Si Pedang Tumpul – (Seri I Pendekar Pedang Tumpul)

New Picture (4)

Si Pedang Tumpul

(Seri I Pendekar Pedang Tumpul)

Karya :Kho Ping Hoo (1984)

Ebook by Dewi KZ

Jilid 1

PEGUNUNGAN yang berderet sepanjang sembilan puluh kilometer itu memang patut dengan namanya yang diberikan orang sejak ribuan tahun kepadanya, yaitu Gunung Api.  Menakjubkan kalau melihat pegunungan yang berkilauan merah seperti api membara itu. Baru melihat bentuk dan warnanya saja sudah menimbulkan perasaan panas, seperti orang melihat gunung yang terbakar membara. Apalagi kalau mengingat bahwa di kaki pegunungan itu sebelah selatan adalah daerah Turfan, daerah yang dikenal sebagai daerah yang paling panas di seluruh daratan Cina.

Daerah Turfan merupakan daerah berlekuk seperti

mangkuk yang amat rendah letaknya. Kalau para musafir

kelana atau rombongan pedagang yang melawat ke atau

datang dari See-thian (dunia barat, yang dimaksudkan India)

lewat di daerah Turfan yang mereka takuti ini dan

memandang ke utara, mereka semua selalu menganggap

bahwa hawa panas itu tentu datang dari Gunung Api itu!

Sesungguhnya tidaklah demikian. Pegunungan ini tidak

mengandung api, bukan pula gunung berapi. Akan tetapi

pegunungan ini terdiri dari batu padas yang warnanya merah

seperti api membara. Tingginya sekitar lima ratus meter dari

permukaan laut dan tidaklah begitu panas hawanya,

sungguhpun pegunungan padas itu nampak gundul karena

jarang ada tumbuh-tumbuhan yang dapat hidup di sana.

Hanya binatang unta dan kuda dari daerah itu yang

sanggup membawa rombongan kafilah melintasi daerah

Turfan. Kadang-kadang, di tengah hari hawanya demikian

panas menyengat, bahkan lebih panas dari pada hawa di

Gurun Gobi.

Namun, tanpa memikirkan hal-hal yang merugikan dan

membahayakan manusia, pemandangan alam di daerah itu

memang amatlah indahnya, keindahan yang tidak bisa

didapatkan di daerah lain. Pantaslah kalau tempat ini oleh

penduduk sekitar daerah yang lebih subur di wilayah itu,

daerah Turfan dianggap sebagai tempat tinggal Dewa Api dan

keluarganya.

Menurut dongeng, Dewa Api telah melakukan kesalahan di

kahyangan dan oleh Yang Maha Kuasa lalu dibuang ke

Gunung Api, menjadi penunggu pegunungan itu. Indah dan

agung, pegunungan membara yang melintang tiada putusnya,

seolah menjadi benteng penghalang bagi para pedagang dari

timur dan barat.

Di sepanjang jalan yang dibuat oleh kafilah, terdapat tulang

rangka manusia dan binatang berserakan, tanda bahwa sudah

banyak korban jatuh ketika melewati daerah Turfan. Maka

timbullah kepercayaan bahwa Dewa Api telah menyuruh anak

buahnya untuk membantai orang-orang berdosa yang

kebetulan melewati daerah itu. Makin jarang kafilah melalui

daerah ini, dan kalau ada yang berani, tentu rombongan itu

dikawal oleh sepasukan pengawal yang gagah berani dan

berkepandaian tinggi.

Matahari telah menggeser ke barat ketika rombongan yang

cukup besar itu memasuki daerah Turfan. Sepuluh ekor unta,

limabelas ekor kuda, membawa tujuhbelas orang dan banyak

barang dagangan. Mereka datang dari timur, hendak menuju

ke barat. Dua orang yang bertubuh gemuk dan menunggang

unta-unta terbesar, adalah dua orang pedagang berbangsa

Han. Lima belas orang berkuda adalah orang-orang Kasak

yang terkenal gagah perkasa dan pandai menunggang kuda

dan pada jaman itu, orang-orang Kasak yang terkenal jagoan

mendapat banyak keuntungan dari pekerjaan mereka sebagai

pengawal-pengawal yang boleh diandalkan.

Dua orang pedagang Bangsa Han itu berusia kurang lebih

lima puluh tahun. Mereka adalah pedagang-pedagang yang

sudah berpengalaman, akan tetapi biasanya mereka

berdagang ke Tibet, Bhutan dan Nepal. Baru sekali ini mereka

menuju ke See-thian untuk berdagang dan membawa barang

dagangan yang amat berharga, antara lain sutera dan batubatu

mulia yang mempunyai harga tinggi di dunia barat.

Begitu memasuki Turfan, mereka disambut sengatan matahari

yang membuat mereka mengeluh dan mereka beberapa kali

menoleh kepada pasukan pengawal untuk mencari tempat

teduh dan beristirahat.

Kepala pasukan pengawal, seorang Kasak yang usianya

sudah lima puluh tahun lebih dan bertubuh tinggi kurus,

mengangkat tangan dan menggoyangnya sebagai tanda tidak

setuju.

“Kita harus dapat melewati Turfan sebelum malam tiba!”

Dan diapun membunyikan cambuknya di belakang dua ekor

onta itu, membuat dua ekor onta itu terkejut dan melangkah

lebih cepat. Dua orang pedagang di atas punggung onta

terangguk-angguk dan tidak berani membantah karena dalam

perjalanan yang berbahaya itu, mereka harus tunduk kepada

kepala pasukan pengawal yang mengatur keamanan

perjalanan itu. Mereka hanya dapat minum air teh jeruk untuk

melarutkan ketidaksenangan hati mereka. Setelah hati mereka

sejuk kembali, dua orang saudagar itu terangguk-angguk

melenggut di atas unta, sengatan matahari membuat mereka

mengantuk.

Tiba-tiba dua orang pedagang itu dikejutkan oleh suara

ribut-ribut. Ketika mereka membuka mata, mereka melihat

betapa sepuluh orang pengawal berkuda sudah mengelilingi

mereka dengan sikap siaga, sedangkan lima orang lain,

dipimpin kepala pengawal berhadapan dengan seorang lakilaki

asing yang berdiri dengan sikap angkuh.

Laki-laki itu berusia hampir enam puluh tahun, tubuhnva

tinggi tegap dengan dada yang bidang. Kedua lengan baju

yang digulung sampai siku membuat sepasang lengan itu

nampak, kekar dan dihias otot melingkar-lingkar. Rambutnya

sudah bercampur uban, diikat ke atas dan tertutup sebuah

caping lebar yang melindungi wajahnya dari sengatan

matahari. Telinganya yang lebar, bukit hidung yang tinggi,

mata sipit yang kedua ujungnya menurun, bentuk pakaiannya,

jelas menunjukkan bahwa pria itu adalah Bangsa Uigur. Suku

Uigur dan suku Kasak merupakan dua suku bangsa yang

paling banyak berada di daerah Sin-kiang atau daerah barat

ini.

Dua orang saudagar itu melihat betapa kepala pengawal

marah-marah, dan mengusir orang Uigur itu, agar tidak

menghalang di jalan. Akan tetapi, orang Uigur itu banya

tertawa saja, suara ketawanya lantang dan bernada

meremehkan.

Kepala pasukan makin marah dan bersama empat orang

anak buahnya, dia lalu berloncatan turun dari atas kuda

mereka dan menyerang orang Uigur tinggi besar itu dengan

golok mereka. Penghadang itu tidak bersenjata, namun

tubuhnya berkelebatan di antara sinar lima batang golok yang

menyambar-nyambar. Mengherankan dan mengagumkan

sekali melihat tubuh yang tinggi besar itu dapat bergerak

seringan itu, dengan kecepatan gerak seperti. seekor burung

walet saja.

“Siapa dia dan mengapa mereka berkelahi?” Saudagar

gendut yang kepalanya botak bertanya kepada seorang

anggauta pengawal terdekat.

“Orang itu perampok.”

“Ahhh …….!” Dua orang saudagar memandang terbelalak

dan muka mereka berubah pucat sekali.

“Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi dia tentu dapat

dibunuh,” pengawal itu menghibur. Akan tetapi, melihat

betapa perampok itu belum juga dapat dirobohkan dan

gerakannya seperti seekor burung walet saja, sepuluh orang

pengawal yang bertugas melindungi dua orang pedagang itu

sudah berloncatan turun dari atas kuda dan mereka semua

telah mencabut senjata golok melengkung.

Setelah belasan jurus lewat tanpa ada sebatangpun golok

mampu menyentuhnya, perampok tinggi besar itu tertawa

bergelak, kemudian kaki tangannya bergerak cepat dan dia

mulai membalas serangan para pengeroyoknya. Dia

memainkan ilmu silat yang aneh, kakinya berloncatan ke sana

sini dan kedua tangannya diputar-putar, seperti gerakan

seekor burung. Akan tetapi akibatnya bukan main!

Empat orang pengeroyok roboh berpelantingan dan tidak

mampu bangkit kembali karena di kepala mereka terdapat

luka berlubang bekas ditembusi jari tangan perampok itu!

Bahkan kepala pengawal juga hanya mampu menghindarkan

maut setelah dia melempar tubuh ke belakang dan

bergulingan menjauh.

Kepala pengawal meloncat berdiri dan mukanya menjadi

merah saking marahnya. Dia menudingkan goloknya ke arah

perampok itu. “Siapakah engkau? Orang Uigur biasanya tidak

saling mengganggu dengan kami Bangsa Kasak. Kenapa

engkau hendak mengganggu pekerjaan kami?”

“Ha ha ha! Kalian orang-orang Kasak yang pelit! Aku hanya

menghendaki batu-batu giok (kemala) itu. Serahkan kepadaku

dan kalian boleh ambil semua sisa barangnya. Dua ekor babi

gemuk ini kita sembelih saja!” kata si perampok yang tinggi

besar itu.

“Orang rendah! Kami adalah orang-orang Kasak yang

gagah! Kami bukan sahabat orang Han, akan tetapi sekali

kami menerima tugas dan tanggung jawab, akan kami bela

sampai mati! Jangan harap engkau akan dapat mengambil

sepotongpun benda yang kami lindungi sebelum kami

menggeletak sebagai mayat!” pimpinan pengawal Kasak itu

berteriak lantang dengan sikap gagah.

Kemudian dia menoleh ke arah anak buahnya.

“Bentuk barisan pedang bintang!”

Sepuluh orang pengawal yang telah melindungi dua orang

pedagang, kini berloncatan mengepung perampok itu bersama

kepala pasukan, dan mereka membentuk barisan pedang

bintang yang memiliki gerakan teratur, mengelilingi si

perampok sambil berlarian dan sambil memainkan golok yang

digerak-gerakkan dari atas ke bawah, lalu diputar ke atas

kembali. Gerakan ini mendatangkan sinar berkilauan karena

tertimpa sinar matahari.

Akan tetapi, perampok tinggi besar itu tidak menjadi

gentar, bahkan tertawa. Kemudian dia mendengarkan suara

melengking nyaring, menggerak-gerakkan kedua lengannya

dan semua perampok melihat betapa kedua lengan yang

berkulit kecoklatan terbakar sinar matahari itu kini berubah

menjadi merah seperti api membara! Melihat ini, kepala

pengawal terkejut bukan main,

“Kau …… kau …… Datuk Besar Tangan Api?” Dia tergagap.

“Bukankah engkau sudah mengundurkan diri bahkan tinggal di

daerah kami Bangsa Kasak dan diterima dengan baik?”

“Ha ha ha, matamu masih awas. Nah, serahkan kemalakemala

itu dan aku akan mengampuni kalian!” Si Tangan Api

itu berkata.

“Bukan watak kami Bangsa Kasak untuk menyerah tanpa

melawan!” kepala pengawal itu berseru. “Kami adalah orangorang

yang setia kepada tugas sampai mati!”

“Bagus, kalau begitu kalian akan mati!” bentak Si Tangan

Api.

Barisan bintang yang terdiri dari sebelas orang itupun

sudah menggerakkan golok mereka dan melakukan

penyerangan dengan serentak dan teratur. Yang mereka sebut

Barisan Pedang Bintang itu sesungguhnya adalah barisan

pedang yang teratur rapi dan mereka mempelajarinya dari

seorang perwira Bangsa Mongol ketika pasukan Mongol

menyerbu ke Barat. Akan tetapi karena mereka biasa

menggunakan senjata golok, maka mereka bukan memainkan

pedang, melainkan golok.

Melihat senjata-senjata tajam itu menyambar-nyambar

dengan ganas dan teratur. Si Tangan Api bersikap tenang

saja, bahkan senyumnya tak pernah meninggalkan bibir. Dia

menggunakan kedua tangannya yang telanjang sampai ke

siku, kedua lengan yang kulitnya kemerahan seperti api

membara, seperti Gunung Api yang nampak dari situ. Ketika

dia menggerakkan kedua lengan menangkis, maka terdengar

suara berdenting seolah-olah kedua lengan itu terbuat dari

pada baja! Dan setiap kali lengannya menangkis, pada saat

golok lawan terpental, secepat kilat tangan kedua menyambar.

“Bukk!” Yang terpukul berteriak, tubuhnya terjengkang dan

tak mampu bergerak lagi. Bagian tubuh yang terkena pukulan

tangan terbuka itu seperti terbakar dan ada bekas telapak

tangan di bagian itu, dan orangnya tewas seketika!

Teriakan susul menyusul dan sebelas orang pengeroyok itu

roboh satu demi satu! Si Tangan Api menyapu dengan

pandang matanya. Melihat lima belas orang Kasak itu sudah

roboh semua dan tidak ada yang bargerak lagi, diapun

mengangkat muka ke atas lalu tertawa bergelak, suara

ketawanya bergema sampai jauh.

Dua orang saudagar yang menjadi ketakutan, sudah

merosot turun dari onta mereka dan melihat seluruh pengawal

mereka tewas, mereka lalu melarikan diri. Perut mereka yang

gendut bergayutan dan karena tidak biasa bekerja keras apa

lagi lari, mereka jatuh bangun dan belum ada seratus langkah,

mereka sudah terengah-engah kehabisan napas. Melihat

mereka lari, Si Tangan Api mengangkat tangan kanan ke atas

dan dia berteriak lantang, suara¬nya berpengaruh.

“Heiii ….! Kalian berdua, berhenti …..!!”

Mendadak saja dua orang yang lari terhuyung-huyung itu

berhenti, seolah kaki mereka mendadak melekat pada tanah

yang mereka injak.

“Kembalilah kalian ke sini!” teriak pula Si Tangan Api.

Teriakan itu membuat mereka semakin ketakutan. Mereka

ingin melarikan diri secepatnya, ingin meninggalkan tempat itu

sejauhnya. Akan tetapi sungguh aneh. Kaki mereka bukan saja

tidak mau diajak berlari, bahkan kini kaki itu membawa

mereka membalik dan berlawanan dengan kehendak mereka,

kedua kaki mereka melangkah menghampiri perampok yang

telah membunuh semua pengawal mereka.

Tentu saja kedua orang ini menggigil ketakutan ketika

berdiri di depan perampok yang memandang kepada mereka

sambil tersenyum itu. Mereka merasa bingung dan tidak tahu

apa yang harus mereka lakukan. Mereka merasa seperti dalam

mimpi dan tidak dapat menguasai lagi tubuh mereka.

“Berlututlah kalian!” teriak pula Si Tangan Api.

Kini kedua orang itu menjatuhkan diri berlutut. Bukan saja

karena kaki mereka menghendaki demikian, akan tetapi juga

karena rasa takut yang menghantui hati. Si Tangan Api

menggunakan kakinya menendang dua batang golok yang

banyak berserakan di situ, ke arah dua orang saudagar itu.

“Kalian ambil golok itu!”

Sungguh aneh. Perintah ini tak mungkin dapat dibantah.

Dua orang pedagang itu, di luar kemauan mereka,

menjulurkan tangan mengambil golok pada gagangnya.

“Nah, sekarang kalian bunuh diri dengan golok itu! Penggal

leher kalian sendiri!”

Perintah yang aneh. Tentu saja dalam hati kecil mereka,

dua orang saudagar ini menentang dan tidak mau, akan

tetapi, kekuatan yang amat besar mendorong dalam benak

mereka, dan tanpa dapat dicegah lagi, tangan yang

me¬megang golok itu mengayun golok dan dua orang

pedagang itu menebas leher sendiri dengan golok di tangan

masing-masing. Mereka tak sempat mengeluarkan suara,

roboh mandi darah yang bercucuran keluar dari luka parah di

leher mereka!

“Ha ha ha, bagus! Ilmu silatku, tenagaku, dan ilmu sihirku,

semua masih ampuh, ha ha ha!”

Sambil tertawa-tawa dia lalu memeriksa semua barang

bawaan, mengambil kantung terisi perhiasan emas permata

dan terutama sekali ukiran batu giok (kemala), memilih tiga

ekor kuda, meloncat ke atas punggung seekor kuda dan

menarik tali kendali dua ekor yang lain lalu dia melarikan kuda

meninggalkan tempat itu.

Sunyi senyap di tempat pembantaian manusia itu. Sunyi

yang mencekam dan mengerikan. Tiga ekor burung semacam

rajawali terbang lalu dan mereka mengeluarkan bunyi mencicit

panjang. Agaknya tiga ekor burung itu ikut merasa ngeri dan

prihatin menyaksikan akibat ulah manusia yang dikenal

sebagai mahluk paling mulia dan paling tinggi derajatnya di

seluruh permukaan bumi.

Bagi burung-burung itu, tidak ada mahluk yang lebih ganas

dari pada manusia. Manusia membunuhi mahluk lain hanya

demi mengejar kepuasan dan kese¬nangan, bukan karena

kebutuhan mutlak.

Hawa udara yang biasanya memang amat panas itu

menjadi semakin panas. Nafsu adalah api yang paling panas,

yang dapat membakar segala dengan liar, apabila tidak

terkendali. Bahkan matahari bersembunyi di balik segumpal

awan, seolah merasa malu melihat apa yang terjadi di daerah

Turfan itu.

Hanya untuk sekantung emas permata, seorang manu¬sia

tega membunuh tujuh belas orang manusia lain dengan hati

dan tangan dingin. Hanya untuk merampas sekantung benda

mati, karena benda itu dianggap akan dapat mendatangkan

kesenangan dan kepuasan bagi gairah nafsunya.

Kurang lebih sejam setelah Si Tangan Api pergi, muncul

tiga orang pria lain di daerah yang panas itu. Usia mereka

sekitar lima puluh tahun dan mereka berpakaian seperti

pendeta atau pertapa, pakaian yang amat sederhana dari kain

kasar berwarna putih dan kuning.

Di daerah barat ini, di mana terdapat banyak pertapa yang

mengasingkan diri dari kehidupan ramai, kehadiran tiga orang

ini tentu bukan merupakan hal yang aneh lagi. Akan tetapi

kalau mereka berada di timur, dunia persilatan akan mengenal

mereka dengan baik karena mereka ini merupakan tiga orang

manusia sakti yang dijuluki Sam Sian (Tiga Dewa)!

Biarpun mereka bertiga itu tidak pernah muncul berbareng

selama ini di dunia persilatan, namun karena ketiganya

merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingnya,

maka mereka mendapat julukan Sam Sian. Mereka juga jarang

sekali muncul di dunia ramai semenjak mereka mengundurkan

diri belasan tahun yang lalu.

Ciu-sian (Dewa Arak) diberikan sebagai julukan Tong Kui

yang bermuka selalu kemerahan seperti orang mabok.

Wataknya ugal-ugalan seperti mabok, perutnya gendut

walaupun tubuhnya tidak terlalu gemuk sehingga dia nampak

seperti kanak-kanak bertubuh besar yang berpenyakit

cacingan. Pakaiannya penuh tambalan.

Dilihat sepintas lalu, tidak ada apa-apanya yang

mengesankan. Namun, orang ini memiliki ilmu kepandaian

silat tangan kosong yang sukar ditemukan keduanya, dan

diapun memiliki sin-kang (tenaga sakti) dan ginkang (ilmu

meringankan tubuh) yang dahsyat.

Orang ke dua bersama Louw Sun. Dia dijuluki Kiam-sian

(Dewa Pedang) karena memang ilmu pedangnya sukar

dikalahkan, bahkan belum pernah ada yang mampu

menandinginya selama ini. Mukanya kekuningan tubuhnya

tinggi kurus.

Biarpun julukannya Dewa Pedang, namun tidak nampak dia

membawa pedang seperti para pendekar lainnya yang

menaruh pedang di punggung atau di pinggang. Selain ilmu

pedang dia juga ahli banyak macam ilmu silat, ahli pula

tentang filsafat Agama To, kepalanya dilindungi sebuah caping

lebar dan pakaiannya yang juga sederhana itu nampak bersih.

Orang ke tiga bernama Thio Ki dan dia dijuluki Pek-mausian

(Dewa Rambut Putih). Entah mengapa, sejak berusia

tigapuluh tahun rambutnya telah berubah putih semua.

Wajahnya tampan dan dia selalu tersenyum ramah sehingga

rambut yang kesemuanya putih itu tidak membuat dia nampak

tua. Tubuhnya kurus sedang dengan pakaian yang terbuat

dari kain sederhana akan tetapi potongannya rapi walaupun

tetap longgar seperti pakaian pendeta. Di pinggangnya terselip

sebuah kipas bergagang gading, lagak dan bicaranya

menunjukkan bahwa dia seorang sasterawan atau setidaknya

terpelajar.

Penampilannya menunjukkan seorang yang lemah. Akan

tetapi justeru penampilannya ini yang menyembunyikan

kepandaian hebat. Selain ahli silat yang tingkatnya tidak di

bawah dua orang rekannya. Dewa Rambut Putih inipun

memiliki ilmu sihir yang cukup kuat!

Tiga orang sakti itu segera melibat beberapa ekor kuda

yang berlarian liar. Kuda-kuda itu masih dipasangi kendali.

Tentu saja mereka merasa penasaran, bahkan mereka dapat

menduga bahwa para penunggangnya tentu akan kehilangan.

Dan peristiwa ini membuktikan adanya kejadian yang tidak

wajar. Merekapun tanpa bicara lagi lalu menggunakan ilmu

berlari cepat, menuju ke arah dari mana datangnya kuda-kuda

itu.

Tak lama kemudian mereka sudah tiba di tempat

pembantaian tadi. Mereka menghampiri dan sejenak

mengamati mayat-mayat itu dan tahu bahwa mereka itu

menjadi korban pembantaian.

“Siancai (damai) …..! Di mana-mana nafsu menguasai

manusia sehingga terjadi kejahatan keji! Sungguh

menyedihkan sekali, siancai……!”

Kiam-sian Louw Sun menarik napas panjang.

“Pek-mau-sian, engkau pernah bilang bahwa seluruh alam

mayapada ini berputar karena keseimbangan antara Im

(negatif) dan Yang (positif). Kalau tidak ada malam, mana ada

siang? Kalau tidak ada kejahatan, mana ada kebajikan? Yang

disebut baik baru ada kalau ada keburukan. Nah, kenapa

sekarang engkau merasa bersedih?”

“Ha ha ha ha!” Ciu-sian Tong Kui tertawa sambil berjalan di

antara mayat-mayat yang ber¬serakan dan barang-barang

dagangan yang serba mahal juga berserakan, di antaranya

gulungan sutera-sutera indah. ”Mati bukan persoalan, semua

manusia mesti mati. Hanya, cara kematian itulah yang

penting! Mereka semua ini mati konyol namanya, mati

penasaran dan roh-roh mereka menjadi setan penasaran!”

Tiba-tiba Dewa Arak itu berhenti tertawa.

“Ihhh ….! Dia ini belum mati,” teriaknya.

Dua orang rekannya berkelebat cepat dan kini mereka

bertiga sudah berjongkok dekat tubuh kepala pengawal. Dia

memiliki tubuh yang lebih kuat dari pada kawan-kawannya,

maka kalau semua anak buahnya mati seketika terkena

hantaman lawan, dia roboh dan masih dapat bertahan.

Setelah tiga orang sakti itu memeriksanya sejenak, tahulah

mereka bahwa orang ini tidak mungkin dapat diselamatkan

pula. Ciu-sian Tong Kui menotok jalan darah di tengkuk dan

kedua pundak, mengurut dada dan kepala pengawal itu

mengeluh lirih, membuka kedua matanya dan memandang

tiga wajah di atasnya itu dengan mata kuyu.

“Apa yang terjadi ? Siapa yang membunuh kalian?” tanya

Dewa Pedang.

Si kepala pengawal memejamkan mata, mengerahkan

tenaga terakhir, membuka matanya lagi dan dengan sukar

mulutnya bergerak mengeluarkan suara yang parau setelah

dia muntah darah menghitam. “Si …… Tangan ……. Api …..”

Dia terkulai dan matanya terpejam. Tiga orang itu

terbelalak dan kelihatan bersemangat ketika mendengar

disebutnya nama Si Tangan Api. Melihat keadaan orang yang

terluka parah itu, Dewa Rambut Putih segera mengerahkan

kekuatan batinnya, mengusap muka dan dada orang itu. Dan,

sungguh aneh, kepala pengawal yang tadi kelihatan sudah

putus napasnya itu membuka matanya yang sudah kosong

sinar, seperti orang mimpi saja.

“Cepat katakan, di mana Si Tangan Api?” kata Dewa

Rambut Putih, suaranya tidak wajar, melengking dan penuh

getaran yang berwibawa. Kiranya orang sakti ini sedang

mempergunakan seluruh tenaga dan kekuatan sihirnya untuk

memberi dorongan semangat sehingga pada saat terakhir

orang yang sudah sekarat itu masih akan dapat memberi

keterangan yang diinginkannya.

“……… di ….. Yin-ning …. Yi-li ……” Hanya sekian orang itu

dapat bicara. Dia terkulai dan tewas. Akan tetapi, disebutnya

Yin-ning dan Yi-li itu saja sudah cukup bagi Tiga Dewa. Sudah

berbulan-bulan mereka berkeliaran di daerah barat ini, bahkan

menjelajahi Tibet dan Sin-kiang untuk mencari satu orang

saja, yaitu Si Tangan Api! Mereka tahu bahwa Yin-ning adalah

sebuah kota yang terdapat di daerah Yi-li, daerah yang

menjadi pusat tempat tinggal orang-orang Kasak.

Siapakah Tiga Dewa dan apa hubungan mereka dengan Si

Tangan Api? Seperti telah kita ketahui, Tiga Dewa adalah tiga

orang tokoh persilatan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi sebetulnya sejak belasan tahun yang lalu, mereka

telah menarik diri dari dunia persilatan, tekun bertapa untuk

memajukan perkembangan jiwa mereka.

Akan tetapi, akhirnya mereka keluar juga ketika mereka

mendengar bahwa di dunia persilatan terjadi kegemparan. Di

dunia persilatan muncullah seorang jagoan, seorang datuk

kaum sesat yang berjuluk Si Tangan Api.

Bukan saja datuk ini menguasai dunia kang-ouw (sungai

telaga atau dunia persilatan), akan tetapi juga dia

menggunakan ilmu kepandaiannya yang hebat untuk

menalukkan para pimpinan perguruan perguruan silat besar

seperti Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong-pai, bahkan

berani menghina pimpinan Siauw-lim-pai! Mendengar akan hal

ini, Tiga Dewa terpaksa keluar dart tempat pertapaan mereka

dan memenuhi permintaan para pimpinan perguruanperguruan

silat itu untuk menghadapi Si Tangan Api!

Akan tetapi, mereka terlambat. Si Tangan Api telah

melarikan diri setelah melakukan hal yang amat

menggemparkan, yaitu dia telah memasuki gudang pusaka

dari istana kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka!

Tentu saja Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama Dinasti Beng

menjadi amat marah dan melalui para jagoan-jagoan istana

dan penasihatnya, Kaisar Thai-cu juga minta bantuan Tiga

Dewa untuk menangkap Si Tangan Api dan merampas kembali

benda-benda pusaka itu.

Demikianlah, Tiga Dewa lalu melakukan penyelidikan dan

mereka mengikuti jejak Si Tangan Api yang memboyong

keluarganya ke barat. Akan tetapi, di barat, mereka

kehilangan jejak. Mereka mencari-cari sampai berbulan-bulan

lamanya, namun belum juga berhasil menemukan datuk sesat

yang mereka cari itu.

Kalau di timur, dunia persilatan mengenal Si Tangan Api

sehingga akan mudah mencari jejaknya. Akan tetapi di daerah

barat ini, agaknya tak seorangpun mengenal namanya.

Akhirnya, tibalah mereka di Turfan, dan secara kebetulan

saja mereka melihat korban keganasan tangan Si Tangan Api

dan kebetulan pula seorang di antara para korban itu masih

sempat memberi keterangan kepada mereka sebelum mati.

Setelah mendengar keterangan dari kepala pengawal itu,

tiga orang sakti saling pandang, kemudian Ciu-sian Tong Kui

tertawa bergelak-gelak.

“Ha ha ha ha, akhirnya Tuhan berkenan mengulurkan

bantuan kepada kita!”

“Hwe-siang-kwi (Iblis Tangan Api), sekali ini engkau tidak

akan lolos dari tanganku!” kata pula Kiam-sian Louw Sun

sambil meraba gagang pedang yang tak pernah meninggalkan

pinggangnya. Tidak nampak dari luar dia membawa pedang,

namun sesungguhnya, sebatang pedang yang aneh, pedang

yang lentur tipis, melilit pinggang dalam sarung pedang dari

kulit ular.

Pek-mou-sian Thio Ki tersenyum lebar dan menengadah

memandang langit.

“Pohon yang buruk, cepat atau lambat, pasti akan

menghasilkan buah yang buruk pula. Setiap kejahatan

membawa hukumannya sendiri, seperti setiap kebaikan

membawa pahalanya sendiri. Tuhan Maha Adil dan Maha

Kuasa.”

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini? Kita tidak mungkin

dapat meninggalkan mereka begini saja,” kata Dewa Arak.

“Engkau benar, Ciu-sian. Akupun tidak tega membiarkan

mereka seperti itu,” Dewa Pedang membenarkan. ” Entah

bagaimana pendapat Pek-mou-sian,”

“Tentu saja kita harus mengubur mayat-mayat itu lebih

dulu.” jawab Dewa Rambut Putih.

“Kenapa tidak dibakar saja, Pek-mou-sian?” tanya Ciu-sian

Si Dewa Arak.

“Sama saja. Jasmani kita terdiri dari empat unsur, api, air,

tanah, dan udara. Setelah jasmani ditinggalkan jiwa, dia

kembali ke asalnya, empat unsur Air kembali kepada

sumbernya. Dalam keadaan seperti ini, paling mudah dan

tepat kalau kita mengubur mereka. Untuk membakar mereka,

kita kekurangan bahan bakar dan akan makan waktu,

sedangkan kita perlu segera mencari Si Tangan Api ke daerah

Yi-li.”

Dua orang yang lain mengangguk setuju. Di antara mereka

bertiga, memang Dewa Rambut Putih yang paling pandai

mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan. Tiga

orang sakti itu lalu bekerja dengan cepat menggali lubang

yang besar, menggunakan golok-golok yang berserakan di

situ. Sebelum senja tiba, mereka sudah selesai mengubur

tujuh belas mayat itu ke dalam sebuah lubang yang besar dan

menimbuni lubang itu.

Kemudian merekapun meninggalkan tempat itu untuk

melakukan pengejaran terhadap Si Tangan Api. Dewa Arak

tidak lupa untuk mengambil beberapa meter sutera putih dan

kuning untuk pengganti pakaian mereka kelak kalau ada

kesempatan untuk membuatnya.

0oo0

Daerah Yi-li adalah nama yang diberikan kepada daerah

subur di lembah Sungai Yi-li yang letaknya di perbatasan Cina

bagian barat laut. Lembah itu amat subur. Terbentang luas

padang yang hijau dan subur, indah permai. Padang inilah

yang disebut daerah Yi-li, termasuk daerah Sin-kiang dan di

daerah ini menjadi pusat tempat tinggal Suku Bangsa Uigur

dan Kasak.

Dua suku bangsa ini merupakan penghuni yang paling

besar jumlahnya dan yang sudah turun-temurun tinggal di

daerah itu. Masih banyak lagi terdapat suku-suku bangsa yang

kecil-kecil jumlahnya, seperti Suku Mongol, Hui, Mancu,

Usbek, Tatar, Sipo, dan lain-lain. Bahkan ada pula Suku Han

yang merupakan suku terbesar dan mengaku sebagai pribumi

di Cina.

Namun di daerah Yi-li, Bangsa Han merupakan kelompok

kecil saja walaupun tentu saja mereka terpandang karena

setelah kekuasaan Mongol jatuh, kini Cina kembali dikuasai

oleh kerajaan baru yang disebut Dinasti Beng (Terang),

dipimpin oleh orang-orang Han. Pada hal, kalau ditelusur

benar-benar silsilah seseorang, sukarlah dipastikan bahwa

seseorang itu benar-benar aseli!

Pernikahan antar suku sudah terjadi sejak ribuan tahun

yang lalu, apa lagi dalam sebuah negara yang daerahnya luas

dan memiliki suku yang puluhan banyaknya. Akan tetapi,

rupa-rupanya kaum peranakan, keturunan dari hasil kawin

campuran itu tetap mempertahankan kelas mereka dan

mengaku sebagai Suku Han, karena agaknya cap pribumi

mendatangkan semacam perasaan unggul dan bangga.

Mereka lupa atau sengaja lupa bahwa di dalam tubuh mereka

mengalir darah bermacam suku, hasil pernikahan nenek

moyang mereka dengan suku-suku lain, baik dari pihak nenek

moyang ayah maupun ibu.

Di daerah Yi-li, yang paling kuat karena terbanyak

jumlahnya adalah Suku Kasak dan Suku Uigur. Mereka hidup

berkelompok dan berpisah, namun dalam kehidupan seharihari.

karena kebutuhan, mereka bergaul. Di dalam pasar

mereka bersatu, juga warung-warung teh dan rumah-rumah

makan menjadi tempat pertemuan dan pergaulan antar suku

yang tidak membeda-bedakan.

Kota Yin-ning adalah sebuah kota di daerah Yi-li yang

dihuni sebagian besar oleh orang-orang Kasak. Namun di kota

inipun tinggal banyak orang dari suku bangsa lain, terutama

Suku Bangsa Uigur yang sebagian besar beragama Islam.

Biarpun ada kemiripan pada wajah dan kulit mereka,

namun mudah membedakan mereka dari pakaian mereka,

terutama pelindung kepala. Orang-orang Uigur yang

beragama Islam yang pria hampir semua mengenakan

semacam peci berwarna putih atau hitam atau juga belangbelang

seperti kulit harimau, sedangkan wanitanya sebagian

besar berkerudung dengan warna-warni indah.

Suku Kasak ada pula yang berpeci, akan tetapi banyak

yang memakai kain pembungkus kepala. juga pakaian mereka

berbeda, dan topi para wanitanya terbuat dari bulu. Para

prianya, banyak pula yang mengenakan topi bulu domba, dan

Suku Kasak ini terkenal tangkas dan pandai menunggang

kuda. Sebaliknya Suku Uigur lebih ahli memelihara ternak

domba dan bertani.

Selain kota Yin-ning, di daerah Yi-li terdapat banyak kota

lain seperti Cau-su, Capu-cai, Sui-ting dan lain-lain. Akan

tetapi kota Yin-ning terletak di lereng bukit yang indah

pemandangan alamnya dan sejuk hawanya. Pegunungan di

sana menghasilkan rumput yang baik dan padang-padang

rumput terbentang luas di lereng-lereng bukit, di antara

pohon-pohon cemara yang rimbun dan menjulang tinggi.

Sungguh merupakan tempat yang menguntungkan sekali

bagi para pemelihara ternak. Maka, terkenallah bulu-bulu

domba yang gemuk dan halus dari daerah Yi-li, sehingga bulu

domba merupakan hasil besar yang dikirim ke barat dan ke

timur.

Juga hasil panen gandum dari sawah ladang, dan buahbuahan

dari kebun-kebun, membuat penduduk daerah Yi-li

pada umumnya dan kota Yin-ning pada khususnya, hidup

berkecukupan, bahkan boleh dibilang makmur untuk ukuran

kehidupan di daerah pegunungan.

Penghuni pegunungan tidak dikejar banyak kebutuhan.

Bagi mereka, asalkan keluarga dalam keadaan sehat cukup

makan dan pakaian, mempunyai rumah yang kokoh, mereka

merasa kecukupan. Untuk bergembira, mereka secara

berkelompok seringkali mengadakan pertemuan, menikmati

hasil panen, makan hidangan berupa masakan sendiri dan

buah-buahan dari kebun sendiri, minuman buatan sendiri, dan

mereka menari dan bernyanyi di bawah sinar bulan. Apa lagi

yang dikehendaki seseorang dalam hidupnya?

Keluarga Si Tangan Api tinggal di sudut kota Yin-ning,

memiliki pekarangan dan kebun yang luas. Si Tangan Api

datang kurang lebih setahun yang lalu, bersama seorang isteri

dan seorang anak laki-laki, dan dia membeli rumah besar

dengan pekarangan besar itu, lalu tinggal di situ sebagai

orang yang dianggap kaya. Si Tangan Api ini adalah keturunan

Uigur yang belum beragama Islam, melainkan Agama Hindu

karena sejak muda dia merantau ke India dan berguru kepada

orang-orang sakti di India.

Namanya Se Jit Kong dan setelah pulang dari India, dia

langsung mengembara ke daratan Cina sebelah timur dan

muncul sebagai seorang jagoan, seorang datuk! Dia malang

melintang di sepanjang perjalanan dari daerah barat ke timur,

bahkan namanya terkenal sampai di kota raja Nan-king.

Dia bukan saja terkenal dengan ilmu silatnya dan juga

tenaganya yang dahsyat, akan tetapi terkenal pula dengan

ilmu sihirnya. Kemenangan demi kemenangan membuat dia

tekebur dan sombong, bahkan dia mengangkat diri menjadi

jagoan nomor satu di dunia. Dia bahkan berani mendatangi

partai-partai persilatan besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai,

Bu-tong-pai bahkan Siauw-lim-pai untuk menantang para

pimpinan perguruan silat, dan telah membunuh beberapa

orang tokoh penting di dunia persilatan.

Para pendekar menjadi marah, namun sebegitu jauh belum

ada seorangpun pendekar yang mampu menandingi Si Tangan

Api. Akhirnya, karena maklum bahwa dia dimusuhi para

pendekar dia mengambil keputusan untuk kembali ke barat.

Apa lagi dia sudah mulai tua, sudah hampir enam puluh tahun

usianya dan dia ingin hidup tenang di kampung halamannya,

yaitu di daerah Yi-li.

Akan tetapi, bukan Si Tangan Api kalau dia pergi begitu

saja tanpa meninggalkan nama besar dan perbuatan yang

menggemparkan. Dia menyelundup ke dalam gudang pusaka

milik Kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka yang

amat berharga. Gegerlah kota raja, dan berita tentang

perbuatan Si Tangan Api ini segera terdengar di seluruh dunia

kang-ouw.

Di Yin-ning, Se Jit Kong terkenal sebagai seorang hartawan,

bahkan dia segera memperlihatkan kepandaiannya dan

ditakuti orang.

Nama julukannya Si Tangan Api segera dikenal orang di

seluruh Yi-li. Akan tetapi, berkat permintaan isterinya, di Yi-li

dia tidak pernah melakukan kejahatan dan hidup tenang

tenteram seperti yang diidamkannya.

Isteri Se Jit Kong adalah seorang wanita, yang jauh lebih

muda, berusia duapuluh delapan tahun dan memiliki

kecantikan yang khas Suku Uigur. Wanita Uigur memang

memiliki kecantikan yang khas, manis dan anggun.

Se Jit Kong amat sayang kepada isterinya ini, dan hal ini

nampak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan datuk

itu memanjakan isterinya, membelikan banyak pakaian sutera

yang indah-indah, juga perhiasan yang mahal-mahal. Dan

wanita itupun kelihatan mencinta suaminya, walaupun ia

pendiam dan tidak pernah mau bercerita tentang keadaan

keluarganya.

Suami isteri ini mempunyai seorang anak laki-laki yang

berusia sepuluh tahun, diberi nama Sin Wan oleh ayahnya.

Datuk besar itu amat sayang kepada Sin Wan dan sejak

berusia lima tahun, anak itu telah digembleng oleh ayahnya

sehingga kini dalam usia sepuluh tahun dia telah menjadi

seorang anak yang bertubuh kuat dan pandai bersilat.

Akan tetapi sungguh jauh bedanya dengan watak ayahnya.

Kalau ayahnya seorang datuk yang keras hati dan suka

mencari musuh, ingin menonjol dan paling jagoan, sebaliknya

Sin Wan seorang anak yang pendiam dan sama sekali tidak

bengal, bahkan penurut sekali, terutama terhadap ibunya.

Mungkin dia mewarisi watak ibunya yang juga pendiam dam

lembut, wanita yang tidak pernah kelihatan marah, dan tidak

pernah pula kelihatan ribut dengan suaminya.

Tentu saja sebagai suami isteri, pernah Ju Bi Ta ribut

dengan suaminya. Hanya karena ia seorang wanita yang

sopan dan lembut, ia tidak pernah mau ribut di depan orang

lain, bahkan tidak mau ribut dengan suaminya di depan anak

mereka. Kalau sudah di kamar berdua, barulah wanita yang

lembut ini menegur dan memprotes suaminya dan kalau

sudah begitu, biasanya datuk besar yang keras hati dan keras

kepala ini selalu tunduk dan mengalah!

Setelah setahun tinggal di Yin-ning dan hidup dengan

tenteram, pada suatu hari Se Jit Kong pergi meninggalkan

rumahnya. Dia berpamit kepada isterinya bahwa dia hendak

pergi mengunjungi sahabat-sahabat lamanya di daerah

Turfan, di sekitar pegunungan Api.

“Ilmuku Tangan Api kudapatkan di pegunungan itu pula.

Aku ingin melihat apakah guruku masih berada di sana, dan

aku ingin menjenguk teman-temanku.”

Se Jit Kong pergi selama sebulan dan ketika dia kembali,

dia disambut oleh isteri dan puteranya dengan gembira. Akan

tetapi malam hari itu, setelah Sin Wan tidur di kamarnya

sendiri dan suami isteri itu tinggal, berdua saja di kamar

mereka, Ju Bi Ta nampak marah-marah kepada suaminya.

“Bukankah engkau sudah berjanji bahwa engkau akan cuci

tangan, tidak lagi melakukan kejahatan di sini? Lupakah

engkau akan janjimu kepadaku? Di timur engkau telah

mengganas dan terkenal sebagai seorang datuk besar, tidak

pantang melakukan segala bentuk kekejaman. Akan tetapi di

sini, kita berada di antara bangsa sendiri. Aku akan merasa

malu sekali kalau di sini aku dikenal sebagai isteri seorang

penjahat besar!”

“Ah, kekasihku, isteriku yang manis. Kenapa engkau

marah-marah? Lihat, kepergianku untuk mencarikan bendabenda

yang amat indah untukmu. Lihat emas permata dan

batu-batu giok ini. Tak ternilai harganya. Semua ini

kuserahkan kepadamu, semua untukmu, sayang.”

“Tidak sudi aku!”

Ju Bi Ta yang biasanya kelihatan pendiam dan lembut itu,

kini benar-benar marah, mukanya kemerahan dan matanya

bersinar-sinar menatap wajah suaminya, lalu melihat ke arah

peti hitam terbuka yang berisi emas permata dan batu kemala

itu. Ia menuding ke arah peti itu. “Dari mana engkau mencuri

atau merampok benda-benda ini? Aku seperti melihat barangbarang

itu bergelimang dan berlepotan darah! Kembalikan,

aku tidak sudi menerimanya!”

“Bi Ta, isteriku yang kucinta, jangan begitu. Sungguh mati,

aku tidak merampasnya dari orang-orang di sini. Aku sudah

memenuhi janji, tidak membikin ribut di sini. Aku

merampasnya dari kafilah orang Han di dekat Gunung Api

sana, tidak ada orang tahu.”

Wanita cantik itu mengerutkan alisnya. “Tidak ada orang

tahu? Apakah engkau ini bukan orang? Iblis barangkali? Dan

bagaimanapun juga, Tuhan melihat dan mengetahuinya! Ya

Allah! Sampai kapankah engkau akan menyadari semua

kesalahanmu? Sampai kapankah engkau akan bertaubat dan

minta ampun kepada Allah?”

“Sudahlah, kalau engkau belum mau menerimanya,

maafkan aku, isteriku. Biar kusimpan dulu benda-benda ini,

akan tetapi jangan kau marah kepadaku. Aku hanya

merampas benda-benda ini untuk menyenangkan hatimu,

sayang,”

“Se Jit Kong, kalau engkau ingin menyenangkan hatiku,

jangan lakukan kejahatan lagi, bertaubatlah kepada Allah,

bahkan pergunakan kepandaian yang kaumiliki untuk

melakukan darma bakti kepada Allah, untuk menolong sesama

umat manusia, menderma kepada fakir miskin, menentang

yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Kalau engkau

mau bersikap seperti itu, sungguh hatiku akan senang sekali.”

“Baiklah …….. baiklah, aku berjanji. Isteriku manis, coba

kauingat saja, bukankah selama sepuluh tahun ini aku selalu

memegang janjiku terhadap dirimu? Bagaimana sikapku

terhadap dirimu, dan terhadap anak kita Sin Wan? Pernahkah

aku melanggar janji?”

Wanita itu termenung di tepi pembaringannya dan

beberapa kali ia menarik napas panjang,

“Kalau engkau tidak memegang janji, apakah kaukira aku

masih suka hidup sampai sekarang? Engkau memang

memenuhi janjimu itu, akan tetapi di luaran, engkau tiada

hentinya menggunakan kekerasan untuk memaksakan

kehendakmu. Bahkan di sinipun, biar engkau tidak melakukan

kejahatan, akan tetapi engkau memamerkan kepandaian

sehingga sebentar saja semua orang Kasak tahu belaka bahwa

engkau adalah Si Tangan Api yang ditakuti itu.”

Se Jit Kong menarik napas panjang dan menyimpan

kembali peti hitam itu. Dia sendiri seringkali merasa heran

mengapa terhadap isterinya ini, dia seperti kehilangan semua

kekerasan hatinya, kehilangan semua keangkuhannya, bahkan

kehilangan semangat.

Dia tahu bahwa tanpa Ju Bi Ta, hidupnya tidak ada artinya.

Bahkan dia harus mengakui dalam hati bahwa semua

perbuatan yang dia lakukan, untuk menjadi orang gagah

nomor satu di kolong langit, mengumpulkan benda-benda

pusaka dan benda berharga, semua itu dia lakukan demi

isterinya, dan menyenangkan hati isterinya!

“Baiklah, isteriku yang baik. Mulai saat ini aku akan

mentaati semua kehendakmu. Engkau lihatlah, mulai

sekarang, harimau yang ganas ini akan berubah menjadi

domba yang lemah dan jinak.”

Dia menghampiri isterinya dan merangkul. Ju Bi Ta

memejamkan matanya dan seperti biasa, ia tidak pernah

menolak menerima tumpahan kasih sayang suaminya. Ia

seorang isteri yang baik, yang tidak pernah mengurangi

kewajibannya, dan biarpun baru saja ia menegur dan marah

kepada suaminya, kini ia siap melayani suaminya dengan

pasrah.

Malam itu, Sin Wan asyik dengan oleh-oleh ayahnya, yaitu

sebuah kitab dongeng sejarah. Sejak kecil, oleh ibunya Sin

Wan diharuskan mempelajari ilmu sastera, sehingga dalam

usia sepuluh tahun, dia sudah pandai baca tulis.

Ketika mereka tinggal di timur, ibunya mengundang

sasterawan untuk mengajarnya. Selain itu, Ju Bi Ta juga

mengharuskan dia membaca kitab-kitab Agama Buddha, kitabkitab

guru besar Khong Cu, juga ibu yang bijaksana ini

mengajarkan pembacaan ayat kitab Al Quran. Ibunya

mengajarkan budi pekerti, sehingga biarpun sejak kecil anak

itu digembleng ilmu silat oleh ayahnya, namun dia tetap

berwatak lembut, percaya dan memuja Tuhan Allah, pencipta

seluruh alam mayapada berikut isinya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul belasan

orang di pekarangan rumah keluarga Se Jit Kong. Mereka

adalah belasan orang laki-laki yang berusia antara tiga puluh

sampai lima puluh tahun dan semua kelihatan gagah perkasa.

Dari sikap, pakaian dan senjata yang ada pada mereka mudah

diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa

bertualang di dunia kang-ouw (sungai telaga) orang-orang

yang sudah biasa hidup keras mengandalkan kepandaian silat,

ketebalan kulit dan kekerasan tulang.

“Hwe-ciang-kwi (Iblis Tangan Api) Se Jit Kong, keluarlah

dari tempat persembunyianmu!” teriak seorang di antara tiga

belas orang itu yang usianya sudah lima puluh tahun,

bertubuh tinggi kurus dan bermata satu karena mata kirinya

buta.

Se Jit Kong masih tidur pada pagi hari itu karena dia

memang masih lelah karena habis melakukan perjalanan jauh.

Isterinya sudah sejak pagi subuh tadi bangun dan sibuk di

dapur mempersiapkan sarapan untuk suami dan anaknya,

sedangkan Sin Wan juga sudah tekun melanjutkan pembacaan

kitabnya.

Mendengar teriakan yang melengking lantang sekali karena

didorong kekuatan khi-kang, baik Sin Wan maupun ibunya

terkejut bukan main. Teriakan yang melengking itu menebus

sampai ke seluruh bagian rumah itu, bahkan terdengar ke

seluruh kota Yin-ning.

Ju Bi Ta berlari keluar dari dalam dapur, hampir

bertabrakan di ruangan tengah dengan puteranya kemudian

mereka berdua cepat menuju ke pintu depan. Ketika mereka

membuka pintu depan, mereka melihat tiga belas orang yang

sikapnya bengis dan mengancam itu.

Sin Wan adalah seorang anak yang lembut hati dan

pendiam, akan tetapi sejak kecil oleh ibunya ditekankan

tentang susila dan sopan santun. Oleh karena itu, melihat

sikap tiga belas orang itu, dia merasa tak senang.

“Cuwi (anda sekalian) adalah orang-orang tua yang

kelihatan gagah, akan tetapi kenapa datang sebagai tamu tak

diundang yang bersikap kurang ajar! Bersikaplah sopan kalau

menjadi tamu!”

Tiga belas orang itu memandang kepada Sin Wan dan

ibunya, dan tiga belas pasang mata itu memandang kepada Ju

Bi Ta dengan kagum dan pandang mata liar, dan mereka

memandang kepada Sin Wan dengan marah.

Seorang di antara mereka, yang bertubuh pendek dan

berkepala botak memaki, “Bocah setan, jaga mulutmu itu, aku

akan merobeknya!”

Berbareng dengan kata terakhir, si botak pendek itu sudah

menggerakkan tangan kirinya dan meluncurlah sinar

menyilaukan sebatang hui-to (pisau terbang) ke arah mulut

Sin Wan! Kalau anak lain yang menghadapi serangan ini, tentu

pisau itu benar-benar akan merobek mulutnya.

Namun, sejak kecil Sin Wan sudah digembleng ilmu silat

oleh ayahnya. Menghadapi serangan itu, dia sama sekali tidak

menjadi gugup. Tangan kanannya bergerak dan dia telah

menangkap pisau itu diantara jari-jari tangan yang

menjepitnya kemudian tanpa banyak cakap lagi. Sin Wan

melontarkan pisau itu ke arah penyambitnya!

“Ehhh ……?” Si pendek botak terkejut, akan tetapi diapun

lihai, dan dapat menangkap lagi senjata rahasianya.

Pada saat itu terdengar suara lantang dari dalam rumah.

“Anjing-anjing dari mana sudah bosan hidup dan ingin

menjadi bangkai?”

Muncullah Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong dari dalam rumah

dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi. Agaknya dia tadi

mendengar pula kedatangan tiga belas orang itu, akan tetapi

dia tidak tergesa-gesa dan berganti pakaian, mencuci muka

dan menyisir rambut lebih dahulu. Melihat suaminya muncul

dan mendengar suaranya yang mengancam, isteri datuk itu

segera berkata dengan nada suara yang serius.

“Berjanjilah bahwa engkau tidak akan membunuh orang!”

Sin Wan melihat ayahnya menatap wajah ibunya dan

tampak ragu- ragu, dan belum juga menjawab ucapan

isterinya itu.

“Berjanjilah!” desak pula Ju Bi Ta kepada suaminya.

Datuk besar itu menghela napas lalu mengangguk.

“Baik, aku berjanji tidak akan membunuh orang. Kalau

anjing-anjing ini kurang ajar, aku hanya akan memberi ajaran

kepada mereka agar tidak berani datang mengganggu lagi.”

Ju Bi Ta kelihatan lega dan iapun memegang tangan

puteranya.

“Sin Wan mari kita masuk. Biar ayahmu yang menghadapi

mereka itu.”

Sin Wan juga mengenal ketegasan dan perintah dalam

suara ibunya yang lembut. Dia mengangguk dan mereka

berdua lalu masuk kembali ke dalam rumah. Wanita itu

melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Sin Wan

mencoba untuk melanjutkan bacaannya, akan tetapi sia-sia

karena ingatannya melayang ke luar rumah.

Akhirnya dia tidak dapat menahan perasaan hatinya dan

diapun keluar dari ruangan itu, menuju ke depan dan

mengintai dari balik pintu depan, melihat bagaimana ayahnya

menghadapi tiga belas orang kasar dan tidak sopan itu.

Agaknya ketika dia masuk tadi, tiga belas orang itu telah

memperkenalkan diri kepada ayahnya karena kini dia melihat

ayahnya tertawa bergelak sampai perutnya terguncang dan

mukanya menengadah. Betapa gagahnya sikap ayahnya

menghadapi tiga belas orang kasar yang nampak bengis

mengancam itu.

“Ha ha ha ha, kiranya kalian ini yang di daerah pantai Pohai

dikenal dengan julukan Bu-tek Cap-sha-kwi (Tiga belas Iblis

Tanpa Tanding)? Ha ha ha, sungguh tekebur,

mempergunakan julukan seperti itu. Dahulupun aku sudah

mendengar akan nama kalian, akan tetapi setelah mendengar

bahwa kalian hanyalah penjahat-penjahat kecil yang menjadi

antek para bajak laut Jepang, akupun tidak perduli. Sekarang

kalian datang mencari aku, ada urusan apakah?”

Kalau saja tidak ingat akan pesan isterinya, tentu datuk

besar ini tidak sudi banyak cakap lagi dan sejak tadi dia sudah

turun tangan membunuh mereka ini!

Seorang di antara mereka, yang tinggi kurus dan nampak

tenang, usianya lima puluh tahun lebih dan di punggungnya

terdapat sepasang pedang, melangkah maju dan agaknya

dialah pemimpin rombongan itu. Sepasang matanya tajam

mencorong, sikapnya angkuh dan dia memandang tuan rumah

itu seperti seorang atasan memandang bawahan.

“Hwe-ciang-kwi, ketika engkau merajalela di timur sana,

kami masih mendiamkan saja karena kita dari satu golongan

dan seperti kami, engkau juga memusuhi para pendekar. Kami

menganggap engkau orang segolongan maka kami tidak

mencampuri. Akan tetapi, engkau telah mencuri pusaka

istana. Engkau seorang Suku Bangsa Uigur yang liar telah

berani melarikan pusaka-pusaka istana. Hemm, kami sebagai

orang-orang Han tidak bisa membiarkan saja perbuatanmu ini.

Kembalikan pusaka-pusaka itu kepada kami”

“Wah … wah, sungguh bebat. Kalau aku tidak mau

mengembalikan, kalian mau apa?” tantang Se Jit Kong sambil

tersenyum mengejek.

“Terpaksa kami tidak akan memandang segolongan lagi,

dan kami akan menangkap dan menyeretmu ke istana agar

menerima hukuman sebagai pencuri!”

Kembali So Jit Kong tertawa bergelak.

“Ha ha ha, sungguh lucu sekali! Bu-tek Cap-sha-kwi sudah

biasa membantu para bajak laut Jepang, sekarang tiba-tiba

ingin menjadi pahlawan? Kamu yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo

(Setan Pedang Tanpa Tanding) itu, dan yang memimpin

gerombolan tigabelas orang ini? Katakan saja bahwa kalian

menginginkan pusaka-pusaka itu untuk kalian sendiri, bukan

untuk dikembalikan kepada Kaisar! Bukankah begitu, Cap-shakaw

(tiga belas ekor anjing)?”

Sengaja datuk besar itu mengubah julukan Cap-sha-kwi

(Tiga belas Iblis) menjadi Tiga belas Anjing!

Si pendek botak yang tadi menyerang Sin Wan, menjadi

marah sekali. Dia melangkah maju dan menudingkan

telunjuknya ke arah muka Se Jit Kong,

“Iblis sombong, berani kau menghina kami? Sekarang,

bukan saja semua pusaka harus kau serahkan kepada kami,

juga wanita cantik tadi. Ia isterimu, bukan? Iapun harus

diserahkan kepadaku, sebagai hukuman atas sikapmu ini!”

Seketika wajah Se Jit Kong menjadi merah. Dia sudah biasa

mendengar ucapan kasar menghina, dan hal itu dianggap

lumrah. Akan tetapi ada suatu pantangan baginya. Siapapun

juga di dunia ini tidak boleh menghina isterinya tersayang!

Sinar matanya seperti berapi dan panas ketika dia menatap

wajah si pendek botak itu. Si botak ini memang berwatak

mata keranjang. Dia merupakan seorang di antara tiga

saudara berjuluk Bu-tek Sam-coa (Tiga Ular Tanpa Tanding)

yang masuk menjadi anggauta kelompok Tiga belas Iblis

Tanpa Tanding.

Semua anggauta gerombolan ini menggunakan julukan Bu

Tek (Tanpa tanding) yang menunjukkan kesombongan watak

mereka. Dan di daerah Po-yang, di sepanjang pantai laut

timur, mereka memang amat ditakuti, apalagi setelah mereka

bergabung dengan para bajak laut Jepang yang selalu

mengganggu keamanan di perairan laut timur dan di

sepanjang pantai,

“Jahanam busuk, aku harus menghancurkan mulutmu,”

bentaknya dan tiba-tiba saja tubuh Se Jit Kong yang tinggi

tegap itu sudah melayang ke depan, ke arah si pendek botak.

Biarpun dia pendek, namun si botak ini terkenal dengan

kecepatan gerakannya dan juga tenaganya yang besar.

”Engkau yang akan mampus di tanganku!” bentaknya dan

diapun sudah melolos rantai yang kedua ujungnya dipasangi

pisau seperti pisau terbang yang biasa dia pergunakan sebagai

senjata rahasia.

Begitu Se Jit Kong meloncat dekat, dia sudah menyambut

dengan serangan rantainya. Dua batang pisau itu menyambarnyambar

dahsyat dan terdengar suara bersiutan nyaring.

Diam-diam Se Jit Kong menilai gerakan lawan dan tahulah

dia bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang remeh. Apa lagi

ketika dua orang saudara si botak juga maju mengeroyoknya.

Mereka bersenjata golok besar dan gerakan merekapun

dahsyat.

Se Jit Kong yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang

sudah tinggi tingkatnya, mempergunakan kelincahan

gerakannya untuk mengelak, berloncatan menyelinap di

antara gulungan sinar rantai dan golok. Namun, dia tidak

membalas kepada dua orang yang lain, karena perhatiannya

dia tujukan kepada si botak pendek untuk melaksanakan

ancamannya. Dia harus menghancurkan mulut yang telah

berani menghina isterinya itu!

Setelah lewat belasan jurus dikeroyok tiga orang yang

berjuluk Tiga Ular Tanpa Tanding itu. Se Jit Kong melihat

kesempatan baik. Ketika kedua ujung rantai yang dipasangi

pisau itu menyambar kepadanya dengan berbareng, satu dari

atas dan satu lagi dari samping, dia tidak mengelak melainkan

menyambut kedua batang pisau yang amat tajam berkilauan

itu dengan kedua tangannya.

Dia berhasil menangkap dan mencengkeram kedua batang

pisau itu, menangkap rantainya dan sebelum si botak tahu apa

yang terjadi, kedua lengannya telah terbelit rantai dan

tubuhnya terangkat dari atas tanah lalu diputar-putar

menyambut golok kedua orang saudaranya. Tentu saja dua

orang itu, terkejut dan menarik kembali golok mereka, bahkan

meloncat ke belakang karena khawatir kalau golok mereka

akan melukai saudara sendiri.

Se Jit Kong menghentikan putaran tubuh si pendek botak

yang kedua lengannya telah terbelit rantai, menurunkannya

dan sekali dia menggerakkan tangan kiri, jari-jari tangannya

yang panjang dan besar, yang kuat bagaikan baja mentah,

sudah menampar ke arah mulut si botak.

“Prakkk…..!”

Tubuh si botak terpelanting dan diapun roboh dengan

muka mandi darah karena mulutnya telah remuk. Tulang

rahang berikut semua giginya hancur dan biarpun dia tidak

akan tewas dengan luka itu, namun sukar dibayangkan

bagaimana dia akan mampu bicara dan bagaimana pula dia

akan mengirim makanan ke dalam perutnya!

Se Jit Kong selalu teringat akan janjinya kepada isterinya,

maka ketika tangannya menampar tadi, dia membatasi

tenaganya agar jangan membikin hancur kepala botak itu.

Melihat betapa si botak itu roboh dengan muka bagian

bawah remuk, tentu saja duabelas orang lainnya menjadi

marah sekali. Bu-tek Kiam-mo yang memimpin gerombolan itu

segera mengeluarkan bentakan dan mencabut sepasang

pedangnya, kemudian bersama rekan-rekannya dia lalu

mengepung Se Jit Kong yang berdiri dcngan tenang dan tegak

di tengah-tengah, tanpa memegang senjata apapun.

Biarpun demikian, dia tetap waspada karena dia maklum

bahwa tingkat kepandaian para pengepungnya ini samasekali

tidak boleh disamakan dengan kepandaian limabelas orang

Kasak yang dibunuhnya baru-baru ini ketika dia merampas

barang berharga dari kafilah itu. Kini yang mengeroyoknya

adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan rata-rata

memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar.

Sin Wan yang menonton perkelahian itu, memandang

dengan hati bangga dan kagum. Biarpun dia sendiri berwatak

lembut dan ibunya selalu menekankan bahwa

mempergunakan kekerasan untuk melukai, apa lagi

membunuh orang lain, merupakan perbuatan yang jahat dan

tidak baik, namun kini melihat ayahnya dikeroyok dan ayahnya

menghadapi orang-orang yang jahat itu, dia merasa bangga.

Apa lagi ketika melihat ayahnya bergerak sedemikian cepatnya

sehingga tubuhnya tak nampak lagi. Yang nampak hanya

bayangan berkelebatan di antara sambaran banyak senjata,

kemudian terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya para

pengeroyok seorang demi seorang.

Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, tigabelas orang

tokoh sesat yang terkenal di dunia kang-ouw itu telah roboh

semua. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang tewas.

Ada yang patah tulang pundaknya, patah tulang kaki atau

lengan, ada yang bocor kepalanya, ada yang pingsan, akan

tetapi tidak ada yang tewas.

“Cap-sha-kwi, dengar baik-baik. Kalian harus berterima

kasih kepada isteriku, karena kalau tidak ada dia, kalian

sekarang sudah menjadi bangkai semua! Nah, pergilah dan

jangan injak lagi daerah ini!”

Bu-tek Kiam-mo sendiri hanya patah tulang pundak

kanannya. Dia masih dapat berjalan dan menggerakkan

lengan kiri. Karena maklum bahwa dia dan kawan-kawannya

tidak akan mampu menyerang lagi, dia lalu memimpin kawankawannya

untuk saling bantu dan dengan terpincang-pincang,

ada yang memapah kawan, ada pula yang menggotong teman

yang pingsan, mereka meninggalkan kota Yin-ning diikuti

sorak dan ejekan dari para penghuni Kota yang tadi sempat

menyaksikan pertempuran di pekarangan rumab Si Tangan

Api itu.

Sin Wan lari ke dalam menemui ibunya di dapur. Dengan

gembira dia menceritakan kepada ibunya betapa ayahnya

dengan gagah perkasa berhasil mengusir tigabelas orang

kasar itu.

“Ayah hebat sekali, ibu,” kata Sin Wan. “Mereka itu ratarata

memiliki ilmu kepandaian yang hebat, dan mereka semua

bersenjata, sedangkan ayah yang dikeroyok tidak memegang

senjata. Namun, mereka semua roboh dengan luka-luka. Akan

tetapi, tidak ada seorang pun yang dibunuh ayah.”

Ibunya mengangguk, akan tetapi wajahnya tidak kelihatan

gembira. Bagaimana ia akan dapat menikmati hidup tenteram

kalau setelah pindah begini jauh, masih saja suaminya

didatangi orang-orang yang memusuhinya? Semua ini adalah

akibat cara hidup suaminya yang lalu, cara hidup yang penuh

kekerasan, penuh perkelahian dan permusuhan.

“Sin Wan, kuharap kelak setelah dewasa, engkau tidak

mempunyai banyak musuh seperti ayahmu.”

“Aku tidak suka bermusuhan, ibu, akan tetapi di dunia ini

banyak orang jahat. Kalau aku diserang orang, seperti tadi,

tentu aku harus membela diri. Ayah tadipun hanya membela

diri. Orang-orang itulah yang datang mencari perkara dan

menyerang ayah.”

Wanita itu diam-diam mengeluh dalam hatinya. Puteranya

itu tidak tahu orang apa sebenarnya ayahnya itu. Sin Wan

tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang datuk besar dunia

sesat yang terkenal amat kejam dan tidak pantang melakukan

kejahatan bagaimanapun juga. Dia hanya tahu bahwa

ayahnya seorang yang sakti, memiliki banyak ilmu yang

dahsyat, dan bahwa ayahnya amat mencinta ibunya dan amat

sayang kepadanya!

“Sudahlah. Sin Wan, Aku sedang sibuk masak, dan aku

tidak ingin bicara tentang perkelahian itu.”

Sin Wan meninggalkan dapur dan mencari ayahnya. Se Jit

Kong berada di kamarnya dan sedang mengagumi bendabenda

yang dikeluarkan dari dalam sebuah peti hitam besar.

Ketika Sin Wan memasuki kamar, dia menoleh dan tersenyum.

“Masuklah, dan mari kau lihat benda-benda pusaka ini, Sin

Wan. Benda-benda ini tak ternilai harganya!”

Benda-benda itu ada yang indah, ada yang aneh pula bagi

Sin Wan. Ada patung Dewi Kwan-Im yang amat indah, terbuat

dari gading terukir halus. Ada pula mainan dari batu giok yang

juga diukir indah sekali, berbentuk naga, ada pula yang seperti

bentuk burung Hong. Juga terdapat dua batang pedang. Yang

sebuah memiliki sarung dan gagang yang terbuat dari pada

mas terukir indah sekali, bahkan sarung dan gagang itu dihias

intan permata yang berkilauan. Akan tetapi ada pula sebatang

pedang yang sarungnya terbuat dari kulit yang kasar, dan

gagangnya juga sederhana sekali.

“Sudah pergikah semua orang kasar tadi, ayah?”

Sin Wan bertanya sambil duduk di kursi dekat ayahnya,

mengamati benda-benda indah dan aneh itu.

“Ha ha ha, engkau melihat mereka tadi? Dan engkau sudah

menghalau serangan hui-to (pisau terbang), ya? Bagus!

Mereka sudah kuusir pergi, pencoleng-pencoleng cilik tak tahu

diri itu. Kalau bukan ibumu yang melarangku, tentu mereka

semua itu sudah kubunuh!”

“Mengapa mereka itu datang memusuhi ayah?”

“Tikus-tikus tak tahu diri itu ingin merampas benda-benda

pusaka ini, Sin Wan.”

Kini perhatian Sin Wan tertarik kepada benda-benda itu.

Memang ada yang indah, banyak yang aneh, akan tetapi

mengapa orang-orang datang memusuhi ayahnya untuk

merampas benda-benda ini?

“Apa sih hebatnya benda-benda ini sampai mereka datang

hendak merampasnya darimu?”

“Ha ha ha ha, anak bodoh! Kau tahu, semua orang kangouw

siap mempertaruhkan nyawa untuk dapat memiliki

sebuah saja dari benda-benda pusaka ini!”

“Hemmm, alangkah anehnya,” Sin Wan memperhatikan

benda-benda itu satu demi satu. “Memang ada yang indah

menarik, akan tetapi seperti pedang ini, apa sih bagusnya?

Sebuah pedang yang sarungnya butut, gagangnya juga kasar,

seperti pisau dapur saja. Kenapa ayah menyimpan pedang

macam ini?”

“Ha ha ha ha, engkau tidak tahu, anakku. Bagiku, di antara

semua benda pusaka ini, yang paling bernilai adalah pedang

butut yang kau remehkan itul”

“Ah, benarkah itu, ayah? Boleh aku mencabut dan

melihatnya?”

“Lakukanlah. Tidak banyak orang di dunia, ini yang pernah

melihatnya, dan seluruh pendekar di dunia ini ingin sekali

mendapat kesempatan untuk melihatnya.”

Dengan hati tertarik sekali Sin Wan lalu menghunus pedang

yang gagangnya dan sarungnya butut itu. Dia menduga

bahwa biarpun sarung dan gagangnya butut, tentu pedang

yang dianggap sebagai pusaka amat bernilai oleh ayahnya itu

tentu merupakan pedang yang amat baik, tajam dan

berkilauan, terbuat dari pada baja terbaik. Akan tetapi, setelah

pedang itu dia hunus, Sin Wan mengerutkan alisnya dan

hatinya kecewa.

Pedang itu sama sekali tidak menarik, bukan saja

buatannya kasar seperti tempaan yang belum jadi, akan tetapi

juga pedang itu tidak tajam dan tidak runcing. Pedang yang

tumpul! Warnanya gelap kehijauan seperti pedang dari

semacam batu karang yang warnanya hijau saja. Dan pedang

itupun tidak panjang, merupakan pedang pendek yang tumpul

dan tidak menarik!

“Aih, ayah mempermainkan aku! Pedang ini hanyalah

pedang yang belum jadi, tumpul dan jelek, bagaimana ayah

sampai memuji-mujinya seperti itu?”

“Ha ha ha ha, engkau tidak tahu, Sin Wan! Pedang ini

terbuat dari pada Batu Dewa Hijau, dan tidak ada senjata di

dunia ini yang mampu mengalahkan keampuhannya! Pedang

ini mempunyai kisah yang amat menarik, Sin Wan, dan kalau

engkau sudah tahu riwayatnya, tentu akan kau hargai pula

sebagai sebuah pusaka yang langka dan ampuh.”

Sin Wan memasukkan kembali pedang itu ke dalam

sarungnya dan memasukkan ke dalam peti.

“Ayah, ceritakanlah kisah itu, aku ingin sekali tahu

riwayatnya.”

“Kau tahu, kurang lebih seratus tahun yang lalu, pedang ini

adalah milik Kaisar Jenghis Khan, pendiri dari Kerajaan Goantiauw

yang baru saja jatuh. Dan jatuhnya Dinasti Mongol

itupun sebagian gara-gara tidak menghargai pusaka ini!”

Tentu saja Sin Wan menjadi semakin tertarik. Dia memang

suka sekali membaca atau mendengar riwayat-riwayat kuno

yang menarik.

“Ketika Jenghis Khan belum menjadi kaisar, dia telah

menemukan batu mustika yang disebut Batu Dewa Hijau atau

Batu Asmara, dan batu bintang itu lalu dibikin menjadi

sebatang pedang yang diberi nama Pedang Asmara. Semenjak

memiliki pedang itu, bintang nya terus menjadi terang sampai

akhirnya dia berhasil menjadi kaisar. Walaupun pedang itu

pernah lepas dari tangannya, terjatuh ke tangan orang jahat,

namun akhirnya dapat kembali kepadanya sehingga dinasti

Mongol menjadi semakin jaya. Akan tetapi, keturunan Jenghis

Khan tidak dapat menghargai pedang yang bernama Pedang

Asmara itu karena mereka menganggap pedang itu

melemahkan, membuat orang menjadi budak nafsu asmara.

Pedang itu lalu dibawa ke seorang pembuat pedang yang

paling ahli di seluruh daratan Cina, dan akhirnya, dengan

susah payah pedang itu dilebur lagi dan dihilangkan sarinya

yang mempunyai pengaruh berahi pada pemiliknya. Akhirnya,

sisa leburan itu dibuat lagi dan menjadi pedang ini. Tidak bisa

ditajamkan dan diruncingkan saking kerasnya. Karena buruk,

pedang ini tidak dihargai dan hanya menjadi penghuni gudang

pusaka saja. Nah, bukankah menarik sekali riwayatnya?”

Sin Wan mengangguk-angguk. Memang amat menarik dan

entah bagaimana, dia merasa kasihan dan sayang kepada

pedang yang seolah disia-siakan itu. Dia juga tidak bertanya

dari mana ayahnya memperoleh pedang yang tadinya milik

Kaisar Jenghis Khan yang amat terkenal dalam sejarah yang

pernah dibacanya itu. Baginya, ayahnya adalah seorang sakti

dan tidak aneh kalau benda-benda pusaka yang ampuh dan

amat besar nilainya itu terjatuh ke tangan ayahnya.

0ooo0

Tiga hari kemudian, pada suatu pagi yang cerah, tiga orang

pria memasuki pekarangan rumah Se Jit Kong. Mereka itu

bukan lain adalah Tiga Dewa, Ciu-sian Tong Kui, Kiam-sian

Louw Sun, dan Pek-mau-sian Thio Ki. Kemarin mereka

bertemu dengan rombongan Cap-sha-kwi dan dari rombongan

inilah mereka mendapat kepastian babwa orang yang mereka

cari, yaitu Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong memang benar berada di

Yin-ning.

Setelah memperoleh keterangan ini, Tiga Dewa

mempercepat perjalanan menuju ke kota Yin-ning dan pada

pagi hari itu, mereka bertiga memasuki pekarangan rumah

datuk yang mereka cari-cari selama hampir setahun ini.

Kepada seorang pelayan yang sedang menyapu

pekarangan, mereka bertanya dengan sikap halus apakah tuan

rumah berada di rumah, dan kalau ada, mereka minta agar

pelayan itu memberitahukan majikannya tentang kedatangan

mereka. Karena sikap tiga orang itu lembut, si pelayan tidak

menaruh curiga.

Sikap mereka ini tidak seperti sikap tigabelas orang yang

datang tiga hari yang lalu. Pelayan itu lalu memberi laporan ke

dalam. Akan tetapi, pada saat itu Se Jit Kong sedang

bersamadhi, maka dia memberi laporan kepada nyonya

majikannya.

“Nyonya, di depan ada tiga orang tamu yang ingin bertemu

dengan tuan majikan,”kata pelayan itu.

Ju Bi Ta mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak.

“Mereka siapakah?”

Pelayan itu menggeleng kepala. “Mereka tidak

memberitahukan nama, akan tetapi mereka adalah tiga orang

laki-laki setengah tua yang bersikap ramah dan lembut, dan

pakaian mereka seperti pakaian pendeta atau pertapa.”

“Tuan majikan sedang bersamadhi, aku tidak berani

mengganggunya. Biar kutemui mereka,” kata Ju Bi Ta.

Sin Wan yang juga berada di situ segera bangkit dan

menemani ibunya.

Ketika mereka tiba di luar, mereka melihat tiga orang

berpakaian tosu (pendeta Agama To) berdiri di luar pintu. Tiga

orang itu begitu melihat yang muncul seorang wanita cantik

dan seorang anak laki-laki, segera memberi hormat dengan

mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk.

“Nyonya muda, harap maafkan kami bertiga kalau kami

mengganggu nyonya dengan kedatangan kami,” kata PekTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

mau-sian Thio Ki yang menjadi juru bicara mereka karena dia

yang paling pandai bicara, juga sikapnya halus dan sopan,

tidak seperti Ciu-sian yang biarpun pandai bicara pula, namun

ugal-ugalan dan terbuka.

Melihat sikap mereka yang sopan, Ju Bi Ta juga membalas

penghormatan mereka.

“Tidak mengapa, akan tetapi siapakah sam-wi to-tiang

(bapak pendeta bertiga) dan ada keperluan apakah dengan

kami?”

“Kami datang berkunjung untuk bertemu dengan saudara

Se Jit Kong karena kami mempunyai urusan penting untuk

dibicarakan dengan dia. Adapun saya bernama Thio Ki, dua

orang saudara ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami

datang dari jauh, dari timur, dari kota raja Nan-king.” kata

pula Dewa Rambut Putih.

“Hemm, apakah sam-wi (anda bertiga) datang untuk

merampas benda-benda pusaka milik ayah ?” tiba-tiba Sin

Wan bertanya dengan suara lantang dan terlambatlah ibunya

untuk mencegah dia mengajukan pertanyaan yang

dianggapnya tidak sopan itu.

“Ha ha ha ha, anak baik. Apakah engkau putera Se Jit

Kong?”

“Benar, aku puteranya, namaku Sin Wan.”kata anak itu

dengan tabah. “Kalau sam-wi datang untuk merampas pusaka,

lebih baik sam-wi segera pergi lagi saja, jangan sampai dihajar

oleh ayahku seperti tigabelas orang tempo hari,”

“Ha ha ha ha, sungguh hebat. Engkau jujur dan juga

lembut, menyenangkan sekali, Sin Wan. Anak baik, apakah

kaullhat kami bertiga ini seperti perampok-perampok?” kata

pula Dewa Arak sambil tersenyum lebar, perutnya yang

gendut terguncang dan mukanya menjadi semakin merah dan

cerah.

Sin Wan memandang wajah si gendut itu, juga wajahnya

yang penuh tawa dan nampak gembira dan lucu. “Terus

terang saja, totiang (bapak pendeta), kalau melihat totiang ini

bukan seperti perampok, lebih mirip seperti seorang

pemabok.”

“Sin Wan ……!” ibunya menegur lagi. Heran ia mengapa

puteranya yang biasanya lembut itu kini nampak seperti orang

yang tidak sabaran. Hal ini ditimbulkan karena peristiwa tiga

hari yang lain.

“Wah, ha ha ha! Engkau ini kecil-kecil sudah pandai melihat

sampai ke dasarnya! Memang aku pemabok, memang aku

tukang minum arak, ha ha!” kata pula Ciu-sian Tong Kai

sambil tertawa bergelak. Suara ketawanya yang lepas itu

setengah disengaja, mengandung khi-kang sehingga suaranya

bergema sampai ke dalam rumah.

Akalnya ini berhasil. Suara ketawa yang amat nyaring ttu

menyusup sampai ke dalam kamar dan ke dalam telinga Se Jit

Kong, menggugahnya dari samadhi. Se Jit Kong mengerutkan

alisnya, merasa terganggu oleh suara tawa bergelak itu dan

diapun tahu bahwa kembali ada orang yang datang hendak

mengganggunya. Mukanya menjadi kemerahan dan dia pun

segera bangkit, berganti pakaian baru dan keluar dari dalam

kamar, langsung menuju keluar.

Dan begitu melihat pria tinggi besar yang gagah perkasa itu

keluar. Tiga Dewa yang belum pernah berjumpa dengan Si

Tangan Api itu, segera memberi hormat kepadanya.

“Hemm, apa yang terjadi di sini ?” tanya Se Jit Kong tanpa

memperdulikan penghormatan yang diberikan tiga orang tosu

itu. Dia tidak membalas penghormatan mereka dan

mengajukan pertanyaan yang mengandung teguran itu.

Isterinya berkata dengan nada lembut dan menyabarkan.

“Tiga orang totiang ini datang dari timur, dari Nan-king dan

mereka mempunyai urusan untuk dibicarakan denganmu.

Harap kau sambut tamu-tamu jauh ini dengan baik-baik.”

Se Jit Kong mengerutkan alisnya dan mengangguk. Hatinya

masih mendongkol karena merasa terganggu, akan tetapi

diam-diam dia, terkejut juga mendengar bahwa mereka

datang dari Nan-king, dan segera dia dapat menduga bahwa

tentu kedatangan mereka ini ada hubungannya dengan

benda-benda pusaka yang dicurinya dari gedung pusaka

kaisar di Nan-king.

“Aku tidak mengenal sam-wi (anda bertiga) …….” katanya

dengan setengah hati.

“Ayah, mereka bilang tidak datang sebagai perampok yang

hendak merampas benda-benda pusaka milik ayah,” tiba-tiba

Sin Wan berkata.

“Sebaiknya kalau ada urusan dibicarakan di dalam Sam-wi

to-tiang, mari silakan masuk ke ruangan tamu,” kata Ju Bi Ta

dengan sikap ramah.

Tiga orang tosu itu memandang kepada tuan rumah.

“Terima kasih, nyonya, kami suka sekali kalau saja sicu (orang

gagah) Se Jit Kong memperbolehkan,” kata Thio Ki ragu-ragu.

“Hemm, isteriku sudah mempersilakan kalian masuk,

kenapa masih bertanya lagi? Masuklah dan cepat ceritakan

apa maksud kedatangan kalian.”

Tiga orang tosu itu mengikuti tuan dan nyonya rumah

memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri depan.

Ruangan yang cukup luas, di mana terdapat meja kursi yang

nyaman.

Ji Bi Ta sengaja tidak meninggalkan suaminya sekali ini,

karena ia tidak ingin suaminya membuat ribut dan perkelahian

Iagi. Ia merasa yakin bahwa kalau ada terjadi keributan,

hanya ia seoranglah yang akan mampu mengendalikan

suaminya dan mencegah terjadinya keributan. Karena ia tetap

di ruangan tamu, Sin Wan juga mendapatkan kesempatan

untuk ikut pula hadir dan mendengarkan. Dan biarpun Se Jit

Kong merasa tidak senang dengan kehadiran isteri dan

puteranya, dia tidak berani mengusir isterinya dan

kemarahannya dia tumpahkan kepada tiga orang tamunya.

“Nah, cepat bicara. Siapa kalian dan mau apa kalian

mencariku!” katanya ketus.

Sikap Se Jit Kong ini berwibawa sekali, dan biasanya para

calon lawannya sudah merasa gentar dibuatnya, seperti

wibawa seekor harimau kalau mengaum dan dengan wibawa

auman itu sudah mampu melumpuhkan korbannya. Akan

tetapi, tiga orang tosu itu nampak tenang saja.

Dewa Arak bersikap acuh, memandang ke sekeliling seperti

mengagumi keindahan hiasan ruangan Itu, lalu mengambil

guci arak yang diselipkan di gendongannya dan

mengguncangnya untuk mengetahui isinya. Diteguknya arak

dari mulut guci dan wajahnya nampak gembira sekali seperti

menikmati araknya yang sedap. Si Dewa Pedang nampak

tenang, menatap wajah tuan rumah dan diam saja, karena

seperti juga Dewa Arak, dia menyerahkan pembicaraan

kepada rekannya, yaitu Dewa Rambut Putih.

Jilid 2

PEK-MAU-SIAN THIO Ki tersenyum ramah. “Sicu (orang

gagah), maafkan kalau kunjungan kami mengganggu. Saya

bernama Thio Ki, dan kedua orang teman saya ini bernama

Tong Kui dan Louw Sun. Kami bertiga datang berkunjung

dengan dua tugas.”

“Aku tidak mengenal kalian, tidak mempunyai urusan

dengan kalian. Persetan dengan tugas kalian, tidak ada

sangkut pautnya dengan aku!” Se Jit Kong memotong dengan

ketus pula.

“Justeru kedua tugas kami ini mempunyai hubungan erat

denganmu, sicu, sebagai akibat dari apa yang telah sicu

lakukan.”

Sepasang mata yang seperti mata harimau itu berkilat. Tak

salah dugaannya, mereka ini tentu datang karena urusan

pusaka-pusaka dari istana! Marahlah dia dan kalau saja di situ

tidak ada isterinya, tentu sudah diterjangnya tiga orang itu

tanpa banyak peraturan lagi. Akan tetapi, ketika dia melirik ke

arah isterinya, dia melihat isterinya memandang kepadanya

dan dalam pandang mata itu seperti dilihatnya isterinya

menggeleng kepala melarang dia membuat keributan.

“Perduli apa kalian dengan apa yang kulakukan? Cepat

katakan, apa urusan itu, tidak perlu bicara berbelit-belit seperti

nenek-nenek yang bawel!” bentaknya.

“Heh-heh, Dewa Rambut Putih, menghadapi seorang kasar

seperti Se Jit Kong ini, percuma engkau menggunakan segala

macam tata-susila. Katakan saja dengan singkat dan padat

apa yang menjadi keperluan kita!” Si Dewa Arak mencela

sambil tertawa.

Pek-mau-sian Thio Ki juga memperlebar senyumnya dan

seperti seorang yang kegerahan, dia membuka kipasnya dan

mengipasi tubuh bagian leher. Pada hal, sesungguhnya dia

bukan hanya mengipas untuk mencari angin, melainkan

gerakan itu disertai kekuatan batin untuk menolak sihir yang

diam-diam dilancarkan oleh Se Jit Kong untuk menyerangnya.

Tuan rumah ahli silat dan ahli sihir itu ingin memaksanya

bicara menurut kehendak hati Se Jit Kong yang tidak ingin

mereka bicara sesukanya di depan isterinya! Se Jit Kong

merasa betapa kekuatan sihirnya buyar seperti asap yang

disambar angin dari kipas.

“Hayo bicara, jangan seperti kanak-kanak!” bentaknya

semakin penasaran dan marah.

“Dengarlah baik-baik, Se Jit Kong. Tugas kami yang

pertama merupakan tugas yang ka¬mi terima dari Kaisar

Kerajaan Beng-tiauw, dan inilah tanda kekuasaan yang

diberikan kepada kami.”

Dewa Rambut Putih mengeluarkan sebuah tek-pai (bambu

tanda kuasa) dan memperlihatkannya kepada Se Jit Kong

yang memandang sambil lalu saja.

Dewa Rambut Putih menyimpan kembali tek-pai itu di saku

bajunya.

“Adapun tugas itu adalah untuk mencari dan merampas

kembali benda-benda pusaka yang hilang dari gudang pusaka

istana. Maka kami datang berkunjung dan minta kepada sicu

untuk menyerahkan benda-benda pusaka itu kepada kami.”

Ju Bi Ta memandang kepada suaminya dengan kedua mata

terbelalak.

“Ya Allah! Engkau mencuri pusaka dari istana kaisar? Kalau

benar, kembalikan barang-barang haram itu!”

Se Jit Kong memandang kepada isterinya dan sungguh

aneh, ketika dia bicara, lenyap semua kekerasannya dan

suaranya terdengar lembut.

“Ju Bi Ta, harap engkau tidak mencampuri urusan ini.”

Cepat dia menoleh kepada tiga orang tamunya.

“Cepat katakan, apa tugas kedua agar aku dapat segera

memberi keputusan dan jawaban!”

Si Dewa Rambut Putih Thio Ki memandang dengan wajah

cerah. Datuk besar yang amat jahat ini ternyata mempunyai

kelemahan yang sama sekali tidak disangkanya, yaitu takut

dan tunduk kepada isterinya yang muda dan cantik! Mungkin

kelemahan datuk ini akan membuat tugas mereka semakin

mudah dan ringan, kalau bisa bahkan tanpa kekerasan!

“Tugas kedua datang dari para ketua partai persilatan, di

antaranya dari Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Butong-

pai yang minta bantuan kepada kami untuk

mengundangmu menghadiri pertemuan yang akan mereka

adakan, di mana sicu diminta untuk mempertanggung

jawabkan kematian dan terlukanya banyak tokoh mereka.”

Se Jit Kong mengepal kedua tangannya, mukanya menjadi

merah sekali dan matanya seperti memancarkan api, bahkan

kedua tangannya perlahan-lahan berubah menjadi merah

seperti baja membara dan mengepulkan uap putih! Akan

tetapi, begitu melirik kepada isterinya, kemarahannya

menurun seperti api yang tidak mendapat udara, akan tetapi

suaranya masih ketus ketika dia berkata kepada tiga orang

tamunya.

“Untuk kedua urusan itu, jawabanku hanya satu. Bendabenda

pusaka itu kudapatkan dengan kepandaian. Kalau

kalian ingin mendapatkannya, kalian harus mampu

merampasnya dariku! Dan kedua, kalau kalian ingin membawa

aku ke timur, kalian harus mampu meringkusku. Pendeknya,

kalian bertiga harus dapat mengalahkan aku!”

“Heh, heh, sudah kuduga. Berurusan dengan datuk sesat

tak mungkin menggunakan cara damai,” kata pula Dewa Arak

dan tiga orang tosu itu sudah bangkit berdiri. Juga Se Jit Kong

bangkit berdiri.

“Aku tidak menghendaki kalian membikin ribut di dalam

rumah ini!” kata Ju Bi Ta dengan suara mengandung

kekhawatiran.

Sedangkan Sin Wan hanya memandang saja. Diam-diam

dia terkejut mendengar bahwa ayahnya telah mencuri bendabenda

pusaka dari istana kaisar. Kini tahulah dia bahwa

benda-benda pusaka yang demikian dibanggakan ayahnya itu

adalah barang-barang curian.

Pada hal, ibunya selalu mengharamkan barang curian!

Tentu hal itu dilakukan di luar tahu ibunya. Dan ayahnya telah

membunuh dan melukai para tokoh partai-parta persilatan

besar sehingga kini mereka mengutus tiga orang tosu ini

untuk menangkap ayahnya.

Pek-mau-sian Thio Ki menarik napas panjang. “Tidak ada

jalan lain, Se Jit Kong. Terpaksa kami menuruti keinginanmu

dan kami akan mengalahkanmu agar engkau suka

mengembalikan pusaka-pusaka istana itu dan ikut dengan

kami menghadap para pimpinan partai persilatan. Akan tetapi,

kami menghormati isterimu dan kami tidak ingin membikin

ribut di rumah ini, bahkan tidak ingin membikin ribut di kota

ini. Kami akan menantimu di luar kota sebelah timur. Kami

percaya bahwa Si Tangan Api bukan seorang pengecut yang

melanggar janji dan melarikan diri.”

Dia memberi isyarat kepada dua orang rekannya. Mereka

memberi hormat kepada tuan rumah dan isterinya, kemudian

meninggalkan ruangan itu, keluar dari rumah dan terus keluar

dari kota itu pula, berhenti menanti di luar kota sebelah timur

yang sunyi.

“Biar kubereskan mereka. Aku pergi takkan lama.” kata Se

Jit Kong kepada isterinya dan diapun melangkah pergi.

“Se Jit Kong, jangan bunuh mereka!” Ju Bi Ta berseru dan

suaminya berhenti, menengok dan mengangguk, kemudian

sekali berkelebat diapun lenyap.

“Ibu, aku ingin nonton pertandlngan itu,” kata Sin Wan

yang ingin sekali melihat bagaimana ayahnya akan melawan

tiga orang tosu itu.

“Jangan, Sin Wan. Untuk apa nonton orang berkelahi?

Berkelahi merupakan perbuatan jahat. Di antara sesama

manusia harus saling mengasihi, bukan saling bermusuhan.

Bermusuhan dan berkelahi hanya pekerjaan Iblis.”

Sin Wan merasa kecewa sekali, akan tetapi dia tidak berani

membantah ibunya. Dia selalu taat kepada ibunya, seperti

juga ayahnya. Hanya bedanya, kalau dia mentaati Ibunya

karena dia sayang dan kasihan kepada ibunya, tidak ingin

menyebabkan hati ibunya, sedangkan Se Jit Kong taat kepada

isterinya karena takut isterinya marah kepadanya.

“Ibu, kalau ibu tidak berada di sana, bagaimana kalau nanti

ayah lupa diri dan membunuh tiga orang tosu yang kelihatan

sopan dan baik itu?” tiba-tiba Sin Wan berkata.

“Ah, engkau benar juga! Mari kita melihat ke sana, aku

harus mencegah ayahmu melakukan pembunuhan lagi!”

Ju Bi Ta menggandeng tangan puteranya dan Sin Wan

diam-diam tersenyum girang. Mereka berjalan secepatnya

menuju ke timur, keluar dari kota Yin-ning.

◊◊◊

“Tosu-tosu lancang, sombong dan busuk. Apakah kalian

sudah bosan hidup? Tidak tahukah kalian siapa aku?”

Kini, setelah seorang diri saja berhadapan dengan tiga

orang tosu itu, Se Jit Kong menumpahkan seluruh

kemarahannya. Isterinya tidak ada iagi di situ untuk

mengendalikannya.

“Heh … heh … heh, Se Jit Kong. Tentu saja kami tahu

benar siapa engkau. Engkau adalah Se Jit Kong, peranakan

Uigur yang berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, akan

tetapi menjadi hamba iblis dan tidak pantang melakukan

segala macam kejahatan demi mencari nama besar dan harta

kekayaan. Engkau berjuluk Si Tangan Api, Iblis Tangan Api

karena engkau memiliki ilmu yang membuat kedua tanganmu

mengandung panasnya api. Engkau telah mengacau di timur,

membunuh banyak tokoh pendekar, mengalahkan para

pimpinan partai persilatan, mengaduk-aduk dunia persilatan

dengan kekejaman dan kecongkakanmu,” kata Ciu-sian Tong

Kui.

“Engkaupun ahli pedang yang sukar dikalahkan. Entah

berapa ratus orang roboh oleh tangan dan pedangmu. Entah

berapa banyak darah yang telah diminum pedangmu. Engkau

bukan manusia, melainkan ibiis sendiri, karena itu engkau

harus bertanggung jawab terhadap para pimpinan partaipartai

persilatan besar,” kata Kiam-sian Louw Sun.

“Se Jit Kong, engkau menggunakan sihir untuk mencuri

pusaka dari gudang pusaka istana. Engkau berdosa besar,

bukan saja terhadap kaisar, akan tetapi juga terhadap negara

dan bangsa. Baru saja Kaisar Thai-cu telah membebaskan

rakyat dari cengkeraman penjajah Mongol. Sepatutnya kita

berterima kasih dan bergembira. Akan tetapi engkau bahkan

mengganggu dengan pencurian pusaka. Engkau memang

keturunan bangsa biadab yang tidak tahu terima kasih.” Pekmau-

Sian Thio Ki yang biasanya halus itupun kini mencela

dengan kata-kata yang keras.

Hal ini tidaklah mengherankan. Pemimpin rakyat Cu Goan

Ciang yang berasal dari rakyat petani biasa, telah berhasil

memberontak terhadap pemerintah Mongol, bahkan kemudian

berhasil menghancurkan dan menghalau penjajah Mongol

yang telab menguasai Cina selama seratus tahun. Tentu saja

Cu Goan Ciang dianggap pahlawan besar ketika dia

mendirikan Kerajaan Beng-tiauw dan menjadi kaisarnya yang

pertama berjuluk Kaisar Thai-cu (1368-1398).

Kini Se Jit Kong yang tertawa bergelak dan suara tawanya

itu amat dahsyat, karena bukan saja mengandung tenaga khikang

yang hebat, juga mengandung kekuatan sihir yang

membuat tiga orang tosu itu harus mengerahkan sin-kang

(tenaga sakti) mereka untuk melindungi diri agar tidak

terpengaruh.

“Ha-ha-ha, kalian tiga orang tosu jahanam. Sudah tahu

betapa semua pimpinan partai persilatan besar tidak ada yang

mampu menandingiku, dan kalian tiga orang tosu tak ternama

berani mencariku sampai ke sini? Ha-ha-ha, kalau mencari

mampus, kenapa susah-susah dan jauh-jauh sampai ke sini?”

Tentu saja Se Jit Kong tidak tahu bahwa dia berhadapan

dengan tiga orang sakti yang selama puluhan tahun memang

tidak pernah muncul di dunia persilatan sehlngga ketika dia

merajalela di timur, dia tidak pernah mendengar nama

mereka. Akan tetapi, dia merasa terkejut juga ketika melihat

betapa tiga orang tosu itu tenang-tenang saja dan sama sekali

tidak terpengaruh oleh suaranya yang dahsyat tadi. Pada hal,

tidak banyak orang yang akan mampu bertahan, baik

terhadap pengaruh khi-kang maupun ilmu sihir yang

terkandung dalam tawanya tadi.

“Se Jit Kong, ketahuilah bahwa kami tidak biasa dan tidak

suka membunuh orang. Oleh karena itu, mari kita membuat

perjanjian. Kalau kami kalah bertanding denganmu, terserah

kepadamu mau diapakan kami ini. Kalau engkau hendak

membunuh kamipun terserah. Kami tahu akan resiko tugas

kami. Akan tetapi, kalau engkau yang kalah, engkau harus

menyerahkan kembali semua pusaka istana, dan engkau harus

dengan suka rela mengikuti kami untuk menghadap para

pimpinan partai persilatan.” kata Pek-mau-sian Thio Ki.

“Bagus! Kalian memang sudah bosan hidup. Nah, kalian

hendak main satu demi satu atau dengan keroyokan? Bagiku

sama saja!” Ucapan ini saja sudah menunjukkan watak yang

takbur dari datuk itu, akan tetapi di balik itu juga mengandung

kecerdikan, karena ucapan itu, kalau diterima oleh orangorang

yang merasa diri mereka memiliki ilmu kepandaian

tinggi, tentu akan mendatangkan rasa malu dan tidak enak

untuk maju bersama dan melakukan. pengeroyokan.

“Kami bukan orang-orang pengecut yang suka melakukan

pengeroyokan, Se Jit Kong,” jawab Dewa Rambut Putih. “Kami

mendengar bahwa engkau memiliki tiga ilmu yang hebat.

Pertama ilmu silat tangan kosong, gin-kang dan sin-kang yang

sukar dicari bandingnya. Kedua, engkau ahli pedang yang

hebat pula. Dan ketiga, engkau memiliki Ilmu sihir yang kuat.

Nah, kau akan kami imbangi dengan ilmu-ilmu itu. Pertama,

engkau akan ditandingi Dewa Arak dalam ilmu silat tangan

kosong. Kedua, engkau akan dihadapi Dewa Pedang dalam

ilmu pedang, dan terakhir, aku sendiri yang akan mencoba

kekuatan sihirmu.

“Bagaimana pendapatmu ? Kalau dua orang di antara kita

kalah, biarlah kami mengaku kalah.”

Tentu saja syarat ini amat menguntungkan bagi Se Jit

Kong. Dia tidak dikeroyok, dan kalau dapat mengalahkan dua

orang, biarpun andaikata yang seorang menang, dia tetap

keluar sebagai pemenang.

“Bagus! Nah, majulah kau, tosu pemabok! Aku akan

membuat perut gendutmu menjadi kempis!” ejeknya sambil

menghadapi Ciu-sian Tong Kui.

“Heh-heh-heh, perut ini berisi hawa arak, bagaimana

engkau akan mampu membikin kempis tanpa terkena gasnya?

Heh .. heh .. heh!” Biarpun dia membadut, namun Dewa Arak

tidak pernah lengah karena dia maklum bahwa dia

berhadapan dengan seorang datuk sesat yang amat lihai dan

licik.

Benar saja, belum habis dia tertawa, tubuh tinggi besar itu

telah menyerangnya secara curang dan dahsyat sekali. Kalau

saja dia lengah dan belum siap, siaga, setidaknya serangan itu

tentu akan membuat Dewa Arak kelabakan! Namun, dia telah

siap siaga dan dengan cepat kakinya bergeser secara aneh

dan cepat sekali, dan dia telah berhasil menghindarkan diri

dari terkaman lawan, bahkan sambil memutar tubuh dia

membalas dengan totokan ke arah lambung lawan.

Se Jit Kong menangkis sambil mengerahkan. sin-kang

untuk mematahkan tulang lengan lawan, juga untuk

mengukur sampai di mana kekuatan sin-kang lawannya yang

gerakannya aneh dan seperti ugal-ugalan itu. Dewa Arak

justeru mengharapkan tangkisannya karena diapun ingin

mengadu sin-kang. Bukankah mereka berdua memang

bertanding mengadu sin-kang dan gin-kang (ilmu

meringankan tubuh ) sambil menguji pula ilmu silat tangan

kosong masing-masing?

“Dukkkk!!!”

Keduanya terdorong ke belakang. Se Jit Kong terdorong

sampai tiga langkah, sedangkan Dewa Arak terdorong mundur

dua langkah. Dari akibat adu tenaga ini saja sudah dapat

diketahui bahwa Dewa Arak masih lebih kuat sedikit! Tentu

saja Se Jit Kong menjadi terkejut bukan main. Tak

disangkanya bahwa lawan yang cacingan perutnya ini memiliki

tenaga yang demikian kuatnya.

Dia tidak tahu bahwa Ciu-sian Tong Kui adalah seorang ahli

sin-kang yang telah menguasai Thian-te Sin-kang (Tenaga

Sakti Langit Bumi)! Dia mangeluarkan teriakan marah dan kini

dia mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk

menyerang lawan. Gerakannya amat cepat sehingga tubuhnya

lenyap berubah menjadi bayangan yang menyambar-nyambar.

Namun, kembali Dewa Arak mengeluarkan suara tawanya

yang nyaring dan diapun mengimbangi dengan gerakan kaki

yang berloncatan, bergeseran dan semua serangan lawan

dapat dielakkannya. Kalau gerakan lawan amat cepat,

gerakannya sendiri amat aneh, seolah-olah setiap gerakan

kaki yang bergeser ke sana sini dan berloncatan itu seperti

sepasang kaki burung yang amat lincahnya. Dan memang si

gendut ini menguasai ilmu meringankan tubuh atau ilmu

langkah ajaib yang diberi nama Hui-niauw-poan-soan (Burung

Terbang Berputaran).

Pada saat itu, Ju Bi Ta dan Sin Wan sudah berada tak jauh

dari situ, menjadi penonton pertandingan Hanya mereka

berdualah yang menjadi penonton karena tempat itu sepi dan

tidak ada orang lain yang berada disitu. Ju Bi Ta sengaja

berdiri di tempat terbuka agar suaminya dapat melihatnya,

karena dia ingin agar suaminya tahu akan kehadirannya

sehingga suaminya tidak akan bertindak keterlaluan, tldak

akan melakukan pembunuhan seperti yang telah dipesannya

tadi.

Dan memang Se Jit Kong tentu saja sudah melihat

kehadiran isterinya dan puteranya. Hal ini membuat dia

kurang leluasa bergerak. Biasanya, kalau bertanding, apa lagi

melawan seorang yang demikian lihainya, dia akan

mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk

membunuh lawan. Akan tetapi sekarang, isterinya hadir dan

tadi isterinya berpesan agar dia tidak membunuh tiga orang

tosu itu!

Hal ini membuat serangannya tidak begitu ganas. Dia

hanya ingin merobohkan dan mengalahkan lawan, tidak mau

membunuhnya karena kalau hal ini terjadi, isterinya tentu

akan marah. Sejak dia memperisteri Ju Bi Ta, dia begitu

sayang kepada isterinya. Dia merasa amat berbahagia kalau

isterinya bersikap manis kepadanya, akan tetapi sorga

berubah menjadi neraka baginya kalau isterinya marah dan

tidak menyambutnya dengan manis.

Setiap orang pria yang normal, siapapun dia, kaya atau

miskin, pandai atau bodoh, dari kaisar sampai buruh kecil,

yang sudah dewasa, pasti mempunyai suatu kerinduan akan

seorang wanita yang dapat dicintanya sepenuh hati. Seorang

wanita yang akan membangkitkan kejantanannya, yang akan

berbahagia oleh cintanya, seperti tanah subur bagi benih

cintanya yang akan bersemi dan tumbuh dengan suburnya.

Pria akan selalu merasa bangga kalau ada wanita yang

menghargai cintanya, membuat dia merasa jantan, perkasa

dan mampu membahagiakan wanita. Demikian pula dengan

Se Jit Kong. Biarpun dia seorang datuk besar kaum sesat,

diapun seorang pria normal. Sudah kerap kali dia menikah,

namun selalu pernikahannya gagal, walaupun kegagalan ini

disebabkan oleh wataknya sendiri yang kasar dan kejam.

Akan tetapi, sejak dia memperisteri Ju Bi Ta kurang lebih

sebelas tahun yang lalu, atau sepuluh tahun lebih, dia benarbenar

menemukan seorang wanita yang memenuhi segala

keinginannya. Karena itu, diapun takut akan kehilangan sikap

isterinya, dan ini membuat dia menjadi taat karena takut kalau

isterinya marah kepadanya.

Tentu saja keadaan Se Jit Kong yang demikian itu

menguntungkan Dewa Arak. Memang ilmu silat tangan

kosong, ilmu meringankan tubuh dan tenaga sakti mereka

berimbang, atau Dewa Arak lebih menang sedikit. Kini dengan

hadirnya Ju Bi Ta yang membuat Se Jit Kong tidak leluasa

bergerak, membuat Dewa Arak lebih unggul.

Akan tetapi sebaliknya, Dewa Arak juga tidak ingin

membunuh datuk besar itu. Biarpun dia seorang yang

berwatak riang gembira dan ugal-ugalan seperti orang yang

selalu mabuk arak, namun dia adalah seorang pertapa yang

sudah melepaskan nafsu-nafsunya, terutama sekali nafsu ingin

menang dan nafsu membenci dan ingin mencelakai orang lain.

Dia tidak mau membunuh, bahkan kalau bisa hanya

menangkan pertandingan itu tanpa membuat lawan terluka

parah.

Limapuluh jurus telah lewat dan pertandingan tangan

kosong itu masih berlangsung semakin seru dan hebat.

Biarpun mereka berdiri agak jauh. Ju Bi Ta dan Sin Wan dapat

merasakan sambaran angin pukulan yang membuat rantingranting

pohon dl sekeliling tempat itu seperti diamuk angin

kuat, bahkan daun-daun kering yang berserakan di bawah

beterbangan ketika dua pasang kaki itu bergerak dan

berloncatan dengan amat cepatnya!

Sukar bagi Ju Bi Ta untuk membedakan mana suaminya

dan mana orang lain dari dua bayangan yang berkelebatan

itu.

Sin Wan yang sejak berusia lima tahun sudah digembleng

ilmu oleh ayahnya, sudah dilatih siu-lian (samadhi) sehingga

memiliki ketajaman pandangan, biarpun dapat mengikuti

gerakan mereka, tetap saja dia tidak dapat menilai siapa yang

mendesak dan siapa yang terdesak. Gerakan mereka terlalu

cepat.

Akan tetapi diam-diam Se Jit Kong mengeluh. Kedua

lengannya sudah berubah merah seperti baja membara, dan

dia sudah mengeluarkan ilmu silatnya, namun lawannya

sungguh tangguh. Lengannya yang mengandung hawa panas

membakar itu bertemu dengan sepasang lengan yang kadang

keras, kadang lunak. akan tetapl selalu dingin dan tidak

terbakar oleh tangan apinya!

Tahulah dia bahwa kalau diianjutkan, andaikata dia tidak

kalahpun dia akan kebabisan tenaga, pada hal dia masih harus

bertanding melawan dua orang lagi yang tentu juga amat lihai

seperti Si Dewa Arak ini. Mulailah dia ragu-ragu.

Dewa Arak melihat keraguannya ini dan tidak ingin menyianyiakan

kesempatan. Dia mengerahkan llmu gin-kangnya dan

kakinya bergeser aneh ke depan, bahkan seolah hendak

menerima tamparan tangan kanan Se Jit Kong yang melayang

dari atas ke arah kepalanya. Namun, secepat kilat tubuhnya

menyelinap ke bawah dan tiba-tiba Se Jit Kong terhuyung ke

belakang karena lambungnya telah didorong oleh telapak

tangan Dewa Arak.

Kalau Dewa Arak menghendaki, dorongan itu dapat saja

menjadi pukulan maut yang akan merusak isi perut lawan.

Akan tetapi dia hanya mendorong, membuat lawan terhuyung

untuk membuktikan bahwa dia menang dalam pertandingan

itu.

Akan tetapi Se Jit Kong bukanlah orang yang mau mengaku

kalah begitu saja. Bahkan selama hidupnya, dia belum pernah

mengaku kalah! Sejak dia berguru kepada seorang pertapa

sakti di India, dia merasa dirinya tak terkalahkan, bahkan dia

tidak pernah mau percaya bahwa dia dapat dikalahkan!

Kesombongan merupakan penyakit yang selalu menyeret

kita ke alam pikiran sesat. Nafsu daya rendah yang

mencengkeram hati dan akal pikiran kita mendorong kita

untuk merasa bahwa kita ini yang paling pandai, paling benar,

paling baik dan paling segala! Kalau kita pandai, kita

membanggakan pikiran kita, kalau kita kuat, kita

membanggakan tubuh kita. Kita selalu lupa bahwa kita ini

hanya alat!

Seluruh tubuh dan hati akal pikiran ini hanya untuk hidup

sebagai manusia, alat yang semula dimaksudkan untuk

mengabdi kepada jiwa yang menjadi penghuni diri kita. Akan

tetapi sayang, alat-alat itu kemudian digelimangi nafsu daya

rendah sehingga kita dibawa menyeleweng.

Alat-alat yang seharusnya dipergunakan oleh jiwa, diambil

alih oleh nafsu, diperalat oleh nafsu sehingga apapun yang

dilakukan tubuh dan hati akal pikiran, selalu ditujukan untuk

memuaskan nafsu daya rendah. Nafsu daya rendah atau setan

selalu mengejar kesenangan, memperalat dan

menyelewengkan kita sehingga membawa pula kita kepada

kesombongan diri, kebencian, iri hati, ketakutan, kemurkaan,

dan sebagainya.

Kalau kita melakukan sesuatu, kita menjadi bangga dan

menganggap bahwa kita yang pandai! Kita lupa bahwa

kepandaian yang berada di dalam kepala kita itu hanya alatalat

belaka, terdiri dari sel-sel otak, darah dan syaraf. Ada

sedikit saja kerusakan pada alat itu, ada satu saja syaraf

lembut itu yang putus, maka akan sirnalah semua kepandaian

yang kita banggakan semula!

Demikianpun kekuatan pada tubuh. Kita membanggakan

tubuh kita yang kuat. Padahal, tubuhpun hanya alat dan ada

sedikit saja kerusakan pada tubuh, kekuatan yang

dibanggakan itupun sirna. Jelas bahwa kita pandai karena kita

diberi kepandaian, kita kuat karena diberi kekuatan!

Kita lupa bahwa ADA yang memberi! Setan membisikkan

kesombongan kepada kita sehingga kita lupa kepada SANG

PEMBERI. Orang. yang sadar akan hal inl, tidak akan berani

memuji diri sendiri yang hanya alat, melainkan memuji kepada

SANG PEMBERI yang telah memberi semua itu kepada kita

sebagai alat, memuji kepada SANG PEMBERI atau Tuhan Yang

Maha Kasih, Allah Yang Maha Esa!

Karena merasa terdesak, sebelum dia dirobohkan, Se Jit

Kong sudah meloncat lagi dan kini tangannya memegang

sebatang pedang terhunus yang mengeluarkan sinar

berkilauan. saking tajamnya. Itulah Gin-kong-pokiam (Pe-dang

Pusaka Sinar Perak), sebuah di antara benda pusaka yang

dicurinya dari gudang pusaka istana.

“Tranggg….l” Sebatang pedang lain menangkis pedang

bersinar perak yang menyambar ke arah Dewa Arak. Ternyata

Dewa Pedang telah meloncat dan menangkis pedang yang

menyambar ke arah rekannya itu. Kini, Dewa Pedang dan Se

Jit Kong berhadapan, dengan pedang di tangan. Pedang di

tangan Dewa Pedang juga mengeluarkan cahaya kekuningan.

Pedang ltupun sebuah pedang pusaka ampuh yang bernama

Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari).

“Heh .. heh .. heh, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong, engkau

sudah kalah dalam pertandingan pertama denganku! Lihat

saja baju lambungmu,” kata Dewa Arak yang sudah meloncat

jauh ke belakang, mengambil guci araknya dan minum arak

dari gucinya beberapa teguk.

Se Jit Kong maklum akan kebenaran ucapan itu dan dia

tidak mau lagi melirik ke arah baju di lambungnya yang

berlubang sebesar telapak tangan lawan. Diapun maklum

bahwa kalau Dewa Arak menghendaki, tentu bukan hanya

bajunya yang berlubang, melainkan lambungnya dan tentu dia

telah tewas.

Akan tetapi dia tidak mau bicara tentang itu, hanya diamdiam

dia merasa heran mengapa ada orang setolol itu,

mendapat kesempatan baik tidak mau mempergunakannya!

Karena merasa kalau dalam pertandingan pertama, dia harus

mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk

memenangkan dua pertandingan yang lain.

Dia merasa yakin akan menang karena dia memiliki ilmu

pedang yang hebat, campuran dari ilmu pedang Bangsa Kazak

yang ahli bertempur itu, dan ilmu pedang dari India. Dia telah

mengolah ilmu-ilmu yang dikuasai itu menjadi ilmu pedang

yang ampuh sekali, yang. selama ini belum terkalahkan.

Biarpun ketika dia mengadu ilmu pedang dengan tokoh

Kun-lun-pai, kemudian tokoh Bu-tong-pai, dia tidak dapat

menang dan hanya dapat mengimbangi ilmu pedang lawan,

namun diapun tidak dikalahkan. Dan dia menang dalam

perkelahian itu dengan bantuan ilmu sihirnya dan ilmu pukulan

Tangan Api.

“Hyaaaatttt ……!”

Dia mengeluarkan bentakan lantang dan pedangnya sudah

menyerang dengan dahsyatnya. Karena dia sudah kalah dalam

pertandingan pertama, kini Se Jit Kong melupakan pesan

isterinya, lupa bahwa isterinya berada tak jauh dari situ

menjadi penonton. Dia tidak perduli lagi karena kalau dia tidak

mampu menang berarti dia kalah dan dia harus menepati

janjinya.

Menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu tidak begitu besar

artinya bagi dia, akan tetapi kalau dia menyerah untuk

ditangkap dan dibawa ke timur hal, itu sungguh merupakan

penghinaan besar dan juga belum tentu para tokoh partai

persilatan itu akan suka memaafkannya. Dia pasti akan

dihukum mati oleh mereka. Oleh karena itu, dia harus

memenangkan dua pertandingan berikutnya dan dia akan

mamaksakan kemenangan itu, kalau. perlu membunuh

lawannya!

Dari gerakan serangan itu tahulah Kiam-sian Louw Sun

bahwa lawannya nekat dan mengirim serangan maut. Maka,

diapun memutar Jit-kong–kiam untuk melindungi tubuhnya,

kemudian membalas dengan tidak kalah dahsyatnya. Dua

orang ahli pedang itu segera terlibat dalam pertandingan yang

lebih menegangkan dari pada tadi, karena kini dua pedang itu

berkelebatan, lenyap bentuknya menjadi gulungan dua sinar

yang menyilaukan mata, saling belit dan merupakan kilat yang

membawa maut.

Ilmu pedang yang dimainkan Se Jit Kong memang aneh

sekali dan juga amat berbahaya, Akan tetapi sekali ini dia

menghadapi seorang ahli pedang yang sakti, yang bahkan

mempunyai julukan Dewa Pedang. Dari julukan ini saja mudah

diketahui bahwa tentu Dewa Pedang memiliki ilmu pedang

yang sudah mencapai tingkat yang amat tlnggi.

Apalagi pedang di tangan tosu yang sakti itupun

merupakan pedang pusaka ampuh. Kalau Se Jit Kong tidak

memegang pedang pusaka dari gudang istana kaisar, pedang

lain tentu akan mudah patah kalau bertemu dengan Jit-kongkiam.

llmu pedang yang dimainkan Dewa Pedang itu selain cepat,

juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, dapat

menekan, membelit dan menempel. Itulah Ilmu pedang Jitkong-

kiam-sut (Ilmu Pedang cahaya Matahari) yang selama ini

belum terkalahkan.

Dua orang itu memang setingkat. Pedang mereka samasama

kuat dan ampuh sebagai pedang pusaka pilihan. Ilmu

pedang mereka pun dahsyat dan aneh, sedangkan ,dalam hal

tenaga, merekapun seimbang. Sampai seratus jurus lebih,

belum juga ada yang nampak kalah atau menang.

Mereka saling serang sambil mengerahkan segala

kemampuan mereka. Sinar pedang menyambar-nyambar

dengan suara berdesing-desing dan kadang bercuitan dan

daun-daun pohon di dekat mereka berhamburan seperti

disayat-sayat.

Sejak tadi, Ju Bi Ta dan Sin Wan melihat pertandingan

dengan hati tegang. Sin Wan mulai merasa khawatir. Tiga

orang yang menjadi lawan ayahnya itu, walaupun tidak main

keroyokan seperti belasan orang beberapa hari yang lalu,

namun masing-masing memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak

kalah oleh ayahnya.

Tadipun ketika selesai bertanding tangan kosong dengan

tosu berperut gendut, dia melihat betapa baju ayahnya di

bagian lambung berlubang sebesar telapak tangan. Dia

mengerti bahwa hal itu menjadi pertanda bahwa ayahnya

teiah kalah, dan diapun kagum bahwa si pemenang itu tidak

membunuh ayahnya, bahkan melukainya. pun. tidak. Dan kini,

orang kedua dapat memainkan pedang sedemikian cepatnya,

mengimbangi permainan ayahnya.

Se Jit Kong mulai merasa lelah. Uap putih mengepul keluar

dari ubun-ubun kepalanya dan napasnya mulai terengahengah.

Tentu saja daya tahannya kalah dibandingkan Dewa

Pedang. Kiam-sian Louw Sun adalah seorang pertapa yang

sejak duapuluhan tahun hidup bersih, tubuhnya tidak terlalu

diperalat nafsu sehingga tubuhnya menjadi kuat, tidak seperti

Se Jit Kong yang hidupnya bergelimang nafsu.

Karena dia merasa lelah sedangkan lawannya masih

nampak segar. Se Jlt Kong tahu bahwa kalau dilanjutkan.

akhirnya dia kalah karena kehabisan napas dan tenaga. Maka,

diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya, matanya

mencorong tajam dan tiba-tiba dia membentak dengan

suaranya yang mengandung kekuatan sihir.

“Robohlah kau ………!!”

Kiam-sian Louw Sun terkejut sekali karena tiba-tlba

tubuhnya seperti terdorong kuat dan biarpun dia sudah

mempertahankan diri, tetap saja dia terhuyung-huyung dan

hampir saja terjengkang jatuh kalau saja tidak dengan

cepatnya Pek-mau-sian Thio Ki menangkap lengannya.

“Tangan Api, engkau kembali menggunakan kecurangan!

Engkau bertanding pedang dengan Dewa Pedang, bukan

bertanding sihir. Kalau engkau hendak memamerkan ilmu

sihirmu, akulah lawanmu. Dalam hal ilmu pedang, engkaupun

tadi kalah, buktinya engkau hampir putus napas dan kau

menggunakan ilmu sihir dengan curang!” tegur Dewa Rambut

Putih.

Dalam keadaan terhimpit Se Jit Kong berusaha untuk

mencapai kemenangan dengan satu kali pukulan. Dia

mengerahkan seluruh tenaga ilmu sihirnya, matanya

mencorong, tubuhnya menggigil dan dia membentangkan

kedua lengan lalu berkata dengan suara yang lantang dan

menggetar, “Kalian semua belum mengenal siapa aku!

Lihatlah baik-baik, aku adalah Naga Api yang datang untuk

membasmi kalian semua!!”

Dia memekik, suara pekikannya melengking nyaring

menggetarkan seluruh orang yang berada di situ. Sin Wan

yang belum pernah melihat ayahnya bersikap seperti itu,

terkejut dan ketika dia memandang dengan penuh perhatian,

dia terbelalak. Ayahnya telah lenyap dan di tempat dia berdiri

tadi nampak seekor naga yang mengeluarkan api dari

mulutnya.

Naga itu sebesar orang dewasa, dan panjangnya puluhan

kaki! Matanya mencorong, lidahnya yang terjulur keluar itu

seperti api membara dan dari mulutnya keluar api bernyalanyala

bercampur asap, juga dari hidungnya keluar api.

Sungguh merupakan mahluk yang mengerikan sekali. Naga

Api!

Ketika dia menoleh kepada ibunya, agaknya ibunya juga

melihatnya, akan tetapi ibunya tidak nampak heran, hanya

ngeri dan takut. Melihat ibunya ketakutan, Sin Wan lalu

memegang tangan ibunya dan merasa betapa jari-jari tangan

ibunya mencengkeram tangannya dan tangan ibunya itu amat

dingin.

Dewa Arak dan Dewa Pedang sudah duduk bersila dan

memejamkan mata seperti orang melakukan samadhi. Mereka

mengerahkan tenaga dan batin agar tidak terpengaruh dan

terseret oleh ilmu sihir yang kuat itu, dan dengan

memejamkan mata mereka melawan getaran sihir. Akan

tetapi, Dewa Rambut Putih berdiri berhadapan dengan Se Jit

Kong yang sudah “berubah” menjadi naga api itu.

“Ha-ha-ha, Se Jit Kong, permainan kanak-kanak ini tidak

ada artinya bagiku!”

Dewa Rambut Putih lalu mengeluarkan sulingnya dan dia

meniup sulingnya. Terdengar lengking suara yang turun naik,

terdengar aneh dan mengandung getaran kuat sekali.

Sin Wan memandang dengan mata terbelalak, dan biarpun

hatinya tegang, namun dia ingin tahu kelanjutannya

bagaimana terjadinya pertandlngan adu ilmu sihir yang aneh

ini.

Naga Api itu menggereng-gereng dan suara suling

melengking-lengking. Akan tetapi, gerengan naga api itu

semakin lemah dan akhirnya, nampak asap mengepul dan

lenyaplah naga jadi-jadian itu, dan nampak tubuh Se Jit Kong.

Suara sulingpun terhenti dan muka Se Jit Kong menjadi merah

sekali saking marahnya.

“Pek-mau-sian, aku atau engkau yang mampus!” bentaknya

dan dia mengangkat pedangnya tlnggi-tinggi di atas kepala,

mulutnya berkemak kemik dan dia berseru lantang, “Pek-mausian,

nagaku ini akan membunuhmu!” Dan dia melontarkan

pedang itu ke atas.

Terdengar suara keras seperti ledakan dan pedang itu

lenyap, berubah menjadi seekor naga lagi, walaupun tidak

begitu menyeramkan seperti naga api tadi, namun naga ini

bergerak dengan lincahnya seperti burung terbang dan

berputaran di atas, seperti sedang mengintai korban.

Melihat ini, Pek-mau-sian Thio Ki tertawa lagi. “Udara jernih

menjadi keruh, langit terang menjadi gelap, munculnya naga

jadi-jadian yang jahat perlu diberantas!”

Ucapannya terdengar seperti bernyanyi dan diapun

melontarkan serulingnya ke atas. Terdengar lengkingan suara

meninggi dan suling itupun berubah bentuknya menjadi

seekor naga putih kekuningan seperti warna suling bambu itu.

Kedua naga itu bertemu di udara dan terjadilah pertandingan

dan pergulatan yang hebat.

Namun, tidak lama, karena terdengar suara Pek-mau-sian

lantang.

“Pedang curian harus kembali ke pemiliknya!” Dan kedua

“naga” itupun meluncur ke bawah, ke arah Dewa Rambut

Putih dan lenyap berubah menjadi suling dan pedang yang kini

berada di kedua tangan tosu itu.

Wajah Se Jit Kong menjadi pucat. Dia maklum bahwa

dalam ilmu sihirpun dia tidak mampu menandingi Pek-mausian

Thio Ki.

Dalam ilmu pedang dia kewalahan melawan Kiam-sian

Louw Sun, dan dalam ilmu silat tangan kosong dan tenaga sinkang,

diapun terdesak oleh Ciu-sian Tong Kui. Tiga orang

lawan itu memang tangguh sekali dan kalau dilanjutkanpun

akhirnya dia akan mendapat malu dan akan roboh.

Dia mencabut sebatang pisau dari pinggangnya. Melihat ini,

tiga orang tosu yang kesemuanya sudah bangkit berdiri itu

siap siaga, mengira bahwa Se Jit Kong akan mengamuk dan

melawan mati-matian. Akan tetapi Se Jit Kong memandang

kepada mereka penuh kebencian dan suaranya terdengar kaku

penuh kemarahan.

“Sam Sian (Tiga Dewa), kalian sudah mampu menandingi

dan mengalahkan aku, akan tetapi jangan harap aku akan sudi

mengembalikan benda-benda pusaka itu dan menyerah untuk

kalian tangkap. Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini

yang boleh membuat aku menyerah dan memaksaku! Ha .. ha

… ha .. ha!”

Sambil tertawa bergelak, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong lalu

menggerakkan pisau itu. Tiga orang tosu terbelalak keget.

Mereka tidak mengira sama sekall bahwa Tangan Api itu akan

mengambil keputusan demikian nekad. Pisau itu, di tangan

ahli Se Jit Kong, telah menyelinap di bawah tulang iga dan

langsung menembus jantungnya sendiri! Dia masih tertawa

bergelak ketika roboh dengan mata terbelalak dan begitu

suara tawanya terhenti, diapun sudah menghembuskan napas

terakhir!!

“Ayaaaahhhh …….!” Sin Wan menjerit dan lari

menghampiri tubuh ayahnya yang menggeletak telentang tak

bernyawa lagi itu.

“Ayah ……..! Ayah …..!” Dia menubruk dan merangkul

tubuh yang sudah menjadi mayat akan tetapi masih hangat

itu. Dia tidak perduli tangan dan bajunya terkena darah yang

bercucuran keluar dari lambung ayahnya.

Setelah mengguncang-guncang tubuh ayahnya dan

memanggil-manggil akan tetapi ayahnya tetap tak bergerak,

mati dengan mata melotot, Sin Wan maklum bahwa ayahnya

telah tewas. Dengan terisak dia lalu menggunakan jari-jari

tangannya untuk menutup kedua pelupuk mata yang

terbelalak itu sehingga sepasang mata itu kini terpejam. Lalu,

perlahan-lahan dia bangkit berdiri, memutar tubuh

menghadapi tiga orang tosu yang memandang dengan sikap

tenang.

“Kalian …. tiga orang pendeta yang kelihatannya saja alim

dan baik, akan tetapi kalian telah membunuh ayahku! Aku

bersumpah kelak aku akan …….”

“Sin Wan, diam kau …….!!” Tiba-tiba ibunya membentak

dan ternyata ibunya telah berada di sisinya. Sin Wan tidak

melanjutkan ucapan sumpahnya yang hendak membalas

dendam, dan dia menoleh kepada ibunya, lalu merangkul

pinggang ibunya.

“Ibuuuu……. ayah telah tewas …..!” isaknya.

“Aku tahu, anakku.”

“Ayah telah dibunuh oleh tiga orang jahat itu …….”

”Hushh, diam kau, Sin Wan. Bukan mereka yang

membunuh. Ayahmu bunuh diri, kita juga melihatnya tadi.”

“Tapi, dia bunuh diri karena tersudut oleh mereka, ibu.

Kenapa ibu tidak menyalahkan mereka, dan tidak membela

ayah?”

“Sin Wan, ayahmu tewas karena ulahnya sendiri ……”

Wanita itu lalu berlutut dan menggunakan kedua tangan

untuk mencabut pisau yang masih menancap di lambung

suaminya. Pisau itu berlumuran darah, akan tetapi kini tidak

banyak lagi darah mengucur keluar dari luka di lambung.

“Ibuuu ……..!”

Sin Wan berseru kaget melihat ibunya mencabut pisau

yang berlumuran darah, dan dia melihat ibunya bercucuran air

mata, menangis. Diapun merasa terharu dan sedih, mengira

ibunya menangisi kematian ayahnya.

“Ibu, ayah mati karena mereka, bagaimana kita tidak

menjadi sakit hati? Ibu, jangan menangis, kelak anakmu yang

akan ….”

“Husssh, Sin Wan, jangan blcara sembarangan,” kata

ibunya sambil menghentikan tangis dan menghapus air

matanya. “Ibumu bukan menangisi kematian ayahmu.”

Sepasang mata anak itu terbelalak. “Ibu ….. Apa

maksudmu, ibu? Bagaimana mungkin ibu berkata demikian?

Ayah amat mencinta ibu dan menyayangku, dan ibupun

mencinta ayah. Kenapa ibu mengatakan bukan menangisi

kematian ayahku?”

“Sin Wan, dia ini bukan ayahmu.”

“Heeeii …..! Ibu ….! Apa ……. apa maksudmu?” Wajah

anak itu berubah pucat dan dia memandang ibunya dengan

mata terbelalak. Tiga orang tosu itupun saling pandang dan

mereka diam saja, hanya kini mereka duduk bersila, untuk

memulihkan tenaga dan juga, untuk tidak mengganggu ibu

dan anak itu.

“Sin Wan, anakku, sekaranglah saatnya ibumu membuka

semua rahasia ini, di depan jenazah Se Jit Kong ini. Dengarkan

baik-baik dan ingat semua kata-kataku, anakku. Sepuluh

tahun lebih yang lalu, ketika itu usiaku baru delapanbelas

tahun, namaku Jubaidah dan aku hidup berbahagia di samping

suamiku yang baru setahun lebih menjadi suamiku. Suamiku.

bernama Abdullah dan dia putera seorang kepala dusun di

perkampungan bangsa kita, yaitu bangsa Uigur. Ketika itu,

engkau telah berada di dalam kandunganku, Sin Wan,

berumur tiga empat bulan.”

“Aahhhhh ….., jadi ayahku ….. ayah kandungku, yang

bernama Abdullah itu …….?” Suara Sin Wan berbisik lirih dan

dia menoleh ke arah wajah Se Jit Kong, orang yang selama ini

dianggap ayahnya,

“Mendiang Abdullah, anakku. Pada suatu hari, Se Jit Kong

ini datang ke dusun kami dan dia …. dia menginginkan diriku,

dia membunuh ayah kandungmu, mendiang Abdullah suamiku

itu ………”

“Ya Tuhan …….!!” Sin Wan menjadi lemas, wajahnya

semakin pucat dan matanya seperti tidak bersinar lagi

mengamati wajah Se Jit Kong. Orang yang menyayangnya dan

disayangnya seperti ayah ini kiranya bahkan pembunuh ayah

kandungnya!

“Tenanglah Sin Wan. Engkau harus mendengarkan penuh

perhatian dan ingat baik-baik semua keteranganku ini.

Suamiku, Abdullah dibunuh oleh Se Jit Kong ini, dan aku

diculiknya. Aku adalah seorang wanita beragama yang taat.

Aku sudah bersuami dan biarpun suamiku tewas, aku tidak

akan sudi menyerahkan diri kepada pria lain, apalagi kalau

pria itu pembunuh suamiku. Menurut suara hatiku, semestinya

aku membunuh diri pada saat suamiku dibunuh itu. Akan

tetapi, semoga Tuhan mengampuni aku, aku …. aku tidak

tega karena engkau berada di dalam perutku, anakku. Kalau

aku bunuh diri, berarti .aku membunuhmu pula. Aku ingin

engkau terlahir dan hidup, anakku. Aku ingin engkau menjadi

saksi tunggal bahwa aku sama sekali bukan wanita yang

begitu saja mudah melupakan suami dan menyeleweng

dengan penyerahan diri kepada pria lain ……”

Wanita itu memejamkan mata dan menahan agar tangisnya

tidak datang lagi.

Sin Wan tidak mengeluarkan suara, hanya memegang

tangan ibunya, menggenggam tangan itu seolah memberi

kekuatan kepada ibunya. Tangan kiri ibunya dingin sekali,

sedangkan tangan kanan wanita itu masih memegang gagang

pisau yang berlumuran darah Se Jit Kong.

Agaknya sentuhan tangan puteranya memberi kekuatan

kepada Ju Bi Ta atau Jubaidah ini dan ia melanjutkan

bicaranya.

“Dia ini memaksaku menjadi isterinya. Dia tidak memaksa

dengan kekerasan, melainkan membujuk dengan lembut dan

dia nampaknya amat sayang kepadaku. Aku lalu menyerah,

akan tetapi, demi Tuhan, semua ini kulakukan untuk

menyelamatkan anak dalam kandunganku. Aku menyerah

dengan syarat bahwa dia harus menanti sampai anak dalam

kandungan terlahir, kemudian syarat kedua adalah bahwa dia

harus menganggap anakku seperti anak sendiri,

menyayangnya, dan kalau sampai kelak dia melanggar Janji,

aku akan membunuh diri. Dan dia ….. ya Tuhan ampunkan

hamba, dia begitu sayang kepadaku, dia memenuhi semua

permintaanku, tak pernah melanggar syarat-syaratku. Setelah

engkau terlahir, dia begitu sayang kepadamu dan akan

merasa benar bahwa dia amat cinta padaku. Maka, terpaksa

sekali, walaupun di dalam hati aku menangis dan mohon

ampun dan pengertian dari mendiang suamiku, aku menyerah

dan menjadi isterinya …….”

Kembali wanita ini menghentikan ceritanya, berulang kali

menarik napas panjang seperti hendak mengumpulkan

kekuatan. Sin Wan memandang bingung. Dia belum cukup

dewasa untuk dapat menyelami keadaan ibunya, menjadi

bingung dan tidak dapat mempertimbangkan baik buruknya

keadaan itu.

“Akan tetapi, betapapun besar cintanya kepadaku dan

sayangnya kepadamu, bagaimana aku dapat mencinta

seorang seperti dia, anakku? Bukan saja dia telah membunuh

suamiku dan menculikku, akan tetapi dia ….. ohh, dia jahat

sekali. Dia seorang datuk besar dunia hitam, dia tidak pantang

melakukan kejahatan dalam bentuk apapun juga. Hanya satu

yang tidak pernah dia lakukan, yaitu mengganggu wanita

setelah dia mempunyai aku sebagai isterinya. Hal inipun

karena permintaanku. Aku berulangkali membujuk, namun dia

melakukan segala macam kejahatan secara diam-diam, di luar

pengetahuanku. Bahkan kabarnya dia menjadi jagoan nomor

satu dengan mengalahkan semua tokoh di timur. Dia jahat

sekali, anakku, ahh, bagaimana mungkin aku dapat membalas

cintanya? Aku hanya ingin mati, akan tetapi, aku khawatir

bahwa kalau aku mati dia lalu bersikap jahat terhadap dirimu.

Aku harus menjagamu ….. dan untuk melindungimu, aku rela

menderita lahir batin ……..”

“Ibu ……!” Sin Wan kini merangkul ibunya, dapat

merasakan benar betapa besar pengorbanan ibunya terhadap

dirinya.

“Akhirnya aku dapat membujuk dia untuk kembali ke barat

sini. Aku tidak tahu bahwa dia telah mencuri benda-benda

pusaka dari istana. Aku hanya Ingin agar engkau menjadi

remaja dan cukup kuat untuk meninggalkan dia, melarikan diri

dan selamat dari jangkauannya. Aku baru mau mati kalau

engkau benar-benar terbebas dari tangannya, Sin Wan. Dan

sekarang, karena ulahnya sendiri, akhirnya dia tewas. Kita

bebas, Sin Wan. Engkau bebas, tidak terancam bahaya lagi,

dan aku bebas …… aku bebas menebus dosaku selama ini,

aku bebas untuk pergi menyusul suamiku, untuk mengadukan

semua ini kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa hamba …….

Abdullah suamiku, tunggulah aku ………”

Tiba–tiba saja wanita itu lalu menggunakan pisau yang

masih berlumuran darah itu untuk menusuk dadanya sendiri

sekuat tenaga.

“Ibuuuuuu ……!” Sin Wan menjerit dan menangkap tangan

ibunya, akan tetapi karena tadinya dia tidak menduga sama

sekali bahwa ibunya akan senekad itu, dia lerlambat. Pisau itu

sudah menancap di dada ibunya, sampai ke gagang dan

ibunya terkulai datam rangkulannya, mandi darah.

‘Ibuuu ……. ibuuuu …… ya Allah, tolonglah ibu …… ” Sin

Wan meratap dan menangis,

Wanita itu membuka mata, dan senyum lemah menghias

bibir yang pucat, kedua tangannya bergerak lemah ke atas,

mengusap air mata dari pipi Sin Wan.

“Sin Wan …… anakku ….. biarkan ibumu menebus dosa

……. engkau berjanjilah ……. akan menjadi mamusia yang

baik ….. taat kepada Allah ….. tidak jahat, jangan seperti Se

Jit Kong …..” Suaranya semakin lemah sehingga berbisik-bisik.

Di antara tangis sesenggukan, Sin Wan mengangguk, …..

“aku …… berjanji …….., ibu ……..” Kemudian, melihat ibunya

terkulai lemas dia pun menjerit dan pingsan di atas dada

ibunya.

Tiga orang tosu yang duduk bersila itu membuka mata

mereka. Pek-mau-sian Thio Ki, Si Dewa Rambut Putih,

menghela napas panjang dan diapun bersanjak dengan suara

lembut.

“Sependek suka

sepanjang duka

sejumput manis

setumpuk pahit

ada gelap ada terang

ada senang ada susah

yang tidak mengejar kesenangan

takkan bertemu kesusahan !”

Tiga orang tosu itu lalu menyadarkan Sin Wan, dan

membantu anak itu mengangkat jenazah Se Jit Kong dan Ju Bi

Ta, dibawa ke rumah keluarga mereka. Kepada para tetangga,

tiga orang tosu itu mewakill Sin Wan untuk memberitahu

bahwa kematian suami isteri itu karena terbunuh musuh yang

tidak mereka ketahui siapa.

◊◊◊

Dua buah peti mati Itu berada di ruang depan, namun

terpisah jauh, seperti yang dikehendaki Sin Wan. Peti mati Se

Jit Kong berada di sudut kiri ruangan itu, sedangkan peti

jenazah Ju Bi Ta berada di sudut kanan. Sin Wan berlutut di

depan peti mati ibunya, kadang menangis lirih, kadang

termenung Seperti kehilangan semangat. Hanya karena

peringatan dari tiga orang tosu yang membantunya mengurus

jenazah. Sin Wan memaksa diri untuk membalas

penghormatan para pengunjung, yaitu para tetangga yang

memberi hormat terakhir kepada suami isterl yang tewas

secara aneh itu. Mereka hanya mendengar bahwa suami isteri

itu tewas di tangan musuh mereka, akan tetapi mereka tidak

tahu siapa musuh itu dan merekapun tidak ingin mencampuri

urusan itu.

Setelah yang datang melayat berkumpul, dua peti jenazah

lalu diangkut ke tempat pemakaman. Juga atas permintaan

yang sangat dari Sin Wan, dua peti jenazah itu dikubur secara

terpisah pula, di kedua ujung yang berlawanan dari tanah

pekuburan itu. Para pelayat pulang meninggalkan dua

gundukan tanah kuburan yang baru, dan yang tinggal kini

hanya Sin Wan bersama tiga orang tosu Sam Sian (Tiga

Dewa), masih menunggu karena mereka belum selesai dengan

tugas mereka.

Mereka belum mengambil kembali benda-benda pusaka,

dan mereka menanti sampai Sin Wan selesai berkabung dan

sudah tenang kembali.

Sin Wan kini menangis di depan makam ibunya, merasa

kesepian, merasa khawatir karena secara tiba-tiba dia

dihadapkan dengan kenyataan yang amat pahit. Pertama,

melihat ayahnya bunuh diri dan tewas, lalu mendengar

keterangan ibunya bahwa orang yang dianggap ayahnya itu

sama sekali bukan ayahnya, bahkan seorang datuk penjahat

besar yang telah membunuh ayah kandungnya dan memaksa

ibu kandungnya menjadi isteri.

Berarti bahwa sebenarnya Se Jit Kong adalah musuh

besarnya! Kemudian disusul pula dengan kematian ibunya

yang membunuh diri pula. Kini dia kehilangan segalanya!

Perubahan mendadak yang membuat anak berusia sepuluh

tahun itu menjadi nanar dan gelap, tidak tahu apa yang harus

dia lakukan.

Suara tangis Sin Wan tidak keras lagi karena dia sudah

kehabisan suara dan tenaga, akan tetapi masih sesenggukan

dan penuh kesedihan. Makin diingat keadaan dirinya yang

sebatang kara di dunia ini, makin pedih hatinya, dan makin

mengguguk tanglsnya.

Sunyi senyap di tanah kuburan itu. Hanya tangis Sin Wan

merupakan satu-satunya suara yang hanyut dalam kesunyian.

Bahkan pohon-pohon di sekitar tanah kuburan itu tidak ada

yang bergerak. Angin berhenti bertiup, entah sedang

beriatirahat di mana. Agaknya segala sesuatu ikut pula

prihatin melihat duka nestapa yang dltanggung remaja itu.

Tiba-tiba suara tangis lirih itu ditimpa suara tawa bergelak.

Suara tawa yang lepas dan tidak ditahan-tahan sehingga

terdengar janggal karena suasana berkabung itu menurut

umum tidak sepantasnya diisi suara tawa sebebas itu!

Aneh sekali mendengar suara tangis yang kini dibarengi

suara tawa itu. Dewa Rambut Putih Thio Ki mengerutkan

alisnya dan menengok ke arah rekannya, Dewa Arak Tong Kui

yang mengeluarkan suara tawa itu.

“Dewa Arak, apa yang kautawakan ini?” tegurnya dengan

alis berkerut.

“Ha … ha … ha … ha, apa yang kutawakan ? Dan apa pula

yang ditangiskan anak itu? Apa pula yang membuat kalian

berdua berwajah demikian serius dan muram? Ha … ha … ha,

tangis dan tawa sama-sama menggerakkan mulut, kenapa

tidak memilih tawa dari pada tangis? Tangis itu tidak sehat

dan membuat wajah kelihatan buruk, sebaliknya orang

berwajah jelekpun akan menjadi menarik kalau tertawa, juga

menyehatkan. Ha-ha-ha-ha!” Si Dewa Arak tertawa lagi,

kemudian meneguk arak dari gucinya.

“Aku mentertawakan semua kepalsuan ini. Kenapa kalau

ada kematian lalu ada tangisan? Apa yang ditangisi? Bukankah

yang bersangkutan, yang mati malah tidak menangis dan

wajahnya nampak tenang dan penuh damai! Sebaliknya,

kelahiran disambut tawa gembira, sedangkan yang

bersangkutan, begitu terlahir menangisi kelahirannya sampai

menjerit-jerit. Ha .. ha .. ha ..!”

Mendengar ucapan itu, seketika Sin Wan berhentl

menangis. Semua ucapan itu memasuki benak dan hatinya

dan berkesan sekali. Dia memang suka sekali membaca kitabkitab

kuno, sejarah, dongeng dan filsafat, juga pelajaran

tentang hidup dalam kitab-kitab agama. Belum pernah dia

mendengar orang bicara tentang kematian seperti yang

diucapkan Dewa Arak itu, apa lagi mendengar ada orang

tertawa-tawa menghadapi kematian, seolah-olah kematian

merupakan peristiwa yang menyenangkan, bukan merupakan

peristiwa duka. Dia merasa penasaran sekali dan setelah

menghentikan tangisnya, dia lalu memandang kepada Dewa

Arak.

“Maaf, lo-cianpwe (orang tua gagah). Lo-cianpwe mencela

saya menangis. Salahkah saya kalau menangisi kematian ibu

saya yang tercinta?’ suaranya lantang dan menuntut. Dewa

Pedang dan Dewa Rambut Putih diam-diam tersenyum. Dewa

Arak memang pintar sekali, dapat mengalihkan kesedihan

anak itu.

“Ha .. ha .. ha ..ha, kulihat dulu mengapa kau menangis?

Coba katakan, mengapa engkau menangis, anak baik?

Namamu Sin Wan, bukan? Nah, katakan, Sin Wan, kenapa

engkau menangis, maka aku akan tahu apakah tangismu itu

wajar ataukah palsu.”

“Saya menangis karena ibu saya meninggal dunia, locianpwe.

Bukankah itu wajar?”

“Ya, akan tetapi kenapa kalau ibumu mati engkau

menangis? Yang kautangisi itu ibumu ataukah dirimu sendiri?”

“Apa …… apa maksud lo-cianpwe?”

“Katakan saja, bagaimana isi hatlmu. Jenguk isi hatimu dan

katakan sebenarnya yang membuat engkau menangis. Karena

engkau kehilangan orang yang kausayang? Karena engkau

ditinggal seorang diri dan merasa kesepian? Karena

meninggalnya orang kau sayang itu mendatangkan kesedihan

karena engkau tidak akan menikmati lagi kesenangan dari

orang yang meninggal?”

Sin Wan mengerutkan alisnya, berpikir-pikir lalu

mengangguk. “Memang demikianlah, lo-cianpwe. Hati siapa

yang tidak akan bersedih ditinggal mati ibunya yang tercinta?

Apa lagi setelah mendengar bahwa ayah kandung saya telah

tiada. Saya hanya hidup berdua dengan ibu, dan sekarang, ibu

meninggalkan saya seorang diri.”

“Bagus, jadi engkau menangisi keadaan dirimu sendiri,

bukan? Nah, itu namanya jawaban jujur. Air matamu itu

kaucucurkan karena engkau merasa kehilangan, karena

engkau merasa iba kepada diri sendiri. Air mata itu air mata

karena iba diri, karenanya air mata seorang yang lemah!

Lemah sekali hatinya, cengeng dan penakut!”

Sejak kecil Sin Wan digembleng oleh seorang datuk besar

seperti Tangan Api. Biarpun ibu kandungnya selalu

menekannya dan mengharuskan dia menjauhi kekerasan,

namun bagaimanapun juga, dia digembleng sikap pemberani

dan watak gagah seorang ahli silat oleh gurunya yang tadinya

dianggap ayahnya sendiri itu.

Kini, dicela sebagai orang yang hatinya lemah, cengeng dan

penakut, tentu saja mukanya yang tadinya pucat itu berubah

kemerahan, matanya mengeluarkan sinar tajam dan hal ini

membuat tiga orang sakti itu memandang dengan wajah

berseri.

“Lo-cianpwe, kenapa lo-cianpwe begitu kejam? Lo-cianpwe

mengetahui bahwa baru saja saya kehilangan ibu, bahkan

kehilangan ayah yang ternyata tak pernah saya lihat itu,

kehiiangan segalanya dan lo-cianpwe malah mentertawakan

saya. Saya bukan lemah, cengeng apa lagi penakut!”

“Ha .. ha .. ha, bagus sekali!” Dewa Arak itu tertawa. “Aku

tidak mentertawakan engkau, melainkan mentertawakan

kepalsuan yang dilakukan oleh sebagian besar orang di dunia

ini. Kalau engkau tidak cengeng dan lemah, hapus air matamu

dan jangan tenggelam ke dalam iba diri. Dan tidak perlu

engkau menangisi ibumu yang sudah tiada. Bahkan kalau bisa

tertawalah, tertawa gembira karena ibumu baru saja terbebas

dari pada kedukaan hidup. Ingat betapa ibumu menderita lahir

batin sejak kematian ayah kandungmu, dan baru sekarang

ibumu terbebas dari himpitan penderitaan. Kenapa harus

ditangisi?”

“Saya tidak menaagisi kematiannya itu sendiri, melainkan

terharu dan kasihan kalau mengenang betapa selama ini ibu

telah menderita hebat dan mengorbankan diri karena saya.”

“Heii, Dewa arak, apakah engkau masih mabuk?” teriak

Dewa Pedang Louw Sun. “Anak itu belum juga dewasa, sudah

kau ajak bicara tentang hal-hal yang begitu mendalam. Dia

bersedih, itu manusiawi, karena dia manusia yang memiliki

perasaan. Tidak seperti engkau yang sudah tidak lumrah lagi.

Semua orang di dunia ini kalau kematian menangis, apa

salahnya dengan itu? Akan tetapi engkau menganjurkan anak

ini agar tertawa-tawa ketika ibunya mati. Apa kau ingin dia

dianggap orang gila? Kalau mau gila, engkau sendiri saja,

jangan ajak-ajak anak kecil.”

“Ha .. ha .. ha, lebih baik mabuk dan bicara secara terbuka

dari pada tidak mabuk dan bicaranya selalu palsu,

bersembunyi di balik kedok sopan-santun dan peraturan yang

pada hakekatnya hanya menonjolkan diri sendiri. Dewa

Pedang dan Dewa Rambut Putih, kalian sendiri bukan orangorang

yang dicengkeram nafsu, kenapa nampak murung

seperti orang berduka? Benarkah kalian berduka karena

kematian Se Jit Kong dan ibu anak ini? Terharu setelah

mendengar pengakuan ibu Sin Wan?”

“Aih, Dewa Arak, bagaimana orang-orang seperti kita masih

terpengaruh perasaan hati dan mudah diombang-ambingkan

antara suka dan duka? Tidak, Ciu-sian, pinto (aku) tidak

murung, tidak berduka, hanya termenung heran mengapa

orang-orang seperti mereka ini dengan cepat terbebas dari

kurungan, sedangkan kita masih harus terhukum entah untuk

berapa lama lagi,” Dia menghela napas panjang. Dewa Arak

memandang Dewa Pedang yang baru saja bicara itu dengan

heran.

“Siancai (damai) ……! Engkau ini tosu (pendeta To) macam

apa? Baru sekarang aku mendengar pendeta To bicara sepertl

ini! Bukankah biasanya para pendeta To bahkan berlumba

mencari obat ajaib untuk membuat kalian berusia panjang

sampai seribu tahun atau bahkan tidak akan mati selamanya?”

“Pinto tidak termasuk mereka yang suka berkhayal dan

bermimpi yang muluk-muluk. Pinto juga tidak menyesal,

hanya merasa heran akan rahasia alam yang amat gaib ini,

saudaraku.”

“Bagaimana dengan engkau, Dewa Rambut Putih?

Engkaupun tidak nampak tersenyum seperti biasanya. Di

mana perginya senyum simpulmu yang manis itu? Apakah

engkau juga ikut prihatin dan berkabung?” Suara Si Dewa

Arak mengandung ejekan.

Pek-mau-sian Thio Ki menggerakkan bibir ke arah senyum,

matanya menatap wajah rekannya dengan tajam dan dia

menggerakkan telunjuknya menuding muka rekan itu. “Dewa

Arak, engkau selalu ugal-ugalan, akan tetapi terbuka hati dan

mulutmu. Seperti juga kalian, aku tidak mau terbelenggu

nafsu dan perasaan, tidak mau terikat oleh apapun. Aku hanya

termenung memikirkan kebodohan wanita itu. Ia telah

mengambil jalan sesat. Bagaimana mungkin ia menebus dosa

dengan cara membunuh diri? Itu namanya bukan menebus

dosa, melainkan menambah dosa menjadi semakin besar

lagi!”

Sejak tadi Sin Wan mendengarkan dengan hati tertarik

sekali. Tiga orang tua itu mempunyai pandangan yang anehaneh,

yang berbeda dengan umum, namun diam-diam dia

menemukan kebenaran dalam ucapan mereka yang janggal

itu. Akan tetapi. mendengar ucapan Pek-mau-sian Thio Ki, dia

merasa terkejut dan penasaran, juga ingin sekali tahu.

“Maaf, lo-cianpwe. Kenapa lo-cianpwe mengatakan bahwa

dengan membunuh diri, ibuku berdosa? Bukankah ibuku

seorang wanita yang berhati bersih, yang tidak akan sudi

diperisteri pembunuh suaminya kalau saja tidak ingin

menyelamatkan aku? Setelah aku tidak terancam lagi, ibu

menebus semua aib itu dengan membunuh diri, kenapa locianpwe

menganggap ia berdosa?”

“Ha .. ha .. ha .. ha!” Dewa Arak tertawa, “Anak baik, aku

tidak tahu apakah dia berdosa atau tidak, hanya Tuhan yang

tahu! Akan tetapi aku tahu bahwa ia bodoh. Picik sekali orang

yang membunuh diri! Kita tidak mampu menghidupkan,

bagaimana boleh mematikan? Mati hidup di tangan Tuhan,

akan tetapi bunuh diri merupakan kematian yang dipaksakan,

karena itu, rohnya akan menjadi penasaran! Bodoh sekali

ibumu, Sin Wan, tidak boleh kau. tiru perbuatannya itu.”

Sin Wan masih penasaran dan dia menoleh kepada dua

orang pendeta yang lain. Dewa Pedang mengelus jenggot dan

menggeleng kepala, menarik napas panjang. “Bunuh diri

merupakan perbuatan sesat. Bagaimana mungkin persoalan

dapat diselesaikan dengan bunuh diri? Bunuh diri adalah

perbuatan yang penuh nafsu dan nafsu akan melekat terus

merupakan pengganggu yang tiada habisnya selama dalam

kehidupan ini kita tidak mampu membebaskan diri dari ikatan

dan cengkeraman nafsu, ibumu patut dikasihani, anak baik.”

Sin Wan merasa semakin sedih.

“Sejak muda sekali, sejak berusia delapanbelas tahun, baru

saja setahun mengecap kebahagiaan bersama suaminya,

ibumu direnggut dari kebahagiaan dan sejak itu menderita

siksaan lahir batin, dan sekarang setelah mati masih

menanggung dosa!”

Dia masih penasaran dan menoleh kepada Dewa Rambut

Putih yang pertama kali mengatakan bahwa ibunya telah

melakukan dosa karena membunuh diri.

“Lo-cianpwe, mendiang ibuku adalah seorang wanita yang

saleh, selalu taat kepada Allah, dan juga tak pernah

melakukan kejahatan terhadap orang lain. Ia menyerahkan diri

kepada pembunuh suaminya dengan hanya satu tujuan mulia,

yaitu menyelamatkan nyawa anaknya. Apakah itu dapat

dikatakan salah dan dosa?”

Karena anak itu bicara sambil memandang kepadanya,

Dewa Rambut Putih tersenyum. “Sin Wan. ibumu telah

terjebak ke dalam kekeliruan pendapat yang disilaukan oleh

tujuan sehingga ia menghalalkan segala cara untuk mencapai

tujuannya. Tujuannya adalah menyelamatkan anak dalam

kandungan, kemudian menyelamatkan anaknya setelah

terlahir Memang hal itu merupakan kewajiban seorang ibu,

memelihara anaknya! Akan tetapi, baik buruk dan benar

salahnya bukan terletak dalam tujuan, melainkan dalam

caranya atau pelaksanaannya. Karena silau oleh tujuannya, ia

memejamkan mata dan menempuh cara yang tidak

selayaknya ia lakukan. Bagaimana mungkin cara yang salah

dapat mencapai tujuan yang benar, cara yang kotor dapat

mencapai tujuan yang bersih? Cara merupakan pohonnya, dan

tujuan merupakan buahnya. Pohon yang buruk, mana dapat

menghasilkan buah yang baik?”

Sin Wan tertegun. Ucapan kakek rambut putih ini

merupakan tusukan yang paling dalam dan membuka mata

hatinya. Kasihan ibunya. Ibunya tidak sengaja melakukan

perbuatan yang kotor dan salah. Dia harus sedapat mungkin

membela lbunya!

“Akan tetapi, lo-cianpwe, bukankah ibu telah berhasil

menyelamatkan aku? Andaikata ibu menolak kehendak

pembunuh suaminya, bukankah hal itu berarti ibu membunuh

aku pula? Padahal, yang terutama baginya adalah

menyelamatkan anaknya!”

“Sian-cai ….! Anak baik, mati hidup berada di tangan

Tuhan. Kalau Dia menghendaki engkau mati, siapa yang akan

sanggup menyelamatkanmu? Sebaliknya, kalau Dia

menghendaki engkau hidup. siapa pula yang akan dapat

membunuhmu?”

Kalimat terakhir ini segera disambar dan dipegang oleh Sin

Wan sebagai bahan pembelaan terhadap lbunya dan juga

hiburan dalam hatinya.

“Kalau begitu, lo-cianpwe, kematian ibuku tentu juga telah

dihendaki oleh Tuhan. Benarkah?”

“Tentu saja!” jawab Pek-mau-sian Thio Ki dengan pasti.

“Kalau tidak dikehendaki Tuhan, tentu ia tidak akan mati.”

“Nah, kalau begitu, ibu tidak berdosa! Ibu hanya

melakukan sesuatu yang telah dikehendaki Tuhan!” kata anak

itu dengan nada penuh kemenangan.

Tiga orang pertapa itu saling pandang dan ketiganya lalu

tertawa. Sin Wan memandang kepada mereka bergantian

dengan heran.

“Mengapa samwi (anda bertiga) tertawa? Apakah aku

mengeluarkan kata-kata yang tidak benar?”

“Siancai …… engkau ini seorang anak yang

berpemandangan luas dan memiliki bakat baik untuk

mempelaiari ilmu tentang kehidupan, Sin Wan,” kata Dewa

Pedang. “Tidak keliru memang bahwa hidup dan mati berada

di tangan Tuhan karena memang Tuhan yang menentukan

segalanya. Adapun sikap menyerah dan pasrah kepada Tuhan

merupakan sikap yang sudah sepatutnya dilakukan manusia.

Akan tetapi, bukan berarti menyerahkan segalanya kepada

Tuhan tanpa kita melakukan apa-apa! Bukan berarti

mempersekutu Tuhan, atau bahkan menuntut agar Tuhan

bekerja demi kepentingan kita! Tuhan menciptakan kita

terlahir di dunia ini lengkap dengan semua alat untuk hidup,

untuk bekerja, untuk berihtiar mempertahankan hidup, untuk

memuja Tuhan melalui segala perbuatan kita. Kalau kita tidak

berbuat apa-apa, itu berarti kita melalaikan tugas hidup kita.

Karena kita diberi hati akal pikiran, diberi pengertian tentang

baik buruk, tentu saja menjadi tugas kita untuk melakukan

perbuatan-perbuatan yang baik di dunia ini. Berarti kita

membantu pekerjaan Tuhan! Bagaimana Tuhan dapat

membantu kita kalau kita tidak berusaha membantu diri kita

sendiri?”

“Maksud lo-cianpwe?”

“Contohnya, untuk dapat hidup kita harus makan dan untuk

kebutuhan itu, Tuhan telah menyediakan tanah, air, udara,

bahkan bibit tanaman pangan untuk kita. Akan tetapi, untuk

dapat mempertahankan hidup dengan makan, kita harus

mengolah tanah, menanam, memelihara, memetik hasilnya.

Bahkan setelah itu, tugas kita belum selesai. Kita masih harus

memasaknya dan kalau sudah menjadi masakan terhidang di

depan kita, kita masih harus mengunyah dan menelannya!

Kalau kita diam saja, Tuhan tidak akan melakukan semua itu

untuk kita! Dan kita diberi pula akal budi sehingga kita dapat

mengerti bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan

makanan, yaitu dengan bekerja, bukan dengan jalan mencuri

atau merampok misalnya. Dalam pelaksanaannya itulah

menjadi tugas kita. Tuhan tiada hentinya bekerja. Kitapun

harus bekerja. Bukankah segala sesuatu di alam mayapada ini,

baik yang bergerak maupun yang tidak hidup tumbuh dan

bekerja ? Pohonpun tiada hentinya bekerja, akarnya, daunnya,

kembang dan buahnya. Mengertikah engkau, Sin Wan ?”

Anak itu mengangguk, lalu menundukkan kepalanya. Tiga

orang pertapa itu seperti menguak kesadarannya, membuka

hatinya dan mengisinya dengan kebenaran-kebenaran yang

Dapat dia rasakan. Ibunya telah meninggal.

Musuh besarnya juga telah meninggal. Semua itu sudah

dikehendaki Tuhan, Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa

ibuku, demikian pikirnya dan teringat akan ajaran ibunya

tentang agama Islam, yaitu agama ibunya, diapun

menggumam lirih.

“Innalilahi wainna illahi rojiun ……”

“Hemm, apa artinya ucapan itu, Sin Wan?” tanya Pek-mau

sian Thio Ki.

“Berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan,

demikianlah yang diajarkan ibu kepadaku dalam menghadapi

kematian.”

“Berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan! Ha .. ha ..

ha .., bagus sekali itu, Sin Wan!” kata Dewa Arak. “Itu

merupakan penyerahan yang mutlak atas kekuasaan Tuhan.

Bagus sekali!”

“Siancai, semua agama mengajarkan kebenaran dan

kebaikan, semua agama mengajarkan bahwa ADA SESUATU

YANG MAHA KUASA, yaitu yang kita sebut Tuhan. Sekarang,

setelah engkau mengerti, kami ingin mengajak engkau pulang

ke rumahmu karena ada sebuah urusan penting yang akan

kami bicarakan denganmu, Sin Wan.” kata Pek-mau-sian Thio

Ki.

Sin Wan memandang kepada pertapa rambut putih itu. “Locianpwe

tentu maksudkan benda-benda pusaka yang dicuri ….

ayah tiriku dari gudang pusaka istana kaisar itu bukan?”

“Hemm, engkau memang anak yang cerdik,” kata Dewa

Pedang dengan kagum. “Memang benar, kami adalah utusan

dari Sribaginda Kaisar untuk membawa kembali benda-benda

pusaka yang dicuri Se Jit Kong itu.”

“Sebentar Lo-cianpwe. Aku belum memberi penghormatan

terakhir kepada ayah tiriku.”

Sin Wan lalu berlari menuju ke makam Se Jit Kong yang

berada di ujung yang berlawanan dari tanah kuburan itu, dan

dengan sikap hormat dia memberi penghormatan di depan

makam itu. Tiga orang tosu mengikutinya dan memandang

perbuatan Sin Wan itu dengan sinar mata yang kagum dan

mereka mengangguk-angguk.

Setelah selesai, Sin Wan menghadapi mereka. “Mari, samwi

lo-cianpwe, akan kuserahkan peti terisi benda-benda

pusaka itu kepada sam-wi.”

Mereka berjalan meninggalkan tanah kuburan, dan karena

tidak dapat menahan keinginan tahunya untuk mengenal isi

hati Sin Wan, Dewa Arak lalu bertanya, “Sin Wan, kenapa

engkau tadi memberi hormat kepada makam Se Jit Kong?

Bukankah dia telah membunuh ayah kandungmu dan juga

telah menculik dan memaksa ibumu?”

Sambil melangkah Sin Wan menundukkan kepalanya dan

menggelengnya, lalu menjawab, “Aku harus menghormatinya

karena aku teringat akan kebaikannya. Dia selalu baik

kepadaku, dan kulihat dia baik pula kepada ibuku.”

“Ha .. ha .. ha .. ha, engkau sama juga dengan yang lain,

Sin Wan, menilai kebaikan dari keadaan lahir saja. Kebaikan

macam itu palsu adanya.”

“Ehh? Bagaimana lo-cianpwe mengatakan palsu? Aku yang

merasakan sendiri dan memang dia amat baik kepada ibu dan

aku. Dia lembut dan mentaati ibu, dia menyayangku dan

mengajarku dengan sepenuh hati.”

“Ha .. ha .. ha, tentu saja! Tentu saja dia baik kepadamu

karena dia harus berbaik, kalau tidak, tentu ibumu tidak akan

sudi menyerahkan diri kepadanya. Kebaikan macam itu

datangnya dari nafsu, hanya merupakan akal-akalan saja

karena kebaikan macam itu berpamrih. Itu bukan kebaikan

namanya, melainkan cara yang licik untuk mendapatkan hasil

sesuatu, ha .. ha .. ha!”

Biarpun masih kecil, Sin Wan sudah membaca banyak

macam kitab, maka dia dapat mengerti apa yang menjadi inti

ucapan Dewa Arak. Dia menjadi semakin kagum kepada tiga

orang tua itu dan dia ingin sekali dapat menjadi murid

mereka. Kalau dia berguru kepada mereka, dia dapat

mempelajari banyak macam ilmu. Bukan saja ilmu silat, akan

tetapi juga lima pengetahuan tentang hidup. Mereka

melanjutkan perjalanan memasuki kota Yin-ning karena tanah

kuburan itu berada di luar kota. Matahari sudah condong

rendah ke barat.

◊◊◊

Ketika tiga orang pertapa dan Sin Wan tiba di pekarangan

rumah itu, mereka terkejut melihat seorang di antara para

pelayan mereka rebah di ruangan depan dalam keadaan

terluka parah. Sin Wan cepat berlutut dekat pelayan itu.

“Apa yang terjadi?” tanyanya dan Pek-mau-sian Thio Ki

yang pandai ilmu pengobatan segera menolong pelayan itu.

“Celaka …. tuan muda …. lima orang datang dengan

kereta, kami kira tamu ….. mereka menyerbu dan melarikan

peti hitam. “

“Itu peti benda-benda pusaka!” kata Sin Wan kaget.

“Mari kita kejar mereka !” kata Ciu-sian dan dia lalu

menyambar tubuh Sin Wan dan berlari cepat seperti terbang

saja. Di antara mereka bertiga, memang Dewa Arak ini yang

paling tinggi.tingkat ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang

dimilikinya, maka dia yang memondong tubuh Sin Wan. Dua

orang tosu lainnya juga lari mengejar dan sebentar saja

mereka sudah keluar dari kota Yin-ning mengikuti jejak kereta

yang meninggalkan jalur rodanya di tanah yang agak basah.

Karena tiga orang itu melakukan perjalanan cepat sekali,

mengerahkan ilmu berlari cepat mereka yang membuat tubuh

mereka seperti terbang saja, maka tak lama kemudian mereka

sudah dapat menyusul sebuah kereta yang berada tak jauh di

depan, di luar sebuah hutan. Agaknya kereta itu hendak

memasuki hutan dan bersembunyi sambil melewatkan malam

di tempat gelap itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati lima orang yang

berada di kereta ketika tiba-tiba mereka melihat tiga orang

dan seorang anak laki-laki berdiri menghadang di depan

kereta. Seorang di antara mereka, yang menjadi kusir segera

membentak dan mencambuki dua ekor kudanya. Dua ekor

kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, menubruk ke arah

Tiga Dewa dan Sin Wan!

Dewa Arak tertawa, menyambar tubuh Sin Wan dan dia

sudah meloncat tinggi melewati kuda dan hinggap di atas

kereta, sedangkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih

menyambut dua ekor kuda itu dengan menangkap kendali di

dekat mulut dan sekali tarik, dua ekor kuda itupun jatuh

berlutut dengan kaki depan mereka dan tidak mampu berkutik

lagi!

Lima sosok bayangan hitam berloncatan dari kereta itu dan

ternyata mereka adalah lima orang berpakaian hitam yang

rata-rata nampak kokoh dan menyeramkan, berusia antara

empatpuluh tahun sampai limapuluh tahun. Sebatang golok

besar terselip di punggung mereka.

Dewa Arak meloncat turun lagi dan kini tiga oraag kakek itu

berdiri menghadapi lima orang berpakaian hitam. Sin Wan

berdiri agak di belakang Sam Sian, memandang penuh

perhatian kepada lima orang itu.

Seorang di antara mereka, yang kumisnya melintang

sekepal sebelah, melangkah maju dan dengan sikap gagah

dan suara menggeledek dia mengajukan pertanyaan sambil

menudingkan dua jari tangan kiri ke arah tiga orang kakek.

“Siapa kalian, berani mati menghadang perjalanan kami

Hek I Ngo-liong (Lima Naga Baju Hitam)?”

Ciu Sian Si Dewa Arak tertawa. “Ha .. ha .. ha, banyak

benar naga di jaman ini! Sekali muncul sampai ada lima ekor!

Pada hal, di jaman dahulu, naga merupakan mahluk dewa,

dipuja sebagai penguasa lautan dan penguasa hujan! Hek I

Ngo-liong, nama kami tidak ada harganya untuk kalian

ketahui. Yang penting kami harap kalian mempertahankan

julukan naga sebagai mahluk sakti yang membantu pekerjaan

Tuhan dan kembalikanlah peti yang kalian curi dari rumah Se

Jit Kong!”

Lima orang itu otomatis menoleh ke arah kereta sehingga

mudah diduga bahwa peti itu tentu disimpan di dalam kereta.

Si kumis melintang mengerutkan alisnya mendengar olok-olok

kakek yang mukanya merah dan sikapnya seperti pemabukan

itu.

“Agaknya kalian bertiga adalah orang-orang yang mengenal

peraturan di dunia kangouw. Se Jit Kong mencuri pusaka, dan

kami mencurinya dari dia. Semua itu menggunakan kekerasan.

Dan kalian ingin minta begitu saja dari kami?”

Jilid 3

“EH .. HEH .. HEH, gagahnya! Lalu apa yang harus kami

lakukan untuk dapat menerima peti terisi pusaka-pusaka

istana itu?” tanya pula Dewa Arak.

“Kalian harus dapat mengalahkan golok kami!”

Setelah berkata demikian, lima orang itu menggerakkan

tangan kanan ke belakang.

“Sing-sing-sing-sing-sing …..!!”

Nampak lima sinar berkelebatan dan Hek I Ngo-liong telah

mencabut golok besar mereka. Golok di tangan mereka itu

lebar dan putih berkilauan saking tajamnya, ujungnya

melengkung ke belakang dan runcing, gagangnya dihias

ronce-ronce kuning. Dari gerakan mereka mencabut golok saja

sudah dapat diketahui bahwa mereka berlima adalah ahli-ahli

golok yang tangguh.

Kini lima orang itu berbaris setengah lingkaran menghadapi

tiga orang kakek, tubuh agak direndahkan, kaki kiri di depan

kaki kanan di belakang, lengan kiri lurus dengan jari telunjuk

menuding ke arah lawan, golok di tangan kanan diangkat di

belakang kepala dengan lengan melengkung dan golok itu

lurus menunjuk ke arah lawan di depan pula. Gagah sekali

kuda-kuda mereka ini, dan melihat pasangan itu, Dewa

Pedang mengangguk-angguk.

“Agaknya ini yang dikenal dengan sebutan Ngo-liong To-tin

(Barisan Golok Lima Naga) itu, ya? Bagus, tentu cukup baik

untuk pinto (aku) berlatih pedang!”

Tidak terdengar suara apa-apa, hanya ada kilat menyambar

dan tahu-tahu Kiam-sian Louw Sun yang tinggi kurus itu, yang

tadi tidak nampak membawa pedang kini telah memegang

sebatang pedang yang tipis, pedang yang tali melilit

pinggangnya. Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari)!

Kakek ahli pedang ini bahkan tidak melepas jubahnya, tidak

melepas capingnya yang menutupi kepala dan

menyembunyikan mukanya.

Dewa Arak dan Dewa Rambut Putih juga sudah siap

membantu Dewa Pedang, namun Kiam-sian Louw Sun

berkata, “Kalian berdua menjadi penonton sajalah. Aku ingin

sekali berlatih dan kebetulan ada mereka yang menjadi teman

berlatih baik sekali!”

Mengertilah Ciu-sian dan Pek-mau-sian bahwa rekan

mereka ltu sedang ketagihan bermain pedang sehingga timbul

kegembiraannya menghadapi Barisan Golok Lima Naga itu,

untuk melatih dan menguji ilmu pedangnya tentu saja. Maka,

merekapun mundur ke belakang dan hanya menjadi penonton

saja.

Sin Wan juga berdiri menonton dengan hati agak tegang.

Dia mulai melihat kenyataan betapa kehidupan orang-orang

yang menjadi ahli silat selalu terisi penuh pertentangan.

Ayahnya sendiri selain dimusuhi orang dan kini tiga orang

pendeta inipun demikian. Dan kalau bentuk kehidupan sudah

sedemikian rupa, agaknya orang harus mengandalkan

kepandaian silatnya untuk dapat bertahan, untuk dapat

menang, bahkan untuk dapat hidup lebih lama.

Dia mulai penasaran! Dia teringat akan cerita ibunya.

Ayahnya, atau orang yang tadinya dianggapnya sebagai

ayahnya, adalah seorang jahat. Dan tiga orang pendeta ini

adalah orang-orang yang baik. Akan tetapi kenapa sama saja?

Baik ayahnya maupun tiga orang kakek ini, selalu dihadapi

musuh yang setiap kali siap mengadu nyawa! Tak dapat dia

menahan perasaan penasaran di hatinya. Akan tetapi dalam

keadaan seperti itu, dia tidak mempunyai kesempatan untuk

melontarkan perasaan ini menjadi pertanyaan kepada mereka.

Hek I Ngo-liong menjadi marah sekali karena mereka

merasa diremehkan. Mereka adalah Hek I Ngo-liong yang

sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw (sungai

telaga, daerah persilatan), sehingga orang-orang kangouw

yang tidak memiliki tingkat yang tinggi jarang ada yang berani

menentang mereka.

Akan tetapi sekarang laki-laki berpakaian pendeta ini,

melarang kawan-kawannya untuk membantunya dan hendak

menghadapi Barisan Golok Lima Naga mereka seorang diri

saja! Ini namanya penghinaan!

“Tosu sombong, engkau memang sudah bosan hidup!”

bentak si kumis melintang dan dia mengelebatkan goloknya.

Gerakan ini merupakan isyarat atau aba-aba kepada empat

orang rekannya dan merekapun bergerak secara aneh.

berputaran dan membentuk lingkaran mengepung Kiam-sian

Louw Sun. Setelah mengepung, mereka terus berlari mengitari

Si Dewa Pedang, hanya berhenti untuk berganti posisi kedua

tangan dan lari lagi.

Dewa Pedang yang berada di tengah-tengah, berdiri tegak

lurus dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk. Dia

membuat kuda-kuda yang disebut Menunggang kuda. Kedua

lengan, bersilang depan dada, pedang di tangan kanan,

berada di luar dan pedangnya tegak lurus pula. Dia tidak

bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak, melirik

ke kanan kiri dengan tenang namun tak pernah berkedip

mengikuti gerakan lima orang lawannya.

Tiba-tiba si kumis melintang mengeluarkan bentakan

nyaring dan pada saat itu dia berada di belakang Dewa

Pedang. Bentakannya disusul menyambarnya golok besar di

tangannya ke arah tengkuk Dewa Pedang.

“Syuuuuttt ……..!” Namun, biarpun golok menyambar dari

belakang ke arah tengkuk, tubuh belakang Kiam–sian Louw

Sun seolah mempunyai mata. Dengan tenang saja dia

merendahkan tubuhnya sehingga golok menyambar lewat di

atas kepalanya. Pada detik berikutnya, seorang lawan dari kiri

sudah membacokkan goloknya pula, kini golok itu menyambar

dengan babatan ke arah kedua kakinya!

Dewa Pedang, dengan tubuh masih ditekuk rendah,

melompat ke atas menghindarkan babatan pedang, hanya

untuk menerima bacokan susulan dari kanan. Dia

menggerakkan pedang menangkis.

“Tranggg ……..!” Bunga api berpijar. Dewa Pedang

memutar tubuh, kini pedang yang menangkis tadi

menggunakan tenaga pentalan tangkisan, melindungi

tubuhnya dari dua serangan lain dari golok berikutnya secara

beruntun.

“Singgg …….. trang-tranggg……..!” Lebih banyak lagi

bunga api berpijar.

Kiranya barisan lima batang golok itu menggunakan jurus

yang mereka namakan Lima mRajawali Mengepung Ular. Sang

lawan diibaratkan ular dan mereka mengepung lalu mengirim

serangan bertubi-tubi dan beruntun secara teratur sekali.

Setiap serangan yang dihindarkan lawan, disusul serangan

dari orang kedua, ketiga dan selanjutnya’ sehingga lawan

yang dikepung tidak diberi kesempatan sama sekali untuk

membalas!

Kiam-sian Louw Sun adalah seorang tokoh dunia persilatan

yang sudah kenyang dengan pengalaman. Sebelum dia

menjadi pertapa dan tidak pernah atau jarang lagi terjun di

dunia persilatan, dia sudah menjadi petualang dan

menghadapi lawan yang tangguh dengan bermacam ilmu

yang aneh-aneh. Oleh karena itu, dalam segebrakan saja,

tahulah dia bahwa dia dalam keadaan yang berbahaya dan

tidak menguntungkan.

Biarpun dia mampu melindungi dirinya dengan gulungan

sinar pedangnya, namun lima orang lawannya bukan orang

lemah dan mereka memegang golok yang tidak. mudah

dirusak oleh pedang pusakanya. Kalau dia harus selalu

mengelak dan menangkis, tanpa dapat membalas, berarti dia

terdesak dan terancam bahaya.

Tiba-tiba Dewa Pedang mengeluarkan suara melengking

tinggi, pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar

yang menyilaukan mata, tubuhnya tertutup benteng sinar

pedang sehingga lima orang lawannya sukar untuk menembus

sinar pedang itu dan tubuhnya lalu meloncat ke atas, lalu

berjungkir balik membuat salto sampai tujuh kali baru dia

turun dan sudah berada di luar kepungan!

Dengan cara demikian, Dewa Pedang berhasil

membuyarkan kepungan barisan golok itu. Dia tidak mau

dikepung lagi dan untuk mencegah hal ini terjadi, dia

mendahului mereka dengan serangannya! Karena pedangnya

memang lihai bukan main, orang yang diserang menjadi

terhuyung dan baru dapat terhindar dari ciuman ujung

pedangnya kalau dibantu oleh satu doa orang rekan.

Begitu gagal menyerang, Dewa Pedang sudah membalik

dan meloncat untuk menyerang pengeroyok lain! Dengan

demikian, lima orang itu sama sekali tidak sempat untuk

melakukan pengepungan seperti tadi.

Barisan golok itu kembali membuat bentuk barisan lain atas

isyarat si kumis melintang. Mereka menggunakan siasat Dua

Golok Tiga Perisai untuk menghadapi gerakan Dewa Pedang

itu. Mereka berkelompok dan setiap serangan Dewa Pedang,

selalu dihadapi oleh tiga orang pengeroyok yang saling bantu

untuk menghalau serangan pedang, seolah-olah tiga orang itu

membentuk tiga perisai melindungi diri dan pada saat itu, dua

orang pengeroyok lain sudah menyerang Dewa Pedang dari

belakang atau kanan kiri!

Siasat ini akhirnya merepotkan Kiam-sian Louw Sun pula.

Serangan-serangannya selalu gagal karena dihadapi tiga orang

sekali gus, sedangkan dua orang yang lain selalu membalas

dengan cepat sehingga dia tidak mungkin dapat melanjutkan

serangan tanpa membahayakan diri sendiri.

Sin Wan melihat betapa dua orang kakek lain kini malah

duduk bersila dan menjadi penonton. Sedikitpun tidak

bergerak membantu kawan yang nampaknya terdesak dan

terancam bahaya itu. Hal ini membuat Sin Wan penasaran.

“Kenapa ji-wi lo-cianpwe (dua orang tua gagah) tidak cepat

membantu lo-cianpwe yang terancam bahaya itu, malah enakenak

menonton dan tersenyum-senyum?” tegurnya sambil

memandang kepada Dewa Arak yang kini bahkan meneguk

arak dari guci sambil tersenyum senang seperti orang yang

menikmati pertunjukan wayang di panggung saja!

“Heh .. heh .. heh. Sin Wan, apa kau ingin melihat Dewa

Pedang marah-marah kepada kami? Kalau kami

membantunya. Dia akan menganggap itu suatu penghinaan

dan dia bahkan akan menyambut bantuan kami dengan

sambaran pedangnya yang lihai! kata si Dewa Arak.

“Ah, kenapa begitu?” Sin Wan bertanya, tak percaya.

Dewa Rambut Putih yang kini berkata seperti orang

bersajak. “Seorang bijaksana memperhitungkan dengan

matang sebelum bertindak. Seorang pendekar menaruh

kehormatan lebih tinggi dari pada nyawa. Seorang gagah

memegang janjinya sampai mati dan selamanya takkan

menyesali perbuatannya!”

“Ha-ha. ha, dan si Dewa Pedang adalah seorang bijaksana

dan seorang pendekar yang gagah!” Dewa Arak menyambung.

Sin Wan mengerti, mengangguk kagum dan diapun

memandang kembali ke arah pertandingan. Dia kini mengerti

bahwa ketika maju menghadapi lima orang itu, pertapa

berpedang itu telah memperhitungkan bahwa dia akan mampu

menandingi mereka, dan tindakannya melawan mereka itu

merupakan suatu keputusan bahwa dia akan menghadapi

segala akibatnya seperti sebuah janji yang takkan dijilatnya

kembali dan tidak akan menyesal andaikata dia kalah dan

tewas. .Karena itu, kalau dia dibantu, dia tentu akan menjadi

marah karena bantuan kawan-kawannya itu sama dengan

merendahkan dia!

Begitu memandang ke arah pertandingan, Sin Wan menjadi

kagum. Kiranya kini pertapa itu sama sekali tidak terdesak

lagi. Gerakannya demikian cepatnya seperti seekor burung

walet dan pedangnya menjadi gulungan sinar menyilaukan

mata dan karena dia terus berloncatan ke sana sini, maka lima

orang pengeroyoknya mendapatkan kesukaran untuk

rnenyudutkannya.

Terpaksa merekapun mengejar ke sana sini dengan kacau

dan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membentuk atau

mengatur barisan. Menghadapi seorang lawan seperti ini,

mereka merasa seperti menghadapi lawan yang lebih banyak

jumlahnya.

Memang benar seperti yang dikatakan Dewa Arak dan

Dewa Rambut Putih tadi. Sebelum menghadapi lima orang itu

seorang diri saja, Kiam-sian Louw Sun memang sudah

memperhitungkan bahwa dia akan mampu menandingi

mereka. Dari gerakan mereka ketika meloncat turun dari

kereta, ketika mereka mencabut golok dan memasang barisan,

dia sudah dapat mengukur sampai di mana kira-kira kekuatan

mereka.

Kini, setelah dia berhasil keluar dari himpitan barisan golok,

Dewa Pedang meloncat jauh ke kiri, ke lawan yang paling

ujung dan begitu lawan ini menyambutnya dengan bacokan

golok, dia menangkis sambil mengerahkan sin-kang (tenaga

sakti) disalurkan lewat pedang sehingga ketika pedang

bertemu golok, pedang itu seperti mengandung semberani

yang amat kuat, menyedot dan menempel golok. Si pemegang

golok terkejut ketika tidak mampu melepaskan goloknya dari

tempelan pedang dan pada saat itu, tangan Kiam-sian Louw

Sun meluncur ke depan.

“Cratt …….” Orang itu berteriak kesakitan, goloknya

terlepas dan dia meloncat ke belakang, memegangi lengan

kanan dengan tangan kiri karena lengan kanan yang tercium

tangan kiri Kiam-sian tadi terluka dan berdarah seperti ditusuk

pedang! Ternyata dengan tangan kirinya si Dewa Pedang

mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang) dan kalau

dia menggunakan ilmu itu, tangan kirinya seperti pedang saja,

dapat melukai lawan!

Empat orang pengeroyok lain maju serentak, namun Dewa

Pedang sudah menghindarkan diri dengan gerakannya yang

amat cepat, meloncat ke samping, lalu meloncat ke atas

membuat salto tiga kali dan ketika tubuhnya melayang turun,

dia sudah menyerang orang yang berada di paling ujung!

Bagaikan seekor garuda menerkam dari atas, pedangnya

meluncur dan orang yang diserangnya cepat mengangkat

golok menangkis. Akan tetapi, pada saat golok bertemu

pedang, orang itu berteriak dan roboh, pundaknya berdarah

terkena tusukan tangan kiri Kiam-sian Louw Sun.

Berturut-turut Dewa Pedang melukai lima orang lawannya,

bukan luka berat, akan tetapi cukup untuk membuat mereka

jerih karena yang terluka adalah tangan, lengan atau pundak

kanan mereka. Mengertilah Hek I Ngo-liong bahwa mereka

berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi tingkat

ilmunya. Tentu saja mereka merasa kecewa dan menyesal bu.

tan main.

Peti terisi pusaka-pusaka istana telah terjatuh ke tangan

mereka dengan mudah dapat mereka curi dari rumah Si

Tangan Api selagi pemilik rumah tidak berada di rumah.

Mereka lari ketakutan, takut kalau sampai Iblis Tangan Api

dapat menyusul mereka. Kiranya bahkan tiga orang pertapa

ini yang mengalahkan mereka dan yang akan merampas

pusaka-pusaka itu. Baru melawan seorang saja dari tiga

pertapa itu, mereka tidak mampu menang. Apa lagi kalau

mereka bertiga itu maju semua!

Si kumis melintang mewakili teman-temannya,

membungkuk ke arah tiga orang itu dan berkata, “Kami Hek I

Ngo-liong mengaku kalah. Harap sam-wi (anda bertiga) suka

memperkenalkan nama agar kami tahu oleh siapa kami

dikalahkan.”

“Ho .. ho .. ho, kami tidak perlu memperkenal diri, tidak

ingin dikenal. Hanya ketahuilah bahwa kami yang berhak atas

pusaka-pusaka itu, maka kami melarang kalian mencurinya,”

kata Dewa Arak.

“Lo-cianpwe (orang tua gagah), berlakulah adil antara

sesama orang kang-ouw. Pusaka itu cukup banyak dan kami

akan berterima kasih sekali kalau lo-cianpwe memberi kepada

kami seorang sebuah saja.”

“Hemm, tidak boleh, tidak boleh ……”

“Kalau begitu empat buah saja ….. atau tiga buah ……”

Melihat Dewa Arak masih menggeleng kepala, si kumis

melintang menurunkan permintaannya.

“Sudahlah, dua buah saja, lo-cianpwe …. atau sebuah saja

untuk kami berlima!”

Dewa arak menghentikan tawanya dan memandang

dengan mata melotot. “Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar

untuk mendapatkan kembali pusaka pusaka itu! Semestinya

kalian kami tangkap dan kami seret ke kota raja agar

dihukum. Sekarang kalian masih berani rewel minta bagian?”

Mendengar ucapan itu, Hek I Ngo-liong terkejut dan

ketakutan. Tanpa banyak cakap lagi mereka mengambil golok

masing-masing dan hendak berloncatan ke kereta mereka.

Akan tetapi Dewa Arak berseru.

“Berhenti! Kami telah memaafkan kalian dan tidak

menangkap kalian, dan untuk itu kalian harus dihukum

sebagai penggantinya. Kereta dan kuda itu kami butuhkan.

Nah, kalian pergilah……, eh, nanti dulu. Kami harus

memeriksa dulu apakah pusaka itu masih lengkap!”

Dewa Arak lalu sekali berkelebat meloncat ke dalam kereta

dari jarak yang cukup jauh sehingga mengejutkan lima orang

itu. Peti itu berada di dalam kereta dan setelah membuka

tutup peti dan melihat bahwa isinya masih lengkap, dia

menjenguk keluar.

“Kalian berlima boleh pergi sekarang dan sekali lagi

bertemu dengan kami, tentu kalian akan kami tangkap dan

seret ke kota raja agar dihukum.”

Lima orang itu saling pandang, dalam batin menyumpahnyumpah,

akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak

mampu berbuat sesuatu, merekapun segera lari meninggalkan

tempat itu.

Sam Sian mengajak Sin Wan naik kereta rampasan itu lalu

mereka kembali ke rumah anak itu. Para pelayan yang terluka

oleh Hek I Ngo-liong mendapat pengobatan dari Sam Sian.

Untung mereka tidak terluka parah dan setelah mendapat

pengobatan, mereka tidak menderita lagi. Sam Sian selalu

membawa bekal obat-obat luka yang amat manjur.

Malam itu, Sam Sian mengajak Sin Wan bercakap-cakap di

ruangan tamu. Mereka merasa suka dan juga kasihan kepada

anak itu yang kini sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.

Ayah kandungnya telah lama tewas oleh Se Jit Kong, ibunya

dan ayah tirinya juga tewas. Tidak ada sanak kadang, tidak

ada handai taulan, hidup sebatang kara di dunia dalam usia

sepuluh tahun! Mereka sudah sepakat untuk menolong anak

itu.

“Sin Wan, besok kami akan pergi mengantar pusaka ke

kota raja. Kami ingin sekali mengetahui, apa rencanamu

sekarang?” tanya Pek-mau-sian Thio Ki dengan suara lembut.

Pertanyaan ini seperti menyeret Sin Wan kembali kepada

kenyataan hidup yang pahit, menyadarkannya dari lamunan.

Sejak tadi dia. memang sedang memikirkan keadaan dirinya.

Besok tiga orang kakek ini meninggalkannya, lalu apa yang

harus dia lakukan?

Tetap tinggal di rumah besar peninggalan Se Jit Kong

dengan segala harta kekayaaanya itu? Bagaimana dia akan

mampu mengurus rumah tangga seorang diri saja, mengepalai

tujuh orang pelayan itu? Dan dia tahu betapa di dunia ini lebih

banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik.

Pengalamannya dalam beberapa hari ini saja sudah

membuka matanya betapa orang-orang yang kelihatannya

baik, ternyata adalah orang yang amat jahat. Seperti ayah

tirinya itu! Seperti Bu-tek Cap-sha-kwi, tigabelas orang yang

mencoba untuk merampas pusaka, kemudian Hek I Ngo-liong.

Pertanyaan Dewa Rambut Putih itu justeru merupakan

pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

“Lo-cianpwe, saya ….. saya tidak tahu. Kalau sam-wi locianpwe

mengijinkan, saya ingin ikut saja dengan sam-wi

(anda bertiga) .”

Tiga orang pertapa itu saling lirik. “Kami bertiga hanyalah

orang-orang yang tidak biasa berada di tempat ramai, kami

hanya pertapa-pertapa Mau apa engkau ikut kami, Sin Wan?”

Dewa Arak memancing.

“Kalau sam-wi sudi menerima saya, saya akan bekerja

sebagai apa saja, sebagai bujang, kacung atau apa saja. Samwi

lo-cianpwe adalah orang-orang yang sakti, pandai dan

budiman. Saya akan dapat memetik banyak pelajaran kalau

menghambakan diri kepada sam-wi. Hanya sam-wi yang saya

percaya di dunia ini “

Senang hati tiga orang kakek itu mendengar ucapan anak

itu. Seperti yang telah mereka duga, anak ini selain memiliki

bakat yang baik untuk belajar silat juga mempunyai budi

pekerti yang baik menurut didikan mendiang ibunya, sama

sekali tidak mirip ayah tirinya, Iblis Tangan Api yang kejam

dan jahat itu.

“Siancai ….!” kata Kiam-sian. “Agaknya sudah dikehendaki

Tuhan engkau berjodoh dengan kami, Sin Wan. Bagaimana

kalau engkau ikut kami sebagai murid kami?”

Anak itu tertegun, matanya terbelalak, lalu wajahnya

menjadi cerah gembira dan dengan gugup dan gemetar dia

lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu.

“Terima kasih kalau suhu bertiga sudi menerima teecu

(murid) sebagai murid. Sebetulnya, tidak ada yang lebih teecu

inginkan daripada menjadi murid sam-wi suhu (guru bertiga),

akan tetapi teecu tentu saja tidak berani minta menjadi murid

…… “

“Hemm, kenapa tidak berani, Sin Wan? Kukira engkau

bukan seorang anak penakut!” cela Dewa Arak.

“Maaf, suhu, bagainanapun juga, sam-wi mengetahui

bahwa teecu adalah anak tiri mendiang Se Jit Kong dan

semenjak bayi teecu telah dididik olehnya. Teecu khawatir

kalau sam-wi suhu menganggap teecu bukan anak yang

terdidik baik-baik. Akan tetapi siapa kira, sam-wi suhu yang

mengambil teecu sebagai murid. Terima kasih kepada Allah

Yang Maha Kasih …..”

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Anak ini tidak

berani minta dijadikan murid bukan karena merasa takut,

melainkan karena merasa rendah diri sebagai putera seorang

datuk besar yang kejam seperti iblis

“Bangkit dan duduklah, Sin Wan. Kalau engkau ikut dengan

kami, lalu bagaimana dengan rumah dan harta peninggalan Se

Jit Kong ini?” tanya si Dewa Arak.

“Teecu tidak menginginkan sedikitpun dari harta

peninggalan Se Jit Kong. Ayah kandung teecu sendiri tidak

meninggalkan apa-apa ketika tewas, demiklan pula ibuku.

Teecu akan meninggalkan rumah dan seluruh harta ini kepada

para pelayan. Teecu akan pergi mengikuti suhu bertiga tanpa

membawa apa-apa kecuali pakaian teecu.”

Kembali tiga orang pendeta itu saling pandang dan mereka

menjadi semakin kagum. Baru berusia sepuluh tahun akan

tetapi Sin Wan tidak terikat oleh harta benda! Ini

membuktikan bahwa anak itu memiliki keberanian dan harga

diri. Anak seperti ini kelak kalau sudah dewasa tidak akan

mudah dicengkeram dan dipermainkan nafsu yang timbul oleh

daya benda yang amat kuat.

Harta benda yang mendorong sebagian besar manusia

menjadi lupa diri, dan dalam pengejaran terhadap harta

benda, manusia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan

jahat. Mencuri, merampok, menipu dan lain macam perbuatan

jahat lagi demi mengejar harta benda. Harta benda pula yang

membuat manusia yang memilikinya menjadi sombong,

merasa berkuasa dan merendahkan orang lain.

“Bagus! Kalau begitu malam ini juga harus dilakukan

penyerahan harta benda itu agar besok pagi kita dapat

berangkat,” kata si Dewa Arak. Tujuh orang pelayan itu lalu

dipanggil dan dikumpulkan di ruangan tamu, juga kepala

kampung yang mengepalai daerah tempat tinggal Se Jit Kong

diundang menjadi saksi. Di depan kepala kampung, Sin Wan

menerangkan bahwa dia akan pergi merantau dan seluruh

harta kekayaan yang berada di rumah itu, berikut rumahnya,

dia berikan kepada tujuh orang pelayan.

Tentu saja semua orang merasa terkejut dan terheran,

akan tetapi tujuh orang pelayan itupun menjadi gembira

bukan main. Mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Sin

Wan .dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka.

Biar dibagi tujuh sekalipun, mereka akan mendapat bagian

yang akan membuat masing-masing pelayan menjadi orang

yang kaya!

Juga kepala kampung terkejut dan terheran, akan tetapi

ketika si Dewa Arak yang mewakili Sin Wan mengatur semua

urusan itu mengatakan bahwa sebagai saksi dan pengawas

agar pembagian dilakukan seadil-adilnya, kepala kampung

mendapat pula upah yang cukup layak, kepala kampung

menjadi gembira pula.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Wan dan tiga

orang gurunya meninggalkan rumah Se Jit Kong di Yin-ning itu

dengan kereta rampasan mereka. Tujuh orang pelayan

mengantarkan sampai di luar pintu gerbang, dan setelah

kereta membalap di luar kota.

Sin Wan menghela napas panjang, seolah dia terlepas dari

belenggu yang amat tidak menyenangkan hatinya. Belenggu

itu terasa olehnya, sejak dia mendengar keterangan ibunya

bahwa Se Jit Kong bukan ayah kandungnya, bahkan

pembunuh ayah kandungnya, dan bahwa ibunya menjadi isteri

Se Jit Kong karena terpaksa untuk menyelamatkannya! Sejak

saat itu, rumah dan harta milik Se Jit Kong itu seperti sebuah

penjara baginya, lantai rumah terasa seperti api membara,

harta kekayaan itu seperti lintah-lintah bergayutan di

tubuhnya.

Kini dia merasa bersih dan ringan, dan dia dapat

memandang ke depan dengan wajah cerah penuh harapan.

Akan tetapi teringat akan penderitaan ibunya, kedua matanya

menjadi basah dan cepat dia menghapus air matanya. Ibunya

sudah meninggal dunia, berarti sudah terbebas dari

penderitaan hidup di dunia yang penuh kepalsuan. Dia hanya

dapat berdoa dengan diam-diam semoga Allah Maha

Pengampun sudi mengampuni semua dosa ibunya.

Semua keindahan pemandangan alam yang terbentang luas

disekelilingnya menghilangkan semua kenangan sedih tentang

ibunya. Baru sekarang Sin Win melakukan perjalanan jauh,

melalui daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan tiga

orang pendeta itupun merupakan pencinta alam. Setiap kali

terdapat pemandangan yang amat indah, si Dewa Arak yang

duduk di tempat kusir bersama Dewa Pedang, menghentikan

kuda penarik kereta dan mereka berhenti, menikmatl

keindahan alam.

Sin Wan memperhatikan mereka dan segera melihat

perbedaan di antara mereka kalau menghadapi keindahan

alam yang mempesona itu. Dewa arak menikmati keindahan

alam sambil meneguk araknya, Dewa Pedang melihat ke

sekeliling seperti orang terpesona dan termenung, sedangkan

Dewa Rambut Putih, kalau tidak meniup sulingnya tentu

bersajak!

Belasan hari lewat tanpa ada gangguan diperjalanan dan

pada suatu senja, kereta berhenti di puncak sebuah bukit.

Puncak itu datar dan dari tempat itu, pemandangan alam

amatlah indahnya. Apalagi mereka dapat melihat matahari

senja mengundurkan diri di atas kaki langit di barat, hampir

menyembunyikan diri di balik bayangan gunung-gunung.

Melihat matahari senja memang merupakan suatu

pengalaman yang mempesonakan. Langit di barat berwarna

kemerahan, diseling warna perak, biru dan ungu, ada

sebagian yang warnanya keemasan. Matahari sendiri berwarna

merah cerah namun tidak menyilaukan, seperti tersenyum

memberi ucapan selamat berpisah, seperti hendak

mengucapkan selamat tidur.

Matahari menjadi bola merah yang besar, perlahan namun

pasti makin menyelam ke balik bukit-bukit. Angin senja semilir

menggoyang pucuk-pucuk ranting pohon, membuat pohon itu

seperti kekasih–kekasih yang ditinggal orang yang dicintanya

dan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan untuk

bersua kembali esok hari.

Burung-burung terbang melayang, berkelompok sambil

mengeluarkan bunyi hiruk-pikuk, sekelompok mahluk yang

setelah sehari rajin bekerja. kini pulang ke sarang mereka

yang hangat, atau berlindung di ranting-ranting pohon

berselimutkan daun-daun yang melindungi.

Tanpa diperintah lagi, setelah mendapat pengalaman

selama beberapa hari dan tahu apa yang harus dilakukannya,

Sin Wan mencari kayu dan daun kering dan menumpuknya di

atas tanah, tak jauh dari kereta. Dia harus mengumpulkan

cukup banyak kayu bakar untuk membuat api unggun malam

ini. Kalau mereka tidur di tempat terbuka, harus ada api

unggun yang selalu dapat memberi penerangan, juga dapat

mengusir nyamuk dan binatang lain. Dapat pula mengusir

hawa dingin yang dibawa angin malam.

Tiga orang pendeta itupun turun dari kereta, duduk bersila

untuk memulihkan tenaga setelah kelelahan melakukan

perjalanan dengan kereta sehari penuh. Sin Wan mengambil

sebuah buntalan yang berisi bekal makanan dan minuman

yang dibeli tiga orang suhunya di dusun yang mereka lewati

siang tadi.

Tanpa banyak bicara, mereka lalu makan malam di dekat

api unggun yang sudah dibuat oleh Sin Wan. Tiga orang kakek

itu makin suka kepada murid mereka. Biarpun sejak kecil

hidup sebagai putera orang kaya raya, ternyata Sin Wan tidak

manja, tidak cengeng, berani menghadapi kesukaran dan

rajin, tidak canggung melakukan pekerjaan kasar.

Setelah makan malam, mereka duduk dekat api unggun

dan Dewa Arak berkata kepada Sin Wan. “Sin Wan, sekarang

engkau sudah menjadi murid kami. Kami ingin melihat apa

saja yang pernah kaupelajari dari Iblis Tangan Api. Nah,

cobalah engkau mainkan ilmu-ilmu silat yang pernah

kaupelajari darinya.”

Sin Wan mengerutkan alisnya. Sebetulnya dia tidak suka

memainkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari

pembunuh ayahnya. Akan tetapi, untuk membantah perintah

gurunya dia tidak berani.Melihat keraguan anak itu, dan kerut

di alisnya, Kiam-sian bertanya, “Kenapa, Si Wan? Engkau

kelihatan tidak suka memainkan ilmu yang pernah kaupelajari

dari Se Jit Kong?”

“Maaf, suhu, Se Jit Kong adalah seorang datuk sesat yang

amat kejam dan jahat. Teecu ingin melupakan saja semua

yang pernah teecu pelajari darinya karena kalau orangnya

jahat, ilmunya pasti juga jahat.”

“Siancai, engkau tidak boleh berpendapat seperti itu, Sin

Wan. Ilmu adalah ilmu pengetahuan dan merupakan alat bagi

manusia dalam kehidupannya. Ilmu, seperti alat-alat hidup

yang lain, tidak ada sangkut pautnya dengan sifat jahat atau

baik. Jahat atau baiknya ilmu, seperti jahat atau baiknya alat,

tergantung dari pada orang yang menggunakannya. Kalau

orang itu berniat jahat, segala macam alat apa saja, ilmu apa

saja, dapat dia pergunakan untuk berbuat jahat, Yang jahat

bukan ilmunya, melainkan orangnya! Andaikata di waktu

hidupnya Se Jit Kong mempergunakan semua ilmunya untuk

menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan,

apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu-ilmunya jahat?”

Mendengar ucapan Kiam-sian ini, Sin Wan segera menjadi

sadar dan diapun memberi hormat kepada Dewa Pedang itu.

“Maafkan teecu, suhu, Pandangan teecu tadi memang keliru

dan picik. Baiklah, teecu akan memainkan semua ilmu silat

yang pernah teecu pelajari dari Se Jit Kong.”

Anak itu lalu bersilat, diterangi sinar api unggun, dan

ditonton ketiga orang gurunya.

Se Jit Kong memang seorang datuk besar yang memiliki

ilmu kepandaian tinggi. Sejak Sin Wan berusia empat tahun,

anak itu telah digemblengnya. Bahkan tubuh anak itu telah

dibikin kuat dengan obat-obat gosok maupun minum. Sejak

berusia enam tahun, Sin Wan sudah diajar melakukan siulian

(semadhi) dan latihan pernapasan untuk menghimpun teraga

sakti. Tidak mengherankan ketika berusia sepuluh tahun. Sin

Wan telah menjadi seorang anak yang cukup lihai, yang tidak

akan dapat dikalahkan oleh orang dewasa biasa, betapapun

kuatnya orang itu.

Sin Wan tidak hendak menyembunyikan sesuatu. Dia

bersilat sepenuh hatinya, memainkan semua ilmu yang pernah

dipelajarinya, bahkan mengerahkan tenaga sin-kang seperti

yang pernah diajarkan Se Jit Kong kepadanya. Dan perlahanlahan,

dari kedua tangan anak itu mengepul uap panas!

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Dalam usia

sepuluh tahun, Sin Wan telah dapat mencapai tingkat seperti

itu. Sungguh hebat, walaupun dia belum sepenuhnya

menguasai ilmu Tangan Api, namun kedua tangannya telah

mengepulkan uap panas, dan pukulan-pukulannya

mengandung hawa panas. Setelah anak itu selesai bersilat dan

mengatur kembali pernapasannya yang agak terengah, Kiamsian

bertanya, “Pernahkah diajari ilmu pedang?”

Sin Wan mengangguk dan Dewa Pedang menggerakkan

tangan kirinya ke arah pohon yang berada di dekat rnereka.

Diam-diam dia mengerahkan Kiam-ciang (Tangan Pedang),

ilmu pukulan yang mengandung sin-kang amat kuat, dan

terdengar suara gaduh ketika dua batang cabang pohon itu

runtuh. Dia mengambil dua batang cabang itu, membersihkan

daunnya dan menyerahkan sebatang kepada muridnya.

“Nah, pergunakan pedang ini dan serang aku!” katanya dan

diapun memegang kayu cabang yang kedua.

“Baik, suhu.” Kata Sin Wan dan anak ini lalu memutarmutar

kayu itu bagaikan sebatang pedang, dan mulai

melakukan serangan-serangan dengan sepenuh hati kepada

gurunya.

Sambil mengamati gerakan muridnya, Kiam-sian menangkis

dan balas menyerang. Dengan cara mengajak muridnya

bertanding seperti ini, lebih mudah baginya untuk mengukur

dalamnya ilmu yang telah dimiliki muridnya, dari pada kalau

hanya melihat anak itu bersilat pedang seorang diri saja.

Setelah semua jurus dimainkan habis dan Sin Wan

meloncat ke belakang menghentikan serangannya, Kiam-sian

mengangguk-angguk. “Duduklah kembali, Sin Wan.”

Sin Wan duduk bersila lagi menghadapi api unggun. Tibatiba

Dewa Arak telah berada di belakangnya, juga duduk

bersila dan gurunya ini berkata sambil tersenyum. “Sin Wan,

coba kau kerahkan seluruh tenaga sin-kang yang pernah kau

latih.”

Setelah berkata demikian, tangan kirinya ditempelkan di

pundak, tangan kanan melingkari perut dan menempel di

pusar.

Sin Wan tidak membantah. Dia mengangkat kedua

tangannya ke atas, dengan telapak tangan tengadah. Gerakan

ini oleh mendiang Se Jit Kong dinamakan “Menyambut Api

Dari Langit”. Kedua tangan yang tengadah itu menggetar

kemudian perlahan-lahan turun ke bawah, kini kedua telapak

tangan menempel dengan tanah. Ini yang dinamakan

“Menyedot Api Dari Bumi”.

Dia menghimpun tenaga seperti yang diajarkan Se Jit Kong,

merasakan betapa ada hawa panas memasuki pusarnya,

berputaran dan seperti yang biasa dilatihnya, dia mencoba

untuk menguasai hawa yang berputaran itu agar dapat dia

salurkan ke arah kedua lengannya. Akan tetapi, tiba-tiba ada

hawa sejuk masuk ke dalam pusar, dan ketika tenaga panas

yang disalurkan ke lengan tiba di pundak, hawa itu terhenti

dan kembali ke pusar.

“Cukup, hentikan latihanmu,” terdengar suara lembut dan

baru dia teringat bahwa Dewa Arak bersila di belakangnya.

“Siancai, murid kita ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang

sifatnya ganas. Akan tetapi, jangan dilupakan begitu saja ilmuilmu

itu, Sin Wan. Engkau berhak menguasainya, dan kalau

pandai mempergunakannya untuk berbuat kebaikan, maka

ilmu-ilmu itu akan hilang keganasannya dan berubah menjadi

ilmu yang amat bermanfaat bagimu,” kata Dewa Rambut

Putih.

“Teecu akan mentaati semua nasihat dan petunjuk suhu

bertiga,” jawab Sin Wan dengan kesungguhan hati.

Malam itu mereka beristirahat dan pada keesokan harinya,

ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan. Sin Wan minta

ijin tiga orang gurunya untuk mencari sumber air atau anak

sungai untuk mandi. Tiga orang pertapa itu tersenyum dan

Dewa Arak berkata sambil tertawa.

“Ha .. ha .. ha, kami sudah biasa bertapa tanpa mandi

tanpa makan tanpa tidur sampai berbulan, maka pagi hari ini

kamipun tidak membutuhkan air. Akan tetapi engkau terbiasa

mandi setiap hari dan kemarin engkau sudah mengeluh

karena sehari tidak mandi. Pergilah, kurasa di sebelah kiri

sana ada anak sungai yang airnya cukup jernih, Sin Wan.”

Pemuda kecil itu berterima kasih, membawa ganti pakaian

dan lari ke kiri. Benar saja, tak lama kemudian, dia melihat

sebuah anak sungai yang airnya cukup jernih karena seperti

anak sungai di pegunungan, dasar sungai terdapat banyak

pasir dan batunya sehingga airnya tersaring jernih.

Dengan girang Sin Wan menanggalkan pakaiannya,

menaruhnya di tepi anak sungai bersama pakaian bersih yang

dibawanya tadi, kemudian dengan bertelanjang bulat Sin Wan

memasuki sungai kecil yang airnya jernih itu. Airnya sejuk

segar dan Sin Wan memilih bagian yang dalamnya mencapai

dadanya, mandi dengan gembira. Tubuhnya terasa nyaman

bukan main ketika berendam di air itu. Dia menggunakan

sebuah batu halus untuk menggosok-gosok kulit tubuhnya dan

membersihkan debu-debu yang menempel.

Dia tidak melihat atau mendengar betapa dua orang lain

yang juga sedang mandi tak jauh dari tempat dia mandi akan

tetapi tidak nampak dari situ karena berada di balik belokan

sungai, menjadi marah sekali ketika mendengar ada orang

turun ke sungai dan mandi di hulu tak jauh dari mereka.

Perbuatan itu dengan sendirinya mengotorkan air yang

mengalir ke arah mereka. Dengan bersungut-sungut,

keduanya naik ke tepi sungai dan cepat mereka mengeringkan

tubuh dan mengenakan pakaian.

Mereka itu adalah dua orang wanita, yang seorang berusia

sekitar tigapuluh tahun akan tetapi masih nampak seperti

gadis duapuluh tahun saja, cantik jelita dan anggun akan

tetapi sinar matanya keras dan tajam, dan seorang anak

perempuan yang usianya kurang lebih baru sembilan tahun

akan tetapi sudah kelihatan cantik manis!

“Subo (ibu guru), mari kita lihat siapa orangnya. Dia harus

dihajar!” kata anak perempuan itu dengan wajah bersungutsungut.

Wajah yang manis itu kulitnya kemerahan karena digosokgosoknya

ketika mandi tadi dan ia memang seorang anak

perempuan yang manis. Rambutnya hitam dan gemuk sekali,

dibiarkan panjang sampai ke punggung dan diikat pita merah.

Wajahnya yang bentuknya bulat itu memiliki mata yang

seperti sepasang bintang, hidungnya mancung dan mulutnya

kecil, dagunya meruncing.

Wanita cantik itu tersenyum dan nampak lesung di kedua

pipinya melekuk manja. Yang paling mempesona pada diri

wanita ini adalah mulutnya. Mulut itu berbentuk demikian

indah, dengan bibir yang merah membasah, penuh dan

seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum nampak kilatan

gigi yang berderet putih seperti mutiara, kalau bicara kadang

nampak rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang

jambon. Bibir yang bawah dapat bergerak-gerak hidup, penuh

gairah dan memiliki daya pikat yang kuat sekali.

“Li Li, jangan terburu nafsu. Kita lihat dulu apakah sikapnya

buruk. Dia mandi di sana disengaja ataukah tidak. Kalau

sikapnya buruk, baru kita hajar dia!”

Dan di dalam suaranya yang merdu itu tersembunyi

ancaman yang akan membuat orang yang mendengarnya

menjadi ngeri. Wanita itu memang cantik sekali. Rambutnya

yang halus dan hitam panjang digelung seperti model rambut

seorang puteri bangsawan dan dihias dengan tusuk sanggul

emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Ketika mandi tadi, walaupun ia hanya mengenakan pakaian

dalam, ia membenamkan dirinya sampai ke leher dan menjaga

agar rambutnya tidak sampai basah, tidak seperti anak

perempuan yang mencuci rambutnya. Kini setelah berpakaian,

wanita itu makin nampak seperti wanita bangsawan.

Pakaiannya serba indah dan mewah. Lehernya memakai

kalung dan kedua lengannya dihias gelang emas. Alisnya

melengkung hitam di atas sepasang mata yang bersinar tajam

dan Kadang amat keras sehingga nampak galak.

Hidungnya juga mancung dan manis, namun daya tarik

yang paling memikat adalah mulutnya. Di dahinya nampak

anak rambut halus berjuntai ke bawah, dan di depan telinga

terdapat untaian rambut yang melengkung indah.

“Mari kita ke sana, subo!” anak perempuan itu nampak

tergesa karena ia sudah marah sekali, merasa mandinya

terganggu orang. Ia juga mengenakan pakaian yang terbuat

dari sutera mahal, walaupun bentuknya sederhana, tidak ada

kesan mewah seperti pakaian wanita cantik yang disebutnya

subo. Anak ini hanya memakai sepasang gelang batu giok

(kumala) sebagai perhiasannya.

Guru dan murid itu lalu mengitari semak-semak belukar di

belokan sungai dan tak lama kemudian mereka melihat Sin

Wan yang sedang mandi. Anak laki-laki itu dengan

gembiranya membenamkan kepalanya ke air berulang kali.

“Kiranya hanya seorang bocah. Tentu dia anak nakal

sekali,” anak perempuan yang disebut Li Li tadi mengomel.

“Dia harus diberi hukuman atas kelancangannya yang sudah

mengganggu kita.”

Dengan gerakan yang cepat sekali ia meloncat ke arah

tumpukan pakaian Sin Wan. la menyambar tumpukan dua stel

pakaian kotor dan bersih itu, meninggalkan sebuah celana

pendek saja dan meloncat kembali ke belakang semak-semak

di mana subonya menunggu.

Biarpun gerakan anak perempuan itu cepat sekali, bagaikan

seekor kelinci, namun Sin Wan masih dapat melihat bayangan

orang berkelebat. Dia menengok dan melihat bayangan itu

lenyap ke balik semak belukar. Akan tetapi yang membuat dia

terkejut, ketika dia menengok ke arah tumpukan pakaiannya,

tumpukan itu telah lenyap, hanya tinggal sepotong baju atau

celana di sana.

“Heiiiii …….!” Dia berteriak dan hendak keluar dari sungai

itu. Akan tetapi dia ingat bahwa dia bertelanjang bulat, maka

dia meragu, lalu kembali dia berteriak. “Heii, siapapun yang

berada di daratan! Aku akan keluar dari sungai dalam keadaan

telanjang bulat. Kembalikan pakaianku!”

Akan tetapi tidak terdengar suara dari balik semak, juga

tidak ada gerakan apapun. Tentu pencuri pakaian itu telah

melarikan diri jauh-jauh, pikir Sin Wan. Dia lalu melompat ke

atas daratan, dan menyambar celana dalamnya yang masih

tertinggal di tempat tumpukan yang lenyap tadi. Dipakainya

celana dalam itu, sebuah celana yang hanya menutup dari

pinggang sampat ke paha, dan larilah dia ke belakang semak

untuk mengejar orang yang mencuri pakaiannya.

Dan dia hampir saja menabrak seorang wanita cantik dan

seorang anak perempuan manis yang berdiri di belakang

semak belukar itu. “Eh, maaf!” kata Sin Wan dan cepat dia

melempar diri ke kanan sehingga bergulingan akan tetapi dia

tidak sampai menabrak orang. Ketika dia bangkit berdiri lagi,

dia melihat bahwa pakaiannya masih dipegang oleh anak

perempuan yang manis itu, yang kini berdiri di situ

memandang kepadanya dengan senyum mengejek dan

pandang mata penuh kemarahan.

Guru dan murid itupun memandang kepadanya. Kalau anak

perempuan itu memandang dengan senyum geli dan

mengejek, wanita itu wajahnya berubah kemerahan dan ia

membuang muka sambil berkata ketus, “Anak laki-laki tak

tahu malu!”

Sin Wan merasa penasaran. Tentu saja dia pun merasa

canggung dan malu harus berdiri dalam keadaan tiga

perempat telanjang di depan dua orang wanita yang tidak

dikenalnya ini. Akan tetapi, yang membuat dia hampir

telanjang itu adalah anak perempuan ini! Bukan dia yang tidak

tahu malu atau kurang ajar, melainkan anak perempuan itu

yang telah mencuri pakaiannya selagi dia mandi.

Biarpun dia menjadi marah dan ingin memaki, ingin

menampar anak perempuan itu, namun pendidikan mendiang

ibunya membuat dia mampu menahan diri. Dia menekan

perasaannya yang marah dan penasaran, lalu membungkuk

depan anak perempuan itu dan berkata, “Nona, harap

dikembalikan pakaianku itu!” katanya, biarpun kata-katanya

dan sikapnya sopan, namun suaranya keras mengandung

kemarahan yang tertahan.

Akan tetapi, anak perempuan itu membelalakan matanya.

“Apa kaubilang? Engkau tidak cepat berlutut minta ampun

atas kesalahanmu. malah menuntut dikembalikanya

pakaianmu? Hemm, engkau memang anak yang kurang ajar,

nakal dan tak tahu diri!”

Sikap dan ucapan anak perempuan itu bagaikan minyak

bakar yang disiramkan kepada api bernyala. Sin Wan marah

bukan main. Dia malah dimaki-maki oleh anak yang mencuri

pakaiannya! Aturan apa macam ini?

“Nona sungguh tak tahu diri!” katanya, biarpun marah

masih menjaga kata-katanya. “Nona telah mencuri pakaianku,

sedangkan selama hidupku, aku tidak pernah bertemu

denganmu, tak pernah mengganggumu. Dan sekarang dengan

hormat aku minta dikembalikan pakaianku yang nona curi,

nona malah memaki-maki aku!”

“Siapa bilang engkau tidak mengganggu kami? Guruku dan

aku sedang enak-enak mandi di situ,” ia menuding ke sebelah

hilir, “dan engkau mengotori air dengan mandi di sebelah

atas! Setan kurang ajar, sepatutnya engkau dihajar. Akan

tetapi cukup engkau minta maaf kepada kami dan kehilangan

pakaian ini!” Anak perempuan itu lalu merobek-robek semua

pakaian Sin Wan yang berada di tangannya!

Saking marahnya, Sin Wan sampai tidak menyadari bahwa

sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali bagi seorang

anak perempuan dapat merobek-robek pakaiannya seolaholah

pakaian itu terbuat dari pada kertas saja! Dia terlalu

marah untuk ingat akan hal itu.

“Engkau sungguh tidak tahu aturan!” bentaknya.

“Andaikata benar tuduhanmu tadi bahwa aku mandi di sebelah

hulu dan membuat air menjadi keruh, hal itu kulakukan tanpa

kusadari. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada orang mandi

di hilir. Dan engkau kini malah merobek-robek pakaianku.

Sungguh engkau kurang ajar. Kalau tidak ingat engkau ini

anak perempuan, tentu hemmm ………”

Anak perempuan itu melangkah, maju sampai berdiri dekat

sekali di depan Sin Wan, hanya dalam jarak kurang dari satu

meter.

“Hemmm apa? Hemmm apa? Hayo katakan, mau apa kau?”

“Kalau bukan anak perempuan. tentu kupukul kau agar

tahu aturan!” Sin Wan terpaksa melanjutkan ancamannya

karena diapun merasa penasaran dan marah sekali. Selama

hidupnya belum pernah dia melihat seorang anak perempuan

senakal dan segalak ini!”

“Apa? Kamu? Mau memukul aku? Pukullah …., hayo

pukullah ….!” anak perempuan itu maju lagi sehingga dadanya

membentur dada Sin Wan dan kedua tangannya bertolak

pinggang, sikapnya menantang sekali.

“Aku bukan pengecut yang suka memukul anak perempuan

cengengl” Sin Wan menghardik.

Anak perempuan itu menjadi semakin marah. Kedua

matanya yang lebar itu terbelalak, hidungnya mendengusdengus

seperti seekor kuda marah. “Kau bilang aku cengeng?

Setan iblis jahanam keparat kamu, ya? Hayo pukul, kalau kau

tidak mau pukul, aku yang akan memukulmu!”

Akan tetapi Sin Wan tidak perduli lagi dan melangkah

mundur untuk pergi saja dari situ, tidak mau melayani anak

perempuan yang galaknya melebih ayam bertelur itu. Melihat

dia tidak mau memukul dan malah mundur, anak perempuan

itu makin marah.

“Kau tidak mau pukul, kaulihat pukulanku ini ….” Dan iapun

menerjang maju dan tangannya memukul ke arah dada Sin

Wan, juga kakinya bergerak menyambar dari pinggir,

menyapu kedua kaki Sin Wan.

Tadinya Sin Wan menganggap bahwa pukulan seorang

anak perempuan tentu tidak ada artinya. Apa lagi dia kebal

dan tubuhnya sudah terlatih. Dia bahkan ingin diam-diam

membuat anak perempuan itu menderita karena kegalakannya

dan dia mengeraskan dadanya yang terpukul untuk

menyambut pukulan dan membuat tangan yang memukul itu

kesakitan.

“Dukk ….. bressss ……!”

Sin Wan terpelanting dan terjengkang! Terpelanting karena

kedua kakinya disapu dari pinggir oleh sebuah kaki kecil yang

amat kuat, dan pukulan pada dadanya membuat dia

terjengkang! Pukulan itu ternyata mengandung tenaga yang

kuat sekali dan biarpun dia tidak terluka dan juga tidak

menderita nyeri terlalu hebat, namun dia terjengkang sampai

terguling-guling! Dia meloncat bangkit kembali dan melihat

betapa orang yang dipukulnya tidak menderita apa-apa,

bahkan mampu bangkit dengan cepat, anak perernpuan itu

merasa penasaran dan meloncat memberi serangan yang lebih

hebat lagi. Gerakannya cepat dan kedua tangannya

mengandung tenaga sehingga tiap kali digerakkan, terdengar

suara angin.

Tahulah Sin Wan bahwa dia berhadapan dengan seorang

anak perempuan yang sama sekali tidak lemah, bahkan pandai

ilmu silat dan memiliki tenaga yang kuat. Maka, begitu melihat

anak perempuan itu menerjangnya, diapun cepat mengelak

dan menangkis. Tangkisannya yang disertai tenaga membuat

lengan anak perempuan itu terpental dan hal ini membuatnya

semakin galak dan ganas lagi. Serangan datang bertubi-tubi,

bahkan kini kakinya juga menyambar-nyambar.

Sin Wan sama sekali tidak ingin membalas, karena dia

tetap berpendapat bahwa amat memalukan bagi seorang anak

laki-laki untuk memukul perempuan. Biarpun dia terdesak, dia

hanya menangkis dan mengelak saja. Akan tetapi, anak

perempuan itu ternyata bukan hanya mengerti sedikit ilmu

silat. Sama sekali tidak! Bahkan andaikata dia sungguhsungguh

melawan dan membalas, belum tentu dia akan

mampu mendapatkan kemenangan dengan mudah! Anak ini

telah mendapat gemblengan dari seorang yang sakti, mungkin

seperti mendiang Se Jit Kong saktinya!

“Desss ……” Kembali dia terjengkang ketika sebuah

tendangan yang tak disangka-sangka memasuki

pertahanannya dan menghantam perut yang untung dapat dia

keraskan sehingga tidak terluka.

Ketika dia meloncat bangkit kembali, dia melihat anak

perempuan itu membuat gerakan dengan kedua tangan, mirip

gerakan menghimpun sin-kang seperti yang pernah dilatihnya,

yaitu “Menyambut Api Dari Langit”, akan tetapi ketika turun,

lanjutannya berbeda. Kedua tangan anak itu melengkung ke

kanan kiri, kemudian ketika kedua tangan itu membuat

gerakan mendorong terdengar suara yang seperti ular

mendesis. Kedua tangan itu seperti kepala dua ekor ular

menghantam ke arah dadanya. Sin Wan cepat mengumpulkan

tenaga sin-kang dari pusarnya dan menyambut pukulan yang

dia tahu merupakan pukulan berbahaya itu dengan kedua

tangannya sendirl.

“Desss ……!!” Kini tubuh anak perempuan itu yang

terpental dan terhuyung, bahkan ia tentu akan roboh kalau

saja lengannya tidak disambar oleh wanita cantik yang

menjadi gurunya.

“Kau tidak apa-apa?” Wanita cantik itu bertanya sambil

meraba dada muridnya. Ailsnya berkerut ketika ia merasakan

ada suatu ketidakwajaran pada muridnya.

“Subo, tangannya panas sekali …….!” kata anak perempuan

itu yang segera duduk bersila dan mengatur pernapasan.

Wanita itu memandang kepada Sin wan dan melihat betapa

kedua tangan anak laki-laki itu masih mengeluarkan uap tipis.

Sekali tubuhnya bergerak, wanita itu sudah meloncat dan

berada di depan Sin Wan, membuat anak ini terkejut sekali.

Gerakan wanita itu seperti menghilang saja!

“Katakan, apa hubunganmu dengan Iblis Tangan Api?”

wanita itu kini membentak, suaranya tetap halus namun

mendesis seperti ular, dan dingin seperti salju, dan ketika Sin

Wan memandang, sepasang mata itu mencorong seperti mata

naga dalam dongeng.

“Tidak ada hubungan apa-apa,” jawabnya singkat dan dia

memutar tubuh hendak pergi dari tempat itu.

“Tunggu! Engkau tidak boleh pergi begitu saja setelah

memukul muridku.”

Sin Wan menghadapi wanita itu dengan penasaran. “Bibi,

aku sama sekali tidak memukulnya.”

“Hemm, coba kaupukul aku seperti-gerakanmu tadi.”

“Sungguh, aku tidak memukulnya, aku hanya menangkis

pukulannya!” Sin Wan memrotes.

“Kalau begitu, kau tangkis pukulanku ini!” Wanita itu lalu

menggerakkan kedua tangan, cepat sekali, seperti yang

dilakukan muridnya tadi, ke arah dada Sin Wan. Terpaksa,

untuk menjaga diri, Sin Wan menyambut dengan dorongan

kedua tangannya seperti tadi.

“Desss ……. !!”

Kini tubuh Sin Wan yang terjengkang, bahkan terbanting

keras dan dia merasa betapa dadanya sesak dan sukar

bernapas. Ketika dia bangkit duduk, dia muntahkan darah

segar dan merasa betapa dadanya nyeri. Dengan terhuyung

Sin Wan bangkit berdiri memandang kepada wanita itu dan

bertanya, “Bibi, kenapa engkau memukulku ? Apakah engkau

akan membunuhku?” Pertanyaan itu mengandung keheranan

dan penasaran, sama sekali tidak membayangkan perasaan

takut sedikitpun.

“Aku belum membunuhmu agar engkau dapat memberitahu

kepada Se Jit Kong bahwa aku akan membunuhnya!”

Mendengar bahwa wanita ini musuh Se Jit Kong, berkurang

rasa tak senang dalam hati Sin Wan.

“Bibi siapakah?”

“Katakan saja bahwa Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) yang

memukulmu!”

Sin Wan lalu membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung

pergi dari tempat itu dalam keadaan hampir telanjang, hanya

memakai celana dalam yang pendek.

Tentu saja tiga orang kakek itu terkejut dan heran melihat

murid mereka kembali ke situ dalam keadaan hampir

telanjang, bahkan terluka dalam sehingga mukanya pucat dan

bibirnya berlepotan darah.

“Siancai …… apa yang terjadi padamu?” tanya Dewa

Pedang, sedangkan Dewa Arak tanpa bicara lagi segera

memeriksa tubuh muridnya. Melihat betapa muridnya terluka

dalam karena guncangan tenaga sin-kang yang kuat, dia lalu

menyuruh muridnya duduk bersila, dan diapun bersila di

depannya dan menempelkan telapak tangan kirinya ke dada

muridnya, Sementara itu, Pek-mau-sian si Dewa Rambut Putih

membantu dengan beberapa kali totokan dan tekanan pada

punggung dan kedua pundak Sin Wan. Dalam waktu singkat

saja kesehatan Sin Wan pulih kembali.

“Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu,” kata Dewa

Pedang.

Sin Wan menarik napas panjang dan memakai pakaian

yang diambilkan oleh Dewa Rambut Putih, kemudian

menjawab, “Teecu sendiri masih merasa bingung dan heran,

suhu. Ketika teecu mandi di anak sungai, ada seorang anak

perempuan mencuri pakaian teecu, hanya meninggalkan

sebuah celana pendek. Teecu naik ke darat, mengenakan

celana pendek dan mengejar anak perempuan yang mencuri

pakaian itu. Kiranya ia seorang anak perempuan berusia

sembilan tahun yang nakal dan lihai. Ia merobek-robek

pakaian teecu dan menuduh teecu mengotorkan air karena

mereka tadi mandi di sebelah hilir. Teecu tidak melihat mereka

karena terhalang belokan sungai. Anak itu kemudian

menantang. Teecu tidak melayani, akan tetapi ia menyerang

bertubi-tubi sampai beberapa kali teecu jatuh. Ketika ia

menyerang dengan pukulan yang mengandung sin-kang,

teecu terpaksa menangkis dan iapun terhuyung. Lalu gurunya

memukul teecu ……..”

“Hemm, sungguh sewenang-wenang memukul anak kecil.

Siapa gurunya itu?” tanya Dewa Arak dengan alis berkerut.

“Akulah yang memukulnya. Kalian mau apa?”

Mendengar suara merdu itu, tiga orang pertapa segera

memutar tubuh dan memandang. Mereka tertegun, sama

sekali tidak mengira bahwa guru anak perempuan seperti yang

diceritakan Sin Wan tadi adalah seorang gadis cantik yang

nampaknya baru berusia duapuluh tahun walaupun sikapnya

menunjukkan bahwa ia jauh lebih tua dari pada nampaknya.

Seorang gadis yang berpakaian mewah seperti wanita

bangsawan.

“Siancai ….! nona, kenapa engkau memukul seorang anak

kecil yang tidak berdosa?” Dewa Arak berseru.

“Pertama, karena ia mengotori air tempat kami mandi.

Kedua, karena dia telah membuat muridku terhuyung hampir

jatub. Ketiga, karena dia mempunyai ilmu pukulan Tangan

Api! Di mana Se Jit Kong? Apakah kalian anak buahnya? Suruh

dia keluar untuk menerlma kematian!” Wanita itu berkata

dengan suara galak.

Tiga orang pertapa itu saling pandang, Dewa Pedang dan

Dewa Rambut Putih tersenyum, akan tetapi Dewa Arak

tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha, sungguh engkau memandang

remeh kepada kami kalau menganggap kami anak buah Se Jit

Kong! Anak ini memang pernah belajar ilmu dari Se Jit Kong,

akan tetapi sekarang dia menjadi murid kami dan Se Jlt Kong

telah meninggal dunia!”

Wanita cantik itu mengerutkan sepasang alisnya yang

melengkung panjang dan hitam itu. “Mati? Dia sudah

mampus? Hemm …….. akan sia-sia sajakah perjalananku ini?”

Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang nyaring,

“Subo, pusaka-pusaka itu berada di dalam peti, di kereta ini!”

Semua orang menoleh ke arah kereta! Sebuah kepala

terjulur keluar dari tirai kereta, kepala anak perempuan yang

dipanggil Li Li.

“Ihhh! Kiranya kalian telah membunuhnya dan merampas

pusaka-pusaka istana? Kalau begitu, serahkan nyawa dan

pusaka!”

“Heiii, nona! Ketahuilah bahwa kami adalah utusan kaisar

dan kami akan membawa kembali pusaka itu ke istana di kota

raja!” Dewa Arak berteriak.

“Pusaka dan nyawa kalian harus diserahkan!” Wanita itu

membentak dan tiba-tiba ia sudah bergerak maju, jari

tangannya meluncur dengan membentuk kepala ular menotok

ke arah leher Dewa Arak.

“Haiii …. ah, sungguh berbahaya dan galak!” Dewa Arak

melempar tubuh ke belakang ketika melihat datangnya

serangan yang amat berbahaya itu. Dari gerakan tangan itu

saja dia tahu bahwa lawannya ini, biarpun masih muda,

namun ganas dan lihai sekali. Benar dugaannya, begitu dia

melempar tubuh ke belakang, wanita itu sudah menerjangnya

lagi dengan serangan susulan. Gerakan kedua lengannya

seperti dua ekor ular yang menyambar-nyambar,

menimbulkan suara bercuitan, dan diam-diam Dewa Pedang

terkejut karena dia mengenal ilmu pukulan yang tidak kalah

dahsyatnya dibandingkan ilmu pukulan Kiam-ciang (Tangan

Pedang) yang dikuasainya. Dewa Arak juga tahu akan hal ini,

diapun kini mengerahkan tenaga dan kelincahannya untuk

menghadapi desakan itu dan balas menyerang.

Wanita itupun kelihatan terkejut melihat betapa lawannya

tidak seperti yang disangkanya semula. Lawannya memiliki

gerakan yang amat lincah biarpun perutnya gendut, dan

ketika menangkis, ia mendapat kenyataan bahwa orang itupun

memiliki sin–kang yang kuat!

Melihat dua orang lain berdiri di pinggir, ia lalu mendapat akal.

Ia harus merobohkan mereka yang paling lemah lebih dahulu

karena kalau mereka itu keburu mengeroyoknya, mungkin ia

akan kewalahan!

Tiba-tiba saja tubuhnya menyambar ke kiri. ke arah Dewa

Rambut Putih, dan begitu ia menggerakkan tangan kiri, tujuh

batang jarum secara bertubi-tubi menyambar ke arah tiga

orang kakek itu, dan yang dijadikan sasaran adalah dada dan

tenggorokan, tempat-tempat yang paling lemah!

“Siancai ….!” Dewa Rambut Putih berseru dan seperti dua

orang rekannya, diapun berhasil mengebut jarum-jarum itu

sehingga runtuh. Kembali wanita itu terkejut. Serangan

jarumnya dapat diruntuhkan dengan mudahnya oleh tiga

orang kakek itu!

“Mampuslah!” Ia menubruk ke kiri, menyerang Dewa

Rambut Putih dengan dahsyatnya, mulutnya mendesis dan

kedua tangan yang membentuk kepala ular itu kini terbuka

dan mencengkeram, seperti ular-ular yang menggigit,

sedangkan kuku-kuku jari tangannya berubah menghijau!

“Hemmm, sungguh ganas ……..!” Dewa Rambut Putih

melompat ke belakang menghindar, kemudian kipas di tangan

kirinya mengebut. Angin keras menyambar ke arah wanita itu

yang menjadi gelagapan dan terkejut karena ia mendapat

kenyataan betapa kakek rambut putih ini tidak kalah lihainya

dibandingkan kakek perut gendut.

“Wirrr ……….!” Tiba-tiba saja tangannya merenggut ke

kepalanya sendiri dan semua tusuk sanggul telah direnggut

dan dimasukkan saku, rambutnya yang panjang sampai ke

pinggul itu terlepas dan begitu ia menggerakkan kepala,

gumpalan rambut hitam yang harum dan panjang menyambar

ke arah Si Dewa Rambut Putih.

“Hebat …….!” Kembali Pek-mau-sian Thio Ki berseru dan

kebutan kipasnya ternyata tidak mampu menangkis rambut

yang terus meluncur ke arah lehernya! Terpaksa dia melempar

tubuh ke belakang, berjungkir balik lima kali baru berhasli

terhindar dari sergapan rambut panjang.

Wanita itu marah bukan main. Wajahnya yang cantik

berubah kemerahan, matanya mencorong, mulutnya

mendesis-desis dan dengan rambut riap-riapan, biarpun ia

masih amat cantik, namun ada sesuatu yang menyeramkan

karena ia seperti berubah menjadi iblis yang cantik, atau

siluman ular yang cantik namun berbahaya sekali.

Ia memang marah karena begitu tangan kanannya

bergerak, ia telah mencabut sebatang pedang dari balik

bajunya. Pedang itupun aneh gagang dan pedangnya menjadi

satu, gagangnya merupakan ekor ular yang melingkar tebal,

ujung pedangnya berbentuk kepala seekor ular yang

menjulurkan lidahnya. Lidah itu yang amat runcing, dan sisiksisik

ular itu tajam. Sebatang pedang mirip ular! Dengan

pedang aneh ini ia menyerang ke arah Kiam-sian!

Si Dewa Pedang tentu saja maklum akan kelihaian lawan.

Diapun sudah mencabut pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar

Matahari) dan menangkis sambaran pedang ular.

“Cringgg …….!!” nampak banyak bunga api berpijar dan

berhamburan. Keduanya terkejut dan memeriksa pedang

masing-masing. Kiranya kedua pedang itu sama kuatnya dan

tidak menjadi rusak.

Wanita itu menjadi semakin penasaran. Tadinya ia mengira

bahwa di dunia ini tidak ada atau jarang sekali terdapat orang

yang akan mampu menandinginya, maka dengan penuh

keyakinan diri ia memastikan bahwa Iblis Tangan Api pasti

akan tewas ditangannya, dan pusaka istana akan terjatuh ke

tangannya. Akan tetapi, siapa sangka, kini bertemu dengan

tiga orang pendeta ini, ia tidak mampu mengalahkan seorang

saja di antara mereka walaupun ia sudah mencoba menyerang

dengan ilmu pukulan beracun yang ampuh, jarum-jarum

beracun, rambutnya, dan bahkan pedangnya!

Ia lalu mengamuk dengan pedang dan rambutnya dan

sepak terjangnya memang menggiriskan sekali. Kalau bukan

Sam Sian yang diamuknya, tentu sudah jatuh korban di antara

mereka. Tiga orang pendeta itu membela diri dan sengaja

tidak mau merobohkan wanita itu, apa lagi membunuh atau

melukainya.

Sementara itu, ketika melihat betapa anak perempuan yang

nakal dan galak itu sudah berada di kereta, agaknya ketika

subonya muncul tadi, kesempatan itu dipergunakan oleh si

anak perempuan untuk menyusup ke atas kereta, cepat lari

menghampiri kereta.

“Engkau pencuri kecil! Engkau hendak mencuri apa lagi di

situ? Hayo cepat turun atau ……”

“Atau apa, hah?” Anak perempuan itu kini membuka tirai

dan berdiri di dalam kereta sambil bertolak pinggang dan

memandang galak, “Atau apa? Mau apa kamu kalau aku tidak

mau turun?”

Sin Wan memandang gemas. Sesabar-sabar orang tentu

ada batasnya. Anak ini keterlaluan sekali. Akan tetapi, Sin Wan

masih teringat bahwa dia adalah seorang anak laki-laki. Tidak

pantas seorang anak laki-laki menyerang dan memukul anak

perempuan. Bagaimana sikapnya andaikata anak itu adiknya

yang nakal?

“Akan kuseret kau turun dari kereta dan kupukul pinggulmu

lima kali biar kau tahu rasa!” Sin Wan mengancam,

menganggap anak perempuan itu adik sendiri yang perlu

dihajar. Hal ini menolong meredakan kemarahannya, karena

kalau dia tidak menganggap anak perempuan itu adik sendiri,

tentu akan timbul kemarahan yang melahirkan kebencian.

Akan tetapi jawaban itu bahkan membuat si anak

perempuan membelalakkan mata saking kaget dan marahnya,

“Apa …..? Kamu ….. kamu ……, kurang ajar, berani hendak

menyeretku dan memukuli pinggulku? Engkau agaknya sudah

bosan hidup, ya?” teriaknya dan iapun meloncat turun, bukan

sembarang meloncat, melainkan meloncat sambil menerkam

seperti seekor burung garuda yang menyerang seekor domba!

Sin Wan mengelak dan ketika tubuh anak itu lewat, dia

mencoba untuk menangkap lengan anak itu. Dia berhasil

menangkap lengan kiri anak itu dengan tangan kanannya dan

selagi dia hendak meringkusnya, tiba-tiba anak itu membalik

tangan kanan yang membentuk kepala ular meluncur ke arah

matanya dan lengan yang dipegangnya tadi, licin bagaikan

ular, sudah dapat melepaskan diri dan mencengkeram ke arah

lehernya! Sungguh merupakan serangan yang amat hebat,

biarpun dilakukan dua tangan anak perempuan!

“Ihh, kau ular kecil!” Sin Wan memaki sambil meloncat ke

belakang. Gerakan kedua lengan anak itu mengingatkan dia

akan gerakan ular.

Dimaki ular kecil, anak perempuan itu semakin marah.

“Kuhajar kau, kubunuh kau!”

Dan ia lalu mengamuk, menyerang bertubi-tubi dan saking

marahnya, serangannya banyak ngawur dan tidak menurut

gerakan silat lagi, melainkan gerakan seorang perempuan

yang marah, mencakar, mencengkeram, menampar dan

menjambak!

Menghadapi anak perempuan yang mengamuk itu, Sin Wan

menjadi kewalahan bahkan pipi kirinya sudah kena dicakar

kuku jari tangan anak itu sehingga lecet dan berdarah! Namun

akhirnya dia dapat menangkap kedua pergelangan tangan

anak itu. Anak itu meronta, kemudian menggigit lengan Sin

Wan.

“Aduh!” Sin Wan merenggut lengannya lepas dan kulit

lengannya juga lecet berdarah.

“Kau anak liar!” bentaknya dan berhasil menelikung kedua

lengan anak itu ke belakang. Ditariknya anak itu mendekati

kereta. Dia lalu duduk di anak tangga kereta dan memaksa

anak perempuan itu menelungkup melintang di atas pahanya,

kemudian, dengan tangan kanan memegang kedua

pergelangan tangan anak itu sehingga tidak mampu bergerak

lagi, dia menggunakan telapak tangan kirinya untuk

menampari pinggul yang menonjol ke atas itu.

“Engkau mencakar dan menggigit, hukumannya kutambah

menjadi sepuluh kali pukulan!” Dan tangan Sin Wan

menampari pinggul anak perempuan itu, berulang-ulang.

“Plak .. plak .. plak …….!”

Anak perempuan itu menjerit-jerit, bukan karena sakit pada

pantatnya, melainkan sakit pada hatinya. Ia merasa dihina

bukan main oleh anak laki-laki itu.

“Plak .. plak .. plak ……” Setelah sepuluh kali, baru Sin Wan

menghentikan tamparannya. Telapak tangannya terasa panas

setelah sepuluh kali menampar itu.

“Subo ….. tolong …..!” Anak perempuan itu menjerit-jerit

dan menangis!

“Hemm, engkau bersalah, pantas dihukum, kenapa

menangis?” Sin Wan melepaskan anak itu dan memandang

dengan hati mulai merasa kasihan. Bagaimanapun galaknya,

ia hanya seorang anak perempuan kecil.

Dia mulai merasa malu atas perbuatannya sendiri, akan

tetapi ketika melihat lengan dan pipinya berdarah,

penyesalannya menghilang dan dia bahkan merasa geli

melihat anak itu menggunakan kedua tangan mengusap-usap

pinggulnya yang ditampari tadi.

Anak perempuan itu menoleh kepada subonya untuk minta

bantuan. Akan tetapi, ia tertegun melihat subonya terlempar

dan jatuh terjengkang!

Wanita itu bangkit, maklum bahwa ia tidak akan menang

melawan mereka bertiga, lalu mengebut-ngebutkan

pakaiannya yang kotor, kedua tangan mulai menyanggul

rambutnya yang awut-awutan, tiada hentinya memandang

kepada tiga orang itu dan bertanya, “Siapakah kalian bertiga?”

Suaranya tetap merdu akan tetapi mengandung kemarahan

tertahan.

Dewa Arak mewakili rekan-rekannya berkata, “Hemmm,

kepandaianmu hebat sekali, nona, akan tetapi sayang, engkau

sungguh ganas dan kejam! Kami adalah tiga orang tua yang

tidak suka mencari permusuhan. Aku Si Tukang Mabuk, dia ini

Si Tukang Pedang dan yang itu Si Rambut Putih!” Mereka

bertiga tidak pernah menganggap diri mereka sebagai dewa

seperti yang dikatakan orang-orang kang-ouw untuk

menghormati mereka, walaupun kadang-kadang untuk

mengejek mereka saling menyebut dewa!

Wanita itu terbelalak. Kini ia telah selesai menyanggul

rambutnya, walaupun masih kasar dan kacau kusut. “Aih,

kiranya aku berhadapan dengan Huang-ho Sam Sian (Tiga

Dewa Sungai Kuning)? Baiklah Sam Sian, sekali ini aku

mengaku kalah. Akan tetapi akan tiba saatnya aku mencari

kalian untuk menebus kekalahan ini!”

“Hei, kamu! Siapa namamu agar kelak aku membalas

penghinaan ini!” anak perempuan itupun bertanya kepada Sin

Wan.

“Aku tidak punya nama,” jawab Sin Wan yang tidak ingin

anak itu mengingat namanya sebagai musuh dan kelak

mencarinya seperti yang dikatakan wanita itu terhadap ketiga

orang gurunya.

“Kau tidak bernama? Kau kerbau sapi kuda babi anjing

kucing ……! Yang mana di antara itu namamu?” Anak

perempuan yang galak itu memaki saking marahnya.

“Semua itu namaku,” jawab Sin Wan sambil tersenyum.

“Kau jahat …….!” anak perempuan itu mengepal tinju dan

hendak menyerang lagi.

“Li Li, mari kita pergi!” kata gurunya, dan wanita cantik itu

berkelebat, menyambar lengan muridnya dan iapun lari sepertl

terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

“Siancai ….. seorang gadis yang amat berbahaya!” kata

Pek-mau-sian Thio Ki.

“Benar, ilmu pedangnyapun hebat. Kelak ia pasti akan

merupakan lawan yang amat sukar dikalahkan,” sambung

Kiam-sian Louw Sun.

“Sayang, kita tidak tahu siapa wanita itu,” kata pula Ciusian

Tong Kui.

“Suhu, teecu tahu siapa namanya …..!” Sin Wan

menghampiri tiga orang gurunya, akan tetapi pada saat itu

terdengar suara ringkik kuda dan dua ekor kuda di depan

kereta itu roboh!

Tiga orang pendeta itu cepat meloncat ke dekat kereta,

untuk menjaga agar peti pusaka tidak diambii orang, dan

mereka masih melihat berkelebatnya bayangan wanita tadi

yang kini melarikan diri amat cepatnya.

Mereka memeriksa dan dua kuda itu sudah mati. Leher

mereka ditembusi pisau kecil yang beracun, tepat mengenai

jalan darah besar sehingga racun cepat membunuh dua ekor

binatang itu.

“Hemm, ia membunuh kuda kita,” kata Dewa Arak.

“Pinto tahu maksudnya. Tentu ia bermaksud agar

perjalanan kita ke kota raja membawa pusaka–pusaka itu

menjadi lambat,” sambung Dewa Pedang.

“Siancai ……!” Benar sekali. Ini berarti bahwa wanita ganas

itu masih ingin mencoba untuk merampas pusaka. Ia lihai,

kalau ia membawa teman–teman yang banyak, bisa

berbahaya. Kita harus mencari jalan agar dapat

menyelamatkan pusaka-pusaka ini. Kalau sampai terjatuh ke

tangan golongan sesat, akan sukarlah merampasnya kembali,”

kata Dewa Rambut Putih.

“Aku tahu jalannya!” Dewa Arak berseru sambil tersenyum

gembira. “Tidak jauh dari sini terdapat benteng pasukan

penjaga keamanan tapal batas. Kalau kita datang ke sana dan

memperlihatkan tek-pai (bambu tanda kuasa) tentu komandan

pasukan itu akan suka memberi pasukan untuk mengawal

keamanan pusaka untuk dikirim kembali ke kota raja.”

“Itu bagus sekali!” kata Kiam-sian, “Kalau begitu, mari kita

cepat bawa pusaka itu ke sana!”

Mereka lalu membuka peti pusaka, mengambil isinya dan

membagi belasan buah benda pusaka itu menjadi tiga bagian,

menyimpan dalam bungkusan masing-masing dan

menggendongnya di punggung.

“Kau tadi mengatakan bahwa engkau mengetahui nama

wanita itu. Siapakah namanya, Sin Wan?” tanya Dewa Rambut

Putih.

“Ketika ia memukul teecu, ia mengatakan bahwa ia tidak

membunuh teecu agar teecu dapat memberitahu Se Jit Kong

bahwa wanita itu yang bernama Bi-coa Sian-li akan

membunuh Se Jit Kong!”

“Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik)?” Dewa Arak berkata

sambil tertegun. “Belum pernah aku mendengar julukan itu.

Akan tetapi melihat kelihaiannya, mungkin sekali masih ada

hubungannya dengan See-thian Coa-ong (Raja Ular Daerah

Barat)!”

“Siancai ……” Dewa Pedang berseru. “Raja Ular itu

memang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan

tetapi dia bukanlah golongan sesat, bukan orang jahat

walaupun dia merupakan datuk yang memiliki watak luar

biasa.”

“Wanita tadipun belum tentu jahat walaupun ia ganas dan

kejam. Buktinya, ia mencari Se Jit Kong untuk dibunuhnya.

Siapa yang memusuhi Se Jit Kong, agaknya tidak dapat

digolongkan sesat.”

Tiga orang kakek itu lalu melakukan perjalanan cepat.

Bahkan Sin Wan digendong bergantian oleh mereka agar

perjalanan dapat dilakukan secepat mungkin. Hal ini dilakukan

agar mereka dapat segera tiba di benteng pasukan penjaga

keamanan, sebelum tiba serangan dari orang-orang yang

hendak merampas pusaka istana.

Perhitungan mereka memang tepat. Setelah dilakukan

perjalanan sehari penuh, pada sore harinya mereka tiba di

benteng itu. Dan komandan benteng menyambut mereka

dengan penuh kehormatan ketika tiga orang itu mem

perlihatkan tek-pai dan memberi keterangan bahwa mereka

adalah utusan kaisar untuk mencari dan merampas kembali

pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana.

Setelah bermalam satu malam di benteng itu, pada

keesokan harinya, mereka berangkat melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi sekali ini, perjalanan dilakukan dengan kereta dan

dikawal oleh seratus orang perajurit!

Tentu saja orang-orang golongan sesat yang tadinya

hendak menghadang dan merampas pusaka, menjadi mundur

teratur melihat pengawalan yang ketat itu. Menghadapi Sam

Sian saja adalah merupakan usaha yang berbahaya dan berat,

apa lagi ditambah pasukan seratus orang perajurit! Andaikata

mereka memberanikan diri menyerbu pasukan itu, mereka

akan dicap pemberontak dan selanjutnya kehidupan mereka

tidak akan aman lagi, menjadi orang-orang buruan atau

musuh pemerintah!

Tiga orang pertapa itu bersama Sin Wan merasa tenang

dan mereka dapat tiba di Nan-king, kota raja yang baru dari

Dinasti Beng-tiauw dengan selamat.

***

Pada waktu itu, yang menjadi kaisar dari Kerajaan Beng

adalah Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama atau pendiri dari

Dinasti Beng-tiauw. Pendiri Kerajaan Beng (Terang) ini berasal

dari keluarga petani. Dia dilahirkan dalam tahun 1328 di dusun

yang terletak antara Sungai Huai dan Sungai Kuning, di

daerah pertanian, dari keluarga petani biasa.

Ketika dia berusia enam tahun, di dusun tempat tinggalnya

berjangkit wabah yang membunuh banyak keluarga para

petani di dusun itu. Keluarga anak yang kini menjadi Kaisar

Thai-cu, dan yang dulu bernama Chu Goan Ciang ini pun

terbasmi habis. Ayah ibunya, saudara-saudaranya, mati semua

oleh wabah. Hanya tinggal Chu Goan Ciang seorang diri yang

tinggal. Dia menjadi seorang anak berusia enam tahun yang

yatim piatu dan hidup sebatang kara!

Riwayat kaisar pertama Dinasti Beng ini ketika masih

kecilnya memang amat menarik, hidupnya selain miskin juga

penuh dengan kesengsaraan! Setelah hidup seorang diri,

sebatang kara, dia lalu bekerja sebagai penggembala kerbau.

Kemudian dia bahkan mengikuti seorang hwesio tua ke kuil

dan menjadi seorang hwesio kecil berkepala gundul.

Bertahun-tahun dia mempelajari ilmu bun dan bu (sastera

dan silat) di kuil itu, berguru kepada para hwesio (pendeta

Buddha) sehingga dia menjadi pandai, bukan saja bertubuh

kuat dan pandai ilmu silat, bersemangat, juga pandai dalam

hal ilmu membaca dan menulis.

Namun, kehidupan sebagai pendeta di kuil tidak

memuaskan hatlnya. Dia meninggalkan kuil, hidup terluntalunta

dan dalam usia belasan tahun itu, dia bahkan pernah

mengikuti seorang pengemis sakti, hidup sebagai seorang

pengemis!

Akhirnya, karena kegagahan dan kepandaiannya, karena

bakatnya menjadi pemimpin, setelah bertualang di dunia

kang-ouw, dia berhasil diangkat menjadi seorang beng-cu

(pemimpin rakyat). Dia telah menjadi dewasa, berpengalaman

dan berpengetahuan luas, sudah lenyap sama sekali bekasbekas

kehidupan petani di pedesaan.

Dia memperkuat kedudukannya, memperkuat para

pengikut yang dihimpunnya menjadi pasukan, melatihnya dan

dalam usia duapuluh delapan tahun, dia sudah demikian

kuatnya dan memperoleh dukungan dari rakyat jelata, dari

golongan rendah sampai menengah, memberontak terhadap

kekuasaan Kerajaan Mongol yang telah menjajah Cina selama

hampir seratus tahun.

Dia memimpin pasukan rakyatnya menyerbu dan

menguasai Nan-king yang kemudian menjadi pusat

kekuasaannya, bahkan kemudian menjadi kotarajanya. Dan

dalam tahun 1368, dalam usia empatpuluh tahun, dia telah

berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Mongol di

daratan Cina. Dia lalu mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti

Beng dan dia menjadi kaisar pertamanya yang bernama Kaisar

Thai-cu.

Semenjak itu, Kaisar Thai-cu terus mengadakan

pembersihan, mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal

Su Ta, yaitu seorang panglima yang menjadi tangan

kanannya, jauh ke utara dan barat untuk mengejar sisa-sisa

pasukan Mongol dan bahkan membakar kotaraja Karakorum,

kota raja lama yang dulu menjadi pusat kekuasaan pendiri

Kerajaan Mongol, yaitu Jenghis Khan.

Jilid 4

KETIKA Sam Sian dan Sin Wan diperkenankan menghadap

kaisar untuk menyerahkan pusaka-pusaka yang berhasil

ditemukan kembali oleh Tiga Dewa itu, Kaisar Thai-cu telah

tujuh tahun menjadi kaisar (1375). Tentu saja Kaisar Thai-cu

gembira bukan main ketika menerima Sam Sian dan melihat

betapa semua pusaka yang dicuri maling itu telah dapat

ditemukan kembali. Kaisar yang sebelum menjadi kaisar sudah

banyak bertualangan di dunia kang-ouw ini tahu benar bahwa

mengandalkan pasukan saja, akan sulit untuk dapat

menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang. Oleh karena

itulah maka dia mengutus Sam Sian untuk mencari dan

membawa kembali pusaka-pusaka itu. Ular

Saking gembiranya Kaisar Thai-cu menawarkan kedudukan

kepada mereka bertiga. Ketika Sam Sian menolaknya dengan

halus, Kaisar Thai-cu yang sudah mengenal watak-watak para

tokoh dan datuk persilatan, tidak menjadi marah.

“Kalau begitu, kalian pilih sebuah di antara pusaka-pusaka

yang dapat ditemukan kembali ini. Pilihlah sebuah yang paling

disukai, dan kami hadiahkan pusaka itu kepada kalian.”

Karena seorang demi seorang yang ditawari, Dewa Arak

berkata, “Hamba tidak membutuhkan pusaka, karena

kesukaan hamba hanyalah minum arak.”

Kaisar Thai-cu tertawa dan dia lalu mengutus seorang

petugas untuk mengambilkan sebuah guci arak yang

merupakan benda pusaka pula karena guci itu terbuat dari

semacam batu kumala yang berkhasiat. Bukan saja arak yang

disimpan dalam guci itu akan menjadi semakin lezat, juga

kalau ada racun terkandung dalam minuman atau makanan,

begitu dimasukan ke dalam guci yang warnanya putih

kebiruan itu akan menjadi hitam! Tentu saja Dewa Arak

merasa gembira sekali menerima guci arak yang ada

gantungannya itu, apalagi guci itu diisi arak yang paling tua di

istana. Dia cepat menghaturkan terima kasih.

Ketika tiba giliran Dewa Rambut Putih, dia memberi

hormat, “Hamba juga tidak membutuhkan pusaka, karena

kesukaan hamba hanyalah membaca kitab dan meniup suling

membuat sajak.”

Kaisar Thai-cu mengangguk-angguk senang dan

memandang kagum. Lalu dia mengutus petugas lain untuk

mengambilkan sebuah kitab kumpulan huruf-huruf (semacam

kamus) dan sebuah suling yang terbuat dari perak dan

mempunyai suara yang amat nyaring dan merdu.

Mendapatkan hadiah yang baginya lebih bernilai dari pada

segala macam pusaka. Dewa Rambut Putih menghaturkan

terima kasih dengan hati gembira.

Tinggal Dewa Pedang yang ditawari memilih sebuah di

antara pusaka yang ditemukan kembali. Bagi seorang ahli

pedang seperti Kiam-sian, tentu saja ia mengincar pedang

yang dianggapnya paling hebat di antara pusaka-pusaka itu,

yaitu Gin-kong-kiam (Pedang Sinar Perak) yang pernah

dipergunakan mendiang Se Jit Kong melawan pedangnya,

yaitu Jit-kong-kiam dan ternyata pedang pusaka kerajaan itu

tidak kalah ampuhnya dibandingkan pedangnya sendiri.

Akan tetapi, dia teringat akan Sin Wan. Pernah Sin Wan

bercerita kepadanya tentang Pedang Tumpul, yaitu pedang

buruk yang pernah dilihat anak itu dan bahkan Se Jit Kong

pernah menceritakan riwayat pedang itu kepada Sin Wan. Sin

Wan mengatakan kepadanya bahwa anak itu amat suka

dengan Pedang Tumpul. Ketika ditanya mengapa menyukai

pedang tumpul yang tentu kurang bermanfaat sebagai

pedang, anak itu membantah.

“Suhu, teecu sudah bersumpah kepada ibu bahwa teecu

tidak akan menjadi jahat dan kejam seperti mendiang Se Jit

Kong. Bahkan teecu di depan makam ibu bersumpah tidak

akan melakukan pembunuhan. Pedang tumpul itu cocok sekali

untuk teecu. Karena tidak tajam, dan tidak runcing, maka

pedang itu tidak berbahaya bagi nyawa lawan, akan tetapi

cukup baik untuk dipakai membela diri. Apa lagi menurut

mendiang Se Jit Kong, pedang itu dahulunya bernama Pedang

Asmara yang sudah dirombak, pedang yang menjadi lambang

kasih sayang.”

Kini, ketika Kaisar Thai-cu menawarkan sebuah di antara

pusaka-pusaka itu untuk dipilihnya, diapun memberi hormat.

“Kalau paduka mengijinkan, hamba mohon diberi hadiah

Pedang Tumpul ini.” Dia menunjuk ke arah pedang di antara

tumpukan pusaka itu.

“Apa? Pedang yang buruk ini pilihanmu, totiang (bapak

pendeta)?” Kaisar bertanya sambil mengangkat pedang yang

amat buruk itu, kemudian menghunusnya. “Aih, pedang ini

bukan saja gagang dan sarungnya amat sederhana, akan

tetapi pedangnya sendiri tumpul dan buruk!”

“Ampun, Sribaginda. Keburukan melahirkan kebaikan, dan

kebaikan melahirkan keburukan, keduanya tak terpisahkan.

Akan tetapi hamba memilih yang buruk kulitnya akan tetapi

baik isinya, daripada yang baik kulitnya akan tetapi buruk

isinya.”

Kaisar Thai-cu tertawa senang. “Ha-ha-ha, totiang benar.

Pedang ini memang gagal pembuatannya sehingga nampak

buruk, akan tetapi kabarnya pedang ini terbuat dari pada batu

bintang hijau. Nah, terimalah, totiang, dan mudah-mudahan

bukan saja isinya yang baik, akan tetapi juga kegunaannya.”

Kiam-sian menerima pedang itu dengan gembira dan

menghaturkan terima kasih. Kemudian mereka mendapat ijin

untuk mengundurkan diri. Diam-diam Sin Wan yang diajak

guru-gurunya menghadap kaisar, kagum bukan main. Selama

hidupnya, belum pernah dia melihat gedung yang demikian

indah seperti istana itu, dan melihat perabot-perabot dan

barang–barang yang luar biasa sehingga dia merasa seperti

dalam mimpi saja.

Ketika Sam Sian dan Sin Wan keluar dari pintu gerbang

istana yang terakhir dan menghadap ke jalan umum, di luar

pintu gerbang itu terdapat seorang anak perempuan yang

ditemani seorang wanita setengah tua. Begitu melihat Sam

Sian, anak perempuan itu segera menjatuhkan diri berlutut di

atas tanah di tepi jalan.

“Sam-wi lo-cianpwe (tiga orang tua gagah), saya Lim Kui

Siang mohon agar diterima sebagai murid sam-wi.”

Tentu saja tiga orang kakek itu saling pandang dan merasa

heran. Mereka mengamati anak perempuan itu. Seorang anak

perempuan yang usianya sembilan atau sepuluh tahun,

wajahnya yang cantik manis dengan kulit putih mulus itu

nampak berduka, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang

anak bangsawan atau hartawan.

“Nona kecil, jangan begitu. Kami tidak menerima murid,

dan jangan berlutut di tepi jalan, nanti menjadi tontonan

orang.” kata Dewa Arak dan menghampiri anak itu hendak

mengangkatnya bangun.

“Sam-wi lo-cianpwe, sebelum sam-wi menerima saya

sebagai murid. Saya akan tetap berlutut di sini sampai mati!”

Tentu saja ucapan ini membuat tiga orang kakek itu

terkejut bukan main, akan tetapi mereka lalu tersenyum dan

di dalam hati mereka tidak percaya bahwa anak perempuan

yang jelas anak seorang bangsawan ini akan benar-benar

senekat itu.

“Nona, sudah kami katakan bahwa kami tidak menerima

murid. Bangkitlah dan pulanglah, nona,” kata pula Dewa Arak

dan kepada wanita setengah tua yang berpakaian pelayan itu

diapun berkata, “Ajaklah nonamu pulang. Tidak baik

membiarkan ia bersikap seperti ini di tempat umum.”

Akan tetapi wanita pelayan itu memberi hormat dan

berkata dengan suara sedih. “Sudah sejak di rumah tadi saya

mencoba untuk membujuk siocia (nona), bahkan pamanpaman

dan bibi-bibinya membujuk. Akan tetapi siocia berkeras

hati.”

“Kalau begitu, biarkan sajalah kalau ia ingin berlutut di sini

sampai mati,” kata pula Dewa Arak dan diapun memberi

isyarat kepada dua orang rekannya untuk meninggalkan pintu

gerbang itu, tidak mau menoleh lagi.

Sin Wan yang beberapa kali menoleh! Melihat betapa anak

itu masih tetap berlutut, tidak bergerak sama sekali, dia

merasa kasihan sekali.

“Kenapa suhu bertiga membiarkan ia berlutut di sana

terus? Bagaimana kalau ia benar-benar tidak mau bangkit lagi

dan akan berlutut terus di sana sampai mati seperti yang ia

katakan tadi?”

“Ha .. ha .. ha!” Dewa Arak berkata, “Ia anak bangsawan

yang tentu sejak kecil dimanja dan setiap keinginannya harus

dipenuhi. Ia hanya menggertak saja.”

“Siancai ….. pinto (aku) belum pernah mendengar, apalagi

melihat ada anak sekecil itu demikian teguh hati akan berlutut

terus sampai mati kalau tidak dipenuhi permintaannya,” kata

Kiam-sian si Dewa Pedang.

“Ia tentu dibuai khayal, mendengar bahwa kita telah

berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu, dan ia

bermimpi untuk kelak menjadi seorang pendekar wanita.

Seorang anak bangsawan yang biasa hidup mewah dan

senang, mana mungkin dapat menghadapi kehidupan sulit di

pertapaan?” kata pula Si Dewa Rambut Putih.

Akan tetapi Sin Wan tidak setuju dengan pendapat tiga

orang gurunya. Dia tadi melihat betapa anak perempuan itu

nampak bersedih dan sinar matanya seperti orang yang putus

harapan. Dalam keadaan seperti itu tidak akan aneh kalau

anak itu berlaku nekat dan benar-benar akan berlutut di sana

sampai mati!

“Suhu, hati teecu merasa tidak enak. Bagaimana kalau ia

benar-benar berlutut di sana sampai mati? Kalau hal itu

terjadi, apakah suhu bertiga tidak akan merasa berdosa dan

menyesal?”

Tiga orang kakek itu berhenti melangkah. Pintu gerbang

istana itu sudah tertinggal jauh dan tidak nampak lagi, akan

tetapi mereka menengok ke belakang seolah hendak melihat

apakah anak perempuan itu masih berlutut di sana.

“Hemmm, Sin Wan., Apakah engkau hendak mengatakan

bahwa kami harus menerima anak itu menjadi murid?” tanya

Dewa Pedang sambil menatap tajam wajah Sin Wan.

Wajah Sin Wan menjadi kemerahan dan dia menjawab,

“Tentu saja keputusan itu terserah kepada suhu bertiga.

Teecu hanya hendak mengatakan bahwa anak itu bersikap

seperti tadi tentu ada alasan dan sebabnya yang kuat.

Setidaknya, alangkah baiknya kalau suhu bertiga mengetahui

sebabnya, dan sebelum kita meninggalkannya, kita dapat

membujuk agar ia tidak bersikap nekat seperti itu.”

Tiga orang kakek itu saling pandang. Mereka bukanlah

orang-orang yang bersikap acuh dan kejam. Merekapun

tertarik melihat sikap anak perempuan itu, akan tetapi mereka

tadi bersikap seolah-olah mereka acuh justeru untuk menguji

dan mengetahui bagaimana Sin Wan menghadapi peristiwa

itu.

“Ha .. ha .. ha, kalau begitu, biar kita tunggu dan lihat

nanti. Kalau ia hanya berlutut selama semalam ini saja, kurasa

ia tidak akan mati karena itu. Besok pagi-pagi baru kita lihat

apakah ia masih berada di sana. Ha .. ha .. ha agaknya

memang sudah takdir bahwa kita harus tinggal semalam lagi

di kota raja.”

Mereka tidak mau bermalam di rumah penginapan. Berita

tentang mereka yang berhasil menemukan kembali pusaka

istana yang hilang tentu sudah tersiar dan kalau mereka

bermalam di tempat umum, tentu hanya akan menarik

perhatian orang.

Dewa Arak yang banyak pengalamannya di kota raja lalu

mengajak dua rekannya dan Sin Wan melewatkan malam itu

di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi, terletak di

daerah pinggiran yang terpencil. Kuil tua itu kini menjadi

tempat bermalam para pengemis dan mereka yang tidak

mempunyai rumah, atau pendatang dari luar kota raja yang

tidak mampu membayar sewa kamar yang mahal.

Malam itu Sin Wan gelisah tidak dapat pulas. Bukan karena

tempatnya yang buruk.

Semenjak mengikuti tiga orang gurunya, dia sudah terbiasa

hidup seadanya, tidur di mana saja, bahkan di tempat terbuka.

Bukan karena tempat itu yang membuat dia tidak dapat tidur,

melainkan dia selalu teringat kepada anak perempuan itu!

Akan tetapi, tiga orang gurunya tidur dengan nyenyaknya!

Dia tidak bermaksud melakukan sesuatu di luar tahu gurugurunya.

Akan tetapi mereka sudah pulas dan dia tidak ingin

mengganggu mereka. Maka, dengan hati-hati Sin Wan

meninggalkan ruangan di bagian belakang kuil itu, mengambil

jalan dari samping agar tidak mengganggu mereka yang tidur

di ruangan tengah dan depan, lalu meninggalkan kuil itu, pergi

menuju ke arah istana!

Begitu dia keluar, hujan turun rintik-rintik, akan tetapi Sin

Wan melanjutkan perjalanannya melalui pinggir rumah ke

rumah sehingga tidak basah kuyup pakaiannya. Akhirnya, dia

tiba di depan pintu gerbang istana yang menghadap jalan

raya.

Anak perempuan itu masih di sana! Jantungnya seperti

ditusuk karena haru dan iba. Anak perempuan itu masih

berlutut seperti tadi siang!

Pelayan wanita setengah tua tadipun masih di belakangnya,

kini memegang sebuah payung terbuka untuk memayungi

anak perempuan itu, melindunginya dari air hujan rintik-rintik.

Akan tetapi, anak perempuan itu tidak perduli, masih berlutut

pada hal air hujan telah menggenangi tempat ia berlutut

sehingga kaki dan pakaiannya menjadi basah dan kotor oleh

lumpur.

“Siocia marilah kita pulang dulu. Hari sudah malam, hujan

turun. Besok, boleh siocia lanjutkan lagi,” berulang kali

pelayan itu membujuk dengan suara hampir menangis.

Akan tetapi anak perempuan itu sama sekali tidak bergerak

atau menjawab.

Sebuah kereta berhenti di dekat tempat itu dan empat

orang turun dari kereta. Mereka adalah dua pasang suami

isteri yang berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun,

berpakaian seperti hartawan. Empat orang itu menghampiri si

gadis kecil dan merekapun membujuk-bujuk, mengajak anak

perempuan. itu pulang.

Akan tetapi anak itu tetap tak bergerak dan tidak

menjawab. Ketika dua orang pria yang menyebutkan diri

sendiri sebagai paman kepada anak perempuan itu hendak

memaksanya, menarik lengannya untuk dipaksa pulang,

pelayan wanita ini mencegah dengan suara memohon.

“Harap siocia jangan dipaksa. Tadi siocia mengatakan

kepada saya bahwa kalau ia dipaksa pulang, sampai di rumah

siocia akan, membunuh diri!”

Mendengar ucapan itu, dua orang pria itu terkejut dan

melepaskan tangan anak perempuan itu yang terus berlutut

dan menundukkan mukanya. Akhirnya, karena hujan turun

semakin deras, dua pasang suami isteri itu naik ke dalam

kereta dan kereta itupun meninggalkan tempat itu. Anak

perempuan itu masih, berlutut dan pembantunya masih berdiri

di belakangnya sambil memayunginya.

Sin Wan tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun

nekat menempuh hujan, menghampiri anak perempuan itu.

Dilihatnya anak itu masih berlutut seperti arca, sama sekali

tidak bergerak dan mukanya menunduk. Biarpun wanita itu

memayunginya, namun angin membuat air hujan menyiram

dari samping dan pakaian anak itu sudah basah kuyup,

demikian pula rambutnya dan air menetes-netes dari dagunya

yang hampir menempel dada.

“Nona, kenapa engkau berkeras hendak menjadi murid tiga

orang lo-cianpwe itu?”

Anak perempuan itu diam saja, mengangkat mukapun

tidak, apa lagi menjawab.

“Nona, tidak baik menyiksa diri seperti ini. Engkau bisa

masuk angin dan jatuh sakit. Kalau hanya ingin belajar ilmu

silat, bukankah di kota raja ini terdapat banyak guru silat?

Kenapa nona berkeras hendak belajar dari tiga orang locianpwe

itu?” Sin Wan kembali bertanya, suaranya lembut.

Namun yang ditanyanya tidak menjawab, bergerakpun tidak.

“Orang muda, harap jangan ganggu siocia. Siapapun yang

mengajaknya bicara, ia tidak akan mau menjawab, kecuali

kalau tiga orang kakek tadi yang datang bicara dengannya,”

kata pelayan yang memayungi.

Akhirnya Sin Wan meninggalkan anak itu, di dalam hatinya

mencela tiga orang gurunya yang dianggap kejam dan acuh

terhadap seorang anak yang mempunyai tekad sedemikian

hebatnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Sin Wan yang

sama sekali tidak tidur malam itu, sudah menyambut tiga

orang gurunya yang baru bangun dengan permintaan agar

mereka segera menengok anak perempuan yang berlutut di

depan pintu gerbang istana!

“Marilah, suhu. Kasihan anak perempuan yang berlutut

semalam suntuk di sana, pada hal semalam hujan turun …..”

Dewa Arak tertawa. “Ha .. ha .. ha. bagaimana engkau tahu

bahwa ia masih berada di sana, Sin Wan ? Siapa tahu

semalam ia sudah pulang dan tidur nyenyak di kamarnya yang

indah dan hangat.”

“Tidak suhu. Ia memang semalam suntuk berlutut di sana,

Maaf, semalam teecu menengok ke sana. Teecu tidak dapat

memberi tahu kepada suhu bertiga karena suhu sudah tidur

pulas. Teecu bahkan membujuknya agar ia menghentikan

kenekatannya, namun sia-sia. Ia tidak akan mau bangkit

sebelum suhu bertiga datang dan mengajaknya seperti yang

dikatakannya kemarin.”

Tentu saja tiga orang sakti sudah mengetahui akan semua

ini. Semalam mereka mempergunakan kepandaian mereka

untuk membayangi murid mereka, dan merekapun melihat

semuanya. Kalau kini mereka berpura-pura, hal itu mereka

lakukan untuk menguji sampai di mana kejujuran murid

mereka.

“Hemm, baiklah. Mari kita pergi ke sana,” kata Dewa

Rambut Putih dan Sin Wan ingin bersicepat, bahkan berjalan

paling dulu untuk segera tiba di pintu gerbang itu.

Benar saja. Anak perempuan itu masih berlutut di situ!

Pelayan wanita juga masih di sana, menangis! Dan mulailah

banyak orang datang merubung karena tentu saja amat

menarik melihat seorang anak perempuan bangsawan berlutut

di situ, apa lagi mendengar bahwa anak itu berlutut disitu

sejak kemarin siang, dan semalam bahkan berhujan-hujan di

situ!

Sam Sian menghampiri anak itu dan Dewa Arak menyentuh

kepala anak perempuan itu. “Hemm, engkau sungguh keras

hati, anak baik. Marilah kita bicara tentang dirimu sebelum

kami mengambil keputusan. Mari, bangkitlah!” Dewa Arak

memegang tangan anak itu dan menariknya berdiri.

Anak itu sudah lemas dan tentu akan roboh kalau

tangannya tidak digandeng Dewa Arak. Wajahnya yang manis

itu agak pucat, akan tetapi matanya bersinar cerah ketika ia

memandang kepada tiga orang kakek itu. Ia menurut saja

ketika dibimbing menuju ke sebuah rumah makan yang buka

pagi-pagi menjual sarapan bubur ayam dan teh panas.

Dewa Arak memesan bubur ayam untuk dia, Sin Wan, anak

perempuan itu dan pelayan wanita yang terus mengikuti

nonanya, sedangkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih

memesan bubur tanpa daging ayam.

“Makanlah dulu, baru kita bicara,” kata Dewa Arak kepada

anak perempuan itu yang tanpa membantah segera makan

bubur ayam. Sarapan hangat ini penting sekali bagi

kesehatannya, setelah ia berlutut sejak kemarin, semalam

berhujan-hujan di tempat terbuka, tidak makan tidak minum.

Setelah mereka makan, barulah Dewa Arak bertanya, “Nah,

sekarang katakan mengapa engkau bersikap seperti itu?

Siapakah engkau dan mengapa pula engkau ingin menjadi

mu-rid kami?”

Anak itu ingin menjawab, akan tetapi hanya bibirnva yang

bergerak gemetar dan iapun menundukkan mukanya,

menangis! Pelayannya yang duduk di sebelahnya merangkul

nonanya dan iapun mewakili nonanya menceritakan riwayat

anak itu.

“Siocia (nona) bernama Lim Kui Siang, berusia hampir

sepuluh tahun. Saya adalah pelayan dan pengasuhnya sejak ia

masih bayi. Siocia ini puteri dari keluarga Lim, bangsawan dan

pejabat tinggi yang tadinya menjabat sebagai pengurus

gudang pusaka istana.

Ketika terjadi pencurian pusaka-pusaka itu, Lim-taijin

(pembesar Lim) tewas pula dibunuh pencuri. Ibunya, yang

sedang menderita sakit, terkejut mendengar akan tewasnya

suaminya, apalagi keluarga Lim harus bertanggung jawab

mengenai kehilangan itu. Maka, kedukaan akhirnya membuat

ibu siocia ini meninggal pula.”

“Hemm ……, apa hubungannya semua itu dengan

kenekatannya untuk menjadi murid kami?” Dewa Arak

bertanya.

“Saya tidak tahu …… nona, ceritakanlah sendiri mengapa

nona bersikeras untuk belajar ilmu dari mereka …….”

Arak perempuan itu, Lim Kui Siang, sudah dapat menguasai

kesedihannya dan iapun mengangkat muka memandang

kepada tiga orang pendeta itu. Wajahnya tidak begitu pucat

lagi dan sinar matanya penuh harapan.

“Saya telah menjadi yatim piatu. Kedua orang paman saya,

adik dari ibu saya, bersikap baik, akan tetapi saya tahu bahwa

mereka itu berbaik kepada saya karena menghendaki harta

warisan orang tua saya. Saya muak dengan kepalsuan mereka

semua itu. Kematian ayah dan ibu membuat saya kehilangan

sagala-galanya. Saya mendendam kepada pembunuh ayah

yang menjadi pembunuh ibuku pula. Saya mendengar bahwa

Sam-wi lo-cianpwe telah berhasil menemukan kembali pusakapusaka

itu. Ini berarti bahwa sam-wi lebih pandai dari pada

pencuri itu. Maka saya bertekad untuk berguru kepada samwi!”

katanya dengan suara mantap dan tegas.

“Ho .. ho .. ha .. ha .. ha !” Dewa Arak tertawa. “Kalau

engkau ingin bersusah payah mempelajari ilmu untuk

membalas dendam, jerih-payahmu itu akan sia-sia belaka,

nona. Ketahuilah bahwa orang yang kau musuhi itu, pencuri

yang membunuh ayahmu itu, dia telah mati!”

Akan tetapi anak perempuan itu tidak kelihatan kaget.

“Biarpun dia telah mati, saya tetap ingin mempelajari ilmu dari

sam-wi lo-cianpwe,” katanya tegas.

“Ehh? Untuk apa seorang anak perempuan bangsawan

seperti engkau mempelajari ilmu silat, sedangkan orang yang

kau musuhi itu sudah tidak ada?” tanya Dewa Arak, tertarik

oleh kekerasan dan kesungguhan hati anak itu.

“Ayahku tewas karena dia tidak pandai ilmu silat, ibuku

juga meninggal dunia karena tubuhnya lemah. Saya ingin

menjadi orang yang pandai silat sehingga saya dapat

membela diri, melindungi orang-orang yang tidak bersalah,

menentang penjahat-penjahat keji, dan saya ingin mempunyai

tubuh kuat tidak seperti ibu. Nah, saya mohon sam-wi sudi

menerima saya sebagai murid.”

Dan kembali anak perempuan itu menjatuhkan diri berlutut.

“Sekali ini saya tidak akan nekat berlutut seperti kemarin,

akan tetapi kalau sam-wi menolak, selamanya saya akan

menganggap sam-wi tidak mempunyai belas kasihan kepada

seorang anak yatim piatu seperti saya.”

Tiga orang kakek itu saling pandang. Anak ini memang lain

dari pada yang lain. Kecuali keras hati dan bersemangat, juga

pandai bicara!

“Siancai …..! Kami suka saja menjadi gurumu, akan tetapi

bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan rumah

peninggalan orang tuamu? Tentu banyak sekali harta

peninggalan orang tuamu. Kalau kau tinggalkan, bagaimana

dengan semua warisan itu?”

“Saya tidak perduli! Paman-paman saya dan keluarga

mereka sudah selalu mengincar harta itu. Biarlah mereka bagibagi.

Saya tidak butuh harta, saya butuh ilmu dari sam-wi

suhu (guru bertiga)!”

“Ha .. ha .. ha, sungguh aneh mendengar ucapan itu keluar

dari mulutmu, nona kecil. Kalau bagi kami bertiga, memang

kami tidak membutuhkan harta karena kami suka hidup di

tempat sunyi, tldak membutuhkan apa-apa lagi. Akan tetapi,

engkau adalah seorang anak perempuan, puteri seorang

bangsawan. Kelak engkau akan membutuhkan untuk

keperluan hidupmu. Kebetulan aku mempunyai seorang

kenalan di kota raja, yaitu Ciang-ciangkun. Biar kutitipkan

semua harta peninggalan orang; tuamu itu kepadanya untuk

dilindungi, agar kelak engkau dapat menerimanya kembali

darinya.”

Anak perempuan itu memandang kepada tiga orang kakek

itu dengan wajah berseri. “Ini berarti bahwa sam-wi suhu

menerima saya sebagai murid!”

Tiga orang itu saling pandang dan tersenyum, lalu

mengangguk. Jarang ditemukan seorang anak perempuan

seperti itu. Mereka sudah mengambil Sin Wan sebagai murid,

tidak apa ditambah seorang murid perempuan lagi.

“Suhu …….!” Anak perempuan itu lalu memberi hormat

kepada mereka bertiga secara bergantian. Lalu ia bangkit dan

merangkul wanita setengah tua yang menjadi pengasuhnya

sejak ia masih kecil.

“Kiu-ma, engkau sudah mendengar sendiri. Aku diterima

menjadi murid ketiga orang suhu ini dan aku akan pergi

mengikuti mereka. Kiu-ma, engkau pulanglah dan kalau

engkau masih suka, tinggallah di rumah keluargaku. Kalau

tidak, engkau boleh pulang ke dusun dan semua yang

kuberikan kepadamu itu dapat kaubawa pulang.”

“Siocia …..ah, siocia ……!” Wanita itu merangkul dan

menangis sedih.

“Sudahlah Kiu-ma. Peristiwa ini amat membahagiakan

hatiku, kenapa engkau sambut dengan tangis? Jangan

mendatangkan kesedihan bagiku, Kiu-ma. Kalau aku sudah

selesai belajar ilmu kelak, tentu kau akan kucari dan kita akan

dapat bertemu kembali.”

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya pelayan yang setia ini

meninggalkan nonanya dan menyerahkan buntalan pakaian

yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu oleh Kui Siang.

Anak perempuan ini memang sudah mengambil keputusan

tetap, maka ketika meninggalkan rumah untuk menghadang

tiga orang kakek itu di depan pintu gerbang, ia telah

membawa bekal, bahkan sudah meninggalkan banyak emas

kepada Kiu-ma, pelayannya yang setia.

Pada keesokan harinya, Dewa Arak mengajak Kui Siang

pergi ke gedung Ciang-ciangkun (perwira Ciang), seorang

komandan pasukan yang terkenal gagah perkasa. Perwira ini

pernah ketika terjadi perang menumbangkan kekuasaan

Mongol, dan dia sedang memimpin pasukannya, dia terjepit

dan terkepung musuh. Dia dengan belasan orang

pengawalnya saja dikepung ratusan orang perajurit Mongol

dan kalau tidak muncul Dewa Arak yang menyelamatkannya,

sukarlah bagi perwira itu untuk menghindarkan diri dari

kematian. Inilah sebabnya mengapa Dewa Arak mengenal

perwira Ciang itu.

Kunjungannya pada pagi hari itu diterima oleh Ciangciangkun

yang kini berusia empatpuluh tahun itu dengan

penuh kehormatan dan kegembiraan. Biarpun kini dia sudah

memperoleh kedudukan tinggi, panglima ini tidak melupakan

orang yang pernah merenggutnya dari cengkeraman maut.

Ketika Dewa Arak menerangkan bahwa Lim Kui Siang,

puteri dari mendiang bangsawan Lim akan ikut dengan dia

menjadi muridnya, dan bahwa Dewa Arak menitipkan harta

kekayaan anak itu sebagai peninggalan orang tuanya dalam

pengawasan Ciang-ciangkun, perwira itu menerimanya dengan

penuh kesungguhan hati.

“Jangan khawatir, totiang. Saya mengenal baik mendiang

Lim-taijin, seorang pembesar yang baik dan jujur. Memang

amat malang nasibnya, akan tetapi sungguh beruntung

puterinya dapat menjadi murid totiang. Saya akan menjaga

semua harta milik nona Lim Kui Siang dan kelak, kalau ia

sudah kembali ke sini tentu akan saya serahkan semua hak

miliknya kepadanya.”

Anak perempuan itu lalu disuruh membuat pernyataan

tertulis mengangkat perwira Ciang menjadi kuasanya untuk

mengurus dan menguasai seluruh harta peninggalan orang

tuanya Setelah itu, Dewa Arak mengajak muridnya

meninggalkan perwira Ciang dan mereka bergabung dengan

Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, bersama Sin Wan

meninggalkan kota raja.

Ketika Kui Siang dan Sin Wan saling bertemu dan saling

pandang, Sin Wan tersenyum dan berkata, “Sumoi, aku girang

sekali kita dapat menjadi saudara seperguruan.”

“Aku juga girang sekali, suheng.”

Hanya itulah ucapan mereka karena mereka belum saling

mengenal. Kelak kalau mereka sudah akrab, keduanya

semakin merasa suka karena memiliki nasib yang sama, yaitu

keduanya sudah yatim piatu. Akan tetapi ketika menceritakan

riwayatnya kepada sumoi (adik seperguruan) itu, Sin Wan

tidak pernah menyinggung tentang Se Jit Kong, hanya

menceritakan bahwa ayahnya bernama Abdullah dan ibunya

Jubaedah, keduanya Bangsa Uigur dan sudah meninggal

dunia.

Sam Sian atau Tiga Dewa membawa dua orang murid

mereka ke sebuah puncak yang diberi nama Pek-ln-kok

(Lembah Awan Putih), satu di antara lembah Pegunungan Holan-

san yang terletak di pantai barat Sungai Kuning. Pek-inkok

inilah yang menjadi tempat Sam Sian mengasingkan diri

selama ini.

Lembah yang berada dekat puncak ini berhawa sejuk dan

bertanah subur. Akan tetapi untuk mencapai tempat itu

merupakan hal yang amat sulit karena melalui dinding karang

yang terjal dan sulit didaki orang biasa. Ini sebabnya maka

tempat itu tidak pernah dikunjungi orang luar dan menjadi

tempat pertapaan yang benar-benar amat tenang dan

tenteram.

Di sebeIah timur kaki Pegunungan Ho-lan-san terdapat

sebuah kota di tepi Sungai Kuning. Kota ini cukup besar dan

ramai, yaitu kota Yin-coan dan sedikitnya sebulan sekali, Sin

Wan dan Kui Siang mendapat kesempatan turun gunung dan

berkunjung ke kota ini untuk membeli keperluan untuk mereka

berlima. Selain itu, mereka tidak pernah berhubungan dengan

orang luar dan setiap hari, kedua orang anak itu menerima

gemblengan ilmu-ilmu silat yang tinggi dari tiga orang guru

mereka.

***

Waktu merupakan suatu kenyataan yang amat aneh.

Segala sesuatu di dalam kehidupan manusia di dunia ini,

akhirnya menyerah kepada sang waktu kesemuanya, satu

demi satu akan menyerah untuk ditelan habis oleh Sang

Waktu! Waktu merupakan bukti akan kekuasaan Tuhan,

merupakan bahwa segala sesuatu di permukaan bumi ini tidak

abadi adanya. Hanya Tuhan yang abadi, tanpa awal tanpa

akhir. Segala sesuatu akan berubah menjadi permainan sang

waktu.

Apabila tidak diperhatikan, sang waktu melesat cepat

melebihi cahaya, melebihi kecepatan apapun juga sehingga

seorang kakek yang mengenang masa kanak-kanaknya akan

merasa betapa sang waktu lewat sedemikian cepatnya

sehingga puluhan tahun bagaikan baru kemarin dulu saja!

Sebaliknya, kalau orang menanti sesuatu dan memperhatikan

sang waktu akan merangkak atau merayap seperti seekor

siput.

Waktu juga mempermainkan pikiran dengan pembagiannya

sebagai kemarin, hari ini dan esok atau masa lalu, saat ini dan

masa depan. Pikiran yang mengenang masa lalu hanya

mendatangkan dendam, duka den penyesalan. Sedangkan

pikiran yang membayangkan masa depan hanya

mendatangkan rasa malu, rasa takut dan khayalan muluk.

Masa lalu sudah lewat, hanya kenangan, masa depan belum

ada, hanya khayalan. Menghadapi saat ini, detik demi detik,

berarti menghadapi kenyataan dan itulah hidup.

Hidup merupakan tantangan setiap saat yang harus kita

hadapi, yang hanya kita tanggulangi. Bagi yang hidup, dari

saat ke saat bebas dari masa lalu dan masa depan. Saat ini

adalah pelaksanaan hidup, saat ini adalah cara hidup, jalan

hidup, sedangkan besok hanyalah ambisi, khayalan. Yang lalu

sudah mati, yang kelak belum datang. Sekarang benar,

nantipun benar. Benar dan tidak terletak pada saat sekarang

ini!

Tuhan sudah menciptakan kita dalam keadaan sempurna,

serba lengkap dengan perabot dan alat yang dapat kita

pergunakan untuk menghadapi dan menanggulangi hidup,

lengkap dengan jasmani yang serba lengkap, panca indera,

hati dan akal budi. Semua itu masih ditambah lagi dengan

kekuasaan Tuhan yang meliputi diri kita luar dan dalam,

kekuasaan Tuhan yang melindungi, membimbing, asal kita

mendasari semua ikhtiar dengan penyerahan kepada Tuhan

Maha Kasih dengan sabar, tawakal dan ikhlas! Semua

kehendak Tuhan jadilah!

Tanpa terasa lagi sepuluh tahun telah lewat sejak

terjadinya peristiwa-peristiwa yang telah diceritakan di bagian

depan. Pagi itu udara amat cerah di Pek-in-kok (Lembah Awan

Putih) biarpun sinar matahari pagi masih terlampau lunak

untuk dapat mengusir hawa yang dingin sejuk dan terasa

menusuk tulang bagi mereka yang tidak biasa tinggal di

tempat yang berhawa dingin.

Sudah sejak subuh tadi Sin Wan dan Kui Siang

meninggalkan lembah dan pergi ke kota Yin-coan. Tahun baru

tinggal sebulan lagi dan tiga orang guru mereka menyuruh

mereka pergi ke Yin-coan untuk membeli pakaian baru untuk

kedua orang murid itu.

“Akan tetapi, suhu. Untuk apa teecu berdua harus membeli

pakaian baru?” tanya Sin Wan yang kini telah menjadi seorang

pemuda berusia duapuluh tahun.

Pemuda ini bertubuh tegap dan sedang, dengan dada lebar

dan kaki tangan kokoh kuat. Dahinya lebar, rambutnya hitam

panjang digelung ke atas, alisnya tebal berbentuk golok

melindungi sepasang mata yang besar dan bersinar cerah.

Hidungnya mancung agak besar, dan mulutnya

membayangkan keramahan dengan dagu yang berlekuk

membayangkan keteguhan hati. Seorang pemuda yang gagah

dan ganteng, dengan kulit yang agak gelap.

“Teecu juga heran. Kenapa teecu berdua diharuskan

berbelanja pakaian baru? Pakaian teecu masih baik dan masih

cukup banyak.” Kui Siang juga membantah.

Dewa Arak yang mewakili dua orang rekannya menyuruh

dua orang murid itu, tersenyum. Tiga orang pertapa yang di

juluki Sam Sian (Tiga Dewa) itu kini telah tua. Usia mereka

sudah enampuluh tahun lebih, akan tetapi mereka masih

nampak sehat dan kuat. Terutama sekali Ciu-sian Tong Kui.

Dewa Arak yang memiliki pembawaan gembira ini nampak

lebih muda dari dua orang rekannya. Usianya yang enampuluh

dua tidak meninggalkan bekas. Nampaknya dia belum ada

limapuluh tahun!

“Sin Wan dan Kui Siang, kalian adalah orang-orang muda.

Kalian sudah sepatutnya hidup penuh gairah, mengenakan

pakaian yang bersih dan rapi. Menjelang tahun baru ini, kalian

harus mempunyai pakaian baru untuk dipakai pada hari-hari

tahun baru!”

“Tapi, suhu. Teecu sudah sepuluh tahun berada di sini dan

teecu tidak pernah mengikuti tahun baru seperti para

penduduk di bawah lembah,” bantah Sin Wan.

“Dan pula, untuk apa teecu mengenakan pakaian baru di

hari tahun baru? Hendak dipamerkan kepada siapa? Teecu

tidak saling berkunjung dengan keluarga,” bantah pula Kui

Siang.

“Siancai, murid-muridku yang baik,” kata Dewa Pedang.

Kiam-sian Louw Sun ini termasuk orang yang berpakaian

paling bersih di antara Tiga Dewa itu. “Mengenakan pakaian

baru di hari tahun baru bukan sekedar untuk berpamer,

melainkan mempunyai arti yang mendalam. Tahun baru

mengingatkan kita bahwa usia kita bertambah setahun lagi.

Kita wajib mawas diri, menyadari semua kesalahan di tahun

yang lewat, mengubur semua kenangan masa lalu sehingga

tidak ada tertinggal dendam di hati. Hati harus bersih, seolah

tahun baru membawa pula kehidupan baru yang ditandai

dengan pakaian baru. Jadi, pakaian baru melambangkan hati

yang baru, cara hidup yang baru, yang bersih seperti juga

pakaian yang baru. Bersih itu pangkal sehat, bukan? Nah,

siapa bilang mengenakan pakaian baru di hari tahun baru

hanya untuk pamer belaka?”

Karena alasan yang dernikian kuat, dua orang murid itu

tidak mampu membantah lagi. Pula, di sudut paling dalam di

hati mereka, harus mereka akui bahwa pakaian baru juga

menarik dan menyenangkan hati mereka. Hal itu menandakan

bahwa memang ada gairah dalam hati dua orang muda ini, hal

yang wajar bagi orang muda.

Ketika Sin Wan dan Kui Siang pertama kali naik ke Pek-inkok,

mereka baru baru usia kurang lebih sepuluh tahun. Kini

mereka telah dewasa. Sin Wan telah menjadi seorang pemuda

dewasa yang gagah dan ganteng, sedangkan Kui Siang juga

telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis.

Tubuhnya sedang dan langsing berisi mengarah montok,

kulitnya putih mulus.

Wajahnya bulat telur dengan dagu runcing dan di dagu

kanan terhias tahi lalat hitam kecil. Matanya lembut akan

tetapi kadang sinarnya mencorong. Bibirnya merah segar.

Mata dan mulutnya merupakan daya tarik terbesar pada diri

gadis ini. Sikapnya halus dan anggun dan pembawaan ini

mungkin karena ia adalah puteri bangsawan yang ketika

kecilnya terbiasa melihat sikap yang demikian.

Pada waktu dua orang muda kakak beradik seperguruan itu

menuruni lembah di bagian timur, di luar tahu mereka tentu

saja, dari barat terdapat dua orang yang mendaki lembah

bukit itu dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali. Mereka

itu adalah seorang wanita cantik berpakaian mewah yang

kelihatan baru berusia tigapuluhan tahun, dan seorang gadis

berusia sembilan belas tahun yang lebih cantik lagi. Wanita itu

bukan lain adalah Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In.

sedangkan gadis manis itu adalah muridnya yang bernama

Tang Bwe Li dan yang biasa dipanggil Lili oleh gurunya.

***

Seperti telah diceritakan di bagian depan, guru dan murid

yang keduanya galak ini pernah mencoba untuk merampas

pusaka-pusaka istana yang dibawa oleh Sam Sian, namun

Dewi Ular Cantik itu tidak mampu mengalahkan Sam Sian.

Terpaksa ia mengajak muridnya pergi dengan marah dan

hatinya penuh dendam kepada Sam Sian yang telah

mengalahkannya.

Apalagi ketika ia mendengar bahwa pusaka-pusaka itu oleh

Sam Sian telah dikembalikan kepada kaisar. Ia segera

mengajak muridnya pergi ke barat untuk mengunjungi

ayahnya, yaitu seorang datuk besar bernama Cu Kiat dan

berjuluk See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat). Datuk

besar ini tinggal di puncak Bukit Ular di Pegunungan Himalaya

ujung timur dan sudah belasan tahun dia tidak lagi terjun ke

dunia ramai.

Namun nama besar See-thian Coa-ong pernah

menggemparkan dunia persilatan karena wataknya yang aneh

dan ilmunya yang tinggi. Dia seorang datuk aneh, tidak

condong kepada golongan sesat, tidak pula condong kepada

para pendekar. Dia berdiri di tengah-tengah dan menentang

siapa saja yang tidak cocok dengan seleranya.

Kepada ayahnya yang juga menjadi gurunya, Bi-coa Sian-li

Cu Sui In mengadukan kekalahannya terhadap Sam Sian dan

ia ingin memperdalam ilmunya agar dapat menebus

kekalahannya itu.

Kakek yang tinggi kurus itu mengelus jenggotnya dan

mulutnya yang biasanya selalu dibayangi senyum mengejek

itu kini tertawa. Matanya yang sipit dengan lindungan alis

hitam tebal itu semakin sipit ketika dia tertawa, matanya yang

tajam bersinar-sinar gembira.

“Ha .. ha .. ha, engkau dikalahkan Sam Sian bertiga? Ha ..

ha .. ha, Sui In, engkau tidak perlu penasaran. Ayahmu

sendiripun tidak akan menang kalau maju sendiri menghadapi

pengeroyokan mereka bertiga. Mereka itu masing-masing

memiliki ilmu yang khas dan lihai sekali. Pusaka-pusaka itu

telah dikembalikan kepada kaisar. Sudahlah, tak perlu dibuat

kecewa.”

“Tapi, ayah. Aku merasa terhina sekali. Aku harus

membalas kekalahan itu, dan aku ingin memperdalam ilmuku.

Karena itulah aku datang menghadap ayah!” kata wanita

cantik itu dengan tegas.

“Teecu juga harus membalas penghinaan yang teecu alami

dari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing anak setan sialan itu!”

kata pula Tang Bwe Li atau Lili, tak kalah marah dan galaknya

dibanding gurunya. Datuk yang usianya sekitar limapuluh lima

tahun itu memandang kepada Lili dengan mata terbelalak,

kemudian mengerutkan alisnya dan bertanya.

“Siapakah bocah ini?”

“Ia muridku bernama Tang Bwe Li, ayah.”

“Sukong (kakek guru), aku Lili menghaturkan hormat

kepada sukong!” kata Bwe Li atau Lili sambil menjatuhkan diri

berlutut di depan ayah dari subonya itu.

“Hemm, Sui In! Kalau engkau akan mengambil murid,

kenapa tidak memilih seorang murid laki-laki? Anak

perempuan seperti ini, mana mampu mewarisi ilmu kita yang

tinggi?” tegur kakek itu sambil memandang kepada Lili dengan

alis berkerut dan mulut mengejek.

Sebelum Dewi Ular Cantik menjawab, Lili sudah

mengangkat muka memandang kepada kakek itu dengan

mata bersinar penuh kemarahan, kemudian terdengar

jawabannya lantang. “Kenapa sukong berkata begitu?

Lupakah sukong bahwa subo, puteri sukong, juga seorang

wanita? Apakah sukong hendak mengatakan bahwa subo juga

tidak mampu mewarisi ilmu dari sukong?”

Cu Sui In tenang saja mendengar bantahan muridnya

kepada ayahnya itu. Ia sudah mengenal benar watak

muridnya. Justeru watak yang keras, berani dan jujur itulah

yang membuat ia suka sekali kepada Lili. Akan tetapi tidak

demikian dengan datuk besar See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Kakek ini terbelalak, mulutnya masih tersenyum mengejek,

akan tetapi sinar matanya membayangkan perasaan kaget,

penasaran dan juga kagum.

“Hemm, hendak kulihat apakah engkau benar bernyali

naga, ataukah hanya berlagak saja!” katanya dan dari

mulutnya keluar suara mendesis, tak lama kemudian,

terdengar suara desis yang sama dari dalam rumah dan

muncullah seekor ular yang besar sekali. Ular itu panjangnya

ada lima meter, besarnya sepaha orang dewasa. Ular itu

keluar sambil mendesis-desis. See-thian Coa-ong si Raja Ular

itu terus mengeluarkan desis yang makin meninggi seperti

bersiul dan tiba-tiba ular itu lalu bergerak maju menyerang

Lili!

Anak perempuan berusia sembilan tahun itu tidak nampak

terkejut ataupun takut. Ia sudah meloncat berdiri dan begitu

ular menyerangnya, ia sudah melompat ke samping dan ketika

kepala ular meluncur lewat, ia menggerakkan kaki menendang

ke arah kepala ular dari samping belakang.

“Plakkl” Kepala ular kena ditendang, akan tetapi kepala ular

itu keras sekali sehingga Lili merasa kaki di dalam sepatunya

nyeri.

Ular itu terkejut, membalik dan dengan moncongnya yang

dibuka lebar dia menerjang lagi. Dengan gesit, Lili meloncat

lari ke samping. Akan tetapi la tidak sempat menendang lagi

karena kepala ular itu sudah membalik dan melanjutkan

serangannya yang bertubi-tubi. Bukan hanya kepalanya saja

yang menyerang, juga ular itu menggerakkan ekornya untuk

menyambar kaki anak perempuan itu. Lili terpaksa harus

meloncat ke sana sini dan ia menjadi marah sekali.

“Ular keparat, kaukira aku takut padamu?” bentaknya dan

ketika ular itu menyerang lagi dengan moncongnya. ia

mengelak ke kiri, kemudian ia meloncat dan menerkam leher

ular itu dari belakang, mencengkeram leher itu dengan kedua

tangannya! Gerakan ini selain tangkas, juga berani sekali. Hal

ini tidak begitu mengherankan. Lili adalah murid Dewi Ular

Cantik, seorang yang biasa bermain dengan ular.

Sejak kecil Lili sudah dibiasakan oleh gurunya untuk

bermain dengan ular yang menjadi dasar dari ilmu-ilmunya,

maka Lili tidak pernah takut berhadapan dengan ular. Hanya

belum pernah berkelahi dengan ular sebesar itu!

Biarpun dua buah tangan itu kecil saja, dengan jarl-jari

yang mungil dan tidak panjang, namun cekikan kedua tangan

pada leher ular itu cukup kuat. Ular itu meronta-ronta hendak

melepaskan leher yang dicekik. Demikian kuat ular itu meronta

sehingga tubuh Lili terbawa dan terbanting, terguncang ke

kanan-kiri.

Namun, bagaikan seekor lintah, anak perempuan itu tak

pernah mau mengendurkan, apa lagi melepaskan cekikannya.

Ular itu kini menggerakkan ekornya dan tubuh ular yang

panjang besar dan licin dingin itu membelit-belit tubuh Lili!

Lilitan ular itu kuat sekali.

Seorang laki-laki dewasapun takkan dapat tahan kalau dililit

ular itu, akan patah-patah dan remuk tulang-tulangnya. Akan

tetapi, desis yang keluar dari mulut Raja Ular merupakan

isyarat atau perintah yang amat dipatuhi ular besar itu.

Lilitannya bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat

anak perempuan itu tidak mampu bergerak. Seluruh tubuh

anak itu dililit ular, kedua kaki dan kedua lengannya pula.

Akan tetapi, kedua tangannya masih tetap mencekik leher

ular, walaupun tenaganya banyak berkurang karena kedua

lengannya dililit ular. Lili tidak mampu bergerak lagi.

“Subo!” ia memandang subonya, akan tetapi wanita cantik

itu acuh saja seolah muridnya tidak terancam bahaya. Lili

hanya satu kali memanggil, tanpa berkata minta tolong.

“Ha .. ha .. ha, anak bandel! Menangislah, minta ampunlah,

dan ular ini tentu akan melepaskanmu,” kata See-thian Coaong

Cu Kiat penuh kemenangan.

Akan tetapi, biarpun lilitan ular itu semakin kuat dan

membuat dadanya terasa sesak, Lili bertahan dan memandang

kepada kakek gurunya dengan mata bersinar-sinar. “Sukong,

subo tidak pernah mengajarkan aku untuk merengek dan

menangis dengan cengeng! Aku tidak bersalah apa-apa, aku

tidak akan menangis, tidak akan minta ampun!”

“Hemm, kalau begitu, ularku akan membunuhmu!”

“Aku tidak percaya. Subo akan melarangnya, dan sukong

juga tidak mungkin membunuh cucu murid sendiri. Andaikata

dibunuh juga, aku tidak takut!”

Kembali kakek itu mengeluarkan suara mendesis dan lilitan

ular itu semakin kuat.

Lili sudah tidak mampu menggerakkan kaki tangan. Akan

tetapi ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih dapat

menggerakkan lehernya. Melihat betapa dadanya semakin

sesak, ia lalu menunduk dan membuka mulutnya, dan

menggigit leher ular yang berada di dagunya, menggigit

dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Giginya yang kuat

itu menembus kulit ular dan lidahnya segera merasakan darah

yang asin amis!

Ular itu terkejut kesakitan dan lilitannya mengendur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Lili untuk meronta,

melepaskan diri dan meLoncat keluar dari lilitan ular itu. Ia

rneloncat ke dekat subonya.

“Subo, tolong teecu (murid) pinjam pedangnya sebentar

untuk membunuh ular keparat itu teriaknya kepada subonya.

“Hushh!”, bentak Cu Sui In. “Kalau ayah menghendaki,

sudah sejak tadi engkau mati, tulang tulangmu remuk dalam

lilitan ular. Atas perintah sukongmu, ular itu hanya

mengujimu, bukan hendak membunuhmu, dan engkau malah

menggigit dan melukai lehernya!”

Mendengar keterangan gurunya, Lili terkejut. Ia

memandang dan melihat kakek itu dengan penuh sikap

menyayang, memeriksa luka di leher ular dan mengobatinya

dengan obat bubuk putih. Ia merasa bersalah dan segera ia

menjatuhkan diri berlutut di depan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

“Sukong, aku bersalah. Kalau sukong hendak menghukum

dan membalas dengan menggigit leherku, silakan!”

Raja Ular Itu memandang kepadanya, lalu tertawa

bergelak. “Ha ha ha, Sui In. Sekarang aku mengerti mengapa

engkau memilih setan cilik ini sebagai murid. Ia memang

pantas menjadi muridmu. bahkan patut menjadi muridku, ha

ha ha!”

Mendengar ini, Cu Sui In tersenyum. “Lili, cepat kau

menghaturkan terima kasih kepada suhumu. Mulai saat ini

engkau menjadi murid ayah, dan aku menjadi sucimu (kakak

seperguruanmu)!”

Lili adalah seorang wanita yang cerdas sekali. Ia segera

memberi hormat dan menyebut suhu kepada Si Raja Ular yang

tertawa bergelak karena girangnya memperoleh seorang

murid yang menyenangkan. Dan mulai saat itu, Lili menyebut

suci kepada bekas ibu gurunya. Hal itu amat menyenangkan

hati Sui In, wanita yang selalu nampak jauh lebih muda dari

usia sebenarnya, dan yang selalu ingin dianggap muda.

Dengan tekun See-thian Coa-ong Cu Kiat menggembleng

Tang Bwe Li atau Lili dengan ilmu-ilmunya, dan juga Sui In

memperdalam ilmunya di bawah bimbingan ayahnya. Sepuluh

tahun kemudian, dalam usia sembilanbelas tahun dan menjadi

seorang dara yang cantik manis, Lili telah menguasai ilmu-ilmu

dari Si Raja Ular. Bahkan dibandingkan dengan tingkat

kepandaian bekas guru yang kini menjadi sucinya, ia hanya

kalah pengalaman saja dan selisihnya tidak jauh!

Demikianlah, pada saat Sin Wan dan Kui Siang menuruni

lembah Pek-in-kok di bagian timur, di pagi hari itu, Bi-coa

Sian-li Cu Sui In dan bekas murid yang kini menjadi sumoinya

(adik seperguruannya) mendaki lembah bukit dari barat. Sui

In dan Lili mempergunakan ilmu berlari cepat dan bagaikan

melayang saja mereka mendaki lembah bukit yang bagi orang

biasa merupakan daerah yang amat sukar dilalui itu.

Mereka mendaki Pek-in-kok hanya dengan satu tujuan,

yaitu untuk membalas atau membalas kekalahan mereka

sepuluh tahun yang lalu. Dewi Ular Cantik Cu Sui In memiliki

watak seperti ayahnya, yaitu tidak pernah dapat menelan

kekalahan dari orang lain. Oleh karena itu, ketika dalam usaha

memperebutkan pusaka-pusaka istana ia kalah oleh Sam Sian,

ia merasa terhina dan hatinya sakit sekali.

Urusan pusaka sudah tidak diingatnya lagi, akan tetapi

kekalahan yang dideritanya selalu menghantuinya dan ia tidak

akan merasa tenang sebelum dapat membalas dan menebus

kekalahannya itu. Dan agaknya Lili yang kini menjadi

sumoinya, juga tidak pernah dapat melupakan penghinaan

yang dialaminya dari anak laki-laki yang agaknya murid Sam

Sian itu.

Anak laki-laki yang tidak dikenal namanya itu, yang

dinamakannya Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu,

telah menangkapnya, memaksanya menelungkup di atas

pangkuannya dan menampari pinggulnya sepuluh kali seolaholah

seorang ayah yang menghukum anaknya yang nakal

saja! Sampai mati ia tidak akan dapat melupakan penghinaan

itu! Ia akan membalas penghinaan itu dengan pukulan sampai

seratus kali biar pantat orang itu hancur menjadi bubur! Setiap

kali membayangkan peristiwa itu, muka Lili menjadi merah

sekali dan kemarahan seolah-olah membuat matanya berkilat

dan napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengandung

api! Ketika dua orang wanita cantik itu tiba di depan pondokpondok

bambu yang sederhana namun rapi dan bersih itu,

Sam Sian sedang duduk bersila di depan pondok, menikmati

sinar matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang segar.

Mereka duduk bersila di atas batu-batu datar yang halus,

menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang masih

lembut sinarnya. Ketika dua orang wanita itu muncul dan

berloncatan ke depan mereka, tiga orang kakek itu

memandang dengan heran.

Melihat mereka dapat naik ke Pek-in-kok saja sudah dapat

mereka ketahui bahwa dua orang wanita itu bukanlah orangorang

lemah, dan yang membuat mereka heran adalah sikap

dan wajah mereka, terutama sinar mata mereka yang

membayangkan kemarahan besar.

Tiga orang pertapa itu adalah orang-orang yang sudah

dapat membebaskan diri dari kekuasaan nafsu, maka tiada

lagi dendam atau ganjalan dalam hati dan pikiran mereka.

Tidak ada lagi kenangan yang hanya menimbulkan suka duka,

dendam dan budi. Maka, tentu saja mereka tidak ingat lagi

siapa adanya dua orang wanita cantik ltu. Bahkan Dewa

Pedang dan Dewa Rambut Putih sudah memejamkan mata

dan menundukkan muka, tidak memperdulikan dua orang

wanita yang muncul sebagai pengganggu ketenteraman

mereka. Hanya Dewa Arak yang memandang mereka dengan

mulut tersenyum ramah. Seperti biasa, dalam menghadapi

urusan apa saja, Ciu-sian Tong Kui ini selalu mengandalkan

araknya. Dia meneguk arak dari guci yang selalu berada di

dekatnya, guci arak pusaka pemberian kaisar yang isinya tentu

saja sudah habis karena arak yang diterima dari kaisar

sepuluh tahun yang lalu itu sudah dihabiskannya dalam waktu

kurang dari seminggu! Kini tinggal gucinya yang diisi arak

biasa.

“Heh .. heh .. heh, angin apakah yang meniup kalian dua

orang wanita cantik ke Pek-in-kok ?”

“Angin dari Bukit Ular Pegunungan Himalaya.” jawab Sui In

dengan singkat dan ketus.

“Bukit Ular di Himalaya? Wah ..wah .. wah, bagaimana

kabarnya dengan sobat See-thian Coa-ong Cu Kiat? Kalian

diutus oleh Raja Ular itu, bukan?” Dewa Arak meneguk

kembali guci araknya.

“Ayahku tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatanganku

ini. Aku datang untuk urusan pribadi dengan Sam Sian!”

“Ho .. ho .. ho, kami tiga orang tua bangka tidak pernah

mempunyai urusan pribadi, apa lagi dengan wanita muda dan

cantik.” kata Dewa Arak dengan sikapnya yang seenaknya.

“Mudah-mudahan saja Sam Sian yang terkenal sebagai

pinisepuh dunia persilatan itu bukan hanya pengecut-pengecut

yang pura-pura melupakan apa yang mereka lakukan. Sam

Sian, ingatkah kalian peristiwa sepuluh tahun yang lalu? Aku,

Bi-coa Sian-li Cu Sui In pernah kalian kalahkan. Nah, inilah

aku, datang untuk menantang kalian, untuk membalas

kekalahanku yang dulu. Sekali ini, mudah-mudahan saja Sam

Sian bukan tiga orang laki-laki licik dan curang yang main

keroyokan terhadap lawannya seorang wanita. Aku tantang

kalian untuk main satu demi satu mengadu kepandaian!”

“Wah ..wah .. wah, engkau terlambat nona. Dahulu engkau

menantang kami untuk merebut pusaka-pusaka istana itu,

bukan? Sekarang, pusaka-pusaka itu telah kami kembalikan

kepada kaisar. Kalau engkau menginginkannya, datanglah ke

kota raja dan minta saja kepada kaisar. Kami tidak tahu

menahu lagi ……”

“Aku tidak butuh pusaka! Aku datang untuk menebus

kekalahanku sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah cukup kaya,

akan tetapi kalian telah menghinaku sepuluh tahun yang lalu,

meruntuhkan nama dan kehormatanku. Hari ini kalian harus

membayarnya!”

“Siancai ….. , kalau ada yang terang, mengapa memilih

yang gelap? Ada yang jernih mengapa memilih yang keruh?

Ada yang tenang, mengapa memilih kekacauan?” Yang

berkata itu adalah Dewa Pedang. Kemudian terdengar Dewa

Rambut Putih juga bicara dengan suara¬nya yang lembut

sambil tersenyum ramah.

“Nona, sepuluh tahun yang lalu, ketika berhadapan

denganmu, kami adalah petugas-petugas utusan kaisar untuk

mendapatkan kembali pusaka yang tercuri. Setelah pusaka itu

kami kembalikan, kami sudah mencuci tangan dan

mengundurkan diri, dan bagi kami, perlstiwa dengan nona

sepuluh tahun yang lalu sudah tidak ada lagi,” kata-katanya

lembut, lalu disusul kakek ini menyanyikan ayat-ayat yang

diambilnya dari kitab To-tik-keng, yaitu kitab suci Agama To.

“Tariklah tali gendewa anda sepenuhnya

gendewa dapat patah dan sesalpun tiada guna.

Asahlah pedang anda setajam-tajamnya

mata pedang dapat aus dan takkan bertahan lama.

Tumpuklah emas permata di kamar anda

dan anda akan bersusah payah menjaganya.

Membanggakan kekayaan dan kehormatan harga diri

hanya menyebar benih kehancuran pribadi.

Undurlah sesudah tugas terlaksana

demikian cara Langit bekerja.”

“Hemm, apa yang kaumaksudkan dengan nyanyianmu itu?”

Dewi Ular Cantik bertanya dengan suara mengejek. “Aku

datang kesini bukan untuk mendengarkan khotbah!”

Dewa Arak tertawa. “Nona, Dewa Rambut Putih telah

menyanyiken ayat suci dari Agame To, kenapa nona tidak

mengerti? Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan ini,

seyogyanya kita tidak berlebihan dalam segala hal, memenuhi

tugas dan kewajiban dan tidak mabok kemenangan atau

keberhasilan. Mengenai batas dan tahu diri. Nona agak

berlebihan, terburu nafsu sehingga peristiwa sepuluh tahun

yang lalu disimpan dalam hati sebagai dendam. Bukankah

berarti nona meracuni diri sendiri selama sepuluh tahun ini?

Dan semua itu un¬tuk apa? Hanya untuk menebus kekalahan!

Hanya untuk menang!

“Sudahlah, tak perlu berkhotbah. Aku datang untuk

menantang kalian. Mau atau tldak kalian harus menerima

tantanganku, karena kalau kalian tidak mau menandingiku,

aku akan menyerang dan kalian akan mati konyol!”

“Nanti dulu, suci!” kata Lili. “Jangan bunuh dulu mereka ini

sebelum memberitahu kepadaku. Hei, ketiga totiang. Aku

mencari anak setan kurang ajar itu. Di mana dia?”

“Anak setan yang mana? Di sini tidak ada anak setan, yang

ada hanya anak manusia, nona,” kata Dewa Arak.

“Aku mencari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu!”

kata pula Lili sambil mengepal tinju.

Dewa Arak melongo, memandang kepada gadis cantik itu

dan hatinya berkata, “Sungguh sayang, nona begini cantik

otaknya miring!”

Melihat kakek itu bengong saja, Lili membentak marah.

“Jangan pura-pura! Aku mencari anak laki-laki yang sepuluh

tahun lalu bersama kalian. Dia tentu murid kalian! Di mana si

keparat itu?”

“Ooohhh, kaumaksudkan Sin Wan? Dia sedang pergi.”

“Sudahlah, sumoi. Nanti kita cari musuhmu itu, sekarang

aku akan membereskan dulu tiga orang ini!” kata Si Dewi Ular

dan ia sudah mencabut pedangnya, lalu berkata kepada tiga

orang pertapa itu. “Sam Sian, aku Bi-coa Sian-li Cu Sui In

menantang Sam Sian maju satu demi satu, tidak main

keroyokan seperti pengecut-pengecut liar!”

Tiga orang kakek itu saling pandang dan jelas nampak

bahwa mereka itu merasa enggan untuk berkelahi walaupun

sedikitpun tidak merasa takut. Bagi mereka, melayani

tantangan Dewi Ular Cantik itu sama saja dengan ikut menjadi

gila. Di antara mereka dan wanita itu sebetulnya tidak ada

permusuhan apapun. Dahulu mereka memang

memperebutkan pusaka, akan tetapi sekarang pusaka itu telah

kembali kepada pemiliknya, dan tentang kalah menang dalam

pertandingan, bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal

biasa dan tidak pernah mendatangkan sakit hati dan dendam.

“Suci, percuma menantang pengecut. Mereka takut!” kata

Lili mengejek.

Sui In mengerutkan alisnya. “Sam Sian, kalau kalian takut,

kalian harus berlutut minta ampun kepadaku, baru akan

kupertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian!”

Ucapan ini sengaja dikeluarkan Sui In untuk menyudutkan

mereka. Tentu saja ia tahu bahwa orang-orang seperti Tiga

Dewa itu tidak akan merasa takut menghadapi tantangan

siapapun. Ia sengaja memanaskan hati mereka agar mereka

segera menyambut tantangannya. Dan usahanya berhasil.

Pantangan bagi semua tokoh dunia persilatan kalau dikatakan

takut.

“Siancai ….! Bi-coa Sian-li memaksa orang. Baiklah, karena

engkau telah mencabut pedang, pinto (aku) akan melayanimu

sejenak.” kata Kiam-sian Louw Sun sambil meraba

pinggangnya.

Akan tetapi, alisnya berkerut dan dia segera teringat bahwa

tidak ada lagi pedang di pinggangnya. Pedang Jit-kong-kiam

(Pedang Sinar Matahari), yang biasanya dililitkan di pinggang,

kini tldak terdapat lagi di pinggangnya karena sudah dia

berikan kepada muridnya, Lim Kui Siang! Sedangkan Pedang

Tumpul yang diterimanya dari Kaisar, telah dia berikan kepada

Sin Wan.

Tadinya, pedang-pedang itu hanya dipergunakan oleh

kedua orang murid itu untuk latihan ilmu pedang, akan tetapi

kemudian Si Dewa Pedang memberikan pedang-pedang itu

kepada mereka karena dia sendiri tidak membutuhkan

pedang. Baru sekarang dia teringat, akan tetapi dia tersenyum

dan sama sekali tidak menjadi panik.

“Bi-coa Sian-li, maaf, aku tidak mempunyai pedang. Biarlah

kupergunakan sebatang ranting pohon saja untuk melayanimu

bermain pedang,” katanya dan diapun menghampiri sebatang

pohon dan mematahkan ranting yang panjang dan besarnya

seperti pedang. Dia kembali menghadapi wanita itu dengan

pedang kayu di tangan!

Wajah wanita itu berubah merah dan ia marah sekali.

“Dewa Pedang, engkau sungguh menghina dan berani

memandang rendah kepadaku. Baik, kau akan menebus

penghinaan ini dengan nyawamu!”

Cu Sui In sudah menggerakkan pedangnya sambil

mengeluarkan bentakan nyaring. Sinar pedang menyambar

ganas dan Dewa Pedang cepat meloncat untuk

menghindarkan diri, sambil mengelebatkan pedang kayunya,

menusuk atau menotok ke arah pergelangan tangan lawan

yang memegang pedang. Namun, Dewi Ular Cantik itu cepat

menarik kembali tangannya, memutar pergelangan pedang

dan pedang itu sudah meluncur lagi dengan tusukan dahsyat

yang membuat Dewa Pedang terkejut dan terpaksa meloncat

lagi ke samping untuk menghindarkan diri.

Dewi Ular mendesak terus, pedangnya berubah menjadi

sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata dan dari

gulungan sinar itu terdengar suara bercuitan melengking.

Dewa Pedang yang memutar pedang kayunya sambil

mempergunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke

sana sini, diam-diam terkejut bukan main.

Dari gerakan pedang lawan, tahulah dia bahwa wanita ini

sama sekali tidak dapat disamakan dengan sepuluh tahun

yang lalu. Kini ilmu pedangnya matang dan mantap,

gerakannya cepat dan ringan sekali sedangkan tenaga sinkang

yang terkandung dalam pedang itu kuat bukan main,

membuat pedang kayunya selalu terpental dan tangannya

tergetar. Tahulah Dewa Pedang bahwa dia berhadapan

dengan seorang lawan yang amat tangguh!

Penglihatan Dewa Pedang memang tidak keliru. Selama

sepuluh tahun ini, Cu Sui In telah menggembleng diri di

bawah bimbingan ayahnya sehingga selain ilmu-ilmunya

menjadi matang, juga gin-kang dan sin-kang yang dikuasainya

menjadi semakin kuat. Selain ini, ayahnya mengajarkan ilmu

pedangnya yang baru saja diciptakannya, yang diberi nama

Hek-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Hitam). Si Raja Ular Cu

Kiat menciptakan ilmu pedang ini berdasarkan gerakan seekor

ular hitam beracun, yaitu seekor Cobra hitam, kalau binatang

itu marah dan menyerang.

Untuk menyempurnakan ciptaannya, dia telah

mengorbankan entah beratus ekor cobra hitam dan musang

yang diadunya untuk dia tangkap inti sari gerakan ular hitam

itu. Akhirnya, dia berhasil menciptakan Hek-coa Kiam-sut yang

terdiri dari delapan belas jurus yang ampuh sekali. Dan ketika

puterinya menggembleng diri selama sepuluh tahun, dia

mengajarkan ilmu pedang ini kepada puterinya dan kepada

muridnya, yaitu Tang Bwe Li.

Sepuluh tahun yang lalu, tingkat kepandaian Sui In masih

kalah setingkat dibandingkan tingkat seorang di antara Sam

Sian. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah sama

sekali. Kalau Sui In selama sepuluh tahun menggembleng diri

dan tekun berlatih, sebaliknya Tiga Dewa jarang berlatih

kecuali hanya kalau mengajar dua orang murid mereka.

Sekarang, tingkat kepandaian Sui In sudah sejajar dengan

kepandaian Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Pek-mau-sian

(Dewa Rambut Putih). Hanya Ciu-sian Si Dewa Arak yang

diam-diam telah merangkai sebuah ilmu yang dia ambil dari

inti sari kepandaian mereka bertiga. Biarpun nampaknya ugalugalan

dan suka main-main, namun sesungguhnya Dewa Arak

memiliki kecerdikan luar biasa.

Selama sepuluh tahun ini otaknya bekerja dan dia minta

kepada dua orang rekannya untuk membuat dasar dari ilmu

masing-masing, kemudian dia menggabung inti sari ilmu

mereka bertiga, dijadikan sebuah ilmu yang setiap hari masih

terus disempurnakannya. Dua orang rekannya yang tidak

serajin Dewa Arak, mengetahui akan hal itu akan tetapi tidak

ada niat untuk ikut mempelajarinya.

Merekapun tahu bahwa Dewa Arak sengaja menciptakan

ilmu yang diambil dari inti sari ilmu mereka bertiga digabung

menjadi satu, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk

dua orang murid mereka, yaitu Sin Wan dan Kui Siang.

Setelah berhasil menciptakan ilmu ini, diam-diam Dewa Arak

memutuskannya menjadi sebuah kitab dan tahun demi tahun,

dia menyempurnakan ilmu itu dan sampai saat itu belum

mengajarkannya kepada Sin Wan maupun Kui Siang.

Hal ini adalah karena untuk dapat mempelajari dan melatih

ilmu itu, harus memiliki dasar yang amat kuat, dan tenaga sinkang

yang cukup. Kalau tidak, ilmu yang aneh ini bahkan

dapat menimbulkan bahaya besar, dapat mengakibatkan luka

dalam yang parah kepada yang melatihnya. Akan tetapi,

dengan sendirinya tingkat kepandaian Dewa Arak meningkat

dengan dikuasainya ilmu baru itu.

Pertandingan antara Dewa Pedang dan Dewi Ular Cantik

berjalan dengan semakin seru. Dewa Rambut Putih dan Dewa

Arak diam-diam menyayangkan bahwa rekan mereka telah

memberikan Pedang Tumpul kepada Sin Wan dan Pedang

Sinar Matahari kepada Kui Siang. Kalau saja rekan mereka itu

memegang satu di antara dua buah senjata pusaka itu, tentu

akan lain keadaannya.

Akan tetapi, Dewa Pedang hanya bersenjatakan sebatang

ranting pohon. Kalau menghadapi lawan lain, mungkin

sebatang ranting itu sudah cukup ampuh karena tangan Dewa

Pedang yang mengandung tenaga sin-kang kuat itu dapat

membuat ranting itu menjadi senjata yang cukup tangguh.

Akan tetapi yang dihadapinya kini adalah Dewi Ular Cantik

yang ternyata memiliki kepandaian yang demikian tingginya.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Dewa Pedang

terdesak hebat oleh lawannya. Dua kali ujung ranting yang

dipergunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya

oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang makin

lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti

desis seekor ular cobra dan ia telah mengubah gerakan

pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang

amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut! Dan begitu ia

memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia

mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya!

Pedang lawan itu gerakannya seperti seekor ular cobra

yang menyerang lawan. Dia berusaha untuk membentuk

parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat, namun

tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biarpun

dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak

kirinya tertusuk ujung pedang lawan.

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia

terhuyung ke depan dan saat itu, Dewi Ular Cantik sudah

menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan

mata dan terpaksa Dewa Pedang meloncat jauh ke atas untuk

menghindarkan diri dari ilmu pedang yang seperti gerakan ular

itu! Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular

itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas

seperti seekor burung rajawali kalau menghadapi ular.

Akan tetapi, Dewi Ular Cantik sudah dapat menduga taktik

ini dan iapun ikut meloncat ke atas. Mereka mengadu pedang

dan ranting di udara ketika berlompatan. Keduanya turun lagi

dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium

pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek

dan kulitnya terluka berdarah.

Keduanya kini sudah sampai ke puncak pertandingan,

saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu

meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara. Namun,

tiba-tiba dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum

hitam. Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian

serangan pedangnya yang ganas.

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting

melindungi dirinya, akan tetapi biarpun dia berhasil memukul

runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu

menghindarkan tusukan pedang lawan yang mengenai

lambungnya. Kembali mereka berdua melompat turun dalam

jarak yang cukup jauh. Dewa Pedang dapat turun dengan

berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir

keluar dari celah-celah jari tangan ketika tangan kirinya

mendekap lambung yang terluka.

“Hyaaaattt …….!” Dia menggerakkan tangan kanan sambil

membalik ke arah Dewi Ular Cantik. Ranting di tangannya itu

meluncur seperti anak panah ke arah lawan. Cu Sui In

terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka

parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu. Ia

menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur

cepat ke arah pohon dan menancap ke batang pohon seperti

anak panah yang dilepas dari dekat! Akan tetapi itu

merupakan serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw

Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya dan menotok

beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir

keluar. Akan tetapi setelah memeriksanya, tahulah Dewa Arak

bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah dan

tak mungkin dapat disembuhkan lagi. Pedang Dewi Ular Cantik

bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan

melukai anggauta badan sebelah dalam sehingga tidak

mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio

Ki meloncat ke depan wanita cantik itu. “Siancai ….., hatimu

sungguh ganas dan kejam, Bi-coa Sian-li. Kami dahulu

mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau

berusaha membunuh kami.”

“Pek-mou-sian! Terluka atau tewas dalam pertandingan

sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan. Hal itu

biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi! Kalau tadi aku yang

kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas. Nah,

sekarang majulah, aku sudah siap!” tantang wanita cantik itu.

“Suci, engkau sudah lelah. Biarkan aku maju mewakilimu

menghadapi dia!” Tang Bwe Li melompat ke depan, akan

tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.

“Sumoi, mundur kau! Ingat, jangan mencampuri urusan ini.

Ini urusan pribadiku, kau tahu? Biar andaikata aku terdesak

dan terancam maut sekalipun, engkau tidak boleh turun

tangan!”

Lili mundur. Ia maklum akan watak kakak seperguruan,

bekas gurunya ini. Cu Sui In wataknya persis ayahnya, yaitu

See-thian Coa-ong Cu Kiat. Watak yang keras dan gagah, juga

tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut. Karena

itulah ia tidak menghendaki sumoinya mencampuri

pertandingannya melawan Sam Sian, apalagi melihat betapa

Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya.

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili sucinya, hal itu

adalah karena ia tahu benar betapa sucinya itu sudah lelah

karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika

melawan Kiam-sian, walaupun sucinya keluar sebagai

pemenang. Dan ia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian

kakek rambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang

pula.

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali

menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau

ia lancang melakukan hal ini, sucinya tentu akan marah bukan

main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan

merendahkan harga diri sucinya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan. Tadi

dia mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang

melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang

amat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti

gerakan ular cobra tadi. Rekannya saja, yang dijuluki Dewa

Pedang dan ahli dalam ilmu pedang, tidak mampu menandingi

ilmu pedang ular itu.

Akan tetapi, Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama

sekali. Bagi dia, hidup atau mati bukan hal yang paling

penting. Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu

mengambil jalan yang benar. Kalau sudah benar, mati atau

hidup sama saja! Mati karena membela yang benar jauh lebih

baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

“Siancai …..!” Ingat, Bi-coa Sian-li, adalah engkau yang

datang mencari dan menantang kami. Baik kalah atau

menang, akibatnya adalah tanggunganmu. Kami hanya

melayani permintaanmu.”

“Aku datang bukan untuk berdebat. Keluarkan senjatamu,

kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!”

bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas dan sulingnya.

Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya

dengan tangan kanan. Dia bersikap tenang walaupun

waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini

tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganaspun,

seperti tadi ia menyerang Dewa Pedang dengan jarum

beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

“Bi-coa Sian-li, aku sudah siap, katanya. Baru saja katakatanya

habis, pedang ditangan Cu Sui In sudah

menerjangnya dengan dahsyat bukan main. Dewa Rambut

Putih me ngebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya

menangkis.

“Tranggg ……..!” Suling menangkis pedang dan kipasnya

mengebut ke arah muka lawan. Cu Sui In cepat mengelak dari

sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba kipas itu

tertutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In.

Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja,

namun sesungguhnya dibalik gerakan yang lernbut itu

terkandung tenaga yang dahsyat. Tahulah Cu Sui In bahwa

lawannya amat lihai. sesuai dengan filsafah Agama To yang

selalu menekankan bahwa “yang kosong itu berisi”, bahkan

yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat

berarti kalau ada bagiannya yang kosong.

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk

menghargai yang kosong atau bahkan “yang tidak ada”

dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat

dipergunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya.

Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong

di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena

ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di

pintu dan jendelanya.

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut

Putih, nampak lembut namun sesungguhnya amat kuat!.

Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya

dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang

banyak tenaga. Ia sudah mulai merasa lelah karena tadi ketika

melawan Dewa Pedang ia sudah mengerahkan banyak tenaga

sin-kang.

“Ssssshhhhh ……..!!” terdengar ia mendesis dan gerakan

pedangnya kini berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga dan begitu pedang

lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat

menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sin-kang.

“Cringgg …….!!” Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang

terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya,

mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga

ketika dia menarik sulingnya lepas, dia terhuyung. Namun,

cepat kipasnya mengebut ke depan sehingga dia mampu

menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun

juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas

itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang ular itu

mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat sekali, maka

diapun segera mengerahkan tenaga sin-kang yang biasa dia

pergunakan untuk ilmu sihirnya. Dalam adu kepandaian ini,

dia tidak mau mempergunakan sihir karena selain belum tentu

seorang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh

sihir, juga dia tidak mau berlaku curang dengan menggunakan

sihir. Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat? Dia hanya

membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka

dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir. Akan

tetapi, dia mengerahkan tenaga sin-kang Pek-in (Awan Putih)

dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya, mulai

mengepulkan uap putih!

Melihat ini, Cu Sui In mendesis-desis semakin keras dan

gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular

cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

“Siancai ….!” Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia

harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk

melindungi dirinya. Wanita cantik itu memang berbahaya

sekali. Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kukukuku

jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia

maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu

mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra

hitam. Sekali saja kulit tergores kuku sampai terobek dan

berdarah, racunnya akan memasuki tubuh lewat jalan darah

dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra

hitam!

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih

sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali

terjadi pertandingan yang amat seru dan hebat. Bahkan bagi

Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh. Hal ini

karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya

mempergunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya

Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri

yang pernah membantunya membuat nama besar selama

puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan

mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan

lawan yang tingkat kepandaiannya tidak berselisih jauh

dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga

menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu

dengan cara balas menyerang. Bagi Tiga Dewa, kalau tidak

terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi

membunuh atau melukai. Kini, berhadapan dengan Dewi Ular

Cantik, terpaksa dia melawan dengan pengerahan seluruh

kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat.

Kalau saja dia tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu

Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai

puluhan jurus.

Jilid 5

SUI IN yang memang sudah lelah, kini dipaksa untuk

menguras tenaganya. Wanita ini semakin lelah, leher dan

dahinya basah oleh keringat, napasnya agak memburu

walaupun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya

dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya. Dibandingkan

lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enampuluh

dua tahun lebih, ia menang dalam beberapa hal. Pertama, ia

lebih muda, ke dua ia lebih terlatih dan ke tiga ia lebih

bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling

dengan amat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan

melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan

serangannya. Ia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang

lincah seperti tadi, rnelainkan ia menyerang dengan gerakan

yang lambat dan berat. Hal ini bukan berarti bahwa ia telah

kehabisan tenaga atau napas.

Sama sekali tidak! Hanya, kalau tadi ia mengandalkan

kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini ia

mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga

sin-kang dari Ilmu Pedang Ular Hitam. Pedangnya menyambar

dengan gerakan lambat dan berat sekali, namun mengandung

angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan.

Diapun tidak berani lengah dan sambaran pedang itu,

walaupun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan

jauh ke samping dan diapun membalas dengan serangan yang

sama sifatnya, lambat dan berat. Sulingnya menotok ke arah

pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh

sambaran kipasnya ke arah muka. Gerakannya mengandung

sinkang yang kuat pula.

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang

dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak

paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa

keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguhsungguh.

Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini

perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan matimatian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang

mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular

Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih

mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan. Dia

tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu

mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin

juga dua orang murid mereka, selamat.

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak

menguntungkan, Pek-mau-sian lalu menerjang dengan suling

dan kipasnya. Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas,

kipasnya rnenotok pergelangan tangan yang memegang

pedang sedangkan suling di tangan kanannya menotok ke

arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Akan tetapi pada saat itu, tubuh Dewi Ular Cantik yang

terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali dan ketika ia

menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu

bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling,

menangkis dan terus melibatnya, dan pedangnya bergerak

menyambar arah kipas. Pedangnya merobek kipas dan terjepit

di antara gagang kipas!

Kedua senjata Dewa Rambut Putih tidak dapat digerakkan

lagi dan pada saat itu, Dewi Ular Cantik yang tadi membuat

gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, menggerakkan

tangan kirinya yang membentuk cakar dan kuku-kuku jari

tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian

Thio Ki!

Tentu saja Dewa Rambut Putih terkejut sekali. Untuk

menangkis tidak mungkin karena kedua senjatanya telah

melekat pada rambut dan pedang, dan untuk mengelak,

jaraknya sudah terlampau dekat. Serangan itu amat ganas

dan licik, sama sekali tidak disangkanya, maka satu-satunya

jalan baginya hanyalah menarik tubuh atas ke belakang dan

untuk menyelamatkan diri, dia mengangkat kaki menendang.

“Crokkk ….! Desssss ……..”

Cengkeraman tangan kiri dengan kuku hitam itu memasuki

dada Pek-mau-sian, pada detik yang sama dengan tendangan

kaki Dewa Rambut Putih itu yang mengenai lambung Dewi

Ular Cantik. Tubuh Pek-mau-sian Thio Ki terjengkang pada

saat tubuh Bi-coa Sian-li Cu Sui In terlempar ke belakang

sampai dua meter jauhnya. Dewa Arak lari menghampiri

rekannya yang roboh terjengkang, sedangkan Lili meloncat

menghampiri sucinya yang tidak roboh, akan tetapi ketika

tubuhnya turun, ia terhuyung dan muntahkan darah segar!

Dewa Arak sekali pandang saja tahu bahwa rekannya,

Dewa Rambut Putih, telah tewas seketika. Dadanya menjadi

hitam oleh pengaruh racun dari kuku tangan kiri lawan dan

rekannya itu tewas tanpa menderita, lebih beruntung

dibandingkan Dewa Pedang yang tewas setelah tadi menderita

beberapa lamanya. Dua rekannya telah tewas.

Dewa Arak menarik napas panjang dan sambil meneguk

araknya dia memandang ke arah wanita cantik itu. Wanita

cantik itu mengibaskan tangan Lili yang hendak menolongnya,

dan kini telah berdiri tegak walaupun wajah yang cantik itu

kini pucat sekali.

Ia hendak bicara kepada Dewa Arak, akan tetapi yang

keluar dari mulutnya hanya darah lagi, maka iapun segera

duduk bersila, mengatur pernapasan untuk mengumpulkan

hawa murni dan mengobati luka di bagian dalam tubuhnya

yang terguncang akibat tendangan Dewa Rambut Putih tadi.

Tendangan itu mengandung hawa atau tenaga sakti Awan

Putih, maka dapat mengguncang isi perut wanita itu.

“Suci, biar aku yang menghadapi tua bangka yang seorang

lagi itu.” kata Lili yang sudah siap untuk menyerang Dewa

Arak yang masih enak-enak minum arak dari gucinya.

Wanita yang duduk bersila itu membuka matanya,

memandang kepada sumoinya. Sejenak ia tidak bicara karena

sedang mengatur pernapasan, setelah agak reda, iapun

berkata lirih. “Sumoi, sudah kukatakan jangan kau ikut

campur. Ini adalah urusan pribadiku. Sekarang aku tidak

mungkin dapat menantang Dewa Arak, biarlah hari ini

kubiarkan dia hidup. Lain hari akan kucari dia! Kecuali kalau

dia hendak menuntut balas atas kematian dua orang

rekannya!”

Mendengar ini, Dewa Arak tertawa bergelak. “Ha .. ha .. ha,

Dewi Ular, apakah engkau mulai merasa menyesal karena

membunuh mereka? Ha .. ha, engkau sudah begitu berjasa

terhadap dua orang sahabatku, dan engkau menyuruh aku

membalas dendam kepadamu? Ha-ha-ha, sayang engkau

terluka, nona. Kalau tidak, tentu akupun akan kaubebaskan

dari pada kurungan hidup yang palsu ini. Masih untung ada

arak, kalau tidak, betapa menjemukan, apalagi setelah dua

orang sababatku pergi.”

Cu Sui In bangkit berdiri. Napasnya tidak terengah lagi

walaupun mukanya masih pucat. “Kalau engkau hendak

membalas dendam, biar terluka aku akan melayanimu, Dewa

Arak. Kalau tidak, jangan kira bahwa aku melarikan diri takut

oleh pembalasanmu.”

“Ha .. ha .. ha, engkau memang wanita gagah Dewi Ular.

Agaknya engkau hendak menutupi semua kesengsaraan

hatimu dengan sikap gagah dan tidak mau kalah dengan

mengangkat harga diri setinggi mungkin. Aih, aku kasihan

kepadamu, Dewi Ular!”

Mendengar ini, Lili mengerutkan alisnya lalu menudingkan

telunjuknya ke arah muka kakek itu, “Hei, tua bangka

pemabok! Jangan semnbarangan bicara engkau! Katakan

kepada muridmu si Kerbau-sapi-kuda itu bahwa sekali waktu,

aku akan mencarinya untuk membalas penghinaannya

kepadaku sepuluh tahun yang lalu!”

“Sudahlah, sumoi. Dia pemabok akan tetapi ucapannya

benar. Mari kita pergi!” kata Cu Sui In. Lili tidak berani

membantah dan dua orang wanita itu lalu menuruni lembah

itu, diikuti pandang mata Dewa Arak yang menggeleng

kepalanya.

0oo0

Setelah matahari naik tinggi, dari lereng sebelah timur

nampak dua orang muda mendaki puncak memasuki Lembah

Awan Putih sambil membawa bermacam barang belanjaan.

Mereka adalah Sin Wan dan Kui Siang yang baru pulang dari

kota Yin-coan mana mereka berbelanja bermacam barang

untuk menyambut datangnya tahun baru seperti yang

diusulkan guru-guru mereka.

Dengan gembira mereka berlari mendaki tebing yang

curam itu. Mereka membeli pakaian, bukan hanya untuk

mereka berdua, juga untuk tiga orang suhu mereka. Juga

mereka membeli roti kering, daging kering, bumbu-bumbu

masak, bahkan membeli pula lima ekor ayam dan telur asin.

Ketika rnereka tiba di lembah, mereka melihat suasana di

situ sunyi sekali. Biasanya, tiga orang guru mereka itu berada

di luar pondok pada tengahari seperti itu dan ada saja yang

mereka kerjakan. Akan tetapi, kini suasana di luar pondok

sunyi. Ketika mereka menghampiri pondok, mereka

mendengar suara Dewa Arak bicara dengan suara lantang.

”Aih, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, sungguh aku

merasa iri kepadamu! Kalian mendapat kesempatan untuk

lebih dahulu pergi meninggalkan dunia yang telah menjadi

tempat kotor karena ulah manusia ini, terbebas dari sengsara

badan dan batin. Kalian tewas sebagai orang-orang gagah,

dan mendapat kehormatan tewas di tangan lawan yang

berilmu tinggi. Kalian tidak kecewa, akan tetapi aku? Aihhh,

siapa tahu kelak aku mati digerogoti kuman-kuman kecil. Ah,

sungguh aku iri sekali kepada kalian!”

Mendengar ucapan itu, tentu saja Sin Wan dan Kui Siang

menjadi heran, akan tetapi juga terkejut sekali. Mereka lalu

berlari masuk seperti berlomba dan mereka sejenak terpukau,

berdiri saja memandang tubuh dua orang kakek yang terbujur

kaku di atas pembaringan masing-masing! Dua orang guru

mereka itu telah menjadi jenazah!

”Suhuuu …..!!” Kui Siang menjerit dan melompat,

menubruk dua jenazah itu bergantian sambil menangis dan

memanggil-manggil. Gadis ini memang amat sayang kepada

tiga orang guru mereka, yang seolah menjadi pengganti orang

tuanya. Dan kini ia mendapatkan dua orang di antara tiga

gurunya tewas begitu saja. Pada hal ketika pagi tadi ia

berangkat ke kota Yin coan bersama Sin Wan dua orang

gurunya itu masih dalam keadaan sehat, tidak sakit apapun.

Sin Wan berdiri sambil menundukkan kepalanya,

memejamkan matanya dan dengan suara lirih diapun berdoa.

”Ya Allah, mereka berasal dariMu dan kini Engkau berkenan

memanggil mereka kembali kepadaMu. Semoga Allah Maha

Kasih menerima mereka dan memberi tempat yang penuh

bahagia abadi.”

Kemudian dia menghampiri Kui Siang yang masih

sesenggukan menangisi kematian dua orang gurunya,

menyentuh pundaknya dan berkata, ”Sumoi, amat tidak baik

menangisi dua orang guru kita yang sudah meninggal dunia.

Tidak baik untuk mereka. Hentikan tangismu sumoi.”

Kui Siang mengangkat mukanya yang basah air mata.

”Aduh, suheng ….. bagaimana aku tidak boleh menangis?

Hatiku hancur melihat dua orang suhu meninggal dunia

dengan mendadak ……. Tiba-tiba gadis itu meloncat berdiri

dan membalik, memandang Dewa Arak yang masih

menghadapi guci arak dan masih tersenyum-senyum itu.

”Aku harus membalas kematian mereka! Suhu, siapa yang

membunuh mereka? Katakanlah, siapa yang membunuh

mereka?”

Dewa Arab tersenyum memandang kepada muridnya itu.

”Kui Siang, kalau engkau tahu siapa yang membunuh mereka,

lalu engkau mau apa?”

”Teecu (murid) akan membalas dendam kematian suhu

berdua! Teecu akan mencari pembunuh itu dan kubunuh dia!”

kata gadis itu sambil mengepal tinju dan meraba gagang

pedang Jit-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya.

”Kau mau tahu yang membunuh mereka? Yang membunuh

adalah Tuhan.”

Kui Siang memandang kepada gurunya itu dengan mata

terbelalak ”Tuhan? Suhu, apa maksud suhu? Teecu tidak

mengerti……!”

”Ha..ha..ha..ha!” Dewi Arak meneguk lagi arak dari

gucinya, Sin Wan mendekati sumoinya.

”Sumoi, suhu berkata benar. Kematian kedua orang suhu,

atau kematian siapapun juga di dunia ini, baru dapat terjadi

kalau dikehendaki Tuhan! Tanpa kehendak Tuhan, siapa yang

akan mampu membunuh siapa? Segala kehendak Tuhanpun

jadilah, sumoi!”

”Ha..ha..ha, suhengmu benar, Kui Siang. Nah, kalau yang

membunuh dua orang gurumu ini Tuhan, apakah engkau juga

mendendam kepada Tuhan dan hendak membunuhnya untuk

membalas dendam?”

Kui Siang tertegun dan menjadi bingung. ”Tapi ….. tapi …..

bagaimana Tuhan membunuh kedua guruku ini? Teecu

bingung, suhu, tidak mengerti dan mohon penjelasan. Apa

yang telah terjadi sampai kedua orang suhu ini meninggal

dunia?”

”Duduklah dengan tenang, Kui Siang. Hentikan tangismu

dan mari kita antar kematian Kiam-sian dan Pek-mau-sian

dengan percakapan tentang kematian agar engkau mengerti.

Sin Wan, kalau ada yang terlewat, kaulengkapi keteranganku

kepada sumoimu. Nah, Kui Siang. Setiap manusia dilahirkan

dan kemudian mengalami kematian. Kelahiran dan kematian

setiap orang berada di tangan Tuhan, sudah dikehendaki oleh

Tuhan! Tentu saja, seperti juga segala peristiwa di dunia ini,

kelahiran dan kematianpun ada penyebabnya yang hanya

menjadi jalan atau lantaran saja. Tentu saja Tuhan tidak

mengulurkan tangan seperti kita untuk mencabut nyawa

seseorang, melainkan melalui suatu sebab. Ada kematian

karena penyakit, ada kematian karena bencana alam, ada

kematian karena bunuh membunuh, dalam perang atau dalam

perkelahian. Kita harus menghadapi setiap kematian sebagai

suatu hal yang wajar, sebagai bukti bahwa hidup di dunia ini

tidak abadi, dan bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa dan tidak

ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan mampu

menghindarkan kita dari kematian kalau Tuhan sudah

menghendakinya. Sebaliknya, tidak ada kekuatan apapun di

dunia ini yang dapat membunuh kita kalau Tuhan tidak

menghendaki kita mati! Nah, kalau kematian itu ditentukan

oleh Tuhan, maka setiap kematian, kalau ditanya

pembunuhnya, maka pembunuhnya adalah Tuhan! Kalau, kita

hendak mendendam, maka kepada Tuhanlah dendam itu

ditujukan dan itu merupakan dosa yang teramat besar!”

”Tapi, suhu! Yang melakukan pembunuhan adalah manusia

lain, walaupun kematian itu di tangan Tuhan!” bantah Kui

Siang, ”Kalau ada orang membunuh orang lain yang tidak

berdosa, maka si pembunuh itulah yang bertanggung jawab

dan dia harus dihukum!”

”Ha..ha..ha, tentu saja! Dan kau bicara tentang hukum.

Setiap dosa tidak akan dapat bebas dari hukuman Tuhan, dan

ada pula hukuman manusia, yaitu hukum yang diadakan oleh

negara, oleh masyarakat, oleh agama. Tapi, membalas

dendam tidak termasuk dalam hukum apapun, kecuali hukum

nafsu setan, hukum kebencian, Andaikata kedua orang

gurumu ini mati karena penyakit, karena kuman, apakah

engkau juga akan membalas dendam kepada kuman, kepada

penyakit? Andaikata kedua orang gurumu ini mati karena

banjir, apakah engkau akan mendendam kepada air? Kalau

mati karena terbakar, apakah engkau akan mendendam

kepada api? Dan masih banyak lagi penyebab kematian yang

banyak menjadi lantaran saja.”

Kui Siang tertegun dan bengong. Ia merasa bulu

tengkuknya meremang, melihat kenyataan yang sama sekali

tak pernah dipikirkan sebelumnya.

”Tapi …… tapi ….. kalau dua orang suhu dibunuh orang

jahat, apakah teecu harus mendiamkan saja orang jahat itu

membunuh dua orang suhuku? Apakah teecu harus

mendiamkan pula penjahat itu merajalela menyebar maut,

membunuhi orang-orang yang tidak berdosa?”

”Sumoi, bukan begitu maksud suhu. Tentu saja kita harus

menentang setiap perbuatan jahat. Kalau kita melihat

penjahat yang telah membunuh dua orang guru kita, atau

membunuh siapapun juga, atau penjahat lain yang manapun

juga, kalau kita melihat dia melakukan kejahatan, sudah

menjadi kewajiban kita untuk mencegah perbuatan jahat itu

dilakukan. Akan tetapi, kita menentang dan memberantas

kejahatan berdasarkan membela kebenaran dan keadilan,

bukan demi membalas dendam karena kebencian atau sakit

hati.”

Kui Siang mengangguk-angguk. Baru sekarang setelah

mendengarkan penjelasan suhengnya, ia teringat akan ajaranajaran

dari dua orang gurunya yang kini telah rebah telentang,

tanpa nyawa itu.

”Nah, engkau mulai mengerti agaknya, Kui Siang. Kita

harus mengetahui bahwa budi dan dendam, keduanya

merupakan belenggu pengikat kita kepada hukum karma.

Hukum karma merupakan mata rantai yang tiada

berkeputusan selama kita terikat oleh belenggu tadi.”

”Suhu, mohon dijelaskan tentang karma.”

”Hukum karma adalah hukum sebab akibat, Kui Siang. Ada

akibat tentu ada sebabnya, dan akibat itu dapat menjadi

sebab baru lagi sehingga mata rantai itu sambung

menyambung tiada berkeputusan. Kalau engkau menendang

sebuah batu dari puncak bukit, batu itu menjadi sebab

tergelincirnya batu ke dua. Akibat ini menjadi sebab lain lagi

karena batu ke dua menimpa batu ke tiga dari selanjutnya.”

”Kalau begitu, kita tidak berdaya, suhu. Kita menjadi

permainan karma, menjadi permainan hukum sebab dan

akibat.”

”Kalau kita membiarkan diri terikat, memang demikian, Kui

Siang. Akan tetapi, Tuhan Maha Kasih kepada kita. Tuhan

telah memberi alat yang serba lengkap kepada kita manusia,

selain dengan nafsu-nafsu untuk mempertahankan hidup,

dengan hati dan akal pikiran, juga menyertakan pula

kesadaran jiwa. Kekuasaan Tuhan akan membimbing kita, Kui

Siang, menyadarkan kita sehingga kita dapat mematahkan

ikatan belenggu sebab akibat dan tidak terseret oleh

berputarnya roda karma.”

”Mohon penjelasan, suhu, berilah contohnya.”

”Sin Wan, aku ingin mendengar apakah engkau sudah

mengerti benar. Coba engkau yang menerangkan kepada

sumoimu.”

“Baik, suhu. Akan tetapi kalau ada kekeliruan harap suhu

suka membetulkan dan memberi penjelasan. Sebelumnya,

teecu harap suhu suka memberitahu, bagaimana kedua orang

suhu ini sampai, tewas, agar dapat teecu pergunakan sebagai

contoh tentang ikatan belenggu karma.”

Dewa Arak menarik napas panjang. ”Ketika kalian turun

dari lembah tadi, dan kami bertiga duduk di luar pondok

menikmati sinar matahari pagi, muncullah Bi-coa Sian-li Cu Sui

In bersama seorang gadis yang disebutnya sumoi.’’

”Siapakah Bi-coa Sian-li Cu Sui In itu?” Kui Siang bertanya.

”Sumoi, ia seorang tokoh kang-ouw wanita yang sepuluh

tahun lalu pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka

istana dari tangan guru-guru kita.” Kata Sin Wan yang masih

ingat kepada wanita galak itu, juga ingat kepada anak

perempuan yang ketika itu mengaku sebagai murid Dewi Ular

Cantik.

”Nah, wanita itu sepuluh tahun yang lalu gagal merampas

pusaka dari kami, dan kekalahan sepuluh tahun yang lalu itu

membuat ia menaruh dendam. Ia datang mencari kami dan

menantang kami untuk bertanding satu lawan satu untuk

menebus kekalahannya sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja

kami tidak menanggapi, akan tetapi ia memaksa dan akan

membunuh kami kalau kami tidak mau menyambut

tantangannya. Tentu saja kami tidak mau dibunuh begitu saja

dan mati konyol. Maka Dewa Pedang lalu menyambut

tantangannya.”

”Tapi, Louw-suhu (guru Louw) sudah mengatakan tidak

akan bertanding lagi, dan beliau menyerahkan Jit-kong-kiam

kepada teecu dan Pedang Tumpul kepada suheng!” seru Kui

Siang, lalu ia menoleh dan memandang ke arah wajah jenazah

Kiam-sian Louw Sun.

Dewa Arak tersenyum. ”Bagi seorang ahli pedang seperti

Kiam-sian, setiap benda berbentuk pedang dapat saja menjadi

senjata pengganti pedang. Dia melawan Dewi Ular itu dengan

sebatang ranting pohon.”

”Ahhh ……! Dan Louw-suhu melawannya dengan ranting,

sedangkan lawan menggunakan pedang pusaka?” teriak Kui

Siang.

”Bukan hanya karena itu. Akan tetapi memang harus kami

akui bahwa ilmu kepandaian Dewi Ular Cantik tidak dapat

disamakan dengan tingkatnya sepuluh tahun yang lalu. Ia lihai

bukan main dan akhirnya, setelah melalui pertandingan yang

seru dan hebat, guru kalian Kiam-sian Louw Sun tewas di

tangan Dewi Ular Cantik.”

Wajah Kui Siang menjadi merah, akan tetapi ia masih

menahan kemarahannya. ”Apakah Thio-suhu (guru Thio) juga

tewas oleh iblis betina itu, suhu?”

Dewa Arak mengangguk. ”Setelah Dewa Pedang roboh.

Dewa Rambut Putih maju melawan Dewi Ular Cantik.

Pertandingan antara mereka lebih seru dan sebetulnya Dewi

Ular sudah kehabisan tenaga. Akan tetapi ia memang lihai dan

mempunyai banyak siasat. Akhirnya, dengan menggunakan

rambutnya sebagai senjata. Dewi Ular berhasil merobohkan

dan menewaskan Dewa Rambut Putih walaupun ia sendiri

terkena tendangan Pek-mau-sian dan menderita luka dalam

yang cukup parah. Dalam keadaan terluka ia dan sumoinya

pergi.”

”Iblis betina keparat!” Kui Siang bangkit lagi kemarahannya

yang sejak tadi ditahannya.

”Hemm, mau apa engkau, Kui Siang?” bentak Dewa Arak,

sekali ini tidak tertawa lagi.

Kui Siang sadar, lalu membalik dan menjatuhkan diri

berlutut di depan gurunya sambil menangis. ”Suhu, ampunkan

teecu ….“ katanya di antara isaknya.

”Suhu, Maafkan sumoi,” kata Sin Wan. ”Teecu sendiri juga

merasa panas di hati. Suhu, teecu berdua hanyalah manusiamanusia

biasa yang tidak mungkin dapat begitu saja

membebaskan diri dari pada nafsu perasaan. Teecu berdua

amat menyayang Louw-suhu dan Thio-suhu, tentu hati ini

sakit sekali mendengar ada orang membunuh mereka. Teecu

sendiri mengerti bahwa perasaan ini hanya peranainan nafsu

dan tidak benar menurutkannya, akan tetapi mungkin sumoi

belum mengerti benar.”

”Heh .. heh, karena itu, kaujelaskan padanya tentang

karma tadi, Sin Wan.”

”Begini sumoi. Kalau kita mau menelusuri, maka kematian

dua orang guru kita yang tercinta hanya merupakan akibat

dari pada sebab-sebab yang lalu. Kalau kita telusuri, maka

sebab-sebab itu kait-mengait seperti mata rantai. Mereka

tewas sebagai akibat pembalasan dendam Dewi Ular Cantik

yang pernah mereka kalahkan, dalam perkelahian pertama.

Perkelahian pertama itu menjadi sebab perkelahian ke dua ini.

Dan perkelahian pertama itupun akibat dari pada sebab lain,

yaitu karena guru-guru kita bertugas merampas kembali

pusaka dari istana. Tugas itupun mempunyai sebab, yaitu

karena guru-guru kita adalah tokoh-tokoh dunia persilatan

yang dimintai tolong oleh kaisar dan ketua perkumpulan

persilatan. Nah, kalau ditelusuri terus, sebab-sebab yang

menjadi mata rantai itu tiada habisnya, sumoi.”

”Ha..ha..ha, mungkin yang menjadi sebab pertama adalah

karena …… kami bertiga dahulu dilahirkan di dunia ini! Kalau

kami tidak dilahirkan, mana akan terjadi semua itu?

Ha..ha..ha!”

”Demikianlah, sumoi. Sebab akibat yang disebut karma ini

merupakan mata rantai yang tiada putusnya, dan masih akan

berkepanjangan kalau kita tidak menghentikannya agar mata

rantai itu putus. Contohnya begini. Kematian kedua orang

guru kita menjadi akibat yang dapat menjadi sebab lain, yaitu

apabila kita menaruh dendam sakit hati. Mungkin kita lalu

mencari Dew Ular Cantik dan kita berusaha membunuhnya

untuk membalas dendam atas kematian,kedua orang guru

kita. Katakanlah kita berhasil dan ia mati di tangan kita, mata

rantai itu tidak akan habis. Mungkin ada saudaranya, gurunya,

atau muridnya, yang menjadi sakit hati dan mendendam, lalu

mencari kita untuk menuntut balas, demikian seterusnya.”

”Heh..heh..heh, kemudian muridnya, atau anaknya, saling

mendendam dan saling membalas. Saling bermusuhan, maka

timbullah perang! Nafsu itu seperti api, kalau dibiarkan

merajalela, dari sepercik bunga api dapat menjadi lautan api

yang membakar dunia ha..ha..ha!”

”Begitulah, sumoi. Biarpun hati kita panas, namun

pengertian ini harus kita laksanakan, dalam kehidupan. Kita

hentikan rangkaian karma ini sampai di sini saja. Kita

patahkan mata rantai agar kita tidak terikat belenggu karma.

Kita tidak seharusnya menaruh dendam kebencian kepada

Dewi Ular Cantik.”

”Aku mengerti. Suheng.” Kata Kui Siang dan kini suaranya

terdengar tenang. ”Akan tetapi apakah kita harus mendiamkan

saja orang-orang jahat dan kejam seperti Dewi Ular Cantik itu

berkeliaran begitu saja menyebar maut di antara orang-orang

yang tidak berdosa? Kita berpeluk tangan begitu saja ?”

”Ha..ha..ha, anak manis. Tentu saja tidak! Kalau kalian

diam saja, lalu untuk apa kalian menghabiskan waktu

bertahun-tahun untuk mempelajari Ilmu dari Sam Sian? Kalian

harus turun tangan, menegakkan kebenaran dan keadilan,

membela yang benar dan yang lemah tertindas, menentang

yang jahat dan yang lalim, akan tetapi, ingat. Yang kalian

tentang bukanlah pribadinya, melainkan perbuatannya. Kalian

menentang orang jahat berdasarkan jiwa pendekar, bukan

karena sakit hati, bukan karena dendam, dan sama sekali

bukan karena membenci seseorang karena perbuatan yang

dasarnya kebencian adalah perbuatan yang.terdorong oleh

nafsu, dan semua perbuatan yang terdorong nafsu tentu akan

menjadi mata rantai hukum karma.”

”Terima kasih, suhu, teecu mulai mengerti. Teecu juga

masih ingat akan semua ajaran budi pekerti yang pernah

teecu terima dari mendiang Louw-suhu dan Thio-suhu. Teecu

harus menjadi seorang pendekar yang selalu mengambil jalan

benar, taat kepada perintah Tuhan yang diperuntukkan

manusia lewat agama dan ajaran-ajaran para budiman, teecu

harus berprikemanusiaan, harus menjunjung keadilan,

menolong sesamanya, berpribudi baik dan hidup rukun dan

saling bantu, harus ……..”

”Kui Siang, dan kau juga Sin Wan. Segala ajaran memang

baik, akan tetapi kalian ingatlah baik-baik. Pokok dari pada

semua ajaran itu adalah bahwa kita harus. berTUHAN! Ber

Tuhan bukan hanya di mulut, melainkan ber Tuhan dengan

seluruh jiwa raga, tercermin di dalam hati akal pikiran, dalam

kata-kata dan dalam perbuatan. Ber Tuhan bukan berarti

munafik, melainkan kita menyembah dan berbakti kepada

Tuhan setiap saat, setiap detik ingat kepada Tuhan sehingga

segala apa yang kita pikir, kita katakan, kita lakukan selalu

dibimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih. Orang

yang ber.Tuhan, benar-benar ber Tuhan, sudah pasti dia itu

berprikemanusiaan, sudah pasti dia itu adil, berpribudi baik,

tolong-menolong dan hidup rukun dengan sesama, sudah

pasti dia itu tidak kejam. Pendeknya, orang yang ber Tuhan

sudah pasti hatinya bersih dan baik!

Sebaliknya, orang yang berbuat baik, yang mengaku

berprikemanusiaan, mengaku adil, belum tentu ber Tuhan,

Kalau demikian keadaannya, maka semua kebaikannya itu

berdasarkan nafsu, semua kebaikannya itu munafik dan palsu,

karena tentu didasari pamrih demi keuntungan dan

kepentingan diri pribadi! Namun, seorang yang ber Tuhan,

melakukan segala sesuatu demi baktinya kepada Tuhan,

sebagai dharma sehingga semua perbuatannya itu tanpa

dikotori pamrih demi keuntungan diri pribadi. Mengertikah

kalian?”

”Teecu mengerti, suhu,” kata Sin Wan dan Kui Siang hanya

mengangguk, karena pengertiannya belum mendalam, bahkan

ia masih agak bingung. Sejak kecil ia telah banyak menderita,

yaitu sejek ia berusia sepuluh tahun. Ayahnya dibunuh

penjahat yang mencuri pusaka isiana, ibunya tak lama

kemudian meninggal pula karena duka dan jatuh sakit. Para

paman dan bibinya hanyalah orang-orang yang berambisi

untuk mengambil bagian dari haria warisan orang tuanya.

Sejak kecil ia menderita dan kecewa.

Dan kini, setelah selama sepuluh tahun ia hidup bersama

tiga orang gurunya, menyayangi mereka seperti orang tua

sendiri, dua di antara tiga orang gurunya kembali dibunuh

orang! Dan kalau ia menderita sakit hati dan mendendam, hal

itu tidaklah benar! Terjadi perang dalam batinnya yang

membuat ia ragu dan bingung.

Tiba-tiba Dewa Arak tertawa. ”Ha..ha..ha..ha, sudah cukup

kita bicara seperti pendeta-pendeta tua perenung! Kalian

harus membuat persiapan. Kita kubur jenazah Kiam-sian dan

Pek-mau-sian di lembah ini, kemudian kalian ikut dengan aku

pergi meninggalkan Pek-in-kok.”

”Meninggalkan Pek-in-kok? Kita akan pergi ke mana suhu?”

tanya Sin Wan yang merasa heran.

”Kita pergi ke tempat lain yang tidak diketahui orang, agar

Dewi Ular Cantik tidak akan dapat menemukan kita.”

”Tapi, suhu!” Kui Siang berkata dengan penasaran sekali.

”Kenapa kita harus melarikan diri dari iblis betina itu? Memang

kita tidak perlu mendendam kepadanya, akan tetapi hal itu

bukan berarti bahwa kita takut kepadanya sehingga kita harus

lari dan menyembunyikan diri!”

Sekali ini, Sin Wan juga berpihak sumoinya. Walaupun dia

tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya terhadap

Dewa Arak juga menuntut penjelasan.

”Heh..heh, kaukira aku takut menghadapi Dewi Ular Cantik?

Sama sekali tidak takut, juga aku tidak suka melihat kalian

takut kepadanya atau kepada siapapun juga. Rasa takut kita

harus kita tujukan hanya kepada Tuhan saja, takut kalau

sampai kita terseret nafsu melakukan hal yang tidak benar dan

tidak berkenan kepada Tuhan! Tidak, aku mengajak kalian

pergi dari sini agar kalian dapat melatih ilmu kami secara

tekun dan tenang tanpa ada gangguan selama satu tahun.

Setelah kalian menguasai Sam-sian Sin ciang (Tangan Sakti

Tiga Dewa), baru hatiku tenteram dan kalian boleh turun

gunung.”

”Sam-sian Sin-ciang ?” tanya Kui Siang. ”Belurn pernah

teecu mendengarnya dari suhu bertiga.”

”Itulah hasil ketekunanku selama beberapa tahun ini.

Sayang Kiam sian dan Pek-mau-sian terlalu malas untuk

mempelajari dan melatih ilmu itu. Andaikata mereka

mengusainya, bagaimana mungkin Dewi Ular Cantik mampu

mengalahkan mereka!”

Dewa Arak dan dua orang muridnya lalu mengubur dua

jenazah itu di Lembah Awan Putih, kemudian

menyembahyangi dua makam itu dengan hormat walaupun

sederhana.

Setelah tiga hari mereka mengubur jenazah itu. Pada hari

ke empat mereka meninggalkan Pek-in-kok, menuju ke

sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Dewa Arak sendiri.

Di situ dia menggembleng dua orang muridnya, mengajarkan

ilmu baru yang selama bertahun-tahun disusunnya dari inti

sari ilmu Tiga Dewa.

Dalam Sam-sian Sin-ciang ini termasuk unsur-unsur dari

llmunya sendiri seperti Ciu-sian Pek-ciang (Tangan Putih Dewa

Arak), Thian-te Sin-kang (Tenaga Sakti Langit Bumi) dan Huinio

Poan-soan (Langkah Berputaran Burung Terbang) dan dari

ilmu silat Kiam-sian dia mengambil inti sari dari Jit-kong Kiamsut

(Ilmu Pedang Cahaya Matahari) dan ilmu menotok jalan

darah Kiam-ci (Jari Pedang). Dari Pek-mau-sian dia mengambil

inti sari Pek-in Hoat-sut (Sihir Awan Putih) dan Sin-siauw Kunhoat

(Silat Suling Sakti).

Dari semua ilmu ini, yang diambil inti sarinya, dia

menciptakan Sam-sian Sin-ciang dan ilmu inilah yang dia

ajarkan kepada Sin Wan dan Kui Siang. Kalau yang

mempelajari ilmu Sam-sian Sin-ciang ini orang lain, betapapun

pandainya dia, tentu akan makan waktu bertahun-tahun

saking sulitnya. Akan tetapi karena dua orang muda itu sudah

mengenal semua ilmu yang digabungkan menjadi ilmu silat

sakti itu, tentu saja lebih mudah bagi mereka dan dalam

waktu setahun, setelah berlatih dengan tekun, mereka dapat

menguasai ilmu itu sebaiknya.

0oo0

Harus diakui oleh sejarah bahwa semenjak kekuasaan

penjajah Mongol dienyahkan oleh pasukan rakyat yang

dipimpin oleh pemuda petani Cu Goan Ciang yang kemudian

mendirikan Dinasti Beng dan menjadi Kaisar Thai-cu, Cina

dapat dipersatukan kembali. Di bawah pimpinan Jenderal Shu

Ta, tangan kanan Kaisar Thai-cu, sisa-sisa pasukan Mongol

yang masih berada di wilayah Cina, dapat dipukul mundur

sampai mereka kembali ke tempat asal mereka, di utara, yaitu

daerah Mongol.

Setelah tiba di daerah mereka sendiri, barulah orang–orang

Mongol dapat mempertahankan diri. Daerah yang keras dan

sukar itu menyulitkan pasukan yang dipimpin Jenderat Shu Ta

sehingga dia hanya mampu membersihkan daerah

kekuasaannya dari orang-orang Mongol, namun tidak mampu

menumpas Bangsa Mongol di daerah mereka sendiri.

Kaisar Thai-cu, walaupun berasal dari keluarga petani,

namun setelah menjadi kaisar, ternyata memiliki kemampuan

memimpin yang mengagumkan. Hal ini karena dia amat

pandai mempergunakan tenaga orang-orang yang ahli dalam

bidang masing-masing, menghargai para cerdik pandai

sehingga dengan bantuan orang-orang yang ahli, dia mampu

mengendalikan pemerinlahan dengan baik.

Yang membuat kedudukan kaisar ini kuat adalah karena dia

merupakan orang yang telah mampu dan berhasil

menghancurkan kekuasaan penjajah Mongol sehingga

mengembalikan harga diri dan kedaulatan bangsa. Jasa ini

saja sudah membuat dia dikagumi dan dihormati seluruh

rakyat, tidak perduli dari golongan maupun suku bangsa apa

saja, karena bukankah dia yang telah membebaskan rakyat

semua suku dan golongan itu dari penindasan penjajah

Mongol?

Juga Kaisar Thai-cu yang dahulunya bernama Cu Goan

Ciang ini memanfaatkan akar dari pohon pemerintahannya,

yaitu balatentara dan rakyat jelata. Dia merangkul keduanya.

Dia menghargai jasa balatentaranya, menjamin kehidupan

keluarga mereka, menambah daya kekuatan mereka dengan

menggembleng semua perajurit dengan ilmu-ilmu perang,

tidak pelit membagi-bagi hadiah, pandai menghargai jasa

setiap orang perajurit. Juga kaisar ini merangkul rakyat,

memperhatikan kehidupan rakyat jelata, menyuburkan

perdagangan dengan membuka pintu selebarnya.

Dia membangkitkan semangat membangun dalam segala

bidang karena semangat rakyat harus disalurkan dan

penyaluran yang paling sehat dan menguntungkan bangsa

hanyalah semangat membangun! Di samping itu, Kaisar Thaicu

juga menggunakan tangan besi untuk menertibkan

keamanan, menjaga ketenteraman kehidupan rakyat dan

menumpas semua golongan yang sifatnya hanya menjadi

perusak dan penghalang pembangunan.

Pada masa itu, gangguan yang terbesar bagi kerajaan baru

Beng-tiauw adalah rongrongan orang-orang Mongol yang

tentu saja masih merasa penasaran dan ingin menegakkan

kembali kekuasaan mereka yang hancur. Mereka melakukan

gangguan di sepanjang perbatasan barat dan utara.

Di samping gangguan dari orang-orang Mongol ini, yang

tidak segan-segan mempergunakan segala daya untuk

bersekutu dan membujuk pejabat-pejabat daerah untuk

memberontak, juga pemerintah menghadapi rongrongan dari

para bajak laut yang merajalela di lautan timur. Mereka ini

kebanyakan adalah orang-orang Jepang yang terkenal sebagai

bajak laut yang tangguh.

Karena sukar untuk membasmi bajak laut ini yang

mempunyai daerah pelarian yang luas di lautan apabila

dikejar, Kaisar Thai-cu bersama para penasihatnya

memperlihatkan perhatian yang serius terhadap keadaan

rakyat di pantai-pantai yang menjadi sasaran para bajak laut.

Para penduduk pantai itu ditampung dan dlpindahkan ke

daerah pedalaman sehingga menyulitkan para bajak laut

untuk mengganggu mereka.

Demikianlah, di bawah pimpinan Kaisar Thai-cu yang

bijaksana, tentu saja sebagian besar rakyat mendukungnya

dan Kerajaan Beng (Terang) menjadi benar-benar gemilang.

Tensu saja, tidak ada yang sempurna di dunia yang dwimuka

ini. Demikian pula dengan keberhasilan yang dicapai Kaisar

Thal-cu. Ada saja

Golongan yang merasa tidak puas. Mereka ini sebagian

besar adalah mereka yang di waktu pemerintahan penjajah

berhasil menduduki pangkat yang tinggi dan kehidupan yang

mewah dan mulia. Setelah Kerajaan Goan-tiauw, yaitu

kerajaan penjajah Mongol runtuh, runtuh pula kedudukan

mereka, bahkan banyak di antara mereka yang menjadi

korban perang, sebagal pihak yang membela kerajaan

penjajah yang kalah.

Ada pula golongan yang tidak puas kerena merasa tidak

mendapatkan bagian dari hasil kemenangan pemerintah Bengtiauw.

Ada pula golongan hitam dan kaum sesat yang merasa

tersudut karena pemerintah menggunakan tangan besi

menentang kejahatan dan memberi hukuman berat kepada

para pengacau. Adapula pejabat daerah yang merasa bahwa

jasanya lebih besar dari pada kedudukan yang mereka peroleh

sehingga mereka ini condong untuk merasa tidak puas dan

mudah dihasut golongan yang tidak suka kepada pemerintah

baru.

Golongan-golongan itulah, orang-orang yang lebih

mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan negara dan

bangsa, yang mudah dibujuk oleh orang-orang Mongol untuk

meagadakan persekutuan! Akan tetapi, golongan rakyat yang

menentang pemerintahan ini diimbangi dengan golongan para

pendekar yang mendukung pemerintah!

Maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan yang

saling bertentangan, yaitu perkumpulan golongan sesat atau

para penjahat yang dipergunakan oleh para pembesar yang

berniat memberontak, dan golongan para pendekar yang

membantu pemerintah untuk menjaga ketertiban dan

keamanan. Tentu saja golongan para pendekar ini

mendapatkan dukungan rakyat jelata yang tidak ingin melihat

kehidupan mereka dirusak kembali oleh para pengacau. Juga

mereka baru saja terbebas dari perang yang amat mengerikan

dan menjatuhkan banyak korban, dan mereka tidak ingin

timbul perang baru yang hanya akan menyengsarakan rakyat

jelata belaka.

Pada suatu pagi, dua orang wanita cantik mendayung

perahu mereka yang kecil mungil ke darat sungai Kuning di

sebelah utara kota besar Lok-yang. Mereka, menarik. perahu

ke darat. memanggil seorang diantara para nelayan yang

berada di pantai.

“Paman, maukah engkau menyimpan perahu ini untuk

kami? Boleh paman pakai untuk keperluan paman, akan tetapi

sewaktu-waktu kami datang membutuhkannya, paman harus

mengembalikan kepada kami,” kata wanita yang muda.

Nelayan itu memandang heran, akan tetapi karena perahu itu

biarpun kecil cukup kokoh dan indah, dia mengangguk.

“Baiklah, nona. Biar anakku yang merawatnya dan dia pula

yang menggunakan untuk sekadar mencari ikan, Namaku A

Liok, nona. Kelak kalau nona hendak mengambilnya kembali,

tanyakan saja kepada orang di sini.”

Gadis itu mengangguk, kemudian dua orang wanita yang

cantik itu pergi meninggalkan pantai sungai, menuju ke barat,

melalui jalan raya yang menuju ke kota Lok-yang.

Dua orang wanita itu adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan

Tang Bwe Li! Setahun lebih yang lalu, mereka datang ke Pekin-

kok dan Si Dewi Ular itu telah berhasil membunuh Dewa

Pedang dan Dewa Rambut Putih, walaupun ia sendlri juga

terluka parah. Namun, sekarang ia telah sembuh sama sekali

dan biarpun usianya kini sudah empatpuluh tahun lebih, Cu

Sui In masih nampak cantik jelita seperti belum ada tigapuluh

tahun usianya.

Rambutnya masih digelung tinggi, dan rambut itu masih

hitam panjang, gelungnya model sanggul para puteri

bangsawan dengan dihias emas perrnata berbentuk burung

Hong dan bunga teratai. Pakaiannya juga indah, terbuat dari

sutera mahal berkembang dan wajahnya yang cantik jelita itu

bertambah cantik dengan olesan bedak tipis dan pemerah

bibir dan pipi. Alisnya kecil melengkung dan hitam karena

ditata dengan cukuran dan penghitam alis, sepasang matanya,

tajam dan mengandung sesuatu yang dingin dan

menyeramkan.

Hidungnya mancung, akan tetapi yang paling

menggairahkan hati pria adalah mulutnya. Mulut itu memang

indah bentuknya, bahkan tanpa pemerah bibirpun sebetulnya

sepasang bibir itu sudah merah membasah karena sehat,

sepasang bibir yang hidup dan dapat bergerak-gerak pada

ujungnya, penuh dan tipis lembut.

Akan tetapi semua kecantikan itu menjadi keren dengan

adanya sebatang pedang yang bergagang dan bersarung

indah tergantung di punggungnya, tertutup buntalan pakaian

dan sutera kuning.

Tang Bwe Li yang kini berusia duapuluh tahun, tidaklah

secantik dan seanggun gurunya yang kini menjadi sucinya itu.

Namun, dara ini jauh lebih manis! Lesung di pipinya, kerling

tajam pada matanya, senyum sinis pada mulutnya, hidung

yang dapat kembang kempis itu, ditambah gayanya yang

lincah jenaka dan galak, membuat hati setiap orang pria yang

melihatnya menjadi gemas-gemas sayang.

Beberapa bulan yang lalu, Tang Bwe Li atau yang biasa

dipanggil Lili, pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Himalaya di

mana suhunya, See-thian Coa-ong Cu Kiat dan sucinya, Bi-coa

Sian-li Cu Sui In, tinggal. Dara ini telah melakukan perjalanan

seorang diri untuk mencari Dewa Arak dan muridnya, anak

laki-laki yang pernah menampari pinggulnya sampai panas

dan merah, yang tidak diketahui namanya akan tetapi amat

dibencinya itu.

Ia hendak mewakili sucinya yang sedang mengobati luka

dalam karena tendangan Pek-mau-sian. Akan tetapi, Lili tidak

berhasil menemukan Dewa Arak di Pek-in-kok. Ia hanya

melihat dua buah makam, yaitu makam Kiam-san dan Pekmau-

sian. Ia mencari ke sekitar lembah itu, namun sia-sia dan

dengan marah-marah terpaksa ia kembali ke rumah suhunya

dan melapor kepada sucinya.

Dewi Ular juga menjadi kecewa sekali, maka setelah ia

sembuh sama sekali, ia mengajak sumoinya turun gunung.

Mereka berdua selain hendak mencari Dewa Arak dan

muridnya, juga ingin memenuhi pesan See-thian Coa-ong Cu

Kiat. Datuk ini sudah mendengar Akan perubahan besar yang

terjadi sejak penjajah Mongol diusir dari Cina. Dia merasa

sudah tua dan tidak semestinya mengasingkan diri di

Pegunungan Himalaya.

“Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk mencari

kedudukan, karena kaisarnya adalah bangsa sendiri.” katanya.

“Apakah ayah bercita-cita untuk menjadi seorang

pembesar?” tanya Dewi Ular heran.

“Ha..ha..ha, siapa ingin menjadi pejabat? Kalau menjadi

pejabat, aku harus menjadi kaisar! Ah, tidak, Sui In. Kita

adalah orang-orang dunla persilatan. Aku mendengar bahwa

sekarang para orang gagah di dunia kang-ouw, mendapat

angin baik dari pemerintah yang baru. Aku ingin menjadi

beng-cu (pemimpin) dari rimba persilatan!”

“Suhu, dalam perjalananku mencari Dewa Arak, akupun

mendengar bahwa tahun ini, pada akhir tahun, akan ada

pertemuan besar antara para pimpinan partai persilatan, dan

mungkin dalam pertemuan itu akan dilakukan pemilihan ketua

atau pemimpin baru,” kata Lili.

“Bagus! Akhir tahun masih lama, masih sembilan bulan lagi.

Kalian berangkatlah lebih dulu, menyusun kekuatan dan

sedapat mungkin membentuk sebuah perkumpulan yang kuat

untuk menjadi anak buah kita. Kelak, pada saatnya, aku akan

muncul di tempat pertemuan puncak itu. Bwe Li, di mana

pertemuan itu diadakan? Biasanya, pertemuan semacam itu

diadakan di Thai-san”

“Menurut yang kudengar memang akan diadakan di puncak

Thai-san, suhu,” kata gadis itu.

“Nah, kalau begitu, kalian berangkatlah. Menurut sejarah,

dahulu perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan yang

amat kuat dan memiliki anak buah paling banyak di antara

semua perkumpulan. Bahkan partai pengemis di utara pernah

menjadi penghalang bagi penjajah Mongol ketika hendak

menyerbu ke selatan. Akan tetapi, karena adanya

pengkhianatan di antara para pimpinan, partai pengemis

dapat dikuasai orang-orang Mongol dan akhirnya diadu domba

dan pecah belah. Bahkan ketika jaman penjajahan Mongol,

partai itu dilarang sehingga anak buahnya cerai berai.

Sekarang, setelah penjajah lenyap, kurasa mereka tentu

membangun kembali partai pengemis. Kalau kalian dapat

menguasai mereka, kalau kalian dapat menjadi pimpinan kaipang

(partai pengemis), tentu kedudukan kita akan menjadi

kuat dan disegani.”

Demikianlah, dua orang wanita itu melakukan perjalanan

dan pada pagi hari itu, mereka turun dari perahu dan menuju

ke Lok-yang. Mereka mendengar dalam perjalanan mereka

bahwa memang kini kai-pang mulai nampak kuat kembali, di

mana-mana diadakan persatuan pengemis dan pusatnya

berada di tiga tempat.

Pengemis utara berpusat di Pe-king, pengemis barat

berpusat di Lok-yang dan pengemis timur dan selatan

berpusat di Nan-king, kota raja. Itulah sebabnya, dua orang

wanita itu kini menuju ke Lok-yang. Kalau saja mereka dapat

menguasai cabang barat di Lok-yang ini, akan memudahkan

mereka menuju kepada kedudukan puncak yang berpusat di

Nan-king.

Ketika mereka memasuki Lok-yang, Lili yang jarang melihat

kota besar, menjadi kagum. Kota Lok-yang merupakan bekas

kota raja, maka selain besar dan ramai, juga indah, banyak

bangunan indah bekas istana di sana, juga gedung-gedung

besar yang dahulu menjadi tempat tinggal para pembesar

tinggi. Toko-toko besar penuh barang dagangan, juga

terdapat banyak rumah penginapan dan rumah makan yang

besar.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan di kota itu, Sui In yang

tidak heran melihat keramaian kota karena ia sudah sering

berkunjung ke kota-kota besar, berkata, “Sungguh luar biasa!”

“Apanya yang luar biasa, suci? Memang kota ini ramai dan

indah……”

“Bukan itu maksudku. Coba kaulihat sumoi, tidak ada

seorangpun pengemis nampak di kota ini. Pada hal, menurut

keterangan, Lok-yang merupakan pusat dari para pengemis

daerah barat.”

“Ah, benar juga, suci. Tentu telah terjadi sesuatu, atau

mungkin mereka itu sudah pindah ke kota lain?”

“Andaikata benar mereka pindahpun, kenapa di kota besar

seperti ini tidak nampak seorangpun pengemis? Ini sungguh

aneh!” kata Dewi Ular. Mereka lalu mencari kamar di rumah

penginapan. Karena baru saja mereka melakukan perjalanan

yang cukup melelahkan, mereka beristirahat siang itu dan

setelah mandi sore, Dewi Ular mengajak sumoinya untuk

keluar mencari makanan dan juga untuk berjalan-jalan melihat

keadaan dan menyelidiki tentang para pengemis.

Kota Lok-yang di malam hari memang makin semarak.

Toko-toko dibuka dengan lampu-lampu gantung yang terang,

juga jalan raya diterangi lampu-lampu. Banyak orang lalu

lalang, berjalan-jalan atau berbelanja di toko, di warungwarung,

bahkan di taman kota yang indah, yang di waktu

jaman penjajahan hanya untuk kaum bangsawan atau

pembesar saja, kini dibuka untuk umum dan ramai sekali.

Dua orang wanita itu ikut merasa gembira dengan

ramainya suasana. Langit cerah dan bulan mulai muncul

membuat suasana semakin gembira. Sui In dan Bwe Li kini

duduk di sebuah kedai nasi, duduk di meja paling luar sambil

menonton keramaian di jalan raya, memesan makanan dan air

teh. Selagi mereka makan, tiba-tiba Bwe Li menyentuh lengan

sucinya dan dengan pandang mata ia memberi isyarat ke

sebelah kanan. Sui In menengok dan ia melihat seorang

pengemis datang rnenghampiri kedai itu.

Seorang pengemis yang usianya sekitar tigapuluh tahun,

tubuhnya tegap dan sehat, pakaiannya serba hitam, bahkan

rambutnya yang panjang juga diikat dengan pita hitam.

Melihat perawakannya, sungguh tidak pantas seorang pria

muda yang masih kuat dan tidak cacat itu menjadi pengemis!

Juga gerak-geriknya tidak seperti orang pemalas, melainkan

sigap dan langkahnya lebar. Akan tetapi, wajahnya

membayangkan kekerasan dan matanya liar.

Dua orang wanita itu kini menunda makan dan mengikuti

gerak gerik pengemis itu dengan pandang mata mereka.

Pengemis muda itu kini menghampiri sebuah meja paling

depan dekat pintu kedai, di mana duduk tiga orang laki-laki

yang sedang makan bakmi.

“Tuan-tuan, bagilah sedikit rejeki untukku dan, beri

sedekah untukku.” kata pengemis itu, sikap dan suaranya

angkuh seperti orang menagih hutang saja.

Tiga orang yang sedang makan itu nampak terganggu,

akan tetapi yang paling tua di antara mereka agaknya tidak

ingin ribut-ribut, mengambil sepotong uang kecil dari saku

bajunya dan menyerahkannya kepada si pengemis. Pengemis

baju hitam itu menerima uang kecil, mengamatinya dan

diapun mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang

itu dengan marah.

“Kalian hanya memberi sekeping tembaga ini? Untuk

membeli semangkok bakmi juga tidak cukup! Kalian berani

menghinaku, ya?” Pengemis itu membanting uang kecil itu ke

atas meja. Uang itu menancap di meja depan tiga orang itu

yang menjadi terkejut sekali.

Pria yang tertua itu berkata, “Engkau tidak mau diberi

sebegitu? Lalu, berapa yang kauminta?”

Pengemis itu menggapai ke arah pelayan yang kebetulan

berada di dekat situ, lalu dia bertanya, “Coba hitung, berapa

harga semua hidangan tiga orang ini.”

Pelayan itu memandang heran. Benarkah pengemis ini

hendak membayar makanan tiga orang itu maka menanyakan

harganya? Dia menghitung-hitungkan lalu berkata, “Semua

sekeping uang perak,” jawabnya.

Pengemis itu lalu menjulurkan tangannya ke arah tiga

orang tamu itu. “Nah, berikan sekeping perak kepadaku!”

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbelalak.

Mana ada pengemis minta sedekah sebanyak harga makanan

mereka bertiga? Dengan paksaan pula! Dan pelayan itupun

kini mengerti bahwa pengemis baju hitam ini mencari garagara.

Pada waktu itu. keadaan kota Lok-yang aman dan

hampir tidak pernah ada gangguan kejahatan. Hal ini

membuat pelayan itupun berani menentang, merasa bahwa

ada pasukan keamanan di Lok-yang.

“Bung, harap jangan memaksa dan membuat ribut di kedai

ini, jangan mengganggu tamu kami.” bujuknya.

Pengemis baju hitam itu menoleh. memandang kepada

pelayan itu, lain tangannya meraih ujung meja,

mencengkeramnya dan ujung meja dari kayu keras itu remuk

dalam cengkeraman si pengemis! “Apakah kepalamu lebih

keras dari pada kayu meja ini?” katanya lirih namun penuh

seram.

Pelayan itu mundur dengan muka pucat, dan tiga orang

tamu juga menjadi pucat. Tamu tertua segera mengambil

sekeping perak dan menyerahkannya kepada pengemis itu.

Tanpa bicara lagi, pengemis itu menerima uang sekeping

perak, lalu meninggalkan meja itu. Ketika dia memandang

kepada Sui In dan Bwe Li, matanya terbelalak dan mulut yang

tadinya kaku dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar

secara kurang ajar. Dia kini menghampiri meja Sui In dan Bwe

Li.

Agaknya sikap pengemis muda itu semakin berani ketika

dia melihat wanita cantik yang lebih tua memandang

kepadanya dengan tenang dan tidak malu-malu, sedangkan

gadis yang manis itu bahkan memandang kepadanya sambil

tersenyum-senyum!

“Aih, nona-nona yang cantik manis seperti bidadari

kahyangan, berilah sedekah kepadaku, kudoakan semoga

kalian semakin cantik dan semakin menggairahkan!” kata

pengemis itu. Sikap dan suaranya sama sekali bukan lagi

seperti seorang pengemis yang minta-minta, melainkan seperti

seorang laki-laki mata keranjang menggoda wanita.

Sui In tidak sudi melayani orang itu dan melanjutkan

makan dan seolah-olah pengemis itu hanya seekor lalat saja.

Akan tetapi Bwe Li yang diam-diam menjadi marah karena

pengemis itu berani mengeluarkan ucapan kurang ajar

terhadap ia dan sucinya, bertanya. “Hemm apa yang kau

minta, pengemis?”

Kalau tadi pengemis itu memperlihatkan kekerasan dan

paksaan ketika minta kepada tiga orang tamu, Sui In dan Bwe

Li hanya memandang saja dan sama sekali tidak perduli.

Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak

ada sangkut pautnya dengan mereka. Akan tetapi sekarang,

pengemis itu langsung mengganggu mereka!

Pengemis itu tersenyum semakin lebar dan matanya

bermain dengan kedipan penuh arti. “Perhiasan di rambut enci

itu indah sekali, berikan kepadaku sebagai sedekah.” Katanya

sambil memandang kepada perhiasan burung hong dan teratai

terbuat dari emas permata di rambut Sui In.

Bwe Li mendongkol bukan main. Perhiasan sucinya itu

adalah sebuah benda yang amat mahal harganya, apa lagi itu

pemberian suhunya dan menurut sucinya, benda itu dahulu

pernah menjadi perhiasan rambut seorang puteri kaisar

Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol. Maka, selain mahal, juga

benda itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai

harganya, dan kini seorang jembel minta benda ini begitu saja

sebagai sedekah!

Ingin Bwe Li tertawa karena menganggap hal ini amat lucu.

Ia melirik kepada sucinya yang masih tenang dan enak-enak

makan saja, maka ia tahu bahwa sucinya tidak sudi melayani

pengemis itu.

“Kalau tidak kami berikan, lalu kau mau apa?” tanya Bwe

Li, mengira bahwa pengemis itu tentu akan menjual lagak lagi

dengan mempertontonkan kekuatan tangannya

mencengkeram hancur ujung meja. Akan tetapi, sekali ini

pengemis itu agaknya tidak ingin menunjukkan kehebatannya.

Dia mendekatkan mukanya kepada Bwe Li dan berkata lirih,

“Kalau tidak kalian berikan, boleh sebagai gantinya engkau

ikut dengan aku dan melayaniku semalam ini, nona manis.”

Bwe Li terbelalak. Mukanya berubah merah dan terasa

panas bukan main. Akan tetapi hanya sebentar. Ia sudah

menerima gemblengan seorang datuk besar seperti See-thian

Coa-ong, maka tentu saja la sudah dapat menguasai

perasaannya.

“Haii, kalian lihat ada monyet menari-nari!” teriaknya dan

tiba-tiba saja tangannya sudah menggerakkan sisa kuah yang

berada di mangkoknya. Kuah itu mengandung saos tomat dan

bubuk merica yang pedas.

Demikian cepatnya gerakan tangan Bwe Li sehingga sama

sekali tidak disangka oleh si pengemis dan dia tidak sempat

mengelak. Kuah dengan sambalnya itu tepat mengenai

mukanya, memasuki hidung dan matanya.

Dan seketika pengemis baju hitam itu berjingkrak-jingkrak

seperti monyet menari-nari, persis seperti yang diteriakkan

Bwe Li atau Lili tadi! Semua orang menengok dan terdengar

ada yang tertawa, terutama sekali tiga orang yang tadi kena

diperas sekeping perak oleh si pengemis.

Hanya orang yang pernah terkena merica pada mata dan

hidungnya yang dapat menceritakan bagaimana rasanya.

Pengemis itu berjingkrak-jingkrak, menggosok mata dan

hidungnya, megap-megap seperti ikan dilempar ke darat, lalu

berbangkis-bangkis dengan air mata bercucuran. Makin

digosok, makin pedas rasa matanya dan makin hebat

“tangisnya”.

Saking nyeri, pedih dan panasnya, dia membuat gerakan

seperti monyet menari-nari, berlenggang-lenggok dengan kaki

naik-turun, tubuh berputar-putar dan kedua lengan membuat

gerakan yang lucu dan aneh-aneh. Akhirnya, dibawah suara

tawa para penonton, pengemis itu dapat membuka matanya

yang menjadi merah, juga semua merica agaknya sudah

keluar melalui bangkis-bangkis tadi, akan tetapi alr matanya

masih bercucuran dari kedua mata yang masih terasa panas

dan pedas! Dia memandang kepada Lili dengan mata

mendelik, walaupun harus sering berkedip menahan pedas!.

Lili dan Sui In masih melanjutkan makan, bahkan Sui In

sudah selesai dan Lili juga sudah hampir selesai. Pengemis itu

mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau

marah dan para penonton sudah tidak berani tertawa lagi, dan

kini memandang dengan hati tegang. Apa lagi mereka yang

tadi melihat betapa kuat tangan pengemis itu menghancurkan

ujung meja. Mereka mengkhawatirkan nasib dua orang wanita

cantik itu.

Mendengar suara gerengan itu, Lili menoleh memandang,

“Ih, anjlng geladak ini sungpuh tak tahu aturanl” kata Lili

sambil tersenyum mengejek. “Sudah diberi kuah, masih tidak

puas dan menggereng-gereng minta lagi. Cepat pergilah dari

sini, memualkan perut dan mengurangi selera makan saja.

Kau bau!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya pengemis baju hitam

itu. Dia menggereng lagi dan dengan kedua lengan

dikembangkan, kedua tangan terbuka, dia menubruk ke arah

Lili, hendak menangkap wanita itu. Lili tidak bangkit dari

duduknya, hanya kakinya mencuat dengan kecepatan kilat

ketika tubuh orang itu sudah dekat dan kedua tangan itu

sudah hampir menyentuh pundaknya.

“Ngekkkl” Ujung sepatu itu tepat memasuki perut di bawah

ulu hati dan tubuh si pengemis baju hitam terjengkang, dan

pantatnya terbanting keras ke atas tanah. Sejenak dia hanya

mampu bangkit duduk, tangan kiri menekan perut yang

seketika terasa mulas, dan tangan kanan meraba-raba pantat

yang nyeri karena ketika terbanting tadi, pantatnya menjatuhi

sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Dia menyeringai, akan tetapi seringainya tidak seperti tadi

ketika dia menggoda dua orang wanita itu. Dia menyeringai

kesakitan, akan tetapi juga bercampur kemarahan. Orang

yang biasa mengagulkan diri sendirl memang tidak tahu diri,

selalu meremehkan orang lain sehingga pelajaran yang

diterimanya tadi tidak cukup membuat dia sadar, bahkan

membuat dia semakin marah dan penasaran.

“Keparat, kubunuh kau ……!” bentaknya dan kini

tangannya sudah memegang sebatang golok kecil yang tadi

disembunyikan di bawah bajunya. Akan tetapi pada saat itu,

nampak sinar menyambar dari samping, ke arah muka

pengemis itu.

“Crottt …… aughhhh …..!” Pengemis itu terpelanting,

goloknya terlepas dan kedua tangannya meraba mukanya

dengan mata terbelalak. Sebatang sumpit bambu telah

menembus muka dari pipi kanan ke pipi kiri! Sumpit itu

memasuki kulit pipi, menembus geraham kanan sampai keluar

dari kulit pipi yang lain sehingga muka itu seperti disate!

“Suci …..!” kata Lili memandang sucinya.

“Aku mendahului, agar engkau tidak membunuhnya. Kita

butuh keterangan darinya ………”

Tiba-tiba dua orang wanita itu terkejut mendengar

pengemis itu mengeluarkan suara aneh. Ketika mereka

memandang, tubuh pengemis itu berkelojotan dalam sekarat.

Tentu saja Sui In kaget. Ia tadi menyerang dengan sambitan

sumpit tidak dengan niat membunuh dan ia yakin bahwa

orang itu hanya terluka dan tidak akan mati. Kenapa kini tahutahu

orang itu berkelojotan sekarat? Tentu ada penyerang

lain, pikirnya.

Akan tetapi pada saat itu, muncul dua orang pengemis

berpakaian hitam. Mereka adalah orang-orang yang berusia

kurang lebih limapuluh tahun, sikap mereka berwibawa dan

gerakan mereka ringan karena tahu-tahu mereka telah

berkelebat dan muncul di situ. Mereka memandang ke arah

tubuh pengemis yang berkelonjotan, lalu mereka menghadapi

Cu Sui In dan Tang Bwe Li, mengamati dua orang wanita itu

sejenak, kemudian mereka menghampiri meja dua orang

wanita itu.

“Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang merobohkan

dia?” tanya seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi

kurus sambil menuding ke arah tubuh pengemis yang masih

berkelonjotan.

“Aku yang melukainya dengan sumpit,” kata Sui In tenang

dan suaranya acuh saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang

perlu diributkan.

Lili yang galak segera berkata pula. “Anjing geladak ini

perlu dihajar. Apakah kalian pemeliharanya? Kenapa tidak

kalian ajar adat kepadanya?”

Dua orang pengemis tua itu saling pandang, kemudian

mereka melangkah maju mendekat. Si tinggi kurus

mengangkat kedua tangan depan dada, sedangkan orang ke

dua yang bertubuh gemuk pendek juga mengangkat kedua

tangan depan dada. Mereka lalu memberi hormat kepada Sui

In dan Lili.

“Kami dari Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju

Hitam) mohon maaf kepada nona,” kata si tinggi kurus.

“Kami berterima kasih atas pelajaran yang diberikan kepada

anggauta kami,” kata si gemuk pendek. Dua orang pengemis

tua itu memberi hormat. Sui In dan Bwe Li tersenyum

mengejek. Tanpa berdiri, sambil duduk, mereka. pun

mengangkat kedua tangan ke depan dada, membalas

penghormatan itu.

Dua orang pengemis itu tadi bukan sembarang

menghormat saja, melainkan mengerahkan tenaga sakti yang

disalurkan melalui lengan mereka dan ketika mereka

menggerakkan tangan memberi hormat. Sebetulnya mereka

telah melakukan penyerangan jarak jauh untuk menguji

kepandaian dua orang wanita yang telah merobohkan anak

buah mereka itu. Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika

dari gerakan tangan kedua orang wanita itupun menyambar

tenaga dahsyat yang menyambut tenaga mereka dan

membuat tenaga mereka membalik dan merekapun

terhuyung!

Pada saat itu, terdengar suara orang. “Ciangkun lihat saja,

di mana-mana anggauta pengemis Baju Hitam membikin

kekacauan!”

Nampak serombongan orang datang ke tempat itu.

Pasukan yang terdiri dari belasan orang dikepalai seorang

perwira datang bersama seorang laki-laki setengah tua yang

juga mengenakan pakaian tambal-tambalan. Akan tetapi

pakaiannya bukan berwarna hitam seperti pengemis yang lain,

melainkan berkembang-kembang! Dialah yang tadi bicara

dengan lantang kepada komandan pasukan kecil itu.

Melihat yang datang rombongan penjaga keamanan, dua

orang pengemis baju hitam yang sudah dapat menguasai diri

mereka karena terkejut mendapat sambutan dua orang wanita

itu, lalu memberi hormat kepada komandan pasukan dan

pengemis baju kembang.

“Sobat dari Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju

Kembang), kenapa menuduh yang bukan–bukan kepada kami

segolongan?” kata pengemis baju hitam yang tinggi kurus.

Pengemis baju kembang yang tinggi besar dan bermuka

hitam itu tersenyum mengejek. “Sobat-sobat dari Hek I Kaipang,

aku bukan menuduh yang tidak-tidak kepada orang

segolongan. Akan tetapi, semua orang di kedai ini tahu belaka

betapa anggauta kalian ini tadi memaksa ketika minta

sedekah, kemudian bahkan menggoda dua orang nona ini.

Bukankah itu berarti bahwa para pengemis Hek I Kai-pang

adalah orang-orang yang suka membuat kekacauan?”

Dua orang pengemis baju hitam memandang ke sekeliling

dan melihat betapa semua orang mengangguk dan

membenarkan ucapan pengemis baju kembang, mereka

menghela napas dan pengemis tinggi kurus berkata,

“Anggauta perkumpulan kami telah membuat kesalahan.

Akan tetapi dia sudah menebus dengan nyawanya, sudah

terhukum. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kami agar kami

lebih ketat mengawasi anak buah kami. Ciangkun, maafkan,

kami akan membawa pergi mayat anggauta kami.”

Setelah berkata demikian, si gemuk pendek memondong

tubuh pengemis yang telah mati itu, dan setelah keduanya

memandang sejenak kepada Sui In dan Bwe Li, mereka lalu

pergi dari situ dengan cepat.

“Ciangkun, seharusnya mereka berdua tadi ditangkap saja

untuk dihadapkan ke pengadilan.” kata pengemis baju

kembang kepada perwira yang memimpin pasukan penjaga

keamanan.

Perwira itu menggeleng kepala. “Yang bersalah sudah mati.

Dua orang pengemis baju hitam itu tidak melakukan

kesalahan apapun, bagaimana kami dapat menangkapnya?

Sudahlah, selama ini tidak ada pengemis baju hitam yang

membuat kekacauan.”

Sui In segera membayar harga makanan, dan memberi

isyarat kepada sumoinya untuk cepat meninggalkan tempat

itu. Ketika sucinya mengajak ia berlari menyelinap dalam

kegelapan, Bwe Li bertanya lirih, “Ada apakah, suci?”

“Ssttt, kita membayangi para pengemis baju hitam itu,”

kata Sui In. Mereka berdua mempergunakan ilmu kepandaian

mereka dan sebentar saja mereka telah dapat menyusul dua

orang pengemis baju hitam yang memondong tubuh anak

buah mereka yang telah menjadi mayat itu.

Dua orang baju hitam itu keluar dari kota melalui pintu

gerbang sebelah barat dan kurang lebih tiga li kemudian dari

kota, mereka memasuki sebuah perkampungan di mana

terdapat rumah-rumah yang cukup besar. Kiranya Hek I Kaipang

mempunyai perkampungan para pengemis baju hitam di

situ, dan di tengah perkampungan berdiri sebuah gedung

yang cukup besar dan cukup megah, dikelilingi rumah-rumah

yang lebih kecil.

Ketika dua orang pengemis itu masuk memondong mayat

seorang pengemis baju hitam, gegerlah perkampungan itu.

Mereka semua mengikuti dua orang pengemis itu menuju ke

gedung besar dan memasuki ruangan yang luas di mana telah

menunggu ketua mereka yang sudah lebih dulu dlberitahu.

Karena mereka semua mencurahkan perhatian kepada dua

orang pengemis yang memondong mayat seorang rekan

mereka, maka para pengemis baju hitam itu menjadi lengah.

Hal ini tentu saja memudahkan Sui In dan Lili yang

mempergunakan ilmu kepandaian mereka menyelinap

memasuki perkampungan itu dan mereka sudah mengintai ke

dalam ruangan dari atas atap.

Lebih dari duapuluh orang berada di ruangan itu. tentu

mereka ini adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In,

karena ia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang

berada di luar ruangan itu. Di sebuah kursi yang agak tinggi

duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih

enampuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya

membayangkan kegagahan, mukanya berbentuk persegi dan

matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walaupun

pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam.

Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan

itu hanya karena di ikat pinggangnya terselip sebatang

tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu

jari kaki.

“Ceritakan apa yang terjadi,” kata ketua itu kepada dua

orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda

berbaju hitam ke dalam ruangan itu. Mayat itu kini rebah

telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat. “Ketika kami

berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah

kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang

makan di kedai. Kami mendekat dan ternyata dia ini sudah

berkelonjotan sekarat, kedua pipi ditembusi sebatang sumpit.

Dengan hati–hati kami menguji kepandaian mereka dan

ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sinkang

(tenaga sakti), kami bukan tandingan dua orang wanita

itu. Dan pada saat itu, sebelum kami bergerak lebih jauh,

muncul Lui-pangcu (ketua Lui), seorang di antara tokoh Hwa I

Kai-pang. Dia datang bersama sepasukan penjaga keamanan

dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin

kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah

kita ini telah melakukan pemerasan di kedai itu, dan

mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Semua orang yang

berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami

segera minta maaf dan membawa jenazah ini ke sini untuk

menerima petunjuk dari pangcu (ketua).”

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I

Kai-pang. Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang

menguasai seluruh anggauta Hek I Kai-pang di daerah barat

dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang

terbesar di empat penjuru. Sikapnya tenang dan berwibawa,

dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya. Dia tetap

tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas

lantai.

“Hemm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak

mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji ), coba periksa,

apa yang menyebabkan dia mati,” perintah ketua umum itu

kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli

dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera

berjongkok dan memeriksa jenazah itu. Diperiksanya muka

yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu

dan dia membenarkan pendapat ketua umum bahwa sumpit

itu bukan yang menyebabkan kematian. Dia lalu merobek baju

di bagian dada untuk memeriksa. Dan, tepat di bawah,

tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga

bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

“Pangcu, yang menyebabkan kematiannya adalah tiga

batang jarum yang menembus bajunya dan memasuki

dadanya,” Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

“Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya

seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa ia

menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya?

Kalau sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang inipun

akan tewas seketika!” kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat dan

tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang

wanita cantik. Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis

yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

“Kami tidak menggunakan jarum beracun!” kata Sui In

dengan suara lantang namun lembut.

“Pangcu….. mereka ….. mereka inilah dua orang tamu di

kedai itu …….,” kata pengemis tinggi kurus.

Souw Kiat sejenak memandang kepada dua orang wanita

itu penuh perhatian dan diam-diam dia kagum dan terkejut.

Dua orang wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja.

Dia sendiri yang biasanya amat peka dan hati-hati, sama

sekali tidak tahu akan kedatangan mereka. Dan mereka ini

masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki

kepandaian yang demikian luar biasa. Dia lalu membentak

para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap

menantang ketika mendengar bahwa dua orang wanita ini

pembunuh anak buah mereka, “Kalian semua mundur dan

sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita)

ini!” Setelah berkata demikian, Souw Kiat lalu memberi hormat

kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh,

bukan seperti dua orang pembantunya tadi yang memberi

hormat untuk menguji kekuatan.

“Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi li-hiap

(pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kaipang,

merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang

berkunjung. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang

peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?”

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In

maupun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi

tlmbul melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang

memandang marah dan siap mepgeroyok itu. Sui In

mengangguk.

“Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta

penjelasan tentang kai-pang pada umumnya.” suara Sui In

tenang, lembut namun penuh wlbawa.

“Silakan duduk, ji-wi li-hiap,” kata Souw Kiat yang

disambungnya setelah mereka duduk. “Bolehkah kami

mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?”

“Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi ku she

Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang

pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di

kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia kurang ajar

sekali, maka aku telah melukainya dengan sumpit. Akan

tetapi, bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun

walaupun aku memiliki pula jarum beracun, dan untuk

membuktikan, dapat dibandingkan jarumku dengan jarum

yang membunuh itu.”

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak, tidak terlihat

ia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang

memandang, di dada mayat yang bajunya masih terbuka itu

nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.

Akan tetapi kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna

kehitaman pada tltik-tltik yang baru itu nampak jelas betapa

kulit dan daging yang tertembus jarum itu mencair seperti

terbakar! Tentu saja semua orang terkejut bukan main.

“Ahhh ….. jarum-jarummu mengandung racun yang lebih

dahsyat lagi, Cu-lihiap!” seru ketua itu.

Sui In tersenyum dingin, “Ini hanya untuk membuktikan

bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu. Dan

sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali

mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada

anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan

ketika mengemis, dan mengganggu wanita, mengandalkan

kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!”

Wajah Souw Kiat berubah kemerahan. Ucapan itu

walaupun lembut, namun sungguh tajam seperti pedang

menusuk ulu hatinya. Sinar matanya menjadi keras dan marah

ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para

pembantunya. “Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa

jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!”

Duapuluh empat orang ketua cabang itu segera

menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti.

Akan tetapi, satu demi satu mereka mundur lagi dan

menggelengkan kepala. Akhirnya, duapuluh empat orangi itu

semua menyangkal dan tidak ada yang mengakui mayat itu

sebagai bekas anggauta mereka. Melihat ulah itu, Lili yang

nakal dan galak lalu berkata kepada sucinya, cukup keras

sehingga terdengar oleh semua orang.

“Suci, pernahkah engkau mendengar ada orang berani

mengakui cacat cela dan kesalahannya? Aku sendiri belum

pernah!”

Sui In menjawab dengan suara dingin, “Yang berani

melakukan pengakuan seperti itu hanyalah orang-orang gagah

saja, sumoi.”

Mendengar ini, wajah Souw Kiat menjadi semakin merah.

Matanya melotot dan dia memandang kepada dua orang

wanita itu. “Ji-wi li-hiap, bukan watak kami untuk menyangkal

kesalahan yang kami lakukan. Kalau para pembantuku ini

mengatakan tidak, berarti memang tidak! Kami bukan

pengecut! Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, kamipun tidak

dapat memaksa.”

Cu Sul In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah

banyak pengalaman dan-ia terkenal amat cerdik. Dengan

tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para

pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu,

dan iapun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan

seksama.

Ia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan

ia teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu. Sikap

pengemis baju hitam yang tewas itu terlalu menyolok, terlalu

berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tidak

berapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik

perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan

membuat kekacauan.

Kemudian muncul pengemis baju kembang dan sepasukan

penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan

pengemis baju hitam. Dan pembunuhan rahasia terhadap

pengemis yang mengacau itu! Semua itu merupakan

serangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apaapanya.

“Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai

musuh-musuh?” tiba-tiba Sui In bertanya. Souw Kiat dan para

pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran.

Karya : Kho Ping Hoo (1984)

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewi.0fees.net/

Jilid 6

SOUW KIAT lalu menggeleng kepala. “Sepanjang yang kami

ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh. Musuh kami

hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah mereka

diusir, kami tidak mempunyai musuh. Kenapa li-hiap bertanya

tentang itu ?”

“Jawab sajalah,” kata Sui In berwibawa, “Bagaimana

dengan Hwa I Kai-pang? Apakah mereka bukan musuh Hek I

Kai-pang?”

Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang.

“Hwa I Kai-pang? Aih, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah

segolongan dengan kami. Mereka adalah rekan-rekan kami

dan Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai

daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat.

Batasnya justeru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat

anggauta-anggauta kedua perkumpulan. Akan tetapi di antara

kami tidak pernah ada permusuhan.”

“Hemm, kulihat tadi sikap pengemis baju kembang itu tidak

bersahabat terhadap pengemis baju hitam. Bahkan dia

memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan

perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan.” Sui In

mendesak.

Souw Kiat mengerutkan alisnya. “Hemmm, terus terang

saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum

karena Lok-yang merupakan perbatasan. Kami sama-sama

ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa,

dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan

suka menderma kepada kami. Hanya persaingan, akan tetapi

bukan permusuhan, tidak pernah terjadi bentrokan ….” dia

berhenti dan mengamati wajah cantik itu. “Akan tetapi

kenapakah, lihiap?”

“Orang ini bukan anggauta Hek I Kai-pang akan tetapi dia

memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggauta. Dia

bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang

ramai. Kemudian, dia dibunuh secara rahasia dan kebetulan

sekali di sana muncul pasukan penjaga keamanan yang

menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggauta Hek I Kaipang,

diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di

sana. Nah, kalau orang ini benar bukan anggauta Hek I Kaipang,

kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini

palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan

nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak

membocorkan rahasia itu.”

“Ahhh …..” Souw Kiat dan para pembantunya berseru

kaget dan penasaran. “Tapi …… tapi …….”

“Souw pangcu, ceritakan, apakah di antara Hek I Kai-pang

dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu? Sekarang atau

dalam waktu dekat ini?”

Souw Kiat mengerutkan alisnya, “Tidak ada perebutan

sesuatu atau ….. ah, mungkinkah? Dalam waktu dekat ini,

sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang

sedang direncanakan mengadakan pertemuan besar dan kami

semua sudah sepakat untuk mengangkat atau menunjuK

seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang yang

menjadi atasan atau penasihat dari semua ketua empat kaipang

terbesar di empat penjuru. Tapi ………. “

“Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu,

tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang akan

dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula sekarang

yang menjadi pemimpin besar kai-pang.”

Kini ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan menatap

tajam wajah Sui In. Kemudian, terdengar suaranya yang

tegas. “Maaf, Cu-lihiap. Semua itu adalah urusan pribadi kaipang,

tidak ada sangkut-pautnya dengan lihiap. Kami tidak

boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang

luar. Dan pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua

itu? Tidak ada manfaatnya bagi lihiap.”

“Souw-pangcu. Ketahuilah bahwa aku telah mengambil

keputusan untuk mendapat dukungan Hek I Kai-pang, bahkan

mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kaipang

nanti.”

Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga

memandang heran dan kaget. “Ah, apa maksud lihiap?

Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili

perkumpulan kami? Dan dukungan apa yang dapat kami

berikan kepada lihiap?”

“Tentu saja mungkin kalau memang engkau sebagai ketua

Hek I Kai-pang menyetujui, pangcu. Aku dan sumoiku dapat

saja menjadi anggauta rombongan Hek I Kai-pang dalam

pertemuan rapat besar itu. Adapun dukungan yang kuminta

itu agar Hek I Kai-pang mendukung dipilihnya calon yang akan

kuajukan dalam rapat itu, yaitu calon pemimpin besar kaipang!”

Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut

dan mukanya berubah merah. Juga para pembantunya banyak

yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu

dengan marah.

“Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tidak mungkin!

Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang untuk

mengadakan pemilihan beng-cu di dunia persilatan!

Bagaimana seorang yang bukan pangemis dapat menjadi

calon pemimpin besar kai-pang? Dan juga lihiap tidak berhak

untuk mencampuri urusan kai-pang!”

Sui In tersenyum dingin dan memandang kepada ketua itu

dengan sinar mata tajam. “Souw Kiat, mengapa orang seperti

engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang? Tentu

karena di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, engkau yang

paling lihai bukan?”

Souw-pangcu memandang tak senang. “Kalau benar

begitu, apa hubungannya denganmu?”

Sui In bangkit dengan tenang. “Kalau begitu, aku akan

merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu

dengan mengalahkanmu! Kalau aku yang menjadi ketua, tentu

aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi

pemimpin besar kai-pang.” Semua orang menjadi gaduh dan

bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang

mereka anggap keterlaluan itu. Souw-pangcu marah bukan

main, akan tetapi sebagai orang yang sudah banyak

pengalaman, dia dapat menahan diri dan berkata dengan

suara yang tegas.

“Cu-lihiap, apakah sesungguhnya yang kaukehendaki! Tidak

mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita.

Dan engkau juga bukan orang pengemis! Bagaimana mungkin

Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan

pengemis? Andaikata ada yang setujupun, seluruh anggauta

yang jumlahnya ratusan orang tentu akan merasa

berkeberatan!”

“Hemm, kalau begitu, jangan memaksaku untuk merampas

kedudukan ketua! Akupun tidak suka menjadi ketua kaum

jembel. Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang

untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang.”

“Hemm, lalu siapakah calon yang kaupilih untuk menjadi

pemimpin besar kai-pang?” Souw-pangcu bertanya, semakin

penasaran.

Dengan wajah dingin namun bibirnya yang amat manis

menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata,

suaranya lantang terdengar semua anggauta kai-pang yang

berada di situ. “Calonnya adalah aku sendiri! Aku ingin

menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat

mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Beng-cu.”

Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh. Ada

yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada

pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita

itu. Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para

pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya

ditertawakan orang. Biarpun sekarang Sui In telah menjadi

kakak seperguruannya, namun dalam beberapa hal ia masih

menganggapnya sebagai gurunya.

“Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau! Suci ingin

menjadi pemimpin besar kai-pang, kalian tidak cepat

menyambutnya dengan baik malah mentertawakan! Hayo

siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju

melawan aku!”

Sebetulnya karena melihat kedua orang wanita ini datang

tidak untuk memusuhi mereka, ketua Souw Kiat tidak ingin

memusuhi mereka dan menyambut mereka dengan sikap

hormat. Akan tetapi, mendengar permintaan mereka` untuk

menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin

menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia terkejut dan

merasa penasaran. Oleh karena itu, ketika wakilnya yang

bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu,

diapun mendiamkannya saja. Bagaimanapun juga, kedua

orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia

tidak ingin perkumpulannya menjadi buah tertawaan dunia

kang-ouw. Dipimpin oleh wanita muda yang cantik!

Bagaimana mungkin?

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun

yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan

berpenyakitan, akan tetapi sesungguhnya dia seorang ahii silat

yang pandai. Dia memiliki tenaga sin-kang yang kuat, juga

memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat

menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan merupakan tangan

kanan Souw Kiat. Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras

dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan

diapun sudah meloncat ke depan dara itu. Dengan telunjuk

tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, diapun membentak.

“Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang?

Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan

menghajarmu!” Dia melintangkan tongkat hitamnya, sama

dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, di depan dada lalu

menantang. “Hayo cepat keluarkan senjatamu!”

“Untuk apa senjata? Melawan orang macam engkau ini,

dengan tangan kosongpun sudah terlalu kuat!” kata Lili dan

kembali ucapannya itu membuat banyak orang terkejut. Ada

yang kagum akan keberaniannya akan tetapi lebih banyak

yang marah karena, gadis ini dianggap terlalu sombong.

“Sumoi, jangan bunuh orang!” kata Sui In. Ia tidak

menghendaki Hek I Kai-pang mendendam kepadanya karena

ia membutuhkan bantuan dan dukungan perkumpulan

pengemis ini.

“Jangan khawatlr, suci. Aku hanya ingin memberi hajaran

kepada anjing kurus ini.”

Mendengar ucapan kedua orang wanita itu Lu Pi menjadi

semakin marah. Mereka sungguh amat memandang rendah

kepadanya. Dia sudah memutar tongkat hitamnya sehingga

benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam dan dia

berseru lantang.

“Bocah sombong, lihat seranganku!” Tanpa sungkan lagi

dia menyerang gadis muda, yang tidak memegang senjata itu.

Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang

berpengalaman. Biarpun dia marah bukan main namun dia

bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa

sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang

tinggi.

Setelah membentak sebagai peringatan pembukaan

serangan, gulungan sinar hitam itu semakin meluas dan tibaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu,

menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili.

Bagaimanapun juga, Lu Pi agaknya masih teringat bahwa yang

diserangnya adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak

bersenjata, maka serangannya pun masih lunak dan hanya

ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama

sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari

totokan itu. Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak,

tangan kanannya bergerak ke atas dan jari tengahnya

menjentik ke arah ujung tongkat yang orang menyambar

pundaknya.

“Takkk!”

Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya

tergetar dan hampir saja tongkat itu terlepas dari

genggamannya. Ujung jari tengah gadis itu membuat

tongkatnya terpental keras! Kini tahulah dia bahwa lawannya

bukan sekedar membual belaka. Gadis yang masih amat muda

itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sinkangnya

lewat jentikan jari tadi saja sudah terbukti

kekuatannya, Diapun tidak sungkan lagi dan serangan

berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bertubi-tubi

ujung tongkatnya mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan

enak-enak saja. Lili telah dapat mengukur tingkat kepandaian

lawan dan iapun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua

kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang

bergerak seperti dua ekor ular. Begitu lentur dan begitu aneh

gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari

dengan kepala terangkat. Dan ke manapun ujung tongkat

menotok, selalu bertemu dengan “kepala” dua ekor ular itu

yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, kini menusuk ke arah

tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan

kanannya, sekaligus menangkap ujung tongkat dengan

tangannya, gerakannya seperti ular yang membuka

moncongnya dan menggigit. Ujung tongkat tertangkap dan

sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan

tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili. Seketika

lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat

mudahnya, tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili.

Gadis itu menggunakan tongkat rampasannya untuk

menyerang. Gerakannya aneh dan cepat dan tubuh Lu Pi

menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri. Biarpun dia berusaha

untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah

cepat dan terdengas suara bak-bik-buk ketika tongkat itu

menggebuki kepala, punggung, dan pinggulnya. Pukulan itu

datang bertubi-tubi dan akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting

roboh.

Setelah lawannya roboh tanpa menderita luka parah,

barulah Lili menghentikan pukulan tongkat. Dia lalu meremas

tongkat itu dengan kedua tangannya. Bagian yang diremas itu

menjadi hancur berkeping dan ia lalu melemparkan sisa

tongkat dan remukannya ke arah tubuh Lu Pi yang mulai

merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya

membersihkan telapak tangan dari remukan kayu tongkat!

Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggauta kai-pang memandang dengan mata

terbelalak. Hampir mereka tidak dapat percaya bahwa wakil

ketua mereka yang amat lihai dengan tongkatnya itu, dalam

beberapa gebrakan saja roboh, bahkan setelah dipermainkan

oleh dara remaja ltu, seperti seorang dewasa mempermainkan

seorang kanak-kanak saja! Lu Pi juga tahu diri. Dia maklum

sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka

dengan muka pucat dan kepala ditundukkan, diapun mundur

ke sudut.

Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada

meremehkan. “Nah, pangcu. Apakah engkau juga masih

berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suciku

ini?”

Wajah Souw Kiat nampak suram. Diapun sudah melihat

sendiri kekalahan wakilnya dan diapun tahu bahwa melawan

gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang, Dia tidak

sanggup mengalahkan Lu Pi seperti yang dilakukan gadis itu,

sedemikian mudahnya! Apa lagi kalau harus melawan kakak

seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi

walaupun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih

lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.

“Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan

kepandaian silatku. Kalau ada yang hendak merampas

kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian,” katanya

akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.

“Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu

kepandaian!” tantang Lili.

“Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua Perkumpulan

pengemis ini?” tanya Sui In.

Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat. “Aih, siapa

ingin mengetuai para jembel ini, suci? Tidak, aku hanya

mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!”

“Kalau tidak, mundurlah, sumoi. Aku yang ingin menjadi

ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu

dari tangan Souw-pangcu.”

Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah

ruangan itu, lalu memandang kepada Souw Kiat dan berkata,

“Souw-pangcu, aku Cu Sui In menantangmu untuk mengadu

kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas

menjadi ketua Hek I Kai-pang!”

Souw Kiat bangkit dan dengan lemas dia melangkah ke

tengah ruangan menghadapi wanita cantik itu. Dia maklum

bahwa kedudukannya terancam.

Souw Kiat memberi hormat dan berkata. “Cu-lihiap,

sungguh sikap lihiap ini amat membingungkan hati kami.

Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin

menjadi pemimpin besar kai-pang? Apakah alasannya? Dan

sebelum kita bertanding, kalau boleh kami mengetahui, dari

partai manakah lihiap datang? Kami Hek I Kai-pang selalu

menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua

golongan.”

“Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kaipang

agar aku mendapat dukungan kalau ada pemilihan

pemimpin besar Kai-pang. Tujuanku bukan menjadi pemimpin

besar kai-pang, melainkan agar aku dapat mewakili seluruh

kai-pang untuk mengadakan pemilihan beng-cu.”

Souw Kiat terbelalak. “Apakah ….. apakah? lihiap yang

semuda ini berkeinginan menjadi beng-cu?”

Sui In menggeleng kepala. “Bukan aku calon beng-cu,

melainkan ayahku.”

“Siapakah ayah lihiap? Bolehkah kami mengetahui nama

besarnya?”

“Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat.”

Mendengar ini, terdengar seruan-seruan kaget dan Souw

Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In. “Ah,

kiranya lihiap puteri locianpwe See-thian Coa-ong!”

“Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran! Engkau

telah dikalahkan seorang murid dari locianpwe See-thian Coaong!”

seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya dan

wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri. Kalau dikalahkan

seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya.

Namanya tidak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh

gadis sembarangan!

“Cu-lihiap, kalau begitu kiranya tidak perlu lihiap menjadi

ketua Hek I Kai-pang. Kelak kalau ada pemilihan pimpinan

seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon.”

“Souw-toako, bagaimana mungkin itu? Kalau Cu-lihiap

bukan ketua kai-pang, bahkan bukan anggauta, bagaimana

mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?”

Lu-pangcu mengingatkan ketuanya.

Souw Kiat mengangguk dan mengerutkan alisnya. “Benar

juga ucapan Lu-siauwte. Bagaimana mungkin kami kelak

mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua ?” Dia menghela

napas panjang. “Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi,

terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap. Kalau aku kalah,

maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang.”

“Hemm, silakan maju, pangcu,” kata Sui In dan dengan

sikap tenang ia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.

Akan tetapi Souw Kiat nampak tidak bersemangat. Begitu

mendengar bahwa, wanita cantik ini puteri See-thian Coa-ong,

dia sudah menjadi jerih. Apa lagi tadi ia melihat wakilnya

dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.

“Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tidak akan menang

melawanmu. Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan

aku dalam hal tenaga sin-kang, aku akan mengaku kalah, dan

akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap.”

Sui In tersenyum. “Baik, kau mulailah!”

Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu

berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas kedua tangan

dikembangkan dan diapun mengerahkan tenaga, membuat

gerakan seperti memetik buah-buah dari atas, kemudian

kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi

tulang-tulang lengannya berkerotokan. Kedua tangannya

berkembang ke bawah dan kembali membuat gerakan seperti

mencabuti rumput-rumput dari bawah, kemudian kedua

tangan naik lagi. dengan jari-jari terbuka menempel di kanan

kiri pinggang. Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya

tergetar, terisi tenaga sin-kang yang dihimpunnya tadi.

Sui In maklum bahwa lawan telah mengumpulkan tenaga

sakti dan siap menyerangnya, maka iapun mengangkat kedua

tangan ke atas, lurus, lain kedua tangan itu turun membuat

gerakan melengkung seperti membentuk lingkaran, berhenti di

depan dada seperti memondong anak, perlahan-lahan kedua

tangan itu diturunkan ke kanan kiri tubuh, tergantung lepas

dan lurus seperti tidak bertenaga lagi. Ia tersenyum dan

berkata, “Aku telah siap, pang-cu. Mulailah!”

Souw Kiat tidak menjawab, melangkah maju sampai dekat

di depan wanita itu. Hidungnya mencium keharuman yang

keluar dari pakaian Sui In dan dengan cepat dia mematikan

penciuman itu agar tidak mengganggu konsentrasinya.

Kemudian, sambil mengerahkan tenaga dari bawah pusar,

disalurkannya ke seluruh kedua lengannya, diapun membuat

gerakan mendorong dengan kedua tangan terbuka, ke arah

dada Sui In. Terdengar angin yang dahsyat menyambar keluar

dari kedua tangan itu.

Sui In segera menyambutnya dengan kedua tangan pula

yang diluruskan ke depan, dengan jari terbuka pula.

“Plakkkk” Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu,

melekat dan mulailah keduanya mengerahkan tenaga sakti

mereka untuk saling mendorong dan mengalahkan lawan.

Nampaknya kedua orang itu seperti main-main saja, namun

semua orang maklum bahwa adu tenaga yang dilakukan

secara diam tanpa bergerak ini bahkan lebih berbahaya dari

pada adu silat yang penuh pukulan, tendangan, elakan dan

tangkisan.

Souw Kiat memang cerdik. Melihat ilmu silat Lili tadi saja,

dia tahu bahwa dalam ilmu silat dia bukan tandingan wanita

cantik ini. Akan tetapi dia memiliki sin-kang yang terkenal

kuat, maka dia hendak mencari kemenangan melalui adu

tenaga sakti. Ketika mula-mula kedua telapak tangannya

bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa betapa telapak

tangan itu lembut, lunak dan hangat. Dia lalu mengerahkan

tenaga untuk mendorong, akan tetapi bertemu dengan tenaga

lunak itu, tenaganya seperti batu ditekankan ke air,

tenggelam! Kemudian, telapak tangan yang halus itu menjadi

panas sekali. Souw Kiat cepat mengerahkan tenaganya untuk

melawan hawa panas yang seperti membakar telapak

tangannya. Namun, kedua telapak tangan halus itu makin

lama semakin panas dan ada tenaga dorongan yang amat

kuat keluar dari tangan itu. Souw Kiat mengerahkan seluruh

tenaga untuk bertahan dan tak lama kemudian, dahi dan

lehernya sudah penuh keringat, dan dari kepalanya mengepul

uap. Merasa betapa kedua kakinya mulai goyah dan kudakudanya

terbongkar, dia makin mempertahankan sekuat

tenaga. Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini,

walaupun tidak dapat merasakan, namun dapat melihat

perbedaan antara kedua orang yang sedang bertanding sinkang

itu. Kalau Souw Kiat berpeluh, kepalanya beruap dan

mukanya sebentar merah sebentar pucat, wanita cantik itu

masih tenang saja, nampak santai dan tersenyum mengejek.

Tiba-tiba Sui In mengeluarkan bentakan melengking dan

tubuh Souw Kiat terangkat ke atas Kedua kakinya naik sampai

satu meter dari tanah! Biarpun Souw Kiat berusaha untuk

membuat tubuhnya menjadi berat, tetap saja dia tidak mampu

menandingi tenaga yang mengangkat tubuhnya itu. Mukanya

berubah pucat karena dia berada dalam bahaya maut!

Kalau dilanjutkan adu tenaga sin-kang ini, dia akan terpukul

oleh tenaganya sendiri yang membalik dan akan terluka parah,

mungkin tewas. Dia berusaha melepaskan kedua tangan dari

tangan lawan, namun dua pasang tangan yang bertemu itu

seperti telah melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi!

Mendadak, Sui In mengeluarkan bentakan nyaring, kedua

tangannya mendorong dan tubuh Souw Kiat terlempar sampai

empat lima meter jauhnya dan tubuhnya terbanting keras di

atas lantai. Dia menderita nyeri pada pinggul yang terbanting,

akan tetapi tidak menderlta luka dalam. Tahulah dia bahwa

wanita itu selain sakti, juga tidak mempunyai niat buruk

terhadap dirinya yang tadi sudah berada di ambang maut,

Diapun bangkit, memberi hormat dengan hati kagum dan

berkata, “Saya mengaku kalah dan terima kasih atas

pengampunan lihiap.”

“Hemm, sekarang engkau membolehkan aku menjadi ketua

Hek I Kai-pang? Atau masih ada anggauta kai-pang lainnya

yang merasa tidak suka?” tanya Sui In.

Tidak ada seorangpun yang berani menjawab. Bahkan

mereka harus mengakui bahwa wanita cantik ini jauh lebih

lihai dari pada pangcu mereka, dan sudah sepatutnya menjadi

ketua baru. Akan tetapi, merekapun tidak suka mendukungnya

karena Hek I Kai-pang tentu akan menjadi bahan tertawaan

para kai-pang yang lain kalau mereka mendengar bahwa Hek I

Kai-pang diketuai oleh seorang wanita muda yang cantik.

“Cu-lihiap, saya dan seluruh anggauta Hek I Kai-pang,

tentu akan suka sekali kalau lihiap memimpin kami. Akan

tetapi saya khawatir justeru Cu-lihiap sendiri yang tidak mau

menjadi ketua kami.”

Lili bangkit dari tempat duduknya dan menudingkan

telunjuk kanannya ke arah Souw Kiat. “Heii, Souw-pangcu.

Jangan kau plintat-plintut! Hek I Kai-pang selama ini dipimpin

oleh orang-orang yang tidak becus, maka mudah saja menjadi

permainan perkumpulan lain seperti Hwa I Kai-pang.

Sekarang, suci dengan mudah mengalahkanmu, maka ia

berhak menjadi pangcu. Kenapa engkau malah mengatakan

bahwa suci tidak mau menjadi ketua? Omongan macam apa

itu ?”

“Harap ji-wi lihiap (berdua pendekar wanita) tidak salah

paham dan suka mendengarkan keterangan kami,” kata Souw

Kiat. “Hek I Kai-pang sejak puluhan tahun telah mempunyai

suatu peraturan tertentu yang sama sekali tidak boleh

dilanggar mengenai pengangkatan seorang ketua baru. Selain

seorang ketua baru harus menjadi orang yang paling tinggi

ilmu kepandaiannya di antara seluruh anggauta, juga sebagai

ketua baru dia harus lebih dahulu melakukan sendiri pekerjaan

mengemis selama satu bulan, dan dia tidak boleh

mengenakan pakaian lain kecuali pakaian hitam. Nah, apakah

Cu-lihiap suka memenuhi syarat dalam peraturan itu?”

Dua orang wanita itu saling pandang. Lili tertawa akan

tetapi sucinya cemberut dan mengerutkan allsnya “Mengemis?

Sebulan dan selalu berpakaian hitam? Wah, aku tidak suka

melakukan itu, Souw-pangcul” katanya kemudian. “Akan tetapi

aku tetap ingin didukung oleh Hek I Kai-pang dalam pemilihan

pemimpin besar kai-pang nanti!”

Kini ketua dan wakil ketua Hek I Kai-pang yang

mengerutkan alis dengan bingung.

Tiba-tiba Lu Pi memandang kepada ketuanya dengan wajah

berseri. “Ah, hal itu bisa diatur, Souw-toako! Dalam peraturan

kita, tidak ada disebut tentang ketua kehormatan! Maka, kita

dapat mengangkat Cu-lihiap dan Tang-lihiap sebagai ketua

dan wakil ketua kehormatan. Karena tidak ada dalam

peraturan, maka mereka tidak terikat oleh peraturan dan

persyaratan itu. Dan kelak, dalam pemilihan, tentu kita dapat

mendukung Cu-lihiap sebagai calon pemimpin besar kai-pang

karena mereka telah kita terima sebagai ketua-ketua

kehormatan!”

“Bagus sekali! Engkau benar, siauw-te. Nah, ji-wi lihiap

mendengar sendiri usul Lu-siauwte yang amat baik. Apakah jiwi

juga setuju dengan usul itu?”

Sui In mengangguk, “Teserah kepada kalian. Bagiku yang

terpenting, kalian harus mendukung aku dalam pemilihan

pemimpin kai-pang.”

Untuk menghormati ketua dan wakil ketua kehormatan itu,

Souw-Pangcu dan Lu-Pangcu lalu mengadakan penyambutan

dengan pesta. Dan dalam kesempatan ini, Souw Kiat

menceritakan tentang keadaan kai-pang (perkumpulan

pengemis) di empat penjuru dan tentang pemilihan pemimpin

besar kai-pang yang akan diadakan sebulan lagi di kota Lokyang.

Ada empat kai-pang terbesar yang menguasai empat

daerah. Di barat adalah Hek I Kai-pang dengan pakaian hitam,

di timur Hwa I Kai-pang dengan pakaian kembang-kembang,

di utara terdapat Ang-kin Kai-pang dengan tanda sabuk merah

di pinggang para anggautanya dan yang berkuasa di selatan

adalah Lam-kiang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sungai

Selatan) yang ditandai dengan topi butut hitam yang dipakai

para anggautanya.

“Masih banyak perkumpulan pengemis lainnya, akan tetapi

mereka semua hanyalah perkumpulan-perkumpulan kecil yang

bernaung di bawah panji kekuasaan empat perkumpulan

pengemis yang besar itu,” Souw Pangcu melanjutkan

keterangannya. “Empat perkumpulan besar itulah yang pada

bulan depan nanti akan mengadakan pertemuan untuk

memilih seorang pemimpin besar kai-pang yang menjadi

penasihat dan sesepuh, yang berwenang memutuskan kalau

terdapat pertikaian dan persaingan di antara keempat kaipang.”

“Aku pernah mendengar bahwa seluruh kai-pang sudah

mempunyai seorang pemimpin besar yang amat sakti dan

bijaksana. Ayahku mengenal baik tokoh ini, apakah sekarang

dia tidak lagi memimpin para kai-pang!” tanya Sui In.

Souw Pangcu mengangguk-angguk. “Memang benar sekali,

Cu-lihiap. Dahulu para kai-pang telah mempunyai seorang

sesepuh yang sakti dan bijaksana, yaitu Pek-sim Lo-kai

(Pengemis Tua Hati Putih). Selama ada beliau, para kai-pang

tidak ada yang berani melakukan penyelewengan dan mereka

hidup rukun dan saling bantu dengan kai-pang lainnya. Akan

tetapi, semenjak beberapa tahun yang lalu, beliau menghilang

dan tak seorangpun mengetahui di mana adanya, masih hidup

ataukah sudah mati. Beliau dahulu memimpin kami untuk

menentang penjajah Mongol dengan gerakan bawah tanah,

bahkan membantu pergerakan Kerajaan Beng. Akan tetapi

setelah penjajah Mongol berhasil digulingkan, beliau

menghilang. Mungkin karena kini rakyat tidak terjajah lagi,

negara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Beng, bangsa

sendiri, beliau menganggap tidak perlu lagi memimpin para

kai-pang.”

Sui In juga menceritakan rencananya. “Kai-sar Thai-cu

sendiri yang memerintahkan agar dunia persilatan memilih

seorang beng-cu (pemimpin rakyat) agar pemerintah mudah

mengadakan hubungan dengan para tokoh dunia persilatan.

Nah, dalam rangka inilah aku ingin menjadi pemimpin para

kai-pang. Aku ingin mewakili kai-pang dalam pemilihan bengcu

itu dan para kai-pang harus mendukung ayahku sebagai

calon beng-cu.” Mendengar ini, para pimpinan pengemis itu

merasa lega.

Kiranya, wanita ini sama sekali bukan menginginkan

kedudukan ketua Hek I Kai-pang ataupun pemimpin besar kaipang,

melainkan menginginkan kedudukan beng-cu untuk

ayahnya. Tentu saja hal itu tidak ada sangkut-pautnya secara

langsung dengan Hek I Kai-pang, maka dengan hati lega

Souw-pangcu menyatakan kesanggupannya untuk membantu

dan memberi dukungan.

Karena pemilihan permimpin besar kai-pang masih sebulan

lagi, maka Sui In dan Lili meninggalkan perkumpulan itu,

memasuki kota Lok-yang dan menghabiskan waktu untuk

berpesiar ke seluruh daerah Lok-yang di mana terdapat

banyak daerah wisata yang indah.

___

Dataran tandus di kaki pegunungan, di sebelah dalam

Tembok Besar itu merupakan daerah yang amat sunyi.

Letaknya di sebelah utara kota Peking. Daerah yang berbukitbukit

dan kadang diseling gurun pasir dan tandus itu

merupakan daerah yang mati. Akan tetapi, ketika pasukan

rakyat mengejar tentara Mongol pada akhir perang yang

meruntuhkan kekuasaan Mongol, daerah ini merupakan

daerah pertempuran besar-besaran. Banyak perajurit kedua

pihak tewas di daerah ini. Juga banyak pula para pengungsi

dan penduduk dusun yang ikut pula dibantai di tempat ini.

Biarpun perang itu sudah berlalu selama belasan tahun,

namun masih banyak ditemukan rangka-rangka manusia

berserakan di situ, tengkotak-tengkorak dan bahkan

senjata.senjata tajam yang sudah berkarat.

Pada siang hari itu, seorang kakek melintasi daerah tandus

yang terakhir dan kini dia melepas lelah di hutan pertama, di

bawah pohon besar yang rindang, berteduh dari terik

matahari. Di dalam perjalanan tadi dia memungut sebuah

tengkorak yang bersih, dan kini dia duduk di bawah pohon

sambil memegangi tengkorak itu, menghadapkan muka

tengkorak kepadanya dan dia mengajak tengkorak itu

bercakap-cakap!

Dia seorang pria tua, mungkin mendekati tujuhpuluh tahun

usianya. Pakaiannya jelek sekali, sudah robek di sana sini dan

penuh tambalan. Akan tetapi anehnya, pakaian yang butut itu

nampak bersih, seperti habis dicuci. Kedua kakinya telanjang

tanpa alas kaki, dan celana yang robek dan buntung sebatas

lutut itu memperlihatkan betis yang kecil kurus hampir tak

berdaging. Kakek ini tubuhnya sedang akan tetapi kurus,

kepalanya besar dan mukanya seperti muka singa karena

rambut, cambang, kumis dan jenggotnya tebal dan awutawutan

melingkari muka itu.

Rambutnya sudah banyak yang putih, demikian pula kumis

dan jenggotnya, dibiarkan tumbuh liar tak terpelihara rapi.

Akan tetapi rambut dan kumis jenggotnya halus seperti kapas,

juga bersih, tanda bahwa biarpun dia tidak pernah menyisir

rambutnya akan tetapi rambut dan kumis jenggot itu sering

dicuci bersih. Sepasang matanya seperti mata kanak-kanak,

nampak berseri gembira, mulutnya yang sudah tidak bergigi

lagi itupun selalu tersenyum, bibirnya merah tanda bahwa dia

sehat.

Kalau dikatakan dia seorang kakek jembel, kurang pantas

karena pakaian dan seluruh tubuhnya nampak sehat dan

bersih. Akan tetapi kalau bukan jembel, kenapa pakaiannya

penuh tambalan dan robek-robek. Sebuah caping lebar

tergantung di punggungnya, baru saja dilepas dari atas

kepalanya ketika dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon

itu. Kini dia bicara kepada tengkorak yang dipegangnya,

seperti orang bicara kepada seorang sahabatnya saja.

“Hayo jawablah!” Dia mengulang. “Selagi hidup engkau

tentu cerewet bukan main, kenapa sekarang diam dalam

seribu bahasa?” Dia terkekeh. Suara kakek itu lirih dan ringan,

seperti suara anak-anak.

“Hayo katakan, apakah engkau dahulu seorang wanita yang

cantik jelita ataukah wanita yang buruk rupa? Seorang laki-laki

yang jantan perkasa ataukah seorang laki-laki yang lemah

berpenyakitan? Apakah engkau dahulu seorang panglima?

Ataukah perajurit biasa ? Hartawan ataukah pengemis?”

Kalau ada orang lain melihat dan mendengatnya di saat itu,

tentu kakek ini akan dianggap seorang yang tidak waras,

seorang gila atau setidaknya sinting.

“Coba jawab. Engkau dahulu seorang pembesar yang jujur

bijaksana, ataukah seorang pembesar yang korup dan

penindas rakyat? Seorang hartawan yang dermawan ataukah

yang pelit? Ataukah engkau seorang pendeta yang penuh

kasih sayang dan arif bijaksana, ataukah seorang pendeta

munafik yang pura-pura alim? Ha..ha..ha, apapun adanya

engkau dahulu, sekarang tiada lebih hanya sebuah tengkorak!

Mana itu kecantikan atau ketampananmu, mana hartamu,

mana kedudukanmu? Ha..ha..ha, engkau kini hanya pantas

untuk menakut-nakuti anak-anak saja!” Kakek itu tertawatawa.

“Heii, tengkorak! Selagi hidup haruslah ada manfaatnya!

Jadilah seperti para pemimpin yang membimbing rakyat

dengan bijaksana dan adil menuju ke arah kehidupan yang

makmur, seperti para cerdik pandai yang memberi pelajaran

yang bermanfaat bagi orang lain, seperti para pendekar yang

selalu menegakkan dan membela kebenaran dan keadilan,

seperti para pendeta yang benar-benar mengabdi kepada

Tuhan, memberi penyuluhan dan bimbingan kepada orang lain

ke arah jalan benar. Mereka meninggalkan hasil karya dan

nama baik mereka, sehingga matipun tidak menyesal karena

sudah berjasa semasa hidupnya. Dan engkau, apa jasamu

terhadap orang lain, terhadap negara dan bangsa, dan

terutama terhadap Tuhan?”

Kini kakek itu tidak tertawa lagi, melainkan menghela napas

panjang. Kemudian terdengar lagi dia berkata, “Kuharap saja

engkau dahulu bukan seperti para muda yang tidak jujur,

yang suka mengintai orang dan tidak berani muncul secara

berterang, tengkorak. Kalau begitu halnya, engkau tidak

pantas kuajak bicara!” Dia meletakkan tengkorak itu di atas

tanah dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon besar

berloncatan keluar seorang pemuda dan seorang gadis.

Mereka tadi bersembunyi sambil mengintai dan

mendengarkan ulah kakek jambel itu dengan terheran-heran,

dan ucapan terakhir kakek itu yang menyindir mereka yang

sedang mengintai, mengejutkan mereka dan keduanya segera

berloncatan keluar. Mereka menghampiri kakek itu dan

memberi hormat.

“Kakek yang baik, harap maafkan kami yang tadi

bersembunyi di sana.” Kata pemuda itu dengan sikap yang

sopan.

Kakek itu terkekeh dan memandang kepada dua orang

muda itu dan hatinya merasa senang. Dia adalah seorang

kakek yang sudah banyak makan garam, sudah luas sekali

pengalamannya dan dia dapat menilai orang hanya dengan

melihat sinar matanya saja.

Pemuda itu berusia duapuluh satu tahun, berkulit gelap,

tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tampan dan gagah.

Dahinya lebar, sepasang alis tebal berbentuk golok melindungi

sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar. Akan tetapi

mata yang bersinar tajam itu amat lembut dan ini saja sudah

menyenangkan hati si kakek, apa lagi melihat pemuda itu

begitu muncul sudah minta maaf kepadanya!

Dan gadis yang muncul bersama gadis itupun

mengagumkan hatinya. Dara itupun sebaya dengan si

pemuda, wajahnya lonjong dengan dagu runcing. Setitik tahi

lalat menghias dagu kanannya. Matanya juga tajam bersinar,

namun lembut. Bibirnya merah segar dan sikapnya halus dan

anggun.

“He..he..heh!” kakek jambel itu terkekeh setelah

mengamati wajah kedua orang muda itu. Wajahnya berseri

dan matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan. “Kenapa

kalian minta maaf kepadaku? Tempat ini bukan milikku. Siapa

saja boleh datang dan pergi. Akan tetapi kenapa kalian main

sembunyi-sembunyi? Kalian bukan sepasang kekasih yang

melarikan diri dari orang tua kalian, bukan?”

Wajah dua orang muda itu berubah kemerahan, akan tetapi

keduanya tersenyum dan tidak menjadi marah. Ucapan kakek

itu wajar dan sebagai kelakar yang sopan, tidak bermaksud

menghina.

“Sama sekali bukan, locianpwe (orang tua gagah).”

“Heii! Kenapa engkau menyebut aku seorang jembel tua

dengan sebutan locianpwe! Aku hanya pandai makan dan

minta-minta!”

“Harap locianpwe tidak merendahkan diri. Locianpwe tadi

dapat mengetahui bahwa kami bersembunyi, hal itu saja

sudah menunjukkan bahwa locianpwe memiliki penglihatan

dan pendengaran yang tajam sekali,” kata pemuda itu.

Kakek itu memandang dengan kagum. “Haii, engkau cerdik

juga. Nah, katakan mengapa kalian bersembunyi tadi.”

“Kami melihat dan mendengar semua kata-katamu,

locianpwe. Karena kami tidak ingin mengganggumu, maka

kami bersembunyi. Ucapan locianpwe kepada tengkorak tadi

sungguh menyentuh perasaan kami. Akan tetapi, locianpwe,

mengapa locianpwe seperti orang yang berputus-asa dan

melihat dunia ini dari seginya yang mengecewakan dan

menyedihkan belaka? Bukankah masih banyak segi lain yang

menggembirakan?”

Tiba-tiba sepasang mata yang lembut dan ramah itu

mencorong, mengejutkan hati pemuda itu. Lalu kakek itu

menghela napas panjang, pandang matanya melembut

kembali. “Aihhh, siapa yang tidak akan merasa kecewa dan

bersedih, orang muda? Kalau aku mengenang semua peristiwa

yang terjadi selama beberapa tahun ini, sejak perang yang

meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol. Aihh, sungguh

menyedihkan ……”

Pemuda itu mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, locianpwe,

bukankah peristiwa itu amat membahagiakan rakyat?

Bukankah perang itu yang berhasil melepaskan rakyat dari

pada cengkeraman penjajah? Kenapa locianpwe malah

menyatakan kecewa dan sedih? Bukankah sudah selayaknya

kalau kita bersyukur, bahkan kalau bisa membantu perjuangan

rakyat mengusir penjajah?”

Kakek itu menatap wajah pemuda yang bicara dengan

sikap penasaran itu beberapa lamanya, kemudian dia tertawa

bergelak sambil memandang ke angkasa. “Ha..ha..ha..ha,

lucunya! Engkau memberi kuliah kepadaku tentang

perjuangan? Ha..ha..ha, orang muda, ketahuilah bahwa

selama perang melawan Mongol, aku selalu berada di garis

terdepan!”

Pemuda dan gadis itu cepat memberi hormat. “Kiranya

locianpwe seorang pahlawan!” kata gadis itu, baru pertama

kali bicara.

“Apa pahlawan? Apa artinya sebutan itu? Kalian tahu,

ketika rakyat bergerak dan berjuang melawan penjajah

Mongol, aku merasa bangga dan gembira bukan main. Hampir

dapat dikatakan bahwa semua golongan, tidak perduli dari

aliran mana, bersatu padu dan bekerja sama, bahu membahu

dalam perjuangan, rela setiap saat berkorban nyawa. Akan

tetapi, kegembiraan itu hanya sebentar! Aih, seperti awan tipis

tertiup angin saja. Segera terganti kedukaan ketika aku

melihat betapa perang itu mengakibatkan jatuhnya korban

yang teramat besar. Banyak rakyat jelata yang tidak berdosa

menjadi korban, Tidak perduli wanita, kanak-kanak, orangorang

jompo, semua tak terkecuali, banyak yang roboh

dibantai orang! Perang itu mengakibatkan banjir darah!”

“Apa anehnya hal itu, locianpwe? Setiap peperangan tentu

saja menjatuhkan banyak korban. Setiap perjuangan tentu

saja membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan rakyat tidak

sia-sia, locianpwe. Mereka yang tewas dalam perang itu. baik

dia perajurit maupun rakyat, adalah pahlawan dan darah

mereka yang membebaskan tanah air dari cengkeraman

penjajah. Kematian mereka yang mendatangkan kebebasan

dan kemakmuran ……….”

“Kemakmuran siapa, orang muda? Inilah yang

menyedihkan hatiku. Kami dahulu dengan senang hati

membantu perjuangan yang dipimpin pendekar Cu Goan Ciang

yang gagah perkasa, bahkan sampai sekarangpun, setelah

menjadi Kaisar Thai-cu, kami masih menaruh rasa hormat

kepada dia. Dia memang seorang pejuang sejati, seorang

pemimpin sejati. Sekarang. pun dia menjadi kaisar yang

bijaksana, yang tidak mabok kemenangan, tidak mabok

kemuliaan dan kesenangan. Dia terus membangun yang rusak

oleh perang, dibantu oleh para pejabat yang setia dan

bijaksana ……….”

“Nah, bukankah hal itu menggembirakan sekali,

locianpwe?”

“Uhhh, engkau hanya tahu satu tidak tahu selebihnya yang

jauh lebih banyak. Aku melihat hal-hal yang menyedihkan

sebagai akibat perang, atau menyusul perjuangan yang luhur

itu. Kalau dahulu, semua golongan bersatu padu menyerang

penjajah, ehh, sekarang malah terjadi perpecahan antara kita

dengan kita sendiri, karena saling berebutan! Saling

memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan yang

pada hakekatnya saling memperebutkan kesenangan duniawi!

Orang-orang tidak mungkin akan memperebutkan pengaruh,

kedudukan dan kekuasaan kalau di situ tidak terdapat

kesenangan! Jadi, yang diperebutkan adalah kesenangan! Dan

dalam perebutan ini, mereka tidak segan-segan untuk saling

serang dan saling bunuh! Bukan itu saja, akan tetapi lihat

keadaan para pembesar! Mereka tidak pantas disebut

pemimpin, mereka adalah pembesar yang membesarkan perut

sendiri. Mereka melakukan korupsi, mencuri dan menipu uang

negara, menindas yang bawah menjilat yang atas, bahkan

banyak yang lebih tamak dan lebih murka dibandingkan

penjajah Mongol sendiri! Dan Kaisar yang bijaksana itu

bagaimana mungkin dapat mengetahui semua yang terjadi di

antara laksaan orang pejabatnya?”

“Akan tetapi, locianpwe, aku tidak setuju! Tidak semua

pejabat seperti yang locianpwe katakan tadi! Masih banyak

yang merupakan pejabat sejati, setia kepada pemerintah, jujur

dan tidak mementingkan diri sendiri!” Gadis itu kini berseru

penasaran.

“Ha..ha..ha, hanya berapa gelintir orang saja yang seperti

itu? Dan ….. eh, kenapa aku bicara dan berdebat dengan dua

orang muda yang sama sekali tidak kukenal?” Dia menepuk

kepala sendiri dan mengomel, akan tetapi sambil tersenyum,

“Bu Lee Ki, engkau tua bangka pikun. Sekali waktu bisa celaka

oleh celotehmu sendiri!”

Melihat kakek itu kini mengatupkan bibir kuat-kuat dan

duduknya bahkan membelakangi mereka, pemuda itu saling

pandang dengan si gadis dan keduanya tersenyum.

“Locianpwe, maafkan kami berdua yang masih muda dan

lupa untuk memperkenalkan diri kepada locianpwe. Namaku

Sin Wan dan ini adalah sumoiku bernama Lim Kui Siang.

Kakek itu tidak menoleh, masih duduk membelakangi

mereka, seperti acuh saja. Sin Wan dan Kui Siang kembali

saling pandang.

___

Mereka berdua baru saja meninggalkan guru mereka yang

tinggal seorang, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui yang

telah berhasil mengajarkan Sam-sian Sin-ciang kepada dua

orang muridnya itu. Selama hampir setahun dua orang murid

itu dengan tekun melatih diri dengan ilmu silat baru hasil

ciptaan Tiga Dewa. Setelah Dewa Arak melihat bahwa dua

orang muridnya sudah benar-benar menguasai ilmu silat sakti

itu, diapun menyuruh mereka turun gunung.

“Aku hendak menghabiskan sisa hidupku di sini, menanti

uluran tangan maut yang akan membawa aku menyusul dua

orang gurumu yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita.

Kalian pergilah dan pergunakan semua kepandaian yang

pernah kalian pelajarl dari kami demi keadilan dan kebenaran.

Kui Siang, sebaiknya engkau kembali ke kota raja. Tentu

semua harta peninggalan orang tuamu berikut rumahmu

masih dirawat baik-baik oleh Ciang-Ciangkun. Dan engkau, Sin

Wan, terserah kepadamu hendak ke mana, akan tetapi …..

biarlah sekarang kuceritakan kepada kalian suatu keinginan

hati yang sudah kami sepakati bertiga ketika dua orang

gurumu yang lain masih hidup. Kami ingin melihat kalian

menjadi suami isteri ……..”

“Suhu ….!” Kui Siang berseru lirih dan mukanya menjadi

merah sekali. Ia hanya menunduk. Juga wajah Sin Wan

menjadi kemerahan, dan diapun tidak berani berkutik, hanya

menunduk.

Sejak masih kecil, hatinya sudah penuh kasih sayang

terhadap Kui Siang. Dia menganggap gadis itu seperti adiknya

sendiri, Demikian pula Kui Siang nampak sayang kepadanya.

Mungkin kebersihan hati mereka berdua saja yang belum

sempat membiarkan panah asmara menembus hati mereka.

Karena itu, begitu Dewa Arak secara terang-terangan

menyatakan keinginannya, juga keinginan dua orang guru

mereka yang telah tiada, mereka menjadi tertegun dan malu.

“Aihhh, Sin Wan dan Kui Siang. Kalian sudah tahu akan

watakku. Aku menjunjung tinggi kebebasan setiap orang dan

dalam hal perjodohan, tentu saja tidak boleh ada penekanan

dari orang lain. Aku hanya memberitahukan keinginan kami

bertiga, hanya mengusulkan saja. Sama sekali tidak akan

memaksakan. Terserah kepada kalian berdua. Hanya aku

yakin, kedua orang gurumu yang sudah tiada, juga aku

sendiri, akan merasa gembira dan puas sekali kalau kalian

menjadi suami isteri. Nah, sekarang pergilah kalian, dan

jangan mencari aku di sini karena mungkin aku tidak berada di

sini lagi. Kalau aku ingin bertemu kalian, aku yang akan

mencari kalian.”

Demikianlah, dua orang murid itu lalu meninggalkan Dewa

Arak dan karena ia tidak mempunyai tujuan lain, Kui Siang

pergi ke kota raja, ditemani Sin Wan. Pemuda inipun tidak

mempunyai tujuan. Dia hanya menemani sumoinya pulang ke

kota raja, baru kemudian dia akan melanjutkan perjalanan,

entah ke mana. Mereka sengaja mengambil jalan memutar

untuk mencari pengalaman dan pada hari itu, tibalah mereka

di hutan dekat daerah tandus itu dan tertarik oleh ulah kakek

tua jembe! yang bicara dengan sebuah tengkorak.

___

Kini, kakek tua jembel itu masih duduk membelakangi

mereka. Karena Sin Wan dan Kui Siang menganggap bahwa

kakek itu menjadi marah dan tidak mau lagi bicara dengan

mereka, maka Sin Wan memberi isyarat dengan matanya

kepada sumoinya. Kalau orang tua ini tidak lagi mau bicara,

merekapun tidak sepantasnya mengganggunya.

“Maafkan, locianpwe. Kami berdua telah lancang

mengganggu locianpwe dan sekarang kami hendak pergi

saja.”

Akan tetapi baru saja keduanya bangkit berdiri, terdengar

kakek itu bertanya tanpa menoleh, “Nanti dulu, katakan dulu

siapa guru kalian.”

Sin Wan saling pandang dengan Kui Siang. Mereka raguragu.

Kakek jembel yang tadinya kelihatan amat ramah itu kini

seperti orang yang angkuh. Mereka sudah memperkenalkan

diri, akan tetapi kakek itu tidak mengatakan siapa dia, dan kini

malah menanyakan nama guru mereka. Pada hal mereka tahu

benar bahwa tiga orang guru mereka sama sekali tidak ingin

nama mereka disebut-sebut kalau tidak penting sekali.

Agaknya, kakek itu dapat membaca isi hati mereka.

“Hemm, jangan kalian menaruh curiga kepadaku. Aku Peksim

Lo-kai Bu Lee Ki tidak ingin banyak bicara dengan

sembarang orang. Katakan siapa guru kalian agar aku dapat

memutuskan untuk melanjutkan percakapan kita ataukah

tidak.”

Mendengar nama julukan Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua

Berhatl Putih) itu, dua orang muda ini tercengang. Mereka

pernah mendengar disebut nama julukan itu oleh Dewa Arak,

dan guru mereka itu mengatakan bahwa Pek-sim Lo-kai

adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang tidak palsu

dan amat dihormatinya.

“Aih, kiranya locianpwe adalah pemimpin besar seluruh kaipang!”

seru Sin Wan.

“Ketiga orang suhu kami. Sam-sian, pernah mencerltakan

tentang locianpwe!” kata pula Kui Siang.

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri sambil membalikkan

tubuhnya, menghadapi dua orang muda itu, wajahnya berseri

dan senyumnya melebar sehingga matanya menjadi sipit

sekali, kemudian dia bahkan tertawa ha..ha..he..he seperti

tadi lagi.

“Heh..heh..heh, kiranya kalian adalah murid-murid Samsian!

Ha..ha..ha, kalau begitu kita bukan orang lain karena

Sam-Sian sudah lama kuanggap sebagai sahabat-sahabat

yang paling baik! Bagaimana kabarnya dengan mereka

bertiga? Apakah Ciu-sian tetap mabok-mabokan dan ugalugalan,

Kiam-sian masih suka berfilsafat dengan pelajaran To,

Pek-mau-sian masih suka bersajak?”

Mendengar ini, terbayanglah di depan mata Kui Siang

semua itu, wajah ketiga orang gurunya, terutama Kiam-sian

dan Pek-mau-sian, dan semua sikap dan gerak-gerik mereka,

dan tak tertahankan lagi, kedua matanya menjadi basah.

Biarpun tadi tersenyum dan matanya menyipit nyaris

tertutup, ternyata penglihatan kakek itu tajam sekali. Air mata

itu belum sempat jatuh, masih tergenang di pelupuk mata,

akan tetapi dia sudah cepat menegur.

“Heiiii? Kenapa engkau menangis? Apa yang terjadi dengan

Sam-sian?” tanyanya kepada Kui Siang.

Dangan muka ditundukkan karena ia tidak ingin

memperlihatkan tangisnya, Kui Siang menjawab, “Suhu Kiamsian

dan suhu Pek-mau-sian telah meninggal dunia lebih

setahun yang lalu.”

Mendengar ini, hanya sejenak saja kakek itu tertegun, lalu

dia terkekeh lagi. “Heh..heh..heh, enaknya kalian, Kiam-sian

dan Pek-mau-sian! Tidak seperti aku yang masih terseok-seok

mengikuti langkah kakiku yang sudah mulai lemah terhuyung

ini. Heh..heh. Dan di mana sekarang Dewa Arak?”

Cara kakek itu membicarakan Sam-sian menunjukkan

bahwa dia memang sahabat karib mereka, maka Sin Wan

yang memberi keterangan. “Suhu Ciu-sian menyuruh kami

meninggalkannya dan suhu hendak merantau, entah ke mana

karena tidak memberitahu kepada kami berdua.”

“Aihh, masih enak dia dari pada aku. Dia bebas, dan aku?

Terikat oleh kaipang-kaipang yang brengsek itu! Dahulu, di

jaman perjuangan, mereka itu demikian setia, demikian gagah

perkasa dan bersatu! Sekarang? Muak aku melihatnya. Saling

bermusuhan, saling berebutan, bahkan banyak yang

kemasukan kaum sesat! Sangguh memalukan. Karena itu,

lebih baik aku merantau dan menjauhi semua tetek-bengek

itu!” Baru sekarang nampak wajah yang biasanya berseri itu

digelapkan mendung kemurungan. “Mereka itu munafik semua

munafik! Segala kebaikan, segala kehormatan, segala

keramahtamahan, semuanya munafik! Sama dengan bedak

gincu saja, untuk menyembunyikan kulit yang buruk.”

Dia menarik napas panjang dan memandang wajah Kui

Siang. “Tidak ada hubungannya dengan engkau, anak baik.

Engkau memiliki wajah yang cantik dan bersih, tidak

membutuhkan bedak gincu lagi!”

Diam-diam Sin Wan terkejut. Menurut guru-gurunya, Peksim

Lo-kai Bu Lee Ki adalah seorang sakti yang gagah perkasa

dan ditakuti, juga disegani oleh kawan dan lawan. Dia lihai

akan tetapi berhati lembut, adil dan pandai mengatur

sehingga seluruh perkumpulan pengemis dari empat penjuru

memilih dia sebagai pemimpin besar yang disebut Thai-pangcu

(Ketua Besar) dan ditaati seluruh pimpinan semua

perkumpulan pengemis. Akan tetapi, sekarang tokoh ini

meninggalkan perkumpulan, melarikan diri dari semua hal

yang membuatnya kecewa dan penasaran.

“Maaf, locianpwe. Sudah berapa lamakah locianpwe

meninggalkan kai-pang?”

“Heh..heh, biar mereka tahu rasa. Biar mereka memilih

sendiri pimpinan mereka, agar pimpinan yang baru itu

mampus karena pusing kepala! Aku tidak sudi lagi, aku sudah

meninggalkan kesemuanya itu sudah bertahun-tahun

sedikitnya ada tujuh tahun!”

“Tapi, locianpwe. Menurut para guruku, hanya locianpwe

seorang yang dipandang oleh seluruh pimpinan kai-pang di

empat penjuru, hanya locianpwe yang dapat mengatur dan

mengarahkan mereka agar mereka tetap berjalan di jalan

yang benar. Bukankah locianpwe pula yang dahulu memimpin

mereka semua membantu perjuangan menumbangkan

pemerintah Mongol? Kenapa locianpwe sekarang malah

meninggalkan mereka?”

“Biar! Heh..heh, siapa sudi mengurus orang-orang brengsek

itu? Setelah perjuangan selesai, mereka ikut-ikut dengan

orang-orang sesat untuk memperebutkan harta benda dan

kedudukan, menuntut imbalan jasa atas perjuangan

menumbangkan penjajah!”

“Maaf, locianpwe, bukankah itu wajar? Bukankah mereka

yang telah berjasa dalam perjuangan memang berhak

menerima imbalan?” Sin Wan mengejar, hanya untuk

memancing pendapat kakek itu karena dia sendiri sudah

melihat betapa sesatnya perbuatan itu.

Sepasang mata itu melotot. “Hehh? Kau hendak menguji

aku atau bersungguh-sungguh? Kalau sungguh-sungguh, tidak

pantas engkau menjadi murid Sam-sian, apakah guru-gurumu

hanya mengajarkan ilmu pukulan dan tendangan saja dan

tidak membuka matamu melihat kenyataan hidup?”

“Maaf, saya mengharapkan petunjuk dan pelajaran yang

amat berharga dari locianpwe.” kata Sin Wan.

“Hemm, kalau berjuang mengharapkan imbalan jasa, maka

itu bukan perjuangan namanya! Makna perjuangan yang

luhur, pengabdian kepada nusa bangsa dengan taruhan

nyawa, menjadi pudar dan diisi dengan pamrih demi

keuntungan diri pribadi. Pejuang seperti itu dapat melakukan

penyelewengan dengan mudah karena yang dipentingkan

adalah pamrihnya. Berjuang hanya mempunyai satu tekad,

yaitu menghalau penjajah dan membebaskan bangsa dan

negara dari belenggu kekuasaan Mongol. Itu saja! Tentu saja

setelah berhasil, dilanjutkan dengan mengisi kemerdekaan

yang telah diperoleh dengan pengorbanan harta dan nyawa

itu. Dan pengisiannya juga merupakan perjuangan yang sama

luhurnya, yaitu demi negara dan bangsa, bukan demi

penuhnya kantung sendiri, demi keuntungan dan kesenangan

diri sendiri! Dan lihat, mereka mulai saling bermusuhan

berebutan seperti segerombolan anjing kelaparan

memperebutkan tulang-tulang yang berserakan. Memalukan!”

“Dan melihat hal seperti itu, locianpwe malah menjauhkan

diri? Sudah benarkah tindakan locianpwe itu?” Sin Wan

menegur sambil mengerutkan alisnya yang tebal.

“Eh? Apa maksudmu?”

“Locianpwe, perjuangan suci bukan hanya memerdekakan

negara dan bangsa lalu disusul dengan usaha memakmurkan

rakyatnya saja. Kalau melihat ada orang-orang yang tidak

benar dan berambisi menyenangkan diri sendiri, berarti

melihat tikus-tikus yang hendak menggerogoti sarana

kemakmuran bagi rakyat. Melihat begitu dan mendiamkannya

saja, bahkan menjauhkan diri, sudah benarkah itu? Bukankah

berusaha dengan tindakan mencegah terjadinya semua

penyelewengan itu, menghentikan semua permusuhan antara

bangsa sendiri, antara golongan sendiri, membersihkan

mereka yang menipu dan mencuri milik negara, menjamin

keamanan bagi rakyat jelata, bukankah itupun merupakan

perjuangan yang luhur pula?”

Kakek itu membelalakkan mata memandang kepada Sin

Wan, akan tetapi tidak marah, melainkan tersenyum lucu.

“Ehh? Ehh, lanjutkan, lanjutkan!” katanya penuh gairah.

“Kehidupan di seluruh alam mayapada ini dikuasai oleh dua

unsur, locianpwe, yaitu Im (negatif) dan Yang (positif).

Keduanya ini yang memutar seluruh alam dan isinya, seluruh

kejadian dan seluruh sifat. Bagaimana ada Yang tanpa Im?

Bagaimana ada Terang tanpa Gelap, ada Kebaikan tanpa

Keburukan dan sebagainya? Hidup ini merupakan tantangan,

locianpwe, justeru di sini letaknya seni hidup. Kita harus

hadapi setiap tantangan, menghadapinya dan mengatasinya!

Bukan melarikan diri! Inipun perjuangan namanya, perjuangan

hidup, yaitu menghadapi dan mengatasi semua tantangan,

dengan landasan benar! Tidakkah demikian, locianpwe?

Ataukah locianpwe hanya pura-pura saja tidak tahu karena

saya yakin locianpwe lebih tahu dari pada kami orang-orang

muda ini?”

“Siancai ……..! Ini baru suara murid Sam-sian! Hei, orang

muda yang baik, engkau menjatakan tadi tentang landasan

benar! Nah, kata “benar” ini bagaimana? Setiap orang akan

menganggap dirinya benar! Kalau aku sampai berkelahi

denganmu, pasti aku akan merasa diriku benar dan

engkaupun demikian. Lain, kalau kita berdua merasa benar,

lalu siapa yang tidak benar?”

“Locianpwee kalau locianpwe merasa benar dan sayapun

merasa benar sehingga kita saling bermusuhan, maka jelaslah

bahwa kita berdua sama-sama tidak benar! Kebenaran tak

dapat diperebutkan, tidak dapat dimonopoli seseorang.

Kebenaran yang dibela dengan kekerasan sehingga

bermusuhan, jelas bukan kebenaran lagi.”

“Heh..heh..heh, lalu apa maksudmu mengatakan dengan

landasan benar tadi? Kebenaran yang mana yang kau

maksudkan?”

“Maaf, locianpwe, kalau pengertian saya masih dangkal dan

keliru, mohon petunjuk. Kebenaran mutlak, yang Maha Benar

hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang lainnya, yaitu

kebenaran yang diaku oleh manusia hanyalah kebenaran semu

yang setiap waktu dapat dinyatakan tidak benar, tergantung

waktu, keadaan dan lingkungan. Yang saya maksudkan

dengan landasan benar tadi, locianpwe, adalah apabila tindak

kita tidak didasari pamrih demi kepentingan dan keuntungan

diri pribadi. Yang penting itu pamrihnya, bukan perbuatannya.

Betapapun baik dan indah nampaknya suatu perbuatan, kalau

didasari pamrih yang mementingkan diri pribadi, maka

perbuatan itu palsu adanya.”

“Heh..heh..heh, engkau terlalu keras, orang muda ….. eh,

siapa namamu tadi? Sin Wan? Aku mulai tertarik kepadamu.

Di dunia ini mana ada manusia yang bebas dari pamrih?

Setidaknya manusia membutuhkan sandang pangan dan

papan, dan berhak menikmati hidupnya dan bersenangsenang!”

“Tentu saja, locianpwe. Tuhan tidak mungkin menciptakan

manusia untuk bersengsara-sengsara. Akan tetapi sekali

kebutuhan akan kesenangan itu menjadi majikan, kita akan

diperhamba oleh nafsu dan kita akan dibawa ke jalan sesat.”

“Ha..ha..ho..ho..ho, bagus sekali, Sin Wan. Dari Sam-sian

kah engkau memperoleh semua pengetahuan akan kehidupan

ini?”

“Kewaspadaan akan kehidupan bukanlah pelajaran yang

harus dihafalkan dan diingat-ingat, locianpwe, melainkan

timbul dari kesadaran akan rasa diri, akan seluruh isi alam dan

terutama akan Penciptanya, yaitu Allah Yang Maha Tunggal,

Maha Besar, dan Maha Kuasa.”

Kakek itu tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Kui Siang.

“Dan bagaimana dengan engkau, siapa namamu tadi, Lim Kui

Siang? Bagaimana dengan engkau? Bukankah engkau juga

murid Sam-sian dan digembleng dengan kebijaksanaan yang

sama?”

Kui Siang tersenyum. “Locianpwe, aku hanyalah seorang

gadis bodoh, tidak dapat dibandingkan dengan suheng, baik

dalam hal ilmu silat maupun pengetahuan tentang hidup dan

filsafat. Dia memang pintar!”

Sin Wan tersenyum. “Jangan percaya ucapannya,

locianpwe. Sumoi hanya merendahkan diri. Ilmu silatnya

hebat, saya sendiri belum tentu akan mampu menandinginya.

Dan ia adalah puterl seorang bangsawan tinggi yang setia dan

baik.”

“Suheng ……!” Gadis itu berseru hendak mencegah

suhengnya bercerita tentang itu. Namun sudah terlanjur dan

Sin Wan yang merasa bersalah segera berkata, suaranya

menghibur.

“Maaf sumoi. Kurasa tiada halangannya locianpwe ini

mengetahui tentang keadaanmu. Dia adalah sahabat baik dari

guru-guru kita.”

“Heh..heh..heh, nona Lim Kui Siang, tidak diberitahupun

orang mudah saja menduga bahwa engkau tentulah

mempunyai darah bangsawan! Hal itu dapat nampak pada

sikap dan gerak-gerikmu yang anggun dan lembut.

Bangsawan she Lim di kota raja yang setia? Hemm, aku

pernah mengenal bangsawan Lim yang menjadi Jaksa Agung

di kota raja. Itukah orang tuamu ?”

Kui Siang menggeleng. Sekarang sudah tidak perlu

merahasiakan keluarganya yang sudah tiada. “Bukan,

locianpwe, dan harap locianpwe tidak menyebut nona

kepadaku. Ayahku tidak menjadi jaksa, melainkan bertugas

sebagai pengurus gudang pusaka di kota raja.”

“Pengurus gudang pusaka? Ah, kalau begitu tentu seorang

yang terpelajar tinggi! Ingin sekali-kali aku menemui orang

tuamu dan berkenalan.”

“Locianpwe, ayah ibu sumoi sudah meninggal dunia,” kata

Sin Wan.

“Ahh!” Senyum itu menghilang dari bibir si pengemis tua.

“Kiranya engkau sudah yatim piatu?”

“Ayahku terbunuh orang ketika melaksanakan tugasnya,

locianpwe. Ketika pusaka-pusaka kerajaan dicuri orang, ayah

menjadi korban, dibunuh oleh pencuri pusaka.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Aku pernah mendengar

berita tentang hilangnya pusaka-pusaka itu, akan tetapi

karena aku sudah tidak tertarik lagi akan urusan dunia ramai,

akupun tidak memperhatikan. Siapa sih orang yang begitu

berani mencuri pusaka dari kerajaan?”

“Pencurinya adalah Hui-ciang Se Jit Kong,” kata Kui Siang.

“Aha, Si Tangan Api yang tersohor itu? Ingin sekali-kali aku

mencoba kelihaian tangan apinya. Kabarnya dia merajalela

dan mengalahkan banyak tokoh besar dunia persilatan.”

“Dia sudah tewas, locianpwe,” kata Sin Wan. “Ketiga guru

kami mendapat tugas dari Kaisar untuk mencari pusakapusaka

itu dan berhasil merampasnya kembali dari Se Jit Kong

yang tewas di tangan mereka.”

“Wahai …… sayang sekali! Nah, Sin Wan, engkau tadi

menyalahkan tindakanku yang meninggalkan kai-pang. Nah,

katakan, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus

kulakukan?”

“Maaf, sama sekali saya tidak berani menyalahkan tindakan

locianpwe. Saya hanya mengingatkan dan mengajak

locianpwe bertukar pikiran. Sekarang ini penjajah telah terusir

pergi. Negara dan bangsa dipimpin oleh tangan bangsa sendiri

yang berarti merupakan tindak lanjut dari perjuangan merebut

kemerdekaan. Kalau dahulu, di waktu perjuangan merebut

kemerdekaan, locianpwe dengan gigih ikut membantu. Kenapa

sekarang tidak? Kiranya justeru sekarang ini, para kai-pang

perlu disatupadukan untuk membantu pemerintah mengisi

kemerdekaan.”

“Heh.. heh, sudah kukatakan, aku muak dengan semua itu!

Mereka itu palsu dan penyelewengan terjadi di mana-mana.

Kalau aku terjun kembali, bukankah aku akan membiarkan

diriku bergelimang dengan penyelewengan? Bermain dengan

lumpur tentu kotor!”

“Belum tentu, locianpwe! Sekali emas, biar terpendam

dilumpurpun akan tetap emas mengkilat. Sekali teratai, biar

hidup di atas lumpurpun akan tetap indah dan bersih. Bahkan

kalau locianpwe terjun kembali, locianpwe akan dapat

menangani semua penyelewengan itu, membelokkan ke jalan

benar. Kalau locianpwe melarikan diri dari kenyataan seperti

ini, bukankah hal itu berarti locianpwe memembantu makin

memburuknya keadaan? Locianpwe, selagi hidup, kalau tidak

membuat tindakan yang bermanfaat bagi dunia, lalu apa

artinya hidup?”

Sepasang mata itu terbelalak. “Heii, orang muda! Enak saja

engkau bicara. Orang bicara harus berani mempertanggung

jawabkan ucapannya. Pendapatmu itu jangan kaujejalkan dan

paksakan saja kepada orang lain untuk melaksanakannya,

akan tetapi juga untuk dirimu sendiri! Kalau orang hanya

memberi nasihat dan dorongan kepada orang lain akan tetapi

diri sendiri tidak berbuat, perbuatan itu seperti sikap para

pembesar korup yang menganjurkan ini itu kepada rakyat

namun dia sendiri tidak melaksanakannya! Beranikah engkau

membantuku kalau aku terjun kembali ke dunia ramai,

menertibkan para kai-pang dan membantu pemerintah

mengisi kemerdekaan?”

Sin Wan adalah seorang pemuda yang berwatak gagah dan

bertanggung jawab. Mendengar pertanyaan itu, tanpa raguragu

lagi diapun menjawab, “Tentu saja saya berani dan

sanggup membantu locianpwe!”

“Bagus!” Kakek itu terkekeh girang sekali. Sekarang kalian

berdua bersiap-siaplah untuk melawan aku, heh..heh..heh!”

Tentu saja dua orang muda itu terkejut bukan main. “Apa

maksud locianpwe?” Kui Siang berseru. “Aku tidak ingin

berkelahi denganmu!”

“Anak bodoh, siapa yang mau berkelahi dengan siapa?

Setiap kali aku bertemu Sam-sian, tentu mereka akan kuajak

berlatih silat. Kini mereka tidak berada di sini, dan yang

kutemui adalah murid-murid mereka. Nah, sebagai murid,

kalian harus mewakili Sam-sian untuk berlatih dengan aku.

Bersiaplah, kita berlatih beberapa jurus!”

Sin Wan maklum akan isi hati kakek ini. Setelah menerima

kesanggupannya untuk membantu kakek itu terjun lagi ke

dunia persilatan, tentu kakek ini ingin menguji kepandaiannya.

Dia tidak ingin sumoinya terilbat, karena maklum, betapa

besar bahayanya berkecimpung di dunia persilatan di mana

terdapat banyak tokoh yang menyeleweng seperti yang

disesalkan kakek itu, Maka, diapun berkata, “Locianpwe,

biarlah saya mewakili ketiga orang guru kami. Sumoi adalah

seorang wanita yang tidak semestinya terlibat dalam urusan

ini, maka biarlah saya sendiri yang menghadapi locianpwe.”

“Heh..heh..heh, kalau menghadapi Sam-sian, tentu aku

minta mereka maju satu demi satu. Akan tetapi engkau hanya

muridnya, bagaimana mungkin dapat menandingi aku?

Majulah kalian berdua, baru akan seimbang, heh..heh!”

“Kita sama lihat saja, locianpwe. Kiranya tidak sia-sia ketiga

orang guruku selama ini menggembleng dan mengajarkan

ilmu-ilmu mereka kepada saya!” kata Sin Wan tenang.

“Ilmu kepandaian sumoi tidak banyak selisihnya dengan

saya, maka dengan mengukur tingkat saya, locianpwe sudah

akan dapat pula mengetahui kemampuan sumoi.”

“Bagus! Melawan seorang di antara Sam-sian, sampai

ratusan jurus belum ada yang kalah atau menang. Yang

terakhir kalinya, ketika melawan Kiam-sian kami berdua

menghabiskan gerakan hampir seribu jurus dan belum ada

yang kalah atau menang. Kalau engkau ini muridnya mampu

bertahan sampai seratus jurus saja sudah kuanggap bagus

sekali. Nah, bersiaplah!”

Kakek itu menggerakkan sebatang tongkat dan caping

lebarnya tergantung di punggung. Tongkat itu bukanlah

tongkat luar biasa, melainkan sepotong ranting yang baru saja

dibersihkan daun-daunnya, masih basah dan besarnya hanya

selengan wanita, panjangnya satu meter lebih.

Sin Wan maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan

yang amat lihai, yang mampu menandingi mendiang suhunya,

Dewa Pedang, sampai beribu jurus! Oleh karena itu, tanpa

ragu-ragu lagi diapun mencabut pedangnya yang butut dari

balik jubahnya.

Sinar hijau nampak berkelebat ketika pedang dicabut, akan

tetapi biarpun mengeluarkan sinar hijau yang aneh, ketika

pedang itu dipegang lurus menunjuk ke langit di depan

mukanya, pedang itu hanya merupakan sebatang pedang

yang jelek dan tumpul.

“Pedang tumpul ….??!!” kakek itu berseru kagum dengan

mata terbelalak. “Pedang pusaka yang pernah mengangkat

nama besar Jenghis Khan! Bukankah itu menjadi pusaka

kerajaan?”

“Ketiga orang suhu saya menerima hadiah dari Kaisar

karena berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang hilang,

dan pedang ini merupakan satu di antara hadiah-hadiah itu,

locianpwe.”

“Pedang tumpul …….! Bagus, aku ingin melihat apakah

engkau patut menjadi majikannya. Nah, sambut seranganku

ini!” Tiba-tiba saja tongkat di tangan kakek itu lenyap,

berubah menjadi gulungan sinar yang seperti ombak

samudera menerjang ke arah Sin Wan.

“Ini Lam-hai-tung-hwat (Ilmu Tongkat Laut Selatan).

Ilmuku terbaru yang belum pernah dilihat Sam-sian!” kakek itu

berseru dari balik gulungan sinar kelabu yang menyelimuti

bayangannya itu.

Maklum bahwa dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan

mengeluarkan semua ilmunya yang paling tinggi, Sin Wan

juga tidak membuang waktu lagi. Langsung dia mainkan ilmu

yang baru saja dipelajarinya dengan tekun selama setahun

dari Dewa Arak, yaitu Sam-sian Sin-ciang! Ilmu ini dapat

dimainkan dengan tangan kosong sesuai namanya, yaitu SamTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), akan tetapi juga

dapat dimainkan dengan menggunakan pedang!

Maka, begitu gulungan sinar kelabu dari tongkat kakek itu

menyambar-nyambar dan tiba-tiba dari gulungan sinar itu

mencuat sinar kecil meluncur ke arah dadanya dengan totokan

yang cepat bagaikan kilat. Sin Wan sudah menggerakkan

pedangnya menangkis dan diapun langsung membalas dengan

memainkan ilmu silat Sam-sian Sin-ciang.

Melihat pedang tumpul yang tadinya menangkis tongkatnya

itu tiba-tiba saja berputar dan menyambarnya dengan gerakan

melengkung, kakek itu terkejut dan kagum. Anak ini telah

menguasai tenaga sakti sepenuhnya sehingga dapat

mengubah yang keras menjadi lemas seketika! Dia mengelak

dari sambaran sinar hijau pedang itu, lalu memainkan Lam-hai

Tung-twat dengan hati-hati dan cepat.

Sin Wan mengimbangi kecepatan gerakan kakek itu

sehingga Kui Siang yang menjadi penonton tunggal, tertegun

dan kagum. Dua orang yang sedang bertanding itu tidak

nampak lagi, yang nampak hanyalah dua gulungan sinar

kelabu dan hijau yang saling terjang, saling belit dan saling

desak. Dua orang itu mengandalkan ketangguhan ilmu silat

yang aneh itu disertai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang

sudah mencapai tingkat tinggi.

Selama sepuluh tahun menjauhkan diri dari dunia

persilatan, kakek itu sama sekali tidak pernah berkelahi, akan

tetapi juga tidak pernah meninggalkan latihan. Bahkan dia

telah menyempurnakan ilmu-ilmunya, menggabung jurusjurus

terampuh menjadi satu dan menciptakan ilmu tongkat

Lam-hai Tung-hoat. Tadinya dia mengira bahwa tentu

sebelum seratus jurus, dia akan mampu mengalahkan pemuda

murid Sam-sian itu dengan llmu tongkatnya yang baru. Akan

tetapi ternyata, pemuda dengan Pedang Tumpul itu bukan

saja mampu bertahan, bahkan mengimbangi semua

kecepatannya dan membalas serangan tidak kalah gencarnya

sehingga keadaan mereka dapat dikatakan seimbang!

Dan sudah hampir seratus jurus lewat dan dia sama sekali

tidak mampu mendesak Diam-diam dia merasa girang sekali.

Mendapatkan seorang pembantu seperti ini sungguh

menyenangkan dan menguntungkan! Diapun tahu bahwa

kalau dilanjutkan mengandalkan kecepatan yang dapat

diimbangi pemuda itu, akhirnya dia yang malah kalah, yaitu

kalah dalam hal pernapasan. Napasnya akan habis sebelum

pemuda itu terengah-engah!

“Hyaaaattt …..!” Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan

kini tongkatnya digerakkan mengandung tenaga yang dahsyat,

tenaga sakti dikerahkan dan dipusatkan pada gerakan

menusuk itu.

Sin Wan dapat merasakan datangnya sambaran angin yang

dahsyat dan tahulah dia bahwa kakek itu mengerahkan tenaga

sakti yang amat kuat. Maka diapun cepat mengerahkan

tenaganya dan menangkis dengan kuat untuk mencoba

sampai di mana kekuatan kakek itu.

“Crakkk ………!!!”

Pertemuan antara ranting dan pedang itu membuat tanah

di sekelllingnya seperti tergetar hebat dan Sin Wan terdorong

ke belakang sampai dua langkah sedangkan kakek itu sama

sekali tidak, hanya merasakan tangannya tergetar saja. Hal ini

saja sudah menjadi bukti bahwa dalam hal tenaga sakti,

pemuda itu masih kalah. Namun, cukup membuat Pek-sim Lokai

Bu Lee Ki kagum bukan main. Jarang ada tokoh kang-ouw,

biar datuk sekalipun, yang mampu bertahan terhadap

pengerahan tenaga sin-kangnya tadi, dan pemuda ini hanya

undur dua langkah saja!

“Bagus!” Serunya dan kini kakek jembel itu menyerang lagi.

Serangannya nampak lambat, lama sekali menjadi kebalikan

tadi. Kalau tadi dia mengandalkan kecepatan, kini dia

mengandalkan tenaga.

Sin Wan maklum akan hal ini dan diapun mengerahkan

tenaga sakti dan menandingi kakek itu. Pertandingan

dilanjutkan dan beberapa kali kedua senjata itu bertemu

menggetarkan tanah yang diinjak Kui Siang yang menonton

dengan hati kagum. Tak disangkanya bahwa kakek tua itu

sedemikian lihainya, memang agaknya setingkat dengan

kepandaian Sam-sian.

Kembali seratus jurus terlewat dalam pertandingan yang

didasari tenaga sin-kang ini. Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan

seruan melengking dan tongkatnya menyambar dari atas ke

bawah, memukul ke arah kepala lawan! Sin Wan

menggerakkan pedangnya dan menangkis dari bawah ke atas.

“Trakkk!” kembali kedua senjata bertemu akan tetapi sekali

ini, Sin Wan tidak terdotong mundur. Agaknya kakek itu

mengurangi tenaganya, hanya kini pedang itu melekat pada

tongkat! Ketika Sin Wan hendak menarik pedangnya yang

tertempel tongkat itu, tiba-tiba dia merasa betapa tongkat itu

mengendur, kehilangan tenaga! Sin Wan terkejut.

Tentu kakek itu kehabisan tenaga, pikirnya dan dalam

keadaan seperti ini, ada dua jalan saja yang dapat dia

lakukan. Kalau dia menghendaki kemenangan, tentu dengan

mudah saja dia dapat mengerahkan tenaga dan dari tempelan

tongkat yang kini tanpa tenaga itu dia dapat langsung

menyerang dengan tusukan atau bacokan dan dengan mudah

memperoleh kemenangan.

Akan tetapi, Sin Wan adalah seorang yang sejak kecil

dijejali kelembutan oleh ibunya, kemudian digembleng lahir

batin oleh Sam-sian. Dia tidak haus kemenangan, apa lagi

terhadap kakek jembel yang dihormatinya ini. Tidak, dia tidak

mau mempergunakan kesempatan itu untuk menang. Maka,

diapun cepat mengendurkan tenaganya dan menarik kembali

pedangnya yang menempel pada tongkat, untuk memberi

kesempatan kepada lawan memulihkan.tenaganya.

Akan tetapi, pada saat dia mengendurkan tenaganya dan

menarik pedangnya, tiba-tiba tongkat yang tadinya tidak

bertenaga itu, secepat kilat telah meluncur dengan tenaga

sepenuhnya dan tahu-tahu telah menempel di lehernya! Tentu

saja Sin Wan terkejut bukan main. Ini berarti bahwa dia telah

kalah mutlak! Kakek itu terkekeh senang.

“Kau kalah, Sin Wan.”

“Tapi, locianpwe tadi seperti kehilangan tenaga …….”

“Itu namanya menggunakan tenaga Mengalah Untuk

Menang!”

“Kalau saya tidak menarik pedang dan pada kesempatan itu

justeru mencari keuntungan dan menyerang …….”

“Kau juga akan kalah. Coba saja kita ulangi!” kata kakek itu

sambil tersenyum. Dia lalu memasang kuda-kuda seperti tadi,

dengan tongkatnya di atas. Sin Wan yang merasa penasaran

juga memasang kuda-kuda seperti tadi, menempelkan

pedangnya pada tongkat.

Jilid 7

“AKU mulai!” kata Pek-sim Lo-kai dan tiba-tiba saja tongkat

itu mengendor seperti kehilangan tenaga. Sin Wan

menggunakan kesempatan ini untuk menggerakkan

pedangnya, menusuk ke depan, ke arah leher lawan, tentu

saja dengan tenaga terkendali sehingga dapat dia hentikan

kalau sudah menempel leher. Akan tetapi, tiba-tiba sekali

tubuh kakek itu merendah, kedua lututnya ditekuk dan

sebelum Sin Wan dapat menyangkanya, perutnya sudah

ditodong ujung tongkat! Kembali dia kalah mutlak!

Kakek itu terkekeh. “Heh..heh, ilmu Te¬naga Mengalah

Untuk Menang ini memang ampuh, merupakan satu di antara

ilmu yang kudapatkan selama ini. Menghadapi ilmuku ini,

menggunakan kesempatan untuk menang berarti kalah, dan

kalau mengalah dan menarik pedangmu, berarti kalah juga!”

Sin Wan tertegun kagum. “Wah, kalau be¬gitu, apakah

tidak ada cara untuk menghindar¬kan diri dari ilmu itu,

locianpwe?”

“Tentu saja ada, akan tetapi tidak pernah diduga dan

dipergunakan orang tentunya! Inilah letak keistimewaan ilmu

ini. Tenagaku yang tiba-tiba mengendur itulah yang menjadi

pancingan, menjadi umpan. Kalau lawan merasa bahwa

tenagaku mengendur dan hendak mencari kemenangan

seperti yang kaulakukan dalam pengulangan tadi, maka

dengan mudah aku akan dapat mengalahkan, karena tentu dia

mengira aku kehabisan tenaga dan tidak menduga akan

seranganku ke arah perut tadi. Kalau dia sebaliknya hendak

mengalah, dan menarik senjatanya, aku dapat menggunakan

kesempatan itu untuk menyerangnya dengan tiba-tiba dan

memperoleh kemenangan. Bagaimana untuk menghindarkan

diri dari kekalahan menghadapi ilmuku ini! Heh..heh, namanya

juga orang memancing, kalau umpannya tidak disambar ikan,

namanya gagal! Kalau engkau tetap dengan sikapmu, tidak

mengurangi tenaga menarik kembali senjata, tidak pula

menggunakan kesempatan untuk menyerang, berarti aku tidak

dapat berbuat apa-apa kecuali menggunakan lain taktik!”

Kakek itu tertawa-tawa dan Sin Wan ikut pula tertawa. Ilmu

yang aneh dan nakal, akan tetapi memang dapat berhasil

baik, menunjukkan betapa cerdiknya kakek ini.

“Ada lagi ilmu baru yang kudapatkan dan belum pernah

kucoba, satu di antara ilmu-ilmu yang kuanggap terbaik. Nah,

mari kita coba! Engkau berhati-hatilah karena aku akan

melancarkan serangkaian serangan yang dahsyat!”

Sin Wan sudah memasang kuda-kuda dengan hati-hati

sekali. Kedua kakinya terpentang dan tertekuk sedikit, kokoh

kuat dan tangan kanan dengan jari terbuka di pinggang kiri,

pedang melintang di depan dada. Dalam keadaan seperti itu,

diserang dari manapun dia akan mampu menjaga dirinya.

“Saya telah siap, locianpwe!” katanya gembira. Betapa

hatinya tidak gembira. Dia akan melihat ilmu-ilmu yang aneh

dan lihai. Sama saja dengan menerima pelajaran ilmu-ilmu

baru yang ampuh dari kakek itu.

“Awas seranganku ini!” teriak kakek itu dan tiba-tiba

tubuhnya berpusing seperti gasing! Saking cepatnya, sukar

diikuti dengan pandang mata, biar pandang mata terlatih

seperti mata Sin Wan sekalipun. Dan pusingan atau gasingan

hidup itu berputar dan menggelinding ke arah Sin Wan.

Pemuda ini tidak dapat melihat mana tongkat lawan dan

bagian tubuhnya yang mana yang diserang, maka untuk

melindungi tubuhnya, dia memutar pedang menjadi perisai.

Terdengar suara berdentang beberapa kali dan gasing

manusia itupun menggelinding pergi, lalu membalik dan

menyerang kembali dalam keadaan masih berpusing.

Sin Wan sama sekali tidak mampu membalas. Dia hanya

melindungi diri setiap kali gasing manusia itu mendekat, dan

ketika gasing itu menggelinding dekat untuk yang keempat

kalinya, dan dia memutar pedang menjadi perisai, tiba-tiba

gasing itu mencelat ke atas dan ketika dia memutar

pedangnya ke atas, dia merasa rambutnya seperti ditarik dan

gasing hidup itu telah melayang turun kembali dan nampak

kakek itu terkekeh.

“Heh..heh..heh, kalau yang keempat kalinya itu aku gagal,

dua kali serangan lagi aku tentu akan roboh sendiri. Siapa

tahan sudah setua ini disuruh berpusing seperti gasing.

Sekarangpun bumi seperti dilanda gempa hebat, ha..ha!”

Sin Wan meraba rambutnya dan ternyata kain pengikat

rambutnya telah lenyap dan ketika dia memandang lagi, kain

itu sudah terkait di ujung tongkat Pek-sim Lo-kai! Tahulah dia

bahwa kembali dia harus mengaku kalah karena kalau yang

dihadapinya seorang musuh, tentu bukan kain pengikat

rambut yang dikait!

“Hebat sekali gerakan aneh tadi, locianpwe. Ilmu apakah

itu tadi?”

“Itu namanya Langkah Angin Puyuh! Bukan saja dapat

dipergunakan untuk menyerang, akan tetapi juga untuk

menghadapi pengeroyokan banyak orang. Akan tetapi, harus

kuat terhadap putaran itu, kalau tidak, kepala bisa pening dan

baru beberapa putaran sudah roboh sendiri. Membutuhkan

latihan!”

“Sungguh hebat sekali, locianpwe. Masih ada lagikah ilmu

aneh yang boleh kami lihat?” kini Kui Siang berkata, merasa

kagum bukan main karena dengan dua macam ilmu itu saja,

demikian mudahnya suhengnya dikalahkan.

“Ha..ha..ha, masih banyak, nona ……..”

“Kenapa locianpwe demikian sungkan menyebut nona

kepadaku? Namaku Lim Kui Siang,” kata gadis itu ramah.

“Heh..heh, Kui Siang. Aku sudah tua. Terlalu lama

bertanding, napasku bisa putus dan tenagaku habis.

Sekarangpun aku sudah haus sekali dan lapar bukan main.”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan ke selatan,

locianpwe. Bukankah kota Peking tidak jauh lagi?” kata Sin

Wan. “Di sana kita dapat makan di rumah makan.”

“Kalian yang bayar? Aku seorang pengemis tua, mana bisa

makan di rumah makan?”

“Kami akan membayar, locianpwe. Pilihlah makanan yang

paling enak, dan kami akan membayar,” kata Kui Siang.

Kakek itu bersorak. “Ha..ha..ha! Hari ini engkau mujur,

perut dan mulut. Mari kita berangkat!” Dan diapun sudah

berlari dengan cepat seperti terbang saja.

Sin Wan dan Kui Siang saling pandang, tersenyum dan

merekapun segera mempergunakan ilmu berlari cepat

mengejar kakek itu, menuju ke selatan, ke kota Peking.

Peking merupakan kota raja ke dua dari kerajaan baru

Beng-tiauw. Biarpun kota raja kini dipindahkan ke Nan-king di

tepi Sungai Yang-ce, namun bekas kota raja Peking di utara

itu masih dipertahankan sebagai pangkalan yang penting. Kota

ini selain memiliki bangunan-bangunan besar dan indah,

mempunyai banyak penduduk dan menjadi kota yang ramai,

juga merupakan benteng utama di utara untuk menentang

para penyerbu dari utara. Di Peking ini, Kaisar Thai-cu

menempatkan seorang puteranya sebagai seorang raja muda.

Karena itu, kekuasaan Raja Muda Chu Hoan Ong cukup

besar karena selain sebagai raja muda, dia juga putera Kaisar

Thai-cu.

Bahkan balatentara kerajaan Beng sebagian besar berada

di daerah utara ini untuk membendung bahaya yang mungkin

datang dari Bangsa Mongol yang tentunya saja tidak rela

membiarkan kekuasaannya di selatan digulingkan dan mereka

selalu berusaha untuk berjaya kembali.

Ketika mereka tiba di luar pintu gerbang Peking, Sin Wan

teringat akan sesuatu dan berkata kepada Pek-sim Lo-kai.

“Locianpwe sudah bertahun-tahun meninggalkan dunia

persilatan, akan tetapi tentu setiap orang pengemis akan

mengenal locianpwe sebagai pemimpin besar mereka. Kalau

sudah begitu, tentu kami tidak mungkin lagi dapat mendekati

locianpwe yang tentu akan disambut dengan meriah. Kami

bukan segolongan, maka kami tidak ingin membuat locianpwe

merasa kikuk.”

“Heh..heh, siapa yang akan mengenal seorang jembel tua

seperti aku? Dahulu, yang berjuluk Pek-sim Lo-kai adalah

seorang tua gagah yang selalu mengenakan pakaian putih

bersih dan membawa pedang, rambutnyapun belum putih dan

selalu terawat rapi. Sekarang, aku hanyalah seorang tua she

Bu yang berpakaian butut, rambut dan kumis jenggot tidak

terawat dan putih semua, juga tidak membawa pedang.

Takkan ada yang mengenalku, dan akupun tidak suka dikenal

sebelum aku mengambil keputusan apa yang akan kulakukan

terhadap para kai-pang itu, terdorong oleh percakapan kita

tadi.”

Merekapun memasuki pintu gerbang dan memang tidak

ada yang memperhatikan Bu Lee Ki. Juga tidak ada yang

memperhatikan Sin Wan, akan tetapi hampir setiap orang pria

yang berpapasan dengan Kui Siang, selalu memandang,

bahkan menengok. Hal ini tidak aneh bagi Sin Wan yang

menyadari akan kecantikan sumoinya, dan diam-diam dia

selain merasa bangga bahwa sumoinya dikagumi hampir

setiap orang pria! Juga merasa beruntung karena dialah yang

dapat bergaul akrab dengan sumoinya.

___

Kota Peking memang besar dan megah, juga ramai. Selain

merupakan daerah pertahanan dan benteng utama terhadap

musuh dari utara, juga Peking menjadi tujuan para pedagang

yang datang dari utara untuk bertukar barang dagangan.

Semenjak jatuhnya pemerintah Mongol dan berdirinya

Kerajaan Beng-tiauw. Kaisar Thai-cu pendiri Beng-tiauw yang

berkedudukan di Nan-king, mengangkat seorang di antara

putera-puteranya untuk menjadi raja di Peking. Kaisar Thai-cu

memang cerdik dan bijaksana. Dia tahu bahwa di antara

semua puteranya, Yung Lo adalah seorang yang paling gagah

perkasa dan ahli perang. Maka, dia mengangkat Yung Lo

menjadi raja muda di Peking dan bertugas membendung

musuh yang berani menyerbu dari utara. Raja Muda Yung Lo

memang berbakat menjadi panglima. Dia memimpin pasukan

besar melakukan pembersihan di daerah utara, dan diapun

pandai mengajak rakyat untuk bersama pasukannya

mempertahankan kedaulatan pemerintahan bangsa sendiri

setelah seabad lamanya dicengkeram penjajah Mongol.

Karena sikapnya ini maka para pendekar di dunia persilatan

merasa suka dan hormat kepadanya dan mendukungnya.

Raja muda Yung Lo juga mengetahui bahwa golongan

pengemis yang bergabung dalam kai-pang (perkumpulan

pengemis) merupakan pejuang yang gigih ketika rakyat

memberontak terhadap kerajaan Mongol. Maka setelah dia

menjadi raja muda di Peking, diapun merangkul kai-pang dan

memberi banyak sumbangan untuk kemajuan perkumpulanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

perkumpulan pengemis. Dia pula, sejalan dengan politik

ayahnya yaitu Kaisar Thai-cu di Nan-king, yang menganjurkan

kepada para pimpinan kai-pang untuk mempersatukan seluruh

kai-pang agar jangan sampai timbul persaingan dan

bentrokan. Persatuan rakyat merupakan syarat mutlak untuk

kekuatan pemerintah, juga memungkinkan kehidupan rakyat

yang tenteram sehingga memudahkan tercapainya

kesejahteraan.

Pada waktu itu, perkumpulan pengemis terbesar dan yang

paling kuat di daerah utara adalah Ang-kin Kai-pang

(Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pakaian para

anggauta pengemis ini bermacam-macam warnanya, tentu

saja dengan tambalan sebagai ciri khas pengemis. akan tetapi

setiap anggauta selalu memakai sabuk berwarna merah,

sesuai dengan namanya, yaitu Perkumpulan Pengemis Sabuk

Merah.

Pada waktu sebelum penjajah Mongol dijatuhkan, Ang-kin

Kai-pang merupakan perkumpulan pejuang yang gagah, akan

tetapi ketika itu ketuanya tidak mau bekerja sama dengan

pihak kerajaan baru. Usaha Raja Muda Yung Lo untuk

merangkul perkumpulan ini selalu gagal. Akan tetapi, setelah

ketua yang keras hati ltu diganti oleh ketua baru pilihan Raja

Muda Yung Lo, kini perkumpulan itu benar-benar telah

menjadi bawahan raja muda ini dan setia kepada pemerintah.

Ketua yang sekarang, yang baru dua tahun menjadi ketua

Ang-kin Kai-pang, bernama Thio Sam Ki, berusia empatpuluh

tahun dan terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi.

Berkat bimbingan Thio Sam Ki dan pengarahan Raja Muda

Yung Lo, maka kini terjadi perubaban besar-besaran dalam

perkumpulan itu, Tidak pernah lagi ada anggauta Ang-kin Kaipang

yang melakukan tindakan kekerasan. Mereka bahkan

tertib sekali, dan setiap orang anggauta kai-pang merupakan

orang yang berwatak gagah sehingga disukai oleh rakyat

karena mereka itu selalu turun tangan membela rakyat

tertindas. Sejak Ang-kin Kai-pang dipimpin oleh ketuanya yang

baru, para anggauta kai-pang yang berkeliaran di kota Peking

dan sekitarnya, seolah-olah menjadi petugas-petugas

keamanan sehingga tidak ada penjahat yang berani

melakukan aksinya. Pasukan keamanan pemerintah

mendapatkan bantuan yang besar sekali dari para pengemis

itu.

Bahkan mereka ini mengemis atau mohon sumbangan dari

rakyat sekedar untuk menyesuaikan keadaan mereka sebagai

anggauta perkumpulan pengemis belaka. Mereka mengemis

kepada orang-orang yang mampu, dan diberi berapapun akan

mereka terima dengan senang hati. Mereka memang tidak

perlu menggunakan kekerasan karena para hartawan dengan

rela memberi sumbangan karena para pengemis itu menjaga

ketenteraman. Selain itu, Ang-kin Kai-pang juga tidak takut

kekurangan biaya karena Raja Muda Yung Lo selalu

mengulurkan tangan membantu.

Siang hari itu, amat ramai di sebuah restoran besar yang

berada di pusat keramaian, yaitu di daerah pasar. Rumah

makan cat hijau itu memang terkenal dengan masakannya

sehingga setiap hari hampir selalu penuh pengunjung. Bahkan

para pendatang dari luar kota Peking selalu makan di tempat

ini.

Bu Lee Ki, Sin Wan, dan Kui Siang mendapatkan tempat

duduk di luar, karena di sebelah dalam, juga di loteng, telah

penuh tamu. Maklum, waktu itu memang waktunya makan

siang dan hawa udara amat dinginnya, maka semua tamu

lebih senang mendapatkan meja di sebelah dalam. Yang

membuat hawa semakin dingin menusuk tulang walaupun

tengah hari adalah angin yang bertiup dari utara. Namun bagi

tiga orang ini yang terlatih dan memiliki sin-kang kuat, hawa

dingin itu tidak begitu mengganggu.

Tanpa sungkan lagi, dengan gembira dan wajahnya penuh

senyum, Bu Lee Ki melihat menu makanan dan memesan

masakan-masakan yang paling istimewa, tidak memperdulikan

harganya. Sin Wan dan Kui Siang ikut gembira. Mereka

memang sudah menjanjikan untuk menjamu kakek ini

sepuasnya dan sekenyangnya.

Di luar rumah makan, di pinggir jalan dan di sekitar

pertokoan di daerah pasar itu, nampak beberapa orang

pengemis bersabuk merah berkeliaran. Mereka itu rata-rata

bersikap gagah, dengan tubuh yang kekar dan wajah lembut

penuh senyum, sama sekali tidak menimbulkan kesan angker.

Kalau Bu Lee Ki sendiri sama sekali tidak memperdulikan

mereka, sebaliknya diam-diam Sin Wan dan Kui Siang

memperhatikan gerak gerik para pengemis bersabuk merah

itu. Ketika Bu Lee Ki sibuk memilih masakan dan yang

diperhatikannya hanya susunan daftar harga masakan, Sin

Wan memperhatikan beberapa orang pengemis yang berada

di luar rumah makan.

Betapa beda jauhnya sikap mereka itu dengan apa yang

didengarnya dari keterangan Bu Lee Ki. Menurut keterangan

kakek itu, kai-pang yang paling berpengaruh di Peking adalah

Ang-kin Kai-pang yang cabang-cabangnya terdapat di seluruh

daerah utara. Dan menurut kakek itu, Ang-kin Kai-pang

merupakan kai-pang yang paling keras, dipimpin oleh orangorang

yang suka mempergunakan kekerasan. Biarpun bukan

tergolong penjahat, namun mereka itu suka sewenangwenang,

memaksakan keinginan dan sama sekali tidak pernah

mau tunduk terhadap pemerintah, walaupun mereka ikut pula

berjuang melawan penjajah, Akan tetapi, melihat beberapa

orang pengemis sabuk merah yang berada di luar rumah

makan, sungguh berbeda dari gambaran kakek itu. Memang

beberapa orang, pengemis di luar itu masih muda dan

bertubuh tegap dan kokoh, jelas menunjukkan bahwa mereka

itu orang-orang yang kuat, dan tidak pantas menjadi

pengemis, namun wajah mereka itu sama sekali tidak

membayangkan kekerasan.

Bahkan mereka tersenyum-senyum dan juga orang yang

berlalu lalang di situ nampak tidak takut kepada mereka,

malah ada beberapa orang yang berhenti dan bercakap-cakap

dengan mereka seperti layaknya sahabat yang akrab. Ada pula

wanita yang agaknya baru pulang berbelanja, sengaja

memberikan bungkusan makanan kepada para pengemis itu

dengan sikap wajar dan ramah, diterima dengan sikap sopan

oleh para pengemis sabuk merah itu! Dilihat dari keadaan itu

dan sikap mereka, Sin Wan dan Kui Siang hampir yakin bahwa

para pengemis itu tidak dapat digolongkan jahat. Dan

merekapun melihat betapa dua orang di antara mereka kini

mendekati rumah makan dan seringkali mereka itu melirik ke

arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut!

Kakek itu sama sekali tidak perduli, apa lagi setelah

hidangan yang mereka pesan datang. Sambil tersenyumsenyum,

tanpa malu-malu lagi, Bu Lee Ki menyerbu masakanmasakan

itu seperti seorang yang kelaparan bertemu

makanan enak. Sepasang sumpitnya bergerak cepat dari satu

ke lain masakan, dan mangkok demi mangkok nasi putih

dilahapnya. Mulut yang tidak bergigi lagi namun masih kuat

mengunyah segala macam daging dan sayur itu tidak pernah

berhenti bergerak sedetikpun. Bercawan-cawan arak

mendorong makanan ke dalam perutnya.

Melihat kakek itu demikian lahap dan nampak nikmat

sekali, Sin Wan dan Kui Siang juga ikut bergembira. Biarpun

baru saja mereka berkenalan dengan Bu Lee Ki, namun

mereka merasa suka dan sayang kepada kakek tua itu. Kakek

itu nampak demikian lembut, ramah dan selalu cerah

wajahnya, halus gerak-geriknya dan bicaranya biarpun tanpa

pura-pura namun selalu lembut dan tidak menyinggung

perasaan. Pada hal, mereka yakin bahwa di balik semua

kelembutan dan kemiskinan itu, kakek ini memiliki ilmu

kepandaian yang amat hebat!

Ketika Kui Siang menuangkan lagi arak dari guci ke dalam

cawan yang sudah kosong itu, Bu Lee Ki mengangkat kedua

tangan ke atas. “Wah, sudah, sudah cukup, Kui Siang. Apa

kalian ingin melihat aku mabok dan harus digotong keluar?”

“Akan tetapi engkau belum kelihatan mabok, locianpwe,”

kata Kui Siang.

“Heh..heh..heh, segala hal ada batasnya! Cawan ini yang

terakhir dan kalau kalian sudah selesai makan, kita keluar dari

sini,” katanya dan sekali tuang saja arak dari cawan itu sudah

memasuki perutnya.

Pada saat itu, dua orang pengemis berpakaian kuning

bersih dengan sabuk merah di pinggang, menghampiri meja

mereka yang memang berada di bagian luar rumah makan.

Mereka berusia kurang lebih tigapuluh tahun, keduanya

bertubuh kekar dan biarpun pakaian mereka dihias tambalan,

namun dengan sabuk merah melilit pinggang, mereka bardua

lebih patut menjadi ahli silat dari pada menjadi pengemis.

Dengan sikap hormat mereka mengangkat kedua tangan

sebagai penghormatan kepada Sin Wan dan Kui Siang dan

seorang di antara mereka berkata, “Harap kongcu (tuan

muda) dan siocia (nona) suka memaafkan kami. Bukan

maksud kami menyinggung ji-wi (kalian), akan tetapi kami

ingin bicara dengan jembel tua ini.”

Alis di atas mata Kui Siang sudah berkerut karena hatinya

tidak senang mendengar kakek yang duduk semeja

dengannya itu disebut jembel tua, akan tetapi ia didahului Sin

Wan yang berkata acuh.

“Silakan.”

Dua orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu lalu menghadapi

Bu Lee Ki yang acuh sambil mengelus perutnya yang baru saja

diisi penuh, matanya mengantuk karena kekenyangan.

“Orang tua,” kata seorang di antara mereka yang

berjenggot pendek. “Apa artinya kemunculanmu ini? Apakah

engkau sengaja hendak menghina kami dari Ang-kin Kaipang?”

Bu Lee Ki membuka mata, menggeliat seperti seekor kucing

dengan kaki tangan terentang sehingga kakinya yang panjang

dan telanjang itu hampir mengenai muka si jenggot pendek

yang melangkah mundur dengan jengkel. “Aaaahhh, apa ….?

Apa kaubilang dan kau bicara kepada siapa?”

“Aku bicara kepadamu! Kalau engkau benar seorang

pengemis, kenapa engkau bersikap royal, makan masakan

mahal dan bersikap seperti hartawan? Dari golongan kai-pang

manakah engkau? Dan kalau sebaliknya engkau seorang

hartawan, apa perlunya pura-pura menjadi pengemis dengan

pakaian butut dan kaki telanjang? Apakah engkau hendak

mengejek dan menghina kami?”

Bu Lee Ki terbelalak, seperti orang bingung. “Ehh ……?

Ohhhh ……..?” Lalu dia menoleh kepada Sin Wan. “Heh..heh,

Sin Wan, mereka ini …….. heh..heh, aku malas menjawab.

Engkau sajalah yang mewakili aku menjawab.” Setelah

berkata demikian, kakek itu lalu menjulurkan kedua kakinya ke

bawah meja, bersandar kepada kursinya dan tidur pulas,

mulutnya yang terbuka mendengkur!

Kui Siang yang sejak tadi sudah marah mendahului Sin

Wan dan menjawab sambil memandang marah dan suaranya

ketus. “Kalian berdua ini manusia lancang dan usil. Perduli apa

kalian dengan orang tua ini? Apakah dia pengemis, ataukah

dia jenderal ataukah raja, apa hubungannya denganmu dan

ada urusan apa kalian ribut-ribut? Dia mau memakai pakaian

rombeng, atau memakai pakaian kaisar, tidak ada sangkut

pautnya pula dengan kalian. Yang penting, dia memakai

pakaiannya sendiri, tidak mencuri dan di sini dia makanpun

membayar! Hayo kalian pergi cepat dari sini!”

Si jenggot pendek dan temannya menoleh kepada Kui

Siang dengan muka merah. Mereka adalah orang-orang

gagah, anggauta Ang-kin Kai-pang, sudah biasa disegani dan

dihormati orang dan siang ini tiba-tiba saja dicaci maki

seorang gadis! Pada hal, semalam mereka tidak mimpi apaapa!

Si jenggot pendek menjura kepada Kui Siang,

“Maafkan kami, nona. Kami tidak berurusan dengan nona,

dan kalau andainya orang tua ini tidak berpakaian pengemis,

kamipun tidak akan mencampuri urusannya, asal dia tidak

melakukan kejahatan. Akan tetapi, siapapun yang berpakaian

pengemis harus mentaati peraturan kai-pang! Kalau tidak,

tentu kami yang akan menjadi bulan-bulan!”

Sin Wan khawatir kalau-kalau Kui Siang tidak mampu

menahan kemarahannya dan terjadi perkelahian. Dia cepat

bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri dua orang

pengemis itu lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada

sebagai tanda menghormat. Ini saja sudah luar biasa! Seorang

kongcu (tuan muda) memberi hormat kepada dua orang

pengemis!

“Sobat, sudahlah maafkan kami. Kami adalah pendatang

dari jauh yang tidak tahu akan peraturan di sini. Orang tua ini

adalah menjadi tanggung jawab kami dan harap ji-wi (kalian

berdua) tidak mengganggunya lagi.”

“Kalau kalian menghendaki sedekah, katakan saja, tidak

perlu mengganggu orang makan,” kata pula Kui Siang yang

juga ikut bangkit berdiri dan mengambil dua keping uang dari

dalam saku di pinggangnya, Nah, ini kuberi sedekah untuk

kalian!”

Gadis itu melemparkan dua keping uang itu kepada

mereka. Karena ada benda menyambar ke arah mereka, dua

orang anggauta Ang-kin Kai-pang cepat menyambut dengan

tangan. Mereka melihat ke arah benda yang berada di tangan

mereka dan mata mereka terbelalak. Sekeping uang tembaga

yang berada di tangan mereka telah berubah bentuk, hampir

tergulung bundar dan dapat dibayangkan betapa hebatnya

tenaga jari-jari tangan yang dapat meremas kedua keping

uang tembaga menjadi seperti itu. Otomatis mereka,

menurunkan pandang mata menuju ke arah tangan gadis itu.

Jari-jari yang lembut kecil-kecil itukah yang memiliki tenaga

sehebat itu? Mereka lalu menjura kepada Sin Wan dan Kui

Siang.

“Maafkan kami, dengan ji-wi kami memang tidak

mempunyai urusan. Dan biarlah sementara ini mengingat

kehadiran ji-wi, kami tidak akan mendesak kepada pengemis

tua itu dan hanya akan melapor kepada pimpinan kami.”

Mereka lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ dengan

langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Sin Wan dan Kui Siang duduk

kembali dan kakek Bu Lee Ki masih tidur mendengkur. Sin

Wan tidak menyetujui perbuatan sumoinya tadi, akan tetapi

dia tidak mau menegur, takut kalau menyinggung perasaan

Kui Siang. Dia hanya berkata lirih agar tidak terdengar oleh

para tamu lain yang tadi memperhatikan peristiwa itu dengan

diam-diam saja.

“Kulihat mereka itu bukan orang jahat. Sikap mereka baik

dan sopan.”

“Akan tetapi mereka menghina Bu locianpwe. Mereka tinggi

hati!” bantah Kui Siang.

Kakek Bu Lee Ki menggeliat dan menguap, lalu membuka

kedua matanya. “Eh? Aku sampai tertidur. Wah, perut

kenyang bikin orang mengantuk. Mari kita pergi. Sudah kalian

bayar harga makanan?”

Sin Wan menggapai pelayan yang segera datang

menghampiri. Para pelayan memang sudah memperhatikan

mereka sejak terjadinya keributan kecil dengan dua orang

anggauta Ang-kin Kai-pang tadi dan merasa girang bahwa tiga

orang tamu itu membayar harga makanan dan segera pergi

dari situ agar tidak mendatangkan keributan lebih lanjut.

Mereka berjalan-jalan dan melihat betapa seluruh kota

Peking dikuasai oleh para pengemis Ang-kin Kai-pang. Tidak

ada seorangpun pengemis yang tidak bersabuk merah. Tidak

mengherankan kalau setiap orang pengemis tentu melirik ke

arah Bu Lee Ki yang berpakaian pengemis akan tetapi tanpa

sabuk merah.

Dan di manapun mereka berada dan melihat anggauta

Ang-kin Kai-pang. selalu para pengemis itu bersikap baik dan

sopan.

“Heh..heh, agaknya memang telah terjadi perubahan,” bisik

Bu Lee Ki kepada dua orang anak muda itu. “Sudah pasti

terjadi perubahan pada Ang-kin Kai-pang. Mereka sopan dan

tertib, hal yang sungguh menggembirakan hatiku.”

“Akan tetapi dua orang tadi menghinamu, locianpwe,

Mereka menyebutmu jembel tua. Hati siapa tidak akan

menjadi panas?” kata Kui Siang.

“Kakek Bu Lee Ki terkekeh-kekeh, “Heh..heh..heh, lucunya!

Aku memang pengemis sejak muda, aku memang jembel tua.

Sebutan jembel tua bahkan merupakan sebutan kehormatan

bagiku, seperti seorang kaisar kalau disebut Sribaginda!

Kenapa engkau malah yang menjadi panas hati?”

Kui Siang mengerutkan alisnya akan tetapi tidak mampu

menjawab karena baru sekarang ia menyadari betapa janggal

sikapnya! Kakek ini memang seorang kakek pengemis, bahkan

pemimpin besar seluruh kai-pang, berarti rajanya jembe!! Bagi

kakek itu, disebut kakek jembel tentu bukan merupakan

penghinaan sama sekali, dan ia memandang dan mendengar

sebutan itu sebagai seorang awam yang bukan golongan

pengemis!

“Locianpwe, agaknya hal ini merupakan pertanda baik

bahwa locianpwe memang sudah sepatutnya kalau kembali

memimpin mereka. Kalau mereka berdisiplin dan baik,

bukankah akan lebih mudah untuk mempersatukan mereka

dan membuat pembersihan sehingga tidak ada lagi kai-pang

yang kotor?”

Kakek itu mengangguk-angguk. Melihat sikap para

pengemis di Peking, dan mendengar ucapan Sin Wan, timbul

semangat dan gairahnya. “Engkau benar, Sin Wan. Apa sih

artinya hidup ini kalau tidak ada guna dan manfaatnya bagi

manusia lain? Bukti yang paling nyata dari kebaktian kepada

Tuhan adalah berbuat baik terhadap manusia. “Mari kalian ikut

bersamaku mengunjungi pusat Ang-kin Kai-pang!”

Melihat semangat dari kakek itu yang kini wajahnya berseri,

Sin Wan dan Kui Siang ikut bergembira. Mereka berdua

merasa amat suka kepada kakek itu dan ingin melihat

perkembangan usaha kakek itu mempersatukan kembali

seluruh kai-pang, sebelum mereka melanjutkan perjalanan

menuju Nan-king.

___

Kakek Bu Lee Ki tertegun ketika dia berdiri di depan pintu

gerbang markas Ang-kin Kai-pang. Tentu saja dia tahu di

mana markas itu karena dahulu, di waktu dia masih

memegang kedudukan pemimpin besar kai-pang yang sampai

kini belum diganti, dia pernah datang ke markas semua

perkumpulan besar kai-pang. Yang membuat dia tertegun

adalah perubahan yang terjadi di situ. Baru pintu gerbangnya

saja sudah amat megah dan dari situ nampak bangunan yang

biarpun sederhana, namun besar dan kokoh, bukan bangunan

yang dahulu lagi. Bangunan ini besar dan pekarangannya luas,

bahkan tanaman di pekarangan itu nampak terawat dan

teratur baik sehingga tempat yang bersih itu sungguh tidak

pantas menjadi bangunan pusat perkumpulan pengemis! Di

atas pintu gerbang itu terdapat papan tulis yang gagah dan

indah seperti papan nama perusahaan besar saja, berbunyi

ANG-KIN KAI-PANG.

Melihat tiga orang itu berdiri di depan pintu gerbang, dua

orang anggauta Ang-kin Kai-pang segera menghampiri mereka

dari dalam. “Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang ke

sini?” tanya seorang di antara mereka singkat, namun

sikapnya cukup menghormat,

Dengan sikap acuh dan suara sambil lalu kakek itu berkata,

“Aku ingin bertemu dengan pimpinan Ang-kin Kai-pang.”

Agaknya, para anggauta Ang-kin Kai-pang sudah

mendengar tentang tiga orang ini. Hal ini nampak pada sikap

mereka yang tidak merasa heran dengan ucapan kakek itu,

bahkan dengan tegas mereka lalu membungkuk dan seorang

di antaranya berkata, “Silakan masuk. Pimpinan kami sudah

menanti kunjungan sam-wi (anda bertiga)!”

Dengan wajah tersenyum Bu Lee Ki melangkah masuk ke

dalam pekarangan itu, diikuti Sin Wan dan Kui Siang yang

diam-diam merasa tegang karena mereka maklum bahwa

mereka memasuki “sarang harimau”. Kini tampak dari kanan

kiri banyak anak buah Ang-kin Kai-pang berlarian, juga dari

dalam gedung besar itu bermunculan lebih banyak lagi.

Mereka itu membentuk pagar dan ketika Bu Lee Ki dan dua

orang muda tiba di beranda, mereka sudah dihadang oleh

pagar manusia yang mengepung mereka dengan setengah

lingkaran. Jumlah para anggauta Ang-kin Kai-pang tidak

kurang dari tigapuluh orang dan karena mereka semua

bersabuk merah walaupun pakaian mereka bermacam-macam.

maka mereka seperti sekelompok murid perguruan silat saja.

Melihat pagar manusia itu menghadang dan mengepung,

Bu Lee Ki terkekeh.

“Heh..heh-heh, mana pimpinan kalian? Aku ingin bertemu!”

Daun pintu lebar yang menembus ke ruangan sebelah

dalam terbuka, dan kini nampaklah belasan orang di sebelah

dalam sedang duduk dan agaknya mereka sedang

mengadakan pesta! Mereka yang berada di dalam itu menoleh

ke luar, kemudian merekapun ¬bangkit berdiri. Tujuh orang

yang berpakaian sutera dengan sabuk merah berjalan di

depan sedangkan di belakang mereka nampak lima orang

berpakaian perwira tinggi, para pimpinan Ang-kin Kai-pang

sedang menerima dan menyambut tamu-tamu mereka, yaitu

para perwira itu, dan mereka sedang makan minum ketika

kedatangan tiga orang itu meng¬ganggu. Tentu mereka

semua sudah mende¬ngar laporan dua orang anggauta

perkumpulan mereka tentang peristiwa di rumah makan,

ma¬ka kini tujuh orang pemimpin, bahkan lima orang tamu

mereka yang agaknya sudah men¬dengar pula, merasa

tertarik dan semua keluar meninggalkan meja hidangan!

Diam-diam, biarpun mulutnya tersenyum-senyum dan

matanya menjadi sipit hampir terpejam, Bu Lee Ki

memperhatikan wajah ketujuh orang pemimpin Ang-kin Kaipang

dan dia masih mengenal beberapa orang di antara

mereka. Sebaliknya, para pimpinan itu ada yang merasa kenal

dengan kakek pengemis itu, juga di antara para anggauta

Ang-kin Kai pang yang sudah tua, dia yang merasa tidak

asing, akan tetapi mereka tidak dapat mengingat siapa adanya

kakek pengemis itu.

Tujuh orang pimpinan itu berusia antara empatpuluh

sampai limapuluh tahun dan sikap mereka berwibawa.

Seorang di antara mereka yang berjenggot panjang, berusia

limapuluhan tahun, segera melangkah maju dan mengangkat

kedua tangan memberi hormat kepada tiga orang tamu yang

tidak diundang itu.

“Siapakah anda bertiga dan ada keperluan apa berkunjung

ke tempat kami ini?”

Karena Sin Wan dan Kui Siang datang ke tempat itu hanya

sebagai pengikut Bu Lee Ki, maka mereka diam saja,

menyerahkan jawabannya kepada kakek itu.

“Mana ketua Ang-kin Kai-pang? Suruh dia keluar

menemuiku! Aku hanya mau bicara dengan ketua kalian,” kata

kakek itu, karena dia bicara sambil tersenyum dan suaranya

lembut, maka dalam ucapan itu tidak terkandung nada yang

angkuh.

Biarpun demikian, tujuh orang pimpinan perkumpulan

pengemis itu saling pandang dan wajah mereka berubah tak

senang karena Mereka merasa diremehkan sekali oleh kakek

pengemis asing ini. Ketua mereka, Thio Sam Ki, memang tidak

berada di situ pada saat itu, akan tetapi karena mendongkol,

mereka tidak mau membiarkan kakek ini pergi begitu saja

sebelum merasakan keangkeran Ang-kin Kai-pang agar nama

dan kehormatan mereka tetap terjaga.

“Hemm, orang tua. Tidak begitu mudah untuk bertemu

dengan ketua kami. Kalau engkau mampu melewati rintangan

dan masuk sampai ke ruangan tamu di dalam, baru engkau

berharga untuk bertemu dan menghadap ketua kami.”

Setelah berkata demikian, tujuh orang pimpinan itu

melangkah mundur dan si jenggot panjang memberi isyarat

kepada anak buahnya. Begitu tujuh orang pimpinan dan lima

orang perwira tinggi yang menjadi tamu itu masuk kembali,

pintu besar dibiarkan terbuka, akan tetapi kini di depan pintu,

di tempat para pimpinan tadi berdiri, telah berdiri enam orang

tinggi besar dengan tongkat merah di tangan. Mereka

menuruni anak tangga dan membuat gerakan menggeser kaki,

membuat setengah lingkaran menghadapi tiga orang itu.

“Bolehkah aku yang menghadapi mereka?” tanya Kui Siang

kepada Bu Lee Ki dan kakek ini mengangguk sambil

tersenyum, dan diapun mundur agak jauh lalu duduk di bawah

pohon nongkrong seenaknya dengan santai untuk menjadi

penonton!

“Sumoi, kita tidak mempunyai permusuhan dengan

siapapun, harap jangan sampai mencelakai orang!” kata Sin

Wan yang khawatir kalau-kalau dalam kemarahannya,

sumoinya akan membunuh atau melukai orang sampai parah.

Kui Siang mengangguk, “Jangan khawatir, suheng.”

Lega rasa hati Sin Wan mendengar jawaban itu dan diapun

mengundurkan diri bergabung dengan Bu Lee Ki di bawah

pohon.

Melihat betapa mereka akan dilawan oleh seorang gadis,

enam orang itu tetap dengan pengepungan mereka. Mereka

sudah mendengar akan kelihaian gadis ini maka tidak berani

memandang ringan.

“Nona, keluarkan senjatamu. Kami akan menyerangmu

dengan tongkat kami,” kata seorang di antara mereka yang

bertubuh gendut sehingga tidak patut menjadi pengemis,

patutnya menjadi seorang cukong.

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka ini

bukan orang.orang yang berwatak curang. Sebagai jawaban,

Kui Siang meraba pinggangnya dan begitu tangannya

bergerak, nampak sinar yang menyilaukan mata berkelebat

dan tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang sebatang

pedang yang tipis dan yang tadi ia lilitkan di pinggangnya.

Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) yang ampuh!

Melihat ini, enam orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu

terbelalak kagum.

“Nona, sebetulnya nona tidak berhak mencampuri urusan di

antara pengemis, akan tetapi karena nona datang bersama

pengemis tua itu, terpaksa kami akan melayani nona. Harap

nona memperkenalkan diri lebih dulu, siapakah nona dan apa

hubungan nona dengan pengemis tua itu,” kata pula si perut

gendut yang agaknya menjadi pemimpin dari barisan tongkat

enam orang itu.

“Namaku Lim Kui Siang dan locianpwe itu adalah, paman

guruku!” jawab Kui Siang.

Bu Lee Ki adalah sababat baik guru-gurunya, maka sudah

sepatutnya kalau ia mengakuinya sebagai paman guru.

“Heh..heh..heh, engkau memang murid keponakan yang baik,

Kui Siang, hajar saja orang-orang yang tak tahu diri itu!” dari

tempat dia menonton, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki berseru.

“Bersiaplah nona, akan kami mulai!” Si gendut berseru

nyaring dan ini merupakan aba-aba bagi para temannya untuk

mulai dengan serangan mereka. Enam batang tongkat merah

menyambar dari depan, kanan dan kiri. Ada yang menusuk ke

arah dada, ada yang menghantam ke arah kepala dari atas

dan ada pula yang membabat ke arah kedua kaki. Dan setiap

batang tongkat mengeluarkan angin berdesing, tanda bahwa

keenam orang itu memiliki tenaga yang cukup kuat!

Dengan tenang dan mudah saja Kui Siang melangkah

mundur dan semua serangan itu pun luput. Akan tetapi, enam

orang itu melanjutkan serangan sambil menambah tenaga dan

kecepatan sehingga enam batang tongkat berubah menjadi

gulungan sinar merah yang menyambar dari semua jurusan.

Serangan itu datangnya tidak berbareng, melainkan susul

menyusul dan bertubi-tubi sehingga tidak memberi

kesempatan sedikitpun kepada Kui Siang untuk membalas.

Gadis ini masih bersikap tenang saja. Dengan

menggunakan langkah-langkah cepat dan aneh Hui-niaupoan-

soan (Langkah Ajaib Burung Terbang) ia mampu

mengelak dari semua serangan. Bagi yang menonton

pertandingan itu, nampak seolah-olah gadis cantik itu sedang

menari-nari, mempergunakan enam helai selendang merah!

Tiba-tiba, enam orang yang mengepung itu mengubah

gerakan tongkat mereka. Kini mereka menyerang dengan

berbareng. Enam batang tongkat menyambar dari enam

penjuru, dari sekeliling tubuh gadis itu. Kui Siang memutar

tubuh dan menggerakkan pedangnya. Terdengar bunyi

nyaring berdenting ketika enam batang tongkat itu bertemu

pedang. Enam orang itu berseru kaget karena tongkat mereka

telah patah ketika bertemu pedang tipis dan pada saat mereka

mundur, Kui Siang sudah menggerakkan kedua kakinya

bertubi-tubi yang menyambar bagaikan kilat cepatnya,

membuat orang-orang yang mengeroyoknya itu

berpelantingan!

Mengerti bahwa mereka telah kalah, enam orang itu

bangkit, memberi hormat kepada Kui Siang lalu

mengundurkan diri. Terdengar tepuk tangan dari dalam dan

ketika Kui Siang mengangkat muka memandang, yang

bertepuk tangan itu adalah lima orang perwira tinggi yang tadi

melanjutkan makan minum sebagai tamu sambil menonton

pertandingan silat. Akan tetapi, tujuh orang pimpinan Ang-kin

Kai-pang tidak bertepuk tangan, dan wajah mereka nampak

muram dan penasaran. Enam orang jagoan mereka telah

tumbang semudah itu ditangan seorang gadis muda!

“Hebat, kepandaian li-hiap sungguh hebat, membuat kami

merasa kagum!” kata seorang di antara lima perwira tinggi itu

yang usianya limapuluh tahun lebih sambil menganggukangguk

terhadap Kui Siang. Akan tetapi gadis ini tidak

memperdulikan pujian itu, melainkan memperhatikan gerakan

dari sebelah dalam karena kini muncul sembilan orang laki-laki

anggauta Ang-kin Kai-pang yang lain. Mereka tidak memegang

tongkat merah seperti enam orang tadi melainkan membawa

sebatang pedang! Agaknya, sembilan orang ini adalah ahli-ahli

pedang dari Ang-kin Kai-pang!

Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus,

mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Kui Siang.

“Lim-lihiap telah memperlihatkan kepandaian dan memberi

petunjuk kepada enam orang sute (adik seperguruan) kami,

terima kasih. Akan tetapi, kami mohon sukalah lihiap mundur

dan membiarkan pengemis tua yang tidak mau

memperkenalkan nama itu untuk maju menghadapi kami.”

Melihat sikap dan kata-kata itu cukup sopan, Kui Sian

menjadi ragu. Pada saat itu, Sin Wan telah menghampirinya.

“Sumoi, mundurlah. Aku sudah mendapat perkenan dari susiok

(paman guru) untuk mewakilinya menghadapi barisan

Sembilan Pedang Naga ini.”

Kui Siang mengangguk dan pergi ke bawah pohon di mana

kakek itu menyambutnya dengan senyum gembira. Sembilan

orang jagoan Ang-kin Kai-pang itu saling pandang, kemudian

si tinggi kurus menghadapi Sin Wan dan memberi hormat.

“Orang muda, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa

kami adalah barisan Sembilan Pedang Naga?” tanyanya sambil

memandang, penuh perhatian. “Dan siapakah anda?”

“Namaku Sin Wan, suheng dari nona Lim Kui Siang tadi.

Kalian adalah jagoan-jagoan terkenal, tentu saja aku

mengenal Kiu-liong Kiam-tin (Barisan Sembilan Padang

Naga).”

“Bagus, kalau begitu, keluarkan senjatamu, Sin-sicu (orang

gagah Sin), kami sudah siap untuk menguji kelihaianmu.”

Sin Wan dapat menduga bahwa sembilan orang lawannya

ini tentu lihai bukan main karena tadi, kakek Bu Lee Ki telah

memberi tahu bahwa mereka adalah pasukan pedang yang

amat tangguh dari Ang-kin Kai-pang. Bahkan kakek itu

membisikkan bahwa dia harus tidak membiarkan dirinya

terkepung dan berusaha untuk berada di luar kepungan.

Maka, tanpa ragu lagi dia kini mengeluarkan pedangnya dari

balik jubahnya, pedang yang biasanya tarsembunyi.

Begitu Sin Wan mencabut sebatang pedang yang butut,

rupanya buruk dan pedang itu tidak tajam, juga tidak runcing,

sembilan orang itu menahan kegelian hati mereka. Agaknya

pedang pemuda itu adalah senjata yang belum jadi!

Bagaimana dengan pedang buruk macam itu akan

menghadapi pedang naga mereka? Pedang mereka yang

terhias ukiran naga itu terbuat dari baja yang amat kuat dan

ampuh, juga amat tajam dan runcing! Diam-diam mereka

sebagai tokoh-tokoh tingkat tinggi, hanya di bawah tingkat

para pimpinan yang menjadi pembantu-pembantu ketua,

merasa ragu dan agak sungkan untuk mengeroyok seorang

pemuda yang bersenjata semacam itu. Akan tetapi, namanya

saja kiam-tin (barisan pedang), maka kurang satu saja sudah

menjadi tidak lengkap dan kacau. Maka, mereka merasa ragu

dan bingung.

“Sin-sicu, engkau masih muda dan kami merasa sayang

sekali kalau sampai sicu terluka dalam pertandingan ini,

karena pedang tidak mempunyai mata. Apakah tidak

sebaiknya kalau sicu mundur saja dan membiarkan paman

guru sicu yang maju?” kata pula si tinggi kurus.

Dari tempat ia menonton, di bawah pohon, Kui Siang

bangkit berdiri. Gadis ini tidak biasa memperlihatkan

kemarahan dan ia bukan seorang gadis galak, akan tetapi

sekarang ia tidak dapat menahan kemarahannya. “He, kalian

ini sungguh tidak tahu malu! Kalau sudah berani maju

mengeroyok, kenapa pakai segala macam alasan lagi? Kalau

tidak berani, mundur saja tidak perlu banyak cakap!”

Sin Wan merasa tidak enak mendengar ucapan sumoinya

yang cukup pedas itu. Dia menjura kepada sembilan orang itu.

“Paman sekalian, aku sudah siap, segera mulailah dan jangan

khawatir, aku tidak akan menyesal dan. tidak akan

menyalahkan kalian kalau aku terluka atau mati dalam

pertandingan ini.”

Sembilan orang itu lalu membuat gerakan mengepung Sin

Wan. Mereka melangkah secara teratur mengelilingi pemuda

itu yang berdiri di tengah dengan sikap tenang namun penuh

kewaspadaan. Dia selalu ingat akan pesan kakek Bu Lee Ki

bahwa dia harus menghindarkan kepungan sembilan orang

itu. Kini sembilan orang mempercepat langkah mereka

setengah berlari mengitarinya dan Sin Wan sudah

memperhitungkan, bagaimana caranya untuk membobol

kepungan atau keluar dari kepungan itu. Dia tahu bahwa

sekali dia bergerak menyerang ke satu arah, tentu dia akan

disambut dengan serangan dari depan, kanan kiri dan

belakang. Maka diapun diam saja menanti sampai para

pengeroyok membuat gerakan terlebih dahulu sebelum dia

mengambil keputusan apa yang akan dia lakukan.

Tiba-tiba si tinggi kurus yang menjadi pemimpin dari

barisan pedang itu mengeluarkan teriakan sebagai aba-aba

serangan dan sembilan orang itupun serentak menggerakkan

senjata mereka dan menyerang ke tengah. Gerakan barisan

pedang ini teratur sekali sehingga biarpun sembilan orang

menyerang bersama dalam waktu yang berbareng, namun

serangan itu tidak menjadi kacau. Seluruh bagian tubuh Sin

Wan dari kepala sampai ke kaki menghadapi serangan yang

rata-rata amat cepat datangnya dan mengandung tenaga

dahsyat sehingga terdengar bunyi berdesing-desing dan

nampak sinar pedang menyambar-nyambar.

Namun, mereka melihat bayangan berkelebat dan pemuda

yang tadi berada di tengah kepungan mereka. tahu-tahu telah

lenyap melompat ke atas dan melampaui kepala dua orang

pengeroyok, pemuda itu telah berada di luar kepungan.

Mereka semua membalikkan tubuh dan melihat pemuda itu

sudah berdiri dengan tenang seperti tadi. Dengan pedang

yang jelek itu di tangan, akan tetapi di luar kepungan. Si tinggi

kurus kembali mengeluarkan seruan nyaring dan barisan itu

dengan cepatnya sudah mengepung kembali, gerakan mereka

cepat dan teratur, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan

untuk menghindarkan diri dari kepungan. Kini, sembilan orang

itu kembali berlari-lari mengelilinginya dan terkejutlah Sin Wan

melihat betapa kepungan itu bergerak secara aneh, ada yang

berlari dari kiri ke kanan dan ada yang dari kanan ke kiri!

Barisan sembilan orang itu berlari saling berlawanan menjadi

dua susun, akan tetapi jumlah mereka masih tetap sembilan.

Tentu saja hal ini membuat Sin Wan bingung karena sukar

baginya untuk menglkuti gerakan bersimpang siur itu dengan

pandang matanya.

Namun dia masih bersikap tenang saja, menanti sampai

pihak lawan melakukan serangan lagi. Dia tahu bahwa sekali

ini tentu para pengeroyok tidak akan membiarkan dia

melakukan loncatan seperti tadi untuk keluar dari kepungan.

Dilihatnya bahwa lima orang yang berada di depan dan empat

di belakang dan mengertilah dia. Lima orang itu akan

menyerangnya dan yang empat orang menjaga kalau dia

melompat ke atas, tentu mereka akan menyambut dengan

lompatan dari empat penjuru untuk menyerang selagi

tubuhnya berada di udara. Hal itu akan dapat membahayakan

dirinya!

Serangan ke dua itu datang dan seperti yang diduganya

semula, lapisan pertama yang di depan menyerangnya. Lima

orang menyerang dengan pedang mereka dari lima penjuru.

Sin Wan terpaksa memutar pedangnya menangkis. Lima orang

itu terkejut karena pedang mereka terpental begitu bertemu

dengan pedang tumpul pemuda itu. Akan tetapi begitu pedang

mereka tertangkis dan terpental mereka melangkah mundur

dan dari belakang mereka, empat orang kawan mereka

menyusulkan serangan kilat dari empat penjuru.

Kembali Sin Wan menggerakkan pedangnya menangkis.

Akan tetapi, lima orang pertama sudah menerjang lagi

sehingga dia dihujani serangan yang dilakukan serentak oleh

empat orang dan lima orang.

Sin Wan maklum bahwa dalam menghadapi pengeroyokan

banyak orang, kalau hanya melindungi diri saja tanpa balas

menyerang akhirnya dia akan terkena juga atau setidaknya,

dia terancam bahaya. Biarpun dia sudah menduga

sebelumnya, ketika lima orang menyerangnya lagi, dia sengaja

melompat ke atas untuk menghindarkan diri dari kepungan.

Benar saja, empat orang yang mengepung di lapisan kedua,

sudah berlompatan pula dan menyambutnya dengan serangan

pedang selagi tubuhnya masih berada di atas! Terpaksa Sin

Wan turun kembali dan dia masih tetap berada di dalam

kepungan! Ketika diserang di atas tadi, diapun mamutar

pedang menangkis, maka tubuhnya turun kembali ke bawah

dan begitu turun, lima orang sudah menyambutnya dengan

gelombang serangan baru.

Dia harus membalas, demikian pikirnya. Itulah satu-catunya

cara untuk membebaskan diri dari tekanan! Sin Wan lalu

bergerak cepat, memainkan pedang tumpulnya dan bersilat

dengan ilmu silatnya yang baru dipelajarinya dari Ciu-sian,

yaitu Sam-sian Sin-ciang yang dimainkan dengan pedang

tumpul secara aneh dan dahsyat bukan main. Ilmu ini

mempergunakan langkah-langkah ajaib Hui-niau-poan-soan

sehingga gerakannya seperti seekor burung walet saja.

Menghadapi serangan balasan Sin Wan yang gerakannya amat

cepat ini, lima orang itu menjadi sibuk sekali dan gerakan

mereka kacau.

Si tinggi kurus mengeluarkan seruan dan barisan itu

kembali menjadi satu lapis dari sembilan orang dan kepungan

melonggar akan tetapi Sin Wan kembali menghadapi sembilan

batang pedang yang bergerak dengan berbareng dan

serentak.

Melihat perubahan ini, Sin Wan melompat lagi dan diapun

berhasil keluar dari kepungan seperti tadi, dan sekali ini dia

tidak tinggal diam melainkan segera menyerang dengan

membalik dari luar kepungan!

Barisan itu menjadi buyar dan dua orang pengeroyok

terpelanting oleh dorongan tangan kiri Sin Wan. Si tinggi kurus

mengeluarkan, aba-aba dan sekarang, sembilan orang itu

berbaris tiga-tiga! Dan ketika mereka menyerang, maka

serangan itu seperti datangnya gelombang samudera, pertama

tiga orang menyerang dan disusul tiga orang lain, kemudian

tiga orang lagi.

Menghadapi gelombang serangan ini, Sin Wan kembali

terdesak. Dia tahu bahwa kalau dia mengalah terus, dia akan

selalu terdesak. Begitu gelombang ke tiga dapat dia hindarkan

dengan loncatan ke samping, diapun membalik dan kini dialah

yang menyerang sebelum sembilan orang itu menyusun

kembali barisan mereka. Tubuh Sin Wan bergerak cepat,

pedang tumpul mengeluarkan suara mengaung dan berubah

menjadi gulungan sinar kehijauan yang besar dan dari mana

kadang-kadang mencuat sinar hijau dari ujung pedang. Setiap

kali sinar itu meluncur, seorang pengeroyok roboh tertotok

dan biarpun yang lain berusaha untuk menangkis dan

mengelak, namun pedang tumpul itu selalu merobohkan

sasaran, dibantu oleh tangan kiri Sin Wan yang

mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang). Akan

tetapi, dia mengendalikan tenaganya sehingga dia hanya,

menotok roboh para pengeroyoknya, sama sekali tidak

melukai, apa lagi membunuh.

Kembali kemenangan Sin Wan ini disambut tepuk tangan

riuh olah lima orang perwira yang menjadi tamu Ang-kin Kaipang.

Sin Wan memberi hormat kepada tujuh orang pimpinan

perkumpulan itu.

“Maafkan saya.” Dan diapun mundur mendekati sumoi dan

kakek Bu Lee Ki yang mengangguk-angguk senang.

Tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang itu bangkit dari

tempat duduk mereka, menghampiri sembilan orang

pembantu mereka dan membebaskan mereka dari pengaruh

totokan yang membuat mereka tak mampu bergerak.

Kemudian, dengan muka merah karena merasa penasaran

melihat para pembantu utama mereka kembali mengalami

kekalahan, mereka menghadap ke arah kakek Bu Lee Ki. Kini

sikap mereka lunak, bahkan hormat kepada kakek itu. Si

jenggot panjang yang kedudukannya sebagai wakil ketua dan

memimpin enam orang sutenya, segera memberi hormat.

“Kiranya dua orang murid keponakan locianpwe adalah

orang-orang yang amat lihai. Kami yakin bahwa locianpwe

sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi dan harap maafkan

kalau anak buah kami bersikap kurang hormat. Sebagai

persyaratan terakhir, kalau locianpwe mampu melewati kami

bertujuh, kami akan mempersilakan locianpwe dan dua orang

muda gagah ini untuk masuk sebagai tamu-tamu kehormatan

kami.”

Kakek itu bangkit berdiri dengan sikap ogah, menggeliat

dan melangkah tertatih-tatih menghampiri tujuh orang

pimpinan Ang-kin Kai-pang, akan tetapi mulutnya tersenyum

dan dia mengomel. “Aihh, anak-anak ini sungguh rewel, mainmain

dengan orang tua seperti aku. Sudah bertahun-tahun

aku tidak pernah cekcok dengan orang, bertengkarpun belum

pernah, apalagi sampai berkelahi. Sekarang begini saja. Kalau

kalian bertujuh mampu merampas capingku ini, biar aku

mengaku kalah dan sebaliknya aku akan mencoba untuk

mengambil sabuk merah kalian!”

Tantangan kakek itu membuat tujuh orang pemimpin Angkin

Kai-pang tertegun. Si jenggot panjang yang bernama Ciok

An dan menjadi wakil ketua Ang-kin Kai-pang, diam-diam

terkejut. Kalau kakek itu berani menantang seperti itu, jelas

bahwa tentu kepandaiannya hebat. Tidak akan mudah

melindungi caping lebar yang tergantung di punggung dengan

tali mengalungi leher itu dari sergapan tujuh orang, dan lebih

sukar lagi merampas sabuk-sabuk merah mereka bertujuh

yang mengikat pinggang. Karena menduga bahwa kakek ini

tentu sakti dan merupakan tokoh besar dunia persilatan yang

belum dikenalnya, maka diapun tidak ingin kalau sampai dia

dan kawan-kawannya kesalahan tangan. Diapun menerima

baik tantangan itu, dengan hati lega karena kemungkinan

kesalahan tangan melukai lawan lebih kecil dibandingkan

kalau bertanding dengan senjata.

“Baik, kami mohon petunjuk locianpwe, katanya merendah,

kemudian dia memberi isyarat kepada enam orang sutenya

untuk mulai bergerak. Begitu mereka bergerak, mudah saja

dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian tujuh orang ini jauh

lebih lihai dibandingkan sembilan orang yang tadi mengeroyok

Sin Wan. Gerakan mereka selain cepat juga mengandung

tenaga sin-kang yang amat kuat.

Tujuh orang yang dipimpin Ciok An itu, merupakan

pimpinan Ang-kin Kai-pang, dan Ciok An sendiri yang

berjenggot panjang adalah wakil ketua. Tentu saja

kepandaiannya dan enam orang sutenya itu sudah mencapai

tingkat tinggi. Begitu bergerak, mereka itu masing-masing

melancarkan serangan dengan satu tangan sedangkan tangan

yang lain berusaha merampas caping yang tergantung di

punggung Bu Lee Ki.

Akan tetapi tubuh kakek yang bertubuh sedang dan kurus

itu seolah-olah berubah menjadi bayangan saja. Dia

menggunakan langkah-langkah aneh dari ilmu Langkah Angin

Puyuh dan tubuhnya yang hanya nampak seperti bayangan itu

menyelinap di antara sambaran tujuh pasang tangan itu.

Kadang dia menangkis dan setiap kali tangannya menangkis,

orang yang tersentuh lengannya terhuyung ke belakang

hampir roboh!

“Heh..heh..heh, kalian anak-anak nakal! Caping butut

seperti ini untuk berebutan! Nah, awas pegangi itu celana agar

jangan merosot ke bawah kalau sabuknya kuambil,” kata

kakek itu terkekeh.

Mendengar ini, tujuh orang itu bersiap siaga agar jangan

sampai sabuk mereka dapat diambil kakek itu. Sebetulnya,

menurut pendapat mereka, hal ini tidak mungkin. Pertama,

mereka cukup tangguh, apalagi kalau hanya melindungi sabuk

sutera, dan kedua, sabuk itu melilit pinggang mereka kuatkuat.

Bagaimana mungkin dapat dirampas?

Tiba-tiba kakek itu membuat gerakan aneh. Tubuhnya yang

tadi berputar-putar itu semakin cepat dan tubuhnya seperti

gasing saja, tidak tentu ke mana arahnya sehingga

membingungkan para pengeroyoknya. Dan tiba-tiba,

terdengar teriakan susul menyusul karena seorang demi

seorang harus memegangi celana mereka agar tidak merosot.

Entah bagaimana caranya, sabuk sutera merah yang melilit

pinggang mereka itu tiba-tiba saja meninggalkan pinggang

seperti berubah menjadi ular hidup saja dan telah berada di

tangan kakek Bu Lee Ki! Setelah semua sabuk terampas, tujuh

orang itu berdiri terbelalak, memegang celana sambil

memandang ke arah kakek itu yang berdiri dan tertawa-tawa

memegang tujuh helai sabuk merah dan diangkatnya tinggitinggi.

Kembali lima orang perwira tinggi itu bertepuk tangan

memuji dan sekali ini mereka agaknya benar-benar kagum

karena mereka berlima bangkit berdiri dari tempat duduk

mereka. Pada saat itu, beberapa orang anggauta Ang-kin Kaipang

yang berada di luar berseru, “Pangcu datang ……!!”

Suasana menjadi menegangkan bagi semua orang ketika

mendengar bahwa ketua mereka datang, dan giranglah hati

Ciok An dan para sutenya karena tentu ketua mereka yang

lihai akan mampu menebus kekalahan mereka yang membuat

mereka merasa penasaran dan malu

Ternyata orang yang muncul dari luar ini malah lebih muda

dibandingkan Ciok An dan para sutenya. Usianya sekitar

empatpuluh tahun dan wajahnya bersih dan tampan, tanpa

ada kumis dan jenggot. Tubuhnya tegap dam nampak gesit,

pakaiannya juga sederhana, berwama biru muda dan seperti

juga semua anggauta Ang-kin Kai-pang, di pinggangnya terlilit

sehelai sabuk sutera, hanya warna merahnya yang berbeda

karena warna merah sabuknya lebih tua dari pada yang lain.

Dari luar tadi ketua ini sudah mendengar dari anak

buahnya bahwa ada seorang kakek pengemis asing dan dua

orang murid keponakannya mengacau di situ dan

mengalahkan semua pimpinan Ang-kin Kai-pang. Mendengar

ini, dia cepat melangkah maju dan dengan suara berwibawa

dia berseru nyaring.

“Siapa yang berani mengacau di Ang-kin Kai-pang?”

Dengan tangan kiri masih memegangi celana agar tidak

merosot, Ciok An segera menjawab, “Pangcu, locianpwe ini

memaksa hendak bertemu dengan pangcu dan kami semua

telah dikalahkannya.”

“Heh..heh..heh, jangan merengek! Nih ku kembalikan

sabuk kalian!” Dan begitu kakek itu melemparkan sabuk-sabuk

merah itu, nampak tujuh sinar merah melayang ke arah tujuh

orang pimpinan itu dan merekapun menyambut sabuk-sabuk

mereka dengan tangan.

Akan tetapi mereka menyeringai karena ketika menangkap

sabuk-sabuk yang melayang ke arah mereka itu, mereka

merasa betapa telapak tangan mereka nyeri seperti dicambuk.

Dengan menahan rasa nyeri, mereka cepat melilitkan kembali

sabuk mereka di pinggang.

Sementara itu, Thio Sam Ki, yaitu ketua Ang-kin Kai-pang,

memandang ke arah kakek Bu Lee Ki dan dia mengeluarkan

seruan heran, lalu bergegas menghampiri. Mereka kini

berhadapan. Bu Lee Ki masih terkekeh sedangkan ketua Angkin

Kai-pang terbelalak.

“Locianpwekah ini ……? Benarkah …… locianpwe Pek-sim

Lo-kai Bu Lee Ki ……..?”

Kakek itu terkekeh. “Heh..heh..heh, kiranya engkau yang

menjadi ketua Ang-kin Kai-pang ini, Thio Sam Ki! Bagus,

pantas saja kai-pang ini demikian maju dan baik, kiranya

engkau yang menjadi ketuanya, ha..ha..ha..ha!”

“Ahh, locianpwe, semua ini berkat petunjuk yang pernah

saya terima dari locianpwe. Betapa bahagia rasa hati saya

melihat locianpwe ternyata masih dalam keadaan sehat.

Locianpwe, terimalah hormat saya!” Dan ketua Ang-kin Kaipang

itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu!

Ketika tadi mendengar disebutnya nama Pek-sim Lo-kai Bu

Lee Ki oleh ketua Ang-kin Kai-pang, semua orang telah

terbelalak kaget. Kini melihat ketua mereka berlutut memberi

hormat, tanpa diperintah lagi seluruh pimpinan dan anggauta

Ang-kin Kai-pang yang berada di situ menjatuhkan diri

berlutut menghadap kakek itu!

Siapa yang tidak kaget mendengar bahwa kakek itu adalah

Thai-pangcu (Ketua Besar) dari seluruh kai-pang? Kakek itu

adalah “datuk” seluruh pengemis yang dikabarkan menghilang

selama bertahun-tahun.

Bu Lee Ki mengangkat kedua tangannya ke atas. “Wah ..

wah, bangkitlah kalian semua. Aku datang untuk melihat-lihat

keadaan dan dapat kunyatakan bahwa engkau telah berhasil,

Thio Sam Ki. Ang-kin Kai-pang agaknya mampu

mempertahankan namanya sebagai pejuang-pejuang yang

gagah, tidak menyeleweng ke jalan sesat!”

Thio Sam Ki bangkit berdiri, diturut semua anggautanya

dan wajahnya berseri. “Semua ini berkat bimbingan locianpwe,

dan berkat bantuan dari yang mulia Raja Muda Yung Lo!” Lain

dia memandang kepada tujuh orang pembantunya sambil

tersenyum. “Apakah kalian ini sudah buta, berani mencobacoba

kepandaian locianpwe Bu Lee Ki!”

Sementara itu, setelah melihat dan mendengar semua itu,

lima orang perwira saling pandang dan mereka nampak

gembira sekali. Seorang di antara mereka yang berusia

limapuluh tahun lebih, bertubuh-tinggi besar, segera maju

memberi hormat kepada Bu Lee Ki.

“Kiranya locianpwe adalah Thai-pangcu yang terkenal itu.

Kami merasa beruntung dapat bertemu locianpwe dan kami

mengucapkan selamat atas berkumpulnya kembali seorang

pemimpin besar dengan anak buahnya.” Dia lalu memberi

hormat kepada Thio Sam Ki dan berkata, “Kami mengucapkan

selamat kepada Thio-pangcu yang telah dapat bertemu

dengan pemimpin besarnya. Kami berlima mohon diri karena

sudah cukup lama berada di sini dan terima kasih atas segala

keramahan Ang-kin Kai-pang.”

Lima orang perwira itu lalu keluar dari situ dan lima orang

anggauta Ang-kin Kai-pang sudah mempersiapkan kuda

tunggangan mereka.

Setelah mereka pergi, Thio Sam Ki memandang kepada Sin

Wan dan Kui Siang, lalu bertanya kepada Bu Lee Ki, “Saya

mendengar bahwa kedua orang adik yang gagah ini adalah

murid-murid keponakan locianpwe, harap suka

memperkenalkan saya kepada mereka.”

Bu Lee Ki tersenyum. “Mereka adalah murid-murid dari

Sam-sian, boleh dibilang murid keponakanku sendiri. Pemuda

ini bernama Sin Wan dan nona itu bernama Lim Kui Siang dari

Nan-king. Sin Wan dan Kui Siang, ini adalah ketua Ang-kin

Kai-pang Thio Sam Ki, takkusangka bahwa dia yang menjadi

ketua di sini.”

Dua orang itu saling memberi hormat dengan Thio Sam Ki

yang merasa kagum kepada mereka karena sudah mendengar

betapa mereka ini telah mengalahkan dengan mudahnya.

Gadis cantik itu telah mengalahkan barisan Enam Tongkat

Merah, bahkan pemuda itu mengalahkan barisan Sembilan

Pedang Naga. Hebat! Apalagi ketika tadi mendengar

keterangan Bu Lee Ki bahwa mereka adalah murid-murid Samsian,

kekagumannya semakin bertambah.

“Dahulu saya hanya anggauta pengemis biasa di Ang-kin

Kai-pang, namun berkat bimbingan locianpwe Pek-sim Lo-kai

Bu Lee Ki maka akhirnya saya dapat menjadi ketua.

Locianpwe, marilah kita bicara di dalam.” Ketua itu lalu

memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan

pesta penyambutan kepada pemimpin besar para kai-pang itu.

Dalam perjamuan meja panjang di mana duduk Bu Lee Ki,

Sin Wan dan Kui Siang sebagai tamu kehormatan, dan Thio

Sam Ki bersama tujuh orang pembantunya sebagai tuan

rumah. Bu Lee Ki dengan tenang dan sabar mendengarkan

semua keterangan yang diberikan Thio Sam Ki mengenai

perkembangan dunia kai-pang semenjak penjajah Mongol

diusir dan pemerintah Kerajaan Beng memegang kekuasaan.

Dahulunya Ang-kin Kai-pang juga, terbawa menyeleweng

oleh ketuanya yang lama yang bernama Boan Kin. Melihat

situasi yang kacau akibat perang, Boan Kin bersama para

pendukungnya yang menjadi kaki tangannya dan berjumlah

duapuluh orang lebih, membawa Ang-kin Kai-pang keluar dari

jalan benar dan mulai melakukan pemerasan dan penindasan

terhadap masyarakat di Peking dengan dalih bahwa Ang-kin

Kai-pang sudah berjasa dalam perjuangan menumbangkan

penjajah Mongol dan karenanya sudah sepatutnva kalau

mendapatkan imbalan jasa. Boan Kin dan kaki tangannya

merupakan gerombolan yang merajalela di Peking dan amat

ditakuti rakyat karena mereka tidak segan-segan

mempergunakan kekerasan dan kepandaian untuk

memaksakan kehendak mereka.

Thio Sam Ki yang menjadi anggauta Ang-kin Kai-pang, dan

para pengemis lain yang berjiwa bersih, tentu saja tidak

menyetujui langkah yang diambil ketua mereka. Biarpun Thio

Sam Ki sendiri sudah memiliki ilmu silat yang tinggi dan

kiranya tidak kalah oleh Boan Kin karena dia pernah dibimbing

langsung oleh Pek-sim Lo-kai, namun dia tidak berdaya

mengingat bahwa Boan Kin mempunyai duapuluh lebih kaki

tangan yang tentu saja tidak mungkin dapat dia atasi.

Akhirnya, setelah Raja Muda Yung Lo mulai melakukan

penertiban dengan tangan besi, melakukan pembersihan

terhadap para penjahat, Thio Sam Ki mendapat dukungan dari

raja muda ini. Dengan bantuan pasukan, Thio Sam Ki berhasil

membunuh Boan Kin dan kaki tangannya dan diapun diangkat

sebagai ketua baru oleh semua sisa anggauta Ang-kin Kaipang

dan didukung sepenuhnya oleh Raja Muda Yung Lo.

“Demikianlah, locianpwe. Saya dipilih menjadi ketua baru

Ang-kin Kai-pang. bukan karena saya berambisi untuk mencari

kedudukan, melainkan semata-mata demi menolong Ang-kin

Kai-pang dari cengkeraman orang jahat dan mengembalikan

Ang-kin Kai-pang ke jalan benar.” Thio Sam Ki mengakhiri

ceritanya.

“Bagaimana dengan kai-pang yang lain-lain? Apakah

keadaan di empat daerah masih seperti dahulu?” tanya Bu Lee

Ki yang merasa senang melihat keadaan Ang-kin Kai-pang dan

mulai tertarik untuk mengetahui keadaan dunia kai-pang yang

dahulu menjadi dunianya dan yang ditinggalkannya karena dia

kecewa melihat penyelewengan para kai-pang.

“Setahu saya masih seperti dulu, tidak ada pergantian

ketua kecuali Ang-kin Kai-pang, locianpwe. Ketika saya

diangkat menjadi ketua, tiga orang ketua dari kai-pang

terbesar di barat, timur dan selatan datang memberi selamat.

Kalau di utara yang menjadi kai-pang terbesar adalah Ang-kin

Kai-pang maka di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang yang

masih dipimpin oleh ketuanya yang dahulu, yaitu Kwee Cin. Di

barat adalah Hek I Kai-pang dipimpin oleh Souw Kiat sebagai

pangcunya, dan di timur Hwa I Kai-pang dipimpin Siok Cu.”

Bu Lee Ki mengangguk-angguk. Ternyata tidak ada

perubahan di tiga daerah itu, dan dia mengenal mereka

karena mereka adalah bekas bawahannya. Dia pernah

menjabat sebagai Thai-pangcu, yaitu ketua terbesar yang

dianggap sebagai pengawas dan penasihat bagi keempat kaipang

yang berkuasa.

“Apakah mereka masih juga menjaga kebersihan nama kaipang

masing-masing itu?” tanyanya, alisnya berkerut karena

dahulu dia melihat bahwa di antara mereka banyak yang

terseret ke dalam kesesatan seperti halnya mendiang Boan Kin

ketua Ang-kin Kai-pang yang lama, kecuali Kwee Cin ketua

Lam-kiang Kai-pang yang seperti juga Thio Sam Ki, pernah

menerima bimbingannya selama beberapa tahun.

“Yang saya ketahui, hanya Hwa I Kai-pang saja yang

kabarnya banyak berubah. Perkumpulan itu kini menjadi kaya

raya dan kabarnya memiliki kekuasaan besar sekali. Ketuanya

masih Siok Cu dan menurut berita yang saya terima, terjadi

persaingan antara Hwa I Kai-pang dan Hek I Kai-pang. Saya

merasa yakin bahwa Souw-pangcu tetap mempertahankan

Hek I Kai-pang sebagai kai-pang yang bersih dan gagah.

Mengenai Hwa I Kai-pang, banyak berita yang tidak

menyenangkan.”

Bu Lee Ki mengelus jenggotnya yang kacau dan putih.

“Hemm, begitukah? Apakah Hwa I Kai-pang masih berpusat di

Lok-yang?”

Thio Sam Ki membenarkan, lalu melanjutkan. “Sebulan lagi

akan diadakan pertemuan besar di Lok-yang antara pimpinan

empat kai-pang itu, locianpwe, yaitu untuk membicarakan

kepergian locianpwe dan kekosongan kedudukan Thai-pangcu.

Di dalam pertemuan itu akan diadakan pemilihan Thai-pangcu

yang baru dan hal ini didukung pula oleh pemerintah.”

“Pemerintah?”

“Benar sekali, locianpwe. Tentu locianpwe tadi melihat pula

lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu di sini.

Hubungan kami dengan para panglima baik sekali, bahkan

Raja Muda Yung Lo amat memperhatikan kami. Demikian pula

ayahanda beliau, Kaisar Thai-cu di Nan-king kabarnya amat

memperhatikan kai-pang. Beliau tidak melupakan perjuangan

para kai-pang dan pemerintah yang menganjurkan agar

diadakan pemilihan Thai-pangcu lagi untuk kelak mewakili

para kai-pang dalam pemilihan seorang Beng-cu. Pemerintah

bermaksud untuk mempersatukan seluruh tokoh dunia

persilatan agar tidak terjadi persaingan dan perpecahan dan

kekuatan di dunia persilatan dapat dimanfaatkan untuk

membantu pemerintah dalam menjaga keamanan dan

ketertiban sehingga kehidupan menjadi tenteram.”

“Bagus sekali!” Bu Lee Ki mengangguk-angguk dan

wajahnya berseri. “Kalau kaisar dan pemerintahnya bijaksana

dan baik, maka tidak sia-sia belaka bertahun-tahun rakyat ikut

berjuang melawan penjajah mengorbankan nyawa dan harta

benda. Perjuangan takkan berhasil tanpa bantuan rakyat

karena yang berjuang adalah rakyat. Oleh karena itu setelah

perjuangan berhasil, para pimpinan sekali-kali tidak boleh

melupakan tujuan semula dari perjuangan, yaitu

membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan agar rakyat

dapat hidup dalam keadaan tenteram, adil dan makmur. Para

pemimpin harus selalu menyadari bahwa tanpa rakyat, mereka

bukan apa-apa, dan tanpa dukungan rakyat, setiap

pemerintahan pasti akan rapuh dan jatuh.”

“Betapa bahagianya kami kalau selalu mendapatkan

bimbingan dari locianpwe yang bijaksana,” kata Thio Sam Ki

terharu. “Pemilihan Thai-pangcu akan diadakan. Akan

celakalah para kai-pang kalau Ketua Besar dipegang oleh

orang yang tidak bijaksana. Oleh karena itu, demi menjaga

keutuhan para kai-pang dan dapat mengendalikan mereka

asal tidak sempat terseret ke dalam kesesatan, kami mohon

agar locianpwe suka kami calonkan kembali menjadi Thaipangcu

yang akan dipilih. Dan pula, selama ini Thai-pangcu

masih dianggap pimpinan walaupun telah bertahun-tahun

tidak muncul. Harap locianpwe tidak menolak.”

“Aku akan menghadiri rapat besar itu di Lok-yang dan kita

lihat saja bagaimana perkembangannya nanti, apakah aku

masih harus menyibukkan diri dengan kai-pang ataukah

tidak,” kata Bu Lee Ki lalu minum araknya.

Mereka bertiga tinggal di pusat Ang-kin Kai-pang sebagai

tamu kehormatan dan pada malam harinya, dengan wajah

berseri Thio Sam Ki memperlihatkan sebuah sampul merah

terisi surat undangan dari Raja Muda Yung Lo!

“Raja Muda mengundang kita, Locianpwe. Saya, locianpwe,

Sin-taihiap dan Lim-lihiap diundang untuk makan malam di

istana Raja Muda!” Ketua itu nampak gembira dan bangga

bukan main.

Hati siapa tidak akan merasa bangga menerima undangan

makan malam dari seorang yang paling berkuasa di Peking,

Raja Muda yang juga seorang putera kaisar itu? Selama ini,

dalam hubungannya dengan pemerintah, bahkan ketika dia

didukung untuk menjadi ketua, wakil pemerintah hanyalah

para perwira tinggi saja dan belum pernah Thio Sam Ki

bertemu langsung dengan raja muda itu, apa lagi diundang

makan malam!

Sin Wan dan Kui Siang merasa heran sekali mendengar

bahwa merekapun ikut diundang raja muda, akan tetapi ketika

Thio-pangcu memperlihatkan surat undangan itu, di situ jelas

tertulis pula nama Sin Wan dan Lim Kui Siang! Melihat

keheranan dua orang muda itu, Thio-pangcu tersenyum.

“Tai-hiap dan Li-hiap tidak perlu merasa heran. Raja Muda

Yung Lo adalah seorang pangeran yang sejak dahulu amat

menghargai orang-orang gagah di dunia persilatan, bahkan

beliau sendiri seorang panglima yang gagah perkasa dan

biarpun belum pernah ada yang berani mencohanya, namun

kami mendengar bahwa beliau memiliki dasar ilmu silat Siauwlim-

pai yang hebat. Tentu para ciangkun (perwira) yang tadi

menyaksikan kelihaian ji-wi (anda berdua) telah melaporkan

ke istana dan membuat Raja Muda Yung Lo tertarik dan

mengirim undangan.”

“Heh .. heh .. heh, memang nasib kita sedang mujur, Sin

Wan dan Kui Siang. Begitu tiba di sini, kita selalu disambut

dengan kehorrnatan dan terutama sekali dengan hidangan

yang serba enak. Apa lagi kalau makan malam di istana, aduh,

belum apa-apa aku sudah mengilar, walaupun tadi sudah

makan kenyang, ha .. ha!”

Sin Wan yang selama hidupnya belum pernah melihat

kemewahan dan keindahan yang luar biasa dari sebuah istana,

tiada habisnya terkagum-kagum ketika dia bersama Kui Siang,

kakek Bu Lee Ki dan Thio Sam Ki didahului pengawal

memasuki istana Raja Muda Yung Lo. Kui Siang sendiri adalah

seorang puteri bangsawan, maka kemewahan gemerlapan itu

tidak membuatnya merasa heran, demikian pula dengan kakek

Bu Lee Ki yang sudah mempunyai banyak pengalaman itu.

Bahkan Thio-pangcu sendiripun terkagum-kagum.

Ketika mereka tiba di ruangan luas yang dipasangi banyak

lampu sehingga keadaannya menjadi terang seperti siang itu,

Raja Muda Yung Lo telah duduk di situ. Agaknya raja muda ini

sudah mendapat laporan dan telah menanti, ditemani oleh tiga

orang panglimanya. Sebuah meja besar berada di situ, meja

bundar yang bersih mengkilap.

Ketika mereka berempat memasuki ambang pintu, seorang

pengawal melapor dengan suaranya yang nyaring bahwa

empat orang tamu undangan sudah tiba, dan terdengar

perintah raja muda itu agar mereka dipersilakan masuk. Thio

Sam Ki yang berjalan di depan, begitu memasuki ruangan itu

dan melihat sang raja muda duduk bersama tiga orang

panglima besar yang sudah dikenalnya, cepat menjatuhkan

diri berlutut memberi hormat kepada Raja Muda Yung Lo.

Akan tetapi, kakek Bu Lee Ki tidak berlutut, hanya memberi

hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada lalu

membungkuk sampai dalam. Sin Wan dan Kui Siang mengikuti

perbuatan kakek itu, memberi hormat tanpa berlutut.

Melihat ini, Thio-pangcu merasa khawatir, akan tetapi

sebaliknya, pangeran atau raja muda itu malah tersenyum dan

menegurnya. “Tidak perlu berlutut, mari bangkitlah dan

silakan kalian duduk,” suaranya tegas dan nyaring, akan tetapi

ramah.

Legalah hati Thio Sam Ki yang segera bangkit dan dengan

sikap hormat mereka melangkah maju dan duduk di atas kursi

menghadapi Raja Muda Yung Lo di seberang meja. Sejenak

mereka tidak bicara dan raja muda itu memberi isyarat

dengan tangan kepada para pengawal agar keluar dari

ruangan itu. Para pengawal keluar dan di situ kini tinggal Raja

Muda Yung Lo, tiga orang panglima, dan empat orang tamu

itu.

Jilid 8

KUI SIANG mengangkat muka untuk memandang kepada

para bangsawan yang duduk di seberang meja bundar. Tiga

orang panglima itu berusia antara empatpuluh sampai

limapuluh tahun, bertubuh kekar dan nampak berwibawa

dalam pakaian panglima yang gemerlapan. Akan tetapi raja

muda itu sendiri nampak masih muda. Tidak akan lebih dari

tigapuluh tahun usianya dan wajahnya membayangkan

kegagahan dan kecerdikan, wajah yang cukup tampan dan

jantan. Sepasang telinganya lebar dan panjang, merapat di

kepala. Wajahnya berbentuk persegi panjang, dengan sedikit

kumis dan cambangnya bersatu dengan jenggot, terpelihara

rapi sehingga wajah itu nampak bersih matanya lebar dengan

ujung sipit ke atas, dengan alis yang berbentuk golok.

Hidungnya besar dan mancung, mulutnya membayangkan

keramahan, akan tetapi dagunya menunjukkan bahwa dia

seorang yang bersemangat dan keras hati.

Kepalanya tertutup topi dan pakaiannya ringkas walaupun

gemerlapan, akan tetapi tidak terlalu mewah. Sepasang

matanya itulah yang amat menarik perhatian karena mata itu

seperti mata burung elang rajawali yang amat tajam dan juga

amat berwibawa. Bahkan Kui Siang sendiri tidak dapat

bertahan lama beradu pandang dengan mata itu dan iapun

menunduk.

Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pria

yang gagah perkasa dan jantan. Dia bukan seorang yang

berwatak mata keranjang, walaupun sebagai seorang pria

yang normal, dia tidak buta terhadap kecantikan wanita. Dia

lebih mementingkan urusan pemerintahan, lebih

mementingkan kedudukan ketimbang wanita. Sebetulnya,

ketika dia menjadi pangeran, nama kecilnya adalah Pangeran

Yen dengan julukan Pangeran Cang On. Akan tetapi dia lebih

suka mempergunakan nama Yung Lo, yaitu nama besar yang

dipakainya setelah dia menjadi Raja Muda Yung Lo yang

menguasai seluruh daerah utara. Dia bukan seorang pemimpin

yang hanya mengatur siasat di balik tembok benteng dan di

kamar yang mewah dalam istana. Dia adalah pemimpin yang

maju sendiri memimpin pasukannya mengamuk kalau sedang

dalam pertempuran sehingga namanya terkenal dan dia

dipuja-puja oleh pasukan dan rakyat sebagai seorang

panglima yang gagah perkasa.

Akan tetapi kini, melihat Lim Kui Siang, raja muda itu

terpesona. Bukan semata karena kecantikan Kui Siang,

melainkan dia terkagum-kagum oleh kelihaian gadis itu. Dia

telah menerima laporan bahwa, seorang diri, gadis ini mampu

mengalahkan enam orang tokoh Ang-kin Kai-pang yang

mengeroyoknya, enam orang yang terkenal sebagai Barisan

Tongkat Merah dari perkumpulan itu. Dia sendiri sudah

mempunyai seorang isteri yang cantik dan lima orang selir,

yang manis-manis, akan tetapi belum pernah dia bertemu

seorang pendekar wanita muda yang cantik dan lihay seperti

Kui Siang. Seketika hatinya tertarik dan timbul perasaan

cintanya. Kalau dia dapat menarik gadis ini sebagai

pendamping hidupnya, dia bukan saja memperoleh seorang

selir yang lain dari pada selirnya, melainkan juga

mendapatkan seorang pengawal pribadi yang boleh

diandalkan!

Setelah berpandangan sejenak, dan tahu bahwa para tamu

itu tentu tidak akan berani bicara lebih dahulu sebelum

ditegurnya. Raja Muda Yung Lo berkata dengan suaranya

yang nyaring dan tegas. “Kami menerima laporan tentang

locianpwe yang ternyata adalah Thai-pangcu, pemimpin besar

para kai-pang yang selama bertahun-tahun menghilang. Kami

sudah lama mendengar nama besar Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki

yang telah berjasa besar membantu perjuangan kami

merobohkan penjajah Mongol. Sayang bahwa selama ini

locianpwe pergi tanpa meninggalkan jejak sehingga kami

belum sempat memberi hadiah dan imbalan jasa kepadamu.”

Dari tempat duduknya, kakek itu tersenyum dan memberi

hormat kepada raja muda itu. “Terima kasih atas kehormatan

yang diberikan kepada hamba, Yang Mulia. Akan tetapi

maafkan hamba bahwa hamba sama sekali tidak

mengharapkan hadiah atau imbalan jasa. Tentu paduka sudah

lebih mengetahui bahwa berjuang demi kemerdekaan tanah

air dan bangsa, mengusir penjajah Mongol merupakan

kewajiban setiap orang anak bangsa. Ketika hamba membantu

perjuangan, memimpin seluruh Kai-pang untuk menentang

pasukan Mongol, seujung rambut pun tidak ada pamrih dalam

hati hamba untuk kemudian menuntut imbalan jasa.”

Raja Muda Yung Lo tertawa dan Kui Siang melihat betapa

pria itu nampak jauh lebih muda ketika tertawa dan semua

bentuk kekerasan yang menggores di wajah yang perkasa

itupun lenyap. Tahulah ia bahwa pada dasarnya, raja muda itu

seorang yang lembut hati dan ia merasa semakin kagum.

“Ha..ha..ha, ucapanmu itu sudah kami duga sebelumnya,

locianpwe. Memang demikianlah watak seorang pendekar,

seorang pahlawan, selalu menjunjung kebajikan, membela

kebenaran dan keadilan, tanpa pamrih sedikitpun untuk diri

sendiri. Akan tetapi ketahuilah bahwa pemimpin bangsa yang

baik dan bijaksana harus menghargai dan menghormati para

pahlawan bangsa. Dan bagi kami, penghargaan terhadap

pahlawan yang masih hidup jauh lebih penting dari pada

penghargaan terhadap pahlawan yang sudah tewas dan gugur

dengan sekedar kenangan untuk menghormati jasa mereka.

Oleh karena itu, kami selalu mencari para pendekar yang

berjasa bukan sekedar untuk memberi penghargaan, akan

tetapi juga mengajak mereka untuk bekerja sama demi

kepentingan bangsa. Perjuangan masih jauh dari pada selesai,

locianpwe. Oleh karena itu, kami ingin sekali mengajak

locianpwe bekerja sama!”

“Hamba mengerti, Yang Mulia. Memang, sebelum mati,

setiap orang takkan pernah terbebas dari pada perjuangan.

Hidup ini perjuangan, yaitu menghadapi semua tantangan dan

mengatasinya, bukan saja untuk diri sendiri, keluarga, bangsa

bahkan manusia. Akan tetapi hamba sudah tua, Yang Mulia.

Apakah yang dapat hamba lakukan untuk membantu paduka?

Tentu saja hamba selalu siap membantu asal sesuai dengan

kemampuan hamba yang sudah tua ini.”

“Locianpwe, kami selalu merindukan melihat persatuan

terjalin erat di antara seluruh tokoh dalam dunia persilatan.

Dengan adanya, locianpwe sebagai Thai-pangcu, maka berarti

bahwa seluruh kai-pang dapat dipersatukan. Ada gejala

timbulnya perpecahan ketika locianpwe menghilang, dan

dengan munculnya kembali locianpwe, kami harap agar

seluruh kai-pang dapat dipersatukan kembali.”

“Hamba memang bermaksud untuk mengunjungi rapat

besar kai-pang yang akan diadakan di Lok-yang bulan depan,

Yang mulia.”

“Bagus sekali kalau begitu. Akan tetapi bukan hanya sekian,

bukan hanya para kai-pang yang harus dipersatukan,

melainkan seluruh dunia persilatan, seluruh tokoh kangouw.

Oleh karena itu, Sribaginda Kaisar sendiri sudah menyetujui

agar diadakan pertemuan besar di mana akan dilakukan

pemilihan seorang Beng-cu yang akan memimpin seluruh

dunia persilatan dan mewakili dunia persilatan untuk bekerja

sama dengan pemerintah. Dan kami percaya bahwa locianpwe

akan mampu menjadi calon Beng-cu, atau setidaknya,

locianpwe dapat menjaga agar yang dipilih menjadi Beng-cu

seorang yang benar-benar berjiwa pendekar dan pahlawan,

bukan tokoh sesat yang akan menyelewengkan dunia kangouw.

Mengertikah locianpwe akan maksud kami?”

“Hamba mengerti, dan tanpa perintah padukapun, hamba

tentu akan melakukan pengawasan itu agar jangan sampai

dunia persilatan diselewengkan ke arah kesesatan.”

“Bagus, terima kasih, locianpwe. Kami percaya sepenuhnya

kepada locianpwe. Kami akan memberi laporan kepada

ayahanda Sribaginda Kaisar, dan akan memberi perintah

kepada para pejabat tinggi di Lok-yang dan lain-lain agar

mereka mempersiapkan bantuan kepada locianpwe. Kami dari

pemerintah tidak akan mencampuri pemilihan itu, secara

langsung, hanya akan menjaga dan mendukung pihak yang

kami anggap benar. Dan locianpwe merupakan satu di antara

golongan yang kami pilih.”

“Terima kasih, Yang Mulia.”

“Kami tidak mau menjanjikan hadiah kepada locianpwe

karena hal itu akan meru pakan penghinaan bagi seorang

yang berjiwa pahlawan, akan tetapi percayalah bahwa kami

tidak akan melupakan jasa locianpwe yang besar bagi negara

dan bangsa. Nah, sekarang kami ingin bicara dengan pemuda

ini. Namamu Sin Wan, orang muda?”

Suara raja muda itu membuat Kui Siang merasa geli dalam

hatinya karena seolah-olah raja muda itu sudah tua. Pada hal,

dibandingkan dengan Sin Wan, raja muda itu pantas menjadi

seorang kakaknya saja.

Sin Wan memberi hormat, “Benar, Yang Mulia.”

“Dan engkau murid keponakan locianpwe Pek-sim Lo-kai?”

Sin Wan menoleh ke arah kakek itu. Dia tidak ingin

berbohong, akan tetapi di pusat Ang-kin Kai-pang, kakek itu

telah mengakuinya sebagai murid keponakan. Melihat pemuda

itu menoleh kepadanya, kakek itu tersenyum.

“Maaf, Yang Mulia. Sesungguhnya, Sin Wan dan Kui Siang

adalah murid-murid Sam-sian dan hamba akui sebagai murid

keponakan karena hamba dengan Sam-sian akrab seperti

saudara saja.”

Raja Muda Yung Lo memandang terbelalak kepada Sin

Wan, lalu kepada Kui Siang dan mulutnya tersenyum,

wajahnya berseri. “Aihhh …..! Murid-murid Sam-sian, Tiga

Dewa yang telah berjasa menemukan kembali pusaka-pusaka

istana yang hilang dicuri orang itu? Bukan main! Sam-sian

adalah tiga tokoh besar yang telah berjasa. Jadi engkau ini

murid mereka, Sin Wan! Akan tetapi, kami lihat bahwa engkau

bukan seorang pribumi, bukan orang Han. Benarkah?”

Sin Wan kagum kepada raja muda itu yang berpenglihatan

tajam. Pada hal, baik cara dia bicara maupun pakaian dan

sikapnya, tiada bedanya antara dia dan orang Han. Sin Wan

sendiri tidak menyadari bahwa terdapat perbedaan walaupun

kecil pada matanya dan kulit wajahnya, dan dia memiliki

ketampanan yang berbeda dengan orang Han.

“Benar sekali dugaan paduka, Yang Mulia. Sesungguhnya,

mendiang ayah dan ibu hamba adalah orang-orang Uighur.”

“Hemm, pantas kalau begitu. Jadi engkau telah yatim

piatu?”

“Benar, Yang Mulia. Sejak berusia sepuluh tahun, hamba

kehilangan ibu hamba, sedangkan ayah hamba telah

meninggal sewaktu hamba masih dalam kandungan, dan sejak

berusia sepuluh tahun hamba menjadi murid ketiga orang

guru hamba.”

“Kalau begitu, engkau seorang keturunan Bangsa Uighur,

Sin Wan, dapatkah kami mengharapkan seorang Uighur untuk

setia terhadap kerajaan dan Dinasti Beng? Setia terhadap

negara dan Bangsa Han. Kepada tanah air?” Sepasang mata

itu mencorong dan mengamati wajah Sin Wan penuh selidik.

Ucapan yang menusuk hati itu diterima oleh Sin Wan

dengan sikap tenang saja. Batinnya sudah digembleng secara

hebat oleh tiga orang gurunya, maka tidak mudah

keseimbangannya terguncang. Diapun menyambut pandang

mata raja muda itu dengan sinar mata yang terang dan

tenang.

“Yang Mulia, bagi hamba, di mana hamba hidup, di situlah

tanah air hamba karena airnya hamba minum dan hasil

tanahnya hamba makan. Bangsa hamba adalah bangsa di

dalam mana hamba hidup dan bergaul, mengalami suka duka

bersama. Sejak kecil hamba hidup di antara Bangsa Han,

bergaul dengan Bangsa Han, sehingga hamba akan merasa

asing kalau berada di antara orang-orang Uighur sendiri,

bahkan hambapun hampir lupa akan Bahasa Uighur karena

sejak kecil ibu bicara dalam Bahasa Han kepada hamba. Sejak

kecil ketiga orang guru hamba mengajarkan kepada hamba

untuk selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran

dan keadilan. Bagaimana mungkin hamba akan mengkhianati

tanah air di mana hamba makan minum dan bangsa dengan

siapa hamba bergaul dan mengalami suka duka bersama?

Hamba tidak akan menyangkal bahwa hamba adalah

keturunan orang Uighur, akan tetapi hamba akan

menyeleweng dari pada kebenaran kalau hamba mengkhianati

negara dan bangsa di mana hamba hidup!”

Ucapan itu penuh semangat dan sewajarnya karena keluar

dari lubuk hati pemuda itu. Dia sendiri akan merasa asing,

aneh dan kehilangan tempat berpijak kalau dia harus bersikap

lain dari pada apa yang telah dia katakan itu.

Diam-diam Kui Siang memandang kepada suhengnya

dengan hati merasa heran bukan main. Tiga orang suhu

mereka tidak pernah bercerita tentang asal usul Sin Wan, dan

suhengnya itu sendiripun hanya menceritakan bahwa dia

yatim piatu. Sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa

suhengnya adalah seorang Uighur! Baginya, tidak ada

sedikitpun sisa-sisa orang Uighur pada suhengnya, pada hal

menurut pengakuannya tadi, ayah bunda suhengnya adalah

Bangsa Uighur. Suhengnya orang Uighur tulen! Sungguh tak

disangkanya sama sekali.

Mendengar ucapan itu. Melihat sikap dan sinar mata

pemuda itu, Raja Muda Yung Lo tersenyum girang. Wajahnya

berseri dan diapun berkata, “Hemm, kami hanya ingin tahu isi

hatimu, Sin Wan. Kalau kita semua mau mengakui secara

jujur, kami sendiri tidak tahu siapakah yang asli dan siapa pula

yang tidak asli di antara kita semua!”

Pangeran atau raja muda itu tertawa. “Kita hanya mampu

mengenal nenek moyang kita sampai kepada kakek buyut

atau kakek canggah. Sebelum itu, siapa dapat yakin bahwa

nenek moyang kita bukan keturunan suku lain? Siapa tahu di

dalam tubuhku ini mengalir darah Uighur, atau darah Miauw,

bahkan darah Mancu atau malah darah Mongol? Yang penting

memang bukan keturunannya, melainkan sepak terjangnya

dalam hidup. Bagaimanapun, darah manusia tetap darah

manusia, apa bedanya? Keturunan apapun, kalau memang dia

pengkhianat, tetap penghkianat, kalau dia pendekar atau

pahlawan, tetap pahlawan. Nah, mengingat bahwa engkau

murid Sam-sian, apa lagi kini datang bersama locianpwe Peksim

Lo-kai, kami percaya sepenuhnya kepadamu. Kepadamu

kami juga menawarkan kerja, sama demi kepentingan rakyat

seperti yang kami tawarkan kepada locianpwe Pek-sim Lo-kai.

Bagaimana kesanggupanmu, Sin Wan?”

“Hamba siap untuk bekerja sama, Yang Mulia.”

“Bagus Kami sudah mendengar akan kemampuanmu, maka

kami ingin engkau membantu kami sebagai seorang panglima

pasukan keamanan yang khusus bergerak dalam usaha

pemerintah mempersatukan dunia persilatan dan menjalin

hubungan antara mereka dengan pemerintah. Maukah engkau

menerimanya?”

Sin Wan terkejut. Dia diangkat menjadi seorang panglima!

Sungguh merupakan hal yang mengejutkan dan tak pernah

dia bermimpi untuk menjadi seorang perwira tinggi begitu

saja! Akan tetapi dia teringat akan kesanggupannya kepada

kakek Bu Lee Ki untuk membantunya mempersatukan kaipang.

“Hamba berterima kasih sekali dan tentu saja hamba

mentaati perintah paduka. Akan tetapi kalau boleh hamba

memohon agar pengangkatan itu, ditangguhkan dahulu

karena hamba ingin membantu Bu-locianpwe untuk

menghadiri pertemuan besar antara para pimpinan kai-pang di

Lok-yang.”

Tentu saja alasan ini mempunyai maksud yang lain, yaitu

bahwa dia ingin lebih dahulu mengantar sumoinya pulang ke

Nan-king!

Raja Muda Yung Lo tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Bagus, kami setuju. Memang urusan itupun merupakan

kepentingan kami dan masih dalam rangka tugasmu sebagai

seorang panglima keamanan. Baik, engkau pergilah bersama

Bu-locianpwe, sekalian melaporkan kelak kepada kami

bagaimana hasil pertemuan itu. Sekarang kami ingin bicara

dengan nona Lim Kui Siang.”

Gadis itu mengangkat muka memandang kepada Raja

Muda Yung Lo, akan tetapi melihat sinar mata yang amat

tajam itu, iapun menunduk kembali dan menanti dengan

jantung berdebar. Apa yang dikehendaki raja muda itu

darinya?

“Nona Lim Kui Siang, kami sudah mendengar pula laporan

tentang kelihaian nona ketika bertanding melawan tokohtokoh

Ang-kin Kai-pang dan kami merasa kagum sekali. Nona

masih begini muda sudah memiliki kepandaian hebat,

walaupun keheranan kami kini terjawab ketika mendengar

bahwa nona adalah murid Sam-sian.”

Dengan sikap tenang dan sopan, Kui Siang memberi

hormat dan menjawab, “Paduka terlalu memuji, Yang Mulia.

Berkat bimbingan tiga orang suhu, maka hamba memiliki

sedikit kemampuan untuk menjaga diri.”

Senang hati raja muda itu mendengar ucapan ini. Gadis ini

selain lihai, juga berwatak pendekar, tidak suka

menyombongkan diri bahkan jawaban itu menunjukkan sikap

yang rendah hati.

“Nona, kebetulan sekali kami membutuhkan seorang wanita

selihai nona untuk menjadi pengawal keluarga kami. Kami

sendiri sering kali memimpin pasukan mengusir pengacaupengacau

dari luar Tembok Besar dan meninggalkan keluarga.

Hati kami akan merasa tenang dan tenteram kalau nona suka

membantu kami dengan menjadi pengawal pribadi keluarga

kami, yang mengepalai semua pasukan pengawal istana.

Maukah nona menerimanya?”

Wajah gadis itu menjadi kemerahan dan jantungnya

berdebar, seperti juga Sin Wan, ia terkejut bukan main. Begitu

saja, secara mendadak dan amat mudah, ia diangkat menjadi

kepala pengawal keluarga di dalam istana raja muda. Ini

kedudukan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada

kedudukan mendiang ayahnya dahulu! Kepala pengawal

dalam istana adalah orang yang dipercaya sepenuhnya oleh

raja muda untuk menjaga keselamatan keluarga!

Sejenak ia termangu. Ia melirik ke arah suhengnya, akan

tetapi suhengnya hanya menundukkan mukanya dan ketika ia

mengerling ke arah Bu Lee Ki, kakek itu memandang

kepadanya dengan senyum dan pandang matanya jelas tidak

mau mencampuri dan menyerahkan keputusannya kepadanya

sendiri.

“Bagaimana jawabanmu, nona Lim?” raja muda itu

bertanya.

“Hamba …… hamba ingin pergi ke Nanking dan

menyembahyangi makam ayah bunda hamba ……!” akhirnya

Kui Siang menjawab.

“Aihhh …. jadi seperti juga Sin Wan, engkau sudah yatim

piatu, nona? Dan engkau berasal dari kota raja?”

Sin Wan maklum bahwa sumoinya merasa sungkan untuk

memperkenalkan keluarganya. Mengingat bahwa ayah gadis

itu seorang pembesar yang setia, diapun tidak ragu-ragu

membantu sumoinya.

“Maafkan hamba, Yang Mulia. Sumoi Lim Kui Siang adalah

puteri tunggal dari mendiang Lim-taijin (pembesar Lim) yang

menjabat pengurus gudang pusaka istana.”

Mendengar ini, Raja Muda Yung Lo terbelalak dan

memandang tajam kepada gadis itu yang kini menundukkan

mukanya.

“Ahhh! Jadi ayahmu adalah mendiang paman Lim Cun,

nona!”

Kui Siang hanya dapat mengangguk.

“A-ha! Kalau begitu engkau puteri seorang pejabat tinggi

yang setia sampai mati! Bukankah mendiang ayahmu tewas

karena dibunuh penjahat yang mencuri pusaka istana?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Lim Kui Siang, ternyata engkau masih orang sendiri!

Ayahmu dahulu adalah seorang pejabat yang setia dan kami

mengenalnya walaupun kami belum pernah berkenalan

dengan keluarganya. Kami menjadi semakin yakin dan percaya

sepenuhnya kepadamu. Baiklah, engkau boleh pergi dulu ke

Nan-king menyembahyangi makam orang tuamu, setelah itu

engkau kembali ke sini dan mulai dengan tugasmu di istana.

Bagaimana?”

Kui Siang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyetujui

tentu saja. Ia memang tidak tahu bagaimana harus memulai

hidupnya yang sebatang kara itu. Biarpun ada dua orang

pamannya dan seorang bibi dari ayah, juga seorang paman

dari ibunya, akan tetapi ia tidak suka kepada mereka karena ia

tahu benar bahwa dahulu mereka itu amat menginginkan

peninggalan atau warisan harta dari orang tuanya. Ia akan ke

Nanking selain bersembahyang, juga akan mengurus harta

peninggalan itu yang dahulu oleh Ciu-sian dititipkan kepada

Ciang-Ciangkun, seorang perwira yang setia dan jujur, juga

bahkan sahabat baik ayahnya,

“Baiklah, Yang Mulia Hamba akan mentaati perintah

paduka.”

Bukan main senang rasa hati Pangeran yang menjadi Raja

Muda di Peking itu. Dia lalu memerintahkan pelayan untuk

mengeluarkan hidangan makan malam, kemudian dia

mengajak empat orang tamunya untuk makan malam

bersamanya, suatu kehormatan yang luar biasa, terutama bagi

Thio Sam Ki.

Dia seorang ketua pengemis makan malam bersama yang

mulia Raja Muda Yung Lo! Peristiwa ini menjadi dongeng

baginya yang tiada hentinya dia ceritakan dan banggakan

kepada anak cucunya kelak!

Mendengar bahwa mereka akan segera berangkat ke

selatan, Raja Muda Yung Lo memberi hadiah lima ekor kuda

pilihan untuk mereka, karena wakil ketua Ang-kin Kai-pang,

yaitu Ciok An, akan mengawani ketuanya menghadiri rapat

besar pemilihan pemimpin besar kai-pang yang akan diadakan

di Lok-yang.

Mereka lalu melakukan perjalanan cepat ke selatan.

Sementara itu, Raja Muda Yung Lo juga membuat surat

laporan panjang kepada ayahnya, tentang rapat besar kaipang,

tentang Bu Lee Ki, Sin Wan dan Lim Kui Siang.

0oo0

“Kalian tidak perlu banyak bertanya!” kata gadis itu sambil

bertolak pinggang di depan pintu gapura pusat perkampungan

Hwa I Kai-pang yang megah. “Panggil saja ketua kalian keluar,

katakan bahwa aku Tang Bwe Li ingin bertemu dan bicara

dengan dia!”

Gadis yang galak itu sejak kemunculannya telah menarik

perhatian banyak anggauta Hwa I Kai-pang. Tadinya ia

melangkah hendak memasuki gapura tanpa memperdulikan

para penjaga, dan setelah para penjaga menghadang, ia

marah-marah! Tadinya para anggauta Hwa I Kai-pang hendak

marah, akan tetapi ketika melihat bahwa gadis itu seorang

dara jelita berusia duapuluh tahunan yang wajahnya manis

sekali, timbul kegembiraan mereka untuk menggoda.

“Aduhai nona manis, kenapa sukar-sukar, mencari pangcu

kami? Marilah bertemu dan bicara saja dengan aku di gardu

sini, kan lebih asyik! Aku adalah kepala jaga, dan dapat

kusuruh semua anak buahku ini menyingkir agar kita berdua

dapat bicara tanpa gangguan.”

Tentu saja ucapan ini disambut suara tawa para temannya.

Gadis itu memang Tang Bwe Li atau Lili. Ia mendapat tugas

dari Bi-coa Sian-li Cu Sui In, yaitu gurunya yang kemudian

menjadi kakak seperguruannya untuk pergi melakukan

penyelidikan kepada Hwa I Kai–pang yang menjadi saingan

Hek I Kai-pang yang telah mereka kuasai. Akan tetapi, Lili

adalah seorang dara yang keras hati dan juga memandang

rendah semua orang. Perlu apa bersusah-susah mengadakan

penyelidikan seperti seorang pencuri, pikirnya. Lebih baik

temui saja ketua Hwa I Kai-pang, taklukkan dia dan paksa

dengan kekerasan agar dia mau mencalonkan sucinya sebagai

pemimpin besar kai-pang, habis perkara. Lebih mudah dan

cepat, juga tidak harus menyelinap masuk seperti pencuri!

Tingkat kepandaian Souw-pangcu dari Hek I Kai-pang juga

hanya sebegitu saja. Tentu tingkat kepandaian ketua Hwa I

Kai-pang juga tidak jauh selisihnya dan akan mudah dia

kalahkan.

Mendengar ucapan yang kurang ajar itu, Lili menoleh dan

melihat bahwa yang bicara adalah seorang laki-laki berusia

tigapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus berjenggot pendek

jarang dan berkumis tipis. Demikian kurusnya orang itu

sehingga nampak seperti kerangka dibungkus kulit. Matanya

yang dalam. menunjukkan bahwa dia seorang mata keranjang

dan hidung belang.

Lili menggapai ke arah orang itu yang berada di depan

gardu. Tentu saja laki-laki anggauta Hwa I Kai-pang yang

pada hari itu menjadi kepala jaga itu menjadi gembira bukan

main dan diiringi tawa iri kawan-kawannya, diapun melangkah

lebar menghampiri Lili. Setelah berhadapan, dia semakin

kagum. Dara ini memang cantik sekali dan secara kurang ajar

dia mengembang-kempiskan hidungnya, lalu memuji, “Aduh,

alangkah harum baunya! Mawar merah yang cantik jelita dan

berbau harum! Adik manis, siapa namamu?”

Lili tak pernah meninggalkan seyumnya sejak muncul,

senyum yang rnengandung ejekan, senyum sinis ketinggian

hati. “Sebaliknya aku, mencium bau busuk keluar dari

mulutmu!”

Orang itu terbelalak dan kawan-kawannya yang tadi

merasa iri, kini tertawa geli, mentertawakan rekan yang

ceriwis itu. “Apa kau bilang?” Baru saja si tinggi kurus itu

mengeluarkan pertanyaan ini, secepat kilat kaki Lili sudah

menendang sebongkah batu sebesar kepalan tangan dan batu

itu melayang dengan kuatnya ke atas, tepat menghantam

mulut yang sedang terbuka karena bicara itu.

“Auppp …….!” Batu itu menghantam keras sekali sehingga

merobek bibir dan meruntuhkan gigi, memasuki mulut dengan

paksa sehingga mulut itu terkuak lebar, lebih lebar dari pada

kemampuannya karena tepi mulut itu terobek!

“Uhhh …… ahhhh …….ahhhhh ……!” Si tinggi kurus itu

menekuk tubuhnya, mencoba dengan kedua tangan untuk

mengeluarkan batu dari mulut dan merintih-rintih kesakitan.

Mulut yang robek itu berdarah dan teman-temannya yang

tadinya tertawa-tawa, kini menjadi terkejut dan cepat

menolong. Batu itu akhirnya dapat dikeluarkan, dan akibatnya

sungguh mengerikan karena mulut itu robek pada kedua

pipinya, bibirnya pecah-pecah dan semua gigi depan, baik

yang atas maupun yang bawah, patah-patah! Si tinggi kurus

itu tidak akan mati karena lukanya, akan tetapi dia akan

menderita cacat pada mukanya.

“Nah, siapa lagi yang berani bermulut busuk? Majulah!”

Seorang anggauta Hwa I Kai-pang yang lebih tua segera

melangkah maju, sedangkan kini banyak kawannya, tidak

kurang dari duapuluh orang, sudah berada di pintu gapura itu

“Nona siapakah dan ada keperluan apa hendak mencari

pangcu kami?” Orang ini lebih berhati-hati.

“Tidak perlu kalian tahu siapa dan mengapa aku ingin

bertemu dengan pangcu dari Hwa I Kai-pang. Katakan saja

aku Tang Bwe Li ingin bertemu dengan dia, sekarang juga!

Dia yang keluar menemuiku atau aku yang akan masuk

mencarinya!”

Biarpun para anggauta Hwa I Kai-pang itu dapat menduga

bahwa gadis ini bukan orang sembarangan, terbukti ketika

dengan sebuah batu yang ditendangnya ia mampu merobek

mulut si tinggi kurus, namun mereka merasa penasaran juga.

Ia hanya seorang gadis muda dan mereka adalah para

anggauta Hwa I Kai-pang yang rata-rata memiliki kepandaian

silat. Gadis itu memaksa hendak menemui ketua mereka yang

sedang keluar, dan telah melukai si tinggi kurus rekan mereka.

Bagaimana mereka dapat membiarkannya saja tanpa

membalas? Akan rusak nama besar Hwa I Kai-pang dan akan

menjadi buah tertawaan umum karena peristiwa itu dilihat

pula oleh umum yang menonton dari jarak jauh di seberang

jalan depan perkampungan Hwa I Kai-pang.

“Nona, engkau sungguh lancang. Pangcu sedang tidak

berada di sini, dan engkau telah melukai seorang rekan kami

tanpa sebab. Oleh karena itu, terpaksa kami harus

menahanmu di sini dan menanti sampai pulangnya pangcu

kami agar memberi keputusan kepadamu atas perbuatanmu

ini.”

Biarpun ucapan itu sopan dan tidak kasar, namun cukup

membuat wajah Lili menjadi merah dan matanya terbelalak

karena marah. “Apa? Kalian hendak menahanku, hendak

menangkap aku? Apakah kalian ini orang-orang Hwa I Kaipang

sudah gila? Suruh saja ketua kalian keluar. Kalian bukan

lawanku!”

Ucapan ini tentu saja membuat banyak anggauta Hwa I

Kai-pang menjadi marah sekali. “Bocah sombong, kau berani

melawan kami yang banyak ini?” tegur anggauta yang sudah

berpengalaman itu.

“Tidak berani? Huh, suruh keluar seluruh anggauta Hwa I

Kai-pang! Biar ada seratus orang, akan kuhajar semua kalau

berani melawanku!”

Tentu saja para anggauta Hwa I Kai-pang menjadi marah

sekali. Mereka segera bergerak maju mengepung Lili dan

terdengar teriakan-teriakan marah.

“Tangkap bocah sombong ini!”

“Ia harus dihajar, berani menghina Hwa I Kai-pang!”

Beberapa orang serentak menubruk untuk menangkap

gadis jelita itu, bukan hanya karena marah, akan tetapi juga

karena ingin meringkus tubuh yang menggairahkan itu. Akan

tetapi, begitu tubuh Lili bergerak dan berkelebatan, ia sudah

sibuk dengan kaki tangannya membagi-bagi tamparan dan

tendangan, dan akibatnya, dalam segebrakan saja empat

orang pongoroyok telah terpelanting ke kanan kiri, ada yang

mukanya membengkak, ada yang tulang pundaknya patah,

ada yang perutnya mulas dan sambungan lutut terkilir!

Yang lain menjadi semakin marah dan kini belasan orang

sudah mengepung dan mengeroyok gadis itu. Agaknya para

anggauta Hwa I Kai-pang masih belum percaya bahwa mereka

yang berjumlah banyak tidak akan mampu meringkus gadis

itu, maka merekapun hanya mempergunakan tangan kosong,

seperti segerombolan srigala mengeroyok seekor domba,

berlomba untuk membekuk batang leher gadis jelita.

Akan tetapi, Lili mengamuk. Sepak terjangnya

menggiriskan, tubuhnya tidak dapat disentuh, apalagi

ditangkap. Bagaikan seekor burung walet menyambarTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

nyambar, ia menyelinap di antara tangan-tangan yang

meraihnya, berloncatan ke sana sini dan kadang-kadang tinggi

di atas kepala para pengeroyoknya dan setiap ada

kesempatan, tangan atau kakinya merobohkan seorang

pengeroyok. Tubuhnya berlenggang-lenggok secara aneh,

seperti gerakan ular saja, namun semua serangan lawan tak

pernah menyentuh tubuhnya, dan setiap kali ia menggerakkan

kaki atau tangan, pasti seorang lawan terpelanting.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang lebih dua

puluh orang anggauta Hwa I Kai-pang telah terpelanting

roboh!

Sekali meloncat, Lili sudah mendekati seorang di antara

mereka dan kaki kirinya menginjak dada. Orang itu terengahengah,

merasa dadanya seperti dihimpit benda yang ratusan

kati beratnya, membuat dia sukar bernapas dan matanya

terbelalak, mukanya merah seperti udang direbus.

“Hayo cepat katakan, di mana ketua Hwa I Kai-pang?” Lili

bertanya. “Kalau engkau tidak mengaku, dadamu akan kuinjak

sampai pecah!”

“Saya ….. uh-uhhh ….. saya tidak berani bohong ….. uhhh,

pangcu pergi ke luar kota, entah ke mana…. saya hanya

anggauta biasa….!”

Lili melepaskan injakannya dan orang itu megap-megap

seperti ikan dilempar ke darat, meneguk udara dengan

lahapnya seperti orang kehausan. Lili memandang kepada

mereka yang bergelimpangan di tanah. “Salah kalian sendiri

yang mencarl penyakit! Katakan kepada ketua kalian bahwa

besok pagi-pagi aku akan kembali untuk bicara dengan dia!”

Setelah berkata demikian, gadis itu membalikkan tubuhnya,

mengebut-ngebutkan ujung pakaian dan melangkah pergi dari

situ dengan santai.

Semua orang yang tadi melihat perkelahian itu,

mengikutinya dengan pandang mata penuh kagum dan

khawatir. Akan tetapi tak seorangpun berani menegur Lili yang

melenggang pergi seenaknya, menuju ke pintu gerbang barat.

Baru saja bayangan Lili lenyap di sebuah tikungan,

serombongan orang datang ke tempat itu dari timur. Mereka

terdiri dari delapan orang dan begitu melihat keadaan para

anak buah Hwa I Kai-pang, seorang di antara mereka cepat

berlari menghampiri.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya orang itu kepada mereka.

Para anak buah Hwa I Kai-pang yang masih kesakitan, girang

melihat munculnya orang itu yang bukan lain adalah ketua

mereka. Orang itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun,

bertubuh pendek gendut dan namanya adalah Siok Cu.

Pakaiannya juga berkembang-kembang dengan tambalan dari

kain yang baru. Ketika dia mendengar keterangan para anak

buahnya bahwa baru saja ada seorang gadis muda yang

berkeras hendak bertemu dengan ketua Hwa I Kai-pang dan

yang bersikap sombong lalu menghajar mereka semua, Siokpangcu

menjadi marah bukan main.

“Keparat!” serunya marah. “Di mana gadis sombong itu

sekarang?”

“Ia tadi pergi ke sana, pangcu,” kata anak buahnya sambil

menunjuk ke barat.

“Aku harus mengejarnya!”

Akan tetapi sebelum Siok-pangcu lari mengejar, tujuh

orang yang tadi datang bersamanya sudah berada di dekatnya

dan seorang pemuda berusia duapuluh enam tahun yang

bertubuh pendek, berlengan panjang, pakaiannya mewah dan

pesolek, tampan dan tersenyum-senyum, segera menyentuh

lengannya.

“Pangcu, ada aku di sini, kenapa pangcu hendak bersusah

payah sendiri? Tinggallah saja di sini bersama suhu, aku yang

akan menangkapkan gadis itu untukmu.”

Kakek yang datang bersama mereka, yang tubuhnya besar

perutnya gendut sekali dan kepalanya botak, terkekeh. “Hehheh,

pangcu, apa yang dikatakan Maniyoko benar. Biarlah dia

memperlihatkan jasanya yang pertama!”

Kakek ini adalah seorang datuk yang amat terkenal di

sepanjang pantai timur, bahkan di Lautan Pohai, karena dia

adalah Tung-hai-liong (Naga Laut Timur) Ouwyang Cin. Kakek

ini menjadi datuk para bajak laut dan semua golongan hitam

di daerah pantai timur, bahkan terkenal sekali di kepulauan

Jepang karena dia adalah seorang peranakan Jepang.

Adapun pemuda tampan itu adalah Maniyoko, seorang

pemuda Jepang yang menjadi muridnya. Senang hati Siok Cu

mendengar kesanggupan tamunya itu. Setelah Maniyoko

mendengar keterangan para anggauta Hwa I Kai-pang

tentang ciri-ciri gadis pengacau itu, dia lalu mengajak lima

orang anak buah ayahnya untuk melakukan pengejaran

dengan cepat menuju ke barat.

Lili sudah keluar dari pintu gerbang kota Lok-yang sebelah

barat. Ia merasa puas. Besok pagi-pagi ia akan kembali ke

Hwa I Kai-pang dan akan memaksa ketuanya agar menakluk

kepada sucinya dan kelak memberi suara kepada sucinya

untuk menjadi pemimpin besar para kai-pang! Akan jauh lebih

mudah begitu, pikirnya bangga. Ia kini tiba di jalan raya dekat

hutan yang sunyi, menuju ke perkumpulan Hek I Kai-pang

yang berada di luar kota.

Tiba-tiba ia mendengar seruan dari sebelah kiri, dari hutan

di tepi jalan raya itu. Mula-mula ia tidak perduli, akan tetapi

setelah ia dapat menangkap kata-kata yang diteriakkan suara

itu, alisnya berkerut dan iapun menahan langkahnya.

“Heii, perempuan sombong! Kalau memang engkau berani,

masuklah ke sini agar kita dapat bertanding sampai seribu

jurus tanpa ada orang lain yang mengganggunya! Kalau

engkau takut, cepat berlutut dan menyerah untuk kubawa

sebagai tawanan ke Hwa I Kai-pang!”

“Jahanam busuk!” Lili sudah menjadi marah sekali, dan

tanpa memperdulikan peraturan kehidupan dunia kang-ouw

bahwa tantangan dari dalam hutan seperti itu dapat

merupakan jebakan dan amat berbahaya dan tidak sepatutnya

dilayani, ia sudah melompat ke kiri dan memasuki hutan itu.

“Siapa takut kepadamu? Keparat, jangan lari kau!” teriaknya

lagi.

Ketika ia tiba di tempat terbuka, di situ telah menanti enam

orang laki-laki, dipimpin oleh seorang pemuda yang tubuhnya

pendek tegap dan wajah yang tampan itu tersenyum-senyum

secara kurang ajar. Bentuk muka pemuda ini bundar seperti

bulan, putih dan halus tanpa kumis jenggot, akan tetapi

cambangnya tebal dan panjang, dari dekat telinga sampai ke

dagu, kepala bagian depan sengaja dicukur botak sehingga

nampak aneh, seperti seekor kepala burung yang ajaib.

“Engkaukah yang bernama Tang Bwe Li, nona?” tanya

pemuda itu, sedangkan lima orang lainnya yang bertubuh

tegap berdiri diam saja di samping, namun sikap merekapum

dalam keadaan siap siaga dan menanti perintah.

“Kalau benar mengapa? Engkaukah yang berteriak-terlak

menantangku tadi?”

Pemuda itu tertawa. “Aku memang sengaja memancingmu

masuk ke sini, nona. Kalau engkau takut, engkau boleh keluar

lagi.”

Maniyoko memang seorang pemuda Jepang yang sudah

banyak pengalamannya dan amat cerdik. Dia segera tahu apa

kelemahan gadis jelita yang berdiri dengan gagahnya di

depannya itu. Gadis ini memiliki kelemahan, yaitu tinggi hati

sehingga kalau gadis ini ditantang dan dikatakan takut, biar

dipancing dengan ancaman bahaya bagaimana besarpun tentu

akan nekat!

Sepasang mata Lili berapi-api. “Tutup mulut busukmu.

Siapa takut!”

“Heh..heh, memang aku tahu bahwa engkau tidak

mengenal takut, nona. Karena itu, aku ingin sekali berkenalan.

Namaku Maniyoko dan aku……..”

“Persetan dengan namamu! Kalau engkau yang

menantangku tadi, bersiaplah untuk mampus. Aku tidak sudi

berkenalan denganmu!” kata Lili dan iapun sudah mencabut

pedangnya karena sekali ini ia marah sekali dan ia harus

membunuh orang yang tadi menghina, dan menantangnya.

Begitu mencabut pedangnya, Lili berseru, “Cepat keluarkan

senjatamu dan bersiaplah untuk mati!”

Pemuda Jepang itu terkejut melihat pedang yang

mengeluarkan sinar putih, berwarna putih seperti perak, akan

tetapi begitu tercabut mengeluarkan bau harum yang amat

aneh itu. Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman dan

lama berkecimpung dalam dunia persilatan, pemuda Jepang

ini dapat menduga bahwa pedang itu tentu ampuh sekali dan

mengandung racun. Maka, diapun memberi isyarat kepada

lima orang anak buah ayahnya dan dia sendiri lalu mencabut

pedang yang tergantung di pinggangnya. Sebatang pedang

panjang melengkung, pedang samurai yang amat tajam dan

yang bergagang panjang sehingga gagang itu dapat dipegang

dengan kedua tangannya.

Sebetulnya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Maniyoko

memandang rendah kepada gadis itu. Akan tetapi melihat

pedang di tangan Lili, dia terpaksa mencabut pedangnya

karena maklum bahwa pedang beracun itu cukup berbahaya.

“Nona manis, aku sudah siap. Mari kita bertaruh dalam

pertandingan ini. Kalau engkau kalah, engkau akan menjadi

mllikku dan harus menurut segala kehendakku, harus

melayani aku dengan manis, heh-heh!”

“Jahanam kau! Kalau engkau yang kalah, lehermu akan

kupenggal!” teriak Lili dan iapun sudah menyerang dengan

dahsyatnya. Pedangnya menjadi sinar putih menyambar dan

mengeluarkan suara berdesing.

Maniyoko terkejut den cepat menangkis dengan

samurainya, “Traaggg ….!” Bunga api berpijar dan keduanya

merasa betapa tangan mereka tergetar hebat. Keduanya cepat

meloncat ke belakang dan memeriksa senjata masing-masing.

Akan tetapi baik pedang maupun samurai itu tidak rusak dan

keduanya saling pandang. Maniyoko baru tahu bahwa gadis

itu benar-benar amat lihai, memiliki tenaga yang mampu

menandinginya! Pada hal tadi dia menangkis dengan

pengerahan tenaga untuk membuat pedang lawan patah atau

terlepas. Siapa kira, tangannya sendiri tergetar hebat.

Sebaliknya, Lili juga maklum bahwa lawannya tidak boleh

disamakan dengan orang-orang Hwa I Kai-pang tadi. Ia

menjadi semakin marah dan penasaran, lalu memutar

pedangnya dan menyerang dengan ganasnya. Berbeda

dengan sucinya yang mempunyai Hek-coa-kiam (Pedang Ular

Hitam), ia diberi Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) oleh

gurunya dan juga ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas.

Seperti juga pedang sucinya, pedang di tangannya itu

walaupun nampaknya putih bersih seperti perak, namun

pedang itu telah direndam racun ular yang amat berbahaya.

Sedikit saja tergores pedang itu, orang yang terluka sukar

ditolong lagi nyawanya.

Akan tetapi lawannya, Maniyoko adalah murid tersayang

dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, seorang datuk yang

kedudukannya setingkat dengan kedudukan datuk See-thian

Coa-ong Cu Kiat. Tentu saja tingkat kepandaian pemuda

Jepang itu juga sudah tinggi dan dia mampu mengimbangi

permainan pedang Lili, bahkan membalas dengan tak kalah

ganasnya dengan permainan samurainya yang aneh.

Permainan samurai yang kadang-kadang dipegang kedua

tangan itu bagaikan gelombang samudera, susul menyusul

dan selalu menyambar lagi kalau serangan pertama gagal dan

dielakkan lawan.

Akan tetapi, Lili merasa girang bahwa pemuda Jepang itu

dapat ia desak mundur sampai ke bawah pohon. Ia sama

sekali tidak mengira bahwa pemuda itu memang sengaja

memancingnya ke bawah pohon besar itu, dan pada saat Lili

menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba pemuda Jepang itu

melempar tubuh ke belakang dan bergulingan.

Pada saat itu, dari atas pohon meluncur sehelai jala yang

lebar dan sebelum Lili maklum apa yang terjadi, tubuhnya

telah ditimpa jala itu. Ia terkejut dan menggunakan

pedangnya untuk membabat tali-temali jala yang melibat

dirinya.

Akan tetapi pada saat itu, Maniyoko telah melompat ke

belakangnya dan sekali pemuda itu menggerakkan tubuh, Lili

tidak mampu bertahan lagi dan roboh terkulai lemas. Hal ini

dapat terjadi karena ia tadi sibuk meronta untuk melepaskan

diri dari jala dengan sia-sia, karena ke empat ujung jala

dipegang oleh anak buah Maniyoko. Mereka adalah bajakbajak

laut yang lihai dan ahli mempergunakan senjata jala itu.

“Ha-ha-ha, nona manis. Engkau kalah dan engkau akan

menjadi milikku!” kata pemuda Jepang itu dengan girang

sambil menyolek dagu gadis itu dari luar jala. Lili hanya

mampu memandang dengan mata penuh kebencian karena ia

tidak mampu bergerak. Sambil tertawa gembira pemuda

Jepang itu berkata kepada kawan-kawannya. “Biarkan ikan

jelita ini di dalam jala dan kita bawa ke Hwa I Kai-pang. Siokpangcu

tentu akan girang sekali dan kalian akan menerima

hadiah besar.”

Karena tadi ia meronta, pangkal lengan kiri dan

punggungnya terkena besi kaitan yang dipasang di dalam jala

sehingga kini terasa nyeri. Akan tetapi Lili menahan diri dan

sama sekali tidak mau memperlihatkan penderitaan itu.

Lima orang anak buah itu lain melibatkan jala di sekitar

tubuhnya, membuat Lili sama sekali tidak mampu bergerak

lagi. Andaikata totokan pada tubuhnya sudah lenyap

pengaruhnyapun, sukar baginya untuk membebaskan diri dari

jala yang melibat dirinya dengan kuatnya itu.

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat. “Enam orang

laki-laki menghina seorang wanita, sungguh jahat sekali!”

Lima orang anak buah Maniyoko segera menyerang

bayangan itu yang ternyata seorang pemuda yang bertubuh

tinggi tegap. Akan tetapi begitu pemuda itu menggerakkan

kaki tangannya, lima orang itu terlempar ke belakang seperti

disambar angin badai! Pemuda itu cepat membuka libatan

jala, akan tetapi sebelum sempat membebaskan Lili dari

totokan, Maniyoko telah menyerangnya dengan samurainya.

“Singgg…….!!” Samurai itu meluncur dan mendesing

nyaring ketika dielakkan oleh pemuda itu. Samurai yang luput

dari sasaran itu membuat gerakan melengkung dan membalik,

kini menyambar lagi sebagai serangan susulan yang lebih

dahsyat dari pada yang pertama tadi.

Kembali pemuda itu mengelak dengan gerakan cepat, lalu

dari samping dia mendorong dengan kedua tangannya. Dari

kedua telapak tangan itu mengepul uap putih dan angin yang

dahsyat membuat Maniyoko hampir terjengkang! Pemuda

Jepang ini mengeluarkan seruan kaget, meloncat ke belakang

dan kesempatan itu dipergunakan oleh si pemuda jangkung

untuk menyambar tubuh Lili yang masih berada dalam jala

berikut pedangnya, memanggul tubuh itu dan melarikan diri

ke dalam hutan!

Lima orang anak buahnya hendak mengejar akan tetapi

Maniyoko segera menahan mereka. “Jangan kejar! Mari kita

lapor kepada suhu!” katanya dengan hati gentar. Dari

serangan kedua tangan yang mengeluarkan uap putlh itu saja

dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang amat

tangguh dan mengejar lawan selihai itu di dalam hutan

sungguh amat berbahaya.

Setelah berlari cepat bagaikan burung terbang saja sampai

ke tengah hutan dan melihat bahwa tidak ada yang

mengejarnya, pemuda itu berhenti berlari dan menurunkan

tubuh yang dipanggulnya itu dengan hati-hati ke atas tanah

berumput tebal. Dia lalu mengulurkan tangan menekan

punggung dan pundak gadis itu dan seketika Lili merasa

dirinya terbebas dari totokan. Ia marah sekali dan karena jala

itu tidak ada yang memeganginya lagi, juga libatannya telah

melonggar, ia menggerakkan pedang mengamuk dan jala

itupun dicabik-cabiknya.

“Auhhh ……!” ketika ia merenggut jala itu, besi kaitan

mengait punggungnya dan menimbulkan rasa nyeri,

menambah kenyerian luka di punggung dan pundaknya.

“Engkau terluka, nona…….?” Pemuda itu bertanya dan

menghampiri gadis yang kini jatuh terduduk itu.

“Kaitan sialan ini mengait di punggung ….. aduhh …..!” Lili

mengomel.

“Diamlah dan jangan bergerak, nona. Biar kucabut kaitan

itu Pemuda itu berlutut di belakang Lili. Akan tetapi setelah dia

memeriksanya, ternyata besi kaitan itu menancap menembus

pakaian dan kulit dan sukar mencabutnya karena tidak

nampak. Dia lalu merobek baju di punggung itu agar dapat

melihat besi kaitannya.

“Breettt …….!”

“Ihh! Apa yang kaulakukan itu, jahanam!” Lili membentak,

hendak meloncat, akan tetapi terduduk kembali karena kaitan

itu tidak memungkinkan ia untuk banyak bergerak.

“Tenanglah, nona. Aku hanya ingin mengeluarkan besi

kaitan itu dan tanpa merobek baju, sukar melakukannya

karena kaitan itu tidak kelihatan.” Pemuda itu mengerutkan

alisnya. Betapa galaknya gadis ini, pikirnya.

Dengan hati-hati dia lalu mengeluarkan besi kaitan itu dari

daging dan kulit yang ditembusinya. Darah mengucur keluar

dan pemuda itu melihat bahwa punggung itu menderita dua

luka, sedangkan dipundak kiripun terluka.

“Diam dulu, nona. Pundak dan punggungmu terluka. Tiga

buah luka yang cukup dalam dan kalau tidak segera diobati,

bisa berbahaya. Siapa tahu besi kaitan itu mengandung

racun.” Pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari

saku bajunya, membukanya dan menaburkan bubuk putih

pada tiga luka itu.

Lili merasa betapa jari-jari tangan pemuda itu menyentuh

kulitnya di punggung dan pundak dengan lembut dan

mengingat betapa selama hidupnya belum pernah ada tangan

pria yang menyentuh kulitnya, bulu tengkuknya meremang.

Akan tetapi luka-luka yang tadi menimbulkan perasaan panas

dan perih, kini terasa dingin dan nyerinya menghilang.

Setelah pemuda itu selesai mengobati lukanya, Lili

meloncat berdiri dan pemuda itupun bangkit berdiri. Pemuda

itu kecelik kalau dia mengharapkan ucapan manis dan terima

kasih dari Lili. Sebaliknya malah, gadis itu memandang

kepadanya dengan alis berkerut, muka marah dan mata

melotot, bahkan tangan yang memegang pedang itu gemetar,

siap untuk membacok atau menusuk!

“Kenapa engkau menyentuh pundak dan punggungku?

Kenapa? Hayo katakan, kenapa engkau menyentuh pundak

dan punggungku, keparat?”

Pemuda itu tertegun, bengong dan sampai lama tidak

mampu menjawab. “Hayo jawab, kenapa malah bengong

seperti patung!” bentak Lili bertambah marah.

“Ehh? Aku …..eh, aku …. hanya ingin menolongmu, nona

…….” akhirnya dia berkata gagap dan bingung karena selama

hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang gadis

yang begini galak.

“Menolongku? Kenapa? Hayo jawab!” kembali Lili

membentak marah.

Kini pemuda itu sudah dapat mengatasi kekagetan dan

keheranannya. Entah siapa orang tua dan guru gadis ini,

pikirnya. Kenapa tidak mampu mendidik anak ini sehingga

menjadi seperti itu, manis, galak, sesat, seenak perutnya

sendiri, dan tidak tahu sopan santun ditambah tidak mengenal

budi? Baru saja diselamatkan nyawanya, eh, bukannya

berterima kasih bahkan memaki-maki dan membentak-bentak

penolongnya!

“Nona, engkau ….. engkau ini seorang manusiakah?”

Lili terbelalak. Pertanyaan itu datangnya begitu

mengejutkan, seperti serangan tusukan pedang yang tiba-tiba

dan tidak disangka-sangkanya, membuat ia sejenak

kehilangan keseimbangan dan salah tingkah. Kalau tadi ia

memegang pedang dengan sikap mengancam, kini ia terlupa

dan pedangnya ia pergunakan untuk bersandar seperti

tongkat dengan ujungnya menekan tanah!

“Apa …..? Apa maksudmu …..?” Ia berbalik tanya, bingung.

“Kalau nona ini seorang manusia, kenapa begini aneh, baru

saja diselamatkan orang, malah berbalik memaki-maki

penolongnya? Kalau nona bukan manusia, tidak anehlah,

hanya sungguh sayang. Nona begini muda dan cantik dan

gagah, kelihatan baik budi, sayang kalau bukan manusia

……..”

Tiba-tiba wajah yang tadinya bengis itu berubah sama

sekali. Kini nampak cerah, bahkan nampak gembira dan kalau

tadi mulutnya mengandung senyum sinis mengejek, kini

berubah menjadi senyum yang amat manis, membuat wajah

itu seperti wajah kanak-kanak yang berhati bersih.

“Benarkah ucapanmu itu? Benarkah aku cantik dan gagah?

Benarkah…..?”

Dalam ucapan ini terkandung harapan bahkan permohonan

seperti seorang anak kecil yang mengharapkan sesuatu yang

amat diinginkannya. Hal ini tidaklah mengherankan kalau

diingat bahwa sejak kecil Lili telah hidup bersama orang-orang

yang wataknya aneh, bahkan keras dan dapat dikata sesat

seperti Bi-coa Sian-li Cu Sui In, kemudian ia menjadi murid

pula dari seorang datuk aneh dan sesat seperti See-thian Coaong

Cu Kiat. Dari kedua orang ini, tidak pernah ia merasakan

cinta kasih yang sewajarnya, yang keluar dari hati dan

perasaan yang murni. Bahkan lebih sering ia mendengar caci

maki dan celaan yang menyakitkan hati.

Kemudian, setelah ia remaja dan dewasa, kalau ada orang

memuji kecantikannya, maka pujian itu selalu mengandung

rayuan dan penjilatan, pujian penuh nafsu yang dapat ia

rasakan dan yang membuat ia merasa jijik dan benci. Kini,

untuk pertama kalinya selama hidupnya, ia bertemu seorang

pemuda yang memuji atau mengatakan bahwa ia cantik dan

gagah dengan cara yang lain sama sekali, bukan rayuan,

bahkan bukan pujian sehingga terasa olehnya bahwa ucapan

itu mengandung ketulusan hati. lnilah yang selama ini ia idamidamkan,

yaitu perhatian yang tulus dari seseorang!

Pemuda itu kembali tertegun. Akan tetapi dia seorang yang

jujur dan diapun mengangguk.

“Tentu saja! Semua orangpun dapat melihat bahwa engkau

seorang gadis yang masih muda, cantik dan gagah, memiliki

ilmu kepandaian tinggi. Akan tepat dan serasi sekali kalau

semua keindahan itu dilengkapi dengan watak yang baik.

Nona, aku tadi melihat engkau ditangkap secara curang oleh

enam orang laki-laki itu yang tidak kukenal. Karena aku

menganggap perbuatan mereka itu jahat, maka aku

membantumu. Akan tetapi mereka itu ternyata lihai, apa lagi

pemuda pendek itu. Maka, aku mengambil keputusan untuk

membawamu lari agar kita dapat menyelamatkan diri dari

pengeroyokan mereka. Akan tetapi, siapa, sangka, di sini

engkau membalas perbuatanku untuk menolongmu itu dengan

caci maki!”

Sejenak Lili tidak menjawab, akan tetapi sinar matanya

mencorong dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

Sinar matanya yang tajam seolah-olah hendak menembus ke

dalam dan menjenguk isi hati pemuda itu!

Akan tetapi pemuda itu menentang pandang matanya

dengan tenang.

“Aku masih belum tahu apakah engkau memang seorang

yang benar-benar jujur dan pantas menjadi sahabatku,

apakah engkau tadi benar-benar menolongku tanpa pamrih,

ataukah engkau hanya ingin pamer kepandaian untuk menarlk

perhatianku agar aku suka kepadamu?”

Ia berhenti sebentar, kemudian mengangkat pedangnya

dan memegang pedang itu melintang di depan dada. “Kalau

engkau palsu, keluarkan senjatamu karena aku ingin

mengujimu sampai berapa tinggi kepandaianmu maka engkau

memamerkan kepandaianmu kepadaku! Akan tetapi kalau

engkau memang jujur, kau …… kau maafkan sajalah sikapku

tadi. Aku bukan tidak mengenal budi, hanya ….. ah belum

pernah aku bertemu dengan orang yang tidak palsu hatinya,

maka sukar bagiku untuk percaya kepada siapapun juga di

dunia ini.”

Pemuda itu menarik napas panjang dan nampak terharu

karena ucapan dan sikap gadis itu agaknya amat mengena

pada perasaannya. “Engkau memang benar, nona. Dunia ini

penuh kepalsuan sehingga aku sendiri hampir tidak pernah

melihat kebenaran yang sejati. Mungkin aku sendiripun sama

palsunya dengan yang lain. Kita sudah terseret kedalam

pusaran kepalsuan dalam kehidupan manusia di dunia.

Sudahlah, nona. Lebih baik aku pergi saja. Aku tidak

mempunyai pamrih lain ketika membantumu, akan tetapi

akupun tidak berani mengaku bahwa aku bukan orang yang

palsu seperti orang-orang lain. Selamat tinggal!!”

Pemuda itu membalikkan tubuh melangkah pergi. Akan

tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis

itu telah meloncat dan melewatinya, menghadang di depannya

dan tanpa banyak cakap lagi Lili sudah menyerangnya dengan

pukulan ke arah dada. Cepat dan kuat sekali serangan itu!

Pemuda itu mengelak dengan gesit, lalu meloncat ke

belakang. “Heiiii …! Kenapa pula engkau menyerangku?”

Lili tertawa. “Hi..hik, aku hanya ingin mengajak engkau

berlatih silat, sobat. Sambutlah ….!” Tanpa memberi waktu

lagi kepada si pemuda untuk menjawab Lili sudah menyerang

kalang kabut dengan kedua kaki tangannya, cepat dan aneh

gerakannya karena ia yang ingin menguji kepandaian pemuda

yang menarik hatinya itu telah mengeluarkan jurus-jurus

simpanannya!

Pemuda itu terheran-heran, akan tetapi juga timbul

kegembiraannya. Dia seorang yang berilmu tinggi dan tentu

saja merasa senang kalau mendapatkan kesempatan untuk

berlatih dengan lawan yang pandai seperti gadis aneh itu.

Maka, sambil mengelak atau menangkis, diapun membalas

dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya!

Lili telah terluka. Biarpun luka-luka di punggung dan

pundak itu telah diobati, akan tetapi begitu dipakai bergerak,

terasa nyeri lagi, bahkan ia tidak mampu mengerahkan

seluruh tenaganya, terhalang oleh perasaan nyeri. Akan tetapi

Lili adalah seorang gadis yang keras hati dan yang tidak

pernah mau memperlihatkan kelemahannya. Biarpun rasa

nyeri menusuk-nusuk, ia tidak mau mengaku dan masih tetap

mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan nyeri

sampai seluruh tubuhnya berkeringat dan napasnya mulai

memburu!

Pemuda itu maklum akan hal ini dan tiba-tiba saja dia

bergerak terlalu lambat ketika tangan kiri Lili mencengkeram

ke arah dadanya. Akan tetapi begitu jari tangan gadis itu

menyentuh dadanya, tangan itu tidak jadi mencengkeram,

bahkan dibuka dan hanya telapak tangannya yang membentur

dada pemuda itu.

“Plakk …….!” Pemuda itu terhuyung kebelakang.

“Nona lihai sekali, aku mengaku kalah,” katanya.

Tentu saja Lili bukan seorang gadis bodoh. Dalam hal ilmu

silat, kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga

ia dapat membedakan gerakan kalah atau mengalah. Dan ia

tahu benar bahwa pemuda jangkung ini sengaja mengalah

kepadanya, pada hal ia sudah hampir kehabisan napas!

Ia tersenyum girang dan lega. Kalau pemuda itu tidak

mengalah, tentu ia akan kalah dan hal ini akan menyakitkan

perasaannya. Kekalahan merupakan hal yang ia anggap amat

menyakitkan dan bahkan merendahkan! Dengan napas

terengah Lili mengusap keringat dari leher dan dahinya,

menggunakan sehelai saputangan merah muda, dan ia

menatap wajah pemuda itu dengan senyum. Diam-diam ia

merasa kagum.

“Engkau lihai, aku suka padamu. Siapakah namamu?”

tanyanya dengan terus terang dan sikap ini kembali membuat

pemuda itu tertegun, akan tetapi juga kagum. Gadis ini amat

terbuka dan jujur, tidak banyak dipengaruhi tata cara sopan

santun yang biasanya hanya sebagai bedak penutup isi hati

yang sebenarnya saja. Gadis seperti ini tidak akan menyimpan

perasaannya sebagai rahasia, apa yang tercermin dalam sikap

dan pada wajahnya menunjukkan keadaan perasaan hati yang

sebenarnya. Tidak seperti orang awam yang demi sopan

santun palsu, suka memperlihatkan sikap yang menjadi

kebalikan dari keadaan hatinya.

“Namaku Sin Wan, nona. Dan siapakah engkau?”

Pemuda itu memang Sin Wan. Seperti kita ketahui,

bersama Kui Siang dan kakek Bu Lee Ki, juga ketua dan wakil

ketua Ang-kin Kai-pang, dia pergi ke Lok-yang untuk

menemani Bu Lee Ki dalam usaha kakek itu untuk

mempersatukan dan memimpin kembali para kai-pang.

Setelah tiba di luar kota Lok-yang mereka berpencar seperti

sudah direncanakan semula oleh kakek Bu Lee Ki. Dua orang

pimpinan Ang-kin Kai-pang berpisah karena mereka akan

langsung berkunjung kepada Hwa I Kai-pang dan menjadi

tamu perkumpulan pengemis itu. Kakek Bu Lee Ki sendiri

bersama Kui Siang memasuki kota Lok-yang sebagai tamu

pesiar. Sin Wan sendiri diberi tugas oleh Bu Lee Ki untuk

memasuki Lok-yang melalui pintu gerbang barat untuk

melakukan penyelidikan terhadap Hek I Kai-pang.

Demikianlah, ketika dia tiba di jalan raya dekat hutan yang

sunyi, dia mendengar suara orang bertempur di dalam hutan.

Perkelahian itu, tidak nampak dari jalan raya, akan tetapi

karena dia memiliki pendengaran yang tajam terlatih, dia

dapat menangkap suara mereka dan karena tertarik, dia lalu

memasuki hutan itu dan melihat betapa seorang gadis sedang

dalam bahaya, ditawan oleh enam orang menggunakan jala

dan dia segera turun tangan menolongnya.

“Nama Sin Wan tidak dikenal oleh Lili walau sebelas tahun

yang lalu mereka sebagai anak-anak berusia sepuluh dan

sembilan tahun, pernah berkelahi. Juga wajah dan keadaan

mereka sudah berubah sama sekali, dari kanak-kanak menjadi

dewasa, maka tentu lain tidak saling mengenal. Maka, dengan

wajah masih dihias senyum manis Lili menjawab.

“Namaku Tang Hwe Li, akan tetapi engkau boleh

memanggil aku Lili saja, seperti semua orang yang akrab

denganku.”

“Lili? Nama yang bagus.”

“Hemm, dan namamu amat jelek.”

“Hemm ….” Sin Wan tersenyum walaupun dia merasa

heran akan kekasaran gadis ini.

“Akan tetapi biar namamu jelek, engkau seorang yang amat

baik dan aku suka padamu, Sin Wan. Aku belum pernah

mempunyai seorang kawan yang baik, dan aku senang sekali

mendapatkan seorang kawan seperti engkau. Aku …… ahhh

………”

Melihat gadis itu terkulai dan jatuh berduduk di atas rumput

sambil menekan kepalanya dengan tangan kiri, Sin Wan

terkejut dan diapun cepat berlutut di dekatnya.

“Lili, kau kenapakah …….?” tanyanya khawatir.

“Tidak apa-apa ……..” Lili yang tidak pernah mau kelihatan

lemah itu mengerahkan tenaganya dan ia mencoba untuk

bangkit berdiri. Akan tetapi begitu ia berdiri, tubuhnya terkulai

dan ia tentu sudah roboh kalau saja tidak cepat dirangkul Sin

Wan.

“Lili, engkau kenapa? Tubuhmu panas sekali ….!” Sin Wan

yang merangkulnya terkejut karena gadis itu nampak pucat

dan menderita nyeri, dan tubuhnya panas seperti terbakar.

Dan Sin Wan merasa betapa tangan dan lengannya yang

merangkul menjadi basah oleh keringat gadis itu.

“Sin Wan, aku …… aku ….. ahhhh……. ” Gadis itu terkulai

dan pingsan dalam rangkulan Sin Wan!

“Lili, ah, kenapa kau?”

Sin Wan cepat memondong tubuh itu dan membawanya ke

tempat yang kering, di mana tanahnya tertutup daun-daun

yang kering dan dengan hati-hati dia lalu merebahkan gadis

itu di atas tanah. Setelah itu, dia melepaskan kancing dekat

leher untuk melonggarkan dada gadis itu karena dia melihat

napasnya terengah.

Setelah itu, mulailah dia memeriksa denyut jantung melalui

nadi dan pernapasannya. Pemuda ini telah mewarisi ilmu

pengobatan mendiang Pek-mau-sian Thio Ki, seorang di

antara Sam-sian. Setelah melakukan pemeriksaan sejenak, dia

terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis itu telah

keracunan! Tahulah dia bahwa racun itu tentu masuk melalui

tiga buah luka di punggung dan pundaknya tadi, Ternyata

obatnya tidak cukup kuat untuk melawan racun itu dan kini

ada hawa beracun menguasai gadis itu.

Terpaksa dia mendorong tubuh gadis itu miring, merobek

baju di punggung untuk memeriksa luka-lukanya. Dan benar

saja, luka-luka itu nampak membiru, baik yang di pundak kiri

maupun yang di punggung. Nampak betapa dua buah luka

kecil di punggung itu nampak buruk sekali di permukaan

punggung yang berkulit halus dan putih mulus. Dia tahu

bahwa tanpa mengeluarkan racun itu dari luka-lukanya akan

sukar mengobati Lili.

Dia mendorong tubuh itu menelungkup dengan muka

miring, merobek baju di punggung itu semakin lebar sehingga

nampak semua permukaan punggung dan pundak, kemudian

tanpa ragu-ragu lagi diapun membungkuk dan menempelkan

mulutnya pada luka pertama! Dia mengerahkan sin-kang dan

mulai mengisap, perlahan-lahan dan mengatur tenaga

isapannya sampai mulutnya merasakan darah. Dia

meludahkan darah yang diisapnya, dan seperti dugaannya,

darah itu berwarna kehitaman!

Setelah tiga kali mengisap, barulah yang terisap ke

mulutnya darah merah dan dia menghentikannya, lalu

menaburkan bubuk putih lagi kepada luka yang sudah bersih

dari racun. Dilakukan isapan pada luka ke dua seperti tadi,

kemudian pada luka di pundak sampai ke tiga luka itu bebas

dari racun.

Pernapasan gadis itu tidak seperti tadi walaupun tubuhnya

masih terasa panas. Baru saja dia selesai mengisap luka

dipundak, tiba-tiba gadis itu merintih dan bergerak. Sin Wan

melepaskan mulutnya dan pada saat itu, Lili sudah bangkit

duduk. Mata gadis itu mencorong dan kedua tangannya

meraba punggung dan pundak yang terbuka karena baju di

bagian punggung terbuka lebar.

“Jahanam kau, Sin Wan! Kau …… kau …… berani …….”

Tangan kiri Lili menyambar ke arah kepala Sin Wan dengan

cengkeraman maut. Akan tetapi Sin Wan menangkap

pergelangan tangan itu, lalu meludahkan darah terakhir tadi

baru berkata.

“Tenanglah, Lili. Aku mengobatimu, aku menyedot racun

dari luka-luka, dan untuk itu, terpaksa aku membuka bajumu

di punggung. Maaf, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan

nyawamu. Lihat itu …….” Sin Wan menunjuk ke tanah di

mana nampak darah hitam yang diludahkannya tadi.

Lili terbelalak dan kebingungan.

“Jadi aku …… keracunan ………?”

Sin Wan mengangguk. “Benar. Racun itu jahat sekali

sehingga pengobatanku pertama tadi gagal. Akan tetapi aku

telah mengisap keluar semua racun dari tiga luka itu, dan kini

hanya hawa beracun di tubuhmu yang harus kita bersihkan.

Percayalah kepadaku, Lili. Aku hanya ingin menolongmu,

bukan berniat kotor dan tidak sopan. Nah, duduklah bersila,

aku akan membantumu mengusir hawa beracun dari

tubuhmu.”

Lili mengangguk, tidak bicara lagi dan iapun duduk bersila,

bahkan membiarkan saja punggung dan pundaknya yang

terbuka. Sin Wan dengan hati-hati menaburkan obat bubuk

putih di luka terakhir, yaitu di pundak, kemudian dia menutup

kembali punggung dan pundak yang terbuka dengan

mengikatkan ujung kedua baju yang tadi dia robek. Setelah

itu, diapun duduk bersila di belakang gadis itu dan

menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang kini

sudah tertutup kembali, perlahan-lahan dia mengerahkan

tenaganya, disalurkan dari pusar melalui kedua lengannya,

membuat telapak tangan yang menampung tenaga itu

tergetar.

Lili duduk bersila dengan hati yang tidak karuan rasanya.

Ada marah, ada malu, ada pula rasa girang, ada terharu

sehingga kedua matanya menjadi basah! Sejak menjadi murid

Bi-coa Sian-li sampai sekarang, ia tidak pernah menangis.

Tangis merupakan pantangan baginya. Akan tetapi saat ini

ingin ia menjerit-jerit menangis. Ketika perasaan itu

ditahannya, matanya menjadi panas dan basah dan perlahanlahan,

beberapa tetes air mata jatuh ke atas kedua pipinya. Ia

merasa betapa dari kedua telapak tangan pemuda yang

menempel di punggungnya itu, keluar hawa yang hangat

bergelombang memasuki dirinya.

Ia tidak melawan dan pasrah saja, akan tetapi perlahanlahan,

ia merasa betapa hawa panas yang membakar di dalam

dadanya, berangsur mengurang. Uap mengepul dari

kepalanya dan tidak sampai sejam lamanya, kesehatannya

telah pulih kembali, hawa panas itu menghilang dan ia merasa

tubuhnya demikian nyaman, akan tetapi juga amat lemah.

“Nah, engkau sudah sembuh sekarang, Lili,” kata Sin Wan

lirih sambil melepaskan kedua tangan yang menempel di

punggung gadis itu. Akan tetapi karena lemah, dengan lemas

Lili terkulai dan jatuh bersandar pada dada Sin Wan yang

cepat merangkulnya

“Eh, kenapa, Lili?”

“Lemas sekali ….. Sin Wan, biarkan aku bersandar begini

…… biarkan …….” kata Lili dengan suara yang lemah dan lirih.

Tentu saja Sin Wan membiarkan gadis itu duduk bersandar

pada dadanya dan diapun merangkul dengan kedua lengan

agar gadis itu tidak sampai terguling ke samping. Dia tahu

bahwa akibat racun tadi, Lili yang sudah sembuh itu tinggal

merasa lemas saja.

Dan sekarang, setelah bahaya yang mengancam gadis itu

lewat, baru dia merasa betapa lembut dan hangat tubuh yang

bersandar di dadanya itu. Betapa halus dan harum rambut

kepala itu, dan betapa cantik raut wajah yang kini bersandar

miring di dadanya. Betapa indah dan lembut lengan yang

dipeluknya.

Sin Wan adalah seorang pemuda dewasa yang normal,

maka wajarlah kalau dia merasa jantungnya berdebar penuh

gairah. Namun, dengan kekuatan batinnya yang kokoh dia

menekan perasaan yang timbul ini, perasaan alami seorang

pria dengan keyakinan bahwa menuruti dorongan perasaan

mesra itu amatlah berbahaya dan tidak baik, dan dapat

membuatnya lupa dan melakukan hal-hal yang tidak

sepatutnya dia lakukan. Diapun memejamkan kedua matanya.

Dia baru sadar dengan kaget ketika merasa betapa tubuh

yang bersandar di dadanya itu terguncang perlahan dan ketika

dia membuka mata dan menundukkan muka memandang, dia

melihat betapa gadis itu menangis lirih! Tangis tanpa bunyi,

akan tetapi jelas bahwa gadis itu menangis karena kedua

pipinya basah dan pundaknya terguncang perlahan.

“Lili, kau …. kau …… menangis, ……..?” tanyanya lirih,

khawatir, dengan berbisik saja di dekat telinga gadis itu.

“Siapa menangis?” jawaban itu mengandung bantahan dan

cepat, akan tetapi segera disusul ucapan lirih dan lemas,

“Biarkan aku …. Sin Wan, biarkan aku begini sebentar ……”

Sin Wan diam saja dan gadis itu bersandar miring. Makin

lama, pernapasan gadis itu makin halus dan panjang, dan

akhirnya tahulah Sin Wan bahwa Lili telah tertidur di atas

dadanya! Diapun merasa kasihan dan tidak ingin

mengganggu, hanya merangkul agar gadis itu tidak terguling

jatuh. Diam-diam dia merasa iba sekali. Gadis ini pasti

mengalami kepahitan hidup, agaknya haus akan kelembutan,

haus akan kasih sayang. Kasihan sekali gadis secantik ini,

pikirnya dan diapun duduk bersila dengan kokoh seperti dalam

samadhi, membiarkan dirinya kokoh kuat sebagai sandaran

gadis yang pulas itu, sambil mendengarkan pernapasan yang

panjang dan lembut.

Sementara itu, matahari telah mulai condong ke barat,

senja menjelang tiba. Sesosok bayangan yang gerakannya

amat ringan memasuki hutan itu dan menyelinap di antara

pohon dan semak. Akhirnya, bayangan itu berhenti di

belakang pohon, mengintai ke arah Sin Wan yang duduk diam

disandari gadis yang tidur pulas di dadanya. Ikatan rambut Lili

terlepas dan rambutnya yang hitam panjang itu menyelimuti

dada dan perut Sin Wan.

Bayangan itu adalah Lim Kui Siang! Karena sampai lama Sin

Wan tidak muncul di kota Lok-yang, ia menyatakan

kekhawatirannya dan memberi tahu kakek Bu Lee Ki bahwa ia

hendak mencari dan menjemput suhengnya itu melalui pintu

gerbang barat. Bu Lee Ki yang maklum akan perasaan gadis

itu terhadap Sin Wan, menyetujui dan memesan agar gadis itu

pulang sebelum malam tiba.

Kui Siang keluar dari pintu gerbang barat, akan tetapi tidak

bertemu dengan Sin Wan. Hatinya merasa khawatir, apa lagi

matahari mulai condong ke barat dan jalan raya itu sunyi.

Ketika ia melihat sebuah hutan di kiri jalan, ia mengerutkan

alisnya. Apakah yang telah terjadi dengan suhengnya? Ia

merasa khawatir dan iapun melangkah memasuki hutan. Siapa

tahu, suhengnya sedang menyelidiki sesuatu dan berada di

dalam hutan ini.

Akhirnya, setelah tiba di tengah hutan, ia melihat Sin Wan

duduk bersila di atas tanah yang ditilami daun-daun kering,

dan di depan pemuda itu nampak seorang gadis cantik sedang

tidur pulas di atas pangkuan Sin Wan, dengan kepala miring

bersandar di dada suhengnya. Mesra bukan main!

Seketika Kui Siang merasa betapa seluruh tubuhnya

gemetar, kedua kakinya menggigil dan dadanya seperti akan

meledak! Benarkah itu suhengnya? Akan tetapi kenapa? Siapa

gadis itu? Bagaimana mungkin suhengnya melakukan hal

seperti itu, bermesraan dan berpacaran dengan seorang gadis

asing di tengah hutan?

Setahunya, suhengnya bukankah pria macam itu! Bahkan

terhadap dirinya sendiri sebagai su-moipun, suhengnya tak

pernah bersikap terlalu mesra, tak pernah menyentuh

sedikitpun, selalu menjaga jarak dan kesopanan. Akan tetapi

sekarang, di tempat sepi ini, tahu-tahu suhengnya merangkul

seorang gadis yang tidur pulas di atas pangkuannya, dengan

kepala bersandar mesra di dadanya! Entah mengapa, Kui

Siang ingin menjerit, ingin mengamuk, ingin membunuh gadis

itu dan memaki suhengnya, ingin menangis! Sebelum ia tidak

kuat lagi menahan semua dorongan amarah itu Ia cepat pergi

dari situ, setelah sekali lagi memperhatikan dan yakin bahwa

pemuda itu adalah Sin Wan, suhengnya!

Kui Siang berlari cepat meninggalkan tengah hutan itu,

akan tetapi setelah tiba di tepi hutan, tak jauh dari jalan raya

akan tetapi tidak nampak dari sana, ia tidak dapat menahan

lagi guncangan hatinya dan iapun menjatuhkan diri di bawah

sebatang pohon dan menangis sejadi-jadinya! Setelah banyak

air mata mengalir keluar, baru agak ringan rasa hatinya,

seolah semua beban yang menyesak dada tadi mendapatkan

jalan keluar. Dengan mata masih merah dan muka basah, Kui

Siang termenung. Kesadarannya menimbulkan pertanyaan

yang membuat ia sendiri merasa sungkan dan heran. Kenapa

ia menangis?

Kenapa ia harus marah-marah dan merasa bersedih seperti

itu? Sin Wan bermesraan dengan seorang gadis, walaupun hal

itu baru baginya dan aneh, akan tetapi wajar sekali. Sin Wan

seorang pemuda dewasa dan gadis itu cantik! Kenapa ia harus

marah-marah dan bersedih?

Kui Siang termangu-mangu. Biar pikirannya merasa heran

dan penasaran mengapa ulah dirinya seperti ini, namun

hatinya berbisik lirih, jelas sekali, “Aku cinta padanya ….. aku

mencinta suheng, aku tidak ingin dia dimiliki wanita lain!”

Menyadari kenyataan yang dibisikkan hatinya ini, Kui Siang

bangkit dan mukanya menjadi kemerahan. Nampak jelas kini,

ia sejak dahulu jatuh cinta kepada suhengnya. Bukan cinta

seorang sumoi terhadap suhengnya, bukan cinta kanak-kanak

karena sejak berusia sembilan tahun ia bergaul dengan Sin

Wan, bukan pula cinta saudara, melainkan cinta seorang gadis

dewasa terhadap seorang pemuda. Cinta seorang wanita

terhadap seorang pria. Dan ia dilanda cemburu!

“Ihhh ……!” Ia mencela diri sendiri. Cemburu? Sin Wan

hanya suhengnya, bukan apa-apanya, bukan pula kekasihnya.

Inilah salahnya! Kalau saja mereka saling mengaku bahwa

mereka saling mencinta, kalau Sin Wan tahu bahwa ia

mencintainya, kiranya belum tentu Sin Wan mau bermesraan

dengan gadis lain.

Ada pendapat dan perbantahan dalam hati dan kepalanya

ini membuat Kui Siang merasa pening dan iapun perlahanlahan

melangkah keluar menuju ke jalan raya. Kemudian

seperti orang yang kehilangan semangat, iapun kembali ke

rumah penginapan di mana ia dan Bu Lee Ki menyewa dua

buah kamar. Dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh Bu

Lee Ki, ia memasuki kamarnya dan melempar tubuh ke atas

pembaringan, menelungkup dan membenamkan mukanya

pada bantal agar isaknya tidak sampai terdengar orang!

0oo0

Cuaca sudah mulai remang-remang. Sin Wan, mulai

khawatir. Tidak mungkin dia mendiamkan saja Lili pulas di

atas dadanya sampai cuaca menjadi gelap. Dia harus

melaanjutkan perjalanan memasuki kota Lok-yang, mencari

kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang. Sudah cukup lama Lili tertidur,

lebih dari satu jam. Perlahan dan lembut ia memegang pundak

kanan gadis itu, pundak yang tidak terluka, mengguncangnya

dan berbisik lirih.

“Lili …..! Lili ……….., bangunlah ………”

Jilid 9

PERNAPASAN yang lembut itu berubah dan tubuh yang

lembut hangat itu menggeliat perlahan. Lili membuka matanya

dan agaknya ia terheran melihat dirinya duduk tertidur di

dalam hutan yang cuacanya mulai remang. Ia melihat ke atas.

Ketika ia melihat wajah Sin Wan yang menunduk dan

memandang kepadanya, iapun teringat akan semua yang

telah terjadi dan ia tersenyum! Ia tidak bangkit, bahkan

membalikkan mukanya, dibenamkan ke dada yang bidang itu

dan belum pernah selama hldupnya ia merasa begitu tenang

tenteram penuh damai seperti seekor anak ayam berilndung di

bawah selimutan sayap induknya!

“Aihh …., Sin Wan …… aku ….. sudah lamakah aku

tertidur?” bisiknya.

“Ada sejam lebih. Malam hampir tiba dan kita harus segera

keluar dari hutan ini, aku harus melanjutkan perjalanan …..”

kata Sin Wan tanpa nada mengusir.

“Sin Wan, aku tidak mau pergi ……” Lili malah merangkul

leher. “Sin Wan, aku tidak sudi berpisah darimu, aku ingin kita

terus berdampingan, tak terpisah lagi, ……. seperti ini …..”

Sin Wan mengerutkan alisnya. Ini sudah keterlaluan

namanya. Dia merasa kasihan sekali kepada Lili, akan tetapi

kemanjaan yang berlebihan ini juga amat mengganggunya.

Rasa iba membuat dia mengelus rambut kepala yang hitam

panjang itu, seperti seorang kakak menghibur adiknya. “Lili,

tidak mungkin begitu. Kenapa engkau seaneh ini?” Suaranya

lembut tidak bernada teguran.

Lili bangkit duduk, membalik dan kini mereka duduk

berhadapan. Gadis itu memandang dengan sinar mata tajam

dan nampak penasaran. “Kenapa aneh? Aku cinta padamu, Sin

Wan! Ya, aku jatuh cinta padamu dan aku tidak ingin berpisah

darimu!”

Sin Wan terkejut bukan main, matanya membelalak. Bukan

main gadis ini! Begitu saja menyatakan cinta, begitu terbuka,

begitu jujur, begitu berani! Dia sendiri menjadi salah tingkah,

mukanya menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar.

Lili menjulurkan kedua tangannya dan menangkap tangan

pemuda itu. Jari-jarl tangan mereka saling genggam. “Sin

Wan, aku cinta padamu dan engkaupun cinta padaku, bukan?

Engkau telah menyelamatkan aku, engkau telah begitu baik

kepadaku, engkau telah melihat punggung dan pundakku

yang telanjang. Bahkan engkau telah mengalahkan aku dalam

latihan tadi ……..”

“Aku yang kalah, Lili ……..” kata Sin Wan karena tidak tahu

harus berkata apa.

“Tidak, engkau mengalah, kaukira aku tidak tahu? Engkau

amat baik kepadaku, itu tandanya engkaupun cinta padaku!”

Kedua tangan Lili menggenggam kuat-kuat.

Sin Wan menghela napas panjang, tidak berusaha

melepaskan kedua tangannya walaupun hatinya merasa tidak

enak sekali. Dia memang amat kagum kepada gadis ini, juga

merasa kasihan, akan tetapi dua macam perasaan itu belum

menjadi tanda bahwa dia jatuh cinta! Bagaimana mungkin

cinta dapat ditentukan sedemikian cepatnya?

“Lili, kita tidak boleh begini. Kita baru saja bertemu dan

berkenalan, bagaimana mungkin kita bicara tentang cinta?

Pula, aku harus menyelesaikan tugasku lebih dulu, dan aku

melakukan perjalanan bersama locianpwe Pek-sim Lo-kai. Dia

menantiku di dalam kota, aku harus cepat pergi ke sana.”

Sepasang mata yang indah itu melebar, penuh kagum. “Ah,

Jadi engkau murid Pek-sim Lo-kai yang kabarnya amat lihai

itu, Sin Wan? Pantas saja kepandaianmu hebat. Aku makin

cinta padamu!”

“Bukan, Lili. Locianpwe itu bukan guruku!” jawab Sin Wan

cepat, semakin bingung karena gadis itu tiada hentinya

mengaku cinta.

“Bukan muridnya? Lalu, siapa gurumu Sin Wan?”

Kalau saja Sin Wan tidak menjadi panik dan bingung,

merasa disudutkan oleh pengakuan cinta yang bertubi dari

gadis itu, tentu dia akan berhati-hati dan tidak sembarangan

saja memperkenalkan nama guru-gurunya. Akan tetapi, dia

sedang panik, apalagi kedua tangan gadis itu, terasa demikian

hangat dan, penuh getaran aneh, membuat jantungnya

semakin berdebar.

“Guruku adalah Sam Sian …..” jawaban ini keluar begitu

saja.

Dia merasa betapa jari-jari tangan itu makin kuat

menggenggam kedua tangannya, dan karena salah tingkah dia

tidak berani menatap wajah Lili sehingga tidak melihat

perubahan yang terjadi pada wajah gadis itu.

“Tiga Dewa? Engkau murid Tiga Dewa ….?” Dan kini

teringatlah Lili akan anak laki-laki yang pernah menghinanya

sebelas tahun yang lalu! Bahkan setahun yang lalu, ketika ia

dan sucinya menyerbu Pek-In-kok dan sucinya berhasil

menewaskan dua di antara Tiga Dewa walaupun sucinya

sendiri terluka, ia tidak berhasil mencari anak laki-laki yang

dulu menghinanya itu. Dan kini teringatlah ia bahwa Dewa

Arak pernah menyebutkan nama muridnya, Sin Wan?

Mungkin, ia sudah lupa lagi.

“Kau ….. kau ….. murid Sam Sian …..?” Bibirnya komatkamit

dan suaranya tidak jelas. Perasaannya terguncang,

penuh kebimbangan, penuh penasaran dan kemarahan.

“Lili, kau kenapa ……?” Sin Wan dengan khawatir

memegang kedua pundak gadis itu karena tubuh itu

menggigil. Akan tetapi pada saat itu, kedua tangan Lili

bergerak dan sebelum Sin Wan tahu apa yang terjadi, dia

sudah tertotok dan roboh terkulai, tak mampu bergerak lagi

karena tubuhnya menjadi lemas!

“Lili, kau …..?” Sin Wan berkata lemah, lebih heran dari

pada penasaran. Gadis yang tadi mati-matian mengaku cinta,

yang begitu lembut dan hangat membenamkan muka di

dadanya, tiba-tiba menyerang dan merobohkannya dengan

totokan!

“Sin Wan, katakan, sejak kapan engkau menjadi murid

Sam-sian?” Lili bertanya dan kini suaranya terdengar galak,

lenyap semua kemanisan dan kemesraan dalam suaranya itu.

“Kenapa? Sejak kecil ……..”

“Sebelas tahun yang lalu?”

“Ya begitulah, kurang lebih.”

“Ketika Sam-sian mengantarkan pusaka-pusaka istana yang

hilang, menggunakan sebuah kereta, engkau juga berada di

kereta itu?”

“Ya …… ya …..” Sin Wan semakin heran. Bagaimana gadis

ini mengetahui soal itu?

“Bagus! Engkau kiranya kuda-sapi-kerbau-anjing itu?”

Sin Wan terbelalak. Kata-kata dan sikap yang galak ini

menggugah ingatannya. Seorang anak perempuan yang galak

sekali, seperti setan! Anak perempuan yang mengambil

pakaian dan merobek-robek pakaiannya ketika dia sedang

mandi. Kemudian anak perempuan yang bersama gurunya

hendak merampas pusaka istana dan berkelahi dengan dia,

kemudian dia berhasil menangkapnya dan memukuli

pinggulnya seperti seorang ayah menghajar anaknya yang

nakal.

“Lili, kau ……. kau …….”

“Engkau seorang manusia yang kejam, jahat dan, kurang

ajar!” Kini Lili memaki-maki dengan marah sekali. “Engkau

pernah menghinaku habis-habisan, tahukah engkau? Dahulu

pernah aku bersumpah untuk membalas penghinaan itu,

ingatkah? Engkau memukuli pinggulku! Sampai sekarangpun

masih terasa olehku! Hemm, engkau harus membayar berikut

bunganya!”

Sin Wan tidak bicara lagi. Dia tahu bahwa dia terjatuh ke

tangan seorang gadis yang seperti iblis. Murid Bi-coa Sian-li

yang telah menewaskan dua di antara tiga orang gurunya. Dia

sudah tidak berdaya. Kematian di depan mata tanpa dia

mampu melakukan perlawanan.

Dan dia tidak mau membuka mulut karena dia tidak ingin

mendengar suaranya sendiri minta dikasihani dan diampuni.

Tidak, dia bukan seorang pengecut. Kalau memang Tuhan

menghendaki dia mati di tangan gadis ini, tiada kekuatan atau

kekuasaan di dunia ini mampu menyelamatkannya.

Sebaliknya, kalau memang Tuhan tidak menghendaki dia mati

sekarang, biarpun dia sudah berada di ambang maut, pasti

akan terdapat jalan baginya untuk terhindar dari maut.

Kalaupun dia harus mati, dia harus mati sebagai seekor

harimau yang tidak pernah memperlihatkan kelemahan

sedikitpun juga sampai mati, bukan seperti matinya seekor

babi yang akan disembelih dan merengek-rengek minta hidup.

Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa, dia hanya

menyerahkan jiwa raganya kepada kekuasaan Tuhan.

Kaki gadis itu mendorong dan tubuh Sin Wan terguling

menelungkup. Kemudian terdengar gadis itu menghardik,

“Engkau pernah memukuli pinggulku sampai sepuluh kali!

Sekarang rasakan pembalasanku dengan pukulan seratus

kali!” Setelah berkata demikian, tangan kiri Lili terayun dan

sambil berjongkok ia menamparkan tangan kirinya ke arah

pinggul Sin Wan bertubi-tubi.

“Plak..plak..plak..plak….!!” Ia menampari sambil

menghitung dengan tangan kirinya. Akan tetapi karena ia

tidak bermaksud membunuh, hanya untuk menghajar dan

membalas penghinaan melalui pemukulan pada pinggul, ia

mengatur tenaga, tidak mempergunakan tenaga sakti,

melainkan tenaga otot biasa. Karena itu, Sin Wan tidak

menderita luka dalam, tulangnya tidak patah bahkan kulitnya

tidak pecah. Namun karena dia sendiri tertotok dan tidak

mampu mengerahkan tenaga, maka tamparan-tamparan itu

terasa nyeri, panas dan perih.

“Plak..plak..plak….!!” Belum sampai limapuluh kali, tangan

kiri Lili sudah terasa panas dan lelah sekali sehingga

pukulannya makin lama semakin lemah, ia menggantikannya

dengan tangan kanan dan kembali tamparannya menjadi kuat.

Tentu saja Sin Wan menderita nyeri. Panas dan pedih rasa

kedua pinggulnya, akan tetapi, dia menerimanya dengan bibir

terkatup kuat, tidak pernah dia mengeluh atau merintih.

Hal inilah yang membuat Lili merasa penasaran. Kalau

pemuda itu mengeluh, tentu hatinya akan terasa puas sekali.

Akan tetapi, pemuda itu sama sekali tidak merintih seolah-olah

semua pukulannya itu tidak terasa sama sekali. Pada hal

kedua tangannya sudah panas dan lelah karena ia hanya

mempergunakan tenaga otot. Belum sampai seratus kali,

paling banyak baru tujuhpuluh kali, ia sudah menghentikan

tamparannya!

“Hemm, engkau bandel, ya? Engkau tidak minta ampun,

tidak mengeluh, engkau merasa gagah, ya? Pembalasanku

belum lunas, pukulanku belum ada seratus kali, sisanya akan

ku lakukan dengan cara lain!” Ia melolos sabuknya yang

panjang, membikin putus sebagian, kemudian ia menyeret

tubuh Sin Wan ke sebatang pohon, memaksanya bangkit

berdiri dengan menariknya, lalu ia mengikat Sin Wan pada

batang pohon itu. Diikatnya kaki dan tangan pemuda itu ke

belakang, bersandar pohon. Setelah selesai, ia memandang

kepada Sin Wan dengan senyumnya yang khas, senyum sinis

mengejek. Kemarahannya memuncak ketika ia melihat wajah

pemuda itu tenang-tenang saja, bahkan pemuda itupun

tersenyum, seperti seorang dewasa merasa geli melihat ulah

yang nakal seorang kanak-kanak!

“Aku akan meninggalkanmu di sini, biar engkau dimakan

binatang buas di hutan ini! Nah, apa yang akan kaukatakan?”

Sin Wan merasa nyeri sekali di pinggulnya piut-miut

rasanya berdenyut-denyut seperti mau pecah, panas dan

pedih menusuk jantung, dan tubuhnya masih lemas tak

mampu bergerak karena totokan. Akan tetapi wajahnya tidak

membayangkan semua penderitaan itu, dan dia bahkan

tersenyum, senyum yang oleh Lili dianggap menantang dan

menyakitkan hati. Kemudian, Sin Wan berkata dengan suara

lirih dan lembut tanpa kemarahan.

“Aku hanya ingin berkata bahwa sayang sekali engkau yang

begini cantik dan gagah, yang berkepandaian tinggi, telah

dibikin gila oleh dendam sehingga menjadi kejam seperti

setan.”

Sepasang mata itu terbelalak dan tangan kanannya

melayang. “Plakk !!” keras sekali telapak tangan itu

menghantam pipi kiri Sin Wan sehingga kepala pemuda itu

terdorong ke kanan dan seketika pipi itu menjadi merah

membiru dan membengkak.

“Kau maki aku seperti setan? Engkaulah yang setan, iblis,

siluman! Kau …. kau ….., huh, aku benci padamu. Benciiii…!”

Dan gadis itu mengeluarkan suara aneh, seperti tawa akan

tetapi juga mirip tangis, atau suara antara keduanya itu. “Biar

kau dimakan binatang buas!” Dan sekali melompat, gadis itu

menghilang di antara pohon-pohon dalam cuaca yang mulai

gelap itu.

Sin Wan termenung, pipinya berdenyut deyut keras,

nyerinya bisa mengalahkan rasa nyeri di pinggul. Betapa

galaknya gadis itu dan dia membayangkan Lili. Aneh, yang

terbayang olehnya bukan prilaku yang menyiksanya tadi.

Terbayang olehnya ketika gadis itu tertidur pulas di dadanya!

Yang terngiang di telinganya bukan caci makinya, melainkan

ucapan gadis itu yang mengaku cinta padanya.

Malam tiba. Sinar bulan yang menggantikan matahari tidak

cukup kuat mengusir kegelapan malam, akan tetapi

setidaknya mendatangkan cahaya menembus daun-daun

pohon sehingga cuacanya tidak gelap benar, melainkan

remang-remang. Dia belum mampu menggerakkan tubuhnya.

Totokan Lili ternyata lihai sekali. Agaknya dia harus menanti

satu dua jam lagi agar pengaruh totokan itu membuyar dan

baru dia akan dapat mengerahkan tenaga untuk membikin

putus tali sabuk yang mengikat kaki dan tangannya pada

pohon. Sebelum dia mampu mengerahkan tenaga, dia tidak

berdaya.

Terdengar suara gerengan di sana-sini. “Harimau,” pikir Sin

Wan, atau sebangsa itu, binatang hutan yang liar! Kalau dia

belum mampu menggunakan tenaga dan ada binatang buas

datang, dia akan mati konyol! Dia akan menjadi mangsa

binatang buas, kulit dagingnya akan digerogoti, dia akan

dimakan hidup-hidup! Bukan main ngeri rasa hatinya

membayangkan semua itu, akan tetapi perasaan ngeri dan

takut itu segera lenyap seketika setelah dia teringat akan

keyakinan hatinya terhadap kekuasaan Tuhan!

Dia sebagai manusia hanya sekedar alat. Hidup dan

matinya milik Tuhan! Kenapa harus takut? Dia menyerah

penuh kesabaran, penuh ketawakalan, penuh keikhlasan!

Kalau Tuhan menghendaki dia mati, setiap saatpun dia siap

dengan hati yang rela dan ikhlas. Bukan berarti-putus asa!

Penyerahan dengan ikhlas tidak berarti putus asa. Saat itu dia

hidup dan selama dia masih hidup, dia akan menggunakan

segala daya kemampuannya untuk bertahan hidup, untuk

menjaga dan mempertahankan kehidupannya. Akan tetapi

kalau Tuhan menghendaki dia mati, dia tidak akan menyesal

karena penyerahan seikhlasnya berarti ikhlas untuk hidup dan

ikhlas untuk mati, menyerah kepada kekuasaan Tuhan!

Keyakinan dan penyerahannya ini mengusir semua rasa

takut, bahwa Sin Wan dapat menghadapi keadaannya saat itu

dengam senyum di bibir. Betapa amat menarik kehidupan

dengan segala liku-likunya ini, dan dia sudah siap untuk

menjadi saksi, mengikuti setiap pengalaman hidup sampai

akhlr.

Tiba-tiba terdengar gerengan keras dan Sin Wan menengok

ke kiri. Lehernya sudah dapat dia gerakkan, akan tetapi ketika

dia berusaha menggerakkan tangan dan kaki, kedua pasang

anggauta tubuh itu masih lemas dan tidak dapat dia gerakkan!

Dan dia melihat sepasang mata mencorong di dalam cuaca

yang remang-remang itu. Nampaknya bayangan itu seperti

seekor anjing yang berindap-indap menghampirinya. Akan

tetapi jelas gerengan ini bukan gonggong atau salak anjing,

melainkan auman harimau!

Sin Wan merasa betapa bulu tengkuknya meremang.

Bagaimanapun juga, nalurinya untuk mempertahankan hidup

mendatangkan kecemasan ketika dia sadar bahwa di

depannya hadir seekor harimau yang mengancamnya dia yang

sedang tak berdaya itu. Dia benar-benar akan mati konyol!

Akan tetapi, kembali kepasrahan yang mutlak menenangkan

hatinya dan dia memandang ke arah harimau itu dengan

tajam.

Dia pernah mendengar bahwa harimau takut bertemu

pandang mata dengan manusia, dan kalah wibawa. Bahkan

ada kemungkinan binatang itu setelah bertemu pandang, akan

merasa takut dan pergi tanpa mengganggunya. Akan tetapi

dia lupa bahwa cuaca remang-remang dan mata manusia

berbeda dengan mata harimau. Kekuasaan Tuhan adalah

bijaksana dan adil, maka semua makhluk dan benda ciptaan

Tuhan selalu dibekali sesuatu yang amat dibutuhkan oleh

masing-masing.

Harimau tidak berakal, tidak pandai membuat alat

penerangan, hidup di dalam hutan gelap, maka memiliki mata

yang penglihatannya dapat menembus gelap sehingga

matanya mencorong! Manusia mampu membuat alat

penerangan untuk mengatasi kegelapan malam. Maka,

betapapun tajam dia memandang, binatang itu tidak menjadi

undur, bahkan menggereng semakin keras dan menghampiri

semakin dekat. Perlahan-lahan, dengan hati-hati, binatang itu

mendekati Sin Wan dan pemuda ini merasa betapa hidung

binatang itu mengendus dan menyentuh kakinya. Dia

memejamkan mata, menyerah kepada Tuhan, maklum bahwa,

kalau harimau itu menyerang, dia tidak akan mampu

melindungi dirinya.

Harimau itu mengaum keras, kaki depan kiri bergerak cepat

ke arah paha Sin Wan.

“Brettt ……..!!” Celana Sin Wan terobek dengan mudah dan

kulit pahanya terkena cakaran sehingga terobek dan berdarah!

Dia berusaha mengerahkan tenaga, namun tidak berhasil,

Harimau itu kini undur, bukan untuk pergi, melainkan untuk

mengambil ancang-ancang. Darah yang mengalir dari paha Sin

Wan yang tergores kuku itu membuat dia semakin liar. Kini

binatang itu merendahkan tubuh, mengambil ancang-ancang

untuk meloncat. Mati aku sekarang, pikir Sin Wan. Binatang

itu meloncat ke atas, menubruk ke arah Sin Wan.

“Cratttt ……!! Bukkk!” Tubuh binatang itu terhenti di udara

ketika sebatang pedang menyambutnya dengan tusukan

memasuki perutnya, kemudian sebuah tendangan kilat

membuat tubuh binatang itu terlempar. Biarpun telah terluka

parah dan dari perutnya bercucuran darah, harimau itu tidak

roboh atau takut, bahkan menjadi semakin nekat. Kini dia

menubruk ke arah orang yang menyakitinya, yang berdiri di

depan Sin Wan.

“Sratttt …….!” Tubuh harimau terpelanting dan matilah dia

dengan leher hampir putus terbabat pedang!

Lili membersihkan pedangnya dengan menggosoknya pada

kulit bangkai harimau. Dalam cuaca yang remang-remang, Sin

Wan terbelalak ketika mengenal bahwa yang membunuh

harimau itu dan yang menyelamatkan dirinya adalah Lili.

Hatinya merasa senang bukan main, bukan saja senang

karena dia tidak mati konyol menjadi mangsa harimau, akan

tetapi karena ternyata gadis itu tidaklah sejahat yang ingin

diperlihatkannya. Ternyata gadis itu tidak meninggalkannya

seperti ancamannya tadi, melainkan bersembunyi dan

menjaganya, bahkan menyelamatkannya.

“Terima kasih, Lili ……” katanya lirih.

Lili menyisipan pedangnya, lalu membalik dan menghadap

pemuda itu. Alisnya berkerut karena ucapan Sin Wan yang

lembut itu, wajah pemuda itu yang tersenyum penuh syukur

kepadanya, seolah menusuk jantungnya.

“Aku telah memukulimu, menghinamu, memakimu dan

menyiksamu, dan engkau tidak mendendam kepadaku?”

tanyanya penasaran.

Sin Wan sudah dapat menggoyang kepalanya. “Kenapa aku

harus mendendam? Sebelas tahun yang lalu aku juga pernah

memukuli pinggulmu, dan sekarang aku hanya membayar

hutangku. Aku dahulu terlampau keras kepadamu Lili dan

sudah sepatutnya engkau membalas.”

Sepasang mata itu tertegun, senyum sadis itu perlahanlahan

berubah seperti orang hendak menangis. Semua ini

dapat dilihat Sin Wan karena kebetulan sinar bulan dapat

menerobos celah-celah daun dan menerangi mereka. Lili

memandang wajah pemuda itu, menatap ke arah pipi kiri Sin

Wan yang membengkak. Ia menghampiri lebih dekat, tangan

kanannya diangkat ke atas. Sin Wan tidak siap menerima

tamparan lagi, akan tetapi sekali ini, tangan itu tidak

menampar, melainkan mengusap dan membelai pipi yang

membengkak itu.

“Sin Wan …. ” suara itu seperti rintihan tangis dan mulut

gadis itu mendekati pipi yang bengkak, menyentuh telinga dan

terdengar ia berbisik, “Sin Wan aku cinta padamu…… ah, aku

benci padamu ……!” dan iapun menggerakkan tangan

menotok, membebaskan Sin Wan dari pengaruh totokannya,

tadi dan sekali berkelebat iapun lenyap dari situ.

Sin Wan dapat menggerakkan kembali kaki tangannya.

Sejenak dia diam saja, membiarkan jalan darahnya pulih

kembali dan sikap Lili tadi masih membuat dia tertegun. Gadis

itu cinta padanya dan juga benci padanya! Bagaimana ini?

Bagaimana mungkin ada orang mencinta sekaligus membenci?

Dia menggeleng kepalanya, lalu mengerahkan tenaga Sinkang

dan dengan mudah saja dia melepaskan tali pengikat

kaki dan tangannya. Dia memegangi potongan kain sabuk

sutera itu, mengamatinya dan menggeleng-geleng kepala lagi.

“Lili …., Lili ….., sungguh aku tidak mengerti.” Dia lalu

meninggalkan tempat itu, keluar dari hutan dan memasuki

kota Lok-yang. Kakek Bu Lee Ki sudah memberitahu

kepadanya bahwa kakek itu dan Kui Siang akan menyewa

kamar di losmen Ho-peng yang berada di ujung barat kota itu.

Tidak sukar untuk menemukan losmen di sebelah barat

dalam kota itu dan ketika Sin Wan minta keterangan dari

pelayan losmen tentang kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang,

pelayan itu ternyata telah mendapat pesan dari Bu Lee Ki dan

segera mengantar pemuda itu ke kamarnya.

“ltulah dua kamar kakek dan nona itu,” kata pelayan.

Sin Wan mengetuk pintu kamar Bu Lee Ki dan kakek itu

membukakan pintu. Dia agak terkejut melihat celana Sin Wan

yang robek, pahanya yang terluka goresan memanjang,

langkahnya yang agak pincang dan pipi kirinya yang merah

membengkak.

“Ehh ? Apa yang terjadi?” tanyanya ketika mereka masuk

kamar dan pintunya ditutupkan kembali oleh Bu Lee Ki.

Sin Wan merasa serba salah. Kalau dia bercerita tentang

Lili, tentu dia harus menceritakan segalanya dan dia merasa

malu, tidak ingin peristiwa di hutan tadi diketahui siapapun.

Akan tetapi kalau tidak diceritakan, bagaimana pula karena

keadaannya seperti itu. Dia teringat akan harimau itu lalu

berkata, “Locianpwe, saya tersesat ke dalam hutan dan

diserang seekor harimau yang besar dan ganas. Saya berhasil

membunuhnya, akan tetapi saya juga terluka, dicakar paha

saya dan…….. begitulah.” Dia tidak banyak bicara lagi, lalu

membersihkan diri di kamar mandi dan bergantl pakaian.

“Di mana sumoi?” tanyanya setelah berganti pakaian.

Kakek itu nampak termenung setelah mendengar ceritanya.

Jelas bahwa kakek itu tidak puas, dan agaknya tahu bahwa

dia menyembunyikan sesuatu dan tidak mau berterus terang.

Akan tetapi kakek itu tidak mendesak dan mendengar

pertanyaan itu, diapun tersenyum.

“Kalian ini orang-orang muda memang petualang-petualang

yang aneh. Tadi Kui Siang pulang dan tidak bicara apa-apa

kepadaku. Ia langsung memasuki kamarnya dan aku

mendengar betapa ia gelisah di kamarnya, bahkan aku seperti

mendengar ia terisak menangis. Ahhh, sungguh lucu dan

aneh. Dan engkau datang-datang seperti ini, baru saja

berkelahi dengan harimau! Kalian orang-orang muda yang

aneh?”

Kakek itu tidak mendesak dan Sin Wan lalu merebahkan diri

di pembaringan kecil di sudut kamar yang mempunyai dua

buah pembaringan itu. Dan tak lama kemudian dia sudah tidur

pulas karena dia memang merasa lelah, lemas dan terutama

sekali pinggulnya masih berdenyut-denyut, berlumba dengan

denyut jantungnya.

Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi dan merasa

tubuhnya lebih segar walaupun rasa nyeri di pinggulnya masih

terasa, Sin Wan yang tidak melihat Kui Siang bertanya kepada

Bu Lee Ki di mana adanya gadis itu.

Kakek itu mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala.

“Entah apa yang telah terjadi dengan Kui Siang. Semalam ia

pulang langsung ke kamarnya, dan setelah semalam gelisah,

pagi ini ia juga tidak keluar dari dalam kamar. Aku tadi sudah

mengetuk daun pintu kamarnya dan bertanya. Ia membuka

pintu dan mengeluh tidak enak badan, lalu rebah kembali.

Pergilah engkau melihatnya. Sin Wan, aku khawatir ada apaapa

terjadi dengan sumoimu. Biasanya ia tidak seperti itu.”

Sin Wan merasa khawatir. Dia lalu menghampiri kamar

sumoinya dan mengetuk daun pintu kamarnya. Beberapa kali

dia mengetuk. Tidak ada jawaban.

“Sumoi, harap buka pintu. Ini aku, Sin Wan ingin

menjengukmu,” katanya.

Juga tidak ada jawaban, akan tetapi pendengarannya yang

tajam dapat menangkap isak tangis tertahan. Tentu saja dia

menjadi semakin khawatir dan didorongnya daun pintu itu

perlahan. Ternyata tidak dikunci dari dalam dan diapun

memasuki kamar itu. Dilihatnya sumoinya duduk di

pembaringan sambil menutupi mukanya dan menangis

menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ditutupkan

pada mukanya.

“Sumoi ……! Engkau kenapakah?” tanya Sin Wan dengan

kaget dan dia cepat menghampiri gadis itu, berdiri di

depannya dan dengan lembut tangannya menyentuh pundak

gadis itu.

Mendengar ucapan itu dan merasa pundaknya disentuh

tangan Sin Wan, tangis Kui Siang semakin mengguguk dan

pundaknya sampai bergoyang-goyang. Tentu saja Sin Wan

menjadi semakin khawatir.

“Sumoi, katakanlah. Apa yang telah terjadi denganmu?”

Perlahan-lahan Sin Wan menurunkan bantal itu dari muka

sumoinya dan dia terkejut melihat muka yang pucat dan basah

air mata, sepasang mata yang menjadi merah dan agak

bengkak karena terlalu banyak menangis itu.

“Sumoi, engkau kenapakah, sumoi? Kenapa engkau

berduka seperti ini?” tanya pula pemuda itu dengan suara

yang penuh kegelisahan, tangan kiri masih memegang

pundak, jari tangan kanan menyingkap rambut yang menutupi

sebagian muka yang basah itu.

“Suheng …….!” Kui Siang mengeluh dan iapun

menjatuhkan diri ke depan, merangkui pinggang suhengnya

dan menjatuhkan kepalanya di dada pemuda itu.

Sin Wan semakin kaget. Dia merangkul sumoinya yang kini

menangis di dadanya, dan sejenak dia membiarkan sumoinya

menumpahkan kedukaannya, membiarkannya menangis di

dadanya. Perlahan-lahan, terasa olehnya air mata yang hangat

membasahi kulit dadanya, menembus bajunya.

“Tenangkan hatimu, sumoi dan katakanlah, apa yang telah

terjadi, yang membuatmu sesedih ini?”

Setelah tangisnya terhenti, hanya tinggal sesenggukan

jarang, sisa isak yang melepas sisa ganjalan di hatinya,

akhirnya dengan muka masih disembunyikan di dada Sin Wan,

Kui Siang berkata lirih, “Suheng, betapa tega hatimu

menghancurkan kebahagiaanku, memusnahkan semua

harapanku ……….”

“Ehh ? Apa maksudmu, sumoi? Aku tidak mengerti ……!”

“Tidak kusangka bahwa engkau mempunyal seorang

kekasih, suheng, mempunyai seorang pacar ……” Suara itu

bercampur isak.

Sin Wan membelalakkan matanya. “Heiiii! Apa pula ini,

sumoi? Aku tidak mempunyai pacar!”

Kui Siang mengangkat mukanya dari dada Sin Wan,

sepasang matanya yang merah membendul itu mengamati

wajah Sin Wan dan mulutnya cemberut.

“Tidak ada gunanya menyangkal lagi, suheng. Semalam

engkau berpacaran dengan seorang gadis cantik! Siapa gadis

yang tertidur di pangkuanmu itu?”

Sin Wan terkejut bukan main. “Kau ……. kau tahu itu?

Bagaimana engkau bisa tahu, sumoi?” Akan tetapi dia segera

menyadari bahwa pertanyaannya ini sama saja dengan

pengakuan bahwa dia benar-benar berpacaran dengan

seorang gadis, maka cepat disambungnya, “Aku tidak

berpacaran, sumoi. Ia bukan kekasihku, bukan pacarku.”

Mata yang kemerahan itu mengeluarkan sinar marah.

“Suheng, selama ini aku mengenalmu sebagai seorang laki-laki

sejati, seorang jantan yang tidak berwatak pengecut dan

berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Akan

tetapi sekarang kenapa engkau menyangkal? Suheng, dengan

mataku sendiri aku melihat gadis cantik itu tertidur di

pangkuanmu, bersandar pada dadamu dan engkau

memeluknya, dan engkau masih berani menyangkal ……..?”

Mengertilah Sin Wan bahwa sumoinya semalam telah

menyaksikan peristiwa yang terjadi antara dia dan Lili, dan

sayangnya, sumoinya hanya melihat ketika Lili tertidur di

pangkuannya, tidak melihat yang lain, tidak melihat ketika Lili

menyiksanya, hampir membunuhnya.

“Sumoi, aku tidak menyangkal semua itu, yang kusangkal

adalah bahwa ia itu pacarku. Sama sekali tidak, sumoi.

Dengarlah ceritaku ini. Sebelas tahun yang lalu, ketika tiga

orang suhu kita mengantarkan pusaka-pusaka istana bersama

aku dengan kereta menuju ke kota raja, di tengah perjalanan

kami bertemu Bi-coa Sian-li dan seorang muridnya. Bi-coa

Sian-li hendak merampas pusaka, akan tetapi gagal dan ia

dikalahkan tiga orang guru kita. Dan anak perempuan itu,

yang berusia sembilan tahun, murid Bi-coa Sian-li, berkelahi

denganku dan aku menghajarnya, kuhukum seperti anak kecil

dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali.”

Kui Siang mengerutkan alisnya. “Apa hubungannya cerita

itu dengan kemesraan di hutan itu?” suaranya jelas

mengandung kemarahan.

Diam-diam Sin Wan merasa heran. Kenapa sumoinya

kelihatan marah sekali melihat Lili tertidur di pangkuannya dan

kelihatan seolah dia dan Lili bermesraan dan berpacaran?

Hubungannya erat sekali, sumoi.

“Dengarlah ceritaku selanjutnya. Sore tadi aku melihat

seorang gadis dikeroyok oleh orang-orang lihai sebanyak

enam orang. Gadis itu juga lihai, akan tetapi enam orang

lawannya itu selain lihai juga amat licik dan gadis itu akhirnya

tertawan dalam sehelai jala yang ada kaitannya beracun.

Melihat gadis itu dalam ancaman bahaya, aku lalu

menolongnya dan enam orang penjahat itu melarikan diri.

Gadis itu keracunan, maka aku lalu mengobatinya dan

mengusir racun dari tubuhnya. Mungkin karena kepayahan,

gadis itu bersandar dan tertidur dan agaknya saat itulah

engkau melihat kami dan menyangka bahwa kami bermesraan

dan berpacaran. Pada hal tidaklah demikian. Bahkan

kelanjutannya sayang sekali engkau tidak melihatnya, karena

kalau engkau melihatnya, tentu akan lain sekali sikapmu.”

Sinar mata itu mulai terang dan tertarik, karena

bagaimanapun juga, Kui Siang amat menghormati dan

percaya kepada suhengnya itu. “Lanjutannya bagaimana?”

tanyanya, suaranya masih parau karena tangis semalam

suntuk, akan tetapi matanya tidak sesayu tadi.

“Setelah gadis itu sembuh dan terbangun, kami bicara dan

setelah aku mengaku sebagai murid Sam-sian, gadis itu

terkejut dan tiba-tiba saja ia menotokku sehingga aku tidak

mampu bergerak lagi. Kiranya ia adalah anak perempuan yang

sebelas tahun lalu pernah kuhajar itu!”

“Murid Bi-coa Sian-li, pembunuh kedua orang guru kita?”

Sin Wan mengangguk. “Benar, ia bernama Lili dan ia lihai

sekali. Aku ditotoknya dan aku menjadi lumpuh.”

“Lili ……..?”

Sin Wan teringat. “Eh, nama lengkapnya Tang Bwe Li.”

“Engkau sudah memanggilnya demikian akrab, suheng?

Teruskanlah, bagaimana selanjutnya.” Kata pula Kui Siang dan

suaranya terdengar kaku.

“Ia membalas dendamnya sebelas tahun yang lalu. Ia

membalas memukuli pinggulku sampai puluhan kali. Kemudian

ia mengikatku pada pohon dan meninggalkan aku agar

dimakan binatang buas.”

Gadis itu membelalakkan matanya. “Betapa kejamnya!

Gadis keparat!”

“Setelah ia pergi dan aku belum mampu menggerakkan

kaki tanganku, muncullah seekor harimau besar, sumoi.

Binatang itu menghampiri aku, mengendus dan sempat

mencakar robek celanaku dan melukai paha. Kemudian ia

menerkam dan aku sudah pasrah karena tidak mampu

bergerak melawan …….”

“Lalu bagaimana, suheng? Lalu bagaimana?” Kini Kui Siang

bangkit berdiri dan memegang kedua lengan suhengnya,

nampak khawatir bukan main.

“Pada saat harimau menerkam aku, ketika tubuhnya

meloncat di udara, ia disambut tusukan pedang dan tewas

seketika, sumoi. Aku telah ditolong dan diselamatkan ……..”

“Siapa yang menolongmu, suheng?” tanya Kui Siang, ingin

sekali tahu siapa penolong yang telah merenggut nyawa

suhengnya dari ancaman maut.

“Gadis itu, sumoi. Lili yang menyelamatkan aku.”

“Ahhhhh …….!” Kedua tangan yang tadi memegang lengan

Sin Wan dengan kuat, tiba-tiba menjadi lemas dan terlepas.

Jelas bahwa Kui Siang nampak terpukul dan kecewa bukan

main mendengar bahwa yang menyelamatkan suhengnya

adalah gadis itu pula.

“Aku sendiri terheran-heran, sumoi. Tadinya ia demikian

kejam dan ganas, menyiksaku, hampir membunuhku, sengaja

mengikatku agar dimakan binatang buas, akan tetapi ketika

aku nyaris dimakan harimau, ia pula yang menolongku.”

“Itu hanya berarti ….. ah, suheng. Apakah engkau cinta

padanya?” tiba-tiba gadis itu kembali menatap tajam wajah

suhengnya.

Sin Wan menggeleng kepala. “Tidak, sumoi. Kami baru

bertemu beberapa jam saja, bagaimana aku dapat

mencintanya? Apa lagi ia hampir saja membunuhku, dan ia

menyiksaku, sampai sekarangpun rasa nyeri di pinggulku

masih berdenyut-denyut. Tidak, aku tidak dapat cinta

kepadanya, sumoi.”

Aneh sekali. Sumoinya, yang masih marah matanya, kini

memandang kepadanya dengan senyum tipis!

“Benarkah, suheng?” sumoinya bertanya.

Sin Wan memegang kedua pundak sumoinya, “Aku tidak

pernah bohong, sumoi. Sekarang aku ingin bertanya dan

harap engkau tidak berbohong pula. Aku bersumpah bahwa

aku tadi tidak berpacaran dengan Lili, akan tetapi andaikata

benar demikian, lalu kenapa engkau menjadi begitu bersedih?

Kenapa?”

Wajah itu berubah merah dan sampai sejenak lamanya Kui

Siang tidak mampu menjawab. Kemudian, dengan muka

ditundukkan, iapun berkata lirih, “Suheng, aku tahu bahwa

aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu, aku tahu

bahwa tidak sepantasnya aku menjadi marah dan bersedih

melihat engkau dan gadis itu di hutan …….” suaranya menjadi

gemetar dan ia menangis lagi.

“Sumoi, kenapa? Katakan, kenapa?” Sin Wan mengguncang

kedua pundak sumoinya itu.

“Karena ….. karena hatiku dibakar dan ditusuk-tusuk oleh

rasa cemburu yang hebat, Suheng, maafkan aku ……..”

“Sumoi …..!” Sin Wan terkejut dan Kui Siang menangis

sambil merangkul pinggang pemuda itu, menangis di dadanya

seperti tadi.

“Maafkan aku, suheng …….. karena aku tidak ingin

kehilangan engkau, aku takut kehilangan engkau, aku tidak

ingin berpisah darimu selama hidupku, suheng ….. aku cinta

padamu ….,” dan iapun menangis tersedu-sedu.

Sin Wan tertegun dan diapun merangkul. Sejenak dia

bengong. Dalam waktu semalam saja, dua orang gadis

mengaku cinta padanya. Lili mengaku benci akan tetapi cinta.

Kui Siang mengaku cemburu akan tetapi cinta!

Haruskah cinta seorang wanita itu disertai cemburu dan

dapat berubah menjadi benci? Apakah cinta itu mengandung

cemburu dan benci? Dia merasa bingung. Akan tetapi tidak

bingung kalau harus memilih di antara keduanya. Kui Siang

telah bergaul dengan dia selama sepuluh tahun lebih dan ia

sudah mengenal benar watak yang baik dari sumoinya ini. Kui

Siang cantik, gagah perkasa, berbudi dan lembut, pasti akan

menjadi seorang isteri dan seorang ibu yang baik. Lili juga

sama cantiknya, sama gagah perkasanya, akan tetapi gadis itu

liar dan ganas, berhati keras bahkan dapat menjadi kejam.

Mudah saja memilih di antara keduanya. Tentu saja dia

memilih Kui Siang! Memang jauh sebelum dia bertemu dengan

Lili, dia sudah merasa amat sayang kepada sumoinya, rasa

sayang merupakan tunas cinta. Kini sumoinya berterus terang

menyatakan cinta kepadanya!

“Sumoi, akupun cinta padamu,” bisiknya sambil merangkul

dan sejenak mereka saling peluk dengan ketatnya seolah tidak

ingin melepaskan lagi.

Suara batuk-batuk di luar kamar itu membuat mereka

berdua terkejut dan cepat saling melepaskan rangkulan.

Muncullah kakek itu setelah membuka daun pintu dan dia

tersenyum lebar.

“Wah, engkau sudah tersenyum lagi, Kui Siang? Ha..ha..ha,

peristiwa ini patut dirayakan dengan makan enak. Mari

keluarlah kalian, kita rnakan pagi yang istimewa, heh

..Heh..heh!”

Wajah Kui Siang menjadi merah sekali. Hatinya penuh

bahagia karena bukankah di telinganya tadi suara Sin Wan

berbisik menyatakan cinta? la sudah menyatakan perasaan

cintanya dan ternyata dibalas oleh suhengnya! Peristiwa

semalam dengan Lili sudah seketika lenyap dari ingatannya.

“Nanti dulu, locianpwe, saya ingin mandi dan bertukar

pakaian lebih dulu.”

“Heh..heh, baiklah. Kita tunggu di luar, Sin Wan.”

Dua orang pria itu keluar dan Kui Siang segera mandi dan

bertukar pakaian. Sekali ini, ia berdandan dan menyisir

rambutnya agak lebih teliti dari pada biasanya. Ia harus selalu

nampak rapi dan cantik di depan kekasihnya!

Sementara itu, ketika mereka duduk menanti Kui Siang,

kakek Bu Lee Ki berkata kepada pemuda itu. “Sin Wan,

engkau dan Kui Siang memang cocok sekali menjadi suami

isteri. Kalian berjodoh, kenapa setelah saling mencinta tidak

segera menikah saja. Kulihat usia kalian sudah cukup

dewasa.”

Wajah Sin Wan berubah kemerahan dan dia tersenyum.

“Aih, locianpwe, bagaimana mungkin kami menikah! Saya

seorang yatim piatu yang miskin dan tidak ada yang mewakili

saya, sedangkan Kui Siang, biarpun yatim piatu pula, ia

bangsawan dan kaya raya, dan masih mempunyai banyak

keluarga di kota raja.”

“Hemm, apa salahnya itu? Yang penting, kalian saling

mencinta. Tentang wakilmu, biar aku yang mewakilimu,

mengajukan pinangan kepada keluarga Kui Siang di kota raja

kelak setelah urusan pemilihan pemimpin kai-pang di sini

selesai. Bagaimana pendapatmu?”

“Terima kasih atas kebaikan hati locianpwe. Marilah nanti

saja hal itu kita bicarakan karena selain urusan di sini belum

beres, juga saya sendiri masih ragu-ragu untuk membangun

rumah tangga. Keadaan saya masih begini, locianpwe,

kehidupan diri sendiri saja masih belum menentu, tiada

pekerjaan dan tiada rumah tinggal, bagaimana dapat

memikirkan pernikahan?”

“Heh..heh, justeru pernikahan yang akan memaksamu

untuk mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian

yang tetap. Tanpa adanya kebutuhan itu, tentu akan selalu

hidup bebas seperti seekor burung di udara.” Kakek itu

terkekeh, lalu melanjutkan. “Kalau kalian sudah saling

mencinta, hal itu menunjukkan bahwa kalian sudah siap untuk

membangun keluarga bersama, hidup bersama sebagai suami

isteri. Cinta asmara merupakan tali pengikat yang paling kuat

dalam hubungan itu dan kalian sudah saling mencinta. Mau

tunggu apa lagi? Cinta berarti hidup bersama dalam keadaan

apapun juga, dalam suka dan duka, berat sama dipikul, ringan

sama dijinjing, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung.”

“Tapi …… tapi saya sendiri masih belum mengerti benar

tentang cinta, locianpwe. Mohon petunjuk, apakah cinta harus

disertai dengan cemburu? Apakah cinta dapat berubah

menjadi benci?”

Kakek itu tertawa. “Cinta adalah suatu keadaan yang mulia

dan suci, Sin Wan. Cinta adalah sifat dari Tuhan Yang Maha

Kasih. Akan tetapi, kita manusia merupakan mahluk yang

lemah terhadap nafsu-nafsu kita sendiri. Cinta kita selalu

diboncengi nafsu, dan nafsu inilah yang mendatangkan

perasaan cemburu, benci dan sebagainya. Nafsu sifatnya

selalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri.

Oleh karena cinta kita diboncengi nafsu, maka biar orang yang

kita cinta, kalau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan

atau merugikan kita, maka dapat saja berubah menjadi benci

dan dapat menimbulkan cemburu. Nafsu membuat kita ingin

memiliki dan menguasai orang yang kita cinta seluruhnya,

sehingga sekali saja terdapat kecenderungan kekasih kita

kepada orang lain, timbullah cemburu. Nafsu membuat kita

ingin memperalat orang yang kita cinta itu sebagai sumber

kesenangan diri kita sendiri.”

“Kalau begitu, locianpwe, nafsu menjadi biang keladi

sehingga cinta menjadi kotor dan buruk, dapat mendatangkan

kejahatan dan malapetaka. Kalau begitu, antara suami isteri

seharusnya ada cinta tanpa nafsu ……..”

“Ha..ha..ha..ha, tidak mungkin, Sin Wan. Nafsu memang

berbahaya kalau ia menguasai kita, kalau ia menjadi majikan

yang kejam kalau ia memperalat kita. Akan tetapi sebaliknya,

tanpa nafsu kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsu yang

membonceng dalam cinta antara pria dan wanita merupakan

suatu keharusan, karena nafsu yang menimbulkan daya tarik

antar kelamin, nafsu pula yang memungkinkan manusia

berkembang biak. Kalau pernikahan dilakukan tanpa adanya

nafsu berahi, suami isteri akan hidup bersama seperti kakak

beradik dan tidak akan ada anak, terlahir dan perkembangan

biakan manusia akan terhenti.”

Sin Wan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.

Dia sudah banyak membaca kitab tentang kehidupan, akan

tetapi baru sekarang dia mendengar tentang hubungan antara

pria dan wanita, tentang bekerjanya nafsu berahi dalam cinta

kasih!

“Lalu bagaimana baiknya, locianpwe? Nafsu amat

berbahaya bagi kehidupan batin kita, akan tetapi juga teramat

penting bagi kehidupan bahkan tidak mungkin dapat kita

lenyapkan.”

“Segala macam nafsu yang berada pada kita merupakan

anugerah pula dari Tuhan kepada kita, Sin Wan. Nafsu-nafsu

itulah peserta jiwa dalam badan, untuk kepentingan kehidupan

di dunia ini. Nafsu merupakan alat, merupakan pelengkap,

merupakan pembantu yang teramat penting. Dalam hal

perjodohan, nafsu bekerja sebagai berahi yang menimbulkan

perasaan saling suka dan saling tertarik. mungkin melalui

keindahan bentuk wajah dan tubuh yang menyenangkan dan

cocok, mungkin melalui sikap dan prilaku yang sesuai dengan

selera. Pendeknya nafsu berahi selalu ada di dalam cinta

antara pria dan wanita yang ingin hidup bersama. Akan tetapi,

karena nafsu mendatangkan pula cemburu yang mungkin

menimbulkan kebencian, maka kita harus ingat bahwa sekali

nafsu berahi yang menjadi majikan, yang menguasai kita,

keutuhan perjodohan terancam retak. Nafsu berahi juga

mendatangkan bosan.”

“Lalu bagaimana kita dapat menguasai nafsu kita sendiri,

locianpwe? Dapatkah dikuasai dengan samadhi, dengan

latihan pernapasan, dengan bertapa?”

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. “Semua

usaha itu juga masih berada dalam lingkungan atau ruang

pekerjaan akal budi, pada hal akal budi kita sudah

dicengkeram nafsu. Usaha itu juga terbimbing oleh nafsu.

Karena kita melihat kerugian yang diakibatkan oleh pengaruh

nafsu, maka kita ingin menguasai nafsu. Siapa yang rugi? Kita

si akal budi, dan siapa yang ingin menguasai nafsu. Juga kita

sendiri, si akal budi yang sudah bergelimang nafsu. Jadi, nafsu

menguasai nafsu, menguasai hasilnya tentu masih nafsu pula,

hanya berbeda nama, akan tetapi pada hakekatnya sama,

yaitu nafsu yang ingin menyenangkan diri sendiri, ingin

menjauhkan diri dari kesusahan, ingin ini dan ingin itu yang

pamrihnya pementingan diri. Usaha itu hanya akan

mendatangkan hal yang nampaknya berhasil, namun pada

luarnya saja. Kalau sekali waktu kebutuhan mendesak, nafsu

yang nampaknya dapat “ditidurkan” melalui semua usaha itu,

akan bangun kembali bahkan lebih kuat dari pada yang sudah!

Satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengatur nafsu

dan mendudukkan kembali nafsu di tempat yang sebenarnya

sebagai abdi-abdi jiwa dalam kehidupan manusia, hanyalah

kekuasaan Sang Pencipta, yang menciptakan nafsu itu. Karena

itu, kita hanya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan Maha

Kasih, penyerahan total yang penuh kesabaran, ketawakalan

dan keikhlasan. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja dalam

diri kita. Nafsu-nafsu, termasuk nafsu berahi, akan tetap

bekerja, namun sebagai pembantu yang setia, bukan sebagai

majikan yang kejam.”

Sin Wan mengangguk-angguk. “Kalau sudah begitu, maka

perjodohan akan menjadi indah dan penuh kebahagiaan,

locianpwe?”

“Ho..ho..heh..heh, nanti dulu, orang muda! Perjodohan

adalah suatu segi kehidupan yang paling rumit! Bercampurnya

dua orang manusia yang berbeda watak dan selera, berbeda

keturunan, untuk hidup bersama selamanya, dalam sebuah

pernikahan, dimaksudkan untuk bersama-sama membangun

keluarga, terutama sekali bersama-sama merawat dan

mendidik anak-anak yang lahir dari pernikahan itu. Dan

mempertahankan kebersamaan selama puluhan tahun antara

kedua orang manusia ini membutuhkan kepribadian yang

luhur dan kesadaran serta kebijaksanaan yang tinggi. Apakah

cukup dengan cinta kasih saja? Memang itulah dasarnya, akan

tetapi tidak cukup dengan itu, Sin Wan. Di samping kasih

sayang, harus pula terdapat kebijaksanaan, kesetiaan,

bertanggung jawab dan memenuhi kewajiban masing-masing.

Kewajiban sebagai seorang suami atau isteri kemudian

kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu. Dan semua itu baru

akan berjalan mulus kalau didasari penyerahan kepada Tuhan

sehingga kekuasaan Tuhan yang akan menjadi penuntun dan

pembimbing.”

Percakapan terhenti karena munculnya Kui Siang. Gadis itu

nampak segar walaupun kedua matanya masih kemerahan.

Wajahnya tidak pucat lagi dan bibirnya tersenyum manis,

wajahnya cerah. Gadis itu membelalakkan mata terkejut

gembira melihat meja penuh hidangan yang masih panas.

“Aih, benar-benar locianpwe mengadakan pesta!” serunya

sambil duduk di sebelah Sin Wan seperti biasanya menghadapi

meja makan.

“Tentu saja! Peristiwa menggembirakan harus disambut

dan dirayakan!”

“Peristiwa menggembirakan yang manakah locianpwe?”

“Heh..heh, Kui Siang, masih pura-purakah engkau? Tentu

saja peristiwa menggembirakan antara kalian, pertunangan

kalian!”

Wajah gadis itu berubah merah sekali dan ia menundukkan

muka sambil mengerling ke arah Sin Wan.

“Sumoi, locianpwe telah mengetahui apa yang terjadi

antara kita. Beliau seperti guru kita sendiri, tidak perlu lagi kita

bersungkan kepadanya.”

“Heh-heh, benar sekali itu, Kui Siang. Bahkan aku kelak

ingin mewakili Sin Wan mengajukan pinangan atas dirimu

kepada keluargamu di kota raja.”

Kui Siang bangkit dan memberi hormat kepada kakek itu.

“Terima kasih atas kebaikan budimu, locianpwe. Akan tetapi,

sebaiknya hal itu tidak usah kita bicarakan sekarang.”

Gadis yang bijaksana, pikir Sin Wan bangga. “Ha, engkau

benar. Mari kita makan minum dan bergembira.”

Mereka makan minum dan saling memberi selamat melalui

cawan arak.

Setelah selesai makan, mereka bercakap-cakap dan Sin

Wan berkata, “Locianpwe, saya kira pertemuan yang akan

diadakan untuk memilih pimpinan kai-pang ini akan menjadi

ramai. Apakah locianpwe sudah mendapatkan keterangan

tentang tempat dan waktunya?” tanya Sin Wan.

“Sudah, akan diadakan nanti lewat tengah hari, dan

tempatnya di gedung milik pemerintah, yaitu di gedung

pertemuan bagian dari bangunan gedung kepala daerah Lokyang.”

Sin Wan memandang heran. “Di gedung pemerintah?”

“Tentu saja, dan aku girang sekali dengan itu, Sin Wan.

Agaknya pemerintah mencampuri dan pemerintah benar-benar

ingin melihat para kai-pang menggalang persatuan. Hal ini

membangkitkan semangatku, karena dengan bantuan dan

kerja sama dengan pemerintah, maka persatuan itu akan lebih

mudah dipulihkan seperti jaman perjuangan melawan

penjajah Mongol.”

“Akan tetapi, saya kira tidak akan semudah itu, locianpwe,”

kata Sin Wan. “Saya kira Bi-coa Sian-li akan hadir, dan saya

melihat pula seorang muda, mungkin berkebangsaan Jepang,

yang memiliki kepandaian lihai sekali. Anak buahnya pandai

menggunakan jala sebagai senjata.”

“Ahhh? Bi-coa Sian-li muncul, mungkin ia mewakili

ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong, dan kalau muncul pemuda

Jepang lihai dan orang-orang yang pandai menggunakan jala,

tentu mereka itu mewakli golongan bajak yang dikepalai oleh

datuk timur Tung-hai-liong! Wah, akan ramai kalau datuk

barat dan datuk timur itu muncul. Kita harus bersiap-siap dan

mari engkau matangkan latihan ilmu-ilmu yang sudah

kuajarkan kepadamu, Sin Wan.”

Memang selama ini, hampir setiap kesempatan

dipergunakan oleh kakek Bu Lee Ki untuk mengajarkan ilmuilmu

simpanannya kepada pemuda yang sudah lihai itu.

0oo0

Ruangan yang luas itu telah penuh orang yang pakaiannya

aneh-aneh. Demikian banyaknya orang yang hadir, tidak

kurang dari limapuluh orang, dan mereka semua memakai

pakaian yang pasti ada tambalannya! Ada pakaian kembangkembang,

ada pakaian warna-warni yang kainnya masih baru,

akan tetapi tetap saja ada tambalan pada pakaian itu. Inilah

tandanya bahwa mereka itu adalah orang-orang kai-pang

(perkumpulan pengemis).

Tentu saja yang hadir hanyalah para pimpinan, maka

mereka yang berada di ruangan itu adalah orang-orang yang

lihai. Di antara semua kai-pang yang diwakili pimpinan

masing-masing, yang menonjol penampilannya hanya empat

rombongan, yaitu rombongan Ang-kin Kai-pang yang menjadi

pimpinan seluruh kai-pang di daerah utara dan dipimpin oleh

Thio Sam Ki dan Ciok An, Lam-kiang Kai-pang perkumpulan

terbesar dari selatan yang dipimpin oleh ketuanya yang

bernama Kwee Cin, lalu perkumpulan terbesar di timur Hwa I

Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Siok Cu

yang diikuti beberapa orang, di antaranya seorang pemuda

Jepang yang pakaiannya menyolok karena berbeda dengan

pakaian para pimpinan kai-pang, kemudian dari barat Hek I

Kai-pang yang dipimpin ketuanya, Souw Kiat yang ditemani

pula oleh dua orang wanita yang tentu saja amat menarik

perhatian semua orang karena dua orang wanita itu selain

cantik jelita, juga pakaian mereka sama sekali tidak

menunjukkan bahwa mereka adalah golongan pengemis!

Selain para pimpinan empat kai-pang itu, semua adalah

pimpinan para kai-pang yang lebih kecil dan yang dalam

banyak hal mengekor saja kepada empat kai-pang besar itu.

Karena rapat besar itu diadakan di Lok-yang, di mana yang

berkuasa adalah Hwa I Kai-pang, maka perkumpulan inilah

yang bertindak sebagai tuan rumah, bahkan kepala daerah

Lok-yang meminjamkan gedung pertemuan itupun kepada

Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Siok-Pangcu (Ketua Siok) yang bertubuh pendek gemuk,

yaitu Siok Cu ketua Hwa I Kai-pang, duduk di bagian tuan

rumah, ditemani lima orang pembantu ketua dan pemuda

Jepang yang menjadi tamu kehormatan. Pemuda itu bukan

lain adalah Maniyoko, murid Tung-hai-liong yang mewakili

gurunya untuk merebut pimpinan para kai-pang agar kelak

dalam pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat) Tung-hai-liong

Ouwyang Cin memperoleh dukungan dari para kai-pang.

Menghadapi datuk timur itu, Siok Cu dan para pimpinan Hwa I

Kai-pang tidak mampu melawan dan terpaksa diapun

menyerah, walau dalam hati para pimpinan kai-pang tentu

saja tidak suka melihat para kai-pang dipimpin oleh seorang

yang bukan golongan pengemis, apa lagi seorang Jepang!

Mereka setuju setelah mendengar bahwa Tung-hai-liong dan

muridnya sama sekali tidak menginginkan pimpinan kai-pang,

melainkan hanya membutuhkan dukungan kai-pang agar kelak

dapat menjadi calon beng-cu yang memimpin seluruh dunia

persilatan seperti dikehendaki pemerintah. Kalau kedudukan

beng-cu sudah diperoleh, tentu saja Tung-hai-liong dan

muridnya tidak suka menjadi pemimpin para pengemis!

Siok Cu sebagai tuan rumah bangkit berdiri dan dia

memperkenalkan dua orang yang berpakaian perwira tinggi

dan yang duduk di tempat kehormatan dekat rombongannya.

“Kedua orang ciang-kun ini adalah wakil dari pemerintah,

dikirim oleh kepala daerah untuk menyaksikan pemilihan

pimpinan para kai-pang agar berjalan dengan tertib. Sekarang

kami harap saudara sekalian suka mengajukan calon masingmasing,

setelah semua calon diajukan, baru kita akan

mengadakan pemilihan dan pemungutan suara.”

Souw Kiat, ketua Hek I Kai-pang yang mewakili para kaipang

dari daerah barat bangkit berdiri. “Kami mengajukan

usul agar pemilihan seorang pemimpin besar kai-pang bukan

hanya berdasarkan banyaknya suara pemilih karena hal itu

dapat saja diatur lebih dahulu. Yang penting, seorang

pemimpin baru dapat kita hormati dan taati kalau dia

berwibawa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka dia

harus lebih lihai dari para calon lainnya. Jadi, harus diadakan

adu kepandaian untuk menentukan pemenangnya!”

Siok Cu yang sudah mendapat perintah dari Maniyoko,

bangkit dan menyatakan persetujuan. “Kami dari Hwa I KaiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pang dan para kai-pang di daerah timur setuju dengan usul

dari Hek I Kai-pang. Bagaimana dengan para saudara dari

selatan dan utara?”

Kwee Cin, ketua Lam-kiang Kai-pang dari selatan, bangkit.

“Sebelum dilakukan pemilihan, kami ingin bertanya, mengapa

diadakan pemilihan lagi kalau kita dahulu sudah mempunyai

seorang pimpinan? Bukankah semua kai-pang sudah

mempunyai pimpinan, yaitu locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee

Ki? Bukankah beliau yang dahulu memimpin kita semua

membantu perjuangan mengenyahkan penjajah Mongol?

Biarpun sudah bertahun-tahun beliau tidak aktip, akan tetapi

beliau belum berhenti atau diperhentikan sebagai pimpinan,

kenapa sekarang kita melakukan pemilihan pimpinan baru?”

Mendengar ini, Thio Sam Ki bangkit berdiri pula dan

mengacungkan tangan.

“Kami dari utara juga setuju dengan pendapat ketua Lamkiang

Kai-pang tadi. Kami mempertahankan locianpwe Pek-sim

Lo-kai sebagal pimpinan para kai-pang!”

Ucapan kedua orang ketua itu disambut meriah dan

ternyata sebagian besar para pangcu yang hadir menyetujui

pendapat itu. Souw Kiat yang sudah ditekan oleh Bi-coa Sianli,

membantah.

“Sudah bertahun-tahun sejak penjajah kalah, Pek-sim Lokai

menghilang. Kita tidak tahu apakah beliau masih hidup

ataukah sudah mati. Bagaimana kita dapat bersatu tanpa

pimpinan? Kita harus mengadakan pemilihan pimpinan baru.”

“Kami setuju! Andaikata Pek-sim Lo-kai masih hiduppun,

jelas dia telah meninggalkan kewajibannya, telah

mengacuhkan kita semua. Tidak pantas dia dipertahankan,”

kata Siok Cu dari Hwa I Kai-pang yang sudah terpengaruh

oleh Maniyoko.

Diam-diam Thio Sam Ki dan wakilnya, Ciok An, memandang

ke sekeliling dengan gelisah. Kenapa orang yang mereka

tunggu-tunggu tidak muncul? Bagaimana mungkin mereka

dapat mempertahankan dan menjagoi Pek-sim Lo-kai kalau

orangnya tidak hadir? Akan tetapi, ketika semua pangcu

dipersilakan mengajukan nama calon masing-masing, Ang-kin

Kai-pang tetap mengajukan nama Pek-sim Lo-kai sebagai

calon. Juga Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang berkeras

menjagoi dan mempertahankan Pek-sim Lo-kai.

Siok Cu sebagai tuan rumah dan penyelenggara rapat, lalu

mengumumkan dengan suara lantang bahwa yang diajukan

oleh para peserta rapat ada enam calon. Pertama adalah Peksim

Lo-kai yang tidak hadir akan tetapi ketika nama ini

diumumkan, lebih dari separuh jumlah yang hadir menyambut

dengan tepuk tangan. Calon kedua adalah Maniyoko murid

dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, datuk timur yang namanya

sudah dikenal semua orang.”

“Kami tidak setuju!” seru Thio Sam Ki. “Bukan kami

memandang remeh kepada locianpwe Tung-hai-liong

Ouwyang Cin, akan tetapi beliau dan muridnya bukan

golongan pengemis, bagaimana mungkin menjadi pemimpin

kita?”

“Thio-pangcu, pengemis atau bukan hanya ditandai oleh

pakaiannya, apa sukarnya bagi calon kami untuk mengenakan

pakaian pengemis? Yang penting bukan pakaiannya, akan

tetapi kepandaiannya dan kemampuannya! Kami melanjutkan

dengan calon-calon yang lain,” kata Siok Cu dengan lantang,

“Calon ke tiga adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In puteri dari

locianpwe See-thian Coa-ong Cu Kiat.”

“Wah, kami keberatan! kini Kwee Cin ketua Lam-kiang Kaipang,

“Bagaimana mungkin kita akan dipimpin seorang

wanita? Kami semua sudah mengenal nama Bi-coa Sian-li,

apalagi See-thian Coa-ong, akan tetapi mereka adalah

golongan lain, tidak ada sangkut-pautnya dengan para kaipang!”

Souw Kiat bangkit dan membela calonnya, tentu saja

karena dia ditekan oleh Sui In. “Seperti juga calon kedua tadi,

calon ketiga pun pantas menjadi pemimpin karena

kemampuannya. Untuk apa dipimpin seorang berpakaian

pengemis kalau dia tidak mampu? Siok Pangcu, lanjutkan

dengan nama para calon lainnya!”

Ada tiga orang calon lainnya yang diajukan oleh para kaipang.

Mereka adalah tiga orang pengemis berusia

enampuluhan tahun yang merupakan tokoh-tokoh dalam

dunia pengemis, dihormati karena mereka adalah orang-orang

yang gagah walaupun mereka tidak pernah mau menjabat

kedudukan ketua.

Mereka adalah orang-orang yang hanya dikenal julukan

mereka saja di dunia para pengemis, yaitu Koai-tung Lo-kai

(Pengemis Tua Tongkat Aneh), Hek-bin Lo-kai (Pengemis Tua

Muka Hitam) dan Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul

Anjing). Mereka adalah pengemis-pengemis petualang yang

tidak tergabung dalam salah satu kai-pang, nama mereka

dikenal dan dihormati semua pengemis. Para calon

dipersilakan naik ke panggung yang sudah dipersiapkan

diruangan itu dan begitu mereka berdiri berjajar, nampaklah

perbedaan yang menyolok.

Tiga orang calon yang berpakaian butut adalak kakekkakek

tua yang nampak buruk sekali diapit dua orang muda

yang elok. Maniyoko yang berdiri di ujung kiri nampak tampan

walaupun agak pendek, dan gagah dengan cambang tebal

sampai dagu dan pedang samurai tergantung di belakang

punggung. Sedangkan di ujung kanan berdiri seorang gadis

yang amat cantik, yang bukan lain adalah Lili! Begitu maju, ia

tadi berkata dengan suara lantang kepada semua yang hadir.

“Aku Tang Bwe Li mewakili suci (kakak seperguruan) Cu Sui

In untuk mengalahkan semua calon!” Sambil berkata

demikian, ia memandang kepada Maniyoko dengan sinar mata

mencorong penuh kebencian, dan sinar mata itu jelas

menyatakan betapa Lili ingin membalas dendam karena ia

pernah dicurangi, dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda

Jepang itu! Pemuda itu tersenyum saja, senyum tenang

mengejek karena dia sama sekali tidak gentar menghadapi

gadis cantik itu.

Melihat ini, Thio Sam Ki segera bangkit dan berteriak, “Ini

sudah menyalahi peraturan! Calonnya sendiri yang harus

maju, tidak boleh diwakili orang lain!”

Lili memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang itu dan

tersenyum manis, lalu berkata lantang. “Pangcu, engkau

sendiri mengajukan Pek-sim Lo-kai sebagai calon, mana

orangnya? Suci terlalu tangguh untuk dihadapi calon-calon ini.

Akupun sudah cukup. Nanti kalau Pek-sim Lo-kai sendiri

muncul, barulah ada harganya untuk menandingi suciku!”

Siok-Pangcu menengahi dan mengijinkan Lili mewakill

sucinya, dengan catatan bahwa kalau Lili kalah, berarti sucinya

dinyatakan gagal. Kemudian dia membuat undian dan

memang sudah diaturnya, yang keluar sebagai orang-orang

yang harus bertanding pertama kali adalah Maniyoko melawan

Koai-tung Lo-kai.

Sebelum pertandingan pertama dimulai, dia

mengumumkan. “Karena seorang calon tidak hadir, maka

namanya dicoret dari daftar calon terpilih!”

“Nanti dulu, kami tidak setuju!” teriak Thio Sam Ki. “Kami

yang menanggung bahwa Pek-sim Lo-kal pasti akan hadir.

Kalau pertandingan ini selesai dan beliau belum hadir, boleh

saja beliau dinyatakan gagal!”

Para pendukung Pek-sim Lo-kai memberikan suara setuju

mereka dan terpaksa Siok Cu mengalah dan menerima usul

itu.

Pertandingan antara Maniyoko dan Koai-tung Lo-kai segera

dimulai dan para calon lain kembali ke tempat duduk masingmasing.

Maniyoko bertangan kosong saja menghadapi Koaitung

Lo-kai yang mempergunakan tongkatnya. Sebetulnya,

Koai-tung Lo-kai, seperti dua orang kakek pengemis lainnya,

tidak berambisi untuk menjadi pimpinan kai-pang. Akan tetapi

orang yang mereka pandang dan harapkan, yaitu Pek-sim Lokai,

tidak hadir. Terpaksa mereka maju, bukan saja untuk

memenuhi pilihan para kai-pang, juga untuk mencegah agar

dua orang muda itu tidak sampai merebut kedudukan

pemimpin kai-pang!

Akan tetapi ternyata tingkat kepandaian Koai-tung Lo-kai

yang hanya lebih sedikit dibandingkan tingkat para ketua kaipang,

bukan lawan Maniyoko yang lihai itu. Dalam waktu

kurang dari duapuluh jurus saja, tongkat di tangan Koai-tung

Lo-kai telah dapat dirampas Maniyoko dan sebuah tendangan

kilat membuat kakek itu terlempar turun panggung! Maniyoko

tertawa dan melemparkan tongkat itu ke bawah panggung, di

mana Koai-tung Lo-kai dibantu bangkit oleh para pengemis

yang mencalonkannya.

“Ha..ha..ha, hanya sebegitu saja kepandaian seorang calon

yang hendak memimpin para kai-pang di seluruh negeri?

Sungguh lucu! Orang begitu lemah bagaimana akan mampu

memimpin seluruh kai-pang? Hayo, silakan calon lain maju

karena pertandingan yang tadi sama sekali tidak membuat aku

berkeringat!” kata Maniyoko dengan nada dan lagak sombong.

Hek-bin Lo-kai yang menjadi sahabat baik Koai-tung Lo-kai

dan yang memiliki watak keras, mendengar ucapan Maniyoko

menjadi marah dan diapun meloncat ke atas panggung.

“Engkau ini orang Jepang berani mencampuri urusan kai-pang

dan berlagak sombong! Aku yang akan menghadapimu,

keparat!”

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ hadir dua orang

panglima dari pemerintah dan disitu berkumpul pula seluruh

pimpinan kai-pang, tentu Maniyoko sudah menjadi marah dan

membunuh kakek bermuka hitam di depannya. Akan tetapi dia

sudah mendapat pesan gurunya agar tidak menimbulkan

kekacauan, maka dia tersenyum menghadapi kakek bermuka

hitam itu.

“Hek-bin Lo-kai, orang lain boleh merasa gentar melihat

mukamu yang hitam menakutkan, akan tetapi aku tidak.

Majulah dan perlihatkan kepandaianmu!” Maniyoko

menantang.

Hek-bin Lo-kai mengeluarkan bentakan nyaring dan diapun

sudah menyerang dengan tangan kosong. Dia terkenal

sebagai seorang kakek yang memiliki tenaga besar.

Namun, Maniyoko menyambut dengan gerakannya yang

amat ringan dan gesit sehingga semua terkaman, hantaman

dan tendangan kakek bermuka hitam itu tak pernah

menyentuh tubuhnya.

Kembali belasan jurus lewat dan ketika Hek-bin Lo-kai

kembali memukul ke arah kepala lawan, Maniyoko

merendahkan tubuhnya dan begitu tangan kakek itu meluncur

lewat di atas kepalanya, dia menangkap pergelangan tangan

kanan kakek itu dan sekali dia membuat gerakan merendah,

membalik dan membanting, tubuh kakek itu terlempar keluar

panggung dan jatuh terbanting ke atas lantai di bawah

panggung!

Terdengar sorak sorai dari para pimpinan Hwa I Kai-pang

dan para kai-pang pengikutnya di daerah timur yang menjagoi

Maniyoko.

Maniyoko tertawa, “Masih ada lagikah?” teriaknya dengan

lagak semakin sombong.

“Orang Jepang, akulah lawanmu!” terdengar bentakan dari

Ta-kau Sin-kai, kakek pengemis ketiga, meloncat naik ke atas

panggung sambil memutar tongkatnya. Akan tetapi dari lain

jurusan, nampak berkelebat bayangan lain dan tahu-tahu di

situ telah berdiri Lili!

“Nona, biarkan aku menghajar orang Jepang sombong ini!”

teriak Ta-kau Sin-kai.

Lili tersenyum. “Kakek pengemis, engkau berjuluk Ta-kau

Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing). Memang dia ini

seperti anjing yang layak dipukul, akan tetapi engkau tidak

akan menang dan engkau bahkan akan digigit olehnya. Dia ini

anjing gila, kalau menggigit berbahaya. Biarlah aku yang akan

menghajarnya!”

“Tidak, nona!” kata Ta-kau Sin-kai yang merasa penasaran

melihat dua orang rekannya tadi dikalahkan, dan dia sudah

memutar tongkatnya menyerang Maniyoko. Akan tetapi, Lili

menghadangnya sehingga kini di atas panggung terdapat tiga

orang dan suasana menjadi agak kacau. Kakek itu ingin

menyerang Maniyoko, akan tetapi gadis itu selalu

menghalanginya.

Tiba-tiba terdengar seruan lantang dari seorang panglima

yang hadir di situ. “Tidak boleh seperti itu! Calon dari daerah

timur harap turun karena sudah dua kali bertanding dan

biarkan calon dari barat, nona itu bertanding melawan Ta-kau

Sin-kai!”

Mendengar ini Maniyoko tertawa dan diapun kembali ke

tempat duduknya sehingga Lili berhadapan dengan Ta-kau

Sin-kai. Gadis itu cemberut memandang kepada kakek

pengemis itu. “Kek, engkau hanya menghalangi aku untuk

menghajar manusia sombong tadi. Kenapa engkau tidak cepat

kembali saja ke tempatmu semula dan mengaku kalah!”

Kalau tadi Ta-kau Sin-kai marah kepada Maniyoko, kini

menghadapi Lili dia tersenyum. “Nona, aku biarpun tua telah

dipilih oleh beberapa pimpinan kai-pang, bagaimanapun juga,

aku harus menghargai mereka dan berusaha untuk

memenangkan pemilihan ini. Nah, marilah kita menguji

kepandaian masing-masing nona.”

“Hemm, engkau mencari penyakit. Lihat seranganku!” kata

Lili dan tubuhnya sudah bergerak cepat, bagaikan seekor ular

saja tangan kirinya sudah meluncur ke depan, tangannya

membentuk kepala ular dan tangan itu menyambar ke arah

muka Ta-kau Sin-kai. Kakek itu mengelak dengan kaget, akan

tetapi tangan kanan gadis itu menyusul dan serangannya

bertubi-tubi, seperti dua ekor ular yang menyerang

bergantian, semua serangan ditujukan ke arah jalan darah,

merupakan totokan yang amat cepat. Saking cepatnya

gerakan kdua tangan Lili, kakek itu sama sekali tidak mampu

membalas, hanya mengelak dan akhirnya terpaksa dia

menangkis dengan tongkatnya. Tidak mungkin dia

menggunakan ilmunya memukul anjing karena yang

dihadapinya adalah lawan yang gerakannya seperti ular! Dan

ketika dia menangkis, itulah kesalahannya karena memang Lili

menghendaki lawan menangkis.

“Plakkk!” tongkat bertemu tangan yang membentuk kepala

ular dan seperti seekor ular, pergelangan tangan gadis itu

memutar dan tahu-tahu tongkat itu telah terbelit pergelangan

dan tangan, lalu tangan kirinya menotok ke depan.

Ta-kau Sin-kai terkejut karena tahu-tahu tubuhnya menjadi

kaku tak mampu bergerak, sedangkan tongkatnya berpindah

tangan! Dia menjadi pucat, maklum bahwa dia akan menderita

malu, akan tetapi gadis itu berseru, “Terimalah kembali

tongkatmu!” dan tongkat itu bergerak cepat memulihkan

totokannya dan telah berada di tangannya kembali!

Tentu saja dia menjadi kagum dan maklum bahwa tingkat

kepandaian gadis ini luar biasa tingginya, dan sama sekali

bukan lawannya. Dengan muka merah dia lalu memberi

hormat.

“Aku mengaku kalah!” Diapun melompat turun dari

panggung dengan hati bersyukur karena gadis itu telah

menghindarkan ia dari malu. Kalau bukan orang yang berniat

baik, tentu dia telah dibunuh atau setidaknya dilukai, demikian

pikir Ta-kau Sin-kai.

Pada saat Lili hendak menantang Maniyoko sebagai lawan

tunggal, tiba-tiba suasana menjadi kacau dan semua orang

berdiri memandang ke arah tiga orang yang baru masuk.

“Pek-sim Lo-kai telah tiba!”

“Hidup Thai-pangcu ( Ketua Besar)!”

“Pimpinan kita telah kembali!”

Teriakan-teriakan penuh kegembiraan menyambut

munculnya Bu Lee Ki yang diiringkan Sin Wan dan Kui Siang.

Ketika Lili melihat munculnya Sin Wan, wajahnya berubah

merah. Tadi ia sudah menyatakan bahwa ia mewakili sucinya

yang hanya pantas keluar turun tangan sendiri kalau Pek-sim

Lo-kai muncul, maka kini ia menjadi bingung dan ia segera

meloncat mendekati sucinya yang juga memandang tajam ke

arah kakek yang memasuki ruangan itu sambil tersenyumsenyum

penuh keharuan. Memang hati Bu Lee Ki terharu

melihat penyambutan itu, tanda bahwa dia masih dihargai dan

diharapkan kepimpinannya.

Sementara itu, melihat munculnya orang yang tidak

disangka-sangkanya itu. Maniyoko sudah meloncat ke tengah

panggung. “Tadi Pek-sim Lo-kai dicalonkan menjadi pemimpin

baru, sekarang aku menantangnya untuk tampil ke depan

mengadu kepandaian!”

Teriakan ini disambut oleh para pendukungnya. Para

pendukung adalah mereka yang merasa telah melakukan

penyelewengan sehingga mereka khawatir bahwa kalau Peksim

Lo-kai yang terkenal keras berdisiplin menduduki

jabatannya kembali, tentu mereka akan dihukum atau

setidaknya, tidak akan bebas melakukan apa yang mereka

suka.

Melihat pemuda Jepang yang pernah dihadapinya untuk

menolong Lili yang tertawan, Sin Wan berbisik kepada Bu Lee

Ki. Kakek itu mengangkat muka memandang dan dia

mengangguk. Dengan tenang Sin Wan lalu menghampiri

panggung dan melompat ke atasnya, berhadapan dengan

Maniyoko.

Sin Wan menghadap ke arah rombongan tuan rumah, lalu

memberi hormat ke sekeliling. Dia bersama sumoinya dan

kakek Bu Lee Ki sejak tadi mengintai dan sudah mendengar

dan melihat apa yang terjadi, dan baru muncul setelah kakek

itu memberi isarat.

“Cu-wi (anda sekalian) hendaknya mengenal saya sebagai

wakil locianpwe Pek-sim Lo-kai menghadapi pemuda Jepang

ini! Beliau terlalu tinggi kedudukannya untuk melayani segala

macam pengacau seperti ini.”

Mendengar ini, Maniyoko menjadi marah sekali. “Singgg

……!!” nampak sinar menyilaukan mata ketika pedang samurai

di punggung itu dicabutnya. “Keparat sombong, keluarkan

Senjatamu!” bentak Maniyoko sambil mengelebatkan

pedangnya yang amat tajam menyeramkan itu.

Sin Wan yang sudah tahu akan kedahsyatan ilmu pedang

lawan, mencabut pedangnya dan semua orang tertegun.

Sebatang pedang yang buruk dan tumpul.

Melihat ini, para pendukung Maniyoko tertawa dan ada

yang berteriak mengejek. “Pedang Tumpul! Pedang Tumpul

yang buruk!”

Kakek Bu Lee Ki yang sudah disambut dengan hormat oleh

Thio Sam Ki dan Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang,

dipersilakan duduk, kini berseru dari tempat duduknya,

“Ha..ha, memang dia itu Pendekar Pedang Tumpul, dan

jangan pandang rendah pedangnya itu heh..heh!”

Akan tetapi Maniyoko sudah mempergunakan kesempatan

yang menguntungkan itu, selagi para pendukungnya

mengejek dan mentertawakan lawan, dengan cepat berteriak,

“Sambut pedangku!” dan diapun menyerang dengan

dahsyatnya.

Sin Wan cukup waspada dan diapun mengelak dengan

geseran kakinya.

Maniyoko sudah pernah menyerang Sin Wan dan tahu akan

kecepatan gerakan pemuda ini, maka dia tidak mau memberi

kesempatan kepada lawan. Samurainya menyambar-nyambar,

sambung menyambung dan setiap kali samurainya luput

menyambar lawan, pedang itu sudah membalik dengan

serangan yang lebih hebat. Dia mempergunakan kedua

tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga

terdengar bunyi berdesing-desing ketika samurai itu berubah

menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Karena dia belum mengenal ilmu pedang lawan yang aneh

Sin Wan lalu mempergunakan ilmu langkah ajaib yang barubaru

ini dipelajarinya dari kakek Bu Lee Ki, yaitu Langkah

Angin Puyuh, membuat tubuhnya berputar-putar dengan

cepat akan tetapi selalu dapat menghindar dari sambaran

pedang samurai itu.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Wan dapat melihat

jalannya ilmu pedang lawan, bahkan mengetahui bagianbagiannya

yang lemah. Setelah yakin bahwa dia dapat

mengetahui ilmu pedang lawan, barulah pedang tumpul di

tangannya menyambar dari samping.

“Tangggg …….!!!” Nampak bunga api berpijar dan nampak

pula betapa tubuh Maniyoko hampir terpelanting. Dia

terhuyung, akan tetapi dengan cekatan dia dapat berjungkir

balik tiga kali sehingga tidak sampai terbanting roboh.

Cepat dia memeriksa samurainya dan matanya terbelalak

melihat betapa ujung samurainya patah beberapa sentimeter!

Samurainya dapat patah! Hanya oleh pedang tumpul dan

buruk saja! Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti dia tidak

akan percaya. Akan tetapi di samping kekagetan dan

keheranan ini, Maniyoko menjadi marah bukan main.

Jilid 10 Tamat

“HYAAAATTT …….!!” Dia mengeluarkan pekik melengking

panjang dan tubuhnya sudah menerjang dengan cepat,

menyerang dengan samurainya yang menyambar ke arah

leher Sin Wan.

“Singgg …… singgg …… singgg ……..!!” Pedang samurai itu

menyambar-nyambar dan biarpun ujungnya sudah patah,

namun senjata itu masih berbahaya sekali. Jangankan tubuh

seorang manusia, biar sebatang pohon yang kokohpun, sekali

terkena sambaran samurai ini tentu akan tumbang!

Namun, Sin Wan yang sudah waspada, menggunakan

kecepatan gerakannya mengelak dan ketika dia berhasil

berkelebat ke samping kiri Maniyoko, pedang tumpulnya

menusuk dan karena pedang itu tumpul, maka dapat dia

pergunakan untuk menotok punggung lawan.

“Dukkk!” Maniyoko merasa betapa tubuhnya kejang-kejang.

Dia berusaha untuk membuyarkan pengaruh totokan itu

dengan bergulingan. Tubuhnya bergulingan dan akhirnya dia

jatuh ke bawah panggung dan samurainya terlepas ketika dia

terjatuh, dan tubuhnya masih lemas sehingga dia perlu

dibantu oleh para anak buahnya, dipapah kembali ke tempat

duduknya. Matanya melotot dan mukanya berubah merah,

apalagi ketika terdengar suara sorak dan tepuk tangan

meledak, menyambut kemenangan pemuda yang mewakili

Pek-sim Lo-kai itu.

“Hidup Pendekar Pedang Tumpul …….!!” teriak mereka.

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Lili telah

berdiri di depan Sin Wan. Semua orang memandang dengan

hati berdebar penuh ketegangan. Mereka tadi sudah melihat

kelihaian gadis cantik itu yang dengan amat mudahnya

mengalahkan kakek pengemis Ta-kau Sin-kai yang terkenal.

Sementara itu, Sin-Wan menghadapi Lili dengan alis

berkerut pula. Sama sekaii tidak disangkanya bahwa gadis ini

terlibat pula dalam urusan pemilihan pimpinan kai-pang, dan

diapun melihat Bi-coa Sian-li hadir di sana.

“Hemm, kiranya engkau Pendekar Pedang Tumpul yang

ingin menjadi pemimpin kaum jembel, ya?” Lili berkata

mengejek.

“Lili, mungkin kehadiranku sama dengan kehadiranmu,

hanya menjadi wakil. Kuharap engkau tidak menentangku,

karena kiranya kurang pantas kalau seorang gadis seperti

engkau ikut terlibat dalam pemilihan pemimpin kai-pang

seperti ini.”

“Sin Wan, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata Lili dengan

muka merah. “Ada tiga perkara yang mengharuskan aku

menentangmu dan di sinilah kita akan menentukan siapa lebih

unggul. Pertama, engkau tadi lancang maju melawan si

Jepang itu sehingga aku kehilangan kesempatan

menghajarnya. Ke dua, engkau dan aku sama-sama mewakili

calon pemimpin kai-pang, dan ke tiga, karena aku …… aku

benci padamu! Nah, cabutlah pedangmu!” Gadis itu sudah

mencabut sebatang pedang dan nampak sinar putih

berkelebat menyilaukan mata.

Sin Wan tadi telah menyarungkan kembali pedangnya

setelah mengalahkan Maniyoko, sekarang dia ragu-ragu untuh

mencabut pedang melawan Lili, gadis yang mendatangkan

kesan mendalam di hatinya itu.

Melihat keraguan Sin Wan sedangkan gadis itu sudah

mencabut pedang dan siap siaga, Kui Siang yang sejak tadi

memandang penuh perhatian karena ia mengenal gadis itu

sebagai gadis yang pernah dilihatnya tertidur di pangkuan Sin

Wan, segera berseru dari tempat duduknya. “Suheng, kalau

engkau lelah, biar aku yang mewakilimu menghadapinya!”

Sin Wan terkejut. Dia teringat betapa sumoinya pernah

melihat Lili, bahkan sampai cemburu, maka kalau sumoinya

yang maju, tentu akan terjadi pertandingan mati-matian.

Tidak, dia tidak boleh membiarkan dua orang gadis itu

berhadapan sebagai lawan, maka cepat dia mencabut

pedangnya dan menoleh ke arah Kui Siang.

“Sumoi, tidak perlu engkau turun tangan. Aku yang

mewakili Bu-locianpwe,” katanya sambil menghadapi Lili

dengan sikap tenang.

“Kalau engkau mendesak, apa boleh buat. Majulah, aku

sudah siap.”

“Sin Wan, sekali ini engkau akan mati ditanganku!” gadis

itu berseru penuh kemarahan. Akan tetapi aneh, suaranya lirih

dan mengandung suara serak seperti isak tertahan! Akan

tetapi pada saat itu, sinar putih menyambar-nyambar dan

sinar itu bergulung-gulung dengan dahsyat sekali.

Sin Wan bersikap waspada dan diapun berloncatan ke

belakang sambil mengatur langkah untuk menghindarkan diri.

Diapun kagum dan terkejut. Pedang putih yang dimainkan

gadis itu memang hebat bukan main, seperti gerakan seekor

ular yang amat ganas!”

Itulah Pek-coa-Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Putih) yang

biarpun pada dasarnya sama dengan Ilmu pedang Hek-coa

Kiam-sut (Iimu Pedang Ular Hitam) yang dikuasai Cu Sui In,

akan tetapi ilmu pedang ciptaan See-thian Coa-ong ini dapat

berkembang sesuai dengan watak orang yang menguasainya.

Dasarnya adalah gerakan ular cobra dan setelah dikuasai Lili,

maka gerakan itu mengandung keganasan yang terbuka,

sebaliknya Sui In mempunyai gerakan yang penuh tipu

muslihat. Bagaimanapun juga, karena diciptakan seorang ahli

yang amat lihai, maka ilmu pedang itu dahsyat sekali dan

mengejutkan hati Sin Wan.

Namun, pemuda ini telah menerima gemblengan yang

masak dari Sam-sian, apalagi setelah mengusai Sam-sian Sinkun,

maka Sin Wan seolah-olah kini teiah menguasai

kepandaian ketiga orang gurunya digabung menjadi satu! Ini

semua masih disempurnakan oleh gemblengan kakek Bu Lee

Ki yang walaupun hanya mengajarnya selama beberapa hari

saja, namun jurus-jurus simpanan yang ampuh telah diajarkan

kepada Sin Wan. Dengan bekal kepandaian yang hebat itu,

ditambah sebatang pedang mustika seperti Pedang Tumpul,

maka tentu saja tingkat kepandaian Sin Wan sudah mencapai

ketinggian yang tidak dapat ditandingi oleh Lili.

Akan tetapi, hati Sin Wan gelisah juga. Dia harus

menangkan pertandingan ini demi kakek Bu Lee Ki. Dia harus

dapat menangkan Lili, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung

perasan gadis itu, apa lagi melukainya! Dia merasa kasihan

kepada gadis ini, dan dia dapat merasakan bahwa pada

dasarnya, Lili bukanlah seorang gadis yang berhati jahat. Dia

gagah dan baik. Akan tetapi sikapnya ganas dan hal ini mudah

dimengerti kalau gadis itu sejak kecil bergaul dengan seorang

datuk sesat seperti Bi-coa Sian-li!

Dia harus memenangkan pertandingan ini tanpa melukai

badan dan perasaan hati Lili, dan inilah yang sukar! Maka, dia

lalu memutar pedangnya untuk membuat pertahanan

sekuatnya sehingga sinar pedang putih bergulung-gulung itu

tidak akan mampu mengenai dirinya sambil diam-diam dia

memutar otak menanti kesempatan dan mencari cara yang

sebaiknya agar dapat menang tanpa melukai.

Semua orang menonton dengan hati kagum. Yang nampak

hanya dua gulungan sinar, yaitu sinar putih yang gerakannya

amat lincah, menyambar-nyambar, dan gulungan sinar

kehijauan yang membentuk lingkaran. Indah sekali, akan

tetapi juga menegangkan hati.

Akan tetapi yang merasa gemas sehingga hampir menangis

adalah Lili! Ia sudah memainkan Pek-coa-kiam dengan

pengerahan tenaga sekuatnya, akan tetapi ia merasa seperti

menghadapi benteng baja yang amat kuat, dan ke manapun

sinar pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan benteng

itu dan pedangnya membalik setelah terdengar suara

berdencing dan ia merasa betapa telapak tangannya panas

dan lengan kanannya tergetar hebat!

Tahulah ia bahwa pemuda itu hanya bertahan diri, tidak

membalas serangannya, namun ia kehabisan akal karena

pedangnya tidak mampu menembus gulungan sinar kehijauan

yang membentuk benteng itu. Ia tidak akan merasa begitu

gemas dan ingin menangis kalau saja Sin Wan mau membalas

serangannya. Memang ia sudah tahu bahwa pemuda ini amat

lihai, dan ia tidak akan merasa penasaran kalau kalah, akan

tetapi sikap Sin Wan yang hanya bertahan dan membuat ia

tidak berdaya itu sungguh dianggapnya terlalu

merendahkannya!

Telah hampir limapuluh jurus lewat dan belum juga ujung

pedang Lili mampu menyentuh ujung baju Sin Wan! “Keparat,

balaslah!” Lili menghardik dengan suara berbisik, mendongkol

bukan main. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan

napasnya agak memburu karena ia terus menerus melakukan

penyerangan dengan nafsu menggelora, penuh kemarahan.

Sejak tadi Sin Wan sudah mempelajari Gerakan yang

seperti ular itu, dan dia tahu bahwa hanya dengan gerakan

seperti seekor burung dari udara sajalah dia akan mampu

mematahkan serangan gadis itu dan membalas dengan

serangan yang akan mengalahkannya tanpa melukainya.

Maka, ketika pedang bersinar putih itu menyambar lagi,

tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah dan dia

menyerang dengan dahsyat. Pedang Tumpul di tangannya itu

mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Lili terkejut sekali dan cepat la memutar pedangnya ke

atas, seperti seekor ular cobra yang mengangkat tubuh atas

untuk melawan musuh dari atas.

“Trakkkk!” Pedang di tangan Lili bertemu dengan Pedang

Tumpul dan ia tidak dapat menggerakkan pedangnya yang

seolah menempel dan tersedot oleh pedang buruk itu, dan

pada saat itu, tangan kiri Sin Wan bergerak cepat ke arah

kepalanya dan rambut gadis itu yang panjang dan hitam,

terlepas dari sanggul dan ikatannya, terurai riap-riapan

menutupi kedua pundak dan punggung!

Lili menjerit dan melompat ke belakang, meraba kepalanya.

Ternyata tusuk sanggul batu kemala berikut tali suteranya

telah lenyap dan berada di tangan kiri Sin Wan yang sudah

meloncat turun dan berdiri tegak di depannya.

Demikian cepat gerakan pemuda itu sehingga jarang ada

yang dapat melihat bahwa pemuda ltu telah mencabut tusuk

sanggul dan pita. Mereka yang menonton pertandingan itu

hanya melihat betapa rambut gadis itu tiba-tiba saja terurai

lepas sehingga pertandingan terhenti.

“Maafkan aku, Lili …….” kata Sin Wan lirih.

Wajah gadis itu tadi berubah pucat karena ia tahu apa yang

terjadi, kini wajah itu menjadi merah sekali dan ia sudah

memutar pedangnya hendak menyerang lagi. Akan tetapi

pada saat itu berkelebat bayangan orang, seperti seekor

burung saja bayangan itu melayang ke atas panggung.

“Sumoi, mundurlah ………!” Dan tahu-tahu di situ telah

berdiri Bi-coa Sian-li Cu Sui In.

Lili memandang sucinya, tahu bahwa sucinya memaklumi

apa yang telah terjadi, maka dengan alis berkerut ia menatap

wajah Sin Wan, lalu terdengar suaranya lirih namun ketus.

“Kelak akan kutebus semua ini!” dan iapun meloncat turun

dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram.

“Sin Wan, engkau turunlah!” Kakek Bu Lee Ki berjalan

perlahan menuju ke panggung itu dan Sin Wan mengangguk,

lalu mengundurkan diri. Kini kakek Bu Lee Ki berdiri

berhadapan dengan Sui In.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang panglima tadi bangkit

berdiri dan seorang di antara mereka berseru nyaring.

“Hentikan semua pertandingan!”

Tentu saja Sui In merasa penasaran dan ia memandang

kepada mereka itu. Juga kakek Bu Lee Ki memandang kepada

mereka. Panglima yang bertubuh tinggi kurus lalu berkata

dengan suara lantang.

“Baru saja kami menerima berita bahwa menurut

keputusan yang merupakan perintah dari Raja Muda Yung Lo

di Peking, kedudukan pemimpin kai-pang diserahkan kembali

kepada Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Hal itu mengingat bahwa dia

yang dahulu menjadi pemimpin, bahkan dia pula yang

memimpin seluruh kai-pang menbantu perjuangan mengusir

penjajahan Mongol. Dan melihat hasil pertandingan adu

kepandaian, ternyata wakil dari Bu-Locianpwe yang menang.

Oleh karena itu, kami sebagai wakil pemerintah memutuskan

dan menganjurkan agar pertandingan dihentikan dan

locianpwe Bu Lee Ki diangkat kembali menjadi pemimpin para

kai-pang!”

Terdengar sorak sorai menyambut ucapan ini.

Panglima itu mengangkat kedua tangan ke atas dan semua

orang berdiam diri, “Agar pemilihan ini adil, maka kami minta

pendapat empat buah kai-pang yang terbesar, yang mewakili

seluruh kai-pang di empat penjuru. Ang-kin Kai-pang wakil

utara, bagaimana pendapat kalian?”

Thio Sam Ki bangkit berdiri dan mengangkat tangan

kanannya. “Kami setuju sepenuhnya kalau locianpwe Bu Lee

Ki menjadi pemimpin kai-pang!”

“Lam-kiang Kai-pang wakil selatan, bagaimana pendapat

kalian?”

Kwee Cin bangkit dan dengan wajah berseri berkata, “Kami

setuju!”

“Bagaimana dengan Hek I Kai-pang wakil barat?”

Souw Kiat bangkit dia dengan suara lantang yang

mengejutkan Sui In dan Lili, ketua Hek I Kai-pang ini berkata,

”Kami juga setujui”

Ketua Hek I Kai-pang ini bangkit semangatnya dan tidak

takut lagi terhadap Sui In setelah melihat munculnya Pek-sim

Lo-kai dan Sin Wan yang lihai itu.

“Dan bagaimana dengan Hwa I Kai-pang wakil timur?”

Biarpun dengan terpaksa, Siok Cu juga berseru, “Kami

setuju!”

Dia tadi telah melihat kekalahan Maniyoko, maka biarpun

dia takut terhadap guru pemuda itu, akan tetapi di situ ada

Pek-sim Lo-kai yang tentu akan melindungi Hwa I Kai-pang

kalau diganggu oleh Tung-hai-liong dan anak buahnya.

“Bagus, kalau begitu, dengan suara bulat locianpwe Peksim

Lo-kai Bu Lee Ki ditetapkan menjadi pemimpin besar para

kai-pang kembali!” kata panglima itu.

Semua orang bersorak.

Wajah Sui In menjadi merah karena marahnya. Akan

tetapi, ia maklum bahwa kalau sekarang ia menyatakan tidak

setuju, maka bukan saja ia akan dimusuhi oleh seluruh kaipang,

bahkan pemerintah juga akan menetapnya sebagai

pengacau. Hal ini tentu saja tidak dikehendaki gurunya. Maka

iapun berkata kepada Bu Lee Ki dengan suara lirih namun

penuh tantangan, “Pek-sim Lo-kai, lain kali aku akan membuat

perhitungan denganmu!” Setelah berkata demikian, iapun

melompat turun dan memberi isyarat kepada Lili untuk

meninggalkan tempat itu.

Para kai-pang menyambut pengangkatan kembali Bu Lee Ki

sebagai pemimpin mereka dengan gembira dan Hwa I Kaipang

yang kini sepenuhnya mendukungnya, mengadakan

pesta untuk merayakan peristiwa ini. Dan baru sekaranglah,

semua ketua kai-pang berkumpul dan makan minum bersama

dalam suasana yang akrab.

Dua hari kemudian, kakek Bu Lee Ki menemani Sin Wan

mengantar Kui Siang ke Nan-king, di mana gadis itu akan

menemui keluarganya sebelum kembali ke Peking untuk

memenuhi permintaan Raja Muda Yung Lo, yaitu menjadi

pengawal keluarga raja muda itu.

0oo0

Mereka semua berkumpul di gedung yang dahulu menjadi

tempat tinggal pembesar Lim Cun. Tiga orang paman dan dua

orang bibi dari ayah dan ibu Kui Siang datang bersama isteri

dan suami mereka, bahkan anak-anak mereka sehingga di situ

berkumpul tidak kurang dari duapuluh lima orang anggauta

keluarga Kui Siang!

Ketika gadis ini menghadap Ciang-Ciangkun dan

memperkenalkan diri, Ciang-Ciangkun yang sebelas tahun lalu

diserahi oleh Dewa Arak untuk menjaga dan mengurus rumah

dan harta peninggalan Lim-Taijin (pembesar Lim) untuk Kui

Siang, menyambut gadis itu dengan gembira bukan main.

Dia seorang perwira yang jujur dan amat menghormati

Dewa Arak, maka selama sebelas tahun ini dia menjaga rumah

keluarga Lim dengan baik, bahkan mempertahankan pelayanpelayan

yang lama di rumah itu, dan menyimpan semua harta

peninggalan keluarga itu untuk Kui Siang.

Ciang-Ciangkun pula yang memberi kabar kepada keluarga

Kui Siang tentang pulangnya gadis itu sehingga pada malam

hari itu, mereka semua datang berkunjung dan berkumpul di

rumah gedung yang kini menjadi milik Kui Siang. Selain para

anggauta keluarga, hadir pula di situ Ciang-Ciangkun yang

menerima undangan Kui Siang sebagai tamu kehormatan yang

telah berjasa besar, dan hadir pula Sin Wan dan kakek Bu Lee

Ki.

Kui Siang menyuruh para pelayan yang juga

menyambutnya dengan gembira untuk mengatur sebuah

pesta untuk merayakan perjumpaan kembali ini.

Gadis yang kini menjadi dewasa dan cantik itu dihujani

pertanyaan oleh para paman dan bibinya yang dalam

pandangan Sin Wan jelas menunjukkan sikap

kebangsawanannya! Mereka itu rata-rata bersikap angkuh,

penuh sopan santun dan semua gerak gerik mereka terkendali

dan teratur, membuat dia merasa sungkan dan rikuh. Tidak

demikian dengan Bu Lee Ki yang bersikap biasa saja, minum

sesenangnya dan tersenyum-senyum mengacuhkan mereka.

Kui Siang yang merasa kewalahan menghadapi hujan

pertanyaan, akhirnya berkata dengan suara lantang kepada

mereka semua.

“Para paman dan bibi dan saudara sepupu, saudara misan,

aku sampai lupa untuk memperkenalkan dua orang tamu yang

datang bersamaku, bahkan yang mengantar aku sampai ke

rumah. Perkenalkan, locianpwe ini adalah Pek-sim Lo-kai Bu

Lee Ki. Beliau seperti guruku sendiri dan beliau ini adalah

pemimpin besar seluruh perkumpulan pengemis di empat

penjuru!”

Bu Lee Ki yang diperkenalkan, senyum-senyum saja,

mengangkat cawan arak kepada mereka semua lalu minum

tanpa memperdulikan kenyataan bahwa tidak ada seorangpun

yang menyambutnya.

“Pengemis ……..!?” terdengar seruan-seruan tertahan dan

semua anggauta keluarga itu memandang ke arah Bu Lee Ki

dengan alis berkerut dan mereka kelihatan jijik kepada kakek

yang berpakaian tambal-tambalan itu.

Diam-diam Sin Wan memperhatikan mereka dan dia

merasa perutnya panas. Betapa sombongnya keluarga ini,

pikirnya. Kakek Bu Lee Ki bahkan pernah menjadi tamu yang

dijamu makan minum oleh Raja Muda Yung Lo, pangeran dan

putera kaisar! Akan tetapi orang-orang ini, yang mungkin

hanya merupakan bangsawan-bangsawan kecil, bersikap

demikian angkuh dan tinggi hati!

Apakah selalu demikian sikap orang yang tanggungtanggung?

Yang sedikit mempunyai kedudukan menjadi besar

kepala, yang mempunyai sedikit kepandaian menjadi sombong

dan merasa diri paling pintar, dan seterusnya?

Tentu saja Kui Siang juga melihat dan mendengar sikap

dan ucapan para keluarganya itu, akan tetapi ia tidak perduli.

“Dan ini adalah suhengku bernama Sin Wan. Dialah yang telah

banyak membantuku selama ini.”

Berbeda dengan Bu Lee Ki yang ketika diperkenalkan tetap

duduk saja hanya mengangkat cawan ke arah mereka semua,

Sin Wan bangkit berdiri, mengangkat ke dua tangan memberi

hormat kepada mereka semua. Hal ini dia lakukan terutama

sekali untuk menghargai Kui Siang yang memperkenalkan dia

kepada keluarga gadis itu.

Akan tetapi, hanya beberapa orang saja yang membalas

penghormatan Sin Wan, itupun hanya dengan anggukan

kepala atau senyum. Bahkan Sin Wan melihat banyak pasang

mata pria-pria muda yang menjadi saudara misan Kui Siang

memandang kepadanya dengan tak senang.

“Adik Kui Siang,” kata seorang pemuda yang usianya

sekitar duapuluh lima tahun, tampan dan pesolek, “kulihat

suhengmu ini seperti bukan orang Han, benarkah?”

Kui Siang tersenyum. “Penglihatanmu tajam, toako (kakak).

Memang suheng seorang bersuku Bangsa Uighur.”

Kembali banyak di antara mereka saling pandang dan

terdengar seruan tertahan seperti tadi, dan terdengar pula

kata penuh ragu, “Uighur …..!?”

Tiba-tiba kakek Bu Lee Ki tertawa bergelak sehingga semua

orang memandang kepadanya dengan alis berkerut.

“Ha..ha..ha..ha, aku sudah makan dan minum kenyang, Kui

Siang. Karena kini semua keluargamu berkumpul, aku ingin

bicara dengan mereka tentang urusanmu dengan Sin Wan.”

Tiba-tiba wajah Kui Siang berubah kemerahan dan iapun

menundukkan mukanya, mengangguk dan suaranya terdengar

lirih, “Silakan, locianpwe.” Ia melirik ke arah suhengnya dan

melihat betapa Sin Wan juga menundukkan mukanya yang

menjadi kemerahan, akan tetapi sepasang alis Sin Wan

berkerut karena pemuda ini merasa khawatir sekali.

Bagaimana kakek itu berani membicarakan urusan perjodohan

kepada keluarga yang jelas sekali memperlihatkan sikap

angkuh dan tidak suka kepada dia dan kakek itu?

Kini Bu Lee Ki bangkit berdiri dan setelah mengamati wajah

mereka yang duduk di ruangan itu, lalu tersenyum dan

suaranya terdengar lantang. “Heh.. heh.. heh, tuan-tuan dan

nyonya-nyonya yang merasa menjadi wakil orang tua Lim Kui

Siang yang sudah tiada, aku dalam hal ini menjadi wali dari

Sin Wan muridku, untuk mengajukan pinangan, yaitu kami

ingin menjodohkan Kui Siang dengan Sin Wan. Kami

mengharap persetujuan anda sekalian sebagai pengganti

keluarga Kui Siang.”

Suasana menjadi gaduh sekali setelah kakek itu selesai

bicara. Mata dibelalakkan, seruan-seruan protes dan bahkan

kemarahan terdengar.

“Gila betul! Berani melamar keponakan kita?”

“Tak tahu diri!”

“Kui Siang dijodohkan dengan seorang Uighur? Tidak!”

Kakek itu terkekeh. “Heh..heh..heh, begini kacau balau!

Aku minta jawaban diwakili seorang saja, kalau mungkin

paman tertua dari Kui Siang, agar tidak simpang siur seperti

dalam pasar!”

Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih bangkit dari

duduknya dan sejenak dia memandang ke arah Kui Siang

dengan alis berkerut, lalu menghadapi kakek Bu Lee Ki. Dia

seorang laki-laki tinggi kurus yang pakaiannya mewah dan

sikapnya seperti bangsawan tulen, dahinya lebar dan

ketinggian hatinya nampak pada lekuk bibir dan gerakan

cuping hidungnya. “Kami seluruh keluarga nona Lim Kui Siang

menyatakan sepenuhnya menolak pinangan ini!”

Kui Siang mengangkat muka dengan alis berkerut, akan

tetapi ia tidak dapat mengeluarkan suara karena tidak ingin

memancing keributan di depan Sin Wan dan kakek Bu.

Pek-sim Lo-kai terkekeh lagi. “Heh..heh..heh, tegas dan

jelas penolakan itu, akan tetapi setiap penolakan sepatutnya

disertai alasannya. Kenapa anda sekalian menolak pinangan

kami? Ingat, kedua orang muda itu saling mencinta dan telah

bersepakat untuk hidup bersama sebagai suami isteri.”

“Tidak!” kata laki-laki itu dengan angkuh. “Kami menolak.

Pertama, keponakan kami Kui Siang telah kami jodohkan

dengan seorang keponakan kami yang lain. Ke dua Kui Siang

tidak akan menikah dengan seorang yang tidak sederajat

dengannya. Ke tiga, muridmu, itu adalah seorang Suku

Bangsa Uighur, suku asing yang tentu tidak mengenal

peradaban Bangsa Han kami! Dan masih banyak lagi alasan

kami menolak, akan tetapi sudah cukuplah dan harap jangan

bicarakan lagi urusan pinangan yang tak masuk akal itu!”

“Cia-Supek (Uwa Ciu), engkau sungguh melewati batas!”

Tiba-tiba Kui Siang berteriak marah. “Aku tidak pernah minta

engkau atau siapapun mewakili orang tuaku!”

“Sumoi ……!” Sin Wan memperingatkan sumoinya agar

tidak bersikap kasar kepada keluarga sendiri.

Teringat akan hal ini, Kui Siang lalu menghadapi Sin Wan

dan kakek Bu Lee Ki. “Harap locianpwe dan suheng suka

meninggalkan kami. Malam ini aku akan berurusan dengan

mereka ini, dan besok pagi aku akan menemui kalian di rumah

penginapan Lok-an.”

“Baiklah, sumoi, akan tetapi harap engkau bersabar. Mari,

locianpwe, kita pergi mencari kamar di hotel Lok-an!” Sin Wan

mengajak kakek yang tersenyum-senyum itu keluar dari

tempat itu, diikuti pandang mata penuh kebencian oleh para

keluarga Kui Siang.

Setelah dua orang itu pergi, Kui Siang menyuruh semua

pelayan keluar dari dalam ruangan itu. Kemudian ia

menutupkan daun pintu ruangan itu dan dengan mata,

mencorong ia memandang kepada semua keluarga yang

berkumpul di situ.

“Kalian ini sungguh orang-orang yang tidak sopan! Apakah

hak kalian untuk menentukan jalan hidupku? Aku masih

menghargai kalian dan malam ini mengumpulkan kalian di sini

sebagai keluarga dan tamu yang kuhormati. Akan tetapi

ternyata kalian menyia-nyiakan itikad baikku dengan bersikap

lancang dan tidak sopan terhadap orang yang kuhormati

seperti Bu-locianpwe dan orang yang kucinta seperti

suhengku! Kalian tidak berhak mewakili aku menolak secara

kasar pinangan mereka terhadap diriku!”

Kui Siang yang biasanya pendiam dan halus itu kini menjadi

galak karena merasa sakit hati dan marah, timbul dari

perasaan iba terhadap Sin Wan yang mengalami penghinaan

dari mereka ini.

“Tapi, Kui Siang! Engkau adalah puteri tunggal mendiang

kakanda Lim Cun yang berkedudukan tinggi, seorang

bangsawan yang berdarah bersih! Bagaimana kami tidak

marah mendengar engkau dilamar seorang pemuda dusun

Bangsa Uighur? Itu suatu penghinaan namanya! Suku Uighur

tiada bedanya dengar suku-suku liar dan biadab lainnya

seperti Mongol, Kasak dan lain-lain. Bukankah ayahmu juga

dibunuh oleh si Tangan Api, orang Kasak?”

“Paman Lui!” bentak Kui Siang kepada adik ayahnya itu.

“Baik buruknya seseorang bukan ditentukan oleh bangsanya,

kedudukannya, kepintarannya atau kekayaannya! Bangsa atau

suku apapun berdarah sama, darah manusia, kotor dan

bersihnya ditentukan oleh sepak terjangnya dalam hidup!

Jangan kalian menghina seorang manusia karena keadaan,

lahiriahnya! Banyak sekali bangsawan yang terhormat, pintar

dan kaya raya, busuk hatinya, sebaliknya rakyat kecil yang

dianggap bodoh dan miskin, berhati mulia!”

Para paman dan bibi itu menjadi ribut-ribut dan suasana

menjadi gaduh sekali. Mereka menganggap Kui Siang seorang

gadis yang menyeleweng dan merendahkan keluarga

bangsawan sendiri.

Melihat ini, Ciang-ciangkun yang menjadi tamu kehormatan

dan bukan anggauta keluarga, segera bangkit berdiri dan

berkata dengan nyaring, mengatasi semua kegaduhan.

“Kami mohon diri karena tidak mempunyai sangkut paut

dengan urusan keluarga. Banyak terima kasih atas undangan

dalam pesta kekeluargaan ini, dan sebagai ucapan selamat

tinggal, harus kami nyatakan bahwa kami amat menghormat

semua pendapat dalam ucapan nona Kui Siang. Mendiang

ayahnya, sahabat baikku Lim Cun, tentu akan merasa bangga

kalau mendengar ucapannya tadi, Selamat malam!” Perwira

tinggi itu lalu memberi hormat dan meninggalkan ruangan

tamu itu.

Keluarga itu masih terus ribut. Tak seorangpun di antara

mereka yang dapat menyetujui pendapat Kui Siang dan

mereka semua berkeras menolak kalau Kui Siang akan

berjodoh dengan pemuda Uighur itu. Satu demi satu para

paman dan bibi itu memberi nasihat panjang lebar kepada Kui

Siang.

Gadis ini merasa penasaran, sedih dan juga marah. Ia

membiarkan mereka itu bicara sampai habis yang memakan

waktu berjam-jam. Kemudian, setelah semua orang merasa

lelah, Kui Siang berkata kepada mereka dengan suara yang

tenang karena ia berusaha menguasai hatinya, namun

suaranya tegas dan nyaring.

“Paman dan bibi, terima kasih atas semua nasihat dan

anjuran kalian yang tentu dilakukan karena rasa sayang kalian

kepadaku. Akan tetapi maaf, aku tidak mungkin dapat

menyetujui. Bagiku, perjodohan haruslah didasari cinta dan

suheng Sin Wan mencintaku seperti juga aku mencintanya.

Dan cinta tidak mengenal suku, tidak mengenal bangsa, tidak

mengenal derajat dan pangkat, kaya atau miskin, pintar atau

bodoh. Tentu para paman dan bibi yang sudah lebih tua dan

berpengalaman, maklum akan hal itu.”

“Budak Uighur itu mengaku cinta? Hemm, Kui Siang,

cintanya itu palsu! Dia tentu saja cinta padamu karena engkau

cantik dan terutama karena engkau seorang gadis bangsawan

yang kaya raya. Dia mengaku cinta untuk dapat menguasai

hartamu!”

Perlahan-lahan Kui Siang bangklt berdiri, wajahnya berubah

pucat dan matanya mencorong. Tak mungkin ia dapat

menahan kesabarannya lagi. Orang-orang ini terlalu menghina

Sin Wan!

“Paman, hentikan ucapan kotor itu!” bentaknya dan ia

memandang kepada mereka semua, satu demi satu dengan

sinar mata mencorong. “Kalian mengukur watak orang lain

dengan watak kalian sendiri! Apakah kalian tidak menyadari

bahwa sejak dahulu aku telah tahu benar bahwa

sesungguhnya kalianlah yang mengincar harta kekayaan

warisan orang tuaku? Kalianlah yang menginginkan harta

warisan ayahku, bukan suheng Sin Wan!”

“Kui Siang!” pamannya membentak dam menudingkan

telunjuknya ke arah muka gadis itu. “Pendeknya, apapun yang

terjadi, kami tidak sudi menyetujui perjodohanmu dengan

budak Uighur itu. Kalau kami tidak sudi menjadi walimu,

hendak kami lihat apakah engkau akan melakukan pernikahan

secara liar, tanpa direstui keluarga? Engkau berarti akan

mencemarkan nama baik mendiang orang tuamu!”

“Tidak perduli! Aku tidak membutuhkan restu kalian!” Kui

Siang menjerit dan kini ia tidak dapat menahan berlinangnya

air matanya. “Pergi kalian dari sini! Pergi!” Ia menuding ke

arah pintu.

Semua paman dan bibinya tertegun dan seorang paman

menghampiri Kui Siang dengan marah. “Kui Siang! Berani

engkau mengusir kami, paman-paman dan para bibimu sendiri

Beginikah yang kaudapatkan dalam mengejar ilmu selama

ini?”

“Kenapa tidak berani? Kalian bukan manusia! Pergi kataku!”

Tangan Kui Siang menyambar sumpitnya yang tadi terletak di

atas meja dan sekali tangan itu bergerak, sepasang sumpit itu

meluncur dan menancap pada dinding, amblas hampir

seluruhnya.

Semua orang terbelalak. Kalau sambitan itu mengenai

tubuh mereka, tentu akan tembus! Bergegaslah mereka berlari

keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kui Siang yang duduk

seorang diri bertopang dagu.

Akhirnya ia hanya dapat menangis, kemudian ia pergi ke

kamar sembahyang di mana terdapat meja abu ayah dan

ibunya, dan iapun berlutut di depan meja itu dan menangis,

dalam hati ia melaporkan nasibnya kepada orang tuanya.

Akhirnya gadis itu menggeletak tertidur di atas lantai depan

meja sembahyang. Seorang pelayan wanita tua yang merasa

kasihan kepada nonanya, tidak berani membangunkan, hanya

mengambil selimut dan menyelimuti tubuh nonanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kui Siang sudah

keluar dari rumahnya, pergi ke rumah penginapan Lok-an.

Pagi itu masih gelap, cuaca remang-remang. Ketika ia tiba di

jalan raya luar rumah penginapan itu, ia melihat Sin Wan

berhadapan dengan belasan orang dan agaknya mereka

bercekcok. Hatinya tertarik dan cepat Kui Siang menyelinap

dekat dan mengintai.

Dilihatnya Sin Wan berdiri tegak dan bersikap tenang,

dihadapi tigabelas orang pria berusia antara empatpuluh

sampai limapuluh lima tahun lebih yang kelihatan

menyeramkan. Tigabelas orang itu dipimpin oleh seorang

kakek tinggi kurus yang usianya tentu sudah mendekati

enampuluh tahun. Di punggung pria ini nampak sepasang

pedang dan yang lainpun semua membawa senjata di

punggung atau pinggang.

“Hemm, kiranya kalian ini adalah kaki tangan pemuda

Jepang Maniyoko itu, ya? Nah, katakan, apa maksud kalian

pagi-pagi begini mencariku di sini,” kata Sin Wan dengan sikap

tenang.

“Eh, toa-ko (kakak)! Aku seperti pernah melihat bocah ini!”

Tiba-tiba seorang di antara tigabelas orang itu, yang berkepala

botak dan bertubuh pendek, di kanan kiri mulutnya terdapat

bekas luka seolah mulut itu pernah terobek, maju dan

menuding ke arah Sin Wan. “Tidak salah lagi, ini tentu bocah

itu, anak Iblis Tangan Api Se Jit Kong!”

“Ah, benar dia! Kita mana bisa melupakan iblis kecil ini?”

teriak yang lain.

Si tinggi kurus yang memimpin gerombolan itu memandang

Sin Wan dengan penuh perhatian. “Benarkah engkau putera

Iblis Tangan Api Se Jit Kong?” tanyanya.

Klni Sin Wan teringat. Dahulu pernah ada tigabelas orang

menyerbu rumah ayah tirinya itu untuk merampas pusaka

istana yang dicuri ayah tlrinya. Dialah yang pertama kali

menyambut kunjungan mereka ini, bahkan si pendek botak itu

menyerangnya dengan sambitan pisau terbang, kemudian si

botak ini karena menghina ibunya, dihancurkan mulutnya oleh

ayah tirinya.

“Ah, kiranya kalian Bu-tek Cap-sha-kwi (Tigabelas Iblis

Tanpa Tanding) itu? Tidak salah penglihatan kalian. Aku Sin

Wan adalah putera mendiang Se Jit Kong. Habis, kalian mau

apa?”

Di tempat sembunyinya, wajah Kui Siang mendadak

menjadi pucat dan jantungnya berdebar keras. Sin Wan,

suhengnya itu, putera Se Jit Kong? Tidak mimpikah ia? Sin

Wan itu putera dari musuh besarnya, yang telah membunuh

ayahnya dan menyebabkan kematian ibunya pula? Se Jit Kong

yang menghancurkan keluarganya, dan selama ini ia bergaul

dengan putera musuh besarnya itu? Sin Wan, suhengnya yang

dicintanya!

Hampir ia tidak percaya. Suhengnya memang tidak pernah

menceritakan riwayat hidupnya atau asal usulnya dengan

jelas, hanya menceritakan bahwa ayah ibunya adalah Bangsa

Uighur dan keduanya sudah meninggal dunia. Kiranya dia

putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong! Menggigil rasanya kedua

kaki gadis itu, dan tubuhnya gemetar.

“Bagus!” Si tinggi kurus mencabut sepasang pedangnya.

“Kalau begitu, kami bukan hanya akan membalaskan

kekalahan Maniyoko darimu, akan tetapi juga karena ayahmu

sudah mampus, kami dapat membalas kekalahan kami dahulu

kepadamu, puteranya!”

Tigabelas orang itu sudah mencabut senjata mereka

masing-masing dan mengepung Sin Wan. Pemuda ini maklum

bahwa dia berhadapan dengan tokoh-tokoh sesat yang lihai

dan amat kejam, yang mungkin sejak kalah dari Se Jit Kong

telah memperdalam ilmu mereka sehingga menjadi lihai sekali,

maka diapun segera menghunus senjatanya. Melihat sebatang

pedang yang buruk dan tumpul, si botak pendek tertawa.

“Ha..ha..ha..ha, lihat, bocah setan ini mempergunakan

sebatang pedang buruk dan tumpul. Ha..ha..ha!”

“Bodoh!” bentak si tinggi kurus yang berjuluk Bu-tek Kiammo

(Setan Pedang Tanpa Tanding). “Itulah pedang pusaka

yang disebut Pedang Tumpul, sebuah mustika yang langka,

satu di antara benda-benda pusaka istana!”

“Wahhh …..? Kalau begitu kita harus merampasnya!” kata

si botak dan diapun sudah menyerang dengan ganas,

mempergunakan goloknya. Namun, dengan mudah Sin Wan

mengelak dan kini para pengeroyoknya menyerbu serentak

sehingga Sin Wan dihujani senjata yang rata-rata digerakkan

dengan kuat dan ganas sekali.

Namun Sin Wan tidak menjadi gentar atau gugup, dengan

tenangnya diapun menggerakkan Pedang Tumpul dan nampak

sinar kehijauan bergulung-gulung. Pemuda yang pantang

membunuh ini mengerahkan sin-kangnya dan memainkan ilmu

Sam-Sian Sin-kun. Gulungan sinar hijau itu menyambarnyambar

dan terdengarlah suara berkerontangan disusul

teriakan-teriakan kaget ketika tigabelas orang itu terpaksa

melepaskan senjata masing-masing.

Tidak kuat mereka menahan getaran tenaga dahsyat yang

membuat tangan mereka, terasa nyeri, dan banyak pula

senjata mereka yang patah begitu bertemu dengan pedang di

tangan Sin Wan! Mereka terkejut sekali karena selama ini

mereka sudah memperdalam ilmu kepandaian mereka. Siapa

kira, pemuda itu bahkan kini tidak kalah lihainya dibandingkan

Iblis Tangan Api Se Jit Kong sendiri!

“Lari!” teriak si tinggi kurus memberi aba-aba dan tigabelas

orang yang tidak terluka itu, segera melarikan diri cerai berai

karena takut kalau sampai dirobohkan.

Sin Wan tidak mengejar, bahkan cepat menyimpan kembali

pedangnya. Untung pagi itu masih sunyi sehingga agaknya

tidak ada orang yang melihat perkelahian singkat itu. Akan

tetapi, langkah-langkah yang lembut membuat dia menengok.

“Sumoi …..!” Sin Wan berseru dan lari menghampiri. Akan

tetapi ketika dia hendak memegang tangan gadis itu, Kui

Siang menarik tangannya dan pandang mata gadis itu

membuat Sin Wan undur selangkah. “Sumoi, kau kenapakah?”

“Jadi engkau adalah putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong?!?”

Mendengar pertanyaan itu, Sin Wan terkejut dan

mengertilah dia bahwa tadi Kui Siang telah mendengar

percakapan antara dia dan Cap-sha-kwi. “Sumoi, aku ……..”

Tiba-tiba terdengar suara orang di depan rumah

penginapan itu. “Orang muda, sebaiknya engkau berterus

terang! Apakah engkau putera Se Jit Kong?”

Sin Wan menoleh dan terkejut melihat bahwa yang

mengajukan pertanyaan itu bukan lain adalah Pek-sim Lo-kai

Bu Lee Ki! Dan suaranya itu! Sungguh berbeda dari biasanya

yang lembut, kini suara itu tegas dan ketus.

“Locianpwe, sumoi, agaknya perlu aku memberi penjelasan.

Marilah kita bicara di dalam saja agar tidak terdengar orang

lain,” kata Sin Wan dan sikapnya masih tetap tenang karena

dia tidak merasa bersalah atau menyembunyikan sesuatu.

Kakek itu mengangguk dan tanpa bicara mereka bertiga

memasuki rumah penginapan dan rnenuju ke kamar Bu Lee

Ki. Setelah mereka masuk kamar, kakek itu menutupkan daun

pintu dan merekapun duduk menghadapi meja dan Sin Wan

menghadapi kedua orang itu, merasa seperti seorang tertuduh

dihadapkan kepada dua orang hakim!

“Maaf bahwa selama ini aku tidak berterus terang karena

aku ingin melupakan semua pengalaman hidup yang teramat

pahit itu.” Sin Wan memulai.

“Katakan, benarkah engkau putera Se Jit Kong!?” Bu Lee Ki

bertanya, sinar matanya tajam penuh selidik menatap wajah

Sin Wan.

“Bukan anak kandung, melainkan anak tiri. Harap

locianpwe dan sumoi dengarkan baik-baik, aku akan

menceritakan segalanya. Se Jit Kong bukan ayah kandungku,

bahkan dialah yang membunuh ayah kandungku yang

bernama Abdullah. Kemudian ibuku menjadi isteri Se Jit Kong

dan sejak terlahir sampai berusia sepuluh tahun, aku

dirawatnya dan aku menganggap dia ayah kandungku

sendiri.”

“Ayahmu dibunuh dan ibumu malah menjadi isteri Se Jit

Kong?” tanya Bu Lee Ki dengan muka membayangkan

kejijikan.

Wajah Sin Wan berubah merah. “Harap locianpwe tidak

salah sangka dan kasihanilah ibuku. Ibu pasti membunuh diri

begitu ayah kandungku dibunuh Se Jit Kong. Akan tetapi,

ketika hal itu terjadi, aku berada dalam kandungan ibu. Demi

untuk menyelamatkan diriku, anak tunggalnya, maka ibu

terpaksa mengorbankan diri. Dengan batin menderita, ibu

menjadi isteri Se Jit Kong dengan syarat bahwa Se Jit Kong

tidak akan menggangguku, bahkan menganggap aku anaknya

sendirl. Dia sayang kepadaku dan ketika itu akupun sayang

kepadanya yang kuanggap ayah kandung sendiri.”

“Hemm, lalu bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa

dia bukan ayah kandungmu dan dia bahkan membunuh

ayahmu?” Bu Lee Ki mendesak.

“Ketika Se Jit Kong tewas di tangan Sam-sian, ibuku yang

merasa bahwa aku tidak terancam lagi dengan kematian Se Jit

Kong, lalu menebus dosa dan membunuh diri, sehabis

membuka rahasia itu kepadaku. Ketika Cap-sha-kwi

menyerang Se Jit Kong, ketika itu aku masih merasa sebagai

anak Se Jit Kong. Nah, demikianlah riwayatku. Ketika Samsian

mengetahui riwayatku, maka Sam-sian lalu mengambilku

sebagai murid. Terserah kepadamu, sumoi, dan kepadamu

locianpwe, bagaimana kalian akan menilai diriku.”

“Ya Tuhan, siapa sangka ……?” Bu Lee Ki bangkit, mondarmandir

di kamar dan berulang kali menggeleng kepala dan

menghela napas panjang. Kemudian dia berhenti dan duduk

kembali di depan Sin Wan, memandang pemuda itu dengan

sinar mata tajam dan suaranya terdengar sungguh-sungguh.

“Aku percaya bahwa Sam-sian tidak akan salah memilih

engkau sebagai murid, Sin Wan. Akan tetapi bagaimanapun

juga, engkau dikenal sebagai putera Se Jit Kong, berarti

namamu sudah tercemar lumpur kejahatan. Cap-sha-kwi tentu

tidak akan tlnggal diam dan akan menyiarkan bahwa Sin Wan

adalah putera Se Jit Kong! Engkau akan dimusuhi seluruh

pendekar. Hanya ada satu jalan bagimu, yaitu sebagai

Pendekar Pedang Tumpul, engkau harus mencuci kecemaran

namamu itu dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Engkau

harus dapat membuktikan bahwa dirimu tidak jahat seperti Se

Jit Kong walaupun engkau anaknya atau anak angkatnya.

Adapun aku ……. ah, engkau tahu bahwa aku dipercaya

menjadi pimpinan para kai-pang, kalau diketahui bahwa aku

bergaul dengan putera Se Jit Kong, sebelum engkau mencuci

nama, aku akan kehilangan muka. Terpaksa kita akan

berpisah di sini, sekarang juga. Nah, kalian jaga diri kalian

baik-baik, aku akan pergi.” Kakek itu lalu menyambar

buntalannya dan meninggalkan kamar itu dengan cepat.

Sin Wan bangkit berdiri seperti juga Kui Siang, mukanya

pucat ketika dia memandang kepada Kui Siang.

“Sumoi, bagaimana dengan engkau?” tanyanya, penuh

harap.

Kui Siang mengusap kedua matanya untuk menghapus

beberapa butir air mata yang tadi jatuh di atas pipinya.

“Engkau tahu bahwa keluargaku hancur oleh kejahatan Se Jit

Kong. Dan ternyata engkau …… puteranya, walaupun putera

tiri. Aku ….. aku …… bagaimana mungkin berdekatan

denganmu? Suheng, maafkan aku ini ….. aku …. aku akan ke

Peking dan aku ….. ahhh …..” Gadis itu terisak dan cepat

berlari keluar.

Sin Wan berdiri seperti patung. Mukanya pucat sekali.

Jantungnya seperti diremas-remas rasanya. Kedua tangannya

menekan meja dan dia memejamkan matanya, “Engkau

benar, sumoi, engkau benar. Aku hanyalah seorang suku

biadab Uighur, keturunan orang jahat, aku hanya seorang

dusun yang pandir dan miskin, berlepotan nama busuk Iblis

Tangan Api Se Jit Kong. Memang sebaiknya engkau

menjauhkan diri dariku, sumoi, agar jangan ikut tercemar

……”

Dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan merebahkan

kepala di meja, sampai lama dia berdiam dalam keadaan

seperti itu.

Sesosok bayangan berkelebat masuk kamar itu, ringan

sekali gerakannya. Namun tidak cukup ringan bagi Sin Wan

untuk tidak mengetahuinya. Dia menoleh dan ternyata

seorang gadis cantik telah berdiri di kamar itu. Timbul

harapannya ketika dia mengira bahwa gadis itu sumoinya.

Akan tetapi ketika dia memandang lebih jelas, ternyata gadis

itu adalah Lili!

“Lili, kau ……..?”

Lili tersenyum, lalu duduk di atas kursi yang tadi diduduki

Kui Siang. Memang ada persamaan antara kedua orang gadis

itu. Sama cantiknya!

“Sin Wan, kenapa engkau harus berduka! Seorang gagah

tidak akan mudah membiarkan diri terbenam dalam duka.

Kalau mereka pergi meninggalkanmu, biarkanlah. Di sini masih

ada aku, Sin Wan. Aku akan siap menerimamu sebagai

sahabatmu. Marilah kita berdua bertualang di dunia yang luas

ini. Dengan kepandaian kita berdua, kita akan dapat berbuat

banyak!”

Sin Wan bangkit, kemarahannya timbul. Dia akan diajak

oleh gadis ini ke dalam dunia sesat? Dia akan diajak mengikuti

jejak ayah tirinya? Sebelum mati, ibunya berpesan agar dia

tidak mengikuti jejak Se Jit Kong.

“Tidak!” bentaknya kepada Lili dan dia menuding ke arah

pintu. “Pergilah kau, jangan bujuk aku. Pergi …..!”

Lili bangkit berdiri, tersenyum manis. “Engkau sedang

dalam keadaan kacau dan berduka. Baiklah, aku pergi, akan

tetapi aku selalu menantimu di Puncak Bukit Ular, di

Pegunungan Himalaya. Datanglah ke sana kalau engkau

teringat kepadaku dan suka menerimaku sebagai sahabat.

Selamat tinggal! Jangan terlalu bersedih, Sin Wan. Orang

berduka cepat menjadi tua! Gadis itu terkekeh lalu pergi dari

situ.

Sin Wan kembali menjatuhkan diri duduk di atas kursi.

Habislah sudah! Kakek Bu Lee Ki yang dihormatinya sebagai

gurunya, sumoinya yang dicintanya dan dianggap sebagai

calon isteri, kini memisahkan diri, meninggalkannya dan

menjauhinya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Lili!

Tidak, dia tidak mau terseret ke dalam dunia sesat. Tiba-tiba

dia meloncat berdiri.

“Suhu Ciu-sian!” dia berseru. Ah, kenapa dia sampai

melupakan gurunya itu? Di dunia ini masih ada gurunya, Si

Dewa Arak. Dia akan pergi ke Pek-in-kok, lembah Gunung Holan-

san itu.

Diapun teringat akan pesan Raja Muda Yung Lo di Peking.

Akan diterimakah kedudukan panglima yang ditawarkan raja

muda itu! Kenapa tidak? Dengan kedudukannya itu, dia akan

dapat berbuat banyak untuk bangsa dan negara sehingga dia

akan dapat mencuci noda yang dicemarkan oleh nama busuk

Se Jit Kong.

Akan tetapi, di sana ada Kui Siang! Sungguh tidak enak

kalau harus bekerja dekat sumoinya, juga kekasihnya yang

telah menjauhkan diri darinya itu. Dia akan menghadap dulu

gurunya, Si Dewa Arak yang periang, dan mohon nasihatnya.

Yang pasti, dia akan menunjukkan kepada dunia, bahwa

hldupnya tidak sia-sia. Tuhan telah menciptakan dia,

menurunkan dia ke dunia bukan hanya untuk menjadi

permainan nasib, bukan untuk membenamkan diri dalam

duka. Dia harus menjadi seorang manusia yang berguna agar

tidak sia-sia Tuhan menciptakannya. Dia harus mengabdi

kepada Tuhan kalau ingin membuktikan penyerahannya yang

tulus ikhlas dan tawakal. Dan mengabdi kepada Tuhan hanya

dapat dibuktikan dengan pengabdian kepada manusia, kepada

dunia, dengan membela kebenaran dan keadilan.

Dia akan membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah

putera ibunya yang dia tahu berhati mulia, bahwa dia tidaklah

sama dengan Se Jit Kong yang menjadi hamba nafsu-nafsunya

dan menjadi tokoh sesat, bahkan datuk sesat!

“Suhu Ciu-sian, tunggulah teecu (murid) yang akan

menghadapmu!” Sin Wan berteriak lalu dia meninggalkan

kamar itu.

Malam telah berganti pagi. Kegelapan mulai ditembusi

cahaya terang. Sinar matahari menjanjikan hari yang cerahbagi mereka yang pagi-pagi telah terbangun dari tidurnya.

TAMAT

Iklan

One thought on “Si Pedang Tumpul – (Seri I Pendekar Pedang Tumpul)

  1. Assalamu’alaikum………………..

    Apakah masih sdr dgn H Sunardi? Ataw Haji Ancu…? Terimakasih  Wassalam. T

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s