Pisau Kekasih

New Picture (2)gg

Pisau Kekasih

Karya : Gu Long

Saduran : Ynt/Liang YL Editor : Adhi H

Sumber DJVU : Manise

Convert, edit, Ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

JILID KE SATU

Lim Leng-ji telah datang Jika kau belum pernah bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau hanya orang biasa seperti kebanyakan orang. Jika kau melewatkan kesempatan baik bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau adalah orang yang sangat bodoh.

Jika kau bertemu dengan Lim Leng-ji dan tidak merasa

silau atau takjub, mungkin kau seorang yang buta atau

idiot.

Jika kau bertemu dengannya dan langsung berpikiran

kotor, tidak bisa berkata-kata, kau pastilah seekor babi.

Orang-orang berkata inilah cermin diri Lim Leng-ji.

Jika kau bisa bertemu dan duduk berdampingan dengan

Lim Leng-ji, kau pasti akan segera terpikirkan, berapa

besarkah uang yang harus dikeluarkan hanya untuk bisa

duduk sambil berbicara dengannya?

Kau pasti akan lebih berpikir barang berharga yang

paling berharga bagaimana, agar bisa membuat kita menjadi

tamu istimewanya?

Benarkah Lim Leng-ji adalah wanita yang seperti itu?

Tentu saja semua ini harus melalui penyelidikan terlebih

dahulu, baru kita bisa tahu.

Kereta Lim Leng-ji masih belum memasuki jalan utama

di kota Koh.

Tapi orang yang lalu lalang di jalan utama kota itu sudah

mengumumkan bahwa Lim Leng-ji sudah datang. Orang

yang masih lalu lalang di sepanjang jalan utama kota itu

pun langsung memasuki toko-toko dan rumah makan yang

berada di dua belah sisi sepanjang jalan itu, dan para

pedagang kaki lima pun memindah-kan barang

dagangannya ke sudut-sudut jalan.

Jalan utama kota itu langsung menjadi sepi.

Tidak ada panji dan payung kipas juga tidak ada suara

pukulan gong yang mengiringi, padahal dalam satu hari

penuh, malam hari adalah waktu yang paling ramai dan

penuh orang tetapi jalanan itu sekarang malah sangat sepi.

Bagaikan bak cat yang dipenuhi warna, kedua sisi kereta

itu bertatahkan giok dan emas serta ditarik oleh sepasang

kuda, kereta itu memasuki jalan utama tersebut.

Suara derit kereta kuda telah menenggelamkan bunyi

suara yang lainnya.

Saat itu di setiap sudut jalan hanyalah terlihat kepalakepala

orang yang terjulur keluar melalui pintu dan jendela

toko-toko yang ada di sekitar jalan itu, mengikuti gerakan

kereta kuda yang datang.

Namaku Wie Kai

Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 27-28 tahunan,

berpakaian seperti umumnya tapi memiliki senyum yang

sangat menawan hati orang di sekitarnya.

Anak muda ini sangatlah menarik perhatian orang,

karena dia sedang berdiri di tengah jalan utama itu dan

menghadang kereta kuda. Parasnya serta sikap-nya sangat

menarik perhatian orang.

Entah benar-benar kurang ajar atau menghina.

Kata orang, cara mencari perhatian adalah melakukan

sesuatu yang hendak dilakukan orang lain tapi belum

sempat dilakukan, atau melakukan sesuatu yang orang lain

tidak berani melakukannya.

Tapi jika kau melakukan sesuatu yang tidak berani

dilakukan orang lain, justru pada akhirnya akan

menimbulkan rasa iri hati atau cemburu.

Hanya saja melihat kesantaian, kekurang-ajaran, serta

senyum menawan anak muda ini, orang-orang yang sedang

naik darah pun pasti akan segera reda marahnya.

Siapakah gerangan anak muda ini?

Pakaiannya tidak gemerlapan, sikapnya juga tidak

tampak serius, malahan cenderung bersifat berandalan.

Tapi hanya sedikit orang yang tahu apakah harus

menganggukkan kepala terhadapnya atau malah

menggelengkan kepala.

Mungkin kemunculannya bisa dipandang sebagai hasil

keberuntungan yang tidak terduga.

Kejahatan manusia justru biasanya dilandasi oleh alasan

yang lemah ini.

Sekarang anak muda ini malah memusatkan

pandangannya.

Kereta kuda itu memasuki kota dengan perlahan lahan.

Anak muda itu sedang berdiri menghalangi jalan. Jika

kereta itu adalah kereta yang membawa raja, maka

perbuatan ini bisa disebut dengan pemberontak.

Tiba-tiba dia mengangkat tangannya, berseru:

“Oi! Nona Lim Leng-ji yang ada di dalam kereta!”

Sikapnya ini bukan hanya kasar, tetapi juga gegabah dan

kekanak-kanakan.

Tapi saat itu tidak ada seorang pun yang mau

menasehatinya, malah berharap kesalahan yang

dilakukannya mendapat reaksi.

Tentu saja inipun yang menjadi isi hati setiap orang.

Laki-laki yang menjadi kusir kereta itu tampak sangat

kuat, kelihatannya dia menangkap sebagai pengawalnya

juga.

Sekali menghela cemeti, di udara langsung keluar

percikan api dari lecutan cemeti itu dan kemudian

menyerang anak muda itu.

Paling tidak ada sebagian orang pasti bertanya-tanya

apakah serangan itu bisa mengenai anak muda itu atau

tidak.

Di dunia ini kebanyakan orang pasti berpikiran seperti

itu, bahkan jika anak muda itu berpikiran rasional, pastilah

akan berpikiran seperti itu juga.

Anak muda itu mengeluarkan tangannya, dengan tenang

menahan serangan cemeti yang membabi buta.

Hanya ada beberapa orang yang benar-benar bisa

melakukan perbuatan itu dengan baik.

Pengemudi kereta yang keretanya sedang menghadap

kearah matahari terbenam itu sangat marah sampai muka

dan telinganya merah, karena serangan cemetinya bisa

ditahan.

Sebelah tangan anak muda itu mencengkram cemeti itu

dan mengangkat tangan yang sarunya lagi sambil berseru:

“Lim Leng-ji Siocia yang ada di dalam kereta, ijinkan

aku melihatmu?”

Tidak akan ada seorang pun yang percaya bahwa tirai

kereta itu akan terbuka.

Sebab di dalam kereta itu memang ada Lim Leng-ji.

Walaupun orang yang berpikiran seperti itu jumlahnya

sangat banyak, tetapi tetap saja di antara orang yang berada

dipinggir sepanjang jalan itu, ada yang mendekati depan

kereta, mereka tidak mau melewatkan peristiwa yang

langka yaitu terbukanya tirai kereta itu.

Prilaku seperti ini dengan anggapan bahwa tirai kereta

itu tidak mungkin akan terbuka, benar-benar sangat bertolak

belakang.

Kombinasi yang bertentangan.

Itulah kehidupan manusia.

Ini pastilah hanya kebetulan, tirai kereta itu perlahanlahan

terbuka.

Pakaian yang berwarna putih yang membung-kus

kulitbagaikan salju.

Benar-benar tidak akan ada orang yang merasa bahwa

ada sesuatu yang berbeda pada dirinya dibandingkan

dengan wanita lainnya.

Tetapi pada saat yang bersamaan tidak ada satu orang

pun yang pernah menjumpai wanita yang secantik dirinya.

Lim Leng-ji benar-benar Lim Leng-ji.

Ada banyak wanita di dunia ini yang bisa menggetarkan

hati orang, tetapi mereka bukanlah Lim Leng-ji.

Di dunia ini ada dua jenis wanita yang tidak mungkin

menerima kecemburuan yang sama, jika bukan wanita yang

sangat jelek pastilah wanita sangat cantik.

Dandanan yang menarik saja tidak cukup untuk

melukiskan tentang dirinya. ^

Mereka saling memandang satu sama lainnya.

Dia mungkin satu-satunya pria yang tidak memiliki rasa

rendah diri, tetapi jantungnya tetap saja berdegup.

Dia percaya jika detak jantung dari orang-orang yang

berada di keempat penjuru kereta itu disatukan, suaranya

pasti lebih keras dibandingkan dengan tambur besar yang

dipukul sekuat tenaga.

Pandangan matanya sangat tajam juga sangat serakah,

sungguh salah satu jenis pandangan mata pria yang paling

dibencinya. Tapi tiba-tiba dari matanya muncul pandangan

yang berbinar-binar.

Anak muda itu menggosok-gosok ujung hidung nya

sambil berkata:

“Namaku Wie Kai!”

Dia tidak bisa mengerti makna kata-kata yang

terkandung dalam pandangan mata Lim Leng-ji, tetapi

sepertinya ada perasaan yang saling mengenal satu dengan

lainnya. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa saling

memandang seperti itu?

Mereka seperti orang yang pernah bertemu di dalam

mimpi saja.

Kusir kereta yang bak pengawal itu tiba-tiba saja muncul

di samping anak muda itu.

Walaupun orang ini sekujur rubuhnya dibalut oleh

busana yang indah, tetapi orang yang bermata tajam dengan

sekali lihat pasti langsung tahu kalau dia adalah orang yang

hanya patuh akan perintah.

Kepribadian yang seperti itu sudah tidak bisa dibuang

juga tidak bisa dirubah.

Orang itu berkata kepada Wie Kai:

“Namamu Wie Kai, betul tidak?”

“Aku baru saja mengatakan pada nona Lim Leng-ji.”

Jawab Wie kai sambil tertawa.

Kata kusir itu:

“Di Ta-ih-tu-hong (wisma judi Ta-ih), kau telah

berhutang pada tuan mudaku sebanyak 320 tail.”

“Tuan mudamu?” Tanya Wie Kai dengan tanpa

menghilangkan senyum di mukanya.

Kusir itu membalikkan tubuhnya dan di atas undakundakan

batu di depan sebuah kedai arak berdiri seorang

yang berpakaian indah dan menonjol.

Penampilannya menunjukkan bahwa dia orang yang

bermartabat dan air mukanya serius sehingga orang mana

pun, hanya dengan melihat sekilas pasti langsung percaya

bahwa dia adalah tuan muda yang berasal dari keluarga

kaya atau pemuda dari keluarga yang terhormat.

Hanya saja anak muda ini dengan Wie Kai adalah dua

jenis orang yang berbeda.

Wie Kai orangnya tampan, pembawaannya santai,

bebas, ada sedikit sifat berandalan, tetapi malah justru

menarik perhatian orang terutama di saat dia tertawa.

Hanya melihat tawanya, biarpun makan malam tidak

ada semangkuk nasi, juga akan terasa seperti berada di

langit ke sembilan.

Wie Kai menoleh dan memandang anak muda yang

bermuka serius itu, lalu tiba-tiba berkata:

“Benar-benar orang yang berpendidikan.”

Akulah Loo Cong

Anak muda yang bermuka serius itu maju ke depan

seraya menyatukan kedua tangan di depan dadanya:

“Margaku Loo dan namaku adalah Cong. Terhadap

sikap budakku yang tidak sopan, harap Wie-heng jangan

masukkan ke dalam hati.”

Wie Kai berkata:

“Jika ingin menagih hutang, mengapa anda harus

bersikap misterius seperti itu?”

Uang sebanyak 320 tail bukanlah jumlah yang sedikit,

orang yang bermata tajam pasti bisa melihat bahwa di

tubuh Wie Kai tidak akan ada uang sebesar 320 tail.

Saat itu Wie Kai membuka kepalan tangannya dan kusir

kereta menarik kembali cemeti yang terjulur tadi.

Walaupun sedang membicarakan masalah ‘pengembalian

hutang’, tapi di bawah tatapan banyak orang dia sama sekali

tidak mengingkarinya.

Padahal ada sebagian orang sedang mencemas kannya,

juga ada sebagian lagi yang berharap melihat gurauannya.

Pelayan yang jahat ini sengaja membuatnya malu di

depan Lim Leng-ji, tapi majikannya sama sekali tidak

peduli.

Kejadian yang memalukan, kali ini sudah tidak bisa

dihindari lagi.

“Harap kata-katanya jangan Wie-heng masukan ke

dalam hati!” kata Loo Cong lagi.

Hati Wie Kai terasa sangat gugup, tapi dia tetap bersikap

tenang.

Lagipula tirai kereta sudah diturunkan kembali, tetapi

dia percaya, Lim Leng-ji yang berada di balik tirai krrt’hi itu

tetap memperhatikan dirinya.

Wie Kai adalah orang yang sangat pintar dan <rkatan,

karena itu dia bisa setiap saat mengeluarkan tawa y.mj; incnggetarkan

hati setiap orang.

Pandangan mata Wie Kai menyapu ke empat penjuru,

lalu tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada seorang gadis

yang berdandan sederhana dan memiliki sepasang mata

yang besar, yang berjarak 5-7 langkah darinya.

Saat itupun dia merasa bahwa hai yang menjengkelkan

seperti ini sudah berkurang setengah-nya.

Tawanya malah semakin gembira dan semakin

membingungkan orang.

Dia melambaikan tangannya kepada gadis itu.

Gadis itu layak kenalannya atau pun anggota

keluarganya saja.

Tapi… mengapa gadis yang bermata besar itu justru

malah datang menghampiri?

Padahal mereka berdua sama sekali tidak saling

mengenal, paling tidak belum pernah sekali pun bertegur

sapa.

Lalu mengapa setelah dia terperanjat malah datang

menghampirinya.

Sesudah datang mendekat, barulah gadis itu sadar dan

bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa aku mau datang

mendekatinya? Benar-benar tidak bisa dimengerti!

Wie Kai melambai-lambaikan tangan dengan muka yang

senang berkata:

“Tolong berikan uangnya pada Lpo-heng ini!”

“Aku?” Gadis yang bermata besar itu bertanya dengan

suara kecil.

Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya dan

wajahnya tidak berubah sedikit pun. Memperlihatkan uang

sebesar 320 tail, berkeping-keping uang saja, kenapa harus

sampai ribut-ribut segala?

Pembawaan gadis bermata besar itu sangat tenang,

bagaimana pun juga mereka adalah manusia yang sudah

berpengalaman dalam kehidupan ini.

Dari ke empat penjuru jalan tidak terdapat banyak orang

yang mengamati mereka berdua.

Jika mereka berdua hendak adu keras kepalan, mereka

benar-benar jagoan.

Gadis bermata besar itu berkata dengan suara kecil:

“Walaupun aku bisa menolongmu, tapi dengan sikapmu

yang seperti ini, mengapa aku harus menolongmu?”

Suaranya sangatlah kecil sehingga hanya mereka berdua

saja yang bisa mendengarnya.

Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata dengan

suara kecil:

“Karena namamu Hong Ku!”

“Kalau aku Hong Ku, memangnya kenapa?”

“Sebab Hong Ku adalah Sam-jiu-Koan-in (Dewi Kwanin

Bertangan Tiga).”

“Kalau Sam-jiu-Koan-in, memangnya kenapa? Apa

urusannya denganmu?”

Walaupun di mulutnya mengatakan ‘apa urusan mu’,

tetapi raut wajahnya tersenyum.

Meski Wie Kai sedang memohon uluran tangan orang,

tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah dan tetap

saja tersenyum, seperti layaknya seorang pelayan

perempuan yang bersedia melakukan apa pun demi

kepentingan majikannya.

“Walaupun memang bukan urusanku, tapi tadi saat kau

melakukan beberapa ‘transaksi jual beli”, aku adalah satusatunya

saksi mata..” Kata Wie Kai.

Raut wajah Hong Ku sedikit berubah.

“Kau?”

Wie Kai berkata sambil berbisik:

“Di tubuhmu ada sebuah kalung emas, selem-bar kertas

uang (cek), dan sebuah tutup kepala dari batu giok yang

sangatmahal.”

Raut wajah Hong Ku langsung berubah.

“Kau!”

“Setiap kali melakukan aksinya selalu bersih dan rapi,

nama Sam-jiu-Koan-in benar-benar memiliki prestasi yang

patut dibanggakan!”

Tiba-tiba Hong Ku mengeluarkan tawa yang manis,

seperti layaknya pelayan yang dipuji oleh majikannya,

katanya:

“Siau-kai, kau benar-benar hebat! Aku sungguh mengaku

kalah olehmu!”

Wie Kai menundukan kepalanya, berkata:

“Terima kasih! Aku akan segera mengembalikannya.”

Hong Ku segera mengeluarkan selembar cek dan

memberikannya kepada Loo Cong sambil berkata:

“Di jalan menagih hutang, ternyata dalam keluarga

terhormat juga diajarkan cara menagih hutang seperti ini.”

Loo Cong hanya tertawa, menggerakan rahang nya,

memberi tanda memanggil kepada bawahannya.

Wie Kai mengepalkan tangannya di depan dada sambil

berkata:

“Loo-heng, aku keluar rumah biasanya sangat jarang

membawa uang, jika saja pembantuku tidak berada di sini,

aku benar-benar merasa tidak enak.”

Hong Ku juga bukanlah orang sembarangan.

Untuk pertama kalinya dia diperas orang dengan

menggunakan kelemahannya, belum lagi dianggap sebagai

pembantu orang lain.

Hanya saja dia adalah seorang yang tahan banting alias

berkepala dingin, jika membantu orang pasti sampai tuntas,

jadi dia hanya bisa mempertahan-kan status ‘pembantu’ nya

sambil tertawa kecut.

Siapa suruh namanya dipanggil Wie Kai.

Orang lain boleh saja tidak mengenal Wie Kai, tetapi

perbuatan mereka ini mana bisa dibiarkan?

Loo Cong bersoja sambil berkata:

“Tadi aku sudah katakan, jangan dimasukkan ke dalam

hati!”

Dari begitu banyak orang, sebenarnya ada berapa banyak

orang yang tahu, saat ini akan ada berapa banyak episode?

Mungkin hanya Loo Cong yang tahu. Ada kemungkinan

Lim Leng-ji juga tahu.

BAGIAN I

BAB I

Segala sesuatu yang ada di kota kuno ini cukup baik,

bahkan kebaikan hati orang-orangnya juga sangat terasa.

Hanya ada satu yang tidak baik yaitu jika tidak ada angin

maka tingginya tanah bisa mencapai 3 kaki, jika ada hujan

maka sepanjang jalan pasti penuh lumpur.

Bukankah ada pepatah mengatakan hujan di musim semi

lebih berharga daripada minyak? Tetapi jika hujan terus

turun selama 3 hari 3 malam lamanya, maka lorong kecil

ini pun pasti berair dan berlumpur.

Tetapi sebagian besar rumah penggadaian yang ada di

dunia ini justru berada di lorong kecil ini.

Baru saja Wie Kai hendak mengeluarkan labu air giok

dari dalam kantongnya, saat itu dia melihat rumah

penggadaian menutup pintunya.

Bisa dibilang pada awalnya dia berpikir hendak

menggadaikan labu air giok itu ke rumah gadai.

Tetapi akhirnya Wie Kai tetap kembali ke kamar

kecilnya dengan muka tersenyum.

“Cuh…” terdengar suara orang, membuang ludah.

Di atas sebuah meja kecil terdapat lima buah makanan

yang dipanggang yang terdiri dari setengah ekor ayam

panggang dan kacang lima bumbu.

Dia segera duduk di sebelah meja kecil itu dan

mengambil lentera yang ada di atas meja.

Di atas meja itu juga terdapat selembar kertas yang di

atasnya tertulis: ‘

Makanan ini mengandung racun, jika kau tidak berani

memakannya, maka kau bukan Wie Kai.

Di pojok bawah kertas itu tertulis huruf ‘Lim’.

Tulisannya sangat indah dan ditilik dari caranya menulis,

dia pasti orang yang pernah belajar silat.

Wie Kai malah mendaratkan ciuman di atas kertas itu,

lalu mulai makan sepuasnya.

Wie Kai sama saja dengan kota kuno ini, semuanya baik,

hanya ada satu yang tidak.

Dia tidak pandai mengendalikan uang.

Menjadi orang budiman sampai titik darah penghabisan

merupakan gambaran yang indah bagi-nya, dan jika dia

menginginkan kehidupannya menjadi lebih nyaman dan

enak sedikit, baginya itu semudah membalikkan telapak

tangan saja.

Sesudah kenyang, barulah dia bersiap-siap untuk masuk

ke alam mimpi. Maka dalam sekejap mata dia langsung

tertidur.

Jika malam ini tidak tidur, mana ada tenaga untuk esok

hari.

Bisa dikatakan di sisi lain, dia itu mirip seperti layaknya

anak orang kaya.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba dia

terbangun.

Ini adalah salah satu hal yang mencengangkan orang,

mau tidur langsung tidur, mau bangun langsung bangun.

Walaupun saat itu kamar kecil itu tidak ada cahaya

lentera, tetapi dia bisa melihat ada bayangan orang yang

berdiri di sebelah meja kecil itu.

Wie Kai berkata:

“Sobat, kau datang bukan pada waktu yang tepat.”

Orang ini berusaha menghampiri mulut jendela, tetapi

Wie Kai langsung menghadang di depan mulut jendela itu.

Kedua orang itu tidak bergerak sedikit pun, mereka

saling mereka-reka gerakan yang bakal dilaku-kan pihak

lawan.

Tiba-tiba orang ini menghampiri ranjang dan malah

berbaring di atasnya.

Tindakan ini malah membuat Wie Kai termangu, begitu

dia menghampiri ranjang, orang itu langsung

menyemburkan sejenis serbuk dari tangan-nya.

Wie Kai tidak bisa tidak harus menghindar dan dalam

sekejap mata pihak lawan langsung melarikan diri

lewatjendela.

Melihat ilmu meringankan tubuh orang itu, Wie Kai jadi

tidak ingin mengejarnya.

Serbuk yang disemburkan melalui tangan orang tadi

ternyata adalah kulit kacang yang berada di atas meja kecil

yang berasal dari kacang yang dimakan-nya tadi.

Kulit kacang yang begitu ringan bisa mengeluarkan

suara, “Set… set…”

Dia menyalakan lentera dan melihat kamar kecil yang

seperti tidak ada penghidupan itu, semua sama sekali tidak

ada yang berubah, hanya ada selem-bar kertas yang hilang.

Apakah orang itu datang hanya demi selembar kertas itu?

Tentu saja, orang ini bisa membawa pergi kertas itu

tanpa harus menyalakan lentera, bisa ditebak orang itu pasti

datang karena benda ini.

Bisa dilihat betapa pentingnya kertas itu bagi orang itu.

Di daerah ini, tulisan yang ditulis oleh Lim Leng-ji

sendiri jika dibawa ke rumah gadai untuk digadaikan, bisa

dihargai beberapa puluh tail.

Di saat itu tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu.

Jika di pemukiman kumuh terjadi keributan maka tidak

akan ada orang yang bertanya, tetapi Wie Kai adalah

pengecualian.

Malam ini, ditempat ini tiba-tiba menjadi ramai.

Tempat ini hanyalah kamar kecil dari kayu yang terdapat

di sudut kota ini.

Walaupun kau mengirimkan tandu guna mengundang

datang Sam-jiu-Koan-in Hong Ku, takutnya dia tidak akan

memandang sebelah mata pun ke kamar kecil ini.

Sebenarnya Lim Leng-ji itu membawa keberuntungan

atau malah kesialan baginya.

“Ada apa?” sahut Wie Kai.

Orang yang berada di luar pintu itu berkata:

“Aku Yo Lim, petugas keamanan yang ber-patroli di

Kabupaten Lu-lam-kong, sengaja datang untuk bertemu

dengan Wie-tayhiap.”

Wie Kai bukan saja tidak pernah mendengar nama orang

ini sekalipun, bahkan jabatannya apa pun dia sama sekali

tidak tahu.

Pada jaman dinasti Beng, petugas keamanan (Sun-cian)

tugasnya hampir sama dengan penjaga keamanan yang

bertugas menyelidiki suatu masalah atau kasus.

Wie Kai belum pernah berhubungan dengan orang

seperti ini sebelumnya.

Tetapi dia membukakan pintu juga untuknya.

Pakaian yang dikenakan Yo Lim sangat praktis,

orangnya pun sederhana, sama sekali tidak terlihat tampang

seperti pegawai pemerintah.

Wie Kai mempersilahkan tamunya duduk lalu berkata:

“Kamar ini terlalu kecil.”

Yo Lim berkata:

“Seperti pejabat mengendarai kuda kurus, kerendahan

hati Wie-tayhiap sangat menyentuh hati.”

Di gedung pemerintah kabupaten ini, anggota nya hanya

terdiri dari tiga orang saja, selain Bupati, juga ada kuli tinta

yang hanya bertujuan untuk mengisi perutnya saja dan

sesuai dengan nama mereka, Cian-kok (lembah uang) dan

Bun-ang (menutupi perkara).

Petugas keamanan ini memiliki gaya bicara yang bisa

membuat kecemasan Wie Kai berkurang.

Wie Kai berkata:

“Jika Yo-heng ada keperluan, mengapa tidak langsung

bicara saja?”

“Di hadapan Wie-tayhiap mana mungkin aku boleh

berkata sembarangan?”

Wie Kai semakin tidak mengerti untuk apa petugas

keamanan ini datang mencari dia? .

Yo Lim mengeluarkan sebuah kertas yang hurufnya

ditulis dengan darah, menaruhnya dengan sopan di

hadapan Wie Kai sambil berkata:

“Silahkan Wie-tayhiap periksa.”

‘Tentang Lim Hujin yang merupakan orang pesimis serta

telah memutuskan hubungan dengan kehidupan dunia luar,

itu adalah urusan pribadinya, orang luar untuk apa ikut

campur?’

Huruf di atas kertas itu bertuliskan seperti itu.

Wie Kai mengusap-usap belakang kepalanya, dia sedang

berpikir apakah dia sedang bermimpi, bahkan dia sampai

harus berurusan dengan petugas keamanan segala.

Orang yang bernama Yo Lim inipun mengeluarkan

sebuah Ki-jiu dan menaruhnya di hadapan Wie Kai.

Wie Kai tiba-tiba merasa bahwa dia telah menjadi

seorang tersangka pembunuhan, bagi manusia dan hewan,

yang telah melakukan kesalahan dan harus menerima

hukumannya.

Tiba-tiba Wie Kai tertawa dan berkata: “Petugas Yo, apa

hubungannya ini dengan diriku?”

Yo Lim tertawa,tampak mukanya seperti kain sutera

yang kusut oleh tangan, lalu berkata:

“Aku merasa memang ada sedikit hubungan-nya dengan

dirimu.”

Wie Kai memandang padanya, melihatnya baik baik

untuk menentukan apakah dia benar-benar tidak salah

mengenali dirinya.

Wie kai bertanya:

“Ada sedikit hubungannya denganku?”

“Hanya sedikit, lagi pula kejadiannya baru hari ini

terjadi.”

Lagi pula kejadiannya baru hari ini terjadi!

Wie Kai segera menjulurkan tangannya dan mengusap

jidatnya untuk memeriksa apakah dirinya panas atau tidak.

Tetapi Wie Kai tetap saja mempertahankan mimik

tersenyum di wajahnya sambil berkata:

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Lebih baik kita tidak membicarakan masalah itu terlebih

dahulu, apakah Wie-tayhiap mengenal istri Lim Put-hoan?”

Jantung Wie Kai langsung berdegup kencang, lalu dia

menjawab:

“Aku pernah mendengarnya.”

Tiba-tiba Yo Lim tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata:

“Wie-tayhiap hanya pernah mendengarnya?”

Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata:

“Selain pernah mendengarnya, apa lagi yang harus aku

ketahui?”

“Mestinya bisa tahu sedikit lebih banyak.”

Lagi-lagi Wie Kai mengusap-usap belakang kepalanya

sambil berkata:

“Apakah Yo-heng bisa bicara lebih jelas lagi, apa yang

dimaksud dengan perkataanmu tadi?”

Yo Lim menjawab:

“Bisa, tentu saja bisa. Apakah Wie-tayhiap mengira Lim

hujin telah memutuskan hubungan dengan dunia luar?”

“Dia?” Tanya Wie Kai.

“Waktu Lim Put-hoan meninggal dunia, dia baru saja

berusia 27 tahun 8 bulan.”

“Wah, ingatanmu boleh juga.”

“Nama besar hujin beserta… beserta teman-nya…

Apakah Wie-tayhiap benar-benar tidak pernah

mendengarnya?”

Tiba-tiba Wie Kai bertanya kepada Yo Lim:

“Petugas Yo, menurutmu apakah kedua mata kita ini

sedang bermimpi atau kita yang sedang bermimpi?”

Yo Lim tertegun sejenak, lalu berkata:

“Wie-tayhiap benar-benar pandai bergurau.”

Wie Kai menjentik-jentikkan jarinya sampai

mengeluarkan bunyi “ctak.. .ctak…”, lalu berkata:

“Bagaimana kalau sekarang kita bicarakan tentang

masalah Lim hujin?”

“Hujin adalah orang yang senang mengoleksi barangbarang

antik, kabarnya nyonya telah menerima barang

mihk Yo Kui-hui (selir) berupa pispot yang telah

digunakannya bertahun-tahun yang lalu, kemudian setelah

menyadari bahwa barang itu ternyata palsu, dia

memutuskan hubungan dengan siapa pun.”

“Bukankah Lim hujin adalah orang yang sangat kaya?”

Tanya Wie Kai.

“Benar, menurut perkiraan orang, kekayaannya

mencapai seratus tiga puluh juta tail, pendapatan negara

tahun kemarin saja baru mencapai delapan puluh tujuh juta

tail.”

Wie Kai berkata:

“Sudah begitu kayanya, tetapi hanya karena sebuah

pispot saja dia sampai tega memutuskan hubungan dengan

siapa pun?”

Yo Lim buru-buru menjawab:

“Justru itulah yang membuatku tidak bisa

mempercayainya.”

Wie Kai kembali lagi ke masalah yang semula:

“Apakah kau merasa bahwa aku ada hubungan nya

dengan kasus ini?”

Yo Lim bertanya dengan serius:

“Kalau Wie-tayhiap sendiri sebenarnya siapa?”

“Aku siapa?”

Yo Lim mengepalkan tangannya, berkata: “Sesudah

ceritaku selesai, aku sendiri akan memberitahukan pada

Wie-tayhiap tentang hubungannya dengan kasus ini.”

Wie Kai berkata:

“Lim hujin sangat muda tetapi tetap menjanda bahkan

tidak pernah menikah lagi, benar-benar setia dan patut

dipuji.”

Yo Lim tertawa pahit sambil berkata:

“Kekayaannya begitu banyak,- bahkan disisinya

seringkali ada 3-4 orang Siau-pek-lan (pacar gelap), untuk

apa menikah lagi?”

“Siau-pek-lan tiga kata itu biasanya jarang digunakan

orang,” Kata Wie kai.

Yo Lim berkata:

“Kenyataannya semua adalah penjilat.”

“Masa yang bermuka agak hitam sedikit pun tidak ada?”

“Tidak ada.”

“Sepertinya hujin tidak pernah mendapatkan piagam

keperawanan.”

“Wie-tayhiap lagi-lagi bergurau.”

“Apakah yang mendapatkan piagam keperawanan itu

pasti perawan?”

“Pertanyaan ini rasanya sama saja dengan apakah orang

yang bunuh diri itu karena merasa hidup ini sudah cukup,

suatu pertanyaan yang sulit dijawab. Di desa asalku ada

wanita yang pernah mendapatkan piagam keperawanan,

kata orang tumit kakinya penuh dengan bekas luka.”

Wie Kai terkesiap, tidak menyangka bahwa untuk

mendapatkan piagam keperawanan begitu penuh

perjuangan.

Yo Lim mengira Wie Kai tidak dapat menang kap katakatanya,

jadi dia berkata lebih lanjut:

“Pada musim semi waktu suhu udara mulai naik, mau

tidak mau harus menggunakan tusukan untuk

mencocokkan tumit kaki, untuk memadamkan api (hasrat).”

Api ini mungkin api yang paling hebat di dunia,

begitulah pemikiran Wie Kai.

“Di antara 3-4 orang yang di samping hujin, tentu ada

satu yang paling disayang, iya kan?”

“Orang ini she Liauw dan bernama In. Bertahun-tahun

yang lalu seorang hweesio Lama pernah berkata dengan

misterius, katanya ada hubungannya dengan yang

menerima kasih sayang-nya.” Jawab Yo Lim

“Apakah orangsheLiauw masih ada?”

“Seharusnya masih ada, orang ini sudah berkeluarga dan

malahan istrinya adalah seorang dukun beranak.”

“Jika Lim Hujin ingin mencari orang untuk disayang,

harusnya mencari yang masih bujangan.”

“Setelah Lim Hujin melahirkan seorang anak

perempuan, hubungannya dengan Liauw In menjadi

renggang, bahkan ada orang yang mengatakan kalau Liauw

In sudah menghilang.”

“Petugas Yo, dilihat dari perkataanmu seperti-nya ini

sebuah kasus pembunuhan, lalu apa hubungan-nya dengan

diriku?”

“Ini harus kembali ke pokok permasalahannya. Wietayhiap

kenal dengan Lim Leng-ji?”

Wie Kai malah menjawab:

“Apa aku masih kurang meyakinkanmu?”

“Jika tidak saling kenal, siapa yang bisa menghadang

kereta di tengah jalan dan begitu memanggil dia langsung

membuka tirai keretanya?” Kata Yo Lim

Wie Kai juga agak sedikit bingung, tapi apa yang bisa dia

katakan.

Yo Lim berkata lagi:

“Kata orang Lim Leng-ji adalah anak dari Lim Put-hoan,

Lim hujin.”

Wie Kai terdiam sebentar, lalu bertanya: “Lalu apa

hubungannya?”

“Hari ini di jalan, majikan dari pengawal yang kejam

yang menagih hutang padamu juga ada hubungannya

dengan kasus ini.”

“Loo Cong?”

YoLim mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bukannya Wie Kai ingin main-main karena tidak ada

pekerjaan, tetapi dia jelas-jelas tidak pernah mengenal Lim

Leng-ji, pertemuan hari ini justru merupakan pertemuan

yang pertama.

Jika dia tidak salah, makan malam hari ini Lim Leng-ji

juga yang mengantarkannya.

Dia tidak berani seenaknya menentukan bahwa antara

dia dan Lim Leng-ji sama sekali tidak ada hubungan apa

pun, hanya saja sama seperti impian yang sudah lama,

hanya teringat sedikit bayangannya saja.

“Petugas Yo adalah pengawal keamanan yang bertugas

di Kabupaten Lu-Iam-kong, tetapi kenapa malah sampai

bertugas di kota Koh ini?” Kata Wie Kai

Wie Kai menggosok-gosokkan belakang kepalanya

sambil berkata:

“Bukankah masih ada satu orang lagi?”

Yo Lim tertawa tapi tidak menjawabnya.

Sambil menggosok-gosok bagian bawah hidung nya

sendiri, Wie Kai berkata:

“Aku juga kan?”

Yo Lim lagi-lagi menggangguk-anggukkan kepalanya.

“Lalu apa peranku dalam kasus ini?”

“Tentu saja kalau bukan muka merah mungkin muka

hitam.”

“Apa maksudnya itu?”

“Di dalam sandiwara opera, orang yang memegang

peranan penting selalu bermuka merah atau hitam.”

“Wie-tayhiap, pada dasarnya Lim Put-hoan memang

orang yang berasal dari Kabupaten Lu-lam-kong, kasus ini

tentu saja ditangani oleh Kabupaten Lu-lam-kong. Hanya

saja orang-orang yang memiliki peranan dalam kasus ini

selalu saja bergerak, tentu saja aku pun tidak bisa tinggal

diam.”

“Siapa yang meninggalkan Ki-jiu dan kertas ini?” Kata

Wie Kai

“Tidak tahu, tetapi ada orang yang menulis surat padaku

yang berkata tahu tentang seluk beluk kasus ini dan orang

itu ingin dibayar 500 tail. Aku pergi mencari orang itu tetapi

orang i tu malah menghilang.”

“Kau tidak pergi sambil membawa uangnya?” Kata Wie

Kai

“Aku membawa uang kertas, ini adalah alamat orang

itu.”

Sebuah surat ditaruh di atas meja.

Wie Kai melihat-lihat tulisan yang ada di atas kertas itu,

langsung bisa menebak orang rendah macam apa orang itu.

Orang itu menandatangani surat itu dengan guratan yang

sulit, namanya sama sekali tidak dikenal.

-oo0dw0oo-

BAB II

Langit baru saja gelap.

Kelihatan sekali pondok kayu kecil ini semakin kecil dan

semakin reyot.

Walaupun anjing piaraan milik keluarga kaya sekali pun

tidak akan tinggal di kandang yang seperti ini.

Perasaan Wie Kai sedikit banyak bisa mengerti perasaan

orang yang tinggal di tempat seperti ini.

Orang yang tinggal di kamar seperti ini, jika bukan

karena sangat miskin, pastilah orang yang sudah tidak

punya harapan lagi.

Seorang yang membuat dirinya bejat, cemar dan kacau,

itu adalah lambang dari diri orang ini.

Pintu kamar pondok kayu itu sangat reyot, sekali

disentuh langsung terbuka.

Begitu orang masuk ke dalam kamar ini, pasti langsung

tersedak oleh bau yang aneh.

Kamar yang ditinggali Wie Kai saja sudah cukup buruk.

Tapi di tempat ini orang pasti langsung terpikir kan akan

tempat tinggal seekor babi.

Dia mengangkat lentera tinggi-tinggi dan memandang

sekeliling kamar itu dengan matanya yang besar untuk

melihat keadaan di sekeliling kamar itu.

Ada sebuah meja papan dari kayu dan sebuah kursi yang

sudah kehilangan satu kakinya.

Di atas meja itu penuh dengan mangkuk-mangkuk,

piring-piring, cangkir-cangkir, sumpit-sumpit, dan banyak

peralatan makan lainnya.

Tentu saja tidak ada satu pun yang dicuci, bahkan sudah

berdebu dan ada sarang laba-labanya.

Pemandangan di dalam kamar ini bagi orang yang

hidupnya bersih dan sehat, tentu saja sangat tidak bisa

dibayangkan, mengapa bisa ada begitu banyak mangkuk,

piring serta peralatan makan yang lainnya?

Jika sudah dicuci mungkin malah bisa mem-buka toko

peralatan makan.

Wie Kai justru bisa memahami orang yang memiliki

kehidupan seperti ini.

Orang ini sama sekali tidak pernah mencuci mangkok

dan piring, ini membuktikan bahwa erang ini begitu selesai

makan maka dia tidak akan pernah menyentuh lagi

peralatan makan yang telah digunakannya, begitu selesai

digunakan maka dia akan segera membeli yang baru.

Jika ini berlangsung terus maka dalam kurun waktu satu

tahun kemungkinan besar tempat untuk berjalan pun sudah

tidak ada lagi.

Di bawah lantai rnasih berserakkan bekas kulit kacang

dan kulit kuaci.

Di atas ranjang terdapat sebuah selimut yang semula

seharusnya berwarna biru tetapi sekarang telah berubah

menjadi warna hitam yang telah sobek di sana sini serta

mengeluarkan gumpalan-gumpalan kapas yang sudah

meng-hitam.

Bantal yang ada di atas ranjang juga terlihat berminyak.

Wie Kai sama sekali tidak berani bernafas dengan

normal.

Dia menyadari orang maupun benda apa pun ada

kalanya tidak ada gantinya di dunia ini.

Tetapi jika mau kotor atau jorok, maka orang ini sudah

pasti tidak tertandingi jorok dan kotornya.

Di kepala ranjang masih terdapat sebuah meja kecil reyot

yang di atasnya terdapat tulisan yang dituliskan dengan

tulisan cakar ayam di atas selembar kertas rombeng dan

hurufnya sama persis dengan yang ditulis di atas kertas

yang dibawa oleh Yo Lim.

Jika seseorang ingin meniru tulisan huruf kuno ini

mungkin seumur hidup pun tidak akan bisa.

Di atas kertas itu tertulis:

‘Bauw Toh di Peng-hoa-louw tanggal satu dan lima belas,

Siau Kin-ya tanggal dga puluh, Pek Cu-sian di gang Hu-kui

tanggal dua puluhan setiap bulannya.’

Wie Kai tentu saja mengenal tempat ini.

Semua tempat ini adalah tempat pelacuran kelas dua di

kota Koh ini.

Tetapi apa maksud dari tanggal yang tertulis di belakang

nama tiga orang gadis yang paling terkenal ini? Hanya

orang yang menuliskannya yang tahu.

Begitu matanya beralih ke bantal di atas ranjang itu, tibatiba

m ata Wie Kai bersinar-sinar.

Tidak ada satu barang pun di ruangan ini yang tidak

hitam dan tidak kotor.

Tetapi hanya ada 13 buah sekop terbang kecil yang

mengkilap.

Benda ini bukanlah pisau terbang, walaupun banyak

orang yang beranggapan kalau benda ini sama saja dengan

pisau terbang.

Ini adalah sekop kecil yang terbuat dari baja, tajamnya

tiada duanya, walaupun tidak sama seperti pedang tetapi

bendaini sangatlebar.

Tidak peduli betapa jorok dan kotornya orang ini.

Tidak peduli orang lain beranggapan dia itu seekor babi

atau anjing.

Hanya dengan melihat 13 buah sekop baja kecil yang

mengkilap dan tajam ini, orang-orang bisa langsung

mengetahuinya kalau dia itu adalah seorang pembunuh

tingkat tinggi pembunuh tingkat tinggi yang menggunakan

pisau terbang….

Saat itu, tiba-tiba Wie Kai mendengar suara aneh.

Orang yang berada di luar pintu tertawa dingin sambil

bertanya:

“Apakah kawan atau lawan?”

“Aku adalah Sun-cian (petugas keamanan) dari

Kabupaten Lu-lam-kong, datang kemari ingin

membicarakan urusan bisnis.”

Orang di luar pintu itu menyahut:

“Kau bukan!”

“Wah, kau terlahir dengan hidung anjing rupanya.” Kata

Wie Kai.

Orang di luar pintu itu berkata:

“Anggap saja aku tidak tertarik dengan bisnis ini.”

“Masa dengan bisnis sebesar ini kau malah tidak

tertarik?”

“Bisnis ini jalannya tidak b^ik, tidak terima ya tidak

terima!”

Wie Kai membawa bungkusan dari kulit yang berisikan

13 pisau terbang itu dan membuangnya keluar sambil

berkata:

“Kalau yang ini diterima, kan?”

“Kau ini sebenarnya orang yang seperti apa?”

“Bukankah setidaknya perlu ada sedikit pengorbanan

uang untuk mendapatkan suatu jawab-an?”

“Benar! Kau jangan menyesal!”

“Kau tenang saja…”

Tiba-tiba sebuah percikan api serta diikuti oleh hawa

dingin bagaikan membentuk suatu benda.

Ternyata pemikiran orang ini lebih maju satu langkah.

“Wush….” Wie Kai langsung jatuh ke tanah.

“Bodoh! Kau seharusnya mencari tahu lawan-mu,

sedang melakukan apa ….” Orang yang berada di luar pintu

itu masuk ke dalam.

Kantung berisi pisau itu sudah menggantung di

pinggangnya.

Biji mata orang itu tajam bagaikan teropong serta penuh

dengan kelicikan.

Gerakan tangan seorang pembunuh tentu saja berbeda

dengan gerakan tangan orang biasa.

“Terimalah pisau ini….” Lagi-lagi Wie Kai bangun

dengan Lee-hie-ta-ting (Ikan meloncat), dia sudah berubah

bagaikan pegas yang mengkerut.

Dalam sekejap mengkerut dan mengembang, mengarah

pada tujuh posisi dan sudut yang berbeda.

“Tak….Tak…..” Tujuh buah pisau terbang itu sebagian

ada yang menancap pada dinding dan ada juga mendarat di

atas ranjang.

Bahkan tiga diantara tujuh pisau terbang itu dilemparkan

lawan dengan cepat dan memaku lengan baju kirinya pada

papan pintu.

Melawan orang seperti ini sungguh tidak mudah.

Saat itu di kedua tangannya sudah ada sebilah pisau

terbang.

Kedua pisau terbang itu bagaikan dilapisi oleh ratusan

ribu sisik ikan dari baja.

Wie Kai jadi menggelengkan kepalanya, dasar sialan!

Gerakan serta perpindahannya yang berubah ubah

menimbulkan halusinasi bagi lawannya.

Dalam waktu beberapa detik ini dia menghentakkan

sebelah kakinya dan menahan leher sebelah kiri lawan.

Di atas selembar kertas rombeng dia menulis-kan dua

huruf ‘Wie Kai’ dan di bawahnya ditulis lagi huruf ‘Orang

dan Gudang’, lalu pergi.

Yo Lim bangkit dan menyongsong kedatangan Wie kai.

Dia merasa kepulangan Wie Kai ini terlalu cepat. “Wietayhiap,

apa dia kabur?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena dia tidak ikut kembali dengan Wie-tayhiap.”

Wie Kai tertawa sambil berkata:

“Si sialan ini, aku jadi benar-benar tertarik dengan orang

ini.”

“Tertarik?”

“Ya, maka aku baru mau melumpuhkannya.”

“Apakah Wie-tayhiap sudah memberi dia pelajaran?’

Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya. “Maaf telah

membuatmu menunggu lama!”

“Tidak apa-apa, malah aku merasa kepulangan mu ini

terlalu cepat.” Kata Yo Lim Wie Kai tertawa-tawa.

“Apakah orang itu akan kembali setelah diberi

pelajaran?”

Wie Kai lagi-lagi menganggukkan kepalanya.

“Apakah dia pernah punya kasus di Kabupaten Lu-lamkong

ini?”

“Tidak, tidak pernah.”

“Baguslah kalau begitu.”

Pada saat itu, seorang pelayan berkata dari luar pintu:

“Sun-cian Tay-jin, di depan ada seorang tamu yang

mencari Wie-tayhiap.”

“Siapa namanya?”

“Ada, tadi kalau tidak salah dia menyebut namanya

Hong Kie!”

Yo Lim memandang pada Wie Kai, Wie Kai

mengibaskan tangannya sambil berkata:

“Suruh dia masuk.”

Tiba-tiba Yo Lim merasa jabatan Sun-cian ini terlalu

sepele dan tidak berarti, dia pernah mendengar orang besar

yang bernama Hong Kie.

Jika tahu dia orangnya, dia tidak akan berani mengusik

Hong Kie.

Saat itu di luar pintu berdiri seorang lelaki yang berumur

kurang lebih tiga puluh tahunan, wajahnya kasar iIjii penuh

benjolan tidak rata yang mengganggu, tubuhnya sangat

super kurus, tetapi dadanya mem-lur.ung seperti seorang

gadis.

Orang ini membungkuk memberi hormat:

“Wie-tayhiap, Wie-cianpwee!”

Yo Lim terpana, mengikuti ukuran usianya, dengan usia

Wie Kai saat ini mana bisa dia disapa seperti itu?

“Cianpwee, Boanpwee apaan, namaku adalah Wie Kai!”

“Wie-tayhiap, di dunia persilatan ini tidak ada orang

yang tidak tahu nama besar Cian-thauw-siau-kai?” (Kai

kecil si pemburu kepala).

“Kalau sudah tahu terus mau apa?”

“Apakah kepala ‘anjingku ini juga layak untuk kau

buru?”

Wie Kai menunjuk pada Yo Lim sambil berkata:

“Perkenalkan Yo Sun-cian.”

“Sun-cian Tay-jin…..”

Yo Lim bukanlah orang yang mudah dipermainkan

tetapi sikap Wie Kai membuat dirinya kagum seda!am-d

alamnya.

Tentu saja, bagaimana dia tahu apakah Wie Kai sama

kagumnya pada Hong Kie? Kelak dia pasti akan lebih

memperhatikan kata-katanya jika berbicara di depan orang

yang demikian terkenal.

Yo Lim bercakap-cakap sebentar lalu berpamit-an dan

pergi.

Tiba-tiba Hong Kie berlutut dan menyembah. “Apaapaan

ini?”

“Aku mau berguru!”

“Bangun!” Wie Kai berkata, “Aku tidak menerima murid

seperti dirimu, jika kau bisa berubah dan kembali ke jalan

yang benar, kau boleh mengikutiku.”

“Baik.” Hong Kie bangkit berdiri.

Di luar pintu ada seseorang yang menyapa Wie Kai dan

saat dia membalikkan tubuhnya, serangan yang sangat

dashyat dan tidak kenal teman tiba-tiba datang dari depan

dan belakang.

Orang yang satu lagi ternyata Sam-jiu-Koan-in Hong Ku.

Mereka marganya sama dan sekaligus adalah sepasang

kekasih.

Jika orang seperti mereka bergabung tentu saja bukan

lawan yang mud ah untuk dihadapi.

Bagian punggung Wie Kai seperti terpasang mata, di satu

sisi mengelak serangan dari kedua kaki Hong Ku, di sisi lain

menangkis serangan tinju dan pukulan telapak tangan dari

Hong Kie.

Walaupun kedua belah pihak masih belum terlihat pihak

mana yang tidak beruntung, tetapi hasilnya sudah terlihat

dengan jelas.

Sebagai orang yang hidup di dunia persilatan setidaknya

pastilah harus memiliki kemampuan.

Hanya saja Wie Kai tidak akan memberikan mereka

kesempatan untuk bertukar pikiran, dalam sekejap mata

serangannya langsung mengenai bagian vital dari tubuh

mereka berdua.

Mereka berdua membungkukkan pinggang kesakitan.

Mereka langsung berlutut. Hong Ku berkata: “Tolong

terimalah kami sebagai muridmu.”

“Mengapa?”

“Kami merasa tidak ada orang yang lebih layak ilantnu.”

“Pandangan kalian terhadap dunia persilatan ini terlalu

sempit.”

“Walaupun begitu, kami beranggapan dengan berguru

padamu barulah kami tidak akan bisa tergoyahkan.”

“Tidak perlu! Jika ada niat baik, pasti bisa berhasil,

barulah setelah itu boleh mengikuti aku.”

Keduanya saling memandang satu sama lain-nya, lalu

sepakat untuk bersumpah.

Yang satu bersumpah tidak akan pernah berpura-pura

lagi menjadi orang yang terpelajar dan yang satu lagi tidak

akan lagi menjadi Hong-yauw-kai (pelacur) yang menjual

diri untuk hidup.

Semua itu atas kemauan mereka sendiri.

Hong-yauw-kai semua memerlukan perlindungan, setiap

bulannya rela mengeluarkan uang puluhan tail demi

memohon agar segala sesuatunya lancar.

Hong Kie berkata bahwa kemarin dia bertemu dengan

Lim Leng-ji di luar kota yang berjarak 300 li dari kota.

Kata-kata ini sama sekali tidak relevan, Wie Kai berkata:

“Kau tanya saja pada Hong Ku, kemarin kita berdua

bertemu dengan Lim Leng-ji di jalan utama di kota ini.”

“Jika keluar rumah, kalau tidak naik kereta dia pasti naik

tandu, bagaimana bisa tahu kalau dia itu yang asli atau

yang palsu?”

“Bagaimana bisa membuktikannya bahwa yang kau lihat

itu adalah yang asli?” tanya Wie Kai.

“Karena aku berada di sampingnya sehingga bisa

melihatnya dengan jelas.”

Wie Kai menggelengkan kepalanya.

“Sungguh! Waktu itu tengah malam, aku melihat dia

memasuki sebuah rumah penduduk dan kepandaiannya

tidak jelek.”

“Jika dibandingkan dengan kalian berdua bagaimana?”

Hong Kie tertawa sambil berkata:

“Tentu saja jelek sekali.”

“Lanjutkan!”

“Dia bertemu dengan seseorang dan orang itu bernama

Thiat-sim. Dia bertanya kepada Thiat-sim apakah dia tahu

tentang seseorang yang bernama Cia Peng. Thiat-sim

rupanya mempunyai maksud jahat padanya dan hendak

berlaku tidak senonoh padanya.”

“Lalu selanjutnya bagaimana?”

“Lim Leng-ji rupanya hendak mengetahui keberadaan

orang yang bernama Cia Peng itu, lalu membohonginya

dengan merayunya jika dia bisa memberitahukan di mana

Cia Peng berada, maka dia bisa mempertimbangkannya.”

Wie Kai berkata:

“Hong Kie, kita pergi! Hong Ku kau tunggu saja di

rumah agar bisa bergabung dengan Yo Lim, tetapi jangan

beritahukan padanya ke mana tujuan kami.”

Hong Kie bukanlah orang yang penurut dan mudah

patuh.

Tetapi di samping Wie Kai dia sama sekali berbeda.

Begitu menemukan tempat yang dituju, Tiat-sim

langsung ditundukkan oleh Hong Kie.

“Tuan Hong, maaf aku tidak mengenal anda.”

“Kalau tahu ini aku, lalu mau apa?”

“Tentu saja, aku tidak akan berani melawan anda.”

“Apakah kau tahu yang seorang lagi siapa?”

“Mungkinkah orang yang satu lagi lebih terkenal

daripada tuan Hong?”

“Sudahlah!” Wie Kai mengangkat tangannya sambil

berkata, “Thiat-sim, di mana Cia Peng berada?”

“Aku juga tidak tahu

Hong Kie menyodokkan lututnya tepat pada – tulang

iganya.

“Auw..” Tiat-sim berteriak kesakitan.

“Kau kan Thiat-sim (hati besi), pasti tidak masalah, coba

sekali lagi bagaimana?” Kata Hong Kie.

“Akan aku katakan…Cia Peng tinggal di Tiang-ciu, dia

adalah seorang seorang dukun beranak, jadi tidak ada

seorang pun yang tidak mengenalnya.”

“Apa lagi yang kau ketahui?”

“Aku……” Belum selesai bicara, tiga buah pisau

terbang menyerang secara tiba-tiba. Wie Kai dan Hong

Kie keduanya bisa segera menghindari serangan yang

datang, tetapi malang bagi Tiat-sim, satu dari ketiga pisau

itu menancap mengenai ulu harinya.

“Hong Kie, kau di sini melindungi Tiat-sim, aku akan

pergi mengejar dan menangkap orang itu.”

“Tiat-sim, cepat katakan! Apa lagi yang kau ketahui?”

kata Hong Kie.

“Ak…aku juga tahu Liauw In…80% dialah yang

membunuhku untuk…”

Thiat-sim telah mati.

Wie Kai juga kembali dengan tangan kosong. Hong Kie

menebarkan tangannya, berkata: “Wie-tayhiap, aku tidak

bisa menyelamatkannya.

“Apa yang dikatakannya sebelum dia mati?”

“Katanya orang yang membunuh untuk menu-rup

mulutnya itu ada kemungkinan adalah Liauw In.”

“Sayang sekali.”

“Apanya yang sayang sekali?”

Wie Kai menghela nafas sambil berkata:

“Rahasia yang diketahui orang ini tidak sedikit.”

“Wie-tayhiap, apa yang akan kita lakukan untuk masalah

ini?”

“Mencari Cia Peng”

“Rahasia apa yang sebenarnya diketahui oleh Cia Peng?

Apa hubungannya antara rahasia ini dengan Lim hujin,

Lim Leng-ji, juga Liauw In?”

Mereka keluar dari tempat tinggal Thiat-sim dan pergi

menuju keTiang-ciu.

“Berdasarkan pada Cia Peng sebagai seorang dukun

beranak, ditambah lagi suaminya adalah kenalan lama dari

Lim Hujin, tentu saja hal ini mudah membuat orang

berprasangka yang bukan-bukan.”

” Wie-ya, otakku memang tidak berguna.”

“Dasar kau ini!”

“Wie-ya, bisakah kita menyingkap sisi gelapnya?”

“Hong Kie, aku rasa Lim Leng-ji ada dua, kau percaya

tidak?”

Hong Kie tertegun sejenak lalu berkata: “Ada

kemungkinan.”

“Apa yang menjadi dasar sehingga kau mengatakan ada

kemungkinan?”

“Bukankah kita sudah membicarakan tentang kecurigaan

akan Lim Leng-ji yang muncul terlebih dahulu dengan Lim

Leng-ji yang muncul belakangan?”

“Benar, ternyata isi otakmu tidak semuanya berisi

cairan.”

“Apakah Wie-ya berpendapat karena istrinya Liauw In

adalah seorang dukun beranak, lagipula jika pada dasarnya

bayi yang dilahirkan nyonya ternyata ada dua bayi dan Cia

Peng mengambil salah satunya, justru inilah yang

merupakan rahasia sebenarnya?”

“Hong Kie, ternyata otakmu lumayan juga.”

“Tetapi kata Hong Ku pikiranku tidak terbuka.”

Raut wajah Wie Kai berubah menjadi serius, lalu

berkata:

“Hong Kie, apakah kau tahu ‘Kai-kiau’ (pikiran terbuka)

dua kata itu di dunia persilatan merupakan senjata yang

mematikan?”

“Wie-ya, aku sama sekali tidak mengerti.”

“Kata orang, Lim hujin punya ilmu Pit-kiau-tay-hoat

(ilmu menutup pikiran) dan Kai-kiau-tay-hoat (ilmu

membuka pikiran), keduanya adalah ilmu rahasia dari

negeri India.”

“Kalau soal ini aku lebih tidak mengerti lagi.”

“Kata orang ilmu Pit-kiau-tay-hoatbisa mem-buat

seseorang melupakan semua masa lalunya dan untuk

membukanya kembali mau tidak mau harus menggunakan

ilmu Kai-kiau-tay-hoat, lagipula setelah dibuka efeknya bisa

membuat kita menjadi muda kembali.”

“Wie-ya, apakah ini tidak terlalu mustahil?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia tidak bisa memberikan penjelasan mengapa hal itu

tidak mustahil.

Dia selalu berharap bisa memiliki pengalaman

merasakan ilmu semacam Kai-kiau-tay-hoat.

Tentu saja ini pasti merupakan hal yang luar biasa.

“Apakah maksud Wie-ya, Liauw In dan istrinya

mengambil salah satu dari bayi itu dengan tujuan untuk

merebut harta dari keluarga Lim?”

“Ini hanyalah pandangan luar saja karena keluarga Lim

memang terlalu kaya.”

“Kalau begitu tujuan Liauw In dan Cia Peng tidak

semata-mata hanya demi harta?”

“Bagaimana pun juga penilaian ini terlalu subjektif, tetapi

tujuan utama mereka pastinya adalah demi Pit-kiau-tayhoat

dan Kai-kiau-tay-hoat yang dimiliki Lim hujin.”

“Apa gunanya ilmu yang mustahil seperti ini haj-i dunia

persilatan?”

“Untuk orang yang baik memang tidak »k»n .ula

gunanya, tetapi untuk orang yang jahat tentu saja lain “

“Wie-ya, aku tetap saja tidak mengerti.”

“Pada dasarnya banyak hal di dunia im \.nin memang

tidak mudah dimengerti oleh banyak i >i .n ty

Nama Cia Peng di Tiang-ciu tidaklah begitu terkenal.

Tetapi jika mencari seorang dukun beranak yang

berparas jelek m aka tid aklah sulit dicari.

Wie Kai dan Hong Kie ternyata menerobos tempat yang

kosong.

Cia Peng sama sekali tidak ada di rumah dan juga tidak

tahu dia pergi ke mana.

“Orang yang hendak membunuhnya sebagai saksi mata

pastinya telah membocorkan informasi, sehingga Cia Peng

bergegas melarikan diri.”

“Wie-ya, apakah kasus yang ditangani Yo Lim dan kasus

kita ada hubungannya?”

“Sepertinya ada hubungan dengan Lim Leng-ji.”

“Lalu apa hubungan Lim Leng-ji dengan kasus kita?”

“Kemungkinan ada hubungannya denganku.”

“Kau?”

Tiba-tiba Wie Kai keluar melalui jendela.

Hong Kie juga ikut melesat keluar. Di bagian belakang

rumah itu ada sebuah kebun sayuran yang panjangnya

kurang lebih 20 tombak dan di sana lagi-lagi menemukan

seseorang, orang itu adalah Yo Lim.

Yo Lim dan Wie Kai sama-sama berdiri.

Hong Kie benar-benar mengabdi pada Wie Kai, hanya

berdasarkan pendengaran yang peka saja, dia bisa

mengacaukan dunia persilatan.

“Yo Sun-cian, ada apa kau datang kemari?”

Walaupun pertanyaan Hong Kie terkesan tidak sopan,

tetapi justru itulah yang diharapkan Wie Kai.

Yo Lim tertawa sambil berkata:

“Hong lote, apakah kau lupa kalau aku ini Sun-cian dari

kabupaten Lu-lam-kong? Jika kasus Lim hujin belum

tuntas, bagaimana mungkin aku diam saja dan tidak

peduli?”

“Tetapi bagaimana kau bisa tahu tempatini?”

Tidak bisa menutup mulut terkadang ada guna nyajuga.

Bagi Wie Kai, apa yang tidak bisa dia tanyakan, Hong

Kie justru sudah mewakilinya untuk bertanya.

Yo Lim menggoyang-goyangkan tangannya:

“Setidaknya kali ini aku tidak mengecewakan orang,

sesudah menyelidiki ke sana ke mari barulah tahu Cia Peng

tinggal di tempat ini.”

“Memangnya kenapa kalau Cia Peng tinggal di sini?”

Yo Lim agak sedikit tersinggung, dia sama sekali tidak

berurusan dengan Hong Kie tetapi dia tidak bisa tidak harus

memberi muka pada Wie Kai.

Hanya saja Wie Kai sama sekali tidak mengeluarkan

suara sedikit pun, apa yang ada di benaknya sama sekali

tidak terbaca, hal ini membuat Yo Lim semakin panas.

“Lote, apakah kau tidak memandang terlalu rendah

diriku?”

Hong Kie adalah jenis orang yang kasar tetapi juga

cermat.

Di dalam dunia persilatan, jika ingin bisa bertahan hidup

bagi orang dewasa maupun anak-anak, tidaklah cukup

hanya mengandalkan keahlian silat saja.

“Yo Sun-cian, kau adalah ahlinya dalam memecahkan

kasus, aku hanya ingin belajar darimu saja.”

“Lote, lagi-lagi kau ingin menyindir aku, ya?”

“Mengapa berkata seperti itu? Aku hanya ingin tahu saja

bagaimana kau bisa tahu kalau Cia Peng tinggal di tempat

ini?”

Yo Lim menjawab:

“Kasus ini terjadi di kabupaten Lu-lam-kong dan orang

yang ada sangkut pautnya dengan Lim hujin sudah berada

di dalam genggamanku. Cia Peng adalah istri dari Liauw In

dan juga seorang wanita yang tangguh, bagaimana mungkin

aku tidak tahu?”

Hong Kie tertawa sambil berkata:

“Yo Sun-cian, mohon jangan diambil hati, aku hanya

sedikit merasa semuanya terlalu kebetulan.”

BAB III

Wie Kai sedang minum arak bersama dengan Hong Kie.

Mereka tetap saja belum bisa menemukan Cia Peng

sampai sekarang.

Yo Lim sudah pergi. Kata Hong Kie:

“Yo Lim si kurang ajar itu ternyata tidak terlalu jelek.”

“Di bagian bagusnya?”

“Reaksinya.”

“Jika dia itu meniru bagaimana?”

“Maksudnya dia belajar dari kita?” Wie Kai menghirup

araknya.

Dia mempunyai prinsip, baik arak yang baik maupun

arak yang murahan, semuanya bisa dia minum, maka dari

itu dia bisa mempertahankan senyumannya.

“Dasar Yo Lim sialan!” kata Hong Kie.

Wie Kai tetap saja tidak bersuara, malah dia berdiri dan

berkata:

“Kita pergi!”

Kali ini di tempat kediaman Cia Peng ada orang.

Ternyata orang itu seorang gadis yang sangat

mendebarkan hati.

Hong Kie termangu-mangu sejenak, katanya

“Wie-ya, aku berani jamin orang ini pasti Lim Peng-ji.”

Wie kai menyuruh menutup mulut nya

Dengan mengintip ke dalam ruangan dari atas atap

rumah, dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang

dilakukan oleh gadis ini.

Jika dilihat sekilas saja, memang dia adalah Lim Leng-ji.

“Apakah kau merasa kalau dia bukanlah Lim Leng-ji?”

Kata Hong Kie.

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya juga

mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hong Kie mengusap-usap bagian belakang kepala nya

sambil berkata:

“Bagaimana ini?”

“Kau cari angin saja di sini, aku akan turun untuk

melihat-lihat.”

Mendadak Wie Kai memasuki rumah itu, membuat

gadis itu segera berdiri, dengan raut wajah yang cerah

berkata:

“Nyalimu besar juga!”

Wie Kai tertawa-tawa.

“Siapa Kau?”

Wie Kai merasa gadis ini sama sekali tidak

mengenalnya, jadi dia bukanlah Lim Leng-ji, lagi pula

kelihatannya dia tidak berpura-pura.

“Siapa aku sebenarnya sama sekali tidak penting.”

“Lalu apa yang penting?”

“Tujuanku datang ke tempat ini.”

“Benar! Apa maksudmu datang ke tempat ini?”

Dia benar-benar persis seperti Lim Leng-ji, baik postur

tubuhnya maupun parasnya.

Tetapi daya tariknya sama sekali berbeda.

Orang bisa meniru seseorang dari bagian luar dan gaya

bicara sekaligus, tetapi tidak akan bisa meniru daya

tariknya.

“Apa kau memiliki saudara perempuan?”

“Aku yang bertanya padamu, apa maksudmu datang ke

tempat ini?”

“Pertanyaan yang baru saja kutanyakan pada-mu, itulah

jawabannya.”

“Jadi bertanya padaku apakah aku memiliki saudara

perempuan atau tidak, itukah tujuanmu?”

“Benar!”

“Apa urusannya denganmu, memiliki saudara

perempuan atau tidak?”

“Hubungannya denganku tidaklah besar, tetapi

denganmu itu justru besar hubungannya.”

“Bukankah ini hanya omong kosong belaka?”

“Ini bukan omong kosong!”

“Mengapa aku harus menjawabnya?”

“Demi asal usul dirimu, kau harus menjawabnya.”

“Demi asal usul diriku?”

“Benar.”

“Namaku Liauw Swat-keng, anak tunggal Apakah asal

usulku penting untuk diselidiki?”

“Kau seharusnya she Lim.”

Dia membelalakkan matanya menatap Wie kai lalu

berkata:

“Berani sekali kau!”

“Apa maksudnya itu?”

“Jika bukan karena tampangmu bukan bertampang orang

jahat, kau sudah pasti mati.”

“Wah, sungguh tidak kelihatan kalau kau ini cukup sadis

juga!”

“Maksudku yang melakukannya adalah ayah dan ibuku!”

“Ayahmu adalah Liau w In?”

“Dari mana kau tahu?”

“Ibumu adalah Cia Peng, dia adalah seorang dukun

beranak, betul tidak?”

“Ternyata kau menyelidiki latar belakangnya juga ya?”

“Memang dari mula memang ada sedikit.”

“Apa maumu sebenarnya?”

“Memperjelas jati dirimu yang sebenarnya, untuk

membalaskan dendam ayahmu.”

“Kau sebenarnya bicara apa sih?” Gelagatnya sangat

menyentuh hati.

Memang pada umumnya bagi gadis yang cantik, walau

pun sedang menangis pun pasti terlihat cantik.

Pokoknya tidak ada tindak tanduk dari gadis cantik yang

tidak menyentuh hati orang.

“Jika aku berkata kau memiliki seorang saudara

perempuan dan orang tuamu yang sekarang bukanlah orang

tua kandungmu, balikan mereka adalah musuh-mu, kau

pasti tidak akan percaya.”

Matanya yang indah terus menatap Wie Kai.

Wie Kai pun terus memandangnya sambil tersenyum.

“Dasar orang ini! Jika kau seorang pembohong, pastilah

pembohong yang sudah sangatberpengalam-an.” Wie Kai

menggoyang-goyangkan lengannya:

“Aku berbohong apa padamu?”

“Harta, kekayaan, dan lain-lain.”

Wie Kai lagi-lagi tertawa, lalu berkata:

“Buatku dua hal itu, seharusnya sangat mudah untuk

diperoleh.”

“Kau membual!” Liauw Swat-keng tiba-tiba mundur dua

langkah.

“Aku memang sangat senang membual! Tetapi demi

membuatmu percaya pada perkataanku, aku sama sekali

tidak main-main, bagaimana pun caranya aku harus bisa

membuatmu supaya percaya.”

“Bagaimana caranya agar bisa membuatku percaya?”

“Dengan tangan!”

Liauw Swat-keng langsung waspada, berkata:

“Kau mau coba? Jangan menyesal.”

Wie Kai langsung menyerang.

Gerakan Liauw Swat-keng sangat cepat, tidak kalah

dibandingkan dengan Hong Ku.

Pada saat yang bersamaan, Wie Kai sekaligus bisa

merasakan kehebatan ilmu Liauw In dan Cia Peng.

Tetapi setelah mengeluarkan sepuluh jurus, dia bisa

menahan gerakan Liauw Swat-keng.

Seperti lingkaran baja, Wie Kai menahan persendian siku

Liauw Swat-keng.

“Orang tuaku pasti akan membesetmu!”

“Sudah pasti itulah yang akan mereka lakukan j i ka aku

sampai jatuh ke dalam tangan mereka.”

“Apakah kau bersedia untuk bertemu deng.Mii saudara

kandungmu?” kata Wie Kai.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apakah kau tidak

salah mencari orang?”

“Tentu saja tidak, hanya saja kau lah yang salah melihat

orang.”

“Kau berpikir bahwa ada masalah mengenai jati diriku,

kalaupun ada, lalu apa urusannya dengan dirimu?”

“Bisa dikatakan asal usul dirimu sangat ber-kaitan erat

dengan masa depan dunia persilatan.”

“Kau benar-benar bekerja bukan demi harta atau

kekayaan?”

Wie Kai mengendurkan tangannya, berkata:

“Jangan suka menuduh orang sembarangan.”

Tiba-tiba Liauw Swat-keng menyerang dengan gerakan

yang lebih cepat dan lebih mematikan.

Tadi memang dia belum mengeluarkan ilmu yang

dirasanya paling dikuasainya.

Sekarang dia telah menggunakannya tetapi tetap saja

belum sampai sepuluh jurus, lagi-lagi serang-annya bisa

ditahannya.

“Siapa kau sebenarnya?”

“Kau berharap aku ini siapa?”

“Bukan orang jahat!”

Wie Kai lagi-lagi mengendurkan pegangannya:

“Kau dengarkan, tidak peduli apa kau percaya pada

perkataanku atau tidak, jangan sampai menjadi wanita yang

bodoh, ayahmu adalah Lim Put-hoan dan ibumu adalah

istrinya Lim Put-hoan, mereka tinggal di Kabupaten Lulam-

kong ini.”

Mata Liauw Swat-keng lagi-lagi membesar.

Wie Kai berkata lagi:

“Bertahun-tahun yang lalu, Liauw In adalah kekasih

gelap Lim Hujin, setelah Lim Put-hoan meninggal dunia, di

samping Lim Hujin ada beberapa laki-laki, tetapi dia tetap

salah satu laki-laki yang paling di sayang olehnya.”

“Kau bohongi”

“Kau dengarkan aku dulu sampai habis cerita-nya, bisa

kan?”

Wajah Liauw Swat-keng dipenuhi oleh amarah. Tidak

ada satu anak perempuan pun yang tidak marah mendengar

ayahnya jadi gula-gula seseorang.

“Sewaktu Lim hujin melahirkan, kemungkinan anak

yang dilahirkannya adalah anak kembar, tetapi di samping

Lim hujin ternyata hanya ada satu anak dan dia adalah Lim

Leng-ji, sedangkan yang satunya lagi adalah kau.”

“Lim Leng-ji?”

“Benar.”

“Rasa-rasanya aku pernah mendengar orang tuaku

menyebut-nyebut nama ini.”

“Jangan sekali-kali kau bertanya pada mereka karena hal

itu malah bisa memperkeruh suasana.”

“Lalu mengapa ibuku menyisakan aku dan bahkan

membohongi Lim hujin?”

“Semua orang pasti berpikir dari sisi ‘menculik’.”

“Tetapi kau seperti tidak berpikir demikian.”

“Ini hanyalah salah satu dari tujuannya, di balik itu

masih ada tujuan yang lebih besar.”

“Tujuan apa?”

“Ilmu silat rahasia dari dunia persilatan yang berasal dari

negeri India yaitu Pit-kiau-tay-hoat (Ilmu menutup pikiran)

dan Kai-kiau-tay-hoat (Ilmu mem-buka pikiran) dan kedua

ilmu ini ada di tangan Lim Hujin. Tujuan utama mereka

adalah mendapatkan kedua ilmu tersebut.”

“Tapi bukankah Lim Hujin sudah meninggal?”

“Jika tebakanku benar, Lim Hujin pasti telah

memberikan rahasia ilmu silat itu pada Lim Leng-ji, yang

juga merupakan saudara perempuanmu.”

“Aku mengerti sekarang!”

“Baguslah jika kau sudah mengerti!”

“Kau juga salah saru orang yang menghendaki ilmu

tersebut.”

Wie Kai menghela nafasnya tetapi sama sekali tidak

bersuara.

“Kenapa? Apa karena kedokmu sudah terbongkar. ..

betul kan?”

“Tidak peduli kau percaya atau tidak, yang penting

jangan bertanya pada orang tuamu.”

“Kalau bertanya, lalu kenapa?”

“Itu ibarat sudah susah payah membesarkanmu tetapi

kau sama sekali tidak membawa keuntungan bagi mereka.”

“Jadi maksudmu Lim Put-hpan adalah orang yang

sangat kaya?”

“Kekayaan keluarganya berkisar ratusan juta tail. Jika

dibandingkan Ho-sian (Dewa harta), orang yang suka

menyita barang orang, tentu saja orang itu masih kalah

jauh, pendapatan dia baru mencapai sekitar 80 juta tail

sedangkan pemasukan negara baru mencapai 70 juta tail.”

Liauw Swat-keng menatap lama, lalu berkata:

“Siapa namamu?”

“Wie kai.”

Dia sedikit terkejut dan membelalakan matanya yang

besar kepada Wie Kai.

“Ternyata kau lah yang bernama Wie Kai.”

“Dibandingkan dengan Wie Kai yang ada dalam

bayangan mu, lebih bagus atau lebih jelek?”

“Tidak bagus juga tidak jelek, rasanya ayah dan ibuku

juga pernah menyebut namamu.”

“Lalu bagaimana pandangan mereka terhadapku?”

“Biasa saja.”

“Apakah kau pernah mendengar pepatah yang

mengatakan jika orang bijaksana tidak mati, maka tidak

bisa menjadi pencuri?”

Liauw Swat-keng mencibirkan bibirnya:

“Kalau begitu apa gunanya Pit-kiau-tay-hoat?”

“Kegunaannya sangat besar, hanya saja aku sendiri saat

ini tidak begitu jelas.”

“Apa yang kau mau dariku?”

“Aku berharap kalian dua bersaudara saling bertemu.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya dengan kalian saling bertemu muka barulah

percaya bahwa kalian memang memiliki saudara yang lain.

Pokoknya singkat kata, kau tidak percaya, dia juga tidak

percaya.”

“Kau pernah mencobanya pada dia?”

“Belum.”

“Jika belum pernah mencoba, bagaimana bisa tahu kalau

dia tidak akan percaya?”

“Bukankah kau ini contohnya?”

Tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh.

Hong Kie sedang bertarung dengan seorang wanita

setengah baya di tengah taman.

Wanita ini bisa bertahan demikian lama terhadap

serangan Hong Kie dan tidak kalah, Hong Kie benar-benar

kesal.

Hong Kie hendak menggunakan pisau terbang.

Setidaknya dia merasa percaya diri dalam meng gunakan

pisau terbang.

Wie Kai bisa melihat bahwa ilmu silat wanita itu

bukanlah ilmu sembarangan.

“Hong Kie, minggirlah!”

Wanita itu ternyata adalah Cia Peng dan walaupun

usianya sudah mencapai sekitar 45-46 tahun, tetapi dia

kelihatannya seperti wanita yang baru berusia sekitar 30

tahunan.

Sebenarnya pikiran Cia Peng hampir sama dengan Hong

Kie, tidak bisa mengalahkan lawannya benar-benar

membuat dirinya tidak bisa menerimanya.

Tetapi begitu mendengar lawannya bernama Hong Kie,

dia tidak bisa tidak merasa terkejut.

Untuk apa Hong Kie datang ke tempat ini?

Lalu dia melihat pada orang yang baru datang, walaupun

usianya jauh lebih muda dibandingkan dengan Hong Kie

tetapi bisa memerintahnya. Hati Cia Peng agak sedikit tidak

tenang, ialu bertanya:

“Siapa kau?”

“Hanya orang biasa yang tidak terkenal!”

Cia Peng tentu saja tidak percaya begitu saja, jika benar

hanya orang biasa yang tidak terkenal tentu saja tidak

mungkin begitu rendah hati.

Ada kalanya ‘rendah hati’ bisa merupakan sebuah

senjata, bahkan merupakan senjata yang paling mematikan

“Apa yang kalian lakukan di rumah milik pribadi ini?”

tanya Cia Peng.

“Apa itu juga harus ditanyakan? Orang yang datang

bersama dengan Hong Kie, jika bukan demi barang-barang

berharga, lalu demi apa?”

“Kalian benar-benar merusak pemandangan!” Cia Peng

tiba-tiba mengeluarkan pedang lenturnya.

Wie Kai tetap menghadapinya dengan tangan kosong.

Setelah bertarung lima jurus, hati Cia Peng mulai

gamang.

Dia memang orang yang memiliki kecemasan, tidak

berani mengakuinya tetapi juga khawatir akan puterinya.

“Siau-keng……..Siau-keng…….”

Di dalam rumah itu tidak ada suara orang sedikit pun,

Cia Peng berkata sambil memaki:

“Apa yang telah kalian lakukan pada puteri-ku?”

“Untuk itu kau tidak perlu khawatir! Walaupun teman

Hong Kie ini bukanlah barang yang bagus, tetapi tidak akan

berani mengambil keuntungan dalam kesempitan,” jawab

Wie Kai.

Cia Peng mengira Liauw Swat-keng tidak berada di

rumah itu, dia menyapukan pedangnya ke arah lawan

dengan keras lalu melarikan diri.

Hong Kie tidak mengejarnya.

Wie Kai menepuk tangannya beberapa kali dan terlihat

Hong Kie keluar mengapit Liauw Swat-keng.

Di kota Koh ini Lim Leng-ji bukanlah bagian dari

anggota keluarga kerajaan juga bukan berasal dari keluarga

pejabat.

Nama Lim Put-hoan hanya terkenal di tempat ini saja,

tidak sampai ke tempat lain.

Hanya saja harta kekayaan yang dimiliki oleh sebagian

besar pejabat negara tidak ada yang bisa menandingi

kekayaannya.

Rumah dan halaman yang ada di kota Koh ini pun jauh

lebih megah dibandingkan dengan dengan kediaman

menteri sekalipun.

Warna tengah malam benar-benar indah.

Lim Leng-ji sedang menyesap teh di dalam paviliun di

tepi air. (sejenis saung Cina yang biasanya berada di tengah

kolam yang dihubungkan dengan jembatan yang meliukliuk).

Permukaan air yang beriak itu memantulkan bayangan

dari paviliun yang meliuk-liuk.

Di dunia ini terdapat banyak orang dan benda yang sama

seperti bayangan, yang meliuk-liuk.

Dia berjalan keluar dari paviliun itu dan berdiri di

samping jembatan yang meliuk-liuk itu sambil memandangi

permukaan air.

Wie Kai yakin tidak ada pelukis terkenal mana pun yang

bisa melukiskan daya tariknya saat ini.

Dia dan Liauw Swat-keng sedang bersembunyi di atas

pohon dan jarak paviliun dari pohon ini tidak lebih dari 4-5

tombak.

Otak Liauw Swat-keng serasa tumpul.

Dia seakan-akan melihat bayangan dirinya.

Liauw Swat-keng ingin berteriak tetapi bibirnya terasa

ada yang menahan.

“Biar aku turun lebih dulu.” Bisik Wie Kai

“Mengapa tidak sama-sama saja?”

“Menurut pendapatku, lebih baik aku yang

memanggilmu dulu, barulah kau keluar.”

Secara tiba-tiba di samping Lim Leng-ji ada bayangan

seseorang berkelebat.

Lim Leng-ji agak terkejut.

Reaksi dirinya tentu saja wajar dan dirinya tanpa sadar

mundur sampai tiga langkah.

“Ini aku,” Wie Kai melambai-lambaikan tangannya lalu

berkata, “Maaf, aku sedikit lancang.”

Lim Leng-ji memandangnya sekilas dengan matanya

yang bersinar laksana bintang di langit, lalu katanya:

“Apakah kau memiliki perasaan yang kuat kalau kita

akan bertemu lagi?”

“Ada,” Wie Kai tiba-tiba merasa tersanjung dengan katakata

tadi.

Walau seorang walikota sekali pun yang menga takan

kalimat itu kepadanya, dia tidak akan merasakan perasaan

tersanjung seperti itu.

“Apakah kau masih mengingat hal yang lain?”

“Sepertinya ada, ini sungguh seperti bayangan yang ada

di dalam mimpiku, benar-benar aneh!

Tiba-tiba Lim Leng-ji tertawa, lalu katanya: “Kau sama

sekali tidak berubah.”

“Aku? Dari mana kau tahu?”

Lim Leng-ji termenung sambil menerawang seakan-akan

membayangkan hal yang telah lampau, lalu berkata dengan

berguman:

“Apakah kau masih ingat tentang kita bertiga?”

“Kita bertiga?”

“Yang seorang adalah aku, yang satu lagi adalah Loo

Cong, dan yang lainnya adalah kau……..”

“Ada kau dan juga ada Loo Cong?”

“Kira-kira waktu berumur 5-6 tahun atau mungkin lebih

kecil sedikit, kita setiap hari selalu bersama.”

Wie Kai berusaha mengingat masa yang telah lalu, tetapi

bayangan yang samar-samar selalu saja tampak

menyelubungi, berkerumun untuk menghalau ingatan.

Wie Kai tidak bisa mengatakan kalau dia tidak ada

sedikit pun ingatan akan hal itu.

Lim Leng-ji berkata sambil berguman:

“Jika anak kecil sudah bersama-sama, pastilah akan

bermain rumah-rumahan. Kau pura-pura sebagai

penyamun, aku pura-pura sebagai pengantin perem-puan

Loo Cong, ceritanya aku diculik oleh penyamun dan Loo

Cong datang menolongku dan merebutku kembali.”

“Aku selalu berpura-pura sebagai penyamun?”

“Seringnya begitu.”

“Aku belum pernah berpura-pura sebagai pengantin lakilaki?”

tanya Wie Kai. “Sepertinya belum pernah.”

“Apakah karena aku tidak bersedia berpura-pura menjadi

pengantin laki-laki atau kau yang tidak bersedia berpurapura

menjadi pengantin perempuan-ku?”

“Aku juga sudah lupa! Sepertinya Loo Cong yang selalu

ingin agar aku yang berpura-pura menjadi pengantin

perempuannya.”

“Loo Cong benar-benar beruntung.”

“Bagaimana pun itu hanyalah kenangan masa lalu anak

kecil.”

“Tetapi beberapa tahun ini, bukankah setiap kali

mengingatnya selalu menjadi sesuatu yang layak untuk

dibanggakan?”

“Jika pada waktu itu kau yang menjadi pengantin lakilakinya,

apakah sekarang ini kau akan merasa sangat

bangga?”

“Tentu saja.” Wie Kai tiba-tiba bertanya, “Waktu dulu

Loo Cong selalu ingin kau yang pura-pura menjadi

pengantin perempuannya dan kau tidak pernah sekali pun

menolaknya?”

Lim Leng-ji menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pandangan mata Wie Kai jatuh ke permukaan air, tetapi

sinar mata Wie Kai jauh lebih terang dibandingkan dengan

permukaan air.

“Kenapa? Apa kau sedikit pun tidak ingat akan hal ini?”

“Aku juga sukar untuk mengatakannya, entah mengapa

ingatanku tiba-tiba menjadi sangat jelek.”

“Coba kau pikir-pikir lagi, masa sekali pun tidak pernah

ingat?”

“Yang kau maksud itu yang mana?”

“Pada saat Loo Cong tidak menjadi pengantin laki-laki.”

“Sudah tidak ingat lagi! tampaknya tidak pernah.”

Wie Kai lagi-lagi bertanya sambil memandang padanya:

“Ingatanmu memang tidak begitu bagus, tetapi ingatanku

justru lebih parah, karena tiba-tiba aku merasa tidak pernah

ingat padamu!”

Lim Leng-ji tertawa dingin. . Walaupun hanya sekedar

sebuah tawa dingin, tetapi mungkin ada sebagian orang

yang bakal ber-terima kasih seumur hidup karena senyum

itu.

Tetapi karena Lim Leng-ji sedikit demi sedikit sudah

membuka kunci dari ingatannya, dia tiba-tiba merasa agak

sedikit meremehkan Lim Leng-ji.

Mengapa bisa begitu?

Dia tidak berani mengemukakan ingatan akan anganangan

yang ada di dalam otaknya.

Itu sepertinya kejadian yang belum lama terjadi.

Sepertinya hubungan mereka tidak hanya begitu saja.

Hanya saja jika semakin diusut dan semakin diingatkan

kembali, ingatan yang tidak berarti dan sayup-sayup itu

lagi-lagi seperti kabut yang meng-hilang.

Karena i tu dia sering memukuli kepalanya sendiri.

Karena itu dia juga sering penasehati diri sendiri, masa

lalu tidak peduli baik atau buruk, tidak perlu dipikirkan,

tidak boleh dipikirkan, juga kadang kala bukan sesuatu hal

yang baik.

Karena itu dia sering kali bisa tersenyum dengan ramah

dan membuat orang lain menjadi senang.

Tiba-tiba Lim Leng-ji menatapnya dengan tekad yang

bulat dan berkata:

“Mengapa waktu itu sekali pun kau tidak pernah

meminta menjadi pengantin laki-laki?”

Ketika menanyakan hal ini, dia agak sedikit manja dan

malu-malu.

Kata orang saat-saat tercantik bagi seorang pi-rempuan

justru pada waktu dia tersipu malu.

“Betulkah aku tidak pernah sekali pun meminta untuk

menjadi pengantin kali-Iaki?”

Dia menggelengkan kepalanya pelan-pelan.

“Sekali pun tidak pernah?”

Lim Leng-ji lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

“Mengapa aku bisa begitu?”

Lim Leng-ji berkata dengan nada menyesal:

“Kau bukan hanya tidak pernah menjadi seorang

pengantin laki-laki, kau juga sering memukul-ku.”

“Memukulmu? Aku bahkan memukulmu?”

“Iya, setiap kali kau memukulku, Loo Cong pasti balas

memukulmu.”

Ingatan Wie Kai lagi-lagi muncul ke permuka-an.

Dia memukul bagian punggung Lim Leng-ji dengan

perlahan.

Dia memukul lengannya dengan perlahan.

Dia menarik kepang rambutnya dan Lim Leng-ji

menangis sambil memanggil-manggil nama Loo Cun.

Tetapi Wie Kai sendiri tahu, dia memukulnya serta

menarik kepang rambutnya, bukanlah karena dia benarbenar

ingin memukulnya.

Wie Kai hanya menyukai salah satu reaksi yang

dikeluarkan Lim Leng-ji.

Tetapi tidak banyak orang yang memahami cara ini, juga

bagi perempuan lainnya pada umumnya.

Sering kali demi membela Lim Leng-ji, Loo Cong

terlihat berani dan perkasa.

Tentu saja balasan dari Wie Kai juga sama terlihat berani

dan perkasa.

Walaupun dia bukan sungguh-sungguh ingin memukul

Lim Leng-ji.

Tetapi pukulan balasannya terhadap Loo Cong sama

sekali tidak asal-asalan.

Pintu ingatannya hanya terbuka sampai di situ saja, yang

lainnya masih membingungkan dan samar-samar.

Tiba-tiba Lim Leng-ji menaikkan alis matanya, menatap

tajam padanya sambil berkata:

“Mengapa ada kesan penyesalan di wajahmu?”

“Kapan?”

“Sekarang ini.”

Wie Kai tertawa pahit sambil menggelengkan kepalanya,

lalu berkata:

“Ada masalah yang aku agak sedikit tidak enak untuk

memberitahukannya padamu.”

“Jika sudah datang kemari, ada hal apa lagi yang

tidakbisa dibicarakan!”

Wie Kai menggosok-gosokkan tangannya, mengayunkan

kepalanya ke depan dan ke belakang, bahkan mengangkatangkat

bahunya.

Semua adalah gerakan yang tidak pernah

ditunjukkannya sebelumnya, prilaku yang menunjuk-kan

keragu-raguan dan ketidak pastian.

“Tiba-tiba saja aku baru teringat, hubungan antara kau

dan aku bisa menjadi dua kutub yang tidak seimbang.”

“Waktu masih anak-anak?”

“Bukan, justru waktu belum lama ini.”

“Tidak seimbang yang bagaimana?”

Wie Kai lagi-lagi menggosok-gosok tangannya, lalu

berkata:

“Kau tidak akan keberatan jika kukatakan?”

“Asal bukan direka-reka seenaknya, untuk apa aku

keberatan?”

“Sebelum melangkah lebih jauh, mohon perhati arinya!

Ini bukanlah inspirasi atau ilham yang tiba-tiba muncul

atau terlihat dari ingatan, sepertinya aku dan kau I i nggal

bersama-sama.”

“Tinggal di mana?”

“Sudah tidak ingat lagi! Hanya saja kadang-kadang

tinggal bersama, bahkan….bahkan seperti layaknya suami

istri saja.”

Lim Leng-ji tiba-tiba memandangi Wie Kai dengan

pandangan agak meremehkannya.

Seorang perempuan seperti itu, meskipun pandangan

meremehkan orang seperti itu ditujukan ki-pada siapa pun,

mereka akan tetap merasa ter-

Jika seorang perempuan yang luar biasa yang

dapatmenggerakkan hati seseorang memandangi seorang

laki-laki dengan pandangan seperti itu, kecuali jika laki-laki

itu adalah suaminya atau teman baiknya, biasanya laki-laki

ini tidak bisa memastikan pikirannya hanya melihat dari

ekspresi mukanya saja, juga tidak bisa menyadari suasana

hatinya yang dicerminkan oleh ekspresinya.

Karena pandangan matanya sangat tajam menusuk

seperti kilat yang menyambar.

Semua orang dalam hal ini hanya bisa terkejut.

Segala macam pemikiran untuk sementara terhenti.

“Aku tahu kau pasti akan merasa tidak pantas atau

marah.”

“Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?”

“Ini kan hanyalah potongan kecil dari kenangan masa

lalu! Mengapa kau malah bertanya mengapa aku bisa

berpikir seperti itu?”

“Jika siang hari ada pikiran, maka malam hari ada

mimpi. Semuanya hanya menjadi sebuah impian.”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bukan mimpi?”

“Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas antara

mimpi dan ingatan.”

“Bagus…bagus…. sudahlah jangan bicarakan lagi hal

yang membosankan ini. Apa lagi yang masih kau ingat?”

Wie Kai berjalan perlahan-lahan mengelilingi paviliun

pinggir air itu.

Lim Leng-ji pun mengikuti, berjalan mengelilingi

paviliun itu.

Bayangan kedua orang itu terpantul di permukaan air,

benar-benar seperti sepasang bayangan kembar.

Liauw Swat-keng yang berada di atas pohon tiba-liba

merasa seakan-akan harta yang telah berada di tangannya

tiba-tiba jatuh ke tangan orang lain.

Kemungkinan bahwa gadis ini adalah bayangannya, bisa

saja terjadi.

Perasaannya saat ini benar-benar kacau.

Wie Kai bolak-balik tetap saja menatapnya.

Setiap kali Wie Kai menatap gadis itu sekali, orang yang

berada di atas pohon juga menggertakkan giginya s«-kali.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku.”

Wie Kai merendahkan suaranya sehingga hanya mereka

berdua saja yang bisa mendengarnya.

Bahkan orang yang berada di atas pohon pun tidak bisa

mendengarnya.

“Rasa-rasanya kita sudah memiliki hubungan sa mpai

tidur di bantal dan kamar yang sama seperti suami istri.”

Lim Leng-ji nyaris saja menamparnya.

Hanya saja dalam kata-katanya terkandung dua kata

‘rasa-rasanya’.

‘Rasa-rasanya’ dua kata itu kegunaannya sangat brsar,

ada kalanya bukanlah kata yang hanya omong kosong

belaka.

Walaupun ada orang yang membenci kata ‘rasa-i asanya’,

‘mungkin’, bahkan ‘kurang lebih’, dan lain-lain.

Wie Kai membalikkan kepalanya memandang dan

melihat raut wajah Lim Leng-ji yang tampak sangat tidak

menyenangkan. Lim Leng-ji lalu berkata:

“Loo Congpasti tidak akan pernah mengeluar-kan katakata

seperti itu.”

Wie Kai berkata:

“Loo Cong adalah Loo Cong, aku adalah aku.”

“Karena itu, dulu kau tidak pernah sekalipun

menjadi……” kata Lim Leng-ji.

Dia tidak melanjutkan perkataannya.

Sebenarnya dikatakan atau tidak sama saja.

Seorang anak kecil pun pasti bisa menebaknya.

Kedua orang itu tetap saja berjalan perlahan-lahan

mengelilingi paviliun itu sampai 2-3 putaran sambil tetap

tidak mengeluarkan suara.

Tiba-tiba Lim Leng-ji bertanya:

“Kau masih ada ingatan aneh apa lagi tentang masa

lalu?”

“Untuk sementara ini tidak ada!”

‘”Untuk sementara’ dan ‘tidak ada’ adalah kata yang

saling bertentangan, betul tidak?”

“Aku hanya takut kau marah.”

“Semua yang paling membuatku marah sudah kau

katakan tadi.”

“Ingatan akan masa lalu yang sedikit ini mungkin malah

bisa membuatmu tambah marah.”

Lim Leng-ji sedang mempertimbangkan apakah perlu

mendengar kata-kata yang kurang ajar ini.

Atau mungkin dia sedang menebak apa sebenar nya isi

kata-kata itu?

Mungkin kata-kata tadi adalah kata-kata yang kotor.

Lim Leng-ji tahu dirinya jelas-jelas sama sekali belum

ternoda. Tetapi dia malah mendengar desas-desus yang

disebarkan orang lain tentang dirinya yang disebarkan di

belakang punggungnya.

Seseorang tidak peduli betapa kaya dan makmur nya dia,

tetap saja tidak bisa menghindar dari kecemburuan orang

lain.

Lihat saja Baginda Raja, entah berapa banyak rakyat

jelata yang merasa cemburu dan iri di dalam hati padanya?

Lim Leng-ji mengayunkan tangannya, berkata:

“Jika memang ada yang perlu dibicarakan, katakan saja!”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin

mengatakannya.”

“Kecuali ini hanya rekaanmu saja!”

“Untuk apa aku mereka-reka hal seperti itu?”

Perasaan Lim Leng-ji mengatakan, jika orang ini datang

hanya untuk bermanis-manis alias menjilat, kata-katanya

benar-benar berbahaya, benar-benar bisa mencelakakan

orang lain.

Wie Kai sejenak ragu lagi lalu berbisik:

“Kau dan orang itu malah sudah memiliki seorang jnak

laki-laki kecil… tentu saja kemungkinan anak laki-laki kecil

itu bukanlah anakmu, tetapi anak orang itu dengan wanita

lain………”

Tiba-tiba Lim Leng-ji melayangkan tamparan padanya.

Tamparan ini benar-benar sangat keras. Bagi penonton

yang berada di atas pohon, tamparan tadi ibarat sengsara

membawa nikmat

Paling tidak tamparan tadi menunjukkan kalau “barang

berharga”nya masih terjaga dengan baik.

Tetapi bagi Wie Kai, tamparan tadi membuat-nya sedikit

tersadar.

Bagi Lim Leng-ji sendiri, dia merasa kalau tamparannya

tadi memang agak sedikit kelewatan.

“Berani-beraninya kau berkata seperti itu!”

Wie Kai berkata dengan sungguh-sungguh:

“Aku tidak main-main dengan perkataanku tadi, paling

tidak aku tidak mengarang-ngarang.”

“Di dunia ini mana ada hal yang seperti itu? Siapa yang

telah menyuruhmu untuk menghina diriku?”

Wie Kai mengusap-usap mukanya tanpa ber-kata sepatah

kata pun.

“Rupanya kau menyesal telah mengeluarkan kata-kata

seperti itu, ya kan?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya:

“Sebenarnya masih ada yang harus dikatakan.”

“Masih ada?”

“Aku masih ingat secara samar-samar, tetapi aku tidak

ingin mengatakannya!”

“Semua perkataan yang kurang ajar itu sudah kau

katakan semuanya, masih ada yang mana lagi yang belum

kau katakan?”

“Aku kan tadi sudah bilang, itu hanyalah ingatan yang

setengah tidur, aku tidak berani terlalu membenarkannya.”

“Jika semua itu bukan bohong, katakan saja semuanya

secara terus terang!”

Wie Kai menghela nafas:

“Jika bicara terus terang, nanti kau akan memukulku

lagi.”

“Kau takut dipukul?”

“Ya tidak juga, hanya takut membuatmu marah!” “Aku

tidak marah!”

“Kau pasti tidak akan percaya, karena sebenar-nya nku

memang sengaja menghinamu.”

“Apakah benar segawat itu?”

“Itu tergantung apakah kau percaya atau tidak?”

“Coba kau ingat-ingat lagi, apakah semua ini ,idalah

khayalan saja ataukah mimpi yang benar-benar nyata?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau begitu kau mungkin sudah mengidap penyakit

lupa ingatan yang ringan.”

“Mungkin saja, belakangan ini aku juga ber-pikir

demikian, tetapi di lain pihak, aku sama sekali tidak

memiliki gejala akan penyakit tersebut.”

“Baiklah, kalau begitu katakan saja!”

Wie Kai berhenti dan bersandar pada pagar paviliun itu

lalu berkata:

“Kau masih marah padaku karena menying-gung soal

anak laki-laki kecil tadi.”

Lim Leng-ji lagi-lagi mengangkat tangannya tetapi

sebelum memukul dia sudah menurunkan kembali

tangannya dan bertanya dengan bersuara keras:

“Penyakitmu benar-benar sudah tidak tertolong lagi.”

“Mungkin tidak lah terlalu berat, tetapi adalah sedikit.”

“Kau tengah malam begini datang menemuiku, apa

hanya untuk mengatakan hal ini?”

“Tidak. Aku datang demi mengungkapkan jati dirimu

yang sebenarnya, juga jati diri adik perempuan kembarmu.”

“Apa maksudmu dengan adik perempuan kembarku?”

Lim Leng-ji menduga penyakit yang dideritanya benarbenar

parah karena semua hal ini tidak mungkin terjadi

pada dirinya.

Lim Leng-ji menatapnya dengan tajam. Wie Kai berkata:

“Kau sama sekali tidak mempercayai hal ini, aku

sedikitpun tidak merasa aneh.”

“Kau ini mengarang cerita apa lagi?”

“Dulu Lim Hujin pernah mempunyai seorang teman

yang bernama Liauw In, apakah kau pernah men

dengarnya?”

“Pernah.”

“Kalian Keluarga Lim adalah keluarga yang kaya raya,

kata orang kekayaan keluarga kalian sampai ratusan juta

tail, apakah kau mengetahuinya?”

“Wah, ternyata orang luar lebih tahu dibandingkan

dengan keluarga kami sendiri.”

Dia hampir saja mengatakan termasuk Wie Kai di

dalamnya.

“Kau jangan salah paham dulu, katanya Liauw In

mempunyai seorang istri yang bernama Cia Peng dan dia

adalah seorang bidan, sewaktu nyonya melahirkan, dia

melahirkan sepasang anak kembar

(«tapi dia mengira hanya melahirkan seorang anak saja.”

Lim Leng-ji sangat terkejut.

Tetapi setelah rasa terkejutnya lewat, tiba-tiba dia U’i

tawa lalu berkata:

“Perkataanmu malam ini benar-benar bisa membuat

orang yang sudah meninggal tidak bisa beristirahat dengan

tenang.”

“Aku sudah tahu kau tidak akan percaya, jika kau

percaya maka orang yang melakukan tipu muslihat ini,

apakah masih memiliki masa depan?”

“Wie Kai, yang selanjutnya aku sudah tidak ingin

mendengarnya lagi.”

“Mengapa?”

“Aku juga tidak berani memastikan, lagi pula tidak

mungkin persoalan mengenai kakak-beradik kembar seperti

ini bisa muncul secara tiba-tiba.”

“Pikiran ini memang yang paling masuk akal, ?ikan

tetapi di dunia ini ada kalanya timbul persoalan aneh yang

tidak pernah terpikirkan orang sebelum-nya.”

“Apakah adasaksi atau barang bukti?”

“Aku telah membawa adik kembarmu kemari.”

Lim Leng-ji lagi-lagi terkejut dan bertanya:

“Di mana dia?”

Wie Kai bertepuk tangan lalu:

“Swat-keng, silahkan keluar!”

Sekarang bisa dilihat betapa paniknya Lim Leng-ji.

Dia mengikuti arah pandangan mata Wie Kai, tetapi di

atas pohon itu tidak terdapat gerakan sedikit pun.

Wie Kai tahu Liauw Swat-keng adalah seorang gadis

yang nakal, tetapi itu juga tergantung sekali suasana

hatinya, membuat dirinya cemas saja!

Wie Kai lagi-lagi bertepuk tangan, berkata:

“Swat-keng …. Swat-keng di saat hendak bertemu dan

mengenal saudara perempuan kembarmu kau malah nakal?

Kau ini benar-benar keterlaluan!”

Sama seperti sebelumnya, tetap saja di atas pohon itu

tidak aToakorakan apa pun.

Wie Kai memandangi Lim Leng-ji dan melihat dia sama

sekali tidak bereaksi apa pun.

Dari pada ada reaksi, tidak ada reaksi sama sekali malah

membuatnya semakin tidak tenang.

Wie Kai sedikit naik pitam dan berseru:

“Liauw Swat-keng, jangan kurang ajar! Aku ini benarbenar

lari kesana kemari demi orang lain, jangan

membuatku tambah repot, bisa kan?”

Di atas pohon itu sama sekali tidak ada orang.

Berdasarkan kemampuan pendengaran Wie Kai dan

jarak dengan pohon itu demikian dekat, dia bisa tahu

bahwa di atas pohon itu sudah tidak ada orang dan itu

membuatnya naik pitam.

Lim Leng-ji sama sekali tidak berkata sepatah kata pun. ^

Bahkan saat itu keinginan Lim Leng-ji untuk

mengeluarkan pendapat pun sudah sirna.

Pada teman sejak kecil yang setelah sekian lama baru

bertemu kembali, sebenarnya dia sudah berhasrat untuk

merencanakan pertemuan kembali.

Tetapi perjumpaannya kali ini telah memadamkan hasrat

hatinya.

Wie Kai sangat murka, tanpa menggerakan bahu dan

kakinya, tubuhnya melesat melewati kolam tanpa

menghindari ranting daun pada pohon.

Lim Leng-ji hanya mendengar suara “aduh” yang tiada

hentinya dari tengah pohon itu.

Suara ini mau tidak mau membuat sudut mulut nya

terangkat.

Liauw Swat-keng merasa jika dia tidak muncul di

hadapan Lim Leng-ji, walaupun Wie Kai berbicara sampai

langit terang dan bibir bengkak, Lim Leng-ji tidak akan

mungkin percaya.

Jika Lim Leng-ji tidak percaya maka dia bukanlah

pilnikyang kalah.

Masalah di antara pria dan wanita memang ?aili-rhana

seperti itu.

Apakah seorang wanita itu bahagia atau tidak, mencintai

atau tidak, memang begitulah cara membedakannya.

Selama di dalam perjalanan dari propinsi Tiang-i m

menuju ke kota Koh ini, Liauw Swat-keng sudah

mengetahui bagaimana perasaan dirinya terhadap Wie h ai

Hanya saja masalah di antara pria dan wanita memang

tidak lah sesederhana itu.

Lim Leng-ji menengadah melihat warna langit lalu birkala:

“Sudah larut!”

“Memang, sudah waktunya bagi tamu untuk

mengundurkan diri,” Jawab Wie Kai

Apakah seorang tamu sudah waktunya pergi atau belum

semuanya tergantung tuan rumah yang memutuskannya.

Jika tuan rumah tidak memutuskan maka tamulah yang

membuat kepurusan sendiri.

BAB IV

Sebagian besar orang tidak dapat dipungkiri pasti

mempunyai perasaan aneh terhadap mereka.

Hweesio Lama (Hweesio Budha dari Tibet) ini

sepertinya tidak terlalu menarik perhatian orang,

perawakannya juga tidak gemuk, usianya sekitar 50 tahun,

dan di wajahnya terlihat ada sedikit senyuman.

Dia berjalan tidak cepat-cepat juga tidak lambat, pastinya

dia adalah seorang pengikut Budha yang taat.

Dia memasuki lorong kecil lalu tiba-tiba dia mengangkat

kedua alis matanya dan raut wajahnya berubah menjadi

berseri-seri. Begitu membalikkan badannya dan dengan

menggunakan ilmu meringan-kan tubuh dalam waktu

sekejap mata dia sudah memasuki taman sebelah kiri di

dalam sebuah rumah penduduk.

Rumah ini memiliki taman yang luas dan dipenuhi oleh

bunga-bunga dan pepohonan.

Sinar lentera yang keluar dari sebuah ruangan kecil

menerpa bunga-bunga dan pepohonan yang ada di

sekitarnya sehingga membuat taman ini menjadi mem

pesona.

Kegelapan malam di tempat ini seakan-akan

bermandikan cahaya.

Sewaktu hweesio Lama itu berdiri di depan pintu

mangan kecil itu, dia menunduk memberikan hormat.

Di dalam ruangan kecil itu terdapat sebuah dipan

(bangku panjang jaman dulu yang menyerupai ranjang)

yang di atasnya terdapat seorang wanita separuh baya.

“Maaf Boan-lai mengganggu Ciasicu.”

Wanita separuh baya itu membuka matanya seraya

menjulurkan tangannya sambil berkata:

“Orang sendiri tidak perlu sungkan.”

Padahal dia sendiri tahu bahwa orang yang datang itu

adalah hweesio Lama itu, tetapi sampai hweesio Lama itu

mengeluarkan suara dia sama sekali tidak menyambutnya.

Hweesio Lama itu masuk ke dalam ruangan kecil itu lalu

duduk di kursi yang ada di depan dipan itu dan berkata:

“Apakah ada kabar dari majikan?”

“Masih belum ada, apakah taysu ada keperluan penting

dengan majikan?” jawab wanita itu.

“Orang she Wie itu kelakuannya benar-benar sangat

mencolok mata, bahkan sampai mencari Liauw Kouwnio.

Apakah hal ini tidak akan semakin memperburuk

keadaan?”

“Majikan juga sudah memperhatikan hal ini.”

Pan Lai Lama bertanya lagi:

“Apakah Cia Sicu ada perintah untuk di laksanakan?”

“Mohon Taysu dapat menemukan Siau-keng

secepatnya,” Kata wanita itu.

Pan Lai Lama berkata:

“Lo-na (saya) juga sedang mengusahakannya.” Wanita

itu menggangguk.

“Taysu sudah tahu dari dulu kalau Siau-keng

menghilang?”

“Belum lama.” Jawab Pan Lai Lama

“Berapa lama?” “Tidak sampai sepuluh hari.”

“Bagaimana cara Taysu sampai bisa mengetahuinya?”

Pan Lai berkata terus terang:

“Semua hal yang terjadi di desa ini, hanya sedikit yang

Lo-na tidak tahu.”

Wanita itu tertawa sambil berkata: “Taysu benar-benar

luar biasa.”

“Ah, sama sekali tidak.”

“Tolong terus beri kabar, kalau bertemu dengan nya

langsung bawa dia kembali.”

Pan Lai bertanya:

“Jika Liauw Kouwnio bersama-sama dengan orang she

Wie itu, bagaimana?”

“Mengapa dia mesti bersama dengan orang itu?”

“Karena mereka memiliki arah tujuan yang sama yaitu

dari arah Tiang-ciu menuju kota Koh.”

Wanita ini seharusnya merasa senang setelah mendengar

berita ini, tetapi raut wajahnya tetap saja ilingin tanpa

ekspresi sama sekali bahkan suaranya pun tajam bagaikan

pedang.

Wanita itu berkata:

“Kalau begitu, maaf merepotkan taysu untuk

membawanya pulang kemari.”

“Apakah Sicu bermaksud untuk sementara waktu t ii lak

ingin bermasalah dengan she Wie ini?”

“Taysu, memangnya perkataan ini harus diulang berapa

kali?”

Sekali saja sudah lebih dari cukup, pastinya Pan I ai tidak

akan berani untuk bertanya kedua kalinya.

Pan Lai berdiri d an memohon pamit.

Wanita itu lagi-lagi berkata secara tiba-tiba: “Soal Cianthauw-

siau-kai (Kai kecil si pem-buru kepala) ini, biar

orang-orang di atas yang meng-urusnya, kau dan aku tidak

perlu repot-repot meng-urusinya.”

“Apakah maksud Sicu itu berarti untuk seterusnya?”

Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hweesio Lama itu baru saja pergi. Di dalam ruangan itu

tiba-tiba ada seseorang yang muncul.

Bahkan sepertinya orang itu memang sudah ada dari tadi

dan berdiri di tengah ruangan itu tanpa disadari.

“Yang di atas memangnya ada kabar apa?”

Nada bicara serta prilaku wanita itu saat ini dengan

sewaktu berbicara dengan Pan Lai Lama tadi amat

sangatberbeda.

Begitu juga dengan keadaannya, yang dari tadi hanya

berbaring saja di atas dipan panjang dan sama sekali tidak

bergerak, sekarang tiba-tiba berlutut di atas tanah.

“Tidak perlu memberi hormat secara berlebihan seperti

itu!” Orang yang baru datang itu berkata dengan tegas dan

wanita itu langsung segera berdiri.

Terhadap siapa pun dia bisa bersikap tidak peduli dan

masa bodoh.

Karena di dalam dunia persilatan, pendekar wanita yang

lebih hebat dari dirinya sudah tidak banyak.

Hanya saja begitu bertemu dengan orang yang di atas

tentu saja berbeda, apa lagi kalau bukan disebab kan ilmu

dan kekuatannya sangat tinggi.

Orang yang berasal dari jajaran atas ini memiliki

kekuatan yang misterius.

Sungguh kekuatan yang hebat dan misterius.

Sang majikan itu berkata dengan lemah lembut:

“Kalian suami istri demi masalah Oh-tiap-go (Sarang

kupu-kupu), sudah bekerja tiada siang atau pun malam

tanpa mengenal lelah, aku sudah menge-tahuinya ilan

menyimpannya di dalam hati.”

Wanita itu membungkuk sambil berkata:

“Hamba hanya berusaha sekuat tenaga!”

“Berusahalah terus!” Kata Sang majikan.

“Baik!”

“Cia Peng.”

“Ya, Tuan.”

“Bagaimana menurutmu tentang Pan Lai?”

“Tuan tentu lebih mengerti Pan Lai daripada aku.”

Cia Peng menyahut dengan kesopanan yang tangat

dalam juga dengan kata-kata yang sangat menjunjung

tinggi.

“Aku justru ingin tahu bagaimana pandangan-mu

terhadap dia.”

Cia Peng tahu dia tidak bisa tidak bicara, lalu heikata:

“Barusan dia datang kemari. Dia membicarakan masalah

yang terjadi di desa ini dan hal yang tidak dia ketahui

sangatlah sedikit.”

Sang majikan itu sama sekali tidak bergerak.

Cia Peng juga berdiri tanpa bergerak sedikit pun.

Orang yang bisa dipercayai oleh orang ini baru bisa

berjaya.

Jika majikan saja langsung datang untuk ber-tanya

padanya, itu tandanya dia menaruh kepercayaan padanya.

“Bagaimana menurutmu mengenai orang-orang dari

Liok-san-bun (Perkumpulan Enam Kipas)?”

“Sampai saat ini boleh dikatakan masih bisa diandalkan,

tetapi tidak cukup waspada.”

Sang majikan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

berkata:

“Dalam pandanganku, orang yang tidak cukup waspada

tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa

diandalkan.”

Perkataan ini sama sekali bukan ditujukan kepada Cia

Peng.

“Ya, Tuan.” Tetapi dia tetap saja merasa begitu.

Tiba-tiba Cia Peng dengan hati-hati membuka simpul

kancing dari baju luarnya yang terbuat dari kain satin lunak

mulai dari bawah dagunya hingga membuka.

Lagipula memang sudah saatnya untuk membicarakan

hal yang panas.

Di saat-saat tertentu ada kalanya sinar saja tidak lah

cukup, tetap saja harus menyalakan api baru bisa.

Jika kau ingin memberikan bingkisan kepada orang

tertentu, tentu saja dibutuhkan suatu kepandaian sehingga

pada saat orang tersebut menerima bingkisan atau hadiah

itu, dia akan merasa nyaman dan wajar.

Yang paling penting lagi adalah jika diberikan pada

waktu yang tepat.

Hanya dua buah kancing saja yang baru terbuka.

Mungkin saja dia hanya merasa panas, atau mungkin

merasa agak terlalu ketat.

Akan tetapi gerakan ini sangat jelas artinya dan luar

biasa di mata majikannya.

Sang majikan sama sekali ti dak bergerak.

Apakah sang majikan menyadari dua buah kancing

bajunya yang sudah terbuka? Cia Peng tidak berani

memastikannya.

Pandangan mata Cia Peng menunduk memandang ujung

atas sepasang sepatu sulamnya.

Dia juga tahu banyak gadis-gadis muda dari keluarga

terpandang yang memiliki kaki yang indah, tetapi tidak

pernah diketemukan ada yang memiliki kaki yang lebih

indah daripada sepasang kakinya yang mengenakan sepatu

bersulam.

Ada juga orang yang pernah memegang kaki-nya yang

telanjang.

Orang itu mengelusnya sembari berkata:

“Indah sekali!”

Sayangnya hanya terucap dua patah kata saja.

Walaupun hanya dua patah kata ‘indah sekali’ saja.

Tapi pada waktu itu hati Cia Peng merasa sangat bangga

sekali, bahkan tubuhnya serasa tumbuh sepasang sayap.

Tetapi apa yang sedang dipikirkan oleh Cia Peng sama

sekali berbeda dengan situasi yang akan terjadi ??ikarangini.

Tiba-tiba sang majikan berkata dengan suara lembut:

“Aku ingin menyampaikan sebuah pesan, kau

dengarkan baik-baik.”

Pikiran Cia Peng langsung terfokus jawabnya: “Baik!”

“Hati keras bagaikan besi, mengantar Budha ke langit

barat, tiga hari tidak ada kabar, kapas terbang musim semi

sudah berakhir.”

Ekspresi yang sebelumnya ada di mata Cia Peng

langsung hilang dalam sekejap.

Seperti layaknya tiupan angin musim dingin yang datang

menghembus, panas yang ada di dalam tubuh hilang

sampai tidak berbekas sedikit pun.

Cia Peng benar-benar bisa merasakan kekuatan yang di

atas penalaran manusia.

“Sudah mengerti belum?”

“Ada sebagian sudah mengerti, ada sebagian lagi yang

tidak mengerti.”

Sang majikan berkata dengan lembut:

“Tidak apa jika tidak mengerti. Jika tidak mengerti

tidakboleh berlagak seolah-olah mengerti.”

“Baik!”

“Bagian mana yang tidak dimengerti. Coba keluarkan

dan tanyakan!”

Nada bicara serta tutur katanya sangat halus sama seperti

layaknya perkataan yang d”itujukan kepada orang yang

lebih tua saja.

Cia Peng berkata:

“Hati keras bagaikan besi, apakah itu menunjuk pada

hati besi yang digantungkan?”

Sang majikan menggangguk-anggukkan kepala nya.

Cia Peng menengadah memandangi sang majikan sambil

berkata lagi:

“Mengenai mengantar Buddha ke langit barat, hamba

juga mengerti. Artinya adalah mengantar Buddha pergi.”

“Ng!”

“Tapi kalau kapas terbang musim semi sudah

berakhir……….”

Dia menengadah menatap sang majikan.

Tidak peduli dalam situasi apa pun, dia selalu

menengadah menatap sang majikan.

Dengan suara lembut sang majikan berkata:

“Kapas terbang itu berasal dari mana?”

Mata Cia Peng langsung bersinar-sinar, reaksi-nya

sangatlah cepat.

Tentu saja, kesusastraan Cia Peng walaupun rendah tapi

tidaklah jelek.

Dulu Liauw In pernah berkata sambil ber-kelakar bahwa

jika membelah kulit perut Cia Peng maka bisa le-.rlihatisi

tinta yang ada di dalam perutnya.

Sang majikan berkata dengan lembut:

“Jika belum mengerti masih boleh bertanya!”

Nada bicaranya seperti berbicara kepada anak kecil saja.

“Hamba sudah mengerti! Kapas terbang datang nya dari

tempat Yang-liu.”

“Ng! Bagus sekali. Kau masih belum mengata-kan

mengerti atau tidak tentang kalimat yang ketiga?”

Raut wajah Cia Peng tiba-tiba berubah.

“Tidak mengerti ataukah ada sesuatu yang tidak beres?”

Cia Peng lagi-lagi berlutut sambil menjawab:

“Apakah majikan bisa memberikan kesempatan

kepadanya untuk menebus dosa? Sekali saja!”

“Sebenarnya tidak bisa, tetapi melihat kesetiaan kalian

berdua suami istri selama ini, aku akan memberikan satu

kali kesempatan kepadanya, hanya satu kali ini saja!”

“Terima kasih Tuan.”

“Kau tahu kan yang dimaksud dengan satu kali itu apa?”

“Silahkan Tuan jatuhkan hukuman!”

“Jika dalam setengah bulan dari sekarang dia tidak

pulang baik-baik untuk mengaku dosa, maka kalian berdua

yang akan menanggung akibatnya!”

Begitu Cia Peng menengadah lagi, bayangan dari orang

itu sudah tidak ada lagi.

Suasana di paviliun air sangat sunyi. Malam hari tidak

berangin.

Di atas air hampir tidak terdengar suara dari gerakan

sirip ikan yang berenang.

Dua cangkir arak ditaruh di atas meja di hadapan dua

orang.

Yang seorang adalah Lim Leng-ji dan yang seorang lagi

adalah seorang pria yang tampan dan memakai pakaian

yang indah, yaitu Loo Cong.

Loo Cong tiba-tiba berkata:

“Dasar Siau-kai! Dia benar-benar telah lupa akan

kejadian di masa lalu.”

Lim Leng-ji tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Loo

Cong lagi-lagi berkata:

“Justu karena aku sudah tahu bahwa dia sudah

melupakan semua yang terjadi di masa lalu, maka dari itu

tidak bisa dikatakan betapa sedihnya diriku. Maka-nya aku

sengaja menyuruh bawahanku untuk mencobanya. Siapa

sangka bahkan aku pun tidak diingatnya!”

“Mengapa seseorang tanpa sebab bisa kehilang-an

ingatannya?” kata Lim Leng-ji.

“Apakah karena ada perasaan memandang hina terhadap

orang kaya?”

“Menjadi orang kaya benar-benar serba salah, banyak

orang yang memandang hina kepada orang kaya tetapi

justru banyak karya tulis terkenal yang berisikan kalimat

tentang emas, giok, mutiara, dan barang-barang berharga

lainnya. Lalu apa maksud-nya?”

“Leng-ji, kata-kata itu seperti layaknya jarum bertemu d

arah.”

Lim Leng-ji menghela nafasnya sambil berkata:

“Kita sama sekali tidak membencinya karena dia

miskin.”

“Bagaimana mungkin?” kata Loo Cong.

“Dia nampaknya sangat kecewa.”

“Kecewa sih boleh-boleh saja, tetapi jangan

menyamaratakan semua orang. Dia sepertinya sudah

terjangkit penyakit ini.”

“Orang jaman dulu berkata, jika tidak mengendalikan

kelahiran maka kelak akan menyusahkan orang, jika tugas

penting ditukar dengan kesenangan maka kelak akan

kelelahan.”

“Leng-ji, di dalam hati aku merasa sangat sedih,

terutama ketika mengingat tentang kejadian di masa lalu.”

Lim Leng-ji tenggelam dalam pikirannya.

Lim Leng-ji lagi-lagi menghela nafasnya dalam-dalam

dan berkata:

“Kita harus menolongnya.”

“Tentu saja, aku justru sedang berpikir bagaimana cara

kita menolongnya.”

“Cara untuk menolong orang banyak macamnya.”

“Hanya saja kita harus tahu dulu orang yang seperti apa

yang mau kita tolong sehingga tahu harus memakai cara

apa untuk menolongnya. Kita harus tahu dulu pangkal

penyakitnya.”

Lim Leng-ji tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya:

“Aku tahu penyebab dari penyakitnya.”

“Kau tahu? Benar-benar tahu?”

Lim Leng-ji menggangguk-anggukkan kepala

“Makanya dari dulu aku selalu menganggap kau sebagai

wanita yang genius.”

Lim Leng-ji berkata:

“Hanya saja alasannya, ketika kita bertiga m.mi bersamasama

sewaktu masih anak-anak dulu yang menjadi

pengantin prianya selalu kau.”

Loo Cong terpaku.

“Kau tidak percaya?” kata Lim Leng-ji.

“Ucapan dari wanita genius, mana mungkin aku tidak

percaya?”

“Apakah menurutmu ini bukan penyebab dari

penyakitnya?”

“Bisa jadi, tapi bisa juga bukan,” Loo Cong menghela

nafas dan bertanya, “Waktu kita bertiga bermain bersamasama

sewaktu masih anak-anak dulu, memangnya dia tidak

pernah sekali pun menjadi pengantin prianya?”

Lim Leng-ji menggeleng-gelengkan kepalanya.

Loo Cong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil

menghela nafasnya.

“Mengapa kau menghela nafas seperti itu?”

“Aku sedang berpikir, mengapa kau tidak pernah

membiarkan dia melakukannya satu kali pun?”

“Bukankah kau yang tidak membolehkannya?”

“Aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi.”

“Kalian berdua sering berkelahi, tetapi selalu karena

diriku.”

“Sewaktu kita sering berkelahi, siapa yang sering

menang?”

“Masing-masing pernah menang dan kalah.” Loo Cong

mengangkat cangkirnya, berkata: “Mari kita bersulang demi

menolong Siau-kai.”

Arak sudah habis diminum.

Lim Leng-ji pelan menggelengkan kepalanya:

“Aku agak sedikit kesal.”

“Kesal kenapa?”

“Jika kita menolongnya, aku takut dia nanti bicara

sembarangan di luaran! Jika kita tidak menolong nya, aku

juga sedikit tidak tega!”

Wajah Loo Cong memucat, lalu berkata:

“Leng-ji, hubungan persahabatan kita pada dasarnya

tidak selaras, betul tidak?”

“Betul!”

“Apa yang dikatakan mungkin hanya mimpi.”

“Tentu saja bukan!”

“Bagaimana kalau kita biarkan saja dia mau berkata apa?

Lagi pula kita berdua tahu kalau yang dia bicarakan hanya

omong kosong belaka.”

“Siau-loo, dia mengatakan hal yang kurang ajar seperti

itu, apa kau tidak jengkel?”

“Jika mau dikata, sedikit pun tidak. Itu bukan perkataan

yang jujur dan terus terang. Tetapi hubung-an di antara kita

bertiga memang pada dasarnya benar-benar mengambang.”

Kata-kata yang diucapkannya sangat serius dan penuh

martabat, serta disusun dengan cermat.

Siapa pun juga hanya dengan sekali pandang pasti akan

langsung tahu bahwa dia adalah orang yang setia kawan.

Demi teman dia tidak pernah menghitung untung dan rugi.

Ada orang yang mengatakan … menolong teman sendiri

mudah, menolong istri dan gundik sulit, menolong pejabat

luar biasa sulitnya.

Kata-kata ini walaupun benar adanya tetapi lidak

sepenuhnya benar.

Sebenarnya untuk menolong teman sendiri juga tidaklah

mudah.

Jika ada orang mengatakan bahwa hubungan kita

dengan orang tertentu sangat akrab, kemungkinan besar

justru hubungan mereka sama sekali tidak akrab.

Karena hubungan akrab adalah hubungan dengan hati,

bukan hubungan di mulut saja.

Yo Lim datang untuk mencari Wie Kai sambil

membawa serta seorang anak buahnya. Yo Lim berkata:

“Hari ini aku ingin bersulang secangkir arak dengan Wietayhiap.”

Ini adalah kejadian yang langka.

Setiap kali mereka berdua bersama-sama, Yo Lim selalu

saja berkata kalau dia baru saja makan.

Tapi Wie Kai bisa mengerti dirinya.

Jika seorang Sun-cian tidak melakukan pemerasan

disana-sini, penghasilan bersih setiap bulannya sekitar 10

tail lebih, bagi mereka yang sudah memiliki rumah dan

sebagainya, tentunya banyak kesulitan yang harus diatasi

alias tidak cukup.

Karena itu Wie Kai berkata:

“Tetap saja aku yangharus mentraktir.”

“Tidak… tidak… kali ini biar aku yang membayarnya.”

“Apakah hari ini ada sesuatu hal yang menggembirakan

bagi Yo-heng?”

“Tidak juga, tahun lalu ada sebuah kasus yang kutangani

dengan sangat cekatan dan rapi, dan Pak Bupati sudah

melaporkannya ke pusat dan setelah dilakukan pemeriksaan

lalu diberi hadiah sebesar 50 tail.”

Yo Lim bertanya kepada Wie Kai apakah dia menyukai

Ceng-sim-koan (rumah makan Ceng-sim)? Jawaban dari

Wie Kai sangat sederhana. Tempat makan yang bagaimana

pun dia suka.

Ketika uang sedang melimpah ruah, dia justru tidak mau

pergi ke tempat makan yang terkenal. Ketika sedang tidak

ada uang, justru di mejanya terhidang semangkuk mie dan

beberapa jenis daging panggang.

Yo Lim memesan 4-5 macam masakan, benar-benar

berubah seperti orang lain saja.

Hanya dengan uang 50 tail saja ternyata sudah bisa

membuat seseorang menjadi berubah.

Jika bukan karena uangnya terlalu keras, tentu orangnya

lah yang terlalu lemah.

“Yo Sun-cian, kasusnya bagaimana?”

“Kasusnya pasti segera terpecahkan.”

“Apakah Cia Peng berhasil ditemukan?”

“Masih belum, apakah Wie-tayhiap sudah

menemukannya?”

“Belum.”

“Apakah sudah berhasil menemukan suami dan anak

perempuan Cia Peng?”

“Belum.”

Sesudah Yo Lim meminum araknya, Wie Kai sama

sekali tidak bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan

pada raut wajahnya.

Ceng-sim-koan waktu tutupnya sampai tengah malam.

Hari ini waktunya untuk tutup sudah sampai, tetapi

mereka masih belum meminum habis arak mereka.

Pelayan sudah mulai menutup pintu masuknya, hanya

menyisakan sebuah pintu kecil yang masih terbuka.

Pada saat itu tiba-tiba ada sekilas bayangan manusia di

luar pintu kecil itu.

Hanya bayangan sekilas, orangnya sama sekali tidak

masuk.

Jika ada hal seperti ini, pandangan orang pada umumnya

pasti mengarah keluar pintu kecil itu untuk melihatnya.

Pada kenyataannya yang melihat bayangan sekilas itu

hanya Wie Kai seorang.

Pada saat dia melihat bayangan orang yang sekilas itu,

pada saat yang bersamaan di lantai atas terdengar suara

jeritan.

Suara jeritan ini serasa terdengar tidak asing lagi, Wie

Kai segera teringat akan Liauw Swat-keng.

Sebelum jeritan itu berakhir, Wie Kai sudah bangkit dari

tempat duduknya.

Begitu terdengar jeritan itu, pemilik rumah makan dan

pelayannya tentu saja terkejut dan terpana sambil menatap

ke lantai atas karena mereka tabu di lantai atas sama sekali

tidak ada orang.

Bahkan sebetulnya di lantai atas juga tidak ada lentera

sama sekali.

Karena itu mereka sama sekali tidak melihat Wie Kai

yang sudah bangkit dari duduknya.

Tetapi Yo Lim yang duduk di kursi di hadapan Wie Kai

justru melihatnya dengan jelas sambil berteriak keras:

“Hebat!”

Pada saat Wie Kai hendak sampai di lantai atas, dia

menyadari di lantai atas sama sekali tidak ada orang

sehingga baru setengah jalan dia langsung kembali

menuruni tangga.

Dia melihat pemandangan mengerikan yang belum

pernah dilihatnya seumur hidupnya.

Wie Kai pernah membunuh orang bahkan pernah

melukai orang, tetapi pemandangan yang dilihat nya benarbenar

membuat otot jantungnya serasa dicabut, benar-benar

membuatnya mual.

Kepala Yo Lim sudah terlepas dari tubuhnya, sedangkan

tubuhnya masih dalam keadaan duduk dan tangan

kanannya masih memegang sumpit.

Tentu saja ini taktik membunuh orang dengan

mengacaukan suara dari arah yang berlawanan.

Terlebih dulu melintas di pintu luar lalu membuat suara

teriakkan di lantai atas.

Lalu kemudian dari arah pintu luar terbanglah sebuah

pisau baja.

Punggung Yo Lim menghadap ke pintu luar sehingga dia

sama sekali tidak tahu apa pun.

Sialnya pisau baja terbang itu menebas di posisi yang

tepat sehingga kepala pun langsung melayang bahkan mulut

pun masih menganga. Karena pada saat dia melihat Wie

Kai melesat ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya

dan berteriak “hebat”, pada saat itu pula kepalanya terpisah

dari tubuhnya.

Oleh karena itu seringainya masih terpatri di mukanya.

Tetapi ekspresi itu segera menjadi kaku.

Bahkan berangsur-angsur menghilang.

Darah terlihat mengalir deras jatuh bagaikan arak dari

lubang leher pada tubuh mayat itu dan juga pada lubang

yang ada di kepala yang tertebas itu.

Pemilik rumah makan dan pelayannya mengeluarkan

suara yang aneh, itu adalah suara ringkikan parau

ketakutan.

Kalau dulu mereka disuruh mendengarkan suara yang

seperti itu, mereka pasti tidak akan meng-akui kalau suara

itu adalah suara yang mereka keluarkan dari mulut mereka.

Kepala Yo Lim yang tertebas masih belum jatuh sampai

ke tanah dan pisau baja itu baru saja keluar memutar

kembali ke arah pintu kecil itu, tubuh Wie Kai sudah

melesat ke luar pintu kecil itu.

Pisau yang cepat!

Orang yang cepat!

Wie Kai cepat, pihak lawan pun cepat. Karena itu begitu

Wie Kai keluar, yang dilihatnya hanyalah bayangan tubuh

manusia yang melesat dan meng-hilang di atas atap rumah.

Hujan di tengah malam.

Mendengarkan suara hujan di tengah hutan rimba yang

liar di tengah gunung memiliki kesan menarik tersendiri.

Ini adalah sebuah rumah kayu yang terbuat dari kayu

gelondongan dari tengah hutan rimba, hanya terdiri dari

dua kamar.

Ini adalah tempat berteduh bagi pemburu di kala ingin

menghindari angin dan hujan.

Tempat ini dulu dibangun oleh Hong Kie dan Hong Ku

ketika masih berburu.

Sekarang Wie Kai dan Hong Kie sedang minum arak.

Hong Ku sedang berjaga-jaga di atas pohon yang ada di

luar sana.

Kewaspadaan mereka sangat tinggi.

Sebab jangkauan musuh mereka sangat panjang.

Di dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah meja

dari kayu dan sebuah kursi dari kayu, karena itu Hong Kie

minum arak sambil berdiri.

Tidak peduli Wie Kai mengganggapnya sebagai

bawahannya atau rekannya, Hong Kie tetap saja

menganggap dirinya sendiri sebagai budaknya.

Arak yang mereka minum adalah Cin-lian-hoa-toh,

tetapi sayangnya hidangan yang menemaninya hanya ada

daging sapi.

Walaupun makanan kecilnya hanyalah kacang,

kegembiraan mereka tetap saja tidak berubah.

Hujan jatuh menimpa di atas pepohonan yang ada di

hutan rimba itu dan dari atas pohon itu air hujan jatuh ke

atas atap dari rumah kayu itu. Tidak ada yang lebih

menarik dari suara jatuhnya air di atap rumah kayu.

Hong Kie berkata:

“Wie-ya (tuan Wie), dulu aku selalu mengira jika tidak

berpendidikan justru malah sangat menguntungkan.”

“Tidak berpendidikan justru malah sangat

menguntungkan?” Kata Wie Kai

“Ya, dulu aku memang selalu berpikir seperti itu karena

terlalu banyak membaca buku bagi orang yang belajar ilmu

silat juga tidak akan ada gunanya.”

“Mengapa?”

“Memangnya Wie-ya pernah bertemu dengan sarjana

yang lulus baik dalam bidang pelajaran maupun ilmu silat?”

Wie Kai menjawab:

“Sampai saat ini memang belum pernah.”

“Betulkan!” Hong Kie berkata, “Tetapi belakangan ini

aku baru menyadari bahwa jika tidak berpendidikan tidak

ada bedanya dengan orang buta. Jika pendidikannya tidak

banyak dan tidak memahami secara mendalam, dia benarbenar

seorang yang berpengetahuan dangkal.”

“Seseorang memang harus merasakannya dahulu baru

dia bisa berkembang,” Kata Wie Kai.

“Wie-ya, aku mendengar ada seorang yang misterius

yang berbicara dengan Cia Peng lalu ber-pesan padanya

tentang sesuatu hal, sepertinya sebuah sajak.”

Wie Kai tertawa sambil berkata:

“Jika bisa mengerti sajaknya, bagaimana bisa

mengatakan dirimu orang yang berpengetahuan dangkal?”

Hong Kie menjawab:

“Aku juga tidak berani memastikan apa sebenar nya yang

dikatakan oleh orang misterius itu kepada Cia Peng, hanya

saja kalimat itu terdiri dari empat rangkaian kalimat dan

aku langsung menebaknya bahwa itu adalah sajak.”

“Coba perdengarkan padaku!” Kata Wie Kai.

Hong Kie berpikir sejenak lalu berkata:

“Hati keras bagaikan besi, mengantar Budha ke

langit barat, tiga hari tidak ada kabar, kapas terbang

musim semi sudah berakhir.”

Wie Kai langsung berkata:

“Ini memang sebuah sajak yang menyindir.”

“Itulah yang dikatakan oleh orang misterius itu kepada

Cia Peng. Cia Peng berhasil menebak tiga rangkaian

kalimat, kalimat yang pertama artinya hati besi yang

digantungkan.”

Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah Wie-ya bisa menebak arti dari tiga kalimat yang

selanjutnya?” Kata Hong Kie.

“Waktu itu di ruangan kecil itu, apalagi yang kaulihat?”

tanya Wie Kai

“Seorang Lama yang bernama Pan Lai datang menemui

Cia Peng dan bertingkah laku sangat sopan terhadap Cia

Peng.” Kata Hong Kie

“Benar kalau begitu! Seharusnya memang ada seorang

Lama.”

“Mengapa seharusnya memang ada seorang Lama?”

Tanya Hong Ku

“Sebab Yo Lim pernah berkata dulu sewaktu Lim hujin

memiliki kekasih gelap, yang paling dekat dengannya

adalah Liauw In dan Liauw In memiliki hubungan yang

misterius dengan seorang Lama.”

“Dekatnya hubungan Liauw In dengan Lama itu, apa

hubungannya dengan Lim Hujin?” Tanya Hong Kie.

“Banyak hal-hal yang bisa disimpulkan hanya

berdasarkan satu hal saja, lalu segala sesuatunya menjadi

jelas.”

“Aku tidak mengerti.”

“Almarhum Kaisar terdahulu sangat dekat dengan Lama,

besar kamungkinan dia mempelajari keahlian mereka, atau

mempelajari cara membuat dan memakan pil hidup abadi.

Ini semua dipelajari hanya untuk menaklukkan semua

wanita yang ada di istana. Tetapi ada kemungkinan besar

juga malah jadi pendek umur dan malah ditaklukkan oleh

wanita. Sudah banyak Kaisar dalam sejarah yang mati

justru karena memakan pil seperti ini.”

Hong Kie berkata:

“Apakah maksud Wie-ya, Pan Lai Lama mengajarkan

Liauw In cara memakan pil ini?”

“Paling tidak sedikitnya dia sudah mempelajari keahlian

para Lama itu.”

“Apakah ini alasannya mengapa Lim Hujin bisa jatuh

cinta kepadanya?” Tanya Hong Kie.

Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana dugaan Wie-ya selanjutnya?”

“Kalimat yang kedua artinya adalah jika sudah berhasil

maka orang tersebut harus disingkirkan.”

“Mengantar Buddha ke langit barat, apakah artinya

membunuh Lama?”

Wie Kai menganggukkan kepalanya:

“Kalimat yang ke empat mengacu pada pembunuhan Yo

Lim, kelihatan sekali kapas terbang musim semi sudah

berakhir ditujukan kepada Yo Lim.”

“Kalau kalimat yang ketiga?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah kalian berhasil menemukan Liauw Swat-keng?”

Hong Ku memasuki ruangan.

Hong Kie menyumpit 3-4 lembar daring sapi dan

menyuapkannya ke dalam mulut Hong Ku.

Sedangkan Wie Kai menuangkan secangkir arak

untuknya.

Hong Ku berkata dengan mulut yang terisi penuh:

“Aku baru saja melihat bayangan Liauw Swat-keng, dia

sangat licin sekali, aku tidak dapat mengejarnya.”

Wie Kai berkata sambil menggerutu:

“Sewaktu Swat-keng sedang dalam keadaan bahaya, Cia

Peng tetap saja mementingkan keadilan daripada

keluarganya.”

Hong Kie dan Hong Ku tertegun.

Wie Kai berkata lagi:

“Kata “tiga hari’ dari kalimat tiga hari tidak ada kabar,

bukankah bukankah huruf ‘Keng’?” (Dalam huruf kanji ‘hari’

ditulis dengan huruf ‘Jit’ yang artinya matahari dan huruf

kanji ‘Keng’ terbentuk dari tiga buah huruf ‘jit’).

Pada saat yang bersamaan Hong Kie dan Hong Ku

menepuk dahi mereka sambil mengerang.

Kata Wie Kai:

“Kita harus secepatnya menemukan Liauw Swat-keng,

pada dasarnya orang yang pernah di man-faatkan dan juga

yang berbahaya karena bisa mem-bocorkan rahasia, mereka

semuanya pasti akan di-bunuh.”

Hong Ku berkata:

“Hong Kie, kita pergi sekarang juga.”

“Makanlah dulu sampai kenyang baru pergi

mencarinya,” Kata Wie Kai. Hong Ku berkata:

“Mau makan apa begitu kita masuk kota?”

Baru saja Hong Ku dan Hong Kie keluar dari rumah

kayu itu, belum seberapa jauh.

Dari dalam hutan yang gelap, ada sebuah bayangan

manusia yang sangat besar seperti segumpal awan yang

jatuh dari langit, yang berkelebat di antara pepohonan.

“Hati-hati!” teriak Hong Kie.

Serangan tujuh buah pisau lidah api terbang menembus

di tengah hujan.

Dan Hong Ku menyambut serangan itu dengan tebasan

goloknya.

Terdengar suara teriakkan dan tidak lama kemudian

bayangan manusia yang besar itu akhirnya jatuh juga ke

tanah.

Hong Ku dan Hong Kie hampir saja menjadi orang yang

tidak bernyawa lagi.

“Seorang Lama.” Hong Ku menggunakan kakinya untuk

membalikkan mayat itu.

“Dia orangnya,” kata Hong Kie

“Ilmunya ternyata tidak hebat-hebat amat!”

“Jika di tengah kegelapan tadi tidak ada orang yang turut

campur, mungkin sekarang dia masih bisa hidup.”

“Apa? Ada orang yang mencelakakan dia secara diamdiam?”

Hong Kie mengarahkan jarinya menunjuk pada pusat

urat syaraf yang berada di tengah-tengah punggung mayat

itu.

Hong Ku jadi mengamati dengan cermat dan ternyata

pada urat syaraf itu terdapat jarum sebesar tulang ikan.

Urat syaraf ini merupakan pusat dari seluruh tubuh yang

menghubungkan kinerja antara bagian atas tubuh dengan

bagian bawah tubuh, jika urat syaraf ini terkena senjata

rahasia maka hubungan antara bagian atas dan bagian

bawah tubuh akan terputus.

Hong Kie menghela nafas sambil berkata:

“Benar-benar mengantar Budha ke langit barat.” (Dalam

agama Budha, langit barat adalah Nirwana).

“Siapa pula yang ‘mengantarkan’nya ke langit barat?”

Kata Hong Ku.

“Dia adalah sang majikan,” Kata Hong Kie.

Wie Kai lagi-lagi sedang menuangkan arak.

Arak yang di dalam botol arak sudah tidak banyak lagi.

Tiba-tiba di luar ada orang yang berseru padanya:

“Jangan dituang, tolong sisakan sedikit untukku!”

Tentu saja Wie Kai segera berhenti menuang-kan arak,

bahkan dia segera melompat bangkit dari tempat duduknya.

Terdengar suara “Sing” sebuah pedang panjang

mengarah pada tempat kaki Wie Kai berpijak tadi dan

menghantam kursi yang didudukinya tadi, bahkan pedang

itu masih terus bergerak sambil menimbulkan suara

“wung…wung…”.

Wie Kai mendarat tepat di atas batang pedang itu.

Terdapat gelombang air di bola mata Liauw Swat-keng.

Itu adalah salah satu bentuk emosi wanita pada saat ada

sesuatu yang tidak mau diungkapkan oleh seorang wanita.

“Jangan suka menyombongkan diri, bisa tidak? Cianthauw-

siau-kai.”

Wie Kai malah duduk sambil tetap menuang-kan arak ke

dalam cangkir yang tadi dipakai oleh Hong Ku sambil

berkata:

“Aku bersulang untukmu.”

Liauw Swat-keng berkata:

“Aku sudah mencelakaimu dengan membuat orang lain

menyangka kau mengalami sakit ingatan, tapi kau malah

tidak membenciku?”

“Mengapa aku harus membencimu?”

“Waktu aku pergi hari itu, Lim Leng-ji sudah

menganggapmu sebagai seorang penipu.”

Wie Kai tertawa lalu berkata:

“Tidak masalah, yang penting asalkan jangan seumur

hidup orang beranggapan bahwa aku adalah seorang

penipu.”

Liauw Swat-keng menegak arak yang ada di cangkir lalu

tertawa masam.

“Kau seharusnya percaya pada kata-kataku.”

“Kata-kata apa?”

“Lim Leng-ji adalah saudara kembarmu.”

“Mengapa aku harus percaya?”

“Apakah di dunia ini ada orang yang begitu serupa

denganmu?”

Liauw Swat-keng hanya menegak arak, berkata: “Aku

rasa tidak semirip itu.”

“Matamu kelihatan tidak terlalu jelek,” Kata Wie Kai.

“Mataku memang tidak jelek.”

“Hanya saja kau malah berkata kalau dia tidak mirip

denganmu.”

Liauw Swat-keng berkata:

“Walaupun ada sedikit kemiripan, apakah pasti bahwa

mereka adalah kakak adik? Jika benar demikian, maka di

dunia ini akan ada banyak sekali kakak adik!”

“Aneh! Kau malah sama sekali tidak berharap untuk

diakui.”

“Aneh! Mengapa kau selalu memikirkan urusan orang

lain dan tidak memikirkan tentang diri sendiri.”

“Diri sendiri? Aku sama sekali tidak kehilangan apa

pun!”

“Apakah kau tidak menyadari bagaimana sikap Lim

Leng-ji terhadapmu?”

Tentu saja Wie Kai menyadarinya, hanya saja dia tidak

begitu mempedulikannya.

Di depan mata Wie Kai lagi-lagi terbayang ilusi yang

samar-samar dan kabur.

Di tepian sungai, di bawah naungan pohon-pohonan,

dan di atas pematang sawah, terlihat bayang-an tiga orang

anak-anak yang sedang berlari dan tertawa, lalu kemudian

terlihat bayangan anak-anak itu sedang bermain pengantinpengantinan

atau berkelahi. Terlintas lagi sebuah bayangan

di mana Lim Leng-ji menggunakan sebilah golok kayu

menebas ke arah Loo Cong dan Loo Cong membusungkan

dadanya serta menerima satu tusukan.

Semua bayangan akan ingatan ini terlihat samar-samar

serta seakan-akan sama sekali tidak saling berhubungan.

Lagi pula entah mengapa dia punya perasaan bahwa dia

pernah tidur bersama dengan Lim Leng-ji beberapa kali.

Dia memeluk tubuh Lim Leng-ji yang lembut bagaikan

tidak bertulang. Dia pun mencium leher dan dadanya yang

empuk itu serta pernah menghitung berapa banyak jumlah

bulu matanya.

Tapi terbersit dalam ingatannya sepertinya Lim Leng-ji

adalah orang yang mampu menjadi otak dalam hal

memeras atau menculik anak orang kaya.

Wie Kai mulai tidak menyukai Lim Leng-ji.

Tapi entah mengapa sepertinya dia pernah

menyanggupinya untuk melakukan hal seperti itu.

Mengapa dia bisa memiliki bayangan seperti itu, dalam

ingatannya yang bahkan dia sendiri tidak tahu apakah hal

itu nyata atau tidak? Bahkan dia sama sekali tidak bisa

menghubungkan antara ingatan yang satu dengan yang

lainnya.

Walaupun dia tidak bisa menghubungkan satu dengan

yang lainnya, tetapi dia juga percaya kalau ini semua bukan

ilusi sembarangan, bahkan kejadiannya sepertinya belum

lama berselang.

Jika semua ini benar adanya, mengapa dia sama sekali

tidak bisa mengingatnya dengan jelas?

Apakah penyakit hilang ingatan itu memang seperti ini?

Wie Kai, apa yang sedang kau pikirkan?’

“Aku sedang berpikir, mengapa kau tidak mengakui

saudara kandungmu itu? Aku benar-benar tidak mengerti?”

“Aku menghargai niat baikmu itu, mungkin suatu

saatnanti aku akan coba untuk memikirkannya.”

Wie Kai menuangkan arak yang terakhir pada-nya dan

ketika hendak meminumnya, Wie Kai malah menahan

cangkir itu dengan tangannya, berkata:

“Tolong dengarkan dulu nasihatku!”

Liauw Swat-keng berkata dengan tidak sabar:

“Apa sebenarnya maumu dengan mencampuri urusan

orang lain?”

“Ada orang yang hendak membunuhmu dan aku hanya

ingin memperingatkanmu agar kau lebih berhati-hati.

Apakah ini juga termasuk turut campur?”

“Siapa yang menghendaki nyawaku?”

“Cia Peng.”

Liauw Swat-keng tertawa dengan suara yang dapat

menggetarkan hati orang seperti tawa Lim Leng-ji,

walaupun tentu saja belum sebanding dengan tawa Lim

Leng-ji.

“Kau sepertinya tidak percaya.”

“Tentu saja tidak percaya, lagi pula untuk apa pakai kata

‘sepertinya’ segala?”

• Kata-kata Wie Kai memang agak menyindirnya karena

dia telah menyaksikan pembunuhan atas Yo Lim dan

pendeta Lama itu dengan mata kepalanya sendiri.

Liauw Swat-keng tetap saja tidak percaya.

Tetapi apakah dia benar-benar percaya atau tidak, tidak

seorang pun yang tahu karena hati manusia sukar ditebak.

Liauw Swat-keng berkata dengan seenaknya:

“Kalau begini bagaimana?”

“Apa maksudmu dengan bagaimana?”

“Sementara waktu aku akan mengikutimu dulu, untuk

membuktikan apakah perkataanmu itu benar atau tidak,

setelah itu baru kuputuskan untuk menemui Lim Leng-ji

atau tidak.”

Wie Kai menghela nafasnya sambil berkata:

“Kalau yang bersangkutan saja tidak peduli, bahkan

terhadap hidup dan mati pun hanya dianggap sebagai angin

lalu saja, untuk apa aku bersusah payah

mengkhawatirkanmu?”

Wie Kai bangkit serta melemaskan rubuhnya lalu

mengibaskan tangannya untuk memadamkan lentera.

Jangan berkata bahwa Liauw Swat-keng tidak pernah

waspada, sebab waspada sekali pun dia tetap tidak akan

bisa menghindar.

Wie Kai menutup pintu lalu melesat pergi dengan

menggendong tubuh Liauw Swat-keng.

Wie Kai orang yang percaya bahwa di dunia ini terdapat

bermacam-macam orang.

Tetapi dia juga percaya bahwa Lim Leng-ji juga punya

pemikiran yang sama seperti dirinya, di dunia ini

terdapatbermacam-macam orang.

Lim Leng-ji sudah tertidur.

Maka Wie Kai berdiri di depan pintu kamarnya serta

membangunkannya.

Sebenarnya begitu Wie Kai tiba, dia sudah terbangun.

Hanya saja dia tidak mengeluarkan suara ter-lebih

dahulu karena menurutnya perempuan itu harus lebih

mementingkan etika daripada laki-laki.

Lim Leng-ji menggunakan jubahnya lalu pergi ke luar.

Dia memandanginya dengan tidak sabar, lalu tiba-tiba

dia menyadari di atas kursi yang ada di luar sana terdapat

sesosok tubuh seorang perempuan. Tidak terkatakan betapa

terkejutnya dia.

Wie Kai berkata:

“Maaf, sudah mengganggumu!”

“Tidak apa-apa.” Lim Leng-ji bertanya, “Siapa gadis ini?”

“Coba kau perhatikan dulu baik-baik.”

Lim Leng-ji berjalan mendekat dan memperhatikan

wajah Liauw Swat-keng dengan seksama, lalu tiba-tiba

bersuara dengan keras:

“Dia!”

“Mirip tidak denganmu?” Kata Wie Kai.

“Mirip, sangat mirip! Benar-benar seperti bayanganku

saja.”

“Dialah orang yang kubawa malam itu dan yang kusuruh

untuk bersembunyi dulu di atas pohon, Liauw Swat-keng

Kouwnio. Entah mengapa waktu itu dia tiba-tiba pergi lebih

dulu.”

Lim Leng-ji benar-benar kehilangan kata-kata, dia hanya

bisa mengatakan:

“Cepat, bangunkan dia!”

“Aku beritahu, gadis ini benar-benar nakal sekali.”

“Bagaimana pun nakalnya, tetap saja bisa tertangkap

olehmu, bukan?”

“Kau saja yang tidak tahu!” kata Wie Kai.

Tetapi dia akhirnya membuka juga totokan pada Liauw

Swat-keng.

Liauw Swat-keng bangun dan duduk sambil mengucekngucek

matanya.

Dalam sekejap dia langsung tersadar tentang apa yang

sedang terjadi.

Bagaimana pun juga dia mau berbuat sesuai dengan

caranya, karena itu dia langsung melompat ke samping Lim

Leng-ji sambil berkata:

“Cici, cepat tolong aku, dia adalah seorang pria hidung

belang.”

Wie Kai berkata:

“Liauw Swat-keng, jangan buat ulah lagi! Cepat

mengaku, dia adalah saudara kandungmu!”

“Cici, orang ini benar-benar bejat. Belum lama ini dia

telah sengaja merobek pakaian bawahku dan sekarang dia

menyuruhku untuk mengaku saudara.”

Lim Leng-ji sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Dia memandangi Wie Kai lalu memandangi Liauw

Swat-keng. Wie Kai tertawa pahit.

Lim Leng-ji tertawa dingin lalu berkata:

“Nona, bagaimana kau bisa membuktikan bahwa dia

benar-benar seorang pria hidung belang?”

“Pria hidung belang mudah sekali dikenali, orang seperti

itu selalu tersenyum kepada perempuan mana pun dan

senyumnya pun sangat memikat hati. Kata-kata yang

diucapkannya bisa memabukkan dan gombal. Bahkan dia

mengatakan hal yang tidak-tidak tentang hubungannya

denganmu.”

Lim Leng-ji memberikan tatapan yang tajam sambil

berseru:

“Wie Kai!”

“Leng-ji, kau percaya pada kata-katanya?”

“Bagaimana bisa membuktikan kalau kau bukan orang

semacam itu?”

“Bukankah dia berkata kalau aku telah sengaja merobek

pakaian bawahnya?”

Lim Leng-ji menjulurkan tangannya, menarik Liauw

Swat-keng ke dalam kamar sambil berkata:

“Coba ku lihat pakaian bawahmu.”

“Cici, untuk apa repot-repot?”

“Untuk membuktikan bahwa seseorang itu tidak

bersalah, terpaksa menyusahkanmu sebentar.”

“Baik!” Liauw Swat-keng merenggangkan ke dua

kakinya, Lim Leng-ji menundukkan tubuhnya untuk

melihatnya dan ternyata di bagian celana panjangnya

memangbenar terdapat sobekan.

Lim Leng-ji sedikit naik darah.

Dia benar-benar tidak ingin melihat bukti yang

menunjukkan bahwa Wie Kai benar-benar adalah seorang

hidung belang.

Loo Cong sudah berkali-kali berpesan supaya jangan

karena kehilafan Wie Kai sesaat membuat hubungan

persahabatan mereka yang berharga menjadi terputus.

Tetapi kesabarannya benar-benar sudah sampai

batasnya.

Dia tidak bisa membiarkan orang bejat seperti dia berada

disampingnya.

Wie Kai benar-benar terpana.

Wie Kai merasa perbuatan Liauw Swat-keng kali ini

benar-benar keterlaluan.

Maka begitu Lim Leng-ji muncul, walaupun wajahnya

menunjukkan kemarahan, tetapi dia tetap tertawa dingin

sambil berkata:

“Nona ini benar-benar banyak akalnya.”

“Benar, gadis yang banyak akal bulusnya tidak hanya dia

seorang.”

“Leng-ji, kau tidak mungkin mempercayai semua omong

kosong yang dikatakannya, bukan?”

“Sebenarnya siapa yang sedang beromong kosong?” Lim

Leng-ji berkata sambil berdesis marah, “Memang dari

semula aku sudah salah menilaimu!”

“Leng-ji.”

“Sejak kau berkata kalau kita sering tinggal bersama dan

sudah seperti layaknya suami istri………”

Wie Kai tiba-tiba merasa orang-orang ini benar-benar

aneh.

Dia merasa justru orang-orang inilah yang mungkin

hilang ingatannya.

Yang satu tidak bersedia mengakui saudaranya sendiri,

malah air susu dibalas dengan air tuba.

Yang satu lagi entah mengapa tiba-tiba menjadi bodoh,

sesuatu yang anak kecil pun tidak akan percaya tapi justru

dia malah percaya.

Wie Kai tertawa terbahak-bahak.

Wie Kai tertawa sambil berjalan ke luar. Tidak lama

kemudian tawanya tiba-tiba berhenti. Pada saat itu tiba-tiba

ada seseorang yang menghadangnya.

Orang itu adalah Loo Cong.

Sebenarnya dia sudah lupa akan keberadaan orang ini

tetapi Lim Leng-ji selalu saja mengingat-kannya sebagai

teman sepermainan mereka sewaktu kecil.

“Wie Kai, kau betul-betul tidak ingat padaku sama sekali

atau hanya berpura-pura saja?”

Wie Kai sangat gusar.

Yang diingatnya pada waktu anak-anak dulu, selalu saja

Loo Cong yang memerankan pengantin laki-lakinya.

Dia berseru dengan suara keras: “Minggir!”

Loo Cong malah tidak beranjak sama sekali dari

tempatnya berdiri.

Wie Kai mendorong Loo Cong dengan tenaga-nya yang

besar tetapi dia bisa berkelit.

Loo Cong lagi-lagi menghalanginya, katanya:

“Wie Kai, apakah kau masih ingat akan puisi panjang

Tiong-kan-seng’? Walaupun di dalam puisi itu hanya

mengisahkan tentang dua orang, dan kita memang ada tiga

orang, tetapi kasih sayang serta rasa persahabatan kita di

masa lalu jangan sampai terbelah dua hanya karena

permasalahan kecil belaka!”

“Minggir!”

“Wie Kai!”

“Kau tanya saja pada Lim Leng-ji.”

“Tanya apa padanya?”

“Dia anggap apa Wie Kai ini!”

Loo Cong bertanya dengan suara yang keras:

“Leng-ji, apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Mengapa tidak kau tanyakan sendiri pada gadis ini?”

jawab Lim Leng-ji

“Leng-ji, urusan kita bertiga mengapa harus bertanya

pada orang lain?”

“Benar!” Lim Leng-ji menjawab, “Hanya saja gadis ini

mengatakan Wie Kai telah merusak pakaian bawah gadis

ini dan sudah terbukti.”

Loo Cong terkejut lalu bertanya:

“Wie Kai, menurutmu apakah kejadian seperti ini bisa

terjadi pada dirimu?”

Wie Kai berkata dengan dingin:

“Menurutmu bagaimana?”

Loo Cong berkata dengan suara lantang:

“Walaupun dipukuli sampai mati pun, aku tidak akan

bakal percaya!”

Wie Kai tertegun sejenak.

Bagaimana pun juga mereka memang teman

sepermainan sejak kecil.

“Terima kasih, Loo Cong.”

“Asalkan aku percaya padamu, buat apa aku harus

meributkan pandangan orang lain terhadapmu?”

“Pandangan Leng-ji terhadapku tidak semantap dirimu.”

“Tidak mungkin, tidak ada satu pun yang bisa

menghalangi dan mengganggu hubungan di antara kita

bertiga!”

Lim Leng-ji berkata dengan acuh tidak acuh: “Lain dulu

lain sekarang, bagaimana bisa disamakan?”

Wie Kai menghela nafas sambil berkata:

“Loo Cong, apakah kau masih ingat akan sajak Couwouw-

pek?”

Loo Cong berpikir sejenak lalu berkata:

“Ingat! Di mana-mana misteri alam berubah menjadi

milikmu, di angkasa orang pintar setiap hari selalu muncul

yang baru, sebelumnya meninggalkan perasaan selama 500

tahun, tiba masa 1000 tahun baru tersadar bahwa semuanya

sia-sia. Betul kan sajak yang itu?”

“Benar!”, sahut Wie Kai, “Sajak itu memang berbunyi

seperti itu yang artinya suka dengan yang baru dan bosan

pada yang lama memang sudah menjadi sifat dasar

manusia, maka tidak perlu mencela orang lain!”

Loo Cong terpana sejenak lalu berkata:

“Omong kosong, Wie Kai, kau jangan pergi!”

“Mengapa?”

“Sudah susah payah kita bertemu, mengapa kau mau

pergi begitu saja?”

“Betul juga, mengapa aku harus pergi?”

“Kalau begitu jangan pergi, malam ini kita minumminum

sampai mabuk.”

Dasar Loo Cong, begitu selesai bicara langsung saja

bergerak.

“Bisa tidak kau urus dahulu masalah ini sampai tuntas?”

kata Wie Kai.

Kata Loo Cong:

“Nona, sebenarnya apa yang telah terjadi?”,

“Dia telah merobek bagian bawah pakaianku, dia benarbenar

seorang hidung belang!”

Loo Cong berpikir sejenak lalu ber:

“Jika seseorang telah meminum arak terlalu banyak dan

melakukan hal seperti itu dan jika kedua belah pihak saling

mengenal, mungkinkah ini adalah ketidak sengajaan?”

“Kau sengaja membuat dalih untuk membela dia!” Kata

Lim Leng-ji.

“Mengapa kau tidak bisa memaafkan teman yang sudah

kau kenal sejak kecil malah percaya pada kata-kata orang

lain?”

“Asalkan kenyataan yang sebenarnya, kata siapa puri

sama saja,” kata Lim Leng-ji.

“Leng-ji, apakah kau sudah bertanya padanya dengan

jelas mengapa nona ini bisa bersama-sama dengan Wie

kai?”

“Dalam situasi apa pun, hidung belang tetaplah hidung

belang!”

Loo Cong berkata:

“Nona, apakah kalian saling mengenal?”

“Hanya mengenal sekilas saja.”

“Nona, ada pepatah mengatakan bahwa ada kalanya

hubungan antara pria dan wanita janganlah terlalu serius.”

Liauw Swat-keng gadis ini benar-benar sangat keras

kepala.

Apa yang dia mau bagaimana pun caranya harus

didapatnya. Jika tidak bisa mendapatkannya setidaknya

menfitnah pun sudah lumayan.

Dia berkata dengan suara keras:

“Demi membela seorang teman, kau tidak peduli seorang

wanita telah dirusak. Jika hal ini terjadi pada saudara

perempuanmu, apakah kau masih tetap menganggap ringan

masalah ini seperti angin lalu?”

Sejenak Loo Cong seperti dihempas oleh angin dingin.

Loo Cong tidak bisa mengejar Wie Kai, lalu berkata:

“Leng-ji, kau begitu tidak berperasaan kepada Wie Kai,

sungguh membuat orang kecewa. Selamat tinggal!”

Kata Lim Leng-ji:

“Tidak ada yang mencegahmu jika kau ingin pergi.

Tetapi kau seharusnya menanyakan dulu dengan jelas

duduk perkara yang sebenarnya pada nona ini.”

“Aku justru memang ingin bertanya!”

Lim Leng-ji membalikkan tubuhnya, berkata:

“Nona Liauw, masalah ini coba kau…..”

Padahal tadi jelas-jelas orangnya berdiri di belakangnya,

tetapi sekarang sudah tidak ada.

“Nona Liauw, nona Liauw…..”

Loo Cong berdiri dengan kaku dan berkata: “Leng-ji,

jangan lupa, celana tidak bisa mewakili orang berbicara juga

tidak bisa mewakili orang untuk menghukum.”

Kemudian Loo Cong juga pergi.

Lim Leng-ji semakin membenci Wie Kai juga semakin

menghargai Loo Cong.

“Biarkan aku pergi,” kata Wie Kai.

“Kau tidak boleh pergi, juga tidak perlu pergi.”

Wie Kai tetap ingin pergi tetapi Loo Cong justru malah

menghadangnya.

Wie Kai mengerahkan tenaga dalam dengan telapak

tangannya ke arah Loo Cong hingga membuat-nya mundur

sampai tiga langkah.

Wie Kai langsung melesat pergi.

Sebetulnya semakin kau setulus hati membantu masalah

orang lain, malahan semakin membantu semakin kacau,

bahkan sampai menyakiti orang lain.

Begitu Liauw Swat-keng keluar dari kediaman Lim

Leng-ji, dia langsung mengejar Wie Kai.

Aktingnya tadi memang hebat, tetapi dia percaya Wie

Kai tidak akan terlalu menyimpannya di dalam hati.

Alasan sebenarnya adalah karena dia benar-benar mirip

dengan Lim Leng-ji.

Jika Wie Kai benar-benar menyukai Lim Leng-ji, maka

tidak ada alasan mengapa tidak menyukai diri-nya.

Liauw Swat-keng percaya dia bisa mengejar Wie Kai.

Tetapi sialnya dia malah bertemu Sang Sin.

Bertemu dengan Sang Sin ibaratnya hampir sama dengan

bertemu dengan orang tuanya.

Sang Sin adalah orang yang loyal.

Liauw Swat-keng berkata dengan senyum yang

dipaksakan.

“Sang Toa-siok, kebetulan sekali!”

Sang Sin berumur sekitar 32-33 tahun, berperawakan

kecil tapi tegas, wajahnya agak hijau, benar-benar mirip

dengan buah murbei yang belum matang.

“Apa yang kebetulan?” tanyanya.

“Aku baru saja mau pulang.”

“Kalau begitu kita pulang sama-sama.”

“Tetapi aku masih ada urusan yang belum selesai.”

“Urusan apa?”

“Aku sungkan membicarakan masalah perem-puan

dengan Sang Toa-siok.”

“Lebih baik kau jangan banyak bertingkah, lagi pula aku

sudah katakan berulang kali kau cukup memanggilku Sang

Toako, tidak perlu pakai Toa-siok segala.”

Liauw Swat-keng berkata:

“Betul Toa-siok, aku benar-benar ada urusan penting.”

“Tidak mau pulang bersamaku?”

“Siapa bilang? Tolong Sang Toa-siok tunggu aku di

penginapan semalam, besok aku akan pergi mencarimu dan

kita pulang sama-sama.”

“Mereka ingin aku membawamu pulang dan aku juga

masih ada urusan penting yang harus kulaku-kan. Mengapa

kau selalu memanggilku Toa-siok?”

Liauw Swat-keng tentu saja menjawab:

“Melihat perbedaan umur kita, jika aku tidak

memanggilmu Toa-siok lalu harus memanggil apa? Untuk

apa ayah dan ibuku mencariku? Aku kan bukan-nya belum

pernah keluar dari rumah sebelumnya?”

Sambil berkata demikian, matanya mengamati ekspresi

wajah dari Sang Sin.

Karena sebelumnya Wie Kai pernah berkata bahwa

orang tuanya mencari untuk membunuhnya.

Bagaimana pun juga Liauw Swat-keng sedikit menaruh

curiga akan hal ini.

Ini disebabkan dia sedikit banyak percaya dengan

perkataan Wie Kai.

Jika benar dia dan Lim Leng-ji adalah saudara kembar,

maka mereka adalah anak yang dilahirkan oleh Lim Hujin,

dsb…

Sang Sin adalah pendekar sejati.

Dia tidak suka berkata bohong, tapi dia juga mungkin

tidak bisa berkata jujur untuk hal ini.

Sang Sin berkata:

“Mereka memanggilmu pulang karena ada urusan

penting.”

Walaupun Liauw Swat-keng hendak melarikan diri, Sang

Sin pasti bisa mengejarnya.

“Sang Ta-siok, semua orang berkata, kau adalah orang

yang jujur dan kau melakukan perintah orang tuaku karena

demi membalas budi pada mereka.”

“Benar!”

“Jika ayah dan ibuku memerintahmu untuk melakukan

sesuatu yang jahat, apakah kau juga akan mendengarkan

peritah mereka?”

“Sampai saat ini mereka belum pernah menyuruhku

untuk melakukan sesuatu yang jahat.”

“Tetapi jika aku sampai dibawa pulang, aku pasti akan

dibunuh mereka!”

Sang Sin terkejut, ini membuktikan bahwa dia sama

sekali tidak tahu menahu akan hal ini.

Pertama kali Sang Sin bertemu dengan Liauw Swatkeng,

di wajahnya langsung terlihat berbeda.

Perempuan seperti Lim Leng-ji atau Liauw Swat-keng,

lelaki mana yang tidak tergerak hatinya begitu melihatnya?

Apa pun rencana Liauw In dan Cia Peng, Liauw Swatkeng

adalah miliknya.

Hanya tentu saja dia tidak pernah memper-ingati kedua

orang tua Liauw Swat-keng seperti itu.

Dia selalu merasa bahwa rasa sukanya pada Liauw Swatkeng

adalah urusan mereka berdua dan dia harus berusaha

berjuang sendiri mendapatkannya.

Liauw Swat-keng hanya perlu berkata ‘ingin’ saja. Sang

Sin akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi

keinginannya.

Tetapi sayangnya Liauw Swat-keng sama sekali tidak

berniat untuk menikah dengannya.

Bahkan terpikirkan sedikit pun tidak.

“Kau ini bicara apa?” kata Sang Sin.

“Betul! Di atas ayahku masih ada majikannya dan kau

juga tahu akan hal ini.”

“Tahu sedikit.”

“Majikannya itulah yang menyuruh ayah dan ibuku

untuk membunuhku.”

“Mengapa?”

“Dia mengira bahwa aku sudah membocorkan rahasia.”

“Rahasia apa?”

“Salah satunya seperti aku dan Lim Leng-ji tidak boleh

saling bertemu, dsb….”

Sang Sin mulai sedikit percaya, lalu berkata:

“Jangan takut, aku akan menanyakan dengan jelas

untukmu.”

Liauw Swat-keng tertawa dingin:

“Kau? Jangan bercanda. Jika atasannya itu ingin

membunuh orang, siapa pun tidak ada yang bisa

menghalanginya.”

“Aku bisa. Jika aku tidak bisa membunuhnya, aku rela

mati.”

“Untuk apa kau lakukan itu?”

“Karena ayah ibumu pernah berjanji padaku kalau aku

boleh meminangmu.”

Liauw Swat-keng terkejut sekali.

Hanya satu yang terlintas di benak Liauw Swat-keng

yaitu pria ini memiliki keberanian dan percaya diri yang

tinggi.

Perkataan orang tua sangat mutlak, hanya dengan sahi

kata saja mereka bisa memberikan anak perempuan mereka

untuk menikah dengan pria manapun.

Sang Sin memandangi Liauw Swat-keng untuk melihat

reaksinya.

Liauw Swat-keng terpaksa memanfaatkan keadaan ini

dan berkata:

“Kau ingin meminangku atau ingin membawa-ku

pulang?”

“Aku akan menjamin keselamatanmu, majikan hanya

memerintah harus pulang dalam waktu setengah tahun,

tidak boleh tidak.”

“Kau ingin memilikiku tidak?”

“Apa itu masih perlu ditanyakan lagi?”

“Kalau begitu tunggu aku di penginapan.”

“Jika kau tidak pergi ke penginapan?”

“Jika tidak percaya padaku maka tidak ada lagi yang

harus dikatakan.”

“Aku percaya, tetapi tingkah lakumu itu yang membuat

orang tidak tenang.”

“Kalau begitu aku tidak akan pulang.”

Baru saja dia memutar tubuhnya dan berjalan 20 langkah

tiba-tiba dia melesat ke udara.

Sang Sin tertawa dingin dan segera mengejar. Liauw

Swat-keng tidak mungkin bisa lolos dari pengamatannya.

Sang Sin mengejar sampai ke depan pintu gerbang kota

Koh, tiba-tiba ada sekelebat bayangan orang yang

menghadangnya.

Liauw Swat-keng pun hilang ditelan kegelapan malam.

Sang Sin memandang penghadangnya, ternyata adalah

Hong Kie. Mata Sang Sin melotot sampai hampir keluar,

katanya:

“Kau cari mati, ya!”

“Sang-heng, jika aku ingin mati apakah aku akan

menyerah padamu?”

“Untung kau tahu diri.”

Hong Kie tertawa sambil berkata:

“Apakah di dunia ini ada orang yang lebih tahu diri

dibandingkan dengan aku ini?”

Sang Sin berkata dengan ketus:

“Apa maksudmu dengan melepaskannya?”

“Apakah dia sangat penting artinya bagimu?”

Sang Sin langsung ingin bertarung tetapi Hong Kie

mengangkat tangannya dan berkata:

“Sang-heng, bisakah kita tidak berkelahi?, Aku janji dia

tidak akan bisa kabur.”

“Kau berani jamin?”

“Apa yang aku janjikan padamu, kapan pernah tidak

kutepati?”

“Itu ……, tetapi kau pernah tidak menepatinya satu kali.”

“Satu kali?”

“Dihianati satu kali saja sudah lebih dari cukup untuk

mencelakakan orang.”

“Coba kau katakan kapan hal itu terjadi.”

“Kau pernah berkata hendak membuat Wie Kai keluar

supaya aku dapat menangkapnya hidup-hidup.”

Hong Kie menghibas tangannya sambil tertawa dan

berkata:

“Aku memang pernah berkata seperti itu, tetapi apakah

pernah terpikirkan olehmu bahwa kau bukan-Iah

tandingannya?”

“Aku?”

“Kau boleh tidak tahu bagaimana Tuhan meniupkan

angin dan menurunkan hujan, tetapi dasar sendiri tentu saja

harus tahu.”

“Walaupun aku mati di tangannya, apakah orang she

Sang akan mengerutkan kening?”

“Memang betul kau bukan orang seperti itu. Maaf

..maaf…”

“Tetapi orangnya telah kabur, lalu bagaimana?”

“Pelankan sedikit suaramu!” Bisik Hong Kie.

“Aku Sang Sin tidak takut pada apa pun.”

Hong Kie berkata dengan suara kecil:

“Di dunia persilatan ini orang yang kau takuti tidaklah

banyak.”

“Bisa dibilang tidak ada.”

“Kau takut tidak pada Liauw In dan Cia Peng?”

“Aku memang berhutang budi pada mereka, bukannya

takut!”

” Baik… baik…! Lalu kau takut tidak pada majikan

kalian?”

“Dia? Apa yang kau bicarakan?”

“Sang-heng, kau takut tidak?”

“Takut sih takut, tetapi dia tidak mungkin mem

bunuhku.”

“Itu sukar untuk di katakan, aku bacakan sebuah sajak

untukmu, bagaimana?”

“Apa? Kau juga bisa membaca sajak?”

“Kau terlalu meremehkan aku! Apakah membacakan

sajak orang lain juga adalah hal yang aneh?”

“Sajak siapa?”

“Sajak milik majikanmu itu!”

Raut wajah Sang Sin langsung berubah.

Boleh dikatakan tidak ada satu orang pun di dunia ini

yang dia takuti, kecuali satu orang.

Mata Sang Sin sepertinya benar-benar bakal keluar dari

kelopaknya, diaberkata:

“Mengapa kau selalu menyinggung tentang majikanku?”

“Bukankah kau ingin mendengar sajaknya?”

“Apakah benar sajak itu dari majikanku?”

“Apakah kau pikir aku yang membuatnya?”

“Memang betul juga. Tetapi kau bisa juga meng

ingatnya.”

“Tentu saja.” Hong Kie berkata lagi, “Sang-heng pasti

bisa mengerti arti dibalik sajak itu.”

Wajah hijau Sang Sin terlihat kusam, dia berkata: “Tentu

saja aku tahu, kau juga pasti tahu.”

“Tolong Sang-heng jangan tertawa, aku tidak begitu

pandai dalam hal belajar, aku bukanlah tipe seorang

pelajar.”

“Kenapa? Kau juga tidak mengerti?”

“Sang-heng, ditilik dari nada suaramu seperti-nya kau

juga tidak mengerti.”

“Bagaimana pun kita bukanlah sastrawan!”

“Hati keras bagaikan besi, bukankah mengacu pada kata

mati?”

“Benar!”

“Kalimat kedua mengantar Budha ke langit barat,

bukankah mengacu pada pembunuhan terhadap Lama?”

“Sialan! Kau tepat sekali. Lalu kalimat ketiga?”

“Kalimat ke tiga adalah tiga hari tidak ada kabar, kata

tiga hari mengacu pada huruf ‘Keng’. Yang tidak bisa

dipercaya adalah majikanmu percaya dia telah

membocorkan rahasia dan kau jika suka padanya justru

jangan memaksanya untuk pulang.”

Sang Sin sama sekali tidak mengeluarkan suara.

“Kalimat ke empat kapas terbang musim semi sudah

berakhir, itu mengacu pada pembunuhan terhadap Yo Lim,

apakah penafsiranku ini betul atau tidak?”

‘Sing’ Tiba-tiba Sang Sin melemparkan 9 buah pisau

terbang.

Pisau-pisau terbang itu disertai dengan tenaga dalam

yang dahsyat, jika bukan Hong Kie tidak mung-kin mau

melayaninya.

Hong Kie adalah salah satu pendekar yang terkenal di

dunia persilatan, tentu saja bukan lawan yang mudah

dikalahkan oleh Sang Sin.

Di jurus ke 20, Hong Kie terluka dan mundur sambil

berkata:

“Sang-heng, aku mengaku kalah!”

“Memangnya kau pikir dengan mengaku kalah lalu

semuanya beres?”

“Mengaku kalah tidak bisa, lalu kau mau apa?”

“Membunuhmu!”

“Sang-heng, itu tidak layak kau lakukan. Apakah kau

masih tidak mengerti? Majikan kalian itu sangat kejam,

sesudah seseorang dianggap sudah tidak berguna lagi maka

pasti akan dibunuhnya.”

“Kau ingin mengelak dan melemparkan kesalah an pada

orang lain?”

“Sang-heng, kau adalah orang yang pintar. Apakah kau

tidak pernah penasaran akan asal usul nona Liauw dan

orang tuanya?”

“Apakah kau pikir ini bisa mengadu domba

kami?”

“Sang-heng, apakah kau masih menginginkan nona

Liauw?”

“Jika iya lalu kenapa?”

“Aku bisa menjodohkan kalian berdua.”

“Kau?”

“Tentu saja, aku lebih mampu daripada orang tuanya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Hanya aku yang tahu. Dalam waktu 3 hari aku pasti

menuntaskan hal ini dengan menyerahkannya ke dalam

tangan Sang-heng.”

“Hong Kie, jika kau berani mempermainkan aku, hatihati

dengan nyawamu!”

“Sang-heng ternyata sama sekali tidak percaya padaku!”

“Baiklah! Aku tinggal di penginapan Hui-peng.”

BAB V

Tengah malam.

Ada hujan tetapi tidak ada angin.

Dalam sebuah ruangan, ada seorang setengah baya yang

sepertinya terpelajar sedang minum arak.

Parasnya lumayan, hanya saja sorot matanya sedikit

mendalam.

Di atas meja hanya terhidang dua macam sayuran saja,

dari dalam ruangan dapur terdengar suara seorang gadis

yang berkata:

“Ayah, makanlah pelan-pelan, masih ada dua sayur

lagi.”

“Hong-su, cukup masak saru macam lagi saja, tidak perlu

repot-repot, ayah makannya sudah hampir selesai….” Kata

orang setengah baya.

Tiba-tiba di muka pintu berdiri seseorang.

Wajah Lan Ling yang baru saja menampakan senyum,

langsung lenyap oleh hawa kematian yang muncul dari raut

wajah orang yang baru datang itu.

Lan Ling sendiri juga terlahir sebagai seorang

pembunuh.

Seorang pembunuh memang memiliki pembawaan yang

lebih menekan dibandingkan dengan orang biasa.

Dari raut wajah dan tangan orang itu sudah dapat

ditebak tujuan kedatangannya jelas bukan untuk beramahtamah.

Lalu untuk apa dia datang kemari?

Walaupun dia tahu orang ini bukan datang secara baikbaik,

tetapi dia sama sekali tidak terpikir alasan bagi orang

ini untuk berbuat jahat padanya.

Lan Ling berdiri dan berkata:

“Kedatanganmu malam ini……”

“Sengaja datang untuk mengantarmu!”

Suara orang itu sangat pelan dan juga lemah tetapi

sangat dingin.

“Mengantarku? Rencana kita masih belum rampung!”

“Bukan kita, kau yang harus segera berangkat dulu, sebab

saat ini orang yang menetapkan keputusan sudah berubah

dan kita harus mendengar perintah-nya.”

“Siapa orang yang bisa mengendalikan kalian?”

“Kau tidak perlu tahu juga tidak boleh tahu.

Pengabdianmu dalam membesarkan Hong-su selama

beberapa tahun ini sudah cukup sampai di sini.”

Dia membuka kepalan tangannya dan langsung melesat

sesuatu benda yang terasa dingin.

Uiar besi terbang dengan bebasnya.

Tentu saja bukan benar-benar sebuah uiar besi, tetapi

sebilah pisau kecil.

Kepala Lan Ling langsung melayang.

Di dalam mulut Lan Ling sebenarnya masih ada sisa

arak yang belum diminumnya.

Begitu kepalanya melayang, arak pun keluar dari

mulutnya.

Bola matanya masih terbuka menatap lebar-lebar.

Tubuhnya pun masih berdiri di sebelah meja, ini benarbenar

pembunuhan yang sangat cepat.

Akhir kehidupan dari seorang pembunuh memang

seperti itu, tetapi dia sama sekali tidak menyangka bakal

mati di tangan orang sendiri.

Mereka berdua memang berbicara dengan suara rendah

sehingga Lan Hong-su yang sedang memasak di dapur pun

sama sekali tidak mendengar apa-apa.

Saat dia selesai memasak satu macam sayur, tiba-tiba

terdengar suara PENG….

Dia pergi mengantar sayur sambil melihatnya.

Prang. Piring yang berisi sayuran itu jatuh berantakan di

atas lantai.

“Ayah…….” Lan Hong-su segera berlari mendekati tubuh

jasad Lan Ling.

Lan Ling hampir menghabiskan makanannya tetapi

seumur hidupnya dia tidak akan pernah bisa

menghabiskannya.

Lan Hong-su mengenakan baju serba hitam sebagai

tanda berkabung.

“A-ih (bibi), mengapa kematian ayah tidak boleh

diumumkan?”

Cia Peng duduk di hadapannya juga mengena-kan

pakaian serba hitam, berkata:

“Untuk menunjukkan rasa baktimu pada ayahmu,

makanya untuk saat ini tidak perlu diumumkan.”

“Bibi Cia, aku justru tidak mengerti.”

“Hong-su, apakah kau masih tidak bisa menerima

kematian ayahmu?”

“Ayahku mati dibunuh orang.”

“Hal seperti ini mana boleh disebar luaskan?”

“Tetapi tentang kematian ayahku, lambat laun semua

orang pasti akan tahu.”

“Tentu saja, di dunia ini tidak ada tembok yang tidak

bisa diterpa angin, tetapi kita justru mencari tembok yang

tidak bisa diterpa angin.”

“Tembok yang tidak bisa diterjang angin? Mengapa?”

Lan Hong-su tentu saja tidak bisa menerimanya begitu

saja.

Cia Peng berpikir sejenak baru berkata:

“Kematian ayahmu kemungkinan besar ada sangkut

pautnya dengan asal usul dirimu.”

“Itu hanya omong kosong belaka!” bantah Lan Hong-su

“Mengapa kau berkata seperti itu?”

“Ayahku pernah berkata bahwa aku seharus-nya seorang

Toa-siocia dari keluarga kerabat kerajaan.”

“Benar.”

“Benar? Mengapa aku bisa jadi seorang nona besar?”

“Mengapa tidak bisa?”

“Jika benar, mengapa aku terlahir dan dibesar-kan di

keluarga yang miskin?”

“Tentu saja ada rahasia besar di dalamnya.”

“Tetapi selama ini ayah tidak pernah mengata-kan

padaku.”

“Karena waktunya belum tiba.”

“Apakah sekarang sudah tiba waktunya?”

“Benar, sebab aku akan membuatmu menjadi seorang

nona besar.”

“Sekarang?” Dia membelalakkan matanya, jantungnya

berdegup kencang, dari seorang gadis miskin menjadi

seorang nona besar dari keluarga kaya, tentu saja hal ini

tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Apakah kau tidak ingin melakukannya seka-rang juga?”

“Bibi, aku sama sekali tidak pernah membayangkannya.”

“Apakah kau sedikit pun tidak pernah

membayangkannya?”

Lan Hong-su mendongakkan kepalanya ber-pikir

sebentar, lalu berkata:

“Bibi, ada kalanya aku bermimpi menjadi nona besar

dari keluarga kaya, makan enak dan memakai pakaian yang

indah, lauk pauknya ada ikan, keluar mengendarai

kendaraan, di mana pun ada orang yang melayani. Tetapi

aku selalu beranggapan miskin bukan lah suatu kejahatan

maka aku tidak pernah merasa malu.”

“Benar! Justru karena itu kami ingin merftffeat-mu

menjadi seorang nona besar.”

“Kami? Bibi, memangnya termasuk siapa lagi?”

“Eng…….tentu saja termasuk almarhum ayahmu.”

“Memangnya di mana aku hendak dijadikan seorang

nona besar keluarga kaya?”

“Tentu saja di rumahmu sendiri.”

“Bibi, apakah kau sedang bercanda?”

“Hari ini aku hendak mengatakan sebuah rahasia besar

kepadamu

Baru saja Liauw Swat-keng kabur dari tempat tinggal

Wie Kai malah tertangkap oleh Sang Sin.

Dia terpaksa bertaruh mengadu nasib karena Sang Sin

yang dulu berbeda dengan Sang Sin yang sekarang.

Sang Sin yang dulu bisa diajak berunding, sedangkan

Sang Sin yang sekarang kelihatannya tidak bisa diajak

kompromi. Karena itu dia juga harus sedikit merubah

taktik.

“Sang Toako, aku beruntung bisa berpapasan

denganmu.”

Sang Sin baru pertama kali ini mendengar dia memanggil

dirinya “Toako”

Kali ini yang pertama kali juga dia melihat kegenitan di

sinar mata Liauw Swat-keng.

“Swat-keng moi-moi, kau harus ikut aku pergi.”

“Apakah aku benar-benar harus ikut denganmu?”

“Ya!”

“Apa tidak bisa ditunda?”

“Tidak bisa! Ini adalah perintah dari atasan.”

“Jika kita bisa pergi berduaan ke mana pun kita mau dan

tidak peduli pada perintahnya, apa yang bisa

diperbuatnya?”

“Kau!”

“Apa kau bukan seorang lelaki sejati?”

“Memangnya harus bagaimana baru bisa di sebut lelaki

sejati?”

“Lelaki sejati itu harus seorang yang punya semangat dan

berani.”

Sang Sin memandangi Liauw Swat-keng sambil

menimbang-nimbang, tentu saja dia bukan orang bodoh

hanya saja pintu mata hatinya benar-benar tertutup.

Dia harus menilik-nilik dulu apakah gadis ini benarbenar

tertarik padanya atau tidak?

Dia juga harus menilik lagi apakah dirinya ini seorang

pemberani atau pengecut?

Liauw Swat-keng sudah mengeluarkan semua tipu

muslihat yang bisa dia buat dan dia berani sampai sejauh ini

karena tahu Sang Sin selalu merasa dirinya adalah seorang

pemberani.

Hanya saja dia pun harus ekstra hati-hati. Lalu dia

berkata lagi:

“Apakah kau pikir aku tidak mau pergi dengan mu?”

“Kalau begitu apakah kau benar-benar akan

menyerahkan semuanya padaku?”

“Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya?”

Sang Sin takut Liauw Swat-keng jadi salah paham, buruburu

berkata:

“Maksudku, lebih baik kita menjadi suami istri yang

sesungguhnya dulu.”

“Suami istri ya suami istri, mana ada yang tidak

sungguh-sungguh?”

“Maksudku ……. maksudku…….” Sang Sin berkata

terbata-bata.

Ada kata yang sukar untuk diucapkannya pada Liauw

Swa t-keng.

Tidak disangka Liauw Swat-keng mengerti apa yang

dimaksudnya.

“Maksudmu melakukan hubungan suami istri?” . Wajah

Sang Sin terlihat bersemu merah.

“Tidak perlu jauh-jauh, kita hanya perlu mencari

penginapan terdekat dan menyewa sebuah kamar saja.”

Sang Sin berkata:

“Baiklah …baiklah….., semuanya terserah padamu.

Pokoknya kita tidak akan menuruti perintah atasan dan

juga tidak akan kembali ke rumah orang tuamu.”

“Itu tentu saja.”

Liauw Swat-keng berkata lagi:

“Bahkan kita berdua tidak akan berpisah selamanya, jika

ada orang yang hendak berbuat jahat pada kita, kau harus

mati-matian melindungiku.”

“Tentu.”

“Tetapi kau harus bersikap baik pada teman-temanku

juga.”

“Terserah padamu. Aku akan menuruti semua katakatamu.”

“Kalau begitu, ayo kita pergi!”

Hari ini bagi Sang Sin merupakan hari yang paling indah

dan paling membahagiakan di dalam hidupnya.

Dia merasa langit lebih biru dibandingkan hari-hari

sebelumnya dan matahari lebih besar dibanding-kan

sebelumnya.

Bahkan segala sesuatu dari segala penjuru serasa lebih

indah dan berwarna dibanding sebelum-nya.

Tiba-tiba dia berkata:

“Apakah menurutmu kita harus membuat sepasang baju

pengantin?”

“Untuk apa repot-repot? Lagi pula toh nantinya bakal

rusak juga.”

Mereka sampai di sebuah penginapan dan memesan arak

serta hidangannya.

“Hal lain bisa diganti atau dipermudah,” kata Liauw

Swat-keng, “Tetapi arak pengantin tetap tidak boleh tidak

diminum.”

“Swat-keng, tidak disangka kau mengerti akan hal-hal

seperti ini.”

“Bagaimana pun juga ini adalah hal terbesar dalam hidup

seseorang kan? Ayo, kita bersulang!”

Sang Sin langsung meminumnya dalam sekali teguk.

Mereka berdua minum sampai tiga cangkir.

Pengantin lelakinya yang terlihat paling tidak sabar

memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.

Sang Sin sangat percaya bahwa dirinya adalah orang

yang sangat berani.

Bahkan beberapa tahun belakangan ini, ter-nyata dia

sama sekali tidak salah menilai bahwa Liauw Swat-keng

jatuh cinta padanya.

Perempuan adalah mahluk yang aneh, meng-apa

perasaan cinta yang begitu besar malah disimpan di dasar

hati yang paling dalam.

Liauw Swat-keng membuka pakaian luarnya dan naik ke

atas tempat tidur terlebih dahulu.

Baru pertama kali seumur hidupnya Sang Sin merasa

tempat tidur adalah benda yang begitu teramat manis.

Dia sama sekali tidak pernah menyadarinya.

Liauw Swat-keng yang berada di atas tempat tidur

memandangi Sang Sin.

Di saat seperti ini Sang Sin seharusnya meneteskan air

liur.

Tapi dia malah terbengong-bengong.

“Sang Sin…….” Suara desahan Liauw Swat-keng laksana

tali yang bisa menarik segala sesuatu untuk mendekat.

Sang Sin sama sekali tidak bersuara.

Desakan hasrat yang sebelumnya menggebu-gebu tibatiba

menghilang.

Sang Sin justru sedang berpikir mengapa bisa begitu?

Kata orang jika terlalu bernafsu memang kadang bisa

seperti itu.

Di depan pengantin perempuan, hal apa pun bisa terjadi,

hanya ini yang tidak boleh terjadi.

Tidak mampu adalah aib bagi seorang laki-laki.

“Sang Sin…..kau kenapa?”

“Aku …. Aku benar-benar minta maaf! Tidak tahu

mengapa, aku tiba-tiba……tiba-tiba……”

Wajah hijau Sang Sin tiba-tiba benar-benar sama seperti

seperti warna rumput liar.

Dia mengerang.

Dia benar-benar kesal dan juga benci dirinya yang

tidakberguna.

“Sang Sin, apakah kau hendak mengingkari janji?”

“Bukan Swat-keng, tiba-tiba aku sudah tidak ingin lagi.”

“Tidak ingin? Kau ingin menelantarkan aku?”

“Tidak …tidak bagaimana mungkin? Hanya saja tiba-tiba

aku kehilangan hasrat lelakiku. Swat-keng, ku mohon

maafkan aku.”

“Bagaimana mungkin ada kejadian seperti itu?”

“Aku sendiri tidak tahu, mungkin karena terlalu tegang.”

“Apa bisa diobati?”

“Tentu saja bisa! Mungkin besok sudah tidak apa-apa.”

“Huh! Kau benar-benar mengecewakan! Tapi aku ini tipe

orang yang menepati janji. Aku akan menunggu selama 3

bulan.”

“3 bulan? bagus sekali!” Sang Sin berkata dengan penuh

percaya diri,

“Sebenarnya tidak perlu 3 bulan, 3-5 hari saja sudah

cukup.”

Malam yang tenang. Hembusan angin malam yang

lembut. Sinar lentera membayang di atas permukaan air

yang tenang.

Hembusan angin membawa harum semerbak bunga.

Terlihat ada tiga orang sedang duduk di atas kursi.

Raut wajah Lim Leng-ji sangat datar.

Pada Wajah Wie Kai pun tidak terlihat senyuman.

Tapi Loo Cong bersikap di luar kebiasaannya, dia malah

terus menampakkan senyuman.

Dia sebenarnya sedang berusaha untuk mencair kan

suasana.

Walaupun raut wajah Lim Leng-ji datar tapi

memancarkan keadaan yang sangat dingin.

“Wie Kai, kau bersulanglah dengan Leng-ji.”

Wie Kai mengangkat cangkirnya, menggerakan nya

sebentar lalu menegaknya sekali teguk.

Loo Cong menuangkan arak untuk Wie Kai lalu

berpaling dan berkata:

“Leng-ji, giliranmu.”

Lim Leng-ji melakukan hal yang sama dengan Wie Kai.

“Bagus… .bagus…! Ini baru benar.”

Loo Cong juga menuangkan arak pada Lim Leng-ji, lalu

berkata:

“Kita bertiga boleh dikatakan teman sejak kecil. Di masa

yang akan datang jika ada kesalahpahaman, demi

hubungan persahabatan kita yang sudah lama ini, janganlah

membuat masalah kecil menjadi besar.”

Wie Kai berkata:

“Setiap kali mengingat permainan pengantinpengantinan,

aku jadi marah lagi.”

“Pengantin-pengantinan dan pengantin sebenar nya kan

tidak sama,” kata Loo Cong

Lim Leng-ji mendelik padanya baru mengalihkan

pandangannya pada Wie Kai.

Pandangan itu mengandung banyak pertanyaan,

Hanya saja Wie Kai tidak memperhatikannya.

Loo Cong mendesah dan berkata.

“Aku sendiri tidak mengerti mengapa waktu itu aku

harus selalu menjadi pengantin lelakinya.”

“Biar Leng-ji yang menjawabnya.” Kata Wie Kai.

Lim Leng-ji mengelus-elus alisnya sambil tertawa

berkata:

“Karena Wie Kai sering memukulku sedangkan Loo

Cong belum pernah sekali pun.”

“Apa benar dia tidak pernah sekali pun memukulmu?”

Kata Wie Kai.

Lim Leng-ji menggeieng-gelengkan kepalanya sambil

berkata:

“Kan sudah kubilang belum pernah.”

“Aku ingat pernah satu kali.”

Loo Cong heran.

Lim Leng-ji mengangkat alisnya.

Wie Kai berkata lagi:

“Pernah satu kali. Kau tidak sengaja telah menjatuhkan

orang-orangan dari salju yang dibuatnya dan dia memukul

kepalamu sekali.”

“Apa benar ada kejadian seperti itu?” kata Lim Leng-ji.

Pertanyaan ini ditujukannya pada Loo Cong.

Loo Cong menggosok-gosokkan kedua lengannya sambil

berkata:

“Sepertinya memang ada kejadian seperti itu. Kalau

begitu ingatanmu boleh dibilang tidak jelek.”

“Lihat aku, ingatanku makin lama makin parah,” kata

Ling Leng-ji.

“Kau jadi pengantin laki-laki adalah tindakan yang

sewenang-wenang, apakah Leng-ji memang betul-betul

bersedia?” Kata Wie Kai.

Lim Leng-ji memandangi Loo Cong menunggu

jawabannya.

“Jadi kau selama ini mencari gara-gara dengan-ku karena

tidak setuju kalau aku yang selalu berperan menjadi

pengantin laki-lakinya….?” Kata Loo Cong.

Loo Cong ada urusan, jadi dia pergi terlebih dahulu.

Lim Leng-ji sepertinya tidak ingin cepat-cepat beranjak

dari tempat duduknya, malah berkata:

“Apa kau mau minum beberapa cangkir arak lagi

denganku?”

“Mengapa?”

“Anggap saja demi diriku.”

“Jika untuk dirimu, aku bersedia melakukan apa pun,”

Kata Wie Kai.

Lim Leng-ji mengambil teko arak dan menuangkannya,

lalu berkata:

“Benarkah?”

“Benar.”

“Apapun?”

“Tentu.”

Lim Leng-ji berkata lagi:

“Walaupun demi membela Liauw Kouwnio, aku jadi

berselisih paham denganmu, untuk itu aku sudah

seharusnya meminta maaf padamu.”

Wie Kai berkata dengan heran:

“Entah sudah berapa lama aku tidak pernah mendengar

kata-kata seperti ini.”

“Ayo, bersulang!”

Setelah meneguk araknya, Wie Kai menuang-kan arak

bagi Lim Leng-ji lalu berkata:

“Sebelum ini aku berpikir kau tidak akan memperdulikan

aku lagi selamanya.”

“Bagaimana mungkin? Kita sudah bersahabat sekian

lama.”

“Leng-ji, sikapmu agak lain dengan sebelum-nya.”

“Apakah benar tidak sama?”

“Aku hanya bilang agak.”

“Malam ini kau juga sama.”

“Aku?”

“Waktu itu kau sangat berapi-api, aku kira kau tidak

akan menginjakkan kakimu di tempat ini lagi “

“Memang, jika Loo Cong tidak menarikku kemari, aku

tidak akan datang.”

“Apa kau tahu, supaya aku setuju kau datang ke tempat

ini, Loo Cong sampai menumpang makan di sini selama

tiga hari?”

Wie Kai terkejut setengah mati.

Malam semakin larut.

Suasana di antara air dan pepohonan semakin senyap.

Kedua orang itu masih terus saling bersulang arak.

Entah sejak kapan, dia sendiri tidak menyadarinya kalau

kursi yang diduduki oleh Lim Leng-ji semakin dekat jarak

dengan dirinya.

Dia hanya sadar kalau tawa Lim Leng-ji terasa semakin

dekat dan indah di telinganya.

“Siau-kai, seberapa jauh yang masih kau ingat tentang

masa lalu kita?”

“Hanya masa-masa tertentu yang aku masih kurang jelas

mengingatnya.”

“Yang mana?”

“Kalau aku katakan, kau janji tidak akan marah?”

“Malam ini, apa pun yang kau katakan tidak akan

membuatku marah.”

“Benarkah, hal apa pun yang kukatakan tidak akan

membuatmu marah?”

“Tidak akan.”

“Betul semua hal?”

“Betul, aku berkata sungguh-sungguh, tidak akan

ingkar.”

Wie Kai menatap raut wajahnya sejenak:

“Aku samar-samar ingat, rasanya sebelum ini aku bukan

hanya bebas memeluk dan mendekapmu, kita juga telah

melakukan semua hal yang seharusnya dilakukan oleh

suami istri!”

Wie Kai menyangka tentu dia akan marah besar, atau

setidaknya sedikit.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, dia malah tertawa

keras.

Tidak tahu apakah dikarenakan arak ataukah hari ini

suasana hatinya sedang gembira?

Ataukah karena perbuatan Loo Cong yang telah

menumpang makan di sini selama 3 hari sehingga merubah

suasana hatinya?

“Kau ternyata benar-benar tidak marah.”

“Bukankah aku sudah janji sebelumnya?”

“Kau benar-benar berbesar hati pada apa yang telah

kaujanjikan.”

“Ah, tidak juga. Aku orang yang tidak akan mengingkari

apa yang telah kujanjikan.”

“Nah, sekarang apa pendapatmu tentang ingatanku ini?”

Dia hanya tersenyum tapi tidak menjawab,

“Kau pasti menganggapnya hanya omong kosong belaka,

bukan?”

Lim Leng-ji menggelengkan kepala:

“Aku hanya bisa berkata kalau ingatanmu itu tidak

bagus.

Tidak bagus?

“Ya. Contohnya kalau aku bertanya padamu tentang

sesuatu yang kau tahu tapi kau sendiri belum tentu tahu.”

“Coba saja kau tanyakan.”

Lim Leng-ji berpikir sejenak, lalu berkata:

“Dulu kau pernah menyinggung padaku tentang buku

silat Pit-kiau-tay-hoat (Ilmu menutup pikiran) dan Kai-kiautay-

hoat (Ilmu membuka pikiran), kau masih ingat?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya: “Sedikit pun

tidak ingat?”

“Aku hanya pernah mendengar perkataan orang tentang

buku silat aneh ini, tapi tidak pernah melihatnya.”

“Dulu kau berkata keluarga kalian memiliki buku silat

tentang Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tay-hoat tetapi tidak

tahu ada di mana.”

“Apa benar aku pernah mengatakannya?”

“Kalau bukan kau, memangnya aku ber-mimpi?”

Wie Kai mengurut-urut jidatnya sambil berkata:

“Leng-ji, maafkan aku, sepertinya otakku ini benar-benar

tidak berguna.”

Senyum Lim Leng-ji sangat manis, hanya sayang,

senyum itu tidak sampai di matanya.

Wie Kai keluar dari rumah keluarga Lim. Angin malam

yang dingin membuat mabuknya agak menghilang sedikit.

Malam ini dia lagi-lagi telah mengecewakan.

Harapan Lim Leng-ji adalah harapannya juga, hanya

saja malam ini dia merasa Lim Leng-ji telah berubah

banyak.

Di saat seperti ini di jalan tidak ada seorang pun, bahkan

seekor anjing pun tidak ada.

Bulan pun mulai tenggelam di sebelah barat.

Inilah waktunya manusia untuk tidur.

Inilah waktunya hantu bermunculan.

Apakah di dunia ini benar-benar ada hantu?

Jika tidak mengapa Wie Kai tidak mendengar suara apa

pun padahal ada sesuatu yang berdiri di belakangnya,

sesuatu yang berbadan tetapi tidak berkepala.

Tidak, ada lengan dan kaki, ada setengah leher tetapi

tidak berkepala, bagaimana mungkin yang begitu bisa

disebut orang?

Ini pasti hantu.

Wie Kai adalah seorang pemberani, tetapi tetap saja kali

ini dia berkeringat dingin dan mundur dengan cepat

Wie Kai mundur dengan cepat.

Tetapi pada akhirnya jaraknya tetap tidak berubah,

dengan hantu tanpa kepala itu hanya berkisar dua langkah

saja.

Kalau ini bukan hantu lalu apa?

Wie Kai semakin tersadar dari mabuknya lalu bertanya:

“Siapa kau? Aku tidak percaya di dunia ini ada hantu!”

Ilmu silat Wie Kai boleh dikata sudah termasuk tingkat

tinggi.

Ini memang jurus andalannya. Setiap kali dia

mengeluarkan jurus ini, ujung mata pisau berembun seperti

es.

Sebenarnya seberapa cepat pisaunya?

Begitu pisau ini berembun pasti langsung bertemu

kepala.

Hantu itu sambil melangkah mundur, tiba-tiba dari

lengan jubah hitamnya keluar sebuah tangan yang pucat

dan di tangan itu menggenggam senjata yang berbentuk

seperti papan loh yang panjangnya + 17 cm.

Tring. Keduanya seketika langsung terdorong mundur

beberapa langkah.

Begitu Wie Kai mendekat, hantu itu malah mundur.

Bagaimana pun juga jarak antara mereka berdua tetap

saja dua langkah.

Jarak mereka berdua terus menerus hanya berbeda dua

langkah saja, benar-benar menjengkelkan.

Wie Kai tidak percaya ada kecepatan seperti itu di dunia

ini.

Cian-thauw-siau-kai bukanlah julukan semba-rangan dan

dia tidak mungkin mempermalukan dirinya lebih jauh lagi.

Dia mengeluarkan pisau yang telah lama tidak

dipergunakannya.

Dia sangat percaya akan kemampuannya dalam

menggunakan pisau ini.

Karena pisau ini jarang sekali dipakainya dan selama ini

pisaunya tidak pernah sekali pun mengecewakan dirinya.

Siapa orang ini sebenarnya?

Siapa gerangan dia yang bisa menahan serang an

pisaunya?

Dia tentu saja tidak percaya kalau lawannya itu adalah

hantu.

Orang itu hanya menyembunyikan mukanya di dalam

jubah dan setengah leher yang dikeluarkannya hanyalah

palsu belaka.

Hal ini tidak bisa menipu mata Wie Kai.

Tetapi yang membuatnya penasaran, pesilat mana di

dunia persilatan yang menggunakan senja ta seperti itu?

Siapa yang memiliki ilmu silat setinggi itu?

Siapa yang memiliki tenaga dalam sehebat itu?

Siapa yang memiliki ilmu meringankan tubuh dan gerak

cepat yang sehebat itu?

Mengenai ilmu meringankan tubuh dan gerak cepat,

sepertinya ilmu orang ini jauh di atasnya.

Dia rasa hanya orang dari komplotan penculik bayi yang

bisa.

Karena komplotan penculik bayi itulah yang mencuri

buku silat Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tay-hoatitu.

Tetapi malam ini Lim Leng-ji justru bertanya padanya

mengenai buku silat Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tayhoat.

Malah mengatakan keluarga Wie memiliki buku silat ini.

Kembali ke sebuah kamar kecil. Begitu masuk langsung

tahu bahwa di dalam ruangan ada seseorang. “Siapa?”

Ruangan itu gelap dan tidak bersuara.

“Bau orang hidup, tidak akan bisa mengelabuiku!”

Terdengar suara tertawa seorang perempuan dan

perempuan itu berkata:

“Tidak disangka kemampuan ‘pendengaran 1000 li’ mu

masih ada, hebat…. hebat….!”

“Kau lah yang hebat karena bisa mengetahui

kemampuan ini.”

Tiba-tiba ruangan itu disinari oleh sinar lentera dan

Liauw Swat-keng terlihat duduk di atas ranjang-nya.

Di atas meja terdapat sekendi arak dan sebung-kus

hidangan yang baunya benar-benar meng-undang selera.

“Nona, apakah ranjangku juga tidak akan kau lewatkan?”

Saat seperti ini, dia tidak akan segan mengganggapnya

sebagai Lim Leng-ji.

“Terserah apa pendapatmu, pokoknya malam ini aku

mau tidur di sini.”

“Tanpa tedeng aling-aling, kau tiba-tiba memarahi orang

lalu kabur begitu saja!”

“Wie Kai, aku tahu kau pergi ke rumah keluarga Lim.”

“Ternyata kau tahu banyak juga.”

“Aku kan hanya mengkhawatirkanmu!”

“Terima kasih banyak! Nah, sekarang silahkan keluar!”

“Pulang-pulang langsung mengusir tamu!”

“Bukankah kau mengkhawatirkan aku? Aku sudah

semalaman tidak tidur dan sekarang aku hendak tidur

dengan tenang.”

“Kau sedikit pun tidak khawatir padaku.”

“Ada orang tua yang menjagamu, untuk apa kita repotrepot

memikirkan dirimu?”

“Tetapi kau jelas-jelas tahu kalau mereka hendak

membunuhku.”

“Bukankah sudah ada Sang Sin yang menjagamu?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Apakah segala sesuatu yang aku ketahui harus

kulaporkan padamu?”

“Apa lagi yang kau ketahui?”

Wie Kai tertawa lalu berkata:

“Kau membuat Sang Sin pusing tujuh keliling. Apa kau

tidak tahu ada pepatah mengatakan Ban-jin-sang-ti, Ban-busang-

ci?” (Mempermainkan orang kehilangan akhlak,

mempermainkan binatang/benda kehilangan cita-cita).

Liauw Swat-keng terdiam seribu bahasa.

Tidak lama kemudian, Liauw Swat-keng berkata dengan

wajahnya yang menjadi merah:

“Apa lagi yang kau ketahui?”

“Seorang pendekar yang gagah seperti naga dan lincah

seperti harimau, sekarang malah seperti kerbau yang

dicocok hidungnya, menjadi orang yang lemah dan tidak

berguna!” kata Wie Kai.

Wajah Liauw Swat-keng semakin memerah.

Walaupun dia berkelit tetapi sudah jelas dia bersikap

tidak jauh berbeda dengan seorang wanita penghibur.

Dia mendelik padanya:

“Siau-kai brengsek! Siau-kai sialan! Kau seenak-nya saja

mengusik rahasia pribadi orang lain lalu kau ingin aku

meminta maaf.”

“Aku hanya mengambil kesempatan saja, bagitu melihat

si bodoh kau rajai seperti itu, malahan berpikir kalau dia

mungkin kelewat gugup.”

“Ah, sudahlah! Siau-kai kita minum arak saja!”

“Nyonya, aku mana berani minum arakmu?”

“Kenapa, memangnya beracun?”

“Racun sih pastinya tidak ada, tapi takutnya sudah

dibubuhi obat entah apa dan nanti membuatku sama seperti

Sang Sin.”

“Siau-kai brengsek! Siau-kai sialan! Bagaimana mungkin

aku berbuat seperti itu padamu?”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Tidak akan, aku kan……” Baru setengah bicara,

mukanya sudah merah padam.

“Tapi aku percaya sebaliknya. Silahkan keluar! Aku mau

istirahat!”

“Aku tidak bisa pergi.”

“Mengapa?”

“Apa kau tidak lihat di luar sana ada orang yang

mengawasi?”

Wie Kai tertawa lalu berkata:

“Itulah Sang Sin. Kau pernah berjanji padanya begitu

kemampuannya kembali pulih, kau akan membiarkan dia

memuaskan keinginannya. Tetapi jika tidak bisa lepas dari

pengaruhmu, bagaimana dia bisa pulih?”

Liauw Swat-keng bagaikan disiram air dingin.

Lalu berteriak:

“Siau-kai sialan! Kau tahu segala hal.”

Wie Kai berkata lagi:

“Karena itu dia rela mati demi kau. Kemana pun kau

pergi dia akan mengikutimu, benar-benar bagaikan buah

delima di bawah rok.” (sama halnya diperbudak).

Liauw Swat-keng menghela nafasnya, berkata:

“Siau-kai, kau sendiri tahu walaupun dia setia padaku,

jika ayah dan ibuku ingin membunuhnya, dia juga tidak

mungkin bisa lolos.”

“Memang.”

“Jika dia mati dan aku ditangkap oleh mereka, kau pasti

tahu apa yang bakal terjadi nanti.”

Wie Kai tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

“Kenapa diam saja? Bukankah kau yang menyuruhku

jangan pulang? Bukankah kau yang mengatakan sang

majikan menyuruh ayah dan ibuku untuk membunuhku?”

“Apa yang hendak kau lakukan?” Kata Wie Kai.

“Ikut denganmu jauh lebih aman daripada ikut dengan

Sang Sin.”

Wie Kai duduk di sisi lain ranjang dan berkata:

“Jika kukatakan bahwa kau adalah anak dari Lim Puthoan,

apa kau percaya?”

“Percaya.”

“Kalau begitu mengapa sewaktu di tempat Lim Leng-ji

kau malah menyulitkan aku?”

Dia hanya meremas-remas tangannya tapi tidak

menjawab.

“Jika kau tidak memberitahukan alasannya, maka aku

tidak akan menerimamu di sini.”

Liauw Swat-keng terlihat masih ragu-ragu:

“Ai ya, walaupun tidak kukatakan seharusnya kau juga

sudah tahu.”

“Aku tahu apa?”

“Aku kan hanya takut kau terpikat dengan Lim Leng-ji,

karena itu sengaja kurusak namamu.”

Wie Kai diam terpaku, dia benar-benar terkejut.

“Siau-kai, apa kau masih marah padaku?”

Wie kai tidak bisa berkata-kata.

Walaupun wajahnya sangat mirip dengan Lim Leng-ji,

tetapi tetap saja dia bukan Lim Leng-ji.

Di hatinya hanya ada satu, Lim Leng-ji, tidak boleh ada

yang kedua, terlebih lagi tidak mungkin ada yang kedua.

Tetapi gadis ini masih bisa dimanfaatkan.

Tentu saja memanfaatkan seorang gadis sama sekali

tidak dibenarkan, tetapi Wie Kai merasa apa yang akan

dikerjakan oleh gadis ini ada hubungannya dengan urusan

keluarga Lim. Lagi pula sebagai keturunan keluarga Lim,

mungkin dia sudah seharus-nya berbuat sesuatu demi suami

istri Lim Put-hoan.

“Siau-kai, sebelum aku pergi kau tidak boleh tidur.”

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara orang yang

berbicara dengan suara kecil:

“Cian-thauw-siau-kai, Liauw Swat-keng adalah milikku,

kau tidak boleh menyentuhnya!”

“Sang Sin, memangnya kau anggap apa aku ini?” kata

Wie Kai

“Sang Sin!”

“Ada apa Swat-keng?”

“Jika aku mengatakan suatu rahasia kepadamu, kau

bakal percaya tidak?” Kata Wie Kai.

“Percaya!”

“Bersediakah kau membantu keluarga Lim?”

“Tentu saja bersedia.”

“Kalau begitu segeralah kau ikut pulang dengan Sang

Sin, nanti katakan bahwa kau pulang atas keinginan sendiri,

suami istri Liauw In pasti akan mengampunimu, lalu

mencari tahu tentang rahasia kalian.”

“Tidak, aku tidak mau pulang.”

“Mengapa? Apakah kau tidak mau berkorban demi

kedua orang tuamu?”

“Kau hanya ingin menghindar dari diriku saja.”

“Jika aku hendak menghindar darimu bukanlah perkara

yang sulit, sebenarnya kau mau atau tidak?”

“Jika aku dibunuh bagaimana?”

“Tidak akan, majikan itu memberikan waktu setengah

bulan. Jika kau kembali sekarang itu belum lewat waktu

setengah bulan, tetapi lebih cepat lebih baik.”

Liauw Swat-keng mengejap-ngejapkan matanya dan

berkata:

“Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?”

“Kau dengarkan aku, lain kali kau tidak boleh mencuri

dengar saat aku berbicara dengan temanku, jika tidak

hubungan kita langsung putus!”

“Swat-keng, lain kali tidak akan.”

“Pergilah!”

“Baik!”

“Tidak akan terlalu lama.” Wie Kai berkata, “Kasus Lim

Hujin sepertinya bisa selesai dalam waktu setengah tahun

ini, setelah itu kita bisa bertemu lagi.”

“Kau sungguh-sungguh merasa kalau aku tidak akan

dibunuh oleh sang majikan itu?”

“Tidak akan.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Firasatku mengatakan demikian. Pertama, orang tuamu

pasti akan membelamu dan Sang Sin akan melindungimu

sekuat tenaga bahkan akan bertaruh nyawa bagimu.”

“Bukankah kau pernah berkata bahwa Liauw In dan Cia

Peng bukan orang tuaku yang sebenarnya?”

“Benar, tetapi mereka lah yang telah membesarkanmu,

layaknya menanam pohon buah-buahan.”

“Menanam pohon buah-buahan?”

“Kau memang layaknya bibit buah-buahan yang telah

mereka pelihara hingga besar sampai meng-hasilkan buah,

bagaimana mungkin mereka mem-buangmu begitu saja?”

“Kalau tidak dibuang lalu bagaimana? Tidak mungkin

dibiarkan begitu saja ada dua orang gadis pada saat yang

sama mengambil haknya atas harta keluarga Lim?”

“Ada lima orang pun tidak jadi masalah, hanya saja sang

majikan itu tidak menghendaki begitu banyak.”

“Dia hanya mau satu?”

“Benar.”

“Siau-kai, aku memutuskan untuk mengikutimu”

“Tetapi kau harus ingat, pulang nanti kau harus tutup

mulut, mereka tidak boleh tahu kalau kau dan Sang Sin

sudah tahu tentang hal ini. Satu hal lagi, setiap tanggal 1 &

15 tiap bulannya pada tengah malam, aku akan

menunggumu dijalan belakang rumahmu.”

“Aku mengerti, aku juga akan menyuruh Sang Sin untuk

berha ti-hati.”

Di malam yang hujan dan berangin.

Dua orang teman baik berpapasan, benar-benar bagaikan

angin hujan yang menyulitkan mendatangkan kesengsaraan

bagi orang.

Yang seorang adalah Sang Sin dan yang seorang lagi

adalah Hong Kie.

Hanya saja, sepasang teman ini bertemu untuk

berpamitan, bukan untuk menyambut kedatangan.

Hong Kie berkata:

“Apakah kau memang harus kembali?”

“Jelas-jelas kau tahu aku tidak bisa tidak harus kembali,”

Kata Sang Sin Hong Kie berbisik

“Apakah atasanmu tahu tentang hubungan kita berdua?”

“Sepertinya tidak tahu.”

“Bahwa kita berasal dari satu perguruan yang sama,

jangan sampai Liauw Swat-keng mengetahui-nya.”

“Jika suatu hari nanti dia telah menjadi istriku pun tetap

tidak boleh tahu?”

“Tidak boleh.”

“Tidak boleh? Apakah tidak boleh mengatakan padanya

atau dia tidak boleh menjadi istriku?”

Kata Hong Kie:

“Suheng, untuk apa kau berbuat sejauh ini?” Sang Sin

menggeleng-gelengkan kepalanya: “Sute, kau tidak tahu,

aku tidak bisa hidup tanpa dirinya dan lagi kedua orang

tuanya telah ber-janji padaku.”

Hong Kie mengangkat kedua tangannya. Sang Sin

berkata lagi:

“Kau selalu lebih pintar dariku dalam segala hal, apa kau

punya pandangan sendiri tentang hal ini?”

Hong Kie bertanya tanpa tedeng aling-aling:

“Suheng, siapa sebenarnya suami istri Liauw In?”

“Dulu mereka berdua adalah pembunuh.”

“Pembunuh adalah bentuk suatu pekerjaan juga, tetapi

justru banyak orang yang memalsukan jati diri mereka.”

“Maksudmu mereka berdua memalsukan jati diri mereka

sebenarnya?”

“Tentu saja,” Hong Kie berkata lagi, “Bertahun-tahun

yang lalu Liauw In adalah salah satu kekasih simpanan dari

Lim Hujin, Cia Peng adalah seorang bidan yang tidak

berperasaan. Kau masih percaya pada orang seperti

mereka?”

“Mereka memperlakukanku dengan baik.”

“Tentu saja mereka baik padamu sebab mereka ingin

memanfaatkanmu.”

“Jadi mereka berbohong saat mengatakan akan

memberikan Swat-keng padaku?”

“Jika mereka benar ingin memberikan Swat-keng

padamu, mengapa waktu Lim Hujin melahirkan anak

kembar mereka hanya membawa satu dan meninggalkan

yang satu lagi?”

Ini adalah kenyataan yang sangat mudah.

Setiap orang pasti akan lansung bisa dengan mudah

menebaknya.

Sekarang mata Sang Sin baru terbuka.

Dia berkata lagi dengan suara pelan:

“Lalu tentang masalah Swat-keng yang suka padaku,

bagaimana menurutmu?”

Hong Kie menggeleng-gelengkan kepala:

“Suheng, apakah kau pikir dia itu benar-benar ingin

menikah denganmu?”

Sang Sin langsung pucat pasi.

Sang Sin sepertinya naik darah, karena itu Hong Kie

menepuk-nepuk punggung belakangnya. “Mau apa?”

“Suheng, suatu saat nanti kau pun pasti akan beristri dan

beranak bukan?”

“Memangnya aku ini keturunan keledai, bodoh seumur

hidup?”

“Bagus, jika kau juga mempunyai seorang putri sama

seperti Liauw Swat-keng, apakah kau juga akan

membiarkan menikah dengan orang seperti kita ini?”

Sang Sin sudah tahu sejak dulu bahwa dia bukanlah

seorang pria idaman para wani ta.

“Suheng, bagaimana kalau begini saja. Jika kau adalah

Liauw Swat-keng, apakah kau akan mau menikah dengan

orang seperti kita ini?”

Lagi-lagi raut wajah Sang Sin berubah lagi dari1

kehijauan menjadi kemerahan, lalu berkata dengan marah:

“Dia tidak seharusnya mau dengan ku!” Hong Kie

berkata:

“Suheng, sebagai seorang perempuan, yang menjadi

musuh utama mereka adalah laki-laki.”

“Laki-laki?”

“Benar! Walaupun mereka setiap saat selalu mencari

laki-laki yang sesuai dengan keinginan mereka, justru selalu

saja merasa tidak ada yang cocok, selalu saja melukai lakilaki

pilihan mereka.”

“Ng!”

“Tapi laki-laki justru berbeda dengan perempuan, jika

seorang laki-laki selesai bermain dengan seorang

perempuan, laki-laki tetap saja laki-laki, sedikit pun tidak

berubah. Sama seperti sebuah bola, dipukul bagaimana pun

tetap saja bola, tetap saja bundar.”

Sang Sin mendelikkah matanya memandangi Hong Kie.

Selama ini dia tidak pernah merasa kalau Hong Kie tahu

lebih banyak dari dirinya.

Bahkan selama ini dia selalu merasa Hong Kie adalah

orang yang tidak punya prinsip sama sekali.

Tetapi sekarang jika dilihat, kemungkinan Hong Kie

lebih mengerti banyak hal dibandingkan dirinya.

Hong Kie lagi-lagi berkata:

“Perempuan jelas berbeda, sekali dia telah berhubungan

badan dengan seorang laki-laki, parasnya mulai

berubah,.garis pinggangnya berubah menjadi lebar,

perutnya juga jadi membesar, semuanya pasti berubah.”

“Hong Kie, kau kedengarannya seperti bersimpati pada

Swat-keng,” kata Sang Sin.

“Pokoknya jika kau mempertimbangkan kepen-tingan

orang lain tentu saja harus mengandaikan diri sendiri seperti

orang itu.”

“Tetapi dia tidak mungkin menggunakan tipuan, ini

karena aku terlalu kaget. Malah sempat terpikir bakal jadi

orang cacat seumur hidup.”

“Suheng, jika seorang laki-laki sudah berjodoh dengan

seorang perempuan, tidak ada alasan tidak bisa

melakukannya. Kadang kala demi melindungi kesucian

nya, seorang perempuan memang menggunakan ramuan

tertentu dan hal itu bisa dimaafkan.”

Sang Sin agak sedikit tidak tenang.

Hong Kie mengepalkan tangannya:

“Suheng, semoga kau selamat di perjalanan.”

“Aku benar-benar tidak terima,” kata Sang Sin. Hong Kie

menepuk-nepuk punggung belakang Sang Sin sambil

berkata:

“Suheng, semua orang belajar dari pengalaman, itu lah

alasannya mengapa Sute memilih perempuan seperti Hong

Ku.”

Sang Sin terdiam seribu bahasa.

Loo Cong mengundang Wie Kai untuk minum arak. ,

Pemuda yang gagah berani memang berbeda. Arak yang

mereka minum adalah arak Ning-nei-beng.

Hidangan yang mereka makan adalah hidang-an yang

paling ternama di restoran terkenal di kota Koh.

Loo Cong pernah berkata bahwa makan ber-sama

dengan seorang teman baik itu tidak boleh setengahsetengah.

“Bangunan kecil semalaman mendengar hujan musim

semi.” Kata Wie Kai.

“Terowongan dalam dinasti Beng menjual bunga

apricot.”

Keduanya tertawa seketika.

Ini adalah sajak gabungan yang mereka buat ketika

masih kecil.

Bangunan kecil semalaman mendengar hujan musim

semi ini menunjuk kepada Loo Cong.

Terowongan dalam Dinasti Beng menjual bunga apricot

ini menunjuk kepada Wie kai.

“Loo Cong, mengapa malam itu kau pergi lebih dulu?”

“Tidak ada apa-apa, hanya ada urusan sedikit.”

“Tidak, kau sedang mengelak.”

Loo Cong mengeluh:

“Mungkin hanya karena bagian peran menjadi pengantin

laki-laki sewaktu kecil jumlahnya terlalu banyak.”

“Lalu sekarang mau menuntut ganti rugi?”

Loo Cong terdiam seribu bahasa.

“Apakah kau tidak bisa melihat kalau Leng-ji sangat

memandang rendah diriku?” kata Wie Kai.

“Ini semua kan karena ulah nona itu.”

“Walaupun memang nona itu yang pertama berulah,

menurut bagian dari ingatanku, Leng-ji juga sangat marah.”

Loo Cong melambaikan tangannya berkata:

“Jangan ingat terlalu banyak!”

“Pada dasarnya aku memang tidak bisa meng-ingat

banyak.”

“Jika kau memang ada waktu luang, mengapa tidak

mencari Leng-ji untuk berbincang-bincang?”

Wie Kai tertawa lalu berkata:

“Rasa-rasanya Leng-ji sudah banyak berubah.”

“Tidak sama?” Loo Cong sangat perhatian terhadap

ekspresi Wie Kai.

“Ada sedikit, mungkin aku yang terlalu banyak

berkhayal.”

“Menurutmu di bagian mana dari dirinya yang berbeda?”

“Tidak kah kau perhatikan ada kalanya ingatan Leng-ji

juga tidak begitu baik?”

“Kalau itu aku tidak begitu memperhatikan.”

“Perempuan…….Perempuan…….”

“Benar, perempuan selalu tidak sepaham dengan lakilaki.”

“Loo Cong, kau sudah boleh berkeluarga.”

“Aku?”

“Tentu saja kau. Umur, kemapanan, semuanya sudah

mantap, tentu saja harus berkeluarga.” “Dengan siapa?”

Wie Kai tertawa senang sambil berkata: “Loo Cong,

memangnya kau tidak suka pada Leng-ji?”

“Bagaimana mungkin aku tidak suka?”

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” Kata Wie Kai Loo Cong

tertawa pahit sambil berkata: “Apakah kau tidak dapat

melihat? Perasaannya sampai sekarang belum berubah

hanya ditujukan untuk satu orang.”

“Belum berubah?”

Wie Kai menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Kau

jangan membohongiku.”

“Aku pernah bohong padamu?”

“Memang belum pernah.” Wie Kai berkata lagi, “Tetapi

kau bilang perasaannya hanya ditujukan untuk seseorang,

siapa orangnya?”

“Kau.”

“Loo Cong, kali ini kau salah.”

“Ada kalanya aku memang ingin hal ini tidak benar.”

“Kali ini kau berkata bohong, Leng-ji sangat memandang

rendah padaku sedangkan padamu dia sangat kagum,

bahkan anak umur 3 tahun pun bisa melihatnya.”

“Salah!” Loo Cong berkata lagi, “Dia hanya

menunjukkan sikap hormat padaku.”

“Hanya sikap hormat? Tidak ada yang lain?”

“Tidak ada, sedikit pun tidak ada.”

“Kau pikir aku akan percaya?’

“Kalau kau tidak percaya, aku bisa apa?”

“Kalau begitu siapa sebenarnya yang dia sukai?”

“Kau.”

Wie Kai tertawa terbahak-bahak.

Wie Kai sangat menghormati Loo Cong, malahan

mungkin lebih dari Lim Leng-ji. Apa pun bisa mengalah.

Hanya untuk urusan perempuan saja yang tidak

mengalah.

Loo Cong menunggu sampai tertawanya habis, lalu

berkata:

“Kau tentu saja boleh tidak percaya.”

“Bukan ‘boleh tidak percaya’, aku justru sama sekali tidak

percaya,” Kata Wie Kai.

“Lalu bagaimana caranya agar kau bisa percaya?”

“Bukankah ini hal yang mudah?” Kata Wie Kai.

“Hal yang mudah justru hal yang tidak terpikirkan oleh

manusia.” Kata Loo Cong.

“Memang benar.”

Loo Cong berkata:

“Apa kau bisa memberitahukan kepadaku?” Wie Kai

berkata:

“Bukankah tingkat kegalakan dan ekspresi nyata Lim

Leng-ji adalah bukti yang terbaik?”

Loo Cong tertawa sambil mendesah, berkata: “Kau tidak

bisa membedakan dengan jelas antara benci dan suka.”

“Aku?”

“Apakah kau pikir hormat sama dengan cinta?”

“Paling tidak tutur bahasa yang dingin tidak

mencerminkan perasaan cinta.”

Loo Cong berkata dengan suara yang keras:

“Jika kau tidak selalu membuatnya cemas dan gelisah,

bukankah lama kelamaan perasaannya akan

terlukakarenamu?”

“Kata-katamu menurut Budha ada benarnya juga.”

“Padahal kau tidak percaya pada Budha sedikit pun.”

Wie Kai menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

Loo Cong menghabiskan araknya dengan sekali teguk.

Lalu dia berkata:

“Aku ingin agar kau mengerti.”

“Kau ingin aku mengerti apa?”

“Leng-ji jatuh cinta padamu.”

Wie Kai lagi-lagi tertawa terbahak-bahak:

“Coba kau hitung, di tubuhku ini ada berapa banyak

sayap?”

“Bicaramu jangan berputar-putar.”

“Aku?”

“Kau tidak sepolos itu, paling tidak terhadap teman lama

sepertiku, kau tidak cukup setia.”

Wie Kai menepuk-nepuk dahinya sambil menyandarkan

kepalanya ke sandaran kursi di belakang nya, lalu berkata:

“Ai ya! Tuhanku, aku ternyata sudah menjadi orang

yang tidak setia.”

“Apa kau masih ingat kejadian malam itu?”

“Malam yang mana?”

“Malam di mana kau pergi duluan.”

Wie Kai melamun sejenak lalu berkata:

“Memangnya kenapa?”

“Justru aku yang mau bertanya begitu!”

“Tidak kenapa-kenapa!” Kata Wie Kai.

Loo Cong menyipitkan matanya menatap Wie Kai

sambil berkata:

“Sesudah kau minum arak, apa ada sesuatu yang

terjadi?”

Wie Kai lagi-lagi melamun sejenak.

“Ada tidak? Kau tidak akan berbohong padaku kan?”

“Apa maksudmu waktu dia menarik kursinya

mendekatiku itu?” Kata Wie Kai.

“Ada hal seperti itu?”

“Apakah kejadian itu begitu penting?”

“Apakah ada hal lain yang terjadi?”

“Hanya… hanya bertanya beberapa pertanya-an, aku

sendiri sudah tidak ingat jelas lagi.”

“Berapa banyak yang bisa kau ingat?”

Wie Kai memajukan kepalanya dan berkata:

“Coba kuingat-ingat dulu.”

Loo Cong menuangkan anggur bagi dirinya sendiri dan

membiarkan Wie Kai berpikir.

Wie Kai tiba-tiba memukul meja dan berkata:

“Oh iya! Rasa-rasanya dia bertanya padaku mengenai

buku Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tay-hoat.”

“Itu dia!”

“Apa hubungannya hal ini dengan hal sebelumnya?”

“Apa kau pikir tidak ada hubungannya?”

Wie Kai menggangguk-anggukkan kepalanya.

Kata Loo Cong:

“Jika antara kau dan dia tidak ada perasaan yang dalam,

apakah hal ini akan kau katakan pada-nya?” kata Loo Cong

Wie Kai terpana.

Loo Cong berkata lagi:

“Apakah kau pemah merasa dulu pemah ada sesuatu

yang tidak lumrah yang terjadi?”

“Ada.”

“Aku …. Aku rasa-rasanya sudah memeluk pinggangnya

yang ramping, tadinya aku kira dia bakal marah. Tetapi itu

benar-benar tidak disengaja!”

“Bagus!” Loo Cong berkata lagi, “Dan kau masih berkata

kalau dia tidak ada perasaan apa pun terhadapmu?”

“Jangan lupa! 80%-90% karena pengaruh dari arak.”

“Memangnya kau pikir jumlah yang dia minum sama

dengan jumlah yang kau minum?”

“Memangnya dia lebih hebat dariku?”

“Lebih hebat dariku!” Kata Loo Cong.

Wie Kai lagi-lagi terpaku, sebab waktu dulu kekuatan

minum Loo Cong jauh lebih bagus daripada dirinya.

Loo Cong berkata:

“Apakah kau tahu efek ajaib dari arak?”

“Dulu tahu sedikit, sekarang mungkin agak lebih

banyak.”

“Efek dari arak sangatlah besar, ada yang menggunakan

arak untuk perlindungan, sengaja memabukkan diri, lalu

melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dilakukan sebelum

mabuk.”

“Maksudmu dia bermaksud sengaja mendekatiku pada

saat aku mabuk atau ingin agar aku dengan sendirinya

mendekatinya?”

“Kenapa? Kau masih tidak percaya?”

Wie Kai masih saja menggelengkan kepalanya dan

berkata:

“Hanya saja waktu itu dia agak berlebihan, tetapi itu

tidak mencerminkan apa pun!”

“Memangnya di keluargamu benar ada buku yang

namanya Tay-hoat apa itu?”

“Mana ada?” kata Wie Kai tertawa pahit.

“Mengapa harus merendahkan diri? Kang-aw-to-pik

(Guratan pisau dunia persilatan) adalah ilmu yang terkenal

di dunia persilatan, bahkan jauh lebih terkenal dari pada

ilmu keluarga Lauw.”

Wie Kai berkata:

“Aku tidak ingat siapa yang pernah memberitahukan

padaku sebelumnya mengenai buku silat Pit-kiau-tay-hoat

dan Kai-kiau-tay-hoat.”

“Benarkah sedikit pun tidak ingat?”

“Apa kau pikir aku akan berbohong pada sobat lama?”

Loo Cong menatapnya lalu berkata: “Ayo kita

bersulang!”

“Benarkah kekuatan minum Lim Leng-ji lebih hebat

darimu?” Kata Wie Kai.

“Tentu, usia memang bisa merubah seseorang.”

“Apakah menurutmu aku sudah berubah?”

Wie Kai berkata lagi:

“Jika iya, mungkin hanya soal ingatan ini yang sudah

tidak seperti sebelumnya.”

“Kau tahu aku tidak akan berbohong padamu.”

“Bagaimana mungkin aku tidak tahu?” ^

“Tidak akan lama lagi aku akan memastikan sesuatu hal

agar kau puas.” Kata Loo Cong.

“Sifatmu ini sudah membuatku puas.”

Loo Cong menggelengkan kepalanya:

“Aku tidak merujuk saat ini.”

“Lalu kapan?”

“Mungkin tidak akan lama lagi’ Lalu Loo Cong berkata

dengan penuh percaya diri, “Kau akan menjadi pengantin

laki-laki Lim Leng-ji yang sesungguhnya.”

Wie Kai tertawa keras.

Loo Cong membiarkannya tertawa sampai habis, baru

berkata:

“Kau sekarang masih bisa tertawa bebas.”

“Waktu dulu saja ketika bermain pengantin-pengantinan

dia tidak pernah menunjukku dan jika bicara sekarang

menjadi pengantin laki-Iakinya, siapa yang bisa percaya?”

Loo Cong menuangkan arak bagi Wie Kai. “Sudah

cukup,” kata Wie Kai.

Loo Cong menaruh uang 5 liang di atas meja lalu

berkata:

“Bagaimana pun juga tidak lama lagi kau akan percaya

pada perkataanku.” Loo Cong pun pergi.

Wie Kai memandang bayangan punggung Loo Cong

yang berlalu.

0oo0dd0ooo0

BAB VI

Teman baik memang berbeda.

Manusia hidup harus akrab agar tidak menyesal.

Bukankah teman seperti Loo Cong sudah lebih dari

sekedar teman karib?

Sebenarnya perasaan Wie Kai terhadap Lim Leng-ji pada

dasarnya cinta dan juga memuja.

Bahkan di antara ingatannya, dia masih mengingatnya

sebagai gadis yang hangat dan juga bersemangat.

Tetapi jika dilihat sekarang, betapa kejamnya Lim Lengji.

Loo Cong sampai berkorban sedemikian rupa demi

hubungan antara dirinya dengan Lim Leng-ji.

Loo Cong juga berkata padanya, jika dia tidak percaya

pada perkataannya, maka dia akan mulai mogok makan.

Bagaimana pun juga Wie Kai tetap saja tidak percaya.

Karena itu Loo Cong mulai mogok makan.

Orang yang mogok makan harus duduk diam dan

dengan sendirinya harus ada orang yang menjaga-nya.

Orang yang sudah mogok makan 2-3 hari tidak ada

bedanya dengan orang yang Pit-koan. (=orang yang

menutup diri untuk berlatih ilmu silat).

Orang yang seperti itu akan sangat lemah.

Maka dari itu Wie Kai beserta Hong Kie dan Hong Ku

menjaganya.

Ini adalah kelenteng leluhur milik keluarga Lim.

Jika Loo Cong hendak melakukan mogok makan di sini,

anggota keluarga Lim yang mana yang berani menolaknya?

Loo Cong duduk di atas bantalan di depan sebuah meja

pendek.

Wie Kai berdiri di hadapannya.

Hong Kie dan Hong Ku masing-masing berdiri berjaga di

pintu depan dan pintu belakang.

Kata Wie Kai:

“Hanya demi masalah ini kau sampai mogok makan, apa

tidak takut ditertawakan orang?”

Loo Cong duduk sambil memejamkan mata seraya

berkata:

“Aku justru takut ditertawakan orang makanya aku

mogok makan.”

Wie Kai terpana dan berkata lagi:

“Apa benar karena takut di tertawakan orang?”

“Benar!”

“Apa yang kau takutkan ditertawakan orang?”

“Berebut perempuan dengan sahabat karib.”

“Loo Cong, kau benar-benar seperti anak kecil.”

“Jika benar-benar masih anak-anak malah lebih mudah!”

Kata Loo Cong.

Demi seorang teman berani mogok makan dan

ditetapkan selama 7 hari, ini memang hal yang jarang

dijumpai alias langka.

Tetapi Wie Kai percaya apa yang telah diputus-kan Loo

Cong tidak akan ada orang yang bisa mengubahnya.

“Lebih mudah bagaimana?”

“Kita bisa berkelahi.” Loo Cong berkata lagi, “Tapi

sialnya kita berdua sudah dewasa jadi tidak bisa berkelahi

lagi.”

“Sebenarnya kau mau bagaimana?”

“Sampai berapa kali aku harus mengatakan-nya?”

“Katakan satu kali lagi,” Kata WieKai.

“Turuti kata-kataku, pergilah temui Lim Leng-ji,

buktikan apakah kalau kata-kataku bisa dipercaya?”

“Loo Cong, jika kata-katamu tidak bisa di-pegang,

bukankah nanti aku menjadi seorang perayu wanita?”

Loo Cong menggeleng-gelengkan kepalanya:

“Jika benar demikian, maka selamanya aku akan duduk

di atas bantalan ini.”

“Selamanya?”

“Ya, duduk seumur hidupku.”

“Bukankah itu sama dengan menjadi hweesio?”

“Benar,” katanya lagi, “Jika omonganku salah dan

membuatmu melakukan hal yang salah, tidak ada bedanya

dengan mati.”

Tiba-tiba Wie Kai tertawa terbahak-bahak.

Kata Loo Cong:

“Ini adalah kelenteng leluhur milik keluarga Lim,

memangnya kau bisa seenaknya tertawa di sini?”

“Justru sangat kebetulan, sebab aku sekarang ini ada di

bawah tekanan dari sahabat karibku untuk melakukan

sesuatu hal yang tidak bersedia kulaku-kan.”

“Tidak bersedia?” Loo Cong tiba-tiba nu-ml-nl •

matanya.

Wie Kai tidak langsung menjawabnya. Tiba-tiba Loo

Cong berkata dengan |u-iuili tekanan:

“Katamu kau tidak bersedia?” Bagi Loo Cong, jarang

sekali dia menaikkan «uar* seperti itu.

“Kok marah begitu?” kata Wie Kai tertawa.

Loo Cong tidak berkata sepatah kata pun.

Pada saat yang sama Hong Ku dan Hong kir menatap

mereka berdua dengan heran.

Mereka berdua sama sekali tidak mengerti hubungan

persahabatan di antara mereka bertiga.

Walaupun Wie Kai pernah berkata baik kepada Hong

Kie maupun Hong Ku tentang hubungan antara dia, Lim

Leng-ji, dan Loo Cong.

Mereka berdua tetap saja tidak mengerti.

Menurut pandangan mereka, hubungan antara mereka

bertiga tetap saja aneh.

Loo Cong terdiam agak lama, baru berkata: “Aku

memutuskan akan merobah lamanya mogok makan

menjadi lOhari.”

Raut wajah Wie Kai langsung berubah, lalu berkata:

“Sebenarnya apa keinginanmu?” “Masalahnya jelas-jelas

sudah nyata di sana.” Wie Kai tiba-tiba mendekat dan

menarik kerah baju Loo Cong.

Hong Kie dan Hong Ku tentu saja dibuat terkejut

karenanya.

Apa yang sebenarnya sedang dilakukan mereka berdua?

Loo Cong yang kerah bajunya ditarik malah masih

menutup matanya.

Wie Kai mengguncang-guncangkan tubuh Loo Cong

dengan kuat sambil berkata:

“Katakan! Apa maksudnya, masalahnya jelas-jelas sudah

nyata ada di sana?”

Loo Cong menunggu guncangannya mereda bani

berkata:

“Jika tidak percaya, coba saja. Jika dia tidak suka

padamu, maka aku akan berjalan sambil terbalik!”

Wie Kai gemas sekali.

Pikirannya sangat kacau.

Ada Lim Leng-ji yang polos dan menarik hati.

Ada Lim Leng-ji yang pandangannya berkabut dan

mempesona.

Kepolosannya membuat orang tidak berani

memandangnya dari dekat.

Tiba-tiba Wie Kai mengibaskan tangannya:

“Hong Kie, bawa baki makanan itu, masuklah ke

dalam.”

Loo Cong lagi-lagi membuka matanya, berkata:

“Kau sengaja mengubah menu makanan dan meminta

juru masak yang terkenal untuk memasakkan makanan

baru, kau ingin membujukku bukan?”

Wie Kai tidak bersuara sama sekali.

Hong Ku membawakan baki berisi makanan ke dalam

sedangkan Hong Kie membawakan arak.

Masih berjarak sepuluh langkah, harum dan makanan

dan arak yang dibawa sudah sangat menggugah selera.

Loo Cong berkata dengan suara keras: “Ini tidak akan

ada gunanya!”

Wie Kai menaruh kotak itu di depan Loo Cong dan

membukanya.

Tidak hanya harum, tapi juga masih panas.

Ada daging bebek, ayam, ikan, burung dan juga udang

yang dimasak berbagai macam rupa.

Dan araknya tidak tanggung-tanggung, arak Lian-hoapek

(Bunga teratai putih)

“Kau mau makan tidak?” Kata Wie Kai.

“Tidak.”

“Jika aku pergi, kau mau makan tidak?”

Loo Cong membuka matanya, berkata:

“Jika kau benar-benar pergi, aku akan benar-benar

makan.”

Lalu Wie Kai berdiri. “Kau benar mau pergi?”

“Seorang temanku bersedia tidak makan dan minum

selama 10 hari demi diriku, mengapa aku tidak bisa pergi?

Jika pergi untuk dipenggal sekali pun aku akan tetap pergi.”

Wie Kai berjalan keluar.

Sebelah tangan Loo Cong mengambil sepasang sumpit

dan sebelah tangannya lagi mengambil arak, lalu berkata:

“Benar-benar masakan dan arak yang enak!”

Di atas meja sudah penuh dengan hidangan yang

ternama serta arak yang ternama pula. Kata Wie Kai:

” Benar-benar masakan dan arak yang enak.”

Senyum Lim Leng-ji pelan-pelan mengembang, berkata:

“Jika orang lain yang mengatakannya, itu tidak ada

artinya sama sekali.”

“Lalu siapa yang mengatakannya baru dikata-kan

penting.”

“Kau.” Sifat Lim Leng-ji malam ini pun berubah.

Senyumannya sanggup menaklukkan segala-nya.

Bahkan buat Wie Kai walaupun dalam ingatannya dia

sering terlihat hangat dan lembut, semuanya menjadi tawar

dibandingkan dengan senyumannya.

Wie Kai berkata:

“Benarkah aku ini sangat penting artinya bagi dirimu?”

Lim Leng-ji menundukkan kepalanya malu-malu, lalu

berkata:

“Aku selama ini mengganggap kau sudah tahu isi

hatiku.”

“Sepanjang umur manusia, ini bagai terjangan ombak

yang besar.”

“Apa maksud kata-kata itu?” Kata Lim Leng-ji

“Dulu aku selalu menganggap di dalam hatimu

selamanya hanya ada Loo Cong, si pemeran pengantin lakilaki.”

Lim Leng-ji menggeleng-gelengkan kepalanya sambil

tertawa.

“Kau benar-benar tidak mengerti hati wanita.”

Wie Kai jadi terkejut, dia mungkin benar-benar tidak

mengerti hati wanita.

Jika tidak, bagaimana mungkin perbedaan ini

sedemikian besarnya?

Orang yang benar-benar suka padanya, dia malah

menyangka tidak menyukainya.

Orang yang tidak disukainya, dia malah menyangka

orang itu menyukainya.

Memahami seorang wanita ternyata jauh lebih sulit dari

pada kasus tuan Yang-beng.

Apakah ini ada hubungannya dengan arak yang

diminum?

Tiba-tiba Wie Kai berdiri dan menghampiri Lim Leng-ji.

Lalu melingkarkan kedua lengannya di bahu Lim Lengji.

Tubuh Lim Leng-ji tampak gemetar sejenak, lalu rebah

ke dalam pelukan Wie Kai.

Walaupun dalam pengaruh arak, Wie Kai dapat

mengenali dia lah Lim Leng-ji yang memiliki pandangan

berkabut dan mempesona.

Dia selalu merasa orang yang mata keranjang seperti dia

baru cocok dengan perempuan seperti ini.

Melihat dia ada dalam pelukannya. Wie Kai menetapkan

hatinya saat ini yang terpenting bukanlah makanan dan

arak.

Tetapi tubuh yang lembut seperti tidak ber-tulang serta

harum.

Sebenarnya dia sudah tahu kapan seorang wanita akan

seperti itu.

Tiba-tiba Wie Kai merendahkan kepalanya dan berkata

dengan suara lirih:

“Mengulang pengalaman yang dulu?”

Lim Leng-ji mengangguk-anggukkan kepalanya lalu

mengangkat dagunya.

Wie Kai lalu menggendongnya.

Kata apa yang bisa melukiskan malam yang demikian

indah ini?

Kasmaran? Terlalu vulgar. Manis? Terlalu umum.

Melayang-layang? Ini malahan lebih melayang-layang

dari sekedar melayang-layang.

Situasi seperti itu sukar untuk dilukiskan.

Keadaan seperti itu tidak bisa dijabarkan dengan katakata.

Lagi pula tidak bisa diingat.

Mengapa di saat yang paling membahagiakan dalam

hidup seseorang, justru tidak bisa memahami diri sendiri

dan tidak bisa menerimanya?

Hanya jika semuanya sudah lewat baru lah bisa mencoba

untuk merasakannya kembali?

Merasakan kembali rasa daging mana bisa dibandingkan

dengan dengan keadaan yang berharga itu?

Sekarang Wie Kai mulai sadar dari mabuknya.

Dia duduk di atas kereta kuda yang mewah.

Angin dingin berhembus tajam masuk ke dalam kereta

itu, membuat dia benar-benar sadar sepenuhnya.

Sebenarnya sedari tadi dia sudah tersadar dari pengaruh

arak.

Sebenarnya dia mabuk oleh kelembutan Lim Leng-ji.

Juga dengan tubuh aduhai nya. Tiba-tiba Wie Kai

memukul sekali kereta kuda itu dengan tenaga yang besar

dan berkata:

“Dia sebenarnya Lim Leng-ji yang mana? Yang polos

atau yang romantis?”

Kereta itu bergoyang, karena dia mau turun dari kereta,

dia segera menarik pintu dari kereta kuda itu melompa t

turun.

Wie Kai sedang ingin berjalan-jalan di jalan raya, supaya

dirinya makin lebih sadar lagi.

Waktu menunjukkan jam dua subuh, Lim Leng-ji

menatap cahaya lilin merah besar yang ada di luar tirai

yang menutup ranjang

Dua batang lilin yang kemarin malam sudah tersulut

habis.

Sekarang sudah diganti dengan dua batang lilin yang

baru dan sudah terbakar hampir setengahnya.

Pandangnya terus menatap lilin itu.

Pandangannya yang menatap api dari lilin itu seakan

bisa membuat lilin itu meleleh.

Pengaruh arak sudah menghilang, pada tubuhnya, ada

rasa letih yang mendera.

Tetapi pandangan mata tidak terlepas dari lelehan lilin

yang turun dari batangnya, kantuk sekali-pun tidak bisa

menghalaunya.

Ketika dia tiba-tiba merasa dirinya telanjang, semacam

perasaan rapuh dan malu seorang gadis segera merambat ke

seluruh tubuhnya.

Dia tidak tahu bagaimana tampangnya saat itu?

Dia juga tidak ingat bagaimana tampang Wie Kai saat

itu?

Guncangan dan kepedihan tidak bisa disama-kan dengan

saat itu.

Dia ingin sekali lagi mengingat kejadian yang terjadi saat

itu.

Tetapi dia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa

itu terlalu sembrono.

Walaupun dia tidak terlalu benci melakukan hal itu,

benar-benar tidak benci.

Dia bergegas mengenakan pakaian dalamnya.

Tiba-tiba seseorang muncul di luar tirai.

Tiba-tiba Lim Leng-ji merasa sedikit malu.

Tentu saja sedikit terkejut pula.

Yang membuatnya malu adalah orang yang datang ini

mungkin melihat semuanya.

Rasa tegang yang terlihat dari orang yang datang itu.

Sepertinya bukan datang untuk memuji dirinya, tidak

diragukan lagi memang seharusnya dia yang harus

menjelaskannya.

Lim Leng-ji bangkit duduk dan berkata:

“A…….”

Kata yang selanjutnya masih belum keluar, orang yang

datang itu memotong perkataannya.

“Kau telah melaksanakan dengan sekuat tenaga!”

Lim Leng-ji berpendapat sekuat tenaga tidak akan berarti

tidak melakukan tugas.

“Terima kasih, A-ih!”( bibi)

“Hanya saja kau melakukannya terlalu sungguhsungguh,

malah jadi kelihatan sedikit rendahan!”

Kata-kata ini sangat bertentangan jika dibandingkan

dengan kata-kata sebelumnya, pembunuh yang membunuh

kepribadian seseorang.

Raut wajah Lim Leng-ji langsung berubah: “Bibi.”

“Jangan memanggilku seperti itu!”

“Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?”

“Terserah!” Pisau berantai sudah ada di tangan. Lim

Leng-ji tiba-tiba menjerit dengan suara melengking:

“Kau lah yang membunuh ayahku…”

Di akhir hayat dia baru menyadari pembunuh ayahnya.

Walaupun kesempatan untuk membalas dendam hampir

tidak ada, tetapi masih lebih baik daripada tidak

mengetahuinya sama sekali.

Dia tahu dia bukan lawannya tetapi dia juga tidak mau

takluk begitu saja.

Di tengah ketakutan dan gemetaran, Lim Leng-ji

mundur sampai ke belakang ranjang.

Lim Leng-ji berhasil mencengkram pisau yang melesat ke

arahnya.

Dengan ada pisau di tangannya, dia merasa tetap saja

bukan tandingannya, sama sekali tidak bisa mengeluh.

Dia melemparkan pisau itu ke arah di mana rantainya

berada.

Sepertinya pihak lawan memang menunggu dia

mengeluarkan jurus itu.

Pembunuh kelas atas memang curang dan cerdik.

Pembunuh bisa membunuh orang dengan dua cara,

pemborosannya sama sekali tidak sampai setengah jurus.

Pisau rantai itu dikibas balik.

Gerakan dan kecepatannya lebih cepat satu tingkat.

Pada saat sebelum pisau itu mengarah ke leher, Lim

Leng-ji mengeluarkan suara parau yang menyedihkan.

Begitu kepalanya melayang, suara parau itupun terputus.

Tubuh mati itu masih belum menyentuh lantai,

pembunuh itu sudah mendesis: “Cepat!”

Seseorang masuk sambil membawa kantung besar yang

terbuat dari kulit rusa.

Orang ini melesat terlebih dulu di udara sambil

memasukkan kepala yang terpotong itu ke dalam kantung,

lalu mengarahkan mulut kantung itu ke arah mayat itu.

Mayat itu pun masuk ke dalam kantung. Dari dalam

kantung terdengar suara darah yang menetes.

Tetapi di atas lantai malah tidak terlihat setetes darah

pun.

Jika seorang pembunuh sudah membunuh orang sampai

tahap seperti itu, barulah disebut pembunuh kelas saru.

Dialah Cia Peng.

Marga dan namanya adalah dua huruf yang sangat

ekstrim. (Huruf Cia dari Cia Peng artinya musim panas,

sedangkan huruf Peng artinya musim dingin/es).

Tidak hanya itu, bahkan pekerjaan yang di-gelutinya pun

sangat bertolak belakang.

Dia membawa bayi yang masih merah datang ke dunia

ini.

Dia juga mengirimkan orang yang tadinya masih hidup

ke alam baka.

Dalam hal hidup dan matinya, terhadap kehidupan

manusia pun memerlukan pengenalan yang mendalam.

Karena itu terhadap kelahiran dan kematian dia tidak

akan peduli.

Sama seperti halnya dengan menerima tamu dan

mengantarkan tamu.

Wie Kai minum arak di tempat usaha lain milik Loo

Cong.

Para pendekar dunia persilatan atau orang-orang

terhormat di dunia persilatan di kota Koh ini dengan

sendirinya pasti memiliki usaha lainnya.

Raut wajah Loo Cong sangat serius.

Wie Kai dan dia telah minum tiga cangkir arak, lalu Loo

Cong hanya berkata satu patah kata saja:

“Apa kabar!”

“Tentu saja kabarku baik!” Wie Kai berkata lagi,

“Bagaimana pendapatmu, jika aku punya perasaan mimpi

lama menghangat kembali, aneh tidak ?”

“Aneh,” Kata Loo Cong

“Aku benar-benar salut padamu!”

“Mari bersulang!”

“Tunggu dulu!” Wie Kai menahan cangkirnya sambil

berkata, “Aku bisa merasakan bahwa kau sama sekali tidak

bahagia.”

“Bagaimana kau bisa tahu aku bahagia atau tidak?”

“Memangnya aku tidak bisa melihat apa kau bahagia

atau tidak?”

“Walaupun iya, orang mana yang tidak pernah tidak

bahagia?”

“Tetapi kau orangnya jarang sekali terpengaruh oleh halhal

yang tidak menyenangkan, terlebih pada saat aku

sedang senang.”

Loo Cong tiba-tiba menghela nafasnya.

“Tolong beritahu aku, Loo Cong. Apa karena masalah

tentang aku dan Lim Leng-ji?”

Loo Cong malah meneguk secangkir arak.

“Loo Cong, jika kau selalu merasa jika dia tidak bisa,

mengapa harus memaksakan diri?”

Loo Cong tiba-tiba berbicara dengan keras:

“Kau anggap apa aku ini? Orang suci? Aku juga punya

perasaan dan emosi!”

Wie Kai duduk sambil melongo.

Sebenarnya Loo Cong lebih pantas jika bersanding

dengan Lim Leng-ji.

Sudah jelas-jelas dia lebih mencintai Lim Leng-ji malah

mengorbankan cinta demi persahabatan.

Wie Kai berkata dengan suara keras: t

“Kau benar-benar menyusahkan orang Iain!”

“Kau tahu apa? Cinta ku padanya tidak akan ada

gunanya.”

“Tidak ada gunanya?”

“Tentu saja, sebab orang yang disukainya adalah kau.”

Wie Kai terdiam sejenak, lalu berkata:

“Dia benar-benar tidak suka padamu?”

“Jika dia suka padaku, apa aku akan menasihatimu?”

“Kau benar-benar orang yang paling mengerti dan

berperasaan di dunia.”

“Bukan, aku adalah orang yang paling kasar, karena itu

setelah kau mendapatkannya aku merasa menyesal dan

kecewa.”

“Loo Cong, itulah yang dinamakan punya pengertian

dan perasaan!”

“Kau tidak mengerti, kau bisa merestui orang lain juga

berani memberitahukan kepedihan hati sendiri kepada

orang lain barulah bisa disebut pengertian dan berperasaan,

cocok disebut karib.”

Kata Wie Kai:

“Loo Cong, aku benar-benar tidak mengerti.”

“Apa yang tidak kau mengerti?”

“Mungkin memang ada masalah pada otakku ini, entah

mengapa aku selalu teringat pada Leng-ji yang kukenal

dulu.”

“Memangnya kau berani mengatakan kau tidak

mengenalnya?”

“Yang kumaksud bukan saat kanak-kanak, lagi pula

perkenalan yang dulu pun bukan perasaan seperti teman

sepermainan, tetapi hubungan antara lelaki dan

perempuan.”

“Bukankah sekarang hubungan di antara kalian

adalahhubungan antara lelaki dan perempuan?”

“Huh! Percuma saja bicara denganmu.”

“Benar! Lagi pula di antara kalian ada gadis yang

bermarga Liauw, sebenarnya bagaimana duduk persoalan

yang sebenarnya?”

“Memangnya kau tidak tahu apa-apa?”

“Kau sendiri bukannya tidak tahu kalau aku orang yang

tidak suka turut campur urusan orang lain.”

“Lalu kalau masalah Leng-ji?”

“Aku selalu berpikir itu adalah urusan yang tidak ingin

aku lakukan.”

“Menurut pandangan orang luar, memang sesuatu yang

tidak ingin dilakukan.”

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Mendiang nyonya Lim Put-hoan dahulu melahirkan

keturunan yang kemungkinan lahir kembar dan bidan yang

membantu kelahirannya adalah istri dari simpanannya

Liauw In yaitu Cia Peng. Tetapi mereka hanya

meninggalkan seorang bayi dan tidak memberi-tahu Lim

Hujin. Lim Hujin hanya tahu dia melahirkan seorang putri

yaitu Lim Leng-ji yang ada di samping-nya. Tujuan mereka

tentu saja ingin merampas Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiautay-

hoat yang menjadi milik keluarga Lim.”

Loo Cong berkata:

“Bukankah Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tay-hoat ada

di keluargamu?”

“Itu hanya kata orang saja, malah aku sendiri pun tidak

tahu, bahkan ada orang yang bilang kalau keluarga Wie

mempunyai lanjutannya.”

Loo Cong menghela nafas dan berkata:

“Ternyata ada saja orang yang kurang kerjaan di dunia

ini.”

“Apakah kau tidak pernah mendengar Liauw In dan Cia

Peng kedua orang ini?”

“Tentu saja pernah.”

“Benarkah mereka pembunuh bayaran kelas satu?”

“Pembunuh bayaran kelas satu terlibat perencanaan

merebut harta sebuah keluarga, ini adalah hal yang baru.”

“Apanya yang aneh, seorang pembunuh pasti bertindak

demi uang. Keluarga Lim memiliki harta yang banyak,

bukan kah itu cukup menjadi alasan daripada membunuh

orang?”

“Apa yang kau katakan memang tidak ada salahnya.”

“Tetapi dengar-dengar di atas mereka masih ada

atasannya.”

“Tentu mahluk yang berkepala dan berwajah.”

“Ada mahluk yang berpura-pura menjadi hantu,

gerakannya sih tidak seberapa tetapi jurusnya itu yang luar

biasa,” Kata Wie Kai.

“Kau pernah bertemu dengannya?”

“Ya.”

“Sempat bertarung?”

“Ya.”

“Kekuatannya bagaimana?”

“Aku percaya jika dibandingkan denganku hampir tidak

ada bedanya, tetapi ilmu meringankan tubuhnya pasti di

atasku.”

“Siau-kai, jangan terlalu membesar-besarkan orang lain.”

Kata Loo Cong mengibaskan tangannya.

“Kenapa? Memangnya kau pikir aku hanya membual?”

“Bukannya membual tetapi ada kalanya kau terlalu

membesar-besarkan.”

“Apa yang kukatakan ini adalah yang sebenar-nya,

paling tidak ilmu meringankan rubuhnya tidak dibawahku.”

Loo Cong menggeleng-gelengkan kepalanya:

“Aku tetap saja tidak percaya.”

“Tidak peduli kau percaya atau tidak, kau tetap saja

temanku yang paling baik.”

“Memangnya tidak ada yang lebih baik dari padaku?”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau juga

temanku yang paling baik, satu-satunya.”

Jam 2 subuh.

Ada orang di atas pohon.

Telah berjanji bertemu setiap tanggal 1 dan 15 setiap

bulannya.

Orang yang di atas pohon itu bukan Wie Kai.

Orang itu adalah Liauw Swat-keng.

Dia setiap hari selalu berharap tetapi waktu serasa

berlalu dengan lambat.

Anak muda sekali jatuh cinta sama seperti lampu lentera

yang menyala.

Sekilas angin berhembus, di atas pohon sudah bertambah

satu orang lagi.

Liauw Swat-keng menengok sambil berkata:

“Bagaimana kau…..”

Orang yang baru datang itu menutup mulutnya dan

berkata di telinganya:

“Hati-hati! Liauw In dan Cia Peng adalah pembunuh

kelas satu.”

Liauw Swat-keng berkata:

“Aku sudah menunggumu selama satu jam.”

“Sekarang baru jam 2, siapa yang menyuruhmu datang

lebih pagi?” tanya Wie Kai.

Hari masih gelap sehingga tidak terlihat bagaimana

merah muka Liauw Swat-keng.

“Dua orang itu ada di rumah.”

“Mereka tidak menyusahkan kalian?”

“Tidak, hanya mengeluarkan peringatan saja.”

“Ada rahasia apa yang bisa kau beritahukan padaku?”

Tanya Wie Kai.

“Ada satu hal yang sangat… sangat aneh.”

“Hal apa?”

“Kau harus baik padaku, baru aku akan bicara.”

“Memangnya aku masih kurang baik pada-mu?”

“Baik apanya? Begitu datang langsung bicara serius,

sama sekali tidak menghiburku. Apakah kau tahu

bagaimana hidupku selama setengah bulan ini?”

“Aku tidak begitu bisa menghibur orang lain, terutama

pada perempuan.”

“Aku tidak peduli!” Dia bersandar pada pundak Wie Kai.

Wie Kai tidak mendorongnya menjauh. “Bicaralah!”

“Pada saat Sang Sin diperintahkan untuk mengemban

tugas keluar, di sebuah kota besar dia menemukan suatu hal

yang aneh.”

“Hal aneh apa?”

“Lim Leng-ji sedang bernyanyi di atas pentas, bahkan

sampai memiliki grup theater sendiri.”

Wie Kai terkejut, apakah dia lagi-lagi sedang bermimpi?

“Bagaimana Sang Sin tahu kalau itu adalah Lim Lengji?”

Liauw Swat-keng sengaja mendekat padanya dan

berbicara di samping telinganya:

“Sang Sin hanya pernah 4-5 kali melihat Lim Leng-ji,

termasuk dulu saat kau menghadang keretanya di jalan.”

Wie Kai terdiam agak lama.

Dia benar-benar tidak tahu apakah dirinya benar-benar

masih berada di alam mimpi.

Dia jelas tidak akan percaya Lim Leng-ji yang sedang

naik pentas sama dengan Lim Leng-ji yang ada di kota

Koh, lebih tidak percaya lagi dengan Lim Leng-ji yang

bersamanya malam kemarin.

Apakah ketiga Lim Leng-ji ini adalah Lim Leng-ji yang

sama?

Atau kah dua di antaranya adalah satu orang?

Jika secara sekilas memang ada tiga orang, tapi

kemiripan mukanya! Dia sendiri sekarang jadi pusing tujuh

keliling.

“Ada hal penting yang lain?”

“Hanya itu.”

“Itu saja sudah cukup.”

“Tadinya aku tidak ingin memberitahumu tentang

hal ini.

“Mengapa?”

“Apalagi kalau bukan takut kau pergi untuk

membuktikannya?”

“Jika kau sudah mengatakannya, tentu saja aku akan

pergi untuk memastikannya.”

“Mengapa?”

“Bukankah orang yang mirip dengan Lim Leng-ji yang

ada di kota Koh juga mirip denganmu ?”

“Aku tidak kepikiran sampai ke sana.” Liauw Swat-keng

berkata:

“Mungkin kau benar, apakah mungkin gadis ini juga ada

hubungan darah denganku?”

“Jika kedua gadis lainnya pun ternyata ada hubungan

saudara denganmu, bagaimana perasaan-mu?”

Liauw Swat-keng berpikir sejenak lalu berkata:

“Jika itu benar, maka aku akan menangis!”

Jawaban sebagian besar wanita pasti begitu.

Bagaimana mungkin muncul lagi Lim Leng-ji yang lain?

“Apakah gadis itu juga sama bernama Lim Leng-ji ?”

Tanya Wie Kai.

“Tentu saja bukan, nama panggungnya adalah Hui Cuihoa,

terkenal dari selatan sampai ke utara.”

“Jika begitu terkenal, mengapa tidak pernah terdengar

sebelumnya ?”

“Pertama, dia belum lama keluar, juga baru pertama kali

datang merambah ke wilayah utara.”

“Siapa nama aslinya?” Tanya Wie Kai.

“Kalau tidak salah sepertinya Sebun Long.”

“Nama yang bagus!”

“Kau malah berkata nama itu bagus!”

Wie Kai tidak menyahut.

Tetapi dia berani bertaruh kalau gadis yang ada dalam

ingatannya pasti dia.

-ooo0dw0ooo-

BAGIAN II

BAB I

Di sebuah gedung pertunjukan.

Ini adalah gedung pertunjukan yang paling lama tetapi

juga yang paling terkenal yang ada di kota ini.

Grup-grup terkenal yang dipanggil ke kota Koh ini pasti

akan tampil di gedung ini.

Seebun Long memiliki ruang rias pribadi.

Ruangan ini hanya digunakan oleh anggota utama dari

grup pertunjukan ini.

Dia sedang duduk di hadapan sebuah cermin dan

menanggalkan atribut pentas di atas kepalanya satu persatu.

Pada saat itu ada seseorang yang masuk dari luar

kemudian menutup pintu.

Orang ini adalah seorang pemuda yang gagah yang

memiliki sikap kurang ajar serta pandangan mata

keranjang.

Di pinggangnya tersoren sebilah golok panjang.

Di saat seperti ini di tempat seperti ini, ternyata bisa

datang seorang pemuda yang di pinggangnya tersoren

sebilah golok panjang.

Pemuda itu sama sekali tidak tersenyum tetapi Seebun

Long justru tersenyum padanya di hadapan cermin.

Seebun Long sangat percaya pada dirinya bahwa bila dia

tersenyum kepada siapa pun, pasti perasaan orang itu akan

luluh tanpa kecuali.

Bahkan bagi yang tidak kuat, bisa sampai melompat

setelah melihat senyumnya.

Pemuda itu duduk di sandaran tangan pada sebuah kursi.

Seebun Long memasang raut wajahnya yang paling

menarik. Tetapi pemuda itu sama sekali tidak tertarik

memandang raut wajah Seebun Long, dia berkata: “Apakah

kita pernah saling mengenal sebelumnya?”

Jawab Seebun Long sambil tertawa kecil:

“Kau boleh melupakan sudah berapa kali kita naik ke

atas ranjang yang sama, tetapi kau justru tidak boleh

menanyakan hal seperti ini.”

“Apakah kau mengenal Lim Leng-ji?” tanya Wie Kai.

Seebun Long mengerutkan alisnya:

“Kau ini bicara apa?”

“Kalau begitu, kau tidak mengenalnya?”

“Ada apa denganmu hari ini?”

Tiba-tiba Wie Kai teringat sesuatu hal.

“Apakah hal itu masih berlanjut?” Wie Kai ingin

memastikan apakah benar-benar hal itu terjadi di saat dia

sendiri tidak bisa memastikan apakah benar ada kejadian

seperti itu.

“Bagi laki-laki jantan, mengapa sama sekali tidak ada

keteguhan hati?” kata Seebun Long dengan sedikit kesal.

“Apa sebenarnya yang kau bicarakan?” Tiba-tiba Seebun

Long bangkit berdiri dengan marah lalu berkata:

“Sesudah semuanya diperoleh, lalu kau mau mundur?”

Wie Kai sama sekali tidak bisa berkutik, dia hanya bisa

berkata:

“Di mana?”

“Malam ini aku akan membawamu ke sana.” Seebun

Long berkata dengan ketus, “Siau-kai, jangan lupa! Kali ini

kulakukan hanya demi dirimu!”

Demi dirinya? Wie Kai sendiri tidak begitu jelas.

Wie Kai berjalan keluar dari gedung itu.

“Wie-tayhiap, Wie-ya, tolong tunggu sebentar.”

Wie Kai membalikkan kepalanya, seseorang yang

memiliki raut wajah seperti kera telah mengejar-nya.

Orang itu sepertinya tidak asing lagi tetapi entah

mengapa dia tidak bisa mengingatnya.

“Wie-ya, jika kau tidak keberatan mohon pinjamkan aku

10 tail.”

Tanpa ragu-ragu Wie Kai langsung bertanya:

“Siapa namamu?”

Orang yang berwajah seperti kera itu berkata sambil

menundukkan kepalanya:

“Namaku adalah Yu Siau-go, seorang Hu-cou (badut

pesilat dalam opera Tiongkok). Orang penting seperti Wieya

pasti sudah lupa.”

“Oh, ternyata kau Yu-heng,” Dia mengeluarkan uang

sebanyak 4 tail perak dan menyodorkannya ke tangan Yu

Siau-go yang terbuka sambil berkata:

“Aku hanya punya segini.”

“Terima kasih Wie-tayhiap! Hanya saja masih belum

cukup.”

“Aku tahu tidak cukup, tapi yang kupunya hanya

sebanyak ini.”

Yu Siau-go menatap bayangan punggung belakang Wie

Kai sambil menimbang-nimbang 4 tail yang ada di

tangannya lalu membuang ludah sambil berkata:

“Cuh! Dasar pelit!”

Belum jauh Wie Kai berjalan, tiba-tiba di depannya ada

sebuah kereta kuda yang melintas dengan cepat.

Orang yang berada di atas kereta itu sepertinya tidak

asing.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Wie Kai menepuk

dahinya seraya berkata: “Dia Sangguan Lie.”

Tidak salah, orang itu memang pedagang besar yang

sangat terkenal di kota ini yaitu Sangguan Lie.

Sudah kaya, ilmu silatnya pun tinggi.

Reputasi Sangguan Lie seperti angin dahsyat yang

menyapu bersih enam propinsi di wilayah utara.

Wie Kai segera berganti haluan berjalan ke arah lain.

Saat ini, tidak boleh ada orang tahu bahwa dia pernah

berpapasan dengan kereta kuda Sangguan Lie.

Tetapi begitu hendak memasuki jalan yang panjang ini,

biji matanya tiba-tiba membesar.

Tatapan matanya terpaku pada tubuh seorang pemuda

dan juga wajahnya.

Sangguan Lie tadi jelas-jelas mengarahkan kereta

kudanya pergi ke arah utara, tetapi mengapa malah berada

ditempat ini?

Apa orang ini benar-benar Sangguan Lie?

Hanya saja orang ini tidak sedang mengendarai kereta

kuda dan lagi pula pakaiannya sama sekali berbeda.

Walaupun pakaian atasnya hampir serupa tetapi pakaian

Sangguan Lie yang sebelumnya adalah pakaian yang mahal

bersulamkan huruf ‘Hok’ sedang-kan yang ini tidak, di

tambah lagi orang ini hanya memakai sepatu biasa dan

bukan sepatu mahal.

Jika saja Wie Kai bukan orang yang teliti, maka tidak

ada seorang pun yang akan memperhatikan detail seperti

ini.

Bahkan pasti mengatakan persis sama.

Bahkan kantung tempat menyimpan uangnya pun

berbeda.

Apakah di dunia ini ada hal aneh seperti ini? Lim Leng-ji

adabeberapa orang. Sangguan Lie pun ternyata ada dua

orang.

Wie Kai buru-buru berbalik arah mengejarnya.

Tapi Sangguan Lie yang ini sudah menghilang.

Otak Wie Kai dibuat pusing tujuh keliling. Dendam

keluarga Lim Leng-ji masih belum terbalas-kan, sekarang

muncul lagi beberapa Lim Leng-ji.

Baru saja menemukan sedikit titik terang, dia sudah

berhubungan terlalu dalam dengan gadis yang lemah

lembut seperti Seebun Long.

Tetapi mereka melakukannya demi tujuan tertentu,

bukan hanya untuk harta Sangguan Lie.

Kereta kuda Sangguan Lie kembali dan masuk ke dalam

sebuah rumah besar.

Istrinya Liu Eng keluar menyambutnya.

Raut wajahnya terdapat jejak bekas air mata, pasti di

rumahnya telah terjadi sesuatu.

Sangguan Lie telah bercerai dengan istrinya yang

pertama sebelum dia mengambil Liu Eng sebagai istrinya

lagi.

Dari luar hubungan suami istri ini terlihat cukup baik.

Hanya saja suasana hati Sangguan Lie sering berubahrubah.

Sangguan Lie tidak setiap hari marah-marah, ada

kalanya dia tertawa senang.

“Tuan, Siau-liong belum kembali. Aku sudah pergi ke

tempatnya guru Sun tetapi tidak bertemu. Kata Guru Sun

dia sudah pulang sekolah.”

Sangguan Lie murka.

Mungkin sepanjang hidupnya baru kali ini dia murka

sebesar ini.

Dengan marah dia membentak:

“Apa yang kau lakukan dari tadi?”

“Tuan, aku kan sudah pergi mencari kesana-kemari, aku

kan tidak berbuat salah.”

“Jika dia anak yang kau lahirkan, tidak mungkin kau

tidak mempedulikan seperti ini!”

“Tuan, mengapa berkata seperti itu?”

“Mengapa? Kalau hilang bagaimana? Apa kau bisa

melahirkan satu lagi?”

Dan Seebun Long melakukannya untuk dirinya. Wie Kai

tidak bisa tidak kagum padanya.

“Tuan, mungkin dia sedang bermain sebentar entah

kemana, sebentar lagi mungkin akan pulang. Aku juga kan

bukannya tidak bisa melahirkan.”

“Tetapi aku…..” Baru setengah kalimat terucap, dia tibatiba

merubah kata-katanya, “Suruh semua pegawai yang

ada di rumah ini pergi mencari-nya!”

“Baik, tuan.”

Sangguan Lie memasuki ruang tamu dan sebuah surat

berada di atasmejanya.

Isi dari surat ini sangat sederhana.

Yang pertama-menghendaki 500 tail emas.

Yang kedua-menghendaki sebuah kantung kulit naga

yang tersegel.

Segelnya entah menggunakan bahan apa, kecuali dengan

cara dipotong, jika tidak maka kantung ini tidak akan bisa

dibuka.

Dulu sewaktu Sangguan Lie menerima kantung ini untuk

disimpan, dia di pesan, apa pun yang terjadi sampai

kepalanya hilang sekalipun, kantung ini tidak boleh sampai

hilang.

Bukan hanya sekedar kepala tetapi nyawapun

taruhannya.

Inilah pemerasan yang meminta tebusan.

Begitu memikirkan kata ‘tebusan’, dalam benak nya

terbayang kepala Siau-liong yang terbang melayang.

Dia benar-benar mau gila rasanya. Orang yang

menitipkan kantung ini adalah kakak seperguruannya.

Liu Eng berkata jika Siau-liong hilang, dia masih bisa

melahirkan satu lagi. Tetapi walaupun dia bisa melahirkan

Siau-liong yang lain, tetap saja tidak bisa dibandingkan

dengan yang ini.

Alasan untuk hal ini hanya dia yang tahu, tidak boleh

ada orang kedua yang tahu. Ada uang sebanyak apa pun

tidak ada yang bisa menggantikannya.

Sebenarnya berapa banyak usaha Sangguan Lie?

Mungkin dia sendiripun tidak terlalu jelas.

Terlalu banyak uang juga merepotkan.

Terlalu sedikit uangjuga menyulitkan.

Untuk menghindar dari kesulitan, yang paling ideal

adalah memiliki uang yang tidak terlalu banyak pun tidak

terlalu sedikit.

Tempat ini boleh dikatakan sebagai kaki langitnya (pusat

kota) kota Koh, daerah yang terbesar di dalam kota Koh.

Tidak jauh dari situ ada sebuah gedung pertunjukan dan

di dalamnya ramai terdengar suara orang yang bertanding

silat di atas pentas.

Orang separuh baya ini membuka pintu ruang tamu dan

baru saja hendak menyalakan lentera. Tiba-tiba ada orang

yang membuka suara:

“Untuk apa menyalakan lentera?”

Begitu orang separuh baya ini mendengar, dia mundur

dua langkah seraya berkata:

“Siapa?”

“Orang sendiri!”

Orang separuh baya itu berkata:

“Sepertinya kau belum tahu siapa aku?”

“Jika tidak tahu kau adalah Sangguan-tayhiap, untuk apa

aku kemari?”

“Jika sudah tahu aku Sangguan Lie, bukankah lebih baik

menyalakan lentera dulu baru kita bicara?”

“Menyalakan lentera atau tidak memang ada bedanya?”

“Apa maksud perkataan itu?”

“Masa Sangguan-tayhiap tidak mengerti?”

“Aku Sangguan Lie selama ini mengekang diri untuk

tidak mudah terpancing marah.”

“Memangnya dulu bagaimana kau bisa terpancing

marah?”

“Aku sudah cukup bersabar, sebenarnya apa mau

kalian?”

“Aku datang justru mau mengambil uang tebusan.”

Sangguan Lie berkata:

“Uang tebusannya sudah diantarkan.”

Orang itu tertawa rendah sambil berkata:

“Apakah Sangguan-tayhiap sendiri yang

mengantarkannya?”

“Betul.”

“Kalau begitu siapa nama Sangguan-tayhiap?”

Sangguan Lie menjadi marah dan berkata: “Memangnya

siapa lagi yang memakai nama Sangguan Lie?”

“Kau benar-benar Sangguan Lie?” ^’

Sangguan Lie benar-benar naik pitam.

Orang yang datang itu lagi-lagi tertawa: “Memangnya

kau pikir aku tidak mengenal pendekar dunia persilatan

Sangguan Lie?”

“Bagus kalau kenal, nyalakan lenteranya!”

“Bukankah sudah kukatakan, terang atau tidak kan tidak

ada bedanya?”

“Apa maksud dari perkataan itu?”

“Jika menyalakan lentera tentu saja bisa terlihat bahwa

kau adalah Sangguan Lie, kalau tidak istrimu Liu Eng tidak

mungkin mau seranjang dengan orang yang tidak jelas asalusulnya?”

Sangguan Lie terguncang baik jiwa maupun raganya,

serasa hend ak pingsan.

Orang yang datang itu berkata:

“Bagaimana? Apa rahasia ini cukup berbobot?”

“Ng!”

“Numpang tanya, jika rahasia ini tersebar di dunia

persilatan, mau ditaruh di mana muka Sangguan Tay-ya

yang sekarang ini?”

Sangguan Lienaik pitam, dengan kasar berkata:

“Omong kosong!”

Orangitu malah berkata dengan dingin:

“Kenyataan sudah di depan mata, untuk apa kau

menyangkalnya? Apakah aku harus mengatakan-nya satu

persatu di hadapanmu?”

“Sobat, coba saja kau katakan, lagi pula hari ini aku

sedang senggang,”

Orang itu berkata:

“Sangguan Tay-ya, beberapa tahun yang lalu pernah

bertarung dengan musuhnya sehingga mengalami luka yang

cukup berat sampai tidak bisa dikenali. Nama panggilan

aslimu sebenarnya adalah Le dan karena sampai tidak bisa

dikenali lagi maka kau mengubah namamu menjadi

Sangguan Lie.”

Sangguan Liesama sekali tidak bersuara. Orang itu

berkata:

“Kami khawatir kau tidak mau memberikan tebusan,

maka mau tidak mau berbuat seperti ini.” Dia menghela

nafas sambil berkata lagi, “Hati orang itu kan terbuat dari

daging, siapa pula yang benar-benar mau mengusik rahasia

seseorang?”

“Yang mau dikatakan sudah kau katakan, masih berani

berkata tidak mau mengusik rahasia orang lain?” kata

Sangguan Lie

“Paling tidak ada beberapa hal lainnya yang belum aku

katakan.” Kata orang itu.

Pada saat itu jendela tiba-tiba terbuka dan ada sesosok

bayangan yang masuk ke dalam.

Orang itu langsung menyerang orang yang telah datang

sebelumnya.

Kedua orang itu bertarung sambil melenting ke segala

penjuru.

Gerakan tubuh dan kecepatan mereka berdua bisa

diketahui dari pergerakan udara di ruangan itu.

Orang yang telah datang lebih dulu mengeluarkan suara

terlebih dahulu:

“Kau adalah ketua….”

Orang yang datang belakangan menyapukan kakinya

leber-lebar, tepat di bagian ginjalnya. ?

Belum juga jatuh tersungkur ke lantai, orang yang datang

belakangan sudah mencengkramnya dan membawa orang

itu keluar melewati jendela.

Orang yang bernama Sangguan Lie sama sekali tidak ada

kesempatan untuk bergerak.

Kejadian ini terjadi begitu cepat, sampai dia sama sekali

tidak sempat menggerakkan tangannya, apalagi menutup

mulutnya.

Lagi pula begitu mendengar kata terakhir yang

diucapkan orang yang datang duluan itu, diapun sudah

tidak perlu turun tangan lagi.

Ini adalah pantai yang sunyi.

Sebuah perahu kecil tertambat di celah batu karang.

Perahu itu sangat kecil, sehingga kabinnya hanya cukup

untuk menampung tidur tiga orang saja. Yang laki-laki

adalah Wie Kai. Yang perempuan tentu saja Seebun Long.

Lalu ada seorang lagi anak laki-laki yang sangat manis,

kurang lebih berumur 4-5 tahun.

Ketiga orang itu sedang mendengarkan suara ombak

yang sedang menghantam badan kapal.

Suara itu sepertinya memancarkan perasaan yang

berbeda-beda dari ke tiga orang itu.

Seebun Long menahan anak ini demi Wie Kai.

Seharusnya dia merasa menyesal setelah melihat

penderitaan yang diderita anak ini tetapi dia malah tidak

ada bergerak sama sekali.

Demi kitab silat Pit-kiau-tay-hoat dan Kai-kiau-tay-hoat

yang hilang, Wie Kai terpaksa berbuat demikian.

Hanya anak ini saja yang tidak bersalah.

“Aku ingin pulang!”

Siau-liong memohon untuk pulang.

Seebun Long memandangi Wie Kai lalu berkata:

“Siau-liong, besok kita akan mengantarmu pulang.”

“Tidak mau, aku mau pulang sekarang.”

Walaupun Seebun Long adalah orang yang romantis,

tetapi terhadap Siau-liong ternyata dia luar biasa sabar.

Karena itu Wie Kai lagi-lagi menyadari kalau mereka

berdua tidak bisa terpisahkan. Ini karena mereka berdua ada

sedikit kemiripan. ?

Dia tidak tahu bagaimana cara Seebun Long mengatasi

hal ini.

“Aku mau pulang! Ayah, di mana kau berada?” Bibir

Siau-liong mulai bergetar. Ibunya yang sekarang adalah ibu

tiri jadi dia sangat dekat dengan ayahnya Sangguan Lie.

Seebun Long merangkulnya sambil berkata: “Siau-liong,

bibi besok pasti akan mengantar-mu pulang, bibi sangat

sayang padamu!”

“Tidak mau! Kau orang jahat!”

Seebun Long memandang pada Wie Kai, dia merasa

serba salah.

Wie Kai mengangkattangannya sambil berkata: “Di mata

seorang anak kecil, kita berdua memang orang jahat.”

“Jangan bicara omong kosong! Cepat kemari bujuk dia!”

“Kau saja tidak bisa, apalagi aku?”

“Apakah kau lupa kalau semua ini aku lakukan hanya

untukmu?”

“Lain kali kau jangan melakukan hal seperti ini lagi

untukku.”

“Lalu memangnya kau mau mengantarkannya pulang?”

Tanya Seebun Long

“Jika kau setuju, aku akan langsung mengantarkannya.”

Seebun Long menghela nafasnya dan berkata: “Mengapa

kau selalu saja bersitegang denganku?”

“Kau jarang sekali bersitegang terhadap apa pun.” Kata

Wie Kai.

“Aku mau pulang, aku mau pulang, aku mau pulang…..”

kata Siau-liong.

Baru saja kalimat ketiganya selesai, Wie Kai langsung

menotok nadinya.

Yu Siau-go dengan tampang yang menjengkel-kan

berjalan di kabupaten Lam-kong.

Dia langsung terkena masalah.

Orang yang melayaninya adalah orang separuh baya dan

dia membawanya ke sebuah bangunan kecil dan berkata:

“Kau orang kelompok Lian-seng ?”

“Ya, numpang tanya siapa nama anda tuan polisi?”

“Namaku TonghongTa-cing.”

“Ternyata Tonghong Cong-pu-thauw (kepala polisi), aku

hanyalah seorang Hu-cou, namaku Yu Siau-go”

“Nama yang bagus.”

“Ah, tidak. Nama anda lah yang sangat bagus.” “Ketua

kelompokmu orang daerah mana? Siapa namanya?”

“Kalau tidak salah dengar dia lahir di Ho tetapi sudah

bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kakinya ke

sana, namanya Suma Hen.”

“Pengurus kelompok lahir di Ho juga?”

“Namanya Liu Ie-sen.”

Tiba-tiba Tonghong Ta-cing berdiri dan berkata: “Ikut

denganku sebentar!”

Dia dibawa lagi ke sebuah ruangan yang di tengahnya

terdapat sesosok mayat manusia. Yu Siau-go terkejut sekali.

Tonghong Ta-cing berkata seraya menunjuk kepada

mayat itu:

“Apakah dia Liu Ie-sen dari Ho?”

Yu Siau-go benar-benar menyesal telah menu-ruti

perintah Sangguan Lie melapor ke polisi. Dia berkata:

“Itu….atu…..atu memang dia.”

“Tidak salah?”

“Tidak mungkin salah. Cong-pu-thauw, bagaimana dia

bisa mati?”

“Dibunuh orang.”

“Omong kosong’ Yu Siau-go memaki di dalam hatinya.

Tonghong Ta-cing menunjuk pada bagian bawah tubuh

mayat itu sambil berkata:

“Bagian luar pada bagian ginjalnya cedera hingga rusak.”

Yu Siau-go mengerutkan alisnya sambil sedikit

mengusap-usap bagian ginjalnya. Tonghong Ta-cing

berkata:

“Mengapa Sangguan Tayhiap tidak memanggil yang

lainnya datang kemari, malah justru menyuruh-mu untuk

melaporkan perkara ini?”

Jawab Yu Siau-go:

“Karena kelompok kami sedang mengadakan atraksi di

gedung pertunjukan milik Sangguan Tay-hiap, semua orang

sudah tahu hal ini.”

“Cuma karena alasan itu?”

Yu Siau-go tahu kalau orang ini sangat lihai, lalu

berkata:

“Sangguan Tayhiap memang ada kalanya menyuruhku

lari pontang panting kesana kemari demi dirinya, dia hanya

perlu mengangkat jarinya sedikit untuk memerintahku.”

“Bagaimana hubungan antara Sangguan Tay-hiap

dengan dengan pengurus Liu Ie-sen?”

“Sangat baik!”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Hujin masih sangat muda, cantik, dan berbudi luhur.

Bagaimana mungkin tidak baik?” “Hanya kulit luarnya

saja.” Yu Siau-go menatap tajam pad anya. ‘Jika tidak

percaya untuk apa bertanya pada-ku?’

Begitu Yu Siau-go pulang, ketua kelompok Lian-seng,

Sama Hen, baru datang.

Usianya kurang lebih 40th-an, tinggi tubuhnya sedang.

Setelah melihat mayat itu, pandangan mata Suma Hen

berkabut, katanya:

“Kemarin dia masih baik-baik saja, sebenarnya siapa

yang telah melakukan ini padanya?”

“Siapa yang tahu?” kata Tonghong Ta-cing.

“Mohon Cong-pu-thauw segera menemukan pelakunya

untuk diadili atas perbuatannya.”

“Tentu saja. Kalau boleh tahu, bagaimana kepribadian

dari korban?”

“Dia orang yang sangat sopan.”

“Tidak pernah berselisih dengan anggota yang lain?”

“Sejauh ini tidak pernah. Cong-pu-thauw, boleh kah

kubawa jasadnya pulang?”

“Tentu saja boleh.”

“Kalau begitu aku akan pulang dulu memang-gil orang

untuk membawa jasad ini pulang.”

Begitu Suma Hen keluar dari ruangan, Tong-hong Tacing

berkata kepada Kao Hie bawahannya: “Coba uji dia.”

“Baik.” Kao Hie selalu merasa isi otak Tonghong Ta-cing

selalu lebih banyak daripada orang lain.

Suma Hen berjalan tidak cepat juga tidak lambat.

Begitu memasuki sebuah lorong, langkah kakinya

menjadi lebih cepat.

Kondisinya pada saat dia datang sama dengan pada saat

dia pulang, tidak sedih juga tidak gembira.

Di belakangnya datang seseorang, langkah kakinya pun

tidak lambat.

Keadaan ini berlalu beberapa saat, kemudian tiba-tiba

orang yang di belakangnya mulai bertindak.

Gerakannya sangat cepat juga sangat lincah, sampai

membuat tubuh Suma Hen terhempas.

Tapi Suma Hen hanya berguling di tempat, lalu setengah

berjongkok di atas tanah.

Gerakannya boleh dikatakan tidak lambat juga.

“Mau apa kau?”

“Maaf!” KaoHie berkata, “Salah kenal orang.”

Suma Hen menatapnya sejenak, lalu berkata: “Lain kali

kalau keluar rumah jangan lupa bola matanya dibawa!”

“Bagaimana?” tanya Tonghong Ta-cing sedang

menunggu laporan dari Kao Hie.

“Tidak terbaca sepenuhnya.”

“Sedikit pun tidak terlihat?”

“Setidaknya dia pasti bisa silat 2-3 jurus.”

OooodwoooO

BAB II

Dalam hal tebusan dan mengurus anak, Wie Kai dan

Seebun Long saling berbagi tugas.

Wie Kai bagian tebusan dan kantung kulit naga.

Seebun Long bagian mengurus anak.

Entah mengapa Wie Kai merasa perhatian Seebun Long

terhadap anak itu agak kelewatan.

Jika sudah menganggap anak itu sebagai tebusan tapi

justru malah terlalu diperhatikan, jadi memang terasa

sedikit berlebihan.

Malam semakin larut.

Jarak tempat penyerahan tebusan dengan sisi pantai

hanya 1/2 Li.

Mereka sudah sepakat jika tebusan telah diserahkan

maka dia akan mengeluarkan suara kicauan burung

sebanyak 3 kali, setelah itu Seebun Long baru melepaskan

sandera.

Wie Kai bersembunyi di balik sebuah layar besar.

Sebuah bayangan hitam datang mendekat.

Dia sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya sedang

dilakukan?

Tetapi yang pasti dia sebenarnya tidak ingin melakukan

hal ini.

Orang yang datang itu berdiri di depan layar tetapi tidak

masuk ke dalam, berkata:

“Sangguan Lie datang membawa tebusan.”

Wie Kai mengenakan sebuah caping besar, ditambah

gelapnya malam, orang itu tidak mungkin bisa

mengenalinya. Dia pun keluar dari balik layar.

Kedua belah pihak saling menatap.

Sangguan Lie menjatuhkan dua buah kantong. Kantong

yang pertama itu berisikan kepingan uang yang sangat berat

sampai melesak ke dalam pasir di tanah.

Kantong yang satu lagi sangat ringan.

Sangguan Lie berkata:

“Inilah uang emas sebanyak 500 tail dan sebuah kantong

kulit naga.”

Wie Kai mengibaskan tangannya menyuruh dia untuk

mundur selangkah.

Walaupun Sangguan Lie kesal tetapi hanya bisa

menahan diri dan terpaksa menurut.

Wie Kai terlebih dulu mengambil kantong kulit naga.

Yang paling menarik perhatiannya adalah benda ini.

Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam

kantongnya dalam-dalam.

Tiba-tiba dia menyentuh sebuah benda yang dingin,

lentur dan lembek.

Wie Kai sangat terkejut, buru-buru menarik tangan

kirinya kembali. Untung saja tangannya masih utuh.

Tentu saja dia tahu yang ada di dalam kantong tadi tidak

mungkin ular beracun biasa.

Tetapi walaupun ular beracun biasa, tadi telah

menggigitnya tiga kali, jika dalam 2 jam tidak segera

ditolong mungkin hidupnya tidak akan tertolong lagi.

Pada saat yang bersamaan, sebuah pedang emas

berkelebat menyerang.

Wie Kai menghindar serangan pedang pertama, kedua,

lalu ketiga.

Dia terpaksa melepaskan kantong kulit naga yang telah

dipegangnya tadi ke tanah.

Tetapi Wie Kai tidak ingin bertarung dengan-nya.

Alasannya adalah di antara mereka sama sekali tidak ada

dendam ataupun benci, orang itu menggunakan ular hanya

karena ingin melindungi miliknya dan tidak ingin sampai

direbut orang lain.

Wie Kai sangat mengerti akan hal ini.

Tetapi Sangguan Lie sama sekali tidak berpikir demikian.

Dia sangat ingin menghabisi Wie Kai, dia benci orang ini

karena telah membuat dia ketakutan dan membuat derita

anak tercintanya selama beberapa hari.

Dia berpendapat dengan membunuh orang ini maka dia

bisa menyelamatkan anak tercintanya.

Tetapi serangan pedang yang ke empat belum keluar,

tiba-tiba ada sebuah bayangan besar yang muncul dan

mengambil kantong kulit naga yang ada di atas tanah itu.

Baik Wie Kai mau pun Sangguan Lie sama-sama melihat

bahwa bayangan itu tidak berkepala.

Bayangan besar tidak berkepala itu sudah tidak asing lagi

bagi Wie Kai.

Tetapi lain halnya dengan Sangguan Lie, dia terkejut

sambil berkata:

“Inilah barang tebusan untuk anakku….”

Gerakan bayangan tanpa kepala sangat cepat bagaikan

angin, tiba-tiba dia mengarahkan jarinya ke arah pantai

seakan ingin mengatakan bahwa anaknya berada di dalam

perahu kecil yang ada di sana.

Sangguan Lie terpaku sejenak.

Wie Kai dengan cepat mendekati bayangan tanpa kepala

itu.

Wie Kai tahu dirinya terkena racun ular sehingga

membuatnya sukar untuk bertarung.

Tetapi dia sangat penasaran terhadap mahluk misterius

ini.

Menurutnya, orang ini adalah mahluk yang aneh, bisa

jadi dia lah orang yang memegang kendali di balik semua

ini.

Wie Kai merasakan firasat buruk akan hal ini.

Memangpada dasarnya dia orangyang cerdas.

Jika bukan karena ingatannya yang kadang muncul

kadang hilang, dia pasti sudah menjadi orang yang sangat

terkenal.

Dalam mengejar orang, itu artinya dia harus adu ilmu

meringankan diri.

Untuk mengatasi racun ular, dia mengerahkan tenaga

dalamnya ke salah satu tangannya dan men-desak racun itu

keluar.

Bayangan tanpa kepala itu sambil merampok sambil

mengeluarkan suara kicauan burung sebanyak tiga kali.

Saat itupun Wie Kai menyadari kalau taktiknya dengan

Seebun Long sudah terbongkar.

Tetapi dalam situasi seperti ini dia pun tidak bisa

memberitahu Seebun Long untuk tidak melepas-kan

sandera.

Bayangan tanpa kepala dengan cepat melesat masuk ke

dalam hutan dan tiba-tiba dari dalam hutan muncul lagi

sesosok bayangan kecil pendek yang juga tidak berkepala.

Golok berantai.

Wie Kai terpaksa mengeluarkan goloknya.

Walaupun baru mengeluarkan golok berantai tetapi

sudah dapat dipastikan kemampuan orang ini tidak berada

di bawah Sangguan Lie.

Tetapi sialnya setelah Wie Kai mncabut golok-nya, dia

tidak bisa mengeluarkan racun ular dari tangannya.

“Trang…trang…trang…” terdengar suara golok beradu

disertai percikan sinar akibat gesekan kedua benda itu.

Leher bayangan tanpa kepala itu tertebas setengah tetapi

yang tertebas ternyata hanya sebongkah kayu.

Entah takut kepalanya keluar atau tertebas, bayangan itu

segera menarik golok berantainya dan melesat masuk ke

dalam hutan.

Bayangan tanpa kepala yang bertubuh besar yang ada di

dalam hutan sepertinya orang yang rada aneh, dia

menimbang-nimbang kantung yang telah dibuka tadi.

Di dalam kantung itu terdapat dua buah buku, tetapi

setelah dibuka di dalamnya tidak ada huruf sama sekali.

Dia mendengus lalu membuangnya ke tanah. Tetapi

seketika itu dipungutnya kembali dan kemudian

menghilang dalam kegelapan malam.

Pada saat yang bersamaan.

Sangguan Lie telah melihat ada sebuah perahu kecil yang

tertambat di pinggir pantai.

Dan di atas perahu itu terdapat sinar lentera.

Sangguan Lie berpendapat orang aneh yang merampas

kantung kulit naga tadi menunjuk, memberikan pengarahan

padanya, lagi pula sebelum merampas kantung tadi dia

sudah mengetahui rahasia dari para penculik ini.

Oleh karena itu dia percaya pada petunjuk orang aneh

itu. Begitu dia naik ke atas perahu itu, dia langsung

berteriak:

“Siau-liong, Siau-liong ku…..”

Tidak ada suara sedikit pun dari dalam perahu itu. Dia

yakin perahu itu tidak ada orang sama sekali.

Sangguan Lie maiah sekali.

Saking marahnya sampai dari hidungnya keluar suara

dengusan. Perahu itu sangat kecil ukuran-nya sehingga

dengan sekali melihat pun semuanya terlihat.

Dia telah tertipu.

Kedua bola matanya menjadi merah.

Kejadian seperti ini hanya terjadi pada saat melihat Liu

Eng dan orang itu bermesraan di atas tempat tidur.

Tetapi hal itu terjadi dengan persetujuan darinya.

Kadang-kadang dia berpikir, sebenarnya dia sendiri orang

macam apa ?

Jika orang lain sampai tahu akan hal ini, mereka akan

mengatai dirinya seperti apa ?

Tentu saja dia bisa menebak dengan jelas. “Siauliong………..

Siau-liong…………..”

Terdengar suara ratapan dari mulutnya disertai

hembusan angin malam.

Kedudukan Sangguan Lie di kalangan dunia persilatan

termasuk posisi kelas atas yang kaya dan orang seperti

Tonghong Ta-cing tentu saja tidak akan dianggap.

Itulah hal yang lumrah dipikirkan oleh banyak orang.

Tetapi pada saat Tonghong Ta-cing datang mengunjungi

Sangguan Lie, dia malah diperlakukan dengan penuh

hormat.

Karena Sangguan Lie adalah orang yang memiliki intuisi

yang tajam. Maka dengan sekali lihat dia sudah tahu nilai

yang dimiliki orang tersebut.

Bahkan di saat yang bersamaan dia pun bisa langsung

menebak jati diri dari orang tersebut.

Menurutnya Tonghong Ta-cing bukanlah kepala polisi

dari kabupaten Lamkiong.

Teh sudah terhidang.

“Cong-pu-thauw pasti sudah mendengar perihal anakku.”

Kata sangguan Lie.

Tonghong Ta-cing mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kedua mata Sangguan Lie terlihat merah.

Dia sudah sehari semalam tidak tidur. Tonghong Ta-cing

berkata:

“Apakah Sangguan Tayhiap sudah membayar

tebusannya tetapi tidak berhasil ?”

“Ya!” Sangguan Lie terlihat marah sekaligus tidak

berdaya, berkata:

“500 tail emas tetapi tetap saja anakku tidak kembali.”

“Umumnya para penculik hanya mau uangnya saja.”

Kata Tonghong Ta-cing.

“Memang benar.”

“Apakah aku bisa melihat surat ancamannya?”

Sangguan Lie ragu-ragu sejenak tetapi akhirnya

dikeluarkan juga.

Sesudah membaca, Tonghong Ta-cing berkata: “Apakah

Sangguan Tayhiap berkenan men-jawab beberapa

pertanyaanku ?”

“Tentu saja.”

Pandangan mata Tonghong Ta-cing menera-wang keiuar

jendela lalu berkata:

“Konon ketua kelompok pertunjukan Lian-seng, Bunga

Fajar Seebun Long, adalah istri simpanan-mu ?”

Sangguan Lie terdiam seribu bahasa.

Di dunia ini tidak ada yang namanya benar-benar

rahasia.

Jika sudah diketahui orang lain maka sudah tidak bisa

dipungkiri lagi.

Sangguan Lie yang selalu menutupi lagi, akhirnya

menjawab:

“Memang benar.”

“Kalian pastinya tidak tinggal di dalam kota ini, kan?”

“Kami tinggal di sebuah kota kecil berjarak 100 Li di luar

kota ini.”

“Sudah tinggal berapa lama sebelum berpisah?”

“5-6 tahun, tentu saja kami tidak selalu bersama setiap

saat sebab dia harus pergi ke sana ke mari untuk melakukan

pertunjukan.”

“Pada saat itu dia belum terkenal seperti sekarang, kan?”

“Ya. Hanya saja hal ini tidak ada hubungannya sama

sekali dengan kejadian ini.”

“Itu belum tentu juga.” Tonghong Ta-cing berkata,

“Kemarin sesudah menyanyikan lagu Tay-eng-to, dia

langsung menghilang.”

“Bukan, katanya dia sakit sehingga diwakilkan oleh Jitlu-

hoa-tan (Bunga fajar dua arah), Lok Hiang”

Tonghong Ta-cing berkata:

“Apakah kau tahu siapa penculik itu ?”

Sangguan Lie menggeleng-gelengkan kepala-nya.

“Aku bisa memberitahukannya padamu sedikit,

orangnya dua orang dan salah satunya adalah wanita.”

“Wanita?”

“Apakah kau berpikir wanita tidak bisa menjadi seorang

penculik?”

“Tidak, tentu saja wanita malah berpeluang besar untuk

hal seperti ini, hanya saja banyak yang mengatakan kalau

wanita akan menemui kegagalan jika melakukan hal ini.”

Tonghong Ta-cing berkata:

“Ada banyak kasus di mana dalam melakukan hal

semacam ini wanita jauh lebih hebat dibandingkan lakilaki.”

“Memangnya Cong-pu-thauw sudah melihat wanita itu

siapa ?”

“Ada kalanya janganlah terlalu dekat pada sesuatu, tetapi

kau justru telah melakukan kesalahan yang fatal.”

“Aku?”

“Pada saat melakukan tebusan, seharusnya kau tidak

perlu memperlakukan laki-laki itu sampai begitu.”

Sangguan Lie terkejut.

Ternyata Cong-pu-thauw pun melihat kejadian waktu

itu.

“Apakah waktu itu Cong-pu-thauw pun ada di sekitar

tempat itu ?”

Tonghong Ta-cing tidak berkata, tapi dia menganggukanggukkan

kepalanya.

“Jika aku tidak berbuat seperti itu bagaimana?”

Tonghong Ta-cing berdiri sambil berkata:

“Aku rasa mereka sudah melepaskan anak itu tetapi ada

orang lain lagi yang membawa anak itu pergi.”

“Kalau begitu waktunya terjadi sesudah pen-culik itu

pergi dan pada saataku naik ke atas perahu kecil itu?”

Tonghong Ta-cing mengangguk-anggukkan kepalanya:

“Di dalam kelompok Lian-seng, apakah masih ada orang

yang mengerti tulisan cukup bagus?” Sangguan Lie berkata:

“Ada seorang Bu-seng (pemain) bernama Hoa Cian, jika

dibandingkan dengan Liu Ie-sen dia jauh lebih baik, hanya

saja permainan dramanya tidak bagus.”

“Tetapi bukan berarti ilmu silatnya jelek.”

“Memang benar.”

Sangguan Lie menghela nafasnya panjang-panjang, jika

kali ini ada orang lain lagi yang menginginkan 500-1000 tail

emas darinya dan memberi kan Sangguan Liong kembali

padanya, dia akan rela.

Dia mulai membenci harta.

Jika bukan karena hartanya, hal ini tidak akan terjadi.

Kekayaan hanya membawa masalah baginya, tetapi

memang tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan

uang.

Ada hal yang tidak dapat dibeli oleh uang. Tiba-tiba

Tonghong Ta-cing berkata: “Bagaimana kepribadian dari

istri simpanan-mu, Seebun Long?”

“Sesuai dengan namanya, agak seperti ombak.”

“Jika tidak demikian, dia tidak mungkin terkenal seperti

sekarang.”

Sangguan Lie benar-benar tidak ingin mem-bahas

tentang Seebun Long.

“Jika tebakkanku tidak salah, Seebun Long adalah salah

satu tersangka penyandera anakmu.”

Sangguan Lie tertegun lalu segera menggelengkan

kepalanya dengan keras tanda tidak percaya.

……………………………………

Tonghong Ta-cing tidak berani bergerak sedikit pun.

“Mengapa Cong-pu-thauw bisa berpikir seperti itu ?” kata

Sangguan Lie.

“Otak yang dimiliki manusia memang aneh, hal aneh

apa pun bisa terpikirkan.”

“Tetapi pikiran aneh ini sama sekali tidak beralasan.”

“Jika otak manusia tidak digunakan untuk memikirkan

hal-hal yang aneh, itu malah sesuatu yang patut sangat

disesalkan.”

“Mengapa ?”

“Sebab Seebun Long adalah salah satu tersangkanya.

Pada saat Seebun Long merencanakan langkah-langkah

penculikan ini dengan seorang lelaki yang lain di dalam

ruangannya, hal ini terdengar oleh Hoa Cian, dia lalu

memberitahukan pikiran melantur-nya kepada Ji-lu-hoatan,

Lok Hiang, sebab mereka adalah sahabat.”

Sangguan Lie benar-benar lupa akan Tonghong Ta-cing.

Dia berpikir, ‘orang ini jadi kepala polisi pasti karena dia

senang mengumpulkan bukti-bukti aneh seperti ini.’

Walaupun Sangguan Lie tidak menilai rendah orang ini,

tetapi ternyata dia malah menilai orang ini terlalu tinggi.

Sangguan Lie berkata:

“Bagaimana tentang kasus ini menurut pandangan Congpu-

thauw ?”

“Jika punya bukankah itu berarti kasusnya sudah

terpecahkan ?”

“Paling tidak Cong-pu-tauw tahu tentang kasus ini secara

garis besarnya.”

“Hoa Cian tahu rencana jahat Seebun Long dan rekan

penculiknya!”

Sangguan Lie murka.

Dia tidak bisa percaya kalau dulu dia bisa merasa simpati

pada orang macam Hoa Cian dan Lok Hiang.

Mereka berdua memang jahat tetapi mereka tidak

berbuat itu langsung terhadapnya tetapi terhadap para

penculik itu.

“Apa mungkin anakku ada di tangan mereka?” kata

Sangguan Lie.

“Jika memang benar ada di tangan mereka semua malah

jadi lebih mudah, tetapi sayangnya tidak ada pada mereka.”

“Jadi usaha mereka sia-sia ?”

“Mungkin, begitu mereka baru saja mendapat-kan anak

itu, lagi-lagi sudah diculik kembali oleh orang lain.”

Sangguan Lie menutupi wajahnya dengan kedua

tangannya.

Di saat seperti ini dia rela seandainya dirinya bukan

seorang pendekar dari dunia persilatan.

Dia juga tidak ingin menjadi orang yang kaya raya.

Dia tidak peduli menjadi seorang pelayan atau kuli

asalkan bisa hidup bersama dengan anaknya, dia sudah

cukup puas.

Tiba-tiba Tonghong Ta-cing berjalan meng-hadap pintu

masuk, lalu membalikkan kepalanya dan berkata:

“Siau-liong bukanlah anak yang dilahirkan oleh istrimu

Liu Eng, bukan?”

“Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Seebun Long.”

“Pantas saja kalau begitu!”

Tiba-tiba Sangguan Lie tersadar.

“Apakah menurut Cong-pu-thauw ini……..”

Tonghong Ta-cing menghela nafasnya sambil berkata:

” Mungkin bakal sedikit merepotkan!”

Raut wajah Sangguan Lie seperti kehilangan warna. •

“Maksud Cong-pu-thauw, untuk sementara ini anakku

tidak mungkin kembali ?”

Tonghong Ta-cing berkata dengan masam:

“Khawatirnya mungkin selamanya bisa tidak akan

kembali.”

Kata-kata Tonghong Ta-cing tadi laksana pedang yang

menusuk Sangguan Lie.

Sangguan Lie melihat ke sekelilingnya mencari pedang

lalu kemudian menghunuskannya ke tengah punggung

Tonghong Ta-cing.

Saat ini dia benar-benar sudah gelap mata dan

menganggap Tonghong Ta-cing sebagai musuhnya.

Malah mungkin dalam hatinya dia meng-anggap

Tonghong Ta-cing sebagai dalang dari penculik an ini.

Siapa sangka ternyata di belakang punggung Tonghong

Ta-cing seperti ada sepasang mata.

Pedang itu hanya melewati sisi tubuhnya begitu saja.

Tonghong Ta-cing menghindar sekitar dua langkah

sambil membalikkan tubuhnya lalu berkata dengan dingin:

“Aku benar-benar penasaran, apakah kau benai benar

Sangguan Lie ?”

“Jika aku bukan Sangguan Lie, lalu siapa?”

“Sukar untuk dikatakan!”

“Biar pun sukar, kau tetap harus menjelaskan apa

maksud kata-kata mu tadi!”

Tonghong Ta-cing tertawa pahit lalu berkata:

“Banyak hal di dunia ini yang bisa membuat orang tidak

berdaya. Apa yang kau mau aku katakan, pasti akan aku

katakan tetapi kau pasti tidak bisa menerimanya!”

Satu wajah Sangguan Lie berubah:

“Mengapa?”

“Coba pikirkan baik-baik, kau akan mengerti sendiri.”

“Apakah kau bisa memberitahukan walau pun sedikit?”

“Baik. Pertama, orang dengan kedudukan seperti

Sangguan Lie, tidak mungkin akan turun tangan terhadap

seorang Cong-pu-thauw. Kedua, orang licin seperti

Sangguan Lie tidak akan menanyakan pertanya-an yang

tidak boleh ditanyakan.”

Sangguan Lie mematung.

Kata-kata Tonghong Ta-cing memang ada benarnya.

Mengapa tadi dia begitu ceroboh? Sampai berani

menguji ilmu silat Tonghong Ta-cing. Mungkin karena ada

kemungkinan dia juga salah satu dalang dari penculikan itu.

Hoa Cian dan Lok Hiang lagi-lagi bersama. Sepanjang

sejarah manusia hal yang paling banyak terjadi adalah hal

yang seperti ini.

Inilah kamar yang mereka sewa untuk sementara waktu.

Hoa Cian berkata dengan jengkel: “Kita berdua benarbenar

belum sempat mak.ni daging kambing, tetapi sudah

membuat tubuh kacau.” KataLokHiang:

“Sudahlah! Sudah bagus tidak ada orang lain yang tahu.

Anggap saja semuanya hanya mimpi ‘

“Aku tidak habis pikir.” Hoa Cian berkata lagi, “Mereka

mengambil tebusan tetapi mengapa malah diculik lagi?”

“Apakah kau bisa memastikan orang yang mengambil

tebusan itu adalah Wie Kai atau Seebun Long ?”

“Bukan mereka, jangan-jangan ada orang lain lagi yang

tahu tentang rahasia mereka ?”

“Apakah kau tidak merasa pandangan mata dan gerak

gerik pengurus rombongan dan Suma Hen belakangan ini

agak aneh ?”

“Apakah menurutmu dia tahu tentang rahasia ini?”

“Kau menilai terlalu tinggi tentang rencana kita.” Hoa

Cian berkata:

“Masa Bodoh! lebih baik kita selesaikan dulu

pertunjukkan kita baru bicara lagi.”

Inilah sebuah kamar yang lain lagi.

Di bagian depan dan di belakangnya terdapat pagar

tanaman, di sekitarnya ada terdapat sekitar 10 buah rumah

tinggal penduduk.

Di atas pagar tanaman itu terdapat bunga dan di atas

bunga terdapat kupu-kupu yang beterbangan.

Pemandangan ini benar-benar sangat indah. Hanya saja

Wie Kai dan Seebun Long tidak punya niat untuk

menikmatinya.

“Pergilah!” Seebun Long berkata, “Tujuan sudah

tercapai, mengapa masih belum pergi juga ?”

“Tujuan masih belum tercapai,” kata Wie Kai.

“Apa yang sebenarnya yang ada di benakmu?”

“Apa lagi yang harus aku pikirkan?” Wie Kai berkata,

“Apalagi kalau bukan merasa bersalah kepada Siau-liong ?”

“Jadi semua ini demi Siau-liong?” Raut wajah Seebun

Long menjadi cerah, lalu berkata lagi, “Tidak kusangka.”

“Memangnya kenapa?”

“Kau gelisah hanya karena penculikan ini.”

“Siau-liong bagaimana pun juga dilahirkan oleh orang

tuanya,” Wie Kai berkata lagi, “Kau sebagai seorang

wanita, seharusnya sedikit banyak ada perasa-an kasih

sayang terhadap anak itu.”

“Demi membantu tercapainya tujuanmu, memang sudah

seharusnya sedikit lembut padanya, tetapi tetap saja tidak

bisa.”

“Aku merasa, Siau-liong agak mirip dengan-rrai.”

Seebun Long terpaku menatap Wie Kai.

“Seperti aku?” Seebun Long seperti berkelit.

“Ya,” kata Wie Kai, “Terutama bagian hidung dan

matanya.”

Seebun Long membelalakkan matanya sambil berkata:

“Aku sendiri malah tidak memperhatikannya.” Kedua

mata Seebun Long sangat indah, tidak ada duanya di dunia

ini.

Sangat mirip dengan milik Lim Leng-ji.

Hanya saja Wie Kai yang sekarang menjadi bingung,

apakah Lim Leng-ji itu benar-benar ada.

Sebab dia beranggapan kalau Lim Leng-ji itu adalah

Seebun Long.

Diapun lupa walaupun kecantikan bola mata Lim Lengji

sedikit kalah indah jika dibandingkan dengan Seebun

Long, tetapi dari sisi bentuk tubuh serta daya tariknya, Lim

Leng-ji lebih unggul dibandingkan dengan Seebun Long.

Lagi pula dia sangat perhatian pada Wie Kai. Bagaimana

Wie Kai tidak puas ?

Tetapi dia pun hampir melupakan Sangguan Siau-liong.

Sepertinya anak itu tidak hanya mirip dengan Seebun

Long, tetapi juga mirip dengan orang yang satu lagi.

Tiba-tiba pintu terkuak lebar, di dalam ruangan telah

berdiri seseorang yang raut wajahnya tertutup topeng yang

hanya menampakkan sepasang mata yang bersinar.

Saat itu Wie Kai sedang bersandar pada tempat tidur,

dengan sekejap dia berdiri di hadapan tempat tidur sambil

berkata:

“Siapa kau?”

Orang itu sama sekali tidak bersuara. “Sobat, semoga kau

salah masuk ruangan.”

Bola mata orang itu menatap tajam Wie Kai.

Itu menyatakan bahwa dia sama sekali tidak salah

masuk.

Tiba-tiba orang ini mengeluarkan tangannya. Tetapi

ternyata yang dia gerakkan kakinya terlebih dahulu.

Gerakan kakinya serasa lebih hidup dibandingkan

dengan tangannya.

Dalam sekejap mata sebuah tendangan telah membuat

Wie Kai terdorong mundur sebanyak dua langkah.

“Sobat yang tidak diundang, jika menyesal tanggung

sendiri akibatnya!” kata Wie Kai.

Wie Kai mengeluarkan golok di kedua tangan-nya dan

maju menyerang.

Sret, bagian atas celana panjang orang itu sobek

setengahnya.

Tiba-tiba orang itu melesat keluar melalui pintu.

Wie Kai tidak mengejarnya sebab lukanya masih belum

sembuh.

Orang itu sejak datang sampai perginya sama sekali tidak

berkata sepatah kata pun.

“Mungkin orang ini ada hubungannya dengan Siauliong,”

kata Seebun Long.

“Jika kedatangannya kemari ingin menebuSjSiau-liong,

seharusnya dia mengeluarkan uang tebusan nya terlebih

dahulu.”

“Apa mungkin orangnya Tonghong Ta-cing?”

“Sukar untuk dikatakan.”

“Siapa sebenarnya Tonghong Ta-cing itu? Dia tentu

bukan kepala polisi dari kabupaten Lam-kong.”

“Tentu saja bukan,” Wie Kai berkata, “Tapi dia pasti

bukan orang sembarangan.”

“Lalu perannya apa ?” kata Seebun Long.

“Walaupun dia mungkin dari lingkungan pejabat, tetapi

dia pasti orang yang melawan hukum.”

“Kau mengenalnya ?” tanya Seebun Long.

“Biar pun kenal belum tentu mengerti dia. Aku tidak

mengenalnya, yang penting asalkan selalu dekat padanya,

maka akan lebih mudah mengetahui dia itu orang seperti

apa.”

Seebun Long berjalan mendekat. Wie Kai dapat

mendengar suara nafasnya.

Sebenarnya itu adalah suara akibat reaksi fisiologis.

Bahkan lengannya menggantung di pundak Wie Kai dan

bola matanya yang indah tiada duanya itu memberikan

tatapan mengundang padanya.

-ooo0de0ooo-

BAB III

Malam semakin gelap.

Di dalam kamar Sangguan Lie terdapat dua orang yang

sedang duduk berhadapan tetapi mereka sama sekali tidak

menyalakan lentera.

Salah satu dari mereka berkata:

“Apakah keadaanmu belakangan ini baik-baik saja?”

“Sangguan-heng, keadaanku masih sama seperti

sebelumnya.”

“Bagaimana dengan dia?”

“Dia? Maksudmu Liu…….”

Lawan bicaranya mengangkat tangan memotong

pembicaraannya.

“Dia juga baik.”

Suasana hening sesaat, hanya terdengar surupan teh yang

diminum mereka.

Mereka berdua adalah laki-laki dan usia mereka berdua

pun tidak jauh berbeda, hanya status sosial mereka yang

berbeda.

“Apakah kau bahagia?”

“Aku…..tidak terlalu.”

“Apakah kau tidak merasa ini adalah suatu hal yang

menyenangkan?”

“Jika kau adalah aku, kau juga akan merasakan hal yang

sama.”

“Mengapa tidak senang? Semua orang mengatakan dia

sangat panas.”

“Memang.”

“Lagi pula aku pun memberikan upah pada-mu.”

Orang tersebut terdiam karena kata ‘upah’ itu serasa

pisau yang menghujam tajam ke dadanya.

Orang ini berkata:

“Sangguan-heng, mengapa kau menyebutnya sebagai

upah?”

“Mengapa, tidak boleh?”

Orang ini menjadi marah dan berkata :

“Setiap kali orang melihat diriku di jalanan, tidak peduli

menganggukkan kepalanya atau membungkukkan

tubuhnya, aku selalu merasa gentar dan hilang percaya

diri.”

“Oh?”

“Yang membuat gentar adalah khawatir mereka

menanggap aku mirip denganmu, tapi justru tidak mirip

denganmu. Yang membuatku hilang percaya diri adalah

saat aku berduaan dengan Liu Eng, sebagian besar

waktunya hanya melihat nyala lentera, tidak berbicara,

tetapi berusaha bekerja dengan keras!”

“Berusaha?”

“Ya. Sebab jika tidak berusaha keras, dia tidak akan

puas.”

“Apakah malam ini kau ingin istirahat?”

“Ya. Terlalu lelah, jika mau menggantikan……”

Orang itu berdiri berjalan keluar dari ruangan itu sambil

berkata:

“Mungkin ada sebagian laki-laki yang iri padamu, tetapi

sebagian besar laki-laki tidak beranggapan seperti itu.”

Orang itu keluar berjalan ke ruangan lain.

Dia berbaring di atas ranjang, di tengah kegelapan

malam sambil berpikir bahwa Liu Eng ternyata wanita yang

lumayan juga.

Saat itu sinar bulan masuk melalui sela-sela jendela dan

barulah terlihat ada seseorang di dalam kamar itu.

Tampang orang itu tidak terlihat jelas. Segera saja dia

bangun dan duduk di ranjang lalu berkata:

“Siapa?”

“Tidak perlu bertanya, cepat jawab saja.”

“Jawab apa?”

“Tentang semua siasat kalian dan juga tentang masalah

upah.”

Orang yang ada di atas ranjang melompat terbang tapi

sebuah tendangan bagaikan gelombang datang

menghantamnya.

Orang yang tidak diundang itu melakukan tendangan

berputar yang cepat seperti gasing.

Walaupun dia bisa menghindar dengan cukup cepat dan

gerakannya pun lincah. Tapi kaki lawan yang satu telah

mengenai dada dan yang satunya lagi tetap mengenai

pinggang sehingga tubuh orang itu mendarat di atas meja

dan membuat meja terpecah menjadi dua.

Bagian dada dan pinggangnya terasa sakit seperti

terbelah dua.

“Asalkan kau mendengarkan kata-kataku,” kata tamu

tidak diundang itu, “kelak apa pun yang kau mau, pasti

akan ku berikan.”

“Kau?”

“Ng! Memang aku!”

“Jangan-jangan kau itu……”

“Tidak perlu kau katakan!”

“Yang membunuh Bu-seng Liu Ie-sen dari kelompok

pertunjukan Lian-seng pasti kau orangnya.”

“Membunuh orang adalah pekerjaan yang sangat

menjemukan, tetapi dia tidak bisa tidak harus dibunuh.”

“Menjemukan?”

“Membunuh adalah pekerjaan yang mudah, tetapi

sesudah membunuh, harus dibersihkan noda-nodanya,

sama seperti jika kau telah memenggal ayam, bebek, atau

ikan.”

Ditilik dari ucapannya, bagi orang ini mem-bunuh sudah

merupakan makanannya sehari-hari.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Aku mau bagaimana lagi? Hanya ingin selanjutnya kau

harus mendengarkan aku.”

“Baiklah.”

“Kau memang rekan kerja sama yang baik”

“Selama ini aku memang sangat bekerja sama.”

“Kau pasti tahu di mana Sangguan Siau-liong sekarang?”

“Bagaimana mungkin aku tahu?”

“Mungkin tahu lokasi di mana Wie Kai dan Seebun

Long sekarang?”

“Untuk apa semua itu? Kau ingat baik-baik! Kau beri saja

apa yang dia minta, toh dirimu sendiri sudah cukup

makmur.”

“Sobat, tidak segampang yang kau katakan. Ini kan

menyangkut harga diri seorang laki-laki.”

Tamu tidak diundang itu tertawa dingin.

“Harga diri apaan? Di dunia ini ada segala macam orang

dan segala macam masalah, hal yang belum pernah kau

pikirkan mungkin sudah dialami oleh orang lain, jangan

terlalu dibesar-besarkan!”

“Terserahlah!”

“Jika ucapanmu berlawanan dengan isi hatimu

bagaimana?”

“Maksudnya?”

“Kita jangan bicarakan yang lain dulu, aku ingin

menimpakan soal kematian Liu Ie-sen padamu.”

“Dari pertama sudah terlihat hubungan kalian antara ibu

dan anak.” Kata Wie Kai.

Dia sudah mulai tidak sabar.

“Jika kau mengikuti apa kataku, kau bisa melanjutkan

kehidupan enakmu dengan damai.”

“Sampai berapa lama?”

“Selama kau belum bosan pada Liu Eng, terserah kau

mau berapa lama.”

“Tetapi bagaimana dengan Sangguan Lie?”

“Soal itu biar aku yang urus, biarkan saja dia marah

dalam hati.”

Raut wajah yang semerah arak.

Begitulah keadaan Seebun Long.

Lelaki yang bersama dengan Seebun Long juga tidak

berbeda jauh keadaannya.

Dia menegak secangkir arak sambil berkata:

“Aku punya sebuah pertanyaan yang ingin ku tanyakan

padamu.”

Seebun Long menatap dirinya sejenak lalu berkata:

“Bukan hal yang mendesak, bukan?”

“Sangat mendesak!” Wie Kai berkata, “Apakah kau ibu

dari Sangguan Siau-liong ?”

Seebun Long diam seribu bahasa.

“Jika aku yang melahirkannya, mana mungkin aku

menculiknya?”

“Apa anehnya?” Wie Kai berkata, “Pertama, bisa

mendapatkan uang. Kedua, bisa bertemu dengan anak

kandungmu untuk sementara waktu.”

“Kau jangan berpikir yang tidak-tidak.”

Wie Kai menjengut sejumput rambutnya yang indah.

Sejak pertama kali mereka saling mengenal, hal ini baru

pertama kalinya terjadi.

Seebun Long berkata dengan suara keras: “Wie Kai, kau

harus meminta maaf padaku!”

“Bicara tidak?”

Seebun Long sangat mengenal wataknya.

Jika dia tidak mengatakannya, pasti akan mendapat

siksaan yang lebih hebat lagi.

“Benar, dia memang anakku. Lepaskan aku l”

Wie Kai malah tambah menarik rambutnya lagi sambil

berkata:

“Sangguan Lie bukan ayah kandungnya betul?”

“Siapa bilang?”

Wie Kai tambah keras menarik rambutnya: “Bicara

tidak?”

Seebun Long menjerit: “Lebih baik kau BUNUH saja

aku!”

“Tidak mau bicara, ya?”

Seebun Long menahan amarahnya: “Wie Kai, lepaskan

tanganmu, nanti aku akan memberitahukan padamu.”

Wie Kai melepaskan tangannya, lalu mengisi dua

cangkir arak sampai penuh.

Dengan muka cemberut Seebun Long berkata:

“Ternyata kau orang yang seperti itu!”

“Kata-kata ini seharusnya aku yang bilang.”

“Dia adalah anakmu…..” kata Seebun Long.

Arak yang ada di salah satu cangkir tadi dilemparkan ke

wajah Seebun Long.

Arak yang dingin membasahi wajah Seebun Long.

Seebun Long segera menyingkir sambil berkata: “Apa yang

kau lakukan?”

“Cara seperti itu tidak akan mempan padaku.”

Seebun Long berkata sambil membiarkan arak yang

membasahi wajahnya:

“Apa kau tidak tahu aku melakukannya semua ini hanya

untuk dirimu?”

“Kau seharusnya tahu, aku tidak bisa menerima bantuan

seperti itu.”

“DASAR TIDAK PUNYA HATI !” Seebun Long

berkata dengan suara keras.

Wie Kai minum araknya tanpa berkata apa pun.

Dia sedang berpikir apa yang harus diperbuat pada

anaknya.

Yu Siau-go tiba-tiba muncul.

“Kalian berdua jangan tegang,” kata Yu Siau-go, “Aku

tahu di mana Sangguan Siau-liong berada.”

“Kau?” Wie Kai bangkit dari tempat duduknya.

Yu Siau-go memutar tubuhnya sambil berkata: “Wie-ya,

tolong dengarkan aku dulu.”

Wie Kai diam.

“Sewaktu kalian berdua sedang sibuk meng-ambil

tebusan, aku melihatnya dari samping, kemudian aku

mengambil anak itu dan membawanya pergi.”

Tangan Wie Kai mencengkram Yu Siau-go:

“Di mana dia?”

“Wie-ya, apa begini yang namanya berbisnis?”

“Berbisnis?”

Yu Siau-go tertawa, katanya: “Kenapa? Apakah menurut

Wie-ya ini bukan sebuah bisnis?”

Wie Kai melepaskan tangannya: “Duduk!”

Yu Siau-go duduk, Seebun Long menuangkan arak

baginya dan berkata:

“Ada syarat apa langsung saja katakan!”

Yu Siau-go menyesap araknya sambil meng-ambil

sayuran dengan sumpit dan mengunyah di dalam mulutnya.

Dia benar-benar orang yang dingin.

“Wie-ya, menurut kabar Sangguan Tayhiap akan

membayar 500 tail emas sebagai tebusannya.”

Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Wie-ya, kau kan tahu kalau aku selalu hidup miskin.”

“Jika kau bertele-tele, maka aku tidak akan segan-segan

membunuhmu!”

“Baik… baik….! Aku akan bicara langsung saja,” katanya

lagi, “Anak itu kan anak majikan Seebun Long, aku tidak

mungkin berbuat yang tidak-tidak? tentu saja aku ingin

mengembalikannya, tetapi…..”

“Mau uang?”

“Wie-ya, dari 500 tail yang aku butuhkan hanyalah 50

tail saja sudah cukup.”

Wie Kai mengambil kantung yang berisi uang tebusan

dan melemparkan ke hadapan Yu Siau-go sambil berkata:

“Semuanya untuk mu!”

“Wie-ya, semua ini ada berapa?”

“500 tail!”

Bukan hanya Yu Siau-go yang terpana, Seebun Long

juga dibuat terkejut setengah mati:

“Wie Kai, kau sudah gila ya!”

Wie Kai mengibaskan tangannya:

“Tutup mulutmu!”

Yu Siau-go tertawa lalu berkata:

“Wie-ya, kau sedang bergurau denganku?”

“Apakah aku mau bergurau dengan orang seperti

dirimu?”

“Betul juga, orang sepertimu tidak mungkin mau

bergurau dengan orang sepertiku.”

“Ambil semua uang itu, lalu antarkan Sang-guan Siauliong

ke kediaman Sangguan Lie.”

Tiba-tiba Yu Siau-go menatap tajam Wie Kai sambil

berpikir apakah dia sedang main-main.

Biar pun dia sedang bermimpi, tetap saja tidak pernah

terpikirkan uang sebesar 500 tail emas.

“Wie-ya, be.. ..benarkah?”

Tiba-tiba dia berlutut dihadapan Wie Kai dan berkata:

“Wie-ya, aku sudah berbuat jahat terhadapmu tetapi kau

tidak menyalahkan aku malah memberiku uang, budi

baikmu akan kuingat seumur hidupku.”

“Segera kau pergi membawa anak itu kepada Sangguan

Lie. Sesudah pergi dari tempat ini, ganti namamu dan

berdaganglah, jangan berbuat jahat lagi.”

“Baik, Wie-ya.” Sesudah mengangguk-angguk-an

kepalanya sebanyak tiga kali, mengambil kantung yang

berisi uang itu lalu beranjak pergi.

Kata Wie Kai:

“Ingat! Anak itu harus sampai ke tangan Sangguan Lie.

Tidak peduli alasan apa yang kau katakan atau kau antar

saja anak itu sampai ke depan rumahnya lalu mengetuk

pintunya dan pergi. Jangan berbicara apa pun pada orang

lain kalau Siau-liong adalah anak kami.”

“Baik.”

“Kau memang orang aneh!” kata Seebun Long. “Tetapi

orang yang membuatku aneh justru belum mengenalku.”

“Jika kau merindukan anakmu, mengapa tidak kau taruh

dia di sisimu?”

“Dengan situasi sekarang ini, jika anak itu ada di sisiku

justru malah membahayakan. Yang kucemas-kan justru

dirinya.”

“Kau selalu berpikir jauh dibandingkan aku.”

Wie Kai hanya menatap tajam padanya.

Yu Siau-go tergesa-gesa pergi memasuki sebuah

perkampungan kemudian menghampiri sebuah rumah

penduduk yang pintunya terbuka.

Begitu masuk rumah dia langsung memanggil: “Guji….

Gu-ji……”

Dia memanggil beberapa kali tetapi tidak ada yang

menyahut.

Apakah telah terjadi sesuatu?

Setelah memeriksa seluruh rumah, ternyata memang

tidak ada seorang pun.

Yu Siau-go melihat kantung yang ada di tangannya lalu

tertawa.

Jika orangnya ada, pasti dia akan mengantarkan kepada

Sangguan Lie, lalu pergi.

Jika sudah tidak ada, dia juga tidak punya keberanian

untuk kembali ke tempat Wie Kai.

Sebab uangnya pasti diminta kembali.

Lagi pula Wie Kai kan sudah menyuruhnya untuk pergi

jauh-jauh dan mencari sebuah tempat untuk berdagang.

Baru saja hendak keluar dari rumah itu, tiba-tiba di

pekarangan terdengar suara.

Sekarang dia sangat takut jika bertemu dengan orangorang

seperti Wie Kai, juga Tonghong Ta-cing dan

Sangguan Lie.

Dia melihat keluar jendela dan ternyata yang datang

adalah sesosok wanita.

Begitu diperhatikan lebih lama, Yu Siail-go terkejut

setengah mati.

Orang yang datang itu ternyata Liu Eng.

Dulu ketika Yu Siau-go datang ke rumah Sangguan Lie,

dia selalu memandanginya.

Waktu itu dia tidak berani memikirkan wanita itu v/alau

dalam mimpi sekalipun.

Tetapi sekarang, dia merasa akhirnya kesempat an itu

datang juga.

“Siau-liong ……… Siau-liong ……..”Liu Eng memanggil

dengan suara kecil sebab rumah itu memang tidak ada

cahaya dan di pekarangan pun gelap sekali. Saat itu sudah

jam 4 dini hari. Liu Eng memasuki rumah itu dengan hatihati

dan di dalamnya dia melihat bayangan seseorang yang

sedang berdiri sehingga dia langsung membalikkan tubuh

hendak melarikan diri.

“Nyonya! Ini aku.” Yu Siau-go menahannya.

Begitu menyentuh Liu Eng, tubuh Yu Siau-go langsung

terserang panas bagaikan disembur api. Hal seperti inipun

tidak pernah berani dipikirkan dulu.

Wanita milik Sangguan Lie sama sekali tidak boleh

disentuh, tiba-tiba dia teringat akan hal itu.

Liu Eng terpaku sejenak lalu bersuara:

“Kau Yu Siau-go?”

Yu Siau-go masih memegangi tangannya. “Yu Siau-go,

apa yang kau lakukan di sini?”

“Nyonya sendiri sedang apa di sini?”

“Aku tidak sengaja mendengar suara tangisan anak kecil

di sekitar sini.”

“Setelah kejadian penculikan itu, nyonya kan tidak

pernah peduli.”

“Siapa bilang?”

“Nyonya, bagaimana kalau kita berdua saling jujur saja?”

“Lepaskan aku! Aku sama sekali tidak mengerti apa

maksudmu.”

“Kau tidak terlalu mengerti, tetapi kau tampak lebih

mengerti dibandingkan dengan diriku.”

“Siau-liong ada di tanganmu?”

“Menurutmu?”

“Aku memang sudah mengira kau pasti ada sangkut

pautnya dengan kasus penculikan itu.”

“Untuk apa Nyonya mencari Siau-liong?”

“Kata-kata mu sangatkurang ajar!”

“Siau-liong bukanlah anak kandungmu, jika dia ada

maka di kemudian hari pembagian harta yang kau peroleh

pasti lebih sedikit. Apakah betul nyonya tidak pernah

berpikir akan hal ini? Kalau begitu untuk apa malam ini

nyonya ada di tempat ini? Jadi membuat orang penasaran!”

“Lalu untuk apa aku datangkesini?”

“Apakah hal itu masih perlu ditanyakan?”

Liu Eng tahu dia tidak bisa dikelabui.

Jika sudah begini, terpaksa dia juga memanfaatkan orang

ini:

“Dia ada ditanganmu?”

“Tentu saja.”

“Yu Siau-go, kau bisa mendukungku?”

Hati Yu Siau-go berbunga-bunga.

“Soal itu tentu saja harus dilihat dari bagaimana sikap

nyonya terhadapku?”

“Kalau begitu langsung saja mau berapa!”

“Uang? Sekarang ini aku tidak butuh, yang kubutuhkan,

kau bisa menemaniku semalam saja.”

Liu Eng terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka

bahwa dirinya ternyata telah masuk ke mulut seekor

serigala.

“Yu Siau-go, lebih baik kau jangan macam-macam!”

“Apakah kau mau menyuruh Sangguan Lie untuk

mengertakku?”

“Khawatirnya Sangguan Lie tidak segan-segan

menggertak orang lain.”

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal, bagi Sangguan

Lie kau tidak berharga sama sekali!”

“Kalau kau berani mengatakannya di depan Sangguan

Lie. Coba saja!”

“Maksudku dia adalah seorang bajingan!”

Liu Eng memberontak sambil berteriak:

“Lepaskan aku! Dasar orang rendahan!”

Tentu saja Yu Siau-go tidak mau melepaskan-nya, dia

malah tertawa dan berkata:

“Aku memang bukan orang terpandang,” berkata lagi,

“Apa kau tahu, tidak lama setelah kau dan Sangguan Lie

menikah, dia terluka berat sehingga kejantanannya tidak

berfungsi?”

Liu Eng bagaikan tersambar petir di siang bolong.

“Karena Sangguan Lie tidak bisa mengatakan bahwa dia

telah kehilangan kemampuannya, maka dia mencari

seseorang untuk menggantikannya.”

Mata Liu Eng terbelalak lebar-lebar.

Memang benar, meskipun tubuh orang itu sama persis

dengan Sangguan Lie, tetapi entah mengapa ada kalanya

dia merasa ada yang aneh.

Tetapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan

bahwa di dunia ini ada orang yang mencari pengganti

dirinya untuk melakukan hubungan suami istri.

Liu Eng berkata dengan suara keras: “Kau BOHONG!

“Jika kau tidak percaya, aku bisa membawamu untuk

menemui Sangguan Lie yang satunya lagi.”

Liu Eng mau tidak mau terpaksa percaya.

“Bekerja samalah denganku maka semua keinginanmu

akan terpenuhi, lagi pula membangkang terhadapku pun

hanya buang-buang tenaga saja.”

“Siau-liong benar-benar ada di tanganmu?”

“Ya.” Lalu Yu Siau-go bertanya, “Mau keadaan hidup

atau mati?”

Tangan Yu Siau-go sudah gatal.

Dia tidak pernah menyangka bahkan wanita yang tidak

berani dimimpikannya, sekarang bisa dia permainkan

sepuasnya.

Liu Eng tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sendiri

yang menghantarkan dirinya.

Asalkan tujuannya tercapai, sedikit berkorban apalah

artinya.

Apalagi perbuatan Sangguan Lie terhadapnya sudah

sangat keterlaluan. “Coba saja lihat! Tidak ada anaknya,

apa dia masih bisa galak.”

Liu Eng bisa merasakan tangan Yu Siau-go yang

mengusap naik turun di atas pinggulnya.

Paling tidak, Sangguan Lie yang itu sama sekali tidak

pernah melakukan hal ini, begitu masuk langsung

mematikan lentera, melakukan tugasnya tanpa terucap

sepatah kata pun.

Setelah selesai langsung pergi ke kamarnya sendiri.

Tapi dia juga tidak semudah itu terpengaruh oleh Yu

Siau-go:

“Di mana Siau-liong?”

“Dia ada di sini.”

“Mengapa aku tidak melihatnya?”

“Orangku menyembunyikan di tempat lain sebab tadi

situasinya tidak aman, tenang saja dia nanti pasti akan

membawanya kemari.”

Tangan Liu Eng terangkat ke dada Yu Siau-go dan tanpa

sengaja menyentuh sebuah benda keras.

Saat ini Yu Siau-go sama sekali tidak berpikir apa-apa

karena tubuhnya sedang terbakar nafsu.

Dengan cepat dan tanpa ragu-ragu Liu Eng mengambil

benda itu dan menghujamkannya ke tubuh Yu Siau-go.

Ternyata benda itu adalah sebilah pisau. Terdengarlah

jeritan Yu Siau-go. Dalam situasi terjepit seperti ini, sudah

pasti orang biasanya mengambil jalan pintas.

Sesudah membunuh, barulah Liu Eng merasa panik. Dia

tergesa-gesa keluar lewat pintu belakang dan pada saat

itupun dia mulai merasa bersalah.

Baru saja berjalan tidak lama, dia merasa ada seseorang

yang mengikutinya.

Bagaimana jika kejadian ini terbongkar? Bagaimana jika

Sangguan Lie tahu bahwa dia sudah membunuh orang?

Lalu kasus penculikan itu jadi bagaimana kelanjutannya?

Buru-buru dia memasuki sebuah biara tua yang sudah

rusak.

Biasanya dia tidak akan berani masuk ke tempat seperti

ini karena tempat seperti ini suka ada penunggunya.

Baru saja duduk bersandar di bawah patung dewa, dari

arah pekarangan terdengar suara langkah kaki seseorang.

Orang ini pasti melihat jelas dia masuk biara tua ini.

Tidak lama kemudian menemukannya. Liu Eng tidak

bisa melihat orang itu dengan jelas tetapi orang itu malah

bisa melihatnya dengan jelas. “Kau mau apa?”

“Aku mau menuntaskan hal yang belum dituntaskan

oleh Siau-Yu tadi.”

“Apakah kau tidak takut pada Sangguan Lie?”

Orang itu tertawa dingin sambil berkata:

“Yu Siau-go saja tidak takut, mengapa aku harus takut?”

Ternyata orang ini mendengarkan semua pembicaraan

antara Yu Siau-go dan dirinya tadi. “Siapa kau?”

“Bagi dirimu, semua orang kan sama saja.” .

Memang benar, jika saja pisau itu tidak menan-cap di

dada Yu Siau-go, maka sepanjang hidupnya sampai sejauh

ini mungkin sudah ada 3 orang pria yang pernah

menyentuhnya.

Di tambah satu orang lagi memang tidak ada bedanya.

“Jika kau menginginkanku, setidaknya aku harus tahu

dulu siapa dirimu!” kata Liu Eng.

“Namaku Hoa Cian! Dalam grup Lian-seng aku berperan

sebagai Bu Song di Su-sai-lou (gedung singa).”

“Apa rencanamu?” tanya Liu Eng.

“Membawamu pergi jauh dari sini.”

“Memangnya kau bisa menghidupiku?”

“Apakah ini tidak cukup?” Hoa Cian mengeluarkan

kantung yang berisi uang yang dibawa Yu Siau-go tadi dan

menaruhnya di samping tubuh Liu Eng.

Uang 500 tail emas terlihat berkilauan diterpa sinar

bulan.

Liu Eng tidak bisa berkata apa-apa.

Mau tidak mau hati Liu Eng tergugah juga melihat uang

sebanyak itu.

Tetapi sepertinya Hoa Cian berbeda dengan Yu Siau-go,

sampai saat ini dia tidak melakukan tindakan apa pun.

“Mengapa kau diam saja?”

“Kau tidak tahu.” Hoa Cian berkata, “Selama ini aku

belum pernah melihat tubuh yang indah seperti ini.”

“Benarkah?”

“Untuk apa aku menipumu?”

“Apakah kau suka?”

“Suka?” Hoa Cian berkata, “Aku bahkan memujanya!”

Liu Eng membawa tangan Hoa Cian ke tubuh-nya untuk

mengusapnya.

Dia sudah berpengalaman tidur dengan lelaki tetapi yang

ini berbeda.

Dia tahu semua pria hanya menginginkan rubuhnya saja

dan hanya untuk memuaskan nafsu mereka saja, tanpa

memikirkan perasaannya sehingga dia tidak pernah

menikmatinya.

Tetapi Hoa Cian berbeda.

“Kau ternyata lumayan juga,” kata Liu Eng. “Hari sudah

mulai pagi!”

Baru saja Hoa Cian bangkit, tiba-tiba sebuah golok

berkelebatsecepat kilat.

Golok itu datangnya terlalu cepat, hanya menge luarkan

suara “sing” sekejab.

Kepala Hoa Cian sudah terbang ke pekarangan dalam

sekejap.

Orang itu menendang sisa tubuh Hoa Cian yang tergolek

dengan kakinya tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Pada saat yang bersamaan dia melemparkan baju Liu

Eng ke atas wajahnya.

Dalam keadaan gelap seperti ini tentu saja Liu Eng tidak

bisa melihat apa pun.

Dia bahkan tidak sadar bahwa Hoa Cian sudah mati.

Dia juga tidak tahu bunyi yang didengarnya tadi itu

suara apa?

Mengapa Hoa Cian melemparkan pakaiannya ke atas

mukanya? ‘

Baru saja dia hendak mengenakan pakaiannya, sebilah

golok sudah ada di lehernya.

Liu Eng terkejut setengah mati!

Mengapa Hoa Cian berbuat seperti itu?

“Kau…..kau ini mau apa?”

Orang ini tidak berkata sepatah kata pun, kedua

tangannya mengelus pundaknya dengan lembut.

“Hoa Cian, apa yang sedang kau lakukan? Setelah

melakukannya, cepat pergi dari sini!”

Tangan yang tadinya lembut tiba-tiba menjadi kasar.

Liu Eng sampai menjerit.

Golok yang ada di lehernya sedikit menekan, malah

terasa menggores dagingnya sedikit. Liu Eng meringis

kesakitan.

Liu Eng tidak berani bertanya siapa gerangan orang ini.

Dia sudah ketakutan setengah mati.

Orang ini sangat penasaran mendengar Hoa Cian

memuji tubuh Liu Eng tadi.

Selama ini dia tidak pernah menyadari tubuh-nya begitu

indah dan molek.

Dia meraba-raba tubuh Liu Eng tanpa henti.

Dia menyesal mengapa tidak dari dulu dia menyadari hal

ini.

Tiba-tiba dia mendengar suara orang di jalan yang

sedang berbicara.

Dia sangat mengenal suara ini.

Itu adalah suara Cong-pu-thauw Tonghong Ta-cing dan

Kao Hie.

Dia segera menghilang lewat belakang.

Sangguan Lie sedang termenung dalam gelap di atas

ranjang di dalam kamarnya.

Sejak kajadian itu, dia memang sering seperti ini.

Dia pun kadang-kadang suka menangis di saat seperti

ini.

Pada saat itu tiba-tiba ada berkelebat bayangan manusia

yang masuk melalui jendela.

Ilmu meringankan tubuh orang ini sangat tinggi, jika

hendak membunuhnya tidak akan menjadi hal yang sulit.

“Siapa?”

“Tuan Sangguan.”

“Oh… ternyata orang dari Lian-seng…..”

Orang itu mengangkat tangannya memotong

pembicaraan Sangguan Lie.

“Masalah Siau-liong ini, mungkin kaulah dalangnya.”

Kata Sangguan Lie.

“Tidak bisa dikatakan seperti itu,” kata orang itu. “Kasus

ini pun membuatku pusing juga.”

“Lalu apakah kau datang membawakan kabar baik?”

“Benar, aku bisa membuat hidupmu kembali normal

seperti biasa.”

“Apakah Siau-liong ada di tanganmu?”

“Tentu saja tidak, tetapi aku bisa menemukannya.”

“Jika demikian, cepat cari.”

“Selain itu aku masih punya 2 hadiah lagi yang harus

kuserahkan.”

“Hadiah apa?”

“Benda berharga yang hidup.”

“Siapa?”

“Lok Hiang dan Liu Eng.”

Sangguan Lie terpaku.

Sangguan Lie berkata dengan nada geram: “Jika Liu Eng

memang menghianatiku, aku tidak akan peduli soal

nyawanya. Lok Hiang juga sama.”

Orang asing itu berkata: “Kau tidak ingin tahu alasan Liu

Eng?”

“Tidak terbersit sedikitpun.”

“Dia bermaksud menyuap Yu Siau-go untuk membunuh

Siau-liong.”

Sangguan Lie murka luar biasa mendengarnya. “Kau

jangan bicara sembarangan!”

“Aku punya saksinya.”

“Siapa? Apakah Yu Siau-go dan Hoa Cian? Mereka

berdua sekarang sudah mati.”

Orang itu berkata:

“Mereka berdua memang sudah mati, tetapi masih ada

Lok Hiang yang bisa menjadi saksi. Dia adalah sekutu Yu

Siau-go dan juga pernah mengatur pertemuan antara Yu

Siau-go dan Liu Eng sebelumnya. Liu Eng ingin Yu Siau-go

membunuh Siau-liong dan Yu Siau-go meminta Liu Eng

membayar dengan tubuh-nya.”

Sangguan Lie menatap tajam orang itu.

Orang itu melanjutkan:

“Tetapi sebelum Yu Siau-go mendapatkan tubuhnya, Liu

Eng sudah membunuhnya terlebih dahulu. Dan kemudian

ada orang lain lagi yang membunuh Hoa Cian, yang juga

menginginkan tubuh Liu Eng.”

“Ternyata kau telah melihat semuanya.”

“Hanya melihat sebagian saja,” kata orang itu.

“Orang itu langsung pergi menghilang setelah mendengar

suara Tonghong Ta-cing dan Kao Hie. Aku menggunakan

kesempatan itu untuk membawa pergi Liu Eng.”

Tiba-tiba Sangguan Lie mengangkat kepalanya

memandang orang itu.

Walaupun dia tidak bisa melihat raut wajah orang itu,

tetapi mau tidak mau terpikir olehnya bahwa tidak ada

lelaki yang bisa tahan melihat kemolekan tubuh Liu Eng.”

Terhadap orang ini pun dia berpikir pasti tidak ada

bedanya karena dia merasa orang ini bukanlah orang yang

budiman.

Jadi kemungkinan kekasih Liu Eng bertambah satu lagi.

Bagaimana perasaan seorang suami yang memiliki istri

seperti itu. Dia sering kali berpikiran seperti itu. Jika orang

lain, apa yang akan mereka lakukan?

Sangguan Lie berkata:

“Uangnya jatuh ke tangan siapa?”

“Entahlah, siapa yang tahu?”

500 tail emas bagi dirinya tidaklah terlalu berarti.

“Ada satu hal aneh lagi yang mau sekalian kuberitahu,”

kata orang itu. “Orang yang telah membunuh Hoa Cian itu

sangat aneh.”

“Aneh apanya?”

“Dia hanya mengagumi kemolekan tubuh LiuYing tetapi

sama sekali tidak menyentuhnya.”

“Apakah benar di dunia ini ada orang aneh seperti itu,”

kata Sangguan Lie.

“Ya, di dunia ini segala macam orang ada. Jika orang ini

bukan impotent, maka pastinya orang ini ada kelainan.”

“Hal yang pertama, Seebun Long menculik darah

dagingnya sendiri, betulkan?”

Sangguan Lie mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hal yang kedua Liu Eng juga berusaha membunuh

putranya sendiri, betul juga bukan?”

“Anak itu bukan anak kandungnya.”

“Ada orang yang tidak mau diketahui orang lain karena

tidak mampu berhubungan tubuh dengan perempuan, tetapi

mengagumi tubuh perempuan adalah hal yang ketiga,

betul?”

Sangguan Lie tidak bersuara juga tidak menganggukkan

kepalanya.

“Masih ada satu hal lagi.”

Sangguan Lie tiba-tiba mengangkat kepalanya sambil

berkata:

“Masih ada lagi?”

“Tetapi untuk sementara aku tidak ingin menga takannya

dulu.”

“Berikan saja Siau-liong padaku, aku tidak akan macammacam.”

“Kita bicara dulu tentang jumlahnya.”

Sangguan Lie berkata langsung: “500 tail bagaimana?”

“Boleh, tail emas ya! Aku juga bisa sekalian membawa

kedua wanita itu padamu.”

“Tidak perlu,” kata Sangguan Lie.

“Tetapi berikan pelajaran pada mereka, aku percayakan

ini padamu.”

“Kalau Seebun Long bagaimana?”

Sangguan Lie berpikir sejenak lalu berkata:

“Aku dan dia memang sudah berpisah, tetapi bagaimana

pun juga aku masih tertarik padanya. Tetapi aku benci Wie

Kai.”

“Jika kau menginginkan Seebun Long, aku akan

mencarikan akal.”

“Tetapi aku juga tidak bisa tidak memperingat kanmu,

“kata orang itu.

“Seebun Long masih memiliki tunangan laki-laki.”

“Siapa?”

“Tonghong Ta-cing.”

Sangguan Lie terkejut sekali.

Sebetulnya dia melihat semuanya adalah hal yang

sederhana.

Tetapi siapa sangka ternyata rumit sekali di dalamnya.

Wie Kai percaya siapa pun akan memerlukan wanita

seperti Lok Hiang.

Wie Kai membawa Lok Hiang tetapi tidak tahu mau

ditempatkan di mana, tiba-tiba ada seseorang muncul di

belakangnya dan berkata:

“Wie-ya?”

“Siapa kau?” tanya Wie Kai.

“Aku adalah Kao Hie.”

“Kau kaki tangan Tonghong Ta-cing.”

“Benar, Wie-ya,” kata Kao Hie. “Tetapi kau tenang saja.”

“Tenang saja?”

“Ya, karena walaupun aku pegawai pemerintah tetapi

aku bekerja untuk orang-orang seperti kalian.”

“Apa maumu?”

“Wie-ya, saat ini apa pun tidak penting. Yang penting

sekarang bukankah harus mencari tempat untuk menaruh

orang ini?”

“Terima kasih! Ini adalah masalahku.”

“Wie-ya, apakah kau bermaksud menempatkan di rumah

Seebun Long?”

“Mengapa? Memangnya tidak boleh?”

“Wie-ya, memangnya dia ada di rumahnya?”

“Wie-ya, Seebun Long berada di tempat ketua kelompok

pertunjukan Lian-seng, Suma Hen.”

“Apa dia pasti ada di sana?”

“Menurutmu dia tidak ada alasan untuk berada di tempat

itu?”

Dari pertama Wie Kai sudah kurang suka dengan Suma

hen.

Tetapi Seebun Long tidak berpikir demikian.

Dia sudah mengenalnya lama sehingga sangat

mempercayainya.

“Wie-ya, berdiri di tengah jalan seperti ini tidak baik.

Jika kau percaya padaku, ikutlah denganku. Ada sebuah

tempat untuk beristirahat sejenak.”

Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya:

“Tidak disangka aku ternyata harus bekerja sama dengan

teman-teman salah satu dari enam perkumpulan besar.”

Tidak lama kemudian mereka sampai di depan pintu

sebuah gadai.

Kao Hie mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu pintu

terbuka. Kao Hie masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh

Wie Kai.

Di dalam rumah hanya terdapat seorang laki-laki.

Kao Hie memberikan Lok Hiang kepada laki-laki itu dan

berkata:

“Masukan kedalam gudang, jangan diberi makan dan

minum, juga jangan sampai kabur!”

“Tenang saja, Kao-ya.”

“Kao-heng, apakah kau menggadaikan orang juga?”

tanya Wie Kai.

“Walaupun ini tidak bisa dibilang menggadai-kan orang,

tetapi bukannya tidak bisa.”

“Aku masih kurang tenang.”

“Wie-ya, bagaimana pun kau harus tenang. Jika tidak

kau tidak akan bisa bermanis-manis di hadapan Suma Hen

dan Tonghong Ta-cing.”

“Siapa sebenarnya Tonghong Ta-cing itu?”

“Pokoknya dia bukan orang yang patut kau lawan,” Kao

Hie berkata lagi, “Yang penting asalkan kita berdua bekerja

sama, pasti sukses.”

“Kemungkinan kau yang sukses tetapi aku tidak.”

“Wie-ya, sekarang aku akan memberitahukan sebuah

rahasia padamu.”

Wie Kai mendengarkannya dengan seksama.

Jika ingin menemui gadungannya, Sangguan Lie sangat

berhati-hati. ‘

Jika orang lain melihat mereka, pasti mereka menyangka

mereka berdua adalah adik kakak.

Mereka berdua sudah sejak tadi duduk saling berhadapan

tanpa bersuara.

Orang ini bernama Bu Si-cin.

Kata BuSi-cin:

“Sangguan-heng, kita berdua berada di dalam

cengkraman tangan orang lain.”

“Kita berdua?”

“Ya, kau di dalam cengkraman Tonghong Ta-cing

sedangkan aku di dalam cengkraman Suma Hen.”

Sangguan Lie tertawa dingin: “Bagaimana bisa?”

“Sejak kasus penculikan ini muncul, sudah bukan rahasia

lagi orang-orang seperti Liu Eng, Lok Hiang, Yu Siau-go,

Liu Ie-sen, dll, terlibat dalam hal ini.”

“Kau cukup perhatian juga, ya.”

“Jangan begitu Sangguan-heng, penderitaanku lebih

besar daripadamu.”

“Penderitaanmu?”

“Tentu saja.” Bu Si-cin berkata, “Aku kan sama sekali

tidak ada bedanya dengan kerbau yang dicocok hidungnya.”

Kata Bu Si-cin:

“Tonghong Ta-cing ingin membunuhmu, sedangkan

Suma Hen ingin membunuhku.”

Dosa apa yang telah diperbuat Sangguan Lie di masa

lalu?

Sehingga di buru orang di sana sini, orang yang mau

membunuhnya juga datang dari sana dan sini.

Istri ditiduri oleh orang lain bahkan sampai harus

‘dibayar’ pula.

Putranya berada di tangan orang lain dan uangnya terus

menerus beralih ke pihak lain.

Kata Sangguan Lie,

“Memangnya kenapa jika Suma Hen ingin

membunuhmu?”

“Dia bakal menggunakan rahasiamu yang tidak boleh

diketahui umum untuk mengendalikan dirimu.”

“Jika Tonghong Ta-cing membunuhku?”

“Setelah dia membunuhmu, aku pasti disuruh

menggantikanmu. Pada dasarnya aku kan memang

gadunganmu, mana bisa aku membantah?”

Sangguan Lie kesal sekali dan juga marah.

Bisa-bisanya orang lain mendesaknya sampai seperti ini.

Tapi dia tidak bisa menyalahkan orang lain, hanya bisa

menyalahkan ketidakmampuan dirinya.

Hanya sebagian besar orang yang bertemu dengan

masalah seperti ini, bisa menyalahkan orang lain.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Kau harus tarik ulur dengan mereka.”

“Tarik ulur dengan mereka? Bukankah itu malah

membuat Siau-liong semakin menderita?”

“Dia sama sekali tidak berada di tangan Suma

Hen,”KataBuSi-cin

Sangguan Lie marah sekali mendengarnya.

Dia sama sekali tidak percaya bahwa suatu hari dia akan

dibuat tidak berkutik seperti ini.

“Jika Siau-liong tidak ada di tangan mereka, lalu di

tangan siapa?” kata Sangguan Lie.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin di tangan Tonghong Tacing

atau di tangan orang lain.”

“Apakah Siau-liong masih hidup?”

“Pasti masih hidup.”

Tonghong Ta-cing dan Kao Hie datang menemui

Sangguan Lie.

Walaupun Sangguan Lie tidak dalam keadaan marah,

tetapi sikapnya sangat dingin sekali. Tonghong Ta-cing

berkata: “Selama t Sangguan Tayhiap! “Selamat?”

“Ya.” Tonghong Ta-cing berkata, “Kami sudah

menemukan tempat putramu sekarang berada.”

Sangguan Lie hampir saja terjatuh dari kursi-nya,

katanya:

“Di mana?”

“Di tangan si keledai hitam dari Lian-sen, Be Nengseng.”

Sangguan Lie berdiri.

“Cong Pu-thauw, apakah aku bisa segera ber-temu

dengan Siau-liong? Apakah dia benar-benar berada di

tangan si keledai hitan dari Lian-sen, Be Neng-seng?”

“Tentu saja.” Tonghong Ta-cing berkata, “Mari kita

berangkat sekarang.”

oooOdwOooo

BAB IV

Sangguan Siau-liong akhirnya kembali ke pangkuan

Sangguan Lie.

Bagi mereka ayah dan anak, semua ini bagaikan mimpi

buruk yang panjang.

Walaupun sudah bangun dari mimpi buruk ini, tetapi

tetap seperti masih berada di dalam mimpi.

Kedua ayah dan anak itu selalu bersama-sama setiap

harinya, seakan-akan ingin menebus segala kerinduan dan

penderitaan yang mereka alami selama perpisahan mereka

Baik tidur maupun makan mereka selalu bersama-sama.

Jika saat ini ada orang yang hendak menculik Siau-liong

lagi maka dia harus membunuh Sangguan Lie terlebih

dahulu.

Sekarang keduanya sedang menikmati santap malam.

Sangguan Lie tidak henti-hentinya mengambilkan sayur

untuk anaknya.

Pada saat ini sesosok bayangan berkelebat masuk dan

berdiri di samping meja mereka. ,

Orang yang datang ternyata Suma Hen.

Kata Suma Hen dengan dingin:

“Kau telah menghianatiku!”

“Tidak!” kata Sangguan Lie.

“Kau masih berani bilang tidak?”

“Tidak ya tidak!”

“Bukankah kau yang membocorkannya?”

“Bukan!”, kata Sangguan Lie, “Kemarin Tonghong Tacing

datang kemari dan mengatakan bahwa Siau-liong

berada di tangan si keledai hitam Be Neng-seng, karena itu

aku segera membawa beberapa orang pergi ke sana.”

“Tapi jika memang kau yang membocorkannya, aku pun

tidak akan peduli!”

“Sudahku katakan, tidak ya tidak!”

Suma Hen berkata lagi:

“Lagi pula Liu Eng masih ada di tanganku.”

“Lalu kenapa?” kata Sangguan Lie.

“Jika aku mengumumkan rencananya pada dunia

persilatan, semua akan geger.”

“Kau mau berapa?” kata Sangguan Lie.

“Masih jumlah yang sama seperti dulu.”

Maksudnya jumlah yang sama pasti mengacu pada uang

yang 500 tail itu.

“Untuk saat sekarang aku tidak bisa mengeluar kan uang

sejumlah itu, tunggulah dalam tiga hari ini.”

“Siapa yang bakal tahu apa yang terjadi tiga hari

kemudian?”

“Kalau begitu bagaimana kalau kuberi cek uang tail

perak?”

“Bagaimana kalau cek nya, yang sebagian tail perak dan

yang sebagian lagi tail emas?”

Sangguan Lie berkata dengan marah:

“Tuan, di dunia ini tidak ada orang yang bisa kaya

mendadak!”

“Untuk hal ini aku lebih paham dari padamu.”

Dari ucapannya sepertinya orang ini tidak akan lama

berada di tempat ini.

Di sebuah rumah gadai, Wie Kai sedang minum arak

bersama dengan Kao Hie.

Di dalam hatinya dia ingin sekali melihat Siau-liong.

Sekarang giliran dia merasakan apa yang dirasa kan oleh

Sangguan Lie dulu.

Bahkan dia sampai terpikir untuk mengganti namanya

menjadi Wie Siau-liong.

Kata Wie Kai:

“Benarkah Siau-liong sudah berada di tangan Sangguan

Lie?”

“Tentu saja. Apakah kau ingin melihatnya?”

“Aku sudah pernah melihatnya,” kata Wie Kai. “Yang

aku ingin tahu sekarang adalah apakah dia sekarang benarbenar

berada di tangan Sangguan Lie?”

“Soal anak itu kau tidak perlu khawatir, untuk sekarang

ini tidak akan terjadi apa-apa. Sementara itu Seebun

Long…..?”

“Jangan singgung tentang dia!”

“Mengapa?” tanya Kao Hie.

“Terlalu liar!”

Kao Hie tertawa sambil berkata lagi:

“Ternyata jadi perempuan itu susah juga.”

“Kau seperti sangat mengerti perempuan.”

“Jika seorang perempuan terlalu jujur, maka laki-laki

yang mengejarnya pasti mengatakan yang sebaliknya di

belakang punggungnya.”

“Aku bukan orang seperti itu.” Kata Wie Kai.

“Laki-laki kebanyakan memang seperti itu, tetapi jika

seorang perempuan sedikit kelewat batas, para lelaki lebih

tidak bisa menerimanya.”

“Sepertinya kekasihmu adalah wanita yang gampangan.”

“Aku belum punya kekasih,” kata Kao Hie. “Mungkin

jika kau sudah memilikinya kelak, pendapatmu pasti

berubah.”

“Berubah bagaimana?”

“Seorang wanita sedikit liar di atas ranjang tidak apa,

tetapi setelah turun dari ranjang dia harus tahu sedikit

aturan.”

Kao Hie mendesah sambil menepuk lututnya:

“Benar-benar pendapa t yang bagus.”

Wie Kai tertawa lalu berkata lagi:

“Tetapi jika perempuan seperti itu benar-benar ada,

pastinya akan sangat menakutkan!”

“Mengapa berkata seperti itu?”

Tiba-tiba pandangan Wie Kai menatap ke pintu belakang

sambil berkata:

“Tidak disangka!”

“Apanya yang tidak disangka?” kata Kao Hie.

Perkataan itu belum selesai, Kao Hie sudah melesat

sejauh 5-6 langkah.

Dia sudah berdiri di samping orang yang datang dari

pintu belakang.

Ada dua orang yang datang, yang satu adalah Tonghong

Ta-cing dan yang satu lagi adalah Seebun Long.

Tidak disangka ternyata perempuan ini jatuh ke pelukan

Tonghong Ta-cing.

Tapi jika dipikirkan kembali, hal ini tidak aneh

Bukankah dia adalah tunangannya Tonghong Ta-cing?

Kao Hie sudah berdiri di samping Tonghong Ta-cing dan

keduanya saling menyapa dan tertawa.

Wie Kai tidak menyangka dia telah terjebak dan dalam

hal ini dia tidak mengira Kao Hie lumayan hebat.

“Kao Hie, sandiwaramu tadi hebat juga,” Wie Kai

“Membunuh orang memang berdosa, tetapi membujuk

mati seseorang tidaklah berdosa.”

Kata Wie Kai:

“Seebun Long, aku benar-benar salut padamu.”

“Kau sangat berhati lapang,” kata Seebun Long.

“Yang berhati lapang adalah Tonghong Cong-pu-thouw.”

“Mengapa aku?” kata Tonghong Ta-cing.

“Karena dia adalah tunanganmu.”

“Lalu apa hubungannya kalau dia tunangan-ku?”

“Karena kau membiarkannya bebas berkeliar-an.”

Tonghong Ta-cing tertawa tanpa ada rasa marah sedikit

pun.

Di dunia ini apa pun bisa dinikmati bersama-sama,

hanya wanita saja yang tidak boleh dinikmati bersamasama.

Lain dengan Tonghong Ta-cing, dia sama sekali tidak

ada reaksi hanya berkata:

“Wie Kai, kau ikut denganku!”

“Mengapa?”

“Kau dituduh ikut terlibat kasus penculikan.”

“Mana buktinya?”

“Bukankah Lok Hiang ada di tempat ini? Kau sendiri

dengan suka rela mengirimkan saksi hidup ke tempat ini.”

Wie Kai tertawa keras.

Kao Hie juga tertawa keras.

Tonghong Ta-cing malah tertawa lebih senang.

Hanya Seebun Long yang tidak tertawa.

Tertawa tidak selamanya mencerminkan kebahagiaan

seseorang.

“Kau sebenarnya tidak ingin aku sampai diadili di

pengadilan.” Kata Wie Kai.

“Oh ya?”

“Karena yang benar-benar menjadi dalang penculikan

Siau-liong adalah tunanganmu sendiri.”

“Memang benar,” kata Tonghong Ta-cing: “Kau benarbenar

jujur.”

“Tetapi di depan pengadilan tentu saja tidak bisa begitu

saja.”

Kata Wie Kai:

“Lalu bagaimana? Menarik kembali pengaku-an? Jangan

lupa masih ada Lok Hiang, kau tidak bisa begitu saja

menutup mulut seorang saksi ma ta.”

“Soal pengakuanku di hadapan pengadilan, biar aku

sendiri yang memutuskan!” Lok Hiang keluar dari pintu

belakang diikuti oleh laki-laki yang menjaga-nya tadi.

“Sekarang ikut denganku!” kata Tonghong ta-cing “Congpu-

thouw, aku ingin menanyakan satu hal padamu.”

“Tanyakan saja.”

“Apakah Sangguan Lie masih berada dalam

kekuasaanmu?”

“Jangan dengar omong kosong yang dikatakan orang

lain.”

“Anak itu sudah kembali padanya?”

“Tentu saja! Ada hal lain?”

“Tidak ada.” Wie Kai menjulurkan tangannya.

Penjaga itu memakaikan borgol pada tangan Wie Kai.

Terdengar suara ‘klik’ pertanda borgol telah terkunci

pada tangan Wie Kai.

Kao Hie terlihat sedikit terkejut.

Seebun Long membuka matanya lebar-lebar tanpa

berkedip.

Hanya Tonghong Ta-cing saja yang tertawa senang.

Tentu saja dia tertawa.

Semua orang yang menjadi Tonghong Ta-cing pasti akan

tertawa senang.

Bagaimana tidak, tanpa susah payah hanya dengan

sekali gerakan, kasus terpecahkan.

Tonghong Ta-cing berkata:

“Wie Kai, kau pendekar yang sudah jatuh.”

“Hal seperti itu tidak perlu kau katakan keras-keras.”

“Tetapi kau tidak mau mengerti.”

“Kalau begitu aku ingin mendengar pendapat orang yang

mengerti.”

“Kau seharusnya tahu, sekali aku turun tangan, demi

keamanan, aku terpaksa harus memusnahkan ilmu

silatmu.”

Wie Kai tertawa. Dia masih saja menganggap hal ini

biasa-biasa saja, katanya:

“Begitu aku menjulurkan kedua tanganku tadi, aku sudah

bisa menebaknya.”

“Hanya sedikit orang yang bisa menerima hal ini,” kata

Tonghong Ta-cing.

“Karena aku sangat mengenal dirimu.”

“Kau tidak cukup mengenal diriku.”

“Apa maksudmu?”

“Sebab jika mulutku berkata aku akan memusnahkan

ilmu silatmu, itu artinya aku tidak akan melaku kannya.”

“Aku salut padamu,” kata Wie Kai tertawa.

Tonghong Ta-cing mengibaskan tangannya: “Bawa

pergi!”

Seebun Long tidak bisa mengerti dirinya. Kao Hie juga

sama.

Sebab dengan kekuatan Wie Kai hanya menghadapi

segelintir orang-orang ini, seharusnya sama sekali bukan

masalah baginya.

Bahkan kemungkinan besar Tonghong Ta-cing sendiri

pun tidak mengerti dirinya.

Sangguan Lie sedang mengajar Siau-liong.

Walaupun masih banyak urusan yang harus

dikerjakannya, tetapi sepertinya dia sama sekali tidak

mengeluh.

Malam semakin larut.

Siau-liong sudah beberapa kali menguap.

Dia mengantar anaknya untuk tidur dan setelah itu dia

kembali ke kamarnya sendiri.

Tiba di kamarnya, ternyata di dalam sudah ada orang

yang menunggunya.

Orang itu ternyata adalah Bu Si-cin.

Tidak peduli kapan pun, begitu melihat dirinya atau pun

mendengar suaranya, Sangguan Lie langsung tidak senang.

Kata Sangguan Lie:

“Sudah kubilang, kalau tidak ada urusan jangan seringsering

datang.”

“Sangguan-heng.”

“Sapaan seperti itu sangat tidak aman.” Bu Si-cin tertawa

dingin dan berkata: “Sangguan Tayhiap, aku datang kemari

untuk menyampaikan pesan.”

“Katakan!”

“Suma Hen ingin aku menyampaikan maksudnya

padamu.”

“Apa?”

“Terima kasih atas kemurahan hatimu.”

“Sangguan Lie selalu menepati janjinya.”

“Ada hal lain lagi yang dia minta untuk kusampaikan

padamu.”

“Jika tidak penting, tidak perlu kau katakan.”

“Aku rasa ini penting.”

“Benar penting?” ^

“Aku jamin kau bisa terkejut setelah mendengarnya.”

“Bah!”

“Martabatku sebagai jaminannya.”

“Memangnya kau punya martabat?”

“Jika kau punya, mengapa aku tidak?”

Muka Sangguan Lie merah padam, jika hendak mengadu

martabat mereka berdua, dia belum tentu bisa lebih berat

dari pihak lawannya.

Dia paling takut membicarakan hal ini.

“Cepat katakan!” kata Sangguan Lie.

“Orang itu berkata, Siau-liong mungkin bukan anak

kandungmu tetapi anak kandung Wie Kai.”

Ingin rasanya Sangguan Lie membuang masa-lah ini ke

dalam air dan membiarkannya mengalir tanpa perlu tahu

sampai ke mana. Malah lebih bagus lagi jika tidak pernah

muncul lagi ke permukaan.

Dia berharap hal ini hilang untuk selamanya.

“Aku tidak percaya! Itu pasti hanya omong kosong

belaka!” kata Sangguan Lie.

“Aku juga tidak berani mengambil kesimpulan apa-apa,

tetapi tampang Siau-liong……”

“Memangnya kenapa?”

“Tinggal lihat saja tampangnya mirip tidak dengan Wie

Kai, beres kan?”

Sangguan Lie tiba-tiba merasa menjadi lebih tua 20

tahun.

Dia menatap seluruh ruangan di sekelilingnya. Semua

yang ada di ruangan itu seakan-akan juga sama sedang

menatap dirinya.

Tiba-tiba dia mengambil pedangnya lalu berkata: “Aku

tidak percaya!”

Bu Si-cin langsung menghambur keluar ruangan. Begitu

Sangguan Lie mengejarnya. Bu Si-cin sudah menghilang.

Dia masuk ke kamar anaknya dan melihat Siau-liong

sedang duduk di atas ranjangnya.

Karena dia mendengar suara ayahnya sedang bertengkar

dengan seseorang makanya dia terbangun.

Dia sama dengan ayahnya.

Dia tidak ingin terpisah lagi dengan ayahnya untuk

kedua kalinya.

Sangguan Lie tiba-tiba sudah berdiri di depan ranjang

anaknya.

Dia membuang pedangnya dan kedua tangan-nya

memeluk wajah anaknya.

Dia menilai-nilai wajah anaknya.

Dari atas kepalanya, alisnya, matanya, hidungnya,

mulut, telinga.

Lalu dari bawah kembali ke atas.

Akhirnya dia sama sekali tidak melihat hal yang aneh.

Mirip dengan Seebun Long, tidak mirip dengan dirinya.

Lalu dia memperhatikannya sekali lagi.

Dahinya yang lebar, alis yang panjang, hidung mancung

dan bibir yang lebar, tidak ada satu pun yang tidak mirip

Wie Kai.

Hanya matanya saja yang mirip Seebun Long.

Boleh dikatakan tidak ada satu pun yang mirip dengan

dirinya.

Sekujur tubuh Sangguan Lie menjadi dingin.

Dengan sekuat tenaga dia mendorong Siau-liong ke

ranjang.

Siau-liong sama sekali tidak mengerti apa yang sedang

terjadi karena ayahnya tidak pernah berlaku seperti ini

sebelumnya.

Dia tidak mengerti mengapa orang dewasa begitu

menakutkan.

Dia berkata dengan takut-takut:

“Ayah! Mengapa kau memperlakukan Siau-liong seperti

ini?”

“Jangan panggil aku ayah! Jangan pernah memanggilku

lagi!”

Sangguan Lie menutup telinganya dengan kedua

tangannya.

Tekanan yang dia terima sudah terlalu berat.

Penghianatan istrinya. Rahasia yang terbongkar. Istri

keduanya yang liar.

Dan sekarang bertambah satu lagi, anaknya bukanlah

anak kandungnya.

Dia menundukkan kepalanya.

Kemudian kedua ayah dan anak itu saling bertukar

pandang sejenak, lalu dia mengambil pedangnya dan keluar

dari ruangan itu.

0ooo0dw0oo0

BAB V

Di dalam sebuah ruangan tanpa cahaya, ada seseorang

yang sedang membereskan benda-benda berharga dalam

kegelapan.

Indera perasa Bu Si-cin memang sangat tepat.

Dia harus segera meninggalkan tempat ini.

Barang yang telah dikumpulkannya selama ini lumayan

juga banyak.

Ada yang merupakan hadiah pemberian dari Liu Eng,

ada juga pemberian Sangguan Lie atas kerja kerasnya

berupa ‘bunga merah’.

Dia benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik.

Pada dasarnya dia ingin sekali tinggal di sini.

Jika dia membunuh Sangguan Lie, yang palsu pun bisa

menjadi yang asli.

Tetapi dia adalah orang yang tahu diri.

Dulunya dia bukanlah siapa-siapa dan dia sudah cukup

menikmati hidup enak selama ini, di-tambah lagi dia masih

belum mau mati di tangan Sangguan Lie.

Belum selesai Bu Si-cin membereskan kantong

bawaannya, tiba-tiba di depan muka pintu berkelebat

bayangan seseorang yang masuk ke dalam ruangan.

“Siapa?”

“Kao Hie,” kata orang yang baru datang.

“Ilmu yang hebat.”

“Terima kasih.”

“Ada perlu apa mencariku?”

“Ada perlu sedikit, ini bakal menjadi yang terakhir

kalinya.”

“Yang terakhir?”

“Kau kan hendak pergi! Tentu saja jadi yang terakhir

kalinya bukan?”

Sungguh kata-kata yang tidak enak didengar. “Sekarang

aku sedang berada dalam situasi yang. sulit,” kata Bu Si-cin.

“Ya, aku tahu.”

“Kau adalah orang pintar, jika demikian segala

sesuatunya menjadi lebih mudah.”

“Coba aku ingin dengar penawaranmu.” “Sepuluh ribu

tail perak.”

“Jumlah yang tidak sedikit, “kata Kao Hie. “Tetapi jika

bisa digandakan malah lebih bagus lagi.”

“Kau tamak juga!”

“Tidak juga, malah ada orang yang jauh lebih tamak

dariku yang bisa membuatmu kaget.”

“Siapa?”

“Suma Hen, Tonghong Ta-cing dan lain-lain. Tapi aku

rasa mereka tidak akan sepengertian diriku”

“Kurang ajar.”

Bu Si-cin melesat ke udara sambil mengeluar-kan

sepasang pisau kecilnya.

Gerakannya cukup cepat dan tekniknya juga cukup

kejam.

Kao Hie dalam sekejap sudah melesat di udara dan

sekejap kemudian berada di tanah.

Bu Si-cin bukanlah orang bodoh, dia tahu dia bakal

kerepotan menghadapi Kao Hie.

Kao Hie berhasil menghindari pisau yang menyerangnya

dan senjata itu menghantam tembok.

Lalu dia menggunakan pisaunya menyerang balik Bu Sicin.

Saat itu ada seseorang yang menerjang masuk. Dalam

sekejap orang ini menepis serangan pisau tadi.

Semula Kao Hie mengira orang ini adalah Tonghong Tacing,

Tetapi setelah dilihat-lihat, ternyata tidak mirip.

Orang ini menyerang Kao Hie.

Tanpa membuang waktu Bu Si-cin menyambar

kantungnya dan melesat keluar melalui jendela.

Kao Hie merasa tidak asing dengan sepasang mata yang

berada di atas kain penutup mulut orang itu.

Tentu belum lama ini dia pernah bertemu dengan orang

ini.

Lagi pula sabetan pisaunya terasa sekali berniat

mencelakainya.

‘Sret….” Bagian perut Kao Hie terluka oleh sabetan

pisau.

Kao Hie segera melesat melarikan diri melalui jendela.

Anehnya orang yang misterius itu sama sekali tidak

mengejarnya.

Bu Si-cin melarikan diri sampai ke daerah kuburan.

Dia sama sekali tidak menyangka bakal di-tolong oleh

seseorang yang misterius.

Bu Si-cin berkata sambil menelan ludahnya:

“Lo-toa, untunglah kau datang tepat pada waktunya.”

“Tidak seharusnya kau pergi tanpa pamit ter-lebih

dahulu,” kata orang yang di panggil Lo-toa.

“Setelah membereskan barang-barangku, niat-ku

memang begitu.”

“Huh! Kantongmu itu paling juga hanya berisi beberapa

puluh ribu tail saja, begitu saja kau sudah berubah.”

“Tentu saja tidak, Lo-toa.”

“Lebih baik kita kabur dulu baru bicara,”

“Baik.”

“Hidup enak sudah kau nikmati, bahkan Sangguan Lie

sendiri pun tidak bisa berkutik, sekarang kau sudah puas,

kan?”

“Lo-toa, bagaimana pun walau tidak berjasa tapi aku pun

ada pengorbanan.”

“Memang.”

“Apakah artinya kau mau melepaskan aku?”

“Kau tidak tahu yah? Kematianmu itu sudah masuk

dalam agenda rencana.”

Bu Si-cin tanpa tarasa mundur tiga langkah sambil

berkata dengan dingin:

“Jadi kematianku sudah ditentukan?”

Orang yang berkedok itu tertawa dingin.

Bagi telinga Bu Si-cin, tawa itu terdengar tajam menusuk

seperti pedang.

Tiba-tiba orang itu mengeluarkan tangannya.

Di tangannya ternyata ada pisau-pisau kecil yang tadi.

Tetapi bedanya, pisau itu terlihat seperti hidup di tangan

orang berkedok itu.

Pisau-pisau itu terus mengarah ke tenggorok-kan Bu Sicin.

Tiba-tiba orang itu berkata:

“Bu Si-cin, mengapa tidak kau suruh teman yang

dibelakangmu itu untuk ikut maju juga?”

Bu Si-cin sama sekali tidak mengerti, teman yang mana?

Dia sama sekali tidak punya teman. Seberkas sinar

berkelebat, ternyata pisau itu sudah menancap di

kerongkongan Bu Si-cin.

Bu Si-cin tewas dengan mengenaskan.

“Siapa?” seru orang berkedok itu.

Ternyata perkataannya tadi bukan omong kosong belaka.

Sebenarnya perkataannya tadi ada dua maksud.

Pertama bisa mengalihkan perhatian Bu Si-cin sehingga

dia bisa menyerang tanpa di duga.

Yang satu lagi adalah memberitahu orang yang satu lagi

bahwa dia sudah ketahuan.

Tetapi orang itu tidak membalas sahutannya.

Pada mulanya dia mengira Kao Hie yang datang

mengejarnya.

Tetapi itu tidak mungkin sebab saat ini Kao Hie sedang

terluka.

Mungkin hanya halusinasinya saja.

Sekarang dia memeriksa isi kantung Bu Si-cin, berapa

banyak barang berharga di dalamnya.

Gerakan orang berkedok itu sangat cepat. Dia

mengambil uang emas yang ada di dalam kantung itu lalu

pergi.

Baru saja orang itu pergi, Kao Hie datang.

Kata Kao Hie sambil menghela nafas:

“Dulu sewaktu masih hidup kau makan dan minum enak

dalam pelukan wanita, sekarang mati pun memang sudah

sepantasnya! Tapi maaf, sekarang aku hendak mengeledah

tubuhmu dulu.”

Dari tubuh Bu Si-cin, Kao Hie berhasil mendapatkan

beberapa lembar cek.

“Sepertinya kau memang lebih pintar dari orang itu,

tetapi aku jauh lebih pintar darimu.”

Begitu Kao Hie berlalu, lagi-lagi ada orang lain lagi yang

datang.

Orang ini sama sekali tidak melihat isi kantung Bu Si-cin

dan juga tidak menggeledah tubuhnya.

Dia hanya memandangi mayat Bu Si-cin, lalu berkata:

“Sepintar-pintarnya dirimu mana mungkin melebihi

kepintaranku?”

Sekarang Sangguan Lie seakan-akan sudah tidak waras.

Dulu asalkan ada Sangguan Siau-liong, dia sudah tidak

butuh apa-apa lagi.

Tetapi sekarang semuanya sudah berubah.

“Sangguan Siau-liong adalah anak haram!” Itu lah yang

ada dalam pikiran Sangguan Lie sekarang.

Di tengah kegelapan malam, Sangguan Lie berjalan di

jalanan, tidak tentu arah.

Bagi dirinya sekarang, walaupun dunia ini luas tetapi

sudah tidak ada tempat lagi bagi dirinya, di mana pun juga.

Tidak terasa dia sudah sampai di depan pintu sebuah

ekspedisi pengantar barang.

Dari pintu itu keluar 3 buah kereta yang membawa

isinya yang sangat berat.

Tentu saja dia tahu, isinya pasti barang berharga.

Apalagi mereka berangkatnya di tengah malam buta

seperti ini, pasti isinya sangat berharga sekali.

Pemimpin ekspedisi itu ada dua orang dan sepertinya

mereka bersaudara, usia mereka kurang lebih sekitar 30* an.

Tentu saja Sangguan Lie mengenalnya, mereka ini

adalah pemilik dari Ih-li Piau-kiok, Sie Liam-lai dan Sie Talai.

Mereka adalah pemimpin ekspedisi yang sangat terkenal.

Tadinya Sangguan Lie tidak ada niat untuk melihat hal

ini, tetapi tiba-tiba dia melihat ada dua orang gadis yang

berusia sekitar 20 tahunan, berbicara dengan mereka

beberapa kata lalu menutup pintu.

Kedua gadis ini tidak hanya cantik tetapi juga putih dan

kulitnya mulus.

Saat ini tiba-tiba gairah Sangguan Lieber-gejolak.

Boleh dikatakan, dia ingin mencoba apakah dirinya

benar-benar tidak mampu lagi?

Beberapa tahun belakangan ini, dia sama sekali tidak

pernah memikirkan wanita karena dipikirkan juga percuma.

Melihat gadis cantik pun dia tidak pernah tergugah.

Karena itulah dia tidak pernah memerlukannya.

Tapi kali ini lain, dia merasakan ada reaksi di dalam

rubuhnya.

Bagi Sangguan Lie hal ini jauh lebih berharga dari semua

harta yang dimilikinya.

Setelah sekian lamanya.

Oleh karena itu dia ingin mencobanya.

Sangguan Lie memasuki gedung ekspedisi ini.

Untung sekali mereka sudah pergi sehingga di dalamnya

hanya tersisa beberapa orang saja.

Dalam sekejap mata dia sudah tiba di depan tempat tidur

gadis itu.

Sangguan Lie menutup wajahnya dengan secarik kain.

Walaupun nama Sangguan Lie di dunia persilatan tidak

bagus dan bersih, tetapi tidak juga jelek.

Tetapi sampai di usianya yang sekarang malah justru

tidak tahu bagaimana menghargainya.

Dia memasuki tempat ini dan letak kamar dari gadis itu

berada di tengah-tengah rumah ini.

Untunglah kedua orang itu pergi keluar mengantar

barang sehingga di rumah itu hanya tersisa beberapa orang

saja.

Dalam sekejap mata Sangguan Lie sudah berdiri di

hadapan ranjang gadis itu.

Setelah menghela nafas dua kali, dengan wajah yang

masih tertutup, dia menyingkap tirai penutup ranjang gadis

itu.

Lalu dia membuka pakaian atas gadis itu dengan

menggunakan pedangnya.

Dia langsung terpikat melihat tubuh molek dari gadis itu

sehingga tanpa sadar mengeluarkan suara.

Suaranya itu membuat sang gadis terbangun.

Karena sudah lama tidak bereaksi terhadap hal seperti ini

membuat dia terlambat sadar.

Gadis itu menjerit.

Sangguan Lie segera mengarahkan ujung pedangnya ke

arah tenggorokan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?” kata Gadis cantik itu.

“Seharusnya kau sudah tahu.”

“Aku tahu siapa dirimu.”

“Kau tahu siapa aku? Itu malah bagus!”

“Tidak disangka orang sepertimu melakukan hal

seperti ini!”

“Aku terpaksa,” kata Sangguan Lie.

“Terpaksa?” gadis itu tentu saja tidak mengerti.

“Benar.”

“Apanya yang terpaksa?”

“Aku tidak pernah membicarakannya dengan orang

lain.”

“Mengapa?”

“Karena ini adalah masalah laki-laki. Selama 5-6 tahun

ini aku kehilangan kemampuanku sehingga istriku tidur

dengan lelaki lain.

Gadis ini bukannya takut malah merasa iba dan kasihan.

“Karena itu aku sangat menderita.”

“Jika kau sudah tidak mampu lagi, lalu mau apa kau

datang kemari malam-malam begini?”

“Aku hanya ingin coba-coba saja.”

“Kau mau membuatku menjadi kelinci percobaanmu?”

Gadis cantik itu agak marah.

“Bukan, bukan. Tadi aku melihatmu di jalan dan aku

seperti bagaikan melihat bidadari.”

Bidadari? Semua orang mengatakan bahwa dia cantik

tetapi belum pernah ada yang mengatakan bahwa dia

seperti bidadari.

Dia agak sedikit senang mendengarnya.

Dia adalah istri dari pemimpin kedua eksptvlisi ini, Sie

Ta-lai. Kalau sedang tidak mengantar barang, yang dia

lakukan adalah rajin berlatih ilmu silat.

Orang seperti itu pastinya akan menelantarkan istrinya.

Dan alasannya hanya dua, yang pertama adalah karena

kelelahan dan yang kedua adalah khawatir luka di tubuhnya

membuat takut wanita.

Dan dia menganggap wanita itu hanyalah benda yang

merepotkan.

Gadis cantik ini baru berusia sekitar 21 tahunan dan

tentu saja sedang mekar-mekarnya.

Kata Sangguan Lie:

“Bagaimana? Di waktu yang akan datang aku akan

sangat berterima kasih.”

“Apakah kau tidak akan melepaskan kedok-mu?”

Sangguan Lie menurunkan penutup wajahnya.

Tentu saja gadis ini mengenalnya.

Di dunia persilatan, walau dalam jarak ratusan li

sekalipun, siapa yang tidak mengenal Sangguan Lie?

“Ternyata kau!”

“Apakah kau pikir aku tidak akan bisa melakukan hal

seperti ini?” kata Sangguan Lie.

“Kau begitu kaya, orang lain tentu saja tidak akan

menyangka kau melakukan hal seperti ini.”

Sangguan Lie menyarungkan lagi pedangnya dan mulai

membuka pakaiannya.

Tidak disangka penyakitnya telah sembuh.

Betapa senangnya Sangguan Lie.

Dan kebetulan sekali gadis ini sepertinya tertarik dengan

kekayaan dan ketenarannya.

Sangguan Lie menatap tubuh molek gadis itu dan begitu

juga sebaliknya.

Baru saja Sangguan Lie hendak melakukannya, tiba-tiba

saja pintu kamar terbuka.

Dari mulut pintu terlihat seorang pria dan seorang gadis

cantik lainnya.

Kebetulan sekali gadis ini juga adalah salah satu gadis

yang dilihatnya di jalan tadi.

Dia adalah istri dari pemimpin pertama.

Pada dasarnya kedua istri pemimpin ini memang tidak

akur dan tentu saja inilah kesempatan yang baik baginya.

Tadi sewaktu gadis itu menjerit, istri dari pemimpin

pertama sudah mendengarnya.

Mereka semua menguasai ilmu silat, hanya saja jarang

ditunjukkan di depan umum. .

Dia telah mendengar semuanya di luar jendela dan

sangat senang karenanya.

Lalu diam-diam dia memanggil salah seorang

pegawainya.

Sangguan Lie sangat terkejut dan gadis yang ada di atas

ranjang itu tiba-tiba menjerit: “Tolong!”

Saat ini dia baru menyadari pengaruh dari suatu

ketenaran dan kekayaan itu.

Jika tidak, mengapa gadis ini tidak kabur dari tadi?

Gadis itu berkata dengan suara keras:

“Jangan biarkan penjahat ini kabur. Tolong…….

Tolong…….pemerkosa

Baru saja gadis ini berteriak minta tolong, bersamaan

dengan terbukanya pintu.

Wanita memang punya cara tersendiri untuk

mempertahankan dirinya.

Sangguan Lie sama sekali tidak bisa berkutik.

Padahal dilihat dari kemampuannya seharus-nya dia bisa

menerobos keluar.

Tapi sebagaimana pun kuatnya seseorang tentu saja tidak

bisa berbuat itu sambil memakai baju kan?

Tidak ada perguruan manapun yang mengajarkan

padanya teknik bertarung sambil memakai baju.

Gadis yang di atas ranjang masih tetap ber-teriak minta

tolong, sedang gadis yang di depan pintu juga sama

berteriak.

“Perempuan tidak tahu diri, jelas-jelas istri orang tapi

masih berani main belakang dengan lelaki lain, dasar

perempuanjalang!”

Pegawai itu sama sekali bukan lawan Sangguan Lie, d

alam sekejap saja sudah bisa mengalahkan.

Gadis cantik itu juga langsung ikut bertarung dengan

mengayunkan goloknya.

Baru saja Sangguan Lie berhasil mengenakan celananya.

Ketika mau memakai bajunya, tiba-tiba sebuah tusukan

pisau mengenai pinggang belakangnya.

Yang menusuknya adalah Ji-hujin yang hampir bercinta

dengannya.

Dia tidak pernah menyangka Ji-hujin akan menusuknya

dari belakang.

Tapi yang lebih tidak disangkanya lagi, tiba-tiba Ji-hujin

mengeluarkan sebilah pisau lagi dan langsung menyerang

Toa-hujin melewati bahu kanan-nya dan langsung menusuk

kepalanya.

Pegawai yang tadi masuk berkata:

“Ji-hujin, mengapa kau membunuh orang sendiri?”

Tanpa bicara Ji-hujin pun langsung membunuh pegawai

ini, sebelum bajunya dirapikan.

Sangguan Lie termangu-mangu.

Ji-hujin dengan santai merapikan pakaiannya.

“Kau sungguh kejam,” kata Sangguan Lie.

“Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih!”

“Aku?”

Lagi-lagi Ji-hujin tertawa sambil berkata: “Jika tidak

begini, mana bisa membereskan masalah yang merepotkan

ini?” ,

“Tapi kau menusukku juga.”

“Itu hanya untuk mengelabui orang lain,” kata Ji-hujin,

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Tidak apa-apa.”

“Ya, tentu saja! Jika tadi aku menggunakan tenaga,

memangnya kau masih bisa hidup seperti sekarang?”

Sangguan Lie mengangguk-anggukkan kepala.

Reaksinya memang kalah cepat dengan gadis ini.

“Nah, sekarang giliranmu. Kau bawa kedua mayat ini ke

dalam kamar Toa-hujin. Ini harus ada penyelesaiannya.”

“Apakah kau ingin orang lain menyangka bahwa Toahujin

dan orang ini diam-diam berkencan?”

“Benar.”

“Tapi mereka berdua kan mati?”

“Pokoknya pindahkan saja, nanti kau akan mengerti

sendiri.”

Sangguan Lie terpaksa menurut.

Dia tidak menyangka orang seperti dirinya akan

mengerjakan hal seperti ini.

Sesudah melakukan sesuai perintah, Ji-hujin memanggil

kembali untuk membantu membersihkan darah di

kamarnya.

Begitu selesai, Ji-hujin segera pergi ke kamar Toa-hujin.

Ji-hujin memandangi kedua mayat itu sambil

menimbang-nimbang.

“Kau sedang apa?” kata Sangguan Lie.

“Aku sedang berpikir bagaimana mengatur tentang posisi

antara Toa-hujin dengan pegawai itu agar terlihat

meyakinkan.”

“Tentu saja di atas ranjang. Tetapi lalu siapa yang

membunuh mereka?”

“Baiklah! Kau taruh mereka berdua di atas ranjang lalu

posisikan mereka seakan-akan mereka sedang melakukan

hubungan tubuh.”

Tidak disangka-sangka ternyata Sangguan Lie benarbenar

menuruti perintah orang ini.

Dia terlebih dahulu melucuti pakaian Toa-hujin, barulah

kemudian melucuti pakaian si pegawai.

Sangguan Lie melihat luka tusukan pada kedua mayat

itu, tusukannya sangat dalam dan mematikan.

Sangguan Lie membalikkan tubuh mereka dan melihat

wajah Toa-hujin.

Pada dasarnya dia memangsangat cantik.

“Nasibmu jelek sekali,” kata Ji-hujin.

“Aku?”

“Jika mereka berdua tidak datang atau telat sedikit saja,

kau sudah mendapatkan aku dan mem-buktikan apakah kau

masih bisa melakukannya atau tidak.”

Peruntungannya memang jelek sekali.

Dia sendiri sampai tidak habis berpikir meng-apa dia bisa

sampai mengalami kejadian seperti ini.

Tiba-tiba Sing ….sing ….sing…. Ji-hujin melemparkan

tiga buah pisau ke arah Sangguan Lie.

Sangguan Lie berhasil menghalau sebuah pisau tetapi

yang dua berhasil menancap di punggungnya.

Ji-hujin lagi-lagi melemparkan sebuah pisau lagi ke arah

Sangguan Lie dan kali ini mengenai bagian pinggangnya.

Sangguan Lie roboh di pinggir ranjang dan tidak

bergerak sama sekali.

Ji-hujin tertawa.

Darah menetes dari ketiga mayat itu mem-basahi ranjang

sampai ke lantai. Tetapi wajahnya sama sekali tidak

menampakkan ekspresi apa pun.

Dia menimang-nimang ke tiga mayat itu:

“Harus dipikirkan baik-baik, bagaimana baik-nya

mengatur semua ini?”

Di belakangnya terdengar ada suara yang berkata dingin:

“Aku ada akal!” Ji-hujin terkejut setengah mati. Dia

membalikkan tubuhnya, ternyata orang itu adalah

suaminya, Sie Ta-lai.

Sie Ta-lai berdiri menggenggam goloknya sambil

memandang istrinya.

“Ta-lai, baguslah kau sudah pulang,” Kata Ji-hujin,

“aku menemukan kakak ipar…..”

Sie Ta-lai mengangkat tangan memotong perkataannya:

“Aku sudah melihat semuanya.” Ji-hujin tidak bisa

berkata apa-apa, hanya bisa menangis di hadapannya

sambil berkata:

“Sangguan Lie menggunakan pedangnya menodongku

….”

Kata Sie Ta-lai sambil menggerung: “Jangan menangis!”

Tangisan Ji-hujin segera berhenti. “Aku baru saja bilang

aku ada akal.” Ji-hujin berkata dengan senang sebab

suaminya ternyata sehati dengannya:

“Ta-lai, kau ada ide apa?”

“Sekarang ada tiga mayat, betul kan?”

“Betul.”

“Tiga itu angka ganjil bukan?”

“Ya, anak kecil pun tahu hal ini.” Tiba-tiba golok Sie Talai

melesat ke depan

Tanpa sempat menjerit, golok itu menembus perut Jihujin

dan membuat tubuhnya tergolek di samping ranjang.

“Ta-lai,kau…..”

Sahut Sie Ta-Iai sambil menekankan setiap ucapannya:

“Tidak lama setelah kau masuk ke dalam keluarga Sie,

aku mendengar sewaktu kau masih di rumah orang tuamu,

kau pernah ada main dengan seseorang dari keluarga Ong.

Tetapi karena tidak ada bukti aku tidak mempersoalkannya

lebih lanjut! Tetapi hari ini aku keluar rumah, karena ada

barangku yang tertinggal maka aku kembali untuk

mengambilnya. Aku kembali bertepatan saat kau

membunuh kakak ipar dan pegawai itu.”

Ji-hujin sudah tidak bergeming dan ususnya keluar dari

lubang luka di perutnya.

Kejadian ini membuat Sie Ta-lai pusing tujuh keliling.

Tetapi tiba-tiba dia teringat, cara yang terbaik adalah

pergi begitu saja.

Asalkan dia merahasiakan semua ini dari kakaknya,

dengan mengatakan bahwa dia tidak jadi pulang ke rumah,

dengan sendirinya ini akan menjadi kasus yang tidak

terpecahkan.

………………………………….

Wei Kai sedang ditahan di dalam sel.

Tetapi ini bukanlah tahanan milik pemerintah.

Tonghong Ta-cing sedang tidak ada di rumah. Kao Hie

sedang berbincang-bincang dengan Seebun Long di dalam

rumah.

“Apakah benar Sangguan Siau-liong bukan anaknya?”

“Tentu saja bukan.”

“Jika bukan, mengapa kau mengatakan sebaliknya

sehingga membuat dirinya menderita?”

Wei Kai bisa mendengarkan pembicaraan mereka dari

dalam selnya.

“Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa Wei Kai

dengan pasrah mau mengenakan borgol di tangannya.”

Kata Kao Hie.

“Aku tahu mengapa.”

“Ya, jika kau saja tidak tahu maka di dunia ini tidak akan

ada orang yang tahu!”

“Dia sedang terguncang, dia baru saja tahu Sangguan

Siau-liong adalah anaknya.”

Siapa yang tidak sedih dan sakit hati ketika tahu bahwa

anak yang diculiknya dan diminta tebusan ternyata adalah

anak kandungnya sendiri?

Tentu saja mungkin hanya Seebun Long seorang yang

seperti itu.

“Apa Sangguan Siau-liong sungguh anaknya?”

Seebun Long menggelengkan kepalanya:

“Bukan.”

“Bukan?”

“Ya.”

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan padanya bahwa

Siau-liong adalah anaknya?”

“Walau pun bukan aku sendiri yang langsung

memberitahukannya, tetapi dia memang menanyakannya

padaku, dan aku mengiyakannya.”

Kao Hie menatapnya dengan penasaran.

“Aku hanya ingin dia tinggal.”

“Apakah saat itu dia hendak pergi dari sini?”

“Ya.”

“Karena dia telah melakukan perbuatan jahat dan

nyawanya sekarang ada dalam bahaya, apa yang akan kau

lakukan sekarang?”

“Aku tidak ada rencana apa pun.”

“Kau benar-benar hebat!”

Seebun Long tertawa tetapi sinar matanya mem beritahu

Kao Hie kalau dia punya rencana sendiri.

Di saat itu Tonghong Ta-cing sudah pulang dan

menyuruh Kao Hie untuk kembali ke markas.

Kao Hie berpikir sejenak lalu memandang Seebun Long

dengan tatapan yangdalam. Seebun Long berkata:

“Apa ada sesuatu yang hendak kau katakan padaku?”

“Sangguan Lie sudah dibunuh orang.”

Seebun Long sangat terkejut sekali.

Dengan matinya Sangguan Lie maka tidak ada orang

yang merawat Sangguan Siau-liong.

Walaupun di permukaan Seebun Long seakan-akan tidak

peduli, tetapi di dalam hatinya tidak demikian.

“Benarkah?”

“Ada empat orang yang mati secara bersamaan di waktu

yang bersamaan dan Sangguan Lie salah satunya. Dan ada

tuduhan terhadapnya bahwa dia telah memperkosa seorang

perempuan.”

“Kau boleh menuduhnya dengan tuduhan apa pun,

tetapi tidak dengan tuduhan yang ini.”

“Di dunia ini apa pun bisa terjadi.”

“Tetapi aku tahu mengenai hal yang tidak kau ketahui.”

“Bagi lelaki yang kehilangan kemampuannya, bukan

tidak mungkin karena sesuatu hal yang memicu dirinya

tiba-tiba sembuh dengan sendirinya.”

Tonghong Ta-cing datang bersama Suma Hen.

Begitu melihat, Kao Hie langsung memasang ancangancang

hendak menyerangnya.

Kata Tonghong Ta-cing:

“Kao Hie, dia adalah saksi utama kita dan juga

pembunuhnya, harus dibiarkan hidup.”

Kata Suma Hen tertawa dingin:

“Memangnya apa kejahatanku?”

“Bukankah orang-orang yang mati belakangan ini adalah

hasil perbuatanmu?”

“Jangan sembarang menuduh orang!”

“Suma Hen, kau tidak akan bisa kabur lagi.”

Tiba-tiba Suma Hen menyerang ke arah Kao Hie tetapi

berhasil dihindarinya.

Kemudian Suma Hen menyerang Tonghong Ta-cing

dengan senjata rahasia. Takut senjata rahasia itu beracun,

Tonghong Ta-cing hanya bisa menghindar.

Suma Hen berhasil kabur ke arah hutan dan tidak terlihat

lagi.

Tiba-tiba saja kediaman pribadi milik Tonghong Ta-cing

dilalap api.

Ada orang entah siapa telah membuka pintu ke ruangan

bawah tanah dan mengakibatkan ruangan di bawah tanah

dipenuhi asap tebal.

Hanya sebentar tempat itu menjadi lautan api.

Saat Kao Hie dan Tonghong Ta-cing kembali, di sana

hanya tinggal tersisa 2-3 orang bawahannya saja.

Tonghong Ta-cing sangat murka dan berkata:

“Di belakang masih ada orang yang ditahan, apakah

orang itu masih ada?”

Bawahannya pergi memeriksa dan tidak lama kemudian

dia ditemukan telah mati oleh senjata rahasia yang beracun.

“Tidak usah ditanya lagi,” kata Kao Hie. “Mayat ini pasti

Wei Kai.”

Tonghong Ta-cing marah luar biasa.

“Sebelum Wei Kai mati terbakar, pasti dia sudah

dibunuh terlebih dahulu oleh senjata rahasia yang beracun.”

Kao Hie memerintahkan anak buahnya untuk

memeriksa sekelilingnya tetapi tidak menemukan apa-apa.

Suma Hen punya satu kebiasaan buruk.

Pada saat dia sedang tidak enak hati, dia tidak mau

minum arak.

Pada saat hatinya sedang senang, dia pasti akan minum

arak.

Lagi pula menurutnya, laki-laki tidak boleh minum arak

yang tawar, hanya perempuan saja yang boleh minum.

Saat ini dia sedang duduk di sebuah kedai dan sedang

menikmati pesanannya. Sepiring telur orak-arik, sepiring

kuping babi panggang, sepiring kacang, dan juga arak.

Dia senang karena sejauh ini rencananya boleh

dikatakan lumayan lancar.

‘Wush….’ Tiba-tiba ada orang yang datang ke meja Suma

Hen dan melemparkan pisau kecil pada lengan baju kiri

Suma Hen sehingga tertahan di atas meja.

Raut wajah Suma Hen sama sekali tidak berubah malah

tertawa.

Orang itu pun tertawa dan duduk di hadapan Suma Hen.

Yang datang ternyata Cong-pu-thouw Tong-hong Tacing.

Kata Tonghong Ta-cing:

“Apakah kau melihatSeebun Long?”

Suma Hen menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pasti dia pergi karena sedih dan bukan karena hal lain.”

“Sepertinya begitu.”

“Wanita itu memang bodoh.”

“Tentu saja, untung dia tidak pernah sampai

menghalangi jalan kita. Wei Kai sudah terkena 3 buah

senjata beracunku sebelum kubakar habis tubuhnya.”

“Bagus sih bagus,” kata Tonghong Ta-cing. “Tetapi aku

tetap saja tidak tenang.”

“Tidak tenang bagaimana?”

“Sangguan Siau-liong dan Liu Eng.”

“Apakah kau pikir sulit membereskan Liu Eng?”

“Tidak juga. Pertama aku sudah membongkar masalah

Sangguan Lie palsu yang selama ini tidur dengannya, lalu

soal mencelakai Siau-liong dia nyaris tersangkut di

dalamnya. Sebenarnya aku sudah pernah mengancamnya

kalau beberapa kasus pembunuhan yang lain adalah

perbuatannya.”

“Dia sudah tidak bisa lari kemana-mana.”

“Dia harusnya mendengarkan kita. Hanya saja tindakan

kita harus lebih hati-hati, menderita kekalah-an di saat

kemenangan sudah di ambang pintu sangatlah

menakutkan.”

Suma Hen mengangkat gelas untuk bersulang.

Saat rencana besar sukses, suasana hati tentu saja senang

dan gembira.

-o00dw00o-

BAB VI

Di tengah malam di sebuah desa di daerah pinggiran,

ada sebuah rumah penduduk yang lentera-nya masih

menyala.

Dan sinar lentera itu membentuk dua buah bayangan

panjang manusia.

Bayangan yang tinggi berkata:

“Tidak disangka tega sekali kau menghianati

tunanganmu.”

Terdengar suara seorang wanita berkata:

“Aku sih senang-senang saja!”

“Keterlaluan sekali kau.”

“Kau bukannya berterima kasih atas pertolonganku tapi

malah memarahiku!”

“Pada dasarnya kau memangketerlaluan!”

“Berani sekali kau memarahiku!” Perempuan itu marah

sekali sampai terdapat genangan air mata di pelupuk

matanya.

Pria itu berkata sambil menghela nafas: “Kau memang

iblis wanita.”

Wanita itu hanya tertawa. Pria itu memotong tawa

wanita: “Mayat yang terbakar itu siapa?”

“Mungkin bawahan dari Tonghong Cong-pu-thouw.”

“Mengapa Lok Hiang kau bunuh?”

“Menurutmu mana yang lebih baik, dibunuh atau

tidak?”

“Aku tidak perlu menjawabnya.”

“Mengapa?”

“Karena kau sudah punya jawaban yang tepat.”

“Memang benar, dengan membunuh Lok Hiang maka

semua saksi mata sudah musnah.”

“Kau menganggap dirimu pintar ya?”

“Memangnya kau menganggap diriku ini bodoh?”

“Setidaknya kau lah biang keladi dari semua ini,” kata

Laki-laki itu sambil tertawa dingin.

“Apa aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun?”

“Setidaknya ada beberapa orang jahat yang menanggung

kesalahanitu, jadi jangan khawatir.”

Tiba-tiba wanita itu menghela nafas.

“Aku telah sedikitberbohongpadamu.”

“Tetapi kebohonganmu tidak sampai merugikan.”

“Sebenarnya yang menolongmu itu bukanlah aku.”

“Siapa?”

“Aku sendiri juga tidak tahu.”

“Dasar kau ini!”

“Kejadian sebenarnya adalah aku tahu ada orang yang

ingin membunuhmu dan juga Lok Hiang, maka di penjara

bawah tanah itu aku menukarkan pakaianmu dengan orang

lain.”

“Kau?”

“Tidak percaya?”

“Kau menghianati tunanganmu demi menolongku?”

“Hanya berdasarkan perkataannya saja, belum tentu aku

ini tunangannya kan? Aku sendiri saja tidak tahu.”

Seebun Long berkata lagi:

“Aku merasa terharu melihat rasa sayangmu terhadap

Siau-liong”

“Jika bukan kau yang menggantikan pakaianku dan

mengeluarkan aku, lalu mengapa kau bisa berada di tempat

ini?”

“Aku juga tidak tahu! Aku tidak tahu siapa yang

membuatku pingsan dan membawaku keluar, aku sama

sekali tidak sadar.”

“Apa kau kira aku akan percaya kata-katamu?”

“Jika kau percaya maka bukan Wie Kai namanya!”

“Akulah yang mengeluarkamu!” Keduanya langsung

menoleh ke arah suara itu berasal, ternyata Kao Hie sudah

berdiri di sana.

Tidak ada yang menyadari kedatangan Kao Hie.

Jika dia ingin mencelakakan seseorang itu soal yang

mudah baginya.

“Jadi kau yang telah menolong Seebun Long?”

Kao Hie menganggukkan kepalanya.

“Aku sangat mengenal Tonghong Ta-cing.”

“Seberapa banyak?” tanya Wie Kai.

“Di luar, dia dengan Suma Hen terlihat seperti tidak ada

hubungan dan bermusuhan, tetapi sebenar-nya mereka

adalah rekanan.”

Seebun Long terkejut d an berkata:

“Mereka adalah rekanan?”

“Kau bisa tidak menyadarinya, itu artinya betapa rapinya

rencana yang telah mereka atur.”

Seebun Long termangu-mangu. Tapi walaupun

tampangnya bingung seperti itu, dia tetap saja menarik.

Wie Kai pun sampai terpesona. Kata Kao Hie:

“Untung saja aku terus melacak pergerakan Suma Hen

dan tahu tujuannya adalah tuan Wie dan Lok Hiang. Tidak

kusangka nona Seebun Long juga tahu Tonghong Ta-cing

ingin membunuhmu, sehingga dia membuatmu pingsan

terlebih dahulu lalu menukar pakaianmu dan

mengeluarkanmu.”

Wie Kai menatap Seebun Long.

“Untung saja aku datang tepat pada waktunya,

mengambil bajumu dari nona Seebun Long dan

memakaikannya pada salah satu bawahan Tonghong Tacing

yang sudah kubunuh. Tidak lama kemudian Suma Hen

datang untuk meracunimu dan menyulut-kan api.”

Ruangan itu hening beberapa saat.

Sesudah agak lama barulah Wie Kai berkata:

“Tadinya aku berpikir perasaan di antara kita sejak lama

sudah luntur.”

Dia menatap Seebun Long.

“Pada dasarnya memang tidak akan luntur,” kata Seebun

Long.

………………………………….

Kata Kao Hie sambil membalikkan tubuhnya: “Ada

beberapa hal yang ingin aku tanyakan dengan jelas.”

“Silahkan tanya.”

“Siapa yang melahirkan Sangguan Siau-liong?”

“Aku,” jawab Seebun Long.

“Lalu siapa ayahnya?”

“Sangguan Lie.”

“Jadi bukan aku ayahnya?” tanya Wie Kai.

“Bukan!”

“Mengapa waktu kutanya dulu kau bilang akulah

ayahnya?”

“Karena waktu itu aku ingin kau berusaha sekuat tenaga

mengembalikan dia padaku.”

“Saat kau bilang dia adalah anakku, aku

memperhatikannya dengan seksama dan dia memang agak

mirip denganku.”

“Sekarang aku beritahu kalau dia bukan anak-mu, apa

yang bisa kau lakukan?”

Wie Kai berpikir lagi lalu berkata:

“Sekarang aku merasa dia memang tidak terlalu mirip

denganku.”

Raut wajah Seebun Long agak sedikit aneh tetapi dia

tidak berkata-kata lagi lebih lanjut.

Kata Kao Hie:

“Apakah kalian berdua tahu siapa yang telah

memberitahu Sangguan Lie? Bahwa anak itu bukanlah anak

kandungnya.”

“Siapa?”

“Bu Si-cin.”

“Mengapa dia berbuat seperti itu?” tanya Seebun

Long.

Kao Hie mengangkat tangannya sambil berkata: “Susah

untuk dikatakan, Bu Si-cin adalah pengganti Sangguan Lie

di malam hari dan siang hari-nya diganti lagi oleh Sangguan

Lie.”

“Selama ini Suma Hen demi perempuan dan harta,

sedangkan Sangguan Lie demi harga dirinya sebagai lelaki,

tapi akhirnya entah mengapa berubah.”

“Apakah Sangguan Lie dikendalikan seseorang?” tanya

Wie Kai

Kao Hie menganggukkan kepalanya.

“Siapa?”

“Suma Hen.”

“Bukankah dia sendiri dikendalikan oleh Tonghong Tacing?”

“Lebih tepat kalau dikatakan saling memanfaatkan,

hubungan di antara mereka memang susah untuk

dikatakan.”

Seebun Long berkata:

“Kao Tayhiap, kami berdua sangat berterima kasih

padamu.”

“Tidak perlu berterima kasih, tetapi kalian berdua tetap

harus berhati-hati dan waspada selalu.”

“Walaupun sudah jelas bahwa Siau-liong bukan lah

anakku, tetapi aku tetap saja khawatir akan

keselamatannya.”

“Aku tidak mengerti.” Kata Seebun Long.

“Untuk rencananya, mereka membutuhkan Liu Eng dan

Siau-liong di tangan mereka tetapi kurasa mereka pasti akan

membereskan Liu Eng terlebih dahulu kaipia dia lebih sukar

dikendalikan daripada Siau-liong. Dan masih ada satu lagi,

kurasa selain Tonghong Ta-cing dan Suma Hen masih ada

satu orang lain lagi dan kurasa orang itu adalah pemimpin

mereka.”

Suma Hen dan Tonghong Ta-cing sedang duduk saling

berhadapan di sebuah meja sambil minum arak.

Kao Hie sedang berjaga-jaga di luar.

Sekarang ini mereka sudah tidak terlalu mempedulikan

Kao Hie.

Mungkin mereka sudah sedikit mempercayai Kao Hie.

Kata Tonghong Ta-cing:

“Orang yang kau bakar itu apa benar Wie Kai?”

“Kau tidak percaya?”

“Bukan begitu, hanya saja kita harus benar-benar jelas

dalam melaksanakan tugas.”

“Pastinya tidak akan ada masalah.”

“Ke mana Seebun Long?”

“Aku sudah menyuruh orang untuk mencari-nya,

Tonghong-heng seperti sangat tertarik padanya.”

“Kalau tidak tertarik, tidak mungkin aku menyebutnya

tunanganku!”

Saat ini mereka sebenarnya sedang saling

memperebutkan harta Sangguan Lie yang tidak lama lagi

akan menjadi milik mereka.

Pimpinan mereka sedang berkonsentrasi untuk

menjadikan hal merebut harta orang lain ini sebagai

usahanya.

Bahkan sudah sukses entah berapa kali, bahkan mungkin

tidak lama lagi dia bisa membuat negaranya sendiri.

Tiba-tiba Tonghong Ta-cing menghunus sebuah pisau

kecil lalu ke arahkan ke ulu hati Suma Hen.

Lebar meja itu tidak sampai Vz meter sehingga dalam

sekejap mata pisau itu langsung menuju sasaran.

Tapi Suma Hen bukan anak kemarin sore, dia juga orang

yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan. Dia

langsung menyapu pisau kecil itu.

“Tidak boleh ada dua harimau di gunung yang sama,”

kata Tonghong Ta-cing.

“Tetapi jika salah satu harimaunya pincang, maka itu

lain soal,” kata Suma Hen.

Tonghong Ta-cing tiba-tiba menekan perutnya dan

berkata terengah-engah:

“Suma Hen, kau menaruh racun di arak ini?”

“Sedikit,” kata Suma Hen tertawa dingin.

Ada sesosok bayangan memasuki ruangan dan orang itu

adalah Kao Hie.

Suma Hen melarikan diri dengan melompat keluar

melalui jendela.

Tonghong Ta-cing menekan lambung dengan kedua

tangannya sambil berkata:

“Orang itu meracuniku.”

Kao Hie memandangi Tonghong Ta-cing sambil menilai.

Orang ini bukanlah orang sembarangan karena itu dia

harus ekstra hati-hati.

“Cong-pu-thouw, kau terkena racun apa?”

“Sepertinya racun Kian-soh.”(= sejenis rumput yg

tumbuh di padang pasir).

“Apakah kau punya penawarnya?”

“Ada………tapi aku tidak bisa jamin ampuh atau

tidak…….,” kata Tonghong Ta-cing, “Cepatlah kau kejar

Suma Hen.”

“Menolongmu lebih penting daripada mengejarnya.”

Tonghong Ta-cing mengeluarkan obat penawar racun

dan berkata:

“Obatku belum tentu manjur, lebih baik kau kejar saja

dia.”

“Baiklah, Cong-pu-thouw, kau harus sabar sedikit,

gunakanlah tenaga dalammu untuk mendorong racun itu

keluar. Aku akan mengejar orang itu.”

Baru saja Kao Hie keluar, ada sesosok bayangan lagi

yang memasuki ruangan itu.

Tonghong Ta-cing saling memandang dengan orang itu

dan tersenyum.

Orangyang datang itu ternyata Suma Hen. Kelihatannya

Tonghong Ta-cing sama sekali tidak keracunan.

Ternyata tadi itu adalah siasat mereka berdua.

“Tampaknya Kao Hie sangat setia padamu.”

“Tampak setia belum cukup,” kata Tonghong Ta-cing

“Betul juga, kita tidak tahu nanti dia akan bagaimana.”

“Begitulah.”

“Ternyata bagimu dia masih belum bisa diandalkan.”

“Berhati-hati tidak ada salahnya.”

Kedua orang itu tertawa bersamaan.

Tengah malam tidak berbulan, di dalam sebuah kamar

yang tidak berlentera terdapat dua sosok manusia yang

sedang bercengkrama.

“Kau rindu tidak pada Siau-liong?”

“Aku kan sudah bilang, aku tetap merindukannya

walaupun dia bukan anakku.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi melihat dia?”

“Tonghong Ta-cing dan Suma Hen meng-anggap kita

telah mati! Masa kita berkeliaran ke sana ke mari?”

“Itu kan kalau kita benar-benar mati!”

“Tetapi coba pikir baik-baik, mereka mengira kita telah

mati, kalau ketahuan mereka bisa lebih kejam lagi.”

“Benar juga.”

“Aku tahu kau bukannya karena rindu ingin melihatnya

tetapi kau masih ingin membawanya pergi, betulkan?”

Seebun Long menundukkan kepala tidak bersuara.

“Tebakanku tidak salah kan?”

“Wie Kai, Sangguan Lie sudah mari. Aku sama sekali

tidak tenang membiarkan anakku di tangan ibu tirinya.”

“Aku juga sama.”

Seebun Long menangkap tangan Wie Kai. “Apa kau

bersedia membawa dia kembali?”

“Sekarang juga aku berangkat.”

“Aku juga ikut denganmu.”

“Tidak perlu! Kau ikut juga percuma, anak itu sama

sekali tidak ada perasaan apa pun terhadapmu.”

Penjagaan di rumah Sangguan Lie sangat ketat.

Sangguan Siau-liong sudah tertidur dan di wajahnya

masih terlihat bekas air mata.

Kamarnya di sinari oleh sinar lentera dan ada seorang

inang pengasuh tua yang menemaninya, yang juga tertidur.

Wie Kai memandangi anak itu, tiba-tiba dia merasa

bahwa anak itu sangat mirip dengannya.

“Mengapa Seebun Long berkata bahwa dia bukan

anakku?” dia tiba-tiba merasa Seebun Long tidak berkata

jujur padanya.

Tetapi bagaimana pun lebih baik dia tanyakan saja nanti

sesudah pulang.

Wie Kai menotok jalan darah inang itu dan juga Siauliong,

barulah setelah itu dia menggendongnya dan melesat

pergi.

Tetapi sialnya dia ketahuan karena di sana sini telah

diawasi selain oleh pengawal yang ditempatkan oleh Suma

Hen juga dari pihak kepolisian.

Dia berhasil merubuhkan 2 orang.

Di saat yang bersamaan ada seseorang muncul dan orang

itu adalah Kao Hie.

Awalnya Wie Kai mengira dia bakal selamat.

Tetapi dugaannya ternyata meleset, sebab tidak disangka

Kao Hie malah berkata:

“Tinggalkan anak itu dan kau boleh pergi!”

Wie Kai benar-benar bingung, apa mau orang ini

sebenarnya.

Kedua orang itu langsung baku hantam di-tambah

dengan 3 orang pengawal.

Tidak lama kemudian datang lagi 5-7 orang dan 4

diantaranya berilmu tinggi.

Wie Kai bisa saja lolos asal tidak menggendong

seseorang.

Tiba-tiba seseorang berhasil melukainya dan tentu saja

membuat dia tidak bisa menahan berat tubuh Siau-liong.

Wie Kai berhasil melukai 2 orang lagi sebelum melesat

ke dalam kegelapan malam.

Karena pengejarnya semakin banyak, demi keselamatan

anak itu, Wie Kai terpaksa meninggalkannya.

Begitu kembali, Wie Kai langsung naik ke atas ranjang

tanpa bersuara.

Seebun Long berkata dengan suara lirih:

“Tidak berhasil?”

Wie Kai tetap tidak bersuara.

Seebun Long mengelus wajah Wie Kai, katanya:

“Tidak apa-apa, untuk sekarang ini mereka tidak akan

menyakitinya.”

“Aku sama sekali tidak berguna!”

“Jangan berkata seperti itu, kau sudah berusaha sekuat

tenaga.”

“Katakan dengan jujur, apakah dia anakku?”

“Anak…. mu?”

Tiba-tiba Wie Kai mencengkram tangan Seebun Long

sambil berkata: “Katakan!”

“Bukan!”

“Kata-katamu sama sekali tidak bisa di-percaya!”

“Wie Kai, perkataan orang lain boleh tidak percaya, tapi

kau harus percaya yang satu ini.”

“Kau tidak bohong?” Wie Kai menatap.

Seebun Long menggeleng-gelengkan kepalanya dan

memeluknya dengan mesra.

“Walaupun bukan anakku tapi aku sudah

menganggapnya demikian.”

“Bagaimana kalau kita pergi melihatnya sekali lagi?”

“Lebih baik aku saja yang pergi.”

“Tidak, aku juga mau ikut. Aku kan bukan seorang

wanita biasa, aku bisa menjaga diriku.”

Kedua orang itu keluar ke halaman.

Tiba-tiba mereka mendengar ada suara dari dalam

kamar.

Mereka berdua bergegas kembali masuk ke dalam kamar

dan mereka melihat ada sosok Siau-liong yang sedang

berbaring di atas ranjang.

Seebun Long segera menghampiri, memeluk Siau-liong.

Siapa yang telah membawa anak itu kemari?

Selain Kao Hie, tidak ada orang lain lagi.

Tadi Kao Hie sedang dihadapkan dengan tugas nya,

tentu saja dia tidak bisa bertindak sembarangan.

Sesuatu yang ada di dalam air keruh memang tidak akan

terlihat dengan jelas.

Tonghong Ta-cing dan Suma Hen masih berada di

kediaman Sangguan Lie.

Pekerjaan mereka sudah berhasil. Tetapi mereka masih

tidak tenang. Kata Suma Hen:

“Sebenarnya Siau-liong sekarang berada di tangan

siapa?”

“Kemungkinan Wie Kai belum mati.”

“Belum mati?”

“Rasanya tidak salah lagi, tidak ada orang lain yang

memiliki ilmu begitu tinggi seperti dia.”

“Tetapi hilangnya anak itu jelas-jelas ada kaitan nya

dengan orang dalam.”

“Karena itulah aku bilang kesetiaan Kao Hie masih harus

diuji.”

“Pasti dia!” kata Suma Hen.

“Jika Wie Kai belum mati, meskipun kita tidak

mencarinya, dia pasti dengan sendirinya akan mencari

kita.”

Suma Hen pucat pasi.

Orang yang tidak tertarik dengan kekayaan, dia tidak

akan takut mati dan orang seperti ini sangatlah

menakutkan.

Wie Kai tidak tertarik dengan harta atau pun wanita. Dia

bahkan membuang Seebun Long.

Anak pun dia tidak mau.

Bahkan dia sendiri pernah menjadi penculik, itu

membuktikan bahwa dia menganggap enteng nyawa-nya,

orang seperti ini sangat berbahaya.

“Kita harus lebih berhati-hati,” kata Tonghong Ta-cing

Liu Eng sedang mandi di dalam sebuah kamar mandi.

Dia benar-benar molek, tubuhnya masih layaknya

seorang gadis saja.

Struktur tulangnya terbayang dari balik air mandinya.

Kamar mandi ini tidak berlentera, hanya di-sinari oleh

sinar rembulan dari luar.

Tiba-tiba bertiup angin dingin ke dalam kamar mandiitu.

Tanpa disadari sesosok bayangan telah berdiri di

sampingnya.

“Siapa?”

“Jangan ribut!” orang itu tiba-tiba berkata dari

sampingnya.

Sebuah pisau yang dingin menempel di tenggorokannya.

“Aku tidak akan teriak! Aku tidak akan teriak!”

“Cepat pakai bajumu!”

“Baik.. .baik, kau mau membawaku kemana?”

“Kau seharusnya tahu, semua orang yang ter-libat

dengan kasus penculikan itu mati satu persatu. Tidak lama

lagi giliranmu akan tiba.”

Kata Liu Eng dengan suara gemetar:

“Kau ingin membunuhku?”

“Jika aku ingin membunuhmu, bukankah pasti sudah

kulakukan dari tadi?”

“Iya.”

“Mereka sedang berurusan dengan harta Sangguan Lie,

sesudah urusan mereka beres, waktumu pun sudah tiba!”

Tiba-tiba dari luar terdengar suara seseorang.

Orang itu menyuruh Liu Eng bertanya.

“Siapa?”

“Hujin, hamba Sun Siang-ca.”

“Ada apa, Siang-ca?”

Dia adalah orang bawaan Tonghong Ta-cing. “Hujin,

sayang sekali jika Hujin sampai masuk angin.”

Pada saat yang bersamaan, terdengar lagi suara rendah di

luar sana:

“Siang-ca, kau sedang apa?”

“Eh, Liang….aku hanya ingin….hi..hi….. Liang, jika kau

mau, kau bisa maju lebih dulu.”

“Sialan kau! Dasar cabul!”

“Kita kan orang sendiri, silahkan jika kau mau duluan.”

Orang dipanggil Liang berkata dengan suara rendah:

“Hujin, tolong buka pintunya.”

Pintu perlahan-lahan terbuka.

Seharusnya mereka masuk satu persatu tetapi mereka

tidak sabar sehingga masuk berbarengan.

Belum sempat menikmati, mereka sudah terkena

pukulan dan jatuh tersungkur di lantai.

Tonghong Ta-cing dan Suma Hen bersiap menikmati

hasil kerja mereka.

Sudah waktunya pembagian harta.

Semua uang sudah berada di atas meja.

Tentu saja masih ada yang terdapat di bank atau tempat

lainnya yang belum terambil, tetapi mereka sudah tidak

sabar lagi.

Mereka membaginya menjadi tiga bagian.

Tetapi sebelum sempat meraih uangnya, Tonghong Tacing

segera bertindak.

Hal yang lumrah terjadi saat berhubungan dengan uang.

Tonghong Ta-cing dan Suma Hen saling serangmenyerang

memperebutkan uang yang ada di atas meja.

Mereka masing-masing tidak ingin membagi nya dengan

siapa pun.

Akhirnya Tonghong Ta-cing berhasil mematahkan 5-6

buah tulang Suma Hen dan memberikan pukulan

mematikan ke tubuh Suma Hen.

Tonghong Ta-cing memandangi meja yang penuh

dengan uang dan menghembuskan nafas dalam-dalam

seakan-akan dengan memeluk semua yang ada di meja ini

sama seperti memeluk seluruh dunia.

Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan masuk ke dalam

ruangan.

Orang itu ternyata Kao Hie.

Senyuman yang tadi menghiasi di wajah Tonghong Tacing

langsung saja lenyap.

Tapi Wie Kai tidak melihat kejadian ini.

Dia membawa Liu Eng langsung meninggalkan

kediaman Sangguan Lie.

Liu Eng dan Siau-liong sudah berada dalam genggaman

sehingga baik Wie Kai maupun Seebun Long bisa bernafas

lega.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.

Seebun Long membuka pintu dan melihat ada seorang

laki-laki dan seorang perempuan. Lalu dia bertanya:

“Kalian mencari siapa?”

“Apakah Wie-ya ada?” tanya yang laki-laki

“Kalian siapa?”

“Namaku Hong Kie.”

“Hong Kie?” Seebun Long tertawa.

“Benar, Hong dari kata Hong-hwee (burung api) dan Kie

(ayam).”

“Kenapa kau tertawa?” tanya Wie Kai.

“Apakah kau pernah makan ‘Hong Kie’ (=ayam api)?”

kata Seebun Long.

“Pernah,” kata Wie Kai, “Mengapa kau tiba-tiba

bertanya ini?”

Seebun Long menunjuk ke pintu depan:

“Lelaki itu mengatakan namanya Hong Kie.”

Wie Kai bengong. “Hong Kie? Di mana aku mendengar

nama ini? Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”

Hong Kie masuk ke dalam ruangan berkata:

“Wie-ya, apakah kau tidak ingat lagi pada Hong Kie

maupun Hong Ku?”

Wie Kai berpikir keras, dia samar-samar agak sedikit

ingat pada Hong Kie tetapi orang ini sama sekali tidak sama

dengan Hong Kie yang minum arak satu meja dengannya.

Hong Ku menyikut Hong Kie sambil berkata dengan

suara pelan:

“Sudah lihat kan? Wie-ya berkelana berduaan dengan

Lim Leng-ji dan menelantarkan kita berdua.”

“Pasti ada kesalahpahaman,” kata Hong Kie.

“Salah paham apa?” Kata Hong Ku, “Wie-ya pergi tanpa

pamit hingga kita berdua mencarinya setengah mati.”

“Apa? Kalian bersusah payah mencariku?”

“Hong Kie, kau dengar kan?” Hong Kie tahu Wie Kai

bukan lah orang yang bisa melupakan teman begitu saja. Ini

pasti ada apa-apa.

Dia melihat Lim Leng-ji sepertinya lebih cantik dari

sebelum-sebelumnya.

Di saat seperti ini tiba-tiba ada dua orang yang muncul

dari dalam ruangan.

Dan dalam sekejap mereka berdua sudah berada di

tengah pekarangan depan.

Dan kedua orang itu ternyata Tonghong Ta-cing dan

Kao Hie. Salah satu pundak Tonghong Ta-cing memanggul

Siau-liong.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Seebun Long

menotok jalan darah yang berada di belakang punggung

Wie Kai.

-ooo0dw0ooJILID

KE DUA

BAGIAN III

BAB I

“Eng-hong-pie-ya” (Menyambut angin berbeda

pekerjaan).

Itu adalah nama yang sangat elegan.

Kau pasti akan menganggap tempat itu adalah tempat di

mana para pejabat tinggi bersantai atau tempat pedagang

kaya menyimpan istri mudanya.

Tempat itu bersandar ke gunung dan meng-hadap air.

Tidak seperti istana juga tidak seperti dunia Budhis.

Dari balik tembok yang tinggi, terlihat seperti sebuah

gunung besar dan megah.

Tapi kalau kau tahu ini tempat auh… dan tahu siapa

yang menjalankan perintah di sini… dan tahu juga orangorang

di sini berbisnis apa, kau akan mengucurkan keringat

dingin, kalau tidak kau adalah orang yang mati rasa.

Hari baru terang.

Lapangan eksekusi yang akan selesai dibangun, berdiri

kokoh di bawah pancaran matahari yang baru terbit, terlihat

sangat kontras, merah dan putih.

Merah adalah pagar lapangan eksekusi, terbuat dari kain

merah menyala.

Putih adalah kain putih yang dilapiskan di bawah

lapangan eksekusi.

Panggung eksekusi setinggi 3 tombak lebih.

Pisua pemenggal raksasa masih tertutup oleh kain putih

Sekarang pagi hari di awal musim semi… cuaca tidak

hujan juga tidak berangin.

Tapi hari ini agak berbeda dengan hari-hari biasanya

Beberapa orang yang memiliki jabatan tengah-tengah

pelan-pelan sedang membereskan lapangan eksekusi.

Seorang mandor sedang duduk di sebuah kursi tinggi.

Dengan isyarat tangan dia mengatur pekerjaan yang

belum selesai.

Waktu itu seorang pejabat tinggi datang ke arahnya.

Mandor yang sedang duduk di kursi tinggi itu segera

turun untuk mendatangi pejabat itu.

Orang yang sedang bekerja segera bergerak dengan cepat.

Suasana sepi tapi terasa penuh dengan hawa membunuh.

Mandor dengan cepat maju, terhadap pemuda yang

belum genap berusia 30 tahun yang gagah dan tenang itu,

dia berkata:

“Tuan, kami sudah mengukurnya dan Kong-kong yang

duduk di sana, bisa melihat dengan jelas, apa yang terjadi di

lapangan eksekusi.”

Dengan serius Loo Cong melihat sekeliling, dia hanya

menjawab:

“Ya.”

Kemudian Loo Cong membalikkan tubuh pergi.

Mandor segera meletakkan alas jok yang dibuat dengan

sangat bagus di atas kursi itu.

Tadi dia ingin mencoba tapi dia tidak berani

memasangnya

Loo Cong adalah seorang pemuda tenang, jujur, dan

pendiam.

Sekarang sikapnya serius dan lebih memusat-kan

perhatiannya.

Sorot matanya seperti tidak sengaja melihat sekeliling.

Sebenarnya dia sedang memeriksa dengan sangat teliti,

sedikit pun tidak ada yang terlewat.

Tapi karena sifat dasarnya tenang, maka tidak terlihat dia

sedang tertekan.

Dia berjalan dengan pelan.

Dari satu pekarangan ke pekarangan lain.

Memeriksa semua yang ada dalam pekarangan.

Dia juga memeriksa sumur yang biasanya tidak pernah

dia lihat.

Dia juga memeriksa pagar tembok yang tinggi. Dia juga

memeriksa ayunan. Sampai-sampai mencoba kekuatan

ayunan itu. Semua yang kecil-kecil tidak terlewat dari

pengawasannya.

Hari sudah terang. Semua terlihat lebih jelas.

Dengan teliti dia melihat, di atas genting ada kabut putih.

Dari tempat tinggi jika ingin melihat harus lewat puluhan

anak tangga baru bisa ke atas.

Itulah tempat Kong-kong mengawasi pelaksana an

hukuman mati

Seseorang membawa piring bercorak datang kesana.

Di atas piring terdapat pena, tempat tinta, kertas dan

lain-lain.

Seseorang mengikutinya dari belakang.

Walaupun tidak ada yang tahu siapa dia, tapi melihat

sikapnya maka akan segera tahu identitasnya, sama dengan

Loo Gong.

Namanya adalah Mo Ki-thian.

Dia hanya seorang pemimpin kecil tapi dia kaki tangan

yang handal.

Mereka berdua berjalan dengan cepat.

Melewati jalanan di luar dan masuk ke dalam rumah itu.

Matahari baru terbit.

Gunung yang jauh masih tertutup kabut.

Tiba-tiba di pekarangan terjadi perubahan.

Barisan para prajurit dengan tangan memegang golok

dan panah berlarian datang.

Mereka dengan sangat lancar dan rapi berada pada posisi

penting.

Setelah berdiri dengan rapi mereka tidak bergerak lagi.

Menghabiskan waktu lama untuk melatih seperti ini,

sekarang terlihat hasil yang baik.

Di belakang koridor ada sebarisan prajurit mereka dibagi

menjadi dua di depan pintu kamar

Di dalam kamar ada seorang perempuan dingin dan

cantik, berdandan tipis dan berbaju mewah, duduk di depan

cermin.

Baju yang dipakainya adalah baju pengantin

Dia menusukan konde ke dalam gelumbang rambutnya

dengan pelan dan santai.

Walaupun dia seorang pengantin perempuan yang tidak

menyukai perkawinan, tidak pantas bersikap seperti itu.

Pelayan berdiri di sisinya, suasana terasa saingat

membosankan.

Mo Ki-thian dan seorang pelayan membawa piring tadi,

tiba-tiba mereka berjalan masuk ke dalam kamar.

Lim Leng-ji yang sedang duduk di depan cermin hanya

melihat mereka sekilas kemudian melanjutkan dan melihat

dirinya yang terpantul di dalam cermin.

“Kong-kong berbaik hati menyuruhmu meninggalkan

pesan,” kata Mo Ki-thian.

Lalu dia memberi isyarat kepada pelayan itu.

Pelayan datang mendekat membawa piring itu dan

meletakkannya di depan Leng-ji.

Pelayan mulai menggosok batangan tinta.

Lim Leng-ji menarik pandangannya dari cermin, dia

melihat ke arah piring kemudian melihat Mo Ki-thian, dia

mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Saat menengadahkan kepalanya, mulutnya terlihat sifat

pantang tunduk.

Tidak heran, Lim Leng-ji adalah perempuan tercantik di

Eng-hong-pie-ya, dia juga paling anggun dan dia berhasil di

dapatkan oleh WieKai.

Laki-laki di Eng-hong-pie-ya kecuali Seng Yan-kong

yang mempunyai hak sangat tinggi, tidak ada yang bisa

menerima hal ini.

Tapi apa isi hati Seng Kong-kong, hanya dia sendiri yang

tahu.

Pelayan-pelayan terlihat sangat tegang.

Hanya mereka yang tahu sekarang waktunya untuk

melakukan apa, dan tempat ini tempat apa.

Seorang pelayan mendekati Leng-ji, berbisik:

“Nona….”

Leng-ji tidak menoleh juga tidak menjawab.

Sebab di dalam hatinya hanya ada 4 kata:

“Wie-si-ji-ie.” (Hanya mati saja) .

Orang seperti ini sudah tidak peduli apa yang terjadi di

dunia ini.

Tiba-tiba dia mengambil pena dan dipegang dengan erat.

Di atas kertas dia menulis huruf ‘Put-wie’ (tidak takut).

Dua huruf yang sangat besar.

Karena cintanya sampai mati, maka matinya dengan

cara seperti itu.

Setelah Mo Ki-thian melihat dua kata Put-wie itu,

wajahnya terlihat ada tawa mencemooh.

Kalau dia tidak mengeluarkan ekspresi mencemooh, dia

bukan Mo Ki-thian.

Di dalam kamar Wie Kai.

Mo Ki-thian membawa pelayan yang membawakan

piring itu.

Wie Kai sedang berjalan mondar mandir, matanya

terlihat tenang dan pintar, tidak terlihat rasa takut

nyawanya sedang di ujung tanduk atau dia sudah tahu tapi

sudah tidak peduli pada hidup dan matinya.

Dia selalu ceria.

Baginya walau kepalanya di penggal, itu seperti masalah

biasa, bukan masalah besar.

Tiba-tiba dia tertawa, tawanya begitu alami dan ramah.

Tawanya selalu menarik seperti biasa.

Apa lagi baju pengantinnya yang berwarna cerah,

kepalanya mengenakan topi pengantin. Orang lain yang

melihatnya, akan terlihat dialah pengantin yang berbahagia

dan pengantin yang luwes.

Pelayan sudah selesai menyiapkan tinta.

Teman baiknya, Hong Kie tampak berwajah serius.

Wajahnya seperti ada es.

Saat Wie Kai memegang pena, di atas kertas dia

membuat 2 titik, lalu berhenti menulis.

“Tulisanku jelek, jadi kubuat 2 titik ini saja sudah

cukup!” katanya sambil tertawa.

Kecuali Wie Kai, yang lain tidak ada ekspresi.

Mo Ki-thian memegang map dan berjalan dengan cepat.

Dia masuk ke kamar Seng Kong-kong.

Seng Yan-kong sedang duduk di kursi.

Loo Cong berdiri di sebelah kirinya.

Orang yang telah dikebiri walaupun berada di rumah

bagus dan lingkungan baik, wajahnya tetap putih dan tidak

berkumis, otot dan kulit pasti akan kendur, untuk sebagian

orang alisnya malah rontok!

Mereka selalu memberikan kesan buruk kepada orang

lain.

Apalagi sewaktu di depan paduka raja mereka

menyebutdiri mereka adalah hamba.

Seorang banci menyebut dirinya hamba.

Mungkin kasim kecil yang baru dikebiri, begitu

mendengar akan muntah.

Dengan penuh rasa hormat Mo Ki-thian menyerahkan

map itu kepada Seng Kong-kong.

Wajah Seng Yan-kong tidak ada ekspresi.

Tapi begitu dia membuka map itu dan melihat isinya,

wajahnya segera berubah.

Dia mengerutkan alis

Dia tidak mengira walaupun akan dipenggal tidak bisa

membuat bocah itu tunduk.

Ini membuatnya marah, orang yang tidak takut mati

baru bisa membuatnya angkat tangan.

Dengan hati-hati Mo Ki-thian berkata:

“Wie Kai tidak menulis apa pun.”

“Dia sudah menulisnya!” kata Seng Yan-kong dingin.

Tentu saja Mo Ki-thian tidak mengerti maksud ‘sudah

menulis’ ini.

Loo Cong melihat keluar pintu.

Dengan dingin Seng Yan-kong berkata lagi:

“Titik 2 berada di dalam hati!”

Sekarang dia seperti baru sadar Wie Kai lebih galak

darinya.

Begitu membuka lembaran kedua, Seng Yan-kong

terpaku lagi.

Karena ada tulisan ‘Put-wie’.

Tiba-tiba Seng Yan-kong tertawa dingin, dia berkata

kepada Loo Cong:

“Apakah semuanya sudah siap?”

“Sudah siap!” jawab Loo Cong hormat.

Seng Yan-kong menundukkan kepala tampak berpikir

sejenak.

Dia berdiri kemudian menoleh.

Tiba-tiba dinding di belakang kursi di mana dia duduk

terbuka dengan sendirinya.

Di sana ada sebuah lukisan sulaman besar dan masih

tergantung sebuah golok aneh.

Wajah Loo Cong tampak datar.

Mo Ki-thian kebingungan.

Seng Yan-kong berjalan ke depan golok yang digantung

itu.

Suara golok yang dikeluarkan dari sarungnya seperti

merobek keheningan.

Setelah golok dikeluarkan dari sarung, Seng Yan-kong

tetap tidak bersuara.

Tidak ada yang tahu dia sedang memikirkan apa.

Ingin tahu isi hati seseorang benar-benar sulit.

Ingin tahu isi hati seorang kasim itu lebih sulit lagi

karena perasaan mereka sering berubah-ubah.

Kadang kalau mereka mendengar sebuah kalimat ‘tidak

ada’ maka dia akan membenci orang itu seumur hidup.

Golok dimasukkan kembali ke dalam sarung-nya.

Matahari sudah terbit.

Kain merah yang dijadikan pagar ditarik hingga turun,

pisau besar untuk memenggal kepala mengeluarkan cahaya

berkilau.

Perasaan sekarang ini lebih dingin dari suhu udara subuh

tadi.

Di sekeliling hening.

Di sana berdiri 2 orang yang siap dieksekusi.

Panggung hukuman mati khusus dibuat untuk mereka

berdua, supaya hukuman mereka bisa bersama-sama

dilaksanakan, maka ada 2 lubang pisau.

Mereka berdua berdiri di depan panggung. Kalau 2

kepala berbarengan dimasukkan ke dalam lubang pisau

raksasa itu, begitu pisau diturunkan akan segera membuat

mereka mati bersama, tidak ada yang duluan atau

belakangan.

Wajah dingin dan cantik Leng-ji tampak datar. ^

Dia melihat Wie Kai, tapi Wie Kai tidak menatapnya.

Hanya saja sikap Wie Kai tidak seperti dirinya. Dia

masih terlihat seperti biasa.

Dia seperti percaya.

Orang yang masih tahu rasa takut berarti dia masih ingin

hidup.

Kalau sudah tidak takut mati berarti orang itu sudah

mati.

Maka dia terbuka dan bisa santai.

Rasa takut dan mati tidak bisa berada di satu tempat dan

waktu.

Suara musik aneh sudah terdengar, suara musik ini

membuat orang-orang merasa sesak nafas.

Sekarang Mo Ki-thian berdiri di tempat orang yang

membawakan acara.

Detak jantung orang berdebar dengan kencang. Nafas

banyak orang seakan sudah berhenti.

Wie Kai masih saja seperti itu.

Menggunakan kata-kata untuk menggambarkan

kematian, seperti pulang ke rumah pun masih sulit.

Tiba-tiba Mo Ki-thian berteriak:

“Hening dan hikmad!”

Di lapangan itu memang sudah sangat hening.

Sekarang selain suara langkah Seng Kong-kong dan Loo

Cong, di lapangan sana kalau ada jarum jatuh pun akan

terdengar.

Dengan cepat Seng Yan-kong menaiki anak tangga dan

duduk di kursi tinggi itu.

Dia membawa golok aneh yang masih di sarungkan,

biasanya dia jarang membawa golok.

Loo Cong berdiri di sebelah kirinya.

Sorot matanya terus melihat benda yang baru pertama

kali dilihatnya.

Terkadang sorot matanya melihat hutan yang ada di

belakang gunung.

Di panggung eksekusi.

Di sebelah kamar itu ada sebuah kamar rahasia.

Seseorang sedang berada di dalamnya, saat ini dia

sedang mengintip keluar.

Keinginan orang itu mungkin sangat bertentangan, dia

berharap eksekusi segera dilaksanakan atau selamanya

eksekusi tidak perlu dijalankan, pikiran ini terus

mengganggunya.

Sorot mata tajam Seng Yan-kong terkadang melihat ke

kamar rahasia itu.

Loo Cong yang berada di atas panggung melihat Leng-ji

dan Wie Kai.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan arti

pandangan mata itu.

Tiba-tiba Seng Yan-kong berteriak:

“Leng-ji!”

“Ada!” jawab Leng-ji dengan masa bodoh.

“Wie Kai!”

“Ada… Kong-kong,” jawab Wie Kai.

Jawaban Wie Kai yang terdengar begitu tidak

bersemangat, Leng-ji seperti tidak suka.

“Enam tahun yang lalu, ketika kalian masuk ‘Eng-hongpie-

ya’ apakah secara suka rela?” tanya Seng Yan-kong.

“Benar, Kong-kong!” jawab Wie Kai.

Sedangkan Leng-ji tidak mengeluarkan suara,

ekspresinya sangat dingin.

“Belajar menyanyi dan menari, berlatih ilmu silat dan

berjanji seumur hidup tidak akan menjadi suami dan istri,

serta mengabdi kepada Pie-ya, apakah itu juga secara

sukarela?” tanya Seng Yan-kong.

“Benar!” jawab Wie Kai.

Seng Yan-kong melihat Leng-ji:

“Tapi kalian sudah melanggarnya, melanggar perjanjian,

sekarang jangan menyesal!”

Dengan lugas Wie Kai mengangguk.

“Tidak menyesal!” Leng-ji berkata dingin.

Kedua mata Seng Yan-kong terlihat ada kabut dingin.

Matahari naik lebih tinggi lagi.

Tapi tidak sedikit pun udara terasa hangat.

Seng Yan-kong berteriak:

“Eng-hong-pie-ya tidak akan menyiksa muridnya, maka

aku sengaja membuatkan baju pengantin untuk kalian,

dalam pelaksanaan eksekusi ini supaya kalian bisa bersamasama

pergi ke dunia sana.”

Ada seorang perempuan menangis.

Di bawah panggung eksekusi ada 2 baris pelayan

perempuan.

Seng Yan-kong menoleh, tangisan itu segera berhenti.

Udara di Pie-ya seperti membeku.

“Mainkan nyanyian pengantin!” teriak Seng Yan-kong.

Musik aneh itu tiba-tiba berubah nada.

Itu bukan musik untuk pengantin.

Apakah para pemusik terlalu tegang sehingga mereka

memainkan alat musik mereka menjadi fals atau salah

nada.

Dengan dingin Seng Yan-kong berkata: “Tundukkan

kepala!”

Dengan berani Leng-ji menundukkan kepala.

Saat Wie Kai menundukkan kepala, dia sempat melirik

pada Seng Yan-kong.

Tiba-tiba matahari merah terlihat di sebelah timur.

Seorang pelayan membawa sebuah ember kecil bersama

sehelai kain putih, mencipratkan air ke leher mereka.

Bersamaan waktu meletakkan 2 keranjang bambu di

depan pisau eksekusi.

Keranjang itu disiapkan untuk menampung kepala saat

kepala terpenggal oleh pisau eksekusi.

Semua sudah disiapkan dengan sempurna, tidak ada

yang tertinggal.

Pelayan mulai membasahi leher mereka dengan air,

sebagian air masuk ke dalam mulut mereka berdua.

Dengan pekerjaan seperti itu dia bisa mendapatkan gaji

sebesar 100 tail perak.

Air cipratan tertelan.

Pikiran mereka jadi lebih sadar.

Mereka teringat masa lalu…..

Termasuk Lim Hujin yang terbunuh, tiga perempuan

yang diam-diam ingin merebut hartanya, semua sudah

terbunuh.

Seebun Long dan Lim Leng-ji sangat mirip, sebab dia

adalah putri dari Lim Hujin. Lim Leng-ji adalah nama

samarannya.

… Harta Sangguan Lie yang sangat banyak dirampas, itu

bukan berita bohong.

… Wie Kai berpacaran dengan Leng-ji, itu juga bukan

berita bohong.

Hanya ada satu hal yang benar… dia tidak punya anak.

Itu hanya kebohongan Seng Yan-kong supaya semua

orang berpikir seperti itu.

Darah daging pasti dekat dengan orang tua, siapa yang

tidak sayang kepada anaknya sendiri?

Yang penting mereka sudah melanggar aturan Eng-hongpie-

ya, melarang laki-laki dan perempuan berkencan.

Jika melanggar hanya ada kematian yang menunggu.

Karena Wie Kai selalu tersenyum. Seng Yan-kong sangat

marah. Walaupun Wie Kai berpura-pura, tapi Seng Yankong

tetap tidak tahan melihatnya. Suasana mulai tegang.

Sorot mata tajam milik Loo Cong melihat ke arah

panggung eksekusi, juga melihat hutan yang ada di gunung

itu.

Pisau eksekusi berkilau.

… Waktu itu pisau eksekusi siap diturunkan.

… saat pisau eksekusi yang besar di turunkan, Wie Kai

dan Leng-ji bersama-sama menarik kepalanya.

… Bersamaan itu di atas gunung tiba-tiba jatuh

sebongkah batu besar dan kayu gelondongan besar, seperti

gunung longsor juga seperti ada tsunami yang terus

menimpa tempat eksekusi.

Di pekarangan suasan jadi kacau balau.

Tangan Wie Kai dan Leng-ji masih terikat di belakang,

tampak bayangan golok dan pedang, tombak dan kayu yang

sedang bertarung.

Hong Kie dan Hong Ku entah keluar dari mana.

Di saat yang tepat mereka melempar senjatanya ke arah

Wie Kai dan Leng-ji.

Putri Kao Tong dari Tibet yang ada di ruang rahasia

menjadi marah, lalu masuk ke dalam melalui jalan rahasia.

Ratusan orang mengepung Wie Kai, Leng-ji, Hong Kie,

dan Hong Ku, mereka pun bertarung. Matahari mulai naik

ke atas.

Cahaya matahari menyinari darah yang berceceran,

warnanya tampak lebih berkilau dan menusuk mata

dibandingkan dengan kain merah itu.

Di Eng-hong-pie-ya tidak pernah terjadi peristiwa seperti

ini.

Lebih-lebih tidak pernah terjadi.

Ketika di lapangan dilaksanakan eksekusi, terpidana bisa

lolos.

… Mungkin belum pernah terjadi hal seperti itu.

… Mungkin juga tidak pernah ada pesilat tangguh yang

bergabung untuk melawan, karena itu walaupun anggota

mereka banyak tapi terlihat formasi mereka kacau 4 balau.

Ke empat orang ini adalah para pesilat tangguh Enghong-

pie-ya.

Tapi walaupun mereka mempunyai ilmu tinggi setelah

lama bertarung keadaannya jadi berbahaya.

Sambil bertarung Wie Kai berkata kepada Hong Kie:

“Kalian berdua pergi dulu!”

“Kami tidak akan pergi!” jawab Hong Kie.

Teriak Leng-ji sambil bertarung: “Hong Ku, cepat…”

Gulungan golok berkelebat, banyak kepala terjatuh.

Wie Kai melihat gantar yang panjang. Tapi Hong Kie

terlihat masih ragu. Sebab dia sangat setia kepada Wie Kai

dan Leng-ji. Walaupun mereka anak buahnya tapi Wie Kai

dan Leng-ji selalu menganggap mereka sahabat baik.

Arti sahabat adalah demi sahabat mati di saat yang tepat!

“Cepat!” Hong Kie menarik Hong Ku, “kalau kita masih

di sini, mana mungkin meieka berdua mau pergi?”

Akhirnya Hong Kie mengerti, dia bertarung sambil

keluar dari Pie-ya.

Perhatian semua orang tertuju pada Wie Kari dan Lengji.

Sekarang hanya tinggal Leng-ji dan Wie Kai, mereka

seperti per, dalam kekacauan terus meloncat. Pertarungan

bertambah gila.

Seng Kong-kong tidak peduli pada nyawa anak buahnya.

Anak buahnya tahu walaupun akan mati 100 orang,

salah satu dari ke empat orang itu tidak akan bisa lolos!

Pertumpahan darah sudah bergeser ke pekarangan.

Seng Kong-kong ingin ikut bertarung. Tapi Wie Kai dan

Leng-ji selalu menghindar. Karena gengsi, Seng Kong-kong

jadi mengawasi dari pinggir.

Dia melihat ke dua pemuda dan pemudi itu penuh

semangat, setiap kepalan mengandung tenaga penuh, setiap

serangan telapak bisa membunuh orang.

Dalam keadaan marah Seng Kong-kong merasa gagal.

Sebab kepandaian mereka adalah dia sendiri yang

mengajarkannya.

Dalam perasaan gagalnya, dia lupa pada anak buahnya

yang terus berguguran, ada yang tangan dan kakinya patah,

ada yang menyemburkan darah. Ilmu silat anak buahnya

ini dia sendiri juga yang melatihnya.

Dia punya kepercayaan diri.

Menurut perkiraannya, dua kelinci kecil itu tidak akan

bisa lolos dari Eng-hong-pie-ya.

Pertarungan semakin sengit. Diawasi oleh Seng Kongkong,

mayat-mayat anak buahnya membangun pagar

tembok berdarah.

Tubuh Wie Kai dan Leng-ji pun penuh dengan luka.

Tapi tepat saat Leng-ji meloncat ke atas papan ayunan,

seperti jagung di dalam kuali panas, meloncat-loncat dan

terbang ke atas genting.

Wie Kai pun mengikutinya dari belakang, yang pasti ini

adalah rencana mereka.

Seng Kong-kong marah besar, dia meloncat dari tempat

duduknya.

Melewati panggung eksekusi dan hampir sampai di sana

untuk menghadang.

Bila Kong-kong ikut bertarung, tidak mungkin mereka

bisa lolos dari tangan Kong-kong juga dari Eng-hong-pie-ya.

Saat menegangkan ini mereka berhasil mencengkeram

tali yang terpasang di tiang.

Seseorang diam-diam telah membantu mereka, tiang itu

melengkung, kemudian dilepas dan 2 orang yang ada di

sana langsung terlempar ke atas, turun ke gunung sebelah

sana yang penuh dengan pohon-pohon.

“Lari… mereka kabur….” kaki tangan Seng Kong-kong

terus berteriak.

Setiap teriakan seperti menampar wajah Seng Kongkong.

Matahari naik lebih tinggi lagi.

Eng-hong-pie-ya tidak seperti dulu begitu menakutkan.

Suara rintihan terdengar di mana-mana, yang terluka dan

yang mati bergelimpangan di bawah.

Orang yang akan dieksekusi ternyata tidak mati.

Kain putih yang ada di bawah panggung eksekusi penuh

dengan darah.

Suara ribut dan kekacauan sudah berhenti.

Seperti angin topan yang datang tiba-tiba, pergi nya pun

sangat cepat.

Seng Yan-kong diam berdiri di atas lapangan eksekusi.

Loo Cong dan Mo Ki-thian membungkukkan tubuh

seperti sedang minta ampun kepada Seng Kong-kong.

Seng Yan-kong merentangkan kedua tangannya lebarlebar:

“Harus kulakukan apa lagi …?’

Loo Cong diam tidak menjawab.

Mo Ki-thian masih membungkukkan tubuh, dia tidak

berani menatap Seng Kong-kong.

Tubuh Seng Yan-kong sedikit bergetar.

Dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.

Wie Kai adalah seorang pemuda pintar, lincah, dan baik.

Leng-ji adalah perempuan suci dan lembut.

Mengapa mereka melakukan hal seperti ini?

Dia terus berpikir, seharusnya tidak terjadi hal seperti ini.

Dia seperti lupa, elang berdiri seperti tertidur, harimau

berjalan seperti sedang sakit, tapi itulah cara mereka

mencari mangsa!

Dengan kepintaran Seng Kong-kong, seharus-nya dia

sadar.

Hal yang harus dia ketahui tanpa sikap waspada sudah

terjadi, maka Seng Yan-kong sangat marah, dia berkata

pelan:

“Siapkan undangan, cepat beritahu kepada semua aliran

dan perkumpulan!”

“Siap!” jawab Mo Ki-thian.

“Pergilah!”

Seng Kong-kong melambaikan tangan.

Beberapa saat yang lalu dia masih duduk di atas

panggung eksekusi dengan penuh wibawa.

Sekarang dia terlihat begitu lesu.

Masalah di dunia ini perubahannya begitu cepat.

Seharusnya dia berhati-hati dan waspada.

Tapi dia adalah seorang Seng Yan-kong.

Tiba-tiba dia meraung dan terbang.

Tubuhnya berada di udara, seperti seekor elang

membalikkan tubuh, dia menepis lonceng angin yang

tergantung di pinggiran atap.

Lonceng itu sebesar semangka.

Dengan sangat tepat dan aneh lonceng itu jatuh ke dalam

keranjang yang ada di atas panggung eksekusi.

Sebenarnya keranjang bambu itu disiapkan untuk

menampung 2 kepala manusia.

Kuda berlari dengan kencang. Undangan sudah

disebarkan ke mana-mana. Terdengar suara Seng Kongkong

keluar dari sela-sela giginya:

“Harap jangan menerima mereka, siapa yang menerima

mereka, Eng-hong-pie-ya tidak akan mau hidup bersama

dengan mereka dalam satu dunia!”

Itu adalah pesan yang tertulis dalam undangan pertama.

… Jangan menerima mereka, siapa yang menerima

mereka pasti akan diserang oleh Eng-hong-pie-ya.

Itulah pesan dalam undangan kedua.

… Yang memberitahu tentang keberadaan mereka, yang

bisa menangkap mereka hidup-hidup, yang bisa

menyerahkan mayat mereka, hadiahnya berupa emas

seharga sepuluh ribu tail. Eng-hong-pie-ya akan menunggu.

Itu adalah pesan pada undangan ketiga.

Di dunia persilatan orang yang ingin kaya mendadak

sangat banyak.

Hanya saja orang pintar tidak mau kaya dengan cara

seperti ini, mereka buru-buru akan menghindar.

Terdengar kuda berlari terburu-buru, kemudian kembali

hening.

D sini adalah sebuah rumah kecil yang biasa dibangun

pemburu untuk berteduh.

Sangat indah.

Bagi orang yang sedang melarikan diri, semua terlihat

lebih indah dan lucu.

Rumah itu berada di atas gunung yang menonjol. Seperti

atap rumah yang keluar mencuat dari bangunan rumah.

Di sini bisa terhindar dari tiupan angin dan hujan deras.

Yang paling penting, tempat ini sangat terpencil dan

jarang ada yang tahu.

Wie Kai dan Leng-ji tidur di ranjang yang dianyam dari

bambu dan di atas ranjang dialasi oleh rumput kering.

Setelah bertarung mati-matian akhirnya mereka bisa

lolos.

Badai kehidupan berlalu untuk sementara.

Rasa tenang yang sangat aneh, mungkin itu ciri-ciri badai

kedua yang akan datang.

Leng-ji sedang termangu.

Dalam situasi apa pun.

Senang atau tidak senang, wajahnya selalu tidak ada

ekspresi, tetap cantik tapi seperti tidak hidup di dunia ini.

Cantik tapi seperti tidak nyata.

Dengan termangu dia melihat Wie Kai.

Wie Kai sepertinya sudah tertidur.

Dia selalu cerah, selalu tenang dan tidak tergesa-gesa.

Pelan-pelan Leng-ji turun dari ranjang, dia menutupi

tubuh Wie Kai dengan sehelai baju.

Dalam kesulitan dan kesusahan, perasaan manusia

seperti sehelai kain putih, dia tersenyum, sorot matanya

seperti bisa menyulam kain putih itu.

Hong Kie berada di atas pohon, dia sedang berjaga.

Dia selalu mengerjakan pekerjaan yang pantas dia

kerjakan.

Inilah perasaan seorang sahabat karib.

Hong Ku sedang mencuci baju di sebuah sungai kecil.

Yang pasti dia juga waspada.

Kalau ada musuh yang datang dia akan pura-pura

menjadi elang, mereka adalah pemanah, tidak akan menjadi

kelinci.

Di depan Hong Kie ada seekor ular besar sepanjang 3-4

kaki.

Dia sedang menjulurkan lidahnya.

Dia tidak tahu, apakah orang yang ada di depan adalah

mnagsanya?

Sekarang keadaan ular dan manusia sama, Hong Kie

dengan cepat menyerangnya.

Ular tertangkap, di tempatpaling vital.

Ular yang di tangkap, hanya bisa bergerak dengan lemah.

Sekarang Hong Kie menganggap dia adalah seekor ular,

tidak sengaja dia memegang lehernya, tapi dia bukan ular,

di tubuhnya tidak ada tempat yang berbahaya!

Dia bisa mengerti bagaimana rasanya kalau dicekik di

tempat vital.

Dia juga selalu teringat pada wajah Seng Kong-kong

yang seperti wajah kuda itu.

Dia melempar ular itu ke depan Hong Ku.

Hong Ku terkejut, lalu dia menendang seekor kelinci dan

terjatuh di tangan Hong Kie.

Hong Kie mulai memanggang kelinci di bawah pohon.

Leng-ji terlihat sangat lemah.

Keadaannya sekarang sangat berbeda dengan saat dia

bertarung di Eng-hong-pie-ya.

Saat diam dia seperti air jernih yang tenang.

Tapi sekarang wajah cantiknya mulai terlihat penuh

kekhawatiran.

Bisa melarikan diri itu sangat baik.

Berarti nyawanya bisa dipungutkembali.

Tapi kalau badai datang lagi, keberuntungan belum tentu

akan mennjadi milik mereka lagi.

Wie Kai sudah bangun.

Dia duduk di sampingnya.

Dia juga membelai rambut Leng-ji

Gerakannya ringan seperti sedang membersihkan air

yang ada di pucuk daun muda.

Leng-ji tidak bergerak.

Dia duduk di sisinya, dia merasa aman.

Tapi dengan rasa aman ini apakah bisa melewati patukan

elang-elang yang datang seperti gelombang?

Ada pepatah mengatakan:

“Harimau pun ada saatnya mengantuk.”

Akhirnya Leng-ji melihat dia.

Empat mata beradu, mereka mengerti keadaan

lawannya.

Hanya saling menggerakkan mata sudah cukup membuat

mereka terhibur!

Dalam kesusahan dan kesulitan, bagi sebagian orang

akan terasa tersiksa.

Tapi sebagian kecil, mereka merasa itu adalah ranjang

hangat tempat berbagi perasaan.

Tiba-tiba mereka saling berpelukan.

Bukan hanya tubuh, hati mereka pun sangat akrab saling

berpelukan.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Leng-ji.

“Itu adalah masalah Seng Kong-kong.”

Leng-ji tertawa kecut.

Dengan santai Wie Kai berkata:

“Eng-hong-pie-ya yang mendapat masalah, bukan kita,

yang harus dipikirkan adalah apa yang akan mereka

lakukan, bukan kita!”

“Kalau kita sendiri, apa yang akan kita laku-kan?”

Wie Kai selalu terlihat santai:

“Kalau kita sedari pertama pacaran sudah terpikir apa

yang harus kita lakukan, waktu itu kita saling jatuh cinta

dan membuat kita pusing, sekarang setelah berpikir harus

melakukan apa, pasti kita akan pusing lagi, kalau pusing

akan tumbuh banyak uban!”

Leng-ji tertawa kecut.

Dia merasa lelah lahir dan batin.

Hanya dengan bersama Wie Kai, hal yang dia

khawatirkan bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Di kuil La-ma (Tibet) pasti ada La-ma.

Tapi orang yang bukan La-ma masuk ke kuil Lama dan

diterima dengan meriah tidak banyak.

Yang dimaksud dengan meriah bukan dipasang

permadani mewah, meniup dan memukul alat musik

kemudian makan besar-besaran.

Mereka hanya berbaris untuk menyambut kedatangan

tamu.

Yang datang adalah Seng Kong-kong yang sudah

berambut putih.

Langkahnya cepat dan ringan, tapi wajahnya datar.

Kalau tidak melihat tubuh bagian atasnya, hanya melihat

kedua kakinya, semua orang akan mengira dia baru

berumur 20 tahun lebih.

Putri raja Kao Tong berpakaian mewah dan berdandan

dengan warna mencorong.

Dipandang dari segi kecantikan Tibet, dia adalah

perempuan yang sangat cantik.

Kecantikan putri raja ini boleh dikatakan sejajar dengan

Leng-ji..

Setelah mendengar cerita Seng Kong-kong, tiba-tiba putri

Kao Tong berteriak:

“Apa? Mereka berada di Tai-hong-san? Berada di Taihong-

san?…”

Seng Kong-kong duduk di kursi tamu. Putri raja berdiri

untuk bicara.

Terlihat mereka sangat akrab, tidak seperti baru 2-3 kali

bertemu.

“Keadaan sudah berada di tangan kita!” kata Seng Yankong.

“Aku harus pergi ke Tai-hong-san!” kata putri raja

dengan dingin.

“Pergi ke gunung? Putri raja Tibet yang selalu menjaga di

kuil La-ma untuk apa ke Tai-hong-san?”

Tidak banyak berpikir, dia langsung menjawab:

“Berburu!”

“Sekarang bukan waktunya untuk berburu, apa lagi

orang-orang Eng-hong-pie-ya sedang ke gunung itu, kalau

ada yang melihat apa yang akan dikatakan orang-orang?”

kata Seng Yan-kong.

“Apa kata mereka?” tanya putri raja. “Perkataan apa pun

tidak baik bagi kita, Eng-hong-pie-ya dan kuil La-ma hanya

bertukar ilmu silat, kalau hubungan ini terlalu erat, akan

membuat orang curiga. Putri raja, bukankah karena

masalah kecil akan menghancurkan rencana besar?” tanya

Seng Yan-kong,

“Apa karena masalah kecil… hancur rencana besar?”

tanya putri Kao Tong.

“Inilah pekerjaan rumah tangga Eng-hong-pie-ya, putri

harus percaya, Eng-hong-pie-ya bisa melaksanakannya

dengan baik!” kata Seng Yan-kong.

Hal 337-338 ga ada

“Hal apa?”

“Aku ingin melihatmu menari.”

“Sekarang mana mungkin ada perasaan yang keluar dari

hati?”

“Melihat kau menari selalu ada perasaan!”

Leng-ji tertawa dengan indah dan menarik.

Walaupun dia tertawa kecut atau tertawa sambil

menangis, tetap terlihat menarik.

“Aku ingin melihat apakah paha depan atau paha

belakang yang kau sisakan untukku? Ha ha ha!”

Wie Kai mengambil sebuah paha belakang.

“Sebenarnya paha depan atau paha belakang sama saja,

asal sebuah kaki itu sudah cukup! Ha ha ha!” tawa lepasnya

benar-benar membuat orang iri.

Apakah dia tidak normal?

Atau sengaja agar suasana terasa lebih ringan.

Selama ada dia, siapapun akan bertambah selera

makannya.

Leng-ji melihatnya, dia ada pikiran lain.

Setelah makan beberapa gigitan daging kelinci, Wie Kai

berkata kepada Hong Kie:

“Apakah kau tahu mengapa kau begitu kurus?”

“Karena aku tidak bisa tertawa!”

Hong Kie tertawa tapi tertawa kecut. ^

Tertawa adalah hal yang tidak perlu dibayar malah

membuat orang senang juga membuat diri sendiri senang.

Tapi belum tentu setiap orang bisa mengguna-kan tawa

ini.

“Tertawa bisa membuat orang panjang umur!” kata Wie

Kai.

“Betul!” kata Hong Kie, “tapi kalau terlalu banyak

tertawa malah akan cepat tua.”

“Cepat tua?” tanya Wie Kai.

“Karena terlalu banyak tertawa akan membuat wajah

banyak keriput!” jawab Hong Kie.

Awalnya Wie Kai bengong kemudian tertawa: “Betul,

betul, tidak kusangka kau punya ilmu awet muda!”

Hong Kie makan daging ular lagi. Sebenarnya daging

ular tidak banyak. Karena kalau banyak dagingnya, ular

tidak akan bisa bergerak lincah.

Seperti dia, kalau tidak kurus, dia tidak akan selincah

sekarang dan tidak yakin bisa kabur dari Eng-hong-pie-ya.

“Hong Ku, kau terlihat begitu lelah tapi tubuh-mu tetap

gemuk?” tanya Wie Kai.

“Karena ini sudah dari sananya, aku memang sudah

gemuk!”

“Tidak, karena kau senang tertawa!”.

“Mungkin juga aku bisa makan dan tidur enak!”

Mereka berdua tertawa.

Hong Ku terus makan sambil tertawa.

Tapi Hong Kie tidak tertawa.

Leng-ji melihat Wie Kai.

Dia seperti tidak mengerti.

“Seng Kong-kong tidak senang melihat laki-laki dan

perempuan saling mencintai, dia sangat benci dan marah…

karena dia tidak bisa merasakan perasaan antara laki-laki

dan perempuan…” kata Wie Kai.

Pasti masih banyak kekesalan yang tidak enak untuk

diucapkan.

Dalam kurun waktu 10 tahun menjadi kasim saat mandi

bukanlah waktu yangmudah dilewati.

Tiga tahun sekali ada perbaikan kecil, 5 tahun sekali ada

perbaikan besar.

Bila tidak diperbaiki kalau tunas daging bertumbuh

melebihi panjang yang ditentukan akan lebih celaka!

Kalau tunas daging tidak diperbaiki akan dipenggal,

bukankah yang didapat lebih sedikit dibandingkan yang

hilang?

“Hong Ku, bagaimana kalau kau menari?” usul Wie Kai.

“Tarianku tidak bagus, jangan tertawakan aku!” kata

Hong Ku.

Hong Ku membersihkan minyak yang ada di tangan dan

mulai menari.

Hong Ku sangat terbuka dan ceria, sifatnya kebalikan

dari Hong Kie. Orang yang bersifat sebalik-nya biasanya

lebih akur dan akrab.

Tariannya memberikan kesan polos dan perasa-an

senang.

Leng-ji bernyanyi pelan-pelan.

HongKu ikut bernyanyi.

Hong Kie tidak menari juga tidak bernyanyi, dia

menikmati dalam diam.

Wie Kai memukul mangkuk dengan sumpit untuk

dijadikan musik.

Mereka sudah lama tidak merasa sesenang sekarang.

Semakin menari Hong Ku semakin senang, karena dia

adalah anak yang masih bertumbuh.

Gadis bermata besar memang tidak spesial, tapi bagi

Hong Kie ini berbeda.

Tiba-tiba Hong Kie berlari dia menutup mulut Hong Ku.

Yang pasti menyuruhnya tidak bersuara lagi.

Mereka bertiga segera terpaku.

Hong Kie segera memadamkan api dengan kain usang.

Gerakannya cepat dan lincah.

Suasana menjadi tegang.

Suasana gembira tadi segera menghilang.

Burung yang tertidur di atas pohon karena terkejut dan

segera terbang.

Rasa terkejut mencuat dari mata ke empat orang itu.

Kemarahan terlihat dari kerutan alis mereka. Empat

tangan kuat tidak sengaja memegang senjata masingmasing.

Sorot mata mereka sama-sama melihat ke arah pintu.

Sifat galak dan jahat seorang banci dirasakannya.

Di luar rumah kecil di mana tempat pemburu beristirahat

muncul bayangan yang terus berkelebat.

Kadang-kadang terdengar suara baju yang mengenai

pohon atau daun.

Masih bercampur dengan suara senjata yang dikeluarkan

dari sarung.

Tiba-tiba pintu ditendang hingga terbuka.

Daun pintu terjatuh ke bawah. Loo Cong berkelebat

masuk. Matanya terus melihat ke sekeliling. Wajah yang

kuat dan serius tampak sedikit mengendur.

Tidak lama kemudian putri Kao Tong masuk, dia

bertanya:

“Bagaimana?”

“Kita terlambat sedikit, kemarin malam mereka masih di

sini!” jawab Loo Cong.

Dengan marah putri Kao Tong berkata: “Mereka benarbenar

licin!”

Dia masuk dan keluar lagi dari rumah itu, dia juga

berusaha menguasai dirinya supaya tidak terlihat kalau dia

terburu-buru.

Tapi perasaan yang bergejolak di dalam hati sangat sulit

ditutupi.

Jika bisa ditutupi, pasti perasaannya tidak terlalu keras.

Loo Cong melambaikan tangan, dia membawa anak

buahnya mencari ke sekeliling.

Putri Kao Tong masuk lagi ke dalam rumah itu. Dia

memeriksa ranjang sederhana itu dengan teliti.

Walaupun ranjang itu sangat sederhana tapi tetap sebuah

ranjang.

Tempat orang tidur dan melakukan hal lain.

Tiba-tiba putri Kao Tong memungut sebuah jepit rambut

dari atas ranjang itu.

Api kemarahan muncul lagi di matanya.

Tiba-tiba dia membenci ranjang itu, dengan golok

beberapa kali dia menusuk ranjang itu.

Dia ingin menghancurkan ranjang itu.

Kemudian dia berlari keluar dengan marah melihat

keadaan di luar.

Di sana ada kulit kelinci, tulang kelinci, serta kulit ular

dan yang lainnya.

Tempat memanggang daging masih berasap.

Dia menepis jangka untuk membakar daging itu.

Melihat jepit rambut yang ada di tangannya, dia berkata:

“Kalian akan tahu rasanya!”

Jepit rambut ditekan menjadi beberapa bagi an.

Dia tidak ingin melihat bekas barang yang mereka

tinggalkan, tapi dia ingin tahu sekarang mereka sedang apa?

Bila laki-laki dan perempuan bersama, apa yang akan

terjadi?

Putri Kao Tong sendiri yang akan mengancam.

Saat dia bersama laki-laki dan laki-laki itu bukan Wie

Kai pasti akan terjadi hal seperti itu.

Dia seperti mendengar tawa Wie Kai yang terlepas.

Dia berpikir Leng-ji tentu sedang dalam pelukan Wie

Kai.

Dia berpikir lagi, mereka dengan tubuh telanjang mandi

di sungai yang kecil itu.

Dia memungut batu besar lalu dengan marah

melemparkannya ke dalam sungai.

Bayangannya yang terpantul di sungai itu jadi

menghilang.

Loo Cong kembali lagi.

Dia membawa anak buahnya yang terdiri dari beberapa

orang.

Kata Loo Cong:

“Saat kita akan kemari, Kong-kong berpesan bila di Taihong-

san tidak mendapati jejak mereka, harap Putri kembali

ke ibu kota. Biar kami yang akan mencari mereka.”

Putri Kao Tong seperti tidak mendengar. Dia

menghentakkan kaki, membawa dua La-ma berjalan ke

arah hutan.

Loo Cong tidak bergerak.

Dia melihat jepit rambut yang dihancurkan oleh putri

Kao Tong.

Mo Ki-thian tidak bergerak.

Tapi apa yang dipikirkan Mo Ki-thian berbeda dengan

Loo Cong.

Di tempat tidak begitu jauh dari sana, terdengar putri

Kao Tong membentak:

“Keluar! Kalian tidak akan bisa kabur.”

“Keluar… keluar… kalian tidak akan bisa kabur… tidak

akan bisa kabur…”

Gema terdengar bergaung di mana-mana, lama baru

menghilang.

Di lembah yang penuh dengan kabut, burung yang

sedang tertidur sekali lagi beterbangan karena terkejut.

Matahari bersinar dengan terik. Di gunung tidak ada

angin. Mereka berempat terus berjalan. Hong Kie

berjalanpaling depan.

Dia selalu menjadi orang yang pertama berjalan. Karena

refleknya cepat dan dia lincah. Hong Ku berada di

belakangnya. Dari luar terlihat dia tidak begitu

menghormati Hong Kie.

Tapi ini hanya terlihat dari luar saja, sebenar-nya sorot

matanya tidak pernah meninggalkan Hong Kie. Seperti Wie

Kai dan Leng-ji.

Kalau bukan karena perasaan kuat seperti tiang yang

menahan mereka, tidak ada orang yang berani melarikan

diri dari Eng-hong-pie-ya.

Perasaan inilah yang membuat mereka ber-tahan dan

membuat mereka berani menghadapi dewa kematian.

Seorang penebang kayu sedang memikul kayu.

Berjalan dari arah depan.

Hong Kie segera bersiap-siap.

Tangan yang memegang golok segera muncul urat hijau.

Orang yang ada di belakangnya ikut waspada. Jalan di

gunung sangat sempit. Ke dua belah pihak berpapasan.

Berjalan dengan tempat yang pas-pasan. Wie Kai tertawa

kepada orang itu tapi tawanya tidak alami.

Penebang kayu itu sudah pergi jauh. Wie Kai melihat

Leng-ji.

“Hari-hari dilewati dengan sangat menarik!” kata Leng-ji.

“Maksudmu dengan sangat menarik?”

“Apakah kau sudah bosan melewati hari-hari seperti ini?”

“Apakah kau sendiri sudah bosan?”

Leng-ji tertawa, dia selalu baik dan lembut.

Wie Kai benar-benar tidak tahu mengapa Leng-ji bisa

masuk Li-goan, katanya:

“Leng-ji, bagaimana kalau kita mengobrol tentang

dirimu?”

“Mengobrol tentang apa?”

“Banyak, satunya masa lalumu, aku pasti tidak akan

bosan-bosan mendengarnya!” kata Wie Kai.

“Kau mau tahu tentang apa?”

“Coba ceritakan kehidupan di Li-goan!”

Tiba-tiba Leng-ji tertawa: “Aku sama sekali belum

pernah ke Li-goan.”

“Apakah benar?” Wie Kai terkejut.

“Ya!”

“Kau bukan Seebun Long?”

“Bukan!”

“Lalu siapa Seebun Long itu?”

“Aku tidak tahu!”

“Kau bohong!” Wie Kai menepuk pundaknya. “Aku

serius!”

“Maksudmu, kau bukan Seebun Long juga tidak tahu

siapa Seebun Long?” .

“Benar!”

“Apakah Seebun Long hanya sesosok bayangan bukan

benar-benar ada?”

Leng-ji menggelengkan kepala:

“Dia benar-benar ada!”

“Hubunganku dengannya…”

“Kau dan dia tidak ada hubungan apa pun.”

“Tidak, aku ingat kami mempunyai hubungan sangat

dalam.”

“Siau-kai, kau tidak mengerti.”

“Aku memang tidak mengerti!”

“Tidak mengerti, jadi jangan sembarangan menebak,”

kata Leng-ji.

“Tapi aku tidak bisa menyangkal mengenai hubungan

dalamku dengannya!”

“Hubungan dalam?”

“Kau seperti ingin menyangkal hubunganku dengannya!”

“Kau hanya ingin bertanggung jawab saja!”

“Apakah salah kalau aku bertanggung jawab?”

“Kau tidak perlu bertanggung jawab, tapi kalau kau mau

bertanggung jawab bukankah itu mubajir?”

“Aku tahu, kau hanya ingin aku melepas tanggung jawab

ini.”

“Kalau kau dan dia benar-benar mempunyai hubungan

yang dalam, mengapa dia harus melepaskanmu?”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Sebenarnya itu adalah ilmu sihir dari Seng Yan-kong.”

“Ilmu sihir dari India?”

“Sebenarnya ilmu dari Po-se!”

“Aku tidak mengerti!” kata Wie Kai.

“Maksud ilmu sihir ini adalah sebuah ilmu yang sangat

dalam dan sulit dimengerti, memang ada yang mengatakan

kalau itu sebuah ilmu sesat, tapi orang yang bisa ilmu ini

benar-benar tahu kalau itu adalah sebuah ilmu tinggi dan

sulit dimengerti. Ada teori ada praktik, setelah menguasai

ilmu ini dia bisa membuat orang melakukan hal yang ingin

dia lakukan tidak peduli apa pandangan orang lain!”

“Mengapa Seng Kong-kong melakukan ini?”

“Seng Yan-kong ingin membangun inti kepemimpinan

dan orang-orang ini akan setia kepada-nya!”

“Siapa mereka ini?”

“Yang pasti kau, aku, Loo Cong, dan Mo Ki-thian, dan

di kita, kau dan Loo Cong yang dianggap paling penting.”

“Mengapa?”

“Karena selain Seng Kong-kong, kalian berdua

mempunyai ilmu silat yang paling tinggi.”

“Ilmu silatmu juga lumayan.”

“Tapi dia memandang remeh perempuan.”

“Mungkin bukan memandang remeh, tapi karena

sombong dan selalu merasa rendah diri.”

“Singkat kata, dia sangat memandang penting kau dan

Loo Cong, tapi kau berada dalam hatinya, tidak seperti Loo

Cong yang bisa dipercaya.”

“Dia merasa aku tidak bisa dipercaya?”

“Bukan tidak bisa dipercaya, hanya saja kau tidak seperti

Loo Cong begitu jujur dan setia.”

Wie Kai tertawa.

“Apakah kau tidak percaya?” ^

“Aku percaya maka aku kagum terhadap ilmu

pengetahuan orang yang dikuasainya.”

“Siau-kai, kau tidak jujur, kau mengatakan

sebaliknya.”

“Kadang-kadang mengatakan sebaliknya bukan kah

sama dengan menghibur diri?”

“Seng Yan-kong menjadikanku sebagai umpan untuk

menguji dirimu, dia mencari perempuan yang mirip

denganku, orang itu pemain opera karena dia mirip

denganku, ditambah sikapmu hangat kepadaku ada

kemauan dan khayalan, dia memakai ilmu sihir Seng Yankong,

kau menganggap Seebun Long adalah aku, Sangguan

Siau-liong dianggap sebagai putramu, dan kau juga mengira

ada hubungan khusus dengan Seebun Long!”

Wie Kai terkejut.

Sejak di panggung eksekusi lehernya terkena air, dia

segera jadi teringat semua, rupanya air itu di-beri obat

penawar.

Tiba-tiba Wie Kai meloncat dan tertawa terbahak-bahak.

“Ada apa denganmu?”

“Apakah kau tidak mengerti mengapa aku begitu

senang?”

Leng-ji menggelengkan kepala.

“Kalau aku benar-benar mempunyai hubungan spesial

dengan Seebun Long, apakah aku masih layak bersama

denganmu?”

“Kalau kau benar-benar mempunyai anak, apakah aku

akan merusak perjodohan orang lain?”

Wie Kai menepuk-nepuk dahinya:

“Tidak seperti itu!”

“Tidak, sama sekali tidak!”

“Terima kasih, Tuhan! Aku seperti bermimpi buruk,

setelah terbangun jadi merasa sangat beruntung, ternyata

hanya mimpi buruk, bukan sebenarnya!”

“Tapi paling sedikit membuktikan kalau hatimu

berwarna-warni!”

“Leng-ji, aku hanya menganggapnya dirimu, kalau Siauliong

adalah putra kita, itu akan sangat baik bukan?”

Leng-ji tidak bersuara.

“Tapi kalau benar-benar ada Siau-liong, saat ini kau akan

tersiksa! Bagaimana pendapatmu?”

“Paling sedikit lebih baik dibandingkan berada di Enghong-

pie-ya, sekarang kita bisa secara terang-terangan

bersama!”

“Aku merasa tidak enak hati!”

“Aku sendiri rela, untuk apa kau harus merasa tidak enak

hati?”

“Aku merasa tidak enak hati justru karena kerelaan

hatimu itu!”

Ada sebuah sungai yang menghadang jalan. Hong Kie

menarik Hong Ku meloncat bersama-sama.

Sebelum turun HongKie mencium HongKu. Setelah

turun Hong Ku tertawa sambil marah. “Apakah kau

melihatnya?” tanya Wie Kai dari belakang.

“Aku lihat!” jawab Leng-ji.

“Apa pendapatmu?”

“Gambaran yang sangat indah!”

Di sini adalah sebuah rumah makan islam. Mungkin

rumah makan itu sudah lama berdagang di sini.

Plang toko sudah menghitam dan hurufnya pun sudah

tidak bisa jelas.

Karena rumah makan itu ada tungku untuk

memanggang daging, maka di sana sini tampak banyak

jelaga.

Tampaknya rumah makan itu memang harus hitam,

hitam mengkilat baru nyata, kalau rumah makan itu sudah

lama dibuka.

Bangku dan kursi pun tampak hitam mengkilat.

Hanya sarang laba-laba yang ada di bawah genting sudah

menjadi seuntai debu hitam, bila tertiup angin tampak

melayang-layang.

Di dinding ada catatan menu sayur beserta harganya,

ditulis dalam bahasa bangsa Hui, tapi sudah tidak bisa

terlihat jelas karena sudah menghitam.

Tamu yang datang sangat banyak.

Koki sedang memotong daging, gerakannya cepat.

Cara memotongnya pun sangat cepat. Hanya sebentar

dia sudah memotong daging ayam, bebek, sapi, dan

kambing yang diminta tamu, dan beratnya tidak perlu

ditimbang. Dia tidak akan memberikan timbangan yang

kurang, hingga tamu marah-marah, yang pasti dia juga

tidak akan memberikan timbangan lebih bisa membuat

majikan rumah makan rugi.

Tamu mengelilingnya untuk mengambil daging.

“Aku seperempat kati, aku setengah kati!” suara itu terus

terdengar.

Sepertinya mereka tidak perlu membayar.

Ada daging yang sudah dipotong tipis-tipis, setelah

makan mereka merasa puas.

Orang-orang di sana bersifat sangat terbuka serta kasar.

Tungku untuk memanggang daging bermotif Mongolia,

besar seperti gilingan beras. Di bawah tampak api besar.

Di atasnya tampak orang sedang memanggang daging

masing-masing.

Pelayan sibuk mengantarkan arak, hingar bingar dan

sibuk seperti di sebuah pasar.

Hong Kie dan Hong Ku masuk.

Mereka melihat sebentar, lalu mencari tempat dipojok

dan duduk.

Mereka hanya melirik, tapi tahu apakah akan ada orang

yang sedang memperhatikan mereka.

Wie Kai dan Leng-ji sudah masuk.

Mereka duduk di sisi Hong Kie dan Hong Ku.

Hong Kie dan Hong Ku pergi untuk memanggang

daging.

Di atas tungku terus terdengar bunyi sendok juga bunyi

bumbu yang terbakar api

Asap dari tungku dan asap dari daging menu-tupi toko

daging bakar itu.

Orang yang agak pendiam mungkin tidak akan bisa

makan dengan situasi tidak sedap ini.

Ada orang berjongkok di atas bangku untuk makan.

Ada lagi orang yang mengobrol dengan suara besar

tentang kejadian yang dia alami semalaman di

tempatpelacuran.

Wie Kai tertawa kepada Leng-ji.

Leng-ji mengerutkan alis.

“Jangan begitu, sebenarnya orang-orang ini sangat

manis!”

“Manis?”

“Betul, mereka terus terang dan jujur, ada apa bicara apa,

tidak ada yang ditutup-tutupi, lebih-lebih tidak perlu

menyusun kalimat dulu baru bicara!”

“Kalau di rumah makan Tiang-an tiba-tiba datang

seseorang yang telanjang, dan dia datang dari jaman

primitif, apakah kau masih akan merasa kalau mereka

manis?”

“Lucu juga!” kata Wie Kai.

Dengan penuh perhatian Leng-ji menatapnya.

Hong Kie dan Hong Ku datang membawa daging yang

sudah matang.

Lalu Wie Kai makan daging.

“Kau benar-benar cepat menyesuaikan diri!”

Mulut Wie Kai penuh dengan daging, dengan suara

tidak jelas bertanya:

“Apa artinya?”

“Cara makanmu manis, sungguh mirip orang primitif!”

jawab Leng-ji.

“Bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, itu sangat

penting?”

Leng-ji mulai makan daging.

Sambil makan dia terus melihat Wie Kai:

“Terus melihatmu, itu seperti tidak baik ya?”

“Mengapa?”

“Kau jarang melihatku!”

“Apakah itu penting?”

“Kata orang, bila seseorang terus melihat orang, berarti

dia suka kepadanya!”

“Pantas ada orang yang terus melihatku.”

“Siapa?”

“Pembunuh dunia persilatan!”

Hong Ku hampir memuntahkan makanannya.

Terlihat mereka seperti sedang asyik makan, tidak ada

yang melirik ke pinggir.

Sorot mata mereka seperti tidak fokus, tapi sebenarnya

mereka sedang memperhatikan tamu-tamu yang keluar juga

masuk.

Walaupun tidak terlihat ada musuh, tapi mereka bisa

merasakan, musuh tidak jauh dari mereka.

Mungkin sudah berada di dalam rumah makan itu.

“Aku tidak mau melihatmu sebab begitu melihatmu aku

merasa berhutang banyak kepadamu!”

“Ada orang yang mengatakan kalau laki-laki dan

perempuan sedang jatuh cinta akan merasa sedang

berhutang, itulah suatu perasaan yang tidak bisa dikurangi!”

jawab Leng-ji pelan-pelan.

Wie Kai tertawa.

Tiba-tiba Hong Kie dan Hong Ku bergerak. Mereka

segera bersiap-siap.

Sebuah tangan besar dan berbulu sedang menyodorkan

cangkir ke depan Wie Kai.

“Lo-te!” (adik) kata orang itu.

Begitu Wie Kai menoleh dia segera mengerti. Sebab dia

bisa merasakan hawa membunuh yang keluar dari dirinya.

Dia juga bisa membaca sorot mata pembunuh itu Ada

bahasa tanpa suara.

“Bisa bertemu hari ini, kami sangat senang, ayo kita

bersulang!” kata orang pertama.

Orang itu berhidung pesek, tidak beralis, 2 matanya

seperti mata kambing mati, kalau malam hari melihatnya,

akan mengira telah bertemu dengan vampir!

Wie Kai dengan luwes menerima arak dari orang itu.

Dia tidak melihat siapa pun, tidak melihat Hong Kie,

Hong Ku, juga Leng-ji.

Dia pura-pura sudah mabuk dan berkata:

“Oh… ini… terima kasih!”

Dia minum arak itu sekaligus.

Kata pembunuh pertama dengan suara keras:

“Puas… puas sekali… lihatlah arak itu!”

Maksudnya dengan melihat arak itu, bukan lain

menyuruh pelayan mengambil arak.

Orang pertama melemparkan cangkirnya, orang kedua

menyambut dan melemparkannya kepada orang ke tiga.

Orang ke tiga melempar kepada orang ke empat dan

seterusnya.

Tamu-tamu yang tidak ada hubungan dengan mereka,

tiba-tiba seperti sudah ada kesepakatan.

Gelas dilempar hingga orang terakhir, meng-ajak

bertaruh.

Arak yang dituang kembali dilempar.

Hong Kie dan Hong Ku sudah siap siaga.

“Permainan ini bukan permainan baru!” kata Wie Kai.

Cangkir arak sudah mendekati tangan orang pertama

lagi.

Saat orang itu ingin menyambut cangkir arak, cangkir itu

sudah berada di dalam tangan Hong Ku.

Tangannya panjang dan indah, cangkir arak berada di

punggung telapaknya, arak sama sekali tidak tumpah.

Matanya yang seperti mata kambing mati itu mulai

mengeluarkan urat-urat merah.

“Pedagang yang menjual grosiran datang mencari!” ada

yang berteriak.

Semua orang itu tertawa terbahak-bahak.

Sekarang yang membuat mereka meneteskan air liur

bukan karena daging yang ada di dalam piring melainkan

dua gadis bermata besar yang datang dari luar daerah.

Sorot mata mereka terlihat merendahkan, Leng-ji dan

Hong Ku merasa sorot mata mereka penuh dengan

penghinaan dan cabul.

Hong Ku tahu hal ini sudah tidak bisa dihindari lagi.

Terhadap binatang-binatang ini mereka harus

memperlihatkan kekuatannya.

Arak tetap berada di punggung telapak Hong Ku.

Dia melihat sekeliling kemudian membalikkan

tangannya, cangkir arak masih berada di atas telapak-nya.

Punggung telapak tetap menghadapi ke atas, arak tidak ada

yang menetes.

Ada yang berseru, ada yang berteriak, itu adalah ilusi.

Orang pertama tertawa dingin: “Bukan ilmu yang bagus!”

Orang kedua ikut berteriak:

“Betul! Tidak bagus, bagaimana ilmu di atas

ranjangnya?”

Tangan Hong Ku bergetar, secangkir arak terbang ke

arah tungku.

Tungku segera mengeluarkan api dan asap hijau.

“Kalian mau apa?” teriak Hong Ku.

“Hanya ingin menyaksikan ilmu silat dari Eng-hong-pieya!”

kata orang pertama tertawa dingin.

“Apakah kalian benar-benar mau melihat?” tanya Hong

Ku.

Puluhan orang segera mengeluarkan senjata.

“Di sini tidak leluasa!” kata Wie Kai.

Semua orang itu pelan-pelan mendekat. Seperti

sekelompok serigala lapar, dengan lidah terjulur maju

mendekati mereka.

“Kalian dari perkumpulan mana?” tanya Hong Ku.

“Jangan banyak tanya, setelah kami mendapatkan

emasnya, baru kami akan memberi kalian kemudahan!”

jawab orang pertama.

Hong Kie sudah bersiap-siap akan menyerang.

“Ayo kita pergi…” ajak Leng-ji.

Dia sudah meloncat.

Ilmu meringankan tubuhnya berada di bawah Wie Kai,

tapi gerak tubuhnya yang indah tidak bisa di tandingi Wie

Kai.

Suara terkejut dan teriakan terdengar.

Leng-ji mengganjal kakinya ke atas tungku, kemudian

keluar dari rumah makan itu.

Tungku panas tapi seperti tidak mengeluarkan asap

sedikit pun.

Ada yang berteriak:

“Jangan biarkan mereka kabur!”

Wie Kai pun ikut menumpu kakinya ke atas tungku lalu

meloncat keluar.

Hong Kie dan Hong Ku menyusul.

Dari kelompok lawan ada yang berteriak ‘bagus’ saat

melihat ilmu meringankan tubuh itu.

Tapi dari pihak lawan juga ada pesilat tangguh.

Mereka mengikuti cara Wie Kai keluar dari tempat itu.

Dia adalah orang pertama.

Orang kedua dan ketiga segera mengikuti.

Tapi ada yang ilmu meringankan tubuhnya kurang

bagus, saat menginjak tungku, dia terpeleset karena di sana

banyak minyak dan dia pun terjatuh.

Tungku mengeluarkan asap hijau.

Orang itu berteriak dan meloncat.

Tapi sepatunya tampak sudah berasap, dia jatuh di depan

pintu.

Setelah itu tidak ada yang berani mengikuti cara ini lagi.

Mereka keluar dari pintu utama.

Di sini adalah rumah yang jarang dipakai.

Lama tidak dipakai maka di mana-mana ter-cium bau

apak!

Rumah tidak beratap, pintu dan jendela sudah lama

menghilang.

Rumput tumbuh tinggi memenuhi pekarangan.

Di sini sangat cocok untuk membunuh orang.

Bagi orang yang akan dibunuh, tempat ini pun

merupakan tempat yang bagus.

Paling sedikit anjing yang kelaparan tidak akan datang

kemari.

Leng-ji datang lebih dulu, dia berhasil melukai 4 orang.

Awalnya Leng-ji tidak ingin membunuh, tapi lawan tidak

mau mengalah, jurus-jurus mereka pun penuh dengan

kecabulan, terpaksa Leng-ji melukai orang.

Sekali golok menyapu, ada yang meneteskan darah.

Golok menyapu miring lagi, satu orang terkena sabetan

lagi.

Dua orang mundur, tiga orang datang lagi.

Begitu Wie Kai keluar, 6 orang sudah menunggunya.

Kipas besar bergerak menutup dan membuka, ada

seorang yang tertendang.

Yang satu lagi wajahnya tergores.

Dia meloncat dan menendang ke pinggir. Dua orang

wajahnya tertendang.

Hong Kie dan Hong Ku pun ikut bekerja.

Tapi Wie Kai berkata:

“Sudahlah! Mereka hanya orang yang melihat uang,

tidak bisa membaca Hong-sui!”

Maka Hong Kie dan Hong Ku memasukkan golok dan

pedang ke dalam sarungnya.

Mereka berempat memang sangat kompak.

Wie Kai sengaja membiarkan dirinya dirangkul oleh

salah satu pembunuh dari belakang, lalu berteriak:

“Tolong!”

Tiba-tiba tubuhnya membungkuk, memegang

pergelangan tangan lawan, lalu dilemparkan ke atas atap,

atap yang sudah usang segera ambruk.

Hong Ku meloncat, mengganjal seorang pembunuh lalu

menendang kepalanya.

Orang yang ditendang segera roboh.

Kemudian dia meloncat lagi ke arah yang lain, dengan

cara sama membuat orang itu roboh.

Hong Kie seperti sedang melatih kepalannya.

Suara PAK, PAK, PAK terdengar. Semua yang terkena

sudah tersungkur.

Tapi orang pertama masih tidak terima, karena dia ingin

mendapatkan hadiah besar, maka dia harus melakukan

sesuatu.

Tiba-tiba dia menembakkan Piauw berbentuk bintang.

Wie Kai pun tersungkur ke bawah. Orang pertama

mengira dia berhasil maka berteriak:

“Kita harus lebih gesit, supaya mendapat emas lebih

banyak, maka akan ada harapan…”

Tapi tiba-tiba Wie Kai bangun, kedua tangan-nya

melayang. ‘

Lima Piauw berbentuk bintang sudah dilemparkan

kembali.

Orang pertama kabur. ‘ Begitu dia kabur yang lain pun

ikut kabur.

Tampaknya puluhan ribu tail emas sudah tidak ‘

diharapkan lagi.

Mereka hanya pembunuh pasaran, sekarang mereka

bubar.

Tiba-tiba pundak belakang Wie Kai ada yang menepuk.

Dia membalikkan tubuh dan bersiap.

Ternyata tangan itu milik Leng-ji.

“Jangan melihatku seperti melihat musuh!” katanya

Belum lagi Wie Kai tertawa, dari luar dinding ada orang

yang tertawa.

Tawa ini tidak di kenal.

Mereka berempat terkejut dan menoleh.

Seorang pria setengah baya, berbaju mewah tampak

muncul, pinggiran baju dan topinya tidak di-lipat, juga tidak

sobek.

Orang ini membawa 5 laki-laki yang terlihat sangat

kekar, mereka bukan orang biasa.

Ternyata dia adalah Put-pian-yan-gwa (Harta-wan tidak

terbatas).

Dari baju aneh orang itu sudah bisa ditebak identitasnya.

Tentu orang itu punya nama besar.

Bukan seperti orang-orang primitif itu.

Put-pian-yan-gwa berkata sambil tertawa:

“Dua pentolan dari Eng-hong-pie-ya, memang bukan

orang biasa!”

Hong Kie sudah bersiap-siap akan menyerang.

“Hong Kie!” Leng-ji menghadang Hong Kie dan berkata

lagi, “Put-pian-yan-gwa, apakah kau mau ikut campur

urusan rumah tangga Eng-hong-pie-ya?”

“Kalau tidak, namaku tidak akan disebut Put-pian-yangwa!

Apa lagi Seng Kong-kong sudah menyebarkan

undangan, ingin menutup sebelah mata pun sudah tidak

bisa!” Hong Kie dan Hong Ku tertawa dingin.

Mereka benci melihat orang dunia persilatan mengambil

kesempatan saat orang sedang mengalami kesulitan.

Buat orang dunia persilatan yang sudah punya nama

besar, itu tidak akan jadi masalah, Tapi jika dalam keadaan

seperti itu ada orang yang tidak ingin mengambil

keuntungan, itu benar-benar adalah orang yang terhormat,

Emas berharga.

Budi pekerti dan harga diri tidak berharga,

Banyak orang dengan barang tidak berharga menukarnya

dengan barang berharga.

Mereka tidak tahu kalau itu akan merugikan.

………………………………………..

Kata Wie Kai dengan luwes:

“Kami sedang melarikan diri, maka kita akan pergi!”

Hong Ku sudah tidak sabar:

“Siau-kai, aku ingin mencoba ilmunya, apakah dia

adalah Yu-pian atau Put-pian?”

Wie Kai menggoyangkan tangannya dengan tertawa

menghadang.

“Diterima, disembunyikan, ditangkap hidup-hidup atau

menyerahkan mayat kalian, silakan kalian pilih sendiri!”

kata Put-pian-yan-gwa.

Wie Kai merentangkan tangannya lebar-lebar.

Hong Kie sudah mencabut pedangnya.

“Aku akan membuatmu tidak bisa meraba peti matimu!”

kata Hong Ku.

“Serang!” teriak Leng-ji.

Awalnya Leng-ji dan Hong Ku menghadapi Put-pianyan-

gwa.

Wie Kai dan Hong Kie tidak butuh banyak waktu sudah

membereskan 2 anak buah Put-pian-yan-gwa.

Sisa tiga orang masih bisa menahan beberapa kali.

Mereka sangat kompak dalam menyerang musuh.

Kadang Wie Kai menyerang musuh pertama.

Begitu bertukar pandangan, mereka menyerang lagi.

Leng-ji dan Hong Ku di sana terpaksa harus

mengeluarkan senjata mereka.

Leng-ji mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya

menyerang bagian atas musuh.

Hong Ku dengan ilmu pedang yang ganas menyerang

bagian bawah.

Terlihat Put-pian-yan-gwa bukan hanya nama saja.

Sebenarnya orang itu lumayan terkenal dan namanya

pun tidak buruk.

Tapi mengapa hari ini dia ingin mengambil keuntungan

dengan memancing di air keruh.

Wie Kai dan Hong Kie mulai serius.

Walaupun 5 anak buah Put-pian menyerang dengan

ganas tapi mereka tetap bisa ditahan.

Wie Kai sudah berlari ke arah Put-pian-yan-gwa.

Hong Kie menyusul dari belakang.

Put-pian-yan-gwa hanya menerima 5-7 jurus tapi tidak

kalah.

Tiba-tiba dia naik ke atas dinding dan berkata:

“Anak-anak, pergilah dulu!”

Anak buahnya kalang kabut meloncat melewati dinding

lalu pergi.

Hong Kie dan Hong Ku ingin mengejar karena mereka

merasa tidak terima.

Mereka tidak percaya dengan bergabungnya 2 orang

tidak bisa mengalahkan Put-pian-yan-gwa.

Tentu saja pikiran mereka sangat masuk akal.

Put-pian-yan-gwa sangat mengetahui kekuatan orang

Eng-hong-pie-ya.

“Jangan kejar aku, cepat lari selamatkan nyawa kalian!”

Dia pun terbang pergi.

Percaya atau tidak, itu adalah hal lain.

Put-pian-yan-gwa sudah memperagakan ilmu

meringankan tubuh yang sangat tinggi.

Di ketinggian 7 tombak pertama dia meloncat kemudian

terbang dengan miring lalu berguling-guling seperti burung

elang.

Sangat indah juga terlihat sangat santai.

Sedikit pun tidak terbawa emosi.

Tinggi atau rendahnya ilmu meringankan tubuh bisa

terlihat jelas di sini.

“Put-pian adalah Put-pian!” kata Wie Kai.

“Bagaimana kalau dia terus mengganggu kita?” tanya

Leng-ji.

“Tidak akan!” jawab Wie Kai.

“Kalau dia melakukannya, bagaimana?”

Wie Kai tertawa dengan santai. Giginya yang putih dan

rapi terlihat jelas, dia berkata:

“Kita akan membuatnya menjadi Yu-pian!” (ada batas).

Leng-ji dan Hong Ku tertawa.

Di hari-hari yang menyedihkan dan sulit Wie Kai tetap

tidak berubah dengan sifat cerianya.

“Apakah kalian tahu, mengapa Put-pian-yan-gwa tibatiba

pergi?” tanya Wie Kai.

“Dia tahu kalau lama-lama bertarung dia akan kalah!”

jawab Hong Ku.

Wie Kai menggelengkan kepala.

“Dia ingin mencoba kekuatan kita,” jawab Leng-ji.

“Tidak,” ucap Wie Kai, “dia datang ingin melihat Lengji!”

“Melihatku?”

“Benar!”

“Mengapa dia ingin melihatku?”

“Semua orang yang sudah mempunyai nama di dunia

persilatan akan tahu kalau di Eng-hong-pie-ya ada seorang

gadis bernama Leng-ji, gadis tercantik di dunia ini, maka

tidak ada orang yang ingin melepaskan kesempatan ini,”

jawab Wie Kai.

“Sialan! Sialan! Kau ganti pembicaraan saja!”

“Nona, mungkin kata-kata Siau-kai benar, tapi mengapa

Siau-kai bisa tahu?” tanya Hong Ku.

“Orang yang bisa membaca buku tidak ber-huruf, dia

akan mendapatkan kalimat yang bisa mengejutkan orang,

bisa menjawab pertanyaan sulit, maka bisa dikatakan dia

orang yang paling pintar.”

“Kau sudah menjadi setengah manusia setengah dewa,

tinggal menunggu terbang!” kata Leng-ji tertawa.

Matahari akan terbenam terlihat sangat indah.

Cahaya matahari seperti memoles gunung menjadi

warna kuning emas.

Sebuah kereta dengan roda kayunya berjalan dengan

pelan di jalan gunung.

Dua keledai kurus menarik kereta itu terlihat ngosngosan.

Kusirnya adalah seorang laki-laki berumur 40 tahun

lebih.

Leng-ji dan Wie Kai duduk di dalam kereta.

Wie Kai setengah berbaring.

Leng-ji bersandar di pundaknya.

Leng-ji sedang memainkan rambutnya sendiri.

Mereka berdua sedang memikirkan masalah mereka.

Suara kereta yang berderit terus berbunyi. Sangat pelan

membuat orang menjadi cemas.

Di depan kereta duduk Hong Kie dan Hong Ku.

Hong Kie melihat Hong Ku yang duduk di sisinya.

Tiba-tiba Hong Ku melihat Hong Kie, dia melotot

dengan mata besarnya:

“Mengapa melihatku?”

“Bagaimana kalau tidak ada orang yang mau

melihatmu?”

“Aku tidak peduli!”

Hong Kie menatap lurus ke depan, pelan Hong Ku

bertanya:

“Apakah kau marah?”

“Tidak, aku tidak akan marah kepadamu!”

“Belum tentu, sewaktu aku bersumpah tidak akan

berbisnis tanpa modal, aku mengulanginya lagi, aku marah

besar!” kata Hong Ku.

Hong Kie terdiam.

Memang mereka jarang mengobrol aejak sekarang tapi

mereka saling mengerti.

Di dunia ini orang yang paling mengerti Honf Kie adalah

Hong Ku.

Dan orang yang paling mengerti Hong Ku adalah

HongKie.

Leng-ji menatap Wie Kai lagi.

Tapi Wie Kai tidak balas menatapnya.

Melihat keadaan itu Hong Ku benar-benar merasa

karena nonanya diperlakukan tidak adil.

Tapi dia sangat menghormati Wie Kai, maka ia hanya

membalikkan kepala dengan sekuat tenaga

Leng-ji membereskan rambut di cambang Wu Kai dan

bertanya:

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Coba kau tebak?”

“Arak atau makanan enak?”

Wie Kai menggelengkan kepala:

“Aku sedang berpikir, bagaimana bisa membuatmu

menjadi dewi?”

“Menjadi dewi?”

“Betul! Sebenarnya kau bisa menjadi dewi!”

“Di tempat tinggi sangat dingin, aku tidak mau menjadi

dewi!”

“Bila kau sudah menjadi dewi, kau tidak akan selalu

merasa khawatir!”

“Sekarang pun aku tidak merasa khawatir.”

“Leng-ji, alismu memberitahuku kalau saat ini kau

sedang merasa khawatir.”

“Kalau begitu, biar aku menjadi dewi! Kalau kau, kau

ingin menjadi apa?”

“Aku? Aku tidak takut mati setelah kenyang makan sinar

matahari dan bulan, aku akan menjadi kuat dan tidak

tembus senjata apa pun, aku akan men-dapat obat dewa dan

menyerah ke dalam tanganmu!”

Leng-ji melihatnya.

Wie Kai pura-pura memberi obat dewa kepadanya dan

Leng-ji pun pura-pura menerimanya.

Mereka saling memandang dan pelan-pelan mendekat.

Kesulitan ini benar-benar membuat hubungan mereka

lebih dekat, lebih tenang, juga lebih kuat.

Dua bibir menempel menjadi satu, tiba-tiba kereta

bergoyang dengan kencang.

Setelah bergoyang kereta menjadi miring.

Leng-ji dan Wie Kai berpegangan tangan lalu terbang

keluar kereta.

Hong Ku dan Hong Kie juga meloncat.

Ternyata sebuah roda telah terlepas dan menggelinding

turun ke bawah gunung.

Kereta pun terguling.

Kusir terjatuh, keledai terkejut lalu meringkik. “Apakah

kau terluka?” tanya Wie Kai.

Kusir merangkak berdiri:

“Tidak, tapi keretanya hancur! Apa boleh buat!”

Matahari sudah terbenam. Malam akan datang.

“Keretamu adalah kereta tua!”

“Nona, bukan karena keretanya tua melainkan jalannya

terlalu kecil dan penumpang terlalu banyak.”

Leng-ji menarik nafas:

“Bagaimana kalau kita cari tempat untuk beristirahat?”

Kusir menuntun 2 ekor keledainya.

Wie Kai dan Leng-ji menunggang keledai itu. Tapi Wie

Kai menunggang dengan posisi terbalik, wajahnya

menghadap ke belakang.

“Aku benar-benar iri kau bisa selalu ceria!” kata Leng-ji.

“Aku lebih iri kepadamu!”

“Aku?”

“Benar!” jawab Wie Kai, “kau mempunyai seseorang

yang ceria yang menjagamu sedangkan aku tidak!”

Leng-ji tertawa.

Dia tahu kalau cara duduk Wie Kai seperti itu karena dia

sedang mengawasi keadaan musuh.

Kusir berjalan sambil berkata:

“Di sebelah kiri ada toko, sampai di sana jangan

berteriak, jangan cerewet, uang disimpan baik-baik jangan

sampai terlihat oleh orang lain. Apa yang mereka minta

turuti saja, kau harus pintar!”

“Benar, Lo-heng, kau punya banyak pengalaman!” kata

Wie Kai.

“Kalian benar-benar tidak salah mencari orang, aku

menjadi kusir sudah 20 tahun lebih…”

Di depan sepertinya ada toko.

Di toko terdapat lampu.

Di sini seperti banyak orang mengawasi.

Ada beberapa orang yang baru lewat.

Tentu saja semua ini tidak bisa membohongi Wie Kai

dan lain-lain.

Sudah 20 tahun lebih bekerja seperti ini tapi kusir itu

tetap tidak sadar.

Dia seperti tidak salah mencari orang bukan Wie Kai

yang tidak salah mencari orang.

Api di tungku sangat besar.

Di toko itu duduk berbagai macam laki-laki.

Lo-pan-nio (Majikan perempuan) duduk di depan kasir

dia melihat Wie Kai, Leng-ji dan Dua Hong. Dia ingin tahu

siapa tamunya itu, menduga siapa tamunya adalah sebuah

kenikmatan.

Walaupun dia perempuan tapi dia perempuan yang

sudah banyak melihat.

Dia pernah melihat banyak laki-laki kasar dan ceroboh.

Dia juga pernah melihat orang jahat dari dunia

persilatan. .

Tapi dia belum pernah melihat ada perempuan begitu

cantik.

Seorang perempuan bertemu dengan perempuan cantik

lainnya akan membandingkan dirinya dengan perempuan

yang ditemuinya.

Biasanya dia akan memberi nilai lebih tinggi untuk

dirinya.

Dia akan mencari alasan tepat mengapa mem-beri nilai

lebih tinggi.

Seperti Lo-pan-nio itu, dia mengaku dia tidak bisa

dibandingkan walau memberi nilai lebih tinggi pun tidak

akan ada gunanya.

Kata Kusir pelan-pelan:

“Di meja sana ada 5-7 orang, mereka adalah penjahat…

di sebelah sana penjudi… yang lainnya pengangguran…

tukang pukul…”

Begitu melihat, terlihat wajah dan pembicaraan mereka,

siapa mereka sebenarnya.

“Jangan layani mereka, apa yang mereka kata-kan kita

pura-pura tidak mendengar!” pesan kusir itu.

Di meja bagian penjahat, seseorang melihat kedatangan

Wie Kai dan Leng-ji, mereka seperti pencari pasir emas

yang menemukan pertambangan emas.

Di tempat seperti ini melihat perempuan begitu cantik,

pantas kalau mereka terkejut dan berteriak:

“Saudara-saudara, lihatlah!”

Semua penjahat itu berbarengan melihat.

Seseorang berputar untuk melihat.

Leng-ji dan Hong Ku sedang menundukkan kepala untuk

makan.

“Yang besar bagianku,” kata penjahat pertama.

“Yang kecil milikku!” kata penjahat ke dua.

Penjahat ketiga ikut bicara:

“Besar atau kecil, semua akan kumakan!”

Mereka tertawa cabul.

Wie Kai dan Leng-ji saling berpandangan, orang lain

sangat sulit mengerti apa yang mereka tertawakan.

Orang-oran yang sedang sibuk berjudi mulai bereaksi.

Penjudi pertama meninggalkan meja judi. Dia membuka

mulurnya yang semua giginya kuning, dia berjalan ke depan

meja Wie Kai dan Leng-ji lalu berkata:

“Main-main, ayo kita main judi, malam tidak ada

pekerjaan, mari kita main judi!”

Mereka bertiga tidak melayani, dia tetap makan kacang.

Hanya Hong Kie yang melihatnya.

Pejudi pertama ini mengira Hong Kie tertarik.

Sebenarnya orang yang senang berjudi bukan demi uang,

mereka berjudi karena mereka suka suasana seperti ini,

merekahanya berjudi dan berjudi, Apa lagi setelah melihat

banyak macam alat judi selalu ingin mencobanya.

Penjudi pertama mendekati Hong Kie:

“Mari, mari, kakak ini….”

Hong Kie melihatnya dan tetap diam.

Dia jarang mengeluarkan suara, Saat dia melihat orang

itu, seperti tukang jual membeli binatang, meneliti gigi dan

4 kaki binatang itu, bisa memastikan umur bintang itu

apakah binatang ini adalah binatang yang sehat. Hong Kie

selalu melihat lebih dalam terhadap segala sesuatu.

Kata penjudi pertama itu lagi:

“Mari, mari, tidak perlu sungkan, semua masa-lah hanya

awalnya, kalau kalah paling-paling kalah uang. Uangnya

adalah cek, yang keras adalah uang, semua berada di

sakumu…”

Mata Hong Kie sama sekali tidak berkedip, dia tetap

melihat pejudi itu.

Orang itu merasa dia tidak berbuat kesalahan.

Dia merasa dirinya tidak bersalah maka dia mulai

merasa risih.

Melihat sorot mata orang itu.

Seperti sedang berada di toko barang antik, menemukan

barang antik yang mahal.

“Mengapa kau melihat orang seperti itu?”

“Wajah kakak ini terlihat tidak baik, bagaimana kalau

minum dulu supaya terlihat lebih semangat.”

Karena terus dilihat oleh Hong Kie dia merasa tidak

nyaman, maka dengan terpaksa melayani orang lain.

Terhadap seorang tamu yang wajahnya hanya terpasang

sebuah hidung itu dia berkata:

“Saudara, wajahmu berkilau mungkin nasibmu akan

mujur, mari kita bermain!”

Orang itu mendorongnya dengan tidak sabar.

Karena dorongan terlalu kencang membuatnya terjatuh.

Kantongnya yang penuh dengan uang dan cek jatuh

berhamburan di bawah.

Uang berhamburan di bawah, tuan muda itu pun

membungkukkan tubuh.

Penjahat lain berteriak:

“Pungut uang yang ada di bawah…” Ada yang berlutut.

Ada yang merangkak ke kolong meja Wie Kai dan Lengji

untuk mengambil uang yang menggelinding ke kolong

meja mereka.

Seseorang malah berani meraba-raba kaki Hong Ku.

Kaki seorang perempuan adalah bagian terpenting dari

tubuh seorang perempuan.

Kaki indah harus panjang dan kurus.

Telapak kaki jangan terlalu lebar juga jangan terlalu

keras sampai terlihat tulang dan urat-uratnya.

Yang pasti jangan terlalu banyak daging atau jari kaki

terlalu pendek.

Terlalu kecil atau terlalu besar bukan kaki yang indah.

Telapak kaki pun tetap ada tingkat keindahan-nya. Bisa

dibagi menjadi 9 jenis dan 18 tingkat.

Kaki Hong Ku dan Leng-ji bentuknya hampir sama,

orang yang tidak bisa melihat kecantikan kaki seorang

perempuan benar-benar tidak pantas berkomentar.

Hong Ku sedang makan kacang.

Terhadap situasi orang yang sedang berebut uang, dia

tidak peduli.

Tiba-tiba dia terpaku.

Dia merasa ada orang meraba kakinya.

Tidak hanya meraba sampai-sampai kakinya dipeluk dan

seakan-akan ingin mencium, seperti akan dijilat.

Mata besar Hong Ku jadi melotot, lalu dia menendang.

Orang itu berteriak seperti anjing yang ekornya terinjak.

Hong Ku tidak akan memaafkan dia dengan mudah!

Kaki sebelahnya menendang lagi, orang yang meraba

kakinya segera roboh dan merintih kesakitan.

Temannya melihat keadaan itu, kepalannya segera

terayun.

Tapi kaki Hong Ku sudah melayang.

Yang satu lagi mulai mengeluarkan cakarnya.

Posisi Hong Ku tetap tidak berubah, sebelah kaki

diangkat dia mengait leher orang itu.

Jurus ini membuat lawan tidak bisa bergerak.

Kemudian kaki Hong Ku menendang lagi. orang itu

terbang ke meja lain dan membuat meja itu hancur.

Penjahat, penjudi, dan yang lain mulai menyerang.

Mereka sadar kalau ke empat orang itu adalah orang

yang sulit ditaklukkan.

Tapi mereka punya penyakit aneh.

Jika tidak mencoba belum mau percaya.

Pengalaman harus dicari sendiri.

Pengalaman tidak akan diberikan orang lain.

Orang lain juga tidak akan memberikan pengalamannya,

mereka mengira semua itu adalah sesuatu yang royal!

Sebenarnya hal ini sangat biasa.

Tapi ada beberapa pengecualian.

Orang pintar dengan pengalaman orang lain bisa

mengubah kesalahannya sendiri.

Saat orang-orang itu menyerang.

Wie Kai berempat sama sekali tidak meninggalkan

tempat duduk mereka.

Yang menyerang akhirnya mundur dengan kepala yang

sudah mengucur darah.

Lo-pan-nio terkejut.

Perempuan yang membuatnya iri ternyata sangat lihai.

Yang menyerang dengan kencang akan terbanting

kencang.

Yang menyerang dengan pelan maka orang itu pun akan

terbanting pelan.

Yang tidak menyerang pasti tidak akan terbanting.

Saat mereka sedang sibuk, dari ambang pintu masuk

seseorang.

Lo-pan-nio segera berdiri dan memanggil: “Tuan Houw!”

Kusir kereta berkata dengan suara rendah: “Kim-houw.”

(Harimau emas).

Dari nada bicara kusir dan ekspresi nyonya majikan bisa

ditebak orang yang baru masuk yang berumur sekitar 35-36,

berbaju rapi bernama Kim-houw pasti orang nomor satu di

daerah sini.

Di belakangnya mengikuti 4 laki-laki tegap.

Perkelahian segera berhenti, hanya terdengar suara orang

bernafas ngos-ngosan.

Penjahat, penjudi, dan lain-lain segera mundur ke pinggir

dengan hormat dan membungkukkan tubuh lalu

memanggil:

“Tuan Houw!”

Hong Kie berdiri tidak bergerak.

Sampai sampai dengan sorot mata seperti penjudi tadi

melihat Kim-houw.

Tentu saja dia tidak membungkukkan tubuh. Tapi Wie

Kai memaksanya membungkukkan tubuh dan dengan pelan

berkata:

“Ikuti mereka!”

Sikap Kim-houw sekarang sangat mirip Seng Kong-kong.

Dia lewat di depan semua orang.

Dia melihat satu per satu orang yang ada di sana, seperti

sedang ke tempat pelacuran dan menilai perempuan di

sana. Saat Kim-houw lewat di depan mereka karena tegang

kusir itu tersedak.

“Ada apa?” kata Kim-houw sambil menoleh.

“Tidak… tidak ada apa-apa.” Kusir itu gemetar.

Tapi saat itu Kim-houw sudah melihat Leng-ji.

Dia seperti sedang menyalahkan dirinya mengapa tadi

tidak melihat ada yang istimewa, dia kembali dan

mengangkat dagu Leng-ji.

Kim-houw menyipitkan mata:

“Cantik sekali!”

Leng-ji menggeser tangannya menjawab dingin:

“Lumayan!”

Hong Kie sudah bergerak.

Tapi Wie Kai dengan isyarat mata melarangnya.

“Bawa dia pergi!” perintah Kim-houw.

Tiba-tiba Wie Kai memohon:

“Tuan, mohon maaf! Dia salah bicara dan membuat

Tuan marah, dia adalah istriku…”

Leng-ji melotot kepadanya.

Wie Kai terlihat bersikap lebih rendah:

“Istriku sudah tidak sopan, tapi isrtiku adalah perempuan

baik-baik…”

“Aku suka istrimu!” kata Kim-houw.

“Kau suka apa pun silakan, tapi tidak boleh suka pada

istriku! Apa pun akan kuberikan. Tuan, mohon maaf!”

Sambil bicara dia mengambil senjata mereka sampaisampai

kipas lipat raksasa miliknya pun di-taruh di atas

meja.

Di atas kipas lipat itu tertulis Eng-hong-pie-ya.

Kim-houw terkejut sebab ke empat kata itu benar-benar

mempunyai kekuatan luar biasa.

Semua orang yang ada di sana terkejut.

Kim-houw siap bertarung, golok dilempar sekaligus

memberitahu bahwa dia adalah Kim-houw.

Di tengah-tengah udara Hong Ku menyambut golok

yang dilempar tadi.

Tiba-tiba Kim-houw menjadi tenang. Kim-houw sudah

terbiasa bersikap seenaknya, dia juga disayang anak

buahnya, maka dia salah menilai dirinya sendiri.

Dia mengira dia benar-benar orang nomor satu di dunia

ini.

Dia juga salah menafsirkan dirinya.

Kalau salah menafsir musuh paling-paling dia akan

terlihat lemah atau penakut, tapi salah menafsir dirinya

mungkin akan membuat dia mati.

“Kalian datang tepat waktunya! Mungkin rejeki ku sudah

datang! Emas sebanyak puluhan ribu tail sebagai hadiah

akan membuatku senang! Terima kasih untuk kalian

berdua!…”

Orang pertama yang diserang oleh Kim-houw adalah

Hong Kie dan Hong Ku.

Awalnya dia terlihat sangat pemberani.

Karena dia adalah Tuan Harimau.

Pelarian seperti mereka baginya adalah masalah kecil!

Setelah beberapa kali bertarung, dia terpukul oleh Hong

Kie.

Kemudian disapu oleh Hong Ku.

Apalagi ke empat anak buahnya adalah orang-orang

pemberani.

Maka mereka mengeluarkan cakarnya pada Wie Kai dan

Leng-ji.

Jika majikannya sombong dan tidak tahu diri, anak

buahnya tantu orang buta yang tidak tahu sepert apa bentuk

golok!

Empat laki-laki segera menjadi sasaran pukulan dan

tendangan.

Majikan dan ke empat anak buahnya dengan cepat

mengerti:

“Orang yang berani melarikan diri dan mengkhianati

Eng-hong-pie-ya, pasti mempunyai ilmu hebat.

Menyesal adalah perasaan paling menyakitkan.

Biasanya rasa menyesal mewakili perasaan tidak

tertolong atau sudah terlambat untuk ditolong.

Sekarang Kim-houw dan ke empat anak buah-nya sudah

dikepung.

Seperti binatang yang bertarung di dalam kurungan.

Kim-houw dan 4 anak buahnya berada dalam kurungan

itu.

Hong Kie dan Hong Ku terus beraksi.

Wie Kai dan Leng-ji tertawa di pinggir.

Karena Tuan Harimau sekarang sudah menjadi Tuan

Kucing.

Tiba-tiba Kim-houw berkelebat ke belakang setelah bisa

melarikan diri dia tertawa terbahak-bahak.

Tapi ke empat anak buahnya yang terkurung akhirnya

roboh.

Kim-houw kembali dikurung oleh Hong Kie dan Hong

Ku.

Hong Kie menghajar di sebuah meja panjang. Baru saja

dia berdiri Hong Ku sudah menghajarnya lagi.

Kemudian Hong Kie menghajar lagi. Wie Kai tertawa

kepada Leng-ji: t

“Tidak ada apa-apanya!”

Leng-ji tertawa.

Sekarang, wibawa Tuan Harimau sudah habis.

Terakhir Hong Kie merobohkan dia, sebuah meja besar

telah menindih tubuhnya. Sekarang dia hanya bisa meongmeong.

Sekarang dia hanya seekor kucing.

Wie Kai menuntun Leng-ji dan berkata: “Mari kita pergi

dari sini!” Sewaktu mereka berjalan keluar. Kim-houw

menyerang lagi, dia merasa malu. Wie Kai menghindar,

Kim-houw berada di dekat pintu.

Terjepit oleh pintu kemudian pintu dibuka kembali oleh

Wie Kai.

Kim-houw yang ada di balik pintu tampak kedua

matanya menjadi hitam seperti memakai kaca mata riben,

kemudian dia terjatuh dengan posisi lurus.

Empat orang itu tertawa terbahak-bahak.

Kata Lo-pan-nio:

“Tuan, tokoku adalah toko kecil, sekarang aku rugi

besar…”

Wie Kai segera mengeluarkan uang perak dan

melemparkan ke atas meja:

“Barang yang rusak kami ganti, apakah itu cukup?”

“Cukup… cukup!…” Lo-pan-nio tertawa. Bola mata

hitam, uang perak putih. Dia tertawa sebab uang

penggantinya ber-lebihan. Hanya ada satu hal yang dia

lupakan, bagai-mana kalau Kim-houw sudah sadar?

©o0dw0o©

BAB II

Wie Kai, Leng-ji, Hong Kie, Hong Ku sedang berjalan.

Di bawah terik matahari mereka terlihat lelah.

Hong Kie dan Hong Ku berjalan di depan.

Mereka menjadi mata tajam semua orang.

Wie Kai memapah Leng-ji, ini satu-satunya cara yang

bisa dia lakukan untuk Leng-ji.

Tapi Leng-ji menolak dipapah Wie Kai.

Sikap anggun dan sucinya terlihat, dari luar dia terlihat

lembut tapi sebenarnya beradatkeras.

Kata Wie Kai:

“Ada sebuah tempat, kau pasti suka!”

Leng-ji melihat sebuah pohon di sebuah batu besar,

katanya:

“Kalau kau bisa membiarkanku beristirahat sebentar, aku

akan menyukai tempat itu.”

“Benar, aku tidak berbohong kepadamu!” Lalu dia tetap

memapah Leng-ji duduk.

Di kuil La-ma

Penjagaan di sana sangat ketat. Di kamar rahasia.

Putri raja Kao Tong berhias cantik juga mewah. Dahinya

dipasang mutiara mahal, memakai gelang giok mahal pula.

Bajunya tipis tidak bisa menutupi dadanya yang montok.

Dengan cemas dia terus berjalan mondar mandir di

dalam kamar.

Seng Kong-kong berdiri dekat dinding melihat dengan

penuh konsentarsi.

Sebuah peta besar tergantung di sana.

“Apakah benar mereka berada di sana?” tanya putri raja

kao Tong.

“Benar, aku tidak berbohong!”

Berjalan.

Berjalan melewati gunung dan air. Mereka terus

bersembunyi dan menghindar. Senar hati selalu kencang.

Alis selalu dikerutkan.

Mereka berempat sedang berjalan, Hong Ku dan Hong

Kie selalu berada di depan.

Setelah berkecimpung di Eng-hong-pie-ya dan berkelana

di dunia persilatan selama beberapa tahun, mereka sudah

mendapat banyak pengalaman. Maka saat akan dilakukan

eksekusi mereka dengan teknik tinggi bisa melarikan diri.

Sekarang mereka berjalan di sebuah jalan kecil.

“Di mana ada pohon hijau, ada air, kita bisa mendengar

suara kecapi, bisa mendengar suara hujan, juga bisa saling

berpandangan selama satu hari penuh! Ada sebuah rumah

besar bisa menampung anak kita hingga 1.000 orang!”

“Ku rasa karena dikejar-kejar Seng Kong-kong, kau jadi

terkejut dan sakit!” kata Leng-ji tertawa.

“Ini adalah pikiranku!”

“Betulkah pikiranmu? Sungguh baik!”

“Saat Coh-coh membawa pasukannya berjalan, prajurit

sudah sangat kehausan dan tidak ada air minum! Maka

Coh-coh berkata, ‘Prajurit-prajuritku, bersemangatlah, di

depan ada pulau!’.” kata Wie Kai.

Leng-ji tertawa.

“Apakah Wie Kai begitu ceria dan masa bodoh?” Atau

dia hanya nekad.

Apakah dengan modal nekad berarti semua masalah

tidak dipedulikan.

“Aku benar-benar iri dengan jiwa besarmu!” Wie Kai

tertawa:

“Jiwa besar tidak akan ada, Kong-hu-cu seorang pelajar

terkenal dari Tiongkok kuno, selalu menasehati harus rajin

belajar, marga Cie juga menasehati orang. Setelah mati baru

bisa mengambil keputusan, bukan-kah semua mengandung

makna?”

Leng-ji melihat Wie Kai, dia merasa Wie Kai adalah

orang yang berpikiran dalam, berjiwa besar, masa bodoh.

Eng-hong-pie-ya tetap seperti biasanya.

Yang tidak sama hanyalah panggung eksekusi sudah

dibongkar.

Darah yang berceceran sudah dibersihkan.

Tapi bagi Seng Kong-kong dan putri raja Kao Tong

panggung eksekusi tidak akan dibongkar.

Mereka tetap akan membangun kembali panggung

eksekusi dan membuat alat eksekusi itu berdarah.

Di dalam kamar Shen Kong-kong.

Hening tidak ada sedikit suara pun terdengar.

Putri raja Kao Tong duduk di sisi.

Bagi orang yang mengejar dan orang yang menghindar

sama-sama merasa tidak enak.

Jika orang yang mengejar tidak mendapatkan hasil, dia

akan marah dan akan terus mengejar. Sedangkan orang

yang dikejar harus menginap dan makan di dalam hutan,

keadaan mereka hampir sama.

Alis putri Kao Tong selalu berkerut.

“Apakah mereka bisa bertahan hidup di dalam hutan?”

tanya putri Kao Tong.

Tiba-tiba putri Kao Tong berdiri:

“Dua orang itu harus mati kelaparan!”

Kalau saja dia mempunyai kekuatan seperti dewi, katakatanya

akan menjadi kenyataan. Mungkin Leng-ji dan Wie

Kai sudah puluhan kali bahkan ribuan kali mati kelaparan.

Orang yang membenci orang lain yang terkena

dampaknya pertama kali adalah dirinya sendiri.

Membuat orang kelaparan sampai mati sangat sulit.

Sekalipun di gunung atau di tempat gundul tetap akan

seperti itu.

Asal ada kaki dan tangan, mental yang kuat, maka

selamanya tidak akan mati kelaparan.

Sekarang Wie Kai, Leng-ji, Hong Kie, juga Hong Ku

sedang berburu.

Hong Ku dan Leng-ji satu kelompok.

Hong Ku menyalakan api untuk membakar rumput

kering.

Kemudian rumput kering itu dimasukkan ke dalam

sarang kelinci.

Tentu saja sarang kelinci tidak hanya terdiri dari satu

lubang keluar.

Leng-ji berjaga-jaga di mulut lubang yang lain, ternyata

kelinci keluar dari sana.

Leng-ji dengan senang akan menangkap kelinci itu dan

menyerahkannya kepada Hong Ku.

Tapi waktu itu Leng-ji dan Hong Ku berteriak, sebab dari

lubang itu keluar seekor babi hutan, mereka terpeleset

hingga jatuh.

Dengan bergotong royong mereka menangkap babi

hutan itu sambil tertawa.

Ingin membuat orang ma ti kelaparan tidak mudah

Api sudah dinyalakan.

Leng-ji sedang membakar ubi.

Hong Kie dan Hong Ku membuat jangka ber-kaki tiga

untuk memanggang babi.

Babi hutan kecil itu sudah matang, harumnya menyebar

ke mana-mana.

Wie Kai sedang berpikir.

Dia juga bisa diam. Juga bisa serius.

Orang yang biasanya ceria dan masa bodoh begitu

mereka berpikir, lebih dalam dari orang biasa.

Malam di gunung itu.

Mulai dari awal pelarian mereka. Malam tiba dan

matahari terbit, sudah mereka alami beberapa kali.

Wie Kai mendekat.

Dia duduk di sisi Leng-ji lalu menarik tangan-nya.

Leng-ji ingin menarik tangannya tapi dipegang sangat

erat oleh Wie Kai. Di pergelangan Leng-ji ada yang terluka.

Wie Kai melihat wajah Leng-ji yang terlihat lelah.

“Kalau tidak ada aku, kau tentu akan merasa lebih baik!”

Wie Kai mengeluh.

“Jika tidak ada kau, semua tidak akan menjadi lebih

baik!” jawab Leng-ji sambil menatapnya.

Semua masalah berkelebat kembali.

Seseorang jika sedang tidak senang hati, dia akan

mengenang masa lalunya.

Dengan penuh kasih sayang Wie Kai melihat Leng-ji.

Jika semua bahaya dan kesulitan bisa di-tanggung

olehnya, dia tidak akan ragu menanggung-nya.

“Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan

masuk?”

Sekarang dia mengira dia sudah mempunyai keberanian

memikul semua beban ini tidak kalah dengan dewa tanah.

“Leng-ji, mengapa dulu kita bisa masuk Eng-hong-pieya?”

“Karena kita tidak punya orang tua dan karena ingin bisa

ilmu silat, juga ingin terkenal!”

“Mengapa kita melanggar hukum?”

“Mengapa bertanya padaku? Tapi aku tidak membenci

Seng Kong-kong, aku hanya tidak mengerti mengapa dulu

kita pernah mengampuni orang yang melangar hukum, tapi

saat giliran kita tiba kita malah harus dipenggal?”

Wie Kai sedang berpikir serius.

Dia melihat Leng-ji lagi.

Dia seperti sudah mendapatkan jawaban atau sudah

lama mengetahui sebab-sebabnya.

“Apakah kita harus terus seperti ini?”

“Bisa lewat sehari ya kita lewati!” kata Leng-ji.

“Orang hidup tidak bisa seperti ini terus!”

Orang memang tidak bisa hidup seperti itu.

Kalau terus seperti itu bukan manusia nama-nya.

Hanya binatang, ular, Atau kelinci selalu bersembunyi di

tempat gelap dan terpojok.

Tiba-tiba Wie Kai berdiri.

Dia berpikir sebentar lalu ubi yang hampir matang

ditendangnya.

Ubi terguling dan mengeluarkan bau harum yang enak.

“Ada apa denganmu? Ubi itu hampir matang!” seru

Leng-ji.

Wie Kai seperti tidak mendengar teriakan Leng-ji, dia

juga tidak pernah seserius sekarang.

Dia berlari ke arah Hong Ku yang sedang memanggang

babi hutan.

Tanpa ragu dia menendang jangka untuk memanggang

daging. Daging hampir matang, dia membentak:

“Jangan bakar lagi!”

“Mengapa?” Hong Ku bertanya terkejut.

Tidak pernah Wie Kai serius seperti sekarang, dia

berteriak:

“Hong Kie!”

Hong Kie yang sedang berjaga dan melihat situasi

tampak menoleh.

Hong Kie selalu serius dan juga diam.

Sekarang dia dengan terkejut melihat Siau-kai.

Dia tidak melihat alis dan mata Siau-kai yang mendekat.

Dia juga terkejut.

Wie Kai melayangkan tangan:

“Mari, kita pergi minum arak!”

Panggung gembira tidak begitu besar. Kecuali panggung

yang dipakai raja, panggung itu termasuk lumayan juga.

Di luar dan di dalam digantung lampion besar dan

bundar.

Di panggung tercium bau uang.

Wie Kai sedang minum arak di depan panggung.

Leng-ji sedang menari dengan indah.

Tarian 4 gadis lain bila dibandingkan dengan-nya sangat

berbed a jauh.

Langkah-langkah Leng-ji sangat mantap dan tidak seperti

langkah-langkah penari lain.

Seorang perempuan yang ada di balik panggung berkata:

“Kau menari begitu bagus, kau boleh datang membantu

di sini setiap hari!”

Hong Ku yang ada di belakang panggung pelan-pelan

berkata:

“Kalau setiap hari datang, mungkin panggung akan

kacau.”

“Kau belajar kepada siapa tarian seperti ini?”

“Orang luar negeri,” jawab Hong Ku.

“Orang luar negeri?”

“La-ma!” jawab Hong Ku.

Mata Wie Kai yang sedang mabuk tampak terbuka,

dalam penglihatannya, di atas panggung semua gadis

adalah Leng-ji.

Di mata Wie Kai yang sedang mabuk, khayalan masa

lalu seperti mimpi.

Mereka berpacaran dengan malu-malu. Suatu malam.

Dia memanjat dinding asrama perempuan, mencuri lihat

La-ma yang sedang mengajar Leng-ji menari.

Tarian itu adalah tarian di mana sekarang dia sedang

menarikannya.

Dia berjongkok di atas genting hampir ter-peleset jatuh.

Mereka berlatih silat bersama-sama dengan rajin di

bawah pengawasan Seng Yan-kong.

Mereka sangat lelah berlatih tapi mereka rajin.

Perlakuan Seng Yan-kong pun keras, maka dasar ilmu

silat mereka sangat kuat.

Tapi begitu Seng Yan-kong pergi, Wie Kai akan

memeluk dan menciumnya.

Mereka bermain bersama.

Di hutan setiap kegembiraan sulit dilupakan.

Tiap pagi dan malam, seperti khayalan mimpi.

Leng-ji yang berada di atas panggung bagaikai orang

mabuk juga bagaikan orang dungu.

Dia seperti tenggelam pada masa lalunya.

Dari masa lalu terentak kembali ke kehidupan nyata.

Inilah kesedihan terbesar dan paling mengecewakan.

Seperti sebuah perahu yang dipotong tiang layarnya dan

perahu yang dayungnya patah, mereka hanya bisa

mengikuti arus gelombang.

Malam semakin larut. Orang sudah mabuk. Hati pun

ikut mabuk.

Langkah-langkah tidak teratur dan terhuyung-huyung,

apakah bisa membuang kekhawatiran yang baru dan

kebencian yang lama?

Hati Wie Kai digerogoti oleh kesedihan yang tidak

terkira.

Sewaktu mereka turun dari panggung.

Di jalanan sudah tidak ada seorang pun.

Lampu berloncatan, langit bersih seperti sudah dicuci.

Wie Kai memapah Leng-ji, mendengar suara langkah

mereka.

Hong Kie dan Hong Ku berada di depan.

Sorot mata yang tajam dan lincah, melihat jalan dan

gang yang gelap.

“Apakah tarianku tadi bagus?” tanya Leng-ji.

“Baik… tapi menyedihkan!”

“Mengapa menyedihkan?” Leng-ji tertawa kecut.

“Maksudku itu hanya dalam pikiranku!” jawab Wie Kai

sambil tertawa mabuk.

“Bersemangatlah, di depan ada pulau!”

Bagi mereka berdua di depan memang ada pulau.

Wie Kai menari terhuyung-huyung, dia juga

menyanyikan sebuah lagu sambil menari.

Empat orang itu menghilang dalam kegelapan.

Dalam kesulitan mencari hiburan akan timbul perasaan

lain.

Tiba-tiba seseorang turun dari atas, dia membacok

pundak Wie Kai dengan goloknya, bajunya sobek dan

daging di pundaknya terluka.

“Leng-ji.” Wie Kai berteriak.

Sampai kapan pun dan di mana pun, walaupun berada

dalam bahaya, yang dia perhatikan adalah Leng-ji.

Leng-ji tidak bisa dibandingkan dengan nyawanya.

Leng-ji mendengar teriakan ini, dia segera terbang pergi.

Tadinya dia ingin ke sisi Wie Kai tapi dihadang oleh

beberapa orang.

Dia terus mengeluarkan tendangan kuat untuk

melepaskan diri dari serangan telapak yang mengurung.

Walaupun musuh terus menyerangnya tapi ilmu

meringankan tubuh Leng-ji sangat tinggi, dia terus bergerak

sambil memperhatikan Siau-kai.

Dia terus menarik perhatian.

Saat Leng-ji berlari mendekati Wie Kai, dia tampak

terluka dan hampir tidak kuat bertahan lagi.

Sebenarnya hal itu karena dia terlalu banyak minum

arak.

Pedang Hong Kie terus mengeluarkan jurus-jurus aneh.

Pedangnya berkelebat di antara senjata-senjata seperti

membangun rumah.

Dia benar-benar pemberani, musuh yang terluka terus

bertambah tapi dia tetap belum mundur.

Mereka mengira dengan darah dan daging bisa ditukar

dengan uang yang jumlahnya puluhan ribu tail emas dan itu

sangat pantas.

Tapi mereka tidak tahu saat mereka menukar dengan

emas, apa akibatnya?

Dua pedang Hong Ku terus berkesiur.

Cahaya pedang berkelebat, darah panas terus

menyembur, tersungkur, meloncat, berdiri, lalu terbang lagi,

kemudian tersungkur lagi, begitu terus-menerus.

Keadaan sangat berbahaya. Mereka tidak tahu keadaan

lawan. Tiba-tiba dari dalam kegelapan ada yang

membentak:

“Leng-ji!”

Leng-ji terpaku, belum jelas dia melihat. Kao Kou dari

dalam kegelapan meraung: “Siapkan api!”

Beberapa titik api tampak dibakar. Kao Kou berdiri di

tengah-tengah puluhan api itu, api berkobar-kobar.

Pelan-pelan dia mendekati Leng-ji.

Melihat atau tidak sama saja.

Hanya ada seorang pembunuh rendahan dan berbaju

bagus.

“Kau sungguh berani! Sebenarnya kau seorang

perempuan,” kata Kao Kou.

“Betul, aku memang seorang perempuan.”

“Mungkin Seng Kong-kong tidak ingin memenggal

kepalamu, tapi buat aku, tidak akan ragu-ragu?” Kao Kou

tertawa sinis.

“Setelah menepis pun aku tidak akan melihatmu lagi!”

kata Leng-ji.

“Suamimu benar-benar baik! Dari awal aku sudah tahu!”

kata Kao Kou.

“Betul, dia baik, demi dia aku hidup dan demi dia aku

mati!”

“Julurkan kepalamu!”

Wie Kai menyiram air ke wajahnya. Dia lebih sadar lagi.

Dia kembali menjadi seorang pemberani, kipas lipatnya

menyapu. Satu per satu musuh berteriak mayat yang

bergelimpangan di bawah terus bertambah, tapi dewa

kematian melewatinya.

Leng-ji lebih berani dan ganas, dia berbeda dengan

biasanya.

Dia tahu siapa Kao Kou.

Dia kaki tangan yang paling dibencinya.

Pedang Hong Kie menjadi merah, sama merah dengan

matanya.

Dua pedang Hong Kie terus bergerak, kalau bisa dia

ingin langsung menusuk jantung lawan, tidak akan

menyerang tempat lain.

Lawan yang mati terlalu banyak.

Akhirnya topi Kao Kou tersabet oleh kipas lipat Wie

Kai.

Bagaimana kalau kepalamu tersabet separuh?

Terpaksa sementara Kao Kou menarik diri untuk

menyerang nanti, dia sangat mengerti tentang hal ini.

Datang seperti angin pergi seperti petir, tidak lama

kemudian jalan di sana kembali sepi.

Hanya terlihat mayat-mayat dan api yang belum

dipadamkan.

Hujan gerimis.

Angin berhembus sepoi-sepoi. Dari balik kabut terlihat

ada gunung. Seperti sebuah lukisan yang sangat

menyedihkan.

Dalam sebuah rumah terdengar suara Wie Kai: “Sedang

melihat apa sampai begitu asyik?”

“Suara hujan…”

Wie Kai dan Leng-ji sedang duduk di rumah

peristirahatan.

Mereka berhadapan tapi tidak bersuara. Malam

bertambah larut. Kekhawatiran semakin bertambah.

Pelarian tanpa tujuan, membuat jiwa dan raga terasa

lelah.

“Dalam suara hujan itu, kau mendengar apa?” tanya Wie

Kai.

“Saat sedang sulit bisa menengar ada suara yang

menghibur!” jawab Leng-ji.

“Menghibur akan membuat orang menjadi lemah!”

“Dengan tenang bisa mendengar bahaya.”

“Bahaya bisa membuat orang waspada!” Wie Kai

bersandar ke tiang rumah. Dari sisi genteng, air hujan terus

menetes, air seperti menetes ke dalam hati mereka. Leng-ji

mendekat.

Mereka saling berpandangan, saling berpeluk-an, tanpa

suara.

Apa yang ingin mereka katakan dari sorot mata masingmasing,

semua bisa terlihat.

Hong Kie berjaga di tempat jauh. Hong Ku sedang

membuat makanan. Mereka tidak berani menyalakan api.

Sebab bahaya ada di depan mata. Mereka bisa

merasakannya.

“Kau lelah! Siau-kai, jangan banyak pikiran, kau dengar

itu!” kata Leng-ji lembut.

Hujan turun di atas pohon, di atas rumput dan di atas

genangan air.

Apakah gunung ini kosong?

Tidak! Mereka tahu itu, gunung tidak akan kosong, lalu

ke manakah perginya binatang-binatang buasnya?

“Aku sudah dengar!” kata Wie Kai. Sebenarnya dia tidak

mendengar apa-apa.

“Apa yang kau dengar?”

“Detak jantungmu!”

“Kau selalu begitu!” Leng-ji tertawa, dia jarang tertawa

Wie Kai memeluknya. Suara petir terdengar.

Akhirnya petir membuka layar pertumpahan darah.

Hanya sebentar angin berhembus kencang hujan turun

dengan derasnya.

“Ada orang!” teriak Hong Ku.

Hong Kie dan Hong Ku berlari dengan cepat kerumah.

Mereka hidup demi nonanya dan Siau-kai, tidak pernah

mengomel juga selalu setia.

Enam orang pembunuh.

Masing-masing datang dari atas, di atas pohon, dan di

atas genting rumah, lalu turun menyerang.

Mereka mengelilingi rumah itu.

Walaupun ada angin dan hujan, tetap bisa terlihat kalau

orang yang datang berbaju sangat cerah.

Pelan-pelan Wie Kai bertanya:

“Apakah kau mendengar ada bahaya datang?

Di atas jurang berdiri seseorang, dia mem-bentak dengan

keras:

“Keluar!”

Wie Kai dan Leng-ji keluar dari rumah itu. Mereka

mengangkat kepala melihat orang yang membentak tadi.

Orang itu memakai baju merah seperti nelayan. Di

pinggangnya terselip senjata, dia adalah ketua dari 3

propinsi bernama Yu Tai-jin.

Leng-ji dan Wie Kai saling menatap dan sama-sama

berkata:

“Kami menemui ketua 3 propinsi Yu Tai-jin!”

“Kalian telah berbuat dosa, tangkap mereka…”

Enam pembunuh sudah menyerang mereka.

Hong Kie dan Hong Ku masing-masing menghadapi 3

orang.

Leng-ji dan Wie Kai naik akhirnya yang datang telah

datang.

Angin dan hujan terus turun.

Membuat pandangan jadi kabur.

Wie Kai dan Leng-ji dihadang oleh beberapa orang.

Terlihat mereka hanya terdiri dari beberapa orang saja.

Pertarungan kali ini lebih hebat dari per-tarungan

manapun.

Karena mereka datang dengan rencana dan

menggunakan siasat memisahkan mereka berempat.

Karena dengan memisahkan mereka kekuatan nereka

akan berkurang.

Wie Kai terus menyerang, dia berharap bisa berkumpul

dulu dengan Leng-ji baru mencari Hong Kie dan HongKu.

Air hujan mengguyur kepala dan wajahnya, apakah itu

air hujan atau keringat?

Sekarang dia bisa melihat Leng-ji.

Dengan cepat dia menyapu, menyapu jatuh satu dan

memaksa 2 orang mundur.

Dia sudah berada di sisi Leng-ji.

“Kita pasti akan mati!” kata Leng-ji.

“Jangan memakai cara keras melawan keras!”

“Mana Hong Kie dan Hong Ku…”

Wie Kai menendang salah satu orang itu

Dia jatuh di atas batu dan tidak bergerak lagi, lawan

memang sadar tidak bisa melawan tapi tetap saja mereka

datang menyerang!

Mereka berdua sekali lagi terpisah.

Lawan terus menambah orang untuk mengisi orang yang

telah mati.

Di tubuh Wie Kai bertambah 2 luka lagi.

Melihat lukanya dia teringat pada keadaan Leng-ji-

Dia berlari sambil membunuh lalu bergeser ke arah

Leng-ji yang berdiri tidak jauh darinya.

Yu Tai-jin sudah berdiri di pondok itu.

Dia seperti tidak terpikir, 2 ikan kecil itu akan begitu sulit

ditangkap.

Dia mengira kalau datang sendiri akan lebih mudah

menangkap mereka.

Sampai-sampai pernah terpikir cara mengambil hadiah

yang jumlahnya mencapai puluhan ribu tail emas itu.

Uang emaskah? Atau Cek?

Keadaan Hong Kie makin berbahaya. Luka di tubuhnya

terus bertambah.

Dia lebih memperhatikan Hong Ku, dia ter-pisah dengan

Hong Kie sampai sekarang belum melihatnya, Wie Kai dan

Leng-ji mendekat.

“Mana Hong Ku?” tanya Wie Kai.

“Hong Ku… Hong Ku….” Teriak Leng-ji

Teriakannya sedih, penuh perhatian serta perasaan akrab

dan perasaan seperti saudara.

Perasaan ini melampaui hubungan sebagai saudara

kandung.

Susah bersama, Senang bersama. Hidup bersama.

Wie Kai tahu bagaimana perasaan Hong Kie sekarang.

Sebab dari caranya bertarung, dia hanya ber-tahan dan

tidak menyerang.

Lama tidak melihat Hong Ku, tidak terdengar suara

orang bertarung, apakah Hong Ku meninggalkan , mereka

untuk mengejar musuh?

Hati Wie Kai dan Leng-ji serasa tenggelam.

Mereka mempunyai firasat buruk.

Hujan masih mengguyur bumi.

Petir masih terus menyambar-nyambar. Dalam sambaran

petir gunung mulai terang.

Tidak terlihat ada Hong Ku, hanya terlihat lawan datang

secara berkelompok.

Leng-ji masih terus berteriak: “Hong Ku…Hong Ku…”

Suaranya bergetar tertiup angin, benar-benar , membuat

patah hati orang yang mendengarnya.

Tiba-tiba dari jauh ada seseorang berlari. Ternyata dia

adalah Hong Ku. Mantelnya sutra hitam dan…

Hong Ku menundukkan kepala sambil berlari. Mereka

bertiga benar-benar merasa senang, Hong Ku adalah

perempuan pintar juga lincah.

Mereka berempat tidak boleh ada satu pun yang •

tertinggal.

Karena mereka keluar dari Eng-hong-pie-ya dengan sulit.

Keluar dari sela-sela telapak tangan Seng Kong-kong.

Mereka bertekad tidak akan terpisah. Selamanya tidak

terpisah.

Sampai-sampai mereka mempunyai pengertian secara

implisit, berpisah yaitu berpisah secara maut.

Orang yang berlari ke sana masih merundukkan kepala,

tapi dia berlari semakin kencang.

“Hong Ku…” teriak Hong Kie. Tapi yang datang segera

menyerang Hong Kie dengan pedangnya.

Untung Hong Kie sangat lincah, kalau tidak serangan

tadi pasti sudah menembus jantungnya.

Ternyata orang itu bukan Hong Ku.

Walaupun serangan pedang tadi tidak menancap ke

jantungnya tapi membuat Hong Kie terluka.

Tubuh orang itu serta wajahnya sedikit mirip dengan

Hong Ku, dia memakai baju Hong Ku tapi dia seorang lakilaki.

Hancurlah hati ketiga orang itu.

Apalagi Hong Kie, suaranya sampai parau. “Hong Ku…

Hong Ku…” teriaknya. Walaupun Leng-ji dan Wie Kai

tidak berteriak tapi hati mereka berteriak sampai parau.

Dalam hati mereka mempunyai satu pendapat. Tapi

pendapat itu dikeluarkan oleh mulut Leng-ji: “Hong Ku

sudah mati…”

Leng-ji seperti orang sudah gila, dia terus bertarung.

Dia ingin mencari Hong Ku.

Dia berteriak, meloncat dan membunuh…

Sekarang tidak ada lagi yang disebut melepas-kan salah

satu musuh di depan matanya.

Orang yang mengepung mereka tidak ada yang mundur

kecuali tersingkir.

Wie Kai tahu kalau terus bertarung, akan tidak

menguntungkan mereka.

Dia adalah tipe orang kapan pun dan dalam keadaan

sangat bahaya bisa tenang berpikir.

Bertarung terus mungkin bisa membunuh lebih banyak

musuh, tapi bila lawan bertambah lagi dalam jumlah

banyak, apa akan terjadi?

Akibatnya sulit dibayangkan.

Kejujuran dan sikap ceria Hong Ku tidak pernah hilang

dari hati mereka.

Kalau mereka bertiga tertangkap bukankah pengorbanan

Hong Ku akan sia-sia?

Wie Kai membentak, dia seperti dewa yang turun dari

langit.

Sambil berputar dia berhasil membunuh 3 orang dan

membuat 2 orang terluka berat.

“Ayo kita pergi dari sini!” teriaknya

“Tidak!” jawab Leng-ji.

“Pergi dari sini!” teriaknya lagi.

Bersamaan waktu dia dan Hong Kie menarik Leng-ji dan

berguling-guling turun ke bawah gunung.

Pertumpahan darah jadi berhenti.

Kalau bukan karena mati pasti terluka.

Orang yang terluka merasa takut.

Perbandingannya adalah 40:4.

Sekarang yang sempurna hanya 4 orang, yang mati dan

terluka adalah pesilat kuat dari kelompok mereka.

Mereka sudah tidak ada tenaga untuk mengejar.

Karena orang yang terluka harus ditolong.

Dengan marah Yu Tai-jin berlari ke sisi jurang sambil

menghentakkan kaki.

Dia melihat ke bawah gunung yang gelap.

Seperti di lautan luas, 3 ekor ikan kabur dengan

menyobek jala, kabur entah ke mana!

Dia meraung dan meraung lagi:

“Begurau! Mereka kabur! sungguh bergurau!”

Siapa bilang ini bukan bergurau?

40 lawan 4, sebelum datang ke sana dia masih berpikir,

bila mendapatkannya dia akan meminta hadiahnya kepada

Seng Kong-kong.

Uang atau cek, lebih gampang.

Hujan bertambah besar.

Angin seperti sedang meraung dan marah.

Kilat seperti gunting raksasa, menggunting l.mgil hitam

menjadi sebuah garis tidak teratur.

Bumi tertutup oleh kabut putih.

Mayat Hong Ku terbaring kaku di sana.

Dia tampak memejamkan mata.

Tidak ada ekspresi di wajahnya.

Dia seperti memberitahu nona, Siau-kai, dan Hong Kie,

bahwa dia sudah berusaha keras dan mati tidak menyesal.

Masalah-masalah yang belum selesai akan di teruskan

oleh orang-orang yang masih hidup.

..Dia tidak bisa bicara lagi.

…Dia tidak akan menari lagi. Dia pergi begitu saja, pergi

diam-diam…

Padang rumput yang luas.

Di pinggir padang rumput ada sebuah sungai.

Sekarang sore hari.

Angin berhembus di padang rumput itu. Air menangis di

batu besar, Leng-ji berbaring di atas hamparan padang

rumput.

Matanya yang indah kehilangan cahaya yang biasa

terlihat.

Dia sedang memegang sebatang rumput dan terus

melihatnya.

Wie Kai berbaring di sisinya terus melihat, kemudian

dengan terpaksa menatap langit yang gelap.

Dari jauh terdengar suara tajam, sedih, dan berduka.

Itu adalah suara Hong Kie yang sedang meniup daun di

sisi sungai kecil itu.

Pelarian Wie Kai dan Leng-ji benar-benar telah

menggetarkan Eng-hong-pie-ya.

Membuat terkejut dan waspada. Seng Yan-kong mulai

yakin.

Eng-hong-pie-ya bukan terbuat dari dinding besi atau

tembaga.

Anak buahnya terpaksa mengaku.

Mereka tidak selincah dan punya ilmu setinggi Wie Kai

dan Leng-ji.

Tapi Seng Yan-kong tetap Seng Yan-kong.

Apa yang dia ingin lakukan tidak ada orang yang

sanggup mengubahnya.

Rencana besarnya tidak terjadi perubahan, dia masih

mengikuti rencana semula.

Saat ini dia membawa Mo Ki-thian menyambut putri

raja Kao Tong.

Di Eng-hong-pie-ya.

Mereka bicara dengan suara kecil juga rendah.

Orang-orang yang dibawa oleh putri Kao Tong

membawa beberapa baki, di atas baki terdapat batang-an

emas yang tersusun dengan rapi.

Semua orang senang emas.

Tapi emas ini bisa mengetuk pintu hati manusia rakus.

Emas itu adalah kunci pintu sifat rakus manusia. Dari

nafsu sampai ke tujuan harus dilakukan oleh manusia, baru

bisa mendapatkanhasilnya.

Seng Kong-kong adalah manusia jenis itu. Dia menyukai

emas.

Dia lebih menyukai benda yang lebih penting dari emas.

Yaitu kekuasaan yang kuat.

Sesudah mendapat kekuasaan kuat, emas sik bukan

menjadi benda aneh baginya.

Putri Kao Tong lebih pintar.

Dengan emas yang jumlahnya tidak seberapa bisa

membuka sifat rakus Seng Kong-kong.

Dengan emas dia seperti membuang batu mengambil

giok.

Seng Kong-kong mengira dia adalah orang pintar dan

perhitungannya tidak akan meleset.

Putri Kao Tong mengira Seng Kong-kong hanya seorang

penjahat yang tingkat kerakusannya sangat tinggi.

Mereka percaya mereka bisa bekerja sama dan bisa

menjadi sangat kuat.

Mereka berbincang-bincang lagi di ruang rahasia di Enghong-

pie-ya.

Putri Kao Tong ingin membuat mimpi-mimpi dari rajaraja

Tibet menjadi kenyataan!

Dia dekat dengan Wie Kai.

Di satu sisi dia memang tertarik dan terpikat pada

kharisma Wie Kai.

Dia juga berharap pada Wie Kai. Di saat kritis bisa

diperalatnya.

Apa lagi setelah Wie Kai yang kabur mengkhianatinya

akan kembali lagi.

Putri Kao Tong berpikir dan berpikir lagi, harga

diperalatnya lebih tinggi.

Paling sedikit sebelum mereka kabur dia belum tahu

dengan jelas sampai di mana kesetiaan mereka kepada

Kong-kong.

Meniup daun butuh sebuah teknik. Yang bisa meniup

sangat banyak. Apa lagi di desa-desa.

Pengembala duduk di punggung kerbau, petani di sawah,

di mana-mana bisa melihat juga mendengar.

Tapi bisa meniup daun sebagus Hong Kie jarang

terdengar.

Lagu yang ditiupnya hari ini bukan lagu biasa yang

dibawakannya.

… Bukan Bong Kang-nu menangisi Ban-li-tiang-sia.

(Sebuah cerita rakyat Tionggoan, suami Bong Kang-nu,

bekerja paksa membuat Ban-li-tiang-sia, dengan susah

payah Bong Kang-nu mencari ke sana ternyata suaminya

telah tewas karena kelelahan. Bong Kang-nu menangisi

kematian suaminya selama 3 hari 3 malam di Ban-li-tiangsia).

… Juga bukan Cin Hiat-bi mengungkapkan bela

sungkawa.

Tapi hari ini dia meniup lebih menyentuh ke hati setiap

orang.

Tanpa berhenti dia meniup.

Pikirannya terus teringat pada tawa dan gerak-gerik

Hong Ku.

Walaupun Hong Ku marah-marah.

Sekarang terpikir semuanya terasa sangat ramah dan

mesra.

Inilah lagu duka yang begitu menggetarkan hati.

Matanya yang selalu melihat orang terus berputar, tapi dia

tidak membiarkan air matanya mengalir. Tapi berbeda

dengan Wie Kai, teman baiknya. Air matanya terus

berlinang. Air mata Leng-ji pun terus membanjir keluar.

Lagu duka Hong Kie tidak berhenti. Kata Wie Kai:

“Suatu hari… kalau aku tidak ada… kau jangan

menangis! Menangisi orang mati akan membuat arwah nya

tidak tenang. Hong Ku adalah orang yang sangat ceria,

jangan membuatnya tidak tenang.”

Leng-ji tidak bersuara.

Lagu duka tetap menggetarkan dalam angin, kadang

rendah kadang tinggi.

Dengan posisi telentang Wie Kai melihatnya.

Leng-ji tetap berbaring di sisinya.

Nyawanya seperti menjadi beban.

Semenjak Hong Ku meninggal, kadang-kadang dia

berpikiran pesimis seperti itu.

Apa lagi sekarang.

Tiba-tiba terdengar suara:

“Sua… Sua…”

“Golok!” teriak Wie Kai.

Suaranya belum habis mereka sudah meloncat.

Seseorang datang membawa sebuah golok lebar.

Dengan dingin berdiri beberapa langkah jauh-nya dari

mereka.

“…..Siau-loo!” Wie Kai berteriak.

“Siau-loo, apakah kau datang untuk menang-kap kami?”

tanya Leng-ji.

“Benar!” dari sela-sela giginya, Siau-loo mengeluarkan

kata- kata itu.

Wie Kai dan Leng-ji melihat sekeliling.

Ketua 3 propinsi Yu Tai-jin pun sudah datang.

Masih ada 10 orang lebih yang dia percaya dan 2 orang

La-ma.

Kalau ditambah Loo Cong kekuatan mereka lebih hebat

dari malam itu.

Lagu duka yang ditiup dengan daun sudah terhenti.

Hong Kie berdiri di sisi sebelah sana.

Dia melihat Yu Tai-jin, matanya menjadi merah saat

ingat pada kematian Hong Ku, semua karena Yu Tai-jin.

“Loo Cong, apakah kau benar-benar ingin menjadi kaki

tangan Kong-kong?”

“Aku akan menangkap kalian dan membawa kalian

pulang!”

“Siau-loo….” kata Leng-ji.

Golok besar Loo Cong melayang:

“Jangan banyak bicara, jalan yang kalian tempuh hanya

satu, ikut kami kembali ke Seng Kong-kong!”

“Kau sudah tahu kami tidak akan kembali ke sana!” kata

Wie Kai.

“Bertemu dengan Kong-kong lagi mungkin masih akan

ada harapan!” kata Loo Cong.

Dalam suara bentakan Hong Kie datang menyerang.

Pertumpahan darah tidak bisa dihindari lagi!

Siau-loo sudah bukan Loo Cong yang dulu lagi.

… Paling sedikit mereka dulu adalah teman.

… Dia pernah membantu mereka melarikan diri.

Tapi hati orang yang tidak berubah bisa dihitung dengan

jari.

Mengikuti Seng Yan-kong, nama dan keuntung-an bisa

didapat.

Kalau peduli pada perasaan dia akan menjadi seperti

mereka bertiga, berlari tanpa batas waktu mempertaruhkan

nyawa dengan dewa kematian.

Ketiga orang itu menjadikan nyawa sebagai taruhan.

Loo Cong sangat pemberani. Hong Kie tidak mundur.

Sekarang dewa kematian ada di dalam hatinya. Yu Tai-jin

dan anak buahnya mulai ikut bertarung.

Wie Kai bertarung dengan Yu Tai-jin. Leng-ji

menyambut anak buah Yu Tai-jin. Ilmu Wie Kai dan Yu

Tai-jin seimbang. Dalam waktu singkat sulit menentukan

siapa yang akan menang atau kalah.

Tadinya Wie Kai menyambut serangan Yu Tai-jin.

Tapi kemudian berganti berhadapan dengan Loo Cong,

maka Hong Kie yang bertarung dengan Yu Tai-jin.

Ternyata Hong Kie bukan lawan Yu Tai-jin.

Tapi Hong Kie tidak mempedulikan nyawanya.

Karena kekuatan dan keberaniannya, Yu Tai-jin belum

bisa segera mengalahkan.

Tapi Yu Tai-jin adalah pemimpin dari 3 propinsi.

Wie Kai dan Loo Cong bertarung, masing-masing belum

bisa menentukan kemenangan.

Wie Kai berhasil melukai 2 orang lagi.

Sekarang Leng-ji bertarung dengan Loo Cong, mereka

seimbang.

Sementara belum terlihat jelas siapa dari dua belah pihak

yang bakal menang.

Wie Kai melukai 2 anak buah Yu Tai-jin lagi.

Tiba-tiba Wie Kai melihat Yu Tai-jin menyerang Hong

Kie hingga kalang kabut, dengan cepat dia berlari ke sana.

Sekarang dua orang itu menghadapi Yu Tai-jin, terlihat

penjahat tua itu sama sekali tidak takut.

Kemarin anak buahnya banyak yang mati, maka Yu Taijin

memikirkan kesalahannya, ternyata dia terlalu

meremehkan mereka berempat.

Kali ini dia datang dengan Loo Cong, dia sudah

bertekad.

Sekarang Leng-ji bertukar tempat, dia dan Hong Kie

bertarung dengan Yu Tai-jin.

Secepat kilat dia datang menghadang, baru Hong Kie

bisa lolos dari serangan Yu Tai-jin.

Tapi baju bagian punggung Hong Kie sobek dan

dagingnya pun terlihat mengangga! Darah terus mengalir.

Wie Kai berhadapan dengan Loo Cong dan anak buah

Yu Tai-jin.

Pertarungan seperti ini bagi mereka bertiga tidak ada satu

pun yang bisa tenang.

Leng-ji dipaksa Yu Tai-jin berguling keluar 5-7 langkah.

Hong Kie dengan penuh bahaya masuk ke dalam.

Dia sendiri berhadapan dengan Yu Tai-jin.

Kekuatan mereka berbeda jauh.

Hati Hong Kie diliputi kebencian, dia ingin mati bersama

dengan Yu Tai-jin.

Tapi dia juga sadar jika ingin mati bersama-sama harus

terus menyerang dan tidak bertahan, mungkin akan ada

sedikit harapan.

Tapi sayang pilihannya tidak tepat.

Sewaktu Leng-ji berguling-guling dan belum bisa

menyerang, pedang Hong Kie sudah menyapu tempat

kosong.

Dia segera memutar tubuhnya, tapi punggungnya sudah

dibacok oleh Yu Tai-jin. , Yang berteriak histeris bukan

Hong Kie melain kan dari arah Leng-ji. Karena Leng-ji

sadar, bacokan kepada Hong Kie sangat berat.

Dia dikepung lagi oleh 2 anak buah Yu Tai-jin, Wie Kai

sekarang sedang bertarung dengan Loo Cong, tidak ada

yang menang dan kalah.

Tiba-tiba Yu Tai-jin melepaskan Leng-ji dan mencegat

Wie Kai.

Mereka bertiga hampir kehabisan tenaga.

Kalau dua belah pihak dibandingkan, yang rugi pasti

adalah pihak Wie Kai.

“Auu!” terdengar teriakan.

Hong Kie tersungkur, dia terluka oleh 2 golok Lama.

Wie Kai dan Leng-ji hampir gila. “Hong Kie… Hong

Kie… bagaimana keadaanmu?” sambil berlari Leng-ji

berteriak.

Hong Kie masih bisa bergerak tapi tidak bisa berdiri lagi.

La-ma datang lagi, Leng-ji meloncat untuk bertarung.

Tapi keadaan semakin tidak menguntungkan. Yu Tai-jin

dan seorang La-ma sudah membuat Wie Kai tersungkur.

Loo Cong dan La-ma satu lagi juga 2 anak buah Yu Taijin

terus menggagalkan serangan Leng-ji.

Akhirnya Leng-ji pun tertangkap.

Dua anak buah Yu Tai-jin berhasil menangkap dan

membawanya.

Wie Kai meraung dan bertarung, tapi dia terkena

pukulan dan jatuh oleh Yu Tai-jin akhirnya tertangkap juga.

Putus asa dan rasa sedih menyelimuti sepasang kekasih

ini.

Mereka melihat Hong Kie yang terbaring di sana,

sepertinya dia sudah meninggal.

Tidak ada lagi yang akan meniupkan lagu duka bagi

Hong Ku.

Yang pasti setelah mereka berdua dibawa kembali ke

Eng-hong-pie-ya.

Tidak akan ada orang yang akan meniupkan lagu duka.

Leng-ji berhasil melepaskan diri dan bertarung lagi.

Tapi dia dipukul oleh La-ma dan tersungkur lagi. Wie

Kai ingin memberontak tapi itu sudah tidak berdaya.

Karena seorang La-ma menyerangnya dari belakang.

Sebuah golok diletakkan di depan lehernya.

Yu Tai-jin tertawa sombong. Karena emas sejumlah

sepuluh ribu tail hampir berada di tangannya.

Seng Kong-kong pun tentu sangat percaya kepadanya.

Sewaktu dia dinobatkan menjadi pemimpin 3 propinsi,

dia tidak sesenang seperti sekarang.

“Ha ha ha!” Yu Tai-jin tertawa, “Kali ini kita berhasil

membunuh 4 penghkianat, banyak pesilat tangguh, pesilat

yang bersembunyi, dan anak buah Kong kong menjadi

korban. Kali ini aku bisa menangkap hidup-hidup kedua

orang ini, bagi Kong-kong pasti ada arti penting!”

Loo Cong tahu apa yang dimaksud, tapi dia pura-pura

tidak tahu dan berkata:

“Tai-jin, kali ini Anda sudah berjasa, tidak hanya

menambah kebanggaan bagi Pie-ya, mungkin akan

membuat sejarah berubah!”

Kata-kata ini mengena di hati Yu Tai-jin.

Seng Kong-kong tidak ingin mengubah sejarah tapi

rencana besarnya berpengaruh mengubah sejarah.

Mana mungkin Yu Tai-jin tidak tahu ?

Seseorang yang membantu mengubah sejarah adanya

perasaan sukses itu bukan hal yang bisa dilukiskan.

“Dalam undangan Kong-kong jelas tertulis, memberitahu

keberadaan, tangkap hidup-hidup atau menyerahkan mayat,

semua ada hadiah sebesar sepuluh ribu tail emas kuning…”

kata Yu Tai-jin.

Wajah Wie Kai dan Leng-ji tetap datar.

Sekarang mereka merasa dewa kematian adalah tetangga

sebelahnya.

Wajah Loo Cong yang serius mulai berubah.

“Kalau yang mati seharga sepuluh ribu tail emas, untuk

apa kita membawa yang hidup sebab mereka bisa kabur!”

kata Yu Tai-jin.

Sikap Loo Cong lebih serius lagi:

“Benar, Yu Tai-jin…”

Yu Tai-jin sudah memegang erat goloknya yang besar.

Melihat Leng-ji yang begitu cantik dia sama sekali tidak

merasa kasihan sedikit pun, yang dia bayangkan adalah

uang emas yang ditumpuk seperti gunung kecil, sebanyak

sepuluh ribu tail emas seberat 300 kati.

Wie Kai dan Leng-ji saling berpandangan, kematian

hanya terjadi satu kali.

Tiba-tiba cahaya golok Loo Cong berkelebat.

“CRAT!” sebuah kepala terbang masuk ke lubang di

bawah.

Kepala pemimpin 3 propinsi sudah terlepas dari

tubuhnya yang tinggi besar lalu jatuh ke depan.

Dua mata bulat yang berada di kelapa itu masih berputar

satu kali, baru berhenti dan tidak bergerak lagi.

Wie Kai dan Leng-ji terpaku, kejadian ini benar-benar di

luar dugaannya, tapi semua ini masuk akal.

La-ma dan 2 anak buah Yu Tai-jin yang sedang

mengawasi Wie Kai dan Leng-ji tampak terkejut, hingga

senjata mereka berdua terlepas.

Dua anak buah Yu Tai-jin hanya beberapa kali bertarung

sudah mati.

Dan bersamaan waktu Loo Cong dengan goloknya

membacok La-ma itu hingga mati.

Wie Kai dan Leng-ji merasa senang karena sudah

berhasil keluar dari pintu dewa kematian.

Tapi begitu melihat mayat Hong Kie, tawa ceria mereka

segera membeku.

Mereka berjalan mendekati mayat Hong Kie.

La-ma yang satu lagi setelah beberapa kali bertarung

sadar dia akan kalah, maka dia pun kabur dengan cepat.

Tapi Loo Cong mengejar, goloknya melayang tubuh Lama

itupun terpelanting.

Rumput liar.

Terlihat di mana-mana, terlihat sangat sedih. Di sebuah

tanah kuning, Wie Kai, Leng-ji, dan Loo Cong menaruh

batu.

Sedari kecil mereka tumbuh bersama, persahabatan

mereka sangat erat.

Tapi walaupun Hong Kie dan Hong Ku belum lama

mengikuti mereka, perasaan di antara mereka tidak jauh

berbeda.

Wie Kai dan Leng-ji tahu mereka bisa bertahan hidup

sampai sekarang dan bisa bertemu dengan Loo Cong karena

pengorbanan Hong Kie dan Hong Ku.

Pedang yang selalu ikut Hong Kie bertarung sekarang

tertancap di depan kuburan Hong Kie.

Wie Kai dan Leng-ji sangat gembira karena kehadiran

Loo Cong.

Ini adalah hal yang paling menyenangkan saat mereka

dalam kesusahan ada kejutan menyenangkan.

“Hong Ku sudah dikebumikan!”

“Hong Kie juga harus dikebumikan dengan upacara lebih

besar!”

“Asal maksudnya sampai, Hong Kie di bawah tanah

akan mengerti, dia akan memaafkan kita!”

Cahaya keluar dari sebuah gubuk di sisi sungai kecil.

Air sungai ini terus mengalir melewati batu-batu kecil,

terdengar suara HUA… HUA. Seperti orang yang sedang

bertepuk tangan.

Apakah ada yang bersuara tepuk tangan.

Apakah Hong Kie dan Hong Ku menyambut baik

kedatangan Loo Cong!

Atau senang karena Loo Cong berhasil membunuh Yu

Tai-jin?

Di atas meja di gubuk itu sudah tersusun makanan dari

binatang hasil buruan, masih ada arak.

Teman baik berkumpul di sini, hati sedih jadi sedikit

terhibur.

“Menurut kabar dari pusat Sam-hiang, aku dan Mo Kithian

dibagi menjadi 2 kelompok untuk mencari kalian.”

Wie Kai dan Leng-ji mendengarkannya dengan tenang.

Di otak mereka bisa dibayangkan Seng Kong-kong akan

seperti apa?

“Malam ini Kong-kong sedang menunggu kabar,” kata

Loo Cong.

“Apa kata Kong-kong?” tanya Wie Kai.

“Katanya, kau sombong dan sulit ditakluk-kan…”

“Bagaimana denganku? Apa komentarnya?” tanya Lengji.

“Kau… katanya, kau adalah perempuan yang dimabuk

cinta!”

Leng-ji tertawa.

“Untung dia tidak tahu kalau kau membantu kami

melarikan diri!” kata Leng-ji.

“Dia sudah tahu!”

Wie Kai dan Leng-ji terkejut.

“Maksudku, sekarang dia sudah tahu kalau aku yang

mengatur kalian supaya bisa melarikan diri!”

“Tidak mungkin dia akan curiga kepadamu!” kata Lengji.

“Tidak mungkin, dia tidak akan terpikir ke sana!”

“Seorang Seng Kong-kong memang sulit di tebak!” kata

Wie Kai.

“Betul, aku tahu dia dan putri raja Kao Tong mempunyai

rencana rahasia, sepertinya mereka akan mengkhianati

kerajaan!” kata Loo Cong.

“Berikan golokmu!” kata Wie Kai.

“Tidak, golok ini adalah ciriku, apa lagi kita tidak akan

membuat Kong-kong marah, kita hanya melarikan diri

bukan melakukan perlawanan!”

“Saudara merasa beruntung adalah pantangan terhadap

musuh!” kata Wie Kai.

“Mungkin dia ada sedikit murah hati…” kata Loo Cong.

“Kata-kata Siau-loo masuk akal!” kata Leng-ji.

“Biar kalian menunggu tapi di dunia ini tidak ada hal

begitu beruntung,” kata Wie Kai.

Belum selesai makan Wie Kai sudah keluar dari gubuk

itu.

Loo Cong dan Leng-ji merasa bingung.

“Pelarian ini terlalu berlarut-larut, membuatnya jadi

kesal!” kata Leng-ji.

“Sebelum berangkat… aku pernah berpikir supaya jangan

kemari…” kata Loo Cong.

Leng-ji menundukkan kepala.

Apa yang sedang dia pikirkan?

“Lebih baik kemari!” kata Leng-ji.

Mereka saling berpandangan sepertinya ingin lebih

memahami perasaan lawan.

Wie Kai berpikir sambil berjalan di sisi sungai. Kadangkadang

dia menarik nafas kadang cemas. Kadang-kadang

seperti sudah menentukan masalah besar dan seperti sudah

mendapat hasilnya.

Dari luar terlihat dia sangat ramah dan tidak

berpendirian.

Sebenarnya Wie Kai adalah seorang yang tegas.

Apa yang dia tentukan tidak akan ragu dijalankan.

Dia juga bukan orang yang ragu-ragu.

Cahaya lilin begitu redup. Malam sudah larut. Gunung

menjadi sepi.

Kadang-kadang ada burung malam yang berteriak.

Leng-ji tidur di sebuah kamar, tapi kamar itu tidak ada

pintu juga jendela.

Wie Kai tidur di kamar lain.

Semua kamar di sana tidak ada pintu juga jendela.

Mereka bisa melihat musuh.

Setelah Loo Cong datang, boleh dikatakan dia

menancapkan pisau di 2 ketiak temannya.

Karena dia sudah membunuh Yu Tai-jin juga Lama,

berarti dia sudah memotong jalannya sendiri.

Dia juga menjadi target perburuan Seng Kong-kong dan

putri Kao Tong.

Tapi sepertinya dia tidak peduli.

Sebab dari awal dia sudah terpikir akan hal ini. Teman

lama lebih baik. Seperti arak yang sudah lama, lebih enak di

minum.

Teman baru seperti arak baru, harus menunggu lama

baru enak diminum.

Di sisi sungai Wie Kai terus berpikir. Semua ini di luar

dugaan Loo Cong dan Leng-ji.

Malam mulai larut. Wie Kai berdiri di sisi sungai. Sorot

matanya melihat gunung yang jauh. Apa yang sedang dia

pikirkan? Apa dia sedang merencanakan hal penting. Apa

ingin mengambil keputusan terakhir. Atau dia sedang

memikirkan Seng Kong-kong Atau putri raja Kao Tong…

Leng-ji berbaring di atas ranjang. Loo Cong juga

berbaring di ranjangnya sendiri.

Mereka saling berpandangan.

“Apakah kau merasa dingin?” tanya Leng-ji.

“Tidak, setelah semua ini selesai… menikahlah!” kata

Loo Cong.

Kata-kata ini mengandung makna biar aku mati karena

perasaanku kepadamu. Leng-ji terdiam.

Sehari demi sehari. Semalam demi semalam.

Mereka bertiga saling bertemu, rasa khawatir menumpuk

di dalam hati.

Sore hari.

Di sisi sungai terdengar suara orang meniup daun.

Mereka bertiga segera bangun.

“Dia Hong Kie!” kata Leng-ji.

Kegembiraan muncul, kesedihan sudah ada di dalam

hati.

Apakah dia Hong Kie? Coba lihat keluar!

Di sisi sungai ada seorang pak tua sedang meniup daun.

Nada yang sedih seperti di tiup Hong Kie.

Mungkin sebelum Hong Kie meninggal dia pernah

mengajarkannya kepada pak tua itu.

Sekarang pak tua itu menjadikan lagu duka bagi Hong

Kie.

Saat meniup dengan nada tinggi seakan pedang Hong

Kie sedang menyerang dan membunuh musuh.

Saat meniup pada nada tajam seperti melawan banyak

musuh yang penuh bahaya.

Saat meniup dengan nada rendah seperti Hong Kie

meniup sebuah lagu untuk mengenang Hong Ku di sisi

sungai.

Kebencian dan kesedihan semua keluar dari daun itu.

Air yang dingin angin berhembus kencang. Bumi

menjadi gelap.

Tidak terlihat jalan datang juga tidak terlihat jalanpergi.

Air mata Leng-ji terus menetes.

Mereka bertiga minum arak lagi.

Walaupun mereka penuh semangat dan percaya diri tapi

mereka tahu siapa Seng Yan-kong.

Apa lagi mereka sudah membunuh Yu Tai-jin,

membunuh 2 La-ma, dua orang La-ma berilmu tinggi.

Bahaya apa yang datang berikutnya?

Dalam hati mereka sangat tahu dengan jelas.

Mereka memang tidak takut mati tapi mereka tidak ingin

mati di tangan Seng Yan-kong dan putri Kao Tong.

“Saat ingatan kalian belum kembali apakah kalian tahu

orang aneh yang tidak berkepala itu siapa?” tanya Loo

Cong.

“Waktu itu aku sendiri tidak tahu siapa diriku, apa lagi

orang aneh itu,” kata Wie Kai.

“Mengapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya Leng-ji.

“Seng Kong-kong selalu menyuruhku muncul seperti

setan. Untuk mencoba kekuatan Wie Kai juga ingatanmu,

mana mungkin membiarkanmu tahu?” kata Loo Cong.

“Ilmu sihir Seng Kong-kong benar-benar sesat. Saat

terjadi peristiwa perebutan harta, aku malah jadi perantara!”

kata Wie Kai.

“Mungkin kau berharap bisa bermimpi lagi!” kata Lengji.

“Kuharap jangan bermimpi lagi, sebab aku akan merasa

sebagai orang rendahan juga bersalah kepadamu!” kata Wie

Kai.

“Mengapa merasa bersalah kepadaku?” tanya Leng-ji.

“Betul, aku sudah menganggapmu pemain opera, sangat

tidak hormat kepadamu, apa lagi meng-anggapmu

perempuan yang sudah melahirkan anak-ku!” kata Wie Kai.

“Kalau aku masih di sana, mungkin Seng Kong-kong

akan mengajarkan ilmu sihirnya kepadaku!” kata Loo

Cong.

Rumah tua itu mempunyai pekarangan sangat luas.

Tanahnya tidak rata.

Rumput liar tumbuh sangat tinggi, di sisinya masih ada

orang-orangan terbuat dari rumput.

Dari depan pintu bisa melihat gunung yang jauh dan

asap serta kabut, berwarna hijau dari tua hingga muda.

Hari terasa sangat panjang.

Semakin panjang hari semakin terasa bosam karena tidak

ada pekerjaan.

Siau-loo membuat pentungan dari bambu, sebelah

penuangannya lancip.

Setelah selesai dibuat dia mulai berlatih ilmu silat dengan

pentungan itu.

Dia tidak hanya bisa menggunakan golok dan pedang,

ilmu pentungan pun dikuasainya dengan baik.

Kadang-kadang dia meloncat setinggi 3 tombak.

Kadang-kadang berguling-guling di bawah.

Biasanya dia sangat tenang hingga berlatih silat pun

sangat teliti, diaberbeda dengan Wie Kai.

Wie Kai selalu tertawa, tapi saat berlatih silat dia tidak

main-main.

Pentungan bambu yang tajam ditusuk ke dalam pintu,

sebelah lagi diganjal oleh perutnya. Membuat pentung dari

bambu itu menjadi melengkung.

Dia lalu berputar, pentungan bambu segera melesat ke

belakang, tepat mengena jantung orang-orangan dari

rumput itu.

Berturut-turut 3 kali hal ini dilakukan, setiap kali pasti

mengenai sasaran.

Wie Kai dan Leng-ji berjalan ke arahnya, kata Wie Kai:

“Apakah kau lihat? Dia berlatih supaya kau melihatnya.”

“Sembarangan bicara!” kata Leng-ji tertawa.

Wie Kai mendekati Loo Cong: “Seharusnya kau jangan

keluar dari Eng-hong-pie-ya.”

“Aku?”

“Benar! Untuk apa kau keluar dan ikut kami melarikan

diri? Dikejar-kejar orang lain?”

Loo Cong terdiam.

“Kami berdua ingin bebas jadi walaupun berbahaya kami

tetap melakukannya, sedangkan kau untuk apa? Demi apa?”

tanya Wie Kai.

“Seharusnya aku tidak kemari!” Loo Cong mengerutkan

alis.

Leng-ji merasa sikap Wie Kai seharusnya tidak seperti

itu, dia berkata: “Siau-kai, mengapa nada bicaramu seperti

itu?

Malam dingin seperti air.

Kabut menyelimuti atas sungai itu.

Wie Kai dan Leng-ji tidur bersama.

Tapi mereka berdua tidak tidur.

Mata mereka terbuka dengan lebar.

Masing-masing sedang berpikir.

Mungkin mereka sedang merasakan kedekatan ini.

Mereka ingin saling melihat.

Yang mereka khawatirkan bukan diri mereka sendiri,

melainkan lawan.

“Leng-ji…” kata Wie Kai dengan lembut.

“Siau-kai…” pelan-pelan Lenj-ji berkata.

“Apakah kedatangannya membuatmu lebih baik?” tanya

Wie Kai.

“Pasti, karena dia adalah saudara kita!”

“Apakah dengan datangnya dia kau merasa lebih baik?”

Kata-kata ini seperti mengandung arti lain.

Leng-ji mengira ini hanya pertanyaan biasa.

“Sebetulnya memang seperti itu, 3 orang pasti akan lebih

baik daripada hanya berdua!”

“Apakah Loo Cong lebih baik datang atau tidak?”

Sewaktu Wie Kai mengucapkan kalimat itu sikapnya

terlihat serius.

Mereka bertiga tumbuh bersama. Saat mereka berada

dalam keadaan paling bahaya, Loo Cong datang.

Apakah tidak merasa berterima kasih kepada teman

baik?

Setelah Loo Cong datang, kata-kata Wie Kai seperti

tidak bersahabat, Loo Cong merasa tidak suka. Untung

Leng-ji pernah berkata: “Wie Kai terlalu tegang, dia stres!”

Hari belum terang. Kabut tampak lebih tebal lagi. Waktu

itu bulan akan tenggelam. Leng-ji tiba-tiba merasa Siau-kai

menghilang. Tidak mungkin.

Siau-kai sejak subuh sudah pergi.

“Mana Siau-kai?… Mana Siau-kai?”

“Siau-kai… Siau-kai…” Leng-ji berlari keluar, teriakannya

melengking tajam dan berkumandang ke seluruh gunung.

Bumi yang masih tertidur segera terbangun.

Burung-burung terkejut dan segera terbang.

Tapi tidak terdengar sahutan Wie Kai.

Leng-ji mencari Wie Kai kemana-mana. Dia berlari

keluar rumah. Sambil berlari sambil berteriak. Gunung

masih seperti dulu tapi Wie Kai sudah tidak ada.

Loo Cong terus mengikuti Leng-ji dari belakang,

wajahnya terlihat serius.

Mereka tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Ke

manakah perginya Siau-kai?

Mengapa dia tidak pamit terlebih dulu?

Apakah orang-orang Seng Kong-kong dan putri Kao

Tong datang lalu menculik Wie Kai?

Mungkinkah itu yang terjadi.

Tapi dengan kelincahan dan ilmu silat Siau-kai tidak

mungkin dia akan diam waktu diculik!

Seharusnya dia bertarung membela diri lalu karena

kehabisan tenaga dia tertangkap dan dibawa!

Leng-ji dan Loo Cong mencari di dalam dan di sekitar

rumah.

Mereka tidak melihat bekas pertarungan.

“Apa yang terjadi?” tanya Loo Cong.

“Siau-kai sudah pergi!”

“Pergi?” Loo Cong berteriak,

“Siau-kai… Siau-kai…”

Di sisi sungai banyak jejak kaki Siau-kai. Karena selama

beberapa hari ini Siau-kai berjalan mondar mandir di sana.

Dia berpikir di sisi sungai.

Ini memang masalah yang keputusannya sulit untuk

diambil.

Tapi bila dipikir lebih jauh dan melihat lebih jauh, dia

harus melakukan hal ini.

Untung tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi.

Hari sudah terang.

Kabut mulai menghilang.

Di gunung udara terasa segar.

Air sungai tetap mengalir seperti biasanya.

Hanya bedanva Siau-kai tidak ada.

Bagaimana melewati hari-hari tanpa Siau-kai?

Mereka masih terus mencari.

… di balik rumputyang tumbuh tinggi.

… di balik bebatuan sungai.

Mereka berlari dan berteriak.

Leng-ji menangis sedih sambil berteriak:

“Siau-kai…”

Wie Kai benar-benar telah menghilang. Dia seperti

ditelan bumi.

Leng-ji terus mencari, melihat dan menunggu. Matanya

yang indah terlihat sudah tidak bersemangat.

Loo Cong terus mengikutinya dari belakang, dia

memangggil:

“Leng-ji.”

Leng-ji tidak menyahut. “Leng-ji, kau harus bersabar!”

“Kau masih menyuruhku bersabar!” “Siau-kai pasti akan

kembali!” “Dari mana dia kembali? Ke mana dia?” Loo

Cong terdiam.

Kalau dia tahu Wie Kai pergi ke mana, itu akan lebih

mudah.

Buat Leng-ji dia lebih sedih dibandingkan saat dia

bertarung dengan Yu Tai-jin dan dia merasa sudah tidak

kuat.

Karena Siau-kai adalah penyangga jiwanya.

Jika tidak ada Siau-kai, hidupnya tidak ada tujuan,

Yang pasti jika tidak ada Siau-kai dia tidak akan

melarikan diri dari Pie-ya.

Siau-kai sudah membawa pergi rasa percaya dirinya.

Siau-kai juga membawa pergi rohnya!

Di dalam kamar.

Sebuah lampu tempel dengan api sebesar biji kacang.

Ada sebuah tirai bambu yang sudah usang, memisahkan

dua orang yang sedang berbaring di atas ranjang.

Loo Cong melihat Leng-ji.

Leng-ji pun menoleh melihat Loo Cong.

Leng-ji tahu kalau Loo Cong sudah kehabisan kata untuk

menghiburnya.

Loo Cong juga sadar tidak ada kata-kata yang bisa

menghibur Leng-ji lagi.

Mereka tahu sorot mata lawan mengandung makna apa.

“Mengapa Wie Kai pergi?”

“Aku rasa dia sudah lama ingin pergi, hanya saja kau

tidak menyadarinya!” jawab Loo Cong.

“Apakah sudah lama dia ingin pergi?”

“Benar, sudah lama dia ingin pergi,” jawab Loo Cong.

“Aku tidak mengerti!”

“Aku lebih-lebih tidak mengerti, kalau aku bisa menebak

aku pasti tidak akan membiarkan dia pergi!”

“Kemana dia pergi?”

“Kau sendiri saja tidak tahu apalagi aku!” kata Loo

Cong.

“Seharusnya dia pamit dulu atau setidaknya

meninggalkan pesan!”

“Mungkin ada tapi kau mungkin tidak memperhatikan

kata-kata yang dia ucapkan!”

“Tidak memperhatikan kata-katanya?”

“Mungkin saja, apakah sepanjang perjalanan kalian

pernah membicarakan tentang diriku?”

“Aku ingat kata-katanya yang terakhir!” kata Leng-ji.

“Apa katanya?”

“Dia mengatakan kalau kau sudah datang itu lebih baik,

apa maksudnya?” tanya Leng-ji.

“Aku sudah datang itu lebih baik?”

“Benar!”

“Nada bicaranya seperti apa? Waktu itu dia sedang

melakukan apa?” Leng-ji terdiam.

Karena waktu itu mereka sedang tidur bersama.

“Untuk sementara kita jangan memikirkan dulu masalah

ini!” kata Loo Cong.

“Apakah aku bisa tidak memikirkannya?”

“Aku tahu ini sulit bagimu, carilah tempat bagus untuk

melancong, apa yang akan terjadi ya terjadilah! Percuma

saja kita mencemaskannya!” kata Loo Cong.

“Aku tidak bisa!”

“Tidak bisa pun harus bisa, kita harus meneruskan

kehidupan kita!”

“Dengan hidup seperti ini apa bedanya dengan sudah

mati?”

“Kita harus membuat Seng Kong-kong mengerutkan

alisnya dan membuat putri Kao Tong meraung, kita tidak

akan membiarkan mereka tertawa puas.”

Loo Cong berusaha terus menasehati Leng-ji. Dia harus

bisa menenangkan Leng-ji, menumbuhkan rasa percaya

dirinya lagi.

Putus asa adalah sebuah golok besar yang tidak

berbentuk.

Golok tidak berbentuk ini terkadang lebih hebat dari

golok berbentuk.

Karena golok berbentuk fisiknya bisa kita lihat dan bisa

kita hindari sedangkan golok tidak berbentuk sulit untuk

melakukan hal seperti tadi.

Kadang-kadang terbunuh oleh golok tidak berbentuk kita

masih tidak sadar apa yang sudah membunuh kita.

Di dalam kuil La-ma.

Para La-ma sedang berbaris untuk mengantar-kan

kepergian seseorang.

La-ma selalu membuat perasaan menjadi misterius.

Apakah mereka dari aliran berbaju kuning atau aliran

berbaju merah?

Aliran berbaju kuning, Couwsu mereka adalah Tiong-kepa

taysu.

Aliran berbaju merah atau aliran berbaju kuning

mempunyai displin yang ketat.

Tapi setelah sampai di Tionggoan dengan teknik

misterius mereka menyesatkan pikiran raja-raja dan

penguasa, semakin lama mereka semakin tidak karuan.

Sekarang putri Kao Tong berdandan dengan rapi, dia

lalu keluar.

Hanya dua orang La-ma yang dipercaya yang boleh

mengikutinya.

Wajahnya datar.

Tidak ada upacara lain.

Maka dia pergi dengan tergesa-gesa.

Eng-hong-pie-ya masih tetap seperti dulu, kepergian Wie

Kai dan Leng-ji tidak membuat keadaan di sana berubah.

Hanya saja orang-orang di dalam sana punya satu tekad,

tujuan mereka adalah menangkap kembali Wie Kai dan

Leng-ji.

Mereka berharap bisa melihat golok raksasa yang

dipasang di panggung, turun dan memenggal kepala Wie

Kai dan Leng-ji dan kepala mereka berdua masuk ke dalam

keranjang.

Sekarang Seng Yan-kong membawa Mo Ki-thian pergi

dengan terburu-buru.

Seorang pak tua dengan rambut putih semua tampak

ambisinya masih begitu besar.

Apa yang dia lakukan bagi orang lain sulit untuk

terpikirkan.

Putri Kao Tong masuk dari pintu utama. Seng Kongkong

menyambutnya.

Lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam sambil

berbincang-bincang dengan suara lirih.

Putri Kao Tong sangat akrab dengan Kong-kong.

Hubungan di antara mereka membuat orang berpikir ada

sesuatu di antara mereka.

Kecuali misi menangkap kembali Wie Kai dan Leng-ji.

Apakah masih ada rencana lain?

Kecuali berunding bagaimana cara menangkap Wie Kai

dan Leng-ji.

Apakah masih ada rahasia besar lainnya?

Mungkin kematian Yu Tai-jin dan dua orang Lama yang

termasuk sebagai pesilat tangguh membuat mereka tidak

berani meremehkan kedua pelarian itu.

Setelah mereka berdua berhasil menangkap Wie Kai dan

Leng-ji baru akan merasa puas.

Mengapa bisa terjadi hal seperti itu?

Apakah ini hanya peraturan yang berlaku di Eng-hongpie-

ya?

Di Eng-hong-pie-ya ada sebuah penjara yang sangat

gelap.

Di d alam penjara gelap itu ada seorang terpidana.

Penjara gelap itu tidak pernah kosong.

Di penjara gelap itu hanya mengurung seorang

terpidana.

Orang itu sendirian mengisi penjara gelap itu.

Kong-kong sangat memperhatikan orang ini.

Secercah cahaya matahari masuk ke dalam penjara.

Terlihat di penjara yang sangat gelap itu. Secercah

cahaya matahari itu menyinari punggung Wie Kai.

Apakah dia mengikuti semangat dewa tanah?

Terdengar suara langkah kemudian langkah itu berhenti

di luar penjara.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Dia melihat putri Kao Tong dengan penuh kesadaran.

Hanya dia yang tahu apa yang sedang dipikirkan putri

Kao Tong saat ini.

Mungkin karena itulah dia berada di sini sekarang.

Dia menatap kaki putri Kao Tong, celana dan baju

bagian leher yang sangat rendah, putri Kao Tong pun

melihat wajah yang sudah dipoles.

Cahaya diluar sedikit berkilau. Wie Kai menyandarkan

kepalanya.

Tanya putri Kao Tong: “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Wie Kai yang terluka karena disiksa, dia menjawab:

“Aku sedang memikirkan kesalahan yang telah

kulakukan…”

Putri Kao Tong menatapnya.

Awalnya putri Kao Tong terlihat tertawa ter-gelak-gelak,

akhirnya berhenti juga.

Tiba-tiba putri Kao Tong membuka pintu dan Kao Tong

menjambak rambut Wie Kai untuk dilihat dibawah sinar

matahari yang masuk.

Wajah Wie Kai penuh dengan luka berwarna hqau

keunguan.

“Katakan apa kesalahanmu?”

Kebencian selama beberapa bulan tampak meledak

sekarang.

Ranjang di rumah peristirahatan pemburu, jepit yang ada

di atas ranjang…

Perempuan ini sangat menganggap penting masalah kecil

seperti ini.

Dia menampar Wie Kai.

Wie Kai terjerembab ke sisi dinding dan ber-nafas

dengan terengah-engah.

Sudut mulutnya mengeluarkan darah.

Semua ini baginya sudah bukan bencana lagi.

Saat dia baru kembali ke tempat ini, siksaan yang

dilakukan kepadanya benar-benar membuatnya hampir

tidak bisa bertahan.

Sepertinya bagi kasim siksaan kejam yang dilakukan

kepadanya hanya sebagai sarana untuk meneliti saja.

Yang pasti ada pengecualiannya juga.

Seperti pada jaman dinasti Beng, seorang pelajar yang

sangat rajin belajar karena sering ter ganggu oleh pikiran

cabul, maka dia mengibiri dirinya sendiri, akhirnya dia bisa

lulus ujian negara dan men-jadi seorang pejabat.

Kasim-kasim waktu itu menganggap itu adalah

kemenangan dari orang yang dikebiri, maka

menggotongnya untuk dipamerkan.

Pelajar itu baru merasa menyesal kemudian.

Kasim dibagi menjadi dua kelompok.

Sebagian bertugas di istana, sebagian lagi bertugas

mengawasi pelayan-pelayan perempuan di istana.

Lebih banyak yang senang mengawasi para pelayan

perempuan di istana.

Seharusnya mereka merasa sedih dan terhina karena

membiarkan mereka mengawasi para pelayan perempuan

itu.

Kemarahan putri Kao Tong sudah berada di puncaknya.

Dia sudah lama tersiksa.

… apalagi di malam hari yang hening.

… setiap kali saat merasa sepi dan sendiri, dia akan

teringat pada ranjang dan jepit rambut yang ditemukan di

atas ranjang yang berada di rumah per-istirahatan pemburu.

Dari ranjang dan jepit rambut, pikirannya jadi melantur

pada hubungan antara lelaki dan perempuan.

Kalau sudah begitu dia akan bersumpah bila berhasil

menangkap Wie Kai dia akan segera membunuhnya.

Putri Kao Tong marah:

“Kau laki-laki yang tidak punya perasaan dan tidak tahu

diuntung, laki-laki yang tidak berguna, apakah kau tahu kau

bersalah?”

“Aku tahu!”

“Apa yang kau ketahui?” tanya putri Kao Tong, “Enghong-

pie-ya telah membinamu, semua La-ma

mementingkanmu, kau benar-benar sudah gila tanpa pikir

panjang jatuh ke dalam pelukan perempuan itu, apakah kau

tidak punya perempuan lain?”

“Punya, aku punya perempuan yang paling baik!”

jawab Wie Kai.

“Kau punya perempuan yang tidak akan membuat

kepalamu sampai haras dipenggal, kau juga punya

perempuan yang selalu menyanjungmu! Tapi kau malah

mengkhianati dia, kau rela dibacok dan menjadi pelarian!

Apakah kau tahu bila orang-orang bergerak di ibu kota, kau

akan menjadi lakon penting apa? Lakon yang duduk di

posisi tinggi.”

Mata Wie Kai tampak berkedip di dalam kegelapan.

Matanya sudah lama tidak seterang sekarang.

Putri Kao Tong berjalan beberapa langkah dan bertanya

lagi:

“Mengapa kau kembali kemari?”

“Aku sadar aku tidak bisa lolos dari kekejaman kalian,

aku juga sadar kalau aku bersalah!”

“Tapi sekarang sudah terlambat walaupun kau sudah

sadar, aku tetap akan membuatmu mati!” kata putri Kao

Tong.

“Kalau kau tidak ingin aku mati, sekarang tidak akan

kemari!”

“Kau…” putri Kao Tong marah. Karena marah dia

menampar Wie Kai lagi. Wie Kai berdiri tanpa bergerak

juga tidak bicara. Putri Kao Tong terus menatapnya. Lakilaki

ini memang tidak sama dengan lelaki lainnya.

Kalau tidak, mengapa ada perempuan yang mau

mengikutinya kabur dari Eng-hong-pie-ya? padahal kalau

tertangkap kepala mereka akan di-penggal dan mereka akan

selalu dikejar-kejar tapi dia masih tidak tahu mengapa dia

kembali.

Putri Kao Tong benar-benar membutuhkan lelaki seperti

yang ada di depan matanya sekarang.

Dia ceria, pemberani, dan pintar bercumbu juga bermain

mata. Semua ini membuatnya merasa puas.

Maka Wie Kai dengan penuh percaya diri berkata:

“Kalau Putri mau datang ke sini berarti tidak akan

membiarkan aku mati!”

Wie Kai terus menatap putri Kao Tong dari dalam

kegelapan.

Wie Kai tahu apa yang ada dalam pikiran putri Kao

Tong sekarang.

Tidak lama kemudian dengan kedua tangannya memeluk

putri Kao Tong.

Putri Kao Tong berniat akan menendang tapi akhirnya

malah terdiam.

Gerakan Wie Kai cukup kuat untuk meredakan

kemarahan putri Kao Tong.

Putri Kao Tong benar-benar membutuhkan lelaki seperti

ini.

Bila bisa memihki lelaki seperti ini, paling sedikit dia

sudah menjadi pemenang dan bila perempuan itu

tertangkap kembali, dia akan meng-ambil kembali apa yang

telah dia keluarkan berikut bunganya dari perempuan itu!

Putri Kao Tong benar-benar ingin menendang Wie Kai

lagi karena demi Wie Kai dia menjadi kurus.

Tapi begitu melihat wajah Wie Kai yang terluka

akhrinya putri Kao Tong melepaskan niat membalas

dendam katanya:

“Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau

lakukan, Wie Kai, dengar baik-baik, hanya dengan

mengandalkan kekuatanmu sendiri aku tidak percaya kau

sanggup kabur dari Eng-hong-pie-ya, walaupun kau bisa

keluar dari sini tapi rumah La-ma tidak akan

melepaskanmu!”

Setelah selesai bicara dia segera meninggalkan tempat

itu.

Wie Kai terus menatap sosoknya sampai menghilang.

Gembok besar sudah dipasang kembali di pintu penjara.

Beberapa La-ma mengikuti putri Kao Tong pergi dari

sana.

Lama Wie Kai tidak bergerak, tubuhnya terasa sakit

seperti dibakar!

Dia sedang memikirkan banyak hal. Karena dia memang

harus berpikir.

-oo0dw0oo-

BAB III

Wie Kai sudah kembali.

Terhadap Loo Cong dan Leng-ji yang masih berkeliaran

di luar sana, putri Kao Tong sama sekali tidak peduli,

menangkap mereka kembali itu menjadi urusan Seng Kongkong.

Putri Kao Tong sangat membenci Leng-ji.

Dia membenci Leng-ji karena Wie Kai.

Asalkan Wie Kai berada di sisinya, apa pun tidak akan

dia pikirkan lagi.

Bukankah dia adalah laki-laki terbaik di dunia ini?

Tentu saja tidak.

Tapi di mata kekasih, dia orang istimewa. Seperti orang

yang senang makan ikan kakap bila diganti dengan ikan

kembung, belum tentu dia sama suka.

Putri Kao Tong tidak peduli lagi mengejar terpidana

yang masih melarikan diri.

Seng Kong-kong bisa melihatnya sendiri.

Tapi Seng Kong-kong tahu pola pikirnya.

Asalkan putri Kao Tong merasa puas, yang lain lebih

mudah dilakukan.

Dulu Bu Cek-thian mendapatkan seorang laki-laki seksi

yang sangat dia sukai, namanya adalah Cia Hoai-ih karena

terlalu senang dia mengubah negaranya menjadi tahun yang

menyenangkan.

Kalau tidak membunuh, Wie Kai harus segera sehat

kembali.

Dengan obat terbaik putri Kao Tong merawat Wie Kai.

Mainan telah dirusaknya maka dia sendiri yang harus

memperbaikinya.

Putri Kao Tong mulai mendandani dirinya sendiri.

Dia tidak percaya kelembutannya kalah dari perempuan

pelarian itu.

Dia ingin menarik perhatian Wie Kai, supaya Wie Kai

sadar bahwa keputusan yang dulu diambil adalah

keputusan yang bodoh.

Yang pasti di satu pihak dia butuh untuk melampiaskan

nafsu birahinya, di lain pihak karena rencana besar lainnya.

Dia membutuhkan laki-laki seperti Wie Kai, punya ilmu

tinggi, berani melakukan berani bertanggung jawab, berani

membenci juga berani mencintai.

Keberanian dan rencana yang sempurna tidak semua

orang bisa melakukannya.

Putri Kao Tong ingin memperalat kelebihan ini untuk

mencapai cita-citanya.

Seng Yan-kong terus berjalan mondar mandir. Dia

berpikir dalam-dalam.

Banyak hal penting yang harus dia pikirkan, hal seperti

ini hanya boleh sukses tidak boleh gagal.

Salah satunya adalah pengkhianatan Wie Kai dan Lengji

karena terus mengejar dan berusaha membunuh mereka,

maka sudah membuat dunia persilatan geger.

Setelah lama mondar mandir akhirnya Seng Kong-kong

pun duduk.

Mo Ki-thian selalu berada di sisinya.

Dia kaki tangannya yang setia.

Seng Yan-kong sangat tahu tentang orang ini.

Tapi bakat Mo Ki-thian berbeda jauh dengan Wie Kai

dan Leng-ji.

Ini alasan mengapa Seng Kong-kong tidak berani

memberikan tugas penting kepadanya.

Tiba-tiba Seng Yan-kong berkata kepada Mo Ki-thian:

“We Kai senang pada perempuan yang bisa minum arak,

kalau Siau-loo senang apa?”

Mo Ki-thian membungkukkan tubuh jawabnya:

“Loo Cong lebih lugu dia lahir dari keluarga petani.”

Seng Yan-kong mengangguk:

“Keluarga petani…”

Walau hanya dua kata yang terucap, tapi Seng Kongkong

sudah punya rencana.

Apakah semua ini bisa mengganggu rencana besarnya?

Kaburnya Wie Kai dan Leng-ji dari Eng-hong-pie-ya

menjadi hal besar.

Tapi bila dibandingkan dengan rencana besar-nya itu,

seperti dukun kecil bertemu dengan dukun agung.

Pikiran kacau akan membuat rambut cepat memutih.

Karena itu pula rambut Shen Kong-kong sudah memutih

semua.

Menyuruh Seng Kong-kong melepaskan niat mengejar

Loo Cong dan Leng-ji sungguh hal yang mustahil.

Walaupun sadar mereka tidak akan membalas dendam

dan mungkin mereka akan lari ke padang gurun atau ke

tempat gersang, atau mungkin selama-nya mereka tidak

akan muncul lagi di bumi ini, Seng Kong-kong tetap tidak

akan sudi melepaskan mereka.

Karena dia adalah seorang Seng Kong-kong.

Di persawahan.

Cita-cita Loo Cong sudah tercapai.

Dia adalah seorang putra petani, maka bekerja di sawah

sudah menjadi keahliannya.

Demi menghindari pengejaran dan pembunuh-an mereka

bersembunyi di sebuah desa.

Di sana adalah sebuah tempat terpencil, jauh dari

keramaian kota.

Mereka tinggal di sana.

Untuk sementara bahaya telah lewat.

Tapi Leng-ji selalu merasa sedih dia tidak bisa

melupakan Wie Kai.

Matahari bersinar terik.

Loo Cong sedang mencangkul.

Leng-ji duduk di atas pematang sawah, dia mencabuti

rumput-rumput dengan tidak semangat.

Penampilannya sekarang seperti perempuan desa.

Sekarang dia menjadi kurus dan hitam, mungkin karena

terkena sinar matahari terus-menerus, kulitnya menjadi

kasar, tapi semua itu tidak mengu-rangi sikap anggunnya.

Loo Cong tahu kalau Leng-ji sejak lahir bukan seorang

anak petani.

Ingin menjadikan dia sebagai petani buat Siau-loo

sungguh menyedihkan.

Dia menoleh melihat Leng-ji.

Leng-ji sedang menatap ke kejauhan dengan penuh

perhatian.

Dia memang sering seperti itu.

Siau-loo tidak tahu apa yang sedang dilihatnya,

sebenarnya Leng-ji sendiri pun tidak tahu apa yang sedang

dilihatnya.

Siau-loo menjadi sedih.

Siau-loo mendekati Leng-ji, dia ingin membuat Leng-ji

senang, kalau tidak mengapa Wie Kai bisa mengatakan

bahwa kedatangannya membuat keadaaan lebih baik?

Sebenarnya kedatangannya membuat keadaan lebih

buruk.

Apakah dia pantas datang ke sini?

Itu bukan hal penting.

Siau-loo mendekat dan memanggil:

“Leng-ji!”

Leng-ji menarik sorot matanya dari tempat jauh itu dan

tertawa tipis.

Sejak Siau-kai menghilang, tertawa adalah hal yang sulit

dilakukan.

Tapi Siau-loo berharap dia bisa tertawa.

Kalau dia tidak tertawa dia takut Siau-loo akan sedih,

tertawa membuatnya risih.

“Aku yakin kau pasti sedang memikirkan masa lalu yang

lucu dan menyenangkan!”

“Masa lalu yang lucu?”

“Dulu kau seperti pernah menyamar menjadi nona besar

keluarga Lim!”

“Apakah itu hal yang lucu?”

“Apakah itu tidak lucu?” Siau-loo jadi sadar hal itu tidak

lucu tapi dia berharap Leng-ji bisa tertawa.

Leng-ji menggelengkan kepala dan tertawa kecut.

Kalau orang banyak pikiran dia akan sakit.

“Rencana Seng Kong-kong dalam memperebutkan harta

sangat kejam, dia tidak peduli siapa yang mempunyai harta

itu, hingga bisa disebut hitam makan hitam!”

Leng-ji menatapnya.

“Pada mulanya Liauw In dan Cia Peng ingin merebut

harta yang banyak milik Nyonya Lim Put-hoan, dia

memasang umpan dengan senar yang panjang. Dia

membawa pergi putrinya supaya nanti bila mereka sudah

dewasa bisa merebut harta itu!”

“Tapi Liauw In sepertinya tahu, hanya sebagian harta itu

milik Liauw Swat-keng.”

“Benar,” jawab Siau-loo, “karena Cia Peng tidak setia

kepada Liauw In, dia menaruh seorang Lan Hong-su di

tempat Lan Ling, Lan Ling adalah selingkuhan Cia Peng.”

“Akhirnya Lan Hong-su dan ayahnya ter-bunuh!”

“Benar! Mereka mati dibunuh oleh Cia Peng!”

“Bagaimana dengan nasib Liauw Swat-keng?” tanya

Leng-ji.

“Bisa dibayangkan, dia hanya ingin menyisa-kan satu

orang,” kata Loo Cong.

“Siapa?”

“Kau, karena kau adalah putri dari keluarga Lim,

menurut Seng Kong-kong kau adalah satu-satunya putri

dari keluarga Lim, kau juga putri keluarga Liauw karena

kau mirip dengannya!”

“Siapa nama putri keluarga Lim yang asli?”

“Namanya adalah Lim Siau-ceng, tapi namamu adalah

Lim Leng-ji, Lim Siau-ceng adalah nama kecilmu!”

“Terakhir bagaimana nasib Lim Siau-ceng?” tanya Lengji.

“Aku tidak tahu!”

“Tidak tahu berarti dalam hatimu juga tidak tahu?”

Siau-loo mengangguk.

“Bagaimana dengan Seebun Long?” tanya Leng-ji.

“Seng Kong-kong tidak membutuhkan putri keluarga

Lim dia hanya membutuhkan harta keluarga Lim, dia juga

butuh harta keluarga Sangguan Lie, maka apa yang terjadi

pada Seebun Long tidak perlu ditanyakan semua sudah

tahu!”

“Aku benar-benar telah banyak berbuat dosa!”

“Apa hubungannya denganmu?”

“Mengapa tidak? Ketika aku berada di keluarga Lim aku

menyamar menjadi putri keluarga Lim, namaku menjadi

Lim Siau-ceng, dengan begitu aku tidak mengaku adanya

Nona Lim di dunia ini!”

“Karena waktu itu kau dan Siau-kai terkena ilmu sihir,

maka ingatan kalian kadang benar kadang kabur!”

“Benar, kadang ingat kadang tidak, kadang jelas kadang

kacau!”

“Benar! Karena itu Siau-kai kadang menganggapmu

Seebun Long, Seebun Long adalah dirimu, ilmu sihir seperti

itulah, dia akan membuatmu melakukan hal yang ingin dia

lakukan, umpamanya Siau-kai merindukankanmu, ingin

menikah denganmu, dan ingin memiliki anak darimu, maka

Seebun Long yang ada di hati Siau-kai dianggap dirimu,

dan sudah punya seorang anak!”

Akhirnya Seebun Long menangkap Siau-kai dan

menyerahkan dia kepada Kao Hie danTonghong Ta-cing.

“Seebun Long juga sama terkena ilmu sihir dan dia

diatur untuk melakukan hal apa pun!” kata Loo Cong.

Leng-ji terdiam.

“Apakah pernah terpikir olehmu, mengapa tidak pernah

bertemu lagi dengan Tonghong Ta-cing, Kao Hie juga

Liauw In serta Cia Peng, dua kelompok yang

memperbutkan harta?” tanya Siau-loo.

“Pernah terpikir!”

“Sebab dua kasus perebutan harta itu berawal dari

mereka yang masing-masing mempunyai rencana dan

diketahui oleh anak buah Seng Kong-kong lalu mereka

diperalat, setelah berhasil mereka dibunuh supaya tutup

mulut!” jelas Siau-loo.

“Karena itu aku bilang aku telah banyak ber-buat dosa!”

kata Leng-ji.

“Leng-ji, itu bukan salahmu! Kau dan Siau-kai hanya

korban!”

“Aku ingat waktu itu kadang-kadang aku tahu kalau aku

bukan putri Lim Put-hoan yang bernama Lim Siau-ceng,

kadang aku juga tahu kalau aku Leng-ji tapi aku tidak

berani untuk memastikannya!”

“Siau-kai juga pasti seperti itu!”

“Waktu itu dia mencegat keretaku tapi dia tidak tahu

siapa aku!”

“Sulit untuk diungkapkan! Waktu itu dia mengatakan

kalau dia mempunyai perasaan aneh!”

“Perasaan aneh seperti apa?”

“Seperti mengenalmu tapi setelah dipikir-pikir sepertinya

tidak!”

“Apakah benar anak Seebun Long bukan anak Siau-kai?”

“Bukan!” jawab Siau-loo.

“Mengapa Bu Si-cin berkata seperti itu?”

“Karena ingin membuat Sangguan Lie terpukul juga

ingin membuatnya jadi rendah diri dan berkecil hati, dia

akan kecewa berat hingga kehidupannya terbengkalai.”

“Semua itu sudah berada dalam perkiraan Seng Kongkong,

Sangguan Lie mati di tangan seorang perempuan

jalang berilmu tidak tinggi!” kata Leng-ji.

“Dari sini dapat diketahui bagaimana jahatnya Seng

Yan-kong.”

“Kau!”

“Apakah bukan? Setan tanpa kepala itu diperintahkan

Seng Kong-kong untuk menguasai Liauw In, Cia Peng,

Tonghong Ta-cing, Suma Hen serta Kao Hie!” kata Siauloo.

“Apa arti ‘Oh-tiap-go’?” (Sarang kupu-kupu) Leng-ji

mengerutkan alis.

“Itu hanya simbol saja!”

“Simbol apa?”

“Bukankah ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu? Harta

orang lain bukankah bisa berubah menjadi harta milik kita?”

“Apa arti ‘Bu-lim-to-hoat’?” (Ilmu golok rimba

persilatan).

“Kipas lipat milik Siau-kai adalah To-hoat, Seng Kongkong

menyuruhnya menggunakan kipas supaya bisa

menutupi identitas sebenarnya, sewaktu Siau-kai masuk

Pie-ya dia sudah menguasai ilmu itu!”

Leng-ji terdiam lagi.

“Singkat kata, waktu itu pikiran kalian benar-benar tidak

normal, ingatan kalian hilang sebagian, kadang-kadang

malah sangat kacau, kadang-kadang mengira kau Leng-ji

kadang-kadang merasa bukan, kadang-kadang malah

merasa menjadi putri keluarga Lim. Siau-kai pun demikian,

kadang-kadang mengira dirinya Siau-kai kadang-kadang

bukan. Bisa dikatakan dia menjadi dungu dan bebal, dari

sini terbukti kalau ilm sihir Seng Kong-kong belum

sempurna.”

Leng-ji menundukkan kepala.

Pikiran manusia tidak pernah berhenti.

Walau kau tidak ingin memikirkannya tapi pikiran ini

akan terus mengganggumu.

Leng-ji ingin untuk sementara melupakan semuanya,

tapi apakah itu mungkin?

“Kata Siau-kai kedatanganku membuat keada-an lebih

baik, berarti aku bisa merawatmu.”

Leng-ji tertawa tapi wajahnya sudah bersimbah air mata.

Siau-loo datang menghampiri untuk meng-hapus air

mata Leng-ji.

Dia melihat Leng-ji.

Leng-ji tidak berani tertawa lagi.

Karena dia sadar tawanya akan memukul perasaan Siauloo

juga Siau-kai.

Kolam tidak begitu luas tapi sangat dalam. Karena ada

air terjun di atasnya, bila air di kolam sudah penuh air akan

mengalir keluar.

Maka air di kolam itu bukan air yang terus diam. Kolam

seperti itu akan banyak ikannya.

Loo Cong dan Leng-ji berada di sisi kolam.

Leng-ji duduk di atas batu, dia terus melemparkan batu

kerikil ke dalam kolam, sepertinya berniat mengusir ikan ke

arah sana.

Siau-loo berdiri di tengah air, celananya di-gulung tinggi.

Dia ingin menangkap ikan dengan tangan kosong. Lengji

tidak bersemangat melempar batu. Dia tahu kalau Siauloo

sedang menatapnya. Tiba-tiba Leng-ji bertanya:

“Apakah dia punya perempuan lain?” Siau-loo bengong

sejenak lalu jawabnya:

“Tidak ada!”

“Kau yang paling dekat dengannya!”

“Leng-ji, dengan cara apa supaya bisa membuat hatimu

lebih tenang?”

Leng-ji melempar batu dengan sekuat tenaga.

Batu kecil itu masuk ke dalam kolam.

Kemudian dengan dingin dia menjawab:

“Aku membenci diriku yang tidak bisa tenang.”

Siau-loo melihatnya kemudian melihat ke arah air

kolam, tiba-tiba seekor ikan berhasil ditangkapnya.

Dia melempar ikan itu ke darat.

Ikan itu meloncat-loncat.

Tapi meloncat seperti apa pun nasib ikan itu sudah bisa

diketahui.

“Leng-ji, kau mulai menguasai ilmu-ilmu perladangan!”

Leng-ji menggelengkan kepala.

Mereka pulang ke pondok yang mereka tempati untuk

sementara.

Karena sudah sore hari, burung pun telah kembali ke

sarangnya.

Leng-ji melihat sarang burung yang ada di atas pohon.

Di manakah sarangnya? Di manakah rumah-nya?

Mereka masuk ke rumah kecil itu. Apakah ini bisa

disebut rumah? Rumah itu sangat sederhana juga tua.

Bisa tinggal berapa lama mereka di rumah kecil ini?

Di manakah tempat mereka bisa tinggal lebih lama?

“Aku akan memasak ikan untukmu!”

“Biar aku yang memasak,” kata Leng-ji. Dia membawa

ikan itu ke dapur. Ikan masih terus memberontak. Ikan itu

tidak tahu kalau dia akan mati dan akan dimasak.

Sepertinya ikan itu memberontak karena ingin hidup.

Siau-loo berdiri di pinggir melihat Leng-ji membersihkan

ikan.

Tiba-tiba di luar ada yang berteriak: “Leng-ji, Leng-ji…”

Leng-ji dan Siau-loo benar-benar terkejut, boleh

dikatakan malah bergetar.

Di luar ada yang berteriak lagi: “Siau-loo!”

Suaranya begitu merdu. Di dunia ini tidak ada suara

yang semerdu itu. Di dunia ini tidak ada suara yang bisa

membuat orang bergairah kecuali suara itu. Beberapa pagi

dan malam.

Leng-ji selalu merindukan suara yang dikenal-nya ini.

Dia tidak sedang bermimpi.

Hal yang terjadi tiba-tiba benar-benar di luar dugaan,

Leng-ji merasa curiga, apakah karena dia terlalu rindu

hingga salah dengar?

Hari Leng-ji bergejolak. Dia menolak kalau semua ini

karena pikirannya yang salah.

Benar itulah Siau-kai, tidak mungkin dia pergi dan tidak

kembali lagi.

Siau-kai adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa

dipercaya.

“Siau-kai…” teriak Leng-ji seperti gila.

Siau-kai bisa kembali lagi, itu adalah hal yang

menyenangkan.

Tidak mungkin Loo Cong tidak merasa senang.

Dia memang menyukai Leng-ji.

Tapi tidak mungkin berharap Siau-kai tidak kembali lagi.

Dia dan Siau-kai bukan tipe orang seperti itu.

Walaupun ketika kecil selalu berebut ingin menjadi

pengantin lelaki.

Leng-ji lari berhambur keluar rumah.

Karena terlalu senang semua ini hampir membuat Lengji

jadi gila.

Siau-loo lebih tenang.

Teriakan tadi tidak salah, memang teriakan Siau-kai tapi

setelah memangil nama mereka berdua, dia tidak masuk ke

dalam rumah.

Kalau benar Siau-kai kembali, mana mungkin dia tidak

masuk? Mana mungkin harus mereka yang keluar?

Kalau tidak ada perubahan aneh pada diri Siau-kai,

mungkin dia tidak mau diam di luar, dia akan masuk dan

memeluk Leng-ji.

Karena itu Siau-loo menarik Leng-ji.

Awalnya Leng-ji tidak mengerti dan terkejut.

Dia tidak tahu mengapa Siau-loo menariknya.

Tapi begitu melihat wajah Siau-loo yang serius dan

penuh perhatian dia segera mengerti maksud Siau-loo.

Benar, Siau-kai sangat aneh.

Siau-kai yang baru berpisah tidak lama dengannya

mengapa sekarang tiba-tiba menjadi sombong?

Tidak, tidak akan.

Kalau begitu, dia bukan Siau-kai.

Mereka buru-buru melihat dari sela pintu.

Keadaan di luar membuat Leng-ji sakithati.

Siau-loo pun terkejutbukan kepalang,

Ada apa dengan Siau-kai?

Apakah dia masih Siau-kai yang dulu? Meng-apa Siaukai

bisa melakukan hal ini?

Di luar memang ada Siau-kai. Baru satu bulan tidak

bertemu dia masih seperti Siau-kai yang dulu.

Tapi dirinya terlihat takut dan tidak ber-semangat,

sombong dan lupa diri.

Karena di sisinya ada putri raja Kao Tong yang

mengenakan baju dengan leher rendah, juga berdandan

dengan warna semarak.

Masih ada Mo Ki-thian dan 10 orang pembunuh dari

Eng-hong-pie-ya.

Keadaan ini terlihat begitu jelas.

“Apa yang terjadi?” tanya Leng-ji.

“Dia kembali ke Eng-hong-pie-ya.”

Tiba-tiba tubuh Leng-ji bergetar.

Karena kata-kata Siau-loo seperti pisau yang menancap

di hatinya.

Benar, pasti seperti itu.

Siau-kai telah kembali ke Eng-hong-pie-ya.

Mengapa dia kembali ke sana?

Leng-ji tidak mengerti.

Karena Leng-ji paling mengerti Siau-kai dia bukan tipe

penakut.

Dikejar dan akan dibunuh tidak akan membuat Siau-kai

bergetar, malah akan memunculkan niat melawan.

Kalau begitu mengapa bisa seperti itu?

Siau-loo sangat mengerti perasaan Leng-ji.

Dia sedih melihat kesedihan Leng-ji.

Dia sangat berharap Leng-ji bisa membagi kesedihannya.

Siau-loo menariknya:

“Tenanglah, jangan takut, Leng-ji!”

“Tidak, aku tidak percaya… aku tidak percaya, aku ingin

keluar!”

“Jangan!” cegah Loo Cong.

Kalau Leng-ji tidak percaya bisa dimaklumi.

Kalau dia segera percaya malah terlihat dia tidak

mengerti Siau-kai, juga tidak benar-benar menyukai Siaukai.

Maka Leng-ji pun memberontak, dia membuka pintu dan

berhambur keluar.

Loo Cong terkejut.

Dia tahu akibatnya akan seperti apa.

Maka dalam waktu singkat golok diambilnya dia juga

ikut keluar.

Dia berdiri di sisi Leng-ji.

Leng-ji sedang menarap Siau-kai dan melihat putri Kao

Tong yang berdiri di sisi Siau-kai, putri Kao Tong terlihat

seperti sedang tertawa, tawanya meng-andung arti seorang

perempuan yang berhasil memenangkan pertarungan cinta,

merasa senang juga bangga.

Wie Kai masih seperti dulu.

Dia tertawa gembira dan genit.

Yang pasti saat baru kembali ke Eng-hong-pie-ya dia

disiksa sampai babakbelur.

Tangan Mo Ki-thian melambai, anak buahnya segera

mengepung mereka.

Walau tidak terucap sepatah kata pun, tapi sudah cukup

membuktikan semuanya!

Dalam hidup Leng-ji belum pernah dia merasa semarah

ini.

Sekarang dia berhadapan dengan orang yang

mengingkari janji.

Yang paling menakutkan adalah perempuan itu yang

berdiri dengan sikap seperti seorang istri sambil menatap

Leng-ji, sorot matanya seperti sedang mengadili.

Seperti saat dia menatap ikan yang ada di dalam jala.

Wie Kai berkata kepada Loo Cong: “Karena kau datang

maka aku kembali!”

“Siau-kai!”

Tiba-tiba Loo Cong menutup mulut Leng-ji. Dia ingin

Wie Kai terus bercerita.

Walaupun bukti sudah ada di depan mata tapi dia harus

menjelaskannya.

“Orang yang benar-benar cocok denganmu adalah Siauloo,

kalian sangat serasi, aku tidak mau terus berlari, aku

tidak mau hidup seperti itu! Aku mewakili Eng-hong-pie-ya

menjodohkan kalian!”

Sorot mata Mo Ki-thian tidak pernah meninggal kan Wie

Kai.

Dia sepertinya sudah punya tugas menguji kesetiaan Wie

Kai.

Kesetiaan seseorang yang pernah bermasalah selalu akan

dicurigai.

Leng-ji pernah merasa dirinya akan hancur berkepingkeping.

Dia seperti terbuat dari serpihan salju, begitu terguncang

akan hancur.

Semua masa lalu tampaknya sudah tidak berarti lagi.

Semua tiba-tiba berubah menjadi tidak terlihat dan tidak

bisa diraba.

Leng-ji berteriak histeris: “Wie Kai…”

Dia datang ingin memukul Wie Kai.

Setiap pagi dan malam dia merindukannya sekarang

yang dia dapat hanya kalimat yang tidak bertanggungjawab.

Wie Kai menghindar.

Putri Kao Tong mundur beberapa langkah untuk

menyaksikan adegan yang akan terjadi.

Putri Kao Tong selalu menunggu-nunggu kejadian

seperti hari ini.

Dia sangat berharap Wie Kai membunuh perempuan

yang ada di depan mata.

Loo Cong marah dan berusaha melindungi Leng-ji lalu

berteriak: “Awas!”

Pembunuh yang dibawa Mo Ki-thian mulai menyerang.

Mo Ki-thian tetap berada di pinggir mengawasi.

Bukan hanya Seng Kong-kong yang masih mencurigai

Wie Kai, Mo Ki-thian pun masih tidak percaya kepadanya.

Tapi karena putri Kao Tong selalu menaruh rasa percaya

penuh kepada Wie Kai, maka Seng Kong-kong tidak bisa

terus menahan pendapatnya dan Mo Ki-thian pun lebih

tidak berani mengemukakan ketidak puasannya.

Beberapa kali Wie Kai memukul mundur serangan Lengji

yang ganas.

Terlihat tidak ada sedikit pun rasa sayang kepada Lengji.

Loo Cong melawan 5-7 orang pembunuh, dia melihat

Leng-ji sekarang yang sudah seperti gila, sama sekali tidak

peduli pada bahaya, hati Loo Cong pun seperti meneteskan

darah.

Hubungan seperti itu pun tidak bisa dipercaya.

Hubungan persahabatan antara 3 orang yang sejak kecil

dan tumbuh bersama, perasaan seperti itu pun bisa berubah.

Apakah di dunia ini masih ada yang bisa dipercaya?

Tiba-tiba Leng-ji merebut golok dari tangan

seorangpembunuh.

Sekali lagi dia menyerang dan membacok Wie Kai.

Darah Leng-ji sudah naik sampai ke ubun-ubun yang dia

lihatbukan bayangan manusia lagi.

Yang dilihatnya adalah bayangan setan yang tubuhnya

penuh dengan darah merah.

Hidup adalah siksaan.

Maka Leng-ji merasa ingin mati bersama dengan

orangyang telah ingkar janji dan ingkar hati.

Walaupun dia terus menyerang Wie Kai tapi karena

terlalu marah maka serangannya tidak tepat.

Pihak Mo Ki-thian pun mulai bergerak.

Pembunuh hanya mendengarkan kata-kata Seng Kongkong,

tidak peduli dengan persahabatan dulu yang terjalin.

Setiap kali Leng-ji mengalami bahaya Loo Cong akan

segera datang untuk menolong.

Tapi Loo Cong sadar walaupun mereka sangat berani

tapi akhirnya mereka akan kehabisan tenaga dan

tertangkap.

Loo Cong sangat berani dan tidak kenal takut. Leng-ji

hanya ingin mati bersama Wie Kai. Pertarungan seperti itu

tidak akan meng-hasilkan apa-apa.

Lawan yang datang sangat banyak, ditambah Mo Kithian

dan putri Kao Tong.

Keadaan sangat berbahaya.

Leng-ji berguling menghindari serangan Mo Ki-thian

berturut-turut.

Belum lagi berdiri tegak dua pembunuh lainnya telah

datang, berbareng Mo Ki-thian menendangnya hingga

mundur 5-6 langkah.

Kemudian datang 3 pembunuh lagi.

Wie Kai berhadapan dengan Loo Cong, tidak ada yang

kalah dan menang.

Ditambah seringnya Mo Ki-thian membantu menyerang,

walaupun Loo Cong bisa mengeluarkan kepiawaian golok

aneh pemberian Seng Kong-kong, dia tetap kesulitan

menghadapi musuhnya yang banyak.

Tapi Loo Cong tidak mau ditangkap begitu saja.

Lebih-lebih tidak mau Leng-ji jatuh ke tangan laki-laki

yang hatinya sudah berubah.

Mungkin jatuh ke tangan laki-laki yang hatinya sudah

berubah lebih baik, yang dia takutkan adalah Leng-ji jatuh

ke tangan perempuan Tibet itu. Benar-benar tidak

terbayangkan.

Mo Ki-thian berteriak:

“Saudara-saudara, hidup atau mati sama saja. Demi

membalas budi Seng Kong-kong kita harus menukar dengan

nyawa kita!”

Perkataan nyawa ditukar dengan nyawa dikeluarkan,

supaya anak buahnya berbuat dengan cara semut membelit

lipas, dengan mempertaruhkan nyawa untuk mencapai

tujuan.

Pertarungan bergeser dari pekarangan ber-pindah ke

dalam rumah.

Dari dalam rumah berpindah ke dapur.

Dengan pedangnya Mo Ki-thian menusuk jala yang

berisi ikan hingga berlubang, seekor ikan akan tergilincir

terjatuh ke bawah dan terus meloncat-loncat.

Loo Cong mengeluarkan jurusnya yang paling hebat.

Golok anehnya tidak ada yang bisa bertahan, 7-8 orang

pembunuh telah terluka. Lalu dia memeluk Leng-ji: “Kita

harus pergi dari sini!”

“Tidak!” Leng-ji tidak mau pergi dia terus memberontak.

Sekarang mereka telah terkurung oleh cahaya golok dan

pedang.

Loo Cong melindunginya, dia masih terus memukul

musuh sambil mundur dan berkata:

“Hari-hari akan datang masih panjang, kalau sekarang

kita tidak pergi, selamanya kita tidak akan bisa pergi dari

sini!”

Leng-ji masih memberontak.

Mo Ki-thian membentak dan datang untuk menyerang

lagi.

Golok aneh milik Loo Cong mengeluarkan cahaya asap

seperti es serut, Mo Ki-thian terpaksa mundur beberapa

langkah.

Dia juga telah melukai dua orang pembunuh dengan

golok anehnya.

Wie Kai benar-benar tidak punya perasaan dia terus

menyerang Loo Cong!

Itu alasannya Leng-ji tidak ingin hidup lagi.

Dia ingin mati bersama Wie Kai.

Leng-ji tidak pernah terlihat begitu ganas,

Pembunuh yang mati di tangannya sudah ada 4-5 orang.

Tapi orang yang ingin dibunuhnya adalah Wie Kai dan

putri Kao Tong.

Loo Cong sadar kalau mereka tidak pergi sekarang begitu

tenaga mereka habis mereka tidak akan mempunyai

kesempatan untuk melarikan diri lagi, dia membunuh dua

orang lagi dan meninggalkan garis pisau di pinggang Mo

Ki-thian.

Lalu dari belakang dia memeluk pinggang Leng-ji dan

berkata:

“Kita pergi!”

“Tidak!” Leng-ji menjawab dengan dingin. Tiba-tiba Loo

Cong menotok nadi di belakang leher Leng-ji dan

membawanya masuk ke dalam rumah.

“Jangan biarkan mereka kabur!” teriak putri Kao Tong

Loo Cong meloncat masuk ke dalam rumah melalui atap

yang telah berlubang lalu naik ke atas genting. Atap rumah

di sini memang sudah banyak lubangnya karena sudah

usang.

Mo Ki-thian dan Wie Kai masih mengejar masuk.

Empat pembunuh lainnya juga ikut masuk.

Loo Cong menjepit Leng-ji yang sudah pingsan lalu

meloncat, mereka sudah berada di atap rumah yang lain.

Pembunuh masih mengikuti mereka dari belakang,

mereka ikut meloncat karena menginginkan banyak emas,

bermain dengan nyawa pun tidak masalah!

Tapi ilmu meringankan tubuh mereka terlalu buruk dan

atap rumah memang sudah bobrok, dari 4 orang ada 3

orang yang terjatuh.

Ketika Mo Ki-thian, Wie Kai, dan lain-lainnya mengejar

sampai di sana, Loo Cong dan Leng-ji entah sudah pergi ke

arah mana.

Hanya terdengar derap kaki kuda yang berlari menjauh.

Itulah kelompok kuda milik Wie Kai dan putri Kao

Tong.

-ooo0dw0ooo-

BAB IV

Suara orang memukul ikan kayu (Bhoki) terdengar.

(Bhoki biasa dipukul di kuil oleh hweesio atau Nikoh).

Suara itu tidak terlalu keras, tapi setiap ketukan yang

keluar masuk ke dalam telinga dan bisa tersebar hingga

beberapa Li jauhnya.

Sekarang waktunya lonceng kuil berdentang, membuat

orang sadar dan membuat orang berpikir dalam.

Manusia hidup di dunia.

Sering bertarung dan berkelahi

Demi apa sebenarnya semua itu?

Apakah demi cinta?

Apakah demi nama dan keuntungan?

Atau demi balas dendam?

Suara ketukan ikan kayu bisa menjawab semua itu tapi

mereka berdua belum tentu mengerti.

Leng-ji telungkup di anak tangga. Dia ingin masuk ke

dalam kuil. Pintu kecil tertutup rapat.

Loo Cong berdiri di tempat agak jauh meng-awasi

situasi.

Loo Cong tidak tahu mengapa manusia harus hidup?

Apa lagi sekarang dia kewalahan dan tidak karuan, seperti

binatang yang terjebak.

Karena kata ‘cinta’, huruf ini dia bisa bertahan di dunia

ini dan huruf ‘bakat’ akan menghiasi alam semesta…

Loo Cong berkata pelan-pelan kepada dirinya sendiri.

Dia percaya huruf-huruf itu dari dulu hingga sekarang

semua terangkai dari air mata dan darah.

Cinta di dunia ini juga bisa dikatakan terangkai dari

darah dan air mata.

Sebuah rumah kecil yang terletak di gunung. Di

sekeliling tumbuh pohon-pohon hijau. Seperti jaman purba.

Leng-ji dan Loo Cong terus melarikan diri.

Mereka bukan hanya harus berlari, mereka juga masih

harus bermain umpet-umpetan dengan musuh.

Mereka harus berhati-hati, sebab sekali salah menduga,

pasti akan terjadi pertarungan sengit lagi.

Sekarang Loo Cong sedang duduk di atas batu di luar

rumah

Dia sedang berpikir.

Leng-ji sudah berubah seperti orang asing. Sehari berkata

tidak lebih dari 2 kalimat. Apakah Siau-kai sudah gila?

Apakah dia ular berkepala dua? Apakah dia dan Leng-ji

salah menilai dirinya? Dia selalu mengira dengan kata-kata,

bisa membaca wajah, walau tidak tahu isi hati. .

Untuk melukiskan keadaan Wie Kai bahwa semua itu

tidak benar.

Apakah karena kecantikan dan kegenitan putri Kao Tong

Atau karena wibawa, kekuatan, dan keun-tungan besar

hingga membuatnya tunduk kepada Seng Kong-kong?

Walaupun Siau-loo berpikir sampai kepalanya pecah, dia

tetap tidak mengerti.

Dari dalam rumah keluar suara pecutan. Mengapa

terdengar suara pecutan? Siau-loo terkejut dan meloncat

bangki t. Apakah putri Kao Tong dan Mo Ki-thian datang

lagi?

Dia segera berlari masuk ke dalam rumah, hatinya

menjadi dingin.

Ternyata Leng-ji sedang memecut dirinya.

Kebencian yang paling menakutkan di dunia ini bukan

membenci orang lain, melainkan membenci diri sendiri.

Leng-ji tidak mengerti apa salahnya. Hanya memecut

dirinya sendiri baru bisa mengurangi rasa sakit di dalam

hatinya.

Siau-loo masuk dan berteriak: “Leng-ji… apa yang kau

lakukan?” Begitu Siau-loo mendekat dia terkena pecutan

Leng-ji. Tapi Siau-loo tetap memeluknya. Leng-ji

memberontak. “Leng-ji… Leng-ji…”

Loo Cong seperti tertawa kepada seorang anak,

menepuk-nepuk pundaknya.

Leng-ji seperti gila terus memberontak:

“Aku tidak percaya… tidak percaya!”

“Leng-ji, percaya atau tidak, kita tetap harus meneruskan

kehidupan dan harus membuat kehidupan menjadi lebih

baik!”

“Aku tidak percaya!” Leng-ji berteriak histeris.

“Kalau kau mau membuktikan ini, kau harus berani

hidup lebih baik!”

“Aku tidak percaya… aku tidak percaya…” dia tetap

berteriak histeris, kalau terus begitu dia bisa gila.

Kejadian ini memang membuat orang tidak gampang

percaya.

Loo Cong dengan pelan berkata:

“Aku juga tidak percaya! Leng-ji, emas harus dilebur

dalam waktu lama, panah tidak mudah dilepaskan,

mungkin…”

Leng-ji tidak mendengar dua kalimat yang diucapkan

oleh Loo Cong.

Sekalipun dia mendengar mungkin dia tidak akan

mengerti maksud kalima t itu.

Loo Cong seperti tertular oleh Leng-ji. Dia sering minum

arak.

Dia tahu arak akan membawanya ke dunia yang

berbeda.

Arak akan membawanya terlepas dari kenyata-an.

Sepertinya dia sudah mempercayai arak yang bisa

membuatnya buta.

Sekarang dia minum sendiri.

Di sisi telinganya dia seperti mendengar kata-kata Seng

Kong-kong:

“Di dunia ini kalau laki-laki dan perempuan jatuh cinta,

patut untuk dipertimbangkan!”

Apakah Seng Kong-kong mengerti seperti apa hubungan

antara laki-laki dan perempuan?

Kalau di dalam semesta ini jumlah banyak yang

mempunyai perasaan yang patut dipertimbangkan,

mungkin hanya cinta, bukan laki-laki dan perempuan.

Tentu saja Loo Cong tidak mengerti prinsip yang begitu

dalam.

Di rumah La-ma masih terang benderang. Putri Kao

Tong berada di dalam kamar rahasia yang penuh dengan

corak budaya. Kata Wie Kai:

“Aku tidak setuju dengan kata-kata Kong-kong tadi!”

“Kata-kata yang mana?”

“Di dunia jika laki-laki dan perempuan terikat cinta patut

untuk dipertimbangkan!”

Putri Kao Tong setengah bersandar di ranjang besar.

Wie Kai berbaring sambil meletakkan kedua tangannya

di belakang kepala.

Terhadap hal di mana dulu dia penah melari-kan diri

dalam ingatan putri Kao Tong semua itu sudah memudar.

Kebencian antara laki-laki dan perempuan begitu naik ke

atas ranjang sangat mungkin akan mencair.

Paling tidak untuk sementara waktu bisa di-tutup dan

dikesampingkan dulu.

Apa lagi Wie Kai adalah orang yang pandai bermain

cinta!

“Dialah Kong-kong, itulah cara dia melatih orang untuk

menghadapi perubahan yang tidak biasa, dia benar-benar

membutuhkan orang berbakat!” kata putri Kao Tong.

“Aku bukan orang biasa?” tanya Wie Kai.

Mata genit putri Kao Tong terus berputar:

“Kau memang bukan orang biasa, kalau tidak, aku tidak

akan memaksa Kong-kong membunuhmu!”

“Dimana kau berada saat melihat kami menjalankan

eksekusi?”

“Di ruangan rahasia!”

“Bagaimana kalau kepalaku benar-benar dipenggal?”

“Apakah benar tidak mau dipenggal?”

“Dari mana kau melihat aku bukan orang biasa?”

“Kau… kapan aku bilang kau bukan orang biasa?” putri

Gai Tang balik bertanya.

“Kata-katamu sungguh tidak berpangkal!”

Dengan jari telunjuknya putri Kao Tong membereskan

rambut Wie Kai:

“Aku ingin memenggal laki-laki yang tidak berperasaan!”

Kegenitannya benar-benar membuat laki-laki tidak bisa

menahan diri.

Semua perempuan di dunia ini sama saja, apakah dia

adalah si cantik dari selatan atau gadis biasa, atau putri

orang kaya, atau gadis-gadis dari perbatasan. Asalkan dia

perempuan, dari lahir sudah mempunyai naluri untuk

membujuk dan merayu laki-laki.

“Mengapa kau menatapku terus?” tanya putri Kao Tong.

“Kalau bulan sedang terang, kita harus melihat ke atas,

kalau gelap kita menundukkan kepala!”

“Mengapa waktu menikmati keindahan bulan purnama

malah bermain bulan?”

“Menikmati, kata ini dipakai di sini terlalu lemah lembut,

lebih baik dikatakan ‘bermain’, itu lebih menarik!”

“Aku tidak mengerti!” kata putri Kao Tong. .

“Aku ingin tanya, kalau bermain di atas ranjang kita

saling sopan seperti tamu, apakah akan seru?”

Putri Kao Tong memijit hidungnya.

Wie Kai sudah menarik putri Kao Tong ke dalam

pelukannya.

Dan mereka bergulingan di atas ranjang.

Anak muda, laki-laki dan perempuan bila sudah menjadi

sepasang kekasih, banyak cara bermain cumbu-cumbuan!

Baju putri Kao Tong terlalu tipis, hampir tembus

pandang.

Terlihat dua gunung tinggi dan montok. Bagi seorang

perempuan Tibet hal seperti ini memang jarang terlihat.

Pantas dia begitu berharap dan begitu genit.

Wie Kai menggelitik ketiaknya.

Dia tertawa genit dan menghindar.

Wie Kai menarik kembali tangannya:

“Kalau dari awal aku tahu kau begitu tidak berperasaan,

aku lebih memilih dipenggal!”

Sambil terengah-engah putri Kao Tong membereskan

rambut panjangnya dan bertanya:

“Mengapa?”

“Bersekongkol dengan La-ma, mengacaukan ibu kota,

dan berencana memberontak, bila tertangkap oleh pihak

kerajaan, tetap akan dihukum mati…” kata Wie Kai.

“Bagaimana kalau kita berhasil?”

Pelan-pelan Wie Kai mengelus-elus paha putri Kao

Tong.

Tiba-tiba putri Kao Tong memeluknya:

“Bocah! Kau memang pandai!”

“Aku?”

“Betul, aku tidak bisa mengungkapkannya, yang pasti

kau benar-benar mempesona!”

Tangan Wie Kai mulai bergerak-gerak lagi.

Putri Kao Tong mencengkeram tangannya:

“Kau belum menjawab pertanyaanku?”

“Pertanyaan apa?”

“Bagaimana kalau kita berhasil?”

“Apakah bisa berhasil?”

“Mengapa kau tidak percaya kepadaku?”

Tiba-tiba Wie Kai membalikkan tubuh dan menindih

putri Kao Tong lalu berkata:

“Nanti kau dari seorang putri menjadi seorang ratu, aku

adalah kesatria yang akan menjadi suamimu!”

“Ha ha ha!!…” kali ini putri yang membalikkan tubuh

menindih Wie Kai, “aku benar-benar ingin memenggal

kepalamu!”

Wie Kai balik menindih lagi:

“Kalau kepalaku benar-benar dipenggal siapa yang di

atas rubuhmu sekarang?”

Putri Kao Tong memijit hidung Wie Kai.

Wie Kai mengelus-elus paha putri Kao Tong. Keindahan

di dalam kamar semakin kental.

Keindahan di gunung lebih indah lagi. Bunga-bunga liar

entah bernama apa. Mereka mekar dengan indahnya.

Burung-burung tampak berpasangan. Warna hijau di

gunung mulai terlihat. Bumi yang luas penuh dengan

kehidupan.

Wajah Leng-ji sangat pucat, sinar matanya pun hilang.

Semua seperti berhenti di musim dingin. Kebencian yang

terus melanda. Kesedihan tanpa batas terus menggerogoti

hati Leng-ji.

Kalau dia bisa mengerti mengapa semua terjadi, dia akan

segera mati.

Tapi sebelum mengerti dia tidak akan mati.

Tapi mata memang mudah saja melihat, hidup malah

terasa lebih sulit.

Bila seseorang merasa hidup ini sulit, coba kau pikir,

hidup seperti apa yang akan dia jalankan?

Sekarang Leng-ji berada di hutan bambu.

Saat merasa benci dengan sekuat tenaga dia akan

menepisbambu.

Dia harus menyiksa dirinya sendiri, baru bisa

mengurangi beban di hatinya.

Tiba-tiba dia mematahkan sebatang pohon bambu besar.

Dia menjepit tangannya di tengah-tengah bam-bu itu.

Darah mengalir keluar melalui bambu.

Dia masih mengira semua itu belum cukup untuk

membuatnya sakit.

Leng-ji ingin merusak sepasang tangannya. Sepasang

tangan yang pernah membuat iri dan kagum banyak gadis!

Tapi sekarang dia malah tidak menyayangi sepasang

tangannya ini.

Berkali-kali dia melakukannya. Sambil bicara sendiri:

“Lupakan dia… lupakan dia…” Dia pingsan.

Keadaan Loo Cong tidak lebih baik dari Leng-ji. Karena

dia tidak tahu harus dengan cara apa menghadapi Leng-ji.

Keadaan Leng-ji membuatnya sedih dan sakit.

Walaupun dia mati tetap tidak akan bisa mengobati luka

hati Leng-ji.

Loo Cong minum araknya lagi.

Hanya arak yang bisa membuatnya menikmati waktu

yang sebentar ini.

Dari hutan terdengar suara amarah.

Juga bisa terlihat pohon bambu tinggi ber-goyanggoyang

dengan cepat.

Leng-ji seperti sudah gila.

Dia tidak mau merepotkan Siau-loo lagi.

Leng-ji sangat tahu di hati Siau-loo yang ter-dalam

terkubur cinta yang dalam, cintanya tidak kalah dengan

Wie Kai.

Tapi Leng-ji tidak bisa menerima cintanya. Cinta yang

bisa diterimanya sudah berada dalam pelukan orang lain.

Mengapa Langit begitu kejam?

Dia meloncat dan menabrakkan diri ke pohon bambu.

Bambu yang batangnya sebesar mangkuk. Tubuhnya

terpental dan terlempar kebawah. Tangannya sudah

berdarah, bajunya pun banyak yang koyak.

Berkali-kali dia menabrakkan tubuhnya dan berkali-kali

pula terpental dan terbanting ke bawah.

Ada bambu yang ditabrak hingga patah.

Tangannya berdarah, sudut mulutnya pun keluar darah,

terlihat dia sudah terluka dalam.

Dia terus menabrakkan diri dan terlempar.

Tubuhnya terasa semakin sakit, tapi dia semakin tidak

berhenti.

Lebih baik aku mati!

Di dunia ini apa pun bisa terjadi.

Perempuan dari luar bangsa.

Uangnya banyak dan kekuasaannya hebat, masih ada

perjanjian antara Kong-kong dan perempuan itu yang

digunakan sebagai umpan. Siau-kai akan melakukan apa

pun. Sudahlah, lebih baik aku mati!

Siau-loo terhuyung-huyung masuk hutan.

Leng-ji baru terpental dan terlempar ke bawah.

Semua itu membuat hati Siau-loo sakit.

“Leng-ji… Leng-ji… jangan…” teriak Soau-loo histeris.

Leng-ji terpental lagi.

Luka dalam Leng-ji sangat berat, dia sudah

menghabiskan banyak tenaga.

Sorot matanya tersiksa dan pandangannya lurus. Dia

berhenti di sebatang pohon bambu yang sudah patah.

Patahan pohon bambu itu sangat tajam.

Tiba-tiba dia berhenti memikirkan untuk menabrakkan

diri ke pohon bambu tinggi itu.

Siau-loo hampir mabuk.

Dia datang dengan terhuyung-huyung sambil membawa

golok anehnya.

Tadinya dia ingin menggendong Leng-ji.

Dia seorang laki-laki, dia tidak akan memikir-kan

kematian.

Hanya kadang-kadang dia merasa tertarik. Jika bisa mati

bersama Leng-ji di sini… Bukankah ini hal yang tidak

pernah dia pikir-kan? Tiba-tiba Leng-ji datang sambil

menabrakkan diri lagi.

Saat akan terlempar ke bawah, Siau-loo merasa hatinya

bergetar, sebab di bawah ada potongan bambu yang sangat

tajam.

Dalam waktu yang sangat mendesak Siau-loo

menggulingkan diri.

Golok anehnya menyapu ke depan.

Dan bambu yang lancip sudah ditebang rata oleh Loo

Cong.

Hampir dalam waktu bersamaan Leng-ji ter jatuh. di

atasnya.

“Leng-ji…” Siau-loo berteriak histeris, “untuk apa kau

melakukan semua ini?”

Leng-ji tidak menjawab apa-apa.

Sudut mulutnya masih mengeluarkan darah, air mata

masih mengalir di wajahnya yang cantik.

Loo Cong menggendong sambil memungut sebotol obat.

Di bawah sinar lampu.

Leng-ji telungkup di atas ranjang.

Punggung-nya telajang karena penuh dengan luka.

Wajahnya bersimbah air mata. Punggung penuh luka,

siapa pun tidak tega melihatnya.

Pundaknya juga terluka dan di beberapa tempat menjadi

merah keunguan karena darah yang membeku.

Tangan Loo Cong sampai gemetar saat sedang

mengobati lukanya:

“Kau benar-benar pemberani dan percaya diri!”

Leng-ji tidak menjawab.

“Kalau kau tidak mempunyai keberanian dan rasa

percaya diri, kau tidak akan berani melarikan diri.” Leng-ji

tetap diam.

“Perasaan manusia bisa berubah, jalan di dunia ini

berliku-liku, bila sudah tidak ada jalan, kau harus bisa

mundur, bila jalan masih ada teruslah berjalan, kita harus

berjalan dengan cepat, Leng-ji, kau adalah gadis pintar.”

“Siapa bilang aku pintar?” Leng-ji bertanya dengan

bingung.

“Kalau kau bukan gadis pintar, di dunia ini tidak akan

ada orang yang lebih pintar lagi.”

“Kalau aku pintar mana mungkin aku bisa salah menilai

orang!”

“Leng-ji, masalah itu jangan di ungkit dulu untuk

sementara waktu!”

“Sebenarnya aku pun tidak mau mengungkit masalah ini,

tapi kalau kau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?”

“Leng-ji, apa yang kukatakan ini mungkin akan kau

anggap teori saja, tapi aku tetap harus membicara-kan,

orang yang ingin menaklukkan siluman harus bisa

menaklukan hatinya sendiri dulu, kalau hati terus

bergejolak siluman akan tahu, menaklukan mereka harus

dengan nafas kuat dan tenang, maka siluman tidak akan

menyerang balik kepada kita!”

Lama Leng-ji baru menarik nafas panjang:

“Siau-loo, kau benar-benar guru dan teman yang baik!”

Siau-loo tertawa kecut:

“Aku tahu, aku sendiri juga sulit menaklukkan diriku,

tapi jangan anggap kita tidak sanggup lantas menularkan

kepada orang lain!”

“Siau-loo, maafkan aku, aku benar-benar telah

merepotkanmu!”

Kesedihan Siau-loo sudah hilang separuh lebih karena

kata-kata ini-

Dia mulai mengobati luka di tangan Leng-ji: “Leng-ji,

kalau kau kasihan kepadaku, jangan menyiksa dirimu lagi!”

Leng-ji mengangguk.

Di Eng-hong-pie-ya. Malam sudah larut.

Di pekarangan tidak ada suara apa pun. Hanya ada Seng

Kong-kong dan Mo Ki-thian. Seng Yan-kong sedang

berjalan mondar mandir, dia tampak sedang berpikir.

Mo Ki-thian berdiri di sisinya menunggu. Dia selalu

seperti itu.

Di mana pun Seng Yan-kong berada, dia selalu berada di

sisinya.

Apa pun yang diperintahkan oleh Seng Yan-kong, dia

selalu mengiyakan.

Dia tidak perlu berpikir dan mengambil keputusan.

Seng Yan-kong akan memikirkan semuanya dan

mewakili dia mengambil keputusan.

Mo Ki-thian adalah orang seperti itu.

Seng Kong-kong percaya kepadanya.

Dia dipercaya karena dia tidak pernah punya pendapat

sendiri!

Artinya tidak ada rasa percaya diri.

Katanya orang yang ingin menjadi hweesio harus bisa

melakukan semua hal yang tidak ada sangkut pautnya

dengan dirinya, sesudah itu baru bisa mencari hal lain.

Tapi ingin menjadi manusia biasa tidak bisa seperti itu,

harus mempunyai pendapat sendiri.

Tiba-tiba Seng Yan-kong berhenti berjalan, dia melihat

langit.

Langit penuh dengan bintang, tidak ada yang aneh.

Tapi Mo Ki-thian pasti mengira di langit ada sesuatu,

ada rahasia.

Kong-kong bisa melihatnya.

Atau dewa-dewa di langit sedang melambaikan tangan

kepada Kong-kong.

Atau Kong-kong adalah dewa yang diutus langit?

Kong-kong bukan manusia biasa, pandangan ini sudah

dari awal ditanamkan dalam pikirannya.

Jika dewa yang diutus dari langit, apa yang dia lakukan

pasti bukan hal biasa.

Mo Ki-thian sangat percaya.

Bila seseorang sudah menjadi dewa, ayam dan anjing

yang dipeliharanya akan ikut menjadi dewa.

Maka dia sedang menunggu datangnya hari itu.

Di dunia ini Kong-kong akan melakukan hal besarbesaran

dan berkobar-kobar.

Mo Ki-thian memang bukan orang pintar dan berbakat,

dalam beberapa waktu ini dia mempunyai banyak masalah

kecil.

Hubungan Kong-kong dan putri Kao Tong sangat akrab.

Hubungannya dengan rumah La-ma pun akrab. Kongkong

sedang melakukan hal penting.

“Ki-thian!” Seng Yan-kong berteriak.

“Ada!”

“Menurutmu, kali ini kepulangan Wie Kai…” Mo Kithian

terpaku.

Karena dia benar-benar tidak menyukai Wie Kai.

Perasaan ini mulai ada ketika Wie Kai datang ke Enghong-

pie-ya.

Dan tidak sukanya bukan hanya sekarang saja tapi sudah

sangat lama.

Wie Kai pintar, dia sangat berbakat dalam ilmu silat.

Dia juga ceria, berjiwa besar, tampan pula.

Semua perempuan menyukainya.

Awal-awalnya yang mengetahui hubungan akrab Wie

Kai dengan Leng-ji juga dia.

Yang melapor dan mengadu kepada Kong-kong juga dia.

Agar Kong-kong percaya, dia diam-diam membawa

Kong-kong melihat Wie Kai dan Leng-ji yang bertemu

secara rahasia, maka Kong-kong segera menyusun rencana

merebut harta benda milik Seng-yan-koan-nu, dia menjadi

lakon penting.

Mo Ki-thian bukan orang yang selalu berada di bawah

orang lain.

Kadang-kadang dia bisa pintar.

Dia tahu setelah Kong-kong melihat pertemuan antara

kekasih itu pasti akan ada reaksi!

Karena paman Mo Ki-thian juga seorang kasim.

Dia sangat tahu bagaimana kehidupan pribadi seorang

kasim dan isi hati mereka.

Maka rasa sayang Seng Yan-kong kepada Wie Kai dan

Ling segera hancur.

Setelah berhasil merebut harta dengan tuduhan kejahatan

kepada mereka maka mereka diganjar hukuman penggal.

Kong-kong masih melihatlangit, dia bertanya:

“Bagaimana pendapatmu, Ki-thian?”

“Kong-kong, aku merasa seorang Wie Kai terlalu licik!”

“Oh!”

“Dan aku menganggap dengan kembalinya dia seorang

diri, ada sedikit janggal!”

“Janggal?”

“Betul, Kong-kong!”

“Coba kau jelaskan lebih detail!”

“Baik, Kong-kong!” Mo Ki-thian mendekati Kong-kong,

sambil membungkukkan tubuh dia berkata, “Lapor Kongkong,

aku sangat mengerti seorang Wie Kai.”

“Maka aku minta pendapatmu!”

“Kong-kong, dengan adanya hubungan antara Wie Kai

dan Leng-ji, ditambah dengan sifat Wie Kai, aku yakin

tidak mungkin dia mengkhianati Leng-ji!”

Alis Seng Yan-kong segera berkerut.

Dia benar-benar tidak bisa membantah kata-kata Mo Kithian.

“Tapi mengapa setelah kabur dari Eng-hong-pie-ya,

seharusnya dia bebas, tapi mengapa dia kembali dengan

menempuh bahaya?”

Semua orang tidak mengetahui jawabannya.

Siapa yang menjamin setelah kembali ke Pie-ya, Wie Kai

masih bisa mempunyai kesempatan untuk hidup lagi?

Tapi Seng Yan-kong tetap menghargai pen-dapat Mo Kithian.

Karena Mo Ki-thian pernah berkata:

“Siau-loo adalah anak petani dan dia sangat lugu.”

Tidak lama kemudian orang yang diperintah-kan

mencari Siau-loo dan Leng-ji menemukan mereka di sebuah

desa.

Walaupun akhirnya mereka tetap bisa kabur.

“Kata-katamu memang tidak salah. Hanya saja mengapa

dia kembali lagi kemari?” tanya Seng Kong-kong.

“Dia mempunyai rencana busuk!”

“Rencana busuk seperti apa?”

“Aku… aku tidak berani menebaknya!”

“Apa kau menduga dia benar-benar menyesal dan bosan

dikejar-kejar?”

Mo Ki-thian berpikir sebentar:

“Kong-kong, aku selalu merasa dia mempunyai rencana

terselubung dan bukan karena cintanya kepada putri Kao

Tong.”

“Apakah kau curiga dia mempunyai suatu hubungan

dengan putri Kao Tong…” tanya Seng Yan-kong.

Mo Ki-thian bukan orang bodoh, hubungan Kong-kong

dan putri Kao Tong juga dekat rnaka dia tidak banyak

bercerita tentang hal ini.

“Kong-kong, hambamu tidak berani sembarangan

menebak!”

“Oh!…” Seng Yan-kong mulai mondar mandir lagi.

Ini benar-benar masalah yang harus diperhatikan.

Terlihat Wie Kai benar-benar bosan, bosan terus berlari

dan dia ingin mengubah kesalahannya.

Ditambah lagi dengan adanya jaminan dari putri Kao

Tong, maka Kong-kong pun memaafkan Wie Kai.

Dia harus mengikuti kemauan putri Kao Tong.

“Saat kau, Wie Kai, dan putri Kao Tong pergi

menangkap Loo Cong dan Leng-ji, apakah kau melihat ada

yang lain pada Wie Kai?”

Dengan gugup Mo Ki-thian menjawab:

“Kong-kong, waktu itu aku tidak melihat ada kelainan,

Wie Kai pun seperti benar-benar bertarung dengan Loo

Cong, tapi kalau dia melepaskan mereka, orang luar sulit

melihatnya.”

“Oh!….”

“Dan mereka benar-benar bisa kabur!” Seng Kong-kong

mengangguk lagi. Paling sedikit dia menganggap pendapat

Mo Ki-thian benar, walau tidak ada bukti sedikit pun.

Waktu itu Loo Cong dan Leng-ji berebut seekor kuda.

Sampai-sampai Loo Cong menotok Leng-ji hingga

pingsan lalu membawanya pergi.

Dalam keada-an seperti itu Wie Kai sepertinya tidak

berusaha sekuat tenaga untuk menghadang.

Seng Kong-kong tahu bahwa di antara Wie Kai dan

Leng-ji sudah terjadi hubungan suami istri.

Walaupun akhirnya Wie Kai mengkhianati Leng-ji, dia

tidak akan bertindak terlalu kejam dan ini adalah hal yang

wajar.

Atau karena Wie Kai melihat Leng-ji dan Loo Cong, dia

jadi marah dan pergi, tapi tidak akan dalam waktu singkat

berubah total.

Perasaan hangat bukan orang biasa yang bisa memberi

kesan.

“Ki-thian!” panggil Seng Kong-kong.

“Hamba di sini!”

“Pasang meja untuk sembahyang!”

“Pasang di sebelah mana?”

“Di kebun ini.”

“Siap!” Mo Ki-thian membalikkan tubuh dan pergi.

Meja senbahyang sudah siap. Tidak ada plakat hanya

ada lilin besar, arak, dan buah-buahan.

Seng Kong-kong memasang dupa dan berlutut untuk

sembahyang, kemudian berdiri untuk berdoa. Apa isi doadoanya?

Semua ini hanya Seng Kong-kong sendiri yang tahu.

Setelah lama dia baru menuang arak katanya: “Aku pasti

bisa menangkap kalian…” Nada terakhirnya seperti

membeku di udara. Tapi Mo Ki-thian menganggap bila

Kong-kong bisa mengeluarkan kalimat seperti itu, dia pasti

bisa melakukannya, karena setiap perkataan Kong-kong, dia

tidak pernah merasa curiga dan percaya begitu saja.

Leng-ji dan Loo Cong masih melarikan diri. Mereka

terus berganti lingkungan. Siau-loo menggendongnya naik

gunung. Juga membawanya menyeberangi sungai.

Di atas gunung terlihat jejak kaki mereka. Di sungai juga

terpantul bayangan mereka. Di bawah terik sinar matahari.

Di bawah siraman hujan dan terpaan angin. Mereka saling

menghibur dan saling memberi semangat.

Senang dan duka ditanggung bersama, mereka tidak

pernah meninggalkan lawan.

Siau-loo tidak pernah mengomel.

Tapi Leng-ji harus sering menghindari sorot mata Siauloo.

Sorot mata Siau-loo lurus dan tidak mengandung

sesuatu.

Tapi sikap perhatian dan mengasihi membuat Leng-ji

tertekan.

Leng-ji takut dia akan luluh karena kasih sayangnya.

Manusia adalah makhluk yang paling penuh dengan

perasaan.

Sungai ini lebarnya hanya sekitar 30 tombak. Tidak ada

perahu untuk menyeberang, tapi sungainya tampak tidak

dalam.

Mereka sering menyeberang sungai seperti ini.

Siau-loo menggendongnya lalu selangkah demi

selangkah berjalan ke tengah-tengah sungai.

Air sungai mengalir sangat keras dan semakin dalam,

pinggang Siau-loo sudah terendam air.

Leng-ji sama sekali tidak bisa berenang, dia bertanya:

“Siau-loo, apakah airnya akan sampai ke atas kepala?”

“Aku tidak tahu air sungai ini sedalam apa, tapi kalau

sampai terendam melebihi kepala, itu tidak mungkin.”

“Kalau kita terpeleset, bagaimana?”

“Jangan takut, ada aku!”

“Apakah benar kau bisa berenang?”

“Disebut bisa juga tidak, tapi tidak akan membuatmu

berada dalam bahaya.

Tiba-tiba mereka terpeleset dan tenggelam.

Leng-ji berteriak.

Tapi air hanya merendam sampai ke dada Leng-ji, Siauloo

terapung lagi dan terus bergeser ke seberang sungai.

“Siau-loo, sepertinya kau berjalan lebih cepat

dibandingkan tadi.”

“Karena aku sedang berenang maka kakiku menginjak

air.”

“Menginjak air?”

Leng-ji melihat ke bawah ternyata dia sedang maju

sedikit demi sedikit, air pun hanya setinggi dada Siau-loo.

Karena kedua kaki Siau-loo sedang bergoyang-goyang di

bawah air.

“Siau-loo, tidak kusangka kau menguasai teknik seperti

ini.”

“Ini tidak ada apa-apanya!”

“Tidak, kau memangl ihai!”

“Sebenarnya teknik berenang Siau-kai lebih bagus

dariku!”

“Tidak! Jangan bicarakan tentang dia lagi!” Leng-ji

memukulnya.

“Baik, kita buat perjanjian, mulut tidak bicara di dalam

hati pun jangan memikirkan dia,” kata Siau-loo.

“Baik, kita berjanji!”

Di depan hutan ada bayangan berkelebat tapi mereka

berdua tidak melihatnya.

Untuk mengusir rasa sepi Siau-loo sering mengajarkan

pengetahuan tentang bertani kepada Leng-ji-

Matahari belum terbit mereka sudah berangkat, udara

belum panas.

Mereka berjalan di gunung sambil mengobrol.

“Leng-ji, tentang cara bercocok tanam, apakah kau masih

ingat?”

“Aku selalu lupa, aku sangat bodoh!’

“Di antara kita bertiga, akulah yang paling bodoh!” kata

Siau-loo.

“Tidak, kau tidak bodoh!”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Melihatmu melayani Seng Kong-kong d< mengatur

kami melarikan diri terbukti kalau kau pin* dan berbakat!”

Siau-loo tertawa, dia tidak bicara apa-apa lagi.

“Siau-loo, kau tiba-tiba seperti memikirkan sesuatu?”

“Kalau aku sepintar Siau-kai, alangkah baik-nya!” “Kau

harus didenda sebab di antara kita sudah ada perjanjian,

tidak membicarakan tentang dia lagi!”

“Kau juga didenda kepada dirimu sendiri!” Leng-ji tibatiba

menarik nafas panjang!

-ooo0dw0ooo-

BAGIAN IV

BAB I

Sebuah sungai menghadang lagi di depan.

Sepanjang perjalanan mereka sudah melewati banyak

sungai.

Tapi sungai ini sangat lebar juga terlihat dalam.

Leng-ji mencuci tangan dan membasuh muka-nya ditepi

sungai.

Karena siang malam terus melarikan diri, Leng-ji sadar

sekarang dia sudah bukan Leng-ji yang dulu lagi.

Dia melihat bayangannya di permukaan air.

Rambutnya berantakan, kedua matanya tidak

bersemangat.

Wajahnya tidak seperti dulu lembut dan bercahaya.

Sekarang dia kurus.

Sekarang dia bukan perempuan montok. Sekarang dia

benar-benar terlihat kurus.

Air sungai sangat dingin, setelah mencuci muka dia

merasa lebih nyaman dan segar.

“Leng-ji, duduklah sebentar di sini ber-istirahat.”

“Bagaimana denganmu?”

Loo Cong melihat sekeliling:

“Sebenarnya di sini ada perahu untuk menyeberang!”

“Betul, pasti ada!”

“Coba ku lihat ke sebelah sana, di sana seperti-nya ada

pelabuhan kecil.”

Sungai itu lebarnya 30 tombak, lebih, apa lagi kalau

sedang musim hujan bisa sampai 60 tombak lebih.

Seharusnya ada perahu untuk menyeberang.

Loo Cong berjalan ke sebuah pohon bambu di sana.

Dia menoleh melihat Leng-ji masih duduk. Sekali-sekali

membersihkan wajahnya dengan lengan baju.

Udara terasa panas

Matahari berada di tengah-tengah.

Dia sering berpikir:

‘Kalau aku perempuan lemah seperti Leng-ji, apa yang

akan kulakukan?’

Kalau dia adalah Leng-ji, belum tentu dia lebih kuat

darinya.

Maka Loo Cong melambaikan tangan, berteriak: “Lengji…

Leng-ji… kemarilah!” Leng-ji menoleh.

Dia terlalu lelah, sesudah duduk, dia begitu malas

berdiri.

Loo Cong harus beberapa kali memanggil, baru dia mau

berdiri.

“Di sini ada pohon, udaranya lebih sejuk!” Leng-ji berdiri

dan berjalan ke sana.

Di sana memang ada tempat seperti pelabuhan kecil.

Loo Cong melihat ke dalam hutan bambu, dia merasa

senang karena di sana ada sebuah sampan.

Ternyata bambu-bambu besar itu tumbuh di dalam air.

Hanya saja air di sini sangat dangkal, paling-paling

dalamnya 3-4 kaki.

Di atas sampan ada seorang pak tua yang sedang tidur,

dengkurannya terdengar jelas.

Loo Cong tertawa.

Orang yang hidup di sini lebih santai dibanding kan

orang yang hidup di kota yang ramai. Dia berpikir:

‘Kalau masalahnya sudah selesai dan tidak dikejar-kejar

lagi, dia ingin mencari tempat sepi dan indah, belajar

kepada pak tua itu, bukankah itu adalah hal yang sangat

menyenangkan?’

“Siau-loo, ada apa?”

Leng-ji sud ah berada di belakangnya.

Loo Cong menatap Leng-ji dan menunjuk ke arah

sampan:

“Leng-ji, apakah kau mengagumi pak tua itu?”

“Benar, buat kita sekarang ini kehidupannya seperti

dewa!”

“Hidupnya seperti hidup di luar dunia, apakah benar?”

“Benar membuat orang iri!”

Loo Cong membangunkan pak tua itu.

Dia belum begitu tua, paling-paling usianya bai sekitar

50 tahun.

Romannya sehat dan sangat bersemangat.

Dia menggosok-gosok matanya dan melihat orang yang

ada di depannya lalu tertawa:

“Baik sekali! Ji-wie yang agung, apakah kalian berdua

sudah lama menunggu?”

“Kamibaru tiba!”

“Ada yang datang berarti ada uang masuk, itu sangat

baik!”

“Apakah biasanya jarang ada tamu yang menyeberangi

sungai?”

“Benar, tempat terpencil seperti ini terkadang sehari

hanya ada 2-3 orang, terkadang sehari penuh tidak ada yang

menyeberang sama sekali!”

Dia mulai mendayung sampan.

Setelah naik sampan, pak tua itu mulai mendayung

dengan bambunya, lalu katanya:

“Kalian berdua adalah tamu yang jarang ada!”

“Apa artinya?” tanya Leng-ji.

“Aku sudah lama menunggu!”

Loo Cong, Leng-ji terkejut:

“Pak tua menunggu kami?” tanya Loo Cong.

“Benar,” pak tua itu sudah mendayung hingga keluar dari

hutan, mereka mulai berada di tengah-tengah sungai, di sini

dalamnya sekitar satu setengah tombak.

Karena bambu untuk mendayung panjangnya sekitar 3

tombakhanya separuhnya berada di atas air.

“Yang aku tunggu adalah tamu kaya seperti kalian

berdua.”

“Lo-pek, penampilan kami seperti ini, mengapa

mengatakan kami berdua adalah tamu kaya?”

Pak tua itu tertawa terbahak-bahak: “Anak muda, di

dunia ini siapa yang punya harga jual lebih tinggi dari

kalian?”

Loo Cong termangu lalu katanya: “Lo-pek terlalu

memuji!”

“Kalian berdua tidak perlu merendahkan diri, coba kau

pikir, berapa harga jual seorang tuan muda kaya, pesilat

muda, apakah bisa mencapai 10 ribu tail emas?”

Leng-ji dan Loo Cong terkejut.

Nyata Seng-yan-kong telah masuk sampai ke lubanglubang

yang sangat kecil.

Sebenarnya bukan Seng-yan-kong yang bisa masuk ke

lubang-lubang kecil.

Melainkan nilai 10 tail emas itu sangat menyilaukan, bisa

bersinar hingga ke semua penjuru!

Loo Cong segera memegang goloknya, bersiap:

“Ternyata kau orang yang sengaja menunggu kami!”

“Di bawah kilauan uang puluhan ribu tail emas, bisa

tidak sengaja, bisa juga disengaja!”

“Siapakah Tuan? Berani sekali mencegat kami, aku yakin

kau bukan orang yang tidak bernama!”

“Kami bukan orang terkenal, kami dua bersaudara

biasanya mengandalkan air mencari makan, ilmu silat kami

tidak begitu tinggi, tapi ilmu di dalam air harus

melihatbagaimana nasib kalian berdua!”

Wajah Leng-ji berubah.

Tapi Loo Cong tetap dengan tenang tanyanya:

“Nama kalian berdua adalah…”

“Aku adalah ular air, In Hai, adikku adalah tikus air, In

Kang!”

“Berarti ular dan tikus berada dalam satu sarang?”

“Apakah kau Loo Cong?”

“Benar!”

“Bocah, hargamu tidak sampai 5 ribu tail emas!”

“Oh ya?”

“Apakah perempuan itu Lim Leng-ji, Harganya 6 ribu

tail emas!”

Perahu sudah berada di tengah-tengah sungai.

Bila melihat ke dasar sungai, air mengalir dengan cepat,

warna airnya hijau tua, berarti airnya sangat dalam.

Loo Cong berencana menangkap hidup-hidup orang ini,

agar semuanya menjadi lebih baik.

Tapi begitu Loo Cong bergerak In Hai mem-bawa

bambu panjang itu langsung terjun ke dalam sungai lalu

menghilang.

Perahu kecil itu mengikuti arus sungai mengalir ke hilir.

“Siau-loo, celaka!”

“Jangan takut, ada aku!”

“Siau-loo, aku sama sekali tidak bisa berenang!”

“Jangan jauh-jauh dariku, kedua orang itu punya nama

jahat juga ganas, ilmu mereka di dalam air sangat bagus…”

Tiba-tiba bambu panjang datang dari dalam air. Awalnya

melubangi dasar perahu kemudian menye-rang mereka.

Loo Cong mencengkeram bambu itu.

Orang-orang yang ada di bawah air menarik dengan

sekuat tenaga, sedangkan yang ada di atas tidak melepaskan

cengkeramannya.

Perahu mulai tenggelam.

Leng-ji berteriak.

Loo Cong segera melepaskan cengkeramannya.

Dia segera memegang Leng-ji dan berkata:

“Kita pasti jatuh ke dalam air sungai begitu aku

menyuruhmu menahan nafas, kau harus menahan nafasmu,

tapi sebelumnya kau harus mengambil nafas dalam-dalam

dulu.”

“Siau-loo, walaupun aku mengambil nafas dalam-dalam,

tapi tidak akan bisa bertahan lama!”

“Leng-ji, jangan takut, secepatnya aku akan keluar dari

air dan membawamu ke permukaan air untuk mengambil

nafas…”

Bambu datang lagi tapi dengan cepat ditarik kembali.

Sampan sudah dilubangi dengan 2 lubang besar, air

segera masuk ke dalam perahu.

Sampan mulai tidak seimbang.

Orang yang tidak bisa berenang, di saat seperti ini pasti

sangat takut kepada air.

Leng-ji mulai gemetar.

“Jangan takut, mereka tidak akan mudah

melakukannya…”

Sampan tiba-tiba miring.

“Leng-ji, aku akan menghitung 1.2.3, kita sama-sama

meloncat ke dalam air dan berenang ke seberang sana. Kita

sebisanya meloncat sejauh mungkin, kalau sudah jatuh ke

dalam air, di dalam air ada aku!”

Mereka sekuat tenaga meloncat ke seberang sungai.

Yang pasti mereka meloncat ke dalam air yang mengalir,

apa lagi dengan sampan yang hampir ter-guling sulit

menjaga keseimbangan tubuh, juga sulit menggunakan

tenaga.

Mereka meloncat tidak lebih dari 7 tombak lalu terjatuh

ke dalam air.

Loo Cong cepat-cepat mencengkeram rubuh Leng-ji yang

terus tenggelam.

Orang yang tidak bisa berenang begitu terjatuh ke dalam

air cukup repot jika ingin menolongnya, orang itu akan

sembarangan memukul dan menggapai-gapai sesuatu.

Kalau bukan orang yang berpengalaman menolong

orang seperti itu dari dalam air, mungkin dia sendiri akan

ikut tenggelam.

Loo Cong bukan orang seperti itu.

Loo Cong mencengkeram Leng-ji dan segera memberi

tahu:

“Leng-ji, tanganmu jangan terus bergerak, kau harus

percaya kepadaku, sekarang tahan nafas…”

Loo Cong melihat ada orang sedang mendekati mereka

di dalam air, maka Loo Cong segera masuk ke dalam air

lagi.

Ternyata orang itu adalah tikus air, In Kang, dia datang

membawa golok dan berniat akan menyerang Leng-ji.

Loo Cong menghindari serangan ular air, In Hai dari

belakang.

Loo Cong sadar Leng-ji tidak bisa bertahan lama di

dalam air.

Maka dia menyerang In Kang dulu.

Dia melihat ilmu silat mereka tidak tinggi.

Tapi ilmu di dalam air mereka sangat hebat, Loo Cong

masih kalah oleh mereka tapi perbedaannya tidak jauh.

In Kang ingin menghindar tapi sulit meng-hindari

pukulan mautitu.

Golok aneh turun dan naik.

Ketiak kiri In Kang terluka, tangan kirinya hampir

tertepis.

In Hai terkejut, pisau belatinya segera menye-rang dari

belakang.

Loo Cong menghindar, dia terus naik ke atas.

Setelah muncul ke permukaan air Leng-ji terus terbatuk.

Karena menahan nafas terlalu lama dia minum air

sungai itu.

“Leng-ji, sekali lagi tahan nafas!”

“Tidak, Siau-loo… aku akan mati kehabisan nafas dan

minum air sampai mati!”

“Leng-ji, bertalianlah, tidak ada cara lain lagi?”

Terpaksa Leng-ji mengambil nafas dalam-dalam.

Sekali lagi mereka masuk ke dalam air.

Saat pisau belati In Hai datang, dia berniat menyabet

kaki kanan Loo Cong.

Loo Cong menarik kakinya, In Hai tidak bisa

menghentikan laju tubuhnya, dia naik ke permukaan.

Golok aneh milik Loo Cong ditarik dan di-dorong, tapi

kakinya telah tertusuk oleh pisau belati.

Bertarung dengan golok di dalam air tidak bisa menepis

atau menyapu, hanya bisa menarik dan mendorong, sebab

terhalang oleh pusaran air.

Orang yang biasa bermain dengan air selalu

menggunakan mayonet yang bisa melemahkan pusaran air.

Dua bersaudara ini seumur hidup mereka selalu berbuat

kejahatan. Orang yang mati dibunuh mereka di dalam air

sudah banyak.

Tapi mereka bukan lawan Loo Cong.

Dalam waktu yang sangat singkat belatinya berhasil

dipukul.

Bertarung dengan kekuatan tangan kekuatan-nya berbeda

jauh dengan Loo Cong! Begitu Golok aneh ditarik, leher In

Hai terpotong separuh.

Leng-ji terus memuntahkan air di darat sana. Dia minum

banyak air.

“Leng-ji, aku benar-benar menyulitkanmu!”

“Siau-loo, kalau kau seperti aku tidak bisa berenang, apa

yang akan terjadi?”

Loo Cong tertawa kecut. Banyak kejadian di dunia ini

yang sulit diduga. Tapi mereka percaya yang di atas akan

mem-beri jalan.

Seng Kong-kong dan putri Kao Tong semakin akrab.

Ini membuktikan kalau rencana mereka sudah berada

pada tahap matang.

Seng Kong-kong adalah orang yang bisa bekerja

mengurusi hal penting.

Maka semua rencananya berjalan sangatlancar.

Putri Kao Tong sedang berada di ruang rahasia Kongkong.

Dia duduk di sisi meja panjang, melihat Kong-kong

sedang mengcap perjanjian yang ditulis di atas kertas.

Cap nya terbuat dari batu giok, bisa diketahui milik

siapa.

Di atas sutra yang bercorak naga dan burung Hong

berwarna kuning tua, terdapat bahasa Han dan bahasa

Tibet.

Ke dua belah pihak siap menggunakan cap nya.

“Putri, setelah beberapa bulan kita bekerja keras baru

sekarang ada hasilnya,” kata Seng Kong-kong.

Putri Kao Tong merasa sangat senang, katanya:

“Yang jelas hubungan kita yang akrab baru terasa hari

ini.”

Seng Kong-kong membawa kain yang tertulis perjanjian

katanya:

“Kita bersulang, pekerjaan kita berjalan lancar dan

sukses!”

Saat mereka baru mengangkat cangkir.

Tiba-tiba Seng Kong-kong seperti melihat sesuatu.

Dia duduk tidak bergerak kemudian terbang ke atas.

Wie Kai sedang berdiri di teras, siap berlari. Tapi Seng

Kong-kong sudah turun dari atas dan menghadangnya.

Wie Kai sangat terkejut. ‘Penjahat tua ini benar-benar

tidak bisa di angga enteng,’ pikirnya

Mo Ki-thian segera datang menjilat. Dia menangkap

Wie Kai.

Keadaan benar-benar menyulitkan Wie Kai. Dia

tertangkap, dan bukti sudah ada di tangan. Seng Kong-kong

tertawa sinis.

Kalau tidak sengaja untuk apa diam-diam melihat.

Kalau bukan karena mengetahui rencana besar ini dan

mengerti rencana ini, mengapa bisa kebetulan lewat di sini?

Kalau masalah ini sampai bocor sebelum terjadi, apa

akibatnya?

Seng Kong-kong marah besar: “Wie Kai, apa yang kau

lakukan?”

“Cepat katakan!” bentak Mo Ki-thian.

Wie Kai membuka kedua tangannya, berarti dia tidak

tahu apa-apa.

Dia juga menyatakan kalau sudah memaafkan dan tidak

mencurigai dia lagi, memberinya kebebasan, mengapa dia

tidak boleh lewat sini?

Tanpa perasaan Seng Kong-kong berkata:

“Kalau kau tidak bisa menjelaskan alasanmu berada di

sini, aku akan membereskanmu sekarang juga!”

Tiba-tiba Wie Kai terpikir sebuah pertolongan.

Dia melihat putri Kao Tong.

Tapi sikap putri Kao Tong seperti menyalahkan dia yang

terlalu mengurusi banyak hal, tidak tahu besar atau kecilnya

permasalahan.

Banyak tempat Wie Kai bisa pergi, mengapa sengaja

datang kemari?

Setiap saat dia bisa kemari, tapi mengapa sengaja datang

di saat ini.

Melihat Wie Kai seperti itu putri Kao Tong pun

mencemaskan keadaannya.

Putri Kao Tong khawatir, jika Wie Kai dipaksa berkata

jujur, dia pun tidak akan bisa menolong Wie Kai lagi.

Sebab saat bercanda Wie Kai pernah berkata:

“Bersekongkol dengan La-ma membuat kerusuhan di ibu

kota, bila tertangkap oleh pemerintah pasti akan mati…”

Putri Kao Tong mengira Wie Kai hanya iseng saja,

diam-diam melihat juga mendengar.

‘Wie Kai, kau benar-benar tidak tahu bahaya!’ pikir putri

Kao Tong.

Wie Kai tertawa kecut:

“Apa yang akan kulakukan? Kali ini aku kembali ke sini,

untung Kong-kong tidak memenggal-ku, malah

memberikan tugas besar, budi ini belum terbalas, apa yang

bisa kulakukan?”

“Ini bukan alasan tepat!” bentak Kong-kong.

Mo Ki-thian mengayunkan tangannya ingin menampar,

tapi Wie Kai menghindar.

Mo Ki-thian terus membentak:

“Kau masih mau membantah?”

“Aku membantah apa? Putri menyuruhku datang ke sini

untuk menjemputnya, apakah aku tidak boleh menunggu di

sini?”

“Ini…” Mo Ki-thian melihat putri Kao Tong

Seng Kong-kong juga melihat putri Kao Tong.

Putri Kao Tong tahu Wie Kai hanya bicara

sembarangan.

Tapi Wie Kai pandai dan pintar, walau sedikit

menyimpang dari kebenaran.

Putri Kao Tong jadi semakin menyukainya. Putri Kao

Tong sudah tidak peduli pada banyak orang.

Wie Kai sudah menunjukkan hubungan mereka yang

tidak biasa dan hati Wie Kai sudah beralih kepada nya.

Wie Kai tidak menutupi rasa cinta dan sikap setianya

kepada putri Kao Tong, sekalipun di depan Kong-kong.

Seorang perempuan jika sudah mencintai laki-laki, dia

bisa memaafkan semua kesalahannya, ter-masuk

kebohongan juga kejahatan lainnya.

Seorang perempuan jika tidak mencintai, dia tidak akan

peduli pada siapapun, sekalipun pernah menanam budi

yang banyak kepadanya.

Sekarang putri Kao Tong harus punya sedikit

keperhatinan.

Sebab dia menduga Wie Kai sudah tahu rahasia nya

dengan Kong-kong.

Tapi putri Kao Tong menganggap Wie Kai tidak akan

lolos dari genggamannya.

“Aku yang menyuruhnya menunggu di sini, dan kami

akan pulang bersama-sama,” katanya.

Seng Kong-kong sepertinya tidak percaya.

Apa lagi Mo Ki-thian, tidak percaya juga harus percaya.

Apa boleh buat!

Rahasia ini bukan hanya Seng Kong-kong saja yang tahu

putri Kao Tong pun tahu. Tapi dia tidak peduli, dia seperti

sanggup menguasai Wie Kai.

Mereka berdua sudah seperti perangko. Tidak pernah

berpisah.

Putri Kao Tong menyuruh Wie Kai menunggu, itu

bukan tidak mungkin.

Laki-laki dan perempuan bila sudah saling jatuh cinta,

langit runtuh pun belum tentu akan mem-buat mereka

bergetar.

Yang di atas sudah mengatur semua seperti itu.

Karena Yang di atas khawatir manusia tidak bisa

melanjutkan keturunnannya!

Mo Ki-thian tahu Wie Kai sedang berbohong.

Dia sedang berpikir mau membongkar kebohongannya,

tiba-tiba Seng Kong-kong melambaikan tangan:

“Sudahlah!”

Terpaksa Mo Ki-thian menurunkan tangannya.

Wie Kai membereskan bajunya, dia tertawa pada putri

Kao Tong.

Tadi dia merasa sudah berputar-putar di depan pintu

dewa kematian.

Putri Kao Tong terus melihatnya.

Di bawah sinar bulan. Di sebuah gubuk. Loo Cong

duduk di atas rumput kering, Leng-ji sedang membubuhkan

obat ke luka pada Loo Cong. “Apakah terasa sakit?”

“Hanya bencana kecil!”

Kakinya ditusuk oleh ular air In Hai. “Bila ada

kesempatan, aku ingin belajar ilmu air kepadamu!”

“Bisa ilmu di dalam air, pasti akan ada guna-nya!” Lengji

diam.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada!”

“Kau sudah mulai belajar berbohong!”

Leng-ji tertawa kecut: “Apakah benar aku sering

berbohong?”

“Kau tidak hanya pandai berbohong, kau juga pandai

menutupi kebohonganmu!” Tiba-tiba Leng-ji tertawa.

Kaki Loo Cong sudah dibalut, diabertanya: “Apakah

luka di tubuh dan tanganmu sudah sembuh?”

Leng-ji mengangguk.

“Coba tebak, sekarang Seng Kong-kong sedang

melakukan apa? Dan ingin melakukan apa?” tanya Loo

Cong.

“Sedang marah dan sedang mengomel!”

“Menurutku, dia sedang menyusun rencana dengan Mo

Ki-thian, dan berbisik-bisik dengan putri Kao Tong!”

“Pengkhianat itu….” kata Leng-ji sambil menganguk.

Loo Cong ingin melarang tapi sudah tidak sempat: “Kau

mengungkit tentang dia lagi!”

“Tidak apa-apa kita mengobrol tentang dia?”

“Leng-ji, kebesaran jiwamu tidak seluas seperti yang

kukira!”

“Sekarang aku bisa!”

“Apakah benar kau bisa?”

“Benar!”

“Apakah sudah bisa melihat jelas semua masa-lah ini?”

“Belum sampai pada tahap itu! Tapi punya cermin

sendiri, jika dia tidak bisa melihat dirinya sendiri, pedang

pun tidak bisa memukul dirinya!”

Loo Cong menyambung:

“Puisi tidak bisa dibaca sendiri, indah tidak bisa

dirasakan sendiri, kejahatan tidak bisa ditutupi sendiri,

apakah benar?”

“Yang terakhir, kejahatan tidak bisa ditutupi sendiri,

semua sudah terungkap, untuk apa kita harus merasa

sedih?” tanya Leng-ji.

“Leng-ji, kebesaran jiwamu sudah mencapai tingkat

baru!”

“Tidak seperti yang kau katakan!”

Tiba-tiba Loo Cong terlihat serius.

Bersamaan waktu mereka berdua terpaku. Ini gubuk.

Gubuk terbuat dari rumput kering atau dari batangbatang

padi dan daun gandum yang sudah mengering.

Kadang pemburu menginap di sini untuk menghindari

hujan dan angin.

Kadang petani sementara waktu tinggal di sini, atap dan

dinding gubuk terbuat dari rumput-rumput kering.

Gubuk seperti ini ada kebaikan juga ada keburukannya.

Bila ada yang menyentuh gubuk ini, suaranya akan

segera terdengar jelas.

Sekarang mereka berdua bersamaan berdiri.

Mereka saling pandang dan memasang kuda-kuda,

pengalaman memberitahu mereka di luar ada orang.

Tiba-tiba di sekeliling sudah banyak tombak yang

menerjang masuk.

Ruangan gubuk sangat kecil.

Hanya ada satu tempat untuk meletakkan ranjang d an

tempat sebesar ranjang yang masih kosong.

Ingin menghindar serangan 3 serangan benar-benar sulit.

Makan mereka bersamaan waktu meloncat ke atas

hampir menempel di atap gubuk.

Gubuk itu dari bawah sampai atap tingginya tidak lebih

dari 5 depa.

10 buah tombak yang menusuk masuk panjangnya 3

sampai 5 kaki, tapi tidak mengenai sasaran. Hanya sebuah

tombak yang berhasil menyobek baju Leng-ji.

Gubuk terlihat sempit lagi.

Jika ingin keluar dari sana satu-satunya jalan harus

menginjak tombak supaya bisa mental keluar.

Tapi orang-orang di luar hampir tidak memberi mereka

waktu untuk bernafas.

“Kita pergi dari sini,” Loo Cong dan Leng-ji menginjak

tombak yang masuk dan keluar dari gubuk itu. Gubuk

sudah disiram minyak dan mulai dibakar.

Di luar ada 17-18 orang sedang berdiri, mereka adalah

San-hiang Cong-to, Tong-cu atau Hiang-cu.

Satu dari 2 orang itu Loo Cong pernah bertemu

dengannya.

Yang paling depan adalah Tong-cu dengan tinggi 8 kaki,

bernama Cian-siu, orang itu selalu menggunakan tombak

panjang.

Maka anak buahnya yang berjumlah 10 orang lebih

semua menggunakan tombak panjang.

“Aku hanya tanya, apakah kalian mau ikut kami pergi?”

tanya Cian-siu.

Loo Cong meludah ke bawah sebagai jawaban.

Jawaban seperti itu sudah cukup.

Waktu itu puluhan tombak datang menyerang-

Dengan goloknya Loo Cong menyapu, tiba-tiba dia

mencengkeram sebuah tombak dia menendang.

Terdengar suara dari atas, lagi 5 buah tombak panjang

menerobos masuk.

Mereka berdua berputar di atas udara.

Baju Loo Cong sudah berlubang, dan daging di

pantatnya teriris.

Baju Leng-ji bagian ketiak pun sudah ber-lubang. orang

yang memegang tombak dan tombaknya langsung

dirampas.

“Leng-ji, sambut ini!”

Leng-ji pernah berlatih ilmu tombak.

Karena tombak itu panjang maka orang yang membawa

tombak jenis ini hanya sedikit.

Mereka berdua, yang satu memakai golok yang satu lagi

memakai tombak, mereka bergabung rapi maka dalam

waktu singkat bisa membuat 2 orang terluka lagi.

Cian-siu sendirian menyerang, keadaan agak genting.

Karena mereka mempunyai formasi tombak yang

handal.

Puluhan orang menyerang dari semua penjuru, ada

beberapa yang menyerang dari bawah ke atas. Gerakannya

benar-benar sangat sadis.

“Leng-ji, di atas….”

Loo Cong berteriak, tiba-tiba dia meloncat menepis

tangan seorang musuh, tapi punggung Leng-ji sudah

tergores panjang.

Melihat anak buahnya mati 4-5 orang dan banyak yang

terluka, Cian-siu segera menyuruh anak buahnya mundur.

Tidak lama kemudian mereka sudah meng-hilang ke

dalam hutan.

“Bagaimana dengan lukamu, Leng-ji?”

“Tidak begitu parah, tadi aku sangat terkejut melihat

puluhan tombak datang menyerang ke gubuk.

“Yu Tai-jin sudah mati! Mereka sulit menang tapi masih

ingin mencoba-coba.”

“Emas senilai 10 ribu tail adalah mimpi setiap manusia,

pantas kalau mereka seperti itu!”

Loo Cong mulai mengobati luka Leng-ji.

Gubuk sudah terbakar habis dan masih mengeluarkan

asap.

“Apakah betul Seng Kong-kong akan menepati janjinya,

memberikan hadiah 10 ribu tail emas kepada mereka yang

berhasil menangkap kita, aku masih ragu!” kata Loo Cong.

Di Eng-hong-pie-ya. Malam sudah larut.

Angin berhembus besar dan hujan turun.

Dari jendela Seng Kong-kong melihat langit yang terlihat

mendung.

Mo Ki-thian berada di belakangnya.

Usia Seng Kong-kong sudah tua, tapi tidak pernah

melihatnya lelah atau tidak bersemangat.

Mo Ki-thian tidak pernah mendengar Seng Kong-kong

menghela nafas.

Tanya Seng Kong-kong:

“Ki-thian, hari ini tanggal berapa?”

“Lapor Kong-kong, bulan lima tanggal satu!”

“Sudah tiga bulan lebih…” Seng Kong-kong berkata

dengan pelan.

“Benar, Kong-kong, sudah tiga bulan lebih, hanya saja

mereka tidak akan bisa kabur!”

“Tapi mereka bisa hidup lebih dari 100 hari!” kata Sengyan-

kong.

Mo Ki-thian tidak bersuara.

Menyuruhnya mengejar pelarian dia benar-benar tidak

tahu di mana keberadaan mereka.

Tiba-tiba Seng Kong-kong tertawa terbahak-bahak:

“Mereka benar-benar orang yang dididik oleh Seng-yankong,

anak buah Seng-yan-kong tidak terkalahkan! Ha ha

ha…”

“Tenanglah, Kong-kong, ku pikir sekarang mereka pasti

sangat kelelahan,” kata Mo Ki-thian.

“Sangat lelah! Bagaimana dengan kita?” Demi mengejar

beberapa pengkhianat ini, Eng-hong-pie-ya pun merasa

sangat lelah.

Awalnya dia menolak dibantu oleh La-ma. Sekarang bila

ingin meminta bantuan sulit untuk membuka mulut.

Tapi dia tetap berniat seperti itu, dia berteriak: “Aku

ingin kalian lihat! Sekarang kalian bisa bersenang-senang.

“Aku ingin kau bersenang-senang dan merasa puas, Wie

Kai dan putri Kao Tong sedang berada di kamar sedang

bercumbu.”

Wie Kai memeluk putri Kao Tong sambil mengatakan

kalimat itu.

Dari ujung alis, ujung mata, terlihat kegenitannya.

Dia pura-pma memukul Wie Kai. Tapi putri Kao Tong

percaya kalau Wie Kai bisa membuatnya senang dan puas.

Kehilangan dirinya beberapa hari itu sudah tergantikan.

Di luar tenda, angin dan hujan terus turun dengan lebat.

Di dalam tenda, bayangan dari lilin merah terus

bergoyang-goyang, perasaan dalam seperti laut

Putri Kao Tong benar-benar merasa kalau kali ini dia

sangat beruntung sudah datang ke Tionggoan.

Tanpa bercerita dulu tentang rencana penting nya, orang

yang ada di depan matanya ini benar-benar membuatnya

senang!

Tionggoan adalah dunia yang menyenangkan. Lakilakinya

pun lebih baik dari pada laki-laki Tibet.

Matahari terbit, matahari terbenam.

Bulan naik juga terbenam.

Siang hari mereka harus mencari makan.

Malam hari mereka harus berhati-hati, takut akan ada

musuh datang menyerang.

Hari-hari seperti ini tidak ada habis-habisnya.

Sewaktu mereka kabur dari Eng-hong-pie-ya, mereka

tidak pernah terpikir tentang hal ini, setelah keluar dari Enghong-

pie-ya mereka baru merasakan, dunia memang luas,

tapi bila ingin menghindari orang-orang seperti itu tetap

sulit.

Mereka tiba di sebuah kota.

Mereka benar-benar membutuhkan makan dan membeli

beberapa potong baju, apa lagi sepatu dan kaos kaki.

Sejak melarikan diri, sudah ada beberapa pasang sepatu

yang dipakai hingga robek. Kota ini sangat sederhana.

Hanya ada sebuah jalan raya yang membentang dari

timur ke barat, yang lainnya hanya jalan kecil dan ganggang.

Setelah lama tidak melihat kota mereka merasa semua

itu sangat ramah dan mesra.

Pelan-pelan Loo Cong berkata:

“Leng-ji, manusia memang tidak bisa hidup sendiri?”

“Kecuali orang.. .orang luar kota sana!”

“Lebih baik kita ke tempat yang tidak terlalu ramai untuk

makan, setelah makan kita bawa bekal sedikit,” usul Loo

Cong.

“Mungkin kita bisa singgah selama beberapa hari di sini,

mereka tidak akan menyangka kita berada di sini.”

“Mungkin kau benar, tempat paling berbahaya adalah

tempat yang paling aman, tapi pejabat dan anak buah

mereka yang berada di sini semua adalah orang-orang Seng

Kong-kong!”

Leng-ji mengangguk.

Mereka masuk ke sebuah rumah makan sambil

menundukkan kepala.

Rumah makan itu sangat sederhana dan tidak begitu

besar, tapi tersedia jenis sayur yang komplit.

Di menu yang digantung di dinding tertulis Hoa-koan

(Bapau kosong yang ditabur bawang daun) ada bapau dan

beraneka macam kuah, mie goreng, serta masakan yang

lain-lain.

Sudah jadi dan siap disajikan.

Masih ada sayur-sayur yang siap dipesan serta arak.

Setelah sampai di sana mereka harus terus menahan air

liur.

Mereka mencari tempat di dekat jendela.

Pelayan datang dan bertanya:

“Ji-wie, ingin makan nasi atau minum arak?”

Loo Cong memesan 4 macam sayur juga Man-tou, sayur

asin, dan kue-kue, ada sebagian makanan yang akan dibawa

pergi.

Mereka masih memesan arak.

Mereka seperti baru merasakan ternyata arak begitu

wangi dan menggoda.

Tapi mereka waspada selalu melihat sekeliling apakah

ada orang yang mencurigakan.

Tamu di sana paling-paling hanya ada 4-5 orang.

Tidak terlihat, mereka orang apa.

Sampai-sampai ada seorang perempuan umurnya sekitar

35-36 tahun, berdandan sederhana, sangat bersih juga

lincah.

Dia sedang makan mie.

“Kita tetap harus berhati-hati!” nasihat Loo Cong. Lengji

mengangguk.

Semacam sayur sudah diantar berikut araknya Loo Cong

terburu-buru menuang arak dia ingin segera minum arak.

Tapi Leng-ji menghalanginya, dia mencabut tusuk konde

yang terbuat dari perak dan memasukkan tusuk konde itu

ke dalam cangkir arak.

Hal yang mendebarkan hari sudah terjadi. Arak terus

bergejolak kemudian keluar suara CES, CES, buih keluar

dari dalam gelas.

Mereka benar-benar terkejut.

Loo Cong segera memasukkan kue dan sayur asin ke

balik bajunya.

Sewaktu dia melihat, perempuan itu sedang tertawa dan

berkata:

“Orang Eng-hong-pie-ya memang luar biasa!”

“Tidak juga, melainkan otak tikus adalah otak yang

terlalu sederhana!”

Perempuan itu meletakkan mangkok mienya

membersihkan mulut dengan sapu tangan, pelan-pelan

berkata:

“Marga Loo, kalian tidak bisa kabur lagi!”

“Apakah kau mempunyai kekuatan menahan kami?”

“Anak gadis, kalau beradu kecantikan, aku mengaku

kalah, tapi apakah kau pernah mendengar nama Hun-si Popo?”

(nenek Hun-si).

Loo Cong dan Leng-ji benar-benar terkejut.

Orang yang paling sering menggunakan racun adalah

perempuan itu, bisa dikatakan sampai tubuhnya beracun.

Loo Cong dan Leng-ji saling melihat kemudian mereka

meloncat keluar melalui jendela.

Mereka tidak menyangka kalau Hun-si Po-po tidak akan

mengejar mereka keluar.

Hun-si Po-po hanya berdiri, ada 4 laki-laki duduk di

sebelah meja, mereka juga berdiri melihat Hun-si Po-po.

Dengan suara kecil Hun-si Po-po berpesan:

“Timur, barat, selatan, dan tengah.”

Mereka berempat segera keluar dari rumah makan itu,

setelah itu mereka segera berpisah, masing-masing ke arah

yang disebut Hun-si Po-po tadi.

Hun-si Po-po dengan tenang keluar dari rumah makan

itu!

Setelah keluar dari rumah makan itu Leng-ji dan Loo

Cong terus berlari sejauh 5-6 Li baru berhenti.

Dengan nafas terengah-engah Leng-ji berkata: “Hari ini

aku benar-benar kagum kepada Seng-yan-kong!”

“Maksudmu, Hun-si Po-po bisa dibeli oleh Seng-yankong?”

“Dulu aku pernah mendengar bahwa Hun-si Po-po dan

Seng-yan-kong sangat akrab!”

“Berarti tidak salah lagi! Tapi apakah kau tidak merasa

ada sedikit keanehan?”

“Keanehan apa?”

“Hun-si Po-po tidak mengejar kita!”

“Mungkin dia akan mengejar kita sekarang!”

“Apakah….” tiba-tiba Loo Cong mengerutkan alis,

“Leng-ji, apakah kau merasa tidak enak tubuh?”

Mereka saling berpandangan wajah mulai terlihat pucat.

Mereka merasa sakit perut dan pusing.

“Kita harus segera mencari tempat untuk… untuk

bersembunyi… memaksa racun yang ada di dalam tubuh

kita keluar… keluar…” kata Leng-ji.

Loo Cong melihat sekeliling.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Terpaksa mereka masuk ke balik semak-semak setinggi

pinggang.

Perut mereka semakin sakit.

Mereka tidak bisa mengeluarkan racun dari dalam perut.

Sebab racun Hun-si Po-po sangat sulit dikeluarkan.

Tidak diragukan lagi, sayur asin dan kue yang ada di

balik baju pasti sudah diracun, bencana ini tampaknya

sulitbisa dihindari lagi.

Mereka benar-benar merasa sedih.

Selama pelarian beberapa bulan ini mereka sudah

mengalami banyak bahaya tapi mereka berhasil

melewatinya.

Tapi sekarang mereka akan terjatuh ke tangan

perempuan itu.

“Leng-ji, mati pun aku tidak akan menutup mata…

karena aku tidak bisa melindungimu dengan baik…”

Dahi Leng-ji penuh dengan keringat:

“Siau-Ioo… lebih baik kita mati di sini… dari pada… dari

pada kita harus naik panggung untuk dipenggal kepala

kita…”

Loo Cong menggelengkan kepala:

“Aku tidak rela mati karena racun… tidak rela… karena

tidak ada kesempatan untuk bertarung dengan Hun-si Popo…”

“Siau-loo, apakah kau merasa semua ini menggelikan?”

“Meng… menggelikan?”

“Betul…” Leng-ji tertawa, “awalnya kita ditipu oleh Siaukai…

sekarang jatuh ke tangan Hun-si Po-po… di dunia ini

harus memakai cara menipu… mungkin Seng Kong-kong

juga menipu putri Kao Tong… atau putri Kao Tong menipu

Seng Kong-kong, semua orang di dunia ini semua penipu…”

Leng-ji tertawa air matanya pun bercucuran.

Mati dengan cara seperti ini benar-benar menyedihkan!

Loo Cong ingin menghibur tapi tidak bisa mendapatkan

kata-kata yang tepat.

Perut yang sakit membuat kepalanya pusing.

“Leng-ji… Leng-ji… jangan menangis… jangan…”

“Aku tidak menangis… aku hanya merasa… kehidupan

ini benar-benar menggelikan… Siau-loo… kalau bukan demi

diriku, kau tidak akan keluar dari Eng-hong-pie-ya!”

Kata-kata ini sudah lama disimpan di dalam hati.

Bila akan mati dia akan mengutarakan isi hatinya.

“Betul, demi dirimu!” Loo Cong mengangguk.

Rasa sakit membuat wajah Leng-ji berubah:

“Siau-loo… aku minta maaf… sayang aku tidak bisa…

aku tidak bisa….”

Loo Cong memegang perutnya dengan bibir bergetar dia

berkata:

“Leng-ji… kata-katamu tadi sudah cukup… Leng-ji…

sebelum mati… apakah kau punya permohon an padaku?”

“Tidak… tidak ada… asal kau terus menyebut namaku…

aku juga akan terus menyebut namamu…”

“Betul… di jalan… menuju dunia sana… kita jangan

berpisah… Leng-ji… Leng-ji… Leng-ji…”

Leng-ji sudah tergeletak di atas padang rumput, dia

berkata:

“Siau-loo… Siau-loo… Siau-loo…”

Seseorang sudah berdiri di sisi mereka, kedua tangannya

diletakkan di pinggang, dia tertawa ter-bahak-bahak.

Dialah Hun-si Po-po.

Dia tertawa terbahak-bahak.

300 kati, emas bisa membuat dua manusia emas.

Siapa pun orangnya, di saat sekarang ini akan tertawa.

Yang penting bukan ini saja.

Mereka berdua terbaring di atas rumput.

Sudut mulut mereka mengeluarkan darah.

Nyawa mereka seperti matahari sore tetap membuat

orang merasa rindu pada masa silam!

Seperti apa dunia sana? Tidak ada seorang pun yang

mengetahuinya.

Empat anak buah Hun-si Po-po sudah datang. Salah satu

dari mereka berkata:

“Si Po-po akan terkenal di dunia persilatan, di depan

Seng Kong-kong, Anda pasti akan dianggap orang penting!”

“Sebenarnya bukan demi emas puluhan ribu tail juga

bukan karena ingin mendapat kepercayaan dari Seng-yankong,

melainkan bila rencana Seng-yan-kong berhasil, aku

adalah…”

Dia tidak meneruskan kata-katanya.

Tapi sudah ada yang menjawab:

“Kau akan menjadi permaisurinya?”

Hun-si Po-po dan anak buahnya benar-benar terkejut.

Mereka baru melihat kalau di sisi mereka berdiri

seseorang.

Hun-si Po-po bergetar:

“Setan tua Put-pian, apakah kau ingin membagi hasil?”

Ternyata orang itu adalah Put-pian-yan-gwa, seseorang

berbaju aneh.

“Gampang, gampang!” jawab Put-pian-yan-gwa.

“Kau datang kemari untuk tujuan apa?”

“Aku kan orang yang berpengalaman, kau tentu sudah

tahu itu!” jawab Put-pian-yan-gwa.

Kaki Hun-si Po-po pelan-pelan bergerak, segera Put-pianyan-

gwa berkata:

“Hun-moi, bila kau ingin menggunakan racun, jangan

tergesa-gesa, biar aku selesai bicara dulu baru kau taburkan

racunnya, singkat kata, aku tidak bisa lari, kau juga tidak

akan bisa kabur!”

Hun-si Po-po tertawa dingin:

“Put-pian, orang lain mungkin takut kepadamu, tapi aku,

Hun-si Po-po tidak akan pernah takut kepada mu!”

“Tentu saja, tentu saja!”

“Put-pian, apa yang kau inginkan, katakan cepat! Biar

aku sekalian mengantarkanmu ke alam kematian!”

“Kenapa tergesa-gesa? Waktunya tidak akan berbeda

jauh.”

“Kau mau apa?”

Put-pian-yan-gwa tertawa:

“Aku sudah mengtakan tadi kalau aku kan orang yang

sudah berpengalaman, maka aku meng-inginkan sepuluh

ribu tail emas semuanya! Kalau kau mau namaku, biar kau

ambil nama ini!”

“Kentut!” Hun-si Po-po berteriak, “apakah kau pernah

mengukur kepandaianmu?”

“Sudah, kalau aku mundur 30 tahun, kau mundur 20

tahun. Ha ha ha! Mungkin aku bisa jatuh cinta

kepadamu…”

Hun-si Po-po memberi isyarat, kelima orang itu mulai

menyerang.

Mereka sama sekali tidak terpikir kalau Put-pian-yangwa

akan datang dengan persiapan matang.

Kalau tidak apakah dia akan takut dengan racun

perempuan itu?

Begitu mereka berlima bergerak, kedua tangan Put-pianyan-

gwa terayun, 4 cahaya terang berkelebat.

Berkelebat tapi tidak terjadi apa-apa. Atau tidak

mengenai sasaran?

Tentu saja bukan, kalau tidak mengenai sasaran, nyawa

Put-pian-yan-gwa akan melayang!

Ternyata 4 senjata rahasia itu dengan sangat tepat

mengenai jalan darah penting 4 orang yang ada di depan.

“Kao… Kao-pie-ciam!'” (Jarum perpisahan), Hun-si Popo

pernah mendengar senjata rahasia milik Put-pian yang

membuatnya terkenal adalah Kao-pie-ciam juga disebut

‘Put-pian-kao-ciam’, begitu jarum dilepaskan belum pernah

meleset dari sasaran.

Hun-si Po-po pun jika menaburkan racun tidak ada

seorang pun yang bisa lolos dari sasarannya.

Hanya saja dari awal Put-pian-yan-gwa sengaja berdiri di

belakang angin, karena tempat di mana dia berdiri lebih

tinggi dari Hun-si Po-po.

Apa lagi hari ini angin gunung berhembus sangat

kencang.

Semua racun, semua cara menebar racun harus berada di

atas angin, kecuali senjata rahasia yang sudah dibubuhi

racun.

Saat Hun-si Po-po bersiap-siap melepaskan senjata

rahasia beracun untuk memaksa Put-pian-yan-gwa

meninggalkan posisinya, Put-pian-yan-gwa sudah bergerak

lebih cepat darinya.

Kekuatan tangan Put-pian-yan-gwa sangat besar, 4 buah

Kao-pie-ciam sudah menancap di jalan darah ke empat

orang itu.

Keempat orang itu setelah bergoyang-goyang beberapa

kali lalu tersungkur.

“Put-pian… bagaimana kalau kita bicara baik-baik…”

Hun-si Po-po seperti masih berupaya berdamai karena dia

belum mati.

Tangan Put-pian-yan-gwa terayun, katanya:

“Upacara perpisahan sudah dilaksanakan, tidak perlu

banyak omong lagi!”

“Put-pian.. kalau kau melepaskanku.. di depan Seng

Kong-kong aku akan mengangkatmu…”

“Tidak perlu! Bila aku ingin berlindung kepada Seng

Kong-kong, aku sudah mempunyai hadiah yang sudah

disiapkan!”

Hun-si Po-po melihat ke arah Loo Cong dan Leng-jj-

Benar! Ini adalah hadiah yang sangatberharga.

Siapa pun yang ingin berlindung kepada Seng Kongkong,

asal membawa dua hadiah ini pasti akan diterima.

Kata-kata ini terdengar oleh Loo Cong dan Leng-ji,

sebelum mati mereka merasa tidak enak.

Di dunia ini hanya cara yang bisa membedakan mana

orang yang baik dan mana orang yang jahat?

Hun-si Po-po dan ke empat anak buah sudah mati,

dengan memuntahkan darah.

Put-pian-yan-gwa tertawa senang.

Setelah tertawa tiba-tiba dia melihat kedua anak muda

itu.

Godaan nama dan harta benda, siapa yang bisa

menolaknya?

Beberapa waktu yang lalu, karena sadar kekuatannya

terbatas, dia tidak akan bisa mencapai tujuannya, maka dia

pergi begitu saja.

Yang pasti Put-pian-yan-gwa bukan orang jahat atau

mempunyai nama jahat di dunia persilatan. Apa yang

sedang dia pikirkan sekarang?

Dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Kesempatan menjadi kaya dan terkenal ada di depan

mata, sungguh sayang jika ditolak.

Ini adalah nasib mujurnya mengapa harus ditolak?

Tapi melihat dua anak muda yang bermain umpetumpetan

dengan dewa kematian, sekarang mereka berdua

terlihat begitu lelah, mereka juga mempunyai ilmu dan budi

pekerti, dia merasa tidak tega.

Tidak tega dan keuntungan adalah dua masalah besar.

Dua kekuatan besar ini sedang berperang di dalam

hatinya dan perasaan tidak tega berada di bawah angin.

Kata Put-pian-yan-gwa:

“Kalian terkena racun berat, kematian pasti akan terjadi,

aku hanya memungut keuntungan saja!”

Seseorang jika ingin melakukan kejahatan dia harus

mencari alasan untuk dirinya sendiri.

Loo Cong merasa nyawanya sedang melayang-layang,

kadang-kadang terputus, kadang-kadang tersambung lagi.

Ternyata kematian seperti itu rasanya.

Tapi dia tetap merasa yakin kalau Put-pian-yan-gwa

bukan orang jahat.

Di dunia ini orang sejenis dia paling banyak.

Orang jenis ini hanya orang biasa, dia bukan orang yang

sangat jahat juga bukan orang yang sangat baik.

Hanya saja orang baik kadang-kadang akan melakukan

kejahatan, orang jahat kadang-kadang akan berbuat

kebaikan.

Loo Cong memikirkan semua ini bukan untuk dirinya

sendiri melainkan demi Leng-ji, dia masih mempunyai

sedikit harapan.

Harapan harus dicoba untuk diraih.

Asal masih bernafas harapan masih tetap ada.

Keadaan Leng-ji dan Loo Cong hampir sama.

Hanya karena dia makan dengan perlahan, maka nasi

yang masuk sedikit demi sedikit, ditambah dia mengunyah

dengan pelan maka racunnya lebih ringan dari Loo Cong.

Tapi hanya itu saja, paling-paling dia mati lebih lama

setengah jam dari Loo Cong.

Dengan sulit Loo Cong berkata:

“Lo-cianpwee… apakah Anda tahu mengapa kami

harus… harus melarikan diri?”

“Katanya karena kalian melanggar aturan Eng-hong-pieya!”

jawab Put-pian-yan-gwa.

“Sebenarnya… bukan seperti itu… aku… aku tidak

melanggar aturan Pie-ya…”

“Bocah, apakah kau sudah gila? Kau kira ber-seberangan

dengan Seng-yan-kong adalah untuk main-main?”

“Tentu saja tidak… ” dengan terengah-engah Loo Cong

menjawab, “Seng-yan-kong… dan putri Kao Tong…

berencana… mengkhianati kerajaan… mereka sedang

menyusun rencana rahasia… semua anak cucu Yan Hong…

apakah aku bisa duduk diam untuk melihat negara diambil

alih?”

(Yan Hong adalah nama Yan Ti dan Hong Ti, mereka

adalah orang Han paling awal yang tinggal di daerah

Huang-ho, mereka berdua adalah nenek moyang suku Han!

Maka biasanya orang Tionggoan disebut anak cucu dari

Yan Hong).

Tiba-tiba Put-pian-yan-gwa menengadah ke atas langit,

dia menarik nafas panjang.

“Apakah Cianpwee tidak percaya?” tanya Leng-ji.

Put-pian Yuan terdiam.

Masa dia tidak percaya?

Dari awal dia sudah tahu, putri Kao Tong datang ke

Tionggoan pasti untuk melakukan sesuatu.

Kemudian dia dilayani oleh Seng Kong-kong.

Walaupun hal ini dilakukan secara rahasia tapi tidak

akan bisa menutupi niat orang-orang ingin mencari tahu.

Dulu Put-pian-yan-gwa memang merasa curiga tapi dia

tidak punya bukti yang cukup kuat.

Dia memang rakus juga ingin terkenal, tapi dia masih

mempunyai rasa perikemanusiaan.

Bila rasa rakus melampaui rasa kemanusiaan, dia adalah

orang jahat dan sudah tidak ada obat yang bisa

menolongnya lagi.

Put-pian-yan-gwa melihat kedua anak muda itu. Yang

satu sangat tampan wajahnya memancarkan kebenaran.

Yang satu lagi cantik alamiah, begitu melihat-sudah tahu

kalau dia adalah gadis yang baik.

Put-pian Yuan tiba-tiba berjalan ke arah mayat Hun-si

Po-po tergeletak.

Dia mencari obat penawar di tubuh Hun-si Po-po.

Dia memasukkan 4 butir obat ke dalam mulut mereka

masing-masing, kemudian duduk di sisi memejamkan mata

untuk beristirahat.

Kedua anak muda itu benar-benar tidak bisa melukiskan

bagaimana perasaan mereka.

Kali ini mereka bisa lolos dari maut hingga jantungnya

berdebar-debar, dibandingkan sewaktu lolos dari pisau

pemenggal.

Paling sedikit Leng-ji berpikiran seperti itu.

Sebab ketika melarikan diri dari panggung eksekusi dia

masih bertarung.

Kali ini mereka sama sekali sudah kehilangan

kesempatan.

Put-pian-yan-gwa memejamkan mata.

Anehnya keringatnya terus mengucur keluar.

Dia bukan sedang memaksakan racun keluar, dia juga

tidak sedang mengatur nafas, tapi mengapa dia

mengeluarkan keringat begitu banyak?

Sebenarnya alasannya sangat sederhana, itulah keringat

karena dia merasa malu.

Ketika seseorang menghentikan lari kudanya di sisi

jurang dan menemukannya hampir melakukan kesalahan

kepada Langit, rasa malu kepada bumi juga malu kepada

nenek moyang, ditambah rasa malu kepada dirinya sendiri,

apakah dia tidak akan mengeluarkan keringat begitu

banyak?

Dengan takjub dua anak muda itu melihat Put-pian-yangwa.

Mereka mengira Put-pian-yan-gwa terkena racun.

Tapi mengapa dia tidak minum obat penawarnya?

Tidak lama kemudian Put-pian-yan-gwa baru membuka

mata.

Bajunya basah oleh keringat seperti baru keluar dari

dalam air.

Put-pian-yan-gwa melihat kedua anak muda itu lalu

bertanya:

“Bagaimana keadaan kalian?”

Mereka berdua baru merasa bahwa kalau perut mereka

sudah tidak sakit lagi.

“Terima kasih Lo-cianpwee sudah menolong kami,

seumur hidup kami tidak akan melupakan budi Cianpwee!”

jawab Loo Cong.

“Tidak perlu!” Put-pian-yan-gwa meloncat berdiri,

pesannya, “ini adalah obat penawarnya, bila masih sakit,

minum 2 butir lagi!”

Dia meletakkan obat penawar itu di sisi kedua anak

muda itu.

Leng-ji yang sudah lolos dari kematian, karena terlalu

senang dia meneteskan air mata dan berkaca:

“Lo-cianpwee sepertinya terkena racun juga, mengapa

tidak minum obat penawarnya?”

Put-pian-yan-gwa menarik nafas panjang:

“Aku tidak terkena racun, tapi keadanku sama seperti

terkena racun!”

Kedua anak muda itu tidak mengerti maksud-nya.

Dengan nada berat dia berkata:

“Awalnya aku berencana tidak baik, aku berjalan di jalan

sesat, untung aku sadar dan bisa berputar arah, antara hidup

dan mati kalian telah memutar bencana menjadi

kemujuran, sayangilah nyawa kalian, jangan mudah

dilepaskan…”

Setelah itu dia menghilang di dalam kegelapan.

OodwoO

BAB II

Kedua anak muda itu lama… tidak bergerak juga tidak

bersuara.

Nyawa yang tadi telah terbang ditarik kembali,

perjalanan hidup mereka begitu berliku-liku dan berbahaya.

Kejahatan dan kebaikan umat manusia perbedaannya

begitu tipis.

Sekarang mereka baru mengerti mengapa Put-pian-yangwa

berkeringat terus!

Sebab tadi Put-pian-yan-gwa telah berbaik hati, dia

menarik kembali mereka dari pintu kematian!

Dengan pelan Leng-ji duduk kembali:

“Siau-loo, bagaimana perasaanmu?”

“Sedang dalam pemulihan!”

“Kalau kita tidak mengatakan Seng Kong-kong

bersekongkol dengan putri Kao Tong, apa yang akan

terjadi?”

Tiba-tiba Loo Cong menarik nafas panjang. “Mengapa

menarik nafas? Bila sekarang tidak mati, kelak nasib kita

akan mujur, ini adalah pepatah yang sangat baik,” kata

Leng-ji.

“Kau tahu kalau dia sudah menolong nyawa kita, tapi

bila dipikir lebih dalam lagi, aku merasa kita pun sudah

menolongnya bukan?”

“Benar!”

“karena itu setelah dia berubah pikiran dia mengucurkan

banyak keringat!”

“Orang seperti Put-pian-yan-gwa saja tidak bisa menahan

diri, apa lagi orang biasa!”

“Leng-ji, bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Tidak ada masalah lagi, tapi kita butuh istirahat

sebentar untuk memulihkan tenaga!”

Untung rumput di sini tumbuh tinggi, tinggi-nya ada 3-4

kaki, maka mereka bisa duduk beristirahat dan tidakmudah

terlihat orang.

Mereka berada di tempat di mana mereka tidak tahu ada

di mana.

Setelah lolos dari maut mereka benar-benar merasa

terharu.

Dalam pelarian seperti ini walaupun Seng Kong-kong

tidak bisa mengejar mereka, tapi entah sampai kapan

mereka harus berlari. Dan harus berlari ke manalagi?

Untuk sementara mereka bisa hidup, walau berbahaya

dan sulit tapi tidak bisa selamanya selalu hidup dalam

pelarian.

Di bawah sinar lampu.

Loo Cong mengobati luka di tangan dan luka di

punggung Leng-ji.

Luka Leng-ji hampir sembuh.

Tapi luka hatinya bukan semakin sembuh melainkan

semakin berat.

“Leng-ji, coba ulangi lagi hafalanmu mengenai musimmusim

bercocok tanam padi

Leng-ji seperti sedang memikirkan sesuatu, dia terkejut

dan menjawab:

“Sepertinya aku tidak hafal semuanya!”

“Cobalah, Leng-ji!”

“Siau-han, Ta-han, Li-chun, U-sui, Keng-ce…” (semua

adalah musim-musim untuk bertani).

Tiba-tiba Leng-ji bertanya: “Apa artinya Keng-ce?”

“Keng-ce artinya membangunkan serangga yang sedang

tidur di musim dingin!”

“Siau-loo!”

“Apa?”

“Apakah benar sebagian serangga sulit dibangunkan?”

Loo Cong menjawab asal-asalan:

“Itu karena dia serangga bodoh!”

Tiba-tiba Leng-ji tertawa.

Sudah lama dia tidak tertawa seperti itu.

Lama dia baru bertanya:

“Mengapa kau terus menatapku?”

Loo Cong menghentikan gerakan tangannya.

“Kau lihat apa?”

Loo Cong terdiam, sorot matanya mengandung arti.

Loo Cong mulai mengobati luka Leng-ji lagi.

Tiba-tiba Leng-ji menarik nafas.

Loo Cong tahu mengapa Leng-ji sering menarik

“Siau-loo, aku harus dihukum!”

Loo Cong terdiam.

“Siau-loo, apakah kau melihatku lagi?” Betul Siau-loo

memang sedang melihatnya. Melihat dengan termangu,

tidak bicara, juga tidak bergerak.

“Demi diriku, kau keluar dari Eng-hong-pie-ya, demi

diriku juga kau tidak mau kembali ke Eng-hong-pie-ya!’

“Aku tidak tahu mengapa!”

Jantungnya berdebar semakin kencang.

Suhu rubuhnya terus naik.

“Kau tidak tahu mengapa?”

Leng-ji masih telungkup di atas ranjang.

Dia seperti mengetahui sesuatu.

Di antara mereka bertiga semua tahu bagai-mana

hubungan dan perasaan masing-masing, tidak bisa dihalangi

juga tidak bisa ditutupi.

Bila risau hati perasaan lebih mudah muncul.

Sekarang mereka butuh dihibur.

Termasuk ada penghibur yang lengkap.

Mereka berdua terdiam.

Sebab sekarang mereka butuh ketenangan.

Yang satu adalah laki- laki sejati. Yang satu adalah gadis

berbudi pekerti baik. Waktu itu tiba-tiba Leng-ji

membalikkan tubuh. Bagian atas tubuhnya telanjang.

Tiba-tiba Loo Cong seperti jatuh ke dalam api yang

sedang berkobar.

Dia menatap Leng-ji, sorot matanya penuh dambaan

yang tulus dan perasaan yang serius.

Inilah perasaan yang tersimpan lama di lubuk hatinya

yang terdalam.

Mereka saling memandang.

Dari sorot mata masing-masing bisa didapatkan

penjelasan dan saling pengertian yang tidak terucap-kan.

Pelan-pelan Loo Cong membungkukkan tubuh atasnya,

ini adalah ciuman mesra antara laki-laki dan perempuan di

waktu yang sangat tepat.

Mereka menunggu kesempatan ini mungkin sudah

sangat lama.

Loo Cong dengan lugu berkata: “Leng-ji… Leng-ji…”

Penantian yang panjang akhirnya berakhir juga.

Loo Cong memeluk.

Leng-ji pelan-pelan berbaring.

Malam sudah larut. Gunung begitu hening.

Hanya air sungai yang terdengar mengalir dengan pelan

dan mengeluarkan suara seperti sedang bertepuk tangan.

Tapi sekarang ini mereka merasakan langit dan bumi

mengawasi mereka.

Mereka benar-benar merasakan seakan sudah memiliki

semua yang ada di dunia ini.

Sinar lampu tempel meloncat-loncat.

Dua hati pun sedang meloncat-loncat.

Tidak ada yang berpura-pura menutupi rasa cinta.

Tidak ada dnta pun tidak bisa berpura-pura menjadi

cinta.

Sekarang bukan mulut, gambar, atau pena yang bisa

mengungkapkannya.

Tapi secara tiba-tiba mereka berpisah karenfc mereka

tidak bisa dan tidak boleh melakukan ini.

Seng-yan-kong datang lagi menemui putri Kao Tong.

Wajah putri Kao Tong tampak berseri-seri.

Dia datang ke Tionggoan demi sebuah rencana besar itu.

Semua dijalankan sesuai dengan rencana dulu, waktu itu

dia tidak terpikir ada hal lain.

Hanya saja setelah membuat perjanjian rahasia dengan

Seng Kong-kong, dia malah tidak terburu-buru menjalankan

rencananya.

Karena dia sudah tenggelam dalam pusaran cinta.

Cinta bisa membuat seseorang khawatir dan melupakan

waktu.

Boleh dikatakan cinta adalah nafsu yang menuntun.

Kecuali pelacur, hubungan antara laki-laki dan

perempuan harus ada cinta baru bisa ada nafsu.

Pelayan mengantarkan teh panas.

Dengan senang putri Kao Tong bertanya:

“Kong-kong, ada keperluan apa?”

“Bukan hal penting tapi juga bukan hal yang tidak

penting!”

“Katakan, Kong-kong.”

Seng-yan-kong berdiri dan berjalan sebentar.

Dia tahu hubungan putri Kao Tong dengan Wie Kai

sedang panas-panasnya, sekarang ini bila dia menyiram air

dingin kepada mereka, sangat tidak pantas.

Tapi keadaan sekarang sangat mendesak dia harus

mengungkapkannya.

Tanya Seng-yan-kong:

“Apakah putri pernah terpikir kali ini dengan kembalinya

Wie Kai apakah dia mempunyai suatu tujuan?”

“Tujuan apa?*

“Mungkin diasudah tahu rencana kita?” “Dari mana

diabisa tahu?”

“Apakah putri lupa, Loo Cong yang menjadi

pengkhianat pernah hidup dengan mereka, Loo Cong tahu

rencana kita walaupun tidak semuanya!”

Putri Kao Tong tetap tidak bersuara.

“Apakah putri tidak percaya?”

“Mengapa aku harus percaya?”

Seng-yan-kong terpaku: “Mengapa Putri tidak percaya?”

“Alasanku tidak percaya padamu ada dua. Pertama,

walaupun dia tidak sejalan dengan kita tapi apakah hanya

mengandalkan kekuatan sendiri bisa melakukan sesuatu?

Kedua, dia kembali ke sini berarti dia punya perasaan

cinta kepadaku, itulah alasan yang membuatnya kembali!”

“Kalau dia benar-benar menyukaimu, mengapa dari awal

dia kabur?”

“Maksudmu, dia kabur dari Pie-ya?”

“Benar….! Apakah putri tahu hubungan Wie Kai dengan

Leng-ji?”

“Tahu sedikit”

“Putri hanya tahu sedikit saja, itu tidak cukup!”

“Berapa banyak baru disebut cukup?” putri terdengar

tidak suka.

“Leng-ji berlatih menari di rumah La-ma, Wie Kai diamdiam

sering mengawasinya, karena itulah mereka bisa

saling mengenal sampai terjalin hubungan asmara…”

Putri Kao Tong seperti tidak senang mendengarnya.

Dalam perang cinta tidak ada yang mau meng-aku kalau

dia adalah pecundang.

Apa lagi sekarang putri Kao Tong sangat puas dengan

gairah dan nafsu birahi Wie Kai.

Putri Kao Tong berpikir:

“Di dunia ini aku tidak akan bisa mendapatkan laki-laki

yang lebihbaik dari Wie Kai.’

Lebih-lebih tidak ada seorang laki-laki pun seperti Wie

Kai, yang begitu setia dan menunjukkan perhatian mesra

kepadanya.

Maka mendengar kata-kata Kong-kong tadi dia jadi tidak

senang.

Tapi Kong-kong lebih tua darinya, apa lagi kerja sama di

antara dua belah pihak belum selesai, paling baik jangan

membuat Kong-kong marah.

Tiba-tiba putri Kao Tong tertawa.

Bukan waktunya untuk tertawa, kalau bukan karena

berbeda pendapat, itu tidak sopannya.

Seng Kong-kong tahu tentang ini.

Tiba-tiba Seng Kong-kong menarik nafas.

Bukan waktunya untuk menarik nafas dia malah menarik

nafas, akibatnya seperti bukan waktu-nya tertawa dia malah

tertawa.

Seng Kong-kong menarik nafas lagi. Sekarang semakin

putri tertawa, Seng Kong-kong hanya bisa menarik nafas.

Perubahan perasaan manusia sering menimbulkan

dampak besar terhadap hubungan antara sesama manusia.

“Mengapa Kong-kong menghela nafas?”

Seng Kong-kong terdiam lama baru menjawab:

“Banyak orang seumur hidupnya menghabis-kan banyak

waktu untuk melihat bayangannya sendiri, karena itu dia

akan menghilang dalam bayangannya sendiri!”

Putri Kao Tong tidak segera menangkap arti perkataan

Seng Kong-kong.

Putri Kao Tong sekarang tidak perlu mengerti seorang

Seng Kong-kong.

Karena begitu berhasil rencana mereka, posisi-nya akan

lebih tinggi dari Kong-kong.

Dia menganggap Kong-kong berpikiran sempit juga

aneh, tidak mengerti hubungan antara laki-laki dan

perempuan.

Ini adalah sebuah pelajaran penting.

Yang tidak bisa Kong-kong mengerti adalah pelajaran

ini, tapi dia sengaja mencampuri masalah ini.

Putri Kao Tong merasa dia adalah orang yang paling

pintar dalam masalah ini.

Seng Kong-kong ingin menjadi muridnya pun tidak

layak.

Maka dia tertawa lagi.

Menarik nafas dan tertawa pasti berhubungan erat.

Seng Kong-kong tahu mengapa putri tertawa terus.

Dia tahu kalau putri mengira dirinya adalah pemenang

dalam perang cinta.

Perubahan pikiran manusia sulit ditebak, perang cinta

hanyalah bagian kecil dari medan besar dalam kehidupan

manusia.

Maka Seng Kong-kong tidak mengeluarkan suara.

“Mengapa Kong-kong tidak bicara lagi?”

“Rasanya aku bicara juga percuma!”

“Tidak, aku selalu menganggap Kong-kong seorang guru,

teman, dan orang yang lebih tua!”

“Apakah benar?”

“Kita bekerja sama, tidak perlu ada rahasia, mengapa

Kong-kong tidak percaya kepadaku?”

Sekarang Kong-kong baru tertawa.

Seng-yan-kong benar-benar khawatir. Putri Kao Tong

terlalu sayang dan percaya kepada Wie Kai.

Sekarang Kong-kong tidak lagi meremehkan kekuatan

tiga anak muda itu.

Kalau tidak meremehkan mereka berarti dia harus

berhati-hati menghadapi mereka.

“Silakan, katakan!” kata putri Kao Tong.

“Aku takut putri akan menyalahkanku karena terlalu

mengada-ada dan mengeluarkan kata-kata yang tidak ada

buktinya!”

“Kita sudah bekerja sama, maka semua masalah bisa kita

ungkapkan!” kata putri Kao Tong.

“Kesombongan dan rasa rendah hati adalah hal

sebaliknya.

Kedua-duanya seperti sebuah pedang tajam.

Kedua-duanya akan membuat orang terluka!”

Putri Kao Tong menutupi rasa tidak sukanya kepada

Seng Kong-kong.

Rasa tidak senangnya terpaksa disimpan di dalam

hatinya.

“Maafkan atas kebodohan dan tidak setiaanku, putri!”

“Kong-kong tidak perlu sungkan, aku tahu Kong-kong

benar-benar berbaik hati kepadaku!”

“Baik! Aku berharap putri lebih berhati-hati!”

“Aku tahu!”

“Lebih baik jangan tinggal dengan Wie Kai, bila rencana

kita sudah berhasil, semua akan lancar-lancar saja!”

Wajah putri terlihat lagi tidak suka:

“Apakah Kong-kong tidak merasa sudah kelewat batas?”

“Putri belum mengerti tentangku….”

“Ini adalah masalah pribadiku juga masalah rumah Lama!”

Seng-yan-kong melihat putri, dia tertawa kecut dan

menggelengkan kepala lalu berkata sendiri:

“Benar-benar di luar dugaanku. Laki-laki dan perempuan

bila sudah jatuh cinta sulit melihat jelas semuanya!”

“Kong-kong jangan marah, aku adalah orang yang tahu

batas!”

“Aku harap begitu! Aku pamit dulu!”

“Hati-hati, Kong-kong!”

“Apakah putri masih ada pesan?”

“Walaupun usiaku tidak setua Kong-kong, tapi aku bisa

memberitahu Kong-kong!”

“Tentang apa?”

“Jangan melakukan perbuatan jika tidak yakin”

“Baik, putri benar-benar sangat baik, aku kagum kepada

putri, aku pamit dulu!”

Setelah mengantar Seng-yan-kong keluar. Terlihat Wie

Kai sudah berada di dalam kamar.

“Apakah kau mendengar semuanya?”

“Mendengar apa?” tanya Wie Kai.

“Apakah kau tidak mendengar pembicaraan antara aku

dan Kong-kong?”

“Kalian sedang membicarakan apa?”

“Apakah kau tidak diam-diam mendengar semua

percakapan kami?”

Wie Kai merentangkan tangannya lebar-lebar: “Semua

sudah kau berikan kepadaku, hanya ada semacam benda

yang tidak kau berikan kepada-ku!”

“Apa?”

“Kau tidak percaya pada hatiku!”

“Bocah, kau benar-benar tidak punya hati nurani!”

“Apa maksudmu?”

“Seng-yan-kong selalu curiga kepadamu, kalau bukan

karena aku selalu melindungimu, seperti kemarin ini, kau

tertangkap di depan pintu ruang rahasia Seng Kong-kong,

kalau bukan karena aku buru-buru melindungi dan

mengaku akulah yang menyuruh mu menunggu di luar,

mungkin kau sudah berada di atas panggung eksekusi!”

“Aku sangattahu jelas masalah ini, maka dari awal aku

sudah memberikan hatiku kepadamu!”

“Apakah benar?”

“Apa? kau masih juga tidak percaya?”

“Kalau aku tidak percaya, aku tidak akan terus

membantah Seng Kong-kong?”

“Kau membantahnya, apa yang kau katakan?”

“Dia curiga kepadamu!”

“Curiga tentang apa?”

“Tidak jujur dan tidak bisa dipercaya!”

“Oh Langit! Rupanya manusia tidak boleh berbuat

kesalahan, sekali saja berbuat kesalahan akan terus diingat,

padahal orang suci pun bisa berbuat salah!”

“Coba berikan contohnya!”

“Menurut Kong-hu-cu, ’40 tahun tidak mudah ditipu’,

menurut Beng-cu,’40hati tidak bergerak’, itu jelas-jelas

memberitahu kita sebelum usia 40 tahun bila melihat emas

hati manusia akan bergerak, melihat wanita secantik

dirimu, tentu akan jatuh cinta juga.” (Kong-hu-cu atau

Beng-cu adalah orang bijak atau pelajar terkenal dari jaman

Tiongkok kuno).

“Bocah, aku sulit berdebat denganmu, aku selalu kalah!”

Wie Kai membuka tangannya diam-diam ber-jalan

keluar.

Putri terkejut dan berteriak: “Wie Kai, kau mau ke

mana?”

“Ada apa?” Wie Kai berhenti melangkah tapi dia tidak

membalikkan tubuh.

“Apa yang terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba marah?”

“Mengapa aku marah?”

“Apakah aku sudah berbuat kesalahan?”

“Walaupun kau sudah salah bicara atau marah, bahkan

memukulku, aku tidak akan menyalahkanmu, aku masih

ingat sewaktu aku baru kembali, di penjara kau

menendangku, memukulku.”

“Apa? Kau masih menaruh di hati semua perlakuanku

itu?”

“Tidak, aku tidak menyalahkanmu, kalau kau tidak

marah atau memukulku, aku malah merasa malu dan

bertambah sedih!”

Putri Kao Tong terpaku, tapi segera dengan terharu

menempelkan wajahnya ke wajah Wie Kai, lalu mengeluselus

wajah Wie Kai.

Wie Kai terpaku.

“Bocah, sifatmu benar-benar keras!”

“Bila melukai orang jangan melukai hatinya, melukai

pohon jangan melukai akarnya!” kata Wie Kai.

“Tadi kau ada di mana?”

“Putri, aku harus pergi dari sini!”

“Pergi? Pergi ke mana?”

“Meninggalkanmu!”

“Kau benar-benar tidak punya hati nurani, kau…kau…”

“Kalau aku tidak pergi dari sini, Seng-yan-kong akan

terus mengganggumu!”

“Asal ada aku, kau takut apa?” dengan lembut putri Kao

Tong bicara.

“Bukan seperti itu maksudku, kecurigaan Seng-yan-kong

terlalu besar, aku takut suatu hari nanti kau akan lebih

percaya padanya dibandingkan aku, waktu itu aku sudah

tidak bisa membela diri lagi, aku akan mati!”

“Aku tidak mengijinkanmu mengatakan mati!” putri Kao

Tong menutup mulut Wie Kai dengan jari-jarinya yang

lembut, “Kalau kau tadi mendengar pembicaraanku

dengannya, kau tidak akan pergi!”

“Kalian tadi membicarakan apa?”

“Aku sudah membangkang kepadanya.”

“Demi diriku?”

“Kalau bukan demi dirimu, lalu demi siapa?”

“Putri, kau benar-benar istri yang baik, apakah aku layak

mendapatkan hal seperti itu?”

Mata genit putri Kao Tong benar-benar indah, dia

meleleh dalam pangkuan Wie Kai:

“Bocah, kalau kau tidak layak, lalu siapa yang layak?”

Tiba-tiba Wie Kai mengendongnya.

Putri Kao Tong seperti seekor kucing jinak berada dalam

pelukan Wie Kai.

Dia mencium putri Kao Tong dan menggendongnya

masuk ke dalam kamar.

Malam.

Loo Cong sedang mengobati luka di punggung Leng-ji.

Luka pecut di punggung Leng-ji sebenarnya sudah

hampir sembuh, tapi karena sudah beberapa hari tidak

diobati, ditambah dengan udara panas, maka lukanya

belum sembuh benar, apa lagi terkena goresan tombak

Cian-siu.

“Hati-hati, setiap hari harus selalu diobati!”

“Luka di punggung sulit sembuh, bila tidur secara tidak

sengaja akan tertindih!”

“Berusahalah tidur dengan posisi miring!”

“Bagaimana dengan kita?”

“Apa maksudmu dengan kalimat bagaimana dengan

kita?” Loo Cong menghentikan gerakan tangan nya dan

bertanya.

“Apakah seumur hidup akan seperti ini?”

“Apa boleh buat, dari pada kepala kita melayang!”

Leng-ji menarik nafas dan tidak bersuara lagi.

“Kita ceritakan hal lain!”

“Cerita apapun tidak bersemangat!”

“Aku tahu, kau merindukan Siau-kai.”

“Tidak… tidak.” Leng-ji dengan cepat membela diri, “aku

tidak merindukan dia, aku tidak akan menyiksa diriku lagi.”

“Tapi kau selalu terlihat tidak gembira!”

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Siau-loo, aku tahu kau

sangat baik kepadaku, memperhatikanku, semua ini

melebihi perhatianmu kepada dirimu sendiri…”

Loo Cong terdiam,

Leng-ji bertanya: “Kau melihatku lagi?”

Loo Cong masih diam, Leng-ji membalikkan tubuh,

mereka saling berpandangan.

Tiba-tiba Loo Cong memeluknya. ? Ini terjadi secara

alamiah.

Tapi Leng-ji mendorongnya.

Sebenarnya Loo Cong adalah pasangan yang sangat

ideal.

Mereka bersahabat, apa lagi dalam beberapa waktu ini

dia selalu melindungi dan menyayanginya. Semua terukir di

hati Leng-ji tapi hatinya sudah milik Siau-kai.

Walaupun Siau-kai sudah mengkhianatinya dan

membuat hatinya hancur.

Tapi saat sekarang dia tidak bisa menampung orang

kedua.

Leng-ji tidak mungkin menampung orang kedua lagi.

Maka Leng-ji turun dari ranjang: “Tidak, Siau-loo…”

Betul, tidak bisa, mereka tidak bisa melakukan ini. Loo

Cong mengaku mereka tidak bisa melaku-kan hal ini.

Kesadaran yang muncul di saat yang tepat adalah benar.

Di waktu yang tepat saat api sudah padam, hal yang

akan membuat orang merasa menyesal seumur hidup sudah

terhindar.

Walaupun Siau-kai sudah mengkhianati dan membuat

Leng-ji terbuka, tapi mereka tetap tidak bisa melewati batas

ini.

“Leng-ji… maaf… maafkan… aku!”

Mereka sangat tegas dan tangguh. Nafsu tidak bisa

mengalahkan mereka. Mereka berlari keluar. Ada yang di

depan ada yang di belakang. Hanya ada lampu kecil dengan

api yang masih terus berloncatan.

Api nafsu adalah api bintang. Api ini bisa meluas juga

bisa membakar apa yang ada di dunia ini.

Dengan baju tidak rapi, Leng-ji berlari keluar dari rumah

itu.

Dia berlari dengan cepat seperti orang gila. Hanya berlari

baru bisa menghentikan api nafsu. Mematikan nafsu bukan

hal yang gampang.

Api nafsu mereka tidak di depan lawan jenis mana pun

akan muncul.

… Hanya Leng-ji yang ada di depan Loo Cong maka hal

ini bisa terjadi.

… Hanya Loo Cong yang berada di sisi Leng-ji maka bisa

begitu.

Mereka saling merasa berhutang budi juga saling

memikat.

Perasaan ini ada di hati mereka yang kecil, memang sulit

menahan perasaan yang diketuk-ketuk.

Loo Cong pun merasa seperti itu. Sudah lama mereka

bersama-sama melewati pagi dan malam, walaupun mereka

berusaha menahan diri dan berusaha tidak membuat

semangat lawan berkobar, tapi perasaan ini sulit dimengerti.

Dia akan mengganggu, di waktu kau tidak

merasakannya.

Dia akan membuatmu kalang kabut.

Dia juga akan membuatmu merasa malu dan menyesal.

Loo Cong mengejar dari belakang:

“Leng-ji… Leng-ji…”

Leng-ji berlari dengan cepat sambil melafalkan musimmusim

untuk bertani: “Li-chun, Siau-yu.”

Loo Cong di belakang juga melafalkan: “Siau-cu… Tacu…”

Mereka benar-benar seperti berada dalam pusaran udara

panas.

Keringat membasahi baju, wajah memarah nafas pun

ngos-ngosan.

Tapi mereka sangat beruntung.

Mereka tidak melakukan kesalahan.

Tidak semua pasangan pemuda pemudi bisa melakukan

hal ini.

-ooo0dw0ooo-

BAB III

Air terjun itu tidak begitu besar. Tingginya sekitar 10

tombak. Ada mata air yang mengalir dari atas gunung. Ada

sebuah kolam kecil, airnya terus ber-ceceran saat air terjun

turun.

Di sekeliling sana banyak batu yang ditumbuhi lumut.

Air kolam sangat bening.

Mereka berdua tertawa di dalam kolam.

Mereka berdua mengerti arti tawa ini.

Setelah bisa lolos dari bahaya mereka merasa beruntung

maka cara terbaik mengungkapkannya adalah dengan

tertawa.

“Leng-ji, aku yang salah!”

“Tidak, jangan salahkan siapa pun!”

“Untung kepalamu lebih dingin dan kau lebih punya akal

sehat!”

“Kau lebih dingin dan lebih punya akal sehat,” sambung

Leng-ji.

Loo Cong yang berada di kolam mencuci kepala dan

mukanya.

Air kolam yang dingin menyiram api nafsu itu hingga

padam.

“Kepalaku lebih dingin dan lebih sehat dari siapapun”

“Kau bisa ramah dan tenang, lebih gampang menolak!”

“Hal seperti apa yang sulit ditolak?”

“Perasaan yang bisa meleburkan besi!”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Tapi… suara

tawa mereka tiba-tiba berhenti.

Mereka seperti tahu akan terjadi sesuatu.

Karena itu mereka saling berpelukan di dalam kolam.

Mungkin inilah pelukan mereka yang terakhir. Mereka

bertekad menjaga rasa persahabatan yang suci.

Ini adalah hal yang membanggakan mereka. Sekarang

dengan saling memeluk bukan hal yang keterlaluan.

Karena bahaya mulai mendekat. Mereka mendengar ada

suara. Mereka mencium ada bau darah.

“Mereka lagi!” kata leng-ji dengan dingin.

Dengan serius Loo Cong berkata: “Tidak ada yang lain!”

Mereka melihat ke atas air terjun, bayangan orang sangat

banyak.

Seng Kong-kong paling depan, masih ada Mo Ki-thian

dan banyak La-ma, mereka sudah mengelilingi Leng-ji dan

Loo Cong.

Dalam keadaan seperti itu walaupun mereka mempunyai

semangat tinggi, tapi dalam hati mereka sadar kalau malan

ini mereka akan habis.

Apa lagi mereka tidak membawa senjata.

Hari seperti ini pasti akan datang. Mereka sadar apa yang

tersimpan di dalam hati tidak akan bisa diungkapkan.

Mereka memisahkan diri dari pelukan. Walaupun begitu

mereka tidak akan tunduk.

“Leng-ji, Loo Cong, Seng Kong-kong datang menjemput

kalian untuk mati!” teriak Mo Ki-thian.

“Terima kasih, Kong-kong!” kata Loo Cong.

“Loo Cong!” teriak Seng Kong-kong.

“Siap, Kong-kong!”

“Apa aku tidak baik kepadamu?”

“Baik!”

“Kalau aku baik padamu, mengapa kau

mengkhianatiku?”

“Yang kumaksud dengan kebaikan Kong-kong diartikan

lain!”

“Diartikan apa?”

“Apakah Kong-kong pernah menganggap kami

manusia?”

Seng-yan-kong marah:

“Apa salahku kepada kalian?”

“Demi rencana busukmu, kau mengumpulkan uang di

sana sini, merebut harta orang lain, juga menggunakan ilmu

sihir menyuruh kami melakukan hal yang merugikan…”

Mo Ki-thian membentak:

“Berani sekali kau…” dia turun dari atas air terjun

menjatuhkan diri ke tengah-tengah air kolam.

Dia ingin membuat jasa besar di depan Kong-kong.

Dia mengira lawan tidak bersenjata sedangkan dia

memegang senjata.

Apa lagi kalau dia kalah, pasukan yang sangat banyak

akan datang dan bisa segera ke sana.

Leng-ji dan Loo Cong sudah tidak bisa mundur. Mereka

sudah tidak segan-segan lagi. Baru saja Mo Ki-thian turun

Loo Cong segera menyerang.

Mo Ki-thian menyapu dengan pedang baru turun.

Loo Cong menendang ke atas.

Mo Ki-thian terpelanting beberapa meter.

Belum sempat turun tapi sudah memuntahkan darah.

Dua La-ma ikut turun.

La-ma ini mengira ilmu ketiga anak muda yang mereka

pelajari dari La-ma bisa gampang mereka tangani.

Tapi mereka tidak tahu kalau ke tiga orang itu sewaktu

masuk Eng-hong-pie-ya sudah menguasai ilmu silat dari

aliran lain.

Apa lagi Wie Kai, diam-diam sering mengajar-kan

mereka.

Karena Wie Kai adalah salah satu keturunan ‘Bu-lim-topit’

(Golok dan pena dunia persilatan), dia mempunyai

dasar ilmu silat yang sangat kuat.

Dua La-ma masing-masing bertarung dengan Leng-ji dan

Loo Cong.

Loo Cong sengaja memaksa La-ma masuk ke dalam air

yang dalam.

Leng-ji memancing La-ma yang lain keluar dari kolam.

Karena dia tidak bisa berenang.

Loo Cong menggunakan keahliannya menyerang

kekurangan musuh.

La-ma itu tidak bisa berenang.

Dengan air sebatas pinggang, bagi yang tidak bisa

berenang merupakan kerugian besar.

Loo Cong memukulnya sampai pingsan.

Leng-ji dan La-ma yang ada di luar kolam masih

bertarung, sampai sekarang belum tahu siapa yang kalah

atau menang.

Loo Cong bertarung dengan dua La-ma lagi. Dua La-ma

itu sepertinya mengerti tentang teknik berenang.

Mereka berani keluar untuk bertarung dengan Loo Cong.

La-ma yang datang ke Tionggoan selalu menganggap

ilmu silat mereka paling lihai.

Mereka menganggap remeh ilmu silat Tionggoan.

Tapi sekarang mereka telah kehilangan beberapa La-ma

berilmu tinggi, maka mereka tidak ragu-ragu lagi

membunuh.

Dua La-ma yang agak mengerti tentang teknik berenang

memandang enteng Loo Cong.

Ketika Loo Cong memancing mereka masuk ke air yang

lebih dalam, tanpa sadar mereka masuk ke tempat itu.

Begitu sampai di air yang dalam, Loo Cong tiba-tiba

menghilang.

Sewaktu dua La-ma sedang mencari-carinya, salah satu

La-ma tiba-tiba berteriak aneh kemudian dia tenggelam ke

dalam air.

Sedangkan yang satu lagi merasakan ada hal yang aneh,

terpaksa dia turun kedalam air.

Karena Seng Koiig-kong dan La-ma lain berada di atas

gunung, mereka bisa melihat pertarungannya.

Begitu masuk ke dalam air La-ma segera di-totok oleh

Loo Cong.

Saat dia akan memberontak sebelah tangan Loo Cong

masuk ke dalam pautnya.

Mayat La-ma tadi sudah terapung.

Leng-ji berhasil memukul jatuh seorang La-ma, tapi

nafasnya terengah-engah.

Kekhawatiran bisa membuatnya terluka.

Setiap hari dia selalu sedih dan merasa khawatir, jarang

berlatih ilmu silat yang pasti kemam-puan ilmu silatnya

menurun. Paling sedikit kekuatan tubuhnya menurun.

Seorang La-ma ingin turun tapi Seng-yan-kong

menghadangnya.

Bila ada yang ingin bertarung, dia mempunyai orang

yang berani berebut bertarung.

Di atas gunung atau di bawah gunung tidak ada suara.

Ilmu silat Seng-yan-kong sangat tinggi, tidak ada yang

meragukannya.

Tapi tidak ada yang pernah melihat dia pernah bertarung

dengan seseorang.

Dulu ketiga anak muda itu berlatih silat dan Seng-yankong

yang mengajar mereka, tapi itu bukan benar-benar

melawan musuh.

Sekarang semua orang bisa melihat ilmu silat Seng-yankong.

Mo Ki-thian terluka berat, dia tidak sanggup mengatur

anak buahnya lagi.

Dia dibawa oleh anak buahnya keluar dari kolam itu.

Mayat-mayat La-ma yang terapung di kolam sudah

dipindahkan oleh La-ma lain.

Setelah membunuh beberapa orang Loo Cong terluka.

“Loo Cong, Leng-ji.” Teriak Seng-yan-kong.

“Siap!” sahut Loo Cong.

Tapi Leng-ji tidak mengeluarkan suara.

“Kalian berdua sama sekali tidak menyesal!”

“Tidak melakukan kesalahan mengapa harus merasa

menyesal?”

Tubuh Seng-yan-kong sedikit bergetar: “Loo Cong!”

“Kong-kong tidak perlu banyak bicara?”

“Apa kesalahan Kong-kong kepadamu? Sebutkan!”

“Kong-kong bisa bertanya kepada diri sendiri, merebut

harta orang, membunuh keturunannya, apa-kah itu perilaku

seorang laki-laki sejati?”

Dengan penuh kemarahan Seng-yan-kong berkata:

“Bila mau sukses cara yang dia gunakan adalah

mengumpulkan uang!”

“Apa maksud perkataan Kong-kong?” tanya Loo Cong.

“Kalau yang dibunuh adalah keturunan Kong-kong,

harta yang direbut adalah harta Kong-kong, bagaimana

perasaanmu? Anak perempuan LimPut-hoan mati karena

golokmu, apa salah mereka?”

Tubuh Seng-yan-kong bergetar oleh tiupan angin malam.

Loo Cong dengan nada getir berkata lagi: “Masih ada

lagi, apa yang sedang di kerjakan Kong-kong dan Kao

Tong? Apakah bisa menutupi mata orang lain? Kong-kong,

kalau Loo Cong mati tidak apa-apa, tapi aku harus

menasehati Kong-kong, kedudukan tidak perlu tinggi-tinggi,

malah akan berbahaya, melakukan sesuatu jangan terlalu

kejam, kalau tidak akan jatuh!”

Dengan dingin Seng Kong-kong berkata:

“Loo Cong, aku benar-benar mengagumi keberanianmu!”

“Keadilan ada di depan, mati atau hidup tidak perlu

ditakuti.”

Tiba-tiba Seng Kong-kong mengeluarkan raungan besar.

Terlihat dia sangat marah.

Sebab tidak ada orang yang pernah berkata seperti ini.

Sekarang orang yang bicara adalah terpidana yang

sedang menunggu hukuman mati. Tiba-tiba dia tertawa

aneh!

Tawanya belum selesai, dia sudah turun dari atas dengan

jurus ‘Han-tong-ho-to’! (Di kolam dingin bangau

menyeberang).

Dari gunung begitu tinggi dia meloncat turun, semua

butuh tenaga pinggang ekstra kuat.

Tapi Seng-yan-kong adalah Seng-yan-kong.

Dia berlari di atas air seperti sedang bermain es skating,

tiga langkah meluncur dia sudah berdiri di atas batu.

Sepatunya sama sekali tidak basah.

Loo Cong dan Leng-ji benar-benar terkejut.

Tapi apa boleh buat mereka sudah mencapai tahap ini,

merasa takut pun sudah tidak ada gunanya lagi, mereka

segera siap siaga.

Seng-yan-kong berharap mereka menyerahkan diri.

Paling sedikit bisa memberikan muka kepada-nya.

Terlihat mereka berdua akan bertarung mati-matian.

“Baik! Kalian berdua bertarunglah denganku!” dengan

dingin Seng-yan-kong berkata, “murid yang kuajar malah

balik mencakarku! Ha ha ha!….”

Dia tertawa terbahak-bahak:

“Berikan golokku kepadanya!”

Loo Cong memegang golok Seng Kong-kong. Dulu dia

sering memegang golok ini untuk berlatih silat.

Hari ini dengan golok Seng Kong-kong dia akan

menyerang Seng Kong-kong.

Leng-ji memungut sebuah pisau belati.

Dalam pikirannya walaupun hanya sebuah pisau belati,

ini lebih baik dari pada tangan kosong.

Kalau mereka berdua bisa mengalahkan Seng-yan-kong

dalam 1-2 jurus, itu sudah sangat beruntung.

Paling sedikit Seng Kong-kong tidak akan segera

membunuh mereka.

Lawan terlalu kuat.

Walaupun mereka akan bertarung mati-matian tapi

mereka tetap tahu semua ini harus mengandalkan nasib

mujur!

“Kalian berani bertarung denganku, benar-benar

membuatku ingin melihat kalian dari sisi yang lain. Kalau

kalian berdua bisa menerima 20 jurus dan tidak kalah, aku

tidak akan membunuh kalian sekarang dan, setelah kalian

menyesali perbuatan kalian aku akan memberikan

kesempatan kepada kalian untuk menebus kesalahan!”

“Terima kasih!” kata Loo Cong.

“Mulailah!” kata Seng Kong-kong.

Loo Cong dan Leng-ji saling berpandangan.

Mereka tidak perlu bersuara sudah mengerti apa

keinginan lawan.

Loo Cong menyerang dulu.

Ini adalah jurus golok yang penuh dengan perubahan.

Jurus golok ini adalah gabungan jurus golok Seng Kongkong

juga jurus golok Wie Kai, dan jurus yang diteliti oleh

Loo Cong sendiri!

Boleh dikatakan jurus golok ini adalah inti sari jurus

goloknya.

Dia menyerang Seng Kong-kong dengan jurus ini supaya

Seng Kong-kong memperhatikannya dan Leng-ji bisa

menyerangnya dari belakang.

Leng-ji sudah melihatnya pada saat yang tepat dia

menyerang dengan pisau belati.

Jurus pisau belati ini dianggap Leng-ji sebagai jurus yang

paling membuatnya merasa puas.

Setiap pesilat pasti mempunyai jurus yang dianggapnya

paling dibanggakan.

Bila seseorang telah menyukai sesuatu, dia akan

bertambah perhatian pada hal itu.

Maka saat mereka mengeluarkan jurus pertama keluarlah

jurus yang dahsyat.

Seng Kong-kong sangat percaya diri.

Kalau tidak dia tidak akan meminjamkan senjatanya

kepada Loo Cong.

Tadinya golok itu digantung di rumah mereka, Seng

Kong-kong ke rumah mencari mereka dia mengambil golok

itu.

Setelah Seng Kong-kong menerima jurus mereka,

hatinya bergetar.

Ini alasanya mengapa mereka dikejar oleh kekuatan

besar selama pelarian tapi mereka tetap bisa membunuh

musuh yang kuat dan bisa lolos.

Sampai-sampai Yu Tai-jin pun tidak terkecuali.

Ini bukan suatu kebetulan.

Seng Kong-kong tidak menyangka mereka bisa sekuat

itu, dia dipaksa mundur oleh kedua anak muda itu.

Tiba-tiba Seng Kong-kong tertawa terbahak-bahak.

Sebagai seorang Seng Kong-kong?

Tentu saja dia sudah melihat jurus golok Loo Cong tadi

merupakan gabungan dari kelebihan beberapa aliran golok

di gunia persilatan.

Jurus Leng-ji tadi juga mengandung banyak darah dan

keringat, sudah menghabiskan banyak pemikiran baru

terangkai menjadi jurus ini.

Yang dikatakan jurus andalan adalah jurus-jurus di mana

orang lain belum terpikirkan, berlatih ilmu silat yang orang

lain belum pernah berlatih, dengan ilmu yang tinggi

menyerang kekurangan musuh.

Semua orang merasa terkejut.

Apa lagi Mo Ki-thian, dia lebih-lebih merasa malu.

Walaupun Seng Kong-kong meminjamkan golok itu

kepadanya dan dia berlatih 10 tahun lagi, tapi dia tetap

tidak akan mungkin bisa menghasilkan jurus seperti

mereka!

Seng Kong-kong mulai menerima jurus kedua dan

ketiga, tiba-tiba dia berteriak: “Bagus!”

Mengapa dia berseru bagus!

Karena jurus yang bisa memaksanya mundur merupakan

kemuliaan baginya.

Siapa yang tahu dalam serangan Loo Cong terkandung

ilmu orang lain?

Apa lagi dengan tangan kosong dia menyambut serangan

2 anak muda itu, bila dipaksa mundur itu bukan masalah

besar!

Bukankah ini adalah contoh baik bagi seorang yang

terkenal?

Tiba-tiba rasa percaya diri Leng-ji muncul kembali. .

Dia belajar lebih banyak dari Siau-kai dan banyak

mengikuti petunjuk Siau-kai.

Hanya sayang tenaganya tidak sekuat Loo Cong, apa lagi

senjatanya pendek, maka ilmu yang dia pelajari dari Siaukai

tidak bisa keluar secara maksimal.

Mereka bergabung dengan kompak dan serangan mereka

ganas.

Walaupun Seng Kong-kong adalah pesilat tangguh, tapi

setelah 5-7 jurus dia masih belum bisa menangkap mereka.

Walau sudah berumur, Seng Kong-kong punya ilmu

meringankan tubuh yang tidak kalah dari anak muda, dia

bisa bergerak cepat.

Dalam 20 jurus dengan tangan kosong dia harus

mengalahkan mereka berdua.

Sayangnya ilmu andalan kedua anak muda itu tidak

banyak.

Jurus yang mereka kuasai hanya 5-7 jurus.

Jurus-jurus yang membuat mereka merasa percaya diri

sudah habis digunakan, sedangkan pertarungan baru 12-13

jurus, sekarang mereka mulai merasa tertekan.

Mereka bertiga bertarung dalam kolam.

Air setinggi pinggang, bagi Leng-ji itu sangat

merugikannya.

Tapi Loo Cong bisa berenang, Kong-kong pun demikian.

Tiba-tiba Seng-yan-kong membentak, telapak tangannya

menyapu.

Pisau belati Leng-ji jatuh ke dalam air.

Loo Cong menyerang, dia ingin menolong Leng-ji yang

berada dalam bahaya.

Tapi Seng-yan-kong mulai mengeluarkan jurus-jurus

yang belum pernah dia keluarkan.

Hanya sekelebat dia sudah berhasil mencengkeram

pergelangan tangan Leng-ji.

Rasa kecewa dan sedih, dirasakan oleh kedua anak muda

itu.

Loo Cong hanya terlambat sedikit.

Sebab di dalam air gerakannya lebih lambat

dibandingkan di luar air.

Seng Kong-kong meraung.

Dia mengangkat tubuh Leng-ji.

Loo Cong tidak berani menyerang, dia takut goloknya

akan membuat Leng-ji terluka.

Seng-yan-kong mengangkat dan menceburkan Leng-ji

kedalam air. Satu kali… dua kali… tiga kali…

“Aku tidak takut, biarkan aku mati!” teriak Leng-ji.

Sekali lagi dia memperlihatkan kegagahan dan sifatnya

yang keras seperti saat di depan pisau pemenggal.

Hati Seng-yan-kong diam-diam memuji.

Tapi api kemarahan sudah memenuhi dadanya, dia

sudah tidak bisa menghentikannya.

Terlihat tubuh Leng-ji terus dibanting ke dalam air.

Membuat air kolam yang dalamnya 4 kaki lebih karena

kekuatannya menjadikan tiang air tinggi hingga bisa

melihat dasar kolam.

Bisa di bayangkan tenaganya sekuat apa.

Leng-ji sudah jatuh pingsan:

Walaupun Mo Ki-thian sudah terluka berat dia masih

sempat berpesan kepada anak buahnya untuk membawa

Leng-ji keluar air dan mengikatnya dengan tali.

“Loo Cong, apakah kau masih ingin bertarung lagi?”

“Hanya mengikuti keinginan hati saja!”

“Aku mengira kau adalah orang jujur dan lugu, berbeda

dengan Wie Kai!”

“Aku merasa aku masih seperti ini!”

“Kalau kau menyerah dan mengaku bersalah, aku akan

berpikir-pikir lagi!”

“Anda tidak perlu dipikir-pikir lagi!” kata Loo Cong

dengan serius.

“Apa maksudmu?”

Semua orang akan mengira Seng Kong-kong begitu baik

masih berniat menasehati, seharusnya Loo Cong berterima

kasihkepadanya.

Tapi Seng Kong-kong mempunyai pemikiran sendiri.

Rencana besar akan dimulai, maka orang yang berbakat

sulit didapatkan.

Seperti Wie Kai, Loo Cong, dan Leng-ji, mereka anak

muda yang berbakat dan penuh gairah hidup, jarang ada di

dunia ini.

Asal mereka mau bertekuk lutut kepadanya, dia akan

menjadi seperti harimau tumbuh sayap.

Maka Seng-yan-kong berusaha menahan diri dan

memperlihatkan kebesaran jiwanya.

Tapi Loo Cong dan Wie Kai berbeda prinsip menjadi

orang.

Cara mereka satu adalah satu, dua adalah dua.

Dia tidak akan berubah menjadi satu ditambah satu

menjadi dua, dua dikurangsatu adalah satu. Mereka

mempunyai pola pikir sendiri.

“Kalau kau benar-benar bisa memaafkan kami, itu

adalah kesedihan kami!”

“Apa maksudmu?”

“Sangat sederhana, karena kami tidak pantas

dimaafkan!”

“Aku menganggap kalian pantas, itu sudah cukup!”

“Kami tidak akan menjadi alat membantumu

memberontak!”

Seng-yan-kong mulai merasa kecewa.

Dia diam dan bersiap-siap menyerang Loo Cong.

Loo Cong tahu hidup atau matinya sudah berada di

depan mata.

Menyerang dengan jurus lain dia merasa tidak yakin.

Dia mulai menggunakan jurus-jurus ke-2 dan ke-3.

Karena dia menganggap beberapa jurus ini adalah inti

sari jurus dari ilmu silatnya.

Seng-yan-kong menghindar. Kemudian terlihat kedua

tangan Seng-yan-kong seperti kilat dan berkelebat.

Loo Cong berteriak terkejut.

Golok aneh tahu-tahu sudah berada di tangan Seng-yankong.

Di sekeliling sana terdengar seruan dan suara tepuk

tangan.

Semua orang yang ikut datang, dari pihak Seng Kongkong

atau dari La-ma dari rumah La-ma adalah pesilat

tangguh terpilih.

Mereka benar-benar pesilat tangguh.

Mereka melihat dari sisi dan orang luar.

Tapi mereka tidak melihat jelas dengan cara apa Seng

Kong-kong bisa merebut golok itu!

Loo Cong tidak menyukai cara Seng Kong-kong

memperlakukannya.

Walaupun hati tulusnya mengagumi ilmu silat Seng-yankong.

Jaman sekarang ini sulit ada pesilat yang lebih tinggi

ilmunya dari Shen Kong-kong.

“Loo Cong!” teriak Seng-yan-kong.

“Ada!” jawab Loo Cong.

“Maju selangkah, kau akan hancur, mundur selangkah

terbentang dunia yang indah!” kata Seng-yan-kong dengan

dingin.

“Maju selangkah adalah kebajikan, mundur selangkah

melihat kehidupan gelap yang sudah berlalu 25 tahun,

membuat nenek moyang merasa malu!”

Rambut Seng-yan-kong yang putih berkibar-kibar, walau

tidak ada angin.

Semua ini membuat hati dan tubuhnya bergetar, kedua

tangannya mengepal, keluarlah suara keras.

Tidak ada orang yang pernah membuatnya menahan diri

dan terus mundur.

Dia benar-benar sangat menyukai anak-anak muda ini.

Seperti Wie Kai, karena perasaan sayang kepada orang

berbakat maka berkali-kali dia mundur. Menutup sebelah

mata dan membuka sebelah mata, dia menaruh Wie Kai di

sisi putri Kao Tong.

Bila dia ingin membunuh Wie Kai, tidak bisa secara

terang-terangan melakukannya. Diam-diam dia akan

menyingkirkan Wie Kai seperti membalikkan telapak

tangan.

Seng-yan-kong menarik nafas panjang.

Suaranya sedikit bergetar.

Semua orang mengira kalau kesabaran Seng-yan- kong

sudah kelewat batas dan abnormal

Tidak ada orang yang mengerti mengapa dia bisa seperti

itu!

“Loo Cong, Kong-kong sudah tua….”

Nadanya penuh kesedihan.

Loo Cong sama sekali tidak terpengaruh.

Hanya saja Loo Cong adalah orang yang berprinsip.

Kong-kong terus mundur dan tidak melukai-nya, dia

ingin memperalat Loo Cong, selain itu Seng Kong-kong

tidak tega menghancurkan orang berbakat yang dilatihnya

sendiri!

Semua ini membuat semua orang terharu.

Kalau Loo Cong terpengaruh, dia akan di-peralat, dia

akan bersekongkol menjual negaranya kepada bangsa lain

dan tenggelam dalam rencanabusuk itu!

Dengan serius Loo Cong berkata:

“Kong-kong tidak memikirkan kesalahanku dan

bermaksud memaafkan aku, aku merasa terharu, tapi

sayang aku tidak bisa diperalat lagi oleh Kong-kong, hingga

negara kita hancur…”

Seng-yan-kong melotot marah.

Kesabarannya sudah sampai di batas akhir.

Loo Cong menatap langit dan berkata:

“Kita berhenti melakukan hal tidak baik bila sudah sadar!

Kalau Kong-kong bisa berhenti menerus-kan rencana ini,

seumur hidup Loo Cong akan meng abdi kepada Kongkong!”

“Kau tidak pantas bicara seperti itu, kau tidak pantas

menguliahi aku…” bentak Seng Kong-kong, matanya

menjadi merah.

Sekali lagi dia menyerang. Dia melempar golok aneh itu.

Golok tampak berkilauan, kilauannya melesat terus ke arah

tembok batu, golok menancap ke dalam batu sedalam 5-6

inchi.

Lemparan golok benar-benar membuat orang terkejut.

Seng-yan-kong sekali lagi menyerang dengan tangan

kosong, dia tidak butuh golok untuk menundukan Loo

Cong.

Rasa percaya diri Loo Cong semakin hancur.

3 jurus belum sampai pergelangannya sudah dicengkram

oleh Seng-yan-kong.

Dia mengangkat tubuh Loo Cong.

Dan membantingnya ke dalam air.

Leng-ji berteriak, kebetulan dia sudah sadar.

Loo Cong dan Leng-ji bernasib sama.

Air kolam sedalam 5 kaki karena tubuh Loo Cong

dibanting ke dalam air membuat air menjadi tiang setinggi

beberapa depa.

Terlihat batu yang ada di dasar kolam.

Loo Cong diikat dan dilempar ke sisi kolam.

Mo Ki-thian tidak lupa memuji dan menjilat:

“Ilmu silat Kong-kong sangat tinggi, di dunia persilatan

tiada duanya, kalau dari dulu Kong-kong sendiri yang

menaklukkan mereka para pengkhianat ini sudah

tertangkap sejak lama!”

Semua orang setuju.

“Hati pengkhianat-pengkhianat ini keras seperti besi,

terhadap budi Kong-kong yang besar seperti gunung,

mereka membalasnya dengan cara seperti ini, hhhhhh!…”

keluh Mo Ki-thian.

Ada juga yang mengikutinya menarik nafas.

Kata Mo Ki-thian lagi:

“Mereka sudah gila dan tidak ada obat yang bisa

menolong mereka, lebih baik sekarang Kong-kong bunuh

mereka,” usul Mo Ki-thian.

Tiba-tiba ada yang ikut memberi komentar:

“Pengawas Mo benar, orang-orang ini banyak akal dan

licik, dari pada kabur lagi dan harus bersusah payah baru

bisa ditangkap lagi, lebih baik bunuh mereka di sini!”

Seng-yan-kong terdiam.

“Harap Kong-kong segera mengambil keputusan!” Mo

Ki-thian mendesak.

Tiba-tiba Seng-yan-kong bertanya:

“Ki-thian, apakah alat-alat siksa di Eng-hong-pie-ya

hanya dipindahkan sementara dan belum dihancurkan?”

“Terhadap pengkhianat-pengkhianat ini tidak perlu

menggunakan alat siksa, harap Kong-kong ber-pikir dengan

matang!”

Seng-yan-kong berpikir sebentar.

Tiba-tiba dia melayangkan tangan:

“Kembali ke markas!”

Hanya dua kata ini sudah cukup.

Kong-kong sudah mengambil keputusan membawa

mereka kembali ke markas.

Seng-yan-kong seperti bersikukuh ingin mereka mati

dengan cara dipenggal dan ingin melihat kepala mereka

terguling masuk ke dalam keranjang.

Mo Ki-thian melayangkan tangan, dia memerintahkan

orang membawa jalan.

Dia sendiri butuh digotong baru bisa berjalan.

Eng-hong-pie-ya berdiri dalam tiupan angin malam.

Eng-hong-pie-ya bagian belakang mengarah gunung dan

depan menghadap air, pemandangannya sangat indah.

Dia masih tetap seperti dulu tidak ada yang berbeda.

Kalau ingin mengatakan ada beberapa yang berbeda

adalah lampu malam ini bersinar lebih terang dan lebih

berkilau.

Sudah lama tempat itu tidak menyalakan lampu begitu

banyak!

Seperti ada pesta besar atau akan tahun baru. Malam ini.

Sepertinya malam ini lebih penting dari pesta besar dan

hari imlek.

Waktu itu dari Pie-ya tiba-tiba terdengar suara orang

berteriak memilukan! Suara ini membangunkan malam

yang sepi.

Seng-yan-kong duduk di kursinya.

Di kamar sepi tidak ada suara.

Mo Ki-thian diam berdiri di sisi, dia melihat keluar

kamar.

Di luar terdengar suara orang berjalan. Wie Kai muncul

di depan pintu, sorot matanya yang lincah melihat ke dalam

kamar.

“Kong-kong memanggil Wie Kai, ada apa?” tanya Wie

Kai.

“Masuklah!”

“Baik!…” Wie Kai masuk dengan wajar dan lugas. Dia

melihat Mo Ki-thian.

Tampak dengan melihat dia sebentar Wie Kai bisa

menebak maksud Kong-kong menyuruhnya datang, apakah

ada hal baik atau hal buruk.

Apakah hal buruk itu membuat Mo Ki-thian senang, bisa

terlihat dari luar.

Betul saja, terlihat kegembiraan Mo Ki-thian yang tidak

bisa ditutupi lagi.

Seng Kong-kong duduk ke pinggir, dia tidak melihat

langsung ke arah Wie Kai tapi melihat cermin yang

tergantung di dinding.

Kaca ini memantulkan kaca lain lagi, maka ekspresi Wie

Kai terlihat jelas.

Dengan santai SengKong-kong berkata:

“Dua pengkhianat itu sudah tertangkap!”

Hati Wie Kai bergetar, tapi dia sepertinya sangat bisa

menahan diri, dengan terkejut dia berkata:

“Loo Cong dan Leng-ji tertangkap?”

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Seng Kong-kong.

“Mereka tidak mau mendengar nasehatku, akhirnya

tertangkap juga!” kata Wie Kai.

“Tadinya aku akan menghapus dosa dan melepaskan

mereka, tapi mereka keras kepala!” kata Seng Kong-kong.

“Apakah Kong-kong bisa memaafkan mereka?” tanya

Wie Kai.

“Sepertinya seperti itu, tapi mereka sepertinya tidak takut

mati!”

Wie Kai membuka kedua tangannya:

“Di dunia ini apakah ada orang yang benar-benar tidak

takut mati?”

“Betul! Hal ini aku serahkan kepadamu untuk

dibereskan!”

“Menyerahkannya kepadaku?”

“Benar!”

“Aku merasa belum tentu bisa melaksanakan tugas ini

dengan baik!”

“Menasehati atau gunakan siksaan, semua kau yang

putuskan, aku percaya kepadamu, aku percaya kau bisa

melakukan tugas ini dengan baik.”

Wie Kai tertawa:

“Kong-kong percaya kepada Wie Kai, Wie Kai pasti

akan berusaha semampunya!”

Mo Ki-thian terus melihatnya.

Dia benar-benar tidak mengerti Wie Kai.

Dia tidak percaya apakah Wie Kai bisa melupa-kan

Leng-ji begitu saja.

Ingin membuktikan hal ini tidak sulit, semua akan segera

melihat.

OoodwooO

BAB IV

Kamar tempat hukuman di Pie-ya sangat besar. Di sana

banyak jenis alat siksaan. Semuanya komplit di sini.

Siapa pun yang masuk ke kamar hukuman akan

merasakan kalau orang yang masuk ke kamar hukuman,

seperti uang masuk ke tempat judi!

Bila-manusia sudah sampai di tempat ini sudah tidak

akan menjadi manusia lagi.

Di bawa dinding penuh dengan bekas darah, angin yang

masuk ke kamar ini pun terasa dingin.

Banyak yang sudah mati di sini, banyak yang cacat

karena tempat ini. Apakah semua yang dihukum di sini

semua adalah orang yang bersalah?

Kalau hukumannya benar berarti tidak ada hukuman

fisik, kalau dihukum tidak benar hasilnya sebaliknya.

Loo Cong dan Leng-ji terlihat sangat lelah.

Dulu walaupun hidup di hutan dan dikejar-kejar seperti

binatang, mereka tidak pernah merasa begitu lesu, lelah,

juga putus asa!

Orang harus hidup dalam harapan.

Di luar kamar hukuman terdengar langkah.

Mereka berdua segera melihat keluar dengan waspada.

Wie Kai berdiri di luar terali besi, seorang laki-laki

membukakan pintu besi untuknya.

Sekarang di sini dan di tempat ini mereka bisa bertemu

Wie Kai.

Apakah mereka senang atau marah? Cinta atau benci?

Loo Cong dan Leng-ji sudah tidak bisa membedakannya

lagi.

Karena hubungan di antara mereka terlalu erat.

Seharusnya mereka mempunyai rasa sedikit beruntung

atau sedikit harapan.

Karena mereka punya hubungan erat begitu hubungan

tidak harmonis, dendam akan semakin dalam.

Apalagi Wie Kai pergi karena Loo Cong masuk di antara

mereka.

Apakah ada badai perasaan?

Antara dendam dan cinta biasanya sangat dalam dan

sulit dicairkan.

Wie Kai membawa pecut, dia melihat mereka.

Kalau dulu begitu melihat keadaan mereka berdua

seperti itu, dia akan merasa sedih, matanya akan berkacakaca!

Tapi sekarang pelan-pelan dia memukul telapak

kanannya dengan pegangan pecut, dia melihat mereka

seperti melihat orang yang tidak dikenalnya, kemudian

dengan santai berkata:

“Aku tidak akan banyak bicara, aku hanya ingin bertanya

kepada kalian, apakah kalian akan menerima kesempatan

terakhir yang diberikan Kong-kong?”

“Tidak perlu banyak bicara lagi!” jawab Leng-ji.

“Bagaimana denganmu?” tanya Wie Kai

“Apa yang Leng-ji katakan, sudah mewakiliku juga!”

jawab Loo Cong.

“Jangan salahkan aku karena tidak punya perasaan!”

“Apakah kau orang yang punya perasaan?” tanya Lengji.

Wie Kai mulai memainkan pecutnya, wajahnya sudah

tidak berseri.

Seng Kong-kong dan putri Kao Tong melihat dari luar.

Wie Kai tidak perlu membalikkan tubuh dia sudah bisa

menduga, mereka pasti ada di sana.

Karena mereka harus melihat dengan jelas, semua ini

adalah cara mereka mendikte Wie Kai.

Dengan tegas WieKai berkata lagi:

“Aku ulangi sekali lagi, ini adalah kesempatan yang

diberikan Kong-kong.”

“Kata-kata ini sudah pernah ditanyakan Kong-kong

untuk apa diulangi lagi? Kami tidak sudi membantu orang

jahat!” jawab Loo Cong.

“Bagaimana denganmu?” tanya Wie Kai pada Leng-ji,

“kau bisa menahan berapa kali pecutanku?”

“Paling-paling aku tinggal mati!” jawab Leng-ji.

“Ingin mati pun tidak mudah!” bentak Wie Kai.

Pecut panjang melayang, baju bagian punggung Loo

Cong sudah sobek.

Pecutan kedua jatuh ke pinggang Leng-ji. Wie Kai

sepertinya tidak merasa kasihan sedikit pun kepada

perempuan.

Seng Kong-kong dan putri Kao Tong terus melihat

kejadian itu, sorot mata mereka hampir bisa mengukur

kekuatan tangan Wie Kai.

Setiap kali Wie Kai memecut Leng-ji, alis putri Kao

Tong pasti bergerak sekali.

Putri Kao Tong menganggap Wie Kai tidak akan

mengkhianatinya.

Setelah Mo Ki-thian melihat semua itu, dia malah

merasa kecewa.

Dia berharap Wie Kai sedikit ringan memukul Leng-ji

dan jangan terlalu menjilat Kong-kong serta putri Kao

Tong.

Tapi pikiran itu seperti membuatnya kecewa. Sebab

setiap kali memecut Wie Kai benar-benar memecut mereka

dengan sekuat tenaga.

Baju hancur, kulit sobek, dan darah mengalir keluar.

Dalam suara pecutan mereka menghindar dengan cara

berguling-guling di bawah, tapi tidak ada yang

mengeluarkan suara.

Mereka benar-benar berusaha menahan rasa sakit ini.

Tidak mengerutkan alis, tidak berteriak, adalah jawaban

paling kuat untuk melawan Kong-kong.

Wie Kai memecut semakin kuat.

Sekarang Mo Ki-thian dengan aneh baru melihat kalau

ternyata Wie Kai adalah orang yang tidak punya perasaan,

boleh dikatakan berdarah dingin.

Sekarang Mo Ki-thian malah merasa tidak tega.

Kalau dia menjadi Wie Kai, dia tidak akan begitu kejam

memecut Leng-ji, karena posisi Leng-ji di dalam hatinya

seperti dewi, bukan orang biasa.

Tiba-tiba Mo Ki-thian membenci Wie Kai.

Seng Kong-kong dan putri Kao Tong yang berdiri di luar

saling pandang, mereka merasa puas!

PAK! Wajah Leng-ji terkena pecutan dan meninggalkan

bekas pecutan yang sangat jelas.

Leng-ji marah:

“Siau-kai… kau benar-benar kejam!”

Benar, sampai Mo Ki-thian sendiri pun punya perasaan

seperti itu.

Wie Kai dengan dingin berkata: “Pu-to-put-ciang-hu!”

(Kalau tidak kejam bukan suami).

Leng-ji tertawa terbahak-bahak: “Suami? Ha ha ha…

suami…”

Loo Cong tidak mau menunggu dipukul begitu saja.

Dia mulai balik menyerang.

Tapi apa boleh buat setelah mereka dibawa kembali ke

sini mereka disiksa dengan kejam, setelah tertangkap jalan

darah mereka selalu ditotok, baru diangkut kembali ke Enghong-

pie-ya.

Orang yang sudah lama tersiksa, tidak mungkin bisa

mengeluarkan ilmu silat yang dimilikinya dengan

sempurna, paling-paling hanya bisa mengeluarkan tenaga

50% saja.

Walaupun dia menyerang tidak ada gunanya, dia tetap

terkena pecutan.

Leng-ji hanya menyerang tidak mau bertahan, Loo Cong

juga membantu menyerang.

Setiap pecutan terkena daging membuat mereka terluka.

Begitu tangan Leng-ji dan tangan Wie Kai saling

bersentuhan

Leng-ji terkejut.

Wie Kai masih melayangkan pecut memukul gila-gilaan.

Pelan-pelan Seng Kong-kong berkata: “Mari, kita pergi

dari sini, Putri!”

Dengan perasaan puas putri Kao Tong mengangguk.

Asal Wie Kai memecut dengan sekuat tenaga seperti saat

melayaninya di ranjang dengan sekuat tenaga, dia akan

merasa sombong apa lagi di depan Kong-kong.

Seng Kong-kong dan putri Kao Tong sudah pergi.

Semakin dilihat MoKi-thian semakin marah.

Harapannya tidak terkabul, kejadian yang muncul malah

membuatnya marah.

Dia membalikkan tubuh siap pergi.

Sebab kalau Wie Kai berada di sisi Kong-kong, dia tidak

akan dipandang lagL

Setelah beberapa jurusnya meleset keadaan Loo Cong

semakin parah.

Dia terkena pukulan dan tersungkur, belum sempat

merangkak berdiri dia ditendang hingga ke pojok dinding.

Leng-ji menyerang dari belakang.