bahkan kemudian sambil menggamitnya ia bertanya, “Ceritamu agaknya sangat menarik.”

 

“Cerita tentang apa?”

 

“Raden Sutawijaya.”

 

“Ah, hanya desas-desus.”

 

“Ya, desas-desus itu. Aku benar-benar belum pernah mendengar.”

 

Perwira itu melayangkan tatapan matanya ke sekelilingnya.

 

“Tidak ada orang lain.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu tertawa pendek. Katanya, ”Kenapa kau begitu bernafsu untuk mengetahui?”

 

“Tidak apa-apa.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu tidak segera mengatakan apa-apa. Apalagi ketika datang seorang senapati yang agaknya merasa kepanasan pula di dalam ruangan.

 

Sambil membungkuk dengan ramahnya, senapati itu berkata, ”Ah, Kakang ada di sini pula.”

 

“Ya. Udara serasa membakar kulit.”

 

Senapati yang menyusul itu pun tersenyum. Katanya, ”Ya, Kakang. Memang udara terasa sangat panas. Apakah Kakang akan mandi?”

 

“Ah,” desis perwira yang masih muda, ”kita dapat menjadi sakit jika kita mandi di dalam udara yang panas begini, apalagi di malam hari.”

 

“Memang tidak begitu baik untuk mandi”

 

Senapati muda itu menjadi gelisah. Jika ada orang lain maka perwira separo baya itu tentu tidak mau mengatakannya. Karena itu maka ia pun kemudian bertanya kepada senapati yang menyusul kemudian, ”Apakah Kakang akan berjalan-jalan?”

 

“O, tidak.”

 

“Di regol masih banyak pengawal yang berjaga-jaga. Barangkali asyik juga berbicara dengan mereka.”

 

Senapati yang datang kemudian itu tersenyum. Sikapnya memang terlampau ramah, ”Tidak, Adi. Ah, agaknya aku lebih senang berada di sini. Apakah Adi berkeberatan?”

 

Senapati muda itu menjadi bingung. Katanya, ”Tentu tidak. Tetapi ….?” Senapati itu tidak melanjutkannya.

 

Perwira yang baru datang itu tertawa. Katanya, ”Maaf, Adi. Aku tidak ingin mengganggu. Sama sekali tidak.”

 

Senapati yang masih muda itu termangu-mangu. Tetapi sudah tentu bahwa ia tidak akan dapat menyuruh orang lain itu pergi hanya karena ia ingin mendengarkan sebuah cerita.

 

Apalagi kemudian perwira yang baru datang itu tertawa sambil berkata, ”Tetapi sebenarnyalah bahwa aku juga ingin mendengar dongeng itu.”

 

“Dongeng apa?” Senapati muda itu bertanya.

 

“Maaf, Adi,” perwira itu menunduk sejenak, lalu, ”aku menduga bahwa Adi memang menyusul Kakang Senapati untuk mendengarkan desas-desus itu. Tiba-tiba saja timbul pula keinginanku. Dan sudah tentu Kakang Senapati tidak akan menolak. Pada dasarnya Kakang Senapati sudah mengatakan, bahwa itu hanya sekedar desas-desus yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dan dibebankan kepada siapa pun.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu pun tertawa. Katanya, ”Adi Sorohpati. Apakah kau juga tertarik kepada sebuah dongeng saja?”

 

Perwira yang tidak lain adalah Sorohpati itu tersenyum pula. Katanya, ”Untuk melengkapi khayal menjelang tidur, apakah salahnya mendengarkan sebuah dongeng tentang desas-desus yang mana pun juga. Apalagi desas-desus tentang orang besar.”

 

Dan perwira yang separo baya itu berkata, ”Aku tidak berkeberatan untuk mengatakan. Apa salahnya? Seperti yang kau katakan, Adi Sorohpati, tidak ada yang dapat dibebani tanggung jawab tentang desas-desus serupa ini.”

 

Senapati yang masih muda itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Jika Kakang tidak berkeberatan.”

 

Perwira yang sudah agak lanjut itu pun berkata, ”Aku memang tidak berkeberatan. Tetapi memang sebaiknya desas-desus semacam ini tidak usah dikembangkan lebih luas lagi.”

 

“Baik, Kakang. Aku berjanji,” berkata perwira yang masih muda.

 

Tetapi Sorohpati berkata, ”Bukankah Kakang juga mendengar pesan itu ketika ada orang yang menceritakannya kepada Kakang.”

 

Senapati yang sudah separo baya itu justru tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Memang begitulah agaknya. Tetapi aku masih ingat betul, siapakah yang mengatakan kepadaku. Jika pada suatu saat ada tuntutan pertanggungan jawab dan ditelusur siapakah sumber cerita itu, aku masih akan dapat menunjukkan siapakah orangnya. Tetapi barangkali lebih aman bagiku jika apabila salah seorang dari kalian menunjuk aku yang telah menceritakan kepada kalian, maka aku akan ingkar. Dan kalian aku tuduh telah memfitnah aku.”

 

Sorohpati tertawa, dan senapati yang masih muda itu pun tersenyum masam.

 

“Sekarang, sebaiknya Kakang bercerita saja,” berkata Sorohpati. ”Sebentar lagi malam sudah akan menjelang dini hari. Jika masih sempat, aku ingin berbaring lagi barang sejenak.”

 

“Bukankah Adi Sorohpati seorang senapati yang gemblengan? Yang biasa di medan perang tanpa tidur tiga hari tiga malam bahkan lebih.”

 

“Di peperangan, Kakang. Tetapi jika disediakan pembaringan, rasa-rasanya ingin juga memejamkan mata.”

 

Perwira itu tertawa lagi. Katanya kemudian, ”Baiklah. Dengarlah. Aku ingin menceritakan desas-desus tentang Raden Sutawijaya.”

 

“Bahwa Raden Sutawijaya akan mewarisi kerajaan karena ayahnya minum kelapa muda yang dipetik oleh Kiai Ageng Giring?”

 

Perwira yang sudah separo baya itu mengerutkan keningnya. Lalu, ”Ya. Itu sebagian. Memang Raden Sutawijaya mempunyai harapan terbesar untuk merajai tanah ini. Bukankah sudah takdir harus berlaku demikian? Kiai Ageng Giring-lah yang mendengar suara dari batang kelapa yang hanya berbuah satu butir sepanjang hidupnya, yang mengatakan bahwa barang siapa yang dapat meneguk air kelapa muda itu sampai habis sekaligus, ia akan dapat menurunkan raja-raja terbesar di tanah ini. Kiai Ageng Giring dengan serta-merta memetik buah itu dan menyimpannya di rumah. Ia pergi untuk menghauskan diri dengan bekerja di sawah setelah berpesan, tidak seorang pun boleh mengambil kelapa muda itu. Tetapi yang terjadi adalah di luar kemampuan manusia untuk menolaknya. Kiai Ageng Pemanahan-lah yang kemudian datang dari perjalanan yang panjang. Betapa hausnya sehingga tanpa minta ijin ia telah meneguk kelapa muda itu sekaligus sampai tuntas.”

 

“O,” senapati yang muda itu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Betapa marahnya Kiai Ageng Giring kepada Ki Gede Pemanahan.”

 

“Tentu,” Sorohpati tersenyum, ”marah sekali. Jika ia mampu, Ki Gede tentu dibunuhnya. Juga Nyai Ageng Giring sendiri.”

 

“He, kenapa Nyai Ageng Giring?”

 

Sorohpati tertawa. Tetapi perwira yang sudah separo baya itu mendahului, ”Ia sudah memberikan kelapa muda itu. Atau setidak-tidaknya tidak mempertahankannya sebaik-baiknya.”

 

“Kenapa Kakang Sorohpati tertawa?” bertanya perwira muda itu.

 

“Tidak apa-apa. Bukankah itu suatu kepahitan?”

 

“Tetapi kenapa harus ditertawakan?”

 

“Kau sangka bahwa hal itu terjadi sebenarnya atas sebutir kelapa muda?”

 

“He.”

“Ya,” perwira yang sudah separo baya itu memotong, ”itu terjadi sebenarnya atas sebutir kelapa muda. Kiai Ageng Giring pun mendengar sebenarnya suara itu. Jangan mencari arti yang lain yang dapat memburamkan kejadian yang sebenarnya itu.”

 

Sorohpati masih tertawa. Meskipun tidak terlalu keras, namun nada tertawanya mengandung arti yang tersendiri. Apalagi kemudian ia berkata, ”Adi. Itulah orang yang bernama Ki Gede Pemanahan yang sekarang meninggal dunia. Yang telah berhasil membuka hutan Mentaok.”

 

“Ah,” perwira yang sudah separo baya itu memotong, ”aku sudah mengatakan, jangan mencari arti yang lain dari sebutir kelapa muda itu sendiri.”

 

Sorohpati mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun tertawa pula. Nadanya semakin tinggi di antara kata-katanya, ”Apa salahnya kita mempunyai gambaran yang sebenarnya tentang Ki Gede Pemanahan? Ia bukan orang yang sepi dari kesalahan. Dan ia sudah membuat kesalahan seperti anaknya yang membuat kesalahan serupa atas gadis dari Kalinyamat itu.”

 

Tiba-tiba saja sebelum Sorohpati selesai berbicara, perwira muda itu meloncat maju sambil menggeram, ”Kakang Sorohpati. Kau menghina Ki Gede Pemanahan. Justru pada saat ia akan dimakamkan hari ini. Kita datang untuk menghormatinya. Tidak menghinanya. Kau dapat berkata apa pun juga terhadap Raden Sutawijaya. Tetapi tidak terhadap Ki Gede Pemanahan.”

 

Sorohpati memandang perwira muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, ”Ah maaf, Adi. Bukan maksudku demikian. Kadang-kadang aku hanyut dalam sikap yang barangkali tidak baik dipandang. Tetapi itu semata-mata didorong oleh sikap batinku. Sebagai seorang kesatria Pajang aku menghormati trapsila dan sopan santun. Aku memang tidak senang melihat siapa pun yang menodai dirinya sendiri dengan perbuatan serupa itu. Tetapi itu bukan berarti aku tidak menghormatinya. Aku sadar, bahwa itu adalah suatu kekhilafan. Dan orang yang melakukannya telah mendapat hukuman dari penyesalan mereka sendiri.” Ia berhenti sejenak, lalu, ”Sekali lagi aku minta maaf bahwa aku sudah terdorong kata. Sama sekali bukan maksudku untuk menghinanya.”

 

Perwira yang masih muda itu masih berdiri tegang. Namun kemudian perwira yang sudah separo baya itu menggamitnya sambil berkata, ”Jangan bertengkar. Bukankah kita sudah bersiap untuk mendengarkan desas-desus. Terserahlah kepada kita masing-masing. Apakah kita masing-masing percaya atau tidak.”

 

Perwira yang masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dan Sorobpati pun membungkuk dalam-dalam sambil berkata, ”Aku tidak sengaja mengatakannya.”

 

“Sudahlah. Sebentar lagi ayam jantan akan berkokok.”

 

“Tetapi,“ perwira yang masih muda itu memotong, ”Kakang belum mengatakan apa-apa.”

 

Perwira itu tersenyum. Lalu, ”Jika aku mengatakannya, bukan maksudku menghina Ki Gede Pemanahan. Tetapi semata-mata mengatakan bahwa desas-desus itu ada.”

 

“Ya.”

 

“Tentang Raden Sutawijaya. Kenapa ia bernama Sutawijaya?”

 

“Ya, kenapa? Bukankah nama itu wajar.”

 

“Ia adalah putera Hadiwijaya,” desis Sorohpati.

 

“Tentu tidak harus berarti demikian,” sahut perwira yang masih muda itu. ”Jika artinya demikian apa salahnya karena sejak lahir ia sudah diangkat menjadi putera Sultan Pajang.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu pun tertawa pula. Katanya, ”Sudah aku katakan. Kita masing-masing dapat percaya atau tidak. Tetapi agaknya Adi Sorohpati sudah mendengar desas-desus itu.”

 

“Jika yang dimaksud adalah bahwa Sutawijaya itu putera Sultan Pajang, aku sudah mendengar, Kakang. Aku kira ada desas-desus lain yang lebih menarik.”

 

Perwira yang masih muda itu menjadi tegang. Lalu, ”Kenapa desas-desus itu timbul?”

 

“Pada saat Ki Gede Pemanahan bertapa, maka sahabatnya seperguruan yang merayap menjadi orang besar di Pajang selalu mengunjungi padukuhannya. Tentu ia tidak sampai hati melihat Nyai Gede Pemanahan yang saat itu masih muda dan cantik menjadi kesepian.”

 

“Bohong,” desis perwira yang masih muda itu, ”itu fitnah.”

 

“Ah, sudahlah. Aku sudah tidak ingin menceritakannya. Tetapi kau memaksa,” jawab perwira yang sudah separo baya itu, ”dan bukankah sudah aku katakan bahwa yang aku katakan itu sekedar desas-desus. Dan desas-desus ini dikuatkan oleh saat kelahiran Raden Sutawijaya. Bayi itu tidak segera mau lahir. Ibunya mengalami kesulitan. Tetapi ketika Sultan Pajang datang dan mengusap kepala Nyai Gede Pemanahan, maka bayi itu pun lahir.”

 

“Bukan sekedar mengusap,” sahut Sorohpati, ”tetapi kepala ibu yang sedang melahirkan itu dipangkunya. Dan bayi itu pun segera lahir.”

 

”Bohong, bohong kau,” wajah perwira muda itu menjadi merah.

 

“Tunggu,” perwira yang sudah separo baya itu menyabarkannya. ”Seribu kali aku katakan. Itu hanya sekedar desas-desus. Hanya itu. Dan karena itulah maka Kanjeng Sultan sangat mengasihi Raden Sutawijaya. Tentu songsong yang dibawa Ki Juru Martani itu pun songsong kebesaran pula.”

 

“Kalian tidak mau berpikir,” bantah perwira muda itu, ”desas-desus itu saling bertentangan. Jika benar Ki Gede Pemanahan mengambil kelapa muda, apa pun artinya dan yang kelak akan menurunkan raja yang berkuasa di tanah ini maka tentu bukan Raden Sutawijaya-lah yang akan menjadi besar dan memerintah Mataram sebagai pancadan kekuasaannya kelak. Dan bukan Sutawijaya-lah yang menerima songsong kebesaran itu seandainya benar, karena menurut desas-desus yang kemudian Raden Sutawijaya adalah putera Kanjeng Sultan Pajang. Itu berarti, bahwa ia bukan keturunan Ki Gede Pemanahan.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Sorohpati yang termangu-mangu pula. Sementara itu senapati muda itu masih berkata, ”Nah, apakah yang dapat kita yakini dari desas-desus itu? Bukankah sama sekali tidak masuk akal?”

 

Perwira yang sudah separo baya itu mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya, Agaknya memang demikian. Jika Sutawijaya itu bukan putera Pemanahan sendiri, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelapa muda itu, karena menurut suara yang didengar oleh Kiai Ageng Giring, mereka yang dapat meneguk air kelapa itu sekaligus, ia akan menurunkan raja-raja yang akan berkuasa di tanah ini.”

 

Tetapi tiba-tiba Sorohpati tertawa. Katanya, ”Kenapa kita risaukan desas-desus itu. Namanya memang desas-desus. Mungkin sumber desas-desus itu pun bukan hanya seorang. Mungkin dua atau tiga, yang masing-masing mempunyai kebenarannya sendiri dan mungkin juga beberapa tambahan yang tidak meyakinkan.”

 

“Maksudmu?” bertanya Senapati muda itu.

 

“Mungkin juga Ki Gede Pemanahan singgah dirumah Kiai Ageng Giring pada saat Kiai Ageng Giring tidak ada. Kemudian timbul desas-desus tentang kelapa muda yang dapat menurunkan raja-raja itu. Itulah yang barangkali tidak dapat kita percaya.”

 

“Tentang kelapa muda itu?”

 

“Ya. Tetapi peristiwa yang terjadi di balik pintu rumah Kiai Ageng Giring tidak dapat diketahui oleh siapa pun.”

 

“Bohong. Kau telah mereka-reka. Kau pandang segalanya dari sudut yang buram.”

 

Sorohpati tertawa pula. Katanya, ”Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengatakan bahwa yang terjadi tidak seorang pun yang mengetahuinya.” Senapati itu berhenti sejenak, lalu, ”Kemudian tentang Raden Sutawijaya. Jika itu merupakan hukum balas-berbalas, maka yang dilakukan oleh Sultan Pajang itu adalah buah dari pekerjaan sendiri yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan. Sudah barang tentu tidak ada hubungannnya, siapakah yang sebenarnya akan menurunkan raja-raja di tanah ini.”

 

“Kau bohong. Kau mengigau,” Senapati muda itu meloncat ke hadapan Sorohpati dengan wajah yang merah padam. Sambil mengacungkan tangannya ke hadapan wajah Sorohpati ia berkata, ”Kau sudah memberikan arti yang buruk dari desas-desus itu. Aku tidak menolak cerita yang dikatakan oleh Kakang Senapati. Ia benar-benar menceritakan sebuah desas-desus. Tetapi ia tidak memberikan arti tersendiri seperti kau.“

 

Sorohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap senapati muda itu. Tetapi ia justru surut selangkah sambil membungkuk dalam-dalam. ”Aku minta maaf, Adi. Bukan maksudku berbuat demikian. Mungkin aku dapat kau anggap mempunyai maksud buruk. Tetapi sebenarnya tidak sama sekali, karena yang aku katakan itu pun sekedar yang aku dengar. Desas-desus itu sudah dilengkapi dengan cerita tentang hubungan yang masih disamarkan itu.”

 

“Persetan,” bentak senapati yang masih muda itu, ”seharusnya Kakang Sorohpati tidak menceritakan kepada siapa pun. Aku yakin bahwa cerita itu mempunyai tujuan tertentu untuk menjatuhkan nama Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”

 

“Adi,” Sorohpati nampaknya masih sareh, ”kenapa kau hanya marah kepadaku saja. Bukankah Kakang Senapati juga mengatakan desas-desus itu? Coba, apa yang dapat dikatakan tentang Raden Sutawijaya. Apa hubungannya dengan saat kelahirannya? Nah, tentu arah ceritanya juga akan ke sana.”

 

Perwira yang sudah separo baya itu kemudian berkata dengan hati-hati, ”Sudahlah. Sebaiknya kita tidak meributkan suara yang tidak berujung pangkal itu. Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa itu hanya sekedar desas-desus. Kita dapat percaya adbmcadangan.wordpress.com dan dapat tidak. Aku memang tidak bermaksud menghubungkan kedua macam desas-desus itu. Tetapi sudahlah. Kita jangan membicarakannya lagi. Sebaiknya kita sekarang beristirahat. Besok kita akan memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Gede Pemanahan. Karena itu marilah kita tidak mengotori angan-angan kita dengan desas-desus yang tidak dapat diyakini kebenarannya.”

 

“Bukan tidak dapat diyakini kebenarannya. Tetapi aku yakin bahwa cerita itu bohong.”

 

“Nah, lebih baik begitu. Kita harus mempunyai sikap terhadap sebuah desas-desus. Karena itulah sebenarnya aku ragu-ragu mengatakannya di hadapan orang banyak. Aku takut jika akan timbul pertengkaran karena mereka mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap desas-desus itu.”

 

Senapati yang masih muda itu tidak menyahut lagi, sedangkan Sorohpati tersenyum sambil berkata, ”Baiklah. Marilah kita pergunakan waktu yang sedikit ini untuk beristirahat. Besok kita akan memberikan penghormatan terakhir. Kemudian kita akan kembali ke Pajang.”

 

“Mungkin lusa,” berkata perwira yang sudah separo baya itu.

 

“Ya, mungkin lusa,” sahut Sorohpati. Dan di dalam hatinya ia berkata, ”Sebaiknya memang lusa. Aku masih ingin banyak melihat dan mendengar di Mataram ini. Lebih baik jika aku sempat menemukan tempat anak buah Legawa di tahan. Mungkin aku dapat memotong jalur itu langsung di ujungnya, sebelum persoalannya menjalar ke mana-mana. Meskipun barangkali Legawa sudah dimusnakan pula.”

 

Demikianlah senopati-senopati itu pun kemudian masuk kembali ke dalam biliknya. Namun senopati muda itu masih saja dipengaruhi oleh desas-desus yang didengarnya. Rasa-rasanya sikap Sorohpati memang agak lain dengan perwira yang sudah separo baya itu.

 

Bagi Senopati muda itu, perwira yang sudah separo baya itu menceritakan desas-desus yang didengarnya sebagaimana ia bercerita tanpa tujuan dan maksud tertentu. Tetapi bagi senopati muda itu, sikap Sorohpati memang berbeda. Sorohpati dengan sengaja telah mengambil kesimpulan yang buram dari desas-desus itu.

 

Tetapi senopati muda ttu tidak tahu maksudnya. Apakah senopati yang bernama Sorohpati itu dengan sengaja ingin menyuramkan nama Ki Gede Pemanahan, atau memang ia seorang yang senang menilai orang lain dengan caranya.

 

Ketika senopati muda itu kemudian mengangkat kepalanya, dilihatnya Sorohpati sudah berbaring di pembaringannya. Bahkan agaknya ia sudah tertidur dengan nyenyaknya, seolah-olah tidak ada lagi yang dipikirkannya.

 

Senopati muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia melihat senopati yang sudah separo baya itu pun tertidur pula di antara kawan-kawannya yang lain, maka ia pun berkata kepada diri sendiri, ”Agaknya aku memang terlampau tajam menanggapi desas-desus itu. Sorohpati agaknya sama sekali tidak menghiraukannya lagi.”

 

Ia pun kemudian berbaring pula di pembaringannya. Tetapi untuk beberapa saat lamanya ia tidak dapat tertidur juga. Ia masih mendengar beberapa orang hilir-mudik di luar dan di longkangan. Bahkan kemudian ia mendengar suara seseorang yang berdri di muka pintu bilik itu.

 

“Tentu keluarga KI Gede Pemanahan yang sibuk menyiapkan upacara pemakaman besok pagi,” pikir senopati muda itu.

 

Baru sesaat menjelang pagi, senopati muda itu dapat tertidur barang sesaat.

 

Tetapi yang sesaat itu telah memberi kesempatan kepada Sorohpati untuk mendengarkan isyarat sandi di luar pintu. Seolah-olah seseorang yang berbicara di antara orang-orang yang sedang sibuk. Tetapi orang itu hanyalah seorang diri.

 

Beberapa kali hal itu terjadi, tetapi Sorohpati tidak berbuat sesuatu. Baru setelah ia yakin, bahwa orang-orang lain telah tertidur nyenyak, barulah ia pergi ke luar pintu.

 

Di luar pintu ia melihat seseorang yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan bertanya, ”He, siapa kau?”

 

Orang itu menengadahkan kepalanya dan berkata, ”Aku, Ki Sorohpati.”

 

“Kau siapa?”

 

“Aku mendapat perintah dan Ki Rambatan.”

 

Sorohpati mengangguk-angguk. Lalu, ”Apakah kau sudah mengenal aku?”

 

“Tentu sudah, Ki sorohpati. Aku adalah seorang prajurit yang banyak mengenal senopati perang, yang apalagi memiliki kelebihan seperti Ki Sorohpati.”

 

“Kau mendapat pesan khusus dari Ki Rambatan.”

 

“Ya. Aku mendapat pesan khusus dari Ki Rambatan.”

 

“Pesan apa?” bertanya Ki Sorohpati, ”dan dari mana kau tahu bahwa kau harus berbicara dengan dirimu sendiri untuk memberikan isyarat agar aku mengenalmu?”

 

“Ki Rambatan telah berpesan demikian.”

 

“Aku tidak kenal dengan Ki Rambatan,” bentak Sorohpati meskipun tidak terlalu keras, ”tetapi pesan apakah yang kau bawa?”

 

Orang itu menjadi heran. Bahkan ia bertanya, ”Kenapa Ki Sorohpati tidak kenal dengan Ki Rambatan.”

 

“Aku memang mengenalnya. Tetapi sekedar menganggukkan kepala jika berjumpa di tengah jalan. Tetapi aku belum mengenalnya secara pribadi,” sahut Sorohpati. ”Nah, katakan. Apakah pesannya?”

 

“Aku harus memberitahukan bahwa Ki Legawa telah meninggal.”

 

“Ki Legawa? Kenapa?”

 

Prajurit itu pun segera menceritakan apa yamg sudah terjadi dengan Ki Legawa. Tetapi yang dapat diceritakannya hanyalah sekedar yang nampak. Bahwa K Legawa dan seorang lurah prajurit meninggal sampyuh dengan Ki Sanggabumi.

 

Sejenak Ki Sorohpati menegang. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Berita yang menyedihkan bagi Pajang. Tetapi aku tidak tahu, kenapa aku harus mendapat pesan khusus tentang hal itu. Terima kasih. Apakah aku harus menyampaikan kabar ini kepada senopati yang lain?”

 

Prajurit itu menjadi bingung. Tetapi ia menjawab, ”Aku tidak mengerti. Aku hanya mendapat pesan khusus bagi Ki Sorohpati.”

 

“Baiklah. Terima kasih. Apakah ada pesan lain?”

 

Prajurit itu termangu-mangu sejenak, lalu, ”Ki Sorohpati. Meskipun aku tidak mendapat pesan tersendiri tentang sifat perjalananku, tetapi rasa-rasanya perjalananku adalah perjalanan rahasia. Aku tidak boleh menemui siapa pun selain Ki Sorohpati. Aku mendapat petunjuk bagaimana sikapku agar aku segera dapat dikenal. Tetapi agaknya Ki Sorohpati menerima pesanku seolah-olah bukan persoalan yang harus dirahasiakan.”

 

“Apa yang harus dirahasiakan?” bertanya Sorohpati, ”bukankah banyak orang yang melihat apa yang telah terjadi. Legawa dan Sanggabumi mati di tengah sawah. Manakah yang dapat dirahasiakan.”

 

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebenarnyalah bahwa ia tidak mengerti, bahwa berita itu memberitahukan kepada Sorohpati, bahwa kematian Ki Legawa dan Sanggabumi telah memutuskan jalur penghubung antara tawanan yang ada di Mataram dengan pimpinan kelompoknya yang disebutnya Kakang Panji.

 

“Tetapi orang yang disebut Rambatan tentu sebuah saluran baru yang setiap saat perlu diputuskan pula,” katanya di dalam hati.

 

Tetapi Sorohpati percaya kepada Dadap Wereng dan orang yang disebutnya Kakang Panji. Mereka tidak akan memilih sembarang orang. Dan sebenarnyalah bahwa Sorohpati memang sudah mengenal Ki Rambatan. Tetapi ia tidak boleh terlampau percaya kepadanya dan kepada orang yang membawa berita itu.

 

“Setelah pesan ini sampai kepadaku, apakah yang harus kau lakukan?”

 

“Kembali secepatnya ke Pajang.”

 

Ki Sorohpati mengangguk-angguk. Lalu, ”Hati-hatilah. Jika kau menarik perhatian dengan sikap bodohmu, maka kau tentu akan ditangkap.”

 

“Apakah yang dapat menarik perhatian?”

 

“Berita yang kau anggap rahasa itu. Tetapi jika demikian, maka kau benar-benar harus merahasiakan. Aku tidak tahu, apakah kepentingan Ki Rambatan dengan rahasia itu.” Sorohpati berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi jika ia memang menganggap rahasia, maka adbmcadangan.wordpress.com kau harus merahasiakannya, agar kau tidak melanggar perintahnya. Karena kau dapat jatuh ke dua tangan dengan akibat yang sama. Ditangkap oleh orang-orang Mataram, atau oleh Ki Rambatan sendiri. Akibatnya, kepalamu akan dipenggal.”

 

Orang itu menjadi semakin bingung. Katanya, ”Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa Ki Rambatan dapat menangkap aku.”

 

“Jika kau melanggar pesannya,”

 

“Bagaimana jika Ki Sorohpati yang melanggar?”

 

Ki Sorohpati mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, ”Aku bukan kanak-kanak. Percayalah. Tetapi kau memang harus berhati-hati. Apakah ada pesan lain?”

 

Prajurit itu menjadi ragu-ragu.

 

“Kenapa kau ragu-ragu. Cepat katakan dan cepat kembali ke Pajang. Kau orang tidak dikenal di sini. Dan kau tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi jika kau mengenakan pakaian keprajuritan pun kau akan tetap dicurigai, karena hanya pengawal yang resmi dibawa oleh para senapati sajalah yang ada di sini,” namun tiba-tiba Ki Sorohpati berbisik, ”tetapi tentu ada di antara mereka yang mengenalmu.”

 

Orang itu menjadi semakin bingung. Tetapi kemudian katanya, ”Baiklah, Ki Sorohpati. Aku akan keluar segera dari Mataram. Tetapi sesudah matahari terbit. Justru tidak akan menimbulkan kecurigaan apa-apa, seperti orang yang bepergian atau sekedar lewat daerah ini.”

 

“Bagus.”

 

“Tetapi masih ada satu pesan lagi.”

 

“Apa?”

 

“Songsong yang dibawa oleh Ki Juru Martani ternyata songsong yang berwarna kuning seutuhnya. Dan songsong itulah yang akan menjadi pertanda kebesaran Sutawijaya.”

 

“He.”

 

“Nama songsong itu adalah Kiai Mendung.”

 

Wajah Sorohpati menjadi tegang. Dengan suara yang sendat ia berkata, ”Kau katakan bahwa songsong itu Kanjeng Kiai Mendung?”

 

“Ya.”

 

“Bohong. Bohong.”

 

Prajurit itu menjadi bingung. Namun katanya kemudian, ”Aku tidak tahu pasti. Tetapi demikianlah yang aku dengar dari Ki Rambatan.”

 

BUKU 84

 

“GILA!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kangjeng Kiai Pleret, kini Kangjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kangjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?”

 

Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya.

 

“Pergilah!” tiba-tiba Sorohpati menggeram. “Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Kau harus segera bersiap meninggalkan Mataram. Katakan kepada Ki Rambatan, bahwa pesannya sudah sampai padaku.”

 

“Baiklah, Ki Sorohpati.”

 

“Ingat, jangan membunuh diri dengan kebodohan dan kesalahan yang tidak perlu.”

 

Orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian sadar, bahwa ia sudah berada di dalam lingkungan yang kelam.

 

Semisal orang yang menyeberangi sungai, ia sudah terlanjur basah. Karena itu, ia tidak akan dapat ingkar lagi.

 

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata kepada diri sendiri, “Aku adalah seorang prajurit. Sejak aku memasuki lingkungan ini, aku sudah mengerti, bahwa aku akan bermain-main dengan nyawaku. Jika permainanku kali ini dapat mendatangkan kesenangan, kenapa aku harus menepi dan bahkan lari ?”

 

Dengan demikian, prajurit itu tidak lagi menjadi gelisah. Ia sudah berdiri ditempatnya dengan tenang, bahkan kemudian dengan sepenuh hati.

 

Sejenak kemudian ia sudah meninggalkan Ki Sorohpati. Ia tidak menampakkan dirinya di daerah persinggahan prajurit-prajurit Pajang yang mengawal beberapa orang pemimpin, dan Senapati yang sedang melayat. Karena itu, ia dengan diam-diam berhasil meninggalkan halaman rumah Ki Gede Pemanahan dan berhasil meninggalkan Mataram apabila matahari telah naik.

 

Sementara itu, di halaman rumah Ki Gede Pemanahan nampak kesibukan mulai meningkat. Hari itu juga, jenazah Ki Gede akan dikebumikan dengar upacara, karena sebenarnyalah bahwa Ki Gede adalah orang yang cikal bakal tanah Mataram yang dibuka dengan menetas hutan yang lebat dan berbahaya, Alas Mentaok.

 

Karena itulah, maka seluruh tanah Mataram yang sedang dibuka itu pun diliputi perasaan duka cita. Mereka tidak menyangka, bahwa secepat itu Ki Gede Pemanahan harus meninggalkan mereka. Meninggalkan Alas Mentaok yang sudah mulai terbuka dan dikenal oleh Pajang dan daerah yang tersebar dari ujung Barat sampai ke ujung Timur.

 

Bukan saja dari Mataram dan Pajang. Tetapi ternyata berita meninggalnya Ki Gede pemanahan cepat tersebar. Sahabatnya dari padukuhan-padukuhan terpencil pun memerlukan datang menghormat jenazahnya.

 

Ketika matahari mulai merambat naik di atas cakrawala, maka Mataram benar-benar menjadi sibuk. Hampir setiap orang telah keluar dari rumahnya memenuhi jalan-jalan. Sebagian dari mereka berduyun-duyun mendekati rumah Ki Gede Pemanahan, yang lain menunggu di jalan-jalan yang akan dilalui oleh jenazah pemimpin Tanah Mataram itu.

 

Para pedagang dan perantau yang kebetulan berada di Mataram pun telah terhenti untuk ikut memberikan penghormatan terakhir. Mereka menunda perjalanan mereka barang setengah hari sambil menunggu jenazah diberangkatkan ke makam. Dan mereka lah yang kemudian telah menyebarkan berita tentang kematian Ki Gede Pemanahan ke segala penjuru.

 

Ketika saatnya telah tiba, maka jenazah pun telah disiapkan dalam keranda di pendapa. Para senapati dan pemimpin dari Pajang serta para keluarganya duduk melingkari keranda itu, sementara semua persiapan diselenggarakan.

 

Sejenak kemudian, maka para senapati dan pemimpin pemerintahan dari Pajang, para pemimpin di Mataram dan keluarga Ki Gede yang ada di Mataram dan yang datang dari Sela pun turun ke halaman. Para pengawal Tanah Mataram segera mengangkat keranda itu dan membawanya ke halaman pula.

 

Orang-orang yang ada di halaman itu pun menundukkan kepala, ketika mereka mendengar doa mengumandang di sela-sela isak tangis keluarga Ki Gede. Bau yang harum mengambar menusuk setiap hidung yang sedang menunduk. Namun bau yang harum itu telah menambah hati menjadi semakin sendu.

 

Dalam pada itu, seorang pengawal berdiri dengan kepala tunduk. Tanpa disadarinya, terasa titik air yang menghangat di pipinya.

 

Dengan lengan bajunya, pengawal itu mengusap matanya. Sementara itu, tangannya yang lain dengan gemetar menggenggam sebuah songsong berwarna kuning bergaris hijau.

 

Orang itu adalah Ki Lurah Branjangan. Ia merasa seperti kehilangan saudara tua sendiri. Bahkan Ki Gede Pemanahan bukan saja seperti kakak kandungnya, tetapi sekaligus gurunya. Meninggalnya Ki Gede telah benar-benar menggetarkan jantung Ki Lurah Branjangan, yang mulai melihat Mataram menjadi berkembang.

 

Di belakangnya, seorang anak muda berdiri tegak seperti patung. Dengan wajah yang beku ia memandang orang-orang yang sibuk mengatur persiapan keberangkatan jenazah itu. Tetapi rasa-rasanya anak muda, yang tidak lain adalah Sutawijaya itu, tidak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Ada semacam perasaan bersalah bergejolak di dadanya. Ia pada saat terakhir tetap tidak mau menurut perintah ayahandanya, sampai ayahandanya menghadap kembali kepada Tuhannya. Ia tetap tidak mau pergi ke Pajang menghadap Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

 

Sutawijaya menggigit bibirnya ketika terasa matanya menjadi panas. Tetapi rasa-rasanya air matanya tidak dapat terbendung lagi.

 

Namun Sutawijaya tidak mau menunjukkan kelemahan hatinya. Karena itu, mumpung masih ada kesempatan, ia pun segera berlari masuk ke dalam untuk menghapus air mata, yang sudah mulai mengembun di matanya.

 

Tetapi ketika ia akan kembali ke halaman depan, ia tertegun. Lamat-lamat ia masih mendengar doa yang menggema di halaman, serasa menyusup sampai ke tulang. Namun ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ia ingin masuk ke sentong tengah yang ditutup dengan sebuah tirai yang menggantung rapat.

 

Ia adalah penghuni rumah itu. Bahkan ia adalah pewaris rumah itu. Bukan saja rumah itu, tetapi Mataram dengan isinya. Namun rasa-rasanya saat itu bulunya meremang, ketika tangannya meraba tirai yang tergantung di muka pintu.

 

Perlahan-lahan ia membuka tirai itu. Dan dadanya pun bergejolak ketika terlihat olehnya, sebuah payung yang ditutup dengan selongsong putih,

 

“Payung inilah yang kemarin dibawa oleh Ki Juru Martani,” berkata Sutawijaya kepada diri sendiri.

 

Tiba-tiba saja Sutawijaya tidak dapat menahan nafasnya. Perlahan-lahan ia mendekati payung itu dengan dada yang berdebar-debar. Namun, ketika ia meraba selongsong payung itu, rasa-rasanya darahnya berhenti mengalir dan nafasnya menjadi sesak. Tangannya terasa gemetar dan menjadi lemah.

 

Perlahan-lahan Sutawijaya melangkah surut. Sesuatu terasa telah mengusik hati. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Tentu tidak apa-apa. Keragu-raguan dan kecemasanku sendirilah yang telah menghentikan jantungku berdetak, sehingga rasa-rasanya aku kehilangan segenap kekuatan.”

 

Meskipun demikian, Sutawijaya ingin mempengaruhi perasaan sendiri agar kegelisahan dan debar dadanya tidak berulang. Perlahan-lahan ia maju lagi dan mengangkat tangannya, menyembah songsong yang masih tertutup itu.

 

Baru kemudian ia mendekat lagi. Kali ini ia berhasil menyentuh, bahkan menarik selongsong payung itu. Payung yang berwarna kuning seutuhnya.

 

“Kuning emas,” desisnya, “tentu songsong ini lebih bagus dari songsong yang dipakai untuk mengiringi jenazah ayahanda itu.”

 

Sejenak, Sutawijaya berdiri mematung. Tiba-tiba saja tumbuh keinginannya untuk mempergunakan payung itu. Payung yang menurut pendapatnya lebih bagus dari payung yang dipergunakan untuk memayungi jenazah ayahandanya.

 

Karena itu, Sutawjaya pun kemudian tidak berpikir panjang. Diambilnya payung itu dan dibawanya berlari keluar.

 

Pada saat itu, upacara pemberangkatan jenazah sudah selesai. Ki Juru Martani yang memimpin upacara itu pun kemudian mempersilahkan keluarga Ki Gede untuk melakukan upacara sumurup. Putera dan seluruh keluarganya berturut-turut menyusup di bawah jenazah, sebelum jenazah itu berangkat ke makam.

 

“Dimana Angger Sutawijaya?” bertanya KI Juru.

 

“Ya, dimana?”

 

Ki Lurah Branjangan berpaling. Raden Sutawijaya semula berdiri di belakangnya. Tetapi anak muda, itu sudah tidak ada.

 

“Panggil jebeng Sutawijaya,” berkata Ki Juru, “ia pun harus ikut dalam upacara sumurup ini.”

 

Tetapi sebelum orang yang disuruhnya mencari beranjak dari tempatnya, semua orang yang ada di halaman itu pun terkejut ketika mereka melihat Sutawijaya berlari-lari sambil membawa sebuah payung bertangkai panjang. Payung yang berwarna kuning emas seluruhnya.

 

Yang paling terkejut di antara mereka adalah Ki Juru Martani. Payung itu adalah payung yang dibawanya dari Pajang, yang diletakkannya di sentong tengah. Payung itu masih belum diserahkannya dengan resmi kepada Sutawijaya, dan ia pun masih belum mengatakan pesan dan perintah yang dikatakan oleh Kangjeng Sultan Pajang bagi anak muda itu.

 

Tetapi kini Sutawijaya membawa payung itu berlari-lari ke halaman. Payung yang mempunyai arti tersendiri, bukan sekedar payung yang mempunyai warna yang menarik.

 

“Angger Sutawijaya,” Ki Juru Martani menghentikannya.

 

Tetapi Sutawijaya seolah-olah tidak mendengarnya. Dengan serta merta payung berwarna kuning emas dan bertangkai panjang itu pun dibukanya.

 

Demikian payung itu terbuka, maka setiap Senapati dan prajurit serta para pemimpin Pajang, terkejut bukan buatan. Bahkan Ki Juru Martani pun rasa-rasanya membeku di tempatnya. Ternyata yang ada di tangan Raden Sutawijaya itu adalah benar-benar songsong kebesaran Demak, yang telah di bawa ke Pajang, Kiai Mendung.

 

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Payung itu telah terbuka.

 

Ketika ia membawa payung itu dari Pajang, ia sama sekali tidak mengerti, bahwa payung itu adalah Kiai Mendung. Baru kini setelah payung itu terbuka, dan nampak pada jari-jarinya gemerlapnya permata, yang didapatkannya dari pecahan batu yang jatuh dari langit yang terselut emas, serta rumbai-rumbai yang justru berwarna hitam, tidak pada tepi payung tetapi pada pangkal jari-jarinya.

 

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang melihat pula payung itu pun menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia menekan dadanya. Payung itu adalah payung kebesaran. Bagi Kiai Gringsing payung itu sudah dikenalnya sejak lama, seperti juga para pemimpin Pajang yang lain. Juga Ki Sumangkar sudah mengenal payung itu. Bahkan Ki Waskita yang belum pernah melihat Kiai Mendung seutuhnya, langsung dapat menyebut, bahwa payung itu adalah Kai Mendung.

 

Suasana di halaman rumah Ki Gede Pemanahan itu menjadi tegang. Setiap mata memandang payung yang telah terbuka itu, dan yang dengan langkah yang pasti dibawa oleh Sutawijaya mendekati jenazah ayahandanya.

 

“Guru,” bisik Agung Sedayu yang berdiri di samping Kiai Gringsing, “payung apakah itu?”

 

“Itu adalah songsong yang bernama, Kangjeng Kiai Mendung,” desis Kiai Gringsing.

 

Agung Sedayu tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengerti bahwa payung itu tentu mempunyai arti tersendiri, sehingga setiap orang bagaikan mematung memperhatikannya.

 

Ki Juru Martani pun kemudian perlahan-lahan mendekati Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ki Juru menepuk bahu Raden Sutawijaya. Rasa-rasanya mulutnya terlampau sulit untuk mengatakan sesuatu.

 

Sutawijaya pun termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah terjadi. Sebagai seorang anak yang masih sangat muda, ia kurang mengerti arti dari payung yang berwarna kuning emas dan bernama Kangjeng Kiai Mendung itu. Ia memang pernah melihat songsong itu dimandikan pada bulan pertama disetiap tahun. Tetapi ia tidak terlampau banyak mengerti makna dari payung itu. Ayahandanya pun belum pernah menceritakan serba sedikit tentang payung itu kepadanya.

 

“Pamanda Ki Juru Martani,” berkata Raden Sutawijaya, “bukankah songsong yang pamanda bawa dari Pajang ini jauh lebih baik dari songsong yang dipergunakan untuk memayungi jenazah ayahanda itu? Dan bukankah Jenazah ayahanda pantas mendapat penghormatan yang tertinggi pada hari ini? Jika Pamanda membawa songsong yang apabila tidak salah bernama Kangjeng Kiai Mendung ini dari Pajang, tentu Kangjeng Sultan sudah mengijinkannya apabila payung ini dipergunakan di Mataram.”

 

Perlahan-lahan Ki Juru Martani mengangguk. Baru setelah ia berusaha mengatur nafasnya, ia dapat menjawab, “Ya, ya, Sutawijaya. Ayahandamu memang berhak mempergunakan payung itu.”

 

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat membaca, gejolak hati Ki Juru yang berkata kepada dirinya sendiri, “Agaknya memang sudah pasti, bahwa Ki Gede Pemanahan akan menurunkan seorang yang akan menjadi seorang raja yang besar di tanah ini.”

 

Dengan demikian, maka Ki Lurah Branjangan pun kemudian menguncupkan songsong yang dibawanya. Kemudian menerima songsong yang dibawa oleh Sutawijaya setelah ia menyembahnya.

 

“Hati-hati, Ki Lurah,” berkata Ki Juru Martani, “kau pernah menjadi seorang prajurit di Pajang. Prajurit-prajurit sebayamu tentu lebih banyak mengetahui tentang Kangjeng Kiai Mendung daripada anak-anak muda.”

 

“Ya, Ki Juru,” berkata Lurah Branjangan.

 

“Kangjeng Kiai Mendung mempunyai arti tersendiri di dalam perkembangan kerajaan Pajang, sejak dipindahkannya pusat pemerintahan dari Demak.”

 

“Ya, Ki Juru.”

 

“Nah, hormatilah songsong itu. Dan lebih daripada itu, jagalah baik-baik. Kau dapat memerintahkan sejumlah pengawal untuk mengawal songsong itu.”

 

Demikianlah, maka empat orang pengawal terpilih telah berada di belakang Ki Lurah Branjangan, dengan senjata di lambung, untuk mengawal songsong Kangjeng Kiai Mendung yang pada saat pemakaman Ki Gede Pemanahan itu dipergunakan.

 

Adalah di luar kemampuan nalar untuk memperhitungkannya, bahwa tiba-tiba langit menjadi buram. Selapis awan telah menebar di langit, sehingga sengatan terik matahari tidak terasa lagi menggigit kulit.

 

Setiap orang yang ada di halaman itu mencoba menghubungkan awan yang menebar di langit itu dengan songsong Ki Gede Pemanahan. Songsong Kangjeng Kiai Mendung adalah sebuah payung yang mempunyai kekuatan yang ajaib, sehingga awan pun terpengaruh olehnya apabila songsong itu dibuka. Betapa cerahnya langit, dan betapa panasnya cahaya matahari, maka apabila payung yang berwarna kuning emas dengan batu permata yang jatuh dari langit di jari-jarinya dan rumbai-rumbai hitam di pangkal jari-jari dibuka, maka awan pun akan segera menebar. Seolah-olah begitu saja tumbuh di udara.

 

Di antara mereka yang menyaksikan payung yang berwarna kuning emas itu adalah Sorohpati. Dengan dada yang berdebar-debar, ia berkata kepada diri sendiri, “Sebenarnyalah payung itu adalah Kangjeng Kiai Mendung.”

 

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan yang sangat telah merayap di hatinya, seolah-olah ia dihadapkan pada suatu kepastian, bahwa pimpinan pemerintahan akan berpindah dari Pajang ke Mataram.

 

“Apakah Kakang Panji tidak akan berhasil?” Ia bertanya kepada diri sendiri. “Guru Kakang Panji adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya di Majapahit. Ia berhak memiliki tahta kerajaan yang temurun dari Majapahit ke Demak, kemudian ke Pajang itu daripada Sutawijaya, anak Ki Gede Pemanahan itu.”

 

Tetapi kemudian katanya, “Mula-mula Kanjeng Kiai Pleret, kemudian Kangjeng Kiai Mendung. Apakah kemudian Kangjeng Kiai Crubuk juga akan diberikan kepada Raden Sutawijaya, bahkan Kangjeng Kiai Sangkelat dan Kangjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten? Jika demikian, maka kekuasaan Pajang akan benar-benar kering dari kekuatan genggaman wahyu, sehingga kekuasaan itu benar-benar akan bergeser ke Mataram.”

 

Namun Sorohpati pun kemudian menggeram sambil bergumam di dalam hati, “Tetapi jika benar-benar demikian, maka harus ada sarana yang dilakukan sehingga wahyu itu jengkar dari Mataram. Benda-benda yang keramat itu merupakan tempat hinggapnya wahyu, seperti sarang bagi seekor burung yang terbang di langit. Jika benda-benda itu dapat di kuasai oleh Kakang Panji, maka ia tentu akan menjadi sarang bagi wahyu kerajaan, apalagi gurunya adalah memang berdarah Majapahit. Darah Maharaja yang pernah menguasai seluruh kepulauan di sekitar pulau Jawa.”

 

Selain angan-sangan yang membubung, Sorohpati pun mencoba untuk menilai kekuatan yang ada di Mataram. Menjelang jenazah Ki Gede Pemanahan diberangkatkan, maka Sorohpati dapat melihat, pimpinan pengawal dan pimpinan pemerintahan di Mataram. Ia melihat senapati-senapati yang masih muda dengan wajah yang tegang dan keras. Wajah yang dibentuk di dalam kerasnya perjuangan melawan kelebatan Alas Mentaok, binatang buas dan orang-orang yang menentang dengan kekerasan usaha membuka hutan yang lebat dan buas itu.

 

“Mereka tentu anak-anak muda yang berhati dan bertubuh sekeras baja,” berkata Sorohpati kepada diri sendiri, “tetapi mereka tentu anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang mereka kenal tidak lebih dari alat-alat untuk menebang hutan. Barangkali mereka berlatih mempergunakan pedang. Tetapi mereka akan mempergunakan pedang seperti mereka menebas batang-batang raksasa di Alas Mentaok. Mereka tidak akan dapat memperhitungkan, bahwa dalam olah kanuragan mereka akan bertemu dengan batang-batang yang dapat bergerak dan melawan, bukan batang-batang mati seperti pohon tal yang tegak tinggi tetapi mati.”

 

Dengan cermat Sorohpati mencoba menilai mereka. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, yang ada hanyalah Ki Juru Martani.

 

“Jika Ki Juru Martani tidak ada, Sutawijaya akan menjadi seorang diri. Ia tidak akan mampu memecahkan persoalan-persoalan yang pelik dan rumit.”

 

Ketika terpandang olehnya orang-orang tua yang ada di halaman itu, maka Sorohpati pun tersenyum, “Orang-orang tua itu pun hanyalah karena terlampau banyak menyimpan umur. Mereka tentu berkepala kosong dan dungu.”

 

Namun Sorohpati menjadi berdebar-debar ketika teringat olehnya, bahwa pada suatu saat, Panembahan Agung telah berhasil dimusnahkan oleh Sutawijaya dan orang-orang yaug berpihak kepadanya.

 

“Gila!” Sorohpati menggeram di dalam hati.

 

Namun Sorohpati tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Ia pernah mendengar cerita tentang orang-orang bercambuk yang membantu orang-orang Mataram. Bahkan sejak Ki Gede Pemanahan masih menjadi Panglima di Pajang, dengan menahan laskar yang dipimpin oleh Tohpati di Sangkal Putung.

 

“Aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar orang yang tidak terkalahkan seperti cerita yang aku dengar. Panembahan Agung memang orang yang pilih tanding. Tetapi ia tetap seorang manusia yang mempunyai kelemahan. Dan orang-orang bercambuk itu pun adalah manusia yang mempunyai kelemahan,” berkata Sorohpati di dalam dirinya.

 

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Agaknya semua upacara sudah selesai. Dan sejenak kemudian, jenazah Ki Gede Pemanahan pun dilepaskan meninggalkan halaman rumahnya.

 

Tangis yang tertahan-tahan terdengar mengiringi jenazah itu sampai ke regol halaman. Kemudian jerit yang melengking memecah ketegangan. Putri-putri Ki Gede tidak dapat menahan perasaannya, melepaskan ayahandanya pergi untuk selamanya.

 

Sutawijaya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berjalan terus mengikuti jenazah itu. Sudah ada orang- orang tua yang akan menyabarkan hati adik-adiknya yang ditinggalkannya di halaman. Orang-orang tua yang datand dari Sela, padukuhan asal orang tuanya.

 

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang panjang berjalan melalui jalan-jalan yang membelah kota Mataram. Jalan-jalan yang sudah nampak rata dan teratur dengan baik.

 

Perjalanan ke makam merupakan perjalanan yang cukup panjang. Namun seakan-akan memberi kesempatan kepada tamu-tamu yang datang dari luar Mataram untuk mengenal kota Mataram, yang sudah nampak menjadi besar dan ramai.

 

Sorohpati yang ada di antara para senapati dari Mataram itu pun menjadi heran. Sutawijaya kenar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Dalam waktu yang terhitung pendek, ia dapat merubah Alas Mentaok menjadi sebuah kota yang menarik.

 

“Tetapi Ki Gede sekarang sudah tidak ada. Semuanya tentu atas petunjuk dan bimbingan Ki Gede Pemanahan,” berkata Sorohpati di dalam hati.

 

Namun ia dihadapkan pada kenyataan pula, bahwa Mataram memang sudah menjadi besar.

 

Pada saat Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang untuk mulai dengan kerjanya, membuka Alas Mentaok, tidak banyak orang yang percaya bahwa ia akan berhasil. Bahkan beberapa orang senapati muda saat itu mentertawakan Raden Sutawijaya, yang dengan penuh kesungguhan mengatakan bahwa Alas Mentaok akan menjadi sebuah kota yang ramai.

 

“Itu tidak mungkin,” desis seorang senapati pada waktu itu, yang ternyata dapat didengar oleh Raden Sutawijaya.

 

Betapa telinga Raden Sutawijaya menjadi panas bagaikan tersentuh api. Dengan lantang anak muda itu pun kemudian berkata sambil berdiri di atas tangga paseban di Pajang, “Aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas tangga ini sebelum Mentaok menjadi kota yang ramai.”

 

Dan kini apa yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya itu sebagian sudah terwujud. Kota Mataram di atas Alas Mentaok yang sudah menjadi ramai, meskipun Raden Sutawijaya sendiri masih belum puas.

 

“Apalagi di Mataram kini tersimpan tombak Kangjeng Kiai Pleret, Songsong Kangjeng Kiai Mendung.”

 

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Mataram ternyata telah maju dengan pesatnya.

 

Yang kemudian menjadi pertimbangan Sorohpati terutama ditujukan pada pusaka-pusaka yang ada di Mataram. Bagaimana pusaka-pusaka itu dapat dikuasainya.

 

“Tanpa Kangjeng Kiai Pleret, tanpa Songsong Kangjeng Kiai Mendung, maka Sutawijaya tidak akan dapat mempertahankan wahyu kerajaan.” Sorohpati termenung sejenak. Namun kemudian ia menggeram sambil berkata di dalam hati, “Tidak! Desas-desus itu adalah desas-desus ngayawara. Tentu dengan sengaja disebarkan oleh Ki Gede Pemanahan bahwa ia mendapatkan adbmcadangan.wordpress.com sebuah kelapa muda di paga di dalam dapur rumah Kiai Ageng Giring. Dengan sengaja, Ki Gede membuat cerita seolah-olah kelapa muda itu mempunyai kekuatan yang ajaib bagi siapa yang dapat meneguk airnya sampai habis.” Sorohpati mengigit bibirnya. Ia masih berjalan dalam iring-iringan para senapati dan pemimpin dari Pajang, mengikuti jenazah Ki Gede Pemanahan, dalam iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin panjang.

 

“Begitu mudahnya untuk menurunkan raja-raja di pulau Jawa,” berkata Sorohpati di dalam hatinya pula, “hanya dengan minum air kelapa muda sampai habis.”

 

Tetapi Sorohpati masih tetap sadar, bahwa ia berada di antara para senapati, sehingga ia tetap menyembunyikan gejolak perasaan di dalam dadanya itu.

 

Sementara iring-iringan yang semakin panjang itu pun merayap terus. Hampir seluruh penghuni kota telah berdiri berderet-deret di tepi jalan yang akan dilalui jenazah Ki Gede Pemanahan, untuk memberikan penghormatan yang terakhir. Mereka menyadari bahwa Mataram yang telah di bentuk dari ujudnya yang lama, sebuah hutan yang lebat dan penuh dengan bermacam-macam bahaya yang mengerikan, menjadi sebuah kota yang ramai, adalah karena tekad yang semula menyala hanya di dalam hati Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Raden Sutawijaya. Baru kemudian api itu menjalar, dan seolah-olah telah membakar Alas Mentaok, dan menjelmakannya menjadi kota yang sekarang.

 

Karena itulah, maka meninggalnya Ki Gede Pemanahan bagi rakyat Mataram tidak kurang daripada meninggalnya seorang ayah yang sangat mereka cintai.

 

Dan pada hari itu, mereka melepas ayah mereka yang mereka cintai itu untuk dimakamkan dengan upacara kebesaran.

 

Mataram benar-benar sedang berkabung. Langit nampak suram dilapisi oleh mendung yang tipis. Tetapi awan yang kelabu itu nampaknya bukan awan yang cukup basah untuk menjatuhkan hujan.

 

Seperti para senapati dan pemimpin dari Pajang dan sebagian besar orang-orang yang mengiringi jenazah itu, maka rakyat Mataram pun menghubungkan awan yang merata di langit itu dengan wafatnya Ki Gede Pemanahan dan songsong yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kuning keemasan, dengan permata di jari-jarinya dan rumbai-rumbai yang berwarna hitam, yang letaknya agak lain dengan songsong yang pernah mereka lihat.

 

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan dimakamkan pada hari itu dengan upacara yang mengesan. Pada saat terakhir nampak betapa Ki Gede Pemanahan benar-benar seorang yang besar, yang dihormati oleh kawan-kawannya dan disegani oleh lawan-lawannya. Meskipun Ki Gede Pemanahan sendiri selalu menghindarkan diri dari pertentangan, tetapi di dalam hidupnya ia tidak sepi dari kesalahan dan tidak luput pula dari pertentangan, yang dapat saja timbul karena seribu satu macam sebab.

 

Beberapa orang yang tidak dapat menahan perasaannya, dengan gelisah mengusap mata mereka yang basah. Bahkan bukan saja perempuan, tetapi ada juga beberapa orang laki-laki yang tidak dapat menahan hatinya menyaksikn upacara pemakaman Ki Gede Pemanahan itu.

 

Sementara itu, Sorohpati dapat menyaksikan bahwa sebenarnya Mataram sudah mulai menjadi kuat. Tetapi Mataram masih belum merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Pajang, jika Kangjeng Sultan bertindak tegas. Tetapi sebaliknya, Kangjeng Sultan malahan memberi ciri-ciri kebesarannya kepada Sutawijaya, seakan-akan Kangjeng Sultan Pajang lah yang dengan sengaja ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.

 

“Tetapi Kangjeng Sultan harus ingat, bahwa ia juga berputera seorang laki-laki. Pangeran Benawa-lah yang seharusnya menggantikan kedudukannya, karena Pangeran Benawa adalah puteranya yang sebenarnya. Sedang Raden Sutawijaya adalah sekedar anak angkatnya. Persetan dengan desas-desus bahwa Sultan telah mengadakan hubungan dengan Nyai Gede Pemanahan, sehingga melahirkan Sutaiwijaya itu,” namun tiba-tiba Sorohpati tersenyum, “Cerita yang menarik untuk menjatuhkan martabat Sutawijaya sendiri. Bahkan mungkin dapat mengurangi kewibawaan Sultan Pajang.”

 

Sorohpati yang berada di antara para senapati itu tiba-tiba mengangguk-angguk di luar sadarnya, sehingga senapati yang duduk di sebelahnya menggamitnya sambil berbisik, “Kenapa kau, Kakang Sorohpati?”

 

“O,” Sorohpati tergagap. Juga tanpa disadarinya ia mengusap matanya. Namun kemudian dengan sengaja ia berkata, “Mengharukan sekali. Mataram baru nampak mulai berkembang, Ki Gede sudah mendahului meninggalkan usaha yang mulai nampak hasilnya, dan meninggalkan Raden Sutawijaya berjuang sendiri meneruskan usaha yang besar itu.”

 

Senapati yang ada di sebelahnya mengangguk-angguk. Tetapi senapati itu berkata, “Raden Sutawijaya tidak sendiri.”

 

“Siapa? Ki Juru Martani? Mungkin ia dapat membantu, tetapi Ki Juru Martani adalah orang yang lebih senang hidup menyendiri dan mempelajari olah kajiwan, daripada melihat kenyataan hidup dan berjuang untuk mengembangkannya.”

 

“Tetapi tentu ia dapat memberikan banyak petunjuk,” Jawab senapati itu, “selebihnya, tentu Kangjeng Sultan sendiri tidak akan membiarkannya.”

 

Terasa dada Sorohpati tergetar. Bahkan kemudian ia mengumpat di dalam hati, “O, senapati yang dungu. Sebentar lagi Pajang tentu akan digilas oleh ketamakan Sutawijaya.”

 

Namun kemudian Sorohpati itu pun berkata pula di dalam hati, “Memang keduanya harus dimusnahkan. Mataram, kemudian Pajang. Jika Kakang Panji dan gurunya berhasil membenturkan Pajang dan Mataram, maka separo dari tugas kami sudah selesai. Sedangkan Pangeran Benawa bagi kami tidak akan ada artinya apa-apa. Meskipun secara pribadi dan dalam olah kanuragan adbmcadangan.wordpress.com ia memiliki kelebihan seperti ayahandanya, tetapi jiwanya sangat lemah dan seolah-olah hidup baginya hanyalah sebuah perjalanan yang tanpa tujuan selain menuju ke lubang kubur. Dan itu sebagian terbesar adalah kesalahan Karebet, yang mabuk kamukten. Ia menghabiskan kesenangan dan kepuasan hidup bagi dirinya sendiri, sehingga anak laki-lakinya menjadi sangat prihatin menyaksikan cara hidupnya. Akhirnya Pangeran Benawa menjadi seorang pendiam yang sama sekali tidak bercita-cita.”

 

Namun dengan demikian, kedatangan Sorohpati ke Mataram ternyata mendapatkan banyak sekali bahan-bahan yang dapat diperbincangkan dengan orang yang disebutnya Kakang Panji. Ia tidak menghiraukan lagi tawanan yang tertangkap oleh Ki Juru Martani dan yang masih ditahan di Mataram.

 

“Persetan dengan orang itu,” gumamnya di dalam hati. “Ki Legawa sudah mati meskipun harus disertai oleh Ki Sanggabumi. Sayang, Ki Sanggabumi adalah seorang yang baik. Tetapi adalah tidak disangka-sangka bahwa ia harus mati sampyuh dengan Ki Legawa.”

 

Namun Ki Sorohpati tidak dapat menutup kenyataan bahwa hal itu sudah terjadi. Dan Ki Legawa bagi prajurit Pajang memang merupakan seorang perwira yang disegani, meskipun ia masih belum mencapai jenjang pangkat yang memadai.

 

“Mudah-mudahan Dadap Wereng tidak mati pula. Dan aku sempat berbuat sesuatu di hari mendatang. Keturunan Majapahit yang sebenarnya harus mendapatkan kembali kedudukannya,” namun kemudian, “Tetapi tidak hanya ada seorang keturunan Majapahit. Ada dua, tiga, dan bahkan mungkin berpuluh-puluh, yang tersebar di pulau Jawa dan Bali. Tetapi persetan.”

 

Sorohpati memang mengharap bahwa orang yang disebutnya Kakang Panji akan mendapatkan kemukten. Akan mendapatkan kedudukani yang tinggi, jika gurunya dapat menemukan kembali tahta Majapahit yang lenyap sejak berdirinya Demak.

 

“Memang nama Kakang Panji tidak akan dapat mengimbangi kebesaran nama Ki Gede Pemanahan dan putera angkat Sultan Pajang. Tetapi gurunya, keturunan langsung dari Majapahit,” berkata Sorohpati di dalam hatinya. Dan berkali-kali ia menyebut di dalam hatinya itu, bahwa keturunan Majapahit akan mendapatkan tempatnya kembali.

 

Demikianlah, maka jenazah Ki Gede pun telah dimakamkan dengan penghormatan yang besar, sesuai dengan perbuatan dan tindak-tanduknya semasa hidupnya. Meskipun ada pihak-pihak yang tidak senang melihat tumbuhnya Mataram, namun ternyata bahwa sahabat-sahabat Ki Gede masih tetap menghormatinya.

 

Setelah semua upacara pemakaman selesai seluruhnya, maka lautan manusia yang seolah-olah menenggelamkan seluruh makam itu pun mulai surut. Seperti saluran yang dibuka, maka mengalirlah orang-orang yang melayat itu ke segenap penjuru, meninggalkan makam Ki Gede Pemanahan. Makam yang ditandai dengan seonggok tanah merah dan dua buah kayu maejan. Setumpuk taburan bunga serta asap kemenyan, menumbuhkan bau yang semerbak namun mengharukan.

 

Beberapa orang tua, keluarga dan anak-anak muda yang dekat dengan Ki Gede Pemanahan, masih berdiri di sekitar makam yang baru itu. Ki Juru Martani memandang taburan bunga di seputar makam itu dengan wajah yang suram. Di sebelahnya, Raden Sutawijaya menggeretakkan giginya untuk menahan gejolak di dalam dadanya.

 

Di belakang mereka adalah Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, Ki waskita dan Agung Sedayu serta Swandaru. Mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya sekali-kali kedua anak-anak muda itu mengerling kepada songsong yang berwarna kuning emas, yang masih tetap terbuka di tangan Ki Lurah Branjangan.

 

“Marilah kita kembali,” berkata Ki Juru kemudian.

 

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Sekilas ditatapnya wajah beberapa orang pengawal dan pengiring yang masih ada di sekitar makam itu. Kemudian di luar sadarnya, maka kepalanya pun menunduk dalam-dalam. Perlahan-lahan ia menggerakkan kakinya meninggalkan seonggok tanah yang masih merah dan ditaburi dengan setumpuk bunga itu.

 

Ki Juru Martani pun kemudian, menggamit Ki Lurah Branjangan yang tunduk. Matanya menjadi merah, dan kerongkongannya terasa panas.

 

“Payung itu harus ditutup,” berkata Ki Juru, “Pemakaman ini sudah selesai.”

 

Ki Lurah Branjangan tergagap. Kemudian perlahan-lahan ia menengadahkan wajahnya memandang jari-jari payung yang di bawanya. Jari-jari payung yang dihiasi dengan batu permata yang diketemukan jatuh dari langit.

 

Perlahan-lahan, terloncat kata-kata dari bibirnya, “Kangjeng Kiai Mendung. Ki Juru, apakah artinya bahwa Kangjeng Kiai Mendung berada di Mataram?”

 

Ki Juru menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak dapat berbicara di sini. Marilah kita kembali. Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu.”

 

Demikianlah, maka Ki Lurah Branjangan pun menutup songsong yang berwarna kuning emas itu. Kemudian dipandunya songsong itu seperti memandu sebatang tombak pusaka.

 

Hampir di luar sadar, beberapa orang bersama-sama menengadahkan wajahnya ke langit. Tepat pada saat upacara selesai, mendung bagaikan mengalir ke Utara. Langit menjadi jernih dan matahari mulai memancarkan panasnya serasa membakar kulit.

 

“Angin mulai bertiup,” desis seseorang, “dan mendung pun hanyut ke Utara.”

 

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi matanya mengerling kepada payung yang sudah tertutup. Payung yang disebut Kangjeng Kiai Mendung.

 

Agaknya kawannya yang mula-mula berbicara, melihat tatapan mata kawannya itu. Maka katanya, “Apakah kau menganggap bahwa karena Kangjeng Kiai Mendung ditutup, maka langit pun menjadi cerah dan mendung ini hanyut ke Utara?”

 

Kawannya ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia mengangguk kecil.

 

“Aku tidak menolak, tetapi juga tidak mempercayai sepenuhnya,” desis kawannya.

 

Yang diajak berbicara sama sekali tidak berani menjawab. Ia bahkan berjalan semakin cepat, menjauhi kawannya yang mempersoalkan songsong yang berwarna kuning keemasan itu.

 

Namun ternyata bukan saja orang-orang itu yang membicarakannya. Bahkan Swandaru pun bertanya seperti orang itu, “Apakah ada pengaruhnya? Setelah payung itu ditutup, maka langit menjadi cerah.”

 

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun terdengar Ki Waskita berbisik, “Angger Swandaru. Apakah kau merasakan silirnya angin?”

 

Swandaru mengangguk.

 

“Angin inilah yang telah menyingkirkan mendung di langit. Mendung yang tipis, sehingga dengan mudahnya hanyut oleh angin yang semilir.”

 

“Dan songsong itu.”

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Lihatlah. Di Utara mendung itu bagaikan tertimbun di lereng Gunung Merapi. Itu adalah mendung yang sebenarnya, karena dengan sedikit permainan aku dapat membuat mendung semu. Namun meskipun kita berada di bawah mendung yang tebal menggantung di langit, sengatan matahari tentu masih akan terasa menggigit tubuh kita.”

 

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun tidak memberikan tanggapan apa pun juga.

 

Agaknya Ki Waskita menyadari bahwa keterangannya tidak begitu dapat dipahami oleh Swandaru. Maka katanya, “Swandaru. Kadang-kadang kita memang dihadapkan pada suatu peristiwa yang sulit kita mengerti. Permainan yang terjadi di luar nalar. Tetapi jika yang seakan-akan terjadi itu bukannya yang seharusnya terjadi, maka kita tidak dapat menganggap bahwa hal itu telah terjadi. Seperti permainan semuku itu pun bukannya sesuatu yang dapat dianggap ada, karena memang sebenarnya tidak ada.”

 

Swandaru masih belum mengerti. Tetapi ia tidak dapat bertanya karena rasa-rasanya malu juga untuk terlampau berterus terang atas kemampuan berpikirnya yang masih belum masak.

 

Namun sebelum Ki Waskita menjelaskan, Kiai Gringsing sudah mendahuluinya, “Swandaru, yang dikatakan oleh Ki Waskita adalah tanggapan perasaan kita. Memang perasaan kita kadang-kadang dapat melihat yang tidak nampak, bahkan tidak ada. Kita dapat menganggap ada meskipun tidak ada. Dan pengaruhnya pun hampir tidak ada bedanya dengan ada yang sebenarnya. Seperti bentuk-bentuk semu yang tidak ada, tetapi serasa ada itu. Bahkan bukan saja pengaruh getaran yang menyentuh pusat-pusat syaraf kita dari luar diri kita, tetapi kita sendiri kadang-kadang melihat ke dalam ketiadaan. Jika kita tidak mampu lagi mengendalikan perasaan yang demikian, maka kita tidak lagi dapat disebut sadar.”

 

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Samar-samar ia dapat mengerti maksud gurunya. Dan di luar sadarnya ia berpaling kepada Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu pun memperhatikan pula keterangan Ki Waskita dan gurunya, sehingga dahinya masih nampak berkerut-merut.

 

Swandaru tidak bertanya lagi. Sekali lagi ia menengadahkan wajahnya. Langit memang sudah menjadi cerah. Dan sebuah pertanyaan timbul di dalam dirinya, “Apakah pada saat songsong Kiai Mendung dibuka aku tidak melihat awan yang sebenarnya di langit? Atau aku memang melihat awan yang kebetulan saja menebar dan perlahan-lahan, ditiup angin ke Utara?”

 

Seperti Swandaru, Agung Sedayu ternyata tertarik juga pada pembicaraan itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hatinya, “Sudah tiga empat hari awan yang tipis berarak dan kemudian berkumpul di lereng Merapi seperti sekarang ini. Hampir bersamaan waktunya di setiap hari. Kemarin tanpa songsong Kiai Mendung, awan juga menebar tipis di langit seperti dua dan tiga hari yang lalu.”

 

Namun demikian, baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan yang aneh terhadap songsong Kangjeng Kiai Mendung itu. Seolah-olah songsong itu memang memiliki pengaruh yang luas atas keadaan di seputarnya.

 

Meskipun demikian, keduanya tidak membicarakannya lagi. Mereka berjalan saja di dalam iring-iringan yang sudah menjadi semakin pendek. Beberapa langkah di hadapan mereka, Ki Lurah Branjangan berjalan bersama Raden Sutawijaya. Sedang Ki Juru Martani berjalan justru di belakangnya, seorang diri sambil menundukkan kepalanya. Seolah-olah ia memang sedang tidak ingin diganggu, karena angan-angannya yang sedang mengembara ke dunia yang asing.

 

Iring-iringan itu berjalan perlahan-lahan meninggalkan makam Ki Gede Pemanahan. Seakan-akan masing-masing berjalan menuruti langkah kakinya sambil menundukkan kepala. Seakan-akan yang satu tidak menghiraukan yang lain.

 

Beberapa langkah lagi di belakang Kiai Gringsing dan sekelompok kawan-kawannya dari Sangkal Putung dan Ki Waskita, beberapa orang pemimpin dan senapati dari Pajang berjalan pula dengan kepala tunduk. Mereka masing-masing seolah-olah sedang dihanyutkan oleh angan-angan mereka seperti juga Ki Juru Martani.

 

Namun tiba-tiba Ki Juru mengangkat wajahnya. Dipandanginya Raden Sutawijaya yang berjalan di hadapannya, diiringi oleh Ki Lurah Branjangan.

 

“Mumpung para senapati dan pemimpin dari Pajang ada di sini,” katanya kepada diri sendiri, “apa salahnya jika aku menyampaikan kepada mereka keputusan Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang. Mungkin satu dua orang pemimpin itu sudah tahu, bahkan sudah diajak memperbincangkan kemungkinan-kemungkinannya. Jika belum, biarlah mereka mengetahui keputusan Kangjeng Sultan bahwa Raden Sutawijaya telah diangkat menjadi Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia sudah mendapat kepastian bahwa ia akan melakukannya. Tentu hal itu akan menimbulkan berbagai tanggapan. Tetapi lambat atau cepat, pengangkatan itu memang harus diumumkan.

 

Karena itulah maka Ki Juru tidak lagi berjalan dengan kepala tunduk. Ketika ia berpaling dan melihat Kiai Gringsing berjalan di belakangnya, maka ia pun memperlambat langkahnya.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru ketika Kiai Gringsing sudah berjalan di sisinya, “Aku mempunyai pertimbangan khusus mengenai songsong Kangjeng Kiai Mendung dan pesan Kangjeng Sultan tentang Raden Sutawijaya.”

 

“Maksud, Ki Juru?”

 

“Aku akan memanfaatkan kehadiran para pemimpin dan senapati Pajang atas wisuda yang diberikan kepada Raden Sutawijaya, atas perkenan Kangjeng Sultan Pajang.”

 

“Wisuda yang manakah yang Ki Juru maksudkan?”

 

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia berpaling. Agaknya hanya sekelompok kecil dari Sangkal Putung dan Ki Waskita sajalah, yang berjalan bersamanya. Maka katanya, “Tentu Ki Waskita sudah mengatakan tentang wisuda bagi Raden Sutawijaya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang sudah mendengar serba sedikit. Tetapi persoalannya tentu masih belum cukup jelas. Karena itu maka katanya, “Sebagian kecil dari persoalan itu memang sudah aku dengar.”

 

“Begini, Kiai,” berkata Ki Juru, “ternyata bahwa Kangjeng Sultan benar-benar mengasihi Raden Sutawijaya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

 

Sementara itu, Ki Juru Martani menjelaskan rencananya kepada Kiai Gringsing, “Bukankah sudah pernah aku ceritakan meskipun serba sedikit tentang Wisuda yang barangkali sudah dilengkapi oleh Ki Waskita? Songsong kuning yang ternyata Kangjeng Kiai Mendung itu, tentu mempunyai arti tersendiri.”

 

“Memang Ki Waskita pernah menceritakan tentang wisuda yang tidak dihadiri oleh Raden Sutawijaya, menjadi Senapati Ing Ngalaga. Ki Waskita juga menceritakan betapa tulus pengangkatan yang dikurniakan kepada Raden Sutawijaya itu, menilik sikap dan tekanan kata-kata Kangjeng Sultan pada waktu itu.”

 

“Ya,” sahut Ki Juru, “apalagi setelah ternyata bahwa songsong berwarna kuning itu adalah Kangjeng Kiai Mendung. Maka sudah pastilah kedudukan Raden Sutawijaya itu.”

 

“Jadi?”

 

“Aku akan mengumumkan di hadapan para senapati dan pimpinan pemerintahan Pajang yang hadir di sini.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku kira memang ada baiknya, Ki Juru. Tetapi apakah Ki Juru Martani sudah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi? Tentu ada orang yang tidak senang mendengar keputusan itu.”

 

“Tetapi keputusan itu tentu akan diumumkan juga di Pajang, bahwa Raden Sutawijaya telah diangkat menjadi Senapati ing Ngalaga. Dan lebih daripada itu, Kangjeng Sultan telah menghadiahkan songsong Kangjeng Kiai Mendung kepada Raden Sutawijaya.”

 

Kiai Gringsing berpaling kepada Sumangkar. Sumangkar adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang baik dimasa pemerintahan Adipati Arya Panangsang di Jipang.

 

“Kau mempunyai pendapat, adi?”

 

Sumangkar menarik nafas dalam dalam. Lalu, “Jika itu keputusan Kangjeng Sultan, maka tidak akan ada orang yang dapat menyanggah. Apalagi Raden Sutarcrijaya adalah putera angkat Kangjeng Sultan itu sendiri. “

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Katanya, “Demikianlah. Jika itu sudah keputusan Kangjeng Sultan, maka tidak akan ada orang yang mengganggu gugat. Senang atau tidak senang. Karena itu, maka aku kira tidak ada jeleknya hal itu dilakukan.”

 

Ki Juru memandang Kiai Gringsing sejenak. Kemudian memandang Raden Sutawijaya yang berjalan di depan dengan kepala tunduk.

 

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Malam nanti tamu-tamu dari Pajang masih akan bermalam di Mataram. Aku akan mempergunakan kesempatan itu. Sekaligus mengumumkan kepada rakyat Mataram. Namun hal itu tentu akan mempengaruhi juga kedewasaan berpikir Raden Sutawijaya. Dengan demikian, ia merasa menjadi seorang yang benar-benar sudah dewasa dan bertanggung jawab atas suatu keadaan yang tidak dapat dianggap sambilan saja. Apalagi Raden Sutawijaya tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah, karena puteri dari Kalinyamat itu sudah saatnya melahirkan.”

 

Kiai Gringsing masih saja mengangguk-angguk. Memang tidak ada sikap lain yang lebih baik dari mengiakan rencana Ki Juru Martani itu.

 

Demikianlah, maka agaknya Ki Juru sudah berniat bulat untuk mempergunakan kesempatan itu. Karena itu, maka pembicaraan yang dilakukan di sepanjang jalan itu, ternyata iustru telah melahirkan sikap yang penting bagi Mataram dan bagi Raden Sutawijaya pribadi, setelah ia ditinggalkan oleh ayahandanya, Ki Gede Pemanahan.

 

Ternyata Ki Juru Martani benar-benar melaksanakan maksudnya. Malam itu para tamu dari Pajang masih bermalam satu malam lagi di Mataram. Mereka masih ingin memberikan sedikit hiburan bagi keluarga Ki Gede yang ditinggalkan. Jika mereka langsung meninggalkan Mataram, maka rumah Ki Gede tentu akan terasa menjadi sangat sepi.

 

“Kiai Gringsing,” berkata Ki Juru kepada Kiai Gringsing yang berada di gandok bersama Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung dan Agung Sedayu serta Swandaru. “Aku persilahkan Kiai naik ke pendapa bersama para sesepuh ini. Aku akan mengumumkan wisuda itu sekarang.”

 

“Ki Juru, silahkanlah. Sebaiknya aku tidak menemui para pemimpin Pajang itu pada saat yang demikian. Aku akan berada di halaman, di bawah bayang-bayang yang suram, untuk mengetahui akibat dari pengumuman Ki Juru.”

 

“Ah, itu tidak perlu. Kiai adalah orang yang kami anggap telah ikut mengasuh Mataram sejak lahirnya.”

 

“Terima kasih, Ki Juru. Silahkan. Aku tidak tahu, kenapa aku ingin berbuat demikian.”

 

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa Kiai Gringsing adalah orang yang tidak suka menampakkan diri. Bahkan ia lebih senang tidak dikenal sama sekali. Dan karena itulah maka, ia lebih senang tinggal di Dukuh Pakuwon daripada menyebut dirinya seorang yang berdarah Majapahit.

 

Karena itu, Ki Juru tidak memaksanya.

 

Dalam pada itu di pendapa, para tamu dari Pajang sedang duduk sambil berbicara di antara mereka. Berbicara tentang bermacam-macam hal, menurut perhatian mereka masing-masing.

 

Namun sebagian dari mereka telah membicarakan perkembangan Mataram yang sangat pesat menurut penilaian mereka.

 

“Aku belum pernah menginjakkan kakiku ke pusat Alas Mentaok setelah Ki Gede Pemanahan mulai membukanya,” berkata seorang senapati, “Ternyata kini yang aku jumpai adalah sebuah kota yang sedang tumbuh. Meskipun Mataram sekarang masih belum terlampau ramai, namun sebentar lagi tanah ini akan menjadi tanah harapan.”

 

Yang lain mengangguk-angguk. Meskipun ada di antara mereka yang diselipi oleh perasaan iri dan dengki. Namun pada umumnya mereka tidak ingkar dari kenyataan, bahwa Mataram berkembang dengan pesatnya.

 

Di antara para senapati itu terdapat Sorohpati. Setiap kali ia mengangguk-angguk. Bahkan kadang-kadang ia menyambung pembicaraan itu dan ikut memuji kemampuan Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya. Namun ia berkata di dalam hati, “Mataram yang sekarang harus dilenyapkan. Demikian juga Pajang yang hanya mengagungkan kemukten itu. Harus tumbuh seorang Raja yang Maha Bijaksana dan Maha Adil,” namun kemudian, “Dan aku adalah seorang Panglima tertinggi di negara yang akan lahir itu.”

 

Dalam pada itu, selagi para pemimpin dan Senapati berbincang di antara mereka, Ki Juru Martani yang sudah naik ke atas pendapa pun kemudian berkata, “Maaf saudara-saudaraku. Para pemimpin pemerintahan, para senapati dan prajurit dari Pajang. Para pemimpin dan pengawal di Tanah Mataram. Aku ingin menyela di antara pembicaraan kalian sejenak.”

 

Pendapa itu menjadi hening. Setiap orang memandang Ki Juru dengan tajamnya. Namun sebagian dari mereka menyangka, bahwa Ki Juru Martani hanya akan sekedar menyampaikan ucapan terima kasih, bahwa mereka telah datang memberikan penghormatan terakhir.

 

Terapi ternyata bukan sekedar ucapan terima kasih. Ki Juru memang menyatakan terima kasihnya kepada para pemimpin dan senapati. Namun setelah ucapan terima kasih atas kehadiran mereka, maka Ki Juru berkata, “Selain pernyataan terima kasih yang tidak terhingga dari seluruh keluarga Ki Gede Pemanahan, maka ada sesuatu yang penting yang akan aku beritahukan kepada saudara-saudara yang hadir di pendapa ini.”

 

Semua orang terdiam karenanya.

 

“Seperti yang kalian lihat, bahwa songsong yang dipergunakan oleh Sutawijaya untuk memayungi jenazah ayahandanya adalah songsong kerajaan yang bernama, Kiai Mendung. Songsong itu memang sudah dikurniakan oleh Kangjeng Sultan kepada puteranya yang kini berada di Mataram. Bahkan sebagai pertanda wisuda bagi Raden Sutawijaya.”

 

Semua wajah menjadi tegang. Sorohpati bagaikan membeku di tempatnya.

 

Di dalam bayangan kegelapan, Kiai Gringsing berdiri berdua dengan Ki Waskita di halaman. Beberapa langkah daripadanya, di belakang sebatang pohon sawo, Ki Sumangkar berdiri pula berdua dengan Ki Demang Sangkal Putung. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri agak jauh dari mereka.

 

Tetapi mereka sama sekali tidak menarik perhatian, karena di halaman itu memang berdiri beberapa orang pengawal dan orang-orang Mataram yang ikut mendengarkan penjelasan Ki Juru Martani. Bahkan ada pula di antara mereka yang duduk di tangga pendapa.

 

“Ki Sanak semuanya,” berkata Ki Juru pula, “adalah tidak salah jika pada saat ini aku menyatakan keputusan yang sangat bijaksana bagi Raden Sutawijaya. Sebagai putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang bertahta di Pajang, maka Raden Sutawijaya mendapat wisuda sebagai Senapati Ing Ngalaga di Mataram.”

 

Keterangan itu memang mengejutkan sekali. Bahkan Sutawijaya sendiri terkejut, meskipun Ki Juru Martani sudah mengatakan serba sedikit tentang pesan Kangjeng Sultan. Tetapi keterangan yang dinyatakan terbuka di hadapan para pemimpin dan senapati itu, telah membuat dadanya menjadi berdebar-debar.

 

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya melihat, berbagai tanggapan nampak pada wajah para senapati dan pemimpin pemerintahan yang hadir di pendapa. Terutama mereka yang datang dari Pajang.

 

Pemimpin dari Mataram, terutama Ki Lurah Branjangan, tidak dapat menyembunyikan kegembiraan hati atas pengakuan itu. Dalam sekejap semua prasangka dan keragu-raguan atas Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang pun lenyap.

 

Namun bagi pemimpin-pemimpin dari Pajang, pernyataan itu telah mendapat penilaian khusus. Mereka tidak tergesa-gesa menanggapi dengan sikap dan pekataan. Tetapi dari sorot mata mereka dan perubahan wajah, nampak bahwa ada di antara mereka yang menyambut dengan besar hati, tetapi ada yang kecewa dan berhati-hati.

 

Tetapi tanggapan yang bermacam-macam itu memang sudah diduga oleh Ki Juru Martani. Karena itu ia tidak terkejut lagi. Bahkan ia berbicara seterusnya, “Ki Sanak. Sudah barang tentu kurnia derajat dan pangkat itu merupakan beban yang tidak ringan bagi Raden Sutawijaya. Namun sebagai putera Kangjeng Sultan, maka sudah sepantasnya ia menerima dengan penuh rasa tanggung jawab. Bukan sekedar sudi menerima derajatnya saja, tetapi juga harus menerima beban yang ada akibat derajat itu. Tegasnya, harus menerima hak dan sekaligus kewajiban yang timbul karenanya.”

 

Para pemimpin dan senapati Pajang yang ada di pendapa itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih berhati-hati sekali menanggapi pernyataan Ki Juru Martani. Bukan karena mereka tidak percaya, karena pada umumnya mereka sudah mengenal Ki Juru Martani dengan baik, sebagai seorang yang pernah menjadi saudara seperguruan dengan Ki Gede Pemanahan, tetapi juga dengan Kangjeng Sultan di Pajang dan Ki Penjawi.

 

Serohpati yang mendengarkan pernyataan Ki Juru Martani itu dengan saksama, menjadi berdebar-debar pula. Dengan demikian berarti bahwa kedudukan Raden Sutawijaya telah diakui dan dinyatakan dengan resmi. Senapati Ing Ngalaga di Mataram.

 

“Agaknya Kangjeng Sultan menyadari sepenuhnya, bahwa ada orang yang dengan sengaja ingin membenturkan Pajang dan Mataram,” berkata Sorohpati di dalam hatinya, “Dan pengangkatan ini adalah jawaban langsung dari usaha tersebut.”

 

Mau tidak mau, Sorohpati harus mengakui ketajaman sikap Kanjeng Sultan menghadapi orang-orang yang menentang tumbuhnya Mataram. Bahkan Sorohpati berkata di dalam hati, “Apakah Kangjeng Sultan sudah mengetahui pula usaha Kakang Panji, bukan saja menghapus Mataram yang sedang tumbuh, tetapi juga Pajang?”

 

Tetapi Sorohpati tidak mau mengambil kesimpulan sendiri. Ia masih mempunyai beberapa orang kawan. Orang yang disebutnya Kakang Panji dan Dadap Wereng. Mereka lah yang harus menentukan sikap terakhir menghadapi perkembangan Mataram.

 

Pernyataan Ki Juru Martani itu tidak diperpanjang lagi. Ia mengakhiri keterangannya dengan ucapan terima kasih sekali lagi. Dan dengan rendah hati ia berkata, “Tentu Raden Sutawijaya akan memerlukan bantuan dari Ki Sanak sekalian. Baik yang ada di Mataram, maupun yang berada di luar Mataram.”

 

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang ada di luar pendapa, mencoba untuk menangkap kesan dari para pemimpin di Pajang. Tetapi mereka tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Wajah-wajah yang ada di pendapa tidak menunjukkan sikap tertentu, sehingga yang membayang adalah keterkejutan mereka saja. Selebihnya adalah sikap yang kabur.

 

Ketika malam telah lampau, dan para senapati serta pemimpin dari Pajang yang bermalam di Mataram sudah berada kembali di dalam bilik masing-masing, maka mereka masih saja memperbincangkan wisuda yang diterima oleh Raden Sutawijaya tanpa menghadap Kangjeng Sultan ke Pajang. Suatu peristiwa yang sepanjang pengetahuan mereka belum pernah terjadi di Pajang, bahkan Demak.

 

“Tetapi Raden Sutawijaya adalah putera terkasih,” berkata beberapa orang senapati di dalam hati.

 

Sutawijaya menanggapi pengangkatannya dengan hati yang buram. Sebagian dari perasaannya masih tercengkam oleh meninggalnya Ki Gede Pemanahan. Sebagian lagi oleh kebingungan. Justru karena Kangjeng Sultan telah mengurniakan pangkat yang cukup tinggi baginya.

 

“Apakah artinya semua ini?” desisnya. Tetapi yang pasti bagi senapati adalah keharusan senapati untuk mempertanggung- jawabkan jabatannya itu kepada Kangjeng Sultan pada saat-saat tertentu.

 

Dalam cengkaman kebimbangan. Raden Sutawijaya duduk di sudut gandok seorang diri. Dipandanginya malam yang gelap, yang menyelubungi seluruh wajah tanah Mataram yang sedang berkembang itu.

 

Raden Sutawijaya berpaling, ketika didengarnya langkah mendekat. Dilihatnya Ki Lurah Branjangan perlahan-lahan mendekatinya dengan kepala tunduk.

 

“Marilah, Paman,” berkata Sutawijaya sambil bergeser. Ki Lurah Branjangan duduk di sebelahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Keterangan Ki Juru Martani membuat aku dan orang-orang lain yang mendengarnya sangat terkejut.”

 

“Ya,” jawab Sutawijaya.

 

“Aku tidak tahu, apakah maksud Ki Juru mengumumkannya di hadapan pemimpin-pemimpi di Pajang sendiri, dan justru pada saat kita baru saja memakamkan Ki Gede Pemanahan,” berkata Lurah Branjangan.

 

“Aku juga tidak tahu, Paman. Tetapi barangkali Ki Jruu hanya mengambil kesempatan, mumpung mereka berada di Mataram menghadiri pemakaman ayahanda.”

 

“Tetapi bukankah wisuda itu akan diumumkan di Pajang oleh Kangjeng Sultan sendiri? Dan bukankah wisuda itu tidak cukup dengan sebuah pernyataan seperti yang dikatkan oleh Ki Juru?”

 

Sutawijaya mengangguk-angguk.

 

“Raden. Pada saatnya Raden tentu akan hadir di pendapa agung istana Pajang. Raden akan duduk di sebelah kiri ayahanda Kangjeng Sultan dengan pakaian kebesaran, karena Angger adalah Senapati Ing Ngalaga di Mataram. Meskipun jabatan itu adalah jabatan keprajuritan, namun menurut pertimbangan Kangjeng Sultan, Mataram yang sedang tumbuh ini memang perlu mendapat penanganan yang khusus, dibanding dengan daerah-daerah yang lain.”

 

Raden Sutawijaya tidak menyahut.

 

“Raden,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “Jika aku tidak mengingat bahwa di pendapa banyak tamu, aku sudah menangis mendengar kurnia Sultan di Pajang. Hanya aku tidak mengerti kenapa begitu saja wisdua itu sudah terjadi.”

 

Ia berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi aku mempunyai dugaan bahwa Ki Juru baru mendengar rencana wisuda itu. Pelaksanaanya tentu akan dilakukan di Pajang.”

 

Tetapi Raden Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Tidak, Paman. Ayahanda Sultan tahu pasti, bahwa aku tidak akan datang ke Pajang. Aku tidak akan naik ke pendapa agung, sebelum usahaku menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai ini berhasil.”

 

“Tetapi Raden ….”

 

“Aku sudah berketetapan hati.”

 

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun di dalam hati ia bergumam, “Alangkah kerasnya hati anak muda ini.”

 

Dengan demikian, maka untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya saling berdiam diri, Raden Sutawijaya memang sudah tidak dapat dilunakkan lagi hatinya. Ia tidak akan pergi ke Pajang sebelum Mataram menjadi ramai. Tetapi Ki Lurah Branjangan kemudian bertanya kepada adbmcadangan.wordpress.com diri sendiri, “Apakah batasan dari negeri yang ramai itu? Mataram sekarang sudah menjadi ramai dan besar di bandingkan dengan tempat-tempat yang lebih kecil. Tetapi memang masih kecil dan sepi dibandingkan dengan Pajang. Tetapi jika Raden Sutawijaya menunggu Mataram menjadi ramai seperti Pajang, maka untuk menghadap ayahanda angkatnya ia memerlukan waktu dua puluh atau dua puluh lima tahun lagi.”

 

Ki Lurah Branjangan terperanjat ketika ia mendengar Raden Sutawijaya berkata, “Paman. Aku menerima wisuda itu dengan sangat hati-hati.”

 

“Apakah Raden masih saja dibayangi kecurigaan?”

 

“Bukan kecurigaan. Tetapi sikap hati-hati.”

 

  1. Lurah menarik nafas dalam dalam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk lemah.

 

Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua masih duduk di tempatnya. Namun kemudian Ki Lurah Branjangan pun mempersilahkan Raden Sutawijaya untuk beristirahat, “Raden. Malam menjadi semakin larut.”

 

Raden Sutawijaya mengangguk.

 

“Tidurlah, Raden. Sebaiknya Raden bersikap wajar, agar keluarga Raden yang baru saja mengalami kesusahan tidak terpengaruh. Agaknya mereka kini menggantungkan diri kepada Raden Sutawijaya.”

 

Raden Sutawijaya mengangguk lagi, “Malam sudah larut,”

 

Raden Sutawijaya pun kemudian berdiri dan melangkah masuk ke ruang dalam. Dilihatnya beberapa orang keluarganya sudah tidur di dalam bilik masing-masing. Tetapi ada di antara mereka yang masih terbangun.

 

“Sebenarnyalah mereka sekarang memandang aku sebagai tiang induk. Jika aku lemah dan apalagi miring, maka hati mereka pun menjadi semakin kecut menghadapi gelombang kehidupan yang rumit ini.”

 

Sutawijaya pun kemudian duduk di antara adik-adiknya dan mencoba berbicara dengan mereka tentang persoalan-persoalan yang dapat membelokkan perhatian mereka terhadap kepedihan hati yang baru saja mereka alami.

 

Ketika matahari di esok paginya sudah hampir muncul di ujung pagi, barulah Sutawijaya itu lelap sejenak. Hanya sejenak, karena ia pun harus segera bangun. Tamu-tamunya yang datang dari Pajang telah berkemas untuk minta diri dan kembali ke Pajang.

 

Sutawijaya yang hanya sempat mencuci muka dan membenahi pakaiannya pun segera naik ke pendapa.

 

Ki Juru Martani dan orang-orang tua di Mataram tengah mengucapkan berbagai macam pernyataan terima kasihnya. Mereka mengharap agar para pemimpin dan Senapati di Pajang membantu agar suasana tetap selalu jernih.

 

“Kami tidak dapat menutup mata bahwa ada usaha untuk mengeruhkan suasana. Ternyata dengan peristiwa yang dialami oleh adi Pemanahan,” berkata Ki Juru.

 

“Kami berduka cita karenanya,” sahut seorang senapati yang dianggap tertua, “kami berjanji akan membantu usaha Mataram yang sedang berkembang. Lebih dari itu, membersihkan Pajang dari usaha-usaha yang dapat merugikan kedua belah pihak.”

 

“Terima kasih. Kini Ki Gede Pemanahan tidak ada lagi. Yang ada hanyalah seorang anak muda yang masih jauh dari kemampuan yang diperlukan untuk memimpin Mataram, yang sedang berkembang. Karena itu, Raden Sutawijaya memerlukan bantuan sejauh-jauhnya.”

 

“Hanya orang-orang yang dengki dan iri hati sajalah yang sampai saat ini berusaha untuk menggagalkan usaha Ki Gede Pemanahan,” berkata Sorohpati, “Apalagi ketika aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri perkembangan Mataram sampai saat ini.”

 

“Terima kasih,” sahut Ki Juru, “kesediaan Ki Sanak sekalian membuat hati kami menjadi teguh dan tidak gentar menghadapi apapun juga.”

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian para pemimpin dan senapati dari Pajang itu pun minta diri kepada Ki Juru, Raden Sutawijaya dan orang-orang tua di Mataram.

 

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya sengaja tidak menampakkan dirinya di antara para orang-orang tua di Mataram. Apalagi Sumangkar, yang sudah banyak dikenal oleh senapati Pajang. Ia hanya hadir sejenak ketika para senapati itu justru sudah bergerak meninggalkan halaman rumah Raden Sutawijaya.

 

Namun demikian, kehadiran Sumangkar di Mataram, memang menjadi bahan pembicaraan juga oleh para senapati dan pemimpin dari pajang itu.

 

“Ia memang sepantasnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Gede Pemanahan,” berkata salah seorang senapati di perjalanan mereka kembali ke Pajang, “Ki Gede Pemanahan-lah yang telah mengampuni kesalahannya di saat pasukan Tohpati dapat digulung oleh Untara dan Widura.”

 

“Jika demikian, kehadirannya tidak menjadi soal. Tetapi jika ia masih mendendam atas kekalahan Jipang dari Pajang, maka ia akan dapat menghasut Raden Sutawijaya, agar Raden Sutawijaya dapat dijadikan alat untuk melepaskan dendamnya kepada Pajang.”

 

“Tetapi di Mataram kini ada Ki Juru Martani. Kita tahu orang tua itu adalah orang yang sangat cerdik.”

 

Senapati yang mempunyai sedikit prasangka terhadap Sumangkar itu mengangguk-angguk. Memang di Mataram ada Ki Juru yang akan menjaga agar Raden Sutawijaya tidak jatuh di bawah pengaruh Sumangkar.

 

“Tetapi berapa lama Ki Juru berada di Mataram?” bertanya Senapati itu tiba-tiba, hampir ditujukan kepada diri sendiri.

 

Kawannya berbicara, yang mendengar pertanyaan itu berkata, “Sumangkar pun tidak akan lama berada di Mataram.”

 

Pembicaraan itu pun kemudian terhenti. Sekilas nampak di hadapan mereka debu yang menghambur tinggi.

 

“Kuda yang sedang berpacu,” desis salah seorang senapati.

 

“Ya,” sahut yang lain.

 

Tetapi kuda itu berpacu menjauh. Semakin lama justru menjadi semakin jauh.

 

“Mungkin aku terlampau berprasangka. Tetapi kenapa kuda itu berpacu menjauh? Meskipun aku tidak melihat dengan jelas, namun aku mempunyai dugaan bahwa penunggangnya adalah orang yang tidak ingin berpapasan dengan kita. Bahkan aku mempunyai dugaan tidak baik terhadap orang itu,” berkata seorang Senapati.

 

“Apa kira-kira yang akan dilakukan terhadap sekian banyak orang?” bertanya yang lain.

 

“Tentu ia tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi seakan-akan orang itu sengaja mengawasi kita. Ketika ia melihat kita, maka ia pun segera memacu kudanya.”

 

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Sebaiknya kita tdak menghiraukannya lagi.”

 

Kawannya memandang ke arah kuda yang telah menghilang itu. Namun ia pun tidak menjawab apa-apa.

 

Demikianlah, iring-ringan itu berjalan terus. Semakin lama semakin jauh dari Mataram.

 

Sorohpati yang juga melihat orang berkuda di kejauhan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Ia mempunyai dugaan bahwa orang itu tentu petugas yang dipasang oleh Dadap Wereng, atau justru oleh orang yang disebutnya Kakang Panji itu sendiri, untuk melihat apakah para senapati dan pemimpin Pajang yang berada di Mataram sudah kembali.

 

Tetapi ketika orang itu kemudian ternyata telah menghilang, maka hatinya pun menjadi tenang.

 

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun kemudian berjalan dengan tanpa gangguan sesuatu apa. Apalagi gangguan-gangguan kecil di perjalanan oleh orang-orang yang sekedar berniat ingin merampok harta kekayaan. Agaknya setiap orang dengan cepat mengetahui bahwa iring-iringan itu adalah iring-iringan senapati-senapati perang dari Pajang dan adbmcadangan.wordpress.com pemimpin-pemimpin pemerintahan, apalagi dengan sekedar pengawalan. Jika ada seseorang atau sekelompok penjahat yang berani menghentikan mereka, apalagi merampok, maka orang itu tentu akan segera menjadi makanan cacing tanah.

 

Di sepanjang sisa perjalanan mereka kembali ke Pajang, tidak banyak lagi yang mereka percakapkan. Selain matahari merayap menjadi semakin panas, maka rasa-rasanya mereka pun menjadi semakin malas bercakap-cakap yang satu dengan yang lain.

 

Ternyata di sepanjang pembicaraan mereka yang kembali ke Pajang, tidak banyak di antara mereka yang tertarik kepada kehadiran Kiai Gringsing. Banyak di antara mereka yang tidak mengenalnya. Apalagi Ki Waskita dan Ki Demang Sangkal Putung. Jika satu dua orang mengenalnya sebagai orang yang pernah berjasa kepada Mataram, maka pengenalan itu pun sangat terbatas sekali.

 

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Kiai Gringsing. Ia sama sekali tidak ingin menjadi perhatian, apalagi bahan pembicaraan orang-orang yang datang dari Pajang. Dan agaknya demikian pulalah sikap Ki Waskita. Mereka merasa diri mereka lebih tenang tanpa pengenalan dari orang-orang yang berkedudukan penting di Pajang itu.

 

Dalam pada itu, sebenarnyalah sepeninggal para senapati dan pemimpin dari Pajang, Raden Sutawijaya merasa rumahnya menjadi sangat sepi. Meskipun di rumah itu masih ada Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung dan kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

 

Hilangnya seorang saja dari penghuni rumah itu, serasa sebagian hidupnya telah hilang pula, karena yang seorang itu adalah ayahandanya, Ki Gede Pemanahan.

 

Tetapi bahwa Ki Juru Martani akan tinggal untuk sementara di Mataram, membuat hatinya agak terhibur sedikit. Ki Juru adalah saudara seperguruan dengan ayahandanya. Namun hubungannya bagaikan saudara sekandung sendiri. Tidak ada lagi masalah yang membatasi antara keduanya. Seolah-olah persoalan Ki Gede Pemanahan adalah persoalan pula bagi Ki Juru Martani, dan demikian pula sebaliknya. Kekalahan Jipang dari Pajang, sebagian juga karena pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan-perhitungan yang diberikan oleh Ki Juru Martani itu.

 

Namun sudah barang tentu bahwa waktu-waktu berikutnya tidak akan dapat menahan Kiai Gringsing dan kawan- kawannya lebih lama lagi. Mereka masih dapat menahan diri barang satu dua hari di Mataram. Namun mereka pun mempunyai kepentingan mereka sendiri. Apalagi apabila mereka mengingat, bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan yang khusus. Mereka pergi dari Sangkal Putung untuk melamar seorang gadis dari Tanah Perdikan Menoreh.

 

Dan perjalanan mereka agaknya telah tertunda-tunda oleh beberapa sebab. Karena itu, maka datang pula saatnya mereka harus meninggalkan Mataram. Terlebih-lebih lagi Ki Demang Sangkal Putung yang gelisah. Ia sudah terlampau lama meninggalkan kademangannya, isteri dan anak gadisnya. Perjalanan yang demikian itu belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bahkan ia masih saja merasa ngeri mengenang apa yang terjadi di mulut padepokan Panembahan Agung.

 

Jika saat itu ia dan Swandaru ikut tertimbun di bawah reruntuhan kekayuan dan batu-batu padas sebesar kerbau, maka apakah yang akan terjadi dengan Sangkal Putung dan Sekar Mirah? Apalagi jika Agung Sedayu ikut serta tertimbun di bawahnya?

 

Ki Demang Sangkal Putung menarik nafas panjang sambil bersyukur jika ia menyadari bahwa ia masih selamat segar bugar. Demikian juga anak laki-lakinya Swandaru dan Agung Sedayu, anak muda yang mempunyai hubungan batin dengan anak gadisnya itu.

 

Dengan demikian, maka Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian minta kepada Kiai Gringsing, agar mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Sangkal Putung, karena agaknya Sutawijaya telah berhasil mengatur perasaannya.

 

Tetapi sebelum mereka minta diri, Mataram dikejutkan oleh kehadiran seorang senapati muda yang memacu kudanya menyusur jalan-jalan kota yang terasa sepi, diiringi oleh beberapa orang pengawal.

 

Para penjaga pintu gerbang seakan-akan terpesona melihat kehadirannya yang tiba-tiba dan tergesa-gesa, sehingga mereka seakan-akan tidak sempat menyapanya. Apalagi para penjaga itu pun sebagian sudah mengenal bahwa yang datang itu adalah senapati yang bertanggung jawab atas daerah Pajang di bagian Selatan.

 

Sebenarnyalah yang datang adalah Untara. Dengan tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan heran, ia langsung menuju ke pusat kota, ke rumah Raden Sutawijaya.

 

Kedatangan Untara benar-benar mengejutkan. Para penjaga regol di rumah Raden Sutawijaya terperanjat pula. Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, kuda Untara dan pengawalnya telah memasuki halaman.

 

Raden Sutawijaya yang mendengar derap kaki kuda berpacu memasuki halaman rumahnya itu pun segera turun ke halaman. Ketika dilihatnya Untara meloncat dari punggung kudanya, ia pun terkejut pula. Sekilas telah tumbuh berbagai macam tanggapan atas kehadiran senapati muda itu. Ia tidak nampak di antara para senapati Pajang yang datang melayat saat ayahandanya meninggal. Tetapi kini Untara itu datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.

 

Sebelum Sutawijaya menyadari apa yang dihadapinya, ia bagaikan tercengkam melihat sikap Untara. Tiba-tiba saja Untara itu berlari ke arahnya dan dengan serta-merta memeluknya, seperti memeluk anak-anak.

 

“Raden,” suaranya bagaikan sesak, “sebenarnyalah aku tidak mengerti bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat. Aku tidak tahu, apakah ada kesengajaan dari para senapati dan pemimpin di Pajang untuk tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Aku mendengar setelah terlambat. Dan mula-mula aku memang tidak mempercayainya. Aku masih harus memerintahkan seseorang untuk mengetahui kebenaran berita itu, karena saat ini kita kadang-kadang dikisruhkan dengan kabar-kabar yang tidak menentu.”

 

Sejenak Sutawijaya tidak dapat menyahut. Terasa jantungnya bagaikan berhenti mengalir. Semula Raden Sutawijaya, betapa kecilnya, masih dipengaruhi oleh prasangka terhadap Untara. Namun kini ia merasa, bahwa Untara mengucapkan kata-katanya dengan jujur dan setulus hatinya.

 

Kiai Gringsing yang kemudian juga turun ke halaman mendekatinya dan berkata, “Kau datang terlambat, Angger.”

 

Untara melepaskan pelukannya. Dianggukkannya kepalanya sambil berkata, “Aku tidak tahu sebelumnya, Kiai.” Apalagi ketika Untara melihat Ki Juru Martani, maka ia pun berlari mendekatinya. Sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata, “Maafkan aku, Ki Juru Martani. Memang hampir tidak masuk akal jika aku tidak mendengar, bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat. Tetapi sebenarnyalah demikian. Ketika kemudian aku mendengar, aku diliputi oleh keragu-raguan. Akhirnya aku yakin setelah terlambat beberapa saat.”

 

“Marilah, Angger,” berkata Ki Juru, “silahkan naik ke pendapa. Bukan kau saja yang harus minta maaf. Tetapi kami pun harus minta maaf, bahwa kami tidak mengirimkan seorang penghubung yang khusus. Saat itu nalar kami bagaikan buntu.”

 

“Aku mengerti, Ki Juru. Dalam keadaan yang demikian, tentu tidak akan ada orang yang dapat menyalahkan. Banyak sekali yang harus dilakukan oleh Ki Juru, sehingga banyak pula yang terlupakan dan terlampaui. Tetapi itu adalah wajar sekali.”

 

Demikianlah, maka Untara dan beberapa orang pengawalnya pun diajak naik ke pendapa. Setelah Ki Juru dan Raden Sutawijaya menanyakan keselamatan mereka, maka mulailah mereka mempercakapkan saat-saat wafatnya Ki Gede Pemanahan.

 

“Seharusnya aku dapat mencegahnya,” desis Untara, “tetapi kebodohankulah yang menyebabkan kelambatan itu.”

 

“Jangan menyalahkan diri sendiri, Ngger,” berkata Ki Juru. “Luka Ki Gede tidak membahayakan jiwanya. Apalagi di sini ada Kiai Gringsing yang akan sanggup mengobatinya, jika luka itu sekedar luka senjata.”

 

“Jadi?”

 

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia mengatakan sesuatu, dilihatnya Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam, seolah-olah ia menyadari bahwa Ki Juru akan mengatakan bahwa karena sikap Sutawijaya yang keras itulah, yang telah mempercepat wafatnya Ki Gede Pemanahan.

 

Tetapi Ki Juru cukup bijaksana. Katanya, “Angger Untara. Sebenarnyalah bahwa kita adalah sekedar singgah untuk minum. Dan itu pun kita tidak dapat menentukan sendiri, kapan kita datang dan kapan kita harus pergi. Tetapi semuanya sudah ditentukan oleh batas yang tidak dapat bergeser lagi. Dan batas itu telah dilalui oleh Ki Gede Pemanahan tanpa dapat ingkar lagi, karena sebenarnyalah Maha Kekuasaan atas dirinya telah berlaku.”

 

Untara menarik nafas dalam-dalam. Demikianlah agaknya jika perjalanan sudah sampai ke batas.

 

Tiba-tiba saja Untara telah terlempar ke dalam dunia angan-angannya. Sebuah pertanyaan telah tersembul di dalam hatinya, “Apakah yang sudah aku lakukan sebelum batas itu sampai?”

 

Untara merenungi dirinya sejenak. Terbayang di dalam angan-angannya peperangan yang seolah-olah tiada akhir. Pertentangan dan pergulatan di antara sesama. Dan ia sendiri selalu ada di dalamnya.

 

Hampir di luar sadarnya, Untara memandang jari-jarinya. Dan pertanyaan itu tumbuh lagi, “Berapa orang yang sudah kau bunuh? Dan apakah kau dapat berbangga kelak di dunia langgeng menyebut jumlah itu?”

 

Untara menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan melihat apa yang akan terjadi atas dirinya kelak, apabila janji itu telah sampai.

 

Untara terkejut ketika ia mendengar suara Ki Juru, “Baiklah kita menyerahkan yang seharusnya berlaku kepada perjalanan yang harus ditempuh. Angger Untara tidak usah mempersoalkannya apakah sebabnya dan menyesali apa yang telah terjadi, karena tidak ada kekuasaan yang dapat mencegahnya.”

 

Untara mengangguk-angguk. Katanya seolah-olah sekedar bergumam, “Ya, Ki Juru. Semuanya memang harus berlaku.”

 

“Sekarang Ki Gede Pemanahan. Besok mungkin orang lain. Dan pada suatu saat, tentu akan sampai kepada giliran kita masing-masing.”

 

Sekali lagi Untara mengangguk.

 

“Nah, karena itu, sebaiknya kita berbicara tentang hal yang lain. Tentang perjalanan Angger dari Jati Anom sampai ke Mataram. Perjalanan itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi barangkali banyak yang Angger lihat di perjalanan.”

 

Untara mengerutkan, keningnya. Tetapi ia menyadari bahwa Ki Juru memang sengaja mengalihkan pembicaraan.

 

Apalagi ketika kemudian ikut pula berbicara Swandaru dan Agung Sedayu, yang sudah lama tidak bertemu dengan kakaknya itu.

 

“Tidak ada perkembangan yang menarik di Jati Anom,” berkata Untara. “Semuanya berjalan seperti biasanya, yang justru seakan-akan telah berhenti. Setiap hari yang kita jumpai serupa saja dengan yang kita jumpai kemarin. Petani-petani yang bangun tidur, membersihkan halaman. Kemudian pergi ke sawah. Menjelang matahari sampai ke puncak langit, gadis-gadis membawa makan ke sawah dan anak-anak mulai berjalan sepanjang pematang sambil menjinjing keranjang untuk menyabit rumput, setelah mereka mengikat kambing-kambing mereka di dalam kandang.”

 

“Di kejauhan terdengar suara pandai besi menempa di depan perapian, dengan keringat yang bercucuran,” Swandaru melanjutkan, “dibarengi dengan tangis anak-anak yang haus minta disusui ibunya, yang masih menumbuk padi di depan kandang.”

 

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Kita Jarang menjumpainya di kota. Apalagi kota Pajang yang ramai, yang penuh dengan rumah-rumah yang besar, dilingkari dinding batu yang tinggi. Rumah-rumah pegawai istana dan pemimpin pemerintahan serta senapati perang.”

 

“Itulah yang sering menumbuhkan kerinduan,” berkata Kiai Gringsing, “Suasana padesan yang terasa sejuk dan damai. Suasana yang bening seperti air yang baru memancar dari mata airnya. Tetapi setelah melalui perjalanan yang panjang, melalui tanah yang gembur dan kotor, maka air itu menjadi keruh, sekeruh suasana di dalam kota. Apalagi kota-kota yang besar dan ramai.”

 

“Jika demikian, apakah kita tidak perlu membangun kota seperti Pajang, Jipang, Pati, dan kemudian Mataram yang sedang berkembang ini?” bertanya Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Tentu bukan begitu. Tetapi kita harus mempunyai saringan rangkap, agar suasana di kota dapat disaring sebaik-baiknya. Karena kota bagaikan waduk raksasa yang mengatur arus air yang mengalir dari sumbernya itu.”

 

Untara mengerutkan keningnya. Ia mendengarkan pembicaraan itu dengan saksama, pembicaraan yang baginya memang cukup menarik.

 

Demikianlah, maka pembicaraan itu pun kemudian bergeser dari satu masalah ke masalah yang lain. Namun kemudian, sebagian besar dari pembicaraan itu pun berkisar kepada perkembangan Mataram, yang nampaknya akan menjadi besar.

 

Untara sendiri tidak mempunyai sikap apa pun terhadap Mataram. Ia memandangnya dari segi kedudukannya sebagai seorang prajurit. Selama atasannya menganggap bahwa perkembangan Mataram harus ditanggapi dengan sewajarnya, ia tidak menentukan sikap apa pun selain berhati-hati dan waspada. Meskipun demikian, Untara tidak ingkar, bahwa beberapa orang prajurit, bahkan perwira-perwira di lingkungannya, ada yang bersikap tajam menghadapi perkembangan Mataram.

 

Namun demikian, ketika pembicaraan mereka sampai kepada kurnia yang tiada taranya dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya terhadap Raden Sutawijaya, justru saat meninggalnya Ki Gede Pemanahan, berupa pangkat Senapati Ing Ngalaga di Mataram dan songsong berwarna kuning, dan yang bernama Kiai Mendung, Untara terkejut karenanya. Untuk beberapa saat ia terdiam memandang Raden Sutawijaya dengan tegang. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku mengucapkan selamat, Raden. Keluhuran yang Raden terima adalah seimbang dengan kedudukan Raden sebagai putera Kanjeng Sultan di Pajang, yang dengan keringat sendiri telah membuka Alas Mentaok, yang kini menjadi sebuah negeri bernama Mataram.”

 

Raden Sutawijaya termenung sejenak. Ia melihat perubahan wajah Untara yang meskipun hanya sejenak. Tetapi ia tidak dapat membaca arti perubahan itu dengan pasti.

 

Namun dalam pada itu, setelah Untara mendengar wisuda dan songsong Kiai Mendung berada di Mataram, sikapnya menjadi agak lain. Ia menjadi semakin hormat terhadap Raden Sutawijaya, yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

 

“Raden,” bertanya Untara kemudian, “apakah masih akan ada wisuda resmi di hadapan Kanjeng Sultan di Pajang atas pengangkatan Raden itu?”

 

Raden Sutawijaya tidak segera dapat menjawab. Sekilas ia memandang Ki Juru Martani. Agaknya Ki Juru mengerti bahwa Raden Sutawijaya agak kebingungan. Maka jawabnya, “Angger Untara. Menurut dugaanku, Kanjeng Sultan tidak menghendaki wisuda itu dilakukan resmi di pendapa agung Istana Pajang. Jika demikian tentu songsong Kanjeng Kiai Mendung itu tidak akan dikirimkan ke Mataram langsung.”

 

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah Raden pantas menerima jabatan itu. Raden adalah putera yang sebenarnya dari seorang panglima yang besar di Pajang. Apalagi putera angkat Kanjeng Sultan sendiri. Aku yakin bahwa sebentar lagi Mataram akan menjadi besar. Kebesaran Mataram adalah benar-benar berkat kebesaran jiwa Raden dan ayahanda Raden yang baru saja meninggal.”

 

Sutawijaya hanya dapat mengangguk-angguk sambil menundukkan kepalanya saja. Namun dengan demikian kecurigaannya kepada Untara justru menjadi berkurang. Namun ia masih juga berkata kepada diri sendiri, “Tetapi Untara adalah seorang prajurit yang sangat baik. Yang dilakukan adalah sikap dan keputusan Pajang. Meskipun ia tidak mempunyai prasangka apa pun terhadap Mataram, tetapi jika Kanjeng Sultan atau panglima perang yang ada sekarang, memerintahkannya untuk menggilas negeri yang baru tumbuh itu, maka betapapun berat hatinya, perintah itu tentu akan dilakukannya, jika itu memang sikap Pajang.”

 

Untuk beberapa saat, Untara masih sempat bercakap-cakap. Minum dan makan beberapa potong makanan. Namun agaknya Untara memang tidak akan terlalu lama berada di Mataram. Karena itu, maka ia pun segera mohon diri.

 

Ki Juru terkejut mendengarnya. Katanya, “Aku kira, kau akan bermalam di sini, Untara?”

 

“Terima kasih, Ki Juru. Kami harus segera kembali. Meskipun tidak ada peristiwa yang gawat, tetapi sebaiknya aku berada di antara anak buahku.”

 

“Tentu tidak,” Swandaru-lah yang menyahut. “Bukan karena anak buah Kakang Untara.”

 

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia pun bertanya, “Jika tidak, karena apa?”

 

“Coba Kakang Untara masih saja seperti Kakang Agung Sedayu. Kakang tentu tidak akan tergesa-gesa.”

 

Untara tersenyum. Ia pun dapat menanggapi gurau Swandaru. Jawabnya, “Sebentar lagi, Adi Swandaru pun tentu tidak akan betah pergi barang semalam.”

 

Semua yang mendengar gurau itu tertawa. Sutawijaya pun tertawa. Namun nampak pada wajahnya ada sesuatu yang tersembunyi di balik tertawanya itu. Dan Untara pun mengerti, bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat bergurau seperti dirinya dan Swandaru, karena puteri dari Kalinyamat itu tidak dibawanya sebagai seorang istri yang sewajarnya. Meskipun Sutawijaya tidak ingkar, dan menyelesaikan persoalannya sebaik-baiknya, namun puteri itu sampai saat terakhir tidak berada di Mataram. Bahkan sampai saatnya anaknya akan lahir.

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian Untara benar-benar minta diri. Ia tidak dapat terlampau lama meninggalkan anak buahnya, meskipun tidak ada peristiwa-peristiwa yang gawat.

 

“Sebenarnya aku ingin pergi bersama Angger Untara,” desis Ki Demang Sangkal Putung.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Ia mengerti bahwa Ki Demang pun sebenarnya telah sangat merindukan keluarganya. Namun ia masih berkata, “Besok pagi kita akan kembali bersama-sama Ki Demang. Sangkal Putung kini tidak jauh lagi dari Mataram, setelah jalan menjadi baik dan aman.”

 

“Kenapa kita tidak pergi bersama Angger Untara?” bertanya Ki Demang.

 

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Kita hanya tidak ingin menghambat perjalanan Angger Untara.”

 

Ki Demang tidak dapat memaksakan niatnya. Ia terpaksa menunggu Kiai Gringsing dan kawan-kawannya besok.

 

Untara pun minta diri pula kepada orang-orang tua yang ada di Mataram, dan berpesan kepada Agung Sedayu, supaya sekali-sekali ia datang ke Jati Anom.

 

“Agung Sedayu,” Untara berbisik ketika ia turun dari pendapa, “kau pada suatu saat akan menjadi seorang kepala keluarga. Apakah kau akan tetap saja dengan petualanganmu? Sudah pernah aku peringatkan, bahwa kedudukanmu lain dengan kedudukan adbmcadangan.wordpress.com Adi Swandaru. Setiap saat Adi Swandaru dapat menempatkan dirinya sebagai demang di Sangkal Putung, karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang yang sekarang. Tetapi kau? Kau harus mempunyai pegangan, Agung Sedayu. Apalagi menurut pengamatanku, Sekar Mirah adalah seorang gadis yang memiliki selera dan gegayuhan yang tinggi. Jika kau benar-benar ingin mengambilnya sebagai seorang isteri, kau harus dapat menyesuaikan dirimu.”

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menjawab dengan berbisik, “Aku akan memikirkannya, Kakang.”

 

“Sejak dahulu kau hanya akan memikirkannya saja, Agung Sedayu. Kau harus mengambil keputusan. Bukan hanya mempertimbangkan terus-menerus. Kau agaknya masih saja dipengaruhi sifat-sifatmu semasa kanak-kanak. Ragu-ragu, bimbang, dan pertimbangan-pertimbangan yang berkepanjangan. Pada suatu saat, kau harus cepat mengambil sikap. Apalagi saat-saat semacam yang kau hadapi sekarang.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Nah, pikirkanlah. Kemudian kau katakan kepadaku kapan aku harus menghadap Ki Demang.”

 

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Ia berjalan saja di samping Untara tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dan Untara masih melanjutkan, “Tetapi sebelum aku berbicara dengan Ki Demang tentang Sekar Mirah, kau harus bukan lagi seorang petualang. Kau sudah harus mempunyai pegangan hidup yang mantap.”

 

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri. Kepalanya masih saja tunduk, seolah-olah sedang menghitung ujung jari kakinya.

 

Sejenak kemudian, maka Untara pun telah berada di antara pengawalnya. Seorang dari pengawal-pengawalnya itu memberikan kudanya dan sambil memegang kendali kudanya, Untara sekali lagi minta diri kepada orang-orang yang hadir di halaman itu.

 

Sutawijaya kemudian mendekatinya sambil berkata, “Terima kasih atas kunjunganmu. Mudah-mudahan perjalananmu kembali tidak menjumpai apa pun juga.”

 

“Aku minta agar Raden sekali-sekali berkunjung ke Jati Anom. Bukan saja mengunjungi aku, tetapi barangkali ada baiknya Raden menghibur diri, menyelusuri lereng-lereng gunung melihat-lihat lembah yang hijau.”

 

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Baiklah. Pada suatu saat, aku tentu akan sampai ke Jati Anom. Kau tentu akan segera memanggil orang-orang tua di Jati Anom, jika saatnya membicarakan persoalan adikmu itu. Kini Swandaru telah selesai dibicarakan oleh orang-orang tua. Tentu sebentar lagi Agung Sedayu.”

 

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, sedang Untara tersenyum. “Aku akan segera mengundang Raden dan para sesepuh di Mataram.”

 

Sutawijaya dan orang-orang yang mendengar jawaban itu tertawa. Hanya Agung Sedayu sajalah yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Demikianlah, maka Untara pun kemudian meninggalkan rumah Raden Sutawijaya, kembali ke Jati Anom. Ternyata yang dijumpainya di Mataram bukan saja Raden Sutawijaya yang berwajah sedih dan muram, tetapi juga Raden Sutawijaya yang kini telah memiliki songsong Kiai Mendung di samping pusaka yang pernah diterima lebih dahulu, Kanjeng Kiai Pleret.

 

Tetapi setiap kali Untara berusaha untuk melenyapkan pikiran-pikiran yang tumbuh selain daripada tugasnya sebagai seorang prajurit. Ia tidak boleh berpendirian sendiri. Terutama menghadapi berkembangnya Mataram.

 

“Tetapi pasti akan dapat menumbuhkan tanggapan-tanggapan yang bermacam-macam di antara para perwira di Jati Anom, apalagi di Pajang,” berkata Untara di dalam hatinya.

 

Sepeninggal Untara, para tamu yang masih ada di Mataram pun mulai berkemas. Mereka hanya tinggal akan bermalam satu malam saja lagi. Besok pagi-pagi benar, mereka akan meninggalkan Mataram menuju ke Sangkal Putung.

 

Sebenarnya para pemimpin di Mataram masih berusaha menahan mereka barang sepekan. Tetapi agaknya Ki Demang sudah tidak tahan lagi melawan kerinduannya, kepada kademangannya dan keluarganya.

 

“Apa kata orang jika aku terlampau lama pergi untuk keperluan keluargaku? Seolah-olah aku terlampau mementingkan diriku sendiri daripada Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Demang ketika mereka bercakap-cakap di gandok dengan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita.

 

“Tetapi Ki Demang tidak mementingkan diri sendiri. Di Tanah Perdikan Menoreh dan di sini, Ki Demang menjumpai persoalan yang harus mendapat bantuan pemecahan. Dan Ki Demang bersama-sama kami telah mencoba membantu sesuai dengan kemampuan kami masing-masing,” sahut Ki Sumangkar.

 

“Tetapi rakyat Sangkal Putung tidak mengetahuinya. Yang mereka ketahui, aku adalah pemimpin mereka. Dan aku pergi untuk waktu yang sangat lama menurut perhitungan mereka.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Demang. Besok kita akan kembali ke Sangkal Putung.”

 

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun minta diri kepada Ki Juru Martani, bahwa besok pagi-pagi mereka benar-benar akan kembali ke Sangkal Putung.

 

Semula Ki Juru mencoba menahannya, tetapi agaknya, usahanya itu tidak akan berhasil. Karena itu maka katanya, “Ki Demang Sangkal Patung, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, serta Ki Waskita, jika kami tidak dapat menahan lagi barang satu dua hari, maka yang dapat kami lakukan hanyalah mengucapkan terima kasih atas segalanya yang pernah terjadi di depan padepokan Panembahan Agung dan di Mataram. Kami tidak akan pernah dapat melupakannya. Apa lagi setelah kami mengetahui serba sedikit tentang dukun tua dari Dukuh Pakuwon.”

 

“Ah,” Kiai Gringsing berdesah. Sekilas ia melihat pertanyaan yang meloncat pada sorot mata Raden Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru. Namun seakan-akan Kiai Gringsing tidak menghiraukannya, dan bahkan tidak mengetahuinya.

 

“Tetapi tentu malam ini bukan malam terakhir Kiai berada di Mataram,” berkata Ki Juru Martani, “demikian juga Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang, dan kedua anak-anak muda itu. Pada suatu saat kami akan tetap menunggu salah seorang dari kalian atau bersama-sama mengunjungi kami.”

 

“Tentu,” sahut Kiai Gringsing, “kami adalah petualang yang akan selalu berjalan mengelilingi padesan, menjelajahi padukuhan dari pintu ke pintu. Dan kami akan singgah di Mataram pada suatu saat yang baik.”

 

Demikianlah, maka pada malam terakhir itu, mereka berbicara seakan-akan tidak akan berhenti. Seakan-akan mereka akan menghabiskan semua masalah yang ada di dalam hati dalam waktu semalam.

 

Baru setelah lewat tengah malam, maka para tamu itu pun masuk ke dalam biliknya untuk beristirahat barang sejenak. Besok mereka akan kembali ke Sangkal Putung, setelah sekian lamanya mereka melakukan perjalanan.

 

Namun demikian, di dalam gandok, para tamu itu masih berbicara beberapa saat sebelum mereka kemudian membaringkan dirinya di atas amben bambu yang besar. Sedangkan Agung Sedayu dan Swandaru tidur di bilik tersendiri, yang dibatasi oleh dinding bambu.

 

Meskipun demikian, tetapi agaknya Kiai Gringsing tidak segera tertidur. Ada sesuatu yang seolah-olah mengganggunya. Bukan karena persoalan-persoalan yang sedang di hadapinya, karena masalahnya justru sudah menjadi terang. Baik persoalan yang menyangkut Raden Sutawijaya, maupun yang akan menyangkut Swandaru dan Agung Sedayu. Kedua anak-anak muda itu harus segera mendapat perhatian bagi kesejahteraan hidupnya, karena keduanya memang sudah sepantasnya untuk segera kawin.

 

Malam itu rasa-rasanya terlampau sepi bagi Kiai Gringsing. Ada sesuatu yang lain daripada malam-malam sebelumnya. Angin malam yang lembut berdesir di atas atap gandok rumah Raden Sutawijaya itu. Terdengar dedaunan yang bergoyang saling bersentuhan.

 

Suasana malam itu terasa lain.

 

Pcrlahan-lahain Kiai Gringsing bergeser dan duduk di bibir amben. Sekilas ia melihat orang-orang lain yang telah tertidur di ujung amben, Ki Demang Sangkal Putung tidur dengan nyenyaknya. Di sebelahnya, Ki Sumangkar berbaring menelentang dengan mata terpejam. Di sisi yang lain, Ki Waskita terbujur miring.

 

Namun sejenak kemudian, Kiai Gringsing sadar, bahwa sebenarnya baik Ki Sumangkar maupun Ki Waskita agaknya masih belum tidur. Hanya Ki Demang Sangkal Putung-lah, yang benar-benar telah tertidur dengan nyenyak.

 

Tetapi Kiai Gringsing tidak menyapa kedua orang yang berbaring itu. Ia memusatkan perhatiannya kepada suasana di luar gandok. Diperhatikannya silirnya angin malam dan sekali-sekali di kejauhan suara burung malam yang bagaikan desah yang lesu.

 

“Ada suatu yang terasa aneh,” Kiai Gringsing berkata kepada diri sendiri.

 

Tetapi Kiai Gringsing tidak mengerti, apakah yang sedang bergolak di dalam hati kedua orang yang meskipun matanya terpejam tetapi tidak tertidur itu.

 

Tidak ada di antara mereka yang berada di dalam gandok itu mulai berbuat sesuatu atau berkata apa pun juga. Mereka agaknya menunggu, apa yang akan terjadi di rumah Raden Sutawijaya itu.

 

Tetapi ternyata tidak ada sesuatu yang terjadi. Tidak ada peristiwa yang mengikuti gejala yang aneh di malam yang sepi itu.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja duduk untuk beberapa lamanya. Bahkan sampai menjelang fajar, Kiai Gringsing belum membaringkan diri kembali di pembaringan.

 

Perlahan-lahan Kiai Gringsing merasakan suasana mulai berubah. Angin malam masih berdesir dengan lembut. Dedaunan masih terdengar saling bersentuhan. Tetapi ada sesuatu yang lain.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah yang mencemaskannya telah pergi, meskipun Kiai Gringsing tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya sedang dihadapi.

 

Yang bergejolak di dalam hatinya bukan isyarat seperti yang sengaja dilontarkan oleh Ki Waskita, saat ia berusaha menemuinya di tanah Mataram ini. Tetapi yang dirasanya memang suatu isyarat yang lain, yang belum diketahuinya dengan pasti.

 

Ketika udara rasa-rasanya telah bersih menurut tangkapan perasaan Kiai Gringsing, meskipun sebentar lagi fajar akan segera menyingsing, Kiai Gringsing pun membaringkan dirinya di sebelah Ki Waskita. Tetapi ia pun tersenyum ketika Ki Waskita itu kemudian berbisik, “Adakah sesuatu yang dapat Kiai tangkap dari isyarat itu?”

 

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak dapat mengerti, apa yang sedang terjadi. Mungkin hanya perasaanku saja.”

 

“Perasaan kita bersama-sama telah terganggu oleh sesuatu yang tidak kita ketahui,” terdengar suara yang lain.

 

Kiai Gringsing dan Ki Waskita berpaling. Keduanya tersenyum ketika keduanya melihat Ki Sumangkar masih saja berbaring menelentang sambil memejamkan matanya. Tetapi hanya bibirnya sajalah yang bergerak.

 

“Ki Sumangkar seperti sedang menakuti anak-anak,” desis Ki Waskita.

 

Ki Surnangkar pun tersenyum sambil membuka matanya. Katanya, “Ternyata kita sama-sama diganggu oleh perasaan aneh. Apakah kita memang sudah tidak betah tinggal di Mataram?”

 

“Bukan itu. Justru Ki Demang tidur dengan nyenyaknya. Selain tubuhnya yang lelah, ia memang ingin bermimpi tentang anak laki-lakinya yang gemuk itu,” desis Kiai Gringsing.

 

“Nah, apakah menurut perhitungan Kiai?” bertanya Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Aku kurang mengerti. Namun agaknya memang mendebarkan jantung. Besok sepeninggal kita, apakah Mataram akan mengalami sesuatu yang dapat menggoncangkan kedudukan Raden Sutawijaya. Atau yang kita tangkap samar-samar itu akan mengikuti kita sampai ke Sangkal Putung?”

 

“Kita memang tidak tahu,” berkata Ki Sumangkar, “tangkapan perasaan kita ini ditujukan kepada kita atau kepada Mataram.”

 

“Di sini ada Ki Juru Martani. Mudah-mudahan tidak ada peristiwa apa pun yang akan mengganggu tanah yang sedang tumbuh ini, dan mengganggu rencana keberangkatan kita. Kasihan Ki Demang, dan Swandaru. Mereka telah terlalu lama pergi.”

 

Orang-orang tua itu pun kemudian terdiam ketika mereka mendengar derit amben di sebelah dinding. Agaknya kedua anak-anak muda, yang tidur di tempat itu, sudah terbangun pula.

 

“Kita akan menghubungi Ki Juru Martani, apakah ia merasakan hal yang serupa pula?” bisik Kiai Gringsing kemudian.

 

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja, karena sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu dan Swandaru memang sudah terbangun. Mereka pun kemudian turun dari pembaringannya dan keluar dari dalam bilik.

 

Sementara itu, Ki Demang pun telah menggeliat. Perlahan-lahan ia membuka matanya, dan dilihatnya Kiai Gringsing telah duduk di bibir amben. Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun telah bangkit pula dan bergeser menepi.

 

Ki Demang kemudian duduk pula sambil menggosok matanya. Katanya, “Aku dapat tidur nyenyak sekali malam ini. Bahkan aku bermimpi seolah-olah aku sudah berada di Sangkal Putung.”

 

“Sebenarnya bukan jarak yang jauh, Ki Demang,” sahut Kiai Gringsing.

 

“Betapapun dekatnya jarak itu, tetapi jika tidak kita jalani, maka kita tidak akan sampai juga.”

 

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Bahkan Agung Sedayu dan Swandaru pun tersenyum pula.

 

Demikianlah, maka tamu-tamu Raden Sutawijaya dari Sangkal Putung itu pun kemudian bersiap-siap untuk menempuh perjalanan kembali. Mereka merasa betapa rindunya kepada Kademangan Sangkal Patung itu. Terutama Ki Demang dan Swandaru. Mereka sudah terlampau lama meninggalkan sawah dan ladang yang hijau. Sungai yang jernih, dan parit-parit yang menyelusuri pematang dan pinggir-pinggir jalan. Di pagi hari, gunung Merapi nampak megah kebiru-biruan, dengan puncak yang bagaikan membara dibakar oleh cahaya matahari yang baru terbit.

 

“Kita akan segera kembali,” desis Swandaru di dalam hatinya. Ia pun sebenarnya sudah rindu kepada ibunya dan kepada adiknya Sekar Mirah, meskipun jika mereka berkumpul, hampir setiap hari mereka selalu bertengkar,

 

Setelah semuanya bersiap, maka mereka pun kemudian menemui Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, yang disertai beberapa orang tetua dan pemimpin dari Tanah Mataram yang sedang berkembang itu.

 

“Jadi kalian semuanya benar-benar akan meninggalkan Mataram?” bertanya Ki Juru Martani.

 

“Apa boleh buat, Ki Juru,” jawab Ki Demang, “kami harus kembali cepat atau lambat. Dan agaknya kami sudah terlampau lambat pulang. Orang-orang di Sangkal Putung tentu sudah gelisah dan cemas, karena aku tidak segera berada di antara mereka.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak ada yang dapat aku katakan selain ucapan terima kasih. Telah banyak sekali yang kalian lakukan bagi Tanah Mataram yang sedang tumbuh ini. Karena itu, maka apabila Ki Demang memerlukan kami, jika kami dapat melakukan, kami akan melakukannya dengan senang hati. Termasuk saat-saat Angger Swandaru menempuh jenjang kehidupan baru.”

 

“Terima kasih, Ki Juru. Terima kasih. Sudah tentu pada saatnya kami akan memberitahukan apakah yang ingin kami minta dari Tanah Mataram yang sedang berkembang ini,” sahut Ki Demang.

 

Demikianlah, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, dan kedua anak-anak muda seperguruan itu minta diri. Sementara itu, agaknya Ki Waskita pun telah bersepakat untuk ikut pergi mengawani perjalanan itu ke sangkal Putung.

 

Ki Juru Martani, Raden Sutawijaya dan para pemimpin Mataram tidak dapat menahan mereka lagi, sehingga mereka pun kemudian mengantarkan tamu-tamu mereka, yang akan meninggalkan Mataram sampai ke pintu gerbang halaman.

 

“Selamat jalan,” desis Ki Juru dari Raden Sutawijaya hampir bersamaan.

 

Ketika iring-iringan kecil berkuda itu mulai bergerak, maka terasa kesunyian seolah-olah semakin mencengkam hati Raden Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru yang hampir sebaya dengannya itu merupakan kawan berbicara yang rasa-rasanya paling sesuai. Tetapi ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi.

 

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun bagaikan membeku memandang iring-iringan berkuda itu. Bukan saja karena hatinya merasa sepi seperti Sutawijaya karena kehilangan kawan berbicara dan berbincang, namun ia mendapat bisikan dari Kiai Gringsing sesaat sebelum pergi, “Apakah kau merasakan sesuatu semalam, Ki Juru?”

 

Ki Juru tidak menyahut. Saat itu ia hanya mengangguk kecil. Namun dengan demikian Ki Juru itu menjadi yakin, bahwa ia tidak sekadar diganggu oleh perasaannya saja ketika semalam terasa angin yang lembut berdesir di atas atap rumah itu.

 

“Memang ada sesuatu yang tidak sewajarnya,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Tetapi seperti juga Kiai Gringsing dan tamu-tamunya yang lain, Ki Juru juga tidak dapat menebak, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Mataram. Namun bahwa Mataram harus berhati-hati, tidak lagi dapat dielakkan lagi.

 

Seperti juga tamu-tamunya yang baru saja meninggalkan Mataram, Ki Juru pun dapat menduga, bahwa sesuatu yang memiliki kelebihan telah mulai menyentuh Tanah yang sedang berkembang itu.

 

Tetapi Ki Juru Martani bukan anak kemarin sore. Ia adalah seseorang yang telah kenyang makan garamnya kehidupan yang serba rumit dan pelik.

 

Karena itu, sebelum semuanya terjadi, Ki Juru pun harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mungkin ada sesuatu yang dengan sengaja ingin mengganggu Mataram, seperti yang selalu terjadi sampai saat terakhir. Pada saat ia datang menghadap Sultan Pajang untuk memberitahukan bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat, ada juga orang-orang yang telah mencegatnya.

 

Dengan demikian, maka segala kemungkinan yang kurang baik masih dapat terjadi atas Mataram yang sedang tumbuh.

 

“Tetapi mungkin juga perasaan kami yang masih saja dipengaruhi oleh prasangka-prasangka buruk,” berkata Ki Juru di dalam hatinya.

 

Meskipun demikian, Ki Juru menyadari bahwa di Mataram ada dua buah pusaka yang memiliki nilai yang tinggi bagi pemegang pimpinan atas tanah ini. Kiai Pleret dan Kiai Mendung. Kedua pusaka itu akan membuat orang-orang yang tidak senang kepada Mataram semakin bernafsu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tercela.

 

Tetapi Ki Juru Martani tidak tergesa-gesa memberitahukan hal itu kepada orang lain. Ia masih harus meyakinkan, apakah perasaannya itu tidak hanya sekedar diganggu oleh angin pancaroba dalam pergantian musim. Bahkan kepada Sutawijaya pun ia tidak mengutarakannya, karena ternyata Sutawijaya belum menangkap isyarat apa pun juga.

 

“Mungkin ia masih terlampau muda untuk dapat menyentuh getaran yang sangat halus itu,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Namun kemudian dilanjutkannya, “Atau aku memang sudah terlampau tua, untuk tidak berprasangka buruk terhadap persoalan yang sebenarnya tidak akan berakibat apa pun juga.”

 

Dengan demikan, maka Ki Juru masih ingin meyakinkan, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

 

Sementara itu, Kiai Gringsing dan iring-iringannya menjadi semakin jauh dari Mataram. Ki Demang Sangkal Putung yang berada di paling depan, memacu kudanya semakin cepat, seakan-akan ia sudah tidak sabar lagi berada di perjalanan yang terasa menjemukan sekali. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya, dengan bebahu kademangannya dan dengan tetangga-tetangga yang baik di Sangkal Putung.

 

Kiai Gringsing sama sekali tidak menahannya. Bahkan, ia pun mengikuti kecepatan lari kuda Ki Demang, bersama kawan-kawannya yang lain.

 

Di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Swandaru yang banyak berbicara itu pun agaknya lebih banyak berbicara di dalam angan-angannya tentang dirinya sendiri, tentang masa depan yang sudah menerawang di angan-angan.

 

Agung Sedayu pun ternyata telah diganggu pula oleh perasaannya sendiri. Masih terngiang kata-kata Untara di tangga pendapa rumah Raden Sutawijaya di Mataram.

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan yang serupa itu telah menyentuh hatinya dan bahkan tumbuh pula dari dirinya sendiri, “Apakah aku akan tetap menjadi seorang petualang sampai hari tuaku? Jika pada suatu saat aku ingin hidup seperti lazimnya hidup berkeluarga, aku memang tidak akan dapat setiap hari hanya menyelusuri jalan-jalan dan padesan.”

 

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia memperhatikan gurunya yang ada di depannya. Sebuah pertanyaan yang lain telah tumbuh pula, “Apakah guru memang hidup seorang diri sejak muda, tanpa pernah mengalami hidup kekeluargaan sebagaimana lazimnya?”

 

Di luar sadarnya, Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menambah kepalanya menjadi pening memikirkan keadaan gurunya.

 

Bahkan kemudian di luar kehendaknya, Agung Sedayu mulai menilai keadaan Swandaru. Seperti yang dikatakan oleh Untara, Swandaru telah mempunyai pegangan hidup yang kuat, pegangan hidup lahiriah. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang Sangkal Putung. Ia dengan sendirinya akan mewarisi pangkat Demang itu, dan ia akan menjadi Ki Demang setiap saat ayahnya menyerahkan jabatan itu kepadanya, apabila ia menjadi semakin tua dan merasa tidak mampu lagi bekerja.

 

“Dan bakal isteri Swandaru adalah satu-satunya anak Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Ia adalah satu-satunya orang yang berhak mewarisi Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian maka baik Swandaru maupun Pandan Wangi akan menjadi pewaris-pewaris dari daerah yang luas dan subur, sehingga mereka tidak akan lagi dicemaskan oleh perjuangan hidup lahiriah,” sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Sebaliknya, apakah yang aku punyai di Jati Anom? Secuwil sawah adbmcadangan.wordpress.com yang harus dibagi dua dengan Kakang Untara. Rumah peninggalan ayah yang meskipun cukup besar dan baik, tetapi kini oleh Kakang Untara seakan-akan telah diserahkan bagi kepentingan prajurit Pajang, karena Kakang Untara sendiri adalah seorang perwira. Meskipun Kakang Untara kemudian tinggal di rumah itu bersama isterinya, namun rumah itu masih tetap menjadi ajang kegiatan keprajuritan.”

 

Di luar sadarnya, Agung Sedayu berpaling memandang wajah Swandaru. Wajah yang bulat itu nampak cerah dipanasnya matahari pagi.

 

Sepercik perasaan iri menyentuh hati Agung Sedayu. Perasaan yang melonjak dari dasar hati. Namun Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang sudah lama belajar mengendalikan perasaan. Bahkan kadang-kadang terlampau kuat, sehingga ia mampu mendesak perasaan yang tumbuh dengan wajar itu dari hatinya.

 

Dengan penuh kesadaran ia menilai perasaannya itu. Dengan penuh kesadaran ia mencoba mengatasi perasaan iri di hatinya.

 

“Aku tidak boleh merasa iri hati atas keberuntungan Swandaru,” katanya di dalam hati, “Perasaan iri adalah pertanda desah dan ketidak-relaan menerima kasih yang sudah dilimpahkan oleh Yang Maha Pencipta, seolah-olah suatu tuntutan ketidak-adilan atas nasib yang disandangnya.”

 

Namun kemudian, “Tetapi yang Maha Pengasih pun tidak akan merubah nasib seseorang, jika orang itu sendiri tidak berbuat apa-apa. Dan berbuat apa-apa itu adalah suatu pertanda bahwa seseorang telah berusaha sebagai kenyataan permohonan yang dipanjatkan kehadapan-Nya.”

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebuah pertanyaan pun kemudian melonjak di hatinya, “Dan apakah yang sudah aku lakukan menjelang hari depan?”

 

Sekali-sekali masih juga terngiang kata-kata kakaknya, bahwa sebaiknya ia menjadi seorang prajurit seperti kakaknya.

 

“Kau memiliki bekal yang cukup,” berkata Untara. Tetapi Agung Sedayu selalu ragu-ragu. Dan bahkan ia berkata di dalam hati, “Aku bukan seorang prajurit yang baik. Setiap kali tanganku menjadi gemetar, jika aku mengayunkan senjata di peperangan. Apalagi jika sepercik darah telah menyembur dari luka akibat tanganku. Dan itu bukan sifat seorang prajurit yang baik.”

 

Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak dapat ingkar, bahwa tangannya bukan saja sekedar mencabut sebuah nyawa, tetapi telah beberapa kali ia membunuh di peperangan.

 

Tanpa disengaja, Agung Sedayu memandang tangannya, jari-jarinya dan telapak tangannya.

 

Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam.

 

Sementara itu kudanya berlari terus, meskipun tidak terlalu kencang. Beberapa kali mereka harus memperlambat derap kaki-kaki kuda, karena jalan yang masih belum sempurna sama sekali. Namun kemudian kudanya dapat berlari lagi semakin cepat.

 

Ki Demang Sangkal Putung masih tetap berada di paling depan. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi mengikuti derap kaki kudanya yang malas dan lamban.

 

Tidak ada peristiwa apa pun yang terjadi di sepanjang jalan. Tidak ada orang yang mencoba mencegat perjalanan mereka. Penjahat tidak, dan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang lain pun tidak. Mereka dapat menempuh perjalanan dengan aman dan lancar. Sekali-sekali mereka berhenti sejenak, memberi kesempatan kuda mereka minum air di parit yang mengalir di tepi jalan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menyusuri jalan yang semakin lama terasa semakin baik.

 

Iring-iringan itu melintasi alas Tambak Baya yang sudah tidak dihantui lagi oleh para penjahat, meskipun kadang-kadang masih ada perampok-perampok kecil yang mencoba bermain-main dengan nasib.

 

Meskipun sebenarnya jarak antara Mataram dan Sangkal Putung tidak terlampau jauh, namun rasa-rasanya perjalanan mereka terlampau lama.

 

Di saat-saat matahari condong ke Barat, mereka berhenti sejenak oleh terik matahari yang rasa-rasanya membakar punggung. Kuda mereka pun menjadi haus. Iring-iringan kecil itu pun kemudian berhenti di sebuah sungai yang menyilang jalan dan membiarkan kuda mereka minum dan makan rerumputan di tepian. Sementara itu, penunggang-penunggangnya pun duduk sebentar melepaskan lelah dan berlindung dari teriknya matahari.

 

“Alangkah sejuknya mandi,” desis Swandaru.

 

“Kita tentu tidak terlalu lama berhenti. Kecuali jika kau ingin ditinggalkan sendiri di sini,” sahut Agung Sedayu.

 

“Di sebelah ada pedesan. Kita sudah tidak terlampau jauh lagi dari Sangkal Putung,” berkata Swandaru. “He, bukankah daerah ini termasuk daerah jelajah pasukan Tohpati? Kau ingat hutan rindang di sebelah itu?”

 

“Ya,”

 

Swandaru akan berbicara lagi. Tetapi ia menggelengkan kepalanya.

 

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

 

“Tidak apa-apa.”

 

“Kau akan mengatakan sesuatu, tetapi kau urungkan.”

 

“Ya. Hampir saja aku mengatakan, bahwa aku ingin melihat daerah itu. Gubug-gubug liar dan barangkali masih ada satu dua orang yang tertinggal.”

 

“Kau memang sedang bermimpi.”

 

“He, siapa tahu di hutan yang tidak terlampau lebat itu terdapat sesuatu,” Swandaru tiba-tiba berbisik.

 

“Sesuatu apa?”

 

“Mungkin Tohpati pernah menyembunyikan harta benda atau apa pun yang dibawanya dari Jipang, dari Kepatihan.”

 

Agung Sedayu tersenyum sambil memandang Sumangkar yang duduk sambil merenung, bersandar sebuah batu besar. “Ada orang tua itu, jika Tohpati menyimpan harta karun di sana, Ki Sumangkar tentu mengetahuinya.”

 

“Mungkin ia mengetahui, tetapi ia tidak berkata kepada siapa pun.”

 

“Sudahlah. Mimpimu berbahaya.”

 

Swandaru pun tertawa kecil. Namun tiba-tiba ia berdesah, “Ayah memang aneh. Nampaknya ia tergesa-gesa. Tetapi setelah Sangkal Putung menjadi semakin dekat, justru kita harus berhenti dan beristirahat.”

 

“Bukan kita yang lelah. Tetapi kuda-kuda kita,” Jawab Agung Sedayu. “Selebihnya, Ki Demarg sedang mengatur perasaannya, mengarang jawaban yang tentu akan tertumpah dari Nyai Demang. Perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh yang dapat ditempuh dalam waktu sepekan itu, ternyata telah menjadi panjang sekali.”

 

Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku dapat membantu ayah memberikan jawaban.”

 

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon di pinggir sungai, sambil memandangi kuda-kuda yang sedang makan rerumputan segar.

 

Demikianlah, setelah mereka beristirahat beberapa saat, maka mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Tidak terlampau jauh lagi di hadapan mereka berdiri sebuah tiang, sebagai pertanda bahwa mereka akan segera memasuki daerah Kademangan Sangkal Putung.

 

Ketika mereka melampaui tiang kayu itu, maka Ki Demang merasa seolah-olah telah sampai di rumah. Udara rasa-rasanya bertambah segar dan angin semakin sejuk. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia berkata, “Akhirnya aku sampai juga di Sangkal Putung.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Apakah selama ini Ki Demang cemas, bahwa ada kemungkinan Ki Demang tidak akan sampai di rumah?”

 

“Mula-mula tidak, Kiai. Tetapi jika terkenang batang-batang kayu dan batu-batu besar yang runtuh di tebing, di hadapan mulut padepokan Panembahan Agung, rasa-rasanya bulu-bulu tengkuk ini tegak berdiri.”

 

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Ki Waskita-lah yang kemudian menyahut, “Menurut pendengaranku, di tlatah Sangkal Putung pernah juga terjadi pertempuran yang gawat. Benturan antara pasukan Jipang yang telah terpecah-pecah, dengan prajurit-prajurit Pajang di bantu oleh anak-anak muda Sangkal Putung. Apakah saat itu Ki Demang adbmcadangan.wordpress.com tidak cemas mendengar nama Macan Kepatihan atau lebih-lebih lagi paman gurunya, yang mempunyai juga tongkat yang berkepala tengkorak berwarna kuning, dan bergelar Ki Sumangkar?”

 

Ki Demang pun tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak cemas sama sekali. Di Kademangan Sangkal Putung ada seorang dukun yang bernama Ki Tanu Metir. Tentu Ki Tanu Metir dapat mamasang guna-guna, agar Ki Sumangkar menjadi jinak.”

 

Ki Sumangkar pun tertawa pula. Meskipun terkilas perasaan perih di hatinya. Kenangan itu ingin dilupakannya sama sekali. Tetapi agaknya ia masih harus mendengarkannya, gurau Ki Demang tentang kehancuran laskar Jipang, yang terakhir di bawah pimpinan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

 

Sekilas terbayang orang-orang yang saat itu menjadi kebanggaan Jipang. Pande Besi dari Sendang Gabus. Alap-Alap Jalatunda, seorang anak muda yang sebenarnya menyimpan harapan di masa depannya, Plasa Ireng, dan masih banyak lagi yang harus mengorbankan nyawanya untuk tujuan yang sebenarnya sudah sangat kabur. Bahkan kemudian masih disusul peristiwa yang pahit. Sidanti yang lepas dari pengaruh Widura dan bahkan kemudian bergabung dengan sisa-sisa pasukan Tohpati, sepeninggal Tohpati itu sendiri.

 

Api yang menyala di padepokan Tambak Wedi di lereng Gunung Merapi itulah yang kemudian merembet sampai ke Tanah Perdikan Menoreh. Sidanti, salah seorang anak muda yang dilahirkan di Tanah Perdikan Menoreh, dengan persoalan yang sudah dibawanya sejak lahir bukan atas kehendaknya sendiri.

 

Ki Waskita pun pernah mendengar cerita itu selama ia bergaul dengan orang-orang dari Sangkal Putung itu. Di saat-saat mereka duduk sambil minum minuman panas, mereka pun kadang-kadang berbincang tentang api yang pernah membakar Tanah Perdikan Menoreh. Perang di antara saudara sendiri, dan bahkan Sidanti yang terbunuh di luar sadar oleh Pandan Wangi, adiknya sendiri.

 

Tidak seorang pun yang membayangkan, bahwa api akan berkobar lagi di atas Tanah Perdikan Menoreh itu. Peristiwa Panembahan Agung bukannya persoalan Tanah Perdikan itu sendiri meskipun terjadi di atas pebukitan, di tlatah Menoreh.

 

Namun kadang-kadang di dalam saat-saat merenung, Ki Waskita di kejutkan oleh isyarat-isyarat yang mencemaskan, yang dapat terjadi di atas Tanah Perdikan Menoreh.

 

Bahkan kadang-kadang Ki Waskita bertanya di dalam hati, “Apakah isyarat ini ada hubungannya dengan isyarat yang buram dari perkawinan yang bakal terjadi antara Swandaru dan Pandan Wangi, anak satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh?”

 

Ki Waskita setiap kali hanya menggelengkan kepalanya saja, seolah-olah ia ingin mengusir isyarat yang dilihatnya dengan mata batinnya yang tajam itu. Bahkan kadang-kadang ia ingin mengingkari tangkapan isyarat itu dan mencoba mencari jawaban yang lain dari tanggapan yang sebenarnya harus diberikan.

 

“Tidak. Api itu sudah padam. Tidak akan ada nyala api lagi di atas Tanah Perdikan Menoreh,” katanya kepada diri sendiri.

 

Tetapi kebohongan yang betapa pun besarnya, tidak akan dapat membohongi dirinya sendiri. Ia sudah melihat isyarat itu. Dan ia tidak akan dapat menghapuskannya. Yang dapat dilakukan adalah ingkar, hanya itu. Tetapi yang telah dilihatnya itu adalah suatu isyarat yang sudah nampak. Dan Ki Waskita tidak kuasa menghapusnya lagi.

 

Ki Waskita terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Sumangkar menggamitnya dan bertanya, “Ki Waskita. Kenapa diam saja? Apakah Ki Waskita juga sudah mulai merindukan kampung halaman dan anak istri?”

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Sudah tentu, Ki Sumangkar. Apalagi Rudita yang sudah mulai mengenal dirinya sendiri. Perkembangannya benar-benar menakjubkan. Dan apakah sebaiknya aku membatalkan niatku untuk pergi ke Sangkal Putung?”

 

Ki Demang tertawa. Katanya, “Ki Waskita sudah menginjak tanah Kademangan Sangkal Putung. Sebaiknya Ki Waskita mencicipi hasil tanahnya. Airnya tentu lebih segar, dan buah-buahan akan terasa lebih manis dari daerah lain.”

 

Ki Waskita tertawa, katanya di antara suara tertawanya yang tertahan, “Baru sekarang Ki Demang sempat tertawa. Sebenarnya tertawa, bukan sekedar tertawa kecut. Setelah Ki Demang berada di daerah Sangkal Putung, dan setelah ternyata padi mulai menguning di bentangan sawah yang luas. Tentu Ki Demang merasa betapa sejuknya angin yang membelai butir-butir padi yang sudah merunduk.”

 

Ki Demang masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Kepalanya yang terangkat memandang jauh ke depan, mendahului derap kaki kudanya yang terasa terlampau lamban.

 

Ketika seorang petani yang duduk di tanggul parit di pinggir jalan melihatnya, tiba-tiba saja ia berdiri ternganga. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi kerongkongannya seolah-olah tersumbat.

 

“He, kau, Kerta,” Justru Ki Demang-lah yang menyapanya lebih dahulu, sambil memperlambat kudanya.

 

“Ki Demang, Ki Demang,” suara Kerta tergagap.

 

“Ya,” sahut Ki Demang sambil tersenyum.

 

Orang yang kemudian berdiri itu masih termangu-mangu, ketika kuda Ki Demang menjadi semakin jauh. Baru kemudian ia menyadari sepenuhnya, bahwa Ki Demang yang sudah beberapa saat tidak ada di kademangannya itu pulang, bersama anak laki-lakinya yang gemuk dan beberapa orang tamu yang sudah dikenalnya, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan saudara seperguruan Swandaru. Tetapi yang satu masih belum pernah dilihatnya.

 

Karena itulah, maka petani itu pun dengan tergesa-gesa mendatangi kawan-kawannya yang sedang bekerja di sawah sambil berkata, “Ki Demang sudah pulang.”

 

“Dari mana kau tahu?”

 

“Aku melihat iring-iringan di tengah bulak. Bersama dukun tua dan saudara seperguruan Swandaru, Ki Sumangkar, dan seorang lagi.”

 

“Dan, Swandaru?”

 

“Ya. Bersama Swandaru.”

 

“Berita kedatangan Ki Demang itu pun kemudian segera tersebar di seluruh kademangan. Setiap orang tahu, bahwa Ki Demang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk melamar seorang gadis yang akan dijadikan isteri Swandaru yang gemuk itu. Karena itu, mereka pun ingin juga segera mengetahui hasil perjalanan yang menurut ukuran mereka justru terlampau lama itu.

 

“Wajah-wajah mereka nampak cerah,” berkata Kerta bersungguh-sungguh.

 

“Jika demikian, mereka tentu berhasil.”

 

“Tentu,” sahut yang lain, “yang membuka pembicaraan adalah justru anak-anak itu sendiri. Orang-orang tua hanya sekedar dengan resmi membicarakan penyelesaiannya saja.”

 

Seorang berambut putih menarik nafas. Katanya, “Itulah sekarang kerja orang-orang tua. Kita tidak lagi dapat berbuat banyak atas anak-anak muda. Tetapi anak-anak muda kadang-kadang tidak menanggung akibatnya. Jika mereka kawin atas kehendak sendiri, mereka tidak mau membiayai diri sendiri. Mereka masih memaksa orang tua mengeluarkan uang buat membiayai perhelatan perkawinan mereka.”

 

“Ah, bukankah itu sudah menjadi kewajiban orang tua?” sahut yang lain.

 

Yang mendengarkan percakapan itu tertawa. Orang berambut putih itu pun tertawa pula. Katanya, “Mestinya tidak begitu, jika mereka menyerahkan jodoh mereka kepada orang-orang tua, maka orang-orang tualah yang harus rnembiayai perhelatan perkawinan itu. Tetapi jika mereka memilih jodoh mereka sendiri, maka biarlah mereka membiayai perhelatan mereka.”

 

“Dan kau akan cuci tangan?”

 

Orang berambut putih itu tertawa semakin keras. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Tidak, tentu bukan begitu.”

 

Sementara itu, perjalanan Ki Demang sudah semakin mendekati padukuhan Induk di Kademangan Sangkal Putung. Semakin dekat mereka dengan rumah kademangan, hati Ki Demang pun menjadi semakin berdebar-debar. Demikian juga Swandaru dan bahkan Agung Sedayu. Karena di rumah itu tinggal seorang gadis cantik yang bernama Sekar Mirah. Meskipun agak keras hati, namun gadis itu memiliki tatapan mata yang bagaikan mengikat.

 

Terngiang sekilas di telinga Agung Sedayu kata-kata Untara, “Nah, kapan aku harus datang ke Sangkal Putung?” kemudian, “Tetapi kau harus mempunyai pegangan lebih dahulu.”

 

Agung Sedayu menarik nafas. Sekali lagi terbayang kemungkinan yang dapat terjadi atasnya dan atas Swandaru.

 

Swandaru tentu akan mempunyai pegangan yang mapan. Sedang apakah yang akan dapat diberikan kepada Sekar Mirah? Padahal menurut sikap lahiriahnya, Sekar Mirah bukan seorang gadis yang dengan rela menerima kesederhanaan tata cara hidup, seperti juga Swandaru.

 

“Ia mempunyai harga diri yang kadang-kadang agak berlebih-lebihan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Teringat olehnya bagaimana Sekar Mirah menjadi kurang senang pada saat mereka mengunjungi perhelatan perkawin Untara, hanya karena tempat duduk dan tegur sapa yang kurang berkenan di hatinya.

 

Tetapi bagaimanapun juga, gadis itu telah memikat hatinya di dalam keseluruhan. Ia tidak akan dapat memisahkan sifat-sifat baiknya dari sifat-sifat yang kurang baik. Dan ia tidak akan dapat menerima Sekar Mirah dari segi yang baik saja dan menolak segi yang lain. Jika ia menerima gadis itu, maka itulah Sekar Mirah seutuhnya.

 

Dengan demikian, maka justru Agung Sedayu-lah yang kemudian menjadi sangat gelisah. Bukan sekedar menghadapi kehadiran mereka di rumah Ki Demang Sangkal Putung dan berbagai pertanyaan yang bakal tertumpah, tetapi justru menghadapi masa depannya. Masa depan yang panjang.

 

Setiap kali terngiang kata-kata Untara di telinganya. Namun setiap kali ia selalu bertanya pula kepada diri sendiri, “Jika aku menghentikan petualangan ini, apakah yang akan aku kerjakan? Aku tidak pantas menjadi seorang prajurit. Tetapi aku tidak dapat pula mendapatkan pekerjaan lain. Untuk menjadi petani biasa, maka semuanya akan menjadi serba kekurangan bagi Sekar Mirah, karena sawah peninggalan ayah yang tidak begitu luas masih harus dibagi dengan Kakang Untara.”

 

Kadang-kadang terbayang hutan yang lebat dan luas di Mataram. Jika ia ikut membuka hutan itu dengan sebenarnya, bukan sekedar mengejar hantu-hantuan atau orang-orang lain yang dengan sengaja menghalangi pembukaan hutan itu, maka ia akan mendapatkan adbmcadangan.wordpress.com tanah yang cukup luas. Mungkin ia akan mendapat hak khusus untuk membuka dua atau tiga bagian tanah lebih banyak dari orang-orang lain. Tetapi membuka hutan membutuhkan waktu dan perkembangan. Apalagi sampai saat itu Agung Sedayu masih belum mulai sama sekali.

 

Tiba-tiba angan-angan Agung Sedayu pun pecah, ketika ia mendengar beberapa orang anak-anak muda berteriak, “Ki Demang, Ki Demang sudah datang.”

 

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Dilihatnya beberapa orang anak muda berdiri di sudut desa. Mereka berlari-larian menyongsong demangnya yang datang dari bepergian jauh, dan untuk waktu yang cukup lama.

 

Namun ternyata, ketika iring-iringan Ki Demang menjadi semakin dekat, yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Swandaru. Seorang anak muda dengan melambaikan tangannya berkata, “Kami sudah membuat tandu untuk pengantinmu, Swandaru.”

 

Anak-anak muda itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula. Katanya, “Terima kasih. Tetapi kau harus membuat bambu usungannya rangkap. Aku menjadi semakin gemuk sekarang. Karena itu, kalian harus hati-hati menyediakan tandu buatku.”

 

“Tidak untukmu,” sahut yang lain, “tetapi untuk pengantinmu. Seperti seorang kesatria di dalam dongeng, isterinya naik tandu dan suaminya naik kuda, diiring dengan sebuah pengawal pasukan berkuda.”

 

Swandaru tertawa. Tetapi ia masih mendengar seorang kawannya berkata, “Kuda lumping. Tepat sekali bagi Swandaru. Pengantinnya pun harus naik kuda lumping pula.”

 

Anak-anak muda itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula. Bahkan Ki Demang pun tertawa seperti anak-anak muda itu juga.

 

Ki Waskita yang baru pertama kalinya datang ke Sangkal Putung, melihat betapa akrabnya hubungan anak-anak muda di Sangkal Putung. Agaknya hal itu terbentuk sejak saat mereka bersama-sama menghadapi bahaya yang mengancam kademangan mereka, ketika Tohpati ada di depan hidung Kademangan Sangkal Putung, dengan tongkat berkepala tengkorak kuningnya.

 

Tetapi Swandaru tidak berhenti dan iring-iringan itu pun tidak berhenti pula. Anak-anak muda itu menyambut dengan caranya sendiri di pojok desa.

 

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah memasuki induk kademangan. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju ke rumah Ki Demang Sangkal Putung.

 

Kabar tentang kedatangan Ki Demang itu pun segera tersebar ke seluruh kademangan. Dan mereka pun segera mencari arti dari senyum dan gurau Swandaru.

 

“Agaknya lamaran mereka tidak menjumpai kesulitan apa pun,” berkata orang-orang Sangkal Putung. Dan mereka pun ikut bergembira, karena dengan demikian, maka sebentar lagi Sangkal Putung akan segera merayakan hari perkawinan Swandaru. Swandaru Geni, anak laki-laki satu-satunya dari Ki Demang, dan yang kelak, pada suatu saat akan menggantikan kedudukan ayahnya, apabila ayahnya sudah tidak dapat menjalankan tugasnya lagi.

 

Demikianlah, ketika iring-iringan itu mendekati regol kademangan, beberapa orang yang kebetulan berada di depan regol segera memberitahukan kehadiran Ki Demang itu kepada seisi rumah.

 

Nyai Demang dan Sekar Mirah memang sudah lama sekali menanti Ki Demang. Karena itu, mereka pun segera berlari-larian turun ke halaman, menyongsong kedatangan iring-iringan itu.

 

Kedatangan Ki Demang dan Swandaru bersama segenap orang dalam iring-iringan itu, telah membuat halaman kademangan menjadi riuh. Swandaru pun dengan serta-merta mendapatkan ibunya. Dan seperti terhadap Swandaru di saat masih kanak-kanak, ibunya pun memeluknya sambil berkata, “Kau selamat, anakku. Bukankah perjalananmu tidak menjumpai kesulitan? Kalian, pergi terlampau lama sehingga hatiku menjadi sangat cemas.”

 

“Tidak apa-apa, Ibu. Aku selamat seperti yang Ibu lihat sekarang.”

 

Dalam pada itu, Sekar Mirah pun mulai memuntahkan pertanyaan-pertanyaannya kepada ayahnya. Kenapa mereka terlalu lama pergi, kenapa tidak segera kembali, apakah ada sesuatu di perjalanan, atau hambatan apa pun yang dijumpainya.

 

“Nantilah, Sekar Mirah,” berkata ibunya. “Marilah, marilah. Silahkan naik ke pendapa.”

 

Ki Demang dan kawan-kawannya seperjalanan itu pun segera mencuci kakinya dengan air di jembangan, di bawah sebatang pohon kemuning di halaman. Kemudian mereka pun segera naik ke pendapa, duduk melingkar di atas sehelai tikar pandan yang putih.

 

Hanya Ki Demang sajalah yang langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh isterinya dan Sekar Mirah.

 

“Nanti aku akan menceritakan kisah perjalananku yang sangat menarik,” berkata Ki Demang, “sekarang aku sudah selamat sampai di rumah ini kembali.”

 

“Tetapi Ayah terlalu lama. Aku sudah memutuskan, jika dalam pekan ini Ayah tidak pulang, aku akan menyusul,” berkata Sekar Mirah.

 

Ki Demang tertawa. Ditepuknya bahu anak gadisnya yang manja itu.

 

Tetapi Sekar Mirah berkata, “Ayah dapat tertawa. Tetapi kami di sini tidak. Mungkin selama ini Ayah dan Kakang Swandaru selalu tertawa di perjalanan. Tetapi selama ini kami di sini selalu berdebar-debar menunggu Ayah pulang.”

 

“Jangan kau sangka perjalananku menyenangkan seluruhnya, Sekar Mirah. Kami sudah terlibat dalam persoalan Mataram tanpa kami sadari.”

 

“Apakah Ayah singgah di Mataram?”

 

“Untuk beberapa hari.”

 

“Apalagi untuk beberapa hari. Mataram hanya berada sejengkal dari Sangkal Putung. Kenapa Ayah tidak pulang dahulu, dan apabila persoalannya memang belum selesai, Ayah dapat kembali ke Mataram setiap saat. Begitu Ayah bangun tidur dan menggeliat, Ayah sudah sampai di Mataram.”

 

“Nanti sajalah, Sekar Mirah,” cegah ibunya. “Biarlah ayahmu beristirahat saja dahulu.”

 

“Nah, begitulah,” berkata Ki Demang.

 

Dan Nyai Demang menyahut pula, “Silahkan, Kakang Demang. Mungkin Kakang Demang akan berganti pakaian atau akan menyimpan pusaka dan senjata, setelah pergi untuk waktu yang lama, tanpa mengirimkan kabar.”

 

“Aku tidak menduga bahwa perjalanan ini akan terlalu lama.”

 

“Tetapi selama di Tanah Perdikan Menoreh atau di Mataram, Ki Demang dapat mengirimkan seorang atau dua orang yang memberikan kabar keselamatan Ki Demang dan Swandaru.”

 

“Siapa orang-orang itu?”

 

“Bukankah di Mataram atau Tanah Perdikan Menoreh banyak orang yang dapat diutus kemari?”

 

Sekar Mirah-lah yang kemudian memotong pembicaraan itu, “Nanti sajalah, Ibu. Biarlah ayah beristirahat saja dahulu.”

 

“He,” ibunya termangu-mangu. Namun ia pun kemudian tersenyum.

 

Ki Demang pun kemudian masuk ke dalam biliknya untuk menyimpan pusakanya. Tetapi ia tidak berganti pakaian karena ia pun segera pergi ke pendapa menemui tamu-tamunya.

 

Sejenak kemudian, maka dapurlah yang menjadi sibuk. Nyai Demang dan pembantu-pembantunya dengan tergesa-gesa menyiapkan minum dan makanan bagi mereka yang baru saja datang dari perjalanan yang terasa sangat lama itu.

 

Ketika kemudian minuman hangat dan makanan telah dihidangkan, maka Nyai Demang dan Sekar Mirah pun ikut pula duduk di pendapa kademangan. Beberapa orang bebahu kademangan pun telah datang pula, setelah mereka mendengar bahwa Ki Demang telah datang.

 

Dari mereka, Ki Demang mendengar bahwa selama ini Kademangan Sangkal Putung tidak diganggu oleh kerusuhan-kerusuhan macam apa pun. Sekali-sekali masih juga ada kejahatan-kejahatan kecil. Tetapi tidak berpengaruh sama sekali atas keseluruhan keseimbangan keamanan di Sangkal Putung.

 

Akhirnya datang giliran Ki Demang harus bercerita tentang perjalanan mereka. Kenapa mereka harus begitu lama baru kembali.

 

Sekar Mirah-lah yang selalu mendesak, seolah-olah ia tidak sabar lagi mendengar alasan ayahnya, kenapa ayahnya pergi terlampau lama.

 

“Tentu bukan ayah, yang sebenarnya kau tunggu dengan gelisah,” berkata Swandaru.

 

“Jadi siapa?” bertanya Sekar Mirah dengan lantang. “Kau kira aku menunggu kau dengan gelisah? Tentu tidak. Buat apa kau tergesa-gesa pulang? Tempatmu di Tanah Perdikan Menoreh.”

 

“Tentu juga bukan aku. Kau lebih senang jika aku tidak segera pulang, supaya jika ibu menyembelih ayam, kau mendapat berutunya.”

 

“Jadi siapa?”

 

Swandaru tidak menjawab. Tetapi dengan sebuah senyum yang dibuat-buat, ia menunjuk Agung Sedayu dengan ujung ibu jarinya.

 

“Bohong, bohong,” Sekar Mirah sudah bergeser dari tempatnya. Tetapi Swandaru pun dengan cepatnya merangkak dan berpindah di belakang Agung Sedayu, sehingga Sekar Mirah tidak mengejarnya lagi, justru karena Swandaru berada di belakang Agung Sedayu itu.

 

Tetapi dengan wajah kemerah-merahan gadis itu berkata, “Awas kau, Kakang. Jika aku sempat menangkapmu, aku pilin kupingmu,”

 

“He. Tidak boleh. Bukankah aku saudara tuamu?”

 

“Tetapi kau nakal sekali.”

 

“Sudahlah, Mirah,” potong ibunya, “kita semua menunggu cerita ayahmu. Dan barangkali juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

 

“Juga tamu kita yang satu itu,” berkata Ki Demang yang sudah memperkenalkan Ki Waskita kepada keluarganya dan kepada para bebahu di Sangkal Putung.

 

Ki Waskita hanya tersenyum saja seperti juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

 

Sejenak kemudian, Ki Demang pun mulai bercerita. Diceritakannya apa yang terjadi sepanjang perjalanannya dengan singkat. Tetapi Ki Demang belum menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di perjalanannya sampai bagian yang sekecil-kecilnya. Ia masih belum menceritakan bahwa Ki Waskita memiliki ilmu yang aneh. Juga belum diceritakannya mengenai perkembangan Mataram yang terakhir. Tetapi ia sudah mengatakan bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat.

 

“Berita itu sudah sampai di kademangan ini,” berkata seorang bebahu, “dan kami sudah mengira, bahwa Ki Demang tentu berada di Mataram saat itu.”

 

Ki Demang Sangkal Putung pun menganguk-angguk. Berita tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan tentu sudah tersebar di seluruh Pajang, karena Ki Gede pernah menjabat pangkat tertinggi di kalangan keprajuritan Pajang.

 

Namun dalam pada itu, Sekar Mirah menyela, “Nah, apakah sulitnya Ayah pulang sebentar pada saat menjelang pemakaman Ki Gede Pemanahan? Bukankah Ki Juru Martani sempat juga pergi ke Pajang? Padahal jalan ke Pajang lewat di sebelah Kademangan ini.”

 

“Tentu tidak mungkin, Mirah,” jawab ayahnya. “Aku tidak akan dapat pergi selagi Mataram sibuk menyelenggarakan jenazah Ki Gede Pemanahan.”

 

“Tetapi Ki Juru Martani pergi juga.”

 

“Itu pun termasuk dalam rangkaian penyelenggaraan jenazah Ki Gede. Saat itu Ki Juru pergi menghadap Kanjeng Sultan Pajang.”

 

“Tetapi sebenarnya Ayah dapat berpesan kepada Ki Juru untuk singgah sebentar di Sangkal Putung dan memberitahukan kepada kami, bahwa Ayah masih berada di Mataram. Dengan demikian, kami tidak terlampau gelisah menunggui Ayah pulang.”

 

“Ah, tentu tidak mungkin, Mirah. Ki Juru adalah seorang tua yang dihormati oleh seluruh rakyat Mataram, dan bahkan Pajang. Adalah tidak sopan, jika aku mohon agar Ki Juru bersedia singgah sebentar di Sangkal Putung.”

 

Sekar Mirah memandang ayahnya dengan heran. Kemudian katanya, “Apakah orang-orang terhormat tidak bersedia menolong orang lain?”

 

“Bukan begitu. Tetapi waktu itu, Ki Juru pun sangat tergesa-gesa.”

 

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Sekar Mirah berkata, “Nah, alasan yang kedua ini agak lebih baik kedengarannya.”

 

Agung Sedayu yang mendengarkan saja pembicaraan itu menjadi berdebar-debar. Ia menjadi heran mendengar tanggapan Sekar Mirah atas orang-orang yang dianggap terhormat. Kenapa ia bersikap demikian datar terhadap Ki Juru Martani dan bahkan sama sekali tidak mau mengerti, kenapa Ki Demang tidak berani berpesan kepadanya agar singgah di Sangkal Putung.

 

“Mungkin Sekar Mirah yang sepanjang hidupnya berada di kademangan yang cukup jauh dari kota tidak mengerti, bagaimana ia harus bersikap terhadap orang-orang yang dianggap penting di Pajang, atau barangkali sikap tinggi hatinyalah yang justru mendorongnya dengan sengaja menunjukkan sikap yang demikian, seolah-olah derajatnya tidak harus lebih rendah dari orang yang bernama Ki Juru Martani itu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

 

Namun demikian, Agung Sedayu masih juga mencoba mencari jalan keluar dari sifat-sifat Sekar Mirah itu. “Kelak aku akan dapat menuntunnya, meskipun barangkali akan terasa sulit sekali.”

 

Demikianlah, setelah pembicaraan itu berjalan beberapa lamanya, maka makan pun telah siap. Ki Demang dan tamu- tamunya segera membenahi dirinya dan mandi di pakiwan sementara nasi dihidangkan di pendapa.

 

Ketika kemudian Sangkal Putung menjadi gelap, dan para bebahu kademangan sudah meninggalkan pendapa untuk memberi kesempatan Ki Demang dan tamu-tamunya beristirahat, setelah menempuh perjalanan meskipun tidak begitu jauh, maka mulailah Ki Demang berbicara dengan isterinya. Agaknya Nyai Demang tidak sabar menunggu sampai besok pagi atau saat-saat yang lain.

 

Sementara itu, tamu-tamu Ki Demang sudah dipersilahkan beristirahat di gandok. Agaknya mereka sudah terlampau biasa berada di rumah itu, selain Ki Waskita. Kiai Gringsing sudah berada di rumah itu untuk beberapa lamanya, apalagi Ki Sumangkar yang telah menempa Sekar Mirah menjadi seorang gadis yang lain dari gadis-gadis sebayanya.

 

Di ruang dalam, Ki Demang duduk berdua dengan isterinya. Mereka sibuk membicarakan masalah Swandaru yang memang sudah sepantasnya untuk kawin.

 

Nyai Demang merasa gembira sekali bahwa tidak ada kesulitan apa pun di dalam pembicaraan mengenai anak laki-lakinya. Apalagi setelah ia mendapat gambaran serba sedikit tentang keadaan Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Tanah itu subur sekali, terutama di bagian Timur,” berkata Ki Demang.

 

“Tetapi, bukankah Menoreh merupakan sebuah pebukitan batu padas yang keras dan tandus?” bertanya isterinya.

 

“Tentu saja Tanah Perdikan Menoreh bukan sekedar gunung berbatu-batu. Tetapi lembahnya hijau, terbentang dari kaki bukit sampai ke pinggir Kali Praga.”

 

“Begitu luasnya?”

 

“Ya, begitu luasnya,” tetapi Ki Demang pun kemudian bertanya, “Apakah kau dapat menduga, berapa luasnya Tanah Perdikan itu?”

 

Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak.”

 

“Jauh lebih luas dari kademangan ini. Tetapi ada sesuatu yang membuat aku lebih berbangga terhadap kademangan ini daripada Tanah Perdikan Menoreh.”

 

“Apa?”

 

“Sela-sela bukit batu itu merupakan tempat persembunyian beberapa orang penjahat. Memang tempatnya memungkinkan sekali. Dan seperti yang kau duga, sebagian dari tanah yang luas itu adalah bukit-bukit tandus. Meskipun demikian, Tanah Perdikan Menoreh mempunyai cukup tanah persawahan, untuk memberikan makan kepada seluruh rakyatnya.”

 

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba membayangkan betapa cantiknya Tanah Perdikan Menoreh.

 

BUKU 85

 

TERBAYANG sebuah ngarai yang luas berbatasan gunung-gunung padas yang ditumbuhi batang-batang perdu. Di kaki pegunungan itu terbentang sebuah hutan yag besar, panjang dan lebat.

Tetapi Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Tentu gambaranku keliru. Bukit-bukit itu panjang membujur ke Utara. Ah entahlah.”

Sekilas terbayang gunung Merapi yang megah, berjajar dengan gunung Merbabu, bagaikan sepasang penganten abadi yang berdiri di belakang Kademangan Jati Anom.

“Tetapi yang lebih penting dari semuanya,” berkata Ki Demang Sangkal Putung seterusnya, “aku sudah melihat sendiri bakal menantumu, Nyai. Seorang gadis yang cantik dan luruh. Jika kita melihat sepintas, kita tidak akan menduga, bahwa gadis itu pantas menyandang sepasang pedang di lambungnya.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebenarnyalah ia gadis yang mengagumkan. Di rumah ia bagaikan seorang ibu yang memelihara dengan lembut seluruh isi rumahnya. Perabot-perabot rumahnya dibersihkannya setiap hari dengan tangannya. Ia memasak sendiri di dapur, sementara pelayan-pelayannya hanya membantunya saja.” Sekali lagi Ki Demang berhenti, lalu, “Tetapi jika keadaan memaksa, ia tampil di peperangan dengan sepasang pedang di lambung, ia bertempur melawan penjahat-penjahat yang menakutkan tanpa gentar.”

“Ah,” Nyai Demang tiba-tiba berdesah.

“Kenapa?”

“Aku justru menjadi ngeri.”

 

“Kenapa ngeri?”

 

“Jika suatu kali, seperti lazimnya suami isteri mengalami pertengkaran, apa jadinya nanti. Swandaru adalah seorang anak laki-laki yang manja, agak kasar, dan kurang berhati-hati menyatakan pendapatnya kepada orang lain, apalagi kepada isterinya. Sedang isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu kanuragan seperti suaminya.”

 

“Tetapi mereka tentu saja selalu mengekang diri masing-masing, Nyai. Seperti yang juga kita harapkan atas Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

 

“Kenapa Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

 

Ki Demang termangu-mangu sebentar. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak apa-apa.”

 

“Ya, tidak apa-apa. Sampai sekarang, tidak ada persoalan apa-apa yang pernah kita terima, baik dari Angger Agung Sedayu sendiri, maupun dari keluarganya.”

 

“Tetapi Kiai Gringsing secara tidak langsung pernah mengatakan serba sedikit tentang hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah,”

 

“Tetapi kita tidak dapat berpegangan kata-katanya. Ia orang lain, baik bagi Agung Sedayu maupun bagi kita.”

 

“Tidak. Ia bukan orang lain. Ia adalah guru Agung Sedayu. Seorang guru tidak ubahnya dengan orang tua sendiri.”

 

“Dalam olah kanuragan. Tetapi di dalam hubungan seperti Swandaru dan putera Kepala Tanah Pendikan Menoreh, bukankah Ki Demang sendiri yang harus datang melamarnya? Bukan sekedar Kiai Gringsing yang juga guru Swandaru itu.”

 

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Dan ia pun berkata, “Kau benar, Nyai. Harus ada pernyataan yang mapan dari keluarganya. Karena Angger Agung Sedayu sudah tidak berkeluarga, maka Angger Untara-lah yang pantas mewakilinya dengan resmi.”

 

“Nah, begitulah. Dalam persoalan Sekar Mirah, kita adalah orang tua dari seorang gadis. Kita harus lebih berhati-hati. Sudah barang tentu persoalannya berbeda dengan Swandaru. Secara kasar dapat kita katakan, seandainya tanpa sepengetahuan kita, perkawinan Swandaru tidak akan menimbulkan banyak persoalan. Ia adalah anak laki-laki. Jika ia tidak senang, ia dapat menceraikan isterinya dan kawin lagi dengan perempuan yang dipilihnya kemudian.”

 

“Ah, apakah begitu, Nyai?”

 

“Tentu saja. Karena itulah kita harus menjaga Sekar Mirah sebaik-baiknya agar Sekar Mirah tidak mengalami nasib buruk seperti itu. Kita harus mengikat pembicaraan dengan orang tua Angger Agung Sedayu, seperti orang tua Pandan Wangi mengharap kedatanganmu sendiri betapa pun jauhnya.”

 

“Sebagian aku sependapat, Nyai. Tetapi sebaiknya kau tidak terlampau mencemaskan nasib anak gadismu seperti yang kau katakan. Sudah tentu persoalan kawin dan cerai bukannya persoalan pinjam-pakai atau katakanlah seperti memilih pakaian saja. Swandaru tentu tidak boleh bersikap demikian terhadap isterinya, meskipun seandainya isterimya itu bukan anak gadis Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Demikian juga anak gadis kita tidak boleh diperlakukan seperti itu. Laki-laki yang demikian adalah laki-laki yang buruk.”

 

“Tetapi itu sudah sifat laki-laki. Ia ingin memperisteri setiap perempuan yang mana pun juga. Dan itu adalah haknya. Sedang perempuan harus menyerahkan diri sebulatnya kepada hubungan perkawinan yang telah diterimanya.”

 

Ki Demang tertawa. Katanya, “Aku mengerti. Nampaknya kau mengatakan hubungan yang sering kita temui di dalam tata kehidupan masyarakat kita. Tetapi sebenarnya hatimu menjerit menolak kepincangan itu. Bukankah begitu? Justru karena kita mempunyai seorang anak gadis?”

 

Nyai Demang tidak menjawab.

 

“Percayalah, bahwa dugaanmu keliru. Tidak setiap laki-laki berbuat demikian. Gambaran yang salah itu dapat menimbulkan persoalan di hati gadis-gadis sebelum persoalan yang sebenarnya dihadapinya. Dan gambaran-gambaran yang salah itu akan menyuramkan rumah tangganya tanpa sebab, selain ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Selebihnya, perasaan cemburu.”

 

Nyai Demang tidak segera menjawab. Tetapi nampak bahwa ada sesuatu yang belum terpecahkan di dalam hatinya.

 

“Tentu kau tidak akan segera dapat meyakini,” berkata Ki Demang, “tetapi lambat laun kau akan mengerti. Atau barangkali kau mempunyai pendapat bahwa Agung Sedayu mempunyai ciri-ciri seperti yang kau cemaskan itu?”

 

Nyai Demang menggeleng. Katanya, “Sampai sekarang tidak. Tetapi siapa tahu. Mungkin memang ada laki-laki yang baik seperti yang kau katakan, tetapi perbandingannya terlampau kecil dengan sifat-sifat umum yang kita lihat.”

 

“Tetapi menurut penglihatanku, Angger Agung Sedayu termasuk yang sedikit itu.”

 

Nyai Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku juga tidak berkeberatan. Tetapi orang tuanya atau yang mewakilinya, mungkin Angger Untara atau mungkin Adi Widura atau siapa pun, dengan adat yang lazim datang kepada kita.”

 

“Tentu, pada suatu saat mereka akan datang.”

 

“Ki Demang,” suara Nyai Demang merendah, “sebenarnya bukan saja aku khawatir terhadap Angger Agung Sedayu tetapi juga kepada Sekar Mirah. Jika pada suatu saat terjadi keretakan, maka Sekar Mirah yang sifatnya menjadi semakin keras karena ilmu kanuragan yang dimilikinya itu akan berbuat terlampau jauh. Jika pada suatu saat, sifat laki-laki pada umumnya itu hinggap pada Agung Sedayu, tanpa ada pertanggungan jawab dari keluarga dan orang tuanya sama sekali, maka Sekar Mirah akan melepaskan sakit hatinya dengan tindakan serupa.”

 

“Ah, kau dibayangi oleh ketakutanmu sendiri. Jangan kau katakan hal yang serupa ini kepada anak-anakmu,” potong Ki Demang. “Kau boleh berprasangka terhadap Angger Agung Sedayu, dan kau dapat menuntut agar orang tuanya atau yang mewakilinya ikut bertanggung jawab, tetapi kau jangan berprasangka demikian terhadap Sekar Mirah. Sejauh tuntutan keadilan di hatinya ia tidak akan membalas dengan tindakan serupa itu. Ataukah tindakan serupa itu yang disebut berbuat adil atas laki-laki dan perempuan?”

 

“Aku tidak mengatakan demikian Ki Demang.”

 

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia menjadi curiga, apakah Sekar Mirah sendiri pernah mengatakan dalam suatu pembicaraan dengan ibunya, bahwa apabila seorang laki-laki yang menjadi suaminya kelak berbuat sisip, ia akan mengimbanginya dengan tindakan yang sama? Dan apakah tindakan serupa itu yang dituntutnya sebagai tindakan yang adil?

 

Ki Demang justru menjadi cemas. Jika benar demikian, maka Sekar Mirah memerlukan penjelasan yang dapat menjernihkan tanggapan batinnya terhadap hidup kekeluargaan.

 

Namun Ki Demang itu pun tiba-tiba menyadari bahwa pembicaraan mereka telah bergeser. Karena itu, maka katanya sambil tertawa, “Nyai. Bukankah yang kita bicarakan sekarang adalah Swandaru, bukan Sekar Mirah.”

 

“Ya, Ki Demang. Meskipun masing-masing tidak akan dapat dibicarakan tersendiri, namun barangkali memang ada baiknya kita berbicara sekarang tentang Swandaru. Namun demikian, aku masih akan bertanya serba sedikit, apakah sebenarnya Ki Demang mengetahui, gambaran masa depan bagi Angger Agung Sedayu? Kakaknya, Angger Untara sudah jelas bagi kita. Ia adalah seorang prajurit. Bahkan seorang Senapati. Tetapi apakah Angger Agung Sedayu sudah menentukan sikap menghadapi masa depannya. Sepengetahuanku, sampai saat ini ia tidak lebih adalah seorang petualang seperti Swandaru. Tetapi Swandaru mempunyai kedudukan yang jelas.”

 

“Sudahlah, Nyai. Marilah kita berbicara tentang Swandaru. Pada saatnya kita memang akan berbicara tentang Angger Agung Sedayu.”

 

“Baiklah, Kakang. Barangkali Ki Demang dapat memberikan banyak keterangan tentang perjalanan Kakang.”

 

Ki Demang menarik nafas. Katanya, “Nah, barangkali akan lebih baik demikian.”

 

Nyai Demang pun mengangguk-angguk.

 

Sementara itu Ki Demang melanjutkan ceritanya tentang perjalanannya. Terutama semua pembicaraan yang sudah dilakukan dengan Ki Gede Menoreh. Dan agaknya semuanya sudah mapan.

 

“Kita tinggal menentukan hari. Mempersiapkan sebuah kelengkapan, bukan saja pakaian dan benda-benda upacara yang lain, tetapi juga sebuah pasukan yang kuat.”

 

“Kenapa pasukan?”

 

“Perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh adalah perjalanan yang jauh, sedang di sekitar Tanah Perdikan itu, agaknya masih tersembunyi kelompok-kelompok yang setiap saat dapat mengganggu perjalanan. Tetapi jangan kau pikirkan. Yang penting persoalan Swandaru sudah sebagian besar rampung.”

 

Nyai Demang mendengarkan semua cerita dan penjelasan yang diberikan oleh Ki Demang dengan penuh harapan. Namun sejalan dengan itu, kegelisahannya mengenai Sekar Mirah dan Agung Sedayu pun semakin berkembang di dalam hatinya. Tetapi seperti kata-kata Ki Demang, ia lebih senang membicarakan persoalan Swandaru daripada persoalan Sekar Mirah.

 

Meskipun demikian, Nyai Demang tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya sehingga Ki Demang berkata, “Sudahlah. Kita akan berbicara lagi besok. Sekarang, aku terlampau lelah.”

 

“Baiklah, Ki Demang. Sebaiknya Kakang beristirahat. Besok kita dapat berbicara lebih banyak tentang anak-anak kita. Keduanya.”

 

Ki Demang itu pun kemudian pergi ke biliknya. Ketika ia lewat di depan bilik Sekar Mirah, dilihatnya anak gadisnya telah tertidur lebih dahulu.

 

Sambil berbaring di pembaringan, Ki Demang masih saja diliputi oleh berbagai macam bayangan. Swandaru, Pandan Wangi, Sekar Mirah, Agung Sedayu, dan persoalan-persoalan yang menyangkut mereka itu.

 

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin berhembus semakin kencang. Terasa udara yang basah menyusup dari sela-sela dinding kayu mengusap nyala lampu yang kemerah-merahan.

 

Sepi malam membuat hati Ki Demang semakin ngelangut. Yang kemudian selalu mengambang di angan-angannya adalah justru persoalan anak gadisnya.

 

Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni. Tetapi seperti yang dikatakan oleh isterinya apakah untuk seterusnya Agung Sedayu akan tetap menjadi seorang petualang? Apakah ia akan mengikuti jejak gurunya, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan mempergunakan seribu nama dan penyamaran? Apakah Agung Sedayu tidak akan dapat menjadi seorang ayah yang baik, yang bekerja dengan tekun untuk menghidupi seluruh keluarganya dalam segala seginya. Bukan hanya sekedar menyusupi kebutuhan lahiriah, tetapi juga batiniah?

 

“Ah,” desis Ki Demang, “kenapa aku justru dibingungkan oleh persoalan yang tidak menentu? Siapa tahu Agung Sedayu mempunyai simpanan yang cukup untuk mulai dengan suatu kehidupan baru, atau apa pun yang dapat dilakukan.”

 

Namun Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar bahwa Agung Sedayu sama sekali tidak tertarik kepada tawaran kakaknya untuk menjadi seorang prajurit di Pajang.

 

Angan-angan itulah yang membuat Ki Demang tidak segera dapat tertidur seperti juga isterinya.

 

Dalam pada itu, Agung Sedayu sendiri pun telah dihinggapi oleh kerisauan yang sama. Tetapi ia tidak ingin menunjukkannya kepada orang lain.

 

Yang juga diganggu oleh kerisauan hati, tetapi dalam persoalan yang lain adalah Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar. Mereka seolah-olah digelitik oleh perasaan yang sama tanpa saling membicarakannya terlebih dahulu.

 

Desir angin di atap terdengar gemerisik. Kadang-kadang keras, kemudian menjadi semakin lembut.

 

Meskipun mereka mengerti, bahwa yang mereka dengar adalah benar-benar suara angin, namun ingatan mereka segera melayang kembali ke Tanah Mataram. Di malam terakhir mereka merasa, seolah-olah desah angin itu mengandung ancaman yang dapat membahayakan.

 

Dengan segenap ketajaman indera, orang-orang tua itu pun mencoba menangkap kesan yang timbul dari desah angin malam yang dingin itu. Namun mereka tidak merasakan sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaan apa pun.

 

“Agaknya ada sesuatu yang tidak sewajarnya di Tanah Mataram,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, seperti juga Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

 

Namun mereka pun menjadi agak tenang, karena di Mataram masih ada Ki Juru Martani yang tentu memiliki ketajaman indera yang cukup baik untuk melindungi Tanah Mataram dari kemungkinan-kemungkinan yang buruk.

 

Karena itulah maka mereka pun kemudian mencoba menyingkirkan kecemasan hati mereka. Apalagi ketika kemudian gerimis turun perlahan-lahan. Gerimis yang gemericik di sela-sela desah angin malam yang dingin.

 

Terasa sejuknya udara telah membuat mereka semakin tenggelam dalam perasaan kantuk sehingga mereka pun kemudian segera tertidur dengan nyenyaknya. Bahkan Ki Demang Sangkal Putung, Nyai Demang, Agung Sedayu, dan mereka yang gelisah pun telah melupakan kegelisahan mereka barang sejenak.

 

Waktu-waktu berikutnya berjalan selangkah demi selangkah. Di hari-hari berikutnya, Ki Demang Sangkal Putung nampak sibuk berbicara dengan orang-orang tua dari kademangannya dan tamu-tamunya. Mereka mulai menghitung-hitung hari dan saat yang paling baik untuk menentukan hari perkawinan Swandaru.

 

“Ki Argapati juga akan menghitung hari dan saat yang paling tepat. Kita akan membicarakannya kelak apabila ada dua atau tiga saat yang baik dipergunakan,” berkata Ki Demang kepada orang-orang tua dari Sangkal Putung dan tamu-tamunya yang masih berada di kademangan.

 

“Tetapi, bukankah Kiai Gringsing adalah seorang dukun yang pandai?” bertanya salah seorang yang berjanggut putih kepada Ki Demang.

 

“Ya,” jawab Ki Demang, “Kiai Gringsing adalah seorang dukun yang jarang ada duanya.”

 

“Wah, bukankah Kiai Gringsing dapat memilih hari yang paling baik buat saat perkawinan Angger Swandaru, apalagi Angger Swandaru adalah muridnya?”

 

Ki Demang memandang Kiai Gringsing yang tersenyum. Berkata dukun tua itu, “Maaf, Ki Sanak. Aku adalah seorang dukun yang hanya dapat mengingat beberapa jenis dedaunan yang dapat dipergunakan untuk mengobati luka-luka kecil. Tetapi sudah barang tentu bukan untuk menentukan hari dan waktu seperti itu.”

 

“Ah, Kiai selalu merendahkan diri. Tetapi Kiai adalah orang yang paling tepat,” berkata seorang yang usianya sudah lanjut meskipun nampaknya masih segar.

 

Kiai Gringsing bergeser sejenak lalu, “Maaf, seribu maaf. Bagiku hari-hari tidak ada bedanya. Itu justru karena kebodohanku.”

 

Orang-orang Sangkal Putung saling berpandangan sejenak. Namun seorang tua yang lain tersenyum sambil berkata, “Aku sudah menduga bahwa Kiai akan berkata begitu. Tetapi aku pun tahu bahwa Kiai adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luar biasa.”

 

Kiai Gringsing menjadi semakin bingung. Karena itu ia berkata, “Bukan maksudku untuk berpura-pura. Tetapi aku benar-benar tidak mengerti perbedaan hari yang satu dengan yang lain.”

 

Ki Demang yang mengerti serba sedikit tentang Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Agaknya Kiai terlampau yakin akan diri sendiri, sehingga untuk berbuat sesuatu yang penting sekali pun Kiai tidak memerlukan waktu yang khusus.”

 

Kiai Gringsing tertawa, katanya, “Tentu bukan begitu. Yang benar, aku adalah orang yang terlampau bodoh untuk mengerti kelainan waktu.”

 

“Nah,” berkata Ki Demang kemudian, “kita akan kembali kepada orang-orang tua dari Sangkal Putung. Kalianlah yang harus menentukan hari-hari yang paling baik itu.”

 

Orang-orang tua di Sangkal Putung itu pun terdiam. Sekilas mereka memandang Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Bagi mereka, tamu-tamu Ki Demang adalah orang-orang yang terhormat, dan sudah barang tentu mereka menganggap tamu-tamu itu adalah orang-orang yang cukup pandai. Mereka telah pernah mendengar, bahwa tamu-tamu Ki Demang adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tiada taranya.

Tetapi mereka pun sudah menduga, bahwa seperti Kiai Gringsing, tamu-tamu itu tentu akan merendahkan dirinya dan menolak untuk mengatakan saat-saat yang paling baik bagi perkawinan Swandaru.

Yang paling gelisah diantara tamu-tamu Ki Demang adalah justru Ki Waskita. Ia mengerti, bahwa Ki Demang Sangkal Putung itu serba sedikit telah mengenalnya. Ki Demang mengetahui bahwa kadang-kadang ia dapat melihat isyarat apa yang akan terjadi di masa depan. Jika Ki Demang bertanya kepadanya tentang Swandaru, maka ia tentu akan men-dapat kesulitan untuk menjawab. Selama ini ia sendiri telah digelisahkan oleh penglihatannya atas isyarat tentang masa depan Swandaru. Bahkan kadang-kadang ia memaksa dirinya untuk mengingkari penglihatannya sendiri.

“Swandaru anak baik,” katanya dalam hati.

Ketika Ki Demang memandangnya, maka Ki Waskita pun segera menundukkan kepalanya. Ia berharap bahwa Ki Demang tidak akan bertanya kepadanya tentang Swandaru.

Ternyata Ki Demang tidak bertanya kepadanya. Ia pun kemudian menyerahkan kepada orang-orang tua di Sangkal Putung untuk menentukan hari yang paling baik bagi saat perkawinan Swandaru itu.

Tetapi Ki Demang memang tidak terlampau tergesa-gesa. Ia tidak ingin mendengar keputusan hari pada saat itu juga.

“Masih banyak yang akan kita bicarakan,” berkata Ki Demang, “kita memerlukan beberapa orang patah, paling sedikit dua orang gadis kecil dan dua orang anak muda. Kita memerlukan barang-barang yang akan kita siapkan dan akan kita bawa. Kita akan memerlukan orang-orang yang mengerti tentang jenis dan jumlah sesaji bukan saja di sekitar rumah, halaman dan Kademangan ini, tetapi juga disepanjang jalan yang akan dilalui oleh Swandaru. Kita harus tahu pasti, upacara apa yang harus dilakukan disepanjang jalan. Misalnya, melemparkan telur kesungai yang akan kita lalui, mengelilingi Istana Kiai Sempok, sebatang randu Alas di ujung bulak Kali Asat. Dan yang lain lagi, yang masih banyak harus kita pelajari. Karena itu, juga tentang hari akan kita tentukan disaat lain. Kalian masih mempunyai waktu untuk menghitungnya.”

Oramg-orang tua dari Sangkal Patung itu mengangguk- angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Melempar telur, mengelilingi Istana Randu Aras Kiai Sempok dan yang lain hanya harus dilakukan jika kelak kita akan ngunduh pengantin. Jelasnya apabila dalam iring-iringan pengantin terdapat pengantin laki-laki dan perempuan.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, kelak jika Swandaru membawa isterinya pulang ke Sangkal Putung.”

“Ya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Lalu bagaimana dengan Tanah Perdikan Menoreh? Ki Argapati hanya mempunyai seorang anak. Anak itu adalah Pandan Wangi. Jika Pandan Wangi harus meninggalkan tanah Perdikan Menoreh, lalu siapakah yang akan memimpin Tanah Perdikan itu?”

Sekilas teringat oleh Ki Demang, seorang laki-laki yang pernah ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh. Orang itu adalah orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh. Jika tidak ada Ki Argapati, maka orang yang bernama KI Argajaya itulah yang berhak atas Tanan Perdikan Menoreh. Bahkan ia pernah berusaha bersama Sidanti, anak-laki-laki Ki Argapati itu sendiri, untuk menyingkirkan Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sebenarnya.”

“Ah, itu persoalan yang dapat dibicarakan nanti,” berkata Ki Demang di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka orang-orang tua itu pun kemudian minta diri. Mereka masih harus datang lagi lain kali dan tidak hanya sekali, tetapi dua kali, tiga kali dan berulang-ulang kali untuk melanjutkan pembicaraan yang penting bagi keluarga Ki Demang Sangkal Patung itu, dan sudah barang tentu dengan hidangan yang mbanyu-mili.

Dengan demikian, maka setiap kali Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun selalu ikut serta mendengarkan setiap pembicaraan yang merambat dengan lamban itu. Namun mereka benar-benar menginginkan saat dan keadaan yang paling baik.

Sehingga akhirnya, semua rencana pun telah tersusun. Ki Demang Sangkal Putung telah menentukan hari yang paling baik yang akan disampaikan kepada Ki Argapati. Dan Ki Demang pun telah mendapatkan dua orang gadis kecil sebagai Patah dan dua anak muda yang cukup tampan, dan yang kebetulan adalah dua orang saudara kembar.

“Kita akan segera mengirimkan utusan ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika semuanya sudah mendapat persetujuan, maka dalam waktu singkat kita akan mempunyai kesibukan,” berkata Ki Demang kepada isterinya pada suatu saat.

“Jadi, kita akan mengantarkan Swandaru lebih dahulu?” bertanya isterinya.

“Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah Swandaru memang lebih tua dari Sekar Mirah.”

“Tetapi di dalam perguruannya, Agung Sedayu dianggapnya sebagai saudara tua.”

“Ah, biarlah. Yang penting bagi kita adalah urutan anak-anak kita. Meskipun tidak ada salahnya seorang gadis mendahului kakaknya, tetapi lebih baik jika kakaknya lebih dahulu baru adiknya, sehingga kita tidak perlu menyediakan kelengkapan untuk melakukan upacara nglangkahi.”

Nyai Demang hanya mengangguk-angguk saja.

“Nah Nyai, kita harus sudah mulai bersiap. Perkawinan ini tentu merupakan perkawinan yang meriah. Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Gede Menoreh.”

“Dan dalam upacara ngunduh penganten, kita tidak boleh kalah. Peralatan disini harus seimbang dengan peralatan yang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun barangkali Ki Gede Menoreh lebih berada daripada kita.”

“Maksudnya bukan begitu. Kita tidak perlu saling bersaing di dalam upacara itu. Tetapi setidak-tidaknya kita harus menghormati bakal mertua Swandaru.”

Sekali lagi Nyai Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah Kademangan Sangkal Putung mulai bersiap-siap. Nyai Demang mulai menyisihkan padi yang paling baik, ketan yang putih dan beberapa ekor ayam dan kambing yang paling gemuk. Bahkan Ki Demang kemudian telah memilih seekor lembu muda yang putih mulus.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita justru bagaikan terikat untuk tetap tinggal di Sangkal Putung. Bahkan Ki Demang meskipun, belum resmi sudah mulai menyinggung kemungkinan sekelompok utusan yang akan dimintanya pergi untuk membuat keputusan terakhir ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku sendiri tidak dapat pergi meninggalkan persiapan yang sedang kita lakukan,” berkata Ki Demang.

“Agaknya memang demikian,” sahut Kiai Gringsing yang sudah merasa bahwa sebentar lagi ia akan menempuh perjalanan sekali lagi ke Menoreh. Tentu bersama Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

“Tetapi perjalanan itu tentu akan merupakan perjalanan pulang bagi Ki Waskita.” Berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “dan aku bersama Ki Sumangkar akan kembali berdua saja ke Sangkal Putung.”

Karena itu, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tinggal menunggu saja, kapan mereka harus berangkat.

Sementara itu, selagi mereka menunggu saat yang akan ditentukan oleh Ki Demang, mereka telah dikejutkan oleh kedatangan sekelompok utusan dari Mataram yang dipimpin oleh Ki Lurah Branjangan.

Ketika sekelompok pengawal dari Mataram itu memasuki padukuhan induk, beberapa orang anak muda sudah mendahului menghadap Ki Demang, dan melaporkan bahwa beberapa orang dengan ciri-ciri yang mereka kenal sebagai pengawal-pengawal dari Mataram telah datang.

“Apakah mereka hanya sekedar singgah sejenak, atau ada kepentingan yang lain?”

“Kami tidak tahu Ki Demang. Kami baru melihat mereka dari kejauhan.”

Karena itulah maka dengan berdebar-debar Ki Demang bersama Kiai Gríngsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar serta para bebahu yang kebetulan sedang berada diinduk Kademangan segera menyongsong mereka keregol halaman

Sebenamyalah bahwa sejenak kemudian iring-iringan itu pun telah mendekati regol. Yang paling depan dari sekelompok pengawal itu adalah. Ki Lurah Branjangan.

Dengan berbagai pertanyaan yang bergejolak di dalam hati, maka orang-orang Sangkal Putung itu pun menyambut tamunya dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

Meskipun Ki Lurah Branjangan berusaha untuk tersenyum, namun nampak bahwa ada kegelisahan yang memancar di wajahnya.

Betapa pun keinginan mendesak disetiap dada mereka yang menyambut pengawal-pengawal itu, namun mereka tidak dapat dengan serta merta menanyakan, apakah keperluan kedatangan sekelompok kecil pengawal-pengawal itu.

Yang mula-mula mereka tanyakan, seperti kebiasaan yang berlaku adalah keselamatan tamu-tamu itu disepanjang perjalanan.

“Tidak ada kesulitan apa pun juga diperjalanan, Ki Demang,” jawab Ki Lurah Branjangan, “bagaimana dengan Ki Demang sekeluarga, Kiai Gríngsíng dan kedua murid-muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Waskita?”

“Semuanya selamat. Seperti yang Ki Lurah lihat, mereka sehat-sehat saja.”

“Syukurlah. Agaknya Ki Demang sudah mempersiapkan segala sesuatu bagi peralatan perkawinan Angger Swandaru.”

Ki Demang tersenyum sambil memandang Swandaru yang duduk disisi pendapa itu bersama Agung Sedayu. Sambil menarik nafas ia menyahut, “Begitulah Ki Lurah. Tetapi darimana Ki Lurah mengetahuinya?”

“Setumpuk kayu dihalaman samping yang sudah dibelah-belah menjadi kayu bakar. Dinding-dinding yang mulai dibersihkan. Halaman dan kebun yang menjadi semakin asri. Dan kesibukan yang sudah nampak di Kademangan ini.”

“Tetapi waktunya masih cukup lama Ki Lurah.”

“Berapa hari lagi perkawinan itu akan berlangsung?”

“Menurut rencana kami tetapi masih harus disampaikan lebih dahulu kepada Ki Argapati, kira-kira selapan hari lebih sedikit.”

“O, sudah terlampau dekat bagi sebuah peralatan perkawinan yang besar.”

“Bukan peralatan yang besar,” sahut Ki Demang, “hanya sekedar syarat agar tetangga disebelah menyebelah menjadi saksi perkawinan Swandaru kelak.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ia tidak akan membicarakan masalah perkawinan Swandaru untuk seterusnya. Wajahnya yang sudah berkesan kegelisahan semakin nampak, bahwa memang ada sesuatu yang akan di katakannya.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah kemudian, “sebenarnyalah bahwa kedatangan kami membawa suatu kabar yang barangkali penting bagi Ki Demang, dan tamu-tamu Ki Demang.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah ada sangkut pautnya dengan Kademangan Sangkal Putung Ki Lurah?”

Ki Lurah menggeleng. Katanya, “Tidak ada hubungan langsung dengan Kademangan Sangkal Putung. Tetapi meskipun demikian, Ki Juru Martani menganggap perlu untuk memberitahukan persoalan ini kepada Ki Demang dan tamu-tamu Ki Demang.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak ketika ia memandang wajah Kiai Gringsing, nampak wajah itu pun menjadi tegang.

“Nampaknya penting sekrali Ki Lurah, sehingga Ki Lurah tidak sempat menunggu minuman dan makanan dihidangkan,” berkata Kiai Gringsing.

“Terima kasih. Tentu kami akan menunggu sampai minuman dan makanan dihidangkan, bahkan seandainya Ki Demang menangkap beberapa ekor ayam dan disembelih. Tetapi rasa-rasanya aku ingin mencampakkan pesan yang seolah-olah menyumbat dadaku agar kemudian aku dapat duduk tenang dengan dada yang lapang.”

Kiai Gringsing pun menjadi semakin ingin mengetahui, persoalan apakah yang sedang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah kemudian, “agaknya kedatangan kami dengan sekelompok pengawal yang bersenjata lengkap seperti pergi kemedan perang, telah mengejutkan Sangkal Putung.”

Ki Demang mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Lurah. Bukan karena pengawal yang bersenjata lengkap, karena hal itu wajar sekali dilakukan dalam keadaan yang belum mantap benar seperti sekarang ini bagi Mataram. Tetapi justru kedatangan Ki Lurahlah yang telah mengejutkan kami.”

Ki Lurah Branjangan tersenyum, meskipun nampak senyumnya agak dipaksakannya karena kegelisahan.

Ki Demang yang sebenarnya juga ingin segera mengetahui persoalanya yang dibawa oleh Ki Lurah itu pun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya persoalan itu, Ki Lurah?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas. Wajahnya yang gelisah menjadi semakin bersugguh-sungguh. Dan diluar sadarnya ia memandang Kiai Gringsing sambil berkata, “Kiai, berita ini akan terasa sangat penting bagi Kiai.”

“Aku?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Baru beberapa hari Kiai meninggalkan Mataram. Tetapi telah terjadi sesuatu yang sangat gawat. Justru dalam keadaan seperti sekarang.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi wajahnya yang sudah berkerut oleh umurnya menjadi semakin berkerut.

“Kiai, sepeninggal Kiai, Mataram telah mengalami bencana, sebenarnya bencana.”

Kiai Gringsing yang bertanya-tanya di dalam hati itu pun masih juga terperanjat mendengar keterangan itu. Tetapi ia masih menahan diri dan membiarkan Ki Lurah Branjangan berkata seterusnya.

Tetapi Ki Lurah pun kemudian berkata, “Maaf Ki Demang, agaknya berita yang aku bawa hanya boleh didengar oleh orang tua-tua yang berkepentingan.”

Kata-kata Ki Lurah itu menjadi semakin menggelisahkan hati. Karena itu, maka Ki Demang pun kemudian berkata kepada bebahunya yang ada di pendapa itu, “Maaf, tinggalkan pendapa ini. Agaknya memang ada sesuatu yang penting. Tetapi jangan pergi terlampau jauh.”

Bebahu Sangkal Putung yang ada dipendapa itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka harus tunduk kepada Ki Demang yang minta mereka meninggalkan pendapa itu. Mereka pun menyadari, bahwa jika tidak dikehendaki, mereka tidak sewajarnya ikut membicarakan persoalan-persoalan penting yang barangkali langsung menyangkut perkembangan Mataram. Persoalan yang terlampau tinggi untuk mereka ketahui dan apalagi ikut memikirkannya.

Swandaru dan Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sesaat. Apakah ia boleh ikut mendengarkan atau tidak. Karena itu, mereka masih duduk saja ditempatnya ketika bebahu Sangkal Putung sudah mulai bergeser dari pendapa.

Tetapi agaknya Ki Luran Branjangan tidak berkeberatan. Ketika Ki Lurah mengangguk kedua anak muda itu justru mendekatinya.

Sejenak Ki Lurah Branjangan memandang berkeliling seakan-akan ingin meyakinkan, bahwa tidak ada lagi orang yang dapat mendengar kata-katanya.

“Silahkan Ki Lurah,” berkata Kiai Gringsing yang agaknya didesak oleh keinginannya untuk mengetahui persoalan yang dibawa oleh Ki Lurah itu.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Mataram telah kehilangan barang yang paling berharga bagi Raden Sutawijaya.”

“Apakah yang hilang?”

“Kanjeng Kiai Mendung.”

“Kanjeng Kiai Mendung,” hampir bersamaan orang-orang yang mendengar itu mengulang dengan wajah yang tegang.

Ki Lurah Branjangan mengangguk. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seakan-akan ia masih belum yakin bahwa tidak ada orang lain yang mendengarnya, “Bahkan lebih dari itu,” desisnya kemudian.

“Apalagi?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kanjeng Kiai Pleret.”

Setiap dada terguncang mendencar jawaban itu, sehingga justru sesaat mereka diam membeku.

“Keduanya hilang dalam satu saat.”

“Kapan?” bertanya Kiai Gringsing dengan nada yang dalam.

“Semalam. Baru semalam.”

“Apakah Ki Juru Martani tidak ada di Mataram?” bertanya Ki Waskita.

“Ada. Tetapi ia tidak kuasa mencegahnya.”

“Bagaimana mungkin,” potong Ki Sumangkar, “di Mataram ada Ki Juru Martani, Raden Sutawjaya, K Lurah dan pengawal-pengawal yang sudah memiliki kemampuan dan tata gerak seperti prajurit yang sebenarnya, karena sebagian dari mereka pun pernah menjadi prajurit.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semua terjadi diluar dugaan kami. Agaknya sekelompok orang-orang jahat telah dengan cermat mengamati keadaan sejak sebelum Ki Gede Pemanahan wafat.”

Terdengar Kiai Gringsing berdesis. Namun ia tidak berkata apa pun juga. Meskipun demikian nampak wajahnya menjadi semakin tegang.

“Kiai,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “tetapi dalam-hal ini Ki Juru berpesan, agar kehilangan itu dirahasiakan.Mataram akan kehilangan arti perkembangannya tanpa kedua pusaka itu. Selebihnya, Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani menjadi sangat takut, jika Kanjeng Sultan di Pajang menjadi sangat marah dan mengambil langkah-langkah yang dapat mematahkan sama sekali pertumbuhan Mataram.”

“Hampir tidak dapat dimengerti,” desis Ki Sumangkar.

“Memang hampir tidak dapat dimengerti,” gumam Ki Waskita.

“Apakah tidak ada isyarat atau tanda-tanda apa pun yang. pernah nampak oleh Ki Waskita,” tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan bertanya, “hilangnya kedua pusaka Mataram adalah suatu peristiwa yang besar. Karena itu, barangkali meskipun hanya seleret pernah nampak isyarat itu.”

Ki Waskita menggeleng lemah, katanya, “Aku tidak pernah menyangka bahwa hal serupa itu dapat terjadi, sehingga karena itu, maka seandainya ada isyarat, namun tentu berada diluar pengamatanku.”

“Meskipun demikian, barangkali tanda-tanda itu ada.”

“Inilah ciri kepicikan kemampuan seseorang Ki Lurah,” berkata Ki Waskita, “meskipun kadang-kadang aku dapat melihat isyarat itu, tetapi aku adalah seorang yang dibatasi oleh banyak sekali kekurangan.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Semula kami hanya pernah mendengar bahwa keris Kanjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten pernah hilang. Bahkan langsung dari gedung perbendaharaan istana Demak. Dan kini Mataram mengalami peristiwa yang hampir serupa.”

“Bagaimana hal itu terjadi?” bertanya Kiai Gringsing. Sekilas terkenang olehnya udara yang mencurigakan pada saat-saat terakhir ia berada di Mataram.

“Tentu ada hubungannya dengan hilangnya pusaka-pusaka itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam harinya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sesuatu telah terjadi semalam. Udara di Mataram bagaikan ditaburi dengan racun. Semua orang yang bertugas telah kehilangan kesadaran diri. Mereka tertidur ditempat tugas mereka masing-masing.”

“Sirep,” desis Ki Sumingkar, “masih juga ada orang yang mempergunakannya saat ini. Dan masih juga ada orang yang terpengaruh oleh kekuatannya.”

“Mungkin tidak akan dapat mempengaruhi kesadaran Ki Sumangkar, Kiai Gringsing dan Ki Waskita. Juga Ki Juru Martani. Tetapi mereka yang tidak memiliki ilmu yang cukup kuat akan segera terpengaruh. Aku tidak tahu, kenapa saat itu aku pun hampir kehilangar kesadaran. Juga Raden Sutawijaya. Hanya dengan berjuang sekuat-kuatnya kami dapat tetap sadar. Beberapa orang pemimpin di Mataram pun harus memusatkan segenap kemampuannya agar mereka tidak tertidur.”

“Jadi, bagaimana mungkin pusaka-pusaka itu hilang jika Ki Juru, Raden Sutawijaya, Ki Lurah sendiri dan beberapa orang pemimpin masih tetap menyadari dirinya. Dan apakah dalam keadaan yang demikian, Ki Juru dan para pemimpin di Mataram tidak segera menyadari bahwa pusat perhatian orang lain terhadap Mataram, sepeninggal Ki Gede adalah kedua pusaka itu?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung, seolah-olah ingin mengingat seluruh peristiwa itu kembali.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “seakan-akan memang tidak mungkin terjadi. Sekelompok orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi telah menyerang Mataram pada malam itu. Dan kami yang tetap mampu menyadari diri betapa pun pengaruh sirep itu menusuk kedalam jantung kami telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada.”

“Agaknya Ki Juru telah terpancing keluar rumah malam itu,”geram Kiai Gringsing.

“Memang sulit mengatakannya. Tetapi agaknya memang demikian. Ki Juru memang tidak mau meninggalkan bilik penyimpanan pusaka itu. Ia hanya bertempur di depan pintu karena seorang yang memiliki kelebilhan ilmu dari para penyerang yang lain telah mencoba masuk kedalam bilik itu. Namun ketika orang itu berhasil diusirnya, bahkan Ki Juru sudah menahan diri tanpa mengejarnya, ternyata pusaka-pusaka itu sudah tidak ada di dalam bilik.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian sekurang-kurangnya, diantara kelompok penyerang itu ada dua orang yang memiliki ilmu setingkat dengan Ki Juru. Yang pertama adalah yang bertempur di depan pintu, sedang yang lain yang berhasil mengambil pusaka itu dari dalam bilik.”

“Demikianlah agaknya. Orang yang mengambil pusaka itu ternyata telah memecahkan dinding kayu dan justru masuk dari ruang dalam.”

Mereka yang mendengar keterangan itu menjadi semakin tegang. Agung Sedayu dan Swandaru tanpa menyadarinya telah bergeser semakin dekat. Dengan suara bergetar Swandaru menyela, “Berapa orang yang datang malam itu Ki Lurah.”

“Tidak kurang dari tujuh atau delapan orang. Meskipun jumlah kami yang mampu melepaskan diri dari sirep yang kuat itu lebih dari sepuluh orang dan yang dengan sikap naluriah telah berkumpul dipendapa rumah Raden Sutawijaya, namun kami. tidak mampu menahan mereka karena sebagian dari kami memang sudah dipengaruhi oleh gangguan kekuatan sirep itu. Sebagian dari kami harus berjuang melawan kekuatan sirep dan bertempur sekaligus melawan orang-orang yang memiliki kemàmpuan yang cukup tinggi.”

Ki Sumangkar yang tegang itu pun tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jarang sekali orang yang dapat melontarkan kekuatan sirep yang sebenarnya. Jika orang-orang Mataram itu kemudian tertidur ditempat tugasnya, maka sirep itu tentu dilontarkan oleh seseorang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Mungkin. Tetapi gerombolan itu mungkin memiliki dua atau tiga orang yang bersama-sama mempergunakan ilmunya, sehingga kekuatan sirep itu menjadi berlipat,” desis Ki Waskita.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa sesuatu mencengkam jantungnya. Hilangnya kedua pusaka itu tentu akan mempunyai arti yang jauh bagi Mataram.

Karena itu, Kiai Gringsing sependapat, bahwa hilangnya kedua pusaka itu memang harus dirahasiakan. Bahkan orang-orang Mataram sendiri pun harus tidak mengetahuinya, selain beberapa orang pemimpin yang sangat terbatas.

“Kiai,” berkata Ki Lurah kemudian, “sebagian dari kami percaya, bahwa kedua pusaka itu adalah kelengkapan yang menentukan dari seseorang yang akan menjadi pemimpin. Bahkan ada diantara kami dan barangkali juga beberapa pihak yang percaya bahwa siapa yang dapat memiliki Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung akan dapat menjadi raja yang besar, meskipun masih harus dilengkapi dengan pusaka-pusaka yang lain, terutama Kanjeng Kiai Sangkelat.”

“Bagaimana dengan Kanjeng Kiai Nagasasra dan Kanjeng Kiai Sabuk Inten?”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Katanya, “Pusaka-pusaka itu memang harus dipersatukan jika seseorang ingin memiliki kedudukan yang kuat. Tetapi tidak mustahil bahwa gerombolan yang mengambil Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung akan berusaha untuk memiliki pusaka-pusaka yang lain, karena dengan memiliki sebagian dari pusaka-pusaka itu, masih belum berhasil dapat memegang pimpinan pemerintahan. Sekelompok kekuatan yang pernah menyimpan Kanjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten untuk beberapa lamanya ketika kedua pusaka itu hilang, ternyata sama sekali tidak berhasil merebut pemerintahan yang saat itu berada ditangan Sultan Trenggana di Demak. Bahkan kedua pusaka itu telah menyeret mereka kedalam malapetaka dan kemusnahan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah bahwa pusaka-pusaka itu mempunyai pengaruh pada seseorang yang memilikinya. Tetapi hubungan timbal balik antara kekuatan-kekuatan yang ada pada diri seseorang dan kemampuannya menyesuaikan diri dengan pengaruh yang ada pada pusaka-pusaka itulah sebenarnya yang dapat menentukan sifat-sifat yang terpancar dari pusaka-pusaka itulah yang harus di dalami dan luluh di dalam diri seseorang. Barulah pusaka itu mempunyai arti.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Lalu, “Kegelisahan yang besarlah yang kini tengah mencengkam Mataram.”

“Sudah tentu. Terlebih-lebih adalah Ki Juru Martani,” desis Ki Waskita.

“Ya,” sahut Ki Lurah, lalu tiba-tiba saja berkata kepada Ki Waskita, “Ki Waskita, sebagian harapan kami ada pada Ki Waskita. Tentu Ki Waskita dapat mengetahui siapakah yang telah mengambil pusaka-pusaka itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku mengerti maksud Ki Lurah. Tetapi Ki Lurah memerlukan penjelasan.”

Ki Lurah Branjangan memandang Ki Waskita dengan tatapan mata yang mengandung harapan. Meskipun demikian ada sesuatu yang agaknya harus diterimanya sebagai suatu kenyataan.

“Ki Lurah,” berkata Ki Waskita, “sebenarnyalah bahwa aku mendapat anugerah dapat melihat isyarat dari berbagai peristiwa dimasa mendatang. Tetapi sudah barang tentu amat sulit untuk mengetahui dimanakah kedua pusaka itu berada. Aku tidak dapat mengatakan dengan pasti, apa yang sebenarnya akan terjadi selain sebuah uraian tentang isyarat. Sedangkan pusaka-pusaka yang ada di Mataram itu telah hilang. Dan aku tidak dapat melihat, siapakah yang mengambilnya.”

“Tetapi setidak-tidaknya Ki Waskita dapat menunjukkan, apakah yang harus kami lakukan? Ki Waskita dapat mencari anak Ki Waskita yang hilang itu dengan arah yang tepat. Sudah barang tentu sekarang Ki Waskita dapat juga menunjukkan kepada kami, dimanakah pusaka itu berada. Di Barat, di Timur, di Selatan atau di Utara, atau dimana saja.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia memang belum mencoba untuk menangkap isyarat dari pusaka yang hilang itu. Tetapi seandainya ia berusaha sekalipun, belum tentu ia dapat menangkapnya. Hubungan antara dirinya dan pusaka itu tidak sedekat hubungan antara dirinya dengan anaknya, sehingga getaran yang paling halus pun mampu menyentuh mata hatinya. Apalagi jarak jangkau kemampuannya pun terbatas, sehingga tidak semua masalah dapat dicapainya dengan ketajaman penglihatan batinnya.

“Jika aku melihat seisi bumi peristiwa yang sudah dan yang akan terjadi, maka aku adalah Yang Maha Melihat. Dan jika aku berani menyangka diriku demikian, maka itu adalah alamat keruntuhanku sendiri,” berkata Ki Waskita kepada dirinya sendiri.

“Ki Lurah,” katanya kemudian, “keterbatasan pengetahuan manusia tidak dapat diingkari. Karena itu jangan terlampau banyak mengharap. Barangkali aku dapat berusaha melihat sesuatu yang dapat nampak, dalam hubungannya dengan pusaka-pusaka itu. Tetapi itu pun tentu terbatas sekali.”

“Cobalah Ki Waskita,” sahut Ki Lurah Branjangan, “Raden Sutawijaya mengharap bantuan Ki Waskita.”

“Tetapi sudah barang tentu Ki Lurah tidak tergesa-gesa. Ki Lurah akan beristirahat sebentar di Sangkal Putung. Atau barangkali bermalam satu atau dua malam.”

“Tentu tidak. Aku harus segera kembali. Bahkan jika mungkin, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita diharap pergi bersamaku ke Mataram.”

Undangan itu membuat hati Ki Demang menjadi berdebar-debar. Belum lagi ia dapat melaksanakan keinginannya untuk segera mengawinkan anaknya, tiba-tiba datang lagi persoalan yang mungkin dapat menunda saat-saat yang sudah lama ditunggunya itu.

Tetapi untuk memotong pembicaraan itu rasa-rasanya Ki Demang agak segan juga, karena ia mengerti bahwa masalahnya adalah masalah yang sangat penting bagi Mataram.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing dapat menangkap kegelisahan itu sehingga katanya, “Ki Lurah. Sudah barang tentu kami tidak akan berkeberatan. Tetapi kami mohon waktu sedikit. Dengan demikian kami mohon maaf bahwa kami tidak dapat pergi bersama Ki Lurah hari ini. Kami akan segera menyusul, mungkin besok, mungkin lusa.”

Ki Lurah Branjangan merasa menjadi sangat kecewa. Tetapi ia pun dapat mengerti, agaknya Kademangan Sangkal Putung sudah disibukkan oleh persiapan saat-saat perkawinan Swandaru.

Kiai Gringsing pun dapat membaca kekecewaan yang tersirat di wajah Ki Lurah itu. Katanya, “Ki Lurah. Agaknya aku sudah dipastikan oleh Ki Demang untuk sekali lagi pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menyampaikan keputusan terakhir dari pembicaraan yang berkepanjangan tentang Angger Swandaru. Aku akan datang ke Tanah Perdikan Menoreh dengan kepastian waktu, saat dan upacara yang akan sama-sama dilakukan, baik di Tanah Perdikan Menoreh, mau pun di Sangkal Putung.”

“Dalam perjalanan itu Kiai akan singgah di Mataram?” bertanya Ki Lurah.

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, “mungkin aku dapat melakukan tugas yang dibebankan oleh Ki Demang, sekaligus menghadap Ki Juru Martani. Aku ingin lebih banyak mengetahui persoalan yang sedang menggelisahkan Mataram.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bergeser maju. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Dilihatnya diregol halaman, beberapa orang bebahu dan pengawal sedang bercakap-cakap.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “ada sesuatu yang harus aku tunjukkan kepada Kiai. Kecuali isyarat yang kami harapkan dapat dilihat oleh Ki Waskita, maka barangkali pertanda yang kami ketemukan setelah terjadi pertempuran dipintu bilik pusaka itu dapat memberikan sedikit petunjuk.”

Kiai Gringsing menjadi semakin tegang. Bahkan ia pun bergeser setapak sambil bertanya, “Pertanda apa yang dapat kau lihat?”

“Bukan saja aku lihat, tetapi diketemukan oleh Ki Juru. Sekarang tanda itu ada padaku dan atas perintah Ki Juru, tanda itu supaya aku tunjukkan kepada Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku ingin sekali melihat tanda itu.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian mengambil sebuah kampil kecil dari kantung ikat pinggang kulitnya yang lebar. Kemudian kampil kecil itu pun diberikannya kepada Kiai Gringsing sambil berkata, “Kampil itulah yang diketemukan oleh Ki Juru Martani. Silahkan melihat isinya. Barangkali Kiai dapat memberikan tanggapan atas benda itu.”

Dengan dada yang berdebar-debar Kiai Gringsing menerima kampil kecil itu dari tangan Ki Lurah Branjangan. Sebuah kampil dari kain berwarna putih, meskipun agaknya sudah cukup tua sehingga menjadi kekuning-kuningan.

Pada saat Kiai Gringsing menerima kampil itu sudah terasa ditangannya sebuah benda yang pipih di dalamnya. Sebuah benda yang membuat jantungnya semakin cepat berdetak.

“Ternyata kedua pusaka itu benar-benar telah mengundang kesulitan bagi Mataram,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “namun kedua benda itu memang dapat memberikan pengaruh bagi mereka yang memilkinya. Kanjeng Kiai Pleret adalah pusaka yang tidak ada duanya. Sentuhan ujung tombak itu, dan goresan setebal rambut terbagi tujuh, telah dapat melepaskan nyawa orang yang paling sakti sekalipun, bahkan yang memiliki ilmu kebal rangkap lima. Ilmu Lembu Sekilan, ilmu Tameng Waja dan segala macam ilmu keteguhan jasmaniah yang lain yang terpancar dari tenaga cadangan di dalam diri seseorang. Sedangkan Kanjeng Kiai Mendung adalah perlambang kekuasaan yang dilimpahkan oleh Kanjeng Sultan Pajang bagi putera angkatnya, seolah-olah memang demikianlah yang dikehendakinya, bahwa Pajang akan mengalirkan kekuasaannya ke Mataram. Dan kini kedua pusaka itu telah hilang.”

Tanpa disadarinya, dengan dada yang berdebar-debar Kiai Grinsing mencoba untuk mengetahui isi kampil kecil itu dengan jari-jarinya. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdentangan. Rasa-rasanya benda di dalam kampil itu akan sangat mengejutkannya.

Tetapi Kiai Gringsing tidak dapat menduga, apakah yang akan ditemukannya di dalam kampil itu. Sehingga karena itu, ia pun kemudian dengan tangan yang gemetar membuka ikatannya perlahan-lahan.

Bukan saja Kiai Gringsing yang menjadi tegang. Tetapi mereka yang menunggu tangan Kiai Gringsing mengambil benda yang berada di dalam kampil itu pun menjadi tegang pula. Ki Sumangkar, Ki Waskita, Agung Sedayu, Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung seolah-olah tidak sabar lagi menunggu, apakah yang akan dilihatnya.

Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang pengawal terpercaya dari Mataram, yang merupakan orang-orang tertentu yang boleh mengetahui rahasia hilangnya kedua pusaka itu, menjadi tegang pula meskipun mereka sudah melihat benda yang berada di dalam kampil itu.

Sesaat kemudian maka Kiai Gringsing pun menarik benda yang berada di dalam kampil itu. Sebuah benda yang pipih kehitam-hitaman, yang ternyata adalah kepingan perak hitam yang dipahat dengan sebuah lukisan.

Sejenak Kiai Gringsing mengamat-amati lukisan itu. Semakin lama nampak ia menjadi semakin tegang dan gelisah. Keningnya yang memang sudah berkerut-merut menjadi semakin berkerut lagi.

Pendapa itu bagaikan dicengkam oleh kesenyapan yang tegang. Tidak seorang pun yang bergerak, apalagi berdesah. Bahkan mereka seolah-olah menahan nafas masing-masing.

Dengan tanpa berkedip mereka memandang benda yang dipegang oleh Kiai Gringsing itu.

Meskipun tidak terucapkan, namun seolah-olah setiap sorot mata yang menatap benda itu memancarkan pertanyaan yang menyesak di dalam hati. Benda yang rasa-rasanya mempunyai arti yang besar bagi hilangnya kedua pusaka itu dari Mataram.

Tiba-tiba dalam keheningan yang menyesak itu, terdengar suara Kiai Gringsing, “Benda ini mempunyai arti tersendiri. Tetapi apakah benda ini terjatuh selagi pemiliknya bertempur melawan Ki Juru Martani, atau dengan sengaja dijatuhkannya untuk memberikan tekanan atas tindakannya mengambil kedua puasaka itu?”

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “di dalam kampil itu masih ada secabik kain yang bertuliskan beberapa kata yang tentu akan sangat menarik.”

Kiai Gringsing rasa-rasanya tidak sabar lagi. Dengan tergesa-gesa tangannya meraih sesobek kain yang memang terdapat di dalam kampil itu.

Mereka yang menyaksikan sesobek kain itu pun sekali lagi terperanjat. Kain itu ditulisi dengan huruf-huruf berwarna merah.

“Darah,” desis Ki Sumangkar.

“Ya. Agaknya kain ini ditulisi dengan darah,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-nya, “Ki Juru juga berkata demikian.”

“Cobalah membaca Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Memang ada kesengajaan. Benda itu dengan sengaja di jatuhkannya.”

“Apakah bunyi surat berwarna darah itu Kiai?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing mengamat-amati sesobek kain itu. Kemudian membacanya, “Kamilah yang berhak atas pusaka-pusaka itu, karena hanya kamilah yang berhak mewarisi kejayaan tahta Majapahit.”

“Kiai,” desis Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas. Katanya, “Agaknya pertanda ini adalah pertanda dari sebuah perguruan yang semula tidak pernah berkembang. Tetapi pimpinan dari perguruan itu langsung merupakan keturunan dari Majapahit.”

“Kiai,” Ki Waskita bergeser, “yang dikenal oleh Ki Juru Martani keturunan langsung dari Majapahit adalah Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita dengan tegang. Ia mengerti maksud Ki Waskita, sehingga karena itu maka ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Tetapi Ki Juru tentu tidak akan dengan tergesa-gesa menyangka, bahwa akulah yang telah datang mengambil pusaka-pusaka itu.”

Ki Lurah Branjangan nampak menjadi semakin gelisah.

Kemudian katanya, “Memang tidak Kiai. Meskipun semula Ki Juru terganggu juga untuk menyebut nama Kiai Gringsing, tetapi benda itu memberikan petunjuk kepada Ki Juru bahwa bukan perguruan Empu Windujatilah yang telah mengambil pusaka-pusaka itu.”

Kiai Gringsing terkejut. Katanya, “Apakah kau mengetahui beberapa hal tentang Empu Windujati.”

“Dalam keadaan yang tegang, Ki Juru Martanl mengucapkannya. Seperti juga baru saja diucapkan oleh Ki Waskita tanpa sadar bahwa Kiai adalah keturunan langsung dari Majapahit.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang kedua muridnya yang terheran-heran. Tetapi Kiai Gringsing masih sempat berkata, “Hampir setiap orang dapat menyebut dirinya keturunan Majapahit. Aku pun dapat menganggap diriku demikian. Tetapi, jarak antara Majapahit dan aku sudah terlampau jauh.”

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “pengawal-pengawalku adalah orang-orang yang terpercaya dan terikat sumpah akan ke-setiaannya. Mereka tidak akan berbuat sesuatu diluar kehendak kami bersama.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Lihatlah Ki Lurah Branjangan. Benda perak hitam ini menunjukkan ciri-ciri khusus. Lihatlah bentuk perisai yang aneh itu. Bulat tetapi bergerigi. Kemudian ditengah-tengahnya terdapat perlambang yang aneh pula. Bukan binatang yang garang dan mempunyai lambang kekuatan. Tetapi seekor kelelawar. Perlambang dari salah satu bentuk kehidupan malam yang hitam.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali ia memandang wajah Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang masih saja diliputi oleh ketegangan. Terlebih-lebih Ki Waskita yang bukan saja karena benda dan surat yang masih dipegang oleh Kiai Gringsing, tetapi juga keterlanjurannya menyebut hubungan antara Kiai Gringsing dengan Majapahit.

“Tetapi pada suatu saat kedua muridnya itu pun harus mengetahuinya pula. Apalagi peristiwa hilangnya kedua pusaka itu akan memaksa Kiat Gringsing berbuat sesuatu atas nama perguruan Empu Windujati meskipun dalam lingkungan yang sangat terbatas. Tetapi karena seseorang telah menyebut dirinya keturunan Majapahit yang merasa berhak atas warisan tahta dan kejayaan Majapahit, maka pada suatu saat tidak ada jalan lain bagi Kiai Gringsing untuk menyebut dirinya keturunan Majapahit pula dalam menghadapi orang yang mempunyai perlambang yang aneh itu.”

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Lurah Branjangan, menurut pengamatanku, bahwa orang-orang yang mempergunakan ciri binatang dalam kehidupan kelam itu memang mungkin keturunan Majapahit. Tetapi aku masih harus mencari hubungan dengan nama-nama yang masih aku kenal. Seperti yang kita ketahui, orang yang menyebut dirinya keturunan Majapahit terlampau banyak. Bahkan siapa pun dapat menyebut dirinya keturunan raja-raja Majapahit, karena terlampau sulit untuk membuktikannya apakah pengakuannya itu benar atau tidak.”

“Tetapi yang meninggalkan benda ini?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Menurut dugaanku, orang yang menimggalkan benda ini benar-benar orang yang merasa dirinya berhak mewarisi kerajaan Majapahit.”

“Apakah ada tanda yang Kiai kenal?”

“Aku masih harus menyelidikinya. Tetapi rasa-rasanya aku mendapat firasat, bahwa masih ada keturunan yang sebenarnya, yang merindukan kejayaan Majapahit. Tetapi bukan kejayaan Majapahit sebagi suatu negeri, namun yang diimpikannya adalah semata-mata kamukten yang akan didapatkannya apabila benar-benar wahyu keraton dapat di-milikinya dengan menyimpan pusaka-pusaka yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap tegaknya sebuah kerajaan.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu, “Kiai, sebaiknya Kiai bertemu dengan Ki Juru Martani. Mungkin Kiai dan Ki Juru akan dapat memecahkan teka-teki yang terdapat pada benda yang aneh dan menyimpan rahasia itu.”

“Baiklah Ki Lurah. Besok atau lusa aku tentu akan singgah di Mataram.”

“Jangan terlampau lama Kiai. Pusaka itu tentu sudah menjadi terlampau jauh, sehingga kemungkinan untuk segera diketemukan menjadi semakin kecil.”

“Tentu, segera,” jawab Kiai Gringsing, “sebenarnyalah bahwa aku pun berkepentingan dengan diketemukannya pusaka-pusaka itu. Bukan karena kepentingan pribadi, tetapi jika pusaka-pusaka itu masih berada ditangan orang-orang yang merasa dapat mewarisi kedudukan tahta Majapahit dengan mengumpulkan pusaka-pusaka serupa itu, maka ketenteraman tidak akan dapat terwujud. Orang-orang itu tentu akan berusaha untuk mendapatkan pusaka-pusaka yang lain dan yang lain, sehingga keributan akan terjadi dimana-mana.”

“Terima kasih Kiai. Mudah-mudahan Kiai akan segera berada di Mataram.”

“Lalu, bagaimana dengan benda ini? Jika tidak berkeberatan, apakah benda ini dapat aku pinjam sejenak. Pada saat aku singgah di Mataram, benda ini akan aku kembalikan kepada Ki Juru Martani.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Beberapa saat ia menimbang-nimbang. Tetapi agaknya Ki Juru Martani tidak akan marah karena benda itu berada ditangan orang yang dapat dipercaya.

“Tentu orang yang mengambil pusaka-pusaka itu tidak ada hubungannya dengan Kiai Gringsing. Ciri Kiai Gringsing berbeda sekali dengan ciri yang terpahat pada benda pipih dari perak hitam itu,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya.

Dengan demikian maka akhirnya ia mengangguk sambil berkata, “Aku percayakan benda itu kepada Kiai. Dan tentu Kiai akan membawanya dan mengembalikannya kepada Ki Juru dalam waktu yang singkat. Apalagi agaknya Ki Juru ingin segera berbicara dengan Kiai dalam persoalan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Dan aku benar-benar akan segera datang.”

“Jika demikian, maka agaknya keperluanku untuk datang ke Sangkal Putuing sudah selesai. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri.”

“Ah,” potong Ki Demang, “demikian tergesa-gesa.”

“Mataram baru dalam keadaan yang gawat.”

“Tetapi nanti dulu. Bagaimana pun juga aku belum dapat melepaskan Ki Lurah dan para pengawal meninggalkan pendapa ini, karena jika demikian, maka perempuan-perempuan yang sedang dengan tergesa-gesa menyiapkan hidangan makan akan menjadi sangat kecewa. Sebentar lagi, dan kita akan makan bersama-sama.”

Ki Lurah tidak dapat memaksa, karena dengan demikian Ki Demang akan benar-benar menjadi kecewa. Karena itu maka mereka pun terpaksa menunggu sejenak.

Sementara itu Ki Lurah masih sempat berkata, “Bahwa semuanya yang terjadi, tetap merupakan rahasia bagi rakyat Mataram. Selain, orang-orang yang sangat terbatas, tidak ada yang mengetahui bahwa kedua pusaka itu hilang. Rakyat Mataram sama sekali tidak akan pernah membicarakan kedua pusaka itu, karena mereka sama sekali tidak menge-tahui bahwa sesuatu telah terjadi.”

“Baiklah,” jawab Kiat Gringsing, “kami pun akan membatasi diri. Tidak akan ada orang lain yang mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu telah hilang, dan tidak ada orang lain yang akan mengatakan bahwa langsung atau tidak langsung Kiai Gringsing mempunyai hubungan dengan darah keturunan Majapahit.”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Baik Kiai. Kami akan memegang semua rahasia itu sebaik-bailknya. Jika rahasia itu terlontar dari antara kita dan didengar oleh banyak orang, maka kegelisahan akan segera timbul dan mengganggu perkembangan Mataiam selanjutnya.”

“Kita akan berbuat sebaik-baiknya. Kami di sini pun akan dapat berbuat dengan sikap dewasa.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia memang percaya sepenuhnya kepada orang-orang yang kini berada di Kademangan Sangkal Putung itu, bahwa mereka adalah orang-orang yang matang di dalam sikap dan perbuatan. Bahkan Ki Demang Sangkal Putung pun tentu akan berbuat serupa pula.

Demikianlah maka mereka pun segera mengakhiri pembicaraan yang mereka anggap rahasia itu. Karena itu maka para bebahu dan orang-orang lain yang berada diluar pendapa, segera dipersilahkannya naik lagi ketika kemudian hidangan mulai mengalir dari dapur.

Sejenak kemudian maka mulailah Ki Demang menjamu tamu-tamunya. Beberapa orang bebahu tidak ikut makan bersama karena mereka baru saja makan di rumah masing-masing. Meskipun demikian mereka ikut pula dipendapa melingkari hidangan yang masih panas.

Sambil menyuapi mulut masing-masing, mereka yang berada dipendapa Kademangan Sangkal Putung itu pun berbicara tentang berbagai macam persoalan. Tetapi sebagian besar pembicaraan mereka berkisar kepada saat-saat mendekati perkawinan Swandaru.

Namun Swandaru sendiri tidak terlampau banyak ikut campur dalam pembicaraan itu. Hanya sekali-sekali saja ia tertawa dan menyahut menurut tanggapannya yang kadang-kadang memang dapat menumbuhkan gelak tertawa.

Tetapi sebenarnya Swandaru sendiri sedang diganggu oleh persoalan yang dihadapi oleh Mataram, ditambah lagi persoalan yang samar-samar tentang gurunya.

“Apakah hubungannya pusaka-pusaka yang hilang itu dengan keturunan darah Majapahit. Dan apakah hubungannya gurunya dengan darah Majapahit itu pula,” bertanya Swandaru di dalam hatinya.

Namun demikian ia harus menyimpan pertanyaan itu dalam hati karena yang selalu terdengar di antara mereka justru persoalan Swandaru itu sendiri.

Kecuali Swandaru, Agung Sedaya pun selalu diganggu oleh pertanyaan yang serupa. Namun ia berusaha menyisihkan persoalan itu untuk beberapa saat, karena ia tidak akan dapat merenunginya sebaik-baiknya di dalam pertemuan itu, justru karena mereka yang ada dipendapa itu dengan sengaja berusaha untuk mengesampingkannya pula.

Setelah mereka selesai dengan jamuan makan, dan setelah beristirahat sejenak, Ki Lurah Branjangan tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Ia pun segera mohon diri kepada Ki Demang Sangkal Putung sambil berkata, “Ki Demang, lain kali kami akan datang lagi. Bukankah Ki Demang akan segera menyelenggarakan peralatan perkawinan Angger Swandaru, dan yang akan segera disusul pula dengan adiknya? Ki Demang, agaknya beruntung pula Angger Agung Sedayu, karena ternyata Sekar Mirah pandai pula memasak. Aku kira hidangan yang baru saja kita nikmati adalah hasil tangan Sekar Mirah.”

Ki Demang hanya tersenyum saja. Agung Sedayu bahkan menundukkan kepalanya dengan wajah yang kemerah-merahan.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan, bersama para pengawalnya pun segera bergeser dari tempatnya. Mereka benar-benar akan meninggalkan Sangkal Putung untuk segera kembali ke Mataram.

Ki Demang Sangkal Putung tidak dapat menahan mereka lagi. Ia mengerti, persoalan yang sedang dihadapi oleh Mataram adalah persoalan yang memang gawat. Karena itu, maka dilepaskannya tamunya meninggalkan Kademangannya.

Setelah sekali lagi minta diri, maka Ki Lurah Branjangan pun segera menuntun kudanya keregol halaman. Ia masih sempat minta diri pula kepada Sekar Mirah yang ikut mengantar tamu-tamunya sampai kepintu halaman.

“Aku menunggu undangan yang akan diberikan oleh Ki Demang,” berkata Ki Lurah kepada Sekar Mirah, “setelah kakakmu, tentu segera kau akan menyusul.”

“Ah,” desah Sekar Mirah. Tetapi ia tidak melanjutkannya. Ki Lurah Branjangan adalah seorang yang belum terlampau dikenalnya, meskipun ia mengertinya bahwa Ki Lurah itu adalah salah seorang pemimpin dari Mataram yang sedang tumbuh dan berkembang.

Sepeninggal tamu-tamunya dari Mataram, dan setelah orang-orang lain meninggalkan pendapa, maka mulailah Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Sumangkar dan Ki Demang berbincang tentang hilangnya pusaka-pusaka yang dirahasiakan itu.

“Kiai Gringsing,” berkata Ki Waskita, “apakah Kiai sama sekali tidak mengerti, ciri-ciri yang nampak pada benda yang agaknya dengan sengaja ditinggalkan itu, sesuai dengan bunyi kalimat yang ditulis pada sesobek kain dengan warna darah itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Banyak orang yang merasa dirinya keturunan Majapahit. Seperti yang Ki Waskita ketahui, saat Majapahit pecah, banyaklah para penghuni Istana, yang berpencaran mengungsi. Bahkan sebelum itu pun sudah banyak keturunan Majapahit yang bertebaran karena sudah barang tentu tidak semuanya akan selalu berada dalam lingkungan yang sama. Dan mereka serta keturunan mereka pun berhak menyebut diri mereka keturunan langsung dari Majapahit.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Arya Penangsang pun dapat menyebut dirinya keturunan Majapahit. Karena itulah maka ia merasa dirinya lebih dekat dengan tahta Demak daripada Mas Karebet, anak dari Pengging itu.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

“Mas Karebet hanyalah seorang menantu dari Sultan Trenggana. Tetapi Arya Penangsang adalah putera dari Pangeran Sekar Seda Lepen.”

“Apakah sekarang akan tumbuh lagi orang-orang yang merasa dirinya berhak atas tahta dan berbuat seperti Arya Penangsang itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab, Justru karena ia merasa salah seorang yang pernah berada di dalam lingkungan Arya Penangsang. Ia adalah adik seperguruan Patih Jipang yang pernah dianggap mempunyai nyawa rangkap.

“Korban telah cukup banyak,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “memang tidak seharusnya terjadi lagi pertentangan yang apalagi melahirkan peperangan seperti yang pernah terjadi antara Jipang dan Pajang.”

“Bukan hanya Jipang dan Pajang,” desis Kiai Gringsing.

“Ya. Kematian yang disebar oleh Arya Penangsang mencengkam daerah yang sangat luas. Prawata, Kalinyamat, dan Pajang. Memang seperti yang aku katakan, sudah cukup banyak. Karena itu, bukanlah berita yang menggembirakan jika masih ada orang yang beralaskan keturunan darah Majapahit kemudian dengan sengaja menumbuhkan pertentangan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi nampak betapa pahitnya kenyataan yang harus dihadapinya. Benda yang masih ada ditangannya itu di timangnya, kemudian setelah diamat-amatinya beberapa saat, dimasukkannya kembali ke dalam kampil kecil dan disimpannya di dalam kantung ikat pinggangnya yang lebar. Namun setiap kali dengan kerut merut dikening, benda itu diambilnya, diamat-amati sejenak, dan disimpannya lagi.

“Kiai,” berkata Ki Waskita kemudian, “persoalan yang dihadapi oleh Mataram kali ini adalah persoalan yang gawat sekali. Beberapa kali ada usaha untuk membenturkan Mataram dengan Pajang. Tetapi usaha itu tidak pernah berhasil. Kini ternyata ada tindakan lain yang dilakukan. Langsung memasuki rumah Raden Sutawijaya. Bukankah cara yang ditempuhnya semakin mendekati kekerasan langsung terhadap Mataram.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka tentu mengharap hilangnya kedua pusaka itu, setidak-tidaknya akan mematahkan gairah perjuangan Raden Sutawijaya. Seandainya kedua pusaka itu tidak cukup mempunyai pengaruh yang menentukan dalam memperebutkan wahyu keraton, maka jika benar Raden Sutawijaya menjadi kehilangan cita-citanya, maka selangkah mereka telah maju sebelum mereka akan mengambil pusaka-pusaka yang lain yang mereka anggap akan dapat menentukan kedudukan mereka dari Istana Pajang, tanpa lagi perlu menghiraukan Mataram, karena Mataram telah menjadi buram dan akhirnya akan padam dengan sendirinya.”

Yang mendengar pendapat itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala. Gambaran-gambaran yang buram memang telah mencengkam hati. Namun mereka adalah orang-orang tua yang cukup dewasa menilai keadaan dengan bijaksana dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu, Ki Demang Sangkal Putung, selain menjadi ikut berprihatin atas hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu, ia pun dibebani pula oleh perasaan gelisah, bahwa perkawinan anaknya akan terganggu. Meskipun demikian untuk menjaga perasaan tamu-tamunya, Ki Demang sama sekali tidak mengatakannya.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing dapat menangkap perasaan yang tersirat pada tatapan mata yang gelisah itu, sehingga katanya, “Ki Demang, agaknya Ki Demang tidak usah ikut melibatkan diri kedalam kericuhan yang terjadi. Seperti rakyat Mataram pada umumnya, mereka tidak akan terpengaruh sama sekali oleh hilangnya kedua pusaka itu, karena mereka memang tidak mengetahuinya. Sebaiknya Ki Demang tetap melanjutkan semua pembicaraan dan rencana yang telah tersusun.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia bergumam, “Jalan ke Menoreh melintasi daerah yang gawat jika terjadi sesuatu dengan Mataram. Kekisruhan yang mungkin tumbuh didaerah itu akan dapat menghambat perjalanan Swandaru dan pengiringnya.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tentu tidak. Tentu tidak akan timbul pergolakan apa pun juga dalam satu dua pekan mendatang. Bahkan mungkin sebulan lagi karena Mataram sedang mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan dapat dipakainya sebagai pancadan untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang. Seandainya terjadi benturan-benturan kekuatan dalam waktu dekat, tentu tidak akan terjadi di sekitar Mataram.”

Ki Demang mengangguk-angguk.

“Ki Demang, sebaiknya Ki Demang tidak terpengaruh oleh berita yang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan. Kapan Ki Demang memerlukan, kami akan segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kami akan mengatakan semua pesan Ki Demang. Semua keputusan yang sudah diambil dan semua persiapan yang harus dilakukan oleh pihak Pandan Wangi.”

“Terima kasih Kiai. Tetapi rasa-rasanya memang sukar untuk melepaskan diri sama sekali dari pengaruh berita yang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan.”

“Kami mengerti. Tetapi kami harus dapat membagi perhatian kami. Memang mungkin kami akan melakukan dua tugas sekaligus jika kami pada saatnya pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya, “Semuanya sudah tersusun. Terserah kepada Kiai, kapan Kiai akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh. Keputusan kami sekeluarga, berdasarkan keputusan pembicaraan orang-orang tua di Sangkal Putung.”

“Tetapi keputusan itu harus dimatangkan, dan suatu kepastian harus diambil agar kelak tidak akan dapat menumbuhkan persoalan lagi.” .

“Baiklah. Aku akan mengundamg orang-orang tua sekali lagi. Lalu semuanya akan pasti. Dan Kiai akan segera berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Memang ia pun ingin segera pergi, sekaligus menemui Ki Juru Martani di Mataram yang tentu sedang dicengkam oleh kegelisahan dan kekhawatiran atas hilangnya kedua pusaka itu.

“Mudah-mudahan hilangnya dua pusaka itu akan tetap merupakan rahasia yang tidak akan pecah dan mengalir ke luar dinding rumah Raden Sutawijaya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Demikianlah maka persoalan-persoalan yang susul menyusul tumbuh dihati Ki Demang di Sangkal Putung dan tamu-tamunya. Betapa mereka berusaha untuk memisahkan persoalan yang satu dengan yang lain, namun di dalam diri mereka, keduanya saling berdesakkan berebut tempat.

Di dalam biliknya, Kiai Gringsing masih selalu mengamati benda yang berlukiskan ciri-ciri yang belum dapat dikenalnya itu. Bahkan Kiai Gringsing pun kemudian mengambil kesimpulan, bahwa ciri-ciri yang terpahat pada benda pipih yang terbuat dari perak bakar yang berwarna kehitam-hitaman itu tentu ciri-ciri yang baru saja dibuat oleh sebuah perguruan yang menyebut dirinya keturunan langsung dari Majapahit. Ciri-ciri itu tentu bukan seperti ciri-ciri yang terdapat dipergelangan tangannya, karena hampir setiap perguruan mengenal perguruan yang dipimpin oleh Empu Windujati. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

Ia pun teringat betapa orang-orang dari goa yang disebut Susuhing Angin mencoba mencampuri persoalan yang saat itu membakar Demak oleh api pertentangan antara Pajang dan Jipang. Dalam keadaan yang mendesak sekali, ia pun mulai melepaskan ciri-ciri perguruan Windujati, Dan ternyata ciri-ciri itu membawa pengaruh atas orang-orang dari goa yang disebut Susuhing Angin itu. Mereka dengan diam-diam menarik diri dari persoalan yang sedang membakar Pajang dan Jipang, karena mereka tidak bersedia berhadapan dengan orang-orang dari perguruan Windujati.

“Apakah orang-orang yang mengambil pusaka-pusaka itu dan menyatakan dirinya keturunan darah Majapahit itu akan dapat dipengaruhi dengan ciri-ciri perguruan Windujati?” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri.

“Semuanya masih samar-samar,” ia menjawab sendiri, “mungkin mereka justru memancing timbulnya orang-orang yang menganggap diri mereka keturunan Majapahit pula,” berkata Kiai Gringsing kemudian di dalam hatinya, “karena itu, agaknya lebih baik bagiku untuk menunggu. Jika datang saatnya, maka perkembangan keadaan akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya aku lakukan.”

Dengan demikian, maka akhirnya Kiai Gringsing tidak berusaha untuk mengambil sikap apa pun juga sebelum ia dapat bertemu dengan Ki Juru. Yang dapat dilakukannya segera adalah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh membawa pesan Ki Demang dan ikut membantu penyelenggaraan peralatan perkawinan itu.

Namun demikian, sekali-sekali Kiai Gringsing tanpa disadarinya, memandang lukisan yang ada di pergelangan tangannya. Seakan-akan ia ingin meyakinkan dirinya, bahwa ciri-ciri itu masih akan tetap mempunyai pengaruh terhadap me reka yang mengaku keturunan darah Majapahit.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berbuat apa-apa. Ia benar-benar menunggu sampai saatnya ia akan pergi ke Mataram.

Selain Kiai Gringsing sebenarnyalah bahwa Ki Sumangkar dan Ki Waskita pun selalu dipengaruhi oleh berita hilangnya kedua pusaka yang diambil oleh orang-orang yang dengan sengaja menyebut dirinya keturunan Majapahit itu. Tetapi agaknya mereka mengerti, bahwa Kiai Gringsing masih belum ingin membicarakannya, sampai saatnya mereka berada di Mataram.

Karena itu, maka mereka pun tanpa berjanji tidak menanyakan lebih lanjut tentang kedua pusaka yang hilang dan tentang ciri yang sengaja ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka-pusaka itu. Seolah-olah mereka pun telah bersepakat untuk membicarakannya kelak apabila diantara mereka terdapat Ki Juru Martani..

Yang menjadi persoalan seterusnya adalah hari-hari perkawinan Swandaru. Ki Demang memanggil orang-orang tua di Kademangannya untuk sekali lagi mematangkan pembicaraan. Seterusnya, mereka bersama telah sependapat, bahwa Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskitalah yang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menyampaikan keputusan yang terakhir itu.

Kiai Gringsing tanpa mempertimbangkannya lagi langsung menerima tugas itu. Semula ia berniat untuk mengantarkan saja satu atau dua orang tua dari Sangkal Putung yang akan dengan resmi mewakili Ki Demang. Tetapi karena keadaan yang berkembang tanpa dikehendakinya, maka ia mengurungkan niatnya, dan langsung mengambil tugas itu diatas pundaknya.

“Jika ada orang lain diantara kami, maka ia justru hanya akan mengganggu tugas kami dan terlebih-lebih lagi semua pembicaraan dengan Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati, lalu, “adalah kebetulan sekali aku adalah guru Swandaru yang dapat mewakili orang tuanya sepenuhnya, seperti orang-orang tua dari Sangka1 Putung.”

“Perkawinan akan berlangsung kira-kira empat puluh hari lagi,” berkata Ki Demaug kepada Kiai Gringsing, “masih ada waktu untuk memberitahukan kepada Ki Gede Menoreh. Jika Ki Gede mempunyai pertimbangan lain, masih ada waktu pula untuk merubah saat itu. Mudah-mudahat perjalanan Kiai tidak terganggu oleh peristiwa apa pun sehingga Kiai baru dapat kembali ke Sangkal Putung setelah lewat empat puluh hari.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kami akan secepatnya kembali. Jika ada persoalan yang menghambat perjalanan kami, maka salah seorang dari kami akan mendahului dan memberitahukan hasil perjalanan kami.”

Ternyata yang kemudian menjadi tergesa-gesa adalah Kiai Gringsing. Sebelum Ki Demang menentukan saat keberangkatan mereka, Kiai Gringsing sudah berkata, “Besok pagi-pagi aku akan berangkat.”

Hampir saja Ki Demang menebak maksud Kiai Gringsing, bahwa ia akan segera menemui Ki Juru untuk membicarakan masalah pusaka-pusaka yang hilang. Untunglah ia pun segera menyadari bahwa hilangnya kedua-pusaka itu merupakan rahasia yang harus disimpan rapat-rapat.

Namun oleh karena Ki Demang mengerti kepentingan yang sebenarnya mendorong Kiai Gringsinn untuk pergi dengan segera, maka ia pun menjawab, “Baiklah Kiai. Bagi kami semakin cepat semakin baik. Juga bagi Ki Gede Menoreh. Kira-kira selapan hari adalah waktu yang sangat pendek bagi persiapan peralatan perkawinan. Apalagi bagi seorang anak perempuan Kepala Tanah Perdikan. Meskipun sebelumnya Ki Argapati tentu sudah membuat beberapa persiapan, namun kepastian hari baru akan didengarnya setelah Kiai sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Kami menyadari,” sahut Kiai Gringsing, “karena itu kami akan segera pergi.”

Ternyata bahwa waktu keberangkatan itu telah menjadi keputusan. Kiai Gringsing dan kedua kawannya akan berangkat pada pagi-pagi dihari berikutnya.

Di malam hari menjelang keberangkatan Kiai Gringsing, maka dipanggilnyalah kedua murid-muridnya. Kepada Swandaru ia berkata, “Kau akan menempuh suatu masa yang paling penting di dalam kehidupanmu. Karena itu, sebaiknya untuk sementara kau tinggal di rumah. Tidak baik kau ikut dalam perjalanan yang mungkin akan dapat membahayakan dirimu.”

Swandaru menganggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa. calon pengantin tidak dibenarkan untuk menempuh perjalanan yang jauh apalagi berbahaya.

Kemudian Kiai Gringsing berpaling kepada Agung Sedayu, “Kau pun tidak perlu mengikuti perjalanan kami kali ini. Kau kawani Swandaru di rumah. Lebih daripada itu, kalian harus mengerti, bahwa kemungkinan-kemungkinan yang gawat dapat terjadi pula atas Sangkal Putung. Karena itu, tenagamu mungkin sangat diperlukan disini. Kau, Swandaru dan Sekar Mirah, di samping pengawal-pengawal Kademangan, akan merupakan kekuatan yang cukup untuk melindungi Kademangan ini. Hilangnya pusaka-pusaka itu dari Mataram memerlukan pengamatan yang bersungguh-sungguh dari setiap pihak. Apalagi apabila ada diantara orang-orang itu yang mengerti bahwa di Kademangan ini sering singgah orang-orang yang bersenjata cambuk.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sangat kecewa, bahwa ia tidak dapat ikut pergi bersama gurunya. Namun ia mengerti, bahwa memang sebaiknya ia mengawani Swandaru di rumahnya.

Meskipun demikian, Agung Sedayu masih juga bertanya kepada gurunya , “Kapankah kira-kira2 Kiai akan kembali?”

“Aku tidak dapat mengatakan,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi sudah barang tentu aku tidak dapat mengabaikan saat-saat perkawinan Swandaru. Dengan demikian kami harus segera kembali. Jika ada sesuatu yang penting sehingga aku sendiri tertahan diperjalanan, maka salah seorang dari kami akan mendahului. Dalam keadaan seperti ini aku berharap agar Ki Waskita tidak sekedar minta diantar pulang.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan singgah saja sebentar agar keluargaku tidak selalu dibayangi oleh kecemasan. Aku kemudian akan minta diri untuk mengantar Kiai Gringsing yang sedang membicarakan masalah perkawinan. Dengan demikian keluargaku mendapat gambaran yang selalu baik terhadap perjalananku yang kemudian.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing, lalu katanya kepada kedua muridnya, “Hati-hatilah kalian di rumah. Kita tidak tahu perkembangan apa saja yang akan terjadi di Mataram dan juga di Pajang. Kademangan ini berada dijalur lurus antara Pajang dan Mataram.”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi termangu-mangu.

“Aku tidak membayangkan yang bukan-bukan,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tetapi agaknya ada orang-orang yang tidak sabar lagi melihat perkembangan Mataram. Dan orang-orang itu adalah orang-orang Pajang. Kau tentu tidak akan dapat melupakan Ki Gede Pemanahan dan kemudian Ki Juru Martani sendiri harus melihat kenyataan yang pahit itu.”

Kedua murid Kiai Gringsing itu menarik nafas. Namun pada Agung Sedayu terasa tekanan yang sangat berat. Jika benar-benar terjadi sesuatu, yang paling mencemaskannya bukannya, garis lurus antara Pajang dan Mataram. Jika datang pasukan segelar sepapan dari Pajang yang dipimpin oleh orang-orang yang sekedar dibakar perasaan iri, maka ia tidak akan gentar meskipun tidak dapat dikatakan dengan pasti, bahwa Sangkal Putung akan dapat melindungi dirinya sendiri.

Tetapi yang paling pahit baginya, apabila ia harus berhadapan dengan pasukan yang justru tidak datang langsung dari Pajang. Bagaimana jika pada suatu saat Untanr dapat di pengaruhi oleh orang-orang yang menentang berdirinya Mataram dan membawa pasukannya turun dari Jati Anom?

Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada siapa pun. ia tetap menyimpan perasaan-perasaan itu, dan menghibur dirinya sendiri, “Agaknya aku di gelisahkan oleh angan-angan yang sama sekali belum nampak kemungkinannya akan terjadi.”’

Dalam pada itu, Kiai Gringsing masih memberikan beberapa pesan kepada murid-muridnya. Ia tidak lupa memperingatkan bahwa yang mereka ketahui tentang pusaka-pusaka yang hilang itu adalah rahasia yang paling besar bagi Mataram disaat pertumbuhannya.

“Apakah Sekar Mirah boleh mengetahuinya?” bertanya Ki Sumangkar.

“Jika Ki Sumangkar yakin bahwa Sekar Mirah pun dapat memegang rahasia seperti Agung Sedayu dan Swandaru, maka tidak ada keberatannya ia mengetahuinya. Tetapi aku kira tidak dengan Nyai Demang. Dan aku berharap bahwa Ki Demang tidak mengatakannya pula kepada Nyai Demang.”

“Tentu Ki Demang tidak akan mengatakannya kepada Nyai Demang,” sahut Ki Waskita, “Ki Demang dapat membedak-bedakan manakah yang dapat dan manakah yang tidak dapat dikatakannya.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk.

“Malam sudah larut,” berkata Kiai Gringsing, “kami yang esok akan pergi, perlu beristirahat barang sejenak. Namun demikian, aku masih perlu memberitahukan kepada Agung Sedayu dan Swandaru bahwa kau harus berusaha untuk mengatasi setiap kesulitan yang dapat terjadi sebelum kesulitan yang sebenarnya. Maksudku, seperti Mataram, sebe-lum kedua pusaka itu hilang, rumah Ki Gede Pemanahan telah diliputi oleh suasana yang tidak wajar karena kekuatan sirep. Aku telah memberikan petunjuk kepada kalian berdua, bagaimana melawan kekuatan sirep itu. Jika kalian merasakan ketidak wajaran menyelimuti suasana Kademangan ini, maka kalian harus dengan cepat berusaha memusatkan semua daya tahan yang ada di dalam diri kalian untuk mela-wannya. Pemusatan pikiran dan getaran diri akan dapat membebaskan kalian sebelum kalian dapat membebaskan orang lain yang memiliki kekuatan betapa pun kecilnya, dan yang masih belum terlanjur dicengkam oleh pengaruh itu.”

Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Sejak terasa suasana yang tidak wajar selagi mereka akan meninggalkan Mataram, Kiai Gringsing sudah memperdalam ilmu yang ada di dalam diri murid-muridnya untuk melawan kekuatan-kekuatan yang tidak kasat mata seperti ilmu sirep.

Demikianlah maka mereka pun kemudian pergi ke pembaringan masing-masing. Untuk beberapa saat mereka masih tetap berangan-angan. Tetapi kemudian mereka pun segera tertidur dengan nyenyaknya. Hanya Swandaru sajalah yang menjadi gelisah. Bukan saja karena pusaka-pusaka yang hilang, tetapi ia selalu dibayangi oleh berbagai macam kecemasan tentang hari-hari perkawinannya.

Namun akhirnya Swandaru pun tertidur pula menjelang; dini hari.

Ketika cahaya merah mulai membayang, maka Kiai Gringsing telah bangkit dari pembaringannya, diikuti oleh Ki Waskita dan Sumangkar. Mereka pun segera pergi kepakiwan. untuk mandi dan kemudian berbenah, karena mereka ingin berangkat pagi-pagi benar agar mereka tidak kepanasan disepanjang perjalanan, sementara Agung Sedayu telah mengisi jambangan dipakiwan itu.

Seluruh keluarga Kademangan Sangkal Putung mengantar Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar sampai ke pintu gerbang halaman ketika mereka berangkat. Sambil menepuk pundak Swandaru, Kiai Gringsting yang sudah memegangi kendali kudanya berkata, “Hati-hatilah. Kau harus banyak berprihatin menghadapi hari-hari yang sangat penting di dalam hidupmu,” ia berhenti sejenak, lalu, “dan yang penting, agar kau menjadi bertambah langsing.”

Yang mendengar pesan itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula sambil menjawab, “Baik Guru. Aku akan mengurangi makar dan tidur. Sehari tidak lebih dari tiga kali makan dan tidak lebih banyak lagi dari batas kekenyangan.”

Sekar Mirah mencubit lengan kakaknya sambil berdesis, “Pantas. Dihari perkawinan itu kau akan benar-benar menjadi bulat seperti jeruk bali.”

Demikianlah sejenak kemudian Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun segera meloncat kepnnggung kudanya. Sambil, tersenyum Ki Sumangkar berkata, “Kini kami yang tua-tualah yang akan bertamasya.”

“Selamat jalan,” berkata Ki Demang, “salamku kepada semuanya. Ki Gede Menoreh, Ki Juru, Raden Sutawijaya dan siapa saja.”

Agung Sedayu yang berdiri disebelah Swandaru memandang ketiga orang yang segera berangkat itu dengan wajah yang tegang. Seolah-olah ia tidak melihat perjalanan itu sebagai sebuah perjalanan utusan yang akan membicarakan masalah perkawinan. Tetapi yang menempuh perjalanan itu adalah orang-orang yang memiliki Ilmu yang tinggi yang sedang digelisahkan oleh hilangnya dua buah pusaka dari Tanah Mataram. Pusaka-pusaka yang sangat penting artinya bagi gairah perjuangan Raden Sutawijaya. Apalagi ditangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, pusaka-pusaka itu akan menjadi pendorong untuk melakuKan tindakan-tindakan yang lebih jauh lagi.

Sekali-sekali Kiai Gringsing masih juga berpaling. Ada sesuatu yang terasa melonjak didatam hati. Kepergiannya bertiga memang akan menjadi sebuah perjalanan yang penting. Tetapi jika orang-orang yang mengambil pusaka itu mempunyai tujuan yang lain pula, apalagi apabila mereka mengenal bahwa orang-orang bercambuk yang ada di Sangkal Putung adalah orang-orang yang mempunyai sentuhan ilmu dengan perguruan Windujati yang sudah lama tidak terdengar lagi, maka murid-muridnya akan dapat mengalami kemungkinan yang pahit.

“Mudah-mudahan tidak demikian,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “mudah-mudahan perhatian mereka terpusat kepada pusaka-pusaka yang ada di Mataram itu saja.”

Namun demikian Kiai Gringsing tidak mengatakannya kepada kedua kawannya diperjalanan. Kecemasannya itu disimpannya saja di dalam hatinya.

Namun, meskipun Kiai Gringsing tidak mengatakannya, agaknya kedua kawan seperjalanannya pun merasakannya juga kecemasan yang serupa.. Bahkan Ki Sumangkar berkata di dalam hatinya, “Jika orang-orang yang mengambil pusaka itu sengaja menunggu kami meninggalkan Mataram karena mengetahui bahwa diantara kami terdapat seseorang keturunan Empu Windujati, maka kesulitan yang dialami oleh Mataram itu akan dapat menjalar ke Sangkal Putung, justru karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak pergi bersama kami.” Tetapi kemudian, “mudah-mudahan tidak.”

Berbeda dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, maka Ki Waskita mencoba melihat sesuatu yang barangkali akan dapat menjadi isyarat apa pun yang dapat memberinya sekedar petunjuk, apakah yang bakal terjadi kemudian di Sangkal Putung. Namun ia tidak melihat sesuatu. Dan Ki Waskita mengambil kesimpulan, bahwa untuk waktu yang pendek, Sangkal Putung tidak akan .mengalami kesulitan. Tetapi waktu yang pendek itu merupakan sebuah teka-teki pula baginya.

“Persoalan yang terlampau banyak mengandung segi-segi kemungkinan, memang sulit untuk dilihat,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Namun kemudian, “Memang penglihatan seseorang betapa pun sempurnanya, tentu akan menjadi sangat terbatas untuk mengetahui seluruh rahasia dari alam ini.”

Dengan demikian, maka di perjalanan ke Mataram, tidak banyak yang dipercakapkan oleh ketiga orang tua-tua itu. Mereka lebih banyak berbicara dengan angan-angan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, yang mereka tinggalkan di Sangkal Putung pun menjadi sibuk pula dengan kerja masing-masing. Kademangan Sangkal Putung mendapat perbaikan yang cukup banyak. Sudah lama rumah itu tidak mendapat perbaikan apalagi perubahan.

Maka menjelang saat-saat perkawinan anak laki-laki satu-satunya dari Ki Demang Sangkal Putung, rumahnya pun mendapat perhatian sepenuhnya.

Dalam pada itu, meskipun masih juga ada ingatan Swandaru atas pusaka-pusaka yang hilang, namun perhatiannya semakin lama semakin condong kepada kepentingannya sendiri yang sudah dekat. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu saat yang sudah ditentukan oleh ayahnya dan orang-orang tua di Sangkal Putung itu. Apalagi apabila Ki Gede Me-noreh kemudian justru menunda saat-saat perkawinan itu dengan berbagai macam alasan.

Berbeda dengan Swandaru, perhatian Agung Sedayu masih lebih banyak tertumpah kepada perjalanan Kiai Gringsing dan kedua orang kawannya itu. Rasa-rasanya ada hubungan yang rapat antara hilangnya kedua pusaka itu dengan kehadiran gurunya yang juga disebut sebagai keturunan dari Majapahit, meskipun ia tidak tahu lebih banyak lagi tentang gurunya selain sekedar seorang yang memiliki darah keturunan Majapahit seperti yang didengarnya.

Meskipun demikian Agung Sedayu ikut pula sibuk membantu keluarga Ki Demang di Sangkal Putung. Pada dasarnya Agung Sedayu memang seorang anak muda yang rajin dan ringan tangan. Namun di Sangkal Putung, ia medapat tanggapan yang lain. Seorang anak muda Sangkal Putung sambil tersenyum menggamit kawannya dan berbisik, “Lihat calon menantu Ki Demang itu. Betapa rajinnya.”

Yang lain tertawa tertahan. Jawabnya, “Tetapi aku tidak iri hati.”

“Ah, macam kau. Pantasnya kau menjadi pekatiknya.”

Keduanya pun tertawa. Tetapi mereka berusaha untuk menyembunyikan wajahnya, agar Agung Sedayu tidak merasa bahwa mereka sedang memperhatikannya.

Tetapi Agung Sedayu tidak memperhatikan apa pun juga. Perhatiannya benar-benar tertambat kepada gurunya. Ia dapat merasa betapa Kiai Gringsing ikut merasa bertanggung jawab akan hilangnya Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung dari Mataram. Jika ternyata ada darah keturunan Majapahit yang berbuat berdasarkan nafsu semata-mata, maka mereka tentu akan mencemarkan seluruh keturunan Majapahit. Betapa besarnya Majapahit yang pernah hadir di persada Tanah Kelahiran yang terbentang meliputi beribu-ribu pulau sebagai ujud hasrat persatuan rakyatnya, namun jika keturunannya adalah orang-orang yang sekedar dikuasai oleh nafsu justru setelah Majapahit surut, maka kesan yang tumbuh adalah, bahwa sebenarnya Majapahit adalah sekedar perbendaharaan nafsu semata-mata. Kekuasaan yang dilandasi olen kekuatan dan kemampuan mempertahankan kekuasaan itu.

Kesan yang demikian itulah yang tentu sangat mengganggu Kiai Gringsing. Seorang keturunan Majapahit yang sama sekali tidak pernah memikirkan kekuasaan dan mempergunakan kekuatannya untuk membangunkan kekuasaan.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya berpacu semakin cepat. Perjalanan ke Mataram bukan perjalanan yang sulit lagi. Meskipun belum sempurna, tetapi jalur-jalur jalan sudah dapat dilalui dengan mudah. Diantara lebatnya hutan Tambak Baya, seleret jalan setapak bagaikan segores garis yang sangat tebal yang menyobek rimbun-nya pepohonan.

Ternyata jalan itu sudah menjadi semakin ramai dan semakin banyak dilalui orang, karena keamanan memang menjadi semakin baik. Tidak banyak lagi gangguan-gangguan yang dijumpai oleh para pedagang. Tidak ada lagi perampok-perampok yang kuat mencegat perjalanan mereka. Apalagi pasukan pengawal Mataram bagaikan hilir mudik melalui jalan yang membelah hutan itu.

Disepanjang jalan Kiai Gringsing dan kedua kawannya bertemu juga dengan serombongan pedagang. Mereka masih tetap merasa lebih aman melintas dalam kelompok yang agak besar karena kadang-kadang masih saja mereka ingat tentang perampokan yang pernah terjadi di hutan yang lebat itu. Namun ada juga dua tiga orang yang lewat dengan tenang, karena mereka yakin bahwa perjalanan mereka tidak akan terganggu lagi, atau karena mereka percaya kepada diri sendiri bahwa mereka akan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan kecil yang mungkin terjadi disepanjang perjalanan.

Meskipun nampaknya Kiai Gringsing hampir tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang lewat itu, namun kadang-kadang terpercik juga pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang-orang ini tidak mempunyai sangkut paut sama sekali dengan hilangnya kedua pusaka itu?”

Tetapi Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung adalah pusaka-pusaka yang bertangkai panjang. Dengan demikian maka untuk membawanya tentu agak lebih sulit dari pusaka-pusaka yang pendek, seperti Kanjeng Kiai Naga Sasra dan Kanjeng Kiai Sabuk Inten, atau Kanjeng Kiai Sangkelat.

Dalam pada itu, perjalanan mereka tidak menemui kesulitan apa pun juga. Sekali-sekali mereka harus berhenti memberi kesempatan kuda-kuda mereka minum barang seteguk dan beristirahat sejenak. Kemudian mereka pun segera meneruskan perjalanan ke Mataram.

Demikian mereka melintasi sisa-sisa Alas Mentaok, maka mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Dihadapan mereka terbentang padukuhun-padukuhan kecil yang sedang tumbuh, ditembus oleh jalan yang semakin baik dan lebar. Rumah-rumah yang bertebaran diantara pepohonan yang masih muda. Hanya disana-sini beberapa batang pohon-pohon besar sengaja ditinggalkan sebagai perindang bagi padukuhan-padukuhan yang masih muda itu.

Namun demikian, diatas sawah yang terbentang, tumbuh batang-batang padi yang hijau rimbun. Dalam silirnya angin, wajah batang-batang padi itu, bagaikan gelombang dipermukaan telaga yang hijau kebiruan, seolah-olah mengalir dari tepi ketepi yang lain, jauh sampai batas tatapan mata.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kearah kedua kawan seperjalanannya, agaknya mereka pun sedang merenungi suburnya telah yang baru dibuka itu.

“Mataram memang akan dapat menjadi sebuah negeri yang ramai,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Bukan saja karena ia melihat sawah yang luas, batang-batang padi yang hijau, subur, pedukuhan yang tumbuh dengan cepatnya, tetapi ia juga melihat isyarat yang cerah yang dapat memercikkan arti kecerahan bagi masa mendatang.

Demikianlah, hampir tanpa pembicaraan yang berarti, akhirnya mereka memasuki gerbang kota. Para penjaga yang; memang sudah mengenal Kiai Gringsing dan kedua kawannya, segera mempersilahkan mereka meneruskan perjalanan menyusuri jalan kota, langsung menuju ke rumah Raden Sutawijaya. Mereka bertiga sudah bersepakat untuk singgah barang sehari di Mataram sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Menoreh.

Kedatangan ketiga orang itu di Mataram, disambut dengan gembira oleh Ki Juru Martani, Raden sutawijaya, dan Ki Lurah Branjangan. Bagi Ki Juru, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya adalah orang-orang tua yang akan dapat diajaknya berbicara agak jauh mengenai hilangnya kedua pusaka yang ada di Mataram meskipun keduanya dapat disebut orang lain bagi Mataram. Namun menilik apa yang pernah dilakukan oleh ketiga orang itu, maka Ki Juru berpengharapan bahwa mereka pun akan dapat dibawa berbicara sebaik-baiknya.

Seperti biasanya, maka ketiganya pun kemudian disambut dengan berbagai macam pertanyaan tentang keselamatan mereka diperjalanan, dan orang-orang yang mereka tinggalkan. Mereka tidak langsung dibawa kedalam pembicaraan pokok atas hilangnya pusaka-pusaka dari Mataram. Apalagi hilangnya kedua pusaka itu merupakan puncak rahasia bagi orang-orang Mataram sendiri, selain beberapa orang tertentu saja.

“Kami hanya singgah sejenak,” berkata Kiai Gringsing kemudian kepada Ki Juru, “besok kami akan meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Kami sudah mendengar. Bukankah Kiai akan memberikan keputusan terakhir tentang saat perkawinan Angger Swandaru dengan Angger Pandan Wangi?”

“Ya Ki Juru.”

“Kami akan ikut bersenang hati. Karena itu, kami tidak akan menahan Kiai untuk singgah disini lebih dari satu hari satu malam.”

“Sejauh-jauhnya satu hari satu malam,” jawab Kiai Gringsing.

Ki Juru Martani tertawa. Katanya, “Ya. Sejauh-jauhnya satu hari satu malam.”

“Karena kami akan berangkat besok pagi-pagi benar, bukankah kehadiran kami disini tidak cukup satu hari satu malam?”

Ki Juru tertawa, meskipun nada suara tertawanya agak sumbang karena perasaannya yang tertekan.

Untuk beberapa lama mereka yang ada dipendapa Mataram itu berbicara tentang berbagai macam persoalan yang justru tidak menyangkut masalah pusaka-pusaka itu.

Dengan demikian, maka bagi kebanyakan pemimpin Mataram, menganggap bahwa kehadiran Kiai Gringsing adalah sekedar singgah dalam perjalanannya ke Menoreh. Mereka tidak tahu sama sekali, bahwa kedatangan Kiai Gringsing ke Mataram saat itu mempunyai arti yang jauh lebih penting dari sekedar singgah saja.

Baru ketika matahari tenggelam di sisi langit sebelah Barat, dan kegelapan mulai menyelubungi Tanah Mataram, Ki Juru Martani membawa tamu-tamunya masuk keruang dalam. Tanpa orang lain yang tidak mengetahui persoalan pusaka-pusaka yang hilang itu, Ki Juru ingin mengadakan pembicaraan dengan tamu-tamunya.

Sutawijaya dan Ki Luran Branjangan yang memang sudah mengerti serba sedikit mengenai Kiai Gringsing dan hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu pun diperkenankan untuk ikut serta dalam pembicaraan dengan ketiga tamu-tamu Ki Juru Martani.

“Aku bawa kepingan perak bakar yang berwarna hitam itu,” berkata Kiai Gringsing setelah mereka terdiam sejenak.

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya memang sebuah tantangan yang langsung ditujukan kepada Mataram. Seolah-olah orang-orang yang mewarisi Mataram dari Ki Gede Pemanahan itu tidak berhak untuk memimpin pemerintahan bagaimana pun juga bentuknya.”

“Ya Ki Juru. Seolah-olah hanya mereka yang mempunyai darah keturunan Majapahit langsung sajalah yang berhak untuk memegang pimpinan.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya, “Bagaimana pendapat Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dari kantong ikat pinggangnya ia mengambil sebuah kampil kecil yang berisi sekeping perak yang dipahatkan lukisan yang sangat menarik bagi orang-orang tua itu dan secarik kain yang ditulisi dengan darah.

“Kiai,” berkata Ki Juru Martani, “pusaka adalah lambang kekuasaan, pangkat dan derajad. Meskipun pangkat dan derajad bukan kebutuhan mutlak dari seseorang, tetapi pangkat dan derajad adalah pakaian seseorang di dalam riuhnya pergaulan hidup. Memang tidak dapat dibenarkan seseorang menghambakan diri pada derajad dan pangkat. Tetapi bahwa derajad dan pangkat mempunyai akibat yang luas pada diri seseorang tidak akan dapat diingkari lagi. Karena itulah, maka kadang-kadang seseorang mempuyai tanggapan yang salah sehingga dengan segala jalan dan cara ia mempertahankan dan mengejar derajad dan pangkat yang setinggi-tingginya,” Kiai Gringsing dan kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Juru berkata seterusnya. “Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar. Jika aku dan Angger Raden Sutawijaya menjadi sangat berprihatin atas hilangnya pusaka-pusaka itu dari Mataram, sebenarnyalah bahwa kami mempunyai tanggapan dan penilaian yang tinggi terhadap sih yang diberikan oleh Kanjeng Sultan di Pajang kepada kami, khususnya Raden Sutawijaya. Kemudian atas penilaian kami dalam hubungannya dengan derajad dan pangkat, cobalah Kiai bertanya langsung kepada Angger Sutawijaya karena ialah sebenarnya yang mendapat anugerah dari Kanjeng Sultan di Pajang.

Kiai Gringsing menarik natas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya Raden Sutawijaya sejenak. Dari sorot matanya memancar sepercik pertanyaan yang menusuk langsung ke pusat jantung Raden Sutawijaya, seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang sebenarnya terpahat didinding jantung itu.

Raden Sutawijaya justru menundukkan kepalanya, ia mengerti, bahwa Kiat Gringsing dan kedua kawannya ingin mengerti tanggapannya dengan jujur atas kedua pusaka lambang derajad dan pangkat itu.

“Raden,” berkata Kiai Gringsing, “cobalah Raden menyatakan sesuai dengan hati nurani, apakah yang sebenarnya Raden kehendaki dengan Mataram.”

“Kiai,” jawab Raden Sutawijaya, “Mataram adalah tanah yang tumbuh atas jerih payah. kami bersama-sama yang kini menjadi penghuninya, tanpa melupakan jasa Kiai, Ki Waskita, Ki Sumangkar dan anak-anak muda murid Kiai, serta jasa siapa pun juga yang telah membantu kami. Tanpa melupakan anugerah dari Ayahanda Sultan Pajang yang dengan hati terbuka memberikan kesempatan kepada Mataram untuk berkembang. Bahkan di Mataram telah ada dua buah pusaka yang memiliki arti yang besar bagi seseorang yaug memilikinya. Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung. Bahkan ada beberapa orang yang percaya bahwa hadirnya Kiai Pleret dan Kiai Mendung di Mataram adalah pertanda bahwa Kanjeng Sultan di Pajang telah menyerahkan kekuasaan meskipun perlahan-lahan kepada Mataram. Dan ada orang yang percaya, bahwa kedua pusaka yang berada di Mataram itu adalah kelengkapan dari beberapa pusaka yang lain untuk mendapatkan wahyu keraton, sehingga ada orang-orang yang dengan segala cara berusaha untuk memilikinya. Tetapi ternyata kedua pusaka itu kini hilang dari Mataram.” Raden Sutatwijaya berhenti sejenak, lalu, “Kiai, tanggapanku atas derajad dan pangkat, tidak dapat aku jelaskan dengan beberapa kalimat saja. Tetapi dalam garis besarnya, bagiku yang terpenting adalah cita-cita atas bentuk kekuasaan di Mataram dan bahkan di Pajang. Kiai, sebenarnya aku tidak ingin untuk memiliki derajad dan pangkat itu sendiri. Yang ada padaku adalah cita-cita bagaimana derajad dan pangkat itu dipergunakan dalam bentuk kekuasaan. Siapa pun yang memiliki derajad dan pangkat, dan dalam bentuknya sebagai kekuasaan dipergunakan sebaik-baiknya seperti yang aku cita-citakan bagi kepentingan Mataram seisinya dan bahkan Pajang, maka aku tidak akan berkeberatan. Apakah yang memegang kekuasaan itu seorang yang bernama Raden Sutawi jaya, seorang yang bergelar Sultan Hadiwijaya, Adimas Benawa atau keturunan-keturunan langsung dari Majapahit, bagiku bukannya soal yang pokok. Tetapi jika tidak ada orang lain yang dapat membawakan derajad dan pangkatnya dalam bentuk kekuasaan seperti yang aku cita-citakan, maka barulah aku memikirkan, kenapa bukan aku sajalah yang memegang kekuasaan itu.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya memperhatikan penjelasan Raden Sutawijaya itu dengan saksama. Ketika Raden Sutawijaya berhenti sejenak, Ki Waskita pun menyela, “Bagaimanakah menurut Raden, bentuk dari kekuasaan sebagal ujud dari derajad dan pangkat itu.”

Raden Sutatwijaya memandang Ki Juru sejenak. Kemudian barulah ia menjawab, “Ki Waskita. Bagiku kekuasaan adalah tanggung jawab. Kekuasaan bukanlah sekedar kesempatan untuk dapat memaksakan kehendak atas orang lain. Kekuasaan bukan minat untuk dihormati dan disegani.” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “seandainya demikian halnya, maka kekuasaan adalah nafsu semata-mata.”

“Jadi bagaimanakah sebenarnya yang Raden kehendaki,” sela Ki Sumangkar pula.

“Jika derajad dan pangkat sekedar pamrih dari pribadi seseorang, maka itu adalah nafsu ketamakan. Bagiku, derajad dan pangkat harus berarti bagi keseluruhan. Sebenarnyalah kekuasaan adalah semata-mata kesempatan pelayanan. Kekuasaan yang ada di dalam diri seseorang harus bermanfaat bagi semuanya di dalam lingkungannya. Karena itulah maka kekuasaan yang bertanggung jawab harus dilandasi oleh kesediaan pengabdian. Bukan sebaliknya.”

“Jelasnya?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kekuasaan, yang menjadi ujud dari derajad dan pangkat, adalah suatu alat. Jika kita memegang suatu alat, maka terserahlah kepada kita bagaimana kita mempergunakannya. Kita dapat menentukan pilihan seperti yang kita kehendaki. Pilihan itulah yang penting untuk dinilai. Apakah pilihan itu berlandaskan cita-cita yang bertanggung jawab, atau sekedar dilandasi oleh nafsu pribadi. Kita masing-masinglah yang harus menentukan pilihan, dan orang akan menilai kita masing-masing atas dasar pilihan itu. Apakah kita manusia yang berarti bagi sesama atau justru sebaliknya.”

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Namun diluar sadar mereka mengerling kepada Ki Juru Martani meskipun tidak sepatah kata pun yang mereka katakan kepada orang tua itu.

Namun diluar dugaan, maka Raden Sutawijayalah yang kemudian dengan jujur berkata, “Kiai, sebenarnyalah yang aku katakan itu adalah dasar dari pendirianku. Tetapi bukanlah semata-mata lahir karena kemampuanku untuk menyatakannya dengan lesan,” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, ia pun kemudaan berpaling kepada Ki Juru Martani sambil berkata, “Uwa Juru Martanilah yang mengajari aku.”

Ketiga tamu Raden Sutawijaya itu pun tersenyum. Mereka memang sudah menduga, bahwa Ki Juru akan dapat menuntun Raden Sutawijaya sebaik-baiknya tanpa mematahkan perjuangan anak muda itu. Tetapi agaknya Ki Juru telah berhasil memberikan pengarahan yang sangat berarti bagi Raden Sutawijaya sebagai landasan jalan hidupnya menda-tang. Dengan landasan itu pulalah agaknya Raden Sutawijaya bertekad untuk menemukan kembali pusaka-pusakanya yang hilang yang akan dapat menjadi kelengkapan derajad dan pangkatnya, dalam arti pertanggungan jawab dan pengabdian.

Bagi Kiai Gringsing, maka tekad Raden Sutawijaya itu merupakan suatu pilihan yang harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Meskipun ia bukan orang yang wajib menentukan, siapakah yang sebaiknya memegang kekuasaan pemerintahan setelah Sultan Hadiwijaya, namun ia merasa bahwa ia akan dapat ikut memikirkannya.

“Aku akan dapat berbuat sesuatu,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. “Dalam keadaan yang memang mendesak, barangkali aku dapat mempergunakan pengaruh perguruan Windujati.”

Tetapi Kiai Gringsing masih harus menemukan, siapakah orang yang dengan sengaja meninggalkan ciri-ciri yang baginya masih asing, dan yang dengan sengaja meninggalkan isyarat tantangan buat Mataram. Orang itu tentu mengetahui bahwa di Mataram ada seorang yang pantas disegani, Ki Juru Martani. Namun agaknya orang yang menyebut dirinya keturunan langsung dari Majapahit itu sudah bertekad untuk melawan dan mengalahkan orang yang bernama Ki Juru Martani itu.

“Tetapi bagaimanakah halnya, jika orang yang mengambil pusaka itu menurut penilaianku akan dapat menjadi lebih baik dari Sutawijaya? Apakah aku akan terkait kepada nama Sutawijaya yang sudah aku kenal baik-baik, atau aku akan dapat menjatuhkan pilihan dengan jujur?” pertanyaan itu tumbuh pula di dalam hati Kiai Gringsing .

Tetapi Kiai Gringsing masih belum akan memikirkannya. Ia akan melihat lebih dahulu perkembangan Mataram dan Raden Sutawijaya itu sendiri.

“Keinginan Raden Sutawijaya untuk menemukan kembali kedua pusaka itu agaknya memang tidak semata-mata dilandasi oleh nafsu ketamakan untuk berkuasa semata-mata. Tetapi seperti ayahandanya, Raden Sutawijaya tentu bercitia-cita bagi Mataram seisinya,” kesimpulan itulah yang untuk sementara telah diambil oleh Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, sambil meletakkan kepingan perak yang berwarna kehitam-hitaman itu Kiai Gringsing berkata, “Nah Ki Juru, sekarang, apakah yang dapat kita perbincangkan mengenai lukisan yang terpahat pada kepingan perak itu?”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti seolah-olah ingm mendapatkan bahan pembicaraan dari mereka. Tetapi baik Ki Waskita mau pun Ki Sumangkar masih tetap berdiam diri sambil memandang benda yang kehitam-hitaman itu.

“Lukisan yang terpahat itu memang sangat menarik,” berkata Kiai Gringsing, ‘seakan-akan memberikan kesan, bahwa pemiliknya adalah orang-orang yang hatinya kelam, seperti kelamnya malam.”

“Ya, golongan yang kadang-kadang disebut golongan hitam,” sahut Ki Juru Martani.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Sedangkan Ki Juru berkata selanjutnya, “karena itulah kita berhadapan dengan lawan yang memiliki banyak kelebihan. Dan lebih dari itu, mereka akan. mempergunakan segala macam cara untuk mencapai tujuan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mulai membayangkan, siapakah yang sedang mereka hadapi. Namun sedemikian jauh, ia sama sekali masih belum dapat menghubungkan ciri-ciri yang ada itu dengan segolongan orang yang pernah dikenalnya, juga mereka yang tergolong keturunan langsung dari Majapahit.

“Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “sebenarnyalah bahwa semuanya masih gelap bagi kita. Karena itu, apakah Ki Juru tidak berkeberatan, apabila ciri-ciri yang terpahat pada kepingan perak itu diperbanyak?”

“Maksud Kiai?”

“Kita masing-masing akan membawa satu. Selama kami menempuh perjalanan kembali dari Tanah Perdikan Menoreh, kami dapat selalu mempelajari, apakah arti dari ciri-ciri yang terpahat pada kepingan perak itu, sementara aslinya masih tetap ada pada Ki Juru, yang mungkin memerlukan untuk mencari maknanya pula.”

Ki Juru merenung sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku tidak berkeberatan Kiai. Tetapi aku akan memilih seorang ahli yang dapat aku percaya sehingga ia tidak membuat lebih dari yang kita perlukan. Mungkin ia tidak mengerti makna dari yang dibuatnya, sehingga kelebihan itu akan mengakibatkan kesulitan baginya kelak.”

“Baiklah Ki Juru. Pada saatnya kami kembali dari Menoreh, kami akan singgah pula. Kami akan mengambil tiruan dari ciri yang sengaja ditinggalkan oleh orang-orang yang telah mengambil pusaka-pusaka itu. Mungkin kami memerlukan satu dua hari, tetapi mungkin satu dua pekan atau bulan untuk dapat mencari jalan memecahkan persoalan yang sangat rumit itu.”

“Kami akan mencoba menyediakannya Kiai. Berapa hari menurut rencana Kiai akan berada di Tanah Perdikan Menoreh?”

“Tidak terlampau lama. Apalagi menghadapi persoalan yang pelik ini. Mungkin aku hanya akan bermalam satu atau dua malam saja. Jika persoalan yang kami bawa sudah selesai, maka kami pun akan segera kembali.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Mudah-mudahan kita bersama akan segera dapat memecahkan persoalan itu. Tetapi kami di Mataram, tidak ingin selalu mengganggu niat Ki Demang untuk mengawinkan anak laki-lakinya. Jika Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar terlibat terlampau jauh di dalam masalah hilangnya kedua pusaka itu dari Mataram, maka kedatangan kalian akan terlambat di Sangkal Putung. Dan itu berani mengundurkan rencana perkawinan Angger Swandaru.”

“Kami akan mencoba minum sambil mandi,” jawab Kiai Gringsing.

Ki Juru Martani tersenyum. Meskipun ia belum terlampau lama bergaul dengan Kiai Gringsing, tetapi ia sudah mengerti sifat-sifatnya. Istilah yang nampaknya sekedar merupakan pelepasan dan bahkan terasa tidak lebih dari sebuah sendau gurau, namun memiliki arti yang dalam dan bersungguh-sungguh.

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun kemudian memanggil seorang yang pandai membuat barang-barang perhiasan dari perak. Selebihnya orang itu sudah dikenalnya baik-baik dan dapat dipercaya. Kepadanyalah tugas itu diserahkan.

“Buatlah lima tiruan dari benda ini,” berkata Ki Juru Martani, “hanya lima. Tidak lebih.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Diamatinya kepingan perak bakar yang kehitam-hitaman itu. Pada kepingan perak itu terpahat lukisan sebuah perisai yang bulat bergerigi dan ditengahnya seekor kelelawar dengan sayapnya yang mengembang.

Sambil masih mengangguk -anggukan kepalanya ia menyahut, “Aku akan membuatnya, sejauh-jauhnya mendekati pahatan perak itu. Tetapi, apakah gunanya benda-benda serupa itu?”

“Itulah yang akan aku beritahukan,” berkata Ki Juru, lalu, “benda ini adalah benda keramat. Kau tidak akan dapat membuat lebih dari lima keping tiruan. Jika kau melanggar, aku takut bahwa kau akan mendapat kesulitan.”

Wajah orang itu menjadi tegang.

“Tetapi jangan takut,” dengan cepat Ki Juru menyambung, “asal kau tidak melanggar pantangan, maka tidak akan terjadi apa-apa. Kami sudah mengadakan selamatan sebelum kami memanggilmu. Tetapi ingat, benda ini jangan sampai berada dibawah pusarmu.”

“O,” orang itu bertambah tegang.

“Lakukanlah.”

“Jadi aku harus menaruhnya dimana?”

“Selipkan pada ikat kepalamu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Ah, sebaiknya aku tidak bermain-main dengan benda-benda keramat seperti itu.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Semua persoalan yang dapat timbul menjadi tanggung jawabku. Tetapi ingat pesanku, jangan membuat lebih dari lima, dan jangan mengatakan kepada siapa pun juga bahwa kau membuat benda-benda tiruan itu. Kepada anak isterimu pun jangan.Apalagi kepada pembantu-pembantumu di rumah, atau anak-anak muda yang belajar membuat barang-barang perak di rumahmu.”

Orang itu menjadi semakin ragu-ragu.

“Kerjakanlah. Jika kau memenuhi semua syarat, maka kau akan mendapat rejeki.”

Orang itu tidak menyahut, sedang Kiai Gringsing melanjutkan, “Setidak-tidaknya kau akan mendapat upah yang baik dari kerjamu itu.”

Ketika orang itu kemudian minta diri, setelah menyelipkan kampil berisi sekeping perak bakar itu di ikat kepalanya. Ki Waskita dani Ki Sumangkar tersenyum. Ki Sumangkar bahkan kemudian tertawa kecil sambil berkata, “Apakah orang itu masih perlu ditakut-takuti?”

Ki Juru pun tersenyum pula. Jawabnya, “Ia orang yang baik dan dapat dipercaya. Tetapi kadang-kadang seseorang diluar sadarnya melakukan kesalahan. Aku ingin bahwa dengan demikian ia menjadi lebih berhati-hati.”

“Tetapi Ki Juru memberikan kampil itu seluruhnya. Bukankah di dalam kampil itu terdapat secarik kain yang. bertulisan darah?” bertanya Ki Waskita.

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Aku sudah menyimpannya.”

Kiai Gringsing yang hampir saja menanyakan hal itu pula, mengangguk-angguk sambil berkata, “Jika ia melihat tulisan itu, ia akan menjadi semakin ketakutan. Barangkali ia akan mengembalikannya, dan tidak mau mengerjakannya lagi.”

Demikianlah untuk beberapa saat mereka masih saja memperbincangkan kepingan perak bakar itu. Namun mereka masih belum dapat mengambil kesimpulan yang agak meyakinkan. Mereka masih bertanya-tanya di dalam hati, “Perguruau manakah yang kemudian mempergunakan tanda-tanda yang aneh itu?”

Namun seperti pendapat Kiai Gringsing, perguruan itu tentu perguruan yang semula tidak pernah berkembang.

“Atau justru sebuah kelompok yang baru sama sekali,” gumam Ki Juru Martani.

Demikianlah, seperti yang, direncanakan, maka Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar benar-benar hanya bermalam semalam saja di Mataram. Ketika kemudian pagi mulai pecah dihari berikutnya, ketiganya pun segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Ketiga orang-orang tua itu sengaja menampakkan diri sebagai pedagang keliling yang menempuh perjalanan dari satu tempat ketempat yang lain, meskipun mereka tidak membawa barang-barang apa pun selain beberapa lembar pakaian yang terbungkus rapi dan diikat pada pelana kuda masing-masing.

“Ki Waskita dan Ki Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing ketika mereka sudah berada diluar kota Mataram yang sedang berkembang itu, “jika kita menghadap Ki Argapati, apakah kita sebaiknya mengatakan tentang hilangnya kedua pusaka itu atau tidak?”

Keduanya mengerutkan keningnya. Sejenak mereka merenung. Kemudian Ki Sumangkar pun menjawab, “Menurut pertimbanganku, tidak ada salahnya kita mengatakannya. Ki Argapati adalah seorang yang cukup masak menanggapi setiap keadaan, seperti pada saat Raden Sutawijaya berusaha menghancurkan Panembahan Agung yang berada diujung kekuasaan Ki Argapati.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sedang Ki Waskita pun berkata, “Kita wajib mempercayainya. Apalagi tidak ada kesulitan hubungan antaraMatamm dan Menoreh.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Jawaban-jawaban itu agaknya memang sesuai dengan sikapnya. Baginya, Ki Argapati adalah orang yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang dihadapi. Ia bukan orang yang hanya mementingkan diri sendiri saja, tetapi ia juga memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain.

Karena itu maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Aku sependapat. Memang Ki Argapati adalah orang yang cukup matang, dan memang tidak ada persoalan apa pun juga antara Menoreh dan Mataram.”

“Mudah-mudahan Mataram tidak mempunyai persoalan pula dengan tetangga-tetangganya yang lain,” desis Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi seperti Ki Waskita maka Kiai Gringsing pun segera melontarkan angan-angannya ke laladan Mangir. Daerah yang sudah mulai nama pula, disebelah Selatan Alas Mentaok. Beberapa Kademangan yang merasa wajib membuat semacaam ikatan yang dipimpin oleh Ki Ageng Mangir, berkembang pula disamping Mataram. Tetapi agaknya Mataram maju jauh lebih pesat dari Mangir meskipun sebenarnya Mangir lebih tua dari Mataram yang tumbuh diatas tanah Alas Mentaok.

Demikianlah sambil berbicara tentang berbagai kemungkinan maka mereka pun semakin lama semakin mendekati Kali Praga. Untuk mencapai daerah Menoreh mereka harus menyeberangi sungai yang cukup lebar itu. Dalam musim basah, maka mereka harus menyeberang dengan mempergunakan getek, karena arus airnya menjadi agak deras dan dalam.

Ketika mereka kemudian melewati sebuah padang ilalang, dan kemudian sampai ke daerah yang sudah berpasir mendekati tepian, mereka menjadi berdebar-debar. Biasanya di tempat itu banyak getek yang siap untuk menyeberang dengan upah sekedarnya, Tetapi saat itu, tepian itu pun menjadi sepi, meskipun masih nampak beberapa buah getek yang tertlambat pada patok-patok bambu yang kuat.

Kiai Gringsing memandang air yang berwarna lumpur itu dengan dada yang berdebar-debar. Sedang Ki Waskita dan Ki Sumangkar menebarkan pandangan matanya berkeliling.

“Aneh,” desis Kiai Gringsing.

“Ya, aneh,” Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun menyahut hampir bersamaan.

“Tidak seorang pun yang nampak. Biasanya disaat begini, ada beberapa buah getek yang hilr mudik.”

“Marilah kita mendekat,” berkata Ki Sumangkar kemudian.

Mereka bertiga pun kemudian bergerak mendekati getek-getek yang tertambat. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka melihat beberapa orang yang agaknya akan menyeberang pula.

“Marilah kita mendekati mereka,” ajak Kiai Gringsing.

Ketiganya pun kemudian mendekati orang-orang yang berjalan dengan ragu-ragu. Agaknya mereka pun menjadi heran, bahwa tidak sebuah pun dari getek-getek itu yang menyeberangi sungai.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing sambil meloncat turun dari kudanya ketika ia sudah berada didekat orang yang termangu-mangu, “apakah Ki Sanak akan menyeberang?”

“Ya. Kami akan menyeberang,” jawab salah seorang; dari mereka, “tetapi aneh, Agaknya telah terjadi sesuatu sehingga sungai itu menjadi sangat sepi.”

“Apakah kira-kira baru saja ada getek yang hanyut atau terbalik ditengah sungai sehingga yang lain menjadi ketakutan?” bertanya Ki Sumangkar yang telah turun pula bersama Ki Waskita.

“Tentu tidak,” jawab orang itu, “meskipun ada diantara mereka yang terbenam sekali pun yang lain tidak akan menjadi ketakutan. Apalagi air tidak begitu deras. Tetapi tentu kami tidak akan dapat menyeberanginya.”

“Kami juga akan menyeberang,” berkata Ki Waskita, “kami mempunyai sedikit keperluan diseberang sungai,”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku mempunyai kenalan baik diantara para tukang perahu. Mungkin aku dapat bertanya kepadanya, apa yang sudah terjadi sehingga mereka tidak turun ke sungai hari ini.”

“Bertanyalah. Dan jika ia tidak berkeberatan., bawa ia kemari khusus untuk menyeberangkan kita. Bukankah mereka tidak akan menolak ajakanmu jika kau sudah kenal dengan baik.”

“Aku akan mencoba.”

Salah seorang dari mereka pula segera pergi meninggalkan kawan-kawannya melintasi pasir tepian menuju kepadukuhan yang berada tidak begitu jauh dari Kali Praga itu.

Sambil menunggu orang yang menjemput tukang perahu yang sudah dikenalnya baik-baik itu, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun berbicara tentang berbagai hal dengan orang-orang yang akan menyeberang itu pula. Ternyata mereka adadah pedagang-pedagang yang akan pergi ke tlatah Menoreh untuk mengambil berbagai jenis rempah-rempah yang kemudian akan mereka bawa ke daerah Pajang.

“Kita tidak pernah mengalami hal seperti ini akhir-akhir ini,” berkata salah seorang dari mereka, “beberapa saat yang lalu, ketika jalan yang melintas dari Timur ke Barat sering terganggu, memang kadang-kadang tidak seorang pun yang mau menyeberangkan kami. Tetapi kemudian keadaan menjadi bertambah baik, dan jalan kami pun menjadi aman.”

“Mengherankan,” berkata yang lain.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah Ki Sanak bertiga ini?”

“Kami adalah orang-orang Sangkal Putung,” jawab Kiai Gringsing, “kami mempunyai keperluan untuk menengok sanak kami yang ada di Menoreh.”

Orang-orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang berkata, “Kami kira kalian adalah pedagang mas dari Pajang, atau blantik lembu dan kerbau yang akan mencari dagangan ke tlatah Menoreh.”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar menahan senyum yang hampir saja menggerakkan dibibir mereka. Agaknya orang-orang itu tidak mengenal mereka sebagai petualang yang datang dan pergi dari satu daerah ke daerah yang lain.

“Kami memang mengharapkan dugaan yang demikian,” berkata Ki Waskita dan Ki Sumangkar di dalam hatinya. Karena dengan demikian tidak akan banyak orang yang memperhatikan perjalanan mereka.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing menjawab, “Dugaan Ki Sanak tidak banyak meleset. Meskipun kami akan mengunjungi saudara kami di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi kami memang tidak semata-mata pergi tanpa keperluan yang lain. Kami adalah perantara jual dan beli besi-besi aji.”

“Maksud Ki Sanak, pusaka-pusaka?”

Kiai Gringsing mengangguk.

“Yang Ki Sanak pentingkan, wilahan-wilahan besi keramat atau pakaian dari pusaka-pusaka itu. Maksudku, pendok mas tretes berlian, ukiran dengan batu-batu permata dan serupa itu.”

“Keduanya. Jika ternyata ada yang jodoh, maka kami dapat mencarikan pusaka-pusaka yang mempunyai kasiat bagi pemiliknya. Tetapi kami juga berdagang barang-barang mas dan permata, termasuk pendok keris.”

“Dan akik,” sambung Ki Waskita.

Kiai Gringsing berpaling. Tetapi tidak ada kesan apa pun yang nampak pada wajahnya.

“Ya,” jawab orang yang bertanya tentang barang-barang mas dan permata itu, “biasa pedagang wesi aji juga membawa batu-batu bertuah. Akik, ujung tanduk menjangan mati, ngurak yang ujudnya sudah membatu, watu ireng belah putih dan sebagainya. Nah, apakah Ki Sanak membawa batu akik? Aku pernah mendengar ada batu akik yang dapat memberikan pengaruh baik dan buruk pada pemiliknya.”

“Memang,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi sayang, bahwa kami sekarang tidak membawa apa pun juga. Kami sebenarnya sedang dalam perjalanan mengambil beberapa pusaka dari saudara kami yang ada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu tentang pusaka-pusaka yang dikenalnya.

Sementara itu, kawannya yang pergi menjemput beberapa orang tukang satang telah datang bersama dengan empat orang yang barangkali bersedia menyeberangkan orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu.

“Sebenarnya kami tidak ingin turun ke sungai hari ini,” berkata salah seorang dari mereka, “tetapi kawan yang sudah kami kenal ini memaksa kami.”

“Kami minta pertolongan Ki Sanak,” berkata salah seorang dari mereka yang datang dalam kelompok kecil itu.

Beberapa orang tukang perahu itu termangu-mangu. Mereka memandang orang-orang itu satu demi satu. Kemudian tatapan mata mereka hinggap pada Kiai Gringsing dan kedua kawannya.

Meskipun tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan, tetapi nampak kecurigaan memancar diwajah mereka, sehingga karena itu maka Kiai Gringsing pun berkata, “Aku juga termasuk dalam rombongan yang akan menyeberang Sungai Praga. Aku tidak membawa apa-apa selain pakaian beberapa lembar.”

Orang-orang itu tidak segera menjawab. Tetapi mereka agaknya masih tetap bercuriga.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “mungkin kalian melihat kelainan pada kami bertiga. Bukan karena pakaian dan kuda-kuda kami, tetapi barangkali dalam sikap dan kata-kata kami. Tetapi kelainan itu wajar sekali, karena pekerjaan kami yang berbeda dan daerah tempat tinggal kami.”

Orang-orang itu masih memandang dengan penuh curiga. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Sebenarnya kami tidak pernah memilih siapa saja yang akan kami seberangkan. Tetapi peristiwa kemarin malam, membuat kami agak ketakutan.”

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Kiai Gringsing, “dan apakah karena kejadian itu maka kalian tidak turun ke sungai hari ini.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

“Mengerikan sekali,” berkata salah seorang dari mereka.

“Apa?”

“Menjelang dini hari, beberapa orang akan menyeberangi sungai ini. Adalah kebetulan sekali aku tidur diatas perahu yang tertambat ditepian. Dengan demikian aku melihat apa yang telah terjadi.”

“Apa yang terjadi?”

“Beberapa orang yang menyeberangi sungai ini telah membangunkan tiga orang kawanku yang tidur ditepian, di atas sehelai ketepe. Agaknya mereka tidak melihat aku sehingga mereka tidak menghiraukan sama sekali, karena perahuku memang tertambat agak jauh.”

“Mereka akan menyeberang?”

“Ya. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tetapi agaknya mereka sedang tawar menawar. Menyeberang dimalam hari kadang-kadang merupakan penghasilan khusus yang agak baik bagi kami. Mereka tentu orang-orang yang tergesa-gesa sehingga tidak sempat menunggu pagi. Dan kadang-kadang kami juga berbuat salah dengan memanfaatkan kesulitan orang lain dengan memaksakan upah yang lebih tinggi,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “yang aku ketahui mereka pun kemudian menyeberang. Tetapi sungguh diluar dugaan. Ketika mereka sudah mencapai tepi sebelah Barat, maka mereka sama sekali tidak memberikan upah. Tetapi ketiga orang kawan-kawanku itu pun dibunuhnya dengan tanpa belas kasihan.”

“Dibunuh?” Ki Waskita mengulang.

“Ya. Mereka dibunuh hanya karena orang-orang yang menyeberang itu tidak mau membayar upah, sedangkan tukang-tukang perahu itu menuntutnya.”

Ki Waskita dan kawan-kawannya terkejut mendengar jawaban itu. Demikian juga sekelompok orang yang akan menyeberang Sungai Praga itu pula.

“Kami tidak mau mengulangi peristiwa yang mengerikan itu lagi,” berkata tukang perahu itu.

“Tetapi kalian sudah mengenal aku,” berkata salah seorang dari sekelompok orang yang ingin menyeberang itu.

“Kami sudah mengenal kau, tetapi…..” orang itu tidak meneruskan.

Meskipun demikian, orang yang sudah di kenal oleh tukang perahu itu mengerti dan menyahut dengan serta-merta, “Mereka adalah kawan-kawanku. Aku akan bertanggung jawab bahwa mereka tidak akan berbuat seperti orang-orang2 yang kejam itu. Kami adalah pedagang yang setiap kali memerlukan bantuan kalian. Jika kami berbuat salah, maka jalan kami akan tertutup, dan itu berarti kesulitan bagi kehidupan kami.”

Tukang-tukang perahu itu saling berpandangan sejenak. Namun hampir diluar sadar, mereka bersama-sama memandang Kiai Gringsing dan kawan-kawannya.

“Aku mengerti bahwa kalian pun mencurigai aku,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi aku berharap bahwa kalian dapat mengerti dan mempercayai kami. Kami sudah sering menyeberang sungai ini pula meskipun barangkali orang-orang lain yang menolong kami. Tetapi kami pun tidak mau kehilangan kesempatan dengan berbuat demikian tidak berperikemanusiaan. Berapa sebenarnya upah yang harus dibayar? Seandainya lipat lima sekali pun dari yang seharusnya? Sedangkan nyawa orang mempunyai nilai yang tidak dapat disebutkan dengan nilai uang. Selebihnya, kami akan berdosa dengan melakukan kejahatan serupa itu.”

Sejenak tukang perahu itu ragu-ragu. Agaknya mereka sedang mempertimbangkannya.

“Sudah barang tentu kami tidak dapat berbuat apa-apa dihadapan sekian banyak orang,” berkata Ki Sumangkar, “seandainya ada niat dihati kami untuk melakukan kejahatan yang sangat merugikan itu, kami tentu tidak akan melakukannya dihadapan orang lain.”

Seorang yang bertubuh tinggi kekar, yang agaknya orang tertua diantara tukang perahu itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Aku percaya kepada kalian, karena ada diantara kalian yang sudah aku kenal baik.”

Demikianlah maka sekelompok orang itu, termasuk Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar beserta kuda mereka pun segera naik keatas sebuah getek yang besar. Perlahan getek itu mulai bergerak. Mula-mula menyusur tepian menurut arus air, kemudian perlahan lahan semakin ke tengah, dan memotong Kali Praga.

Tidak banyak yang meresa percakapkan ditengah-tengah Kali Praga. Namun ada yang penting yang didengar oleh Kiai Gringsing dan kawan-kawannya.

Salah seorang dari sekelompok pedagang yang menyeberang itu bertanya, “Apakah kau dapat mengenal ciri-ciri dari orang-orang yang berbuat kejam itu?”

“Tentu tidak. Malam cukup gelap, dan jarak kami pun menjadi teramat jauh karena mereka sudah sampai diseberang.”

“Apa yang kau ketahui tentang mereka?”

“Tidak ada. Kami hanya mendengar pertengkaran sejenak. Kemudian jerit ngeri dari tiga orang kawan kami. Di pagi hari berikutnya, kami menemukan mayat-mayat itu. Perutnya sobek dan darah memerah dibibir perahu. Bahkan sudah menjadi hitam pula.”

“Tanpa mengenal ciri-ciri mereka, kita tidak akan dapat mencarinya, atau berhati-hati terhadap orang yang demikian disaat yang lain.”

“Aku tidak menyangka bahwa hal itu terjadi,” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi yang pasti menurut penglihatanku, salah seorang dari mereka membawa sebatang benda yang panjang.”

“Benda panjang,” diluar sadarnya Kiai Gringsing bertanya.

Orang itu berpaling sambil mengangguk, “Ya. Mungkin sebuah payung.”

“Payung?”

“Payung itu dibungkus rapi dengan sehelai kain putih.”

Dada Kiai Gringsing serasa semakin cepat berdetak. Demikian juga agaknya Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

“Hanya satu?” bertanya Kiai Gringsing sambil menahan perasaannya yang bergejolak.

“Ya. Menurut penglihatanku hanya satu.”

K’ai Gringsing tidak bertanya lagi. Ia menahan semua desakan di dalam hatinya. Demikian juga agaknya kedua kawannya.

Namun keterangan itu memberikan banyak bahan bagi Kiai Gringsing dan kedua kawannya. Agaknya orang-orang yang mengambil pusaka dari Mataram itulah yang telah menyeberangi Kali Praga. Tetapi mereka tidak membawa kedua pusaka itu bersama-sama.

“Mereka berusaha untuk memisahkannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, dan agaknya demikian juga Ki Waskita dan Ki Sumangkar. Tanpa membicarakannya lebih dahulu ketiganya dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk mengamankan pusaka yang tidak ada duanya itu, maka mereka membawa ke arah yang berbeda. Yang satu dibawa menyeberang Kali Praga, sedang yang lain dibawa ke arah lain pula.

“Tetapi mungkin juga mereka membagi pusaka-pusaka itu agar mereka untuk sementara terikat di dalam satu kelompok yang tidak akan saling mengkhianati,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mendapatkan bahan lebih banyak dari itu. Bahkan kemudian ia berpura-pura tidak menghiraukannya lagi, ketika justru orang-orang lainlah yang bertanya tentang payung itu.

Seorang yang bertubuh.kurus agaknya tertarik juga pada cerita payung itu sehingga ia pun kemudian bertanya, “Payung itu memiliki kelebihan apa sehingga diselongsong dengan kain putih?”

“Tentu aku tidak tahu. Aku hanya melihat dari kejauhan, Aku pernah melihat sebuah payung bertangkai panjang seperti yang dibawa orang itu, ketika aku masih kecil.”

“Dimana?” bertanya yang lain.

“Ketika aku ikut Biyung mengunjungi sanak keluarga kami yang berada di Pajang. Ia menghambakan diri kepada seorang bangsawan. Dan aku melihat di rumah itu ada payung bertangkai panjang.”

“Seperti songsong orang mati?”

“Ya,” tukang perahu itu berhenti sejenak ketika perahunya menjadi sedikit oleng. Kemudian, “payung di rumah bangsawan itu pun diselongsongi pula dengan kain putih.”

Dan tiba-tiba saja diluar dugaan Kiai Gringsing dan kawan-kawannya salah seorang dari pedagang yang bersama menyeberang itu berkata, “Agaknya yang membawa payung itu pencuri. Mereka mencuri payung dan dibawanya lari di malam hari.”

Tetapi tukang perahu itu menjawab, “Apakah seseorang mempertaruhkan dirinya sekedar untuk mendapat sebuah payung yang dibuat dari kayu dan sesobek kain itu?”

“O, bodoh kau. Yang kau lihat adalah payung itu. Tetapi apakah kau mengetahui bahwa mereka membawa sebungkus emas dan permata?”

“Ah. Aku tidak tahu.”

Demikianlah maka mereka pun kemudian terdiam. Perahu itu perlahan-lahan maju memotong arus sungai yang tidak begitu deras, meskipun masih terlalu berbahaya untuk diseberangi tanpa perahu.

Setelah mereka sampai diseberang, maka sambil mengucapkan terima kasih, maka Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun segera membayar upah yang harus mereka berikan. Demikian juga pedagang-pedagang yang akan mengambil rempah di tlatah Menoreh itu.

“Bagaimana aku menyeberang kembali besok,” bertanya salah seorang pedagang itu, “jika masih belum ada orang yang berani melintas sungai ini? Dari arah Timur aku dapat memanggil kau kerumah. Tetapi dari arah Barat, aku belum mempunyai kenalan yang rapat.”

“Kapan kau akan kembali?”

“Mungkin besok, selambat-lambatnya lusa.”

“Menjelang tengah hari aku ada diseberang meskipun tidak ditempat penyeberangan karena kami masih ketakutan. Jika kau berdiri ditepian dan bersuit dua kali sambil melambaikan tangan, aku akan menjemputmu jika masin belum ada orang lain. Tetapi jika ada, maka rejeki itu adalah hak kawan-kawan dari seberang Barat. Aku tidak dapat merampas dari mereka.”

“Jika mereka tidak ada.”

“Kecuali. Seperti aku katakan, beri aku tanda. Aku ada ditepian meskipun barangkali aku bersembunyi.”

Demikianlah maka mereka yang telah menyeberang itu pun meninggalkan tepian. Kiai Gringsing dan kedua kawannya minta diri untuk mendahului pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika kuda-kuda mereka telah berlari meskipun, tidak begitu cepat, melintasi bulak persawahan memasuki tlatah Menoreh, maka Kiai Gringsing dan kedua kawannya mulai menilai keterangan tukang perahu yang telah melihat sekelompok orang yang membawa payung bertangkai panjang dan berselongsong putih itu.

“Aku hampir memastikan,” berkata Kiai Gringsing, “bahwa payung yang mereka bawa itu adalah songsong yang hilang dari Mataram.”

“Ya,” sahut Ki Waskita, “jika payung itu bukan payung yang bernilai melampaui nilai orang-orang yang membawa itu sendiri menurut dugaan mereka, maka mereka tidak akan membunuh tukang perahu yang tidak berdosa itu.”

“Mereka berusaha menghilangkan jejak agar tidak seorang pun yang mengetahui arah kepergian mereka,” sambung Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan kedua kawannya bahwa payung itu adalah Kanjeng Kiai Mendung.

“Tetapi kemana Kanjeng Kiai Pleret mereka bawa?” desis Ki Waskita.

“Dengan memisahkan kedua pusaka itu, maka mereka akan merasa semakin aman. Aman dari segi penelitian orang-orang Mataram, dan aman bagi mereka sendiri. Jika salah satu pihak dari mereka membawa keduanya, maka wahyu itu akan berada pada pihak yang membawa kedua pusaka itu,” desis Kiai Gringsing.

“Menurut dugaan Kiai, apakah ada semacam pertentangan yang meskipun tersembunyi diantara mereka yang mengambil pusaka itu?” bertanya Ki Waskita.

“Aku belum dapat mengambil kesimpulan. Mungkin saja hal itu terjadi, tetapi mungkin sekedar untuk pengamanan.”

“Tetapi pada suatu saat, kedua pusaka itu akan berkumpul,” berkata Ki Sumangkar selanjutnya, “mungkin setelah mereka berhasil mengambil pusaka-pusaka yang lain dari Pajang.”

“Ya. Agaknya harus demikian.”

Ketiganya mengangguk-angguk. Sejenak mereka saling berdiam diri. Meskipun tatapan mata mereka manyapu kehijauan dedaunan ditlatah Tanah Perdikan Menoreh, namun pikiran mereka masih tetap dicengkam oleh cerita tukang perahu itu.

Namun seperti terbangun dari mimpi, mereka pun kemudian mulai mempersiapkan diri ketika mereka mulai berpapasan dengan beberapa orang petani yang lewat ditanggul parit ditepi jalan. Beberapa orang dari mereka menganggukkan kepalanya, karena agaknya mereka pernah melihat orang yang bernama Kiai Gringsing dan kawan-kawannya itu.

Demikianlah maka Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun segera mengatur diri, membenahi rambut yang berjuntai ditiup angin selama perjalanan dan mengatur kata-kata yang nanti akan disampaikan kepada Ki Gede Menoreh, sesuai dengan pesan Ki Demang Sangkal Putung.

Tidak seperti saat-saat yang lampau, mereka selalu berpapasan dengan kelompok-kelompok peronda, maka kini agaknya Tanah Per-dikan Menoreh telah benar-benar menjadi tenang. Meskipun agaknya Tanah Perdikan Menoreh tidak lengah sama sekali, namun mereka tidak diganggu oleh kegelisahan persiapan bersenjata di sepanjang jalan. Hanya sekali-sekali saja mereka melihat dua orang pengawal berkuda melintas dan apabila mereka berpapasan, pengawal-pengawal itu pun mengangguk hormat, karena mereka pun telah mengenal Kiai Gringsing dan kedua kawannya itu.

Sejenak kemudian, Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun telah memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Namun kedatangan mereka bertiga, sama sekali tidak mengejutkan orang-orang di Menoreh. Terlebih-lebih Ki Gede Menoreh sendiri yang sebenarnya memang sedang menunggu kedatangan tamu-tamu dari Sangkal Putung. Dan bahkan Ki Gede sudah memastikan, bahwa yang akan datang adalah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Tetapi ternyata diantara mereka terdapat pula Ki Waskita.

Sebelum mereka memasuki halaman rumah Ki Argapati, maka sekali lagi mereka menyesuaikan pendapat mereka, bahwa sebaiknya Ki Argapati mendapat sedikit keterangan tentang hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu dan menyampaikan pula keterangan tukang perahu yang melihat, bahwa satu diantara kedua pusaka yang hilang telah menye-berang Kali Praga.

“Mereka membunuh tukang-tukang perahu itu untuk menghapuskan jejak mereka bahwa Kiai Mendung telah melintasi Kali Praga,” berkata Kiai Gringsing.

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Mereka sependapat sepenuhnya dengan Kiai Gringsing itu, karena Ki Argapati pun agaknya akan terlibat pula seperti saat-saat Mataram berusaha menemukan sarang Panembahan Agung, Apalagi ketika mereka yakin bahwa Tanah Perdikan Menoreh setidak-tidaknya menjadi tempat atau jalur jalan orang orang yang membawa salah satu dari pusaka yang hilang itu.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya pun telah memasuki regol halaman rumah Ki Argapati. Ki Argapati sendiri telah turun dari tangga rumahnya dan menyongsong tamu-tamunya yang memang sudah ditunggunya.

Kedatangan Kiai Gringsing dan kedua kawannya disambut oleh keluarga Ki Argapati dengan wajah-wajah yang cerah. Mereka sudah tahu persoalan apa yang dibawa oleh Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Namun berita yang sekarang dibawa itu adalah berita kepastian tentang saat-saat yang sudah lama dinantikan itu.

Demikianlah mereka pun kemudian duduk melingkar di atas sehelai tikar pandan dipendapa. Seperti kebiasaan yang berlaku, maka mereka pun segera saling menanyakan keselamatan dan berita tentang keluarga masing-masing. Keluarga Tanah Perdikan Menoreh dan keluarga di Sangkal Putung.

BUKU 86

PEMBICARAAN mereka pun kemudian dengan lancar merambat kepada berbagai macam persoalan. Kiai Grirgsing sengaja tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan-pesan dari Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya Ki Argapati tentu akan mengumpulkan beberapa orang tua-tua di Tanah Perdikan Menoreh dan membicarakannya sama sekali. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun menunggu apabila saatnya telah datang.

 

Seperti yang diduga, maka Ki Argapati kemudian telah siap menyuruh memanggil orang-orang tua yang biasa dibawanya berbincang. Dan kepada Kiai Gringsing ia berkata, “Kiai. Jika sekiranya perlu, aku akan memanggil orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh. Jika aku tidak salah tanggapan, Kiai kali ini datang atas nama Ki Demang Sangkal putung.”

 

“Sebenarnyalah demikian, Ki Gede. Dan aku beserta kedua kawanku seperjalanan dengan senang hati akan menyampaikan semua pesan-pesan Ki Demang Sangkal Putung, kapan saja yang sebaiknya bagi Ki Argapati.”

 

“Baiklah. Malam nanti kita akan berkumpul di pendapa. Apakah Kiai sudah tidak terulampau letih?”

 

“Tentu tidak.”

 

“Kami pun ingin segera mendengarnya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Memang semakin cepat semakin baik. Seakan-akan aku telah meletakkan beban yang tersangkut di dalam dada ini.”

 

Ki Argapati tertawa. Tetapi ia tidak menduga sama sekali bahwa beban yang tersangkut di hati Kiai Gringsing dan kawan-kawannya adalah beban ganda. Jika mereka telah menyampaikan pesan Ki Demang Sangkal Putung, maka akan datang gilirannya, mereka menyampaikan pesan tentang kedua pusaka yang hilang itu, meskipun hanya kepada Ki Argapati seorang diri.

 

Sebelum malam turun di atas Tanah Perdikan Menoreh, maka tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh itu pun dipersilahkan beristirahat di gandok sebelah kiri. Mereka segera mendapat jamuan makan setelah mereka membersihkan diri di pakiwan.

 

Beberapa lamanya mereka menunggu di gandok sambil berbicara di antara mereka. Tetapi mereka tidak lagi membicarakan pesan Ki Demang di Sangkal Putung, tetapi mereka membicarakan persoalan pusaka-pusaka yang hilang itu.

 

“Besok,” berkata Ki Waskita tiba-tiba, “aku akan minta waktu barang satu malam untuk singgah sebentar ke rumah. Aku harus memberitahukan bahwa aku akan memperpanjang waktu kepergianku dengan hilangnya pusaka-pusaka itu.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi, lusa kami sudah akan kembali.”

 

“Ya. Besok pagi-pagi aku pergi, di pagi berikutnya aku tentu sudah berada di sini kembali.”

 

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar saling berpandangan sejenak. Namun keduanya pun kemudian mengangguk.

 

“Kami tidak berkeberatan,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi di pagi hari berikutnya, Ki Waskita kami harap sudah berada di antara kami, karena kita bersama-sama akan segera pergi ke Mataram. Persoalannya akan segera beralih kepada persoalan yang barangkali tidak kalah pentingnya dengan hari-hari perkawinan Swandaru. Justru dalam lingkungan yang lebih luas. Tetapi kita pun tidak akan dapat mengabaikan hari-hari yang sudah ditunggu oleh Ki Demang Sangkal Putung sekeluarga.”

 

“Baiklah, Kiai. Mudah-mudahan tidak ada persoalan apa pun yang menghambat perjalananku. Namun demikian, jika pada saatnya aku tidak datang, tentu ada sesuatu yang menahan aku. Mungkin di rumah, mungkin di perjalanan..”

 

“Apakah kami harus menyusul?” bertanya Ki Sumangkar.

 

Ki Waskita termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku kira tidak perlu. Dengan demikian aku justru akan memperlambat perjalanan kalian dalam tugas ganda yang berat itu.”

 

“Tetapi Ki Waskita adalah kawan yang terpercaya bagi kami berdua,” sahut Kiai Gringsing.

 

Ki Waskita tersenyum. Sambil menggeleng ia berkata, “Tentu tidak. Aku adalah pupuk bawang saja di dalam persoalan ini. Baik persoalan Ki Demang Sangkal Putung maupun persoalan hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu.”

 

“Jika Ki Waskita pupuk bawang, lalu apakah kedudukanku?” bertanya Ki Sumangkar.

 

Keduanya tersenyum. Tetapi Ki Waskita tidak menjawab pertanyaan Ki Sumangkar.

 

Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan menyelubungi perbukitan Menoreh, maka beberapa orang-orang tua di Menoreh mulai berdatangan di pendapa Ki Gede. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Ki Argapati untuk ikut membicarakan persoalan Pandan Wangi. Sementara Pandan Wangi sendiri seolah-olah tidak mau keluar dari ruang dalam. Hanya sekali-sekali saja ia pergi ke dapur. Tetapi jika beberapa orang gadis yang membantu menyediakan jamuan buat para tamu mulai mengganggunya, maka ia pun berlari masuk lagi ke ruang dalam.

 

Setelah orang-orang tua yang diundang oleh Ki Argapati berkumpul di pendapa, dan Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar telah duduk pula bersama mereka, maka mulailah Ki Argapati membuka pertemuan itu dan mempersilahkan Kiai Gringsing menyampaikan kepentingan yang dipesankan oleh Ki Demang Sangkal Putung kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Aku menyerahkan keputusan persoalan ini kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Argapati. “Karena itu, kami ingin mempertemukan orang-orang tua di Menoreh langsung dengan utusan Ki Demang di Sangkal Putung.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menyisihkan persoalan pusaka-pusaka yang hilang untuk sesaat, dan memusatkan pembicaraannya kepada pesan Ki Demang Sangkal Putung.

 

“Nah,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “aku persilahkan Kiai untuk memulainya.”

 

Kiai Gringsing beringsut sedikit. Kemudian ia pun memandang berkeliling. Sambil mengangguk-angguk kecil ia pun kemudian berkata, “Sebenarnyalah bahwa aku membawa pesan Ki Demang Sangkal Putung. Aku akan menyampaikan pesan itu kepada Ki Argapati di hadapan Ki Sanak semuanya.”

 

Orang yang hadir di pendapa itu pun mengangguk-angguk. Dan Ki Argapati pun menyahut, “Kami sudah siap, Kiai.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Agaknya Ki Argapati sendiri ingin segera mendengar pesan itu.

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “yang penting yang harus kami sampaikan tinggallah masalah waktu. Sudah barang tentu kami tidak akan mengulangi semua basa-basi seperti pada saat kami mengantarkan Ki Demang melamar Angger Pandan Wangi. Pembicaraan sudah berkembang lebih jauh daripada itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Untuk menyampaikan persoalan waktu itulah maka kami datang kemari.”

 

Kiai Gringsing pun kemudian menyampaikan hasil pembicaraan orang-orang tua di Sangkal Putung, sebagai pihak bakal pengantin laki-laki. Namun karena ajang perkawinan yang pokok adalah pada pihak pengantin perempuan, maka semuanya terserah kepada keluarga dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Jadi, menurut perhitungan Ki Demang, perkawinan itu akan berlangsung kira-kira empat puluh hari lagi?” bertanya seorang yang rambut dan janggutnya sudah putih.

 

“Ya, Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing. “Itu adalah permohonan waktu yang diberikan oleh Ki Demang atas perhitungan orang-orang tua di Sangkal Putung.”

 

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih belum mengambil kesimpulan. Namun rasa-rasanya ia tidak mempunyai keberatan apa pun tentang hari yang ditetapkan itu, kecuali apabila menurut orang-orang tua hal itu merupakan hari pantangan.

 

“Empat puluh hari bagi persiapan sebuah perkawinan adalah waktu yang pendek,” berkata salah seorang dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Hari itu sendiri tidak mengandung keberatan apa pun. Tetapi persoalannya adalah waktu yang pendek itu,” berkata orang lain, “sehingga dengan demikian persoalannya tergantung sekali kepada Ki Gede Menoreh.”

 

Semua orang memandang ke arah Ki Gede Menoreh yang terangguk-angguk. Keningnya nampak berkerut. Agaknya ia sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan tentang saat yang diminta oleh K i Demang Sangkal Putung itu.

 

Untuk beberapa saat pendapa kademangan itu menjadi sepi. Agaknya masing-masing sedang membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam hati.

 

Ki Gede Menoreh agaknya menyadari bahwa persoalannya banyak tergantung kepadanya. Jika ia tidak berkeberatan melaksanakan perkawinan anaknya dalam waktu singkat itu, muka semuanya akan dapat menerimanya, karena tidak ada seorang pun yang mengajukan keberatan sesuai dengan waktu yang disebutkan oleh Kiai Gringsing.

 

“Rabo Manis,” desis Ki Gede Menoreh di dalam hatinya, “hari itu adalah hari lahir Swandaru. Waktunya tepat saat matahari terbenam.”

 

Bagi Ki Argapati sendiri, hari bukannya ketentuan yang paling penting. Baginya tidak ada hari yang mempunyai kelebihan dari hari-hari yang lain. Jika ia memerlukan memanggil orang-orang tua untuk memperhitungkan saat, maka hal itu semata-mata untuk memberikan kesan, bahwa ia tidak meninggalkan perhitungan dan pertimbangan dari orang-orang tua. Jika terjadi sesuatu kelak, orang-orang tua dan tetangga di seputarnya tidak akan menyalahkannya.

 

Baginya kini yang terpenting adalah pertimbangan jarak waktu. Kira-kira empat puluh hari lagi.

 

“Untunglah bahwa selama ini aku sudah membuat beberapa persiapan. Perempuan-perempuan tua sudah mulai menyediakan beberapa macam keperluan yang dapat disimpan. Kayu bakar telah tertimbun di belakang kandang. Padi yang paling baik sudah disisihkan dan dikeringkan. Setiap saat padi itu dapat ditumbuk dan menjadi beras yang putih.”

 

Sementara Ki Argapati membuat pertimbangan di dalam hatinya, maka orang-orang tua di Menoreh pun seakan-akan menunggunya untuk memberikan jawaban.

 

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian, “agaknya aku tidak mendengar pendapat yang tidak menyetujui saat perkawinan yang diusulkan oleh Ki Demang Sangkal Putung. Bahkan sebagian dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh agaknya menyerahkan persoalan adbmcadangan.wordpress.com itu kepadaku. Bukan atas perhitungan hari, karena agaknya hari yang diusulkan oleh Ki Demang itu tidak merupakan saat pantangan, tetapi tekanannya kepada waktu yang sempit.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil menjawab, “Demikilanlah agaknya Ki Gede. Namun segala sesuatunya terserah kepada Ki Gede Menoreh.”

 

“Kiai,” berkata Ki Gede, “sebenarnyalah bahwa hari-hari itu memang sudah kita tunggu. Sedikit atau banyak, kami di sini sebenarnya telah membuat beberapa persiapan yang mungkin. Karena itu, agaknya aku pun tidak berkeberatan atas jarak waktu yang dipesankan oleh Ki Demang Sangkal Putung itu.”

 

“Jadi tegasnya?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Aku dapat menerima dengan baik hari itu, kecuali jika ada pertimbangan lain dari orang-orang tua.”

 

Seorang tua menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Seperti yang sudah dikatakan. Hari itu bukan hari pantangan. Apabila Ki Gede mempertimbangkan pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari itu, maka agaknya tidak ada persoalan lagi. Rabo Manis, selapan hari lebih sedikit, karena besok, hari Rabo itu pun hari Rabo Manis pula.”

 

“Ya, kira-kira empat puluh hari lagi,” sahut Ki Gede Menoreh.

 

“Semuanya terserah kepada Ki Gede,” berkata seorang tua yang lain. “Hari itu memang bukan hari pantangan, apa lagi hari itu merupakan hari lahir Angger Swandaru.”

 

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah. Semuanya merupakan pertimbangan yang menentukan bagiku. Biarlah aku berpikir semalam. Besok aku akan memberikan jawaban kepada Kiai Gringsing sebagai wakil dari Ki Demang di Sangkal Putung.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Yang penting bagiku, bahwa tidak ada keberatan apa pun juga dengan hari yang sudah ditentukan oleh Ki Demang itu.”

 

Dengan demikian maka pertemuan itu pun sudah mencapai pokok persoalannya. Pertemuan seterusnya tinggallah membicarakan tentang rangkaian dari upacara itu. Pakaian yang akan dikenakan. Berapa hari pengantin laki-laki harus berada di rumah pengantin perempuan sebelum saat perkawinan dan kelengkapan upacara yang lain sambil menikmati hidangan yang satu persatu disuguhkan.

 

Tetapi pembicaraan itu sudah tidak begitu penting lagi. Meskipun demikian satu demi satu Kiai Gringsing dan kedua kawannya harus ingat benar apa saja yang sudah dibicarakan, supaya pada saatnya tidak terjadi kesalahan dan kekisruhan.

 

Akhirnya pembicaraan itu pun berakhir. Meskipun Ki Gede masih akan memberi keterangan besok, tetapi rasa-rasanya semuanya sudah pasti.

 

Demikianlah maka orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh itu pun minta diri ketika malam menjadi semakin larut. Udara menjadi bertambah dingin dan angin yang basah bertiup menyusup masuk ke pendapa yang terbuka, mengguncang nyala pelita yang berwarna kemerahan.

 

Sepeninggal orang-orang tua itu, maka Ki Gede pun segera mempersilahkan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk beristirahat. Ki Argapat mengerti, bahwa mereka tentu merasa letih karena perjalanan mereka dan pembicaraan yang melelahkan pula.

 

Tetapi Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Gede. Kami minta maaf, bahwa kami masih minta waktu sedikit. Kami masih ingin berbicara dengan Ki Gede seorang diri tanpa orang lain.”

 

Wajah Ki Argapati menjadi tegang. Dipandangnya ketiga tamunya itu berganti-ganti. Namun ia tidak segera dapat menangkap kesan yang tersirat pada wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang rasa-rasanya tetap tenang dan tidak melontarkan kesan kegelisahan sama sekali.

 

“Apakah masih ada yang kurang dari pembicaraan kita?” bertanya Ki Argapai.

 

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ditatapnya wajah Ki Argapati yang tegang.

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “memang masih ada yang kurang. Agaknya yang kurang itu tidak kalah pentingnya dari yang sudah kita bicarakan.”

 

Ki Argapati menjadi semakin tegang. Sejengkal ia bergeser maju mendekat.

 

“Tetapi Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “aku mempunyai permintaan. Persoalan yang akan kami sampaikan nanti, hendaknya jangan sampai mengganggu persoalan yang tengah dihadapi oleh Ki Gede dan seluruh warga Tanah Perdikan Menoreh.”

 

“Aku tidak mengerti,” desis Ki Argapati.

 

“Persoalan yang akan kami kemukakan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ki Gede untuk menyelenggarakan perelatan perkawinan Angger Pandan Wangi dan Swandaru. Meskipun demikian, sebaiknya Ki Gede mengetahuinya agar dapat membuat persiapan-persiapan yang masak menghadapi masa-masa perkawinan itu.”

 

“Baiklah Kiai. Meskipun aku tidak mengerti apa yang akan Kiai katakan, tetapi aku sudah lebih dahulu mempersiapkan diri melakukan semua pesan Kiai.”

 

“Ki Gede,” Kiai Gringsing pun bergeser mendekat, “menjelang perkawinan Angger Pandan Wangi, ternyata Tanah Perdikan Menoreh telah disusupi lagi dengan sebuah masalah yang dapat menimbulkan kesulitan.”

 

Ki Gede Menoreh hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya ia ingin segera mendengar persoalan apa yang akan dikatakan oleh Kiai Gringsing itu, tetapi ia masih tetap menahan diri.

 

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “yang mula-mula perlu kami sampaikan adalah sebuah berita yang agak menggetarkan hati.”

 

“Tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan?”

 

“Bukan. Aku yakin bahwa berita itu telah tersebar sampai ke ujung Barat dan Timur dari Tanah Pajang.”

 

“Jadi?”

 

“Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, Mataram telah di guncang oleh hilangnya dua buah pusaka. Pusaka yang merupakan kekuatan batiniah bagi tegaknya Mataram. Bahkan beberapa orang percaya bahwa pusaka-pusaka itu dapat menuntun wahyu keraton.”

 

“Maksud Kiai?”

 

“Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung telah jengkar dari ruang pusaka di Mataram.”

 

“He,” Ki Argapati terkejut bukan kepalang. Wajahnya yang tegang menjadi bertambah tegang.

 

“Kedua pusaka itu hilang diambil oleh beberapa orang yang berhasil memasuki ruang pusaka di Mataram.”

 

“Jadi Mataram telah dimasuki pencuri-pencuri ulung?”

 

“Bukan saja pencuri, teapi perampok.”

 

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Keheranan yang sangat telah terpancar di wajahnya.

 

“Apakah Mataram saat itu sedang kosong sama sekali?”

 

“Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya ada di Mataram.”

 

“Ki Juru Martani ada? Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi?”

 

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan serba sedikit dari beberapa hal yang diketahuinya tentang hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu

 

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya cerita Kiai Gringsing itu sulit untuk dipercayai. Namun dalam persoalan yang penting ini, Kiai Gringsing tidak sedang bergurau.

 

“Peristiwa itu memang aneh,” berkata Kiai Gringsing

 

“Tentu ada sekelompok orang-orang sakti. Bukan hanya satu atau dua orang.”

 

“Ya. Agaknya memang demikian. Dan agaknya orang-orang itu dengan sengaja telah meninggalkan tanda-tanda tertentu.”

 

“Tanda-tanda?”

 

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan pula mengenai tanda-tanda yang dengan sengaja ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka-pusaka itu.

 

“Tanda-tanda yang aneh. Aku belum pernah melihat ciri-ciri yang demikian. Mungkin suatu perguruan yang kurang terkenal. Mungkin suatu perguruan yang baru sekali meskipun pimpinannya mengaku mempunyai tetesan darah Majapahit.”

 

“Mungkin sekali.”

 

“Tetapi apakah Ki Sumangkar dan Ki Waskita juga belum pernah melihatnya?”

 

Keduanya menggelengkan kepalanya

 

“Selagi Ki Sumangkar berada di Jipang, apakah ada tanda-tanda yang mirip dengan tanda-tanda itu?”

 

“Aku belum pernah melihat ciri-ciri seperti itu,” sahut Sumangkar kemudian. “Beberapa buah perguruan kecil yang pada waktu itu membantu Adipati Jipang tidak ada yang memiliki ciri-ciri yang mirip, atau mempunyai arti serupa dengan ciri-ciri yang ditinggalkan itu.”

 

“Jika demikian, orang itu sengaja menimbulkan kebingungan. Mereka menanggalkan tantangan yang tidak bertanggung jawab, karena siapa pun dapat membuat ciri-ciri yang aneh-aneh sekalipun,” berkata Ki Gede Menoreh.

 

“Mungkin memang demikian,” sahut Kiai Gringsing. “Besok jika aku kembal ke Sangkal Putung, aku akan mengambil tiruan dari ciri-ciri itu. Mudah-mudahan dapat aku pergunakan untuk menemukan kelompok yang mengaku keturunan Majapahit itu.”

 

“Mudah-mudahan Kiai. Aku akan menunggu pemberitahuan berikutnya. Mungkin persoalan ini akan merambat sampai ke tlatah Menoreh seperti persoalan Panembahan Agung beberapa saat lampau.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sekilas ia memandang wajah Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Kemudian katanya, “Ki Gede. Masih ada yang ingin aku sampaikan.”

 

Ki Gede tidak menyahut.

 

“Adalah kebetulan sekali, pada saat kami menyeberang Kali Praga, dengan tidak kami sengaja kami mendapat sedikit petunjuk arah kepergian salah satu dari kedua pusaka yang hilang itu.”

 

Ki Argapati menjadi tegang. Bahkan ia pun bergeser setapak sambil bertanya, “Ke mana arah itu, Kiai?”

 

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan pendengarannya pada saat itu menyeberang Kali Praga. Tentang sekelompok orang yang membawa sebuah songsong dan yang kemudian membunuh para tukang perahu.

 

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku sudah menduga, bahwa mau tidak mau aku pasti akan terlibat lagi. Jadi salah satu dari pusaka yang hilang itu di bawa menyeberang Kali Praga dan pergi ke tlatah Menoreh?”

 

“Begitulah kira-kira Ki Gede.”

 

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Memang seharusnya Kiai memberitahukan kepadaku. Dengan demikian aku dapat berjaga-jaga.”

 

“Tetapi semuanya ini adalah rahasia, Ki Gede. Bukan saja untuk ketenangan tlatah Menoreh yang akan melaksanakan perelatan, tetapi bagi Mataram, kehilangan kedua pusaka itu pun merupakan rahasia pula. Rakyat Mataram tidak boleh mengetahui bahwa kedua pusaka itu telah hilang. Sebab jika demikian, maka seluruh rakyat Mataram akan menjadi gelisah, dan barangkali akan mempengaruhi kepercayaan mereka kepada pemimpinnya.”

 

Ki Argapati masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mengerti, Kiai. Aku akan merahasiakannya, demi kepentinganku sendiri dan kepentingan Mataram yang baru tumbuh itu.”

 

“Terima kasih, Ki Gede. Kelak, jika tiruan ciri-ciri itu sudah siap, aku akan membawa sekeping buat Ki Gede. Mungkin akan berguna bagi Ki Gede dan bagi Mataram. Namun sebelum keperluan Ki Gede sendiri selesai, maka sebaiknya Ki Gede tidak perlu merisaukannya. Karena sebenarnyalah bahwa keperluan Ki Gede sendiri adalah keperluan yang penting bagi masa depan anak perempuan Ki Gede itu.”

 

“Terima kasih, Kiai. Tetapi justru dalam kesibukan itu aku harus berwaspada. Sudah barang tentu, ada satu atau dua orang kepercayaanku yang akan aku beritahu hal itu. Tetapi dengan jaminan bahwa mereka akan dapat memegang rahasia.”

 

Kai Gringsing tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk.

 

“Kepada mereka itulah aku akan menyerahkan pengamanan Menoreh selama perelatan itu nanti berlangsung.”

 

“Ya, Ki Gede. Memang agaknya tidak akan dapat diabaikan kemungkinan yang sama sekali tidak kita harapkan. Mungkin mereka akan mempergunakan kelengahan masa-masa perelatan itu untuk kepentingan mereka.”

 

“Memang tidak mustahil. Untunglah bahwa Kiai kebetulan mendengar bahwa salah satu dari kedua pusaka itu berada di tlatah Menoreh. Setidak-tidaknya lewat tlatah Menoreh. Bahkan mungkin kedua-duanya, meskipun tidak bersama-sama atau mengambil jalan penyeberangan yang lain.”

 

“Mungkin sekali, Ki Gede.”

 

“Baiklah, Kiai. Aku akan mencoba mencari keterangan lewat orang-orangku yang paling aku percaya. Aku akan mencoba mencari berita, apakah ada orang atau sekelompok orang-orang yang membawa sejenis pusaka yang menyeberang di tempat-tempat penyeberangan yang lain.”

 

“Keterangan yang demikian akan berguna sekali, Ki Gede.”

 

“Agaknya persoalan yang menghambat tumbuhnya Mataram masih saja timbul.”

 

“Usaha itu akan dilakukan terus-menerus dalam usaha sekelompok orang untuk menggagalkan Mataram. Bahkan lebih jauh lagi, hancurnya Pajang sama sekali. Dan mereka adalah sekelompok orang yang berada di bawah pengaruh orang yang menyebut dirinya mempunyai keturunan darah Majapahit.”

 

“Aku semula menyangka bahwa setelah Panembahan Agung dapat diselesaikan, maka tekanan pada Mataram akan menjadi semakin ringan. Tetapi ternyata justru sebaliknya.”

 

“Karena itulah maka kita tidak akan dapat tinggal diam, Ki Gede.”

 

“Apakah selama ini Kiai hanya tinggal diam?”

 

Kiai Gringsing tersenyum. SekiIas dipandanginya Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Kemudian katanya, “Seharusnya aku berkata lain. Kita selama ini memang tidak tinggal diam. Juga Ki Argapati.”

 

Yang lain pun tersenyum pula. Betapa pahitnya peristiwa yang terjadi atas Mataram, namun orang-orang tua itu masih juga sempat berkelakar.

 

Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir. Ki Argapati mengerti sepenuhnya, apa yang harus dilakukan, seperti yang diduga oleh Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya. Bahkan, ia merasa bersyukur, bahwa dengan demikian ia dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, dan tidak tenggelam dalam kesibukan hari-hari perelatan.

 

“Orang-orang itu mungkin akan menyalakan pertentangan seperti yang mereka lakukan atas Mataram dan Pajang. Kehadiran pusaka itu di Menoreh akan dapat menumbuhkan salah paham, apabila belum saling dimengerti,” berkata Ki Argapati kemudian. “Karena itu, kami mengharap agar Kiai menyampaikan persoalan pusaka yang menyeberang ke Menoreh itu kepada Ki Juru Martani.”

 

“Tentu. Dengan demikian kami akan mendapat keterangan yang lengkap, dan untuk selanjutnya saling melengkapi.”

 

Ternyata keterangan itu sangat penting artinya bagi Ki Argapati. Meskipun mungkin pusaka itu hanya dibawa lewat saja tlatah Menoreh, namun hal itu akan dapat menumbuhkan berbagai macam masalah apabila Ki Argapati tidak mendapat keterangan lebih dahulu tentang pusaka itu.

 

Ketika malam menjadi semakin larut, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera kembali ke dalam bilik yang disediakan bagi mereka.

 

Beberapa saat mereka masih membicarakan masalah pusaka-pusaka itu. Namun kemudian mereka pun segera pergi ke pembaringan dan tidur dengani nyenyaknya.

 

Pagi-pagi benar mereka telah terbangun. Ki Waskita tetap pada rencananya untuk mengunjungi keluarganya semalam agar mereka tidak terlampau gelisah karena kepergiannya yang berlarut-larut.

 

“Aku menunggu sampai besok,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Ya. Dan perjalanan Kiai jangan sampai tertunda karena aku. Jika aku tidak datang besok, aku harap Kiai melanjutkan perjalanan seperti rencana. Jika ada kesempatan, aku akan menyusul sampai ke Sangkal Putung.”

 

Ki Waskita pun kemudian minta diri pula kepada Ki Argapati untuk mengunjungi keluarganya barang satu malam.

 

“Jadi, aku hanya dapat menyampaikan jawaban resmiku kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar malam nanti?” bertanya Ki Argapati.

 

Sambil tersenyum Ki Waskita menjawab, “Jawaban Ki Argapati sudah aku ketahui dengan pasti meskipun baru malam nanti diucapkan dengan resmi.”

 

“O. Aku lupa bahwa aku berbicara dengan seorang Ki Waskita yang benar-benar waskita.”

 

“Ah. Tidak. Bukan berdasarkan atas ilmu apa pun. Sekedar pertimbangan lahiriah saja. Bukan saja aku, tetapi agaknya Ki Demang Sangkal Putung yang tidak ikut serta datang ke Menoreh pun sudah mengetahui jawaban Ki Gede yang akan diucapkan nanti.”

 

“Ah. Ki Wasfkita tidak boleh mengurangi ketegangan kami,” berkata Ki Sumangkar, “biar saja kami menunggu jawaban itu dengan tegang.”

 

Mereka pun tertawa. Ki Sumangkar meneruskan, “Bukankah, kadang-kadang kita senang mengalami ketegangan oleh sebuah teka-teki? Seperti kanak-kanak senang melakukannya?”

 

Ketika matahari kemudian memanjat semakin tinggi, maka Ki Waskita pun kemudian berangkat meninggalkan Menoreh, kembali ke rumahnya untuk sekedar mengurangi ketegangan keluarganya yang telah menunggunya beberapa lama.

 

Dengan demikian, maka di malam hari berikutnya, Kiai Gringsing hanya berdua saja dengan Ki Sumangkar, duduk di antara orang-orang tua di Menoreh untuk mendengarkan jawaban Ki Argapati. Jawaban yang sebenarnya sudah diketahui sebelumnya

 

Dengan demikian maka pertemuan itu pun berjalan dengan cepat Tidak ada persoalan lagi di antara Ki Argapati dan Kiai Gringsing sebagai wakil Ki Demang Sangkal Putung.

 

Karena itu, maka pertemuan itu pun kemudian sebagian hanya sekedar pembicaraan yang tidak penting dari acara-acara perkawinan yang bakal diadakan itu.

 

Namun sementara itu, Ki Waskita yang telah berada di rumahnya, dirisaukan oleh persoalan yang tidak dsangkanya. Ternyata Rudita tidak ada di rumah. Ia minta diri kepada ibunya untuk pergi beberapa hari. Meskipun ibunya tidak mengijinkannya, tetapi ia memaksanya juga.

 

“Aku sudah dewasa, Ibu. Dan aku bukan sekedar sebuah golek yang hanya pantas diemban dengan cinde. Aku pun ingin mengenal dunia ini dengan segala macam isinya. Yang halus, yang kasar, dan segala bentuknya,” berkata Rudita.

 

Bagaimana pun juga ibunya menahannya, bahkan dengan air mata, namun Rudita tetap juga pergi meninggalkan rumahnya.

 

“Aku akan mencarinya,” berkata Ki Waskita.

 

“Kau harus menemukannya,” berkata ibunya, “bukankah Kakang dapat mengetahui di mana Rudita sekarang berada?”

 

“Aku dapat menduga arahnya,” berkata Ki Waskita, “tetapi aku tidak tahu tepat, di mana ia sekarang.”

 

“Ia tidak pernah pergi ke mana pun juga selama ini. Apalagi sepeninggalmu, Kakang. Ia berada saja di dalam biliknya. Siang dan malam. Hanya kadang-kadang saja ia berjalan-jalan dihalaman. Bergurau dengan pelayan-pelayan. Tetapi sejenak kemudian ia sudah berada di dalam biliknya lagi.”

 

“Apa saja yang dilakukannya di dalam biliknya?”

 

“Membaca rontal.”

 

“Rontal?”

 

“Ya. Rontal yang diambilnya dari atas belandar, di dalam sebuah peti kecil.”

 

Dada Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia pun kemudian pergi ke tempat ia menyimpan rontal. Tetapi peti itu masih ada di tempatnya.

 

“Rontal itu dikembalikannya ketika ia berangkat.”

 

“Ia membacanya dengan tekun?”

 

“Ya. Hampir tidak pernah berhenti. Seperti yang aku katakan, kadang-kadang saja ia keluar dari biliknya, menghirup udara dan berkelakar sejenak, kemudian kembali lagi ke dalam bilik itu.”

 

Ki Waskita pun kemudan mengambil peti kecil di atas belandar di dalam biliknya. Ketika ia membuka peti itu, sebuah rontal yang disimpan di dalamnya masih utuh. Dengan hati yang berdebar-debar diambilnya rontal itu dan diamat-amatinya. Ia melihat beberapa goresan tanda yang tentu dibuat oleh Rudita.

 

“Ia telah mempelajari ilmu itu tanpa tuntunanku,” katanya di dalam hati, “sungguh mendebarkan, jika ia mengambil arah yang salah, maka semuanya akan rusak.”

 

Tetapi hati Ki Waskita pun menjadi agak terhibur. Tidak cukup waktu bagi Rudita untuk mempelajari ilmu itu sebaik-baiknya, sehingga seandainya ia dapat menguasai beberapa bagian dan terbenam dalam tujuan yang dikendalikan oleh nafsu, maka ia bukan seorang yang sangat berbahaya.

 

Meskipun demikian Ki Waskita masih juga cemas, jika Rudita ternyata mengembara di daerah yang sederhana dan tenang, daerah yang hampir tidak pernah terjadi keributan apa pun juga, maka ia akan dapat menjadi hantu yang paling menakutkan.

 

Tetapi Ki Waskita tidak mengatakan kepada isterinya, bahwa Rudita telah menyadap ilmu di dalam rontal itu, karena ia pun masih belum yakin bahwa Rudita berbuat demikian.

 

“Mungkin ia hanya sekedar membaca dan ingin mengetahui serba sedikit tentang isinya Kemudian mengembalikannya lagi,” katanya di dalam hati.

 

Namun ternyata ketika Ki Waskita merenungi bilik anaknya, ia menemukan sehelai rontal di bawah tikar di pembaringannya. Dengan dada yang bergetar ia mengamati rontal itu. Rontal yang berisi goresan-goresan huruf-huruf dan gambar.

 

“Rudita telah mengutipnya,” ia bergumam di dalam hati.

 

Kegelisahan Ki Waskita pun melonjak di dalam dadanya. Rasa-rasanya ia ingin segera berlari menemukan anaknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya bertambah gelisah, sehingga karena itu, maka ia telah menekan segala perasaan itu di dalam dirinya sendiri.

 

Selama di rumahnya, Ki Waskita mencoba untuk bersikap wajar. Tanpa menumbuhkan berbagai prasangka dan pertanyaan pada isterinya. Ia sempat menceritakan, bahwa ia telah terlibat daham pembicaraan mengenai saat-saat perkawinan Swardaru dengan Pandan Wangi.

 

“Aku tidak dapat mengelak,” katanya, “justru karena Rudita penah dengan berterus terang menunjukkan sikap yang tidak sewajarnya terhadap Pandan Wangi.”

 

“Tetapi Rudita adalah anak yang sangat baik. Ia sama sekali tidak menjadi kecewa dan berkecil hati karena keangkuhan Swandaru,” jawab isterinya.

 

“Anak itu sama sekali tidak angkuh.”

 

“Ia merasa dirinya menang. Apalagi Ki Argapati agaknya berpihak kepadanya.”

 

“Kau salah sangka. Sama sekali tidak ada perasaan yang demikian. Anggapanmu bahwa Rudita adalah anak yang baik itu sudah benar. Ia, menarik diri tanpa tekanan dari siapa pun juga sehingga tidak seorang pun merasa menang atasnya.”

 

“Tetapi ternyata, ada semacam endapan di dalam hatinya. Semakin lama semakin padat, sehingga akhirnya meledak. Jika tidak demikian, maka ia tidak akan meninggalkan rumah ini dan pergi tanpa arah. Bukankah itu semacam ledakan yang tidak tertahankan?”

 

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku kira bukan, ia pergi karena desakan jiwa petualangannya yang tumbuh setelah beberapa lamanya ia terkungkung dalam sifat-sifat kemanjaannya.”

 

“Tentu tidak. Aku tidak pernah mengajarinya menjadi seorang petualang. Aku mengerti, betapa jauh bedanya kehidupan seorang petualang dengan kehidupan orang-orang kebanyakan. Aku pernah mengalami hidup menjadi isteri seorang petualang. Sehingga karena itu, aku ingin anakku tidak menjadi petualang seperti ayahnya.”

 

Ki Waskita justru tersenyum mendengarnya. Katanya, “Aku sudah berhenti menjadi petualang. Dan aku sudah hidup seperti orang kebanyakan. Jika pada suatu saat, aku pergi agak terlalu lama, bukanlah karena aku bertualang dari satu tempat adbmcadangan.wordpress.com ke tempat yang lain seperti waktu aku masih muda. Sudah aku katakan, bahwa aku terlibat dalam pembicaraan tentang hari perkawinan Angger Swandaru. Dan karena itu pula maka aku masih harus kembali ke Menoreh dan bersama-sama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pergi ke Sangkal Putung.”

 

“Dan kau biarkan saja anakmu tidak pulang?”

 

“Tentu tidak. Aku mempunyai dugaan atas isyarat yang aku tangkap, Rudita pergi ke daerah Sangkal Putung. Mungkin ia memang sengaja mencari Agung Sedayu dan Swandaru di sana. Jika demikian, maka adalah kebetulan sekali, karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak ikut bersama kami ke Menoreh. Jika ia benar pergi ke sana, maka ia akan dapat menemui Agung Sedayu dan Swandaru.”

 

“Sejak kapan kau meninggalkan Sangkal Putung? Jika sekiranya Rudita pergi ke sana, maka ia pasti sudah sampai di Sangkal Putung sebelum kau pergi.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mencarinya. Aku baru meninggalkan Sangkal Putung lewat dua malam.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku berkuda, dan Rudita berjalan. Apalagi ia belum melihat jalan yang langsung menuju ke Sangkal Putung itu.”

 

“Terserahlah kepadamu,” berkata isterinya, “tetapi aku minta pertanggungan jawabmu untuk mengembalikan anakku itu kepadaku.”

 

Dengan demikian, maka yang semalam suntuk itu adalah malam yang menggelisahkan bagi Ki Waskita meskipun ia sama sekali tidak menunjukkan kesan yang demikian. Di dalam bilik Rudita ia menemukan bukti-bukti yang lain, bahwa Rudita memang telah mengutip beberapa bagian dari isi rontalnya.

 

Oleh selembar rontal yang tertinggal karena terdapat beberapa kesalahan, dan yang agaknya sudah diganti dengan yang baru, Ki Waskita mempunyai dugaan bagian-bagian yang manakah yang telah menarik hati Rudita.

 

“Agaknya ia ingin mempelajari ilmu ketahanan diri,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

 

Dalam kegelisahan itu Ki Waskita mencoba menghibur dirinya sendiri. Sifat-sifat Rudita pada saat terakhir ia meninggalkan rumahnya mengarah kepada sifat-sifat yang baik. Sifat damai dan rendah hati.

 

“Memang segalanya dapat berubah. Tetapi aku masih berpengharapan, bahwa Rudita tidak ditelan oleh nafsu yang ganas seperti Panembahan Agung dan orang-orang yang mengaku dirinya keturunan Majapahit itu,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

 

Kepergian Rudita juga dapat dipakai alasan oleh Ki Waskita uutuk segera meninggalkan rumahnya. Bahkan isterinya bagaikan tidak sabar lagi menunggu fajar, agar suaminya segera berangkat mencari anaknya.

 

“Aku harap kau masih lebih mementingkan anakmu dari pada hari-hari perkawinan Angger Swandaru. Seandainya kita dapat melupakan semua persoalan yang timbul antara Swandaru dan Rudita sekalipun, kau masih harus mementingkan Rudita. Sangkal Putung tentu sudah diurus oleh banyak orang karena mereka akan mengadakan perelatan. Mereka menunggu hari-hari gembira. Sebaliknya dengan Rudita. Ia sedang diintai oleh bahaya di setiap saat.”

 

“Tetapi keadaannya tentu tidak segawat yang kau bayangkan. Keadaan sekarang sudah jauh lebih baik, setelah Panembahan Agung tidak ada lagi. Padukuhan-padukuhan menjadi tenang dan damai. Pada dasarnya kebanyakan orang akan tetap menghormati perantau yang singgah di adbmcadangan.wordpress.com padukuhan masing-masing. Mereka biasanya, memberikan tempat dan kesempatan, meskipun masih ada kecurigaan di antara mereka, karena keadaan memang masih suram. Tetapi, jika sikap Rudita baik, maka ia akan mendapat sambutan dan sikap yang baik di mana-mana.”

 

“Tetapi itu bukan berarti bahwa Rudita tidak akan menjumpai kesulitan di perjalanan.”

 

“Mudah-mudahan tidak. Aku akan selalu berusaha mendapat hubungan dengan anak itu meskipun samar-samar. Sampai saat ini, aku tidak melihat isyarat mau pun firasat yang mencemaskan keadaan anak itu.”

 

“Jika kau tenggelam kedalam persoalan Swandaru, maka kau tidak akan sempat mencari anakmu. Bahkan hubungan isyarat itu pun tidak dapat kau lakukan.”

 

“Ah, sudah barang tentu aku tidak akan berbuat demikian. Rudita adalah anakku. Bukan saja aku merasa bertanggung jawab. Tetapi aku memerlukannya sebagai penyambung namaku. Bukankah karena Rudita aku memberanikan diri masuk ke dalam sarang Panembahan Agung itu?”

 

Isterinya tidak menjawab lagi. Namun nampak kemurungan yang mencengkam di wajahnya.

 

Meskipun demikian, menjelang keberangkatan Ki Waskita di dini hari, isterinya masih juga tidak melupakan kewajibannya. Menyediakan beberapa lembar pakaian yang dibungkus dengan kain berwarna gelap.

 

Seperti biasanya Ki Waskita tidak pernah memerlukan bekal yang lain. Juga tidak sepotong dua potong makanan. Tetapi karena Ki Waskita termasuk orang yang berkecukupan, maka ia pun membawa bekal uang secukupnya.

 

“Sampaikan permintaan maafku kepada mereka yang datang kemari, tetapi tidak dapat aku temui karena kepergianku,” berkata Ki Waskita.

 

“Pada saatnya tidak akan ada orang yang mencarimu lagi, karera kau tidak pernah ada di rumah.”

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Sayang sekali bagi mereka yang benar-benar memerlukan pertolongan.”

 

Demikianlah, maka Ki Waskita pun telah meninggalkan rumahnya lagi sebelum ia sempat melihat sawahnya yang luas dan ternak di kandang. Namun ia masih sempat memberikan pesan kepada beberapa orang pembantunya di rumah, agar mereka bekerja sebaik-baiknya, sehingga tanaman di sawah akan tetap hijau, dan ternaknya pun tetap gemuk dan terpelihara.

 

Sebelum matahari terbit, Ki Waskita sudah berpacu kembali di atas punggung kudanya menuju ke rumah Ki Argapati.

 

“Mudah-mudahan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menunggu aku barang sejenak, karena aku tidak dapat datang tepat pada waktunya.”

 

Sebenarnyalah, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah siap pula untuk berangkat. Tetapi agaknya Ki Argapati-lah yang menahan mereka barang setengah hari, menunggu kedatangan Ki Waskita.

 

“Tentu agak berbeda dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar,” berkata Ki Argapati, “Ki Waskita harus menyesuaikan diri dengan sikap isteri dan anaknya.”

 

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tersenyum. Sambil mengangguk-angguk Kiai Gringsing berkata, “Baiklah, aku akan menunggu sampai lewat tengah hari.”

 

Dalam pada itu, di sepanjang jalan Ki Waskita digelisahkan oleh berbagai masalah yang baginya cukup penting. Seperti kata isterinya, masalah Swandaru adalah masalah yang tidak banyak memerlukan perhatiannya, karena persoalannya adalah persoalan yang menggembirakan. Namun apabila setiap kali ia melihat bayangan yang suram pada jalur jalan yang akan ditempuh oleh Swandaru dan Pandan Wangi, maka ada juga sepercik kegelisahan di hatinya.

 

“Kenapa aku melihat bayangan yang buram itu?” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat menutup mata hatinya, bahwa ia sudah melihatnya.

 

Selebihnya adalah pusaka-pusaka yang hilang itu, dan akhirnya kepergian Rudita setelah mengutip beberapa bagian dari rontal yang disimpannya dengan baik.

 

Dalam pada itu, sementara Ki Waskita berpacu dengan gelisah, Rudita sedang berada di kaki Gunung Merapi. Badannya nampak menjadi kurus, dan pakaian yang melekat di badannya menjadi kumal.

 

Namun demikian wajahnya nampak tetap cerah, meskipun ia tidak dapat menyembunyikan keletihan yang mencengkam.

 

Sudah beberapa hari Rudita berada di lereng Gunung Merapi di tepi sebuah sungai kecil yang memercik di antara pepohonan liar. Suatu tempat yang hampir tidak pernah disentuh kaki manusia.

 

Di sebuah lekuk batu padas Rudita duduk sambil mempelajari rontal yang dibawanya. Seperti dugaan ayahnya, Rudita memang telah mengutip beberapa bagian yang dianggapnya penting.

 

Dengan tekun rontal itu dipelajarinya. Dimengerti dan beberapa petunjuk dilakukannya dengan tekun.

 

Setiap hari ia mengikuti petunjuk yang tertulis di dalam rontal itu. Melakukan latihan jasmaniah. Berlari-lari dan meloncat-loncat. Kemudian merangkak seperti seekor harimau. Memanjat seperti seekor kera. Dan di antara gerakan-gerakan yang penting, maka ia melakukan pula latihan-latihan ketahanan dan penguasaan tubuh.

 

Setiap hari ia melakukan latihan-latihan lain yang agak asing bagi orang lain. Berjalan dengan kedua belah tangannya. Berdiri tegak dengan alas kepalanya dan kedua kakinya di atas. Duduk bersila sambil merentangkan tangannya lurus ke samping. Bahkan melenting seperti ulat dan melingkar seperti luwing.

 

Perlahan-lahan Rudita berhasil menguasai dirinya sendiri. Menguasai setiap gerak atas kehendak, meskipun tidak mutlak. Bahkan akhirnya ia dapat menguasai perasaan sakit dan lelah.

 

Meskipun demikian Rudita tetap menyadari, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Karena itu ia tetap menyadari betapa keterbatasan kemampuan yang ada padanya.

 

Dengan demikian, maka setiap latihan Rudita telah memadukannya dengan permohonan yang tekun kepada Penciptanya, agar ia diperkenankan mempergunakan segala kurnia yang ada padanya di dalam ketahanan dan penguasaan tubuhnya.

 

Tetapi landasan utama dari segala latihan Rudita, bukannya penguasaan tubuh itu saja, tetapi juga penguasaan nafsu. Segala macam nafsu. Yang baik dan yang buruk.

 

Seperti yang ditulis di dalam rontal itu pula, Rudita pun menyesuaikan makanan yang dimakannya sehari-hari. Meskipun ia membawa bekal uang, tetapi ia tidak memanjakan lidahnya dengan makanan yang enak setelah letih berlatih. Tetapi ia makan apa yang ada. Bekal yang dibelinya berhari-hari yang lewat, ketika memutuskan untuk tinggal beberapa lama di tempat terpencil itu.

 

Selain jenis akar, Rudita makan juga beberapa jenis dedaunan. Tetapi tidak segala jenis buah. Karena itu, maka Rudita tidak pernah menyentuh nasi beras mau pun jagung, meskipun seandainya ia ingin, ia dapat membelinya, berapa saja yang dikehendaki.

 

Selain jenis ubi, Rudita juga makan setiap hari jenis empon-empon. Kunir, lempuyang, temu ireng dan beberapa jenis yang lain.

 

Dalam pada itu, Rudita menyadari sepenuhnya, bahwa latihan-latihan itu tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu beberapa hari, bahkan beberapa pekan. Tetapi ia harus tetap menekuninya untuk beberapa tahun. Namun yang beberapa pekan itu akan sangat berarti baginya. Ia akan dapat menguasai persoalan-persoalan pokok dari ilmu yang disadapnya dari rontal yang disimpan oleh ayahnya. Rontal yang bukan saja berisikan huruf-huruf tetapi juga gambar-gambar.

 

Tetapi agaknya perhatian Rudita agak berbeda dengan ayahnya, sehingga bagian-bagian yang ditekuni pun agak berbeda pula dari ayahnya, meskipun secara umum ia sudah membaca seluruh isi rontal itu.

 

Meskipun demikian, setiap kali Rudita masih juga bertanya di dalam dirinya. Apakah ia akan dapat berhasil menguasai bagian dari ilmu itu tanpa seorang guru.

 

“Isi rontal itu baru sebagian kecil dari ilmu yang dimiliki oleh ayah seluruhnya. Bahkan sebagian besar ilmu ayah disadap dari gurunya, bukan dari rontal itu,” berkata Rudita kepada diri sendiri. “Namun jika aku berhasil menguasai sebagian saja dari isi rontal itu, agaknya sudah cukup baik bagiku.”

 

Dan sebenarnyalah Rudita dengan tekun mempelajarinya sejauh-jauh dapat dilakukan.

 

Ternyata usahanya dari hari ke hari itu pun mendapat kemajuan, ia mulai merasa jasmaninya bagian mutlak dari penguasaan kehendak. Ia mulai menguasai dengan pasti setiap gerakan. Ia dapat menguasai gerak-gerak naluriahnya dengan sebaik-baiknya, mempergunakan segenap tubuhnya seperti yang dikehendakinya. Penguasaan perasaan sakit dan lelah.

 

Tetapi seperti yang disadarinya sepenuhnya, ia adalah seorang manusia wantah. Yang tidak akan dapat melampaui batas kemampuan manusia yang memang lemah.

 

Namun Rudita menjadi seorang manusia yang pada ujud lahirahnya mempunyai banyak kelebihan dari sesamanya.

 

Tubuhnya mempunyai daya tahan yang luar biasa. Meskipin ia tetap menyadari sentuhan saraf dan peraba, tetapi ia seolah-olah dapat mengesampingkan perasaan sakit, lelah dan sejenisnya.

 

Meskipun demikian, Rudita tetap berusaha seperti yang dilakukan atas jasmaninya, juga atas rohaninya. Ia menjaga agar tetap merasa dirinya sejemput debu di bawah kaki Yang Maha Kuasa, sehingga dengan demikian, ia tidak akan melakukan perbuatan yang menyimpang dari kehendak-Nya.

 

“Tak ada yang dapat aku lakukan berdasarkan atas kemampuanku sendiri,” katanya di dalam hati, “semuanya adalah karena kurnia-Nya, dan terlebih-lebih kurnia penggunaan-Nya.”

 

Dengan demikian, maka Rudita adalah tetap Rudita seperti pada saat ia ditinggalkan oleh ayahnya. Ia tetap seorang yang menyadari dirinya sepenuhnya. Tanpa dikuasai oleh nafsu dan ketamakan. Bahkan sebaliknya, dengan latihan-latihan yang berat itu ia berhasil menguasai bukan saja jasmaninya, tetapi juga nafsunya.

 

Seperti biasanya di setiap pagi Rudita turun ke sungai kecil di sebelah lekuk batu tempatnya berteduh di hujan dan panas. Mengambil air dengan upih dan membawanya naik setelah mandi. Air yang disediakan untuk minum dan membersihkan tangan dan kakinya.

 

Tetapi baru saja Rudita menyuruk masuk ke dalam lekuk batu karang di lereng, tiba-tiba ia merasa tanah tempatnya berpijak tergetar. Air ditangannya bagaikan direnggut dengan kasar dan tertumpah di tanah.

 

Segera Rudita sadar, bahwa lereng Gunung Merapi telah diguncang oleh gempa. Karena itu ia pun segera melangkah surut, karena lekuk batu padas itu akan dapat runtuh dan menimbunnya sekaligus.

 

Di luar sadarnya, bahwa lereng Gunung Merapi yang di guncang itu telah longsor. Suaranya gemuruh memekakkan telinga. Beberapa butir batu bergulung-gulung di lereng yang terjal.

 

Rudita termangu-mangu sejenak. Ia menyadari bahaya yang dapat melumatkannya. Karena itu, maka ia pun segera berusaha menyelamatkan dirinya, menghindar dari timbunan batu-batu di lereng Gunung Merapi itu.

 

Dengan sekuat tenaganya meloncat menjauh. Di hadapannya adalah sebuah sungai kecil tempat ia mandi setiap pagi.

 

Karena itu, maka ia pun harus terjun ke dalamnya dan meloncat naik ke seberang.

 

Adalah di luar dugaan Rudita sendiri, bahwa tubuhnya menjadi terasa jauh lebih ringan. Dalam pengerahan tenaga, ia mempergunakan kemampuan yang telah dipelajarinya selama itu. Agaknya ada juga pengaruhnya. Ia telah mampu mempergunakan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya sebaik-baiknya. Ia tidak saja mampu meloncat jauh lebih panjang apabila ia dikejar oleh ketakutan di masa kanak-kanak. Tetapi kini ia menguasai tenaga yang ada pada masa lampaunya hanya dapat terungkap justru di luar sadar.

 

Itulah sebabnya, Rudita mampu meloncat dengan sigap turun ke sungai kecil itu, kemudian dengan sekali loncat pula, ia telah berada di seberang.

 

Namun lemparan batu-batu yang tergelincir itu ternyata mampu mengejarnya. Beberapa buah batu sebesar kepalan tangan telah berguguran seperti hujan, terlempar agak jauh dari lereng itu, meloncati sungai kecil itu pula.

 

Rudita terkejut bukan buatan ketika ia sempat menengadahkan kepalanya. Tetapi ia tidak sempat lagi menghindari batu-batu yang meluncur ke arahnya.

 

Meskipun demikian, Rudita tidak menjadi putus asa. Ia pun segera berusaha meloncat sejauh-jauh dapat dilakukan dengan segenap tenaga yang dapat dipergunakannya.

 

Dengan demikian, Rudita bagaikan dilontarkan oleh kekuatan yang luar biasa besarnya, beberapa kali lipat kekuatan yang dapat dilakukan sebelumnya.

 

Namun batu-batu yang runtuh itu telah terlampau rendah, sehingga betapa pun ia meloncat dengan cepat dan jauh, tetapi ia masih tetap merasakan sentuhan-sentuhan pada tubuhnya. Beberapa buah batu sebesar kepalan tangan yang bagaikan dilontarkan dari puncak gunung itu telah memukulnya pada beberapa bagian tubuhnya. Pada pundaknya, punggungnya, kaki dan lengannya.

 

Bagaimana pun juga, hati Rudita telah dicengkam oleh kecemasan. Kulit dan dagingnya akan menjadi sobek dan tersayat. Bahkan mungkin ia akan jatuh terbanting di tanah dan tertimbun oleh bebatuan itu.

 

Tetapi ternyata yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan Rudita sendiri. Loncatannya telah berhasil menjauhkannya dari guguran lereng gunung itu. Dan bahkan Rudita sendiri menjadi heran. Tubuhnya sama sekali tidak terluka oleh sentuhan-sentuhan batu yang berguguran.

 

Ketika ia sudah berdiri agak jauh dari reruntuhan yang semakin lama menjadi semakin mereda itu, ia sempat menilai dirinya sendiri. Ternyata ia masih tetap dirangsang oleh sentuhan pada tubuhnya. Namun ada sesuatu yang dapat dikembangkannya sebaik-baiknya. Ia tidak terluka dan dapat menguasai perasaan sakit yang menyengat meskipun sentuhan batu-batu itu membekas kebiru-biruan. Meskipun perasaan sakit itu ada, namun ia berhasil mengatasinya dan mengendapkannya.

 

Sejenak Rudita berdiri termangu-mangu. Ketika guguran batu-batu itu berhenti, ia pun mulai menyadari, bahwa sebenarnya ia telah berhasil menguasai dasar dari ilmu yang dipelajarinya.

 

Pada saat yang bersamaan, ketika Gunung Merapi mengguncang bukan saja lerengnya sendiri, Ki Waskita yang sudah berada di tlatah Menoreh merasakan guncangan itu pula. Bukan saja guncangan lahirlah, tetapi rasa-rasanya getaran yang dahsyat telah menggetarkan jantungnya. Sekilas terpercik isyarat tentang anaknya. Rasa-rasanya sesuatu telah terjadi dengan Rudita.

 

Namun ia pun kemudian menjadi tenang kembali setelah gempa berhenti. Ia masih tetap dapat berhubungan dengan getar yang seolah-olah memancar dari pusat dasar jantung anaknya. Bahkan seolah-olah menjadi semakin jelas.

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat meraba isyarat yang diterimanya. Rudita tentu telah mengalami sesuatu. Tetapi ia tentu masih tetap selamat dan keadaannya tetap baik.

 

Karena itu, maka Ki Waskita pun melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa puluh tonggak saja, langsung menuju ke rumah Ki Gede Menoreh dengan harapan, bahwa ia masih akan bertemu dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar di sana.

 

Di Menoreh, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah menjadi gelisah. Apalagi ketika mereka merasakan goncangan yang keras seolah-olah telah mengayunkan lampu-lampu minyak yang bergantungan.

 

“Gempa,” desis Kiai Gringsing.

 

Ki Sumangkar mengangguk lemah. Beberapa orang nampak berlari-larian membawa anak-anak mereka ke halaman. Mereka menjadi ketakutan karena rumah mereka bagaikan akan roboh.

 

Tetapi gempa itu tidak terlalu lama. Hanya beberapa saat saja. Dan ketika gempa berhenti maka semuanya menjadi tenang kembali.

 

Namun, beberapa orang mulai mencari-cari arti daripada gempa itu. Mereka menghubungkan dengan persoalan-persoalan penting di dalam keluarga masing-masing. Orang-orang tua di Menoreh mencoba mencari kelemahan-kelemahan pada pembicaraan mereka tentang akan dilangsungkannya perkawinan Swandaru dengan Pandan Wangi. Tetapi beberapa orang Mataram, termasuk Ki Lurah Branjangan yang mengetahui hilangnya kedua pusaka dari Mataram, mencoba mencari hubungan dengan hilangnya pusaka-pusaka itu. Sedang di Pajang, beberapa Senapati yang berprihatin melihat perkembangan Pajang menjadi semakin muram. Apakah Pajang benar-benar akan semakin susut?

 

Namun dalam pada itu, orang yang menyebut dirinya keturunan langsung dari Majapahit, dan yang telah berhasil mengambil kedua pusaka dari Mataram, tertawa gembira. Mereka menganggap bahwa gempa itu adalah isyarat akan runtuhnya Pajang dan Mataram sekaligus.

 

Tetapi sementara itu, Rudita yang berada di kaki Gunung Merapi merasakan, bahwa Gunung itulah yang bergetar. Segumpal awan yang putih seakan-akan merambat menuruni lereng. Awan yang mengandung nafas maut, karena awan itu panasnya melampaui panasnya bara.

 

Untunglah bahwa awan itu meluncur ke arah yang lain, sehingga Rudita tidak harus melarikan diri dari tempatnya.

 

Dengan demikian, Rudita tidak menghubungkan gempa itu dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Baginya, Gunung Merapi-lah yang agaknya terganggu, sehingga terjadi sesuatu di puncaknya. Mungkin guguran-guguran batu-batu padas sebesar kerbau. Mungkin guguran awan panas, dan mungkin karena lubangnya tersumbat, atau sebab-sebab yang lain. Tetapi yang penting bagi Rudita kemudian adalah pergi menjauhi gunung itu. Karena gunung itulah yang telah mengguncang hampir seluruh daerah Pajang. Bukan karena sebab-sebab yang dapat dicari pada persoalan di daerah yang telah diguncangnya, tetapi persoalannya harus dicari pada perut gunung itu sendiri.

 

“Aku dapat melanjutkan latihan-latihan sambil berjalan,” berkata Rudita kepada diri sendiri, “aku harus mulai dengan perjalanan yang sebenarnya. Merantau melihat luasnya pulau ini.”

 

Di luar sadarnya, Rudita meraba kantong yang selalu tergantung di ikat pinggangnya. Kantong kecil yang berisi rontal dan beberapa keping uang. Rontal itu sangat penting artinya, sehingga hampir tidak pernah terpisah dari padanya.

 

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Bekal itulah yang akan dibawanya untuk menempuh petualangan yang lain dengan petualangan yang pernah dijalani oleh ayahnya. Ketika ayahnya merasa dirinya orang yang tidak terkalahkan di masa mudanya, maka ia pun telah pergi bertualang pula, sebelum akhirnya jiwanya mengendap dan menemukan bentuk kehidupan yang jauh lebih manis dari melumuri jari-jari tangannya dengan darah.

 

Namun dalam pada itu, Rudita yang merasa bahwa ilmu yang dipelajari itu baru pada dasarnya saja, dan tidak lebih dari sebutir batu kerikil dibanding dengan ilmu yang dimiliki oleh ayahnya yang jauh berlipat dari ilmu yang tercantum di dalam rontal itu, mulai dengan petualangan yang berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh ayahnya itu.

 

Sementara itu, Ki Waskita menjadi semakin dekat dengan pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Ia masih mengharap akan dapat pergi bersama dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Selain ia mempunyai kawan di perjalanan, ia akan mendapat tempat untuk mengurangi beban perasaannya, atas kepergian anaknya.

 

Pada saat anaknya hilang, Ki Sumangkar telah ikut serta menyusuri bahaya, langsung ke tempat anak tersebut disembunyikan oleh orang-orang Panembahan Agung. Dan kini tentu Ki Sumangkar, setidak-tidaknya akan merasa tersentuh perasaannya karena Rudita telah pergi dengan selapis ilmu yang dipilihnya dari keseluruhan isi rontalnya.

 

Dengan dada yang berdebar-debar Ki Waskita mendekati regol halaman Ki Argapati. Tiba-tiba saja jantungnya serasa disiram dengan air embun ketika ia masih melihat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk di pendapa dengan gelisah.

 

“Ah,” berkata Kiai Gringsing dengan serta-merta, “hampir saja kami berangkat. Ki Waskita sudah terlambat beberapa lama. Sudah barang tentu jaman sudah berbalik jika seseorang seperti Ki Waskita masih harus terlambat.”

 

Ki Waskita menambatkan kudanya. Sambil tersenyum ia berjalan menuju ke tangga pendapa, sementara Ki Argapati dan beberapa orang bebahunya berdiri menyongsongnya. Demikian juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

 

Setelah mereka duduk di pendapa, dan Ki Argapati sempat menanyakan keselamatan keluarga Ki Waskita, maka rasa-rasanya Ki Waskita tidak sabar lagi untuk menceritakan kepergian anaknya, meskipun ia masih belum mengatakan apa pun juga tentang rontalnya.

 

“Jadi Angger Rudita pergi? Atas kehendak sendiri, atau hilang seperti yang pernah terjadi?” bertanya Ki Argapati.

 

“Atas kehendak sendiri, Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “ia minta diri kepada ibunya, dan tidak dapat ditahan lagi.”

 

Ki Argapati, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sudah melihat arah perkembangan jiwa Rudita pada saat terakhir. Agaknya Rudita yang kemudian menyadari akan dirinya sebagai seorang laki-laki telah memilih jalannya sendiri.

 

Dalam pada itu, hampir di luar sadarnya Ki Argapati berkata, “Angger Rudita telah berubah. Tetapi apakah jalan yang ditempuhnya tidak terlampau berbahaya baginya?”

 

“Aku kira sangat berbahaya,” sahut Ki Sumangkar.

 

Ki Waskita menggangguk-angguk. Katanya, “Ya. Jalan yang dipilihnya ternyata jalan yang berbahaya. Tetapi ibunya sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya. Dengan menangis ibunya minta agar ia menunggu kedatanganku. Kemudian terserah kepadaku, apakah aku mengijinkan atau tidak. Tetapi Rudita tidak mau mendengarnya. Dengan demikian, maka rasa-rasanya ibunya telah kehilangan anaknya. Rudita adalah seorang anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Tetapi tiba-tiba ibunya merasa seolah-olah anak itu telah memberontak terhadapnya dan pergi meninggalkannya.”

 

“Apakah Ki Waskita tidak dapat mengetahui, kira-kira atau menurut isyarat, ke manakah perginya Angger Rudita itu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Aku dapat menduga arah kepergiannya, Kiai,” jawab Ki Waskita, “tetapi tentu tidak pasti, karena Rudita sendiri selalu bergerak. Berbeda dengan saat ia berada di tangan Panembahan Agung. Anak itu seolah-olah berhenti pada suatu titik tertentu sehingga arahnya tidak begitu sulit aku ketemukan.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi di wajahnya tergurat kecemasan tentang keselamatan anak yang masih terlampau hijau itu.

 

“Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “Angger Rudita seolah-olah baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Tiba-tiba saja ia sudah melangkah menempuh perjalanan yang berbahaya tanpa bekal apa pun.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian serba sedikit dikatakannya tentang rontalnya.

 

“Rudita agaknya telah mengutip beberapa bagian dari rontal itu. Meskipun aku tidak tahu pasti, pada bagian-bagian yang mana, tetapi setidak-tidaknya ia telah memilih beberapa bagian yang menyangkut ilmu ketahanan tubuh.”

 

“Dan Angger Rudita berusaha untuk menguasai ilmu itu tanpa tuntunan seorang guru, atau petunjuk dari siapa pun juga?”

 

“Itulah yang mencemaskan. Mungkin ia dapat menguasai ilmunya, tetapi kegunaannya? Aku cemas, bahwa Rudita akan menjadi kambuh pada sifat-sifat pemanjaannya. Dengan bekal ilmu yang separo masak itu, ia dapat memanjakan dirinya dan memaksa orang lain untuk memanjakannya pula.”

 

Kiai Gringsing termenung sejenak. Ia melihat keseluruhan dari peristiwa yang terjadi beruntun. Sebelum Swandaru sempat duduk bersanding, maka persoalan yang terjadi di sekitarnya telah berkembang demikian cepat, dan yang mencemaskan adalah perkembangan yang memburuk.

 

Hilangnya pusaka-pusaka yang penting dari Mataram, kemudian hilangnya Rudita. Betapa pun juga, ia tidak akan dapat seolah-olah tidak mendengar dan tidak melihat persoalan-persoalan itu.

 

Dalam pada itu, agaknya Ki Waskita pun melihat gejolak perasaan Kiai Gringsing, sehingga karena itu maka katanya, “Kiai, jika Ki Juru Martani dapat mengatakan, bahwa hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu hendaknya jangan mempengaruhi persoalan yang sedang Kiai bawa dari Sangkal Putung ke Menoreh, maka sudah barang tentu aku pun akan berkata demikian. Kepada Kiai Gringsing, dan kepada Ki Argapati. Hilangnya Rudita bukan merupakan persoalan yang harus merenggut segala rencana dan persiapan yang sudah masak. Bahkan aku akan tetap membantu menyelenggarakannya. Bukankah persoalannya dapat diselesaikan bersama-sama? Perjalanan hilir-mudik antara Tanah Perdikan Menoreh, lewat Mataram ke Sangkal Putung dan sekaligus mencari Rudita di sepanjang jalan.”

 

“Apakah Rudita itu ada di arah perjalanan itu?”

 

“Bahkan aku menduga Rudita akan pergi ke Sangkal Putung. Ada isyarat yang menunjukkan arahnya meskipun tidak tepat. Tetapi agaknya karena Rudita belum mengetahui jalan ke kademangan itu, sehingga ia tersesat dan sedang berusaha untuk menemukan jalan adbmcadangan.wordpress.com yang benar. Agaknya ia ingin bertemu lagi dengan Angger Agung Sedayu dan Swandaru.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, “Setelah arah perkembangan jiwanya berubah, maka agaknya Rudita mengagumi Angger Agung Sedayu dan Swandaru. Ternyata beberapa kali ia menanyakan kepadaku tentang kedua anak-anak muda itu.”

 

“Memang mungkin sekali. Tetapi apakah menurut dugaan Ki Waskita, Angger Rudita akan segera dapat menemukan jalan ke Sangkal Putung?”

 

“Kita akan segera ke Sangkal Putung, lewat Mataram. Jika kedatangan kita lebih cepat dari anak itu, maka aku akan mencarinya. Mungkin dapat aku pergunakan untuk mencari kesibukan sambil menunggu empat puluh hari lagi.”

 

“Ah,” Ki Argapati berdesah, “aku harus mengucapkan terima kasih, bahwa kalian telah menempatkan kepentinganku pada urutan yang pertama, meskipun sebenarnya dibandingkan dengan kepentingan yang lain jauh kurang berarti. Namun dengan demikian maka itu akan berarti bahwa aku tidak boleh tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Seperti Ki Waskita yang masih juga memperhatikan hari perkawinan anakku, maka aku akan ikut serta mencari Angger Rudita, setidak-tidaknya di tlatah Menoreh.”

 

“Terima kasih, Ki Gede. Mudah-mudahan kita semuanya akan berhasil. Perkawinan Angger Swandaru dan Angger Pandan Wangi dapat berlangsung seperti yang direncanakan, anakku dapat segera aku ketemukan, dan terlebih-lebih lagi kedua pusaka yang hilang itu.”

 

Ki Argapati mengangguk-angguk, ia melihat kebesaran jiwa Ki Waskita. Karena itu, maka di dalam hati Ki Argapati pun berjanji untuk sejauh-jauh dapat dilakukan, membantu mencari anak yang hilang itu, dan selebihnya, ia pun merasa berkewajiban untuk ikut mencari pusaka-pusaka yang tercuri dari Mataram meskipun dengan cara yang sangat terbatas, karena kerahasiaan kehilangan itu sendiri.

 

Demikianlah maka setelah Ki Waskita beristirahat sejenak, dan kemudian menikmati hidangan, ketiga orang tua itu pun segera mohon diri. Mereka akan mulai dengan perjalanan kembali ke Sangkal Putung. Namun seperti yang sudah mereka rencanakan, mereka akan singgah lebih dahulu ke Mataram. Karena mereka berangkat setelah tengah hari, maka ketiganya akan bermalam di Mataram semalam, baru esok pagi mereka akan meneruskan perjalanan ke Sangkal Putung.

 

Dengan beberapa persoalan yang menyangkut di hati, Ki Argapati pun kemudian melepaskan ketiga tamunya meninggalkan regol halaman. Pandan Wangi ikut mengantarkan mereka sampai ke tepi jalan yang membelah padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Kau harus banyak berprihatin,” desis Kiai Gringsing.

 

Pandan Wangi menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun wajah itu menjadi semburat merah.

 

Ki Argapati yang mendengar pesan itu tertawa. Sementara Ki Waskita meneruskan, “Kau akan menjadi bertambah langsing. Cahaya sorot matamu akan mengandung pengaruh yang dalam, terlebih-lebih bagi bakal suamimu.”

 

“Ah,” desah Pandan Wangi, dengan kepala yang menjadi semakin tunduk.

 

“Jangan kau hiraukan,” sahut Ki Sumangkar kemudian, “kau malahan harus berbuat sebaliknya agar dalam upacara timbangan kelak jika saat perkawinan itu tiba, dan kau duduk di pangkuan ayahmu sebelah-menyebelah dengan pengantin laki-laki, kalian akan menjadi benar-benar seimbang.”

 

Pandan Wangi tidak dapat menahan suara tertawanya meskipun ia berusaha menutup mulutnya dengan tangannya. Dengan wajah yang masih tertunduk ia bergeser dan berdiri berlindung di belakang ayahnya.

 

“He, kenapa kau tidak menjawab,” ayahnya justru bertanya kepadanya.

 

Hampir di luar sadarnya Pandan Wangi pun mendorong ayahnya sambil berdesah. Kemudian ia pun berdiri menghadap dinding halaman di sisi regol.

 

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun sekali lagi minta diri. Di wajah mereka yang telah dibayangi oleh garis-garis umur yang semakin dalam itu, sama sekali tidak membayang kegelisahan hati. Baik karena hilangnya pusaka-pusaka dari Mataram mau pun karena kepergian Rudita, sehingga mereka yang tidak berkepentingan, sama sekali tidak mengerti bahwa orang-orang tua itu sebenarnya telah dibebani oleh ketegangan yang berat.

 

Ki Argapati dan Pandan Wangi berdiri termangu-mangu ketika ketiganya kemudian meninggalkan halaman rumahnya. Beberapa orang bebahu Tanah Perdikan Menoreh pun ikut melepas mereka di regol halaman.

 

Sesaat kemudian, maka tiga ekor kuda yang berlari menjauhi regol itu pun telah hilang di balik tikungan, meningalkan segumpal debu yang kelabu, seperti secercah noda yang melekat di udara terbuka.

 

Namun selain debu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun meninggalkan pula sejemput kegelisahan di hati Ki Argapati. Meskipun seperti juga ketiga tamu-tamunya, kegelisahan itu sama sekali tidak membayang di wajahnya.

 

Ki Argapati harus berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Ia harus benar-benar memilih orang yang dapat diajak berbicara, terutama atas hilangnya kedua pusaka dari Mataram. Orang-orang itu harus orang-orang yang memiliki kemampuan cukup sebagai bekal dan orang yang sepenuhnya dapat dipercaya untuk tetap menyimpan rahasia itu bagi dirinya sendiri. Jika rahasia itu merembes kepada orang lain yang tidak mengetahui betapa gawatnya keadaan, maka dalam waktu sekejap, berita semacam itu akan segera menebar jauh lebih cepat dari tebaran mendung di langit. Setiap telinga akan segera mendengarnya dan setiap mulut akan memperkatakannya. Dengan demikian, maka rakyat Mataram akan segera dilanda oleh kegelisahan yang luar biasa.

 

“Hilangnya Angger Rudita akan dapat aku bicarakan dengan Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati di dalam hati, “tetapi hilangnya pusaka itu dapat juga didengarnya, tetapi tanpa mempengaruhi ketenangannya.”

 

Agaknya hal itulah yang sulit bagi Ki Argapati.

 

Namun sebagai seorang yang memiliki pandangan yang tajam dan pengalaman, yang luas, maka Ki Argapati akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya.

 

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya berpacu meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya kehidupan di atas Tanah Perdikan itu menjadi semakin tenang dalam kesibukan yang meningkat. Rasa-rasanya sawahnya menjadi semakin luas. Jalur-jalur jalan menjadi semakin panjang dan lebar. Di lewat tengah hari masih terdengar suara pande besi di kejauhan menempa alat-alat pertanian. Beberapa buah pedati, nampak merangkak di bulak-bulak yang panjang penuh berisi muatan.

 

Hampir di luar sadarnya, Kiai Gringsing berkata, “Sebaiknya mereka memang tidak mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu hilang, dan apalagi satu di antara kedua pusaka yang hilang itu telah melintasi Kali Praga. Jika demikian, kedamaian yang hidup ini akan segera menjadi terganggu karenanya.”

 

Demikianlah, maka ketiganya pun berpacu semakin cepat menuju ke Mataram. Di tempat penyeberangan Kali Praga, mereka terhenti sejenak. Agaknya masih belum ada orang-orang yang mulai dengan kerja mereka, menyeberangkan orang-orang lewat dengan perahu-perahu dan getek.

 

Untuk beberapa lama mereka berdiri termangu-mangu. Dengan tajamnya mereka mencoba mengamati seberang kali Praga. Jika kebetulan orang-orang yang membawa mereka menyeberang dari Mataram ke Menoreh nampak di tepian sebelah Timur sungai, mereka akan memberikan isyarat.

 

Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

 

“Apakah kita harus menyeberangi sungai ini tanpa perahu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Jika terpaksa, kita akan mencobanya. Jika tidak ada hujan di ujung, maka airnya tidak begitu besar dan dalam. Mungkin kita akan dapat menyeberanginya,” sahut Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berpaling kearah Ki Waskita, seolah-olah menunggu pertimbangannya.

 

Namun sebelum Ki Waskita mengatakan sesuatu, seseorang muncul dari balik gerumbul agak jauh dari mereka. Dengan ragu-ragu orang itu berjalan mendekati ketiga orang yang datang dari Menoreh itu.

 

“Bukankah Kiai bertiga termasuk orang-orang yang menyeberang dua hari yang lalu?” berkata orang itu.

 

“Darimana kau tahu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Aku melihatnya. Tetapi aku masih belum berani turun ke sungai waktu itu. Tetapi agaknya di antara kalian telah ada yang dikenal baik oleh kawanku di seberang, dan karena itulah ia bersedia membawa kalian menyeberang.”

 

“Begitulah.”

 

“Apakah kalian sekarang akan menyeberang ke Timur?”

 

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

 

“Aku dan dua orang kawanku bersedia membawa kalian menyeberang. Tetapi, karena keadaan yang lain dari kebiasaan ini, kami minta imbalan dua kali lipat yang seharusnya.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi Ki Waskita mengangguk sambil berkata, “Aku tidak berkeberatan.”

 

Dengan demikian, maka mereka pun kemudian naik ke atas sebuah getek bersama dengan kuda-kuda mereka, dan perlahan-lahan bergeser menyeberangi Kali Praga, dengan imbalan dua kali lipat dari imbalan yang biasa mereka berikan.

 

Tetapi yang dua kali lipat itu bukan merupakan masalah bagi Ki Waskita, yang kebetulan membawa bekal cukup.

 

Namun, ketika mereka mulai bergerak, dengan didorong oleh tiga orang tukang satang, terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar. Ketiga tukang satang itu nampaknya agak lain dengan tukang satang yang membawa mereka menyeberang ke Barat.

 

Tetapi ketiga orang yang sedang menyeberang itu mencoba untuk menenangkan hati mereka sendiri.

 

“Mungkin memang ada perbedaan antara orang-orang di seberang Timur dan di seberang Barat Kali Praga,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Demikian pula agaknya Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

 

Namun agaknya, kecurigaan mereka menjadi semakin meningkat. Ketiga orang tukang perahu itu tidak dapat menggerakkan satang mereka sebaik-baiknya. Bahkan kadang-kadang mereka harus berusaha untuk meluruskan jalan perahu mereka apabila sebuah gelombang kecil menyentuh sisi perahu mereka.

 

Ketiga orang penumpang perahu itu pun saling berpandangan. Agaknya mereka memang sedang disentuh oleh perasaan curiga meskipun mereka tidak saling mengatakannya.

 

Kecurigaan itu pun memuncak ketika mereka berada di tengah-tengah sungai. Tiba-tiba saja perahu itu menuju ke sebuah onggokan pasir dan batu padas yang menjulang di atas air. Tanpa berkata sepatah kata pun, maka perahu itu akhirnya tersangkut kandas pada pasir yang menyembul ke atas air itu.

 

“Kenapa kita berhenti di sini?” bertanya Kiai Gringsing.

 

Salah seorang dari tukang perahu itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang berat, orang itu berkata, “Sayang Ki Sanak, kalian termasuk orang-orang yang malang, karena kalian telah mendengar cerita tentang songsong yang menyeberangi sungai ini.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, “Songsong yang manakah yang saudara maksud?”

 

“Bukankah di tengah-tengah sungai ini pula kalian mendengar tukang satang di seberang Timur itu menceritakan, bahwa serombongan orang-orang yang menyeberang ke Barat beberapa hari yang telah lalu, membawa sebuah benda bertangkai panjang dan diselubungi dengan selongsong putih?”

 

“Ya,” jawab Kiai Gringsing yang merasa tidak perlu lagi untuk mengelak.

 

“Akhirnya cerita itu sampai kepada kami. Dan kami merasa bertanggung jawab untuk melenyapkan semua orang yang mengetahui bahwa songsong itu memang sudah menyeberang.”

 

“Jadi kalian bukan tukang-tukang perahu yang sebenarnya?”

 

“Bukan. Aku menunggu orang-orang yang menyeberang itu lewat. Tetapi agaknya mereka terlambat pulang. Baru kalian bertiga sajalah yang datang. Aku harus bertindak tegas terhadap setiap kemungkinan yang dapat merembeskan rahasia kepergian pusaka-pusaka yang dapat kami ambil dari Mataram itu.”

 

Kiai Gringsing memandang kedua kawan-kawannya sejenak. Namun kedua kawannya tidak memberikan kesan apa pun kepadanya. Karena itu maka Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Apakah kalian juga akan melenyapkan pedagang-pedagang yang menyeberang bersama kami itu?”

 

“Sudah tentu Ki Sanak. Kami akan menunggu sampai saatnya mereka lewat.”

 

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Dilihatnya Ki Sumangkar dan Ki Waskita masih berdiri di tempatnya sambil memegang kendali kudanya.

 

Tetapi Kiai Gringsing mengetahui bahwa kedua kawannya itu sedang menilai keadaan seluruhnya. Mereka memandang air yang mengalir di bawah perahu itu. Kemudian onggokan padas dan pasir yang bermunculan di permukaan air pada saat air Kali Praga tidak sedang banjir.

 

“Tempat itu tentu tidak begitu dalam,” berkata Ki Sumangkar di dalam hatinya. Lalu, “Jika terpaksa kami turun ke air, agaknya kami akan dapat menyeberang tanpa perahu sekalipun, karena daerah yang paling dalam telah lalu.”

 

Tanpa berkata sepatah pun Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah Ki Waskita yang gelisah. Tetapi Ki Sumangkar tidak mengetahui, apakah sebenarnya Ki Waskita sedang gelisah.

 

“Jangan menyesali nasib, Ki Sanak,” berkata tukang perahu yang palsu itu, “kalian akan kami bunuh. Mayat kalian akan kami hanyutkan, sedang kuda kalian akan menjadi milik kami. Jika ada orang yang melihat dari kejauhan, di luar pengetahuan kami maka orang-orang itu akan menganggap bahwa tukang-tukang perahu di daerah penyeberangan ini sedang membalas dendam, karena beberapa hari yang lalu, kawan-kawannya telah mati terbunuh. Kemudian mereka pun telah membunuh orang-orang yang sedang menyeberang, yang diduga telah membunuh kawan-kawannya itu.”

 

Kiai Gringsing memandang orang-orang itu dengan tegang. Kemudian ia berkata, “Kenapa kalian mulai dari kami bertiga? Apakah tukang perahu yang pernah menceritakan tentang payung itu juga sudah kau bunuh?”

 

“Mereka adalah orang-orang yang bodoh. Tentu lebih bodoh dari kalian. Kami tidak terlampau cemas terhadap mereka. Kapan saja kami kehendaki, kami akan dapat membunuh mereka dengan mudah. Tetapi tidak dengan kalian. Kalian adalah pedagang-pedagang keliling yang dapat membawa berita itu sampai ke daerah yang jauh. Ke Mataram dan Pajang.”

 

“Bagaimana jika kami berjanji untuk menutup mulut?”

 

“Ah, apakah kami dapat mempercayai kalian?”

 

“Kenapa tidak?”

 

Orang itu tersenyum. Katanya, “Maaf, Ki Sanak. Agaknya akan lebih aman bagi kami, jika kami membunuh saja kalian bertiga.”

 

Kiai Gringsing memandang orang-orang yang mengaku tukang perahu itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Jadi, ada di antara para pedagang yang lewat itu kaki tanganmu?”

 

“Kaki tangan kami berada di mana-mana. Di Mataram, di Pajang, di Menoreh bahkan di daerah pasisir Utara sekalipun, karena orang-orang kami tersebar di seluruh wilayah Majapahit. Dan kami akan segera membangunkan kerajaaan yang jaya seperti pada masa kejayaan Majapahit itu dahulu.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Agaknya sulit baginya untuk mencari jalan lain keluar dari perahu itu tanpa mempergunakan kekerasan. Namun demikian Kiai Gringsing pun tidak dapat melupakan, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya keturunan Majapahit itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Jika tidak, maka mereka tidak akan dapat membawa kedua pusaka yang ada di depan hidung Ki Juru Martani itu dari Mataram.

 

“Nah Ki Sanak,” berkata orang yang mengaku tukang perahu itu, “apakah kau akan meninggalkan pesan? Mungkin aku akan dapat menolong kalian menyampaikan pesan itu kelak, kepada keluargamu, atau kepada sahabat-sahabatmu.”

 

Kai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kami tidak mempunyai pesan bagi apa pun. Tetapi kami ingin bertanya sekali lagi kepada kalian, apakah kalian tidak dapat merubah cara kalian menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang Mataram selain membunuh kami dan pedagang-pedagang yang masih akan lewat, kemudian tukang perahu yang menyeberangkan kami dari Timur itu?”

 

“Tidak. Dan agaknya pembicaraan ini sudah terlalu panjang dan menjemukan. Jika pada saat ini pedagang-pedagang itu lewat, dan melihat pembunuhan yang kami lakukan, mereka akan segera melarikan diri.”

 

“Mereka belum datang,” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyahut, “kau masih mempunyai waktu.”

 

Orang-orang yang menyebut dirinya tukang perahu itu serentak berpaling. Mereka melihat Ki Sumangkar menambatkan tali kudanya pada bambu yang menyilang di perahu geteknya. Bahkan kemudian Ki Waskita pun melakukan perbuatan serupa.

 

“Kau masih dapat memikirkan kuda-kuda kalian?” bertanya orang yang menyamar sebagai tukang perahu itu. “Biarlah kami mengurusnya. Sekarang, kami akan membunuh kalian. Kami mempunyai senjata-senjata yang khusus. Pisau-pisau kecil yang panjang, yang langsung dapat menyentuh jantung.”

 

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “jangan begitu. Jangan dengan mudah mempermainkan nyawa orang lain. Kawan-kawanmu telah membunuh tukang-tukang perahu itu, sekarang kau akan membunuh kami. Akibatnya bukan saja kami akan mati, tetapi juga penyeberangan ini akan mati, dan berpuluh-puluh orang akan kehilangan nafkah karenanya.”

 

“Gila. Kau mencoba untuk memperlunak sikapku? He, apakah kalian tidak menganggap bahwa aku benar-benar akan membunuh kalian sekarang? Kenapa kalian masih menganggap aku bermain-main.”

 

“Bukan begitu, Ki Sanak. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan dengan suka rela menyerahkan jantung kami. Bukankah jumlah kami sama dengan jumlah kalian? Dan bukankah kami berhak untuk membela diri?” berkata Ki Waskita yang sudah selesai menambatkan kudanya.

 

Tukang perahu itu tertawa. Katanya, “Jangan main-main. Agaknya kalian memang orang-orang yang suka berkelakar.”

 

Ki Sumangkar yang sudah selesai pula menambatkan kudanya berkata, “Bagaimana kami dapat berkelakar dalam keadaan seperti ini. Jantung kami menjadi tegang, dan darah kami serasa membeku. Tetapi sebenarnyalah kami ingin bertanya, apakah kalian bersungguh-sungguh akan membunuh kami meskipun kami tidak bersalah?’ Hanya karena kebetulan kami mendengar cerita tentang songsong yang dibawa menyeberang itu sajalah, maka kami harus menyerahkan nyawa kami?”

 

“Ya. Hanya karena kebetulan kalian mendengarnya. Karena itu sudah aku katakan bahwa nasib kalianlah yang terlampau jelek.”

 

“Ki Sanak,” bertanya Ki Sumangkar, “jika kalian akan membunuh kami, maka sudah menjadi hak kami untuk mempertahankan diri. Ada atau tidak ada gunanya, tetapi itu adalah kewajiban kami. Tetapi sebelumnya, apakah Ki Sanak mau mengatakan kepada kami, mungkin untuk yang terakhir kalinya kami mendengar suara kalian, darimana kalian mendapatkan songsong itu dan akan kalian bawa ke mana?”

 

“Tidak ada gunanya kalian mengetahuinya.”

 

“Mungkin dapat memberikan sedikit ketenangan di hati kami di saat-saat yang paling gawat seperti sekarang ini.”

 

“Tidak. Kami tidak akan mengatakan kepada siapa pun. Juga sepada orang-orang yang akan mati. Karena dengan demikian, maka jika ada orang-orang yang mempunyai ilmu memanggil roh orang mati, maka rohmu akan dapat menceritakan kepada orang itu, di mana pusaka itu dibawa.”

 

“Bagus,” tiba-tiba Ki Sumangkar berkata lantang, “jika demikian, sebaiknya kami memaksa kalian berbicara dengan cara lain. Sekarang kalian tidak mau berbicara. Tetapi, bagaimana jika kalian kami bunuh, dan roh kalianlah yang kami paksa untuk berbicara.”

 

Kata-kata Ki Sumangkar yang seakan-akan diucapkan asal saja meloncat dari bibirnya itu ternyata telah mengejutkan orang-orang yang menyebut dirinya tukang-tkang perahu itu. Sejenak mereka seolah-olah membeku, sambil memandang Ki Sumangkar dengan tajamnya.

 

Kiai Gringsing dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Mereka pun sebenarnya sudah jemu berbicara berkepanjangan tanpa ujung pangkal. Agaknya Ki Sumangkar akan mengambil jalan yang lebih pendek. Meskipun dengan demikian akan dapat menimbulkan akibat yang gawat, karena mereka bertiga sama sekali belum dapat menjajagi sampai di mana kemampuan ketiga orang yang menyamar menjadi tukang perahu itu.

 

Sejenak kemudian, agaknya setelah gejolak jantungnya menjadi reda, orang yang agaknya paling tua di antara ketiga tukang perahu itu berkata, “Ternyata kalian sudah mulai kehilangan akal. Memang, orang-orang yang ketakutan sekali, bagaimana pun juga ia mencoba menyembunyikannya, dapat membuatnya menjadi gila. Dan agaknya salah seorang dari kalian bertiga sudah menjadi gila.”

 

“Siapa?” Kiai Gringsing masih juga bertanya.

 

“Kawanmu sudah mengigau,” berkata orang yang menyebut dirinya tukang perahu itu sambil menunjuk Ki Sumangkar.

 

Ki Sumangkar hampir tidak menghiraukannya sama sekali. Bahkan ia sempat memberikan isyarat untuk mempercepat saja persoalan yang menjemukan sekali itu.

 

Kiai Gringsing agaknya mengerti maksudnya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Ki Sanak. Jika tidak ada pilihan lain bagi kami, maka apa boleh buat. Kami akan mempertahankan diri kami, sejauh-jauh dapat kami lakukan. Karena sebenarnyalah jiwa kami sangat berharga bagi kami. Jauh lebih berharga dari benda apa pun juga. Apalagi yang tidak kami ketahui ujung pangkal persoalannya itu.”

 

“Bagus,” berkata orang yang bertubuh raksasa di antara ketiga orang yamg menyebut dirinya tukang perahu itu, “aku biasanya membunuh dengan tanganku. Aku pilin kepala korbanku sehingga tulang lehernya patah. Aku akan melepaskannya setelah nafasnya terputus sama sekali.”

 

“Kau bunuh tukang perahu itu dengan cara itu pula.”

 

“Ya. Aku membunuh salah seorang dari mereka. Yang lain, kawan-kawankulah yang menyobek perutnya. Tentu orang lain menyangka bahwa perut itu sobek oleh senjata tajam. Tetapi salah. Jari merekalah yang dipergunakannya. Karena jari-jari mereka melampaui tajamnya ujung senjata yang mana pun juga.”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang Ki Waskita dan Ki Sumangkar, maka mereka pun menjadi tegang.

 

Namun dalam pada itu, Ki Waskita telah menilai lawan-lawannya dengan saksama. Mereka benar-benar orang berbahaya. Orang yang dapat membunuh lawannya sambil tersenyum dingin. Orang yang membunuh tanpa penyesalan sama sekali.

 

Dengan demikian, maka mereka bertiga memang harus berhati-hati. Apalagi mereka masih berada di tengah-tengah sungai. Pada sebuah pulau kecil yang terdiri dari seonggok batu padas dan pasir. Mereka belum mengenal medan sebaik-baiknya sehingga mungkin ke dalaman sungai itu pun akan dapat mempengaruhi perkelahian yang pasti akan timbul.

 

Ternyata bahwa orang-orang yang mengaku sebagai tukang perahu itu pun sudah jemu pula berbicara. Mereka pun segera bergeser seolah-olah ingin mengepung ketiga orang yang menumpang perahunya. Salah seorang berkata, “Jika memang kalian laki-laki, matilah dengan jantan. Kalian memang harus bertempur.”

 

“Kami akan bertempur,” berkata Kiai Gringsing, “meskipun kami sudah terlalu tua untuk berkelahi, tetapi kami yang sudah biasa menempuh perjalanan jauh, tentu tidak akan gentar meskipun kami harus berkubur di tengah-tengah sungai ini.”

 

“Bagus,” teriak salah seorang dari ketiga tukang satang itu, “kau yang harus mati pertama kali.”

 

Kiai Gringsing mendengar terakan itu, dan ia sadar sepenuhnya bahwa yang dikatakan harus mati pertama kali adalah dirinya. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Apalagi getek itu tidak terlampau luas, sehingga kesempatan untuk menghindar terlampau sempit.

 

Tetapi ternyata orang yang menyebut dirinya tukang satang itu tidak langsung menyerangnya. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Kau benar-benar akan mempertahankan dirimu. Menilik sikapmu kau memang mampu untuk berkelahi. Barangkali agak lebih baik dari tukang-tukang perahu yang pernah kami bunuh dengan merobek tubuhnya dengan jari. Karena itu, marilah kita turun ke pulau padas kecil itu. Agaknya tempat itu cukup untuk berkelahi kita semuanya. Aku akan menjadi lebih puas melihat caramu mati daripada di atas perahu. Di sini kau akan segera terdorong jatuh ke dalam air, dan aku tidak sempat melihat kau menahan sakit di saat kematianmu tiba. Dan kau tentu menjadi heran dan kagum melihat kemampuanku menyobek lambungmu, atau melubangi lehermu hanya dengan jari-jariku.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketenangan orang itu membuatnya sangat berhati-hati. Orang itu tidak langsung menyerangnya saat-saat ia menjadi marah. Tetapi ia masih sempat mempergunakan otaknya.

 

“Cepat sedikit Ki Sanak,” berkata orang itu.

 

Kiai Gringsing pun kemudian mengangguk sambil menyahut, “Baiklah. Biarlah kudaku tertambat di sini. Kita akan berkelahi di atas onggokan padas dan pasir itu. Aku tidak peduli siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Tetapi aku sudah bersikap seperti seorang laki-laki yang selalu bertualang.”

 

Orang yang menantang Kiai Gringsing itu mengerutkan keningnya. Ia pun dijalari oleh keheranan di dalam hati. Orang tua itu nampaknya sama sekali tidak menjadi gentar dan ketakutan. Bahkan dengan tenang ia melayani tantangannya.

 

Sesaat kemudian orang yang menyebut dirinya tukang perahu itu pun segera bersiap untuk meloncat turun ke atas pasir. Sekali lagi ia berpaling, namun kemudian ia pun segera meninggalkan perahu yang kandas itu.

 

Kiai Gringsing memandang langkah orang itu sejenak. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka ia pun segera mengetahui, bahwa orang itu tentu memiliki kemampuan yang tinggi.

 

Sejenak kemudian Kiai Gringsing segera menyusulnya. Ia pun kemudian melangkah turun.

 

Dua orang yang menyamar sebagai tukang satang, dan kawan-kawan Kiai Gringsing masih berada di atas perahu. Salah seorang dari orang-orang yang menyebut dirinya tukang satang itu adalah orang yang bertubuh raksasa.

 

“Nah, bagaimana dengan kita?” geram raksasa itu. “Apakah kita akan menunggu sampai kalian selesai, atau aku akan menyelesaikan yang lain bersamaan dengan kau?”

 

“Kita harus bertindak lebih cepat. Selesaikan kawan-kawannya itu. Bukankah seolah-olah sudah diatur, bahwa kita masing-masing harus mencekik seekor kelinci.”

 

Orang bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya, “Jadi kita akan berkelahi pada saat yang bersamaan?”

 

“Ya.”

 

“Baiklah. Aku pun akan membawa korbanku turun.”

 

“Cepat, lakukanlah.”

 

Orang bertubuh raksasa itu memandang kepada Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Kemudian kepada kawannya ia berkata sambil menunjuk Ki Waskita, “Aku akan membunuh yang ini saja. Bunuhlah orang tua yang malas itu.”

 

Kawannya mengangguk. Ia pun agaknya seorang pemalas. Dengan nada datar ia berkata, “Baiklah. Orang ini agaknya akan terlampau cepat mati.”

 

Namun agaknya ia pun tidak senang terlalu banyak berbicara. Demikian mulutnya terkatup, maka ia pun segera meloncat menyenang Ki Sumangkar, yang berdiri di bibir perahu.

 

Serangan itu benar-benar tidak terduga. Orang itu maju selangkah. Kemudian lutut kakinya yang berada di depan ditekuknya bersamaan dengan sambaran tangannya dengan jari-jari lurus merapat.

 

Ki Sumangkar terkejut oleh serangan itu. Ia sadar, bahwa jari-jari orang itu tentu sudah terlatih sebaik-baiknya. Dengan kekuatan jari-jarinya ia memang dapat menyobek lambung. Bahkan jari-jari yang demikian, akan dapat dipergunakan untuk menusuk seperti ujung tombak yang pipih.

 

Karena Sumangkar berdiri di bibir perahu, maka ia tidak dapat meloncat surut jika ia tidak mau masuk ke dalam arus Kali Praga. Karena itu, maka dengan cepat ia meloncat ke samping searah dengan ayunan tangan lawannya.

 

Sumangkar masih sempat menghindari jari-jari yang berbahaya itu. Namun ia sadar bahwa akan datang serangan berikutnya. Karena itu, ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

 

Dugaan Sumangkar benar-benar terjadi. Orang yang menyerang itu pun terkejut bahwa lawannya sempat menghindar. Karena itu, ia meloncat sekali lagi maju mendekat. Dan sekali lagi tangannya bergerak mendatar.

 

Sumangkar tidak sempat meloncat lagi. Ia benar-benar sudah tersudut. Namun ia menyadari keadaannya dan ia pun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang demikian.

 

Karena itu, sebelum tangan orang itu terayun, Sumangkar justru meloncat maju. Dengan gerakan yang cepat sekali ia menyerang dengan kakinya, tepat pada siku tangan lawannya yang sudah mulai bergerak.

 

Yang terjadi kemudian, adalah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan antara siku lawannya dan tumit Sumangkar.

 

Akibat dari benturan itu ternyata sama sekali tidak diduga oleh orang-orang yang mengaku sebagai tukang satang itu. Benturan dengan kaki Sumangkar itu rasa-rasanya seperti benturan dengan sebuah dinding besi. Bahkan oleh kekuatan ayunan tangannya sendiri dan daya dorong kaki Sumangkar, maka orang itu pun seakan-akan terdorong surut.

 

Untunglah bahwa ia tidak terlempar ke dalam air. Meskipun ia masih akan dapat mengatasi, namun ia pasti berada dalam kedudukan yang lemah sekali.

 

Meskipun demikian, namun orang itu terjatuh juga karena kakinya terperosok di sela-sela bambu yang melintang di atas perahunya.

 

Tetapi ternyata kawannya dapat bertindak cepat. Sekali loncat ia sudah berada di hadapan Sumangkar, siap melindungi kawannya yang terjatuh.

 

Sumangkar berdiri termangu-mangu. Nampaknya Ki Waskita masih belum berbuat sesuatu. Ia masih saja berdiri di tempatnya sambil mengamati kedua orang yang mengaku tukang perahu itu berganti-ganti.

 

Sejenak kemudian orang yang terjatuh itu pun telah berdiri. Terasa siku tangannya menjadi sakit karena benturan dengan tumit Sumangkar.

 

Tetapi lebih dari perasaan sakit itu, ia pun menjadi heran. Ternyata orang yang dianggapnya pemalas itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Orang-orang kebanyakan akan tersobek kulit dagingnya, tersentuh jari-jari tangannya. Tetapi orang ini bergerak terlampau cepat. Dan ternyata kekuatannya mampu menahan ayunan tangannya, dan bahkan melontarkannya beberapa langkah surut.

 

Dengan demikian maka orang itu pun menjadi sangat marah. Sambil menggeram ia melangkah maju, sementara perahunya masih terguncang.

 

“Bagaimana” bertanya kawannya yang bertubuh raksasa, “apakah kau memilih orang yang dungu itu? Biarlah pemalas yang ternyata memiliki kekuatan yang dapat dibanggakannya itu aku remukkan tulang-tulang lengannya.”

 

“Serahkan ia kepadaku,” geram orang yang terjatuh itu, “aku terlampau lengah dan menganggapnya seperti tukang perahu yang mati itu.”

 

“Kau kurang memperhatikan keadaan,” berkata orang yang bertubuh raksasa itu, “seharusnya kau sudah mengetahui, bahwa pemalas itu mempunyai sedikit kekuatam.”

 

“Aku akan mencincangnya dengan jari-jariku. Aku akan membiarkan mayatnya tergolek di atas pasir. Dan biarlah orang-orang lain melihat, siapa yang berani menentang aku, akan mengalami nasib yang serupa.”

 

“Terserahlah kepadamu. Yang seorang itu akan segera aku selesaikan pula.”

 

Lawan Sumangkar itu pun kemudian melangkah maju. Katanya, “Kita pun akan bertempur di atas pasir, supaya kita menjadi lebih puas.”

 

Sumangkar mengerutkan keningnya. Katanya, “Baiklah. Turunlah. Aku akan menyusul.”

 

Lawannya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera meloncat turun dari perahunya dan menunggu Sumangkar di atas pasir di tengah Kali Praga.

 

Sementara itu, Kiai Gringsing yang memperhatikan perkelahian Ki Sumangkar dengan saksama, segera tersenyum di dalam hati. Ia mendapat kesimpulan bahwa Ki Sumangkar akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun ia masih belum tahu, apakah Ki Waskita dan dirinya sendiri dapat mengatasi lawannya.

 

“Jika orang bertubuh raksasa itu tidak mempunyai penglihatan batin yang tajam, Ki Waskita tentu akan dapat mengelabuinya. Tetapi jika ia gagal, maka ia harus bertempur mati-matian. Agaknya orang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa.”

 

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian mendengar lawannya bertanya, “He, apakah kita akan mulai? Kau tentu memiliki sedikit ilmu pula seperti kawanmu. Agaknya kami memang salah hitung. Kami menganggap kalian tidak lebih dari tukang-tukang satang itu. Seharusnya kami memperhitungkan kemungkinan seperti ini, karena biasanya perantau dan petualang adbmcadangan.wordpress.com seperti kalian ini memang memiliki sekedar bekal ilmu untuk melindungi diri dan kadang-kadang sekedar untuk bersombong.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita tidak akan menghiraukan orang lain. Kita sudah mempunyai lawan kita masing-masing. Biarlah kawanmu itu akan berkubur di dasar Kali Praga.”

 

“Persetan.”

 

“Bukankah kau melihat benturan itu?”

 

“Kawanku kurang berhati-hati.”

 

Kiai Gringsing tidak menyahut. Justru Ki Sumangkar dan lawannya sudah mulai bertempur lagi. Kali ini di atas pasir yang mencuat seperti sebuah pulau di tengah-tengah Kali Praga yang kebetulan tidak sedang banjir.

 

Sejenak Kiai Gringsing melihat perkelahian itu. Namun sejenak kemudian, ia pun harus bersiap menghadapi lawannya yang mulai mengembangkan tangannya.

 

“Kekuatannya ada pada jari-jari tangannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati. Karena itu maka pusat perhatiannya atas lawannya itu adalah jari-jarinya.

 

Sesaat kemudian lawannya itu pun melangkah semakin dekat. Wajahnya menjadi tegang oleh pemusatan kekuatan. Sorot matanya memancarkan nafsu membunuh yang tidak terkendalikan lagi.

 

Dalam pada itu, di atas perahu, Ki Waskita berdiri termangu. Ditatapnya wajah lawannya yang bertubuh raksasa itu. Seienak ia dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah ia harus mempergunakan tenaganya, atau sekedar ilmu tipuannya.

 

Namun akhirnya Ki Waskita mengambil kesimpulan bahwa ia akan mempergunakan tenaganya terlebih dahulu, karena jika ia mencobakan ilmu semunya, dan ternyata ia gagal, maka hal itu agaknya mempengaruhi pertempuran yang terjadi kemudian.

 

“Jika aku tidak dapat mengatasi kekuatan tenaga dan ilmunya, barangkali aku memang harus bersembunyi di balik bayangan-bayangan semu. Tetapi jika ia dapat menembus bayangan-bayangan itu dengan penglihatan matanya yang tajam, maka untuk selanjutnya aku akan menemui kesulitan,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

 

Karena itulah maka Ki Waskita pun mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Dipandanginya lawannya yang bertubuh raksasa itu kemudian mendekati selangkah demi selangkah.

 

“Gila,” pikir Ki Waskita.

 

Raksasa itu berjalan saja seenaknya. Seakan-akan membiarkan dirinya di serang di mana pun juga yang dikehendaki oleh lawannya.

 

“Apakah ia memiliki ilmu kebal?” bertanya Ki Waskita kepada diri sendiri.

 

Ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat raksasa itu menjulurkan tangannya sambil berkata, “Aku akan mencekik lehermu. Jika kau meronta, mungkin lehermu akan terputus sama sekali.”

 

Ki Waskita menjadi heran melihat sikapnya. Namun ia masih juga menjawab, “Apakah kau dapat memutuskan leherku hanya dengan tanganmu.”

 

“Tentu. Tanganku mempunyai kekuatan yang tentu tidak kau duga. Aku dapat meremas batu padas itu sampai lumat.”

 

“Batu padas yang mana. Apakah aku boleh melihatnya? Jika kau benar dapat memutuskan leherku dengan remasan tanganmu, maka apakah kau dapat menunjukkan kepadaku, sebelum leherku patah oleh kekuatan tanganmu itu?”

 

Raksasa itu termangu-mangu. Katanya kemudian, “Apakah yang harus aku remas?”

 

“Batu itu.”

 

“Batu yang mana?”

 

“Di atas batu-batu padas itu. Kau lihat batu sebesar kepalamu.”

 

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia melihat sebuah batu hitam tergolek di atas batu padas di sebelah kawan-kawannya yang sudah mulai bertempur.

 

“Kawan-kawanmu mempunyai ilmu serba sedikit. Tetapi itu hanya memperpanjang waktu saja. Perut mereka akan sobek oleh jari-jari kawanku.”

 

“Ya. Tetapi bagaimana dengan batu itu.”

 

Orang itu ragu-ragu. Katanya, “Lehermu tidak sekeras batu. Mungkin aku tidak dapat meremas batu hitam itu. Tetapi batu padas aku dapat meremukkannya dan sudah barang tentu kepalamu.”

 

“Aku minta waktu sedikit,” berkata Ki Waskita, “sebelum kau memecahkan kepalaku, apakah kau dapat bermain-main dengan batu itu,” tiba-tiba saja Ki Waskita ingin menjajagi kemampuan lawannya sebelum ia bertempur. Raksasa itu tentu memiliki kekuatan yang besar. Tetapi apakah kekuatannya itu dilambari oleh ilmu yang dapat memancarkan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, atau sekedar kekuatan jasmaniah wantahnya saja.

 

“Apakah yang akan kau lakukan?”

 

“Kita turun juga dari perahu ini. Agaknya tidak menyenangkan bertempur di atas perahu yang setiap kali terguncang-guncang oleh gerakan kita. Selebihnya, kita bermain-main dengan batu itu lebih dahulu sebelum kau bermain-main dengan kepalaku.”

 

Ki Waskita tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah ke bibir perahu dan meloncat turun. Sejenak ia memandang kedua kawannya yang telah berkelahi, dengan sengitnya. Seperti Kiai Gringsing ia melihat, bahwa Ki Sumangkar akan dapat melindungi dirinya sendiri. Tetapi agaknya Kiai Gringsing sendiri harus bertempur dengan hati-hati, karena lawannya adalah orang yang cukup trengginas, dan sudah tentu tidak sia-sia jika ia mengatakan bahwa jari-jarinya mampu menyobek lambung.

 

Ketika orang bertubuh raksasa itu turun pula ke atas batu padas yang membujur seperti sebuah pulau itu, maka Ki Waskita pun sudah berjalan mendekati sebuah batu hitam yang tergolek di atas pasir.

 

“Batu ini hampir sebesar kepalaku,” berkata Ki Waskita, “cobalah meremasnya sampai menjadi debu sebelum kau meremas leherku.”

 

“Persetan,” orang itu menggeram, “aku lebih senang meremas lehermu. Sudah aku katakan bahwa lehermu tidak sekeras batu itu.”

 

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Agaknya kemampuan orang itu semata-mata karena tenaga wantahnya yang luar biasa. Mungkin oleh bentuk tubuhnya dan mungkin oleh latihan-latihan yang keras.

 

Namun Ki Waskita memiliki kemampuan lain. Ia melatih diri bukan hanya sekedar mempergunakan tenaga lahiriahnya saja. Tetapi ia melatih diri melepaskan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya dan membentuk dirinya menurut ilmu yang dipelajarinya. Karena itu, maka ia memiki arus kekuatan yang lain dari kekuatan wantahnya saja.

 

Dalam pada itu, agaknya orang bertubuh raksasa itu berkeberatan untuk mencoba memecahkan batu hitam itu. Karena itu maka Ki Waskita pun berkata, “Kenapa kau tidak mau mencoba untuk menakut-nakuti aku, atau untuk meyakinkan aku agar aku dengan suka rela menyerahkan leherku? Jika aku sudah tidak mungkin lagi berbuat sesuatu untuk menyelamatkan diri, maka aku akan membiarkan kau mencekik leherku sampai putus.”

 

“Gila. Aku tidak perlu berbuat apa pun juga untuk meyakinkan kau. Aku akan langsung meremas lehermu dan meremukkan tulang-tulangnya. Kepalamu akan segera terpisah dari tubuhmu.”

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia belum mulai bertempur melawan orang bertubuh raksasa itu, namun agaknya ia sudah dapat menjajagi kekuatan lawannya.

 

“Kekuatan tenaganya tidak terlampau mengecilkan hati,” berkata Ki Waskita, “tetapi mungkin ia memiliki ilmu lain yang dapat menjadikannya seorang yang tangguh tanggon.”

 

Ternyata Ki Waskita tidak dapat bermain-main lebih lama lagi. Agaknya orang bertubuh raksasa itu tidak sabar lagi membiarkan lawannya berbicara tentang batu hitam itu.

 

Sekali lagi Ki Waskita melihat orang itu berjalan langsung ke arahnya tanpa mencoba melindungi dirinya apabila ia menyerang. Agaknya ia terlampau yakin akan kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Dengan langkah yang panjang ia mendekat sambil menjulurkan tangannya, siap menangkap leher Ki Waskita.

 

Ki Waskita melangkah surut, ia melihat lawannya dengan heran. Seolah-olah lawannya tidak memiliki ilmu tata bela diri yang cukup.

 

“Tentu bukan begitu,” berkata Ki Waskita kepada dirinya sendiri sambil melangkah menjahui orang yang bertubuh raksasa itu.

 

“Kau tidak dapat lari,” berkata orang yang masih saja menjulurkan tangannya, “aku tentu akan dapat menangkapmu. Aku juga memiliki kemampuan berlari melampaui orang lain.”

 

“Gila,” desis Ki Waskita di dalam hatinya sambil memandang orang itu dengan ragu. “Jika aku menyerang dadanya, maka apakah ia akan dapat bertahan tanpa berbuat apa pun juga.”

 

Namun Ki Waskita benar-benar menjadi bimbang. Jika ia tidak mempergunakan segenap tenaganya, mungkin ia akan terpental oleh kekuatannya sendiri. Tetapi jika ia memusatkan segenap kemampuannya dan memusatkan kekuatan itu pada serangan pertamanya membentur lawan yang sama sekali tidak berusaha menahannya, apakah ia tidak akan melumatkan dada itu dan membunuh lawannya dengan cara yang sangat mengerikan.

 

Dalam keragu-raguan itu, akhirnya Ki Waskita menemukan suatu cara yang mungkin dapat dilakukan, perlahan-lahan ia bergeser terus diikuti oleh raksasa yang sedang menjulurkan tangannya untuk menangkap lehernya itu.

 

Namun tiba-tiba saja Ki Waskita meloncat, mengambil batu yang tergolek di atas padas. Sejenak ia sempat memusatkan kekuatannya. Dipeganginya batu hampir sebesar kepalanya itu dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya terangkat perlahan-lahan. Sejenak kemudian dengan derasnya tangannya terayun, dan sisi telapak tangannya menghantam batu yang berada di tangan kirinya itu.

 

Akibat dari pukulan itu ternyata dahsyat sekali. Batu hitam hampir sebesar kepalanya itu pun pecah berkeping-keping.

 

Orang bertubuh raksasa itu terkejut bukan buatan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya itu mampu berbuat demikian, sehingga karena itu, maka untuk beberapa saat ia justru berdiri mematung.

 

Kedua kawannya pun ternyata sempat melihat apa yang terjadi. Mereka pun menjadi heran, bahwa tiba-tiba saja mereka seolah-olah telah terperosok ke dalam kandang serigala lapar.

 

Tetapi mereka sudah terlanjur berhadapan dengan orang-orang yang semula disangkanya seperti pedagang-pedagang yang lain, yang dengan mudah akan dapat dibinasakannya. Namun ternyata salah seorang dari mereka telah memperagakan suatu kekuatan yang tiada taranya.

 

“Pantas aku tidak dapat segera membunuh orang malas ini,” berkata lawan Ki Sumangkar di dalam hati, sementara lawan Kiai Gringsing pun sudah mulai berkeringat di seluruh tubuhnya.

 

Namun keduanya masih berpengharapan untuk dapat menguasai lawannya dengan kekuatan jari-jari mereka. Jika lawan-lawan mereka itu lengah, maka mereka tentu akan dapat menyobek lambungnya dengan ujung jarinya.

 

Selagi kedua kawannya bertempur semakin sengit dengan mengerahkan segenap kemampuannya, maka orang bertubuh raksasa itu menjadi termangu-mangu. Kini ia tidak lagi berjalan sambil menjulurkan tangannya dan membiarkan lawannya menyerang di mana pun dikehendaki.

 

Tetapi ia pun menjadi heran, kenapa lawannya yang mampu memecahkan batu hitam itu tidak langsung menyerang dadanya yang seakan-akan dengan sengaja dibiarkannya terbuka. Jika tangan yang mampu memecahkan batu itu menghantam dadanya, maka tulang-tulang iganya tentu akan rontok sama sekali.

 

Dalam kebimbangan itu, ia melihat Ki Waskita berdiri tegak di hadapannya. Tiba-tiba saja Ki Waskita itu sama sekali telah berubah di dalam pandangannya. Orang itu bukannya orang yang ketakutan dan menjadi pucat. Melangkah surut sambil mengerutkan lehernya. Tetapi Ki Waskita itu kemudian seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang lain sama sekali. Seorang yang sorot matanya mampu memecahkan dadanya, dan yang senyumnya bagaikan senyuman hantu yang akan menghisap darah dari ubun-ubunnya.

 

Untuk beberapa saat lamanya, orang yang bertubuh raksasa itu berdiri termangu-mangu. Ia tidak tahu, apa yang akan dilakukannya. Sudah barang tentu ia tidak akan dapat mendekati orang yang mampu memecah batu hitam dengan tangannya itu, sekedar dengan menjulurkan tangannya saja. Agaknya tangan yang mampu memecah batu hitam itu jauh berbahaya dari tangan kawananya yang dapat menyobek perut.

 

Ki Waskita yang telah menunjukkan kekuatan tangannya itu pun masih berdiri tegak. Ia sedang mengamati akibat apakah yang timbul pada lawannya. Pada orang yang bertubuh raksasa itu. Jika ia sama sekali tidak mengacuhkan permainannya, maka ia adalah orang yang sangat berbahaya, sehingga ia harus menjadi hangat berhati-hati.

 

Tetapi ternyata ia melihat dengan jelas, perubahan sikap dan tatapan mata orang bertubuh raksasa itu. Untuk beberapa saat nampaknya ia berdiri saja bagaikan membeku, namun kemudian wajah itu menjadi pucat dan bahkan tubuhnya gemetar.

 

Ternyata bahwa ketabahan hati orang bertubuh raksasa itu tidak seimbang dengan bentuk lahiriahnya. Tubuhnya yang gagah tinggi dan besar. Dadanya bidang ditumbuhi oleh rambut yang lebat. Raut wajahnya menunjukkan betapa ia telah ditempa oleh alam yang keras. Kumis dan jambang yang lebat terawat sebaik-baiknya.

 

Namun hatinya tidak lebih besar dari biji otek terbagi seribu. Sikapnya yang kasar dan sombong, adalah selubung yang rapat bagi kekerdilan jiwanya.

 

Karena itulah, ketika ia melihat tangan Ki Waskita memecahkan batu hitam yang hampir sebesar kepalanya itu, hatinya segera menjadi kuncup. Ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan adbmcadangan.wordpress.com orang yang memiliki kekuatan luar biasa. Jauh di atas kekuatannya sendiri. Meskipun tangannya mampu mematahkan leher orang lain, namun ia tidak akan dapat memecahkan batu dengan sisi telapak tangannya itu. Bahkan agaknya kawan-kawannya yang mampu menyobek perut lawan dengan jari-jari itu pun tidak akan mampu memecahkan batu hitam itu.

 

Ketakutan yang melanda dadanya ternyata tidak dapat dilawannya lagi. Dengan demikian, maka ia tidak mempunyai pilihan lain daripada menghindar dari arena perkelahian itu.

 

Orang bertubuh raksasa itu tidak sempat berpikir. Ia pun kemudian meloncat berlari naik ke atas perahu. Tidak ada pikiran lain padanya, kecuali menjauhi orang yang dapat memecahkan batu sebesar kepalanya itu.

 

Ki Waskita benar-benar terkejut melihat orang itu berlari. Yang melintas di angan-angannya adalah, bahwa orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Ia akan membunuh siapa pun yang dianggapnya dapat mengganggu dirinya dan kelompoknya. Ia bahkan telah siap untuk membunuh para pedagang dan tukang-tukang perahu yang pernah menyebut arah larinya pusaka yang hilang dari Mataram.

 

Karena itulah maka hampir di luar sadarnya, Ki Waskita pun berteriak, “Berhenti, he, berhenti kau raksasa yang dungu.”

 

Tetapi orang bertubuh raksasa itu tidak menghiraukannya lagi. Demikian ia meloncat naik ke atas perahu, maka ia pun segera mengambil satang bambu tanpa menghiraukan kedua kawannya yang sedang bertempur.

 

Ki Waskita tidak dapat berbuat lain daripada menghentikannya. Karena jarak yang ada antara dirinya dan raksasa yang sudah berada di atas perahu itu, maka Ki Waskita harus bertindak cepat.

 

Itulah sebabnya, maka Ki Waskita pun segera memungut pecahan batu hitam yang telah terbelah oleh tangannya. Dengan sekuat tenaga ia melontarkan batu itu kearah lawannya yang sedang berusaha melarikan diri sebelum bertempur yang sebenarnya itu.

 

Ternyata akibatnya adalah mengerikan sekali. Batu hitam itu tepat mengenai tengkuk orang bertubuh raksasa itu.

 

Terdengar sebuah teriakan nyaring. Kemudian disusul tubuh raksasa itu menggeliat dan terjatuh ke dalam air Kali Praga yang berwarna lumpur.

 

Ki Waskita melihat dengan jelas, bahwa orang itu masih sempat menggelepar, karena lontaran batu itu tidak membunuhnya. Tetapi dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itu agaknya telah kehilangan sebagian dari kesadarannya, sehingga ia tidak mampu lagi melepaskan dirinya dari tarikan, air yang sebenarnya tidak begitu deras

 

Ki Waskita berlari-lari mendekati perahu itu. Dengan serta-merta ia pun meloncat naik mendekati raksasa yang terlempar ke dalam air itu.

 

Namun agaknya oleh kekuatan yang tersisa pada orang bertubuh raksasa itu, yang menggelepar kesaktian dan kehilangan kesadarannya, ia pun telah terdorong ke tengah dan hanyut dibawa oleh arus Kali Praga yang cukup kuat menyeretnya ke Lautan Selatan.

 

Ki Waskita pun kemudian berdiri termangu-mangu di atas perahu yang masih terguncang itu. Ia melihat tubuh itu diseret oleh air yang keruh. Namun semakin lama semakin jauh, semakin jauh. Sekali-sekali Ki Waskita masih melihat raksasa itu menggelepar di dalam setengah sadar. Tetapi agaknya ia telah sampai pada batas hidupnya, sehingga tidak seorang pun akan dapat menyelamatkannya lagi.

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Untuk beberapa saat ia masih berdiri di atas perahu. Namun kemudian ia pun seolah-olah tersadar, bahwa kedua kawannya masih bertempur dengan sengitnya.

 

Ki Waskita pun kemudian berpaling. Ia melihat perkelahian di atas pasir itu masih berjalan dengan sengitnya. Ki Sumangkar sekal-sekali masih harus meloncat surut menghindari serangan jari-jari lawannya. Sedang Kiai Gringsing pun masih harus bertempur dengan sepenuh tenaga.

 

Perlahan-lahan Ki Waskita mendekati arena. Ia berusaha untuk sedikit menarik perhatian lawan-lawan Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing. Sekilas kedua orang itu sempat melihatnya. Namun mereka pun kemudian bertempur lagi dengan gígihnya.

 

Tetapi yang sekejap itu sudah cukup bagi Ki Waskita, karena dengan demikian, keduanya telah menyadari kehadiran Ki Waskita di arena itu.

 

Untuk beberapa saat lamanya, perkelahian itu nampaknya justru semakin seru. Namun mereka mulai terganggu oleh mendung yang tiba-tiba saja hanyut dari atas samodra mengalir ke Utara. Mendung yang semakin lama menjadi semakin pekat.

 

Setiap kali mereka yang bertempur mencoba untuk melihat wajah langit yang menjadi suram. Namun mereka tidak sempat memperhatikan awan yang hitam itu terlalu lama karena mereka masing-masing harus mempertahankan hidup mereka.

 

Perkelahian itu ternyata berlangsung lama. Kedua belah pihak mencoba untuk menguasai lawan-lawannya dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi dengan demikian, maka mereka justru terlibat dalam perkelahian yang semakin sengit.

 

Agaknya mereka adalah orang-orang yang pilih tanding. Yang mampu bertempur dengan kekuatan yang tiada bandingnya sehingga Ki Waskita pun menjadi sadar, bahwa orang yang bertubuh raksasa itu adalah orang yang paling kuat, tetapi orang yang paling lemah di dalam pendalaman ilmu kanuragan. Kekuatannya semata-mata terletak pada kekuatan badaniahnya yang wantah.

 

Tetapi Ki Waskita tidak mercoba untuk terjun ke dalam pertempuran itu. Ia masih saja berdiri di tempatnya sambil memperhatikan perkelahian yang seru itu.

 

Sementara itu, langit pun menjadi semakin gelap. Bukan saja gelapnya mendung di langit. Tetapi Matahari memang sudah menjadi semakin rendah di sisi langit sebelah Barat

 

Apalagi mendung memang menjadi semakin tebal dan di beberapa bagian hujan pun mulai turun dengan derasnya. Bahkan di bagian ujung sungai, di lereng pegunungan, hujan nampaknya turun dengan lebatnya.

 

Meskipun mereka dicengkam oleh pemusatan perhatian terhadap lawan masing-masing, namun orang-orang yang sedang bertempur itu sempat juga sekali-sekali melihat hujan yang turun dengan derasnya di ujung Utara. Sekilas mereka mulai memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi atas Kali Praga. Jika air tidak tertampung lagi, maka Kali Praga akan segera menjadi banjir. Dan setiap orang mengetahui, banjir Kali Praga adalah banjir yang sangat dahsyat dan mengerikan.

 

Tetapi mereka masing-masing tidak segera dapat mengakhiri perkelahian itu. Ki Sumangkar yang nampak memiliki beberapa kelebihan, masih harus bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada padanya. Setiap kali ia masih harus menghindari sambaran jari-jari tangan lawannya yang mengerikan itu.

 

Dalam pada itu, selagi perkelahian itu masih berlangsung dengan seru, terasa bahwa riak-riak air yang berbuih mulai merambat ke atas pasir di tengah-tengah Kali Praga itu.

 

Bahkan kemudian perlahan-lahan air itu merambat semakin tinggi sehingga akhirnya air itu mulai menyentuh kaki mereka yang sedang bertempur.

 

Ki Waskita masih berdiri termangu-mangu. Ia ingin melihat akibat yang dapat timbul karena air yang semakin tinggi itu.

 

Ternyata bahwa sentuhan air dikaki mereka yang sedang bertempur itu dapat menarik perhatian untuk beberapa saat. Mereka seolah-olah saling mencari kesempatan untuk memperhatikan keadaan.

 

Dalam kesempatan itu, maka Ki Waskita pun berkata, “Nah, sebentar lagi, arus Kali Praga akan menjadi semakin deras Kita bersama-sama akan terbenam jika kita tidak segera menyingkir dari tempat ini, sedang kalian masih saja bertempur seolah-olah tidak berkesudahan.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, “Karena itu, setelah kawan kalian berkurang satu, sebaiknya kalian menyerah saja. Kalian akan kami perlakukan dengan baik. Kami tidak akan berbuat apa-apa atas kalian.”

 

“Persetan,” lawan Kiai Gringsing itu pun menggeram.

 

“Barangkali itu lebih baik daripada kita bersama-sama terbenam.”

 

“Itu lebih baik. Kita akan mati bersama-sama,” berkata orang itu.

 

Kiai Gringsing yang kemudian surut selangkah mengerutkan keningnya memandang air yang semakin tinggi. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Jika kau menyerah, kau tidak akan mati. Tetapi jika kita bertempur terus, kau akan mati seperti kawanmu itu, karena kami akan bertempur bertiga, dan kalian hanya berdua saja. Apalagi kami adalah orang-orang yang sudah terbiasa berkelahi di dalam air.”

 

Lawan Kiai Gringsing itu menjadi tegang sejenak. Sesaat ia berpaling memandang kawannya yang juga berdiri tegak dengan wajah tengadah.

 

Namun lawan Kiai Gringsing itu pun berkata, “Biarlah kita bersama-sama tenggelam di dalam arus banjir Kali Praga.”

 

Ki Sumangkar menggigit bibirnya. Kemudian katanya, “Air Kali Praga akan menelan orang-orang yang bersalah. Bukan orang-orang yang benar.”

 

Lawan Ki Sumangkar itu menjadi semakin tegang. Dan dengan sorot mata yang aneh ia memandang kawannya yang berdiri termangu-mangu.

 

Namun tiba-tiba saja lawan Kiai Gringsing itu berteriak, “Gila. Kalian mencoba membohongi aku dengan tipuan-tipuan yang licik itu he? Kau sangka kami tidak dapat menembus batas bentuk semumu dengan penglihatan batin. He, orang-orang dungu. Kalian jangan memperbodoh kami seperti memperbodoh anak-anak yang baru pandai berjalan.”

 

Dada Ki Waskita berdesir. Ternyata kedua orang itu benar-benar orang pilihan. Mereka mampu melihat keadaan yang sebenarnya dan mengesampingkan bentuk semunya

 

Sejenak kemudian, maka air yang sudah mulai merambat sampai ke mata kaki itu pun seolah-olah menjadi surut dengan tiba-tiba. Awan yang hitam kelam di langit pun bagaikan pecah ditiup prahara, sedang hujan yang turun dengan lebatnya segera disapu pula oleh penglihatan mata hati dari orang-orang yang menyebut diri mereka tukang satang itu.

 

“Luar biasa,” desis Kiai Gringsing, “kalian benar-benar memiliki ilmu yang mengagumkan. Tidak sia-sia kalian mendapat tugas untuk melenyapkan semua orang yang dapat menunjukkan jejak kepergian pusaka-pusaka dari Mataram itu.”

 

Lawan Kiai Gringsing sama sekali tidak menyahut. Agaknya kemarahan yarg melonjak di dadanya tidak dapat dibendungnya lagi, sehingga tiba-tiba saja ia pun sudah meloncat menyerang dengan garangnya.

 

Tetapi Kiai Gringsing pun sudah bersiap sepenuhnya. Ia sempat mengelak. Bahkan kemudian ia pun segera membalas dengan serangan pula. Sebuan loncatan yang panjang dengan kaki terjulur lurus menyamping.

 

Lawannya tidak membiarkan dirinya lumpuh oleh serangan itu. Dengan tangkasnya ia meloncat ke samping. Kemudian tangannya pun segera terayun memukul pergelangan kaki Kiai Gringsing.

 

Kiai Gringsing sadar, bahwa tangan itu bagaikan senjata yang sangat tajam. Jika jari-jari tangan lawannya itu menyentuh pergelangan kakinya, maka telapak kakinya tentu akan terlepas dan itu akan berarti bahwa perlawanannya pun akan terhenti.

 

Dengan kecepatan yang sama, Kiai Gringsing menarik kakinya yang terjulur, dan melingkar di belakang kakinya yang lain. Sekejap kemudian kaki yang lain itulah yang terangkat menyambar lambung lawannya.

 

Lawannya tidak sempat memutar tubuhnya dan menghantam kaki Kiai Gringsing dengan jari-jarinya. Yang dapat dilakukannya adalah melindungi lambungnya dengan siku.

 

Tetapi ternyata bahwa kekuatan Kiai Gringsing masih mampu mendorongnya beberapa langkah surut, meskipun lawannya telah mengerahkan tenaganya pula. Sekilas nampak wajah itu semakin menegang menahan sakit. Agaknya benturan yang terjadi itu terasa terlampau keras baginya.

 

Lawan Kiai Gringsing itu pun kemudian sadar sepenuhnya, bahwa ia telah berhadapan dengan seorang yang luar biasa. Seorang yang tidak akan dapat ditundukkannya begitu saja. Apalagi ketika sekilas ia melihat kawannya yang sudah mulai bertempur pula melawan Ki Sumangkar. Maka sudah terasa baginya, bahwa apabila ia bertempur dengan cara itu, dengan membanggakan kekuatan jari-jarinya, maka ia tidak akan dapat memenangkannya.

 

Betapa pun juga tajamnya kekuatan jari-jarinya, namun ternyata bahwa orang itu masih merasa perlu untuk mempergunakan senjata.

 

Karena itulah, maka sejejak kemudian ia pun melangkah surut menjauhi Kiai Gringsing untuk mendapat kesempatan melepaskan senjata-senjatanya.

 

Ki Waskita masih berdiri dengan tegang. Ia menjadi ragu-ragu, apakah pantas baginya untuk ikut bertempur pula di antara kedua kawannya. Nanun ketika ia menjadi yakin bahwa kedua orang yang menyamar menjadi tukang perahu itu tidak akan dapat mengimbangi kedua kawannya, ia pun menjadi semakin tenang.

 

Tetapi sikap terakhir lawan Kiai Gringsing sangat menarik perhatiannya. Ia hampir berteriak ketika ia melihat tangan orang itu dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata meraba tengkuknya.

 

Namun Kiai Gringsing pun sudah berwaspada. Ketika tangan itu kemudian terayun, Kiai Gringsing dengan tangkasnya meloncat ke samping sambil memiringkan tubuhnya.

 

Sebuah pisau belati yang kecil dengan kecepatan seperti angin yang kencang telah menyambarnya.

 

Untunglah bahwa kecepatan bergerak Kiai Gringsing berhasil melampaui kecepatan sambaran pisau belati kecil itu sehingga pisau itu tidak menyambar dadanya dan menghunjam tembus ke jantungnya.

 

Namun agaknya, orang itu tidak hanya membawa sebuah pisau saja di punggungnya. Ternyata kemudian sebuah lagi meluncur seperti tatit di langit.

 

Sekali lagi Kiai Gringsing terpaksa meloncat menghindar, agar pisau itu tidak menyobek tubuhnya.

 

Tetapi ternyata orang itu membawa beberapa pisau yang kecuali terselip di punggungnya, juga di ikat pinggangnya. Beberapa buah pisau belati nampak berderet melingkar di seluruh bagian ikat pinggang itu.

 

Sudah barang tentu Kiai Gringsing akan menghadapi kesulitan apabila setiap kali ia harus berloncatan menghindari serangan pisau itu. Karena itu, ia harus mengambil sikap lain. Ia tidak boleh sekedar menunggu dan berloncatan. Tetapi ia pun harus menyerang dan apabila mungkin segera menyelesaikan pertempuran itu.

 

Karena itulah, maka ketika ia harus sekali lagi meloncat maka tangannya pun segera mengurai senjatanya yang melingkar di lambungnya, sehingga ketika lawannya sekali lagi mencabut sebuah pisau di ikat pinggangnya, ia telah dikejutkan oleh ledakan cambuk Kiai Gringsing yang seolah-olah memecahkan selaput telinga.

 

“Gila,” orang itu tiba-tiba berteriak, “jadi kaukah yang disebut orang bercambuk itu.”

 

Kiai Gringsing tidak menyahut. Ialah yang kemudian menyerang dengan ujung cambuknya yang berkarah besi baja.

 

Meskipun demikian lawannya tidak segera menyerah. Ia masih juga sempat melontarkan pisau belatinya. Tetapi kecepatan gerak ujung cambuk Kiai Gringsing berhasil menyentuh pisau itu, sehingga pisau itu pun seolah-olah terpelanting masuk ke dalam arus sungai.

 

Sementara itu, selagi Kiai Gringsing dan lawannya bertempur semakin seru, tiba-tiba saja terdengar sebuah keluhan tertahan. Kemudian disusul pula dengan keluhan berikutnya.

 

Kiai Gringsing dan lawannya sempat berpaling. Dan mereka pun melihat darah menyembur dari dada lawan Ki Sumangkar. Agaknya ia pun tidak mempunyai pilihan lain daripada mengakhiri pertempuran itu dengan memaksa lawannya menyerahkan nyawanya.

 

Ki Sumangkar pun kemudian berdiri termangu-mangu. Ia memang tidak mempunyai pilihan lain dalam keadaan serupa itu.

 

Perlahan-lahan Ki Sumangkar mendekati mayat yang masih mengalirkan darah yang mewarnai pasir. Namun perlahan-lahan darah itu pun mulai membeku.

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat lawan Kiai Gringsing menjadi gelisah. Tetapi agaknya ia justru menjadi putus asa dan dengan membabi buta menyerang Kiai Gringsing dengan pisau-pisau belatinya.

 

Dengan ragu-ragu Ki Waskita pun mendekati Ki Sumangkar. Tiga buah lubang dari ketiga ujung trisula kecil Ki Sumangkar telah menganga di dada lawannya.

 

“Aku tidak dapat berbuat lain,” desis Ki Sumangkar. Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang kita dihadapkan pada satu-satunya kemungkinan. Jika orang-orang itu tidak mati terbunuh, maka beberapa orang justru akan dibunuhnya.”

 

“Masih ada seorang,” desis Ki Sumangkar, “jika kita berhasil menangkapnya hidup-hidup, maka kita akan dapat mencari jawab tentang pusaka yang hilang itu.”

 

“Aku kira kita tidak akan mendapatkannya,” berkata Ki Waskita, “ia adalah orang yang yakin akan segala perbuatannya. Ia akan menutup mulutnya, betapa pun kita mencoba memerasnya.”

 

“Mungkin kita justru akan dapat membujuknya dengan jalan yang paling baik. Bukan dengan kekerasan.”

 

“Kemungkinan yang sangat kecil. Tetapi kita akan dapat mencobanya.”

 

Ki Sumangkar memalingkan wajahnya dari mayat yang terkapar di pasir itu. Dipandanginya perkelahian yang masih berkobar dengan sengitnya.

 

“Orang itu agaknya pemimpin dari kelompok kecil yang dipasang di tempat penyeberangan ini,” berkata Ki Sumangkar.

 

“Ya. Dan orang yang sudah mati ini pun memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi orang yang bertubuh raksasa itu agaknya sekedar membanggakan kekuatan wantahnya.”

 

Ki Sumangkar mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya, “Marilah kita coba. Kita berdiri di tiga arah dan minta kepadanya untuk menyerah. Ia tidak mempunyai kemungkinan apa pun lagi.”

 

“Baiklah kita memang dapat mencobanya. Tetapi aku meragukan, apakah kita akan dapat berhasil.”

 

Ki Sumangkar dan Ki Waskita pun kemudian mulai berpencar. Mereka mengambil tempatnya masing-masing, sehingga seolah-olah lawan Kiai Gringsing itu sudah terkepung rapat-rapat, dan tidak mempunyai kesempatan untuk melepaskan dirinya.

 

“Kiai,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “apakah Kiai tidak dapat minta kepada lawan Kiai itu untuk berbicara saja dengan baik?”

 

Kiai Gringsing meloncat surut. Ia mencoba untuk melepaskan diri dari lawannya. Tetapi lawannya sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara.

 

Tetapi akhirnya pisau-pisau kecil lawan Kiai Gringsing itu pun telah terlemparkan semuanya tanpa satu pun yang dapat menyentuh lawannya. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin marah dan berkelahi semakin kasar.

 

“Ki Sanak,” akhirnya Kiai Gringsing mendapat juga kesempatan ketika pisau-pisau belati itu sudah habis, “sebaiknya kita menghentikan perkelahian yang tidak berarti lagi ini.”

 

“Persetan,” orang itu menggeram. Namun serangannya justru menjadi semakin dahsyat meskipun sudah mulai nampak ia kehilangan keseimbangan nalar.

 

“Marilah kita berbicara,” berkata Ki Sumangkar.

 

Sama sekali tidak ada jawaban.

 

“Kita dapat berbuat lain daripada sekedar memanjakan kekasaran dan nalar yang buram,” desis Ki Waskita.

 

“Aku tidak peduli,” teriak orang itu sambil menyerang Kiai Gringsing, “kalian harus mati.”

 

“Kau tidak mau melihat kenyataan. Kedua kawanmu sudah mati, meskipun sama-sama tidak kita kehendaki. Tetapi agaknya memang tidak ada pilihan lain.”

 

“Memang tidak ada pilihan lain bagi kalian kecuali mati,” teriak orang itu pula.

 

Ki Sumangkar dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam, sedang Kiai Gringsing masih harus bertempur dengan serunya. Agaknya orang itu benar-benar telah berputus asa.

 

Namun agaknya orang itu mempunyai pertimbangan lain. Ia memang sudah berputus asa, dan merasa tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Tetapi adbmcadangan.wordpress.com ia masih mempunyai satu harapan untuk dapat melarikan diri. Ia dapat mencebur ke dalam air dan mencoba berenang menyeberangi Kali Praga. Beberapa saat ia akan mengikuti aliran air yang menuju ke Lautan Selatan, kemudian ia dapat berenang ke tepian sebelah Timur atau sebelah Barat.

 

Sambil bertempur orang itu mencoba mencari jalan untuk keluar dari kepungan. Ia tidak memikirkan lagi nilai-nilai kejantanan dan sifat satria. Licik pun akan dilakukannya untuk melepaskan diri dari tangan orang bercambuk dan kawan-kawannya itu, karena ia sadar, bahwa keterangan yang diperlukan oleh orang-orang itu dari dirinya akan membuatnya mengalami kesulitan yang tidak berkesudahan.

 

Tetapi ia pun sadar sepenuhnya, bahwa ternyata ia sudah berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih kuat dari yang diduganya semula. Apalagi di antara mereka terdapat orang bercambuk, dan salah seorang dari mereka pasti seorang yang memiliki ilmu yang dapat membingungkan orang lain dengan bentuk-bentuk semu. Untunglah bahwa ia mampu mengatasi gangguan bentuk semu itu. Namun untuk berhadapan dengan ketiga orang itu sekaligus, memang suatu hal yang tidak mungkin dapat dilakukan.

 

Orang yang bertempur melawan Kiai Gringsing itu masih beruntung, karena Ki Sumangkar dan Ki Waskita tidak segera turun ke gelanggang dan mengeroyoknya beramai-ramai. Kesempatan yang masih itu harus dipergunakannya sebaik-baiknya untuk mencari jalan keluar dari kepungan mereka.

 

Sejenak kemudian orang itu masih mendengar Ki Sumangkar berkata, “Kenapa kau tidak menghentikan perlawananmu.”

 

“Persetan,” orang itu berteriak.

 

“Menyerahlah,” desis Ki Waskita.

 

“Jangan banyak bicara,” teriak orang itu.

 

“Kau tidak mempunyai pilihan,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Diam, diam. Aku bunuh kau,” orang itu berteriak semakin keras.

 

Seperti berjanji maka Ki Sumangkar, Ki Waskita, dan Kiai Gringsing berganti-ganti mengucapkan kata-kata yang membuat orang itu semakin marah, tetapi juga semakin bingung.

 

Namun ia masih juga tidak mau menyerah. Bahkan dengan tiba-tiba ia berusaha untuk meloncat melarikan diri dari gelanggang.

 

Tetapi Ki Sumangkar meloncat cepat. Karena itu, maka lawan Kiai Gringsing itu pun terhenti beberapa langkah di hadapan Ki Sumangkar.

 

“Kau tidak akan dapat melarikan diri,” desis Ki Sumangkar.

 

Orang itu tidak menjawab. Dengan serta-merta ia menyerang Ki Sumangkar dengan sambaran jari-jari mautnya.

 

Tetapi Ki Sumangkar sempat mengelak. Ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu maka sejenak kemudian Ki Sumangkar-lah yang harus bertempur dengan seorang lawannya yang tersisa itu.

 

Sesaat kemudaan, pertempuran itu pun telah beralih. Ki Sumangkar-lah yang harus bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk melawan orang yang sudah kehilangan harapan itu.

 

Sementara keduanya bertempur, maka Ki Waskita dan Kiai Gringsing selalu mencoba mengganggunya dengan kata-kata yang semakin membingungkannya.

 

Ternyata bahwa orang itu tidak berhasil menembus Ki Sumangkar. Orang itu pun kemudian memalingkan usahanya kepada Ki Waskita. Ketika Ki Sumangkar menghindari serangannya, maka ia dengan kecepatan yang mampu dilakukan meloncat berlari meninggalkan lawannya dan berusaha untuk menembus kepungan yang rapat itu di sisi yang lain.

 

Tetapi di sisi yang lain, Ki Waskita pun segera berdiri di hadapannya. Sekali lagi orang itu harus bertempur. Kali ini dengan Ki Waskita.

 

Sekali lagi orang itu harus mengakui, bahwa ia tidak akan mampu menembus pertahanau Ki Waskita, yang bukan saja mampu menciptakan bentuk-bentuk semu, tetapi seorang yang memiliki kemampuan bertempur melampaui orang kebanyakan.

 

Dalam kebingungan itulah, maka dengan tidak terduga-duga orang itu telah berbuat licik sekali. Dengan serta-merta ia meraih segenggam pasir, dan ditebarkannya ke wajah Ki Waskita.

 

Ki Waskita sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya akan berbuat demikian sehingga karena itu, maka tiba-tiba rasa-rasanya matanya telah disengat oleh kepedihan.

 

Di luar sadarnya, dengan gerak naluriah, Ki Waskta segera memejamkan matanya sambil merunduk. Ia tidak mampu berbuat apa pun juga menghadapi lawannya yang licik itu.

 

Kesempatan itu rupa-rupanya akan dipergunakan sebaik-baiknya oleh lawannya. Dengan jari-jari mautnya ia mencoba menyerang tengkuk Ki Waskita yang sedang menutup matanya dengan tangannya.

 

Kecurangan itu telah mengejutkan Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing. Mereka melihat akibat kecurangan itu telah membahayakan jiwa Ki Waskita. Karena itu, mereka tidak dapat membiarkan kecurangan itu tanpa berusaha berbuat apa pun juga.

 

Karena itulah, selagi tangan orang itu terayun, maka hampir bersamaan Kiai Gringsing mengayunkan cambuknya pula. Sedang Ki Sumangkar berbuat hampir di luar sadarnya pula. Sebelum jari-jari maut itu menyentuh tengkuk Ki Waskta, maka dengan ledakan yang memekakkan telinga, ujung cambuk Kiai Gringsing telah berhasil membelit pergelangan tangan itu dan dengan sekuat tenaga, tangan itu dihentakkannya.

 

Orang itu tidak dapat menahan dirinya sehingga ia pun bagaikan diguncang oleh kekuatan raksasa. Jari-jarinya tidak lagi dapat menyentuh tubuh Ki Waskita.

 

Tetapi bukan itu saja. Ki Sumangkar yang bergerak dengan cepat pula, telah melemparkan trisulanya, tepat mengenai punggung orang itu.

 

Sejenak kemudian terdengar jerit ngeri. Orang itu masih sempat melonjak dan menggeliat. Namun kemudian ia pun terhuyung-huyung sambil membelalakkan matanya, memandang ketiga lawannya berganti-ganti.

 

“Setan yang licik,” geramnya, “kalian berkelahi seperti perempuan. Kalian hanya berani menghadapi lawan dengan bertempur berpasangan tiga orang sekaligus.”

 

Kai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskta yang sudah berhasil menguasai dirinya sama sekali tidak menjawab.

 

“Kalian akan mampus oleh tangan-tangan perkasa dari darah Majapahit,” ia masih menggeram.

 

“Siapakah darah Majapahit itu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

Orang itu menjadi semakin lemah. Dan tiba-tiba saja ia terjatuh di pasir. Tetapi ia masih berdesis, “Pembalasannya akan segera datang.”

 

“Siapa? Siapakah yang kau maksud itu?”

 

Orang itu menggeliat. Dipandanginya ketiga orang lawannya berganti-ganti dengan sorot mata penuh kebencian.

 

Kiai Gringsing berjongkok di sampingnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Siapakah yang kau maksud dengan darah keturunan Majapahit itu?”

 

Nampak bibir orang itu bergerak. Agaknya ia memang menyebut sebuah nama dengan penuh kebanggaan. Tetapi Kiai Gringsing sama sekali tidak dapat mendengarnya.

 

Ketika Kiai Gringsing mencoba mendekatkan telinganya ke mulut orang itu, maka orang itu pun telah menghembuskan nafas yang terakhir.

 

“Ia telah mati,” desis Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya ia pun berpaling memandang lawan Ki Sumangkar yang telah mati terlebih dahulu, kemudian mayat yang terkapar di hadapannya.

 

“Kitalah yang telah menjadi pembunuh kali ini,” desis Kiai Gringsing.

 

“Ya. Jika kita tidak membunuh tiga orang, maka beberapa orang yang lain akan terbunuh pula di tengah-tengah Kali Praga. Bahkan kemudian setelah mereka membunuh orang-orang yang mereka anggap melihat dan mendengar berita bahwa songsong yang mereka ambil telah dibawa menyeberang ke sebelah Barat Kali Praga, mereka pasti masih akan membunuh orang-orang lain lagi,” berkata Sumangkar.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita masih mengusap matanya yang sudah mulai dapat melihat lagi setelah ia mencuci mukanya di air kali yang keruh.

 

“Ya,” berkata Ki Waskita kemudian, “meskipun bukan maksudnya kita menghitung untung rugi dalam pembunuhan ini, namun agaknya orang-orang ini pantas untuk disingkirkan selama-lamanya. Kita tidak akan dapat mengharapkan bahwa jiwa mereka dapat berubah, sehingga masih ada kemungkinan di masa datang mereka merubah sikap dan sifat-sifatnya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian ber-kata, “Namun, jika salah seorang dari mereka masih hdup, kita akan dapat mendengar keterangan lebih banyak lagi tentang pusaka yang hilang itu.”

 

“Itu pun tentu sukar diharapkan dari orang seperti orang-orang ini. Mungkin orang bertubuh raksasa itu dapat diperas keterangannya. Sayang, ialah orang yang pertama menjerumuskan diri ke dalam Kali Praga ini. Tetapi agaknya kedua kawan-kawannya yang lain tentu akan menutup mulutnya meskipun seandainya kita memperlakukannya dengan kasar,” berkata Ki Sumangkar.

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

 

“Agaknya memang demikian,” berkata Ki Waskita, “atau katakanlah, meskipun ia akan dihukum picis.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jadi kesimpulan kalian, tidak ada pilihan apa pun juga selain ketiga orang itu memang harus mati.”

 

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk.

 

“Memang tidak ada pilihan lain,” desis Ki Sumangkar.

 

Sejenak Kiai Gringsing terdiam sambil mengamat-amati mayat itu. Kemudian katanya, “Apa yang akan kita lakukan seterusnya?”

 

“Kita akan menguburkannya di tepian,” desis Ki Waskita.

 

Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing pun sependapat. Adalah menjadi kewajiban mereka untuk menguburkan mayat-mayat itu, siapa pun mereka itu.

 

“Kita bawa mereka menyeberang,” berkata Kiai Gringsing, “bukankah kita dapat menjadi tukang satang pula?”

 

“Ya. Kita akan mencobanya.”

 

Demikianlah maka kedua mayat itu pun segera dinaikkan keatas perahu. Meskipun belum pernah mengalami, maka ketiga orang itu pun mencoba untuk memegang satang, dan membawa perahu getek mereka menyeberang ke tepain di sebelah Timur.

 

Ketiga orang itu sama sekali tidak menghubungi siapa pun juga, karena mereka tidak ingin membawa siapa pun ke dalam kesulitan. Jika ada seorang atau beberapa orang yang ikut membantu mereka menguburkan mayat-mayat itu, maka di saat yang lain mungkin orang-orang yang tidak mengetahui apa pun juga itu akan menjadi sumber keterangan yang bersimpang siur dan dapat membuat mereka sendiri kesulitan.

 

Dengan alat yang dapat mereka ketemukan, mereka menggali tanah berpasir dan menguburkah kedua orang itu di tepian yang cukup jauh dan arus air.

 

“Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang melihat hal ini terjadi,” berkata Ki Sumangkar.

 

“Ya, jika ada orang yang melihat dan yang kemudian membicarakannya, cerita ini mungkin akan sampai ke telinga orang-orang yang mereka sebut keturunan Majapahit itu. Sudah barang tentu mereka akan segera mencari orang-orang yang mereka sangka telah membunuh kawan-kawannya,” berkata Ki Waskita. Lalu, “Terutama adalah seorang tua yang disebut orang bercambuk.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita meneruskan, “Ciri itu adalah ciri yang paling mudah di kenal di daerah ini. Semakin lama orang bercambuk itu menjadi semakin banyak dibicarakan orang.”

 

“Mungkin demikian,” berkata Kiai Gringsing, “jika mereka langsung bertemu dengan kita, maka kita akan mempertanggung-jawabkannya. Tetapi jika mereka menyangka bahwa hal itu dilakukan oleh Agung Sedayu atau Swandaru yang juga dapat disebut orang-orang bercambuk?”

 

“Mudah-mudahan tidak,” Ki Sumangkar-lah yang kemudian menyahut, “masih dapat dibedakan, orang bercambuk yang sudah ubanan dan orang-orang bercambuk yang masih muda.”

 

“Tetapi di antara keduanya tentu ada hubungan yang rapat,” gumam Kiai Gringsing, “karena itu agaknya kita tidak dapat melepaskan anak-anak itu terlampau lama.”

 

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa mereka sudah terlibat langsung dengan hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu. Cepat atau lambat, maka kawan-kawan orang yang terbunuh itu tentu akan menyebut orang bercambuk dan kawannya yang mencoba untuk menghambat usaha mereka. Suara cambuk Kiai Gringsing tentu didengar oleh satu dua orang yang meskipun tidak dengan sengaja, menyaksikan pertempuran itu.

 

“Apa boleh buat,” desis Kiai Gringsing yang seolah-olah melihat gejolak perasaan kedua kawannya, karena perasaan semacam itu juga bergetar di dalam dadanya sendiri, “kita memang harus melibatkan diri.”

 

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah pernah terlibat dalam perebutan kekuasaan secara langsung antara Jipang dan Pajang. Ia melihat betapa peperangan telah memeras terlampau banyak korban. Ia melihat bahwa di dalam perang, seseorang akan terlampau sulit untuk mengendalikan diri sendiri, apalagi apabila tangan mereka telah dibasahi dengan darah. Karena itulah maka seolah-olah ia telah tersisih dari peperangan itu dan terlempar ke dapur sebagai seorang juru masak di dalam pasukan Macan Kepatihan yang menjadi semakin lama semakin liar dan buas karena kehilangan arah dan tuntunan.

 

“Seharusnya perang yang demikian itu sudah berhenti,” berkata Ki Sumangkar di dalam hatinya.

 

Tetapi Ki Sumangkar pun sadar, bahwa kekerdilan jiwa manusia telah menyeret manusia ke dalam tindakan-tindakan yang sebenanya bertentangan dengan nurani mereka yang murni. Ketamakan, kedengkian, dan bibit kebencian dan dendam yang tiada berkeputusan, telah melibatkan manusia ke dalam benturan di antara mereka.

 

Namun, manusia yang lain, mencoba mengetrapkan susunan kehidupan yang terpahat di dalam cita-citanya dengan cara yang serupa. Tanpa menghiraukan jeritan nuraninya sendiri, gambaran cita-cita kehidupan yang dianggapnya lebih baik telah mendorongnya untuk memaksakan pendapatnya itu terhadap orang lain. Dan perang telah terjadi untuk tujuan-tujuan yang disebutnya bagi kemanusiaan sejagat. Namun di dalam perang, kemanusiaan itu sendiri telah dikorbankannya. Dan menarilah cita-cita yang disebutnya luhur itu di atas cara-cara yang paling pahit, karena bagi mereka cara apa pun dapat dipergunakannya tanpa menghiraukan pertimbangan-pertimbangan lain, apalagi pertimbangan hidup di seberang kehidupan yang wantah. Kehidupan abadi di sisi Sumber dari segala hidup itu sendiri.

 

Seperti Ki Sumangkar, Kiai Gringsing pun merasa berdiri di simpang jalan. Ia harus memilih. Menghindarkan diri dari tindakan-akan kekerasan, atau harus terlibat ke dalamnya.

 

Namun seperti Ki Sumangkar, maka Kiai Gringsing maupun Ki Waskita, masih harus berdiri di tempatnya berpijak. Bahwa mereka masih harus melindungi bukan saja dirinya sendiri, tetapi setiap sasaran dan akibat dari ketamakan, kedengkian, dan bibit-bibit kebencian dan dendam. Juga melindungi sasaran korban-korban tanpa arti yang dijadikan pancadan membangun dunia menurut selera segolongan manusia yang telah kehilangan pedoman hidup abadi, karena bagi mereka hidup adbmcadangan.wordpress.com adalah yang dapat mereka hayati dengan badan wadag mereka. Bukan kehidupan yang lembut dan tanpa akhir. Karena mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi suara agung yang mengumandang di setiap hati, bahwa akhirnya setiap manusia harus pasrah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Di hadapan-Nya-lah akan terjadi tangis dan geretak gigi yang tiada berkeputusan, tetapi juga senyum jernih yang abadi.

 

Ketiga orang yang berdiri termangu-mangu di dekat kuburan kedua orang yang terbunuh itu bagaikan terbangun dari mimpi. Ketika mereka mendengar jerit seekor burung gagak yang hitam pekat yang berterbangan di langit. Hampir bersamaan mereka menengadahkan wajah. Mereka melihat burung itu membentangkan sayapnya, seperti mengapung di atas desir angin yang lembut.

 

“Marilah kita melanjutkan perjalanan,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “rasa-rasanya aku ingin cepat sampai bukan saja di Mataram, tetapi di Sangkal Putung.”

 

“Ya,” Ki Waskita mengangguk, “mudah-mudahan anakku sudah berada di sana, meskipun kadang-kadang aku masih diganggu oleh sentuhan getaran pribadi anakku di arah yang berbeda.”

 

Demikianlah maka ketiganya pun kemudian melanjutkan perjalanan. Kuda-kuda mereka berderap di atas tanah berbatu-batu dan mengandung pasir. Tidak ada seorang pun yang mereka jumpai di sekitar Kali Praga. Agakya tukang-tukang satang masih belum berani turun ke sungai. Apalagi tukang-tukang satang di sebelah Barat Kali Praga. Sehingga dengan demikian jalan itu menjadi sunyi.

 

“Jika ada yang melihat meskipun dari kejauhan, maka peristiwa yang baru saja terjadi akan membuat jalur jalan ini menjadi semakin sepi untuk waktu yang agak lama,” berkata Ki Sumangkar.

 

“Ya. Dan tukang-tukang perahu akan kehilangan sebagian dari penghasilan mereka. Tanah di sekitar tempat ini bukannya tanah yang terlampau subur, sehingga hasil sawah yang mereka kerjakan tidak akan memberikan hasil yang mencukupi,” sahut Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi terbayang bahwa sebuah perjuangan yang cukup panjang harus dilakukan oleh Mataram, baik untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu mau pun untuk menjadikan Mataram pusat kekuatan di banyak bidang. Kekuatan perdagangan, kebudayaan, dan pertumbuhannya sendiri di samping Pajang yang rasa-rasanya memang sudah berhenti. Seolah-olah Pajang telah sampai ke puncak kemungkinannya tanpa dapat berkembang lebih jauh lagi.

 

BUKU 87

NAMUN DALAM pada itu, Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia dan kedua kawannya itu pun telah terlibat terlampau jauh seperti saat ia terlibat dalam perang yang terjadi di Sangkal Putung.

 

“Saat itu aku memang memilih Pajang,” bertata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi Pajang tidak memberikan harapan apa pun juga kepada bumi ini di kemudian hari.”

 

Demikianlah, ketiga orang itu pun kemudian berpacu dengan angan-angan masing-masing. Di sepanjang jalan menuju ke pusat pemerintahan di Tanah Mataram mereka hampir tidak pernah berbicara selain sepatah-sepatah.

 

Namun ketika mereka mendekati pintu gerbang kota. Kiai Gringsing berkata, “Kita akan singgah semalam. Besok pagi-pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Sangkal Putung.”

 

Di luar sadar kedua kawannya menengadahkan wajah ke langit. Matahari sudah hampir hilang di balik cakrawala.

 

“Kita memasuki regol halaman rumah Raden Sutawijaya setelah malam hari,” sahut Ki Waskita.

 

“Belum terlampau malam,” desis Ki Sumangkar.

 

Ketiganya pun terdiam pula. Mereka berpacu semakin cepat. Jalan-jalan yang mereka lalui tidak lagi jalan-jalan sepi seperti jalan kecil menuju ke tempat penyeberangan. Jika mereka kemudian melalui celah-celah padukuhan, nampak bahwa padukahan-padukuhan itu mulai berkembang semakin maju. Jalan-jalan menjadi semakin baik dan terawat. Menjelang senja, nampak beberapa orang memasang obor di sudut jalan dan di regol padukuhan.

 

“Padukuhan-padukuhan kecil nampak semakin hidup,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Mereka menyadari bahwa mereka harus berbuat sesuatu buat masa depan. Buat anak cucu,” sahut Ki Sumangkar.

 

“Apalagi ternyata bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang lincah. Sejak daerah-daerah kecil semacam ini masih menjadi hutan yang mulai digarap, anak muda itu tidak henti-hentinya mendorong dengan segala cara. Kini pohon buah-buahan yang sengaja di tanam, bukan pepohonan yang memang ditinggalkan saat menebang sudah nampak semakin subur. Jika pohon-pohon itu kelak menjadi besar dan berbuah, maka pohon-pohon pelindung yang sengaja ditinggalkan saat membuka hutan, akan segera ditebang pula.”

 

“Suatu perencanaan yang masak. Ternyata Ki Gede Pamanahan tidak bekerja sekedar menuruti perasaan, seperti saat ia dengan diam-diam meninggalkan Pajang. Tetapi benar-benar suatu kerja yang besar seperti kebesaran Mataram yang mulai nampak sekarang ini,” berkata Kiai Gringsing pula.

 

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka dapat merasakan bekas tangan Ki Gede Pemanahan itu, yang kemudian dilanjutkan dengan baik oleh putranya, Raden Sutawijaya.

 

Semakin dekat dengan pintu kota, padukuhan-padukuhan semakin nampak ramai. Ketika gelap mulai turun, di sana-sini nampak obor di sudut-sudut padukuhan dan di tikungan jalan.

 

Beberapa gardu pun sudah mulai menjadi terang oleh lampu-lampu minyak. Anak-anak muda yang sudah selesai dengan kerja mereka sehari dan mempunyai waktu, mulai berdatangan dan duduk bersama di gardu-gardu sekedar berkelakar sebelum para peronda menempatinya.

 

Namun mereka yang berada di gardu-gardu itu, meskipun mereka bukan orang-orang yang bertugas ronda, agaknya mereka pun merasa bertanggung jawab atas keamanan padukuhan mereka. Ternyata sekali-sekali Kiai Gringsing dan kedua kawannya pernah dihentikan pula oleh sekelompok pemuda yang sedang berada di gardu meskipun mereka tidak sedang meronda.

 

“Kami akan pergi ke Mataram,” berkata Kiai Gringsing ketika anak-anak muda itu bertanya kepadanya.

 

“Ki Sanak datang dari mana?”

 

“Kami datang dari tlatah Menoreh.”

 

“Apakah kepentingan Ki Sanak?”

 

“Kami dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung. Kami akan singgah dan bermalam di Mataram karena agaknya kami tidak dapat melanjutkan perjalanan. Hari sudah gelap dan perjalanan kami masih agak jauh.”

 

Anak-anak muda itu memandang ketiga orang-orang tua itu berganti-ganti. Salah seorang dari anak-anak muda itu mendesak maju dan berkata, “Kami belum mengenal kalian. Apakah keperluan kalian yang sebenarnya?”

 

“Keperluan pribadi anak muda. Kami mengunjungi saudara kami di Menoreh. Kami orang-orang Sangkal Putung.”

 

“Apakah kalian mempunyai keluarga atau sanak kadang di Mataram?”

 

“Bukan keluarga, tetapi orang yang sangat baik terhadap kami.”

 

“Siapa?”

 

“Raden Sutawijaya.”

 

“He? Maksudmu putera Ki Gede Pemanahan?”

 

“Ya. Kami akan bermalam di rumahnya. Kami pun kemarin berangkat dari rumahnya setelah semalam kami bermalam.”

 

“O,” anak muda itu mengerutkan keningnya, “benar begitu?”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kenapa aku harus borbohong?”

 

“Jika demikian,” anak muda itu tergagap, “silahkan. Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan. Kami minta maaf bahwa kami telah menghentikan perjalanan Ki Sanak.”

 

“Aku akan mengatakannya kepada Raden Sutawijaya.”

 

“Jangan, jangan, Ki Sanak. Kami tidak mengetahui.”

 

“Maksudku mengatakan bahwa anak-anak muda di padukuhan-padukuhan cukup mempunyai tanggung jawab. Kami berbangga dengan kalian.”

 

“Ah,” anak muda itu menarik nafas. Yang lain pun tidak lagi dicengkam olah ketegangan.

 

Demikianlah maka ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Semakin kelam hitamnya malam, mereka pun menjadi semakin dekat dengan rumah Raden Sutawijaya.

 

Namun dengan melihat sikap dan kesiagaan anak-anak muda yang tidak berubah dari kebiasaan, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya menganggap bahwa rahasia hilangnya dua buah pusaka dari rumah Raden Sutawijaya benar-benar masih merupakan sebuah rahasia yang tertutup. Jika rahasia itu merembes ke luar lingkungan yang dapat dipercaya untuk menyimpannya, maka kesiagaan tentu akan meningkat dan barangkali akan nampak penjagaan yang berlebih-lebihan.

 

Namun itu bukan berarti bahwa orang-orang Mataram yang terpercaya itu tidak berusaha mencari kedua pusaka itu. Agaknya sudah ada beberapa orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mencoba menelusuri jejak kedua pusaka itu.

 

“Tetapi amat sulit untuk menemukannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

 

Sejenak kemudian ketika malam sudah menjadi semakin gelap, ketiga orang itu pun mendekati regol halaman rumah Raden Sutawijaya. Mereka berhenti ketika mereka melihat dua orang penjaga di ujung halaman menundukkan tombak mereka.

 

“Siapa?” bertanya kedua penjaga itu.

 

“Kiai Gringsing,” jawab Kiai Gringsing.

 

“O, silahkan, Kiai,” berkata salah seorang dari kedua penjaga itu.

 

Penjaga yang bertugas di regol pun tanpa banyak pertanyaan mempersilahkan mereka memasuki halaman. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, maka di halaman rumah ini nampak penjagaan yang agak lebih kuat dari saat-saat yang lain, meskipun tidak begitu menarik perhatian. Namun orang-orang yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa kedua pusaka di Mataram itu hilang, hampir setiap saat mengadakan hubungan dengan Raden Sutawijaya atau Ki Juru Martani. Tetapi sampai begitu jauh, mereka sama sekali belum mendapat gambaran apa pun juga.

 

Kedatangan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita disambut dengan gairah oleh Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani.

 

Sejenak mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, serta keselamatan Ki Argapati di Tanah Perdikan Menoreh sambil sedikit menyinggung hasil perjalanan mereka untuk menyampaikan pesan dari Ki Demang di Sangkal Putung.

 

“Semua berjalan dengan lancar,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tidak ada kesulitan sama sekali.”

 

“Syukurlah. Dengan demikian kita yang berada di Mataram hanya tinggal menunggu, kapan kita harus menghadiri hari perkawinan itu,” desis Ki Juru Martani.

 

Percakapan mereka pun terhenti ketika kemudian hidangan mulai disuguhkan. Minuman panas dan beberapa potong makanan.

 

Meskipun sudah terlalu malam, namun beberapa orang telah menyalakan api di dapur dan mulai menanak nasi, sementara Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pergi ke pakiwan.

 

Baru menjelang tengah malam, Raden Sutawijaya mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan malam meskipun sudah agak terlambat.

 

Dalam kesempatan itulah, mereka mulai mengarahkan pembicaraan mereka tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh Mataram.

 

“Aku sudah mendapatkan tiruan dari benda yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka itu,” berkata Ki Juru Martani, “hampir tidak dapat dibedakan. Dan aku percaya bahwa pembuatnya tidak akan membuat lebih dari yang aku pesankan.”

 

“Kami akan membawa masing-masing sebuah,” berkata Kiai Gringsing.

 

“Silahkan. Jika waktunya Kiai kembali ke Sangkal Putung tiruan itu akan kami berikan,” jawab Ki Juru. Setelah terdiam sejenak, lalu, “Selebihnya kami mendapat keterangan yang sangat menarik.”

 

“Apa Ki Juru?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Jalan menyeberang ke tlatah Menoreh di bagian Selatan menjadi sepi.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi berita itu sudah sampai di telinga Ki Juru pula.”

 

Petugas-petugas kami mendengar beberapa macam keterangan yang belum dapat dipastikan, karena kebanyakan orang-orang di sekitar sungai itu dicengkam oleh ketakutan, sehingga tidak banyak yang berani memberikan keterangan.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Beberapa orang tukang satang telah terbunuh oleh orang-orang yang tidak di kenal. Mereka minta menumpang sebuah perahu. Namun, kemudian mereka membunuh tukang-tukang satangnya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Ki Sumangkar dan Ki Waskita berganti-ganti, mereka pun mengangguk pula.

 

“Petugas-petugas sandi dari Mataram cukup cekatan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi agaknya mereka tidak tahu bahwa orang-orang yang telah membunuh tukang-tukang satang itu membawa salah sebuah pusaka yang hilang.”

 

“Apakah yang disampaikan kepada Ki Juru selain pembunuhan itu?” bertanya Kiai Gringsing.

 

“Hanya itu. Tetapi pembunuhan itu sangat menarik perhatian. Daerah penyeberangan itu menjadi sepi,” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Nah, apakah berita itu benar, Kiai. Bukankah Kiai lewat daerah itu juga?”

 

Kiai Gringsig mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya, Ki Juru. Memang demikianlah yang sebenarnya. Kami telah melihat mendiri. Tidak ada seorang pun yang bersedia turun ke sungai karena tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Agaknya keterangan yang ditangkap oleh petugas-petugas sandinya tidak salah. Karena itu maka katanya, “Tentu hal itu sangat menarik perhatian. Justru setelah Mataram kehilangan dua buah pusakanya.”

 

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing, “dan apakah ada keterangan lain yang Ki Juru dengar dari petugas-petugas sandi?”

 

“Tidak, hanya itu. Dan sudah barang tentu kami ingin bertanya pula kepada Kiai. Apakah Kiai mempunyai keterangan lain tentang jalan yang sepi itu?”

 

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya. Songsong yang dibawa menyeberang, dan orang-orang yang berusaha melenyapkan jejak kepergian mereka. Tetapi dengan terpaksa sekali maka ketiga orang itu sudah terbunuh.

 

Ki Juru menjadi tegang sejenak. Katanya, “Kematian ketiga orang yang barangkali cukup penting itu sangat menarik perhatian. Mereka tentu tidak akan tinggal diam. Pada suatu saat mereka tentu akan tahu, bahwa ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga itu hilang dan terbunuh.”

 

“Kami juga menyangka demikian. Jika akhirnya mereka mengetahui bahwa salah seorang pembunuh dari ketiga kawan-kawannya itu adalah seorang yang bersenjata cambuk, maka mereka akan dengan mudah menemukan aku.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk pula. Katanya, “Agaknya Kiai memang harus terlibat secara langsung.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Sumangkar dan Ki Waskita, maka keduanya pun mengangguk-angguk.

 

“Kita tidak akan dapat ingkar,” berkata Ki Waskita, “namun agaknya Kiai Gringsing-lah yang mudah mereka kenal karena di daerah ini orang yang bersenjata cambuk telah banyak dikenal orang.”

 

“Agaknya memang begitu,” berkata Ki Juru. “Barangkali memang tidak ada pilihan lain.”

 

“Dalam keadaan seperti sekarang,” berkata Ki Sumangkar, “sebaiknya Kiai Gringsing memang harus berada di antara kekuatan Mataram. Jika tidak, maka Kiai Gringsing akan menjadi sasaran tunggal sebelum mereka berbuat banyak terhadap orang-orang Mataram.”

 

“Tunggal?” bertanya Kiai Gringsing. “Bagaimana dengan kalian berdua?”

 

“Maksudku, yang nampak jelas adalah Kiai Gringsing. Mereka akan mudah melihat sasaran mereka. Apalagi jika Kiai Gringsing terpisah dari kekuatan Mataram atau pihak-pihak yang berdiri di pihak Mataram.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Aku harus berada di dalam kekuatan yang besar dari seluruh Mataram dan tidak berdiri pada pihak yang terpisah. Agaknya di dalam hal ini aku memang tidak mempunyai pilihan. Demikian pula agaknya dengan murid-muridku. Tidak banyak orang yang sempat membedakan antara aku sendiri dan murid-muridku di dalam mempergunakan senjata.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa murid-murid Kiai Gringsing pun akan dapat menjadi sasaran pembalasan. Apabila orang-orang yang telah mencuri pusaka-pusaka dari Mataram itu sekedar mengenal bahwa yang telah membunuh ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga adalah orang bercambuk itu.

 

Demikianlah maka pembicaraan itu pun menjadi berkepanjangan. Mereka mulai menjajagi tanggapan masing-masing atas persoalan yang sedang dihadapi oleh Mataram itu.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “kami sudah menyebarkan petugas-petugas sandi. Tetapi tidak seorang pun yang mendapat keterangan tentang pusaka-pusaka yang hilang. Malahan kini kami mendapat keterangan dari Kiai, bahwa salah satu dari kedua pusaka yang hilang itu telah dibawa menyeberangi Kali Praga. Karena itu, maka sudah barang tentu kita tidak akan dapat menunggu dan menunggu sampai pada suatu saat kita mendengar berita, bahwa pusaka-pusaka itu berada di suatu tempat.”

 

“Dengan menyebarkan petugas-petugas sandi, maka Mataram tidak berarti menunggu.”

 

“Tetapi kita tahu, bahwa kekuatan yang kita hadapi adalah kekuatan yang tidak ada taranya, sehingga kita tidak akan dapat menyerahkan hal itu semata-mata kepada petugas-petugas sandi.”

 

“Jadi maksud Ki Juru?”

 

“Aku dan Angger Sutawijaya sudah berkeputusan, bahwa kami berdua akan mencari pusaka-pusaka itu.”

 

“Dan meninggalkan Mataram?”

 

“Ya. Kami akan meninggalkan Mataram.”

 

“Ki Juru,” Ki Sumangkar memotong, “dalam keadaan seperti sekarang, Mataram memerlukan pimpinan yang teguh. Apalagi jika rahasia hilangnya pusaka-pusaka itu sampai bocor.”

 

“Angger Sutawijaya tidak akan melepaskan kepemimpinannya atas Mataram. Justru karena tanggung jawabnya maka ia harus menemukan pusaka-pusaka itu kembali,” Ki Juru menjawab, lalu, “Kiai. Kedua pusaka itu sudah tidak ada di Mataram. Dengan demikian Mataram tidak akan kehilangan lagi barang-barang yang berarti selama kami pergi. Ada pun pemerintahan di Mataram, untuk sementara dapat kami serahkan kepada beberapa orang yang akan melakukan tugas sehari-hari. Tidak ada hubungan keluar yang penting dan segera harus dilakukan. Kita akan mempertahankan hubungan seperti sekarang ini dengan Pajang, dengan Mangir, dengan Menoreh dan dengan daerah-daerah lain.”

 

“Dan apakah alasan kepergian Angger Sutawijaya selama ia meninggalkan Mataram?”

 

“Raden Sutawijaya akan mesu sarira. Ia harus menambah ilmu dan olah kanuragan. Bertapa dan nenepi di tempat-tempat yang dianggap mempunyai pengaruh atas pribadinya.”

 

Kiai Gringsing dan kedua kawannya termenung sejenak. Mereka memandang Raden Sutawijaya yang menundukkan kepalanya. Terkenang oleh orang-orang tua itu, betapa pada masa mudanya Sultan Pajang yang juga disebut Jaka Tingkir itu bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu padepokan ke padepokan yang lain.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru Martani kemudian karena Kiai Gringsing tidak menyahut, “sebenarnyalah bahwa Raden Sutawijaya akan pergi ke tempat-tempat yang sepi dan terasing. Bukan saja untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang, tetapi benar-benar untuk mesu diri.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Di tempat-tempat yang sepi, jauh dari kesibukan sehari-hari, maka Raden Sutawijaya akan dapat merapatkan diri dengan Sesembahannya.”

 

“Maksud Ki Juru?”

 

“Raden Sutawijaya akan dapat dengan tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang lain, mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Kepada-Nya-lah Raden Sutawijaya akan memohon. Memohon bagi Mataram dan memohon bagi dirinya sendiri.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga kedua kawannya. Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Karena mereka pun beranggapan bahwa semua permohonan, seharusnyalah ditujukan kepada kekuasaan tertinggi, kepada Yang Maha Kuasa

 

“Apakah ada yang tidak sesuai dengan pendapat Kiai,” bertanya Ki Juru.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Tidak ada yang tidak sesuai. Mula-mula aku bertanya-tanya untuk apakah sebenarnya Raden Sutawijaya pergi ke tempat-tempat sepi.”

 

“Seperti yang dilakukan oleh ayahanda angkatnya. Di sembarang tempat, yang kadang-kadang berbahaya bagi dirinya. Tetapi di tempat-tempat semacam itu, Mas Karebet merasa dirinya dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dengan tuntunan-tuntunan para pertapa dan guru-gurunya, ia memohon kepada Yang Maha Kasih, keterbukaan hati dan kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya. Hatinya yang bersih pada saat ia memanjat ke tangga tahta Pajang karena sebelumnya ia sama sekali tidak bermimpi untuk memegang kekuasaan itu. Bahkan kemudian ia pun mendapat anugerah untuk dapat mempergunakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri seseorang tetapi yang tidak banyak dikenal oleh orang itu sendiri. Namun bahwa hati manusia adalah hati yang lemah dan dungu, sehingga kadang-kadang kurnia yang paling berharga pun, tidak dapat kita junjung untuk selama-lamanya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Waskita berkata, “Kadang-kadang kita memang senang bermain-main dengan kekuatan asing yang sebenarnya tidak kita kenal. Tetapi yang tidak akan keliru adalah apabila kita memohon kepada Yang Maha Kuasa itu, sehingga kita akan terhindar dari sentuhan kekuatan hitam yang dapat menjerumuskan kita ke tempat yang paling terkutuk.”

 

“Tetapi batas itu memang kabur,” sahut Ki Sumangkar, “jika kita tenggelam kepada pemujaan kekuatan tanpa menghiraukan sumbernya, kita memang akan mudah terjerumus, karena menurut bentuk lahiriahnya, sangat sulit dibedakan. Kadang-kadang kita melihat kekuasaan yang melampaui kekuasaan jasmaniah manusia kebanyakan yang tidak diketahui asalnya. Apakah itu kurnia keterbukaan kemampuan yang memang sudah ada pada diri kita, atau kita menyadapnya dari sumber yang hitam. Sebab dari keduanya kita dapat melihat, bahwa telah terjadi sesuatu yang mencuat dari permukaan, tanpa kita mengerti alasnya.”

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Angger Sutawijaya tidak salah pilih. Jika ia ingin memiliki sesuatu hendaknya ia memperhatikan sumbernya pula. Karena sebenarnyalah sumber dari segalanya yang bening tidak akan teratasi oleh kekuatan yang mana pun juga dari yang buram dan hitam.”

 

Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kita telah terlibat dalam pembicaraan yang khusus. Tetapi sebenarnya semuanya itu tidak perlu kita ucapkan, karena Raden Sutawijaya akan pergi bersama Ki Juru Martani, yang tentu sudah dapat melihat jauh lebih jernih dari penglihatan kita.”

 

“Ah,” Ki Juru pun tertawa, “bukan begitu. Tetapi kami memperbincangkan perjalanan yang akan ditempuh oleh Raden Sutiawijaya. Ia perlu banyak pengetahuan dan pengalaman sebelum ia akan memegang kekuasaan yang lebih besar sejalan dengan perkembangan Tanah Mataram.”

 

“Baiklah, Ki Juru,” berkati Kiai Gringsing, “kami mengharap besok akan mendapat tiruan dari tanda yang aneh itu. Kami akan membawanya ke Sangkal Putung. Mungkin selama kami menunggu saat perelatan perkawinan Swandaru, kita akan dapat menemukan sesuatu.”

 

“Mudah-mudahan, Kiai,” sahut Ki Juru, “usaha menemukan pusaka-pusaka itu memang sulit. Tetapi adalah kuwajibam kita untuk berusaha. Dan sudah barang tentu, kami akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih bahwa Kiai sudah terlibat di dalam usaha pencaharian itu. Bahkan keterlibatan yang sungguh-sungguh.”

 

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Ki Juru.”

 

“O,” Ki Juru mengangguk-angguk, “hampir aku lupa bahwa sebenarnyalah Kiai Gringsing sangat berkepentingan. Apa lagi bahwa orang yang mengambil pusaka itu menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Ia masih sempat berkelakar, katanya, “Tetapi Ki Juru jangan sekali-kali menuduh aku.”

 

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Tetapi betapa pun juga masih tersirat kesan, betapa berat beban yang harus mereka pikul di hari-hari mendatang.

 

Apalagi bagi Kiai Gringsing dan kedua kawannya yang sudah bersedia membantunya. Mereka tidak dapat mengabaikan hari-hari perkawinan Swandaru dan bagi Ki Waskita, hilangnya Rudita yang kemudian menjadi bahan pembicaraan pula dengan Ki Juru Martani.

 

Hilangnya Rudita ternyata merupakan peristiwa yang cukup menegangkan pula. Bagi Ki Waskita, Rudita tentu memiliki arti yang tidak kalah pentingnya dengan pusaka-pusaka yang hilang itu bagi Mataram.

 

“Kita memang sedang dihadapkan pada ujian yang berat sekarang ini,” berkata Ki Juru Martani sambil menarik nafas dalam-dalam, “dengan demikian, kita akan saling membantu. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Ki Waskita membantu kami. Tetapi di dalam perjalanan kami, kami tentu akan berusaha untuk mendapatkan keterangan, apabila mungkin jejak kepergian Angger Rudita itu.”

 

“Terima kasih, Ki Juru,” sahut Ki Waskita, “mudah-mudahan usaha kita bersama dapat berhasil. Mungkin sekaligus semuanya, tetapi mungkin satu demi satu. Tetapi kita sudah berusaha sejauh-jauhnya yang dapat dilakukan oleh manusia yang lemah.”

 

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Sedang Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya oleh bayangan yang beraneka warna tentang Rudita. Ia melihat Rudita dalam keadaan yang kurang wajar bagi seorang laki-laki muda. Meskipun kemudian ia melihat sedikit perubahan pada anak muda itu, tetapi apakah kepergiannya seorang diri itu bukannya suatu tindakan yang sama sekali kurang bijaksana, dan dapat membahayakan dirinya.

 

“Ki Waskita,” bertanya Raden Sutawijaya kemudian, “apakah Rudita marah atau merajuk pada saat ia pergi? Kemudian seolah-olah ia dengan sengaja membuang diri karena merasa dirinya tidak berarti?”

 

Waskita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ia pergi dengan penuh kesadaran. Perubahan yang terjadi di dalam dirinya telah mendorongnya untuk mengenal dunia ini seluruhnya. Dunia yang besar yang terbentang di sudut langit ini dan dunia kecil dari dirinya sendiri. Ternyata menilik keterangan ibunya dan tanda-tanda yang aku dapatkan, Rudita sedang berusaha menekuni adbmcadangan.wordpress.com dunia kecilnya jauh lebih banyak dari dunia yang besar ini. Karena sebenarnyalah bahwa rahasia di dunia kecil itu baginya jauh lebih rumit dari rahasia dunia besar yang kasat mata.”

 

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi pakah perjalanan itu tidak membahayakan dirinya?”

 

“Tentu, Raden. Itulah yang mencemaskan. Tetapi aku mengharap bahwa Rudita akan dapat diselamatkan justru oleh kelemahannya. Tidak banyak orang yang akan menghiraukannya dan apalagi tertarik kepadanya dalam suatu sikap tertentu. Rudita tidak lebih seorang anak muda yang berada di jalan tanpa arti sama sekali bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan kemampuan.”

 

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Keterangan Ki Waskita memang menarik sekali. Rudita akan diselamatkan oleh kelemahannya sendiri.

 

“Mungkin sekali,” desis Raden Sutawijaya di dalam hatinya. Yang terbayang adalah permainan yang sering di lakukan di masa kanak-kanak. Mereka yang menjadi pupuk bawang justru tidak pernah diperhatikan dan berada di luar hitungan meskipun ia boleh ikut bermain-main. Di dalam permainan dunia besar yang kasar ini, Rudita adalah pupuk bawang. Dan agaknya itu memang jauh lebih baik baginya.”

 

Demikianlah malam menjadi semakin larut. Mereka berbincang terus sehingga mereka baru sadar justru ketika terdengar kentongan dara muluk menjelang dini hari.

 

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “begitu asyik kita berbicara sehingga aku lupa mempersilahkan Kiai, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk beristirahat. Silahkan. Besok kita akan melanjutkan pembicaraan ini.”

 

“Ki Juru, besok kami akan mohon diri,” berkata Kiai Gringsing, “kami ingin segera sampai ke Sangkal Putung. Aku seolah-olah meninggalkan anak yang baru dapat merangkak di pinggir sumur terbuka. Justru karena telah terjadi perkelahian di Kali Praga itu. Apalagi menjelang saat-saat Swandaru akan menghadapi hari perkawinannya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Juga Ki Waskita agaknya masih saja gelisah, karena Rudita masih belum dapat diketahui dengan pasti.”

 

“Apakah Ki Waskita tidak dapat mengetahui di mana anak itu sekarang?” bertanya Raden Sutawijaya.

 

“Ia selalu bergerak sekarang ini,” jawab Ki Waskita, “tetapi menurut tangkapan isyarat yang samar-samar anak itu sedang menuju ke Sangkal Putung meskipun ia belum pernah pergi ke tempat itu.”

 

Raden Sutawijaya mengagguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika ia benar-benar pergi ke Sangkal Putung. Meskipun seandainya ia tersesat, tetapi ia dapat bertanya kepada seseorang tentang arah yang pasti. Mungkin ia memerlukan waktu perjalanan dua kali lipat dari yang sebenarnya diperlukan. Tetapi itu lebih baik daripada ia pergi tanpa tujuan.”

 

“Tetapi itu pun belum pasti Raden,” sahut Ki Waskita, “namun mudah-mudahan ia benar-benar pergi ke sana. Jika apabila kami nanti sampai ke Sangkal Putung dan Rudita masih belum ada di sana, maka kami terpaksa mencarinya.”

 

Ki Juru Martani pun menyadari bahwa banyak yang masih harus mereka lakukan. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Kita akan bersama-sama melaksanakan tugas kita masing-masing. Mungkin kalian akan lebih banyak bergerak di sebelah Utara. Sedang kami akan mencoba menyelusuri daerah Selatan. Dari Barat menuju ke Timur. Mungkin kami akan sampai ke Pegunungan Sewu dan daerah di sekitarnya. Mudah-mudahan kita akan berhasil.”

 

“Mudah-mudahan, Ki Juru,” desis Kiai Gringsing.

 

“Nah, sekarang kami persilahkan kalian beristirahat di gandok. Besok pagi-pagi sajalah aku menyerahkan tanda tiruan itu. Tanda yang sampai sekarang tidak aku mengerti artinya.”

 

Masih ada waktu beberapa lamanya untuk beristirahat. Meskipun sebentar kemudian ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Namun waktu yang pendek itu sudah cukup bagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk melepaskan lelahnya.

 

Pagi-pagi benar, mereka sudah mempersiapkan diri. Ketika matahari mulai memanjat langit, mereka telah selesai berkemas dan siap untuk berangkat kembali ke Sangkal Putung.

 

“Kalian terlalu tergesa-gesa,” berkata Ki Juru.

 

“Masih banyak yang harus kami kerjakan Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

 

Namun demikian Ki Juru masih sempat mempersilahkan mereka untuk makan pagi sebelum berangkat, bersama dengan Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan.

 

Baru setelah mereka selesai makan pagi, maka Ki Juru Martani pun menyerahkan kepingan perak bakar yang berwarna kehitam-hitaman dengan pahatan ciri sebuah kelompok yang masih belum dikenal dengan pasti. Namun yang jelas telah menyebut dirinya sebagai pewaris Kerajaan Majapahit.

 

“Terima kasih, Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing, “kami akan mencoba memecahkan rahasia yang terkandung di dalam tanda ini. Mungkin kami tidak akan berhasil. Tetapi jika kemudian kami menemukan tanda-tanda yang serupa, maka kami akan segera dapat mencari hubungannya.”

 

“Baiklah, Kiai,” sahut Ki Juru yang kemudian katanya, “kami pun tidak akan menunggu terlampau lama. Jika kami kemudian menemukan jejak kedua pusaka itu, mungkin kami akan menelusurinya, sehingga mungkin kami akan menjelajahi daerah yang luas.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Kiai. Selama aku dan Angger Sutawijaya pergi, aku mahon agar Kiai, Ki Sumangkar, atau Ki Waskita sekali-sekali singgah di rumah ini. Ki Lurah Branjangan dengan beberapa orang pilihan, akan mencoba menggantikan tugas-tugas kami. Namun mereka akan sangat berterima kasih jika kalian sudi menengok barang sehari dua hari. Aku kira bahwa kalian tidak akan meninggalkan Sangkal Putung sebelum hari-hari perkawinan itu.”

 

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Ya, Ki Juru. Kami akan berada di Sangkal Putung sampai secepat-cepatnya empat puluh hari lagi. Namun selama itu, kami sudah barang tentu akan dapat sekali-sekali mengunjungi Mataram dan mencari Angger Rudita. Tetapi kami tidak akan meninggalkan Sangkal Putung untuk sebuah pelualangan. Baru setelah perkawinan itu selesai, mungkin kami akan meneruskan usaha kami dengan sungguh-sungguh mencari pusaka-pusaka yang hilang itu apabila belum dapat diketemukan.”

 

“Tetapi akan segera menyusul saat perkawinan yang kemudian,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menyela.

 

“Maksud Raden?”

 

“Bukankah Agung sedayu dan Sekar Mirah juga sudah bersepakat untuk kawin?”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya mereka memang mempunyai ikatan batin. Tetapi agaknya saat-saat itu masih agak panjang.”

 

“Setidak-tidaknya setelah berganti tahun. Bukankah menjadi pantangan untuk mengadakan perelatan dua kali pada tahun yang sama?”

 

Kiai Grisngsing mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Memang jarang sekali orang yang berani mengadakan perelatan dua kali dalam tahun yang sama. Jika bukan karena pantangan, mungkin karena mereka harus mengeluarkan beaya yang tidak sedikit dua kali dalam setahun.”

 

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Atau karena kedua-duanya.”

 

“Tetapi,” berkata Kiai Gringsing, “aku kira, setelah perkawinan Swandaru, aku, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita akan sempat menyisihkan waktu. Apalagi jika Angger Rudita benar-benar sudah dapat kami ketemukan.”

 

“Terima kasih. Kami pun akan mencoba mencari jejak Angger Rudita pula. Mudah-mudahan semuanya dapat kita selesaikan dengan baik dan selamat. Mudah-mudahan tidak harus mempertaruhkan korban yang terlalu banyask.” Ki Juru berhenti sejenak. Kemudian sambil memandang Ki Lurah Branjangan ia berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa kau dapat meninggalkan segala persiapan. Mungkin harus ditempuh jalan kekerasan seperti saat Angger Sutawijaya memecahkan pertahanan Panembahan Agung. Tidak mustahil, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu telah menyusun kekuatan yang besar, atau bahkan mendapat dukungan dari satu dua adipati.”

 

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba menjalankan semua perintah dengan baik. Kita semuanya menyadari, bahwa kekuatan yang kita hadapi bukannya kekuatan yang kecil. Kita mengenal orang-orang sakti sejak Mataram baru mulai dibuka. Pada masa daerah ini di bayangi oleh kekuatan hantu-hantuan. Ternyata ada dua tiga orang sakti di antara mereka. Kemudian orang-orang yang mengganggu jalan menuju ke daerah yang sudah mulai terbuka, dan orang-orang yang dengan sengaja ingin membenturkan kekuatan Pajang dan Mataram saat perkawinan Untara. Disusul oleh pameran kekuatan yang mencapai puncaknya dengan pecahnya padepokan Panembahan Agung. Namun ternyata dugaan kita salah. Setelah Panembahan Agung dapat disingkirkan, masih saja kita jumpai orang-orang yang memiliki kelebihan seperti tiga orang yang mengaku tukang satang itu, yang justru mampu menerobos bentuk semu Ki Waskita dengan penglihatan batinnya, setelah penglihatan wadagnya terganggu.”

 

Ki Juru mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang berat sekali tugas yang dihadapinya. Adalah kebetulan sekali orang-orang itu datang seorang demi seorang, jika mereka menghimpun kekuatan dan bersama-sama menyerang Mataram, akibatnya akan berlainan.

 

Demikianlah sejenak kemudian kuda-kuda yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun telah disiapkan. Sementara itu, Ki Juru berkata, “Kita akan menunaikan tugas kita masing-masing. Tetapi sebenarnyalah bahwa pokok dari tugas itu sebenarnya bersamaan.”

 

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

 

“Jika ternyata kemudian Kiai memerlukan kekuatan pasukan dalam keadaan yang bagaimana pun juga, Kiai dapat segera menghubungi Ki Lurah Branjangan.”

 

“Terima kasih. Kemungkinan itu memang ada.”

 

“Dan yang tidak lupa pula ingin kami pesankan, kami mohon maaf kepada Ki Demang di Sangkal Putung. Mungkin saat-saat perkawinan Swandaru, kami masih dalam perjalanan. Jika kami tidak dapat hadir, kami mohon maaf. Tetapi kami sudah menyiapkan beberapa orang yang akan mewakili Mataram.”

 

“Ah. Perelatan itu hanyalah perelatan kecil. Perelatan yang diselenggarakan oleh seorang padesan.”

 

Ki Juru tersenyum. Lalu, “Tetapi jika kami dapat mengingat hari yang ditentukan dan kami mempunyai kesempatan, kami akan memerlukan datang dari mana pun juga kami berada pada saat itu.”

 

“Tidak perlu terlampau menyusahkan.”

 

“Sebuah petualangan kadang-kadang memerlukan saat-saat untuk mengurangi ketegangan. Di dalam perelatan yang demikian itulah agaknya kami dapat melakukannya.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mungkin. Tetapi mungkin justru akan mengganggu. Namun demikian, terserahlah kepada Ki Juru dan Raden Sutawijaya. Jika kesempatan itu ada, maka sudah barang tentu kedatangan Ki Juru dan Raden Sutawijaya akan sangat membesarkan hati Ki Demang Sangkal Putung, ia akan dapat mengangkat dadanya sambil berkata kepada sesama Demang yang hadir, “He, siapakah yang pernah mengadakan perelatan adbmcadangan.wordpress.com dan dihadiri oleh Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, putera angkat Kanjeng Sultan di Pajang yang kini bergelar Senapati Ing Ngalaga di Martaram.”

 

“Ah,” Sutawijaya menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia sudah mengenal sifat Kiai Gringsing dengan baik, sehingga ia pun akhirnya tersenyum pula.

 

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera melanjutkan perjalanan, kembali ke Sangkal Putung. Masing-masing di antara mereka telah membawa tiruan tanda-tanda yang masih belum dapat mereka pecahkan.

 

Sementara itu, mereka pun telah mendengar rencana kepergian Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya dari Mataram. Perjalanan yang berat bagi kedua orang pemimpin tertinggi itu, dengan akibat-akibat dan kemungkinan-kemungkinan yang paling berbahaya. Tetapi sudah menjadi ketetapan hati, bahwa keduanya harus menyelusuri hilangnya pusaka-pusaka yang menjadi tanggung jawab mereka dengan mempertaruhkan apa saja yang ada pada mereka.

 

Di perjalanan, kembali Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tidak habis-habisnya berbicara tentang tanda-tanda yang aneh itu. Hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya anak laki-laki Ki Waskita.

 

Tetapi dengan demikian perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Hampir di luar sadar, mereka sudah berada di ujung Alas Mentaok. Jalan yang mereka lalui sudah menjadi semakin rata dan ramai, dibandingkan dengan beberapa saat yang lampau.

 

“Jika persoalan-persoalan yang menyangkut Mataram itu segera dapat diselesaikan, maka Mataram akan mendapat kesempatan cukup untuk membangun diri. Kini Mataram harus membangun sambil mempertahankan kehadirannya, sehingga tenaga yang ada di dalamnya dan terhitung masih belum cukup banyak itu harus terbagi,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

 

“Tetapi mengherankan sekali,” sahut Ki Sumangkar, “Mataram bagaikan mempunyai kekuatan gaib yang dapat menghisap penghuni dari tempat-tempat lain untuk bekerja keras membangun setelah menebas hutan yang lebat. Biasanya di antara kita terlampau malas untuk meninggalkan tempat tinggal. Bahkan yang tinggal di lereng Gunung Merapi, yang setiap kali harus bersentuhan dengan lelehan api dan batu-batu panas, tidak juga mau meninggalkan kampung halamannya.”

 

“Dari satu segi kecintaan terhadap kampung halaman memang dapat dibanggakan,” potong Ki Waskita, “tetapi dari segi yang lain, mereka masih terkungkung oleh pandangan yang sempit. Jika mereka meninggalkan kampung halamannya dan berpindah di tempat yang baru, yang memberikan harapan, mereka merasa seolah-olah mereka sudah berpindah dari satu daerah kesatuan ke tempat yang lain di luar lingkungannya.”

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia tiba-tiba saja mengenang jalan setapak yang pernah dilaluinya. Bahkan pada saat Sutawijaya bertiga dengan Agung Sedayu dan Swandaru pergi tanpa pamit dari Sangkal Putung menuju ke tlatah yang masih diselubungi oleh padatnya hutan yang sangat lebat, Alas Mentaok. Pada masa perampok dan penjahat-penjahat yang lain masih berkeliaran hampir di setiap sudut.

 

Tetapi kini daerah itu sudah menjadi daerah padesan. Daerah yang sudah didiami oleh penghuni yang bersedia bekerja keras bagi daerahnya untuk mempersiapkan hari-hari yang lebih baik bagi masa mendatang.

 

Namun selagi mereka melanjutkan pembicaraan mereka di sepanjang perjalanan, tiba-tiba saja mereka tertarik kepada dua orang penunggang kuda yang memacu kudanya melampaui ketiga orang itu. Meskipun orang-orang itu tidak berpaling, tetapi rasa-rasanya kedua orang itu memperhatikannya.

 

Tetapi ternyata kedua orang itu berpacu terus. Mereka semakin lama menjadi semakin kecil dan hilang ditelan oleh padukuhan di hadapan mereka.

 

Demikian mereka hilang dari tatapan mata, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Apakah kalian memperhatikan kedua orang penunggang kuda itu?”

 

“Ya,” sahut kedua kawannya hampir bersamaan. Dan Ki Sumangkar pun meneruskannya, “Agaknya memang ada yang menarik perhatian pada keduanya.”

 

“Agaknya memang demikian. Tetapi aku tidak tahu pasti, apanya yang telah menarik perhatian.”

 

“Barangkali karena mereka agaknya tertarik juga kepada kita. Mereka nampaknya memperhatikan kita bertiga meskipun mereka tidak ingin memberikan kesan yang demikian,” sahut Ki Waskita

 

“Atau barangkali kitalah yang sudah terganggu syaraf kita. Banyak persoalan yang telah terjadi, sehingga rasa-rasanya kita mencurigai setiap orang,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

 

Kedua kawannya tertawa. Ki Sumangkar pun menyahut, “Mungkin juga demikian. Kita tidak dapat berpikir wajar lagi dalam keadaan serupa ini.”

 

“Bukan salah kita,” potong Ki Waskita, “keadaanlah yang telah membuat kita menjadi demikian. Curiga, cemas, ragu-ragu, dan kadang-kadang bahkan tidak percaya kepada diri sendiri.”

 

Sekali lagi mereka bertiga tertawa.

 

Demikianlah kemudian tanpa disadari sambil berbicara tentang bermacam-macam persoalan, langkah kuda-kuda mereka pun menjadi semakin cepat, meskipun mereka tidak sengaja mengikuti kedua orang yang telah melampaui mereka. Mereka mencoba untuk tidak terlampau dikuasai oleh perasaan mereka yang memang sedang terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu. Perelatan, tetapi juga hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya Rudita.

 

Namun, selagi mereka berpacu di jalan lurus ke Sangkal Putung, tiba-tiba Ki Waskita berdesis, “Nanti dulu Kiai. Ada sesuatu terasa di hati.”

 

Ketiganya memperlambat kuda mereka. Bahkan kemudian mereka pun berhenti sejenak di bawah sebatang pohon yang rindang.

 

Sebelum Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bertanya sesuatu, mereka melihat Ki Waskita menundukkan kepalanya. Agaknya ada sesuatu yang sedang direnunginya dengan mata batinnya.

 

Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Rudita agaknya memang mendekati Sangkal Putung. Ia kini berada di perjalanan sepanjang lereng Merapi.”

 

“Maksud Ki Waskita, apakah kita akan singgah sejenak?” bertanya Kiai Gringsing.

 

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Kita teruskan perjalaran ini sebentar, Kiai. Kita akan menyampaikan hasil tugas kita kepada Ki Demang dahulu. Kemudian barulah aku akan mencari Rudita di sepanjang lereng Merapi.”

 

Tiba-tiba saja Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ki Waskita. Apakah kita tidak lebih baik mencari Rudita lebih dahulu. Jika benar ia menyelusup lereng Merapi maka ia akan sampai ke tempat yang tidak diharapkan. Mungkin ia ingin melihat Kembang Manca Warna yang menurut kata orang mempunyai tujuh macam bunga pada sebatang pohon. Mungkin ia ingin menemukan bunga melati pada pohon itu, yang katanya menjadi lambang keberuntungan, karena tidak banyak orang yang dapat melihat bunga melati pada batang Kembang Manca Wana itu.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk.

 

“Ji’ka ia berada di sekitar daerah itu, maka ia akan dapat menjadi sasaran orang-orang jahat yang kadang-kadang memang mencari mangsanya pada mereka yang berkunjung untuk melihat Kembang Manca Warna itu. Apalagi apabila kemudian ia berjalan menyusuri jalan setapak di lereng itu dan sampai ke Padukuhan Karang Watu.”

 

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku pernah mendengar bahwa Padukuhan Karang Watu dikuasai oleh sekelompok penjahat.”

 

“Bukan dikuasai oleh sekelompok penjahat. Padukuhan itu memang merupakan sarang dari penjahat-penjahat dari yang kecil, yang senang menangkap ayam tetangga sendiri, sampai ke penjahat besar yang berani membongkar rumah seorang Senapati di Demak saat itu. Agaknya keturunannya pun tentu memiliki kelebihan seperti itu pula dan menurut pendengaranku, penduduk padukuhan itu masih juga melakukan berbagai macam kejahatan.”

 

Ki Waskita ragu-ragu sejenak. Namun ia berkata, “Rudita tidak membawa bekal cukup banyak sehingga menarik perhatian mereka. Apalagi aku tidak mau mengganggu ketenangan hati Ki Demang. Baiklah kita sampaikan hasil perjalanan kita. Malam nanti kita mencoba mencari Rudita.”

 

“Malam nanti?” bertanya Ki Sumangkar.

 

“Ya. Maksudku, menjelang pagi kita berangkat.”

 

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya, “Semakin cepat memang semakin baik. Daerah itu memang merupakan daerah yang kadang-kadang dapat membahayakan. Apalagi bagi Angger Rudita. Kita yang tua-tua pun harus cukup berhati-hati jika kita berjalan melalui daerah itu, meskipun menurut pendengaranku, mereka tidak biasa melakukan hal itu di halaman rumah sendiri.”

 

“Tetapi cukup mencemaskan,” desis Kiai Gringsing.

 

Demikianlah, mereka pun kemudian berpacu semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke Sangkal Putumg. Beristirahat sejenak, kemudian menjelang pagi, mereka harus sudah meninggalkan kademangan itu untuk mencari Rudita. Karena rasa-rasanya Ki Waskita sudah menangkap isyarat yang agak jelas dari anaknya yang hilang itu.

 

Dengan demikian maka perjalanan Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka ingin segera sampai. Namun, sudah barang tentu mereka tidak akan dapat begitu saja turun dari kudanya, makan, minum, dan pergi lagi. Mereka harus menunggu kesempatan yang biasanya diakukan di malam hari, menyampaikan hasil perjalanan mereka kepada Ki Demang dan para tetua di Sangkal Putung.

 

Setelah mereka memasuki daerah Kademangan Sangkal Putung, rasa-rasanya kuda-kuda mereka justru menjadi semakin malas sehingga mereka pun justru berpacu lebih cepat. Dada mereka menjadi semakin mendesak untuk segera sampai.

 

“Apakah kita dapat segera menyampaikan hasil perjalanan kita?” bertanya Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Ki Demang masih harus mengundang orang-orang tua itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Memang secepatnya menjelang pagi kita baru dapat berangkat.”

 

Mereka tidak banyak berbicara lagi. Apalagi karena mereka telah sampai ke padukuhan induk Kademangam Sangkal Putung.

 

Kedatangan Kiai Gringsing disongsong oleh Ki Demang dan keluarganya dengan wajah yang bertanya-tanya. Namun mereka sebenarnya tidak lagi mencemaskan hasil perjalanan itu, karena persoalannya sebagian terbesar hanyalah terletak pada waktu dan pelaksanaan saja.

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah ikut menyambut kedatangannya. Apalagi karena wajah-wajah mereka yang nampak bening. Tentu tidak terjadi apa pun dengan mereka.

 

Ki Demang Sangkal Putung pun kemudan mempersilahkan mereka naik ke pendapa, setelah mereka membersihkan kaki di jambangan yang tersedia di sisi halaman.

 

Ki Waskita tanpa menanyakan kepada siapa pun juga, menyadari bahwa Rudita memang belum ada di Sangkal Putung. Dengan demikian, maka ia pun yakin, bahwa tangkapan isyarat yang memberikan petunjuk tentang anaknya, agaknya dapat dipegangnya sebagai sasaran yang pasti.

 

Tetapi Ki Waskita dengan sengaja telah menahan perasaannya tanpa mengatakan apa pun tentang Rudita, agar ia tidak segera merusak suasana, karena Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan segera tertarik dan mempersoalkannya lebih banyak dari hasil perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh.

 

Setelah Ki Demang kemudian menanyakan keselamatan ketiga orang utusannya di perjalanan, dan setelah mereka dipersilahkan minum dan makan beberapa potong makanan, maka berkatalah Ki Demang, “Aku akan mengumpulkan orang-orang tua di Sangkal Putung untuk mendengar langsung hasil perjalanan Kiai bertiga. Aku kira besok atau lusa sajalah kita berbincang. Malam nanti aku harap Kiai memberikan sedikit gambaran tentang hasil perjalanan itu kepada kami, karena sekarang kalian tentu masih lelah.”

 

Ketiga orang itu berpandangan sejenak lalu Kiai Gringsing-lah yang berbicara, “Ki Demang. Sebaiknya nanti malam sajalah kita bertemu dengan orang-orang tua di Sangkal Putung. Kita dapat berbincang cukup panjang. Jika ditunda sampai besok atau lusa, barangkali sebagian besar persoalannya, aku sudah menjadi lupa.”

 

“Ah,” Ki Demang tertawa. Namun kemudian dengan bersungguh-sungguh ia bertanya, “apakah ada sesuatu yang penting dengan Mataram?”

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ada persoalan kecil yang harus kami lakukan.”

 

Agaknya Ki Demang pun dapat mengerti tentang ketiga orang itu. Mereka bukan seorang Demang, bebahu sesuatu daerah, atau Kepala Tanah Perdikan seperti Ki Argapati, sehingga mereka rasa-rasanya dapat berbuat bebas seperti burung yang terbang di langit yang jernih. Kapan mereka ingin hinggap, dan kapan mereka ingin terbang.

 

Ki Demang kemudian sambil mengangguk-angguk berkata, “Baiklah. Aku akan mengundang malam nanti untuk berbicara panjang lebar dengan Kiai bertiga.”

 

“Terima kasih, Ki Demang.”

 

“Tetapi, apakah Kiai ada keperluan yang harus Kiai lakukan di luar kademangan ini?”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Ketika ia memandang Ki Waskita maka Ki Waskita pun menjawab, “Sebenarnya hanya suatu keinginan untuk mengetahui sesuatu. Seperti umumnya orang-orang tua, kita kadang-kadang sudah digoda oleh keinginan yang kurang masuk akal.”

 

“Apakah kami dapat mengetahui?” bertanya Ki Demang.

 

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Bukan apa-apa, Ki Demang. Ada sesuatu yang menarik perhatian. Tetapi sekaligus kami ingin melihat pohon Kembang Manca Warna.”

 

“Ah,” Ki Demang tertawa, “Ki Waskita tertarik juga kepada cerita tentang Kembang Melati yang akan dapat mendatangkan keberuntungan itu?”

 

“Setidak-tidaknya aku dapat bercerita, apakah pohon itu mempunyai tujuh macam daun serta tujuh macam bunganya.”

 

Ki Demang mengangguk-angguk. Ketika seseorang akan mengatakan tentang pohon Kembang Manca Warna itu, Ki Demang memotongnya, “Jangan kau katakan sesuatu tentang pohon itu. Nanti Ki Waskita menjadi kecewa karenanya.”

 

Ki Waskita tersenyum. Tetapi matanya yang tajam menangkap pertanda bahwa sebenarnya Ki Demang pun sudah menduga bahwa ada sesuatu yang penting bagi ketiga orang-orang tua itu. Bukan sekedar diganggu oleh sifat ingin tahu. Tetapi tentu tidak bijaksana untuk mengatakannya kepada setiap orang termasuk orang-orang yang tidak berkepentingan, meskipun itu keluarganya sendiri.

 

Karena itulah, maka Ki Demang pun memenuhi permintaan Kiai Gringsing untuk mengundang orang-orang tua pada malam itu juga. Mereka diminta untuk mendengarkan keterangan Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya, apakah hasil dari pembicaraan-pembicaraan terakhir dengan Ki Argapati.

 

Ketika kemudian malam turun menyelubungi Kademangan Sangkal Putung, beberapa orang telah berkumpul di pendapa kademangan, duduk dalam sebuah lingkaran kecil, mengelilingi lampu minyak yang diletakkan di atas ajug-ajug di tengah-tengah.

 

Ketika mereka sudah minum seteguk dan makan sepotong makanan yang dihidangkan, maka mulailah Kiai Gringsing menyampaikan hasil kunjungannya di Tanah Perdikan Menoreh.

 

“Tidak ada yang harus dirubah. Acara yang kita sampaikan kepada Ki Argapati dapat diterimanya. Semuanya akan berjalan sebaik-baiknya seperti yang kita kehendaki.”

 

Orang-orang tua di Sangkal Putung itu pun mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan dengan saksama cerita yang kemudian disampaikan oleh Kiai Gringsing tentang sikap Ki Argapati yang lapang dan penuh pengertian.

 

“Syukurlah,” desis seorang yang sudah berambut putih, “jika demikian kita tidak usah membuat perhitungan baru. Semuanya sudah mapan dan pada saat-saat yang tepat. Jika Ki Argapati minta perubahan-perubahan, meskipun hanya saat dipertemukannya pengantin, maka kita harus memperhitungkan kembali semuanya. Jika saat itu merupakan saat pantangan, kita harus mencari syarat untuk mengangkat pantangan itu.

 

Tetapi tidak ada persoalan apa pun. Sehingga dengan demikian maka pembicaraan itu pun segera selesai. Semuanya, menganggap bahwa segala-galanya memang akan berjalan lancar seperti pembicaraan-pembicaraan yang mereka lakukan sebelum saat perkawanan itu tiba. Tidak ada rintangan, tidak ada perbedaan pendapat dan tidak ada kesulitan apa pun juga.

 

Hanya Ki Waskita-lah yang setiap kali tersentuh oleh semacam isyarat yang buram tentang perkawinan Swandaru, sehingga hatinya menjadi kuncup. Ia tidak tahu pasti, saat-saat yang manakah yang akan diliputi oleh kabut yang gelap dari masa yang panjang, setelah perkawinan itu berlangsung.

 

Namun adalah kelemahan hati manusia, bahwa Ki Waskita itu setiap kali mencoba ingkar dari penglihatannya. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Tidak akan ada apa-apa yang terjadi.”

 

Demikianlah, ketika pembicaraan itu sudah selesai, orang-orang tua itu pun masih juga berbicara untuk beberapa saat lamanya. Seperti halnya orang-orang tua, mereka berbicara tentang keharusan dan pantangan-pantangan yang wajib dilakukan oleh Swandaru.

 

“Sampai saat perkawinan ini berlangsung, Swandaru tidak boleh pergi sama sekali. Swandaru tidak boleh meninggalkan halaman rumahmu,” berkata seorang yang giginya tinggal dua buah di bagian depan.

 

Swandaru tidak menyahut. Tetapi sekilas dipandanginya wajah gurunya, seolah-olah ia minta pertimbangannya. Kemudian karena ia tidak mendapat kesan apapun, ia pun kemudian memandang wajah Agung Sedayu yang ikut hadir pula di pendapa. Tetapi kebetulan Agung Sedayu tidak sedang memandanginya.

 

Bagi Swandaru, untuk tetap berada di halaman rumahnya selama kira-kira empat puluh hari, rasa-rasanya seperti sedang menjalani hukuman. Tidak seperti ayahnya, Swandaru sudah mulai dijalari kebiasaan bertualang. Karena itu, untuk tinggal di rumah selama waktu yang panjang, alangkah menjemukan sekali.

 

Tetapi Swandaru hanya menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tidak baik membantah pendapat orang tua di dalam pertemuan serupa tu.

 

Setelah mereka berbincang beberapa lama, dan setelah para tamu itu dipersilahkan makan malam, maka pertemuan itu pun kemudian diakhiri. Orang-orang tua itu pun minta diri dengan pesan, bahwa setiap saat diperlukan, mereka akan dengan senang hati melakukan apa saja bagi Ki Demang.

 

Barulah sepeninggal orang-orang tua itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita yang masih duduk di pendapa dengan Ki Demang dan anaknya serta Agung Sedayu, mencoba untuk menjelaskan persoalan yang sedang dihadapi.

 

“Tetapi semuanya ini jangan mempengaruhi rencana yang sudah disusun sebaik-baiknya bagi Swandaru,” berkata Kiai Gringsing.

 

Ki Demang tidak menyahut.

 

“Biarlah Ki Waskita menjelaskan persoalannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

 

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap diam. Ki Waskita-lah yang kemudian menceritakan serba sedikit tentang anaknya yang pergi dari rumahnya dengan tujuan yang tidak menentu.

 

Seperti yang diduga, Agung Sedayu dan Swandaru-lah yang menanggapinya dengan serta-merta. Bahkan terloncat dari bibir Agung Sedayu, “Kita harus mencarinya. Perjalanan yang demikian akan berbahaya sekali bagi Rudita.”

 

Ki Waskita mencoba menenangkan dirinya sendiri, sehingga katanya kemudian tidak menunjukkan kegelisahan sama sekali, “Terima kasih, Agung Sedayu. Tetapi kau harus ingat bahwa Angger Swandaru tidak boleh pergi ke mana pun. Ia tentu akan merasa sangat sepi dan jemu jika ia tidak mempunyai kawan yang sesuai di rumah ini.”

 

“Jadi, aku pun tidak boleh beranjak selama empat puluh hari?” bertanya Agung Sedayu.

 

“Tentu bukan begitu. Tetapi sebaiknya kau tidak pergi terlampau jauh. Ke sawah, ke pategalan. Tetapi hanya untuk sepanjang pagi atau sore. Kemudian kau dapat mengawani Swandaru di rumah. Tetapi jika kau pergi mencari Rudita, kau akan pergi untuk dua atau tiga hari. Bahkan lebih.”

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Swandaru yang menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang memanggilnya dari saudara seperguruannya itu, sehingga akhirnya Agung sedayu tidak dapat memaksakan diri untuk meninggalkan halaman selama Swandaru berada dalam masa persiapan hari perkawinannya.

 

Apalagi ketika kemudian Ki Demang berkata, “Angger Agung Sedayu. Aku minta dengan hormat, agar Angger Agung Sedayu sudi mengawani Swandaru dalam masa-masa ia tidak dibenarkan untuk meninggalkan halaman. Menurut pertimbangan orang tua-tua selama selapan hari, Swandaru memang harus berada di dalam lingkungan pagar halaman. Dan selapan hari itu akan mulai dua hari lagi.”

 

Tiba-tiba, di luar dugaan Swandaru menyela, “Jadi selama dua hari ini aku masih dapat pergi ke mana pun?”

 

“Ah,” sahut ayahnya, “yang dua hari ini pun sebaiknya tidak usah kau pergunakan untuk pekerjaan yang berbahaya.”

 

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan melarang jika ia ingin ikut mencari Rudita meskipun hanya selama dua hari. Ketemu atau tidak ketemu. Selebihnya ia akan mematuhi semua pantangan. Namun mencari Rudita bagi ayahnya adalah pekerjaan yang sangat berbahaya karena terbayang saat-saat hilangnya Rudita yang disimpan di sarang Panembahan Agung.

 

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tentu tidak akan dapat menjelaskan perbedaan keadaan antara Rudita yang pergi atas kehendak sendiri dan Rudita yang hilang diambil oleh orang-orang Panembahan Agung.

 

Dengan demikian, maka niat Agung Sedayu dan Swandaru meskipun masih disimpannya di dalam hati untuk ikut mencari Rudita di sekitar lereng Merapi tidak akan dapat dikemukakannya lagi.

 

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Demang, usaha kami untuk mencari Rudita menurut Ki Waskita, akan kami sesuaikan dengan setiap rencana Ki Demang menyangkut saat-saat perkawinan Swandaru. Kami akan pergi mencari anak itu, tetapi setiap kali kami akan datang kembali dalam tiga atau empat hari seandainya anak itu masih belum segera dapat diketemukan. Kecuali jika keadaan memaksa dan mendesak untuk melindungi jiwanya, mungkin kami akan sedikt menyimpang dari rencana kami itu.”

 

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Aku pun dapat mengerti, bahwa perjalanan Angger Rudita adalah persoalan keselamatan jiwa seseorang. Karena itu, aku tidak akan dapat mencegahnya. Bahkan apabila mungkin seharusnya kami ikut membantunya.”

 

“Ki Demang mempunyai tugas pula di saat-saat terakhir ini.”

 

Ki Demang mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kiai. Meskipun aku tidak mempunyai pasukan sekuat pasukan Tanah Pendikan Menoreh, tetapi jika di dalam usaha Kiai mencari Angger Rudita diperlukan sepasukan pengawal, mungkin di daerah lereng Gunung Merapi terdapat sarang penjahat yang kuat, kami akan memyediakannya. Anak-anak muda Sangkal Putung akan dengan senang hati membantu menyelamatkan jiwa seseorang.”

 

“Terima kasih, Ki Demang,” Ki Waskita-lah yang menyahut, “agaknya di mana-mana aku hanya akan membuat kesulitan. Di Tanah Perdikan Menoreh dan kini di Kademangan Sangkal Putung.”

 

“Ah, tentu tidak,” berkata Ki Demang, “sudah banyak yang Ki Waskita taburkan. Dan yang Ki Waskita taburkan itu adalan benih-benih kebaikan. Sudah waktunya Ki Waskita memetik hasilnya apabila diperlukan. Apalagi sampai kini pun Ki Waskita masih saja menaburkan benih-benih kebaikan itu.”

 

Ki Waskita tersenyum. Betapapun asamnya. Katanya, “Ki Demang selalu memuji. Tetapi memang mungkin sekali kami memerlukan bantuan itu. Namun sejauh dapat kami lakukan, kami akan membatasi persoalan ini sehingga suasana di Sangkal Putung tidak akan terpengaruh oleh peristiwa ini. Juga Angger Swandaru. Sebaiknya Angger Swandaru melupakan saja persoalan ini, setidak-tidaknya menjelang saat-saat perkawinan.”

 

“Aku mengharap bahwa Rudita dapat hadir pada hari perkawinan itu,” sahut Swandaru. “Mudah-mudahan usaha pencaharian itu tidak banyak menemui kesulitan.”

 

“Mudah-mudahan,” desis Kiai Gringsing, “kami masih percaya kepada tangkapan isyarat Ki Waskita. Mudah-mudahan kami akan sampai pada sasarannya secepatnya.”

 

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun menyatakan rencananya pula untuk meninggalkan Kademangan Sangkal Putung menjelang dini hari.

 

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Demang.

 

“Rudita adalah anak yang kurang pengalaman,” sahut Ki Waskita *** ************** ************ (maaf ada yang terpotong) tidak terlampau jauh dari lereng Merapi, meskipun agaknya Rudita selalu bergerak. Namun justru karena ia selalu bergerak itulah yang sedikit memberikan ketenangan di hatiku.”

 

“Kenapa?”

 

“Itu berarti bahwa ia bebas. Ia berjalan ke mana saja yang disukainya, meskipun agaknya ia telah tersesat.”

 

Ki Demang tidak dapat menahan Ki Waskita yang digelisahkan oleh kepergian anaknya yang hampir tidak mempunyai pengalaman petualangan sama sekali. Namun yang tiba-tiba saja telah pergi meninggalkan kampung halamannya oleh desakan perubahan yang bergejolak di dalam jiwanya.

 

Karena itu, maka Ki Demang pun segera mempersilahkan tamu-tamunya itu beristirahat, karena besok menjelang pagi mereka sudah harus pergi meninggalkan Sangkal Putung.

 

Tetapi perjalanan yang akan dilakukan bukan perjalanan yang panjang. Setiap kali Ki Demang akan dapat berhubungan dengan mereka, karena setiap kali mereka akan selalu kembali ke Sangkal Putung sebelum meneruskan usahanya apabila Rudita masih belum dapat diketemukan. Sehingga dengan demikian Sangkal Putung akan tetap menjadi pangkalan adbmcadangan.wordpress.com mereka selama mereka mencari Rudita yang menurut penilaian Ki Waskita berdasarkan penglihatan batinnya berada di sekitar daerah lereng Merapi di bagian Selatan.

 

Demikianlah maka pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, ketiga orang-orang tua itu pun telah siap untuk berangkat. Mereka masih memerlukan memberikan berbagai macam pesan kepada Agung Sedayu sehubungan dengan perstiwa yang dialami oleh ketiga orang-orang tua itu di Kali Praga.

 

“Sebaiknya kau pun tidak terlalu banyak berada di luar halaman rumah ini Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing, “dan untuk sementara berhati-hatilah dengan cambukmu. Jika kau mencurigai seseorang, jangan terlampau mudah menyebut dirimu orang bercambuk, karena mungkin akan mempunyai akibat yang gawat, jika kau bertemu dengan orang-orang yang mencari aku akibat kematian kawan-kawannya di penyeberangan Kali Praga itu.”

 

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di dalam hati ia bertanya, “Sejak kapan Guru mengajarkan sifat yang demikian kepadaku. Apakah sikap yang demikian itu hanya sekedar sikap berhati-hati karena keadaannya memang gawat, atau dengan sengaja mengekang aku agar aku tidak terlampau liar?”

 

Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia menyadari saat yang penting sekali bagi Swandaru itu harus banyak mendapat perhatian. Sesuatu yang terjadi atas Swandaru, sekaligus akan menimpa pula bagi bakal isterinya yang menunggu di Tanah Perdikan Menoreh.

 

Menjelang matahari terbit, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun berangkat meninggalkan Sangkal Putung tanpa menunggang kuda. Kepada muridnya satu-satunya Sumangkar berpesan agar ia menjaga dirinya sebaik-baiknya. Mungkin keadaan akan memaksa muridnya itu melakukan sesuatu untuk mempertahankan dirinya.

 

Tidak banyak orang Sangkal Putung yang melihat kepergian Kiai Gringsing. Ketika di ujung lorong, para peronda yang masih berada di gardu menyapanya, maka Kiai Gringsing pun menjawab, “Kami akan sekedar berjalan-jalan. Bukankah kata orang, orang-orang tua harus banyak berjalan-jalan? Terlebih-lebih lagi di waktu menjelang pagi. Badannya akan, menjadi sehat dan akan menghambat masa ketuaannya sehari setiap tonggak.”

 

“Ah, jika demikian, apakah jika Kiai berjalan-jalan lima tonggak pagi ini, berarti umur Kiai terhambat lima hari.”

 

“Ya.”

 

“Jika hal itu Kiai lakukan setiap pagi, maka Kiai justru akan menjadi bertambah muda lima hari. Pada suatu saat Kiai akan sampai pada suatu masa seperti saat Kiai dilahirkan.”

 

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi sudah barang tentu sesudah itu, aku tidak akan dapat berjalan-jalan lagi.”

 

Para peronda itu tertawa. Demikian pula Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

 

Sejenak kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka di dalam gelapnya ujung pagi yang sudah dibayangi oleh warna-warna merah di langit.

 

Ketiga orang itu dengan sengaja melanjutkan perjalanan hanya dengan berjalan kaki, karena dengan demikian, maka mereka akan dapat melalui setiap lorong dan mungkin tempat-tempat yang terpencil dan tersembunyi. Apalagi perjalanan mereka bukannya perjalanan yang terlampau jauh dan panjang.

 

Dari Sangkal Putung mereka berjalan menuju ke lereng Gunung Merapi. Menjelang pagi, nampak Gunung Merapi bagaikan bayangan kerucut raksasa yang menyangga langit yang mulai cerah. Semakin lama bayangan yang biru kehitam-hitaman itu menjadi semakin jelas. Ujungnya menjadi kemerah-merahan seperti bara.

 

Ketiga orang itu berjalan terus menyusuri bulak-bulak panjang. Perjalanan mereka memang tidak terlampau cepat. Tetapi tanpa mereka sadari setelah mereka melalui jalan sempit di pinggir hutan rindang, mereka telah menyelusuri jalan ke Macanan.

 

Tiba-tiba saja Ki Sumangkar berkata, “Kita akan lewat sebuah padukuhan yang dikenal dengan baik oleh Kiai Gringsing. Dukuh Pakuwon.”

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Orang-orang Dukuh Pakuwon telah melupakan orang yang bernama Ki Tanu Metir itu.”

 

“Tentu tidak, Kiai. Cobalah bertanya, apakah mereka mengenal Ki Tanu Metir. Mereka tentu akan mengatakan, mereka mengenal orang tua itu dengan baik. Sudah barang tentu mereka tidak akan mengenal Kiai dalam sikap dan pakaian seperti sekarang ini. Coba Kiai mengenakan pakaian, sikap, dan tata gerak seperti Ki Tanu Metir yang tua, hampir pikun, dan gemetar kebongkok-bongkokan itu, maka mereka akan segera berkata, “Ya, itulah Ki Tanu Metir.”

 

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Teringat saat-saat ia didera oleh orang-orang Jipang, karena ia menyembunyikan Untara di rumahnya. Dan yang ternyata kemudian telah memaksanya meninggalkan gubugnya seperti cengkerik disiram air pada lubang persembunyiannya.

 

Tetapi Kiai Gringsing itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Senang juga rasa-rasanya untuk singgah barang satu dua hari di padukuhlan kecil itu. Tetapi dengan demikian, maka akan dapat menghambat usaha kita mencari Angger Rudita.”

 

“Tetapi jika Kiai ingin singgah?” sahut Ki Waskita.

 

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ah, tidak. Aku tidak akan singgah. Aku hanya ingin lewat saja padukuhan itu, seperti orang yang tidak pernah mengenalnya dengan baik.”

 

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya tersenyum saja. Mereka dapat mengerti, sepercik kerinduan telah menyentuh hati Kiai Gringsing. Bagaimana pun juga, Kiai Gringsing pernah mengasingkan dirinya di padukuhan itu untuk waktu yang lama. Hanya kadang-kadang saja ia pergi untuk beberapa hari apabila darah petualangannya mulai mendidih di dalam tubuhnya. Tetapi ia pun kemudian kembali menetap di padukuhan itu lagi.

 

Tetapi kepergianmya yang terakhir, saat-saat Sangkal Putung dibakar oleh api pertentangan antara Jipang dan Pajang, serta kehadiran Agung Sedayu dan Untara, dua orang anak sahabatnya yang telah meninggal lebih dahulu daripadanya, telah memisahkan orang tua itu dengan padukuhan kecilnya karena ia pun kemudian menetap di Sangkal Putung. Namun yang setiap kali ditingggalkannya juga bertualang bersama dua orang muridnya.

 

Kerinduan itu agaknya telah membawa Kiai Gringsing berjalan menyusuri jalan kecil yang melintasi padukuhan yang pernah ditinggalinya itu.

 

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya mengikutinya saja. Mereka pun merasakan, bahwa orang-orang tua kadang-kadang mempunyai kerinduan akan masa-masa lampaunya.

 

Ketika mereka memasuki jalan padukuhan, Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Halaman dan rumah yang pernah dihuninya terletak tidak jauh dari mulut jalan padukuhan.

 

“O,” desisnya, “padukuhan ini masih seperti saat aku tinggalkan.”

 

“Belum ada perubahan, Kiai?” bertanya Ki Waskita.

 

“Perubahan yang sangat kecil terdapat di sana-sini. Tetapi agaknya gairah kerja di padukuhan ini sudah meningkat. Meskipun perubahan-perubahan yang berarti belum nampak, namun padukuhan ini nampaknya menjadi semakin bersih.”

 

Kedua kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

 

Ketika kemudian mereka melalui sebuah halaman rumah yang tidak begitu luas dan gersang, terasa dada Kiai Gringsing berdebaran. Halaman rumah yang kotor itu adalah halaman rumahnya yang sudah lama sekali ditinggalkannya.

 

“Kasihan,” desisnya.

 

“Inikah halaman rumah Kiai,” bertanya Ki Waskita.

 

“Ya. Inilah halaman rumah Ki Tamu Metir itu.”

 

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang nampaknya seperti halaman rumah yang diterlantarkan begitu saja.

 

Ketika seseorang berpapasan di jalan sempit itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “Ki Sanak. Rumah siapakah yang nampaknya kosong itu?”

 

Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi.”

 

“Kemanakah penghuninya?” bertanya Ki Sumangkar.

 

“Tidak seorang pun yang mengetahui.”

 

“Namanya?” sambung Ki Waskita.

 

“Ki Tanu Metir. Seorang dukun yang pandai dan baik.”

 

“Seorang dukun yang dapat meramal nasib?” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyela.

 

“Ah,” Kiai Gringsing berdesah. Tetapi orang yang ditanya itu menjawab, “Bukan, Ki Sanak. Bukan dukun yang sering meramal nasib. Ia adalah seorang dukun yang hanya mengkhususkan diri pada ilmu pengobatan. Ia adalah seorang yang pandai mengobati segala macam penyakit.”

 

“O,” Ki Sumangkar mengangguk-angguk, lalu, “apakah tidak seorang pun yang mengetahui kemana dukun tua itu pergi?”

 

“Ia memang sudah tua. Apakah Ki Sanak sudah mengenalnya?”

 

Ki Sumangkar terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku belum pernah mengenalnya. Tetapi biasanya dukun-dukun adalah orang tua, setua kami.”

 

“Ya. Ia adalah orang tua yang baik. Suka menolong dan tidak mempunyai pamrih.”

 

“Ah, tentu,” sahut Ki Waskita, “biasanya dukun yang demikian adalah dukun yang baik. Yang tidak berpura-pura dapat berbuat lebih banyak dari yang dapat dilakukan. Ki Tanu Metir tentu seorang yang baik seperti yang kau katakan. Berjiwa besar, pemurah terhadap sesama dan barangkali juga seorang yang kaya.”

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat sebuah senyum kecil di bibir Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

 

“Ya,” jawab orang itu, “tetapi ia bukan orang yang kaya. Satu-satunya miliknya adalah seekor kuda.