Pendekar Naga Mas (Cerita Silat Dewasa)

New Picture

Pendekar Naga Mas

(Cerita Silat Dewasa)

Karya : Yen To (Gan To)

Daftar isi:

Bab I Sorga cewek di pesanggrahan Hay-thian

Bab II 10 tahun mengembara mencari jejak kekasih hati

Bab III Pertarungan naga sakti versus elang sakti

Bab IV Kisah romantis yang membawa bencana

Bab V Bencana pembawa nikmat

Bab VI Pendidikan seorang ibu

Bab I. Sorga cewek di Pesanggrahan Hay-thian.

Lian-hong-san disebut juga gunung Lian-bong-san, mempunyai ketinggian

empat ratus kaki dari permukaan laut, jauh memandang ke depan terlihat

samudra luas terbentang hingga kaki langit, memandang ke arah barat terlihat

rentetan pegunungan saling sambung.

Bila memandang ke arah timur, terlihat pulau Chin-huang (Chin-huang-to)

berada nun jauh di sana.

Di atas pintu gerbang sebuah gedung yang sangat megah dan indah,

terpampang sebuah papan nama bertuliskan “Hay-thian-itsi” (samudra dan

langit satu pandangan), penulisnya tercatat: Ong Sam-kongcu.

Di balik halaman gedung yang luas, banyak ditumbuhi pohon siong yang lebat

dan kekar, aneka bunga tumbuh mengelilingi sebuah taman dengan jembatan

batu yang indah, di sana tampak juga sebuah kebun menjangan serta tugu

peringatan.

Di halaman bagian belakang tampak sebuah kolam mandi yang amat lebar,

kolam itu beralaskan batu hijau yang lebar, air kolam berasal dari sebuah mata

air yang memancarkan air dengan deras, kolam itu cukup dalam tapi terawat

bersih, sebuah ukiran nama terpampang di atas sebuah batu besar Ti-sim (pusat

mandi).

Bulan tiga, udara di wilayah Kanglam amat sejuk dan nyaman, rumput

tumbuh amat subur, burung beterbangan sambil menyanyikan lagu yang indah,

tapi suasana di dalam gedung Hay-thian-it-si milik Ong Sam-kongcu masih

nampak bersih bagai sedia kala, hanya tampak asap mengepul dari arah dapur.

Pada saat itulah tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahunan

berperawakan tinggi tapi kekar, berwajah tampan, dengan bertelanjang dada dan

mengenakan celana pendek sedang berenang dalam kolam.

Selain pemuda itu, tampak juga dua belas gadis muda belia yang rata-rata

berwajah cantik berkumpul di situ, kawanan gadis itu terbagi dalam tiga

kelompok, kelompok pertama mengenakan kutang berwarna merah, kelompok

kedua memakai kutang berwarna putih dan kelompok ketiga mengenakan

kutang berwarna kuning.

Saat itu mereka sedang bermsin kejar-kejaran dengan pemuda tampan itu di

dalam kolam, suara tertawa cekikikan meramaikan suasana.

Pemuda tampan itu adalah Ong Sam-kongcu (tuan muda ketiga dari keluarga

Ong) Ong it-huan, seorang jago silat termashur dalam dunia persilatan sebagai

“cepat serangannya bagai petir, kuat pukulannya bagai bukit karang,

memandang uang bagai tanah dan menyayangi perempuan bagai bunga”.

Sementara kedua belas gadis cantik bertubuh seksi itu tak lain adalah dua

belas tusuk konde emas, pengawal pribadi Ong Sam-kongcu.

Bicara soal Ong Sam-kongcu, dia benar-benar termasuk seorang aneh.

Ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki, perawakan. tubuh serta wajahnya yang

menawan, ditambah kekayaan keluarganya yang berlimpah, boleh dibilang dia

merupakan idaman setiap gadis dan pendekar wanita, tapi anehnya dia tak

pernah tertarik dengan gadis mana pun, entah sudah berapa banyak gadis yang

menitikkan air mata kekecewaan.

Sementara kedua belas tusuk konde itu terhitung gadis-gadis berperangai

lembut, hangat dan setia, bukan saja mereka bergabung tanpa imbalan, bahkan

mereka rela melayani semua keperluan Ong Sam-kongcu tanpa berkeluh kesah.

Pada mulanya, Ong Sam-kongcu pernah mengemukakan perasaan hatinya

kepada kedua belas gadis itu, apa mau dikata kedua belas gadis itu tetap

bersikeras untuk melayani keperluannya, kata mereka, asal tiap hari dapat

memandang wajahnya, mesti berkorban pun mereka rela.

Menghadapi desakan ini, terpaksa Ong Sam-kongcu menerimanya sambil

tertawa getir.

Karena gagal membujuk mereka mengurungkan niatnya, Ong Sam-kongcu

pun memberi kebebasan seluas-luasnya kepada para gadis itu untuk berbuat

sekehendak mereka, toh resiko ditanggung penumpang.

Kedua belas gadis itu berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda,

namun tujuan kedatangan mereka rata-rata hampir sama.

Mereka sepakat untuk berjuang hingga titik darah penghabisan, batu cadas

yang amat keras pun akhirnya akan berlubang bila tiap hari terkena air, apalagi

perasaan cinta seseorang, toh pepatah bilang: Cinta itu datang bila sering

bertemu.

Mereka semua berjanji, bila tuan muda tidak mendahului melakukan reaksi,

siapa pun dilarang memikat atau merangsang majikannya dengan cara yang

licik.

Selama dua tahun kedua belas tusuk konde emas selalu memerankan posisi

sebagai seorang “dayang”, jika Ong Sam-kongcu tidak memanggil, siapa pun tak

berani mendekat atau mengiringinya.

Perasaan manusia memang tak sekeras baja, siapa bilang napsu dan cinta

bisa dibendung? Apalagi satu-satunya perempuan yang dicintai secara diamdiam

tak pernah memberi tanggapan, dia selalu bertepuk sebelah tangan, lama

kelamaan jalan pikiran Ong Sam-kongcu pun mulai berubah.

la mulai mengajak bicara kedua belas tusuk kondenya, mulai bergurau dan

menggoda.

Akhirnya dia putuskan untuk pergi meninggalkan kota Kim-ling, kota penuh

kesedihan itu dan mendirikan pesanggrahan megah Hay-thian-it-si di atas bukit.

Setiap pagi jam 6, ia selalu bertelanjang dada menceburkan diri ke dalam

kolam yang amat dingin itu untuk membenamkan diri, dia ingin menggunakan

hawa dingin yang menusuk tulang untuk mengusir rasa rindunya terhadap

kekasih hati.

Orang bilang, jika kau patah hati, makanlah kulit pisang yang dibubuhi abu

gosok. Tapi Ong Sam-kongcu lebih suka memakai “ilmu membeku” untuk

menghadapi perasaan patah hatinya, dia ingin mendinginkan gejolak hawa

panas yang membara dalam dadanya.

Untuk mengimbangi kemauan tuannya, setiap kali Ong Sam-kongcu terjun ke

kolam maka dua belas tusuk konde pun ikut terjun ke kolam menemani, tak

heran kalau tak sampai sepuluh hari, ilmu berenang yang dikuasai kedua belas

orang gadis itu sudah sangat hebat.

Di luar kebiasaan, semalam Ong Sam-kongcu mengundang mereka berdua

belas untuk berenang bersama pagi ini.

Undangan itu membuat mereka terkejut bercampur girang, saking tegangnya,

nyaris semalaman tak bisa tidur. Belum lagi jam menunjukkan pukul 4 fajar,

Mereka sudah tiba di tepi kolam untuk melakukan pemanasan badan.

Begitu tiba di tepi kolam, Ong Sam-kongcu segera mengejek sambil tertawa:

“Hahaha … mana ada orang melakukan pemanasan dengan mengenakan

pakaian setebal itu!”

Sambil berkata ia lepaskan jubah luarnya dan bertelanjang dada.

Berdebar keras hati kawanan gadis itu setelah melihat kulit tubuhnya yang

putih bersih tapi kekar berotot, tersipu-sipu mereka menundukkan kepala

dengan wajah bersemu merah.

Menghadap datangnya sang fajar Ong Sam-kongcu menarik napas panjang

sambil mengatur hawa murninya, lalu diiringi pekikan nyaring mulai memainkan

ilmu pukulan Pat-kwa naga sakti Yu-liong-pat-kwa-ciang.

Terlihat bayangan manusia berkelewat ringan bagaikan asap, deru angin

pukulan menggelegar bagai guntur, begitu dahsyat ilmu pukulan itu membuat

kedua belas tusuk konde terbelalak kagum.

Tiba-tiba Ong Sam-kongcu berpekik panjang, tubuhnya melambung setinggi

tiga kaki, sambil menekuk tubuh, sepasang tangannya diluruskan ke muka, dan

… “Byruuuur….!” diiringi percikan air, ia terjun ke dalam kolam.

“Ilmu gerakan tubuh yang indah!” puji kedua belas tusuk konde serentak.

Buru-buru mereka melucuti pakaian sendiri dan beruntun menceburkan diri

ke dalam kolam.

Sesudah berenang berapa saat, Ong Sam-kongcu mengusulkan untuk

bermain “perang air”, biarpun dua belas tusuk konde tak paham bagaimana

mainnya, namun mereka segera menyanggupi seraya tertawa cekikikan.

“Ayo kita mulai!” teriak Ong Sam-kongcu tiba-tiba, badannya segera menyelam

ke dasar kolam.

Kolam Ti-sim ini mempunyai kedalaman hampir dua kaki, dengan ilmu

berenang yang dimiliki Ong Sam-kongcu ditambah tenaga dalamnya yang amat

sempurna, biarpun berada di dalam air, dia dapat melihat pemandangan di

sekelilingnya dengan jelas.

Tak selang berapa saat kemudian ia dapat melihat dengan jelas paha, pinggul

serta payudara kawanan cewek muda itu.

Apalagi tiga cewek yang mengenakan kutang berwarna putih, lekukan

payudaranya nampak begitu jelas dan nyata, ditambah bentuk teteknya yang

besar tapi kenyal, betul-betul membuat darah di tubuhnya mendidih.

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, walaupun Ong Sam-kongcu sudah

banyak pengalaman bermain cewek, sudah berulang kali mencicipi pelbagai jenis

cewek, yang kurus, yang gemuk, yang muda, yang setengah tua, namun

semuanya itu hanya sebatas iseng saja, apalagi kawanan cewek itu adalah cewek

penghibur dan semuanya tak pandai ilmu silat.

Sebaliknya kedua belas cewek ini berani mendekati Ong Sam-kongcu yang

status sosialnya tinggi dan berilmu silat hebat, tentu saja karena mereka anggap

status serta kemampuan sendiri mampu menandingi pemuda itu.

Oleh sebab itu mereka berdua belas bukan saja termasuk “barang yang pantas

digunakan”, bahkan terhitung “barang kelas satu”.

Dalam pada itu Ong Sam-kongcu sudah mulai terangsang setelah melihat

paha-paha mulus itu.

Karena pikiran bercabang, dua gadis yang berada di belakangnya segera

menyusul tiba.

Sadar akan terkejar, buru-buru tangannya mendayung ke belakang sembari

menjejakkan kakinya, lagi-lagi tubuhnya menyelam ke bawah air.

Kebetulan waktu itu ada seorang gadis berkutang merah sedang muncul di

atas permukaan air untuk berganti napas, Ong Sam-kongcu segera

menghampirinya sambil menggelitik ketiak kirinya.

Tiba-tiba gadis itu merasa geli bercampur kaku, badannya jadi lemas hingga

tak tahan lagi minum satu tegukan air kolam.

Sambil munculkan diri berganti napas, Ong Samkongcu membuat muka setan

kepadanya lalu menyelam lagi ke dalam air.

Gadis itu malu bercampur girang, dengan badan lemas dia paksakan diri

berenang ke tepi kolam, lalu sambil merendam kakinya ke dalam air, ia

menonton Ong Sam-kongcu mempermainkan gadis lain.

Dari balik air kolam yang jernih, terlihat tubuh Ong Sam-kongcu bagaikan

seekor naga berenang kian kemari, menggelitik setiap gadis yang dijumpai,

membuat nona-nona muda itu Kegelian dan tertawa cekikikan.

Mereka berniat mengepung pemuda itu, sayang kepandaian mereka masih

kalah setingkat, tiap kali sudah terkepung tahu-tahu anak muda itu terlepas

lagi.

Yang lebih parah lagi, setiap kali menerobos keluar kepungan, seperti tak

disengaja atau mungkin memang disengaja, Ong Sam-kongcu selalu menyentuh

payudara mereka yang montok, sentuhan ini membuat mereka merasa kaku,

gatal dan membangkitkan hawa napsu, tubuh mereka seakan terkena listrik

tegangan tinggi.

Tak heran gerak tubuh mereka semakin melambat, menggunakan kesempatan

itu Ong Sam-kongcu semakin bergairah mempermainkan mereka, kalau bukan

menyentuh, menyenggol atau bahkan seakan menumbuk … anehnya, hanya

bagian tertentu dari kawanan nona itu yang disentuhnya.

Gelak tertawa, jeritan kaget bergema memenuhi angkasa dan memecahkan

keheningan fajar.

Dua belas tusuk konde menganggap mereka senasib sependeritaan, oleh

sebab itu di antara mereka ada tingkat urutan disesuaikan usia masing-masing,

gadis yang saat itu sedang duduk di tepi kolam adalah tusuk konde nomor

enam, Lan-hoa Losat, iblis wanita bunga anggrek Pek Lan-hoa.

Sebelum bergabung, dia adalah putri tunggal seorang piausu, setelah ayahnya

tewas dalam suatu pengawalan barang, tak lama kemudian ibunya menyusul ke

alam baka lantaran sedih ditinggal mati suaminya.

Atas perantara kakak seperguruan ayahnya, Pek Lan-hoa mengangkat Kiu-ci

Popo menjadi gurunya, setelah berlatih hampir lima tahun lamanya, dengan ilmu

silat yang cukup tangguh dia membuat perhitungan dengan musuh besar

pembunuh ayahnya.

Karena telengas di saat menuntut balas, dia mendapat julukan si iblis wanita

bunga anggrek.

Saat itu dia menonton dari tepi kolam hingga suasana dalam kolam terlihat

sangat jelas, tiba-tiba ia temukan di bagian bawah celana Ong Sam-kongcu ada

sesuatu benda yang menonjol keluar, tonjolan benda itu besar sekali hingga

membuat celana pendek yang ketat itu seolah hampir terobek.

Jangan dianggap dia masih seorang gadis perawan, namun pengetahuannya

soal hubungan laki perempuan sangat matang dan jelas, begitu melihat bentuk

“memalukan” dari celana Ong Sam-kongcu, dia segera mengerti kalau anak

muda itu mulai terangsang dan napsu birahinya bangkit, diam-diam ia merasa

kegirangan.

Setelah berputar biji matanya, sambil berpikir sejenak mendadak satu ingatan

melintas dalam benaknya.

Buru-buru dia memeriksa sekeliling tempat itu, setelah yakin tak ada orang

yang perhatikan, pelan-pelan Pek Lan-hoa mengendorkan tali kutangnya,

kemudian sekali lagi ia terjun ke air dan berenang mendekati Ong Sam-kongcu.

Melihat Pek Lan-hoa telah terjun kembali ke dalam air, diam-diam Ong Samkongcu

berenang mendekati.

Melihat pemuda itu mendekat, secepat kilat Pek Lan-hoa menjejakkan kakinya

sementara tangan kanannya segera menyambar lengan kanan lawan.

Buru-buru Ong Sam-kongcu mengegos ke samping, setelah lolos dari

cengkeraman nona itu, dia menyusup dari samping dan menggelitik ketiak

kanan gadis itu.

Kaget bercampur gelisah cepat-cepat Pek Lan-hoa menyembur pemuda itu

dengan air.

Terkena semburan air yang datang secara tak terduga, otomatis Ong Samkongcu

menarik tali kutang di sisi nona itu, akibatnya kutang yang sudah

kendor talinya itu segera terbetot lepas dari tubuh Pek Lan-hoa.

Tubuh yang putih dengan payudara yang gede, kenyal dan kencang itu segera

muncul di hadapan Ong Sam-kongcu, membuat napas pemuda itu mulai tersengal

karena menahan diri….

Pek Lan-hoa menjerit kaget, tubuhnya jadi lemas dan …. “Glukk …!” beberapa

teguk air kolam masuk ke dalam mulutnya, membuat nona itu mulai tenggelam

ke dalam kolam.

Jerit kaget dari kawanan gadis lainnya bergema memecah keheningan.

Cepat-cepat Ong Sam-kongcu berenang mendekat, dengan tangan kiri

menjepit perut nona itu, dia berenang naik ke atas permukaan.

Tiba-tiba Pek Lan-hoa merangkul punggungnya dengan kedua belah

tangannya, ia tempelkan tubuhnya rapat-rapat dengan pemuda itu.

Ong Sam-kongcu mengira hal itu merupakan reaksi alami dari seorang yang

tercebur ke dalam air, buru-buru dia balas memeluk tubuhnya erat-erat.

Kini golok sudah dicabut keluar dan sulit disarungkan kembali, Pek Lan-hoa

pura-pura meronta terus ke kiri kanan, padahal secara diam-diam ia mulai

persiapkan sarung golok di balik celananya secara tepat agar golok lawan

nantinya bisa langsung disarungkan ….

Gadis itu segera merasa “benda besar” di balik celana dalam pemuda itu

semakin membengkak hingga tegang besar.

Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu “benda besar” itu sudah meloncat

keluar dari balik celana, Pek Lan-hoa kegirangan, buru-buru dia menggaet

punggung lawan dengan sepasang kakinya, lalu badannya ditekan ke bawah

kuat-kuat.

“Aaah ….!” tiba-tiba ia merasa lubang miliknya terasa sakit sekali.

Ong Sam-kongcu bukan orang bodoh kemarin sore, sadar kalau dia sudah

“dikerjai”, ditambah lagi dia sendiri memang mempunyai “kebutuhan” ke situ,

maka ia pun berlagak pilon dengan menggerakkan badannya semakin melekat

ke tubuh gadis itu.

Pek Lan-hoa merasa malu bercampur girang, ia pejamkan sepasang matanya

sambil menikmati, dalam keadaan begini ia tak berani memandang ke arah

rekan lainnya.

Dengan tangan kiri memeluk gadis itu, tangan kanan mendayung, pelan-pelan

Ong Sam-kongcu membawa nona itu berenang ke tepi kolam, setelah itu kepada

dua orang gadis yang berada di sisinya, ia berkata sambil tertawa: “Tolong bantu

aku membopong dia!”

Kini kawanan gadis yang lain sudah tahu tentang “siasat busuk” Pek Lan-hoa,

biarpun dalam hati merasa tak puas karena dia telah melanggar “kesepakatan”,

namun mereka pun berterima kasih kepadanya karena telah menjadi “pelopor”

untuk yang lain.

Setelah naik ke tepi kolam, kedua orang gadis itu segera mengambil tiga stel

pakaian yang digunakan sebagai alas untuk punggung Pek Lan-hoa, kemudian

dengan menarik kedua lengannya ke atas dan disejajar-kan dipermukaan kolam,

mereka mulai memeganginya kuat-kuat.

Pada kesempatan itu, Ong Sam-kongcu menempelkan sepasang lututnya di

tepi kolam, lalu sambil berpegangan di sisi batu, ia mulai menaik turunkan

badannya … pertempuran dalam air segera dimulai.

Sepasang kakinya menggaet belakang punggung Ong Sam-kongcu, Pek Lanhoa

pejamkan mata rapat-rapat, wajahnya bersemu merah, biarpun menahan

rasa sakit karena robeknya selaput perawan, ia membiarkan majikannya berbuat

sekehendak hati.

Titik noda darah mulai muncul di atas permukaan air kolam, para nona tahu

Pek Lan-hoa masih perawan dan baru saja kegadisannya direnggut Ong Samkongcu,

diam-diam mereka kagum kepada nona itu karena rela berkorban demi

kebutuhan majikannya.

Menyaksikan hubungan laki perempuan yang berlangsung secara “hidup” di

hadapan mereka, para gadis mulai merasakan hatinya berdebar keras, napasnya

ikut tersengal dan wajahnya bersemu merah seperti orang mabuk, siapa pun

rasanya ingin turut serta dalam pertempuran itu dan ikut mencicipi bagaimana

rasanya “ditiduri” majikan mereka.

Dengan penuh bemapsu Ong Sam-kongcu menggerakkan tubuhnya naik

turun, makin lama gerakannya makin cepat….

Tak selang berapa saat kemudian terdengar ia mendengus tertahan, lalu

gerakan tubuhnya mulai melambat sebelum akhirnya berhenti.

Terdengar anak muda itu menghembuskan napas lega, lalu sambil memeluk

kencang tubuh Pek Lan-hoa, ia tak bergerak lagi.

“Kongcu” nona nomor satu segera menghampiri sambil menegur: “apa perlu

beristirahat sebentar di tepi kolam?”

“Aaah! Betul” teriak Ong Sam-kongcu kaget, “setelah mengeluarkan cairan

mani, aku memang tak boleh berendam terus di air dingin, bisa merusak kondisi

badanku!”

Maka sambil tersenyum dia manggut-manggut. Dua orang nona itu segera

menariknya kuat-kuat dan membawanya ke tepi kolam.

Tampak “benda” Ong Sam-kongcu sudah tidak setegang tadi, biarpun begitu,

ukurannya ternyata sungguh mengejutkan!

Dalam pada itu gadis nomor satu telah membantu Ong Sam-kongcu

mengenakan pakaian.

Mengawasi celana dalamnya yang sempat robek karena diterjang “barang”nya

yang membesar, merah padam selebar wajah Ong Sam-kongcu, kuatir digoda

para nona yang lain, selesai berpakaian buru-buru perintahnya: “Cepat bawa

nona nomor enam ke dalam kamarnya”

Para nona pun segera menutupi badan Pek Lan-hoa yang telanjang bulat

dengan pakaian, kemudian menggotongnya balik ke dalam kamar.

Memandang bayangan tubuh kawanan gadis yang menjauh, diam-diam Ong

Sam-kongcu tertawa getir, gumamnya: “Habis sudah riwayatku, gara-gara ulah

Lan-hoa yang mendobrak tradisi, hari-hari berikut aku bakal kerepotan setiap

malam!”

Selesai berkata, dia pun segera berlalu dari situ kembali ke dalam kamarnya.

Angin gunung yang dingin berhembus kencang, kegelapan maiam mulai

mencekam seluruh jagat, cahaya lentera mulai berkelip bagai cahaya bintang di

langit.

Saat dan suasana seperti ini merupakan waktu yang paling tepat untuk

bersembunyi di balik selimut sambil memeluk “selimut” yang lain.

Tapi suasana dalam gedung Hay-thian-it-si justru amat riuh ramai oleh gelak

tertawa dan suara nyanyian.

Tampak Ong Sam-kongcu didampingi kedua belas tusuk kondenya sedang

berpesta pora sambil minum arak, mendengarkan kisah pengalaman Ong Samkongcu

yang luas dan suara kawanan gadis yang merdu bagai kicauan burung

kenari, suasana dalam ruang utama terasa begitu hangat bagaikan berada di

wilayah Kang-lam.

Tiba-tiba Pek Lan-hoa bangkit berdiri, setelah menjura di hadapan Ong Samkongcu,

ujarnya lembut “Kongcu, saudaraku sekalian, untuk merayakan hari

teramat bahagia hari ini, siaumoay sengaja telah menciptakan sebuah lagu baru,

mohon kongcu sudi memberi petunjuk!”

Baru habis berkata, sepasang pipinya telah berubah semu merah, lalu

kepalanya tertunduk dengan tersipu-sipu.

Ong Sam-kongcu mengerti yang dimaksud gadis itu adalah hubungan badan

yang telah terjadi pagi tadi, tak tahan ia tertawa tergelak: “Hahahaha … bagus

sekaln Kalau begitu, biar aku nikmati merdunya suaramu.”

Di antara berkelebatnya bayangan manusia, enam orang gadis masing-masing

mengambil sejenis alat musik, sementara Si Ciu-ing sebagai kakak paling tua segera

berdiri di tengah ruangan, gerak-geriknya lembut dan indah bagai bidadari.

Sementara lima orang gadis yang lain berdiri berjajar di belakang tubuh

toacinya sembari memandang Ong Sam-kongcu dengan senyum di kulum.

Terdengar Si Ciu-ing dengan suara merdu berkata: “Kongcu, Ciu-ing bersama

beberapa orang adik akan memainkan sebuah lagu “Hun-sou-ciu-mong” (impian

lama pengikat sukma), mohon petunjuk dari anda.”

Sembari tersenyum Ong Sam-kongcu manggut-manggut.

Irama musik pun mulai bergema memecahkan keheningan

Lima orang gadis yang berdiri di belakang Si Ciu-ing mulai menggerakkan

tubuhnya yang lemah gemulai membawakan tarian yang indah mengikuti irama

musik..

Dengan suaranya yang merdu, Si Ciu-ing mulai bersenandung:

“Bunga rontok air mengalir, musim semi berlalu tanpa sisa, yang tampak hanya

angin timur yang kejam.

Bunga mekar embun di kuncup, itulah saat yang romantis untuk bermesraan.

Bila masa remaja berlalu, tak pemah akan kembali lagi, lenyap di ujung langit,

hilang tak berbekas.

Walet beterbangan kupu-kupu menari, suasana di musim semi sungguh

menawan hati”

Dengan termangu Ong Sam-kongcu menikmati alunan musik dan senandung

yang merdu merayu itu, tanpa terasa ia mulai bangkit berdiri dan mengawasi

wajah Si Ciu-ing dengan penuh kehangatan dan perasaan cinta yang amat

mesra.

Tak kuasa sepasang kakinya mulai bergeser menghampiri nona itu.

Musik masih mengalun sangat merdu, sementara Ong Sam-kongcu sudah

memeluk pinggang Si Ciu-ing yang ramping dan mengikuti alunan musik,

tubuhnya mulai bergeser meninggalkan ruangan.

Tak selang berapa saat kemudian, ia telah membawa Si Ciu-ing masuk ke

dalam kamarnya.

Sambil berjalan, dengan tangannya yang terlatih dan penuh pengalaman, dia

mulai melucuti pakaian yang dikenakan gadis itu satu per satu.

Baju luar, kutang, celana panjang, celana dalam … satu demi satu berguguran

jatuh ke lantai.

Sedetik kemudian Si Ciu-ing sudah berbaring di atas ranjang dalam keadaan

telanjang bulat.

Ong Sam-kongcu tidak menunggu lebih lama, sambil menikmati tubuh bugil

sang nona yang putih halus, dengan sepasang tetek yang besar tapi kencang itu,

dia mulai melucuti pakaian sendiri satu per satu, tak lama kemudian dia pun

sudah dalam keadaan bugil.

Dengan lidahnya yang basah pemuda itu mulai menjilati seluruh bahu Si Ciuing,

sementara tangan kanannya mulai meraba dan menggerayangi sekujur badan

si nona, meremas sepasang payudaranya, membelai pusarnya, lalu turun …

turun terus … mulai membelai hutan bakau yang hitam lebat dan … sebuah

kolam surga yang mungil tapi teramat indah ….

Si Ciu-ing mulai terangsang, peluh mulai bercucuran membasahi tubuhnya, ia

merasa geli tapi nikmat… sebuah aliran hawa panas mulai muncul dalam

tubuhnya, menimbulkan perasaan yang aneh sekali….

Melihat gadisnya mulai gemetar, Ong Sam-kongcu makin terangsang, dari

bahu, dia mulai menjilati punggung dan tengkuk si nona.

Si Ciu-ing gemetar makin keras.

“Kongcu, aku … aah!” desisnya lirih.

Ong Sam-kongcu mengerti, walaupun Si Ciu-ing masih perawan, namun

rangsangan yang dia lakukan membuat si nona terangsang dan mulai tak tahan,

ia pun mulai berbaring di sisi tubuhnya seraya memanggil: “Adik Ing!”

“Ehmm ….” dengan wajah jengah dan malu Si Ciu-ing menyahut.

Dengan lembut Ong Sam-kongcu menempelkan tubuhnya di atas badan si

nona, terasa payudaranya yang hangat, lembut tapi penuh kekenyalan mulai

menempel di atas badannya, ia tak tahan dan segera memeluknya erat-erat.

Menyusul kemudian ia mulai menciumi seluruh jidatnya, kelopak matanya,

ujung hidungnya, sepasang bibirnya dan berhenti di telinganya, dimana dia

mulai menjilat, menggigit dan menghisapnya pelan-pelan.

Si Ciu-ing semakin gemetar, tak kuasa badannya mulai menggeliat tiada

hentinya.

Dengan sepasang bibirnya, Ong Sam-kongcu menciumi bibirnya yang panas

dengan penuh bemapsu, Si Ciu-ing mendesis, tiba-tiba dia balas merangkul

tubuh Ong Sam-kongcu, memeluk kencang dan balas mencium pemuda itu

dengan penuh bernapsu.

Bibir bertemu bibir, lidah bertemu lidah ….

Ong Sam-kongcu dengan tangan kirinya membelai lembut punggung dan

pinggulnya, ia merasa tubuh nona itu sangat halus, lembut dan penuh daya

rangsang yang memikat.

Belaian itu membuat Si Ciu-ing semakin bemapsu, dia cium pemuda itu

makin buas, menciuminya hingga nyaris tak mampu bernapas, kemudian

setelah melepaskan ciumannya, ia mulai berbaring terengah-engah.

Dengus napas yang memburu membuat sepasang payudaranya yang putih

montok ikut gemetar keras, Ong Sam-kongcu tidak berdiam diri, mengawasi

payudara si nona yang bergetar naik turun, terutama sepasang puting susunya

yang mulai mengeras dan berdiri rhenantang, ia merasa hawa napsunya makin

membara, ia mulai tak sanggup menahan diri lagi….

Dengan bibirnya yang hangat dia mulai menghisap puting susu sebelah kanan

yang mengeras, sementara tangan kirinya mulai membelai, meraba … dan

meremas payudara kirinya yang menantang….

Seperti tersambar kilatan halilintar Si Ciu-ing gemetar keras, hisapan pada

puting susunya membuat ia merasa geli … geli tapi amat merangsang, begitu terangsangnya

hingga ia mulai berkunang-kunang, dengus napasnya makin

cepat… semakin terengah.

Yang lebih menyiksa lagi, ternyata Ong Sam-kongcu bukan cuma menghisap,

dia mulai menggigit puting susunya yang sedikit lebih besar dari kacang itu

dengan bernapsu, biarpun gigitan itu ringan dan merangsang, tapi si nona

merasa amat geli, gatal dan aneh sekali….

Tiba-tiba Si Ciu-ing merasa seperti ingin “kencing”, tak tahan ia mulai bersin

berulang kali.

Menyaksikan hal itu, dengan tangan kirinya Ong Sam-kongcu segera meraba

“lubang surga” di antara sepasang paha si nona, dengan cepat dia dapati

semacam cairan basah yang licin tapi lengket telah membasahi sekeliling tempat

itu, tak tahan pikirnya: “Tak salah orang berkata, semakin montok seorang nona,

semakin gampang ia mencapai “puncak”nya!”

Maka dia pun mulai menghisap dan menggigit pelan puting susu yang kiri.

Dengan wajah tersipu dan suara gemetar Si Ciu-ing mulai mendesis: “Aaah

kongcu … jangan … jangan begitu … aku … aku mulai tak tahan … aah … aahh

…!”

Ong Sam-kongcu tertawa pelan, dia mulai berjongkok di atas badan si nona,

merentang lebar sepasang kakinya lalu “tombak panjang” miliknya mulai

ditempelkan di atas “sarung senjata” lawan dan pelan-pelan dihujamkan ke

bawah dengan penuh kelembutan.

Si Ciu-ing merasa amat sakit, terutama ketika “tombak” lawan mulai

mengoyak jaring tipis miliknya … sambil mengertak gigi ia menahan diri, biar

sakit dia tak bergeming, dia biarkan majikannya menjebol “jaring” pertahanan

miliknya….

Ong Sam-kongcu merasakan Kenikmatan yang luar biasa muncul dari ujung

“tombak”nya langsung menyebar ke sekujur badan, ini membuat dia semakin

bernapsu untuk menghisap, menjilat dan menggigit sepasang puting susu nona

itu.

Si Ciu-ing mencengkeram ujung bantalnya kuat-kuat menahan rasa sakit dan

pedih yang amat sangat, terutama ketika ujung “tombak” lawan mulai

menembusi “jaring” pertahanannya, dia hadapi “serangan” lawan dengan penuh

ketegangan….

Menurut yang dia ketahui, robeknya selaput perawan seorang gadis adalah

saat yang paling sakit dan menderita, bahkan ada sementara orang tak mampu

turun dari ranjang selama tiga hari sebelum rasa sakit itu dapat di atasi, karena

itu dia tingkatkan kewaspadaan untuk menghadapi serangan itu.

Untung sekali Ong Sam-kongcu bukan termasuk kekasih yang kelewat

terburu napsu, dia selalu memperhitungkan penderitaan lawan, pemuda itupun

bukan termasuk lelaki golongan “kereta cepat” yang ingin terburu-buru sampai

di tempat tujuan.

Kenyataan ini membuat Si Ciu-ing diam-diam menghembuskan napas lega,

tak lama kemudian rasa geli, gatal dan kesemutan sekali lagi menyelimuti

sekujur badannya.

Tak kuasa lagi dia mulai menggeliat, mulai bergerak, mulai mengimbangi

gerak tubuh lawan … ia mulai mendengus, mendesis dan merintih ….

Tangan yang semula dipakai untuk mencengkeram Ujung bantal, kini

digunakan untuk memeluk punggung Ong Sam-kongcu.

Entah berapa lama sudah lewat… akhirnya … ujung tombak telah mencapai

dasarnya! Sepasang tangannya yang semula dipakai untuk memeluk punggung

Ong Sam-kongcu, kini mulai bergeser turun, bergeser ke atas pinggulnya bahkan

secara pelan-pelan rnulai membantu gerakan pinggul pemuda itu agar bisa

menghujam lebih ke bawah … menghujam lebih dalam ….

Dengan gerakan “mengikuti arus mendorong sampan” Ong Sam-kongcu

membiarkan tombaknya menusuk “lubang surga” gadis itu dalam-dalam.

Semakin ditusuk, ujung tombak yang menembusi “lubang surga” lawan

menghujam makin dalam sehingga akhirnya hampir seluruh badan “tombak”

terbenam dalam tubuh lawan….

Dalam posisi seperti ini, Ong Sam-kongcu tak mau membuat gadis pujaannya

mengerang kesakitan, dia berusaha agar nona itu bebas dari penderitaan.

Sekali lagi dia cium bibir nona Si dengan penuh kemesraan, menjilat,

mencium dan menghisap ujung lidahnya.

Si Ciu-ing balas mencium pemuda itu dengan penuh napsu.

Biarpun gerakannya masih kaku dan terasa asing, namun penuh

mengandung kehangatan cinta dan napsu yang membara.

Pelan-pelan Ong Sam-kongcu masukkan ujung lidahnya ke dalam bibir gadis

itu, menyongsong ujung lidahnya yang lembut, halus dan hangat, lalu

menghisapnya pelan.

Selama hidup belum pernah Si Ciu-ing mengalami kejadian seperti ini, apalagi

dalam hubungan antara laki dan perempuan, hakekatnya dia hanya seekor ayam

yang tercebur dalam sumur, sarna sekali tak punya pengetahuan apalagi

pengalaman, mendengar pun belum pernah.

Tahu kalau gadis itu tak punya pengalaman, Ong Sam-kongcu mulai memberi

petunjuk dan kursus kilat, tak sampai seperminum teh kemudian Si Ciu-ing

yang pintar segera dapat menguasai tehnik itu dan mempraktekkan dengan

sempurna.

Sepasang ujung lidah pun sebentar masuk sebentar keluar, dalam bibir

masing-masing saling menggaet saling menghisap dan saling menggigit….

Menggunakan kesempatan itu diam-diam Ong Sam-kongcu mulai menaik

turunkan tubuhnya beberapa kali, dia segera dapat merasa kalau “jalanan mulai

becek dan basah” bahkan “lorong jalan” itu sudah semakin longgar ketimbang

tadi, maka dia pun rnulai beraksi dengan menggoyangkan tubuhnya, bukan

cuma naik turun, bahkan mulai memutar sambil menekan.

“Aaah … kongcu … aaah….” desis merdu bergema memecah keheningan: “aaah

… kongcu … nikmat”

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah lupa diri, mereka tenggelam

dalam deru napsu yang makin meningkat, gerak tubuh mereka kian lama kian

bertambah cepat.

Kalau semula Si Ciu-ing belum berani melakukan gerak balasan, kini dia

mulai aktif berperan, pinggulnya ikut bergoyang sambil berputar mengimbangi

gerakan tubuh lawan….

Begitu asyiknya mereka “bertempur” hingga siapa pun tak tahu sejak kapan

irama lagu di luar gedung sudah berhenti berbunyi.

Beruntun tiga hari tiga malam Ong Sam-kongcu tak pernah bergeming

selangkah pun dari dalam kamar tidur Si Ciu-ing.

Malam itu untuk kesekian kalinya mereka bertempur sengit, setengah jam

kemudian mereka berdua sama-sama “terluka dan mengucurkan darah” hingga

mesti tergeletak lemas di ranjang.

Saat itulah terdengar Si Ciu-ing berbisik lirih: “Kongcu, aku … aku benarbenar

merasa nikmat!”

Ong Sam-kongcu menciumnya penuh rasa sayang, kemudian ujarnya serius:

“Adik Ing, aku … aku ingin meminangmu!”

Tertegun Si Ciu-ing sehabis mendengar berita gembira yang sama sekali tak

terduga itu, dengan senyum di kulum dan nada gemetar tegasnya: “Kongcu, kau

… kau serius?”

“Tentu saja serius adik Ing, kau bukan cuma cerdik, kehangatan tubuhmu

dapat memuaskan napsuku, mendatangkan kegembiraan yang luar biasa! Kau

… kau bersedia aku kawini?”

Sambil mengucurkan air mata kegirangan Si Ciu-ing mengawasi pemuda itu

tanpa bicara, dia seperti ragu untuk menjawab.

“Adik Ing!” kembali Ong Sam-kongcu bertanya sembari menjilati butiran air

mata yang membasahi kelopak matanya: “cepatlah jawab, paling tidak kau mesti

anggukkan kepala.”

“Kongcu,” kata Si Ciu-ing dengan nada gemetar, “tentu saja aku seratus satu

persen setuju dan menerima pinanganmu, tapi bagaimana dengan kesebelas

saudara lainnya? Mereka semua mencintaimu, apa yang harus kau lakukan

terhadap mereka?”

“Waah, kalau soal ini..”

“Kongcu, aku boleh mengajukan usul?”

“Katakan saja adik Ing.”

“Kongcu, bagaimana kalau sekaligus kau kawini semua gadis itu?”

“Tapi… apa tidak kelewatan?”

“Kongcu, dengan latar belakang keluargamu serta harta kekayaan yang kau

miliki, tak mungkin ada orang berani menentang, lagipula dari dua belas tusuk

konde emas, kecuali Jit-moay (adik ketujuh) dan Pat-moay (adik kedelapan),

hampir semuanya adalah gadis bebas.”

“Soal ini… kita bicarakan nanti saja!”

Si Ciu-ing tahu majikannya pasti punya pemikiran lain, maka dia pun tak

banyak bicara lagi dan mulai membantu pemuda itu untuk membersihkan

“tombaknya yang penuh berlepotan darah.

Hari kedua, baru saja tengah hari menjelang tiba, Ong Sam-kongcu

didampingi dua belas tusuk konde emas sedang melukis di depan gununggunungan,

tiba-tiba Ong tua, congkoan dari perkampungan muncul dan

memberi laporan: “Kongcu, di luar kedatangan seorang tamu yang mengaku dari

marga Go ingin berjumpa dengan kongcu!”

“Dari marga Go? Apa tidak membawa kartu nama?” gumam Ong Sam-kongcu

sambil berhenti melukis.

“Tidak, katanya dia adalah sahabat karib kongcu ketika masih di kota Kimleng.”

“Aneh!”

Sambil bangkit berdiri Ong Sam-kongcu mengikuti Ong tua menuju ke pintu

gerbang, ia jumpai seorang pemuda berjubah biru yang mengenakan topi dan

mantel kulit sedang berdiri membelakangi pintu sembari menikmati

pemandangan alam di sekeliling tempat itu.

“Go-kongcu!” orang tua Ong segera menyapa sembari menjura, “kongcu kami

telah datang!”

“Terima kasih!” sahut pemuda Go sembari pelan-pelan membalikkan badan.

Begitu mendengar kata “terima kasih”, tiba-tiba saja tubuh Ong Sam-kongcu

gemetar keras, apalagi setelah melihat jelas paras muka orang itu, tak kuasa ia

menjerit tertahan: “Aah, rupanya kau!”

“Betul, memang aku, Go Hoa-ti, bersedia menerimaku?” ujar pemuda itu

sambil tersenyum.

“Tentu saja, tentu saja jawab Ong sam-kongcu agak gugup.

“Blaaam!” saking gugupnya sikut Ong Sam-kongcu menghantam pintu kuatkuat

hingga menimbulkan suara keras, tak kuasa lagi merah padam wajahnya.

Waktu itu, dua belas tusuk konde emas masih berdiri di muka gununggunungan,

tapi perhatian mereka sesungguhnya tertuju keluar pintu,

mendengar suara benturan yang nyaring, serentak mereka memburu tiba, para

gadis mengira majikannya terkena bokongan.

“Kongcu, apa yang terjadi?” tanya Si Ciu-ing penuh rasa kuatir.

“Aaah, tidak apa-apa ..,!” buru-buru Ong Sam-kongcu menyahut agak panik,

“mari kuperkenalkan kalian semua, mereka adalah..”

Belum selesai pemuda itu bicara, Go Hoa-ti telah menukas duluan sambil

tertawa: “Kongcu, tak heran kau tega meninggalkan semua hasil karyamu di kota

Kim-leng, rupanya dalam rumah kau banyak menyembunyikan cewek jelita”

Ong Sam-kongcu tersipu-sipu hingga untuk sesaat tak mampu mengucapkan

sepatah kata pun.

Dalam pada itu Si Ciu-ing telah mengamati wajah Go Hoa-ti beberapa saat,

dari logat bicaranya dia tahu lawan adalah seorang nona yang sedang menyaru,

maka ia pun menegur “Kongcu, tolong tanya apa kau kenal dengan Kim-leng-lihiap

(pendekar wanita dari kota Kim-leng)?”

“Si-lihiap, tak malu kau mendapat julukan Li-cukat (Cukat/Khong Beng

wanita), betul, siaumoay adalah Go Hoa-til”

Seraya berkata, ia lepaskan topi kulit penutup kepalanya.

Rambutnya yang hitam panjang mengkilap segera terurai di atas bahunya.

Semua orang merasa pandangan matanya jadi silau, diam-diam mereka

menaruh rasa kagum akan kecantikan wajahnya yang luar biasa.

Terutama Ong Sam-kongcu, dia sampai tertegun menyaksikan kecantikan

wajah gadis itu.

Tiba-tiba Si Ciu-ing berbisik: “Kongcu, di luar angin sangat deras, lebih baik

undang masuk lebih dulu nona Go ke ruang tengahi”

“Aaah, betul” kata Ong Sam-kongcu agak gugup, “nona Go, silahkan masuk!”

“Terima kasih!” sambil tersenyum Go Hoa-ti berjalan masuk ke dalam

ruangan.

Kemudian setelah memperhatikan sekelilingnya, katanya lagi dengan suara

merdu: “Kau memang pantas menyandang julukan sebagai “To-cing Kongcu”

tuan muda romantis yang menggetarkan sungai telaga, tak nyana di tengah

bukit yang terpencil pun bisa membangun sebuah gedung semegah ini.”

Sejak tahu yang hadir adalah gadis yang diidamkan dan dicintai selama

banyak tahun, tingkah laku Ong Sam-kongcu berubah jadi gugup dan tak

tenang, tapi setelah berbincang sesaat, kondisinya lambat laun berubah tenang

kembali.

Mendengar ucapan tersebut ia segera tertawa lantang: “Hahaha … nona

kelewat memuji, silahkan duduk!”

Sementara itu Pek Lan-hoa sudah menyuguhkan air teh sambil menyapa:

“Silahkan minum!”

“Terima kasih nona Pek!” , “Apa? Kalian sudah saling mengenal?” tegur Ong

Sam-kongcu tercengang.

“Kongcu,” sahut Go Hoa-ti, “biarpun siaumoay jarang berkelana di dunia

persilatan, tetapi masih cukup mengerti siapa nama dari kedua belas orang cici

itu!”

“Nona kelewat memuji!” serentak para gadis menyahut.

Melihat hanya dia dan Ong Sam-kongcu yang duduk di bangku, sementara

dua belas gadis itu hanya berdiri, tak tahan Go Hoa-ti bertanya: “Cici semua,

kalian tidak ikut duduk?”

“Terima kasih nona,” sahut Si Ciu-ing sambil tersenyum: “kami sudah terbiasa

berdiri!”

“Tapi….”

Tidak menunggu gadis itu bicara lagi, Ong Sam-kongcu sudah menukas,

katanya kepada para nona sambil tertawa: “Kehadiran nona Go merupakan satu

kejadian langka, tolong perintahkan dapur untuk menyiapkan berapa macam

hidangan khas daerah Kanglam”

“Baik” sahut Si Ciu-ing, habis berkata mereka berdua belas serentak

meninggalkan ruangan.

Sepeninggal kawanan gadis itu, Go Hoa-ti baru berkata sambil tertawa:

“Kongcu, tampaknya mereka sangat penurut?”

“Hahaha … mereka tak segan meninggalkan kehidupan mewah hanya ingin

kemari untuk menemani aku, sudah banyak masalahku yang mereka

selesaikan!”

“Kongcu, kau memang pandai menikmati hidup!”

Ong Sam-kongcu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Bagai minum air, kita harus bisa membedakan mana air dingin mana air

panas, rasanya tak perlu disinggung lagi! Nona, ada urusan apa tiba-tiba kau

muncul di sini hari ini?”

“Kongcu, aku pun pingin tinggal di sini menemanimu, kau bersedia

menerimaku?”

“Apa?” Kau Ong Sam-kongcu berseru kaget, belum selesai berkata ia sudah

melompat bangun.

Aah! Apa yang telah terjadi? Selama ini si nona selalu bersikap acuh terhadap

Ong Sam-kongcu, bahkan tak pernah menanggapi luapan perasaan cintanya,

mengapa tiba-tiba ia berubah sikap? Atau… atau mungkin ia sedang bermimpi?

“Kongcu, kau tak sudi menerimaku?” kembali Go Hoa-ti bertanya sambil

bangkit berdiri.

“Ooh … tidak, tidak … aku senang sekali, amat senang, silahkan duduk!”

Dengan senyuman puas Go Hoa-ti duduk kembali, melihat Ong Sam-kongcu

masih berdiri mematung sambil memandang ke arahnya tanpa berkedip, tak

kuasa tegurnya lagi sambil tertawa: “Kongcu, silahkan duduk!”

“Baik… baik… aku duduk, aku duduk!”

Ong Sam-kongcu yang biasa perkasa, kali ini hanya berdiri termangu macam

orang bodoh, semua kecerdasannya seolah hilang lenyap, rasa kaget serta

luapan gembira yang luar biasa membuat dia tak sanggup mengendalikan diri.

Diam-diam Go Hoa-ti merasa sangat bangga, tapi di luaran katanya manja:

“Kongcu, kehadiranku tak akan merusak hubunganmu dengan para gadis lain

bukan?”

“Ooh … tidak, tidak … pasti tidak, bagaimana kalau kuantar untuk melihatlihat

kamar tidurmu?”

“Baiklah, memang itu yang kuharap!”

Keluar dari ruangan, mereka berdua menyeberangi kebun bunga, kolam Tisim

dan tibalah di sebuah pesanggrahan tunggal di belakang kebun.

Membaca tulisan “Ti-wan” (kebun Go Hoa-ti) yang terpampang di atas pintu

berbentuk bulat itu, tiba-tiba Go Hoa-ti merasa badannya gemetar keras, setelah

menghela napas katanya: “Kongcu, ternyata kau tak pernah melupakan aku!”

Ong Sam-kongcu tersenyum, katanya: “Mari kita tengok suasana dalam

pesanggrahan nona!”

Setelah melewati pintu berbentuk bulat, tiba-tiba Go Hoa-ti merasa seolah dia

sudah balik ke kota kelahirannya, Kim-leng!

Baik bentuk kebun bunga maupun bentuk ruang tamu, kamar tidur serta

kamar baca, hampir semuanya persis seperti keadaan rumahnya, bahkan

termasuk perabot serta hiasan dinding pun tak ada bedanya, tak kuasa lagi

sepasang matanya berkaca-kaca.

Tiba-tiba ia menubruk ke dalam pelukan pemuda itu sambil terisak: “Kongcu,

aku sudah kelewat banyak berhutang kepadamu!”

Melihat pujaan hatinya tiba-tiba menubruk ke dalam pelukannya, Ong Samkongcu

merasa hatinya berdebar keras, tubuhnya menggigil kencang.

Cepat dia menarik napas panjang, setelah berhasil mengendalikan emosi,

katanya lembut: “Nona, udara dan kelembaban tempat ini jauh berbeda

ketimbang kota Kim-leng, karena itu banyak jenis bunga yang tak bisa tumbuh

di kebun bunga ini, aku akan undang orang untuk melengkapinya”

“Ti … tidak usah! Siaumoay merasa tak sanggup menerima semua

kebaikanmu….”

Bicara sampai di situ, air matanya bagai air bah jatuh bercucuran.

Tak selang berapa saat kemudian pakaian di bagian dada Ong Sam-kongcu

sudah basah oleh air mata.

Tapi Ong Sam-kongcu seperti tidak merasa, rasa gembira yang luar biasa

membuat dia melupakan segala-galanya ….

0oo0

Sebulan kemudian, suasana di gedung “Hay-thian-it-si” tampak sangat

meraih, seluruh gedung dihiasi lentera merah, suasana gembira menyelimuti

seluruh bangunan.

Akhirnya Ong Sam-kongcu berhasil menyunting seorang gadis sebagai istri

sahnya, dia menikah dengan Go Hoa-ti!

Sebetulnya Ong Sam-kongcu ingin mengundang segenap sahabat dan rekan

baiknya untuk merayakan pesta pernikahan itu, namun usul itu ditampik Go

Hoa-ti, maka dari itu tamu yang hadir dalam pesta tersebut, hanya dua belas

orang tusuk konde emas yang mendelu di dalam hati serta dua puluhan orang

tamu undangan.

Setelah pesta berlangsung setengah harian, tiba waktunya para tamu

mengiringi sang pengantin masuk ke kamar, selesai mengucapkan selamat,

semua tamu pun berpamitan.

Begitu juga dengan dua belas tusuk konde emas, diiringi wajah yang kaku dan

lesu, mereka balik ke dalam kamar masing-masing, di situlah mereka baru

berani menyeka air mata yang telah berlinang sejak tadi.

Di antara mereka, Si Ciu-ing yang merasa paling sedih bercampur bimbang,

karena ia temukan “Ang-sianseng atau tuan merah” yang tiap bulan datang

berkunjung secara rutin, tiba-tiba menyatakan mogok bekerja!

Dia telah hamil!

Tapi kongcu mereka telah kawin secara resmi dengan nona Go.

Apa yang akan terjadi dengan dirinya?

Haruskah janin dalam kandungannya dipertahankan, atau lebih baik dipaksa

keluar?

Tentu saja harus dipertahankan!

Tapi dirinya masih berstatus seorang gadis perawan, seorang gadis bangsawan

yang belum bersuami, apa jadinya bila si jabang bayi telah lahir nanti? Apakah

nona Go bersedia menerimanya?

Makin dipikir perasaan hatinya makin pedih, akhirnya pecahlah isak

tangisnya yang memilukan hati.

Sementara itu Ong Sam-kongcu sedang memeluk Go Hoa-ti di dalam kamar

pengantin, sambil minum arak, mereka saling merayu dan saling berangkulan.

Tak lama kemudian kedua orang itu sudah dalam keadaan mabuk oleh air

kata-kata.

Dalam keadaan begini, sepasang pengantin itu mulai saling berpelukan dalam

keadaan bugil, tanpa mengalami hambatan apa pun “tombak” Ong Sam-kongcu

langsung bersarang di dalam “liang naga”.

Tapi begitu “tombak” dihujamkan, ia jumpai “jalan lorong” sangat lebar, selain

tak ada hambatan, lalu lintas dapat berlalu sangat lancar, dengan gagah berani

dia melangkah lebih ke dalam.

Sayang keadaannya saat itu setengah sadar oleh pengaruh alkohol, sehingga

gejala yang “luar biasa” itu sama sekali tidak disadari.

Kalau bicara menurut aturan, bila nona itu benar-benar masih perawan, “liang

naga’nya pasti sempit, banyak alat jebakan dan sukar dilalui, setiap langkah dan

gerakannya harus dilakukan berhati-hati dan amat lambat, sebab kalau dilalui

secara kasar, “banjir darah” bakal terjadi….

Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja “semua jebakan” telah terbuka,

“lorong rahasia” pun sangat lebar dan gampang dilalui, jangan-jangan ….

Sementara itu, Go Hoa-ti mengimbangi gerakan pasangannya dengan penuh

bemapsu, walaupun goyangan pinggulnya menggila, napasnya terengah-engah,

namun secara diam-diam ia letakkan sepasang tangannya di bagian bawah

perut, seakan tak disengaja saja, dia selalu menghindari tekanan tubuh Ong

Sam-kongcu yang kelewat keras di atas perutnya.

Ong Sam-kongcu mengira gadis itu kesakitan, bukan saja tidak menaruh

curiga malah sebaliknya dia peringan tenaga “genjotan”nya dan tidak

membiarkan “pasukannya” menyerbu kelewat dalam ke “liang naga”, dia takut

kekasih hatinya tidak suka hati

Melihat kejadian ini diam-diam Go Hoa-ti menghembuskan napas lega,

menggunakan kesempatan ketika pemuda itu tidak memperhatikan, ia segera

merobek ujung jari tangan sendiri hingga berdarah, lalu diam-diam meneteskan

darah itu di atas kain putih yang berada di bawah “lubang rahasia”nya.

Berapa genjotan kemudian, lagi-lagi dia masukkan ujung jarinya yang

berdarah ke dalam lubang rahasia sendiri, mengikuti gerakan tubuh Ong Samkongcu

yang masih bergoyang tiada hentinya, ia nodai cairan mereka berdua

yang telah berbaur itu dengan tetesan darahnya.

Setelah berjuang berapa saat, akhirnya Ong Sam-kongcu mulai mengerang

keras sambil menyerahkan “cairan kental”nya ke dalam liang musuh.

Menggunakan kesempatan itu Go Hoa-ti mendorong tubuhnya dari atas badan

sendiri, lalu sambil miringkan badan ke arah lain, cepat ia hentikan pendarahan

ujung jari sendiri.

Ketika Ong Sam-kongcu melihat di atas kain putih ternoda oleh “cairan kental”

miliknya yang bercampur dengan noda darah, diam-diam ia merasa kegirangan,

pikirnya: “Aaah, akhirnya aku berhasil menikmati keperawanan adik Ti!”

Sampai mati pun dia tak menyangka kalau Go Hoa-ti secara diam-diam telah

mengerjai dirinya.

Keesokan malamnya ketika Ong Sam-kongcu kembali minta “jatah”, setelah

agak sangsi sejenak akhirnya dengan senyuman yang dipaksakan Go Hoa-ti

melepaskan seluruh pakaian sendiri hingga bugil.

Ketika “tombak” mulai menghujam ke dalam “liang”-nya, meskipun Go Hoa-ti

ikut menikmati dengan bernapsu, namun keningnya tampak berkerut, seakan

sedang menahan sakit.

Melihat itu buru-buru Ong Sam-kongcu menegur: “Adik Ti, bagian mana vang

sakit?”

“Semalam kau … kau kelewat bernapsu, aku … milikku agak pedih dan

berdarah … sampai sekarang, bagianku yang “di situ” masih terasa sakit….”

“Aaah!” buru-buru Ong Sam-kongcu mencabut kembali tombaknya sambil

melompat bangun: “maaf adik Ti, aku kelewat ceroboh!”

“Tidak apa-apa kakak Huan, aku … aku minta maaf

Diiringi senyum penuh rasa sayang Ong Sam-kongcu segera membersihkan

“tombak” sendiri kemudian berpakaian.

Sejak hari itu, Go Hoa-ti selalu menggantung tanda “tidak berperang” setiap

kali Ong Sam-kongcu datang mengambil “jatah”.

Tapi Ong Sam-kongcu sendiri tidak memasukkan ke dalam hati, karena tiap

hari istrinya selalu menemaninya main catur, melukis, membuat pantun dan

melayani semua kebutuhannya dengan senyuman yang menggairahkan.

Dia tidak pergi berenang pagi!

Dia pun tidak lagi berlatih silat!

Tiap hari kerjanya hanya mendekap istrinya di dalam kebun Ti-wan.

Waktu berlalu amat cepat, dalam sekejap mata tiga bulan telah berlalu.

Hari ini ketika Ong Sam-kongcu sedang duduk bersantai bersama Go Hoa-ti,

tiba-tiba terdengar ia mendengus tertahan sembari memegangi perutnya dengan

kening berkerut, buru-buru dia menegur: “Adik Ti, kenapa kau?”

Dengan wajah merah jengah Go Hoa-ti mengerlingnya sekejap, lalu sahutnya:

“Apalagi, semua gara-gara kau!”

Melengak Ong Sam-kongcu setelah mendengar perkataan itu.

Tapi sewaktu sinar matanya tertuju di atas pefuinya yang mulai menonjol

besar, tergerak perasaan hatinya, terkejut bercampur girang serunya tertahan:

“Jadi kau … kau sudah hamil?”

Tersipu-sipu Go Hoa-ti mengangguk.

“Horee pekik Ong Sam-kongcu kegirangan, ia segera memeluk pinggangnya

sembari teriaknya keras: “Hahaha… aku bakal jadi ayah, aku bakal jadi ayah!”

“Koko Huan, hati-hati, jangan membuat janin tergerak!” bisik Go Hoa-ti

memperingatkan.

Mendengar itu Ong Sam-kongcu segera menghentikan goyangannya, dengan

amat lembut dia bopong perempuan itu ke atas ranjang, lalu setelah membaringkan

tubuhnya, menyelimuti badannya dengan sangat hati-hati.

Setelah itu sembari menghembuskan napas panjang, katanya: “Adik Ti, mulai

sekarang kau mesti banyak makan, istirahat, kurangi kelelahan, kalau butuh

apa, perintahkan saja kepada bawahan* untuk melakukan.”

“Omong kosong, memangnya kau suruh aku jadi seekor babi betina yang

gemuk?”

“Hahaha … jika kau babi betina, berarti aku babi jantannya, paling bagus lagi

kalau kita bisa memiliki dua belas ekor anak babi!”

“Aaah, siapa sudi..”

“Hahaha … istirahatlah dulu! Akan kusuruh orang menyiapkan makanan

kecil”

Selesai bicara dia segera berlari keluar ke halaman depan.

la sampaikan berita gembira itu kepada dua belas tusuk konde emas.

Siapa sangka ketika tiba di halaman depan, di tempat itu tak nampak sesosok

bayangan manusia pun, beruntun dia masuk ke dalam tiga buah kamar tidur,

tapi semuanya tak berpenghuni.

Sementara sedang kesal, tiba-tiba ia mendengar suara Si Ciu-ing sedang

muntah di dalam kamarnya.

Menyusul kemudian terdengar Pek Lan-hoa berkata dengan nada kuatir:

“Toaci, coba makan sebutir kiam-bwe, mungkin rasa mualmu agak berkurang!”

Ketika Ong Sam-kongcu masuk ke dalam ruangan, ia saksikan dua belas

tusuk konde emas sedang berdiri berjajar di depan pembaringan Si Ciu-ing,

sementara Pek Lan-hoa duduk di sisinya, sembari memeluk tubuh perempuan

itu, dia sedang mengurut dadanya.

Melihat paras muka Si Ciu-ing pucat pias, buru-buru ia menegur dengan agak

panik: “Adik Ing, kenapa kau?”

Sejak tahu dirinya hamil, Si Ciu-ing sudah merasa amat malu, apalagi secara

beruntun berapa bulan tak pernah nampak bayangan tubuh Ong Sam-kongcu

datang mengunjunginya, rasa kecewa, panik dan gelisah yang luar biasa

membuat ia jatuh sakit.

Beberapa kali rekan-rekannya ingin melaporkan kejadian ini kepada Ong Samkongcu,

tapi setiap kali selalu dicegahnya.

Tak heran kalau hatinya menjadi sedih bercampur girang setelah mendengar

pertanyaan majikannya kali ini yang penuh perhatian, tak kuasa lagi air mata

jatuh bercucuran, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Melihat hal ini Ong Sam-kongcu semakin menaruh rasa iba bercampur

sayang, duduk di sampingnya sembari memeluk badannya, kembali dia

bertanya: “Adik Ing, kenapa wajahmu pucat dan kondisi badanmu amat lemah?”

“Kongcu ….” bisik Si Ciu-ing lirih, dia tak mampu melanjutkan perkataannya.

“Kongcu!” Pek Lan-hoa segera berbisik, “toaci sudah hamil!”

“Sungguh?” seru Ong Sam-kongcu dengan badan bergetar, “adik Ing, kau

sungguh hamil?”

Dengan wajah tersipu Si Ciu-ing mengangguk, tak sepatah kata pun

diucapkan.

“Aaah, aku sangat gembira! Aku sangat gembira!” teriak Ong Sam-kongcu

kegirangan, “ini namanya dua kegembiraan datang berbareng, adik Ing, kenapa

tidak kau kabarkan sejak awal? Aku benar-benar telah menyiksamu!”

Cukup!

Dengan adanya perkataan dari Ong Sam-kongcu itu, Si Ciu-ing merasa

hatinya lega sekali.

Rasa risau, sedih, murung, panik dan tak tenang yang dideritanya selama

berapa hari belakangan, seketika hilang lenyap tak berbekas, tanyanya dengan

suara lembut: “Kongcu, ada urusan apa kau muncul kemari secara tiba-tiba?”

Setelah memandang dua belas tusuk konde sekejap, kata Ong Sam-kongcu

penuh kegembiraan: “Adik Ti juga telah hamil!”

Sekali lagi kawanan gadis itu mengucapkan selamat kepada Ong Sam-kongcu,

walau kali ini ucapan selamat diutarakan dengan perasaan sedikit mengganjal.

Sesudah mengucapkan terima kasihnya, kembali Ong Sam-kongcu berkata:

“Adik Ing, selanjutnya kau harus banyak istirahat, banyak makan makanan

bergizi, jangan sampai bayi dalam kandunganmu jadi kurus.”

“Terima kasih atas perhatian kongcu.”

Kepada sebelas orang nona lainnya kembali Ong Sam-kongcu berpesan: “Nona

semua, kondisi badan adik Ing kurang sehat, selanjutnya aku mohon bantuan

kalian untuk merawat dirinya”

“Kongcu tak usah kuatir!”

0oo0

Bunga bwe mulai mekar di musim dingin, semenjak pesanggrahan “Hay-thianit-

si” diramaikan suara tangisan bayi, suasana di tempat itu nampak bertambah

riang dan hidup.

Go Hoa-ti melahirkan seorang bayi perempuan yang berwajah cantik dan

bertubuh halus.

Sebulan setengah kemudian, Si Ciu-ing melahirkan juga seorang bayi lelaki

yang gemuk dan sehat.

Dua belas tusuk konde emas sangat gembira.

Sedikit banyak dalam hati kecil mereka semua selalu menaruh perasaan

cemburu yang amat sangat terhadap Go Hoa-ti, tapi dengan kelahiran seorang

bayi lelaki oleh toaci mereka, tanpa terasa mereka semua dapat menghembuskan

napas lega, sebab paling tidak toaci mereka telah membuktikan dapat

mengungguli Go Hoa-ti.

Oleh karena bayi perempuan Go Hoa-ti diberi nama Bu-jin, maka bayi lelaki Si

Ciu-ing diberi nama Bu-ciau. Ong Bu-ciau!

Sejak pagi hingga malam gedung pesanggrahan hampir selalu diramaikan

teriakan nyaring Ong Bu-ciau.

Dua belas tusuk konde emas saling berebut merawat Ong bu-ciau, asal dia

menangis maka sebelas tusuk konde berebut menggantikan popok bayinya yang

basah oleh air kencing.

Seandainya mereka semua bisa “menyusui”, mungkin Si Ciu-ing tak akan

mendapat kesempatan untuk bertemu dengan putranya.

Ong Sam-kongcu sebagai seorang bapak, tentu saja gembira sekali

menyaksikan hal ini.

Orang bilang: “ibu terhormat karena sang putra”, begitu juga dengan posisi Si

Ciu-ing, gara-gara Ong Bu-ciau, posisinya dalam pandangan Ong Sam-kongcu

pun ikut terkatrol.

Ong Sam-kongcu tidak lagi sepanjang hari mengendon dalam kebun Ti-wan,

saban hari, paling tidak selama tiga hingga empat jam dia selalu meluangkan

waktunya berada di halaman muka.

Tanpa terasa setengah tahun sudah lewat.

Dua orang bocah itu betul-betul menikmati perawatan yang prima di dalam

gedung, sehingga bukan saja kondisi badannya jauh lebih sehat ketimbang bayi

kebanyakan, mereka pun jauh lebih lincah dan cekatan.

Biarpun Ong Bu-ciau dilahirkan sebulan setengah lebih lambat ketimbang

Ong Bu-jin, namun perawakan tubuhnya jauh lebih sehat dan lebih lincah

ketimbang encinya, melihat hal ini diam-diam dua belas tusuk konde merasa

kegirangan karena tak sia-sia pengorbanan mereka selama ini.

Malam itu rembulan tampak amat cerah menyinari angkasa, Ong Sam-kongcu

dengan mengenakan mantel kulitnya sedang berjalan di dalam kebun sambil menikmati

keindahan malam.

la memang patut merasa gembira. Istri tercinta, gundik tersayang, putra putri

yang sehat, semuanya membuat kehidupannya terasa lebih bahagia dan nikmat.

Tiba-tiba dari kejauhan sana, di atas jembatan kecil, ia mendengar ada suara

wanita sedang berbisik-bisik, dengan perasaan keheranan Ong Sam-kongcu

segera membatin: “Aneh! Sudah begini malam kenapa adik kelima dan adik

keenam masih berada di situ? Apa yang sedang mereka bicarakan?”

Terdorong rasa ingin tahu, diam-diam ia menyelinap di balik semak belukar

dan mencuri dengar isi pembicaraan mereka.

Terdengar Pek Lan-hoa sedang berkata dengan suara lirih: “Ngo-ci (enci

kelima), ternyata kau pun merasa kalau wajah Bu-jin sama sekali tak mirip

dengan kongcu kita? Padahal sudah lama aku menyimpan perasaan itu, hanya

tak berani kuutarakan.”

“Lak-moay (adik keenam), ada satu hal lagi apa kau perhatikan juga? Padahal

toaci berhubungan intim lebih duluan dengan kongcu, tapi anehnya kenapa

justru nona Go yang melahirkan oroknya lebih duluan?”

“Aaah, kenapa aku tidak perhatikan persoalan ini? Coba kuhitung …. ehmm!

Betul, paling tidak toaci satu bulan setengah lebih cepat ketimbang nona Go

pertama kali berhubungan intim dengan kongcu, tapi nona Go justru melahirkan

satu bulan setengah lebih awal ketimbang toaci, aneh, kenapa bisa selisih waktu

begitu jauh?”

“Yaa, betul! Bila dihitung secara keseluruhan, berarti paling tidak ada selisih

waktu dua setengah bulan!”

“Ngo-ci, apa mungkin ada udang di balik batu?”

“Huss, jangan sembarangan omong! Kongcu adalah orang yang mengawininya,

dia pasti jauh lebih tahu ketimbang kita, bila dia pun tidak bilang apa-apa,

berarti semuanya tak ada masalah, siapa tahu dia memang melahirkan

prematur?”

“Tidak mungkin! Ngo-ci, sewaktu nona Go melahirkan, kebetulan aku pun

hadir di situ, bila dilihat dari kulit wajah Bu-jin yang menghitam, jelas usia si

jabang bayi sudah lebih dari cukup!”

“Haah, sungguh?”

“Benar, ketika nenek masih hidup, beliau paling suka membantu orang

melahirkan, setiap kali selesai membantu kelahiran, beliau selalu menceritakan

pengalamannya dengan penuh kegembiraan, oleh sebab itu pengetahuanku

tentang hal tersebut sudah lebih dari cukup.”

“Lantas … jika … jika kongcu mengetahui rahasia ini, apa mungkin….”

“Ngo-ci, asal kita tidak menyinggung persoalan ini, aku percaya kongcu juga

tak bakalan tahu.”

“Aaai … padahal cinta kongcu terhadap nona Go amat mendalam, sungguh

tak disangka yang diperoleh justru akhir semacam ini.”

“Sudahlah, malam sudah semakin kelam, ayo kita balik ke kamar dan

beristirahat!”

Dalam pada itu Ong Sam-kongcu masih berjongkok di balik semak belukar

dengan perasaan tertegun.

Semua pembicaraan kedua orang nona itu terasa selalu mengiang di sisi

telinganya.

Mungkinkah semua yang dibicarakan itu benar?

Selama ini aku selalu mencintainya setulus hati, kenapa ia membalas

demikian terhadapku?

Tidak … tidak mungkin! Pasti tidak mungkin!

Tapi wajah Jin-ji yang berbeda serta saat kelahiran adik Ti yang lebih awal …

dua kejadian itu merupakan kenyataan dan sudah terpampang di hadapan

matanya, apakah aku harus menipu diri sendiri? Haruskah aku menghibur diri

sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya hanya rekayasa belaka?

Dengan penuh penderitaan dia bungkukkan badannya, ia sembunyikan raut

wajah sendiri di balik telapak tangan.

Angin malam berhembus amat kencang, hawa dingin yang merasuk dalam

tulang bagaikan pecut yang tiada hentinya melecuti perasaan hati Ong Samkongcu

yang lemah, dia merasa hatinya mulai berdarah, perasaannya tercabikcabik….

Akhirnya dengan perasaan lemas ia menjatuhkan diri berbaring di atas

permukaan tanah yang dingin.

0oo0

Keesokan harinya sekitar pukul lima pagi, ketika bawahan mulai

membersihkan halaman, tiba-tiba mereka menjumpai majikan muda mereka

tergeletak di tanah, disangkanya Ong Sam-kongcu teian dicelakai orang, suasana

pun jadi gempar.

Go Hoa-ti, Si Ciu-ing beserta sebelas tusuk konde tergopoh-gopoh berlari ke

tempat kejadian.

Sambil membopong tubuh Ong Sam-kongcu yang tidak sadarkan diri, Go Hoati

memanggil tiada hentinya: “Engkoh Huan, engkoh Huan …”

Apa lacur Ong Sam-kongcu merasa pukulan batin yang diterimanya teramat

berat, ditambah lagi sudah semalaman semaput di tengah hujan salju yang

teramat dingin, mana mungkin ia bisa mendengar panggilan gadis-gadisnya.

Baru saja Go Hoa-ti akan mengerahkan hawa murninya untuk menolong, tibatiba

terdengar Si ciu-ing berkata: “Nyonya, aku mengerti sedikit ilmu pertabiban,

bagaimana kalau kita antar dulu kongcu ke dalam kamarnya?”

Agak tertegun Go Hoa-ti setelah mendengar panggilan yang begitu sopan dari

Si Ciu-ing, selanya: “Enci Ing, kita sudah sekeluarga, kenapa kau masih panggil

aku nyonya?”

“Nyonya, lebih baik kita menolong kongcu lebih dahulu!” tukas Si Ciu-ing

sambil tertawa getir.

Habis berkata dia balik ke kamar sendiri mengambil kotak obat, kemudian

balik lagi ke kamar Ong Sam-kongcu.

Waktu itu Ong Sam-kongcu sudah dibaringkan di atas ranjang, sementara

kawanan gadis yang lain menanti dalam kamar dengan gelisah. Si Ciu-ing

dengan menggunakan jari tengah dan telunjuk menekan nadi di pergelangan

kanan Ong Sam-kongcu lalu sambil memejamkan mata memeriksanya dengan

seksama.

Tak selang berapa saat kemudian, ia baru membuka kembali matanya dan

berkata sambil menghembuskan napas lega- “Untung kongcu hanya sedikit

terserang hawa dingin, asal minum obat dan beristirahat sejenak, keadaan akan

membaik dengan sendirinya.”

Seraya berkata dia ambil sebuah botol porselen putih, menuang keluar dua

butir pil dan dijejalkan ke mulut Ong Sam-kongcu.

Setelah itu katanya lagi dengan suara lirih: “Nyonya, pergilah beristirahat,

serahkan ini kepada kami untuk berganti menjaganya!”

Go Hoa-ti berpikir sejenak, akhirnya dia mengangguk: “Baiklah, kalau begitu

merepotkan kalian semua!”

Selesai berkata, dia melirik Ong Sam-kongcu sekejap lalu pergi dari situ tanpa

bicara.

Memandang hingga bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan, Pek Lan-hoa

baru mendengus seraya mengomel: “Benar-benar tak tahu budi, bagaimanapun,

tinggallah sedikit lebih lama sebelum pergi, percuma kongcu begitu menyayangi

dirinya!”

“Lak-moay!” buru-buru Si Ciu-ing menyela: “hujin tak mengerti ilmu

pengobatan, lagi pula mesti merawat Jin-ji, tentu saja kurang leluasa baginya

untuk merawat kongcu, toh kita banyak orang, biar kita saja yang bergilir

menjaga!”

“Hmm! Kongcu sudah minum obat, asal keluar keringat, dia pasti akan

mendusin, biarpun tak mengerti ilmu silat, rasanya tak sulit untuk merawatnya.

Sementara si budak Jin kan dirawat bibi Ong, kapan sih dia pernah ikut

campur? Hmm! Aku rasa dia memang tak berminat ke situ, toaci, kau ….”

Hi Ku-lan (enci nomor lima) tahu Pek Lan-hoa akan menyinggung lagi urusan

semalam, cepat-cepat dia memotong: “Lak-moay, kau tak boleh mengkritik hujin

di belakangnya”

Pek Lan-hoa segera mengerti, ia membungkam dan menundukkan kepalanya.

Si Ciu-ing kuatir dua orang itu salah tingkah, buru-buru dia bertanya: ”Adik

sekalian, dengan ilmu silat serta kebiasaan hidup kongcu, kenapa dia bisa

mendadak jatuh pingsan di halaman luar?”

Hi Kui-lan dan Pek Lan-hoa mengerti pasti secara tak sengaja kongcu telah

mendengar pembicaraan mereka berdua semalam hingga jatuh pingsan karena

tak kuat menahan pukulan batin, walau begitu, mana berani mereka berdua

mengakuinya secara terus terang?

Melihat para gadis tak ada yang menjawab, kembali Si Ciu-ing melanjutkan:

“Aku masih ingat sewaktu kemarin sore bermain dengan Cau-ji, dia nampak

sangat gembira, tapi barusan, aku merasa denyut nadinya sangat cepat dan

memburu, seakan-akan ada sebuah masalah besar yang mengganjal perasaan

hatinya.”

Pek Lan-hoa memandang Ngo-cinya sekejap, lalu katanya: “Toaci, mungkin

belakangan kongcu menjumpai kejadian yang tidak menyenangkan, tapi dia

enggan memberitahu kepada kita?”

“Aku rasa … tidak mungkin, malah berapa hari berselang kongcu sempat

punya usul akan menyelenggarakan upacara perkawinan resmi denganku, tapi

kutolak tawaran itu.”

“Aaai … kongcu memang pemuda romantis yang banyak main cinta,” keluh

Pek Lan-hoa sambil menghela napas, “aku takut setelah dewasa nanti Cau-ji

meniru perangainya itu …. Oyaa, toaci, kau pandai ilmu pengobatan, boleh aku

bertanya tentang satu hal?”

“Katakan saja!”

“Orang bilang antara ayah dan anak pasti mempunyai hubungan darah yang

amat dalam, seandainya kita ambil berapa tetes darah Cau-ji dan darah kongcu

lalu dicampurkan, mungkin tidak kedua darah itu akan menyatu jadi satu?”

Hi Kui-lan tahu adik keenamnya ingin membuktikan lebih jauh apakah Jin-ji

si bocah perempuan itu anak kandung kongcu mereka atau bukan, tapi kuatir

cicinya menaruh curiga, buru-buru selanya sambil tertawa: “Lak-moay, kau

pingin lihat apakah di kemudian hari anak Cau adalah seorang lelaki yang suka

main perempuan atau bukan?”

“Betul!”

“Sejak dulu, pemeriksaan cairan darah hanya bisa dipakai untuk

membuktikan apakah seseorang punya hubungan darah atau tidak, mana

mungkin bisa membuktikan tabiat seseorang?” kata Si Ciu-ing sambil tertawa,

“sebab baik buruknya watak seseorang sangat dipengaruhi faktor lingkungan

serta pergaulan.”

“Cici, bagaimana caranya untuk membuktikan pertalian darah seseorang?”

desak Hi Kui-lan dengan rasa ingin tahu.

“Sederhana sekali, kita ambil darah dari dua orang dan dimasukkan ke dalam

cawan porselen, kemudian dikocok sebentar, bila darah itu segera berbaur dan

lagi memancarkan warna yang sama, berarti kedua orang itu mempunyai tali

hubungan yang sangat dekat.”

“Ooh, rupanya begitu, adik keenam, lebih baik kau bersabarlah menunggu

enam-tujuh belas tahun lagi, saat itu kita baru bisa membuktikan anak Cau

seorang hidung belang atau bukan.”

Han Gi-ang, si adik nomor buntut yang selama ini hanya membungkam, tibatiba

ikut bicara sambil tertawa: “Cici kelima, cici keenam, kalian tak usah

menunggu kelewat lama, secara diam-diam aku telah meramalkan nasib anak

Cau!”

“Aaah betul,” seru Pek Lan-hoa tertawa, “aku sampai kelupaan kalau adik kita

dijuluki orang “Poan-sian” setengah dewa, adik Ang, cepat ceritakan!”

Han Gi-ang tertawa.

“Cici semua, sebelum bicara, siaumoay ingin menyatakan satu hal lebih dulu,

apa yang kuucapkan hari ini hanya menjadi behan pertimbangan saja.”

“Sudahlah adik, jangan hilangkan selera orang, cepat cerita,” tukas Pek Lanhoa.

Setelah tarik napas panjang, dengan wajah serius Han Gi-ang berkata: “Berkat

perlindungan dan karma baik nenek moyangnya, di kemudian hari bukan saja

anak Cau akan termashur, dalam hal percintaan pun akan jauh lebih bahagia

ketimbang kongcu, tetapi dia mesti pergi jauh meninggalkan desa kelahiran bila

ingin meraih sukses besar.”

Terkejut bercampur girang menyelimuti perasaan bi Ciu-ing, tapi dia pun

merasa berat hati bila harus berpisah dengan putra kesayangannya.

Bab II. 10 tahun mengembara, mencari jejak kekasih hati.

Pek Lan-hoa termenung sambil berpikir sejenak, kemudian kembali tanyanya:

“Adik, menurut penglihatanmu, bagaimana penghidupan rumah tangga kongcu

kita di kemudian hari?”

Han Gi-ang melirik Ong Sam-kongcu sekejap, kemudian katanya sambil geleng

kepala: “Maaf Lak-ci, rahasia langit tak boleh bocor, maaf bila siaumoay tak

berani buka rahasia ini!”

“Hai, kita adalah sama-sama saudara, kenapa sih kau mesti sok rahasia

begitu?”

“Kalau begitu biar kubuka sedikit rahasia ini, sebelum akhir tahun, bintang

Ang-loan (bintang kegembira-an)-mu kelihatan bersinar, jangan lupa suguh

beberapa cawan arak kegiranganmu untuk siaumoay! Hahaha

Akhir tahun ini? Ooh, bukankah tinggal dua bulan lagi?

Tapi… apa mungkin?

Dengan hati berdebar Pek Lan-hoa segera berseru: <Adik buncit, kau jangan

coba makan tahu cici, kini cici sudah jadi milik kongcu sementara kongcu ….”

“Maksudku Lak-ci akan menikah dengan kongcu!” tukas Han gi-ang sambil

tertawa.

“Kau ….” Pek Lan-hoa jengah bercampur girang, tak tahan ia menundukkan

kepalanya

“Lak-moay!” Si Ciu-ing ikut bicara, “ramalan adik buncit kita ini selalu tepat,

dulu dia pernah memberitahu kepadaku bakal jadi seorang ibu, waktu itu aku

pun sama sekali tak percaya.”

“Toaci, kau jangan bayangkan aku kelewat sakti, hanya kebetulan ramalanku

cocok,” kata Han Gi-ang merendah.

Mendadak terdengar Ong Bu-ciau menjerit keras, bagai menerima “tanda

bahaya” serentak kawanan perempuan itu berebut lari menuju ke asal suara itu.

Sepeninggal kawanan perempuan itu, terlihat Ong Sam-kongcu pelan-pelan

membuka matanya, dua titik air mata tak terasa meleleh membasahi ujung

matanya, membasahi bantal dan seprei.

Ya, siapa percaya Ong Sam-kongcu yang selalu diliputi gelak tertawa, kini

justru melelehkan air mata?

Ketika pil pemberian Si Ciu-ing tertelan ke dalam perutnya tadi, dengan hawa

murninya yang sempurna tidak selang berapa saat kemudian ia sudah sadar

dari pingsannya.

Kebetulan waktu itu ia mendengar Si Ciu-ing sedang berbicara dengan Pek

Lan-hoa masalah dirinya dengan Go Hoa-ti, maka dia pun pura-pura pingsan

untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Kini, setelah para gadis berlalu, dia mulai tak kuasa menahan rasa sedihnya

hingga air mata pun jatuh bercucuran.

Pelan-pelan ia duduk bersila di pembaringan, sepintas orang mengira dia

sedang bersemedi mengatur napas, padahal pikiran dan perasaannya sedang

gejolak keras, sampai lama sekali perasaan itu belum juga mau tenang.

Dalam pada itu dua belas tusuk konde emas pun tidak mengurusi Ong Samkongcu,

karena sewaktu mereka balik ke situ dilihatnya pemuda itu sedang

mengatur pernapasan.

0oo0

Tengah hari, setelah sadar dari semedinya, Ong Sam-kongcu memerintah bibi

Ong dan Si ciu-ing untuk membawa kedua orang bayinya yang masih tertidur

pulas masuk ke dalam kamarnya, lalu ditatapnya kedua orang bocah itu

bergantian.

Sesaat kemudian terdengar ia berkata dengan suara dalam: “Sungguh

menyenangkan! Adik Ing, bibi Ong, biarkan mereka berada di sini sejenak lagi!”

Si Ciu-ing berdua mengangguk sambil tersenyum dan segera mengundurkan

diri.

Mengawasi dua orang bayi di hadapannya, Ong Sam-kongcu merasa semakin

dipandang semakin merasa ada yang tak beres, ia merasa walaupun kedua

orang bocah itu sama bagusnya namun bentuk wajah mereka justru memiliki

ciri yang sama sekali berbeda.

Ketika ia perhatikan Ong Bu-ciau, makin dipandang ia merasa semakin wajah

bocah itu semakin mirip dirinya.

Sebaliknya ketika perhatikan Cng Bu-jin, makin dipandang ia merasa semakin

ada yang tak beres.

Akhirnya dia siapkan tiga cawan kecil di atas meja, mula-mula dia robek

sendiri jari tengah tangan kirinya dan meneteskan darah itu ke dalam cawan.

Kemudian ia robek kaki kiri kedua orang bocah itu dan masing-masing

diambilnya beberapa tetes darah.

Dengan perasaan tegang ia mulai campurkan darah dari kedua orang bocah

itu masing-masing dengan darah sendiri yang telah dipersiapkan.

Apa yang kemudian terlihat membuat badannya gemetar keras.

Tetesan daran yang berasal dari Ong Bu-ciau bukan saja segera menyatu

dengan darahnya, bahkan warna pun persis sama.

Sebaliknya darah dari Ong Bu-jin kelihatan agak mengambang di atas

permukaan, bahkan warna darahnya nampak jauh lebih tua dan gelap.

Jika Ong Sam-kongcu tidak periksa dengan seksama, sulit rasanya untuk

menemukan perbedaan itu, dia tak puas dengan hasil tes pertama, dirobeknya

lagi kaki kanan Ong Bu-jin dan sekali lagi melakukan percobaan kedua.

Tapi hasil yang muncul kemudian membuat pemuda tersebut mendengus

tertahan, dengan tubuh lemas dan bertenaga ia jatuhkan diri terduduk di sisi

pembaringan.

Tampaknya Ong Bu-jin yang sedang tertidur nyenyak seperti tahu kalau

rahasia asal-usulnya telah terbongkar, tiba-tiba saja ia terbangun dan menangis

keras.

Tangisan itu menyebabkan Ong Bu-ciau ikut terbangun dan menangis juga

dengan kerasnya.

Tergopoh-gopoh Ong Sam-kongcu menyambar cawan berisi darah dan masuk

ke kamar mandi.

Ketika ia balik kembali ke depan pembaringan, tampak Pek Lan-hoa dan Si

Ciu-ing masing-masing telah membopong seorang bayi dan menenangkan

mereka.

“Hantar mereka balik ke kamarnya!” perintah Ong Sam-kongcu kemudian

dengan suara berat.

Semenjak hari itu Ong Sam-kongcu menolak untuk keluar dari kamar

tidurnya, sepanjang hari dia menyibukkan diri membaca, melukis atau membuat

pantun.

Pek Lan-hoa adalah gadis yang teliti, ketika membawa balik Ong Bu-ciau ke

kamarnya hari itu, ia segera menemukan adanya bekas sayatan kecil di kaki

kanan bocah itu, ia segera mengerti apa yang telah terjadi.

Rahasia tersebut tidak diberitahukan kepada siapa pun. tapi tiap pagi secara

rutin dia selalu membopong Ong Bu-ciau ke dalam kamar Ong Sam-kongcu dan

menjenguknya sebentar.

Anehnya, tiap kali bocah itu diajak masuk ke dalam kamar Ong Sam-kongcu,

dia selalu menjejakkan kakinya dengan aktif, seakan sangat senang berada di

situ, biar popoknya basah oleh air kencing atau perutnya lapar, bocah itu tak

pernah rewel.

Berapa hari permulaan, Ong Sam-kongcu belum bisa menguasai gejolak

perasaan hatinya, dia hanya membaca terus atau kadang kala melukis.

Satu minggu kemudian, dia hanya membaca setengah jam, sisa waktunya

digunakan untuk bermain dengan Cau-ji.

Lewat seminggu kemudian ia sudah curahkan segenap perhatiannya untuk

bermain dengan putranya.

Tanpa terasa satu bulan kembali sudah lewat.

Selama ini Go Hoa-ti dan Ong Bu-jin tak pernah meninggalkan pesanggrahan

Ti-wan, sementara sebelas tusuk konde memang berniat menjodohkan Pek Lanhoa

dengan majikannya, maka hanya dia seorang yang diberi tugas untuk

menemani Cau-ji menjumpai bapaknya.

Malam itu udara amat dingin, angin bercampur bunga salju berhembus

kencang di luar, suasana pesanggrahan Hay-thian-it-si amat hening, semua

penghuninya telah terlelap tidur, hanya kamar Ong Sam-kongcu yang nampak

masih memancarkan sinar lentera.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar pintu kamar terdengar suara gemerisik

yang mencurigakan, Ong Sam-kongcu yang masih membaca buku segera

merasakan itu, hardiknya: “Siapa di situ? Pintu tidak terkunci!”

Daun pintu dibuka orang, Go Hoa-ti muncul di hadapannya.

Agaknya Ong Sam-kongcu tahu siapa yang telah muncul, tanpa

mendongakkan kepalanya ia berkata: “Silahkan duduki”

Diam-diam Go Hoa-ti menggigit bibir, setelah duduk di depan meja baca,

ujarnya dengan lembut: “Engkoh Huan, rupanya kau tahu kalau aku bakal

datang kemari?”

“Betul!” sahut Ong Sam-kongcu sambil menutup bukunya dan memandang

perempuan itu sekejap, “selama ini aku memang selalu menunggumu.”

“Jadi kau sudah tahu semuanya?”

“Tidak, aku hanya tahu sebagian, siapa bapak Jin-ji yang sebenarnya?”

Go Hoa-ti gemetar keras, setelah ragu sesaat, sahutnya lirih: “Bwe Si-jin!”

Berkilat sepasang mata Ong Sam-kongcu.

“Oooh, rupanya dia! Hai … kenapa dia tinggalkan kalian ibu dan anak hingga

telantar di luaran?”

“Dia tak tahu kalau aku sudah hamil!” kata Go Hoa-ti agak tersipu.

“Hmm, kalau begitu biar kuutus orang untuk mencarinya!”

“Jangan, biar aku sendiri yang pergi mencarinya!”

“Bagaimana dengan Jin-ji?” tanya Ong Sam-kongcu setelah termenung berapa

saat.

“Kau bersedia mewakili aku untuk merawatnya?” tanya Go Hoa-ti lirih.

“Baik! Sebelum dia kembali ke marganya, ia masih tetap menjadi putri sulung

keluarga Ong….”

“Engkoh Huan, kau sungguh baik dan berjiwa besar, aku… aku merasa

bersalah kepadamu!”

“Hai, jodoh, semuanya adalah jodoh, aku tak bisa salahkan siapa pun, aku

hanya berharap kau bisa temukan saudara Bwe secepatnya hingga keluarga

kalian bisa bersatu kembali, pintu gerbang Hay-thian-it-si selalu terbuka untuk

keluarga kalian!”

Go Hoa-ti merasa sangat terharu, dengan air mata bercucuran katanya:

“Engkoh Huan, aku berjanji bila dititiskan kembali besok, aku bersedia menjadi

budakmu untuk membalas semua budi kebaikan ini.”

Ong Sam-kongcu menggenggam tangannya erat-erat, sambil berusaha

menahan rasa sakit di hatinya, ia bertanya dengan suara tenang: “Adik Ti, kau

rencana akan berangkat kapan?”

“Besok pagi.”

”Baiklah, sampai waktunya aku akan menghantarmu, sekarang pergilah

beristirahat.”

“Terima kasih kakak Huan!” dengan suara parau dan air mata bercucuran Go

Hoa-ti berlalu dari situ.

Tinggal Ong Sam-kongcu duduk termangu seorang diri, sampai lama

kemudian ia baru bergumam: “Bwe Si-jin … tak aneh jika dia namakan anaknya

Bu-jin!”

0oo0

Keesokan harinya, ketika dua belas tusuk konde sedang bersantap, Ong Samkongcu

setelah menghantar kepergian Go Hoa-ti, muncul di ruang makan, begitu

masuk dia segera menegur sambil tertawa: “Ada bagian untukku?”

“Ada, ada! Silahkan duduk kongcu!” serentak para gadis berseru sambil

bangkit berdiri.

Setelah duduk Ong Sam-kongcu baru bertanya: “Mana anak Cau?”

“Sehabis mandi dan minum susu, dia tertidur lagi,” sahut Si Ciu-ing cepat.

“Hahaha … dasar bocah cilik, bisanya makan dan tidur melulu, kalian yang

dibikin kerepotan ….”

“Tidak berani,” sahut para gadis serentak.

Sambil tertawa Pek Lan-hoa berkata pula: “Anak Cau memang

menggemaskan, apalagi sepasang matanya yang bulat dan bening, persis seperti

sepasang Mata kongcu.”

Ong Sam-kongcu tertawa tergelak saking gembiranya.

Sambil bersantap mereka pun berbincang-bincang, masalahnya hanya seputar

kelincahan anak Cau.

Tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berkata dengan wajah serius: “Adik

semuanya, ada satu urusan ingin kurundingkan dengan kalian semua.”

Perasaan tegang mulai mencekam para gadis, sambil berusaha menenangkan

diri kata Si Ciu-ing: “Kongcu, katakan saja.”

Setelah memandang sekejap para gadis, ujar Ong Sam-kongcu dengan wajah

bersungguh-sungguh: “Adik semuanya, lewat dua, tiga bulan lagi anak Cau akan

genap berusia satu tahun, aku harus mengangkatnya secara resmi menjadi

putra mahkota kerajaan keluarga Ong.”

“Oleh sebab itu pada tanggal lima belas bulan ini aku ingin menyelenggarakan

satu pesta perkawinan, tentu saja pengantin lelakinya adalah aku, sedang

pengantin wanitanya adalah adik sekalian yang hadir di sini, apakah adik-adik

bersedia mengabulkan permintaanku ini?”

Pengorbanan memang selalu akan membuahkan hasil, setelah ditunggutunggu

sekian lama, apa yang diharapkan akhirnya terwujud juga.

Dengan air mata berlinang karena kegirangan, serentak kedua belas tusuk

konde itu manggut-manggut.

Ong Sam-kongcu kegirangan setengah mati.

Urusannya dengan Go Hoa-ti sudah ada penyelesaian yang pasti, mau tak

mau dia pun mesti padamkan perasaan cinta bertepuk tangan sebelah ini, dia

berjanji sejak hari itu semua perasaan cintanya hanya akan tercurahkan kepada

anak Cau serta dua belas tusuk konde emas.

Seminggu kemudian para ciangbunjin dari sembilan partai besar serta para

jago dari golongan putih yang menerima surat undangan berbondong-bondong

datang memberi selamat, suasana di gedung Hay-thian-it-si pun jadi amat ramai

dan meriah.

Surat undangan disebar oleh para piausu aari perusahaan ekspedisi Tiangshia

piaukiok yang tersohor, tak heran kalau dalam satu hari saja semua

undangan telah tersebar.

Nenek moyang Ong Sam-kongcu, Kim-sin-ci adalah ketua dari kawanan jago

persilatan, tempo hari di bawah pimpinan beliau lah perkumpulan Jit-sin-kau

yang menghebohkan daratan Tionggoan berhasil ditumpas, karena jasanya,

beliau diangkat menjadi Bu-lim bengcu.

Ong Sam-kongcu sendiri, sejak terjun ke dalam dunia persilatan sudah

bertindak adil dan setia kawan, dia selalu menjunjung tinggi kebenaran, biar

romantis tapi tidak bejat moralnya, tak heran kalau semua orang menaruh

kesan batin terhadapnya.

Apalagi sejak kedua orang tuanya mengikuti kakek dan neneknya, Ong Kimsin,

naik ke gunung Kun-lun untuk hidup mengasingkan diri, para rekan dunia

persilatan yang merasa amat berhutang budi, semakin menaruh perasaan

hormat terhadap Ong Sam-kongcu.

Kini, setelah mendapat surat undangan perkawinan yang dikirim Ong Samkongcu,

tak heran kalau para jago segera melakukan perjalanan untuk datang

mengucapkan selamat

Begitulah setelah upacara perkawinan dilangsungkan dan para tamu

menikmati hidangan yang disajikan, lambat laun suasana di Hay-thian-it-si

menjadi tenang kembali.

Ketika semua tamu sudah berpamitan, senja itu Ong Sam-kongcu bersama

kedua belas orang istrinya duduk bersama di ruang tengah sambil bersantai.

Sambil mengangkat cawannya kata Ong Sam-kongcu: “Istriku sekalian, berapa

hari belakangan kalian pasti sudah amat lelah, biarlah kugunakan secawan arak

ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada kalian semua.”

Habis berkata, dia teguk habis isi cawannya. Selesai para gadis meneguk juga

isi cawan masing-masing, kata Si Ciu-ing: “Engkoh Huan, tak disangka ada

begitu banyak jago kenamaan yang bersedia datang untuk mengucapkan

selamat, kami semua ikut merasa berbangga hati

“Betul!” Ong Sam-kongcu membenarkan, “yang lebih tak disangka adalah

kehadiran para cianbunjin dari sembilan partai besar, menurut apa yang

kuketahui, dari dulu hingga sekarang,.baru kali ini mereka hadir secara

bersamaan.”

“Engkoh Huan, berarti kami ikut berbangga karena nama besarmu,” ujar Pek

Lan-hoa sambil tertawa.

“Hahaha … adik Hoa, kita sekarang adalah sekeluarga, rasanya kau tak usah

sungkan-sungkan lagi.”

“Baik!”

Makan bersama kali ini dilalui penuh keriangan dan suasana gembira, boleh

dibilang jauh lebih meriah ketimbang waktu “pernikahan” tempo hari.

Selesai bersantap, tiba-tiba Si Ciu-ing berkata sambil tertawa: “Engkoh Huan,

atas usul berapa orang saudara, kini aku sudah siapkan dua belas gulungan

kertas undian, harap kau mengambil sebuah, karena nama yang tercantum

dalam undian itulah yang akan menemani kongcu malam ini!”

Sembari berkata dia ambil keluar dua belas buah gulungan kertas kecil dan

diletakkan di atas telapak tangannya.

“Lebih baik urut usia saja, adik Ing, seharusnya kau yang menemani aku

malam ini,” ucap Ong Sam-kongcu sambil tertawa.

“Tidak boleh,” dengan wajah merah jengah Si Ciu-ing menggeleng, “lebih adil

kalau memakai undian!”

Sementara itu kesebelas orang nona lainnya hanya berdiri sambil tersenyum,

tampaknya masing-masing sudah punya keyakinan akan sesuatu.

Melihat itu Ong Sam-kongcu segera mengerti apa yang terjadi, ia segera

mengambil sebuah undian dan sahutnya sambil tertawa: “Baiklah, aku

menurut!”

Walau kertas undian sudah diambil, tapi dia sengaja tidak membukanya

secara langsung.

“Engkoh Huan, cepat dibuka!” seru Si Ciu-ing cepat.

“Tak perlu terburu napsu, siapa pun yang terpilih toh dia tak bisa

menghindar, sisanya yang sebelas gulungan undian itu biar aku saja yang

simpan, bisa digunakan lagi lain kali.”

Habis berkata dia ambil semua undian dan dimasukkan ke dalam saku.

“Engkoh Huan, sekarang kau boleh membuka kertas undian itu bukan?” pinta

Si Ciu-ing sambil tertawa.

Ong Sam-kongcu tertawa tergelak. “Adik Ing, buka saja sendiri!” katanya.

Begitu undian dibuka. Si Ciu-ing segera berseru tertahan, dia tak mampu

berkata-kata lagi.

Biarpun tahu apa yang terjadi, Ong Sam-kongcu berlagak pilon, sengaja

tanyanya: “Adik Ing, nama siapa yang muncul?”

“Engkoh Huan, namaku! Tapi … boleh tidak kalau diganti orang lain?”

“Tidak bisa, tidak bisa,” seru Ong Sam-kongcu berlagak serius, “masa undian

juga dianggap permainan? Bukan begitu adik-adik sekalian?”

“Setuju!” seru kesebelas nona serentak.

“Hahaha … mari kita keringkan cawan ini, kemudian masing-masina kembali

ke kamar.” kata Ong Sam-kongcu kemudian sambil tertawa tergelak.

Maka kedua orang itupun digiring menuju ke kamar pengantin.

Berdiri di dalam kamar pengantin sambil mengawasi sepasang lilin merah

yang berukirkan naga dan burung hong, Si Ciu-ing merasa jantungnya berdebar

keras.

Setelah mengunci pintu kamar, Ong Sam-kongcu pun berkata: “Adik Ing, aku

rasa kau paling pantas jadi pemimpin kawanan burung hong, karena

kepemimpinanmu bisa diterima semua pihak…”

Sambil berkata dia mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.

Kenangan manis pun berlangsung kembali, bunyi gemericit disertai dengus

napas memburu mulai meng-hiasai seluruh ruangan.

Semenjak kehadiran Go Hoa-ti di pesanggrahan Hay-thian-it-si, mereka

berdua belum pernah berkumpul, apalagi melakukan hubungan intim, tak heran

kalau hubungan kelamin yang berlangsung saat ini berjalan lebih panas, lebih

menggila dan menghebohkan ….

Goyangan pinggul Si Ciu-ing yang menggeliat kian kemari mengimbangi

genjotan “benda” Ong Sam-kongcu yang naik turun bagai orang sedang “push

up”, ibarat geliat seekor ular berbisa.

Ong Sam-kongcu benar-benar terjerumus dalam rangsangan napsu yang

membara, dia gunakan seluruh kepandaian “ranjang’nya yang paling hebat

untuk mengimbangi goyangan perempuan itu.

Dengusan napas, rintihan yang membetot sukma bergema silih berganti….

“Aaah … ahh … koko … aaah … lebih cepat… masukkan lebih dalam … aaah

… koko… aku tak tahan”

“Adik Ing … aduh … kau hebat sekali… goyangan-mu membuat aku… aku

bagai dalam surga ….”

Akhirnya Si Ciu-ing mendengar keluhan “engkoh Huan”nya disertai hembusan

napas panjang, mereka berdua pun tak lagi menggerakkan tubuhnya, meski

tergeletak lemas namun tubuh bugil mereka berdua yang putih bagai salju

masih saling mendekap dan menempel dengan eratnya.

“Engkoh Huan, kau… kau memang hebat!”

“Adik Ing, goyangan pinggulmu nyaris membetot sukmaku!”

Selang berapa saat kemudian, mereka berdua baru bangun dengan arasarasan

dan membersihkan badan.

Ketika mereka berdua sudah balik kembali di balik selimut, Si Ciu-ing baru

berkata sambil tertawa: “Engkoh Huan, mulai besok kau mesti lebih banyak

makanan bergizi, karena sudah berapa tahun mereka menunggumu, kau mesti

tunjukkan keperkasaanmu di hadapan mereka!”

“Adik Ing!” bisik Ong Sam-kongcu setelah mengecup bibirnya: “menurut

pendapatmu, besok siapa yang mesti menemani aku tidur?”

“Tentu saja adik kedua, kan menurut urutan!”

“Aku setuju, tapi kalau mereka usul untuk mengambil undian lagi lantas

bagaimana?”

“Kalau begitu … biar kupilih dulu kertas undian yang mencantumkan nama

adik kedua, asal ada kode rahasianya dan kau mengambil yang berkode,

bukankah … hahaha

Dalam hati kecilnya, Ong Sam-kongcu tertawa geli, tapi di luar ia menyatakan

persetujuannya: “Baiklah, kalau begitu kita tentukan demikian!”

Melihat pemuda itu sudah setuju maka Si Ciu-ing pun bangkit berdiri dan

mengambil keluar kesebelas kertas undian lainnya dari dalam saku baju Ong

Sam-kongcu.

Tapi begitu dia buka kertas undian itu, kontan teriaknya keras keras: “Waaah.

Ini mah kehangatan!”

Melihat dugaan sendiri tak keliru, Ong Sam-kongcu ikut tertawa terbahakbahak.

“Engkoh Huan, ternyata kau ….”

“Tidak … tidak … ooh hujin, jangan salahkan aku, ketika kau mengambil

undian tadi dan melihat mimik muka mereka bersebelas, aku sudah tahu,

mereka pasti sedang mengerjai kamu!”

“Aku tahu, pasti adik Lan-hoa yang punya usul, besok aku mesti bikin

perhitungan dengannya.”

“Sudahlah, mereka toh berniat baik kepadamu ….”

“Tidak, Engkoh Huan, kau mesti balaskan dendam…”

“Baik, baik, sekarang juga aku akan membuat perhitungan,” sembari berkata

dia merangkak bangun.

“Besok saja engkoh Huan, mari kita tidur dulu!” Si Ciu-ing segera memeluknya

sambil memberi ciuman mesra ke atas bibirnya.

0oo0

Waktu berlalu sangat cepat, tanpa terasa sepuluh tahun sudah lewat.

Pesanggrahan Hay-thian-it-si yang biasanya hening dan tenang, kini sudah

berubah jadi ramai sekali.

Hari peh-cun telah tiba, bau harum bakcang terendus sampai dimana-mana.

Tengah hari itu, suasana di tepi kolam Ti-sim amat ramai dengan gelak

tertawa, percikan air menyebar ke empat penjuru.

Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas duduk mengeliling kolam

sambil menyaksikan dua puluh lima orang bocah sedang bermain perangperangan

di dalam kolam, melihat wajah riang bocah-bocah itu, mereka semua

merasa ikut gembira.

Berkat jerih payah Ong Sam-kongcu selama sepuluh tahun terakhir yang

sangat rajin “mencangkul sawah” dan “menebar benih”, belum genap dua tahun

pernikahan dengan sebelas orang tusuk konde emas, mereka telah melahirkan

sebelas orang bocah untuknya.

Yang menjadi juara pertama adalah Si Ciu-ing, setahun setelah

perkawinannya dia telah melahirkan seorang bocah yang gemuk, hingga

pesanggrahan Hay-thian-it-si secara tiba-tiba mendapat tambahan tiga belas

orang bocah lelaki dan dua belas orang bocah perempuan (termasuk Ong Bu-jin).

Kaum pria dikomandani oleh Ong Bu-ciau.

Sementara kelompok wanita dipimpin oleh Ong Bu-jin.

Jangan dilihat kedua orang itu baru berusia sebelas tahunan, bukan saja

wajah mereka tampan dan cantik, mereka pun sangat pandai memimpin saudara

saudaranya hingga orang tua tak perlu kuatir.

Sejak masih sangat kecil, kawanan bocah itu sudah dilatih dasar ilmu silat,

pihak lelaki dilatih secara, langsung oleh Ong Sam-kongcu, sementara kelompok

wanita dididik oleh kaum ibu, tak heran kalau gerak-gerik mereka amat lincah

dan cekatan.

Apalagi Ong Bu-ciau, bukan saja dia berbakat alam, kecerdasannya

mengungguli saudaranya yang lain, tak aneh jika dia berhasil menguasai tiga

belas macam ilmu kungfu, meski belum mencapai tingkat kesempurnaan,

namun kehebatannya sungguh mengejutkan hati.

Tak heran jika dia menjadi putra mahkota yang paling disegani saudara

lainnya.

Ilmu silat yang dilatih Ong Bu-jin berasal dari didikan dua belas tusuk konde

emas.

Setelah mengikuti Ong Sam-kongcu selama banyak tahun, pikiran serta cara

berpandangan dua belas tusuk konde sama sekali telah berubah, sikap mereka

terhadap Ong Bu-jin pun tidak pilih kasih riennan tekun mereka mendidiknya

secara benar.

Bakat yang dimiliki Ong Bu-jin termasuk sangat bagus, sejak berlatih ilmu

silat, bukan saja dia berhasil mempelajari dua belas macam ilmu silat dari dua

belas tusuk konde emas, dia pun secara khusus mempelajari ilmu meramal

nasib dari Han Gi-ang.

Sayangnya, kepergian Go Hoa-ti sejak sepuluh tahun berselang dan hingga

kini bukan saja tak pernah kembali, bahkan kabar berita pun sama sekali tak

ada, hal ini membuat watak Ong Bu-jin jauh lebih matang dibandingkan

usianya, dia nampak lebih pendiam dan sering murung.

Sejak tahu urusan, entah sudah berapa kali dia menanyakan masalah

tersebut kepada dua belas tusuk konde emas, tapi jawaban yang diperoleh selalu

sama.

“Sejak melahirkan dia, Go Hoa-ti yang terluka parah berangkat ke wilayah

Kanglam untuk mengobati penyakitnya.”

Biarpun dua belas tusuk konde emas memandang bocah itu seperti putri

sendiri, sementara Ong Sam-kongcu juga amat menyayanginya, namun Ong Bujin

tetap merasa ada ganjalan dalam hatinya.

Mengikuti bertambah dewasanya dia, rasa rindunya dengan ibu kandungnya

justru bertambah kuat.

Tentu saja perasaan itu tak pernah diungkap di hadapan orang banyak,

karena dia tak tega ayah dan bibinya jadi sedih karena menguatirkan dirinya.

Di tengah pertempuran air yang berlangsung antara kelompok laki dan

kelompok wanita, tiba-tiba dari luar pintu gerbang Hay-thian-it-si muncul

seseorang berbaju ungu, dia tak lain adalah Go Hoa-ti yang sudah lenyap

sepuluh tahun berselang.

Ong tua, congkoan pesanggrahan sangat kegirangan, baru saja dia akan

berteriak memanggil, perempuan itu segera memberi tanda agar dia tidak

berisik.

“Ong tua!” sapanya lembut, “kondisi badanmu kelihatan sangat prima!”

“Semua berkat doa restu nyonya sahut kakek Ong sambil tertawa, “nyonya,

selama banyak tahun kau pergi kemana saja? Semua orang rindu kepadamu:”

Go Hoa-ti tahu Ong Sam-kongcu tak pernah mengungkapkan kejadian

sesungguhnya kepada bawahan, maka katanya pelan: “Aah benar, aku pulang

dusun sekalian mengatur rumah lamaku di kota Kim-leng.”

“Ooh, rupanya begitu, nyonya, kongcu dan semua nyonya serta siauya serta

siocia sedang berada di kolam Ti-sim, silahkan anda langsung menyusul ke

sana.”

“Terima kasih Ong tua”

Go Hoa-ti tak ingin mengejutkan banyak orang maka dia langsung menuju ke

kolam Ti-sim.

Dari kejauhan dia sudah mendengar teriakan ramai dari sekawanan bocah,

tanpa terasa jantungnya berdebar keras.

Diam-diam dia melompat naik ke atas pohon siong lebih kurang lima kaki dari

kolam, dari situ dia mengamati sekeliling kolam dengan seksama.

Tentu saja sorot matanya yang pertama adalah menemukan sosok Bu-jin

pujaan hatinya.

Tak selang berapa saat ia telah menemukan putrinya yang sedang memimpin

pasukan wanita, tak kuasa lagi butiran air mata jatuh bercucuran membasahi

pipinya.

“Terima kasih engkoh Huan, ternyata kau merawat Jin-ji seperti merawat putri

kandung sendiri.”

Semakin dipandang, hatinya semakin sedih, air mata pun bercucuran

semakin deras.

Dia tidak menyangka ilmu silat yang dimiliki Jin-ji begitu sempurna, bahkan

kalau ditinjau dari keanekaragaman aliran silat yang dikuasai, jelas semua

kemampuan itu hasil didikan dari dua belas orang tusuk konde emas.

Ketika sinar matanya berhenti di wajah Cau-ji, hatinya kontan bergetar,

pujinya: “Ganteng amat bocah ini, dia tentu anak Cau!”

Tubuh yang kekar dengan wajah yang bersih, hidung yang mancung, apalagi

sepasang matanya yang bulat dan hitam, tampak sinar wibawa memancar keluar

dari balik matanya yang jernih.

Seandainya Ong Sam-kongcu memiliki mata dan wibawa yang dimiliki anak

Cau, mana mungkin Go Hoa-ti bisa terjauh ke dalam pelukan Bwe Si-jin hingga

dia mesti berkelana hampir sepuluh tahun lamanya?

Diam-diam ia coba mengamati Jin-ji sekali lagi, kemudian dengan perasaan

bangga pikirnya: “Bocah ini bakal cantik sekali setelah dewasa nanti, aah …

wajah Jin-ji serasa perpaduan wajah kakak Jin dan aku

Melihat kedua orang bocah bergaul sangat akrab, kembali dia berpikir “Aai…

selama hidup aku sudah banyak berhutang kepada engkoh Huan, semoga Jin-ji

bisa mewakiliku untuk membalas budi ini.”

Apakah dia sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan Jin-ji dengan

anak Cau?

Membayangkan sampai di situ, tanpa terasa ia tersenyum sendiri.

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari arah kolam: “Tenang, tenang,

diumumkan, hasil perlombaan hari ini dimenangkan pihak perempuan!”

Kawanan bocah perempuan di sisi kolam segera bersorak-sorai penuh

kegembiraan.

Begitulah, diiringi suara teriakan yang amat ramai, kawanan bocah itu

membubarkan diri menuju ke kamar masing-masing.

Jin-ji sambil bergandengan tangan dengan anak Cau juga ikut berlalu dari

situ.

Ong Sam-kongcu saling berpandangan sekejap dengan dua belas tusuk konde

sambil tertawa, baru saja akan balik ke ruang tamu, tiba-tiba terlihat bibi Ong

muncul sambil melongok ke sana kemari.

Melihat itu Si Ciu-ing segera menegur “Bibi Ong, kau sedang mencari siapa?”

“Kongcu, aku sedang mencari nyonya, apa kalian tidak melihat nyonya?”

sahut bibi Ong cepat.

“Bibi Ong, kau mencari nyonya yang mana? Kami semua berada di sini?”

“Nyonya kedua, sewaktu aku mengantar nasi untuk suamiku tadi, dia

mengatakan kalau nyonya besar telah datang, kenapa tidak kelihatan

orangnya?”

“Sungguh?” serentak semua orang berseru dengan perasaan kaget bercampur

girang.

“Benar, malah suamiku minta nyonya besar langsung mencari kalian di sini”

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia meluncur turun dari atas

pohon, dengan gerakan Yau-cu-huan-sin (burung belibis membalik badan) tahutahu

Go Hoa-ti sudah melayang turun persis di hadapan mereka.

“Engkoh Huan, cici sekalian, siaumoay telah kembali!” katanya seraya

menjura.

Serentak kawanan wanita itu maju mendekat, dengan air mata berlinang ujar

Si Ciu-ing: “Enci Ti, kami semua merindukan kau!”

“Cici sekalian, terima kasih banyak kalian telah merawat dan mendidik anak

Jin!” ujar Go Hoa-ti dengan air mata bercucuran.

Isak tangis pun menghiasi pertemuan yang sangat mengharukan itu, tidak

terkecuali bibi Ong yang berdiri di samping.

Melihat itu Ong Sam-kongcu segera menegur sambil tertawa: “Pertemuan ini

semestinya disambut dengan gembira, kenapa kalian malah menangis? Cepat

seka air mata kalian, jangan biarkan gerombolan tuyul kecil menertawakan

kalian.”

Buru-buru Si Ciu-ing menyeka air matanya kemudian ujarnya sambil tertawa:

“Cici Ti, kau sudah bertemu anak Jin? Dia hebat sekali!”

“Semuanya ini berkat jasa kalian semua,” bisik Go Hoa-ti dengan air mata

semakin deras.

Tiba-tiba Han Gi-ang berkata setelah menarik napas panjang: “Enci Ti,

dipandang dari wajahmu yang membawa sinar kegembiraan, tampaknya Thian

tak akan menyia-nyiakan harapanmu, apa yang kau harapkan selama ini bakal

tercapai.”

“Enci Ang, apa maksudmu?” Go Hoa-ti tercengang.

“Aah, tepat sekali! Memang cocok sekali,” tiba-tiba Ong Sam-kongcu ikut

berseru sambil tertawa, “adik Ti, sebulan berselang adik Ang pernah bilang, ada

orang lama yang bakal pulang kampung di hari Peh Cun, tak disangka kau

benar-benar telah pulang di hari Toan-yang ini!”

Tergerak hati Go Hoa-ti, dia segera menarik tangannya seraya bertanya: “Enci

Ang, kau mengetahui rahasiaku?”

Sambil tersenyum Han Gi-ang menggeleng.

“Tidak, siaumoay tidak tahu, tapi siaumoay tahu paling lambat akhir tahun

depan, apa yang kau harapkan bisa terkabul!”

“Sungguh?”

Han Gi-ang tidak menjawab, dia hanya tersenyum. “Adik Ti, tak bakal

meleset,” Ong Sam-kongcu segera menyela, “ayo, jangan biarkan anak-anak

menunggu terlalu lama.”

Ketika masuk ke dalam ruang makan, ia jumpai bocah laki dan perempuan itu

masing-masing duduk mengelilingi dua meja bulat, walaupun melihat orang

dewasa masuk ke ruangan, ternyata tak ada satu pun yang bicara ataupun

melongok ke sana kemari.

Kedisiplinan kawanan bocah itu mau tak mau membuat Go Hoa-ti merasa

amat kagum.

Oia melirik anak Jin sekejap, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun

mengambil tempat duduk.

Ketika Ong Sam-kongcu menganggukkan kepala, anak Cau baru berseru

lantang: “Bersantap dimulai!”

Para bocah pun mulai menggunakan sumpit masing-masing untuk mengambil

bakcang yang tersedia.

Saat itulah Ong Sam-kongcu dengan ilmu coan-im-jit-pit berbisik kepada Go

Hoa-ti: “Adik Ti, mohon kau sudi menahan diri sejenak lagi.” Sembari berkata ia

sodorkan sebuah bak-cang kepadanya.

Dengan penuh rasa terima kasih Go Hoa-ti menerimanya dan mengangguk

berulang kali.

Tampaknya pertandingan yang diadakan hari ini telah menguras banyak

tenaga bocah-bocah itu, tak heran kalau napsu makan mereka sangat besar, tak

selang berapa saat kemudian bakcang sebaskom telah habis dianglap.

Dua belas tusuk konde emas saling berpandangan sambil tertawa, setelah

memberi tanda kepada Go Hoa-ti, masing-masing membawa dua buah bak-cang

dan diberikan kepada putra kesayangannya.

Ketika anak Jin melihat orang yang menghampirinya adalah Goa Hoa-ti yang

tak dikenalnya, sekilas perasaan kagum terlintas dalam benaknya, setelah

menerima pemberian bak-cang itu, untuk sesaat dia malah berdiri tertegun dan

tak tahu apa yang harus diperbuat.

Go Hoa-ti berusaha keras menahan kucuran air matanya serta dorongan

keinginan yang kuat untuk memeluk bocah itu, sambil tersenyum dia hanya

mengangguk dan balik kembali ke tempat duduknya.

Hingga kawanan bocah itu pada bubaran, ia baru tersadar kembali dari

lamunannya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berseru: “Anak Jin,

jangan pergi dulu, coba kemari!”

Jin-ji meletakkan bak-cangnya ke meja dan berjalan ke depan Ong Samkongcu

sambil bertanya: “Ada apa ayah?”

“Anak Jin, ayah hendak menyampaikan sebuah kabar baik, ibumu sudah

kembali!”

“Sungguh ayah?” berkilat sepasang mata anak Jin.

Ong Sam-kongcu tersenyum, sambil menggandeng tangannya yang gemetar,

mereka berjalan menuju ke hadapan Go Hoa-ti.

Sementara itu air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Go Hoa-ti, sambil

memeluk bocah perempuan itu teriaknya berulang kali: “Anak Jin, anak Jin!”

“Ibu!” anak Jin menubruk ke dalam rangkulannya dan menangis tersedu.

Memandang sekejap kawanan bocah yang berdiri tercengang, Ong Samkongcu

segera menjelaskan: “Bocah-bocah, dia adalah bibi Go, yaitu ibu

kandung cici kalian.”

“Bibi… bibi…!” serentak para bocah maju meluruk sambil berteriak

kegirangan.

Dengan air mata berlinang Go Hoa-ti anggukkan kepalanya berulang kali,

“Kalian semua memang anak yang manis!”

“Anak-anak,” Si Ciu-ing ikut menjelaskan sambil tertawa, “selama banyak

tahun, bibi kalian merawat lukanya di daerah Kanglam, walaupun luka itu

belum sembuh tapi kali ini sengaja datang untuk merayakan peh-cun bersama

kita semua, untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena kalian selama

banyak tahun membantu anak Jin, maka masing-masing akan mendapat hadiah

sebuah kain uang yang indah.”

“Terima kasih bibi, terima kasih bibi ….” kembali tempik sorak bergema gegap

gempita.

“Mari kita kembali ke pesanggrahan T»-wan!” ajak Ong Sam-kongcu kemudian

sambil tertawa.

Ketika melangkah kembali ke dalam pesanggrahan Ti-wan, Go Hoa-ti

menyaksikan segala sesuatunya masih tetap seperti sedia kala, sementara ia

sedang menghela napas, tiba-tiba terdengar anak Jin berseru: “Ibu, setiap hari

aku dan adik Cau pasti datang kemari untuk mengatur pepohonan di sini.”

“Enci Ti, jangan dilihat bocah-bocah itu lincah, tanpa undangan atau ijin dari

anak Jin, siapapun tak ada yang berani datang kemari,” si Ciu-ing segera

menyela.

“Cici, kalian terlalu baik kepadaku!*

“Adik Ti,” sela Ong Sam-kongcu, “di antara orang sendiri kau tak usah

merendah, anak Jin memang sangat pintar, justru dialah yang memimpin adikadiknya

selama ini….”

“Ibu, memang benar begitu,” tiba-tiba anak Jin menyela, “semua saudara

takut denganku, tapi aku justru takut dengan anak Cau, asal dia mendelik, aku

sudah ketakutan setengah mati.”

Ucapan tersebut segera disambut gelak tertawa semua orang.

“Anak Jin,” Go Hoa-ti berkata, “di kemudian hari kau harus menuruti

perkataan adik Cau, harus membantunya, agar kalian bersaudara dapat selalu

akrab.”

“Pasti ibu, adik Cau juga takut padaku, setiap kali aku menangis lantaran

rindu padamu, adik Cau akan kebingungan dibuatnya.”

Dengan penuh kasih sayang Go Hoa-ti memeluk putrinya.

“Anak jin,” katanya kemudian, “selanjutnya ibu pasti akan meluangkan

banyak waktu untuk menemanimu, tapi kau tak boleh sengaja membuat

murung adik Cau.*

“Aku berjanji ibu, tapi… kau masih akan pergi lagi?”

“Ehmm, menurut tabib, ibu harus berobat satu tahun lagi sebelum sehat

seperti sedia kala, setelah itu kita tak akan berpisah lagi.”

“Sungguh?”

“Ehmm, masa orang dewasa membohongi anak kecil? Sekarang tidurlah dulu.”

Anak Jin berpaling ke arah Ong Sam-kongcu, tanyanya: “Ayah, bolehkah anak

Jin tidur dengan ibu malam ini?”

“Tentu saja boleh, selama ibu di rumah, kau boleh tidur bersamanya.”

“Terima kasih ayah, anak Jin pergi tidur siang,” setelah memberi hormat

kepada semua orang, dia pun berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan punggung putrinya lenyap dari pandangan, Go

Hoa-ti baru berkata sambil menghela napas: “Engkoh Huan, cici semua, terima

kasih, kalian telah memelihara dan mendidik anak Jin hingga sehebat sekarang.”

“Adik Ti, aku tidak berani berebut jasa,” sela Ong Sam-kongcu tertawa,

“semua keberhasilan itu adalah hasil karya adik Ing semuanya, bahkan aku

sudah berencana hendak mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan

Hay-it-pang.”

“Perkumpulan Hay-it-pang?”

“Betul.’ Toh anggota keluarga kita sangat banyak, dari ketua sampai peronda

bisa kita tangani semuanya, apalagi bakat bocah-bocah itu sangat menjanjikan,

sudah sepantasnya kalau kita muncul sebagai sebuah kekuatan baru.”

“Betul sekali, pemikiran semacam ini memang sesuai dengan kondisi dalam

masyarakat sekarang, kenapa tidak segera dilaksanakan?”

Ong Sam-kongcu tertawa.

“Mungkin lantaran kita sudah terlalu lama hidup mengasingkan diri,

kehidupan bersantai tiap hari membuat orang jadi malas, tak punya semangat

lagi untuk cari nama dan kedudukan, apalagi kekayaan keluarga Ong kan cukup

untuk menghidupi berapa generasi.”

“Engkoh Huan, pemikiran semacam itu pas jika situasi dunia aman dan

tenteram,” kata Go Hoa-ti serius, “tapi menurut pengamatanku, dunia persilatan

saat ini sedang dilanda gejolak yang mengerikan.”

Kaget bercampur tertegun Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas

sesudah mendengar perkataan itu.

“Engkoh Huan, cici sekalian, semenjak empat tahun berselang, di daratan

Tionggoan telah muncul sebuah organisasi massa yang dinamakan Tay-ka-lok”,

artinya gembira untuk semua orang, bukan saja banyak teman persilatan yang

bergabung dengan organisasi itu, rakyat biasa pun banyak yang mendaftarkan

diri.”

“Tay-ka-lok?” Ong Sam-kongcu tercengang, “dari nama organisasi itu

semestinya organisasi mereka merupakan satu perkumpulan untuk bersenangsenang,

darimana bisa membahayakan masyarakat umum?”

“Aaai! Yang dimaksud Tay-ka-lok sebetulnya tak beda dengan sebutan Paykiu,

kiu-kiu dan sebangsanya, merupakan istilah di dalam perjudian, bukan saja

mereka punya daya tarik yang luar biasa, kehancuran yang timbul akibat

permainan itu beribu kali lipat lebih dahsyat ketimbang permainan judi.”

“Wow, permainan yang begitu mengasyikkan?”

“Bila kau berada di daratan Tionggoan, bukan cuma di gedung pertemuan,

bahkan di jalanan atau lorong kecil pun, asal kau mau perhatian pasti akan

mendengar banyak orang sedang meramal nomor berapa yang bakal keluar

nanti. Yang mereka maksud nomor adalah nomor pemenang pacuan kuda yang

keluar sebagai juara pada tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima.”

“Ooh, rupanya mereka gunakan pacuan kuda sebagai judi buntutan? Jadi

mirip sekali dengan taruhan orang tentang siapa yang bakal terpilih menjadi

Bulim Bengcu?”

“Benar, taruhan siapa yang jadi Bulim Bengcu hanya diselenggarakan berapa

tahun satu kali, sehingga meski kalah taruhan tak bakal mencelakai orang, beda

sekali dengan organisasi Tay-ka-lok, satu bulan diadakan taruhan sebanyak tiga

kali, setiap kali berapa juta orang yang terlibat dalam pertaruhan itu

“Apa? Ada jutaan orang yang ikut taruhan?”

“Betul, menurut data terakhir yang kudengar, sudah ada dua puluh juta orang

yang terjerumus dalam pertaruhan semacam itul”

“Haah? Begitu besar pengaruh Tay-ka-lok?” seru Ong Sam-kongcu terperanjat.

“Betul, sembilan ekor kuda saling berlomba sejauh sepuluh li, pada akhirnya

pasti ada seekor kuda yang mencapai finish duluan, asal orang yang memegang

nomor kuda juara itu maka mereka bisa mendapat uang taruhan yang besar

sekali.

“Ambil contoh kota Kim-leng. kau masih ingat dengan perusahaan ekspedisi

Kim-leng piaukiok? Sekarang mereka tidak usaha ekspedisi lagi, di luar kota

mereka membeli tanah seluas puluhan hektar dan mendirikan arena pacuan

kuda plus tempat peristirahatan.

“Setiap tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima, di arena pacuan kuda

Kim-leng akan diselenggarakan lomba pacuan kuda, tiap kali diselenggarakan

ada empat lima juta orang yang ikut bertaruh, tiap taruhan bernilai satu tahil

perak.

“Setiap kali selesai berlomba, siapapun yang menang, pihak Kim-leng piaukiok

akan mengambil satu persen dulu sebagai uang jasa, coba hitung sendiri, kalau

tiap kali bisa meraup empat lima juta tahil perak, satu persennya berarti empat

lima puluh ribu tahil perak.”

“Hmmm, hebat amat sistim itu, tidak sampai tiga bulan bukankah semua

modal mereka sudah balik?” dengus Ong Sam-kongcu.

“Benar, dari sembilan nomor yang tersedia, asal kita pilih satu di antaranya

dan menang maka kau bisa menangkan uang taruhan dari delapan nomor yang

lain, apalagi bila nomornya “kandang” alias tidak tertebak, hadiah bisa luar biasa

besarnya.”

“Bagaimana kalau kita beli semua kesembilan nomor itu?” tanya Ong Samkongcu

setelah termenung berpikir sebentar.

“Engkoh Huan, aku pernah coba caramu itu, akhirnya aku keluar uang

sembilan tahil tapi yang dimenangkan cuma dua tahil lebih, rugi besar!”

“Hmm, kalau aku si penyelenggara pacuan kuda, akan kuatur perlombaan itu

agar beberapa kali “kandang”, lalu dengan keluar uang satu tahil perak, aku

keluarkan nomor kuda yang paling sedikit pasangannya, bukankah aku bakal

meraih keuntungan yang luar biasa?”

“Aaah betul juga!” teriak Go Hoa-ti kaget, “asal kita gunakan kuda yang

berbeda tiap kali berlomba, lalu nomor kuda pemenang selalu diatur nomor kuda

yang paling sedikit pasangan taruhannya, bukankah tiap kali berlomba, si

bandar akan meraup kemenangan luar biasa?”

“Bagus, kalau begitu biar aku pulang ke kota Kim-leng dan membuka sebuah

pacuan kuda juga, dengan bocah-bocah sebagai jokinya, aku yakin tak sampai

satu tahun kekayaanku sudah membukit!”

“Engkoh Huan, jika ada orang memberi petunjuk secara diam-diam lalu

membuat kekacauan pada saat yang tepat, mungkin masalahnya bisa berubah

jadi serius,” Si Ciu-ing mengingatkan.

“Betul sekali!” Ong Sam-kongcu mengangguk serius, “adik Ti, apa selama ini

pihak kerajaan dan sembilan partai besar tidak berusaha mencegah, melarang

atau menghalangi ulah mereka?”

“Pernah sih pernah, konon sudah melibatkan banyak orang, tapi siapa sih

yang tak pingin kaya raya dalam semalaman? Bukan saja semua orang jadi gila

harta, gila bertaruh, ditambah lagi dengan beberapa alasan, bukannya padam

dan surut, permainan tersebut malah semakin merajalela.”

Semakin dipikir Ong Sam-kongcu merasa semakin ngeri, katanya kemudian

setelah menghela napas panjang: “Kalau kekuatan kelewat lama bersatu,

akhirnya pasti akan berpisah, bila lama berpisah akhirnya akan bersatu

kembali, selama puluhan tahun terakhir, dunia persilatan selalu aman dan

tenteram, kelihatannya kekacauan segera akan melanda seluruh dunia

“Engkoh Huan, cici sekalian,” sela Go Hoa-ti tiba-tiba, “demi masa depan

bocah-bocah serta kemampuan mereka untuk menghadapi perubahan dalam

dunia, apa tidak mulai dipertimbangkan perubahan sistim pendidikan serta

materi pendidikan?”

Ong Sam-kongcu berpikir sejenak, lalu katanya: “Ehmm, memang perlu

rasanya, adik semua, bagaimana pendapat kalian?”

Dua belas tusuk konde serentak manggut-manggut.

Si Ciu-ing berkata pula: “Kecerdasan anak Jin dan anak Cau melebihi

kebanyakan orang, bocah lainnya juga tunduk di bawah pengawasan mereka,

asal diberi arahan, semestinya mereka dapat menerima perubahan itu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, ujarnya lagi: “Engkoh Huan, cici, kalian

teruskan pembicaraan, aku ingin mengundurkan diri lebih dulu!”

Bersama sebelas orang tusuk konde lain, mereka bersama-sama

meninggalkan pesanggrahan Ti-wan.

Memandang hingga bayangan punggung orang itu lenyap dari pandangan,

Ong Sam-kongcu baru berkata lagi dengan nada kualir “Apakah belum ada

kabar berita dari saudara Bwe….”

“Aaai, kabar beritanya seakan batu yang tenggelam di tengah samudra, sama

sekali tiada kabar apa-apa.”

“Jangan putus asa, adik Ang toh pernah meramalkan nasibmu, konon akhir

tahun depan kau bisa berjumpa ladi dengan saudara Bwe, bukan begitu?”

“Haai … ramalan hanya sesuatu janji yang semu, tanpa dasar bukti yang pasti

mana aku boleh percaya? Tapi aku memang kagum dengan cici Ang, dia makin

lama semakin memikat hati.”

“Adik Ti, kau tak usah mengagumi mereka, apa kau tidak merasa bahwa

dirimu lebih matang dan semakin seksi?”

Berkilat sepasang mata Go Hoa-ti setelah mendengar perkataan itu, serunya

tak tahan: “Engkoh Huan, kau pun berpendapat begitu?”

“Benar adik Ti, aku tidak bohong.”

Berkaca sepasang mata Go Hoa-ti karena linangan air mata, gumamnya:

“Engkoh Huan, berilah satu kali kesempatan lagi, bila kali ini aku gagal

menemukan jejaknya, aku akan matikan perasaanku ini.”

“Sampai waktunya, aku akan tinggal di pesanggrahan Ti-wan dan selama

hidup melayani kau, aku akan melayani semua kemauanmu demi membalas

budi kebaikanmu terhadap aku serta anak Jin selama ini.”

“Adik Ti, aku pasti akan menunggumu!”

“Engkoh Huan…….” sambil berseru, ia segera menubruk ke dalam

pelukannya.

Sambil memeluk kekasih hatinya, Ong Sam-kongcu merasa pikiran serta

perasaan hatinya bergejolak keras.

Setelah mengetahui asal-usul anak Jin yang sebenarnya, semula dia bertekad

akan melupakan perempuan ini, tapi bayangan tubuhnya sudah kelewat dalam

membekas dalam benaknya. Apalagi mengikuti berlalunya sang waktu, perasaan

itu membekas semakin nyata.

Hari ini, ketika ia mendapat tahu kalau ia masih tak berhasil menemukan Bwe

Si-jin, bara api harapan sekali lagi timbul, apalagi ketika tubuh yang lembut dan

harum berada di dalam pelukannya sekarang, dia benar-benar tak sanggup

mengendalikan diri.

Ketika Go Hoa-ti berjumpa dengan Bwe Si-jin tempo hari di kota Lokyang, ia

jatuh hati pada pandangan pertama, tidak sampai tiga bulan berkenalan, dengan

hati ikhlas dia persembahkan keperawanannya kepada pemuda itu.

Sejak itu mereka berdua hampir selalu bersama mengunjungi tempat-tempat

yang terkenal di sekitar kota Lokyang.

Tapi suatu pagi, ketika Go Hoa-ti mendusin dari tidurnya dalam sebuah

rumah penginapan, ia menjumpai Bwe Si-jin telah hilang lenyap tak berbekas,

maka dia pun mulai melacak keberadaannya.

Tapi pada saat itulah dia menjumpai dirinya mulai hamil.

Demi masa depan jabang bayinya maka dia menggunakan pelbagai cara untuk

bisa dinikahi Ong Sam-kongcu, siapa tahu “manusia boleh berusaha, Thian lah

yang punya kuasa”, asal-usul anak Jin akhirnya terbongkar juga.

Dalam keadaan demikian, terpaksa sekali lagi dia mengembara di seluruh

pelosok dunia untuk mencari jejak Bwe Si-jin.

Selama sepuluh tahun, dia sudah menjelajahi hampir setiap sudut kota baik

di Kwan-lwe maupun Kwan-gwa, puluhan ribu orang sudah ditanyai, namun

bukan saja tak ada yang pernah bersua dengan Bwe Si-jin, kabar beritanya pun

sama sekali tak ada.

Selama ini, dia pun sudah banyak menghadapi intrik serta akal busuk banyak

orang yang berusaha ikut “mencicipi” kehangatan tubuhnya, masih untung dia

cerdas dan kungfunya hebat, hingga setiap kali berhasil lolos dari cakaran

“serigala perempuan”.

Dalam keputus-asaan akhirnya ia balik ke pesanggrahan Hay-thian-it-si,

rencana semula dia ingin menemani anak Jin untuk melewati sisa hidupnya.

Tapi ramalan dari Han Gi-ang kembali membangkitkan pengharapannya.

Meski di mulut dia bilang tak percaya, tapi api pengharapan justru semakin

berkobar.

Biarpun harapan itu sangat kecil, ia tetap ingin mencobanya.

Selama sepuluh tahun mengembara, Go Hoa-ti selalu berusaha menahan

kebutuhan biologisnya, tapi sekarang, pelukan yang begitu mesra dan hangat

membuat perempuan ini tak sanggup membendung kebutuhannya lagi, ibarat

bendungan yang jebol, napsu birahi seketika menguasai pikiran dan perasaan

hatinya.

Begitu pula dengan Ong Sam-kongcu, perpisahan selama sepuluh tahun

dengan perempuan ini membuat birani yang tertanam selama ini seketika

berkobar, pelukan perempuan itu membuat “anak angkat”nya langsung

menegang keras bagai tombak baja.

“Engkoh Huan, bopong aku ke atas ranjang!” pinta Go Hoa-ti lirih.

Seketika Ong Sam-kongcu merasakan lidahnya kering dan hawa panas

menyelimuti seluruh tubuhnya, ia tak kuasa menahan diri lagi, disambarnya

tubuh perempuan itu lalu setengah berlari masuk ke dalam kamar.

Matahari masih bersinar cerah di angkasa menimbulkan udara panas di

sekitar gedung, tapi panasnya matahari tak bisa menangkan panasnya suasana

dalam kamar pesanggrahan Ti-wan.

Ong Sam-kongcu dan Go Hoa-ti sudah dalam posisi sama-sama telanjang,

mereka saling berpeluk, saling bergumul dengan ganasnya.

Pengalaman selama sepuluh tahun menggilir dua belas tusuk konde emasnya

saban malam, membuat pengalaman dan tehnik “ranjang” Ong Sam-kongcu mengalami

kemajuan pesat, apalagi tenaga dalamnya yang semakin sempurna

membuat kemampuannya berbuat intim betul-betul luar biasa dan amat

berpengalaman.

Sebaliknya Go Hoa-ti merasa walaupun “anu”nya Ong Sam-kongcu kalah

besar dan kalah keras dibandingkan “anu” milik Bwe Si-jin, tapi “jurus

kembangan” serta variasi yang dimiliki lelaki ini jauh lebih matang dan hebat

sehingga dapat menutupi semua kekurangan tersebut, tak heran kalau

perempuan ini tak sanggup bertahan terlalu lama.

Setelah menggeliat tiada hentinya sesaat, lambat laun perempuan itu

mendekati puncak birahtnya….

Tampak badannya gemetar keras, rintihan dan jeritan bergema tiada hentinya

… tak lama kemudian perempuan itu sudah mencapai puncaknya.

Ong Sam-kongcu semakin terangsang, tiba-tiba ia merasa seluruh badannya

mengejang keras, “ujung tombak’nya terasa gatal sekali, dia tahu sebentar lagi

dirinya pun akan mencapai puncaknya.

Buru-buru dia cabut keluar “tombak’nya kemudian ditembakkan ke atas

pusar perempuan itu.

Cairan putih yang kental dan berbau anyir menyembur keluar mengotori dada

serta pusarnya, sampai lama … lama kemudian Ong Sam-kongcu baru merebahkan

diri lemas di sisi ranjang.

Go Hoa-ti tahu, lelaki itu kuatir dirinya hamil sehingga mengambil tindakan

tersebut, tak kuasa lagi bisiknya dengan perasaan sedih: “Engkoh Huan, maaf,

aku tak bisa memuaskan dirimu.”

Seraya berkata dia ambil sebuah handuk dan mulai membersihkan tubuhnya.

“Adik Ti tak usah sedih,” sahut Ong Sam-kongcu tertawa, “selama tahun

tahun terakhir, kami selalu menggunakan cara seperti ini untuk berhubungan

intim, kalau tidak … wah, berapa banyak tuyul kecil yang bakal hadir lagi di

Hay-thian-it-si …”

“Engkoh Huan, kalian benar-benar mengagumkan.”

“Adik Ti tak usah kagum, asal kau bersedia, setiap saat kami akan

menerimamu untuk bergabung.”

0oo0

Malam itu, Ong Sam-kongcu didampingi tiga belas orang wanita berkumpul di

pesanggrahan Ti-wan sambil berbincang-bincang.

Saat itulah terdengar Han Gi-ang berkata: “Engkoh Huan, cici Ti, untuk

menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan, kami berdua belas

telah melakukan perundingan sore tadi, kesimpulan yang kami buat adalah

membiarkan cici Ti mengajak anak Cau terjun ke dalam dunia persilatan untuk

mencari pengalaman!”

Si Ciu-ing menambahkan: “Dengan membiarkan anak Cau mencari

pengalaman dalam dunia persilatan, selain bisa menambah pengetahuannya,

sekembali dari berkelana, dia pun bisa mengajarkan kepada saudara-saudara

lainnya.”

“Asal adik Ti tidak merasa keberatan, aku pasti akan setuju,” kata Ong Samkongcu

sambil tertawa.

“Bagus sekali,” seru Go Hoa-ti, “dengan begitu aku pun tak akan kesepian

sepanjang jalan, cuma … perubahan cuaca susah diramalkan, biarpun kalian

percaya padaku, aku hanya kuatir bila sampai terjadi sesuatu kejadian di luar

dugaan.”

“Enci Ti tak perlu kuatir,” Han Gi-ang menerangkan, “anak Cau punya rejeki

yang besar dan umur yang panjang, biarpun terjadi sesuatu dan harus

mengalami pelbagai masalah, otomatis semua kesulitan akan berubah jadi

selamat.”

“Kalau memang begitu akan kuterima tanggung jawab ini.”

“Cici Ti,” seru Si Ciu-ing kemudian dengan penuh rasa terima kasih, “aku

ucapkan terima kasih terlebih dulu, hanya saja anak Cau kelewat agresif dan

lagi keras kepala, mungkin akan banyak menyulitkan dirimu!

Bab III. Pertarungan naga sakti versus elang sakti.

Telaga Toa-beng-ou di wilayah Chi-lam.

Pemandangan alam di wilayah Chi-lam memang luar biasa indahnya, ada

mata air, ada telaga juga ada bukit, mata air adalah Ya-tok-swan, telaga adalah

Tay-beng-ouw sedang bukit adalah Jian-hud-san

Telaga Tay-beng-ouw terletak di sebelah barat-laut kota Chi-lam, luasnya

belasan li dan menduduki sepertiga dari luas seluruh kota.

Batas telaga berada di timur, utara dan barat kota, bila fajar baru menyingsing

atau senja menjelang tiba, pemandangan alam di sekeliling tempat itu indah menawan.

Dari jembatan Ing-hoa-kiau menuju ke arah barat-laut telaga, tampak

pepohonan yang-liu tumbuh sepanjang pesisir, gelagah tumbuh subur di

permukaan telaga, khususnya di musim panas atau musim gugur, bunga teratai

mekar semerbak membuat pemandangan di sekitar sana tampak semakin indah

menawan.

Senja itu, matahari memancarkan sinar kemerah-merahan menyelimuti

angkasa, kabut tipis kelihatan mengambang di atas permukaan air telaga.

Saat itulah, di sebuah rumah makan di tepi telaga, tampak seorang pemuda

berwajah tampan didampingi seorang bocah beralis tebal bermata besar dan bertubuh

kekar sedang duduk di tepi jendela menikmati keindahan alam telaga.

Mereka berdua tak lain adalah Go Hoa-ti dan Ong Bu-cau.

“Anak Cau, bagaimana dengan pemandangan alam di sini?” bisik Go Hoa-ti

dengan suara lirih.

“Sangat indah, kalau bisa berpesiar dengan perahu tentu lebih nikmat,” sahut

anak Cau kegirangan.

Ucapan yang diutarakan dengan suara lantang seketika memancing perhatian

banyak orang yang memandang ke arahnya dengan sinar mata keheranan.

Belum sempat Go Hoa-ti berbicara, Ong Bu-cau sudah bangkit berdiri dan

berseru kepada semua yang hadir sambil menjura: “Paman dan empek sekalian,

maaf!”

“Bocah cilik, berani berbuat berani tanggung jawab, kau memang hebat,” dari

sudut ruangan terdengar seseorang berseru dengan suara keras.

Ketika berpaling, anak Cau melihat orang itu adalah seorang kakek berusia

enam puluh tahunan yang bertubuh kekar, bermata besar dan bermulut lebar.

Melihat pihak lawan memujinya, Cau-ji membalas dengan senyuman simpatik

lalu balik kembali ke tempat duduknya.

Sebaliknya Go Hoa-ti segera berubah wajahnya setelah melihat wajah orang

itu, buru-buru bisiknya: “Cau-ji, mari kita balik dulu ke rumah penginapan, kita

naik perahu besok pagi saja.”

Belum sempat kedua orang itu berlalu, tiba-tiba terdengar seseorang berseru:

“Aaah, siau-hui-hiap telah datang!”

“Sungguh? Cepat tanyakan soal lencana Beng-pay…”

Menyusul perkataan itu berduyun-duyun orang berlarian meninggalkan ruang

rumah makan, tak selang berapa saat kemudian di situ tinggal Go Hoa-ti, Cau-ji

serta kakek kekar itu.

Cau-ji sangat heran melihat tingkah polah orang-orang itu, tak kuasa ia pun

bertanya: “Paman, siapa sih siau-hui-hiap yang mereka maksud dan apa pula

lencana Beng-pay?”

Go Hoa-ti segera menuding ke arah seorang bocah berusia enam tujuh

tahunan yang berada di kejauhan sana dan mengenakan baju mewah dengan

cahaya mutiara yang gemerlapan seraya berkata: “Itu dia si pendekar terbang

Siau-hui-hiap!”

“Mana mungkin?” Cau-ji tidak yakin, “kalau ditinjau dari namanya, si

pendekar terbang mestinya bisa bergerak secepat terbang, punya kepintaran dan

keberanian, tidak macam orang tolol begitu.”

“Cau-ji, cepat amat kau belajar kata-kata nakal macam begitu,” tegur Go Hoati

sambil tertawa.

“Tapi kita kan mesti bilang putih kalau putih dan bilang hitam kalau hitam?”

Go Hoa-ti melirik ke arah kakek kekar itu sekejap, melihat orang itu

mengawasi terus Cau-ji, ia segera tingkatkan kewaspadaannya, bisiknya segera:

“Cau-ji, kau jangan lihat bocah itu macam orang bloon, dia bisa beritahu kepada

orang lain nomor berapa yang baka! keluar dalam pacuan kuda malam nanti!”

“Nomor yang keluar dalam pacuan kuda? Maksud paman nomor yang akan

keluar pada Tay-ka-lok?”

“Benar, nomor ciaji itulah yang disebut beng-pay. Kelihatannya bocah itu

sudah sering memberi ciaji sehingga banyak orang menang lotere, coba lihat

begitu banyak perhiasan yang menghiasi tubuhnya.”

“Paman, kenapa siau-hui-hiap bisa memberi ciaji?”

“Soal ini… aku sendiri juga kurang paham.”

“Saudara cilik, lohu tahu!” mendadak kakek itu berseru lantang.

Berubah hebat paras muka Go Hoa-ti, buru-buru dia tarik tangan Cau-ji siap

kabur dari situ.

Siapa tahu pada saat itulah terasa angin tajam menderu lewat, tahu-tahu

kakek itu sudah berdiri persis di hadapan mereka berdua.

Melihat usahanya menghindar tidak berhasil, Go Hoa-ti segera menghentikan

langkahnya sambil menegur “Oh-cianpwe, apa maksudmu menghalangi

perjalanan boanpwe?”

“Nona, rupanya kau kenal lohu? Luar biasa, luar biasa, sudah belasan tahun

lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, boleh tahu siapa nama

nona?”

Kakek itu dari marga Oh bernama It-siau, orang menyebutnya siu-ong atau

raja hewan, bukan saja dia pandai menjinakkan pelbagai binatang, ilmu silatnya

termasuk luar biasa, sepak terjangnya pun antara lurus dan sesat

Anehnya orang ini justru merupakan sahabat karib Bwe Si-jin, Go Hoa-ti

pernah bertemu Oh It-siau satu kali ketika berada di kota Kim-leng dua belas

tahun berselang, tentu saja kakek itu tidak mengenalinya karena ia sedang

menyaru sebagai seorang pria.

Tergerak hati Go Hoa-ti setelah mendengar si raja hewan menanyakan

namanya, baru saja dia hendak memberitahu nama aslinya, mendadak

terdengar Cau-ji menghardik keras: “Kau tak boleh sembarangan menanyakan

nama ibuku!”

Si raja hewan tidak menyangka seorang bocah berani begitu kurangajar

terhadapnya, baru saja dia akan memberi pelajaran, tiba-tiba dilihatnya bocah

itu sangat keren hingga niat tersebut akhirnya diurungkan kembali.

Melihat lawannya tidak menjawab, Cau-ji mengira kakek itu sudah keder,

kembali bentaknya: “Minggirt”

“Bocah kecil, kau memang kelewat tak tahu sopan santuni” umpat si raja

hewan marah.

‘Kau sendiri yang tidak sopan duluan, itu namanya pembalasan!” jawab Cau-ji

tak mau kalah.

Si raja hewan tertawa tergelak, suaranya nyaring bagai geledek.

Buru-buru Go Hoa-ti melindungi diri dengan hawa murninya, sementara

sepasang tangannya dipakai untuk menutupi telinga Cau-ji, setelah itu

diawasinya gerak gerik kakek itu penuh waspada.

Tampaknya gelak tertawa yang amat nyaring itu membuat si bocah yang

disebut siau-hui-hiap terperanjat, sambil menjerit kaget bocah itu lari terbiritbirit

sambil menangis keras.

Padahal waktu itu para pecandu Tay-ka-lok sedang menunggu Siau-hui-hiap

memberikan ciajinya, melihat bocah itu kabur sambil menangis gara-gara gelak

tertawa si raja hewan, serentak mereka jadi marah, dua puluhan orang serentak

datang mendekat dengan penuh amarah.

Melihat kawanan orang itu akan mencari gara-gara dengan si raja hewan, Go

Hoa-ti kegirangan, dia berusaha menggunakan kesempatan itu untuk melarikan

diri, sayang belum sempat ia melakukan satu tindakan, segulung angin tajam

telah menyerang tiba.

Baru saja hendak menghindar, tapi lantaran sepasang tangannya harus

menutupi telinga Cau-ji, akibatnya gerak-gerik tubuhnya kurang lincah, sedikit

terlambat tahu-tahu jalan darah kakunya sudah tertotok.

”Anak Cau, cepat kabur” teriaknya.

Raja hewan menghentikan gelak tertawanya, ia melangkah maju lalu berusaha

menangkap Cau-ji.

“Lihat serangan!” hardik Cau-ji lantang.

Dengan jurus yu-liong-tam-jiau (naga sakti pentang cakar) dia cengkeram

lambung lawan.

Mimpipun raja hewan tak mengira kalau bocah itu mengerti silat bahkan

serangannya secepat sambaran petir, tak ampun lambungnya kena serangan

dengan telak, coba kalau tenaga dalamnya tidak sempurna, mungkin lambung

itu sudah robek dan isi perutnya berentakan.

Biar begitu, lamat-lamat bekas cengkeraman itu terasa sakit bagaikan disayat

dengan pisau.

Berhasil dengan serangan pertama tapi gagal melukai musuhnya, kembali

Cau-ji membentak nyaring, kali ini dia bacok dengan telapak tangan kirinya.

Setelah merasakan serangan pertama musuhnya, tentu saja raja hewan tidak

membiarkan lawan menyerang untuk kedua kalinya, dengan satu gerakan cepat

dia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Cau-ji, kemudian menotok

jalan darah kaku dan bisunya.

Dalam pada itu, dua puluhan orang sudah menyerbu masuk ke dalam rumah

makan, melihat si raja hewan menculik Cau-ji, serentak mereka membentak

nyaring.

“Bajingan tengik, berani amat menculik orang, cepat lepaskan!”

Ada lima orang langsung menerjang ke depan.

Raja hewan mendengus dingin, sembari melanjutkan langkahnya tiba-tiba ia

sentil tangan kanannya berulang kali.

“Aduuuh ….” di tengah jerit kesakitan, dua puluhan orang itu roboh terkapar

di tanah.

Dengan penuh rasa bangga raja hewan tertawa nyaring, sekali berkelebat dia

sudah berada jauh di depan sana.

Sebenarnya Go Hoa-ti ingin melaporkan nama sendiri, tapi melihat lawan

sudah pergi jauh, sementara dia sendiripun tertotok, dia kuatir menggunakan

kesempatan itu ada orang akan memperkosanya. maka dia urungkan niatnya.

Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki ia berusaha melepaskan

diri dari pengaruh totokan.

Tak sampai setengah jam kemudian, akhirnya jalan darah kaku di tubuhnya

berhasil dibebaskan.

Sayang malam hari sudah menjelang tiba, kegelapan malam yang mencekam

membuat ia tak nampak sesosok bayangan manusia pun, dalam keadaan begini

terpaksa ia mengejar ke arah dimana raja hewan pergi.

Dalam pada itu si raja hewan dengan mengempit tubuh Cau-ji sudah berada

tak jauh dari kota, begitu tiba di tempat yang sepi, ia segera berpekik nyaring,

suara pekikan itu aneh sekali.

Menyusul suara pekikan aneh itu, dari kejauhan segera bergema dua kali

suara pekikan yang tak kalah anehnya, begitu aneh dan kerasnya suara pekikan

itu membuat Cau-ji merasa hatinya berdebar keras, coba kalau jalan darah

kakunya tidak tertotok, mungkin dia sudah mendongakkan kepala untuk

mengawasi makhluk aneh apakah itu.

Tak lama kemudian terasa ada segulung angin tajam menyambar lewat, Cau-ji

segera menemukan di atas permukaan tanah telah berdiri seekor burung elang

yang aneh sekali bentuknya.

Elang aneh itu paling tidak mempunyai tinggi badan dua-tiga kaki, seluruh

badannya berwarna coklat tua dengan bulu sayap yang berkilauan, jenggernya

merah menyala dan sepasang matanya terang bercahaya.

Dalam posisi tertotok, sebetulnya Cau-ji hanya bisa melihat sepasang kaki

serta perutnya, tapi lantaran burung itu sedang menjulurkan kepalanya

menghampiri si raja hewan, maka ia dapat melihat jelas bentuk unggas tersebut.

Rasa keheranan, ingin tahu bercampur takut bercampur aduk di dalam

benaknya.

Melihat itu, si raja hewan tertawa terbahak-bahak, serunya: “Hahaha…

monyet kecil, anggap saja kau memang beruntung, masih kecil sudah bisa

merasakan terbang di angkasa …”

Sambil berkata, ia jepit tubuh Cau-ji lalu menunggang di punggung burung

aneh itu.

“Terbang!” diiringi bentakan nyaring, burung aneh itu pentangkan sayap dan

mulai terbang ke angkasa.

Setelah berada di udara, si raja hewan baru meletakkan tubuh Cau-ji di

sampingnya sekalian menotok bebas jalan darahnya.

Cau-ji merasa angin tajam menerpa di atas wajahnya, begitu kencang

hembusan angin membuat sepasang matanya sulit dipentang lebar, terpaksa ia

pejamkan matanya rapat-rapat

Tak lama kemudian burung aneh itu terbang dengan tenang dan stabilnya di

angkasa, sementara Cau-ji pun tak kuasa menahan rasa kantuknya, ia segera

tertidur pulas.

Ketika mendusin kembali, ia jumpai tubuhnya sudah berbaring dalam sebuah

ruang batu, baru saja ia goyangkan badan, terdengar suara desisan aneh

bergema dari sisi badannya.

Selama ini Cau-ji selalu berdiam dalam pesanggrahan Hay-thian-it-si, tentu

saja ia belum pernah melihat bentuk ular, ketika merasa ada benda sedang

bergerak di bawah bantalnya, buru-buru dia melompat bangun sambil

menengok.

“Aaah!” apa yang terlihat membuat ia menjerit kaget

Tampak sesosok makhluk yang besarnya seperti gentong air berwarna putih

bercampur hitam sedang menggeliat di tengah ruangan, ia tak bisa membedakan

mana kepalanya dan mana ekornya karena belum pernah melihat makhluk

semacam itu sehingga bocah ini tak bisa mengatakan binatang apakah itu.

Dengan mata melotot besar penuh keheranan Cau-ji mengawasi makhluk itu

tanpa berkedip.

Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa bergema memecahkan keheningan,

tampak si raja hewan muncul sambil membawa secawan arak dan menginjak di

atas punggung ular sanca itu.

Melihat mimik muka Cau-ji, serunya sambil tertawa: “Tampaknya kau

memang bocah bernyali!”

Maka dia pun segera berpekik aneh.

Cau-ji melihat makhluk itu menggeliat tiada hentinya, tak lama kemudian

tampak sebuah kepala berbentuk segitiga dengan sepasang mata yang besar

mencorong muncul di hadapannya, yang aneh, dari mulut makhluk itu menjulur

keluar lidah yang bercabang.

Cau-ji segera teringat dengan pelajaran yang pernah diterima dari ibunya

dulu, konon begitulah bentuk muka makhluk yang disebut “ular”, tak kuasa

jantungnya berdebar keras.

Kembali si raja hewan tertawa tergelak. “Hahaha … munyuk, jangan takut,

anak Cing sudah puluhan tahun menjaga gua ini, asal kau tidak mengusiknya,

dia pun tak akan mengganggu dirimu!”

Sementara ia berbicara, ular itu sudah merayap keluar dari dalam gua.

Melihat kakek itu begitu santai membicarakan soal ular tanpa perdulikan

masalah yang lain, timbul perasaan antipati dalam hati Cau-ji, apalagi bila

teringat bagaimana orang itu telah menotok jalan darah bibinya, tak kuasa hawa

amarah membara dalam dadanya.

“Hey, jangan seenaknya memanggil munyuk kepadaku,” teriaknya lantang,

“jika kau berani memanggil sekali lagi, jangan salahkan kalau aku pun akan memanggil

kau sebagai setan tua ular busuk. Hey setan tua ular busuk, kenapa

kau menculik aku?”

Raja hewan tidak menyangka kalau monyet kecil yang masih bau susu ibu

berani bersikap kurangajar kepadanya, ia mendengus dingin.

“Kalau lohu lagi suka begitu, mau apa kamu?” Cau-ji tak mau kalah, dia balas

mendengus. “Siauya tidak suka hati!”

“Ooh, sangat menarik, sangat menarik, monyet kecil, lohu dari marga Oh

bernama It-siau, orang memanggilku raja hewan. Siapa namamu?”

“Raja hewan? Hehehe … kau memang mirip hewan,” Cau-ji balas mengejek,

“berarti kau memang mirip harimau, si raja hutan. Jangan kau kira lantaran

bermarga Oh lantas mengaku sebagai raja hewan”

Dalam hati kecilnya raja hewan merasa amat mendongkol, tapi dia coba

menahan diri, kembali ujarnya sambil tertawa: “Monyet kecil, kau memang

punya mata tak berbiji, kalau aku bukan raja dari segala hewan, masa Cing-ji si

ular sanca itu bisa menurut perintahku?”

“Itu mah gampang sekali, asal kau sering memberi makan ke binatang itu,

otomatis dia akan menuruti perintahmu.”

“Kurangajar, kalau aku tak hebat, memangnya kau bisa paksa burung aneh

yang kemarin itu membawamu terbang ke angkasa?”

“Hmmm, lebih baik jangan mengibul, bukankah teorinya juga sama?”

“Hmm, kau memang menjengkelkan sekali, ayo jalan, lohu akan buktikan

kepadamu.”

Seraya berkata ia comot tangan Cau-ji dan menyeretnya keluar.

Sementara itu, Cau-ji berani bicara dengan nada mengejek karena sejak awal

dia sudah membuat persiapan, maka begitu tangannya dicomot, ia segera

menjejakkan badannya mengegos ke samping sambil melayangkan sebuah

tendangan kilat ke tubuh lawan.

Raja hewan mendengus, menyambut datangnya tendangan itu, otomatis dia

ayunkan tangannya melepaskan sebuah bacokan.

Cau-jl sama sekali tak gentar, dia ayunkan sepasang tangannya menyongsong

datangnya serangan itu.

Setelah melepaskan pukulan tadi, sesungguhnya si raja hewan sudah merasa

amat menyesal, ia semakin terkejut melihat bocah itu berani menyambut

kedatangan serangannya, buru-buru teriaknya: “Cepat mundurl”

“Blaaamm!” benturan nyaring bergema di udara, Cau-ji mendengus tertahan,

badannya langsung terlontar keluar dari dalam gua.

Si raja hewan terkesiap, sambil berpekik nyaring buru-buru dia melesat keluar

dari gua.

Dalam pada itu Cau-ji merasakan sepasang tangannya seperti mau patah,

disusul kemudian dadanya sakit sekali, tak kuasa dia muntah darah segar.

Pada mulanya dia mengira tempat di luar gua adalah tanah datar, jika

badannya sampai terpental maka dia akan gunakan kesempatan itu untuk

melarikan diri.

Siapa tahu begitu buka mata, ia segera menjerit kaget, nyaris bocah itu jatuh

semaput saking terkejutnya, ternyata di luar gua adalah sebuah jurang yang

dalamnya puluhan kaki.

la merasa badannya meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa, bila

terbentur permukaan tanah, niscaya badannya bakal hancur berantakan.

Di saat yang kritis itulah tiba-tiba ia merasa bajunya mengencang, tahu-tahu

burung aneh itu dengan menggunakan paruhnya telah menggigit ujung bajunya

kuat-kuat ….

“Turun!” hardik si raja hewan. Burung aneh itu sangat menurut, tak berapa

saat kemudian ia sudah letakkan tubuh Cau-ji di atas tanah.

“Hei, monyet kecil, kau tidak apa-apa bukan?” tegur raja hewan dengan penuh

rasa kuatir.

“Setan tua ular busuk, kau tak usah berlagak sok perhatian,” umpat Cau-ji

muak, selesai berkata kembali dia berusaha minggat dari situ.

Melihat bocah itu menuju ke arah telaga yang dalam, dengan penuh rasa

kuatir raja hewan berteriak: “Hei monyet kecil, jangan ke situ!”

Bukannya berhenti, Cau-ji malah mempercepat larinya.

“Berhenti!” kembali si raja hewan menghardik seraya menerkam ke depan.

Merasa datangnya terkaman itu, buru-buru Cau-ji menggunakan jurus Toubo-

siang-wi” (lepas jubah menyingkir ke samping) dia menggelinding ke muka

dan berhasil lolos dari cengkeraman lawan.

Sayang ia tak sadar, begitu ia menggelinding, tubuhnya langsung

menggelinding ke arah tengah telaga.

“Monyet kecil, jangan ke situ!” kembali si raja hewan berteriak.

Cau-ji memang bocah bengal yang tak tahu diri, bukannya menurut, dia

malah menceburkan diri ke dalam telaga.

Tingkah laku yang dilakukan bocah itu membuat raja hewan mencak-mencak,

bukan gusar sebaliknya justru panik dan ketakutan.

Sesaat kemudian, ketika melihat bocah itu sudah munculkan diri dari

permukaan telaga, kembali teriaknya lantang: “Hei monyet kecil, dalam telaga itu

ada naga raksasa, cepat naik ke daratan!”

“Setan tua, kau tak usah berbohong, naga itu binatang langka yang sudah

lama punah, kau kira aku masih kecil lantas gampang dibohongi?”

Seraya berkata kembali ia berenang di atas permukaan telaga dengan gaya

yang lincah.

Melihat kemampuan berenang yang begitu hebat dari si bocah, si raja hewan

merasa semakin sayang, kembali teriaknya: “Monyet kecil, apa yang mesti lohu

lakukan hingga kau mau percaya?”

“Hahaha … itu mah urusanmu, tak ada sangkut pautnya dengan aku!”

Melihat bocah itu keras kepala dan tak menurut, lama kelamaan si raja hewan

jadi jengkel sendiri, tiba-tiba ia berpekik nyaring.

Burung elang aneh itu segera pentang sayapnya terbang ke udara kemudian

langsung menerkam ke tubuh Cau-ji yang berada di permukaan telaga.

Begitu mendengar raja hewan berpekik nyaring,

Cau-ji sudah membuat persiapan yang matang, maka sewaktu burung elang

itu menukik ke arahnya, buru-buru dia menyelam ke dalam telaga.

Selang beberapa saat kemudian, ia sudah muncul kembali di permukaan

telaga tapi sudah sepuluh kaki jauhnya dari posisi semula.

Burung elang itu kembali berpekik sambil menyambar ke arahnya.

Begitulah, terjadi kejar mengejar antara bocah itu dengan burung elang di

seputar telaga.

“Monyet kecil?” teriak si Raja hewan kemudian, “kalau tidak menyerah, akan

kubuat kau mati kelelahan!”

Setelah terhajar oleh pukulan kakek itu, sesungguhnya Cau-ji sudah

menderita luka dalam, apalagi sekarang dia mesti berenang berulang kali,

dadanya kontan terasa sakit sekali, hal ini membuat hatinya sangat terkejut

“Jangan mimpi setan tua…” jeritnya kemudian.

Mendengar umpatan tersebut, si raja hewan semakin gusar, dia melompat

bangun lalu berpekik beberapa kali dengan suara yang aneh.

Tak selang berapa saat kemudian, terasa bumi bergoncang bagai dilanda

gempa dahsyat, dari balik hutan bermunculan aneka ragam binatang buas, ada

singa, harimau, monyet, gajah, beruang, macan tutul dan lain lainnya.

Sementara di tengah udara kembali muncul empat ekor burung elang raksasa.

Biarpun bentuk keempat ekor burung elang ini tidak sebesar dan seganas

burung aneh tadi, namun tampilannya cukup menggetarkan sukma.

Di bawah perintah si raja hewan, ratusan ekor binatang buas itu mulai

mengepung sekeliling telaga, bahkan mulai mengeluarkan suara pekikan yang

menyeramkan ke arah Cau-ji yang berada di tengah telaga.

Keempat ekor burung elang pun menyebar ke empat penjuru dan menyerang

dari tengah udara.

Betapapun besarnya nyali Cau-ji, mengkerut juga nyalinya sesudah

menyaksikan situasi semacam ini, dalam ngeri bercampur takutnya, terpaksa ia

berenang kembali ke tengah telaga.

Dia mencoba menyelam sejauh sepuluh kaki lebih, tiba-tiba terasa pusaran air

yang kuat muncul dari dasar telaga, dalam kagetnya tergopoh-gopoh dia muncul

kembali ke atas permukaan.

Golakan dan pusaran air dari dasar telaga makin lama semakin besar dan

dahsyat, bukan saja Cau-ji tak sanggup menerima tenaga tekanan yang begitu

dahsyat, bahkan kecepatan berenangnya pun makin lama semakin melambat

Sambil menggertak gigi sekuat tenaga dia berenang terus ke atas permukaan

telaga.

Begitu melihat timbulnya pusaran air yang besar dan kuat di tengah telaga, si

raja hewan segera tahu kalau ular raksasa penghuni telaga telah muncul, buruburu

dia berpekik nyaring lagi, burung aneh beserta ke empat ekor elang raksasa

itu serentak terbang balik ke tengah telaga.

Baru saja Cau-ji muncul di atas permukaan, seekor burung elang raksasa

segera menyambar bajunya dan membawanya terbang ke udara.

Raja hewan berpekik sekali lagi, burung aneh itu berputar balik menyambar

tubuh Cau-ji dan membawanya terbang ke tengah angkasa.

Pada saat itulah dari dasar telaga memancar keluar segulung panah air yang

luar biasa dahsyatnya, semburan itu mencapai ketinggian belasan kaki, disusul

kemudian munculnya kepala seekor makhluk aneh seperti naga yang amat

menyeramkan.

Tampak naga raksasa itu pentangkan cakar tajamnya ke arah kawanan

binatang buas yang sedang melarikan diri ke empat penjuru, seketika belasan

ekor binatang buas itu terhisap masuk ke dalam mulut makhluk aneh itu dan

lenyap tak berbekas.

Dalam pada itu Cau-ji sudah balik kembali ke gua tempat kediaman si raja

hewan, dengan perasaan ingin tahu ia mengintip semua adegan menyeramkan

itu, ia saksikan makhluk aneh itu sehabis menghisap kawanan binatang buas,

segera membuat satu pusaran air yang dahsyat lagi di tengah telaga, kemudian

baru menyelam kembali ke dasar.

Akhirnya suasana di permukaan telaga menjadi hening kembali.

Cau-ji menghembuskan napas lega, baru saja dia hendak merangkak bangun,

tiba-tiba ia mendengus tertahan dan roboh kembali.

Rupanya rasa tegang sewaktu menyaksikan betapa garangnya naga sakti itu

menelan kawanan binatang buas membuat Cau-ji lupa akan kondisi badan

sendiri, tapi begitu semuanya telah usai dan semangatnya mengendor kembali,

ia mulai merasakan sekujur badannya jadi linu sekali.

Melihat itu sambil tertawa tergelak si raja hewan berseru: “Hei monyet

tidurlah!”

Sambil berkata, ia totok jalan darah hek-tiam-hiat nya.

Si raja hewan membaringkan tubuh Cau-ji di atas ranjang batu, setelah

meraba sekujur badannya sambil periksa bentuk tulangnya, ia tertawa tergelak

seraya berseru. “Bakat alam, benar-benar bakat alam!”

la berjalan keluar dari gua, belum lagi kakinya menempel tanah, kembali

pekikan panjang bergema memecahkan keheningan.

Tak lama kemudian dari tebing karang sebelah kanan gua muncul seekor ular

sanca yang amat besar.

Dengan wajah serius Raja hewan berkata: “Cing-ji, demi tujuan kita

melenyapkan Su Kiau-kiau, terpaksa aku harus mengorbankan dirimu!”

Sambil berkata ia keluarkan sebutir mutiara kuning dari sakunya lalu

disambitkan ke atas kepala ular raksasa itu.

Begitu melihat mutiara kuning itu, si ular tampak ketakutan setengah mati,

belum sempat menghindar, mutiara itu sudah menghantam persis di kepalanya

membuat ular itu roboh tak berkutik.

Setelah mengejang keras beberapa saat, raja hewan menjejalkan mutiara

kuning itu ke dalam mulut sang ular, lalu dengan menggunakan sebilah pisau

belati dia belah perut ular dan mengeluarkan sebuah empedu sebesar kepalan

tangan.

Sekali lagi raja hewan berpekik nyaring, tiba-tiba burung aneh itu muncul dari

balik lembah dan menukik turun. Kembali si raja hewan berpekik beberapa kali,

sementara jari tangannya menuding ke arah ular sanca.

Dengan kukunya yang tajam, burung elang aneh itu mencengkeram tubuh

ular sebesar gentong air itu, lalu sambil pentang sayap terbang menuju ke

tengah telaga.

“Blaaamm …!” diiringi percikan air yang memancar keempat penjuru, burung

aneh itu membuang bangkai ular raksasa itu ke tengah telaga.

Sekali lagi si raja hewan berpekik nyaring, burung aneh itu segera terbang

kembali ke sisinya.

Raja hewan menarik napas panjang, ia melompat naik ke punggung burung

aneh itu dan memerintahkan sang burung untuk terbang masuk ke dalam gua.

Sewaktu tiba di sisi Cau-ji, ia bangunkan bocah itu, membuka mulutnya dan

pelan-pelan meloloh cairan empedu ular sanca raksasa itu ke dalam mulutnya.

Selesai meloloh cairan empedu, kembali raja hewan merogoh keluar sebutir pil

yang terbungkus dalam lilin sebesar buah pear, membuka kulit lilin dan

mengorek keluar sebutir pil yang menyiarkan bau harum semerbak.

“Bocah monyet,” gumam raja hewan, “besar benar rejekimu, pil sakti Tayhuan-

wan yang tinggal sisa sebutir akhirnya kau yang telan!”

Seraya berkata, ia jejalkan pil itu ke dalam mulutnya.

Dalam pada itu dari luar gua bergema suara gelegar yang sangat memekikkan

telinga, dia tahu naga sakti yang hidup di dasar telaga itu pasti sudah terpancing

oleh bau anyir darah dari bangkai ular raksasa sehingga melakukan gerakan

yang dahsyat.

Buru-buru dia membaringkan Cau-ji ke atas lantai, kemudian melompat ke

mulut gua dan menengok keluar.

Terlihat naga sakti itu sudah mulai melahap bangkai ular sanca sebesar

gentong air itu, wajahnya nampak menyeramkan sekali.

Melihat itu, pelan-pelan si raja hewan keluar dari gua dan menyelinap turun

ke bawah.

Waktu itu, seluruh perhatian naga sakti tersebut sedang tertuju untuk

menelan bangkai ular sanca, sehingga dia tak merasa kalau raja hewan telah

menyusup hingga tiba di tepi telaga.

Pelan-pelan raja hewan mencabut keluar pisau belatinya, kemudian

menunggu kesempatan untuk turun tangan.

Sembari membolak-balikkan badannya, naga sakti itu menelan bangkai ular

sanca itu pelan-pelan, tampaknya hewan itu gembira sekali, ketika sebagian

bangkai sudah masuk ke dalam perutnya, perut naga itu nampak

menggelembung besar sekali.

Tak selang berapa saat kemudian, seluruh tubuhnya sudah tampil di atas

permukaan telaga.

“Sungguh menyeramkan bentuknya,” pikir raja hewan dengan perasaan

terkejut, “kalau hewan ini dibiarkan hidup terus, berapa tahun lagi tubuhnya

pasti akan berkembang tambah besar, entah berapa banyak orang yang akan

jadi korbannya, ehmm, hari ini aku harus membasminya!”

Sejak dua belas tahun berselang, raja hewan sudah senang sekali menjelajah

daerah yang masih perawan, sejak menemukan lembah ini, secara tak sengaja ia

menemukan sebuah gejala yang sangat mengerikan.

Setiap tengah malam tiba, dari dasar telaga selalu muncul pusaran arus yang

besar dan kuat, disusul kemudian munculnya seekor naga yang berwajah

mengerikan.

Tiap kali naga seram itu membuka mulutnya, sebuah bola api yang

memancarkan cahaya api selalu muncul dan mengembang di tengah udara,

seakan-akan sedang menghisap inti rembulan.

Keadaan seperti ini biasanya akan berlangsung selama satu dua jam, sebelum

akhirnya bola api itu ditelan kembali dan sang naga menyelam ke dasar telaga.

Dalam terkejut bercampur ngeri, raja hewan bersumpah akan membasmi

makhluk itu agar tidak sampai mencelakai banyak orang.

Sayang dia hanya seorang diri, kemampuannya sangat terbatas, ditambah lagi

dia tak pandai ilmu berenang, dalam keadaan begini terpaksa ia balik kembali ke

dunia persilatan, ia punya rencana akan mencari seorang pemuda yang berbakat

agar bisa dididik untuk menjadi pembantunya.

Ketika akhirnya ia menemukan Cau-ji dan melihat bocah itu memiliki bakat

alam, tanpa ragu lagi dia culik bocah itu dan dibawa pulang.

Mula-mula raja hewan bermaksud melatih Cau-ji dengan ilmu berenang, agar

di kemudian hari ia punya kemampuan untuk bertarung di dalam air, siapa

sangka ternyata Cau-ji sangat mahir dalam ilmu berenang.

Maka dia pun putuskan untuk menggunakan empedu ular sanca ditambah

khasiat pil Tay-huan-wan untuk memupuk dahulu dasar kekuatan tubuh si

bocah, agar di kemudian hari bocah itu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk

membunuh naga sakti itu.

Waktu itu matahari senja telah bersembunyi di balik bukit, suasana di dalam

lembah diliputi kegelapan yang luar biasa.

Tanpa berkedip raja hewan mengawasi terus gerak gerik naga tersebut, tibatiba

ia saksikan tubuh sang naga yang berwarna hijau tua dengan lingkaran

cahaya putih di sekelilingnya mulai muncul dari permukaan air, diam-diam ia

merasa sangat kegirangan.

Rupanya tubuh bagian itulah merupakan titik kelemahan dari naga sakti

tersebut, justru karena selama ini sangat sulit untuk memancing si naga agar

memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling lemah, maka selama ini sama

sekali tak ada kesempatan untuk membasminya.

Sambil menahan rasa girang yang luar biasa, si raja hewan mengawasi terus

lingkaran putih di tubuh naga yang makin lama membengkak semakin besar

lantaran melalap bangkai ular sanca, pisau belatinya segera digenggam semakin

kencang.

Mendadak ia membentak keras, pergelangan tangan kanannya segera

diayunkan ke muka … “Sreeet!” diiringi kilatan cahaya tajam yang menyilaukan

mata, pisau belati itu langsung menghajar tepat di sasaran.

Terluka oleh serangan maut itu, rupanya si naga sakti kesakitan setengah

mati, tubuhnya bergulingan di atas permukaan hingga menimbulkan gelombang

arus yang luar biasa kerasnya, sementara bangkai ular sanca masih ada lima

enam kaki panjangnya yang belum sempat tertelan segera diobat-abitkan

keempat penjuru.

Secara beruntun raja hewan melepaskan dua bilah pisau belati lagi, sayang

waktu itu si naga sudah menyelam kembali ke dasar telaga.

“Criiing, criiinggl* dua dentingan nyaring diiringi percikan bunga api menyebar

ke udara, kedua belah pisau belati itu menghajar telak di atas sisik tubuhnya

yang tebal dan mencelat ke arah lain.

Agaknya naga sakti itu sudah menemukan tempat persembunyian si raja

hewan, mendadak dia goyangkan kepalanya ke belakang, ekor bangkai ular

sanca yang belum tertelan itu secepat petir langsung menyambar tiba.

Dalam waktu singkat raja hewan merasa datangnya tenaga himpitan sebesar

tindihan gunung Thay-san yang menghantam tiba, terkejut bercampur seram

buru-buru kakek itu melompat ke belakang untuk meloloskan diri.

Walaupun ia berhasil menghindari sapuan maut itu, tak urung tubuhnya

mundur juga beberapa langkah dengan sempoyongan karena terhajar sisa

tenaga sapuan binatang itu.

Gagal dengan serangannya yang pertama, naga sakti itu tampak tidak puas,

lagi-lagi dia goyangkan kepalanya melakukan sebuah sapuan lagi.

Mimpi pun si raja hewan tidak menyangka kalau binatang tersebut masih

memiliki tenaga serangan yang begitu dahsyat kendati tubuhnya sudah terluka

parah, buru-buru dia berkelit lagi ke belakang.

Naga sakti yang sudah bangkit amarahnya menyerang semakin membabi

buta, tanpa perdulikan luka parah yang diderita serta ganjalan bangkai ular

yang masih belum sempat tertelan semua, dia melancarkan sapuan maut

berulang kali.

Gelombang arus yang maha dahsyat segera menggelora di permukaan telaga,

keadaannya mengerikan sekali.

Si raja hewan segera menjumpai permukaan tanah yang semula kering, saat

ini sudah tiga puluh persen terendam air, keadaan tersebut bukan saja

menambah dahsyatnya kekuatan daya serangan dari si naga, bahkan membuat

gerak gerik sendiri semakin tak leluasa

Setengah jam kemudian, permukaan air sudah naik setinggi lutut, si raja

hewan yang tak pandai ilmu berenang mulai panik dan ketakutan.

Sekalipun sapuan maut yang dilancarkan naga sakti itu berhasil dihindari

semua, tapi pukulan gelombang air yang menghajar tubuhnya membuat sekujur

badannya kesakitan, gerak geriknya semakin lamban, terhambat dan tidak

leluasa.

Sementara situasi bertambah kritis, mendadak terdengar suara pekikan aneh

berkumandang dari balik lembah.

Raja hewan kegirangan, buru-buru dia bersiul mengeluarkan suara pekikan

yang nyaring.

Tiba-tiba burung aneh raksasa itu muncul dari balik lembah, kemudian

sambil berpekik keras, ia menukik ke bawah dan menyambar kepala naga sakti

itu.

Si naga segera mengegos ke samping, bukan saja lolos dari gigitan si burung,

malahan dengan menggunakan ekor bangkai ular sanca, ia balas melancarkan

serangan.

Pertempuran sengit antara burung elang raksasa melawan naga sakti pun

segera berlangsung dengan hebatnya.

Waktu itu kondisi badan si raja hewan sudah kelelahan, bukan saja rasa

kaget dan ngerinya belum hilang, hawa murninya juga terkuras banyak, buruburu

dia menelusuri dinding tebing dan kabur masuk ke dalam gua.

Lebih kurang setengah jam kemudian, dengan susah payah akhirnya dia

berhasil merangkak balik ke dalam gua, sambil menghembus napas panjang, ia

segera merebahkan diri ke lantai.

Tiba-tiba terdengar pekikan aneh bergema lagi dari arena pertarungan.

“Aduh celaka!” pekik si raja hewan, tergesa-gesa dia merangkak keluar dari

gua untuk memeriksa keadaan, tampak sayap kanan burung elang raksasanya

telah patah, saat itu burung itu sedang terhempas ke sisi dinding tebing.

Melihat musuhnya terluka, naga sakti itu segera menyusul tiba, kembali dia

menyerang dengan menggunakan bangkai ular sanca.

Burung elang raksasa itu nyata memang burung sakti, tiba-tiba ia kebaskan

sayap kirinya sementara kakinya menjejak di atas permukaan air.

Begitu tiba di samping kepala naga itu, tiba-tiba ia mematuk mata kiri

musuhnya.

Pekikan keras kembali bergema di udara, mata kiri naga sakti itu terpatok

telak, dalam sakitnya naga itu menggelengkan kepalanya menyambar ke tubuh

lawan, burung raksasa itu segera terhajar telak.

“Byuuurrr…!” tak ampun burung raksasa itu tenggelam ke dalam telaga,

setelah meronta beberapa kali akhirnya tubuhnya berdiam kaku.

“Hui-ji!” pekik raja hewan amat sedih, tubuhnya gemetar keras saking

tergoncangnya perasaan hatinya.

Burung raksasa itu berhasil ia jinakkan pada dua puluh tahun berselang di

tengah gurun pasir, selama ini binatang itu selalu menyertainya berkelana dan

mengembara ke seluruh penjuru dunia, hubungan batin antara mereka berdua

boleh dibilang sangat mendalam.

Sungguh tak nyana gara-gara ingin menyelamatkan jiwanya, burung tersebut

harus mengorbankan jiwanya.

Dalam pada itu si naga sakti itu sudah menyelam balik ke dasar telaga dengan

kecepatan luar biasa, rupanya ia kuatir akan bertemu lagi dengan musuh

tangguh, suasana di telaga itupun pelan-pelan pulih kembali dalam keheningan.

Dengan perasaan berat sekali lagi si raja hewan mengamati bangkai burung

raksasa itu, kemudian dengan sempoyongan ia balik ke dalam ruangan, selesai

minum obat, dia pun mulai bersemedi mengatur pemapasan.

Lebih kurang dua jam kemudian, ketika ia membuka matanya kembali,

tampak Cau-ji entah sejak kapan sudah mendusin, saat itu sedang mengawasi

ke arahnya dengan pandangan keheranan. Tak tahan ia segera tersenyum. Cauji

balas senyuman itu dengan senyuman penuh persahabatan, kemudian

tegurnya. “Hei setan ular tua, kenapa keadaanmu begitu mengenaskan? Kenapa

burung aneh itu bisa mati?”

Raja hewan tidak mengira kalau cairan empedu ular sanca ditambah pil Tayhuan-

wan yang dicekokkan ke tubuh Cau-ji bisa mendatangkan reaksi begitu

luar biasa, sehingga totokan jalan darah pada hek-tiam-hiatnya bisa dibebaskan

sendiri, tak tahan ia tertawa tergelak.

“Aneh benar orang ini,” pikir Cau-ji di dalam hati, “lagi sedih kok malahan

tertawa, jangan-jangan dia sudah gila lantaran kelewat sedih?”

Belum habis ingatan itu melintas lewat, terdengar si raja hewan kembali

sudah menegur: “Hey monyet, sekarang sudah jam berapa?”

“Kalau dilihat keadaan langit, semestinya menjelang fajar, mungkin sekarang

sudah jam 4 pagi!”

“Hahaha … cepat amat waktu berlalu, padahal ketika bertarung melawan naga

tadi waktu masih tengah malam….”

“Apa? Kau berani berkelahi dengan makhluk ganas itu?”

“Hahaha … apanya yang menakutkan? Hanya mengandalkan sebilah pisau

belati, lohu telah bertarung habis-habisan melawan binatang itu, coba aku bisa

berenang, sudah sedari tadi aku habisi nyawanya!”

“Tapi makhluk itu kan berdiam diri di dasar telaga, kenapa kau pingin

membunuhnya?”

“Monyet cilik, hingga kini si naga sakti itu belum mencapai puncak

kedewasaan, kalau dibiarkan hidup berapa tahun lagi, dia pasti akan

mendatangkan banyak kerugian bagi umat manusia, paling tidak bisa

menimbulkan banjir bandang!”

“Betul juga ucapanmu setan ular tua, kemarin aku sempat melihat betapa

dahsyatnya gelombang air yang ditimbulkan sewaktu binatang itu muncul. O ya

… apa yang terjadi dengan burung raksasamu? Kenapa bisa mati?”

“Burung itu mati gara-gara menolongku sewaktu nyawaku terancam, setelah

bertempur satu jam lebih, walaupun Hui-ji berhasil mematuk mata lawannya

sampai buta, sayang dia sendiripun tewasl”

Bergolak darah panas dalam tubuh Cau-ji. sambil menggertak gigi serunya:

“Makhluk itu benar-benar bedebah, kalau ada kesempatan, aku bersumpah

akan membasminya.”

Diam-diam raja Hewan merasa kagum sekali dengan semangat jantan bocah

itu, katanya sambil tertawa: “Hey monyet cilik, lambung makhluk aneh itu sudah

termakan sebuah tusukanku, sampai waktunya, asal kau cabut keluar pisau

belati itu maka dia pasti akan segera mampus!”

Mendengar ucapan tersebut Cau-ji kegirangan, ia segera melompat bangun

dan siap keluar dari dalam gua.

“Hey, mau apa kamu?” si raja hewan segera menegur.

“Terjun ke telaga dan membunuh makhluk aneh itul”

“Tidak bocah, sekarang arus bawah telaga sangat deras dan kacau,.

Sementara kekuatanmu belum mencapai pada puncaknya, kepergianmu bisa

mendatangkan celaka buat diri sendiri.”

“Tapi… jika makhluk itu sanggup menghilangkan pisau belati yang menancap

di lambungnya, bukankah keenakan baginya?”

“Hahaha … belati itu menghujam tepat di titik kelemahannya, lohu jamin

mulai sekarang dia tak berani sembarangan bergerak lagi, hanya saja, bila belati

itu mulai berkarat dan akhirnya patah, maka saat itulah dia bakal munculkan

diri kembali.”

“Butuh waktu berapa lama pisau belati itu menjadi berkarat dan akhirnya

patah?”

“Hahaha … tak usah panik, paling tidak butuh waktu selama sepuluh

tahunan!”

“Hmm, sekarang aku baru berusia sebelas tahun, sepuluh tahun kemudian

aku pasti telah berhasil memiliki kungfu yang hebat, sampai waktunya aku pasti

akan membasmi makhluk itu dari muka bumi.”

“Punya semangat!” puji si raja hewan nyaring, “hahaha … jangan kuatir, lohu

jamin dalam lima tahun mendatang kau pasti sudah mampu terjun ke dalam

telaga dan membantai binatang itu”

“Sungguh?”

“Hahaha … lohu tak pernah bohong, ayo kita turun dan mengubur bangkai

Hui-ji!”

Cau-ji ikut berjalan keluar gua, tapi ketika melihat selisih jarak antara

permukaan telaga dan permukaan gua mencapai puluhan kaki tingginya, dia

jadi sangsi.

“Hey monyet, kenapa berhenti?” raja hewan segera menegur.

“Aku … jaraknya begitu tinggi, jika melompat turun, bukankah badanku bakal

hancur berkeping?”

“Hahaha … monyet cilik, coba periksa sekarang sudah jam berapa?”

Cau-ji mendongakkan kepalanya memeriksa letak bintang di langit, kemudian

sahutnya: “Sekitar jam empat pagi.”

“Hahaha … jam empat pagi mestinya merupakan saat yang paling gelap,

kenapa kau bisa melihat bangkai Hui-ji dengan sangat jelas?”

“Aaah benar, kenapa aku tidak perhatikan hal ini? Tapi… sebenarnya apa

yang telah terjadi?”

“Hahaha … kau masih ingat dengan ranjang batu yang kau gunakan untuk

tidur? Sebetulnya ranjang itu merupakan sebuah benda mestika dari dunia

persilatan, bukan saja dapat menyembuhkan pelbagai luka, juga bisa menambah

tenaga dalam seseorang.”

“Oooh, rupanya ranjang itu barang mestika, aku masih mengira ibu

membohongi aku.”

Raja hewan tahu kalau bocah ini rasa ingin tahunya sangat besar, maka dia

sengaja mengarang sebuah cerita tentang ranjang batu untuk membohonginya,

tentu saja dia tak tahu kalau dalam kenyataannya, bocah itu memang benarbenar

memiliki sebuah ranjang batu di rumahnya.

Maka sambil tertawa kembali ujarnya: “Hey monyet cilik, sudah melihat

dengan jelas?”

Sambil berkata ia segera melompat turun ke bawah tebing.

Cau-ji tidak menyangka orang itu langsung berangkat begitu selesai bicara,

buru-buru dia melongok ke bawah.

Tampak tubuh si raja hewan meluncur turun dengan cepatnya, tapi setiap

berapa kaki dia selalu melepaskan sebuah pukulan ke dinding untuk

menghambat gerak laju tubuhnya yang meluncur, setelah melepaskan pukulan

yang kesekian kalinya, kekuatan tubuhnya yang meluncur ke bawah semakin

perlahan dan lambat.

Menjelang tiba di permukaan tanah, sekali lagi dia lepaskan sebuah pukulan

ke atas tanah, begitu serangan dilepas, tubuhnya melayang turun semakin

lambat sehingga dia bisa hinggap di bawah dengan santainya.

Cau-ji merasa sangat kagum dengan kemampuan kakek itu, sementara dia

masih melamun, tiba-tiba terdengar si raja hewan membentak nyaring: “Hey

monyet cilik, ayo cepat turun!”

Memandang bayangan tubuhnya yang kelihatan kecil di dasar tebing itu, tibatiba

Cau-ji merasa hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya, tanpa sadar ia

tarik mundur badannya.

“Kenapa monyet? Kau ketakutan?” ejek si raja hewan.

Dirangsang dengan ucapan yang bernada ejekan itu, Cau-ji merasa hawa

panas membara di rongga dadanya, sambil menggertak gigi ia segera melompat

ke bawah.

Terdengar desiran angin tajam menderu di sisi telinganya, begitu tajam

suaranya membuat ia merasa kendang telinganya amat sakit

“Hey monyet, cepat lancarkan pukulan ke dinding tebing!” kembali si raja

hewan berteriak.

“Aaah, betul” batin Cau-ji, “bagaimana sih aku ini? Kenapa lupa memukul ke

dinding?”

Dalam gugupnya buru-buru dia hajar tebing karang itu kuat-kuat

“Blaaammm!” diiringi suara benturan dahsyat, tebing karang yang kuat lagi

keras itu segera terhajar hingga muncul sebuah liang yang amat dalam, percikan

batu dan pasir memancar hingga kejauhan berapa kaki.

Cau-ji sama sekali tidak menyangka kalau dia memiliki kemampuan

sedahsyat itu, untuk berapa saat bocah itu jadi tertegun.

Selama ini dia hanya tahu kalau kekuatan tenaga pukulannya hanya mampu

menghancurkan sebutir batu kecil, tapi mengapa secara tiba-tiba kekuatan

badannya bisa bertambah beratus kali lipat lebih dahsyat.

Sementara dia masih termenung, tubuhnya telah meluncur ke bawah dengan

kecepatan tinggi.

“Hey monyet, kau bosan hidup? Cepat lancarkan pukulan lagi!”

Dalam kagetnya sekali lagi Cau-ji melepaskan pukulan, tapi ia segera

menjumpai badannya berada di sebuah tebing sempit yang dijepit dua tebing

tinggi, untuk sesaat ia jadi bingung harus melepaskan pukulan ke arah tebing

yang mana.

“Hey monyet, cepat lompat ke air!”

Ketika menengok ke bawah, Cau-ji menjumpai tubuhnya sedang meluncur ke

atas permukaan telaga, dalam kagetnya ia berjumpalitan beberapa kali di udara

kemudian mendayung ke samping dan melontarkan badannya ke arah

permukaan air.

“Bruuurr …!” diiringi percikan air, Cau-ji tercebur ke dalam telaga, buru-buru

dia berenang naik ke atas permukaan.

Menanti hingga bocah itu sudah menongolkan kepalanya dari permukaan air,

raja hewan baru bisa menghembuskan napas lega sambil tertawa terbahakbahak.

Menggunakan kesempatan itu Cau-ji berenang menuju ke sisi bangkai burung

elang raksasa, kemudian sambil memegangi bangkai tersebut, ia berenang balik

ke tepi telaga.

Raja hewan segera membuat sebuah liang besar untuk mengubur bangkai

burung kesayangannya, ketika semuanya telah selesai, ia baru berkata: “Hey

monyet, kau membuat aku jantungan, untung tidak mampus gara-gara

menguatirkan keselamatanmu.”

“Aku sendin juga kurang tahu kalau kekuatanku mendadak bisa bertambah

hebat….” sahut Cau-ji dengan wajah bersemu merah.

“Hahaha … bukankah lohu sudah bilang, kesemuanya ini berkat jasa dari

ranjang batu?”

“Tapi … kenapa kau sendiri tidak bisa memukul tebing karang itu hingga

hancur seperti pukulanku?”

“Tentu saja berbeda, aku memukul dinding batu karang hanya bertujuan

menghambat laju kecepatan daya luncur tubuhku, seperti orang lagi makan

bubur, tenaganya pasti berbeda ketika makan nasi, dan lagi aku toh tak pandai

berenang, coba kalau aku yang tercebur … mungkin sudah mati tenggelam

sedari tadi….”

Merah padam selembar wajah Cau-ji, dia melengak dan untuk sesaat tak tahu

bagaimana harus menjawab.

“Hahaha … padahal kau tak bisa disalahkan,” kembali raja hewan berkata,

“bagaimanapun juga kau tak lebih hanya seorang bocah berusia sepuluh tahun.

Makanya lain kali kau mesti belajar bagaimana mengendalikan tenaga pukulan,

mengerti?”

“Mengerti, akan kuingat terus!”

“Hey monyet,” tiba-tiba si raja hewan berkata lagi sambil tertawa, “coba lihat,

bukankah naga sakti itu tak berani keluar lagi?”

“Ya, benar, tampaknya binatang itu terluka parah. Ah betul, bukankah kau

akan mengajari aku bagaimana cara menuruni dasar telaga dengan arus yang

deras itu untuk membunuh naga tersebut?”

“Tidak usah terburu napsu, ayo duduk, kita bicara dulu.”

“Baik, aku akan bicara duluan, tapi nanti kau mesti cerita juga siapa dirimu

yang sebenarnya.”

“Hahaha … bukankah lohu sudah memperkenalkan diri?”

Tidak bisa, kau hanya menyebut nama serta julukanmu, paling tidak kau

mesti jelaskan kenapa menangkap aku dan membawanya kemari, kau harus

jelaskan alasannya agar aku tak jadi orang yang kebingungan.”

“Baik, baik, sekarang kau bicara dulu.”

Maka secara ringkas Cau-ji menceritakan asal-usulnya serta bagaimana dia

mengikuti bibinya Go Hoa-ti berkelana dalam dunia persilatan untuk mencari

pengalaman.

Dia memberi penjelasan secara terperinci, tanpa terasa ketika selesai bicara,

fajar telah menyingsing.

“Oooh … rupanya kau adalah keturunan dari Ong Kim-seng, Ong-locianpwe,”

gumam si raja hewan kemudian.

Begitu tahu kalau kakek tersebut kenal dengan kakeknya, Cau-ji jadi

kegirangan setengah mati, serunya tak tahan: “Silu … ooh, locianpwe, ternyata

kau kenal dengan Ong-yayaku?”

“Hahahaha … Ong-locianpwe sangat termashur dalam dunia persilatan, baik

ilmu silatnya maupun watak dan sepak terjangnya, mana berani lohu

melupakan kebaikan budinya? Aah benar, tadi kau menyinggung soal bibimu Go

Hoa-ti, apakah dia memiliki julukan sebagai Kim-leng kim-hiap, Pendekar emas

dari kota Kim-leng?”

“Soal ini… Cau-ji kurang jelas.”

“Aaah masa iya? Bukankah bibimu sengaja mengajakmu berkelana untuk

mencari pengalaman, masa … Aduh, jangan-jangan dia adalah perempuan yang

kutotok jalan darahnya kemarin?”

“Benar Mungkin tidak dia ditangkap orang jahat?”

“Soal ini… aaah, semuanya kesalahan lohu kenapa kelewat berangasan dan

gegabah.”

“Locianpwe, bagaimana kalau kita pergi mencarinya sekarang?”

“Cau-ji, kau anggap tempat ini berada di luar kota Chi-lam? Terus terang, kita

berada di gunung Wu-san, gunung Wu-san itu terletak di selat Sam-shia di

sungai Tiangkang, paling tidak selirih jarak ribuan li dari kota Chi-lam.”

“Aaah, mana mungkin? Masa dalam semalaman kita bisa berada di tempat

yang begitu jauh?”

“Hahaha … Hui-ji adalah seekor burung sakti, apa anehnya dalam semalaman

terbang sejauh ribuan li?”

“Waah, sekarang Hui-ji sudah mati, berarti kita tak mungkin bisa balik ke

sana secepatnya?”

“Yaa, kita hanya bisa berharap dia tidak menjumpai peristiwa yang jelek.”

“Locianpwe,” tiba-tiba Cau-ji berseru sambil melotot, “sekali lagi ingin

kukatakan, bila bibiku sampai terkena musibah, maka kau harus bertanggung

jawab.”

“Baik, aku akan bertanggung jawab,” sahut raja hewan cepat

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: “Cau-ji, lohu akan mengajak

kau menuju ke sebuah tempat berlatih silat sementara kau berlatih untuk

menguasai ilmu yang tinggi, lohu akan berkunjung ke rumahmu.”

“Bagus sekali, tolong sampaikan kepada orang rumah, katakan jika aku

berhasil membunuh binatang tersebut, aku pasti akan pulang ke rumah.”

“Hahahaha … pasti akan kusampaikan, ayo kita segera berangkat!”

Selesai bicara, dia segera bergerak menuju ke arah hutan.

Melihat itu buru-buru Cau-ji mempercepat langkahnya mengintil di belakang

kakek itu.

Siapa tahu begitu dia kerahkan tenaganya, gerakan tubuhnya jadi cepat

sekali, malahan berhasil melampaui si raja hewan yang telah berangkat duluan,

sekali lagi dia tertegun dibuatnya.

“Jangan kaget berkat ranjang batu!” bisik raja hewan sambil tertawa.

Cau-ji manggut-manggut, dia mengira keberhasilannya benar-benar berkat

khasiat ranjang batu, maka dia pun mengatur napas dan berusaha mengintil di

belakang raja hewan dengan satu jarak tertentu.

Sesudah melewati sebuah celah bukit yang sangat landai, lambat laun

permukaan tanah makin tinggi dan semakin curam.

Sesaat kemudian tibalah mereka di depan sebuah tebing bukit yang sangat

tinggi.

Tebing itu dipenuhi pohon siong serta beberapa air terjun yang sangat tinggi,

selain indah pemandangan alamnya, udara pun terasa amat segar.

Raja hewan berhenti di tepi kolam, diteguknya air jernih itu satu tegukan, lalu

ujarnya sambil tertawa: “Cau-ji, minumlah satu tegukan, airnya segar dan manis”

Setelah melalui perjalanan sekian waktu, sebenarnya Cau-ji mulai merasa

kehausan, maka tanpa banyak buang waktu dia segera meneguk air itu berapa

tegukan, benar juga, air itu terasa segar dan manis.

Dalam pada itu si raja hewan sedang mengamati air terjun di hadapannya

dengan termangu.

Melihat keadaan kakek itu, dengan keheranan Cau-ji segera menegur

“Locianpwe, apa yang sedang kau pikirkan?”

Seperti baru sadar akan sikapnya, buru-buru si raja hewan berkata sambil

tertawa: “Cau-ji, di belakang air terjun itu terdapat sebuah gua, gua itulah

tempat yang cocok bagimu untuk belajar ilmu, kau takut dingin tidak?”

“Takut? Sewaktu masih berada di pesanggrahan Hay-thian-it-si, biar di musim

dingin yang membeku pun saban hari Cau-ji tetap pergi berenang.”

“Bagus, jadi kau tidak takut menderita?”

“Cau-ji bertekad ingin belajar ilmu kungfu yang hebat biar mesti lebih

menderita pun aku tidak takut!”

“Bagus sekali, bawalah serta dua botol obat ini, bila kau merasa lapar atau

kedinginan, makanlah satu butir!”

Sambil berkata ia keluarkan dua buah botol obat dan diserahkan ke tangan

Cau-ji.

Cau-ji segera menerima botol obat itu dan dimasukkan ke dalam saku,

kemudian ujarnya: “Locianpwe, setelah berada dalam gua, apa yang mesti Cau-ji

latih? Apakah kau akan menyerahkan kitab pusaka ilmu silat kepadaku?”

“Hahaha … kau boleh berlatih apa saja yang ingin kau latih.”

“Aaah, mana ada cara berlatih ilmu silat macam begini?”

“Hahaha … sesudah berada dalam gua, kau akan tahu dengan sendirinya, jika

suatu ketika kau merasa sudah tak ada yang bisa dilatih, keluarlah dari gua

tersebut. Mengerti? Nah, sekarang bersiaplah untuk masuk ke dalam gua.”

“Locianpwe, jadi kau belum pernah masuk ke dalam gua itu?” tanya Cau-ji

keheranan.

“Belum pernah! Aku hanya pernah sampai di mulut gua, tapi begitu terkena

hembusan angin kuat serta aliran hawa dingin yang muncul dari balik gua, aku

segera lari ketakutan.”

“Kau … kau bukan lagi bergurau dengan Cau-ji bukan? Dengan ilmu silatmu

yang begitu hebatpun tak berani masuk, apalagi aku?”

“Hahaha … anak muda, tubuhmu ibarat segumpal api, sementara aku si tua

bangka ibarat api yang hampir padam, jangan kuatir, tak nanti lohu

mencelakaimu.”

“Locianpwe, biarpun kau belum pernah bercerita tentang dirimu, tapi Cau-ji

percaya kau bukan orang jahat, selamat tinggal!”

Begitu selesai berkata, ia segera melompat ke atas batu cadas yang amat besar

itu.

Sementara si raja hewan mengawasi terus hingga bayangan tubuh bocah itu

lenyap dari pandangan, kemudian ia bersila dan mulai mengatur pernapasan.

Tampaknya dia pingin membuktikan apakah Cau-ji akan mengundurkan diri

dari tantangan itu atau tidak.

Sementara itu Cau-ji sudah tiba di belakang air terjun itu, sekarang dia baru

dapat melihat dengan jelas bahwa tebing tersebut punya lekukan yang cukup

dalam di bagian punggungnya, sementara puncak tebing menjorok keluar maka

bagian bawahnya justru menjorok jauh ke dalam.

Pelan-pelan ia berjalan menuju ke dasar tebing, suasana di situ kelihatan

sangat redup karena minimnya cahaya, rotan dan duri tumbuh melingkari batu

cadas, lumut hijau terhampar bagaikan sebuah karpet raksasa, begitu licinnya

tempat itu, orang bisa tergelincir jika berjalan kurang hati-hati.

Cau-ji berjalan menuju ke sisi tebing, dengan berpegangan pada rotan yang

tumbuh di sekelilingnya ia mulai menelusuri tempat itu.

Tiba-tiba dari sisi sebelah kiri ditemukan sebuah celah retakan tebing, dari

balik celah itu memancar keluar sinar terang, maka Cau-ji pun segera mengikuti

arah datangnya cahaya itu dan masuk ke dalam celah.

Ternyata celah gua itu lebarnya tak sampai empat lima depa dengan

kedalaman dua kaki, terlihat setitik cahaya terang memancar keluar dari balik

celah itu.

Cau-ji pun meneruskan rambatannya menuruni celah tadi. baru tiba di dasar

celah, tiba-tiba kaki kanannya menginjak tempat kosong, nyaris dia tergelincir

ke bawah.

Ketika bocah itu dapat menguasai diri dan melongok ke bawah, terlihatlah

sebuah mulut gua yang gelap gulita muncul dari sisi kanannya.

Gua itu tidak diketahui seberapa dalamnya, tapi dipandang dari kejauhan

secara lamat-lamat ia dapat menangkap segumpal cahaya berbentuk bulat

muncul dari balik kegelapan gua itu.

Terdorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, Cau-ji menerobos masuk ke

dalam gua itu melalui celah yang sempit, ketika kakinya menginjak di dasar gua,

segera bergema suara gemersik hingga ke seluruh gua.

Semakin menerobos masuk ke balik celah sempit itu, kedengaran suara

gemericik air yang makin lama semakin bertambah jelas.

Cau-ji mulai merasa kesulitan untuk melanjutkan rambatannya memasuki

celah tersebut, sementara suasana dalam lorong pun makin lama makin

bertambah gelap, permukaan jalan yang tak merata semakin memperberat

medan yang harus dilalui, bila kurang hati-hati berjalan, bisa jadi bocah itu

akan terjungkal balik.

Mendadak bergema suara gemerisik yang sangat keras dari balik gua, disusul

kemudian terdengar suara cicitan yang aneh, bau amis yang amat menyesakkan

napas tiba-tiba menyembur datang dari arah depan.

Cau-ji terkejut sekali, dia tak tahu makhluk aneh apa yang datang menyerang,

untuk menjaga diri, buru-buru dia lontarkan sebuah pukulan dengan tangan

kanannya.

“Ciit …ciit …ciit” diiringi suara mendekat yang ramai, rupanya ada satu

rombongan kelelawar yang terbang melintas lantaran merasa terusik.

Setelah tahu jika cuma rombongan kelelawar, Cau-ji menghembuskan napas

lega, tak urung kejadian tadi meningkatkan kewaspadaannya, siapa tahu di

belakang rombongan kelelawar masih akan muncul makhluk lainnya yang lebih

menyeramkan?

Semakin berjalan ke dalam, semakin banyak rombongan kelelawar yang

bersampokan dengan tubuhnya, lama kelamaan jengkel juga hati Cau-ji,

pikirnya: “Tempat apaan ini? Bukan saja permukaan jalan tidak rata, bahkan

hawanya dingin dan kelelawarnya begitu banyak”

Pada saat itulah secara lamat-lamat ia mendengar suara guntur yang bergema

dari balik gua, mula pertama suara itu rendah dan dalam, tapi lama kelamaan

suaranya makin nyaring dan keras, malah disertai juga hembusan angin yang

kencang.

Semakin nyaring suara guruh itu bergema, makin bergetar suasana di tempat

tersebut, bahkan dinding karang pun seakan ikut bergoyang.

Tak terlukiskan rasa kaget Cau-ji menghadapi situasi seperti ini, untuk sesaat

dia tak tahu apa yang mesti diperbuat, ia merasa deruan angin yang berhembus

makin lama semakin bertambah besar, malahan disertai pula dengan hawa

dingin yang merasuk tulang.

Dalam posisi seperti ini, secepat kilat Cau-ji tempelkan badannya di atas

dinding tebing, dia berusaha menempel sangat rapat agar tak tersapu hembusan

angin tajam itu.

Siapa tahu hembusan angin dingin yang semula menerjang langsung dari

muka, tiba-tiba berubah arah, diiringi suara menggelagar yang memekikkan

telinga, angin dingin itu mulai berputar dan makin kencang putarannya sehingga

akhirnya berubah jadi hembusan angin puting.

Pusaran angin berputar itu bukan saja mengangkat permukaan air di dalam

gua, bahkan disertai juga dengan pusaran pasir, debu serta batu kerikil yang

berputar di seluruh rongga gua.

Buru-buru Cau-ji berpegangan di atas dinding gua, sayang dinding karang

sangat licin, lama kelamaan ia tak sanggup menahan diri dari gulungan angin

itu dan akhirnya ia merasa badannya seakan-akan tergulung dalam pusaran

angin berpusing itu.

Tak selang berapa saat kemudian seluruh badannya sudah terangkat dan

tertelan di balik pusaran angin berpusing yang maha dahsyat itu, tubuhnya yang

berulang kali membentur di dinding karang, bukan saja membuat tubuhnya

terluka, pakaian yang dikenakan pun mulai tercabik-cabik.

Keadaannya saat itu tak ubahnya seperti pakaian dalam mesin cuci, semakin

berputar makin bertambah cepat, nyaris ia tak bisa bernapas.

Masih untung Cau-ji bukan anak bodoh, sadar kalau kondisinya gawat, cepat

dia menarik napas panjang dan melindungi jantungnya dengan hawa murni,

coba tidak bertindak begitu, mungkin dia sudah pingsan sejak tadi.

Rupanya pusaran angin berpusing itu merupakan hembusan angin puyuh

yang sangat alami, angin macam begini hampir setiap hari dua kali melanda di

dalam gua.

Biasanya bila angin puyuh mulai berputar maka satu jam kemudian pengaruh

angin itu akan lenyap dengan sendirinya.

Jika orang biasa yang tersapu angin berpusing ini, dapat dipastikan orang itu

akan segera mati tercincang.

Masih untung Cau-ji masih perjaka, selain itu baru saja menelan empedu ular

sanca dan menelan pil Tay-huan-wan yang mujarab dari Siau-lim-si, tak heran

jika tubuhnya sama sekali tidak terluka.

Begitulah, Cau-ji yang tertelan gulungan angin puyuh segera merasakan isi

perutnya seakan dikocok keras, ia merasa tubuhnya bergetar keras, diiringi

jeritan keras pingsannya anak itu.

Entah berapa lama sudah lewat … ketika sadar kembali dari pingsannya, Cauji

merasakan seluruh kulit tubuhnya sakit, tapi ketika ia coba menggerakkan

badannya, ternyata tulang belulangnya tetap utuh, malah rasanya segar sekali.

Dalam girangnya ia segera melompat bangun.

“Blaaam …I” tiba-tiba kepalanya membentur langit-langit gua.

Benturan itu sangat keras dan kuat, membuat Cau-ji menjerit kesakitan,

sambil meraba kepala sendiri, serunya: “Waah… untung kepalaku tidak keluar

darah.”

Ketika dia mencoba untuk mengawasi langit-langit gua, dijumpainya bekas

benturan itu sudah muncul sebuah liang dalam bekas kepalanya.

“Heran, apa yang telah terjadi?” kembali dia berpikir, “memangnya aku sudah

berubah jadi si hwesio kepala baja?”

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba telinganya mendengar suara orang

merintih, ketika diamati lebih seksama, ia mendengar suara itu seperti sedang

memanggilnya: “Sau… saudara… ci… cilik..”

Cau-ji tersentak kaget dalam keadaan begini, berdiri juga bulu kuduknya, dia

mengira ada setan gentayangan yang sedang memanggil namanya.

“Sau… saudara… ci… cilik….”

“Kau… siapa kau…? Ma… manusia atau setan?”

“Aku… aku manusia….”

Cau-ji menghembuskan napas lega, pelan-pelan dia mulai memeriksa keadaan

sekelilingnya sembari mencari sumber datangnya suara panggilan itu.

“Hey, kau berada dimana?”

“Di… di sini …”

Sekali lagi Cau-ji mencari dengan teliti, akhirnya ia jumpai adanya sebuah

celah bulat selebar dua depa yang berada di atas dinding sebelah kiri, dengan

rasa gembira ia dekati lubang itu dan melongok ke dalam.

“Haha… setan!” jeritnya kemudian.

Ternyata di balik lubang itu tidak nampak apa-apa, yang terlihat cuma sebuah

raut muka yang ditutupi rambut kusut

Setelah mendengar jeritan kaget dari Cau-ji, orang yang berada dalam gua itu

buru-buru membenahi rambutnya sehingga Cau-ji dapat melihat sebuah raut

muka yang dekil.

Biarpun rambutnya kusut lagi kotor, orang itu mempunyai panca indera yang

sempurna dan jelas, terutama model hidung dan bibirnya, membuat siapapun

yang melihat segera timbul perasaan simpatik.

“Siapa kau?” kembali Cau-ji menegur.

Tampaknya orang itupun baru saja tersiksa oleh pusaran angin berpusing

yang dingin lagi kuat itu, kini dia sedang mengatur napas untuk mengembalikan

kondisinya, setelah agak pulih orang itu baru tertawa seram.

Suara tertawanya sangat mengerikan, di balik seram terselip perasaan sedih,

pedih, marah dan rasa dendam yang luar biasa.

Jangan dilihat usia Cau-ji masih sangat muda, namun dia pun dapat

menangkap perasaan sedih dan pedih yang luar biasa di balik tertawa orang itu,

ia tahu orang tersebut tentu sudah menderita luka dalam yang amat parah.

Diam-diam ia periksa sakunya, lalu pikirnya dengan perasaan girang: “Aaah,

untung kedua botol obat pemberian raja hewan masih utuh!”

Maka diambilnya sebuah botol obat itu lalu tanpa banyak bicara dilontarkan

ke arah orang tersebut.

Baru saja orang itu selesai tertawa ketika tiba-tiba melihat ada sebuah botol

kecil dilontarkan ke arahnya, buru-buru dia sambar botol tersebut, dibuka

penutupnya dan dibau isinya, setelah itu serunya: “Aaah, pil ini adalah pil

seratus hewan Pek-siu-wan milik Oh Lo-koko, kau kenal dengan si raja hewan?”

“Benar,” ia mengangguk, “dia memanggilku Cau-ji!”

“Ya, kalau toh kita adalah orang sendiri, biarlah kuterima pemberianmu ini,”

gumam orang tersebut kemudian, “tampaknya Thian maha agung, beliau telah

meluluskan permohonanku.”

Sekaligus dia telan tiga butir Pak-siu-wan. kemudian baru menyodorkan

kembali botol obat itu ke tangan Cau-ji.

“Aku masih punya sebotol lagi, simpanlah botol itu untukmu” seru Cau-ji

sambil menunjukkan botol obat kedua.

Setelah menelan pil Pek-siu-wan, orang itu merasa semangatnya menjadi

segar kembali, dia segera tertawa tergelak.

“Terima kasih banyak saudara cilik, dua jam lagi pusaran angin berpusing

kembali akan menyerang, sambil menunggu mari kita berbincang-bincang.”

“Apa?” teriak Cau-ji kaget setelah mendengar perkataan itu, “angin berpusing

itu bakal menyerang lagi?”

“Benar, tiap tengah malam dan tengah hari angin berpusing itu akan

menyerang selama satu jam lebih, saudara cilik, gunakan kesempatan ini untuk

mengatur pernapasan!”

Selesai bicara, ia segera pejamkan mata, duduk bersila dan mulai mengatur

pernapasan.

Mimpi pun Cau-ji tidak menyangka kalau angin puyuh berpusing itu bakal

menyerang setiap hari dua kati, membayangkan betapa tersiksanya dia sewaktu

menerima gempuran tadi, diam-diam hatinya bergidik.

Dia mencoba memeriksa keadaan sekililing gua, tapi mana jalan masuk dan

mana jalan keluar sudah tak nampak jelas, dia coba termenung sebentar, lalu

setelah memastikan arah yang dituju, dia pun mulai berjalan kembali.

Bocah itu sama sekali tak tahu kalau perawakan tubuhnya saat ini sudah

membesar berapa kali lipat akibat pengaruh obat empedu ular serta Tay-huanwan

yang diminumnya, ditambah dengan pusingan angin puyuh tadi.

Dengan susah payah akhirnya sampai juga Cau-ji di mulut gua yang sempit

lagi kecil itu, tapi ketika ia mencoba untuk menerobos masuk, hatinya langsung

tertegun, ia temukan badannya sudah menjadi bongsor sehingga tidak muat lagi

untuk masuk ke dalam celah sempit itu.

Bab IV. Kisah romantis yang membawa bencana.

Cau-ji menjadi panik bercampur gelisah setelah menjumpai tubuhnya tak

mampu lagi menerobos masuk melalui celah gua, baru saja dia akan

mengayunkan telapak tangannya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba dari

kejauhan ia mendengar tibanya suara gemuruh yang sangat memekikkan

telinga.

Dia tahu serangan angin berpusing segera akan tiba, tergopoh-gopoh dia lari

balik ke dalam gua.

Dia harus mencari sebuah posisi sudut tertutup untuk menghindarkan diri

dari terpaan langsung angin puyuh itu.

Sayang dinding karang itu sudah menjadi rata dan bersih karena guratan

angin berpusing yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya, boleh dibilang

sama sekati tak ada tempat untuk bersembunyi.

Sewaktu melalui mulut gua, ia sempat melongok sekejap ke dalam, terlihat

orang itu sudah bersila dengan wajah yang jauh lebih segar, terbukti khasiat

dari tiga butir pil Pek-siu-wan sudah mulai bekerja.

Sadar kalau tiada tempat untuk berteduh, Cau-ji pun putuskan untuk

menerima tantangan ini secara nyata, dia sadar, kalau dalam posisi yang tidak

siap seperti tadi pun tak sampai mencabut nyawanya, itu berarti dalam keadaan

siap ia pasti bisa lolos dari ancaman tersebut.

“Maknya, paling banter juga lecet-lecet!” umpatnya tanpa sadar.

Tapi begitu kata “maknya” meluncur dari mulutnya, ia segera melompat kaget.

Sejak kecil ia memperoleh pendidikan yang ketat di rumah, umpatan

“maknya” boleh dibilang baru pertama kali ini meluncur dari mulutnya, untung

tidak di rumah, kalau tidak, hukuman berat pasti akan menimpa dirinya.

Buru-buru ia duduk dengan menempelkan punggungnya di atas dinding

tebing, setelah itu napas mulai diatur dan hawa murni disalurkan ke seluruh

tubuh.

Begitu tarik napas, ia segera menjumpai munculnya segulung hawa murni

yang luar biasa dahsyatnya bagai gelombang samudra muncul dari Tan-tian dan

menyebar ke seluruh badan, belum lagi pikiran bergerak, hawa murni telah

menyelimuti seluruh tubuh.

Kenyataan ini membuat Cau-ji terkejut bercampur girang, buru-buru dia atur

pemapasan dan mulai mengendalikan hawa murninya.

Setengah jam kemudian, ketika sadar kembali dari semedinya, ia merasakan

sekujur badannya enteng dan segar, tak kuasa lagi ia buka mulut ingin berpekik

nyaring.

Sebelum bersuara, tiba-tiba ia dengar suara gemuruh yang sangat mengerikan

telah bergema dari kejauhan, dengan perasaan terkejut buru-buru ia

membaringkan diri bersiap menerima siksaan.

Deruan angin semakin kencang, udara dingin yang merasuk tulang sumsum

makin lama bergerak makin dekat.

Disusul kemudian pusaran angin puting yang berputar kencang menderuderu

di seluruh ruangan, sekali lagi tubuh Cau-ji terombang-ambing kian kemari

membentur dinding karang.

Waktu itu, si manusia misterius yang berada di balik gua tampak mulai

gemetar lagi seluruh badannya, sekalipun dia telah menelan tiga butir pil Peksiu-

wan, namun goncangan yang maha dahsyat tetap menyiksa badannya.

Tak seberapa lama kemudian, seluruh gua kecil itu sudah mulai berputar

keras, tampak orang itu mulai bergulingan ke sana kemari, tapi sambil

menggertak gigi ia tetap mempertahankan diri.

Putaran angin berpusing menderu makin kencang, udara terasa semakin

dingin, ia mulai merasakan peredaran darahnya membeku, ia sadar sebentar lagi

dirinya bakal pingsan.

Untunglah di saat yang amat kritis, deruan angin berpusing bergerak semakin

melemah dan perlahan sebelum akhirnya berhenti, udara dingin yang menusuk

tulang pun semakin mereda sebelum akhirnya lenyap.

Orang misterius itu tahu, ia bisa bertahan tak lain lantaran khasiat tiga butir

pil Pek-siu-wan pemberian saudaranya, terdorong rasa terharu yang amat sangat

tak kuasa lagi air mata jatuh bercucuran.

Dia sama sekali tak mengira Oh-lokonya belum melupakan dirinya walau

sudah berpisah sepuluh tahun, bahkan berusaha mengirim orang untuk

mengantar pil Pek-siu-wan.

Terbayang sampai ke situ, ia segera teringat kembali si bocah yang

dijumpainya tadi, buru-buru dia merangkak bangun seraya berseru: “Saudara …

saudara cilik..”

“Paman, kau tidak apa-apa bukan?” terdengar dari balik gua bergema suara

nyaring.

“Aaah… syukurlah kau … kalau tidak apa-apa ….”

Tadi, walaupun Cau-ji harus berhadapan langsung dengan terpaan angin

puting, namun lantaran ia sudah membuat persiapan, maka walaupun pakaian

compang-camping namun tubuhnya tidak lagi tersiksa seperti semula.

Dia merasa hawa murni yang mengalir dalam tubuhnya seakan-akan

membuat kulit badannya lebih tebal, bukan saja tidak terasa sakit, dia pun tidak

merasa kedinginan.

Karena serangan angin puting sudah lewat, bocah itu segera menghampiri

kembali mulut gua.

Tampak orang itu menghembuskan napas lega, kemudian dengan rasa ingin

tahu tanyanya: “Saudara cilik, kenapa kau tidak takut dingin dan tidak sakit?”

Cau-ji sendiri juga tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, jawabnya seraya

menggeleng: “Paman, aku sendiripun tak jelas!”

Orang itu mengira Cau-ji adalah murid si raja hewan yang sengaja

mengutusnya untuk menolong dia, maka kembali tanyanya: “Saudara cilik, kau

mengerti ilmu tiam-hiat? Kau bisa membebaskan pengaruh totokan?”

“Bisa!”

“Bagus sekali” teriak orang itu kegirangan, “kalau begitu aku tak usah

menderita lagi.”

Setelah berpikir sejenak, kembali ujarnya: “Saudara cilik, jalan darah Ki-hayhiatku

tertotok sehingga aku hanya bisa mengerahkan tiga bagian hawa

murniku untuk melawan hawa dingin, bisakah kau membantuku untuk

membebaskan diri dari pengaruh totokan?”

“Tapi paman … mampukah aku?” tanya Cau-ji agak sangsi.

“Hahaha … saudara cilik, kau tidak usah sungkan, bukan sembarangan orang

sanggup menghadapi siksaan angin puyuh berpusing, coba kemari, biar

kuperiksa seberapa dalam tenaga murni yang kau miliki.”

Seraya berkata dia membuat satu lukisan lingkaran kecil di sudut kanan

sebelah bawah gua itu.

“Saudara cilik,” kembali ujarnya sambil tertawa, “sekarang himpun seluruh

tenaga dalammu, coba kau hantam lingkaran kecil itu.”

Kini Cau-ji dapat melihat dengan jelas perawakan tubuh orang itu, meski

pakaiannya compang camping hingga separuh badan bagian atasnya telanjang,

namun kulit badannya sangat putih lagi jangkung, sebuah komposisi perawakan

yang ideal.

Ketika ditunggunya sampai beberapa saat belum juga nampak CaiHi turun

tangan, orang itu segera menegur lagi: “Ada apa saudara cilik? Ada kesulitan?”

“Ohh tidak, tidak, biar kucoba.”

Sembari berkata dia segera menghimpun hawa murninya ke dalam telapak

tangan kanan, lalu sebuah pukulan dilontarkan ke arah lingkaran kecil itu.

Tak ada hembusan angin, tak ada pekikan tajam, pukulan tersebut sama

sekali tidak menimbulkan pertanda apapun.

“Blammmm!” tahu-tahu lingkaran kecil itu sudah terhajar telak hingga

muncul sebuah liang yang besar sekali, gua sempit yang semula gelap gulita kini

bertaburkan cahaya tajam yang berkilauan.

“Aaah, ternyata memang barang mestika!” terdengar orang itu bersorak

gembira. Sembari bicara dia maju dua langkah, membungkukkan badan dan

mencabut keluar sebilah pisau belati kecil yang cuma nampak gagangnya.

Pisau belati itu kecil sekali, tapi begitu dicabut keluar dari sarungnya, Cau-ji

segera merasa matanya jadi silau, ternyata bentuk senjata itu hanya sepanjang

jari tengah, pada hakekatnya lebih mirip dengan sebuah senjata piau pendek.

Ketika orang itu menyarungkan kembali belatinya, suasana di dalam gua

kembali tercekam dalam kegelapan yang pekat.

Terdengar orang itu menghela napas panjang, lalu berkata: “Saudara cilik,

benda ini bernama pisau belati Liat-jit-pi, peninggalan zaman Cun-ciu-can-kok.”

“Konon, setiap kali benda mestika ini muncul dalam dunia persilatan maka

akan terjadi kekacauan besar di dunia ini, selama berapa tahun terakhir aku

selalu beranggapan bahwa di sini terdapat benda mestika, tak disangka benda

mestika tersebut ternyata adalah benda pembawa bencana.”

“Paman, darimana kau bisa tahu kalau di sini terdapat benda mestika?” tanya

Cau-ji keheranan.

“Setiap bulan purnama, di sini pasti kedengaran suara pekikan naga, bahkan

akan muncul hawa dingin yang menusuk tulang, oleh sebab itulah aku menduga

di sini pasti ada barang mestikanya.”

“Paman, dengan kekuatan yang kumiliki mampukah membebaskan totokan

jalan darahmu?”

“Oooh, bisa, bisa, lebih dari cukup! Malah aku justru kuatir tenagamu kelewat

besar sehingga aku tak mampu menahan diri. Mari, gunakan separuh saja dari

tenagamu dan coba sekali lagi.”

“Baik.”

“Blaaammm!” kembali muncul percikan batu cadas dari permukaan gua

sebelah kanan.

Walaupun di dalam kegelapan orang itu tak sanggup melihat sesuatu, tapi ia

bisa menilai kekuatan lawan dari suara pukulannya, terdengar ia bersorak kegirangan:

“Saudara cilik, coba kurangi satu bagian lagi!”

“Blammm!” kembali sisi kiri tanah berbatu itu muncul sebuah liang besar

“Saudara ciiik,” kata orang itu kemudian sambil tertawa, “coba gunakan

pukulan dengan kekuatan segitu untuk menepuk jalan darah ki-hay-hiatku.”

Sambil berkata ia segera bersiap sedia menerima pukulan.

Cau-ji tidak langsung turun tangan, kembali ujarnya agak sangsi: “Paman,

menurut ayahku, jalan darah ki-hay-hiat adalah jalan darah kematian yang tak

boleh sembarangan dihantam, katanya bila tempat itu dipukul maka akibatnya

yang paling enteng akan kehilangan tenaga dalam dan kalau parah bisa mati.”

“Hahaha … jalan darah ki-hay-hiatku sudah ditotok orang sehingga sebagian

besar tenaga murniku lenyap, sudah sepuluh tahun aku hidup tersiksa di sini,

marilah saudara cilik, dicoba saja!”

“Baik, kalau sampai terjadi apa-apa, kau tak boleh salahkan aku.”

“Hahaha … aku Bwe Si-jin belum pernah menyesali perbuatanku, silahkan

turun tangan.”

Sudah sepuluh tahun ia menderita siksaan, selama ini yang ditunggu justru

kesempatan macam begini, asal tenaga dalamnya dapat pulih, bukan saja ia

dapat membalas dendam, yang penting ia bisa mencari jejak kekasihnya Go Hoati.

Cau-ji masih nampak ragu, tapi desakan yang berulang kali dari orang

tersebut memaksa bocah itu harus bertindak.

Setelah konsentrasi sejenak sambil menghimpun tenaga, ia segera lancarkan

sebuah pukulan ke atas jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh orang itu.

Diiringi dengusan tertahan, tubuh orang itu segera terpental ke belakang

hingga menumbuk dinding karang.

“Paman, bagaimana keadaanmu?” seru Cau-ji kemudian dengan perasaan

tegang.

Setelah menyeka darah hitam yang meleleh keluar dari mulutnya, orang itu

segera duduk bersila untuk mengatur napas.

Kurang lebih satu jam kemudian, orang itu baru menghembuskan napas

panjang sambil membuka matanya mengawasi Cau-ji.

Bocah itu segera merasakan datangnya dua sinar tajam bagaikan aliran listrik

yang menembusi jantungnya, dengan hati berdebar pikirnya: “Tajam amat

pandangan mata orang ini, rasanya dia tak berada di bawah kemampuan ayah.”

Sementara orang itupun merasa girang sekali setelah melihat raut wajah si

bocah yang tampan dan gagah, tak kuasa ia mendongakkan kepalanya dan

tertawa terbahak-bahak.

Cau-ji segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang sangat kuat

memancar keluar dari balik suara tertawa itu, begitu kuatnya tenaga tersebut

membuat jantungnya berdetak keras dan badannya sakit

Buru-buru dia kerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi jantung serta

nadi sendiri, lalu secara diam-diam menutup jalan darah di sepasang telinganya.

Setelah tertawa sesaat dengan nyaring, orang itu baru menghentikan gelak

tertawanya, diam-diam ia kaget juga melihat si bocah di hadapannya sama sekali

tak terpengaruh oleh serangan tenaga dalamnya.

Sekarang ia baru yakin bahwa bocah itu memiliki tenaga dalam yang

sempurna, maka pujinya tanpa terasa: “Saudara cilik, tenaga dalammu sungguh

mengagumkan.”

“Paman, kau lebih hebat lagi, mungkin ayahku juga masih kalah

dibandingkan kau.”

“Aaah betul, saudara cilik, aku belum tahu siapa namamu?”

“Aku dari marga Ong bernama Bu-cau?”

“Hahaha … namamu sesuai dengan orangnya, hebat, hebat! Boleh tahu siapa

orang tuamu?”

“Ayahku Ong It-huan, ibuku Si Ciu-ing!”

“Ooh, rupanya keturunan dari Ong Sam-kongcu dan Cukat wanita, tak heran

kalau kemampuan saudara cilik sangat hebat Oya, sudah sepuluh tahun aku

tak pernah bersua dengan orang tuamu, mereka baik-baik semua?”

“Terima kasih atas perhatian paman, mereka baik-baik semua. Paman, aku

boleh tahu siapa namamu?”

“Aku dari marga Bwe, bernama Si-jin!”

“Bwe Si-jin? Rasanya seperti pernah mendengar nama ini?” gumam Cau-ji

berulang kali.

Diam-diam Bwe Si-jin merasa bangga juga setelah mendengar perkataan itu,

dia mengira orang masih kagum dengan nama besarnya meski sudah sepuluh

tanun ia terkurung di situ, buktinya seorang anak kecil pun pernah mendengar

nama besarnya.

Tentu saja dia tak mengira kalau Cau-ji justru keluar rumah bersama Go Hoati

yang sedang mengembara mencari jejaknya, justru karena ia sering mendengar

bibinya menyebut nama itu, tanpa terasa dia pun ikut mengetahuinya.

Sambil tertawa Bwe Si-jin berkata lagi: “Cau-ji, bagaimana ceritanya hingga

kau bisa berkenalan dengan si raja hewan Oh It-siau? Semula aku masih

menyangka kau adalah cucu muridnya.”

“Paman, aku bertemu dengan Oh-locianpwe hanya secara kebetulan saja,

waktu itu Cau-ji sedang berpesiar di telaga Tay-beng-ou bersama bibi. Aaah

betul, Cau-ji sering mendengar bibi menanyakan kabar beritamu.”

Gemetar keras sekujur badan Bwe Si-jin setelah mendengar perkataan itu,

buru-buru dia mendekati mulut gua dan sambil menggenggam tangan bocah itu

tanyanya: “Cau-ji, siapa bibimu?”

Cau-ji merasa tangannya sakit sekali lantaran dicengkeram kuat-kuat.

tergopoh dia kerahkan hawa murninya untuk melepaskan diri dari cekalan

lawan, kemudian baru sahutnya: “Dia bernama Go Hoa-ti”

Begitu mendengar nama tersebut, cucuran air mata segera jatuh berlinang

membasahi pipi Bwe Si-jin, gumamnya: “Adik Ti … oh … adik Ti, aku telah

menyiksamu ….”

“Paman, kenapa sih bibi selalu mencarimu?” mendadak Cau-ji bertanya

keheranan.

Sebenarnya Bwe Si-jin ingin berterus terang, tiba-tiba hatinya tergerak,

sahutnya kemudian: “Cau-ji, bibimu adalah piaumoayku (adik misan), tentu dia

tak tahu kalau aku berada di sini.”

“Ya benar, saban berjumpa orang, bibi seialu menanyakan jejakmu.”

Bwe Si-jin merasa hatinya amat sakit, buru-buru katanya: “Cau-ji, pergilah

beristirahat, tengah hari nanti kita harus bersiap sedia lagi untuk menghadapi

gempuran angin berpusing.”

Habis bicara ia segera membalikkan badan dan duduk bersila.

Biarpun masih banyak persoalan yang ingin ditanyakan. Tapi Cau-ji tak ingin

membantah perintah orang, dia pun ikut duduk bersila sembari membayangkan

kembali semua kejadian yang menimpa dirinya selama ini.

Di pihak lain, mana mungkin Bwe Si-jin dapat menenangkan hatinya? Ia

menjerit berulang kali di dalam hati kecilnya: “Adik Ti … oooh, Adik Ti, aku

bersalah kepadamu, tapi… tahukah kau betapa menderitanya aku tersiksa di

sini?”

Sambil berpikir, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Tanpa terasa kenangan pahit yang dialaminya selama ini terbayang kembali di

depan mata, dia terbayang kembali bagaimana nasibnya ketika jatuh ke tangan

suci (kakak seperguruan) Kiau-kiau….

0oo0

Rumah penginapan kekasih, kota Kim-leng.

Malam itu, di paviliun belakang yang diborong Bwe Si-jin, ia bersama Go Hoati

sedang menikmati kemesraan yang luar biasa setelah berpacaran sekian lama,

pakaian yang mereka kenakan satu per satu telah ditanggalkan ….

Dengan wajah yang merah karena jengah Go Hoa-ti berbisik: “Engkoh Jin, kau

tak boleh tergesa-gesa… bagaimanapun baru pertama kali ini aku merasakan

baunya lelaki….”

Sambil meremas sepasang payudara kekasihnya yang montok, kencang dan

berdiri tegang, Bwe Si-jin tertawa, sahutnya: “Jangan kuatir… entar kau

mencicipi dulu, kujamin lama kelamaan kau pasti akan ketagihan..”

“Aku tidak percaya …” sahut Go Hoa-ti sambil tertawa, ia bangkit berdiri

kemudian berjongkok persis di atas tubuh pemuda itu.

Dengan tangannya yang gemetar keras dia pegang “tombak” Bwe Si-jin yang

telah berdiri kaku kemudian dengan tangan sebelah merenggangkan lubang

“surga” sendiri, tangan lain yang memegang “tombak” langsung mengarahkan

senjata itu secara tepat.

Ketika posisinya sudah pas benar, pelan-pelan ia baru mendudukinya….

“Jangan tergesa-gesa adik Ti,” bisik Bwe Si-jin sambil memeluk pinggangnya,

“Ya … benar… benar … nah pelan-pelan duduk ke bawah … jangan terburuburu,

entar mestikamu akan lecet!”

Perlahan tapi pasti Go Hoa-ti melahap benda itu ke dalam liang surganya, ia

merasa benda keras tersebut seakan telah menyentuh ujung perutnya, membuat

seluruh badannya jadi lemas tak bertenaga.

Itulah sebabnya ketika ia berbuat intim dengan Ong Sam-kongcu di kediaman

Hay-thian-it-si tempo hari, perempuan itu merasa sedikit kecewa.

Tentu saja dia kecewa karena milik Bwe Si-jin yang besar, kaku dan tegang

bagai batu karang benar-benar mendatangkan perasaan yang mantap,

sementara milik Ong Sam-kongcu jauh lebih kecil dan kurang mantap rasanya.

Sambil memeluk kencang tubuh Go Hoa-ti yang menindih di atas tubuhnya,

pelan-pelan Bwe Si-jin bangun dan duduk, kemudian dengan mulutnya yang

rakus dia mulai menghisap dan menggigit puting susu perempuan itu.

“Aduh geli… engkoh Jin, jangan begitu … aku kegelian..” rintih Go Hoa-ti

penuh kejalangan.

Bwe Si-jin mengerti apa yang diinginkan seorang wanita, dia tahu bila seorang

perempuan mengatakan “jangan” itu artinya dia “mau!” dan “teruskan!” maka

hisapannya semakin keras, gigitannya makin menggila….

Tak selang berapa saat kemudian Go Hoa-ti merasa sekujur tubuhnya kaku,

geli dan linu, tak tahan lagi dia mulai menggeliat, mulai menggesek, mulai

bergoyang dan mulai menaik turunkan badannya….

Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang yang merasa gatal di

punggungnya, karena tak bisa digaruk dengan tangan, terpaksa punggungnya

digesekkan di atas dinding untuk mengurangi rasa gatal tersebut.

Melihat gadis itu mulai terangsang dan mulai menggeliat, buru-buru Bwe Sijin

membaringkan kembali tubuhnya, kali ini sepasang tangannya mulai meraba,

meremas dan memelintir puting susu nona itu.

Diserang dari atas dan bawah, Go Hoa-ti semakin terangsang, gesekan,

goyangan dan geliat tubuhnya makin keras dan kencang, ia merasa semakin

keras gesekan badannya, bagian “bawah” tubuhnya terasa makin geli tapi

semakin nikmat….

Tak sampai seperempat jam kemudian, gadis itu sudah tersengal-sengal

sambil bermandi peluh.

“Berisitrahatlah dulu adik Ti!” bisik Bwe Si-jin sambil tertawa.

Go Hoa-ti tersenyum dan bangkit berdiri.

Bwe Si-jin melihat dari lubang surga perempuan itu meleleh keluar segumpal

cairan lendir yang meleleh turun melalui paha putihnya, cepat dia mengambil

handuk dan menyekanya kemudian baru berkata: “Adik Ti, jangan mengotori

tubuhmu dengan cairan tersebut, pergilah mencuci diri lebih dulu.”

Go Hoa-ti maki setengah mati, cepat-cepat dia melompat turun dan

mengambil handuk basah untuk menyekanya.

Wajah jengah si nona yang bersemu merah membuat Bwe Si-jin semakin

terangsang, dia ikut melompat bangun, katanya: “Adik Ti, kalau kau tak ingin

mengotori barang milik rumah penginapan, bagaimana kalau kita berganti gaya

saja?”

Go Hoa-ti semakin malu, jantungnya berdebar makin keras.

Sejak dia persembahkan kegadisannya untuk pemuda ini, kecuali waktu

kedatangan “Ang-sianseng”, boleh dibilang mereka berdua memanfaatkan setiap

saat untuk berbuat intim.

Setiap Bwe Si-jin mengusulkan untuk mencoba gaya baru, dapat dipastikan

Go Hoa-ti akan merasakan dirinya “mati” satu kali.

Bahkan setiap “kematian’nya tentu “mengenaskan” sekali.

Oleh sebab itu tidaklah heran kalau dia merasa terkejut bercampur girang

begitu mendengar pasangannya mengusulkan gaya baru.

Rupanya Bwe Si-jin dapat memahami perasaan hati kekasihnya waktu itu,

digenggamnya sepasang tangannya lalu bisiknya: “Adik Ti, kalau liang di depan

sudah ditembusi, kali ini aku mesti menyerang dari arah belakangi”

Sambil berkata pelan-pelan dia balik tubuh perempuan itu dan menekannya

agar membungkuk.

Go Hoa-ti segera paham arah mana miliknya yang akan diserang, setelah

berpikir sejenak, serunya terkesiap: “Jangan bagian yang itu, engkoh Jin, tempat

itu kelewat sempit!”

Sambil berkata, buru-buru dia menggapit sepasang pahanya rapat-rapat.

Bwe Si-jin tersenyum, dikecupnya bibir nona itu sekejap kemudian katanya

sambil tertawa: “Jangan kuatir adik Ti, masa aku akan bertindak kasar hingga

mencederaimu?”

“Engkoh Jin, kau tak boleh membohongi aku!”

“Hahaha… kapan sih aku bohong kepadamu?”

Dengan tangan gemetar pelan-pelan Go Hoa-ti melepaskan tangannya, setelah

itu kembali ia bertanya: “Engkoh Jin, gimana sih caranya main belakang?”

“Hahaha … adik Ti, letakkan sepasang tanganmu di pinggir ranjang untuk

menopang badanmu, lalu sedikit bungkukkan badanmu agar tubuh bagian

belakangmu menungging ke atas, nanti kau imbangi saja gerakan badanku maju

mundur….”

“Wah, hebat juga jurus seranganmu, tapi… senjatamu kelewat panjang dan

besar….”

“Hahaha… jangan kuatir, ayo kita mulai.”

Dengan satu tusukan yang cepat bagai kilat Bwe Si-jin menghujamkan

senjatanya ke bagian belakang tubuh Go Hoa-ti, lantaran sebelumnya sudah ada

pemanasan hingga bagian miliknya cukup berlendir, tanpa mengalami kesulitan

ujung tombaknya sudah menghujam dalam-dalam.

“Aaah … ternyata tidak sakit” bisik Go Hoa-ti sambil tertawa, “tapi… engkoh

Jin, sepasang telurmu kenapa ikut memukul-mukul? Aku … aku jadi geli dan

sedikit sakit … oooh… ooh… aaah… ahhh … enak… enak….”

Rintihan dan lengkingan Go Hoa-ti membuat napsu birahi Bwe Si-jin semakin

memuncak, dia peluk pinggang orang kencang-kencang sementara tusukannya

dilancarkan bertubi-tubi.

Sejak pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, hampir seratus orang

perempuan yang pernah disetubuhi, tapi di antara semua perempuan yang

pernah ditiduri, Go Hoa-ti adalah perempuan yang paling mampu membetot

sukmanya, demi bersenang-senang dengannya, dia tak segan melanggar

kebiasaan sendiri dengan berdiam diri di satu tempat lebih dari sepuluh hari.

Kecantikan wajah Go Hoa-ti ibarat bidadari yang turun dari kahyangan,

bukan saja ia nampak anggun juga amat berwibawa, tapi begitu naik ke ranjang,

bukan saja berubah jadi wanita jalang, yang bikin hati lelaki tak tahan justru

adalah jeritan, rintihan serta teriakannya yang membetot sukma….

Perempuan semacam inilah yang menjadi dambaan setiap pria, karena

rintihan seorang wanita jalang adalah irama yang paling membangkitkan napsu

birahi lelaki.

Dalam waktu singkat dia sudah menggenjotkan tubuhnya berpuluh-puluh

kali, sementara rintihan dan jeritan Go Hoa-ti semakin menjadi-jadi, pinggulnya

bergoyang dan berputar tiada hentinya.

Tak lama kemudian, seputar tempat mereka berdua berdiri sudah dibasahi

oleh lendir yang mengucur keluar dari lubang belakang perempuan itu.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati Bwe Si-jin maju mundurkan

badannya, rupanya dia kuatir senjata milik sendiri menjadi lecet gara-gara

kekerasan waktu menggesek.

Beberapa saat kemudian goyangan Go Hoa-ti semakin melemah dan perlahan,

Bwe Si-jin tahu kekasihnya sudah hampir mencapai puncaknya, maka ia segera

mencomot sepasang payudara perempuan itu dan meremasnya berulang kali.

Sambil meremas payudara perempuan itu, tubuhnya menggenjot makin cepat

dan keras.

“Aduh … engkoh Jin … ooo … aah … aduh … engkoh Jin… aku… aku tak

tahan lagi… aduuh… aku mau… mau keluar… aaooh… aduh… aduh nikmatnya!”

Bwe Si-jin menggenjot semakin cepat.

Tiba-tiba tubuh Go Hoa-ti gemetar keras lalu kakinya jadi lemas dan tiba-tiba

berjongkok ke bawah, untung Bwe Si-jin sudah siap, dia segera peluk tubuh

kekasihnya dan dibaringkan ke atas ranjang.

Setelah itu dia tubruk kembali ke atas tubuh perempuan itu, menindihnya

dan menggenjotkan kembali senjatanya berulang kali, hanya kali ini dia tusuk

lubang surga orang.

Lima enam puluh kali genjotan kemudian Bwe Si-jin merasa sekujur

badannya mengejang keras, tak tahan lagi dia muntahkan “ludah’nya berulang

kati, kemudian gerakannya makin melambat sebelum akhirnya berhenti sama

sekali.

“Ooh engkoh Jin, nikmat sekali aku ” bisik Go Hoa-ti sambil menghela napas

panjang.

Tak selang berapa saat kemudian ia sudah tertidur pulas.

Dengan penuh rasa sayang Bwe Si-jin mengecup bibirnya sekejap, kemudian

ia bangkit berdiri, duduk di tepi meja sembari termenung.

Apa yang sedang ia pikirkan?

Tak ada yang tahu!

Dalam lamunannya tiba-tiba ia mendengar ada seseorang berseru dengan

suara yang manja: “Aduuh … indah betul lekukan tubuh perempuan itu, sute,

tak heran kalau kau selalu bersembunyi di sini!”

Mendengar ucapan tersebut, sekujur badan Bwe Si-jin gemetar keras, buruburu

dia melongok keluar jendela.

Tiba-tiba daun jendela yang semula tertutup rapat terbuka dengan sendirinya,

menyusul kemudian muncul wajah seorang gadis yang cantik rupawan.

Gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, bibirnya kecil mungil dan

payudaranya sangat besar, begitu cantik wajahnya membuat setiap lelaki yang

memandang ke arahnya akan merasa napsu birahinya bergolak.

Bwe Si-jin yang sudah terbiasa menikmati wajah cantik seorang wanita, kali

ini nampak terkejut bercampur ngeri, seakan bertemu kalajengking beracun,

dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun.

Nona berbaju merah itu melototi sekejap “barang” milik Bwe si-jin yang

tergantung lemas, tapi ukuran yang super gede segera membuat napsu

perempuan itu menggelora, buru-buru bisiknya dengan ilmu Coan-im-jit-pit:

“Sute, cepat kenakan pakaianmu, mari kita cari tempat untuk berbicara.”

Melihat jejaknya sudah ketahuan sucinya yang selama ini berusaha untuk

dihindari, Bwe Si-jin sadar bahwa dia butuh banyak waktu dan tenaga untuk

meloloskan diri dari cengkeraman orang, agar urusan itu tidak menyeret adik Tinya,

buru-buru dia kenakan pakaian dan segera mengikuti nona berbaju merah

itu keluar dari kamar losmen.

Tak jauh setelah keluar dari kota, tibalah mereka di sisi sebuah kereta yang

dihela dua ekor kuda, terdengar nona berbaju merah itu berkata. “Sute, mari

kita bicara di dalam saja.”

“Suci,” seru Bwe Si-jin dengan suara berat, “siaute toh sudah lepaskan posisi

ketua, juga telah mengumumkan kalau lepas dari ikatan perguruan, tolong

lepaskanlah dirimu….”

“Sute, kau kejam benar… sejak pergi tanpa pamit empat tahun berselang,

bukan saja cici dibikin sedih, ketiga sumoay pun menjadi kurus lantaran

memikirkan kau..”

Membayangkan kembali masa lampau yang dialaminya, paras muka Bwe Sijin

yang ganteng segera mengejang keras, serunya lagi: “Suci, harap kau sudi

mengingat hubungan baik kita di masa lalu dan melepaskan siaute…..”

“Sute,” tukas nona berbaju merah itu dengan suara dalam, “kau tak usah

banyak bicara lagi, kau sendiri toh tahu, tanpa kehadiranmu, sulit bagi kami

untuk membangun kembali kejayaan perguruan seperti masa lampau.”

“Hmm, sungguh tak disangka seorang playboy yang selama ini memandang

perempuan bagai sampah, bisa jatuh hati dengan seorang dayang ingusan.

Baiklah, demi masa depan perguruan, terpaksa suci harus bunuh dulu

perempuan ini.”

Selesai berkata dia segera mengayunkan telapak tangan kanannya siap

melancarkan sebuah pukulan.

Bwe Si-jin tahu, kakak seperguruannya sudah memegang pucuk kekuasaan

perguruan, di sekelilingnya banyak terdapat jagoan yang berilmu tangguh, bila ia

betul-betul turunkan perintah, dapat dipastikan Go Hoa-ti yang tertidur nyenyak

segera akan terbantai.

Buru-buru teriaknya keras: “Suci, tunggu sebentar!”

Sambil tertawa nona berbaju merah itu menurunkan kembali tangannya.

“Bagaimana sute, sudah paham?” serunya manja.

“Suci,” seru Bwe Si-jin sambil menahan perasaan sedih, “siaute bersedia pergi

mengikut kau, tapi kau mesti berjanji akan melepaskan dia.”

“Baik.”

“Suci, aku harap kau pegang janji.”

Selesai bicara dia segera melompat naik ke dalam ruang kereta.

Siapa tahu baru saja dia menyingkap kain tirai kereta, mendadak terlihat

selapis pasir merah telah menyambar ke hadapan wajahnya, buru-buru dia

ayunkan tangannya sembari berteriak: “Sumoay, kau….” belum habis bicara,

tubuhnya sudah roboh terkapar.

Nona berbaju merah itu tertawa terkekeh, buru-buru dia bopong tubuh

pemuda itu dan menyelinap masuk ke dalam ruang kereta.

Seorang lelaki bungkuk segera muncul dari balik hutan, melompat naik ke

atas kereta, mengayunkan pecut dan menjalankan kereta kuda itu meninggalkan

tempat tersebut

Di dalam ruang kereta, tampak seorang gadis berdandan tebal bagai siluman

sedang membelai wajah Bwe Si-jin yang ganteng sambil menghela napas.

“Sute,” katanya, “makin lama wajahnya makin tampan saja rasanya,”

“Hmm, bukan cuma tampan, kau belum tahu kalau kemampuannya yang satu

itu jauh lebih hebat* sahut nona berbaju merah itu sambil tertawa.

“Suci, bagaimana kalau kita buktikan kemampuannya itu?”

“Ehm, boleh saja, toh yang kita butuhkan adalah badannya bukan hatinya,

mari kita sekap dia dalam gua Siau-cu-thian-yu-tong dan kita nikmati

kejantanannya.”

“Kalau begitu silahkan suci mulai dulu.”

Sambil berkata dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dan dijejalkan

ke mulut Bwe Si-jin, kemudian ia mulai tanggalkan seluruh pakaiannya.

Sementara itu si nona berbaju merah juga telah melucuti seluruh pakaiannya

hingga bugil, lalu membaringkan diri di atas lantai sambil tertawa terkekeh.

Nona berbaju kuning itu melirik sekejap tubuh bagian bawah nona berbaju

merah itu, kemudian tegurnya sambil tertawa: “Suci, hutan bakaumu

tampaknya makin hitam dan tebal, wouw, sungguh merangsang.”

Kembali nona berbaju merah itu tertawa.

“Sumoay, selama berapa bulan terakhir aku telah bermain cinta dengan

beberapa orang pendeta asing, bukan saja tenaga murni mereka berhasil

kuhisap, banyak sari perjaka yang telah kuperoleh, coba kau lihat bukankah

milikku bertambah montok dan berkilat?”

“Hahaha… yaa. berapa orang pendeta asing itu memang suka main

perempuan, coba kalau bukan bertemu kita berempat, mungkin orang lain tak

akan sanggup melayani mereka selama berapa menitpun.”

“Ya. konon suhu dan susiok mereka jauh lebih jantan dan kuat, sayang

mereka tak pernah menginjakkan kaki di daratan Tionggoan, kalau tidak aku

pingin sekali membuktikan kejantanan mereka.”

“Kalau mereka tidak kemari, toh kita bisa ke sana untuk mencari mereka.”

“Ya, benar, jika kita sudah kirim bocah ini ke dalam gua, akan kusuruh

berapa orang pendeta asing itu mengajak kita ke sana … waeh … coba lihat,

barang miliknya mulai ada reaksi… wouw… tambah besar… waah … ternyata

barang miliknya memang super besarnya.”

Ternyata obat perangsang yang dijejalkan ke mulut Bwe Si-jin sudah mulai

bereaksi, bukan saja “barang”-nya sudah berdiri kaku bagai tombak, bahkan dia

sudah mulai memeluk, meremas dan menggerayangi seluruh tubuh nona

berbaju merah itu.

Semakin lama menonton nona berbaju kuning itu semakin terangsang, buruburu

dia ikut melucuti pakaian sendiri, lalu ujarnya sambil tertawa jalang: “Suci,

tadi kau sudah saksikan dia bermain cinta dengan perempuan lain?”

“Betul, dia berhasil membuat budak itu mati tak bisa hidup tak mampu,

bukan cuma menggeliat saja bahkan merintih sambil berteriak, aku benar-benar

terangsang waktu itu. Aaai, seandainya dia tidak terlalu banyak mengetahui

rahasia perguruan kita, sebetulnya aku pingin berbaikan saja dengan dia,

dengan begitu banyak kesempatanku untuk menikmati barangnya yang gede….”

“Benar, dari sekian banyak lelaki yang meniduri aku. memang rasanya barang

milik dia jauh lebih gede dan keras, mungkin sewaktu meniduriku nanti, dia

paling kuat dan perkasa”

Kereta kuda bergerak cepat dari kota Kim-leng menuju ke selat Sam-shia di

sungai Tiangkang.

Untuk menghindari perhatian orang banyak, selama ini nona berbaju kuning

dan nona berbaju merah itu tak pernah turun dari kereta, sepanjang hari

mereka mengajak Bwe Si-jin bermain cinta dan mengumbar birahi.

Ketika kereta tiba di kaki bukit Wu-san, nona berbaju merah itu

memerintahkan lelaki bungkuk itu untuk menjaga kereta, sementara dia sendiri

bergerak menuju ke atas bukit.

Sementara nona berbaju kuning itu dengan mengempit tubuh Bwe Si-jin yang

sudah tertotok jalan darah Hek-tiam-hiatnya mengikuti dari belakang.

Pada saat itulah dari balik hutan muncul sesosok bayangan manusia, orang

itu tak lain adalah si raja hewan Oh It-siau, dalam sekilas pandang ia segera

mengenali orang yang dikempit nona berbaju kuning itu adalah sahabat

karibnya, Bwe Si-jin.

Tapi dia pun segera mengetahui kalau nona berbaju merah itu tak lain adalah

kakak seperguruan Bwe Si-jin yang bernama Su Kiau-kiau, kenyataan ini

membuat hatinya amat terperanjat

Raja hewan tak ingin bentrok muka secara iangsung dengan rombongan

perempuan itu, sebab dia tahu kepandaian mereka cukup tangguh.

Dia tak tahu Bwe Si-jin hendak dibawa pergi kemana, untuk mengetahui

rahasia tersebut secara diam-diam si raja hewan menguntit terus dari kejauhan.

Selang berapa saat kemudian mendadak dari empat penjuru bergema suara

pekikan aneka binatang yang riuh rendah.

Sadar kalau gelagat tidak menguntungkan nona berbaju merah itu segera

berbisik: “Sumoay, hati-hati!”

Baru berjalan lagi beberapa li, mendadak dari balik semak belukar muncul

dua ekor harimau raksasa yang datang menerkam.

“Binatang!” umpat nona berbaju merah itu gusar.

Dengan melepaskan dua pukulan dahsyat, kedua ekor binatang itu segera

terpental dan tewas dengan perut jebol.

Menyusul kemudian datang serangan yang bertubi-tubi dari aneka macam

binatang buas, dalam keadaan begini terpaksa nona berbaju kuning dan merah

itu melancarkan serangan gencar untuk membela diri.

Su Kiau-kiau tahu pastilah si raja hewan sedang bermain gila dengannya,

dalam marahnya ia segera berteriak lantang: “Hey orang she Oh, kalau punya

nyali ayo keluar, Koh-naynay sudah menunggumu di sini.”

Raja hewan sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan

tandingan lawan, agar punya peluang untuk menolong Bwe Si-jin, dia berusaha

keras menahan rasa gusarnya yang membara dan membungkam diri.

Secara beruntun Su Kiau-kiau menghardik lagi beberapa kali, melihat pihak

lawan tak berani tampil, setelah mendengus iapun melanjutkan perjalanannya.

Ketika mereka berdua tiba di sisi air terjun, dilihatnya air yang semula

mengalir turun kini sudah membeku jadi selapis salju tebal, mereka tahu angin

puting berpusing pasti baru saja berhembus di situ hingga udara jadi dingin dan

air menjadi beku.

Setelah masing-masing menelan sebutir pil berwarna merah api, Su Kiau-kiau

berjaga di pintu gua mencegah si raja hewan membuat keonaran, sementara

nona berbaju kuning itu segera menyusup masuk ke dalam gua dengan

kecepatan tinggi.

Tiba di dalam gua, ia menotok bebas jalan darah Hek-tiam-hiat di tubuh Bwe

Si-jin dan melemparkan tubuhnya ke dalam gua kecil, kemudian sambil tertawa

seram ia baru berseru: “Suheng, silahkan kau beristirahat di sini!”

“Sumoay, tempat apakah ini?” tanya Bwe si-jin agak bingung.

“Gua Siau-cut-thian-yu-tong dari perguruan kita.”

“Apa, kalian begitu kejam ….”

“Hmm, siapa suruh kau berkhianat?”

“Tapi sumoay….”

“Hey orang she Bwe … kau telah mengkhianati perguruan, kau tak berhak

memanggil sumoay lagi kepadaku.”

“Ni Cheng-bi!” Bwe Si-jin balas mengumpat, “kau perempuan berhati

kalajengking, kejam benar hatimu … jangan salahkan kalau aku bertindak

kejam kepadamu.”

Sembari berkata dia lepaskan satu pukulan.

Ni Cheng-bi mengegos ke samping, lalu dia balas melepaskan satu pukulan.

“Blammm!” Bwe Si-jin segera terbanting ke dinding karang dan jatuh tak

sadarkan diri.

Begitulah, semenjak hari itu Bwe Si-jin terkurung di dalam gua kecil itu,

saban hari dia harus mengalami dua kali siksaan karena terjangan angin

berpusing yang membawa hawa dingin, setiap kali merasa lapar, terpaksa dia

harus berusaha menangkap kelelawar untuk mengganjal perutnya.

Raja hewan beberapa kali berusaha masuk ke dalam gua itu untuk menolong

saudara angkatnya, tapi setiap kali menelusuri gua tersebut, belum sampai

berapa kaki, dia selalu mundur teratur karena tak sanggup menahan rasa dingin

yang menusuk tulang.

Dalam keadaan begini, terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk

menolong Bwe Si-jin, tapi dia tidak berpangku tangan, dia selalu berusaha

mencari anak didik yang bisa dia gunakan untuk melaksanakan pertolongan itu.

Sementara Bwe Si-jin masih melamun sambil membayangkan kisah tragis

yang dialami selama ini, mendadak dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang

sangat keras bergema tiba.

Dengan perasaan terkejut Bwe Si-jin membatin: “Aaah, waktu berlalu begitu

cepat, tak nyana sudah tiba saatnya angin puyuh itu menyerang lagi.”

Buru-buru dia tempelkan badan di lantai, menghimpun hawa murni

melindungi jantung dan bersiap menghadapi serangan.

Tak selang berapa saat kemudian, angin puyuh disertai suara gelegar yang

memekikkan telinga melanda seluruh ruang gua.

Bwe Si-jin merasa sekujur badannya meski sakit bukan kepalang, namun

jantung dan nadinya berada dalam perlindungan hawa murni sehingga otomatis

penderitaannya tidak terlalu berat, kenyataan ini sangat menggirangkan hatinya.

Dengan susah payah akhirnya terpaan angin puyuh itu berlalu, Bwe Si-jin

seperti orang yang baru menderita sakit parah, merasakan badannya sakit

bercampur linu, dia segera meronta dan berusaha untuk duduk.

Tiba-tiba ia mendengar Cau-ji bertanya dengan penuh rasa kuatir “Paman,

kau baik baik bukan?”

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau kondisi Cau-ji tetap prima walaupun baru

saja terserang angin topan, cepat dia menggeleng.

“Tidak, aku tidak apa-apa….”

“Kalau begitu bagus sekali,” Cau-ji menghembuskan napas lega, “Paman, ada

baiknya kau beristirahat dulu.”

Sembari berkata dia keluarkan sebutir pil Pek-siu-wan dan segera ditelannya.

Terasa ada satu aliran hawa panas muncul dari lambungnya, benar juga, rasa

lapar dan dahaga segera hilang lenyap.

Tak lama kemudian Cau-ji sudah berada dalam posisi tenang.

Ketika mendusin kembali dari semedinya, bocah itu merasakan seluruh

badannya sangat enteng dan bertambah segar, tak tahan pikirnya: ‘Aneh benar,

kelihatannya setiap kali habis terbentur badanku dengan dinding karang,

kondisi tubuhku serasa jauh lebih segar dan prima.”

Dia mana tahu kalau hawa murni Im-yang-ceng-khi sedang terbentuk di

dalam tubuhnya dan kini semakin berkembang.

la bangkit berdiri, sewaktu menjumpai Bwe Si-jin masih mengatur waktu,

maka dalam menganggurnya dia coba tengok sekeliling ruang gua, tiba-tiba ia

merasa ada bau amis yang dibarengi bayangan hitam bergerak meluncur ke

arahnya, tanpa sadar dia ayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Diiringi suara pekikan aneh di atas dinding karang segera muncul seekor

kelelawar tapi sudah menjadi bangkai dan tubuhnya dalam keadaan hancur

lebur.

Cau-ji tertegun, pikirnya: “Sialan, lagi-lagi hewan bermuka jelek … tempo hari

aku sempat dibuat kaget, sekarang rasakan pembalasanku.”

Tentu saja dia tidak tahu, tadi untuk menghindari serangan angin topan

berpusing, kawanan kelelawar itu telah mengungsi keluar gua, tetapi sekarang

setelah keadaan reda, berbondong-bondong kawanan binatang itu terbang balik

ke dalam gua.

Kembali selapis bau busuk menerpa ke wajah bocah itu.

Sekali lagi Cau-ji mengayunkan tangannya, lagi-lagi seekor kelelawar

dihantam hingga mampus.

Tak selang berapa saat, serombongan besar bau amis kembali mengerubuti

sekeliling bocah itu, Cau-ji berpekik nyaring, dengan mengeluarkan jurus

pukulan Lak-hap-ciang-hoat dia hajar kawanan kelelawar itu.

Bau anyir darah disertai hancuran bangkai seketika mengotori seluruh ruang

gua itu.

Waktu itu Bwe Si-jin sudah selesai bersemedi, dia hanya berdiri di samping

gua sambil menonton bocah itu menunjukkan kebolehannya, diam-diam ia

tertegun bercampur kagum setelah melihat kungfu bocah tersebut, dia tak

mengira dengan usianya yang masih begitu muda ternyata sudah menguasai

pelbagai macam ilmu pukulan.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan girang

pikirnya: “Bocah ini sangat hebat, kelihatannya kungfu yang dia miliki sudah

lebih dari cukup untuk menghadapi suci serta ketiga sumoayku!”

Dia pun mulai memutar otak, dalam hati ia putuskan untuk membantu

memberi petunjuk kepada bocah itu agar ilmu silatnya bisa maju setingkat lebih

hebat

Di dalam anggapannya, apa yang dipelajari Cau-ji kelewat banyak, ilmu silat

gado-gado sangat tak sepadan untuk diunggulkan, sebab setiap perubahan bisa

memunculkan titik kelemahan, dalam pandangan seorang jago sakti, kelemahan

semacam itu bisa menyebabkan kematian.

Entah berapa saat sudah lewat, Cau-ji masih saja memainkan jurus

pukulannya dengan penuh semangat walau gerombolan kelelawar sudah lenyap

semenjak tadi, sedang Bwe Si-jin juga tenggelam di dalam pemikirannya.

Tatkala hawa dingin yang disertai pusaran angin berpusing mulai menyerang

tubuh mereka, kedua orang itu baru tersentak kaget dan sadar kembali.

Bwe Si-jin tak sempat lagi untuk menghindar, buru-buru dia cengkeram

pinggiran gua untuk berpegangan, dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam

yang dimilikinya dan pejamkan mata rapat, dia sambut datangnya serangan

angin dingin itu.

Sementara Cau-ji yang masih asyik memainkan ilmu pukulan Yu-liong-patkwa-

ciang tersentak kaget ketika angin puyuh menerjang badannya, dalam kaget

dan terkesiapnya cepat-cepat dia tancapkan kaki ke atas tanah, lalu sambil

mengayunkan tangannya ia lepaskan pukulan untuk menghadang terpaan angin

topan.

Ilmu pukulan bocah itu memang tangguh, tapi mana mungkin dia bisa

melawan kekuatan alam yang begitu dahsyat? Tampak badannya gontai ke kiri

kanan diombang-ambingkan amukan angin berpusing.

Masih untung dia bisa memantekkan kakinya di tanah, sambil menggertak

gigi dia hadapi terpaan angin itu dengan sekuat tenaga.

“Blaaammm!” tiba-tiba bergema suara benturan keras, rupanya seluruh

tubuhnya terangkat oleh sapuan angin berpusing itu hingga badannya

menumbuk di atas dinding batu, begitu keras benturan yang terjadi membuat

bocah itu muntah darah dan tidak sadarkan diri.

Untung saja tenaga murni Im-yang-ceng-khi yang dimilikinya sudah mulai

tumbuh sehingga dapat melindungi badannya, kalau tidak, mungkin bocah itu

sudah tewas sejak tadi.

Dengan susah payah akhirnya Bwe Si-jin berhasil juga mempertahankan diri

dari sapuan angin puyuh, ketika serangan telah lenyap dia mulai menengok

sekeliling tempat itu, tapi tak nampak Cau-ji.

Dalam keadaan begini dia tak bisa berbuat lain kecuali buru-buru mengatur

pemapasan dan berusaha memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.

Setengah jam kemudian tenaga dalam Bwe Si-jin sudah pulih enam bagian,

maka dia pun menggunakan tangannya untuk menggali sebuah lubang seluas

dua tiga depa agar badannya bisa menerobos keluar.

Setelah mencari beberapa saat akhirnya ia jumpai tubuh Cau-ji menempel di

sisi sebuah tebing, sepasang tangannya menancap di atas dinding sementara

kakinya terkulai lemas, noda darah masih menghiasi ujung bibirnya.

Secepat kilat Bwe Si-jin datang menghampiri, ketika diraba, ia menjumpai

tubuh bocah itu sudah dingin kaku, untung jantungnya masih berdetak, tanpa

terasa dia menghembuskan napas lega.

Buru-buru dia menghimpun tenaga dalam dan menempelkan tangan

kanannya di atas jalan darah Pek-hwe-hiat bocah tersebut, kemudian pelanpelan

membantunya mengatur kekuatan.

Beberapa saat kemudian hawa murni yang disalurkan ke dalam tubuh bocah

itu mendapat sambutan dari hawa murni si bocah, bahkan secara otomatis

kekuatan itu bergerak dan menyebar ke seluruh badan.

Sesaat kemudian terdengar Cau-ji berkeluh lirih, darah hitam menyembur

keluar dari mulutnya.

“Cau-ji, hati-hati” bisik Bwe Si-jin sambil memayang tubuhnya.

“Terima kasih paman” jawab Cau-ji tertawa, sambil berkata dia tarik kembali

tangannya dari atas dinding lalu merebahkan diri.

“Hebat benar bocah ini, ternyata ia sama sekali tidak terluka …” batin Bwe Sijin

tercengang.

Dalam pada itu Cau-ji juga dibuat kebingungan, tanyanya: “Aku masih ingat

dadaku terasa sakit waktu diterjang angin puyuh, lalu aku muntah darah dan

tak sadarkan diri, tapi aneh benar, kenapa aku sama sekali tidak terluka?”

“Kau harus bersyukur karena tidak terbawa hembusan angin puyuh, kalau

tidak, mungkin kau sudah tewas.”

“Paman, bagaimana caramu lolos dari kurungan?” kembali Cau-ji bertanya

keheranan.

“Hahaha … tenaga dalamku sudah pulih enam tujuh bagian, bukan pekerjaan

yang sulit untuk keluar dari gua ini.”

“Bagus sekali, kalau begitu kita bisa keluar dari sini untuk mencari bibi.”

“Tak usah terburu-buru, pusaran angin berpusing itu tampaknya sangat

bermanfaat untuk memulihkan tenaga dalamku, aku ingin bertahan berapa

waktu lagi, jika tenaga dalamku sudah pulih baru kita berangkat.”

“Baiklah,” Cau-ji manggut-manggut “toh Oh- locianpwe telah berjanji akan

pergi ke pesanggrahan Hay-thian-it-si untuk mengabarkan beritaku, sampai

waktunya mereka pun pasti akan tahu juga tentang kabar beritamu.”

“Benar, tugas terpenting yang harus dilakukan sekarang adalah memberi

petunjuk kepadamu untuk berlatih kungfu, Cau-ji, kau masih perjaka bukan?”

“Paman, apa artinya perjaka?”

“Artinya … Cau-ji, kau belum pernah tidur dengan wanita bukan?”

“Pernah, pernah, Cau-ji sering tidur dengan ibu.”

“Hahaha… kalau itu mah tak jadi soal, coba kemari, dengarkan baik-baik.”

Maka secara ringkas Bwe Si-jin menjelaskan ilmu Kui-goan-sinkang kepada

bocah itu kemudian mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Cau-ji.

Dengan kecerdasan dan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, tak

sampai setengah jam kemudian ia telah berhasil hapal di luar kepala kokuat dari

Kui-goan-sinkang tersebut.

Sambil tersenyum Bwe Si-jin segera memuji: “Cau-ji, kau memang bocah

berbakat, mulai sekarang tancapkan sepasang tanganmu ke atas dinding karang

lalu atur napas sesuai dengan apa yang kuajarkan, tak sampai satu jam

kemudian aku jamin pasti akan terjadi satu peristiwa aneh.”

“Sungguh?”

“Hahaha … semenjak perguruanku didirikan, gua ini merupakan tempat

terlarang, tapi justru di sini pula tempat yang paling cocok untuk melatih diri.”

“Paman, apa maksudmu?”

“Hahaha … di kemudian hari kau bakal tahu dengan sendirinya, sayang

tenaga goan-yang milik paman sudah rusak, dengan meminjam kekuatan angin

topan berpusing paling banter cuma bisa pulihkan sebagian tenagaku yang

dicuri Su Kiau-kiau. Sudahlah, waktu sangat berharga, cepatlah mulai berlatih

tenaga dalam.”

Selesai berkata ia segera menerobos masuk kembali ke dalam gua.

Setelah menderita kerugian besar tadi, Cau-ji tak berani bertindak gegabah,

buru-buru ia duduk bersila menghadap ke dinding, menghimpun hawa

murninya pada telapak tangan lalu menancapkannya ke atas dinding karang.

Tak selang berapa saat kemudian ia sudah berada dalam keadaan tenang.

Satu jam kemudian ketika Bwe Si-jin selesai bersemedi, ia saksikan tubuh

Cau-ji yang berada di luar gua diselimuti selapis cahaya merah, melihat itu dia

sangat kegirangan.

“Sucouya sekalian dari pergurunan Jit-seng-kau,” gumamnya, “selama seratus

tahun terakhir belum ada seorang manusia pun berhasil menguasai Kui-goansinkang,

tapi kini, kepandaian tersebut sudah terwujud di tubuh Cau-ji.”

“Sucouya sekalian, tecu berani menjamin dengan nyawa, tecu akan berusaha

melindungi Cau-ji agar bisa menduduki posisi ketua, bersamaan juga bisa

mengubah Jit-seng-kau jadi sebuah perguruan kaum lurus.”

Berbisik sampai di situ tidak kuasa lagi cucuran air mata terharu berlinang

membasahi pipinya.

Sudah sepuluh tahun lamanya Bwe Si-jin terkurung di tempat itu, meskipun

banyak siksaan dan penderitaan telah dialami, selama ini dia tak pernah

mengucurkan air mata, sungguh tak disangka dalam satu dua hari terakhir

beberapa kali dia mesti melelehkan air mata. Entah berapa lama sudah lewat….

Mendadak dari kejauhan bergema lagi suara tiupan angin berpusing yang

memekakkan telinga, tampaknya waktu datangnya badai telah tiba.

Cau-ji yang masih bersemedi segera mengerahkan seluruh hawa murninya

untuk mempertahankan diri, dengan menahan rasa sakit yang menyayat di

sekujur badannya, dia biarkan angin topan itu berpusing di sekeliling badannya.

Beberapa kali badannya terangkat oleh pusaran angin kencang itu, tapi setiap

kali dia kerahkan tenaga dalamnya, tubuhnya menjadi tenang kembali, tapi

akibatnya terjadi pergolakan yang hebat di dalam rongga dadanya.

Tapi ia tetap mempertahankan diri, sambil menggertak gigi dia berusaha

mempertahankan tubuhnya.

Akhirnya setelah bersusah payah sekitar satu jam, pusaran angin puyuh itu

mulai mereda, gejolak hawa darah dalam rongga dadanya ikut pula jadi tenang,

ia hembuskan napas lalu melanjutkan semedinya.

Setengah jam kemudian ketika Bwe Si-jin selesai bersemedi dan merangkak

keluar dari gua, ia segera saksikan pakaian yang dikenakan Cau-ji telah hancur

berantakan, namun lingkaran cahaya merah di sekeliling badannya bertambah

tebal, kenyataan ini membuat hatinya amat gembira.

Begitulah, sejak hari itu dia tidak bosan-bosannva memberi petunjuk kepada

bocah itu untuk semakin menyempurnakan tenaga dalamnya.

0oo0

Suara mercon bergema memecahkan keheningan, aneka bunga bwe

berkembang dan menyiarkan bau harum semerbak.

Tahun baru telah tiba.

Pesanggrahan Hay-thian-it-si telah dihiasi dengan sepasang lian di muka

pintu gerbang, namun tahun baru kali ini terasa tidak semeriah tahun kemarin.

Ini disebabkan Cau-ji tidak berada di rumah, bahkan kabar berita Go Hoa-ti

pun seolah lenyap ditelan bumi.

Ong Sam-kongcu beserta dua belas tusuk konde emas berkumpul di ruang

tengah, mereka hanya duduk-duduk dengan wajah termenung.

Sementara sekawanan bocah bermain di seputar halaman, walaupun suasana

tetap ramai namun seakan kehilangan kegairahan.

Pada saat itulah Ong tua si penjaga pintu berlarian masuk dengan tergopohgopoh

sembari berteriak kegirangan: “Kongcu, kabar baik, kabar baik, Cau-ji

sudah ada beritanya!”

Teriakan tersebut segera disambut sorak sorai penuh kegembiraan dari semua

penghuni rumah.

Tampak Ong tua diiringi raja hewan Oh It-siau berjalan masuk ke dalam

ruangan dengan langkah lebar.

“Sam-pek,” teriak Ong Bu-jin dengan rasa kuatir, “benarkah apa yang kau

ucapkan barusan?”

“Tentu saja benar, kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepada Oh-yaya.”

Sementara itu si raja hewan agak tertegun juga ketika melihat munculnya dua

puluhan bocah berwajah bersih, ia berseru pula: “Benar, aku mempunyai berita

tentang Cau-ji!”

“Oh, rupanya Oh-locianpwe telah datang berkunjung,” kata Ong Sam-kongcu

sambil maju menyambut, “silahkan masuk!”

Tak lama setelah si raja hewan mengambil tempat duduk, Pek Lan-hoa

muncul menghidangkan air teh seraya berkata: “Oh-locianpwe, silahkan minum

teh.”

“Terima kasih, terima kasih, Ong Sam-kongcu, kau benar-benar orang paling

bahagia di dunia ini, bukan saja punya bini yang rata-rata cantik, anak pun

semuanya hebat, terutama Cau-ji, dia betul-betul bocah luar biasa.”

“Terima kasih atas pujian locianpwe.”

Raja hewan tahu semua orang terburu ingin mengetahui kabar berita Cau-ji,

maka dia pun berkata lebih lanjut “Kongcu, saat ini Cau-ji berada di bukit Wusan

berlatih silat”

Secara ringkas dia pun menceritakan semua kejadian yang telah berlangsung.

“Locianpwe,” ujar Ong Sam-kongcu kemudian setelah selesai mendengar

penuturan itu, “kira-kira butuh berapa lama Cau-ji untuk belajar silat dan

keluar dari gua itu?”

“Kira-kira tiga tahun.”

Ong Sam-kongcu segera berpaling ke arah kawanan bocah itu dan ujarnya

sambil tertawa: “Anak-anak, dengarkan baik-baik, mulai hari ini kalian mesti

lebih giat berlatih silat, dua setengah tahun kemudian kita beramai-ramai

mendatangi telaga tersebut dan menonton bagaimana hebatnya si naga sakti,

setuju?”

Para bocah pun bersorak sorai menyambut tawaran itu dengan penuh

kegembiraan.

Sambil tersenyum kembali Ong Sam-kongcu berkata kepada Si Ciu-ing: “Adik

Ing, Oh-locianpwe dengan menempuh badai salju datang menyampaikan kabar

gembira, coba perintahkan dapur untuk menyiapkan hidangan, hari ini aku

ingin mengajak Oh-locianpwe minum sampai mabuk”

“Kongcu tak usah repot-repot.”

Bab V. Bencana pembawa nikmat

Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa bulan Tiong-ciu kembali menjelang

tiba.

Menggunakan kesempatan tersebut, Bwe Si-jin melatih kembali ilmu silatnya,

bukan saja kepandaiannya bertambah maju, tenaga dalamnya juga mengalami

kesempurnaan.

Di bawah bimbingannya, ilmu tenaga dalam Kui-goan-sinkang yang dipelajari

Cau-ji kembali mengalami kemajuan satu tingkat, kini setiap kali dia bersemedi

maka cahaya merah yang semula menyelimuti badannya, kini berubah menjadi

warna kuning.

Setiap kali angin topan berpusing datang menyerang, kini Cau-ji tak usah

menancapkan tangannya lagi ke dalam dinding karang, ia cukup menekan

permukaan tanah, badannya sudah terpantek tenang hingga dia dapat

melanjutkan semedinya.

Menurut penjelasan Bwe Si-jin, asal dia bisa duduk bersila tanpa mesti

berusaha menahan diri tiap kali angin topan datang menyerang, itu berarti

tenaga dalam Kui-goan-sinkangnya telah mencapai tingkat kesempurnaan atau

dengan perkataan lain, itulah saat bagi mereka untuk meninggalkan gua.

Setiap ada waktu senggang, Bwe Si-jin juga mewariskan ilmu “Li-gong-sit-u”

(mengambil benda di tengah angkasa) kepada bocah itu, dengan mengandalkan

kepandaian inilah setiap kali Cau-ji menangkap kelelawar untuk mengganjal

perutnya yang lapar.

Pada mulanya bocah ini merasa sangat tidak terbiasa tapi lama kelamaan

terdorong rasa lapar yang berlebihan, dia pun mulai bisa menerima kebiasaan

tersebut.

Tengah hari itu, baru saja mereka berdua selesai bersemedi, tiba-tiba

terdengar seseorang berteriak keras dari luar gua: “Cau-ji, aku adalah si raja

hewan … Cau-ji …”

Mendengar teriakan itu, Cau-ji segera berseru dengan perasaan kaget

bercampur girang: “Paman, itu suara dari Oh-locianpwe”

Maka dia pun menyahut dengan keras: “Oh-locianpwe, Cau-ji berada di sini.”

sambil berkata ia segera berlari keluar gua.

Bwe Si-jin ikut menerobos keluar dari gua sempitnya dan ikut berlarian

menuju keluar gua.

Ketika keluar dari balik air terjun, mereka berdua segera merasakan matanya

silau sekali oleh pantulan sinar matahari, baru saja mereka pejamkan mata,

terdengar si raja hewan berteriak penuh emosi: “Bwe-Lote, Cau-ji, rupanya

kalian benar-benar berada di sini, cepat tangkap benda ini!”

Mereka berdua segera menyambut lemparan itu, ternyata benda itu adalah

pakaian, kini mereka baru sadar jika tubuh mereka dalam keadaan bugil, maka

buru-buru mereka kenakan baju pemberian itu.

Tiba-tiba terdengar Cau-ji berteriak: “Locianpwe, kenapa kau ajak aku

bergurau…?”

Ternyata pakaian yang dikenakan itu sangat pendek lagi ketat, bukan saja

susah dikenakan, setelah dikenakan pun ketatnya sampai susah bernapas.

Raja hewan segera tertawa tergelak.

“Cau-ji, kau jangan gusar, ibumu yang titipkan pakaian itu agar diserahkan

kepadamu, mana aku tahu kalau badanmu bertambah jangkung dan kekar?”

Gelak tertawa pun segera bergema memecahkan keheningan.

Setelah puas berhaha-hihi, kembali si raja hewan berkata: “Lote, Cau-ji, kalian

pasti sudah lama tak makan enak, mumpung hari ini adalah hari Tiong-ciu, mari

kita minum beberapa cawan arak.”

Sambil berkata dia keluarkan beberapa macam hidangan ditambah dua poci

arak wangi.

Kemudian kepada Cau-ji katanya lebih lanjut: “Anak Cau, usiamu belum

genap tiga belas tahun, kau dilarang minum arak, makanlah yang banyak dan

gunakan air saja sebagai pengganti arak.”

”Tidak apa-apa, locianpwe, bisakah kau menceritakan keadaan keluargaku?”

pinta Cau-ji sambil tersenyum.

“Hahaha … Cau-ji, semua saudaramu memanggil “yaya” kepadaku,

seharusnya kau juga memanggil kakek padaku.”

“Baik yaya, Cau-ji menghormati satu cawan air untukmu,” sambil berkata dia

buka mulutnya dan menghisap air langsung dari mata air, sekilas panah air

segera menyembur masuk ke dalam mulutnya.

Melihat kesaktian bocah itu, si raja hewan terkejut bercampur gembira,

teriaknya tak tahan: “Cau-ji, tampaknya ilmu silatmu mengalami kemajuan yang

amat pesat.” seraya berkata ia melirik sekejap ke arah rekannya.

Bwe Si-jin segera tersenyum, setelah meneguk arak satu tegukan, katanya

sambil tertawa: “Loko, aku telah mewariskan ilmu Kui-goan-sinkang kepadanya”

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata raja hewan, dengan wajah

berubah hebat hardiknya: “Jadi kau … kau adalah anggota perkumpulan Jitseng-

kau (tujuh rasul)?” sambil bicara ia melompat bangun dan siap-siap

menghadapi serangan.

“Benar” sahut Bwe Si-jin sambil tertawa getir “siaute memang anggota Jitseng-

kau.”

Dengan wajah hijau membesi si raja hewan segera membuat satu garis

memanjang di atas tanah, kemudian katanya lagi: “Bwe Si-jin, mulai hari ini kita

putus hubungan, masing-masing tidak saling mengenal lagi.”

Gemetar keras tubuh Bwe Si-jin mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba ia

mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, kemudian tanpa mengucapkan

sepatah kata pun, segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Perubahan peristiwa ini berlangsung amat cepat dan singkat, untuk sesaat

Cau-ji jadi gelagapan dan tidak tahu apa yang mesti diperbuat

Raja hewan menghela napas panjang, setelah menenteramkan perasaan

hatinya, ia berkata: “Cau-ji, perkumpulan Jit-seng-kau adalah sebuah organisasi

yang banyak melakukan kejahatan dalam dunia persilatan di masa lalu, untung

sekali Ong-yayamu memimpin perlawanan, dengan usahanya yang luar biasa

perkumpulan tersebut berhasil beliau tumpas.”

“Mimpi pun aku tak menyangka kalau Bwe Si-jin ternyata juga merupakan

anggota Jit-seng-kau, tak aneh kalau sucinya Su Kiau-kiau memiliki ilmu silat

yang luar biasa hebatnya. Aai …! Kelihatannya dunia persilatan kembali akan

dilanda kekacauan.”

“Tapi yaya … Cau-ji rasa paman Bwe tidak seperti orang jahat, bukankah dia

pun dikurung dalam gua? Dia pasti bukan orang jahat,” bisik Cau-ji.

“Anak kecil, kau belum punya pengalaman dan tidak tahu betapa keji dan

liciknya orang persilatan, siapa tahu dia memang disekap di situ lantaran

rebutan posisi ketua Jit-seng-kau dengan kakak seperguruannya Su Kiau-kiau?”

“Tapi… paman Bwe baik sekali orangnya, masa dia orang jahat?”

Raja hewan tidak ingin berdebat lebih jauh, dia segera mengalihkan

pembicaraan ke soal lain, katanya: “Cau-ji, setelah bersantap, masuklah kembali

ke gua untuk berlatih ilmu, aku mesti laporkan kejadian ini kepada ayah ibumu

agar mereka tidak sampai dicelakai Bwe Si-jin.”

Selesai berkata, ia segera pergi meninggalkan tempat itu.

“Yaya ” teriak Cau-ji, tapi ketika dilihatnya kakek itu tidak menggubris,

akhirnya dia pun menghela napas panjang.

la tidak menyangka sebuah pertemuan yang baik akhirnya mesti bubar dalam

suasana tidak menggembirakan.

Apa jadinya bila suatu hari pamannya bertemu dengan yayanya sehingga

terjadi pertarungan? Siapapun yang terluka, baginya tetap mendatangkan

kedukaan yang mendalam.

Berpikir sampai di situ, perasaan hatinya jadi tak tenang, gumamnya: “Aku

harus minta ayah untuk menjadi penengah, aah betul! Apa salahnya kalau

kubereskan dulu masalah ini, kemudian baru balik kemari melanjutkan

latihannya?”

Begitu mengambil keputusan, dia pun berlarian menuju ke bawah bukit

Ketika tiba di punggung bukit, mendadak dari sisi sebelah kanan hutan

terdengar suara orang sedang merintih sambil berteriak keras.

Sebagai seorang bocah berjiwa pendekar, Cau-ji segera menghentikan

langkahnya sambil pasang telinga.

la segera mendengar suara gemericit yang nyaring bergema dari balik hutan,

di antaranya kedengaran juga suara dengusan napas seorang lelaki dan suara

rintihan seorang wanita.

“Aduuh … koko … aduh … senjatamu … senjatamu begitu ganas seperti

seekor naga sakti… aku … aku sudah tidak tahan”

“Hehehe … naga sakti berusia ribuan tahun milik koko akan melakukan

pembunuhan besar-besaran hari ini, kecuali kau merengek minta ampun.”

“Aduuuh… aaah”

Cau-ji hingga detik itu hanya merupakan seorang bocah kemarin sore yang

masih berbau kencur, tentu saja dia tidak paham arti dari teriakan laki

perempuan itu, dengan perasaan tertegun pikirnya: “Sungguh aneh, rintihan

perempuan itu macam orang hampir sekarat, kenapa dia masih memanggil

musuhnya koko?”

Dengan penuh rasa ingin tahu dia berjalan mendekat dan mengintip dari balik

semak.

Tampak sepasang muda mudi dalam keadaan telanjang bulat sedang

bergumul di atas permukaan rumput, setiap kali lelaki itu menggoyangkan

tubuhnya naik turun, perempuan itu segera menggeliatkan badannya kian

kemari sembari menjerit dan merintih.

Makin dipandang Cau-ji merasa semakin tak tahan, akhirnya dia melompat

keluar dari balik semak belukar sambil bentaknya: “Berhenti!”

Padahal waktu itu sepasang laki perempuan itu sedang mencapai puncak

kenikmatan, bila terlambat sedetik lagi mungkin keduanya sudah mencapai

puncak kepuasan, begitu mendengar hardikan Cau-ji yang nyaring, kontan

kedua orang itu melompat bangun dengan rasa kaget.

Kedua orang itu sebenarnya hanya rakyat dusun di bawah bukit sana, mereka

memang sengaja berjanji untuk bermain cinta di hutan agar perbuatan serong

mereka tidak diketahui pasangannya sendiri.

Bentakan tersebut tentu saja mengejutkan mereka berdua, disangkanya

perbuatan serong mereka telah ketahuan, tanpa membuang waktu lagi lelaki itu

segera kabur terbirit-birit dari situ dalam keadaan bugil.

Sebaliknya perempuan itu baru saja merangkak bangun dari tanah, ketika

melihat orang yang muncul hanya seorang pemuda asing, kontan dia sambar

bajunya seraya mengumpat: “Sialan lu! Lagi enak-enaknya aku menelan

mentimun, kamu datang mengganggu … huuh, padahal aku sudah hampir

mencapai puncaknya”

Sambil mengomel tiada hentinya perempuan itu segera berlalu dari tempat

tersebut

Kini tinggal Cau-ji masih berdiri melongo, dia tidak habis mengerti kenapa

orang malah mengumpatnya, padahal niat dia hanya menolong jiwa perempuan

itu?

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali ia lanjutkan kembali

perjalanannya, mendadak satu ingatan melintas lewat, tiba-tiba saja ia teringat

kembali dengan ucapan lelaki tadi tentang “naga sakti berusia seribu tahunnya,

sambil berseru tertahan buru-buru dia berbelok dan mengambil jalan menuju ke

arah telaga.

Rupanya secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan naga sakti yang berdiam

dalam telaga, ia berniat sekalian membasmi binatang tersebut agar tidak

mencelakai orang.

Berapa li sebelum mencapai tepi telaga, tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar

ada suara orang menjerit kaget

Waktu itu jam menunjukkan pukul dua belas malam, langit yang gelap hanya

disinari rembulan yang redup, walau begitu, dengan kesempurnaan tenaga

dalam yang dimiliki Cau-ji, dia dapat menangkap suara jeritan itu dengan sangat

jelas.

Tergopoh-gopoh bocah itu mempercepat langkahnya menghampiri asal suara

jeritan itu.

Tiba di sisi telaga, ia saksikan ada dua belas orang bocah laki dan bocah

perempuan berkumpul di situ menemani seorang gadis remaja, saat itu mereka

sedang memanggang daging.

Rupanya mereka adalah dua belas orang pelayan dari perkumpulan Jit-sengkau

yang sedang berpesiar menemani tuan putrinya.

Jangan dilihat kedua belas orang bocah laki dan perempuan itu masih berusia

tujuh delapan belas tahunan, bukan saja wajah mereka rata-rata tampan dan

cantik, ilmu silatnya hebat dan hatinya sangat telengas.

Dalam perkumpulan Jit-seng-kau berlaku sebuah peraturan yang tak tertulis,

yakni bila ada salah seorang di antara mereka yang berkhianat, maka bila dia

seorang pria maka pada akhirnya lelaki itu akan mati kehabisan cairan mani

lantaran digilir habis-habisan oleh keenam orang gadis cantik itu.

Sebaliknya jika si penghianat adalah seorang perempuan, dia pasti akan mati

digilir keenam orang pria tampan itu.

Karena kekejaman dan kebuasan mereka itulah di dalam perkumpulan Jitseng-

kau dikenal sepatah kata yang sangat populer yakni “Lebih gampang

menjumpai raja neraka ketimbang bertemu setan cilik”.

Kedua belas orang laki wanita ini memang hasil didikan ketua serta kedua

wakil ketua Jit-seng-kau, bukan saja sulit dihadapi, bila kurang berhati-hati bisa

jadi nyawa akan jadi taruhan.

Su Kiau-kiau maupun keempat suci-sumoaynya tentu saja juga tahu akan

kebuasan serta ketelengasan kedua belas orang kepercayaannya, tapi mereka

sama sekali tak menggubris, mereka sengaja mengumpak mereka hingga

semakin berani melakukan hal-hal yang sadis.

Begitulah, pada malam itu mereka bertiga belas sedang bersantai di tepi telaga

sambil memanggang daging dan minum arak, tak selang satu jam kemudian

kawanan muda mudi itu sudah mulai mabuk.

Pada saat itulah tiba-tiba tampak gadis berdandan sebagai tuan putri yang

berbaju merah, berwajah cantik dan berusia tiga empat belas tahunan itu

berseru dengan nyaring: “Jangan minum lagi, kalau dilanjutkan, kita tak bisa

pulang ke istana!”

Ketua para gadis cantik So Giok-ji segera menyahut: “Baik, baik, kita tidak

minum lagi, engkoh Liong, mari kita berkumpul dan adakan permainan

bersama.”

Sambil berkata dia segera mengerling memberi tanda.

Ketua kaum lelaki Yau Ji-liong segera menanggapi, ia tertawa tergelak:

“Hahaha … baiklah, tuan putri, mari kita bermain hembusan angin puyuh!”

“Baik.”

“Agar permainan tambah asyik, maka setiap orang yang terhembus jatuh, dia

mesti melepaskan satu macam barang yang dikenakan, bagaimana? Setuju?”

Kawanan bocah laki dan perempuan itu segera bersorak sorai menyatakan

setuju.

Hanya si tuan putri Su Gi-gi yang kelihatan masih sangsi.

Melihat itu So Giok-ji segera berbisik: “Tuan putri, di sini tak ada orang luar,

apalagi kau selalu paling tenang, bukankah tiap kali bermain tiupan angin

topan, kau selalu menang?”

Su Gi-gi termenung berpikir sebentar, merasa apa yang dikatakan ada

benarnya juga maka dia pun mengangguk tanda setuju.

Kawanan muda mudi itupun mulai mengumpulkan dua belas batu besar yang

ditata menjadi satu lingkaran bulat masing-masing orang duduk di atas batu itu

dan memandang ke arah sucinya sambil tertawa cekikikan.

Tampak Su Kiau-kiau menyapu sekejap kawanan muda mudi itu, tiba-tiba

serunya dengan suara lantang: “Angin besar berhembus!”

“Meniup apa?” serentak muda mudi itu bertanya.

“Meniup bocah lelakil” sahut Su Kiau-kiau sambil bergerak secepat kilat

merebut posisi yang di tempati Yau Ji-liong.

Menurut aturan main, barang siapa ditunjuk kena tiupan maka dia mesti

bergeser ke posisi yang lain, bila gerakan tubuhnya lamban sehingga tidak

berhasil merebut posisi baru maka orang itu dianggap kalah dan dia mesti

melepaskan semacam barang yang dikenakan.

Tampak seorang bocah lelaki yang tidak berhasil merebut posisi mundur

selangkah ke belakang, kemudian sambil tertawa dia lepaskan ikat kepalanya,

setelah itu kembali teriaknya: “Angin besar berhembus!”

“Meniup apa?”

“Meniup orang yang punya rambut!”

Setelah terjadi kegaduhan akhirnya So Giok-ji yang gagal merebut posisi,

sambil tertawa cekikikan dia pun melepaskan jubah luarnya.

Begitu pakaian dilepas, tempik sorak pun segera bergema gegap gempita.

Ternyata begitu dia lepaskan jubah luarnya, terlihatlah tubuh bagian dalamnya

yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa alias dia berada dalam keadaan

bugil.

Dengan tubuh telanjang bulat So Giok-ji berteriak nyaring: “Angin besar

berhembus!”

“Meniup apa?”

“Meniup orang yang tak punya perasaan.”

Semua orang tertawa terbahak-bahak, ternyata tak seorang pun di antara

mereka yang bergeser.

Si tuan putri segera berseru sambil tertawa: “Giok-ji, kali ini taktikmu tidak

jitu….”

Sambil tertawa getir So Giok-ji pun melepaskan sepasang sepatunya.

“Angin besar berhembus!”

“Meniup apa?”

“Meniup bocah lelaki!”

Begitulah, permainan pun bergulir tiada hentinya, tatkala rembulan sudah

berada tepat di tengah angkasa, kedua belas orang muda mudi itu boleh dibilang

sudah berada dalam keadaan bugil.

Su Gi-gi sendiri pun ikut tertiup sebagian besar bajunya hingga kini yang

tersisa hanya pakaian dalamnya yang berwarna biru muda.

Melihat lekukan badan si tuan putri yang begitu montok dan indah, keenam

orang pemuda itu bukan saja melototi terus tubuh lawan tanpa berkedip,

bahkan kentara sekali kalau tubuh bagian bawahnya sudah pada bangun berdiri

dengan kakunya.

Melihat itu si tuan putri segera berseru: “Sudah … sampai di sini saja, kalian

boleh bermain gila!”

Diiringi sorak sorai yang amat nyaring kedua belas orang muda mudi itu

segera mencari pasangan masing-masing dan mulai berbuat intim.

Pada mulanya pihak lelaki yang berada di atas dan si wanita berada di bawah,

tapi sesaat kemudian pihak wanita yang berada di atas dan si lelaki berada di

bawah, bukan saja banyak variasi yang digunakan, tampaknya semua orang

sudah berpengalaman sekali dalam melakukan hubungan kelamin.

Tiba-tiba terdengar So Giok-ji berteriak keras: “Sekarang berganti pasangan!”

Enam pasang muda mudi segera melompat bangun dan berganti pasangan,

kemudian melanjutkan kembali permainannya saling menunggangi lawan

jenisnya.

Siapakah Su Gi-gi itu? Ternyata dia adalah anak haram Su Kiau-kiau,

sepuluh tahun berselang Su Kiau-kiau telah menculik Bwe Si-jin dan

mengirimnya ke gua, sepanjang perjalanan secara beberapa hari mereka telah

melakukan hubungan intim yang tak terhitung banyaknya, bocah perempuan itu

tak lain adalah hasil dari hubungan tersebut.

Tatkala mengetahui dirinya hamil, sebenarnya Su Kiau-kiau punya rencana

untuk menggugurkannya, tapi niat itu dicegah ketiga orang sumoaynya, alasan

mereka, di kemudian hari mereka bisa gunakan si bocah sebagai sandera untuk

memaksa Bwe Si-jin berbakti lagi terhadap perguruan Jit-seng-kau.

Itulah sebabnya Su Gi-gi berhasil lolos dari kematian dan tumbuh jadi bocah

remaja.

Di bawah bimbingan dan didikan secara langsung dari Su Kiau-kiau

berempat, meskipun Su Gi-gi baru berusia tiga empat belas tahunan namun

ilmu silatnya sudah sangat hebat.

Perkumpulan Jit-seng-kau memang tersohor sebagai perkumpulan kaum

wanita bejat, boleh dibilang kesibukan mereka setiap harinya hanya berbuat

intim atau berbuat cabul sesama anggota, bagi Su Gi-gi kejadian tersebut sudah

sangat terbiasa dan tidak asing baginya.

Meskipun hingga hari itu Su Gi-gi masih bisa mempertahankan

keperawanannya, tak urung perasaan hatinya terpengaruh juga oleh adegan

mesum yang terpampang di depan matanya, diam-diam ia sendiri mulai merasa

terangsang dan sudah timbul pikiran untuk ikut “mencicipinya”.

Apalagi dalam kondisi sekarang ini, dimana dua belas orang anak buahnya

sedang melangsungkan hubungan kelamin secara massal di hadapannya,

dimana bukan saja banyak variasi yang diperagakan, bahkan berulang kali

berganti pasangan, adegan ini membuat seluruh badannya jadi panas dan susah

untuk ditahan.

Gelora hawa darah yang membara membuat dengus napasnya ikut memburu,

paras mukanya jadi merah padam sementara sepasang matanya mengawasi

terus adegan mesum yang masih berlangsung di hadapannya.

Makin dilihat hatinya makin tersiksa, semakin hatinya tersiksa dia semakin

pingin melihat, apa mau dibilang, ibu dan ketiga bibinya telah berpesan berulang

kali, sebelum nadi Jin-meh dan tok-mehnya tembus, dia tak boleh kehilangan

keperawanannya.

Dalam keadaan terangsang hebat hingga badannya seperti terbakar, hanya

satu cara yang bisa dilakukan Su Gi-gi sekarang yakni menceburkan diri ke

dalam telaga untuk berendam.

Ternyata cara ini sangat mujarab, setelah berendam sejenak dalam air dingin,

kesadarannya pulih kembali, selain napsu hilang, hatipun jadi tenang, maka dia

pun berendam lebih jauh.

Sementara itu tertawa cabul, rintihan jalang masih berlangsung dengan

serunya di tepi telaga, sekalipun kini dia sudah berendam dalam air, bukan

berarti pandangan matanya lolos dari pemandangan merangsang yang

terpampang di depan mata.

Pada saat itulah … tiba-tiba ia menyaksikan timbulkan arus air berpusing

yang sangat dahsyat muncul dari dasar telaga, kejadian ini segera membuatnya

tertegun.

Sementara dia masih termangu, pusaran air berputar makin kencang dan

makin melebar bahkan sudah mulai mendekati permukaan telaga, saat itulah Su

Gi-gi mulai panik dan terkesiap.

Sementara dia sedang menduga bakal munculnya makhluk aneh dari dasar

telaga, tahu-tahu naga sakti berusia ribuan itu sudah muncul di hadapannya

sambil mengeluarkan suara pekikan yang sangat mengerikan.

Biarpun titik kelemahan di tubuh naga sakti itu sudah terluka, namun dia tak

ingin kehilangan kesempatan “menghisap sari rembulan” yang hanya

berlangsung setahun satu kali, hari ini dia muncul kembali untuk mengulangi

kembali hal yang sama.

Tapi begitu muncul di permukaan dan melihat di tepi telaga ternyata terdapat

banyak “mangsa”, dalam girangnya makhluk itupun berpekik nyaring.

Su Gi-gi sangat terperanjat, dalam terkejut bercampur ngerinya buru-buru dia

menyelam ke dalam air.

Kemunculan makhluk raksasa itu membuat suasana di tepi telaga jadi kalut,

dalam terkejut dan paniknya masing-masing melompat bangun dari tubuh

pasangannya dan kabur terbirit-birit dari situ.

Apa mau dibilang ternyata ada seorang gadis yang masih tertinggal di situ,

tampaknya rasa takut dan ngeri yang berlebihan membuat badannya bukan saja

gemetar keras, bahkan terjadi kejang-kejang khusus di sekitar lubang surganya.

Akibat kejang yang menyerang, ototnya jadi kaku dan segera “menggigit” kuatkuat

senjata “tombak” pasangannya yang masih menindih di atas tubuhnya.

Bisa dibayangkan apa jadinya saat itu, melihat “tombaknya “tergigit” hingga

tak bisa lepas, tergopoh-gopoh bocah lelaki itu berteriak: “Adik Hoa, jangan

main-main, ayo cepat lepaskan gigitanmul”

Sembari berkata dia cabut keluar tombaknya sekuat tenaga.

Gadis itu semakin panik, tergopoh-gopoh dia rentangkan sepasang pahanya

lebar-lebar agar sang pemuda bisa mencabut keluar senjatanya, sayang makin

panik gadis itu makin kencang “gigitan” liang surganya atas milik pemuda itu.

Pada saat itulah si naga sakti telah menongolkan kepalanya menghampiri

mereka, dengan sekali hisapan, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati,

sepasang muda mudi yang masih menempel jadi “satu tubuh” itu terhisap

masuk ke dalam perut makhluk tersebut.

Rekan-rekan lainnya jadi amat gusar melihat peristiwa tragis itu, sambil

membentak serentak mereka lepaskan pukulan dahsyat ke tubuh naga.

Sayang kulit tubuh naga itu kuat bagaikan baja, bukan saja serangan itu

gagal melukainya, malah sebaliknya justru memancing sifat liarnya.

Sementara itu Su gi-gi sudah muncul kembali di atas permukaan air, melihat

kegarangan naga sakti itu dia segera membentak nyaring sambil melepaskan

sebuah pukulan ke lambung binatang itu.

Merasa kesakitan naga sakti itu berpekik nyaring, tiba-tiba ia membalikkan

badan sambil menyerang gadis itu.

Buru-buru Su gi-gi melepaskan pukulan sambil menyingkir ke samping.

Tentu saja gerak geriknya sewaktu dalam air tidak segesit di atas daratan,

sekalipun tubuh nona itu tidak tertumbuk telak, namun tenaga sambarannya

membuat badannya mencelat hampir beberapa kaki jauhnya.

Muda mudi yang berada di tepi telaga serentak mengambil batu dan

menyambitkan ke lambung naga itu.

Sambitan yang dilancarkan serentak nampaknya membuat naga itu kesakitan,

lagi-lagi dia berbalik menyerang ke tepi telaga.

Tenaga bocah-bocah itu mana mungkin bisa menangkan kekuatan seekor

naga raksasa? Tidak sampai seperminum teh kemudian, tinggal empat orang

bocah yang selamat dari hisapan makhluk itu.

Sambil menjerit kaget keempat bocah perempuan yang masih hidup serentak

melarikan diri dari situ.

Lagi-lagi naga sakti itu pentangkan mulutnya sambil menghisap, seorang

bocah perempuan kembali terhisap ke perut makhluk itu.

Di pihak lain, Su Gi-gi merasakan gejolak hawa darah yang amat dahsyat

dalam rongga dadanya, nyaris dia jatuh pingsan karena sapuan makhluk itu,

sadar kalau usus perutnya terluka, diam-diam ia berenang menuju ke tepian.

Di saat yang sangat kritis itulah mendadak terdengar Cau-ji membentak

gusar: “Binatang, jangan melukai orang!”

Sambil menghardik, ia sambit sebutir batu besar ke bagian kepala naga sakti

itu.

Bentakan keras membuat si naga menghentikan tubuhnya, tapi sambitan

batu yang menyusul tiba membuat makhluk itu mengerang kesakitan.

Menggunakan kesempatan itu dua orang gadis yang nyaris dimakan naga itu

terbirit-birit melarikan diri ke tempat kejauhan.

Melihat hasil tangkapannya terlepas, naga sakti itu meraung gusar, kini dia

menerjang ke arah Cau-ji.

Bocah itu membentak gusar, sambil melepaskan sebuah pukulan ke perut

naga itu dia menyingkir ke samping.

Serangan tersebut dilepaskan tanpa menimbulkan suara, tapi akibatnya

sangat luar biasa, tampak naga sakti itu bergulingan di atas air sambil meraung

kesakitan, sekuat tenaga dia pentang mulutnya sembari menghisap.

Cau-ji merasakan betapa kuatnya tenaga hisapan itu, meski bisa menghindar,

dia kuatir binatang itu akan semakin kalap, maka sambil bulatkan tekad ia

biarkan badan sendiri dihisap.

Su Gi-gi serta dua orang gadis yang berada di telaga sangat kaget melihat

kejadian itu, tak tahan mereka menjerit tertahan.

Ketika tubuh Cau-ji yang terhisap mencapai atas kepala naga itu, tiba-tiba ia

meronta sambil melejit ke samping kemudian melepaskan sebuah bacokan

langsung ke mata kanannya yang pernah dipatuk burung sakti.

Sebagaimana diketahui, sudah bertahun-tahun lamanya Cau-ji melatih diri di

dalam gua melawan daya hisap angin berpusing yang maha dahsyat itu, dengan

dasar latihan macam itu, bagaimana mungkin ia bisa takut dengan tenaga

hisapan seekor naga?

Diiringi pekikan keras, bola mata makhluk itu segera terhajar telak hingga

hancur berantakan, percikan darah segar memancar ke empat penjuru.

Tampaknya makhluk itu tidak menyangka kalau lawannya memiliki ilmu silat

begitu dahsyat, sadar bukan tandingan, buru-buru ia melarikan diri dengan

menyelam ke dasar telaga.

Cau-ji mendengus dingin, hardiknya: “Binatang, jangan harap bisa kabur!”

Kembali sebuah pukulan dahsyat dilontarkan.

Setelah mengalami kerugian besar karena serangan Cau-ji, kali ini makhluk

aneh itu bertindak lebih cerdik, buru-buru dia menghindar dari datangnya

ancaman.

Su Gi-gi begitu melihat ada peluang untuk menyerang, ditambah lagi ia

dendam karena harus kehilangan nyawa sepuluh orang anak buahnya,

menggunakan kesempatan itu sebuah pukulan kembali dilancarkan menyerang

lambung binatang itu.

Gempuran keras membuat naga sakti itu meraung gusar, lagi-lagi dia

menumbukkan kepalanya ke arah Su Gi-gi.

“Cepat menghindar!” buru-buru Cau-ji berteriak sambil bergerak menghampiri

nona itu.

Begitu tiba di sisinya, bocah itu langsung merangkul pinggangnya dan

menariknya menyelam ke dasar telaga.

Selama hidup Su Gi-gi belum pernah disentuh lelaki, dia jadi malu bercampur

gusar telah melihat pinggangnya dirangkul seorang pemuda berdandan aneh.

Seandainya waktu itu bukan lagi menyelam, mungkin dia sudah menghardik

penuh amarah.

Tiba-tiba terjadi getaran dahsyat yang muncul dari permukaan telaga, begitu

dahsyat getaran itu membuat napasnya sesak dan nyaris pingsan, gadis itu tahu

getaran tersebut pasti ditimbulkan oleh naga sakti itu.

Sekarang dia baru merasa berterima kasih, untung pemuda itu menariknya ke

dalam air, coba kalau tidak, entah apa yang bakal terjadi.

Setelah menyelam cukup dalam ke dasar telaga, Cau-ji berbelok ke samping

lalu munculkan diri lagi di atas permukaan.

Buru-buru Su Gi-gi meronta dan melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu.

“Cepat tahan napas!” tiba-tiba Cau-ji berbisik lagi, rupanya dia tahu kalau si

naga telah menemukan tempat persembunyiannya, segera dia tarik gadis itu

menyelam lagi ke dalam air.

Benar juga, baru saja mereka tiba di dasar telaga, kembali terjadi getaran

dahsyat di atas kepala mereka.

Kini Su Gi-gi benar-benar ketakutan, saking ngerinya dia merasakan

jantungnya berdebar keras.

Setelah berputar satu lingkaran, Cau-ji muncul kembali di atas permukaan

telaga.

“Berapa lama kau bisa menahan napas?” terdengar pemuda itu berbisik lagi

sambil menatap wajah nona itu lekat-lekat.

Su Gi-gi merasa sangat tegang, terutama setelah mengamati wajah lawan yang

begitu tampan, sahutnya agak gelagapan: “Mungkin bisa bertahan seperminum

teh.”

Cau-ji sangat kegirangan, kembali ujarnya: “Kau berani menonton aku bantai

naga itu?”

“Bantai naga? Jadi makhluk aneh itu seekor naga?” berubah hebat paras

muka Su Gi-gi.

Begitu mendengar gadis itu menjerit kaget, Cau-ji tahu bakal celaka, buruburu

bentaknya: “Tahan napas!”

Sambil berkata dia menyelam lagi ke dalam telaga.

Waktu itu Su Gi-gi sedang gugup bercampur panik, dia tak sempat menutup

pernapasannya, begitu menyelam, air segera masuk ke dalam mulutnya

membuat dia meronta-ronta.

Dulu, ketika masih berada di pesanggrahan Haythian-it-si, Cau-ji sudah

sering mempunyai pengalaman menghadapi situasi seperti ini, maka sembari

melanjutkan gerakannya menyelam, dia tempelkan tubuh sendiri ke dada si

nona.

Bukan hanya begitu, dia pun tempelkan mulutnya ke bibir gadis itu sambil

pelan-pelan menyalurkan hawa murninya.

Sebenarnya Su Gi-gi sudah mengayunkan tangannya untuk melepaskan

pukulan, tapi ketika dirasakan dadanya yang semula sesak kini jauh lebih lega

dan enak, sadarlah dia kalau pemuda itu sedang membantunya mengalirkan

hawa murni, tanpa sadar tangan kanannya segera dirangkulkan ke bahu lawan.

Pada saat itulah getaran dahsyat kembali bergema dari permukaan air, saking

takutnya Su Gi-gi segera peluk tubuh Cau-ji erat-erat.

Pikiran Cau-ji saat itu hanya bagaimana selamatkan orang, meskipun dipeluk

seorang gadis cantik, dia sama sekali tak punya pikiran cabul.

Sekali lagi dia munculkan diri di belakang punggung sang naga sembari

berganti napas.

Dengan tersipu-sipu Su Gi-gi melepaskan diri dari pelukan pemuda itu, wajah

Cau-ji yang tampan membuat perasaan hatinya semakin bergolak, namun diamdiam

dia merasa kagum juga dengan kejujuran pemuda itu.

Tentu saja Su Gi-gi tidak menyangka kalau usia Cau-ji waktu itu baru dua

belas tahun lebih, bagaimana mungkin ia bisa berpikir ke soal yang satu itu?

“Kau tak apa-apa bukan?” bisik Cau-ji segera menghembuskan napas

panjang.

“Tidak apa-apa, terima kasih!”

Cau-ji segera merangkul kembali pinggangnya sambil berbisik: “Ayo

berangkat, lihat bagaimana caraku membantai naga itu!”

Dengan wajah bersemu merah karena malu Su Gigi merangkul pinggang

pemuda itu erat-erat, setelah menahan napas dia ikut mengawasi situasi di

sekeliling telaga.

Sambil memeluk gadis itu, pelan-pelan Cau-ji mendekati tubuh makhluk

raksasa tersebut, ketika diamati lebih jelas, betul juga, ia saksikan pada

lambung tengah si naga yang berwarna lingkaran putih tertancap sebilah pisau

belati.

Cau-ji segera menuding ke arah pisau belati itu, melihat hal tersebut Su Gi-gi

segera berpikir “Ooh, rupanya dia sudah melukai makhluk itu, tak nyana dengan

usia semuda itu ternyata memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya.”

Tanpa terasa dia manggut-manggut tanda telah melihatnya.

Dengan tangan kanannya Cau-ji menggenggam gagang pisau itu, kemudian

sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia tarik pisau itu ke bagian bawah

lambung sang naga dan merobeknya lebar-lebar.

Terluka parah pada bagian tubuh yang mematikan, naga sakti itu meraung

keras, begitu dahsyat pekikan itu membuat dua belah tebing di sisi telaga itu

sampai ikut bergetar keras.

Gelombang ombak segera menggunung, arus menyembur mencapai ketinggian

berapa kaki.

Situasi saat itu sangat mengerikan, sebab naga itu bukan saja meronta, dia

pun meraung dan menggeliat dengan hebatnya.

Tiba-tiba Su Gi-gi melihat munculnya sebutir bola api sebesar kepala bayi di

dalam lambung naga itu, hatinya tergerak, pikirnya: “Jangan-jangan bola api itu

adalah Lwe-wan (pil inti) seperti apa yang tercantum dalam catatan buku?”

Berpikir sampai di situ dia pun menepuk tangan Cau-ji sambil menuding ke

arah bola api itu.

Cau-ji manggut-manggut tanda mengerti, dia berenang mendekat sambil

mengayunkan pisau belati, bola api itu segera terputus dan jatuh ke tangan Su

Gi-gi.

Begitu kehilangan bola apinya, naga itu meronta semakin dahsyat, tubuhnya

menggeliat semakin menggila dan dihantamkan ke empat penjuru, guguran batu

dan pasir segera berserakan ke dalam telaga.

Cau-ji ikut merasa tegang setelah melihat kejadian itu, buru-buru dia

berenang menuju ke tempat yang lebih dalam.

Baginya selama banyak tahun sudah terbiasa terbentur pada dinding karang,

terhadap runtuhan bebatuan yang terjadi saat ini tidak terlalu merisaukan, tapi

dia justru kuatir jika nona yang berada dalam pelukannya terkena bebatuan itu.

Dalam pada itu Su Gi-gi sudah dibuat ketakutan setengah mati, sambil

memeluk kencang Lwe-wan itu di depan dadanya, dia tempel ketat di sisi tubuh

Cau-ji.

Pemuda itu tahu, bertahan dalam posisi semacam ini sangat tidak

menguntungkan, dia harus secepatnya mencari tempat yang lebih baik untuk

menyelamatkan diri.

Tiba-tiba sorot matanya terbentur dengan sebuah gua yang memancarkan

sinar redup di sisi dinding sebelah kanan, dengan perasaan girang ia segera

berenang ke arah situ dan langsung masuk ke dalam gua.

Bentuk gua itu sangat lebar, berdiri di mulut gua Cau-ji melihat dinding gua

itu dipenuh dengan butiran putih sebesar kepalan tangan yang bergelantungan,

ternyata air telaga tak bisa mengalir ke situ.

Dengan perasaan termangu pemuda itu mengawasi terus gelora air telaga di

luar telaga, dia tak habis mengerti kenapa air yang menggelora ternyata tak

mampu mencapai daratan dimana ia berdiri sekarang.

Sementara itu Su Gi-gi sudah melepaskan diri dari pelukan pemuda itu,

melihat pakaiannya basah kuyup sehingga kain bajunya menempel ketat di

badannya, ia jadi malu sekali, saat itu bukan saja semua lekukan badannya

tertera jelas bahkan secara lamat-lamat dapat terlihat puting susunya yang

mulai tumbuh serta bulu hitam di bawah perutnya.

Malu bercampur panik cepat-cepat gadis itu menutupi dada serta bagian

bawah badannya dengan tangan.

Selesai menutupi bagian tubuhnya yang terlihat, ia baru memperhatikan

lawannya, dia makin keheranan ketika melihat pemuda itu hanya mengawasi

butiran putih di dinding gua dengan termangu.

Su Gi-gi memperhatikan sekejap butiran putih itu, dia segera paham benda itu

tentulah mutiara anti air (Pit-sui-cu) seperti apa yang tertera di gua rahasia

perguruannya, maka ujarnya lembut: “Kongcu, kau tak usah keheranan, benda

itu adalah Mutiara kedap air!”

“Oooh, rupanya itulah benda yang disebut mutiara kedap air, ternyata

memang hebat sekali, hanya sebutir mutiara namun bisa menahan gelombang

air hingga tak masuk kemari… Hah?”

Mereka berdua serentak menoleh ke arah telaga, tampak batuan raksasa

mulai berguguran menyumbat mulut gua itu.

“Aduh celaka!” jerit Su Gi-gi kaget, “tampaknya terjadi tanah longsor, waah,

bagaimana cara kita keluar dari sini?”

Cau-ji berpikir sejenak, mendadak serunya: “Lari!” sambil mengempit tubuh si

nona, dia segera lari masuk ke dalam gua itu.

Bagaikan sedang mengempit adik perempuan sendiri, pemuda itu berlari cepat

menuju ke dalam gua yang gelap gulita.

Su Gi-gi merasa malu bercampur girang, hatinya berdebar keras merasakan

gesekan badan yang berlangsung selama pelarian itu.

Lorong gua itu berliku-liku, permukaan tanah pun tinggi rendah tak menentu,

akhirnya sampailah mereka berdua di depan sebuah mulut gua yang tersumbat

oleh sebuah batu raksasa.

Su Gi-gi mencoba untuk mendorong batu raksasa itu, ternyata batuan itu

sama sekali tak bergeming.

Melihat itu Cau-ji menghimpun tenaga dalamnya kemudian sekuat tenaga

mendorong batu itu.

Tampak batuan raksasa itu mulai bergerak.

Cau-ji kegirangan, sambil membentak nyaring sekali lagi dia dorong batu itu

dengan sekuat tenaga.

Siapa tahu batu itu hanya bergerak sebentar kemudian balik lagi pada posisi

semula.

Cau-ji menarik napas panjang, sekali lagi dia mengerahkan tenaganya untuk

mendorong, sayang walaupun sudah dicoba berulang kali, batu raksasa itu tetap

tak bergeming.

Su Gi-gi segera menarik lengannya sambil berbisik: “Kongcu, tak usah terburu

napsu, mari kita beristirahat sejenak.”

Cau-ji mundur selangkah sambil menghembuskan napas, gumamnya: “Aai …

sungguh tak nyana batu itu berat sekali, Hey, coba lihat, kenapa ada cairan yang

mengalir dari bola api itu?”

Su Gi-gi tahu bola api itu rusak karena cekalannya yang kelewat kuat

“Aduh sayang ….” jeritnya, dengan sangat berhati-hati dia pegang bola itu ke

dalam telapak tangannya.

Cau-ji segera mengendus bau harum yang luar biasa muncul dari bola api itu,

tiba-tiba perutnya mulai menjerit keras.

Tampaknya pertarungan sengitnya melawan naga tadi membuat pemuda itu

mulai merasa kelaparan.

Dalam pada itu Su Gi-gi sedang mengawasi bola api itu dengan perasaan

bimbang, dia tahu benda itu adalah mestika langka yang berusia seribu tahun,

dia tak tahu apakah benda itu harus dibagi setengah untuk pemuda itu ataukah

akan dimakan sendirian.

Menurut catatan dalam buku kuno, khasiat bola api itu akan lenyap setelah

satu jam terkena angin, sekarang mereka jelas terkurung dalam gua dan

mustahil bisa lolos dari situ dalam waktu singkat, itu berarti benda itu harus

dimakan secepatnya.

la tahu, di atas bahunya terletak tanggung jawab berat atas perkembangan

perguruan Jit-seng-kau, sementara pemuda itu tidak jelas asal-usulnya, apakah

dia mesti berbagi hasil dengannya?

Waktu itu meski dia tahu pihak lawan sangat kelaparan, tapi ia sudah

mengambil keputusan bulat untuk tidak menyerahkan bola api itu untuk lawan.

Dengan berlagak terpaksa, dia sodorkan bola api itu ke hadapan Cau-ji sambil

bisiknya: “Kongcu, jika kau lapar sekali, makanlah bola api ini!”

Cau-ji bukan orang bodoh, tentu saja dia pun tahu kalau nona itu keberatan

jika dia yang makan benda tersebut, maka katanya sambil tertawa: “Nona,

barang itu kecil sekali, mending tidak kumakan, aku kuatir kalau dimakan

malah semakin terasa lapar!”

“Kalau begitu siaumoay tidak sungkan-sungkan lagi” kata Su gi-gi sambil

tertawa, habis berkata ia masukkan Lwe-wan dari naga sakti itu ke dalam

mulutnya dan mulai dihisap pelan-pelan.

Cau-ji merasa semakin kelaparan, katanya kemudian sambil tertawa: “Nona,

biar aku berkeliling di sekitar sini, siapa tahu di tempat ini masih ada jalan

keluar lainnya?’

Memang ucapan macam itu yang diharapkan Su Gigi, dia segera mengangguk,

katanya berlagak kuatir “Kau mesti hati-hati….”

Cau-ji mengangguk dan segera berlalu dari situ.

Menanti hingga pemuda itu lenyap dari pandangan mata, Su Gi-gi menghisap

sekali lagi cairan dalam Lwe-wan itu kemudian duduk bersila dan mulai

mengatur pernapasan.

Tak selang berapa saat kemudian ia merasakan sekujur badannya amat segar,

ia tahu pasti berkat khasiat bola api, kembali dia hisap cairan itu satu tegukan.

Tak lama kemudian ia merasakan munculnya aliran panas dari tan-tiamnya

dan secepat kilat menyebar ke seluruh jalan darah pentingnya, ia merasa

badannya makin lama semakin enteng dan makin segar.

Tujuan yang utama bagi orang yang belajar silat adalah tembusnya urat jinmeh

serta tok-meh, Su Gi-gi tahu, kedua nadi penting itu sudah tembus, saking

girangnya air mata bercucuran membasahi pipinya.

Tanpa terasa dua jam sudah lewat, gelombang hawa panas yang semula

menggelora dalam dadanya lambat laun bertambah tenang, kini hawa panas itu

berubah jadi aliran tenaga yang sangat lembut.

Selesai bersemedi, Su Gi-gi mulai berpikir “Kenapa aku tidak sekalian

habiskan bola api ini? Daripada diberikan ke dia, kenapa tidak aku kuasai

sendiri?”

Berpikir begitu dia segera mengambil sisa setengah dari Lwe-wan itu dan

mulai dihisap cairannya, kali ini bukan hanya cairannya saja yang dihisap

bahkan kulit luarnya pun ikut dilahap.

“Perduli amat bagaimana akibatnya,” demikian ia berpikir, “toh saat ini jinmeh

dan tok-mehku sudah tembus, bila terjadi apa-apa, paling tidak aku masih

bisa mengendalikan diri.”

Siapa tahu setelah bersemedi satu putaran, ia merasa tubuhnya makin lama

semakin panas, bukan saja tan-tiamnya seperti dibakar, sekujur badannya

seakan terjerumus dalam lautan api, panasnya bukan kepalang.

Buru-buru dia pejamkan mata sambil pusatkan pikiran, dia berusaha

mengendalikan menyebarnya hawa panas itu ke seluruh badan.

Sayang usahanya tidak membuahkan hasil, bukan saja hawa panas itu sukar

terkendali, bahkan ibarat api yang membakar ladang ilalang, dalam waktu

singkat setiap bagian tubuhnya terasa panas bagai dibakar.

la kuatir mengalami Cou-hue-jip-mo (jalan api menuju neraka), sambil

menggertak gigi dia berusaha keras mengendalikan diri.

Tak selang berapa saat kemudian tampak bibirnya mulai pecah dan terluka,

cucuran darah segar mulai meleleh keluar.

Bukan hanya begitu, bahkan dia mulai membayangkan adegan bercinta yang

dilakukan anak buahnya belum lama berselang.

Semakin dibayangkan dia merasa semakin terangsang, napsu birahinya

bangkit dan berkobar, akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi, kutangnya mulai

dicampakkan bahkan celana tipis yang dikenakan untuk menutupi auratnya

juga mulai dirobek, mulai dicabik dan dibuang jauh-jauh.

Tak lama kemudian ia sudah tampil dalam keadaan bugil, payudaranya

kelihatan sangat montok, bulu hitam menghiasi pangkal pahanya membuat

gadis itu nampak jalang dan merangsang, bahkan napasnya mulai kedengaran

ngos-ngosan.

Hawa panas yang membakar seluruh tubuhnya membuat ia menggeliat ke

sana kemari mencari penyaluran.

Pada mulanya dengan menghajar bebatuan di sekitar gua membuat badannya

terasa agak segar, tapi sejenak kemudian ia mulai tersiksa.

Gempuran-gempurannya bukan saja tidak mampu menghilangkan hawa

panas yang merangsang napsu birahinya, bahkan semakin lama dia semakin tak

tahan.

Sementara itu Cau-ji dengan menahan rasa lapar balik kembali ke mulut gua,

dia saksikan mutiara anti air masih tetap memancarkan sinar terang di situ.

Tapi mulut gua sudah tersumbat oleh reruntuhan batuan, dia mencoba untuk

mendorong, namun ibarat mendorong bukit karang, bebatuan itu sama sekali

tak bergeming.

Dia mencoba berulang kali namun hasilnya tetap nihil, akhirnya sambil duduk

di lantai pikirnya: “Wah, tampaknya dasar telaga telah ditimbuni reruntuhan

bukit karang, ini berarti untuk bisa keluar dari sini, aku harus menyingkirkan

batu besar itu.”

Maka dia pun duduk bersemedi sambil mengatur pemapasan, dia harus

menghimpun seluruh kekuatannya untuk menyingkirkan batu besar itu, sebab

kalau tidak, dia bakal mati kelaparan.

Entah berapa saat sudah lewat, pemuda itu baru mendusin dari semedinya

ketika dari kejauhan dia mendengar suara nona itu sedang berteriak-teriak,

semula dia menduga gadis itu telah bertemu dengan musuh tangguh, maka

buru-buru ia selesaikan semedinya dan berlarian menuju ke arah sumber suara

tadi.

Dia baru berseru tertahan setelah melihat gadis itu sedang mencak-mencak

macam orang kalap dalam keadaan telanjang bulat.

Waktu itu Su Gi-gi sudah tak mampu menahan napsu birahinya, begitu

melihat munculnya Cau-ji, dia bersorak kegirangan dan langsung menerjang ke

arahnya.

Buru-buru Cau-ji mundur selangkah.

Gagal dengan terjangannya yang pertama, Su Gi-gi menerkam sekali lagi

dengan kecepatan tinggi.

Pada waktu itu tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang

tidak selisih banyak, posisi Cau-ji justru lebih dirugikan karena gerakan

tubuhnya tidak sehebat Su Gi-gi, tidak sampai tiga gebrakan kemudian bahu

kanannya sudah kena dicengkeram.

“Nona, mau apa kau?” teriak Cau-ji setelah merasakan separuh badannya

kesemutan dan kaku.

Su Gi-gi sama sekali tidak menjawab, sambil tertawa cekikian dia mulai

melucuti pakaian yang dikenakan pemuda itu sehingga sekejap mata kemudian

Cau-ji sudah berada dalam keadaan telanjang bulat.

“Hey nona, kau sudah gila?”

Su Gi-gi sama sekali tidak menggubris, kembali ia totok jalan darah kakunya

kemudian menubruk ke dalam pangkuannya.

“Blaaamm!” tubuh Cau-ji roboh tertelentang di atas tanah, sambil mengaduh

kembali pemuda itu berteriak: “Nona, kau … kau sudah gila?”

Waktu itu dengus napas Su Gi-gi sudah memburu bagai dengus napas

kerbau, begitu menubruk badan Cau-ji dan menindihinya, dia langsung

menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke atas “ular berbulu kecil” milik Cau-ji

yang masih mengkeret kecil.

Cau-ji dapat merasakan sekujur badan nona itu panas bagai kobaran api,

dengusan napasnya juga panas sekali, sambil berteriak bocah itu mulai berpikir

apa gerangan yang telah terjadi.

Sepandai-pandainya bocah ini, bagaimanapun dia belum dewasa, pikiran serta

reaksi badannya juga belum tumbuh jadi dewasa dan matang sehingga dia sama

sekali tak tahu apa yang sebetulnya telah terjadi.

Sudah setengah harian Su Gi-gi menggesekkan tubuh bagian bawahnya di

atas “uiar berbulu kecil” milik Cau-ji, tapi lantaran tegang bercampur takut,

tentu saja si “ular berbulu kecil” miliknya sama sekali tak mau “berdiri tegak”,

hal ini membuat gadis itu makin tersiksa.

Dalam gelisahnya tiba-tiba dia tangkap ular berbulu kecil itu, lalu sesudah

dipaskan ke lubang surga miliknya, dia tekan kuat-kuat ke bawah.

Sayang si ular berbulu kecil itu kelewat lembek, bagaimanapun dijejalkan, ia

gagal menjejalkannya ke dalam lubang surga miliknya.

Waktu itu Cau-ji sudah dibikin kesakitan setengah mati, dia mendengus

berulang kali, masih untung jejalan itu tidak membuat miliknya lecet.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Su Gi-gi, ia teringat pernah

melihat seorang anggota perkumpulannya sedang bermain “seruling”, waktu

melihat adegan itu untuk pertama kalinya, dia merasa jijik dan mual, tapi ketika

dibayangkan kembali sekarang, tiba-tiba gadis ini merasa miliknya semakin geli

dan gatal….

Tanpa berpikir panjang lagi dia merangkak ke atas tubuh Cau-ji, kemudian

dengan bibirnya yang kecil dia masukkan si ular berbulu kecil ke dalam

mulutnya, kemudian mulai menghisap dan menghisap terus kuat-kuat ….

Cau-ji sama sekali tak mengira kalau si nona akan melakukan tingkah laku

seaneh itu, teriaknya tak tahan: “Hey nona, jangan sembarangan ….”

Su Gi-gi sama sekali tidak menggubris, dia meneruskan hisapannya dengan

penuh bersemangat, tak lama kemudian ia jumpai si ular berbulu kecil sudah

mulai bernyawa dan mulai bisa menganggukkan kepalanya.

Terkejut bercampur girang gadis itu semakin memperkuat hisapannya,

bahkan dimasuk keluarkan di dalam mulutnya dengan lebih cepat.

Cau-ji malu bercampur gelisah, selembar wajahnya mulai berubah jadi merah

padam.

Tak lama kemudian si ular berbulu kecil sudah berdiri tegak, bahkan mulai

menggelembung besar.

Su Gi-gi coba mengeluarkan si ular itu dari mulutnya, ia saksikan si ular kecil

kini telah berubah jadi ular besar, bahkan si ular pun sudah pandai

mengeluarkan “kepala’nya dari balik bungkusan kulit, betul bentuknya tidak

sebesar apa yang pernah dilihatnya di masa lalu, paling tidak posisi tegang dan

keras dari si ular berkepala botak itu sudah cukup untuk memenuhi hasratnya.

Kembali dia menunggang di atas tubuh pemuda itu, merentangkan mulut

guanya lebar-lebar dan segera mendudukinya kuat-kuat.

“Aduuh” gadis itu menjerit kesakitan, tapi ia tetap menggertak gigi sambil

menekankan badannya lebih ke bawah, dia ingin si ular besar berkepala botak

itu bisa menghujam lebih dalam di balik gua surganya.

Cau-ji segera merasakan ular berkepala botak miliknya seolah-olah direndam

di dalam “botol air” yang hangat sekali, selain sakit juga panas, tapi rasanya

kencang dan nyaman, barang miliknya seolah-olah terbungkus sangat rapat di

bagian yang hangat itu dan serasa disedot-sedot.

Dalam keadaan begini dia pun tak bisa mengatakan saat itu terasa sakit atau

nikmat?

Su Gi-gi sendiri pun baru pertama kali ini bersetubuh, kehilangan selaput

perawan memang membuatnya kesakitan, tapi setelah beristirahat sejenak,

apalagi terdorong oleh gejolak hawa panas dalam tubuhnya, sambil menggertak

gigi dia mulai menggoyang tubuhnya, menggeliat, berputar dan naik turun tiada

hentinya….

Sekali dia bergerak, maka gerakan seterusnya tak bisa dicegah lagi, ditambah

pula semakin dia menggerakkan badan, lubang surga miliknya terasa makin geli,

gatal dan nikmat, maka dia pun menggoyangkan tubuhnya semakin menggila.

Mula-mula dia menggoyangkan badannya dalam posisi berjongkok, ketika

lama kelamaan kakinya mulai linu, dia pun berganti menggunakan lutut untuk

menggerakkan tubuhnya naik turun.

Ketika lututnya mulai sakit, dia pun menindihi badan Cau-ji dan bergoyang

terus….

“Crooot … crooot … plaaak … plaak” suara bebunyian aneh bergema mengikuti

irama tubuhnya yang naik turun, bergoyang, berputar dan menggeliat.

Cau-ji si bocah kemarin sore yang belum pernah menerima pendidikan seks,

boleh dibilang sama sekali tak mengerti apa gerangan yang dilakukan gadis itu,

melihat si nona masih saja menggerakkan tubuhnya naik turun hingga

bermandikan keringat, beberapa kali dia membujuknya agar beristirahat dulu.

Tapi gadis itu tidak menggubris, bukannya beristirahat, goyangan tubuhnya

semakin menggila.

Mula-mula Cau-ji merasa agak tersiksa dengan tingkah laku gadis itu, tapi

lama kelamaan dia pun mulai merasakan nikmatnya permainan aneh ini,

sekarang dia mulai mengimbangi gerakan nona itu.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba terlihat gadis itu gemetaran keras,

lalu diiringi rintihan lirih dan senyum kepuasan ia menghentikan semua gerakan

anehnya.

Cau-ji merasakan dari bagian bawah tubuhnya mengalir keluar sejenis cairan

yang pekat, tanpa terasa pikirnya: “Gadis ini aneh betul, orangnya sih cantik,

tapi kenapa sukanya mengencingi orang? Mau kencing ya jangan di atas milik

orang lain!”

Sebetulnya dia mau menegur, tapi melihat gadis itu sedang memicingkan

matanya sambil menikmati, dia pun tak tega, kembali pikirnya: “Hai, mungkin

dia lagi kesetanan, ya sudahlah, paling banter aku mandi sekali lagi, mau

dikencingi ya biar saja dia kencing….”

Maka dia pun pejamkan matanya membiarkan gadis itu kencing semaunya

sendiri.

Begitu pejamkan mata bocah itu merasa seluruh badannya segar, lega dan

nikmat sekali, tanpa terasa dia pun tertidur nyenyak.

Sejak berada dalam gua dingin tempo hari, boleh dibilang Cau-ji tak pernah

tidur nyenyak, sebab setiap setengah hari dia mesti bersiaga menghadapi

serangan angin puyuh berpusing.

Hari ini, secara tidak sengaja dia telah bermain cinta dengan Su Gi-gi,

walaupun dia tak tahu kalau cairan pekat yang meleleh keluar itu sesungguhnya

adalah cairan yang keluar dari miliknya karena mencapai puncak kepuasan,

namun dengan terjadinya hubungan badan itu, secara tidak sengaja hawa murni

yang terhisap oleh Su Gi-gi dari bola api naga itu ikut mengalir masuk ke dalam

tubuh Cau-ji, hal mana membuat seluruh hawa murni im-khi milik si nona

terhisap hingga habis.

Tampaknya gadis itu sedang tidur pulas di atas badan Cau-ji sambil tertawa

puas, padahal selembar nyawanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Selama hidup Su Kiau-kiau sudah seringkah menghisap hawa yang-khi milik

kaum lelaki, entah berapa banyak nyawa manusia yang hilang di tangannya,

sungguh tak nyana hari ini anak gadisnya justru kehilangan juga nyawanya

karena hawa Im-khi miliknya terhisap oleh lelaki lain.

Mungkinkah ini yang disebut hukum karma?

Begitu tertidur Cau-ji terlelap sampai dua belas jam lamanya, selama satu hari

satu malam ini hawa murni Kui-goan-sinkang di dalam tubuhnya telah DergeraK

dan berputar secara otomatis.

Dengan menghisap sari hawa dingin yang dimiliki Su Gi-gi ditambah kekuatan

yang terbentuk dari Lwe-wan milik naga sakti, tenaga dalam Cau-ji saat ini boleh

dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Ketika membuka matanya kembali, dia merasakan ada sebuah tubuh yang

membujur dingin dan kaku masih menindih di atas badannya, ia terkejut dan

hampir saja menjerit

Tapi ia segera teringat kalau nona itu adalah si gadis yang tadi kencing di

tubuhnya, tapi kenapa dia tertidur begitu nyenyak?

“Hey nona, ayo bangun!” seru Cau-ji kemudian.

Sudah berulang kali dia memanggil tapi gadis itu masih saja tidur nyenyak,

tanpa terasa dia goyangkan bahunya berulang kali sambil memanggil, siapa tahu

si nona tetap tak menggubris.

Cau-ji semakin keheranan, tiba-tiba ia merasa gadis itu bukan saja tubuhnya

sudah dingin kaku bahkan seakan-akan tak bernapas, dalam gugup dan

tegangnya cepat dia periksa pemapasan orang.

Akhirnya sambil menjerit kaget Cau-ii mendorong tubuh gadis itu kuat-kuat,

lalu keluhnya: “Kenapa gadis itu bisa mati di tanganku? Oooh Thian, kenapa aku

… aku jadi seorang pembunuh? Kalau sampai berjumpa keluarganya, bagaimana

caraku bertanggung jawab?”

Kasihan Cau-ji, walaupun dia merdapat banyak pengalaman aneh, tapi

batinnya tersiksa karena dia anggap pembunuh gadis tersebut adalah dirinya.

Bab VI. Pendidikan seorang ibu.

Bukit Wu-san, puncak Sin-li-hong, di tengah hutan pohon siong yang amat

lebat pada lima belas tahun berselang berdiri sebuah bangunan rumah yang

besar, gedung itu adalah pesanggrahan milik si raja penyayat kulit dari propinsi

Sichuan.

Suatu hari Su Kiau-kiau muncul di tempat itu, karena merasa gedung itu

sangat cocok untuk dijadikan markas besar perkumpulan Jit-seng-kau, maka

dia gunakan Bi-jin-ki (siasat wanita cantik) untuk menjebak si raja penyayat

kulit, bukan saja ia berhasil menguasai seluruh keluarga besar si raja penyayat

kulit, bahkan bisa menggunakan seluruh harta kekayaannya untuk membangun

perguruannya.

Tiga tahun berselang, si raja penyayat kulit satu keluarga besar yang terdiri

dari puluhan orang, tiba-tiba terjangkit penyakit aneh hingga secara beruntun

meninggal dunia, bukan saja Su Kiau-kiau berhasil mewarisi seluruh harta

kekayaan tersebut bahkan menjadi pemilik tunggal tempat itu.

Siang itu, baru saja Su Kiau-kiau berjalan masuk ke ruang utama, tongcu dari

ruang burung hong, si dewi burung hong Un Bun telah datang menghampiri

sembari berseru: “Lapor ketua!”

“Ada apa Un-tongcu,” tegur Su Kiau-kiau sambil tersenyum, “kenapa kau

tergopoh-gopoh? Apa semalam kelewat panas sehingga hari ini datang minta

obat kepadaku?”

Merah jengah selebar wajah Un Bun sehabis mendengar ucapan itu, sahutnya:

“Ketua, berkat ilmu sakti ajaranmu, hamba masih sanggup menghadapi orangorang

itu, yang menjadi masalah adalah hingga kini kabar berita tuan putri

beserta kedua belas kim-tonggiok-li masih merupakan tanda tanya besar dan

penuh diliputi misteri.”

“Semalam mereka pergi kemana?” tanya Su Kiau-kiau dengan wajah berubah

hebat.

“Konon mereka membakar daging di tepi telaga kekasih!”

“Ehmm, selama ini Gi-gi tidak pernah menginap di luar, sudah utus orang

untuk mencari?”

“Sudah, menurut laporan, semalam terjadi bencana alam di telaga kekasih,

bukit karang yang semula berdiri tegak di sisi telaga kini telah berubah jadi

sebuah padang tanah luas, di sekeliling tempat itu sama sekali tak ditemukan

jejak mereka.”

“Oooh … tak aneh kalau semalam terdengar suara gempa dan pekikan aneh,

jangan-jangan ada makhluk asing yang muncul di situ?”

“Kaucu, bagaimana kalau kita libatkan orang-orang dari ruang Cing-liong-tong

dan Pek-hau-tong untuk ikut melakukan pencarian?”

Mendengar putri kesayangannya belum pulang, Su Kiau-kiau segera

mengeluarkan sebuah batu kemala dan diserahkan pada Un Bun sambil

perintahnya: “Gerakkan semua kekuatan yang ada, geledah seluruh bukit Wusan!”

“Baik!”

Mereka mana tahu kalau di saat seluruh kekuatan Jit-seng-kau sedang

menggeledah seluruh bukit Wu-san untuk mencari jejak Su Gi-gi, justru pada

saat yang bersamaan Su Gi-gi sedang “memperkosa” Cau-ji.

0oo0

Di kala Cau-ji sedang duduk termangu-mangu, tiba-tiba ia mendengar ada

suara perempuan sedang memanggil: “Tuan putri, tuan putri … kau ada di mana

….?”

Teriakan itu segera membuatnya sadar dari lamunan.

Kembali terdengar suara seorang berteriak dengan penuh tenaga: “Tuan putri

… tuan putri … kau ada dimana”

Jelas tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat hebat, sehingga suara yang

bergaung hingga ke telinga Cau-ji pun kedengaran lebih jelas.

Mengikuti sumber datangnya suara panggilan itu Cau-ji menelusuri beberapa

buah lorong, setelah berjalan berapa tikungan akhirnya dari dinding sebelah

kanan ia jumpai ada sebuah celah yang cukup besar, bukan saja aliran udara

muncul dari situ, suara panggilan pun berasal dari sana.

Sementara itu suara panggilan yang bergema tadi sudah kian menjauh,

kembali Cau-ji berpikir “Tuan putri? Jangan-jangan nona tadi adalah tuan putri

dari kerajaan?”

Berpikir sampai di situ, berubah hebat paras mukanya.

Tapi dia segera membantah sendiri jalan pikiran tersebut, kembali pikirnya:

“Tidak mungkin dia adalah tuan putri dari kerajaan, semisalnya benar pun dia

pasti diiringi banyak pengawal. Apalagi tak mungkin seorang tuan putri mau

berbuat semena-mena terhadap orang lain, sampai kencing pun sengaja

dikencingkan ke tubuh orang….”

Dia mencoba menghampiri dinding karang dan menempelkan telinganya di

situ, terdengar seseorang sedang berkata: “Lotoa, hari sudah malam, lebih baik

kita pulang saja!”

“Maknya, siapa tahu tuan putri sedang bersenang-senang dengan cowok lain,

kita yang bawahan jadi susah, nyaris kakiku patah karena kelelahan.”

“Sttt. Jangan berisik, ayo kita pulang saja.”

Mengetahui kalau hari sudah senja, satu ingatan melintas dalam benak Cauji,

pikirnya: “Tak disangka hari hampir gelap, lebih baik aku tinggalkan gua ini

terlebih dulu kemudian baru mencari kesempatan untuk kabur.”

Maka dia pun segera balik ke sisi jenazah Su Gi-gi, setelah menjura tiga kali,

dia pun berbisik: “Nona, maafkan kesalahanku, sejak hari ini aku tak akan

berani menyentuh kaum wanita lagi.”

Habis berkata dia menghampiri batu yang besar itu, menghimpun segenap

tenaga dalamnya dan sebuah pukulan dilontarkan ke arah batu tadi.

Apa yang terjadi membuat Cau-ji tertegun.

Dia masih ingat tadi bersama gadis itu mereka sudah mencoba untuk

mendorong batu itu beberapa kali, jangan lagi bergeser, bergeming pun tidak,

kenapa pukulan yang dilontarkan sekarang dapat menghancurkan batu itu

hingga berkeping keping?

Mana dia tahu kalau kesemuanya ini hasil dari kekuatan Im-yang-kang-khi

miliknya?

Mendadak terdengar seseorang berseru: “Saudara Sin, aneh sekali, kenapa di

sini bisa muncul segumpal hancuran batu?”

“Kalau begitu pasti ada sesuatu yang tak beres, mari kita periksa.”

Mendengar tanya jawab itu Cau-ji jadi kaget, pikirnya: “Jika mereka sampai

masuk kemari dan menemukan jenazah gadis itu, aku pasti akan dituduh

sebagai pembunuhnya….”

Karena tak ingin dibebani urusan yang rumit buru-buru pemuda itu kabur

meninggalkan tempat itu.

Lorong gua itu semakin ke depan semakin bertambah lebar, ternyata mulut

gua tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, diam-diam Cau-ji

menyelinap keluar dari gua tersebut.

Dari kejauhan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bergerak

mendekati mulut gua itu.

Walaupun hari sudah gelap namun Cau-ji dapat melihat dengan jelas, kedua

orang itu adalah kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah bengis.

Orang pertama bermata segitiga dengan wajah separuh hitam sepatuh putih,

sedang orang kedua berwajah pucat pias bagai mayat yang sudah mati berapa

hari, jenggot kuning terurai dari janggutnya.

Mereka berdua mengenakan baju terbuat dari kain belaco putih, sepatunya

terbuat dari tali jerami.

Cau-ji segera merasakan hawa dingin yang menyeramkan memancar keluar

dari tubuh kedua orang itu, diam-diam ia bergidik juga dibuatnya.

Ditinjau dari gerakan tubuh mereka berdua, Cau-ji tahu bila kepandaiannya

hebat dan ia masih bukan tandingannya, maka diam-diam ia menggeser

badannya ke samping dan menyembunyikan diri di balik semak.

Kedua orang itu memang merupakan jagoan paling tangguh dari kalangan

hitam, Hek-pek-bu-siang (si setan gantung hitam dan putih) Sin Sik serta Cho

Huan, sudah tiga tahun lama mereka bergabung dengan perkumpulan Jit-sengpang,

saat ini jabatan mereka adalah pengurus ruang Cing-liong-tong.

Terdengar Sin Sik yang berada di depan berbisik lirih: “Lotoa, kelihatannya di

atas sana ada sebuah gua!”

“Loji, kalau dilihat bekas semak yang terpatah-patah, isi gua tersebut kalau

bukan manusia tentu binatang buas, kau mesti berhati-hati….”

“Hehehe … lotoa, kenapa nyalimu tambah hari tambah kecil?” sambil berkata

ia meluncur ke depan dan menghampiri mulut gua.

Dalam pada itu Cau-ji sudah mengerahkan tenaga murninya bersiap sedia.

Tidak menunggu lawan berdiri, dengan jurus Tui-sim-ci-huk (mendorong hati

membalik lambung) dia lepaskan sebuah dorongan ke depan.

Waktu itu Sin Sik sedang gembira karena berhasil menemukan mulut gua,

merasakan datangnya serangan, ia segera menghardik: “Lotoa, hati-hati, dalam

gua ada orangnya!”

Sambil membentak dia lancarkan juga sebuah pukulan.

Cho Huan kuatir saudaranya ketimba musibah, buru-buru dia lompat

menghampiri sambil bersiap sedia. “Aduuuh…!”

Dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu tubuh Sin

Sik dan Cho huan sudah mencelat keluar dari gua dalam keadaan hancur

berkeping-keping, tubuh mereka terhajar telak pukulan Im-yang-kang-khi yang

dikerahkan hingga mencapai sepuluh bagian.

Mimpi pun Cau-ji tidak menyangka kalau tenaga dalamnya begitu sempurna,

sementara dia masih tertegun, dari kejauhan kembali berkumandang tiba suara

suitan panjang yang memekikkan telinga.

Dalam posisi begini Cau-ji tak bisa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia

menyingkirkan semak belukar kemudian melompat turun ke bawah.

Sementara itu suara suitan panjang yang amat nyaring itu sudah semakin

mendekat, dari kejauhan tampak dua sosok bayangan manusia bergerak

mendekat.

Baru saja kedua orang itu tertegun karena melihat munculnya seorang

pemuda telanjang secara tiba-tiba, mendadak Cau-ji dengan jurus Heng-kangcay-

to (menyeberang sungai sambil bersalto) sudah melepaskan sebuah pukulan

ke depan.

Orang itu beranggapan kepandaian yang dimilikinya sangat hebat, dia segera

mengayunkan pula telapak tangan kanannya sambil membentak: “Manusia tak

tahu diri….”

Belum habis bicara terdengar suara benturan dahsyat bergema di udara,

dengan tubuh hancur lebur orang itu tewas seketika.

Orang yang baru datang segera menyerbu masuk, sebuah pukulan

dilontarkan.

Cau-ji menggertak gigi, kembali dia ayunkan tangan menyongsong datangnya

ancaman itu.

Jeritan ngeri kembali bergema memecahkan keheningan, orang itu terkapar di

tanah dalam keadaan tewas.

Mendengar dari kejauhan kembali berkumandang suara siulan panjang, buruburu

Cau-ji berputar badan dan kabur dengan mengambil arah yang

berlawanan.

Tak lama kemudian di arena pertarungan telah muncul dua orang lelaki

kekar, tapi begitu melihat mayat bergelimpangan, buru-buru mereka

mengeluarkan sumpritan bambu dan ditiup bertubi-tubi.

Tak sampai setengah jam kemudian Su Kiau-kiau beserta segenap kekuatan

partainya tiba di arena kejadian, perempuan iblis itu nyaris pingsan ketika

akhirnya jenazah Su Gi-gi ditemukan tergeletak di dalam gua.

Keesokan harinya dia pun kerahkan empat ratus orang anggota perguruannya

untuk turun gunung dan melacak jejak si pembunuh putrinya itu.

Sementara itu, Cau-ji dengan tergopoh gopoh melarikan diri turun dari bukit

itu, lebih kurang dua jam kemudian ia sudah tiba di kaki bukit Wu-san.

Sambil berpaling memandang bukit Wu-san yang berdiri menjulang di

belakang tubuhnya, Cau-ji menghembuskan napas lega sembari berpikir “Masih

untung tak ada yang hidup, asal di kemudian hari aku tidak mengakui kejadian

ini, siapa yang tahu kalau akulah pelakunya?”

Begitu perasaan hatinya lega, perutnya yang sudah lama kelaparan pun mulai

berbunyi lagi.

Sudah dua hari ini Cau-ji belum makan apa-apa, bukan saja waktu itu ia

merasa kelaparan, di bawah hembusan angin malam, ia baru sadar bila dirinya

waktu itu berada dalam keadaan bugil.

Sambil berjalan menelusuri jalan setapak Cau-ji menuju ke tepi sebuah

sungai, dia bermaksud membersihkan badan lebih dulu.

Pada saat itulah tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang membentak

nyaring: “Perempuan cantik, jangan lari cepat… tunggu aku…”

Tertegun Cau-ji mendengar teriakan itu, buru-buru dia menyelam ke dalam

sungai dan bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Kini di hadapannya berdiri seorang gadis muda berbaju hijau yang usianya

sekitar dua puluh tahunan, wajahnya cantik, pinggangnya ramping dan dadanya

montok, persis di hadapan gadis itu berdiri seorang kakek berambut panjang

yang berusia sekitar lima puluh tahunan.

Terdengar gadis itu dengan suara berat sedang menegur: “Yu Yong, kenapa sih

kau menguntit nonamu terus menerus, sebetulnya apa maumu?”

“Hehehe … lohu jatuh cinta padamu!” jawab kakek itu sambil tertawa seram.

“Yu Yong, bedebah tak tahu malu, seandainya tidak mengingat kau pernah

menolong mendiang ayahku di masa lalu, nona takkan sungkan-sungkan

terhadapmu!”

“Hahahaha … nona cantik, pujaan hatiku, coba lihatlah suasana di sini, bila

kau bersedia menemani lohu bermain cinta, lohu jamin kau akan merasakan

kenikmatan yang luar biasa….”

“Tutup mulut anjingmu! Sungguh tak kusangka ternyata kau adalah seorang

bandot tua yang tak tahu malu, manusia cabul, manusia bejat, manusia tak

tahu malu macam kau sudah sepatutnya dibasmi dari muka bumi, kalau tidak,

entah berapa banyak gadis baik yang ternoda di tanganmu.”

Sembari mengumpat dia segera menerjang maju ke depan, sepasang

tangannya menyerang berbareng, ke atas mengancam sepasang matanya, ke

tengah mengancam ulu hatinya, di antara angin pukulan yang menderu-deru,

gerak serangannya boleh dibilang cepat sekali.

Diam-diam Cau-ji bersorak memuji, sejak salah bunuh Su Gi-gi, Cau-ji sudah

berjanji tak ingin mendekati kaum wanita, sebetulnya dia ingin menggunakan

kesempatan itu menyingkir dari arena.

Tapi begitu melihat gadis itu mulai keteter hebat dia segera urungkan niatnya

untuk berlalu.

Terdengar Yu Yong tertawa nyaring, sambil pentangkan tangan kanannya

mengancam urat nadi pada pergelangan tangan si nona, tangan yang lain

membabat ke bawah mengancam lengan kiri gadis itu.

Buru-buru nona berbaju hijau itu memutar badannya sembari berganti jurus

serangan, telapak tangan kirinya dengan jurus Yao-ti-to-tho (di bawah dedaunan

mencuri bua tho) menotok jalan darah Ji-ti-hiat di sikut kanan lawan.

Sementara tangan kanannya merendah ke bawah lalu dengan jurus Pek-hokliang-

ci (bangau putih pentang sayap) berbalik memotong lengan kiri musuh.

Yu Yong tidak menyangka gadis itu bisa berubah jurus begitu cepatnya, nyaris

jalan darahnya tertotok, buru-buru dia lancarkan pukulan berantai, dalam

waktu singkat dia sudah melepaskan delapan jurus serangan.

Nona berbaju hijau itu jadi gelagapan, beruntun dia mundur berapa langkah

dari posisi semula.

Menanti jurus serangan musuh sudah lewat, dia baru mengayunkan kembali

tangan dan kakinya melancarkan serangan balasan dengan sepenuh tenaga.

Menyaksikan kedelapan buah serangannya gagal menundukkan gadis itu,

diam-diam Yu Yong terperanjat juga, ia tak lagi berani gegabah, sambil mainkan

jurus serangan dia hadapi gadis itu dengan tersungguh hati.

Suatu pertempuran sengit pun segera berkobar, untuk sesaat kekuatan

mereka tampak berimbang.

Semenjak meninggalkan pesanggrahan Hay-thian-it-si, Cau-ji belum pernah

menyaksikan pertempuran sehebat itu, kini seluruh perhatiannya sudah

dicurahkan ke tengah arena.

Tampak gadis berbaju hijau itu telah mengeluarkan semua jurus

simpanannya untuk menyerang musuh, baik menusuk, memotong, menotok,

membacok, menyodok, semua serangan dilakukan sangat cepat dan tepat pada

sasaran.

Sepasang telapak tangannya menari-nari bagai sepasang kupu-kupu, semakin

bertarung gerak serangannya semakin cepat.

Dalam sekejap mata kembali lima enam puluh gebrakan telah berlalu, namun

menang kalah masih sukar ditentukan.

Kalau si nona berbaju hijau itu unggul dalam ilmu meringankan tubuh serta

kecepatan perubahan jurus serangan, maka Yu Yong lebih unggul dalam ilmu

tenaga dalam, untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama bertahan dalam

posisi yang seimbang.

Sambil bertarung diam-diam Yu Yong mulai berpikir “Sungguh tak kusangka

kemampuan budak ini luar biasa hebatnya, bila aku gagal membekuknya hari

ini, jika berita ini sampai tersiar keluar, akan kutaruh dimana wajahku ini?”

Tiba-tiba gerak jurus serangannya berubah, kalau tadi dia menggunakan

cepat melawan cepat maka jurus serangannya saat ini sangat lamban dan berat

tapi setiap pukulan, setiap tendangan, hampir semuanya mengandung tenaga

serangan yang dahsyat

Jurus serangan yang disertai tenaga dalam yang hebat semacam ini tak bisa

dianggap enteng, setiap angin pukulan yang menderu-deru seketika membuat

nona itu mulai terdesak.

Walaupun dalam kelincahan nona berbaju hijau itu jauh lebih unggul, tapi

begitu pertarungan berubah jadi pertarungan tenaga dalam, posisinya segera

terdesak hingga berada di bawah angin, belum lagi sepuluh jurus, peluh sudah

bercucuran membasahi jidatnya.

Cau-ji yang mengikuti jalannya pertarungan itu mulai merasa ikut panik, dia

tahu bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, dapat

dipastikan nona itu bakal kalah.

Tiba-tiba nona berbaju hijau itu membentak nyaring, permainan jurusnya

segera berubah, kini dia gunakan taktik keras melawan keras untuk menghadapi

lawannya, dia sudah ambil keputusan untuk beradu nyawa.

Yu Yong sangat girang melihat perubahan itu, pukulan demi pukulan

dilontarkan bertubi-tubi, sambil menyerang dia mendesak maju terus.

Sementara nona berbaju hijau itu semakin terdesak, bukan saja dia harus

mundur berulang kali, keadaannya sangat mengenaskan.

Diam-diam Cau-ji amat gelisah, coba kalau tidak berada dalam keadaan bugil,

mungkin dia sudah tampil ke depan untuk melakukan pembelaan.

Tiba-tiba matanya terbentur dengan sebuah batu yang berada di sisinya, satu

ingatan melintas hebat, buru-buru dia gunakan ilmu menghisap untuk

menyedot batu itu dari sisi sungai.

Dalam pada itu nona berbaju hijau itu sudah roboh terkapar di tanah,

sementara Yu Yong sambil tertawa seram sedang menubruk ke depan berusaha

menindihi badannya, melihat itu Cau-ji segera menyentilkan batu itu ke

arahnya.

Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu

jalan darah tay-yang-hiat di jidat kanan Yu Yong sudah termakan sambitan

hingga hancur berantakan, tentu saja selembar jiwanya ikut melayang.

Padahal waktu itu si nona berbaju hijau itu sudah bersiap-siap bunuh diri,

perubahan yang sama sekali tak terduga itu disambut amat gembira, serunya

lantang: “Cianpwe darimana yang telah menolong diriku?”

Cau-ji gelagapan, dia tak mengira nona itu akan mengajukan pertanyaan

begini, dalam gugupnya dia segera menyahut: “Aku adalah Bwe Si-jin!”

Tampaknya nona berbaju hijau itu tidak mengira kalau orang yang

menyelamatkan jiwanya tak lain adalah Bwe si-jin yang sudah lenyap sejak

sepuluh tahun berselang, rasa terkejut bercampur girang segera menyelimuti

perasaan hatinya.

Perlu diketahui, meskipun Bwe Si-jin sudah banyak bermain perempuan

namun selama ini tak seorang pun di antara mereka yang menuduhnya cabul

dan setan hidung belang, sebaliknya orang selalu memuji dan menyanjungnya

sebagai seorang pendekar sejati.

Tentu saja hal ini disebabkan kemampuannya bermain cinta memang sangat

hebat dan tiada keduanya di kolong langit.

Sejak masih muda dulu, tampaknya nona berbaju hijau itu sudah menaruh

kesan yang sangat baik terhadap Bwe Si-jin, hanya sayang selama ini belum ada

kesempatan untuk saling berjumpa.

Tak disangka justru pada malam yang naas ini dia diselamatkan oleh lelaki

pujaan hatinya, bisa dibayangkan betapa terharu, gembira dan berbunganya

perasaan hatinya.

Dengan suara agak gemetar iapun berseru: “Siaumoay Siang Ci-ing sudah

lama mengagumi nama tay-hiap, terima kasih banyak atas pertolongan anda.”

“Sudah menjadi kewajiban setiap pendekar yang berkelana dalam dunia

persilatan untuk saling membantu serta menegakkan kebenaran,” seru Cau-ji

dengan suara lantang, “jadi nona tak perlu memasukkan hal ini ke dalam hati,

sekarang hari sudah malam, silahkan nona pulang untuk beristirahat.”

Biarpun Siang Ci-ing merasa agak kecewa dengan perkataan itu. namun

sahutnya juga: “Siaumoay tinggal di jalan raya timur kota Lokyang, jika

kebetulan Bwe-tayhiap sedang melewati kota kami, jangan lupa mampir di

pesanggrahan Liong-ingl”

“Hahaha … pasti, pasti, ada waktu luang aku pasti akan mampir.”

Siang Ci-ing tahu kalau Bwe Si-jin adalah orang yang pegang janji, maka

setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dari situ.

Memandang bayangan tubuh yang menjauh, diam-diam Cau-ji mulai berpikir

“Kira-kira tindakanku ini betul atau tidak?”

Rupanya terlintas satu ingatan dalam benak Cau-ji, dia ingin melakukan

banyak perbuatan baik dalam dunia persilatan atas nama Bwe Si-jin, dengan

berbuat begitu, pertama bisa merahasiakan identitas sendiri, ke dua dia pun

berusaha menghilangkan perasaan salah paham si raja hewan atas tingkah laku

paman Bwe.

Cau-ji tahu Siang Ci-ing adalah murid kesayangan ketua Go-bi-pay saat ini

Teng-in Suthay, juga merupakan pemilik toko perhiasan Liong-ing-hong yang

tersohor dalam dunia persilatan, dengan melakukan tindakan terpuji itu, sedikit

banyak nama baik Bwe Si-jin ikut terehabilitasi.

Menanti bayangan tubuh nona itu sudah lenyap dari pandangan mata, Cau-ji

segera melucuti pakaian Yu Yong dan ia kenakan, kemudian menyembunyikan

jenazah itu ke balik batu besar.

Tak lama kemudian tibalah Cau-ji di dalam kota, bau harum daging dan

bakpao segera membuat bocah itu harus menelan air liur, ketika dia mencoba

merogoh ke dalam saku, segera ditemukan beberapa lembar uang kertas serta

beberapa keping uang perak.

Tidak membuang waktu lagi dia menuju ke depan rumah makan dan serunya

kepada lelaki penjual bakpao itu: “Paman, aku mau beli berapa biji bakpao.”

Dengan berbekal beberapa biji bakpao dan setelah bertanya arah jalan, maka

berangkatlah Cau-ji menuju ke pesanggrahan Hay-thian-it-si, dia ingin cepatcepat

pulang ke rumah, selain bisa membuat lega orang rumah, dia pun ingin

menjelaskan masalah Bwe Si-jin.

Sementara itu Bwe Si-jin yang meninggalkan si raja hewan dan Cau-ji dalam

keadaan gusar segera menuruni bukit Wu-san dan langsung menuju ke sebuah

rumah penginapan.

Mula-mula dia mencukur habis rambut panjang serta cambangnya, kemudian

setelah mandi dengan air panas hingga seluruh tubuhnya bersih, dia pun duduk

termenung sambil berpikir langkah selanjutnya.

Dia putuskan akan mendukung Cau-ji menjadi ketua Jit-seng-kau dan

menggiring perguruannya itu menuju ke jalan yang benar, dengan sepak terjang

yang bersih dan lurus, dia percaya kesalah pahamannya dengan Oh-loko suatu

hari nanti pasti dapat dijernihkan.

Untuk mencegah gangguan yang datang dari anggota Jit-seng-kau serta si raja

hewan, dia putuskan untuk menyaru dan menyembunyikan identitas

sebenarnya.

Dia pun mengambil keputusan untuk berkunjung dulu ke pesanggrahan Haythian-

it-si, kecuali bisa menyelidiki tindakan apa yang akan diambil Ong Samkongcu

terhadapnya, yang lebih penting lagi dia ingin mengintip bagaimana

keadaan Go Hoa-ti, kekasih hatinya.

Setelah mengambil keputusan, dia pun menggunakan uang yang sudah

disiapkan si raja hewan di dalam baju barunya untuk membeli seekor kuda, dua

stel pakaian baru serta bahan untuk menyaru muka.

Di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang serta hembusan angin yang

kencang, akhirnya tibalah Bwe Si-jin di kota karesidenan Thio-gi.

Selesai bersantap, senja itu dia tinggalkan rumah penginapan dan mengikuti

arah jalan yang pernah didengar dari Cau-ji, berangkatlah dia menuju ke

pesanggrahan Hay-thian-it-si.

Balik pada Cau-ji, hari itu, tak lama setelah naik ke bukit, tiba-tiba dari

kejauhan sana dia saksikan ada sesosok bayangan manusia sedang bergerak

dengan kecepatan tinggi.

Setelah diamati secara diam-diam, akhirnya ia ketahui bahwa orang yang

berada di depan sana tak lain adalah Bwe Si-jin, dalam girangnya pemuda

itupun mulai berpikir: “Aneh, kenapa paman Bwe tidak merasa kalau dirinya

sedang aku ikuti? Masa dia tidak merasakan kehadiranku?”

Rupanya tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji waktu itu sudah jauh

meninggalkan kemampuan Bwe Si-jin, selain itu deruan angin utara yang

kencang juga membuat suara langkah bocah itu terendam, yang lebih parah lagi

Bwe Si-jin sedang berada dalam kondisi murung dan perang batin, dengan

sendirinya konsentrasinya terpecah.

Waktu itu Bwe Si-jin kuatir Go Hoa-ti belum pulang, dia pun kuatir jejaknya

ketahuan orang banyak, bila sampai terjadi hal begini, apa yang akan

dilakukannya saat itu?

Akhirnya tibalah Bwe Si-jin di depan pesanggrahan

Hay-thian-it-si, ia menghentikan langkahnya di tempat kejauhan lalu mulai

mengawasi gedurg itu penuh keraguan.

Sementara dia masih bimbang, nenoadak terasa ada segulung angin tajam

berhembus lewat dari sisi tubuhnya, baru saja dia akan menghindar, tahu-tahu

jalan darahnya sudah ditotok orang, hal ini membuat hatinya terkesiap.

Belum hilang rasa kaget itu, terdengar Cau-ji sudah berbisik: “Maaf paman,

aku adalah Cau-ji!”

“Cau-ji, sungguh kamu?” tegur Bwe Si-jin terkejut bercampur girang, dia tak

menyangka pemuda yang berperawakan tinggi besar itu tak lain adalah Cau-ji si

bocah cilik.

“Betul paman, sstt! Jangan berisik, urusan tentang Cau-ji dibicarakan lain

waktu saja, ayo kita masuk!”

“Tapi… bagaimana dengan Oh-loko….”

“Cau-ji percaya Oh-loko hanya salah paham saja terhadapmu, dan lagi dia

pun berada di sini sekarang, lebih baik kita menyelinap ke pesanggrahan Ti-wan

lebih dahulu.”

“Baik Cau-ji, sekarang bebaskan totokan jalan darahku.”

“Paman, kau harus berjanji tak boleh kabur.”

“Tentu saja tidak, paman ingin buru-buru bertemu dengan adik Ti!”

“Baiklah!”

Setelah membebaskan jalan darah Bwe Si-jin, berangkatlah Cau-ji berdua

menuju ke sisi kiri halaman, kemudian menyelinap ke belakang ruang utama.

Mereka saksikan Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas sedang

menemani si raja hewan berbincang-bincang di situ, hampir semuanya hadir

termasuk bocah-bocah kecil, anehnya hanya Go Hoa-ti seorang yang tidak

nampak batang hidungnya.

Bwe Si-jin segera merasakan hatinya seakan tenggelam.

Cau-ji melirik sekejap ke arah pesanggrahan Ti-wan di kejauhan sana, melihat

cahaya lampu memancar keluar dari tempat itu, dengan hati girang segera

bisiknya: “Paman, kelihatannya di pesanggrahan Ti-wan ada orang.”

Dengan perasaan harap-harap cemas, berangkatlah kedua orang itu menuju

ke pesanggrahan Ti-wan.

Tak lama kemudian Bwe Si-jin dapat melihat Go Hoa-ti sedang duduk

termenung di ruang tengah, kontan badannya gemetar keras sementara air mata

berlinang membasahi pipinya.

Cau-ji melirik ke arahnya sekejap sambil menuding ke arah ruang dalam,

maksudnya minta Bwe Si-jin segera masuk ke dalam, sementara dia sendiri

berjaga-jaga di luar pintu.

Setelah gagal menemukan Bwe Si-jin dan Cau-ji, dengan perasaan kalut dan

bingung Go Hoa-ti pulang kembali ke pesanggrahan Hay-thian-it-si.

Dia baru merasa lega setelah mengetahui Cau-ji gara-gara bencana malah

mendapat keberuntungan dan sedang belajar ilmu.

Dia pun ambil keputusan untuk tetap tinggal di pesanggrahan Ti-wan sambil

menunggu nasib.

Siapa sangka tiga hari berselang tiba-tiba si raja hewan muncul lagi di situ,

waktu itu dengan penuh kegusaran raja hewan mewartakan akan munculnya

kembali Bwe Si-jin, bahkan mengungkap pula masalah asusila yang telah

diperbuat anggota Jit-seng-kau selama ini.

Go Hoa-ti serasa hatinya terpukul setelah mendengar kabar berita itu hingga

badannya gemetar keras.

Si Ciu-ing yang menyaksikan hal itu segera menegur dengan perasaan kuatir:

“Cici Ti, ada apa kau?”

“Ooh, tidak apa-apa … hanya secara tiba-tiba badanku terasa kurang sehat

Ong Sam-kongcu tahu perampuan itu pasti terpukul hatinya gara-gara berita

miring mengenai Bwe Si-jin, sementara dia pun tak ingin orang lain mengetahui

hubungan khususnya dengan lelaki itu sehingga memperlihatkan reaksi

semacam itu.

Maka buru-buru dia berseru dengan lembut: “Adik Ti, lebih baik kau baliklah

dulu ke kamar untuk beristirahat.”

Sekembali ke pesanggrahan Ti-wan, Go Hoa-ti segera melampiaskan rasa

sedihnya dengan menangis tersedu.

Dia gembira karena akhirnya mendapat tahu kabar berita tentang Bwe Si-jin,

tapi dia pun sedih mengapa engkoh Jinnya terlibat dalam tindak asusila

perkumpulan Jit-seng-kau?

Selama tiga hari terakhir hampir boleh dibilang dia tak pernah keluar dari

kamarnya barang selangkah pun.

Waktu itu, dia sedang mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa

dirinya selama ini, dia pun percaya walaupun Bwe Si-jin adalah anggota Jitseng-

kau, namun dia bukan manusia busuk, dia percaya kekasihnya dikurung

lantaran membangkang perintah sucinya, Su Kiau-kiau.

Dia pun yakin Bwe Si-jin bukan lelaki maniak yang gemar bermain seks dan

melakukan tindak asusila seperti apa yang dituduhkan si raja hewan.

Berpikir sampai di situ tak tahan lagi ia bergumam: ‘Engkoh Jin, adik Ti

percaya kau bukan orang jahat, tahukah kau betapa menderita dan tersiksanya

perasaan hatiku karena gagal menemukan jejakmu?”

Mendengar sampai di sini, Bwe Si-jin tak bisa menahan diri lagi, dia segera

menerjang masuk ke dalam ruangan sambil teriaknya: “Adik Ti!”

Go Hoa-ti tertegun, tapi sesaat kemudian dengan tubuh gemetar karena

terkejut bercampur gembira serunya: “Engkoh Jin, betulkah kau?”

“Benar,” sahut Bwe Si-jin sembari menghapus penyaruannya, “aku benarbenar

adalah Bwe Si-jin yang telah bertindak kejam kepadamu.”

Dengan air mata bercucuran Go Hoa-ti segera menubruk ke dalam

pelukannya, serunya lirih: “Engkoh Jin, aku tahu kau tidak bersalah, selama ini

kau justru telah dicelakai orang….”

Bwe Si-jin seperti mau mengucapkan sesuatu lagi, tapi Go Hoa-ti telah

menciumnya, mencium dengan penuh napsu.

Kedua orang itupun saling berpelukan, saling berciuman dengan penuh

kehangatan dan napsu.

Cau-ji bersembunyi di belakang pintu, dengan perasaan keheranan dia

saksikan kedua orang itu saling berciuman.

Tampaknya kedua orang itu sudah lupa diri, sambil berciuman pelan-pelan

mereka bergeser menuju ke kamar.

Dengan perasaan keheranan dan ingin tahu diam-diam Cau-ji ikut masuk ke

dalam ruangan dan mengintip dari luar pintu kamar.

la saksikan kedua orang itu saling melucuti pakaian masing-masing hingga

bugil, lalu tubuh Go Hoa h yang lemas tak bertenaga berada dalam keadaan

telanjang bulat digendong Bwe Si-jin menuju ke atas ranjang,

Tak lama kemudian Bwe Si-jin mulai menindih badan Go Hoa-ti dan mereka

berdua pun mulai menggiatkan tubuh masing-masing, sebentar naik turun

sebentar lagi berputar ke kiri kanan, gerakan tubuh mereka sangat cepat, penuh

tenaga dan penuh bemapsu ….

Ketika masih berada dalam gua tempo hari, beberapa kali Cau-ji pernah

mengamati barang milik paman Bwenya yang “panjang, panjang sekali”

bergelantungan di antara kedua pahanya, waktu itu dia sudah merasa kagum

sekali dengan “barang” milik pamannya itu.

Dan kini, dia merasa semakin kagum lagi setelah melihat “barang” milik

pamannya berdiri begitu tegak, kencang dan mengeras bagai sebuah tongkat

besi, ia merasa “benda” tersebut begitu gagah, begitu perkasa dan luar biasa

hebatnya.

Ternyata bibinya juga tak kalah gagah dan beraninya, bukan saja bibinya

berani memberikan perlawanan, suatu ketika bahkan berani memberikan

serangan balasan.

Tak selang berapa saat kemudian, Go Hoa-ti dari posisi “tamu berubah jadi

tuan rumah”, kali ini dia yang menindih tubuh paman Bwenya, bahkan mulai

menggerakkan badannya dengan penuh tenaga ….

Cau-ji merasakan hatinya berdebar keras, apalagi setelah menyaksikan

sepasang payudara bibinya yang menggeletar mengikuti gerakan tubuhnya yang

semakin menggila.

“Oooh rupanya” begitu pekiknya di dalam hati, “jadi gerak gerik yang

dilakukan si nona terhadapku dalam gua tempo hari melambangkan perbuatan

ini… jadi mereka sedang melakukan hubungan badan ….”

Semakin membayangkan perasaan hatinya semakin bertambah kalut, tak

lama kemudian ia merasa tubuhnya kesemutan, sadarlah bocah itu, gara-gara

perhatiannya terpecah, jalan darahnya sudah ditotok orang, dia ingin bersuara

tapi jalan darah gagunya ikut tertotok.

Terasa badannya jadi ringan, tahu-tahu dia sudah ditarik masuk ke dalam

ruangan.

Terdengar seseorang membentak nyaring: “Besar amat nyalimu, berani betul

mengintip di sini, rasain hukuman dari nonamu!”

Cau-ji tahu jalan darahnya telah ditotok oleh Ong Bu-jin, melihat gadis itu

membawanya masuk ke dalam kamar, ia jadi panik, sayang jalan darah gagunya

tertotok sehingga tak sanggup menghalangi kepergian nona itu.

Tiba-tiba terdengar gadis itu menjerit sedih: “Ibu, kau….”

Menyusul kemudian sambil menutupi wajahnya dan menangis dia lari keluar

dari dalam kamar.

Sewaktu lewat di hadnpan Cau-ji, dengan perasaan mendongkol dia hajar

dada pemuda itu sembari mengumpat: “Mampus kamu!”

Dalam pada itu Bwe Si-jin telah menyusul keluar, melihat pukulan tersebut

teriaknya dengan perasaan terkejut: “Tahan!”

Bukannya menarik kembali serangannya, sambil menggertak gigi Ong Bu-jin

malah menambahi pukulannya dengan satu bagian tenaga.

“Blaaammmm!” diiringi suara benturan keras tubuh Cau-ji mencelat keluar

dan roboh tak sadarkan diri, sementara Ong Bu-jin sendiri menjerit kesakitan

sambil muntah darah segar.

Buru-buru Bwe Si-jin menyambar tubuhnya, namun gadis tersebut sudah

roboh tak sadarkan diri

Kegaduhan tersebut segera memancing perhatian orang, terdengar Ong Samkongcu

sambil membentak gusar berlarian mendekat.

Waktu itu Go Hoa-ti sudah mengenakan kembali pakaiannya, sambil keluar

dari kamar serunya cemas; “Engkoh Jin, cepat berpakaian dulu.”

Sembari berkata dia ganti membopong tubuh Owi Bu-jin.

Tak lama kemudian Ong Sam-kongcu, raja hewan serta dua belas tusuk konde

emas telah berdatangan di tempat itu.

Ong Sam-kongcu melirik sekejap pemuda yang tergeletak di lantai, ketika

melihat Ong Bu-jin pingsan dalam pelukan Go Hoa-ti, buru-buru tegurnya

dengan perasaan cemas: “Adik Ti, apa yang terjadi dengan anak Jin?”

Belum sempat Go Hoa-ti menjawab, Bwe Si-jin sudah muncul dari balik pintu

sambil menyapa: “Ong-heng, apa kabar?” bayangan berkelebat, tahu-tahu Bwe

Si-jin sudah muncul di hadapan orang banyak.

Betapa gusarnya si raja hewan setelah melihat kemunculan orang itu,

hardiknya: “Hei, orang she Bwe, berani amat kau datang kemari?” sambil

menghardik dia siap melancarkan serangan.

“Jangan terburu napsu cianpwe,” buru-buru Ong Sam-kongcu mencegah, “ada

baiknya kita selidiki dulu masalah ini hingga jelas.”

Sambil mendengus dingin raja hewan mundur kembali ke posisi semula.

“Ong-heng,” seru Bwe Si-jin kemudian, “mari kita periksa dulu keadaan luka

Cau-ji dan Jin-ji!” sambil berkata dia menuding pemuda yang tergeletak di lantai.

“Apa? Dia adalah Cau-ji?” serentak semua orang menjerit kaget.

Si Ciu-Ing segera menghampiri Cau-ji dan mengamati wajahnya sekejap, tapi

ia segera menggeleng sambil bangkit berdiri.

“Orang she Bwe, permainan busuk apa lagi yang sedang kau rencanakan?”

hardik raja hewan gusar.

Bwe Si-jin melirik Cau-ji sekejap, melihat kelopak mata kirinya sedang

bergerak, ia pun segera berteriak keras: “Cau-ji, bila kau tidak segera bangun,

pamanmu bakal mati konyol.”

Mendengar itu Cau-ji segera melompat bangun, sambil berlutut di hadapan

Ong Sam-kongcu serunya gemetar: “Ayah, maafkan Cau-ji, lain kali Cau-ji tidak

berani lagi!”

Ditinjau dari perawakan tubuhnya, suaranya serta raut mukanya, jelas

pemuda ini bukan Cau-ji, mengapa orang itu mengaku diri sebagai anak Cau?

Tiba-tiba Bwe Si-jin teringat akan sesuatu, katanya kemudian sambil tertawa:

“Cau-ji, lepaskan dulu topeng kulit manusia yang kau kenakan!”

“Baik!” sahut Cau-ji sambil melepaskan topengnya

“Angkat wajahmu …” bentak Ong Sam-kongcu.

Begitu Cau-ji mengangkat wajahnya, Si Ciu-ing segera berteriak keras: “Anak

Cau … kau memang anak Cau!” sambil berkata dia segera ikut berlutut di

sampingnya.

“Adik Ing, apa-apaan kau .. ?” tegur Ong Sam-kongcu.

“Kongcu,” ujar Si Ciu-ing dengan air mata berlinang, “anak salah berarti

ibunya ikut salah mendidik, aku siap menerima hukuman.”

“Adik Ing, persoalan ini tak ada sangkut pautnya dengan kau.”

Dalam pada itu Go Hoa-ti sambil membopong tubuh Jin-ji ikut berlutut pula

sambil berkata: “ln-)in, semua peristiwa yang terjadi hari ini bermula dari

persoalanku, kejadian ini tak ada sangkut pautnya dengan Cau-ji”

Buru-buru Ong Sam-kongcu berkelit ke samping, sahutnya: “Enso, cepat

bangun, lebih baik persoalan ini tak usah dibicarakan dulu, yang penting kita

periksa dulu keadaan luka yang diderita Jin-ji.”

“Terima kasih saudara Ong!” Bwe Si-jin menjura dalam-dalam, lalu

membangunkan Go Hoa-ti.

Ong Sam-kongcu segera melototi Cau-ji sekejap bentaknya: “Anak kurang ajar,

ayo cepat bangun ”

Raja hewan sama sekali tidak mengetahui hubungan antara Bwe Si-jin dengan

Go Hoa-ti, tampaknya dia dibuat kebingungan oleh kejadian yang baru saja

berlangsung.

Melihat Cau-ji sudah bangkit berdiri, dia pun segera bertanya: “Cau-ji,

sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Waktu itu Ong Sam-kongcu sekalian sudah balik ke ruang tengah hingga di

depan pesanggrahan Ti-wan tinggal mereka berdua, Cau-ji segera menjawab

lirih: “Yaya, tadi enci Jin menotok jalan darahku kemudian menghajarku, tapi

akibatnya dia yang berubah jadi begitu.”

“Anak Cau, kenapa Jin-ji berbuat begitu kepadamu?”

“Aku….”

Melihat bocah itu ragu-ragu untuk menjawab, si raja hewan sebetulnya ingin

mendesak lebih jauh, saat itulah tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berbisik

dengan ilmu coan-im-jit-pit “Cianpwe, Bwe Si-jin adalah kekasih Go Hoa-ti, Jin-ji

adalah putri mereka!”

“Haha….” raja hewan segera menjerit kaget.

Cau-ji mengira kakek itu tidak senang hati, baru saja dia akan membeberkan

semua kejadian yang dialaminya tadi, terdengar raja hewan menukas dengan

suara lirih: “Tak usah banyak bicara lagi, yaya sudah tahu sekarang.”

“Yaya, kau benar-benar sudah tahu?” Cau-ji keheranan.

Raja hewan manggut-manggut.

“Sekarang kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi, Jin-ji bisa terluka

pasti karena kena getaran pelindung badanmu, ayo kita selamatkan dulu cicimu

itu.”

“Yaya, Cau-ji benar-benar bisa menolong enci Jin?” sambil berjalan Cau-ji

bertanya.

Raja hewan mengangguk tanpa menjawab.

Padahal dia sendiripun tidak yakin akan hal itu.

Ketika mereka berdua masuk ke dalam ruangan, terdengar Si Ciu-ing sedang

berkata sambil terisak: “Maafkan aku enci Ti!”

Rupanya Ong Sam-kongcu dan Bwe Si-jin secara bergantian telah memeriksa

denyut nadi anak Jin, tapi hasilnya sama saja, napasnya lemah dan peredaran

darahnya tersumbat.

Sambil berusaha mengendalikan rasa sedih di hatinya, Go Hoa-ti berkata:

“Enci Ing tak usah sedih, selama Jin-ji masih bernapas, berarti masih ada

peluang untuk menyembuhkan.”

Ketika melihat Cau-ji muncul dalam ruangan, Ong Sam-kongcu segera

menghardik dengan suara berat “Cau-ji, kemari, ayo berlutut di hadapan paman

Bwe.”

“Saudara Ong, kau tak usah menyiksa Cau-ji lagi,” cegah Bwe SHin.

Dengan serius Ong Sam-kongcu menggeleng, kepada putranya kembali ia

berkata: “Cau-ji, mulai hari ini kau dan anak Jin adalah suami istri, mengerti?”

Cau-ji merasa seperti mengerti, seperti juga tidak, tapi ia tak berani

membantah perintah bapaknya, maka sambil mengangguk ujarnya: “Ayah, Cau ji

masih belum mengerti, tapi Cau-ji akan mentaati perintah ayah.”

Maka sesuai dengan petunjuk Ong Sam-kongcu, Cau-ji pun segera

menjalankan penghormatan besar di hadapan Bwe Si-jin serta Go Hoa-ti.

Mendadak terdengar Bwe Si-jin berseru sambil tertawa tergelak: “Hahaha …

saudara Ong, ada tidak mertua yang menghantar menantunya masuk kamar

pengantin?”

Jangankan Ong Sam-kongcu tidak paham, orang yang hadir di situ pun tak

ada yang mengerti maksud perkataan itu.

Sambil membopong Jin-ji dari atas meja, kembali Bwe Si-jin berseru:

“Pengantin lelaki, ayo ikuti mertuamu masuk kamar.”

Habis berkata sambil tertawa terbahak-bahak dia berjalan menuju

pesanggrahan Ti-wan.

Dengan kepala tertunduk dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun Cau-ji

mengintil di belakangnya.

Semua orang yang hadir dalam ruangan cuma bisa saling berpandangan, tak

seorangpun yang tahu apa gerangan yang terjadi.

Sementara itu dari dalam kamar pesanggrahan Ti-wan terdengar Bwe Si-jin

berseru lagi: “Pengantin pria, ayo cepatan sedikit, jangan malu-malu.”

Ketika Cau-ji masuk ke dalam kamar, ia saksikan Bwe Si-jin telah melucuti

pakaian yang dikenakan Jin-ji hingga tinggal kutangnya yang berwarna biru,

tampak gadis itu berbaring tenang di atas ranjang.

Melihat keadaan tersebut, Cau-ji segera terbayang kembali adegan syurnya

dengan Su Gi-gi tempo hari, berubah hebat paras mukanya bahkan badannya

ikut gemetar keras.

Bwe Si-jin melirik pemuda itu sekejap, kemudian katanya lagi: “Cau-ji, masih

ingat ilmu Kui-goan-sinkang yang pernah paman ajarkan kepadamu?”

Cau-ji mengangguk.

“Kalau begitu coba berlatihlah satu kali di hadapan paman.”

Cau-ji segera duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan, tak lama

kemudian tampak sebuah lapisan cahaya kuning menyelimuti seluruh

tubuhnya.

Bwe Si-jin tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya: “Tak aneh

kalau Jin-ji terluka parah meski jalan darahnya tertotok, kelihatannya dia

mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya dalam beberapa hari terakhir….”

Bwe Si-jin berpikir sejenak, kemudian dia keluar dari kamar dan kembali

dengan membawa dua batang pohon yang panjangnya berapa depa.

Terdengar Bwe Si-jin berkata lagi: “Cau-ji, coba perhatikan dua batang ranting

pohon ini, nanti gunakanlah ranting itu untuk menotok jalan darah Pek-hwehiat

dan Tan-tiam di tubuh Jin-ji.

“Anak Cau, asal kau salurkan tenaga dalammu ke jalan darah Pek-hwe-hiat di

tubuh Jin-ji. lalu menggunakan Kui-goan-sinkang mengalirkan kembali tenaga

Jin-ji yang ada di Tan-tiam balik ke tubuhmu, maka dua belas putaran

kemudian dia akan segar kembali”

Mendengar itu Cau-ji segera menghembuskan napas lega.

la terima ranting pohon itu, duduk di tepi ranjang, menutul jalan darah Pekhwe-

hiat dan Tan-tiam di tubuh Jin-ji, kemudian mulai menyalurkan hawa

murninya.

“Cau-ji, dorong secara perlahan-lahan, yang penting harus beraturan dan

tidak putus,” perintah Bwe Si-jin.

Cau-ji manggut-manggut, dia mulai mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam

lengan kiri.

Dengan cepat ia temukan jalan darah Pek hwe-hiat di tubuh enci Jinnya

seperti tersumbat oleh sesuatu, apa mau dikata pamannya berpesan agar dia

tidak terburu napsu, maka sambil menahan sabar pelan-pelan ia dorong tenaga

dalamnya ke tubuh gadis itu.

Dua jam telah berlalu tanpa terasa, di bawah pengawasan Ong Sam-kongcu

sekalian akhirnya Cau ji dapat menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh

gadis itu.

Ong Bu-jin yang selama ini jatuh pingsan akhirnya dapat menghembuskan

napas panjang dan membuka matanya kembali.

Semua orang menyambut keberhasilan ini dengan riang gembira.

“Anak Jin, jangan bicara dulu,” bisik Si Ciu-ing lembut.

“Bibi, mana adik Cau?” tanya Ong Bu-jin lirih.

“Coba lihat sendiri, siapa yang telah selamatkan jiwamu?”

Jin-ji menoleh ke samping, melihat adik Cau nya sedang mengobati lukanya,

dengan lemah bisiknya lagi: “Adik Cau, cici telah bersalah kepadamu…”

Belum habis berkata, napasnya sudah tersengal-sengal.

Cau-ji jadi gugup, ia segera membuang ranting pohon itu, memeluknya dan

mencium bibirnya sembari menyalurkan tenaga dalam.

Siapa sangka lantaran kelewat emosi, tenaga dalamnya sama sekali tak

tersalurkan keluar, dalam gugup bercampur panik Cau-ji segera menarik lepas

kutang yang dikenakan gadis itu.

Sepasang payudaranya yang putih dan montok segera muncul di hadapan

orang banyak, suasana pun jadi gaduh.

“Cau-ji, kau…”hardik Ong Sam-kongcu.

Tapi sebelum ia lanjutkan bentakannya, dengan wajah serius Bwe Si-jin telah

menimpali:

“Jangan emosi dulu Ong-heng, tadi Jin-ji kelewat banyak bicara ditambah lagi

emosinya labil, sekarang keadaannya sangat berbahaya.”

“Aku rasa tindakan yang akan dilakukan Cau-ji saat ini adalah menggunakan

ilmu pengobatan Im-yang-ho-hap-tok-ki-liau-hoat (perpaduan positip dan

negatip), sistim pengobatan ini sangat berbahaya, salah-salah bisa mencabut

nyawa Jin-ji. jadi aku harap semua orang mau bertindak sebagai pelindung”

Bicara sampai di situ ia segera maju mendekat dengan wajah serius.

Ong Sam-kongcu segera berpaling ke arah Si Ciu-ing, katanya serius: “Adik

Ing, keluarga Ong mempunyai tiga belas orang putra, tapi Bwe-heng dan adik Ti

cuma memiliki Jin-ji seorang, kau mesti membantunya dengan bersungguhsungguh.”

Habis berkata bersama si raja hewan segera keluar dari ruangan.

Dengan air mata berlinang dan tangan gemetar Si Ciu-ing serta Go Hoa-ti

segera membantu Cau-ji dan Jin-ji melucuti semua pakaian yang mereka

kenakan

Go Hoa-ti mengambil sebuah bantal dan diletakkan di bawah pinggul Jin-ji,

lalu pelan-pelan dia pentang lebar sepasang pahanya membiarkan “lubang singa”

dengan bulu hitamnya yang masih sedikit itu terbentang lebar.

“Enci Ti, kali ini Jin-ji harus menderita,” bisik Si Ciu-ing lirih.

“Kita tak perlu merisaukan persoalan ini,” tukas Go Hoa-ti serius, “bagaimana

pun mereka sudah menjadi suami istri, siapa tahu selewatnya kejadian ini

hubungan mereka malah bertambah mesra.”

Dengan penuh rasa terima kasih Si Ciu-ing mengangguk, katanya kemudian:

“Cau-ji, ayo naik!”

Tadi Cau-ji mengambil keputusan untuk menggunakan cara tersebut, karena

secara tiba-tiba teringat olehnya kalau tenaga dalam yang dimilikinya bertambah

pesat setelah Su Gi-gi “kencing” di atas barang miliknya.

Oleh sebab itu dia putuskan untuk mencoba dengan cara yang sama.

Dalam waktu singkat Cau-ji sudah menindih di atas badan Jin-ji, karena

punya hasrat ke situ. otomatis si “ular berbulu”nya dengan cepat

menggelembung besar dan tegak lurus, tak lama kemudian barangnya jadi

tegang sekali dan mencapai kepanjangan delapan inci dan besar satu inci.

Go Hoa-ti tidak menyangka Cau-ji yang masih berusia tiga belas tahun

ternyata memiliki “barang” yang besarnya sudah mencapai setengah dari milik

Bwe Si jin, bila barang itu berkembang terus mengikuti perkembangan

tubuhnya, entah akhirnya bisa mencapai berapa besar?

Dua belas tusuk konde emas yang menyaksikan adegan itu ikut berdebar

debar hatinya, mereka pun sangat kagum dengan ukuran barang milik Cau-ji

yang luar biasa itu.

“Waah, besar amat barangnya,” demikian mereka berpikir, “milik bapaknya

saja tidak segede itu, di kemudian hari entah berapa banyak gadis yang bakal

keranjingan dengan barang miliknya”

Go Hoa-ti cukup berpengalaman dengan sosis ukuran “king size”, jadi dia pun

tahu bagaimana harus menghadapinya, dengan suara lirih bisiknya: “Cici

sekalian, tolong dibantu melumuri barang milik Cau-ji dengan air liur, agar

sewaktu masuk nanti barangnya lebih licin!”

Sembari berkata, dia pun menggunakan air liur sendiri membasahi sekitar

lubang surga milik Jin-ji dengan sangat berhati-hati.

Ketika barang ukuran “king size” milik Cau-ji sudah basah dilumuri air liur, Si

Ciu-ing pun memberi perintah: “Ayo dimulai Cau-ji, tapi harus perlahan”

Cau-ji menurut, pelan-pelan dia masukkan barangnya ke dalam lubang surga

milik gadis itu.

Ketika dilihatnya tangan Jin-ji mulai gemetar keras seperti menahan rasa

sakit, kembali Si Ciu-ing berbisik: “Perlahan … perlahan lagi, yang halus, yang

pelan … nah, sekarang masukkan sedikit demi sedikit… yaa … jangan

dipaksakan, perlahan saja ….”

Sembari menciumi bibir Jin-ji, pelan-pelan Cau-ji masukkan barang miliknya

ke dalam lubang surga milik Jin-ji, karena mesti berhati-hati maka tak lama

kemudian dia sudah bermandikan keringat.

Tapi untung semuanya berjalan lancar, tak selang berapa saat kemudian

seluruh barang milik Cau-ji yang berukuran besar itu sudah terbenam di dalam

liang surga gadis itu.

Melihat semuanya berjalan lancar, para orang dewasa pun menghembuskan

napas lega

Pendidikan yang diberikan sang ibu memang luar biasa sekali!

Cau-ji sendiripun merasa lega, dia menarik napas dan bermaksud “kencing”,

tapi dia pun tak tahu bagai mana caranya melakukan hal tersebut, kalau harus

“kencing”, apa yang mesti dilakukan?

Karena kuatir kembali dia ciumi gadis itu bertubi-tubi.

Melihat putranya panik, Si Ciu-ing segera mengerti apa yang telah terjadi,

maka dia pun berbisik: “Cau ji agar berhasil kencing, kau mesti mulai

menggoyangkan badanmu!”

Tiba-tiba Cau-ji terbayang kembali dengan gerakan aneh yang dilakukan Su

Gi-gi sebelum akhimya bisa “kencing”, dalam girangnya dia pun mulai

menggoyangkan badannya….

Saking kerasnya goyangan itu, Jin-ji kontan kesakitan setengah mati, bukan

saja badannya gemetar keras, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi

wajahnya.

“Cau-ji, cepat berhenti!” bentak Si Ciu-ing, sambil berkata dia segera

memegang pinggul bocah itu dan menahannya.

“Ibu, kenapa Cau-ji mesti berhenti?” tanya pemuda itu keheranan.

“Cau-ji, kau tak boleh ngawur, coba lihat, Jin-ji jadi sangat tersiksa, kalau

mau bergoyang, kau mesti bergoyang secara lembut dan perlahan, ayo sekarang

di mulai… ikuti petunjukku ….”

Melihat gadis itu pucat pias sambil melelehkan air mata, Cau-ji tahu, nona itu

pasti kesakitan, bisiknya ke mudian: “Cici, aku….”

Setelah berhenti sejenak, rasa sakit yang dialami Jin-ji sudah banyak

berkurang, dia segera pejamkan matanya dan menjawab malu: “Adik Cau, aku

tidak apa-apa….”

Begitulah, di bawah bimbingan Si Ciu-ing yang memberi komando, Cau-ji

mulai naik turunkan badannya dengan penuh kelembutan….

Percikan darah perawan mulai meleleh keluar dan membasahi seprei

pembaringan.

Tak lama kemudian napas Jin-ji mulai tersengal-sengkal, badannya juga

mulai ikut bergoyang mengikuti gerakan tubuh pemuda itu.

Si Ciu-ing tahu, kedua orang bocah itu sudah mendekati puncak kenikmatan,

maka kembali perintahnya: “Cau-ji, percepat gerakanmu, yaa… makin cepat…

makin cepat lagi

Waktu itu Cau-ji sudah merasakan barang miliknya makin geli dan gatal,

semakin cepat gerakan dilakukan, ia merasa barang miliknya semakin enak dan

nikmat sekali, maka dia pun percepat gerak naik turunnya.

Jin-ji jauh lebih matang dari saudara lainnya, dia tentu saja tahu apa yang

sedang mereka lakukan sekarang di hadapan orang banyak, sekalipun mereka

adalah orang tua sendiri, tak urung rasa malu tetap menyelimuti perasaan

hatinya, maka walaupun sudah terangsang hebat ia berusaha untuk

menahannya.

Go Hoa-ti cukup berpengalaman dalam masalah ini, tentu saja dia pun

mengerti jalan pikiran putrinya, diam-diam ia totok jalan darah tertawa di tubuh

gadis itu kemudian memberi tanda kepada rekan-rekannya.

Tak lama kemudian terdengarlah suara tertawa serta rintihan dari Jin-ji yang

membuat suasana semakin terangsang….

Cau-ji mengira cicinya sangat senang dengan gerak cepatnya, maka dia pun

mempercepat gerakan tubuhnya.

Setengah perminuman teh kemudian tampak bulu kuduk Jin-ji pada bangun

berdiri, tubuhnya mulai gemetar keras.

Berubah hebat paras muka Go Hoa-ti, buru-buru dia tepuk bebas jalan darah

tertawanya.

Cau-ji tidak tahu adanya perubahan itu, dia masih melanjutkan genjotan

badannya….

“Cau-ji, sudah keluar belum?” tanya Si Ciu-ing tiba-tiba.

“Ibu, Cau Ji tak bisa kencing, bagaimana ini?”

Si Ciu-ing termenung berpikir sejenak, dia tahu bila Cau-ji dibiarkan

menerjang terus lama kelamaan Jin-ji bakal mati, maka diapun berkata “Cau-ji,

cepat dikencingkan, asal kau sudah kencing, Jin ji pasti akan sehat kembali.”

“Ya betul, asal dia tidur sejenak maka semuanya akan beres.”

“Cau-ji, jangan salahkan ibu.” Tiba-tiba Si Ciu-ing berbisik dengan air mata

berlinang, tiba-tiba secepat kilat dia totok jalan darah Ciok-cing hiat di tubuh

Ciau Ji, jalan darah ini mengendalikan saluran cairan mani di tubuh kaum

lelaki.

“Jangan!” pekik Go Hoa-ti sambil mencengkram pergelangan tangannya.

Pek Lan-hoa ikut bergerak, secepat kilat ia totok jalan darah kaku di

tubuhnya.

“Enci Ing, kau tak boleh berbuat begitu,” seru Goa Hoa-ti dengan air mata

berlinang.

“Enci Ti, kau sudah mendengar perintah dari engkoh Huan bukan,” kata Si

Ciu-ing tegas, “kita masih punya dua belas orang anak lelaki.”

Sambil berkata ia tepuk jalan darah Ciok-cing hiat di tubuh bocah itu.

Cau-ji segera mendengus tertahan, badannya gemetar keras, cairan mani

segera menyembur keluar berulang kali, dengan lemas tubuhnya segera

tergeletak di atas badan Jin-ji.

“Cau-ji!” seru Si Ciu-ing sedih, dia segera membopong tubuh putranya.

“Enci Ing, kami terlalu banyak berhutang kepada kalian,” keluh Go Hoa-ti

sembari memeluknya.

“Maaf cici Ti, aku harus pergi duluan,” kata Si Ciu-ing, dengan langkah

sempoyongan dia segera menerjang keluar dari ruangan.

“Cau-ji….” kembali pekiknya keras.

Pekikan keras yang menyayat hati itu kontan membelah keheningan fajar yang

baru menyingsing.

Ong Sam-kongcu yang mendengar teriakan itu tersentak kaget, paras

mukanya pucat pias bagai mayat, untuk sesaat dia tertegun dan tak mampu

berbuat apa-apa.

Sebelas orang tusuk konde lainnya ikut melelehkan air mata, melihat cairan

mani masih saja menyembur keluar dari barang milik Cau-ji, mereka serentak

berlarian mengikuti di belakangnya.

Tak sampai setengah jam kemudian, berita duka ini sudah menyebar ke

seluruh pesanggrahan, semua orang tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa.

Benarkah Cau-ji, si pendekar muda kita tewas karena cairan maninya

menyembur keluar terus menerus?

Jika Cau-ji tewas dalam usia muda, siapa yang akan meneruskan kariernya,?

Siapa pula yang akan menjayakan nama besar pesanggrahan Hay-thian-it-si?

Untuk mengetahui kisah selanjutnya dari pendekar muda kita Ong Bu-cau,

nantikan cerita selanjutnya dalam sambungan Pendekar Naga Emas Jilid 2

TAMAT Jilid 01

Cersil XX rate (Bacaan Orang Dewasa)

Bila masih dibawah Umur masuk sarung ajja, hihi

Karya : Yen To (Gan To)

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/

PENDEKAR NAGA MAS

Jilid 2

Bab I. Tenaga sakti menggetarkan jagad.

Pesanggrahan Hay-thian-it-si (samudra dan langit satu pandangan) adalah

tempat tinggal Ong Sam-kongcu, Lelaki paling ganteng di jagad saat itu.

Suasana pesanggrahan yang selalu diliputi kegembiraan, suasana yang

biasanya dipenuhi bocah yang bercanda sambil bermain kejar-kejaran, hari ini

justru diliputi awan mendung yang gelap.

Semua orang merasa sedih, semua orang merasa berduka.

Bahkan si Raja hewan Oh It-siau yang sudah terhitung kelas ‘kakek’ pun tak

dapat menahan rasa pedihnya, ia berdiri di depan pintu dengan air mata

bercucuran.

Semua orang merasa sedih karena seorang bocah yang baru berusia tiga belas

tahun, Ong Bu-cau tak mampu mengendalikan semburan air maninya setelah

melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya.

Sebagaimana diketahui, setelah jalan darah kaku di tubuh Cau-ji ditotok oleh

ibunya, semburan air mani pun segera menyembur keluar dengan derasnya

membasahi seluruh liang senggama Jin-ji (Baca jilid 1)

Semenjak diurut oleh Cau-ji, sebetulnya Jin-ji sudah merasakan badannya

sangat enteng bagaikan melayang di udara.

Maka begitu liang senggamanya disembur berulang kali oleh cairan mani yang

panas, gadis itu segera menggigil keras dan diiringi jeritan nikmat dia pun

mencapai orgasme.

Waktu itu kebetulan Cau-ji sedang berbaring di samping tubuhnya, dalam

keadaan masih bernapsu, gadis itupun segera mencium bibir Cau-ji dengan

bernapsu kuat.

Ciuman itu akhirnya berhasil menarik nyawa Cau-ji keluar dari pintu neraka.

Sebetulnya kesadaran Cau-ji waktu itu sudah mulai menghilang, semburan

mani yang bertubi-tubi membuat badannya mengejang keras, lambat-laun dia

menjadi lemas dan nyaris tak bertenaga.

Maka ketika bibir Jin-ji yang panas mencium bibirnya, bocah itu tersentak

kaget.

Dia segera merasakan lidah mungil gadis itu seolah-oleh sebiji buah yang

berlapis madu, selain manis juga amat segar, tak tahan lagi dia pun menghisap

ujung lidah itu dengan kuat.

Perlu diketahui, air mani Cau-ji yang menyembur keluar berulang kali itu

sebenarnya mengandung inti kekuatan pil naga sakti yang pernah ditelannya,

oleh sebab itu hawa murni yang kuat itu langsung menerjang ke dalam Tan-tian

Jin-ji.

Begitu Cau-ji mulai menghisap ujung lidahnya, maka hawa murni yang

semula mengalir keluar dengan derasnya ke dalam tubuh Jin-ji, seketika

terhisap kembali ke atas, menembus semua hambatan di tubuh si nona dan

balik kembali ke tubuh Cau-ji.

Begitu hawa Im bertemu dengan hawa Yang, kehidupan pun berjalan kembali

dengan normal.

Dua orang itu saling berpelukan kencang, tubuh mereka tak bergerak lagi.

Ketika Go Hoa-ti melihat tubuh Cau-ji sudah tidak bergetar lagi, dia tahu

semburan mani bocah itu sudah berhenti, maka setelah menutup tubuh mereka

berdua dengan selimut, dia pun berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Dalam waktu singkat Cau-ji dan Jin-ji sudah tertidur dengan nyenyaknya.

Mendekati tengah hari, mendadak dari dalam ruangan berkumandang suara

letupan yang sangat aneh.

Cau-ji segera terbangun dari tidurnya, baru saja dia ingin memeriksa suara

aneh apa yang berbunyi dari bagian bawah tubuh enci Jin, tiba-tiba

berkumandang lagi suara letupan yang keras.

Menyusul suara letupan itu, dia lihat tubuh enci Jin gemetar sangat keras.

Segera dia melompat bangun dan berguling ke bawah ranjang.

Tampak tubuh Ong Bu-jin gemetar sangat keras, suara aneh itu ternyata

berasal dari bagian dalam nona itu, satu kejadian yang membuatnya tertegun.

Kenapa bisa muncul kejadian seperti ini?

Ong Bu-jin sendiri pun ketakutan setengah mati, semula dia menyangka

suara itu berasal dari kentutnya, tapi setelah diamati lagi, ternyata dugaannya

keliru, suara itu bukan suara kentut, malahan badannya seperti kemasukan

udara yang besar, bagai balon yang dipompa, badannya membengkak makin

besar.

Beberapa saat kemudian suara aneh itu baru berhenti.

Tiba-tiba Cau-ji merasa enci Jin seperti tumbuh lebih tinggi, yang lebih aneh

lagi adalah bagian dadanya, mendadak dia merasa sepasang payudara gadis itu

seolah tumbuh makin besar dan montok, ia lihat ada dua gumpalan daging

besar dengan puting susu berwarna merah terbentang di hadapannya.

Terdorong rasa ingin tahu yang luar biasa, bocah itu segera meraba dan

meremasnya ….

Haah, ternyata empuk, halus dan enak sekali untuk dipegang dan diraba.

Makin diraba Cau-ji merasa makin nikmat, maka dengan kedua belah

tangannya ia mulai meremas payudara nona itu.

Lama kelamaan Ong Bu-jin merasa kegelian, makin diremas ia merasa

semakin geli, akhirnya dengan wajah bersemu merah bisiknya, “Adik Cau,

jangan begitu!”

“Enci Jin, kenapa kau punya dua gumpal daging besar?”

Tentu saja Ong Bu-jin kebingungan untuk menjawab, serunya kemudian,

“Aku sendiri juga tidak tahu!”

“Enci Jin, jangan-jangan karena pergumulan kita semalam, kau kena

kuhantam hingga terluka dan membengkak besar, biar aku tanyakan kepada

ibu!”

Ong Bu-jin menjadi malu bercampur terkejut, Segera dia bangkit untuk

menarik tangannya.

“Aduh!” tiba-tiba gadis itu menjerit keras, ia merasa tubuh bagian bawahnya

selain sakit juga amat pedih.

Cepat Cau-ji menyingkap selimutnya dan memeriksa bagian bawah gadis itu,

ia lihat ceceran darah membasahi seprei.

Dalam terkejut bercampur paniknya ia segera menjerit keras, “Ayah! Ibu!

Kalian cepat kemari! Enci Jin dia….”

Tapi dia tak bisa melanjutkan perkataannya lagi karena mulutnya keburu

dibungkam oleh tangan Ong Bu-jin.

“Adik Cau,” bisiknya lirih, “kau jangan sok panik begitu, ayo cepat

bersembunyi di sini, masa kau ingin bertemu orang dalam keadaan bugil?”

Baru saja Cau-ji akan bersembunyi di balik selimut, tiba-tiba terdengar Si Ciuing

berseru kaget, “Ooh Thian! Cau-ji, ternyata kau belum mati! Aku … uuh …

uhhh … uuuh….”

Saking kaget bercampur girangnya ia segera menangis tersedu-sedu.

Semua orang dewasa yang berdatangan pun serentak menjerit kaget setelah

menyaksikan Cau-ji duduk di ranjang dalam keadaan segar bugar.

“Ooh, Thian!”

Dua puluh empat orang pasukan bocah yang mendadak melihat engkoh Cau

tumbuh menjadi dewasa pun ikut menjerit kaget.

Dengan penuh rasa gembira si Raja hewan menyeka air matanya, melihat Jinji

masih bersembunyi di balik selimut, ia segera mengerti apa yang terjadi, segera

teriaknya,

“Sobat-sobat kecil, mari kita pergi bersantap!”

“Aaah, nanti saja! Kami masih ingin bercakap-cakap dengan engkoh Cau!”

tampik mereka.

“Siau-jiang, ayo makan dulu,” seru Pek Lan-hoa cepat, “selesai berpakaian

engkoh Cau pasti akan menyusul kalian untuk makan bersama, setuju?”

“Setuju!”

Raja hewan yang ditarik dan didorong kawanan pasukan bocah itu menjadi

kegirangan setengah mati, kini ia bisa tertawa terbahak-bahak.

Pek Lan-hoa balik ke kamarnya dan mengambil satu stel pakaian putih milik

Ong Sam-kongcu.

“Aaah, benar!” tiba-tiba Cau-ji berteriak keras, “tadi telah terjadi satu peristiwa

yang sangat aneh, enci Jin, dia….”

“Jangan cerewet!” teriak Ong Bu-cau tersipu-sipu.

Seakan mendapat perintah kaisar, Cau-ji segera tutup mulutnya rapat-rapat.

Meski begitu tangannya tetap membuat gerakan melengkung di depan dada

sendiri sembari menjulurkan lidahnya.

“Adik Cau, apa yang kau lakukan?” jerit Ong Bu-jin.

Kembali Cau-ji menjulurkan lidahnya, ia melompat turun dari ranjang dan

segera mengenakan baju berwarna putih itu.

Ketika semua orang melihat ketajaman pendengaran Ong Bu-jin yang sangat

hebat, diam-diam semua tertegun dibuatnya.

Sementara itu Cau-ji sudah berseru dengan gembira, “Ooh, sangat menarik,

enci Jin, cepat berpakaian!”

“Cau-ji, mari kita pergi makan dulu!” ajak Ong Sam-kongcu, sambil berkata

dia menjura kepada Bwe Si-jin dan mempersilakan tamunya berjalan lebih dulu.

Menanti ketiga orang itu keluar dari kamar, Go Hoa-ti baru mengambilkan

pakaian untuk Jin-ji, ujarnya sambil tertawa, “Jin-ji, semua orang sudah pergi,

cepat bangun dan berpakaian!”

Terbayang kembali sepasang payudaranya yang berubah menjadi bulat besar,

Ong Bu-jin merasa malu sekali, bisiknya lirih, “Ibu, tolong ambilkan pakaian,

akan kukenakan di dalam selimut!”

“Aaai, apa sih yang kau jadikan malu?”

Siapa tahu baru saja pakaian itu dikenakan setengah jalan, Ong Bu-jin

kembali berseru cemas, “Ibu, tolong pinjam pakaian milikmu!”

Sambil berkata ia lepaskan kembali pakaiannya yang kelewat sempit.

Semua orang yang berada di situ menjadi tertegun dan saling berpandangan

dengan keheranan, hanya Go Hoa-ti seorang yang segera mengerti apa yang

terjadi, sambil tersenyum ia mengambil satu stel pakaian miliknya dan diantar

ke balik selimut.

Tak selang berapa saat kemudian selimut sudah disingkap, Ong Bu-jin dengan

wajah tersipu-sipu turun dari pembaringan.

“Woouw, cantiknya!” para bocah perempuan itu menjerit tertahan.

Go Hoa-ti pun sangat gembira, sambil menyisir rambutnya yang kusut ia

bertanya, “Jin-ji, kenapa secara tiba-tiba kau bisa tumbuh tinggi, malah jauh

lebih tinggi dari ibu!”

Ong Bu-jin merasa girang bercampur malu, dengan suara lirih bagai suara

nyamuk bisiknya, “Ibu, aku sendiri pun tidak tahu, aku hanya tahu selesai

‘begituan’ dengan adik Cau, mendadak tubuhku tumbuh jadi besar dan dewasa.”

Waktu itu Si Ciu-ing boleh dibilang ‘mertua memandang menantu, makin

dipandang semakin jitu’, sambil membantu membetulkan letak pakaian gadis

itu, tanyanya pula, “Jin-ji, anak Cau tidak nakal padamu bukan?”

“Tidak,” sahut Ong Bu-jin malu, “cuma badanku sekarang terasa canggung,

kurang nyaman!”

“Kalau bagian ‘itu’ yang sakit sih kau tak perlu kuatir, sebentar juga bakal

sembuh,” bisik Si Ciu-ing sambil menarik tangannya, “ayo, kita makan bersama.”

“Enci Ing, kelihatannya kau akan semakin menyayangi anak Jin,” seru Go

Hoa-ti menggoda, “waah, kelihatannya aku mesti gigit jari.”

Gelak tertawa pun bergema memenuhi ruangan.

“Kalau tidak sayang menantu sendiri, lantas harus sayang siapa?” sahut Si

Ciu-ing sambil tertawa pula.

Ong Bu-jin sama sekali tidak tahu kalau dia mempunyai ayah lain,

perkiraannya semula, adik Cau berbuat ‘begituan’ bersamanya tak lain karena

hendak menyembuhkan luka yang sedang diderita, tak heran kalau dia menjadi

tertegun setelah mendengar perkataan itu.

Memangnya satu ayah lain ibu boleh menikah?

Go Hoa-ti bukan orang bodoh, ia segera dapat menangkap jalan pikiran

putrinya, sambil tersenyum ujarnya, “Jin-ji, mari kita bersantap dulu, selesai

bersantap tentu ada banyak cerita menarik yang akan kau dengar!”

Ketika seorang gadis berbaju putih bak bidadari yang turun dari kahyangan

berjalan masuk ke ruang utama, beberapa orang lelaki dewasa yang ada di situ

pun serentak memuji, “Ooh, cantiknya!”

Oleh karena itu secara diam-diam Cau-ji telah mengabarkan bahwa Ong Bujin

telah tumbuh setinggi dirinya kepada para bocah lelaki, tak heran begitu

melihat gadis itu melangkah masuk ke dalam ruangan, tempik-sorak segera

bergema gegap gempita.

Bwe Si-jin yang melihat putri kesayangannya tumbuh begitu cantik dan

anggun pun ikut merasa gembira, ia tertawa tiada hentinya.

Ong Bu-jin duduk satu meja dengan kawanan gadis lainnya, dia menjadi malu

sampai tak bisa bicara ketika rekan-rekannya sembari meraba dadanya yang

menonjol besar, bertanya ini itu tiada habisnya.

Melihat itu, sambil menarik wajah Cau-ji segera menegur, “Eei, jangan berisik,

biar enci Jin bersantap dulu!”

Kawanan gadis itu tak berani ribut lagi, serentak mereka pun mulai

bersantap.

Sejak melakukan perjalanan jauh selama beberapa hari, Cau-ji belum pernah

makan enak, sekarang setelah berhadapan dengan aneka hidangan lezat,

ditambah lagi ia sangat riang, tak heran semua makanan yang tersedia

disikatnya hingga ludes.

Ketika Cau-ji melihat di hadapan seorang adiknya masih tertinggal sepotong

paha ayam, dia segera menggapai tangan kanannya dan … “Weess!”, tahu-tahu

paha ayam itu sudah terhisap dan terbang kedalam genggamannya.

Tentu saja kawanan bocah itu belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu Likhong-

sip-oh (menghisap benda dari udara), kontan semua orang terperana

dibuatnya.

Melihat Cau-ji sengaja memamerkan ilmunya, Bwe Si-jin segera menggerakkan

telapak tangan kanannya ke atas, separoh ayam panggang yang berada di

hadapannya dicomotnya, kemudian hardiknya, “Terima potongan ayam ini!”

Ketika pergelangan tangan kanannya diputar sambil berayun, piring berisi

ayam itu kontan berputar di angkasa lalu terbang melayang ke arah Cau-ji.

Separoh potong ayam panggang itu seakan tumbuh sayap, dengan satu

gerakan cepat langsung meluncur ke tangan bocah itu.

Sementara piring tadi dengan membawa desingan angin tajam langsung

meluncur keluar ruangan.

Melihat itu para bocah segera menjerit kaget, “Aduuuh, piring itu bisa pecah!”

Cau-ji sama sekali tidak menggubris, dia masih asyik menggigit ayam

panggang itu.

Mendadak terdengar bocah-bocah itu berteriak lagi, “Haah, piring itu terbang

kembali!”

Benar saja, setelah berputar satu lingkaran kecil di luar ruangan, bukan saja

piring itu terbang kembali ke dalam ruangan bahkan dengan kecepatan yang

lebih tinggi meluncur ke arah Bwe Si-jin.

Dengan wajah serius Bwe Si-jin menghimpun tenaga dalamnya ke tangan

kanan, secepat kilat ia mencengkeram ke muka dan menerima piring itu.

Tempik-sorak disertai tepuk tangan meriah kembali bergema gegap gempita.

Lamat-lamat Bwe Si-jin merasa ujung jarinya kesemutan dan sakit, tak tahan

ia menghela napas panjang.

Sementara itu si Raja hewan telah mengambil sebuah guci arak seberat lima

kati, bentaknya, “Cau-ji, biar Yaya mentraktirmu minum arak!”

Selesai berkata telapak tangan kanannya menahan dasar gunci, lalu

didorongnya ke depan.

Selapis panah arak segera menyembur ke udara dan menerjang ke hadapan

Cau-ji.

Dengan tenang Cau-ji menolak telapak tangan kanannya ke arah panah arak

itu, tampiknya, “Yaya, maaf, ayah melarang Cau-ji minum arak!”

Sambil bicara sekali lagi telapak tangan kanannya menekan, semburan arak

itupun meluncur balik ke dalam guci.

Selagi mengerahkan tenaga ternyata masih mampu bicara, melihat

kemampuan tenaga dalam yang begitu hebat, sampai Ong Sam-kongcu sendiri

pun terkagum-kagum dibuatnya.

“Cau-ji,” serunya kemudian, “hari ini merupakan hari bersejarah bagimu,

minumlah!”

Sekali lagi panah arak menyembur ke depan.

Kali ini Cau-ji menarik napas sambil menghisap, panah arak pun bagaikan

ikan paus yang menelan air samudra langsung meluncur masuk ke dalam

mulutnya.

Waktu itu Bwe Si-jin masih menekan dasar guci dengan telapak tangannya,

tiba-tiba panah arak lebih melebar satu kali lipat dan menyembur ke arah Cau-ji

semakin kencang.

Melihat datangnya semburan ini, Cau-ji segera teringat tindakan pamannya

dulu, dimana dengan menyemburkan darah dari kelelawar menyerang dua

bagian tubuhnya sekaligus.

Maka dengan gerakan cepat telapak tangan kirinya mengambil sebuah

mangkuk kosong, lalu dengan teknik menghisap dia hirup separoh bagian

semburan arak itu, sementara jari tangan kanannya ditusukkan ke tengah

mangkuk dan menghisapnya ke dalam mulut.

Menyaksikan demonstrasi ilmu silat tingkat tinggi semacam ini, tak kuasa lagi

Ong Sam-kongcu beserta para wanita lainnya bangkit berdiri untuk

menyaksikan dengan lebih teliti.

Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba panah arak itu terputus di tengah

jalan.

Rupanya seluruh isi guci arak itu telah terhisap habis.

Tak kuasa lagi semua orang menghela napas panjang, tempik-sorak dan tepuk

tangan pun kembali berkumandang gegap gempita.

Dengan keheranan Ong Bu-jiang segera bertanya, “Engkoh Cau, kemana

larinya semua arak itu?”

“Tentu saja masuk kemari!” sahut Cau-ji sambil menepuk perut sendiri.

“Tidak mungkin, kenapa perutmu tidak membesar seperti guci arak itu?”

Cau-ji tertawa tergelak.

“Hahaha, adik Jiang, kau paling suka minum kuah, kenapa perutmu pun

tidak membuncit seperti kuali?”

Habis berkata kembali ia tertawa tergelak.

“Engkoh Cau, kau bicara ngawur!” merah jengah wajah Jiang-ji.

“Ooh, sejak kapan kau belajar mengucapkan ‘bicara ngawur”? Engkoh Cau tak

pernah membohongi kalian, bagaimana kalau kutumpahkan keluar semua isi

perutku?”

“Tidak usah, tidak usah, bau!” seru para bocah sambil menutup hidung

sendiri.

Rupanya suatu hari Lo-ong tumpah-tumpah setelah mabuk berat, bau

muntahan yang menyengat sempat membuat para bocah itu pusing tujuh

keliling.

“Baik, baiklah,” kata Cau-ji kemudian, “kalau memang kalian takut bau, biar

kuteteskan keluar saja, adik Jiang, cepat ambil guci arak tadi.”

Baru saja A-jiang mengambil guci arak itu, segulung semburan arak telah

meluncur keluar dari ujung jari tangan kiri Cau-ji.

Bau harum semerbak pun memancar ke seluruh ruangan, kembali teriakan

memuji bergema di angkasa.

Cau-ji tersenyum, ketika lima jari tangannya dipentangkan, kembali terlihat

ada lima semburan arak memancar masuk ke dalam guci itu.

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau ilmu sakti Kui-goan-sin-kang milik Cau-ji

sudah terlatih hingga mencapai tingkatan Thian-jin-hap-it (langit manusia

bersatu padu), dalam suasana penuh kekaguman, mereka pun mulai

membicarakan rencana bagaimana harus menghadapi perkumpulan Jit-sengkau.

Sesaat kemudian Cau-ji telah menjilati kelima ujung jarinya sambil berseru,

“Ehmmm, harumnya!”

Raja hewan mengambil guci arak itu dan menimang-nimang sebentar, tibatiba

serunya sambil tertawa, “He, Cau-ji, kau sudah korupsi satu kati arak!”

Merah padam wajah Cau-ji, untuk sesaat dia tak mampu berkata-kata.

Bwe Si-jin kontan tertawa terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, Cau-ji, coba

kau ceritakan pengalamanmu sejak perpisahan kita di dekat air terjun tempo

hari!”

Mendengar itu Cau-ji segera teringat kembali akan sumpah dirinya pada Su

Gi-gi. Mendadak paras mukanya berubah hebat.

Dengan wajah serius Bwe Si-jin segera berkata, “Cau-ji, kami tahu kau pasti

telah bertemu dengan suatu peristiwa yang menyulitkan, itulah sebabnya kami

ingin sekali membantumu menyelesaikan kesulitan itu, coba ceritakan

pengalamanmu!”

Setelah termenung dan berpikir sejenak akhirnya Cau-ji pun menceritakan

kisahnya bagaimana ia bertarung melawan naga sakti, bagaimana ia berhasil

mendapatkan bola merah, kabur ke dalam gua, memukul hancur beberapa

orang musuh dan melarikan diri dari tempat itu.

Ketika selesai mendengar penuturan itu, si Raja hewan yang pertama-tama

bersorak gembira, serunya, “Terima kasih langit, terima kasih bumi, akhirnya

naga sakti berusia seribu tahun itu mati juga, tampaknya danau itu sekarang

telah berubah menjadi bukit karang!”

Sebaliknya Bwe Si-jin berkata dengan suara dalam setelah termenung sesaat,

“Cau-ji, gadis yang mayatnya kau hancurkan itu bisa jadi adalah putri

kesayangan Su Kiau-kiau, Kaucu perkumpulan Jit-seng-kau, itulah sebabnya

semua orang memanggilnya sebagai tuan putri!”

“Cau-ji, tampaknya gadis itu tahu kalau bola merah itu merupakan mestika

yang sangat langka, Lwe-wan dari naga sakti berusia seribu tahun, dia berusaha

untuk menghabiskan sendiri benda itu, jelas tujuannya ingin menjadi jago

nomor wahid di kolong langit, siapa tahu dia pun berencana hendak

membunuhmu!”

“Mana mungkin? Aku toh pernah menyelamatkan jiwanya!”

“Cau-ji, pikiranmu kelewat sederhana, hati manusia siapa tahu, kelicikan dan

kebusukan hati dimiliki setiap orang, apalagi Su Kiau-kiau sudah lama

berencana melestarikan kembali perkumpulan Jit-seng-kau, putrinya pasti

berusaha mendukung rencana ibunya bukan?”

Dengan mulut membungkam Cau-ji manggut-manggut.

“Aaaai, benda mestika hanya diperoleh mereka yang berjodoh, siapa suruh

budak itu kelewat tamak, coba kalau dia hanya makan sedikit saja, belum tentu

nasibnya akan berakhir secara tragis.”

“Cau-ji, untung kau telah berhasil melatih ilmu Kui-goan-sin-kang, kalau

tidak, mungkin waktu itupun kau bakal tewas secara mengenaskan, malah

menurut analisa, bisa jadi kau akan mati bersama gadis itu.”

Ketika membayangkan kembali kegilaan serta kekalapan yang telah dilakukan

gadis itu, Cau-ji segera berseru, “Paman, ada benarnya juga perkataanmu itu,

kau tahu, dia selalu bertindak gila terhadapku, bahkan tingkah lakunya sangat

aneh, dia paksa aku mengencingi badannya berulang kali, hampir saja aku mati

lantaran kecapaian.”

Mendengar perkataan itu, para orang dewasa tahu pikiran Cau-ji sudah

terbuka, mereka pun menghembuskan napas lega, sementara dalam hati

kecilnya merasa kagum bercampur terima kasih pada Bwe Si-jin.

Raja hewan segera maju ke depan menggenggam sepasang tangan Bwe Si-jin,

ujarnya terharu, “Lote, tak nyana kau berjiwa besar dan bersedia mewariskan

ilmu Kui-goan-sin-kang, kepandaian paling hebat perkumpulan Jit-seng-kau

kepada Cau-ji, kalau dulu Loko salah menilaimu, harap sudi dimaafkan!”

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau kesalah pahaman ini dapat diselesaikan

sedemikian mudahnya, dengan girang ia balas menggenggam tangan Raja

hewan.

“Engkoh tua, terima kasih atas pemahamanmu! Terima kasih banyak!”

serunya terharu.

Ong Sam-kongcu yang selama ini hanya membungkam segera menimpali,

“Sebenarnya perkumpulan Jit-seng-kau termasuk sebuah perkumpulan kaum

lurus, sayangnya Kaucu yang menduduki jabatannya sekarang sudah

mengambil jalan sesat, akibatnya perkumpulan ini dianggap orang sebagai

perkumpulan sesat.”

“Saudara Bwe, asal kau bersedia membawa perkumpulan Jit-seng-kau

kembali ke jalan yang benar, Siaute bersedia mendukungmu!”

“Betul, Lote,” kata si Raja hewan pula, “tulangku belum terlampau tua untuk

digerakkan, ayo, berjuanglah, kami semua akan mendukungmu!”

Tak terkira rasa girang Bwe Si-jin setelah mendengar dukungan itu, katanya,

“Terus terang, sebenarnya saat ini aku sudah mengantongi jawabannya, di

kolong langit saat ini mungkin hanya Cau-ji seorang yang sanggup

mengendalikan keempat iblis wanita itu, aku ingin mendukung Cau-ji menjadi

ketua Jit-seng-kau!”

Jeritan kaget seruan tertahan segera bergema di seluruh ruangan.

“Saudara Bwe,” Segera Ong Sam-kongcu menyela, “Cau-ji masih kecil dan tak

tahu urusan.”

“Ong-heng,” tukas Bwe Si-jin, “Cau-ji toh bakal tumbuh dewasa, biar mereka

kaum muda saja yang berjuang memberantas kejahatan, sementara kita yang

tua sudah waktunya pensiun dan menikmati sisa hidup dengan tenang.”

Bicara sampai di situ, ia melirik sekejap ke arah Go Hoa-ti.

Dengan penuh kegembiraan Go Hoa-ti balas melirik ke arah suaminya.

Raja hewan ikut berteriak pula, “Lote, kebesaran jiwamu sungguh membuat

hatiku kagum.”

“Hahaha, engkoh tua, bagaimanapun sawah yang subur harus diwariskan

kepada orang sendiri, bukan begitu?”

Dengan penuh pengertian Raja hewan balas tertawa.

Cau-ji sama sekali tak menyangka kalau dirinya bakal mendapat kesempatan

untuk menjadi ketua perkumpulan Jit-seng-kau, tak tahan lagi dengan

semangat yang berkobar serunya, “Ayah, apakah Cau-ji boleh menjadi Kaucu

perkumpulan Jit-seng-kau?”

Ong Sam-kongcu tidak menyangka kalau dirinya yang mempunyai watak

lemah tak bersemangat ternyata memiliki keturunan yang berhati keras seperti

baja dan berilmu silat tangguh, kontan dia menyahut, “Tentu saja boleh!”

Ucapan selamat pun segera mengalir datang dari semua orang yang hadir.

Terlebih dua belas tusuk konde emas, mereka amat kegirangan sampai tak

mampu berkata-kata.

Mereka sebenarnya termasuk macan betina yang suka melakukan perjalanan

dalam dunia persilatan, sekalipun sekarang sudah terbiasa hidup tenang,

namun begitu muncul kesempatan, sifat aslinya langsung saja muncul.

Ong Sam-kongcu memperhatikan para bini dan anak-anaknya sekejap, lalu

serunya kepada kawanan bocah itu, “Kalian dengarkan baik-baik, bila Cau-ji

benar-benar menjadi seorang Kaucu. paling tidak kalian harus bisa menjadi

seorang Tongcu atau Huhoat, jangan tak punya semangat begitu!”

“Kami pasti akan berusaha!” serentak para bocah berteriak.

“Hahaha, bagus, bagus sekali, sekarang kalian boleh pergi beristirahat, bila

ada waktu senggang pasti akan kuajarkan ilmu silat yang lebih tangguh.”

“Baik!”

Baru saja Cau-ji akan ikut meninggalkan ruangan, Si Ciu-ing sudah

menariknya ke dalam kamar dan memberi pelajaran ‘ilmu ranjang’ yang jauh

lebih halus dan lembut, dia berulang kali berpesan agar bocah itu jangan kasar

bila ingin menyetubuhi Jin-ji, selain itu diajarkan pula teknik pemanasan yang

hebat.

Di pihak lain Pek Lan-hoa sekalian juga mengajak Ong Bu-jin kembali ke

kamarnya untuk berbincang-bincang, selain menurunkan teknik melayani sang

suami di atas ranjang, mereka pun sekaligus memberitahu asal-usulnya.

Sedang Ong Sam-kongcu menarik tangan Raja hewan dan diajaknya minum

arak.

“Engkoh Jin,” bisik Go Hoa-ti kemudian, “kita sudah terlalu banyak berhutang

budi pada mereka!”

“Adik Ti,” sahut Bwe Si-jin setengah berbisik, “kalau begitu mari kita bikin

beberapa orang anak lagi, asal bisa dikawinkan dengan mereka, bukankah

hutang budi kita bisa terbayarkan?”

Go Hoa-ti merasa hatinya berdebar, serunya cepat, “Aku sudah berusia

setengah abad, masa subur untuk melahirkan sudah lewat, mana mungkin bisa

melahirkan lagi?”

“Sstt, omong kosong, tahun ini usiamu baru enam belas tahu, siapa bilang

sudah lewat masa melahirkan? Untuk perkataan ngawurmu itu kau mesti

didenda!” Sambil berkata ia meraba pipi kanan bininya. Go Hoa-ti segera

mengegos ke samping dan cepat berlari menuju ke gedung Ti-wan.

Baru saja perempuan itu masuk ke dalam kamar, Bwe Si-jin telah memeluk

tubuhnya erat-erat.

Kontan saja Go Hoa-ti merasa jantungnya berdebar keras, tubuhnya yang

lemas segera bersandar dalam pelukan lelaki itu, bisiknya lirih, “Engkoh Jin,

masakah di siang hari bolong ….”

Sambil menciumi bibir, pipi dan leher perempuan itu, sahut Bwe Si-jin, “Aaah,

peduli amat mau di siang hari bolong atau di tengah malam buta, semalam

permainan kita sudah terganggu di tengah jalan, kali ini aku mesti menusuk

liangmu lebih keras lagi!”

Sambil berkata ia mulai melepas pakaian yang dikenakan perempuan itu satu

per satu.

Go Hoa-ti membalik tubuhnya dan membantu Bwe Si-jin melepas celananya,

katanya lagi, “Semalam kita memang terlalu gegabah, sama sekali tak kusangka

Jin-ji dan Cau-ji bisa masuk ke dalam kamar di saat kita masih berasyikmasyuk.”

Bwe Si-jin tertawa lirih, sambil membelai tubuh perempuan itu, meremas

sepasang payudaranya dan meraba bulu-bulu hutan bakau di bagian antara

paha, ia berbisik lagi, “Adik Ti, semalam apakah Jin-ji sangat menderita?”

“Ehmm, jangan dilihat Cau-ji masih kecil, dia memiliki ‘barang’ yang luar

biasa besarnya, apakah tidak kau perhatikan cara jalan Jin-ji hari ini?

Kelihatannya dia menderita luka yang cukup parah ….”

“Hahaha, sejak awal aku sudah tahu kalau ‘barang’ Cau-ji memang luar biasa

besarnya, keadaan Jin-ji saat ini persis seperti keadaanmu sewaktu pertama kali

aku tiduri….”

“Aaah, kau…. kau memang jahat!”

Sambil berkata ia segera melepaskan diri dari pelukan lelaki itu dan

menyelinap masuk ke dalam kamar.

Dalam waktu singkat dua buah tubuh yang sama sekali bugil berlarian dalam

ruang kamar, bermain petak umpet.

Mendadak Go Hoa-ti menjerit kaget, “Aduuuh!”

Rupanya ‘tombak panjang’ milik Bwe Si-jin telah menusuk masuk melalui

belakang pantatnya, dengan jurus Han-cing-gan-ciong (melihat tombak dengan

pandangan mesra). “Creeet!”, ujung tombak langsung menghujam masuk ke

dalam liang surga milik Go Hoa-ti.

Sudah jelas jeritan sakit itu bukan kesakitan sungguhan, tapi jeritan

merangsang yang sangat menggoda. Sebab bila dia tidak sengaja menunggingkan

pantatnya ke belakang sambil mementang sepasang kakinya, bagaimana

mungkin tombak panjang itu bisa menusuk masuk ke dalam liangnya?

Sepasang tangan Bwe Si-jin segera memeluk pinggang perempuan itu dengan

kencang, kemudian dia mulai melancarkan serangkaian tusukan dengan gencar.

“Plook Ploook!”, serangkai bunyi aneh bergema tiada hentinya.

Perlahan-lahan Go Hoa-ti menggerakkan tubuhnya ke depan, dengan

sepasang tangan berpegangan di pinggir ranjang, pinggulnya dipentang semakin

lebar mengambil gaya kaki dipentangkan dan pantat ditonjolkan ke belakang, ia

mulai menggoyang pinggulnya sebentar ke kiri dan kanan, sebentar lagi ke atas

dan ke bawah, mengimbangi gerakan tusukan lawan yang semakin gencar.

“Plook, ploook”, suara cairan yang saling menggencet bergema makin nyaring.

Go Hoa-ti dapat merasakan ujung ‘tombak panjang’ milik engkoh Jin sudah

menancap hingga mencapai ke dasar liangnya, tak tahan lagi dia mulai merintih,

“Aduuuh … ooooh … adduuuh … aaaah … tusuk yang dalam … aduh … engkoh

Jin … aduh sayang … terus… masukkan terus….”

Bwe Si-jin menggenjot badannya makin cepat, sepasang tangannya sangat

repot, sebentar meremas puting susu, sebentar meremas payudara, terkadang

tangannya merantau hingga ke bawah, menekan ‘biji kacang ijo” di bagian bawah

Go Hoa-ti yang dilindungi hutan bakau lebat, tak terkirakan kenikmatan yang

dirasakannya.

Lama kelamaan napsu birahinya makin berkobar, dia pun menggenjot

badannya makin kuat dan cepat. “Oooh … oooh … aduuuh … aduh nikmatnya

…lebih keras lagi … ya … lebih keras lagi … aduuh … aduh … terasa hingga ke

dasarku… mati aku….”

“Hahaha, adik Ti, jangan mati dulu … ayo goyang lebih keras lagi, mari kita

bertarung lebih hebat… ya … lebih kencang … aduuuh … aduuh … aku…. aku

tak tahan”

Bagaikan air panas yang menyembur keluar dari lubang termos, “Crocoot!”,

tembakan pun dilepaskan dari ujung tombak Bwe Si-jin.

Lama kemudian baru ia mencabut keluar tombaknya dari dalam liang gua.

Waktu itu dari bagian bawah Go Hoa-ti pun sudah meleleh keluar cairan

kental yang mengalir melalui kakinya dan membasahi permukaan lantai.

“Ooh, adik Ti, kau sungguh hebat!” puji Bwe si-jin sambil tertawa.

Go Hoa-ti mengambil selembar handuk dan membantunya membersihkan

ujung tombak dari cairan kental, lalu membersihkan pula tubuh bagian

bawahnya, kemudian setelah mengerling sekejap, katanya, “Engkoh Jin,

kelihatannya kebiasaanmu mencicipi tahu milik orang lain masih belum bisa

hilang.”

Bwe Si-jin tertawa lebar, ia bimbing perempuan itu naik ke atas pembaringan,

kemudian menaikkan sepasang kakinya di atas bahu sendiri, kemudian ujarnya

sambil tertawa, “Adik Ti, tahukah kau, aku sudah belasan tahun tak pernah

mencicipi tahu!”

Sambil berkata tombak panjangnya kembali digenjotkan ke muka.

“Creeeep!”, ujung tombak kembali menghujam masuk ke dalam liang surga.

“Aduuh mak ….” sekali lagi tubuh Go Hoa-ti gemetar keras.

Tadi dia bisa menggunakan pinggulnya sebagai pelindung badan hingga

mengurangi daya tusukan yang dihasilkan oleh ‘tombak panjang’ itu, tapi

sekarang boleh dibilang ia berada dalam keadaan terbuka lebar, sepasang

kakinya terpentang lebar membuat liang surganya sama sekali tak ada

perlindungan.

Kini seluruh tubuh bagian bawahnya berada dalam keadaan terbuka, dia

hanya bisa pasrah dengan membiarkan Bwe Si-jin melakukan ‘pembantaian’

secara besar-besaran.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa berpegangan di sisi pembaringan sambil

‘mengertak gigi’ menahan datangnya ‘gempuran dahsyat’ yang bertubi-tubi.

Dalam waktu singkat Bwe Si-jin sudah melancarkan beratus kali gempuran

berantai, gempuran yang satu lebih hebat dari gempuran sebelumnya,

perempuan itupun mulai merintih, mulai mengaduh, merintih kenikmatan….

Kali ini serangan yang dilancarkan Bwe Si-jin tidak tanggung-tanggung lagi,

dia langsung mengeluarkan jurus Hwe-sian-ciong-hoat (ilmu tombak berputar),

setiap kali ujung tombaknya menusuk ke dalam liang sorga, ujung tombaknya

selalu menempel di dasar liang sambil menggesek dan berputar.

Go Hoa-ti tak kuasa menahan diri lagi, rintihannya makin keras, jeritannya

makin membangkitkan napsu, akhirnya dia pun mulai merinding.

Bwe Si-jin si panglima perang yang sangat berpengalaman dalam medan laga,

si jago tangguh dalam memetik bunga segera mengerti kalau jurus serangan

yang digunakan sudah mendatangkan hasil, maka dia pun mempergencar

serangannya lagi

“Plook, plok”, suara gesekan cairan bergema makin keras, begitu kerasnya

hingga menggantikan suara rintihan dan jeritan Go Hoa-ti yang membetot

sukma.

“Engkoh Jin … aku … aduh … aduh … aduh enaknya … oohh … ooh … lebih

keras lagi… aduh enaknya … oaaah … aaaah … aku hampir… aku hampir mati”

“Hahaha, adik Ti, bukankah kau ingin mati? Hahaha..”

Jangan dilihat Bwe Si-jin hanya tertawa tergelak, padahal dia pun merasakan

kenikmatan yang luar biasa.

Bagaimanapun pertarungan jarak dekat semacam ini merupakan pertarungan

badan yang sangat melelahkan.

Empat lima puluh tusukan kemudian akhirnya Go Hoa-ti mengibarkan

bendera putih tanda menyerah, tampak tubuhnya gemetar keras, mulutnya

merintih sambil ternganga lebar.

Bwe Si-jin masih melanjutkan genjotannya sebanyak puluhan kali lagi.

Go Hoa-ti mulai gelisah, jeritnya, “Engkoh Jin … berhenti … aku … aku sudah

tak tahan … aduh … aku tak tahan… mati aku….”

Kelihatannya ia mulai sesak napas, udara yang masuk lebih sedikit dari udara

keluar, malah sepasang matanya sudah mulai membalik.

Bwe Si-jin menghembuskan napas panjang, dia mengambil selembar handuk

dan dijejalkan ke bagian bawah tubuhnya, lalu sambil membaringkan

perempuan itu di atas ranjang, ujarnya sambil tertawa, “Adik Ti, beristirahatlah

dulu!”

Go Hoa-ti membuka matanya dan menghela napas.

“Benar-benar sangat nikmat, engkoh Jin, bagaimana … bagaimana kalau

kuhisapkan milikmu!”

Tak terkirakan rasa girang Bwe Si-jin mendengar tawaran itu, segera dia

melompat naik ke atas pembaringan dan berbaring dengan kepala menghadap ke

kaki dan membiarkan tombaknya persis tergantung di atas mulut perempuan

itu.

Benar saja, Go Hoa-ti segera membuka mulutnya dan mulai menghisap

‘tombak panjang’ itu dengan nikmat.

Bwe Si-jin merasakan benda miliknya kaku dan kesemutan, makin dihisap ia

merasa makin nikmat hingga tak terasa dia ikut menggenjotkan badannya naik

turun.

Saking besar dan panjangnya tombak itu, hampir saja ujung tombak

menembus tenggorokan Go Hoa-ti, cepat perempuan itu memegang kedua butir

‘telur burung puyuh’ yang bergelantungan di hadapannya dan mulai

meremasnya.

Begitu telurnya mulai diremas, Bwe Si-jin tidak banyak tingkah lagi.

Kembali dia mengambil handuk dan dengan halus mulai menyeka liang surga

milik perempuan itu.

Begitu menggosok beberapa kali, tak lama kemudian handuk itu sudah basah

kuyup.

Pada saat itulah tiba-tiba ia merasa pinggangnya linu, Bwe si-jin tahu dia

segera akan mencapai puncaknya, segera dia mencabut keluar tombaknya dari

mulut perempuan itu.

Tapi Go Hoa-ti segera menggelengkan kepalanya, bahkan dia menghisap ujung

tombak itu makin kencang dan cepat.

“Adik Ti, jangan, entar mengotori mulutmu,” segera dia berteriak.

Go Hoa-ti tak sanggup menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya

berulang kali.

Dalam keadaan begini Bwe Si-jin hanya bisa tertawa getir, setelah menggenjot

badannya makin kencang, akhirnya dia pun mulai memuntahkan pelurunya.

“Gluguk”, semburan itu langsung ditelan Go Hoa-ti.

Dia menghisap terus tombak yang mulai melemas itu hingga Bwe Si-jin benarbenar

terbaring lemas, kemudian baru melepaskan genggamannya.

“Oooh … aku benar-benar kenikmatan!” keluh Bwe Si-jin lemas, sambil

berkata ia mulai membalikkan badannya.

Go Hoa-ti masih menempel ketat tubuhnya, ia berbisik, “Engkoh Jin, aku

hampir saja putus napas, lain kali jangan kau gunakan jurus itu.”

“Hahaha, bukankah kau ingin mati?”

“Kau … kau sudah merasakan kenikmatan, sekarang masih jahat padaku!”

Sambil berkata ia memukul dadanya dengan mesra.

0oo0

Bulan purnama bersinar terang di angkasa.

Di kolam Ti-sim dalam perkampungan Hay-thian-it-si terlihat Cau-ji dengan

bertelanjang dada sedang bermain kejar-kejaran dengan Ong Bu-jin yang hanya

mengenakan pakaian dalam.

Dalam setengah bulan terakhir, kedua orang ini tak pernah berpisah barang

sebentar pun, hubungan cinta mereka pun kian hari kian berkembang mesra.

Malam itu, menggunakan kesempatan di saat kebanyakan orang sedang

berbincang-bincang di ruang utama, mereka berdua menyelinap ke kolam untuk

bermain air.

Kepandaian berenang yang dimiliki kedua orang ini tidak selisih jauh, tapi

tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji jauh melebihinya.

Waktu itu, ketika melihat potongan tubuh enci Jin bertambah montok dan

indah, Cau-ji merasa tak tahan lagi, dia bayangkan betapa nikmatnya jika dapat

memeluk tubuh yang bahenol itu.

Berpikir begitu, sepasang kakinya segera menjejak ke tanah dan tubuhnya

langsung menubruk ke depan.

Ong Bu-jin tidak menyangka bakal dipeluk pinggangnya, baru ia akan

meronta, keadaan sudah terlambat.

Hari ini dia memang mengenakan pakaian dalam berwarna putih, bahan kain

yang tipis membuat sepasang payudara si nona kelihatan sangat mencolok,

apalagi setelah basah oleh air.

Khususnya sepasang putingnya yang sebesar kacang goreng, merah di antara

warna hitam membuat benda itu kelihatan sangat mencolok.

Sepasang tangan Cau-ji merangkulnya dari belakang punggung, lalu setelah

meraba sepasang payudaranya yang montok, dengan penuh rasa ingin tahu dia

mulai meraba puting susu yang merah mengeras itu dan memilirnya berulang

kali.

Ong Bu-jin merinding, rabaan itu nyaris membuatnya sesak napas, segera dia

meluncur keluar ke permukaan air.

Begitu muncul dan menghembuskan napas panjang, segera tegurnya kepada

Cau-ji yang masih meremas payudaranya, “Adik Cau, lagi apa kau ini?”

“Hahaha, enci Jin, kedua butir kacang ini enak benar kalau dibuat mainan!”

Seraya berkata kembali dia memuntir sepasang puting susu itu berulang kali.

Kontan saja Ong Bu-jin merasa sakit bercampur geli, segera teriaknya, “Aduuh

… apanya yang enak dibuat mainan, kau sendiri toh punya, kenapa tidak kau

mainkan milikmu sendiri?”

“Aaah, ogah aah, punyaku kecil, punyamu jauh lebih besar, dan lagi lebih

enakan memegang milikmu.”

“Kau … kau memang jahat, baik … sekarang berbaliklah, aku juga mau

memegang milikmu.”

“Baik.”

Cau-ji segera membalikkan badannya sambil memeluk Ong Bu-ji dengan erat,

bahkan dia mulai mencium bibirnya yang menantang dan melumatnya.

Ong Bu-jin tidak menyangka kalau Cau-ji begitu nakal, tak mampu

mengendalikan rasa kejut bercampur girangnya, ia segera menjejakkan kaki di

dalam air dan balas mencium pemuda itu dengan penuh napsu.

Di bawah cahaya rembulan, di antara riak air kolam yang bening, kedua orang

itu tenggelam dalam ciuman yang paling hangat.

Tanpa terasa, entah sedari kapan, tahu-tahu pakaian dalam yang dikenakan

Ong Bu-jin telah terlepas dari tubuhnya dan mengapung menjauh dari situ.

Dengan tangan kirinya mendayung di air, perlahan-lahan kedua orang itu

berenang menuju ke tepi kolam, lalu sekali menekan permukaan tanah, Cau-ji

berdua yang telanjang telah melompat naik ke atas daratan.

“Adik Cau, mau apa kau?” bisik Ong Bu-jin.

“Enci Jin, aku… aku ingin….”

Dia tidak tahu bagaimana harus mengemukakan hasratnya, maka dengan

tergagap ia tak sanggup meneruskan kata-katanya, tidak begitu dengan

tangannya, dengan sigap dia mulai melepas celana daiam yang dikenakan gadis

itu.

“Jangan di sini!” segera Ong Bu-jin menekan tangannya, “malu dong kalau

ketahuan orang!”

“Ba… bagaimana kalau di bawah pohon saja?”

“Di situ? Baiklah.”

Mereka berdua celingukan sekejap mengawasi sekeliling tempat itu, setelah

yakin tak ada orang, dengan cepat mereka berlari menuju ke bawah pohon.

Dengan satu gerakan cepat Cau-ji melepas celana dalam yang dikenakan Ong

Bu-jin, lalu ketika siap melepaskan juga celana dalam miliknya, mendadak

tampak Siau-jiang muncul dari ruang utama sambil berteriak, “Engkoh Cau!

Enci Jin!”

Pendengaran Cau-ji saat ini amat sensitip, meski rada tak senang karena

pertarungannya bakal dibatalkan, namun melihat wajah Siau-jiang yang begitu

tegang, segera dia menegur dengan ilmu Coan-im-ji-bit (menyampaikan suara

secara rahasia), “Siau-jiang, apa yang terjadi?”

Tak terlukiskan rasa kaget Siau-jiang ketika mendengar suara namun tak

nampak manusianya, dengan kebingungan dia celingukan ke sana kemari.

“Adik Cau,” Ong Bu-jin segera berbisik, “keluarlah dulu, coba lihat apa yang

terjadi, jangan kau buat Siau-jiang ketakutan!”

“Sialan, dia memang mengacau suasana saja!” gerutu Cau-ji tak senang.

Tapi ia bangkit juga sambil melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Begitu bertemu Cau-ji, Siau-jiang segera berseru, “Engkoh Cau, di luar sana

datang dua orang, mereka sedang bertarung melawan Oh-yaya dan paman Bwe!”

“Sungguh? Kenapa kau tidak ikut menonton?” tanya Cau-ji cemas.

“Ibu bilang kedua orang itu galak sekali, mereka melarang kita keluar!”

“Baik, sekarang pulanglah dulu, sebentar biar kuhajar kedua orang itu!”

Selesai berkata dia melayang balik ke tempat persembunyiannya.

Siau-jiang masih berdiri celingukan di situ, dia tahu engkoh Cau dan enci Jin

berada di situ, tapi kenapa hanya engkoh Cau seorang yang muncul? Kemana

perginya enci Jin? Sedang apa dia di situ?

Ong Bu-jin tahu, adik Jiang memang seorang setan cilik yang besar rasa ingin

tahunya, sejak awal dia sudah menyembunyikan diri di belakang pohon.

Begitu melihat Cau-ji muncul kembali, segera bisiknya, “Adik Cau, adik Jiang

belum pergi!”

Cau-ji berpaling, melihat Siau-jiang masih celingukan macam maling siap

mencuri ayam, ia menjadi jengkel bercampur geli, segera serunya lagi dengan

ilmu menyampaikan suara, “Adik Jiang, kenapa kau belum pergi dari situ?”

Siau-jiang menjulurkan lidahnya berulang kali, segera dia balik kembali ke

ruang utama.

Cau-ji tahu, sekembalinya ke ruang utama, Siau-jiang pasti akan

menceritakan keadaan mereka di situ, maka katanya sambil tertawa, “Enci Jin,

tunggulah sebentar, biar kuambilkan pakaianmu.”

“Tidak apa-apa, barusan apa yang dikatakan adik Jiang?”

“Dia bilang, di luar sana kedatangan dua orang yang sangat galak, mereka

sedang berkelahi melawan Oh-yaya dan ayahmu.”

“Sungguh? Kalau begitu cepatlah kau menyusul ke situ, aku segera akan

menyusul.”

Segera Cau-ji balik ke tepi kolam, setelah mengambil pakaian dalam milik Ong

Bu-jin, segera dia mengenakan kembali pakaiannya dan berlari menuju ke pintu

gerbang.

Belum tiba di depan pintu, ia sudah mendengar suara bentakan nyaring serta

deru angin pukulan bergema dari luar pintu, perasaannya kontan bergolak

keras, ia mempercepat larinya menuju keluar.

Terdengar Si Ciu-ing berbisik sambil menggapai ke arahnya, “Cau-ji, ilmu silat

yang dimiliki kedua orang itu sangat lihai, cepat bantu Oh-yaya!”

Cau-ji manggut-manggut, ia saksikan seorang kakek kurus kering bak kulit

pembungkus tulang dengan jenggot berwarna putih, jubah warna hitam dan

bersenjatakan sebuah toya berkepala ular sedang bertarung sengit melawan Raja

hewan.

Waktu itu Raja hewan dengan mengandalkan tongkat bambunya sedang

melepaskan serangkaian serangan gencar, segulung bayangan hijau disertai deru

angin kencang dan gemuruhnya guntur menekan kakek itu habis-habisan.

Jurus serangan yang digunakan kakek kurus itu sangat aneh, setiap gerak

serangannya selalu ganas dan telengas, jangan dilihat senjata andalannya cuma

sebuah tongkat berkepala ular, tapi begitu berada di tangannya ternyata

memiliki daya penghancur yang mengerikan.

Angin serangan yang begitu kencang dan kuat menyelimuti daerah seputar

satu meter lebih, di balik angin yang menderu disertai pula kilatan halilintar dan

gemuruhnya suara guntur.

Pertarungan berlangsung semakin sengit, jurus serangan yang digunakan

kedua orang itu semakin aneh, angin toya pun makin lama makin bertambah

kuat, jelas mereka berdua telah saling bertarung dengan mengerahkan tenaga

dalam tingkat tinggi.

Cau-ji mencoba berpaling ke arah lain, lebih kurang dua belas meter dari

arena pertarungan pertama, Bwe Si-jin sedang bertarung melawan seorang

kakek berambut putih bagai tembaga, bersanggul tinggi dan mengenakan jubah

panjang yang sederhana.

Mereka berdua pun sedang terlibat pertarungan yang amat sengit, bukan saja

pasir beterbangan di udara, bahkan batu kerikil pun ikut mencelat ke empat

penjuru.

“Roboh kau!” mendadak terdengar bentakan nyaring bergema memecah

keheningan.

Tiba-tiba dari ujung toya berkepala ular milik kakek kurus kering itu

menyembur keluar segumpal asap merah, asap itu langsung meluncur ke wajah

Raja hewan.

Di luar dugaan Raja hewan sama sekali tidak roboh, tapi tubuhnya mundur

sejauh tiga meter lebih dari posisi semula.

Kakek ceking itu tertawa seram, sambil mengobat-abitkan toyanya dia

menyusul ke muka.

Semburan asap merah itu seketika menyelimuti seluruh tubuh Raja hewan

dan memaksanya harus berkelit ke sana kemari.

Menyaksikan kejadian itu Ong Sam-kongcu segera memberi tanda, serentak

semua orang mengundurkan diri ke dalam halaman.

“Ayah, apakah asap merah itu beracun?” bisik Cau-ji kemudian.

“Cau-ji,” ujar Ong Sam-kongcu dengan serius, “kedua orang ini tak lain adalah

Tian-tiong-siang-sat (sepasang malaikat bengis dari In-lam), asap merah itu

mengandung racun yang sangat jahat, bila menempel di kulit maka kulit kita

akan segera membusuk hingga menyebabkan kematian!”

“Hmmm! Masa menggunakan benda beracun macam begitu untuk bertarung

melawan orang, betul-betul tidak adil, ayah, tampaknya Oh-yaya mulai tak

sanggup menahan diri, bagaimana kalau Cau-ji menggantikan posisinya?”

“Baiklah, gunakan saja ilmu pukulan Pun-lui-ciang-hoat (ilmu pukulan guntur

menggelegar) untuk menghadapinya, ayah ingin lihat, kau butuh berapa jurus

untuk merobohkan dirinya?”

Sementara itu Si Ciu-ing telah berpesan dengan rasa kuatir, “Cau-ji, kau

harus berhati-hati!”

Melihat kekuatiran istrinya, sambil tertawa Ong Sam-kongcu berkata, “Kau

tak perlu kuatir, anak Cau pernah menelan pil mestika Tay-huan-wan, selain itu

pernah pula makan empedu naga sakti, boleh dibilang dia tidak mempan

menghadapi serangan racun macam apapun, dia tak perlu kuatir menghadapi

asap merah itu.”

“Baiklah kalau begitu.”

Dalam pada itu Raja hewan sudah tercecar sangat hebat, napasnya sudah

tersengal-sengal macam napas kerbau, dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa

memutar toyanya untuk melindungi badan.

Melihat serangannya berhasil mencecar lawan, kakek ceking itu melancarkan

serangannya makin gencar, toya di tangan kanan, serangan tangan kosong di

tangan kiri, dia mencecar lawannya semakin dahsyat.

“Setan tua, jangan sombong kau!” bentak Cau-ji gusar.

Tubuhnya secepat kilat meluncur masuk ke dalam arena, telapak tangan

kanannya diayunkan ke muka dan sebuah serangan telah dilontarkan tanpa

menimbulkan suara.

“Cau-ji kelewat kolot,” kata Ong Sam-kongcu sambil menggeleng kepalanya

berulang kali, “menghadapi manusia macam beginipun dia masih menggunakan

sopan santun, memberi peringatan lebih dulu sebelum melancarkan serangan.”

“Itulah tingkah laku seorang lelaki sejati!” sambung Si Ciu-ing kegirangan.

Dalam pada itu si kakek ceking itu tergetar hatinya setelah mendengar

bentakan itu, gerak serangannya agak terhenti sejenak, tapi begitu tahu

penyerangnya hanya seorang bocah kemarin sore, tak tahan ia pun mendengus

menghina.

Walaupun dia melihat Cau-ji mengayunkan tangannya, tapi karena tidak

melihat datangnya angin serangan, dia sangka bocah itu hanya berlagak

menyerang untuk membohonginya, maka bukan saja dia tidak peduli atas

datangnya ancaman, malahan dengan toyanya dia mencecar Raja hewan makin

hebat.

Siapa tahu pada saat itulah ia merasa seluruh tubuhnya terbungkus oleh satu

kekuatan yang maha dahsyat, diikuti sebuah tenaga yang sangat kuat

menghimpit tubuhnya.

Padahal waktu itu tubuhnya sudah telanjur menubruk ke depan, ingin

menghindar tak sempat lagi, dalam gugupnya sambil mengertak gigi ia

melancarkan sebuah bacokan maut dengan toyanya.

Pertarungan antara dua jago tangguh, lengah sedikit bisa mendatangkan

bencana.

Tahu-tahu terdengar kakek ceking itu menjerit kesakitan, tubuh berikut

toyanya sudah terhajar oleh angin pukulan yang dilancarkan Cau-ji.

Baru saja lengannya terpapas kutung hingga mencelat ke angkasa, tahu-tahu

“Blaaaam!”, tubuhnya sudah terhajar oleh serangan kedua Cau-ji hingga hancur

berkeping-keping.

Tenaga pukulannya bukan saja dahsyat bagai tindihan bukit, bahkan cepat

bagaikan sambaran kilat, Ong Sam-kongcu sekalian benar-benar terbelalak

matanya setelah menyaksikan kehebatan itu.

Kakek yang sedang bertarung melawan Bwe Si-jin pun sempat menyaksikan

kematian si kakek ceking yang mengenaskan, tak tahan ia berseru tertahan,

“Aaah! Ilmu pukulan penghancur mayat!”

Begitu ia tertegun, seketika itu juga posisinya tercecar hebat dan dipaksa Bwe

Si-jin berada di bawah angin.

Berhasil membunuh kakek berbaju hitam, kembali Cau-ji membentak, “Kau

rasakan juga kehebatanku!”

Tubuh berikut pukulannya langsung menubruk ke depan menghantam

pinggang kiri lawan.

Setelah melihat nasib tragis yang dialami rekannya, kakek itu tak berani

bertindak gegabah, begitu mendengar teriakan Cau-ji, tergopoh-gopoh dia

menghindarkan diri ke samping.

Begitu kakinya mencapai tanah, dengan jurus Thay-san-ciang-bong (gunung

Thay-san ambruk), tanpa menimbulkan suara melepaskan sebuah gempuran

dahsyat ke muka.

Belum lagi berdiri tegak, serangan yang dilancarkan Cau-ji sudah membacok

tiba, terpaksa sekali lagi kakek itu berkelit dengan gugup.

“Hati-hati!” bentak Cau-ji.

Sepasang tangannya diayunkan bersama, dengan jurus It-goan-hu-si (tenaga

murni pulih kembali), Siang-liong-si-cu (sepasang naga mempermainkan

mutiara), Sam-kang-su-hay (tiga sungai empat samudra), Ngo-gak-ki-bong (lima

bukit ambruk bersama) secara beruntun dia lancarkan serangkaian serangan

secara bertubi-tubi.

Kakek itu segera merasakan datangnya deru angin puyuh yang menyapu tiba,

sekalipun tidak disertai suara yang menakutkan, namun hawa murni yang

mengalir membawa kekuatan menghimpit yang sangat menggidikkan hati.

Sadarlah kakek itu, bila dia menghadapi kurang hati-hati sedikit saja, bisa

jadi nyawanya akan melayang.

Oleh sebab itu setiap kali tangan Cau-ji yang diayunkan ke muka

menghembuskan tenaga ancaman, segera dia kerahkan segenap kekuatannya

untuk mengegos ke samping.

Keadaannya saat ini mirip dengan seekor kucing yang sedang

mempermainkan seekor tikus, mirip juga dengan seekor monyet yang sedang

mempertunjukkan tarian topeng monyet.

Bwe Si-jin yang sudah mundur ke sisi arena tak mampu mengendalikan rasa

gelinya, ia segera tertawa terbahak-bahak, ejeknya, *Ho tua, kemana kaburnya

kegagahanmu?”

Sementara itu Cau-ji yang melancarkan serangan hebat pun menyempatkan

diri bertanya sambil tertawa, “Paman, dia termasuk orang baik atau orang

jahat?”

“Hahaha, sekalipun dia dari marga Ho, sayangnya bukan saja tidak termasuk

orang baik, bahkan boleh dibilang dia adalah seorang manusia busuk yang

‘tumbuh onak di kepalanya dan melelehkan nanah di dasar kakinya’,

menghadapi manusia seperti ini kau tak usah sungkan lagi.”

“Baiklah, he, orang she Ho, bersiaplah untuk mampus!”

Bicara sampai di situ dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan langsung

dibacokkan ke tubuh kakek itu.

Setelah bertarung sekian lama, kakek itu sudah mulai kehabisan tenaga, tak

sempat lagi menghindar dari ancaman yang tiba, segera dia menghimpun tenaga

dalamnya untuk menyongsong datangnya ancaman itu dengan keras melawan

keras.

“Aduuuh…..!”

Jeritan ngeri bergema memecah keheningan, segumpal hancuran daging dan

darah segera berhamburan di angkasa.

Tampak seluruh tubuh kakek itu, dari kepala hingga kakinya sudah terbacok

hancur oleh serangan Cau-ji, di bawah cahaya rembulan tampak suatu

pemandangan yang sangat menggidikkan hati.

Tiga orang wanita yang ikut menyaksikan kejadian itu menjadi mual, hampir

saja mereka muntah-muntah.

Bukan hanya ketiga orang wanita itu, Ong Sam-kongcu, Bwe Si-jin serta Raja

Hewan yang menyaksikan pun ikut bergidik.

Sembari bertepuk tangan ujar Cau-ji kemudian, “Segalanya sudah beres, Loong

terpaksa harus bekerja keras membersihkan lantai.”

Setelah masuk kembali ke ruang utama, ia disambut sorak-sorai oleh segenap

bocah.

Ong Bu-jin pun menyambutnya dengan mata berbinar, coba kalau di situ tak

banyak orang, dia pasti sudah menubruk ke muka, memeluk pemuda itu dan

menciumnya dengan hangat.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Bwe Si-jin baru berkata

sambil tersenyum, “Perlu kalian ketahui, kedua orang gembong iblis yang

barusan datang menyatroni itu adalah dua orang Tongcu perkumpulan Jit-sengkau,

yang satu adalah Tongcu dari ruang naga hijau, sedang yang lain adalah

Tongcu dari ruang harimau putih.”

“Kalau dianalisa dari perkataan mereka berdua tadi, kelihatannya Su Kiaukiau

sudah memutuskan untuk muncul secara terbuka dalam dunia persilatan,

itulah sebabnya mereka mengutus kedua orang itu untuk datang membujuk

Ong-heng agar bersedia bergabung dengan perkumpulan mereka.”

Semua orang hanya manggut-manggut tanpa berkata.

Setelah memandang Cau-ji sekejap, kembali Bwe Si-jin berkata, “Cau-ji,

ditinjau dari teriakan lawan yang bisa menyebut ilmu pukulan penghancur

mayatmu, apakah sebelum kejadian hari ini, kau pernah menggunakan cara

yang sama untuk menghabisi nyawa para pengejar itu?”

“Betul! Hanya saja waktu itu aku hanya ingin kabur secepatnya sehingga

sama sekali tidak sengaja.”

“Hahaha, aku bukan bermaksud menyalahkan dirimu, kenyataan memang

cara inilah yang paling jitu untuk menakut-nakuti mereka, cuma sekarang

urusannya jadi sedikit repot, dengan kematian kedua orang ini maka setiap saat

pasti ada anggota Jit-seng-kau yang bakal mencari jejak mereka hingga ke sini.”

Mendengar perkataan ini, semua orang menjadi tertegun.

Tiba-tiba Cauii berkata, “Paman, bukankah kau pandai menyaru muka, selain

itu juga banyak tahu tentang rahasia mereka, bagaimana jika kita berdua

menyamar menjadi kedua orang kakek itu?”

Sekali lagi semua orang tertegun.

“Jangan!” cegah Si Ciu-ing kuatir, “terlalu berbahaya!”

Sebaliknya Ong Sam-kongcu malah tertawa terbahak-bahak, serunya,

“Hahaha, aku setuju sekali!”

“Tapi Jit-seng-kau bukan perkumpulan kecil, jangan dianggap mainan.”

“Hahaha, sekarang kungfu yang dimiliki Cau-ji sangat tangguh, tidak setiap

orang dapat mengganggunya, apalagi ada saudara Bwe yang melindungi, aku

sama sekali tak kuatir. Dulu, Yaya pernah memimpin para jago untuk

membasmi Jit-seng-kau, bila hari ini Cau-ji pun dapat membasmi Jit-seng-kau

sekali lagi, jelas prestasi ini merupakan prestasi yang luar biasa.”

“Enso, kau tak perlu kuatir,” janji Bwe Si-jin pula dengan suara nyaring,

“setelah berhasil menyusup ke dalam markas besar Jit-seng-kau, aku dan Cau-ji

hanya akan membasmi Su Kiau-kiau beserta ketiga orang Sumoaynya, aku rasa

tak ada yang perlu dikuatirkan.”

Mendengar perkataan ini, meski dalam hati menyadari persoalan tak bakal

begitu sederhana, namun Si Ciu-ing merasa rikuh untuk membantah, akhirnya

dia hanya berpesan, “Cau-ji, kau harus menuruti perkataan paman Bwe, jangan

sembrono!”

“Aku tahu, ibu!”

Melihat semua orang sudah tak ada usul lain, Bwe Si-jin segera berkata

sambil tertawa tergelak, “Hahaha, silakan kalian lanjutkan mengobrol, aku harus

mengambil kembali tongkat kepala ular itu, karena alat itu sangat penting bagi

penyaruanku nanti.”

Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak dan beranjak pergi.

Raja hewan pun berpesan kepada Cau-ji, “Cau-ji, mulai besok akan kuajarkan

ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat dari Ho Ho-wan kepadamu, dengan

menguasai ilmu pukulan andalannya, penyamaranmu akan semakin sempurna.”

“Yaya, siapa sih Ho-ho-wan (gemar bermain) itu?” Ong Sam-kongcu tertawa

terbahak-bahak. “Hahaha, Cau-ji, dialah gembong iblis yang baru saja kau hajar

hingga hancur lebur badannya, orang she Ho itu punya tangan kiri merah dan

tangan kanan berwarna hitam, karenanya disebut Ho Ho-wan.”

“Ooh, rupanya dia, heran, kenapa mencari nama pun yang aneh-aneh, wah,

sekarang dia benar-benar bisa bermain terus di neraka.”

“Saudara tua Ho Ho-wan mempunyai nama yang lebih menarik lagi,” lanjut si

Raja hewan, “dia bernama Ho Ho-cia (gemar makan).”

“Ho Ho-cia, Ho Ho-wan! Aaah, tahu aku sekarang, waktu masih kecil dulu

mereka berdua pasti kurang makan kurang permainan hingga diberi nama Ho

Ho-cia dan Ho Ho-wan, bukan begitu?”

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Waktu itu kebetulan Bwe Si-jin muncul

kembali sambil membawa tongkat berkepala ular, menyaksikan semua orang

tertawa geli, ia menjadi heran, tegurnya, “He, apa yang sedang kalian

tertawakan?”

“Engkoh Jin,” ujar Go Hoa-ti, “selanjutnya kau adalah Ho Ho-cia sedang Cau-ji

menjadi Ho Ho-wan, jangan lupa untuk makan enak dan bermain terus sampai

puas.”

Mendengar itu Bwe Si-jin pun tertawa terbahak-bahak.

Tujuh hari kemudian, di saat senja menjelang tiba, di sebuah jalan raya yang

terletak sepuluh li di luar kota kuno Tiang-sah, muncul dua orang kakek tua,

mereka tak lain adalah Cau-ji serta Bwe si-jin yang menyamar menjadi sepasang

malaikat bengis dari In-lam.

Selama dua hari berdiam di perkampungan Hay-thian-it-si, bukan saja Cau-ji

telah mempelajari ilmu menyaru muka serta ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat,

bahkan dia pun menguasai semua seluk-beluk organisasi Jit-seng-kau selama

belasan tahun terakhir termasuk semua peraturannya.

Khususnya tentang ilmu silat yang dimiliki Su Kiau-kiau beserta ketiga orang

Sumoaynya, ciri khas mereka serta tabiatnya, boleh dibilang ia sudah hapal di

luar kepala.

Tiba-tiba terdengar Cau-ji berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya,

“Paman, di dalam hutan di depan sana kelihatannya ada lima orang sedang

menyembunyikan diri, benar tidak?”

Bwe si-jin segera pasang telinga, namun kecuali terdengar suara burung yang

berkicau serta hembusan angin malam yang menggoyang ranting pohon, dia

sama sekali tak mendengar suara apapun. Kontan saja pertanyaan itu

membuatnya tertegun.

Benar saja, baru mereka berdua melanjutkan kembali perjalanannya sejauh

beberapa li, tiba-tiba dari balik hutan melompat keluar lima sosok bayangan

manusia.

Begitu muncul, serentak kelima orang itu membentak nyaring, “Setan tua,

berhenti!”

Sekarang Bwe si-jin baru benar-benar merasa kagum dengan kehebatan ilmu

silat yang dimiliki Cau-ji.

Dengan santai mereka berdua segera menghentikan langkahnya, kemudian

ditatapnya kelima orang lelaki bertubuh kekar dan beralis tebal itu sekejap.

Terdengar lelaki yang berdiri paling tengah menghardik, “Jalan ini aku yang

menggali, pepohonan di sini aku pula yang menanam, bila kalian dua orang

setan tua ingin hidup selamat, cepat serahkan uang!”

“Ooh, para pendekar, aku si tua ini tidak membawa uang banyak, kalian ….”

Bwe si-jin segera berlagak gugup dan ketakutan.

“Tutup mulut, tampaknya kau si setan tua sudah bosan hidup, kalau tahu

diri, cepat serahkan semua perbekalan kalian, hmm! Jangan paksa Toaya turun

tangan, jangan salahkan jika kucabut nyawa anjingmu.”

Cau-ji pun berlagak terkejut bercampur gugup, teriaknya pula, “Ohh, jangan,

jangan dirampas uang kami. Kalian bertubuh kekar dan punya ilmu tinggi,

kenapa tidak bekerja secara baik-baik saja mencari uang halal, buat apa kalian

melakukan usaha dagang tanpa modal semacam ini.”

“Sialan, tutup bacotmu setan tua,” lelaki yang lain segera membentak nyaring,

“kau tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan Ciaji (ramalan)

‘semua senang’ (semacam permainan lotre), sekarang baru saja kami berlima

mendapatnya, maka untuk menutup ongkos yang tinggi ketika membeli ciaji itu,

kami ingin minta sokongan dari kalian.”

Selesai berkata, dengan langkah lebar ia segera berjalan mendekat.

Tiba-tiba Bwe si-jin berteriak keras, “Benarkah begitu? Nomor berapa?

Dapatkah aku si orang tua ikut ‘menanam bunga’?”

Lelaki itu kelihatan agak tertegun, kemudian tertawa tergelak.

“Hahaha, maknya! Ternyata kau si setan tua pun ikutan main ‘semua senang’,

maknya! Mana ada makan gratis di siang hari bolong, ingin tidak membayar

uang lewat? Jangan mimpi.”

Habis berkata dia langsung menubruk ke depan.

Kembali Bwe si-jin memutar tongkat kepala ularnya seakan tak bertenaga,

dengan napas ngos-ngosan serunya, “Ingin uang gratis? Huuh, serahkan

nyawamu.”

Dengan gampang lelaki itu mengegos ke samping menghindarkan diri dari

pukulan itu, kemudian sambil menghajar dada Bwe si-jin serunya dingin, “Setan

tua, jangan salahkan kalau aku bertindak keji!”

“Blaaaam!”, pukulan tangan kanannya segera bersarang telak di dada lawan.

Baru saja lelaki itu siap tertawa tergelak, mendadak ia saksikan sesuatu yang

aneh, ternyata telapak tangannya yang menempel di dada lawan sama sekali tak

sanggup ditarik balik, tangan itu seolah menempel jadi satu dengan tubuh

lawan.

Dalam terkejutnya segera dia kerahkan segenap tenaganya untuk meronta.

Siapa tahu, bagaimanapun dia meronta, usahanya selalu gagal, akhirnya dia

pun berteriak keras, “He, setan tua, ilmu hitam apa yang kau gunakan?”

“Hahaha, dasar homo! Masakah dengan dada kerempeng pun langsung

bernapsu, benar-benar lelaki kepala babi.”

Ketika keempat orang lelaki itu menyaksikan rekannya dikendalikan orang,

serentak mereka membentak gusar dan menerjang maju.

Bwe si-jin segera menggetarkan tenaga dalamnya keluar, lelaki yang berada

paling depan seketika menjerit kesakitan, tubuhnya mundur sempoyongan dan

langsung menerjang keempat orang rekannya hingga jatuh bergelimpangan di

tanah.

Dengan sekali sodokan, Bwe si-jin segera menotok roboh kelima orang itu,

kemudian katanya sambil tertawa, “Bukankah kalian senang bermain ‘semua

senang’? Baiklah, biar Lohu ajarkan kepada kalian bagaimana caranya menjadi

kura-kura.”

Sambil berkata tongkatnya disentakkan berulang kali, “Plak, plaak”, segera

muncullah belasan kerat tulang punggung di tubuh orang-orang itu.

Tongkat Bwe si-jin sama sekali tak berhenti bergerak, diiringi jeritan ngeri

kelima orang itu, belasan kerat tulang iga yang menonjol keluar itu segera

mengucurkan darah segar, keadaannya sangat mengerikan.

Setelah membersihkan ujung tongkatnya di punggung seorang lelaki, kembali

Bwe Si-jin berkata, “Kali ini aku ampuni kalian, tapi kalau sampai ketemu lagi di

kemudian hari, akan kusuruh kalian rasakan keadaan yang lebih mengerikan.”

Selesai berkata ia langsung berlalu sambil tertawa terbahak-bahak.

Cau-ji pun sangat puas dengan kejadian itu, sambil tertawa gembira dia ikut

berlalu.

Kelima orang itu tertotok jalan darahnya hingga tak mampu bergerak, biarpun

punggungnya penuh dengan cucuran darah, namun mereka hanya bisa

berbaring di tanah sambil merintih.

Melihat kelima orang begundal itu diberi pelajaran yang setimpal, kebanyakan

penduduk yang lewat di situ merasa ikut gembira.

Tak lama kemudian sampailah Cau-ji berdua di kota Tiang-sah. Kota besar

yang seharusnya ramai orang berlalu-lalang ternyata kini nampak amat sepi,

sekalipun semua toko dibuka lebar-lebar, namun hanya satu dua orang yang

kelihatan di jalanan.

Menyaksikan hal ini Cau-ji pun berseru keheranan.

Kelihatannya Bwe Si-jin sudah pernah menyaksikan keadaan seperti ini, ia

segera menjelaskan, “Lote, dalam satu dua hari mendatang kelihatannya ‘semua

senang’ akan segera dibuka, kini semua orang sedang sibuk membahas nomor

yang bakal keluar, bahkan banyak yang pergi ke orang pintar untuk mencari

Ciaji, mana mungkin mereka berminat makan minum?”

“Sebetulnya ‘semua senang’ itu permainan macam apa? Apa pula yang

dimaksud mencari Ciaji?”

“Hahaha, ayo kita cari rumah makan dulu untuk mengisi perut, selesai

bersantap akan kujelaskan kepadamu.”

Mereka pun masuk ke dalam rumah makan dengan merek Ka-siang-lau.

Naik ke atas loteng, tanpa menunggu pelayanan dari sang pelayan mereka

langsung mencari meja dekat jendela.

Seorang pelayan segera muncul dengan kemalas-malasan, membersihkan

meja lalu bertanya mau pesan apa.

Dengan hati mendongkol Cau-ji segera menegur, “He, pelayan, kau sedang

sakit?”

Pelayan itu melotot sekejap, tapi kuatir menyalahi tamunya, maka dia hanya

mendengus.

“Lote, tak usah gubris orang itu,” kata Bwe Si-jin cepat, “kelihatannya dia

sudah kelewat banyak membahas ramalan nomor hingga kena penyakit napas.”

“Kau ….”teriak pelayan itu jengkel.

Bwe Si-jin tertawa ewa, tiba-tiba sambil menuding kepala ular di ujung

tongkatnya dia berkata, “He, pelayan, tahukah kau, dia berada di urutan ke

berapa dari capji shio?”

“Huuuh, tentu saja ular menempati urutan keenam, anak kecil pun tahu!”

“Hahaha, ternyata kau memang pintar, nah, bahas saja nomornya dari situ.”

Pelayan itu berpikir sebentar, mendadak teriaknya, “Ya ampun, Losianseng,

ternyata kau memang baik hati, kalau aku benar-benar menang pasangan, pasti

akan kutraktir dirimu.”

Selesai bicara dia membungkukkan badan memberi hormat.

“Hahaha, pelayan,” kata Bwe Si-jin lagi sambil tertawa, “semoga kau menang

banyak, nah, sekarang aku mau pesan masakan.”

Bab II. Cau-ji memasuki Jit-seng-kau.

Pelayan yang sudah lama bekerja di rumah makan pasti tahu kalau tamu

yang berkunjung ke rumah makan biasanya terbagi menjadi beberapa jenis, di

antaranya ada dua jenis tamu yang paling susah dihadapi.

Jenis pertama adalah tamu yang kelewat memilih.

Biasanya tamu semacam ini mempunyai satu ciri khas yang sama, mereka

selalu mengeluh terhadap setiap jenis hidangan yang disajikan, kalau bukan

kelewat asin tentu mengeluh kelewat tawar rasanya.

Pokoknya bagi mereka tak ada hidangan yang mencocoki selera.

Jenis kedua adalah jenis manusia yang gemar makan besar, biasanya mereka

akan melahap setiap jenis makanan hingga ludes.

Tamu jenis ini rata-rata suka menggunakan lagu lama, yaitu memanggil sang

Ciangkwe dan memakinya di hadapan orang banyak, mereka selalu mengkritik

hidangan ini kurang anu, hidangan itu kelebihan anu, tujuannya hanya ingin

memamerkan kehebatan pengetahuan mereka tentang masakan.

Biasanya Ciangkwe yang pintar hanya akan membungkukkan badan, berlagak

tertawa dan mengakui kesalahan, asal kau bersikap begitu tanggung tak bakal

ada urusan lagi.

Ada jenis tamu lain yang lebih memusingkan kepala, yaitu tamu yang suka

memilih jenis hidangan secara berlebihan, tamu semacam ini biasanya bukan

untuk mengkritik masakannya tapi ingin mencari sedikit keuntungan dari

keributan yang terjadi.

Tamu semacam ini biasanya gampang diketahui.

Biasanya jurus pembukaan yang mereka gunakan adalah perkataan, “Kalau

kelewat banyak nanti tak habis dimakan, siapkan saja porsi yang paling kecil

untuk setiap jenis hidangan”.

Tapi begitu hidangan sudah tersaji, mereka akan berteriak kalau porsi

hidangannya kelewat sedikit. Ujung-ujungnya mereka pun minta korting

sebesar-besarnya

Ada pula jenis tamu lain yang meski tidak berkunjung setiap hari namun

mendatangkan kesan sangat baik bagi para pelayan.

Kedatangan tamu semacam ini tujuannya bukan minum arak, juga bukan

untuk menikmati hidangan.

Mereka hanya ingin ngobrol dengan teman sambil membuang waktu.

Tamu jenis ini biasanya akan memberikan dua keuntungan besar, pertama,

persen mereka pasti besar dan kedua, kalau pesan hidangan pasti satu meja

penuh, terlepas hidangan itu habis dimakan atau tidak.

Bwe Si-jin adalah jenis tamu semacam ini.

Pelayan itu bukan saja sudah mendapat nomor Ciaji untuk ‘semua senang’

yang bakal dibuka dua hari lagi, bahkan tamunya sangat ramah, tentu saja dia

amat kegirangan.

“Lote, kau senang minum arak jenis apa?” tanya Bwe Si-jin kemudian.

Cau-ji tersenyum sambil menyahut, “Baru pertama kali ini aku berkunjung

kemari, terserah Loko saja, asal bukan arak beras, apapun pasti aku suka.”

“Ooh, kalau soal ini tak perlu Loya kuatirkan,” segera pelayan itu menimpali.

“Baiklah, pelayan, arak apa yang dijagokan rumah makan ini?”

“Tan-nian Pak-kan!”

“Baik, siapkan enam kati arak Tan-nian Pak-kan.”

Begitu mendengar tamunya pesan enam kati arak, pelayan itu segera sadar

gelagat tidak beres, meski dia menyahut namun wajahnya mulai nampak tidak

leluasa.

Arak Tan-nian Pak-kan adalah jenis arak sangat keras, belum pernah ada

orang bisa menghabiskan satu kati arak, tapi kedua orang itu langsung

memesan enam kati arak, memangnya mereka siap minum sampai mabuk

berat?

Kalau tamunya sampai mabuk berat, siapa yang akan membayar

rekeningnya?

Kalau rekening pun tidak terbayar, jangan harap ia bisa mendapat tip dari

tamunya.

Dari perubahan mimik muka pelayan itu, Bwe Si-jin segera mengerti apa yang

sedang dipikirkan, dia sengaja tertawa terbahak-bahak sambil berseru, “Hahaha,

pelayan, enam kati arak, angka enam ini rasanya bagus sekali.”

Tergerak hati pelayan itu, sambil menyahut segera dia berlalu.

Hidangan dengan cepat tersaji.

Pelayan yang cerdik pasti akan berusaha memberi servis yang bagus untuk

tamunya, dia anggap kalau hidangan tersaji dalam waktu singkat maka tamunya

akan sibuk makan dan lupa minum arak.

Sayang dugaannya keliru, biarpun hidangan tersaji dalam waktu singkat

namun kedua orang itu bersantap sangat lambat.

Malah ada beberapa macam hidangan yang sama sekali belum tersentuh.

Waktu yang tersisa nyaris digunakan untuk menenggak arak sebanyak enam

kati itu, akhirnya belum lagi kedua belas macam hidangan termakan

setengahnya, arak yang enam kati beratnya itu sudah ludes tak berbekas.

Di luar dugaan, biarpun enam kati arak sudah habis ditenggak, bukan saja

kedua orang tamunya tidak mabuk, malah wajahnya nampak masih tenang

sekali.

Melihat kehebatan takaran minum tamu-tamunya, beberapa orang pelayan itu

diam-diam menjulurkan lidahnya, baru pertama kati ini mereka saksikan ada

orang sanggup minum arak sebanyak itu tanpa mabuk.

Cara minum tamunya juga sangat istimewa, bukan saja mereka menenggak

arak itu seperti minum air putih, bahkan biarpun sudah meneguk lima enam

cawan pun mereka sama sekali tak menyentuh hidangan yang tersaji.

Kata Cau-ji, “Hidangan angsio ikan ini enak sekali.”

Bwe Si-jin segera mengangkat cawannya sambil menukas, “Jangan, jangan

makan dulu, kita habiskan arak ini lebih dulu.”

Akhirnya dalam waktu singkat mereka sudah memesan enam kati arak lagi.

Tapi dengan cara yang sama kembali arak itu habis ditenggak.

Jangan kan mabuk, paras muka Cau-ji sama sekali tak nampak seperti orang

minum, merah pun tidak.

Pada saat itulah sambil tertawa Bwe Si-jin baru berkata, “Pelayan, kemari,

mari kita bicarakan soal lotere ‘semua senang’ yang akan dibuka di kota Tiangsah.”

Mendengar itu semangat si pelayan segera berkobar kembali, sahutnya, “Loya,

mungkin baru pertama kali ini kau berkunjung kemari? Tahukah anda,

sekarang sudah enam puluh persen penduduk kota yang kecanduan lotere

‘semua senang*!”

“Waah, begitu banyak?” seru Cau-ji sambil meleletkan lidahnya.

“Benar, baik laki maupun perempuan, dari pedagang sampai kaum begundal,

asal orang punya uang, mereka semua kecanduan pasang nomor.”

Kemudian sambil merendahkan suaranya ia menambahkan, “Konon ada juga

Hwesio dan Nikoh yang ikut pasang nomor… hihihihi!”

“Benarkah begitu? Lantas siapa saja yang tidak bermain ‘semua senang’?”

“Orang pemerintahan setiap hari kerjanya hanya menangkap orang yang

berjudi, tentu saja mereka tidak pasang, tapi ada juga di antara mereka yang

memberi uang kepada sanak keluarganya dan minta mereka yang memasangkan

nomor.”

“Selain itu orang persilatan dari aliran lurus serta orang sekolahan ada juga

yang tidak ikut main, bukan saja mereka pantang berjudi, bahkan selalu

membujuk orang lain agar jangan berjudi, benar-benar pekerjaan orang

pengangguran!”

“Tadi kau bilang ada bocah yang ikut pasang nomor?”

“Benar, kalian tahu, seorang bocah berusia delapan tahun, putra Ciangkwe

kita dari gundiknya yang ketiga, dua minggu berselang dengan pasangan satu

tahil perak berhasil meraih keuntungan sebesar seratus tahil perak, betul-betul

bocah itu seorang bocah ajaib, seorang sin-tong!”

“Ohh, benarkah begitu? Bagaimana sih cara mainnya?”

“Loya, permainan ‘semua senang’ di kota Tiang-sah ini dipusatkan di rumah

makan Jit-seng-lau, semua orang yang ingin pasang nomor bisa berkunjung ke

situ, kau boleh memilih angka satu sampai angka sembilan, mau dipilih semua

pun boleh.”

“Setiap tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima, lotere ‘semua senang’

akan dibuka, siang itu akan ada sembilan orang penunggang kuda dengan

sembilan ekor kuda melakukan pertandingan lomba kuda di luar kota sana.

“Setiap kuda diberi nomor berbeda, kuda mana yang mencapai finis duluan,

dialah yang menjadi pemenangnya dan nomor di punggung kuda itulah yang

dianggap sebagai nomor lotere yang keluar.

“Minggu kemarin kuda nomor tujuh yang menang, konon total ada sepuluh

ribu orang lebih yang memasang nomor tujuh, sehingga mereka pun mendapat

keuntungan yang banyak. Cuma rumah makan Jit-seng-lau akan memotong

uang kemenangan mereka sebesar sepuluh persen.”

“Kenapa harus dipotong sepuluh persen?”

“Loya, kau masakah tak tahu, kan banyak orang yang harus bekerja

mengurusi uang pasangan, mengumumkan pemenang dan membayar uang

kemenangan, katanya setiap kali bukaan, mereka butuh beberapa puluh laksa

tahil perak sebagai ongkos.”

“Haah, potongan sepuluh persen? Berapa sih perputaran uang pasangan

setiap kali bukaan?”

“Setiap kali mengumumkan hasil undian, mereka pun melaporkan jumlah

perputaran uang dari pasangan nomor waktu itu, konon mencapai dua juta tahil

lebih, malah minggu lalu sempat mencapai tiga juta tahil, berarti bila nomor

enam yang kupasang benar-benar keluar angkanya, aku bisa meraih

keuntungan tiga juta tahil perak, wouw….”

“Tiga juta tahil, berarti sepuluh persennya tiga ratus ribu tahil,” gumam Cauji,

“taruh kata dipotong ongkos seratus ribu tahil, berarti mereka masih

mengantongi keuntungan dua ratus tahil, jika sebulan ada tiga kali penarikan

berarti mereka mengantungi laba enam ratus ribu tahil perak.”

Bwe Si-jin yang selama ini hanya tersenyum segera berkata, “Bayangkan

sendiri, mana ada pekerjaan di dunia ini yang bisa meraih laba sebesar itu? Ayo,

kita bersulang demi kesuksesan mereka!”

Cau-ji meneguk habis secawan arak, lalu kepada si pelayan tanyanya, “He,

pelayan, kalau memang usaha ini mendatangkan laba besar, kenapa tak ada

orang menyaingi pekerjaan rumah makan Jit-seng-lau?”

Mendengar pertanyaan itu segera si pelayan merendahkan suaranya dengan

setengah berbisik katanya : ” Sttt Loya, perkecil suaramu, kalau sampai

kedengar orang-orang Jit-seng-lau kalian bakal mendapat kesulitan”.

“Memangnya mereka bisa memukuli orang ?”

”Soal ini…. aku aku sendiri kurang jelas, tapi pernah ada mengkritik

pekerjaan mereka, akibatnya nyaris orang itu kehilangan nyawa, dia mesti

beristirahat setengah tahun lebih sebelum dapat berjalan kembali”.

Berkilat sepasang mata Cau-ji mendengar perkataan itu.

Segera Bwe Si-jin berdehem, selanya ”Pelayan, bukankah di kota ini terdapat

beberapa bandar besar ?”

”Soal ini… coba aku hitung dulu, ahhh benar, sebenarnya terdapat tiga puluh

dua orang bandar besar, tapi dalam setengah tahun mereka telah menutup

usahanya secara sukarela, tapi beginipun jauh lebih baik, daripada Ciaji nya

kelewat banyak, yang pasang jadi bingung ”.

”Apa sih Ciaji itu ?” tanya Cau-Ji keheranan.

”Yang dimaksud dengan Ciaji adalah ramalan nomor pasangan yang bakal

keluar ”

“Coba jelaskan.”

”Pada mulanya semua pemasang lomba kuda hanya menganalisa kuda mana

yang lebih kuat dan joki mana yang bisa diandalkan, tapi kemudian orang

merasa dengan cara begitu saja kurang bisa dipercaya.

“Maka orang pun secara diam-diam pergi ke kuil mengambil Ciamsi, angka

Ciamsi itu dipakai sebagai Ciaji, adapula yang pergi ke kuburan mencari ilham

supaya dapat Ciaji, ada yang bertanya pada pohon besar, batu keramat dan lain

sebagainya.

“Malahan ada orang yang pasang nomor berdasarkan mimpi, pokoknya semua

orang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan Ciaji itu!”

“Benar-benar aneh, benar-benar aneh ….” gumam Cau-ji sambil

menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Lote, ayo minum arak dulu,” seru Bwe Si-jin kemudian.

Pada saat itulah mendadak terdengar sang Ciangkwe bangkit berdiri dari

tempat duduknya sembari menyapa dengan nada hormat, “Jit-koh, angin apa

yang membawamu datang kemari? Tak disangka orang terhormat pun mau

berkunjung ke kedai kami.”

Mendengar itu Cau-ji berdua segera berpaling dan menengok ke bawah loteng,

tampak seorang perempuan cantik berbaju merah, berusia tiga puluh tahunan,

bermuka bulat telur, bermata indah dengan pinggang ramping berjalan masuk

ke dalam rumah makan.

Terdengar perempuan itu menegur dengan suara genit, “Yu-ciangkwe, aku

dengar tempat ini kedatangan dua orang tamu agung?”

Sambil berkata matanya melirik ke atas loteng.

“Jit-koh, ada dua orang Loya sedang bersantap di atas, silakan ikut aku ke

atas.”

Dengan ilmu coan-im-jit-bit Bwe Si-jin segera berbisik, “Cau-ji, yang mencari

dagangan sudah datang, perempuan itu adalah seorang Hiocu perkumpulan Jitseng-

kau, kau diam saja, biar aku yang menghadapi perempuan ini!”

Sambil berkata dia mengambil sebatang sumpit dan diletakkan di atas sendok.

Terendus bau harum semerbak berhembus, Jit-koh dengan langkah lemah

gemulai sudah berjalan mendekat.

Dengan sorot matanya yang genit dia melirik Cau-ji berdua, wajahnya

kelihatan agak tertegun, kemudian katanya cepat, “Loya berdua, apakah kalian

datang ke kota Tiang-sah untuk mencari orang?”

Sambil berkata dia melirik sekejap ke arah sumpit di atas sendok itu.

Bwe Si-jin tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, Lohu berdua hanya ingin mencicipi arak di tempat ini yang konon

sangat istimewa, padahal sebentar lagi akan berkunjung ke tempatmu, hahaha!”

“Aku tak percaya,” seru Jit-koh, “kalau bukan orang lagi birahi, mana

mungkin aku datang kemari, mestinya kalian langsung datang mencari aku.”

Sembari berkata dia langsung duduk dalam pangkuan Bwe Si-jin.

“Hahaha, jangan menuduh yang bukan-bukan,” seru Bwe Si-jin sambil

mencium pipi perempuan itu, “hehehe, siapa bilang aku lagi mencari pondokan

di rumah orang?”

Kemudian kepada Ciangkwe itu serunya, “Hahaha, baiklah, Lohu akan pergi

dulu.”

Selesai berkata dia peluk tubuh Jit-koh dan bangkit berdiri.

Ciangkwe itu segera mengembalikan uang yang dibayar sembari berkata

dengan hormat, “Loya, kami sudah merasa terhormat karena Loya berdua sudi

singgah di sini, soal uang ini, silakan disimpan kembali.”

“Hahaha, Jit-koh, pernahkah kau melihat Lohu menyesal keluar duit?”

Segera Jit-koh berseru kepada Ciangkwe itu, “Kalau memang Loya berniat

tulus, simpan saja uang itu.”

Segera Ciangkwe itu mengucapkan terima kasih. Dia membungkukkan

badannya terus hingga ketiga orang tamunya pergi jauh.

Tentu saja ia harus berbuat begitu, sebab ia sadar kalau kedua orang kakek

itu bukan orang yang luar biasa, tak mungkin Jit-koh sebagai pemilik rumah

makan Jit-seng-lau sudi membiarkan dirinya berada dalam pelukan kakek itu.

0oo0

Di bawah perhatian banyak orang, Cau-ji berdua dibimbing Jit-koh langsung

menuju ke rumah makan Jit-seng-lau.

Begitu memasuki ruangan rumah makan itu, mereka berdua langsung

terperangah dibuatnya.

Perkampungan Hay-thian-it-si sudah terhitung sebuah perkampungan

mewah, tapi dibandingkan dengan Jit-seng-lau, ternyata segala sesuatunya

masih kalah jauh.

Bwe Si-jin memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya

sambil tertawa, “Sayangku, ternyata kau pandai menikmati hidup, markas besar

pun tidak semewah dan semegah ini, hehehe…”

“Tongcu …” dengan ketakutan Jit-koh berbisik.

“Sayangku, hati-hati di balik dinding ada telinga!”

Mendengar bisikan itu, segera Jit-koh melirik sekejap ke arah belasan orang

pecandu ‘semua senang’ yang sedang membahas nomor serta beberapa orang

pegawainya, diam-diam ia terkesiap.

Kembali Bwe Si-jin berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Coba kau

perhatikan dua orang yang berada di sudut kanan!”

Jit-koh berpaling dan keningnya bekernyit

la lihat ada dua orang lelaki bermata tajam berhidung bengkok dan

mengenakan baju hijau sedang celingukan kian kemari, ternyata kedua orang ini

tak lain adalah Ho-ha-siang-tau, sepasang pencoleng kenamaan dalam tiga

puluh tahun terakhir.

Jelas kehadiran mereka mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Sebenarnya sepasang pencoleng itupun terkesiap ketika melihat sepasang

malaikat bengis dari In-lam masuk ke dalam rumah makan, mereka semakin

terkesiap lagi setelah mendengar Jit-koh menyebut Ho Ho-wan sebagai Tongcu.

Menyaksikan keadaan ini, Jit-koh segera mengambil keputusan untuk

menghabisi nyawa mereka.

Tapi Bwe Si-jin segera berbisik lagi, “Sementara waktu jangan ganggu mereka

dulu, bagaimanapun mereka pasti akan datang mengantar diri!”

Jit-koh manggut-manggut, maka dia pun mengajak kedua orang tamunya

masuk ke ruang belakang.

Baru saja Cau-ji berdua mengambil tempat duduk di bangku berlapis kulit

yang ada di ruang tengah, mendadak bangku itu secara otomatis bergerak

sendiri ke kiri kanan, atas dan bawah.

Kontan Bwe Si-jin tertawa tergelak, serunya, “He, sayang, darimana kau

dapatkan kursi istimewa macam ini?”

Sambil menempelkan sepasang payudaranya di lengan kanan Bwe Si-jin yang

sedang memegang sandaran bangku, sahut Im Jit-koh manja, “Tongcu, bangku

ini dibuat secara khusus oleh seorang ahli tukang kayu, memang khusus

disediakan untuk para Toaya.”

“Hahaha, dapat dipastikan bangku ini sudah terlalu sering dikotori oleh cairan

busuk mereka, lebih baik Lohu cepat berdiri saja.”

Sambil berkata dia pun bergaya akan bangkit berdiri.

“Aaah, Tongcu jahat, lagi-lagi kau sedang menggoda aku,” seru Jit-koh manja.

Selesai berkata dia segera mementang kakinya lebar-lebar dan duduk di atas

pangkuan Bwe Si-jin, sementara tangannya memukuli dadanya dengan

perlahan, tubuh bagian bawahnya mulai bergoyang ke sana kemari menggosokgosokkan

bagian rahasianya di atas ‘barang’ milik lelaki itu.

Tanpa sungkan Bwe Si-jin mulai meremas-remas sepasang payudaranya yang

masih tersembunyi di balik pakaian, katanya lagi sambil tertawa terkekeh,

“Sayangku, kenapa sih makin hari kau nampak semakin menggemaskan? Coba

lihat sepasang tetekmu, woouw, makin lama makin montok dan besar.”

“Hihihi, kau memang tega sekali, sejak memerawani aku tempo hari, sampai

sekarang belum pernah menjamah diriku lagi!”

“Kau jangan salahkan Lohu, belakangan aku memang kelewat sibuk.”

“Hmm, aku tidak percaya, masa urusan partai mesti merepotkan kau seorang?

Kau sedang repot dengan urusan dinas atau sedang sibuk memerawani gadisgadis

berbau kencur?”

“Hahaha, tampaknya kau memang sangat memahami seleraku.”

Seraya berkata dia mulai menelanjangi pakaian Im Jit-koh, kemudian mulai

menghisap puting susunya yang kanan dan menggigitnya perlahan.

“Aaaaah… aaaah … Tongcu, kenapa mesti terburu napsu … aduh … geli…

jangan begitu dong ….”

Cau-ji yang menonton dari samping, pada mulanya menonton saja dengan

perasaan tertarik, tapi kemudian setelah melihat kedua orang itu mulai berbugil

ria kemudian langsung bertarung sengit di atas bangku, tak tahan jantungnya

ikut berdebar keras.

Tampak Im Jit-koh memeluk punggung Bwe Si-jin dengan kuat, tubuh bagian

bawahnya menggenjot terus ke atas dan ke bawah.

“Plookk, ploook … ngiik … nggiik” suara beradunya daging berkumandang

tiada hentinya.

Bangku itu memang dirancang secara khusus dan istimewa, sekalipun Im Jitkoh

bergoyang dan menggenjotkan badannya kuat-kuat, namun bangku itu

hanya bergoyang kian kemari, bukan saja sama sekali tak roboh, malah

menambah kenikmatan.

Bwe Si-jin tertawa terkekeh-kekeh berulang kali, sambil tangannya meremas

sepasang payudara perempuan itu, serunya, “Sayangku, kau jangan biarkan Hotongcu

menonton sambil gigit jari, coba carikan beberapa gadis perawan untuk

suguhannya!”

“Hahaha, Ho-tongcu, maafkan kelancangan hamba, sebab kau selalu tampil

serius, aku sangka kau orang tua tak suka main cewek, harap tunggu sebentar.”

Sambil berkata dia segera menarik seutas tali yang ada di depan kursi

beberapa kali.

“Sayangku,” kembali Bwe Si-jin berkata, “dulu lantaran harus melatih sejenis

ilmu sakti, maka Ho-tongcu tak suka main perempuan, tapi sekarang ilmunya

telah selesai dilatih, dia justru suka sekali perempuan muda.”

Berkilat sepasang mata Im Jit-koh, serunya kegirangan, “Benarkah itu? Waah,

kelihatannya harus kupanggil Siau-si untuk melayaninya!”

Pada saat itulah pintu kamar diketuk orang, lalu terdengar seseorang berseru

dengan suara merdu, “Jit-koh, Siau-si datang menunggu perintah.”

“Masuklah!”

Ketika pintu dibuka, muncullah seorang gadis berbaju putih bergaun hijau

yang memiliki wajah cantik, dia berusia sekitar delapan belas tahun, matanya

bening, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan badannya sangat ramping.

“Siau-si menjumpai Loya berdua,” kata gadis itu kemudian.

Bwe Si-jin melirik gadis itu sekejap, kemudian serunya sambil tertawa,

“Sayangku, tak kusangka kau masih mempunyai kartu as, aku lihat Siau-si

masih perawan ting-ting?”

“Hahaha, Loya, matamu memang luar biasa tajamnya, sekarang Siau-si sudah

menempati ranking paling top di kota ini, selaput perawannya berharga lima ribu

tahil emas murni, tapi aku memang enggan melepas dengan harga segitu,

karenanya lebih baik kusuguhkan untuk Toaya berdua.”

“Hmmmm, sayang, pandai amat kau merayu.”

“Loya, kau jangan menuduh aku, sejak kalian meninggalkan bukit Wu-san,

semua orang percaya kalau suatu saat nanti kalian pasti akan melakukan

pengawasan di wilayah ini, maka kami tolak semua tawaran orang untuk

membuka perawannya, karena aku memang sudah menyiapkan suguhan kepada

Loya.”

“Baik, baiklah, akan kucatat dalam hati kebaikanmu ini.”

“Terima kasih Tongcu!”

Kemudian dengan suara setengah berbisik tambahnya, “Tongcu, bagaimana

kalau kau membeli sebuah villa di kota Tiang-sah? Dengan memiliki tempat

sendiri, setiap saat kau bisa bersantai di sini.”

Bwe Si-jin segera berlagak termenung, seakan-akan dia sedang

mempertimbangkan sesuatu.

“Tongcu tak usah kuatir,” kembali Im Jit-koh membujuk, “tak bakal ada yang

membocorkan rahasia ini, bukan hanya itu, selama aku masih buka usaha di

kota ini, kau orang tua pun akan mendapat uang saku sebesar lima puluh laksa

tahil perak setiap bulannya, bagaimana? Setuju?”

Tergerak pikiran Bwe Si-jin setelah mendengar ucapan itu, katanya kemudian

dengan suara dalam, “Sayangku, kau harus tahu, ada banyak orang dari markas

besar yang ingin mencicipi juga ladang gemuk di tempat ini!”

Lekas Im Jit-koh merayu, “Loya, asal kau buka harga, aku tak akan

membantah sepatah kata pun.”

“Hmmm, jadi kebaikan itu berlaku untuk Lohu berdua?”

“Hahaha, tentu saja, tentu saja, kalian adalah idolaku, tentu saja Ho-tongcu

pun akan memperoleh pelayanan yang sama.”

Ketika Siau-si yang berdiri di samping mendengar sebutan ‘Tongcu’, tubuhnya

nampak gemetar keras, sepasang matanya berkilat tajam, tapi hanya sekejap

kemudian ia sudah pulih kembali dengan mimik wajah semula.

Dari gerak-geriknya, besar kemungkinan gadis ini memiliki ilmu silat.

Waktu itu sebenarnya Cau-ji sedang memperhatikan gadis itu, bahkan sedang

membuat perbandingan antara gadis itu dengan Jin-ji, oleh sebab itu perubahan

wajah nona itu segera terlihat pula olehnya, hanya saja tidak sampai diungkap.

Dalam pada itu Bwe Si-jin telah berseru lagi dengan lagaknya yang dibuatbuat,

“Sayangku, aku lihat ‘semua senang’ sedang menggila di kota ini.”

“Bagaimana kalau sepuluh laksa tahil setiap bulannya?” teriak Im Jit-koh

sambil mengertak gigi.

Mendengar jumlah angka yang begitu fantastis, hampir saja Cau-ji berteriak

keras.

Setiap bulan sepuluh laksa tahil perak, sebuah jumlah pemasukan yang luar

biasa.

Tiba-tiba tubuh Siau-si gemetar lagi, bahkan kali ini gemetar sangat keras.

Bwe Si-jin sendiri meski terkejut bercampur girang, namun lebih jauh dia

segera menghardik dengan nada berat, “Cepat laporkan situasi yang sebenarnya

di tempat ini!”

Im Jit-koh sangat ketakutan, dia sadar kedua orang Tongcu ini selain berhati

buas dan telengas, sama sekali tak kenal arti rikuh.

Cepat dia melompat turun dari tubuh Bwe Si-jin dan berlutut di tanah sambil

berseru dengan gemetar, “Tongcu, ampuni jiwaku!”

Siau-si pun ikut-ikutan berlutut ke tanah.

Melihat perempuan itu ketakutan setengah mati, kembali Bwe Si-jin tertawa

tergelak, “Hahaha, jangan takut, aku hanya ingin tahu apakah kau sanggup

membayar uang sogokan itu atau tidak, ayo, cepat berdiri.”

Lekas Im Jit-koh menyahut dan bangkit berdiri, kemudian ia melapor, “Tongcu

berdua, dewasa ini setiap tiga periode pembukaan dalam sebulannya,

pendapatan kami mencapai tujuh juta tahil perak.

“Kecuali untuk membayar pengeluaran rutin kantor cabang sebesar dua juta

tahil, kemudian dipotong ongkos untuk penyelenggaraan lomba kuda dan uang

sogok bagi kalangan pemerintah, sisanya lebih kurang empat juta tahil perak.

“Oleh sebab itu hamba berniat menyerahkan dua juta tahil perak untuk

Tongcu berdua, tapi bila Tongcu anggap jumlah itu masih kurang, aku bersedia

menambah lagi!”

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau perkumpulan Jit-seng-kau mempunyai

tambang emas sehebat itu, segera ujarnya sambil tertawa, “Cukup, cukup! Kau

hanya mendapat dua juta tahil perak, rasanya Lohu berdua tak boleh kelewat

tamak.”

Dengan penuh kegirangan Im Jit-koh segera menjura berulang kali, gara-gara

gerakannya itu, sepasang payudaranya yang menongol keluar pun ikut

bergoncang keras.

Cau-ji yang menyaksikan itu menjadi degdegan, tangannya terasa gatal sekali,

ingin segera maju menubruk dan meremas payudara itu.

Bukan cuma payudaranya, yang lebih merangsang lagi adalah gua kecil

berwarna merah yang tersembunyi di balik hutan belukar nan hitam, bagian itu

benar-benar membuat Cau-ji merasa jantungnya berdebar keras, bahkan

tombaknya langsung berdiri tegak.

Melihat itu Bwe Si-jin segera berseru, “Sayangku, cepat suruh Siau-si

mengajak Ho-tongcu beristirahat di kamarnya.”

Sambil tertawa cekikikan Im Jit-koh menghampiri Siau-si dan membisikkan

sesuatu di telinganya, kemudian kepada Cau-ji katanya, “Tongcu, Siau-si masih

muda dan tidak berpengalaman, harap kau banyak memberi petunjuk

kepadanya.”

“Tak usah kuatir,” jawab Cau-ji hambar, “besok kau pasti akan menjumpai

Siau-si yang tersenyum terus.”

Sambil berkata ia segera merangkul Siau-si dan melangkah keluar dari situ.

Sebenarnya Bwe Si-jin kuatir kalau Cau-ji ‘demam panggung’, tapi melihat

sikapnya yang cukup dewasa, ia pun lega.

Kepada Im Jit-koh serunya kemudian, “Sayangku, ayo, kita lanjutkan

pertarungan.”

Sambil tertawa Im Jit-koh segera melompat naik ke dalam pangkuannya.

“Cruuuppp!”, begitu dia melompat, ujung tombak yang tegang keras seketika

menghujam ke dalam liang surganya hingga tertelan seakar-akamya.

“Aduuh!” tak tahan perempuan itu menjerit kesakitan.

Dengan kaget Siau-si berpaling.

Cau-ji segera berseru dengan suara dingin, “Rasakan kalau tak bisa menahan

diri, kalau sudah bernapsu pun mesti bisa mengendalikan diri.”

Bwe Si-jin ikut tertawa tergelak.

“Sayangku, jangan terburu napsu, kalau sampai terluka bisa berabe.”

“Loya, aku tidak menyangka kalau ‘anu’mu begitu panjang,” kata Im Jit-koh

sambil menjulurkan lidahnya, “sudah tentu milikku jadi kesakitan karena

terbentur sampai ke dasarnya, kau malah menertawakan aku.”

“Hahaha, tahu rasa sekarang!” sambil berkata dia peluk pinggulnya dengan

kuat, lalu menekannya ke bawah lebih keras sehingga tombaknya benar-benar

terbenam hingga ke dasar.

“Aaaah,” sekali lagi Jit-koh menjerit kesakitan, saking pedihnya, air mata

sampai bercucuran membasahi pipinya.

Kalau dilihat dari tampangnya, kelihatan kalau kali ini dia benar-benar

kesakitan.

Melihat perempuan itu menjerit kesakitan, Bwe Si-jin bertambah napsu,

sambil tertawa tergelak dia melanjutkan tekanannya ke atas.

Kontan saja Im Jit-koh menjerit kesakitan, sambil berulang kali mengaduh,

peluh dingin makin deras membasahi tubuhnya.

Cau-ji tahu paman Bwe sedang memberi kisikan kepadanya agar bersikap

buas dan sekasar sepasang malaikat dari In-lam.

Maka sambil mencolek pinggul Siau-si, dia pun ikut tertawa seram.

Waktu itu Siau-si sedang berdiri tertegun, dia tak menyangka Jit-koh yang

terkenal jalang dan sangat berpengalaman dalam hubungan badan pun akan

menjerit kesakitan setelah ‘dinaiki’ Tongcu ini, cubitan yang mendadak kontan

membuatnya menjerit keras.

Sambil menahan perasaannya Cau-ji kembali berseru, “Ayo, jalan!”

Dengan air mata bercucuran dan menundukkan kepala rendah-rendah Siau-si

menyahut dan berjalan meninggalkan ruangan.

Diam-diam Bwe Si-jin manggut-manggut, teriaknya cepat, “Aduh, sayangku,

begitu baru nikmat rasanya!”

“Ya, memang nikmat, nikmat sekali,” sahut Im Jit-koh sambil menahan rasa

sakit, “Loya, aku lihat tombakmu makin hari makin bertambah panjang saja.”

“Hehehe, selama beberapa tahun terakhir ini kau sudah terbiasa hidup

makmur di sini, tentu saja kau tak bakal tahan dengan barangku, begini saja,

biar aku cari perempuan lain untuk menggantikan dirimu.”

“Jangan, jangan,” lekas Im Jit-koh berseru, wajahnya berubah hebat, “hamba

pasti dapat memuaskan napsumu!”

Bwe Si-jin meletakkan sepasang tangannya di sisi bangku, kemudian sambil

memejamkan mata, ia tertawa cabul tiada hentinya.

Segera Im Jit-koh menekan sebuah tombol di sisi kanan bangkunya,

“Kraaaak!”, bangku itu segera berubah menjadi sebuah pembaringan, Im Jit-koh

pun mulai mempraktekkan berbagai macam teknik senggama untuk memuaskan

napsu lelaki itu.

Bwe Si-jin merasakan juga betapa empuk dan nyamannya pembaringan itu,

selain lentur juga hebat.

Maka mengikuti gerakan tubuh Im Jit-koh, tombaknya berulang kali menusuk

hingga mencapai ke dasar liang perempuan itu.

Kenikmatan yang berbeda-beda membuat dia harus mengagumi bahwa

perempuan ini memang amat canggih dalam teknik bermain cinta.

Tanpa sadar sekulum senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya.

Melihat itu, diam-diam Im Jit-koh menghembuskan napas lega, dia pun

melanjutkan kembali berbagai gayanya, berusaha memuaskan lawannya.

Tak selang satu jam kemudian, Bwe Si-jin merasakan tubuh bagian bawahnya

sudah basah kuyup, liang surga milik perempuan itupun mulai gemetar sangat

keras, ia tahu perempuan itu sudah hampir mencapai puncaknya.

Dia memang berniat mengendalikan perkumpulan Jit-seng-kau, terhadap

tingkah laku anak buahnya yang jalang dan porno, ia memang berniat untuk

menertibkan, maka untuk itu dia ingin menaklukkan dulu perempuan itu.

Tiba-tiba ia membalik badannya, setelah menaikkan sepasang kaki

perempuan itu di atas bahu sendiri, dia mulai memainkan tombaknya

melancarkan serangkaian tusukan berantai.

“Plook, ploook”, diiringi suara gesekan nyaring, terdengar dengus napas Im Jitkoh

yang mulai tersengal dan jeritan serta rintihan yang menggoda hati.

Bwe Si-jin tertawa seram, ujung tombaknya mulai menggesek di dalam liang

surga dengan kuat.

“Aaaah … aaaah … aduh … sakit… aku … Loya… aku … aku tak tahan …

aduh..”

“Hehehe…”

“Aaah … aaaah … ahhh …”

Di tengah jeritan keras, akhirnya perempuan itu mencapai puncaknya.

Bwe Si-jin segera menggunakan teknik ‘menghisap’ dan mulai menyedot inti

sari kekuatan tubuh perempuan itu.

Im Jit-koh segera merasakan liang surganya kaku dan kesemutan, dia tak

bisa mengendalikan diri lagi, cairan dalam liang senggamanya segera mengalir

keluar dengan sangat deras.

Perempuan itu segera sadar kalau sang Tongcu sedang menghisap tenaga

negatip tubuhnya, dengan ketakutan dan nada gemetar segera rengeknya,

“Tongcu… ampun… ampun…”

Untuk sesaat Bwe Si-jin menghentikan hisapan-nya, dengan nada seram

ujarnya, “Sayangku, sekarang laporkan semua perbuatan yang pernah kau

lakukan selama beberapa tahun terakhir ini.”

Melihat keselamatan jiwanya sudah berada dalam cengkeraman ‘tombak’ milik

sang Tongcu, dia tak berani berkutik lagi, mengira semua perbuatan busuknya

sudah terbongkar maka secara jujur dia mengakui semua perbuatannya.

Bwe Si-jin hanya mendengarkan tanpa bicara. Tapi makin didengar, ia merasa

hatinya semakin bergidik, pikirnya, “Tak kusangka pengaruh Su Kiau-kiau

sudah berkembang menjadi begitu besar dan kuat, untung perbuatan busuknya

keburu ketahuan, kalau tidak, sebuah bencana besar pasti akan melanda dunia

persilatan.”

Selesai melakukan pengakuan dosa, dengan suara gemetar kembali Im Jit-koh

merengek, “Tongcu, ampunilah jiwaku!”

“Hmm! Nyalimu benar-benar amat besar, siapa sih yang menjadi ‘backing’mu

selama ini?”

“Soal ini….”

“Hmm, kau sudah bosan hidup?”

“Tongcu, ampun … ampun ….” teriak Im Jit-koh, “yang mendukungku selama

ini adalah Biau-hukaucu!”

“Apa? Dia? Kenapa dia berbuat begitu?” tanya Bwe Si-jin keheranan.

“Hamba sendiri pun tak tahu, hamba hanya tahu melaksanakan semua

perintahnya, sebab tubuh hamba sudah keracunan dan setiap tahun butuh

menelan sebutir pil penawar racun darinya, bila aku tidak memperoleh pil

penawar itu, maka peredaran darahku akan mengalir terbalik, akibatnya mati

tak bisa hidup pun susah.”

“Ooh, rupanya kau sudah menelan pil Si-sim-wan (pil penghancur hati), tak

kusangka dia masih menggunakan racun semacam ini untuk mencelakai orang,

apakah dia ada perintah lain yang harus kau laksanakan?”

“Dulu tidak ada, tapi sejak sebulan berselang, dia perintahkan aku untuk

mengawasi gerak-gerik Giok-long-kun Bwe Si-jin!”

“Kenapa?” teriak Bwe Si-jin tak tahan.

“Tongcu, dia sama sekali tidak mengemukakan alasannya!”

Kini pikiran Bwe Si-jin menjadi kalut, dia segera bangkit dari pembaringan

dan duduk di depan meja sambil termenung.

Ketika Im Jit-koh menyaksikan ‘tombak panjang’ miliknya masih berdiri tegak,

lekas ia berjongkok dan memasukkan tombak itu ke dalam mulutnya kemudian

mulai menghisapnya perlahan-lahan.

Kontan Bwe Si-jin merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia tahu perempuan

itu sedang berusaha mengambil hatinya, maka dia biarkan perempuan itu

menghisap tombaknya dengan leluasa.

“Jit-koh!” ujarnya kemudian, “hampir saja Lohu salah sangka terhadapmu,

harap kau jangan marah.”

Dengan rasa terharu Im Jit-koh mendongakkan kepalanya.

“Tongcu,” katanya, “hamba tahu kalau selama ini telah berbuat salah, asal

kau dapat memaklumi, hamba pun merasa berterima kasih sekali.”

Selesai berkata, dia melanjutkan hisapannya.

Sembari membelai rambutnya dan meremas puting susunya, Bwe Si-jin

memejamkan mata sambil menikmati hisapan itu, sementara otaknya pun mulai

berputar, merencanakan langkah berikut.

0oo0

Cau-ji telah diajak Siau-si memasuki sebuah ruang kamar, ia lihat di depan

pembaringan tersedia sebuah bangku yang aneh sekali bentuknya, tanpa terasa

ia berseru tertahan.

Dengan lirih Siau-si segera menjelaskan, “Loya, bangku itu dinamakan Hapkeh-

huan (seluruh keluarga gembira), sebentar budak akan memanggil beberapa

orang saudara untuk mempraktekkannya!”

Sambil berkata dia merangkul Cau-ji untuk naik ke atas pembaringan.

Dengan tangan gemetar dia siap membantu Cau-ji melepas pakaian, tiba-tiba

pemuda itu berseru dengan suara dalam, “Coba panggil beberapa orang lagi!*

“Baik!”

Memandang bayangan tubuhnya yang indah, kembali Cau-ji berpikir, “Tak

kusangka gadis cantik yang begitu anggun ternyata anggota dari Jit-seng-kau,

Hmm! Tunggu saja, sebentar akan kuberi pelajaran kepadamu.”

Sejak tahu paman Bwe pernah disiksa oleh Jit-seng-kau, Cau-ji amat

membenci setiap anggota perkumpulan itu, dia berhasrat akan melenyapkan

perkumpulan itu hingga ke akar-akarnya.

Tak lama kemudian Siau-si sudah muncul kembali dengan membawa dua

belas orang gadis berusia belia.

Cau-ji hanya merasakan harum semerbak berhembus, matanya menjadi

terang dan dua belas orang gadis cantik sudah berdiri berjajar di depan pembaringan.

Satu per satu Cau-ji memperhatikan kedua belas gadis itu, terlihat olehnya

sepuluh orang pertama berdandan menor dan bertubuh ramping menggiurkan,

hanya ada seorang gadis terakhir yang berdandan sederhana berdiri di samping

Siau-si.

Melihat itu, dengan perasaan keheranan ia pun berseru, “Ayo, telanjang

semua!”

Sepuluh orang gadis yang pertama segera tertawa cekikikan, dalam waktu

singkat mereka telah melepas seluruh pakaian yang dikenakan.

Kini tinggal Siau-si dan gadis terakhir yang masih berdiri dengan wajah

sangsi.

Cau-ji mengira kedua orang ini jual mahal, hawa amarahnya kontan berkobar,

kembali bentaknya, “Ayo, telanjang!”

Dua orang gadis itu saling bertukar pandang sekejap, akhirnya sambil

menggigit bibir dan menundukkan kepala, perlahan-lahan mereka melepas

pakaian yang dikenakan.

Waktu itu kesepuluh orang gadis lainnya sudah selesai bertelanjang ria,

mereka sedang menggoda Cau-ji agar terangsang.

Kepada mereka Cau-ji segera membentak, “Cepat ke sana dan bantu mereka

melepas seluruh pakaian yang dikenakan.”

Di waktu biasa, kesepuluh orang gadis itu sudah merasa muak dengan

tingkah laku Siau-si dan Siau-bun yang dianggap sok suci, mendapat perintah

itu, serentak mereka menyerbu.

Dalam gelisah Siau-si dan Siau-bun segera menjejakkan kakinya dan

menyelinap ke belakang bangku.

Cau-ji tidak menyangka kalau kedua orang gadis itu memiliki gerakan tubuh

yang sedemikian cepat, ia segera melompat bangun dari tempat duduknya

sambil menghardik, “Berhenti!”

Betapa dahsyat dan nyaringnya suara bentakan itu, seketika para gadis

merasa jantungnya berdebar dan tubuhnya gemetar keras, tanpa sadar serentak

mereka menghentikan langkahnya.

Siau-si dan Siau-bun meski tak sampai gemetar, diam-diam mereka terkesiap

juga oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki iblis tua itu, tanpa terasa

secara diam-diam mereka menghimpun tenaga dalamnya untuk melindungi diri.

“Kalian mau telanjang tidak?” kembali Cau-ji mengancam.

Baru saja Siau-bun akan bersuara, Siau-si sudah bergerak cepat dengan

melepas semua pakaian yang dikenakan, dalam waktu singkat ia sudah dalam

keadaan telanjang bulat.

Siau-bun menjadi gelisah, segera serunya dengan nada gemetar, “Cici, kau….”

Siau-si sama sekali tidak memberikan reaksi, dia hanya berkata, “Ayo, cepat

lepas pakaianmu!”

Kemudian ia sendiri berjalan menuju ke dalam rombongan.

Dengan menahan air mata yang nyaris bercucuran, Siau-bun melepas seluruh

pakaian yang dikenakan, lalu dalam keadaan telanjang dia berdiri di samping

Siau-si.

Cau-ji mendengus dingin, dia berjalan menuju ke depan gadis pertama, lalu

dengan tangannya ia remas sepasang payudaranya dan merogoh tubuh bagian

bawahnya, setelah dipermainkan sejenak, serunya dengan suara dalam, “Sana,

berdiri di samping!”

“Baik!”

Setelah menyingkirkan tujuh orang gadis ke samping, dia memilih tiga orang

gadis untuk duduk di atas bangku ‘seluruh keluarga senang’, sementara dia

sendiri berdiri di hadapan Siau-si dan mulai menatap setiap bagian tubuhnya

dengan seksama.

Dimulai dari rambutnya yang lembut, matanya yang indah, hidungnya yang

mancung, bibirnya yang mungil, terus turun ke bawah ….

Tatkala menatap sepasang payudaranya yang tinggi mendongak, pemuda itu

mengawasinya tak berkedip, seolah-olah sangat menikmati keindahan buah

dada gadis itu.

Siau-si diam-diam menggigit bibir menahan rasa gusar, sedih dan malunya, ia

sama sekali tak bergerak dan membiarkan tubuhnya dinikmati iblis tua itu.

Cau-ji memang berniat mempermalukan kedua orang itu, maka kembali dia

berseru, “Sekarang rentangkan sepasang kakimu lebar-lebar!”

Sambil berkata dia pun berbaring di atas tanah sambil menikmati tubuh

bagian bawahnya.

Sekujur badan Siau-si gemetar keras, tapi dia masih berusaha menahan diri.

Berbeda dengan Siau-bun, sejak awal dia sudah tak kuasa menahan diri,

khususnya setelah menyaksikan kakaknya dipermalukan orang, coba dia tidak

berusaha keras menahan diri, mungkin sejak tadi ia sudah maju ke depan dan

menginjak tubuh iblis tua itu. “Ehmm, barang bagus!” puji Cau-ji kemudian.

Tidak kelihatan ia menggunakan tenaga apapun, tahu-tahu tubuh lelaki itu

sudah bangkit berdiri.

Baik Siau-si maupun Siau-bun, mereka berdua sama-sama memiliki kungfu

yang cukup hebat, mereka sadar, berdiri secara perlahan-lahan jauh lebih sulit

ketimbang berdiri dengan gerakan cepat, tak urung tercekat hatinya setelah

melihat demonstrasi kepandaian itu.

Dengan berlagak seakan-akan tidak memperhatikan soal itu, Cau-ji sengaja

berjalan menuju ke depan Siau-bun, lalu secara tiba-tiba ia peluk tubuh gadis

itu dan menciumnya secara brutal.

Bagi Siau-bun, ciuman itu merupakan ciuman pertamanya.

Dia malu, gusar bercampur gelisah, baru saja tangan kanannya diayunkan

siap menampar wajah lawan, lekas Siau-si menarik lengannya.

Cau-ji menyaksikan semua gerakan itu, tapi dia berlagak seolah tidak tahu,

bahkan melanjutkan ciuman brutalnya.

Dengan kemampuan ilmu silat yang dimiliki Cau-ji sekarang, apalagi dia

memang sudah siap mencium lawannya, kontan saja Siau-bun dibuat kelabakan

setengah mati.

Pertama, karena kejadian itu datang secara tiba-tiba, kedua, karena kungfu

yang dimiliki Siau-bun memang selisih jauh, tak ampun gadis ini nyaris semaput

tak bisa bernapas.

Melihat seluruh tubuh adiknya gemetar keras, Siau-si hanya bisa

memejamkan matanya, tangan kanan yang sudah menyiapkan tenaga serangan

pun segera dikendorkan kembali.

Dengan suara gemetar lekas teriaknya, “Tongcu, adikku… dia…”

Cau-ji melepaskan ciumannya, mendorong tubuh Siau-bun ke arah Siau-si,

lalu serunya keras, “Sekarang coba kalian praktekkan bangku ‘satu keluarga

senang’ itu!”

Tiga orang gadis yang duduk di bangku itu segera menyahut dan menekan

sebuah tombol di sisi bangku.

“Kraaak, kraaaak, kraaak”, tiga buah bangku yang semula bersatu menjadi

sebuah bangku kulit, kini telah berputar ke arah berlawanan, bahkan selisih

tinggi bangku pun mencapai setengah meter lebih.

Tampak gadis yang duduk di sebelah tengah mulai menggunakan lidahnya

menjilati liang senggama milik gadis di depannya, sementara liang senggama

miliknya dijilati oleh gadis yang berada di belakangnya.

Bukan hanya begitu, dari samping mereka terdapat pula dua orang gadis yang

masing-masing duduk di bangku di sisinya dan mulai menghisap serta

mempermainkan sepasang buah dada milik gadis itu, sementara gadis yang lain

ikut menjilati liang senggama milik gadis yang terakhir.

Tak lama pertunjukkan itu berlangsung, kembali ada dua orang gadis

bergabung ke dalam rombongan itu dan menempelkan tubuhnya, mereka

memperagakan gaya sepasang manusia yang sedang berhubungan intim.

Belum pernah Cau-ji saksikan pertunjukkan maut semacam ini, untuk

beberapa saat dia hanya duduk tertegun.

Sementara itu Siau-bun sudah ditolong Siau-si dan mulai sadar kembali,

ketika ia saksikan si iblis tua sedang asyik menonton pertunjukan ‘seluruh

keluarga gembira’, segera bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Cici, aku

sudah tak sanggup menahan diri!”

“Adikku, ilmu silat yang dimiliki iblis tua itu sangat hebat, kita harus bisa

menahan diri.”

“Cici, seandainya dia menodai kesucian kita berdua….”

“Tentang hal ini … lebih baik kita hadapi sesuai keadaan.”

“Cici, kita sudah menunggu begitu lama, tapi tak pernah memperoleh

kesempatan untuk menyusup ke dalam markas besar Jit-seng-kau, bagaimana

kalau kita tangkap iblis tua ini lalu memaksanya untuk membawa kita masuk?”

“Hal ini kelewat berbahaya … kita bukan tandingannya, apalagi kungfu yang

dimiliki kesepuluh orang budak itupun sangat tangguh, kita tak boleh bergerak

secara sembarangan.”

“Cici, bagaimana kalau dia menodai kesucian kita berdua?”

“Demi … demi seratusan sukma gentayangan keluarga Suto, kita telah

mempertaruhkan keselamatan jiwa kita berdua, kalau nyawa pun sudah

digadaikan, buat apa mesti memilikirkan masalah keperawanan? Adikku,

bersabarlah!”

“Aku….”

Tak tahan Siau-bun pun menghela napas panjang.

Suara helaan napas itu bagaikan suara guntur yang membelah bumi di siang

hari bolong, Cau-ji seketika tersadar kembali dari lamunannya, ketika berpaling,

ia lihat sorot mata Siau-bun yang penuh pancaran sinar kegusaran.

Karena itu dengan sengaja Cau-ji berseru, “Kau, kemari cepat, ayo, bantu aku

lepaskan semua pakaianku!”

Kembali Siau-bun gemetar keras, setelah sangsi beberapa saat akhirnya

sambil menggigit bibir dia berjalan menghampiri Cau-ji dan mulai membantunya

melepas pakaian, meski semua pekerjaan dilakukan dengan tangan gemetar.

Cau-ji salah menduga dengan sikap itu, dia sangka gadis itu menaruh sikap

permusuhan terhadapnya, oleh sebab itu dia pun mengambil keputusan hendak

memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka berdua.

Sambil tertawa seram sepasang tangannya dengan sengaja meraba dan

meremas sepasang buah dadanya.

Tak terlukiskan rasa gusar Siau-bun, tubuhnya gemetar keras, menggunakan

kesempatan di saat melepas celananya, dia bungkukkan badan dan menghindari

sergapan yang datang dari atas.

Siapa tahu Cau-ji telah berganti sasaran, kali ini tangannya mulai meraba ke

pinggulnya dan terus meluncur ke tubuh bagian bawahnya.

Segera gadis itu berjongkok untuk menghindari rabaan ini.

Cau-ji segera mendengus dingin, pikirnya, “Sialan betul budak ini, dia mau

mencoba menghindari raba-anku? H mm, biar kuberi pelajaran yang lebih

hebat.”

Dengan suara dalam segera hardiknya, “Berdiri kau!”

Siau-si yang menyaksikan kejadian itu segera datang melerai, dia kuatir

adiknya tak mampu mengendalikan diri hingga melancarkan serangan.

“Tongcu,” ujarnya sambil tertawa, “biar budak yang melayanimu!”

Cau-ji mendengus dingin, sambil duduk di tepi pembaringan dia mengawasi

terus gerak-gerik Siau-bun yang sedang membantunya melepas kaos kaki.

Ketika Siau-bun selesai melepas semua pakaian yang dikenakan Cau-ji dan

siap bangkit berdiri, tiba-tiba pemuda itu menghardik lagi, “Hisap!”

Tak tahan Siau-bun gemetar keras, bulu kuduknya berdiri.

Mereka berdua sebenarnya adalah putri kesayangan keluarga Suto,

seandainya bukan bertujuan untuk membalas dendam, tentu saja mereka tak

akan bergabung di tempat yang penuh maksiat.

Tak heran kalau Siau-bun jadi tertegun dan merasa keberatan untuk

melakukannya ketika mendengar Cau-ji memerintahnya untuk menghisap

‘tombak’ miliknya.

Tentu saja mereka tahu, menghisap alat milik lelaki hanya dilakukan

perempuan jalang.

Kembali Cau-ji tertawa seram.

Kesepuluh orang nona lainnya pun ikut tertawa senang.

Mendadak Siau-si ikut berjongkok di sisi Siau-bun, tampaknya dia sudah

bersiap untuk menghisap tombak milik Cau-ji yang mulai berdiri tegak itu.

Tapi sebelum gadis itu melakukannya, dengan satu gerakan cepat Cau-ji telah

mencengkeram bahu kirinya dan menyeret gadis itu ke samping, kemudian

sambil tertawa seram sekali lagi dia membentak, “Cepat hisap!”

Melihat kakaknya dicengkeram lawan, Siau-bun tak berkutik lagi, dengan air

mata bercucuran akhirnya ia berjongkok di depan pembaringan dan mulai

menghisap tombak itu.

“Perlahan sedikit, perempuan jadah!” umpat Cau-ji tiba-fiba.

Siau-bun tak kuasa menahan rasa sedihnya, air mata bercucuran makin

deras.

Sembari melelehkan air mata, dia menghisap ‘tombak’ itu perlahan-lahan.

Cau-ji merasa puas sekali dengan perbuatannya, kembali ia tertawa terbahakbahak.

Kini sepasang tangannya dengan leluasa mulai menggerayangi buah dada

milik Siau-si, lalu meraba pula bagian terlarang miliknya.

Berapa saat kemudian, ketika rasa jengkelnya sudah agak mereda, ia baru

mendorong pergi kedua orang gadis itu sambil bangkit berdiri.

Dia langsung menuju ke depan kursi ‘seluruh keluarga senang’, lalu sambil

memeluk tubuh seorang gadis yang kelihatan sangat montok, perintahnya,

“Kalian semua mundur!”

Dengan berat hati kawanan gadis itu mengawasi tombak milik Cau-ji yang

masih berdiri tegak sambil mengenakan kembali pakaiannya, kemudian secara

beruntun mereka berlalu dari situ.

Cau-ji kembali meremas buah dada milik gadis dalam pelukannya, setelah

tertawa seram tanyanya, “Siapa namamu?”

“Ji-sui!”

“Hmmm … hmmm … ternyata orangnya persis seperti namanya, milikmu

kelewat banyak airnya….”

Sambil berkata dia merogoh bagian bawah tubuh gadis itu.

Ji-sui tertawa cekikikan.

“Ji-sui, sekarang naikkan bangku itu sedikit lebih tinggi lagi,” kembali Cau-ji

memberi perintah.

Sambil berkata dia duduk di bangku bagian tengah.

Ketika Ji-sui telah menaikkan kedua bangku di sampingnya, Cau-ji kembali

menggapai ke arahnya sambil berseru, “Ji-sui, sekarang akan kulihat

kebolehanmu!”

Ji-sui segera melompat naik ke atas bangku, sepasang kakinya direntangkan

lebar-lebar, kemudian setelah mengincar persis arah ujung tombak milik lawan,

dia pun menekan tubuhnya ke bawah.

“Cluuup!”, ujung tombak itupun menghujam masuk ke dalam liang surganya.

“Woouw … mantap!” teriaknya tertahan, “Tongcu, tak kusangka milikmu jauh

lebih galak ketimbang milik anak muda, hampir saja ujungnya menembus kulit

perutku!”

Sambil berkata dia mulai menggenjot badannya naik turun.

Cau-ji tertawa bangga, dia melirik ke arah Siau-si dan Siau-bun sekejap,

kemudian menuding ke arah dua bangku kosong yang berada di sisinya.

Dua bersaudara itu saling berpandangan sekejap, akhirnya sambil menggigit

bibir mereka duduk di bangku yang tersedia.

Cau-ji mulai merangkul tubuh kedua orang gadis itu dari kiri kanan, bahkan

jari tangannya mulai meraba dan meremas-remas buah dada milik kedua orang

nona itu secara bergantian.

Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, kedua orang gadis itu membiarkan

badannya dijamah orang.

“Siapa namamu?” tiba-tiba Cau-ji bertanya kepada Siau-bun.

“Siau-bun!”

“Hmm, memangnya tak punya orang tua? Dari marga apa?”

Hawa amaran kembali berkobar dalam dada Siau-bun, tapi sebelum dia

mengumbar amarahnya, Siau-si telah menimpali, “Tongcu, budak dari marga

Poh!”

Cau-ji tertawa seram, masih terhadap Siau-bun, tanyanya, “Kau dari marga

apa?”

“Poh!” jawab Siau-bun kaku.

“Poh Bun? Huuuh, sepeser pun tak ada nilainya,” jengek Cau-ji sinis.

Sembari berkata, dia sengaja memencet putting susu miliknya dengan keras.

Siau-bun menjerit kesakitan, tanpa sadar dia mengayun tangan kanannya

melancarkan sebuah bacokan.

“Tahan!” segera Siau-si membentak.

Tapi dengan gerakan cepat Cau-ji telah mencengkeram urat nadi pergelangan

tangan kanannya, sambil tertawa seram kembali serunya, “Budak busuk, besar

amat nyalimu, berani melawan aku? Hmmm, lihat saja bagaimana Lohu

memberi pelajaran kepadamu!”

Sambil berkata tangan kanannya menyodok ke muka.

Sambil mengertak gigi Siau-bun segera melepaskan pukulan dengan tangan

kirinya untuk menangkis.

Cau-ji tertawa dingin, telapak tangan kanannya dibalik dan segera

mencengkeram pergelangan tangan kirinya.

Pada saat itulah mendadak terdengar Ji-sui membentak nyaring, “Siau-si, kau

berani!”

Telapak kirinya telah dibabatkan ke atas pergelangan kanan Siau-si yang

sedang digunakan untuk membacok punggung Cau-ji.

Baru saja Cau-ji berhasil menotok jalan darah kaku di tubuh Siau-bun, ia

mendengar jeritan ngeri dari Ji-sui, cepat badannya berbalik, tampak pukulan

Siau-si sudah bersarang di dada perempuan itu, membuat si nona segera roboh

terjungkal.

Cau-ji gusar sekali, dia segera melancarkan sebuah pukulan untuk

menyongsong datangnya bacokan yang dilepaskan Siau-si.

Selisih jarak kedua orang itu sangat dekat, begitu serangan dilancarkan,

sepasang tangan pun saling beradu.

“Dukkkk!”, di tengah benturan keras, tubuh Siau-si berikut bangkunya sudah

roboh terjungkal.

Belum sempat gadis itu bangkit berdiri, Cau-ji sudah menyusul tiba dan

melepaskan satu totokan kilat.

Ketika dua orang gadis itu sudah berhasil dikuasai, Cau-ji baru berpaling

memandang ke arah Ji-sui.

Waktu itu gadis itu sudah roboh terkapar dengan napas lemah dan darah

bercucuran dari mulutnya, jelas ia sudah terluka parah.

Lekas dia bopong tubuhnya dan membuka pintu kamar.

Waktu itu ada dua orang gadis sedang berjaga di depan pintu, ketika melihat

Tongcu mereka muncul sambil membopong Ji-sui yang terluka parah, segera

tanyanya, “Tongcu, apa yang telah terjadi?”

“Masa kalian tidak mendengar suara pertarungan di dalam kamar?” tegur

Cau-ji dengan suara dalam.

Gadis yang berada di sebelah kanan segera menyahut, “Lapor Tongcu,

ruangan itu dilengkapi dengan lapisan kedap suara, hamba sama sekali tidak

mendengar suara apapun.”

Dengan pandangan penuh amarah Cau-ji berseru, “Kalian segera tolong jiwa

Ji-sui, di samping itu segera siapkan dua butir obat perangsang!”

Gadis itu segera membopong tubuh Ji-sui dan beranjak pergi dari situ.

Sementara gadis yang lain berkata, “Lapor Tongcu, di bagian bawah ranjang

terdapat sebuah botol, isi botol itu adalah obat perangsang!”

Cau-ji masuk kembali ke dalam kamar, setelah mengunci pintu dia berjalan ke

depan pembaringan, benar saja ia segera menjumpai ada sebuah botol berisi

obat.

Dia pun menuang dua butir pil berwarna merah, kemudian berjalan menuju

ke hadapan Siau-si.

Tiba-tiba terdengar Siau-si berseru, “Tongcu, cepat tekan dagu Siau-bun!”

Baru saja Cau-ji akan melompat ke depan, sambil tertawa keras Siau-bun

telah berseru, “Cici, aku tak bakal melakukan perbuatan bodoh”

Cau-ji segera dibuat tertegun oleh tingkah laku kedua orang gadis itu.

“Tongcu,” ujar Siau-bun kemudian dengan suara tenang, “budak bersedia

mempersembahkan tubuhku, tapi aku berharap kau bersedia pula menerima

kami dua bersaudara sebagai dayangmu, agar setiap saat kami dapat

melayanimu.”

Cau-ji tidak menyangka kalau gadis keras kepala itu bisa menunjukkan

perubahan sikap yang drastis dalam waktu singkat, setelah berpikir sejenak

tegurnya.

“Rencana busuk apa yang sedang kau persiapkan?”

“Tongcu, budak sebenarnya tak rela kehilangan kesucianku di tanganmu, tapi

sekarang budak telah melakukan tindakan yang berakibat terjadinya musibah,

bila Tongcu tak bersedia menerima kami, bisa jadi nasib budak akan berakhir

lebih tragis!”

Sambil tertawa seram Cau-ji mengawasi gadis itu tanpa berkedip.

Siau-bun hanya menundukkan kepala dengan wajah lesu, dia sama sekali tak

berkata lagi.

Cau-ji tahu, persoalan ini tidak mungkin begitu sederhana, di balik semua ini

pasti tersembunyi suatu rencana busuk, maka sambil tertawa dingin dia

berjalan menghampirinya.

“Tongcu,” seru Siau-si pula dengan gemetar, “kau paling tahu soal hukuman

yang berlaku dalam perkumpulan, budak lebih rela musnah di tanganmu

daripada terjatuh ke tangan orang lain.”

“Hehehe, bagus, bagus sekali, kalau memang begitu keinginan kalian, tentu

saja aku akan menerima dengan senang hati. Cuma ada satu hal perlu Lohu

kemukakan dulu, bila kalian bisa memuaskan diriku, aku baru bersedia

menerima kalian, kalau tidak, hmmm! Jangan salahkan kalau Lohu tak

berperasaan.”

“Baik!” sahut Siau-bun sedih.

Cau-ji segera menotok bebas jalan darah kedua orang gadis itu, kemudian

baru naik ke atas ranjang dan membaringkan diri.

Bab III. Rombongan iblis merampok duit

Suto bersaudara semakin terkesiap lagi setelah menyaksikan kemampuan

iblis tua itu menotok bebas jalan darah mereka hanya dengan sekali kebasan

tangan, mereka sadar musuh benar-benar sangat tangguh.

Maka tanpa banyak bicara lagi Siau-bun segera melompat naik ke atas

ranjang dan menaiki tubuh Cau-ji

“Adikku, biar aku duluan!” Siau-si berseru. “Tidak, Cici, kau beristirahatlah

dulu!” seru Siau-bun serius.

Kemudian sambil menggigit bibir dia merentangkan bibir bagian bawah

miliknya, membuka lubang surganya dan perlahan-lahan dihujamkan ke atas

ujung ‘tombak’ milik lawan.

Siau-si segera menyaksikan peluh dingin bercucuran membasahi tubuh Siaubun,

bukan hanya itu, bahkan tubuhnya gemetar keras.

la tahu adiknya sedang merasakan kesakitan yang luar biasa karena selaput

perawannya robek untuk pertama kalinya.

Cau-ji sendiri pun merasakan ujung tombaknya agak sakit ketika tertelan oleh

liang surga milik Siau-bun yang kering, sempit dan masih amat kencang itu.

Lekas serunya, “Jangan terburu-buru, perlahan sedikit, lebih baik berbaring

saja.”

Sambil berkata dia memeluk pinggangnya dan dibaringkan ke atas ranjang.

Terlihat tetesan darah segar mengalir keluar dari liang surga milik Siau-bun.

“Mungkinkah aku telah salah menilainya?” melihat itu Cau-ji mulai berpikir.

Dengan sangat penurut Siau-bun berbaring di samping tubuhnya, dia

pejamkan mata dan tak berani menengok ke arahnya.

Waktu itu Siau-si sedang duduk bersila sambil mengatur pernapasan, melihat

caranya yang begitu serius, kembali Cau-ji tertegun, pikirnya, “Menurut cerita

ibu, kecuali orang yang berlatih ilmu putih, tak mungkin dia akan menunjukkan

sikap semacam ini di saat sedang bersemedi, jangan-jangan..’

Lekas dia bangkit berdiri.

Dengan keheranan Siau-bun membuka matanya, serunya gemetar, “Tongcu,

kau jangan ingkar janji”

“Aku… aku….”

Tiba-tiba Siau-bun menempelkan telapak tangannya di atas ubun-ubun

sendiri, ancamnya, “Tongcu, bila kau mengingkari janji, terpaksa budak akan

segera menghabisi nyawa sendiri.”

“Tunggu sebentar, aku … aku … beritahu dulu asal-usul kalian yang

sebenarnya!”

Siau-bun sangat terkejut, setengah terpejam matanya ia termenung, sesaat

kemudian baru ujarnya dengan suara berat, “Budak bernasib jelek, sejak kecil

sudah dijual orang ke tempat ini, sudahlah, jangan singgung asal-usul kami lagi,

kejadian itu sangat memalukan!”

“Berdasarkan kepandaian silat yang kalian miliki, seharusnya bukan

pekerjaan yang sulit untuk pergi meninggalkan tempat ini, dan lagi siapa yang

mampu menghalangi kalian?”

“Betul, memang tak ada yang bisa menghalangi kepergian kami, tapi siapa

pula yang akan memunahkan racun yang bersarang di tubuh kami berdua?”

“Soal ini….”

Kembali Siau-bun tertawa sedih. Tiba-tiba Cau-ji mendengar Siau-si

mendengus tertahan, lalu menyaksikan tubuhnya bergoncang keras dengan

perasaan terkejut segera dia melompat ke belakang tubuhnya.

Secara beruntun dia melepaskan beberapa pukulan di atas punggungnya,

kemudian sambil menempelkan telapak tangan kanannya di jalan darah Pakhwe-

hiat, katanya dengan suara berat, “Konsentrasikan pikiranmu jadi satu,

ikuti tenaga dalamku yang mengalir ke seluruh badan.”

Perlahan-lahan dia salurkan tenaga murninya ke dalam tubuh si nona.

Melihat tindakan yang dilakukan Cau-ji, Siau-bun serta-merta menghentikan

tertawanya.

Ketika melihat kondisi encinya, rasa sedih dan mendongkol kembali

bercampur aduk, akhirnya sambil menahan rasa sakit yang timbul dari lubang

surganya, dia merangkak turun dari pembaringan.

Rupanya seruan Cau-ji yang dilakukan dalam keadaan panik tadi telah

menggunakan suara aslinya, tak heran kalau gadis ini jadi tertegun, dengan

sepasang matanya yang jeli dia pun mengawasi tubuh lelaki itu tanpa berkedip.

Sayang ilmu menyaru muka milik Bwe Si-jin sangat hebat, ditambah lagi

rambut Ho Ho-wan yang asli pun memang masih hitam, maka sulitlah baginya

untuk menemukan sesuatu titik kelemahan.

Sekalipun begitu, ada satu hal dia merasa yakin, yaitu orang ini dapat

dipastikan bukanlah Ho Ho-wan, salah satu anggota dari sepasang malaikat

bengis dari In-lam yang tersohor tak banyak bicara, sangat teliti dan berhati keji.

Diam-diam dia mulai putar otak sambil mencari cara bagaimana agar bisa

menemukan jawaban yang sebenarnya.

Mendadak terlihat tubuh Siau-si bergetar keras, diikuti Cau-ji

menghembuskan napas panjang sembari berkata, “Sekarang aturlah

pernapasanmu dan lakukan tiga kali putaran!”

Sambil berkata dia pun bangkit berdiri.

“Terima kasih Tongcu!” seru Siau-bun sambil menubruk ke dalam pelukan

Cau-ji.

“Kau …”

Baru saja Cau-ji buka suara, mulutnya segera disumbat oleh bibir mungil dari

gadis itu.

Siau-bun menempel ketat di tubuhnya bahkan dengan sangat berani

menciumnya, menghisap ujung lidahnya, sementara sepasang tangannya mulai

meraba seluruh badan lelaki itu, meraba tombaknya dan meremas kedua telur

puyuhnya.

Dasar Cau-ji masih muda dan berdarah panas, mana mungkin dia bisa

bertahan menghadapi godaan dan rangsangan seperti itu.

Kontan saja jantungnya berdebar keras, sepasang tangannya yang

menggerayangi tubuh nona itupun semakin liar.

Sambil berciuman dengan penuh kehangatan, Siau-bun perlahan-lahan

menggeser badannya menuju ke depan pembaringan.

Tanpa terasa akhirnya kedua orang itu menjatuhkan diri berbaring di atas

ranjang.

Siau-bun merentangkan sepasang pahanya lebar-lebar lalu badannya

digerakkan ke bawah, dengan sangat berhati-hati dia mengantar lubang

surganya persis di atas ujung tombak lawan.

Begitu posisinya sudah persis, dia pun menekan badannya ke bawah dan

menelan seluruh tombak itu hingga ke dasarnya.

Orang bilang, “kalau lelaki ingin wanita, susahnya seperti melampaui sebuah

bukit karang, tapi kalau perempuan yang ingin lelaki, gampangnya seperti

menyingkap sehelai tirai”.

Kini Siau-bun sendiri yang membuka lebar pintu surganya, malahan dia pula

yang membantu memasukkan sang tombak ke dalam liang, seketika semuanya

berjalan sangat lancar dan sederhana.

Cau-ji segera merasakan tombak miliknya sekali lagi berpetualangan di dalam

gua yang sempit lagi kering, hanya saja saat ini keadaan gua sudah tidak

sekering pertama kali tadi, jalan yang sedikit becek tergenang air justru

mempermudah dan memperlancar jalannya sang tombak menuju ke dasar.

Tanpa terasa akhirnya tibalah ia di tempat tujuan, sekalipun masih ada

sebagian kecil tombaknya yang tertinggal di luar gua, namun diam-diam ia bisa

menghembuskan napas lega.

Paling tidak, sebagian besar tombak pusakanya telah menghujam ke dalam

gua surga itu.

Kini Siau-bun telah menggeser bibirnya dari bibir lawan, dia pejamkan

matanya rapat-rapat dan tak berani lagi memandang ke arah Cau-ji.

Dengan penuh kasih sayang Cau-ji mulai menciumi gadis itu, kemudian

sambil setengah memeluk pinggangnya dia mulai menggerakkan badannya naik

turun, genjotannya dilakukan amat perlahan dan sabar, karena dia tahu gadis

itu baru robek selaput daranya.

Sesuai dengan ajaran yang pernah diterima dari ibunya, dia menggenjotkan

badannya sangat perlahan dan penuh kasih sayang.

Lambat-laun Siau-bun merasakan rasa sakitnya makin berkurang, sebaliknya

di dasar lubang surganya ia mulai merasakan linu-linu gatal yang sangat aneh,

rasa gatal itu makin lama semakin menjadi dan rasanya ingin sekali digaruk.

Keadaannya waktu itu persis seperti munculnya rasa gatal di badan, rasa

gatal itu memaksa harus menggaruknya berulang kali, makin digaruk rasanya

makin nikmat, sampai akhirnya biar digaruk hingga terluka pun tak menjadi

masalah, karena rasa nikmatnya itu yang benar-benar diharapkan.

Tak kuasa lagi Siau-bun mulai menggerakkan badannya, menggoyang

pantatnya kian kemari mengiringi gerakan tombak lawan, tujuannya adalah

untuk menggaruk rasa gatal di dasar lubangnya itu.

Kebetulan Siau-si baru saja selesai bersamadi, ketika melihat reaksi dari Siaubun

yang begitu hangat dan terangsang, ia jadi tertegun dibuatnya.

“Heran,” demikian ia berpikir, “bukankah adik amat membenci Tongcu? Apa

yang terjadi? Jangan-jangan ia sudah dicekoki obat perangsang?”

Tanpa terasa dia mengawasi dengan lebih seksama.

Cau-ji yang menyaksikan Siau-bun mulai menunjukkan reaksinya, ia sadar

kalau ajaran ibunya tidak keliru, maka dia pun mulai mempercepat gerakan

genjotannya….

“Plook… plookkk ….”, bunyi gencetan lubang yang nyaring pun segera bergema

di seluruh ruangan.

Tiba-tiba Siau-bun bangun dan duduk, sambil memeluk leher Cau-ji, dia

menghadiahkan sebuah ciuman yang amat mesra.

Ciuman itu selain panjang, juga amat mendalam. Sepasang tangannya mulai

membelai wajah Cau-ji, membelai pipinya, membelai jenggotnya yang panjang

berwarna putih….

Beberapa saat kemudian akhirnya ia berhasil menjumpai perbedaan kulit di

wajah pemuda itu, sebagian kulit terasa agak kasar dan sebagian lagi terasa

sangat lembut.

Dia tahu wajah orang ini memang hasil dari penyaruan muka, atau dengan

perkataan lain, orang ini memang bukan iblis tua yang dibencinya.

Penemuan ini membuatnya sangat kegirangan di samping perasaan lega,

perlahan ia berbaring lagi di atas ranjang.

“Tongcu,” gumamnya kemudian, “oooh koko … koko yang baik … ayo, lebih

keras lagi … oooh … masukkan lebih dalam ….”

Cau-ji yang masih tercekam oleh kobaran birahi, sama sekali tak sadar kalau

rahasia penyaruannya sudah ketahuan, benar saja, ia segera menggenjot

badannya lebih kuat dan dalam.

Siau-bun segera menyambut tantangan itu dengan menggerakkan badannya

lebih jalang, kini dia bisa menikmati hubungan itu tanpa rasa sangsi dan takut

lagi.

Siau-si yang menonton dari samping, makin tertegun dibuatnya, kembali ia

berpikir, “Aneh! Kalau dilihat tampang adikku, jelas ia berada dalam kondisi

sadar, tapi … kenapa ia berubah menjadi jalang dan penuh napsu birahi?”

Siau-bun sendiri, setelah tahu kalau lawannya adalah seseorang yang telah

menyaru, kemudian membayangkan pula semua tingkah laku dan sepak terjang

yang dilakukan orang itu tadi, dia mulai berpikir, jangan-jangan orang inipun

musuh Jit-seng-kau yang sedang berusaha menyusup masuk? Andaikata

dugaannya tak keliru, bukankah sama artinya mereka akan mendapat bantuan

besar?

Membayangkan sampai di situ dia pun menjadi sangat gembira.

Seandainya dia belum berani memastikan seratus persen, ingin sekali dia

menyampaikan berita itu kepada kakaknya.

Karena hatinya gembira, otomatis seluruh ketegangan ototnya pun

mengendor.

Karena pikirannya sudah mengendor, maka gadis inipun bisa mempraktekkan

semua gerakan yang pernah disaksikannya selama ini untuk melayani pemuda

itu.

Sepeminuman teh kemudian, gadis itu mulai merintih keenakan, “Aaaah …

aaaah … koko … kokoku sayang … aku … aku … aduh … aduuh … lebih kuat

lagi … betul … lebih kuat lagi … masukkan yang dalam … aduh … aku … aku..’

Tubuhnya mulai gemetar keras.

Cau-ji tahu gadis itu segera akan mencapai orgasme, maka dia pun

memperketat genjotan badannya.

“Plook … ploook’ di tengah suara gesekan yang makin cepat dan gencar,

pemuda itu membawa si nona menuju puncak kenikmatan.

Menyaksikan adegan itu, Siau-si tak kuasa menahan diri lagi, cepat dia

melompat naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping mereka sambil

merentangkan kakinya lebar-lebar.

Mendadak terdengar Siau-bun menghela napas panjang, tubuhnya gemetar

semakin keras.

Tak lama kemudian napasnya tersengal-sengal, seluruh anggota badannya

terkulai lemas, tak bertenaga lagi.

Namun matanya yang jeli masih menatap Cau-ji dengan termangu, senyuman

yang menggoda masih menghiasi ujung bibirnya.

Cau-ji semakin memperketat gerakan tombaknya, kini dia menghujamkan

senjatanya hingga mencapai ke dasar liang, menikmati denyutan serta getaran

yang dihasilkan dari dasar liang itu ….

Selang beberapa saat kemudian dia menciumi gadis itu makin bernapsu,

kemudian setelah beberapa kali genjotan yang makin cepat tiba-tiba ia mencabut

keluar tombaknya….

Botol arak dibuka, buih putih pun menyembur.

Darah perawan berbaur dengan cairan kental berwarna putih segera meleleh

keluar dari lubang surga Siau-bun.

Lekas Siau-si menyodorkan sehelai handuk dan sebuah selimut sambil

katanya, “Adikku, cepat bersihkan tubuh bagian bawahmu, jangan sampai

masuk angin!”

Siau-bun segera menerima handuk itu dan membersihkan lubang surganya,

lalu setelah menghela napas katanya, “Cici, ternyata Tongcu adalah orang baik,

tadi dia telah menyelamatkan nyawamu, kau harus membayar budi

kebaikannya.”

Dengan wajah jengah Siau-si manggut-manggut, dia pun memejamkan

matanya.

Setelah beristirahat beberapa saat lamanya, tombak Cau-ji mulai menegang

keras lagi, dia pun mulai membungkukkan badannya dan menghisap puting

susu milik Siau-si yang besar, kenyal dan masih kencang itu.

Ternyata pelajaran seks yang diajarkan ibunya memang sangat hebat.

Tadi Cau-ji sudah membuktikan kebenaran ajaran itu dengan

mempraktekkannya di tubuh Siau-bun, maka sekarang rasa percaya dirinya

semakin meningkat, dia ingin mencoba tehnik pemanasan yang pernah

diperolehnya untuk membuktikan reaksi dari gadis itu.

Siau-si segera merasakan seluruh tubuhnya gatal, kaku dan panas sekali,

hisapan pada puting susunya, gerayangan tangan yang meraba sekujur

badannya membuat gadis ini mulai terangsang juga.

Tak kuasa lagi dia mulai menggerakkan tubuh bugilnya kian kemari.

Cau-ji menciumi dadanya, menggigit puting susunya lalu mulai mencium

perutnya, pusarnya, terus turun ke bawah … mulai menciumi hutan bakaunya

dan makin ke bawah … menciumi seputar lubang surganya ….

Sekujur tubuh Siau-si bergidik, rangsangan itu membuat birahinya

meningkat, apalagi ketika jenggot berwarna putih itu menggesek kulit badannya,

gadis itu segera merasakan satu kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata.

Akhirnya ia tak bisa menahan diri lagi, gadis itu mulai merintih, merintih

kenikmatan!

Cau-ji segera meraba lubang surganya, terasa tempat di seputar itu mulai

basah oleh cairan putih, ia tahu gadis itu sudah makin terangsang birahinya.

la tahu kini saatnya sudah matang, maka bibirnya menciumi dada, leher dan

tengkuknya makin menggila.

Sementara mencium, tubuh bagian bawahnya mulai bergeser ke atas badan

gadis itu dan menempelkan tombaknya di atas lubang surga.

Siau-bun pura-pura beristirahat padahal secara sembunyi-sembunyi dia

membuka sedikit matanya untuk mengintip.

Dia ingin turut menyaksikan permainan seks dari kakaknya, dia pun ikut

membayangkan betapa nikmatnya ketika bagian-bagian tertentu di tubuh

kakaknya dicium, dibelai dan dijilat lawan.

Makin mengintip hatinya semakin berdebar keras, tiba-tiba saja tubuh bagian

bawahnya mulai terasa panas kembali.

Sementara itu Cau-ji telah menciumi bibir Siau-si dengan penuh napsu, ia

mulai menghisap ujung lidah gadis itu dan menggigitnya perlahan, sedang

tombaknya yang sudah menempel di atas lubang surga, perlahan-lahan mulai

ditusukkan ke bawah dan menelusuri liang surga yang sempit lagi kering itu.

Mereka berdua berpelukan makin kencang. Mereka berdua berciuman makin

hangat dan mesra.

Tubuh bagian bawah mereka pun mulai bergerak, mulai bergoyang sangat

lambat, bergerak naik turun dengan sangat hati-hati.

Siau-bun merasakan napsu birahinya bangkit kembali, terbayang betapa

nikmatnya ketika ditiduri tadi, ia merasa lubang surganya mulai terasa geli dan

gatal sekali, seakan-akan ingin sekali ada satu benda besar yang menusuk

lubangnya dan menggaruknya dengan keras….

Tiba-tiba ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, lagi-lagi ia mencapai

orgasme….

Waktu itu Cau-ji sudah menggerakkan badannya makin cepat.

Beberapa saat kemudian, Siau-si mulai merintih kenikmatan, tubuhnya mulai

gemetar keras….

Tapi Siau-si tak berani berteriak, sebab pertama dia memang lebih alim, kedua

di situ hadir adiknya, dia tak tega untuk mengeluarkan suara rintihan

kenikmatannya, karena itu dia hanya mendengus untuk menggantikannya.

Ketika Cau-ji merasakan lubang surga milik gadis itu mulai gemetar keras,

diam-diam dia mengerahkan hawa murninya, sesuai dengan ajaran yang

diperoleh dari Bwe Si-jin, dia bersiap-siap akan melepaskan puncak

kenikmatannya.

Gerakan naik turunnya segera dipercepat.

Akhirnya Siau-si tak kuasa menahan diri lagi, ia mulai berteriak, “Aaaaah …

ahhhh..’

Teriakannya makin lama semakin keras dan jeritannya bergema tiada

hentinya.

Melihat itu Siau-bun segera berbisik, “Cici, kalau ingin berteriak, cepatlah

berteriak, makin berteriak, kau akan merasa semakin nikmat.”

“Aku … aku … aduh … aduuuh … aaaah … ahhhh..”

Akhirnya diiringi jerit kenikmatan yang keras, Siausi mencapai orgasme,

tubuhnya tidak bergerak lagi.

Cau-ji pun mempercepat genjotannya, setelah naik turun belasan kali

akhirnya dia pun mencapai puncaknya dan menyemburkan cairannya.

Kali ini merupakan kali pertama ia mencapai puncak kenikmatan dalam

keadaan sadar, Cau-ji merasakan tubuhnya begitu nyaman, segar bagai

melayang di atas awan.

Lama, lama kemudian, ia baru merangkak turun dari tubuh gadis itu.

Siau-bun mengambil sehelai handuk dan membantunya menyeka keringat,

lalu sambil menahan rasa pedih di tubuh bagian bawahnya dia berjalan menuju

ke sisi pembaringan dan menyiapkan air panas di dalam bak mandi.

“Tongcu, bersihkan dulu badanmu,” bisiknya halus.

“Ooh, baiklah!”

Ketika Cau-ji masuk ke kamar mandi, Siau-bun pun segera membisiki Siau-si

tentang apa yang berhasil ditemukannya ini.

Mendengar penuturan itu, Siau-si kegirangan setengah mati.

Saat itulah Cau-ji telah selesai membersihkan badan dan muncul dari kamar

mandi.

Lekas Siau-bun mengambilkan pakaian dan membantu mengenakannya, lalu

dengan agak tersipu katanya, “Tongcu, terima kasih banyak atas kenikmatan

yang kau berikan kepada budak.”

“Hehehe, kau tidak menyalahkan Lohu?”

“Tongcu, buat apa menyinggung masalah itu lagi? Mari, nikmati dulu kuah

jinsom untuk memulihkan kondisi badanmu!”

Cau-ji sama sekali tak mengira kalau ia berhasil menjinakkan macan betina

itu dengan lancar dan mudah, tak tahan dia pun tertawa terbahak-bahak

“Hahaha, biar Lohu lakukan sendiri.”

Beberapa saat kemudian Siau-si dan Siau-bun telah selesai membersihkan

badan, tapi berhubung pakaian milik Siau-si sudah robek, terpaksa untuk

sementara waktu ia bersembunyi di balik selimut.

“Siau-bun, pergilah mengambil pakaian untuk Siau-si!” perintah Cau-ji.

“Soal ini … Tongcu, harap kau bersedia keluar sejenak bersama budak.”

Mendengar itu Cau-ji segera tahu, rupanya dia kuatir ditegur Im Jit-koh,

maka sahutnya sambil tertawa, “Baiklah, Lohu akan menerima kalian berdua

sebagai orangku, ayo berangkat”

Baru saja pintu kamar dibuka, ia segera saksikan Bwe Si-jin sedang duduk di

bangku utama ditemani Im Jit-koh di sampingnya.

Dengan agak tertegun Cau-ji segera menyapa,

“Selamat pagi Loko!”

Bwe Si-jin melirik Siau-bun sekejap, lalu gumamnya, “Burung berkicau

dimana-mana, matahari sudah meninggi, tapi ada orang baru bangun dari

tidurnya, Lote, pagi ini kau memang bangun kelewat pagi, hahaha….”

Tanpa terasa Cau-ji melirik sekejap keluar kamar, melihat matahari sudah

jauh di angkasa, tanpa terasa pipinya jadi panas.

“Siau-bun, ikut aku!” tiba-tiba Im Jit-koh berseru dengan suara dalam.

“Tunggu dulu!” tukas Cau-ji cepat, “apakah luka yang diderita Ji-sui sudah

agak baikan?”

“Lapor Tongcu,” kata Im Jit-koh dengan hormat, “berkat doa anda, Ji-sui

sudah lolos dari mara bahaya, asal beristirahat beberapa bulan, semestinya dia

bakal sehat kembali”

“Bagus sekali, kalau begitu berikan uang ini kepadanya, anggap saja sebagai

imbalan untuk membeli obat.”

Sambil berkata, ia serahkan setumpuk uang kertas.

Lekas Im Jit-koh menampik. “Tongcu, Ji-sui tidak pantas memperoleh imbalan

sebesar itu,” katanya.

“Hehehe … Lohu sudah mengambil keputusan akan menerima Siau-si dan

Siau-bun sebagai dayangku, anggap saja uang itu sebagai ungkapan rasa

menyesal mereka berdua kepada Ji-sui.”

Im Jit-koh agak tertegun, tapi kemudian sambil menerima uang kertas itu

segera serunya, “Tongcu, kionghi, kionghi!”

“Hehehe, kau tak usah mengucapkan selamat padaku, aku malah belum

berterima kasih kepadamu.”

“Tidak berani, tidak berani, Siau-bun, ikut aku sebentar!”

Menanti mereka berdua sudah meninggalkan ruangan, Bwe Si-jin baru

bertanya dengan ilmu menyampaikan suara, “Bagaimana Cau-ji? Apakah kau

puas dengan permainanmu semalam?”

Agak tersipu-sipu Cau-ji mengangguk.

Bwe Si-jin segera mengajak dia masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali

bertanya, “Cau-ji, jadi kau berencana menerima mereka berdua? Mau kau

jadikan dayang atau gundik?”

“Paman, aku sendiri pun kurang tahu, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Cau-ji, seorang lelaki memiliki beberapa orang gundik adalah satu kejadian

yang lumrah, dan lagi kejadian inipun bukan sesuatu yang luar biasa, cuma,

apakah kau telah menyelidiki dengan jelas asal-usul mereka berdua?”

“Paman, tahukah kau jagoan dunia persilatan mana yang saat ini mempelajari

ilmu Bu-siang-sin-kang?”

“Tentang hal ini … aku dengar selain partai Siau-lim, hanya keluarga Suto

yang mempelajari ilmu itu, padahal setahuku partai Siau-lim tak pernah

menerima murid perempuan, sementara keluarga Suto pun sudah lama punah,

jangan-jangan…”

Bicara sampai di situ, wajahnya segera menunjukkan perasaan terkesiap.

Rupanya pada empat belas tahun berselang dia bersama Su Kiau-kiau pernah

membawa ratusan orang anggotanya menyerang keluarga Suto, mula-mula

mereka meracuni dulu seluruh anggota keluarganya kemudian baru

melancarkan pembantaian.

Selesai melakukan pembantaian, mereka sempat melakukan perhitungan atas

korban yang berjatuhan, ternyata ditemukan bahwa seorang pengurus rumah

tangganya serta sepasang putri Suto Put-huan tidak berada dalam daftar

korban.

Maka pencarian secara besar-besaran pun dilakukan, namun tak berhasil,

akhirnya mereka pun membumi hanguskan seluruh perkampungan itu sebelum

meninggalkan tempat itu.

Terbayang kembali kejadian itu, Bwe Si-jin bertanya, “Cau-ji, jangan-jangan

mereka telah mempelajari ilmu Bu-siang-sin-kang?”

“Benar, ketika sedang bersemedi semalam, Siau-si nyaris mengalami Cau-hwejip-

mo, untung aku berada di sampingnya dan segera melakukan pertolongan,

ketika menyalurkan tenaga dalam untuk membantunya, kujumpai aliran tenaga

dalamnya mirip sekali dengan ilmu Bu-siang-sin-kang seperti apa yang pernah

ayah tuturkan kepadaku.”

“Oooh, rupanya pihak Siau-lim-pay telah menghadiahkan sim-hoat tenaga

dalam Bu-siang-sin-kang kepada ayahmu. Cau-ji, coba kau ceritakan kembali

kejadian yang kau alami semalam.”

Secara ringkas Cau-ji menceritakan kembali kisah pengalamannya.

Selesai mendengar penuturan itu, dengan kegirangan Bwe Si-jin berkata,

“Cau-ji, kalau begitu mereka berdua pastilah sepasang putri kesayangan Suto

Put-huan!”

“Hahaha, kelihatannya mereka memang mempunyai tujuan lain, agar bisa

mengikuti kami masuk ke markas besar Jit-seng-kau, mereka tak segan

mengorbankan kesucian tubuhnya.”

Berubah hebat paras muka Cau-ji, serunya dengan cemas, “Paman, Cau-ji tak

menyangka akan melakukan perbuatan sebodoh ini, bagaimana baiknya

sekarang?”

“Hahaha, tenanglah!”

“Paman, kau jangan menggoda Cau-ji, cepat berilah petunjukmu!”

“Hahaha, sederhana saja, boyong mereka balik ke perkampungan Hay-thianit-

si.”

Tak terkirakan rasa terperanjat Cau-ji setelah mendengar usul itu, serunya,

“Waah, Cau-ji bisa diumpat habis-habisan, apalagi terhadap enci Jin, bagaimana

aku harus mempertanggung-jawabkan?”

“Hahaha, bocah muda, siapa suruh kau sembarangan menusuk dengan

‘tombak’mu!”

“Paman, tolong bantulah aku, carikan akal lain, semalam kalau bukan garagara

usulmu, Cau-ji pun tak akan tersangkut kesulitan macam begini, paman

tak bisa cuci tangan begitu saja.”

“Ehhm, anak muda, jadi kau sedang mengancam paman?”

“Cau-ji tak berniat begitu.”

“Baik, baiklah, anggap saja ancamanmu memang jitu, sebentar pasti akan

kubantu bicara.”

“Terima kasih paman.”

“Hahaha, jangan putus asa, he, Cau-ji, paman akan menyampaikan satu

berita gembira, kini Jit-seng-kau sedang terjadi kekalutan dalam negeri.”

“Sungguh?”

Dengan suara lirih Bwe Si-jin segera menceritakan tentang apa yang

didengarnya dari Im Jit-koh, khususnya tentang ambisi wakil ketua yang ingin

memegang tampuk pimpinan.

Selesai berkisah, ujarnya lagi sambil tertawa, “Sebuah permulaan yang bagus,

anggap saja usaha kita sudah berhasil setengah jalan. Cau-ji, lakukanlah

dengan hati lega.”

“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?”

“Hahaha, barusan aku telah perintahkan Jit-koh untuk menyampaikan berita

tentang kehadiran kita di sini kepada Su Kiau-kiau, sambil menunggu, kau bisa

gunakan kesempatan ini untuk menjalani bulan madumu!”

“Ini….”

“Hahaha, aku tak tahu leluhurmu sudah melakukan perbuatan mulia apa saja

sehingga kau yang ketimpa keberuntungan terus menerus, paman kagum

kepadamu.”

“Semuanya ini berkat bantuan paman.”

“Hahaha ….”

“Aaah, benar, andai Su Kiau-kiau mengirim orang lagi ke Hay-thian-it-si, apa

yang harus kita lakukan?”

“Hahaha, tak usah kuatir, di situ toh ada ayahmu serta Raja hewan, belum

lagi pasukan wanita yang kosen, siapa pun yang dikirim ke sana, dapat

dipastikan akan tertimpa sial.”

“Benar, paman memang hebat.”

“Sudah, tak usah kau menjilat pantat, ayo, kita pergi minum beberapa cawan.”

0oo0

Tengah malam itu, Cau-ji dan Bwe Si-jin sedang duduk di kamar baca sambil

menyaksikan Siau-bun dan Siau-si melakukan pencatatan ulang semua nomor

pasangan ‘semua senang’ yang telah masuk.

Ketika mereka berdua selesai menjumlah seluruh uang pasangan, sambil

tertawa Bwe Si-jin berkata, “Sayangku, kita mendapat tiga puluh empat juta

tahil perak dalam periode pembukaan kali ini, berarti kau bakal mengantungi

tiga empat juta tahil perak lagi ke dalam kocekmu.”

“Berkat rezeki dari Tongcu berdua, siang tadi beberapa orang teman dari

wilayah Lu-pak datang memasang nomor sejumlah lima enam juta tahil, itulah

sebabnya jumlah pendapatan kotor kita memecahkan rekor.”

“Hahaha, tak nyana ada orang dari wilayah Lu-pak yang ikut meramaikan

‘semua senang’, tapi kenapa mereka mesti bersusah payah datang dari jauh

hanya untuk meneken kontrak dengan kalian?”

“Konon bandar yang ada di wilayah Lu-pak kebanyakan curang, maka mereka

pun mengalihkan pasangannya ke tempat ini. Biar begitu, secara diam-diam

hamba sudah mengutus orang untuk mengawasi gerak-geriknya, aku kuatir

mereka pun ikut menjadi bandar di sini.”

“Ooh, apakah mereka orang persilatan?”

“Bukan, mereka semua berdandan seperti pedagang dan pengusaha, tapi

menurut laporan yang diterima dari rekan-rekan yang melakukan penguntitan,

katanya di tempat tinggal mereka seringkah berkeliaran orang-orang persilatan

berwajah asing.”

“Oooh, tampaknya maksud kedatangan mereka memang tidak beres, hahaha

… semoga mereka bersikap lebih cerdas, kalau tidak, hmmm, hmm, akan

kusuruh mereka harta lenyap nyawa pun ikut hilang.”

“Hahaha, apakah akan terjadi peristiwa, malam ini pasti akan ketahuan

jawabannya.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah kamar baca berkumandang suara

keleningan yang sangat ramai.

Dengan wajah terkesiap Im Jit-koh segera berseru, “Baru saja kita sebut Cho

Cho, ternyata Cho Cho sudah datang! Tampaknya harus merepotkan Tongcu

berdua!”

Habis berkata ia pun menekan sebuah tombol yang berada di bawah meja

baca.

Tak lama kemudian seluruh bangunan rumah makan Jit-seng-lau sudah

diramaikan oleh suara keleningan.

Kepada Siau-si dan Siau-bun, Cau-ji segera berseru, “Mau ikut nonton

keramaian?”

Kedua orang gadis itu manggut-manggut, cepat mereka kembali ke kamar

untuk berganti pakaian ringkas, sekalian menggembol pedangnya.

Tatkala kedua orang gadis itu mengikuti Cau-ji tiba di tengah ruangan,

tampak ada ratusan orang jago telah berdiri memenuhi tempat itu.

Kecuali kedua orang Tongcu dan Im Jit-koh, di situ pun hadir dua belas orang

kakek berbaju hitam.

Kawanan musuh sudah memencarkan diri ke empat penjuru, jumlah mereka

mencapai ratusan orang, menyaksikan begitu rapatnya manusia yang muncul di

seputar sana, diam-diam Siau-si berdua merasa sangat gelisah.

Im Jit-koh segera mengangkat tangan kanannya, belasan batang obor yang

berada di seputar halaman seketika terang benderang.

Setelah selesai menyulut obor-obor itu, kesepuluh orang gadis itupun dengan

cepat mundur ke belakang Siau-bun.

Im Jit-koh maju selangkah ke depan, lalu dengan suara nyaring tegurnya,

“Ada urusan apakah rekan-rekan semua datang kemari di tengah malam buta

begini?”

Gelak tawa nyaring bergema memecah keheningan, tampak empat orang

manusia aneh berwajah buruk dengan mengiringi seorang kakek berambut putih

berjalan mendekat.

Dalam waktu singkat selisih jarak mereka tinggal beberapa meter saja.

Kakek itu berwajah bersih dengan jenggot putih sepanjang dada, ia

mengenakan baju berwarna hijau, alis matanya panjang, putih dan terurai ke

bawah, wajahnya merah bercahaya, sama sekali tidak mencerminkan

ketuaannya.

Sementara keempat orang pengawalnya adalah empat manusia aneh, mereka

memakai baju karung berwarna kuning, kakinya mengenakan sepatu rumput

dan mukanya aneh penuh dengan codet bekas bacokan sehingga kelihatan

sangat menyeramkan.

Setelah tertawa terbahak kakek itu menjura pada Im Jit-koh, lalu ujarnya,

“Tauke Im, aku dengar selama beberapa tahun terakhir kau berhasil

mengantongi sejumlah uang, untuk itu Lohu mewakili teman-teman dari wilayah

utara Lu-pak minta sedekah darimu.”

“Hahaha, ucapan Lu-pangcu kelewat serius,” Im Jit-koh tertawa terkekeh,

“siapa sih yang tak kenal dengan perkumpulan Kim-liong-pang yang tersohor

karena banyak duit?”

Kakek itu adalah ketua perkumpulan naga mas, ia bernama Lu Cong-khi,

sedangkan keempat manusia aneh berwajah menyeramkan itu adalah keempat

pelindung hukumnya, Lu-tiong-su-sat (empat manusia bengis dari Lu-tiong).

Mendengar perkataan itu, Lu Cong-khi langsung tertawa seram, serunya,

“Perempuan sundel, kalau tahu diri, cepat berderma satu dua juta tahil perak

untuk perkumpulan kami, kalau menolak… heheheh”

“Orang bilang burung mati karena makanan, manusia mampus karena harta,

jika kalian tidak segera mundur dari sini, hmmm, aku kuatir kalian tak ada

kesempatan lagi untuk melihat matahari esok’

Selesai berkata, perempuan itu segera mundur ke samping Bwe Si-jin.

Tampaknya sekarang Lu Cong-khi baru tahu akan kehadiran sepasang

manusia bengis dari In-lam, tak terlukiskan rasa kagetnya.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara pekikan nyaring berkumandang

dari belakang Lu Cong-khi. seorang lelaki kekar berbaju hijau dengan

bersenjatakan sepasang boan-koan-pit telah menerjang ke arah Im Jit-koh.

Salah seorang dari dua belas kakek berbaju hitam yang berdiri berjajar di

samping segera mendengus dingin, sambil menenteng pedang dia sambut

datangnya terkaman itu.

“Traaang!”. Tubuh lelaki kekar berbaju hijau itu segera terpental hingga

mundur beberapa langkah.

Berhasil mendesak mundur lawannya, dengan jurus Long-kian-liu-sah (ombak

menggulung pasir pantai) kakek berbaju hitam itu melancarkan satu totokan ke

dada lawan.

Lekas lelaki itu menangkis dengan senjata andalannya.

Secara beruntun kakek berbaju hitam itu mengeluarkan jurus Ki-hong-tengciau

(burung hong terbang tinggi), Sin-liong-in-kian (naga sakti menampakkan

diri) dan Sik-po-thian-keng (batu hancur langit gempar) untuk merangsek

musuh habis-habisan, di tengah gulungan angin puyuh terlihat cahaya tajam

menyambar ke tubuh lelaki berbaju hijau itu.

“Aaaah … !”, diiringi jeritan ngeri, tubuh lelaki berbaju hijau itu terbelah jadi

dua, usus dan isi perutnya segera terburai kemana-mana.

Malaikat pertama dari Lu-tiong-su-sat segera menerkam ke depan, ruyungnya

dengan jurus Sin-liong-pay-wi (naga sakti mengibaskan ekor) menyapu tubuh

kakek berbaju hitam itu.

Segera kakek itu menggetarkan pedangnya untuk menangkis.

Malaikat pertama segera melepaskan satu pukulan datar dengan tangan

kirinya, sementara pergelangan kanannya dikebaskan ke bawah sambil menarik

kembali senjata ruyungnya, lalu dengan ekor ruyung dia babat bahu lawan.

Jurus serangan ini digunakan sangat hebat dan di luar dugaan, nyaris kakek

berbaju hitam itu kena dihajar.

Dengan tergopoh-gopoh dia menghindar ke samping, ujung pedangnya dengan

jurus Hua-liong-tiam-cing (melukis naga menutul mata) menusuk jalan darah

Bing-bun-hiat di punggung musuh.

Malaikat pertama terdesak hebat, cepat ia menjatuhkan diri berguling ke

tanah.

Malaikat kedua meraung gusar, pedang kaitan dalam genggamannya

menyerang punggung kakek berbaju hitam itu, di antara kilatan cahaya dia

babat bagian bawah lawan, jurus serangannya selain cepat juga sangat ganas.

Kakek berbaju hitam itu tak sudi menghadapi keras lawan keras, dengan

jurus It-hok-cong-thian (bangau sakti terbang ke langit) dia melambung ke

angkasa, setelah lolos dari serangan lawan, menggunakan kesempatan di saat

badannya melayang turun, pedangnya kembali melepaskan tusukan.

Waktu itu malaikat pertama sedang melompat bangun dari tanah, dia jadi

amat kaget ketika tahu-tahu sebuah tusukan telah menyambar tiba.

Tak sempat berkelit lagi, tusukan itu langsung menghujam di atas dadanya.

Diiringi jeritan ngeri, tewaslah orang itu seketika. Mendadak Lu Cong-khi

membentak nyaring, tangannya diayun ke depan, sekilas cahaya emas langsung

menyambar tubuh kakek berambut hitam itu. “Aaaah, ular bergaris emas!” jerit

kakek itu sambil melompat ke belakang.

Ternyata cahaya emas itu tak lain adalah seekor ular kecil berwarna emas,

panjangnya sekitar tujuh delapan inci, begitu mencapai tanah, binatang melata

itu langsung melakukan pengejaran.

Segera Bwe Si-jin berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Cau-ji, cepat

sentil mati ular kecil itu!”

Sebenarnya Cau-ji sudah bersiap melancarkan serangan, mendengar bisikan

itu dia segera menyentilkan jari tangannya.

Diiringi suara teriakan aneh, ular emas itu segera hancur berantakan dan

mati seketika.

Lu Cong-khi bersuit nyaring, kali ini dia menerjang ke arah kakek berbaju

hitam itu.

“Jangan bertarung secara bergilir!” tiba-tiba terdengar bentakan bergema,

menyusul kemudian segulung angin pukulan menyambar ke arah malaikat

kedua.

Malaikat kedua meraung gusar, pedang kaitannya menyapu datar ke muka.

Dengan jurus Jiu-hui-pi-pa (tangan mengayun Pipa) kakek berbaju hitam itu

mengayunkan telapak tangan kirinya menyentil pedang lawan hingga terpental.

Malaikat kedua segera merendahkan pergelangan tangannya sambil berganti

jurus, dengan gerakan Thiat-ki-tok-jut (penunggang baja muncul mendadak)

angin pedangnya menyapu ke bawah dan langsung membacok sepasang kaki

lawan.

Cepat kakek berjubah hitam itu mengebaskan bajunya, tanpa

membengkokkan sepasang lututnya, tanpa menggeser kakinya, tahu-tahu dia

sudah merang-sek ke samping malaikat kedua, tangan kirinya bagai sebuah

japitan baja, dengan gerakan Hui-jan-cing-tham (menyapu debu bicara santai)

dia potong senjata musuh.

Malaikat kedua segera merasa seakan pedang kaitannya dihisap oleh satu

kekuatan yang amat kuat hingga mau lepas dari genggaman, ia sadar gelagat

tidak menguntungkan.

Baru saja pikirannya mempertimbangkan apakah harus lepas tangan atau

tidak, kakek berbaju hitam itu sudah mengayunkan tangan kanannya

menghajar ke atas lambungnya.

Terdengar malaikat kedua menjerit ngeri, tubuhnya seketika mencelat ke

belakang.

“Lihat serangan!” tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan bergema dari balik

kerumunan orang banyak.

Di tengah udara gelap segera terdengarlah suara dengungan yang sangat

aneh.

Pada saat itulah Bwe Si-jin menghardik keras, “Hati-hati dengan senjata

rahasia Yan-cu-tui-hun-piau (senjata rahasia walet pengejar sukma)!”

Terlihat sebatang senjata rahasia terbuat dari baja yang berbentuk seperti

burung walet menyerang batok kepala kakek berbaju hitam itu.

Melihat datangnya desingan aneh, lekas kakek berbaju hitam itu

mengayunkan tangan kirinya melepaskan satu gelombang pukulan dahsyat.

Termakan gulungan angin puyuh itu, Yan-cu-tui-hun-piau itu segera mencelat

dan bergeser ke samping kanan.

Tapi gara-gara terkena getaran itu, tombol rahasia yang ada di balik senjata

rahasia itu bergetar keras, tahu-tahu jarum beracun yang tersimpan di baliknya

menyembur keluar dan berhamburan di angkasa.

Secepat kilat kakek berbaju hitam itu berkelebat ke muka, langsung

merangsek ke hadapan orang itu, diiringi bentakan gusar telapak tangan kirinya

langsung membabat orang itu.

Tampaknya si penyerang tidak menyangka kalau musuhnya dapat

menghindari ancaman Yan-cu-tui-hun-piaunya, melihat datangnya serangan

yang begitu kuat ia tak berani menghadapi dengan kekerasan, segera ia

menggunakan gerakan Kim-le-to-cuan-po (ikan lehi menembus ombak) dia kabur

ke samping.

Kakek berbaju hitam itu mendengus dingin, tidak menunggu orang itu sempat

berdiri tegak, dengan jurus Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti seratus langkah) dia

babat tubuhnya.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang di angkasa, orang itu

terhajar telak dan mencelat ke udara.

Tiba-tiba terdengar Lu Cong-khi meraung gusar, setelah menyerahkan

tongkatnya kepada keempat malaikat lainnya, dia menubruk ke depan.

Dengan satu gerakan kilat, tangan kanannya mencengkeram jalan darah Ciankeng-

hiat di bahu kakek berbaju hitam itu, sementara tangan kirinya menghantam

dengan gerakan melingkar, dalam satu serangan dia telah menggunakan

dua jenis tenaga yang berbeda.

Cepat kakek berbaju hitam itu menggunakan jurus Ci-jiu-poh-liong (tangan

kosong melawan naga), mencengkeram urat nadi pada pergelangan kanan Lu

Congkhi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan jurus Kimkong-

kay-san (malaikat emas membelah bukit) membacok lengan kirinya.

Dua macam tenaga dalam yang berbeda, satu keras satu lunak, berbareng

mengancam kakek berbaju hitam itu.

Karena kelewat takabur, hampir saja Lu Cong-khi masuk perangkap, pukulan

tangan kirinya begitu dipunahkan tahu-tahu jari tangan lawan sudah menempel

di atas pergelangan tangan kanannya.

Kehilangan peluang yang menguntungkan, cepat Lu Cong-khi merubah taktik,

kini dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya dia melancarkan

serangan balasan.

Menggunakan kesempatan di saat tangan kiri lawan belum sempat

mencengkeram pergelangan tangannya, segera dia menggetarkan tangannya dan

mengubah gerakan menotok jadi pukulan.

Menyusul kemudian tubuhnya merangsek maju ke depan, tenaga dalamnya

disalurkan ke dalam tangan dan menghantam dada musuh.

Kakek berbaju hitam itu tidak menyangka kalau Lu Cong-khi mengubah

serangannya secepat itu, dalam gugupnya dia melompat mundur sejauh satu

setengah meter dari posisi semula.

Begitu melayang turun ke tanah, mulutnya terasa manis dan darah segar

telah menyembur keluar.

Lu Cong-khi tertawa seram, sekali lagi dia menubruk ke muka.

Cau-ji yang melihat kakek berbaju hitam itu sudah terluka segera membentak

nyaring, sebuah pukulan dilontarkan ke depan.

Melihat Ho Ho-wan ikut melancarkan serangan, cepat Lu Cong-khi

menghindar ke samping.

Tidak menunggu dia berdiri tegak, Cau-ji dengan mengerahkan tujuh bagian

tenaga dalamnya melancarkan kembali serangan dengan ilmu Tui-hong-ciangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

hoat, bahkan makin menyerang jurus serangannya makin cepat ganas dan

makin hebat.

Sebelum bertarung Lu Cong-khi sudah dibuat keder oleh nama besar lawan,

dengan sendirinya ia berada di posisi di bawah angin, dalam keadaan begini dia

hanya bisa mengandalkan gerakan tubuh dan ilmu pukulannya untuk

menghindar ke sana kemari.

Tak selang beberapa saat kemudian napasnya sudah ngos-ngosan seperti

kerbau, jangan lagi melancarkan serangan balasan, mau berkelit pun sudah

kehabisan tenaga.

“Jangan melukai majikan kami!” bentak malaikat ketiga dan malaikat keempat

serentak, mereka langsung menerkam ke depan.

“Kebetulan sekali,” teriak Cau-ji segera, “kedatangan kalian justru akan

membuat perjalanan di alam baka nanti tak usah kesepian!”

Serangannya segera diperketat dan dalam waktu singkat dia sudah

mengurung kedua orang musuhnya hingga tak mampu berkutik.

Tidak sampai dua puluh gebrakan kemudian, tiba-tiba terdengar Cau-ji

membentak nyaring. Sementara Lu Cong-khi bertiga masih terperanjat, satu

pukulan maut dari Cau-ji sudah menggulung tiba.

Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di angkasa, terlihat

tiga sosok tubuh manusia mencelat ke belakang.

Dari kerumunan orang banyak segera melompat keluar tiga sosok bayangan

manusia untuk menyambut tubuh ketiga orang rekannya itu, mereka segera

saksikan tulang dada ketiga orang itu sudah melesak sedalam beberapa inci,

darah segar berhamburan dimana mana, tidak nampak tanda kehidupan lagi di

tubuh mereka bertiga.

Masih untung Cau-ji tak ingin membocorkan identitasnya sehingga dia hanya

menggunakan tujuh bagian tenaga serangan, kalau tidak, mungkin tubuh

mereka bertiga sudah hancur berkeping-keping.

“Ayo, lanjutkan pertarungan!” seru Cau-ji kemudian sambil melayang balik ke

samping Bwe Si-jin.

Sebagian besar manusia yang bergerombol di depan halaman adalah anggota

perkumpulan naga mas, begitu melihat ketuanya mati mengenaskan, mereka

segera mengandalkan jumlah banyak melakukan penyerbuan.

Ada tiga puluhan orang jago telah melolos senjatanya dan menyerbu ke depan.

Sepasang perampok ulung Heng-ha-siang-to hanya berdiri tak berkutik di

posisi semula, mata mereka berkilat, entah rencana busuk apa yang sedang

dipersiapkan?

Im Jit-koh membentak nyaring, dia menyerbu ke depan menyongsong

datangnya serangan itu.

Sebuah pertempuran sengit pun segera berkobar. Bwe Si-jin dengan senjata

tongkat kepala ularnya segera mengeluarkan ilmu toya andalan Ho Ho-cia untuk

merobohkan lawan-lawannya.

Dimana senjata toya itu menyambar, jeritan ngeri segera bergema memecah

keheningan.

Cau-ji tertawa seram, ketika melihat sepasang perampok ulung itu hanya

berdiri menjauh, dia segera melayang ke udara dan menerjang ke arah mereka.

Melihat iblis tua itu datang mengancam, sepasang perampok itu ngacir ke kiri

dan kanan.

“Yang kabur ke timur serahkan kepada budak!” mendadak terdengar Siau-si

membentak nyaring.

Cau-ji pun segera memusatkan perhatian mengejar perampok yang kabur ke

barat.

Sadar tak ada harapan baginya untuk kabur, mendadak perampok itu

menjatuhkan diri berlutut sambil merengek, “Cianpwe, ampuni jiwaku, Cianpwe,

ampuni jiwa anjingku!”

Belum pernah Cau-ji menghadapi manusia pengecut semacam ini, tak urung

ia tertegun juga dibuatnya.

Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar suara desingan lirih bergema

dari punggung orang itu, rupanya secara diam-diam ia telah menyemburkan

segenggam jarum beracun Hong-ong-ciam (jarum raja lebah) yang berwarna biru

beracun ke tubuh Cau-ji.

Melihat dirinya dibokong secara licik, Cau-ji membentak gusar, tangan kirinya

menghajar jarum-jarum itu hingga mencelat, sementara tangan kanannya

melepaskan satu bacokan maut.

“Blaaaam!”, tubuh orang itu seketika hancur berkeping-keping dan melesak

masuk ke dalam tanah sedalam beberapa inci.

Di pihak lain, perampok kedua itupun sedang kewalahan menghadapi

serangan gencar yang dilakukan Siau-si.

Dia semakin tercecar hebat setelah mendengar jeritan ngeri dari saudaranya,

baru saja pikirannya bercabang, tahu-tahu batok kepalanya sudah melayang

meninggalkan raga.

Agaknya Siau-si sendiri pun tidak menyangka kalau tenaga dalamnya

mengalami kemajuan pesat, ia tahu keberhasilan itu merupakan berkah dari

kekasih hatinya, tanpa sadar dia berpaling sambil melemparkan sekulum

senyuman manis, setelah itu dia baru melanjutkan terkamannya ke depan.

Cau-ji bertindak makin ganas, setiap ada musuh yang berani mendekati

dirinya, dia langsung menghadiahkan sebuah pukulan dahsyat.

Tak lama kemudian belasan sosok mayat telah bergelimpangan di seputar

sana.

Melihat betapa dahsyat dan ganasnya lawan, kawanan jago lainnya tak ada

yang berani mendekat lagi, mereka segera menyingkir jauh-jauh.

“Dasar pengecut!” umpat Cau-ji.

Dia mencoba memandang sekitar arena, segera lihat ada seorang Hwesio tua

bertubuh tinggi besar dan berwajah menyeramkan sedang bertarung sengit

melawan Im Jit-koh.

Tampak Hwesio tua itu melancarkan serangkaian bacokan dahsyat untuk

mengurung tubuh Im Jit-koh.

Sementara Im Jit-koh sendiri dengan jurus Ing-hong-toan-cau (menyambut

angin membabat rumput) memotong lengan lawan.

Hwesio tua itu segera mengayunkan tangan kirinya ke depan, segulung angin

serangan langsung menekan senjata lawan, sementara tangan kanannya dengan

jurus Juan-im-ti-gwe (menembus awan memetik rembulan) secepat kilat

menyodok tubuh perempuan itu.

Lekas Im Jit-koh memutar kencang pedangnya, secara beruntun dia

melancarkan tiga jurus serangan.

Menyaksikan betapa dahsyatnya angin serangan lawan, Hwesio tua itu

membentak nyaring, dengan ilmu laba-laba andalannya dia mencecar lawannya

habis-habisan.

Tak lama kemudian Im Jit-koh sudah terdesak di bawah angin.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, seorang kakek berjubah hitam telah

melepaskan sebuah pukulan dari samping dan membebaskan Im Jit-koh dari

ancaman maut.

Setelah berhasil berdiri tegak, Hwesio tua itu membentak gusar, tangan

kanannya perlahan diangkat ke udara, jari tangannya bagaikan cakar burung

elang tiba-tiba membesar satu kali lipat.

Menyaksikan perubahan itu, kakek berbaju hitam itupun segera menghimpun

segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke tangan kanan, tampaknya dia pun

sudah siap menyambut serangan itu dengan keras lawan keras.

Senyuman dingin mulai menghiasi wajah si Hwesio yang hitam pekat, di

bawah cahaya obor, wajahnya nampak jauh lebih menyeramkan, selangkah demi

selangkah dia maju mendekat.

Kakek berbaju hitam itu terkesiap, tanpa sadar dia bergerak mundur ke

belakang.

Cau-ji yang menyaksikan kejadian ini segera membentak nyaring, tubuhnya

langsung menyelinap masuk di antara kedua orang itu.

Saat itulah ia mendengar Bwe Si-jin berbisik, “Hadapi dia dengan ilmu jari!”

Maka begitu tubuhnya berdiri tegak, ia segera totok telapak tangan Hwesio itu

dengan sodokan jari.

“Dasar manusia tak tahu diri,” pikir Hwesio tua itu segera, “memangnya kau

anggap ilmu pukulan Jui-sim-ciang (pukulan penghancur hati) bisa dipecahkan

oleh sodokan jari tanganmu?”

Sebuah serangan maut langsung dilontarkan ke depan.

Sungguh dahsyat ilmu pukulan Jui-sim-ciang ini, bukan saja disertai tenaga

serangan yang dahsyat bahkan mengandung pula sari racun yang sangat

mematikan.

Sekalipun seseorang dapat menahan serangan maut itu dengan tenaga

dalamnya, biasanya sulit untuk mencegah sari racun menyusup masuk ke

dalam tubuh lawan, oleh sebab itu sudah beratus orang yang tewas di ujung

tangannya.

Dalam perjalanannya kali ini Lu Cong-khi memang khusus mengundangnya

untuk membantu pihaknya, maka ketika menyaksikan orang yang telah

membunuh ‘tauke’nya berani menangkis serangannya, dia pun menggunakan

seluruh kekuatan yang dimiliki untuk membacok lawan.

Sayang dia salah menduga, dia tak tahu kalau Cau-ji tak mempan racun,

tahu-tahu telapak tangannya terasa sakit sekali, ketika diperiksa ternyata

telapak tangan andalannya sudah muncul sebuah lubang kecil.

Kenyataan ini kontan saja membuat hatinya terkesiap, ia merasa ada

segulung hawa panas menyusup ke dalam tubuhnya dan langsung menyerang

ke jantungnya.

Bukan saja dalam waktu singkat seluruh tenaga dalamnya punah, bahkan

jalan darah Pit-ji-hiat yang selama ini dipakai untuk mencegah racun menyerang

ke tubuhnya ikut tergetar hingga terbuka.

Tak ampun racun jahat yang terhimpun dalam tubuhnya segera mengalir

balik dan langsung menyerang ke jantung sendiri, senjata makan tuan.

Menyadari gelagat yang tidak menguntungkan, Hwesio itu segera berpekik

nyaring, tangan kirinya langsung dihantamkan ke atas ubun-ubun sendiri.

Di tengah percikan darah segar, robohlah pendeta itu dalam keadaan tak

bernyawa.

Kebetulan waktu itu Bwe Si-jin sedang memukul mundur seseorang, melihat

kejadian itu dia segera berteriak keras, “Jangan mendekati jenazahnya, sangat

beracun!”

Dengan satu pukulan dahsyat dia lempar jenazah Hwesio itu ke dalam liang.

Kini tersisa tiga puluhan jago dari Kim-liong-pang, melihat jagoan yang paling

diandalkan perkumpulan mereka pun tewas secara mengenaskan, mereka tak

berani berkutik lagi, kontan semua orang membubarkan diri dan melarikan diri

terbirit-birit.

Im Jit-koh segera berseru kepada anak buahnya, “Lepaskan mereka semua,

biar mereka sampaikan berita ini kepada semua orang hingga tak ada lagi yang

mengantar kematian di sini.”

Melihat kedua orang dayangnya selamat, Cau-ji pun melemparkan sekulum

senyuman kepada mereka, kemudian bersama Bwe Si-jin kembali ke ruang

utama.

Baru saja Siau-si dan Siau-bun akan membantu rekan-rekannya

membersihkan arena, Im Jit-koh telah menghampiri mereka sambil berbisik,

“Lebih baik kalian temani Tongcu!”

Mendengar itu, dengan wajah bersemu merah kedua orang gadis itu kembali

ke ruang tengah.

Melihat mimik muka kedua orang gadis itu, Bwe Si-jin sengaja menggeliat

sambil bergumam, “Wah, setelah bertarung setengah harian, sudah waktunya

bagiku untuk kembali beristirahat.”

Sambil berkata ia segera balik kembali ke kamarnya.

Kini dalam kamar, tinggal Cau-ji bersama kedua orang gadisnya.

Sesaat kemudian pintu kamar kembali dibuka orang, tampak Siau-si dengan

membawa dua stel pakaian berjalan di depan dan Siau-bun dengan membawa

kotak makan mengintil di belakangnya.

Cau-ji jadi keheranan melihat sikap kedua orang itu, tegurnya, “Siau-si, Siaubun,

apa yang kalian lakukan?”

Sambil meletakkan pakaian di atas bangku, sahut Siau-si sambil menghela

napas, “Tongcu, barusan budak keringatan, maka ingin minta sedikit air panas

untuk membersihkan badan.”

Sedang Siau-bun telah mengeluarkan sejumlah hidangan dan dua macam

kuah dari kotak makannya, dengan lembut serunya, “Tongcu, hidangan ini kami

siapkan untukmu.”

“Wah, cepat amat cara kerja kalian, hanya sebentar saja sudah kalian siapkan

dua macam hidangan.” Siau-bun tertawa.

“Mana mungkin kami bekerja secepat itu, tadi aku telah berpesan kepada koki

untuk membuatkan.”

Cau-ji menyumpit sepotong hati babi, setelah dicicipinya dia berseru, “Ehm,

sedap rasanya, hanya sayang tak ada arak!”

Siau-si tersenyum, dari bawah ranjang dia mengeluarkan seguci arak,

serunya, “Tongcu, budak dengar kau paling suka dengan arak Tan-nian-pakkan,

maka sengaja kubeli beberapa guci untukmu.”

“Hahaha, kalian memang perhatian, sudah beli berapa guci?”

“Enam guci.”

“Bagus sekali, kalau begitu hadiahkan dua guci untuk Toako.”

“Tongcu tak usah kuatir, budak telah menyiapkan pula enam guci di kolong

ranjangnya.”

Pada saat itulah tiba-tiba pintu diketuk orang.

Ketika Siau-bun membuka pintu, ternyata yang muncul adalah Bwe Si-jin,

segera serunya, “Tongcu, silakan masuk!”

“Hahaha, jangan terburu-buru mengusir Lohu, tak akan Lohu jadi perusak

suasana, haha … terima kasih untuk arak kalian.”

Selesai berkata dia benar-benar pergi dari situ.

Setelah mengunci pintu kamar kembali, Siau-bun pun bertanya keheranan,

“Aneh, darimana Tongcu bisa tahu kalau di kolong ranjang tersedia arak?”

Cau-ji tahu pamannya memang selalu teliti, sebelum tidur dia sudah terbiasa

melakukan pemeriksa di seluruh tempat itu sehingga tak heran kalau dia bias

menemukan arak itu.

Maka sambil tertawa katanya, “Jangan heran dengan orang itu, sejak lahir dia

memang setan arak, biar di ratusan li ada orang minum arak, dia pasti dapat

mengendusnya.”

“Aaah, Tongcu pandai bergurau!” seru Siau-bun manja.

“Tongcu, mari budak berdua melayanimu membersihkan badan,” bisik Siau-si

pula.

“Soal ini….”

Alasan keraguan Cau-ji adalah pertama, karena dia tahu kedua orang gadis

ini adalah putri kesayangan keluarga Suto yang tersohor sehingga dia segan

menyuruh mereka melakukan perbuatan semacam itu.

Kedua, dia kuatir rahasia penyamarannya ketahuan.

Padahal memang alasan kedua itulah yang menjadi sasaran kedua orang gadis

itu.

“Jangan-jangan Tongcu menganggap budak ini bodoh sehingga enggan kami

layani?” rayu Siau-si sedih.

Dalam paniknya muncul satu akal dalam benak Cau-ji, segera katanya,

“Bukan begitu, bukan begitu, aku kuatir tak bisa mengekang napsu setelah

kalian mandikan, padahal bagian ‘anu’ kalian berdua masih terluka setelah aku

rusak selaput perawannya semalam, kalau sampai aku masuki lagi, kan berabe!”

Berkilat sepasang mata Siau-si berdua setelah mendengar perkataan itu,

mereka merasakan satu kemesraan yang aneh muncul dalam hatinya.

Dengan suara rendah Siau-si pun berbisik, “Tongcu, kami toh bukan gadis

lemah, kalau memang ingin, ayolah, budak pasti akan melayani kemauan

Tongcu!”

Diam-diam Cau-ji mengeluh, tapi di luar, katanya sambil tertawa, “Baiklah,

kalau memang kalian mencari penyakit sendiri, jangan salahkan Lohu.”

Dengan tangan gemetar Siau-bun mulai membantu Cau-ji melepas

pakaiannya.

Waktu itu Siau-si sudah masuk ke kamar mandi duluan, ia masuk

mempersiapkan semua keperluan mandi.

Begitu masuk ke kamar mandi, Cau-ji saksikan di atas sebuah rak kayu

sepanjang dua meter dengan lebar satu setengah meter telah dilengkapi sebuah

bak mandi.

Tak tahan ia berseru memuji, “Wouw, semua perlengkapan mandi ini sangat

indah dan lengkap.”

“Silakan Tongcu!” bisik Siau-si lagi lembut. “Wah, kelihatannya Lohu seperti

seekor babi yang mau disembelih orang ….”

Siau-bun tertawa cekikikan, sambil menyelinap ke samping bak mandi,

serunya, “Tongcu, jangan bicara dengan kata sejelek itu, mari biar budak pijit

badanmu, agar semua otot yang kaku jadi kendor kembali.”

Melihat gadis itu hanya mengenakan pakaian dalam, Cau-ji kembali

menggelengkan kepalanya.

“Siau-bun, melihat tubuhmu yang molek saja Lohu sudah merasa tegang,

mana mungkin bisa rileks?”

“Aaah, lagi-lagi Tongcu menggoda aku.” Ketika Siau-bun tak kuasa menahan

rasa gelinya dan tertawa cekikikan, kelihatan sepasang buah dadanya ikut

bergetar keras.

Kontan Cau-ji merasa mulutnya yang kering dan tombaknya secara otomatis

berdiri tegak.

“Siau-bun, tolong jangan tertawa lagi ….” pintanya sambil tertawa.

Kembali Siau-bun tertawa cekikikan, dia mengambil handuk basah dan mulai

menggosok sekujur badan anak muda itu.

Siau-si segera melepas pakaiannya dan ikut menggosok badannya dari sisi

lain.

Cau-ji segera merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia pun memejamkan

mata dan membiarkan mereka menggosok dan mengurut tubuhnya.

Setelah badannya digosok berulang kali, akhirnya ia merasa ada sebuah

badan yang hangat menduduki di atas pangkuannya, disusul kemudian ada

sepasang tangan mulai mengurut tulang punggungnya.

Pijatan yang begitu lembut dan nikmat membuat Cau-ji tanpa terasa segera

tertidur pulas.

Rupanya secara diam-diam Siau-si telah menotok jalan darah tidurnya.

Ketika melihat Cau-ji sudah tertidur, dia pun mengambil sebuah handuk

basah, dicelupkan sebentar ke dalam air hangat kemudian perlahan-lahan mulai

menggosok raut mukanya.

Selang beberapa saat kemudian jenggot putih di wajah Cau-ji sudah berhasil

dilepas, kemudian obat pemoles wajah pun hilang satu per satu sebelum

akhirnya muncullah raut muka aslinya.

“Ya ampun!” pekik dua orang gadis itu serentak.

Menyaksikan raut muka yang begitu muda, tampan dan menawan hati,

jantung kedua orang gadis itu berdebar keras, tak tahan tubuh mereka gemetar

keras.

Dengan air mata berlinang Siau-bun segera memeluk kencang tubuh Siau-si,

serunya kegirangan, “Cici, tak disangka ternyata dia….”

“Benar, adikku.” sahut Siau-si sambil mengangguk, “sungguh beruntung nasib

kita …!”

“Cici, bagaimana kalau dia marah setelah mengetahui kita hilangkan penyaru

mukanya?”

“Tak usah kuatir adikku, dia bukan orang yang tak pakai aturan, cepat bantu

mandikan dirinya.”

Setengah jam kemudian Cau-ji baru mendusin dari tidurnya, ia jumpai dirinya

sudah berbaring di atas ranjang, cepat dia melompat bangun.

Pemuda itu jadi keheranan ketika melihat Siau-si dan Siau-bun berlutut di

hadapannya.

“He, apa-apaan kalian berdua?” tegurnya setelah tertegun sesaat.

“Kongcu,” ujar Siau-si sambil mendongakkan kepalanya, “ketika

membersihkan wajahmu tadi, karena kurang hati-hati budak telah mencuci

bersih obat penyaru mukamu, maka …”

Mendengar perkataan itu Cau-ji segera meraba wajah sendiri, benar saja,

jenggot putihnya telah lenyap, maka setelah tertegun sejenak katanya sambil

tertawa, “Kalian berdua memang setan pintar, ayo cepat bangun!”

“Kongcu tidak marah kepada kami?” seru Siau-bun terkejut bercampur girang.

“Hmm, kalian bernyali besar, siapa bilang aku tidak marah,” sahut Cau-ji

pura-pura marah.

Siau-bun kembali tertegun.

Siau-si tahu kalau pemuda itu hanya pura-pura marah, serunya cepat,

“Budak bersedia menerima hukuman.”

“Bagus, bagaimana dengan kau, Siau-bun?”

“Budak pun siap menerima hukuman.”

“Bagus, bagus sekali, aku harus mengakui kehebatan kalian, baiklah, sebagai

hukumannya kalian harus segera menanggalkan semua pakaian yang kalian

kenakan, bagaimana?”

Bergetar perasaan hati Siau-si berdua, tentu saja mereka malu untuk

menyanggupi.

“Hmm, memangnya aku harus turun tangan sendiri?” kembali Cau-ji berseru.

Kedua orang gadis itu tak berani membangkang, cepat mereka bangkit berdiri

dan menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan.

“Hmm, siapa berani terlambat akan kuberi hukuman tambahan.”

Kedua orang gadis itu tertawa cekikikan, hampir pada saat yang bersamaan

mereka berdua telah melepaskan celana dalamnya.

“Tongcu,” seru Siau-bun kemudian sambil tertawa cekikikan, “kami samasama

cepatnya.”

Cau-ji melirik sekejap, ia jumpai Siau-si telah meletakkan celana dalamnya ke

lantai sementara Siau-bun masih memegangnya, sambil tertawa ia segera

berseru, “Tidak bisa, Siau-bun kau mesti dihukum.”

“Tidak adil….” protes Siau-bun cepat.

“Siapa bilang tidak adil, coba lihat … itu!” Cau-ji menuding celana dalam yang

masih dalam genggamannya.

Dengan keheranan Siau-si ikut berpaling, tapi dia segera tertawa cekikikan.

“Baiklah, aku siap menunggu hukuman,” kata Siau-bun kemudian.

“Bagus, sekarang tuang secawan arak, lalu kau mesti melolohkan ke mulutku

dengan bibirmu!”

“Tapi … arak itu keras, bagaimana kalau aku sampai mabuk? Tongcu,

bagaimana kalau ditukar yang lain?”

“Tidak bisa, kalau kau membangkang, hukuman akan berganda.”

“Baik, baik.”

Sambil berkata ia benar-benar memenuhi cawannya dengan arak.

Dengan cepat Siau-bun meneguk arak itu, kemudian menempelkan bibirnya

di atas bibir Cau-ji dan melolohnya sedikit demi sedikit.

“Aaah, nanti dulu,” kembali Cau-ji protes, “aku tak mau kalau kau berwajah

murung, kalau memang ikhlas mestinya tampil dengan wajah gembira.”

Siau-bun merasakan mulutnya panas dan pedas, serasa ada hawa panas

menyelimuti tubuhnya, saking gelisahnya, sisa arak segera mengalir masuk ke

dalam tenggorokannya.

“Aaaah, panas … pedas ….” teriaknya megap-megap, “apa enaknya arak keras

seperti ini?”

Cau-ji kembali berseru, “Siau-si, kau mulai hitung, kalau dalam setengah jam

Siau-bun belum menyelesaikan tugasnya, dia harus diganjar hukuman lain.”

“Mana ada peraturan seperti itu?”

“Peraturan rumah tangga ini berlaku mulai sekarang.”

Melihat wajah gadis itu semakin bekernyit, Cau-ji semakin kegirangan,

kembali godanya, “Siau-bun, kalau kulihat tampangmu itu, kelihatannya kau

ingin minum dua poci lebih banyak.”

“Aaah, tidak, arak itu pedas, mana tahan….”

“Baik, kalau memang begitu biar aku minum sendiri.”

Sambil berkata Cau-ji segera menggerakkan tangan kanannya, guci arak yang

berada beberapa meter di hadapannya langsung melayang ke arahnya.

Selama hidup belum pernah Siau-si berdua menyaksikan kehebatan ilmu silat

seperti ini, mereka berdiri melongo.

Sambil tertawa Cau-ji menghisap arak itu, kemudian selesai meneguknya ia

bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan Siau-bun.

Dengan ketakutan Siau-bun mundur beberapa langkah, teriaknya, “Kongcu,

biar budak mencobanya..”

Cepat dia meneguk secawan

“Nah, ada kemajuan sekarang,” seru Cau-ji kemudian sambil tertawa,

“baiklah, kuanggap kau lulus ujian, sekarang kau loloh arak itu ke mulutku.”

Dengan tersipu-sipu Siau-bun menempelkan bibirnya di atas bibir Cau-ji dan

meloloh arak itu ke mulutnya.

Begitulah, entah sudah berapa tegukan arak yang berpindah dari bibir Siaubun

ke mulut Cau-ji.

Kini paras muka Siau-bun telah berubah jadi merah padam, dia kelihatan

agak mabuk.

Siau-si kuatir adiknya mabuk, diam-diam ia membantunya meneguk satu

cawan arak.

Kelihatannya Cau-ji sudah menduga akan hal itu, diam-diam ia sentilkan

jarinya ke jalan darah Tiau-huan-hiat di kaki kanan gadis itu, kontan si nona

menjerit kesakitan dan menyemburkan keluar arak dalam mulutnya.

“Cici, kenapa kau?” Siau-bun segera bertanya. Lekas Siau-si membalikkan

badan dan terbatuk-batuk.

Akhirnya Cau-ji mengambil sisa arak yang ada di teko dan meneguknya

hingga habis, kemudian katanya, “Orang bilang ada tiga Hwesio tak punya air

untuk diminum, kalau kita bertiga malah minum arak sampai mabuk.”

Habis berkata ia tertawa tergelak.

Bab IV. Dua bersaudara menikmati surga dunia.

“Huuh, mana ada tiga orang Hwesio di sini?” seru Siau-bun cepat.

Cau-ji mengelus kepalanya, lalu mengawasi ujung tombaknya yang berdiri,

setelah itu katanya lagi, “Aaah, betul, aku salah bicara, seharusnya satu Hwesio

ditambah dua nikoh.”

Berhadapan dengan dua gadis bugil yang bertubuh indah, lama kelamaan

Cau-ji tak sanggup mengendalikan napsunya lagi, tombak besarnya mulai

berdiri kaku dan mencari sasaran.

Keadaan yang dialami kedua orang gadis itupun tidak jauh berbeda, napsu

birahi mereka sudah mulai memuncak.

Sejak mereka tahu orang yang disangkanya adalah seorang iblis tua ternyata

adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, mereka mulai terangsang

perasaannya.

Apalagi sekarang dipengaruhi arak yang membuat seluruh tubuhnya hangat,

napsu birahinya makin berkobar.

Ketika Cau-ji dengan tombak besarnya mulai mengejar mereka, dua orang itu

segera pura-pura berlari sambil menghindar, padahal pantatnya sengaja

ditunggingkan ke belakang, memberi kesempatan kepada tombak lawan untuk

menusuk masuk.

Cau-ji tahu taktik mereka, maka berulang kali dia tubruk mereka dari

belakang, menusukkan tombaknya ke lubang surga mereka, tapi setelah

beberapa kali genjotan dia melepaskan kembali korbannya dan berpindah ke

lubang surga milik gadis yang lain.

Akhirnya Siau-bun menyerah kalah.

Dia tak sanggup lagi menahan rangsangan birahi yang memuncak, mendadak

sambil membalikkan badan ia berjongkok, memeluk pinggul pemuda itu eraterat

dan mulai menghisap tombak milik Cau-ji dengan penuh napsu.

Cau-ji menjerit keras, baru saja dia ingin makan tahu, bibirnya lagi-lagi

disumbat oleh Siau-si.

Dia merasakan sekujur badannya amat panas, tangan kanannya mulai

meremas sepasang payudara Siau-si sementara tangan kirinya membelai rambut

Siau-bun dan meraba belakang telinganya.

Ciuman mesra Siau-si membuat gadis itu terengah-engah, sampai napasnya

jadi sesak ia baru melepaskan rangkulannya, kemudian sambil mengerling genit

dia menuju ke depan bangku ‘seluruh keluarga bahagia’.

“Siau-bun, ayo, kita pindah ke bangku!” bisik Cau-ji kemudian.

Dengan berat hati Siau-bun melepaskan hisapan-nya atas tombak panjang

yang kasar, keras, berkilat lagi, kemudian setelah menciumi batang tombak itu

dia berjalan menuju ke depan kursi.

Cau-ji segera melompat naik dan duduk di bangku bagian tengah, sementara

sepasang kakinya dipentang ke kiri dan kanan, dia awasi kedua orang gadis itu

tanpa bicara, akan dilihat apa yang hendak diperbuat mereka berdua.

Dipandang secara begitu, lama kelamaan mereka berdua jadi malu sendiri,

tanpa terasa mereka berusaha menutupi lubang surga sendiri.

Tapi bisakah mereka menyembunyikan bagian yang paling rahasia itu?

Dengan mengamati secara seksama, Cau-ji segera menemukan kalau bulu

yang dimiliki Siau-bun ternyata lebih tebal dan lebat ketimbang bulu Siau-si

yang lebih tipis, selain itu bagian ‘surga’nya tidak semontok milik Siau-si.

Hanya saja ‘lubang gua’ milik Siau-si tampak berada sedikit lebih tinggi,

menurut pelajaran seks yang diterima dari paman Bwe, diketahui kalau lubang

jenis ini biasanya lebih gampang dimasuki, tanpa ganjalan bantal pun bisa

langsung dimasuki.

Cuma ada orang bilang, “Konon orang yang berbulu bawah tebal biasanya

lebih getol berbuat ‘begitu’, tak aneh jika penampilan Siau-bun lebih hot, lebih

berani dan lebih terbuka”.

Suasana dalam ruangan pada malam ini jauh berbeda dengan suasana,

semalam, meskipun kedua orang gadis itu telah disetubuhi Cau-ji, namun

perasaan mereka berdua sangat berbeda.

Semalam mereka disetubuhi dengan perasaan sedih bercampur gusar.

Sementara pada malam ini mereka justru merasa malu, mereka tak berani

sembarangan bergerak.

Lama kemudian Cau-ji baru bergumam sambil menghela napas, “Aaaai, kalau

mesti membandingkan mana yang lebih indah antara salju dan bunga Bwe,

sulitnya setengah mati.”

Kedua orang gadis itu tertunduk malu. Sikap tersipu kedua orang gadis ini

membuat Cau-ji makin terangsang, tiba-tiba serunya, “Siau-si, Siau-bun,

sewaktu minum arak tadi kalian telah melanggar peraturan, mengaku tidak?”

Siau-si berdua tidak bodoh, tentu saja mereka tahu kalau ucapan itu

merupakan salah satu tehnik untuk membangkitkan napsu, serentak mereka

mengangguk sambil tersenyum, “Mengaku, budak bersedia menerima hukuman!”

“Hahaha, bagus, bagus sekali, aku dengar Siau-si yang mengusulkan untuk

menghilangkan penyaruan di wajahku, benarkah begitu?”

“Ehmm.”

“Bagus, kalau begitu kuhukum dirimu sebagai pentolan dari kejahatan ini,

ayo, kau yang naik duluan!”

Siau-si segera melompat naik ke atas pangkuan Cau-ji, sepasang kakinya

dikaitkan di belakang sandaran bangku dan serunya, “Kongcu, aku protes, masa

aku dianggap pentolan penyamun?”

“Baik. baik, biar kusebut kau sebagai mak comblang yang cakep, setuju?”

Siau-si merasa makin terangsang, tiba-tiba badannya ditekan ke bawah kuatkuat,

lubang surganya langsung menelan tombak itu hingga tinggal separuh.

Tak terlukiskan rasa girang Cau-ji, dia tak menyangka gadis itu sudah mulai

pintar memasukkan tombaknya ke liang miliknya, katanya kemudian, “Boleh

tahu berapa usia kalian berdua?”

“Cici amat merahasiakan soal ini!” teriak Siau-bun cepat.

Siau-si tertawa cekikikan, dia menekan badannya lebih ke bawah sehingga

tombak itu nyaris membuat lubangnya terasa sesak.

Tapi ketika dia melirik ke bawah dan menjumpai tombak itu masih ada

beberapa senti tertinggal di luar, hatinya tercekat, dia tak menyangka Cau-ji

memiliki senjata yang begitu panjang dan besar.

“Siau-si,” bisik Cau-ji dengan lembut, “ayo sebutkan berapa umurmu, kalau

tidak … hehehe … jika barangku sampai ngeloyor masuk sendiri hingga ke

dasarnya, kau bisa tak tahan ….”

Siau-bun yang mendengar ancaman itu kontan berteriak, “Cici, jangan takut

dengan ancamannya.”

“Kau dengar Kongcu?” Siau-si tertawa.

“Bagus, kelihatannya Siau-bun anggap lebih mampu, ayo, kalau punya nyali,

naik kemari.”

“Naik ya naik. siapa takut?”

Sambil tertawa Siau-si pindah ke bangku samping, memberi kesempatan

kepada Siau-bun untuk menaiki pemuda itu.

Dengan cepat Siau-bun merentangkan pahanya dan menekan badannya ke

bawah, tombak besar itu langsung menghujam masuk ke dalam lubangnya.

“Aaauh!”

Rupanya sejak tadi gadis ini sudah dibakar napsu birahi yang berkobar, dia

merasa lubangnya gatal sekali dan ingin digesek dengan tombak pemuda itu, tak

heran begitu mendapat kesempatan, ia langsung menelan tombak lawan hingga

ke dasarnya.

Dengan cepat dan lancar ia telah menyelesaikan tugasnya, memasukkan

tombak ke dalam lubang.

Tapi sekarang dasar lubangnya mulai ditekan ujung tombak lawan, tekanan

yang membuatnya sakit dan kaku.

Bukan hanya kaku, malah gatalnya setengah mati.

“Ayo, katanya siapa takut? Kenapa hanya berdiam saja?” ejek Cau-ji sambil

tertawa.

Disindir begitu, Siau-bun segera menggoyangkan pantatnya dan

menggeseknya kuat-kuat.

Baru beberapa kali putaran dia mulai mendengus tertahan.

Cau-ji memeluk pinggulnya dengan kuat, ia bantu nona itu dan mendorong

badannya naik turun. “Plook… ploook “Oooh… uuuh..”

Aneh, setelah melewati lima puluhan kali genjotan, gadis itu sudah tidak

berkerut kening lagi, malahan dengan wajah berseri dia mulai menggenjot

sendiri badannya, sebentar naik turun, sebentar menggeseknya ke kiri kanan.

Melihat Siau-bun mulai menikmati permainan itu, Cau-ji segera meremas

payudaranya, lalu membelai badannya sambil berbisik, “Siau-bun, berapa

umurmu?”

“Aku….”

“Ooh, kau sudah capai? Sana, beristirahatlah”

“Aaah, jangan, tidak, tahun ini aku berusia enam belas tahun.”

Cau-ji tak kuasa menahan gelinya, ia tertawa terbahak-bahak.

Biarpun Siau-bun sadar dirinya sedang dikerjai, namun gesekan liangnya

dengan tombak itu makin mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, tentu saja

dia tak mau banyak membantah, dia kuatir liangnya diusir keluar dari

perbatasan.

Mau tak mau Siau-si harus mengakui kecerdasan serta kecepatan reaksi

pemuda itu, sepasang matanya kontan berkilat, sambil mengawasinya dengan

wajah termangu dia mulai mengkhayalkan impian indah.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya setelah

mendengar rintihan nikmat dari adiknya.

Tampak tubuh Siau-bun gemetar keras, sambil menggeliat bagaikan seekor

ular, ia merintih tiada hentinya,

“Ooh, Kongcu … aduh … Kongcu … aduh … aduh enaknya… aku … aku tak

tahan … aduh …”

Menggunakan kesempatan ini Cau-ji segera melancarkan serangan secara

bertubi-tubi, sepasang tangannya memeluk pinggul gadis itu kuat-kuat, kemudian

mendorong tubuhnya secara bertubi-tubi.

Akhirnya Siau-bun menjerit keras, “Aduuh nikmatnya!”

Tubuhnya lemas dan lunglai.

“Siau-si, antar dia beristirahat di ranjang,” ucap Cau-ji sambil tertawa.

Siau-si segera membopong tubuh Siau-bun, terlihat ada gumpalan cairan

berwarna putih keabu-abuan bercampur dengan warna merah darah meleleh

keluar dari bagian bawah tubuhnya.

Cairan itu meleleh dari depan bangku hingga depan pembaringan, lekas Siausi

mengambil celana dalam milik Siau-bun dan menyumbatnya ke atas lubang

surganya.

Dia menyelimuti tubuh Siau-bun, kemudian dari almari mengeluarkan sehelai

handuk dan diletakkan di atas bangku dengan wajah tersipu.

Ketika semua persiapan telah selesai, kembali ia telan tombak panjang itu

dengan liangnya.

“Kongcu,” keluhnya dengan lirih, “kau benar-benar bintang penakluk bagi

budak berdua.”

Dengan lemah lembut Cau-ji membelai sepasang buah dadanya, lalu sahutnya

sambil tertawa, “Kau jangan bicara begitu, tak ada bintang penakluk di sini,

yang ada cuma bintang penolong, bukan begitu enci Suto?”

Begitu mendengar nama ‘Suto’ disinggung, Siau-si kontan terkejut setengah

mati, dengan mata melotot karena kaget, tangan kanannya segera diangkat ke

udara.

Kembali Cau-ji tertawa, katanya, “Enci Si, memangnya Siaute berniat

memusuhimu?”

Siau-bun yang sedang beristirahat di atas ranjang sambil memejamkan mata

pun ikut merasa tegang setelah mendengar sebutan Suto tadi. tanpa sadar dia

ikut melompat turun dari ranjang dan bertari ke depan bangku.

“Kongcu,” tanyanya dengan suara gemetar, “darimana kau tahu asal-usul

kami?”

“Enci Bun, Siaute dari marga Ong bernama Bu-cau, tahun ini berusia tiga

belas tahun. Ayahku Ong It-huan, orang memanggilnya Ong Sam-kongcu dari

kota Kim-leng, sedang ibuku Si Ciu-ing bergelar Li-cukat, mereka berdiam di

perkampungan Hay-thian-it-si!”

“Ooh, thian!” jerit Siau-si kaget, dia segera melompat ke depan bangku.

Tampak kedua orang gadis itu berlutut di lantai dan berkata dengan suara

gemetar, “Kongcu, kau harus membantu budak berdua membalaskan dendam

sakit hati atas terbunuhnya beratus anggota keluarga Suto, biar budak jadi

kerbau atau kuda pun kami rela.”

Ternyata Suto Si dan Suto Bun pernah berencana pergi mencari Ong Samkongcu

dan minta kepadanya untuk membalaskan dendam, tapi setelah

mengetahui ia telah hidup mengasingkan diri di Hay-thian-it-si, terpaksa niat itu

diurungkan.

Tentu saja mereka jadi amat terkejut bercampur girang setelah mengetahui

bahwa kekasih hatinya ternyata putra Ong Sam-kongcu, tak heran jika mereka

langsung mengemukakan keinginannya.

Cau-ji segera melompat turun dari ranjang, membangunkan kedua orang

gadis itu dan ujarnya sambil tertawa, “Enci Si, Enci Bun, kalian tak usah kuatir,

mulai sekarang kalian adalah nyonya muda keluarga Ong, tentu saja Siaute

akan membantu kalian.”

Mendengar pemuda itu bukan saja berjanji akan membalaskan dendam,

bahkan berniat memboyong mereka pulang ke rumah, kontan saja kedua orang

gadis itu menjerit gembira.

“Kongcu!”

Mereka langsung menubruk ke dalam pelukannya sambil melelehkan air

mata.

“Hei, setan cengeng, sana, minum segelas air dingin dan jangan menangis

lagi,” seru Cau-ji sambil tertawa, “enci Si, ayo, kita lanjutkan pertempuran ….”

Baru saja Cau-ji duduk di atas bangku, tombak panjangnya langsung sudah

tertelan hingga lenyap, hanya kali ini Suto Si menggerakkan badannya dengan

wajah berseri dan senyuman di kulum.

Dengan penuh kasih sayang Cau-ji membelai sepasang payudara Siau-bun,

sambil mempermainkan buah dadanya, secara ringkas dia pun menceritakan

keadaan keluarganya.

Terakhir sambil tertawa tambahnya, “Bagaimana? Kalian kuatir tidak dengan

kawanan pengacau cilik itu?”

“Kuatir? Apa yang mesti dikuatirkan, kami pun termasuk pengacau,” seru

Siau-bun sambil tertawa.

“Aaah, benar, kalau komplotan yang sama berbaur, memang tak mungkin

saling gontok… cuma….”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengambil keputusan untuk

menceritakan soal perkawinannya dengan Jin-ji kepada mereka berdua, bahkan

dia pun menerangkan jika mereka telah melakukan hubungan intim.

Siau-si segera berkata, “Adik Cau, enci berdua tak akan mempersoalkan

tentang urutan dan nama, asal kami diberi sedikit waktu, percayalah hubungan

kami pasti akan sangat akrab.”

Cau-ji menghembuskan napas lega.

“Aaaah, lagi-lagi satu halangan berhasil dilampaui ….” gumamnya.

“Adik Cau,” ujar Siau-bun kemudian dengan keheranan, “rasanya cici sudah

bersikap sangat hati-hati dalam merahasiakan identitas kami, darimana kau

mengetahui asal-usul kami berdua?”

Cau-ji mencium Suto Si, lalu jawabnya sambil tertawa, “Semalam ketika

Siaute membantu enci Si melancarkan peredaran jalan darah, kujumpai ilmu

yang dipelajari cici adalah Bu-siang-sin-kang, dari situlah aku baru menduga

kalian berasal dari keluarga Suto!”

“Adik Cau!” puji Siau-si.kagum, “tak kusangka, selain hebat dalam ilmu silat,

luas pula dalam pengetahuan, cici benar-benar merasa takluk kepadamu.”

“Hahaha, cici tak perlu kelewat memuji aku, oleh karena Siau-lim-pay pernah

menghadiahkan simhoat dari Bu-siang-sin-kang kepada ayahku, maka siaute

pun jadi tahu satu dua. Tentang keluarga Suto yang bisa ilmu Bu-siang-sinkang,

sebetulnya rahasia ini kuketahui dari paman Bwe!”

“Oooh, rupanya begitu, adik Cau, siapa sih nama besar paman Bwe….”

Cau-ji tahu Bwe Si-jin pernah terlibat dalam pembantaian keluarga Suto di

masa lalu, gara-gara perbuatannya itu sehingga namanya jadi tersohor, itu pula

sebabnya dia tak ingin membuka rahasia orang begitu saja.

Dengan wajah serius ujarnya, “Enci Si, enci Bun, sebelum kujawab

pertanyaan itu, terlebih dulu aku ingin bertanya, bukankah di antara kelompok

orang baik selalu terdapat orang jahat dan di antara kelompok orang jahat selalu

terdapat orang baik?”

Melihat keseriusan Cau-ji ketika mengajukan pertanyaan itu, dua bersaudara

Suto pun segera mengangguk dengan wajah bersungguh-sungguh.

Setelah menarik napas panjang, Cau-ji melanjutkan, “Paman Bwe tak lain

adalah Bwe Si-jin, orang yang dulu ikut dalam pembantaian di perkampungan

kalian dan sekarang sedang menyaru sebagai Ho Ho-cia.”

Bicara sampai di situ dia pun menghela napas panjang.

Dengan perasaan di luar dugaan kedua orang gadis itu berseru tertahan.

Maka secara ringkas Cau-ji pun menceritakan bagaimana Bwe Si-jin disekap

Su Kiau-kiau karena enggan berkomplot dengan mereka, lalu bagaimana secara

tak sengaja bertemu dengannya ….

Ketika selesai mendengar penuturan itu, kedua orang gadis itu mengucurkan

air mata sedih bercampur girang, mereka pun sempat bersorak kaget bercampur

gembira ketika tahu orang yang menghancurkan mayat putri mereka ternyata

adalah anak muda itu.

Terdengar Siau-bun berkata lirih, “Cici, kelihatannya kita memang tak bisa

menyalahkan Bwe-thayhiap.”

“Benar,” sahut Siau-si serius, “ternyata dia pun merupakan salah satu

korban.”

Habis berkata dia pun berseru, “Oooh, adik Cau!” Dia segera menggerakkan

tubuhnya lagi, menggenjot dengan penuh semangat.

Ketika urusan jadi terang, ketika duduknya persoalan jadi jelas, perasaan

ragu di hati mereka pun segera tersapu bersih, saat ini kedua orang gadis itu

hanya merasakan kegembiraan serta kelegaan hati, tak heran gadis itupun

mempersembahkan tubuhnya dengan penuh keikhlasan.

Siau-bun sendiri pun merasa lega, maka dia segera menciumi pemuda itu

dengan penuh kehangatan dan kemesraan.

Cium punya cium, pada akhirnya ujung lidah pun ikut menerobos keluar dan

menyusup ke dalam bibir sang kekasih.

Di situ lidahnya mulai mengembara, mencilat, menghisap, menggulung….

Cau-ji merasakan satu keanehan dengan permainan ini, dia seakan baru

merasakan satu permainan baru, maka perang lidah pun berlangsung ketat.

Sebentar mereka berciuman hangat, sebentar melepaskan diri untuk tarik

napas, kemudian perang lidah kembali dilanjutkan.

Tak lama kemudian pertarungan satu melawan dua mencapai puncaknya,

mendadak tampak Siau-si bergidik sambil menjerit keras.

Tampaknya si nona yang mencangkul tanah tanpa bersuara itu sudah mulai

‘panen raya’.

Dengan lembut Cau-ji mendorong tubuh Siau-bun, kemudian menciumi Siausi,

ilmu yang baru saja dipelajari langsung dipraktekkan dengan Siau-si,

lidahnya mulai menyusup masuk ke dalam bibir gadis itu.

Dengusan napas Siau-si bertambah cepat, tubuhnya semakin gemetar, perang

lidah membuat genjotan badannya semakin cepat….

Akhirnya dia tak kuasa menahan diri lagi, gadis itu mencapai orgasme.

Tubuhnya kontan lemas bagaikan kapas, seluruh badannya ambruk di atas

badan Cau-ji.

Waktu itu sebentarnya Cau-ji sedang mendekati puncak kenikmatan, dia jadi

gelisah ketika melihat Siau-si sudah keok duluan, segera serunya, “Enci Bun,

bagaimana kalau kau gantinya enci Si? Tanggung nih!”

“Kalau dipaksakan sih masih bisa,” jawab Siau-bun tersipu-sipu, “Cuma,

bagaimana jika berganti tempat?”

“Baiklah, kalau bisa tempat yang tak perlu membutuhkan banyak waktu,”

seru Cau-ji kegirangan.

Siau-bun melompat turun dari bangku, membopong cicinya ke atas ranjang,

membersihkan tubuh bagian bawahnya, kemudian baru membaringkannya di

atas pembaringan.

“Adik Cau, cici minta maaf karena tak bisa memuaskanmu,” bisik Siau-si

dengan rasa menyesal.

“Lain kali kau mesti lebih bersemangat,” seru Cau-ji sambil menarik tubuh

Siau-bun.

Siau-bun yang dipeluk tertawa cekikikan, sambil menggeliat bisiknya, “Adik

Cau, jangan begitu, cici takut geli.”

“Lalu aku mesti meraba bagian yang mana? Kalau tanganku tak memegang

sesuatu, rasanya aneh ….”

“Kalau begitu pegang yang dua ini saja….”

Cau-ji girang setengah mati, pikirnya, “Hahaha, bagus juga idenya.”

Sepasang tangannya segera meremas buah dada gadis itu, sementara

tombaknya diarahkan ke lubang surga milik gadis itu dan langsung ditusukkan

ke dalam.

“Aduuuh tiba-tiba Siau-bun menjerit kesakitan sambil melompat bangun.

“Kenapa enci Bun?”

“Ya, ada apa?” seru Siau-si pula.

Sambil menuding ke arah pantatnya dan berkerut kening sahut Siau-bun,

“Dia salah tusuk!”

“Mana mungkin bisa salah tusuk? Aku sudah mengarahkan secara tepat ke

lubang kecil itu.”

Siau-si segera mengerti apa yang terjadi, buru-buru serunya sambil tertawa,

“Hahaha, adik Cau, seharusnya kau tusuk ‘jalan air” yang berada di depan,

kalau ‘jalan kering’ di belakang yang kau tusuk, tentu saja adik Bun kesakitan,

kau salah masuk lubang!”

Lalu sambil berpaling ke arah adiknya, ia menambahkan, “Apa keluar darah?”

“Keluar darah sih tidak, cuma sakitnya itu! Adik Cau, coba biar cici yang

menuntunmu masuk ke liang yang benar!”

Sambil berkata sekali lagi dia membungkukkan badan dan sambil memegangi

tombak lawan, dia menggiringnya menuju ke dalam liang sendiri.

Begitu ujung tombak sudah menempel di depan lubang kecilnya, dia pun

menghentakkan badannya ke belakang, “Duusss …!” ujung tombak langsung

tertelan separuh bagian.

“Nah, sekarang kau bisa mulai menggerakkan badanmu,” kata Siau-bun

kemudian sambil berpegangan di sisi pembaringan.

Kali ini Cau-ji menggenjot tubuhnya dengan sangat berhati-hati, badannya

naik turun secara beraturan, ketika dilihatnya tidak terjadi kesalahan teknis

lagi, dengan perasaan lega dia pun memperkuat dan mempercepat genjotan

badannya, tidak lupa sepasang tangannya mulai meremas-remas buah dada

lawan.

Melihat hubungan sudah berjalan lancar, dengan perasaan lega Siau-si pun

menikmati permainan itu dengan asyik.

Makin menggenjotkan badannya, Cau-ji merasakan kenikmatan yang luar

biasa….

Tadi Siau-bun sudah satu kali mencapai puncak kenikmatan, sekarang

setelah sepasang buah dadanya diremas dan dipermainkan Cau-ji, apalagi

genjotan bagian bawahnya pun begitu pas dan enak, baru tiga puluhan genjotan

dia sudah mulai merintih kenikmatan..

Cau-ji tahu gadis itu lagi-lagi sudah mendekati saat puncaknya, dia jadi

sangat gelisah, tak sempat lagi mengurusi remasan pada buah dada si nona, dia

menggenjotkan badannya makin cepat dan gencar. “Aduuh… aduuhh..’

Cau-ji melihat si nona mulai gemetar keras, kakinya nyaris sudah tak mampu

berdiri tegak, dengan gelisah segera teriaknya, “Enci Bun, tahan sedikit, … aku

… aku masih tanggung nih..’

“Aduuuh … aduuuh … adik Cau … aku … aku sudah tak tahan … aduh … aku

tak tahan … aku … mati aku …”

Bicara sampai di situ, seluruh tubuhnya sudah terkulai lemas di depan

ranjang.

Ketika Siau-si melihat Cau-ji masih memegangi tombaknya dengan wajah

murung, dia jadi tak tega sendiri, buru-buru teriaknya setelah menarik napas

panjang, “Adik Cau, cepat berganti ke tempatku lagi.”

“Tapi cici Si, baru saja kau …”

“Tidak apa-apa, ayo, cepat naik!”

Sambil berkata dia menyingkap selimutnya sambil merentangkan kakinya

lebar-lebar.

Dengan wajah merah padam Cau-ji segera melompat naik ke atas ranjang,

serunya, “Maafkan aku enci Si, terima kasih atas pelayananmu.”

Dia langsung mengarahkan tombaknya ke dalam lubang kecil itu dan

menghujamkan dalam-dalam.

Tiga puluhan genjotan kemudian, di saat Siau-si mulai merintih dan hampir

saja tak tahan, Cau-ji pun mulai gemetar keras, seluruh badannya mulai

menegang kencang.

Akhirnya sambil menghembuskan napas panjang, tombaknya menyemburkan

tembakannya secara berantai, dan ia sendiri tertelungkup lemas di atas tubuh

Siau-si.

Siau-si sendiri pun sekali lagi mencapai puncak kenikmatan ketika liangnya

kena disembur oleh tembakan panas lawan.

Dalam keadaan lemas tapi puas, ketiga orang itu malas untuk makan maupun

mandi, mereka berjajar di atas ranjang dan segera terlelap tidur.

0oo0

Mereka bertiga tidur hampir delapan jam lamanya sebelum akhirnya

mendusin kembali.

Siau-si yang mendusin duluan, dia jadi merasa malu ketika menjumpai

dirinya ternyata tidur dengan bersandar di tubuh Cau-ji.

Tapi ketika menengok ke arah lain, ia jumpai keadaan adiknya lebih

memalukan lagi.

Rupanya gadis itu tidur sambil memeluk punggung Cau-ji, sementara tangan

kanannya ternyata masih memegangi ‘barang’ milik Cau-ji yang terkulai lemas.

Diam-diam Siau-si mendekati adiknya, kemudian mencubitnya perlahan.

Siau-bun sudah berlatih silat sejak kecil, begitu ia merasa dicubit, dengan

gerakan refleks dia pun menggenggam tangannya kuat-kuat.

Padahal waktu itu dia masih memegangi ‘barang’ milik Cau-ji, begitu digencet,

kontan saja Cau-ji menjerit kesakitan dan segera mendusin dari tidurnya.

Siau-bun tidak menyangka kalau dirinya tertidur sambil memegangi ‘barang’

milik Cau-ji, begitu sadar akan perbuatannya itu, kontan saja dengan wajah

tersipu dan dia melengos ke arah lain.

Cau-ji tersenyum geli, untuk menghilangkan suasana yang serba rikuh itu

segera katanya, “Aaaai, tak tahu sudah berapa lama kita tertidur, ayo, kita

bersihkan badan.”

Sambil berkata ia melompat turun dan ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Sambil menuang air panas, Siau-si bertanya, “Adik Cau, apakah kau perlu

menyaru muka lagi? Perlu tidak kita undang Bwe-tayhiap?”

“Aaah, benar, hampir saja aku melupakan hal ini, kalau begitu tolong cici

mengundangnya kemari.”

Siau-bun berjalan masuk dengan kepala tertunduk, sambil menggosok

punggung Cau-ji dengan handuk basah, bisiknya, “Maafkan aku adik Cau, cici

tidak sengaja.”

Cau-ji membalikkan badan menciumnya, sahutnya sambil tertawa, “Enci Bun,

aku yang salah, kalau bukan gara-gara aku sehingga kau kecapaian, tak

mungkin kau berbuat begitu.”

“Adik Cau, cici sangat menyesal karena tak bisa memuaskan dirimu,” kata

Siau-bun jengah.

“Hahaha, tidak masalah, lain kali aku pasti akan belajar mengendalikan diri.”

“Adik Cau, kalau ingin bermain lagi, kita mesti mencari tambahan satu dua

orang untuk membantu,” bisik Siau-si dengan wajah berseru merah, “kalau

cuma kami berdua, rasanya tak sanggup memuaskanmu!”

“Hahaha, tak akan seserius itu, bukankah semalam aku masih bisa

mengendalikan diri? Baiklah, ayo kita cepat mandi, jangan biarkan paman Bwe

menunggu terlalu lama.”

Dua orang gadis itu tahu, sedikit banyak Cau-ji masih menaruh perasaan

segan terhadap mertuanya, segera mereka membersihkan badan dan segera

berpakaian.

Tiba-tiba Siau-bun berbisik, “Cici, sebentar tolong ambilkan celana dalam

untukku!”

Sambil berkata ia memperhatikan sekejap celana dalam sendiri yang sangat

kotor.

“Tidak mengenakan celana dalam juga tidak apa-apa,” kata Cau-ji sambil

tertawa, “bukankah kau masih mengenakan baju dalam yang ditutup dengan

gaun luar? Tak bakal ketahuan orang.”

“Tapi… rasanya aneh.”

“Benar juga perkataan adik Cau, tidak memakai celana dalam pun tak

masalah, siapa tahu setelah keluar dari kamar nanti kita harus melaksanakan

tugas lain, memangnya kau hendak bersembunyi terus di sini?”

Ketika merasa perkataan itu masuk akal juga, lekas Siau-bun mengenakan

bajunya tanpa celana dalam.

Menanti kedua orang gadis itu keluar dari kamar, Cau-ji duduk seorang diri

sambil menikmati sisa hidangan yang masih ada.

Tak lama kemudian pintu diketuk orang, Cau-ji tahu pasti kedua orang gadis

itu yang datang, benar saja Siau-si dengan senyum di kulum telah berdiri di

depan pintu kamar.

Begitu pintu kamar ditutup kembali, Siau-si segera menjatuhkan diri ke dalam

pelukan Cau-ji, katanya dengan manja, “Adik Cau, untung saja seharian ini tak

ada urusan lain, adik Bun sedang memerintahkan dapur untuk menyiapkan

beberapa macam hidangan.”

“Seharian? Jadi sekarang sudah malam hari?”

“Ehmm, sekarang sudah mendekati jam 8 malam, paman Bwe, Jit-koh, Siaucun

serta Ji-giok sedang berada di dalam kamar, aku merasa kurang enak untuk

mengganggu kesenangan mereka….”

“Hahaha, tidak masalah, kalau begitu kita bersantap dulu. Cici, tolong pesan

kepada orang, jika melihat paman Bwe keluar dari kamar, suruh dia datang

mencariku.”

“Baik, akan kusuruh Siau-cui memperhatikan!”

Saat itu kembali pintu kamar diketuk orang.

Ketika membuka pintu, ternyata Siau-bun yang datang, maka tanyanya,

“Adikku, apakah pihak dapur sudah menyiapkan hidangan?”

“Belum,” Siau-bun menggeleng, “adik Cau, di rumah makan ada belasan orang

selesai bersantap berteriak-teriak ingin bertemu dengan Jit-koh!”

Belum sempat Cau-ji bertanya, Siau-si sudah bertanya duluan, “Adik Bun,

siapa mereka?”

“Menurut orang yang diutus Ciangkwe untuk melakukan penguntitan, konon

mereka memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, diketuai dua bersaudara Siang

dari Liong-ing-hong dari kota Lokyang.”

Agak berubah paras muka Siau-si setelah mendengar perkataan itu,

gumamnya, “Kenapa mereka datang kemari?”

Dua bersaudara Siang bukan cuma memiliki kepandaian silat yang tangguh,

bahkan mereka adalah orang-orang kalangan lurus,” ujar Siau-bun dengan

wajah serius, “bukan cuma hartanya banyak, pengaruh mereka pun sangat

besar.”

“Hari ini mereka sengaja membawa orang datang kemari, menunggu semua

tamu sudah bubar, mereka baru menyampaikan pernyataan untuk bertemu

dengan Jit-koh, tampaknya kedatangan mereka mempunyai niat dan tujuan

tertentu.”

Siau-si manggut-manggut membenarkan. Mendengar nama Liong-ing-hong,

lalu mendengar pula nama dua bersaudara Siang, perasaan Cau-ji tergerak, dia

lantas teringat gadis dari marga Siang yang pernah ditolongnya ketika berada di

tepi sungai bawah bukit Wu-san.

Melihat kedua orang gadis itu berdiri dengan wajah tegang, dia pun bertanya,

“Enci Bun, apakah kau tahu siapa nama nona Siang itu?”

“Dia bernama Siang Ci-ing!”

“Ah, tidak salah lagi, memang dia,” Cau-ji berseru tertahan, “baiklah, ayo kita

pergi menjumpainya!”

“Tapi Cau-ji, kau belum menyaru muka,” cegah Siau-si cemas.

Cau-ji agak tertegun, tapi setelah berpikir sebentar ia segera mendapat ide,

ujarnya sambil tertawa, “Enci Si, bisa pinjam obat penyaru muka?”

“Adik Cau, tanpa bantuan paman Bwe, apa kau tidak kuatir ketahuan?”

“Jangan kuatir, orang bilang palsu itu benar, benar itu palsu, aku bisa

beralasan sedang menyaru muka.”

Kedua orang nona itu segera memahami maksudnya, buru-buru Siau-si pergi

meminjam alat penyaru muka

“Adik Cau, kau memang amat cerdas,” puji Siau-bun sambil menghela napas,

“di kemudian hari kau pasti akan menjadi seorang Bu-lim Bengcu!”

“Sayang aku tak berminat menjadi Bu-lim Bengcu, aku hanya ingin menemani

kalian hidup tenang di pesanggrahan Hay-thian-it-si, apa gunanya mencari

nama besar? Tapi omong-omong, aku harus tampil sebagai siapa nanti?”

“Lebih baik tampil sebagai wakil Congkoan saja, selama ini Jit-koh selalu

menyerahkan urusan kepada Congkoannya.”

“Baik, kalau begitu aku akan tampil sebagai wakil Congkoan rumah makan

Jit-seng-lau, kalian berdua boleh menemani Siaute, agar nyaliku bertambah

besar?”

“Baik, wakil Congkoan!”

Pintu kamar kembali terbuka, Siau-si muncul dengan membawa sebuah kotak

bahan untuk menyaru muka, kemudian dengan cepat nona itu memoleskan

beberapa bahan itu di wajahnya.

Ketika selesai mengubah wajah Cau-ji, ujarnya sambil tertawa, “Adik Cau,

agar tampil lebih keren, lebih baik kita muncul sebentar lagi.”

“Cici, sekarang adik Cau adalah wakil Congkoan,”

Siau-bun menimpali.

“Aaah, cocok sekali, tapi siapa namanya?”

“Kita pakai nama Yu Si-bun saja!!”

“Baiklah, sekarang sudah hampir waktunya, adik Cau, mau keluar sekarang?”

“Tentu saja, harap cici berdua menemani aku,” sahut Cau-ji sambil merangkul

kedua orang nona itu.

Setelah membuka pintu kamar, kedua nona itupun mengikut di belakang

Cau-ji menuju ke halaman depan.

Sebelum masuk ke dalam ruang rumah makan, Siau-si segera menghampiri

sang Ciangkwe, seorang lelaki setengah umur yang bertubuh kurus dan

membisikkan sesuatu.

Tauke rumah makan itu adalah salah satu anggota Jit-seng-kau, ketika

mendengar Ho-tongcu dengan merubah wajah tampil sendiri, ia jadi sangat

kegirangan, lekas dia melangkah ke depan menyambut kedatangan Cau-ji.

“Menjumpai wakil Congkoan!” ia segera menyapa, sesuai dengan pesan Siausi.

“Mana tamunya?” tanya Cau-ji dengan lagak jumawa.

“Ada di atas loteng, silakan!”

Tiba-tiba terdengar seseorang mendengus dingin dari atas loteng, “Hmmm,

gede amat lagaknya!”

Cau-ji hanya tertawa hambar, dia segera naik ke atas loteng.

Tampak ada sebelas orang pemuda berwajah bersih dan berusia dua puluh

tahunan duduk berjajar di atas loteng.

Seorang gadis cantik bak bidadari, Siang Ci-ing duduk bersanding dengan

seorang pemuda berwajah tampan.

Cau-ji menduga pemuda itu pastilah Siang Ci-liong, kakak nona Siang.

Kedua belas orang muda-mudi ini bukan saja berwajah tampan, sorot

matanya tajam bercahaya, jelas kepandaian silat yang mereka miliki cukup

tangguh, tak heran mereka berani datang mencari gara-gara.

Setelah menyapu sekejap sekeliling arena, Cau-ji segera menjura sambil

menyapa, “Cayhe Yu Si-bun, kebetulan menjabat wakil Congkoan rumah makan

ini, maaf bila kalian harus menunggu lama.”

Ketika semua orang menyaksikan pemuda tampan ini ternyata adalah wakil

Congkoan dari rumah makan Jit-seng-lau, tak kuasa lagi mereka berdiri

tertegun.

Khususnya setelah menyaksikan Suto bersaudara yang berdiri bak bidadari

dari kahyangan, perasaan mereka makin tercengang.

Siang Ci-liong segera bangkit berdiri dan menyahut seraya menjura, “Cayhe

Siang Ci-liong, dengan adikku Siang Ci-ing….”

Secara beruntun dia pun memperkenalkan kesepuluh orang pemuda lainnya

satu per satu.

Menggunakan kesempatan itu Siau-si berbisik kepada Cau-ji dengan ilmu

menyampaikan suara, “Adik Cau, mereka adalah Lokyang Capji Eng (dua belas

orang gagah dari Lokyang)!”

Maka begitu mereka selesai memperkenalkan diri, Cau-ji segera berkata, “Ooh,

rupanya Lokyang Capji Eng yang sudah tersohor di kolong langit, selamat

berjumpa.”

Lokyang Capji Eng tidak menyangka kalau pihak lawan mengetahui identitas

mereka, sekali lagi semua orang berdiri tertegun.

Cau-ji tidak menggubris keheranan orang, kembali ujarnya kepada Ciangkwe,

“Kita kedatangan tamu agung, cepat siapkan hidangan dan arak.”

“Baik!”

“Hucongkoan tak usah sungkan,” buru buru Siang Ci-liong menukas, “kami

semua selesai bersantap, lebih baik kita langsung pada pokok persoalan, hari ini

kami berdua belas datang kemari karena ada yang perlu dirundingkan.”

“Katakan saja saudara Siang.”

Siang Ci-liong termenung sejenak, tiba-tiba tanyanya, “Hucongkoan, apakah

Im-congkoan ada?”

Cau-ji tahu, orang kuatir kalau dia tak bisa mengambil keputusan, maka

sahutnya sambil tertawa, “Saudara Siang, Congkoan kami sedang ada tamu

terhormat, jadi semua kekuasaan telah diserahkan kepada Siaute.”

Lokyang Capji Eng yang sudah terbiasa tinggi hati kontan menarik muka

sehabis mendengar perkataan itu, pemuda perlente yang duduk di paling ujung

kontan saja mendengus dingin.

“Hmmm! Besar amat lagak Jit-seng-lau!”

Dari logat suaranya, Cau-ji segera mengenali sebagai orang yang

menjengeknya ketika akan naik ke loteng tadi, maka dia pun menanggapi secara

ketus.

“Betul, aku mau datang kemari, sebetulnya aku sudah cukup memberi muka

kepada kalian.”

Serentak Loyang Capji Eng melompat bangun, dengan mata melotot mereka

mengawasi lawan.

Cau-ji sama sekali tak acuh, kembali ujarnya, “Kalau ingin gebuk-gebukan,

boleh saja, aku pasti akan menemani, tapi utarakan dulu apa maksud

kedatangan kalian.”

Selesai berkata ia segera tertawa terbahak-bahak.

Pemuda she Li itu mendengus dingin, dia menggebrak meja, sebuah cawan

arak segera mencelat setinggi satu meter lalu ketika tangan kanannya

dikebaskan ke depan, cawan itu langsung meluncur ke hadapan lawan.

Cau-ji sama sekali tidak melirik, ketika cawan itu berada beberapa langkah di

hadapannya, mendadak ia meniup perlahan.

Peristiwa aneh pun segera terjadi.

Cawan arak yang sedang meluncur datang itu seakan terbentur di atas

sebuah dinding tak berwujud, setelah terbang ke samping kanan, cawan itu

berputar satu lingkaran dan melayang balik ke posisi semula.

Sekali lagi Lokyang Capji Eng menjerit tertahan.

Dengan langkah santai Cau-ji menuju ke bangku utama, setelah duduk ia pun

berseru, “Silakan duduk!”

Bagaikan ayam jago yang kalah bertarung, Lokyang Capji Eng duduk kembali

ke posisinya dengan wajah lesu dan lemas.

Tampaknya Siang Ci-liong cukup berpengalaman, katanya, “Hucongkoan,

hebat benar ilmu memindah bendamu itu!”

“Aah, mana, saudara Siang kelewat memuji, sekarang sampaikan tujuan

kalian.”

“Baik, kalau begitu aku langsung pada pokok persoalan, aku minta kalian

batalkan perlombaan kuda yang bakal diadakan besok pagi.”

Selesai bicara ia segera menatap tajam Cau-ji.

Tampaknya Cau-ji tidak menyangka tujuan kedatangan mereka adalah

lantaran persoalan ini, mau tak mau dia tertegun juga.

“Kenapa?” tanyanya setelah termenung beberapa saat.

“Sejak judi ‘semua senang’ merajalela dalam masyarakat, kehidupan

penduduk jadi kacau dan berantakan, banyak pertikaian dan perselisihan

terjadi, banyak keluarga tercerai-berai, maksiat terjadi dimana mana.”

“Menurut analisa kami berdua belas, tempat ini merupakan bandar paling

besar di seluruh negeri, karena itu jika kalian bersedia menghentikan usaha ini,

tindakan itu tentu akan diikuti Bandar-bandar lain.’

“Demi keamanan dunia persilatan dan kesejahteraan umat manusia, kami

berharap kerja samanya.”

Sebenarnya Cau-ji sangat setuju dengan usul itu, kalau bisa dia pun akan

meneriakkan tanda setuju.

Tapi demi melenyapkan Jit-seng-kau dari muka bumi, mau tak mau terpaksa

ia harus tega.

“Atas dasar apa kalian minta kami melepaskan tambang emas ini?” tanyanya

kemudian.

“Manusia she Yu, tampaknya kau tak tahu diri,” bentakan nyaring segera

berkumandang, diikuti seorang pemuda perlente menerjang maju ke depan.

Segera Siang Ci-liong mencegahnya, ujarnya lagi kepada Cau-ji, “Hucongkoan,

terus terang aku katakan, kini sembilan partai besar telah memutuskan untuk

bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk membasmi semua perjudian dari

muka bumi.

“Aku lihat Hucongkoan bukan termasuk orang jahat, bila kau bersedia

menghentikan usaha di sini, bukan saja aku bersedia memberi pesangon yang

memadai kepada seluruh pekerja di sini, bahkan bila Hucongkoan bersedia,

kami pun siap menampung kau dengan gaji yang menggiurkan.”

“Gaji yang menggiurkan? Berapa itu?”

“Seratus tahil perak setiap bulan.”

Cau-ji segera tertawa dingin, ejeknya, “Saudara Siang, sebelum masuk kemari,

apakah kau sempat membaca laporan keuangan ‘semua senang’ yang kami

tempelkan di depan pintu masuk?”

“Ya, sudah!”

“Tahukah saudara Siang, berapa banyak hadiah yang bisa diraih esok pagi?”

“Soal ini….”

“Hahaha, dalam periode penarikan kali ini, kami sudah menerima pasangan

sebesar tiga puluh dua juta tahil perak lebih, sesuai dengan peraturan yang

berlaku, pihak kami berhak atas sepuluh persen komisi, itu berarti senilai tiga

juta dua ratus ribu tahil perak.

“Sementara Cayhe yang menjabat sebagai wakil Congkoan, sesuai dengan

perjanjian akan mendapat keuntungan sebesar sepuluh persen dari laba bersih,

atau dengan perkataan lain aku mendapat tiga ratus dua puluh ribu tahil perak,

bila sebulan diadakan tiga periode penarikan berarti jatahku senilai hampir satu

juta tahil perak. Bayangkan sendiri saudara Siang, sanggupkah kau memberi

gaji lebih dari nilai itu?” Habis berkata ia tertawa dingin.

Siang Ci-ing yang selama ini hanya membungkam mendadak bangkit berdiri,

hardiknya, “Orang she Yu, pernahkah kau bayangkan sembilan ratus enam

puluh ribu tahil perak yang kau peroleh itu berasal dari berapa banyak

penderitaan dan lelehan air mata?”

“Hahaha, aku toh tidak pernah memaksa mereka untuk ikut memasang

‘semua senang’, perjudian yang kami selenggarakan pun merupakan perjudian

resmi yang tidak menggunakan akal-akalan, menang kalah tergantung rezeki

masing-masing, jadi kalau kalah, jangan salahkan siapa pun.” Selesai berkata

kembali ia tertawa tergelak.

“Kau … kau tak tahu malu!” Mendengar umpatan itu, kontan Cau-ji

menghentikan gelak tertawanya, sambil menarik muka dia menegur, “Nona, kau

mengatakan aku tak tahu malu? Bandingkan dengan Yu Yong, siapa yang lebih

tak tahu malu?”

Mendadak paras muka Siang Ci-ing berubah hebat, jeritnya, “Kau….”

Untuk sesaat nona itu hanya bisa mengawasi Cau-ji dengan mata mendelik,

tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Cau-ji tahu, si nona pasti amat terkejut, maka tangan kanannya segera

menggapai ke arah teko arak yang berada beberapa meter jauhnya di hadapan

Siang ci-liong, kemudian menghisap isinya dari jarak jauh dan meneguknya

sampai habis.

Demonstrasi ilmu menghisap benda dari udara ini seketika membuat

terperangah Lokyang Capji Eng.

“Jadi kau kenal Yu Yong?” kembali Siang Ci-ing bertanya dengan suara

gemetar.

“Tidak, tidak kenal,” Cau-ji segera menggeleng, “aku hanya pernah mendengar

ada seorang nona telah menyebut nama seorang tua bangka yang tak tahu diri

itu ketika berada di tepi sungai dekat bukit Wu-san.”

Sekali lagi sekujur badan Siang Ci-ing gemetar keras, tapi sinar matanya

berbinar, serunya girang, “Jadi kau … kau adalah …”

“Aku dari marga Yu, bernama Si-bun!” tukas Cau-ji tenang.

Tampaknya Siang Ci-ing sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang

berada di hadapannya tak lain adalah Giok-long-kun Bwe Si-jin yang pernah

menyelamatkan jiwanya, melihat pemuda itu enggan menyebut nama aslinya di

hadapan umum, diam-diam ia menjadi girang.

Sebab Bwe Si-jin dianggapnya telah menutupi kejadian aib yang pernah

menimpa dirinya.

Nona itupun berpendapat, kehadiran Bwe Si-jin sebagai wakil Congkoan di

tempat itu pasti mempunyai maksud tertentu, dengan kebesaran namanya

sebagai seorang pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, bisa

jadi tujuan kedatangannya di situ adalah untuk membasmi Jit-seng-kau?

Dia memang sudah mendengar kisah terbabatnya perkumpulan naga emas

semalam, karena berita besar itu sudah tersebar sampai dimana-mana, Siang Ciing

berpendapat, kejadian itu pasti melibatkan Bwe Si-jin.

Karena itulah nona itu merasa sangat kegirangan.

Cau-ji sendiri meski tidak paham apa sebabnya secara tiba-tiba gadis itu

kegirangan, tapi ia bisa meraba kalau hal mana tentu ada kaitannya dengan

nama besar Bwe Si-jin, maka dia pun tidak bicara lebih jauh.

Siang Ci-liong sendiri pernah mengetahui tentang kisah amoral Yu Yong

terhadap adiknya, maka setelah mendengar pembicaraan itu dia pun segera

mengerti kalau antara Yu Si-bun dengan Bwe Si-jin pasti punya keterkaitan yang

besar, maka dia pun segera terjerumus dalam pemikiran.

Ditinjau dari demonstrasi ilmu yang barusan diperlihatkan Yu Si-bun, jangan

kan dirinya berada dalam wilayah lawan, sekalipun mereka berdua belas

menggabungkan diri pun, belum tentu sanggup melawan ketangguhan lawan.

Setelah berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dulu ke rumah,

kemudian baru merundingkan kembali persoalan ini.

Sambil bangkit berdiri ujarnya lantang, “Malam sudah kelam, apa yang ingin

kusampaikan pun telah kuutarakan, semoga wakil Congkoan mau

mempertimbangkan kembali usul ini, maaf, kami akan mohon diri terlebih dulu.”

“Dengan senang hati akan kutunggu kehadiran kalian dalam perlombaan

kuda besok,” sahut Cau-ji lantang.

Lokyang Capji Eng segera menjura memberi hormat, lalu berlalu dari situ.

Menanti Lokyang Capji Eng sudah berlalu, terlihat bayangan manusia

berkelebat, tahu-tahu Bwe Si-jin dan Im Jit-koh sudah muncul di ruang tengah

sambil mengawasinya.

Cau-ji sengaja menirukan suara serak Ho Ho-wan dan ujarnya sambil tertawa

dingin. “Hehehe, bocah-bocah ingusan itu benar-benar tak tahu diri, baru punya

sedikit kepandaian sudah ingin bergaya di sini, benar-benar tak tahu diri.”

Dengan sikap hormat Im Jit-koh segera menyahut, “Untung Tongcu bersedia

tampil, kalau tidak, mungkin kami bakal kerepotan.”

“Apakah kau sudah mendengar semua perkataan mereka tadi?”

“Sudah, bila keinginan mereka terkabul, tampaknya hari kiamat bagi kaum

bandar judi sudah makin dekat.”

“Berarti kita pun akan memungut rezeki di balik bencana,” sambung Bwe Sijin

sambil tertawa tergelak.

Mendengar perkataan itu Im Jit-koh termenung sambil berpikir sejenak,

kemudian seolah memahami sesuatu katanya, “Hebat, hebat, Tongcu memang

sangat hebat, begitu para bandar judi itu menghentikan usahanya, usaha Kita di

sini pasti akan bertambah makmur.”

Bwe Si-jin menggelengkan kepala berulang kali, tukasnya, “Kau keliru besar,

jika semua pecandu semua senang’ meluruk datang kemari, yang pasti kota

Tiang-sah akan tenggelam, hahaha”

Merah padam wajah Im Jit-koh lantaran jengah, bisiknya lirih, “Harap Tongcu

sudi menjelaskan.”

“Hahaha, ketua perkumpulan ada niat untuk membangun kembali kejayaan

partai, mereka bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyusup ke dalam

para bandar itu dan menghasut mereka agar saling gontok, asal mereka lenyap

semua, bukankah rezeki kita bakal semakin lancar?”

“Usul yang hebat, hamba segera akan mengirim merpati pos untuk

menyampaikan ide Tongcu ini ke markas besar,” teriak Im Jit-koh cepat.

“Hahaha, posisi Lohu saat ini sudah mentok dan tak mungkin bisa naik lebih

tinggi lagi. Jit-koh, kenapa usul ini tidak kau sampaikan atas nama pribadimu?

Hahaha, Lote, ayo kita pergi minum.”

Dengan penuh rasa terima kasih Im Jit-koh mengantar Bwe Si-jin berempat

kembali ke kamar Cau-ji, lalu segera dia minta diri untuk mengirim berita itu.

Setelah mengunci pintu kamar, dua bersaudara Suto baru menuju ke

hadapan Bwe Si-jin, berlutut di hadapannya dan berkata, “Bwe-tayhiap, Suto Si

dan Suto Bun memberi hormat kepadamu.”

Mula-mula Bwe Si-jin agak tertegun, kemudian sambil tertawa tergelak

katanya, “Nona, cepat bangkit. Cau-ji, kau si bocah sialan benar-benar ‘bertemu

cewek lupa setia-kawan’, rupanya kau telah berkhianat kepadaku.”

Merah jengah wajah Cau-ji, cepat katanya, “Paman, Cau-ji rasa lebih leluasa

bagi kita jika semuanya sudah berterus terang.”

“Hahaha, tak heran begitu kalian masuk ke dalam kamar, seharian tak

menongolkan kepala, ternyata kalian sedang berterus terang ….”

Merah jengah wajah Cau-ji bertiga, mereka tak berani membantah lagi, kuatir

semakin mendapat malu.

Ternyata Bwe Si-jin tidak melanjutkan ejekannya, sambil tertawa katanya lagi,

“Ayo duduk, paman hanya bergurau, bagaimanapun kau telah menyelesaikan

kesalahan paham nona Suto terhadap Lohu. jelas hal ini merupakan satu pahala

besar.”

“Paman baru berusia tiga puluh tahunan, kok membahasakan diri sendiri

dengan sebutan Lohu?” sindir Siau-si

Bwe Si-jin tertawa tergelak, untuk sesaat dia tak sanggup menanggapi ucapan

itu.

“Paman,” kata Cau-ji kemudian sambil tertawa, “tahukah kau apa sebabnya

tadi Siang Ci-ing nampak salah tingkah?”

“Darimana aku tahu? Jangan-jangan kau punya permainan busuk lain?”

Secara ringkas Cau-ji segera menceritakan pengalamannya ketika menolong

Siang Ci-ing sambil meninggalkan nama Bwe Si-jin, kemudian ia tergelak.

Dua bersaudara Suto pun ikut tertawa mendengar cerita itu.

Senyuman yang semula menghiasi Bwe Si-jin mendadak lenyap tak berbekas,

tiba-tiba sambil menarik muka bentaknya, “Cau-ji, kau bikin masalah ….”

Belum pernah Cau-ji menyaksikan pamannya begitu gusar, dengan perasaan

kaget ia segera menjatuhkan diri berlutut.

Melihat pemuda itu berlutut, cepat Suto bersaudara ikut berlutut.

Melihat ketiga orang itu berlutut di lantai, hawa amarah Bwe Si-jin sedikit

mereda, serunya, “Kalian cepat bangkit!”

“Harap paman memberi pengajaran,” kata Cau-ji sambil menggeleng.

“Baik, kalian bangkit berdiri lebih dulu.”

Saat itulah terdengar pintu kamar diketuk orang.

Cepat mereka bertiga bangkit berdiri, ketika Siau-bun membukakan pintu,

tampak Siau-cun berenam dengan membawa hidangan dan dua guci arak telah

berdiri menanti di muka pintu.

Sambil menata hidangan di atas meja, kembali Siau-cun berkata, “Tongcu

berdua, Congkoan menitahkan budak sekalian untuk menghidangkan makanan

ini, harap jangan ditertawakan.”

“Bagus, rupanya Jit-koh memang pintar mengambil hati orang, tahu kalau

Lohu suka minum arak, dia menghadiahkan dua guci arak lagi untukku,

sampaikan rasa terima kasihku kepadanya.”

Enam orang gadis itu menyahut dan segera mengundurkan diri.

Segera Cau-ji menuang dua cawan arak, satu dipersembahkan kepada Bwe Sijin

sambil katanya, “Paman, Cau-ji minta maaf kepadamu, harap kau bersedia

mengeringkan isi cawan ini.”

Bwe Si-jin meneguk habis isi cawan itu, kemudian serunya, “Cau-ji, dengan

melakukan perbuatan semacam itu, kau menyuruh aku bagaimana

mempertanggung jawabkan diri kepada ibu mertuamu?”

“Paman, waktu itu Cau-ji hanya menganggap nona Siang baik orangnya, maka

timbul ingatanku untuk mencarikan pasangan untukmu.”

Bwe Si-jin tertawa getir, ujarnya, “Gara-gara ingin menemukan jejakku, adik

Ti sudah belasan tahun berkelana dalam dunia persilatan, ketahuilah Cau-ji,

sepuluh tahun itu jangka waktu yang amat berharga bagi seorang wanita.”

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya, “Dia sudah banyak menderita,

masa aku tega mencari istri baru lagi? Cau-ji, makanya lain kali jangan kau

ulang kesalahan yang sama.”

“Baik, baik….”

“Cau-ji, urusan ini kau yang menimbulkan, maka kau mesti bertanggung

jawab.”

“Maksud paman….”

“Hahaha, paman boleh saja mengganggu beruang, boleh saja mengusik

harimau, tapi aku tak berani mengusik Siang bersaudara.”

“Tapi… bukankah ilmu silat yang mereka miliki tak seberapa hebat?”

“Hahaha, dalam pandangan jago silat tingkat tinggi, mungkin saja ilmu silat

yang mereka miliki tak seberapa, tapi jangan lupa, seekor harimau susah

menghadapi kerubutan beribu ekor monyet.”

“Apalagi Siang Ci-ing adalah murid kesayangan Teng-in Suthay, Ciangbunjin

Go-bi-pay. Bila dia melaporkan aku sambil menangis, bisa jadi jago sembilan

partai besar akan datang menyatroni paman.”

Cau-ji tertegun, untuk sesaat dia berdiri termangu.

Belum pernah Bwe Si-jin menyaksikan mimik muka Cau-ji seperti ini, diamdiam

ia kegirangan, lanjutnya, “Cau-ji, mungkin kau belum tahu kalau dua

bersaudara Siang punya pengaruh besar dalam pemerintahan.”

“Turun temurun mereka adalah pedagang barang antik serta benda perhiasan

yang mahal harganya, bukan saja dianggap sebagai saudagar jujur, harga

mereka pun sangat cengli, karena itu banyak keluarga pembesar tinggi, bahkan

para selir raja dan tuan putri pun sering mengundang mereka masuk istana.

“Selain itu, Lokyang Capji Eng terkenal juga sebagai orang yang suka

mencampuri urusan orang, jika Siang Ci-ing sampai mengundang mereka untuk

mencari paman, kau harus tampil untuk menjelaskan persoalan ini kepada

mereka.”

Cau-ji jadi kaget setengah mati, dia tak menyangka gara-gara usil mulut bisa

jadi dirinya akan menjadi musuh umat persilatan dan buronan kerajaan.

Baginya urusan mati hidup adalah urusan kecil, tapi kalau sampai menodai

nama keluarga, itu baru masalah besar.

Lantas apa daya sekarang?

“Paman,” tiba-tiba Siau-si berkata, “apakah Siau-si boleh mengajukan usul?”

“Hahaha, istri membantu suami memang merupakan kejadian lumrah, coba

katakan apa idemu?”

“Asal adik Cau meminang Siang Ci-ing menjadi istrinya, bukankah dunia jadi

aman kembali?”

Tak tahan Cau-ji menjerit kaget.

Bwe Si-jin agak tertegun, tapi ia segera tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya Siau-bun pun sangat setuju dengan usul ini, sambil tertawa dia

hanya mengawasi Cau-ji tanpa bicara.

Menggunakan kesempatan di saat Bwe Si-jin masih tertawa tergelak, Cau-ji

buru-buru berbisik, “Enci Si, kita tak boleh menempuh jalan ini, Siang Ci-ing

mencintai paman Bwe, lagi pula belum tentu paman akan setuju.”

“Cau-ji, dimanapun pasti terdapat jalan, kenapa cara ini tak bisa digunakan?”

dengan ilmu menyampaikan suaranya Siau-bun berbisik, “seperti contohnya

semalam, bukankah kau pun sempat salah masuk, tapi begitu digiring dengan

tangan, kau pun bisa pindah dari jalan kering menuju ke jalan air?”

Lalu dengan wajah bersemu merah karena jengah, lanjutnya, “Adik Cau, kau

urusi saja masalahmu dengan paman, sementara Siang Ci-ing serahkan kepada

kami berdua untuk menyelesaikan”

“Tapi soal ini… soal ini….”

Sambil menghentikan tertawanya, kata Bwe Si-jin, “Cau-ji, banyaklah

mendengar nasehat bini, tak bakalan salah jalan.”

“Paman, Cau-ji benar-benar tak tahu apa yang mesti kulakukan sekarang?”

kata Cau-ji sambil bermuram durja.

“Jodoh itu di tangan Thian, siapa pun tak bisa memaksakan diri, paman tidak

keberatan bila kau mempunyai seorang bini muda lagi, cuma kau mesti

menghadapi persoalan ini dengan nama sendiri, lagi pula pihak lawan pun harus

rela mengikutimu.”

“Paman, mulai sekarang Cau-ji tak berani mencatut namamu lagi.”

“Hahaha, memangnya kau anggap nama Bwe Si-jin boleh digunakan

sembarangan? Ayo, ayo. kita segera bersantap sambil minum arak.”

Tapi mana Cau-ji punya selera untuk bersantap? Sekalipun tak punya selera,

setiap kali Bwe Si-jin mengajaknya minum arak, mau tak mau dia harus

meneguk habis isi cawannya.

Dengan cara minum semacam ini, Siau-si berdua mulai menguatirkan

keadaannya, tidak mustahil pemuda itu segera akan mabuk berat.

Akhirnya Cau-ji belum lagi mabuk, kedua orang gadis itu sudah keburu

limbung duluan.

Sambil tertawa terbahak-bahak Bwe Si-jin pun meninggalkan ruangan.

Sepeninggal Bwe Si-jin, dengan wajah mabuk Siau-si segera menjatuhkan diri

ke dalam pelukan Cau-ji sambil berbisik, “Adik … adik Cau … tak usah kuatir…

biar… biar langit ambruk pun … cici… cici pasti… akan mendukungmu….”

Siau-bun ikut memeluk tengkuk Cau-ji, dengan mulut penuh berbau arak

katanya pula, “Adik Cau … keluarga Ong adalah keluarga terhormat… mana bisa

dibandingkan dengan keluarga Siang yang berbau rongsok”

Ucapan itu bagai sambaran guntur di siang hari bolong, seketika membuat

Cau-ji tersadar kembali, katanya lantang. “Benar, sewaktu aku Ong Bu-cau

menolongnya, aku toh tidak berniat jahat kepada gadis itu.”

“Benar,” sambung Siau-bun sambil tertawa, “apalagi kau pun berbuat begitu

demi keselamatannya, bila kedua belah pihak sampai terjadi pertarungan,

memangnya mereka sanggup melawan kekuatan para jago di halaman

belakang?”

Menganggap jalan pikirannya sudah benar, tak kuasa lagi Cau-ji tertawa

tergelak.

“Ah, adik Cau ….” kembali terdengar Siau-si berkata, “kau … asal kau

bersikeras mengaku bernama Yu Si-bun … dan … dan mengatakan kalau Bwe

Si-jin sudah … sudah mati … Siang Ci-ing pasti tak dapat berbuat apa-apa….”

“Hahaha, hebat, jurus hebat, cici Si, biar dalam keadaan mabuk, ternyata

jalan pikiranmu justru amat cemerlang.”

“Aku … aku tidak mabuk … omong kosong, mana … mana mungkin aku bisa

mabuk….”

“Baiklah, kau memang tidak mabuk, ayo, coba ikuti gerakanku.”

Sambil berkata pemuda itu berjongkok kemudian melompat bangun.

“Hahaha, itu sih gampang.”

Sambil berkata nona itu ikut berjongkok lalu melompat bangun, siap tahu

begitu melompat, badannya mundur sempoyongan, nyaris badannya

terjerembab.

“Hahaha, enci Bun, coba kau lihat, hebat benar lompatan enci Si.”

Siapa tahu begitu berpaling, pemuda itu saksikan Siau-bun sudah tertidur di

atas meja.

Siau-si kembali tertawa cekikikan, serunya, “Coba lihat, ternyata adik Bun

sudah mabuk.”

Sembari berkata ia berjalan menghampiri dan siap membokongnya naik ke

atas ranjang. Segera Cau-ji mencegah. “Enci Si, biar aku saja yang membopong!”

“Omong kosong, kau … kau takut aku terjatuh … baik, akan kubopong dia ….”

Sambil berkata ia benar-benar membopongnya. Jangan dilihat Siau-si sudah

mabuk, ternyata dia sanggup membopong Siau-bun naik ke pembaringan.

Melihat itu Cau-ji tertawa tergelak, baru saja dia menghembuskan napas lega,

dilihatnya Siau-si pun ternyata sudah terlelap tidur.

0oo0

Bab V. Menangkap perempuan cabul.

Langit masih gelap, awan hitam masih menyelimuti angkasa, namun sebagian

besar penduduk kota Tiang-sah sudah berbondong-bondong mendatangi luar

kota, tempat diselenggarakannya pertandingan lomba kuda.

Hari ini adalah hari pembukaan lotere ‘semua senang’.

Ketika sembilan ekor kuda balap mencapai garis finish, kuda pertama yang

masuk garis finish duluan itulah nomor undian yang bakal keluar, karena itu

sejak fajar belum menyingsing, semua orang sudah mendatangi arena lomba

untuk memberi semangat kepada kuda lomba jagoannya.

Cau-ji dan Bwe Si-jin didampingi Im Jit-koh ikut hadir di arena balap kuda.

“Mari kita menuju ke panggung kehormatan!” bisik Im Jit-koh kemudian.

“Kau pergilah sendiri,” sahut Bwe Si-jin sambil tertawa, “kami berdua akan

mencari tempat duduk lain, sekalian berjaga-jaga bila terjadi sesuatu yang tak

diinginkan.”

“Tapi semua jago tangguh partai sudah tersebar di seputar sini dan

melakukan penjagaan ketat….”

“Pergilah seorang diri!” sambil berkata Bwe Si-jin segera berbaur dengan para

penonton lainnya.

Ketika Bwe Si-jin sambil menggendong tangan membaurkan diri dalam

keramaian penonton, tiba-tiba terdengar Cau-ji berbisik dengan ilmu

menyampaikan suara, “Paman. Lokyang Capji Eng berada di tribun sebelah kiri!”

Ketika berpaling, Bwe Si-jin segera menyaksikan Lokyang Capji Eng berada di

tribun sebelah tengah, maka sahutnya sambil tertawa, “Cau-ji, ayo, kita sapa

mereka!”

Mula-mula Cau-ji agak tertegun, tapi ia segera mengerti maksud pamannya

dan beijalan mendekati arah mereka.

Bwe Si-jin sengaja memperlambat langkahnya, membuat jarak mereka berdua

selisih makin jauh.

Setelah berada lima enam langkah di hadapan Siang Ci-liong, dengan ilmu

menyampaikan suaranya Cau-ji segera menyapa, “Saudara Siang, awal sekali

kehadiranmu!”

Sambil berkata dia menggapai ke arah mereka.

Seakan terkejut bercampur girang Siang Ci-liong membisikkan sesuatu ke sisi

telinga adiknya, lalu dia bangkit berdiri dan celingukan kian kemari, tak lama ia

menemukan Cau-ji.

Dengan cepat ia menuding tempat kosong di sampingnya seraya menggapai.

Cau-ji mengerti maksudnya, dia manggut-manggut dan berjalan mendekat.

Dengan sikap penuh persahabatan Lokyang Capji Eng berdiri dan menyapa

Cau-ji.

Cau-ji tahu sudah pasti Siang Ci-ing telah menceritakan pengalamannya

kepada mereka sehingga terjadi perubahan sikap dari orang-orang itu. Maka

serunya sambil tertawa tergelak, “Hahaha, silakan duduk!”

Habis berkata, ia duduk di sisi kiri Siang Ci-liong.

Terdengar Siang Ci-liong berkata sambil tertawa, “Sungguh tak kusangka

perlombaan balap kuda yang diselenggarakan di tempat ini sangat besar, megah

dan ramai.”

Pada saat itulah di atas sebuah panggung setinggi dua meter yang berada di

tengah arena telah muncul seorang lelaki berbaju perlente, dia sedang menjura

ke semua penonton yang berada di empat penjuru.

Tepuk tangan gegap gempita pun segera bergema memecah keheningan.

Selesai tepuk tangan, dengan lantang lelaki perlente itu berkata, “Aku Coh Tat

sebagai panitia penyelenggara pesta balap kuda mengucapkan selamat datang

kepada hadirin semua.

“Sesuai dengan peraturan, bila ada sahabat yang ingin ikut serta dalam balap

kuda hari ini silakan mengambil nomor undian, tapi aku perlu terangkan

terlebih dulu, bila dalam perlombaan nanti terjadi kecelakaan atau satu

peristiwa yang tak diinginkan, pihak kami tak ikut bertanggung jawab.”

Di tengah sorak sorai yang nyaring, ada dua puluhan orang lelaki kekar

dengan gerakan tubuh yang gesit telah berlarian menuju ke arah panggung.

Di bawah dukungan Cau-ji dan Siang bersaudara, kesepuluh orang pemuda

tampan itupun ikut berlarian menuju ke tengah panggung.

Lelaki berbaju perlente yang berada di atas panggung tinggi itu nampak

terkesiap setelah menyaksikan gerakan tubuh kesepuluh orang ini.

Para jago tangguh dari Jit-seng-kau yang membaurkan diri di antara para

penonton pun segera meningkatkan kewaspadaan.

Begitu kesepuluh orang itu tiba di atas panggung, lelaki berbaju perlente itu

segera memuji, “Hebat sekali kepandaianmu sobat!”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang orang itu berkata lebih jauh

kepada ketiga puluh lima orang yang sudah berada di panggung,

“Sobat sekalian, ketiga orang nona itu membawa tiga puluh lima lembar

lintingan kertas berisikan angka, sobat yang berhasil mendapatkan angka satu

sampai angka sembilan, berarti dialah yang akan menjadi joki pada hari ini.”

Tak lama kemudian ketiga orang nona itu sudah memperlihatkan sebuah

kotak kosong kepada para hadirin, lalu memasukkan ketiga puluh lima lintingan

kertas itu ke dalam kotak, selesai mengocoknya mereka pun menghampiri orangorang

itu.

Menanti ketiga puluh lima orang itu selesai mengambil gulungan kertas,

terdengar Coh Tat berkata sambil tertawa, “Sekarang, silakan teman yang tidak

mendapat angka untuk kembali ke bangkunya, terima kasih.”

Dari sepuluh orang yang naik panggung, ada tujuh anggota Lokyang Capji Eng

yang balik.

Melihat itu Cau-ji segera berseru sambil tertawa, “Saudara Siang, kelihatannya

juara pertama dalam lomba kuda hari ini akan dihasilkan oleh salah satu di

antara ketiga orang Toako itu.”

“Ahh, mana, mana,” sahut Siang Ci-liong sambil tertawa, “walaupun ilmu

menunggang kuda yang dimiliki ketiga orang itu cukup tangguh, namun mereka

tidak kenal lapangan ini, kudanya pun tidak begitu akrab, belum tentu harapan

itu bisa kesampaian.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, terdengar suara ringkikan kuda

yang ramai berkumandang memecah keheningan, tampak dua puluh tujuh

orang lelaki kekar dengan menunggang dua puluh tujuh ekor kuda bergerak

lewat di depan panggung kehormatan.

“Wouw, rupanya kuda jempolan dari Mongolia yang digunakan,” seru Siang Ciliong

terperanjat.

Cau-ji sama sekali tak paham soal kuda, tapi melihat mimik kesembilan orang

itu, dia tahu kuda-kuda itu pasti tak ternilai harganya.

Terdengar Coh Tat berseru lagi dengan nyaring, “Di dalam kotak itu berisikan

dua puluh tujuh angka, silakan anda antn mengambil nomor sesuai dengan

angka undian yang anda ambil tadi dan memilih kuda sesuai dengan angka yang

diperoleh dari kotak itu.”

Seorang lelaki mendapat angkat delapan, maka kuda yang ditunggangi lelaki

bernomor delapan segera mendekati mimbar.

Tak lama kemudian sembilan ekor kuda sudah siap bertanding.

“Silakan mengenakan mantel bernomor!” seru Coh Tat lagi.

Tak lama kemudian semua peserta sudah mengenakan mantel bertuliskan

angka.

Maka sambil tertawa Coh Tat berseru kembali, “Silakan teman-teman

membawa kuda masing-masing menuju ke jalur perlombaan.”

Akhirnya diiringi suara gembreng yang keras, kesembilan ekor kuda lomba

itupun meluncur ke depan.

Teriakan penonton, sorak sorai yang gegap gempita pun berkumandang

memecah keheningan.

Tiba-tiba terdengar Bwe Si-jin berbisik kepada Cau-ji dengan ilmu

menyampaikan suaranya, “Cau-ji, coba tebak, mungkin tidak angka enam yang

paman berikan kepada pelayan rumah makan itu keluar sebagai pemenang?”

Mendengar bisikan itu tanpa terasa Cau-ji membayangkan kembali peristiwa

itu, akhirnya tanpa sadar ia manggut-manggut sambil tertawa.

Siang Ci-ing yang selama ini secara diam-diam mencuri pandang ke arahnya

jadi keheranan setelah melihat anak muda itu mendadak tertawa, tegurnya

keheranan, “Saudara Yu, kenapa tiba-tiba tertawa?”

Cau-ji segera sadar akan kekilafannya, buru-buru sahutnya sambil tertawa,

“Nona, membayangkan sikap kalian yang semula bermusuhan tapi sekarang

malah bersahabat, aku jadi teringat dengan sandiwara panggung, oleh sebab itu

aku menjadi geli maka tertawa.”

Merah jengah wajah Siang Ci-ing, tanyanya mendadak, “Saudara Yu, apakah

sore ini ada waktu?”

“Tentu saja ada, aku memang banyak waktu menganggur, ada sesuatu nona?”

Tiba-tiba dengan ilmu menyampaikan suaranya Siang Ci-ing berbisik, “Sore ini

Lokyang Capji Eng akan mengadakan perjamuan penghormatan di rumah

makan Ke-siong-lau, semoga saudara Yu sudi memberi muka dan bersedia

menghadirinya.”

Undangan ini membuat Cau-ji tertegun sesaat.

Namun kemudian sambil menatap wajahnya yang cantik, dia tersenyum dan

manggut-manggut.

Siang Ci-ing tertawa, dia mengalihkan kembali pandangan matanya ke tengah

arena perlombaan.

Siang Ci-liong yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba berkata,

“Ternyata saudara Yo cukup hebat, baru sepuluh putaran, ia sudah berhasil

melampaui saudara Lim setengah badan kuda!”

Ketika Cau-ji melongok ke arena, terlihatlah kesembilan ekor kuda itu

berlarian saling mengejar dalam jarak tak jauh, khususnya ketiga saudara

Lokyang Capji Eng, boleh dibilang mereka selalu berada di depan keenam

penunggang kuda lainnya.

Akhirnya enam perputaran kemudian kuda nomor enam dan kuda nomor

tujuh hampir sejajar.

Tapi pada perputaran terakhir, kuda nomor enam berhasil masuk garis finish

duluan.

Suara gembreng pun kembali dipukul keras-keras, kuda nomor enam

dinyatakan sebagai pemenang.

Cau-ji yang mengetahui hal ini ikut bersorak gembira.

Para penonton mulai bubar, kecuali mereka yang pasang angka enam, boleh

dibilang sebagian besar pulang dengan wajah murung dan lesu.

Kembali Coh Tat mengumumkan dengan suara nyaring, “Terima kasih atas

kehadiran teman-teman semua, sobat nomor enam akan memperoleh hadiah

sebesar seratus tahil emas murni, sementara delapan orang penunggang lainnya

masing-masing mendapat hadiah sepuluh tahil emas, silakan naik ke panggung!”

Dalam waktu singkat semua penunggang kuda itu sudah mendapatkan

sebuah kotak kayu, ketika kotak dibuka, benar saja, isinya adalah uang emas

murni.

Sambil menghela napas Siang Ci-liong pun berkata, “Saudara Yu, ternyata

kalian memang pandai sekali berdagang, tak heran total transaksi yang berhasil

kalian raih kian hari kian bertambah makmur.”

“Hahaha, semua ini berkat rezeki dari kalian semua,” sahut Cau-ji sambil

tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Saudara Siang, aku masih

ada urusan lain, maaf kalau terpaksa harus mohon diri lebih dulu.”

“Saudara Yu jangan lupa dengan perjamuan tengah hari nanti!”

“Hahaha, aku pasti akan datang.”

0oo0

Belum lagi tiba di pintu gerbang rumah makan Jit-seng-lau, Cau-ji sudah

mendengar suara petasan renteng yang berbunyi memekakkan telinga.

Seorang pemuda berteriak dengan penuh gembira, “Terima kasih, terima

kasih!”

Dia segera mempercepat langkahnya untuk mendekat, ternyata pemuda itu

adalah sang pelayan rumah makan Ke-siang-lau yang sedang dikerumuni orang

banyak.

Sementara dia masih tertawa geli menyaksikan adegan itu, terendus bau

harum di samping tubuhnya, ternyata Siau-si dan Siau-bun telah muncul di

hadapannya.

“Adik Cau,” terdengar Siau-bun menegur dengan ilmu menyampaikan suara,

“kenapa kau tidak membangunkan kami berdua?”

“Hahaha. kalian tidur sambil mendengkur, Siaute mana berani

membangunkan.”

“Kau….”

Cau-ji tidak menggubris, tapi segera bertanya kepada orang yang berada di

sampingnya, “Saudara cilik itu menang berapa?”

“Dia pasang satu tahil perak dan berhasil menangkan seribu lima ratus tahil

perak, coba lihat tampangnya begitu gembira, konon minggu depan dia akan

menikahi kekasihnya….”

Mendengar itu Cau-ji tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya pelayan itu segera mengenali suaranya, ia segera berpaling ke

arah Cau-ji, tapi melihat wajahnya terasa asing, kembali ia tertegun.

Saat itulah Bwe Si-jin dengan wajah tersenyum muncul di depan pintu.

Berkilat sepasang mata pelayan itu, segera teriaknya kegirangan, “Loya, terima

kasih, terima kasih!”

Kembali suara mercon renteng bergema memecah keheningan.

“He, pelayan, memangnya kau ingin meledakkan tubuh Lohu?” seru Bwe Si-jin

sambil tertawa.

“Hahaha, tidak berani, tidak berani, terima kasih kepada Loya karena

memberitahukan angka enam kepadaku hingga aku menang besar … he,

kemana perginya tongkatmu?”

Pura-pura bermuram durja sahut Bwe Si-jin, “Sudah kugadaikan, Lohu

pasang angka satu, akhirnya kalah besar.”

“Aaaai, sayang, padahal kau suruh aku memasang angka enam, kenapa kau

sendiri malah pasang angka satu?”

“Itulah kalau kebanyakan minum sampai mabuk, padahal aku berniat pasang

nomor enam, tapi tanganku jadi lemas hingga angka satu yang kutulis, sialan….”

Cau-ji yang menyaksikan sandiwara itu kontan saja tertawa tergelak.

Ternyata dengan wajah serius pelayan itu berkata, “Tak usah sedih Loya, biar

hamba yang tebus tongkatmu, berapa banyak yang kau gadaikan?”

“Soal ini….” Bwe Si-jin pura-pura termenung.

Cau-ji segera mengerti maksud pamannya, dengan ilmu menyampaikan suara

segera bisiknya, “Paman, kerjai dia, bilang saja digadaikan lima ratus tahil

perak.”

Bwe Si-jin kembali berlagak menggeleng, katanya murung, “Tidak mungkin,

kau tak mampu membayarnya.” *

Dalam sangkaan pelayan itu, paling tongkat itu hanya digadaikan satu tahil

perak, sambil tepuk dada serunya lantang, “Loya, kau telah membantu aku

menangkan undian, kalau aku tak mau membantumu, berarti aku bukan

manusia.”

“Baiklah, aku telah gadaikan tongkat itu dengan lima ratus tahil perak.”

Teriakan kaget bergema dari empat penjuru

Pelayan itu sendiri nampak tertegun dan berdiri melongo.

Diam-diam Bwe Si-jin tertawa geli, tapi di luar katanya cepat, “Sudahlah, biar

Lohu usaha cara lain untuk menebus tongkat itu.”

“Loya, tunggu sebentar, biar aku hitung dulu sisa uangku,” mendadak pelayan

itu berteriak.

Dengan ilmu menyampaikan suaranya Cau-ji segera berkata, “Paman, minggu

depan pelayan itu mau kawin, mungkin dia sedang menghitung berapa beaya

perkawinan yang dibutuhkan, hahaha ….”

Bwe Si-jin segera tertawa, ditengoknya wajah pelayan itu sambil tersenyum.

Selang beberapa saat kemudian terdengar pelayan itu berkata, “Loya, terus

terang saja hamba akan menggunakan uang itu untuk membayar hutang lama

serta beaya perkawinan minggu depan, kira-kira hamba butuh seribu tahil

perak, bagaimana kalau hamba menghadiahkan empat ratus lima puluh tahil

perak untuk menyokong Loya menebus tongkat itu, sementara kekurangannya

yang lima puluh tahil terpaksa harus Loya usahakan sendiri?”

Bwe Si-jin segera tertawa tergelak.

“Hahaha, ternyata kau memang seorang pemuda yang tak lupa budi, Lohu

hanya menggoda kau saja. Masa orang tua seusiaku juga ikut pasang lotere

buntutan?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Kita bisa bertemu berarti

kita memang berjodoh, saudara cilik, pada hari pernikahanmu nanti kau

berencana mengundang berapa meja?”

“Mungkin… mungkin tiga meja!”

“Hahaha, bagus, pada hari perkawinanmu nanti Lohu akan membuka tiga

puluh meja untuk merayakan hari kebahagiaanmu itu, undang saja semua

sahabat dan sanak keluargamu, soal beaya biar Lohu yang bayar.”

Pelayan itu terperangah, saking kagetnya dia sampai berdiri dengan mata

terbelalak dan mulut melongo.

Dari sakunya Bwe Si-jin mengambil dua lembar uang kertas bernominal

seratus tahil perak, sambil diserahkan kepada Ciangkwe rumah makan, serunya

lagi, “He, Ciangkwe, ini uang mukanya, sampai waktunya tolong siapkan tiga

puluh meja perjamuan dengan hidangan terbagus.”

Tepuk tangan dan sorak memuji berkumandang dari kerumunan orang

banyak.

“Loya, mana boleh begitu?” teriak pelayan itu gelisah.

“Hahaha, saudara cilik, kau jujur dan tak lupa budi, lagi pula kita bisa

bertemu berarti ada jodoh, sampai waktunya jangan lupa mengundang Lohu

minum beberapa cawan arak. Sekarang aku agak lelah, mau beristirahat dulu.”

Pelayan itu segera berlutut dan menyembah berulang kali.

0oo0

Tengah hari telah menjelang tiba.

Cau-ji telah didandani dua bersaudara Suto, kini dia mengenakan baju

berwarna biru, dengan langkah yang tenang berjalan masuk ke rumah makan

Ke-siang-lau.

Ciangkwe rumah makan itu segera merasakan matanya jadi silau, serunya

diam-diam, “Tampan amat wajah pemuda ini!”

la maju menyongsong sambil bertanya, “Tolong tanya apakah Kongcu

bermarga Yu?”

“Benar, aku datang memenuhi undangan,” sahut Cau-ji sambil tertawa.

“Kalau begitu silakan ikut hamba!”

Setelah menyeberangi kebun belakang, Cau-ji diajak masuk ke dalam sebuah

paviliun kecil.

Terlihat Siang Ci-liong telah menyambut di depan pintu dengan senyum di

kulum.

Lekas dia maju mendekat seraya menjura, “Maaf bila saudara Siang harus

menunggu lama.”

“Ah, mana, saudara Yu datang tepat waktu, silakan masuk.”

Cau-ji mengikuti Siang Ci-liong memasuki sebuah ruangan yang cukup lebar,

terlihat sebelas orang dari Lokyang Capji Eng sedang duduk menemani seorang

pendeta tua berusia delapan puluh tahunan.

Setelah memberi hormat kepada semua orang, terdengar Siang Ci-liong

berkata dengan hormat, “Susiokco, saudara Yu adalah Yu Si-bun, Yu-tayhiap

yang pemah menyelamatkan adik Ing dari cengkeraman iblis Yu Yong!”

Sejak Cau-ji memasuki ruangan, pendeta tua itu mengawasi terus gerakgeriknya,

maka begitu mendengar ucapan itu ia segera bertanya, “Omitohud,

apakah saat ini sicu bekerja di rumah makan Jit-seng-lau?”

Cau-ji dapat merasakan betapa tajamnya sorot mata pendeta tua itu, dia

sadar orang ini pasti punya asal-usul yang luar biasa, hanya sayang dia tak bisa

mengingat siapa gerangan dirinya.

Buru-buru sahutnya, “Benar, cuma ada satu hal perlu Boanpwe jelaskan,

orang yang tempo hari menyelamatkan nona Siang adalah saudara angkat

Boanpwe, karena itu Boanpwe tak ingin menerima pahalanya.”

Agak berubah paras muka Siang Ci-ing.

Sementara Siang Ci-liong segera bertanya, “Saudara Yu, tahukah kau saat ini

Bwe-tayhiap berada di mana?”

“Menurut apa yang Siaute ketahui, Bwe-toako telah menikah dengan Kim-leng

Lihiap Go Hoa-ti, saat ini besar kemungkinan sudah hidup mengasingkan diri di

luar perbatasan.”

Tampak perasaan kecewa melintas di wajah Siang Ci-ing.

“Siausicu,” terdengar pendeta tua itu berkata lagi, “Lolap lihat kau berwajah

jujur dan lurus, kenapa mau bekerja di rumah makan Jit-seng-lau?”

Diam-diam Cau-ji terkesiap, tapi sambil tertawa hambar sahutnya, “Cianpwe,

Boanpwe hanya mendapat perintah dari ayahku untuk bekerja di sini, hingga

sekarang belum kurasakan ada sesuatu yang aneh.”

“Saudara Yu, boleh tahu siapakah ayahmu?” sela Siang Ci-liong.

“Maaf saudara Siang, ayahku tak suka hidup dalam kancah dunia persilatan

yang serba kalut, oleh sebab itu beliau telah berpesan agar tidak sembarangan

menyebutkan nama dan asal-usulnya. Boleh tahu gelar Thaysu?”

“Susiokco berasal dari Siau-lim, beliau bernama It-ci Thaysu!”

Dari ayahnya, Ong Sam-kongcu, Cau-ji pernah mendengar kalau ada seorang

pendeta saleh dari Siau-lim-pay yang ikut serta dalam operasi pemberantasan

perkumpulan Jit-seng-kau di masa silam.

Menurut ayahnya, It-ci Thaysu menderita luka parah dalam penyerbuan itu

dan sudah puluhan tahun tak pernah muncul lagi, kemungkinan besar telah

meninggal dunia, tak disangka hari ini ternyata pendeta ini muncul kembali

dalam keadaan segar bugar.

Segera Cau-ji menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali di depan

pendeta itu.

Sebenarnya kedatangan It-ci Thaysu kali ini adalah lantaran dia mendengar

Jit-seng-kau bangkit kembali dari liang kubur, bahkan membuka lotere ‘semua

senang’ di rumah makan Jit-seng-lau, oleh sebab itu dia pun bergabung dengan

Lokyang Capji Eng dan meluruk ke situ.

Sejak mendengar perkataan Cau-ji tadi, sebetulnya It-ci Thaysu sudah merasa

tak suka hati, dia terlebih tak menyangka kalau pemuda itu bakal memberi

hormat di hadapannya.

Sambil mendengus dingin ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, niatnya

mencegah Cau-ji menyembah lebih jauh.

Siapa tahu kebutan yang menggunakan enam bagian tenaga Bu-siang-sinkang

itu bukan saja tak berhasil menghalangi Cau-ji melanjutkan niatnya,

bahkan begitu terbentur Im-yang-khi-kang yang dihasilkan anak muda itu

seketika terpental balik.

Dalam kagetnya paras muka pendeta tua itu berubah hebat.

Segera dia kebaskan tangannya berulang kali sebelum berhasil memunahkan

tenaga pentalan itu.

Semua yang hadir dalam ruangan rata-rata berilmu tinggi, tentu saja mereka

pun dapat menyaksikan peristiwa itu, kontan paras muka setiap orang berubah

hebat.

“Hati-hati!” terdengar It-ci Thaysu membentak nyaring.

Sambil tetap duduk bersila, tiba-tiba badannya melambung ke udara.

Seketika itu juga Cau-ji merasakan ada segulung kekuatan tanpa wujud yang

mengelilingi seluruh tubuhnya.

Dalam keadaan begini lekas ia duduk bersila sambil merentangkan sepasang

tangannya ke depan, dengan cepat tangan mereka saling menempel satu dengan

lainnya.

Kini kedua orang itu duduk saling berhadapan sambil beradu tenaga dalam.

Cau-ji dapat merasakan ada dua gulung tenaga tekanan yang sangat kuat

memancar keluar dari tangan pendeta itu, makin lama daya tekanan itu terasa

makin berat, memaksanya mau tak mau harus mengerahkan pula tenaga

dalamnya untuk melawan.

Makin lama It-ci Thaysu makin gugup dan kaget.

Kini dia sudah menghimpun seluruh kekuatannya, namun semua usaha itu

tak menghabiskan apa-apa, bahkan setiap kali dia menambah kekuatannya,

tenaga itu segera terpental balik.

Dia tahu pemuda itu memang sengaja mengalah, maka dia semakin

mempergencar serangannya, sebab dia tak yakin pemuda itu sanggup

menghadapi tenaga Bu-siang-sin-kang yang telah dilatihnya hampir enam puluh

tahun, menurut dugaannya, anak muda itu tentu mengandalkan ilmu sesat

untuk membendung serangannya itu.

Maka dia menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan menyerang

lebih dahsyat.

Semua jago yang hadir dalam ruangan sudah tak tahan menghadapi aliran

hawa murni yang menekan dada mereka, tak selang lama kemudian mereka

sudah menonton jalannya pertarungan dari luar jendela.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar pendeta itu mendengus

tertahan, tubuhnya gemetar keras.

Melihat itu orang-orang yang berada di luar ruangan berbondong-bondong

meluruk masuk ke dalam,.

Dengan gerakan cepat Cau-ji mendorong sepasang telapak tangannya,

menggunakan kesempatan di saat tubuh It-ci Thaysu agak terjengkang ke

belakang, dengan cepat tangannya menghantam di atas dadanya, sementara

peluh mulai membasahi jidatnya.

Siang Ci-liong segera menghalangi rekan-rekannya menyerbu masuk, tegurnya

dengan suara dalam, “Orang she Yu, mau apa kau?”

Cau-ji membesut keringatnya sambil tertawa ewa, dia segera duduk di

belakang punggung pendeta itu, menarik napas panjang dan menempelkan

tangannya di atas jalan darah Beng-bun-hiat sembari menyalurkan tenaga

dalam.

Dia sudah punya pengalaman ketika mengobati luka Siau-si sehingga tidak

sulit untuk menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh It-ci Thaysu.

Rupanya pertarungannya yang amat seru melawan Cau-ji membuat luka

dalam It-ci Thaysu yang pernah dideritanya dulu kambuh kembali, tapi dia

enggan menyerah kalah, akibatnya keselamatan jiwanya pun terancam.

Untung saja Cau-ji segera menyadari akan hal itu dan cepat menarik kembali

tenaga dalamnya.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji, tidak sulit baginya

untuk mengobati luka dalam pendeta itu.

Setengah jam kemudian ia selesai menyalurkan tenaga dalamnya, dengan

ilmu menyampaikan suara pemuda itupun berbisik, “Cianpwe, silakan atur

napas beberapa putaran lagi, maafkan Boanpwe tak bisa menemani terlalu

lama.”

Habis berkata dia menghembuskan napas panjang dan bangkit berdiri.

Baru beberapa langkah ia meninggalkan ruangan, Siang Ci-liong dengan

penuh rasa kuatir telah bertanya, “Saudara Yu, bagaimana kondisi Susiokco?”

“Tak masalah, hanya membuat lukanya kambuh.”

“Saudara Yu, maafkan kesembronoan Siaute tadi.”

“Aaah, urusan sepele, tak perlu dikuatirkan, selamat tinggal!”

Dengan termangu Siang Ci-ing mengawasi pemuda itu berlalu dari situ,

pikirannya terasa sangat kalut.

0oo0

Sekembalinya ke dalam kamar, baru saja Cau-ji mengambil tempat duduk,

dua bersaudara Suto telah masuk ke dalam ruangan.

Sambil tertawa Cau-ji berseru, “Cici, kebetulan kedatangan kalian, tolong

bantu Siaute agar lebih santai.”

Habis berkata ia bangkit berdiri dan mulai melepas pakaian.

Segera Siau-bun membantu melepas pakaiannya.

“Cau-te,” katanya merdu, “bukankah hari ini kau pergi memenuhi undangan

cewek cakep? Kenapa badanmu jadi begini lusuh?”

“Ya, benar,” sambung Siau-si keheranan, “bukan saja tidak terendus bau arak,

bahkan mimik muka pun nampak lesu, memangnya kau sudah bertarung

melawan Lokyang Capji Eng?”

Dengan badan telanjang Cau-ji berjalan menuju ke kamar mandi, lalu sambil

menceburkan diri ke dalam bak rendam, katanya sambil menghembuskan napas

lega, “Cici, satu harian tadi Siaute telah bertarung melawan It-ci Thaysu dari

Siau-lim-pay.”

Secara ringkas ia menceritakan pengalamannya.

Dalam pada itu Siau-si berdua telah melepaskan semua pakaian mereka,

dengan tubuh telanjang bulat mereka mengurut dan memijat sekujur badan

Cau-ji.

Tak terlukiskan rasa nyaman yang dirasakan Cau-ji, katanya tiba-tiba sambil

tertawa, “enci Si, enci Bun, kelihatannya aku akan merepotkan kalian berdua

lagi.”

“Adik Cau,” bisik Siau-si malu-malu, “kau toh sudah kecapaian, masa masih

ingin begituan?”

“Enci Si, sejak Siaute menghisap sari empedu naga sakti berusia seribu tahun,

tenaga dalamku makin hari semakin bertambah, bagi Siaute tak ada istilah capai

untuk berbuat begituan.”

“Tapi aku sangat menguatirkan keselamatan It-ci Cianpwe sehingga seluruh

badanku tegang, kini sudah santai maka aku butuh pelepasan yang nikmat.”

“Adik Cau, cici kuatir tak bisa memuaskan napsu-mu yang luar biasa,” kata

Siau-si sangsi.

“Tidak masalah, Siaute bisa mengendalikan waktu untuk ‘setoran’!”

“Kalau masih butuh pengendalian, berarti kau tak bisa mencapai tujuan akhir

pelepasan yang santai, adik Cau, bagaimana kalau cici undang Siau-man, Siauting

dan Siau-hong untuk membantu?”

“Aku setuju sekali,” seru Siau-si sambil bertepuk tangan, “kami rasa, hanya

berdua saja tak mungkin bisa membuatmu puas, adik Cau, bagaimana menurut

pendapatmu?”

“Hahaha, kalau memang diusulkan begitu, tentu saja Siaute tidak menolak.”

“Adik Cau, sebenarnya rencana ini sangat sempurna,” kata Siau-bun lagi, “kau

bisa menggunakan kesempatan ini untuk sekalian memboyong mereka pulang

ke Hay-thian-it-si.”

“Baiklah, sekarang cepat panggil mereka.”

Siau-bun segera mengenakan kembali pakaiannya dan lekas berlari keluar.

“He, cici Bun, ternyata kau tidak memakai celana dalam!”

Siau-bun tahu Cau-ji sedang menggoda dia, maka sambil menyeringai, cepat

ia kabur dari situ.

“Cici,” ujar Cau-ji kemudian, “aku benar-benar lelaki paling hokki, bukan saja

mendapat cewek cakep, bahkan amat pandai mengambil hati lelaki.”

“Adik Cau, justru cici yang merasa paling beruntung,” kata Siau-si cepat,

“kalau bukan bantuanmu, mana mungkin jalan darah Jin-meh dan Tok-meh di

tubuhku bisa tembus? Bahkan mendapat kesempatan untuk masuk ke Haythian-

it-si.”

“Hahaha, cici kelewat sungkan. Jangan kuatir, setelah tiba di rumah, Siaute

akan minta tolong ibu untuk mengajarkan ilmu ranjang yang lebih hebat

sehingga setiap kali mau begituan, tak perlu lagi mendatangkan pasangan dalam

jumlah banyak, merepotkan!”

Siau-si hanya menunduk dengan jantung berdebar keras.

Saat itulah Siau-bun telah muncul kembali sambil membawa tiga orang gadis

muda, begitu melangkah masuk ke dalam kamar mandi terdengar dia berteriak

sambil tertawa, “Tongcu, Siau-man sedang tak enak badan, karena itu budak

mengundang Siau-tho.”

Sambil berkata, dengan cepat dia melepas semua pakaiannya.

Ketiga orang gadis itu selesai memberi hormat segera melepas semua

pakaiannya hingga telanjang bulat, kemudian beramai-ramai mendekati bak

mandi.

Terdengar Siau-tho yang memiliki buah dada paling montok berseru manja,

“Tongcu, biar budak mandikan kau terlebih dulu, bagaimana?”

“Baiklah!” sahut Cau-ji sambil meremas buah dadanya yang besar itu dan

mempermainkannya.

“Aaah, jangan begitu Tongcu, aku tak tahan,” seru Siau-tho sambil tertawa

cekikikan.

“Hahaha, Siau-tho, tetekmu sangat besar dan montok sekali, mestinya kau

lebih cocok dipanggil Toa Tho si buah tho gede!”

“Aaaah, Tongcu jahat,” seru Siau-tho sambil menyingkir ke samping, mulamula

dia membasahi dulu tubuh sendiri, kemudian dengan cepat menggosokkan

buih sabun di seluruh tubuhnya.

Siau-ting dan Siau-hong segera membantu Siau-tho, membubuhkan sabun di

sepasang kakinya.

Meski Cau-ji hanya mengawasi tingkah laku mereka dengan tersenyuman,

namun dalam hati kecilnya ia berpikir, “Bukankah Siau-tho akan memandikan

aku? Kenapa dia malah mandi duluan? Permainan apa lagi yang sedang dia

persiapkan?”

Dua bersaudara Suto tahu Siau-tho pernah belajar ilmu Yoga, dia selalu

mengandalkan sepasang buah dadanya yang besar untuk menggosok seluruh

badan tuan-tuan yang membutuhkannya, menggosok memakai buah dada

memang jauh lebih merangsang ketimbang memakai tangan.

Andaikata Cau-ji bukan seorang Tongcu, ia tidak tahu kalau ‘tombak’ miliknya

panjang, besar dan keras, belum tentu Siau-bun mampu mengundang kehadiran

Siau-tho.

Terdengar Siau-tho tertawa jalang, Cau-ji segera merasakan ada segumpal

tubuh yang halus, lembut dan empuk tak bertulang menempel rapat di

punggungnya.

Tampak sepasang lengan dan kaki Siau-tho direntangkan di sisi papan bak

mandi itu, kemudian setelah menarik napas panjang, tubuh bagian depannya

mulai bergetar keras.

Menyusul kemudian mulai dada hingga pahanya ikut pula bergetar sangat

keras.

Mengikuti getaran yang terjadi, dia mulai menempelkan sepasang buah

dadanya yang besar montok itu di punggung Cau-ji dan menggosoknya kuatkuat.

Seketika itu juga Cau-ji merasakan suatu kenyamanan yang tak terlukiskan

dengan kata muncul di punggungnya, tak tahan ia berseru, “Siau-tho, hebat

amat permainanmu ini.”

Siau-tho tak bicara karena dia sedang mengeluarkan ilmu simpanannya.

Siau-bun mewakilinya menjawab, katanya sambil tertawa, “Tongcu, inilah

‘body masage’ jurus simpanan Siau-tho, nikmatilah selagi sempat!”

Cau-ji merasakan sekujur badannya gatal, kesemutan dan geli, napsu

birahinya langsung saja membara, tombaknya yang terpijak di atas papan lamatlamat

terasa sakit, maka cepat dia memiringkan badannya, memberi kesempatan

buat tombaknya untuk lebih bernapas lega.

Siau-ting segera tertawa lirih, mendadak dia tekan badan Cau-ji hingga

senjatanya terjepit di antara papan.

“Aduuuh!” tak tahan pemuda itu menjerit, ternyata tombak berikut sepasang

pelurunya sudah terjepit di antara papan.

Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, sambil tertawa cekikikan Siau-ting

dan Siau-hong sudah menerobos masuk ke bawah papan jepitan itu.

Gerakan tubuh Siau-ting jauh lebih cepat dari rekannya, dia berhasil merebut

tombak itu duluan, tanpa membuang waktu dia langsung menjejalkannya ke

dalam mulut dan mulai menghisapnya.

Siau-hong yang kebagian sepasang peluru tak hilang akal, dia jejalkan sebiji

peluru itu ke dalam mulutnya dan mulai dijilat, disedot dan digigit perlahan.

Selama hidup belum pernah Cau-ji menghadapi situasi semacam ini, dia

merasakan satu rangsangan yang aneh muncul dalam hatinya, sekujur badan

merinding, tak tahan ia menjerit tertahan.

Siau-bun tidak memberi kesempatan untuk menjerit terus, dia rangkul tubuh

pemuda itu dan menjejalkan bibirnya ke mulutnya, bukan cuma menciumnya

dengan hangat, bahkan ujung lidahnya mulai menggeliat di dalam mulut

pemuda itu.

“Tongcu!” seru Siau-si sambil tertawa, “budak percaya, kaisar pun belum tentu

pernah menikmati pelayanan semacam ini.”

Sambil berkata dia mulai melakukan pijatan di seluruh badan anak muda itu.

Cau-ji merasakan kesegaran dan kenikmatan yang luar biasa, demikian

nikmat hingga tak dapat melukiskan dengan perkataan.

Permainan syur yang dilakukan satu lelaki dilayani lima orang gadis muda

pun segera berlangsung dengan gencarnya.

Lewat beberapa saat kemudian terdengar Siau-tho berseru, “Tongcu,

bagaimana kalau berganti posisi?”

Mendengar usulan itu serentak para gadis meninggalkan sisi Cau-ji.

Terdengar Cau-ji menghembuskan napas panjang sambil berseru, “Ooh, Lohu

nyaris habis dirampok oleh kalian!”

Siau-tho segera membetulkan letak papan di bawah tubuh Cau-ji, kemudian

ketika melihat tombak panjang miliknya berdiri tegak bagaikan sebuah tongkat

baja, diam-diam ia menelan air liur.

“Wouw, mestika yang gagah dan keren, tenaga dalam Tongcu memang luar

biasa sempurnanya, tampaknya kau bisa tetap awet muda dan kuat dalam

bekerja!”

“Hahaha, memangnya kau sanggup menelan milikku sampai seutuhnya?”

“Jangan kuatir Tongcu, dia itu kapal induk raksasa, biar satu kali lipat lebih

panjang pun sanggup dia telan seutuhnya!”

“Hahaha, kalau begitu telanlah!”

Siau-tho mengerdipkan matanya yang sipit, sesudah menarik napas panjang,

dia langsung duduk di atas pusaka itu.

“Cluupppp!”, secara manis dan langsung, dia telan seluruh tombak itu hingga

ke akar-akarnya.

Baru pertama kali ini Cau-ji melenggang di tengah jalan bebas hambatan, tak

tahan pujinya, “Waaah, barang bagus!”

“Hihihi, nikmati saja Tongcu perlahan-lahan, pertunjukan lebih menarik

masih ada di belakang.”

Selesai berkata dia tempelkan payudaranya yang besar dan montok itu di atas

dada Cau-ji.

Pemuda itu segera merasakan tubuh gadis itu mulai bergoyang perlahanlahan.

Kalau tadi menempel di belakang punggung masih tidak kentara nikmatnya,

tapi sekarang, ketika tombak panjang sudah merogoh liang, ditambah gesekan

sepasang buah dada yang begitu besar dan kenyal di atas dadanya, kontan saja

pemuda itu merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Tak tahan lagi pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

Cau-ji tak ingin tangannya menganggur, maka dia mulai menggerayangi dada

Siau-ting dan Siau-hong.

Tinggal dua bersaudara Suto yang cuma menonton sambil tersenyum.

Siau-tho punya satu julukan istimewa, dia disebut orang ‘setelah perang

dingin’, selama ini dia selalu dapat membuat kaum lelaki mencapai puncak

kenikmatannya dengan mengandalkan kehebatan ilmu yoganya, oleh sebab itu

tak peduli melakukan goncangan yang menimbulkan suara nyaring.

Kesan dua bersaudara Suto, selama ini Siau-tho belum pernah mengalami

kegagalan, mereka berdua berharap hari inipun dia bisa memberi kenikmatan

kepada Cau-ji hingga puncak kenikmatannya.

Sebaliknya Siau-tho pun seorang jagoan ranjang yang sangat berpengalaman,

kalau orang sudah biasa minum es di hawa dingin, maka tak sulit baginya untuk

mengetahui panas dinginnya sesuatu. Begitu pula dalam permainan ranjang kali

ini, setelah memompa badannya berulang kali, dia mulai sadar bahwa dirinya

tak mungkin bisa membawa lawannya mencapai puncak kenikmatan.

Apalagi sambil menikmati serangan maut, pemuda itu masih menyempatkan

diri meremas puting susu Siau-ting dan Siau-hong.

Diam-diam dia mulai gembira.

Sudah cukup lama Siau-tho tak pernah merasakan puncak orgasme, sebab

pada umumnya lawan mainnya selalu keok duluan sebelum dia merasa geli.

Dan kini setelah melihat ada peluang besar baginya untuk merasakan

orgasme, tak heran jika dia kegirangan setengah mati.

Genjotan badannya mulai diperkencang, otot liangnya yang menyedot dan

mengunyah pun semakin diperhebat.

Cau-ji merasa liang milik perempuan itu seakan sedang dilanda gempa

dahsyat, semua otot di dalam liang itu seakan-akan menghisap, menyedot,

memilir dan mengunyah barang miliknya, membuat tombak mestikanya seakanakan

sebuah perahu yang sedang dihajar gulungan ombak dahsyat.

Tak lama kemudian seluruh tubuh Siau-tho bergoncang keras, suara creeep …

creep … yang aneh pun mulai bergema di seluruh ruangan.

Menyaksikan hal ini, para gadis lainnya hanya berdiri tertegun dengan mulut

melongo.

Sebaliknya Cau-ji tertawa keras, tertawa penuh kemenangan.

Dia sudah merasakan getaran keras dari liang surga Siau-tho, ia tahu gadis

itu sudah tak mampu mengendalikan diri lagi.

Maka dengan suara keras teriaknya, “Kalian cepat benahi papan itu, lihat

kehebatan milikku!”

Sambil berkata dia membalikkan badannya secara tiba-tiba, kemudian

mengambil alih peranannya dengan menusukkan tombaknya dengan gencar.

Untung saja papan kayu itu sudah dipegangi empat gadis, kalau tidak, di

bawah gerakan Cau-ji yang luar biasa, entah apa jadinya.

Siau-tho segera merasakan liang surganya ditekan sedemikian rupa hingga

bergetar keras, cepat dia himpun tenaga dalamnya berusaha melindungi liang

kecil miliknya itu.

Cau-ji tidak tahu perempuan itu memiliki ilmu melindungi lubang, melihat

serangan yang dilancarkan tidak membuatnya berteriak minta ampun, dia

segera mengubah taktik perangnya.

Sepasang kaki Siau-tho segera direntangkan di atas bahunya, kemudian

sambil membentak nyaring dia mulai menusuknya secara bertubi-tubi.

Kali ini Siau-tho tak bisa menghindarkan diri lagi, baru tiga puluh kali

tusukan dia sudah menjerit-jerit kenikmatan.

“Hahaha, aku tidak percaya kau tidak menyerah!” seru Cau-ji sambil tergelak.

Kini dia memperlambat gerakan tusukannya, cuma setiap kali menusuk dia

selalu menusuk sangat dalam, hingga menyentuh dasarnya, benturan demi

benturan yang keras membuat cewek itu mulai gemetar keras.

Gemetar yang dia perlihatkan memang merupakan reaksi alami, bukan

getaran yang dihasilkan oleh ilmu yoga seperti tadi, bisa disimpulkan betapa

menikmatinya gadis itu.

Sekuat tenaga dia menggoyang tubuhnya kian kemari, sambil bergoyang

teriaknya keras, “Ayo … lebih keras lagi… aduuuh… lebih keras lagi… aduh …

aduuh … Tongcu… aku… aku mau mati… aaaah ….”

“Hahaha, aku selalu memenuhi permintaan orang, nah, Siau-tho, bersiaplah

untuk mati.”

“Oooh … aaah … aduh … aduh … ya ampun … Tongcu … ooh … Tongcuku

sayang … aduh … mati … mati aku….”

“Hahaha….”

“Aaaaah….”

“Hahaha….”

Selesai tertawa Cau-ji segera berseru, “Siau-ting, sekarang giliranmu naik

ranjang! Siau-hong, kau rawat Siau-tho!”

Dengan perasaan terkejut bercampur gembira Siau-ting melompat naik ke

atas ranjang, baru saja dia merentangkan kakinya lebar-lebar, Cau-ji sudah

menindih di atas badannya dan langsung menusukkan senjatanya ke dalam

liang surganya.

“Woouw, besar amat milikmu Tongcu!”

“Hahaha, Siau-ting, tadi kau sudah menghisap milikku cukup lama, masakah

masih belum tahu kalau punyaku gede?”

“Tapi Tongcu, milikmu sekarang bertambah gede!”

“Hahaha, ayo mulai goyang!”

“Tongcu, aku sedang merasakan betapa sesaknya liangku setelah kau tusuk,

saking asyiknya sampai lupa untuk goyang….”

“Hahaha, Siau-ting, tak kusangka dengan usiamu yang begitu muda, ternyata

caramu bergoyang sudah amat berpengalaman.”

Suto bersaudara yang sedang membantu Siau-tho membersihkan badan

segera saling pandang sambil tersenyum.

Baru saja mereka balik kembali ke dalam kamar setelah mengantar Siau-tho

beristirahat, dilihatnya Siau-ting sudah mulai mengoceh tak karuan, jelas cewek

inipun sudah mendekati puncak kenikmatan.

“Siau-hong!” Siau-bun segera berseru sambil tertawa, “sekarang tiba

giliranmu, aku usulkan lebih baik kau bersikap aktif, kalau tidak, sebentar lagi

bisa keok.”

“Hihihi, aku memang berencana begitu.”

Cau-ji yang mengikuti pembicaraan itu segera berseru sambil tertawa,

“Hahaha, Siau-hong, kalau memang sudah siap, sekarang giliranmu naik

ranjang!”

Habis berkata dia segera melepaskan Siau-ting.

“Siau-ting, kau baik-baik saja?” bisik Siau-hong.

“Aaai, bukan cuma baik, aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar

biasa.”

Seraya berkata dia meluncur turun ke bawah ranjang dengan badan lemas.

Kini Cau-ji mulai menusuk liang milik Siau-hong, bahkan sekarang dia

membantu cewek itu untuk bergoyang ke sana kemari.

Kenapa Cau-ji harus membantunya? Ternyata sejak menelan tombak

panjangnya tadi, Siau-hong seolah sudah kena tenung, tubuhnya bergoyang kian

kemari seperti orang kalap.

Meskipun goyangan kalap itu membuat Cau-ji merasakan kenikmatan yang

luar biasa, namun dia pun kuatir mestikanya lecet gara-gara gerakan tubuhnya

yang ngawur, itulah sebabnya dia membantunya bergerak.

Setelah mengantar Siau-ting dan balik lagi ke kamar, Siau-si jadi keheranan

setelah melihat tingkah-laku Siau-hong yang aneh, tanpa terasa tanyanya,

“Adikku, tampaknya Siau-hong agak kurang beres?”

“Cici, aku sendiri pun kurang jelas, tapi dalam tiga bulan belakangan konon

dia hanya pernah menemani Ciangkwe tidur semalam, lebih baik kita lebih

berhati-hati!”

Sambil tersenyum mereka segera mendekati ranjang.

Ketika Siau-si mencoba menggenggam tangannya, terasa tangan kanan Siauhong

dingin bagaikan es, dia sadar, cewek itu pasti merasa sangat tegang.

“Kenapa kau Siau-hong?” tegur Siau-si kemudian dengan lembut.

“Aku ….” ternyata Siau-hong tak sanggup bicara.

Waktu itu Cau-ji merasa liang surga milik cewek itu menghisap kencang, pada

mulanya dia mengira gadis itu sudah mencapai puncaknya, tapi lama kelamaan

dia mulai merasa gelagat tidak beres, sebab sedotan itu makin lama semakin

mengencang.

Ketika diamati lebih seksama, tampak senyuman masih menghiasi wajahnya,

namun sorot matanya penuh dengan perasaan terkejut bercampur takut.

“Siau-hong” tegurnya kemudian, “apa yang sebenarnya kau takuti?”

Siau-hong terkesiap, jeritnya, “Aku…”

Paras mukanya berubah makin parah.

Cau-ji segera merasa lubang surganya kembali mengencang, secara otomatis

dia mengangkat tubuh cewek itu dan didudukkan ke ranjang.

Kemudian sambil mengaduh pemuda itu memegangi ujung senjatanya, dari

mimik mukanya kelihatan kalau Cau-ji sedang kesakitan.

Dengan ketakutan Siau-hong segera menjatuhkan diri berlutut di lantai.

“Siau-hong, apa yang terjadi?” tegur Cau-ji dengan suara lembut

“Tongcu, aku….”

Melihat mimik muka Siau-hong yang ketakutan, dengan ilmu menyampaikan

suaranya Siau-si segera berbisik, “Adik Cau, tampaknya selama tiga bulan

terakhir dia telah mengalami satu kejadian aneh, kau jangan membuatnya

ketakutan.”

Cau-ji manggut-manggut, katanya, “Siau-hong, coba kalian bicara bertiga,

kalau ada persoalan katakan kepadaku, pasti akan kubantu penyelesaiannya.”

Sambil berkata dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan.

Lekas Siau-bun melayaninya mandi, lalu sambil membantunya mengenakan

pakaian, katanya lagi, “Adik Cau, tolong keluarlah dulu, agar kami ada

kesempatan bicara.”

Cau-ji tertawa getir, dia pun segera berjalan keluar.

Tiba di luar pintu Cau-ji menuju ke kebun belakang, di situ tampak aneka

bunga tumbuh dengan indahnya.

Sambil tertawa geli pikirnya, “Tak nyana pertarungan dengan Siau-tho

sekalian telah menyita banyak waktu, aaah, mumpung tak ada urusan, baiklah

aku jalan-jalan keluar rumah.”

Dengan kecepatan tinggi dia segera menyelinap keluar dari rumah dan menuju

keluar kota.

Ketika mendekati tempat berlangsungnya pacuan kuda pagi tadi, mendadak

dari kejauhan terdengar suara ujung baju yang tersampuk angin.

Dengan sigap Cau-ji berpaling, terlihat ada empat orang perempuan dengan

menggotong sebuah tandu indah sedang bergerak mendekat.

Sungguh cepat gerakan tubuh orang-orang itu. hanya dalam waktu singkat

mereka sudah berada semakin dekat.

“Aaah, sungguh hebat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang-orang itu.”

pikir Cau-ji dengan terkesiap, “entah malaikat atau dewa mana yang berada

dalam tandu itu?”

Dengan perasaan keheranan dia segera menyingkir ke sisi jalan dan

mengawasi keempat orang perempuan itu.

Ternyata keempat orang perempuan itu berbaju merah, mukanya kelihatan

menor dengan perawakan tubuh genit, usianya seputar tiga puluh tahunan.

Dari gerakan tubuh mereka yang begitu enteng, cepat dan santai meski

sedang menggotong sebuah tandu besar, dapat diduga kungfu yang mereka

miliki sangat tangguh.

Keempat orang wanita itu bergerak sambil memandang ke muka, mereka

seakan sama sekali tak melihat kehadiran Cau-ji di situ.

Tapi ketika tandu itu baru akan melalui hadapannya, mendadak terdengar

seseorang membentak nyaring dari balik tandu, “Berhenti!”

Keempat orang wanita cantik itu segera menghentikan langkahnya, di antara

bergoyangnya tirai di depan tandu, tampak seorang wanita berusia tiga puluh

lima tahunan muncul melongok dari balik tandu.

“Saudara cilik,” terdengar perempuan itu menyapa dengan suara merdu,

“kenapa kau berjalan seorang diri dalam cuaca demikian indah? Apakah ada

persoalan yang sedang mengganjal hatimu?”

Cau-ji semakin keheranan, belum sempat dia mengucapkan sesuatu,

terdengar perempuan itu kembali berkata, “Malam sudah makin larut, apakah

adik cilik sedang memikirkan angka berapa yang bakal keluar dalam periode

‘semua senang’ yang akan datang?”

Ketika mendengar perkataan itu, keempat orang wanita cantik yang selama ini

hanya berdiri dengan wajah dingin segera tertawa dingin.

Wanita cantik dalam tandu kembali tertawa terkekeh, katanya, “Saudara cilik,

kalau dilihat tampangmu seperti orang terpelajar, kenapa bisa terpikat main

tebakan angka macam ‘semua senang’?”

Dengan santai Cau-ji menyahut, “Orang bilang burung mati lantaran

makanan, manusia mati lantaran harta, orang pun bilang, seorang enghiong

sulit menghindari godaan wanita, wanita cantik sulit menghindari godaan harta.

Uang dalam jumlah banyak begitu memikat hati, siapa yang tak mau

memikirkannya?”

Kembali perempuan cantik itu tertawa terkekeh.

“Saudara cilik, pepatahmu kurang tepat, contohnya cici, aku selalu

menganggap harta bagai sampah, lahir tidak membawa harta, mati pun tak bisa

membawa apa-apa, buat apa mesti dirisaukan?”

“Hahaha, nona hidup dalam keluarga yang berlimpah, sandang pangan

berkecukupan, keluar masuk naik tandu megah, tentu saja kau tak bisa

merasakan penderitaan orang miskin.

“Beda dengan Cayhe, sejak kecil hidup susah, sudah terbiasa hidup

menyerempet bahaya dan mencari ketegangan, gara-gara pasang ‘semua senang’,

entah berapa ratus kali aku mesti merogoh kocek.

“Kini kecuali satu stel pakaian yang kukenakan, boleh dibilang sepeser pun

aku tak punya, kini aku sedang berusaha jalan-jalan sambil mengais rezeki,

siapa tahu bisa kutemukan hancuran perak yang berserakan di jalanan ini.”

Mendengar perkataan itu, sekali lagi perempuan cantik itu tertawa cekikikan,

saking kerasnya tertawa sampai seluruh tandunya bergoncang keras.

Suara tawanya begitu memikat dan membetot sukma, membuat Cau-ji yang

mendengar seketika terkesima dibuatnya, tanpa terasa dia maju beberapa

langkah ke muka dan mendekati tandu mewah itu.

Keempat orang wanita cantik itu hanya meliriknya sekejap dengan pandangan

dingin, mereka sama sekali tak bergerak, berbicara sekecap pun tidak.

Sambil tertawa perempuan cantik itu mengamati sekujur badan Cau-ji dari

atas hingga ke bawah, melihat tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang begitu

tampan, kelihatannya ia pun sangat tertarik, terdengar suara tawanya makin

merdu dan genit.

Sewaktu masih berada di rumah makan Jit-seng-lau tadi, hasrat birahi Cau-ji

tak kesampaian gara-gara ulah Siau-hong yang aneh. sekarang setelah

mendengar suara tawanya yang begitu merdu, kontan saja birahinya berkobar

kembali.

Dengan termangu dia berdiri di sisi tandu sementara matanya mengamati

sekujur badan perempuan itu tanpa berkedip.

Sejak melihat kegantengan Cau-ji, sebenarnya perempuan cantik itupun

merasakan tubuh bagian bawahnya gatal sekali, maka begitu melihat anak

muda itu menghampiri tandunya, dengan nada genit dia segera berseru,

“Saudara cilik, kau pandai amat bergurau, dengan kegantengan wajahmu, kau

masih kekurangan wanita cantik?”

Ucapan itu seketika membuat Cau-ji terperanjat, tanpa terasa dia melompat

mundur sejauh beberapa langkah, kemudian mengawasi perempuan cantik itu

tanpa berkedip.

“Saudara cilik, siapa namamu?” tanya perempuan cantik itu lagi.

Kini Cau-ji sudah meningkatkan kewaspadaannya, diam-diam dia

menghimpun hawa muminya untuk melindungi badan, namun di luar dia tetap

berkata santai,'”Ada apa? Memangnya kau ingin mencarikan jodoh untukku?”

“Hehehe, boleh dibilang begitu, saudara cilik, nona macam apa sih yang kau

sukai?”

“Hahaha, asal ada nona yang sepersepuluh bagian seperti dirimu, aku rasa itu

sudah lebih dari cukup, atau mungkin harus mencarikan wanita yang sepuluh

kali lipat lebih cantik dari keempat wanita penggotong tandumu itu.”

Ternyata Cau-ji sudah merasa sangat muak menyaksikan tampang sok suci

dari keempat wanita penggotong tandu itu, dia memang sedang mencari peluang

untuk mengumpat mereka.

Benar saja, segera terdengar seseorang mendengus dingin, dengan penuh

amarah keempat orang wanita itu mengumpat, “Bajingan sialan, besar amat

nyalimu!”

“Ji-cun, jangan ribut dengan saudara cilik ini,” perempuan cantik dalam tandu

segera menegur sambil tertawa, “aku lihat bocah ini hanya mengajak kalian

bergurau, mana mungkin kecantikanku bisa mengalahkan kalian berempat?”

“Hahaha, tepat sekali,” sambung Cau-ji lagi sambil tertawa tergelak, “marah

adalah musuh mematikan kaum wanita, jika kau marah, kelihatannya aku mesti

mencari wanita yang seribu kali lipat lebih cantik darimu, hahaha”

Ji-cun, wanita yang berdiri di sisi kiri tandu kontan mengumpat, “Sialan kau,

jangan bicara seenaknya, kalau sampai bikin hatiku panas, hmmm! Akan

kusuruh kau mencicipi siksaan yang paling tak sedap.”

“Hahaha, apanya yang tak sedap? Paling juga menggonggong macam anjing,

sebab anjing yang banyak menggonggong pertanda tak galak, hahaha, atau

jangan-jangan kau memang anjing goblok?”

“Kau….”

“Kau, kau … kenapa? Ayo maju kemari kalau berani!”

Ji-cun benar-benar naik darah, sambil berpekik nyaring teriaknya, “Hu-kaucu,

hamba ingin menghajar bajingan cilik ini, apakah aku boleh turun tangan?”

“Terserah, cuma jangan sampai bikin malu perkumpulan kita, turunkan

tandu!”

Ji-cun segera menurunkan tandunya, kemudian berteriak, “Bajingan, ayo

turun tangan!”

Cau-ji sengaja melepas pakaiannya, kemudian berteriak, “He, kenapa kau

tidak lepas celanamu?”

Ji-cun merasa malu bercampur gusar, sambil membentak tubuhnya

menerjang ke muka, sepasang telapak tangannya langsung mengancam jalan

darah penting di depan dada lawan.

Cau-ji tertawa dingin, kembali ejeknya, “Hmm, kalau enggan melepas sendiri,

biar aku yang melepas celanamu.”

Sambil mengegos ke samping, telapak tangan kanannya langsung membabat

pinggang perempuan itu.

Ternyata ilmu silat yang dimiliki Ji-cun cukup tangguh, melihat serangannya

mengenai tempat kosong ia segera mengegos ke samping menghindari bacokan

lawan, pada saat bersamaan kembali dia melancarkan sebuah pukulan

menghantam dada kiri pemuda itu.

“Serangan bagus!” hardik Cau-ji, tangan kirinya segera didorong ke muka

menyongsong datangnya ancaman itu.

“Blaaam!”

Bentrokan nyaring bergema memecah keheningan, tampak Ji-cun mendengus

tertahan, tubuhnya seketika terpental sejauh beberapa meter, dadanya

bergelombang tak teratur, mukanya dicekam perasaan terkejut bercampur ngeri.

Tampaknya wanita cantik dalam tandu itupun tidak menyangka kalau seorang

pemuda bloon ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tangguh, segera

bentaknya, “Su-ki-hong (merah empat musim)!”

Ketiga orang wanita cantik lainnya segera melompat masuk ke dalam arena

dan masing-masing berdiri di empat penjuru mengepung Cau-ji di tengah.

“Su-ki-hong, merah empat musim. Bagus, hari ini akan kuberi pelajaran

kepada kalian, agar muntah darah, merah empat musim akan kuubah menjadi

darah empat penjuru!”

“Serang!” bentak Ji-cun tiba-tiba.

Pergelangan tangan kanannya digetarkan, seutas angkin berwarna merah

bagaikan seekor ular berbisa langsung mengancam jalan darah Hian-ki-hiat di

tubuh pemuda itu.

Tiga orang perempuan lainnya sama sekali tak bicara, mereka langsung

melancarkan serangan mengancam jalan darah penting di seluruh tubuh

pemuda itu.

Cau-ji mengejek sinis, dengan ilmu gerakan tubuh Pat-kwa-yu-liong-sin-hoat

(naga sakti patkwa) dia berkelebat kian kemari di antara sambaran angkin

perempuan-perempuan itu.

“Hmm, ternyata murid kawanan hidung kerbau Bu-tong-pay,” jengek wanita

cantik dalam tandu itu sinis, “Su-ki-hong, warna merah menyelimuti kolong

langit!”

Begitu mendapat perintah, Ji-cun berempat segera memutar senjata

angkinnya makin gencar, dalam waktu singkat mereka telah membentuk barisan

angkin sakti untuk menghajar Cau-ji.

Jangan dilihat hanya kain yang beterbangan di angkasa, padahal di balik

kibaran kain itu justru terkandung tenaga dalam keempat wanita itu, jangan kan

tubuh manusia, batu cadas dan kayu pun akan hancur berantakan bila

tersambar.

Cau-ji mengubah gerakan tubuhnya berulang kali, belum sampai setengah

jam, ia sudah menggunakan gerakan tubuh dari aliran Bu-tong, Tiong-lam serta

Thian-san, tapi sayang dia belum berhasil juga berada di atas angin.

Tenaga pukulannya sudah diperkuat berlipat ganda, tubuhnya bergerak

semakin cepat.

Tapi keempat orang wanita itu masih mengurungnya rapat-rapat, kekuatan

serangan yang dipancarkan Cau-ji hanya mampu mementalkan kain-kain angkin

itu, tapi tak mampu menghancurkannya.

Semakin menyerang keempat orang wanita itu bertambah kosen, beberapa

kali pihak lawan berhasil menyarangkan serangannya melalui sudut yang sama

sekali tak terduga.

Beberapa kali Cau-ji tak berhasil menghindarkan diri hingga terhajar oleh

serangan lawan, untung tubuhnya dilindungi hawa murni Im-yang-khi-kang

yang dahsyat sehingga serangan lawan tak sampai melukai tubuhnya.

Walau begitu, tak urung Cau-ji mundur juga dengan sempoyongan.

Gagal melepaskan diri dari kepungan lawan, lama kelamaan Cau-ji jadi naik

pitam, pikirnya, “Sialan, kalau tidak kulukai mereka, tampaknya aku yang bakal

konyol”

Begitu mengambil keputusan, dia segera menyalurkan tenaga dalamnya untuk

melindungi badan, lalu dengan berpura-pura terdesak hebat dia mundur

berulang kali.

Padahal sembari mundur, matanya yang jeli mengawasi terus gerak-gerik

lawan, dia menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan mematikan.

Benar saja, beberapa gebrakan kemudian ia saksikan Ji-cun sedang

menggerakkan tangan kirinya ke atas

Cepat badannya menggelinding di tanah sambil merangsek ke muka, tangan

kanannya melancarkan sentilan jari sementara tangan kirinya melepaskan

bacokan.

Peristiwa ini terjadi sangat mendadak, baru saja Ji-tong merasakan dadanya

kesemutan karena tersentil serangan lawan, tahu-tahu lambungnya sudah

termakan pukulan secara telak.

Diiringi jerit kesakitan, tubuhnya terpental sejauh beberapa meter ke

belakang.

Perempuan cantik dalam tandu itu segera berpekik nyaring, tubuhnya melesat

keluar dari tandunya dan menyambar tubuh Ji-tong.

Menggunakan kesempatan baik ini Cau-ji merangsek maju lebih ke depan,

sekali lagi dia melancarkan dua serangan berantai ke arah Ji-he.

Waktu itu Ji-he sedang tertegun karena melihat Ji-tong terluka, serangan

Cau-ji yang tahu-tahu muncul di depan mata membuatnya gugup bercampur

panik.

Tergopoh-gopoh dia melancarkan bacokan berantai, sementara tubuhnya

mengegos ke samping.

Sekalipun dia sudah menghindar dengan cepat, tak urung lengan kanannya

tersentil juga, kontan lengan itu terkulai lemas.

Ji-cun dan Ji-ciu yang menyaksikan kejadian itu serentak membentak

nyaring, empat lembar angkin secepat kilat meluncur ke punggung Cau-ji.

Seakan tidak melihat datangnya serangan itu, sepasang tangannya langsung

dibacokkan ke tubuh Ji-he yang masih sempoyongan.

Terdengar jerit kesakitan bergema di angkasa, sambil muntah darah Ji-he

mencelat ke belakang.

Tapi punggung Cau-ji pun terhajar oleh keempat lembar angkin itu, sambil

mendengus tertahan dia maju dengan langkah terhuyung.

0oo0

Bab. VI. Membantai Hu-kaucu dengan akal.

Ketika perempuan cantik itu berhasil menyambar tubuh Ji-tong, ia segera

saksikan di antara muntahan darahnya telah bercampur dengan gumpalan

darah hitam, ia segera tahu kemungkinan hidup anak buahnya kecil sekali.

Maka begitu melihat tubuh Ji-he mencelat ke belakang, dia jadi teramat gusar.

Sambil menurunkan tubuh Ji-tong, ia berpekik nyaring, segulung angin

puyuh langsung mengurung sekujur badan Cau-ji.

Melihat tak ada peluang lagi baginya untuk menghindar, terpaksa sambil

mengertak gigi dia melepaskan sebuah pukulan pula dengan tangan kirinya

untuk menyambut datangnya serangan itu.

Di antara pasir dan debu yang beterbangan, terlihat dua sosok bayangan

manusia terpental mundur sejauh empat meter lebih.

Belum sempat Cau-ji berdiri tegak, tahu-tahu badannya terasa mengencang,

ternyata keempat anggota badannya sudah terlilit oleh senjata angkin di tangan

Ji-cun dan Ji-ciu hingga badannya roboh terjengkang ke tanah.

Terasa senjata angkin itu melilit badannya makin kencang, tubuh Cau-ji

sudah tertarik hingga berada di hadapan kedua orang wanita itu.

“Bangsat, mampuslah!” teriak Ji-cun sambil mengayunkan tangan kanannya

siap melancarkan pukulan mematikan.

“Tangkap hidup-hidup!” mendadak perempuan cantik dalam tandu itu

menghardik.

Dari serangan pukulan Ji-cun segera berubah jadi serangan totokan, dia totok

jalan darah kaku di tubuh Cau-ji.

Dengan langkah lambat perempuan cantik itu berjalan mendekati Cau-ji, lalu

ujarnya dengan suara berat, “Kalian segera kubur mayat Ji-he dan Ji-tong, lalu

gotong tandu itu ke dalam hutan, aku akan menelan hidup-hidup bocah ini!”

Selesai mengikat tubuh Cau-ji, Ji-cun dan Ji-ciu pun berlalu untuk mengubur

mayat rekannya.

Dari dalam sakunya perempuan cantik dalam tandu itu mengeluarkan sebuah

botol, dari dalam botol menuang keluar sebutir pil berwarna merah membara

yang segera dijejalkan ke mulut Cau-ji, kemudian ujarnya dengan nada

menyeramkan, “Bocah keparat, mati di bawah bunga Botan, biar jadi setan pun

pasti romantis, kau jangan salahkan aku Cin Se-si lagi!”

Habis berkata dia kempit tubuh Cau-ji dan dibawa menuju ke tengah hutan.

Ketika mendengar nama “Cin Se-si”, Cau-ji merasa seakan nama itu sangat

dikenalnya, setelan berpikir sejenak dia pun segera sadar kembali.

Ternyata perempuan cantik ini tak lain adalah salah satu Hukaucu atau wakil

ketua Jit-seng-kau, kenyataan ini membuatnya amat terkesiap.

Dari cerita Bwe Si-jin dapat diketahui bahwa perempuan ini bukan saja

berambisi besar dan kejam, bahkan jalangnya bukan kepalang, tak terhitung

sudah manusia yang mati di atas tubuhnya.

Konon kebanyakan orang yang mati di atas tubuhnya lantaran kehabisan

tenaga lelakinya yang disedot habis, kematian mereka biasanya sangat

mengenaskan.

Cau-ji tahu obat yang dijejalkan ke dalam mulutnya tadi pasti salah satu obat

perangsang, tapi dia tidak kuatir, pemuda itu percaya dengan tenaga murni naga

sakti, dia tak akan mempan diracuni.

Cau-ji mulai berencana bagaimana caranya memanfaatkan siasat lawan untuk

menjebaknya, yaitu mengggunakan tenaga Kui-goan-sin-kang untuk ganti

menyedot hawa kewanitaannya.

Dalam pada itu Cin Se-si sudah menurunkan Cau-ji dan mulai menanggalkan

pakaiannya satu per satu.

Jangan dilihat usianya sudah mendekati empat puluh tahunan, ternyata kulit

badannya masih putih halus, khususnya sepasang buah dadanya serta bagian

bawah tubuhnya, semua nampak masih segar, kencang bahkan jauh melebihi

milik nona muda.

Sepasang buah dadanya yang bulat mendongak ke atas, pinggangnya yang

ramping bagai tubuh ular, bagian bawah tubuhnya yang menonjol tinggi ke

depan, bulu bawahnya yang hitam pekat bagai hutan belantara serta pahanya

yang putih mulus, seketika membuat napsu Cau-ji ikut bangkit.

Andaikata perempuan itu bukan seorang iblis wanita yang amat cabul, Cau-ji

ingin sekali memeliharanya agar bisa menikmati tubuhnya setiap saat.

Sebab meski enci Jin, enci Si dan enci Bun terhitung gadis cantik bak bidadari

dari kahyangan, namun mereka selalu tampil anggun, lemah lembut dan

mendatangkan rasa hormat, mereka sama sekali tidak memiliki kematangan

serta kejalangan perempuan ini.

Cin Se-si tertawa jalang berulang kali, sambil membungkukkan badan dia

mulai melucuti seluruh pakaian yang dikenakan Cau-ji.

Begitu melihat burung Cau-ji yang sudah berdiri tegak bagai sebatang tombak,

tak tahan lagi perempuan itu berseru kaget, “Woouw, ternyata burungmu sangat

gede, sebuah pusaka yang hebat!”

Kemudian setelah mengocok burung itu beberapa kali, dia berkata lagi sambil

tertawa, “Betul-betul benda keramat, tidak kalah dibandingkan milik Bwe Si-jin

si setan sialan itu!”

Dia segera menjejalkan burung itu ke dalam mulutnya dan mulai menghisap

sambil menggigitnya perlahan.

Diam-diam Cau-ji menghela napas panjang, ternyata Bwe Si-jin memang tak

malu disebut kekasih berwajah kumala, biarpun sudah berpisah lama, ternyata

iblis wanita ini masih sulit melupakan besarnya barang milik pamannya itu.

Cau-ji dapat merasakan ilmu menghisap yang dimiliki Cin Se-si ternyata jauh

lebih hebat ketimbang ilmu menghisap kawanan gadis lainnya, terutama ketika

dia menghisap burungnya hingga masuk ke dalam tenggorokannya, ternyata

wanita itu mampu menelan seluruh miliknya hingga dapat menggigit ujungnya.

Kenikmatan yang luar biasa membuat Cau-ji mendesis lirih, badannya ikut

gemetar keras.

Cin Se-si adalah seorang jagoan dalam berhubungan intim, dia tahu pemuda

itu belum pernah merasakan rangsangan dan kenikmatan semacam ini, maka

dia melanjutkan kembali hisapannya sambil menggigit seluruh bagian burung

itu.

Cau-ji merasakan seluruh badannya terasa nyaman, andaikata tubuhnya

tidak dilindungi oleh sari tenaga dari naga sakti berusia seribu tahun,

kemungkinan besar dia sudah mencapai puncak orgasme berulang kali.

Setelah mengeluar tombak itu dari mulutnya, kembali Cin Se-sih berkata

sambil tertawa jalang, “Saudara cilik, ternyata kau memang punya kelebihan

daripada lelaki lain, kehebatanmu membuat cici bertambah suka!”

Habis berkata dia segera merentangkan kakinya sambil berjongkok ke bawah,

“Cluuupppp!”, seluruh lubang surganya sudah dibenamkan ke bawah untuk

melahap habis tombak pusaka lawan.

Cau-ji dapat merasakan betapa lebar dan longgarnya lubang surga milik

perempuan itu, dia tahu lawannya adalah seorang ‘panglima perang yang banyak

pengalaman’, berarti jika dirinya kurang hati-hati, bisa jadi nyawanya akan

terancam, diam-diam ia terkesiap.

Sementara itu Cin Se-si sudah menarik napas panjang, lubang surganya yang

semula longgar tiba-tiba menyusut mengecil, bukan saja telah membungkus

seluruh tombak milik Cau-ji, bahkan ujung tombaknya yang menempel di dasar

lubang terasa mengencang dan menekan makin keras.

“Waaah, kungfu yang hebat!” tak tahan Cau-ji memuji.

“Saudara cilik,” ujar Cin Se-si sambil tertawa, “kau mesti meningkatkan

kesadaranmu, cici segera akan membawa kau melayang ke nirwana!”

Selesai bicara dia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun.

Cau-ji segera merasakan setiap kali ujung tombaknya menekan pada dasar

lubang surganya, lubang itu seakan berputar di seputar pusaka miliknya,

perasaan kaku dan kesemutan itu mendatangkan kenikmatan yang tak

terlukiskan dengan kata.

“Woouw, kepandaian hebat! Kemampuan hebat..”

“Hahaha, yang hebat masih ada di belakang!”

Kalau tadi badannya naik turun, maka sekarang dia mulai bergerak maju

mundur sambil memutar badannya berulang kali.

Kenikmatan yang ditimbulkan dari gerakan ini membuat Cau-ji semakin

mabuk kepayang.

Pertempuran sengit sudah berlangsung mendekati satu jam, Cin Se-si mulai

terperanjat setelah melihat Cau-ji tetap tangguh memberikan perlawanan,

bahkan sama sekali tak ada gejala pemuda itu hampir mendekati puncaknya.

Dalam keadaan begini dia mulai mempercepat gerakannya, bahkan menekan

semakin kuat dan penuh bertenaga.

Diam-diam Cau-ji pun merasa amat kagum dengan kehebatan ilmu ranjang

yang dimiliki perempuan ini, bukan saja dia memiliki potongan tubuh yang

menggiurkan, ternyata pengendalian tenaga pun sangat tepat sehingga tidak

menimbulkan kesan menekan badannya secara berlebihan.

Apalagi sepasang buah dadanya yang bergetar dan bergoyang mengikuti

gerakan badannya, seketika membuat dia syur-syuran….

“Cepat remas tetekku … cepat remas tetekku tiba-tiba perempuan itu

mendesis, “oooh … aaaaah … aaaaah!”

Dengan mengandalkan pengalamannya yang sangat luas di bidang hubungan

badan, Cin Se-si tahu kalau pemuda itu mulai terpikat dan kesemsem oleh

kehebatan ilmu bersenggamanya, maka setelah tertawa jalang ia segera menotok

bebas jalan darah kakunya.

Dengan cepat Cau-ji bangkit duduk, bukan saja dengan mulutnya ia mulai

menghisap puting susu sebelah kanan milik perempuan itu, bahkan tangan

kanannya mulai meremas buah dada sebelah kirinya.

Cin Se-si tidak menyangka pemuda itu pandai diajak bekerja sama, kontan

saja dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa.

“Saudaraku,” serunya sambil tertawa jalang, “ayo kerja sama yang baik, siapa

tahu cici akan mengampuni jiwamu!”

Sambil berkata dia melanjutkan kembali goyangan mautnya.

Setelah bermain beberapa saat kemudian, tiba-tiba Cau-ji berbisik, “Cici,

bagaimana kalau kau beristirahat sejenak.”

“Hahaha, bagus, akan kulihat kemampuanmu sekarang.”

Dia segera berbaring di lantai sambil merentangkan sepasang kakinya.

Cau-ji menarik napas panjang, tubuhnya segera ditekan ke bawah.

“Plaaaaak!”, tombak pusakanya langsung ditusukkan ke dalam lubang surga

milik lawan dan dihujamkan hingga mencapai dasar.

Kontan saja Cin Se-si menjerit kenikmatan, “Woouw, dahsyat!”

Saking nikmatnya dia mulai gemetar keras.

Cau-ji segera menggenjotkan badannya berulang kali, tusukannya makin

tajam dan kuat, sebentar ia menusuk sebentar mencabutnya lagi, kemudian

menusuk sambil memuntir, sebentar kemudian dia menekan sambil

menggesek….

Lima puluh gebrakan kemudian Cin Se-si sudah mendesis sambil merintih,

mukanya merah padam karena rangsangan birahi.

“Ayo lebih cepat lagi … aduh … aaaaah … lebih kuat… aaahh … oooh … lebih

dalam ….”

Diam-diam Cau-ji mengumpat dalam hati, namun tusukan demi tusukan

dilancarkan makin ganas.

Beberapa kali dia keluarkan jurus ampuh ‘menusuk sambil membalikkan

badan’, membuat dasar liang surganya terasa tergesek.

Cin Se-si kegirangan setengah mati, teriaknya makin keras, “Betul, tusuk

terus … aaaah … yaa … digesek yang keras … aduhh … gesek terus … bikin

dasar lubangku makin nikmat!”

Sembari berkata tubuhnya bergerak terus mengiringi gerakan anak muda itu.

Lubang surganya mulai megap-megap seperti orang yang kehabisan tenaga,

tersengal-sengal karena tusukan yang bertubi-tubi, tapi dia melakukan

perlawanan terus, menggesek, memutar, menggoyang, semua gerakan telah

digunakan.

Jelas kalau tak punya kepandaian simpanan, tak mungkin orang berani

bergerak macam begini.

Sementara itu Ji-cun dan Ji-ciu telah selesai mengerjakan tugasnya dan

kembali ke sisi arena, begitu melihat pertarungan yang masih berlangsung

antara kedua orang itu, diam-diam mereka merasa amat kagum.

Pandang punya pandang, akhirnya mereka merasa badannya mulai panas,

napsu birahinya segera bangkit menyelimuti seluruh benaknya.

Tanpa pikir panjang kedua orang perempuan itu menanggalkan pakaiannya,

kemudian sambil meremas payudara sendiri mereka mulai terengah-engah.

Setengah jam kemudian Cau-ji telah menaikkan sepasang kaki Cin Se-si di

atas bahunya, kemudian tombak pusakanya kembali ditusukkan ke dalam liang

surganya secara gencar.

“Oooh … aaaah … aduh … aaaah … nikmat..”

Peluh telah membasahi seluruh tubuh Cin Se-si, tapi badannya masih

bergoyang terus tiada hentinya.

Cairan putih sudah meleleh keluar dari lubang surganya, membasahi pantat

dan tubuh bagian bawahnya, tapi dia justru bergoyang makin menggila.

Ji-cun dan Ji-ciu tak kuasa menahan rangsangan lagi, mereka berdua mulai

saling berpelukan sendiri, tubuh mereka bagaikan ular yang meliuk-liuk saling

menempel satu sama lainnya, bagian bawah badannya saling ditempelkan, saling

bergesek ….

“Enci Ciu, cepat jilat milikku!” tiba-tiba Ji-cun merintih lirih.

Sembari mendesis dia mulai merentangkan sepasang pahanya.

Ji-ciu segera berjongkok dan mulai menjilati lubang surga milik rekannya,

mula-mula menjilati sekelilingnya kemudian ujung lidahnya mulai menerobos ke

dalam lubang surga itu dan merpatinya berulang kali.

Terakhir dia mulai menghisap tonjolan yang ada di bagian tengah, menjilat,

menghisap dan menggigitnya berulang kali.

Di pihak lain, Cau-ji masih menggenjot badannya berulang kali, dua ratusan

genjotan kemudian Cin Se-si mulai merasakan lubang surganya berkerut

kencang, lalu dia pun mencapai orgasme.

Lekas dia menarik napas panjang, sambil menjepit tombak pusaka Cau-ji

dengan kuat, dia mulai tertawa menyeringai.

Seketika itu juga Cau-ji merasakan tombak pusaka miliknya seakan dijepit

oleh gelang baja yang sangat kuat, makin menjepit semakin kencang.

Dia tahu, tampaknya perempuan itu telah menggunakan ilmu mencuri hawa

murninya untuk menghisap hawa kelakiannya, diam-diam ia terkesiap.

Segera anak muda itu menarik napas panjang, dengan teknik menghisap dari

ilmu Kui-goan-sin-kang, ia mulai beradu kepandaian dengan perempuan itu.

Mereka berdua saling bertindihan tanpa bergerak.

Meskipun ilmu yang dimiliki Cin Se-si sangat lihai, namun Kui-goan-sin-kang

merupakan Sim-hoat tingkat paling tinggi dari Jit-seng-kau, ditambah

pengalaman aneh yang berulang kali dialami Cau-ji, setelah jam kemudian

perempuan itu mulai tak kuasa menahan diri.

Begitu merasakan gempa bumi yang terjadi di dasar lubang surga miliknya,

Cau-ji segera menggerakkan jari tangannya menotok jalan darah kaku dan bisu

di tubuh Cin Se-si, kemudian ia menghimpun tenaganya siap menghadapi

sergapan Ji-cun dan Ji-ciu.

Untungnya kedua orang wanita jalang itu sedang asyik, hingga hawa

kewanitaan Cin Se-si habis dihisap Cau-ji dan pulang ke alam baka diiringi

senyuman manis, mereka berdua masih berasyik masyuk sendiri.

Cau-ji mendengus dingin, diam-diam dia mengayunkan tangannya

melepaskan serangan maut.

Diiringi dua jeritan ngeri, hancuran tubuh dan ceceran darah segera

berserakan di seluruh hutan.

Tidak mau kerja tanggung, Cau-ji kembali melepaskan sebuah pukulan

dahsyat menghancur lumatkan jenazah Cin Se-si.

Tiba-tiba ia merasa seluruh badannya bergolak keras, sadar hal ini

disebabkan hawa kewanitaan yang dihisap dari tubuh Cin Se-si, satu ingatan

melintas dalam benaknya, cepat dia berpakaian dan balik ke rumah makan Jitseng-

lau.

Begitu membuka pintu segera teriaknya, “Enci Bun!”

Ternyata Bwe Si-jin serta dua bersaudara Suto sedang berdiri bingung di

depan pembaringannya, begitu melihat kemunculan Cau-ji, Siau-bun segera

berseru, “Adik Cau, kemana saja kau seharian? Kami hampir gila gara-gara

mencarimu.”

“Aku….”

“Yang penting selamatkan jiwa orang lebih dulu,” tukas Bwe Si-jin cepat, “Cauji

segera lepaskan pakaianmu!”

“Paman….”

Sementara itu dua bersaudara Suto telah menanggalkan semua pakaiannya,

terdengar Siau-bun berbisik, “Adik Cau, racun yang berada di tubuh Jit-koh

mulai kambuh, menurut paman, katanya hanya darahmu yang bisa digunakan

untuk menyelamatkan jiwanya.”

“Aku mampu?”

Melihat anak muda itu sudah bertelanjang bulat, Bwe Si-jin segera berkata,

“Adik Cau, memangnya kau lupa kalau dalam darahmu mengandung inti sari

kekuatan naga sakti berusia seribu tahun yang mampu memunahkan berbagai

racun? Cepat naik!”

“Tapi paman,” protes Siau-si, “tubuh Jit-koh sudah menyusut, mana mungkin

bisa begituan dengan Cau-ji?”

“Kalau begitu … gunakan darahnya!”

Sambil berkata dia mengambil sebuah cawan dan melukai pergelangan kiri

Cau-ji.

Tak selang lama kemudian ia sudah mendapatkan secawan kecil darah segar.

“Hentikan pendarahannya!” perintah Bwe Si-jin.

Kemudian ia membangunkan tubuh Jit-koh dan perlahan-lahan melolohkan

darah segar itu ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian Im Jit-koh tersadar dari pingsannya, secara beruntun dia

muntahkan tiga gumpalan darah hitam yang baunya sangat busuk, lalu

keluhnya, “Ooh, sakitnya setengah mati!”

“Jit-koh, kionghi, racun di dalam tubuhmu telah punah!” seru Siau-si sambil

menunjukkan gumpalan darah hitam itu.

Kemudian secara ringkas dia pun menceritakan bagaimana Cau-ji telah

menyelamatkan jiwanya dengan memberikan secawan darah.

Waktu itu Im Jit-koh dalam keadaan tak sadar, tentu saja dia tak tahu kalau

jiwanya telah diselamatkan, begitu mendengar penjelasan itu serunya, “Terima

kasih Tongcu, kau telah menyelamatkan jiwaku!”

Sambil berkata dia hendak menjatuhkan diri berlutut.

Lekas Bwe Si-jin memeluk tubuhnya, sambil tertawa tergelak katanya, “Jitkoh,

kita adalah orang sendiri, buat apa kau mesti berlaku sungkan? Ayo kita

balik ke kamar, jangan menjadi lampu sorot di sini.” Habis berkata ia tertawa

tergelak dan berlalu dari situ.

Kini Siau-bun dapat menghembuskan napas lega, ujarnya sambil tertawa,

“Adik Cau, ada urusan apa kau terburu-buru mencariku?”

“Enci Bun, cepat lepas pakaianmu!”

Siau-bun melirik sekejap gumpalan darah di saputangan Siau-si, lalu dengan

ilmu menyampaikan suara bisiknya, “Cici, adik Cau baru saja diambil darahnya,

tapi dia ingin begituan, boleh tidak?”

“Boleh saja,” jawab Siau-si dengan wajah bersemu merah, “tadi adik Cau

ditinggal Siau-hong setengah jalan, napsunya belum tersalurkan, lebih baik kita

jangan membuat seleranya hilang, aku rasa luka kecil itu tak akan

mengganggunya.”

Sambil berkata dia pun mulai melepas pakaian.

Tak terlukiskan rasa girang Cau-ji melihat kedua orang gadis itu sangat

penurut, cepat dia membaringkan diri di atas ranjang.

Siau-bun melirik sekejap ke arah tombak yang mulai mengeras sambil berdiri

tegak itu, lalu dengan malu-malu dia menaikinya dan menusukkan ke dalam

liang surganya.

Sembari membelai tubuh Siau-si, secara ringkas Cau-ji pun bercerita tentang

pengalamannya tadi.

Siau-bun yang selesai mendengar cerita itu segera menjerit tertahan, serunya,

“Adik Cau, jadi kau benar-benar telah menghabisi nyawa Cin Se-si?”

“Benar, siapa suruh dia tak tahu diri dan ingin menghisap hawa kelakianku,

jika aku tidak duluan menghisap hawa kewanitaannya, bukankah aku yang

bakal mampus? Eh, enci Bun, bagaimana kalau kuhadiahkan hawa kewanitaan

miliknya itu kepadamu?”

Mendengar berita gembira ini Siau-bun jadi kegirangan setengah mati, dengan

air mata bercucuran serunya, “Terima kasih banyak adik Cau, cici tak tahu

bagaimana harus membalas budi kebaikan ini.”

“Hahaha, padahal ada dua jalan untuk balas budi, pertama, kau harus lebih

giat sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, kedua, setelah

menikah nanti, kau harus melahirkan berapa orang bayi gemuk untukku, paling

tidak aku mesti mencetak rekor anak di atas rekor ayahku.”

Siau-bun tertunduk malu.

Tapi dia benar-benar mulai bekerja keras, menggoyang badannya makin giat.

Siau-si sendiri bersandar di dada Cau-ji sambil menciuminya dengan napsu.

0oo0

Ketika matahari sudah jauh di angkasa, akhirnya Siau-bun dan Cau-ji samasama

telah mencapai puncak kenikmatan.

Mereka berdua tidur sambil berpelukan, mereka tak peduli cairan lengket

masih membasahi bagian bawah tubuh mereka.

Waktu itu Siau-si sudah duduk bersila di belakang punggung adiknya, telapak

tangannya ditempelkan di atas jalan darah Bing-bun-hiat, katanya serius, “Adik

Cau, adik Bun, ayo cepat mengatur napas.”

Sambil berkata dia mulai menyalurkan tenaga muminya.

Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah berada dalam keadaan tenang.

Di saat ketiga orang itu masih menikmati kesenangan di dalam ruangan, di

luar gedung telah terjadi keributan yang luar biasa.

Kematian wakil ketua Jit-seng-kau serta kedua orang pelindung hukumnya di

tangan ‘Manusia penghancur mayat’ telah menggemparkan seluruh rumah

makan Jit-seng-lau.

Selesai memberi perintah anak buahnya untuk mengubur hancuran mayat

serta membakar tandu mewah itu, Im Jit-koh bersama Bwe Si-jin dan kawanan

kakek berbaju hitam itu melakukan rapat tertutup.

Perdagangan yang berlangsung di rumah makan itu tetap berlangsung ramai,

tapi setiap orang mulai meningkatkan kewaspadaannya, orang takut ‘manusia

penghancur mayat’ akan datang menyerang.

Bwe Si-jin tahu semua hasil karya itu tentu merupakan perbuatan Cau-ji,

maka sambil mendengarkan usul orang lain, ia mulai menyusun strategi lebih

jauh.

Kalau dulunya dia berencana mengajak Cau-ji meluruk ke markas besar Jitseng-

kau dan mengambil kesempatan untuk membantai Su Kiau-kiau berempat,

maka sekarang dia merubah rencana, dia berniat memancing kawanan iblis

wanita itu meninggalkan bukit Wu-san.

Sebab markas besar di bukit Wu-san selain dilengkapi barisan yang aneh,

juga dilapisi alat jebakan yang mengerikan, dia kuatir bila salah langkah, semua

rencananya bakal berantakan.

Oleh sebab itu dia berniat memancing musuhnya datang mencari mereka.

Tentu saja dia pun sangat girang setelah tahu nama besar ‘manusia

penghancur mayat’ menjadi amat populer di situ.

0oo0

Cau-ji dan dua bersaudara Suto telah membersihkan badan, kini mereka

bertiga sedang bersantap sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba Cau-ji teringat sesuatu, tanyanya, “Aaah, benar, setelah repot

seharian aku hampir saja lupa menanyakan keadaan Siau-hong, sebenarnya apa

yang terjadi hingga dia nampak selalu tegang dan ketakutan?”

Mendapat pertanyaan itu, paras muka Siau-bun berubah jadi sedih

bercampur gusar, katanya, “Dulu, Siau-hong adalah putri kesayangan

Congpiauthau perusahaan ekspedisi Ban-an-piau-kiok di kota Soh-ciu, sejak

barang kawalannya tiga kali dirampok orang, perusahaannya pailit, untuk

membayar hutang, terpaksa putrinya dijual ke tempat ini.

“Siau-hong sungguh kasihan, pada malam pertama kedatangannya di sini dia

telah dinaiki oleh Ciangkwe yang punya kelainan jiwa, sejak malam itu ada tiga

hari ia tak mampu turun dari ranjang.

“Dalam tiga bulan terakhir, Ciangkwe sudah tiga kali mencarinya, setiap kali

dia selalu menyiksanya dengan cara berubah-ubah, akibatnya timbul perasaan

takut yang luar biasa pada diri gadis ini.”

Siau-si segera menambahkan, “Adik Cau, barangmu yang besar dan panjang

membuat dia semakin ketakutan.”

“Ooh, Siau-hong yang patut dikasihani,” bisik Cau-ji sambil tertawa getir.

“Adik Cau, kau harus berusaha menyelamatkan Siau-hong!” pinta Siau-bun.

“Tapi… bagaimana caraku menolongnya?”

“Adik Cau, bagaimanapun Siau-hong berasal dari keluarga kenamaan, bila

kau bersedia menampungnya”

“Eh, jangan, jangan begitu, bukankah Siau-si telah berkata, Siau-hong

ketakutan setelah melihat ukuran barangku yang luar biasa, mana mungkin aku

bisa menolongnya?”

“Adik Cau, tahukah kau, setiap kali mau begituan, Ciangkwe selalu

menggunakan tongkat yang jauh lebih besar dari milikmu untuk mengobok-obok

lubang milik Siau-hong?”

“Kurangajar, jahat amat orang ini” teriak Cau-ji sambil menggebrak meja,

“hmmm! Akan kucari kesempatan untuk menghabisinya!”

“Benar, manusia jahat seperti itu memang pantas dihabisi secepatnya,” Siaubun

menimpali, “tapi mengenai urusan Siau-hong, apakah kau akan

mempertimbangkan kembali?”

“Enci Bun, segala urusan biarlah berjalan sewajarnya,” kata Cau-ji sambil

tertawa getir, “aku sih mau-mau saja, tapi kalau sampai keluargaku ada yang

keberatan, bagaimana jadinya?”

Mendengar perkataan itu kedua orang gadis itupun segera terbungkam.

Pada saat itulah terdengar suara pintu kamar diketuk orang.

Lekas Siau-si membuka pintu, serunya kemudian, “Ooh, rupanya Tongcu,

silakan masuk!”

“Hahaha, bocah kunyuk, kau sudah membuat masalah besar di luaran sana

sehingga menyebabkan kami semua tegang setengah mati, tapi kau sendiri

malah mendekam di kamar mencari kesenangan.”

“Hahaha, jadi mereka telah menemukan mayat-mayat itu?”

“Cau-ji, bagus sekali tindakanmu, Cin Se-si memang perempuan berilmu silat

paling tinggi di antara empat wanita lainnya, dia pun berhati bengis, kejam dan

jahat, dengan kematiannya berarti kita sudah tak perlu repot lagi.”

“Paman, Cau-ji sendiri nyaris mati di tangannya.”

“Ooh, apa yang terjadi?”

“Paman, ilmu barisan merah empat musim dari keempat pembantunya sangat

lihai, hampir saja Cau-ji tak mampu menahan diri.”

Secara ringkas ia menceritakan pengalamannya.

“Hahaha, setelah menderita kerugian, lain waktu kau pasti akan lebih pintar,

lain kali jangan lupa menyerang dengan ilmu jari atau mencari sebilah pedang

untuk menjaga diri begitu pertarungan mulai berlangsung, mengerti?”

“Paman, bagaimana kalau Cau-ji membawa pisau belati yang kutemukan

dalam gua itu?”

“Benar, dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, ditambah membawa

senjata mestika, maka keadaanmu ibarat harimau tumbuh sayap. Ehmm,

carilah kesempatan untuk mengambil balik senjata itu.”

“Paman, ketika kita menyusup ke dalam markas besar nanti, tak ada salahnya

kita ambil dulu senjata mestika itu.”

“Cau-ji, inilah alasan kenapa paman datang kemari, paman bermaksud

mengubah siasat yang kita gunakan, kita tak perlu menyatroni mereka lagi, biar

Su Kiau-kiau sekalian yang datang mencari kita, dengan begitu kita lebih

gampang memusnahkannya.”

Cau-ji melirik kedua orang gadis itu sekejap, kemudian sahutnya sambil

tertawa, “Bagus, bagus sekali, terus terang, Cau-ji memang kurang paham soal

alat jebakan, aku kuatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.”

“Cau-ji, untuk menciptakan situasi yang lebih seram agar Su Kiau-kiau

semakin ingin datang kemari, paman berencana memintamu melakukan lagi

peran sebagai manusia penghancur mayat!”

“Bagus, tapi enci Bun dan enci Si….”

“Hahaha, tentu saja suami kemana istri harus ikut, demi melindungi

identitasmu, lebih baik mereka berdua sedikit mengubah wajah, lagi pula jangan

terlalu sering berkumpul denganmu, mengerti maksud paman?”

Dengan rasa girang bercampur malu, kedua orang gadis itu menundukkan

kepalanya.

Cau-ji manggut-manggut berulang kali.

“Baiklah Cau-ji, besok pagi berangkatlah, kalian harus membuat persiapan!”

0oo0

Tengah malam itu, secara diam-diam Cau-ji menyelinap ke depan kamar

Ciangkwe, sebelum pergi meninggalkan tempat itu, dia berniat menghabisi dulu

nyawa manusia berhati binatang ini agar tidak menjadi bibit bencana bagi Siauhong.

Perlahan-lahan dia mendorong pintu kamar, ternyata tidak dikunci, dengan

perasaan girang pikirnya, “Maknya, benar-benar sangat kebetulan, tampaknya

kalau raja akhirat akan mencabut nyawanya pada kentongan ketiga, dia tak

akan hidup sampai kentongan kelima, ternyata kamar pun tidak dikunci.”

Baru saja dia mendorong pintu, terdengar suara menyeramkan telah bergema

dari dalam kamar, “Maknya, Siau-hong, kau sundal busuk, kenapa sampai

sekarang baru tiba di sini?”

Sekilas pandang Cau-ji dapat melihat ada sesosok bayangan manusia sedang

bangkit berdiri dari pembaringan dan berjalan mendekat, dengan cepat ia totok

jalan darah bisunya.

Kemudian dengan satu gerakan cepat dia menyelinap ke hadapan Ciangkwe

yang masih berdiri dengan wajah tercengang dan memandangnya sambil tertawa

dingin.

“Maknya,” katanya kemudian, “agar kau mampus dengan jelas, aku beritahu

alasan kedatanganku, aku kemari untuk membalaskan dendam bagi Siau-hong.”

Sambil berkata dia segera menghantam tubuhnya hingga anggota badan

Ciangkwe itu hancur berantakan.

Kemudian bagaikan bayangan sukma dia menyelinap keluar lagi dari kamar.

Baru saja dia menutup pintu kamar, kebetulan seorang peronda malam

sedang berjalan mendekat, cepat dia menyelinap masuk lagi ke dalam kamar

Ciangkwe itu dan mengeluyur pergi dari arah lain.

Dalam waktu singkat suara gembreng dibunyikan bertalu-talu, cahaya obor

segera menerangi seluruh tempat, bayangan manusia pun berkelebat di sana sini

bergerak mengumpul di situ.

Setelah mengetahui duduknya perkara, dengan berang Im Jit-koh segera

berseru, To Piau, bukankah kau yang bertugas melakukan ronda? Kenapa tidak

tahu ada orang melakukan pembunuhan di sini? Hmm, lebih baik kau bunuh

diri saja.”

Dengan wajah memelas lelaki itu mengayunkan tangan kanannya menghajar

ubun-ubun sendiri.

Bwe Si-jin yang berada di sampingnya segera mencegah perbuatan itu,

ujarnya, “Congkoan, manusia penghancur mayat memiliki kepandaian silat yang

hebat, gerakan tubuhnya sukar diraba, bila dia melakukan pembantaian, tentu

saja To Piau tak mungkin bisa mencegahnya.

“Sekarang kita sedang butuh orang, biarlah To Piau diberi kesempatan

membuat pahala guna menebus kesalahannya. Congkoan, maaf kelancangan

Lohu!”

“Tidak berani, tidak berani,” segera Im Jit-koh menyahut, “perkataan Tongcu

ada benarnya juga, To Piau, kenapa tidak berterima kasih kepada Tongcu?”

Dengan penuh rasa terharu To Piau berlutut di tanah sambil menyembah

berulang kali.

“Hahaha, bangunlah, lain kali mesti lebih hati-hati,” kata Bwe Si-jin sambil

berlalu dari situ.

0oo0

Keesokan harinya, pagi sekali Cau-ji yang menyamar menjadi seorang lelaki

kekar berwajah ungu, dengan menggembol sebilah pedang telah meninggalkan

rumah makan Jit-seng-lau menuju ke utara.

Baru keluar dari pintu kota, dari arah belakang muncul suara derap kuda

yang kencang diikuti dua ekor kuda melintas di sampingnya.

Terdengar orang yang berada di atas kuda itu membentak nyaring, “Sobat,

Siauya menunggumu di gardu Ay-wan-ting!”

Cau-ji agak tertegun, tapi setelah memperhatikan bayangan punggung kedua

orang itu, ia segera menyadari, pikirnya, “Ternyata Lokyang Capji Eng yang bikin

ulah, nampaknya selama ini mereka mengawasi terus gerak-gerik di seputar Jitseng-

lau”

Setelah tertawa hambar dia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.

Sepanjang perjalanan, secara beruntun ada beberapa ekor kuda yang

melintas.

Kembali Cau-ji berpikir, “Sialan, rupanya Lokyang Capji Eng sudah tiba di

sini, kalau begitu mereka memang punya niat hendak mencabut nyawaku.”

“Maknya, kali ini aku bakal pusing tujuh keliling, meskipun kawanan manusia

itu sedikit latah, namun tabiatnya tidak terhitung jelek. Maknya, aku tidak bias

tinggal diam.”

Maka dia pun bertanya jalan menuju ke gardu Ay-wan-teng, kemudian

menyusul ke situ.

Dua bersaudara Suto menyamar menjadi sepasang suami istri berusia

pertengahan yang berwajah biasa, mereka selalu menjaga jarak sejauh tiga li

dengan Cau-ji.

Menjelang tiba di gardu Ay-wan-teng, mendadak terdengar Siang Ci-liong

bersenandung dengan suara nyaring.

Menyusul suara senandung itu tampak anggota Lokyang Capji Eng serentak

melompat keluar dari gardu dan mengawasi Cau-ji yang sedang mendekat.

Secepat kilat Cau-ji bergerak mendekati kedua belas orang itu, tegurnya, “Ada

urusan apa kalian mengundangku kemari?”

“Apakah kau berasal dari rumah makan Jit-seng-lau?” tanya Siang Ci-liong.

“Benar!”

“Hahaha, aku Siang Ci-liong dari Lokyang, ingin mengajukan beberapa

pertanyaan kepadamu.”

“Hmm, aku kenal kau, kalian pun pernah datang ke Jit-seng-lau, bukankah

Hucongkoan telah memberitahukan banyak hal kepada kalian? Pengetahuanku

tidak lebih banyak darinya!”

Jelas sekali nada perkataan itu, menolak untuk menjawab.

Siang Ci-liong segera tertawa tergelak.

“Hahaha, justru yang ingin kuketahui adalah asal-usul Hucongkoan”

Cau-ji melirik Siang Ci-ing sekejap, tiba-tiba tanyanya, “Apakah kau ingin

menjodohkan dia dengan Hucongkoan?”

Merah jengah wajah Siang Ci-liong, setelah berdehem, ujarnya, “Kau senang

sekali bergurau, tujuan kami berbeda, mana mungkin bisa bersatu?”

“Kalau begitu, kenapa kalian tak langsung tanyakan kepada yang

bersangkutan?”

Selesai bicara dia membalikkan badan dan siap meninggalkan tempat itu.

“Berhenti!” bentakan nyaring bergema.

Di tengah bentakan terlihat seorang pemuda tampan menghadang jalan pergi

Cau-ji.

Dengan dingin Cau-ji meliriknya sekejap, kemudian ujarnya, “Hm, rupanya

kau! Kionghi, kionghi, sudah menjadi juara pertama lomba kuda, kenapa belum

mentraktir aku?”

Tampaknya orang itu tidak menyangka lawannya dapat mengenali, ia agak

tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Benar, aku memang ingin

mentraktirmu minum beberapa cawan.”

“Bagus sekali, kalau begitu ayo jalan!” seru Cau-ji sambil tertawa.

Orang itu tak mengira Cau-ji segera menyanggupi undangannya, sekali lagi dia

tertegun.

Pada saat itulah Siang Ci-liong dengan lantang berseru, “Ternyata kau gagah

dan berjiwa terbuka, bagaimana kalau kita kunjungi Hong-hok-lau dan minum

arak sambil menikmati pemandangan alam?”

“Hong-hok-lau? Kau maksudkan rumah makan Hong-hok-lau di Bu-chang?”

“Benar!”

“Hmmm, tak kusangka kau berselera tinggi, hanya ingin minum arak pun

harus menempuh perjalanan jauh, kalau aku sih tidak minat, kakiku tak kuat

jalan terlalu jauh.”

“Hahaha, aku punya kuda yang bisa menempuh ribuan li dalam sehari,

kenapa takut?”

Cau-ji segera mempertimbangkan dua bersaudara Suto yang mengintil di

belakang, segera ujarnya sambil tertawa, “Aku hidup miskin, kemana pun selalu

berjalan kaki, jadi aku tak biasa naik kereta atau menunggang kuda.”

“Maksudmu, kau tak bisa menunggang kuda?” tanya Siang Ci-liong tertegun.

“Benar, waktu amat berharga, ayo jalan.”

Habis berkata dia pun berteriak keras, “Ayo, pergi ke rumah makan Hong-hoklau

untuk minum arak, hahaha….”

Belum habis perkataannya, ia sudah berada jauh dari posisi semula.

Lokyang Capji Eng terkesiap, mereka tak menyangka orang itu memiliki

kungfu hebat, cepat mereka cemplak kudanya dan menyusul dari belakang.

Selang beberapa saat kemudian, dua bersaudara Suto baru muncul di depan

gardu, dengan ilmu menyampaikan suara Siau-bun berbisik, “Cici, tampaknya

kita harus membeli dua ekor kuda untuk melanjutkan perjalanan?”

“Baik, toh tujuan mereka ke Hong-hok-lau, biar tidak terkejar pun adik Cau

pasti akan meninggalkan tanda rahasia di sepanjang jalan!”

0oo0

Cau-ji belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, boleh dibilang dia tidak

tahu dimanakah letak rumah makan Hong-hok-lau itu, karenanya dia hanya

mengintil terus di belakang Siang Ci-liong bersaudara dan selalu menjaga jarak.

Menjelang fajar menyingsing, akhirnya tibalah mereka di depan rumah makan

Hong-hok-lau.

Baru saja kedua belas ekor kuda jempolan itu berhenti berlari, sementara

Lokyang Capji Eng melompat turun dari kudanya sambil melemaskan otot, tibatiba

terlihat sesosok bayangan manusia telah meluncur tiba.

Sungguh cepat gerakan orang itu, hanya dalam beberapa kali lompatan saja,

ia sudah berdiri di puncak rumah makan itu.

Dia tak lain adalah Cau-ji.

Begitu mencapai puncak bangunan, pemuda itu segera mendongakkan kepala

dan tertawa nyaring.

Sungguh keras suara gelak tawanya, bukan saja seluruh angkasa bergetar

keras, bahkan Lokyang Capji Eng pun harus menutup telinga.

Cau-ji segera melompat turun dan melangkah masuk ke dalam ruang rumah

makan diikuti Lokyang Capji Eng, belum lagi mereka berbicara, tiba-tiba

terdengar lagi suara derap kuda bergema dari kejauhan.

Cau-ji menengok sekejap ke depan, tampak ada dua puluhan orang lelaki

kekar dengan wajah gusar dan menghunus senjata melompat turun dari

kudanya sambil berlari mendekat.

Melihat itu Cau-ji segera berseru, “Saudara Siang, ada orang datang!”

Baru akan melangkah keluar, tiba-tiba ia saksikan lagi ada empat orang

kakek berbaju hitam berlari mendekat.

Pemuda itu segera berseru tertahan, “Hah, jangan-jangan anggota Jit-sengkau

yang datang?”

Berpikir begitu dia melompat masuk lagi ke dalam ruangan dan melongok

lewat jendela.

Sementara itu kedua puluh orang lelaki kekar itu sudah berjalan mendekat,

lelaki pertama yang bertubuh kekar berwajah seram segera menghardik,

“Manusia she Siang, kelihatannya jalanan di dunia ini amat sempit, lagi-lagi kita

bersua.”

Melihat kawanan manusia yang muncul ternyata adalah perkumpulan Honghok-

pang, bandar judi ‘semua senang’ di kota Bu-chang, kontan Lokyang Capji

Eng mendengus sinis.

“Bu-pangcu,” tegur Siang Ci-liong lantang, “kelihatannya kau sudah lupa

dengan pelajaran di masa lalu.”

Lelaki bersenjata dayung baja yang berdiri di sisi kanan mendadak

menghardik, “Siang Ci-liong, biar Toaya menjajal kehebatanmu!”

Sambil berkata dia mengayunkan senjatanya menyapu ke muka.

“Gou Tat, biar Yo-siauya yang melayani,” sambut seseorang sambil tertawa

dingin.

Tampak orang keenam dari Lokyang Capji Eng, Yo Ih-heng menerjang ke

muka, ujung pedangnya langsung menusuk dada orang itu.

Dengan jurus To-pat-jui-yang (mencabut terbalik ranting lemas), dia sambut

tusukan pedang itu dengan dayung bajanya.

Yo Ih-heng mendengus sinis, tidak menunggu senjata lawan tiba di

hadapannya, kembali ia berganti jurus, kali ini membacok kaki lawan.

Gou Tat membentak nyaring, dayung bajanya menyapu dada.

Sambil berpekik nyaring Yo Ih-heng maju beberapa langkah, sewaktu

tubuhnya menubruk lagi ke depan, pedangnya dengan teknik menggiring senjata

lawan mendayung ke arah lain.

Inilah ilmu pedang awan lembut yang paling diandalkan keluarga Yo.

Satu keras satu lembut, pertempuran berlangsung makin seru.

Pada saat bersamaan Liu Kong-gi yang menempati urutan kelima sudah

terlibat pertarungan sengit melawan seorang lelaki bersenjata roda bergigi.

Dalam waktu singkat Lokyang Capji Eng sudah mencari lawan sendiri-sendiri

dan terlibat dalam pertarungan di tengah tanah lapang depan rumah makan

Hong-hok-lau.

Musuh Siang Ci-ing adalah seorang lelaki kekar berusia empat puluh

tahunan, berwajah kuning pucat dan bermata tajam, dengan mengandalkan

ilmu pedang Luan-po-hong-kiam-hoat (ilmu pedang angin puyuh) dari aliran

Gobi, dia melancarkan serangkaian serangan secara bertubi-tubi.

Karena begitu bertarung. Siang Ci-ing sudah berebut melancarkan serangan

duluan, maka dalam waktu singkat lelaki itu tercecar hebat, di antara

berkelebatnya cahaya pedang ia hanya bisa berkelit ke sana kemari.

Sejak mengetahui kehadiran keempat orang kakek berbaju hitam itu, si nona

Siang sudah tahu kehadiran mereka adalah untuk membantu kelompok itu,

maka sejak awal dia sudah meningkatkan kewaspadaannya.

Kini dia berniat menghabisi kawanan jago Hong-hok-pang secepatnya agar

bisa lebih berkonsentrasi sewaktu menghadapi keempat orang kakek itu.

Jurus pedangnya segera diperketat, di antara kilatan cahaya pedang yang kian

kemari terselip tusukan maut yang mematikan.

Tak sampai tiga gebrakan kemudian, terdengar lelaki itu menjerit kesakitan,

lengan kanannya tahu-tahu sudah terpapas kutung.

Baru saja Siang Ci-ing siap menusuk perut orang itu, tiba-tiba terdengar

seseorang membentak nyaring, “Tahan!”

Segulung angin pukulan telah meluncur tiba.

Merasa jiwanya terancam, mau tak mau Siang Ci-ing harus menarik kembali

serangannya sambil melompat mundur.

Seorang kakek berbaju hitam telah berdiri beberapa meter di hadapannya,

sambil tertawa seram terdengar orang itu berseru, “Budak cilik, tak kusangka

dengan wajah cantikmu ternyata memiliki hati keji!”

“Tak usah banyak mulut,” tukas Siang Ci-ing cepat, “lihat pedang!”

Kembali tubuhnya menerjang ke muka, dengan ilmu pedang angin puyuh dia

gulung tubuh kakek itu.

Meski berilmu tinggi, tampaknya kakek berjubah hitam itu tak berani

memandang enteng ilmu andalan Go-bi-pay itu, cepat dia mengegos ke samping

sambil melancarkan serangan balasan.

Dengan cepat kedua orang itu terlibat dalam pertempuran sengit.

Siang Ci-liong sendiri pun sudah terlibat dalam pertarungan sengit melawan

seorang kakek berbaju hitam setelah melukai lelaki kekar tadi.

Terdengar kakek itu membentak nyaring, tubuhnya merangsek maju, tangan

kirinya melancarkan cengkeraman sedang tangan kanannya membabat ke arah

dada.

Sungguh dahsyat jurus Ci-jiu-poh-liong (tangan kosong melawan naga) itu,

hawa serangan yang terpancar dari kelima jari tangannya menekan tubuh Siang

Ci-liong.

Buru-buru Siang Ci-liong mundur setengah langkah, tangan kirinya

menggiring cakar lawan ke arah lain, sementara tangan kanannya dengan ilmu

pedang langsung melancarkan bacokan.

Jarang sekali ada orang melancarkan serangan tangan dengan teknik ilmu

pedang, ancaman itu kontan saja memancing perhatian pihak lawan.

Begitu merasa datangnya desingan angin tajam, lekas kakek itu mendorong

telapak tangan kanannya sejajar dada.

Siang Ci-liong tahu, musuh memiliki tenaga dalam luar biasa, cepat dia

mengegos ke samping menghindari ancaman itu.

Si kakek dengan kekuatan bagai membelah bukit segera mendesak maju lebih

ke depan.

Siang Ci-liong tak mau unjuk kelemahan, dengan teknik ilmu pedang dia

menghadapi serangan lawan dengan gigih.

Ilmu silat ini merupakan ilmu andalan Siau-lim yang mengutamakan

keringanan dan kelincahan dipadu dengan ilmu langkah, sembari mengegos dari

ancaman musuh, sambil mencari kesempatan untuk melepaskan ancaman.

Tangan kirinya sebentar menggunakan teknik pedang, sebentar menggunakan

ilmu pukulan penakluk harimau, sebentar lagi menggunakan ilmu menangkap

Kim-na-jiu-hoat, tak terkira banyaknya perubahan yang dia lakukan.

Kakek berbaju hitam itu diam-diam terkesiap, dia tak menyangka pemuda itu

sanggup melancarkan serangan dengan perubahan begitu beragam, sebentar

pukulan, mencengkeram, menangkap.

Kuatir tak mampu menghadapi perubahan yang beragam itu, tenaga

pukulannya semakin diperkuat.

Selama ini Cau-ji hanya menonton jalannya pertarungan dari balik jendela,

sekilas pandang ia dapat melihat, kecuali Siang Ci-ing yang berada di bawah

angin, rekan-rekan lainnya boleh dibilang sudah menguasai keadaan, hal ini

membuatnya menghembuskan napas lega.

Lebih kurang satu jam kemudian, tampak seluruh anggota perkumpulan

Hong-hok-lau berhasil ditumpas tanpa sisa, sementara kedua orang kakek

berbaju hitam itupun sudah menderita luka parah.

Tapi Lokyang Capji eng sendiripun ada tiga orang yang menderita luka.

Melihat situasi tidak menguntungkan, kakek berbaju hitam yang bertarung

melawan Siang Ci-liong itu segera melancarkan serangkaian serangan gencar,

kemudian ia merogoh sakunya dan melemparkan sebuah benda ke angkasa.

“Blaaam!”, letupan keras berkumandang di angkasa.

Siang Ci-liong tahu, orang itu sedang mencari bala bantuan, segera

bentaknya, “Rupanya kau memang ingin mampus!” Jari tangan kiri, telapak

tangan kanan segera melancarkan serangan secara bersamaan.

Terdengar kakek itu menjerit kesakitan, bahu kirinya sudah terhajar oleh

serangan Siang Ci-liong hingga remuk, tubuhnya mundur ke kanan dengan

sempoyongan.

Yo Ih-heng yang melihat kakek itu sempoyongan ke arahnya, segera

memanfaatkan kesempatan itu dengan menghadiahkan sebuah tusukan kilat.

Kendati kakek itu berkelit dengan cepat, tak urung lambung kanannya

terbabat juga oleh pedang itu hingga terluka.

Darah segar segera menyembur kemana-mana.

Waktu itu Siang Ci-liong sudah mendesak ke samping tubuhnya, sambil

membentak kembali dia menghadiahkan sebuah babatan ke dadanya.

Kakek itu mengertak gigi, dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimiliki

dia sambut datangnya serangan itu dengan keras melawan keras.

“Blaaam!”, tubuh kakek itu mencelat ke udara.

Belum lagi tubuhnya mencapai tanah, babatan pedang Yo Ih-heng telah

membelah tubuhnya.

Siang Ci-liong sendiri pun tergetar mundur tiga langkah, sesaat dia berdiri

termangu, diam-diam hawa murninya disalurkan untuk meredakan gejolak di

dalam dadanya.

Cau-ji yang menyaksikan kejadian itu diam-diam mengumpat, “Goblok, salah

sendiri, kalau ingin menghajar mestinya langsung menghajar, buat apa mesti

diberitahu dulu sebelum digebuk?”

Kakek yang sedang bertarung melawan Siang Ciing dan dua orang pemuda

perlente itupun sebenarnya sudah terdesak hebat, jeritan ngeri itu membuat

perhatiannya bercabang, tak ampun lengan kanannya dibacok kutung oleh Siang

Ci-ing.

Baru saja gadis itu hendak menghadiahkan sebuah tusukan lagi untuk

menghabisi nyawa kakek itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring,

“Tahan!”

Segumpal jarum emas telah meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa.

Lekas Siang Ci-ing mundur ke belakang dan menghindarkan diri dari

serangan Am-gi itu.

“Hukaucu!” teriak kakek itu sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Teriakan “Hukaucu” seketika membuat Cau-ji yang sedang melamun tersentak

kaget, cepat ia berpaling, tampak empat orang perempuan cantik berusia tiga

puluh tahunan dengan menggotong sebuah tandu merah sedang berjalan

mendekat.

Untuk sesaat pemuda itu tertegun.

Kecuali keempat orang penggotong tandu itu, terdapat pula dua belas orang

kakek berbaju hitam yang mengiringi di kedua sisi tandu, tampaknya ilmu silat

yang mereka miliki rata-rata sangat tinggi.

Lokyang Capji Eng sendiri pun terkesiap, mereka tak menyangka dalam posisi

yang amat letih setelah bertempur sekian lama, kini mereka harus berhadapan

lagi dengan sekelompok jagoan tangguh.

Tanpa terasa mereka mundur ke belakang dan berkelompok menjadi satu.

Tiba-tiba terdengar suara merdu berkumandang dari balik tandu, “He, engkoh

ganteng, tak nyana kungfu kalian sangat tangguh, Cuma … dalam soal begituan

apakah kalian pun tangguh?”

“Perempuan jalang, jangan bicara sembarangan!” umpat Siang Ci-liong gusar.

“Ah, engkoh cilik, buat apa berlagak sok suci? Buang senjata rongsokmu itu,

ayo ikut cici bermain begituan, hihihi”

“Perempuan cabul, sebut namamu,” bentak Yo Ih-heng pula sambil menuding

dengan pedangnya.

“Hahaha, engkoh cilik, jadi kau pun ingin minta bagian? Hahaha, ayo kita

bermain ramai-ramai.”

“Perempuan jalang, lihat pedang!” bentak Yo Ih-heng sambil menyerang ke

arah tandu.

“Kembali!” bentak kakek yang berada di ujung kiri tandu secara tiba-tiba,

telapak tangannya dibacokkan ke depan.

Yo Ih-heng segera merasakan datangnya gulungan angin pukulan yang maha

dahsyat menindih dadanya, padahal saat itu badannya masih melambung di

udara dan mustahil bisa berkelit, terpaksa ia menambah tenaga pukulannya

dengan dua bagian lagi dan menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

“Blaaaam!”

Di tengah benturan dahsyat, ia menjerit kesakitan dan tubuhnya terpental

balik.

Segera Liu Kong-gi menyambut badannya, tampak rekannya itu muntah darah

dan jatuh tak sadarkan diri.

Cepat Liu Kong-gi mengeluarkan pil dari sakunya dan dijejalkan ke dalam

mulutnya, kemudian membawanya menyingkir ke samping guna menjalani

perawatan.

Cau-ji sendiri pun tidak menyangka tenaga dalam yang dimiliki kakek itu

sangat menakutkan, sementara ia masih berpikir bagaimana cara mengatasinya,

terdengar perempuan dalam tandu itu telah berkata lagi sambil tertawa, “Engkoh

cilik, lebih baik tahu diri, mari ikut cici pergi dari sini.”

“Perempuan jalang, sebut namamu!” kata Siang Ci-liong dengan suara berat.

“Hahaha, engkoh cilik, jangan terburu napsu, sebelum naik ranjang harus ada

pemanasan dulu, begitu baru asyik!”

Tiba-tiba Cau-ji tertawa terbahak-bahak, bentaknya, “Betul, pemanasan dulu

baru asyik naik ranjang, jika mereka tak mengerti soal itu, biar Toaya yang

mewakili mereka semua, hahaha ….”

Sembah berkata, tubuhnya bagaikan seekor burung elang menerkam ke arah

tandu megah itu dengan kecepatan luar biasa.

Kakek yang melancarkan serangan tadi kembali membentak, tubuhnya

melompat ke depan menyongsong kedatangan anak muda itu.

Cau-ji memang berniat pamer kekuatan, tangan kanannya segera diayunkan

ke depan, tenaga pukulan yang disertai hawa sakti Im-yang-khi-kang langsung

membabat tubuh kakek itu.

“Aaaah…..!”, jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang

memecah keheningan, hancuran daging dan semburan darah pun berserakan

kemana-mana.

Sebuah pukulan yang sangat dahsyat!

“Aaah, manusia penghancur mayat! Cepat mundur!” teriak orang yang berada

dalam tandu terkesiap.

Cepat tandu mewah itu bergerak mundur ke belakang.

Kesebelas orang kakek berbaju hitam itupun ikut mundur sejauh empat meter

lebih.

Setelah melayang turun ke atas permukaan tanah, mula-mula Cau-ji

manggut-manggut dulu ke arah Siang Ci-liong sambil tertawa, kemudian sambil

membalikkan tubuh katanya, “Perempuan cantik, jangan kabur dulu! Toaya

masih ingin membuat pemanasan lebih dulu denganmu sebelum naik ranjang!”

Sambil menahan rasa ngeri bercampur takut yang mencekam perasaannya,

perempuan dalam tandu itu menegur, “Jadi kau adalah manusia penghancur

mayat?”

“Hahaha ….” Cau-ji tertawa tergelak, “aku she Gi bernama Tin-hong, orang

menyebutku segulung angin, bukan saja jejakku bagai segulung angin, sewaktu

membunuh pun cepat bagaikan angin.”

“Masalah benarkah aku adalah manusia penghancur mayat atau bukan,

Toaya sendiri pun tidak tahu, karena Toaya belum pernah menggunakan istilah

itu, tapi tak ada salahnya jika di kemudian hari akan kupakai julukan itu,

hahaha ….”

“Manusia she Gi, dendam sakit hati apa yang terjalin antara perkumpulan

kami dengan dirimu? Kenapa kau selalu memusuhi kami?” kembali perempuan

dalam tandu itu bertanya.

“Hahaha, perkumpulan apa sih yang kalian anut?”

“Hmm! Tak usah berlagak pilon, kalau kau tidak tahu soal Jit-seng-kau, mana

mungkin memusuhi kami?”

Mendengar perkataan itu. Siang Ci-liong sekalian merasa sangat terkesiap.

Mereka tak menyangka perkumpulan Jit-seng-kau yang sudah lama musnah

kini telah bangkit kembali.

“Kau ini bernama Ni Cin-bi? Atau Ni Cin-swang?” hardik Cau-ji.

“Kau … kau kenal aku?” suara perempuan dalam tandu itu mulai gemetar.

“Hahaha, tidak kenal! Cuma, aku ingin sekali berkenalan denganmu.”

Setelah termenung dan berpikir sejenak akhirnya perempuan dalam tandu itu

berseru, “Hentikan tandu!”

Begitu tandu diturunkan, tampak tirai tersingkap dan berkelebat sesosok

bayangan kuning.

Seorang perempuan cantik berbaju kuning yang memiliki kematangan seorang

wanita telah muncul di depan mata.

Menyaksikan kecantikan wajah perempuan itu. Siang Ci-liong sekalian

seketika merasakan hatinya berdebar keras, tanpa terasa paras muka mereka

pun berubah jadi merah.

Siang Ci-ing sendiri meski tahu perempuan itu adalah seorang wanita jalang,

tak urung dia merasa kagum juga.

Khususnya tubuh perempuan yang begitu matang, bahenol dan

mengggiurkan, tanpa terasa memaksanya untuk memperhatikan lebih lama.

Cau-ji pun seketika terangsang birahinya, tapi ia segera mengendalikan

pikiran itu dan tertawa tergelak.

“Hahaha, sungguh cantik! Dibandingkan Cin Se-si, kecantikanmu masih satu

tingkat di atasnya. Kau seharusnya kupanggil Cau Se-si!”

“Aah, nama itu kurang sedap didengar, aku bernama Ni Cin-bi!”

“Ooh, Ni Cin-bi? Maaf, maaf!”

Sambil berkata, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat.

Ni Cin-bi sendiri segera merentangkan sepasang tangannya seolah siap

memeluknya, sementara tubuhnya melangkah mendekat.

Ketika jarak kedua orang itu tinggal beberapa langkah, tiba-tiba dia

mengayunkan tangan kanannya, segulung pasir berwarna merah segera

ditimpukkan ke wajah Cau-ji.

“Blaaaam!”, tubuh Cau-ji seketika jatuh telentang ke tanah.

Siang Ci-liong sekalian menjerit kaget. Sebaliknya Ni Cin-bi tertawa cekikikan,

serunya, “Orang she Gi, akan kuhisap sarimu hingga kering!”

Sembari berkata dia membungkukkan badan dan siap memeluk tubuhnya.

Pada saat itulah tiba-tiba tampak Cau-ji mengayunkan tangan kanannya

melancarkan sebuah bacokan, sementara tangan kirinya menjotos.

Peristiwa ini sama sekali di luar dugaan Ni Cin-bi, tidak disangka lawannya

sama sekali tak mempan terhadap bubuk pemabuk ‘dewa roboh’ miliknya.

Tak ampun dadanya langsung terhajar pukulan itu secara telak.

Terdengar perempuan itu menjerit kesakitan, baru saja akan melarikan diri,

pukulan tangan kiri Cau-ji kembali bersarang di punggungnya.

Seketika itu juga tubuhnya hancur berantakan dan menyebar ke arah empat

perempuan cantik serta kesebelas orang kakek berbaju hitam itu.

Buru-buru mereka mengayunkan tangannya menepis hancuran daging dan

darah, kemudian serentak memandang ke arah Cau-ji dengan mata terbelalak.

“Bagaimana?” ejek Cau-ji sembari membersihkan tubuhnya dari debu,

“apakah kalian pun ingin menjadi gilingan daging cacah?”

Kelima orang kakek itu membentak keras, dengan cepat mereka menyebar ke

empat penjuru dan mulai berlarian mengelilingi tubuh Cau-ji.

Sambil berputar kencang, kelima orang itu melancarkan serangan secara

bergantian.

Tiba-tiba terdengar Siang Ci-ing berteriak memperingatkan, “Gi-tayhiap, hatihati

dengan barisan Ngo-heng-tin mereka!”

“Hahaha, terima kasih.”

Sembari berkata dia mulai melancarkan serangan dahsyat.

“Blaaammm…….”

Benturan keras bergema susul menyusul, tampak kelima orang kakek itu

mendengus tertahan sambil mundur dari posisi semula.

Dalam waktu singkat kelima orang itu sudah melolos pedang, sekali lagi

mereka menyerang Cau ji dengan hawa pedang yang mengerikan.

Kini Cau-ji tak bisa memandang enteng musuhnya lagi, sembari berkelit, ia

mulai menyerang dengan ilmu jari dan ilmu pukulan secara bergantian.

Sementara Siang Ci-liong masih tercengang darimana pemuda itu bisa

menggunakan jurus serangan dari perguruannya, keenam kakek baju hitam dan

keempat perempuan cantik itu sudah menubruk tiba. terpaksa mereka sambut

serangan itu dengan perlawanan sengit

Pertarungan pun segera berlangsung amat ramai

Keempat orang perempuan cantik serta kedua belas orang kakek berbaju

hitam itu merupakan jago jago pilihan yang sengaja dibawa Ni Cin-bi turun

gunung dan menjayakan kembali nama besar perkumpulan Jit-seng-kau.

Meskipun pada awal pertarungan sudah ada anggotanya yang tewas di tangan

Cau-ji, namun setelah terlibat pertarungan sengit melawan Siang Ci-liong

sekalian, segera tampaklah kehebatan kungfu mereka.

Tidak sampai tiga puluh gebrakan kemudian, seorang anggota Lokyang Capji

Eng sudah ada yang muntah darah dan terkapar dalam keadaan luka parah.

Yo Ih-heng serta Liu Kong-gi yang masih berada dalam ruang rumah makan

jadi amat gusar, sambil membentak mereka segera terjun kembali ke arena

pertarungan.

Dalam pada itu Cau-ji mulai dapat menguasai inti sari dari ilmu barisan Ngoheng-

tin yang sedang mengepung dirinya.

Begitu melihat ada yang terluka parah, dia segera melolos pedangnya dan

mulai menyerang dengan menggunakan jurus ilmu pedang angin puyuh.

Sementara tangan kanannya menyerang dengan pedang, tangan kirinya

berulang kali melancarkan babatan maut ke empat penjuru.

Hawa pedang bagai pelangi, tenaga pukulan bagaikan tindihan bukit.

Kontan kelima orang kakek itu merasakan tenaga tekanan yang sangat berat

menghimpit tubuh mereka, buru-buru mereka mundur ke belakang.

Tiba-tiba saja Cau-ji merasakan tekanan yang dihasilkan barisan itu

mengendor, cepat dia menerobos maju ke hadapan seorang kakek berbaju hitam,

pedang dan pukulan dilancarkan berbareng, ia berniat membereskan dulu

nyawa orang ini.

Melihat datangnya sergapan maut, kakek itu ketakutan setengah mati, namun

karena tak bisa berkelit lagi, terpaksa sambil mengertak gigi dia sambut

datangnya ancaman itu dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang

dimilikinya.

“Blaaam …!”

Lagi-lagi hancuran daging dan percikan darah segar menyebar kemana-mana.

Melihat rekannya tewas secara mengenaskan, keempat orang kakek lainnya

membentak gusar, kini barisan mereka dirubah, dari Ngo-heng-tin menjadi Susiu-

tin, tenaga pukulan yang menderu-deru dengan cepat mengurung seluruh

badan Cau-ji.

Sementara itu kembali terdengar anggota Lokyang Capji Eng mendengus

tertahan, Cau-ji tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, dalam keadaan

cemas ia menyerang lagi dengan sekuat tenaga.

Apa mau dikata, keempat orang kakek itupun memberi perlawanan yang amat

gigih, tak lama kemudian lagi-lagi seorang kakek berbaju hitam berhasil

merobohkan seorang pemuda anggota Lokyang Capji Eng, kemudian bergabung

dalam barisan itu.

Dengan bertambahnya satu orang maka ilmu barisan pun kembali berubah

dari Su-siu-tin menjadi Ngo-heng-tin lagi.

Sekarang Cau-ji telah mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, begitu

dahsyat Im-yang-khi-kang yang dimilikinya, bukan saja memaksa tenaga

pukulan dan angin serangan kelima orang kakek itu tak mampu mendekati

tubuhnya, malah secara lamat-lamat memantulkannya kembali.

Atau dengan perkataan lain, mereka pun tak sanggup berbuat banyak

terhadap Cau-ji.

Tak lama kemudian lagi-lagi ada orang yang terluka parah.

Namun kawanan kakek berbaju hitam itu sungguh bandel dan ulet, sekalipun

sudah terluka parah, mereka masih memberikan perlawanan sekuat tenaga,

mereka selalu mengurung Cau-ji hingga anak muda itupun tak mampu

membantu yang lain.

Dalam perkiraan mereka, asal dapat bertahan setengah jam lagi maka rekanrekannya

pasti dapat membereskan sekawanan pemuda dari Lokyang Capji Eng,

kemudian mereka pun bisa bergabung menghadapi Manusia penghancur mayat.

Beberapa saat kembali berlalu….

Kini orang yang menonton jalannya pertarungan semakin banyak, tapi mereka

hanya menonton dari kejauhan dan jumlahnya sudah mencapai ratusan orang

lebih.

Lagi-lagi dua orang anggota Lokyang Capji Eng roboh terkapar di tanah, kini

yang masih bertahan tinggal Siang Ci-liong bersaudara serta tiga orang pemuda

perlente.

Namun keadaan mereka pun sangat parah, serangan bertubi-tubi dari kelima

orang kakek berbaju hitam serta keempat perempuan cantik itu membuat

mereka terdesak hebat.

Situasi makin gawat dan kritis ….

Mendadak terdengar seorang kakek berbaju hitam yang sedang menyerang

Siang Ci-ing berseru sambil tertawa seram, “Sin-hoa, cewek ini sangat memenuhi

seleraku, jangan kau lukai badannya, sebentar akan kunikmati dulu

keperawanannya!”

Perempuan cantik yang berada di sisi kanannya segera menimpali sambil

tertawa genit, “Jangan kuatir Lo Ki, pasti akan kuringkus perempuan itu dan

kuserahkan kepadamu, coba lihat, badannya cukup seksi….”

Sambil berkata kembali ia tertawa cabul.

Ternyata pengawal pribadi Ni Cin-bi ini sejak awal sudah tertarik kecantikan

Siang Ci-ing, maka waktu bertarung tadi, secara diam-diam ia sudah menyebar

bubuk obat perangsang ‘Cau-kun-siau’ di sekeliling arena.

Bubuk obat perangsang ‘Cau-kun-siau’ merupakan obat perangsang yang

paling ditakuti kaum wanita.

Ketika mendirikan perkumpulan Jit-seng-kau, untuk bisa merekrut gadis

cantik sebanyak-banyaknya, telah diciptakan semacam obat perangsang yang

tak berwujud dan tak berbau.

Dengan mengandalkan obat perangsang inilah maka orang yang terkena akan

segera terangsang napsu birahinya, bahkan keinginannya untuk bersetubuh

sangat besar, bukan hanya begitu, bahkan gadis yang terkena obat perangsang

itu tak bakal puas hanya bersetubuh satu kali saja.

Itulah sebabnya banyak gadis cantik yang akhirnya bersedia bergabung

dengan Jit-seng-kau.

Dan kini obat perangsang itu sudah mulai mempengaruhi Siang Ci-ing yang

sedang bertarung.

Periahan-lahan gadis itu mulai merasakan rangsangan napsu birahi di dalam

tubuhnya ….

Bagaimana nasib Siang Ci-ing yang mulai terpengaruh obat perangsang?

Apakah dia bakal diperkosa kakek berbaju hitam itu? Bagaimana pula dengan

nasib Lokyang Capji Eng, apakah mereka berhasil lolos dari kepungan?

Apakah Cau-ji berhasil mengatasi kepungan ilmu barisan Ngo-heng-tin?

Tunggu dan baca

Pendekar Naga Mas 3

Cersil XX rate (Bacaan Orang Dewasa)

Bila masih dibawah Umur masuk sarung ajja, hihi

Karya : Yen To (Gan To)

Cersil ini di upload di :

http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/

DAFTAR ISI:

Bab I. Mendapat durian runtuh.

Bab II. Merampas Pedang Pembunuh Naga.

Bab III. Raja Bisa, Rasul Ular.

Bab IV. Badai melanda Siau-lim-si.

Bab V. Ong Sam-kongcu bergelar bangsawan.

Bab VI. Kaum sesat musnah, dunia aman.

PENDEKAR NAGA MAS 3

Bab I. Mendapat durian runtuh.

Siang Ci-ing merasakan hawa panas semakin menyelimuti seluruh tubuhnya, kesadarannya

mulai berkurang, napsu birahinya makin berkobar, dia seperti menginginkan “sesuatu”….

Tak terlukiskan rasa kaget nona itu setelah mendengar perkataan musuhnya.

Begitu konsentrasinya buyar, tubuhnya segera tertotok oleh serangan yang dilancarkan

perempuan cantik itu.

Tanpa ampun badannya seketika roboh ke tanah.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari kejauhan,

derap kaki kuda yang bergerak makin mendekat disertai bentakan seseorang yang amat nyaring,

“Minggir!”

Cau-ji tahu pastilah dua bersaudara Suto yang telah datang, maka bentaknya pula, “Bunuh!”

Bentakan itu disertai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, selain itu didorong pula oleh

perasaan cemas dan hawa napsu yang meningkat.

Begitu menggema di angkasa, bagai guntur yang membelah bumi di siang hari bolong,

membuat semua orang terkesiap dan jantung berdebar keras.

Suto bersaudara tahu bahwa Cau-ji sangat cemas dengan situasi yang dihadapinya, maka

sebelum kudanya tiba, dengan gerakan rajawali sakti pentang sayap mereka menerkam ke depan.

Begitu meluncur tiba, pedangnya sudah dilolos dari sarungnya.

Dua orang kakek yang sedang konsentrasi menghadapi serangan maut Bu-siang-sin-kang jadi

kaget setengah mati ketika merasakan datangnya hawa pedang yang dingin dari arah belakang.

Buru-buru mereka berdua mengegos ke samping.

Begitu melihat barisan itu menunjukkan lubang kelemahan, Cau-ji segera memanfaatkan

dengan sebaik-baiknya, cepat tubuhnya berkelebat ke arah kakek sebelah kanan yang sedang

mengegos dan menghadiahkan sebuah pukulan maut.

“Aduuh” diiringi jeritan ngeri, tubuh orang itu seketika terbelah jadi dua bagian.

Menggunakan kesempatan saat kakek di sampingnya kaget bercampur gugup, kembali telapak

tangan kirinya menghantam dadanya kuat-kuat.

Meskipun dengan cekatan kakek itu berhasil menghindari serangan ke bagian tubuh mematikan

itu, namun terdorong angin pukulan yang kuat, badannya mundur sempoyongan dan bergeser ke

hadapan Suto Bun.

Dengan jurus Liu-seng-peng-gwe (bintang kejora mengejar rembulan), pedangnya langsung

menusuk ke punggungnya dan mengakhiri hidupnya.

“Tempat ini kuserahkan kepada kalian berdua!” bentak Cau-ji kemudian, dengan sekali

lompatan dia menghampiri Siang Ci-liong.

Waktu itu Siang Ci-liong sedang terbelenggu oleh barisan Sam-jay-tin yang dilakukan tiga

perempuan cantik, keadaannya sangat mengenaskan.

Masih berada di tengah udara, Cau-ji dengan jurus Thay-san-ya-teng (bukit Thay-san menindih

kepala) dia babat tubuh seorang perempuan cantik.

Baru saja dengan susah-payah perempuan cantik itu menghindari serangan, pedang Cau-ji

dengan jurus Yu-hun-jan-sin (sukma bengis menempel tubuh), Huntoan-nay-ho (sukma putus tak

berdaya) serta Kui-ong-tham-jiau (raja setan pentang cakar) telah mencecar.

Sekali lagi terdengar jeritan ngeri berkumandang di angkasa, perempuan cantik itu sudah

termakan sebuah tusukan dan roboh terkapar di tanah.

Melihat rekannya tewas, kelima kakek lainnya meraung gusar, serentak mereka berlari

mendekat.

Cau-ji tahu mereka akan mengurung dirinya lagi dengan Ngo-heng-tin, maka hardiknya, “Tidak

usah menggunakan cara kuno!”

Tubuh berikut pedangnya langsung meluncur ke tubuh salah satu di antara kakek itu.

Cepat orang itu berkelit ke samping, tapi belum sempat berdiri tegak, telapak kiri Cau-ji dengan

jurus Poan-koan-kou-hun (hakim sakti menggaet sukma) telah menghajar kepalanya dengan

keras.

Kebetulan Cau-ji melayang turun persis di samping kiri seorang perempuan cantik, tidak

membuang waktu pedangnya langsung ditusukkan ke pinggang perempuan itu hingga tembus.

Diikuti jeritan ngeri, tewaslah perempuan itu seketika.

Rekannya buru-buru mengegos ke samping untuk melarikan diri, tapi Siang Ci-liong segera

menyusul ke depan sambil membabat tubuhnya.

Cau-ji tidak tinggal diam, dia mengayunkan juga tangan kanannya, “Blam!”, tubuh perempuan

terakhir itu seketika hancur berantakan.

Kini di arena tinggal tujuh orang kakek berbaju hitam serta perempuan cantik yang sedang

membopong tubuh Siang Ci-ing, melihat betapa dahsyatnya ilmu silat yang dimiliki Manusia

penghancur mayat, serentak mereka mundur.

Suto bersaudara pun ketakutan sampai tak bisa bergerak lagi.

“Tahan!” mendadak perempuan cantik itu membentak.

Sambil berkata, telapak kanannya langsung ditempelkan di atas jalan darah Thian-leng-hiat di

ubun-ubun Siang Ci-ing.

Agak tertegun juga Cau-ji melihat ancaman itu, tegurnya, “Mau apa kau?”

“Minggir!” bentak perempuan cantik itu.

“Tinggalkan dulu orang itu!”

“Boleh, setelah kami pergi, tentu saja dia akan kutinggalkan!”

“Lepaskan dia dulu, kemudian kalian baru pergi.”

“Tidak!”

Hawa amarah kontan berkobar dalam dada Cau-ji, sebuah pukulan dahsyat kontan dibacokkan

ke depan.

“Kau..” dengan ketakutan orang itu menjerit, tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping.

“Lepaskan dia dan kalian segera pergi!” kembali Cau-ji menghardik.

Tanpa pikir panjang orang itu segera membebaskan Siang Ci-ing dari cengkeramannya,

kemudian setelah memberi tanda kepada kawanan kakek berbaju hitam itu, serentak mereka

kabur dari situ dalam keadaan sangat mengenaskan.

Dari dalam sakunya Siang Ci-liong mengeluarkan sebuah Giok-pay (lencana kemala) serta dua

lembar uang kertas, diserahkan kepada seorang pemuda berbaju perlente, katanya, “Saudara Liu,

coba kau pergi memanggil kawanan opas!”

Kemudian ia mulai memeriksa keadaan luka yang diderita Siang Ci-ing, setelah memeriksa

denyut nadinya beberapa saat, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.

Lama sekali dia termenung, akhirnya sambil menjura kepada Cau-ji, tanyanya, “Tolong tanya

apakah kau adalah saudara Yu?”

“Benar!” sahut Cau-ji sambil mengangguk, “aku adalah Yu Si-bun!”

“Saudara Yu, boleh aku bicara?”

“Katakan saja saudara Siang”

Cau-ji mengikuti Siang Ci-liong naik ke lantai tiga rumah makan Hong-hok-lau, di situ dengan

wajah serius Siang Ci-liong berkata, “Saudara Yu, tolong tanya bagaimana kesanmu terhadap adik

perempuanku?”

Agak bergetar hati Cau-ji menghadapi pertanyaan itu, setelah termenung sejenak, sahutnya,

“Kecantikan adikmu bagai bidadari dari kahyangan, bukan cuma menguasai ilmu Bun (sastra),

juga mahir Bu (silat), aku yakin pasti banyak putra raja, cucu pangeran, dan pendekar ganteng

yang mengimpikan dirinya!”

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Siang Ci-liong, sahutnya, “Betul sekali! Hanya

sayangnya adikku selalu memandang terlalu tinggi dirinya, dia punya selera tinggi hingga sampai

sekarang belum menemukan pasangan yang cocok.”

“Tapi sejak menyaksikan pertarunganmu melawan Susiokco tempo hari, kelihatannya adikku

sangat menaruh perhatian terhadapmu, tolong tanya apakah saudara Yu…”

“Saudara Siang, lebih baik kita bahas persoalan ini lain waktu saja,” tukas Cau-ji cepat, “yang

penting sekarang adalah bagaimana menyadarkan adikmu.”

“Saudara Yu,” paras muka Siang Ci-liong berubah amat serius, “menurut hasil analisaku setelah

memeriksa denyut nadinya, dia sudah terkena obat perangsang yang keras pengaruhnya, untuk

menyelamatkan jiwanya hanya ada satu jalan, yakni melakukan hubungan badan antara lelaki dan

wanita!”

“Tapi…”

“Saudara Yu, sejak kematian ayahku, keluarga kami tinggal Siaute serta adikku ini saja, aku

sebagai kakak jelas harus bertanggung-jawab atas keselamatan jiwanya, karena itu aku akan

menjadi walinya untuk memutuskan soal perkawinan adikku itu. Siaute ingin tanya, apakah kau

punya niat dengan adikku itu?”

“Soal ini … saudara Siang, Siaute sudah punya istri dan istri muda, sekalipun belum dinikah

secara resmi, namun mereka sudah berkumpul denganku, jika kau tidak keberatan masalah ini,

tentu saja Siaute sangat setuju!”

Kembali Siang Ci-liong termenung sambil berpikir, kemudian ujarnya tegas, “Bila saudara Yu

menyetujui, berarti kau telah menyelamatkan nyawa adikku, buat apa mesti meributkan soal

status dan sebutan?”

“Kau tak usah kuatir saudara Siang,” janji Cau-ji dengan wajah sungguh-sungguh, “Siaute akan

selalu memandang mereka sederajat, tak ada perbedaan mana yang tua dan mana yang muda.”

“Terima kasih banyak saudara Yu,” teriak Siang Ci-liong kemudian kegirangan, “kalau begitu

kuserahkan adikku kepadamu. Siaute buru-buru akan mengurusi luka para saudara lainnya, aku

harus balik dulu ke kota Lok-yang.”

“Baik, bila urusan telah selesai, Siaute pasti akan menyambangimu di rumah.”

“Hahaha, kalau begitu Siaute akan menunggu kehadiranmu, sampai jumpa!”

Setelah turun dari loteng, mereka berdua saksikan ada enam orang opas sedang memberi

petunjuk kepada rakyat untuk membantu memberesi mayat serta noda darah yang berceceran.

Siang Ci-liong sendiri menerima sesosok mayat dari rekannya, setelah berpamitan dengan Cauji,

dia pun berlalu dari situ dengan cepat.

Tujuh ekor kuda tanpa penunggang mengikut di belakangnya.

0oo0

Sepeninggal Siang Ci-liong, Cau-ji segera membopong Siang Ci-ing sambil berbisik kepada Siausi

dengan ilmu menyampaikan suara, “Enci Si, tugas berat telah datang!”

Siau-si tersenyum, sahutnya, “Adik Cau, Thian telah melapangkan jalanmu, bukan cuma

mendapat hartanya, juga memperoleh orangnya, kenapa dibilang tugas berat?”

Cau-ji hanya tertawa getir, diam-diam mereka segera mengeluyur pergi dari situ.

Sepeninggal mereka dari rumah makan Hong-hok-lau, Cau-ji bertiga segera bergerak cepat

bagaikan sambaran kilat, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mereka sengaja memilih

jalan terpencil dan jauh dari keramaian manusia.

Satu jam kemudian tibalah mereka di bukit Lok-ga-san.

Di balik hutan belukar yang sangat lebat mereka bertiga menemukan sebuah gua yang sangat

dalam, mereka pun memasuki gua itu dan membersihkannya sebentar, lalu dari dalam

buntalannya Siau-si mengeluarkan dua stel pakaian dan direntangkan di lantai sebagai alas tidur.

“Adik Cau,” bisik Siau-bun kemudian, “apakah nona Siang terkena racun jahat?”

“Benar,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir, “menurut hasil pantauanku setelah memeriksa

denyut nadinya, obat perangsang Jit-seng-kau yang meresap ke tubuhnya sudah mulai bekerja,

kelihatannya aku harus membuang banyak tenaga untuk mengobatinya.”

“Bagus sekali,” seru Siau-bun kegirangan, “dengan begitu kami akan memperoleh seorang

pembantu yang handal untuk melayani kebutuhanmu.”

“Adik Cau,” kata Siau-si pula, “kami sempat cemas ketika melihat mereka datang mencarimu

semalam, tak nyana gara-gara musibah malah mendapat rejeki.”

Kembali Cau-ji tertawa getir.

“Ai, pertarungan yang berlangsung tadi sungguh amat sengit, tak kusangka kekuatan yang

dimiliki perkumpulan Jit-seng-kau begitu tangguh dan hebat, lain kali nampaknya kita mesti lebih

berhati-hati,”

“Adik Cau, kau boleh berlega hati untuk ‘menolong orang’, bila kawanan bangsat itu berani

datang mengganggu, Cici tak akan membiarkan mereka keluar dalam keadaan hidup.”

Selesai berkata mereka berdua siap meninggalkan gua.

“Hey, tunggu dulu,” Cau-ji segera berteriak, “kalian harus tetap di sini membantu aku!”

“Ah, tidak, hanya melihat buah segar sambil menahan dahaga, sengsaralah kita berdua,” omel

Siau-bun cepat.

“Siaute kuatir tak sanggup mengendalikan dia, kan dia terkena obat perangsang.”

“Hahaha, ternyata ada saatnya juga kau merasa takut.”

“Jangan menggoda aku, aku kuatir melukainya, jadi mesti hati-hati, apalagi jika obat

perangsang itu mulai bekerja, kesadarannya pasti hilang, apa jadinya kalau sampai terluka?”

“Hahaha, baiklah, mengingat kebaikanmu selama ini, kami akan tetap tinggal di sini, cuma kami

mesti bicara dulu di muka, kami hanya membantu, bukan berarti harus memikul beban tanggung

jawab terakhir bila hasratmu tak kesampaian.”

“Tentu, tentu, Siaute pasti akan menyelesaikan tugas ini bersamanya.”

Sambil berkata dia mulai melucuti pakaian sendiri.

Dua bersaudara Suto membantu melucuti pakaian Siang Ci-ing hingga bugil.

Tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru tertahan, sambil menuding bagian bawah gadis itu,

serunya, “Coba kalian lihat!”

Cau-ji berpaling, ia segera jumpai di bagian atas “lubang surga” milik Siang Ci-ing yang bulat

menonjol ditumbuhi bulu hitam yang sangat lebat dan panjang.

Sebenarnya bulu hitam yang tumbuh di bagian bawah perut bukanlah sesuatu yang aneh, tapi

bulu lebat yang dimiliki gadis ini agak aneh, bukan saja dari lubang surga hingga ke bawah

tumbuh bulu yang panjang dan lebat, bahkan di seputar pantat pun banyak ditumbuhi bulu lebat,

sesuatu yang jarang dijumpai.

Dengan tangan gemetar Cau-ji mengelus bulu lebat itu, terasa bulu itu halus dan lembut, dia

mencoba mencabut sehelai rambut bawah itu dan diamati sekejap, lalu gumamnya, “Wah,

ternyata bulu sungguhan!”

“Ssst, jangan berteriak, tentu saja bulu sungguhan!” seru kedua gadis itu agak tersipu, “kalau

bukan bulu sungguhan, buat apa dia tempelkan bulu di bagian bawahnya yang tersembunyi?”

“Wah, coba lihat, di bagian sini pun ditumbuhi juga bulu lebat!”

Mengikuti arah yang dituding Cau-ji, Suto bersaudara segera mengamati dengan seksama,

benar saja, di seputar lubang dubur pun ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam, kenyataan ini

kontan membuat mereka makin tercengang.

Cau-ji masih mengamati tubuh bagian bawah nona itu dengan perasaan keheranan dan ingin

tahu.

Menyaksikan tubuh Siang Ci-ing mulai gemetar keras, Siau-si buru-buru berbisik, “Adik Cau,

sudah, jangan ditengok melulu, sekarang dia mulai tak tahan, kau harus segera bekerja.”

“Kalau begitu pegangi tangan dan kakinya, Siaute segera akan membebaskan totokan jalan

darahnya.”

Buru-buru Siau-si duduk bersila di bagian kepala Siang Ci-ing dan merentangkan sepasang

tangannya ke atas, kemudian memeganginya kuat-kuat.

Siau-bun juga bergeser ke bawah dengan berjongkok di bagian belakang sambil menekan

sepasang kakinya.

“Wah, tak nyana aku harus merepotkan banyak orang!” gumam Cau-ji sambil tertawa getir.

Habis berkata dia pun membebaskan totokan jalan darah tidurnya.

Terdengar Siang Ci-ing berseru lirih, lalu mulai menggerakkan keempat anggota badannya,

beruntung dua bersaudara Suto sudah membuat persiapan hingga genggamannya tak sampai

terlepas.

Sekalipun tangan dan kakinya tak dapat bergerak, namun tubuhnya menggeliat ke sana kemari.

Khususnya tubuh bagian bawahnya, terlihat lubang surganya ditonjol-tonjolkan ke atas seolah

mulut kering yang menunggu datangnya air.

Melihat lubang surga si nona yang buka tutup seperti mulut orang yang tersengal-sengal, Cau-ji

mulai terangsang napsu birahinya, darah serasa mengalir lebih cepat dalam tubuhnya.

Karena birahinya timbul, tombaknya pun ikut bangkit berdiri dan tegak mengeras.

Tubuh Siang Ci-ing menggeliat semakin keras, dengus napasnya pun semakin memburu.

Bila ada orang menyaksikan keadaannya saat itu, mereka pasti akan mengira Siang Ci-ing

sebagai seorang wanita jalang yang amat cabul.

Lama kelamaan Siau-si tak tega juga, segera bisiknya, “Adik Cau, cepat masukkan milikmu ke

dalam lubangnya, kasihan dia.”

Cau-ji segera merentang sepasang kaki gadis itu lebar-lebar, lalu dengan tangannya dia

merentangkan pintu gerbang di atas lubang itu, baru saja ujung tombaknya ditempelkan di atas

lubang itu, Siang Ci-ing bagaikan harimau kelaparan telah menerkamnya ke atas dan langsung

menelan tombak itu sepertiganya.

Cau-ji segera merasakan tombaknya menusuk liang kecil yang masih kencang dan sempit,

untuk mendorongnya lebih ke dalam, dia mesti menggunakan tenaga tambahan.

Masih untung lubang milik Siang Ci-ing waktu itu sedang kelaparan hebat sehingga dia pun ikut

membantu melahapnya secara rakus, tak lama kemudian seluruh tombak panjang itu sudah

tertelan.

Tak kuasa lagi Cau-ji berpekik kenikmatan.

Ternyata ujung tombaknya sudah ditekan Siang Ci-ing hingga menyentuh dasar lubang,

sentuhan itu membuat tubuhnya menggigil kenikmatan, itulah sebabnya dia pun berteriak

kegirangan.

Siang Ci-ing seakan sama sekali tidak merasakan kesakitan, dia masih menggoyang tubuhnya

dengan sepenuh tenaga.

Berhubung sudut ruangan yang tidak menguntungkan, Cau-ji merasa gerakan tubuhnya sangat

terhambat, segera bisiknya, “Cici, biar dia saja yang berada di atas, mungkin jauh lebih leluasa

ketimbang aku yang menidurinya dari atas!”

Suto bersaudara mencoba membalik tubuh gadis itu, tapi tenaga yang dimiliki Siang Ci-ing

waktu itu kuat sekali hingga mereka gagal membalik tubuhnya.

Tiba-tiba Cau-ji berbisik lagi, ”Pegangi saja badannya, biar aku yang membalikkan.”

Kemudian sambil memeluk tubuh gadis itu kuat-kuat, dia berguling ke samping dan

mengangkat tubuh Siang Ci-ing yang semula berbaring di bawah menjadi mendudukinya di bagian

atas.

Cau-ji tetap memegangi tangan gadis itu erat-erat, tapi membiarkan badannya bergoyang

sekehendak hati.

Suara “plokk, plok” bunyi gencetan badan yang basah pun bergema tiada hentinya.

Dengan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki mereka bertiga, biar berada dalam ruang gelap

pun mereka dapat menyaksikan keadaan di seputar sana dengan jelas.

Mereka dapat menyaksikan juga darah perawan yang meleleh keluar dari lubang surga Siang

Ci-ing berceceran ke mana-mana.

Suto bersaudara pernah merasakan juga bagaimana sakitnya ketika selaput perawan mereka

terobek, melihat kegilaan Siang Ci-ing saat ini, mereka mulai menguatirkan keadaan si nona

setelah sadar nanti, bagaimana mungkin bisa berjalan?

Waktu berlalu sangat cepat, pertempuran antara Cau-ji melawan Siang Ci-ing masih

berlangsung dengan serunya.

Mendadak paras muka Cau-ji agak berubah, bisiknya lirih, “Cici! Ada orang datang!”

“Adik Cau, lanjutkan kerjamu, biar kami yang menengok keluar”

“Cici Si, keamanan nomor satu, yang penting keselamatan sendiri, berapa banyak yang bisa

kalian hadapi, hadapi saja seperlunya, nanti biar Siaute yang bereskan sisanya.”

Siau-si mengangguk dan segera keluar dari gua bersama adiknya.

Di luar gua mereka berdua menyembunyikan diri, tampaklah bayangan manusia berkelebat,

secara beruntun muncul dua puluhan orang dari balik semak belukar.

Dengan cepat mereka dapat mengenali kalau orang-orang itu adalah kawanan jago kalangan

hitam yang pernah menyatroni rumah makan Jit-seng-lau beberapa hari berselang.

Kenyataan ini membuat mereka berdua makin terkesiap.

Diam-diam Siau-si mencoba menghitung jumlah mereka.

“Kwan-tiong-ji-ok (dua manusia jahat dari Kwan-tiong), Tiang-pek-sam-him (tiga beruang dari

bukit Tiang-pek), Im-san-siang-kiam (sepasang pedang dari Im-san), Yau-san-su-sat (empat

malaikat dari Yau-san) … ah, masih ada lagi perempuan cantik itu beserta beberapa orang kakek

berbaju hitam, nampaknya pertarungan sengit tak terelakkan lagi.”

Kedua puluhan jago itu segera menyebar di sekitar gua setelah tiba di tempat itu, apalagi ketika

mendengar suara bergeseknya daging dan dengusan napas memburu yang bergema dari dalam

gua.

Sambil tertawa dingin perempuan cantik itu berkata, “Kebetulan sekali! Sekarang Manusia

penghancur mayat sedang berbuat begituan dengan budak itu, cepat kia terobos masuk ke dalam

gua dan meringkus mereka berdua!”

Suto bersaudara mendengus dingin, tiba-tiba mereka muncul dari tempat persembunyian dan

berdiri menghadang di depan mulut gua.

Seorang kakek berbaju hitam segera merangsek maju, pedangnya langsung ditusukkan ke dada

Siau-bun dengan jurus serangan yang aneh.

Siau-bun mendengus dingin, tanpa menggeser barang selangkah pun dia mengayunkan tangan

kanannya ke depan, sebuah pukulan langsung dihantamkan ke tubuh orang itu.

Belum lagi telapak tangannya tiba, desingan angin tajam telah menyambar duluan.

Kakek berbaju hitam itu sadar akan kelihaian lawannya, buru-buru dia menebaskan pedangnya

dengan jurus serangan dari ilmu pedang pengejar nyawa.

Tampak tubuhnya bergerak bagaikan bayangan setan, cepatnya bukan kepalang.

Dari perubahan jurus serangan yang dilakukan lawan, Siau-bun sadar tenaga dalam musuh

cukup tangguh, dia segera menarik tubuhnya sambil berputar ke samping, kemudian secepat

sambaran petir sepasang tangannya melepaskan serangan secara bertubi-tubi.

Segulung angin pukulan bagai gulungan ombak di tengah samudra meluncur tiba dengan cepat,

dikurung oleh serangan yang amat dahsyat, permainan pedang kakek berbaju hitam itu jadi makin

melamban dan tercecar.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian tampak bayangan hitam berkelebat, kakek berbaju

hitam itu menjerit kesakitan sambil mundur tiga langkah dengan sempoyongan, belum lagi berdiri

tegak, darah segar sudah menyembur keluar dari mulutnya.

Siau-si memburu ke depan, dia berniat menambahi lagi dengan sebuah pukulan untuk

mencabut nyawanya, mendadak terdengar bentakan keras, si pukulan lembek Yu Bun-poh sudah

maju sambil melepaskan pukulan.

Siau-bun segera berkelit ke samping, lalu melayang ke samping.

Yu Bun-poh sama sekali tak bersuara, kembali tubuhnya merangsek maju, tangan kanannya

menghantam ke wajah Siau-bun sementara tangan kirinya membabat ke bahu kanan.

Menyusul kemudian tangan kanannya berganti membabat ke samping, sementara tubuhnya

berputar menyelinap ke sisi kanan nona itu.

Suto Bun tertawa dingin, tidak nampak tubuhnya bergerak, secepat kilat tangan kanannya

sudah membabat ke depan.

Yu Bun-poh sadar, bila gadis itu menduduki posisi di atas angin maka dia akan menjadi bagian

yang kena dihajar, cepat badannya bergeser, kini dia mengembangkan ilmu pukulan Pat-kwa-yusin-

ciang yang ampuh.

Tampak tubuhnya bergerak secepat petir, sebentar melayang bagaikan hembusan angin,

sebentar maju sebentar mundur, jurus serangan dilancarkan susul menyusul.

Untuk sesaat Suto Bun terbelenggu oleh gerakan tubuh lawan dan tak mampu berbuat banyak.

Sesaat kemudian dia himpun segenap kekuatannya ke dalam tangan, lalu telapak kirinya

dibabatkan ke tubuh Yu Bun-poh yang sedang menubruk datang.

Tidak menunggu musuhnya melancarkan jurus tandingan, badannya merangsek maju lebih ke

depan, tangan kanannya membabat ke dada lawan dengan sepenuh tenaga.

Serangan berantai yang dilakukan gadis itu meski agak lemah dalam hal kekuatan, namun

mendatangkan manfaat yang besar untuk menanggulangi gerakan tubuh Yu Bun-poh yang lincah.

Seketika itu keampuhan Yu Bun-poh terhambat, dia tak bisa lagi bergerak selincah naga sakti.

Siau-bun pun memutar badan mengikuti gerakan serangan, pukulan demi pukulan dilontarkan

berurutan.

Sepeminuman teh kemudian hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Suto Bun, tibatiba

dia mengeluarkan ilmu pukulan Cing-li-im-ciang.

Serangan yang dilancarkan kali ini menggunakan tenaga lunak, bukan saja lembek, bahkan

langsung mengendalikan gerak serangan lawan.

Sudah empat puluh tahun lebih Yu Bun-poh meyakinkan ilmu pukulan itu, selama malangmelintang

di dunia persilatan belum pernah ia jumpai musuh setangguh hari ini.

Diam-diam ia menggigit bibir, jurus serangannya kembali berubah, kini dia mengandalkan keras

untuk melawan keras.

Siau-bun mendengus dingin, sekali lagi gerak serangannya diubah.

Waktu itu kebetulan Yu Bun-poh sedang mendorong sepasang tangannya dengan sepenuh

tenaga, Siau-bun segera memutar badannya setengah lingkaran, lalu sambil menekuk pinggang,

tangannya ditalakkan ke dada musuh.

Angin pukulan yang menderu pun seketika menyapu ke tubuh lawan.

“Ah!” serangan Yu Bun-poh patah di tengah jalan, dengan tubuh berlumuran darah buru-buru

dia berjumpalitan menjauh.

Kegemparan segera terjadi dalam kerumunan jago-jago itu.

Yau-san-su-sat langsung menubruk ke arah Siau-bun tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

“Jangan membokong orang!” hardik Siau-si mendadak, sepasang tangannya langsung

dihantamkan ke depan dan mengancam tubuh keempat orang itu.

Merasakan betapa dahsyat dan kuatnya ancaman yang tiba, Yau-san-su-sat terkesiap, cepat

mereka menahan kembali gerakan tubuhnya.

Si bayangan setan segera melolos golok berge-langnya, pemuda tampan pembetot sukma

melolos ruyung, jago pengejar sukma mencabut senjata Boan-koan-pit, sementara iblis wanita

berwajah kemala mencabut pedangnya.

Serentak empat orang dengan empat macam senjata meluruk ke tubuh Siau-si.

Menghadapi datangnya ancaman itu, Siau-si menggetarkan pedangnya, dengan jurus burung

merak pentang sayap, terlihat bianglala putih berkelebat.

”Traang!”, bentrokan nyaring segera bergema memecah keheningan, tampak tubuh keempat

orang itu bergetar keras dan masing-masing mundur dengan sempoyongan.

Bagi seorang ahli, begitu bertarung segera akan ketahuan berisi atau tidak. Yau-san-su-sat

adalah pentolan kalangan hitam di wilayah gunung Yau-san, kehebatan ilmu silatnya boleh

dibilang sudah amat tersohor di dunia persilatan.

Siapa tahu dengan kemampuan mereka berempat yang begitu hebat ternyata tak mampu

melukai pihak lawan, sebaliknya malah dipukul mundur oleh musuh, kejadian itu kontan membuat

para jago yang hadir di situ terkesiap.

Siau-si tahu, biarpun mereka berhasil menduduki posisi di atas angin, namun demi keselamatan

Cau-ji yang berada dalam gua, mereka perlu membasmi musuh secepatnya.

Maka secara diam-diam ia telah menyalurkan hawa murni Bu-siang-sin-kangnya di balik jurus

pedang, berbareng dia pun menggunakan ilmu pedang Ciu-thian-sin-kiam andalan keluarganya

untuk menghabisi lawannya.

“Sreet, sreet, sreet!”, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan, semuanya diarahkan ke

tubuh keempat orang itu.

Yau-san-su-sat tercecar hebat, tubuh mereka mundur berulang kali.

Di tengah pertarungan, kembali terdengar Siau-si membentak nyaring, dimana cahaya tajam

berkelebat, sebuah babatan kilat membuat lengan kiri si bayangan setan terlepas dari tempatnya,

sementara iga kanan si jago pengejar nyawa terluka parah.

Sambil menjerit kesakitan kedua orang itu mengundurkan diri dengan sempoyongan.

Melihat itu Kwan-tiong-ji-ok segera maju menerjang sambil mengayun senjatanya, kawanan

iblis lain pun serta-merta ikut maju mengembut.

Kembali terdengar dua kali jeritan kesakitan bergema di angkasa.

Perlu diketahui, Yau-san-su-sat memang bukan tandingan Siau-si kendatipun mereka melawan

dengan sepenuh tenaga, tak heran begitu mereka kehilangan dua orang anggotanya, kedua orang

yang tersisa tak sanggup menahan diri.

Secara beruntun Siau-si melancarkan serangkaian serangan mematikan, dengan jurus Sengliong-

ing-hong (menunggang naga menggiring burung hong) dia tangkis cambuk Toh-ming-longkun,

kemudian ujung pedangnya ditusukkan langsung ke dadanya.

Tak sempat lagi menghindarkan diri, Toh-ming-long-kun menjerit kesakitan dan roboh terkapar.

Pada saat bersamaan Sim-lojit belum sempat mencapai permukaan tanah ketika Siau-si dengan

jurus Ji-yan-shia-hui (burung walet terbang ke samping) telah membabat ubun-ubun Giok-lo-sat

ini hingga terbelah jadi dua.

Tiba-tiba terasa desingan angin tajam datang dari arah belakang, cepat Siau-si mengegos ke

kanan, saat itulah sepasang pedang Im-san-siang-kiam telah menyambar dari sisinya.

Baru lolos dari tusukan sepasang pedang Im-san-siang-kiam, Kwan-tiong-ji-ok telah menyusul

tiba, menyusul kemudian ada belasan orang jago ikut mengembut.

Dengan gigih dua bersaudara Suto memberikan perlawanan, sekalipun tiada tanda-tanda akan

kalah, namun mereka sudah dipaksa makin menjauhi mulut gua.

Menggunakan kesempatan itu, dua orang segera menyelinap masuk ke dalam gua.

Waktu itu Cau-ji masih berbaring di lantai sambil dinaiki Siang Ci-ing yang cantik dan menawan,

coba kalau kejadian ini berlangsung di saat lain, betapa bahagianya anak muda itu.

Bukan cuma bertarung habis-habisan melawan si nona, paling tidak dia pasti akan meremasremas

dan menghisap sepasang buah dadanya yang montok itu.

Sayang suara pertarungan yang berlangsung di depan gua telah mengusik konsentrasinya,

sekalipun dua bersaudara Suto tidak menunjukkan gejala kalah, tapi seleranya kontan hilang, kini

dia hanya bisa menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia.

Coba kalau bukan dia sedang mengobati racun obat perangsang yang mengendon dalam tubuh

Siang Ci-ing, mungkin sejak tadi Cau-ji sudah menerjang keluar gua dan menghabisi kawanan iblis

itu.

Pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar ada suara lirih bergema di dalam gua menyusul dua

orang berbisik lirih, Cau-ji tahu pasti ada orang sedang menyusup masuk, satu ingatan cepat

melintas dalam benaknya.

Dia pun berlagak seolah-olah tidak tahu akan kehadiran mereka berdua, sementara sepasang

tangannya masih meraba dan meremas sepasang payudara yang putih montok, diam-diam tenaga

dalamnya dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya, ia berencana menghajar mampus kedua

orang musuhnya begitu mereka muncul di depan mata.

Benar saja, tak lama kemudian terlihat dua orang menyusup masuk ke dalam ruangan, mereka

langsung tertawa menyeringai begitu melihat ada sepasang muda-mudi sedang bergumul dengan

serunya.

Tanpa banyak bicara mereka langsung mengayunkan keempat telapak tangannya dan

membabat tubuh anak muda itu.

Diam-diam Cau-ji mendengus dingin, sebelum keempat belah tangan lawan menyambar tiba,

tenaga pukulan yang telah disiapkan sejak tadi itu langsung didorong ke muka.

“Aduh! Aduh!”, dua kali jeritan pilu bergema.

“Blum!”, hancuran badan bercampur percikan darah segar segera berhamburan ke mana-mana.

Biarpun orang-orang yang berada di luar gua tidak menyaksikan sendiri bagaimana hancuran

daging dan percikan darah berhamburan, namun jeritan ngeri yang begitu memilukan diiringi

suara benturan yang menakutkan cukup memberi kesan betapa dahsyat dan menakutkannya

tenaga pukulan Manusia pelumat mayat.

Kontan perempuan cantik dan beberapa orang kakek berbaju hitam itu pecah nyali dan

ketakutan setengah mati, tak kuasa serentak mereka berseru, “Cepat kabur!”

Tanpa membuang waktu lagi mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Kawanan jago lainnya yang menyaksikan kejadian itu serentak balik badan dan ikut melarikan

diri dengan tergesa-gesa.

Dalam waktu singkat kawanan manusia itu sudah lenyap dari pandangan.

Dua bersaudara Suto menghembuskan napas lega, setelah menyarungkan kembali pedangnya,

cepat mereka berlari masuk ke dalam gua.

Setelah melalui dinding gua yang kotor karena percikan darah dan hancuran daging, akhirnya

mereka jumpai Cau-ji sedang duduk bersila di tengah ruang gua dengan senyum dikulum.

Pertarungan sengit yang barusan berlangsung telah menguras sebagian besar tenaga dalam

kedua orang itu.

“Enci Si, enci Bun” sambil tertawa Cau-ji menegur, “apakah mereka sudah kabur?’

“Adik Cau, mereka sudah pecah nyali setelah menyaksikan kedahsyatan tenaga pukulanmu,

bahkan saking takutnya sempah menyumpahi orang tua sendiri kenapa hanya memberi dua kaki

saja, tentu saja orang-orang itu sudah kabur semua,” sahut Suto Bun sambil tertawa.

“Hahaha, ternyata mereka cukup tahu diri, kalau tidak, pasti akan kuhancur lumatkan tubuh

mereka semua.”

Sementara itu Suto Si sedang memperhatikan Siang Ci-ing yang masih bermandikan keringat

sambil menggerakkan tubuh bagian bawahnya dengan hebat. Keluhnya sambil menghela napas,

“Sungguh dahsyat daya kerja obat perangsang ini!”

“Adik Cau,” kembali Suto Bun bertanya, “apakah kondisi badan enci Ing masih memungkinkan

untuk berlanjut?”

“Siaute sendiri pun tak tahu bagaimana harus berbuat,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir.

Dari dalam sakunya Suto Si mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang dua butir pil

yang harum baunya, kemudian ia buka mulut Siang Ci-ing dan menjejalkan pil itu ke dalam

mulutnya.

“Cici,” kata Cau-ji lagi sambil tertawa getir, “menurut kalian, sampai kapan ia baru

menghentikan gerakan tubuh erotiknya?”

“Cau-te, dalam masalah seperti ini rasanya hanya kau sendiri yang lebih tahu, masa kau malah

bertanya kepada kami berdua? Aneh.”

Cau-ji menggeleng.

“Cici,” katanya, “kalau begitu kalian beristirahatlah lebih dulu!”

Kedua gadis itu tahu, dengan anak muda itu sebagai pelindungnya, mereka dijamin aman

tenteram tak kekurangan sesuatu apa pun, maka dengan perasaan lega kedua orang nona itupun

mulai mengatur pernapasan.

Melihat kedua orang nona itu sudah mulai bersemedi, Cau-ji pun memasang telinga dan

mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, setelah yakin sepuluh li di seputar sana tak ada orang,

dengan perasaan lega dia mulai menggerayangi kembali sekujur badan Siang Ci-ing.

Memang harus diakui, Siang Ci-ing yang berasal dari keturunan orang kaya benar-benar pandai

memelihara badan.

Bukan saja kulit tubuhnya putih mulus, lembut dan licin, ditambah lagi ia berlatih silat sejak

kecil, badannya nampak sangat kencang dan menggiurkan.

Makin meraba Cau-ji merasa hatinya tambah gatal, napsunya makin berkobar, bahkan ‘barang’

miliknya mulai berdiri tegak. Coba kalau bukan sedang melindungi Suto Bun berdua yang sedang

bersemedi, niscaya dia sudah melancarkan jurus serangan bombadir yang kencang ke lubang

surga milik gadis itu.

Dengan susah payah akhirnya Suto Bun selesai juga dengan semedinya, ia membuka matanya

yang indan dan menatap anak muda itu sambil tersenyum.

Cau-ji tahu, sekarang dia sudah bebas tugas dan tak periu lagi menjadi pelindung keselamatan

kedua gadis itu, tanpa banyak membuang waktu lagi dia segera membalikkan badan, menindih

tubuh Siang Ci-ing dan mulai menusukkan ‘benda’nya ke dalam lubang lawan.

Sudah hampir dua jam lamanya pemuda itu harus bersikap tegang dan kuatir, maka begitu

mendapat kesempatan baik saat ini, seketika dia mulai melancarkan serangkaian serangan gencar.

Tak selang beberapa saat kemudian dari dalam gua berkumandanglah suara gesekan yang

nyaring, bertubi-tubi dan menggetarkan sukma.

Suara gesekan yang menggetarkan sukma seketika membuat sekujur tubuh Suto Si terasa

panas sekali, apalagi setelah menyaksikan tubuh bugil yang sedang bergumul dengan sengitnya,

kontan gadis ini merasa bibirnya jadi kering.

Apalagi saat itu dia sedang berdiri di belakang Cau-ji yang sedang “bergumul”, setiap kali

pemuda itu mencabut atau menghujamkan kembali “tombak” panjangnya dari liang Siang Ci-ing,

ia dapat mengikuti semuanya secara jelas.

Terlihat dengan jelas ‘dua belah bibir pintu luar’ liang milik Siang Ci-ing yang ditusuk oleh

‘tombak panjang”, berulang kali ‘melumat’ dan ‘menyembur’, sementara titik darah bercampur

cairan putih meleleh keluar tiada hentinya dari lubang bagian bawah dan membasahi sebagian

bulu yang lebat.

Ketika dibasahi cairan putih bercampur darah, bulu yang warnanya memang hitam terlihat

makin bercahaya dan mengkilap.

Tanpa sadar Suto Si mulai menggerayangi tubuh bagian bawah sendiri dan menggosoknya

berulang kali. Tak lama kemudian dengus napas Siang Ci-ing mulai memburu, diiringi suara napas

ngos-ngosan gadis itu mulai merintih dengan nyaring,

“Oh … oh … uh … ah … ah … aduh… aduuh … lebih keras… ah…”

Mengikuti teriakan-teriakan itu, sekujur badannya gemetar makin keras.

Melihat anggota badannya meronta tiada hentinya, Cau-ji jadi panik, buru-buru dia kempit

sepasang kakinya dengan lengan kemudian sambil menekan pinggangnya, ia mulai menggempur

secara ganas.

Tiba-tiba lubang surga Siang Ci-ing terasa menghisap kencang, begitu kencang isapan itu

membuat ‘batang tombak’ nya seolah terbelenggu kencang, liang gua yang semula sempit pun

tiba-tiba terasa jauh lebih longgar dan lebar.

Sambil menggenjot terus, diam-diam ia mulai memperhatikan keadaan Siang Ci-ing, tampak

seluruh wajah dan rambut nona itu sudah basah oleh keringat, paras mukanya yang semula merah

pun kini bertambah pucat, sadarlah pemuda ini, si nona telah menghabiskan banyak tenaga untuk

goyangannya tadi.

Terlihat gadis itu memejamkan mata dengan sepasang bibirnya sebentar membuka sebentar

menutup, sekulum senyum kepuasan tersungging di ujung bibirnya, ini membuktikan kegetiran

yang semula dicicipi kini telah menghasilkan madu yang manis.

Dia merasa ‘tombak panjang’ miliknya seakan direndam dalam termos kecil yang dipenuhi air

panas, mulut termos terasa kencang dan sempit, tapi bagian dalamnya lebar dan hangat.

Ketika tombak panjangnya masuk keluar, ia dapat merasakan isapan yang kencang tapi nikmat,

sedemikian nikmat hingga membuatnya berkeinginan untuk ‘kencing’, tak kuasa lagi dia bersorak

kenikmatan.

Apalagi liang dasar termos itu begitu dalam dan kering, mengikuti setiap goyangan pinggung

Siang Ci-ing selalu membuat ujung tombaknya seolah terbentur keras, kenikmatan yang dirasakan

waktu itu sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tak kuasa lagi dia pun ikut bergoyang dan menggenjot makin kencang.

Dua bersaudara Suto yang menonton dari samping tak kuasa menahan diri lagi, api birahi mulai

membakar sekujur tubuh, membuat kedua gadis ini kegerahan, haus dan… ‘kepingin’!

Lama kelamaan mereka tak sanggup menahan diri lagi, satu per satu baju mereka tanggalkan,

tak selang beberapa saat kemudian kedua gadis ini sudah telanjang bulat.

Dalam keadaan seperti ini, Suto Bun seolah lupa dengan pernyataannya tadi, lupa kalau ia

sudah berjanji tak akan memberi “bantuan”.

Kedua orang itu sembari mengempit tubuh bagian bawahnya, sambil menahan rasa gatal yang

tiba-tiba menyerang liang mereka, menonton jalannya pertarungan itu dengan mulut

membungkam.

Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat Siang Ci-ing mulai merintih berulang kali, sekujur

badannya mulai lemas tak bertenaga, sambil tertawa cekikikan Suto Bun mengambil handuk kecil,

lalu mulai menyeka keringat yang membasahi jidat Cau-ji.

Dengan gerakan lembut Cau-ji membaringkan tubuh Siang Ci-ing ke lantai, tubuh bagian

bawahnya masih menempel ketat, dia merasa ‘tombak panjang’nya masih terisap kencang di

dalam ‘termos kecil’ itu, bukan cuma tergencet, bahkan terasa bagaikan diisap dengan

kencangnya.

Tak terlukiskan rasa nikmat yang dirasakannya waktu itu, jauh lebih nikmat ketimbang bermain

di nirwana, bahkan nyaris memaksa tombaknya muntah.

Coba kalau bukan pada saat yang bersamaan Cau-ji menangkap sinar kelaparan yang terpancar

dari balik mata Suto bersaudara, ingin sekali pemuda itu melampiaskan semburan cairannya ke

balik liang hangat gadis itu.

Terlihat Siang Ci-ing menghela napas kepuasan, anggota badannya direntangkan santai, lalu

sambil tersenyum terlelap tidur.

Cau-ji ikut menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian sambil tertawa getir, “Wow,

puas, sungguh puas! Lelah benar pertempuran kali ini, rasanya jauh lebih penat dibanding

pertarungan di muka loteng Hong-hok-lau tempo hari!”

Sambil berkata, dia cabut ‘tombak panjang’nya dari dalam termos air hangat itu.

Sambil menyeka tubuh bagian bawah Siang Ci-ing dengan handuk, tiba-tiba bisik Suto Si,

“Sangat mengerikan! Tak nyana luka di bibir miliknya bisa begitu lebar….”

Sembari bergumam, dia mengambil bubuk obat luka luar dan dibubuhkan ke atas luka itu.

Cau-ji yang berbaring di sisi Siang Ci-ing pun berbisik sambil tersenyum, “Cici Bun, kemari kau,

ayoh kita main yang enak!”

Sambil menahan rasa girang yang luar biasa, dengan muka bersemu merah Suto Bun berjalan

menghampiri Cau-ji, lalu sambil menunggang di atas perut pemuda itu, dengan sangat

pengalaman dia incar tombak milik lawan dan … dengan telak dilalapnya senjata lawan hingga

lenyap.

“Wah, enci Bun, sekarang kau lebih trampil dan pengalaman, cepat amat kemajuanmu! Ooh,

dibandingkan gerakan ngawur tadi, benar-benar bedanya bagaikan langit dan bumi!”

Sementara berbicara, tangannya mulai menggerayangi dada nona itu dan mulai meremasremas

sepasang payudaranya.

“Adik Cau,” jawab Suto Bun malu-malu, “kepunyaanmu rasanya makin lama makin besar,

panjang dan kasar, kalau benda itu berkembang terus, lain kali siapa yang berani mengawinimu!”

“Hahaha, enci Bun, kau jangan menggoda aku, padahal kepunyaanmu pun semakin hari

semakin bertambah lebar. Hahaha..”

“Jangan tertawa,” tukas Suto Bun sambil meninju dadanya, “kalau bukan gara-gara milikmu,

mana mungkin kepunyaanku jadi makin lebar!”

Cau-ji tak kuasa menahan gelinya lagi, ia tertawa berulang kali.

Sesudah memindahkan tubuh Siang Ci-ing ke sisi lain, Suto Si segera ikut menggabungkan diri,

sambil menciumi dada Cau-ji yang kekar, katanya sambil tertawa, “Cau-ji, kau benar-benar

seorang lelaki yang banyak rezeki, semua perempuan pernah kau nikmati, aku benar-benar kagum

atas kehebatanmu!”

“Enci Si, benar juga ucapanmu,” sahut Cau-ji sambil membelai rambutnya, “semenjak Siaute

berkumpul bersama Cici berdua, rasanya segala urusan jadi lancar, kalian memang pembantu

Siaute yang paling hebat!”

Sambil berkata dia rangkul tubuh nona itu, lalu menciumnya dengan penuh kemesraan.

Sementara itu Suto Bun telah mencapai puncak orgasme, dengan wajah puas dia menyeka

tubuh bagian bawahnya dengan handuk, lalu sambil bangkit berdiri, katanya, “Cici, sekarang

giliranmu!”

Tiba-tiba Cau-ji melompat bangun, dengan cepat dia rampas handuk kecil yang mengganjal

tubuh bagian bawah Suto Bun, ketika melihat cairan kental masih meleleh keluar dari tubuh

bagian bawahnya, kontan ia tertawa cekikikan.

“Nakal kamu!” jerit Suto Bun sambil mengambil handuk lagi dari buntalannya dan ditutupkan ke

tubuh bagian bawahnya, “sekarang kau tak dapat merebutnya lagi’

“Ehm, sungguh harum!” bisik Cau-ji setelah mengendus handuk kecil itu berulang kali, lalu

sambil tertawa dia membaringkan diri lagi.

“Kembalikan!” teriak Suto Bun malu, sambil menerkam dia berusaha merebutnya kembali.

Cau-ji tertawa terkekeh, bukan saja tidak menghindar, malah dengan ujung kaki kanannya

cepat ia menggaet handuk yang terjepit di tubuh bagian bawahnya dan berseru sambil tertawa

tergelak tiada hentinya.

Melihat usahanya ‘mencuri ayam tak berhasil malah kehilangan beras segenggam’, buru-buru

Suto Bun berseru, “Dasar bandel!”

Tubuhnya langsung membalik dan menindih tubuh Cau-ji kuat-kuat, lalu tangannya berusaha

menyambar kembali handuknya yang kena dirampas itu.

Ternyata untuk memperebutkan handuk itu, mereka berdua sama-sama telah menggunakan

ilmu Kim-na-jiu-hoat.

Setelah menunggu dengan susah-payah, akhirnya Suto Si baru mendapat kesempatan untuk

‘menikmati surgawi’, dia jadi amat gelisah setelah melihat gurauan kedua orang itu malah

membuatnya terabaikan, dalam gelisah tanpa banyak bicara dia segera merebut handuk yang ada

di ujung kaki Cau-ji.

Mula-mula Cau-ji agak tertegun setelah merasa handuk itu terampas, tapi bocah ini segera

mengerti apa yang diinginkan lawannya.

Tanpa banyak bicara dia peluk Suto Si erat-erat, lalu teriaknya sambil tertawa, “Enci Si, kau

tidak adil, kenapa malah membantu enci Bun?”

Sambil berkata dia membalik tubuh gadis itu dan ditindih di bawah badannya, tanpa membuang

waktu ‘tombak panjang’nya langsung dihujamkan ke lubang gua lawan dan mulai melepaskan

serangkaian serangan gencar.

Baginya inilah hukuman setimpal yang harus diterima gadis itu!

Suto Si menerima hukuman itu dengan wajah berseri, bukan saja tidak marah, dia malah

mengimbangi serangan lawan dengan goyangan pinggul ke kiri kanan.

Ketika Suto Bun selesai membersihkan tubuh bagian bawahnya dan melihat kedua orang itu

sedang saling bertempur dengan ganasnya, cepat ia berjalan mendekat, lalu sambil menjepit

pinggul Cau-ji dengan kedua belah tangannya, ia bantu mendorong pantat pemuda itu ke bawah.

“Plook!”, tekanan itu membuat tombak Cau-ji menghujam makin dalam dan makin keras.

Seketika itu juga Suto Si merasakan dasar liangnya sakit, linu, kaku, dan gatal, menyusul

kemudian perasaan kecut, manis, getir, pedas, asin bercampur aduk di rongga dadanya.

“Adik Bun, jangan bergurau!” buru-buru teriaknya.

Suto Bun melongok sekejap, melihat saudaranya setengah memejamkan mata sambil

tersenyum, dia tahu gadis itu ‘lain di mulut lain di hati’, diam-diam ia tertawa geli sendiri.

Cau-ji sendiri pun merasa sangat tertarik dengan permainan ini, maka dia pun membiarkan

gadis itu berbuat semaunya.

Berapa ratus genjotan kemudian Suto Si mulai tak kuasa menahan diri, dia mulai mendesis

sambil menjerit,

“Aduuh … aduuuh … linu … aduh … aduh … linu… gatal … aduuuh … aku tak tahan lagi … aku

hampir mati… aduh hampir mati..”

Kalau di masa lalu, seenak dan senikmat apa pun Suto Si pasti rikuh untuk mendesis apalagi

berteriak, tapi hari ini benar-benar berbeda, hari ini dia merasakan kenikmatan yang luar biasa,

jadi tak heran dia tak sanggup mengendalikan diri.

Begitu Cau-ji merasakan dasar liang perempuan itu mulai mengisap dengan kuatnya, cepat ia

berbisik lirih, “Enci Bun, istirahat saja dulu! Jangan sampai milikmu terlukai Kalau kejadiannya

sama seperti yang dialami nona Siang, kita yang susah nanti!”

Tergerak hati Suto Bun begitu mendengar ia menyinggung tentang nona Siang, ketika

berpaling, kebetulan ia jumpai tubuh nona itu sedang gemetar, satu ingatan pun segera melintas

dalam benaknya.

“Baiklah!” katanya kemudian sambil bangkit dan duduk, “tapi… adik Cau, kau sudah ‘selesai’

belum?”

Sambil memeluk Suto Si dan mengantarnya mencapai puncak orgasme, sambut Cau-ji, “Enci

Bun, gara-gara membantu nona Siang memunahkan racunnya dan mesti mengerahkan tenaga

untuk menghadapi kawanan iblis itu, Siaute sudah cukup banyak kehilangan tenaga, sekarang

sekujur badanku malah terasa makin bertenaga.”

Suto Bun jadi tegang setengah mati sehabis mendengar ucapan itu.

Diam-diam ia coba memperhatikan dengus napas Siang Ci-ing, dia tahu gadis itu sudah

mendusin, namun karena malu maka berlagak belum sadar, menggunakan kesempatan itu buruburu

ia bantu Cau-ji memberi penjelasan.

“Adik Cau,” katanya sambil tertawa, “kau memang luar biasa kuatnya, padahal untuk

membantu enci Ing memunahkan racun yang mengeram di tubuhnya, kau sudah bekerja keras

selama hampir dua jam. Masa sampai sekarang kau masih bertenaga? Hi, kau memang sangat

menakutkan!”

“Hahaha, semuanya ini berkat empedu naga sakti berusia ribuan tahun yang kumakan. Enci

Bun, enci Si sudah hampir loyo, tolong kau bersiap-siap menggantikannya!”

Dengan wajah merah jengah Suto Bun membaringkan diri, katanya, “Adik Cau, kau mesti

pandai mengendalikan diri, kalau sampai aku pun tak mampu memuaskanmu, kau bakal kerepotan

sendiri!”

Pada saat itulah terdengar Suto Si berkeluh sambil menghela napas, “Oh, Thian, nikmatnya!”

Setelah tubuhnya gemetar sesaat, akhirnya dia pun tergeletak lemas tak bertenaga.

“Enci Si, istirahatlah dulu!” bisik Cau-ji sambil mengecup bibirnya dengan mesra.

“Adik Cau, terima kasih banyak, kau telah memberi kenikmatan yang luar biasa untuk Cicimu,”

sahut Suto Si terharu.

Coba kalau tubuhnya tidak sedang lemas tidak bertenaga, niscaya dia akan memeluk adik

Caunya kencang-kencang.

Setelah meninggalkan Suto Si, kali ini Cau-ji menubruk ke atas tubuh Suto Bun, ‘tombak

panjang’nya begitu ditusukkan masuk ke dalam liang, ia mulai menggenjot dengan ganasnya.

“Plak … plak”, suara gesekan disertai bunyi keras bergema tiada hentinya.

Suto Bun dengan sepasang tangan memeluk punggung Cau-ji, sementara sepasang kakinya

melingkar di pinggangnya, tubuh bagian bawahnya bergesek mengimbangi gerakan Cau-ji yang

memompa dengan penuh tenaga.

Menggunakan kesempatan ini dia praktekkan semua pelajaran ilmu ranjang yang dipelajarinya

secara diam-diam ketika masih berada di rumah makan Jit-seng-lau tempo hari.

Sementara itu sebenarnya Siang Ci-ing sedang menikmati pesiarnya di alam surga tingkat ke

tiga puluh tiga ketika secara tiba-tiba dikejutkan oleh suara jeritan Suto Si yang keras.

la jadi malu sekali ketika mendusin dan melihat di sampingnya ada sepasang laki perempuan

sedang melakukan ‘pertempuran habis-habisan’, buru-buru dia memejamkan mata kembali sambil

berpikir, siapa gerangan mereka itu? Kenapa dirinya bisa berada di situ?

Tapi setelah diperhatikan sesaat, dia pun segera mengenali suara Cau-ji yang serak-serak itu

sebagai kekasih hati yang baru saja merenggut mahkota gadisnya, rasa kejut bercampur girang

membuat sekujur tubuhnya kembali gemetar keras.

Apalagi sesudah mendengar pembicaran Cau-ji dengan Suto Bun, tanpa terasa ia terbayang

kembali dengan pengalamannya sewaktu bertarung melawan wanita cantik dan kakek berbaju

hitam, ia sadar dirinya pasti sudah diracuni orang-orang itu.

Untung saja dalam keadaan kritis ia berhasil diselamatkan pujaan hatinya, coba kalau tidak,

mungkin dia akan mengalami nasib yang amat tragis.

Dalam bersyukur dan girangnya, diam-diam ia memeriksa tubuh sendiri, segera dijumpai bukan

saja dirinya berada dalam keadaan bugil, bahkan secara lamat-lamat tubuh bagian ‘rahasia’nya

terasa agak sakit dan pedih.

Kenyataan ini seketika membuatnya terkejut bercampur girang.

Terkejut karena tak disangka ia telah melakukan perbuatan itu.

Girang karena keinginannya terkabul sekarang, kalau bukan lantaran ingin menyelamatkan dia,

tak nanti kekasihnya akan berbuat selancang ini, berarti selanjutnya dia pun sudah mempunyai

tambatan hati.

Berpikir sampai di situ hati pun merasa lega, karena sudah tenang maka dia pun mulai ‘mencuri

dengar’ suara yang ada di sekitarnya.

la mulai mendengar suara napas yang memburu!

Lalu suara “plook … plookk yang nyaring.

Disusul suara mendesis yang aneh ….

Ketika masuk ke lubang telinganya, suara itu terasa begitu aneh, begitu menggetarkan sukma,

membuat dadanya menggelora.

Tak lama kemudian ia mulai merasa gejala tak beres dengan tubuh bagian bawahnya.

Setelah bertahan hampir satu jam, Suto Bun mulai merasa napsunya semakin memuncak, titik

orgasme sudah semakin menghampiri, ini semua membuatnya tak kuasa mengendalikan diri lagi,

dia mulai merintih, mulai mengerang.

“Yau-siu (dasar umur pendek),” desis Cau-ji dengan perasaan cemas, “sejarah bakal terulang

lagi, padahal aku sedang nikmatnya merasakan hubungan ini, kenapa enci Bun sudah hampir

keok? Wah, bagaimana ini?”

Sambil berpikir dia pun mempergencar genjotannya.

Suto Bun semakin tak kuat menahan diri, ia mulai menjerit sambil berteriak, “Ah … aa … adik

Cau … jangan … jangan kuatir… enci Ing … enci Ing pasti akan membantumu … aduh … aduh..”

Mendengar teriakan itu, sambil memperlambat genjotannya Cau-ji menengok ke samping, betul

saja, ia jumpai Siang Ci-ing sedang menggerakkan tubuhnya, dengan perasaan girang dia

melanjutkan tusukannya.

Siang Ci-ing merasa malu setengah mati, buru-buru dia membalikkan tubuhnya ke arah lain.

Melihat kejadian ini Suto Si pun tersenyum sambil menghembuskan napas lega.

Dalam pada itu sekujur tubuh Suto Bun telah mengejang keras, bulu kuduknya berdiri, berulang

kali dia merintih tiada hentinya.

Terakhir setelah gemetar keras, dia pun mencapai orgasme.

Dengan lembut Cau-ji mendekam di atas tubuh Suto Bun, sembari menikmati kenyamanan

yang diberikan gadis itu ketika mencapai puncaknya, dia mulai berpikir bagaimana caranya

mengajak Siang Ci-ing melakukan hubungan kembali.

Suto Si segera memahami jalan pikiran pemuda itu, buru-buru ia mendekati Siang Ci-ing

sembari berbisik, “Enci Ing, aku adalah dua bersaudara dari keluarga Suto, Suto Si dan Suto Bun.

Kami berharap Cici mau menolong adik Cau lolos dari kesulitan yang sedang dihadapi, nanti kalau

semua telah beres, kita berbincang lagi. Mau kan?”

Sambil berkata ia membantu menelentangkan tubuh gadis itu.

Tersipu-sipu Siang Ci-ing memejamkan mata, dalam keadaan begini ia tak berani sembarang

bergerak.

Suto Si melirik Cau-ji sekejap, kemudian sambil tersenyum ia mulai menggeser ke samping.

Dengan terharu Cau-ji manggut-manggut, dia cabut keluar ‘tombak panjang’nya, kemudian

setelah menindih di atas tubuh Siang Ci-ing, tubuh bagian bawahnya ditekan ke bawah, ‘tombak

panjang’ miliknya pun kembali menusuk masuk ke dalam ‘termos kecil’.

Dengan lemah lembut dipeluknya pinggang si nona yang ramping, lalu sambil perlahan-lahan

menggerakkan badannya, ia berbisik lembut, “Enci Ing, Siaute dari marga Ong bernama Bu-cau!”

Secara garis besar dia memperkenalkan asal-usul keluarga sendiri.

Siang Ci-ing tidak mengira kekasih hatinya adalah putra sulung Ong Sam-kongcu yang

termashur dalam dunia persilatan, rasa kejut bercampur girang yang dirasakan sekarang benarbenar

tak terlukiskan dengan kata.

Kembali Cau-ji berbisik dengan lembut, “Enci Ing, gara-gara keteledoran Siaute berakibat kau

terkena bubuk perangsang milik Jit-seng-kau, untung atas kebijaksanaan kakakmu, dia telah

merestui perkawinan Siaute denganmu”

Siang Ci-ing yang selama ini hanya memejamkan mata rapat-rapat jadi amat girang mendengar

kabar ini, tanpa terasa ia membuka matanya dan berseru sambil menatap mesra wajah pemuda

itu, “Sungguh?”

Cau-ji manggut-manggut.

“Benar!” sahutnya, “kalau tidak, Siaute mana berani mengusik tubuh Cici?”

“Adik Cau, terima kasih banyak … terima kasih banyak ” tak tahan Siang Ci-ing memeluk

kencang anak muda itu.

Rasa girang yang luar biasa membuat air matanya tak terbendung lagi.

Sementara itu Suto Bun menghembuskan napas lega, ketika melihat Siang Ci-ing masih mampu

bertahan setengah jam lamanya, dia pun mengenakan pakaian sembari memutar otak.

Suto Si menunggu sampai adiknya selesai berpakaian, lalu mereka berdua meninggalkan gua

itu sambil saling melempar senyuman.

Tentu senyuman itu adalah senyum kepuasan.

Mereka tak mengira segala peristiwa berjalan secara lancar.

Begitu melihat Suto bersaudara sudah meninggalkan ruang gua, Siang Ci-ing merasa sangat

lega, rasa rikuh atau malunya ikut hilang setengah, pelan tapi pasti dia mulai mengimbangi

gerakan tusukan Cau-ji dengan goyangan pinggulnya.

Biarpun gerakan tubuhnya masih bebal dan bodoh, namun “termos” alam yang dimilikinya

sangat membantu gadis itu dalam proses menuju kenikmatan, Cau-ji pun memperoleh rasa nikmat

yang tidak terhing-ga.

Sebaliknya Cau-ji tahu belum lama berselang “selaput dara”nya baru robek, agar gadis itu tak

merasa sakit karena gesekan, pemuda ini memperlambat dan memperingankan gerakan tubuhnya.

Begitulah, sambil melakukan gerakan yang erotis, pemuda itu menceritakan pula asal-usul Suto

bersaudara.

Siang Ci-ing tidak menyangka nasib dua bersaudara Suto begitu tragis, terlebih tak mengira

mereka pun menjadi korban kebusukan orang-orang Jit-seng-kau, di samping ikut merasa gusar,

timbul pula perasaan simpatiknya terhadap kedua gadis itu.

Mereka pun mulai bercumbu rayu ….

Perasaan batin muda-mudi itu kian lama kian bertambah mesra dan hangat….

Tanpa sadar … tanpa terasa … mereka berdua sama-sama mencapai orgasme.

Dalam pada itu, dua bersaudara Suto yang menunggu di luar gua mulai terusik oleh suara

cicitan burung yang terbang balik ke sarang, ketika mendongakkan kepala, mereka baru sadar

bahwa senja telah menjelang tiba.

Suto Bun mencoba untuk pasang telinga, setelah mendengarkan sejenak, bisiknya sambil

tertawa, “Cici, kelihatannya mereka berdua cocok sekali!”

“Ya, mereka cocok dan bercumbu rayu, sementara kita disantap nyamuk gunung, kalau tidak

pergi sekarang, langit bakal gelap lebih dulu.”

“Benar! Setelah sibuk seharian sejak kemarin, seharusnya kita mencari tempat untuk

membersihkan badan. Tapi … adik Cau dan enci Ing masih berasyik-masyuk, bagaimana cara kita

memanggil mereka?”

“Kalau begitu, adikku, lebih baik kita gunakan suara nyanyian saja untuk memancing perhatian

mereka,” usul Suto Si sambil tertawa.

Maka mereka pun mulai bersenandung, mulai bernyanyi dengan suara merdu.

Entah beberapa saat sudah lewat, tiba-tiba kedua orang itu merasa pinggang mereka dipeluk

seseorang dengan lembut, menyusul kemudian terdengar suara Cau-ji berbisik, “Cici, suara

senandung kalian sungguh manis dan merdu didengar!”

“Ah, rupanya adik Cau, maaf kalau kami telah mengganggu ketenanganmu!” sahut Suto Si lirih.

“Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa,” sahut Cau-ji sambil tertawa pula, “tadi Siaute hanya merasa

ada suara nyamuk sedang mendengung di sisi telinga, aku segera sadar, tentu malam sudah

menjelang tiba.”

Siang Ci-ing yang berdiri di belakangnya sambil membawa buntalan, tak kuasa menahan rasa

gelinya lagi, ia tertawa cekikikan.

“Bagus,” Suto Bun kontan berteriak, “adik Cau, ternyata kau lupa budi kami, baru selesai

menikmati malam pengantin, kau sudah mulai mencari akal untuk mendepak kami berdua si ‘mak

comblang nyamuk’, huuh, kau tak boleh begitu.”

Seraya berkata, dengan gemas dia cubit paha pemuda itu keras-keras.

“Aduuh mak, sakit ….”jerit Cau-ji. Melihat tingkahnya yang kocak, kontan ketiga gadis itu

tertawa cekikikan.

“Mari kita pergi!” ajak Cau-ji kemudian sambil tertawa, “cari rumah penginapan, mandi yang

segar dan makan sampai kenyang!”

Berkata sampai di situ, ia pun beranjak pergi.

Suto bersaudara segera mengikut dari belakang, sambil berjalan mereka membersihkan obat

penyamar muka dari wajahnya.

Diam-diam Siang Ci-ing menghela napas kagum, apalagi setelah menyaksikan wajah asli dua

bersaudara Suto yang cantik dan anggun itu.

Ketika tiba kembali di luar kota Bu-cong, untuk menghindari perhatian orang banyak mereka

sengaja mencari sebuah rumah penginapan kecil, setelah memesan kamar, mereka berempat pun

mulai mandi membersihkan badan dari keringat dan debu.

Kurang lebih satu jam kemudian, keempat orang itu sudah muncul kembali dalam rumah

makan nomor wahid di kota Tiang-sah.

Mereka mencari tempat duduk yang strategis dan mulai bersantap dengan santainya.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar sang Ciangkwe rumah makan berseru dengan

suara tergagap, “Liu-toaya, kenapa hari ini datang agak terlambat?”

“Maknya,” terdengar seorang menyahut dengan suara keras bagai geledek, “belum lagi terang

tanah, entah setan busuk dari mana yang membuat onar hingga membuat kesayangan Toaya

sakit panas, ai … dengan susah-payah aku mesti menunggu sampai dia tertidur baru bisa datang

kemari.”

Ketika Cau-ji berempat berpaling, terlihat seorang lelaki gemuk tinggi besar, wajah ramah,

perut buncit, dan senyum dikulum berjalan masuk ke dalam ruang rumah makan

Di belakangnya mengikut seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan, dari gayanya bisa

diduga orang itu adalah centengnya.

Terdengar pemilik rumah makan itu kembali berkata, “Toaya, aku dengar orang yang

mengeluarkan suara tertawa aneh pagi tadi sempat membunuh beberapa orang di muka rumah

makan Huang-hok-lau.”

“Huh, untung yang dia hadapi cuma beberapa ekor kucing penyakitan,” sahut Liu-toaya sinis,

“coba kalau bertemu Toaya, akan kuhajar dia sampai remuk badannya.”

“Benar, siapa yang tak tahu kepandaian kungfumu hebat, tenaga saktimu tiada tandingan di

kolong langit.”

“Hahaha, cepat hidangkan makanan lezat!”

“Baik, baik… cepat layani Toaya kita!”

Dari sisi kanan ruangan segera terdengar suara sahutan yang merdu, disusul kemudian

terendus bau harum semerbak, enam orang gadis bergaun kuning muncul dari balik ruangan dan

berjalan menuju ke hadapan Liu-toaya.

“Salam untuk Toaya!” seru keenam gadis itu serentak.

Menyusul tampak bayangan kuning berkelebat, ada empat gadis di antaranya segera bergeser

ke belakang tubuh orang itu, membuat kuda-kuda setengah jongkok dan berdiri setengah

lingkaran di belakang Liu-toaya.

Tanpa sungkan Liu-toaya duduk di atas lutut keempat gadis yang setengah berjongkok tadi,

sementara sepasang tangannya memeluk dua gadis lainnya dan mulai mencium sambil

menggerayangi tubuhnya.

Suara cekikikan jalang pun bergema.

Biarpun diduduki Liu-toaya yang bobot tubuhnya mencapai dua ratusan kati, ternyata keempat

gadis yang setengah berjongkok itu tetap tersenyum simpul, bukan saja tubuhnya bergeming,

bahkan lebih mapan daripada bukit Thay-san, hal ini membuktikan kungfu mereka sangat

tangguh.

Tak lama kedua gadis itu muncul lagi sambil membawa sebuah piring berisi hidangan, serunya,

“Toaya, silakan makan!”

“Hahaha, bagus, bagus, Tite (kaki babi) masak angsio yang harum baunya.”

Sambil memeluk pinggang si nona dengan mesra, Liu-toaya pun mengunyah daging yang

disuapkan ke mulutnya.

Bukan cuma memeluk, Liu-toaya malah memasukkan tangannya ke balik baju gadis-gadis itu

sambil menggerayangi payudaranya.

“Toaya, jangan begitu,” desis gadis berbaju kuning genit, “masa badanku digerayangi terus,

geli….”

“Hahaha, minum arak wangi harus ditemani gadis cantik”

Bab 2. Merampas pedang pembunuh naga.

Melihat cara pelayanan yang begitu istimewa, diam-diam Cau-ji berempat merasa tercengang,

mereka mulai berpikir siapa gerangan orang ini.

Cau-ji sendiri pun mulai menduga-duga, dengan bentuk tubuhnya yang kedodoran dan perut

buncit, kira-kira gaya apa yang akan digunakan sewaktu menyelesaikan hajatnya.

Bayangkan saja, perutnya begitu buncit, yang jelas akan sangat mengganjal ketika menindih

tubuh cewek, bagaimana “tombak’nya bisa dimasukkan ke dalam lubang surga?

Makin dibayangkan dia semakin geli, pada akhirnya anak muda itupun tertawa terbahak-bahak.

Waktu itu Liu-toaya sedang menikmati arak dan perempuan cantik dengan santainya,

mendengar suara tertawa dia pun melirik sekejap, tapi begitu melirik, sepasang matanya kontak

berkilat.

Tiba-tiba ia menyingkirkan kedua gadis yang berada di sisinya, lalu sambil bangkit ia berjalan

menghampiri Cau-ji.

Dengan pandangan tercengang dan keheranan para tamu lain pun sama-sama memandang ke

arah Cau-ji sekalian.

Begitu tiba di hadapan sang pemuda, sambil tertawa lebar tegur Liu-toaya, “Saudara cilik, apa

yang kau tertawakan?”

Begitu tertawa geli, Cau-ji sudah menduga pihak lawan bakal menghampirinya, maka sambil

tertawa lebar sahutnya, “Begitu melihat bentuk tubuhmu, Siauya langsung teringat Toaso yang

ada di dusun, entah saat ini sudah melahirkan atau belum?”

Berubah hebat paras muka Liu-toaya mendengar perkataan itu, dia tak mengira perut buncitnya

bakal dipakai sebagai bahan olok-olok.

Tergopoh-gopoh pemilik kedai berlari mendekat, serunya, “Kongcu, keliru besar perkataanmu

itu, tahukah kau bahwa kepala gede, muka Lopan, perut buncit menandakan orang yang banyak

rejeki?”

“Aku tahu, cuma Siauya tidak percaya.”

“Kongcu, banyak bicara lidah bisa keseleo, lebih baik jangan banyak omong!”

“Jangan banyak omong? Sayangnya Siauya tidak merasa ada yang keliru. Tadinya aku sangka

kau cukup makmur, ternyata setelah dibandingkan Loheng ini, kau termasuk orang yang kurang

gizi!”

Siang Ci-ing bertiga tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, kontan mereka tertawa cekikikan.

Merah bercampur pucat paras pemilik rumah makan itu, untuk sesaat ia tak tahu mesti berbuat

apa.

Sementara Liu-toaya berdiri terperangah, apalagi setelah melihat senyuman ketiga gadis cantik

bak bidadari itu.

Cau-ji semakin tak suka, apalagi melihat gaya si gemuk mengawasi gadisnya, setelah

mendengus dingin, jengeknya, “Huh, siapa bilang kepala besar, muka Lopan, perut buncit itu

banyak rezeki? Memangnya babi gemuk pun dianggap banyak hokki?”

Bukannya gusar oleh makian itu, Liu-toaya malah tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, saudara cilik, bagus amat perkataanmu itu!”

Sembari bicara dia balik kembali ke tempat duduknya, duduk di atas pangkuan empat

perempuan cantik itu.

Dalam pada itu kedua lelaki kekar berwajah seram itu sudah menerjang maju lagi ke hadapan

Cau-ji, lelaki yang di sebelah kanan segera membentak dengan suara berat, “He, kunyuk kecil,

mari kita selesaikan urusan di luar saja!”

Cau-ji menggeleng sambil tertawa dingin.

“Lebih baik enyah dari hadapanku! Budak macam kau tak pantas bicara dengan Siauya!”

Tak terlukis rasa gusar orang itu, sambil membentak keras sebuah pukulan langsung

dibacokkan ke pipi kiri lawan.

“Cuuh!”, tiba-tiba Cau-ji memuntahkan segumpal riak kental dan langsung disemburkan ke atas

telapak tangan orang itu.

“Aduh!” teriak orang itu kesakitan, dengan wajah pucat ia tarik kembali tangannya sambil

melompat mundur.

Siapa pun dapat melihat telapak tangan orang itu sudah hancur berlumuran darah karena

semburan riak kental itu, kehebatan kungfu semacam ini nyaris belum pernah dilihat oleh siapa

pun, tak heran jeritan kaget bergema.

Lelaki yang berada di sebelah kiri kembali membentak gusar, tinjunya langsung dilayangkan ke

depan membacok dada Cau-ji.

Biarpun menghadapi pukulan, Cau-ji sama sekali tak melirik, sambil menjengek kembali dia

meludah.

Orang itu menjerit aneh, cepat dia tarik tinjunya sambil melompat mundur.

Kembali darah segar tampak meleleh dari telapak tangannya, jelas dia pun sudah terluka.

Kini semua yang hadir benar-benar terkesima dibuatnya, mereka berdiri melongo dengan mata

terbelalak lebar.

Berubah paras muka Liu-toaya menyaksikan kejadian itu, cepat ia bangkit dan berseru dengan

suara berat, “Sobat, tak kusangka kungfumu begitu hebat, kagum! Sungguh mengagumkan! Kalau

jantan, tinggalkan namamu!”

“Hahaha, tidak perlu.”

“Ooh, dasar penakut!”

“Hahaha, menyandang gelar ‘Manusia pelumat mayat’ pun Cayhe tak takut, kenapa mesti jeri

kepada manusia macam kau/’

Begitu mendengar nama ‘Manusia pelumat mayat’, paras Ciangkwe gemuk itu seketika berubah

hebat, buru-buru tanyanya, “Kongcu, apakah kau dari marga Yu?”

Cau-ji tidak menyangka dia akan mengajukan pertanyaan itu, tergerak hatinya, sambil menatap

tajam orang itu, tegurnya dengan suara dalam, “Betul, Cayhe adalah Yu Si-bun!”

Seketika itu juga sikap Ciangkwe gemuk itu berubah seratus delapan puluh derajat, dengan

sikap yang amat hormat katanya lagi, “Cayhe Tong San-kok adalah saudara jauh In Jit-koh dari

rumah makan Jit-seng-ciu-lau, Jit-koh telah berpesan bila bertemu Kongcu, Cayhe harus melayani

dengan sebaik-baiknya!”

Cau-ji tidak menyangka tempat ini merupakan salah satu markas penghubung Jit-seng-kau,

dengan suara dalam segera serunya, “Jit-koh benar-benar kelewat banyak adat, sana, kau boleh

sibuk dengan urusanmu sendiri.”

Habis berkata, kembali ia berpaling ke arah Liu-toaya sambil ujarnya, “Bagaimana? Siauya telah

menyebut nama, sekarang sudah merasa puas bukan?”

Begitu melihat pihak lawan punya hubungan yang akrab dengan Tong San-kok, sikap Liu-toaya

seketika berubah. Sambil mendengus dingin ia keluarkan selembar uang kertas, diserahkan ke

tangan seorang gadis di sisinya kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan

tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu.

Kedua lelaki kekar itu ikut terlalu dengan tergesa-gesa, tapi sebelum berlalu mereka sempat

menoleh dan melotot sekejap ke arah Cau-ji dengan penuh rasa dendam.

Sepeninggal orang-orang itu, Tong San-kok baru berkata lagi, “Kongcu, silakan masuk, mari

kita bicara di dalam saja!”

Cau-ji tertawa terbahak-bahak, bersama ketiga nona, ia ikut di belakang Tong San-kok masuk

ke ruang baca di halaman belakang.

Setelah mengunci pintu, Tong San-kok berlutut sambil menyembah, katanya dengan penuh

rasa hormat, “Hamba Tong San-kok menjumpai Tongcu”

“Bangunlah!”

“Terima kasih Tongcu!”

“Sudah mendapat kabar tentang si Manusia pelumat mayat?” tanya Cau-ji dengan suara dalam.

“Lapor Tongcu, pagi tadi si Manusia pelumat mayat telah membunuh Chan-hukaucu serta

belasan orang jago lihai dari perkumpulan kita, saat ini dia sedang bersembunyi dalam sebuah gua

di atas gunung Lok-ka-san.”

“Ooh, sudah dikirim orang untuk menguntit jejak mereka?”

“Soal ini….”

Cau-ji tahu, pasti mereka tak berani menguntit si Manusia pelumat mayat, maka setelah

tertawa dingin ujarnya lagi dengan suara dalam, “Apakah kejadian ini sudah dilaporkan ke markas

pusat?”

“Sudah dan Kaucu memutuskan akan turun gunung sendiri, dia tak percaya tak mampu

menangkap dan membunuh Manusia pelumat mayat!”

Kejut dan gembira perasaan Cau-ji mendengar perkataan itu, setelah termenung beberapa

saat, tanyanya, “Apakah pihak sembilan partai besar sudah mulai melakukan tindakan terhadap

markas besar Tay-ke-lok”

“Benar, menurut laporan, selain sembilan partai besar, pihak Kay-pang pun ikut bergabung

dalam barisan ini. Hingga sekarang sudah ada ribuan rumah judi yang dipaksa untuk tutup usaha!”

“Apakah pihak kita banyak jatuh korban?”

“Berkat doa restu Kaucu, bukan saja tak ada korban yang berjatuhan di pihak kita, bahkan

menggunakan kesempatan ini kita berhasil menarik banyak sobat kalangan Hek-to untuk

bergabung dalam perkumpulan kita!”

“Hehehe, bagus sekali! Bila saatnya sudah tiba, akan kusuruh kaum yang menganggap dirinya

sebagai orang-orang bersih itu mendapat pembalasan yang setimpal!”

“Betul! Kaucu telah menurunkan instruksi, kita bersiap menyerang pihak Siau-lim-pay lebih

dulu!”

Diam-diam Cau-ji sangat terkejut, tapi penampilannya tetap dijaga tenang, katanya dengan

suara dalam, “Bagus sekali, sekarang kau boleh pergi, malam ini aku akan bermalam di sini!”

“Baik, hamba segera akan memerintahkan orang untuk menyiapkan kamar!”

Sepeninggal Tong San-kok, Siang Ci-ing segera berseru dengan cemas, “Adik Cau, pihak Siaulim-

pay punya hubungan yang sangat akrab dengan Liong-ing-hong kami. Bila Jit-seng-kau sudah

memutuskan akan menyerang Siau-lim-si lebih dulu, kemungkinan besar kakak Liong akan

menghadapi bahaya juga.”

“Ehm! Jagoan yang dimiliki Jit-seng-kau memang banyak dan rata-rata licik penuh tipumuslihat,

dalam hal ini kita harus lebih waspada.”

“Adik Cau,” sela Suto Si, “apakah perlu kita berangkat ke sana untuk membantu mereka?”

“Ehm, besok kalian boleh berangkat duluan! Sementara Siaute akan tetap tinggal di sini

menanti gerakan berikut yang dilakukan pihak Jit-seng-kau.”

Ketiga gadis itu manggut-manggut tanda setuju.

Begitulah selesai berbincang, keempat orang itu-pun kembali ke dalam kamar untuk

beristirahat.

Keesokan harinya, setelah mengantar kepergian ketiga gadis itu, baru saja Cau-ji kembali ke

ruang tengah, Tong San-kok sudah muncul sambil berbisik, “Tongcu, pagi tadi Liu-toaya telah

mengirim orang kemari, apakah kau bersedia menemui dirinya?”

“Ooh, si gendut ingin mencari kembali mukanya?”

“Tidak! Tak nanti ia punya nyali sebesar itu. Selama banyak tahun ia bisa hidup tenang di sini

sambil membuka usaha perjudian dan pelacuran, siapa lagi yang mendukung mereka secara diamdiam

kalau bukan perkumpulan kita!”

“Oh, orang itu sudah pergi?”

“Belum, hamba segera akan mengundangnya masuk.”

Beberapa saat kemudian Tong San-kok telah muncul kembali di hadapan Cau-ji sambil

membawa seorang lelaki bertubuh kekar.

Begitu bertemu Cau-ji, lelaki itu segera memberi hormat seraya berkata, “Ho Thay-hay,

Congkoan keluarga Liu menjumpai Kongcu!”

Cau-ji manggut-manggut, katanya dengan suara dalam, “Ada urusan apa sepagi ini sudah

muncul di sini?”

“Tidak berani, hamba mendapat perintah Toaya untuk mengundang Kongcu berkunjung ke

gedung keluarga Liu siang ini, entah apakah Kongcu bersedia memberi muka?”

Sambil berkata ia mengeluarkan selembar kartu undangan berwarna merah kekuning-kuningan

dari sakunya.

Tong San-kok segera menerimanya, lalu dipersembahkan ke tangan Cau-ji.

Begitu dibuka, benar saja ternyata selembar kartu undangan. Maka Cau-ji pun menyahut, “Bila

Liu-toaya sudah menyatakan niatnya, masa Cayhe harus menampik?”

Sembari berkata ia serahkan kembali surat undangan itu ke tangan Tong San-kok.

“Kongcu harap menunggu sebentar, akan hamba siapkan hadiah sekedarnya.”

Sambil berkata dia pun berteriak, “Siau-sian, Siau-tiam!”

Dua gadis cantik berbaju kuning segera muncul di hadapan Cau-ji sambil membawa tiga buah

nampan.

Mau tak mau Cau-ji harus merasa kagum juga dengan cara kerja Tong San-kok yang

berpengalaman, setelah mengangguk, diiringi Ho Thay-hay dia pun memasuki tandu indah yang

sudah menanti di depan pintu dan berangkat menuju gedung keluarga Liu.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian Cau-ji telah tiba di depan sebuah pintu gerbang

bangunan mentereng.

Baru turun dari tandu, terdengar seseorang telah berseru sambil tertawa nyaring, “Hahaha,

menyambut dengan gembira kedatangan Kongcu ke rumah kami.”

Cau-ji memandang sekejap ke arah Liu-toaya yang telah berdiri menyambut di samping pintu,

kemudian katanya sambil tertawa, “Mendapat undangan dari Liu-toaya, mana berani aku tidak

datang!”

“Hahaha, Liu Su-pin tidak berani, silakan masuk!”

Setelah memasuki halaman luar yang luas, indah dan berbau harum, Cau-ji memasuki ruangan

gedung utama. Begitu melangkah dia pun melihat ada enam perempuan cantik berusia antara

dua-tiga puluh tahun berdiri menyambut kedatangannya dengan senyum manis menghiasi

bibirnya.

Cau-ji tahu keenam wanita itu sudah pasti para istri dan gundik Liu Su-pin, tak heran Tong Sankok

menyediakan enam buah nampan kado.

Maka setelah kedua belah pihak saling memberi hormat, dia pun segera memberi tanda kepada

Siau-sian dan Siau-tiam.

Kedua gadis itu tersenyum penuh arti, cepat mereka membagikan keenam nampan itu kepada

keenam wanita itu, kemudian baru berdiri kembali di belakang Cau-ji.

Begitu keenam wanita itu membuka nampan yang diterima, serentak mereka menjerit kaget.

Agaknya Liu Su-pin pun sudah melihat benda yang berada dalam nampan itu, dengan gugup

buru-buru serunya, “Kongcu, kadomu kelewat mahal dan berharga”

“Hahaha, orang bilang permata hanya cocok untuk wanita cantik, apa aku salah kalau

menghadiahkan intan permata yang mahal harganya untuk keenam istrimu yang cantik molek bak

bidadari dari kahyangan!”

Habis berkata dia melirik sekejap keenam wanita cantik itu satu per satu.

Dipandang seperti itu oleh Cau-ji, tak kuasa lagi keenam wanita cantik itu merasakan

jantungnya berdebar keras, berdebar saking gembiranya.

Liu Su-pin sendiri pun merasa sangat kegirangan setelah melihat keenam bininya mendapat

hadiah semahal itu, dengan perasaan girang buru-buru serunya, “Kui-hoa, cepat ambilkan pedang

pendek itu!”

“Toaya, apakah kau akan menghadiahkan pedang To-liong-kiam itu untuk Yu-kongcu?” tanya

Toa-hujin Kui-hoa kegirangan.

“Hahaha, sejak dulu, pedang mestika hanya pantas untuk pendekar sejati. Bukankah Yu-kongcu

telah memberi hadiah mahal untuk kalian, masa kita harus kikir terhadapnya?”

Selesai bicara, kembali ia tertawa terbahak-bahak.

Sambil tertawa girang Kui-hoa kembali ke kamarnya, tak lama kemudian ia muncul kembali

sambil membawa sebilah pedang pendek yang bentuknya sangat antik, pedang itu segera

diserahkan ke tangan Liu Su-pin.

Liu Su-pin pun menyerahkan pedang pendek itu ke tangan Cau-ji.

Dengan sekali gerakan Cau-ji mencabut pedang pendek itu dari sarungnya … “Criiing!”, diiringi

dentingan nyaring, seluruh ruangan seketika terbungkus oleh hawa pedang yang dingin

menggidikkan.

“Pedang bagus!” puji Cau-ji tanpa terasa, “Liu-toaya, aku merasa kurang pantas menerima

hadiah pedang mestika yang begini berharga.”

“Hahaha, To-liong-kiam sudah tiga generasi tersimpan dalam keluarga Liu kami tanpa mampu

melakukan prestasi maupun reputasi apa pun, kali ini terpaksa aku minta bantuan Lote

mencemerlangkan nama besar senjata ini… hahaha”

“Baiklah, kalau Toaya memang berkata begitu, biarlah Cayhe terima hadiah ini, terima kasih.”

Sambil berkata ia masukkan kembali pedang itu ke dalam sarung.

Siau-sian pun segera menggantung senjata itu di pinggang kanannya.

Tak terkiranya rasa gembira Liu Su-pin melihat hadiahnya diterima sang tamu, cepat dia

perintahkan orang menyiapkan perjamuan dan mengajak Cau-ji menuju ke halaman paling

belakang.

Sementara itu Siau-sian dan Siau-tiam pun masing-masing memperoleh sebuah kado.

Setelah menghabiskan arak beberapa poci, suasana dalam ruangan mulai menjadi hangat.

Selama ini Liu Su-pin memang selalu menuruti perkataan Tong San-kok, begitu melihat orang

she Tong itu begitu menaruh hormat dan jeri terhadap tamunya, ia segera tahu orang ini pasti

mempunyai asal-usul luar biasa, itulah sebabnya ia berusaha mencari kesempatan untuk

mengambil hati pemuda ini.

Begitu melihat cara Cau-ji minum arak dan berbicara, dia segera tahu pemuda ini pasti senang

juga mencari “hiburan”, satu ingatan pun melintas dalam benaknya.

Cepat dia mengulap tangan kanannya, kawanan dayang yang hadir dalam ruangan pun segera

mengundurkan diri dari tempat itu.

Agaknya Kui-hoa mengerti apa yang dipikir suaminya, sambil mengangkat cawan dia pun

berseru manja, “Kongcu, mari kita bersulang satu cawan.”

“Hahaha, tak nyana takaran minum Hujin luar biasa,” sahut Cau-ji sambil menggeleng, “mana

boleh hanya secawan, mari, mari, kuhormati tiga cawan arak untukmu.”

“Betul,” sela Liu Su-pin pula, “kurang hormat kalau bukan tiga cawan, harus memakai cawan

besar.”

“Hahaha, bisa mabuk kalau tiga mangkuk besar,” seru Kui-hoa sambil tertawa, meski berkata

begitu sekaligus ia teguk habis tiga cawan besar arak wangi.

Begitu arak mengalir ke dalam perutnya, warna merah seketika melapisi kulit mukanya yang

cantik, apalagi diimbangi kerlingan matanya-yang genit, sungguh membikin orang mendesah

penuh napsu.

Jihujin Ciu-lian tak mau kalah, segera serunya manja, “Yu-kongcu, aku pun harus

menghormatimu dengan tiga cawan arak!”

Cau-ji sengaja berseru kepada Liu Su-pin, “Toaya, kau mesti membantu aku menghabiskan isi

cawan ini!”

“Tidak bisa begitu Kongcu ….” sela Ciu-lian semakin genit, “tadi kau layani Toaci dengan tiga

cawan arak, masa kali ini kau tak mau melayani permintaanku, apakah tak pandang mata

kepadaku?”

Liu Su-pin ikut tertawa tergelak.

“Hahaha, Lote, bukannya Loko tak mau membantu, tapi apa yang dia katakan masuk akal

juga!”

“Hahaha, baik, baik, rasanya kali ini harus minum sampai mabuk. Ayo bersulang!”

Sekaligus dia menghabiskan lima belas mangkuk besar arak wangi.

“Sekarang tentunya Hujin sekalian merasa puas bukan?” seru Cau-ji kemudian.

Keenam perempuan cantik itu tidak menyangka kalau tamunya mempunyai takaran minum

yang hebat, di tengah suara cekikikan ramai terdengar Kui-hoa berseru, “Kongcu, seharusnya kau

pun minum beberapa cawan dengan Toaya kami!”

Cau-ji memandang wajah Liu Su-pin, lalu berlagak takut, serunya, “Wah, Siaute tak berani,

coba lihat takaran minum Toaya, Siaute menyerah sajalah!”

Tak terkira rasa gembira Liu Su-pin, kontan ia tertawa terbahak-bahak.

“Tidak bisa begitu,” Samhujin Giok-ho berseru pula manja, “Toaya, kau harus menghormati

Kongcu dengan beberapa cawan arak!”

“Hahaha, betul, betul, sudah seharusnya, Lote, mari kita bersulang beberapa cawan arak.”

“Hahaha, Toaya, tak kusangka kau bisa adil memimpin semua bini-binimu, ayo bersulang!”

Kawanan wanita itupun bertepuk tangan riuh rendah, memberi semangat kepada kedua pria

itu.

Dalam waktu singkat kedua orang telah menghabiskan enam mangkuk arak, selesai itu mereka

saling pandang sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kui-hoa,” seru Liu Su-pin kemudian sambil tertawa, “kalian harus membuat acara yang

menarik untuk menghibur tamu istimewa kita!”

“Hihihi, Toaya ingin acara apa?”

“Lote, kau saja yang sebut, ingin tampil acara seperti apa?”

“Hahaha, Hujin sekalian bukan cuma cantik bak bidadari, suaranya pun merdu bagai kicauan

burung nuri, bagaimana kalau menyanyi sambil menari?”

“Hahaha, ternyata Lote memang tajam matanya, menari sambil bernyanyi memang keahlian

kami, ayo dimulai!”

“Baik!”

Setelah keenam wanita itu berdiri, Kui-hoa bersandar di sisi Liu Su-pin sementara Ciu-lian

bersandar di sisi Cau-ji. Kedua orang itu setelah saling pandang sambil tertawa, mulai bernyanyi:

“Kekasih, oh kekasih, tak terlupakan nyanyian mabuk di tengah malam itu. Kekasih, oh kekasih.

Bagaimana mungkin kulu-pakan ciuman mesra di tengah malam yang memabukkan.

Begitu banyak kupu-kupu mati karena bunga, begitu banyak kupu-kupu hidup karena bunga.

Tetapi aku mengorbankan nyawa demi kekasih hati.

Kekasih, oh kekasih, tak akan kulupakan ciuman hangatmu”

Keempat perempuan lainnya segera meliukkan pinggang sambil membusungkan dada,

membawakan tarian erotik.

Diam-diam Liu Su-pin memberi kedipan mata kepada kawanan perempuan itu, kemudian sambil

merangkul Kui-hoa dia beranjak pergi dari dalam ruangan.

Sambil menyanyi Ciu-lian menempelkan tubuhnya semakin rapat di tubuh Cau-ji, sedang

keempat wanita lainnya mulai melucuti pakaian sendiri satu per satu sebelum akhirnya benarbenar

dalam keadaan bugil.

Menghadapi adegan seperti ini, kontan Cau-ji merasakan darah panas yang mengalir dalam

tubuhnya mendidih, seluruh badan serasa dibakar api yang membara.

Dalam pada itu Ciu-lian sambil menyanyi, tangannya tak pernah berhenti, dia mulai melepas

baju yang dikenakan Cau-ji satu per satu.

Tatkala semua baju sudah terlepas dan ia menemukan ‘tombak panjang’ milik Cau-ji berdiri

tegak dengan gagah beraninya, kontan perempuan itu menjerit keras, nyanyiannya terhenti

seketika.

Dengan penuh rasa ingin tahu keempat perempuan yang lain ikut datang melongok, begitu

tahu apa yang terpampang di depan mata, kontan tubuh semua orang gemetar keras, gemetar

saking girangnya.

Tak selang beberapa saat kemudian kelima perempuan dan seorang lelaki itu sudah pulih

kembali dalam keadaan zaman kuno, bugil tanpa sehelai benang pun.

Melihat mimik wajah kelima cewek yang mulai terbakar napsu birahi itu, Cau-ji pun bertanya

sambil tersenyum, “Jangan-jangan Liu-toaya jarang sekali menyentuh kalian berlima? Kalau tidak,

masa sikap kalian jadi begitu kelaparan?”

Merah jengah wajah kelima wanita itu, untuk sesaat mereka tak mampu berkata-kata.

Akhirnya Ciu-lian yang menanggapi, sahutnya lirih, “Toaya tak pernah kurang perhatian, apalagi

sampai tak pernah menjamah kami. Hanya saja … “barang” miliknya kelewat pendek dan kecil, tak

tahan lama lagi, jadi kami…”

Bicara sampai di situ, wajahnya seperti memperlihatkan rasa sedih dan pilu yang mendalam.

Cau-ji tersenyum penuh arti.

“Sejak dulu hingga sekarang, kehidupan materi dan kehidupan seks memang selalu saling

bertolak belakang, tak mungkin seseorang bisa mendapat keduanya sekaligus, jalan pikiran kalian

harus lebih terbuka!”

Berubah hebat paras muka kelima perempuan itu mendengar ucapan itu.

“Kongcu, masa kau tega” seru Ciu-lian dengan suara gemetar.

Cau-ji tertawa terbahak-bahak, sambil memuntir puting susu sebelah kanannya dia berkata,

“Kita bisa bersua berarti memang punya jodoh, selewat hari ini entah sampai kapan kita baru bisa

berkumpul kembali. Tentu saja Siaute berharap kalian bisa memainkan peran sebagai nyonya Liu

dengan baik.”

Kelima wanita itu menghembuskan napas lega, mereka pun mengangguk tanda mengiakan.

Sambil berdiri, kembali Cau-ji berkata, “Waktu sangat berharga, kita akan bermain dengan cara

apa?”

Ciu-lian melirik keempat rekannya sekejap, kemudian katanya, “Kongcu, sampai hari ini kami

lima bersaudara belum pernah melihat barang sebesar itu, bagaimana kalau kau membiarkan kami

mencicipi dulu kehebatan barangmu satu per satu?”

“Hahaha, bagus, bagus, semua mendapat bagian yang sama. Sana, persiapkan diri lebih dulu!”

Dengan kegirangan kelima perempuan itu masing-masing mencari tempat dan memasang gaya

sendiri untuk bersiap menyambut kedatangan sang kenikmatan.

Cau-ji berjalan menghampiri pembaringan, ia lihat Cun-tho dan Tong-bwe sudah berbaring di

atas ranjang sambil mengangkat kedua kakinya lebar-lebar, mereka membiarkan lubang surganya

menonjol begitu jelas di hadapan pemuda itu.

Mula-mula Cau-ji mengangkat dulu sepasang kaki Cun-tho, lalu tubuhnya langsung ditekan ke

bawah, sang tombak panjang pun langsung menusuk masuk ke dalam liangnya yang sempit dan

kencang.

“Aduuh …!” terdengar perempuan itu mengaduh.

“Aneh, kenapa punyamu masih begitu rapat?” tanya Cau-ji keheranan.

Agak tersipu-sipu sahut Cun-tho, “Ah, sejak selaput perawanku dimakan Toaya, selama tujuhdelapan

tahun terakhir belum pernah bersentuhan lagi dengan si ular berbulu, tentu saja

kepunyaanku masih rapat dan kencang!”

“Hahaha, rupanya begitu. Ah betul, masa kau belum pernah melahirkan?”

“Belum pernah, kami enam bersaudara tak pernah ada yang melahirkan!”

Cau-ji tahu masalahnya pasti muncul dari tubuh Liu Su-pin, bisa jadi lantaran dia kelewat

banyak meniduri perempuan hingga Thian menghukumnya dengan tidak diberi keturunan.

Dalam waktu singkat ia sudah menghujamkan senjatanya berulang kali dalam lubang Cun-tho,

kemudian ia cabut tombaknya dan berganti menusuk lubang milik Tong-bwe.

Keadaan Tong-bwe tak ubahnya seperti bayi yang sedang kelaparan, tanpa peduli lubangnya

terasa perih dan sakit, dengan sekuat tenaga dia memutar dan menggoyang tubuhnya, berusaha

mengimbangi tusukan lawan untuk mencapai orgasme.

Ketika Cau-ji mulai memutar tombaknya dengan menindih tubuh Soat-kiok yang sedang

bersandar di tepi bangku, perempuan itu seakan kehilangan sukma, untuk sesaat dia hanya bisa

termangu-mangu.

Sampai Cau-ji sudah merondai sekujur badannya satu putaran, pemuda itu baru menyadari

kalau perempuan yang sedang dinaiki berada dalam keadaan kebingungan, maka sekali lagi dia

tusukkan tombak panjangnya ke dalam liang itu dan membenamkan dalam-dalam.

Saat itulah Soat-kiok baru seolah tersadar kembali, saking girangnya dia menangis.

Tak tega melihat keadaan perempuan itu, dengan penuh kasih sayang Cau-ji mulai menggenjot

badannya naik turun berulang kali, bahkan setiap kali tombaknya terbenam, dia selalu

menggesekkan kepala tombaknya di dasar lubang perempuan itu, Soat-kiok saking nikmatnya

sampai seluruh badan gemetar keras.

Bagaikan orang kalap perempuan itu mulai memutar dan menggoyang badannya ke sana

kemari….

Tak selang beberapa saat kemudian akhirnya dia mencapai puncak orgasme. Puncak

kenikmatan yang luar biasa, seolah bendungan air yang dijebol oleh air bah.

Saking girangnya sambil melelehkan air mata, ia bergumam dan menyebut ‘Kongcu, Kongcu”

tiada hentinya.

Cau-ji mencabut tombaknya dan kali ini dia menghampiri Cun-tho, mula-mula sepasang kaki

perempuan itu dinaikkan dulu ke atas bahunya, kemudian setelah menarik napas panjang ia

hujamkan senjatanya ke dalam liang perempuan itu dan mulai melancarkan serangkaian tusukan

berantai.

Ratusan kali tusukan kemudian, Cun-tho mulai terangsang hebat, jeritnya berulang kali, “Ooh

… ooh … Kongcu … Kongcu … aduh … Kongcu sayangku … aduh … nikmatnya … mati aku”

Tak tahan dia mulai menggoyang badannya secara jalang dan liar…

Akhirnya diiringi jeritan lengking, dia pun mencapai puncak kenikmatan.

Dengan penuh kelembutan Cau-ji membaringkan badannya ke atas ranjang, kemudian dia

rangkul pinggang Soat-kiok, dengan jurus Li-san-ki-hwe (membelah bukit menyulut api)

senjatanya ditusukkan ke dalam liang perempuan itu dan menghujamnya berulang kali.

Bunyi gesekan bergema tiada putusnya, suara cairan kental yang bergesek dengan cairan …

sementara lelehan cairan putih menggenangi lantai.

Di saat seluruh permukaan mulai basah kuyup oleh cairan, dia pun mulai mengerang

kenikmatan … mengerang karena mencapai puncaknya ….

Kini giliran Giok-ho yang memilih bersandar di atas bangku, tatkala tombak panjang Cau-ji

mulai menusuk liang surganya, dengan cepat pinggulnya menjepit kuat-kuat senjata lawan

kemudian sekuat tenaga menggeseknya ke atas bawah.

“Plok … plok’ bunyi nyaring bergema dalam ruangan.

Cau-ji sendiri nampaknya mulai bernapsu, dengan cepat tangannya mulai meremas sepasang

payudara yang putih kencang, sementara tombaknya ditusukkan semakin ganas.

Ratusan kali tusukan kemudian Giok-ho mulai merintih keras, mengerang karena nikmat.

Ciu-lian yang menyaksikan kejadian itu kegirangan setengah mati, cepat ia tidur telentang,

sepasang kakinya dipentang lebar-lebar, pintu gerbang sudah dibuka siap menanti kedatangan

sang tamu agung.

Ternyata memang tidak membuatnya kecewa, selang beberapa saat kemudian Cau-ji telah

berhasil menombak Giok-ho di atas bangkunya, bahkan dengan satu gerakan cepat pemuda itu

sudah mencabut senjatanya dan berganti menusuk liang Ciu-lian.

“Aduuh mak! Nikmat… nyaman” jerit Ciu-lian penuh rangsangan.

Sepasang kakinya langsung saja melingkar dan menjepit pinggang Cau-ji, kemudian dengan

gerakan penuh napsu dia menggeser badannya mengimbangi gerak tusukan lawannya.

Di saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, dengan satu gerakan cepat Kui-hoa telah

menyelinap masuk ke dalam ruangan.

Begitu berhasil membuat keok Liu Su-pin, menggunakan kesempatan di kala lelaki itu tertidur

pulas, diam-diam ia mengeluyur balik ke ruang sebelah, rencananya mau ikut mencicipi kado

istimewa itu.

Apalagi ketika ia selesai memeriksa Tong-bwe berempat dan menyaksikan tubuh bagian bawah

mereka basah oleh cairan lendir pekat bahkan tertidur dengan senyum dikulum, hatinya semakin

tegang.

Mengapa ia jadi tegang?

Ternyata setelah Kui-hoa menyaksikan rekan-rekannya tertidur dengan penuh kepuasan, dia

mulai kuatir, takut kalau Cau-ji keburu tak mampu menahan diri dan terlepas duluan, bukankah

kalau sampai begitu dia bakal kecewa berat dan hanya bisa mengisap jari sendiri?

Oleh sebab itu dengan gerakan paling cepat dia lucuti semua pakaian yang dikenakan,

kemudian dengan waswas mengawasi pertempuran yang sedang berlangsung antara Cau-ji

melawan Ciu-lian.

Tatkala sorot matanya tertumbuk pada tombak panjang Cau-ji yang begitu panjang, besar dan

kasar, detak jantungnya kontan berdebar sangat kuat, begitu kuatnya nyaris mau melompat

keluar, liang milik sendiri pun mulai terasa gatal dan linu, gatal yang tak tertahankan.

Dalam keadaan begini, terpaksa ia gunakan jari tangan sendiri untuk menghibur liangnya yang

gatal, menghibur diri sambil menunggu giliran.

Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat Ciu-lian takluk, saat itulah dengan agak tersipu ia

berteriak, “Kongcu, masih ada aku yang belum dapat giliran!”

Sambil berseru ia mulai membaringkan diri sambil memasang gaya.

Di saat tombak Cau-ji mulai menerjang masuk ke dalam liangnya, seketika itu juga ia

merasakan liangnya begitu bengkak dan sakit, tak tahan jeritnya, “Aduuh mak, besar amat!”

“Hahaha, ketakutan?”

“Hihihi, siapa takut? Makin besar makin mantap!”

Maka pertempuran sengit pun kembali berkobar.

Bagaikan lupa diri Cau-ji mulai menyerang, menusuk dan memutar dengan ganasnya ….

Sampai akhirnya Kui-hoa menjerit karena nikmat, Cau-ji baru bangkit berdiri, mengambil

selembar handuk dan mulai membersihkan peralatannya.

Kemudian setelah mengenakan kembali pakaiannya, dengan menggembol pedang To-liongkiam

ia tinggalkan gedung milik keluarga Liu.

Waktu itu jam menunjukkan sekitar shen-si (sekitar jam lima sore), ia pun bergumam, “Ai,

bagaimana pun perempuan yang tak tahu ilmu silat memang ketinggalan jauh dibandingkan

pesilat, masa enam perempuan tak bisa bertahan selama dua jam’

Habis berkata, dengan langkah lebar dia kembali ke rumah makan.

Pada saat itulah dari belakang tubuhnya, selisih beberapa kaki darinya muncul seorang gadis

berbaju putih, sewaktu mendengar gumaman pemuda itu, berkilat sepasang matanya, kemudian

secara diam-diam menguntit di belakangnya.

Ketika sorot matanya berhenti pada pedang To-liong-kiam yang tergembol di pinggang Cau-ji,

tubuh gadis itu nampak bergetar keras, lalu pikirnya, “Eh, bukankah pedang itu To-liong-kiam?

Kenapa bisa terjatuh ke tangan bajingan cabul ini?”

Ketika melihat Cau-ji memasuki rumah makan, ia nampak termenung sejenak, kemudian

terburu-buru meninggalkan tempat itu.

0oo0

Malam semakin kelam.

Deru angin malam berhembus amat kencang, sebagian penghuni kota sudah terlelap dalam

impian.

Cau-ji baru saja selesai bersemedi, ia merasakan tubuhnya segar dan enteng bagaikan sedang

terbang, sadarlah ia bahwa apa yang dikatakan Toasiok tak salah, pil mestika naga berusia seribu

tahun telah membantu tenaga dalamnya meningkat sangat pesat.

Pada saat itulah tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ujung baju tersampuk angin, tak tahan

pikirnya, “Sekarang malam sudah larut, kenapa masih ada Ya-heng-jin (orang berjalan malam)

yang lewat di tempat ini?”

Dengan sigap dia melompat turun dari ranjang, mengenakan pakaian dan tak lupa membawa

pedang.

Kelihatannya gerak-gerik Ya-heng-jin itu sangat hati-hati, coba kalau bukan Cau-ji memiliki

tenaga dalam yang sempurna, rasanya mustahil untuk mengetahui kehadiran pejalan malam itu.

Begitu dirasakan Ya-heng-jin itu sudah hampir tiba di depan jendela kamar, cepat pemuda itu

memusatkan perhatiannya, dia ingin tahu malaikat dari mana yang berani mendatanginya.

Terlihat bayangan hitam berkelebat, sesosok wajah setan berambut panjang telah muncul di

luar jendela, begitu seram wajahnya membuat ia terperanjat.

Saat itulah tiba-tiba ia mendengar orang itu berkata dengan suara sedingin es, “Penjahat cabul,

kalau berani ikuti aku?”

Habis berkata, kembali terlihat bayangan hitam berkelebat, dalam waktu singkat orang itu

sudah lenyap dari depan jendela.

Begitu berhasil mengendalikan diri, cepat Cau-ji mendorong jendela melongok keluar, terlihat

sesosok bayangan manusia sedang bergerak ke arah timur.

Terdorong rasa dingin tahu, dia pun segera melompat keluar ruangan dan membuntuti.

Sungguh cepat gerakan Ya-heng-jin itu, dalam waktu singkat ia sudah meninggalkan daerah

perkotaan menuju ke tanah alas, bahkan bayangan tubuhnya lenyap ketika tiba di depan halaman

sebuah bangunan yang amat besar dan luas.

Dengan seksama Cau-ji coba memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian pikirnya,

“Bangunan siapa ini? Kenapa membangun gedung semegah ini di tempat yang begini terpencil?”

Rupanya di sisi kanan bangunan gedung itu merupakan komplek tanah pekuburan yang tak

terawat, sejauh mata memandang hanya gundukan tanah berserakan, sementara di sisi kiri

merupakan sebuah kolam ikan yang luas.

Di bawah cahaya bintang yang berkedip, kilauan cahaya pantulan gemerlapan di atas

permukaan air.

Di depan bangunan megah itu tumbuh puluhan batang pohon Pek-yang setinggi empat-lima

depa, mengikuti hembusan angin bergema suara gemerisik nyaring guguran dedaunan.

Bangunan itu memang didirikan sangat aneh, dinding dan bangunannya dicat merah darah, tapi

sama sekali tak mirip sebuah kuil atau kelenteng, hal ini memberi kesan menyeramkan bagi yang

melihatnya.

Bukan saja bentuk bangunan itu sangat aneh, didirikan pula di tempat terpencil seperti ini,

mendatangkan kesan misteri dan aneh bagi siapa pun yang melihatnya. Membuat orang menduga

siapa gerangan yang berdiam di sana? Manusiakah? Atau setan gentayangan?

Biarpun Cau-ji memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, namun setelah melihat keadaan

sekeliling tempat itu, tak urung bergidik juga hatinya.

Baru saja dia hendak membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara

tertawa cekikikan berkumandang mengikuti hembusan angin malam.

Suara tertawa itu sangat merdu bagaikan suara keleningan, kalau menganalisa berdasarkan

suara tertawa itu, orang pasti akan membayangkan tawa merdu itu berasal dari seorang gadis

cantik bak bidadari dari kahyangan.

Tapi bila suara tawa seperti itu muncul di tempat sepi yang terpencil seperti ini, apalagi di

tengah malam buta, cekikikan merdu itu justru menambah suasana seram, ngeri, dan horor bagi

siapa pun yang mendengarnya, cukup membuat bulu roma orang bangun berdiri.

Terdengar suara tawa merdu mengalun bagaikan liiran air di sungai kecil, bergema tiada

putusnya.

Makin didengar, Cau-ji merasa semakin tak beres, akhirnya habis sudah kesabarannya,

diambilnya sebuah batu, lalu dengan mengerahkan tenaga dalam disambitkan ke arah asal suara

itu.

Padahal tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah luar biasa hebatnya, apalagi menyambit

dengan sepenuh tenaga, seketika terdengarlah suara desingan angin tajam membelah bumi, batu

itu langsung menghantam di atas batu nisan yang berada lebih kurang lima depa di hadapannya.

“Blaam!”, tiba-tiba suara tawa itu terputus di tengah jalan, perlahan-lahan dari belakang batu

nisan muncul sesosok bayangan putih, di bawah cahaya rembulan yang redup, selangkah demi

selangkah dia berjalan mendekat.

Makin lama bayangan putih itu semakin dekat, sekarang sudah dapat dilihat dia adalah seorang

perempuan berambut sepanjang punggung, bergaun putih, karena rambutnya menutupi wajah

maka sulit untuk melihat dengan jelas raut muka aslinya.

Kembali Cau-ji berpikir, “Masa di kolong langit benar-benar terdapat setan dan roh

gentayangan?”

Berpikir begitu, sambil menghimpun tenaga murninya ia membentak, “Siapa kau? Kalau tetap

berlagak seperti setan untuk menakuti orang, jangan salahkan bila Cayhe berlaku tak sopan!”

Suara bentakannya begitu nyaring bak suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, namun

perempuan berbaju putih yang berada di hadapannya itu seolah sama sekali tak mendengar, dia

tetap melanjutkan langkahnya maju.

Melihat hal ini, tak urung Cau-ji bergidik juga, badannya mulai gemetar.

Kini gadis berbaju putih itu sudah berada lebih kurang tiga depa di hadapannya.

Sambil berseru tertahan Cau-ji mengangkat tangan kanannya siap melancarkan bacokan, belum

lagi pukulan dilepaskan, tiba-tiba gadis berbaju putih itu mengangkat tangan kanannya dan

membelah rambut panjangnya yang menutupi wajahnya.

Begitu melihat tampang gadis itu, kontan Cau ji terkesiap sampai gemetar badannya, tanpa

sadar badannya mundur tiga langkah, belum lagi pukulannya di lancarkan, tangannya sudah

keburu lemas hingga tak mampu diangkat.

Tiba-tiba gadis berbaju putih itu tertawa terkokoh, kembali dia maju beberapa langkah, tangan

kirinya di ayun ke depan dan menyambar wajah Cau-ji dengan ujung bajunya.

Cau-ji membuang badannya ke belakang sambil mundur sejauh lima-enam kaki, dengan

cekatan dia menghindari datangnya sambaran itu.

Dia menarik napas panjang, sambil menghimpun tenaga dalam bersiap-siap, bentaknya,

“Sebenarnya kau ini manusia atau setan? Kalau berani maju lagi, jangan salahkan Cayhe akan

bertindak kasar.”

Kembali gadis berbaju putih itu menggoyang pinggulnya sambil melangkah maju, sekali lagi dia

menyingkap rambutnya dengan tangan kanan.

Tadi Cau-ji sempat melihat wajah anehnya yang mendebarkan hati, tentu saja ia tak berani

memandang lebih jauh, tangan kanannya diayun, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan.

Dengan cekatan gadis berbaju putih itu mangegos ke samping kemudian meluncur maju.

Mendadak dia membungkukkan pinggang, secepat sambaran petir kembali menerjang maju.

sementara tangan kanannya menyingkap rambutnya yang panjang, ujung baju tangan kirinya

sekali lagi menyambal wajah Cau-ji.

Melihat datangnya ancaman, pemuda itu imun bentak nyaring, dengan jurus Eng-hong-ki-long

(menyongsong angin menggempur ombak) dia lontarkan sebuah bacokan kilat.

Gadis berbaju putih berseru tertahan, mengikuti datangnya bacokan kilat itu cepat dia

melompat mundur.

Kembali Cau-ji membentak keras, sambil menghimpun tenaga mumi sekali lagi dia lepaskan

sebuah bacokan, pukulannya kali ini disertai dengan kekuatan yang luar biasa, bagaikan ombak

dahsyat yang menghantam batu karang, langsung menggulung tiada putusnya.

Tak terlukiskan rasa kaget gadis berbaju putih, sadar pukulan lawan tak terkirakan dahsyatnya,

cepat ia berjumpalitan di udara kemudian bergeser sekitar delapan kaki ke samping kiri.

Dengan tangan kiri melindungi dada sementara tangan kanan siap melancarkan serangan,

kembali Cau-ji membentak nyaring, “Siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu menyaru menjadi

setan gentayangan? Cepat mengaku!”

Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menyingkap lagi rambut panjangnya, diiringi tertawa cekikikan

dia menubruk maju.

Begitu melihat wajah jelek si nona yang dipenuhi bekas codet, tak tahan Cau-ji kembali

bergidik.

Sedikit perhatiannya terpecahkan, gadis berbaju putih itu telah menerkam ke samping

badannya.

Tergopoh-gopoh Cau-ji mundur dua langkah, baru saja akan menyerang tiba-tiba dilihatnya

gadis berbaju putih itu membalikkan badan sambil menyentilkan jari tangannya ke arah pemuda

itu.

Cau-ji segera mengendus bau harum yang aneh menyergap hidungnya.

la segera sadar kalau bubuk harum itu pasti sebangsa obat pemabuk, untuk mencari tahu

tujuan sebenarnya dari nona berbaju putih itu, dia pun berlagak keracunan, setelah mundur

sempoyongan badannya roboh ke tanah.

Gadis berbaju putih itu tertawa terkekeh, dengan lembut ia berjalan ke samping Cau-ji, lalu

sambil membungkukkan badan dia lepas pedang To-liong-kiam itu dari pinggang lawan.

Begitu pedang mestika itu dicabut dari sarungnya, sekilas cahaya dingin yang menggidikkan

seketika terpancar di balik kegelapan malam.

Baru saja dia akan menyarungkan kembali pedangnya, mendadak dari belakang tubuh gadis itu

muncul sebuah tangan yang besar dan kasar, dengan kecepatan luar biasa tangan itu

mencengkeram pergelangan tangan yang sedang menggenggam pedang itu.

Bersamaan itu terdengar seseorang berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Ternyata bubuk

pemabuk dari kelompok terhormat kaum bujangan memang bukan nama kosong, baru hari ini

mata Lohu benar-benar terbuka!”

Suara itu serak, selain serak terselip pula suara yang tak enak didengar.

“Lepas!” bentak nona berbaju putih itu sambil menumbuk dengan sikut kanannya.

“Hm, dasar budak binal, kerja Lohu setiap hari menangkap burung, masa kali ini kubiarkan

mataku dipatuk burung? Jangan harap kau bisa memanggil Cicimu untuk datang menolong!”

“Hehehe, mau tahu di mana Cicimu? Dia sudah tertotok jalan darahnya dan kusembunyikan di

suatu tempat, bila kau ingin mengangkangi pedang mestika ini seorang diri, hm! Jangan salahkan

kalau Lohu berhati keji!”

Rupanya nona berbaju putih itu tahu kalau serangan sikutnya tak bakal bisa melukai lawan,

maka di saat ia menyikut itulah dibarengi dengan suara bentakan nyaring, dia berniat mengirim

tanda bahaya untuk minta bantuan Cicinya.

Siapa tahu pihak lawan telah turun tangan lebih dulu dengan menotok jalan darah Cicinya.

Dalam keadaan begini, terpaksa sembari mengerahkan tenaga untuk melawan tekanan jari

yang makin kencang mencengkeram pergelangan tangannya, ia berkata dengan lembut,

“Lepaskan dulu cengkeraman-mu pada nadi pergelangan tanganku ini”

“Hehehe, percuma putar otak, Lohu sudah tahu kelompok bujangan macam kalian paling

banyak tipu-muslihatnya, kalau tahu diri, cepat serahkan sarung pedang To-liong-kiam itu

kepadaku!”

Habis berkata, ia menambah tenaga cengkeramannya satu bagian.

Kontan gadis berbaju putih itu merasakan hawa darahnya tersumbat, separoh badannya jadi

kesemutan dan mati rasa. la sadar bila berani melawan lagi niscaya jiwanya bakal melayang.

Terpaksa sambil menyodorkan sarung pedang itu ke belakang, teriaknya, “Terimalah!”

Oleh karena tak bisa berpaling, ia sodorkan sarung pedang itu lewat atas bahu kirinya. Padahal

ibu jari dan jari tengahnya sudah saling menempel, asal orang di belakang berani menyambut

sodoran sarung pedang itu, seketika dia akan menyentilkan bubuk pemabuknya.

Rupanya pihak lawan sudah mengetahui rencana ini, jengeknya sambil tertawa dingin, “Lohu

sudah tua, tak berani bersentuhan dengan tangan nona yang halus, silakan buang sarung itu ke

tanah, biar Lohu mengambilnya sendiri!”

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak jalan darah Jian-keng-hiat di bahunya terasa

kesemutan, belum lagi gadis itu sempat menjerit, tubuhnya sudah roboh terjungkal ke tanah.

Pedang pendek dalam genggamannya terjatuh ke tanah, bahkan nyaris menyambar wajah Cauji.

Diam-diam Cau-ji yang berlagak pingsan merasa amat terperanjat, cepat dia himpun tenaga

dalamnya ke jari tangan, menggunakan kesempatan di saat kakek itu membungkukkan badan

untuk memungut sarung pedang, tiba-tiba ia lancarkan sentilan.

Diiringi dengusan tertahan, kakek itu roboh terjungkal ke tanah.

Cau-ji segera mengenali kakek itu sebagai anggota Jit-seng-kau yang berhasil kabur dari rumah

makan Hong-hok-lau waktu itu, api amarahnya kontan berkobar, telapak tangan kanannya

diayunkan ke muka menghajar batok kepalanya.

“Aduuuh …!” diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, batok kepala kakek itu hancur

berantakan.

Nona berbaju putih itu semakin tercekat, begitu ngerinya sampai tak berani bersuara.

Selesai menyarungkan kembali pedang pembunuh naganya, Cau-ji baru berpaling memandang

si nona berbaju putih yang sedang berbaring di tanah, dari biji matanya yang berputar, dia tahu

nona itu sudah tertotok jalan darahnya.

Cau-ji masih jengkel karena gadis itu berani mempecundangi dirinya, setelah mendengus ia pun

membalik badan siap beranjak pergi.

“Eeeh, tunggu sebentar,” nona berbaju putih itu berteriak cemas.

“Ada apa?” biar menghentikan langkah, Cau-ji sama sekali tak berpaling.

“Mau … maukah kau membantu aku membebaskan pengaruh totokan?”

“Hm! Bukankah kelompok bujangan punya kulit setebal badak? Sudah mencelakaiku secara

diam-diam, sekarang masih punya muka untuk minta bantuanku?”

“Kau… pergilah!”

“Hahaha, kalau kau suruh aku pergi, aku justru tak mau pergi!”

Benar saja, begitu selesai bicara dia benar-benar berdiri di hadapan gadis itu sambil mengawasi

tubuh indahnya yang menawan itu dengan mata nakal.

Begitu menyaksikan permainan matanya yang nakal, kontan gadis berbaju putih itu teringat

dengan gumamannya sewaktu meninggalkan rumah keluarga Liu, membayangkan kemampuannya

melalap habis enam perempuan hanya dalam dua jam, tak pelak hatinya ngeri bercampur

ketakutan.

Tak tahan jeritnya, “Serigala rakus, cepat pergi!”

“Serigala rakus? Siapa itu serigala rakus?” tanya Cau-ji tertegun.

“Kau! Cepat pergi!”

Selama hidup belum pernah Cau-ji diumpat orang sekasar itu, dengan gusar teriaknya,

“Tunjukkan buktimu, kalau tidak, jangan salahkan aku benar-benar akan mempraktekkan

perbuatan serigala rakus!”

Gelisah bercampur ketakutan, kembali nona berbaju putih itu menjerit, “Kau berani!”

Cau-ji segera berjongkok di sisinya, lalu dengan tangan kanannya dia remas payudara sebelah

kanan gadis itu, sambil meraba, meremas dan mempermainkan puting susunya, dia mengejek,

“Lihat saja, aku berani tidak melakukannya!”

Belum pernah nona berbaju putih itu diperlakukan demikian oleh seorang lelaki, jeritnya

melengking, “Kau..”

Tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri. Cau-ji tertawa dingin.

“Dasar budak busuk yang belum tahu urusan dunia, berani amat mengumpatku sebagai

serigala rakus! Cuuh!”

Baru saja dia hendak menyadarkan nona itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang

membentak nyaring, “Jangan kau lukai adikku!”

Sambil berdiri Cau-ji berpaling ke arah orang itu.

Terlihat seorang gadis berbaju hitam muncul dari kejauhan, dalam waktu singkat dia sudah

muncul di arena, bahkan secara beruntun sepasang tangannya melepaskan pukulan berantai,

semua pukulan tertuju ke arah dua jalan darah penting di tubuh Cau-ji.

Begitu cepat serangan itu membuat siapa pun akan bergidik dibuatnya.

Melihat datangnya serangan yang begitu cepat dan sasaran jalan darah yang begitu tepat, Cauji

merasa terkesiap, sambil menghimpun tenaganya ke bawah, cepat dia menjatuhkan diri ke sisi

kiri.

Di saat tubuhnya belum berbaring, tangan kirinya dengan jurus Poh-liong-jut-hay (bertarung

naga di luar lautan) menerobos keluar dari belakang punggung, langsung mencengkeram urat

nadi pergelangan tangan kanan gadis itu.

Baru saja nona berbaju hitam itu melengak karena serangannya mengenai sasaran kosong,

belum sempat melihat jelas gerakan tubuh yang digunakan lawan untuk menghindari

serangannya, tahu-tahu urat nadi tangannya sudah dicengkeram lawan.

Buru-buru dia mengayun tangan kiri siap melancarkan bacokan lagi.

Cepat Cau-ji mengerahkan tenaga dalamnya, seketika nona berbaju hitam itu merasakan

peredaran darahnya tersumbat.

“Aduuuh …!” sambil menjerit kesakitan tubuhnya terjatuh ke tanah dalam keadaan lemas.

Cau-ji mencoba memperhatikan wajah orang itu, ternyata perempuan ini memiliki wajah yang

sangat jelek dan menyeramkan, pikirnya, “Heran, kenapa semua anggota kelompok bujangan

memiliki wajah begitu jelek?”

Tiba-tiba terdengar nona berbaju hitam itu membentak nyaring, “Lepas tangan!”

Cau-ji dapat merasakan kewibawaan yang terselip di balik bentakan itu, tanpa sadar ia

kendorkan tangannya.

Tanpa memandang sekejap pun ke arah Cau-ji, nona berbaju hitam itu langsung menghampiri

gadis berbaju putih, setelah diperiksa sejenak, ia tepuk tubuhnya beberapa kali, seketika nona

berbaju putih itupun tersadar kembali.

“Cici, bukankah kau pun sudah ditangkap orang?”

“Tidak ada masalah, ayo kita pergi!”

“Tapi Cici, Pedang pembunuh naga itu” seru si nona berbaju putih sambil melirik Cau-ji sekejap.

“Kita bicarakan lagi esok!”

Pada saat itulah secara lamat-lamat Cau-ji mendengar suara dengungan aneh berkumandang

dari balik halaman gedung, dengan pengalamannya yang luas, meski sudah mendengar suara

aneh pun dia sama sekali tak ambil peduli.

Agaknya nona berbaju hitam itupun sudah menangkap suara aneh itu, segera dia urungkan

langkahnya dan pasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama.

Terdengar suara dengungan itu makin lama semakin nyaring dan kuat, bahkan datang dari

empat penjuru.

Tampaknya gadis itu segera menyadari keadaan tidak beres, cepat dia pusatkan tenaga

dalamnya mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama.

Dalam waktu singkat dari balik kegelapan segera muncul beribu titik hitam yang terbang

mendekat dengan kecepatan tinggi.

Satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan terkesiap segera jeritnya, “Adikku,

hati-hati serangan lebah beracun!”

Cau-ji sendiri pun terkejut mendengar teriakan itu.

Tak selang beberapa saat kemudian ratusan ekor lebah beracun yang bentuknya sangat besar

dan aneh telah menerjang ke arah tubuhnya.

Cau-ji membentak keras, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke muka, di mana deru

angin pukulan dahsyatnya menyambar, puluhan ekor lebah beracun segera terhajar hancur dan

berguguran ke atas tanah.

Suara dengungan terdengar makin keras, puluhan lebah beracun kembali menyerang tiba.

Dalam keadaan begini, biarpun ketiga orang itu memiliki kungfu yang hebat pun tak urung

bergidik juga dibuatnya.

Sepasang tangan mereka bertiga diayunkan berulang kali, entah sudah berapa banyak lebah

beracun yang berhasil mereka tebas mati, tapi jumlah lebah beracun yang datang menyerang

beribu-ribu ekor jumlahnya, mati satu tumbuh seribu, bagaikan gulungan air bah menyerang

ketiga orang itu tiada putusnya.

Terpaksa Cau-ji bertiga harus mengerahkan segenap kekuatan untuk melindungi diri.

Cau-ji sama sekali tidak menyangka dirinya tanpa sebab sudah terjerumus dalam kepungan

barisan lebah beracun, dalam gelisahnya mendadak satu ingatan cerdik melintas dalam benaknya.

Cepat sepasang tangannya diayunkan berulang kali, memaksa gerombolan lebah beracun itu

terpental.

Menggunakan kesempatan itu cepat tangannya menyambar jubah sendiri dan “Breeet…!”,

merobeknya jadi dua bagian, dengan mengebaskan robekan pakaian itu kembali dia sapu

gerombolan lebah beracun itu.

Kali ini gerombolan lebah itu terdesak mundur.

Bahkan kawanan lebah beracun yang terkena sapuan pakaiannya seketika hancur lebur dan

mampus seketika.

Melihat usahanya membuahkan hasil, Cau-ji kegirangan, robekan bajunya diputar semakin

gencar.

Akibat gempuran yang bertubi-tubi ini, kawanan lebah itu mulai berganti sasaran, kini mereka

hanya menyerang kedua gadis itu saja.

Dengan sepenuh tenaga kedua gadis itu melancarkan pukulan bertubi-tubi, namun kepungan

kawanan lebah beracun makin lama makin bertambah ketat, dalam keadaan begini, sedikit

kesalahan atau sedikit kekuatannya surut, niscaya tubuh mereka akan disengat lebah itu.

Sadar akan mara bahaya yang mengancam kedua gadis itu, Cau-ji segera mengerahkan

tenaganya lebih besar lagi untuk menghalau kawanan lebah itu, bentaknya, “Cepat lepas pakaian

kalian!”

Kedua orang itu mendengus dingin, bukan saja tidak menggubris, mereka melanjutkan kembali

serangannya untuk melindungi badan.

Melihat betapa keras kepalanya mereka, sebetulnya Cau-ji ingin mengumpatnya dengan

beberapa patah kata pedas, tapi segera teringat olehnya kalau mereka adalah kaum wanita, mana

mungkin seorang gadis melepas pakaiannya di hadapan lelaki asing?

Berpikir begitu, diam-diam ia mengumpat kebodohan sendiri.

Setelah berhasil memukul mundur kepungan lebah beracun itu, bentaknya keras, “Sambut ini!”

Dia melemparkan sobekan bajunya ke arah nona berbaju hitam.

“Breeet…!”, lagi-lagi Cau-ji merobek pakaian dalamnya, kini dengan hanya mengenakan celana

dia menggempur kawanan lebah itu.

Kepada nona berbaju putih itu kembali teriaknya, “Cepat sambut robekan kain ini!”

Lagi-lagi dia lemparkan pakaian dalamnya kepada si nona.

Begitu memegang robekan kain, semangat kedua gadis itu kembali berkobar, mereka memutar

tangannya berulang kali, memaksa kawanan lebah itu tersapu dan tak sanggup lagi maju.

Cau-ji menghalau datangnya serangan dengan mengandalkan kedua belah tangan, sambil

membunuh kawanan lebah itu dia mulai mengawasi sekeliling tempat itu.

Ternyata kawanan lebah beracun itu yang besar ukurannya mencapai satu inci sedang yang

terkecil pun mempunyai ukuran setengah inci.

Kawanan lebah beracun yang datang menyerang makin lama semakin banyak, kekuatan

serangan pun makin lama semakin melebar, sejauh mata memandang sekeliling tempat itu seolah

dilanda kegelapan, gerombolan lebah itu begitu rapat, begitu berlapis, nyaris menyelimuti seluruh

angkasa. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan ekor.

Dalam pada itu si nona berbaju hitam pun sambil mengayunkan robekan pakaian sembari putar

otak, mencari akal untuk lolos dari kepungan. Pertarungan ini boleh dibilang merupakan

pertarungan paling hebat yang dihadapinya sepanjang hidup, biarpun dia cerdas dan banyak akal

muslihat toh untuk sesaat dibuat kelabakan juga.

Tak jelas berapa juta ekor lebah beracun yang melancarkan serangan saat ini, bertarung

dengan cara seperti inipun tak jelas akan bertarung hingga kapan, asal salah sedikit kurang

waspada, tubuh sendiri bisa tersengat lebah beracun yang bisa menyebabkan kematian.

Betul pertahanan mereka saat ini sangat rapat dan kuat, namun sangat menghabiskan tenaga

dan kekuatan, cepat atau lambat pada akhirnya bakal rontok juga.

Berpikir sampai di sini tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah pemuda tampan yang berada di

sisinya, dilihatnya pemuda ini meski turun tangan dengan garang namun sama sekali tak nampak

kelelahan, malah sebaliknya semakin bertarung makin perkasa, hal ini kontan membuatnya

tercengang dan keheranan.

Sambil memutar robekan baju, diam-diam gadis ini mulai mengawasi gerak-geriknya.

Tatkala sinar matanya membentur pedang pembunuh naga yang tergeletak di tanah, tergerak

hati gadis berbaju hitam itu, pikirnya, “Andai kuajarkan ilmu pedang pembunuh naga kepadanya,

dengan tenaga dalam yang dimiliki rasanya tak susah membantai habis kawanan lebah beracun

ini, tapi..’

Rupanya dia sedang mempertimbangkan, seandainya Cau-ji adalah penjahat, bukankah

mengajarkan ilmu silat tangguh kepadanya sama artinya seperti harimau diberi sayap, siapa yang

akan mengatasinya di kemudian hari bila dia semakin jahat?

Tiba-tiba terdengar suara dentingan khim mengiringi suara suitan yang amat tak sedap

didengar berkumandang datang dari dalam halaman gedung.

Lebah beracun yang berada di empat penjuru jadi semakin kalap dan menyerang habis-habisan

ke arah ketiga orang itu begitu suara khim dan suitan aneh itu bergema, situasi makin lama

semakin gawat.

Terlihat lebah-lebah beracun itu ada yang terbang rendah nyaris menempel tanah, ada pula

yang menyerang dari tengah udara, mereka mengurung sekeliling tempat itu lapis demi lapis,

begitu barisan depan rontok, barisan belakang segera menggantikan, suasana saat itu benarbenar

amat tegang.

Biarpun sapuan baju yang dilakukan kedua orang itu amat dahsyat, tapi sayang kumpulan

lebah beracun itu makin lama semakin banyak, bahkan serangan yang dilakukan pun makin ganas

dan dahsyat, tak urung bergidik juga perasaan nona berbaju hitam.

Cau-ji mengayunkan tangan berulang kali melancarkan babatan dahsyat, lambat-laun dia

berhasil mendesak mundur kawanan lebah itu, baru saja melirik ke samping, tiba-tiba hatinya jadi

amat cemas, rupanya ada dua ekor lebah beracun yang menerjang dari tengah udara, langsung

mengancam kepala nona berbaju putih itu.

“Hati-hati nona!” segera bentaknya.

Sepasang tangannya diayunkan berulang kali, dua ekor lebah beracun itu seketika terhajar

mampus.

Biar begitu, tak urung kedua nona itu ketakutan juga hingga bermandikan keringat dingin.

Siapa tahu gara-gara Cau-ji harus turun tangan menolong orang, pertahanan sendiri seketika

muncul lubang kelemahan, tiba-tiba terlihat ada tiga ekor lebah yang terbang langsung ke arah

kepalanya.

“Hati-hati kepalamu,” jerit si nona berbaju hitam.

Terlambat, dengan cepat lebah beracun itu telah mendekati batok kepalanya.

Siapa sangka baru saja ketiga ekor lebah itu berada beberapa inci di atas kulit kepala Cau-ji,

tiba-tiba saja binatang kecil itu mencelat ke udara lalu rontok ke tanah, mampus!

Rupanya ketiga lebah tadi telah terpencal hingga mati karena terkena pancaran tenaga dalam

Im-yang-kang-khi yang memancar keluar secara otomatis.

Cau-ji sendiri pun tidak tahu apa sebabnya bisa begitu, buru-buru dia mengayunkan kembali

tangannya menyapu serbuan lebah beracun itu.

Setelah tertegun sejenak, buru-buru nona berbaju hitam itu berbisik, “Kongcu, cepat lolos

pedang To-liong-kiam, dengarkan kupasan jurus pedang dariku.”

Mendengar itu, Cau-ji pun berpikir, “Ah benar juga, kenapa aku lupa kalau membawa pedang

mestika?”

Begitu memukul mundur serangan lebah, cepat dia bergeser ke arah pedang To-liong-kian yang

tergeletak di tanah, dengan kaki kanan mengait ke depan, secepat kilat telapak tangan kirinya

menyambar senjata itu.

“Criiiing!”, di antara kilauan cahaya dingin, beberapa puluh ekor lebah beracun seketika

terpapas hancur.

Diam-diam nona berbaju hitam itu bersorak memuji, dia tak nyana pedang To-liong-kiam begitu

tajam dan tak malu disebut pedang mestika.

Begitu melihat Cau-ji dengan tangan kanan membawa pedang, tangan kiri melepaskan pukulan

kosong, meski cahaya tajam berkilauan namun kekuatannya tak mampu membunuh kawanan

lebah itu lebih banyak, maka dia pun segera mengambil keputusan.

Dengan ilmu Coan-im-jit-pit, bisiknya, “Kongcu, dengarkan penjelasanku tentang rahasia jurus

ilmu pedang pembunuh naga”

Mula-mula Cau-ji agak tertegun, tapi begitu mendengar ia akan menjelaskan teori pedang,

hatinya jadi girang setengah mati.

Sebagai keturunan keluarga Ong, sejak kecil dia sudah banyak belajar ilmu pedang dari Ong

Sam-kongcu maupun dua belas tusuk konde emas, tak heran dia pun tahu ilmu pedang pembunuh

naga merupakan ilmu pedang yang memiliki reputasi luar biasa.

Maka sambil membantai kawanan lebah beracun, diam-diam ia mulai mempelajari jurus Nuhay-

to-liong (membunuh naga di amukan samudra).

Jangan dilihat jurus ini hanya terdiri dari satu jurus dengan tiga gerakan, tapi setiap kata

mengandung arti yang sangat dalam, sekalipun Cau-ji memiliki dasar ilmu pedang yang luar biasa,

untuk sesaat sulit baginya untuk memahaminya.

Untung saja dia memiliki ilmu Im-li-kang-khi yang secara otomatis melindungi seluruh

badannya, sekalipun dia harus memecah perhatian pun masih tetap mampu membunuh lebahlebah

beracun itu.

Sementara itu kedua gadis itu merasa tegang sekali, apalagi setelah melihat pemuda itu

bertarung sambil mempelajari ilmu.

Tak lama kemudian dari ujung pedang terpancar keluar sekilas cahaya tajam yang

menggidikkan.

Melihat itu, nona berbaju hitam itu sangat kegirangan, buru-buru dia menyingkir ke samping.

Nona berbaju putih itupun segera mengintil di belakangnya, menyingkir jauh dari arena.

Ketika kedua nona itu sudah mundur, tampak cahaya tajam itu perlahan-lahan mengembang

dan melebar, akhirnya terbentuklah selapis cahaya pedang ber-bentuk jala.

“Dia telah berhasil!” bisik nona berbaju hitam itu sambil melelehkan air mata.

Betul saja, begitu Cau-ji menghentakkan tangan kanannya, sinar jala yang terpancar dari

pedangnya seketika menghancur-lumatkan beratus-ratus ekor lebah beracun yang berada di

sekelilingnya.

Dalam waktu singkat ribuan ekor lebah beracun itu telah musnah tak berbekas.

Mendadak terdengar suara irama khim dan suitan aneh itu kembali bergema.

Sisa lebah beracun yang masih hidup pun segera terbang balik meninggalkan tempat itu.

Ternyata Cau-ji sama sekali tak menggubris kepergian kawanan lebah itu, dia masih terbuai

dalam pemahaman jurus pedangnya.

Diam-diam nona berbaju hitam itu mengeluh sambil merasa sayang, padahal asal Cau-ji mau

melancarkan serangannya beberapa kali lagi, niscaya seluruh lebah beracun itu bakal musnah.

Sayang dia telah melepaskan kesempatan emas itu begitu saja.

Tiba-tiba suara khim dan suitan berubah meninggi, khususnya suara suitan itu, nadanya

melolong seperti setan menangis serigala menjerit.

Nona berbaju hitam segera sadar gelagat tidak menguntungkan, tapi untuk sesaat dia pun tak

berhasil menduga, permainan busuk apa lagi yang akan dilakukan musuh.

Dalam keadaan begini, terpaksa dia pusatkan segala perhatian sambil mengawasi delapan

penjuru.

Suara pekikan yang menusuk pendengaran seketika menyadarkan Cau-ji, tanpa sadar dia

memandang ke empat penjuru, kemudian teriaknya kaget, “Eeei, kenapa kawanan lebah beracun

itu lenyap?”

Terdengar suara suitan aneh itu makin lama semakin nyaring, bahkan lamat-lamat terdengar

suara mendesis bergema dari empat penjuru.

Sebagai gadis yang banyak pengetahuan dan tajam pendengarannya, dengan wajah berubah

nona berbaju hitam itu segera menjerit kaget, “Ular berbisa!”

Betul saja, ketika Cau-ji menengok ke depan, ia saksikan ada segerombol binatang melata

sedang bergerak mendekat dari di depan sana.

Dengan perasaan terkesiap Cau-ji berseru pula dengan nada berat, “Betul, semuanya ular

berbisa!”

Sebagaimana diketahui, pada dasarnya kaum wanita paling takut kepada ular, begitu melihat

munculnya gerombolan ular berbisa dari empat penjuru, kedua gadis itu siap melompat naik ke

atas pohon, siapa tahu dari balik ranting dan dahan pohon tiba-tiba bermunculan pula ular

berbisa.

Dalam keadaan begini, terpaksa kedua gadis itu bergeser merapat ke arah Cau-ji.

Dalam waktu singkat gerombolan ular berbisa itu telah bergerak mendekat.

Anehnya, gerombolan ular itu seakan takut terhadap Cau-ji, dari kejauhan mereka telah

bergerak menghindar dan bergeser menuju ke arah kedua gadis itu.

Melihat itu Cau-ji jadi tercengang.

Tanpa banyak bicara lagi dia segera mengayunkan pedang pembunuh naganya, di mana

cahaya tajam berkelebat, belasan ekor ular berbisa telah terbabat hancur.

Berhasil dengan serangan pertama, dia langsung menerjang masuk ke dalam gerombolan ular

berbisa itu dan mulai melakukan pembantaian besar-besaran.

Rupanya kawanan ular berbisa itu takut kepada hawa mumi yang berasal dari pil sakti naga

berusia seribu tahun yang ada dalam tubuh Cau-ji, begitu melihat dia menyerbu maju, serentak

kawanan ular itu menyingkir ke samping.

Dalam waktu singkat barisan ular berbisa itu jadi kacau-balau.

Sementara itu suara suitan aneh bergema makin keras dan tajam.

Sekali lagi kawanan ular berbisa itu bergerak maju, tapi baru beberapa langkah, kawanan

binatang melata itu kembali dibuat jeri oleh hawa yang terpancar dari tubuh Cau-ji.

Sedikit saja sangsi, lagi-lagi serangan Cau-ji berhasil membantai lima puluhan ekor ular berbisa.

Makin lama napsu membunuh Cau-ji makin membara, kini dia telah menggunakan seluruh

kekuatannya untuk melakukan pembantaian.

Daya pengaruh pedang pembunuh naga memang luar biasa, bukan saja cahaya dinginnya

menyebar luas, bahkan dalam waktu singkat telah menghancurkan sembilan puluh persen

kawanan ular berbisa itu.

Suara pekikan aneh kembali berubah, kali ini kawanan ular berbisa itu berusaha bergerak

mundur, tapi Cau-ji segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan pembantaian secara

besar-besaran.

Mendadak terdengar suara bentakan gusar bergema, dari balik halaman gedung segera

bermunculan belasan orang.

Betapa terperanjatnya gadis berbaju hitam itu setelah menyaksikan betapa cepat gerakan

tubuh orang-orang itu, segera dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil bersiap melakukan

pertarungan.

Tak lama kemudian Cau-ji sudah dikerubut belasan orang berbaju hitam, sebagai pemimpinnya

adalah seorang kakek ceking berwajah menyeramkan.

Baru saja kedua nona itu siap maju memberi bantuan, Cau-ji telah berseru sambil tertawa

nyaring, “Ternyata di sini masih ada manusia. Kusangka hanya sarang binatang busuk … hahaha

“Bocah keparat, tajam benar lidahmu,” umpat kakek ceking itu gusar, “berani amat kau

musnahkan binatang kesayanganku, hm, malam ini akan kusuruh kau mati secara mengerikan.”

Selesai berkata, ditatapnya wajah anak muda itu lekat-lekat.

“Waduh, galak amat kau … takut ….” ejek Cau-ji sambil menyengir.

“Bocah keparat, serahkan nyawamu!”

Sambil membentak keras, dua butir benda berwarna hitam pekat segera dilontarkan ke arah

Cau-ji.

“Hati-hati serangan bokongan!” buru-buru nona berbaju hitam itu memperingatkan.

Dengan satu pukulan Cau-ji menghajar kedua benda itu hingga hancur.

“Blum, blum!”

Diiringi dua kali suara ledakan, muncul dua gumpal kabut hitam yang segera mengurung

seluruh tubuh Cau-ji.

Kedua nona yang berdiri beberapa kaki dari sisi arena pun segera mengendus bau aneh yang

menyengat, kontan mereka merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Tergopohgopoh

mereka menutup jalan napas.

Dalam pada itu belasan orang berbaju hitam itu mulai tertawa menyeramkan.

Tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang dari balik kabut hitam.

Baru saja belasan orang itu tertawa bangga, suara pekikan itu seketika membuat perasaan

mereka terkesiap.

Pada saat itulah sekilas cahaya tajam muncul dari balik kabut hitam dan berputar cepat di

sekeliling arena.

“Aduuuh di tengah jeritan ngeri yang menyayat hati, belasan orang itu sudah mati tercincang

pedang.

Cau-ji tertawa terbahak-bahak.

Bab 3. Raja bisa, rasul ular.

Mendadak kedua orang nona itu merasakan perutnya sangat mual, buru-buru mereka merogoh

ke dalam saku mengambil sebutir pil dan cepat dijejalkan ke dalam mulut.

Beberapa saat kemudian keadaan baru sedikit membaik, ketika mengangkat kepala lagi,

tampak Cau-ji telah menyerbu masuk ke dalam gedung itu.

Biarpun suasana dalam ruang utama gelap gulita, namun Cau-ji masih dapat melihat kalau di

atas meja masih terdapat sisa hidangan, kelihatannya belasan orang itu baru saja berpesta-pora di

sana.

Dengan tujuan akan menghabisi sisa lebah beracun yang masih hidup, secara beruntun Cau-ji

menembusi dua buah halaman gedung dan tiba di tengah sebuah halaman kecil yang penuh

ditumbuhi bunga.

Setelah menaiki tiga undak-undakan batu, ia pun mendorong sebuah pintu ruangan.

Ruangan ini tampak remang-remang, Cau-ji segera mendengar suara mendesis yang amat

tajam.

Dengan hati tercekat segera pikirnya, “Tak kusangka di sini masih tersisa ikan yang lolos dari

jaring!”

Begitu diamati lebih seksama, tampaklah seorang gadis cantik jelita sedang berbaring di atas

meja dalam keadaan telanjang bulat, di sekeliling meja terdapat empat ekor ular berbisa yang saat

itu sudah mengangkat kepala siap memagut Cau-ji.

Sebuah pemandangan yang mengerikan.

Gadis itupun sedang mengawasi Cau-ji dengan sorot mata ketakutan, seluruh tubuhnya yang

bugil sama sekali tak mampu bergerak, jelas jalan darahnya telah ditotok orang.

Tanpa terasa Cau-ji pun melangkah maju lebih ke depan.

Begitu dia bergerak maju, keempat ekor ular berbisa itu segera melesat maju melancarkan

serangan.

“Dasar ular sialan’ umpat Cau-ji sambil mengayunkan tangannya.

“Plaak …!”, tak ampun lagi keempat ekor ular itu mencelat ke belakang dalam keadaan binasa.

Cau-ji tertawa hambar, baru saja dia akan maju mendekat untuk membebaskan gadis itu dari

totokan, mendadak dilihatnya gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali, dalam

tertegunnya, tanpa sadar dia pun menghentikan langkah.

Pemuda itu mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tak ada yang mencurigakan, maka

tanyanya keheranan, “Nona, apakah kau maksudkan di sekitar sini masih ada jebakan?”

Gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali.

Sekali lagi Cau-ji pasang telinga, betul saja, dari bawah tanah terdengar suara dengungan yang

terdengar secara lamat-lamat.

“Bagus sekali!” serunya kemudian kegirangan, “rupanya di bawah sana masih ada lebah

beracun.”

Sambil melolos pedang pembunuh naganya, kembali Cau-ji melangkah maju.

Melihat pemuda itu merangsek maju, nona bugil itu kelihatan makin panik, dia mengedipkan

mata.

Sayang usahanya itu sia-sia belaka, karena waktu itu seluruh perhatian Cau-ji sudah tertuju

untuk menemukan lebah beracun, ia sama sekali tidak melihat kedipan matanya.

Ketika berada beberapa jengkal dari tepi meja, Cau-ji kembali mendengar suara gemerincing.

“Criiiing!”, menyusul kemudian tampak sebuah ubin bergeser ke samping dan dari balik tanah

muncullah segerombolan bayangan hitam.

“Bagus sekali!” seru Cau-ji sambil mengayun pedangnya.

Sekilas hawa dingin menyambar, berpuluh ekor lebah beracun yang baru muncul dari balik ubin

seketika terpapas hancur dan mampus.

Tapi kawanan lebah beracun itu sungguh bandel, mati satu tumbuh seribu, kembali bayangan

hitam merangsek ke atas.

Cau-ji kembali memutar tangan kiri dan pedang di tangan kanannya, mati-matian dia sumbat

lubang itu.

Sepeminuman teh kemudian suara dengungan itu mulai sirna.

Sambil menghembuskan napas lega, bisik Cau-ji, “Wah … akhirnya kawanan lebah itu berhasil

kumusnahkan!”

Sambil berkata dia menghampiri gadis bugil itu.

Mendadak dari luar pintu kamar terdengar nona berbaju hitam berteriak keras, “Hati-hati lebah

beracun!”

“Masih ada lebah beracun?” tanya Cau-ji tertegun.

Cepat dia menyelinap ke samping, siapa tahu baru dia tertegun, tahu-tahu punggungnya terasa

sakit sekali.

“Aduuh!” diiringi jeritan mengaduh, tubuhnya seketika roboh terjungkal ke tanah.

Lamat-lamat dia masih sempat mendengar nona berbaju putih bersorak kegirangan, “Adik kecil,

rupanya kau berada di sini!”

Menyusul kemudian ia merasakan luka bekas sengatan lebah itu sakit sekali, lalu dia pun jatuh

tak sadarkan diri.

0oo0

Ketika Cau-ji mendusin dari pingsannya, ia mendengar suara derap kaki kuda yang kencang

disertai tubuhnya yang bergoncang, ia tahu dirinya pasti berada dalam kereta kuda yang sedang

dilarikan kencang. Pemuda itu membuka mata untuk memeriksa.

Mendadak terdengar suara merdu bersorak kegirangan, ”Toaci, Jici, dia telah mendusin!”

Sekilas pandang Cau-ji segera kenal nona yang berbicara itu tak lain adalah gadis bugil yang

ditemukan dalam ruang rahasia itu, baru saja akan buka suara, tiba-tiba dilihatnya dua lembar

wajah yang berseri telah muncul di hadapannya.

Tak tahan dia pun tertegun.

Terdengar nona di sebelah kiri yang masih kekanak-kanakan berseru sambil tertawa, “Kongcu,

kau tak menyangka bukan!”

Cau-ji segera mengenali sebagai suara nona berbaju putih, seakan baru sadar akan sesuatu,

teriaknya, “Oh, rupanya kalian sedang menyaru, tapi kenapa mesti berdandan begitu jelek seperti

wajah setan?”

“Hahaha, bukankah kita bisa menghindari banyak kesulitan?”

“Ah, betul juga, dengan tampang sejelek itu, memang banyak kesulitan bisa dihindari. Tapi

tahukah kau, ada berapa banyak manusia yang terkencing-kencing gara-gara melihat tampang

seram kalian?”

Habis berkata, kembali ia tertawa tergelak sambil berduduk.

Di hadapannya duduk tiga nona yang mengenakan pakaian warna hitam, putih dan kuning,

saat ini mereka telah tampil dengan wajah aslinya, ternyata ketiga nona itu memiliki wajah yang

amat cantik.

Dipandang secara begitu, merah padam wajah ketiga gadis itu, tanpa terasa kepalanya

ditundukkan rendah-rendah.

Diam-diam Cau-ji mencoba membandingkan wajah ketiga nona itu dengan dua bersaudara

Suto, enci Jin dan enci Ing. Terasa wajah nona-nona ini tak kalah dengan kecantikan gadis-gadis

koleksinya.

Sementara keempat orang itu masih termenung, mendadak terdengar ringkikan kuda memecah

kesunyian disusul kereta itu berhenti secara mendadak.

Tak ampun keempat orang itupun jatuh berguling dan bertumpukan jadi satu.

Tergopoh-gopoh Cau-ji merangkak bangun dan membuka tirai sambil melongok ke depan.

Ternyata ada lima lelaki kekar bersenjata pedang telah menghadang jalan pergi mereka.

Waktu itu si kusir sudah ketakutan setengah mati, bukan cuma badannya menggigil, bibirnya

yang gemetar pun tak sanggup berkata-kata.

Terdengar salah seorang lelaki kekar itu menghardik, “Ayo, semua penumpang kereta segera

menggelinding ke hadapan Toaya!”

Begitu melihat tampang kelima orang itu, Cau-ji segera tahu mereka adalah kawanan

pencoleng, diam-diam ia tertawa dingin.

Mendadak pemuda itu tertawa tergelak, serunya keras, “Turut perintah!”

Begitu tirai dibuka, tubuhnya bagaikan sebuah roda kereta dengan cepat menggelinding keluar.

Selama hidup belum pernah kelima orang itu menyaksikan kungfu seaneh ini, baru saja

menjerit kaget sambil berusaha menghindar, salah seorang lelaki kekar itu sudah terhantam

dadanya oleh sapuan kaki Cau-ji

Terdengar ia menjerit kesakitan, sambil muntah darah tubuhnya mencelat sejauh beberapa

tombak.

Keempat rekannya jadi ketakutan setengah mati, baru saja siap melarikan diri, terdengar Cau-ji

kembali membentak keras, “Enyah!”

Ternyata keempat orang itu penurut sekali, tanpa banyak bicara serentak mereka melarikan diri

terbirit-birit.

Tinggal lelaki yang terluka parah menjerit keras, “Aduuh … sakitnya … eeei … kalian jangan

tinggalkan aku sendirian!”

“Enyah!” kembali Cau-ji menghardik.

Orang itu mengiakan berulang kali dengan ketakutan, akhirnya sambil menahan sakit dia kabur

dari situ.

Sambil tertawa terbahak-bahak Cau-ji balik ke samping kereta, belum sempat berbicara, kusir

kereta itu telah berseru dengan gemetar, “Kongcu, di sini banyak begalnya, hamba takut, ingin

balik saja.”

Cau-ji tidak mengira kusir itu kecil nyalinya, setelah tertegun sejenak, ujarnya sambil tertawa,

“Datang pasukan kita hadang, datang air bah kita bendung, selama ada Kongcu di sini, apa lagi

yang ditakuti?”

“Tapi hamba masih mempunyai ibu berusia delapan puluh tahun, istriku masih muda, Kongcu,

kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana dengan mereka?”

“Baiklah!” sahut Cau-ji kemudian setelah berpikir sebentar, “cuma kau harus menyerahkan

kereta kuda ini kepadaku.”

“Tapi… bagaimana dengan ganti ruginya?”

“Hahaha, gampang sekali, waktu beli dua ekor kuda dan kereta, kau habis uang berapa

banyak?”

“Baik, coba aku hitung dulu!”

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil menemukan sejumlah angka, maka serunya,

“Kongcu, jumlah seluruhnya adalah tiga puluh satu tahil empat renceng

“Hahaha, bagus, bagus sekali” tukas Cau-ji sambil tergelak, “kalau begitu bagaimana kalau

Kongcu bayar kereta dan kudamu seharga lima puluh tahil perak?”

“Lima puluh tahil perak? Sungguh? Bagus, bagus, bagus sekali!”

Baru saja Cau-ji akan merogoh sakunya untuk mengambil uang, nona berbaju putih itu telah

menyodorkan selembar uang kertas kepada kusir itu.

Begitu melihat nilai nominal di atas uang kertas itu, kusir itu segera menjerit kegirangan, “Wow,

seratus tahil perak … wah, terima kasih, terima kasih sekali.”

“Hahaha, pergilah membeli sebuah kereta baru yang lebih mewah,” kata Cau-ji sambil tertawa.

“Baik, terima kasih, terima kasih.”

Menanti Cau-ji siap melompat naik ke atas kereta untuk menjadi kusir, terdengar nona berbaju

hitam berseru, “Kongcu, silakan masuk untuk berunding sebentar.”

Setelah masuk ke ruang kereta, Cau-ji memandang sekejap semua nona itu sambil tersenyum,

kemudian baru bertanya, “Nona, ada urusan apa?”

“Kongcu, kami ingin menuju ke kota Lok-yang, apakah kau tahu jalan?” tanya nona berbaju

hitam.

“Belum pernah ke sana, tapi kita toh bisa bertanya,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir.

“Kongcu, selama ini kita senasib sependeritaan, aku lihat dalam beberapa hari belakangan

terjadi pergolakan besar dalam dunia persilatan, lebih baik sepanjang perjalanan kita bertindak

lebih berhati-hati.”

“Adik Lian lebih mengenal jalanan serta situasi di kota seputar Lok-yang, lagi pula dia kaya akan

pengalaman dunia persilatan, sementara waktu biar dia saja yang membawa kereta, sementara

Siaumoay merundingkan beberapa persoalan lagi dengan lainnya.”

“Bagus sekali kalau begitu,” seru Cau-ji sambil tertawa.

Nona berbaju putih manggut-manggut, sambil membawa buntalan dia keluar dari ruang kereta.

Tak lama kemudian di tempat duduk kusir telah muncul seorang lelaki berbaju abu-abu,

terdengar lelaki itu berseru, “Tuan-tuan, kereta segera berangkat!”

Habis berkata dia pun tertawa cekikikan dan mulai menjalankan kereta.

“Mirip benar penyaruannya,” puji Cau-ji sambil menghela napas.

“Ah, hanya ilmu cetek, Kongcu tak usah memuji.”

“Nona kelewat sungkan. Ah benar, maaf Cayhe tak sopan, boleh tahu apa tujuan nona pergi ke

Lok-yang? Mau berpesiar, ziarah atau menengok famili?”

Nona berbaju hitam tertawa.

“Semuanya bukan. Keluarga kami memang tinggal di kota Lok-yang, aku she Cu bernama Bi-ih,

dia adalah adik bungsuku, Bi-hoa, sedang Toamoay bernama Bi-lian. Saat ini sedang menjadi

kusir. Kami merasa berterima kasih sekali atas pertolongan Kongcu.”

Melihat pihak lawan begitu supel, bahkan langsung memperkenalkan diri, maka secara ringkas

Cau-ji pun memperkenalkan diri.

Betapa terkejut dan girangnya Cu Bi-ih dan Cu Bi-lian ketika tahu bahwa pemuda tampan

berilmu tinggi ini tak lain adalah putra Ong Sam-kongcu yang amat tersohor di dunia persilatan.

Tiba-tiba terdengar Cu Bi-lian yang berada di luar kereta berseru dengan nada nyaring, “Cici,

dugaanku tidak salah bukan? Ningrat!”

Merah jengah wajah Cu Bi-ih, bentaknya cepat, “Konsentrasi mengendalikan kereta!”

“Iya, benar, ningrat!”

“Eeei, nona, apa yang ditebak adikmu?” tanya Cau-ji keheranan.

Saking malunya Cu Bi-ih jadi tergagap hingga tak sanggup berkata-kata.

Dalam pada itu Cu Bi-hoa telah berkata pula sambil tertawa, “Ong-kongcu, Jici bilang ditinjau

dari wajah dan ilmu silat yang dimiliki, sudah jelas kau mempunyai asal-usul yang luar biasa, tapi

Toaci beda pandangannya, jadi kami bertaruh!”

“Oh. Bertaruh apa?”

Baru saja Cu Bi-hoa akan menjawab, buru-buru Cu Bi-ih menjerit, “Adik!”

Cu Bi-hoa segera membuat muka setan dan tak berani melanjutkan kembali kata-katanya.

Cau-ji tahu, orang lain merasa tidak leluasa untuk menjawab, lalu kenapa dia harus mendesak

terus? Maka kembali tanyanya kepada Cu Bi-hoa, “Nona, bagaimana ceritanya hingga kau terjatuh

ke tangan orang?”

Mendengar pertanyaan itu, kemudian terbayang kembali bagaimana tubuhnya yang telanjang

bulat telah dipandang anak muda itu sampai kenyang, merah padam wajah Cu Bi-hoa karena

malu, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat itu buru-buru Cu Bi-ih menyela sambil tertawa, “Kongcu, selama ini Siaumoay selalu

hati-hati, sayang sedikit kurang hati-hati hingga dia dipecundangi orang-orang Jit-seng-kau, masih

untung kau datang tepat waktu dan menolongnya, kalau tidak, entah bagaimana akibatnya!”

“Lagi-lagi perbuatan Jit-seng-kau!” seru Cau-ji gemas.

Cu Bi-ih jadi keheranan, tanyanya, “Kongcu.kalau kau memang begitu benci pada Jit-seng-kau,

kenapa bisa masuk keluar kantor penghubung mereka waktu di kota Bu-jang?”

Berhubung Cau-ji belum tahu secara pasti asal-usul ketiga nona itu, maka sahutnya, “Aku sama

sekali tidak tahu kalau rumah makan itu merupakan salah satu sarang Jit-seng-kau, untung nona

Lian memancingku keluar, kalau tidak, pasti diriku sudah mereka bokong!”

“Sebetulnya semua peristiwa ini hanya kebetulan,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “andaikata adik

Lian tidak melihat pedang pembunuh naga yang kau gembol, tak nanti kami mencarimu,

seandainya tidak menemukan dirimu, nasib Siaumoay pun pasti sangat tragis.”

Habis berkata, kedua nona itu kembali memandang Cau-ji dengan mata berkilat.

Cau-ji pernah menjumpai sorot mata semacam ini di wajah Suto bersaudara, tentu saja dia tak

berani mencari “gara-gara” lagi, sambil mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya kemudian,

“Nona, kenapa kau bisa menguasai ilmu pedang pembunuh naga?”

Mula-mula Cu Bi-ih agak tertegun, kemudian jawabnya, “Sejak kecil aku suka membaca buku

dan pernah membaca tentang ilmu pedang ini, menurut apa yang kuketahui, pada sarung

pedangnya tertera jurus pedang itu secara utuh.”

“Oya? Kalau begitu jika ada waktu senggang, pasti akan kuperiksa.”

“Kongcu,” kembali Cu Bi-ih berkata sambil tertawa, “bolehkah aku bertanya tentang satu hal,

mengapa kau kebal racun?”

“Ooh, karena aku pernah makan pil naga sakti berusia seribu tahun.”

“Jadi benar-benar ada naga sakti berusia ribuan tahun,” berkilat sepasang mata gadis itu.

Cau-ji manggut-manggut, secara ringkas dia pun bercerita tentang pengalamannya berduel

melawan naga seribu tahun.

Selesai mendengar kisah itu, Cu Bi-lian segera berteriak, “Kongcu, hokkimu memang luar

biasa.”

“Benar juga,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “padahal kalau membayangkan kembali, hatiku

masih terasa takut. Naga sakti berusia seribu tahun ini besar dan garang, setiap kali dia membalik

badan, terciptalah gelombang ombak maha dahsyat di seluruh permukaan telaga itu.”

“Kongcu, apakah bangkai naga sakti berusia seribu tahun itu masih ada?” Cau-ji menggeleng.

“Aku sendiri pun kurang tahu karena waktu itu aku kabur melalui lorong bawah tanah. Saat itu

terjadi gempa dahsyat, gunung batu berguguran, kemungkinan besar bangkai naga itu sudah

tenggelam ke dasar telaga”

“Wah, sayang sekali” seru Cu Bi-ih gegetun, “coba kalau bangkai naga itu diawetkan, lalu

dipamerkan ke khalayak ramai.alangkah indahnya saat itu.”

“Benar,” seru Cu Bi-hoa pula, “ayah Baginda….”

Mendadak Cu Bi-ih berdehem sambil buru-buru menukas, “Kongcu, ternyata kau punya

pengalaman sehebat itu, tak aneh kawanan ular berbisa itu tak berani mendekatimu, bahkan

kawanan lebah beracun pun tak bisa berbuat banyak terhadapmu.”

Dari perubahan mimik muka kedua gadis itu, Cau-ji segera tahu kalau di balik semua itu masih

tersimpan latar belakang yang luar biasa, khususnya panggilan “ayah Baginda”, jelas panggilan itu

penting sekali artinya, hanya saja tak sampai dikemukakan.

Maka sambil tertawa getir, ujarnya, “Sungguh tak kusangka lebah beracun itu bisa berlagak

mati agar bisa membokong, wah … sengatannya sakit sekali.”

“Lebah terakhir kan ratu lebah,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “sudah hampir setengah harian

kau tak sadarkan diri, coba kalau tidak keburu mendusin, mungkin adik kecil bisa menangis sedih.”

“Toaci, kenapa kau bilang begitu?”

“Tapi kan kenyataan.”

“Betul,” sambung Cu Bi-lian pula sambil tertawa,

“aku bersedia menjadi saksi.”

“Kalian jahat semua … sebentar akan kulaporkan kepada ayah ..”seru Cu Bi-hoa manja.

Gelak tertawa pun bergema.

Sesaat kemudian kembali Cu Bi-ih berkata, “Kongcu, cobalah kau pelajari jurus pedang yang

berada di sarung pedang itu, kami tak akan mengganggumu!”

Selesai berkata dia pun memejamkan matanya.

Cau-ji pun mengambil sarung pedang pembunuh naga dan mulai meneliti dengan seksama,

betul saja, di kedua belah sisi sarung pedang penuh terukir tulisan kecil, isinya tak beda jauh

dengan apa yang pernah diajarkan Cu Bi-ih tadi.

Cau-ji terpekur beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia mulai berseri, jelas pemuda ini kembali

berhasil memahami rahasia jurus pedang itu.

Akhirnya dia menyimpan kembali pedangnya dan mulai memejamkan mata sambil berpikir.

Tanpa terasa dia pun terlelap dalam konsentrasinya.

Tak lama kemudian ketiga orang yang berada dalam kereta telah terkonsentrasi dalam

semedinya.

Setengah jam kemudian mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergerak mendekat, lalu

terlihat seekor kuda melintas secepat kilat.

Di saat lewat di samping kereta, tiba-tiba orang itu mengayunkan tangan kanannya, kemudian

dengan cambuknya dia singkap tirai di depan jendela kereta.

Tak terlukiskan rasa gusar Cu Bi-lian, baru akan turun tangan, satu ingatan segera melintas,

maka dengan berlagak kaget bercampur gugup, dia menyingkir ke samping.

Sewaktu kain tirai tersingkat oleh pecut tadi, kuda itu sudah melintas sejauh lima-enam depa.

Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, dua nona yang cantik sekali, sayang Toaya masih ada urusan penting!”

Jelas maksudnya, dia merasa sayang karena tak bisa menjamah gadis-gadis itu.

Cau-ji membuka mata sambil memandang keluar, terlihat lelaki itu berusia tiga puluh tujuhdelapan

tahun, mukanya hitam keabu-abuan, sebuah codet bekas bacokan golok sepanjang

beberapa senti terpampang di pipi kirinya.

Memandang hingga bayangan punggung lelaki itu hilang dari pandangan, Cau-ji berbisik lirih,

“Nona Lian, bagus sekali sandiwaramu, Cuma kau jadi ikut tersiksa.”

“Sungguh mengecewakan, aku hampir saja turun tangan,” sahut Cu Bi-lian tertawa.

Kembali cambuknya diayunkan ke depan, kereta itupun bergerak semakin cepat menuju ke

depan.

Sepanjang perjalanan, mereka berusaha menyembunyikan identitas, maka ketika menjelang

senja, tibalah mereka di sebuah kota.

Ketika kereta sudah berhenti di depan sebuah rumah penginapan besar, C u Bi-lian baru

menghembuskan napas lega.

Seorang pelayan segera menyambut kedatangan mereka sembari menyapa, “Toaya, apakah

akan menginap? Kami mempunyai kamar yang bersih ….”

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema mendekat, lalu terdengar seseorang

dengan suara parau berteriak, “Ada kamar?”

Belum sempat pelayan itu buka suara, Cu Bi-lian sudah menyahut duluan, “Baiklah, kami ambil

kamar itu!”

Baru selesai dia berkata, dua ekor kuda telah berhenti di depan rumah penginapan.

Orang yang berada di depan adalah lelaki berwajah hitam keabu-abuan, dia tak lain adalah

lelaki ber-codet yang dijumpai di tengah jalan tadi, sedangkan di sampingnya adalah seorang lelaki

bertubuh pendek.

Cu Bi-lian langsung mengernyitkan dahi begitu melihat tampang kedua orang ini.

Terdengar lelaki bercodet itu tertawa tergelak, katanya, “Hahaha, sangat kebetulan. Eei,

pelayan, cepat urus kuda Toaya dan siapkan juga hidangan’

Melihat tampang kedua tamunya yang garang, pelayan itu tampak ketakutan, buru-buru

sahutnya, “Maaf Toaya, kamar kami tinggal satu dan kebetulan sudah diambil tamu itu!”

Lelaki itu kontan mendelik dan siap mengumbar amarah.

Tapi si pendek yang berada di belakangnya segera mencegah, tukasnya, “Kalau memang di sini

sudah tak ada kamar lagi, kita tak boleh mamaksakan kehendak, ayo pergi saja.”

Habis berkata, dia langsung naik kembali ke atas kudanya dan bedalu dari situ.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, pelayan itu baru berpaling ke arah Cu Bi-lian sambil

menggerutu, “Tahukah kau, caramu bicara yang acuh tak acuh nyaris membuat aku kena gebuk!”

“Maaf!” senyum Cu Bi-lian sambil melompat turun dari kereta kuda.

Baru saja pelayan itu akan mengomel lagi, tiba-tiba matanya jadi berkilat.

Ternyata tirai kereta telah disingkap dan muncullah Cau-ji yang tampan dan gagah.

Disusul kemudian dua bersaudara Cu yang cantik jelita pun turun dari dalam kereta.

Buru-buru pelayan itu tutup mulut dan segera mengajak ketiga orang itu menuju ke dalam

penginapan.

It-teng-ho adalah rumah penginapan paling besar di kota ini, bukan saja mencakup tanah

berhektar luasnya, kamarnya bagus, bersih dan hidangannya lezat.

Biarpun saat ini bukan waktu bersantap, namun banyak tamu yang berada di ruang makan,

puluhan pasang mata serentak dialihkan ke wajah kedua gadis itu, tampaknya mereka tertarik

dengan kecantikannya.

Sesaat sebelum turun dari kereta, Cu Bi-ih telah memperhatikan lebih dulu wajah para tetamu

yang ada dalam ruangan, setelah yakin tak satu pun yang kenal, bersama adiknya ia baru turun

dari kereta.

Dua bersaudara ini berlagak seolah-olah gadis lemah yang tidak biasa jalan jauh, mereka saling

bergandengan dengan kepala tertunduk dan langkah lambat.

Tapi justru penampilan seperti ini semakin menggoda perasaan kaum lelaki, puluhan tamu yang

berada dalam ruangan serentak menatap ke arah mereka dengan mata terbelalak dan mulut

melongo.

Pelayan langsung mengajak Cau-ji dan kedua gadis itu melewati dua lapis halaman luas

sebelum tiba di muka sebuah pintu bulat di sisi halaman. Katanya kemudian sambil tertawa,

“Inilah salah satu kamar terbaik rumah penginapan kami, perabotnya indah, suasananya tenang”

Sembari berkata dia mendorong pintu dan berjalan masuk terlebih dulu.

Cau-ji mencoba memperhatikan suasana di seputar halaman itu, benar saja, suasana amat

tenang dengan sekeliling halaman terlindung oleh dinding pagar yang tinggi.

Dalam halaman tumbuh aneka bunga seruni musim gugur, bukan saja indah, bahkan harum

baunya, sementara di sisi halaman utama yang tinggi dan terang masih terdapat dua buah bilik

lain.

“Apakah tuan merasa cocok dengan ruangan ini?” tanya sang pelayan kemudian sambil

tertawa.

Perlahan-lahan Cu Bi-ih melangkah masuk ke dalam ruangan, betul saja, perabot di sana ratarata

indah dan mewah, bukan saja cukup sinar bahkan tak nampak sedikit debu pun di atas meja.

Sambil tersenyum dia pun merogoh keluar sekeping emas murni, katanya sambil menyerahkan

emas itu ke tangan pelayan, “Simpanlah untuk sementara waktu uang ini di kasir, kita hitung lagi

besok!”

Sambil menerima emas itu si pelayan mencoba menimangnya, kemudian berpikir, “Luar biasa,

paling tidak bobot emas ini mencapai sepuluh tahil lebih!”

Buru-buru serunya sambil tertawa dibuat-buat, “Kongcu, nona berdua, kalian ingin pesan

hidangan apa? Silakan perintahkan saja, hamba segera akan menyiapkan!”

“Tidak perlu!” tukas Cu Bi-ih sambil mengulap tangan, “kalau butuh sesuatu, aku akan

memanggilmu!”

Setelah memberi hormat buru-buru pelayan itu mengundurkan diri, di tengah jalan ia bertemu

Cu Bi-lian, maka sambil menarik kembali senyumannya, dia tunjuk ke arah kamar samping sambil

berkata, “Kedua bilik kamar itu adalah kamar tidurmu’

Belum habis berkata, mendadak dari balik pintu bulat menerobos masuk seorang lelaki

berpakaian ketat warna hitam, tanpa berkata-kata dia langsung menerjang masuk ke dalam

kamar.

Tak sempat meneruskan pembicaraan dengan Cu Bi-lian, buru-buru pelayan itu menghadang

sambil teriaknya, “Toaya, seluruh halaman ini sudah disewa orang, lagi pula dalam kamar ada

kaum wanita ….”

Lelaki berbaju hitam itu tertawa dingin, dengusnya, “Jangankan perempuan biasa, sekalipun

permaisuri ada di sini pun aku tak takut, ayo cepat menyingkir!”

Begitu tangan kirinya dikebaskan, pelayan itu segera menjerit kesakitan, badannya terlempar

sejauh lima-enam kaki, mulutnya langsung berdarah dan giginya patah karena bantingan itu, dia

tetap menggenggam kepingan emas itu erat-erat.

Cu Bi-lian langsung maju menghadang di depan pintu, hardiknya, “Siang hari bolong, berani

amat saudara bertindak kurang-ajar, bukankah sudah tahu kalau dalam kamar terdapat kaum

wanita, ada urusan apa kau menerobos masuk kemari?”

Lelaki berbaju hitam itu memperhatikan gadis itu sekejap, tiba-tiba dia merangsek ke depan,

tangan kanannya langsung menghantam ke dada lawan, selain cepat serangannya, kekuatan yang

digunakan pun amat dahsyat.

Cu Bi-lian segera memutar tangan kiri mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki berbaju

hitam itu, begitu dibetot lalu mendorong, tak ampun lelaki berbaju hitam itu segera terpental

tujuh-delapan langkah dan jatuh terduduk di lantai.

Tampaknya bantingan itu cukup keras, untuk beberapa saat lelaki berbaju hitam itu harus

duduk diam sebelum akhirnya dapat merangkak bangun, setelah menengok ke arah Cu Bi-lian

sekejap, sambil mendengus benci cepat dia mengundurkan diri dari halaman itu.

Sambil merangkak bangun dan menunjukkan senyuman yang dibuat-buat, pelayan itu berkata

kemudian, “Maaf, maaf! Tampaknya hamba memang punya mata tak mengenal gunung Thay-san,

tak disangka seorang kusir pun memiliki kungfu sedemikian hebatnya.”

Cu Bi-lian hanya tertawa hambar, tanpa bicara dia langsung menuju ke ruang utama.

Kali ini sang pelayan tak berani lagi memerintahnya menuju ke ruang samping.

Baru melangkah masuk ke dalam kamar, gadis ini menyaksikan Cau-ji dan kedua saudaranya

sedang duduk bergurau di ruang tamu.

Terdengar Cau-ji berseru dengan nada minta maaf, “Nona Lian, merepotkanmu saja!”

Cu Bi-lian tertawa.

“Ong-kongcu, kau terlalu sungkan, sudah menjadi kewajiban Siaumoay untuk melakukannya.

Ah benar, sudah berapa jurus pedang yang berhasil kau pahami?”

“Mungkin sudah delapan-sembilan puluh persen,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “semuanya ini

berkat bantuan nona Ih!”

“Kongcu kelewat sungkan,” sela Cu Bi-ih cepat, “kalau bukan Kongcu memiliki tenaga dalam

dan kecerdasan yang luar biasa, buat orang awam, mungkin butuh bertahun-tahun untuk

mempelajarinya.”

Cau-ji tersenyum lebar, baru akan buka suara, mendadak ia tertawa dingin, jari tangan

kanannya disentilkan ke depan, segulung serangan jari segera meluncur keluar jendela.

Menyusul kemudian dia pun menjejakkan kakinya, tubuh berikut bangku yang didudukinya

langsung melesat keluar ke balik jendela.

Ketiga gadis itu tahu kungfu yang dimiliki Cau-ji sangat hebat, menyaksikan perbuatannya itu,

mereka tetap duduk tak bergerak sambil menonton perubahan.

Gerakan tubuh Cau-ji betul-betul cepat bagaikan sambaran petir, begitu tiba di luar jendela, dia

pun mengayunkan kembali tangannya sembari bergumam, “Kau pandai bermain ular? Baguslah,

akan kuajak kau untuk bermain-main ….”

Habis berkata, sekali lagi dia meluncur balik ke dalam ruangan.

Ketika ketiga nona itu menyaksikan kehadirannya kembali, serentak mereka terkejut bercampur

geli.

Tampak seorang kakek berbaju hitam berhasil dibekuk Cau-ji dan dibanting ke atas tanah,

seekor ular berwarna kuning emas yang panjangnya mencapai dua kaki sedang bergerak melilit

tubuh kakek itu.

Sementara ketiga nona itu sedang merasa heran mengapa ular emas itu tidak juga

meninggalkan tubuh kakek itu, segera terlihat ternyata ekor ular itu sudah ditembusi sebatang

ranting pohon dan kini terpantek di atas bahu orang itu.

Kejadian itu kontan membuat ketiga nona ini terperanjat.

Dalam pada itu si kakek berbaju hitam itupun ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar

keras, dia ingin buka suara, tapi kuatir juga kalau ular emas tadi menerobos masuk ke dalam

tubuhnya, padahal jalan darahnya tertotok hingga tak mampu bergerak, untuk sesaat dia seperti

tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Sobat, siapa yang menyuruh kau datang kemari?” tanya Cau-ji kemudian sambil tertawa

dingin.

“Aku… tolong ….”

Bani saja dia buka mulut ingin bicara, sekilas cahaya tajam mendadak meluncur masuk dari luar

jendela, langsung menghantam ke hulu hati sendiri.

Dalam kaget dan takutnya, kakek itu tak ambil peduli lagi soal rasa malu atau tidak, kontan dia

berteriak minta tolong.

Sejak awal Cau-ji sudah tahu kalau di atas pohon di tengah halaman terdapat seseorang yang

sedang bersembunyi, maka begitu menyaksikan datangnya serangan senjata rahasia, sambil

memukul jatuh pisau belati yang datang menyergap dengan tangan kirinya, dia lepaskan pukulan

keluar jendela dengan tangan kanan.

Bersamaan badannya ikut pula meluncur keluar.

Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri bergema dari tengah halaman.

Tak lama kemudian terlihat Cau-ji melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengempit tubuh

seorang lelaki berbaju hitam yang muntah darah.

Begitu melihat orang itu, kakek berbaju hitam yang nyaris dibokong tadi kontan mengumpat,

“Thian-lip, kau berani melancarkan serangan mematikan kepadaku?”

Dengan ketakutan sahut lelaki berbaju hitam itu, “Suhu, perintah dari Tongcu tak berani Tecu

lawan.”

“Perintah dari Tongcu tak berani dilawan? Cuuh!” sambil berteriak kakek berbaju hitam itu

segera menggigit lidah sendiri, lalu dengan darah yang bercucuran dia sembur wajah Thian-lip.

Kebuasan yang diperlihatkan kakek ini seketika membuat Cau-ji serta ketiga nona itu tertegun.

Tiba-tiba terdengar Thian-lip menjerit kesakitan, tubuhnya kontan berguling di atas lantai.

Tak lama kemudian tubuhnya berubah jadi segumpal cairan berwarna kuning.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Cu Bi-ih, dia terbayang akan seseorang yang

seluruh tubuhnya mengandung racun dan tiap hari bersantap ular untuk menyambung hidupnya.

Dengan tubuh gemetar karena ngeri, serunya, “Kau adalah Rasul ular!”

Kakek berbaju hitam itu tertawa seram.

“Hahaha, betul, betul sekali, Lohu adalah Rasul ular, hanya sayang gara-gara godaan sesaat,

aku terjebak oleh siasat busuk Si Kiau-kiau, kalian harus lebih berhati-hati.”

Sambil berkata dia gigit ular berwarna emas itu, lalu menelan kepala ular yang putus karena

gigitan itu ke dalam perut.

Tak lama kemudian ia menjerit ngeri dan putus nyawa.

Melihat tubuh ular yang masih menggeliat walaupun tanpa kepala itu, ketiga gadis itu jadi

mual, tak ampun mereka muntah-muntah karena ngeri.

Memandang mayat yang telah berubah jadi gumpalan cairan kuning, diam-diam Cau-ji

menghela napas panjang, dia pun memanggil pelayan untuk membersihkan ruangan.

Tiba-tiba terdengar seorang memanggil, “Kongcu, nona, air teh!”

Keempat orang itu saling bertukar pandang sekejap, Cu Bi-lian yang menyamar sebagai kusir

segera membuka pintu.

Tak lama kemudian terlihat Cu Bi-lian diikuti seorang pelayan berjalan masuk ke dalam, pelayan

itu berdandan aneh, ia mengenakan topi yang direndahkan hingga nyaris menutupi wajahnya dan

membawa nampan berisi cawan teh.

Begitu meletakkan cawan teh, pelayan tadi kembali mengundurkan diri dengan cepat.

Cu Bi-lian memandang Cicinya sekejap, kemudian mengikut di belakang pelayan itu keluar

ruangan.

Sepeninggal sang pelayan, Cu Bi-ih melirik sekejap warna air teh dalam cawan, sekulum

senyuman dingin segera menghiasi bibirnya.

Menanti Cu Bi-lian balik kembali ke dalam kamar, ia baru bertanya lirih, “Apakah pintu halaman

sudah dikunci?”

“Sudah!”

Perlahan Cu Bi-ih mengambil secawan air teh, lalu bertanya lirih, “Kongcu, menurutmu apakah

air teh ini mencurigakan?”

Cau-ji mencoba memeriksa air teh dalam cawan, tampak warna air hijau muda dengan bau

yang sangat harum, sama sekali tak nampak sesuatu yang aneh atau mencurigakan, maka balik

tanyanya, “Memangnya air teh ini tidak beres?”

Cu Bi-ih tidak berkata apa-apa, dia seduh air teh itu, kemudian dicipratkan ke meja, seketika

muncullah asap putih dari tempat yang terpercik air teh tadi.

Terkesiap hati Cau-ji melihat itu.

Sambil menghela napas, ujar Cu Bi-ih, “Siasat busuk orang-orang Jit-seng-kau memang

menakutkan, bayangkan saja, bukan hanya tindak-tanduknya, sampai dalam air teh pun sudah

dicampuri racun jahat. Ai, kita mesti lebih berhati-hati.”

Cau-ji ikut menghela napas panjang.

“Ternyata ketajaman mata dan pendengaran orang-orang Jit-seng-kau memang amat tajam,

tak nyana jejak kita sudah ketahuan mereka. Nona, dengan cara apa kita harus menghadapi

mereka?”

“Maaf, kami tiga bersaudara memang target yang kelewat mencolok,” ujar Cu Bi-ih dengan

nada minta maaf, “coba kalau hanya Kongcu seorang, belum tentu orang-orang Jit-seng-kau akan

menemukan jejakmu.”

Cau-ji tahu, Im Jit-koh dan Bwe-toasiok pasti tak akan membocorkan identitasnya, ia mengerti

bahwa apa yang dikatakan gadis itu memang tak salah, maka sahutnya sambil tertawa, “Aku sih

tak peduli, yang di-kuatirkan justru kalau kita kurang hati-hati hingga terjebak dalam perangkap

mereka, kalau sampai begitu baru susah.”

“Hm! Ulah para anggota Jit-seng-kau memang keterialuan,” seru Cu Bi-ih jengkel, “tak sampai

setengah tahun lagi, kujamin perkumpulan mereka pasti akan musnah.”

“Kongcu, bagaimana kalau kita pura-pura terjebak oleh siasat mereka, kami berdua akan

berbaring di kedua sisi meja, silakan Kongcu bersandar di bangku, sementara adik Lian berbaring

di belakang pintu sembari mengawasi suasana di luar jendela!”

Begitulah, mereka pun segera berlagak keracunan.

Cau-ji memejamkan mata sambil berbaring di atas meja.

Kurang lebih seperempat jam kemudian tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Keempat orang itu segera berpura-pura tak sadarkan diri.

Setelah mengetuk beberapa saat, akhirnya suara itupun berhenti.

Kembali setanakan nasi sudah lewat tanpa terjadi sesuatu apa pun.

Baru saja Cau-ji habis kesabarannya, mendadak terdengar suara irama musik yang lembut

berkumandang datang dari kejauhan, diikuti kemudian suara gesekan aneh.

“Ah, lagi-lagi gerombolan ular berbisa,” pikir Cau-ji, dia pun kembali memejamkan mata.

Tampak dua ekor ular sawah yang cukup besar menyelinap masuk lewat jendela, tubuh ular itu

sebesar mulut cawan dan berwarna belang.

Diam-diam Cau-ji menghimpun tenaga dalam dan siap membunuh kedua ekor ular itu.

Tampak ular itu bergeser mendekati Cu Bi-lian, salah satu di antaranya merangsek ke depan

dengan gerakan cepat, langsung mematuk ke tubuh mangsanya.

Secepat kilat Cu Bi-lian menyambar bagian tujuh inci dari kepala ular itu, sementara kaki kanan

menendang ular kedua.

Perlu diketahui, bagi seseorang yang memiliki ilmu silat tingkat tinggi, menangkap ular

bukanlah termasuk pekerjaan sulit, yang sulit justru harus memiliki keberanian besar untuk

menangkap binatang melata itu.

Karena kedua ekor ular yang menyerang sekarang bukan saja besar bentuknya, bahkan amat

berbisa, bila gagal menangkap dalam sekali gempuran, bisa jadi sang uiar akan balik mematuk,

akibatnya bisa terluka oleh gigitan ular itu.

Melihat cara Cu Bi-lian menangkap ular, diam-diam Cau-ji bersorak memuji, perempuan ini

bukan saja cerdas dan cekatan, bahkan keberaniannya melebihi orang lain.

Terdengar kedua ekor ular itu mendesis perlahan, tahu-tahu bagian tujuh incinya di belakang

kepala sudah terhantam telak, setelah meronta sebentar akhirnya mampus seketika.

Sedangkan ular yang merangsek maju, meski sudah ditangkap bagian mematikannya, tapi sang

ular malah berbalik mencoba menggigit, sedang badannya yang besar langsung melilit di atas

lengan kanannya.

Tampak gadis itu menekuk lengan kanannya lalu mengebas kuat-kuat, tiba-tiba ular tadi

mengendorkan lilitannya.

Dengan wajah sama sekali tak berubah nona itu berdiri, dengan cepat dia letakkan bangkai

kedua ekor ular itu ke balik jendela, kemudian dia balik lagi ke tempat semula dan berbaring purapura

pingsan.

Kembali setengah jam lewat tanpa terjadi sesuatu apa pun, baru saja Cau-ji mulai mengantuk,

tiba-tiba ia bersin berulang kali, tanpa sadar ia tingkatkan kewaspadaannya.

la tahu tubuhnya kebal terhadap racun, asal dia mulai bersin, hal ini menandakan ada hawa

racun yang terisap ke dalam tubuhnya.

Saat itu dia tak tahu bagaimana keadaan ketiga nona itu, diam-diam ia pun membuat

persiapan.

Seperempat jam kembali berlalu, mendadak dari luar jendela terdengar suara lirih, kemudian

tirai kelihatan bergoyang dan sesosok bayangan manusia menyusup masuk ke dalam ruangan

dengan kecepatan tinggi.

Mengintip dari balik bajunya, Cau-ji melihat orang yang menyusup masuk itu adalah seorang

aneh berkerudung hitam yang mempunyai perawakan kecil pendek, saat itu dia sedang berjalan

memasuki ruangan.

Dengan begitu santai manusia aneh itu langsung menghampiri dua bersaudara Cu, mendadak

dengan sekali gebrakan dia totok jalan darah mereka berdua.

Belum sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu kedua gadis itu sudah tertotok jalan darahnya.

Saat itulah manusia aneh itu melepaskan kain kerudung hitamnya hingga tampak raut muka

panjangnya yang mirip muka kuda, gumamnya sambil tertawa ringan, “Wah, gadis cantik yang

menawan, tak malu disebut gadis bangsawan!”

Sambil berkata, diamatinya tubuh kedua gadis itu berulang kali.

Tenggelam perasaan Cau-ji menyaksikan kedua gadis itu tertotok jalan darahnya sementara Cu

Bi-lian tergeletak tak berkutik di lantai, jelas ia sudah keracunan, diam-diam dia pun membuat

persiapan untuk turun tangan.

Dalam pada itu manusia aneh bermuka kuda itu telah mengawasi pula tubuh Cu Bi-lian, lalu

katanya menyeramkan, “Lohu memang sedang hokki, ternyata dengan satu panah bisa mendapat

tiga burung, hehehe”

Sembari berkata, lagi-lagi dia mengayunkan tangan kanannya dan menotok jalan darahnya.

“Hm, bocah busuk ini kurang pas kalau dibiarkan berada bersama tiga nona cantik ini, lebih

baik biar dia mampus saja!”

Tiba-tiba badannya melompat maju, kaki kanannya langsung menendang pinggang Cau-ji.

Melihat datangnya serangan, Cau-ji mengayunkan tangan kanannya ke atas, lalu

mencengkeram pergelangan kakinya, setelah itu didorongnya kuat-kuat.

Terdengar lelaki aneh bermuka kuda itu menjerit kesakitan, tubuhnya langsung terbanting ke

lantai.

Sambil tertawa seram Cau-ji bangkit berdiri, ejeknya, “Hei, setan tua, kau memang hokki

sekali!”

Manusia aneh itu melotot buas, tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya membacok

lambung Cau-ji-

Dengan cekatan anak muda itu melepaskan satu tendangan kilat, yang diarah adalah alat

kelamin musuh.

Terdengar jerit kesakitan bergema dalam ruangan, alat kelamin manusia aneh itu kontan

tertendang telak, tampak darah segar bercucuran membasahi celananya.

“Ayo, serahkan obat pemunahnya!” bentak Cau-ji sambil mencengkeram dadanya.

“Hm, jangan harap!” sahut manusia aneh itu gusar, apalagi mengingat alat pencipta

keturunannya sudah remuk terkena tendangan, sudah jelas di kemudian hari tak ada harapan lagi

baginya untuk mencari kesenangan.

Daripada terjatuh ke tangan lawan, dia jadi nekat, tiba-tiba sambil menggigit lidah sendiri ia

bunuh diri.

Cau-ji sama sekali tidak menyangka kalau musuhnya bakal nekat, dalam jengkelnya dia pun

menggeledah seluruh saku manusia aneh itu.

Siapa tahu kecuali beberapa lembar uang kertas dan sedikit hancuran perak, tak ditemukan

benda apa pun.

Diam-diam Cau-ji menghela napas, dengan perasaan kecewa ia bangkit kembali.

Dibopongnya tubuh Cu Bi-lian ke atas pembaringan, melihat wajah ketiga nona itu lamat-lamat

muncul warna hitam, pemuda itu jadi panik, ia tahu hawa racun sudah mulai menyerang.

Sementara masih panik dan tak tahu apa yang harus diperbuat, tiba-tiba matanya menyaksikan

darah yang meleleh dari mulut manusia aneh itu.

Satu ingatan segera melintas, wajahnya pun kembali berseri.

Setelah menyiapkan tiga cawan, ia gigit jari tangan sendiri hingga berdarah dan

menampungnya ke dalam cawan-cawan itu. Selesai itu, dia membawa secawan darah mendekati

pembaringan.

Dilihatnya Cu Bi-lian berbaring dengan mata terpejam dan gigi terkatup rapat, ia tahu keadaan

begini agak susah baginya untuk melolohkan darah ke mulut gadis itu.

Akhirnya diteguknya darah anyir itu lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir gadis itu, dengan

ujung lidah ia mencoba membuka katupan bibir si nona, setelah itu baru perlahan-lahan

menyalurkan darah segar itu ke mulutnya.

Tak lama setelah darah itu mengalir masuk ke dalam perutnya, Cu Bi-lian menghela napas

panjang dan siuman kembali.

Begitu tahu Cau-ji sedang menempelkan bibirnya di atas bibir sendiri, nona itu jadi jengah,

serunya lirih, “Kau…!”

Dia mencoba meronta sambil menghindari ciuman bibirnya.

Buru-buru Cau-ji menuding ke arah dua gadis lainnya sambil meneruskan ciumannya.

Berdebar keras jantung Cu Bi-lian, ia tahu pemuda itu sedang membantunya memunahkan

pengaruh racun, biar begitu dia mendorong juga tubuh sang pemuda sambil berbisik, “Kongcu,

biar aku minum sendiri!”

Cau-ji manggut-manggut, setelah menyerahkan cawan itu dia pun berjalan menghampiri Cu Biih.

Sambil meneguk sendiri darah dalam cawan, diam-diam Cu Bi-lian mengawasi tingkah-laku

Cau-ji yang menciumi dua nona lainnya, pipinya jadi panas dan merah begitu terbayang kembali

bagaimana pemuda itu menciumnya tadi.

Sambil tertawa, ujar Cau-ji kemudian, “Syukurlah kalian semua bisa lolos dari mara bahaya,

selesai bersemedi dan mengusir keluar seluruh pengaruh racun, besok aku akan mentraktir kalian

makan bakmi kaki babi!”

Ketiga nona itu tertawa cekikikan, tanpa bicara mereka pun segera duduk bersemedi.

Melihat cara ketiga nona itu bersemedi, Cau-ji tahu gadis-gadis itu selain mempelajari Sim-hoat

tenaga dalam aliran lurus, dasar yang mereka miliki pun cukup kuat, diam-diam dia pun merasa

lega.

Selesai meronda keluar kamar, dia sendiri pun duduk bersemedi untuk memulihkan tenaga.

0oo0

Lok-yang merupakan salah satu dari enam bekas kota raja yang tersohor dalam sejarah

Tionggoan.

Kota Lok-yang menjadi penting artinya karena letaknya yang strategis dan persis berada di

pusat kekuasaan militer.

Hari ini di depan sebuah bangunan mewah di sebelah barat kota Lokyang datang sebuah kereta

kuda, kalau dilihat dari debu yang mengotori seluruh badan kereta, bisa diduga kendaraan itu baru

saja menempuh perjalanan jauh.

Yang muncul tak lain adalah Cau-ji dan tiga bersaudara keluarga Cu.

Semenjak melancarkan serangan waktu berada di rumah penginapan malam itu, pihak Jit-sengkau

tidak mengirim anak buahnya lagi untuk melakukan sergapan, karena itulah mereka dapat tiba

di rumah dengan lancar.

Cu Bi-lian yang menyaru sebagai kusir kereta segera menggedor pintu besi tiga kali dan pintu

pun perlahan-lahan terbuka lebar.

Empat lelaki setengah umur yang berdandan Bu-su segera menjura dalam-dalam seraya

berseru, “Menjumpai nona!”

“Tak usah banyak adat!” tukas Cu Bi-ih sambil menyingkap tirai kereta dan berjalan turun.

Baru saja Cu Bi-hoa melompat turun dari kereta, seorang kakek berwajah bersih dan seorang

nyonya setengah umur bertubuh gesit telah muncul di samping kereta dan memberi hormat

kepada kedua gadis itu.

“Gara-gara di tengah jalan ada sedikit masalah hingga kami pulang telambat, di rumah tak ada

masalah bukan?” tanya Cu Bi-ih.

“Tak ada urusan,” jawab nyonya setengah umur itu dengan hormat, “eeei, mana nona kedua?”

Cu Bi-lian yang selama ini masih duduk di atas kereta segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya,

“Chin-congkoan, aku berada di sini!”

“Ah nona, ternyata ilmu menyaru mukamu makin hari makin hebat,” puji wanita setengah umur

itu tercengang, “coba lihat, kau adalah putri ningrat, masa melakukan perbuatan rendah semacam

itu?”

“Karena di dalam kereta ada tamu agung!” jawab Cu Bi-lian sambil tertawa misterius.

Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan serentak sinar mata semua orang dialihkan

ke dalam kereta itu, mereka ingin tahu tokoh manusia seperti apakah yang bisa membuat Cu Bilian

yang selama ini angkuh dan enggan tunduk kepada siapa pun rela menjadi kusir keretanya.

“Tidak berani!” sahut Cau-ji sambil melompat turun dari dalam kereta.

Semua orang segera merasakan pandangan matanya jadi terang, tak tahan diam-diam

soraknya, “Wow, pemuda yang amat tampan!”

Sementara itu Cu Bi-ih telah berseru, “Kongcu, mari kita berbincang di dalam saja!”

Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut kepada semua orang, kemudian bersama Cu Bi-ih

berjalan masuk ke dalam pintu gerbang.

Begitu Cu Bi-lian melompat turun dari tempat duduk kusir, seorang lelaki kekar segera

melompat naik menggantikan posisinya dan membawa kereta itu menuju ke pintu samping.

Pemandangan di dalam gedung sungguh indah, selain kebunnya luas, aneka bunga tumbuh

dengan harumnya.

Setelah masuk ke ruang dalam dan mengambil tempat duduk, Cu Bi-lian baru berkata sambil

tersenyum, “Kongcu, pernah mendengar tentang Thian-te-sian-lu (sejoli dewa langit dan bumi)?”

Cau-ji melirik sekejap ke arah kakek dan wanita cantik itu, kemudian sambil bangkit berdiri,

ujarnya dengan hormat, “Apakah Cianpwe berdua adalah Leng-cianpwe dan Chin-cianpwe?”

Kakek dan nyonya cantik itu serentak bangkit berdiri sambil menyahut, “Aku adalah Leng Bang,

sedang dia adalah istriku, Chin Tong, memberi hormat kepada Kongcu!”

Habis berkata mereka segera memberi hormat.

Cepat Cau-ji berkelit ke samping sambil katanya gugup, “Wanpwe adalah Ong Bu-cau dari kota

Kimleng, ayahku Ong lt-huan!”

Mendengar nama itu, Leng Bang nampak kegirangan, seninya cepat, “Oh, rupanya Kongcu

adalah keturunan Ong Sam-kongcu, tak heran nona kedua bersedia jadi kusirmu, sungguh

beruntung pada hari ini aku Leng Bang bisa berjumpa dengan Kongcu!”

Cu Bi-lian menggeleng kepala, katanya, “Leng tua, kau keliru! Biarpun keluarga Ong-kongcu

ternama di Seantero jagad, namun belum cukup untuk membuatku menjadi kusir bagi keretanya,

pernahkah kau melihat aku menjadi kusir untuk kereta ayahku?”

Dari pembicaraannya itu, bisa disimpulkan kalau asal-usul ayahnya pasti luar biasa.

“Maaf hamba salah bicara, maaf hamba salah bicara!” buru-buru Leng Bang minta maaf.

Kembali Cu Bi-lian tertawa. “Leng