Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 36-40)

New Picture

 

Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 36-40)

Oleh : S. Djatilaksana (SD. Liong)

Sumber DJVU : Koleksi Ismoyo

Convert, Edit & Ebook : MCH & Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

 

JILID 36

YASMIN JIVATI BAHAVO JIVANTI SA JIVATU.

Barangsiapa sementara ia Hidup menyebabkan banyak orang hidup juga, orang yang demikian itu betul2 patut hidup. Demikian ujar pandita Padapaduka, pandita yang menimbulkan kegemparan di candi Mahayana desa Kagenengan karena atas sabda pandita itu maka penjaga candi Kagenangan melihat bahwa arca Aksobya yang hilang, dilihatnya telah berada di tempat pemujaannya lagi.

Banyak nian ajaran2 dan ilmu yang diterima Dipa dari

pandita sakti itu. Namun ia masih terlalu muda untuk

menyerapi ilmu ajaran keagamaan yang luas. Sekalipun

demikian, ada beberapa wejangan pandita itu yang tak pernah

terlupakan olehnya. Diantaranya adalah kata2 seperti di atas.

Setiap kali mempunyai kesempatan, selalu ia merenungkan

kata2 itu dan maknanya.

Barang siapa yang hidup dan menghidupi orang, dialah

yang betul2 patut hidup. Walaupun sederhana kata-kata itu

namun lama benar Dipa merenungkan, menyelami dan

akhirnya tiba pada penghayatan bahwa hidup yang berharga

itu adalah hidup untuk menyebabkan titah lain hidup.

Pada mulanya, Dipa dalam pemikiran yang bersahaja,

mendaratkan pikirannya pada tumbuh-tumbuhan. Bahwa

tumbuh-tumbuhan itu hidup untuk menghidupi manusia.

Tetapi mereka adalah ditanam manusia sengaja dihidupkan

manusia untuk menghidupi manusia. Kehidupan mereka

memang suatu kehidupan yang dicipta dan dibentuk untuk

menghidupi manusia. Kehidupan ciptaan, tidaklah sepenuhnya

memiliki hayat menghidupi yang murni. Lebih cenderung

dikata, hasil dari pada suatu usaha manusia. Mereka patut

hidup, karena memang dihidupkan.

Berpaling pula perhatian Dipa pada mahluk binatang. Jenis

mahluk yang ini, memang agak berbeda dengan jenis tumbuh

tumbuhan. Mereka tidak dicipta, tidak dibentuk dan tidak pula

dihidupkan manusia. Mereka hidup karena hidap menurut

alamiah, menurut pula pembiakan jenis golongannya. Mereka

memiliki rasa hak untuk hidup, hak untuk mempertahankan

hidup. Dan untuk melaksanakan kedua hal itu, mereka tak

mengenal menghidupi tetapi mementingkan hidup. Tak kenal

menghidupi orang atau mahluk jenis lain tetapi mementingkan

menghidupi kehidupan hidupnya sendiri. Mereka memiliki

harga hidup tetapi bukan patut hidup. Harga hidup karena

mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Tidak patut

hidup karena mereka tak pernah menghidupi lain orang atau

 

 

lain jenis. Antara Harga dengan Patut, memang terdapat

selisih makna.

Kemudian beralihlah perhatian Dipa kepada insan manusia,

titah Hyang Widdhi, jenis seperti dirinya. Patutkah manusia itu

hidup? Tiba pada pertanyaan itu, ia harus menumpahkan

seluruh pikirannya, merenung dan menyibak-nyibak lapisan

pengetahuan dan pengalaman, pengertian dan perasaan yang

bertumpu di dasar alam kesadaran maupun di bawah alam

Apakah sesungguhnya arti hidup itu?

Hidup, kata orang, hanya suatu bayangan. Hidup kata lain

orang lagi, hanya suatu persinggahan dari perjalanan ke arah

asal mulanya. Hidup, kata lain orang pula, suatu derita, suatu

samsara untuk mencuci atau membersihkan karma kehidupan

yang lampau. Hidup, kata orang pula, suatu dharma, luatu

kewajiban. Hidup tentu mati, beda kata orang juga, dan

setelah mati tak mungkin kembali hidup. Oleh karena itu

mumpung hidup, bersenang-senanglah menikmati sepuaspuasnya.

Kata orang, kata orang. Dari orang ke lain orang, dari

masa ke masa. Sepanjang sejarah manusia, sejak manusia

yang pertama sampai yang terakhir. Kata yang berangkai ujar,

berbentuk wejangan, bermakna ilmu ajaran itu banyak juga

yang bersinggah di telinga Dipa. Dari orang2 tua di desa,

brahmana Anuraga, demang Surya, pandita Padapaduka dan

beberapa Wiku berilmu.

Adakalanya dalam saat yang luang dan lengang, terbetik

pula pemikiran2 tentang soal hidup dan arti hidup, tujuan

hidup dan keakhiran hidup. Ia merenung dan menyelami

tetapi makin bingung dan tenggelam. Seolah terhanyut dalam

suatu lingkaran yang tiada pangkal ujungnya. Ia tahu dan

 

 

meraja bahwa ia mulai berpikir. Tahu pula bahwa ia mulai

terhanyut dalam lingkaran itu, tibalah ia dalam sebuah jagad

kehampaan. Ia tak tahu kiblat dan arah, ujung dan pangkal

bahkan tak tahu letak dirinya. Ia merasa berpikir tetapi

kehilangan pikir.

Memang kala itu dia masih muda, masih terlalu muda

untuk menghayati ilmu yang sudah setua manusia pertama. Ia

masih belum mencapai apa yang harus dicapai. Dipaksakan

mencapainya hanya suatu pencapaian menurut capai

pemikirannya, menurut bayangannya. Pada hal bayangan itu

bersifat samar.

Pernah pada suatu kesempatan berbicara dengan paman

brahmana Anuraga ia menanyakan soal itu. Maka tertawalah

brahmana muda itu.

“Engkau bingung memikirkan apakah hidup dan arti hidup

itu?” seru brahmana Anuraga, ”untuk menghilangkan

kebingungan, untuk menemukan apa yang engkau cari,

berhentilah berpikir, jangan berpikir!”

Dipa terbeliak.

“Jangan heran, Dipa,” kata brahmana Anuraga pula, “jika

menghentikan pemikiranmu, bukankah kebingunganmu itu

akan hapus?”

Dipa mengiakan. ”Ya, tetapi aku tetap tak menemukan

apa2”

“Mengapa tidak menemukan apa2” ulang brahmana

Anuraga “engkau telah menemukan apa2 itu”

“Apa yang kutemukan, paman?”

“Dipa” kata brahmana Anuraga mengemasi sikap

duduknya ”mengapa engkau memikirkan soal itu?”

 

 

Merenung sejenak Dipa menjawab ”Aku ingin mencari arti

hidup, paman?”

“Mencari?” ulang Anuraga ”apakah engkau sudah tahu hal

itu?”

“Oleh karena tak tahu maka aku mencarinya.”

“Bagaimana engkau hendak mencari apabila engkau belum

mengetahui benda yang hendak engkau cari itu? Aneh,

mencari tetapi tak tahu apa yang dicarinya. Bagaimana

mungkin? Jika engkau tahu benda itu, baru engkau dapat

mencarinya”

Dipa terbeliak. Memang ucapan paman brahmana itu

benar. Tetapi ada suatu perasaan dalam hatinya bahwa ia

menginginkan sesuatu dalam pencarian itu. ”Paman, aku tak

tahu bagaimana harus mengatakan untuk memperoleh

jawaban dari persoalan yang menghuni dalam hatiku”

“Pertanyaan itu timbul dari hatimu ataupun dari pikiranmu,

maka jawabannya pun dapat engkau peroleh dari hati atau

pikiranmu” kata brahmana Anuraga dan sebelum Dipa sempat

membuka mulut, ia melanjutkan pula ”mengapa engkau

memikirkan hal itu? Adakah setelah engkau mengetahui,

engkau akan puas? Tidak Dipa, tentu engkau akan melanjut

lagi pertanyaan dan keinginan2 lain. Akibatnya, engkau

peruntukkan hidupmu hanya untuk berpikir dan merenung.

Dan andaikata engkau dapat memperoleh jawabannya,

adakah jawaban itu sudah terjamin kebenarannya? Andaikata

benar, lalu apa yang akan engkau lakukan ? Adakah engkau

akan berpeluk tangan menunggu hal2 yang masih samar

tetapi engkau anggap benar itu akan datang kepadamu

sendiri?”

 

 

Dipa terlongong-longong menerima curahan pertanyaan

dari paman brahmana yang dihormatinya itu.

“Tidak, paman” sahutnya sesaat kemudian ”setelah

mendapat pengetahuan itu, aku tetap akan bekerja, berbuat

dan berdharma sebagaimana kewajiban hidupku”

“A, a” Anuraga mendecak ”itu katamu pada saat ini. Tetapi

belum pasti engkau akan berkata begitu manakala engkau

telah mendapat pengetahuan dari jawaban yang engkau

inginkan itu. Misalnya, engkau memperoleh jawaban bahwa

hidup itu hanya sekejab, sesingkat orang bersinggah,

kemudian harus kembali pada asalnya. Bagaimana sikapmu

dalam menghadapi hidupmu. Engkau mungkin mengatakan

tetap akan bekerja sesuai dengan dharma hidupmu, tetapi

tidaklah batinmu akan terpengaruh bayang2 jawaban itu?

Tidakkah berbahaya apabila anggapanmu terlumur dengan

pengetahuanmu tentang arti hidup sehingga semangatmu

lemah dan menganggap bahwa dalam hidup yang amat

singkat itu, mengapa harus berjuang untuk negara, mengapa

harus berjuang untuk memperbaiki nasibmu dan mengapa

harus berjuang untuk segala sesuatu dalam hidupmu?”

“Dan” brahmana Anoraga melanjut pula ”benarkan arti

hidup itu seperti yang engkau peroleh pada jawaban itu? Ah”

Anuraga mendesuh ”itupun masih samar2. Mengapa engkau

berjuang pada landasan pendirian hidup yang masih samarsamar?

Demikian pula halnya dengan beraneka jawaban diri

pertanyaanmu itu. Kesemuanya itu masih samar-samar.

Mengapa engkau mencari sesuatu yang masih samar-samar,

Dipa?”

Dipa termangu-mangu. Dalam kemanguan terluncurlah

sepatah ungkapan kebingungan hatinya. ”Lalu bagaimana

harus kulakukan, paman?”

 

 

“Engkau sudah melakukan, Dipa” sahut brahmana Anuraga

”mengapa engkau bertanya pula. Bukankah engkau sudah

hidup sampai saat ini. Itulah. Engkau sudah melakukan apa

yang engkau harus melakukan dalam hidupmu.”

Dipa makin heran.

“Dipa” kata Anuraga kemudian ”yang penting kita harus

menghayati kodrat Prakitri. Lahir, tumbuh dan layu. Tiap

kelahiran tentu berakhir kelayuan. Karena tiada di dunia ini

barang yang kekal. Dari mana berasalnya, akan kembali

kepada asalnya. Titah manusia yang diciptakan Hyang Maha

Widdhi, akan kembali kepada penciptaNYA. Itu harus menjadi

pedoman dan penerangan batin kita. Tak perlu engkau, dalam

masa seperti dirimu saat ini, merenung dan memikirkan apa

yang sesungguhnya sudah hidup dalam jagad-kecil di

tubuhmu dan jagad raya semesta alam. Hidupmu itulah arti

daripada tujuan engkau hidup. Kematianmu, bukanlah tujuan

hidupmu, melainkan kodrat yang telah menjadi syarat

kehidupan. Karena kelahiranmu atau dari mana engkau

berasal dan tujuanmu atau ke mana kelak setelah mati engkau

menuju, telah kupaparkan tadi. Dari mana engkau berasal,

kembalilah engkau pada asalmu. Dari yang memberi kepada

yang memberi…”

Dipa mengangguk-angguk. Terasa ada sesuatu sinar

terang yang memercik dalam kalbunya.

“Bahwa engkau saat ini hidup, itu suatu kenyataan. Entah

itu suatu samsara, entah anugerah. Janganlah engkau mengisi

batin dan pikiranmu dengan sesuatu. Karena pengisian itu

akan mencemarkan kemurnian batin dan pikiranmu dalam

mengemban kewajiban hidupmu”

Dipa makin terbenam dalam larutan rasa. Rasa yang ia tak

tahu apa namanya.

 

 

“Hyang Maha Agung menciptakan semesta alam dengan

seluruh isinya. Menciptakan pula manusia. Kesemuanya itu

disebut hidup. Manusia itu adalah sifat hidup. Kemanusiawian,

unsur hidup. Sari hidup merupakan inti ciptaan Hyang Maha

Agung. Maka hiduplah untuk menetapi sifat Hidup.

Kembangkan kemanusiawian dengan segala unsur2 perikemanusiaan

yang menjadi lambaran unsur hidup.

Manembahlah kepada Hyang Maha Agung, sari hidup daripada

segala kehidupan”

Walaupun belum pernah merasakan, tetapi sudah banyak

Dipa mendengar dan melihat orang minum tuak sampai

mabuk. Bagaimana mabuk itu, ia belum pernah merasakan

sendiri. Kira2, demikian perasaannya ketika mendengar uraian

sang brahmana Anuraga, seperti yang dirasakan saat itu.

Pikirannya melambung suksma melayang, jauh tinggi ke

angkasa. Kosong tetapi terasa berisi, gelap tetapi terasa

terang, merasa tetapi tidak m«rasa. Ada tetapi terasa tiada.

Tiada tetapi terasa ada. Ia bingung, sarat dan pening. Lusuh

dan paserah.

Brahmana Anuraga memandang anak itu. Iba hatinya

melihat anak itu pejamkan mata dalam kehampaan wajah

yang sunyi ”Dipa, apa yang mendorongmu bertanya soal itu ?”

tegurnya pelahan. Ingin ia tahu apa maksud Dipa bertanyakan

soal2 yang berat dan belum dapat terjangkau dalam

“Anu, paman” kata Dipa agak tergesa ”aku hanya teringat

akan ucapan pandita Padapaduka yang mengatakan

barangsiapa ia hidup menyebabkan banyak orang hidup juga,

orang itu betul2 patut hidup”

“Orang yang dapat menyebabkan banyak orang hidup

adalah orang yang menghayati dan melaksanakan Paramita

 

 

atau jalan mencapai kesempurnaan nirwana. Didalamnya

mengandung salah sebuah ajaran tentang Kemurahan hati,

kasih sayang. Rela berbuat, berdana dan berkorban tanpa

sesuatu ikatan ingin dan harap. Bukan melainkan kebendaan

saja yang di-dana-kan tetapi pun tenaga, pikiran, ucapan dan

bahkan jiwa raga. Dana atau kemurahan hati yang mempunyai

dasar. Bukan berdasarkan pamrih mengharap balas, bukan

pula didorong oleh rasa ke-aku-an peribadi, melainkan oleh

rasa welas asih, kasih sayang yang merupakan pancaran

kemanusiawian, unsur hidup yang murni. Di situlah letak

bobot dan nilai hidup ini, aku dapat dikatakan bahwa orang

yang demikian itulah yang patut hidup. Jelaslah engkau Dipa?”

sejenak Anuraga melekatkan pandang ke wajah anak itu.

”Jangan engkau tergesa gesa mengatakan bahwa engkau

sudah jelas sekarang. Karena hal itu akan menimbulkan

paksaan dalam hatimu. Hayatilah hal itu seiring dengan

pengalaman2 yang akan engkau alami dalam masa2

sepanjang hayatmu”

“Dan” kata Anuraga pula ”janganlah engkau lekas2

percaya kepada apa yang kukatakan. Karena kepercayaan itu

tak dapat diminta bahkan pula dipaksa. Tidak, Dipa, engkau

harus mencarinya sendiri dan semoga kepercayaan itu tumbuh

dalam hati sanubarimu”

Demikian selintas renungan yang melintas dalam benak

Dipa, sampai setelah ia menjadi bekel, bahkan sampai

menjabat patih. Pengalaman dan pengetahuan yang mengiring

meningkat usia, banyak memberi kesan dan kesimpulan

bahwa apa yang diwejangkan paman brahmana Anuraga

kepadanya itu, banyak mendekati kenyataan. Dengan keadaan

dan lingkungan tugas pekerjaannya, ia selalu melangkahkan

tindakan dan langkahnya pada garis2 yang telah diwejangkan

paman brahmana Anugara. Hidup dan menghidupi, melahirkan

 

 

rasa kasih sayang dalam kemanusiawian, membentuk

keparamitaan dalam peribadi dan memantapkan bobot sifat

hidupnya. Dalam garis2 langkah tindakan dan tujuan serta

pengabdiannya kepada negara dan rakyat, ia berpijak pada

landasan Paramita. Hidup yang menyebabkan banyak orang

hidup, menurut kesimpulannya, tak lain hanyalah suatu

penyerahan yang tulus ikhlas didalam mengabdi kepentingan

negara, rakyat serta kesucian manembah kepada Hyang Maha

Dalam mengawal baginda Jayanagara lolos dari pura

kerajaan ke desa Bedander, merupakan pelaksanaan dari

landasan pendirian hidupnya. Demikian pula setelah ia

menjabat patih di Kahuripan. la berusaha keras untuk

membangun daerah Kahuripan

Mengabdi negara, mengabdi rakyat, merupakan suatu

paramita yang berintikan Hidup dan menyebabkan banyak

orang hidup. Mulailah bersemi benih2 dasar rasa pengabdian

dalam hati sanubari. Benih2 itu kelak akan tumbuh, berbunga

dan menyiarkan keharuman yang bertebaran di sepanjang

perjalanan hidupnya mengabdi kepada negara.

Demikian pada hari itu, bersama seorang prajurit patih

Dipa meninjau sebuah daerah di kaki gunung Penanggungan.

Memang demikianlah patih Dipa apabila melakukan

peninjauan. Tak suka secara resmi, tak suka pula membawa

banyak pengiring. Cukup seorang dua orang pengiring dan

secara menyamar, lepas dari pakaian kebesaran. Dengan

demikian ia merasa lebih leluasa dan lebih dapat menyelami

keadaan yang sebenarnya. Karena biasanya, setiap hasil dari

suatu kunjungan atau peninjauan resmi ke suatu daerah selalu

ia disambut oleh lurah atau kepala daerah tersebut secara

meriah. Dijamu dan disambut dengan upacara yang meriah.

 

 

Bahkan kadang kala suatu pesta yang dimeriahkan dengan

pertunjukan yang berakhir sampai larut malam.

Patih Kahuripan itu tak senang dengan penyambutan

demikian. Pertama, menghambur-hamburkan uang untuk

sesuatu yang kurang penting. Hanya sekedar menghormat

seorang pembesar tinggi. Pada hal bukan penyambutan secara

meriah dengan pesta yang berlebih-lebihan, yang dapat

dianggap sebagai suatu cara untuk menghormat

kedatangannya. Bagi patih Dipa, apabila buyut, lurah atau

kepala daerah yang dikunjunginya itu benar-benar

membuktikan bahwa desa atau daerah yang dipimpinnya itu

mencapai kemajuan dan kemakmuran, itu sudah cukup

memuaskan hatinya. Bukan penyambutan besar-besaran yang

menjadi tanda dari kemajuan daerah itu, tetapi keadaan

daerah itu sendiri dan rakyatnya. Bagi patih Kahuripan yang

baru itu, kemajuan setiap daerah yang dikunjunginya itu

merupakan ukuran besar kecilnya penghormatan kepala

daerah itu kepadanya. Bukan kepadanya secara peribadi tetapi

bagi keranian Kahuripan.

Tak jarang terjadi, seorang kepala daerah atau buyut desa

yang memberi penyambutan dengan pesta meriah, ia tegur

dengan tajam karena daerah atau desa disitu tiada mengunjuk

kemajuan, kehidupan rakyat menderita.

Ada pula dalam penyambutan dan pesta besar untuk

menyambut kunjungannya itu, setelah menyuruh orang untuk

menyelidiki, ternyata beayanya dibebankan kepada rakyat

daerah itu, pada hal jelas2 rakyatnya miskin, patih Dipa tak

dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Seketika itu juga

kepala daerah dan atau buyut desa yang bersangkutan,

didamprat habis-habisan dan diberi peringatan keras. Apabila

kepala atau buyut itu berani bertindak seperti itu lagi, bukan

 

 

saja akan dilepas dari kedudukannya, pun juga akan dihukum

dengan kesalahan menindas dan memeras rakyat.

Tindakan patih Dipa itu telah menimbulkan gelombang

kegemparan yang menggetarkan kepala daerah dan buyut2

ditelatah Kahuripan. Sudah tentu setiap tindakan itu akan

menimbulkan bermacam tanggapan yang pada hakekatnya

berkisar pada dua golongan. Yang suka dan yang tidak suka.

Bagi kepala daerah dan buyut yang benar2 mengambil pada

kepentingan daerah dan rakyatnya, tindakan patih baru itu

disambut dengan hati yang legah dan perasaan gembira.

Tetapi bagi mereka yang memperabdi kedudukan daerah dan

rakyat untuk kepentingan diri peribadinya, merasa tak senang

dan marah. Tetapi karena tak dapat menyalurkan perasaannya

itu, maka merekapun segera menciptakan rencana untuk

menghaturkan sanjungan dan hadiah2 yang dilaksanakan

dalam bentuk penyambutan meriah dan menghaturkan tanda

mata yang berharga kepada patih. Pun tanda2 dari sikap dan

tingkah yang menghormat dan takut secara berlebih lebihan,

merupakan gejala2 yang menghinggapi golongan kepala

daerah dan buyut semacam itu.

Ada pula suatu gejala yang dirasakan dan tak disenangi

patih Dipa. Yalah pada setiap kunjungan resmi itu, setelah

disambut dengan penghormatan dan pesta yang cukup

melelahkan, kemudian kepala daerah atau buyut yang

bersangkutan itu segera menghaturkan laporan. Pada

umumnya laporan itu tentu menunjukkan tingkat kemajuan

dan kemakmuran yang menggembirakan. Tiada laporan yang

buruk pada daerah atau desa yang dibawahinya. Pada hal

setelah secara diam2 patih Dipa mengutus orang untuk

menyelidiki, kenyataan berbicara lain pada laporan itu.

Kemudian yang menyebabkan patih Dipa kurang mantap

dalam peninjauan itu, setiap kali ia menyatakan keinginannya

 

 

untuk turun meninjau ke pedesaan ataupun keperkampungan,

tentulah selalu dicegah oleh kepala atau buyut desa tersebut.

Dan apabila patih Dipa tetap berkeras maka mereka pun selalu

mengiringkan dan membawa ke tempat2 yang baik2, ke

daerah yang indah alam pemandangannya.

Dipa meniti tangga kedudukan dalam pemerintahan, mulai

dari tingkat yang terbawah, dari seorang prajurit biasa. Ia pun

berasal dari keturunan bawah. Oleh karena itu jiwanya dapat

menyelami kehidupan rakyat lapisan bawah, bukan melainkan

pada kalangan tinggi saja. Ada tiga hal utama yang selalu

menjadi pedoman dalam menilik ke suatu daerah. Pertama,

pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Kedua, keamanan.

Ketiga, kesadaran rakyat terhadap pengabdiannya kepada

desa, daerah dan negara. Maju atau mundurnya sebuah

daerah atau desa, dinilai dari ukuran itu.

Setelah meniti dari hasil dan pengalamannya meninjau ke

daerah-daerah maka mulailah patih Dipa menyukai suatu

peninjauan yang bersifat tak resmi bahkan secara diam-diam

dan secara tiba tiba pula tanpa memberitahu lebih dulu

kepada kepala daerah atau buyut yang bersangkutan. Banyak

terjadi kepala daerah dan buyut yang kelabakan dan

kebingungan menghadapi kunjungan semacam itu. Tetapi

setelah itu, mereka pun mulai berhati-hati, rajin menunaikan

tugas setiap saat yang diperlukan. Dengan lancarnya

pekerjaan maka angin segar mulai berhembus, menumbuhkan

kegairahan, membungakan kegiatan kerja dan membuahkan

hasil2 kemajuan yang nyata. Rakyat mulai merasakan

meningkatnya pembangunan dan kesejahteraan. Merekapun

mulai mengarahkan perhatian dan mengikuti setiap tindakan

dari penguasa setempat. Tanpa disadari gairah mereka untuk

mengabdi kepada desa, daerah dan negara makin

 

 

Kunjungan patih Dipa ke daerah di kaki gunung

Penanggungan tak lain karena ia telah menerima laporan

tentang suatu gerakan dari sementara orang yang menyiarkan

aliran agama baru. Suatu aliran ajaran ilmu Tantra yang

terdapat dalam kitab Hindu dan membentangkan hal2 gaib

yang sukar difahamkan dan dipelajari.

Dahulu prabu Kretanagara dari kerajaan Singasari juga

menganut agama Tantrayana dari aliran Subuthi. Walaupun

Subuthi itu seorang murid Buddha Gautama, tetapi dalam

daftar karya mantra dari aliran Mahayana, nama Subuthi tak

terdapat. Baginda Kretanagara menyebut diri sebagai Syiwa-

Buda, menjadi jajna dengan bergelar Sri Juanabayreswara.

Demikian menurut kakawin Nagarakretagama karya pujangga

Tidaklah patih Dipa akan memerlukan meninjau daerah

kaki gunung Penanggungan itu manakala dalam laporan yang

diterima tiada terdapat hal2 yang kurang lazim pada agama2

yang berlaku di seluruh kerajaan Majapahit. Merekapun

bertujuan untuk mencari moksha. Dalam mencapai tujuan itu

yang dipentingkan yalah lima macam, yakni Mada atau

anggur, Matsya atau ikan, Mamsa atau daging Mudra atau

padi dan Maithuna atau cinta. Tidak memadamkan hawa nafsu

tetapi memperbesar. Setiap dewa yang dipujanya selalu

dengan saktinya yang berupa dewi. Syiwa dengan Durga,

Hyang Wairocana dengan Locana.

Negara Majapahit menganut agama Tripaksa atau tiga

aliran, Syiwa, Budha dan Brahma. Agama sebagai sendi

kepercayaan keaah Hyang Maha Agung dan landasan dari

akhlak yang tinggi, harus dikembangkan seluas-luasnya.

Demikian pula di keranian Kahuripan. Tetapi aliran2 yang tidak

sesuai atau yang mudah menimbulkan akibat2 lain, baik

terhadap kepercayaan kepada Hyang Maha Agung, maupun

 

 

mencemarkan susila dan akhlak, ataupun akibat2 yang dapat

mengganggu ketenangan dan ketenteraman negara, wajib

dihentikan. Menganggap bahwa gerakan di kaki gunung

Penanggungan itu termasuk rangka keamanan dan

kesejahteraan negara, maka patih Dipa bersama seorang

prajurit segera meninjau ke daerah itu. Keduanya

mengenakan pakaian biasa.

Sepanjang pedesaan yang menuju ke gunung itu, patih

Dipa mendengar keluhan dari sementara rakyat bahwa pada

waktu akhir2 ini sering terjadi penculikan wanita, terutama

gadis dan wanita2 muda. Walaupun patih Dipa tidak

menerangkan siapa dirinya, namun rakyat di sepanjang

pedesaan yang dilaluinya itu memberi bantuan, baik yang

berupa hidangan maupun keterangan-keterangan tentang

gerakan di gunung Penanggungan itu. Bahkan merekapun

bersedia ikut dengan Dipa manakala patih itu tidak

“Nyata bahwa dukungan rakyat bukan ditujukan pada

orang tetapi pada tindakannya. Sekalipun tidak kuberitahukan

diriku, tetapi mereka tetap bersedia membantu. Jelas sudah

bahwa setiap kejahatan, oleh siapa pun, dalam bentuk apapun

dan di mana pun, tetap akan diberantas orang” diam2 patih

Dipa menimang dalam hati.

“Mengapa saudara2 tak pernah meminta pertanggungan

jawab kepada mereka?” tanya patih Dipa.

Salah seorang lelaki bertubuh kekar segera menjawab,

”Bukan tak pernah tetapi mereka memang sakti sehingga kami

menderita luka”

“O, saudara2 pernah bertempur dengan mereka?” patih

Dipa terkejut.

 

 

“Sebenarnya bukan maksud kami hendak bertempur,

melainkan hanya meminta keterangan adakah mereka

mengetahui tentang peristiwa yang menggelisahkan rakyat

itu”

“Bertanya sesuatu yang menyangkut kepentingan rakyat,

bukanlah suatu kesalahan. Sudah tentu mereka sebagai kaum

yang menganut agama, akan memberi keterangan apa yang

diketahuinya”

Terdengar beberapa orang desa itu mendesuh geram

bahkan ada pula yang mengutuk. ”Jika mereka mengatakan

tak tahu, itupun sudah cukup dan kami memang tak berhak

untuk memaksa. Tetapi mereka telah mengusir rombongan

kami dengan perlakuan dan kata2 yang kasar sekali sehingga

menimbulkan kemarahan”

“Dan akhirnya terjadi perkelahian?”

“Ya” sahut orang itu ”tetapi mereka sakti, dapat

mendatangkan angin dan hujan”

Patih Dipa terkejut dalam hati tetapi ia tetap tersenyum,

”Ah, janganlah saudara berlebih-lebihan memberi keterangan.

Tentulah mereka mempunyai ilmu kedigdayaan yang hebat

sehingga saudara2 kalah. Tetapi apa dasar alasan mereka

memperlakukan saudara2 sekasar itu?”

“Mereka menganggap kita menuduh mereka dan mereka

merasa terhina atas pertanyaan kita”

Patih Dipa mencatat dalam hati semua keterangan rakyat

pedesaan itu dan iapun terus melanjutkan perjalanan menuju

ke gunung Penanggungan. Dibawalah patih Kahuripan itu

bersama pengiringnya ke asrama tempat kediaman kepala

mereka yang menamakan diri sebagai mahayogin Kapila.

Seorang lelaki yang berumur enampuluh tahun, rambut dan

 

 

janggut putih menjulai ke dada dan hanya mengenakan kain

cawat, tubuh telanjang.

Menjawab pertanyaan mahayogin Kapila, maka patih Dipa

mengatakan bahwa ia tertarik akan ilmu ajarannya tetapi ia

belum dapat memahami sepenuhnya apa yang diajarkan oleh

mahaguru Kapila itu.

“O, baiklah” kata mahaguru Kapila ”akan kuterangkan

dasar ilmu agama aliran yang kami ajarkan”

“Aku adalah pemeluk Syiwa” katanya ”karena Syiwa adalah

dewa yang mencipta, menghidupkan dan membunuh segala

mahluk. Mahakala dan Mahadewa, demikian gelar sebutan

Syiwa, karena menguasai ketiga kehidupan mahluk maka ia

disebut Mahakala. Karena sebagai dewa yang melebihi dewa2

lain, maka ia disebut Mahadewa. Dan kami, para yogin yang

menjalankan yoga, menyebutnya sebagai Mahaguru. Oleh

karena itu barang siapa yang tak menyembah kepada

Mahadewa Syiwa, dia tentu akan ditumpas”

Sengaja patih Dipa mengunjuk sikap terkejut. ”Bukankah

dewa itu sifatnya pemurah dan penyayang? Mengapa akan

membunuh orang yang tak menyembah kepadanya ?

“Kreta” kata mahayogin Kapila yang menyebut nama Dipa

sesuai yang dikatakan Dipa kepadanya. ”Batara Syiwa adalah

mahadewa, dewa yang melebihi dewa2 yang lain. Mahakala

karena menguasai, mencipta, menghidupi dan membinasakan

mahluk hidup. Seorang dewa yang bertanggung jawab penuh

atas kehidupan dan kematian semua mahluk. Beda dengan

dewa2 lain yang tak sedemikian besar kekuasaannya. Oleh

karena itu Batara Syiwa wajib dan berhak untuk

membinasakan siapa saja yang menentang”

 

 

“Kudengar cerita orang bahwa kecuali Syiwa, terdapat pula

dewa Vishnu dan Brahma. Mereka merupakan tiga serangkai

yang disebut Trimurti. Mengapa engkau katakan Syiwa yang

paling berkuasa ?”

“Dalam Trimurti, Brahma menjadi pencipta, Vishnu

pemelihara dan Syiwa pembinasa. Ada yang memuja Brahma,

ada yang memuja Vishnu, tetapi kami tetap hanya memuja

Syiwa. Karena hanya Syiwa lah sesungguhnya yang paling

berkuasa. Dapat mencipta, memelihara dan membinasakan”

”Bagaimana ajaran agama Syiwa yang engkau anut?”

tanya patih Dipa yarg memang gemar mengetahui segala jenis

ilmu, termasuk agama.

“Jika kaum Brahmana mempunyai Veda sebagai kitab suci

pedoman ajaran falsafahnya, kami kaum Syiwa juga

mempunyai kitab suci Purana. Suatu kitab pusaka yang sangat

tua usianya dan langsung turun dari dewa. Jumlah Purana

terdiri dari dclapanbelas buah: Brahma, Padma, Vishnu, Vayu,

Bhagavata, Narada, Markandeya, Agni, Bhavishya,

Brahmavaivarta, Lingga, Varaha, Skanda, Vamana, Kurma,

Matsya, Garuda dan Brahmandapurana. Nama2 Puruna itu

mengambil nama dewa2 yang menjadi pokok pembicaraan

atau dewa yang terpenting dalam Purana tersebut, walaupun

tidak semua Purana demikian. Tiap2 buku Purana yang

lengkap merupakan Pancalakshana atau lima bab yaitu

Penciptaan dunia pertama, Pencipta dunia kedua setelah yang

kedua mengalami kebinasaan. Asal usul para dewa dan reshi,

Kalamanu atau lukisan tentang kala, Varnsanucarita atau

cerita keturunan raja2 yang berkuasa di dunia”

Yogin Kapila berhenti sejenak untuk memulangkan napas

dan menggunakan kesempatan itu untuk mencari kesan pada

tetamunya. Sesungguhnya patih Dipa terkejut juga dalam hati

 

 

atas uraian yogin Kapila yang seolah dapat menghafalkan

semua kitab2 kaum mereka. Terpercik suatu pertanyaan

dalam hati patih Dipa, adakah saat itu ia sedang berhadapan

dengan seorang pandita yang benar2 berilmu tinggi ? Tetapi

bayang2 timbulnya kesan itu segera terhapus oleh keterangan

dari para penduduk pedesaan yang diterimanya. Cepat Dipa

menenangkan perasaannya dan menghampakan wajah

sehingga Kapila agak terkejut karena tak menemukan suatu

pantulan kesan mengagumi pembicaraannya pada wajah

tetamu itu.

“Termasuk yang penting dalam Pancalakshana itu adalah

uraian tentang Kalamanu. Kala atau masa yang berhubungan

dengan ciptaan dewa Manu kata Kapila, semua berjumlah

empatbelas kala. Dan dalam tiap2 kala dilahirkan manusia

baru oleh Manu. Tiap kala dibagi lagi kedalam empat yuga:

Kreiayuga, Dvaparayuga, Tretayuga dan Kaliyuga. Dalam

Kretayuga, keadaan jagad masih sempurna, dharma berlaku

dengan baik, tiada suatu mahlukpun yang bertindak salah.

Semua bertingkah laku baik. Dalam yuga2 berikutnya keadaan

makin jelek hingga sampailah yuga yang sekarang yaitu

Kahyuga. Dalam kala itu kejahatan merajalela. Karena

kejahatan itulah dunia kita akan palaya atau binasa. Sesudah

Kaliyuga sampai pada akhirnya maka datanglah keadaan gelap

gulita yang disebut malam Brahma hingga Brahma

berkehendak mencipta dunia lagi”

“O” tiba2 patih Dipa menukas ”jika demikian jelas

Brahmalah yang berkuasa, bukan Syiwa …”

“Itu menurut anggapan mereka tetapi bagi kami tetap

percaya bahwa Syiwa lah yang akan mencipta, memelihara

dan membinasakan dunia” Kapila bersikeras.

 

 

Dipa tertawa dalam hati namun ia masih mengajukan

pertanyaan untuk menyelidiki lebih lanjut. ”Bagaimana cara2

engkau dan pengikut pengikutmu menjalankan tata cara dan

mempelajari aliran agama yang engkau anut itu?”

“Telah kukatakan bahwa Puruna2 itu berjumlah

delapanbelas jilid. Tetapi delapan belas Purana itu tiada yang

memenuhi pancalakshana. Yang sebuah mementingkan bagian

kedua, sebuah lagi hanya mementingkan bagian yang

keempat, begitu seterusnya. Oleh karena itu timbullah

beberapa madzab. Ada yang mementingkan Vishnu ada pula

yang mementingkan Syiwa. Sudah tentu kami menganut

Puruna yang mengutamakan Syiwa.”

“Apakah isi puruna itu?” tanya patih Dipa dengan penuh

perhatian. Setiap hal atau ilmu ajaran maupun pengetahuan

yang baru, lepas dari senang tak senang, mencocoki seleranya

atau tidak, ia selalu senang mendengarkan. Bagi manusia,

makin tinggi kedudukannya, makin kaya harta bendanya,

makin gawat. Baginda Jayanagara, orang yang paling

berkuasa di kerajaan Majapahit, harus menderita pengalaman

pahit akibat pemberontakan2 terutama yang paling terasa

adalah pemberontakan terakhir dari Dharmaputera. Demikian

pula orang yang tertimbun harta berlimpah-limpah. Tentu tak

tenang perasaan hatinya. Tetapi beda halnya dengan ilmu.

Makin banyak memiliki ilmu, makin kuat dan cemerlang

keperibadiannya. Tiada ia kuatir akan diberontak karena

pangkat kedudukannya. Tiada ia gentar akan dirampok

ilmunya. Karena ilmu bukan harta benda, melainkan harta

“Didalam puruna, kecuali ajaran agama, pun juga

diajarkan tentang Tantra dan yoga. Tantra atau mantra adalah

ucapan yang mengandung kekuatan gaib. Kamipun melatih

ilmu semedhi, mudra sehingga dapat mencapai sadhaka

 

 

dimana kami akan mampu menguasai segala kekuatan gaib.

Dengan mantra kami dapat mengadakan pertalian erat kepada

dewa tertentu, kemudian dengan sadhaka kami meminta dewa

itu menitis kedalam diri kami sehingga kamipun memiliki

kekuatan gaib seperti dewa itu. Dalam menjalankan tantra

atau mantra itu kita harus menjalankan hatbajoga, yoga yang

sangat keras. Waktu melakukan yoga tersebut harus berusaha

membangkitkan ular sebagai titisan dewi Parwati, sakti

daripada Syiwa. Ular itu akan menutup saluran2 tertentu

dalam tubuh yang memberikan kemenangan atas samsara

….”?

Patih Dipa terlongong mendengar uraian itu.

“Kalian mengadakan latihan dengan ular?” tanyanya sesaat

“Seharusnya demikian” sahut yogin Kapila ”tetapi ular yang

menjadi titisan Dewi Parwati, sukar diketahui. Memang kami

pun telah mengumpulkan beratus- ratus ekor ular besar untuk

maksud latihan itu”

“O” patih Dipa mendesuh ”ular besar?”

Kapila mengangguk ”Ya, dan ular betina. Kepercayaan

yang kami anut yalah, bahwa Kebahagiaan dan Kenyataan

yang tertinggi yang akan memberi akibat kemenangan atas

samsara, adalah bersatunya antara dua sifat, lelaki dan

perempuan. Jenis lelaki itu adalah keadaan yang tertinggi dan

Jenis perempuan itu adalah keadaan pembebasan. Yang

pertama disebut upaya atau syarat untuk mencapai

Kebenaran. Yang kedua bersifat pembebasan, disebut prajna.

Kesatuan antara jenis laki2 dan jenis perempuan itu

merupakan penunggalan dan upaya prajna dan

mengakibatkan pembebasan dari samsara. Oleh karena itu

 

 

maka kami sangat memerlukan sekali benda apapun yang

bersifat kewanitaan, termasuk wanita sendiri”

Patih Dipa terkejut. Dengan demikian jelas bahwa

gerombolan anakbuah yogin Kapila inilah yang menculik gadis

dan wanita di pedesaan itu. Namun untuk lebih meyakinkan

dugaannya, ia bertanya lebih lanjut. ”Adakah hal itu

merupakan syarat yang sangat di perlukan dari aliran yang

engkau anut?”

“Mutlak” seru Kapila ”karena hanya dengan jalan

mempersatukan diri dengan jenis wanita, barulah kita dapat

mencapai kebebasan. Kami percaya penuh akan ajaran Syiwa

dan Syiwa sendiripun selalu bersatu dengan saktinya, yakni

Dewi Parwati. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan kesadaran

untuk mencapai pembebasan. Jika dilakukan dengan awriya,

akan mengakibatkan kleia yang merintangi jalan ke nirwana”

“Adakah tuan juga mengumpulkan wanita untuk keperluan

itu ?” mulai patih Dipa melancarkan pertanyaan yang langsung

akan menyingkap tabir rahasia yang hendak diselidikinya.

“Tentu” sahut Kapila ”karena hal itu mutlak bagi kaum

kami”

“Adakah wanita2 itu rela menyerahkan diri kepada

anakbuah tuan?”

“Betapa tidak?” sahut Kapila dengan nada yakin ”bukankah

mereka juga akan mencapai kebebasan dari samsara?”

Patih Dipa makin merangsang ”Adakah mereka juga

menganut aliran agama tuan?”

“Sebaiknya demikian” jawab Kapila ”namun ada juga yang

masih belum sadar. Tetapi hal itu tak penting. Jika mereka

sadar, mereka pun akan mencapai pembebasan tetapi jika tak

 

 

sadar, itu salah mereka sendiri. Yang penting anak murid kami

telah dapat melaksanakan jalan mencapai pembebasan.”

Mendengar jawaban itu, patih Dipa tak dapat menguasai

diri lagi. ”Jika demikian, gerombolan tuan yang telah menculik

wanita2 di desa2 sekitar kaki gunung ini”

Kapila tak terkejut, tak pula marah. Ia tetap tenang2

menjawab ”Bukan menculik melainkan hendak menolong

mereka supaya dapat mencapai pembebasan”

“Jika mereka dengan suka rela dan kesadaran sendiri

menyatakan masuk menjadi anakmurid tuan, itu memang

sudah selayaknya. Tetapi jika mereka hanya wanita2 di

pedesaan yang tak tahu menahu soal agama tuan, kemudian

anakmurid tuan menculiknya, jelas hal itu suatu perbuatan

yang melanggar undang-undang kerajaan dan mengacau

keamanan”

“Eh, ki sanak” tiba2 terdengar seorang lelaki muda yang

ikut hadir dalam pembicaraan, menegur patih Dipa ”engkau

adalah tetamu, janganlah engkau bicara sekasar itu di

hadapan guru kami”

Dalam ruang yang cukup lebar di mana yogin Kapila

menerima kedatangan patih Dipa dan pengiringnya, hadir juga

lima orang lelaki yang duduk di samping. Rupanya mereka

adalah anakmurid Kapila. Rupanya salah seorang anakmurid

itu tak dapat menahan diri karena mendengar ucapan patih

Dipa yang dianggapnya makin keras dan kasar.

Patih Dipa beringsut dan berpaling ke arah lelaki muda itu.

”O, engkau anggap kasarkah kata-kataku tadi? Haruskah aku

menyanjung perbuatan gurumu dan kawan kawanmu itu?”

“Engkau seorang tetamu, tahulah diri!” hardik orang itu.

 

 

“Sudah tentu aku lebih tahu siapa diriku daripada yang

engkau ketahui” sahut patih Dipa tetap tenang.

“Apa maksud kedatanganmu ke mari?” seru orang itu pula.

Sesungguhnya dalam rencana, patih Dipa hendak

menjalankan siasat yang lebih halus untuk menghadapi

gerombolan itu. Tetapi setelah mendengar keterangan tentang

sepak terjang mereka, pula teguran dari salah seorang murid

yang menusuk pendengaran, patih Dipa memutuskan untuk

menghadapi mereka secara terang-terangan. Bahwa cara2

yang dijalankan oleh gerombolan yogin Kapila itu, memang tak

sesuai dan tak layak dibenarkan berkembang dimasyarakat

ramai dan negara Kahuripan. Ia mencium suatu gejala yang

tak baik dalam aliran agama yang dianut mereka.

“Aku datang untuk meminta kembali wanita2 yang kamu

culik secara paksa itu. Betapa sedih keluarga mereka, betapa

risau suami mereka apabila mereka sudah bersuami dan

betapa pilu hati anak2 apabila mereka sudah mempunyai

anak”

“Ah, betapa besar nyalimu berani mengutarakan

permintaan semacam itu” sahut lelaki itu ”mereka adalah milik

kami. Mereka sudah berbahagia tinggal di sini. Merekapun

sudah menyadari betapa besar imbalan yang kelak mereka

peroleh dari apa yang mereka berikan sekarang. Jangan

engkau mengganggu usik mereka dan enyahlah lekas engkau

dari sini !”

Sambil berkata lelaki itu memberi hormat kepada yogin

Kapila ”Guru, idinkan hamba menghalau tetamu liar ini”

Kapila saat itu tak ikut campur dalam pembicaraan.

Tampak ia duduk bersila pejamkan mata, kedua telapak

 

 

tangan diletakkan di muka dada dan di atas pangkuan.

Rupanya sedang mengambil sikap mudra.

“Tat tvam asi” tiba2 meluncur kata2 dari mulut yogin tua

itu. Dan orang dari kelima lelaki yang bertukar kata dengan

patih Dipa tadipun serentak berbangkit. Setengah merentang

kedua tangan di muka dada, mata memejam dan mulut

berkomat kamit mengucap mantra.

Setelah mendengar keterangan dari Kapila bahwa aliran

agama Syiwa yang mereka anut itu, tergolong aliran yang

mengutamakan ilmu tantra atau mantra, segera patih Dipa

dapat menduga bahwa lelaki muda yang bertelanjang badan

dan hanya bercelana cawat itu tentu sedang mengucap

Dari beberapa resi, pandita terutama dari brahmana

Anuraga, pernah Dipa dahulu mendengar keterangan2 tentang

apa yang disebut mantra. Maka berkatalah brahmana Anuraga

”Mantra maknanya suatu ucap yang mempunyai daya

kesaktian yang gaib, dipergunakan untuk membangkitkan

pikiran dan batin ke arah segala bentuk kebakuan. Baik agama

Buda maupun Brahma, juga mengenal mantra, demikian pula

dengan agama Syiwa. Jika terdapat orang atau sekelompok

manusia baik dia atau mereka mengaku sebagai penganut

Syiwa, Buda atau Brahma, menjalankan ilmu mantra untuk

tujuan dan maksud yang tidak baik, janganlah engkau

menganggap bahwa agamanya itu yang salah. Hal itu tidak

benar. Apalagi ajaran mantra itu menuju ke arah ilmu gaib.

Mudah sekali diselewengkan ke arah penggunakan maksud

yang salah, yang jahat. Jika terjadi demikian, maka bukan

agama dan ajarannya yang salah tetapi adalah peribadi orang

itu sendiri yang harus mempertanggung jawabkan”

 

 

“Paman, benarkah dengan ilmu mantra itu kita dapat

mengetahui sesuatu yang terjadi di tempat jauh, mengetahui

pula apa yang belum terjadi dan lain2 keajaiban?” tanya Dipa

yang kala itu masih seorang anak-anak.

“Orang yang sudah mencapai tataran tinggi dalam ilmu

Mantranaya, hal2 yang engkau sebutkan itu bukan sesuatu

yang mustahil. Tetapi ingat, Dipa, Mantranaya itu cara untuk

mencapai jalan kesempurnaan. Berhasil atau tidaknya usaha

itu tergantung dari keimanan dan kesucian batin orang itu.

Jika digunakan untuk tujuan dan maksud yang kotor dan

jahat, orang itu tentu akan menerima akibat yang

menyedihkan”

Rupanya Dipa yang belum dewasa, belum dapat

menyerapi uraian brahmana Anuraga. Dalam alam pikiran dan

pandangan seorang anak, maka bertanyalah ia lebih lanjut,

”Paman, tidaklah dengan mantra itu, dapat digunakan untuk

mengalahkan musuh?”

Anuraga menyadari bahwa dalam pertanyaan Dipa itu

tersembul suatu pemantulan hati seorang anak. Dengan

demikian Dipa belum memiliki kedewasaan berpikir, untuk

menerima dan menyerapi. ”Benar” sahutnya ”setiap manusia

bebas untuk bertindak dan berbuat menurut apa yang

dikehendaki. Karena akibat2 dari tindakan dan perbuatannya

itu, dia sendirilah yang akan menanggung. Apabila mantra itu

ditujukan untuk melenyapkan kejahatan, memberantas orang

yang jahat, akan bertuahlah kesaktian mantra itu. Tetapi

apabila ditujukan kepada orang yang suci batinnya atau yang

berpijak pada kebenaran, besarlah akibat dari orang yang

memiliki mantra itu. Mungkin mantra itu akan pancarkan daya

kesaktiannya hingga yang terkena itu akan menderita luka

ataupun mati. Tetapi orang yang melancarkan mantra itu,

akan menerima akibat yang lebih besar daripada orang yang

 

 

menjadi korbannya itu. Eh, mengapa engkau bertanya soal itu,

Dipa?.”

Dalam nada dan sikap seperti seorang kanak2, Dipa

mengatakan bahwa hal itu hanya untuk menambah

pengetahuannya saja. Siapa tahu kelak mungkin ia harus

berhadapan dengan orang yang hendak mencelakainya

dengan mantra. ”Perjalanan hidupku selalu dirundung

kemalangan, penderitaan dan orang2 yang membenci

kepadaku” katanya.

Anuraga mengangguk. ”Jangan merisaukan hal itu, Dipa.

Mati hidup seseorang, di tangan Hyang Maha Agung. Jangan

engkau mengeluh ataupun putus asa karena hidupmu penuh

dengan derita dan orang2 yang memusuhirnu. Siapa tahu,

Dipa, kesemuanya itu hanya suatu coba dari Hyang Jagadnata

untuk menempa batinmu. Hanya manusia yang tahan

menderita, tahan coba tahan goda, adalah manusia pilihan,

manusia yang dikasihi dewata. Dan tidak banyak manusia

yang banyak mengalami coba dan derita seperti yang engkau

alami. Oleh karena itu, berbesar hatilah Dipa bahwa engkau

telah dipilih dewata untuk diuji dan dicoba dengan berbagai

derita itu”

Percakapan dengan paman brahmana Anuraga tentang hal

itu, termasuk salah sebuah kenangan yang selalu melekat

dalam kalbu Dipa. Kini dalam berhadapan dengan seorang

murid dari yogin Kapila yang hendak melancarkan mantra,

patih Dipapun tak gentar. ”Mati hidup seseorang itu, hanya di

tangan Hyang Batara Agung” terngiang pula kata2 paman

brahmana Anuraga. Dan mantaplah hati Dipa menghadapi

apapun yang akan dideritanya dari mantra lelaki muda itu.

Namun sampai beberapa waktu lamanya, belum juga

orang itu membuka mata. Bahkan tampak wajahnya berobah

 

 

robah warna. Merah, padam, tegang lalu berangsur-angsur

menyurut, makin menyurut pudar dan akhirnya pucat, makin

pucat seperti mayat. Keempat kawannya, kemungkinan

tunggal seperguruan, terkejut menyaksikan keadaan orang itu.

“Kakang Sambita” seru salah seorang dari keempat lelaki

itu ”mengapa engkau?”

Tampak peluh berhamburan membasahi kepala lelaki yang

memasang mantra tadi. Dia bernama Sambita, murid pertama

dari resi Kapila. Tiba2 Sambita rubuh.

Kapila mempunyai lima orang murid yang terpercaya.

Mereka ialah Sambita, Sagata, Kanda, Gandhara dan Andhra.

Kelima murid itu juga putus dalam ilmu mantra, walaupun

tidak setinggi gurunya. Melihat Sambita rubuh, keempat orang

itu terkejut dan buru2 menghampiri. Sambita pucat lesi,

napasnya terengah lemah. ”Kakang Sambita, mengapa

engkau?” tegur Sagata seraya mengurut-urut dada Sambita.

“Aneh …” Sambita membuka mata bergumam pelahan

”aneh …”

“Mengapa?” tanya Sagata makin ingin tahu.

“Tak perlu kuceritakan, aku lelah sekali” kata Sambita yang

tampaknya memang seperti seorang yang menderita luka

”cobalah engkau pasang mantra …”

Setelah mendapat keterangan dan mengetahui kakang

seperguruannya tak menderita luka, maka Sagata pun segera

menghampiri patih Dipa. ”Engkau ternyata amat sakti”

serunya ”mempunyai ilmu simpanan yang hebat”

Patih Dipa tertawa dalam hati tersenyum di mulut. ”Ilmu

simpanan? Ah, tidak, sama sekali tidak. Bukankah engkau tahu

bahwa kawanmu itu rubuh sendiri?”

 

 

“Hm” desuh Sagata ”engkau pandai berpura-pura. Baiklah,

sekarang engkau boleh bersiap lagi”

Murid kedua dari resi Kapila itupun segera berdiri diam,

pejamkan mata dan pusatkan semedhi untuk manteg-aji,

melancarkan mantra. Patih Dipa melihat gerak gerik orang itu.

Dia duga Sagata tentu hendak pasang mantra. Ia tak tahu apa

yang akan terjadi nanti, apakah yang keluar dari gerakan

mantra lawan. Belum pernah selama hidup ia merasakan dan

mengalami suatu akibat dari mantra. Belum pernah juga ia

berhadapan dengan orang atau musuh yang menyerang

dengan kekuatan mantra. Maka ingin sekali ia mendapat

pengalaman tentang mantra yang bersifat hitam itu. Adakah

benar2 ilmu semacam itu mampu mencelakai bahkan

membunuh orang? ”Ah, mati hidup seseorang tergantung

pada Hyang Widhi” kembali hatinya mengulang ucapan

brahmana Anuraga. Dan iapun lalu menuruti pesan paman

brahmana itu, agar dikala menghadapi sesuatu yang akan

timbul dari ilmu mantra, terutama yang bersifat hitam,

haruslah segera pejamkan mata, kosongkan pikiran dan

mengucap beberapa patah kata untuk penolak bala.

“Ah” tiba2 ia terperangah dalam hati. Ketika hendak

mengucapkan kata2 seperti yang diajarkan brahmana

Anuraga, ia tak ingat seluruhnya. Pertama, karena hal itu

sudah berlangsung lama sekali. Dan kedua kalinya, ia tak

pernah menghafalkan dan menggunakannya. Akhirnya ia akan

mengucap saja apa yang dapat diingat ”Om … ah … um

…..Sachita pari-yo dapanam …”

Menurut keterangan paman brahmana Anuraga, ketiga

kata Om, Ah, Um itu merupakan intisari dari Trikaya Bajra

yaitu suara suci dari bayu, syabda hidup atau kesatuan dari

tenaga, kata2 dan pikiran. Sedangkan Sachita pariyo dapanam

berarti Sucikanlah hati dan pikiran.

 

 

Patih Dipa tak tahu bagaimana kelanjutan dari serangan

mantra yang dilancarkan Sagata saat itu. Ia hanya

mengemongkan pikiran, menyatukan hati kearah sesuatu yang

Dalam rangka menjawab pertanyaan Dipa tentang ilmu

mantranya maka berkatalah brahmana Anuraga.

“Sesungguhnya ajaran kebatinan atau keagamaan itu,

meminta renungan sedalam dalamnya, karena inti daripada

itulah yang disebut agama. Bukan orang yang hanya tahu atau

hafal sejarah agama, tahu dan hafal falsafat agama dan hafal

pantta2 saya yang disebut mengenal agama. Mereka baru

dapat dikatakan tahu ajaran agama, yaitu ajaran mengetahui

dasar2 dan jalan menuju agama yang sebenarnya. Untuk itu

banyak meminta renungan dan latihan2 diri menurut petunjuk

agama itu. Banyak diantara kita, termasuk diri saya,

beranggapan bahwa kita telah pandai atau ahli agama bila

telah membaca kitab2, apal dasaksara, pantta, sasana dan

ayat2. Jika kita renungkan dalam2, belumlah cukup begitu

saja. Memang semuanya itu perlu dipelajari tetapi itu hanya

merupakan alat, sarana untuk petunjuk dalam latihan2

pengantar menuju agama. Tekanan pengertian kata ‘agama2

itu pada kelanggengan batin untuk mencapai kelanggengan

abadi yaitu kepada Hyang Maha Tunggal”

“Menyiapkan bathin untuk mencapai kelanggengan

kahyang Maha Widdhi Agung itulah yang sulit” kata brahmana

Anuraga lebih lanjut yang rupanya makin terbenam dalam

pemancaran endapan alam batinnya. ”Bathin yang langgeng

itu yalah batin yang suci bersih, bagai bersihnya angkasa yang

tiada berawan, lepas dari segala kebingungan atau

kemabukan. Ah, sukar untuk melukiskan hal itu secara tepat.

Seorang empu yang bijaksana dan sidik, Mpu Tantular, pernah

melukiskan dengan kata2 demikian :”Byakta lwir branta citta

 

 

ngrasa riwa riwa ning nirmala-citya rupa”. Memang seperti

bingung pikiran merasakan gambaran kesucian itu karena

berbentuk niskala”

Dikala mendengarkan

uraian brahmana Anuraga

tentang hal itu, Dipa yang

masih kecil hanya

terlongong-longong.

Brahmana Anuraga pun

segera menyadari hal itu dan

menyadari pula bahwa

seolah-olah ia hanya

meluapkan apa yang telah

mengendap dalam hati

sanubarinya sendiri. Tanpa

menghiraukan kehadiran

Setelah saat itu patih

Dipa menghampakan diri dalam alam pikiran yang suwung,

barulah ia dapat merasakan, walaupun tidak seluruhnya benar

dan pasti, babwa saat itu ia seperti kehilangan

keseluruhannya, faham, pikiran, pendengaran, penglihatan,

penciuman dan perasaan dari segenap indera pengrasanya.

Dalam keheningan yang dilingkupi suasana tegang itu,

entah berapa lama patih Dipa terbenam dalam alam niskala,

tiba2 ia dikejutkan oleh suara orang, ”Gusti patih, mereka

sudah rebah semua …”

Patih Dipa membuka mata dan melihat bahwa prajurit

Karpa berada di sampingnya. Tentulah dia yang bicara tadi.

”Apa maksudmu, Karpa?” tegurnya pelahan.

 

 

“Kelima orang itu menggeletak di lantai” kata prajurit

Karpa seraya menghambur pandang ke muka. Mengikuti arah

pandang mata Karpa, patih Dipa terkesiap. Ternyata kelima

orang anakmurid resi Kapila telah rubuh berbaring di tanah.

Wajah mereka pucat seperti orang sakit.

“Mengapa mereka, Karpa?” bisik patih Dipa meminta

Prajurit Karpa mengatakan bahwa satu demi satu keempat

orang itu melakukan semedhi. Akan tetapi setiap kali tentu

gagal dan rubuh di tanah. Bahkan yang terakhir, dua orang

serempak melakukan semedhi, tetapi hasilnyapun sama.

Mendengar keterangan itu, patih Dipa heran. Pada hal selama

bersemedht tadi ia tak merasakan sesuatu gangguan apa2.

Demikian pula ia tak merasakan melakukan sesuatu untuk

mencelakai lawan, bahkan mengandung pikiran demikianpun

“Gusti patih ….”

“Mengapa Karpa ?” cepat patih Dipa menukas. Pada mula

diangkat menjadi patih, maka timbullah suatu rasa kikuk

setengahnya risih dalam perasaan Dipa. Para prajurit, sentana,

nayaka, para abdi dan kawula, memanggilnya dengan sebutan

hormat ‘gusti patih’. Pada saat pertama kali mendengar

sebutan itu, ia tertegun. Hampir ia tak percaya akan

pendengarannya. Bagaimana mungkin dia seorang anak yang

berasal dari desa, yang semasa kecil harus mengalami

berbagai derita hidup, yang mulai bekerja dari tingkat

terbawah sebagai prajurit biasa, saat itu disanjung orang

dengan gelar ‘patih’ dan sebutan hormat ‘gusti’. Mimpikah dia?

Tidak. Ia tidak bermimpi manakala ia menunduk dan

mendapatkan dirinya berhias dalam busana priagung dan

tanda kepangkatan patih. Ia tidak bermimpi. Ia memang

 

 

seorang patih. Suatu kenyataan yang nyata. Seperangkat

busana kebesaran dan sebilah keris anugerah sang Rani

Kahuripan, membuktikan kenyataan yang sesungguhnya. Dan

teringatlah serentak akan upacara pengangkatannya sebagai

patih yang disaksikan oleh segenap senopati, nayaka dan

narapraja Kahuripan. Bahkan masih terngiang dalam telinga

apa sabda sang Rani Tribuanatunggadewi dalam

menghayatkan arti dan kedudukan patih dalam upacara

abhiseka itu. ”Patih Dipa, seluruh kepercayaanku berada

padamu, semua harapan keranian dan rakyat Kahuripan

tertumpah kepadamu dan restu para dewata sepenuh tercurah

kepadamu. Semoga engkau dapat membawa keranian dan

kawula Kahuripan ke arah kesejahteraan, kemajuan dan

kejayaan ….”

Namun ketika mandengar seorang prajurit menyebutnya

‘gusti patih’, ia masih terpana. Terasa janggal baginya

menerima sebutan itu sehingga pernah ia menyuruh seorang

prajurit jangan menyebut ‘gusti patih’ cukup dengan ‘ki patih’

saja. Karena takut, prajurit itu menurut tetapi jarang bahkan

hampir tak pernah menyebutnya lagi. Dan akhirnya patih patih

Arya Tadah mendengar hal itu. Cepat ia memanggil patih

muda itu.

“Ki patih” seru patih sepuh Arya Tadah ”telah kudengar

beberapa hal yang menggelisahkan para sentana, prajurit dan

abdi keraton mengenai sikapmu yang aneh”

“O, mohon paman sudi memberi penjelasan” kata patih

“Bahwa engkau tak mau disebut ‘gusti patih’, bahwa

engkau pun tak mau menerima sembah hormat dari orang

sebawahanmu dan bahwasannya pula engkau meminta

 

 

supaya mereka jangan menjalankan peradatan2 selayaknya

kepadamu. Benarkah itu ?”

“Benar, paman” Dipa mengakui, ”memang aku merasa tak

enak perasaan atas pergantian sebutan diriku. Pertama, ada

beberapa orang yang jauh lebih tua dari aku dan kedua,

dengan lahirnya sebutan dan peradatan itu, seolah

menimbulkan jurang pemisah antara aku dengan mereka.

Timbulnya jurang pemisah itu akan menimbulkan batas2

tertentu sehingga aku tak dapat langsung bergaul dengan

mereka. Seolah aku telah dipisahkan dengan mereka. Dalam

rangka pekerjaan yang tertentu, amat dibutuhkan segala

hubungan yang erat antara atasan dengan sebawahannya,

antara yang memimpin dan yang dipimpin. Tidakkah hal itu

akan memisahkan diriku dengan orang2 yang kubawahi? Dan

….. aku sendiri berasal dari kalangan rakyat, adakah sekarang

aku harus terpisah dengan sumberku?”

Patih sepuh Arya Tadah mengangguk-angguk.

“Ki Dipa” katanya dengan tenang ”apa yang engkau

utarakan memang benar. Tetapi tidak dibenarkan dalam

peraturan pemerintahan, masyarakat dan lingkungan hidup

kita dewasa ini. Dipa dahulu dengan Dipa sekarang, adalah

sama orangnya. Tetapi prajurit Dipa lain dengan bekel Dipa.

jauh lebih lain pula dengan patih Dipa. Kelainan itu terjadi

pada tingkat kedudukan dalam pekerjaan, tingkat itu disusun

menurut kedudukan dan kemudian ditetapkan pangkat. Dan

karena pemerintah mengadakan hal itu untuk mengatur agar

susunan dapat dilaksanakan dengan semestinya maka tiap

pangkat mempunyai wewenang yang lebih tinggi dari yang

lain. Kemudian untuk memberi isi pada pembagian pangkat

itu, ditetapkan pula sebutan2 untuk masing2 pangkat. Sebutan

itu tak lain hanya suatu penghargaan dan kehormatan

disamping untuk membedakan pangkat. Maka hal itu pun

 

 

sudah layak, bukan suatu hal yang berlebih-lebihan apabila

sekarang para prajurit menyebutmu ‘gusti’ dan karena

kedudukanmu sebagai patih maka lengkapnya ‘gusti patih’“

Sesungguhnya patih Dipa pun sudah mengetahui hal itu,

namun betapa pun ia masih memiliki suatu rasa sukar

menerima dalam hati. Melihat wajah patih muda itu masih

menampil keraguan, patih sepuh Arya Tadah segera

menambahkan penjelasannya.

“Tetapi hendaknya engkau dapat mencamkan, meresapi

dan menghayati apa arti dari sebutan kehormatan yang

engkau terima itu” kata patih Arya Tadah ”bukan hanya

sekedar begitu sajalah sebutan itu dipersembahkan

kepadamu. Karena makna dari penghargaan tak lain adalah

suatu kepercayaan. Dan kepercayaan itu sesungguhnya

mengandung tanggung jawab yang besar. Semakin tinggi

sebutan kehormatan yang engkau leikia, semakin besar

tanggung jawab yang diletakkan pada bahumu. Mereka telah

menghormati engkau, maka engkau harus menerima,

mengunjukkan bahwa engkau memang benar layak dan

berharga untuk kehormatan yang mereka tumpahkan itu.

Apabila engkau mementingkan isi daripada kulit, tanggung

jawab daripada segala sebutan kehormatan, kurasa tiada rasa

canggung, kikuk, risih, malu menerima sebutan kehormatan

itu. Jika engkau memiliki rasa canggung dan malu, hendaknya

bukan canggung atau malu karena sebutan itu tetapi

canggung, risih dan malu karena engkau tak mampu

menunaikan kewajibanmu sesuai dengan penghargaan yang

telah diberikan oleh kerajaan dan seluruh kawula”

Kata2 yang terakhir dari patih Arya Tadah itu telah

mengungkap hati Dipa. Ia dapat menerimanya dengan segala

kerendahan hati dan penuh dengan rasa tanggung jawab.

 

 

Sejak itu, ia pun tak mempersoalkan lagi sebutan2

kehormatan yang diucapkan oleh orang2 sebawahannya.

Memang ada kalanya masih tersentuh perasaan hatinya

manakala mendengar dirinya disebut ‘gusti patih’. Seperti yang

terjadi pada saat itu, ketika prajurit Karpa menyebutnya gusti

patih. Tetapi bagaikan angin selekas berhembus selekas itu

pula berlalu. Lebih2 pada saat itu ia harus menghadapi

persoalan resi Kapila dan anakmuridnya.

“Kesaktian gusti telah melumpuhkan mereka. Tanpa

tampak mengeluarkan tenaga, gusti telah merubuhkan kelima

orang itu” kata Karpa menjawab pertanyaan patih Dipa tadi.

“Kesaktianku?” patih Dipa terkesiap ”adakah selama aku

bersemedhi tadi telah terjadi sesuatu? Adakah engkau melihat

sesuatu keluar dari diriku?”

“Tidak, gusti” sahut prajurit Karpa ”hamba seorang tolol,

bagaimana mungkin hamba mengetahui ilmu kesaktian yang

gusti tunjukkan? Suatu ilmu gaib sukar dilihat mata”

“Ah” desah patih Dipa. Ia merasa heran di samping malu

dalam hati. Selama bersemedhi tadi, ia tak merasa melakukan

sesuatu. Yang dirasa, hanya kehilangan rasa. Namun selekas

itu ia menyadari bahwa orang memang masih menaruh

kepercayaan kepada segala ilmu gaib. Prajurit Karpa termasuk

salah seorang. Ia hendak memberi penjelasan tetapi

mengingat waktu dan tempat tak mengidinkaa maka iapun

lalu membatalkannya.

“Ki sanak, engkau sakti benar” tiba2 terdengar seseorang

berseru kepadanya. Dan patih Dipa serentak mengangkat

muka memandang ke depan. Ternyata yang berseru itu yogin

Kapila yang saat itu duduk bersila membuka mata. Ternyata

pada saat kelima muridnya melakukan semedhi untuk

 

 

melancarkan mantra kepada patih Dipa, dimulai dari Sambita

tiba2 rubuh, yogin Kapila terkejut. Rasa kejut itu makin

mengejut besar ketika muridnya yang kedua Sagata pun

rubuh, maka memberingaslah yogin Kapila. Diam2 ia segera

bersemedhi memasang aji mantranya, memohon kepada dewa

untuk meminta kekuatan gaib mengenyahkan kedua

tetamunya itu. Ia telah berhasil mendatangkan apa yang

dimintanya tetapi ketika kekuatan gaib itu melayang ke arah

patih Dipa, tiba2 terhapus lenyap. Kekuatan yang memasuki

raga yogin Kapila itupun segera meninggalkannya dengan

pesan bahwa tak mungkin Kapila mampu bertanding melawan

tetamu itu. ”Dia seorang titah manusia yang dikasihi dewata

….”

Namun tak selekas itu Kapila putus asa. Ia mengadakan

hubungan pula untuk meminta kedatangan beberapa dewa

menurut apa yang diciptanya. Tetapi para kekuatan gaib yang

datang itu, semua menyatakan tak sanggup karena mereka

takut akan melanggar-kodrat. Masih Kapila tak puas. Ia segera

mendatangkan roh2 dari para jin yang jahat agar membunuh

patih Dipa. Tetapi jin2 jahat itupun tak berani. ”Insan itu

memiliki sebuah pusaka sakti penunduk semua jin”

Saat itu baru Kapila menyadari bahwa ia berhadapan

dengan seorang manusia yang luar biasa. Seorang manusia

yang dikasihi dewata, seorang manusia yang ditakuti para jin

jahat. Namun Kapila seorang yang sudah terbenam dalam rasa

ke akuan yang tinggi. Rasa ke-akuan yang memancarkan sifat

kecongkakan, tinggi hati dan keyakinan pada diri sendiri

sebagai seorang yogin yang sakti.

Ia tak percaya bahwa seorang muda yang masih begitu

muda usia, dapat mengalahkan kesaktiannya. Apabila dengan

ilmu mantra tak dapat mengalahkan maka ia hendak

mengujinya dengan ilmu kedigdayaan. Tetapi sebelum

 

 

melaksanakan maksudnya, lebih dulu ia hendak menyelidiki

sesungguhnya pusaka apakah yang dimiliki patih itu. Maka

dengan kata2 ramah, ia menghamburkan pujian kepada Dipa.

Ia tak tahu siapa sesungguhnya Dipa itu.

“Ah, tuan hanya merendah diri” jawab patih Dipa”

“Tetapi kenyataan memang berbicara demikian” kata

Kapila ”aku bersedia menyerah apabila ki sanak mau

menjawab beberapa pertanyaanku”

“Ah, jangan tuan berkata begitu” kata patih Dipa pula

”kedatanganku kemari bukanlah hendak mengunjuk kesaktian

ataupun hendak menguji kesaktian tuan. Bukankah kita tak

berkelahi? Mengapa tuan menyatakan menyerah ?”

Kapila tertawa hambar. Ia menduga bahwa tetamunya itu

hanya merendah diri saja. Jelas dia telah mengunjukkan ilmu

semedhi yang sakti untuk menghadapi serangan dari kelima

muridnya. ”Apakah sesungguhnya maksud kedatangan ki

sanak ke mari ini?”

“Sederhana sekali” jawab patih Dipa ”hentikan penyebaran

aliran agama yang tuan kembangkan ini. Jangan diteruskan

jua cara2 yang tuan anut itu. Beralihlah kepada aliran agama

yang menuju kesucian dan kebenaran. Kemudian yang

terakhir, bebaskanlah wanita2 yang tuan culik itu agar mereka

dapat pulang dan berkumpul pula dengan keluarganya”

Kapila mendengarkan tuntutan tetamunya itu dengan

penuh perhatian. Kemudian ia menjawab. ”Akan kupenuhi

tuntutan ki sanak apabila engkau mau menjawab tiga buah

pertanyaanku”

“Silahkan” kata patih Dipa serentak.

 

 

“Pertama” kata Kapila ”siapakah diri ki sanak ini

sesungguhnya?”

“Aku?” patih Dipa agak meragu. Sebenarnya ia tak suka

untuk menonjolkan diri. Tetapi karena pertama, ia sudah

menyanggupi untuk menjawab dengan jujur. Dan kedua ia

anggap pengunjukan dirinya, bukan suatu hal yang

mengurangi pelaksanaan dari penyelesaian soal yang

dihadapinya, bahkan kemungkinan akan menambah

berhasilnya usaha untuk memberantas mereka. Maka ia

segera menjawab, ”Aku patih Kahuripan”

“O” Kapila mendesuh kejut demi mendengar keterangan

itu. Dan serta merta iapun memberi hormat ”maafkan Kapila

yang telah berlaku kurang adat tak menyambut kunjungan

tuan patih sebagaimana layaknya”

“Penyambutan dan penghormatan yang kuinginkan bukan

hanya sikap dan cara serta ucapan yang rendah menghormat.

Bukan pula suatu perjamuan atau apapun yang bersifat

persembahan benda. Melainkan kesediaan tuan untuk

memenuhi permintaanku yang layak tadi. Itu sudah cukup

bagiku”

Kapila mengangguk kepala.

“Brahmana, resi, yogin serupa dengan raja. Bahkan

menurut kedudukan kasta, kau dan brahmana itu lebih tinggi.

Seorang raja atau ksatrya, tak pernah menelan kembali apa

yang telah diucapkan. Lebih2 bagi seorang brahmana atau

pandita ataupun yogin seperti diriku” kata Kapila ”aku telah

terlanjur mengajukan tiga buah pertanyaan sebelum bersedia

atau tidak untuk membubarkan madzib yang kudirikan di

gunung ini. Dan tuan patih pun juga sudah meluluskan. Maka

tak dapat dibenarkan hati kaumku untuk menarik kembali

 

 

ucapanku itu hanya karena mengetahui bahwa tuan ini adalah

gusti patih Kahuripan”

Dipa mengangguk ”Baiklah. Silahkan tuan melanjutkan

pertanyaan”

“Pertanyaan yang kedua, pusaka apakah yang tuan miliki?”

kata Kapila ”apakah pusaka itu berwujut senjata atau tumbal

dan aji-aji?”

Patih Dipa terkesiap ”Pusaka? Bagaimana tuan

bertanyakan hal itu? Apakah tuan mengetahui?”

Resi Kapila tertawa ”Apapun yang terdapat dalam diri ki

patih, seterang aku melihat kaca”

Sesungguhnya Dipa dapat mengatakan apa saja untuk

menjawab pertanyaan itu. Namun ia merasa sudah teringat

oleh janjinya untuk menjawab secara jujur. Maka iapun

menjawab, ”Bukan pusaka, karena aku tak mempunyai senjata

apa2. Namun jika engkau menganggap bahwa milikku itu

sebuah pusaka, itupun terserah kepadamu”

“Apakah itu?” desak Kapila.

“Senjataku tak lain hanya batin yang suci dan keyakinan

akan kebenaran dari langkahku ini. Itu sajalah” seru patih

“Hm” dengus yogin Kapila ”soal itu, sukar untuk menjadi

penilaian. Adakah hanya engkau sendiri yang memiliki batin

suci dan keyakinan benar? Suci dan benar itu, sukar untuk

menilai. Masing2 menganggap demikian. Aku melakukan tata

cara menurut agama yang kuanut, adalah bertujuan untuk

mencapai kebebasan dari samsara. Apabila telah tercapai,

maka itulah Kesucian dan Kebenaran”

 

 

“Tetapi pelaksanaan dari caramu itu, tidak benar.

Bagaimana mungkin ia hendak mencari kesucian dengan cara

tidak suci? Bagaimana mungkin pula engkau mencari

Kebenaran dengan cara tak benar? Menculik dan memaksa

wanita untuk menuruti kehendakmu dan murid-murid dengan

alasan bahwa hal itu merupakan syarat dari agamamu, tidak

dapat kuterima. Adakah wanita2 itu benar titisan dari Dewi

Parwati isteri Syiwa ? Bukankah hal itu hanya merupakan dalih

untuk engkau dan murid-muridmu melampiaskan hawa nafsu

belaka? Menculik berarti memaksa dan sifat paksa itu sudah

mengandung kejahatan dan kekerasan, apabila hal itu

ditujukan pada peradaban susila dan wanita. Terserah kalau

engkau hendak melampiaskan nafsu itu kepada ular2 betina.

Tetapi kalau terhadap wanita manusia, aku wajib bertindak”

“Jangan terlalu jauh dengan soal yang kutanyakan. Engkau

seorang patih, haruslah engkau menjawab secara ksatrya.

Pusaka apakah yang engkau miliki?”

Patih Dipa mengkal dan geli dalam hati. Belum pernah ia

bertemu dengan lawan bahkan kawan, yang bertanyakan soal

pusaka kepadanya. Namun karena orang tak sungkan

bertanya, iapun harus menjawab. Sesungguhnya hal itu,

jarang benar orang yang tahu dan memang iapun tak pernah

mengatakan kepada siapapun juga. Ia taat kepada pesan

eyang Panangkar dahulu, bahwa pusaka itu jangan sekali kali

digunakan apabila tidak sangat perlu sekali. Selama mengiring

baginda Jayanagara lolos dari keraton menuju ke desa

Bedander, ia selalu tak pisah dengan pusaka itu. Demikian

pula ketika berada di tengah tengah rapat paseban Balai

Ksatrya yang lalu. Ia selalu siap dengan pusaka itu. Syukurlah

sebelum ia terpaksa harus mengeluarkan pusaka itu, keadaan

sudah selesai.

 

 

Tetapi ia sudah berjanji akan berkata sejujurnya dan

bahkan menerima ejekan dari resi Kapila supaya bersikap

ksatrya. Ia mempertimbangkan akan mengatakan pusaka itu.

Mudah mudahan apabila pusaka itu dikenal Kapila, yogin itu

akan menyerah. Namun andaikata Kapila tak kenal pusaka itu

dan tetap hendak melawan, iapun akan menghadapinya. ”Ki

resi” katanya ”sebenarnya aku tak mempunyai pusaka apa2.

Tetapi kalau engkau mendesak, akan kukatakan juga. Aku

hanya memiliki sebuah gada biasa”

“Apakah nama gada itu?”

“Gada Intan”

Yogin Kapila terkejut dan merenung. Ternyata dia adalah

adik dari resi Kalpika, resi yang bersama pertapa Parapara

hendak mencari kitab Sang Hyang Kamkha-yanekan

peninggalan empu Baradha di kuburan Wurare dahulu. Kedua

saudara Kalpika dan Kapila itu sama-sama menjadi penganut

ajaran Hindu. Tetapi keduanya telah berselisih faham. Kalpika

menganut aliran Vishnu sedang Kapila menjunjung Syiwa.

Keduanya sama2 mempertahankan pendiriannya dan akhirnya

mereka berpisah untuk melaksanakan penditian cita-citanya.

Dari kakangnya resi Kalpika itu, Kapila telah diceritakan

tentang peninggalan2 pusaka dari empu Baradha. Yang

penting Kitab suci Sanghyang Kamahaya Bekan dan sebuah

gada kecil disebut Gada Intan. Di samping itu tentu masih

terdapat pula pusaka2 peninggalannya yang lain yang belum

Demi mendengar patih Dipa menyebut Gada Intan,

seketika mengeluhlah Kapila dalam hati. Itulah sebabnya maka

segala ilmu mantra yang dilancarkan tadi tak kuasa menembus

kesaktian Gada Intan. Dari kakangnya, resi Kalpika, ia

mendapat keterangan pula bahwa gada pusaka peninggalan

 

 

Mpu Barada itu mengandung tuah kesaktian untuk

menundukkan segala jin, peri dan semua roh2 halus. Seketika

timbul nafsu keinginan dalam hati Kapila. Jika ia dapat

memiliki gada pusaka itu, tentu ia akan dapat menguasai para

jin dan badan halus untuk menambah kesaktiannya.

“Ah, mungkin dia hanya membual” tiba2 terlintas lain

pikiran dalam hari Kapila ”baiklah kuselidiki lebih mendalam

sebelum aku terjerat dalam perangkapnya”

“Ha, ha” tiba2 Kapita tertawa ”Gada Intan pusaka dari

Empu Barada? Ah, tidak mungkin. Aku bukan anak kecil yang

mudah engkau bohongi, ki patih”

Patih Dipa balas tertawa, ”Lebih baik engkau jangan

percaya, karena sesungguhnya gada itu hanya gada biasa

saja”

Kapila terkejut dalam hati. Ia hendak memancing tetapi

umpannya malah dicaplok sang ikan, ”jika ki patih memang

tak bohong, sukalah ki patih menunjukkan gada itu barang

sejenak saja kepadaku”

“Untuk apa?”

“Agar dapat kulihat benar atau tidak, gada itu sebuah

pusaka”

Patih Dipa tertawa ”Adakah engkau sudah pernah melihat

Gada Intan ?”

Resi Kapila terbeliak. Beberapa saat ia tak dapat

“Jika engkau belum pernah melihat Gada Intan bagaimana

mungkin engkau tahu gada itu Gada Intan atau bukan”

 

 

Merah wajah resi Kapila namun cepat ia dapat

mengembalikan ketenangannya. ”Sekurang-kurangnya aku

dapat mengetahui gada itu sebuah pusaka atau bukan”

Kembali patih Dipa tertawa, ”Ah, mengapa engkau perlu

berjerih payah hendak memeriksa milik orang? Apa

hubunganmu dengan gada itu ? Pertanyaanmu telah kujawab.

Untuk memeriksa gada itu, tidak tercantum dalam

pertanyaanmu. Engkau seorang yogin, apakah engkau hendak

menelan kata-katamu lagi?”

Kali ini Kapila tak dapat berbuat apa2 lagi. Senjatanya

untuk mengejek Dipa sebagai seorang patih harus berjiwa

ksatrya untuk tidak menelan lagi ucapannya, kini telah

dilancarkan balik kepadanya. Dan ia tak berkutik.

“Pertanyaan yang ketiga” cepat2 ia membangkitkan

semangatnya agar jangan tertekan karena menderita

kekalahan bicara dari patih Dipa ”apakah ki patih sanggup

bertanding adu kedigdayaan dengan aku?”

“Eh, suatu tantangan berkelahi ?” seru patih Dipa agak tak

“Ketiga syarat, harus terjawab semua. Satupun ki patih tak

mau menjawab, aku takkan tunduk pada perintah tuan” kata

“Hm” dengus patih Dipa. Diam2 ia sudah

mempertimbangkan keputusan, ”baik, aku bersedia”

“Terima kasih, ki patih” seru Kapila.

“Tak perlu” kata patih Dipa ”karena aku hendak

menegaskan kepadamu. Sesungguhnya tindakan-tindakanmu

itu tak sesuai dengan martabatmu sebagai seorang yogin,

seorang resi bahkan menurut pengakuanmu seorang

 

 

pemimpin dari suatu aliran agama. Lepas dari cara-cara yang

engkau tindakkan itu salah, tetapi engkau mengaku bahwa

tujuanmu itu suci dan benar. Engkau hendak mencari

kebebasan dari samsara. Dapat kuanggap, walaupun

langkahmu salah, tetapi pikiranmu sudah setingkat dengan

seorang resi, seorang pandita. Tetapi mengapa engkau masih

ingin menggunakan kekerasan, masih ingin menonjolkan

kedigdayaan? Mengapa engkau malu untuk mengakui

kesalahanmu?”

“Pendirianku, jiwaku” sahut Kapila ”apabila pendirianku

dianggap bersalah dan hendak diberantas, tidakkah sama

halnya dengan akan menghilangkan jiwa Kapila?”

“Pendirian yang luhur” seru patih Dipa ”tetapi sayang

keluhuranmu itu berlumpur. Jelas bahwa pendirianmu itu

berlumuran lumpur yang menjijikkan, mengapa engkau tak

mau lekas tinggalkan tempat sekotor itu?”

“Cukup, ki patih” seru Kapila ”Kapila bukan seorang anak

kecil yang harus engkau beri nasehat. Sudah mendarah

daginglah pendirianku itu. Terserah engkau hendak

menganggap salah. Maka marilah kita selesaikan persoalan ini

dengan adu kedigdayaan. Jika aku kalah, aku bersedia

membubarkan anakbuahku dan mengembalikan wanita2 itu.

Tetapi bagaimana kalau engkau kalah?”

“Apa kehendakmu?” balas patih Dipa.

“Aku tak menghendaki suatu apa, pun takkan

mengganggu seujung rambut ki patih. Tetapi aku hanya

meminta gada ki patih itu supaya diserahkan kepadaku.

Ringan bukan?”

“Hm” desuh Dipa ”engkau memang seorang resi yang

masih penuh dengan nafsu keinginan. Baik, kuterima”

 

 

Kapila tampak gembira. Saat itu kelima muridnya pun

sudah bangun. Ia segera menyuruh Sambita untuk

mengambilkan keranjang di sanggar pamujan. Tak berapa

lama Sambita pun muncul dengan membawa sebuah

keranjang besar yang terbuat dari anyaman rotan. Keranjang

besar itu diletakkan di hadapan gurunya. Resi Kapila membuka

penutupnya dan merogoh ke dalam keranjang.

Patih Dipa dan Karpa mengikuti dengan penuh perhatian

segala gerak gerik resi Kapila. Mereka tak mengerti mengapa

Sambita mengambil keranjang dan diletakkan di muka

gurunya. Kemudian diikutinya dengan penuh perhatian ketika

Kapila mengulurkan tangan ke dalam keranjang. Hampir patih

Dipa dan prajurit Karpa memekik kejut ketika melihat apa

yang diambil resi itu. Untung kedua orang itu dapat menahan

Ternyata yang diambil dari dalam keranjang itu adalah

segenggam ular besar yang panjang. Ular itu segera dililitkan

pada leher, badan, perut dan kedua lengan Kapila. Tak kurang

dari sepuluh ekor ular besar telah melilit tubuh yogin itu.

Tubuhnya tak tampak lagi, seolah dia sudah berobah menjadi

seorang manusia ular ”Ki patih, bersiaplah untuk menerima

seranganku” serunya setelah selesai berhias dengan kawanan

Prajurit Karpa terkejut dan gemetar. Kepala ular2 itu

menjulur ke muka, ada pula yang meregang kepala tegak

berdiri dan ada yang menjulai sepanjang kaki Kapila.

Binatang2 itu menghadap ke arah patih Dipa dengan mulut

menganga. Belum pernah dalam sejarah hidupnya sebagai

seorang prajurit, Karpa menghadapi lawan seperti saat itu.

Ular adalah binatang yang berbisa dan ganas. Dan jumlah

mereka beberapa ekor. Bagaimana ia harus menghadapinya.

 

 

Dalam kebingungan prajurit Karpa berpaling memandang

patih Dipa. Ia heran mengapa patih Dipa tak mengunjukkan

perobahan warna wajah dan tetap tenang2 saja. Adakah patih

Dipa tak gentar menghadapi bahaya itu ? Ataukah patih

junjungannya itu memang benar2 sakti mandraguna? Ia

bingung. Hendak bertanya tak berani. Akhirnya ia paserah

dalam kepercayaan bulat kepada gusti patihnya.

Sesungguhnya Dipa sendiri juga gelisah. Dahulu semasa

kecil, ia pernah bergulat dengan seekor ular besar berjamang

penunggu jamur Brahmacahya. Tetapi pertarungan tak

disengaja karena ia tak tahu bahwa benda yang memancar

cahaya terang itu ternyata sepasang mata dari ular tersebut.

Teringat akan perkelahiannya dengan ular berjamang, iapun

teringat pula bahwa ia pernah menggigit dan menghisap darah

ular besar. Dan sejak itu, ia merasa tenaganya bertambah

amat kuat.

Kini ia harus menghadapi seorang resi aneh yang

menggunakan sepuluh ekor ular untuk menyerangnya. Ia tak

tahu bagaimana cara resi itu hendak memerintahkan ular2

peliharaannya untuk menyerang. Namun ia tak mempunyai

kesempatan untuk menimang nimang lebih lama karena saat

itu, resi Kapila sudah maju menyerang. Serempak kesepuluh

ekor ular berhamburan menjulurkan kepala untuk menyambar

Dipa. Terpaksa Dipa menggunakan gerak tata langkah yang

diajarkan brahmana Anuraga untuk berlincahan menghindar.

Patih Dipa bersikap hati2 menghadapi serangan yang aneh

itu. Ia hanya menggunakan siasat menghindar sambil

mempelajari gerak gerik lawan. Ia harus membatasi diri untuk

tidak bertindak secara gegabah.

Cukup lama juga resi Kapila melakukan serangan kepada

patih Dipa. Kepala, dada dan kaki patih itu diburunya dengan

 

 

sambaran2 ular yang ganas. Namun sampai sekian lama

belum juga ia memperoleh hasil. Tiba2 resi itu hentikan

serangan, berdiri tegak lalu bersuit. Kesepuluh ekor ular itu

segera melongsorkan lilitannya dan terus meluncur

menghampiri patih Dipa.

Prajurit Karpa memekik kejut. Bagaimana mungkin ki patih

akan menghadapi serangan sepuluh ekor ular yang buas dan

ganas, bahkan mungkin beracun juga. Tetapi ia tak sempat

berbuat apa2 karena ular2 itupun sudah dua tiga langkah di

muka patih Dipa. Maka menjeritlah ia sekuat-kuatnya, terus

maju menerjang.

Karpa menghunus pedang dan membabat ular yang

hendak menerkam patih Dipa. Tetapi ular itu tangkas sekali.

Tubuhnya mengendap ke bawah, selekas pedang lewat, tiba2

ular itu membalikkan kepala dan dalam kecepatan yang

menyamai pancaran kilat, ia menyambar prajurit Karpa. Karpa

menjerit, kejut dan ngeri. Pada hal pedang sudah terlanjur

sedang menabas ke muka, untuk menarik atau

mempergunakannya menahan serangan ular itu, sudah tak

mungkin dilakukannya. Hanya sebuah jalan yang masih dapat

ditempuh. Iapun belum menjamin adakah ia dapat

menyelamatkan jiwanya. Namun karena sudah tiada lain

pilihan, ia melaksanakannya juga.

Pedang dilepaskan, Karpa pun ayunkan tubuh ke belakang.

Namun masih kalah cepat ular yang saat itu kepalanya sudah

dua tiga kaki dari dadanya. Karpa tak menghiraukan suatu apa

lagi, kedua tangannya berayun ke belakang untuk merebahkan

tubuh ke tanah. Memang dalam pertempuran atau

perkelahian, seseorang harus menyesuaikan diri dengan

keadaan saat itu. Terutama pada saat jiwanya terancam,

adakah hal itu menurut tata-kelahi atau ilmu silat ataupun

bukan, yang penting adalah suatu gerak langkah pengamanan

 

 

diri. Demikian dengan prajurit Karpa. Ia tak mempedulikan

bagaimana kelanjutan daripada gerak membuang tubuh ke

belakang, yang penting pada saat itu ia dapat lolos dari

sambaran mulut ular.

Bluk, tanah bergetar ketika punggung dan kepala Karpa

jatuh. Dengan gerak itu ular tak dapat menyambar dadanya.

Tetapi sejenak terkesiap, ular itu terus meluncurkan kepala

untuk menyambar kaki Karpa. Kali ini Karpa pasti celaka.

Dalam keadaan tidur telentang di tanah, kecuali berguling, ia

tak mempunyai daya lagi untuk menyingkir. Namun ia

melakukan juga gerak itu karena tiada lain jalan.

Seperti sudah dapat diduga, gerakan berguling dari Karpa

itu hanya suatu penundaan dari bencana yang akan

menimpalinya. Karena baru sekali dua kali ia berguling,

ularpun sudah menyambarnya.

Pada saat prajurit Karpa harus berjuang untuk

menghindari sambaran ular tadi, patih Dipa pun tak dapat

berbuat apa2 karena ia sendiripun sedang sibuk menghadapi

serangan beberapa ekor ular yang mengancam kepala, dada

dan kaki. Gerak tata-langkah yang dimainkan patih Dipa,

akhirnya harus menghadapi jalan buntu karena ular2 itu

menghadangnya dari empat arah. Bahkan pada saat itu

kakinya telah tersambar seekor ular yang lalu melilitnya, makin

lama makin kencang sehingga patih Dipa terkejut kesakitan.

Beberapa ularpun segera meluncur untuk meminta bagian

daging tubuh patih Kahuripan itu.

Patih Dipa tak kuat menahan lilitan ular itu. Ia tak sempat

pula untuk menyiak ataupun mencengkeram ular itu karena

harus menghadapi beberapa ular yang merayap

menghampirinya. Saat itu semangat Dipa serasa terbang,

pikiran melayang dan tenaga makin lumpuh. Pada saat2 ia

 

 

sudah melepaskan semua harapan hidup, tiba2 terpeciklah

suatu cahaya kilat merekah dalam benaknya. Ia melihat

sebuah benda pandak bulat yang memancarkan cahaya

berkilau-kilauan. Serentak iapun teringat akan gada pusaka

yang masih disimpan dalam baju. Bukankah saat itu ia sedang

terancam maut?

Secepat kilat ia merogoh ke dalam baju, mengeluarkan

Gada Intan dan menghantam kepala ular yang melilit kakinya.

Ular itu dengan tangkas menghindar ke samping, namun suatu

peristiwa aneh telah terjadi. Walaupun jelas ular itu dapat

menyelamatkan kepalanya tetapi tiba2 binatang itu seperti

kehilangan daya kekuatannya. Tubuhnya melongsor dan

lepaskan lilitannya lalu meregang-regang dan menggelepar

Dipa tak sempat memperhatikan apa sebab ular itu tibatiba

tak bergerak. Ia segera ayunkan Gada Intan menghantam

beberapa ular yang menjelang tiba di hadapannya. Lima enam

ekor ular terentak bergeliatan menggelepar-gelepar dan

sesaat kemudian tak bergerak. Ada seekor yang terkena

hantaman gada pusaka, telah hancur lebur kepalanya. Darah

muncrat keempat penjuru, sedang yang lainnya walaupun tak

langsung terkena, tetapi angin sambaran gada pusaka itu

telah menimbulkan akibat yang mengherankan. Ular2 itu

serasa lumpuh tenaganya karena tulangnya patah. Mereka

menggelepar meregang jiwa lalu mati.

Pada saat patih Dipa dapat menyapu kawanan ular yang

menyerangnya, segera ia melihat prajurit Karpa sedang

terancam seekor ular. Jarak antara tempat ia berdiri dengan

prajurit itu cukup jauh. Untuk loncat menolongnya, tentu tak

keburu lagi. Maka tanpa banyak pertimbangan lagi, patih Dipa

lontarkan gada pusaka kearah ular itu. Lontaran itu tepat

mengenai badan ular dan seketika ular itupun pecah

 

 

berantakan. Itulah sebabnya mengapa prajurit Karpa dapat

melanjutkan gerakan berguling-guling sampai beberapa

langkah tanpa menderita suatu cidera. Selekas merasa sudah

cukup jauh, iapun melenting bangun. Ia terlongong-longong

ketika menyaksikan ular yang menyerangnya tadi mati

berlumuran darah.

Tetapi belum sempat ia mengetahui apa yang terjadi,

sesosok tubuh loncat menerkam sebuah benda di dekat

bangkai ular itu. Dan sebelum tahu siapa orang itu dan apa

yang diterkamnya, sesosok tubuh lainpun melayang kearah

orang itu dan menginjak benda yang hendak diambilnya.

Ternyata orang pertama yang loncat menerkam benda di

sisi bangkai itu adalah resi Kapila. Dan benda itu tak lain Gada

Intan yang terhantar di sisi bangkai ular. Sedang orang kedua

yang loncat menginjak gada itu, adalah patih Dipa sendiri.

Patih Dipa marah karena menyaksikan perbuatan resi

Kapila yang sedemikian kejam. Dan kemarahannya itu pun

makin meluap demi melihat betapa buas resi itu mengejar

nafsu keangtaraan. Serentak disambarnya tengkuk dan

pinggang Kapila lalu diangkatnya tinggi2 ke atas kepala.

Peristiwa di desa Madan Teda terulang kembali. Saat itu

patih Dipa serasa memiliki suatu kekuatan aneh yang

mendekati kegaiban. Wajahnya merah padam, memancarkan

cahaya dari suatu keperkasaan yang berwibawa. Dan suatu

kemarahan untuk menghancurkan keangkaraan. Ia seolaholah

merasa seperti mengangkat patung Ganesya. Ia lupa

bahwa saat itu dirinya seorang patih. Dalam perasaannya, ia

adalah Dipa, anak desa yang tengah mengangkat patung

raksasa diputar-putar sederas angin kisaran …..

“Batara Ganesya ….. !” sekonyong-konyong berteriaklah

kelima murid resi Kapila melihat pewujutan patih Dipa saat itu.

 

 

Namun ketika bayangan itu melintas lenyap, mereka segera

tersambar petir keterkejutan yang hebat. Resi Kapila, guru

mereka, sedang diangkat oleh patih Dipa, setiap saat pasti

hancur lebur apabila d’banting oleh patih itu.

“Gusti patih, ampunilah guru kami” serta merta Sambita

berlima maju kehadapan patih Dipa dan memohon.

Saat itu hampir saja patih Dipa sudah akan melemparkan

tubuh resi Kapila. Ia beranggapan bahwa seorang pertapa

semacam Kapila, hanya akan mengotori masyarakat saja.

Membunuh memang suatu perbuatan kejam, tetapi

membunuh untuk membasmi kejahatan, lain artinya. Namun

ketika mendengar permohonan kelima murid Kapila, Dipa

tertegun. Sepercik sinar merekah terang dalam hatinya. Ia

menyadari bahwa tindakan untuk membunuh Kapila itu kurang

layak. Ia layak menghukum resi itu tetapi tak dibenarkan

untuk membunuhnya. Sebagai seorang patih, ia harus dapat

menjaga undang2 dan peraturan hukum yang berlaku di

Kahuripan. Setiap kesalahan dan kejahatan harus ditindak,

dihukum menurut peradilan undang2 negara. Dan sifat

daripada hukuman itu sesungguhnya untuk menyadarkan

terhukum dari kesalahannya.

Perlahan-lahan tubuh resi itu diturunkannya bluk ….. ,

sesaat tangan melepas maka resi itupun jatuh ke tanah.

Kelima muridnya serempak menolongnya. Resi Kapila pingsan,

sejak tubuhnya diputar putar sekencang angin oleh patih Dipa

tadi. Darah bergolak, meluap dan menghentikan denyut

“Tunggu” seru patih Dipa ketika melihat kelima murid itu

hendak membawa resi Kapila masuk, ”apa janji kalian?”

Sambita sebagai murid pertama, bertindak selaku wakil

gurunya. Ia berjanji akan mengindahkan perintah patih Dipa,

 

 

membubarkan perguruan dan membebaskan wanita2 yang

Setelah menyelesaikan peristiwa di gunung Penanggungan

itu, patih Dipa dan prajurit Karpa segera tinggalkan gunung

dengan membawa wanita2 yang ditawan itu. Di kaki gunung

rakyat sudah berbondong menyambut. Memang setelah jauh

Dipa dan pengiringnya berangkat ke gunung Penanggungan,

rakyat di pedesaan serempak berkumpul dan dengan

membawa alat senjata yang dimiliki, mereka berbondongbondong

menuju ke gunung itu. Mereka menunggu di kaki

gunung. Apabila sampai surya tenggelam belum juga patih itu

turun, mereka akan mendaki ke atas dan menyerbu asrama

resi Kapila.

Patih Dipa diam2 kagum atas semangat rakyat di

pedesaan. Sampai saat itu belumlah mereka tahu siapa

sesungguhnya dirinya itu. Namun penyambutan mereka

tidaklah berkurang meriahnya. Hal itu memberi kesan yang

menandaskan lagi, bahwa bukan peribadi orang melainkan

tindakannya yang dihormati rakyat. Suatu penghormatan yang

tepat dan murni, bebas dan pengetahuan yang mungkin dapat

memercikkan debu2 pamrih dalam hati mereka.

Patih Dipa dan pengiringnya melanjutkan perjalan pulang

ke pura Kahuripan. Sesaat hari mulai petang dan

mencongklangkan kudanya di sepanjang jalan yang sunyi,

terjadilah suatu peristiwa yang mengejutkan ketika tak

terduga-duga seorang anak kecil melintas jalan. Jarak yang

amat dekat tak memungkinkan patih Dipa untuk

menyingkirkan kuda ke samping. Namun ia menyadari bahwa

apabila kena di terjang, anak itu pasti berbahaya jiwanya,

mungkin menderita luka berat, mungkin cacat bahkan

mungkin mati.

 

 

Dalam saat yang berbahaya itu, patih Dipa cepat

menyentakkan tali kendali sekuat-kuatnya. Kuda terkejut

kesakitan dan melonjak ke atas. Binatang itu meringkik

dahsyat dan berontak sekuat-kuatnya dari tarikan kendali yang

dirasakan amat kuat sekali. Karena hampir berdiri tegak dan

meronta ronta sekuat kuatnya dengan tiba2 maka tubuh patih

Dipa pun terlempar ke tanah. Dan selekas lepas dari rasa

sakit, kuda itupun loncat ke muka melampaui anak kecil itu.

Rupanya binatang itu menderita kejut yang hebat sehingga ia

terus lari sekencang-kencangnya.

Anak2 itupun memekik kaget. Terutama prajurit Karpa.

Hampir saja tubuh patih Dipa terlanda oleh kuda yang dinaiki

Karpa. Untunglah Karpa yang mengiring di belakang, terpisah

beberapa langkah dari tempat peristiwa itu sehingga ia masih

mampu memaksa kudanya untuk menghindar ke samping

sehingga selamatlah patih Dipa dari terjangan kuda.

Prajurit Karpapun cepat loncat dari kuda dan lari

menghampiri ke tempat patih Dipa yang masih rebah di tanah.

”Gusti patih ….” prajurit gugup dan cemas ketika melihat patih

diam saja. Karena tiada penyahutan, maka iapun

memberanikan diri untuk mengangkat tubuh patih itu. Patih

Dipa pejamkan mata, mulutnya mengucur darah. Karpa makin

cemas, diletakkan tubuh patih ke atas pangkuannya dan

mulailah ia mengurut-urut dada, tangan dan bahu patih Dipa.

Tak selang berapa saat, patih Dipapun membuka mata. ”O,

engkau Karpa” serunya ”bagaimana dengan anak kecil itu ?”

“Dia selamat, gusti” kata prajurit Karpa. Ia agak terkesiap

melihat sikap patih itu. Dalam keadaan menderita luka, bukan

dirinya yang dipentingkan melainkan lebih mengutamakan

keselamatan anak itu.

 

 

“O, syukurlah” kata patih Dipa seraya menggeliat duduk

”terima kasih, Karpa” ia terus bei-bangkit.

“Adakah gusti patih menderita luka?”

“Tak berarti, hanya terkejut” sahut patih Dipa seraya

membersihkan pakaiannya yang berlumuran debu. Tiba2 ia

mendengar isak tangis diantara suara anak2 yang hiruk.

Memandang ke arah suara itu, dilihatnya kawanan anak2 itu

tengah berkerumun dalam suatu lingkaran. Suara tangis itu

jelas berasal dari lingkaran anak2 itu.

Patih Dipa menghampiri dan menegur ”Hai, mengapa

kalian ini?”

Anak2 itupun menyiak ke samping. Patih Dipa melihat

anak kecil tadi sedang menangis terisak-isak. Di-hampirinya

anak itu ”Mengapa engkau menangis?”

Anak itu tak menjawab. Salah seorang anak yang agak

besar tiba2 menyahut, ”Kawan2 mempersalahkan dan

memakinya”

“O” desuh patih Dipa beralih pandang kepada anak2 itu

”mengapa kalian menyalahkan kawanmu yang kecil ini?”

Seorang anak yang paling besar menjawab ”Dialah yang

mencelakai paman sehingga paman jatuh dari kuda …”

“Mengapa dia tiba2 melintas ke tengah jalan?”

“Sebuah kancing celananya jatuh dan dia hendak

mengambilnya”

Mendengar keterangan itu patih Dipa terkesiap. Kemudian

bertanya kepada anak kecil itu ”benarkah begitu, nak ?”

Anak kecil itu mengangguk.

 

 

“O” seru patih Dipa ”mengapa engkau lebih mementingkan

sebuah kancing dari jiwamu?”

Anak itu tak lekas menyahut melainkan mengusap

airmatanya dan memandang patih Dipa. Terkejut patih Dipa

ketika bertemu pandang dengan anak itu. Sinar mata anak itu,

pernah dilihatnya dan dinikmatinya. Tetapi siapa…. ah, tiba2

ia tersentak. Adakah dia? Teringat seketika ia akan seseorang

tetapi pada lain kilas ia terpaksa harus menghapus

lamunannya. Mungkinkah hal itu? Ah, tidak ”Mengapa nak?”

ulang patih Dipa karena anak kecil itu agak takut ketika

melihat sepasang mata patih Dipa memancar sinar.

“Karena ibu telah memesan begitu” akhirnya anak kecil itu

berani juga membuka suara.

“O, bagaimana pesan ibumu?”

“Apa yang kubawa dan kupakai, tak boleh hilang”

“Apakah ibumu akan marah karena kancing celanamu

hilang?” rupanya patih Dipa tertarik akan kata2 anak kecil itu.

“Ibu tak pernah marah kepadaku. Tetapi aku takut kalau

dia menangis”

“Ibumu sering menangis?”

“Sering” sahut anak itu ”tetapi ia selalu menyangkal kalau

aku bertanya mengapa ia menangis. Dia sangat sayang sekali

kepadaku”

Patih Dipa termangu-mangu. Kata2 yang penuh kejujuran

dan wajar dari anak kecil itu, amat menikam hatinya. Betapa

besar kasih sayang seorang ibu kepada puteranya. Anak kecil

itu tentu berbahagia karena mempunyai seorang ibu yang

mencintainya. Demikian pula setiap anak yang lain. Tetapi dia?

Ah, betapa besar ia merindukan kasih seorang ibu? Betapa

 

 

besar ia mendambakan kebahagiaan belaian kasih seorang ibu

itu? Rindunya tak kunjung padam sejak ia masih kecil. Ia

melihat bagaimana setiap anak selalu dipeluk mesra oleh

ibunya, dibelai dengan penuh kasih sayang dan ditimangtimang

dengan kemesraan. Kesemuanya itu tak pernah ia

merasakan. Betapa derita batinya untuk mengharap sesuatu

yang wajar bagi seorang anak manusia, bahkan anak burung

yang sering dilihatnya sedang disuapi makanan oleh induknya

di sarang atau anak kambing yang sedang menyusu induknya

di padang rumput, baginya tak pernah kunjung tiba.

Anak kecil itu tak berani berkata manakala ia melihat patih

Dipa termenung-menung diam. Dipandangnya wajah patih itu

dengan heran dan hampa. Tiba2 anak itu beringsut dan suara

yang timbul dari gerak tubuhnya, menyadarkan patih Dipa dari

renungannya

“Ah, nak, hari sudah makin gelap. Engkau harus pulang.

Bukankah ibumu akan mencarimu ?”

Anak itu mengangguk ”Ibu akan menangis bila sampai

petang aku tak pulang”

“O” desuh Dipa ”dimanakah rumahmu ?”

Melihat patih Dipa tak marah bahkan malah bicara rancah

dengan anak kecil itu, sekalian anak2 yang besarpun hilang

kekuatirannya. Tadi mereka mendamprat anak kecil itu karena

takut patih Dipa akan marah

“Dia tinggal di utara kademangan, paman” seru salah

seorang anak yang agak besar.

“O, baiklah” kata Dipa seraya berbangkit “apakah kalian

bersedia mengantarkan pulang ?”

 

 

Kawanan anak2 itu menyatakan kesediaannya. Patih Dipa

gembira tetapi ketika berpaling hendak berkata kepada anak

kecil tadi, ternyata anak kecil itu bercucuran airmata ”Eh,

mengapa engkau menangis” tegurnya heran.

Namun anak kecil itu tak menyahut.

“Jangan takut, katakanlah, mengapa engkau menangis ?

Kawan kawanmu akan mengantarkan engkau pulang” kata

patih Dipa pula.

“Ibuku tentu menangis, aku takut…..” kata anak kecil itu

sambil mengusap airmatanya.

Patih Dipa terkesiap. Entah bagaimana ia tertarik melihat

anak yang amat taat dan mencintai ibunya ”Baiklah, jika aku

yang mengantar, apakah ibumu akan marah ?”

Anak kecil itu gelengkan kepala ”Mungkin tidak”

“O” patih Dipa kerutkan dahi. Rupanya ia heran mengapa

jika dia yang mengantar, ibu anak itu tak marah. Tetapi kalau

anak2, ibunya marah.

“Begini, paman” anak yang paling besar tadi maju

kehadapan patih Dipa ”Jaka Antakakami ajak mandi di sungai

sehingga petang hari baru pulang. Ibunya tertu cemas. Kalau

kami yang mengantar, ibunya tentu tahu Jaka Antaka mandi di

sungai maka dia tak berani”

“Kalau aku yang mengantar?” tanya patih Dipa.

“Tentulah ibunya tak marah karena percaya paman yang

mengajak anak itu”

Patih Dipa menimang, tiba2 ia bertanya, ”Namanya Jaka

Antaka ? Ah, rasanya sebuah nama yang baik. Biasanya putera

seorang berpangkat”

 

 

“Benar, paman” sahut anak itu” ayahnya seorang anak

orang berpangkat”

Patih Dipa makin tertarik. Ia bersedia mengantarkan anak

itu. Diam2 ia telah mempersiapkan kata2 untuk menegur

orangtua anak itu. Jelas orangtuanya lalai atau memang tak

memperhatikan anaknya sehingga seorang anak sekecil itu

bermain-main mandi di sungai yang cukup jauh letaknya ”Eh,

engkau” katanya kepada anak yang terbesar itu ”berapa

umurmu ?”

Anak itu heran namun menjawab juga ”Duabelas tahun,

paman”

“Ah, cukup besar” kata patih Dipa serentak teringat pada

dirinya dikala masih berumur begitu, Ia sudah tinggalkan desa

dan berkelana, ”mengapa engkau mengajak seorang anak

sekecil itu mandi di sungai? Bukankah besar bahayanya

apabila anak itu sampai hanyut ?” tegurnya agak keras.

“Benar, paman, aku memang bersalah” jika anak besar itu

mengakui kesalahannya adalah seorang anak lain yang

bertubuh gemuk segera menjawab “kami sudah melarangnya

tetapi dia sendiri yang terkeras ikut”

“Benar ?” patih Dipa berpalirg kearah anak kecil tadi

”benarkah engkau yang ikut sendiri ?”

“Ya” anak kecil itu mengangguk ”aku ingin mencari yuyu,

katanya di sungai itu banyak yuyu”

Patih Dipa tak marah mendengar jawaban itu bahkan

kebalikannya ia tersenyum karena anak itu jujur dan wajar,

”ibumu tentu marah kalau tahu hal itu. Apakah lain kali

engkau berani pergi ke sungai lagi?”

Anak itu gelengkan kepala, ”Tidak, paman”

 

 

Dipa segera mengajak anak kecil itu pulang. Bermula

kawanan anak2 itu berjalan beriring tetapi ketika tiba disuatu

perkampungan merekapun segera pulang ke rumah masing2.

Patih Dipa dibawa anak kecil itu menuju ke sebuah rumah

yang berhalaman luas, dikelilingi pagar tanaman bersalut

bambu. Agak terkejut patih Dipa melihat bangunan rumah itu,

besar dan memiliki tiang2 soko. Biasanya rumah seperti

bangunan itu tentu didiami oleh orang berpangkat. Tetapi

sebesar itu rumah dan halamannya, suasananya amat sepi. Di

halaman tampak seorang lelaki tua tengah menyapu. Ketika

melihat Jaka Antaka masuk di halaman, lelaki tua itu berteriak

girang, ”Oh, raden Antaka,kemana engkau?”

Tetapi lelaki tua itu tak melanjutkan kata-katanya karena

melihat Jaka Antaka datang beserta patih Dipa dan seorang

lelaki lain. ”Raden, siapakah yang datang bersamamu ?”

“Paman” kata patih Dipa dengan tenang ”aku hanya

kebetulan lalu di jalan yang sepi dan bertemu dengan anak ini

maka kuantarkannya pulang”

“Oh” kembali lelaki tua itu mendesuh kejut ”dimanakah

tuan mendapatkannya ?”

“Dia bermain-main dengan kawan-kawannya”

“Ho, tentulah anak2 kampung itu, den Antaka tentu akan

dimarahi ibunya”

“Ya, paman” kata patih Dipa ”tetapi yang pokok dia sudah

pulang tak kurang suatu apa. Adakah paman eyang dari anak

ini ?”

 

 

Lelaki tua itu terperangah, ”Tidak, ki sanak, aku hanya

seorang pengalasan, juru momong dari ayah den Antaka sejak

kecil mula sampai ia berputera”

“O, paman seorang yang setya pada junjungan” patih Dipa

mengucap pujian ”tetapi ….” belum sempat ia melanjutkan

kata katanya dari dalam rumah terdengar suara langkah orang

setengah berlari dan sesaat kemudian terdengar suara oiang

berseru. ”Antaka ……..”

Jaka Antaka cepat lari menghampiri seorang wanita muda

yang muncul dari dalam rumah, ”Ibu …” anak itu segera

menyusup ke dalam pelukan wanita itu dan menangis.

“Ke mana engkau siang tadi? Mengapa sampai petang

begini baru pulang. Ibu mencarimu kemana-mana” kata

wanita itu.

Dalam pada itu Dipa pun berpaling ke arah wanita dan

puteranya itu. Ia terharu gembira melihat kemesraan wanita

itu kepada puteranya. Tetapi dalam keremangan cuaca yang

makin petang, samar2 ia memperhatikan wajah wanita itu dan

tersiraplah darahnya seketika. Ia terbelalak.

“Nden Antaka diantar pulang oleh seorang lelaki yang baik

hati. Kalau tidak tentu dia takut pulang” tiba2 lelaki tua itu

menghampiri ke tempat wanita dan memberi keterangan.

“Oh” wanita muda itupun terhentak dari perhatiannya

kepada puteranya ”siapa? Mana lelaki itu ?”

“Itulah, masih berdiri di halaman” kata bujang tua itu pula

seraya menunjuk ke tempat patih Dipa.

Wanita itu memandang ke arah yang ditunjuk bujang tua.

Serta pandang matanya tertumbuk pada wajah patih Dipa,

seketika ia menjerit ”Kakang Dipa, engkau ….”

 

 

Tanpa disadari wanita itu menyiakkan puteranya ke

samping dan terus memburu ke tempat patih Dipa. Patih itu

tegak mematung seperti seorang yang kehilangan semangat.

“Kakang Dipa ….. bukankah engkau kakang Dipa?” wanita

itu mengulang seruannya seraya memandang pa:ih Dipa

selekat paku menancap tiang.

Patih Dipa mengebas-kebaskan kepala seperti burung

terlimpah hujan, kemudian mengusap kedua belah matanya.

”Puranti ….. apakah engkau Puranti …..”

“Kakang …” wanita muda itu terus lari menyongsong ke

muka dan memeluk patih Dipa ”kakang Dipa…..” ia susupkan

kepalanya ke dada patih Dipa.

Dipa tertegun, terkesiap dan terhanyut dalam badai

perasaan yang tiada menentu. Badai yang menimbulkan

gelombang dahsyat di laut hati Dipa. Gemuruh riuh laksana

beribu prajurit yang tengah menyabung nyawa di medan laga.

Menggelegar sedahsyat halilintar membelah angkasa.

Demikian perasaan hati patih Dipa yang sedang dilanda oleh

kenangan. Kenangan lama yang pernah menggetarkan

serabut2 halus dari dinding kalbunya.

“Puranti, adakah aku bermimpi?” akhirnya terurailah

hamburan kata dari mulut patih muda itu.

“Tidak, kakang, tidak” Puranti makin memperkencang

pelukannya ”engkau tak bermimpi. Aku adalah Puranti, Cucu

Puranti puteri demang Saroyo”

Dalam kehidupan manusia, berpisah dan berkumpul,

bercerai dan bertemu, sudahlah jamak dalam perjalanan

hidup. Kata orang, diantara perpisahan dan pertemuan, paling

terasa berat dalam perasaan adalah perpisahan mati. Apabila

kita ditinggal mati oleh orang tua, saudara, sanak keluarga,

 

 

sahabat dan mereka yang kita cintai. Dan diantara pertemuan

yang paling menggembirakan adalah antara orangtua dengan

anak, saudara dengan saudara, sanak dengan keluarga dan

sahabat dengan sahabat. Termasuk kegembiraan yang

memuncak adalah pertemuan antara sepasang kekasih yang

lama dirindu oleh perpisahan lama.

Namun tiadalah tentu pertemuan itu menggembirakan.

Adapula pertemuan yang menyedihkan hati. Tiada pula

kegembiraan itu mesti gembira, ada pula kegembiraan yang

menyedihkan. Atau gembira yang sedih, dan hal itu terjadi

pada diri Dipa, rakryan patih Kahuripan. Ketegangan perasaan,

kerinduan yang tak pernah terpenuhi, dari kasih sayang

seorang ibu dan dari kasih asmara seorang gadis yang

menjadi cucu dari demang Surya, kini ditumpahkan seluruhnya

kepada Cucu Puranti, puteri demang Saroyo, yang pernah

singgah menghias taman hatinya.

“Puranti ….” serta merta Dipa pun memeluk wanita muda

itu. Erat dan mesra seolah seperti orang yang takut akan

kehilangan miliknya yang berharga. Ia merasa bahwa

kehausan kasihnya telah bertemu dengan sebuah telaga yang

jernih. Ia ingin memuaskan dahaga, ingin meneguk kejernihan

air yang sejuk. Dan keinginan2 itu telah melelapkan kesadaran

batinnya, menghanyutkan kejernihan pikirannya.

Puranti, wanita muda yang memaserahkan semangat dan

jiwanya, menangis terisak-isak dalam dekapan mesra dari

Dipa. Kedua insan itu terbuai dalam alam yang indah dari

taman Indraloka. Mereka merasa bahwa alam yang seluas ini

hanya terisi oleh mereka berdua, milik mereka berdua.

“Ibu ….” tiba2 Jaka Antaka berlari menghampiri Puranti. Ia

terkejut dan takut karena mendengar ibunya menangis

terisak-isak. ”ibu, mengapa engkau menangis?”

 

 

Walaupun impian itu hanya suatu kelanjutan dari sesuatu

yang menghuni dalam pikiran dan batin kita, sesuatu yang

beisifat penghajatan yang mendahului kenyataan, namun kita

merasa senang juga bermimpi. Terutama apabila bermimpi

indah, sesuai yang kita lamunkan. Rasa senang, bahagia dan

gembira inilah yang menimbulkan rasa getun, kecewa apabila

secara tiba-tiba kita terjaga atau dibangunkan oleh orang atau

sesuatu. Demikian kiranya perasaan yang dialami Cucu Puranti

dan Dipa. Mereka sedang berada dalam suatu impian yang

indah dan bahagia. Teriakan Jaka Antaka telah meniup buyar

impian mereka. Lenyapnya impian maka kesadaranpun

kembali bertahta dalam singgasana hati dan pikiran

memegang tampik kendali pemerintahan diri perihadi pula.

“Maafkan, Puranti” dengan pelahan Dipa menegakkan

tubuh Puranti dan Puranti pun cepat beringsut mundur. Ia

menyadari apa yang telah tak disadari. Dan apa yang tak

disadari itu, akhirnya harus kembali pada kesadaran dari

kenyataan dan keadaan. Kata2 ‘ibu’ yang diucapkan oleh Jaka

Antaka, anak yang telah dilahirkan dari tubuhnya dan

merupakan gumpalan dari tubuhnya, bagaikan sebilah pisau

yang menikam hatinya. Puranti terkejut, tertegun dan

tersadar. Ia bukan Puranti puteri demang Saroyo yang sedang

memadu janji dengan seorang prajurit muda bernama Dipa di

malam purnama dahulu. Ia bukanlah Puranti gadis

kademangan yang pernah tenggelam dalam penantian akan

kehadiran prajurit muda itu. Iapun bukan lagi Puranti, puteri

demang yang masih seorang perawan suci. Tetapi ia kini

adalah seorang wanita yang sudah bersuami, seorang ibu dari

seorang anak lelaki bernama Jaka Antaka.

“Oh, Antaka, puteraku” serta merta ia mendekap dan

memeluk kepala Jaka Antaka, menciumnya dengan penuh

kemesraan keibuan ”aku tak apa-apa, angger”

 

 

“Tetapi mengapa ibu memeluk paman itu dan menangis?”

tanya Antaka dengan nada kekanak-kanakan. Sesungguhnya

ia tak tahu apa arti daripada ucapan memeluk itu. Ia hanya

melihat apa yang dilihatnya.

“Paman itu adalah kenalan ibu, nak. Sudah lama ibu tak

berjumpa” kata Puranti dengan berlinang-linang airmata.

Namun ditahannya.

Patih Dipa pun termangu-mangu bagai seorang yang

kehilangan semangat. Kesadaran akan keadaan dan kenyataan

yang dihadapinya, melumpuhkan semua bayu nadinya.

Bagaikan seorang dahaga yang melihat sebuah telaga yang

jernih, tiba2 ia melihat bahwa dalam dasar telaga itu terdapat

seekor bangkai ular berbisa. Betapa pun rasa dahaga yang

harus terpenuhi namun ia harus melihat kenyataan yang pahit.

Ia dapat memuaskan dahaga itu tetapi ia akan mati karena

kepuasan itu pula.

Dipa merasa akan mati, mati perasaannya, mati jiwanya,

mati sifat ksatryaannya. Mati yang paling mati dari semua

kematian, adalah mati jiwanya, mati kepribadiannya. Kematian

raga, hanyalah kehilangan selongsong, kehilangan sangkar.

Tetapi apabila burung dalam sangkar itu mati, apa guna

sangkar itu walau terbuat daripada emas sekalipun. Ia

menyadari bahwa apa yang dilakukannya tadi hanya suatu

rangsang perasaan sesaat, suatu gelora luapan hati yang

terlepas dari kungkung rasa kesadaran.

Dipa telah menyadari kenyataan bahwa Cucu Puranti,

puteri demang Saroyo, yang pernah memadu janji akan

menanti dengan setya kepadanya, ternyata sudah menjadi

milik orang. Hampir ia terbunuh oleh rasa ke akuannya yang

mengandung sifat kemilikan yang menimbulkan kekecewaan,

dan melahirkan kemarahan. ”Dia telah mengingkari janji”

 

 

demikian letupan kemarahan yang menggempa dalam bumi

hajinya ”seorang wanita yang tak patut dipuja tak layak

dicinta”

Tetapi manakala telinganya mendengar isak tersedu dari

Puranti tadi, manakala melihat keadaan tubuh wanita muda itu

dan manakala memperhatikan sinar matanya yang tergenang

butir airmata laksana embun luluh ditingkah sinar surya

tengah hari, luluh pulalah perasaan Dipa. “Aku bertindak

kejam kepadanya karena telah menjatuhkan prasangka yang

buruk. Seolah semua kesalahan, hanya kuletakkan pada

dirinya. Pada hal akupun bersalah dan curang …..”

Seketika terbayanglah Dipa akan kenangan pada malam

itu, dikala ia duduk berdua dengan Cucu Puranti. Betapa

gelora yang telah melanda hati gadis itu sehingga dengan hati

terbuka telah mencurahkan seluruh isi hati dan segenap

telatah kalbunya kepada prajurit muda itu. Dan dikala itu

berkatalah Puranti mengantar keberangkatannya ke Majapahit.

”Selama lintang Panjer rino bercahaya, selama itu pula hatiku

akan bergemerlapan memancarkan suara hatiku kepadamu.

Pandang dan amatilah, kakang. Lintang itu adalah cermin

hatiku. Dia suram, hatiku pun suram. Dia terang, hatiku pun

terang. Dia tetap di angkasa, hatiku pun tetap berada dalam

hatimu …”

Dara Puranti telah menyerahkan jiwa, raga dan segenap

kepercayaan kepadanya, walaupun dara itu tahu bahwa dia

hanya seorang prajurit rendah, seorang pemuda dari

keturunan bawah, betapa besar pengorbanan yang akan

diberikan Puranti kepadanya. Tetapi kala itu, ya kala itu,

secara diam2 ia telah membohongi Puranti dan membohongi

dirinya sendiri. Ia tak berani bersikap terus terang, berkata

sejujurnya bahwa sesungguhnya hatinya telah terisi oleh

 

 

bayangan seorang dara lain. Dara Indu yang menjadi cucu

dari demang Suryanata.

Pengaruh pengorbanan dan penyerahan secara tulus ikhlas

dari Puranti telah meluluhkan hatinya. Ia kasihan kepada

Puranti, ia tak ingin melihat dara itu hancur perasaannya, ia

tak sampai hati membuatnya menderita. Maka iapun

menggantungkan harapan Puranti itu kepada suatu

penundaan. Apabila ia berhasil menemukan Indu dan dapat

membangun mahligai kebahagiaan dari puing2 derita, barulah

ia akan memberi kepu’usan tegas kepada Puranti. Namun

apabila ia gagal mencari Indu, iapun akan kembali untuk

melaksanakan harapan Puranti. Ia akan membahagiakan

puteri demang itu. Memang ia menyadari bahwa dalam

hatinya telah tumbuh dua macam rasa. Antara rasa asmara

dan terharu. Indu telah lebih dulu menebarkan benih asmara

dalam lubuk hatinya. Sedang Puranti pun menanamkan bibit

itu dengan segala keikhlasan dan pengorbanan yang

mengharukan. Hampir serupa tetapi agak beda antara rasa

asmara dengan rasa haru itu, walaupun keduanya merupakan

unsur yang mudah subur dan bersemi dalam hati.

Teringat Dipa akan cerita demang Surya bahwa bohong itu

suatu perbuatan yang buruk, yang kotor. Tetapi diantara jenis

bohong, adalah sebuah yang tidak dapat dianggap buruk atau

jahat. Dan bohong itu disebut bohong wajib. Demang

Suryanata yang gemar menceritakan tentang peperangan

antara kaum Pandawa lawan kaum Koravva yang masih

tergolong keluarga sendiri, mengatakan bahwa prabu

Puntadewa saudara yang tertua dari Pandawa Lima, seorang

yang suci batinnya tak pernah bohong. Tetapi ketika Pandawa

tak kuasa menghadapi kesaktian pandita Drona sebagai

senopati agung barisan Korawa, Sri Kreshna pun mengatur

siasat. Bahwa diketahui oleh Sri Kresna, pandita Drona itu

 

 

amat mencintai sekali puteranya raden Aswatama. Maka

disiarkanlah bahwa Haswatama mati. Pada hal yang mati itu

bukan Aswatama melainkan gajah Haswatama. Senopati

pandita Drona terkejut. Ia tak percaya dan akhirnya bertanya

kepada prabu Puntadewa. Sebelumnya Puntadewa telah

berbantah dengan Sri Kreshna dan akhirnya menurut

permintaan Sri Kreshna untuk berbohong kepada pandita

Drona. Apabila pandita Drona bertanya tentang kebenarannya

berita Aswatama tewas, maka prabu Puntadewa harus

“Itulah yang disebut bohong-wajib, Dipa” kata demang

Surya kala itu ”disebut wajib karena terikat oleh kewajiban

negara. Kewajiban untuk menyelamatkan rakyat dari

kebinasaan, membebaskan dunia dari keangkaraan.”

Dipa masih ingat akan cerita itu. Dan dalam menghadapi

penyerahan Puranti, iapun berkesan untuk mengambil langkah

bohong wajib. Hanya apabila prabu Puntadewa diwajibkan

oleh tugas negara, Dipa merasa diwajibkan oleh suara hatinya.

Suara hati nurani yang mengumandangkan getar2 halus dari

rasa iba dan kasih sumber yang memancarkan tirta Amerta

dalam tubuh manusia. Dipa terpaksa berbohong demi

kebahagiaan Puranti. Ia memberi jawaban samar, tiada

menolak, tiada menerima. Sehingga Puranti tergantung dalam

Setelah menyadari kenyataan yang dihadapinya,

kesadaran Dipa pun timbul. Indu telah menderita, haruskah

Puranti menderita juga? Tidak! Ia merasa telah berbuat suatu

kecurangan. Walaupun ia mengambil langkahwajib demi

membahagiakan hati Puranti, tetapi langkah itu kurang

ksatrya, kurang benar. Andaikata garis hidupnya menentukan

bahwa ia dapat mempersunting Indu sebagai kawan hidup,

tidakkah Puranti tetap akan menderita? Jika harus sama2

 

 

menyebabkan dara itu menderita batin, mengapa tak saat itu

juga ia mengatakan terus terang tentang ikatan batinnya

dengan Indu? Bukankah tindakan itu lebih ksatrya dan lebih

jujur?

Demikian unsur2 yang mendorong patih Dipa lupa sesaat

sehingga ia memeluk Puranti dengan mesra. Ingin ia

meluapkan segala perasaan hatinya, segala penyesalan

hatinya dan segala penebusan kesalahannya terhadap Puranti.

Tetapi patih Dipa dihadapi pula dengan kenyataan yang

harus dihayati. Bahwa Puranti yang dihadapi saat itu, bukanlah

Puranti yang memadu janji dengannya di bawah sinar bulan

purnama. Bahwa Puranti yang begitu paserah setulus hati,

ternyata telah mengingkari janji. Ia marah. Iapun menyesal.

Tetapi kabut kemarahan itupun segera berangsur-angsur

hilang demi memandang kenyataan dari keadaan diri Puranti.

Puranti kurus, pucat. Tampaknya dia tentu tak bahagia dalam

pernikahannya. Serta tertumbuk akan pandang rnata Puranti

yang cekung dan sayu, luluhlah amarah Dipa. Dan apabila

kabut kemarahan itu sudah lenyap, maka tampaklah

gambaran yang terang dari sesuatu yang menjadi pangkal

kemarahan, perkembangan dan keakhirannya.

“Akulah yang bersalah” kata Dipa dalam hati ”karena

sikapku yang samar2, karena akupun telah membohonginya.

Karena akupun tak menetapi janji untuk segera datang ke

kademangan. Karena tidak memiliki nyali jantan untuk

meminangnya. Tidak, Puranti tak bersalah. Ki demang dan nyi

demangpun tak bersalah karena sebagai orangtua sudah layak

apabila memikirkan kepentingan puterinya. Yang salah adalah

aku …”

Apabila seseorang menyangkal kesalahannya maka

banyaklah ia menggunakan dalih alasan untuk membersihkan

 

 

diri, ada kalanya menimpahkan kesalahan itu pada orang lain.

Namun apabila ia telah menyadari dan mengakui bersalah,

jaranglah ia mencari-cari dan membongkar-bongkar kesalahan

yang mungkin bertimbun-timbun dalam dirinya. Tetapi tidaklah

demikian dengan patih Dipa. Sesaat ia menyadari dan

mengakui kesalahannya maka banyaklah hal2, sikap atau

langkah, yang dirasakannya salah dan menambah

Saat itu segera memancar dalam kesadaran batinnya,

bahwa langkahnya tadi, tidak dapat dibenarkan. Dia seorang

lelaki, tidaklah layak untuk bersentuhan tubuh dengan seorang

wanita yang bukan isterinya.

Paradara artinya isteri orang lain. Dalam undang-undang

Majapahit telah dicantumkan bahwa wanita yang telah kawin

atau paradara, adalah wanita palarangan. Barangsiapa

mengganggu atau menggoda isteri orang lain, dikenakan

denda sesuai dengan besar kecilnya kesalahan. Apabila sampai

berbuat hal2 tak senonoh yang melampaui batas, maka orang

itu dapat dijatuhi hukuman mati.

Strisanggrahana artinya menjamah isteri orang lain, Yalah

apabila seorang lelaki berbicara dengan wanita yang telah

bersuami di tempat yang sunyi. Perbuatan itu dalam undang2

kerajaan Majapahit disebut Strisanggrahana. Dapat dijatuhi

pidana tergantung dari besar kecilnya kesalahan atau tinggi

rendahnya kedudukan wanita yang tergoda itu.

Sejak menjabat sebagai bhayangkara di keraton Majapahit,

bekel Dipa memang rajin belajar segala ilmu. Tak lupa pula

iapun memahami undang-undang yang berlaku di kerajaan

Majapahit. Maka iapun segera merasa bertumpuk-tumpuk

kesalahannya. Dan apabila teringat akan kedudukan saat itu,

 

 

seorang patih Kahuripan, mau rasanya ia mati, mati karena

terbunuh rasa malu.

“Kakang” tiba2 Puranti berseru pelahan dan sayu. Nadanya

mengunjukkan rasa sedih dan kehilangan faham, pernyataan

maaf dan penyesalan.

Dipa tersadar dari kemanguan. Memandang kearah

Puranti, perasaan hatinya bagai kaca terbanting pada batu.

Remuk rendam. Ia merintih dalam hati melihat keadaan

Puranti yang kurus dan makin layu. Seketika sadarlah ta dari

apa yang dihadapinya dan apa yang harus dilakukannya.

Apabila ia ikut tenggelam dalam gelombang duka nestapa, ia

pasti akan mati terbenam dalam seribu satu perasaan

kesalahan. Dan kematiannya itupun takkan menolong keadaan

Puranti, bahkan kebalikannya akan menambah beban

penderitaannya yang sudah menganak bukit itu. Ia harus

bangkit. Ia seorang lelaki. Betapapun derita dan nestapa yang

menimpah dirinya, harus ia pikul sendiri. Indu sudah

menderita, ia sendiripun menderita, apakah Puranti harus

menderita pula? Tidak. Dua sudah cukup, tak boleh jatuh

korban yang ketiga pula. Puranti harus diselamatkan.

“Puranti” akhirnya meluncurlah kata2 dari mulut patih Dipa

”kita manusia hanya titah Hyang Maha Agung. Dia yang

menciptakan, dia pula yang menghancurkan, Dia yang

memulai, dia pula yang mengakhiri. Titah manusia hanya

menurut apa yang dikehendaki-NYA. Bulatkanlah

kepercayaanmu kcpada-NYA dan serahkan segala apa yang

ada pada kita, hidup, mati, jiwa, raga dan semua perjalanan

hidup dengan segala kebahagiaan dan kesengsaraannya,

kepada-NYA”

Airmata Puranti mulai bercucuran,

 

 

“Hidup memang penuh coba, penuh peristiwa yang sering

tak kita inginkan dan serba aneh pula. Apabila kita hanya

memandangnya dari perasaan dan kepentingan kita, dari

keinginan dan harapan kita, maka kita tentu akan merasakan

betapa besar derita coba yang selalu menimpa diri kita. Tetapi

apabila kita dapat meningkatkan pandangan kita kepada Hidup

dan yang Menghidupkan, dari yang Dicipta dan Pendptanya,

maka akan bertemulah perasaan kita pada suatu alam yang

teduh dan sejuk. Takkan kita menderita lagi panasnya

kemarahan, pahitnya penderitaan, geramnya kekecewaan.

Karena kita telah bernaung di bawah kesejukan pengayoman

Hyang Murbeng Gesang, yang menciptakan alam semesta,

yang menjadikan seluruh mahluk yang menyawakan titah

manusia”

Puranti termangu dalam genangan airmata.

“Apabila telah kita temui sumber itu, tiadalah sukar untuk

memperoleh airnya yang jernih. Air yang akan membawa kita

kepada kejernihan hati dan kesejukan pikiran. Bahwa kita titah

manusia, engkau, aku, puteramu dan semua yang berada

dalam lingkungan kehidupanmu, semua yang menyebabkan

engkau menderita atau bahagia, yang engkau benci dan cintai,

hanyalah insan2 yang diciptakan dan ditentukanNYA. Oleh

karena itulah, Puranti, janganlah kiranya engkau menyerahkan

dirimu dalam kelarutan laut kesedihan karena kesemuanya itu

adalah kehendakNYA dan kita titah ini hanya sekedar

melakukan saja apa yang menjadi titahNYA”

Memandang pada Puranti, Dipa mulai menampak percik2

lembut dari sinar cahaya pada gundu mata wanita itu.

“Apabila kita menghayati sumber kehidupan itu maka

pancaran dari aliran sumber itu, yang merupakan kissah

perjalanan hidup setiap manusia, tiadalah sesuatu yang akan

 

 

merintangi perjalanan alir air itu kepada muara, tempat

terakhir dari tujuan aliran itu. Selayak aliran itu akan

menampung segala macam kotoran, demikian pula kiesah

perjalanan hidup manusia itu tentu tak lepas dan segala

kotoran dunia yang berupa kesedihan, kemarahan,

kekecewaan, kesenangan, kebahagiaan dan segala macam

rasa perasaan” patih Dipa melanjutkan pula. Kemudian

berhenti sejenak untuk memberi kesempatan agar kata

katanya itu dapat menyusup ke dada Puranti.

“Puranti, engkau tak bersalah, orangtuamu tak bersalah,

aku tak bersalah dan memang tak ada yang bersalah karena

kesemuanya itu sudah digariskan oleh Hyang Purba Wisesa.

Gcncarkanlah doamu, tunaikan dharma hidupmu, agar engkau

mendapat pcngampunanNYA” Dipa berbanyak-banyak kata

untuk menghibur

kehancuran hati Puranti …..

“Namun ingatlah,

Puranti. Betapapun sulit

hambatan yang merintangi

aliran itu, betapapun kotor

lumpur dan sampah yang

melumuri aliran itu, tetapi

janganlah lupa akan sifat

hakiki dari pada aliran itu,

yalah air. Ya, airlah. Setelah

mengenal sifat diri maka

haruslah segera berpaling

untuk mengenal sumber

asalnya. Dari sumber, air

mengalir, menuju ke muara dan berlabuh ke laut. Dari sumber

air, kembali pada air …..”

 

 

“Jika sudah mengerti, menyerap dan menghayati

kesemuanya itu maka air pun tetap akan memiliki sifat ke

airannya yang sejuk, jernih. Dia masih tetap air walaupun

digenangi lumpur, dilumuri kotoran, ditimbuni sampah,

ataupun diambil dalam kendi, diminum, dibuat mandi,

dimasak, digodok dan dibuang. Apa yang dialaminya itu

hanyalah suatu peristiwa dalam peijalanan yang takkan dapat

merobah sifatnya, tak menggoyahkan pendirian dan takkan

membilukkan arah tujuannya …..”

“Puranti, mengapa kita harus tertawa kalau kita-pun dapat

menangis. Mengapa tertawa kalau kita riang, menangis kalau

sedih Jika sudah tahu bahwa tawa dan tangis itu hanya luapan

perasaan batin dan bahwa batin itu hanya sekedar

memantulkan sesuatu yang tercipta dalam pikiran, mengapa

kita harus tertawa dan menangis. Bukankah kesemuanya itu

berpangkal pada pikiran dan bersumber pada batin. Apabila

pikiran dan batin sudah mengetahui sifat hidup kita, sebagai

air mengenal sifat2 keairannya, tidakkah kita dapat

membebaskan diri dari segala kesedihan dan kegembiraan itu.

Karena apa yang terjadi dan menimpa diri kita, hanyalah suatu

peristiwa dari kissah perjalanan hidup kita. Janganlah kita

tertegun, terpesona dan tersilau oleh kesedihan, kegembiraan

dan segala rasa perasaan yang menjelang di hadapan kita.

Karena kesemuanya itu hanyalah suatu kodrat yang telah

digariskan oleh Yang Menguasai Hidup ini”

Airmata Puranti mulai menipis. Terasa ada suatu percikan

sinar yang menerangi pikiran hatinya.

“Kutahu betapa perasaan hatimu, seterang aku merasakan

betapa perasaan hatiku” kata patih Dipa pula ”tetapi setelah

kita mengetahui sifat2 kehidupan kita, marilah kita hadapi

segala kenyataan yang menghadang di depan kita. Dan

 

 

setelah menyadari kenyataan itu, marilah kita membangkitkan

diri peribadi kita”

“Puranti, saat ini kita berjumpa dalam keadaan yang sudah

lain kedudukannya. Kita telah dibelah oleh sebuah garis

kesusilaan yang harus kita hormati, apabila kita masih

mengaku dan merasa memiliki rasa kehormatan. Karena

hanya manusia yang memiliki rasa kehormatan, rasa harga

diri, akan dapat menunaikan rasa hormat, akan dapat

menghormati sesuatu yang wajib dihormati. Dan kupercaya,

engkau Puranti, tentulah seorang wanita yang utama. Arti dan

sifat Utama itu sudah mengandung pengertian yang dalam

dan mencakup seluruh nilai dan bobot kewanitaan. Sebagai

seorang anak, engkau telah mengunjukkan bhakti ketaatanmu

terhadap orang tua yang telah menjodohkan engkau pada

suamimu. Dan sebagai seorang isteri, Puranti, wajiblah engkau

setyatuhu pada guru-lakimu. Suamimu adalah pria pujaanmu,

pelindungmu, sesembahanmu, alam hidupmu di mana jiwa

dan ragamu, keinginan dan harapanmu, kebaktian dan

kepatuhanmu, kesetyaan dan pendambaanmu, napas dan

darahmu, akan tercurah menjadi satu. Selama hayatmu masih

memiliki kerangka raga di alam kesunyatan, sampai kelak

engkau berada di alam kelanggengan. Demikian beratnya

tanggungjawab dan kewajiban seorang wanita utama

terhadap guru lakinya. Bobot atau berat daripada kewajiban

itulah letak nilai keutamaan seorang wanita. Maka cintailah

suamimu, ayah dari puteramu itu. Baik atau buruk suami itu,

termasuk tanggungjawab dan kewajiban seorang wanita

utama. Karena kupercaya, Puranti, bahwa betapapun buruk

dan jahat seorang manusia, namun tentu masih memiliki

sepercik, betapapun kecil, hati nurani yang menjadi sifat dari

kemanusiawiannya. Dan dia tentu akan dapat disadarkan

supaya kembali ke jalan yang benar. Apabila gagal, bukanlah

 

 

semata kesalahannya belaka, pun engkau sebagai isteri, harus

mengakui kesalahanmu bahwa dalam memberi penyadaran itu

engkau masih kurang sempurna, masih belum menemukan

cara yang benar. Dan karena itu janganlah engkau putus asa

atau jemu untuk menyadarkannya”

Puranti tiada lagi menangis. Ia terlongong longong.

“Keadaan yang kita hadapi sekarang ini, bukan salah

orangtuamu, bukan salahmu, bukan pula salahku dan

memang tiada yang bersalah dalam hal ini. Karena apakah

yang sudah menjadi garis dari Hyang Maha Agung itu salah?

Tidak, Puranti, Hyang Maha Agung itu maha pengasih, maha

penyayang. Tak mungkin Dia salah. Manusia yang

mengatakan Dia salah, adalah manusia yang salah. Karena

apa yang dianggap salah oleh manusia itu hanya dipandang

dari sudut kepentingan manusia yang sumbernya tak lain

hanya dari Keinginan dan lain2 sifat kemanuslawiannya.

Manusia dengan sifat2 kemanusiawiannya tak mungkin dapat

menilai sifat kemurnian yang suci dari keagungan Yang Maha

Agung. Tetapi Yang Maha Agung tahu jelas nilai

kemanusiawian manusia. Maka, Puranti, janganlah engkau

bersedih atau berduka, lapangkan dadamu, tegakkan

kepalamu dan tengadahkanlah tanganmu untuk memuji

kebesaran Hyang Murbeng Gesang”

Tiba2 Puranti berjongkok dan menyembah. ”Duh, kakang

Dipa, baru sekarang aku bersua dengan seorang pria yang

dapat membuka kegelapan hatiku, mengisi api kehidupan

dalam jasadku yang telah kehilangan pegangan dan padam

semangat kegairahannya. Sebagai rasa terima kasihku yang

tanpa umpama itu, aku akan mentaati wejanganmu, kakang”

“Puranti, janganlah” bergegas patih Dipa menghampiri

untuk mengangkat bangun Puranti.

 

 

“Kakang …” Puranti menatap wajah patih Dipa ”sesuai

dengan nasehatmu, aku akan menjalankan dharma hidupku

dalam kehidupanku yang sekarang ini. Tetapi kelak dalam

penitisanku yang mendatang, idinkanlah aku menunaikan

keutamaanku itu kepadamu, kakang …”

“Puranti, mohonlah kepada dewata agar keinginanmu itu

terkabul. Setiap keingtnan yang baik, pasti akan direstui

dewata. Tetapi Puranti” kata patih Dipa, “tidaklah hanya cukup

untuk memanjatkan dosa dan memohon saja, tetapipun harus

disertai dengan dharma dan amal perbuatan yang baik”

“Akan kutanam pesan kakang itu dalam kalbu hatiku,

kakang”

Dipa memandang ke cakrawala. Langit makin kelam,

suasanapun makin gelap. Setelah merenung sejenak akhirnya

ia berkata, ”Puranti, puteramu telah pulang dengan selamat.

Kuharap engkau menjaganya baik2. Dan karena hari sudah

gelap, idinkanlah aku melanjutkan perjalanan lagi”

Purami terkejut ”Bagaimana mungkin engkau hendak

melanjutkan perjalanan lagi, kakang. Hari sudah malam,

marilah singgah dalam rumahku dan bermalamlah di sini,

kakang”

“Jangan salah faham Puranti” kata patih Dipa, “bukan aku

tak mau bermalam di rumahmu tetapi aku benar2 masih

mempunyai tugas yang harus kuselesaikan. Lain kesempatan,

aku tentu akan datang kemari lagi”

“Kemana engkau akan menuju?” tanya Puranti.

“Ke pura Kahuripan”

“O, engkau bekerja di keraton Kahuripan lagi?” Dipa

mengiakan. Namun ia tak mau memberitahukan pangkatnya

 

 

yang sekarang. Bukan karena ia tak mau bermalam di situ

tetapi ia menguatirkan hal itu hanya akan menimbulkan

sesuatu yang menyiksa batinnya dan hati Puranti. Tiba-tiba ia

menghampiri prajurit Karpa, meminjam pedangnya dan

memapas seuntai ujung rambutnya lalu menghampiri Puranti.

”Puranti, aku ingin menghaturkan sesuatu kepadamu. Sayang

aku tak memiliki barang yang berharga. Hanya ini milikku

peribadi, segumpal rambutku. Maukah engkau menerimanya?”

“Apapun pemberian kakang, akan kupersemayamkan

dalam kancing gelungku” Puranti menerimanya dengan tangan

“Puranti, bila setiap saat engkau memerlukan bantuanku,

tunjukkanlah rambut itu kepada prajurit Kahuripan, aku pasti

datang kepadamu. Semoga dewata melimpahkan pengayoman

kepadamu …” patih Dipa berputar tubuh dan hendak ayunkan

“Kakang Dipa” tiba2 Puranti berseru dan patih itupun

berhenti ”aku tak dapat menghaturkan apa2 kepadamu,

kakang… ,”

“Engkau telah menghadiahkan ikat pinggang kain cinde

rumbai, Puranti” kata Dipa seraya menyiak pinggang bajunya

”inilah pemberianmu yang selalu kupakai”

“Oh” Puranti mendesis kejut. Ia tak pernah menyangka

bahwa kain cinde itu akan selalu dipakai Dipa ”terima kasih,

kakang”

Patih Dipa pun berputar tubuh dan hendak melanjutkam

langkah lagi. ”Kakang, tunggu sebentar …..” Puranti

menghampiri dan patih Dipa tampak kerutkan dahi ”aku

hendak menghaturkan sebuah persembahan lagi, kakang”

 

 

“Ah, Puranti, mengapa engkau harus berjerih payah

memikirkan soal itu”

Puranti makin dekat dan makin merapat dihadapan patih

Dipa. Ditatapnya wajah patih itu dengan mata yang

mengandung beribu arti. ”Kakang, maukah engkau menerima

persembahan itu?”

Patih Dipa tertegun. Sekilas pertimbangan melintas dalam

hati. Ia tahu bahwa Puranti tentu tak berbahagia dalam

pernikahannya. Wanita itu cukup menderita batin. Ia harus

berusaha untuk menghiburnya. ”Sudah tentu, akan kuterima,

Puranti” sahutnya.

Tampak berseri wajah Puranti. Wajah yang lusuh bagai

bumi gersang dimusim kemarau, tiba2 tampak segar bagai

bunga bermandi embun. Patih Dipapun tertegun. Saat itu ia

melihat yang di hadapannya bukan Puranti, wanita muda yang

kehilangan gairah hidup, yang ibarat kembang layu sebelum

mekar, tetapi Puranti puteri demang Saroyo yang cantik

berseri-seri laksana kuntum mekar dipagi hari.

“Puranti, apa yang hendak engkau katakan?” tiba2 patih

Dipa tersadar dari kelelapaa.

Puranti pun terkesiap lalu tersipu-sipu menunduk. Sesaat

kemudian ia mengangkat muka, menjelangkan pandang

kepada patih Dipa ”Kakang, aku hendak menghaturkan sebuah

persembahan kepadamu”

“O, benda apakah itu?” cepat patih Dipa menanggapi

dengan nada cerah.

“Bukan benda, kakang”

“O, lalu apa Puranti?”

 

 

“Seuntai mutiara kata yang tersimpan dalam kelopak

hatiku dan kurangkai menjadi suatu rangkaian ikrar. Walaupun

raga Puranti menjadi isteri Jaka Damar, tetapi hatiku adalah

milikmu, kakang”

“Puranti …..” Dipa terkejut sehingga terluncurlah kata2

yang setengah berteriak. Tetapi cepat ia menyadari ”Puranti,

hari sudah malam, lekaslah engkau masuk. Berkemaslah untuk

memanjatkan doa kepada dewata ….”

Patih Dipa berputar tubuh dan cepat ayunkan langkah,

mengajak Karpa tinggalkan tempat itu. Prajurit Karpa menurut

tanpa sempat memperhatikan bahwa pelapuk mata patih

Kahuripan itu telah menitikkan dua butir airmata.

Puranti mengantar kepergian Dipa dengan pandang mata

yang memancarkan sinar senja. Ia tak tahu adakah sinar itu

sinar senja pagi yang membawa harapan atau sinar senja

petang yang mengakhiri hari. Bagaikan langit, ia hanya

menengadah menyambut dan menerima apapun sinar yang

akan dipancarkan sang surya.

“Bu, aku lapar …” tiba2 ia dikejutkan suara Antaka. Ia

tersadar, hidup itu suatu kewajiban

0oodw-mchoo0

II

Waktu berjalan sepesat anak panah terlepas dari busur.

Dua tahun sudah patih Dipa memegang jabatan patih

Kahuripan. Ia telah berusaha keras untuk mewujutkan titah

sang Rani, membangun dan membangkitkan Kahiripan

menjadi daerah yang aman, makmur dan sejahtera. Hampir

selama dua tahun itu Dipa tak pernah mengenal berhenti

 

 

dalam usaha untuk menempa dan membangkitkan semangat,

menggelorakan gairah para narapraja dan rakyat untuk

bekerja keras membangun negaranya.

Disadarinya bahwa inti kekuatan dari segala pembangunan

itu adalah semangat dan kesadaran. Semangat dan kesadaran

itu hanya terdapat pada manusia2 pembangun. Maka

manusia2 pembangun itulah yang pertama dan terutama

harus ditempa. Bukan hanya para narapraja yang telah

mendapat tugas itu saja, pun rakyat harus dan wajib

diikutsertakan. Negara dengan rakyat bagai ikan dengan air

yang tak dapat terpisahkan.

Tetapi apa arti waktu dua tahun bagi seorang patih baru

yang harus menghadapi tantangan seberat itu? Sebagian

besar dari tetatah Kahuripan masih merupakan hutan dan

rimba yang masih perawan.

Namun bagi patih Dipa ha! itu bukan suatu rintangan yang

akan menyurutkan langkahnya mundur. Sehari ia masih

menjabat patih, sehari itu pula ia akan menunaikan

kewajibannya. Ia tak menghiraukan adakah esok hari ia masih

menjadi patih atau tidak. Maka pentinglah ia menanam

semangat dan kesadaran narapraja serta rakyat sebagai

sarana terpenting untuk membangun. Andai bukan dia yang

menjadi patih, penggantinyapun tetap akan melanjutkan

perjuangannya dengan gigih. Patah tumbuh hilang berganti.

Demikian rencana dan arah tindakan yang telah dilakukan

patih Dipa selama dua tahun itu.

Pada suatu hari patih Dipa dititahkan menghadap Rani

Kahuripan. Betapa kejut Dipa ketika mendengar ujar sang Rani

bahwa atas titah baginda Jayanagara maka Dipa dipindah ke

Daha, menggantikan patih Daha Arya Tilam yang meninggal

dunia. Bercucuran airmata patih Dipa ketika mendengar

 

 

keputusan itu. Melihat itu terharulah puteri

Tribuanatunggadewi. Rani Kahuripan itu makin yakin akan

kesetyaan patih Dipa.

“Ki patih” ujar sang Rani ”kutahu betapa perasaan hatimu.

Hal itu menyatakan betapa kesetyaanmu kepada Kahuripan.

Aku, Rani Kahuripan, seluruh narapraja dan rakyat Kahuripan

tak melupakan kesetyaan dan jasamu”

“Apa yang hamba lakukan, hanya sekedar memenuhi

tugas kewajiban, gusti” sembah Dipa.

Rani Kahuripan tertawa ”Engkau boleh mengatakan begitu,

tetapi akupun boleh mengatakan lain. Ki patih” seru Rani

dengan nada bersungguh ”betapapun aku akan membalas

jasamu. Akan kuhadiahimu seorang isteri. Usia dan kedudukan

menghendaki seorang isteri yang akan mendampingi dan

mengurus dirimu, ki patih”

Patih Dipa terkejut dan bergopoh menolak. Tetapi Rani

Kahuripanpun tetap berkeras melaksanakan keinginannya….

Terhadap puteri Tribuanatunggadewi memang patih Dipa

tak dapat berbuat apa2. Sebagai Dipa, dahulu iapun harus

terpaksa menerima anugerah sang putri berupa sebentuk

cincin permata sebagai balas jasa Dipa yang telah

menghentikan ratha Rani Kahuripan yang hendak meluncur ke

Kini pun ia harus berhadapan dengan peristiwa semacam

itu. Sejarah terulang kembali. Dan iapun terpaksa harus

menerima anugerah sang Rani.

“Mohon gusti melimpahkan ampun yang sebesar-besarnya

kepada diri hamba” kata patih Dipa ”bukan maksud hamba

hendak menolak anugerah Ratu, tetapi karena hal itu

 

 

menyangkut masalah penting dalam kehidupan hamba, maka

perkenankanlah hamba untuk menghaturkan syarat”

“O, apakah wanita yang akan menjadi isterimu itu harus

memenuhi syarat yang engkau kehendaki?”

“Demikian, gusti”

Rani Kahuripan tertegun sejenak ”Baik, katakanlah

syaratmu itu, ki patih” Dan Ranipun tersenyum.

0oo-dw=mch-oo0

JILID 37

I

WATHEK BUMI atau

daerah aseli kerajaan

Majapahit meliputi tiga daerah

pusat, Tumapel atau Janggala,

Kediri atau Daha dan

Kahuripan atau Jiwana. Ketiga

daerah itu pernah dirasakan

sebagai ‘dahan maja yang

terbagi atas tiga lembar daun’.

Atas jasanya

menyelamatkan baginda

Jayanagara dari huru haia di

pura kerajaan maka bekel

bhayangkara Dipa, telah

diangkat sebagai patih

Kahuripan yang diratui oleh Rani Tribuanatunggadewi.

 

 

Sesungguhnya keranian Kahuripan yang diperintah sang

puteri itu, meliputi daerah Tumapel atau Janggala. Sedangkan

Kahuripan pusat yang medjadi pura kerajaan di mana keraton

Tikta-Sripala dibangun oleh rahyang ramuhua Kertarajasa

atau raden Wijaya, disebut Majapahit.

Pergantian dan beberapa pemindahan telah terjadi.

Setelah mahapatih Aluyuda mati dicincang, maka baginda

Jayanagara menitahkan patih Kahuripan Arya Tadah menjadi

mahapatih Majapahit. Bekel Dipa diangkat sebagai patih

Kahuripan. Dua tahun kemudian karena patih Daha Arya Tilam

meninggal dunia, maka patih Dipa dipindahkan ke Daha.

Dengan kepindahan itu, berarti suatu langkah setapak lebih

maju bagi patih Dipa. Selangkah lagi, apabila terdapat

kesempatan, tentulah ia akan dapat memasuki gerbang pura

kerajaan. Pura yang merupakan tangga tertinggi dan puncak

Sebagai manusia yang masih berusia muda, sudah tentu

patih Dipa tak terlepas dari keinginan untuk mencapai

kedudukan yang tinggi. Tetapi keinginan itu bukanlah

berlandaskan mencita-citakan kenikmatan hidup dan

kekuasaan besar. Melainkan berlandas cita-cita untuk lebih

dapat mencurahkan pengabdiannya kepada negara. Apabila

dikatakan hendak meraih kekuasaan besar, memang ia tidak

akan menyangkal. Karena memerintah tanpa kekuasaan ibarat

harimau tanpa gigi dan kuku. Tetapi bukanlah karena memiliki

kekuasaan itu ia akan menjadi harimau yang buas. Karena

setiap kebuasan itu, walaupun ditakuti, tetap akan dbenci dan

dikutuk orang.

Bukan kekuatan untuk menindas para kawula, bukan pula

kekuasaan untuk meenburu kekayaan dan kenikmatan hidup,

lebih bukan pula kekuasaan untuk bersikap hadigang

hadigung hadiguna. Melainkan kekuasaan untuk mengatur

pemerintaban, menegakkan keadilan dan hukum, menindak

 

 

yang bersalah, mengayomi rakyat, menyusun kekuatan

negara, memakmurkan kesejahteraan dan membangun

sebuah kerajaan Majapahit yang besar dan jaya.

Demikianlah kekuasaan yang dicita-citakan patih Dipa.

Demikian pula landasan pengabdiannya kepada negara.

Masa kehidupan patih Dipa sedang menjelang tengah hari.

Cerah dan gemilang laksana sang surya menerangi jagad.

Tetapi pun akan turun lagi ke barat dan silam. Patih Dipa

menyadari hal itu. Oleh karenanya, selagi surya kehidupannya

menjelang naik di tengah angkasa, ia akan berusaha untuk

membiaskan sinarnya yang gilang gemilang keseluruh penjuru

nusantara. Bukan sinar yang panas menyengat, membakar

tubuh dan mengeringkan kerongkongan seperti di padang

pasir. Bukan pula sinar terang yang menyilaukan dan

menikam urat2 halus gundu mata. Tetapi sinar panas yang

membawa kesuburan pada bumi dalam merekahkan bibit dan

benih tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia. Dan,

sinar terang yang menggemilangkan alam jagad raya,

mencerahkan kehidupan manusia serta seisi alam.

Walaupun cita-citanya itu telah menjadi suatu kenyataan,

bahkan lebih dari apa yang diharapkan dan lebih pesat pula

dari apa yang tak pernah diimpikan, namun tidaklah hal itu

akan merangsang hati pikirannya sebinal kuda lepas dari

kandang. Ia tetap mengenal jalan menuju ke puncak. lapun

tetap menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya itu masih

panjang, masih penuh bertabur berikil tajam dan semak onak

yang berhamburan menyumbat jalan.

Pengenalan dan kesadaran itu menuntut curahan hati dan

pikirannya uatuk selalu mengekang diri bertindak hati2.

Langkah pertama telah diayun tetapi tidaklah tujuan akan

tercapai apabila langkah-langkah se-lanjutnya tiada teratur.

Bahkan semisal orang menumpuk baju, membentuk sebuah

gunungan. Pada batu terakhir, apabila tak hati2

 

 

meleyakkannya, maka akan berguguranlah seluruh pekerjaan

itu. Demikian dengan langkah. Apabila ia tak berhati-hati, pada

langkah penghabisan untuk mencapai puncak yang terakhir,

dapatlah ia tergelincir jatuh kedalam jurang.

Adalah karena mencurahkan seluruh perhatiannya akan

hal itu, maka tiada setitikpun terdapat liang dalam pikirannya

untuk membayangkan yang lain2 dalam ruang hidupnya.

Termasuk pemikiran tentang wanita atau isteri.

Walaupun ia tak tahu apa sesungguhnya arti yang telah

berlangsung dalam hubungannya dengan gadis Indu dahulu,

namun ia merasakan bahwa peristiwa malang yang menimpa

diri gadis itu, terasa sekali dalam sanubarinya. Seperti ada

sesuatu yang telah hilang dalam hatinya, walaupun ia tak

menyadari bahwa sesuatu itu telah tumbuh menggunduk

dalam taman hatinya. Ia merasa tak memiliki sesuatu tetapi

merasa kehilangan sesuatu. Dan kehilangan itu dirasakan

menghampakan jiwa hatinya. Untunglah ia dapat menimbuni

kehampaan itu dengan semangat pengabdiannya kepada

negara. Sekalipun begitu retak itu masth meninggalkan bekas

dan bekas itu merekah pula ketika menghadapi Puranti. Hanya

karena telah memiliki pengalaman akan derita hati yang

kehilangan sesuatu itu. Pula karena kesadaran akan tanggung

jawab pengabdiannya terhadap negara makin tumbuh berakar,

tidaklah ia sampai berkelarutan dihanyut gelombang

kesedihan. Ia cepat baugkit bahkan mampu pula menolong

Puranti dari bencana tenggelam dilaut duka nestapa.

Kini ia tak mau mengalami hal2 yang dapat menyebabkan

hatinya hampa, semangatnya lunglai. Tujuannya telah tampak,

pendirian kokoh dan langkahnyapun lebih mantap. Jiwanya,

hidupnya, akan ia persembahkan untuk kebesaran negara.

Maka betapalah kejut hati patih Dipa ketika menerima titah

Rani Kahuripan saat ilu. Sesaat hampir ia tercengkam dalam

prasangka, bahwa sang Rani hendak menyibak ketenangan

 

 

hatinya. Hendak merekahkan pula luka hati yang sudah

tertutup rapat. Tetapi pada lain kejab, terlintas kesadaran

pikirannya. Prasangka itu suatu sikap pemikiran yang buruk.

Mengapa ia harus memelihara sikap pemikiran buruk apabila

ia hendak melangkah ke jalan yang terang? Jelas bahwa sang

Rani bertujuan baik kepadanya sebagaimana yang telah

dilakukan terhadap dirinya selama ini. Ia faham akan

kebaikan2 yang telah dilimpahkan sang Rani kepadanya.

Apa yang diucapkan sang Rani dalam mengantar titahnya

hendak memilihkan seorang wanita sebagai pendamping

hidupnya, merupakan pernyataan dari sekian banyak bukti,

betapa besar perhatian sang Rani terhadap dirinya.

Betapapun ia harus menerima kasih dan menerima pemberian

itu. Dan sia-sia jua andaikata ia hendak menolak. Ia tahu siapa

dan bagaimana peribadi sang Rani. Sebagaimana dahulu ia

tak dapat menolak hadiah cincin dari sang Rani, demikian pula

dengan pemberian yang sekarang ini. Sungguhpun demikian,

ia masih berusaha untuk mengajukan pernyataan ataupun

yang dianggap sang Rani sebagai suatu syarat.

Tetapi karena sesungguhnya ia belum siap dengan

pernyataan yang hendak dihaturkan itu maka sampai

beberapa saat belum juga ia dapat mempersembahkan ke

hadapan sang Rani.

“Patih” tiba2 Rani Kahuripan menegurnya. Rupanya Rani

tak sabar menunggu pernyataan patih Dipa yang tak kunjung

keluar itu ”mengapa engkau diam saja? Katakanlah apa yang

hendak engkau nyatakan ke hadapanku ?”

Patih Dipa terbeliak. Ia merasa telah berlaku kurang

hormat karena seolah menyuruh seorang ratu menunggu

sekian lama. ”Baik, gusti puteri” serta merta ia menyembah

”tidak banyak yang hendak hamba haturkan. Cukup sebuah

saja, gusti”

 

 

“O” Rani Kahuripan terheran ”hanya sebuah syarat? Ah”

Rani tertawa cerah ”jika demikian segeralah engkau katakan”

Sejenak patih Daha mengemasi duduknya. Kemudian

diiring dengan gerak tangannya menyembah kehadapan sang

Rani, ia berkata, ”Sesungguhnya hamba mohon ampun atas

kesalahan yang hamba lakukan karena berani

mempersyaratkan titah yang paduka limpahkan kepada diri

hamba”

“Telah kululuskan” jawab sang Rani ”yang perlu segeralah

engkau mengatakannya, bukan memohon ampun”

“Baik, gusti” kata patih Dipa ”wanita yang hamba inginkan

sebagai isteri, hanyalah bahwa dia harus tahu, menyadari dan

menerima kenyataan bahwa diri hamba ini seorang prajurit,

seorang narapraja, seorang abdi kerajaan.”

“Hanya itu ?” seru Rani Kahuripan.

“Demikianlah, gusti” sembah patih Dipa.

“Ki patih” ujar Rani ”apakah yang engkau maksudkan

dengan persyaratanmu itu ? Bukankah hal itu tentu sudah

diketahui oleh calon isterimu ?”

“Perlu hamba kemukakan penegasan lagi, gusti” kata patih

Dipa ”karena hanya tahu, itu masih belum cukup jika belum

menyadari. Dan hanya menyadari pun belum cukup apabila

tidak menerima hal itu sebagai kenyataan”

Rani Kahuripan memandang patih itu tajam2.

“Hamba maksudkan” buru2 patih Dipa memperlengkapi

keterangan ”bahwa diri hamba ini seorang bhayangkara

negara. Tenaga hamba, pikiran hamba, waktu bahkan

kehidupan hamba seluruhnya telah hamba persembahkan

kepada negara Majapahit. J!wa dan raga hamba adalah milik

negara. Oleh karena itu, hamba akan lebih mengutamakan

kepentingan negara daripada kepentingan peribadi, rumah

 

 

tangga dan isteri. Janganlah calon isteri hamba itu menuntut

lebih banyak kecuali apa yang dapat hamba berikan dari sisa

pengabdian hamba kepada negara itu”

Rani Kahuripan tak tahu bahwa dibalik perjalanan patih

muda itu, pernah dua kali dilanda badai asmara yang hampir

saja menenggelamkan semangat juangnya. Rani menganggap

pernyataan patih itu aneh. ”Ah, janganlah engkau bersikap tak

acuh kepada isterimu nanti, patih.”

Tersipu-sipu patih Dipa mengunjuk sembah, ”Sama sekali

tidak, gusti. Karena dia akan menempati hanya dibawah

kepentingan negara. Sudah tentu hamba akan melindunginya

sebagai seorang suami yang tahu kewajiban, gusti”

Rain Kahuripan mengangguk legah. Kemudian ratu itu

bertanya pula, ”Untuk menyesuaikan seleramu, agar jangan

engkau merasa kecewa dalam hati, katakanlah patih, betapa

kecantikan ca!on isteiimu itu yang engkau inginkan?”

Patih Dipa tersipu merah wajahnya, ”Soal kecantikan

hamba tak tahu memilih, gusti. Semoga hamba pun jangan

terpikat oleh kecantikannya”

Kembali Rani Kahuripan mengernyit alis. ”Aneh”

gumamnya ”pada hal kecantikan itu merupakan salah sebuah

syarat penting dari wanita. Setiap wanita mendambakan

kecantikan sebagaimana setiap pria menjunjung kegagahan.

Kata orang lelaki, wanita dipuja bukan karena kecantikannya

tetapi karena budi pekertinya. Semisal, bunga dipuji bukan

karena bentuknya yang cantik tetapi karena baunya yang

harum. Tetapi kenyataannya? Lelaki akan tertarik lebih dulu

pada kecantikan seorang wanita daripada keagungan budi

pekertinya. Mereka memerlukan wanita sebagai bunga yang

dipuja, bukan sebagai bau yang mengharumkan dirinya. Lelaki

akan bangga karena mempunyai isteri cantik, akan bahagia

apabila mendengar orang memuji isterinya cantik. Daripada

 

 

mempunyai isteri yang luhur budi pekertinya. Bukankah

demikian, patih? Engkau sebagai seorang pria, tentulah tak

terkecuali”

Rani Kahuripan tertawa. Patih Dipapun ikut tertawa.

”Memang demikian adanya, gusti. Wanita akan malu, kecewa

bahkan mendendam kepada ibu bapak, bahkan berani pula

penasaran kepada Hyang Widdhi yang menciptakan, karena

tidak memiliki wajah cantik. Jarang mereka malu atau

penasaran karena tak memiliki budi pekerti yang luhur.”

Rani Kahuripan masih tertawa.

“Hamba mohon ampun, gusti. Sekira ucapan hamba ini tak

berkenan dihati” patih Dipa mengunjuk sembah.

“Ah, janganlah engkau berbanyak ampun, Dipa” ujar Rani

Kahuripan ”bicaralah apa yang terkandung dalam hatimu.”

Setelah menghaturkan terima kasih, patih Dipa berkata

”Gusti, apakah sesungguhnya kecantikan itu ? Kecantikan

seperti yang dimiliki bunga, hanyalah sekedar untuk menarik

perhatian kumbang, hanya suatu kecantikan yang

diperuntukkan alat menarik perhatian. Kecantikan kembang

pula, tidaklah langgeng karena akan layu dan cepat gugur.

Kecantikan yang demikian, hanya kecantikan semusim”

“Ah, jangankan kecantikan, barkan hidup itupun tak

langgeng sifatnya” ujar Rani Kahuripan.

“Tetapi ada suatu hal yang langgeng walaupun orangnya

sudah meninggal”

“Apa ?”

“Dharma, gusti” sahut patih Dipa ”seperti yang telah

ditunaikan moyang paduka, baginda Sri Rajasa sang

Amurwabhumi dahulu. Walaupun sudah mangkat tetapi

dharma hidup baginda Sri Rajasa itu masih tetap hidup dalam

 

 

kenangan setiap orang. Kecantikan atau keindahan dharma

hidup semacam itulah akan langgeng, tak lapuk diusai masa”

“Ah, patih” ujar Rani ”jangan engkau alihkan soal

kecantikan wanita dengan dharma seorang ksatrya. Sukar

kiranya untuk mempertemukan kedua ujung yang berlawanan

arah”

“Benar, gusti” jawab patih Dipa ”memang kurang tepat

apabila hamba memaksa hendak mempertemukan kedua hal

itu. Tetapi apa yang hamba maksudkan, hendaknya karunia

dewata kepada wanita yang berupa kecantikan itu bukan

hanya sekedar seperti kecantikan bunga untuk memikat

kumbang, melainkan suatu kecantikan yang mencamikkan

kehidupan. Baik kehidupan peribadi, bangsa, negara dan

sesama titah di mayapada. Semisal rembulan yang

memancarkan sinar yang teduh.”

“Ah, sudahlah patih” seru Rani ”janganlah berkelarutan

engkau tenggelam dalam bayangan. Apakah engkau tak

menginginkan seorang isteri yang cantik?”

“Hamba tidak mempersoalkan wajah. Cukup apabila dia

berwajah cerah”

“Mengapa?”

“Karena kecerahan itu dapat menimbulkan suasana yang

cerah, kehidupan yang cerah pula”

Rani Kahuripan mengangguk. ”Tidakkah engkau

menginginkan isteri yang setya kepadamu? Mengapa tidak

engkau persyaratkan dalam permohonanmu?.

“Gusti” kata patih Dipa ”hamba tak ingin dan tak mau

memaksakan suatu kesetyaan. Kesetyaan itu sekandung

sifatnya dengan kepercayaan. Kesetyaan akan timbul apabila

kepercayaan bersemi. Kepercayaan tumbuh apabila

pengakuan dalam hati dan kesadaran pikiran tercurah. Hamba

 

 

tak ingin memaksanya setya kepada hamba. Biarlah

kesetyaan itu timbul, tumbuh dan berakar dalam hatinya

dengan penuh kesadaran bahwa ia telah mendapatkan diri

hamba layak dan berharga mendapat kepercayaannya, patut

dan wajib mendapat kesetyaannya”

Rani Kahuripan agak termangu. Aneh benar pikiran patih

yang masih muda itu. Tidak menginginkan isteri cantik, tidak

mengharap kesetyaan, melainkan hanya mengharuskan

isterinya itu tahu dan menyadari bahwa suaminya itu seorang

prajurit, seorang bhayangkara, seorang narapraja dan seorang

abdi negara. Masih semuda itu usianya mengapa ia memiliki

pandangan yang tajam dan penilaian yang berbeda dengan

kaum pria umumnya. Pikir Rani.

“Gusti” akhirnya patih Dipa berkata ”Hamba hanya

menyerahkan saja apapun yang paduka anugerahkan kepada

hamba. Permohonan hamba, apabila gusti berkenan

menerima, hanyalah hal yang hamba kemukakan tadi.

Kepentingan negara Majapahit, merupakan perjuangan hidup

hamba yang pertama. Hendaknya wanita itu harus tahu dan

menerima tanpa syarat. Tak boleh kecewa atau sedih apabila

hamba mengutamakan tugas dari dirinya.”

Akhirnya Rani Kahuripan menyetujui. ”Baiklah, ki patih.

Akupun tak terburu-buru untuk menentukan pilihan. Kelak

apabila sudah terdapat wanita yang berkenan dalam hatiku

dan sesuai dengan permohonanmu, segera wanita itu akan

kusuruh mengantar kepadamu”

Patih Dipa menghaturkan sembah terima kasih atas

perhatian dan kebaikan sang Rani yang tercurah pada dirinya.

Baik Rani Kahuripan maupun patih, keduanya sama mendapat

kesan baik terhadap masing2 fihak.

 

 

Kemudian berangkatlah patih Dipa ke tempat

kedudukannya yang baru, sebagai patih Daha. Rakyat seperti

kehilangan seorang pimpinan yang dicintainya.

“Ki patih Dipa” demikian ucapan yang pertama diucapkan

o!eh Rani Daha atau puteri Haji Rijadewi Maharajasa, ”telah

banyak yang kudengar tentang jasa dan perjuanganmu

terhadap negara, Di Kahuripan, engkau telah pernah

menyelamatkan ratha yang dinaiki ayunda Rani Kahuripan.

Ketika diangkat patih di Kahuripan engkau telah

mengembangkan daerah itu mencapai kemajuan dan

kemakmuran. Di pura kerajaan, engkau telah berjasa besar

karena menyelamatkan baginda Jayanagara dari

pemberontakan Dharmaputera.”

“Ah, kesemuanya itu hanyalah menunaikan tugas hamba

sebagai seorang bhayangkara dan narapraja, gusti. Sekali-kali

bukan suatu jasa” patih Dipa mengunjuk sembah ”dan

kesemuanya itu dapat terlaksana karena restu dewata kepada

kerajaan Majapahit”

Dalam hubungan, memang puteri Tribuanatunggadewi

atau Rani Kahuripan lebih erat dengan patih Dipa daripada

dengan Rani Daha. Sekalipun demikian, Rani Daha amat

berkesan melihat wajah dan sikap paiih Dipa. Tentu ada

sesuatu yang luar biasa mengapa seorang yang masih

sedemikian muda dapat diangkat dan dipercaya baginda

sebagai patih.

“Ki patih” ujar Rani Daha ”kepada baginda Jayanagara,

engkau pernah berjasa besar. Demikian pula kepada ayunda

Rani Kahuripan, engkaupun telah mempersembahkan

pengabdian yang besar. Tidakkah layak apabila akupun

menuntut apa2 darimu?”

Patih Dipa tersenyum dan memberi sembah ”Sudah tentu,

gusti. Bagi hamba tidak ada Kahuripan, tidak ada Daha, tidak

 

 

pula Majapahit. Kahuripan Daha dan Majapahit itu satu. Bagi

hamba yang ada hanyalah kerajaan Majapahit. Oleh karena

itu, pengabdian hamba hanyalah satu dan sama. Baik kepada

seri baginda, gusti Rani Kahuripan, demikian kepada paduka,

gusti.”

“Bagus, patih” seru Rani Daha ”memang demikianlah

hendaknya. Hanya karena saat ini engkau dititahkan untuk

mengemban kepatihan Daha, hendaknya engkau curahkan

segenap tenaga dan pikiranmu untuk membangun Daha”

Patih Dipa memberi janji hendak bekerja sekuat

kemampuannya guna memajukan Daha. Memang dalam

memangku kepatihan Daha itu, ia sangat perihatin sekali.

Daha merupakan suatu daerah yang gawat, karena

mengandung endapan2 yang setiap saat, apabila salah

mengurus atau kurang waspada, endapan2 itu akan meletup.

Daha seolah seperti sebuah gunung berapi yang sudah lama

tak bekerja. Gunung itu bukan mati melainkan hanya tidak

Jauh beberapa tahun yang lampau, ketika

menggembalakan kambing di hutan, maka bertemulah ia

untuk yang pertama kali, dengan brahmana Anuraga. Kala itu

brahmana Anuraga bertempur dengan seorang pandita yang

menyebut dirinya sebagai Windu Janur. Dan ternyata Windu

Janur adalah putera dari Rangga Janur, seorang senopati dari

prabu Jayakatwang.

Daha terpaksa menyerah karena diserang oleh raden

Wijaya yang dibantu oleh pasukan Tartar. Prabu Jayakatwang

tertawan pasukan Tartar dan dipenjarakan di benteng

pertahanan di Ujung Galuh. Dalam penjara, baginda telah

menulis sebuah kakawin yang diberi judul Wukir Polaman,

nama dari sebuah gunung di telatah Daha.

 

 

Bersama dengan hancurnya kerajaan Daha, maka

berguguranlah beberapa senopati Daha, antara lain Kebo

Mundarang, Sagara Winotan, Kebo Rubuh, Mahisa Antaka,

Bowong, Panglet, Bango Dolog, Prutung, Pencok Sahang,

Liking Kangkung, Kampinis dan Rangga Janur atau ayah dari

Windu Janur.

Putera2 dari senopati2 Daha yang gugur itu tetap

melanjutkan perjuangan untuk menbangun kembali kerajaan

Daha, Mereka menghimpun tenaga dalam sebuah wadah

yang diberi nama Wukir Polaman, mengambil nama dari

kakawin yang ditulis obh prabu Jayakatwang. Dan menjadikan

kakawin Wukir Polaman itu sebagai pesan raja Daha untuk

memanggil putera2 Daha berjuang kembali.

Telah dialami dan dirasakan sendiri oleh patih Dipa selama

menjadi bekel bhayangkara di pura kerajaan, betapa pengaruh

dari golongan2 yang hendak merebut kekuasaan itu terasa.

Letusan dari pertentangan2 yang saling beradu kekuatan itu,

berupa pemberontakan Dharmaputera yang dipimpin oleh ra

Diantara golongan2 mendiang mahapatih Nambi, patih

Aluyuda, Dharmaputera dan pihak keraton, harus

diperhitungkan pula dua golongan yang kuat yakni himpunan

Gajah Kencana dan Wukir Polaman. Dua golongan ini

memang tak tampak seperti golongan2 yang lain, tetapi

kekuatan dan pengaruh mereka amat terasa kuat karena

dapat menyusup jauh bahkan ke dalam keraton. Dan secara

menyolok pula, kedua golongan itu memiliki garis perjuangan

yang saling bertentangan. Wukir Polaman hendak

merobohkan kerajaan Majapahit, Gajah Kencana hendak

Dalam menghadapi tugas di keranian Daha, patih Dipa

harus mengadakan suatu renungan yang luas, Keadaan setiap

daerah, tentu berbeda dengan lain daerah. Iklim, rakyat dan

 

 

keadaan daerah itu terutama latar sejarannya. Kelainan2 itu,

memerlukan pula kelainan dalam cara mengatasi dan

menentukan rencana.

Lain pura kerajaan, lain pula Kahuripan. Di pura kerajaan,

ia hanya sebagai bekel bhayangkara yang membahu beban

utama menjaga keselamatan keraton, terutatna baginda. Di

Kahuripan ia menjabat patih dengan tugas memimpin

pemerintahan dan mengembangkan daerah Kaharipan.

Memang bedalah kedudukan bhayangkara dengan patih. Kini

ia dipindah ke Daha sebagai patih pula. Walaupun jabatan dan

kedudukan sama, walaupun tugas dan kewajiban sama, tetapi

bedalah patih Kihuripan dengan patih Daha. Di Kahuripan ia

dapat mencurahkan pikiran dan tenaga untuk membangun dan

mengembangkan kemajuan daerah. Karena Kahuripan masih

penuh dengan hutan dan daerah2 yang belum di buka.

Tetapi di Daha tidaklah demikian keadaannya. Daha

merupakan pusat kerajaan, yang setua dengan Singasari.

Akibat dan pembagian yang dilakukan oleh Empu Bharada,

yang atas titah prabu Airlangga, telah membagi kerajaan

Penjalu menjadi dua, Daha dan Singasari. Pembagian dari

seorang mahayogin sakti Empu Bharada yang marah kareni

bajunya terkait pada pohon pandak ketika sedang melayang2

di udara menumpahkan air kendi sakti, telah menimbulkan

akibat yang buruk. Sumpah empu sakti itu, telah

menyebabkan sebatang pohon kamal yang tinggi menjadi

pandak. Tetapi akibat kelanjutannya, kutukan empu itu

melahirkan tuah yang berkepanjangan. Penjalu dipecah dua

dan benar2 pecah dan selalu pecah dua, antara Daha dan

Terakhir, setelah Ken Arok berhasil mengangkat diri

sebagai raja Singasari dengan gelar Rajasa sang

Amarwabhumi, maka diserangnya kerajaan Daha yang saat itu

diperintah oleh sang prabu Kertajaya atau Dandang Gendis.

 

 

Prabu Kertajaya gugur dan sejak saat itu baginda Rajasa sang

Amurwabhumi dapat mempersatukan Daha dibawah

kekuasaannya. Baginda mengangkat Jayasaba sebagai raja

Daha untuk menggantikan Kertajaya.

Di kerajaan Singasari telah timbul peristiwa2 berdarah

yang menggemparkan. Baginda Rajasa sang Amurwabhumi

telah dibunuh oleh putera tirinya, Anusapati, putera Ken Dedes

dengan Tunggul Ametung yang dibunuh Ken Arok. Tetapi

belum lama Anusapati menjadi raja, dia telah dibunuh oleh

Tohjaya, putera Ken Arok dengan Ken Umang. Tohjaya naik

tahta. Tetapi hidupnya diliputi ketakutan dan kecurigaan

kepada siapapun juga, terutama kepada Rangga Wuni, putera

Anusapati. Dan kepada Mahisa Campaka, putera Mahsa

Wonga Teleng. Mahisa Wonga Teleng putera Ken Arok

dengan Ken Dedes, dengan demikian dia adalah saudara

seayah lain ibu dengan Tohjaya, tetapi saudara seibu lain

ayah dengan Anusapati.

Karena Rangga Wuni, putera Anusapati dan Mahisa

Campaka putera Mahisa Worga Teleng, maka keduanya

merupakan saudara sepupu dari garis keturunan eyang

puterinya, Ken Dedes. Persekutuan antara Rangga Wuni

dengan Mahisa Campaka itu ditamsilkan oleh seorang

pujangga yang menulis kakawin Pararaton atau sejarah raja2

Singasari, sebagai ‘sepasang ular dalam satu liang’. Dalam

persembunyian, mereka tetap bersatu.

Rangga Wuni dan Mahisa Campaka berhasil meruntuhkan

Tohjaya, yang karena keraton diserang telah melarikan diri

dengan menderita luka parah. Dalam perjalanan

menyelamatkan diri ke daerah Katang Lumbang, Tohjaya telah

Kemudian Rangga Wuni menjadi raja bergelar

Wisnuwardana dan Mahisa Campaka menjadi ratu angabaya

bergelar batara Narasingamurti. Baginda Wisnuwardana

 

 

menobatkan puteranya, Kertanagara menjadi raja Singasari.

Hampir duapuluh tahun lamanya Singasari dan Daha aman,

sampai kemudian tibalah saatnya Daha bangkit kembali.

Apabila di Singasari telah timbul peristiwa berdarah, bunuh

membunuh antara keturunan Ken Arok dengan keturunan

Tunggul Ametung akibat tuah dari kutukan empu G«ndring,

maka pemerintahan di Daha berjalan dengan aman dan

tenteram. Setelah raja Jayasaba maka raja Sastrajaya yang

memerintah sampai tigabelas tahun. Raja Sastrajaya diganti

oleh raja Jayakatwang. Pada saat itu yang menjadi raja di

Singasari adalah baginda Kertanagara. Setelah mendendam

selama duapuluh tahun, akhiruya raja Jayakatwang berontak

melepaskan diri dari kekuasaan Singosan. Baginda

Kertanagara gugur dan kekuasaan pindah ke Daha lagi.

Peperangan antara Singasari dan Daha itu baru selesai

setelah raden Wijaya, menantu dari baginda Kertanagara,

dengan melalui berbagai siasat dan usaha serta

menggunakan pasukan Tartar yang hendak menghukuin

baginda Kertanagara tetapi oleh raden Wijaya telah dialihkan

kepada raja Jayakatwang, berhasil mengalahkan Daha. Dan

setelah membasmi pasukau Tartar, akhirnya raden Wijaya

mendirikan sebuah kerajaan baru yang diberi nama Majapahit

atau Wilwatikta.

Raden Wijaya adalah putera dari Lembu Tal dan cucu dari

Mahisa Campaka atau batara Narasingamurti. Karena Lembu

Tal adalah putera batara Narasingamurti. Dengan demikian

raden Wijaya atau yang kemudian menjadi raja Kertarajasa

Jayawardana, mempunyai garis keturunan dari Ken Arok

dengan Ken Dedes.

Demikian renungan patih Dipa dalam menelusuri latar

belakang sejarah Majapahit. Dan dalam jalan penelusuran itu,

dapatlah ia menemukan titik2 hitam yang menjadi unsur

landasan suasana Daha saat itu. Rupanya pejuang2 Daha itu

 

 

memiliki dua alasan untuk berjuang. Pertama, raden Wijaya

yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan

dari Ken Arok. Dan Ken Arok, raja Singasari yang pertama

itulah yang menundukkan Daha. Dengan demikian orang

Daha menganggap Ken Arok dan keturunannya adalah musuh

bebuyutan orang Daha. Kedua, mereka sakit hati atas

tindakan raden Wijaya yang dianggapnya menghianati raja

Jayakatwang. Bermula raden Wijaya setelah baginda

Kertanagara gugur, pura2 menakluk pada raja Jayakatwang.

Oleh raja Daha, raden Wijaya diberi kepercayaan untuk

membuka hutan Terik. Lama kelamaan raden Wijaya

menyusun kekuatan untuk memberontak Daha. Dan kebetulan

pula datanglah pasukan Tartar yang hendak menghukum

baginda Kertanagara. Karena baginda sudah wafat, maka

dengan cerdik raden Wijaya membilukkan langkah pasukan

Tartar itu supaya menyerang Daha. Dengan demikian

hancurlah Daha.

Patih Dipa merenung lebih lanjut. “Benarkah raden Wijaya

dapat dianggap berhianat seperti yang dituduhkan orang2

Daha dan pejuang2 Wukir Polaman itu ?”

Lama agak patih Dipa terbenam dalam renungan. Ia tak

lekas menjatuhkan penilaian. Karena setiap penilaian harus

ditinjau dan dipertimbangkan dan segenap segi kepentingan

dan sudut kenyataan. Tiba2 ia teringat akan tindakan raja

Jayakatwang sendiri terhadap baginda Kertanagara. Menurut

cerita dan beberapa orang, terutama dari Prapanca putera

Dang Acarya Samenaka, dharmmadyaksa ring Kasogatan

kerajaan Majapahit, ia mendapat kesan bahwa raja

Jayakatwang itu juga memberontak Singasari secara

menggunting dalam lipatan. Tak kurang2 kebaikan yang telah

dilimpahkan baginda Kertanagara kepada Daha, bahkan

putera raja Jayakatwang yang bernama pangeran Ardaraja

telah dipungut menantu oleh baginda Kertanagara. Baginda

Kertanagara memberi kepercayaan penuh kepada raja

 

 

Jayakatwang. Tetapi akhirnya raja Jayakatwangpun berontak

“Salahkah tindakan raja Jayakatwang ini ?” bertanya patih

Dipa kepada dirinya sendiri, “ah, tidak” serentak ia teringat

akan kepentingan negara. Bahwa kepentingan negara itu, bagi

seorang ksatrya dan raja merupakan kepentingan yang

tertinggi. Memberontak atau berhianat dengan cara

menggunting dalam lipatan atau cara apapun juga, hanya

merupakan cara untuk mencapai tujuan yang berlandaskan

kepentingan negara di atas semua kepentingan.

“Dan andai raja Jayakatwang dapat menghancurkan

Singasari sehingga baginda Kertanagara tewas, bukanlah

kesalahan semata mata dari raja Jayakatwang. Tetapi juga

kesalahan baginda Kertanagara sendiri karena lengah

mengurus negara, karena lengah melakukan pengawasan

kepada Daha sehingga Daha dapat tumbuh berkembang kuat.

Jika kita sakit, bukan semata kesalahan penyakit itu tetapi pun

kita juga memikul kesalahan karena tak mampu menjaga diri,”

demikian pikiran Dipa bantah berbantah sendiri.

“Dengan demikian” pikir Dipa lebih lanjut ”dari sudut

kepentingan negara, tindakan raja Jayakatwang itu tidak salah

karena raja itu hendak membangkitkan kembali kerajaan Daha

yang telah dikuasai Singasari sejak pemerintahan baginda

Rajasa sang Amurwabhumi”

“Jika demikian pula” penimangan patih Dipa melanjut pula

”raden Wijaya pun sama halnya dengan raja Jayakatwang.

Jika Jayakatwang bertindak demi kepentingan kerajaan Daha,

raden Wijaya pun bertindak demi kepentingan Singasari.

Hanya karena sudah terlanjur membangun kota Majapahit dan

dengan pertimbangan permusuhan bebuyutan Singasari –

Daha itu agar berakhir setelah muncul Majapahit sebagai

kerajaan baru, maka raden Wijaya tak mau membangun

kembali Singasari sebagai pura kerajaan”

 

 

Patih Dipa hentikan sejenak renungannya. Kemudian

mulai pula, ”Baik raja Jayakatwang maupun raden Wijaya,

walaupun menurut masing2 fihak lawan dianggap berhianat,

tetapi keduanya telah bertindak menurut garis-garis

keksatryaan. Kedua-duanya telah merebut kekuasaan lawan

dengan peperangan.

Kekuasaan mereka peroleh bukan sebagai hadiah yang

jatuh dari langit melainkan dengan pengorbanan keringat dan

darah, jiwa dan raga’

Tiba pada kesimpulan itu, patih Dipa menghela napas

longgar. Ia telah selesai meneropong suatu masalah yang

tampaknya tak berarti, tetapi sangat berarti bagi langkah2

tindakaanya sebagai patih di Daha. Kini ia tahu apa yang

harus dipentingkan dan didahulukan dalam menanggulangi

Pertama, keamanan. Kedua, keamanan dan ketiga, pun

keamanan. Jelas bahwa tugas yang dihadapinya di Daha itu,

hanya dalam soal keamanan yang paling penting dan paling

berat. Penting, karena keadaan di Daha beda dengan

Kahuripan. Sebagai daerah yang menjadi sumber kerajaan

sejak jaman Penjalu, Daha lebih maju daripada Kahuripan.

Bangunan2 baik yang berupa keraton dan pura kerajaan,

maupun yang berwajud candi, kuil dan rumah2 suci, lebih

banyak dan indah dari Kahuripan. Dikata paling berat, karena

di Daha ia harus berhadapan dengan pejuang2 Daha yang

bergabung dalam Wukir Polaman. Dan apakah hanya dalam

Wukir Polaman itu saja yang merupakan wadah peijuangan

orang Daha? Ah, kemungkinan tidak. Kemungkinan masih

terdapat beberapa wadah atau himpunan lain lagi.

Menghadapi pejuang2 yang berjuang atas dua landasan,

untuk membangun kerajaan Daha lagi dan untuk membalas

dendam atas kematian orang2 tua mereka, patih Dipa

membayangkan suatu lawan yang berat.

 

 

Setiap perjuangan tentu harus memiliki landasan,

sebagaimana layaknya sebuah rumah dengan landasannya.

Tanpa landasan. rumah tak kokoh, mudah tumbang dilanda

angin. Tanpa landasan atau tujuan, perjuangan pun akan

gagal dan mudah hancur. Dan pejuang2 Daha itu mempunyai

landasan yang kuat, bahkan ganda dua. Patih Dipa tahu dan

menyadari apa arti sebuah perjuangan yang mempunyai

landasan itu. Ia tahu betapa kokoh pendirian warga Gajah

Kencana. Seharusnya Wukir Paloman tentu demikian juga.

Perjuangan adalah panggilan hati. Apabila yang

memanggil mulut, atau yang berarti menginginkan

keangkuhan, kesombongan dan kekuasaan serta lain2 yang

dapat dilakukan oleh wak atau mulut, maka perjuangan itu

takkan kokoh. Apabila yang memanggil perut, karena

menginginkan kenikmatan hidup, makan enak dan harta

kekayaan, maka perjuangan itupun akan lemah. Apabila yang

memanggil itu pikiran, di mana segala nafsu dapat

bersimaharajalela tak kenal batas kepuasannya, maka

perjuangan itu akan usang pula. Hanya perjuangan yang

menurut panggilan darah, akan hidup selama hayat masih

dikandung badan. Darah yang pernah tumpah dari bumi

kelahirannya, darah yang telah dialirkan oleh ibu Periiwi untuk

melahirkannya? darah pula yang menghidupkan jiwa dan

hidupnya. Maka perjuangan itu akan setegak gunung

Mahameru, sekokoh pohon jati yang tak lapuk dilanda hujan

panas, tak usang dimasai badai, tetapi jati itu merelakan diri

untuk dibelah dan dipergunakan tiang2 pembangun rumah.

Rumah untuk mengayomi para kawula bangsanya dan insan

Patih Dipa telah menghayati perjuangan sebagaimana

yang telah dituangkan oleh brahmana Anuraga kepada dirinya.

Dan kini iapun menilai perjuangan Wukir Polaman sesuai

dengan pola falsafah perjuangan Gajah Kencana.

 

 

“Mereka berjuang atas dasar yang luhur” diam2 patih Dipa

merangkai kesimpulan. Terhadap sesuatu yang memang baik,

ia tak segan mengatakan baik. Tak mau pula ia hanya

memandangnya dari segi kepentingan lain, dari kerajaan

Majapahit yang menderita ancaman orang2 Wukir Polaman

itu. Ia memisahkan dan menempatkan tujuan dan arti

perjuangan ditempat yang sebenarnya. Lepas dari persoalan,

mereka itu kawan atau lawan.

Patih Dipa seorang pejuang maka wajiblah ia menghormati

lain pejuang asal benar2 pejuang itu berjuang dalam landasan

juang yang luhur. Namun setelah menilai martabat perjuangan

mereka, bukan berarti bahwa patih Dipa akan membiarkan

mereka demikian saja.

Ia sendiri tak tahu apakah dirinya telah digolongkan

sebagai warga Gajah Kencana. Tetapi ia teringat akan ucapan

brahmana Anuraga. ”Masuk atau tidak menjadi warga Gajah

Kencana, tidaklah mempunyai arti yang besar. Yang penting

adalah sepak terjang dan sikap pendirian. Apabila sesuai

dengan nada perjuangan Gajah Kencana, dia adalah kawan.

Gajah Kencana tak membutuhkan jumlah warganya tetapi

mengutamakan jumlah mutu martabat pendirian warganya”

Demikian ujar brahmana Anuraga. Dan sejak itu Dipa pun

tak mempersoalkan tentang dirinya dengan soal warga Gajah

Kencana. Ia merasa perjuangan Gajah Kencana itu sesuai

dengan pendiriannya. Dan selama ini dia merasa selalu

dibayangi oleh bantuan2 yang tersembunyi dari Gajah

Kencana. Itu sudah cukup membesarkan hatinya.

Lepas dari persoalan dirinya dengan Gajah Kencana,

tetapi Dipa menyadari dirinya sebagai bhayangkara kerajaan

Majapahit. Kini sebagai patih Daha, salah sebuah bagian dari

inti negara Majapahit. Ia harus menyerahkan seluruh

pengabdian, jiwa dan raga, untuk menjaga dan menegakkan

kerajaan Majapahit. Menjaga dan menegakkan, bermakna

 

 

melindungi negara dari gangguan2 atau orang2, dalam bentuk

dan cara apapun jua. Wukir Polaman berdiri dalam garis

perjuangan yang bertentangan dengan Majapahit. Ia harus

menghadapi mereka. Baik sebagai seorang pejuang Majapahit

maupun sebagai seorang patih.

Demikian malam itu patih Dipa tegak di taman belakang

dari gedung kepatihan. Memandang cakrawala. Seolah

sedang menghitung-hitung mutiara2 di langit yang beribu-ribu

jumlahnya. Memang demikianlah mulai menjadi kebiasaannya,

yang diawali sejak ia menjaga keselamatan baginda

Jayanegara di desa Bedander.

Sampai larut malam ia gemar memandang cakrawala.

Kesunyian suasana dan keramaian bintang kemintang di

langit, merupakan dua hal yang berlawanan. Adakah sudah

menjadi kodrat Prakitri bahwa kehidupan berobah antara siang

dan malam? Siang, terang dan ramai di bumi. Malam,

berkilauan dan ramai di angkasa.

Timbul suatu gagasan yang aneh, mungkin karena

sekedar untuk ‘cagak melek’ atau penyanggah supaya jangan

ngantuk. Ia berusaha untuk menimbulkan pertanyaan

kemudian berusaha untuk menjawab. Pertanyaan tentang

benda2 yang memancar di langit, yang tak terhitung jumlahnya

itu. Apakah benda2 bergemerlapan memancarkan cahaya di

langit itu? Mengapa benda2 yang disebut orang sebagai

bintang. hanya keluar pada malam hari? Dan mengapa pula

benda2 itu tergantung dilangit saja dan tak dapat melayang

jatuh ke bumi?

Pada waktu masih kecil, pernah ia bertanya pada seorang

tua di desa. Tetapi orang tua itu hanya membentak, ”Perlu apa

engkau tanya soal bintang di langit? Bintang ya bintang, untuk

membantu menerangi malam apabila rembulan sedang

beristirahat. Hyang Murbeng Jagad telah menciptakan langit

bumi lengkap dengan isinya. Surya untuk menerangi bumi

 

 

pada siang hari dan rembulan serta bintang2 untuk menerangi

malam hari. Maka kita harus benar2 menyembah pada Hyang

Murbeng Jagad, rajin menghaturkan doa restu kepada-NYA.

Agar Hyang Murbeng Jagad tidak marah dan tetap

memberikan surya, bulan dan bintang kepada kita. Coba

engkau pikir, kalau Hyang Dewa Agung mengambil surya,

rembulan dan bintang, bagaimana nanti kita semua ini?”

Kala itu Dipa masih kecil, masih seorang anak desa yang

tak pernah diperhatikan orang. Ia harus sudah merasa

berterima kasih karena orangtua itu mau menerangkan

pertanyaannya, walaupun dalam nada tak senang.

Kala itu dia hanya seorang anak desa. Maka apa yang

diterimanya, dianggapnya benar. Sampai kemudian setelah ia

bertemu dengan wiku Kadipara paman dari rakryan Tanca, ia

mendapat keterangan lain. Berkata wiku Kadipara kepadanya,

“Bintang kemintang di langit itu adalah pantulan dari kegaiban

sari hidup dari semua hal, peristiwa dan insan manusia di

bumi. Jika engkau tak percaya, cobalah engkau buktikan apa

yang kukatakan sekarang. Lihatlah bintang2 yang

memancarkan cahaya merah di langit itu. Telah kuperhatikan

setiap malam akan kemunculan bintang yang aneh itu. Bukan

saja makin lama makin membesar, pun letaknya makin

berkisar ke timur. Dan tahukah engkau bintang besar yang

bersinar terang gemilang memancar cahaya kebiru-biruan itu”

kata resi Kadipara seraya menunjuk ke langit.

Dipa pun menurut. Ia memang melihat apa yang ditunjuk

oleh orang aneh itu, ”Engkau boleh percaya boleh tidak.

Bintang itu adalah pantulan atma seorang priagung besar.

Dalam pengamatanku selama bertahun-tahun, aku cenderung

untuk mengatakan bintang itu adalah bintang dari baginda

srinata Jayanagara yang sekarang ini. Karena bintang agak

suram terkena pancaran cahaya merah dari bintang yang itu,

 

 

maka tak berapa lama lagi baginda tentu akan mengalami

musibah besar.”

Dipa terkejut. Namun karena sampai beberapa lama tak

terjadi suatu apa sampai ia masuk ke Majapahit sebagai bekel

bhayangkara, maka iapun melupakan kata2 resi aneh itu.

Adalah setelah terjadi pemberontakan Dharmaputera dan

baginda terpaksa lolos dari keraton, barulah Dipa teringat akan

ucapan resi Kadipara beberapa tahun yang lalu. Maka setiap

malam, ia selalu tegak memandang cakrawala, mencari

bintang besar seperti yang pernah ditunjukkan resi Kadipara

itu. Ingin ia melihat lagi apakah bintang itu masih bersinar

terang atau sudah terlumur sinar merah semua. Ataukah

bahkan sudah lenyap.

Tetapi sampai beberapa malam, tak juga ia bersua dengan

bintang yang dikehendaki. Selama berada di Bedander,

malam2 agak rnendung, bintang2 jarang tertampak menghias

Kemudian kini, di taman belakang dari gedung kepatihan,

iapun tengah membenamkan perhatiannya memandang

bintang kemintang di langit. Namun karena ia tak tahu arti

daripada bintang2 itu dalam kaitannya dengan manusia dan

peristiwa di dunia maka iapun hanya melayangkan pikirannya.

Ingin ia tebang ke angkasa untuk melihat, apakah

sesungguhnya benda2 bercahaya terang di langit itu. Jika

benar bahwa bintang2 itu merupakan pantulan sinar gaib dari

atma manusia, maka teringatlah ia akan jenis serangga malam

yang disebut kunang2. Bukankah pada siang hari kunang2 itu

nampak seperti serangga biasa. Tetapi pada malam hari

badan serangga itu memancarkan sinar cahaya terang?

Demikianlah halnya dengan insan manusia, termasuk dirinya?

Apakah tubuh manusia itu pada malam hari juga dapat

memancarkan sinar cahaya. Ataukah atma itu pada malam

 

 

hari membubung ke langit, untuk menghadiri kehidupan

malam di angkasa?

“Ah” Dipa geleng2 kepala, ”masakan insan manusia

kupersamakan dengan kunang2? Menurut paman brahmana

Anuraga, manusia adalah mahkluk yang terkasih dari Dewata

maka diberi kedudukan yang paling tinggi dalam kehidupan.

Masakan kupersamakan dengan kunang2 saja?”

Patih Dipa menghela napas panjang untuk melonggarkan

kesesakan dadanya yang terhimpit oleh napas. Selonggar

napasnya, selonggar pula perasaan hatinya karena nyaris

membuat suatu penafsiran yang mungkin akan merendahkan

martabat manusia termasuk dirinya sendiri.

Tiba2 ia terkejut karena mendengar derap tangkah orang

berjalan menuju ke taman. Malam itu sunyi sehingga patih

Dipa dapat menangkap jelas langkah kaki yang mendebur

tanah. Ia tak mau beringsut melainkan tetap memandang

cakrawala malam.

Langkah orang itu makin dekat dan ketika tiba di ambang

pintu, terdengar orang itu berseru, ”Gusti, maafkan hamba …”

“O, engkau Kumali” seru patih Dipa seraya masih

memandang langit, ”mengapa engkau malam2 menghadap

aku di taman?”

Pendatang itu seorang pengalasan bernama Kumali.

Dahulu dia seorang prajurit kepatihan. Karena kesetyaannya

maka ia ditetapkan menjadi pengalasan kepatihan. Kumali

terkejut karena melihat patih Dipa memandang ke langit tetapi

dapat mengenali siapa dirinya.

Diam2 patih Dipa geli dalam hati. Ia duga pengalasan itu

tentu terkejut karena ia mengenalinya tanpa melihat. Memang

selama melakukan ilmu semedhi menurut ajaran brahmana

Anuraga dan pandita Padapaduka, ia telah dapat

 

 

mempertajam indera pendengarannya. Ia dapat membedakan

langkah kaki dari beberapa pengalasan di kepatihan. Kumali

yang bertubuh tinggi besar, derap langkahnya jarang tetapi

mantap. Daksa, pengalasan yang bertubuh gemuk dempal,

berjalan dengan derap kaki pelahan, kemudian cepat lalu

pelahan lagi. Jaran Dawuk yang bertubuh kurus dan cacad

sebelah kakinya, berjalan cepat dengan dua macam derap,

berselang seling berat dan ringan kakinya mendebur tanah.

Maka dengan cepat patih Dipa dapat mengenali bahwa yang

datang saat itu tentulah Kumali.

“Katakan, apa maksudmu kemari?” patih Dipa mengulang.

Ia tahu bahwa pengalasan Kumali tentu tercengang heran.

Kumali tersipu sipu menjawab ”Gusti patih, kami menerima

kunjungan dari raden Mahendra, putera mendiang gusti patih

Arya Tilam mohon menghadap gusti”

Patih Dipa terkesiap. Sejak menjabat patih di Daha, yang

pertama-tama dikunjungi selesai menghadap sang Rani,

adalah tempat kediaman mendiang patih Arya Tilam yang

digantikannya. Kepada nyi patih dan keluarga, ia menyatakan

ikut belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Sesungguhnya

kepada Rani Daha, ia mohon supaya keluarga patih Arya

Tilam itu diperkenankan untuk mendiami gedang kepatihan.

Sedang ia sendiri akan menempati gedung yang lain. Tetapi

Rani tidak memperkenankan.

“Bangunan itu sudah kami tetapkan sebagai gedung

kepatihan. Siapapun yang akan menjabat patih, harus

menempati gedung itu” kata Rani Daha ”untuk keluarga

paman Arya Tilam, telah kuperintah untuk membangun

sebuah tempat lain yang sesuai”

Kemudian iapun mengunjungi pula beberapa tempat

kediaman mentri dan narapraja serta Senopati Daha. Tak lupa

 

 

pada para pamegat yang menjabat kepala agama Syiwa,

Buddha dan Brahma.

Sudah tentu kunjungan seorang mentri yang

berkedudukan patih kepada orang2 yang akan menjadi

bawahannya, mengejutkan yang bersangkutan. Berturut-turut

dikunjunginya demung Rakat, kanuruhan Iwar, rangga Dipo,

tumenggung Pamor dan pamegat Dang Acarya Manmata.

Mereka termasuk mentri2 Daha yang tua, semenjak jaman

rahyang ramuhun Kertarajasa. Demikian pula dengan patih

Arya Tilam atau Purusa Isywara yang telah meninggal dan

digantikan patih Dipa.

Bagi Dipa, walaupun kedudukan patih itu lebih tinggi dari

mereka, tetapi karena usianya jauh lebih muda, tak segan ia

berkunjung lebih dulu. Pengalaman selama ini dalam

menghadapi orang, baik di kalangan tinggi maupun rendah,

mengajarkan kepadanya bahwa pada umumnya silat orang itu

suka dijunjungi atau senang dihormati. Tidak tentu

penghormatan itu harus berwujut sembah atau sujut, tetapi

budi bahasa yang ramah dan sikap rendah hati, cukup dapat

menawan hati orang, sekalipun orang bawahannya.

Para narapraja tua dari Daha itu terkesan menyambut

patih baru yang masih muda itu. Pertama, mereka mendapat

suatu kesan yang mengejutkan melihat tampang dan panca

indera patih itu. Jarang mereka melihat seorang yang memiliki

tampang dan indera yang sedemikian menonjol, memantulkan

suatu kewibawaan dan ketegasan. Kemudian dalam

pembicaraan, merekapun terkejut ketika menerima pertanyaan

dari patih baru. Pertanyaan yang mencangkup lingkup tugas

para mentri masing2. Masih begitu muda tetapi bicaranya

amat tangkas dan tiris, terutama dalam bidang keprajaan.

Misalnya, demung empu Rakat terpaksa harus

mencurahkan perhatian dikala menerima pertanyaan dari patih

Dipa mengenai keamanan. Daha.

 

 

“Tidakkah ki demung menganggap bahwa keamanan

Daha ini ibarat api dalam sekam. Di luar tampak tenang tetapi

didalam mengandung kemelut yang setiap saat dapat

meletus?” demikian patih Dipa melontarkan pertanyaan dikala

mendengar keterangan dari demung tua itu bahwa selama ini

keranian Daha aman2 saja.

Demung Rakat terkesiap. ”Apakah yang tuan maksudkan

dengan api dalam sekam itu?” ia balas bertanya.

Patih Dipa juga terkejut sendiri karena merasa terlalu

keras bicara. Maka dengan nada yang tenang ia

mengemukakan tentang gerakan anak2 muda Daha yang

terhimpun dalam Wukir Polaman

“O” seru demung Rakat ”soal itu memang pernah menjadi

bahan pembicaraan dalam rapat panca ri Daha yang dipimpin

oleh mendiang ki patih Arya Tilam”

“Bagaimana keputusannya ?” patih Dipa tertarik

“Kami telah mengadakan sergapan dan pembersihan ke

gunung Polaman yang kami duga tentu menjadi sarang

mereka. Tetapi tiada sesuatu yang kami ketemukan di situ”

“O” desuh patih Dipa agak terkejut ”lalu di manakah sarang

mereka ?”,

Demung yang sudah berusia sebaya dengan mendiang

patih Arya Tilam itu memang tampak agak lamban. Tetapi saat

itu tampak wajahnya menberingas memancarkan semangat

kemudaan yang perkasa. ”Wukir Polaman merupakan sebuah

himpunan rahasia. Atas perkenan gusti Rani, keranian Daha

telah mengumumkan bahwa perhimpunan itu dilarang. Dan

diserukan supaya anggota2 himpunan itu menyerah. Kerajaan

akan memberi ampun kepada mereka. Jika malu atau takut

menyerah, dianjurkan supaya mereka membubarkan diri”

 

 

“Bagus” puji patih Dipa ”lalu bagaimana hasilnya. Apakah

mereka mau menyerah?”

Demung Rakat gelengkan kepala.

“Ataukah terdapat tanda2 himpunan itu telah

membubarkan diri?” tanya patih Dipa pula.

“Sukar untuk dipastikan” kata demung Rakat ”tetapi sejak

dikeluarkan pengumuman itu, selama ini mereka belum

tampak mengadakan suatu gerakan. Kecuali ….” demung itu

berhenti, tampak meragu.

“Kecuali bagaimana, ki demung?” tanya patih Dipa dalam

nada yang datar, seolah tidak mendesak.

Setelah merenung sejenak, berkatalah demung Rakat

dengan nada yang rawan semu sesal. ”Peristiwa itu

merupakan lembaran hitam yang hampir saja membawa

malapetaka besar pada keranian Daha. Walaupun gusti Rani

telah selamat dan tetap kokoh mengendalikan pemerintahan

Daha, namun jatuhlah korban seorang wreda mentri yarg

setya. Ah ….”

Keterangan yang tiada berujung pangkal dari demung tua

itu, membuat patih Dipa terlongong heran. Apakah peristiwa

yang hampir membawa kehancuran pada keranian Daha?

Siapa wreda mentri yang menjadi korban? Betapa ingin patih

Dipa segera mengetahui hal itu namun karena melihat

demung Rakat tampak terharu, iapun terpaksa harus menahan

diri, menunggu dengan tenang.

Rupanya demung Rakat menyadari bahwa ki patih yang

berada dihadapannya itu tentu bingung mendengarkan

keterangannya. Sejenak ia menatapnya.

Diam2 ia terkejut karena melihat wajah patih Dipa tenang2

saja. Ia malu dalam hati sendiri bahwa sebagai seorang yang

lebih tua, telah mengunjuk sikap yang kurang hormat kepada

 

 

seorang atasan. Di samping itu iapun kagum bahwa seorang

patih yang masih begitu muda usia, ternyata memiliki

kesabaran yang besar. Jauh lebih besar daya kesabarannya

dari dirinya yang lebih tua.

“Maaf, ki patih” akhirnya ia memperbaiki kesalahannya

”bukan maksudku hendak menyebabkan tuan menderita

menunggu keteranganku, melainkan karena hatiku terharu

apabila mengenangkan peristiwa itu”

Patih Dipa tertawa. ”Ki demung, tidak perlu tuan harus

terburu-buru memaksa diri melepaskan dari rasa tegang dan

haru. Karena hal itu berarti bahwa tuan sangat perihatin sekali

dalam peristiwa itu”

“Benar ki patih” sahut demung Rakat ”bukan melainkan

aku, pun seluruh mentri2 tua ikut perihatin”

“Apakah sesungguhnya perisdwa yang sedemikian besar

akibatnya itu?” akhirnya patih Dipa melangkah pada arah

Dan demung Rakat pun bercerita.

“Peristiwa itu menyangkut suatu percobaan untuk

membunuh gusti Rani. Pembunuhnya terdiri dari dua orang

yang mengenakan kain cadar penutup muka. Berani benar

kedua pembunuh itu. Mereka berani menyelundup masuk ke

dalam keraton dan langsung menghampiri tempat peraduan

gusti Rani. Yang seorang menjaga di pintu puri yang seorang

masuk ke dalam peraduan gusti Rani ….”

“O” tukas patih Dipa terkejut ”hebat benar pembunuh itu.

Tetapi tidakkah puri keraton dijaga oleh prajurit bhayangkara?”

“Rupanya kedua pembunuh itu sakti mandraguna” kata

demung Rakat ”prajurit2 itu tertidur semua. Kemungkinan

kedua pembunuh itu telah memasang aji sirap yang sakti”

Patih Dipa mengangguk-anggukkan kepala.

 

 

“Tetapi rupanya dewata masih melindungi gusti Rani dari

pembunuhan yang terkutuk itu. Pada saat si pembunuh

hendak melaksanakan maksudnya, tiba2 gusti Rani terjaga

dari beradunya dan sesaat melihat seorang berpakaian dan

memakai cadar hitam penutup muka, menghunus pedang,

gusti Rani menjerit. Rupanya pembunuh itu gugup. Apalagi

jeritan gusti Rani pada tengah malam yang sunyi telah

terdengar di luar puri. Tumenggung Pamor yang malam itu

mengepalai penjagaan keraton, segera berlari menuju ke

tempat peraduan gusti Rani. Pembunuh itu makin bingung

karena mendengar derap langkah prajurit2 di belakang puri,

berlari-lari mendatangi. Serentak pembunuh itu lari keluar dan

bersama kawannya berusaha hendak lolos”

Demung Rakat berhenti sejenak, seolah hendak

membayangkan lagi peristiwa malam itu.

“Malam itu aku terjaga kaget karena mendengar suara

bende bertalu-talu dan kentungan titir riuh. Segera aku

bergegas menuju ke keraton. Ternyata seluruh keraton penuh

dengan prajurit2 yang menghunus senjata dan sibuk berlarilari

ke segenap ujung keraton. Aku segera menuju ke tempat

peraduan gusti Rani. Betapa kejutku ketika melihat ki rangga

Pamor tengah menginjak dada sesosok tubuh manusia

berpakaian hitam yang rebah di tanah. Beberapa prajurit

mengelilingi tempat itu, siap dengan senjata terhunus. Segera

aku meminta keterangan kepada ki rangga.

“Aku terkejut sekali setelah mendengar keterangan dari ki

rangga Pamor tentang peristiwa pembunuhan terhadap gusti

Rani. Segera terlintas dalam pikiranku saat itu, janganlah

pembunuh itu dibunuh dulu. Harus dipaksa supaya memberi

pengakuan dulu, siapa yang menyuruh mereka. Apabila tiada

yang menyuruh dan atas kehendak mereka sendiri, apakah

tujuannya hendak membunuh Rani. Rupanya ki rangga mau

mendengar anjuranku. Dan pembunuh yang sudah

 

 

berlumuran darah karena direncik oleh prajurit2 segera

diangkut ke sebuah ruang”

0o-..dwkz-mch..-o0

“Tetapi keadaan orang itu sudah amat parah sekali. Darah

tak henti-hentinya mengalir walaupun telah diusahakan

melumuri dengan ramuan obat penghenti pendarahan. Melihat

itu, segera kuperintahkan prajurit untuk meminumkan secawan

tuak, agar semangatnya tumbuh. Akan kugunakan detik2 yang

singkat itu untuk menggali

keterangan dari mulutnya.

Dengan janji dosanya akan

diberi pengampunan dan

mayatnya akan diperlakukan

secara wajar, orang itu mau

juga memberi keterangan”

“Ternyata dia bernama

Seta Aguling, putera dari

bekel Bango Dolog, salah

seorang hulubalang prabu

Jayakatwang yang gugur

dalam peperangan melawan

pasukan Tartar dan raden

Wijaya”

“O” desuh patih Dipa ”jika demikian dia tentu salah

seorang anggauta Wukir Polaman”

“Benar” demung Rakat mengiakan.

“Tentulah dia ditugaskan oleh Wukir Polaman untuk

melakukan pembunuhan kepada Gusti Rani” kata patih Dipa

Diluar dugaan demung Rakat gelengkan kepala. ”Tidak.

Seta Aguling membuat pengakuan bahwa rencana

 

 

pembunuhan itu sesungguhnya berasal dari dia sendiri karena

dia mencurigai kesetiaan kawannya terhadap Wukir Poliman”

“O” patih Dipa mulai agak terangsang perhatiannya

”siapakah kawannya itu?”

Menghadapi pertanyaan patih Dipa, kembali wajah

demung Rikat berkabut rawan. Ia menghela napas panjang.

”Ah” akhirnya ia berkata dengan nada tersekat ”benar2 kami

tak pernah menduga sama sekali bahwa pembunuh yang

seorang itu, yang masuk ketempat peraduan gusti Rani, tak

lain …. adalah Mahendra …”

Karena demung Rakat tak melanjutkan lagi, patih Dipa

cepat bertanya ”Siapa Mahendra itu, ki demung?”

“Mahendra… Mahendra itu putera kakang patih”

“Paman patih Arya Tilam?” patih Dipapun terkejut.

Demung Rakat mengangguk sarat ”Ya, memang putera

kakang patih Dyah Purusa Isywara atau Arya Tilam”

“Apakah paman patih Arya Tilam tak tahu hal itu ?” tanya

patih Dipa pula.

Rupanya demung Rakat tak mau langsung menjawab

pertanyaan patih Dipa, ia hendak melanjutkan cerita secara

urut. ”Seta Aguling percaya pada janjiku. Dia bercerita terus

terang. Dia telah dihasut oleh Kebo Angun-angun, seorang

anggota Wukir Polaman, supaya menguji kesetyaan

Mahendra. Karena mustahil Mahendra. putera patih Daha,

akan masuk menjadi anggota Wukir Polaman yang jelas

hendak menentang Daha dan Majapahit”

Patih Dipa mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia

tak mengusik dengan pertanyaan lagi. Namun dalam hati ingin

juga ia mengetahui siapakah Kebo Angun-angun itu.

 

 

Rupanya demung Rakat menyadari ketiadaan lengkap

keterangannya. ”Beginilah, ki patih. Menurut cerita Seta

Aguling, Kebo Angun-angun telah menjanjikan akan

memintakan Kepada ayahnya, Kebo Rubuh, supaya adik

perempuan dari Kebo Angun-angun diperkenankan menikah

dengan Seta Aguling. Ayah Seta Aguling adalah bekel Bango

Dolog dan ayah Kebo Angun-angun adalah Kebo Rubuh.

Bango Dolog dan Kebo Rubuh adalah hulubalang prabu

Jayakatwang yang tewas dalam medan pertempuran melawan

raden Wijaya. Termasuk Seta Aguling dan Kebo Angun-angun

putera2 dari para senopati hulubalang Daha yang binasa

dalam peperangan melawan raden Wijaya, semua bergabung

dalam himpunan Wukir Polaman. Mereka tetap melanjutkan

perjuangannya untuk membangun kembali kerajaan Daha dari

keturunan prabu Jayakatwang”

Sampai disini tak kuasa lagi patih Dipa menahan keinginan

tahunya. Serentak ia bertanya, ”Paman demung, adakah

prabu Jayakatwang tiada berputera?”

“O, ada” kata demung Rakat ”puteranya bernama raden

Ardaraja, diambil menantu oleh baginda Kertanagara dari

Singasari tetapi kemudian berpaling haluan balik ikut kepada

ramanya dalam peperangan Daha-Singasari”

“Dimanakah putera mahkota Daha itu sekarang?” tanya

patih Dipa.

“Tentang pangeran itu, masih simpang siur keterangan

orang. Ada yang mengatakan tewas dalam peperangan

melawan pasukan Tartar. Ada pula yang mengatakan lolos

dan menyembunyikan diri di pegunungan. Sampai sekarang

belum terdapat bukti2 yang tegas, bagaimanakah

sesungguhnya nasib pangeran Daha itu”

“Tidakkah dia menggabungkan diri dalam himpunan Wukir

Polaman?” tanya patih Dipa pula.

 

 

“Kemungkinan” sahut demang: Rakat.

“Apakah dia yang memimpin Wukir Polaman?” patih Dipa

coba2 mengail keterangan.

“Bukan mustahil” jawab demung Rakat ”tetapi sampai

sekian jauh kami belum mendapat keterangan yang pasti.

Kurasa hal itu memang perlu diselidiki”

Diam2 patih Dipa mencatat dalam hati, soal diri Ardaraja

putera mahkota kerajaan Daha itu.

Kemudian demung Rakat melanjutkan ceritanya, ”Karena

mendapat janji dari Kebo Angun-angun untuk mendapatkan

adik perempuannya, Seta Aguling mendapatkan Mahendra

dan menantangnya. Terus terang ia menyatakan

kecurigaannya terhadap diri putera patih itu. Alasannya bahwa

ibu Mahendra itu adalah puteri dari mendiang patih prabu

Jayakatwang yang bernama Kebo Mundarang. Bahwasanya

Mahendra telah mendapat titah ibunya supaya

menggabungkan diri dalam himpunan Wukir Polaman untuk

membangun kerajaan Daha lagi, tidak dapat diterima oleh

Seta Aguling…..”

Patih Dipa makin tertarik perhatiannya. Ia merasa telah

mendapat keterangan yang luas tentang keadaan para

mentri2 prabu Jayakatwang yang lalu. Dengan pengetahuan

itu dapat ia lebih leluasa untuk menyingkap tabir rahasia Wukir

“O” desuh patih Dipa ”adakah isteri paman patih Arya

Tilam itu puteri dari Kebo Mundarang, patih kerajaan Daha

yang lalu ? Rupanya paman demung mengetahui jelas tentang

kissah mereka. Sekira paman demung longgar hati, senang

sekali aku mendengarkan sesuatu dari peristiwa2 yang

lampau dalam kerajaan Daha itu”

 

 

Dalam pembicaraan dari awal perkenalan dengan patih

Daha yang baru itu, demung Rikat mendapat kesan bahwa

patih yang masih muda usia itu, memiliki pandangan yang

tajam dan wibawa kepemimpinan. Rendah hati tetapi mengikat

rasa kepatuhan yang menyenangkan.

“Ada sedikit sejarah yang kuketahui tentang kerajaan

prabu Jayakatwang. Terutama tentang diri patih Daha yang

bernama Kebo Mundarang itu” kata demung Rakat ”Waktu

melakukan penyerangan ke pura Singasari, patih

Mundaranglah yang telah menjalankan siasat peperangan. Ia

memecah pasukan Daha menjadi dua, yang satu disuruh

menyerang dari utara Singasari di desa Mameling. Karena

mengira pasukan Daha benar2 melakukan penghianatan dan

mengira pula bahwa pasukan Daha menyerang dari Mameling

maka baginda Kertanagara lalu menitahkan raden Wijaya

membawa balatentara Singasari untuk menghadapi. Hal itu

makin menambah kekuatan pasukan Singasari yang sudah

banyak berkurang karena dikirim ke tanah Malayu, makin

kurang. Setelah mendapat laporan, maka patih Kebo

Mundarang segera memimpin pasukannya menyerang dari

selatan dan akhirnya berhasil menghancurkan pertahanan

pura Singasari. Baginda, patih Aragani, dan beberapa mentri

senopati tewas di keraton Singasari. Patih Kebo Mundarang

mengejar raden Wijaya ke Mameling. Karena dikepung dari

dua arah, raden Wijaya kalah dan melarikan diri tetapi tetap

dikejar oleh patih Kebo Mundarang. Hampir saja raden Wijaya

tewas karena hendak ditombak patih Kebo Mundarang itu

tetapi suatu keajaiban telah terjadi. Kaki raden Wijaya

memancal lumpur di pematang, lumpur muncrat mengenai

mata dan muka Kebo Mundarang sehingga berhenti dan

loloslah raden Wijaya dari ancaman maut. Kemudian setelah

raden Wijaya berhasil mengumpulkan pasukan dan dibantu

oleh pasukan Tartar, maka Daha dapat dihancurkannya. Patih

Kebo Mundarang berhadapan dengan Lembu Sora. Kebo

 

 

Mundarang kalah dan melarikan diri tetapi tetap dikejar. Tiba

di Trini Panti, Kebo Mundarang mau menyerah dan minta

jangan dibunuh. Ia bersedia menyerahkan puterinya kepada

Sora. Tetapi senopati pasukan raden Wijaya itu menolak.

Kebo Mundarang dibunuhnya ….”

“Kemudian entah bagaimana ketika sudah dapat

mengamankan Daha, raden Wijaya banyak memberi

pengampunan kepada mentri, senopati dan narapraja Daha

yang bersedia menyerah. Keluarga patih Kebo Mundarang

pun diberi ampun dan dibebaskan dari hukuman walaupun

dahulu beliau hampir saja dibunuh Kebo Mundarang”

“Sungguh luhur budi rahyang ramuhun Kertarajasa itu”

seru patih Dipa serentak ”memang musuh yang sudah

menyerah wajib diampuni. Juga keluarga mereka, anak

isterinya, tak berdosa dan layak diberi kebebalan dari

hukuman”

“Rahyang ramuhun Kertarajasa seorang raja yang

bijaksana dan luhur budi. Tetapi sayang tak kenal akan sifat

orang Daha. Mereka sudah duapuluh tahun merasa ditindas

oleh Singasari. Baru saja mereka berhasil mengalahkan

Singasari, atau sudah diserang dan dihancurkan oleh pasukan

Tartar atas permintaan raden Wijaya. Dengan demikian jelas

mereka tentu mendendam. Walaupun dimulut menyatakan

menyerah tetapi dalam hati mereka tetap mendendam.

Putera2 dari para senopati Daha yang binasa itu, setelah

besar segera menghimpun kekuatan dan mendirikan

himpunan Wukir Polaman. Cobalah ki patih renungkan.

Andaikata rahyang ramuhun bertindak keras membasmi

mereka, tentulah takkan terjadi kesulitan seperti yang kita

alami sekarang”

“Ah” desah patih Dipa ”nilai rahyang ramuhun itu seorang

raja, seorang ksatrya. Seorang ksatrya wajib berlapang dada,

bermurah budi untuk memberi ampun dan pengayoman

 

 

kepada siapapun yang telah menyerah dan mohon

perlindungan. Apabila putera2 senopati Daha itu kelak bangkit

hendak berjuang membangun kerajaan Daha lagi, itu hak

mereka tanpa mengurangi arti daripada nilai martabat rahyang

ramuhun Kertarajasa”

Demung Rakat terkesiap mendengar uraian yang bersifat

suatu pembelaan kepada tindakan rahyang ramuhun

Kertarajasa. Diam2 ia mengakui bahwa pembelaan patih yang

muda usia itu memang tepat.

“Bahkan setelah mengangkat kakang patih Dyah Purusa

Isywara sebagai patih Daha, rahyang ramuhun berkenan

menjodohkan puteri dari patih Kebo Mundarang kepada

kakang patih Isywara. Dengan tali perkawinan itu, rahyang

ramuhun hendak menghapus dendam keluarga Kebo

Mundarang dengan suatu kebaikan. Walaupun Kebo

Mundarang binasa, tetapi puterinya tetap menjadi isteri

seorang patih”

“Sedemikian besar budi yang telah dilimpahkan rahyang

ramuhun Kertarajasa kepada keluarga Kebo Mundarang.

Tetapi mengapa isteri paman patih Arya Tilam masih

menitahkan puteranya, Mahendra, untuk menggabung pada

Wukir Polaman?” patih Dipa bertanya.

Demung Rakat menghela napas. ”Dalam hal ini kita harus

mengakui, betapa besar rasa cinta tanah tumpah darah, yang

ditanamkan oleh mentri2 dan senopati Daha kepada putera

puterinya”

Patih Dipa terkejut. Belum dapat ia mencapai

pemikirannya sampai pada langkah itu. Tetapi iapun mengakui

betapa besar pengaruh pendidikan orang-tua itu kepada

putera puterinya. Ia sendiri tiada ayah dan ibu sehingga tak

sempat mengenyam apa arti penggula-wentah atau

penempaan orangtua kepada anaknya. Namun ia berharap

 

 

bahwa setiap orangtua akan dapat mendidik putera puteranya

untuk mencintai tanah tumpah darahnya”

“Lalu bagaimana dengan peristiwa Seta Aguling itu, paman

?” ia meminta keterangan pula.

“Sudah tentu Mahendra marah karena sikap Seta Aguling

yang tak petcaya akan kesetyaannya terhadap Wukir

Polaman. Hampir saja keduanya berkelahi. Tetapi tiba2

muncullah Kebo Angun-angun yang melerai perselisihan

mereka. Ia mengatakan kalau hendak menguji keberanian,

bukanlah tempatnya apabila berkelahi dengan sesama kawan,

sesama rekan. Jika benar2 berani, alangkah baiknya

keberanian itu disalurkan ke arah sesuatu yang berharga bagi

perjuangan Wukir Polaman. Dan apabila berhasil, bukan saja

Seta Aguling akan mendapat kepercayaan penuh, pun bahkan

akan didudukkan dalam pimpiran Wukir Polaman. Atas

pertanyaan Seta Aguling, Kebo Angun angun menyatakan,

baiklah keduanya, Seta Aguling dan Mahendra, masuk

kedalam keraton dan membunuh Rani Mahadewi. Mahendra

terkejut dan termenung tetapi Seta Aguling dan Kebo Angun

angun tetap mendesak dan mengejeknya. ”Ketahuilah,

Mahendra, bahwa setiap gerak gerikmu selalu diawasi o!eh

pimpinan Wukir Polaman. Terus terang, engkau masih

dicurigai keras. Hanya dengan seperti yang kuusulkan itulah

engkau akan bebas dari kecurigaan dan diterima dengan

penuh kehormatan oleh pimpinan kami” kata Kebo Angunangun.

Juga Seta Aguling mengejeknya sebagai bukan

seorang jantan kareaa tak berani melakukan hal itu. Ia

bersedia menemani Mahendra masuk kedalam keraton …”

“Akhirnya Mahendra menerima juga. Malam itu bersama

Seta Aguling ia menyelundup kedalam keraton. Tetapi malang

baginya, sebelum dapat melaksanakan rencananya, Rani

Daha sudah terjaga dan berteriak dan prajurit2 penjaga segera

menyergapnya. Karena gugup Mahendra terus lolos

 

 

meninggalkan Seta Aguling. Mahendra berhasil lolos karena

dia faham akan lorong2 dalam keraton. Tetapi tidak demikian

dengan Seta Aguling. Dia tak faham keadaan keraton dan

malam itu gelap. Ia tak dapat mengikuti dan kehilangan jejak

Mahendra. Akhirnya dia kesompokan dengan prajurit2 penjaga

dan dikepung. Akhirnya datanglah rangga Pamor. Seta

Aguling tak dapat berbuat banyak melawan rangga yang sakti

itu. Seta Aguling rubuh tersabat pedang rangga Pamor. Pada

saat rangga Pamor hendak menghabisi jiwanya maka aku pun

muncul dan mencegahnya. Hanya demikian pengakuan yang

kami peroleh dari mulut Seta Aguling. Karena kehabisan darah

akhirnya dia mati”

Selama mendengarkan cerita itu, patih Dipa merenung

diam. Setelah demung Rakat selesai, baru ia mengajukan

pertanyaan. ”Sungguh mengherankan kalau seorang warga

Wukir Polaman mau memberi pengakuan hanya karena

dijanjikan akan diberi pengampunan saja, paman demung”

“Benar, ki patih” kata demung Rakat ”aku sendiripun curiga

dan menyangsikan keterangannya. Tetapi ada sebuah kata

dari mulut Seta Aguling yang terlontar keluar dikala ia

menghembuskan napas. Mungkin kata2 itu dapat kita jadikan

pegangan mengapa ia berbuat begitu”

“Apa kata terakhir yang dikatakannya?” tanya patih Dipa.

“Pada detik2 terakhir hendak menghembuskan napas,

Seta Aguling masih sempat menyumpahi Mahendra, rasakan

pembalasanku …. engkau menghianati’ ….”

“Oh” desuh patih Dipa ”dengan demikian ah, bagaimana

menurut pendapat paman demung ?” tiba2 patih Dipa berhenti

dan alihkan kata-katanya. Rupanya ia menyadari bahwa

sebagai seorang muda, kurang layak apabila ia berlagak lebih

tahu dari orang yang lebih tua sekalipun dia orang

 

 

“Kurasa tentu ada sesuatu di balik hubungan kedua orang

itu. Tentu sebelumnya telah terjadi suatu dendam antara Seta

Aguling dan Mahendra. Dan pada malam itu Seta Aguling

tentu menganggap Mahendra sengaja meninggalkannya agar

tertangkap”

Patih Dipa menyetujui. ”Kesimpulan paman sesuai dengan

kesanku. Jika karena soal dendam, kemungkinanlah apabila

Seta Aguling mau memberi pengakuan. Ia hendak membalas

dendam kepada Mahendra dengan memberitahukan siapa

Mahendra itu. Pikirnya, dia sendiri tentu akan mati. Hanya

dengan cara itu dapatlah ia membalas dendam kepada

Mahendra supaya ditangkap oleh kerajaan”

“Lalu bagaimana dengan mendiang paman patih Arya

Tilam dikala mengetahui peristiwa besar yang menyangkut diri

puteranya itu ?” patih Dipa beralih kelain pertanyaan.

“Ketika kakang Arya Tilam dititahkan menghadap gusti

Rani dan diberitahu tentang peristiwa itu, kakang Arya Tilam

pingsan karena kejutnya. Setelah ditolong, iapun nekad

hendak bunuh diri. Ia malu dan merasa berdosa besar kepada

gusti Rani. Walaupun perbuatan itu puteranya yang

melakukan tetapi sebagai ayah, ia merasa ikut bertanggung

jawab”

“Bagaimana tanggapan gusti Rani ?” tanya patih Dipa.

“Gusti Rani berbanyak-banyak kata menghiburnya. Ia tak

percaya bahwa Mahendra putera patih Tilam akan melakukan

hal itu. Mungkin hanya siasat untuk mengacaukan suasana

keraton dan pemerintah keranian Daha. Kakang Tilam berjanji

akan menghadapkan puteranya kepada gusti Rani. Tetapi

sampai beberapa hari ternyata Mahendra tak pulang. Namun

gusti Rani seorang ratu yang bijaksana. Ia tetap tak percaya

Mahendra akan berani melakukan perbuatan yang sehebat itu.

Kemungkinan Mahendra diculik orang Wukir Polaman lalu

 

 

salah seorang anggauta Wukir Polaman menyaru sebagai

Mahendra, untuk membunuh Rani. Namun kakang Tilam telah

menderita kejutan hebat yang menggoncangkan pikirannya. Ia

jatuh sakit”

Patih Dipa segera teringat akan ra Tanca yang katanya

dititahkan baginda ke Daha, ”Bukankah baginda telah

mengirim rakryan Tanca untuk mengobati penyakit paman

Arya Tilam?”

Demung Rakat menghela napas ”Benar” katanya ”tetapi

penyakit kakang Tilam itu bukan penyakit biasa melainkan

penyakit batin. Sudah tentu rakryan Tanca gagal untuk

menyembuhkannya”

“Ah” patih Dipa mendesah ikut menyesal ”lalu bagaimana

dengan berita Mahendra selanjutnya?”

“Sampai sekarang Mahendra tiada kabar beritanya lagi”

kata demung itu.

Demikian percakapan dengan demung Rakat. Juga ia

mendapat keterangan yang sama dari kanuruhan Iwar, rangga

Dipo, tumenggung Pamor. Dalam berhadapan dengan

tumenggung Pamor, patih Dipa mengajukan pertanyaan,

”Adakah paman tumenggung percaya bahwa nyi patih Tilam

menyuruh puteranya bergabung dengan Wukir Polaman?”

“Dalam memberi keterangan tentang peristiwa yang terjadi

di keraton, terpaksa keterangan dari Seta Aguling itu kami

beritahukan kepada nyi patih. Ia terkejut sekali dan bersumpah

tak pernah menitahkan puteranya melakukan hal itu”

Sebagai patih baru, patih Dipa tak mengetahui jelas

bagaimana suasana keranian Daha. Bagaimana keadaan dan

suasana hubungan antara mentri2 dan narapraja. Bagaimana

pula kehidupan para kawula, keamanan dan

kesejahteraannya. Maka ia belum berani mengambil

 

 

kesimpulan tentang peristiwa Mahendra. Namun ia merasa

bahwa di balik peristiwa itu tentu ada sesuatu yang belum

terungkap dan perlu diungkap. Adakah benar2 Mahendra telah

menghianati harapan ramanya. Adakah Mihendra benar2 telah

diculik dan diperalat oleh orang2 Wukir Polaman. Adakah

Mahendra mempunyai suatu rencana sendiri. Kesemuanya itu

memerlukan suatu penyelidikan.

0o-dwkz-mch-o0

II

PUCUK DICIMTA ULAM TIBA menyatakan seseorang

yang telah mendapatkan sesuatu lebih daripada apa yang

diharap. Demikian perasaan patih Dipa ketika pengalasan

Kumala menghaturkan laporan bahwa raden Mahendra,

putera patih Purusa Isywara atau Arya Tilam telah datang

hendak menghadapnya.

“Apa katamu? Raden Mahendra?” ia menegas untuk

menghilangkan keraguan pendengarannya.

“Benar, gusti patih” pengalasan Kumala mengulang

”memang raden Mahendra, hamba tak lupa kepadanya”

Sejenak patih Dipa menenangkan denyut darahnya yang

mendebur jantung. Kemudian ia berkata, ”Bawa dia masuk ke

taman sini. Dan jagalah pintu gapura kepatihan. Siapkan

kawan kawanmu untuk meronda sekeliling kepatihan”

Pengalasan Kumala segera melakukan perintah.

Patih Dipa harus bergelut dengan serangan pertanyaan

yang dilancarkannya sendiri dan harus dijawab sendiri pula.

Serangkaian pertanyaan yang perlu dijawab antara lain,

benarkah Mahendra yang datang? Apakah tujuan putera patih

itu datang kepadanya? Jika Mahendra itu benar warga Wukir

Polaman, bukankah kedatangannya pada waktu malam

 

 

selarut itu, harus dicurigai itikad baiknya? Tidakkah Mahendra

akan membawa gerombolan Wukir Polaman yang mengepung

kepatihan secara tersembunyi?

Jawaban2 yang direkanya hanya berkisar pada ‘mungkin

dan tak mungkin’. Mungkin Mahendra akan bertindak seperti

yang dibayangkan dalam prasangkanya itu. Mungkin pula

tidak demikian. Sesuatu yang berlandas diantara

kemungkinan, masih sukar untuk menilai ketentuannya. Untuk

menyongsong sesuatu yang masih dibayang kemungkinan itu,

tiada lain cara kecuali harus siap menghadapi apabila

kemungkinan itu benar terjadi dalam kenyataan dan apabila

tidak. Jadi kesimpulannya, hanyalah harus waspada dan siap

Tepat pada saat pikiran patih Dipa telah tiba pada titik

kesimpulan, terdengarlah derap langkah orang menghampiri

ke taman belakang. Dari debur langkah yang agak kerap itu,

cepat ia menduga bahwa yang datang itu paling sedikit tentu

dua orang. Dan tak perlu ia harus menduga-duga karena pada

lain saat, muncullah pengalasan mengiring seorang pemuda.

“Raden, maaf” tiba2 pengalasan Kamali terdengar

membuka suara ”hamba terpaksa menjalankan tugas untuk

menggeledah raden dan mengambil senjata apabila raden

membawanya”

“Silahkan” seru sebuah suara yang bernada tenang.

“Kamali” mendengar itu patih Dipa cepat berseru ”siapa

yang engkau antar itu? Raden Mahendra?”

“Benar, gusti patih” sahut Kumali.

“Silahkan mengantarnya masuk” seru patih Dipa dengan

nada memerintah.

“Tetapi gusti patih …”

 

 

“Antarkan masuk!” teriak patih Dipa agak keras dan

pengalasan itupun tersipu-sipu mempersilahkan Mahendra

masuk ke dalam taman.

Agak terkejut patih Dipa menyambut kedatangan putera

patih Arya Tilam yang bernama Mahendra itu. Seorang

pemuda yang masih muda belia, bertubuh langsing, tampan,

memiliki sepasang gundu mata yang indah di bawah naungan

bulu alis yang lebat. Saat itu dia mengenakan pakaian warna

hitam sehingga ketampanan wajahnya yang berselaput kulit

kuning, makin tampak jelas. Wajah yang menampilkan darah

seorang pemuda keturunan priagung.

Tidak lebih kecil kejut Mahendra ketika berhadapan

pandang dengan patih Dipa. Ia membayangkan patih yang

baru itu tentu seorang pria yang sudah agak tua atau mungkin

sudah setengah baya. Seorang mentri yang bengis mungkin

angkuh. Setitik pun ia tak pernah menyangka bahwa patih

baru itu ternyata hanya seorang muda yang tak berapa banyak

jarak usianya dengan dirinya. Jika lebih tua, pun hanya

beberapa tahun saja. Dan yang mengejutkan perasaan

Mahendra, patih muda itu memiliki tampang muka yang luar

biasa. Indera pada mukanya serba besar, terutama gundu

matanya bundar dan bersinar tajam. Jidat lebar dari seorang

ahli pemikir dan bibir tebal dari seorang yang keras kemauan.

Selepas beradu pandang, Mahendra pun segera memberi

hormat ”Mahendra menghaturkan sembah kepada gusti patih

dan mohon maaf…..”

“Ah, raden” bergegas patih Dipa menyambut dengan

hormat balasan ”janganlah raden berbahasa setinggi itu

kepadaku. Sebut saja kakang kepadaku”

Mahendra tertegun mendengar nada suara patih Dipa

yang berkumandang nyaring, mencerminkan kebersihan hati

dan memancarkan keramahan.

 

 

“Raden Mahendra” seru patih Dipa pula. Tetapi secepat itu

Mahendra menyambut ”Paman patih, panggillah namaku saja,

jangan dengan sebutan lain”

Patih Dipa mengangguk dan berkenan dalam hati. Dengan

menyebut ‘paman patih’ itu, Mahendra masih menempatkan

Dipa ke tingkatan yang lebih atas. Dan memang walaupun

masih muda tetapi dengan memangku jabatan setinggi patih

itu, layaklah kalau Dipa disebut paman. Dan patih Dipa tak

mau mempersoalkan hal itu. Segera ia akan meminta

keterangan pada putera patih itu. ”Apakah maksud

kedatanganmu pada malam selarut ini?” katanya.

Sejenak Mahendra bersangsi, mengangkat muka

memandang ke sekeliling. Rupanya patih Dipa tahu isi hati

pemuda itu. Segera ia memerintahkan pengalasan Kumali

supaya kembali ke tempat penjagaan. Setelah itu ia

mempersilahkan Mahendra bicara.

Mahendra diam2 terkejut dan kagum atas kegesitan patih

muda itu bertindak. Disamping diam2 pun memuji atas

keberaniannya. Bukankah patih itu belum kenal kepada

dirinya? Bukankah patih itu tentu sudah mendengar berita

tentang dirinya dalam hubungan dengan peristiwa

pembunuhan Rani Daha dan Wukir Polaman? Mengapa tidak

setitikpun patih itu menaruh curiga kepadanya, tidak pula patih

itu menitahkan penjaga menggeledah dirinya. Bahkan tanpa

ragu2 patih itu telah menghalau pengalasannya supaya, pergi.

Namun ketika memandang sikap dan wajah patih muda itu,

seketika timbullah snatu perasaan patuh bercampur

mengindahkan “wajahnya menampilkan sikap percaya pada

diri sendiri yang kokoh” katanya dalam hati.

“Sekeliling taman ini bebas dari pendengaran orang.

Silahkan menguraikan maksud kedatanganmu” patih Dipa

mengulang permintaannya.

 

 

“O, maafkan paman” Mahendra berseru gopoh ”memang

bukan waktu yang layak apabila aku menghadap pada waktu

selarut ini. Kiranya paman tentu sudah maklum tentang

keadaan diriku”

Patih Dipa mengangguk ”Hanya keterangan dari beberapa

rakryan mentri dan senopati. Tetapi tentu tak semurni

keteranganmu sendiri”

“Tentu akan kuceritakan semua apa yang telah dan

sedang kulakukan setelah paman dapat memaafkan keadaan

yang memaksa aku harus menghadap pada saat2 begini

malam”

“Tak apa” patih Dipa mengangguk.

Sambil memandang ke sekeliling lagi, pandang mata

Mahendra tertumbuk akan segunduk batu datar yang

membujur di bawah sebatang pohon nagasari. ”Ceritaku ini

amat panjang, jika paman mengidinkan, mari kita duduk di

bawah pohon itu”

Kembali patih Dipa mengangguk dan mengajak anakmuda

itu duduk di atas batu panjang di bawah pohon nagasari.

Keduanya duduk berhadapan dan mulailah Mahendra

melanjutkan ceritanya.

“Apa yang paman dengar tentulah keterangan2 tentang

diriku, hendak membunuh gusti Rani karena ingin

membuktikan kesetyaanku kepada Wukir Po’aman”

“Keterangan itu berasal dari mulut Seta Aguling yang

diberikan kepada rakryan demung Rakat dan ki rangga

Pamor” kata patih Dipa ”tetapi bagaimana keadaan yang

sebenarnya sudah tentu hanya engkau yang paling jelas”

Mahendra menghela napas tenang. ”Memang sesuatu

tingkah besar harus meminta pengorbanan. Aku tak menyesal

karena diriku telah dicaci dan dihina sebagai seorang

 

 

penghianat, sebagai seorang pembunuh gusti Rani dan

ramaku. Memang hal itu sudah kuperhitungkan dengan

kesadaran”

“O” desuh ”artinya engkau memang telah melakukan

perbuatan2 itu dengan sadar?”

“Benar” Mahendra mengangguk ”karena setiap hasil itu

harus disertai pengorbanan. Tanpa penderitaan, kebahagiaan

takkan menjelang tiba”

Patih Dipa terkesiap dalam hati. Setenang itu sikap dan

wajah Mahendra mengakui semua perbuatannya. Adakah

pemuda itu sudah mencapai kedudukan yang penting dalam

Wukir Polaman ?

Jika tidak masakan sedemikian berani ia datang seorang

diri dan sedemikian tenang ia mengakui perbuatannya. Namun

patih Dipa tak mau memperlihatkan kelemahan atau

kecemasan. Apa yang akan terjadi, akan dihadapinya.

“Dan tentulah engkau berhasil, bukan?” tanyanya

“Hampir” sahut Mahendra.

“Hampir?” patih Dipa makin mengerut dahi. Keheranannya

makin menjadi, ”apa maksudmu mengatakan begitu?

Bukankah engkau sudah diterima menjadi anggauta Wukir

Polaman dengan penuh kepercayaan dan kehormatan ?”

“Entahlah” sahut Mahendra ”tetapi memang mereka

mengunjuk sikap lebih percaya kepadaku. Alangkah baiknya

pula apabila pembunuhan itu berhasil.”

“Hm” desuh patih Daha ”sayang juga ….”

Diam2 Mahendra terkejut mendengar patih itu hanya

memberi tanggapan yang begitu dingin. Padahal ia duga patih

itu tentu akan murka, paling tidak tentu menggeram.

 

 

“Apabila gusti Rani dapat kubunuh, tentulah aku diangkat

menjadi pimpinan mereka” rupanya Mahendra masih belum

puas karena tak berhasil memarang kemarahan patih Dipa.

“Apa arti pimpinan Wukir Polaman bagimu?” nada patih

Dipa mulai keras.

“Besar sekali” kata Mahendra dengan nada bangga ”aku

dapat melanjutkan perjuangan untuk menumbangkan

pemerintahan Daha, bahkan dapat kulanjutkan menuju ke

Majapahit”

Patih Dipa mulai memberingas, ”Benarkah itu yang

menjadi perjuanganmu ?”

“Benar, paman” sahut Mahendra datar seolah

menganggap patih Dipa seperti kawan seperjuangannya.

Kosong hatinya dari bayang 2 ketakutan.

“Apakah maksud kedatanganmu kemari harya untuk

mengabarkan hal itu?” patih Dipa menegas.

“Demikianlah” sahut Mahendra ”agar kami tahu akan sikap

dan pendirian paman terhadap perjuangan Wukir Polaman”

“Pendirianku” kata patih Dipa dengan menegakkan kepala

”aku adalah bhayangkara negara Majapahit. Siapa yang

hendak mengganggu dan menentang Majapahit, akan

kuhadapi dengan sepenuh jiwa ragaku”

“Itulah pendirian Gajah Kencana” teriak Mahendra ”adakah

paman seorang warga Gajah Kencana?”

“Tidak!” sahut patih Dipa sarat ”perjuangan membela

negara Majapahit bukan milik Gajah Kencana semata tetapi

milik setiap orang, tua muda, besar kecil, laki perempuan,

yang merasa dilahirkan, dibesarkan, dihidupkan dan

dikebumikan dalam bumi Majapahit. Kecuali mereka,

manusia2 yang hianat”

 

 

“Lalu jika telah kulaporkan bahwa diriku ini anggota Wukir

Polaman, apakah tindakan paman terhadap diriku?”

Sambil menunjuk ke pintu taman, berkatalah patih Dipa

”Silahkan engkau pergi dari sini!”

“Mengapa tidak paman tangkap diriku?”

Patih Dipa tertawa hambar ”Engkau tetamuku. Dan engkau

tidak melakukan sesuatu tindakan yang mengganggu

keamanan kepatihan ini. Maka cukuplah kupersilahkan engkau

pergi. Tetapi hendaknya ingat dan camkanlah. Dalam

kesempatan dimana kita saling berhadapan sebagai lawan,

janganlah engkau mengharap ampun lagi”

“Tetapi bukankah paman telah mengetahui bahwa aku

hendak membunuh gusti Rani Daha, tidakkah seharusnya

paman tangkap diriku?”

“Sudah jelas dalam pernyataanku tadi. Saat ini engkau

kuanggap sebagai tetamu. Tetapi pada lain perjumpaan, akan

kuperlakukan sebagaimana kedosaanmu harus diganjar. Nah,

silahkan engkau pergi sekarang”

Mahendra tersenyum ”Sampai dimanakah paman

menjamin kebebasanku ?”

Tak kalah tangkas penangkapan patih Dipa terhadap

maksud Mahendra. Cepat ia berkatata ”Mahendra, aku

seorang pejuang juga. Walaupun kita berdiri pada garis yang

berlawan arah, tetapi aku tetap menghormati seorang pejuang

lain. Keselamatanmu kujamin hingga engkau mencapai

tempatmu”

“Aneh” seru Maheudra ”bukankah aku seorang anggauta

Wukir Polaman, mengapa paman patih masih mengatakan

aku seorang pejuang?”

“Karena engkau berjuang untuk Wukir Polaman. Wukir

Polaman juga suatu wadah perjuangan” kata patih Dipa datar.

 

 

Mata Mahendra membelalak ”Ramaku patih kerajaan

Majapahit yang ditempatkan di Daha, dan aku masuk menjadi

anggauta sebuah himpunan yang hendak merobohkan

Majapahit. Bagaimana paman patih dapat menganggap aku

seorang pejuang?”

Mahendra hendak memancing kemarahan atau keheranan

patih muda itu atas sikap dan ucapan ucapannya. Tetapi patih

itu tenang saja dan Mahendra sendiri yang terangsang

keheranan. Dia hendak memancing tetapi bahkan terpancing

Patih Dipa tersenyum.

“Bahwa engkau masuk ke dalam sebuah himpunan para

pejuang Daha, menandakan bahwa engkau seorang pejuang.

Salahkah kalau kusebut engkau seorang pejuang? Soal

engkau beda pendirian dengan ramamu, itu merupakan

kebebasan dan tanggung jawabmu peribadi. Demikian pula

setiap orang, pun bebas untuk memilih pendirian. Juga

sebagai seorang putera dan seorang patih Majapahit, engkau

masuk menjadi anggauta sebuah himpunan yang menentang

Majapahit, bahwa sebagai seorang putera Majapahit engkau

hendak menentang Majapahit, itu hak peribadimu sendiri.

Jangan engkau merasa malu atau marah kalau engkau

disebut penghianat, jangan pula engkau merasa terhina

apabila orang mengatakan engkau seorang putera yang

membunuh ramanya, menghianati negara dan rakyatnya.

Jangan takut, itu sudah menjadi pendirianmu, teruskanlah!

Karena engkau sendiri yang akan bertanggung jawab akibat2

dari perbuatanmu. Engkau sendiri yang akan memetik apa

yang engkau tanam. Maka aku tetap menyebutmu sebagai

seorang pejuang walaupun tujuan dan pendirian itu terbagi

dua. Pejuang membela negara dan pejuang yang menghianati

negara.”

Merah wajah Mahendra.

 

 

“Eh, mengapa engkau tak mau segera pergi?” tegur patih

Dipa ketika melihat pemuda itu masih termangu.

“Paman, mengapa aku harus pergi apabila belum tercapai

maksud kedatanganku kemari?”

Patih Dipa terkesiap, ”Apa engkau masih mempunyai

maksud lain? Bukankah sudah cukup lama kita berbicara

dengan jelas?”

“Ya” sahut Mahendra ”tetapi baru permulaan”

Patih Dipa terpaksa mengemasi sikap. ”Mahendra

kuhormati engkau sebagai seorang tetamu, pula sebagai

putera dari paman patih Arya Tilam. Apa yang kulakukan

kepadamu hanya terbatas pada itu, jangan mengharap lebih

dari itu. Maka kupersilahkan engkau pergi.”

Mahendra mengangguk tenang, sahutnya, ”Kedatanganku

kemari, bukanlah untuk memohon hal2 yang paman merasa

dapat memberikan kepadaku itu. Tetapi aku mempunyai

tujuan sendiri”

“Mengapa tidak engkau katakan sejak tadi?” tegur patih

Tiba2 Mahendra memberi hormat, ”Maafkanlah

kesalahanku, ki patih. Peristiwa ini memang gawat sekali. Oleh

karena itu aku harus meyakinkan diriku lebih dahulu bahwa

rahasia ini akan jatuh ke tangan orang yang benar2 layak dan

cakap mengetahuinya”

Patih Dipa mengernyit dahi ”Engkau membawa rahasia?

Bukankah rahasia tentang dirimu?”

“Benar, paman patih.” Mahendra mengiakan, ”Memang

rahasia tentang. diriku tetapi bukan seperti yang telah

kukatakan kepada paman tadi”

“O” desuh patih Dipa” masih ada rahasia lain lagi?”

 

 

Sejenak Mahendra mengeliarkan pandang mata ke

sekeliling taman itu. Setelah yakin bahwa taman itu sunyi tiada

orang lagi, barulah ia berkata dengan pelahan.

“Paman, maafkan kesalahanku. Sesungguhnya aku

sedang menguji paman sebelum kuhaturkan rahasia itu.

Ternyata paman, memang luar biasa. Seorang yang harus dan

wajib kuhaturkan rahasia itu”

Patih Dipa tenang2.

“Sesungguhnya aku telah menyembunyikan keterangan

yang tak benar dalam pembicaraan tadi”

“Engkau bukan anggauta Wukir Polaman?” tukas patih

“Anggautanya” kata Mahendra ”kini aku telah diterima

sebagai anggauta penuh dari Wukir Polaman”

“Karena keberanianmu mengadakan percobaan hendak

membunuh gusti Rani ?”

Mahendra mengangguk ”Benar. Tanpa itu tak mungkin aku

mendapat kepercayaan orang2 Wukir Polaman”

“O” desuh patih Dipa.

“Kutahu mengapa Seta Aguling mendesak aku supaya

masuk kedalam keraton dan membunuh gusti Rani. Dia telah

dihasut oleh Kebo Angun-angun dengan janji akan diberi adik

perempuannya untuk diperisteri. Aku terdesak karena alasan

yang dikemukakan Seta Aguling dan Kebo Angun-angun itu

memang kuat. Aku-pun terpaksa menerimanya. Tetapi diam2

aku telah menyusun rencana sendiri. Paman patih, adakah

paman percaya bahwa aku benar2 gagal membunuh gusti

Rani karena tiba2 gusti Rani terjaga dan berteriak ?

Patih Dipa terkesiap, lalu terbeliak ”Maksudmu …”

 

 

“Paman tentu dapat menilai, jika berpuluh penjaga keraton

Daha dapat menghindari, masakan Mahendra yang sudah

masuk dan tinggal berhadapan dengan gusti Rani yang

sedang beradu nyenyak, tak dapat membunuhnya?”

“Oh” patih Dipa mendesuh kejut ”engkau tak

melakukannya?”

“Sengaja kusentuh kaki gusti Rani agar terjaga dan setelah

melihat aku sedang mengacungkan pedang, gusti Rani terus

berteriak”

“Engkau sengaja mengaturnya begitu?” tegur patih Dipa.

Mahendra mengangguk.

“Apa maksudmu?” seru patih Dipa ”bukankah dengan

dapat membunuh gusti Rani engkau akan diangkat sebagai

salah seorang pimpinan Wukir Polaman?”

“Benar” sahut Mahendra ”tetapi aku, Mahendra adalah

putera rama patih Purusa Iswara mentri Majapahit, karena itu

Mahendra adalah putera Majapahit pula. Mengapa aku harus

membunuh gusti Rani karena tanpa pembunuhan itu pun aku

sudah mendapat kepercayaan penuh dari orang Wukir

Polaman? Dan karena tanpa membunuh itu pun maka aku

dapat meminjam tangan para prajurit keraton Daha untuk

melenyapkan Seta Aguling”

“Mahendra!” teriak patih Dipa yang tak kuasa menahan

luap kejut yang melanda perasaannya ”engkau …”

“Selama hidup di Daha” kata Mahendra ”banyak kudengar

keamanan sering terganggu, pengacauan merajalela.

Himpunan Wukir Polaman makin tambah besar pengaruhnya.

Bahaya makin mengancam kewibawaan keraton Daha yang

dipimpin gusti Rani. Kuperhatikan wajah rama selalu murung

tak gembira karena setiap kali menerima laporan dari

kekacauan-kekacauan yang terjadi di telatah Daha. Diam-diam

 

 

aku ikut perihatin dan membayangkan suatu rencana. Aku

merasa kasihan kepada rama yang sudah tua harus

menghadapi tugas2 yang berat. Sesungguhnya rama sudah

menghaturkan permohonan untuk mengundurkan diri tetapi sri

baginda dan gusti Rani tak mengabulkan. Maka akupun harus

berani bertindak untuk meringankan beban rama dan untuk

menyelamatkan kawula Daha dari pengacauan orang Wukir

Polaman”

Walaupun heran tetapi kali ini patih Dipa tak mau

mengusik. Ia hanya mewajibkan diri sebagai pendengar yang

“Aku segera mencari kakang Windu yang kukenal baik. Dia

seorang yang ramah dan berbudi …”

Mendengar itu tak kuasa lagi patih Dipa menahan luap

perasaannya. Segera ia menukas ”Windu? Siapakah orang

itu? Bagaimana perwujutannya?”

“Seorang lelaki berumur tigapuluhan tahun lebih, agak

cacad pincang sebelah kakinya”

“Apa pekerjaannya?”

“Pandai besi”

“Siapakah nama lengkapnya?” tanya patih Dipa pula.

“Windu ….. eh, siapa, aku lupa” walaupun Mahendra

berusaha untuk mengingat tetapi gagal.

“Windu Janur, bukan?”

Mahendra terkejut ”O, benar, paman patih. Ya memang

Windu Janur”

“Dimana tempat tinggalnya?”

 

 

“Di desa Kuwu dekat gunung Polaman” sahut Mahendra

kemudian balas bertanya ”ah, rupanya paman patih kenal

akan dia, bukan?”

“Aku hanya tahu bahwa dia seorang pimpinan Wukir

Polaman. Aku pernah bertemu di pura Majapahit”

Mahendra membenarkan ”Ya, memang setelah masuk

menjadi anggota Wukir Polaman baru kuketahui bahwa

kakang Windu itu memang salah seorang pimpinan yang

penting kedudukannya”

Kemudian Mahendra melanjutkan bahwa atas pertolongan

Windu Janur, ia dapat diperkenalkan kepada pimpinan Wukir

“Siapa pimpinan Wukir Polaman?” tanya patih Dipa.

Mahendra menghela napas. ”Sukar untuk mengetahui

siapa pimpinan Wukir Polaman yang sebenarnya. Seorang

lelaki setengah tua, entah menerima permintaanku. Kukira dia

pimpinan tetapi kemudian kuketahui dia hanya kepala bagian

pengawas. Artinya, dia bertugas untuk mengawasi gerak gerik,

sikap dan kesetyaan setiap anggauta, terutama yang baru

seperti diriku”

Mahendra menceritakan lebih lanjut tentang peristiwa2

yang dialami setelah ia diterima sebagai anggauta Wukir

Polaman. Berulang kali ia harus mengalami ujian kedigdayaan

yang dilancarkan oleh beberapa orang tak dikenal tetapi yang

ia duga tentu anakbuah Wukir Polaman.

“Ujian keberanian yang memuncak, memerintahkan aku

supaya menculik seorang gadis bernama. Kensari. Jika

menculik seorang gadis, tidaklah berat bagiku. Tetapi tahukah

paman patih siapa gadis Kensari itu?”

Patih Dipa gelengkan kepala.

“Dia adalah adik dari kakang Windu Janur”

 

 

Mendengar keterangan itu mau tak mau patih Dipa

terbeliak ”Adik Windu Janur? Tidakkah Windu Janur akan

menghajarmu ?”

“Kakang Windu telah mendapat tugas ke lain daerah”

“Engkau tentu dapat melakukan tugas itu dengan mudah”

sambut patih Dipa.

Mahendra gelengkan kepala ”Tidak, paman. Aku hampir

gagal, apabila tidak ditolong Kensari”

Mata patih Dipa membelalak. ”Aku benar2 tak mengerti

ceritamu. Engkau ditugaskan menculik Kensari mengapa

kebalikannya engkau ditolong gadis itu!”

“Ketika aku hendak memasuki rumah, tiba2 aku diserang

oleh seorang pemuda bertubuh kekar. Sesungguhnya aku

dapat mengalahkannya apabila dia tak berlaku curang. Aku

dapat menendangnya rubuh.

Dia merintih-rintih minta pertolongan, ketika kuhampiri

untuk menolongnya, tiba2 ia menyambar kakiku terus dilempar

ke belakang sehingga aku jatuh. Dia loncat menginjak dadaku,

mencabut pedang hendak membelah kepalaku. Untung saat

itu terdengar suara seorang wanita berseru mencegah.

Kemudian baru kuketahui kalau wanita itu adalah gadis

Kensari, adik kakang Windu. ”Kakang Kebo Angun-angun,

jangan membunuhnya!” seru gadis itu. Kebo Angun angun

menjawab. ”Mengapa engkau melarang aku membunuh

seorang penjahat?” dan Kensari mengatakan bahwa ia tak

setuju karena Kebo Angun-angun berlaku curang. Kebo

Angun-angun membantah. ”Mengapa aku harus berlaku jujur

terhadap seorang penjahat?”

Terjadi perbantahan antara Kensari dengan Kebo Angun

angun. Akhirnya Kensari mengusulkan supaya aku dilepas

dan diajak bertanding lagi lawan dia. Kebo Angun angun

 

 

menjawab, ”Jika engkau menghendaki supaya dia dibebaskan,

aku menurut saja, Kensari. Karena apapun yang engkau

perintahkan, tentu akan kutaati” Kensari meminta pemuda itu

“Tetapi bagaimana dengan keselamatanmu, Kensari?”

Kebo Angun-angun bertanya cemas.

“Apakah engkau tak percaya bahwa sekalipun wanita

Kensari ini juga seorang prajurit, puteri keturunan senopati?”

seru Kensari.

Rupanya patuh sekali Kebo Angun-angun kepada gadis

itu. Setelah dia pergi maka Kensari lalu menanyai diriku. Terus

terang akupun mengatakan maksud kedatanganku. Dia

menyatakan, jika aku dapat memenangkannya dia bersedia

kubawa. Akupun melayaninya. Kurasa dia memang mengalah

sehingga berhasil kubawanya ke tempat yang diperintahkan

pimpinan Wukir Polaman. Sejak itu aku berkawan baik dengan

kakang Windu dan Kensari. Baru kuketahui bahwa Kebo

Angun-angun itu mencintai Kensari tetapi Kensari menolak

karena ia telah menyerahkan hatinya kepada Nagantara,

putera Kebo Mundarang, bekas patih prabu Jayakatwang yang

telah gugur dalam peperangan”

“O” desuh patih Dipa. ”Wukir Polaman benar2 merupakan

wadah perjuangan dari putera2 senopati dan mentri kerajaan

Daha dari prabu Jayakatwang”

Mahendra mengiakan kemudian melanjutkan ceritanya.

”Kebo Angun-angun marah karena hubunganku dengan

keluarga Windu Janur. Dia cemburu kepadaku. Ia mengira

sikap Kensari kepadanya yang makin dingin, disebabkan

karena kehadiranku. Pada hal setitikpun aku tak mempunyai

hati kepada Kensari. Dia sudah memadu janji dengan

Nagantara. Kebo Angun-angun berusaha untuk mencelakai

diriku. Disebarkannya fitnah bahwa sesungguhnya aku hanya

 

 

pura2 masuk menjadi anggauta Wukir Polaman dengan tujuan

untuk mengetahui rahasia himpunan itu. Entah itu tumbuh

subur di kalangan anakbuah Wukir Polaman. Akupun merasa

bahwa mereka meragukan kesetyaanku dan mulai menaruh

kecurigaan. Tetapi selama itu aku selalu bersikap hati2.

Sampai pada suatu hari Seta Aguling datang kepadaku dan

dengan terus terang menuduh aku seorang mata2 keranian

Daha. Aku marah dan kita hampir berkelahi lalu Kebo Angunangun

muncul, menganjurkan supaya aku dan Seta Aguling

mesuk ke dalam keraton untuk membunuh gusti Rani. Seta

Aguling pun menantang aku. Terdesak oleh keadaan yang

berbahaya jika aku menolak, kuterima tantangan itu. Aku dan

Seta Aguling berhasil menyusup ke dalam keraton. Kusuruh

Seta Aguling menunggu di luar pintu sedang aku masuk

kedalam peraduan gusti Rani. Jika kukehendaki, saat itu gusti

Rani tentu dapat kubunuh. Tetapi aku bukan seorang

penghianat, paman patih. Aku sengaja menyentuh kaki gusti

Rani supaya terjaga. Rencanaku berhasil, gusti Rani berteriak,

beberapa penjaga segera datang. Aku lari dan Seta Aguling

kutinggalkan dalam kepungan prajurit2 keraton. Demikianlah

peristiwa yang perlu kuhaturkan kepadamu, paman patih.

Entah apakah paman patih dapat percaya keteranganku ini”

“Kepercayaanku” sahut patih Dipa ”sebulat buluh”

“Karena aku putera seorang patih Daha?”

“Bukan” kata patih Dipa tegas ”karena engkau seorang

putera Majapahit. Adakah seorang putera akan menghianati

ibu pertiwi ?”

Dalam getar kejut yang menggelinjangkan rasa kagum,

Mahendra menghaturkan terima kasih.

“Apa rencanamu sesungguhnya?” tanya patih Dipa.

“Pada hari Srada nanti, gusti Rani Daha akan melawat ke

candi makam Antapura, sehubungan akan menabur bunga

 

 

pada makam ayahanda rahyang ramuhun Kertarajasa.

Rencana itu telah tercium oleh orang2 Wukir Polaman. Mereka

akan mengadakan gerakan besar-besaran. Pertama,

menyerang perjalanan gusti Rani. Kedua mengadakan

pengacauan di pura Daha agar pasukan keranian Daha tak

sempat memberi bantuan kepada rombongan gusti Rani”

Patih Dipa mendesuh kejut yang keras. ”Berhaya” serunya

”dapatkah keteranganmu itu dipertanggung jawabkan,

Mahendra?” patih Dipa meminta penegasan.

“Paman patih” sahut Mahendra ”apakah tujuan

pengorbananku selama ini jika tidak untuk menyelamatkan

keranian Daha dan gusti Rani?”

Serentak patih Dipa berbangkit dan memberi hormat

kepada Mahenda, ”Raden Mahendra, terimalah

penghormatanku selaku rasa terima kasih dari aku peribadi

dan seluruh kawula keranian Daha. Betapa besar

pengorbananmu, raden. Engkau rela dinista orang sebagai

penghianat. Engkau relakan ramamu sampai wafat karena

sedih”

“Dalam soal rama” tukas Mahendra ”pernah sekali kusuruh

orang uutuk mengantarkan suratku. Rama pasti sudah tahu

akan segala tindakanku”

“Tetapi bukankah beliau wafat karena malu dan sedih?”

tanya patih Dipa.

“Bermula memang demikian” sahut Mahendra ”tetapi

setelah tahu persoalanku, ramapun hanya terkejut dan

mencemaskan nasibku sehingga sampai jatuh sakit”

“O” seru patih Dipa ”aku girang karena engkau telah

dimaafkan ramamu, raden. Kini hanya tinggal selangkah lagi,

gusti Rani dan seluruh kawula keranian Daha harus

memaafkan, bahkan harus bersyukur kepadamu”

 

 

“Paman patih” seru Mahendra dengan tegas ”baiklah kita

jangan menghiraukan soal itu karena aku sendiri tak

mengharap apa2. Kita masih menghadapi tugas2 yang berat,

paman”

Patih Dipa menyetujui ”Benar. Kita harus bertindak. Dan

apakah engkau mempunyai rencana bagaimana harus

menghadapi mereka?”

Mahendra gelengkan kepala, ”Tidak ada kecuali hanya

meminta paman supaya mengerahkan pasukan kuat untuk

melindungi perjalanan gusti Rani dan menjaga pura Daha”

Patih Dipa mengangguk ”Baiklah, akan kuperhatikan hal

itu. Tahukah engkau dimana mereka akan memusatkan

pengumpulan anggauta-anggautanya ?”

Mahendra menghela napas kecil. ”Dalam hal ini memang

pimpinan Wukir Palaman pantas dipuji kecermatan dan

kecerdikannya melaksanakan rencana. Sampai detik ini,

belum juga kudengar suatu berita tentang hal itu.

Kemungkinan, menurut keterangan kakang Windu, gerakan

orang Wukir Polaman itu tidak akan merupakan suatu

pemusatan kekuatan, melainkan akan bergerak dalam

kelompok2 kecil. Seorang dua orang akan bergerak menuju

ketempat yang ditentukan untuk mencegat perjalanan gusti

Rani. Demikian yang akan melakukan pengacauan dalam pura

Daha. Dengan demikian mereka dapat menghindari perhatian

orang dan pengawasan pasukan Daha”

Patih Dipa mengangguk-angguk. ”Rencana itu memang

tepat sekali. Di samping untuk menghindari perhatian, pun

mereka hendak menjaga kemungkinan hendak ditangkap,

bukan semua kekuatan yang dapat dihancurkan Daha tetapi

hanya sebagian kecil saja. Juga dengan membagi secara

kelompok2 kecil itu, akan terjalin suatu mata rantai, dalam

saat2 terancam bahaya mereka dapat bantu membantu”

 

 

Mahendra terkejut. Betapa tajam dan jauh patih Dipa

memberi ulasan kepada rencana lawan. Jika ia hanya dapat

mengajukan sebuah ulasan, patih itu mampu menjangkau

sampai dua tiga ulasan.

“Raden” tiba2 patih Dipa berkata pula ”akan

kupertimbangkan lebih lanjut langkah2 yang perlu untuk

menghadapi ancaman Wukir Polaman. Tetapi yang pertamatama,

keselamatan raden sendiri. Adakah langkah raden

kemari ini diketahui mereka?”

“Tidak, paman patih” kata Mahendra ”aku ditugaskan untuk

melakukan pengawasan suasana keraton. Bagaimana

kekuatan penjagaannya dan bagaimana susunan serta cara2

penjagaan itu dilakukan”

Patih Dipa mengangguk. Sampai beberapa saat ia

terbenam dalam renungan tanpa bicara sepatahpun.

“Raden Mahendra” beberapa saat kemudian terdengar

patih Dipa berkata ”laporkan kepada mereka bahwa suasana

pemerintahan keraton agak goncang. Pengangkatanku

sebagai patih menggantikan paman patih Arya Tilam, masih

menimbulkan tanggapan yang belum menentu. Sebagaian

mentri dan senopati tua tak puas. Mereka lebih tua usia, lebih

banyak pengalaman, mengapa seorang muda seperti diriku

yang diangkat. Mereka tidak puas dan timbul beberapa

golongan yang setuju dan tak setuju. Dengan demikian

pemerintahan belum berjalan lancar. Suatu kesempatan baik

bagi mereka untuk memukul. Demikianlah yang raden

laporkan kepada pimpinan Wukir Polaman”

Mahendra mengiakan.

“Kedua kali” kata patih Dipa pula ”keselamatan raden

harus di amankan. Artinya, jangan sekali hubungan kita ini

sampai di ketahui mereka atau raden tentu akan di bunuh”

 

 

Mahendra mengiakan pula.

“Rencana ketiga” kata patih Dipa pula tanpa menaruh

suatu kecurigaan terhadap Mahendra ”raden harus

menciptakan jasa besar agar kepercayaan mereka makin

besar kepadamu. Dalam rangka itu,

===

>>>Hal 65-66 tidak ada<<<

====

Tetapi alangkah gempar seluruh desa ketika tiba2 orang

itu sudah berada di rumahnya, tidur pulas dibawah kolong

balai-balai. Orang itu tak dapat memberi keterangan apa2

kecuali mengatakan bahwa ia telah ditangkap oleh hantu2

yang menyeramkan, dipaksa untuk bekerja membuat sebuah

terowongan. Hantu2 itu amat bengis, apibila ia beristirahat

karena lelah, hantu2 itu mencambuknya. Pada suatu hari

tanpa suatu sebab ia telah dicekik o!eh seorang hantu

berwajah ngeri. Ia mengira tentu mati karena sudah tak tahu

apa yang terjadi lagi. Ketika membuka mata ternyata ia berada

di bawah kolong balai2 rumahnya.

Peristiwa itu menggemparkan seluruh desa, tersiar dari

desa kelain desa. Dia sejak itu lembah Triri Panti terkenal

angker, tiada orang yang berani datang ke lembah itu lagi.

Maka walaupun hari belum petang, suasana di lembah itu

sunyi dan seram sekali. Tetapi kesunyian dan keseraman

suasana lembah tak kuasa menghentikan langkah kaki

seorang wanita muda yang kala itu tengah menuruni lembah,

seorang diri pula. Memang sukar untuk dipercaya tetapi

benar2 hal itu merupakan kenyataan. Wanita itu masih amat

muda, lebih kurang duapuluh tahun umurnya Berkulit kuning

langsat, tubuh langsing semampai, wajah cantik dimeriahkan

sepasang mata berkilau bagai bintang kejora. Menilik wajah

 

 

dan pakaiannya, dia tentu puteri seorang berpangkat atau

orang berada.

Setenang kesunyian lembah, setenang itu pula langkah

kakinya menyusur jalan yang hampir teraling oleh semak dan

rumput. Wajahnya tak menampilkan setitik rasa takut akan

suasana lembah yang menyeramkan itu. Setelah menyusup

masuk mulut lembah ia lanjutkan langkah masuk ke dalam.

Dua tiga puluh langkah, ia membiluk ke sebelah kanan dan

tibalah ia pada segunduk tanah tinggi yang penuh ditumbuhi

rumput. Langsung setiba di muka gunduk tanah itu, ia

berjongkok dan menyembah,

”Rama, Nagandini menghaturkan sembah bakti …”

Kemudian untuk beberapa saat ia pejamkan mata

menyoragsongkan kedua tangan dalam sikap menyembah.

Rupanya dia tengah bersemedhi memanjatkan doa kepada

gunduk tanah itu. Airmatanya berderai derai membasahi

sepasang pipi.

Hening sunyi. Semak dan pohon2 merunduk seolah ikut

belasungkawa atas kesedihan hati wanita muda itu. Angin

berhembus lembut dan sekeliling tempat itupun terbias hawa

harum dari tubuh wanita cantik itu.

Entah berapa lama keheningan membisu, tiba2 terdengar

angin mengantar suara seseorang, ”Nagandini, jangan

bersedih ….”

Wanita muda yang disebut Nagandini itupun agak terkejut,

membuka mata dan berpaling. Kerut kedukaan pada dahinya

segera terhapus oleh pancaran wajahnya yang berseri girang.

”Engkau kakang Silugangga ……” iapun serentak berbangkit

dan menyongsong seorang lelaki yang tegak beberapa

langkah di belakangnya.

 

 

Lelaki itu berusia tigapuluh tahun lebih, berwajah tenang.

Di balik janggut dan rambutnya yang melebat panjang,

tersembunyi sebuah wajah yang cakap. Dia mengenakan

dandanan sebagai seorang brahmana.

“Benar, Nagandini” sahut brahmana yang disebut

Silugangga itu ”aku telah memenuhi panggilanmu”

Nagandini terkesiap, ”Aku memanggilmu, kakang?”

“Ya” sahut brahmana itu ”dalam doa semedhimu ….”

Nagandini tersipu-sipu merah wajahnya, ”Ah, jangan

mengolok, kakang”

“Hanya bagi seorang yang terjalin oleh ikatan batin, doa2

itu akan dapat menggetarkan sanubarinya” kata brahmana itu

“Kakang, mengapa lama engkau tak menampakkan diri ?”

kata Nagandini.

“Ah” brahmana itu mendesah ”betapa ingin aku selalu

hadir disampingmu, Nagandini. Tetapi engkau tentu

memaklumi, betapa bahaya yang mengancam diriku apabila

kawan2 Wukir Polaman mengenal jejakku. Oleh karena itu

Nagandini, akupun terpaksa menyamar sebagai seorang

brahmana dan namakupun kuganti dengan brahmana

Kendang Gumulung”

“Tetapi bagiku, engkau tetap kakang Silugangga” sambut

Brahmana itu tersenyum, ”Dulu, sekarang dan kelak. Aku

tetap Silugangga. Silahkan engkau menyebut nama itu asal

engkau anggap bahwa hal itu tak membahayakan

keselamatanku”

 

 

“Kakang” sesaat kemudian Nagandini berkata pelahan

”Adakah kita tetap harus hidup dalam suasana begini,

kakang?”

“Teguhkan imanmu, kuatkan batinmu, Nagandini. Kita

harus berani menghadapi segala coba yang dilimpahkan

dewata kepada kita”

“Kakang” nada Nagandini makin lemah ”mengapa kita

harus paserah nasib kepada dewata ? Bukankah dewata akan

merestui kepada titahnya yang mau berusaha ?”

“Benar, Nagandini” sahut brahmana Kendang Gumulung

”wajib titah manusia adalah berihtiar. Ketentuannya ada pada

dewata. Lalu apa yang engkau maksudkan dengan ucapanmu

itu ?”

“Kakang …” kelemahan nada gadis cantik itu mulai

bergetar sedu isak ”betapa derita batin yang kualami selama

ini. Adakah kakang tidak tahu bahwa setiap malam tiba,

malam pula dihatiku ? Aku tak jemu2 memanjatkan doa

kepada dewata, agar nasib yang kita derita ini lekas berakhir”

“Itu baik sekali, Nagandini”

“Tetapi tak pernah kudengar suatu jawaban apa2 kecuali

bisikan hatiku bahwa kita harus kita paserah nasib dan dewata

akan merestui langkah kita”

Brahmana Kendang Gumulung tersenyum, ”Dewata telah

menunjukkan jalan yang benar, Nagandini. Lalu apakah yang

terbayang dalam rencanamu tentang usaha kita itu?”

“Kakang” Nagandini menatap Kendang Gumulung dengan

lekat dan mencurah ”bawalah aku ke lain daerah yang tenang

dan jauh. Aku rela hidup di hutan atau di gunung asal

bersamamu, kakang”

 

 

“Baik” kata Kendang Gumulung ”akupun ingin sekali

membawamu ke tempat yang jauh. Tetapi, Nagandini. Engkau

tentu maklum siapakah diriku ini, bukan ?”

Nagandini mengerjit alis, ”Sudah tentu kekang Silugangga

ini putera paman tumenggung Sagara Winotan, senapati

kerajaan Daha yang gagah perkasa”

“Itulah” kata Kendang Gumulung ”dan bukankah engkau

maklum pula kedua kakangmu Nagantaka dan Nagantara

beserta putera2 para mentri senopati kerajaan Daha telah

bergabung pada himpunan Wukir Polaman, bukan?”

Nagandini mengiakan.

“Nah, kedua pengetahuanmu itu akan kujadikan landasan

untuk mengisi suatu pengertian kepadamu” kata Kendang

Gumulung ”rama Winotan merupakan salah seorang senopati

Daha yang paling menonjol nama dan keberanian, kesetyaan

dan pengabdiannya kepada kerajaan. Kini aku, puteranya,

apakah harus lari menyembunyikan diri di mana putera para

mentri senopati Daha sedang gigih berjuang untuk

membangun kerajaan Daha lagi? Tidakkah engkau malu

bersuamikan seorang pengecut, Nagandini ?”

Nagandini terbeliak ”Tetapi kakang Silugangga ”serunya

sesaat kemudian ”mereka membencimu, mereka

memusuhimu, merekapun hendak membunuhmu karena

engkau dianggap berhianat seperti yang dituduhkan terhadap

mendiang ramamu”

“Kutahu, Nagandini” jawab brahmana Kendang Gumulung

”dan kutahu pula ulah siapa yang telah memfitnah diriku …”

“Ha, ha , ha …..” sekonyong-konyong kesunyian lembah

telah meletuskan sebuah tawa manusia. Nyaring dan bernada

mengejek. Brahmana Kendang Gumulung berobah seri

wajahnya, Nagandinipun terkejut pucat, keduanya serentak

 

 

berpaling ke arah yang diduga tempat penghamburan tawa itu.

Tetapi mereka tak melihat suatu apa di sekitar kehling tempat

itu. Kendang Gumulung makin berdebar. Tawa itu

mengandung kumandang yang kuat, berisi hamburan Prana

yang penuh. Takkanlah seorang biasa dapat menghamburkan

tawa sedemikian kecuali seorang yang berilmu.

“Siapa engkau!” seru Nagandini yang tak kuasa menahan

kesabaran hatinya. Tetapi seruan gadis itu tak bersambut.

Suasana dalam lembah tetapi sunyi dan hening.

“Nagandini. waspadalah” bisik brahmana Kendang

Gumulung ”rupanya jejak kita telah diketahui orang”

“Jangan kakang” seru Nagandini pelahan ”jangan

melarikan diri. Biarlah mereka tahu jejak kita. Mari kita hadapi

berdua, kakang”

“Ah Kendang Gumulung menghela napas, ”janganlah

menurutkan suara hati yang panas. Banyak hal yang masih

perlu kita lakukan ….. eh, Nagandini …..” brahmana itu tak

dapat melanjutkan kata-katanya dan berseru kejut ketika

melihat Nagandini berputar tubuh terus melangkah keluar.

Terpaksa iapun menyusul.

Nagandini memang panas kepada orang yang tertawa itu.

Jelas orang itu hendak mengganggu pertemuannya dengan

Silugangga. Ia teruskan langkah menuju ke mulut lembah,

menyusup pohon2 yang mengalingi dan melangkah ke luar.

“Ah, engkau kakang Janur” seketika berserulah Nagandini,

kejut dan geram, ketika melihat seorang lelaki tengah duduk di

atas segunduk batu padas.

“O, engkau Nagandini, mengapa engkau berada disini ?

Apa yang engkau kerjakan pada hari sepetang ini?” seru

orang yang disebut kakang Janur itu. Dan dia memang Windu

 

 

Janur. Wajahnya tampak terkejut menyambut kehadiran

“Kakang Janur” seru Nagandini dalam nada menggetar

”jawablah pertanyaanku dulu. Mengapa engkau di sini ?”

“Aku ?” ulang Windu Janur ”aku sedang menunggu

kawan2 untuk merundingkan sesuatu. Memang lembah ini

sering kita gunakan untuk tempat perundingan”

“Tetapi mengapa engkau tertawa senyaring tadi? Dengan

siapa engkau tertawa dan apa yang engkau tertawakan?”

tanya Nagandini pula.

“Eh, Nagandini” seru Windu Janur tenang, “sedemikian

tegang sikapmu, sedemikian bernafsu engkau

menghamburkan pertanyaan. Mengapa Nagandini?”

“Jawablah !” seru Nagandini.

Windu Janur tersenyum simpul ”Aneh, mengapa engkau

mempersoalkan aku tertawa. Baiklah, aku tertawa karena geli

melihat tingkah sepasang burung kutilang yang masih

berkasih-kasihan sehingga lupa kalau hari sudah hampir

gelap”

“Mana burung itu?”

“Mereka terbang karena terkejut akan kehadiranmu yang

begitu tak terduga, Nagandini”

“Burung berkasih-kasihan adalah sudah jamak, mengapa

engkau menertawakannya? Adakah engkau tak pernah

melihat pemandangan begitu?”

“Pernah” sahut Windu Janur masih tetap tenang, “tetapi

biasanya mereka melakukannya pada pagi atau siang hari,

tidak pada rembang hari menjelang sepetang ini”

“Apa pedulimu, kakang Janur!” masih Nagandini bernafsu.

 

 

“Hanya sekedar geli saja, Nagandini. Kiranya jawabanku

sudah cukup dan sekarang sukalah engkau menjawab

pertanyaanku tadi”

“Aku menabur bunga pada makam ramaku”

“Pada saat begini ?” Windu Janur menegas.

“Adakah ada ketentuan waktu bagi seorang anak yang

hendak melepaskan rindunya dihadapan makam ramanya”

sahut Nagandini.

“Memang tak ada” Windu Janur mengangguk kepala

”hanya orang tentu heran mengapa pada hari dan bulan

sekarang, terutama pada waktu petang hari, engkau menabur

bunga”

“Bahkan tengah malam pun kalau aku merasa rindu

hendak bertemu dengan rama, aku akan datang ke

pusaranya” seru Nagandini.

“O, engkau memang seorang puteri yang berbakti kepada

orangtua, Nagandini” puji Windu Janur walaupun nadanya

agak sumbang ”tetapi siapakah kawanmu. Nagandini ?” tiba2

ia bertanya.

Nagandini terkesiap tetapi cepat ia menjawab dalam nada

yang ditekan, ”Jangan bergurau, kakang. Aku hanya seorang

diri”

“Ah, Nagandini” Windu Janur tertawa datar ”mengapa

harus menyembunyikan sesuatu kepadaku. Lembah sunyi dan

akupun memiliki aji Pangrungu, rasanya takkan salah apabila

engkau tidak seorang diri, melainkan berkawan. Ada dua buah

suara yang kudengar pada percakapan dalam lembah, dua

buah derap langkah kaki yang berlainan pula menuju keluar.

Yang muncul engkau seorang, lalu siapakah yang seorang ?”

 

 

Betapapun ditekan namun tegang juga perasaan hati

Nagandini sehingga wajahnya bertebar merah. ”Boleh saja

engkau mengatakan begitu, asal …”

“Hai, ki sanak yang bersembunyi dalam mulut lembah”

tiba2 Windu Janur berseru ke arah mulut guha ”silahkan

keluar. Seorang laki2 jangan mengumpatkan diri”

“Hm,” tiba2 terdengar suara penyahutan mendengus

”siapa mengatakan aku mengumpat ? Bukankah kesalahanmu

sendiri apabila tak melihat aku disini”

“Dimana engkau!” hardik Windu Janur yang tak berhasil

menemukan jejak orang itu, betapapun ia sudah

menyalangkan mata lebar2 dan mempertajam

“Aku di sini” seru orang itu dan cepat2 Windu Janurpun

berpaling ke belakang. Ternyata di atas segunduk batu telah

tegak seorang brahmana yang memandangnya dengan

pandang mata teduh. Diam2 Windu Janur terkejut. Jelas tadi

ia sudah mengeliarkan pandang mengeliling sekitar tempat itu,

batu, padas, semak belukar, pohon dan setiap liang pada

benda apa pun yang cukup untuk bersembunyi orang, habis

dijelajahi pandang matanya dan tak ada sosok tubuh manusia.

Tetapi mengapa tahu2 brahmana itu sudah tegak di atas batu

padas yang setinggi dua orang berdiri tegak?

Namun ia tak mau menyatakan keheranannya karena hal

itu hanya mengunjuk suatu kelemahan, menambah semangat

lawan, menyurutkan nyali sendiri. Untuk menyelimuti

perasaannya itu, segera ia mendamprat keras. ”Ho, kiranya

engkau, Silugangga! Bilakah engkau mempelajari kitab veda

dan di asrama manakah engkau menjadi brahmana?”

“Windu Janur” brahmana Kendang Gumulung menyahut

setenang batu padas yang dipijaknya ”bukan karena

mempelajari kitab veda, bukan karena tinggal digrehasta dan

 

 

asrama, bukan pula karena pakaian yang dikenakan maka

seseorang itu disebut brahmana. Dan kalau engkau tetap

menganggap demikianlah keharusan seorang brahmana,

maka kukatakan aku bukan brahmana jenis mereka”

Windu Janur tertawa mengejek. ”Adakah terdapat

brahmana jenis lain daripada brahmana yang terdapat di bumi

kita ini?”

“Ada ”sahut brahmana Kendang Gumulung ”akulah

brahmana itu!”

“Apa beda ke-brahmanaanmu dengan brahmana yang

lain?”

”Dalihnya sama, tetapi landasannya yang berbeda. Kitab

veda Upanishad berisi pengetahuan tentang Atman yang

berarti jiwa segala mahluk, jiwa yang meliputi seluruh dunia.

Atman itu maha ada artinya di mana ada. Lambang jiwa yang

maha-ada yang sering dipakai yaitu b r a h m a n , artinya

abadi. Oleh karena pengetahuan manusia hanya berdasarkan

perasaan badaniah, maka jivatman atau jiwa perseorangan

seolah-olah tertawan dalam ruang dan terpisah dari atman

yang maha-ada itu. Apabila kita insyaf akan persamaan antara

paramatman dan jivatman, antara jiwa yang maha ada dan

jiwa perseorangan, maka pikiran kita akan suci dan mencapai

moksha atau kebahagiaan abadi. Demikian pandangan ajaran

kaum brahmana”

Berhenti sejenak, Kendang Gumulung melanjutkan, ”Dalih

yang kuanutpun demikian juga, hanya jika kaum brahmana

berlandaskan pada ajaran agamanya, maka landasanku

adalah negara dan rakyat. Atman adalah jiwa segala mahluk,

kuartikan jiwa seluruh rakyat negaraku. Jivatman, jiwa

perseorangan atau diriku. Hanya kalau kita menginsyafi bahwa

antara diriku dengan rakyat dan negara itu sama, maka kita

akan mencapai kebahagiaan, kebebasan negaraku dari

 

 

tindasan orang Majapahit, kebebasan rakyatku dan juga

termasuk kebebasan diriku sebagai kawula Daha. Jelaskah

engkau, Windu Janur!”

“Brahmana ciptaan, menciptakan angan dan dalih ciptaan,

melakukan karman ciptaan pula. Bukankan begitu,

Silugangga?” balas Windu Janur.

“Tat tvam asi, makhluk yang tertinggi sesungguhnya tuan

sendiri. Akulah tuan dari diriku, penguasa keinginan dan

segala nafsu dalam jasadku. Aku mencipta karena aku suka

mencipta, bebas mencipta”

“Bebas bagi dirimu tetapi tidak bebas bagi lain orang.

Engkau, bebas untuk menghianati, tetapi atman2 yang jaga

bebas pula untuk melenyapkanmu” seru Windu Janur.

“Nafsu selalu menguasai atmanmu, Windu Janur. Nafsu

yang mengandung maksud tersembunyi, selalu membakar

dadamu, menghanguskan hatimu sehingga engkau rela

memfitnah seorang kawan lama ….”

“O” seru Windu Janur mengejek ”engkau masih

mendendam tentang peristiwa dirimu? Apakah dalam jenis

kebrahmanaanmu itu, nafsu dendam dibenarkan?”

“Dibenarkan” sahut Kendang Gumulung ”karena

landasannya adalah menunggalnya paramatman dengan

jivatman, rakyat dan diri peribadi, maka dendam dibenarkan

tetap menyala bahkan harus membakar jiwa untuk

melenyapkan perintang2 kemokshaan, kebebasan negara dan

rakyat”

“Hm” dengus Windu Janur ”pandai benar engkau

menggerakkan lidah untuk merangkai ajaran brahman yang

suci dengan keduniawian”

“Aku menjadi brahmana” kata Silugangga ”dengan memilih

gelar Kendang Gumulung atau Genderang Tergulung.

 

 

Genderang, untuk membahana panggilan tanah air.

Gumulung, menggulung segenap hati dan pikiran ke dalam

suatu tekad yang bulat. Bahwa aku takkan mengenakan

pakaian orang biasa sebelum Daha bebas dari kekuasaan

Majapahit”

“Bagus” seru Windu Janur ”sumpah yang perkasa, sumpah

yang perwira dari seorang putera Daha. Tetapi sayang sekali,

sudah terlambat. Wukir Polaman sudah mencoret nama

Silugangga sebagai warganya!”

“Ha, ha, ha” brahmana Kendang Gumulung tertawa.

Nadanya penuh hamburan geram, marah, kecewa, sedih dan

penasaran, ”untuk berjuang membangun kerajaan Daha, tidak

perlu orang harus menjadi anggota suatu himpunan seperti

Wukir Polaman. Perjuangan itu hak dan kewajiban setiap

rakyat Daha, milik setiap putera puteri Daha”

“Benar” sambut Windu Janur ”engkau memang berhak

untuk berjuang menurut caramu sendiri. Tetapi sayang

kawan2 Wukir Polaman telah menganggap engkau seorang

penghianat maka harus di tangkap dan dibasmi”

“Kakang Windu” teriak Nagandini yang sejak tadi diam saja

”engkau hendak menangkap kakang Silugangga? Mengapa?”

“Ya” sahut Windu Janur ”aku hanya menjalankan perintah

kawan-kawan kita”

“Siapa yang memerintahkan engkau?” tanya Nagandini

Windu Janur mengerut dahi ”Maaf, Nagandini, aku tak

dapat memberitahukan. Itu sesuatu yang harus dirahasiakan”

“Mana bukti2 perintah itu ?” masih Nagandini mendesak.

Windu Janur makin melebatkan kernyit lipatan dahinya.

Sesaat kemudian lipatan itu berangsur melongsor pula dan

wajahnya pun cerah kembali. ”Jika engkau mendesak

 

 

menginginkan bukti perintah itu, walaupun hal semacam itu tak

pernah kuterima karena hanya secara lisan, tetapi akupun

dapat memberi bukti juga” tiba2 ia bersuit nyaring.

Kumandangnya bergema menyelubungi seluruh lembah,

memantulkan gema panjang yang membubung ke angkasa.

Kendang Gumulung dan Nagandini terkejut menduga-duga

apa gerangan yang akan terjadi. Dan keduanya tak perlu lama

terkandung dalam dugaan karena beberapa saat kemudian

terdengar suara berisik seperti rumput rebah bertindih

terpinjak kaki. Derap kaki riuh mendebur tanah. Pada lain saat

muncullah sepuluh lelaki muda bertubuh gagah dari empat

penjuru. Mereka membentuk lingkaran untuk mengepung

brahmana Kendang Gumulung dan Nagandini.

Diam2 brahmana Kendang Gumulung terkejut dalam hati.

Ia dapat mengenali beberapa pendatang itu antara lain Kuda

Sempalan putera senopati Jaran Guyang, Kebo Angun-angun

putera Kebo Rubuh, Nirbada putera Panglet, Banyak Lindung

putera Prutung. Liman Segara putera Bowong, Anggoro putera

Kampinis. Sedang yang empat orang ia belum kenal. Ia tahu

bahwa rombongan pendatang itu adalah golongan yang tak

menyukainya, bahkan menuduhnya sebagai penghianatan.

Pelopor yang melontarkan tuduhan itu adalah Windu Janur

dan Kebo Angun-angun. Walau tidak semua tetapi sebagian

besar anggauta Wukir Polaman setuju pada tuduhan itu dan

berdiri dibelakang Windu Janur serta Kebo Angun-angun.

“Tanyakan kepada saudara2 dari Wukir Polaman, engkau

tentu mendapat bakti, Nagandini” seru Windu Janur.

“Mereka adalah kawan2 yang telah menjadi anak buahmu”

Nagandini menuduh.

Windu Janur merah mukanya. Tetapi di hadapan

Nagandini terpaksa ia harus menekan amarahnya.

 

 

“Sudahlah, Nagandini” tiba2 brahmana Kendang

Gumulung berseru ”tentu hanya berkering lidah saja engkau

apabila menentang kenyataan yang telah dihidangkan

mereka” ia terus berseru kepada Windu Janur ”Windu, apalah

maksudmu ini?”

“Mengingat bahwa kita, aku dan engkau terutama, sudah

bersahabat baik, maka kuminta janganlah engkau menyulitkan

tugasku. Serahkanlah dirimu untuk kubawa menghadap

pimpinan” sahut Windu Janur, “bukankah tak enak dalam

perasaan apabila terjadi pertempuran antara dua orang

sahabat seperti kita berdua ini ?”

Brahmana Kendang Gumulung tertawa hambar, “Jika

engkau hendak menangkap, aku akan melawan. Tetapi jika

engkau meminta belas kasihanku supaya menyerahkan diri

agar engkau memperoleh jasa dalam Wukir Polaman, aku

bersedia untuk menyerahkan diriku”

Merah padam selebat wajah Windu Janur, Ucapan itu

bermakna suatu penghinaan yang tajam. Tetapi sebelum ia

sempat merangkai jawaban, tiba2 Nagandini sudah

mendahului, ”Kakang Silugangga, jangan sehina itu engkau

memperlakukan dirimu. Engkau amat berarti kepadaku, jangan

semudah itu engkau hendak menyerahkan diri kepada

mereka”

“Aku seorang brahmana, Nagandini. Jika mereka merintihrintih

meminta pertolongan, wajiblah aku menolongnya,” jawab

Kendang Gumulung.

“Silugangga” hardik Windu Janur, ”demi persahabatan kita

yang lampau, aku memberi petunjuk jalan yang damai. Tetapi

janganlah engkau artikan aku merintih belas kasihanmu.

Engkau kira akan mampu lolos dari penangkapan ini? Hm,

jangan engkau terlalu mengangkat dirimu setinggi langit dan

merendahkan lain orang serendah itu. Jika engkau memang

 

 

tak mau menempuh jalan damai, siapkanlah dirimu untuk

menerima hajaran kawan2 kami!”

“Kakang Windu Janur” teriak Nagandini makin geram,

”jelas engkau telah mengikuti jejakku dan mempersiapkan

rencana untuk menangkap kakang Silugangga!”

“Tidak, Nagandini” bantah Windu Janur, ”bukankah tadi

engkau mengatakan kalau hanya seorang diri? Aku tak tahu

bahwa Silugangga ternyata menemui engkau dalam lembah

ini. Aku dan kawan2 sedang diberi tugas untuk menghadang

prajurit2 Daha yang hendak menyergap lembah ini. Tiada

kusangka engkau berada dalam lembah, lebih tak

kubayangkan bahwa Silugangga juga berada bersamamu

dalam lembah. Inilah yang disebut sekali tepuk dua lalat.

Menyergap pasukan Daha dan menangkap Silugangga, ha,

ha, ha”

“Engkau pengecut!” damprat Nagandini karena tak kuasa

menahan luap kemarahannya.

Windu Janur terbeliak. ”Pengecut? Aku hendak

menangkap Silugangga karena dia seorang penghianat.

Adakah tindakan itu layak disebut pengecut?”

“Adakah kakang Silugangga benar2 seorang penghianat?”

bantah Nagandini.

“Air takkan mengalir ke atas tentu ke bawah. Ayah

penghianat, anakpun penghianat pula …..”-

“Jahanam!” tiba2 marahlah Kendang Gumulung, ”jika

engkau menuduh aku berhianat, aku takkan menghiraukan.

Tetapi kalau engkau berani menghina ramaku sebagai

penghianat, aku akan mengadu jiwa dengan engkau!”

Brahmana Kendang Gumulung segera gerakkan

tongkatnya menghantam kepala Windu Janur. Sebelum

tongkat tiba, Windu Janur sudah terlanda hembusan angin

 

 

yang kuat menampar mukanya. Jelas Kendang Gumulung

menyerang dengan sekuat tenaga.

Tetapi sebelum Kendang Gumulung dapat mencapai

sasarannya, tiga orang segera menyerang dari samping

kanan, kiri dan belakang.

Tring, tring, uh …..

Dua buah suara gemerincing itu berasal dari tongkat

brahmana Kendang Gumulung yang secepat menarik pulang

tongkat, terus dilanjutkan untuk menyapu serangan pedang

dari kanan dan kiri. Sementara suara desuh kejut itu ke luar

dari mulut Liman Segara yang menyerang dari belakang dan

disongsong dengan sabatan pedang oleh Nagandini.

Nagandini memilih penyerang di belakang karena ia tahu

bahwa Kendang Gumulung tentu mampu menghalau kedua

penyerang dari kanan kiri. Liman Segara mendesuh kejut dan

loncat ke belakang lagi.

“Engkau pengecut!” Nagandini mendamprat.

0odwkz-mcho0

 

 

JILID 38

I

SEPULUH kejahatan didunia ini pada hakekatnya berakar

pada tiga kejahatan yang ditimbulkan oleh fikiran, yaiah:

Lobha atau keserahan, Dosa atau dendam kebencian dan

Moha atau kepalsuan.

Baik Lobha, Dosa maupun Moha, laksana api abadi yang

membakar, menghanguskan pikiran, hati, semangat dan jiwa

manusia. Manakala kita membiarkan api itu menyala dan

membara, membakar dan menghangus, maka akan rusak

binasalah pikiran dan jiwa, akan hanguslah sumber rasa

dalam jasad, akan layulah kesatuan batin yang berhubungan

dengan jiwatma. Manusia Lobha, akan menyerupai harimau

yang paling buas di dunia. Manusia Dosa, bagai raksana yang

mengumbar keangkara-murkaan. Manusia Moha tak ubah

 

 

seperti alat berbisa yang berkulit cantik, rubah yang berkulit

Ketiga kejahatan itu akan menanggalkan manusia dari sifat

Sesungguhnya amatlah besar penderitaan yang harus

dikenyam apabila pikiran menyambut, tumbuh dan

menyuburkan ketiga benih kejahatan itu. Dia bagaikan benalu

yang akan menghisap darah dan sari hidup manusia.

Mengandung Lobha, Dosa dan Moha benar2 suatu derita

sengsara. Lobha akan pangkat dan kedudukan, harta dan

kekayaan, akan mengobarkan nafsu pikiran jahat, menyiksa

batin sendiri sebelum apa yang diinginkan itu tercapai. Dosa

atau mendendam kebencian, akan lebih dulu menyiksa pikiran

diri sendiri. Lebih menderita daripada orang yang dibenci.

Sebelum melaksanakan dendam kebencian terhadap orang

yang dibenci, kita sudah dilanda derita oleh dendam

kebencian itu sendiri. Mengandung rasa Moha, hanya menipu

pikiran dan batin sendiri, mengingkari suara hati nurani,

menghianati jiwa peribadi sendiri. Tiada kehinaan yang lebih

hina daripada menghina diri sendiri, tiada hianat yang lebih

hianat daripada menghianati diri sendiri.

Ketiga api jahat itu harus disiram, dipadamkan dan

dilenyapkan dengan air yang jernih, air yang murni dari yang

paling murni, air yang halus dari yang paling halus. Air yang

sanggup menembus serabut yang paling halus dari pancarasa

jasad manusia. Air atau u d a k a itu harus mempunyai lima

buah saluran. Alat atau senjata yang memiliki lima ujung mata

disebut bajra. Demikianlah maka terciptalah sebuah alat yang

dinamakan B a j r o d a k a atau air halus yang mempunyai

lima saluran tajam yang sanggup menembus, mencuci dan

membersihkan kehidupan rasa jiwatma.

 

 

Tetapi bajrodaka bukanlah air biasa melainkan air yang

gaib, air yang memiliki dua sifat, air biasa dan air amrta. Air

yang tiada berwujut, tiada berwarna, tiada pula bersifat. Wujut,

warna dan sifatnya terbentuk oleh yang menerima alirannya.

Apabila yang menerima masih penuh dengan lumpur2 lobha,

dosa dan moha, maka air itu akan berbisa. Air neraka yang

akan menumpas jiwa dan raga. Tetapi apabila yang menerima

sudah sungguh2 menghayati sinamaya atau ketenteraman,

maka air itu akan merupakan air amrta, air kehidupan.

Demikian keadaan para pemuda putera2 senopati

kerajaan Daha dari prabu Jayakatwang. Mereka mendendam

kebencian kepada kerajaan Majapahit. Dan oleh karena

dendam kesumat itu maka mereka selalu bergolak, selalu

gelisah dan selalu cemas. Selalu pula dibakar dendam

Bukan tak disadari hal itu oleh para pejuang Daha yang

tergabung dalam himpunan Wukir Polaman. Namun mereka

berpendirian. Lebih baik cemas dan gelisah diamuk dendam

kebencian kepada Majapahit daripada tenteram ayem

diperintah Majapahit. Mereka tak menganggap kerajaan

Majapahit itu suatu kenyataan dari perobahan jaman, suatu

roda Cakrawati yang berputar sepanjang sejarah. Merekapun

menolak kenyataan bahwa kerajaan Majapahit merupakan

kerajaan baru yang berhasil mempersatukan Daha-Singasari

Kahuripan. Mereka masih dibuai oleh impian lampau bahwa

kerajaan Panjalu itu harus dibagi dua, Daha dan Singasari.

Mereka tak menyukai Singasari, lebih pula membenci

Pendirian pejuang2 Wukir Polaman itu bukan didasarkan

atas perasaan perorangan melainkan kepentingan Daha dan

rakyatnya. Daha sudah berpuluh-puluh tahun sejak Ken Arok

menjadi raja yang pertama di Singasari, telah ditundukkan dan

dikuasai Singasari. Baru saja Daha yang dipimpin prabu

 

 

Jayakatwang berhasil menghancurkan Singasari atau raden

Wijaya telah berhianat, membalas air susu pemberian raja

Jayakatwang dengan air tuba yang menewaskan raja Daha

itu. Betapa pedih, betapa geram dan betapa dendam hati para

pemuda2 itu. Lebih mengemelut kesumat mereka oleh

kenyataan lain bahwa ayah mereka telah mati dibunuh

senopati2 Majapahit yang didirikan raden Wijaya.

Jiwa adalah sumber dari kehidupan manusia. Jiwa

menggetar hati, mengungkap batin, merangsang pikir,

memerintahkan alat indera tubuh. Isi dari pada jiwa itulah yang

akan menentukan sesuatu pada orang. Menyadari akan hal itu

maka para warakawuri, para janda dan orang2 tua Daha telah

mengisi, menempa dan membentuk jiwa putera2 mereka,

terutama putera2 dari para senopati Daha yang telah gugur

dalam peperangan, menjadi seorang manusia yang berjiwa

dendam berhati kesumat. Dendam kepada orang Majapahit,

kesumat terhadap kerajaan Majapahit. Seolah diluangkan

kedalam jiwa anak2 itu, bahwa Majapahit adalah musuh

bebuyutan Daha. Bahwa Daha harus bangun dan bangkit

kembali sebagai kerajaan yang bebas dan berwibawa.

Dalam arah yang tertentu, tepatlah pendidikan yang telah

ditanamkan para orang2 tua di Daha itu kepada puteraputeranya.

Tetapi pada lain lingkungan, hasil daripada

pendidikan itu telah mengembangkan suatu pertumbuhan

yang menyedihkan. Mereka telah menjadi manusia

pendendam, memiliki prasangka yang berkelebihan, mudah

terjerumus dalam kecurigaan. Pokoknya, jiwa mereka selalu

bergolak, tak pernah mengenal tenang.

Dalam alam kejiwaan itulah mereka tumbuh, berkawan,

berbicara mengenai perjuangan, merundingkan hal2 yang

memberi kemungkinan untuk melaksanakan tujuan

perjuangan. Dan tak lepas pula pembicaraan itu dari

 

 

lingkungan kehidupan remaja yang tengah menjelang

pertumbuhan kedewasaan.

Apa yang terjadi di lembah Trini Panti hanya merupakan

suatu cetusan daripada hasil alam pergaulan pemuda2 Daha

itu. Suatu hasil yang beriklim pertumbuhan antara jiwa yang

menanjak dewasa dengan jiwa yang telah ditempa dalam jiwa

keksatryaan pendendam.

Nagandini adalah puteri bungsu dari patih Kebo

Mundarang, patih kerajaan Daha yang telah memimpin

penyerangan kepada Singasari dan berhasil merebut

Singasari mengalahkan baginda Kertanagara. Tetapi

beberapa tahun kemudian, raden Wijaya yang menjadi

menantu baginda Kertanagara dan berusaha hendak

membalas dendam, berhasil dapat membilukkan tujuan

kedatangan pasukan Tartar yang sedianya hendak membalas

hukum kepada baginda Kertanagara, ternyata ditunjukkan ke

Daha untuk menyerang prabu Jayakatwang.

Prabu Jayakatwang memberi perlawanan tetapi akhirnya

tertangkap. Patih Kebo Mundarang lari dikejar Lembu Sora.

Sampai di lembah Trini Panti, Kebo Mundarang berhenti. Ia

bersedia manyerahkan puterinya yang sulung, Nagantrini,

kepada Lembu Sora, asal ia jangan dibunuh. Tetapi Lembu

Sora menolak. Akhirnya patih Kebo Mundarang binasa di

lembah itu. Dan ini sesuai dengan keinginannya. Memang ia

paling gemar bertapa di lembah Trini Panti itu. Dari seorang

demang akhirnya ia berhasil menjabat patih. Kemudian ia

bertapa di lembah itu lagi memohon keturunan kepada

dewata. Akhirnya ia mendapat empat orang anak, dua puteri

dua putera. Sedemikian kecintaannya kepada lembah itu

hingga dalam pesannya, kelak apabila meninggal supaya di

tanam di lembah itu. Ke lembah itulah Nagandini, puterinya

yang bungsu, sering berziarah ke makam ayahandanya.

 

 

Nagantrini marah dan malu. Marah karena ayahandanya

dibunuh Lembu Sora dan malu karena ia ditolak oleh senopati

Majapahit itu. Ia bersumpah menuntut balas. Dengan menyaru

sebagai wanita biasa, ia diterima menjadi dayang di gedung

Demung Sora. Pada suatu kesempatan ia berhasil masuk

kedalam tempat peraduan Demung Sora dan menikam

demung itu dengan sebilah patrem. Tetapi karena terburu

nafsu dan ketakutan, ia telah menusuk belikat demung Sora

yang terbuat daripada sutera lemas yang diperolehnya dari

seorang hulubalang pasukan Tartar. Ujung patrem tak kuasa

menembus belikat dan demung Sora terbangun. Karena

ketakutan, Nagantrini bunuh diri.

Kini putera puteri mendiang patih Kebo Mundarang hanya

tinggal tiga orang. Kedua puteranya bernama Nagantaka,

Nagantara dan puteri yang bungsu Nagandini. Ketiga pemuda

itupun masuk kedalam himpunan Wukir Polaman.

Pergaulan antara lain jenis dari para muda yang masih

berdarah panas dan bergelora jiwanja, mudah menimbulkan

percikan rasa. Rasa yang timbul dari naluri insan manusia, laki

atau perempuan. Demikian pula yang terjadi dikalangan

anggauta2 Wukir Polaman. Rangga Janur mencintai

Nagandini tetapi puteri Kebo Mundarang itu tidak menyambut

curahan kasihnya. Nagandini telah memberikan kepercayaan

hatinya kepada Silugangga, putera dari senopati Sagara

Winotan yang gugur dalam peperangan karena dibunuh

Rangga Lawe.

Karena putus asa, ada suatu kala Windu Janur berusaha

untuk melupakan peristiwa yang menyayat hati itu dengan

menjadi pandita. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan

menumpahkan pikiran dan tenaga dalam perjuangan. Itulah

sebabnya maka waktu bertemu dengan brahmana Anuraga

yang pertama dan akhirnya bertempur, Windu Janur masih

mengenakan jubah ke-panditaan. Karena menderita luka yang

 

 

cukup parah, akhirnya ia kembali ke Daha dan menghentikan

semua kegiatannya. Dalam hubungan dengan kawan2 yang

sering datang berkunjung, akhirnya timbul pula semangat

Windu Janur. Dan serempak itupun karena sering bertemu

dengan Nagandini, luka hatinya yang sudah tertutup rapat,

merekah pula. Api asmara dalam hatinya tak pernah padam.

Ia berusaha pula untuk merebut hati Nagandini.

Windu Janur mempunyai seorang adik perempuan,

Kentari, seorang dara cantik yang tengah menjenjang dewasa.

Bagaikan kuntum bunga yang menjelang mekar, berbondongbondonglah

kumbang terbang menghampiri. Anggauta2 Wukir

Polaman sebagian besar terdiri dari para muda yang masih

panas darahnya, lebar jangkaunya dan tinggi harapannya.

Dalam usia2 seperti mereka itulah, segala keindahan yang

paling indah, segala kegagahan yang paling gagah,

keberanian yang paling berani, petualangan yang paling

berbahaya, kemungkinan yang paling tak mungkin, tetap

terjangkau dalam khayalan mereka. Dalam segala hal, mereka

ingin menonjol. Dan pula dalam soal asmara, masa-masa

remaja merupakan masa yang menyala. Mudah terbakar,

mudah membakar. Cepat terangsang, cepat pula merangsang.

Ibarat tungku, mereka adalah tungku yang sedang membara.

Bunga yang sedang mekar, entah bunga apa, entah cantik

atau tidak, harum atau tidak, tentu selalu didatangi kumbang.

Karena kumbang memerlukan sari madu bunga itu. Suatu

kebutuhan hidup. Namun jika gadis yang sedang menjelang

remaja itu diibaratkan sebagai kuntum bunga yang sedang

mekar, kiranya tidaklah keseluruhannya sesuai.

Bahwa secara jasmaniah seorang anak perempuan dalam

masa pertumbuhannya sebagai seorang dara menjelang

remaja, menunjukkan suatu perobahan2 yang menonjol,

memang seperti kuntum bunga yang mekar. Bahwa pada

masa pertumbuhan itu, akan lebih memperhatikan perawatan

 

 

tubuh dan wajah, memang akan bertambah cantiklah dara itu.

Tetapi karena dewata memberi karunia yang berlainan pada

wajah setiap manusia, maka tidaklah semua manusia itu tentu

berwajah tampan kalau dia seorang anak laki, dan tidak tentu

pula berwajah cantik kalau dia seorang anak perempuan.

Dalam hal ini, tentulah kecewa hati para dara yang kebetulan

tidak dikaruniai wajah yang cantik. Karena jika kumbang itu

tidak membedakan mana bunga yang cantik, harum, mana

bunga yang tidak sedap dipandang dan tidak harum, mereka

tetap akan datang untuk menghisap madunya. Tidaklah

demikian dengan para jejaka. Mereka ibarat kumbang, apabila

melihat dara remaja. Tetapi mereka bukan kumbang yang

hanya membutuhkan madu untuk hidup. Melainkan kumbang

yang memiliki selera tinggi, kadang selera lebih diutamakan

dari kebutuhan hidup. Mereka memilih gadis2 remaja yang

berwajah cantik, mengabaikan gadis yang kurang dan tidak

cantik. Pada hal jika gadis itu diibaratkan sebagai bunga,

merekapun juga mengandung madu, sari kehidupan yang

menghidupi kumbang.

Rupanya Kentari, adik Windu Janur, termasuk insan yang

dikasihi dewata. Ia seorang gadis yang memiliki kecantikan

pilih-tanding. Banyak gadis2 lain yang mengiri kepadanya,

mengira dia tentu akan dikerumuni dan dipuja-puja para muda.

Tetapi bagi Kemari sendiri, hal itu kebalikannya malah

menjemukan, meresah iran dan mengganggu ketenangan

hatinya. Ia ingin terbebas dari perhatian para jejaka muda

yang karena menjadi kawan Windu Janur maka sering

berkunjung datang. Tanpa disadari, Windu Janur makin

banyak mempunyai sahabat, bahkan banyak diantara mereka

yang ingin mengekalkan persahabatan itu, menyatakan

hendak masuk menjadi anggauta Wukir Polaman.

Karena orungtuanya sudah tiada, maka Windu Janur

sebagai putera tertua, harus menggantikan sebagai wali.

Karena seringnya menerima kunjungan para anak muda itu,

 

 

diam2 timbullah keluhan dalam hatinya. Hampir2 termakanlah

waktunya yang luang untuk mengemasi soal dirinya. Dan di

samping itu pula iapun mengeluh bahwa mempunyai saudara

perempuan itu merupakan suatu beban. Jika berwajah cantik

tentu harus menjaga dari gangguan2 para muda yang usil.

Jika berwajah tidak cantik, pun ikut perihatin.

Diantara muda2 yang paling sering berkunjung kerumah

Windu Janur adalah Kebo Angun-angun, putera mendiang

Kebo Rubuh, salah seorang senopati prabu Jayakatwang.

Kebo Angun-angun yang bertubuh kekar dan berwajah keras,

sangat mencintai Kentari. Tetapi dara itu tidak menyambutnya.

Ia telah mengikat janji dengan pemuda Nagantara, putera

Kebo Mundarang yang ketiga. Pada hal kakangnya,

Nagantaka, juga mempunyai perhatian kepada Kentari.

Demikian liku2 cinta yang tumbuh di kalangan muda mudi

keturunan para mentri dan senopati prabu Jayakatwang.

Disamping perjuangan mereka dalam Wukir Polaman, timbul

pula gejolak perjuangan dalam asmara.

Rupanya dalam usaha untuk merebut hati Kentari, pandai

juga Kebo Anjun-angun untuk mencari jalan. Ia bergaul rapat

dengan Windu Janur. Dalam usaha untuk mengharap

persetujuan Windu Janur kelak apabila ia meminang Kentari,

maka ia bersedia berbuat apa saja yang dikehendaki Windu

Janur. Windu Janur tahu pula akan hal itu. Ia dapat membatasi

diri agar jangan sampai terjerat dalam lingkar budi kebaikan

Kebo Angun angun, sehingga sukar baginya untuk menolak

sesuatu yang bukan menjadi haknya yang mutlak. Sedemikian

rasa sayang kepada adiknya, Kentari, sehingga ta tak lagi

bersikap sebagai seorang kakang melainkan sebagai seorang

ayah, yang mengalah dan memanjakan, mengemong dan

menuruti kehendaknya. Dalam lingkungan sedemikian itu,

sudah tentu tak mungkin ia dapat memaksakan kehendaknya

kepada Kentari dalam soal perjodohan. Karena ia tahu bahwa

 

 

perjodohan merupakan masalah hati dan kebahagiaan

adiknya Untuk memperlengkapi kasih sayangnya kepada

Kentari, ia akan memberi kebebasan penuh kepadanya untuk

memilih kawan hidup. Karena dalam soal itu, ia sendiripun

sedang menghadapi persoalan yang buntu dengan Nagandini.

Namun tindaklah berkurang usaha Kebo Angun-angun

untuk melaksanakan tujuannya itu. Ia tahu tentang hubungan

Windu Janur dengan Nagandini, dan tahu pula kesulitan yang

dialami Windu Janur. Diam2 ia telah membayangkan suatu

rencana. Ia hendak menawarkan jasa baik kepada Windu

Janur untuk menghilangkan ‘duri dalam daging’ yang diderita

Windu Janur.

“Kakang Windu” kata Kebo Angun-angun pada suatu

kesempatan berbicara berdua dengan Windu Janur ”ada

sesuatu yang ingin kusampaikan kepada kakang”

Windu Janur terkejut. Dalam hati ia menduga tentulah

Kebo Angun-angun akan membicarakan persoalan Kentari,

“katakanlah” sahutnya dalam nada yang ditekan.

“Sesuatu yang kurasakan akan menimbulkan gejala yang

tidak baik pada Wukir Polaman” Kebo Angun-angun memulai

kata-katanya dengan hati-hati.

Diam2 Windu Janur menghela napas longgar. Ternyata ia

terlalu terburu untuk menduga2. “Apa yang engkau maksud

dengan kata-katamu itu ?” ujarnya.

“Adakah kakang Windu tidak merasakan hal itu?” Kebo

Angun-angun balas bertanya. Rupanya ia masih ingin

Windu Janur tersenyum ”Jika tahu, masakan aku harus

bertanya?”

“Begini, kakang” kata Kebo Angun-angun, “dalam waktu

akhir2 ini, gerakan kita selalu gagal. Setiap kali kita

 

 

merencanakan untuk mengacau suatu tempat, misalnya

rencana kita untuk membakar lumbung persediaan padi dari

pemerintah keranian Daha telah mengalami kegagalan. Kita

telah disergap oleh prajurit2 Rani Daha, beberapa kawan kita

telah gugur dan menderita luka2.”

“Ah, mungkin kita sendiri yang salah hitung. Karena tempat

sepenting itu, tentulah akan dijaga keras oleh mereka” kata

Windu Janur.

“Tidak, kakang” bantah Kebo Angun-angun, “aku sendiri

diikut sertakan dalam penyerbuan itu. Dan sebelumnya aku

ditugaskan oleh pimpinan kita, untuk melakukan penyelidikan

lebih dahulu. Jelas bahwa penjagaan di tampat itu tidak

berapa kuat. Tetapi tiba2 pada malam itu telah muncul beratus

prajurit Daha yang kuat”

“Engkau maksudkan, rencana kita telah tercium oleh

mereka?” tanya Windu Janur.

Kebo Angun-angun mengangguk, ”Begitulah maksudku.

Tentu ada yang berhianat dalam kalangan kawan2 kita”

“Ah, jangan berprasangka yang tidak2, Angun-angun” kata

Windu Janur.

“Dan yang paling terasa” kata Kebo Angun-angun lebih

lanjut ”adalah dalam peristiwa geger Majapahit yang lalu.

Waktu baginda Jayanagara melarikan diri dari keraton, kita

segera mengadakan rapat kilat menyusun rencana. Bukankah

kakang juga hadir dalam rapat itu?” tanya Kebo Angun-angun.

“Ya” sahut Windu Janur.

“Kita telah menetapkan dua buah rencana” kata Kebo

Angun- angun pula, ”pertama, mengirim orang menyusup ke

pura Mijapahit untuk melakukan siasat mengadu domba,

menyebar fitnah dan memancing di air keruh. Dan kedua,

melakukan serangan kepada keraton Daha”

 

 

Kembali Windu Janur mengiakan.

“Nah” kata Kebo Angun-angun ”yang memimpin

pengacauan ke pura Majapahit itu adalah kakang Wiidu

sendiri, bukan?”

“Benar”

“Dan siapakah yang diserahi tugas untuk melakukan

pengacauan di wilayah Daha dan melakukan sergapan ke

keraton Rani Daha itu?”

“Silugangga” sahut Windu Janur.

“Apakah hasil sergapan yang dipimpin Silugangga i;u?”

tanya Kebo Angun-angun.

“Hampir tidak ada” sahut Windu Janur ”karena keranian

Daha telah mempersiapkan diri”

“Bukan hampir tetapi seluruhnya memang gagal” seru

Kebo Angun-angun ”bahkan markas kita di guha Polaman

telah diobrak-abrik prajurit Daha!”

Windo Janur terkesiap, memandang Kebo Angun-angun

dengan pandang menuntut pertanyaan. ”Apa maksudmu

mengemukakan hal itu, Angun-angun?”

“Kakang Windu” kata Kebo Angun angun, ”supaya jangan

kakang menganggap aku memfitnah atau benci kepada

Silugangga, baiklah kuajak kakang untuk meneliti sejarah

hidup Silugangga lebih dahulu”

Windu Janur terdiam.

“Silugangga adalah putra dari mendiang senopati paman

Sagara Winotan. Pernahkah kakang membayangkan apa

sebab raja kita dahulu prabu Jayakatwang sampai kalah? Apa

sebab Daha dahulu sampai hancur?”

“Diserang pasukan Tartar dan dihianati raden Wijaya”

 

 

“Benar” kata Kebo Angun-angun ”tetapi tidak seluruhnya.

Kakang, jika kita sakit, apakah yang menyebabkannya? Tentu

kakang akan menjawab, karena diserang penyakit dari luar.

Tetapi tak semudah itu kita jatuh sakit apabila tubuh kita

memang sehat dan kuat. Oleh karena tubuh lemah,

penyakitpun mudah bersarang. Ganti musim, kita cepat sakit.

Kena angin sedikit, kitapun sakit”

Windu Janur tak menyatakan apa2.

“Demikian dengan hal kerajaan Daha dahulu. Di kala

serangan pasukan Tartar, penghianatan raden Wijaya yang

menyebabkan kehancurannya, tidaklah seluruhnya benar.

Karena mengapa raden Wijaya dapat berhianat? Bukankah

dia orang taklukan prabu Jayakatwang? Mengapa sang prabu

berkenan memberi hutan Terik kepada raden Wijaya?

Tidakkah sang prabu ingat bahwa raden Wijaya itu adalah

keturunan dari Ken Arok, Rajasa sang Amurwabhumi? Bahwa

raden Wijaya itu menantu dari raja Kertanagara yang baru saja

dikalahkan Daha? Tidakkah terbetik dalam pemikiran sang

prabu bahwa Wijaya itu harus tidak diberi kepercayaan yang

sedemikian besarnya?”

“Ya” Windu Janur menghela napas, ”dalam hal itu sang

prabu memang lengah”

“Hutan Terik setelah dibuka, Wijaya lalu mendirikan

keraton Majapahit. Tentunya hal itu makan waktu bertahuntahun.

Demikian pula tak mungkin Wijaya dapat menyusun

kekuatan dalam waktu yang singkal tentu juga dilakukan

persiapan2 beberapa tahun”

Windu Janur mengangguk.

“Mengapa sang prabu Jayakatwang tidak mengetahui

gerak gerik Wijaya yang mencurigakan itu?”tanya Kebo

Angun-angun pula.

 

 

“Ah, sang prabu mungkin terlena”

“Tidak kakang!” seru Kebo Angun-angun ”sang prabu tidak

lena”

Windu Janur terbeliak, merentang mata memandang Kebo

Angun-angun.

“Sang prabu tidak lena tetapi memang dilenakan” seru

Kebo Angun-angun.

Mata Windu Janur makin menyalang lebar. ”Engkau

maksudkan ada suatu penghianatan dalam peristiwa itu?”

“Akan kuserahkan pada pertimbangan kakang sendiri

adalah tindakan itu dianggap penghianatan atau tidak. Tetapi

yang jelas, apabila hal itu dianggap suatu kelengahan,

bukanlah kesalahan sang prabu semata-mata, tetapi adalah

tindakan dari mentri kepercayaan baginda”

“Siapa?” seru Windu Janur.

“Pada suatu hari, sang prabu telah mengutus seorang

mentri kepercayaannya meninjau Terik, melihat bagaimana

perkembangan tempat itu dan bagaimana kiranya sikap dan

gerak gerik Wijaya terhadap kerajaan Daha. Adakah raden itu

mengandung maksud hendak memberontak dan lain2. Tetapi

mentri itu pulang dengan menghanturkan laporan bahwa

raden Wijaya memang pandai mengatur pemerintahan, halus

budi, ramah bahasa dan tahu akan budi sang prabu, sctya

kepada Daha” kata Kebo Angun-angun ”dan legalah hati sang

prabu menerima laporan itu. Ia percaya penuh apa yang

dihaturkan mentri kepercayaannya itu. Tetapi apa nyatanya?

Kiranya tak perlu kuuraikan lagi, kakang tentu sudah

mengetahui”

“Siapakah mentri yang diutus itu?” Windu Janur mulai

“Sagara Winotan”

 

 

“Ayah Silugangga?”

Kebo Angun-angun mengangguk ”Benar”

“Bagaimana engkau jelas tentang keadaan itu,

Angun«angun?” seru Windu Janur.

“Rama Kebo Rubuh sempat menceritakan hal itu kepada

ibu dan ibu menuturkan hal itu kepadaku setelah aku dewasa”

“Tetapi bagaimana mendiang paman Kebo Rubuh tahu

akan tindakan paman Sagara Winotan?”

“Ketika pasukan Tartar dan prajurit raden Wijaya

menyerang Daha, dalam keraton Daha timbul kegaduhan

besar. Hampir saja terjadi pertumpahan darah hebat. Saat itu

semua mentri hulubalang marah kepada paman Sagara

Winotan dan menuduhnya berhianat, bersekongkel dengan

raden Wijaya. Saat itu mendiang rama Kebo Rubuh segera

menghunus keris pusakanya terus hendak ditikamkan ke dada

Sagara Winotan. Ramaku marah sekali kepada penghianat itu.

Tetapi sang prabu mencegah. Sang prabu memperingatkan

bahwa musuh sudah diambang pintu, semua mentri dan

hulubalang harus bersatu padu menghadapi serangan musuh

itu. Jangan bertengkar sendiri karena akan melemahkan

kekuatan. Karena sang prabu yang menitahkan, terpaksa

ramaku menurut”

“Tetapi, Angun-angun” kata Windu Janur ”bukankah

paman Sagara Winotan akhirnya juga bertempur dan gugur

dalam peperangan?”

“Ada sebabnya, mungkin kakang tak tahu” kata Kebo

Angun-angun ”dalam hal ini ibulah yang menceritakan

kepadaku. Walaupun taat akan titah sang prabu, namun

ramaku tetap marah. Dengan beberapa senopati, rama telah

menangkap isteri serta putera2 paman Sagara Winotan,

ditahan disebuah tempat yang tersembunyi. Kemudian Sagara

 

 

Winotan diberi peringatan, apabila ternyata dia benar2

berhianat berfihak kepada musuh, maka keluarganya akan

dibunuh”

“Dan karena paman Sagara Winotan gugur, jelas dia tidak

berhianat” seru Windu Janur.

“Tidak” sahut Kebo Angun-angun ”justeru dia berhadapan

dengan senopati Rangga Lawe yang benci kepadanya,

sehingga dia tak diberi kesempatan berbuat apa2”

Windu Janur diam beberapa jenak.

“Lalu apa hubungan maksud yang hendak engkau

utarakan kepadaku dengan peristiwa mendiang paman Sagara

Winotan itu ?”

“Erat sekali kaitannya, kakang” jawab Kebo Angun-angun,

”adakah harimau itu tak beranak harimau? Adakah air yang

mengalir ke atas?”

“Kebo Angun-angun, jangan terlalu bengis engkau

menghukum Silugangga!” seru Windu Janur yang segera

dapat menyadari ke arah mana ucapan Kebo Angun-angun itu

“Manusia membuat kesalahan, bukan kesalahan mencari

manusia. Kesalahan yang menentukan hukum, bukan hukum

yang menentukan kesalahan” sahut Kebo Angun-angun

serentak ”bukan aku, kakang, yang menghukum Silugangga,

tetapi perbuatan Silugangga itulah yang menghukum dirinya”

Kebo Angun-angun sejenak menyelimpatkan pandang

untuk memperhatikan perobahan airmuka Windu Janur,

kemudian melanjut pula ”bukan sekali, tetapi sudah berulang

kali, tugas2 yang dipercayakan Silugangga selalu mengalami

kegagalan. Tetapi heran, mengapa sampai sekarang,

pimpinan kita masih tetap mempercayainya”

 

 

Ia berhenti pula dan melirik. Ternyata Windu Janur tengah

merenung diam. Rupanya ucapan Kebo Angun-angun itu

mulai menyusup kedalam serabut pikirannya. Semula masih

terdapat kabut keraguan, tetapi lapis berlapis kabut melalang,

tergetarlah perasaannya. Serasa ia melihat sebuah kebun

bunga, remang2 tampak dua sosok tubuh yang sedang

berjalan merapat. Makin lama makin jelas dan ah …..

Sepasang muda mudi tengah berjalan bergandengan tangan.

Mesra sekali. Dan tersengatlah pula perasaan Windu Janur

ketika mengetahui bahwa sejoli yang tengah bercengkerama

menikmati bunga2 yang tengah mekar itu, tak lain adalah

Nagandini dan Silugangga…..

“Keparat …..” tiba2 Kebo Angun angun terkejut ketika

mendengar mulut Windu Janur menghambur makian.

”Mengapa, kakang?” ia segera bertanya.

Windu Janur terkesiap tertikam kejut, ”Ah, tak apa2, Angun

angun” cepat ia berusaha menghapus kerut dahinya ”aku

membenci manusia yang hianat”

“Bagus” seru Kebo Angun-angun.

“Tetapi apabila benar2 demikian ulah Silugangga” Windu

Janur menambahkan.

“Tiada keraguan lagi, kakang” seru Kebo Angunangun”

Wukir Polaman harus dibersihkan dari gurem2 yang

hendak menggerogoti tubuh kita. Dan aku benar2 tak rela

apabila keluarga paman Kebo Mundarang sampai menderita

…”

Windu Janur terbeliak, memandangnya tajam

“Apa maksudmu?”

“Ah” Kebo Angun-angun menghela napas ”sudah menjadi

rahasia umum di kalangan kawan2 kita bahwa Silugangga

berhasil memikat Nagandini, puteri paman Kebo Mundarang

 

 

yang cantik. Aku, sebagai putera dari rama Kebo Rubuh yang

bersahabat baik dengan paman Kebo Mundarang, merasa

mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan keluarga paman

Kebo Mundarang dari tangan kotor yang hendak menodai

puterinya. Tidakkah kakang juga memiliki perasaan

demikian?”

“Kurang ajar si Angun-angun ini, dia rupanya tahu isi

hatiku terhadap Nagandini” diam2 Windu Janur mendamprat

dalam hati. Iapun segera menjawab

“Benar, tetapi hal ini janganlah dilakukan secara grusagrusu,

harus diselidiki yang jelas, harus ada bukti yang nyata,

baru dapat kita bertindak”

Kebo Angun-angun diam merenung.

“Begini, kakang” katanya beberapa saat kemudian, “soal

ini tak boleh berkelarutan terlalu lama. Bersediakah kakang

untuk membantu aku?”

“Katakan”

“Sebagai orang yang dekat dengan pimpinan, dapatlah

kakang mengemukakan suatu rencana agar kepada

Silugangga diberi tugas lagi yang penting. Kali ini dapat kita

buktikan apakah dia berhasil atau gagal lagi”

“Hm” Windu Janur mendesuh seraya mengerut dahi, ”lalu

tugas apa yang tepat kuajukan?”

“Kudengar dalam dua hari tiga hari lagi, rakryan Tanca,

tabib yang diutus baginda untuk mengobati patih Arya Tilam,

akan bertolak kembali ke pura Majapahit. Kakang usulkan

supaya dikirim kelompok kawan2 kita untuk membunuhnya di

tengah perjalanan. Dan biarlah Silugangga yang memimpin

rombongan itu”

Sesungguhnya masih ada percik2 keraguan dalam hati

Windu Janur terhadap Silugangga. Ia kenal siapa Silugangga

 

 

itu. Banyak nian jasa perjuangannya kepada Wukir Polaman

sehingga kedudukannya makin menjalang. Ia pun kenal akan

peribadi pemuda itu, jujur, setya dan tenang. Hanya sedikit

keras kepala, mempunyai pendirian yang teguh. Tetapi bagai

awan tersapu angin, lenyaplah kabut Keraguan itu manakala

ia teringat akan Nagandini, dara jelita yang telah menambat

hatinya. Dia dihempaskan jatuh ke karang derita oleh

Nagandini karena dara itu telah tercuri hatinya oleh

Silugangga. Apabila Silugangga tiada, tentulah Nagandini

dapat diperolehnya. Diam2 ia mengharap Silugangga benar2

seorang penghianat agar dapat melenyapkannya.

“Tetapi ra Tanca tentu dikawal ketat oleh prajurit Daha”

katanya masih meragu.

Kebo Angun-angun tertawa, ”Dalam hal ini, tak mungkin

perhitunganku meleset. Dharmaputera telah memberontak dan

ditumpas, hanya ra Tanca yang masih selamat karena

kebetulan dia berada di Daha mengobati sakit patih arya

Tilam. Sudah tentu agak berkurang perhatian Rani Daha untuk

mengawal perjalanan pulang tabib Dharmaputera itu. Bahkan

Rani tentu mempunyai kekuatiran apabila disangka melindungi

ra Tanca. Oleh karena itu, suatu pembunuhan pada diri tabib

itu tentu akan disambut dengan rasi syukur oleh fihak Daha.

Majapahit pun takkan menarik lebih panjang peristiwa itu”

Windu Janur mengangguk-angguk. Dan setelah

pembicaraan itu maka iapun menghadap pada pimpinan Wukir

Polaman, mengemukakan usulnya. Pimpinan Wukir Polaman

menyetujui dan menyerahkan tugas itu kepada pimpinan

Tetapi Silugangga tak setuju. ”Rencana ini kurang tepat”

katanya ”mengapa ra Tanca harus kita bunuh? Bukankah

hanya dia seorang dari Dharmaputera yang masih hidup?

Bukankah Dharmaputera itu menentang raja Jayanagara? Jika

 

 

ra Tanca mati, berarti sebuah bahaya bagi Majapahit

berkurang lagi”

“Kita belum tahu jelas hubungan ra Tarci dengan raja

Majapahit. Kemungkinan ra Tanca masih dibutuhkan kerajaan

Majapahit sebagai tabib yang pandai, yang sering

menyembuhkan penyakit baginda. Jika dia kita bunuh,

baginda tentu murka kepada Daha. Dengan demikian kita

dapat mengadu domba Daha dengan Majapahit” kata

pimpinan Wukir Polaman.

Tidak mudah untuk berhadapan dengan pimpinan Wukir

Polaman. Dan walaupun berhadapan, pun tak dapat

mengetahui jelas bagaimana sesungguhnya wajah orang itu.

Karena wajahnya selalu berganti-ganti, kadang mengenakan

topeng sebagai seorang tua berwajah ramah, kadang sebagai

seorang lelaki berwajah keras, bahkan kadang pula berwajah

sebagai Batara Yama, dewa pencabut nyawa. Topengnya dari

bahan kulit dan dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai

wajah yang hidup.

“Justeru karena dia berhubungan rapat dengan raja

Majapahit, seharusnya dia disisakan supaya hidup. Kita

menggunakan cara lain untuk membujuknya supaya mau

bekerja sama dengan kita. Kita bangkitkan kebenciannya

kepada baginda. Kelak pada waktunya kita dapat

menganjurkan dia supaya membunuh raja Majapahit” kata

Silugangga yang tetap kokoh dalam pendirian.

“Soal itu masih samar, artinya masih belum pasti. Tetapi

yang nyata, dengan matinya ra Tanca, raja Majapahit tentu

marah kepada Daha. Kita dapat mengobarkan kemarahan itu

meningkat kearah penghukuman, jika mungkin supaya terjadi

permusuhan antara Majapahit dengan Daha”

“Sudah tentu Daha tak berdaya menghadapi Majapahit”

seru Silugangga pula.

 

 

“Jangan menentukan yang belum tentu” seru pimpinan

Wukir Polaman. ”Rani Daha cukup mendapat dukungan besar

dari para kawula Majapahit karena dia puteri mendiang raja

Kertarajasa dengan puteri Tribuana dari Singasari. Demikian

pula Rani Kahuripan tentu takkan tinggal diam apabila

Majapahit akan menyerang Daha. Silugangga, lakukan

perintah ini!” habis berkata pimpinan itu terus masuk kedalam

Silugangga tak setuju tetapi ia tetap tunduk pada perintah.

Maka setelah menentukan rombongannya, segera ia

berangkat ke luar kota, bersiap mencegat perjalanan ra Tanca.

Disergapnya kereta yang hanya dikawal oleh enam orang

prajurit Daha. Tetapi alangkah kejut Silugangga ketika

mendapatkan kereta itu kosong, dan lebih terkejut pula ketika

sekelilingnya sudah dikepung oleh pasukan Daha yang

bersenjata lengkap. Silugangga pantang menyerah. Ia

menyerukan kawan-kawannya melawan. Tetapi karena kalah

banyak jumlah dan persenjataannya, akhirnya rombongan

Silugangga yang hanya terdiri lima orang itu dihancurkan.

Yang empat mati, Silugangga pingsan. Ia merasa sudah mati

tetapi ia terkejut ketika masih memiliki perasaan, masih

mempunyai kesadaran pikiran. Cepat ia membuka mata lalu

melenting bangun dan bersiap hendak menempur prajurit2

“Ah, Silugangga, mengapa engkau tergopoh-gopoh dan

memberingas sedemikian rupa?” tiba2 terdengar seseorang

“Hai, engkau Kebo Angan-angun” teriak Silugangga

terkejut ketika melihat dua orang kawannya, Kebo Angunangun

dan Kuda Sempalan, tegak memandangnya tersenyum

“Kemana prajurit2 Daha itu?” teriak Silugangga.

 

 

“Mereka sudah melanjutkan perjalanan” sahut Kebo

Angun-angun” mengapa?”

”Mereka menyerang rombonganku”

“Apakah engkau menerima kekalahan?

“Keempat anakbuahku telah tewas”

“Tetapi asal engkau masih hidup” sambut Kebo Angunangun,

”cukuplah menggirangkan hatimu”

Silugangga terbeliak mendengar kata2 Kebo Angun-angun

yang terakhir itu. ”Apa maksudmu? Bukankah engkau yang

telah menolong rombonganku?”

Kebo Angun angun gelengkan kepala, tersenyum.

“Mengapa aku harus menolongmu? Adakah engkau masih

memerlukan pertolongan?”

Silugangga benar2 tak mengerti apa yang tersembunyi di

balik senyum ejek Kebo Angun angun itu.

“Kebo Angun angun, apa yang terjadi! Mengapa sikapmu

aneh kepadaku?”

“Yang terjadi” kata Kebo Angun angun dingin, “engkau

mengorbankan jiwa keempat kawan kita dan engkau pura2

pingsan”

“Gilakah engkau Kebo Angun angun!” teriak Silugangga

”aku pura2 pingsan? Aku mengorbankan keempat kawanku?”

“Apakah engkau masih hendak menyangkal?”

Silugangga terbelalak marah, ”Jangan berolok-olok Kebo

Angun angun. Rombonganku telah dikepung prajurit Daha dan

kami berjuang mati-matian tetapi karena mereka lebih banyak

dan lebih lengkap senjatanya, akhirnya rombonganku kalah.”

 

 

“Ya, kutahu, ”sahut Kebo Angun angun” keempat

kawanmu mati dan engkau sendiri masih hidup.”

“Gila!” teriak Silugangga makin kalap, ”aku pingsan dan tak

tahu apa yang terjadi. Akupun tak tahu mengapa mereka tak

membunuh aku?”

“Sudah tentu tak membunuhmu, ”seru Kebo Angun-angun

tetap mengejek, ”mengapa harus membunuh seorang kawan

yang berjasa?”

“Keparat engkau!” teriak Silugangga seraya menampar

muka Kebo Angun-angun. Ia tak kuasa lagi menahan

kemarahannya tetapi Kebo Angun angun pun cepat menyurut

mundur selangkah, ”engkau menuduh aku menjadi kaki

tangan mereka?”

“Apakah engkau masih menyangkal?” balas Kebo Angunangun.

“Kebo Angun-angun, engkau bersungguh sungguh atau

berolok-olok?” Silugangga menegas.

“Mengapa aku berolok-olok?” seru Kebo Angun-angun,

”berolok-olok atau tidak, takkan merobah keadaan yang ada

pada dirimu”

“Kebo Angun angun” Silugangga berkata dengan suara

memberingas, ”engkau sungguh2 menuduh aku bersekutu

dengan orang Daha ?”

“Aku tidak menuduh tetapi engkau mengatakan sendiri”

seru Kebo Angun-angun masih mengabut kata2.

Silugangga biasanya amat tenang tetapi karena sampai

sekian lama dicekam dalam lingkaran yang tiada ujung

pangkalnya, akhirnya ia marah juga. ”Kebo Angun-angun,

engkau putera senopati, akupun putera senopati. Marilah kita

bicara dengan terus terang sebagaimana layak seorang

ksatrya. Engkau menuduh aku main gila dengan musuh,

 

 

sekarang tunjukkan perbuatanku itu. Jika aku menang

berhianat, saat ini juga aku akan bunuh diri di hadapanmu.

Tetapi apabila engkau hanya memfitnah, akupun akan

meminta jiwamu sebagai penebus”

“Jika engkau mau minta bukti, itu mudah sekali” seru Kebo

Angun-angun ”pertama, mengapa keempat kawan kita mati

dan engkau hidup ?”

“Soal itu” jawab Silugangga ”aku sendiripun heran.

Ataukah musuh memang hendak menggunakan siasat untuk

memecah belah kita ?”

“Tidak mungkin !” teriak Kebo Angun-angun ”jangan

mengada-ada yang tak ada, jangan meniadakan yang sudah

ada. Sekarang cobalah engkau periksa bajumu !”

Silugangga terkejut namun dilakukan juga hal itu. Betapa

kejutnya ketika ia mendapatkan sebuah pundi2 berada dalam

saku bajunya. Cepat diambilnya dibuka dan menjeritlah ia ”Hai

…. apakah ini?”

“Mengapa, terkejut ? Bukankah emas itu sebagai imbalan

dari jasamu membantu mereka?” seru Kebo Angun-angun,

”masihkah engkau meragukan dirimu?”

Silugangga terlongong longong. Akhirnya ia menemukan

kesadarannya, menyadari bahwa dirinya sedang diancam

fitnah yang berbahaya. Serentak ia memandang Kebo Angunangun

”Kebo Angun-angun, katakanlah secara ksatrya, kalau

engkau benar putera senopati. Mengapa engkau memfitnah

diriku sedemikian keji ini? Pundi2 emas ini aku tak pernah

memiliki dan apa guna aku membawanya kemana-mana?”

“Benar” seru Kebo Angun-angun ”memang bukan milikmu,

tetapi milik orang Daha yang diberikan kepadamu. Engkau

berhianat kepada Wukir Polam. ……”

 

 

“Bedebah busuk!” teriak Silugangga terus menerjang Kebo

Angun-angun. Kebo Angun-angun menghindar, ketika

Silugangga hendak menerjang, dari belakang Kuda Sempalan

ayunkan bindi menghantam kepalanya. Tetapi Silugangga

cukup waspada, selekas mengendapkan tubuh ke bawah, ia

berputar tubuh dan mengirim sebuah tendangan ke perut

Kuda Sempalan. Tetapi saat itu Kebo Angun-angun pun sudah

loncat untuk menikamkan kerisnya. Ancaman itu memaksa

Silugangga harus loncat menghindar ke samping.

Makin keras dugaan Silugangga, bahwa kedua orang itu

terutama Kebo Angun-angunlah yang telah memfitnah dirinya.

Untuk membersihkan dirinya, tiada lain jalan kecuali harus

menangkap kedua kawannya itu dan memaksanya supaya

mengakui perbuatannya. Maka pecahlah pertarungan yang

cukup seru antara Silugangga dengan Kebo Angun angun dan

Kuda Sempalan. Silugangga bertangan kosong sedang kedua

kawan yang menjadi lawannya itu bersenjata keris dan bindi.

Tetapi Silugangga memang digdaya. Ia tak gentar

menghadapi sambaran keris yang hendak merobek perutnya

dan bindi yang hendak meremukkan kepalanya. Dengan

tangkas dan cepat, ia dapat menghadapi mereka bahkan

setelah beberapa saat dapat pula ia menguasai kedua

lawannya. Memang Silugangga dipilih oleh pimpinan Wukir

Polaman sebagai seorang kepercayaan karena memiliki

kelebihan dalam ilmu kedigdayaan.

Rupanya Kebo Angun angun menyadari hal itu, maka

dibawanyalah Kuda Sempalan untuk menangkap Silugangga.

Bahwa ternyata keduanya masih belum mampu menguasai

Silugangga bahkan malah dikuasai, diam2 timbullah

kekhawatiran hati Kebo Angun-angun. Namun ia teringat akan

perjanjiannya dengan Windu Janur. Apabila pada waktu surya

naik sepenggalah tingginya, ia masih belum pulang, Windu

Janur supaya segera membawa kawan2 untuk memberi

 

 

Dalam sebuah kesempatan, Kebo Angun-angun sempat

menyelimpatkan pandang ke langit. Ternyata surya sudah

hampir sepenggalah tingginya. Jika demikian Windu Janur dan

kawan2 tentu segera datang. Yang penting ia harus mampu

bertahan sampai bala bantuan itu datang.

Sesungguhnya apabila dengan tangan kosong, tentulah

sudah sejak tadi Silugangga akan dapat merubuhkan kedua

lawannya. Atau apabila ia juga memakai senjata, tentulah

demikian juga. Dan yang terutama, ia harus dapat menangkap

kedua orang itu masih dalam keadaan tak terluka. Jika terluka

atau mati, sukarlah ia mendapat pengakuan mereka.

Rintangan2 itulah yang menyebabkan pertempuran berjalan

“Hai, Silugangga” sambil menyerang, Kebo Angun-angun

berseru ”ketahuilah, kedatangan kami menyelidiki gerak

gerikmu ini memang sudah diketahui oleh pimpinan kita.

Sudah lama engkau dicurigai pimpinan. Kali ini engkau

memang dicoba dan ternyata engkau memang benar

menghianati kita”

Silugangga makin marah. Diserangnya Kebo Angun-angun

makin gencar. Tetapi karena Kebo Angun-angun bersenjata

keris pusaka, iapun harus hati2. Beberapa saat kemudian,

tiba2 terdengar derap kuda lari mendebur jalan, makin lama

makin jelas.

“Silugangga, menyerahlah” seru Kebo Angun-angun

dengan gembira, ”kawan2 kita segera datang untuk

menangkapmu!”

Silugangga terkejut. Hatinya bimbang. Adakah ia harus

menyerah atau melawan. Tetapi menilik keadaan, jelas Kebo

Angun-angun sudah mengerahkan persiapan2 menghadapi

peristiwa itu. Andai mereka mau menghadapkan kepada

pimpinan, ia masih dapat memberi pertanggungan jawab

 

 

kepada pimpinan. Tetapi bagaimana kalau ia nanti dikaniaya

lebih dulu atau bahkan mungkin dibunuh mereka, kemudian

kepada pimpinan dilaporkan tentang dirinya berhianat dan

menerima pundi emas dari fihak Daha. Bukankah ia tak

sempat untuk membela diri ? Mati, ia tak gentar. Tetapi mati

tanpa sempat membela diri dan dituduh sebagai penghianat,

adalah mati yang konyol. Namanya tentu akan dihina orang

untuk selama-lamanya.

“Tidak, aku harus membersihkan namaku dari fitnah yang

kotor ini” akhirnya ia mengambil keputusan. Setelah memberi

desakan kepada Kebo Angun-angun dan Kuda Sempalan

sehingga kedua orang itu terpaksa harus loncat ke belakang,

tiba2 ia berputar tubuh, loncat dan melarikan diri.

Kebo Angun-angun terkejut, berteriak dan hendak

mengejar tetapi Silugangga sudah menyusup kedalam hutan

dan menghilang. Sejak itu Silugangga telah terhapus namanya

dari Wukir Polaman. Seluruh warga Wukir Polaman, semua

kawan2 seperjuangannya, menganggapnya sebagai seorang

penghianat. Bahkan atas desakan Windu Janur, pimpinan

Wukir Polaman mengeluarkan perintah kepada seluruh

anggautanya supaya menangkap Silugangga. Jika melawan,

supaya dibunuh.

Silugangga bersembunyi dalam hutan dan guha yang sepi.

Ia marah, penasaran dan mendendam pada kawan2 yaug

telah memfitnah dirinya. Namun ia tetap akan berusaha untuk

membersihkan diri. Ia akan menangkap kawan yang

memfitnahnya itu. Oleh karena suasana masih berbahaya bagi

dirinya, akhirnya ia berkelana dan menyamar sebagai seorang

brahmana dengan nama brahmana Kendang Gumulung.

Setelah suasana agak reda, barulah ia kembali ke Daha,

tetapi iapun tak berani menampakkan diri. Ia bersembunyi di

lembah Trini Panti. Pada suatu hari kebetulan Nagandini

 

 

berziarah ke makam ramanya di lembah itu. Mereka bertemu.

Dan pertemuan itu diulang beberapa kali.

Windu Janur diam2 memperhatikan gerak-gerik yang aneh

dari gadis itu. Apabila menabur bunga ke makam, tidaklah

sesering itu dilakukan orang. Ada waktu tertentu. Tidak seperti

Nagandini yang sedemikian seringnya. Akhirnya Windu Janur

memutuskan untuk diam2 mengikuti gadis itu. Apa gerangan

yang dilakukan Nagandini di makam ramanya. Betapa

kejutnya ketika ia melihat Nagandini mengadakan pertemuan

dengan seorang pria dan pria itu bukan lain adalah seorang

brahmana. Keesokan harinya ia membawa beberapa kawan

untuk menyergap brahmana itu di lembah Trini Panti tetapi tak

berhasil menemukannya. Brahmana itu hilang tak berbekas.

Akhirnya pada waktu itu, ia memutuskan membawa

kawan-kawan untuk mengikuti Nagandini yang pergi lagi ke

lembah. Ia perintahkan kawan-kawannya bersembunyi,

kemudian ia melantangkan tawa keras untuk memancing

Nagandini dan brahmana itu keluar.

Demikian terpancinglah Nagandini dan brahmana itu

keluar di mulut lembah. Setelah kedua belah fihak saling

mengetahui bahwa yang teruwa lantang itu Windu Janur dan

yang menjadi brahmana itu Silugangga, terjadilah

perbantahan. Windu Janur terang-terangan mengatakan

hendak menangkap Silugangga yang kini telah menyamar

sebagai brahmana Kendang Gumulung. Nagandini marah dan

meminta bukti bahwa Windu Janur benar2 mendapat perintah

dari pimpinan Wukir Polaman untuk menangkap Silugangga.

Sebagai bukti, Windu Janur bersuit dan muncullah beberapa

kawan-kawannya antara lain Kuda Sempalan, Kebo Angunangun,

Nirbada, Banyak Lindung, Liman Segara, beserta

empat orang lagi.

Karena Windu Janur mengungkat- ungkat rama dari

Silugangga, Segara Winotan, sebagai seorang penghianat,

 

 

Silugangga marah dan menyerangnya. Melihat itu Kebo

Angun-angun, Banyak Lindung dan Liman Segara, segera

menyerang dari samping dan belakang. Nagandini menangkis

Liman Segara yang menyerang dari belakang, sementara

brahmana Kendang Gumulung menghalau setangan Kebo

Angun-angun dan Banyak Lindung dari samping kanan dan

“Nagandini, mengapa engkau ikut campur!” teriak Liman

Segara ketika Nagandini memakinya sebagai pengecut.

“Engkau pengecut!” ulang Nagandini dengan pandang

berkilat kemarahan, ”menyerang orang dari belakang!”

“Dia penghianat!” seru Liman Segara ”tak perlu harus

bersikap ksatrya kepadanya”

“Hm” desuh Nagandini ”ksatrya bukan bunglon yang

berobah- robah warna menurut keadaan. Terhadap lain

ksatrya, penjahat ataupun penghianat adalah tetap ksatrya !”

“Eh, Nagandini, mengapa engkau membelanya?” seru

Liman Segara pula.

“Mengapa pula engkau beramai-ramai hendak menangkap

kakang Silugangga?” Nagandini balas bertanya.

“Karena dia berhianat, aku dan kawan2 mendapat perintah

untuk menangkapnya, kalau melawan supaya dibunuh”

“Siapa yang memberi perintah itu ?”

“Sudah tentu pimpinan kita?” sahut Liman Segara.

“Bawa aku menghadap pimpinan !”

Dalam pada itu, setelah terhalau oleh tongkat brahmana

Kendang Gumulung tadi, Kebo Angun-angun dan Banyak

Lindung pun berhenti menyerang. Windu Janur dan kedua

orang itu terkejut ketika mendengar ucapan Nagandini.

 

 

“Nagandini” seru Windu Janur ”baiklah engkau jangan

mencampuri urusan ini. Pimpinan dan seluruh kawan2 Wukir

Polaman sudah tahu akan penghianatan Silugangga. Tidaklah

baik apabila berkawan dengan seorang penghianat”

Nagandini yang cantik tertawa. ”Tetapi kakang Silugangga,

tak berhianat kepadaku. Apakah aku harus ikut membencinya

?”

“Engkau puteri paman Kebo Mundarang, patih ksatrya dari

Daha yang termasyhur, dan kini semua putera-puteri Daha

telah bergabung ke dalam Wukir Polaman. Kita semua

berjuang untuk mengembalikan kedaulatan Daha dari

penindasan Majapahit. Engkau harus ikut serta dalam

perjuangan ini, Nagandini”

“Sudah” jawab Nagandini.

“Dan engkau harus menghukum seorang penghianat

semacam dia!” seru Windu Janur pula.

Nagandini tertawa, ”Dalam hal itulah maka aku perlu

menghadap pimpinan Wukir Polaman untuk meminta

penjelasan lebih lanjut”

“Kakang Nagantaka dan Nagantara sudah tahu akan

perbuatan Silugangga”

“Akupun tahu tetapi belum yakin. Pernahkah kakang

Silugangga dihadapkan pada pimpinan untuk membersihkan

diri?” tanya Nagandin .

“Dalam peristiwa pencegatan ra Tanca tempo hari, sudah

jelas bahwa dia menjadi kaki tangan musuh, rela

mengorbankan empat jiwa kawan kita. Dia menerima pundi2

emas dari orang2 keranian Daha. Belumkah hal itu

meyakinkan engkau?”

“Tidak Nagandini” seru Silugangga serentak, ”aku tak

merasa memiliki pundi2 itu”

 

 

“Tak merasa memiliki” tiba2 pula Kebo Angun-angun

tertawa mengejek, ”tetapi pundi2 itu berada dalam saku

bajumu? Ha, ha, setankah gerangan yang menghadiahi

kepadamu ?”

Silugangga atau brahmana Kendang Gumulung tertegun

tetapi Nagandini cepat menjawab, ”Ya, memang setan. Tetapi

setan yang berwajah manusia, berhati durhaka gemar

mencelakai orang”

“Nagandini” tiba2 pula Banyak Lindung berseru, ”jika

engkau bersikeras, aku akan mengundang kakang Nagantaka

atau Nagantara ke mari”

Gertakan hanya disambut dengan tawa oleh Nagandini.

”Silahkan, kakang Lindung”

Banyak Lindung menyeringai. Kebo Angun-angun tak puas

melihat tingkah laku Nagandini. Namun karena ingat akan

kepentingan Windu Janur kepada gadis itu, terpaksa ia hanya

berkata dengan nada yang sabar. ”Nagandini, janganlah

merintangi tugas yang kami lakukan. Silugangga hendak kami

tangkap dan serahkan kepada pimpinan”

“Tidak, kakang Angun-angun” jawab Nagandini. Ia cepat

dapat mencium suatu komplotan yang bermaksud tak baik

kepada Silugangga. Ia mencemaskan keselamatan

Silugangga. Kemungkinan mereka tidak menyerahkan kepada

pimpinan Wukir Polaman tetapi akan dibunuh sendiri, ”tak

perlu engkau membuang tenaga berjerih payah

menangkapnya. Aku akan menyertai kakang Silugangga untuk

menghadap pimpinan.”

“Perintah penangkapan hanya tertuju kepada Silugangga

seorang,” sahut Ktbo Angun-angun, ”tak mungkin pimpinan

mau menerima engkau.”

 

 

“Jika demikian, kakang Silugangga takkan menghadap,”

seru Nagandini pula.

“Silugangga” rupanya Windu Janur tak dapat menahan

kesabarannya lagi, ”jangan engkau berlindung pada

Nagandini. Engkau seorang lelaki, tentukanlah keputusanmu.

Kami ingin mendengar!”

Agak merah muka brahmana Kendang Gumulung

mendengar ejek itu. ”Windu Janur dan kawan2 Wukir

Polaman”serunya lantang, ”Silugangga, memang warga Wukir

Polaman tetapi Kendang Gumulung seorang manusia bebas.

Kini Silugangga sudah lenyap, yang ada hanyalah brahmana

Kendang Gumulung”

“Licik!” teriak Kebo Angunangun marah.

“Brahmana Kendang Gumulung hanya mau menyerah

kepada pimpinan Wukir Polaman”

“Kami mendapat perintah dari pimpinan !” seru Kebo

Angun-angun pula.

“Haruskah kuulang pendirianku tadi?” sambut brahmana

Kendang Gumulung.

“Kakang Angunangun, tak perlu banyak bicara dengan

penghianat semacam itu, kita sergap saja!” tiba2 Liman

Segara berteriak dan terus loncat menikam Kendang

Gumulung. Tetapi Kendang Gumulung menyambut dengan

baik sekali. Setelah beringsut ke samping, ia ancamkan ujung

tongkat ke muka Liman Segara. Pemuda itu terkejut dan

tergesa-gesa loncat mundur.

Kebo Angun angun dan Banyak Lindung serentak

menerjang. Dalam pada itu Windu Janur segera menghampiri

anakbuahnya dan membisiki beberapa patah kata. Keempat

orang itu segera menghunus senjata dan menyerbu

Nagandini. Rupanya mereka mendapat perintah dari Windu

 

 

Janur supaya mengurung Nagandini dengan pesan, jangan

sampai melukai tetapi cukup dikepung saja supaya jangan

membantu Kendang Gumulung.

Kini Windu Janur dan Liman Segara pun ikut menyerang

Kendang Gumulung. Dengan demikian Kendang Gumulung

harus menghadapi empat orang lawan. Sesungguhnya dalam

ilmu kedigdayaan, Windu Janur setingkat dengan Kendang

Gumulung. Tetapi sejak ia menderita luka dilempar oleh Kebo

Lembana yang membantu brahmana Anuraga dahulu,

tenaganya berkurang. Ia menyangsikan dirinya adakah ia

mampu menghadapi lawan seberat Kendang Gamulung. Oleh

karena itu ia mengatur rencana untuk menangkap Kendang

Gumulung dengan bantuan tiga orang kawan.

Kendang Gumulung mencurahkan seluruh tenaga untuk

menghadapi lawan-lawannya. Ia memang tak tak mau mati

sebelum dapat membersihkan nama dan karena menyadari

dirinya terancam oleh orang2 Wukir Polaman, maka ia

membuat sebuah senjata. Bentuknya menyerupai tongkat

bambu, tetapi terbuat daripada baja keras.

Tetapi betapapun sakti dan gagah seseorang, namun

karena harus menghadapi empat orang lawan yang memiliki

ilmu kedigdayaan juga, makin lama Kendang Gumulung makin

terdesak. Ia lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Namun sesungguhnya masih cukup lama ia mampu bertahan

diri andaikata tiada terjadi sesuatu yang mengejutkan

pikirannya. Tengah dia mengangkat tongkat menangkis

serangan Windu Janur, sekonyong-konyong Nagandini

menjerit. Kendang Gumulung terkejut tanpa disadari iapun

serentak berpaling. Peluang itu tak disia-siakan Windu Janur,

maju selangkah ia mengirim sebuah pukulan tangan kiri ke

dada lawan. Duk ….. Kendang Gumulung tergetar mundur,

pernapasan dadanya serasa berhenti dan pandang matanya

pun gelap. Cepat ia meregangkan semangat, menghimpun

 

 

tenaga untuk menghalau keadaan dirinya. Tetapi tiba2 sebuah

lengan kuat telah melilit lehernya. Ia tak sempat melihat siapa

yang telah melilit lehernya itu karena penyerangnya bertindak

dari belakang. Hampir ia tak dapat bernapas karena lengan

orang itu memeluk lehernya keras sekali. Masih ia dapat

merasakan bahwa tongkatnya telah direbut orang.

Kini Kendang Gumulung telah dikuasai oleh Banyak

Lindung. Dialah yang menyelimpat ke belakang dan terus

membelalai leher Kendang Gumulung lalu dikuncinya rapat2.

Saat itu Nagandini tak berdaya menolong karena masih

dikepung oleh empat orang. Adalah karena tiba2 salah

seorang lawannya itu

mengeluarkan seekor ular

lalu diancamkan ke mukanya

maka tadi Nagandini

menjerit kaget. Dan jeritan

itulah yang membawa

Kendang Gumulung ke arah

“Akhirnya, Silugangga,

engkau harus menyerah”

seru Windu Janur.

Dalam pertempuran tadi,

Kebo Angun-angun telah

menderita luka pada

dahinya. Ujung tongkat

Kendang Gumulung

memagut dan menghias sebuah benjolan pada dahi Kebo

Angun-angun. Walaupun hanya sebesar telur burung dara

tetapi berwarna biru, namun cukuplah membuat yang

empunya dahi meringis kesakitan.

Sambil tertawa menyeringai, ia menghampiri dan ayunkan

tinju, ”Rasakan pembalasan …” Dalam saat Kendang

 

 

Gumulung akan menderita pukulan dari Kebo Angun angun,

sekonyong-konyong dari balik gerumbul batu padas yang tak

berapa jauh, melayang se-sojok tubuh. Sebelum diketahui

siapa pendatang itu, dia sudah langsung tiba di belakang

Banyak Lindung, mencengkeram bahunya dan terus

disentakkan ke belakang.

“Auh ….” Banyak Lindung mengerang kesakitan. Serasa

bahunya tercengkeram jari2 baja yang keras sekali sehingga

ia tak kuasa lagi memeluk leher Kendang Gumulung. Dan

sebelum sempat mengerahkan tenaga perlawanan, tubuhnya

serasa ditarik sekuat-kuatnya dan dihempaskan ke belakang.

Dalam pada itu terdengar pula Kebo Angun-angun memekik

kejut ketika pukulannya menghantam tempat kosong dan tiba2

pula lututnya termakan sebuah tendangan yang amat keras

sehingga ia tak kuasa lagi mempertahankan keseimbangan

tubuhnya. Kebo Angun-angun rubuh serempak pada saat

Banyak Lindung pun terjerembab jatuh ke tanah.

Windu Janur dan kawan2 tertegun. Mereka melihat

seorang lelaki muda bertubuh kekar tengah menyanggah

tubuh Kendang Gumulung dan saat itu dibantunya supaya

dapat berdiri tegak.

“Hai, siapa engkau!” hardik Liman Segara setelah

menyadari apa yang terjadi.

“Aku Dipa” sahut orang itu sambil lepaskan cekatannya

pada tubuh Kendang Gumulung yang saat itu sudah dapat

berdiri sendiri.

“Mengapa engkau melukai kawan kami?” seru Liman

Segara pula ”apakah engkau kawan dari brahmana itu?”

“Jangan salah sangka, ki sanak” seru Dipa ”aku belum

kenal dengan brahmana ini, sebagaimana akupun belum kenal

dengan kalian. Dalam usaha untuk menolong seorang

 

 

brahmana yang hendak kalian siksa, terpaksa kusiakkan tubuh

kawanmu itu”

“Apakah engkau rakyat Daha?” tegur Windu Janur seolah

merasa pernah melihat wajah Dipa tetapi lupa entah di mana”

“Ya, sekarang aku memang orang Daha”

“Tahu engkau akan himpunan Wukir Polaman” tiba2 Liman

Segara mendahului bertanya di mana sebenarnya saat itu

Windu Janur masih berusaha untuk menggali ingatannya. Di

antara kawan-kawannya, memang Liman Segara terkenal

dengan sifatnya yang suka berterus terang, agak lamban

berpikir. Seharusnya janganlah pertanyaan semacam itu

cepat2 dilontarkan sebelum diketahui jelas siapa

sesungguhnya Dipa itu. Liman Segara tak dapat menelaah

apa maksud dari kata2 jawaban Dipa.

“Tahu” sahut Dipa ”Wukir Polaman adalah himpunan para

pejuang putera2 senopati kerajaan Daha dahulu”

“Nah, yang engkau tolong itu” Liman Segara tetap melanjut

tanpa dapat dicegah Windu Janur ”salah seorang kawan kami,

yang karena berhianat lalu menyamar sebagai brahmana”

“O” desuh Dipa.

“Kami hendak menangkapnya” kata Liman Segara pula

”jangan engkau ikut campur urusan ini”

“Jangan percaya, ki sanak!” tiba2 Nagandini yang saat itu

juga sudah berhenti bertempur berseru, ”kakang brahmana ini

telah difitnah berhianat dan mau dibawa secara paksa”

“Nagandini!” teriak Windu Janur terkejut ”sudahlah, jangan

berkelarutan melindungi seorang penghianat”

“Dia belum terang kesalahannya” bantah Nagandini

”jangan menuduhnya dahulu”

 

 

Liman Segara melangkah maju menghampiri, maksudnya

hendak menerkam Kendang Gumulung tetapi Dipa

menghadangnya. ”Jangan tergesa-gesa, ki sanak”

Liman Segara terkejut ketika pergelangannya dicengkeram

oleh pendatang itu. ”Mundurlah dahulu jika engkau tak

menghendaki lenganmu kupatahkan”

Dan Liman Segara tak kuasa mempertahankan

keseimbangan tubuh ketika ia didorong mundur oleh Dipa.

Cengkeraman tangan Dipa pada pergelangan tangannya

menghapus seluruh daya tenaga Liman Segara. Merah padam

wajah pemuda itu karena malu dan marah. Cepat ia mencabut

pedang dan menghardik. ”Rupanya engkau memang kawan

brahmana itu. Kawan2, mari kita tangkap orang itu” serunya

seraya maju menyerang.

Dipa tak gentar menghadapi serangan itu. Iapun tahu

bahwa orang2 Wukir Polaman itu harus dipatahkan

semangatnya, baru mereka tunduk. Dengan tata langkah

sebagai yang diajarkan brahmana Anuraga, ia menyelinap ke

samping dan dengan suatu gerak yang tak terduga, ia sudah

mencengkeram bahu Liman Segara sekeras-kerasnya. Sesaat

Liman Segara harus membungkuk karena kesakitan, Dipa pun

sudah menyambar pinggang dan terus mengangkatnya ke

atas. ”Jika kalian berani menyerang, kawanmu ini tentu

kubanting hancur!”

Pada saat Liman Segara menyerukan kawan-kawannya

supaya menyerang, Windu Janur dan keempat anakbuahnya

yang mengepung Nagandini tadi serempak hendak

menerjang. Tetapi mereka terpaksa berhenti menyaksikan

ancaman Dipa. Merekapun terbeliak menyaksikan

keperkasaan Dipa dalam menguasai dan mengangkat tubuh

Liman Segara. Bahkan Kendang Gumulung dan Nagandini

jaga terkesiap.

 

 

“Mau apa engkau, kisanak” seru Windu Janur sesaat

setelah mendapat ketenangannya, ”jika engkau melukai

kawan kami itu, kami akan pertaruhkan jiwa untuk

membunuhmu”

“Orang2 Wukir Polaman” seru Dipa seraya masih

menjunjurg tubuh Liman Segara, ”ketahuilah siapa

sesungguhnya diriku ini”

Ia berhenti sejenak untuk mengeliarkan pandang.

Dilihatnya Windu Janur dan keempat orang itu masih tegak

memandangnya dengan penuh perhatian. Kebo Angun angun

berusaha bangun dibantu Kuda Sempalan. Sementara

Nirbada menolong Banyak Lindung yang masih rebah. Sejak

tadi Kuda Sempalan dan Nirbada masih belum ikut dalam

“Aku ini patih Daha-Majapahit yang baru, pengganti patih

Arya Tilam…..”

Kata2 Dipa itu menimbulkan kegemparan dalam hati

orang2 Wukir Polaman. Jauh lebih hebat daripada

kehadirannya menolong brahmana Kendang Gumulung.

Benarkah seorang muda yang tak jauh beda usia dengan

mereka, patih Daha-Majapahit yang baru? Sesaat kemudian

berserulah Windu Janur. ”Ki sanak, engkau berhadapan

dengan pejuang2 bumi Daha-Jayakatwang. Janganlah engkau

bicara sembarangan ataupun hendak menggertak dan

menakuti kami. Setiap saat kami dapat menghancurkan

dirimu!”

Patih Dipa mencurah pandang ke arah Windu Janur. Agak

berhenti beberapa jenak pandang matanya ketika mendarat di

wajah Windu Janur. Samar2 ia pernah mendengar nada

suaranya, melihat wajahnya. Tetapi wajahnya beda sekali

dengan apa yang dilihatnya beberapa tahun yang lalu. Hanya

 

 

sinar matanya tak pernah ia lupa. ”Siapakah engkau,

kisanak?” tanyanya.

“Windu Janur”

“O” desuh Dipa yang masih mengangkat tubuh Liman

Segara di atas kepalanya. ”Windu Janur yang pernah menjadi

pandita dan bertempur dengan seorang brahmana beberapa

tahun yang lalu itu, bukan?”

Windu Janur terbeliak, ”Engkau siapa!” serunya, “engkau

kawan brahmana itu? Engkau orang Majapahit?”

“Aku hanya kebetulan melihat pertempuran itu” jawab patih

Dipa, ”benar, memang aku kawula Majapahit. Bukankah

engkau dan kawan-kawanmu juga demikian”

“Hm” dengus Windu Janur setelah mengetahui keadaan

diri orang, ”lepaskan kawanku itu!”

Dipa mengangguk dan meletakkan tubuh Liman Segara di

tanah. ”Kawanmu terlalu perangsang. Adakah orang2 Wukir

Polaman demikian semua?”

Windu Janur tak mau melayani pertanyaan itu.

“Sekarang sekali lagi engkau harus menerangkan siapa

sebenarnya dirimu!”

“Telah kukatakan aku adalah patih Daha Majapahit” kata

Dipa, ”dan terus terang, kedatanganku kemari adalah hendak

mencari orang2 Wukir Polaman”

Windu Janur dan kawan kawannya terbeliak. Memang

mereka mendengar tentang pergantian patih di keranian Daha.

Mendengar pula patih yang baru itu masih muda usianya,

patih dari Kahuripan. Tetapi mereka belum pernah melihat

orangnya. Diam2 mereka terkejut melihat raut wajah dan

tubuh patih muda itu. Lebih terkejut pula ketiga mendeigar

keterangannya hendak mencari orang2 Wukir Polaman.

 

 

“O, hendak menangkap orang Wukir Polaman?” desuh

Windu Janur.

Patih Dipa gelengkan kepala. ”Tidak, hanya sekedar

bertemu”

“Bertemu?” Windu Janur terkesiap pula, ”apa maksudmu”

“Hanya berkenalan,” sahut patih Dipa, ”sebagai seorang

patih baru, tidakkah layak apabila aku ingin memperkenalkan

diri kepada rakyat banyak” ia berhenti sejenak, memperhatikan

kerut wajah Windu Janur. Ketika melihat bibirnya bergetar

hendak bicara ia cepat mendahului, ”Termasuk pejuang2

Wukir Polaman yang gagah berani itu.”

“Hai” Bibir Windu Janur yang sedianya hendak melantang

kata2, terpaksa dikatupkan pula dengan dengus dalam

kerongkongan, ”aneh, mengapa engkau menyebut kami

sebagai pejuang? Tidakkah hal itu hanya hiasan bibir untuk

menyelimuti maksud hatimu yang tersembunyi. Ki patih, lebih

tepat dan lebih puas hati kami apabila engkau sebut Wukir

Polaman itu sebagai pamberontak. Karena jelas garis

perjuangannya menentang Daha Majapahit”

Patih Dipa tertawa. ”Aku menilai dari pendirian seorang

ksatrya. Bukankah demikian juga anggapanmu ? Tanpa

memiliki landasan anggapan itu, tak mungkin engkau

berjuang”

Windu Janur dan kawan2 terbeliak. Mereka benar2

dikejutkan oleh kehadiran dan ucapan patih yang masih muda

itu. Belum pernah mereka mendengar ucapan-ucapan

semacam itu dari mulut seorang narapraja Majapahit.

Kebanyakan narapraja dan nayaka Daha-Majapahit tentang

menganggap Wukir Polaman sebagai pemberontak yang

harus ditumpas. Dalam pada itu Kebo Angun-angun, Nirbada,

Kuda Sempalan dan Banyak Lindung menghampiri dan tegak

berjajar di samping Windu Janur. Sementara brahmana

 

 

Kendang Gumulung dan Nagandini berdiri di belakang patih

“Patih, jangan membuai kami dengan kata2 yang manis”

tiba2 Kebo Angun-angun berseru geram ”katakan saja bahwa

rombongan prajurit pengikutmu sudah mengepung tempat ini

dan menunggu perintahmu untuk menangkap kami!”

Memandang sejenak kepada pemuda yang telah

dirubuhkan dengan dupakan kaki tadi, patih Dipa tertawa,

”Jangan menilai orang menurut ukuran dirimu, ki sanak.

Ketahuilah, bahwa aku hanya seorang diri. Aku sedang

meronda kota sekalian melihat dengan mata kepala sendiri

bagaimana suasana kehidupan para kawula. Secara tak

terduga, kudengar suara orang berkelahi di tempat ini”

“Hm” dengus Kebo Angun-angun pula, ”adakah engkau

mengira bahwa dirimu terlalu digdaya sehingga berani

menghadapi orang2 Wukir-Polaman seorang diri?”

“Anggapanmu itu salah” sahut patih Dipa ”tetapi engkau

bebas untuk memiliki anggapan begitu. Jika aku memang

hendak menyergap Wukir Polaman, tentu akan kupersiapkan

sebuah pasukan yang kuat. Tetapi saat ini memang belum ada

maksud begitu. Aku hendak berkenalan dengan orang2 Wukir

Polaman”

“Kita bermusuhan!” seru Kebo Angun-angun.

“Benar” sahut patih Dipa, ”bilamana orang2 pemerintah

Daha-Majapahit berhadapan dengan orang2 Wukir Polaman

yang sedang melakukan gerakan merugikan pemerintahan.

Tetapi saat ini kita berhadapan sebagai insan manusia”

“Kita adalah insan manusia, sama2 titah dewata” kata

patih Dipa pula. ”Dewata menciptakan kita bukan untuk bunuh

membunuh saling melenyapkan tetapi untuk hidup damai

mengembangkan kehidupan. Jika engkau menganggap

 

 

bermusuhan dengan aku, adalah kebetulan engkau merasa

orang Daha dan menganggap aku orang Majapahit. Engkau

merasa berjuang untuk Daha dan aku seorang patih

Majapahit. Bukankah demikian?”

Kebo Angun-angun hanya mendengus.

“Tetapi apabila kita mau berpikir dengan kepala dingin,

sesungguhnya milik siapakah bumi Daha, bumi Majapahit dan

seluruh nuswantara ini? Milik prabu Jayakatwang? Milik prabu

Kertarajasa ? Tidak, ki sanak, bumi dan seluruh jagad raya ini

adalah milik Hyang Murbawisesa, milik Hyang Maha Pencipta.

Kepada titah manusia hanya dibenarkan untuk memakai

mendiami dan merawat, tidak dibenarkan untuk merusak.

Prabu Jayakatwang dikalahkan raden Wijaya, itu sudah

menjadi ketentuan Cakrawarti sebagaimana sebelumnya pun

prabu Jayakatwang telah mengalahkan baginda Kertanagara.

Kalah mengalahkan antara Daha dan Singasari itu sudah

terjadi semenjak kerajaan Panjalu dibelah dua oleh empu

Barada”

Patih Dipa berhenti sejenak kemudian melanjutkan pula,

”Sebagai putera Daha Jayakatwang, kalian bebas dan berhak

untuk berjuang merebut kembali negeri Daha. Walaupun

sesungguhnya, sebagai manusia sebagai kawula lebih pula

sebagai seorang ksatrya, harus tahu akan segala perobahan

yang diciptakan Hyang Widdhi. Mengapa prabu Jayanagara

menjadi raja di Daha? Mengapa tidak para senopati yang

menjadi rama dari para pejuang Wukir Polaman? Mengapa

raden Wijaya yang menjadi raja Majapahit, tidak para senopati

Majapahit yang gagah perkasa? Tahukah engkau apa

sebabnya?”

Kebo Angun-angun tak mau menjawab melainkan

memandang patih muda itu dengan pandang yang sukar

diketahui maksudnya.

 

 

“Tak lain karena kesemuanya itu adalah ketentuan yang

telah digariskan dewata” kata patih Dipa.

“Tidak !” seru Windu Janur dengan nada keras,

”Jayakatwang dan raden Wijaya, tidak menerima kerajaan

begitu saja. Mereka harus berjuang dengan pengorbanan jiwa

raga, keringat dan darah. Dewata tidak menganugerahi

sesuatu dengan begitu saja melainkan menganugerahi

mereka yang berjuang dan berusaha !”

Patih Dipa lontarkan pandang ke arah Windu Janur yang

kini tampak lebih tua dari beberapa belas tahun yang

dilihatnya. ”Engkau maksudkan, semua kenikmatan dan

kebahagiaan itu harus diperjuangkan ? Benar” katanya, ”tetapi

ki sanak. Tidakkah semua mentri senopati baik dari prabu

Jayakatwang maupun dari baginda Kertarajasa itu tidak

berjuang semua ? Bahkan merekalah yang menyabung nyawa

di medan perang paling muka, mereka pula yang akan gugur

lebih dulu. Tidakkah diantara mentri2 dan senopati dari prabu

Jayakatwang dan raden Wijaya tidak ada yang lebih pandai,

lebih sakti daripada kedua junjungan itu?”

Windu Janur terdiam. Hanya wajahnya yang berbicara

melalui kerut2 dahi dan warna merah pada mukanya.

“Nah, apabila engkau bersua dengan keadaan semacam

itu, engkau tentu akan bingung,” kata patih Dipa pula,

”kusebutkan contoh lagi, baginda Rajasa sang Amurwabhumi

atau yang sebelumnya terkenal sebagai Ken Arok. Bukankah

dia dari keturunan yang belum diketahui jelas ? Bukankah

kissah hidupnya semasa muda penuh dengan lembaran hitam

? Bukankah tindakannya membunuh Tunggul Ametung dan

merebut isterinya suatu hal yang tak layak ? Tetapi mengapa

dia dapat menjadi raja Singasari ? Adakah dia amat sakti ?

Tidak ! Buktinya, dia dapat dibunuh oleh Anusapati putera

Tunggul Ametung. Adakah dia seorang yang pandai sekali ?

Rasanya banyak diantara mentri dan senopatinya yang lebih

 

 

pandai dalam soal pengetahuan dan ilmu. Tetapi mengapa,

ya, mengapa justeru dia yang dapat menjadi raja ? Nah,

sampai disini, mau tak mau, suka tak suka, engkau harus

berani menerima kenyataan bahwa kesemuanya itu memang

sudah kehendak Dewata”

“Engkau hendak menganjurkan supaya Wukir Polman

membubarkan diri dan menerima kerajaan Majapahit sebagai

penguasa negeri Daha” dengus Windu Janur.

“Sama sekali tidak” sahut patih Dipa tenang, ”jangan

menganjurkan orang lain apa yang tidak engkau anjurkan

pada dirimu sendiri. Aku tidak menganjurkan diriku untuk tidak

membela Majapahit dan memberantas setiap orang yang

menentang Majapahit. Maka akupun takkan menganjurkan

engkau dan kawan-kawanmu untuk menghentikan

perjuanganmu. Kuserahkan soal itu kepadamu dan kawankawanmu.

Hanya sedikit yang perlu kutekankan kepadamu

bahwa ada beberapa hal yang wajib kita perhatikan. Pertama

kita harus dapat menarik pelajaran dari sejarah. Apakah hasil

dari pada kerajaan Daha Singasari kepada rakyat? Serangmenyerang

di antara kedua negeri itu hanya mengakibatkan

kemunduran dan kelemahan negara, kesengsaraan rakyat,

penderitaan batin karena tersiksa oleh dendam kesumat. Dan

bagaimana kenyataan setelah Majapahit berdiri? Bukankah

Daha-Singasati-Kahuripan dapat dipersatukan menjadi sebuah

negara Majapahit yang besar dan jaya? Bukankah wajib kira

dukung dan bela kerajaan Majapahit itu supaya berkembang

menjadi sebuah negara kesatuan yang besar, yang

wilayahnya meliputi seluruh nuswantara.”

Kembali patih Dipa berhenti sejenak untuk mengamati

kesan pada wajah Windu Janur dan kawan-kawannya.

“Tidak ada kawula Daha, kawula Singasari, kawula

Kahuripan. Yang ada hanyalah kawula Majapahit. Tidakkah

kita lebih berbahagia memiliki sebuah kerajaan yang luas,

 

 

yang kekuasaannya meliputi seluruh bumi nuswantara,

daripada hanya sesempit bumi Daha atau Singasari? Orang2

Wukir Polaman, jika kalian hendak memberontak, berontaklah

tetapi luaskan tujuan kalian, lebarkan dada kalian. Jangan

memberontak hanya karena hendak membalas dendam pada

kerajaan Majapahit, hanya karena ingin membangkitkan

kerajaan Daha yang sudah membangkai. Itu pikiran ksatrya

yang berada sempit, berpikiran pandak, berpandangan picik.

Siapapun yang jadi raja, apapun nama kerajaan itu, yang

penting raja dan kerajaan itu benar2 berwibawa, dapat

mempersatukan seluruh nuswantara, mengayomi para kawula

dan mengangkat martabat seluruh bangsa!”

Seolah kena pesona Windu Janur dan para muda dari

himpunan Wukir Polaman dikala mendengar patih Dipa

mengangkat bicara. Betapa berapi-api sinar yang terpancar

dari kedua bola matanya. Betapa kokoh pendiriannya yang

terpantul pada dahinya betapa keras hatinya yang terpancar

pada mulutnya dan betapa perkasa sikap patih itu. Samar2

mereka seperti menyaksikan suatu perobahan gaib dari

airmuka patih itu. Tidak lagi berupa patih Dipa yang dilihatnya

beberapa jenak tadi, melainkan tampak cemerlang sebagai

perwujudan dari dewa Ganesya!

Suasana di sekeliling tempat itu seolah di telan oleh

keheningan yang membisu. Angin tiada berhembus, gerumbul

meregang, pohon2 tegak bagaikan kelompok prajurit yang

tengah menerima amanat. Walaupun beberapa saat tetapi

peristiwa itu benar2 menimbulkan suatu keajaiban alam yang

memukau seluruh orang di tempat itu.

Anginpun berembus, menghanyutkan kabut keajaiban dan

orang Wukir Polaman itupun menyadari keadaan lagi.

“Sudahlah, jangan berbanyak kata” seru Kebo Angunangun

”sekarang katakan maksudmu yang sebenarnya. Jika

 

 

engkau ingin bertemu dengan orang2 Wukir Polaman, di

sinilah aku dan kawan2”

Patih Dipa tersenyum kecil. ”Kalian muda2 yang penuh

semangat dan kesetyaan. Sampaikanlah kata2ku tadi kepada

pimpinan dan segenap kawan2mu. Terserah bagaimana

pendirian mereka. Dan sekarang, silahkan kalian pulang”

“Hai” dengus Kebo Angun-angun ”enak saja engkau bicara

seolah tak memandang mata sama sekali kepada orang2

Wukir Polaman. Sekarang juga aku dapat memberi jawaban.

Wukir Polaman takkan berhenti berjuang selama Majapahit

masih menguasai bumi Daha”

“Apakah itu pendirian kawan-kawanmu yang berada di

sini?” seru patih Dipa.

“Ya” dengan lantang Kebo Angun-angun menjawab.

“Baiklah, aku tak dapat memaksa”

“Ho, memang engkau tak dapat memaksa tetapi kami

dapat memaksamu”

“Memaksaku? Apa maksudmu?” seru Dipa.

“Engkau berkata apapun tetapi kenyataan engkau adalah

patih Daha-Majapahit” kata Kebo Angun-angun ”oleh karena

itu engkau harus ikut kami ke tempat kediaman pimpinan

kami”

“Maksudmu engkau hendak menawan aku?” patih Dipa

“Ya”

Patih Dipa tertawa. ”Karena engkau mengetahui bahwa

aku hanya seorang diri dan kalian berjumlah banyak?”

“Setiap mentri, narapraja dan senopati yang bekerja pada

keranian Daha, adalah musuh kami. Kami tentu akan

 

 

menangkapnya. Sudahlah, jangan banyak bicara, engkau

harus serahkan dirimu”

“Jika aku menolak?” seru patih Dipa tenang.

Semula Kebo Angun-angun bersangsi melihat ketenangan

sikap patih itu. Tak mungkin akan bersikap begitu apabila tiada

mempunyai andalan atau persiapan. Tetapi setelah

mengeliarkan pandang ke sekeliling penjuru dan tak melihat

suatu tanda2 dari rombongan pengikut patih itu, timbullah

keberanian Kebo Angun-angun pula. ”Terpaksa kami akan

menggunakan kekerasan untuk memaksamu”

“O, rupanya orang2 Wukir Polaman sangat

membanggakan kedigdayaan. Baiklah, aku terpaksa harus

mempertahankan diri. Silahkan maju, kalian hendak maju

serempak atau seorang lawan seorang”

Kebo Angun-angun memandang kearah Windu Janur

dengan pandang bertanya. Windu Janur mengangguk. Kebo

Angun angunpun melangkah maju ke hadapan patih Dipa dan

Patih Dipa diam2 menimang. Diantara orang2 Wukir

Polaman itu, ia memperhatikan bahwa Windu Janur

mempunyai pengaruh yang besar sedang Kebo Angun-angun

merupakan pembantunya yang terdekat. Juga sempat

diperhitungkannya bahwa Windu Janur tampak amat

membenci brahmana Kendang Gumulung, sementara Kebo

Angun-angun amat bernafsu sekali untuk membunuh

brahmana itu. Kemudian iapun menaruh perhatian juga

kepada brahmana Kendang Gumulung dan si dara cantik

Nagandini. Tampaknya Wiudu Janur amat menaruh perhatian

kepada gadis itu tetapi Nagandini amat erat dengan si

brahmana. Adakah sesuatu yang terjadi dalam hubungan para

muda Wukir Polaman itu? Yang jelas telah terjadi perbantahan

tentang diri brahmana Kendang Gumulung. Fihak Windu Janur

 

 

dan kawan2 menuduh brahmana itu berhianat tetapi gadis itu

menolak. Makin cenderung ia untuk menduga bahwa ada

suatu lingkaran yang berliku-liku diantara anak2 muda Wukir

Polaman itu. Dan liku2 itu agaknya bersumber pada diri si

Tetapi patih Dipa tak sempat untuk merenung lebih lanjut

karena saat itu ia sudah ditantang oleh Kebo Angun-angun

yang sudah siap di hadapannya. Dalam waktu yang amat

sempit itu, ia memutuskan, bahwa untuk menyelesaikan

pertengkaran saat itu, kunci terletak pada diri Windu Janur dan

Kebo Angun-angun. Apabila ia dapat menangkap kedua orang

itu, barulah persoalan dapat dicairkan. Memang ia tak

bermaksud hendak melukai ataupun membunuh mereka. Ia

mempunyai cara sendiri untuk mengatasi mereka. Dan cara itu

memang berbahaya penuh dengan kesadaran dan

kepercayaan akan kekuatan diri sendiri.

“Ki sanak, bagaimana kehendakmu?” tegurnya.

“Serahkan dirimu!” seru Kebo Angun-angun.

“O” desuh patih Dipa, ”engkau hendak menangkap aku?

Bukankah aku tak mengganggumu?”

“Engkau patih Daha Majapahit dan engkau membantu

kawan kami yang berhianat!”

Patih Daha tersenyum. ”Baiklah, aku akan menurut saja

apabila engkau memang memiliki kemampuan itu”

“Sombong!” teriak Kebo Angun angun seraya maju

menyerang. Pedang ditaburkan laksana kilat menyambarnyambar.

Tetapi alangkah kejutnya ketika patih yang jelas

berada di hadapannya itu, kini lenyap dan sudah berada di

samping. Cepat ia berputar tubuh menyerang lagi. Tetapi patih

Daha itupun tetap lenyap seolah seperti sesosok bayangan,

diburu menjauh, dipandang menantang.

 

 

Setelah beberapa serangan, patih Dipa segera dapat

mengintai gerak serangan pedang lawan. Ia tak mau

membuang waktu dan menghabiskan tenaga. Pertempuran itu

harus cepat diakhiri. Sebuah peluang terbuka ketika Kebo

Angun-angun menusuk dadanya. Ia menggunakan ilmu

Lembu-sekilan. Kebo Angun-angun yang percaya tusukan

pedangnya tentu kena, menjerit kejut ketika masih kurang

sekilan jari. Dengan amat bernafsu sekali, ia lanjutkan tusukan

dengan sekuat tenaga. Dipa memang menantikan gerakan itu,

selekas ujung pedang menyorong iapun berkelit le samping,

tangan kanan mencengkeram pergelangan tangan Kebo

Angun-angun dan tangan kiri mencengkeram ketiak lawan;

sekali dipijat keras maka menjeritlah Kebo Angun-angun.

Tenaganya lenyap sampai tak kuasa lagi ia mencekal pedang.

Pada saat pedang berdenting jatuh, Kebo Angun-angun pun

mendeprok ke tanah, tangan kanannya telah diteliku melekat

pada punggungnya.

Peristiwa itu benar2 mengejutkan sekalian orang2 Wukir

Polaman termasuk Windu Janur. Cepat pertempuran itu sudah

usai tanpa sempat mereka memberi pertolongan. Rencana

Windu Janur untuk menghadapi patih Daha itu dengan

seorang secara bergilir, adalah untuk menghisap tenaganya.

Selekas tenaga patih itu habis, barulah ia sendiri yang akan

maju untuk menyelesaikannya. Setitikpun ia tak pernah

menduga bahwa Kebo Angun-angun dapat diringkus secepat

“Jika engkau berani, lanjutkan langkahmu, kawanmu ini

tentu akan kubunuh!” hardik Dipa kepada Liman Segara yang

tampak hendak bergerak maju.

Patih Dipa merenung sejenak kemudian melepaskan Kebo

Angun-angun. ”Bangunlah dan kembali kepada kawankawanmu”

kemudian ia beralih menghadap ke arah Liman

Segara. ”Ki sanak, engkau benar, aku harus menuruti alam

 

 

pikiranmu. Baik, marilah kita berhadapan dalam garis2 yang

engkau inginkan. Kalian orang2 Wukir Polaman dan aku patih

Daha. Silahkan menangkap aku karena kalau tidak, akulah

yang akan menangkapmu semua!”

Windu Janur, Liman Segara, Kebo Angun-angun, Kuda

Sempalan, Nirbada, Banyak Lindung dan empat orang

anakbuah segera bersiap. Windu Janur mendapat

pengalaman menyadari bahwa rencananya semua, tak benar.

Ia harus mengajak semua kawan-kawan untuk menyergap

patih itu. Namun untuk menyelamatkan setitik gengsi dari

Wukir Polaman, ia melarang kawan-kawannya menggunakan

senjata tajam. ”Sebagai kekesatryaanmu melepas adi Kebo

Angun-angun, maka kami takkan menggunakan senjata untuk

menangkapmu” serunya kepada patih Dipa.

“Terima kasih” sahut patih Dipa, ”tetapi sesungguhnya aku

tak bermaksud melepas budi. Aku hanya menjunjung laku

keutamaan seorang ksatrya yang pantang mencelakai musuh

yang sudah terluka”

Berhadapan dengan patih yang masih muda itu, Windu

Janur merasakan beberapa keheranan. Diantaranya tentang

ketajaman lidah yang dimiliki patih itu, selalu dapat membentur

setiap serangan kata yang dilancarkan kepadanya Maka iapun

tak mau adu lidah lebih lanjut. Segera ia memberi isyarat

kepada kawan-kawannya untuk menyerang.

“Licik!” tiba2 brahmana Kendang Gumulung loncat ke

muka patih Daha yang melindunginya. Ia membentak

beberapa kawannya yang hendak menyerang.

“Ho, mau apa engkau Silugangga ?” teriak Liman Segara,

”engkau hendak membantu patih Daha ?”

“Sudah tentu” seru Kebo Angun-angun, ”dia jelas

berhamba pada Daha-Majapahit dan menghianati sumpah

perjuangan kita !”

 

 

Brahmana Kendang Gamulung tertawa. Nadanya amat

aneh, sukar dirabah entah marah entah penasaran, entah

sedih entah rawan. ”Liman Segara dan engkau Kebo Angunangun,

sudah kenyang telingaku mendengar fitnah tuduhanmu

itu …..”

“Bukan fitnah tetapi kenyataan !” teriak Kebo Angunangun.

“Fitnah” bantah brahmana Kendang Gumulung, “karena

buktinya mengapa kalian menolak permintaanku supaya

membawa aku kehadapan pimpinan. Karena takut rahasia

kalian terbongkar ?”

“Siapa mengatakan kami menolak, hayo, sekarang juga

kami antar” seru Kebo Angun-angun.

“Tidak dapat” tiba2 patih Dipa berseru tegas, “setelah

mengetahui akan sifat2 kalian, aku tak mengidinkan kalian

mengantarkan brahmana ini menghadap pimpinanmu. Kalian

tak mungkin akan menyerahkan dirinya kecuali mayatnya”

“Bukan urusanmu” bentak Kuda Sempalan, “dia adalah

kawan kami !”

“Tetapi sudah engkau singkirkan sebagai seorang

penghianat” sahut patih Dipa.

“Ki patih ini berhak atas diri kakang Silugangga karena

dialah yang telah menolong jiwanya” seru Nagandini.

“Ha, ha, ha” tiba2 Liman Segara tertawa menghina

”dengan demikian jelas bahwa Silugangga sudah menjadi

hamba Daha-Majapahit !”

Brahmana Kendang Gumulung tak marah melainkan

menjawab tenang. ”Betapapun yang terjadi, tak mungkin aku

menghianati Daha Jayakatwang. Tetapi seorang ksatrya harus

tahu membalas budi. Ki patih ini telah menolong jiwaku, saat

ini jiwaku adalah miliknya”

 

 

“Pengecut” bentak Windu Janur ”engkau menjilat ludahmu

kembali. Layakkah engkau menjadi brahmana?”

“Layakkah seseorang menjadi brahmana atau pandita

bukan ditentukan oleh pakaian dan rambutnya, bukan pula

karena dia sudah membaca kitab veda dan hafal akan segala

ajaran kitab itu. Tetapi Dharma dan lakunyalah yang

menjadikan dia brahmana. Dia tidak menjilat ludah tetapi

memang akulah yang melarang kalian membawanya. Aku

sudah menyelamatkan jiwanya dan harus kuselamatkan

sampai selamat”

“Tetapi dia anggauta Wukir Polaman yang memusuhi

Daha Majapahit” seru Kuda Sempalan.

“Itu perjuangan yang menggariskan pemisahan” kata Dipa

”tetapi kita sesama umat manusia, sesama kawula setanah air

dan sesama pejuang beda sekalipun garis perjuangannya.

Persamaan jauh lebih besar daripada perbedaan”

“Apa maksudmu menghalangi kami menindak patih itu”

seru Kebo Angun-angun pada Kendang Gumulung.

“Jika kalian hendak menangkap, akupun tak menghalangi

tetapi caranya harus sebagai ksatrya. Layakkah orang Wukir

Polaman main kerubut terhadap lawan? Jangan engkau

merendahkan martabat pejuang2 Wukir Polaman, Kebo

Angun-angun. Engkau yang mengaku sebagai warga Wukir

Polaman, yang mengaku sebagai pejuang Daha, yang

mengaku sebagai anak senopati, yang mengaku sebagai

ksatrya, ternyata rendah sekali jiwamu. Engkau menghianati

sifat perjuangan Wukir Polaman yang luhur. Engkau

penghianat!”

Tajam sekali kata2 yang dilontarkan brahmana Kendang

Gumulung sehingga Kebo Angun-angun dan kawan2

termangu-mangu merah padam mukanya.

 

 

“Ki brahmana” tiba2 pula patih Dipa berseru ”silahkan

menyingkir. Jangan tuan mencemaskan diriku. Aku sanggup

menghadapi mereka,” habis berkata patih Dipa menyelimpat

dari samping dan terus melangkah maju ke hadapan

rombongan orang2 Wukir Polaman. ”Mari segera kita

selesaikan persoalan ini”

Rupanya para muda Wukir Polaman itu sudah tak dapat

menguasai diri lagi. Serempak Liman Segara, Kebo Angunangun,

Kuda Sempalan dan Banyak Lindung menerjang, lalu

keempat anakbuah mereka pun bergerak. Hanya Windu Janur

dan Nirbada yang tetap diam. Diam2 Windu Janur melihat

sikap Nirbada. Nirbada setingkat dengan yang lain2, harus

tunduk pada perintah Windu Janur. Tetapi mengapa pemuda

itu tak ikut menyerang? Dihampirinya. Nirbada dan ditegurnya,

”Mengapa engkau tak ikut kawan2 kita?”

“Aku tak setuju kita mengerubuti lawan. Aku hendak

mengajak patih itu bertempur seorang diri” sahut Nirbada.

Windu Janur tertegun. Ia tahu Nirbada putera senopati

Pangelet itu seorang pemuda pendiam tetapi berisi, jujur dan

berani menentang sesuatu yang tidak adil. Juga selama Windu

Janur dan kawan2 mengadili kesalahan Silugangga, Nirbada

tak ikut bicara. Makin membayangkan kemungkinan tentang

diri Nirbada, makin tergetarlah perasaan Windu Janur. Adakah

Nirbada tak setuju dengan tindakan mereka terhadap

Silugangga? Adakah pemuda itu mempunyai pendirian lain

atau mungkinkah dia juga …. ah, tak berani Windu Janur

membayangkan kemungkinan itu lebih lanjut.

Menghadapi delapan lawan, memang patih Dipa harus

mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, perhatian dan

ketajaman mata serta telinga untuk meniti setiap gerak yang

dihamburkan oleh kedelapan orang itu. Bukan mudah untuk

menguasai gerak dari delapan orang yang menyerang dari

delapan arah. Namun patih Dipa berusaha juga untuk

 

 

melaksanakan latihan semedhi selama bertahun-tahun ini.

Walaupun masih jauh dari sempurna tetapi ia telah berhasil

mencapai tingkat tertentu di mana apabila ia sudah

menghampakan dan menyatukan seluruh pikirannya ke alam

keheningan dapatlah ia mendengar suara yang betapapun

lembutnya macam daun kering yang berguguran ke tanah.

Dalam beberapa jurus, ia berhasil menghadapi mereka

dengan baik, bahkan dapat juga balas menyerang, mendesak

dan merubuhkan dua orang anakbuah mereka. Kebo Angunangun

yang masih menderita kesakitan pada lututnya, harus

mengerang-erang ketika patih Dipa mengulang pula,

menendang tepat ke arah mata lutut pemuda itu. Tidak terluka

yang berdarah melainkan terkilir urat tulangnya, namun

cukuplah membuat Kebo Angun-angun menyingkir sambil

berloncatan dengan sebelah kaki diangkat.

Kurangnya ketiga kawan itu tidaklah mengurangkan daya

serangan dari kelima anak2 Wukir Polaman. Liman Segara,

Kuda Sempalan dan Banyak Lindung adalah putera2 senopati

yang sejak kecil digulawentah dengan ilmu keprajuritan,

kedigdayaan dan jayakawijayan yang diperlukan selayak

putera seorang senopati. Kebalikannya, patih Dipa tidak

mendapat asuhan dari suatu guru tertentu melainkan

bimbingan dari beberapa orang sakti antara lain brahmana

Anuraga, pandita Padapaduka dan sedikit dari eyang

Wungkuk, sesepuh Gajah Kencana. Namun anak itu memiliki

kelebihan yang jarang dimiliki lain anak. Dikaruniai tenaga

pembawaan yang luar biasa kuatnya sehingga pada waktu

masih berumur belasan tahun, ia sudah mampu mengangkat

patung dewa Ganesya di candi desa Madan Teda. Memiliki

kecerdasan otak sehingga mudah untuk mempelajari sesuatu,

kemudian memiliki daya ketahanan atau keuletan dalam

belajar. Ilmu yang dimilikinya saat ini, adalah berkat ketekunan

dan keuletan serta kesungguhannya untuk berlatih menempa

diri. Misalnya dalam ilmu tata langkah yang diajarkan oleh

 

 

brahmana Anuraga, ia berhasil mencapai suatu tataran yang

mengejutkan, dimana apabila ia memainkannya maka seolah

dirinya terpecah dalam beberapa bayangan. Ilmu Lembusekilan

yang dipelajarinya dari pandita Padapaduka, pun

mencapai kemajuan yang menakjubkan. Dalam ilmu Prana,

sumber yang menjadi dasar dari pemusatan pikiran dan

penghimpunan tenaga, makin meningkat tinggi jua.

Apabila ketiga putera senopati Daha- Jayakatwang itu

tidak memliki tata kelahi yang tinggi dan kelincahan yang

hebat, tentulah mereka sudah menderita kekalahan. Karena

dengan ilmu Lembu sekilan itu, pukulan anak2 Wukir Polaman

itu selalu tak mencapai sasarannya, kemudian mereka harus

loncat menghindar atau berkelit ke samping karena terancam

oleh tinju patih itu. Diantara ketiga putera senopati itu, Banyak

Lindung memiliki ilmu kebal yang tahan pukulan, bahkan

tabasan senjata tajam. Berulang kali ia seolah memberikan

tubuhnya dihunjam pukulan patih Dipa. Dalam hal itu memang

ia tak menderita luka tetapi getar2 pukulan Dipa yang

bertenaga kuat itu terasa sampai mendebur keras jantungnya.

Akhirnya kedua belah fihak sama menyadari bahwa

pertempuran telah berlangsung lama. Harus lekas ditutup

dengan suatu penyelesaian atau mereka akan menderita

kehabisan tenaga. Patih Dipa memang memiliki daya tahan

dan napas yang panjang tetapi karena harus menghadapi lima

lawan dengan tiga diantaranya merupakan lawan2 yang

tangguh, timbullah titik2 kecemasan apabila dirinya kehabisan

tenaga dan tertangkap oleh mereka. Ia menyadari bahwa

berhadapan dengan para muda Wukir Polaman dari jenis

kelompok yang dipimpin Windu Janur, ia tak boleh mengharap

kebijaksanaan mereka. Mereka tentu akan membunuhnya. Ia

heran mengapa brahmana Kendang Gumulung yang

ditolongnya itu, tetap berpeluk tangan saja. Tetapi secepat itu

pula ia harus menghapus titik2 harapan untuk mendapat

 

 

bantuan brahmana itu. Brahmana itu sudah menyarankan

pendiriannya dengan tegas.

Diam2 kecemasan patih Dipa itu makin berkembang,

menghimpun dan menggunduk menjadi suatu rasa

penyesalan terhadap dirinya. Bukan karena takut mati, bukan

pula karena jeri menghadapi siksaan dan hinaan orang2 Wukir

Polaman sebagaimana dahulu pernah ia derita ketika

tubuhnya diikat pada kuda yang dilepaskan lari membinal.

Tetapi kini keadaan dirinya berbeda. Dulu ia hanya seorang

kelana, matipun hanya suatu peristiwa macam daun kering

yang gugur ke tanah. Tiada bersuara, tiada menarik perhatian

orang. Tetapi sekarang dia seorang patih dari bagian kerajaan

Majapahit. Kematiannya akan menimbulkan kegemparan.

Mungkin kerajaan Daha-Majapahit akan merasa kehilangan

seorang narapraja yang setya, mungkin pula rakyat akan

merasa kehilangan seorang patih yang memperhatikan

kepentingan mereka. Tetapi yang jelas, ia sendiri yang

terutama menyesal dan menangis. Menyesal bukan karena

kehilangan jiwa, kehilangan pangkat dan kedudukan. Tetapi

menyesal karena tak dapat memenuhi kewajiban yang telah

dipercayakan kepada dirinya. Menangis bukan karena takut

menghadapi kematian yang penuh siksa dari orang2 Wukir

Polaman, melainkan karena tak dapat melanjutkan

pengabdiannya kepada negara dan rakyat. Menyesal dan

menangis karena kematiannya itu adalah akibat dari

perbuatannya sendiri yang mulai dihinggapi oleh rasa

kesombongan, rasa membanggakan diri, rasa memandang

rendah pada bahaya, mengagulkan kedigdayaannya.

Bukankah sebagai seorang patih, ia harus membawa

pengawal untuk perlindungan setiap kemungkinan yang

membahayakan dirinya? Tidakkah kesemuanya itu ia abaikan

sehingga seorang diri ia berani menghadapi serombongan

orang2 Wukir Polaman? Bukankah tindakan itu karena

 

 

dipengaruhi oleh rasa sombong diri dan rasa membanggakan

kedigdayaannya?

“Jangan bersikap sombong, Dipa. Karena kesombongan

itu hanya mengundang musuh dan membawa kehancuran

dirimu” demikian pesan brahmana Anuraga kepadanya.

Tetapi kesemuanya itu sudah terlanjur. Saat itu ia harus

berhadapan dengan anak2 muda Wukir Polaman. Penyesalan

tiada berguna, takkan merobah keadaan. Untuk menebus

kesalahan, ia harus bertindak memperbaiki. Dan tindakan itu

hanyalah dengan perbuatan mengalahkan lawannya. Rasa

bersalah, kesadaran untuk menebus kesalahan itu, telah

membangkitkan semangat juang Dipa. Ia harus cepat

menyelesaikan pertempuran itu.

Pikiran semacam itu kebetulan pula dimiliki juga oleh

Banyak Lindung. Ia masih muda dan besar keinginan. Apabila

ia dapat menangkap patih itu, bukankah pimpinan akan

memberi pijian dan penghargaan kepadanya ? Terdorong oleh

nafsu keinginan itulah maka iapun memutuskan untuk

melakukan suatu gerak siasat agar dapat menangkap lawan.

Kesempatan itupun tiba. Setelah menghindar dari

terjangan Liman Segara, patih Dipa menyelimpat ke belakang

Banyak Lindung dan secepat kilat ayunkan tangannya. Banyak

Lindung diam2 girang dalam hati. Ia menduga lawan tentu

memukulnya. Iapun hanya mengisar sedikit seolah memberi

kesan kepada lawan bahwa ia terlambat menyambut pukulan.

Ia sudah memperhitungkan bahwa pukulan patih itu dapat

ditahan dengan ilmu kebalnya, kemudian pada saat pukulan

tiba, ia hendak menyerempaki dengan suatu gerak berputar

seraya menerkam pinggang lalu lalu mengunci tubuh lawan

dengan jepitan tangan sekencang-kencangnya. Demikian

siasat yang tengah dirancangnya.

 

 

Tetapi ternyata patih Dipa pun melakukan rencananya

juga. Setelah melancarkan pukulan beberapa kali, ia tahu

bahwa tubuh Banyak Lindung itu keras sekali. Ia duga

anakmuda itu tentu memiliki ilmu lindung. Maka tak mau ia

memukul melainkan mencengkeram leher orang, lalu

diserempaki dengan tangan kiri mencengkeram ikat pinggang

bagian belakang, dengan kerahkan segenap tenaga ia

mengangkat tubuh Banyak lindung ke atas lalu diputar-putar

bagaikan sebuah baling-baling.

Banyak Lindung terkejut namun sudah terlambat. Ia

merasa tubuhnya terangkat, hendak meronta tenaganya

serasa merana dan sebelum sempat berbuat apa2, tubuhnya

diayun dan diputar-putar deras sekali. Ia merasa darahnya

bergolak keras, sekeliling penjuru alam serasa berputar, langit

bagaikan menelungkup ke bawah dan makin ke bawah, gelap

sekeliling jagad dan akhirnya tak tahu apa yang terjadi lagi.

Windu Janur, Liman Segara, Kuda Sempalan dan bahkan

Kebo Angun-angun yang masih mendeprok agak jauh,

terbeliak menyaksikan peristiwa itu. Pecahlah nyali kedua

anakbuah mereka ketika patih Dipa dengan gagah perkasa

memutar-mutar tubuh Banyak Lindung untuk menghantam

mereka. Mereka lari pontang panting. Demikian pula Windu

Janur, Liman Segara dan Kuda Sempalan terpaksa harus

menyingkir jauh ketika patih Dipa menghampiri.

“Jangan dibunuh!” tiba2 brahmana Kendang Gumulung

loncat menghampiri seraya berseru keras. Demikian pula

Nirbada yang sejak tadi tak ikut bertempur, saat itu segera

melangkah maju dan membentak. ”Turunkan!” Ia ayunkan

tangannya menghantam patih Dipa. Tetapi dengan sigap

sekali patih Dipa loncat ke samping lalu ayunkan tubuh

Banyak Lindung menghantam Nirbada. Putera senopati

Pangelet itu terkejut sekali menyaksikan tenaga patih Dipa

yang luar biasa. Terutama ketika melihat wajah patih itu

 

 

merekahkan cahaya bagai dewa Ganesya, ia menjerit dan

loncat ke belakang.

“Batara Ganesya ….” gumamnya merengah napas.

Brahmana Kendang Gumulung tertegun namun pada lain

kejab, ia loncat ke hadapan patih Dipa tegak memaserahkan

diri, kedua mata dipejamkan, tangan menjulai ke bawah

”Bunuhlah aku, ki patih!”

Patih Dipa kehilangan dirinya. Ia merasa seperti tersusup

oleh suatu tenaga gaib seperti dahulu di kala ia mengangkat

patung Ganesya. Ia sendiri tak menyadari hal itu. Tetapi selalu

apabila sedang menumpahkan kemarahan yang meledakledak,

maka ia tentu merasa mendapat tenaga kekuatan yang

gaib, entah apa namanya dan dari mana asalnya, ia tak tahu

dan tak sadar.

Demikian seperti yang dialami saat itu. Serasa ia merasa

seperti bukan dininya, ia merasa seperti tercengkam oleh

suatu kekuatan gaib yang aneh. Tubuh Banyak Lindung itu tak

terasa berat dan benda2 di sekeliling serasa kecil dalam

pandang matanya, bahkan puncak bukit di balik lembah

tampak mengecil sehingga dapatlah ia melongok puncaknya,

serasa ia lebih tinggi dari puncak itu. Adakah dirinya berobah

menjadi seorang raksasa …..

Tiba2 keheranannya itu pecah berhamburan ketika

terlanda setiup angin tajam yang bernada kata2, ”Ki patih,

bunuhlah Kendang Gumulung ….”

Ia tersentak dari segala perasaan kehilangan diri, kata2 itu

bagaikan dering gemerincing pedang saling beradu, tajam dan

menyusup selaput telinga terus membentur lubuk hati,

berdenting menebarkan kabut kehampaan, bertebaran dan

mengendap lalu akhirnya timbul percik2 terang yang menyinari

kesadaran pikirannya. Serentak ia terkejut ketika melihat

sesosok tubuh dalam pakaian brahmana berdiri tegak di

 

 

hadapannya dalam sikap yang amat paserah. Itulah brahmana

Kendang Gumulung yang ditolongnya tadi. Adakah ia akan

menghancurkan juga orang yang baru saja diselamatkan

jiwanya? Tidak! Tetapi saat itu tubuh Banyak Lindung sudah

terlanjur diayun dan jarak dengan brahmana Kendang

Gumulung sedemikian dekat sekali. ”Brahmana,

mengendaplah ke bawah …….” ia berteriak dan melontarkan

tubuh Banyak Lindung ke udara.

Suatu peristiwa yang mendebarkan telah berlangsung.

Brahmana Kendang Gumulung menurut perintah, cepat ia

mengendap ke bawah. Mukanya tertampar hambur angin

deras ketika tubuh Banyak Lindung melontar ke udara.

Terpaksa ia harus loncat mundur.

Demikianlah cara yang dilakukan patih Dipa untuk

menyelamatkan brahmana itu tergempur tubuh Banyak

Lindung. Setelah memperingatkan supaya brahmana itu

mengendap ke bawah, ia terus melayangkan tubuh Banyak

Lindung ke udara.

Anak2 Wukir Polaman memekik kaget. Tak pernah mereka

menduga bahwa patih Daha memiliki kekuatan yang

sedemikian hebat dan tak pernah pula mereka menduga

bahwa Banyak Lindung masih dapat hidup apabila jatuh ke

tanah yang penuh batu cadas keras.

Nagandini kemati-matian membela brahmana Kendang

Gumulung, menghamburkan namun makian yang tajam

kepada anak2 Wukir Polaman, bahkan bertempur dengan

mereka. Tetapi betapapun halnya, mereka adalah kawankawannya,

kawan dalam pergaulan dan perjuangan, sesama

kawan anggauta Wukir Polaman pula. Melihat Banyak Lindung

terancam kematian yang sengeri itu, serentak timbullah

kemarahannya terhadap patih Dipa. Rasa setya-kawan

serentak mencengkam pikirannya. Cepat ia mencabut patrem,

 

 

loncat menikam punggung patih Dipa. ”Patih Daha, engkau

kejam sekali ….”

Brahmana Kendang Gumulung terkejut. Dua kali sudah

patih Daha itu telah berusaha untuk menyelamatkan jiwanya.

Dilihatnya juga saat itu patih Dipa tengah menengadah

memandang ke atas, memperhatikan luncur tubuh Banyak

Lindung. Ia duga patih itu tentu akan berusaha untuk

menolong Banyak Lindung. Maka betapalah kejutnya ketika

melihat Nagandini menyerang dengan patrem. ”Nagandini,

jangan …” cepat ia berteriak. Ia hendak bergerak mencegah

tetapi karena jaraknya agak jauh, tak mungkin berhasil. Maka

ia hanya tegak membelalak dicengkam longong.

Saat itu patih Dipa tengah bersiap untuk menyongsong

tubuh Banyak Lindung yang meluncur ke bawah. Tiada

maksud setitikpun hendak membunuh Banyak Lindung. Dan

ketika tubuh pemuda itu makin menurun ke bawah, cepat ia

songsongkan kedua tangannya untuk menyambut. Tetapi

alangkah kejutnya ketika mendengar teriak Nagandini, lebih

terkejut pula ketika ia mendengar desir angin tajam menusuk

punggungnya. Cepat ia menyadari bahwa gadis Nagandini

tentu menyerangnya dengan senjata tajam. Namun saat itu

tubuh Banyak Lindung sudah sepenggapai tangan, apabila ia

harus menarik kembali tangannya dan loncat menghindar,

tentulah Banyak Lindung yang akan menjadi sasaran senjata

Nagandini, paling tidak pemuda itu tentu jatuh terbanting ke

tanah dengan keras.

Dalam detik2 yang membahayakan jiwanya dan jiwa

banyak Lindung itu, timbullah tekad patih Dipa untuk

berkorban. Sekali ia sudah memutuskan untuk menolong

Banyak Lindung, haruslah ia laksanakan sampai selesai.

Sedangkan bagaimana dirinya ia tak menghiraukan lagi. Benar

apabila ia menghindar dan Banyak Lindung termakan senjata

Nagandini, orang Wukir Polaman tentu tidak menyalahkan

 

 

melainkan menyalahkan Nagandini. Tetapi dengan begitu,

jelas orang2 Wukir Polaman akan makin marah kepada

Nagandini, makin mendendam kepada brahmana Kendang

Gumulung. Ia tak menghendaki begitu. Walaupun orang2

Wukir Polaman itu memusuhi Daha-Majapahit. namun tidaklah

ia akan menggunakan cara yang keras dan kejam untuk

membasmi mereka. Buktinya sudah sejak bertahun-tahun

mendiang patih Arya Tilam menggunakan tangan besi untuk

menghancurkan mereka, mereka tetap tumbuh bahkan makin

bersatu kokoh untuk melanjutkan perjuangannya. Tidak, ia

akan menggunakan cara lain. Cara untuk menundukkan hati

mereka, menyadarkan pikiran mereka dan menghapus

dendam mereka.

Dengan pemikiran2 itu, patih Dipa memikul keharusan

untuk menyelamatkan tiga jiwa. Jiwanya sendiri, jiwa Banyak

Lindung dan jiwa Nagandini yang tentu akan menjadi tumpuan

kemarahan kawan-kawannya dari Wukir Polaman itu.

Dia harus berkorban agar Banyak Lindung tertolong dan

Nagandini tidak dibenci kawan-kawannya. Maka selelah bulat

tekadnya, tak mau ia beringsut dari tempat ia berdiri.

Disambutinya tubuh Banyak Lindung, kemudian ia beringsut

memutar tubuh menghadapi penyerangnya. Dengan gerak itu

ia bermaksud untuk menghindari tusukan penyerangnya.

Ataupun kalau tak mungkin, sekurang-kurangnya hanya

menyerempet lambungnya.

Tetapi ternyata perhitungannya itu meleset. Nagandini

sudah berada di belakangnya ketika ia menyanggapi tubuh

Banyak Lindung dan ketika ia berputar tubuh, patrem

Nagandini pun sudah meluncur ke muka, karena berputar

tubuh maka yang kena bukan punggung melainkan perutnva,

cret ….

“Nagandini ….. !” serentak memekiklah brahmana Kendang

Gumulung ketika menyaksikan hal itu. Serentak iapun loncat

 

 

untuk memberi pertolongan kepada patih Dipa. Tetapi ketika

tiba di samping Nagandini brahmana itu terhenti dan tegak

seperti patung.

Apa yang dilihat brahmana itu benar2 tak dapat diduganya,

hampir ia tak percaya pada pandang matanya. Nagandini

terlongong-longong seperti tercengkam pesona, tangannya

masih mengacungkan patrem ke muka tetapi patrem itu hanya

tinggal sejari tangan panjangnya. Ujungnya telah kutung dan

jatuh ke tanah. ”Engkau …. engkau ….”

Saat itu patih Dipa pun sudah meletakkan tubuh Banyak

Lindung ke tanah. Dengan wajah tenang mengulum senyum

kecil, ia berkata, ”Aku tak menderita apa2. Tetapi mengapa

engkau hendak membunuh aku?”

Nagandini tersipu-sipu merah mukanya. ”Karena untuk

menghindarkan brahmana itu dari terbentur tubuh anakmuda

ini, terpaksa kulontarkan anak itu ke udara. Aku tidak

bermaksud membunuhnya, nini, lihatlah dia hanya pingsan.

Nanti tentu akan sadar lagi”

“O, maafkanlah kami, ki patih” tiba2 brahmana Kendang

Gumulung mendahului meminta maaf atas kekhilafannya dan

tindakan Nagandini yang terburu nafsu.

“Ah, soal sekecil itu bagaimana layak aku menerima

ucapan ki brahmana” kata patih Dipa. Tiba2 indera

pendengarannya yang tajam segera dapat menangkap suara

berisik yang menyelubungi sekeliling lembah. Cepat ia

mengangkat muka dan memandang ke sekeliling. Ternyata

Windu Janur, Kebo Angun-angun, Liman Segara, Nirbada

berdiri tegak tak jauh dari tempatnya. Bukan hanya mereka

saja, pun saat itu berpuluh lelaki muda yang membekal

senjata berjajar mengelilingi tempat itu.

Patih Dipa mengernyit dahi. Ia tak tahu mengapa telah

muncul sekian banyak orang bersama Windu Janur. Tetapi

 

 

cepatlah ia cenderung untuk menduga, menilik sikap dan

dandanan mereka, tentulah mereka kawan-kawan Windu

Janur atau anakbuah Wukir Polaman. Kemudian ia

membayangkan kemungkinan lebih lanjut bahwa jika benar

mereka itu anak buah Wukir Polaman, tentulah bala bantuan

yang akan membantu Windu Janur untuk menangkap dirinya

dan brahmana Kendang Gumulung. Serentak patih Dipa

berkemas-kemas.

Apa yang diduga patih Dipa itu memang benar. Anggora,

putera senopati Kampinis, yang sejak perbantahan dan

pertempuran berlangsung, ternyata mempunyai rencana

sendiri. Diam2 ia meloloskan diri untuk mengundang kawankawannya.

Ia kuatir Windu Janur dan rombongannya tak dapat

menangkap brahmana Kendang Gumulung.

Rupanya brahmana Kendang Gumulung cepat dapat

merasakan suatu gelagat yang tak baik. Ia menghampiri ke

hadapan Windu Janur, berhenti enam langkah di hadapannya,

”Windu Janur, apakah maksudmu membawa kawan2 kemari?

Apakah hendak menangkap aku?”

“Hm” desuh Windu Janur dengan nada yang sukar

dimengerti. Bukan suatu pengakuan, bukan pula suatu

penyangkalan. Memang dalam hati kecilnya sedang tumbuh

suatu pergolakan. Bahwa Nagandini mendamprat dan

menusuk patih Dipa karena marah atas tindakan patih yang

dianggapnya kejam hendak membunuh Banyak Lindung, telah

disaksikannya sendiri. Dan dengan mata kepala sendiri

dilihatnya pula betapa patrem Nagandini yang menusuk perut

patih Dipa itu telah patah menjadi dua. Hal itulah yang

mengejutkan dan menggetarkan hatinya. Adakah patih Daha

itu benar2 seorang yang sakti mandraguna sehingga tak

mempan ditusuk senjata? Jika benar, tentulah tak mudah

untuk menangkapnya, sekalipun ia kerahkan seluruh kawan2

 

 

yang berada di situ. Hai itulah yang menyebabkan ia

“Apakah Banyak Lindung mati?” akhirnya ia bertanya juga.

“Tidak” sahut brahmana Kendang Gumulung, ”sedikitpun

dia tak terluka. Dia hanya pingsan karena diputar putar oleh ki

patih”

“Hm” kembali Windu Janur hanya mendesuh karena

kehilangan arah bagaimana akan mengambil keputusan.

“Windu Janur” kata brahmana Kendang Gumulung pula,

”aku hendak mengajukan permintaan kepadamu. Maukah

engkau mempertimbangkan?”

“Katakan” jawab Windu Janur singkat.

“Aku bersedia ikut engkau untuk menghadap pimpinan dan

mempertanggung jawabkan semua yang dituduhkan

kepadaku. Tetapi janganlah engkau ganggu ki patih itu.

Biarlah dia pulang ke pura”

Windu Janur mengerut dahi. ”Apa sebab engkau

mengajukan permintaan begitu?”

“Pertama, aku telah ditolongnya. Dan kedua, dia tak

bermaksud memusuhi Wukir Polaman”

“Apa buktinya?”

“Ia telah melantangkan pendiriannya dengan tegas, ia

telah mencanangkan fahamnya tentang kesatuan Majapahit,

iapun telah menyatakan pandangannya tentang perjuangan

dan pejuang. Dia tak mau membunuh Banyak Lindung …”

“Dan diapun menolong engkau” tukas Kebo Angun-angun

dengan cepat.

“Dalam landasan seorang ksatrya yang benci akan sifat2

kaum buto yang suka main kerubut” jawab ”brahmana

 

 

Kendang Gumulung. Kemudian ia melanjutkan kepada Windu

Janur, ”Windu Janur, apakah engkau dapat meluluskan

permintaanku?”

“Sudah umum bahwa harimau yang masuk perangkap

akan meraung-raung marah kepada manusia. Mengatakan

manusia itu licik karena menangkapnya dengan perangkap.

Tetapi manusia tetap mengatakan harimau itu harus dibunuh

karena membahayakan jwa manusia” sambut Kebo Angunangun

dengan kata bertamsil.

“Ki brahmana” tiba2 patih Dipa berseru seraya melangkah

maju ke muka Kendang Gumulung, ”terima kasih atas

kesediaan tuan membela diriku. Tetapi sia sialah tuan meratap

kasihan kepada mereka. Dan akupun tak memerlukan rasa

kasihan mereka, kebalikannya aku merasa kasihan kepada

mereka”

Kemudian tanpa menunggu jawaban brahmana Kendang

Gumulung, patih Daha terus berkata kepada Windu Janur dan

orang2 Wukir Polaman, ”Orang2 Wukir Polaman, tanpa tedeng

aling2 inilah aku, patih Daha yang mengemban tugas untuk

menjaga ketenangan dan keamanan telatah Daha,

mengayomi keselamatan dan kesejahteraan para kawula. Jika

kalian hendak menangkap aku, silahkan!”

Rupanya sudah habis kesabaran patih itu menghadapi

orang2 Wukir Polaman. Rupanya hanya dengan cara keras,

barulah orang2 itu dapat disadarkan. Ia menyadari pula bahwa

patrem Nagandini tadi tentu membentur pusaka Gada Inten

yang diselipkan dalam baju sehingga patrem itu putus. Dan

teringat akan pusaka itu timbullah nyali patih Dipa. ”Aku tidak

ingin bermusuhan, tetapi akupun tidak menolak permusuhan

dari mereka yang hendak memusuhi Daha. Aku mengulurkan

tangan persahabatan dengan Wukir Polaman untuk membina

kesejahteraan bumi Daha. Tetapi akupun siap mengangkat

tangan untuk membasmi mereka apabila mereka hendak

 

 

mengganggu keamanan Daha. Beginilah isi dadaku, terserah

kepada kalian!”

Orang2 Wukir Polaman terkesiap memandang sikap patih

itu dikala melantangkan ucapannya. Wajahnya seolah

memancarkan suatu cahaya kewibawaan yang sukar

ditentang, sinar matanya berkilat-kilat menerkam uluhati dan

mulutnya mengerutkan suatu pendirian yang kokoh. Suasana

hening seketika, seolah semangat orang2 Wukir Polaman itu

terhisap oleh keperibadian patih Dipa yang mempesonakan.

Windu Janur gelisah seperti terdampar ditengah

samudera. Berhenti akan mati tenggelam, melanjut harus

merenangi lautan yang jauh dari tepi. Jika ia berkeras

memerintahkan anakbuahnya untuk menyergap patih Dipa,

tentu akan terjadi pertumpahan darah yang besar dengan

kemungkinan besar pula fihaknya akan menderita kekalahan,

kawan2 banyak yang menjadi korban. Namun untuk

melepaskan patih Daha itu, ia takut akan menerima hukuman

dari pimpinan dan cemohan dari anakbuahnya.

“Windu Janur” tiba2 brahmana Kendang Gumulung

berseru pula, ”jika engkau meluluskan permintaanku tadi, aku

bersedia menyerahkan diriku supaya dihadapkan kepada

pimpinan kita. Tetapi jika engkau menolak, Kendang

Gumulung takkan kepalang tanggung, karena sudah dituduh

berhianat, aku akan menjadi penghianat untuk membantu

patih Daha ini”

“Juga aku!” Nagandini melengking seraya tampil ke muka

dan tegak di samping Kendang Gumulung.

Terdengar berisik yang mengumandang di kalangan

rombongan orang2 Wukir Polaman. Suara berisik itu sirap

tiba-tiba ketika seorang pemuda muncul dan menyusup dari

belakang barisan, terus menghampiri Windu Janur, membisiki

 

 

beberapa patah kata. Tampak wajah Windu Janur berobah

agak pucat namun ia mengangguk juga.

Kemudian orang itu hendak menyelinap pergi lagi tetapi

tiba2 ia terkejut ketika mendengar suara orang berseru

memanggil namanya, ”Kakang Nagantara!”

Orang itnpun berpaling, ”Hai engkau Nagandini! Mengapa

engkau di sini?”

“Aku hendak mengunjungi makam rama, kakang” kata

Nagandini kepada pemuda itu yang bukan lain adalah

kakangnya yang kecil, Nagantara.

Melihat Nagantara, Kebo Angun-angun serentak berobah

cahaya mukanya. Nagantara merupakan kawan dalam

perjuangan, lawan dalam asmara. Kentari, adik Windu Janur,

lebih cenderung memilih Nagantara dari pada dirinya. Saat itu

ia melihat suatu kesempatan untuk menyudutkan Nagantara

dalam kesulitan. ”Nagantara, nini Nagandini mengadakan

pertemuan dengan Silugangga di lembah ini. Engkau tentu

masih ingat siapa Silugangga, bukan?”

Kelancangan mulut Kebo Angun-angun menimbulkan

kemarahan Nagandini. ”Kakang Angun-angun, kakang

Nagantara masih belum rabun penglihatannya, masih tahu

bahwa kakang Silugangga berada di sini. Bukankah engkau

bermaksud hendak mempersulit kakang Nagantara? Tidak!

Soal kakang Silugangga sepenuhnya menjadi tanggung

jawabku, kakang Nagantara tak tahu menahu soal itu. Dia

sibuk merawat Kentari yang sakit”

Merah wajah Kebo Angun angun mendengar teguran

Nagandini yang tajam itu. Semua kawan-kawan tahu

hubungan antara Kebo Angun-angun, Kentari dan Nagantara.

Rupanya Windu Janur tak menghendaki timbul

perbantahan yang tajam lagi. Ia segera memberi isarat kepada

 

 

Nigantara supaya melanjutkan tugasnya. Kemudian setelah

Nagantara meninggalkan tempat itu maka Windu Janur

berseru kepada patih Dipa, ”Ki patih, jangan engkau terlalu

meremehkan Wukir Polaman. Dan hendaknya jangan pula

engkau memiliki anggapan bahwa orang Wukir Polaman takut

kepadamu. Adakah engkau kira bahwa berpuluh-puluh warga

Wukir Polaman yang berada di sini tak mampu untuk

menandingi kedigdayaanmu?”

“Jauh sekali dari maksudku dalam anggapan itu” seru patih

Dipa, ”seperti telah kukatakan aku menghormati sifat dan

pendirian Wukir Polaman, walaupun aku tak setuju”

“Demikian pula pendirian kami” balas Windu Janur ”Wukir

Polaman menerima apa yang engkau canangkan panjang

lebar tadi. Tetapi hal itu bukan berarti kami tentu menyetujui.

Dan selama akan kami sampaikan usulmu itu kepada

pimpinan Wukir Polaman, kamipun akan memegang teguh

sifat keksatryaan. Kali ini engkau boleh kembali ke pura Daha,

takkan kami ganggu. Tetapi apabila kelak pada lain

kesempatan kita bertemu lagi, kami akan memperlakukan

engkau sebagai seorang mentri musuh yang harus ditangkap

ataupun dibunuh”

“Baik” sahut patih Dipa. Sebenarnya iapun tak ingin

membentur dengan kekerasan pada orang2 Wukir Polaman.

Karena kekerasan itu, bukan suatu cara yang sempurna untuk

menyelesaikan persoalan, kecuali memang sudah tiada jalan

lain. Lalu bertanya, ”Bagaimana dengan ki brahmana ini?”

“Itu urusan Wukir Polaman, jangan engkau ikut

mencampuri hak kami!” seru Windu Janur.

Brahmana Kendang Gumulung cepat berpaling kepada

patih Dipa. ”Ki patih, kebaikan tuan telah kubalas. Silahkan

tuan kembali ke pura. Soal diriku, harap jangan tuan

cemaskan. Aku tetap seorang pejuang Daha, baik diterima

 

 

kembali atau ditolak oleh Wukir Polaman. Mungkin pada lain

kesempatan, kita akan berdiri di fihak yang bertentangan”

“Ah, soal itu dapat kumaklumi” sahut patih Dipa ”yang

penting bagaimanakah diri tuan saat ini”

“Ki patih” sahut brahmana Kendang Gumulung ”sekali

kuminta janganlah tuan meresahkan diriku. Aku anggauta

Wukir Polaman, aku akan menghadap pimpinan untuk

mempertanggung jawabkan semua tuduhan yang menimpa

diriku”

“Tetapi mereka tentu akan mencelakaimu, ki brahmana”

seru patih Dipa.

Belum Kendang Gumulung sempat menjawab, Nagandini

pun sudah mendahului, ”Harap ki patih jangan mencemaskan.

Aku akan menyertai kakang brahmana menghadap pimpinan

kami”

Patih Dipa mengangguk. Diam2 ia terkesan pada sikap

Nagandini yang begitu amat setya kepada pemuda yang

dikasihinya. Kehampaan perasaan hatinya akan kasih seorang

wanita, hampir lenyapnya kepercayaan atas kesetyaan wanita

akibat dari apa yang telah dideritanya selama ini, tergetar

kembali. Adakah ia salah menilai kesetyaan seorang wanita?

Sikap Nagandini terasa bagai embun yang mencurah pada

kelopak bunga asmara yang telah melayu dalam hatinya.

Tetapi cepat ia menghapus kenangan itu karena tak ingin akar

yang sudah layu itu akan tumbuh kembali sehingga

menghisap air yang kini ia peruntukkan untuk menyuburkan

sebuah tanaman baru dalam hati sanubarinya. Bukan

tanaman pohon bunga yang akan memekarkan kuntum bunga

cantik dan harum, melainkan batang pohon jati yang keras dan

berguna kepada kehidupan negara, rakyat dan manusia.

“Tetapi bagaimana nini kalau ki brahmana akan dibunuh

mereka?” masih ia menyatakan kecemasannya.

 

 

Kali ini brahmana Kendang Gumulunglah yang mendahului

Nagandini memberi jawaban, ”Ki patih, telah kukatakan bahwa

aku adalah anggauta Wukir Polaman. Jika aku sampai

dihukum mati, aku puas mati ditangan kawan kawanku sendiri.

Tetapi kupercaya keadilan dan kebenaranlah yang akhirnya

akan berbicara”

Sebenarnya patih Dipa merasa heran atas dirinya

mengapa begitu besar perhatiannya kepada brahmana

Kendang Gumulung. Walaupun ia tahu bahwa brahmana itu

sesuugguhnya bernama Silugangga dan putera dari Sagara

Wilotan salah seorang senopati kerajaan Daha-Jayakatwang

dahulu, tahu pula bahwa Silugangga itu seorang anggota

Wukir Polaman yang menentang kerajaan Daha-Majapahit,

namun ia merasa kasihan kepada brahmana itu. Setiap

peristiwa yang tak adil, cepat mengetuk pintu hatinya untuk

segera melangkah keluar dan membela yang benar. Ia tak

memandang adakah peristiwa itu terjadi di kalangan kawan2

sendiri ataupun dalam kalangan lawan. Namun setelah

mendapat jawaban dari brahmana Kendang Gumulung dan

penegasan dari Nagandini, terpaksa ia harus melepaskan

keinginannya untuk mencampuri urusan mereka lebih lanjut.

“Baiklah, jika ki brahmana mengatakan begitu” akhirnya ia

menarik diri. Kemudian ia berpaling pula kepada Windu Janur

dan rombongan orang Wukir Polaman, ”Orang2 Wukir

Polaman, brahmana ini, tidak kukenal dan tidak ada hubungan

apa2 dengan diriku. Hanya secara kebetulan sajalah karena

melihat dia sedang dikeroyok oleh beberapa orang Wukir

Polaman maka aku membelanya. Kini dia menyatakan rela

menyerahkan diri menghadap pimpinan kalian. Aku tak berhak

mencampuri urusan kalian. Hanya dalam landasan sebagai

seorang pejuang, seorang ksatrya dan seorang manusia yang

menjunjung keadilan dan kebenaran, ingin kutitipkan sebuah

harapan kepada kalian. Adililah brahmana ini seadil adilnya

atas dasar bukti2 yang nyata. Tetapi menurut wawasanku,

 

 

seorang patih dari kerajaan yang kalian musuhi, dia tak layak

berhianat. Dia seorang pejuang yang setya”

Patih Dipa berhenti sejenak untuk menyelidiki kesan pada

sikap2 orang Wukir Polaman, kemudian melanjutkan pula,

”Dan sekali lagi kuulurkan tanganku kepada Wukir Polaman.

Marilah kita bersahabat. Jangan kita mengabdikan diri untuk

berjuang pada hal2 yang telah lampau. Kita hidup bukan untuk

mengenang yang lampau, bukan pula mengembalikan masa

yang telah tiada. Tetapi marilah kita berjuang untuk

menegakkan masa kini, membangun kehidupan masa kini dan

berjuang untuk masa kini. Lihatlah betapa gemilang sang

surya menyinari bumi kita, jangan kita rusakkan bumi yang

akan merekah subur di bawah sinar sang surya itu. Tetapi

marilah kita mengusahakannya, menanaminya dan

membangunnya agar menjadi suatu negara yang besar daa

jaya, untuk warisan dan kebanggaan kepada anak cucu kita

yang akan datang. Nah, sampai jumpa, kawan2 Wukir

Polaman”

Tanpa menunggu jawaban mereka, patih Dipa ayunkan

langkah dengan kepala menegak memandang ke muka.

Berpuluh puluh pasang mata orang Wukir Polaman mengikuti

derap langkah patih Dipa yang tegap. Debur langkah

meningkah bumi, seolah debur genderang yang membahana

dalam hati sanubari para anakbuah Wukir Polaman. Mereka

merasa bahwa apa yang dilantangkan patih itu memang

benar. Tetapi setiap orang malu untuk menyatakan hal itu.

Rasa malu itu datang akibat bayang2 rasa takut, Takut apabila

mengatakan hal itu, mereka akan dianggap sudah berobah

kiblat, paling tidak tentu dicemohkan oleh kawan kawannya.

Karena masing2 dibayang-bayangi oleh perasaan semacam

itu maka tiada seorangpun yang berani mengutarakannya

kecuali hanya memendam perasaan itu dalam hati

 

 

Memang untuk menyatakan sesuatu yang berbeda dengan

anggapan orang banyak, memerlukan suatu keberanian yang

tersendiri. Hanya orang yang benar2 bebas dari pamrih, akan

dapat memiliki keberanian itu. Pamrih untuk menyelamatkan

diri dari kemarahan, tuduhan dan ejekan orang.

0o-dwkz-mch-o0

II

Tindakan yang telah dilakukan patih Dipa untuk

menghadapi orang2 Wukir Polaman, tidak diketahui Rani

Daha, tidak pula oleh segenap mentri narapraja keranian

Daha. Tetapi tindakan itu telah menimbulkan kegemparan di

kalangan Wukir Polaman.

Ketika rombongan anakbuah Wukir Polaman dibawah

pimpinan Windu Janur menghadap pimpinan, mereka heran

disertai rasa kejut ketika melihat perobahan sikap pimpinan

Wukir Polaman. Berpesan pimpinan itu kepada sekalian

anggauta Wukir Polaman. ”Jangan kalian bertindak sendiri,

sebelum mendapat perintahku. Patih Daha yang sekarang ini,

walaupun masih muda, tetapi merupakan seorang lawan yang

berat bagi kita. Setiap tindakan yang tidak diperhitungkan,

hanya akan membawa kehancuran bagi Wukir Polaman”

Terkejut sekalian anakbuah Wukir Polaman mendengar

kata2 pimpinan mereka. Belum pernah selama ini mereka

mendengar kata2 semacam itu meluncur keluar dari mulut

pimpinan mereka.

Adat kebiasaannya, pemimpin itu tentu berapi-api

membangkitkan semangat para anggauta Wukir Polaman

menelanjangi keburukan dan kelemahan mentri, senopati dan

narapraja Majapahit. Kemudian memberi petunjuk-petunjuk

penting untuk melakukan rencana yang telah dipersiapkan

 

 

dalam rangka mengacau pemerintahan Majapahit. Sepanjang

pengetahuan mereka, baru pertama kali itu pimpinan mereka

menyatakan suatu penilaian yang tinggi terhadap seorang

mentri kerajaan Majapahit.

Memang anakbuah Wukir Polaman yang berada di

Lembah Trini Panti tak mengetahui apa yang sebenarnya telah

terjadi dalam markas. Dan mengapa pula tiba2 pimpinan

mereka mengunjuk perobahan sikap.

Satu-satunya yang mengetahui persoalan itu hanyalah

Nagantara seorang. Saat itu ia sedang menuju ke markas

untuk menghadap pimpinan. Sekonyong-konyong di sebuah

gerumbul di tempat yang sepi, dia dihadang oleh seorang

brahmana muda, tampan dan berwibawa.

“Apakah maksud tuan menghadang perjalanan hamba, ki

brahmana” seru Nagantara dengan sikap menghormat selayak

ia harus memperlakukan seorang brahmana.

“Anakmuda” seru brahmana itu dengan tenang, ”kutahu

bahwa engkau seorang warga Wukir Polaman” ia berhenti

sejenak, melihat kesan pada wajah Nagantara yang tampak

terkejut, ”tetapi janganlah engkau cemas. Wukir Polaman

sebuah himpunan putera putera bekas mentri senopati Daha

yang tetap setya kepada tanah airnya”

Wajah Nagantara tampak cerah. ”Adakah ki brahmana

tinggal di telatah Daha?”

“Aku seorang brahmana pengembara. Tempatku tiada

menentu, dimanapun kuanggap sebagai tempatku” jawab

brahmana itu, ”tempat bukan menjadi dasar untuk

menimbulkan pertentangan. Karena Daha, Singasari dan

Majapahit itu pada hakekatnya adalah bumi nuswantara kita.”

 

 

Nagantara menatap brahmana itu lekat2. Cepat ia

mendapat kesan bahwa ia sedang berhadapan dengan

seorang brahmana yang tajam bicara, luas pandangan

“Lalu apakah maksud tuan mencegah perjalananku?”

tanyanya pula.

“Aku mempunyai sedikit kepentingan yang memerlukan

bantuanmu, sanggupkah engkau menolongku, anakmuda?”

tanya brahmana itu.

“O” desuh Nagantara, ”apabila hal itu terjangkau pada

kemampuanku, sudah tentu aku akan melakukannya dengan

senang hati”

Brahmana itu tertawa, ”Benar” ia mengangguk, “memang

demikianlah pada umumnya orang akan mengatakan

manakala menghadapi permintaan tolong orang. Tetapi,

memang ganjil”

“Ganjil?” Nagantara agak terbeliak lalu menegas,

”salahkah jawaban semacam itu?”

“Ganjil bukan berarti salah. Aku tak mengatakan salah,

melainkan ganjil” kata brahmana itu masih mengulum senyum.

“Lalu bagaimanakah yang layak?”

“Menyebut tentang kemampuan, sukar diperoleh garis

lingkarannya. Orang lain mampu, tetapi mungkin ia tak

mampu. Itu mengenai soal tenaga. Belum apabila tertumbuk

pada suatu rasa dalam ikatan persahabatan, kekeluargaan

dan tugas. Jelas kemampuan orang itu berbeda satu sama

lain. Dia bisa, tetapi bisa tidak. Dengan demikian sekuat

kemampuan itu bukan suatu kesediaan yang menjamin.

Tidakkah demikian, anakmuda?”

Tersipu sipu merah muka Nagantara. Tak pernah ia

memikirkan rangkaian kata2 yang diucapkannya tadi karena

hal itu umum dikatakan orang.

 

 

“Tak perlu engkau malu, anakmuda” kata brahmana itu

pula, ”itu hanya soal kecil. Dan memang banyak sekali soal2

kecil dalam kehidupan kita, sering kita lakukan, ucapkan dan

tiru, tanpa kita mengetahui apa sesuugguhnya hal itu. Kita

hanya menerima saja apa yang diwariskan oleh orangtua, apa

yang hidup di masyarakat ramai”

“Jelekkah perbuatan itu, ki brahmana? Adakah hidup kita

akan terancam karena kita melakukan hal itu ?” tanya

Nagantara mulai tertarik akan ucapan brahmana itu dan

mendesak lebih jauh.

Brahmana tampan itu tertawa, ”Jelek dan baik, itu sesuatu

yang belum dapat dipastikan. Tergantung dari pandangan dan

anggapan orang, menurut penilaian dan perasaan orang

sendiri. Memang kadang, penentuan jelek dan baik itu menjadi

kabur dilanda arus adat kebiasaan yang hidup dalam

kehidupan masyarakat. Adakah hidup kita terancam karena

tindakan kita meniru segala dari orangtua dan leluhur yang

lalu? Kurasa ancaman itu tiada apabila kita merasa tak ada,

namun akan ada jua apabila kita mengadakannya. Karena

ancaman itu sesuatu yang menyentuh perasaan, maka

perasaanlah yang menentukan ada tiadanya”

“Tetapi bukankah sudah berabad leluhur kita hidup sampai

menurunkan kita saat ini, tanpa kehidupan mereka menderita

karena mereka mewarisi adat hidup, dari keturunan ke lain

keturunan ?”

“Benar” sahut brahmana muda itu, ”memang hidup itu tak

memerlukan segala adat istiadat. Karena adat istiadat itulah

yang mengatur hidup. Dia diciptakan manusia untuk mengatur

hidup yang tiada akhir. Tanpa peraturan adat istiadat, hidup itu

tetap ada. Tetapi tanpa hidup, adat istiadat tiada”

Makin tergores lebih dalam kesan hati Nagantara

mendengar uraian brahmana itu. Tetapi sesaat kemudian ia

 

 

teringat pokok pembicaraan. Maka bertanyalah ia, apa

sesungguhnya yang diinginkan brahmana itu dari dirinya.

“Begini, anak muda” kata brahmana itu, ”aku hendak minta

tolong kepadamu supaya menyampaikan suratku ini kepada

pimpinanmu”

“Apakah isinya, ki brahmana?” tanya Nagantara.

Brahmana itu tertawa, ”Anakmuda, adakah peraturan

dalam himpunan Wukir Polaman itu beda dengan

lain”himpunan?”

“Maksud ki brahmana?” Nagantara terbeliak.

“Surat itu khusus diperuntukkan pimpinan Wukir Polaman.

Adakah Wukir Polaman mengidinkan surat semacam itu

diketahui juga oleh anggautanya? Jika demikian, akan

kupersilahkan engkau membacanya”

“Ah” Nagantara mendesuh, wajahnya makin merah,

”kumaksudkan apabila tuan bermaksud buruk, maka akupun

tak dapat melaksanakan permintaan tuan”

“Walaupun engkau sudah berjanji akan menolong sekuat

kemampuanmu ?” cepat brahmana itu menukas, “itulah apa

yang kukatakan tadi. Sekuat kemampuan benar2 bukan suatu

jaminan. Baiklah, anakmuda, surat itu tidak berisi suatu hal

yang membahayakan Wukir Polaman. Tetapi seperti yang

kukatakan tadi, bahaya atau tidak, itu tergantung pada orang

yang menilai. Nah, serahkan saja kepadanya, katakan dari

seorang brahmana yang ingin bersahabat dengan Wukir

Polaman”

Nada brahmana yang mengesankan dan perintahnya yang

meyakinkan itu sukar bagi Nagantara untuk menolak. Setelah

menerima surat itu dan disimpan dalam bajunya, ia bertanya

pula, ”Ki brahmana, adakah tuan suka untuk mengabulkan

permintaanku?”

 

 

“O” desuh brahmana itu, ”engkau akan minta imbalan,

anakmuda?”

“Bukan” sahut Nagantara, ”hanya sekedar akan bertanya,

tentulah ki brahmana tak keberatan, bukan ?”

Brahmana itu tertawa pula. ”Kutahu apa yang engkau

inginkan, anakmuda. Bukankah engkau hendak bertanya

namaku?”

Nagantara terbeliak kejut. Bagaimana brahmana itu dapat

mengetahui isi hatinya. ”Benar” namun ia mengangguk juga.

“Aku brahmana Anuraga, anakmuda. Nah, mudahmudahan

kelak kita dapat berjumpa lagi” habis berkata

brahmana itu terus ayunkan langkah meninggalkan Nagantara

dalam kelongongan yang tak bertepi,

“Siapa nama brahmana yang menyerahkan surat ini?”

sesaat membaca surat yang diserahkan Nagantara berserulah

pimpinan Wukir Polaman. Sukar untuk mengetahui perobahan

wajahnya karena wajahnya itu bukan wajah yang aseli

melainkan suatu wajah buatan terbuat daripada kulit, yang

dibuat sedemikian rupa, sehingga menyerupai wajah manusia.

Bedanya wajah buatan itu tak dapat menampilkan kerut lipatan

dahi. Sekalipun begitu, getar2 nada suaranya, jelas

mengalami suatu pengekangan dari keresahan hati.

“Brahmana Anuraga” sahut Nagantara. Setelah

menghadap pimpinan ia segera menyerahkan surat dari

brahmana itu.

“Anuraga?” ulang pimpinan itu makin membias nada tinggi,

”bagaimana engkau tahu?”

Nagantara lalu menceritakan pertemuannya dengan

brahmana yang minta tolong kepadanya supaya menyerahkan

sepucuk surat kepada pimpinan Wukir Polaman. Atas

pertanyaannya, brahmana itu mengaku bernama Anuraga.

 

 

Sampai beberapa saat pimpinan itu berdiam diri, kemudian

bertanya, ”Tahukah engkau akan isi surat ini?”

Nagantara menggelengkan kepala.

“Adakah brahmana itu tak menceritakan apa2 tentang

surat ini kepadamu?”

“Tidak” jawab Nagantara ”kecuali hanya sepatah pesan

bahwa ia ingin bersahabat dengan Wukir Polaman”

“Hm” pimpinan itu mendesuh. Diam. Sesaat kemudian ia

berkata, ”Silahkan engkau menunggu di luar. Akan

kupertimbangkan surat ini. Nanti kupanggilmu”

Setelah Nagantara keluar, pimpinan itu menghela napas,

menebarkan surat itu dan mengamatinya sepenuh perhatian.

“Mengganggu keselamatan jiwa patih Daha, akan

berhadapan dengan seluruh kekuatan Gajah Kencana,”

pimpinan Wukir Polaman mengulang baca dalam hati. Ia

menimang-nimang. Baru saja ia meluluskan permintaan

Anggoro untuk mengirim rombongan warga Wukir Polaman ke

lembah Trini Panti, menangkap Silugangga dan patih Daha

yang sekarang. Ia memang tahu bahwa patih Daha itu masih

muda tetapi giat sekali memimpin pemerintahan Daha.

Ada suatu kesan yang menimbuni benaknya. Bahwa

Majapahit tentu tak kekurangan mentri dan senopati yang

cakap, yang digdaya. Tetapi mengapa memilih seorang patih

yang masih muda usia. Tentu patih itu mempunyai kelebihan

yang menonjol sehingga baginda Majapahit sampai

mengeluarkan keputusan itu. Dan berita2 yang didengarnya,

patih itu dahulu menjabat kepala bhayangkara yang mengawal

baginda lolos dari pura. Kemudian diangkat sebagai patih

Kahuripan lalu dipindah ke Daha. Kemudian ia cenderung

untuk menduga bahwa patih itu tentu seorang anggauta Gajah

Kencana. Atau pun jika bukan, tentulah seorang yang

 

 

didukung oleh orang2 Gajah Kencana. Hal itu dapat ditilik dari

pernyataan dalam surat brahmana itu bahwa seluruh kekuatan

Gajah Kencana akan menuntut balas kepada mereka yang

mengganggu jiwa patih itu.

Pemimpin itu merenung lebih lanjut. Menilai kekuatan

Wukir Polaman dan memperhitungkan kekuatan Gajah

Kencana. Dalam peristiwa-peristiwa yang telah terjadi selama

ini, baik di dalam telatah keraton Daha maupun di Majapahit,

secara langsung belum pernah terjadi bentrokan antara

himpunan Wukir Polaman dengan warga Gajah Kencana.

Secara jujur pimpinan. Wukir Polaman tak mengetahui betapa

besar kekuatan warga Gajah Kencana itu. Akan tetapi, yang

jelas dalam setiap peristiwa besar maupun kecil, pengaruh

kekuatannya tentu terasa. Apabila himpunan Wukir Polaman

gelap akan keadaan mereka, kebalikannya mereka tentu

sudah tahu akan kekuatan himpunan Wukir Polaman, sudah

pula memperhitungkan kelanjutan dari pertanyaan surat

mereka. Demikian pimpinan Wukir Polaman itu merangkai

Lawan yang harus ditumbangkan adalah kerajaan

Majapahit, bukan Gajah Kencana. Mengapa ia harus bertindak

terhadap patih Dipa apabila hal itu akan menimbulkan akibat

besar yang akan dilancarkan Gajah Kencana. Bukankah

dalam surat itu Gajah Kencana jelas menyatakan akan

mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk menuntut

balas?

Dengan pertimbangan bahwa perjuangan Wukir Polaman

jangan sampai berantakan hanya karena mengganggu jiwa

seorang patih Daha yang tak mempunyai peran penting dalam

kerajaan Majapahit, akhirnya pimpinan Wukir Polaman

mengutus Nagantara ke lembah Trini Panti dan meminta

supaya Windu Janur melepaskan patih Dipa dan menarik

rombongan anakbuah Wukir Polaman pulang.

 

 

Tanpa bertempur, tanpa mengangkat senjata, tanpa

menggunakan kekerasan, tanpa diketahui oleh siapa-pun,

brahmana Anuraga dapat menyelamatkan patih Dipa dari

0o-dwkz-mcho0

JILID 39

I

SEJAK patih Dipa memegang

pimpinan pemerintahan di Daha,

suasana negeri itu berangsur

angsur aman. Suatu hal yang

menimbulkan keheranan dan

kekaguman para narapraja,

terutama mentri2 tua. Kekacauan2

yang sering timbul selama

mendiang patih Arya Tilam

berkuasa, kini sudah reda. Ataupun

kalau masih ada, hanyalah

merupakan perkara penyamunan,

pencurian dan pembunuhan.

Perkara2 itu kebanyakan hanya berkisar pada urusan

perorangan, tiada menyangkut kepentingan keranian.

Keheranan para mentri dan narapraja tua itu memang

tidak mengherankan. Karena mereka tak pernah

membayangkan bahwa dalam tindakan untuk mengatasi

kekacauan keamanan, patih muda itu telah memilih sasaran

yang tepat yakni himpunan Wukir Polaman. Dan dalam

menghadapi orang2 Wukir Polaman, patih Dipa telah bertindak

 

 

sedemikian jauh, berani mempertaruhkan jiwa menghadapi

berpuluh anakbuah Wukir Polaman.

Patih Dipa yang kala itu tengah duduk di kebun belakang

pada malam bulan susut terkejut sendiri, ”Adakah aku

menghela napas?” bertanya ia dalam hati karena ia merasa

tak menghela napas tetapi desah napas itu jelas terdengar.

Disekeliling kebun sunyi senyap, hening lelap. Malampun

makin tinggi, bintang kemintang belum memenuhi cakrawala.

Kemudian ia melanjutkan renungan. Demikianlah

kegemarannya apabila ia luang dan apabila malam kelam. Ia

lebih menyenangi malam yang kelam daripada malam2 terang

cuaca. Dalam malam yang gelap dan kelam, ia merasa dunia

ini benar2 hampa dari segala peristiwa, hening dari segala

hiruk-pikuk. Dalam kehampaan dan keheningan itulah ia

merasa lebih nyaman mengembarakan pikiran dalam alam

Ia senang merenung tetapi bukan karena ia seorang

pelamun. Baginya, merenung dan melamun, tidak sama.

Melamun, membebaskan pikiran berkelana keseluruh alam.

Tanpa batas waktu, tanpa dinding lapisan peristiwa. Melamun

dapat membayangkan hal yang belum tiba atau yang sudah

lampau. Membayangkan pula suatu yang sering melampaui

batas kemungkinan. Beda halnya dengan merenung. Dan ia

membatasi renungannya dalam dua lapis lingkungan.

Pertama, lingkungan tentang apa yang telah dikerjakan hari

itu. Adakah sesuatu yang masih kurang atau salah dalam

langkah tindakannya selama hari itu. Pernah ia mengatakan

bahwa gurunya itu adalah Kesalahan. Dari kesalahan itu, ia

akan memperbaiki diri menuju ke arah yang sempurna.

Kemudian lapisan kedua, yalah merenungkan apa2 yang akan

dikerjakan esok hari. Melamun itu ibarat kuda liar yang

membinal atau awan di langit yang tertiup angin. Merenung itu

mempunyai sasaran dan arah.

 

 

Merenung tentang kaitan tindakannya dengan orang Wukir

Polaman, pikirannya berhamburan memercikkan berbagai

kesan. Ia menganggap bahwa pejuang2 muda Wukir Polaman

itu memang penuh semangat pengabdian dan kesetyaan

terhadap bumi kelahirannya. Namun alam pemikiran mereka

masih belum berobah, masih menerima apa yang diwariskan

oleh orangtua mereka. Bahwa Daha itu ditindas Singasari,

bahwa Daha dikuasai Singasari. Bahwa Daha harus

merobohkan Singasari. Bahwa orang2 tua mereka

mewariskan pesan itu kepada putera puteranya, masih dapat

dimengerti karena mereka adalah insan2 yang pernah

mengenyam kebesaran Daha dan masih tebal naluri

kebanggaannya akan pangkat dan kedudukan mereka.

Tetapi jaman telah berobah dan keadaan telah memberi

kenyataan. Bahwa adanya warisan itulah yang menyebabkan

negara selalu dirundung peperangan. Bahwa setelah timbul

negara baru, negara Majapahit, maka haruslah Daha-

Singasari itu lebur dalam sebuah kesatuan. Hal itu

sesungguhnya bukan baru karena kesatuan itu berasal dari

sumber sebelum terciptanya Daha Jenggala, yalah Panjalu.

Jika Panjalu dapat mempersatukan dan dapat diterima

sebagai suatu kesatuan Daha Jenggala, betapa tidak

Majapahit? Jelas rakyat Daha, rakyat Jenggala itu hanyalah

suatu perbedaan yang sengaja diadakan. Sesungguhnya

mereka adalah rakyat yang hidup didataran tinggi sungai

Brantas dan dikelilingi oleh barisan gunung. Apa beda Panjalu

dengan Majapahit?

“Negara harus satu” ia melanjutkan lebih jauh dalam

renungannya” karena sejarah telah membuktikan, pecahnya

Panjalu menjadi dua negata Daha-Jenggala, hanya

menimbulkan peperangan dan kesengsaraan. Dan mengapa

anak2 muda Daha itu menelan saja apa yang diwariskan

mendiang orangtua mereka?”

 

 

Meniti persoalan itu, ia berhadapan dengan lapisan kabut

dari bermacam peristiwa dan keadaan. Ada suatu penemuan

yang memercik dalam renungannya, namun ia masih ragu2

akan kebenarannya. Percikan penemuan itu memaksa dia

harus mengenang kembali kearah sejarah yang lampau…..

“Siapakah pendiri dari kerajaan Panjalu yang menjadi

sumber dari timbulnya kerajaan Daha dan Janggala itu?

Airlangga, menantu prabu Dharmawangsa, rajakula Kerajaan

di dataran sungai Brantas.

Kemudian Airlangga demi memikirkan agar kedua

puteranya hidup rukun, kerajaan Panjalu dipecah dua, Daha

dan Jenggala. Tetapi ternyata sejak itu, kebalikannya malah

selalu timbul peperangan antara kedua negara itu. Akhirnya

muncullah Ken Arok anak seorang rakyat kecil yang

membunuh akuwu Tumapel, mengalahkan raja Kertajaya dari

Daha lalu mengangkat diri sebagai rajakula kerajaan

Singasari”

Tiba pada pemikiran itu, terlintaslah benak patih Dipa akan

tampilnya seorang anak rakyat, kecil dalam sejarah kerajaan

di bumi Panjalu. Bagaikan badai di angkasa, Ken Arok telah

menyapu keturunan Airlangga lalu mendirikan sebuah

kerajaan baru yakni Singasari. Kemudian terjadi peristiwa

yang menyedihkan dikalangan kerajaan Singasari. Peristiwa

bunuh membunuh di antara putera2 Ken Arok yang pada

hakekatnya berkisar pada rebutan tahta.

Dalam merenung lebih tenang pula, berjumpalah patih

Dipa akan suatu kenyataan yang menjadi sumber peperangan

dan kekacauan negara selama ini. Tahta kerajaan, suatu tahta

yang memberi kenikmatan hidup dan kekuasaan. Putera2

keturunan raja, berjuang keras untuk memperebutkannya.

Kemudian para mentri, senopati dan para narapraja, juga

berlaku keadaan itu. Bukan tahta yang mereka rebutkan,

melainkan pangkat dan kedudukan. Karena pangkat

 

 

memberikan mereka kenikmatan hidup. Oleh karena itu

mereka berjuang kemati-matian untuk mempertahankannya.

Percik terang makin menghapus kabut yang meremang

pengawasannya. Tahta dan kedudukan, merupakan masalah

besar dalam hidup manusia. Menghayati kenikmatan hidup

dalam kedudukan itu maka orangtua mereka, yakni para

mentri senopati dan narapraja kerajaan Daha Jayakatwang,

telah menanamkan pesan mereka kepada para puteraputeranya

agar melanjutkan perjuangan untuk membangkitkan

kerajaan Daha dari tindasan Majapahit. Kiranya hanya tujuan

itulah yang terselubung dalam pesan orang-orang tua itu.

Bahwa dalam pesan, mereka menekankan Daha itu adalah

bumi kelahiran mereka, bahwa pemuda2 itu harus memiliki

rasa cinta kepada tanah airnya, hanyalah suatu alasan yang

sempit. Adakah tanah air mereka itu hanya seluas bumi

kerajaan Daha saja? Tidakkah nuswantara itu jauh lebih luas

daripada bumi Daha?

Dengan demikian makin jelas, bahwa bukan rasa cinta

tanah air sesungguhnya yang mereka tanam ke dalam dada

putera-puteranya itu, melainkan karena mereka tetap tak rela

untuk melepaskan kenikmatan dari kedudukan mereka kepada

lain orang, melainkan kepada anak dan cucu mereka. Itu kalau

mungkin. Dan kemungkinan itu hendak mereka mungkinkan

dalam kemungkinan yang semungkin harapan mereka kepada

putera puteranya.

Jika tidak demikian, mengapa mereka menentang

persatuan yang secara kebetulan saja telah dibangun oleh

raden Wijaya, rajakula Majapahit. Jika Erlangga itu putera

seorang puteri Bali dan menantu prabu Dharmawangsa,

tidakkah raden Wijaya itu juga berdarah keturunan raja dan

juga menantu dari prabu Kertanagara? Tidakkah baginda

Jayanagara yang sekarang ini juga keturunan puteri

Indreswan dari kerajaan Sriwijaya?

 

 

Apabila menerima pertanyaan2 itu dari dan kepada dirinya

sendiri maka patih Dipa pun hanya memejamkan mata.

“Ah …..”

Untuk yang kedua kalinya, ia terkejut pula. Ia hanya

memejamkan mata dan diam2 menghela napas dalam hati.

Tetapi mengapa terdengar desah suara napas berhembus?

Adakah perasaan dalam hati itu dapat memancar ke luar

tanpa disadarinya? Sekali lagi ia memandang ke sekeliling.

Tetap sunyi senyap, tetap hening lelap.

Kembali pikirannya dilarut dalam kehanyutan

renungannya. Jika para mendiang mentri-mentri, senopati dan

narapraja tua dari kerajaan Daha Jayakatwang meninggalkan

pesan kepada para putera-puteranya, itu memang, dapat

dimengerti. Mereka merasa kehilangan kedudukan, mereka

merasa tertindas oleh kerajaan Majapahit. Tetapi adakah

putera2 mereka itu merasakan penderitaan yang sebesar

diderita orangtua mereka? Tidak. Keranian Daha-Majapahit

memperlakukan rakyat Daha seperti rakyat Majapahit.

Mengumumkan berlakunya undang2 yang sama,

menyediakan dana pembangunan yang sama, bahkan

susunan pemerintahanpun sama antara pusat pemerintahan di

Majapahit dengan Daha. Dalam keadaan seperti itu, mengapa

para putera dari mentri2 kerajaan Daha-Jayakatwang itu tak

menyadari?

“Ya” tiba2 patih Dipa tersentak dari lamunannya,

kesadaran dan penyadaran. Perjuangan para muda Dalam

Wukir Polaman itu berlandaskan pada suatu cita2. Oleh

karena itu maka harus dihadapi dengan penyadaran. Bahwa

cita2 mereka itu berlandaskan sesuatu yang sempit, sesuatu

landasan yang usai, yang takkan membawa bumi nuswantara

kearah kebesaran dan kejayaan”

 

 

Kemudian ia teringat akan peristiwa dengan anak-buah

Wukir Polaman di lembah Trini Panti yang lalu. Adakah

tawarannya telah disampaikan dan dipertimbangkan oleh

pimpinan mereka, ia tak tahu. Tetapi jelas ada dua kenyataan

yang agak membuatnya heran dan tak mengerti sampai saat

itu juga.

Pertama, mengapa sebabnya tiba2 Windu Janur menerima

tawarannya dan menarik anakbuahnya meninggalkan lembah

itu? Kedua, mengapa dalam waktu akhir2 ini, keamanan Daha

berangsur-angsur pulih baik sekali?

“Ah”

Terdengar pula desah orang menghela napas. Dan kali ini

patih Dipa jelas menyadari bahwa dia tak merasa mendesah,

baik dalam hati maupun di mulut. Serentak ia mempertajam

pandang matanya menyusup dan menyusur dalam kabut

kegelapan yang menyelimuti sekeliling kebun. ”Hai”serentak ia

melonjak dan loncat ke pintu kebun.

Pintu itu tak berdaun, melainkan sebuah gapura yang

terbuka. Kanan kiri gapura dihias dengan dua buah patung

seorang raksasa penunggu. Adalah pandang mata patih Dipa

yang tajam segera melihat bahwa di balik salah sebuah

patung itu bersembunyi sesosok kepala manusia. ”Hai,

siapakah yang bersembunyi di balik patung itu!” tegurnya.

“Aku ki patih” terdengar sebuah suara yang pernah dikenal

oleh patih Dipa, serentak muncul pula sesosok tubuh

berpakaian serba hitam.

“Engkau Mahendra?” tegur patih Dipa pula. Orang itu

tertegun. Agaknya ia terkejut melihat ketajaman ingatan patih

muda itu. Walaupun belum melihat wajah, tetapi cepat dapat

mengenal suaranya sekalipun perkenalan mereka belum

berapa lama. Namun ia mengiakan. ”Benar, ki patih, aku

Mahendra”

 

 

“Mengapa engkau bersembunyi dalam taman sini?” tegur

patih Dipa.

“Maaf, ki patih” sahut Mahendra ”aku tak berani

mengganggu ketenanganmu.”

“Dan engkau hanya mendesah napas?”

“Sampai tiga kali, ki patih” cepat Mahendra menanggapi.

Patih Dipa sudah agak mengenal watak pemuda itu. Cara2

ia berkata dan membawa sikap. Maka iapun segera bertanya,

”Lalu apa maksudmu datang kemari?”

“Hendak menyampaikan sebuah pesan kepada ki patih”

sahut Mahendra.

“Pesan?” ulang patih Dipa ”dari siapa?”

“Seorang brahmana”

“O” patih Dipa makin terpikat perhatiannya ”siapakah

brahmana itu?”

“Brahmana Anuraga”

“Hai” serentak patih Dipa berteriak dan melonjak ke

hadapan Mahendra ”siapa namanya?” ia menegas.

“Ki brahmana Anuraga”

“Ah” patih Dipa mendesah napas ”kenalkah engkau

kepada beliau?”

Mahendra gelengkan kepala, ”Belum. Tetapi aku menaruh

kepercayaan penuh kepadanya. Ada sesuatu yang

mempesonakan pada dirinya. Dia memiliki kewibawaan yang

halus. Tidak memaksa orang harus mengindahkan tetapi

orang itu sendiri yang merasa harus mengindahkan”

Patih Dipa mengangguk-angguk senang. Apa yang

dikatakan Mahendra memang dirasakannya juga. Jika

 

 

berhadapan dengan paman brahmana itu, ia tentu mendapat

sesuatu yang pada saat itu baru ia menyadari kalau masih ada

kekurangannya. Dan selalu ia merasakan suatu sifat yang

aneh pada diri paman brahmana itu. Apabila ia sedih, tentu

dapat bangkit kegembiraannya. Apabila ia putus asa, tentu

akan timbul semangatnya. Namun apabila ia marah, tentu

akan reda kemarahannya. Baik senang atau susah, marah

atau gembira, panas atau dingin, apabila berhadapan dan

bercakap-cakap dengan paman brahmana itu, patih Dipa

merasa setiap perasaannya yang meluap itu akan kembali

mengendap pada titik semula.

“Lalu apa pesan brahmana itu?” tanyanya kemudian.

“Dua macam” sahut Mahendra ”pesan dengan lisan dan

dengan surat.”

“O, katakanlah apa pesan beliau”

“Memang yang pertama, brahmana itu meminta supaya

aku menyampaikan pesan lisannya. Baru kemudian

menerimakan surat” kata Mahendra. Setelah berkemas

sejenak ia memulai ”Brahmana Anuraga mengatakan tindakan

ki patih di lembah Trini Panti itu terlalu gegabah. Hendaknya

peristiwa semacam itu jangan sampai terulang kembali.

Berbahaya”

Patih Dipa terbeliak. Ia tak menyangka bahwa peristiwa di

lembah Trini Panti itu diketahui juga oleh paman brahmana.

Diam2 ia mengakui memang peringatan paman brahmana itu

tepat. Dan ia tahu apa yang tersembul dalam peringatan itu.

”Baik” katanya, ”memang aku kurang perhitungan. Tetapi

bagaimana brahmana itu tahu tentang peristiwa di lembah

Trini Panti ?”

“Bukan melainkan tahu tetapi pun telah bertindak

menolongmu, ki patih” kata Mahendra.

 

 

Patih Dipa tersentak kaget. ”Menolong aku? Bagaimana

cara brahmana itu menolongku?”

“Brahmana itu memang luar biasa” kata Mahendra, ”pada

waktu itu sesungguhnya aku juga berada di antara anakbuah

Wukir Polaman yang datang ke lembah Trini Panti. Melihat ki

patih terancam bahaya, aku gelisah bukan main. Aku bingung

mencari akal bagaimana untuk menyelamatkan ki patih. Tiba2

aku mendapat pikiran. Diam2 aku menyelinap pergi dari

rombongan mereka. Apabila ki patih renungkan, tentulah akan

teringat baiwa pada tebing karang di atas lembah itu terdapat

segunduk batu besar. Nah, kesitulah aku menuju dan

bersembunyi di belakang batu besar itu. Rencanaku, apabila ki

patih akan diserbu oleh seluruh anakbuah Wukir Polaman,

akan kudorong batu itu supaya jatuh ke arah mereka. Kurasa

mereka tentu akan berhamburan bubar dan ki patih mendapat

kesempatan untuk lolos”

“Ah, engkau telah melakukan hal itu, Mahendra?” seru

patih Dipa terkejut ”terima kasih, raden”

“Ah, ki patih” seru Mahendra, ”janganlah tuan berterima

kasih kepadaku karena bukan akulah yang menolong tuan

tetapi ki brahmana itu. Karena pada saat aku bersiap siap

dibalik batu itu, tiba2 muncul seorang brahmana, masih muda

dan tampan, berwibawa. Ia memberi isyarat supaya aku

datang kepadanya. Kemudian ia berkata, ”Raden, tak perlu

raden berjaga dibalik batu ini. Ki patih sudah selamat.

Anakbuah Wukir Polaman tentu takkan mengganggunya” Aku

terkejut dan meminta penjelasan tetapi ia mengatakan bahwa

waktu amat mendesak, ia hanya minta tolong menyampaikan

pesan peringatannya tadi kepada ki patih serta sepucuk surat

ini”

Patih Dipa masih termangu ketika Mahendra menyerahkan

sepucuk surat ”Ki patih, inilah surat dari ki brahmana itu”

 

 

Patih Dipa terkejut dan segera menerima lalu

membukanya. Beberapa saat ia mengangguk-angguk kepala.

”Surat ki brahmana ini meminta, agar aku memperhatikan

keadaanmu, raden”

Kini giliran Mahendra yang terbeliak, ”Memperhatikan

keadaanku? Apa yang harus diperhatikan pada diriku?”

Patih Dipa tersenyum, ”Pengorbananmu cukup besar bagi

keranian Daha. Bahkan terlalu besar bagi keluhuran nama

keluargamu sehingga paman patih Tilam sampai jatuh sakit”

“Sudahlah” seru Mahendra ”jangan ki patih mengungkat

hal itu lagi. Rama sudah mengetahui tindakanku”

Tiba2 wajah patih Dipa berobah sungguh2 ”Tetapi

bagaimanapun keranian Daha takkan melupakan jasamu,

raden Mahendra. Begini, raden, aku akan menghadap baginda

dan menghaturkan tentang peristiwa dirimu. Akan kumohon

kepada baginda supaya engkau dapat diangkat sebagai

nayaka atau narapraja di pura Majapahit. Pertama, sebagai

penghargaan atas jasamu terhadap Daha. Kedua, untuk

mengamankan dirimu dari pembalasan orang Wukir Polaman.”

“Ah, tidak ki patih” sambut Mahendra ”apa yang telah

kulakukan bukanlah suatu pengorbanan, melainkan suatu

kewajiban sebagai seorang kawula kerajaan yang ingin

melihat negara aman sejahtera. Akupun tak mengharap balas

apa2. Kedua; soal pembalasan orang Wukir Polaman, sudah

jauh hari kupikirkan. Aku tak gentar dan dapat membawa

diriku”

Namun patih Dipa gelengkan kepala, ”Tidak, raden

Mahendra, engkau boleh mengatakan begitu, tetapi aku

sebagai patih keranian Daha, takkan mengabaikan apa2 yang

telah engkau persembahkan kepada Daha. Engkau tak boleh

mendendam masa mudamu dalam lingkungan hidup

 

 

terancam. Raden, engkau harus pancarkan sinarmu untuk ikut

serta menggemilangkan negara Majapahit”

“Ah” Mahendra mendesah ”setiap orang mempunyai garis

hidup sendiri2, ki patih. Di pura Majapahit sudah penuh

dengan mentri2 cendekiawan, senopati2 gagah perkasa, tak

mungkin kekurangan dengan orang2 semacam diriku”

“Tidak, raden Mahendra” seru patih Dipa ”memang benar

setiap orang mempunyai garis hidup sendiri2, tetapi

bagaimana engkau tahu akan garis hidupmu ?”

Mahendra terperangah, ”Ya, beginilah garis hidupku ini, ki

patih”

“Tidak benar!” seru patih Dipa pula ”siapa sebelumnya

yang mampu mengatakan bahwa raden Mahendra putera

gusti patih Arya Tilam, akan hidup dalam keadaan seperti saat

ini? Bukankah setiap orang sebelumnya akan mengatakan

bahwa garis hidup raden itu memang beruntung. Putera

seorang patih, tentu kelak akan menjadi narapraja kerajaan.

Bukankah demikian, raden?”

“Itu aku sendiri yang menginginkan. Bahkan kesalahan

rama atau siapapun juga” sahut Mahendra.

Patih Dipa mengangguk. ”Nah, itulah yang kumaksudkan.

Nasib tergantung dari kita sendiri. Jangan kita pagari diri kita

dengan garis hidup atau nasib. Karena apa yang dikata garis

hidup atau nasib itu adalah akibat dari apa yang telah kita

lakukan. Dan mengapa harus menghiraukan soal garis hidup?

Bukankah wajib manusia itu berdaya dan berusaha? Jika

raden sudah membunuh diri raden sendiri dengan tombak

nasib, bukankah raden melanggar kodrat hidup? Bukankah

raden meremehkan jerih payah orangtua raden yang telah

melahirkan dan mendidik raden selama ini? Bukankah pula

raden tidak menerima kasih atas keagungan Hyang Batara

Agung yang telah memberikan hidup dan kehidupan kepada

 

 

raden? Demikian pula apabila raden sudah merendahkan diri

raden sebagai manusia yang tak berguna dan bernasib

malang. Itu berarti raden menghina anugerah agung dari

Hyang Maha Widdhi”

Mahendra terlongong longong memandang patih yang

masih muda itu. Umurnya tak banyak terpaut dari dirinya tetapi

saat itu ia merasa seperti seorang anak kecil yang berhadapan

dengan seorang guru.

“Raden Mahendra” berkata patih Dipa pula ”tiada benda di

mayapada ini yang tak berguna. Demikian pula dengan insan

manusia. Tiada manusia yang tak berguna. Demikianpun bagi

kerajaan Majapahit. Tiada seorang kawula yang tak berguna

kepada negara karena negara dengan kawula itu adalah ibarat

ikan dengan air. Adakah di dunia ini terdapat negara tanpa

kawula dan kawula yang tak bernegara?” sejenak memandang

Mahendra yang masih terpukau, patih Dipa melanjut pula

”raden, engkau masih muda, gagah, berani dan setya. Kurasa

bukan di tempat persembunyian dan penyamaran seperti saat

ini raden berada. Tetapi raden harus tampil diantara barisan

pejuang yang menjadi bhayangkara Majapahit”

Masih Mahendra terdiam.

“Pada suatu kesempatan tentu akan kumohonkan kepada

baginda tempat yang layak bagimu, raden” kata patih Dipa.

Mahendra menghela napas, ”Ah, ki patih, aku tak dapat

mengambil keputusan, kuserahkan saja kepadamu. Tetapi

selama ini aku akan tetap menyamar dan bergaul dengan

orang2 Wukir Polaman. Agar setiap saat dapat kuberikan

laporan kepsdamu”

Patih Dipa mengangguk, ”Baik, raden, tetapi yang penting

berusahalah untuk menyadarkan alam pikiran mereka bahwa

Majapahit itu adalah suatu kesatuan dari Daha-Singasari

Kahuripan. Dan kesatuan itu akan berkembang meluas hingga

 

 

meliputi seluruh nuswantara. Hanya dengan kesatuan dan

persatuan itu, negara akan kuat dan jaya. Kita telah berkaca

pada masa yang lampau, mari kita berusaha sebaik-baiknya

hari ini. Dan besok surya pasti bersinar gilang-gemilang”

0odwo0

Terjalinnya kerjasama antara patih Dipa dengan Mahendra

telah membawa manfaat kepada langkah2 yang ditentukan

oleh patih Dipa dalam memulihkan keamanan Daha.

Dalam memegang pimpinan pemerintahan, patih Dipa

berusaha untuk berpegang pada landasan ajaran yang selama

ini diresapinya dalam pengalaman hidup.

Pertama, ia berusaha untuk mengutamakan sifat widjna

atau berlaku bijaksana penuh hikmah dalam menghadapi

soal2 yang gawat, sehingga oleh kebijaksanaan itu segala

kegawatan dan bahaya dapat lenyap dan ketenteraman

kembali dengan sempurna.

Dalam hal ini pernah pada suatu ketika, melihat suasana

pura Tikta-Sripala makin keruh karena pertentanganpertentangan

antar golongan yang mendukung raja dan yang

menentang raja, serta golongan luar yang hendak menarik

keuntungan dalam kekeruhan itu antara lain orang2 Wukir

Polaman, maka dengan bernafsu berkatalah Dipa kepada

brahmana Anuraga, ”Paman Anuraga, keadaan ini tak boleh

dibiarkan berlarut larut. Jika sudah tahu jelas siapa musuh2

kerajaan, mengapa kawan2 Gajah Kencana tidak serentak

bergerak untuk menumpas mereka?”

Maka menjawablah brahmana Anuraga, ”Siapakah mereka

itu, Dipa? Adakah mereka itu musuh kita dari negara lain?

Tidak, Dipa, mceka adalah kawula Majapahit juga, sebangsa

dengan kita. Hanya jalan pikiran dan penilaiannya yang

 

 

berlainan. Kelainan dalam hal pendirian dan penilaian itulah

yang kita tentang dan kita lawan. Bukan dengan kekerasan,

melainkan dengan kebijaksanaan. Sura di ra jayani ngrat,

lebur deni ng pangastuti . Daripada dengan kekerasan

yang hanya mengakibatkan pertumpahan darah di antara kita

sama kita sehingga hanya melemahkan kekuatan diri sendiri,

lebih utama kita tindak dengan kebijaksanaan yang

berhikmah”

Berpegang pada pesan paman brahmana itulah maka

patih Dipa menghadapi anakbuah Wukir Polaman dengan

penuh kesabaran dan penyadaran. Kemudian kepada

Mahendra iapun berpesan untuk melaksanakan kebijaksanaan

itu dalam usahanya menyirap gerakan Wukir Polaman.

Sifat kedua yang dijalankannya yalah apa yang disebut

sarjjawopasama yaitu selalu membawa tingkah laku yang

mengunjukkan kerendahan hati, bermuka manis, tulus dan

ihklas, lurus dan sabar. Dalam hal itu ia selalu berpegang

pada petunjuk dan nasehat beberapa orangtua yang

dihormatinya. Bahwa kesombongan dan kecongkakan itu

hanya akan mengundang permusuhan dan kehancuran.

Pernah dalam kesempatan ketika masih di hutan, demang

sepuh Surya pernah menceritakan tentang sejarah raja2 di

Singasari. Antara lain prabu Kertajaya atau Dandang Gendis

dari kerajaan Daha yang terlalu bersikap hadigang ha-digung,

memperlakukan kaum brahmana dan pandita semenamenanya,

akhirnya dapat dikalahkan oleh Ken Arok atau sri

Rajasa sang Amurwabhumi. Juga prabu Kertanagara dari

kerajaan Singasari, karena terlalu menunjukkan sifat lupa diri,

ahangkara dan menolak segala nasehat mentri2 yang setya,

akhirnya dihancurkan oleh prabu Jayakatwang dari Daha.

Sebagai kelengkapan dari sifat sarjjawopasama itu iapun

bersikap diwjaji ta , selalu menjaga hubungan baik dengan

orang dan selalu siap mendengarkan pikiran dan pendapat

 

 

mereka, walaupun tidak setuju. Tak mau ia membawa

kehendaknya sendiri dalarn menjalankan pemerintahan

keranian Daha. Ia selalu menghormat dan mendengarkan

pendapat dan saran2 dari para narapraja lain, terutama

mereka yang tergolong mentri2 tua.

Dengan mengembangkan sikap dan sifat2 itu, cepat sekali

patih Dipa menawan rasa suka para mentri dan narapraja tua.

Mereka merasa didengar nasihatnya, merasa diterima usuusulnya

dan merasa mendapat kebebasan untuk bertindak

dan mengembangkan tugas dalam bidangnya masing2.

Suasana pemerintahan di keranian Daha, berjalan dengan

cerah dan menggembirakan. Para mentri2, tua sekalipun usia

mereka, namun masih bergairah semangatnya.

Setelah keamanan berangsur-angsur baik, maka usaha

patih Dipa diarahkan pada dua hal. Pertama, pembangunan

dan usaha2 untuk meningkatkan kehidupan para kawula.

Kedua, melancarkan penyuluhan dan penerangan kepada

rakyat bahwa pemerintah Majapahit tidak mengadakan

perbedaan antara kawula Daha, kawula Singasari dan kawula

Majapahit. Semua satu dan harus bersatu. Semua adalah

kawula Majapahit dengan satu negara yalah Majapahit. Untuk

melaksanakan pernyataan itu, patih Dipa mengangkat orang2

Daha untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Diberikannya

mereka tanggung jawab yang penuh, tentang keamanan dan

kesejahteraan rakyat. Sehingga mereka harus menghayati

bahwa setiap gangguan keamanan itu, hanya akan

menimbulkan kerugian pada para kawula Daha.

Beberapa tahun kemudian terasalah buah dari tindakan

patih Dipa itu. Daha sudah bukan merupakan daerah yang

rawan lagi. Orang2 Wukir Polaman tampak seolah

menghentikan gerakannya. Dalam hal itu memang terjadi

suatu perbantahan yang cukup sengit di-kalangan mereka.

Ada sebagian yang cenderung akan buah pandangan patih

 

 

Dipa yang lebih luas jangkauannya. Tetapi ada pula sebagian

yang masih tetap bersikeras mempertahankan pendiriannya,

pendirian Wukir Polaman semula. Akhirnya pimpinan Wukir

Polaman mengambil jalan tengah. Untuk sementara

menghentikan kegiatannya untuk memberi kesempatan pada

patih Dipa dan menilai hasil2 pemerintahannya terhadap

kehidupan kawula Daha.

Kebijaksanaan dan kecakapan patih Dipa dalam

mengemudikan pemerintahan Daha itu terdengar juga oleh

patih mangkubumi Arya Tadah di pusat pemerintahan

Majapahit. Patih Dipa memang sering dipanggil ke pura

Majapahit ataupun ia pada waktu2 tertentu datang sendiri ke

Majapahit untuk memberi laboran kepada patih mangkubumi

tentang keadaan pemerintahan Daha. Hubungan keduanya

pun makin lebih erat. Banyak sekali patih Dipa menerima

petunjuk dan nasehat dari mentri sepuh itu. Kebalikannya

patih mangkubumi Arya Tadah pun amat berkesan pada patih

muda itu. Makin tumbuh rasa sayang, makin besar rasa

Keadaan dalam pura kerajaan makin tenang, walaupun

masih ada suatu gerakan yang dilancarkan oleh golongan2

tertentu, namun kekuatan mereka tidak berarti. Sejak

ditumpasnya pemberontakan Dharmaputera keadaan susunan

pemerintahan telah banyak mengalami perobahan. Pangeran

Adityawarman tak diperkenankan kembali ke Kahuripan lagi

melainkan diangkat sebagai wredamenteri atau menteri

praudhatara, lebih tinggi kekuasaannya daripada patih

mangkubumi. Pangkat itu hanya dijabat oleh orang yang

bijaksana dan berdarah keturunan luhur. Adityawarman, putra

dari puteri Dara Jingga, saudara dari Dara Petak yang kini

bernama ratu Indreswari, ibunda baginda Jayanagara. Adalah

karena asal keturunan yang masih dekat dengan ratu

Indreswari dan baginda Jayanagara maka atas usul ratu

 

 

Indreswari, pangeran Adityawarman itupun menjabat mentri

dalam keraton.

Sesungguhnya pengangkatan itu berbau suatu tindakan

untuk memperkokoh kedudukan ratu Indreswari dalam

kekuasaan di keraton Majapahit. Karena tiada mentri atau

senopati yang lebih dapat dipercaya oleh ratu itu daripada

putera kemanakannya sendiri. Dan karena patih mangkubumi

Arya Tadah itu sudah tua, maka dalam banyak hal mengenai

keputusan yang penting dalam pemerintahan, selalu ratu

Indreswan meminta pendapat dan persetujuan dari

Tetapi walaupun berkuasa, Adityawarman seorang yang

bijaksana. Tidaklah dengan kekuasaannya itu ia bersikap

tinggi hati, sewenang-wenang kepada mentri2 dan senopati

bawahannya. Dia dikenal baik oleh rakyat dan disegani oleh

para mentri.

Pengaruh Adityawarman dikalangan keraton itu sejalan

dengan tujuan ratu Indreswari untuk memperkuat

kedudukannya. Kemudian berdatanganlah pula beberapa

pemuda dari Pamelekehan atau Sriwijaya yang masih ada

hubungan keluarga dengan ratu Indreswari, antara lain Arya

Kembar, Arya Warak, Arya Damar. Atas desakan ibunda ratu

Indreswari, akhirnya baginda Jayanagara terpaksa menerima

mereka dan mengangkat sebagai tumenggung.

Arya Kembar cepat mendapat kepercayaan dari ratu

Indreswari. Dalam peristiwa Indu Salupi yang lalu, Arya

Kembar lah yang dititahkan sang ratu untuk membunuh Indu

Hilangnya golongan mahapatih Nambi, patih Aluyuda dan

golongan Dharmaputera Kuti dan Semi, bukan berarti bahwa

di pura Tikta-Sripala sudah bersih dari golongan2 yang hendak

memperkuat kekuasaannya. Memang golongan yang

 

 

menentang baginda Jayanagara sudah lumpuh kalau tak

boleh dikata sudah tak berarti. Kini golongan pendukung

bagindalah yang kuat. Golongan itu mempunyai tulang

punggung ratu Indreswari.

Karena merasa telah melahirkan seorang putera yang

kemudian diangkat sebagai putera mahkota dia kemudian

menggantikan tahta kerajaan, maka ratu Indreswari yang

dahulu bernama Dara Petak itu terkenang akan pesan

kakeknya, Demang Lebar Daun yang menjadi patih

amangkubumi dari kerajaan Sriwijaya.

Pada masa itu baginda Kertanagara dari kerajaan

Singasari mengirim pasukan Pamalayu di bawah pimpinan

senopati Mahesa Anabrang untuk mengadakan hubungan

dengan negara2 Malayu. Mengadakan hubungan itu

sesungguhnya hanya suatu ulasan yang halus, karena pada

hakekatnya, Singasari hendak menundukkan mereka.

Beberapa raja2 Malayu sudah tunduk di bawah pasukan

Pamalayu. Hanya Sriwijaya sendiri yang masih belum

Kemudian Singasari mengirim pula sebuah pasukan yang

dipimpin raden Wijaya dan beberapa mentri ke Sriwijaya.

Pertama untuk memberi sebuah arca Amogasiddhi yang indah

kepada Sriwijaya selaku tanda persahabatan. Dan kedua,

untuk meminang kedua puteri baginda Mauliwarman dari

Sriwijaya, yakni puteri Dara Petak dan Dara Jingga yang

termasyhur cantik.

Yang menjadi patih mangkubumi kerajaan Sriwijaya

adalah Demang Lebar Daun yang juga menjadi ayah mentua

dari baginda Mauliwarman. Demang Lebar Daun seorang ahli

negara yang pandai. Ia menyadari bahwa kekuatan Sriwijaya

pada saat itu tidak memadai untuk menghadapi serangan

pasukan Singasari. Maka diputuskan untuk menyerahkan

kedua puteri baginda.

 

 

“Cucuku Dara Petak dan Dara Jingga” kata Demang itu

kepada kedua puteri, ”ketahuilah. Kesemuanya itu memang

menjadi garis Yang Maha Kuasa. Janganlah kalian bersedih.

Pengorbanan kalian takkan sia-sia. Kelak kerajaan Jawadwipa

tentu jatuh kepada anak keturunan kalian” kata Demang Lebar

Dan nujum neneknya, Demang Daun Lebar itu, memang

tepat. Karena Singasari diserang oleh prabu Jayakatwang dari

Daha, akhirnya sebelum sempat mempersunting puteri dari

Sriwjaya itu, baginda Kertanagara sudah gugur dalam

pertempuran. Dara Petak diperisteri oleh raden Wijaya yang

kemudian setelah dinobatkan sebagai baginda Kertarajasa,

puteri Dara Petakpun dinobatkan sebagai ratu Indreswari.

Puteranya, Jayanagara, diangkat sebagai pengganti raja

Majapahit. Sedangkan Dara Jingga pulang dan menikah

dengan seorang raja Malayu dan berputera pangeran

Membayangkan akan peristiwa itu, makin yakinlah ratu

Indreswari bahwa keturunan dari raja Sriwijaya lah yang akan

berkuasa di kerajaan Majapahit. Kekuasaan ratu Indreswari

makin kuat setelah mempunyai orang kepercayaan antara lain

Adityawarman, Arya Kembar, Arya Warak, Arya Damar,

Banyak Wide dan beberapa mentri senopati.

Beberapa kali dalam kunjungan menghadap patih

mangkubumi Arya Tadah, patih Dipa cepat dapat mencium

suatu rasa keluhan dalam nada ucapan patih mangkubumi itu.

“Paman patih” akhirnya memberanikan diri juga.patih Dipa

untuk menyelam kedalam lubuk kerisauan patih mangkubumi,

”hamba hendak menghaturkan sebuah permohonan

kehadapan paman patih. Adakah paman patih berkenan untuk

meluluskan?”

 

 

“Eh, mengapa berganti nada dalam ucapanmu itu, patih

Dipa” tegur patih mangkubumi Arya Tadah ”katakanlah, aku

selalu terbuka untuk memberi keterangan kepadamu”

Patih Dipa menghaturkan terima kasih lalu memulai

pertanyaan. Ia mengatakan karena sudah bertahun-tahun

berada di Kahuripan kemudian pindah ke Daha maka ia tak

tahu jelas tentang keadaan pura Majapahit.

“Apa yang hendak engkau mintakan keterangan

kepadaku?” tanya patih mangkubumi Arya Tadah.

“Dahulu di pura Tikta-Sripala terdapat beberapa golongan,

yang menentang dan yang mendukung baginda. Adanya

golongan2 itu maka suasana pura kerajaan selalu ricuh dan

tak tenang. Sehingga akhirnya meletuslah pemberontakan

Dharmaputera. Adakah kini setelah pemberontakan itu lenyap,

masih terdapat pula golongan2 itu, paman?” tanya patih Dipa.

“Suka dan tak suka itu, sudah kodrat perasaan manusia.

Ada yang suka tentu ada yang tak suka” kata patih

mangkubumi itu, ”walaupun tentunya masih tetapi golongan

yang menentang itu, hampir tak tampak kekuatannya. Hanya

golongan yang mendukung bagindalah yang makin besar

kekuatannya”

“Jika demikian akan kuat dan sejahteralah baginda

memerintah kerajaan Majapahit” seru patih Dipa.

Patih mangkubumi Arya Tadah menghela napas.

Patih Dipa agak terkesiap, ”Adakah sesuatu yang

merisaukan pikiran paman?”

Arya Tadah mengangguk. ”Golongan yang mendukung

baginda itu makin tampak berkuasa dan menguasai

pemerintahan”

“O” desuh patih Dipa.

 

 

“Aku sebagai patih mangkubumi tetapi tidak bebas

mengambil keputusan. Untunglah baginda sering berkenan

menyetujui usul dan laporanku”

Patih Dipa terbeliak. Ada sesuatu keganjilan yang

dirasakan dalam keterangan patih mangkubumi itu. Seolah

terasa bahwa baginda harus perlu turun tangan ikut

mencampuri urusan yang menjadi bidang kewajiban para

mentri. ”Bukankah pendukung2 baginda itu makin banyak dan

besar kekuasaannya sehingga baginda akan lebih kokoh,

paman patih?”

Patih mangkubumi Arya Tadah tertawa hambar.

”Tampaknya sepintas memang demikian tetapi kenyataannya

berlainan. Baginda tak senang dengan pengaruh golongan

yang makin terasa hendak menguasai pemerintahan itu”

“Aneh” guman patih Dipa ”apakah alasan baginda, paman

patih?”

“Ki patih” kata patih mangkubumi Arya Tadah ”ibunda

baginda adalah puteri Indreswari yang berasal dari kerajaan

Sriwijaya. Tetapi ayahanda baginda yalah rahyang ramuhun

sri baginda Kertarajasa, pangeran dari Singasari dan rajakula

Majapahit. Dalam hubungan keturunan darah itu, baginda

Jayanagara sekarang ini lebih merasa sebagai raja Majapahit

daripada darah Malayu. Baginda tidak senang dengan adanya

beberapa pengaruh yang hendak melingkupi pemerintahan itu”

Patih Dipa mengangguk dalam2. ”Jika demikian wajiblah

kita mengabdi sepenuh jiwa raga. Memang di kala berada di

desa Bedander, akupun mempunyai banyak kesempatan

menghadap baginda. Pada suatu hari baginda mengeluh

bahwa dalam menerima mahkota kerajaan Majapahit, baginda

belum sempat menikmati. Baginda harus membersihkan dulu

sisa-sisa pemerintahan ayahanda baginda Kertarajasa, yang

penuh dengan pertentangan. Kedalam, harus membersihkan

 

 

rongrongan dalam tubuh pemerintahan, keluar harus

menindas daerah2 yang hendak memberontak. Pendirian

baginda, benar2 pendirian seorang raja Majapahit”

Demikian pembicaraan dengan patih mangkubumi Arya

Tadah itu memberi gambaran yang lebih jelas kepada patih

Dipa akan keadaan dalam pura Majapahit saat itu. Ia sangat

perihatin terhadap baginda. Ia tahu bahwa baginda itu seorang

junjungan yang keras dalam memegang tampuk kerajaan.

Iapun tahu betapa keinginan baginda untuk membersihkan

kerajaan dari gangguan-gangguan golongan yang pada

hakekatnya hanya ingin berebut kekuasaan belaka. Tetapi

betapapun, pengaruh ibunya ratu Indreswari amatlah besar.

Dalam banyak hal baginda terpaksa mengalah. Adalah untuk

melipur kekesatan hatinya itu maka baginda lari kearah

kegemarannya akan wanita.

“Ah, keadaan ini harus dicegah agar kerajaan Majapahit

jangan sampai berlarut-larut tenggelam dalam kekuasaan

golongan darah dari Malayu,” patih Dipa duduk termenungmenung

di kebun belakang, sebagaimana adat kebiasaannya

apabila ia sedang memikirkan sesuatu persoalan negara,

”paman patih mangkubumi Arya Tadah sudah tua dan tiada

berpengaruh dalam keraton” ia menghela napas panjang

dikelarutan malam yang kelam saat itu. Namun kesesakan

dadanya tak berkurang walaupun napas sudah dihembuskan

keluar. Menghela napas hanya sekedar menyelimpatkan diri

dari sesuatu yang tegang, sesuatu yang mencengkam

perasaan. Tetapi bukan penyembuh dari kesulitan yang

sedang dihadapinya. Ia tetap terhampar dalam renungan yang

tiada bertepi.

Entah sampai berapa lama ia tenggelam dalam renung

pemikiran, namun belum juga ia bertemu dengan titik-titik

penemuan. Ia makin resah, kemudian gelisah. Butir-butir

keringat mulai mengalir di kepala dan tubuh, Tempat yang

 

 

diduduki pun terasa panas, Serentak ia berbangkit hendak

berjalan untuk melepas dan menyejukkan kepalanya yang

panas. Ketika berbangkit dan berpaling, serentak mendeburlah

hatinya, Percikan butir2 peluh di kepala dan tubuh serasa

membeku, dan peluh yang hendak mengucur dari lubang

kulitpun menyurut masuk kembali. Dan melonjaklah ia dalam

pekik kejut. ”Paman Anuraga …”

Kiranya mata patih Dipa telah tertumbuk dengan sesosok

tubuh yang menggunduk tegak dalam kegelapan. Jaraknya

hanya beberapa langkah dari tempat ia duduk tadi. Ia terkejut,

kagum disamping agak malu.

“Ah, ki patih” seru orang itu tenang ”dalam suasana malam

sesunyi ini, tiap bunyi suara, apalagi pekik teriakan, tentu

cepat mengundang perhatian para peronda dan penjaga

kepatihan”

“Ah, paman Anuraga” patih Dipa menghela napas

”maafkan aku, paman, karena tak tahu untuk menyambut

kedatangan paman”

“Napasmu berhembus mantap, engkau tekun sekali

berlatih ilmu Prana. Sayang pencurahan pikiranmu masih

belum mengendap” kata pendatang itu yang ternyata memang

brahmana Anuraga.

Patih Dipa mengiakan. Berhadapan dengan paman

brahmana yang dihormatinya itu, ia selalu merasa ada sesuatu

kekurangan dalam dirinya. Dan dengan penuh kejujuran ia

selalu mengakui apa yang ditunjukkan paman brahmana itu

memang benar.

“Tentulah sudah bertahun-tahun engkau menjalankan ilmu

Prana. Dalam pemusatan pikiran dan pengendapan rasa,

engkau sudah mencapai kemajuan pesat” kata brahmana

Anuraga pula ”apabila pikiranmu sampai risau seperti yang

kulihat tadi, tentulah ada sebab-sebabnya. Tak mungkin

 

 

engkau akan bersikap begitu apabila tak menghadapi suatu

persoalan yang berat”

Patih Dipa mengiakan. Kemudian ia mempersilahkan

brahmana Anuraga duduk agar ia dapat menceritakan seluruh

persoalan yang dihadapinya.

“Rupanya kerajaan Majapahit tak henti-hentinya

mengalami coba Hyang Widdhi, paman” patih Dipa mulai

membuka penuturannya ”setelah pemberontakan

Dharmaputera selesai, kini tampaknya kerajaan sedang

dibayangi suatu kekuatan yang hendak menguasai

pemerintahan. Menurut penilaian, kekuatan itu apabila

berhasil, akan menimbulkan suatu perobahan besar pada

tujuan dan landasan kerajaan Majapahit”

“O, teruskan” tenang2 brahmana Anuraga menanggapi.

“Jika kekacauan dan pemberontakan yang lalu timbul dari

golongan yang tak puas dan menentang baginda, adalah kini

golongan2 yang mendukung baginda itulah yang akan

meluaskan pengaruhnya untuk menguasai pemerintahan” kata

patih Dipa lalu menuturkan pembicaraannya dengan patih

mangkubumi Arya Tadah.

“Paman, bagaimana pendapat paman tentang soal itu”

tanya patih Dipa.

“Dan bagaimana pandanganmu sendiri, patih Dipa?”

brahmana Anuraga balas bertanya.

“Pandanganku akan kuletakkan pada garis penilaian

kerangka kerajaan Majapahit” kata patih Dipa ”Pertama,

golongan2 yang menentang baginda dan memberontak

dahulu, hanya tidak puas atas diri seri baginda Jayanagara

karena baginda dianggap bukan keturunan puteri kerajaan

Singasari. Diantara golongan2 itu, terdapat dua pendirian.

Yang hendak menobatkan gusti puteri Tribuanatunggadewi

 

 

sebagai raja puteri yang sah dari kerajaan Majapahit. Dan

yang hendak menjadikan kerajaan Majapahit sebagai haknya

atau lebih jelas merebut mahkota kerajaan ….”

“Kedua” setelah berhenti sejenak patih Dipa melanjutkan

”adalah suatu perobahan suasana kerajaan yang terselubung.

Maksudku, suatu pergantian dari kerajaan Majapahit yang

dibangun oleh putera2 Majapahit, menjadi Majapahit yang

dikuasai oleh beberapa keluarga raja Sriwijaya.”

“Tetapi bukankah kerajaan Majapahit masih langsung

berdiri?” Anuraga bertanya tenang.

“Masih berdiri tetapi sudah tidak semurni asalnya” jawab

patih Dipa.

“Apa bedanya, ki patih?”

Tiba2 wajah patih Dipa tambah memberingas dan

berkatalah ia dengan nada yang mantap. ”Paman, dalam

penderitaanku semasa kanak2, ingin kuserahkan jiwa ragaku

untuk mengabdi kepada rakyat. Aku telah merasakan betapa

derita yang dikenyam oleh kaum papa miskin, rakyat golongan

Sudra. Agar aku tak menderita lagi, akupun harus

melenyapkan derita yang dialami lain orang. Agar derita itu

enyah dari bumi kita, agar bumi kita ini merupakan suatu

tempat yang sejahtera, mengayomi dan membahagiakan

seluruh kawulanya. Agar seluruh nuswantara inipun dapat

mengenyam kehidupan yang bahagia”

Brahmana Anuraga mengawasi sikap patih Dipa dengan

penuh perhatian. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya

dikala melihat patih Dipa sedang melantangkan isi hatinya

saat itu. Ia melihat suatu kedewasaan dalam alam pikiran patih

Dipa, melihat suatu kemantapan dalam pendirian hidupnya,

melihat pula pesona yang memancar pada wajahnya. Anuraga

 

 

“Setelah tumbuh dewasa dalam pengembaraan, aku

mendapat suatu pendirian. Pendirian yang

mengumandangkan suara hati nuraniku. Bahwa untuk

melaksanakan cita2 itu, aku harus mengabdikan diri kepada

negara. Hanya melalui perjuangan dalam pemerintahan maka

cita2 untuk merobah dan memperbaiki kehidupan para kawula

itu akan dapat terlaksana. Akupun segera mengabdikan diri

kepada kerajaan ….”

“Dalam pengabdian itu makin tumbuhlah rasa cintaku

kepada negara dan kawula. Ingin aku memerangi penderitaan

yang dirasakan para kawula, ingin kuperbaiki tingkat dan

kesejahteraan hidup mereka. Ingin aku melihat kerajaan

Majapahit tumbuh sebagai negara yang besar dan jaya.

Kemudian ingin kuratakan kebahagiaan dan kesejahteraan itu

kepada seluruh kawula di nuswantara. Ingin kulenyapkan

peperangan di antara kita dengan kita, ingin kulihat para

kawula diseluruh nuswantara bersatu dalam kesatuan, dalam

sebuah negara yang besar dan jaya ….”

Brahmana Anuraga tetap tenang memandangnya.

“Mengapa kita harus menyibukkan diri untuk saling

bertentangan, saling bunuh membunuh, saling tindas

menindas. Bukankah bumi kita yang indah, sawah dan ladang

yang subur, hutan belantara yang luas, gunung2 yang megah,

menanti kita untuk menggarapnya, untuk membangunnya,

untuk menciptakannya menjadi suatu taman inderaloka yang

indah. Di mana tiada lagi penderitaan hidup, dimana tiada lagi

kemiskinan dan kelaparan, di mana tiada lagi dendam

permusuhan. Yang ada hanyalah sawah ladang yang penuh

subur dengan padi2 yang menguning, kota dan desa yang

ramai dengan perdagangan, rakyat yang hidup aman tenteram

menikmati kehidupan dan menunaikan ibadah kepercayaan

masing2, dimana candi dan tempat2 rumah suci

mengumandangkan kesahduan doa puji, di mana pura

 

 

kerajaan berhias bangunan2 yang bergelimangan dalam

kemegahan dan kesemarakan, di mana para mentri, narapraja

selalu berwajah senyum dan gelak tawa mencerah kehidupan”

“Cintaku kepada negara dan rakyat, menjadi jiwaku.

Pengabdianku kepada negara dan rakyat, menjadi pendirian

hidupku. Majapahit adalah jiwaku, ragaku, tanah kelahiranku,

alam kehidupanku, bumi penampung jasadku. Bagiku hanya

satu negara, kerajaan Majapahit, untuk Daha, Singasari,

Kahuripan dan seluruh nuswantara!”

Brahmana Anuraga

memandang tajam. Betapa

menyala semangat yang

menggelora pada wajah

Dipa dikala melantangkan isi

hatinya. Sesaat tampak patih

muda itu lupa bahwa ia

sedang berhadapan dengan

paman brahmana. Lupa pula

bahwa saat itu sedang

berada dalam kesunyian

malam yang makin larut,

makin nyenyap. Ada suatu

keanehan yang terasa pada

tanggapan kalbu brahmana

Anuraga. Bahwa seolah dahi

patih muda yang dikenalnya

sebagai Dipa dahulu itu, saat

itu memancarkan suatu sinar terang. Raut wajah Dipa yang

cukup difahaminya sejak masih kecil saat itu terasa lain

bentuknya, lebih merekah besar, penuh wibawa. Dikelembutan

angin malam yang berhembus di sekeliling kebun itu, terasa

kesejukan sendu yang membiaskan suatu bau harum

bagaikan bunga2 bertebaran dari udara. Memandang ke

cakrawala, dilihatnya bintang kemintang memancar makin

 

 

terang, makin gemilang ”Aneh” tiba2 meluncur kata2 dari

mulut brahmana Anuraga dikala menyaksikan pemandangan

kala itu. Ia seperti menghayati suatu kekuatan gaib yang

menyelubungi angkasa, mencurah turun ke bumi,

menelungkup! kebun belakang dari gedung kepatihan dan

berhamburan menebarkan bisik2 kelembutan angin yang

syahdu serta ganda harum yang menyerbak kalbu.

Brahmana Anuraga tersentak, ”Adakah dewa2 mendengar,

menjadi saksi dan merestui cita2 anakmuda itu?” denyut

jantungnya bertebaran meluapkan suara hatinya.

“Paman, maafkan Dipa” tiba2 brahmana Anuraga

tersentak pula oleh suara patih Dipa ”aku lupa diri sehingga

tak mengindahkan kehadiran paman di sini”

“Dipa” kata brahmana Anuraga setelah mendapat

kesadaran pula ”hidup itu memang suatu dharma. Dan tiada

dharma yang lebih tinggi daripada dharma kepada sesama

titah manusia. Kecintaanmu terhadap para kawula, terhadap

sesama manusia, agar mereka hidup bahagia dan sejahtera,

merupakan dharma manusia yang luhur dalam

kemanusiawianmu. Memang benar, ki patih. Jika engkau tak

ingin menderita, engkau harus mengenyahkan derita itu,

supaya derita itu lenyap. Tetapi tidaklah cukup apabila hanya

deritamu yang hilang, apabila masih terdapat orang lain yang

menderita, berarti derita itu masih hidup di dunia. Engkau

masih terancam akan tertimpah oleh derita itu. Engkau harus

membantu untuk mrnghilangkan derita orang, agar derita itu

benar2 terbasmi dari dunia”

Kini ganti patih Dipa yang mencurah pendengarannya.

“Engkau tentu masih ingat apa yang pernah kukatakan

kepadamu tentang laku dan pendirian ksatrya Arjuna bukan?”

 

 

Dipa mengangguk, ”Ya, paman. Yasa wirya donira

sukaningrat kininkinnira. Keahlian rohani dan keahlian duniawi,

dicapainya untuk keselamatan dan ke bahagiaan dunia”

“Bagus, ingatanmu tajam sekali, ki patih” seru brahmana

Anuraga ”itulah yang disebut ‘mangayu hayuning bawana’,

dharma luhur dari seorang ksatrya, dharma utama dari insan

manusia. Bahkan Hyang Batara Wisnu harus berulang kali

menitis kemayapada demi untuk mengayu hayuning bawana,

menegakkan kebenaran dan memberantas kelaliman. Dari

prabu Harjunasasrabahu, menitis ke Ramabargawa, lalu

Rawiwijaya, kemudian pada Batara Krisna. Bukankah tak lain

karena perlu untuk menyelamatkan umat manusia dari

kehancuran nafsu angkara murka yang menjelma dalam diri

prabu Rahwanaraja, kaum Korawa dan lain2. Juga ajaran

Biiddha, percaya akan Sang Hyang Buddha yang berulang kali

akan menitis ke dunia demi untuk menyelamatkan insan

manusia dari cengkeraman nafsu2 jahat?”

Patih Dipa mengangguk.

“Dipa” tiba2 brahmana Anugara berseru agak tajam

”engkau tahu asal usul diriku ?”

“Paduka adalah putera gusti Adipati Tuban Rangga Lawe,

raden”

“Benar” jawab brahmana Anuraga tanpa terkecoh oleh

kelainan ucapan Dipa ”dan tentulah engkau tahu siapa diriku

saat ini?”

“Sang brahmana Anuraga yang hamba hormati” sahut pula

patih Dipa.

“Ki Dipa” kata Anuraga ”jauh dari maksudku menonjolkan

asal keturunan diri peribadi dan kedudukan diriku saat ini.

Melainkan untuk menandaskan bahwa apa yang kuucapkan ini

berlandaskan suatu pengalaman yang nyata. Bahwa dalam

 

 

asal keturunan sebagai seorang ksatrya dan kini sebagai

seorang brahmana, aku memiliki suatu kesan, meresapi suatu

pendirian. Bahwa penggolongan manusia hidup itu bukanlah

dari kekastaannya, bukan kekayaan, bukan keturunan, bukan

kepangkatan dan bukan dari lingkungan hidupnya. Tetapi dari

sesuatu yang berada dalam dirinya. Sesuatu yang menjadi

mustika hidup seseorang, yalah jiwa. Kasta, adalah

penggolongan dari asal keturunan dan kedudukan seseorang

dalam masyarakat. Bersifat keduniawian. Kaya miskin, juga

penggolongan yang berlandaskan kebendaan lahiryah atau

keduniawian. Tetapi jiwa, bebas dari penggolongan yang

diciptakan manusia. Apabila dalam jiwa itu terdapat

penggolongan maka yang menggolongkan adalah dirinya

sendiri, buah ciptaan daripada amal perbuatannya sendiri”

Berhenti sejenak maka brahmana itu melanjutkan pula,

”Jelasnya, ki Dipa, ukuran nilai manusia itu bukan dari asal

keturunan, bukan dari pangkat kekayaan bukan pula dari

jubah kepanditaannya, melainkan dari martabat jiwanya”

Entah sudah berapa kali patih Dipa menerima wejangan

dari brahmana Anuraga. Namun setiap kali mendengar, ia

tetap merasa seperti seorang dahaga yang tengah meneguk

air sejuk, selalu merasa kurang dan ingin meneguk lagi.

Demikian pula pada saat itu. Ia merasa setiap patah kata

paman brahmana itu bagai menyusup ke dalam urat dan

tulang, menyungsum dan mendarah. Makin menambah

semangat dan kekuatan batin.

“Ki patih, tiada dharma ksatrya yang lebih luhur daripada

mengabdi untuk kepentingan manusia dan mangayu hayuning

bawana….” demikian wejangan brahmana Anuraga untuk

menempa kejiwaan patih Dipa dalam menghadapi tugas2

besar dari negara Majapahit.

“Tiap orang mempunyai lingkungan hidup sendiri2,

mempunyai tugas dan kewajiban sendiri pula. Engkau, Dipa,

 

 

kini seorang patih Daha. Walaupun engkau merasa berasal

dari keturunan Sudra, tetapi nyatanya engkau seorang patih,

seorang yang berhak digolongkan ksatrya. Mengapa? Karena

engkau telah berjuang dalam pengabdianmu terhadap raja

dan negara. Maka tanggalkan rasa rendah dirimu sebagai

kaum Sudra, karena nyatanya kini engkau seorang ksatrya

dan memang jiwamu jiwa ksatrya. Maka pupuk dan

kembangkanlah jiwa ksatryamu itu. Jiwa ksatrya sebagaimana

yang dianut oleh sang Arjuna dalam dharmanya untuk

mengayu hayuning bawana. Bukankah ini sesuai dengan

jeritan jiwamu yang engkau lantangkan tadi?”

“Benar, paman” sahut patih Dipa. Sejenak ia berhenti

untuk mengemasi pernapasannya. Kemudian ia berkata pula,

”apa yang paman tanyakan kepadaku tentang pandanganku

terhadap keadaan pura Majapahit dewasa ini maka aku tak

dapat menerima kehadiran dari suatu kekuasaan lain kerajaan

yang hendak menguasai kerajaan Majapahit. Majapahit harus

murni dan bersih, bebas, berwibawa dan jaya”

“Lalu maksudmu?” tanya brahmana Anuraga.

“Apakah kawan2 dari Gajah Kencana tidak sependapat

dengan wawasanku bahwa saat inilah waktunya untuk

bergerak membersihkan kekuasaan yang hendak

mencengkeram kewibawaan Majapahit?”

“Benar, kita memang harus bertindak agar tak terlambat”

“Dalam hal itu, paman” cepat patih Dipa menyambut ”aku

hendak mohon petunjuk paman, bagai manakah langkah yang

harus kuarahkan”

“Keamanan di Daha sudah mulai pulih. Mahendra dan

beberapa warga Gajah Kencana telah kutugaskan untuk

mengawasi gerak-gerik orang Wukir Polaman” kata Anuraga

”dengan demikian engkau mempunyai banyak peluang waktu.

Nah, pergunakanlah peluang itu untuk mendekatkan dirimu ke

 

 

pura Majapahit. Baginda dan patih Arya Tadah, merupakan

sasaran pokok yang harus engkau bantu”

Patih Dipa mengiakan. Ketika ia hendak meminta

penjelasan lebih lanjut tentang cara2 pendekatan itu,

dilihatnya paman brahmana tampak pejamkan mata. Rupanya

tengah merenungkan sesuatu. Patih Dipa tak jadi bertanya.

Beberapa saat kemudian baru kedengaran brahmana

Anuraga berkata, ”Ki Dipa” katanya ”saat ini jabatan patih pura

Majapahit belum terisi. Sebaiknya engkau dapat menjabat

kedudukan itu agar engkau lebih dapat memiliki kesempatan

untuk menyusun kekuatan. Namun untuk mencapai

kedudukan itu, harus terbentang sebuah jembatan, berupa

suatu jasa besar yang engkau lakukan” ia berhenti pula

”kurasa jembatan itu mempunyai kemungkinan untuk

diciptakan”

“O” seru patih Dipa ”jika demikian mohon paman suka

menguraikan”

“Ternyata golongan2 kerabat ratu Indreswari dari Sriwijaya

yang kini mulai giat tampil dalam pusat pemerintahan di

Majapahit, menarik perhatian dan keperihatinan orang. Bukan

hanya engkau seorang yang mencemaskan hal itu tetapi

rasanya orang2 Bali pun mulai menampakkan sikap tak puas”

“O” desuh patih Dipa. Ia terkejut mengapa paman

brahmana itu dapat mengetahui tentang suasana di kerajaan

Bali. Namun sebelum ia menyatakan rasa keheranannya itu,

brahmana Anuraga sudah mendahului” dalam

pengembaraanku ke berbagai tempat telatah Majapahit,

akupun tiba juga di telatah Belambangan. Aku telah bertemu

dan mendengar keterangan dari percakapan orang2 bahwa

raja Bali telah mengirim utusan untuk memperbincangkan

keadaan di pura kerajaan dengan adipati Belambangan.

Secara halus, raja Bali telah mengajak adipati untuk

 

 

melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit, selama

mentri2 yang berasal dari kerajaan Sriwijaya itu masih

memegang tampuk pimpinan di pusat pemerintahan”

“Lalu bagaimana sikap adipati Belambangan?” tanya patih

“Dalam penyelidikan yang kulakukan lebih mendalam” kata

brahmana Anuraga ”sejak timbulnya peperangan di Lumajang

dan tewasnya mahapatih Nambi, adipati2 di pesisir tenggara

antara lain Belambangan, Sadeng, Keta, tak puas dengan

pemerintahan baginda Jayanagara. Mereka menganggap

baginda terlalu dipengaruhi oleh mentri2 yang hianat. Belum

sempat, mereka melangkah pada suatu perundingan

membentuk persekutuan, patih Aluyuda, Dharmaputera Kuti

dan kawan2, telah ditumpas. Untuk beberapa waktu, adipatiadipati

tetap tunduk pada pemerintahan baginda. Kini

merekapun mendengar juga tentang suasana dalam pura

kerajaan tentang berkuasanya orang2 dari kerajaan Sriwijaya.

Tambahan pula raja Pasung Rigih dari kerajaan Bedulu di Bali

mengirim hulubalangnya yang bernama Kebo Warung ke

Belambangan. Rasanya perundingan mereka itu harus

mendapat tanggapan yang sungguh2”

Patih Dipa mengangguk-anggukkan kepala.

“Maka menurut pendapatku adalah demikian” kata

Anuraga pula ”rundingkanlah dengan patih mangkubumi Arya

Tadah, kemungkinan supaya baginda berkenan mengangkat

engkau sebagai patih Majapahit”

“Ah” patih Dipa mendesah kejut ”apakah alasannya?

Tanpa suatu landasan, tentu sukar bagi baginda untuk

melakukan tindakan itu”

Brahmana Anuraga tersenyum ”Tidak, ki patih, baginda

berkuasa penuh untuk mengangkat siapapun juga. Namun

bagi engkau, memang kurang leluasa apabila hanya diangkat

 

 

begitu saja. Maka rencanaku begini. Agar patih mangkubumi

mengusulkan kepada baginda untuk mengirim utusan ke

Bedulu, menitahkan raja Pasung Rigih menghadap ke pura

Majapahit”

“O” segera patih Dipa dapat menyelami kelanjutan dari

persoalan itu ”apabila raja Bedulu tak mau menghadap ?”

“Supaya patih mangkubumi mengusulkan kepada baginda

untuk mengirim pasukan ke Bedulu. Dan engkau supaya

diangkat sebagai pimpinan pasukan itu. Nah, disitulah engkau

akan mendapat kesempatan untuk membangun jasa yang

akan menjembatani langkahmu masuk ke pura Majapahit”

Dalam menanggapi saran brahmana Anuraga itu terkilas

bermacam penilaian dan kesan dalam benak patih Dipa.

Lepas dari pengetahuannya tentang ilmu kejiwaan dan

falsafah agama, ternyata brahmana Anuraga juga seorang ahli

siasat yang cemerlang. Walaupun sudah bertahun tahun

mengenal diri paman brahmana itu namun patih Dipa masih

belum dapat memahami peribadi brahmana Anuraga. Yang

diketahuinya jelas, brahmana itu seorang pemimpin pejuang2

yang membela kepentingan Majapahit. Usul paman brahmana

Anuraga, diterima baik oleh patih Dipa. Dalam kesempatan dikala

hendak berpisah, patih Dipa masih meminta agar

brahmana Anuraga dan kawan2 Gajah Kencana tak

menegakan ia berjuang seorang diri.

“Gajah Kencana adalah pengawal negara Majapahit.

Majapahit berdiri, Gajah Kencana hidup. Majapahit runtuh,

Gajah Kencana lenyap” brahmana Anuraga memberi janji.

Pada suatu hari patih Dipa menghadap patih mangkubumi

Arya Tadah. Ia hendak mengajukan usul seperti yang

dikemukakan brahmana Anuraga.

 

 

“Ki patih, sungguh kebenaran sekali engkau datang”

sambut patih mangkubumi Arya Tadah ”ada sebuah berita

yang perlu kukatakan kepadamu”

Patih Dipa memberi hormat dan meminta keterangan.

“Engkau tentu tahu bahwa sejak setengah tahun yang lalu

pangeran Adityawarman telah diutus baginda menuju ke

negeri Cina untuk mengadakan hubungan lagi sejak hubungan

kedua negara itu terputus pada jaman baginda Kertanagara

yang lampau”

Patih Dipa mengiakan.

“Beserta pangeran itu, ikut serta pula beberapa senopati

kerajaan Majapahit” lanjut Arya Tadah ”dan sejumlah pasukan

yang kuat. Dalam pengiriman itu bermula aku harus

bertentangan dengan beberapa mentri karena beda pendirian.

Aku tak setuju atas langkah baginda itu. Kukatakan bahwa hal

itu akan memperlemah kekuatan Majapahit. Pertama,

pangeran Adityawarman itu seorang mentri yang pandai dan

bijaksana, diperlukan sekali untuk kepentingan dalam negeri.

Kedua, hubungan dengan negara Cina itu, hanya akan

mengulangi tindakan raja Kubilai Khan terhadap raja

Kertanegara dahulu, mengharuskan baginda menghaturkan

upeti. Tetapi beberapa mentri golongan Arya Kembar

menyetujui tindakan baginda”

“Rupanya mereka hendak mencari jasa, agar kekuasaan

mereka dalam pemerintahan Mijapahit makin kokoh” seru

patih Dipa.

“Jika hanya begitu, itu masih ringan. Artinya, memang

mereka sudah melakukan hal itu sejak beberapa tahun yang

lalu” kata patih mangkubumi ”tetapi saat itu penilaianku

bahkan lebih buruk dari itu, ki patih. Kunilai tindakan baginda

itu karena didesak oleh golongan mentri2 dari Sriwijaya yang

 

 

tujuannya tak lain hendak meminjam kekuatan Kubilai Khan

untuk menyerang Majapahit supaya hancur”

“Apa manfaatnya, paman patih mangkubumi? Bukankah

lebih enak apabila mereka mengenyam kedudukan tinggi

dipusat pemerintahan Majapahit yang sekarang?” tanya patih

Patih mangkubumi Arya Tadah menghela napas, ”Ah,

tiada seorangpun yang tahu mengapa beberapa pangeran dari

Sriwijaya yang masih menjadi kerabat dari gusti ratu

Indreswari itu berbondong-bondong datang ke pura Majapahit.

Adakah kedatangan mereka itu hanya sekedar untuk mencari

pangkat dan kedudukan di Majapahit saja? Ataukah memang

diutus oleh kerajaan Sriwijaya”

“Andaikata diutus Sriwijaya, paman patih mangkubumi,

apakah kiranya tujuan mereka?” tanya patih Dipa pula.

“Ketahuilah, ki patih. Dengan menyerahkan kedua puteri

Dara Petak dan Dara Jingga kepada utusan Singasari dahulu,

berarti bahwa Sriwijaya gentar terhadap Singasari, tunduk

pada kekuasaan Singasari. Sudah tentu mereka masih

mendendam. Menunggu suatu kesempatan untuk balas

menghancurkan Majapahit. Untuk melaksanakan hal itu

mereka menggunakan beberapa siasat halus. Dari aliran

keturunan darah, sampai menguasai pemerintahan lalu

hendak meminjam tangan negara lain untuk menghancurkan

Majapahit”

Patih Dipa terkesiap. Tak pernah ia merangkai suatu

penyelaman yang sedemikian dalam seperti penilaian patih

mangkubumi itu. Jika benar demikian, kerajaan Majapahit

benar2 dalam tebing kehancuran. ”Tetapi paman patih

mangkubumi” serunya tak kuasa menahan luap perasaannya

”tidakkah baginda menyadari hal itu? Jika demikian, paman

patih mangkubumi, aku bersedia mempertaruhkan pangkat

 

 

dan kedudukanku, bahkan jiwa dan ragaku untuk menghadap

baginda dan menjelaskan tentang bahaya2 yang mengancam

kerajaan baginda”

“Apakah engkau berani melakukan tindakan itu, patih

Dipa?”

“Kupertaruhkan segala apa yang ada pada diriku, paman

patih mangkubumi” sahut patih Dipa dengan bergelora.

“Tetapi bagaimana andai baginda tetap menolak?” tanya

patih mangkubumi Arya Tadah.

Seketika berobahlah wajah patih Dipa. Dadanya tampak

berkembang kempis. ”Tetapi bagaimanapun aku akan

berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan kepada baginda”

“Jika andaikata baginda tetap kukuh pada keputusannya?”

Patih Dipa menghela napas ”Jika keadaan memang

menghendaki, tiada lain jalan kecuali kita harus menyusun

kekuatan untuk menghadapi setiap kemungkinan yang tak

diharap”

“Bagus, patih Dipa” tiba2 patih mangkubumi Arya Tadah

berseru seraya menepuk bahu patih muda itu ”hatiku merasa

senang sekali melihat sifat satya aprabu yang engkau miliki.

Hanya di tangan mentri-mentri seperti dikau, ki patih, kerajaan

Majapahit akan menjadi negara yang kuat dan jaya. Ah” Arya

Tadah menghela napas ”aku sudah tua, ki patih, cepat atau

lambat tentu harus ada yang mengganti. Namun aku berjanji

kepada diriku sendiri, selama belum menemukan pengganti

yang tepat, aku takkan mengundurkan diri dari pemerintahan.

Karena jika aku mengundurkan diri hanya karena merasa tua,

tentulah kekuasaan dalam kerajaan makin jatuh ke tangan

golongan mereka”

“Benar, paman” kata patih Dipa ”keadaan makin memberi

gambaran yang tak menggembirakan. Dan dalam hal ini

 

 

seluruh kawula Majapahit hanya berpaling kearah paman patih

mangkubumi. Seluruh harapan mereka tercurah kepada

paman”

“Aku sudah tua, patih Dipa” patih mangkubumi tua itu

mengeluh ”tak mungkin, walaupun hasrat menyala-nyala,

ragaku yang sudah tua itu dapat menanggulangi beban berat

yang tersandang pada bahuku. Satu-satunya orang yang

kuharapkan dapat mewakili bebanku itu tak lain hanyalah

engkau ki patih”

“Paman patih mangkubumi ….” teriak patih Dipa tertahan

”bagaimana mungkin, paman. Aku……” patih Dipa hendak

mengatakan bahwa dirinya berasal dari keturunan rakyat kecil,

bagaimana mungkin ia akan memegang jabatan yang tertinggi

dalam pemerintahan Majapahit? Jabatan itu hanya dapat

dijabat oleh mereka yang berasal dari keturunan priagung.

Namun tiba2 ia teringat akan wejangan paman brahmana

Anuraga yang belum lama berselang, bahwa janganlah ia

dihinggapi oleh suatu rasa rendah diri karena rendah

keturunan. Karena yang nyata dan jelas, bukan soal rendah

tingginya keturunan, bukan kaya miskinnya dan bukan

pangkat dan kedudukannya, melainkan jiwa keperibadianlah

yang menentukan nilai martabat seseorang itu.

“Ki patih” cepat patih mangkubumi Arya Tadah menukas

”ibarat orang naik tangga, engkau sudah berada setingkat

dibawah titian tangga yang teratas, mengapa engkau takut

untuk mencapai titian yang paling atas, ki patih?”

Patih Dipa terkesiap.

“Kutahu jiwamu, peribadimu dan pendirian hidupmu” kata

patih mangkubumi tua itu pula ”hanya apabila kelak engkau

dapat menjabat sebagai patih mangkubumilah engkau akan

mampu untuk melaksanakan segala cita-citamu untuk

meluhurkan kejayaan negara Majapahit”

 

 

“Duh, gusti patih mangkubumi yang mulia, padukalah

sesembahan hamba yang hamba hormati” tiba2 patih Dipa

menghaturkan sembah kepada patih mangkubumi itu.

“Eh, mengapa engkau, patih Dipa?” patih mangkubumi

Arya Tadah agak terkejut melihat sikap Dipa.

Patih Dipa menundukkan kepala. Patih mangkubumi pun

dapat menanggapi sikap patih muda itu. Bahwa patih Dipa tak

dapat menghaturkan persembahan kata apa2, melainkan

menyerahkan segala apa kehadapan patih mangkubumi.

“Patih Dipa” patih mangkubumi berkata pula ”pembicaraan

kita ini sesungguhnya berguna dan tidak berguna”

Patih Dipa mengangkat kepala memandang patih

mangkubumi Arya Tadah.

“Keputusan baginda telah dilaksanakan, pada setengah

tahun yang lalu pangeran Adityawarman bersama sejumlah

pengiring telah berangkat ke negeri Cina. Dengan demikian

sesungguhnya tiada guna kita memperbincangkannya lagi.

Namun ada juga gunanya karena dengan pembicaraan itu,

dapatlah kuberitahukan segala persoalan yang telah terjadi di

pura kerajaan. Dan yang penting, aku telah mengatakan isi

hatiku dan engkaupun telah mencurahkan pendirianmu”

Patih Dipa hanya mengiakan saja.

“Dan masih ada suatu hal yang perlu kukatakan

kepadamu” ujar patih Arya Tadah pula, ”bahwa kita sering

menganggap diri kita pintar, apa yang kita nilai dan duga

tentulah benar. Tetapi ternyata ada kalanya, kita harus

mengakui bahwa sesungguhnya kita ini masih bodoh, masih

sering melakukan kesalahan”

Karena tak mengerti ujung pangkal dari apa yang

dikatakan patih mangkubumi itu, patih Dipa pun hanya

 

 

termangu-mangu heran. Kemudian ia mengajukan permintaan

agar patih mangkubumi suka memberi penjelasan.

“Tak lain, engkau terutama aku ini” kata patih mangkubumi

itu ”telah salah menafsirkan tindakan baginda dalam mengutus

pangeran Adityawarman ke negeri Cina”

“Oh” patih Dipa mendesuh kejut ”lalu apakah

sesungguhnya maksud baginda?”

“Dua hari yang lalu” menerangkan patih mangkubumi ”aku

telah dititahkan menghadap baginda. Aku diterima baginda

disebuah ruang tersendiri yang tiada pengawal keraton dan

lain2 orang. Di situlah baginda menguraikan apa yang baginda

lakukan selama ini. ”Paman Tadah,” kata baginda ”bukan aku

tak dapat menerima buah pikiranmu dikala di perapatan agung

aku memutuskan mengirim kakang Adityawarman ke negeri

Tartar. Tetapi terpaksa aku harus berkeras menjalankan

keputusanku agar tiada seorangpun yang tahu apa yang

kumaksudkan dalam keputusan itu. Pertama paman, aku

hendak mengurangi kekuatan daripada sanak keluarga ibunda

ratu yang dewasa ini hampir memegang seluruh kekuasaan di

pura kerajaan. Kemudian yang penting, paman, telah

kudengar tentang laporan2 yang mengatakan bahwa raja

Bedulu di Bali hendak bersepakat dengan para adipati di

pesisir tenggara untuk melepaskan diri dari kekuasaan

Majapahit. Engkau tahu paman Tadah, apa alasan mereka

hendak bertindak begitu?”

“Sepanjang pengetahuan yang hamba peroleh, gusti, raja

Bedulu dan para adipati itu tak puas karena pemerintahan

pura kerajaan paduka telah dikuasai oleh beberapa mentri

yang berasal dari kerajaan Sriwijaya”

“Benar, paman Tadah” baginda bersabda “memang baik

sekali tujuan mereka itu. Namun tujuan itu sudah lepas dari

sumber asalnya dan sudah makin meluas. Kutahu, paman,

 

 

bahwa sejak peristiwa peperangan di Lumajang, para adipati

di telatah Belambangan tak puas dengan tindakanku. Kini

mereka mempunyai alasan yang lebih kuat lagi untuk

menghapus keluhuranku. Dengan adanya beberapa pangeran

dari Sriwijaya yang memegang kekuasaan dalam

pemerintahan di pura kerajaanku, mereka mempunyai

landasan yang kuat sekali untuk mengatakan bahwa aku

sudah dipengaruhi oleh sanak keluarga ibunda ratu dari

Sriwijaya. Bahwa semakin jelas kerajaan Majapahit selama ini

sudah tak murni lagi. Dukungan mereka makin mencurah lagi

kepada golongan2 yang menentang diriku duduk di atas

singgasana karena aku dari keturunan darah seorang puteri

Sriwijaya. Ini berbahaya sekali, paman Tadah. Ibarat lelatu,

apabila tak lekas dilenyapkan tentu menjadi bara api yang

besar”

“Soal duduknya beberapa sanak ibunda ratu di pusat

pemerintahan, aku sudah mengetahui dan menyadari. Dan

aku, terutama kuberikan janjiku kepadamu paman, pasti

sanggup mengatasi hal itu. Jayanagara adalah putera dari

ayahanda baginda Kertarajasa. Walaupun ibundaku puteri dari

Malayu, walaupun raja Sriwijaya itu masih eyangku sendiri,

tetapi Majapahit bukan Sriwijaya. Majapahit adalah sebuah

kerajaan yang harus lebih besar dan berkuasa dari Sriwijaya

dan kerajaan kerajaan di Malayu dan di Nuswantara paman”

“Gusti adalah junjungan dan sesembahan dari seluruh

kawula Majapahit. Seluruh kawula Majapahit taat dan setya

kepada paduka” kata patih Arya Tadah.

“Paman Tadah” kata baginda pula ”keputusanku mengirim

kakang Adityawarman mempunyai dua maksud, Pertama,

seperti yang telah kukatakan tadi, untuk mengurangi kekuatan

mereka. Dan kedua, untuk memancing sikap dari raja bedulu

dan para adipati di pesisir tenggara. Mereka tentu mengira

bahwa kekuatan di pura kerajaan tentu sudah kosong setelah

 

 

kakang Adityawarman pergi. Nah, disitulah akan kulihat,

bagaimana sikap mereka yang sesungguhnya. Dari kadehan

yang khusus kutugaskan untuk menyelidiki ke pesisir

tenggara, telah datang menghaturkan laporan bahwa rupanya

beberapa dipati telah setuju menerima ajakan raja Bedulu.

Oleh karena itu sebelum mereka sempat bertindak, akan

kudahului mengirim sebuah pasukan kerajaan untuk mengajak

mereka menghadap ke Majapahit”

“Tetapi gusti” kata patih mangkubum ”tidakkah lebih

bijaksana apabila paduka lebih dahulu mengutus seorang

mentri untuk menitahkan mereka menghadap ke Majapahit ?

Apabila mereka menolak, barulah paduka mengirim pasukan

untuk menangkap mereka”

“Terlambat, paman” ujar baginda ”apabila utusan itu

berangkat pulang ke Majapahit, mereka mempunyai

kesempatan untuk bersiap-siap. Tetapi apabila sekaligus

kukirim seorang senopati dengan sebuah pasukan kerajaan,

mereka tentu tak sempat bersiap dan tentu akan ikut

menghadap kepadaku”

Patih mangkubumi Arya Tadah hanya menyerahkan hal itu

kepada keputusan baginda.

“Maksudku, aku akan menitahkan patih Dipa yang saat ini

menjabat patih di Daha, supaya memimpin pasukan itu untuk

menangkap raja Bedulu. Bagaimana pendapat paman

Tadah?”

Arya Tadah terkejut. Tetapi diam2 ia gembira karena hal

itu akan membuka kesempatan bagi patih Dipa untuk masuk

ke pura Majapahit. Ia menghaturkan persetujuannya.

“Demikian ki patih” patih mangkubumi Arya Tadah

mengakhiri keterangannya ”apa yang baginda titahkan

kepadaku”

 

 

“Ah, paman patih mangkubumi, apakah diri hamba ini

sehingga baginda berkenan menitahkan nama hamba ….”

“Patih Dipa” tiba2 patih mangkubumi Arya Tadah berkata

dengan nada yang tandas ”saat ini negara sangat

membutuhkan mentri2 yang setya, yang berani dan yang

penuh bertanggung jawab. Saat ini merupakan batu ujian

bagimu, ki patih. Bebaskan dirimu dari rasa rendah diri, dari

rasa was was. Hanya satu jawaban yang harus engkau

nyatakan. Engkau bersedia megabdikan jiwa ragamu kepada

negara atau tidak.”

Patih Dipa tersentak kaget. Selama dibawah bimbingan

patih mangkubumi sepuh itu, ia selalu menerima petunjuk dan

nasehat yang halus dan bermanfaat. Belum pernah ia

mendengar patih mangkubumi itu melantangkan ucapan yang

bernada sekeras saat itu. Serentak iapun teringat akan pesan

paman brahmana Anuraga agar supaya ia bersikap dan

bertindak sebagai seorang ksatrya. Ksatrya yang selalu tampil

paling depan untuk menghadapi musuh dan bahaya.

“Paman patih mangkubumi, hamba serahkan jiwa raga

hamba dibawah perintah tuanku” segera ia memberi

Patih mangkubumi tertawa senang, ”Bagus, ki Dipa, jika

demikian tidak salahlah wawasanku. Tidak sia-sialah

harapanku. Baik, ki patih, akan kupersiapkan segala sesuatu

untukmu. Lakukanlah tugasmu dan kelak akan kuusulkan,

supaya engkau dipindah ke pura Majapahit. Jika kali ini tak

salah penilaianku, rasanya memang demikian maksud

baginda dalam rencananya untuk mengangkat dirimu. Baginda

telah mengetahui peri-badimu dan rasanya saat ini baginda

membutuhkan tenagamu pula, ki patih”

 

 

Diam2 patih Dipa membenarkan penilaian patih

mangkubumi, namun sudah tentu ia sungkan untuk

“Kurasa dalam beberapa hari lagi, baginda tentu akan

menurunkan titah. Maka bersiaplah, ki patih, agar

pemerintahan di Daha tetap berjalan lancar selama engkau

tinggalkan” demikian patih mangkubumi mengakhiri

Beberapa hari kemudian dalam kesibukan mengatur

pemerintahan di Daha, tiba2 patih Dipa mendengar berita

tentang kedatangan pasukan dari Sriwijaya. Sebuah armada

yang terdiri dari lima buah perahu besar dan memuat tak

kurang dari sepuluh ribu prajurit Sriwijaya, telah berlabuh di

bandar Ganggu.

Bergegas patih Dipa menuju ke pura Majapahit, langsung

menghadap patih mangkubumi Arya Tadah.

“Memang benar, ki patih” kata patih mangkubumi dalam

menyambut kedatangan patih Dipa ”Sriwijaya telah mengirim

pasukan ke Majapahit”

“Ah” patih Dipa mendesah ”apakah tujuan mereka, paman

patih mangkubumi?”

“Pasukan Sriwijaya itu dipimpin oleh senopati yang

bernama Arya Lembang, katanya masih mempunyai ikatan

keluarga dengan Arya Damar. Akupnn ikut hadir di kala

baginda menerima senopati Arya Lembang di keraton”

“O, apakah keterangan yang dipersembahkan senopati itu

kebawah duli baginda?” agaknya patih Dipa dirangsang gesa.

“Pada waktu pangeran Adityawarman menuju ke negeri

Tartar, beliau sempat untuk singgah di Sriwijaya. Menurut

keterangan pangeran Adityawarman, kerajaan Majapahit

dewaja ini sedang giat membangun. Namun selalu mengalami

 

 

gangguan2 dari golongan2 yang menentang baginda. Karena

harus mencurahkan kekuatan untuk membasmi beberapa

pemberontakan, terpaksa Majapahit kurang dapat

melaksanakan pembangunan dengan lancar. Pangeran

Adityawarman menyatakan keperihatinannya. Beliau memuji

baginda Jayanagara sebagai seorang raja yang tegas dan

berani.”

Berhenti sejenak, patih mangkubumi melanjutkan pula.

”Rupanya keterangan dan keperihatinan pangeran

Adityawarman itu telah menyentuh hati raja Sriwijaya. Baginda

Jayanagara adalah cucu dari raja Mauliwarman, oleh karena

itu raja Sriwijaya ikut perihatin juga atas keadaan di Majapahit.

Betapapun raja Sriwijaya itu tak rela apabila baginda

Jayanagara sampai diganggu oleh para pemberontak. Oleh

karena itu, demikian persembahan kata dari Arya Lembang di

hadapan baginda Jayanagara, raja Sriwijaya telah berkenan

mengirim sebuah pasukan untuk membantu baginda

Jayanagara menenteramkan negaranya”

Patih Dipa terkejut mendengar keterangan itu. Bukankah

hal itu dapat dipandang suatu penghinaan bagi keluhuran

nama baginda? Adakah baginda Jayanagara tak mampu untuk

mengatasi kesulitan yang timbul di kerajaannya? Adakah

Sriwijaya itu lebih kuat daripada Majapahit? Demikian berbagai

penilaian yang menghuni dalam benak patih Dipa. Dan letupan

dari isi hatinya segera terpancar pada sinar matanya yang

mencurah kearah patih mangkubumi. ”Adakah baginda

berkenan menerima mereka, paman patih mangkubumi?”

“Kemudian senopati Arya Lembang menyerahkan dua

pucuk surat kehadapan baginda. Sepucuk untuk baginda dan

yang satu untuk gusti ratu Indreswari. Oleh baginda Arya

Lembang disuruh beristirahat selama beberapa hari di

Majapahit”

 

 

“Apakah isi surat itu, paman patih?” tanya patih Dipa yang

hampir tak kuasa menahan rangsang keinginan tahu.

“Entahlah, baginda tak memberitahu kepadaku. Rupanya

baginda masih mempertimbangkan keputusan” kata patih

Patih Dipa menghela napas. ”Ah, apa yang kita cemaskan

ternyata hampir mendekati kenyataan, paman patih. Tidakkah

tindakan raja Sriwijaya jelas mengandung suatu maksud

tertentu?”

“Serahkan saja kepada baginda, ki Dipa”

“Bagaimana apabila baginda berkenan menerima

mereka?” tanya patih Dipa.

Patih mangkubumi Arya Tadah mengerut dahi ”Ki Dipa,

sabda pandita ratu. Ucap seorang raja itu telah disaksikan

para dewa, didengar bumi dan langit. Baginda Jayanagara

telah bersabda, bahwa beliau adalah putera rahyang ramuhun

Kertarajasa, pendiri kerajaan Majapahit. Beliau adalah raja

Majapahit dan kerajaan Majapahit harus membawahi raja2 di

seluruh nuswantara. Nah, ki patih, ucapan baginda itu harus

menjadi pedoman bagi kita. Tak mungkin baginda akan

membawa kerajaan Majapahit kearah yang lain. Kita harus

percaya, ki patih”

Patih Dipa mengiakan dan segera mohon diri. Namun ia

tak terus pulang ke Daha melainkan berjalan-jalan untuk

mengunjungi beberapa mentri senopati yang menjadi kenalan

baik. Pertama ia mengunjungi rumah kediaman demung

Dalam pembicaraan, demung Samaya juga menyatakan

kekuatirannya terhadap kedatangan prajurit dari Sriwijaya itu.

”Adakah gusti tak mengajukan pendapat tentang hal itu ke

hadapan baginda?”

 

 

Demung Samaya menghela napas. ”Suasana dalam

pemerintahan pura Majapahit, berbeda daripada sebelum

terjadi pemberontakan Dharmaputera. Kini baginda lebih

banyak ikut serta memberi keputusan dalam berbagai langkah

yang diambil oleh kerajaan”

“Ah, seyogyanya memang demikianlah bagi seorang

junjungan” kata patih Dipa.

“Bukan begitu maksudku, ki patih” sanggah demung

Samaya ”engkau tentu mengetahui betapa suasana dalam

pura kerajaan dewasa ini. Hampir kekuasaan dan jabatan

yang penting2 dipegang oleh beberapa pangeran keluarga

gusti ratu Indreswari. Itulah sebabnya maka baginda giat untuk

mengurus sendiri soal2 pemerintahan”

“Adakah karena baginda gembira atas bantuan2 dari

mentri2 sanak keluarga raja itu?”

Demung Samaya menghela napas pula. ”Ah,

kebalikannya, ki patih. Menurut wawasanku, baginda tak

senang dengan golongan mereka itu maka baginda-pun

langsung turun tangan dalam urusan pemerintahan”

Demikian pula kesan pembicaraan patih Dipa ketika

berkunjung ke gedung kediaman rangga Jalu dan tumenggung

Nala. Mereka mengeluh tentang suasana pemerintahan di

pura kerajaan, adanya golongan keluarga ratu Indreswari dari

Sriwijaya yang mulai tampil dalam pimpinan pemerintahan dan

sikap baginda Jayanagara.

Kepada mentri2 itu patih Dipa secara tak langsung

mengajukan dan mendapat jawaban bahwa suasana pura

kerajaan masih belum tenteram walaupun sudah dibersihkan

dari mentri2 yang memberontak. Ibarat api, bara itu masih

belum padam. Apabila angin berhembus, bara itu akan

menyala pula. Dan apabila tak waspada api itu akan

menimbulkan kebakaran yang lebih parah pada kerajaan

 

 

daripada peperangan di Lumajang dan pemberontakan

Kesan2 dalam pembicaraan itu menumbuhkan rangkaian

kesimpulan dalam pemikiran patih Dipa. Paling tidak ada tiga

golongan yang menyelubungi gelanggang percaturan untuk

menguasai pemerintahan pura kerajaan. Pertama, beginda

dan mentri2 yang setia kepada raja. Kedua, golongan sanak

gusti ratu Indreswari yang berasal dari Sriwijaya. Dan ketiga,

golongan yang tak puas dan hendak menentang baginda.

Golongan ketiga ini, sesungguhnya tak puas akan orang2 dari

Sriwijaya itu, kemudian rasa tak puas itu dialih dan

ditumpahkan kepada baginda.

Dan mengenai keadaan mentri narapraja, Dipa mendapat

kesan bahwa mereka pada umumnya tetap setya kepada

kerajaan dan memiliki suatu rasa kesatuan untuk membela

kerajaan dari ancaman musuh.

Dikala merenungkan rangkaian kesimpulan itu, kaki patih

Dipa pun tiba di pintu gapura. Tiba-tiba ia teringat akan bekel

Asadha. Segera ia mengalihkan langkah ke rumah bekel itu.

Bekel Asadha menyambutnya dengan agak terkejut, ”Ah, gusti

patih” tersipu-sipu bekel itu memberi hormat.

“Paman Asadha” kata patih Dipa setelah duduk ”janganlah

kakang berlebih-lebihan menghormati diriku”

“Tetapi gusti patih seorang patih dan aku seorang bekel,

bagaimana ….”

“Sudahlah, paman Asadha, sebut saja ki patihlah atau

namaku” tukas patih Dipa ”janganlah kita menegangkan

suasana persahabatan dengan sikap membedakan pangkat

dan kedudukan. Yang penting, kita sudah bersahabat lama

dan harus tetap bersahabat, maukah engkau paman Asadha?”

 

 

Bekel Asadha mengangguk. Diam2 ia memuji akan

kerendahan hati sahabatnya itu. Dulu sama2 seorang bekel,

kini walaupun sudah naik pangkat sebagai patih, namun tetap

ia bersikap sederhana. Setelah menanyakan tentang keadaan

keselamatan keluarga tuan rumah maka patih Dipa mulai

bertanya tentang beberapa kawan yang sering berkunjung ke

rumah bekel Asaddha.

Asaddha menerangkan bahwa sejak lama brahmana

Anuraga tak pernah berkunjung Tetapi beberapa hari yang lalu

Hesthidono dan Parandiman singgah ke rumahnya.

“O, bagaimanakah mereka, kakang Asadha?” tanya patih

“Mereka mengatakan akan menuju ke Canggu”

Keterangan bekel Asadha itu menarik perhatian patih Dipa.

Serentak ia bertanya pula, ”Apakah tujuan mereka ke

Canggu?”

Tiba-tiba bekel itu berbangkit lalu melangkah keluar dan

tak berapa lama masuk kembali. ”Mereka hendak menyelidiki

keadaan prajurit Sriwijaya yang masih berlabuh di bandar

Canggu” kata bekel itu dengan pelahan. Rupanya ia sangat

hati-hati sekali memberi keterangan itu. Sebelumnya lebih dulu

ia ke luar rumah untuk memastikan bahwa tiada orang dan

sesuatu yang mencurigakan di sekeliling rumahnya.

“O” desus palih Dipa ”adakah mereka sudah mendengar

tentang kedatangan pasukan dari Sriwijaya itu?”

Bekel Asaddha mengiakan. ”Setiap hal yang terjadi di pura

kerajaan, besar atau kecil, penting atau tak penting, tak

pernah lolos dari pengamatan mereka”

Patih Dipa mengangguk. Diam ia memuji kesiagaan dan

ketajaman langkah orang2 Gajah Kencana. Me reka

merupakan adika bhayangkara kerajaan Majapahit yang tak

 

 

tampak dan tak resmi. Mereka tak mau mengikat diri pada

suatu jabatan pemerintahan. Tetapi mereka selalu bertindak di

mana harus bertindak. Bukan kedudukan, bukan pangkat,

bukan pula tugas jabatan yang mengharuskan mereka

bertindak. Tetapi rasa kewajiban dari suatu pengabdian

kepada negara. Rupanya panggilan pengabdian itu jauh lebih

kokoh daripada panggilan lain2 kewajiban.

“Ah, betapa bebas dan betapa luas mereka bergerak.

Bebas karena mereka tak terikat akan suatu pamrih, jasa dan

pangkat. Luas karena mereka dapat bergerak menyerap ke

seluruh lapisan peristiwa dalam pemerintahan kerajaan. Andai

aku tidak menjabat kedudukan sebagai narapraja dalam

kerajaan, alangkah gembira hatiku ikut serta dalam

perjuangan kawan2 Gajah Kencana itu” sekilas memerciklah

suatu kesan dalam hati patih Dipa. Tetapi pada lain kilas ia

teringat akan ucapan paman brahmana Anuraga, bahwa

perjuangan itu harus dilakukan dengan berbagai cara dan

sarana. Masuk dalam pemerintahan kerajaan juga merupakan

salah satu sarana perjuangan. Bahkan tidak menjabat suatu

kedudukan dalam pemerintahan atau menjadi rakyat biasa,

pun memiliki landasan sarana untuk berjuang. Berjuang

membela kepentingan negara, bukan hanya kewajiban dari

golongan narapraja golongan prajurit dan mereka yang

bekerja pada kerajaan. Tetapi seluruh kawula memiliki wajib

dan tanggung jawab yang sama terhadap negara.

“Paman Asadha” kata patih Dipa sesaat menemukan

kembali sesuatu dalam dirinya yang dirasa lebih rendah

nilainya dari perjuangan Gajah Kencana tetapi yang akhirnya

tidak. seperti yang dibayangkan, ”bagaimana tanggapan dan

keadaan di kalangan prajurit pura kerajaan?”

Patih Dipa merasa perlu untuk menyusupkan

peninjauannya ke lapisan bawah untuk melengkapi

pengetahuan dari lapisan atas yang telah diperolehnya dari

 

 

beberapa mentri tadi. Hanya mendengar keterangan dari

lapisan atas, dirasakannya masih belum sempurna. Karena

sering terjadi bahwa apa yang diberikan oleh kalangan atas itu

hanya merupakan pandangannya sendiri. Kesimpulannya

sering tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Bekel Asadha memberikan keterangan menurut kenyataan

yang diketahuinya dalam lingkung kalangannya, para bekel

dan prajurit2 bawahannya.

“Telah tertanam dalam sanubari para prajurit, bahwa

mereka adalah bhayangkara negara. Hidup mereka, alam

pikiran, tindakan dan ucapan mereka hanyalah satu dan

seragam. Bahwa mereka adalah pengawal, pelindung dan

penegak negara. Oleh karena itu mereka tetap tenang dan

waspada. Mereka tak merasa terombang-ambing oleh

suasana karena mereka sudah memiliki satu bahasa dan satu

pendirian” kata bekel Asadha.

Patih Dipa memuji ketegasan bekel itu. Ia mengharapkan

agar bekel itu dapat menyadarkan kawan2 dan anakbuahnya

kearah pendirian seperti yang diuraikannya itu.

Dalam perjalanan pulang patih Dipa membawa kesan

bahwa dalam menghadapi sesuatu, memang diperlukan

ketenangan. Ketenangan itu hanya diperoleh apabila sudah

memiliki suatu pendirian. Dan pendirian itu timbul dari suatu

kesadaran yang diresapi dengan penuh penghayatan.

0o0dw-mch0o0

II

AKHIRNYA turunlah titah baginda. Patih Daha dipanggil

patih mangkubumi Arya Tadah ke pura, lalu dibawa

menghadap baginda.

 

 

“Patih Dipa” titah baginda setelah menerima sembah patih

Dipa yang duduk bersimpuh dihadapannya, ”engkau tahu apa

sebab kutitahkan engkau menghadap ke keraton?”

Patih Dipa terkesiap. Dalam hati ia merasa agak heran

mendengar titah baginda itu. Namun ia harus

mempersembahkan jawaban juga. ”Hamba hanya menanti

apapun yang paduka titahkan, gusti”

“Hm, patih Dipa” titah baginda pula ”jangan engkau

bergirang hati karena kutitahkan menghadap ke mari. Karena

aku takkan memberimu anugerah bahkan kebalikannya akan

melimpahkan tugas berat kepadamu, patih Dipa”

Kembali patih Dipa menghaturkan sembah dan pernyataan

akan melakukan apa saja yang dititahkan baginda.

“Pertama, engkau harus menjawab pertanyaanku, patih”

ujar baginda ”bagaimana keadaan negeri Daha selama

engkau menjabat patih di sana?”

“Sampai saat ini, gusti, suasana negeri Daha aman dan

tenteram” kata patih Dipa ”namun apabila gusti merasa ada

suatu kekurangan pada diri hamba, sudilah paduka

melimpahkan petunjuk”

“Hm” desuh baginda ”karena engkau menganggap telah

melakukan tugas dengan baik, karena suasana Daha engkau

anggap aman, maka engkau telah melepaskan suatu hal yang

wajib menjadi pengawasanmu”

Patih Dipa terkejut. Ia benar2 tak tahu apa yang

dimaksudkan baginda. Maka dengan tersipu-sipu ia segera

menghaturkan sembah dan memohon petunjuk baginda akan

kelalaian yang dilakukannya itu.

“Patih Dipa” titah baginda dengan nada agak keras

”mengapa engkau biarkan beberapa pemuda berdatangan

mengunjungi Daha. Apa maksud mereka?”

 

 

Patih Dipa seperti disengat kala kejutnya. Tak pernah

terlintas setitikpun dalam benaknya, bahwa baginda akan

mengemukakan hal itu. Memang hal itu benar terjadi.

Beberapa pemuda, terutama dari golongan putera orang

berpangkat dan bahkan putera raja, datang ke Daha. Tetapi

untuk mengetahui lebih lanjut, siapa yang dimaksud baginda

sehingga sampai menimbulkan rasa kurang senang pada

baginda itu, patih Dipa memberanikan diri untuk mohon

“Bukankah ada seorang pangeran dari Wengker yang

pernah datang ke Daha?” ujar baginda.

Patih Dipa terkesiap, sembahnya, ”Benar, gusti, memang

raden Kuda Amreta dari Wengker pernah berkunjung ke Daha”

“Apa maksudnya?”

“Raden Kuda Amreta hanya ingin meluaskan pandangan

dan melihat-Iihat keindahan Daha, gusti”

“Hai, apakah dia tak berkunjung ke keraton?”

“Berkunjung, gusti” kata patih Dipa ”gusti rani menitahkan

supaya raden Kuda Amreta menghadap ke keraton”

Merah wajah baginda seketika, ”Itulah, patih,

kesalahanmu. Mengapa engkau biarkan seorang pemuda

menghadap rani?”

Patih Dipa tak dapat menyelami di balik maksud yang

tersalip dalam kemurkaan baginda. Ia hendak mengatakan

bahwa hal itu atas titah Rani Haji Dewi, sudah tentu ia tak

berani membantah. Namun sekilas terlintas dalam benaknya,

bahwa sebagai patih, pimpinan utama di bawah rani, ia harus

bertanggung jawab seluruhnya atas pemerintahan Daha. Ia

tak mau melibatkan Rani dan mengakui kesalahannya. ”Gusti

junjungan hamba, memang hambalah yang bersalah dalam

 

 

hal Itu. Tetapi hambapun menghadiri pertemuan itu untuk

menjaga keluhuran nama gusti Rani”

“Patih” ujar baginda pula ”ketahuilah bahwa Rani Haji Dewi

itu masih seorang puteri, harus dijaga keluhurannya, jangan

sampai menimbulkan cemar. Kutitahkan kepadamu, jangan

diidinkan anak muda siapa dan darimanapun, menghadap ke

keraton Daha apabila tiada seidinku”

“Baik, gusti”

“Apabila aku menerima laporan tentang masih terjadinya

hal itu, engkaulah yang akan kupersalah-kan”

Kembali patih Dipa menghaturkan kesediaannya akan

mematuhi titah baginda.

“Yang kedua, patih” ujar baginda beberapa saat kemudian

”ada suatu tugas yang akan kubebankan kepadamu. Dan

tugas itu cukup berat”

“Telah hamba persembahkan jiwa raga hamba untuk

mengabdi kepada kerajaan paduka. Mana2 tugas yang

paduka limpahkan, berat atau ringan, sudah menjadi

kewajiban hamba untuk melaksanakan, gusti”

Baginda sudah tahu dan percaya akan kesetyaan patih itu

maka segera ia menurunkan suatu perintah.

“Dari utusan yang kutitahkan ke Bedulu di Bali, jelas

bahwa raja Bedulu Pasung Rigih tak mau menghadap ke pura

kerajaan. Alasannya, masih sibuk mengatur pemerintahannya

yang sedang dilanda musim paceklik. Tetapi jelas, menurut

wawasan utusan itu, memang raja Pasung Rigih mengunjuk

sikap yang tak mau tunduk lagi kepada Majapahit. Oleh

karena itu maka kutitahkan engkau membawa duaribu prajurit

untuk meminta penegasan dari raja Bedulu itu. Ajaklah raja itu

bersama menghadap ke Majapahit. Jika menolak, gempurlah

kerajaan Bedulu”

 

 

Walaupun sebelumnya sudah mendapat pengetahuan dari

patih mangkubumi tentang rencana tindakan baginda atas

sikap raja Bedulu, namun patih Dipa merasa terkejut juga demi

mendengar titah baginda yang bernada keras itu.

“Di samping itu akan kukirim juga pasukan Sriwijaya yang

dipimpin oleh Arya Lembang dan Arya Damar. Engkau patih

Dipa, mendarat dari pantai Gianyar di sebelah selatan dan

pasukan Sriwijaya itu akan mendarat dari sebelah utara.

Rundingkan dengan paman demung Samaya prajurit2 yang

akan engkau bawa dan setelah itu segeralah engkau

berangkat”

Bergegas patih Dipa menghaturkan sembah menerima

titah itu. Tetapi pada saat ia hendak mohon diri dari hadapan

baginda, tiba2 baginda bertitah pula, ”Ada sebuah hal yang

wajib engkau perhatikan, patih Dipa. Maksud pengiriman

pasukan Majapahit ke Bedulu itu hanya sekedar untuk

menghukum raja Pasung Rigih, agar menjadi contoh bagi

semua raja2 di Bali dan para adipati pesisir bahwa kerajaan

Majapahit masih memiliki kewibawaan dan kekuatan untuk

membasmi setiap mereka yang hendak memberontak.

Bawalah raja Pasung Rigih ke pura Majapahit, jangan

dibunuh. Karena pembunuhan itu akan dapat menimbulkan

kegelisahan dan ketidak-puasan para adipati pesisir”

Seundurnya dari keraton, patih Dipa masih membawa titah

baginda itu dalam ruang pemikirannya. Ia merenungkan

pelahan-lahan tindakan dan ucapan baginda. Mengapa

baginda murka karena Rani Daha menerima kunjungan raden

Kuda Amreta atau raden Wijaya rajasa, putera raja Wengker.

Mengapa baginda tiba2 memutuskan mengirim pasukan untuk

menghukum raja Bedulu. Samar2 ia mencoba untuk

menembus kabut dibalik maksud yang tersembunyi pada titah

dan keputusan raja. Namun kesimpulan dari penemuannya itu

masih semu, masih belum meyakinkan. Sepanjang menuruni

 

 

titian pendapa muka dari keraton Tikta Sripala, langkahnya

terasa sarat.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang harus direnungkan lagi.

Raja telah menurunkan titah dan sebagai patih ia harus

menerima dan melaksanakan titah itu. Tetapi tidaklah

demikian dengan pemikiran patih Dipa. Sebagai seorang patih

yang melaksanakan titah raja, justeru ia harus mengetahui dan

menghayati maksud dari titah itu. Mengenai titah baginda

supaya ia melarang setiap pangeran muda, priagung muda

berkunjung ke keraton Daha, memang tampaknya mudah.

Tetapi sesungguhnya hal itu amat berat dilaksanakan.

Bukankah ia akan berhadapan dengan titah gusti Rani, apabila

dalam hal itu gusti Rani berkenan memerintahkan supaya

membawa orang itu menghadap ke keraton? Tidakkah dalam

hal itu akan menimbulkan kemurkaan gusti Rani apabila ia

menggunakan hak yang telah dilimpahkan baginda untuk

melarang priagung muda yang datang ke Daha itu?

“Ah” renungannya hanya tertumbuk pada tumpuan karang.

Sejenak pikirannya menghayut turun seperti ombak menyurut

setelah mendampar karang. Tiba2 sepelonggar dadanya dari

kesesakan napas yang diluapkan oleh pikirannya yang buntu,

terkilas percikan sinar terang dalam angan angannya.

”Tidakkah hal itu lebih baik apabila kuhaturkan kepada gusti

Rani, apa yang telah dititahkan baginda kepadaku tadi?”

Hampir ia mengarahkan keputusannya ke jalan itu, namun

tiba-tiba terpancar pula suatu lintasan kilat menyambar

benaknya, ”Ah, tindakan itu hanya suatu langkah untuk

menghindari tanggung jawab? Bebaslah diriku dari kemurkaan

baginda maupun gusti rani dan berhadapanlah secara

langsung baginda dan gusti rani”

Demikian kesimpulan patih Dipa. ”Tanggung jawab adalah

nilai dari setiap jabatan dan kedudukan. Jika aku lari dari

tanggung jawab itu, layakkah aku menjadi seorang patih? Ah,

 

 

tidak. Lebih baik aku mengundurkan diri menjadi rakyat biasa

daripada harus melarikan diri dari tanggung jawab. Aku harus

berani menghadapi hal itu. Akan kupertimbangkan, layakkah

priagung muda itu menghadap gusti rani. Jika layak, akulah

yang bertanggung jawab terhadap kemurkaan baginda. Jika

tidak layak, akan kutolak pemuda itu walaupun dia putera raja

yang manapun juga. Aku akan menerima dengan sepenuh

keihklasan hati kemurkaan gusti rani”

Demikian keputusan patih Dipa tepat dikala kakinya

menginjak tanah alun-alun yang terbentang di muka keraton

Tikta-Sripala. Baginya, tanggung jawab itu merupakan suatu

martabat ahklak. Hanya orang yang tinggi ahklaknya, yang

bernilai martabatnya, mampu memiliki rasa tanggung jawab.

Orang yang takut, yang lari, yang menghindar dan yang

menyangkal akan rasa tanggung jawab atas sesuatu tugas

yang menjadi beban kewajibannya, adalah orang yang tidak

berahklak, yang rendah martabatnya.

“Ki Dipa” tiba2 terdengar suara seseorang memanggilnya.

Patih Dipa terkejut, terjaga serentak dari lamunannya. Cepat ia

berpaling ke belakang dan dilihatnya seorang tumenggung.

”Ah, gusti tumenggung Damar, maafkan” iapun hentikan

“Sejak turun dari paseban, sampai berjalan di lapangan

alun-alun, aku berada di belakangmu, ki Dipa” kata

tumenggung itu yang tak lain adalah Arya Damar ”tetapi

rasanya engkau tak merasa. Rupanya engkau tengah

melamunkan suatu persoalan yang berat, ki Dipa?”

Patih Dipa tersipu-sipu merah mukanya ”Ah, maafkan,

gusti tumenggung, aku sedang memikirkan sesuatu sehingga

tak tahu kalau tuan mengikuti dibelakangku”

“Tentulah tentang titah baginda itu” kata tumenggung Arya

 

 

“Benar” sahut patih Dipa.

“Ya, memang berat nian tugas yang terbebankan di atas

bahumu, ki Dipa” kata tumenggung Arya Damar pula ”orang

Bali sangat pemberani dan katanya raja Pasang Rigih itu sakti

mandraguna”

Patih Dipa terkesiap, ”Bukan soal itu yang menjadi

pemikiranku. Tetapi soal pemerintahan di Daha yang akan

kutinggalkan itu”

“Ah, mengapa Daha? Bukankah suasana disana sudah

tenang. Apa yang engkau pikirkan lagi ki Dipa?”

“Menang di luar tampak tenang, tetapi aku masih

mencemaskan bara yang belum padam itu, setiap kali angin

berhembus, tentu akan menyala pula”

“Apa yang enghau maksudkan, ki Dipa?” seru tumenggung

Damar meminta penegasan.

Dengan singkat patih Dipa menuturkan tentang keamanan

di keranian Daha dan gerakan para putera mentri senopati

Daha-Jayakatwang dahulu yang tergabung dalam himpunan

Wukir Polaman. Mereka merencanakan untuk membangun

kembali kerajaan Daha dan membalas dendam kepada

Majapahit. ”Itulah gusti tumenggung, yang kupikirkan”

Arya Damar tersenyum, ”Ya, memang benar, Tetapi

tidakkah hal itu dapat engkau wakilkan kepada salah seorang

mentri Daha untuk memperhatikan keamanan Daha yang

sudah berangsur baik itu?”

Patih Dipa menghela napas kecil. ”Ya, memang terpaksa

harus kuatur begitu. Tetapi aku masih belum bisa melepaskan

kecemasan hatiku. Keamanan keranian Daha terutama

tergantung pada gerakan Wukir Polaman. Untuk menghadapi

Wukir Polaman, memerlukan cara tersendiri, bukan hanya

menggunakan kekerasan saja”

 

 

Arya Damar memandang tajam wajah patih Daha itu lalu

berkata, ”jika demikian, tampaknya hanya engkau yang dapat

menguasai keamanan di Daha”

“Bukan demikian yang kumaksudkan, gusti tumenggung”

cepat patih Dipa memberi tanggapan, “tetapi setiap orang baru

yang akari menangani keamanan itu tentu akan memerlukan

suatu pengamatan dan kebijaksanaan langkah. Salah langkah

hanya akan menimbulkan kekacauan lagi”

Arya Damar mengangguk. ”Ah, jika demikian halnya,

memang tenagamu sangat dibutuhkan di Daha. Ada pepatah

orang Malayu yang mengatakan: ‘Harapkan guruh di langit, air

di tempayan ditumpahkan’. Artinya, karena mengharapkan

keuntungan besar yang belum tentu dapat, keuntungan kecil

yang sudah di tangan, dilepaskan. Tidakkah hal itu serupa

dengan tindakan baginda? Kerajaan Bedulu yang jauh di pulau

Bali hendak diraih, sedang Daha yang menjadi bagian dari

kerajaan Majapahit, ditelantarkan sehingga kacau dan

membahayakan kedudukan Majapahit”

Patih Dipa terkesiap. Namun sebelum ia sempat memberi

tanggapan, Arya Damar sudah berkala pula, “Ki Dipa, kurasa

Daha itu tempat yang penting sekali. Apabila diganti dengan

orang baru, tidaklah hal itu akan membawa kebaikan.

Sedangkan sesungguhnya, pemanggilan raja Bedulu ke

Majapahit itu, cukuplah diserahkan kepadaku saja. Dengan

membawa puluhan ribu prajurit Sriwijaya, tidakkah hal itu

cukup berwibawa untuk memaksa raja Bedulu menghadap ke

Majapahit?”

Patih Dipa tak memberi sambutan apa2, namun dalam hati

ia memiliki suatu rasa kejut. Mengapa Arya Damar mempunyai

pemikiran begitu?

“Ki Dipa” seru tumenggung Damar, ”bagaimana apabila

kuhaturkan keberatanmu itu ke hadapan baginda”

 

 

Patih Dipa seperti disengat kala, ”Jangan, gusti

tumenggung” serunya serentak, ”aku tak merasakan suatu

keberatan dalam mengemban titah baginda. Aku seorang

narapraja, seorang prajurit, apapun titah raja, tentu harus

kulaksanakan”

“Hai” desuh Arya Damar ”baginda juga seorang manusia,

ki Dipa. Dewa sekalipun juga dapat membuat kesalahan. Dan

terutama dalam urusan negara, kita harus berani

mengemukakan pendirian yang mengarah kepada

kepentingan negara”

Patih Dipa mengangguk. Bukan berarti ia setuju akan

tawaran tumenggung Arya Damar untuk mengajukan

keberatan pada keputusan baginda, melainkan menyetujui

ucapan tumenggung itu dalam membahas soal pendirian

seorang narapraja dalam kedudukannya sebagai abdi

“Adakah engkau takut akan menerima kemurkaan

baginda, ki Dipa?” Arya Damar mendesak.

“Bukan takut, gusti tumenggung” sahut patih Dipa ”hanya

dalam hal itu, baginda telah melimpahkan kepercayaan

kepada diriku. Bagaimana aku akan menolak kepercayaan

itu?”

“Hm” desuh tumenggung Arya Damar. Dahinya tampak

mengeriput jalur2 lipatan yang memanjang. Sesaat kemudian

ia berkata pula ”Baiklah, ki Dipa. Aku takkan memaksa engkau

….”

Saat itu mereka tiba di gapura barat. Arya Damar pun

hentikan langkah. ”Ki patih, apabila tuan luang waktu, marilah

singgah di kediamanku.”

Patih Dipa menyatakan bahwa ia masih perlu mengemasi

keperluan2 lain. Ia menyatakan terima kasih dan berjanji lain

 

 

waktu tentu akan berkunjung ke rumah kediaman tumenggung

itu. Arya Damar tak memaksa. Ia mengambil jalan ke arah

kanan, menuju keruman kediamannya. Sementara patih Dipa

melanjutkan perjalanan. Tujuannya hendak menghadap

demung Samaya.

Demung Samaya juga mengutarakan keluhan dan

cenderung akan pendapat patih Dipa bahwa keamanan dalam

negeri lebih penting daripada bertindak melangkah jauh.

Namun iapun cenderung mendukung pendirian patih Dipa

bahwa seorang narapraja, seorang prajurit harus tunduk pada

Kemudaan setelah merundingkan tentang prajurit2 yang

akan dipilih ikut dalam pasukan ke Bali, patih Dipa

menyerahkan kepada Demung Samaya. Dalam hal itu patih

Dipa hanya mengajukan saran, sebaiknya prajurit itu dipilih

yang masih muda dan patuh. Agar mereka mendapat

pengalaman berperang.

Demikian setelah tiada yang perlu dibicarakan patih

Dipapun minta diri. Tiba2 datanglah seorang juru pengalasan

yang meminta patih Dipa supaya ke gedung kediaman patih

mangkubumi Arya Tadah. Hari itu sudah menjelang petang.

Untuk pulang ke Daha, kurang leluasa. Ia memutuskan malam

itu akan bermalam di pura Majapahit.

Patih Dipa dijamu oleh patih mangkubumi dan diminta

malam itu supaya bermalam di situ. Selesai makan, maka

kedua mentri itupun duduk bercakap-cakap di pendapa.

“Bagaimana pendapat ki patih atas titah baginda tadi” patih

mangkubumi membuka pembicaraan.

Oleh karena menganggap bahwa patih mangkubumi

sepuh itu sebagai orang yang membimbingnya maka patih

Dipa pun segera mengutarakan isi hatinya. Kemudian iapun

meminta pandangan patih mangkubumi.

 

 

Setelah mengemasi diri, berkatalah patih mangkubumi

dengan tenang, ”Baginda belum berkenan untuk melimpahkan

keterangan kepadaku. Tetapi apabila tafsiranku ini benar,

kemungkinan baginda mempunyai suatu tujuan tertentu dalam

mengamanatkan titah itu kepadamu, ki patih”

“O, mohon paman patih mangkubumi sudi memberi

penjelasan kepada hamba” kata patih Dipa.

“Apa sebab baginda berkenan menunjuk engkau untuk

memimpin pasukan ke Bedulu itu, adalah karena baginda

hendak memberi kesempatan kepadamu membangunkan jasa

lagi sehingga baginda dapat mengangkat engkau masuk ke

pura Majapahit” kata patih mangkubumi.

Patih Dipa mengangguk. Diam2 ia membenarkan juga

penilaian patih mangkubumi itu.

“Kedua, bukan tiada sebabnya, mengapa baginda

berkenan juga mengikut sertakan Arya Damar membawa

pasukan dari Sriwijaya itu ke Bedulu. Dapatkah engkau

menjangkau tujuan baginda, ki patih?”

Patih Dipa terkesiap dan merenung. Samar2 ia dapat

merabah apa yang tersimpul dalam keputusan baginda itu.

Namun lebih baik sebagai seorang muda, ia menyerahkan

penilaian itu kepada patih mangkubumi sepuh. ”Kemungkinan,

baginda hendak menyatakan kepada seluruh raja dan adipati

yang tersebar di telatah kekuasaan Majapahit, bahwa

Majapahit masih mempunyai kewibawaan untuk menguasai

mereka”

“Ya” sahut patih mangkubumi ”di antaranya memang

demikian tujuan baginda. Engkau tentu tahu tentang sejarah

hubungan antara Majapahit dengan kerajaan di Bali itu, ki

patih?”

 

 

Betapapun patih Dipa harus mengakui bahwa

pengetahuannya tentang sejarah kerajaan Majapahit hanya

terbatas dari apa yang diketahui. Dan ia merasa tentu masih

jauh dari lengkap. Maka dengan serta merta ia menyatakan

belum sangat jelas dan mohon petunjuk pada patih

“Baiklah, ki patih” kata patih mangkubumi ”malam ini aku

merasa sangat gembira karena engkau mau bermalam di sini.

Akan kuberitakan sekelumit sejarah hubungan antara

Majapahit dengan kerajaan Bali”

“Dahulu Bali diperintah oleh raja Warmadewa. Raja itu

termasyhur sebagai yang paling berwibawa dan berpengaruh

di antara raja-raja lainnya. Putera dari ratu Campa,

Dharmadayana atau Udayana, diambil putera oleh raja

Warmadewa dan kemudian hari menikah dengan puteri

Mahendradata, puteri dari prabu Dharmawangsa. Dari

pernikahan Dharmadayana dan puteri Mahendradata itu

lahirlah Erlangga yang kemudian menjadi raja di kerajaan

Setelah raja Erlangga mangkat dan kerajaan Panjalu

dibagi dua, maka salah seorang putera raja Erlangga

mengutus empu Bharada ke Bali, menuntut supaya Bali

diserahkan kepada salah seorang putera keturunan baginda

Erlangga. Karena Erlangga sebagai putera dari prabu

Dharmadayana, berhak mewarisi tahta kerajaan Bali. Dan

setelah baginda Erlangga wafat, maka puteranya pun berhak

untuk menuntut mahkota kerajaan itu.

Tetapi menteri kerajaan Bali yakni empu Kuturan, menolak

tuntutan itu dan sebaliknya malah adik dari raja Erlangga yang

bernama Anak Wungsu, diangkat sebagai raja Bali. Tigapuluh

tahun lamanya raja Anak Wungsu memerintah di Bali dengan

 

 

Oleh karena setelah kerajaan Panjalu dibagi dua yakni

Jenggala dan Daha selalu timbul peperangan, maka mereka

tak sempat pula untuk menaruh perhatian pada

perkembangan kerajaan di Bali. Kemudian naiklah baginda sri

Rajasa sang Amurwabhumi sebagai raja Singasari,

mempersatukan Jenggala dan Daha menjadi satu. Namun

sejak baginda wafat, di keraton Singasari selalu timbul

peristiwa bunuh membunuh antara keturunan Ken Arok

dengan keturunan Tunggul Ametung, maka mereka tak

sempat mengalihkan perhatian ke lain daerah. Baru setelah

raja Kertanagara naik tahta, maka baginda mulai meluaskan

kekuasaannya. Bali tak luput dari rencana peluasan itu. Tetapi

Singasari pun akhirnya hancur karena diserang prabu

Jayakatwang dari Daha. Lalu raden Wijaya menghancurkan

Daha dan mendirikan kerajaan Majapahit, bergelar raja

Kertarajasa. Setelah baginda wafat, maka baginda

Jayanagara yang sekarang ini menggantikan naik tahta.”

Patih mangkubumi Arya Tadah berhenti sebentar untuk

memulangkan napas. Ia mengajak patih Dipa menikmati

minuman untuk penyegar kerongkongan. Sesaat kemudian,

patih mangkubumi itupun melanjutkan pula.

“Apabila sekarang baginda Jayanagara memutuskan untuk

mengirim pasukan ke Bedulu, rupanya baginda memang

berusaha hendak membangun kewibawaan Majapahit.

Terutama baginda tahu bahwa orang Bali tak senang melihat

baginda naik tahta, karena menganggap bahwa baginda

bukan keturunan murni dari raja dan puteri Singasari.

“Pernah baginda mengirim utusan Dharmadhyaksa ring

Kasyiwan ke Bali untuk menyatakan rasa gembira kerajaan

Majapahit bahwa kerajaan Bali selama ini selalu berjalan

dengan tenang dan damai. Sebagai tanda sukacita, baginda

telah menitahkan utusan kerajaan Majapahit itu untuk

membangun sebuah pura yang diberi nama Tatagatapura

 

 

Gerhastadra, agar agama Syiwa dan Buddha lebih dapat

“Tetapi rupanya orang Bali tak dapat diendapkan. Mereka

masih tak senang terhadap baginda Jayanagara. Apalagi

setelah terjadi tindakan baginda terhadap mahapatih Nambi

dan beberapa mentri senopati di Lumajang, timbulnya

pemberontakan Dharmaputera dan lain2 peristiwa di pura

Majapahit. Mereka lebih merasa bebas dari ikatan dengan

Majapahit. Mereka menganggap bahwa kerajaan Bali lebih tua

dari kerajaan Majapahit. Dalam menghadapi sikap raja Bedulu

yang sedemikian, rasanya tiada lain jalan bagi baginda kecuali

harus bertindak dengan keras”

Patih Dipa mengangguk-angguk. Diam2 ia gembira sekali

karena mendapat pengetahuan tentang sejarah hubungan

Majapahit-Bali.

“Maka kukatakan bahwa penilaianmu itu, termasuk salah

satu dari rangkaian landasan dalam keputusan baginda kali

ini” kata patih mangkubumi pula.

“Lalu apalah alasan lain yang penting kecuali itu, paman

patih mangkubumi?” tanya patih Dipa.

“Prajurit Sriwijaya!” tiba2 patih mangkubumi menggetar

“Prajurit Sriwijaya?” patih Dipa terkesiap.

“Ya” sahut patih mangkubumi ”seperti telah kukatakan,

sesungguhnya baginda tak senang dengan sanak ibunda ratu

dari Sriwijaya itu. Terutama setelah Sriwijaya mengirim

pasukan untuk membantu kesibukan pemerintahan kerajaan

Majapahit. Kalau tak salah penilaianku, ki patih,” sampai di sini

suara patih mangkubumi agak rendah seperti orang berbisik

”baginda hendak mengenyahkan mereka ke Bali, agar mereka

mendapat perlawanan yang keras dari orang Bali”

 

 

Patih Dipa terkesiap pula.

“Sebagaimana engkau tahu” kata patih mangkubumi masih

dalam nada lirih ”orang Bali tak senang kepada baginda

karena menganggap baginda keturunan dari puteri Malayu.

Jelas mereka tak suka pada orang Malayu. Apabila sekarang

pasukan Sriwijaya hendak menginjakkan kaki ke pulau itu,

mereka tentu akan menyambut dengan serangan yang

dahsyat”

“O” patih Dipa mendesuh ”tetapi mengapa baginda masih

perlu menitahkan hamba memimpin pasukan kerajaan ke

Bali? Tidakkah hal itu cukup ditangani pasukan Sriwijaya?”

Patih mangkubumi gelengkan kepala, ”Tidak dapat, ki

patih, tak mungkin baginda akan membiarkan kewibawaan

Majapahit terhapus oleh orang Sriwijaya. Penyerangan ke Bali

tetap atas nama kerajaan Majapahit. Oleh karena itu maka

baginda menitahkan engkau yang memimpin pasukan utama.

Di samping itu baginda pun mengharapkan jasamu agar dapat

mengangkat masuk ke pura”

Patih Dipa diam merenungkan uraian patih mangkubumi.

“Bukankah kepadamu baginda telah menurunkan titah

bahwa pasukan Majapahit tak bo!eh membunuh raja Pasung

Rigih. Tetapi titah itu tak pernah baginda berikan kepada

pimpinan pasukan Sriwijaya. Dengan demikian orang Bali

pasti akan membenci orang-orang Sawijaya itu. Apabila

pasukan Sriwijaya menderita kesalahan dan kerusakan besar,

dengan mudah baginda dapat menyuruh mereka pulang ke

Sriwijaya. Bukankah hal itu merupakan suatu tamparan halus

bagi raja Sriwijaya agar jangan meremehkan kekuatan

Majapahit?”

Patih Dipa terkejut mendengar keterangan terakhir dari

patih mangkubumi itu. Walaupun hal itu baru bersifat penilaian

secara peribadi, tetapi memang mendekati kemungkinan. Ia

 

 

tahu sifat dan peribadi Jayanagara yang keras dan mudah

tersinggung. Kemudian serentak ia teringat akan

pembicaraannya dengan tumenggung Arya Damar dalam

perjalanan di alun-alun tadi. Terasa dan makin dirasa, bahwa

ada sesuatu yang tersembunyi dibalik percakapan

tumenggung itu. Namun ia belum dapat menemukan dan

mengungkap apa sesungguhnya yang dirasa sesuatu itu.

“Paman patih mangkubumi” akhirnya ia meluapkan juga

perasaan hatinya dalam bentuk pertanyaan kepada Arya

Tadah ”bagaimana pendapat paman patih terhadap

tumenggung Arya Damar?”

“Dia seorang pangeran dari Pamelekehan yang cerdik,

licin dan bercita-cita besar untuk menduduki jabatan penting di

Majapahit. Dia merupakan orang kepercayaan dari gusti ratu

Indreswari. Salah seorang pemuka dari golongan Sriwijaya

yang berkeinginan menduduki jabatan penting di Majapahit”

menerangkan patih mangkubumi ”mengapa engkau tanyakan

tumenggung itu, ki patih?”

Patih Dipa lalu menceritakan percakapannya dengan

tumenggung Arya Damar ketika di alun-alun tadi.

“Hm, tidak selesai sampai disitu saja kiranya kelanjutan

yang akan direncanakan tumenggung itu. Dia sangat bernafsu

sekali untuk membangun jasa besar” kata patih mangkubumi.

“Sesungguhnya keinginannya itu baik” patih Dipa memberi

tanggapan ”tetapi sayang mengandung nafsu”

“Dan apabila nafsu itu hanya terbatas pada kedudukan,

itupun masih ringan” sambung patih mangkubumi ”tetapi

kemungkinan ada suatu kekuasaan yang mendorong ia

melakukan hal itu”

–dwkz0o0mch–

 

 

Patih Dipa terkejut ketika menerima seorang utusan dari

pura Majapahit yang menitahkan patih Dipa menghadap ke

keraton. Bertanya-tanyalah dalam hati patih itu selama dalam

perjalanan ke pura kerajaan. Apa gerangan baginda

menitahkannya segera menghadap? Adakah keputusan

pengiriman pasukan ke Bedulu itu dicabut? Ataukah

pemberangkatan pasukan itu dipercepat dari rencana semula?

Atau apakah ada kaitannya dengan percakapannya bersama

tumenggung Arya Damar?

Belum juga ia dapat menemukan jawaban yang

memuaskan ketika saat itu ia sudah tiba di pendapa keraton

lalu bergegas masuk menghadap baginda. Serentak ia bersila

menghaturkan sembah ke hadapan baginda yang duduk di

singgasana dengan bermuram durja.

“Patih Dipa” ujar baginda dalam ledakan nada yang keras

”benarkah engkau enggan untuk memimpin pasukan

Majapahit ke Bedulu?”

Patih Dipa tersengat kejut dan bergegas menghatur

sembah, ”Tidak gusti. Hamba seorang prajurit yang telah

bersumpah untuk setya kepada raja, negara dan perintah”

“Benar?” baginda menegas.

”Semoga Batara Agung menumpas jiwa raga Dipa apabila

hamba menghianati sumpah itu”

“Adakah engkau menguatirkan keamanan Daha akan

terganggu apabila engkau melakukan tugas yang kutitahkan

itu ?” tanya baginda pula.

“Itu hanya merupakan kekuatiran yang tercetus dalam rasa

tanggung jawab hamba sebagai seorang patih”

“Hm, dan bagaimana perasaanmu sesungguhnya?”

“Telah hamba haturkan kebawah duli paduka, bahwa

hamba adalah seorang prajurit. Mana titah paduka tentu akan

 

 

hamba laksanakan. Bahwa hamba mencetuskan kekuatiran

tentang keamanan Daha itu adalah dari rasa tanggung jawab

hamba sebagai seorang patih. Namun apabila hamba

melaksanakan titah paduka, sudah tentu akan hamba persiap

dan rundingkan dengan beberapa mentri Daha, cara2 untuk

memelihara keamanan yang sudah baik itu”

“Patih Dipa” masih nada baginda terdengar keras

”bagaimana pendapatmu apabila pengiriman pasukan ke

Bedulu itu kupercayakan kepada prajurit2 Sriwijaya dan

dipimpin oleh Arya Damar saja?”

“Hamba tidak setuju, gusti” sahut patih Dipa dengan tegas.

“Bukankah kerajaan dapat menghemat tenaga dengan

hasil yang diharapkan, raja Bedulu akan datang menghaturkan

sembah ke pura Majapahit?” baginda masih mendesak.

“Kemungkinan memang demikian, gusti. Tetapi

perkenankanlah hamba menghaturkan pendapat hamba yang

tak menyetujui hal itu”

“Mengapa ?”

“Bukan soal menghemat kekuatan, bukan pula soal hasil

yang hamba arahkan dan utamakan. Tetapi kerajaan Bedulu

dan raja2 di sekitar pulau Bali, adalah termasuk dalam

kekuasaan kerajaan paduka. Haruslah pasukan Majapahit

yang menenteramkan daerah2 kerajaan itu, bukan prajurit

Malayu atau lain2 negara. Bantuan atau campur tangan fihak

negara lain, akan mengurangi kewibawaan dan keluhuran

kerajaan Majapahit”

“Hai” desuh baginda.

“Dan tidakkah paduka merasa bahwa Majapahit sudah

tiada senopati yang mampu untuk mengemban titah paduka

itu? Gusti” patih Dipa menghatur sembah pula ”hamba mohon

 

 

menghaturkan sebuah persembahan kata dari lubuk hati

hamba”

“Katakan” titah baginda.

“Gusti junjungan yang hamba muliakan” kata patih Dipa

”mohon kiranya paduka melimpahkan ampun apabila dalam

mempersembahkan kata2 hamba ini terdapat kata2 yang tak

berkenan dalam hati paduka. Dalam pengiriman pasukan

kerajaan Majapahit ke Bedulu ini, apabila paduka

menganggap hamba tak cakap dan tak tepat memegang

pimpinan, dengan setulus hati hamba akan menerima

keputusan paduka. Siapapun yang paduka titahkan untuk

mengepalai pasukan Majapahit itu, akan hamba laksanakan.

Asal pasukan kerajaan Majapahit tetap paduka titahkan ke

Bedulu untuk melakukan tugas yang menjadi wewenang

kekuasaan Majapahit. Tetapi apabila paduka menghapus

pengiriman pasukan Majapahit dikarenakan pertimbangan

bahwa pasukan Sriwijaya sudah cukup untuk menyelesaikan

soal itu, maka hamba mohon dipecat dari jabatan

pemerintahan dan mohon gusti suka melimpahkan hukuman

kepada diri hamba”

Baginda Jayanagara terkesiap ”Lalu bagaimana

permohonanmu?”

“Hamba mohon pengiriman pasukan kerajaan Majapahit

itu tetap paduka titahkan. Dan bahwasanya pasukan kerajaan

Majapahit yang paduka serahi sebagai perutusan utama dan

pasukan Sriwijaya itu hanya sebagai pembantu”

“Hai” desah baginda ”lalu apa lagi?”

“Apabila paduka berkenan melimpahkan perkenan atas

permohonan hamba itu, akan hamba serahkan seluruh

pengabdian jiwa raga kebawah duli paduka”

 

 

Diam2 giranglah hati baginda mendengar persembahan

kata patih Dipa itu. Wajahnya yang muram, saat itu mulai

berangsur-angsur tenang. Kepercayaannya terhadap patih

muda itu kembali pula seperti dikala berada di desa Bedander.

”Baik, Dipa, aku tak meragukan kesetyaanmu lagi. Engkau

tetap kutitahkan memimpin pasukan Majapahit. Dan

kukabulkan permohonanmu pula bahwa pasukan utama

adalah pasukan Majapahir, pasukan Sriwijaya hanyalah

sebagai pembantu. Dan engkau sebagai pimpinan utama yang

bertanggung jawab penuh atas seluruh perutusan pasukan

Majapahit ke Bedulu”

Bergopoh patih Dipa menghaturkan sembah sebagai tanda

menerima kasih atas keputusan baginda itu ”Gusti, hamba

mohon ampun apabila hamba masih hendak

mempersembahkan permohonan lagi kehadapan paduka”

“O, katakan” ujar baginda.

“Pertama, hamba mohon mempersembahkan pertanyaan,

bagaimanakah kedudukan gusti tumenggung Arya Damar dan

Arya Lembang. Kedua, hamba mohon supaya diperkenankan

memilih beberapa perwira sebagai susunan pembantu hamba”

Titah baginda pula, ”Arya Damar dan Arya Lembang

mengepalai pasukan dari Sriwijaya, tetapi tunduk dibawah

kekuasaanmu. Dan permohonanmu yang kedua itupun dapat

kululuskan, patih. Lalu apakah engkau sudah mempunyai

rencana bagaimana akan menghadapi raja Bedulu?”

“Pertanyaan yang hamba haturkan ke bawah duli paduka

tentang kedudukan kedua tumenggung itu termasuk dalam

rencana yang sudah hamba miliki, gusti. Dalam menunaikan

tugas yang paduka titahkan, hamba akan menghindari suatu

tindak kekerasan yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Darah yang membasahi bumi akan tumbuh menjadi buah

dendam kesumat. Orang2 Bali akan makin memusuhi kita

 

 

walaupun mereka kalah. Maka pertama hamba akan bertindak

dengan kebijaksanaan dan membawa kedamaian. Apabila

segala kebijaksanaan yang hamba tempuh ternyata

mengalami kegagalan, baru hamba akan bertindak keras,

menggempur Bedulu”

Baginda Jayanagara mengangguk ”Ya, baik sekali

rencanamu itu. Laksanakanlah”

“Maka pertama-tama pasukan Majapahit dan pasukan

Sriwijaya akan mendarat di Gianyar, kemudian hamba akan

mengirim utusan untuk mengabarkan kepada raja Badulu.

Mudah-mudahan setelah melihat kekuatan besar dari pasukan

Majapahit itu, raja Bedulu mau menurut kebijaksanaan hamba

dan menghadap paduka”

“Ha, ha” baginda Jayanagafa tertawa gembira ”itu siasat

harimau namanya. Sebelumnya harimau tentu akan

memperdengarkan raung yang dahsyat agar lawan rontok

nyalinya. Apabila masih belum berhasil, barulah harimau itu

menyerang”

Demikian percakapan yang berlangsung di keraton Tikta-

Sripala. Antara baginda Jayanagara dengan bekas bekel

bhayangkara yang pernah melindunginya lolos dari pura

dahulu. Di antara patih dan raja itu sudah saling mengenal

peribadi masing masing sehingga dalam suasana penuh

kepercayaan, setiap perundingan tentu berjalan cepat dan

Patih Dipa segera bergegas kembali ke Daha. Langsung ia

menuju ke Pakis untuk menemui empu Kapakisan, seorang

empu yang mempunyai pengaruh dikalangan kawula Daha.

Setelah bertahun tahun menjabat patih di Daha, patih Daha

yang sering keluar menyamar untuk mendengarkan berita dan

keadaan para kawula, mengetahui bahwa empu Kapakisan

merupakan seorang empu yang sangat diindahkan oleh

 

 

kawula desa Pakis. Kecuali seorang empu yang pandai

membuat senjata keris pusaka, pun empu Kapakisan itu

seorang yang luas pengetahuan ilmu keagamaan, falsafah

dan ilmu kanuragan.

Dalam pertemuan pertama dengan empu itu, patih Dipa

telah mengemukakan pandangan dan pendiriannya tentang

hubungan Daha dan Majapahit, tentang keamanan, kehidupan

dan kesejahteraan rakyat, tentang pentingnya kesatuan dan

persatuan dan tentang penting-nya arti kerajaan Majapahit

dalam perkembangannya di nusvvantara.

Empu Kapakisan tertarik dengan uraian dari patih yang

dianggapnya masih muda itu. Dan sebagai seorang empu

yang sidik, nalurinya cepat dapat merasakan suatu sifat2 yang

luar biasa pada diri patih itu, kebesaran pada jiwa dan

peribadinya. Sebagai empu yang mendapat tempat

perindahan di kalangan kawula Daha, tak lepas pula dia

merupakan sumur penimba nasihat dari orang2 Wukir

Polaman. Redanya kegiatan orang Wukir Polaman, antara lain

juga disebabkan nasihat dari empu Kapakisan.

Hubungan antara empu Kapakisan dengan patih Dipa

amat akrab sehingga pada suatu hari empu itu telah

menghadiahkan sebuah keris pusaka yang diberi nama ki

Lobar. Menurut empu Kapakisan, keris ki Lobar itu mempunyai

daya khasiat untuk menenteramkan hati pemiliknya di kala

menghadapi ancaman bahaya yang betapa besarnya pun.

Sesaat terkejutlah empu Kapakisan menerima kunjungan

sahabatnya. Setelah mempersilahkan masuk dan duduk

berhadapan maka bertanyalah empu itu akan maksud

kedatangan patih Dipa.

Patih Dipa mengatakan bahwa kedatangannya itu tak lain

hanya akan mohon diri karena dua hari lagi ia segera akan

berangkat membawa pasukan Majapahit ke Bedulu. Kemudian

 

 

ia menceritakan tentang tugas yang dilimpahkan baginda

kepadanya. Kemudian secara halus ia mengajukan

pertanyaan bagaimana pandangan empu itu terhadap sikap

raja Bali.

Berkatalah empu Kapakisan ”Sejak jaman prabu

Kertanagara dari kerajaan Singasari, memang Bali tunduk dan

mengakui kekuasaan Singasari. Walaupun sekarang kerajaan

Singasari sudah diganti dengan Majapahit, namun karena

rahyang ramuhun Kertarajasa itu adalah putera menantu dari

prabu Kertanagara, maka tuntutan Majapahit untuk

memulihkan hubungan dengan kerajaan Bedulu itu memang

beralasan juga”

Patih Dipa menghaturkan terima kasih.

“Ki Patih” kata empu Kapakisan ”berbicara tentang Bedulu,

engkau telah mengingatkan akan kepedihan luka yang pernah

singgah dalam perjalanan hidupku ….”

Patih Dipa terkejut dan cepat memandang empu itu. Ia

makin terkejut ketika memperhatikan wajah empu itu berkabut

rawan, terlongong dalam kepukauan. Seperti mengenangkan

sesuatu dalam kissah hidupnya yang lampau. ”Empu,

maafkan, adakah sesuatu ucapanku yang menyentuh

perasaan empu ?” patih Dipa bertanya cemas.

Empu Kapakisan menghela napas, ”Tidak, ki patih. Tiada

hubungan suatu apa dengan keteranganmu tadi. Memang

Bedulu sendiri itu pernah menempati sekelumit kissah dalam

kehidupanku”

“Empu ….”

“Baiklah, ki patih, tiada suatu rahasia yang tak

kuberitahukan kepadamu. Begitu pula dalam soal ini, aku akan

menceritakan kepadamu” cepat empu Kapakisan menukas.

Dan patih Dipa pun mengiakan.

 

 

“Pada waktu aku masih jejaka, aku masuk menjadi prajurit

Singasari ….”

“Empu, bukankah tuan seorang kawula Daha yang masa

itu diperintah oleh prabu Jayakatwang ?”

“Benar, ki patih” empu Kapakisan mengangguk ”tetapi

pada masa itu hubungan antara Singasari dan Daha masih

baik, bahkan pangeran Ardaraja putera dari prabu

Jayakatwang pun diambil menantu oleh baginda Kertanagara.

Saat itu aku belum mempunyai pemikiran seperti yang dimiliki

anak2 muda Wukir Polaman sekarang. Aku diterima menjadi

prajurit Singasari dan pada suatu saat prabu Kertanagara

hendak menundukkan Bali, akupun diikut sertakan dalam

pasukan Singasari. Singasari menang. Untuk menguasai

keamanan di Bali, maka sebagian pasukan Singasari

diperintahkan untuk menetap di Bali, termasuk aku juga

terkena perintah itu”

Empu Kapakisan berhenti sejenak untuk menggali ingatan

yang telah terbenam berpuluh-puluh tahun lampau. Kemudian

ia melanjutkan ”Sebagai seorang prajurit yang masih jejaka,

tak lepaslah diriku dari libatan asmara. Aku berkenalan

dengan seorang gadis bernama nyi Kutri, puteri empu Panulis.

Aku menjadi murid dari empu Panulis yang mengajarkan aku

membuat keris. Empu Panulis pun memberi restu atas

perjodohanku dengan Kutri. Kami mendapat seorang putera

dan aku merasa bahagia hidup di Bedulu. Aku tak mau pulang

lagi ke Singasari dan menjadi penduduk Bali”

Empu Kapakisan berhenti sejenak, menengadah seolah

membayangkan pula masa2 yang bahagia dalam hidupnya.

Patih Dipa tak mau mengusik.

“Tetapi hanya dua tahun kukenyam kebahagiaan itu lalu

timbul huru hara. Singasari diserang Daha dan hal itu

mendorong golongan orang Bali-Aga atau orang Bali asli,

 

 

bangkit dan berontak. Mereka dipimpin oleh Linggah Siring,

seorang ksatrya sakti dari orang Bali-Aga. Banyak prajurit2

Singasari yang dibunuh. Pokoknya, orang Singasari yang

tinggal di Bali akan dibunuh semua. Empu Panulis

menganjurkan supaya aku segera membawa anak isteriku

meninggalkan Bedulu. Akupun menurut, tetapi ketika hampir

mencapai pantai, anakbuah Linggah Siring berhasil mengejar.

Linggah Siring memimpin sendiri anakbuahnya. Dalam

pertarungan, aku kalah dan menderita luka. Linggah Siring

amat benci sekali kepadaku. Aku tidak dibunuh tetapi bersama

puteraku, aku ditaruh dalam sebuah perahu dan dihanyutkan

ke laut. Rupanya dewata belum menggariskan aku mati.

Secara ajaib aku telah dibawa ombak mendarat di pantai

Belambangan. Aku dan puteraku ditolong seorang pencari

ikan sehingga selamatlah jiwa kami berdua .”

“Tetapi bagaimana dengan isteri empu?” patih Dipa

“Waktu anakbuahnya mengeroyok aku, Linggah Siring

telah melarikan Kutri, ah, dendam memang berhamba

manusia …” empu Kapakisan menghela napas.

Patih Dipa terkejut ”Adakah Linggah Siring mendendam

kepada empu?”.

“Hal itu baru kusimpulkan setelah kurangkai dengan

peristiwa yang lalu” kata empu Kapakisan ”kala itu sering

Linggah Siring datang kepada empu Panulisan untuk

memesan keris dan lama kelamaan ia menaruh perhatian

kepada nyi Kutri. Bahkan pernah mengajukan pinangan tetapi

tak disetujui Kutri. Dalam huru hara, Linggah Siring paling

menonjol dan giat membunuh-bunuhi orang dan prajurit2

Singasari yang berada di Bali. Kemudian ia memimpin sendiri

anak-buahnya untuk mencari aku. Setelah dapat mengejar, dia

terus merampas Kutri dan memerintahkan anak-buahnya

untuk menghajar dan menghanyutkan aku ke laut. ”Sertakan

 

 

juga anak itu bersama bapaknya. Jangan terdapat manusia

keturunan darah orang Singasari yang hidup di bumi Bali”

demikian perintahnya”

“Sepuluh tahun kemudian, secara menyamar, aku menuju

ke Bali untuk mencari berita tentang Kutri. Di pantai Gianyar

aku memperoleh keterangan dari seorang penduduk bahwa

Linggah Siring telah diangkat sebagai senopati kerajaan

Bedulu. Secara tak langsung aku menanyakan lebih lanjut

tentang kehidupan keluarga senopati itu. Orang itu dapat

memberi keterangan dengan jelas. Linggah Siring menikah

dengan nyi Kutri, anak dari empu Panulis dan sekarang telah

mempunyai seorang putera yang bernama Kebo Warung”

Patih Dipa ikut bersedih mendengar kissah yang malang

dalam kehidupan empu Kapakisan.

“Aku kembali ke Daha. Aku tak mau mengganggu

kebahagiaan Kutri yang sudah menjadi isteri seorang

senopati. Aku hidup bersama puteraku. Tetapi rupanya

kemalangan masih tiada hentinya dilimpahkan dewata kepada

diriku. Puteraku karena menderita sakit telah meninggal masih

muda dan meninggalkan tiga orang anak laki dan seorang

anak perempuan”

Demikian empu Kapakisan mengakhiri kissah hidupnya

dengan sebuah helaan napas yang longgar. Seolah ia telah

menyadari bahwa apa yang dideritanya itu memang sudah

garis yang ditentukan dewata. Sebagai seorang yang sudah

mencapai kesadaran, ia menerima segala coba dan derita itu

dengan hati yang lapang dan pikiran tenang.

Setelah melepaskan beberapa rangkaian kata penghibur

lara, patih Dipa lalu mengutarakan maksud kedatangannya.

”Empu, maksud kedatanganku kemari memang membawa

suatu tujuan tertentu. Ketiga cucu empu itu, sudah dewasa

dan merupakan pemuda2 yang telah putus dalam tempaan

 

 

ilmu. Apabila empu meluluskan, maka ingin sekali kubawa

mereka bersama ke Bedulu. Pertama, apabila tetap tinggal di

pertapaan ini, tentulah mereka tak dapat mengembangkan

bakat dan kemampuannya. Kedua, semoga mereka nanti akan

menjumpai sesuatu yang mempunyai hubungan dengan

keluarga, terutama dengan eyang puteri mereka”

Empu Kapakisan terbeliak, termangu lalu pejamkan mata.

Rupanya dia tengah menimang apa yang dikatakan patih

Dipa. Gukup lama juga kiranya empu itu merenung namun

patih Dipa tetap bersabar menanti.

Akhirnya berkata juga empu Kapakisan itu. ”Ki patih, apa

yang engkau katakan itu memang benar. Betapapun berat

hatiku sebagai seorang kakek terhadap cucu, namun tak dapat

kuberatkan pertimbangan itu demi kepentinganku. Yang

benar, harus kuarahkan kepada kepentingan cucuku. Mereka

masih perjaka muda, mereka harus ke luar melihat bumi luas

yang bersinar matahari gemilang. Mereka harus hidup lebih

berarti daripada ayah dan eyangnya ini. Aku setuju

permohonanmu, ki patih, atas dasar demi kepentingan hari

depan cucu-cucuku. Soal bagaimana nanti mereka mungkin

akan berjumpa dengan eyang puterinya, setitikpun aku tak

mengharap”

Dengan gembira patih Dipa segera membawa ketiga cucu

empu Kapakisan yang bernama Banyak Kawekas, Banyak

Wukir dan Banyak Ladrang, ke pura Majapahit. Demikian pula

ia mengajak Gajah Para dalam pasukannya. Gajah Para

seorang nayaka yang berpangkat tumenggung dalam pasukan

Demikian setelah segala persiapan selesai, patih Dipa

memerlukan berkunjung kepada Arya Damar.

Ketika patih Dipa memberitahukan tentang rencana2nya

untuk membawa seluruh pasukan Majapahit dan Sriwijaya

 

 

menuju ke pantai selatan pulau Bali, walaupun wajahnya

menampilkan rasa kurang senang, tetapi Arya Damar menurut

Memang Arya Damar telah dipanggil menghadap baginda

dan diberitahukan tentang kedudukannya dalam pasukan yang

akan menuju ke Bedulu itu. Pimpinan diserahkan kepada patih

Dipa dan seluruh pasukan harus tunduk pada perintah patih

Keberangkatan pasukan dilakukan secara sederhana

tanpa suatu upacara dan keramaian. Kesemuanya itu atas

permintaan patih Dipa. Ia tak menghendaki suatu upacara

pelepasan secara meriah, sebelum tugas yang dilaksanakan

itu berhasil.

Pasukan yang dipimpin patih Dipa berangkat ke bandar

Canggu kemudian berlayar mengarungi laut menuju ke

selatan. Tujuannya akan berlabuh di Gianyar setelah itu baru

menuju ke Bedulu.

0o-dwkz-mch-o0

 

 

JILID 40

I

WAJAR bahwa setiap

peristiwa baru akan

menimbulkan kesan baru dari

pengalaman baru pula.

Sedemikian hal yang dialami

patih Dipa. Sepanjang hidup

baru pertama kali itu ia

mengarungi laut, walaupun

hanya selat yang membelah

daerah bang wetan dengan

pulau Bali.

Dan ada pula hal yang

dirasakan amat berat bagi

patih itu, yalah kedudukannya

sebagai panglima pasukan

kerajaan Majapahit, masih

pula harus membawahi prajurit dari Sriwijaya yang berjumlah

duapuluh ribu orang. Suatu jumlah yang cukup besar.

Dalam hati kecil patih Dipa, timbul suatu rasa waswas

yang mencetuskan berbagai pertanyaan kepada dirinya

sendiri. Adakah ia mampu untuk memimpin sekian banyak

pasukan. Adakah ia sanggup untuk menanamkan wibawa

pengaruh kepemimpinannya kepada prajurit2 Palembang itu.

Adakah ia dapat menunaikan tugas kerajaan untuk

menyelesaikan persoalan raja Sedulu. Seribu macam ‘adakah’

telah menyusup, membayang dan menghuni dalam benaknya,

menantang permecahan.

Walaupun brahmana Anuraga yang mengetahui akan

bakat terpendam dalam diri Dipa tetapi pun yang menyadari

 

 

akan latar belakang kehidupan anak itu, tak henti-henti dan tak

jemu2 dalam setiap kesempatan, selalu menanamkan

kesadaran akan pentingnya memiliki kepercayaan pada diri

sendiri, namun sumber dan lingkungan hidup yang melingkupi

pertumbuhan hidup Dipa, memang sukar untuk sekali gus

dikikis habis. Tetapi harus melalui suatu perjalanan waktu

yang cukup panjang.

Kepercayaan pada diri sendiri, merupakan suatu

pemantapan dalam melaksanakan sesuatu. Suatu landasan

kokoh bagi perkembangan jiwa dalam pembentukan

keperibadian. Kehilangan kepercayaan diri, sama dengan

tidak percaya kepada dirinya sendiri, merupakan luka yang

paling parah dalam perkembangan jiwa seseorang.

Dalam menumbuh, mengembang dan memperibadikan

kepercayaan diri sendiri, seyogyanya diselaraskan pada suatu

tataran tertentu. Melampaui tataran itu akan cenderung

menuju kearah kesombongan diri, tiba pada puncak ke Aku-an

yang menonjol. Lupa bahwa percaya pada diri sendiri itu

bukan berarti kemutlakan diri sendiri dan lain orang tiada. Pun

kurang daripada tataran itu akan menjurus ke arah rendah diri.

Rendah diri dalam arti harfiah, sesungguhnya yalah hilang

kepercayaan pada diri sendiri.

Sesungguhnya setelah menanjak dalam tangga

kedudukan yang sedemikian tinggi, patih Dipa harus sudah

bebas dari bayang2 rasa rendah diri atau tak percaya kepada

diri sendiri. Bahkan kalau lain orang, tentulah cepat sekali rasa

tak percaya pada diri sendiri itu berganti dengan rasa tinggi

diri, apabila dia menempati kedudukan seperti patih Dipa.

Mengapa patih Dipa dalam kedudukan yang sekarang, masih

terselubung oleh rasa rendah diri, suatu percikan dari rasa tak

percaya pada diri sendiri, adalah karena ia kuatir atau waswas

kalau tak dapat melakukan tugas ini. Peresapan dan

penghayatan daripada wejangan-wejangan para pinisepuh

 

 

yang diterimanya selama ini telah melahirkan suatu sikap

hidup patih Dipa yakni sarjjawopasama, tingkah laku yang

memperlihatkan kerendahan hati, ramah, tulus ikhlas dan lurus

sabar. Apabila masih memiliki bayang-bayang was-was, salah

satu sifat dari tidak percaya pada diri sendiri, yang masih

sering menghinggapinya itu tak lain hanya karena ia

mempunyai landasan sikap hidup matang-gwan , selalu

mendapat, menjaga dan memelihara kepercayaan yang telah

dilimpahkan negara kepadanya. Rasa tanggung jawab untuk

melaksanakan kepercayaan itulah yang sering membuatnya

was-was, kuatir kalau tak mampu mengerjakannya.

Patih Dipa selalu menjaga kepercayaan lebih dari pada

menjaga dirinya. Peristiwa Bedander makin menghayati sikap

hidupnya. Tugas itu suatu kepercayaan dan kepercayaan itu

harus dijaga.

Dalam landasan sikap hidup itulah maka patih Dipa

termangu-mangu di atas geladak perahu yang membawa ke

pulau Bali. Baru pertama kali itu ia berada di tengah laut.

Banyak kesan2 yang merekah dalam benaknya selama

mengarungi laut itu. Ia melihat daratan bagaikan gunduk

karang yang bersalut warna hijau. Ia melihat sekeliling penjuru

alam lepas banglas dalam suatu warna biru kegelap-gelapan,

hampir sukar membedakan mana laut dan mana cakrawala.

Berada di tengah laut merupakan suatu alam dunia tersendiri.

Dan ketika malam tiba, segenap alam seolah terbungkus oleh

selubung hitam. Penerangan satu-satunya hanyalah bintang

kemintang yang berkelap kelip di langit.

Tegak diatas haluan kapal menikmati alam pemandangan

laut di malam hari, merupakan suatu perasaan yang tersendiri.

Sejenak patih Dipa terpukau dalam suatu alam dimana ia

merasakan dirinya amat kecil, bahkan terlampau kecil

menghadapi kebesaran alam ciptaan Hyang Widdhi Agung.

 

 

Hening hampa penjuru alam. Tiada terdengar keramaian

kehidupan kota, kesibukan pagi hari di pedesaan. Tiada orang

diburu oleh tugas dan pekerjaan, kebutuhan dan kepentingan.

Tugas, pekerjaan, kebutuhan dan kepentingan yang

menimbulkan berbagai gejolak dalam kehidupan manusia.

Yang terdengar hanyalah deru ombak memecah gelombang,

riak alun beriring-iring, bagaikan berlaksa pasukan kuda

berderap di medan perang.

Sekonyong-konyong terasa suatu benturan keras dan

perahupun bergoncang keras sekali. Beberapa awak kapal

menjerit dan kehilangan keseimbangan diri, terhuyung kian

kemari, tergelincir dan saling berbentur. Patih Dipa pun

terlempar ke belakang, membentur seorang awak perahu yang

berada ditepi geladak. Awak perahu itupun hilang

keseimbangan badan dan terlempar ke dalam laut. Kejut patih

Dipa bukan kepalang.

“Tenang !” tiba2 ia menggelegarkan teriak keras kepada

awak kapal dan prajurit2 yang hiruk pikuk. Seketika siraplah

suara mereka. ”Seorang awak perahu terjatuh kedalam laut,

lekas tolong”

Seorang lelaki bertubuh kekar segera tampil dan memberi

perintah kepada beberapa awak perahu untuk mengambil

tambang. Mereka mengiring patih Dipa menuju ke haluan

perahu. Dalam keremangan sinar bulan remang dan bintang,

tampak sesosok tubuh bergeliatan menggerakkan kedua

tangannya. Tali segera dilemparkan ke arah orang itu.

Rupanya awak perahu itu sudah biasa berlayar pada malam

hari. Mereka tidak menghiraukan lagi keadaan saat itu. Dan

kebetulan pula, perahunya sudah tenang kembali. Tak berapa

lama, mereka mulai menarik tali itu. Sesaat kemudian tampak

awak perahu yang terlempar ke dalam laut itu dapat diangkat

naik keatas geladak pula.

“Engkau terluka?” tegur patih Dipa.

 

 

“Tidak gusti patih” sahut awak perahu itu.

“Maafkan” kata patih Dipa ”karena terlempar oleh

goncangan perahu, aku telah membentur tubuhmu hingga

terlempar kedalarn laut”

Awak perahu itu tersipu-sipu memberi hormat dan

mengatakan bahwa hal itu suatu keadaan yang menimpa

dengan tiba2 dan sukar dihindari. Berpuluh awak perahu dan

prajurit yang mendengar pembicaraan itu, terkesiap dan

terkesan. Belum pernah selama ini, baik sebagai awak kapal

maupun sebagai prajurit, mereka mendengar seorang patih

yang memegang pimpinan tertinggi dari sebuah pasukan,

meminta maaf kepada seorang bawahannya, seorang awak

perahu biasa.

“Gusti patih” lelaki bertubuh kekar yang ternyata menjadi

nakhoda kapal itu berkata, ”peristiwa ini memang suatu hal

yang terjadi diluar persangkaan. Hamba rasa gusti tak perlu

meminta maaf kepada awak perahu kami”

Patih Dipa memandang nakhoda itu, ”Hm, engkau salah.

Perbuatan membentur orang hingga orang itu terlempar ke

laut, adakah hal itu karena sesuatu yang tak terduga-duga

atau perbuatan yang tak sengaja maupun sengaja, tetapi

layaklah kalau aku minta maaf. Adakah engkau menganggap

bahwa orang yang lebih tinggi pangkatnya, tak layak meminta

maaf kepada orang sebawahannya walaupun dia berbuat

salah ?”

Nakhoda perahu tergopoh menghaturkan kata, ”Bukan

maksud hamba mengatakan begitu, gusti. Tetapi kita semua

telah menderita goncangan dahsyat sehingga kapal itu sampai

miring. Apa yang terjadi adalah diluar kehendak dan

kekuasaan kita semua”

Patih Dipa mengangguk. ”Benar, engkau memang benar,

tapi tidak seluruhnya benar. Misalnya, engkau sedang berburu

 

 

di hutan, melihat seekor rusa lalu engkau lepaskan anakpanah

atau tombak. Rusa terkejut lari tetapi dari balik gerumbul

terdengar suara orang menjerit. Ternyata diluar

pengetahuanmu, dibalik gerumbul itu terdapat seseorang yang

tengah mencari kayu. Engkau tak sengaja, bukan? Tetapi

adakah engkau bebas dari hukuman atas dalih tidak sengaja

atau lalai itu?”

Nakhoda itu tertegun diam.

“Karena tak sengaja maka hukuman pun lain. Tetapi

tidaklah merobah sifat kesalahan itu. Apalagi dalam soal jiwa.

Demikian pula dengan perbuatanku tadi, hampir saja membuat

jiwanya melayang. Adakah suatu pernyataan maaf, engkau

anggap masih terlampau berat?”

Sekalian awak kapal dan prajurit tersentuh hatinya. Diam2

pula mereka menaruh rasa hormat dan kagum kepada patih

muda itu.

“Tetapi apakah yang menyebabkan goncangan dahsyat

tadi?” tiba2 patih Dipa mengajukan pertanyaan kepada

Nakhoda itu menerangkan bahwa sekonyong konyong

didekat kapal mereka telah timbul seekor binatang besar yang

dengan kecepatan luar biasa hendak menerjang kapal.

Untunglah tidak mengenai, namun cukup membuat kapal

hampir terbalik. Kemungkinan seekor ikan raksasa, gusti

patih,” nakhoda itu mengakhiri keterangannya.

Patih Dipa mengangguk dan meminta sekalian awak kapal

kembali ke tempat masing2. Kemudian ia sendiri tetap berjalan

memeriksa keadaan kapal. Tidak banyak kerusakan yang

diderita kapal itu, pun tak ada korban yang jatuh.

“Ternyata bukan melainkan di darat, pun di laut dan

dimana saja, bahaya itu selalu mungkin mengancam,” kembali

 

 

patih Dipa melepaskan diri dalam renungan dikala ia duduk di

haluan kapal. ”Terutama bahaya yang mengancam di lautan

itu, menyempit kesempatan untuk usaha penyelamatan. Di

darat, orang masih dapat lari bersembunyi. Tetapi di laut, tiada

lagi tempat untuk menghindar dari bahaya itu.”

Renungan patih Dipa berkelanjutan lebih jauh dan tiba tiba

tersentaklah ia ketika terlintas suatu kenangan pada saat ia

mendengar wejangan paman brahmana Anuraga. ”Dalam

perjuangan hidup ataupun memperjuangkan sesuatu cita2

hidup, mengemban tugas dan melaksanakan kewajiban,

bekalnya hanya kemauan dan senjatanya tekad Semisal

engkau diluncurkan ke laut dalam sebuah perahu, jangan

engkau mengandalkan harapan untuk mendapat pertolongan

tetapi lebih bermanfaat engkau pergunakan waktu, pikiran dan

tenagamu untuk berusaha mendayung perahu itu sampai ke

pantai”

Ia teringat akan nasehat itu karena tepat saat itu ia berada

di tengah laut. Walaupun segala perlengkapan tersedia

lengkap, bukan sebagai seorang diri yang dinaikkan dalam

sebuah perahu tanpa suatu kelengkapan apa2, namun

keadaannya sama. Sama di tengah laut, sama harus berjuang

melintasi ombak. Apabila sama hakekat keadaannya, tentulah

harus sama pula sifat juangnya. *

“Tugas telah diturunkan baginda, harus kulaksanakan

dengan cara juang ‘tiada ujung kembali’. Tak boleh aku

kembali ke Majapahit, mengharap bantuan, lebih tidak boleh

menghaturkan kekalahan” patih Dipa merenung, ”pemilihan

baginda atas diriku merupakan suatu kepercayaan.

Kepercayaan itu suatu kehormatan yang berisi tanggung

jawab. Kehormatanku adalah jiwa, tanggung jawabkupun jiwa.

Hilang kepercayaan, hilang jiwa. Lebih baik hilang jiwa

daripada bilang kepercayaan”

 

 

Dalam melaksanakan kesemuanya itu, tiada yang dapat

dan harus diandalkan kecuali kekuatan diri sendiri. ”Mengapa

aku harus was-was?” serentak ia tersentak menerima

pertanyaan dalam renungannya, ”ibarat sudah berada dalam

sebuah perahu di tengah samudera, mengapa aku harus

cemas dan gelisah. Bukan waswas atau cemas yang dapat

menyelesaikan kesukaran, tetapi hanya kepercayaan pada

kekuatan diri sendiri untuk berusaha dan berjuang, akan dapat

menundukkan keganasan gelombang dan membawa perahu

itu ke pantai tujuan.”

Percikan renung itu telah membangkitkan kepercayaan

pada kekuatan diri sendiri. Selekas kepercayaan timbul,

hilanglah rasa was-was dan cemas dalam hati patih Dipa.

Setelah lama terbenam dalam renungan, ia terkejut ketika

melihat cakrawala sebelah timur merekah terang. ”Ah,

matahari menjelang terbit” katanya. Dan iapun ayunkan

langkah menuju ke ruang peristirahatannya. Sebelum

menuruni tangga, sejenak ia lepaskan pandang ke arah sinar

merekah dibelah timur. Tiba2 ia terhentak. Ada sesuatu yang

cepat menghuni dalam benaknya. Jauh diujung kaki cakrawala

tampak membujur gunduk2 benda hitam yang rangkai

berangkai, bagaikan rangkaian ratna mutu manikam diatas

alas permadani biru.

Sesaat patih Dipa hentikan langkah dan memanggil

seorang awak perahu yang berjaga di dekat. ”Apakah gunduk2

hitam itu?”

“Pulau2, gusti patih” kata awak perahu, ”dan setelah itu

akan terlihat gunduk pulau yang besar”

“Pulau Bali?” tanya patih Dipa. Dan awak perahu itu

mengiakan. Keterangan itu menimbulkan sesuatu dalam

benak pauh Dipa. Ia tak langsung turun ke bawah melainkan

berputar tubuh dan menghampiri ke buritan perahu. Tegak

 

 

berdiri memegang tiang pasak yang berada di depan, kepala

patih itu meregang tegak, pandang matanya melontar jauh

seolah menelungkupi penjuru laut yang luas. Terpercik dalam

hati patih itu, bahwa sesungguhnya nuswantara itu suatu

daerah yang amat luas, bukan melainkan Jawa-dwipa, pun

terdiri dari berpuluh, mungkin beribu, gugusan pulau besar

kecil. Seketika timbul kegairahannya untuk menjelajah lautan,

meninjau dan mengetahui betapa luas nuswantara itu.

Sudah sering patih Dipa, baik sejak masih seorang

pemuda kelana, maupun setelah masuk menjadi prajurit, bekel

bhayangkara dan terakhir patih, meluapkan cita2 hidupnya

untuk mempersatukan nuswantara dalam suatu wadah negara

Majapahit. Saat itu ia belum tahu betapakah luas nuswantara

yang dibayangkan itu. Kini setelah pertama memimpin armada

kerajaan melintasi lautan, melihat dan mengetahui keadaan

nuswantara dengan gugusan2 pulau, makin bersemilah gelora

semangatnya untuk menumbuhkan benih cita citanya itu.

Semalam suntuk patih Dipa hanya tidur dalam renungan.

Ia memerintahkan supaya iring-iringan kapal berlayar

menyusur pantai Bali karena ia ingin tahu letak dan keadaan

pulau Bali. Melalui jawaban dari pertanyaan yang diajukan

kepada anak kapal, dapatlah ia mempelajari letak kerajaan

Bedulu dan beberapa bandar disepanjang pulau Bali sebelah

selatan. Dipelajarinya letak2 tempat itu dengan seksama.

Kemudian ia mengambil keputusan untuk mendarat di dua

“Usahakan supaya fajar esok kita sudah mendarat di Kuta”

ia segera memberi perintah kepada nakhoda kapal.

Pada saat fajar menyingsing, lima buah perahu besar

berlabuh di pantai Kuta. Sebelum turun kedarat, maka

diundangnyalah Arya Damar sebagai pimpinan prajurit

Sriwijaya ke kapal panglima.

 

 

“Raden” kata patih Dipa setelah berhadapan dengan Arya

Damar, ”kita pecah pasukan kita di dua tempat. Raden

bersama pasukan Sriwijaya mendarat di Kuta dan aku akan

membawa pasukan Majapahit ke Gianyar”

Arya Damar kerutkan dahi. ”Mengapa ki patih

merencanakan demikian ? Bukankah pasukan kita akan

terpecah belah kekuatannya?”

“Titah narpati adalah untuk mengundang raja Bedulu

menghaturkan sembah ke pura Majapahit” menerangkan patih

Dipa ”dan pada tujuan utama, hanyalah untuk membangun

kembali kekuasaan Majapahit di kerajaan Bali. Oleh karena

itu, langkah pertama kita harus datang dengan membawa

kedamaian dan sikap bersahabat. Namun apabila raja Bedulu

tetap berkeras kepala, barulah kita bertindak keras juga”

“Tetapi sudah jelas bahwa raja Bedulu itu telah

menunjukkan sikap tak mau tunduk pada kekuasaan

Majapahit. Mengapa tidak sekaligus kita genangi dan banjiri

tanah-tanah kerajaan mereka dengan pasukan yang besar?”

kata Arya Damar.

Patih Dipa menjawab, ”Untuk bertindak keras, adalah

mudah karena kita memang sudah dibekali dengan pasukan

yang kuat. Tetapi dalam peperangan, baik yang menang

maupun yang kalah, tentu akan menderita korban jiwa.

Mengalahkan kerajaan Bedulu, belum tentu dapat menjamin

dapat menundukkan hati mereka. Adalah suatu siasat yang

paling indah, apabila kita dapat memenangkan peperangan

tanpa menumpahkan darah, merebut hati raja Bedulu tanpa

melukai hati rakyat Bedulu. Ngluruk tanpa prajurit, menang

tanpa perang”

“Cita2 yang muluk, ki patih” kata Arya Damar setengah

mengejek, “tetapi sukar dalam pelaksanaannya”

 

 

“Justeru sukar itulah letak nilainya, raden Damar,” kata

patih Dipa, ”sebelum kita mencobanya, tentulah kita belum

dapat mengatakan apa dan betapa yang disebut sukar itu.”

“Apakah rencana itu sudah menjadi keputusan ki patih?”

“Ya” sahut patih Dipa tanpa ragu2.

“Lalu bagaimana rencana ki patih selanjutnya?”? tanya

Arya Damar pula.

Patih Dipa menguraikan rencananya. ”Baiklah raden

bersama pasukan mendarat di Kuta. Kirimlah pengalasan

untuk mengadakan hubungan dengan pasukan kita di Gianyar.

Apabila aku sudah berhasil memberi penerangan kepada raja

Bedulu hingga raja mau kita ajak menghadap baginda di pura

Mijapahit, aku akan singgah di Kuta dan kita berlayar pulang.

Tetapi andaikata gagal dan peperangan tak dapat ditolak lagi,

maka raden boleh menggerakkan pasukan untuk menyerang

Bedulu”

Arya Damar mengangguk.

“Ada sedikit hal yang perlu kuhaturkan kepada raden”

pada saat mengantar Arya Damar kembali ke perahunya, patih

Dipa memberi pesan, ”apabila sampai terjadi pertempuran,

sedapat mungkin hindarkan korban jiwa”

Arya Damar terkesiap. Memandang patih Dipa tetapi tak

berkata apa-apa lalu lanjutkan langkah menuju kembali ke

perahunya. Tiba di perahunya ia masih membawa kumandang

kata kata patih Dipa. Kemudian memantulkan pertanyaan.

”Aneh, mengapa dia mencegah aku supaya jangan

menimbulkan banyak korban? Tak mungkin dalam

peperangan takkan jatuh korban yang banyak, kecuali ada

salah satu fihak yang menyerah. Hm ….”

Ada sesuatu yang memercik dalam ingatannya. Ketika

mendengar berita tentang kedatangan prajurit dari Sriwijaya

 

 

yang dipimpin Arya Lembang, Arya Damar segera bergegas

menuju ke tempat kediaman Arya Kembar. Ternyata di situ

Arya Warak pun sudah hadir. Memang mereka merupakan

tiga serangkai pangeran dari Pamelekehan atau tanah Malayu

yang mendapat kedudukan tinggi dalam keraton Majapahit.

Dan seolah terikat oleh suatu naluri sekampung halaman,

mereka selalu bersekutu, berunding untuk mengambil

kesatuan langkah. Demikian mengenai kedatangan prajurit

Sriwijaya di Majapahit itu.

Arya Kembar, Arya Damar dan Arya Warak mengupas

tujuan pasukan Sriwijaya itu kemudian menentukan sikap

terhadap mereka. Setelah menguraikan tujuan pasukan

Sriwijaya ke Majapahit sebagaimana yang dihaturkan Arya

Lembang dihadapan baginda Jayanagara, maka berkatalah

Arya Kembar, ”Sesungguhnya mudah sekali menimbulkan

kesan mengejutkan pada baginda dan seluruh narapraja

Majapahit. Pun alasan yang dikemukakan perutusan pasukan

Sriwijaya itu, mudah menyinggung kewibawaan baginda dan

kerajaan Majapahit.”

Arya Damar mengiakan, ”Benar, kakang Kembar, tetapi

kemungkinan eyang Demang Lebar Daun mempunyai

penilaian lain”

Arya Kembar membeliak, bertanya melalui curahan sinar

matanya. Dan Arya Damar dapat menangkap. ”Menurut

hematku, eyang Demang Lebar Daun telah menanam

kepercayaan kepada para putera Sriwijaya yang telah

menetap di pura Majapahit. Bahwa setelah bibi ratu Indreswari

diangkat sebagai sri tinuheng pura, kemudian puteranya

baginda Jayanagara yang sekarang ini diangkat sebagai

pewaris mahkota kerajaan Majapahit, maka iklim kekuasaan

sudah berobah.”

“O” desah Arya Kembar setelah dapat merabah apa yang

tersembul dalam ucapan Arya Damar.

 

 

“Di samping itu pula,” lanjut Arya Damar, ”adalah para

putera2 Sriwijaya yang berada di Majapahit itu, termasuk salah

satu dari tonggak harapan eyang Demang Lebar Daun.”

“O” Arya Kembar mendesuh pula.

“Oleh karena itu maka beliau telah berani

memperhitungkan untuk mengirim prajurit ke pura Majapahit”

“Adi Kembar” sanggah Arya Warak ”beliau hanya

membuat perhitungan atas dasar bayangan. Tetapi beliau

belum meresapi kenyataannya. Dan pula pengiriman itu

seperti yang dikatakan kakang Arya Kembar tadi, mudah

menimbulkan rasa tak puas pada baginda dan seluruh kawula

Majapahit. Bukankah hal itu lebih banyak bahayanya daripada

manfaatnya?”

Arya Damar mengangguk. ”Benar. Tetapi apabila kita mau

merenungkan secara dalam, apabila perhitungan eyang

Demang Lebar Daun itu salah, maka kesalahannya terletak

pada penilaiannya terhadap diri kita. Eyang Demang Lebar

Daun telah menilai diri kita pada suatu tataran seperti yang

dibayangkan, tetapi ternyata kita dibawah tataran itu atau lebih

jelas kita tak dapat memenuhi harapan eyang Demang. Atau

lebih tandas pula, kita mengecewakan. Nah, disinilah kiranya

letak persoalan itu. Eyang Demang Lebar Daun yang salah

menilai kita atau kita yang salah mengecewakan harapan

eyang Demang.”

Arya Kembar dan Arya Warak terkesiap. Ulasan Arya

Damar itu dirasakan amat tajam sekali, sehingga dapat

mengupas isi yang tersembunyi daripada pengiriman pasukan

Sriwijaya ke Majapahit. Sesaat keduanya saling bersua

Kemudian pandang mata ketiga Arya itu saling bertemu

pula. Dan Arya Damar pun merasa harus memberi saluran

akan luapan kata2 yang diucapkannya tadi. ”Oleh karena itu,

 

 

kakang Kembar dan kakang Warak, betapapun kedudukan

kita ini memang sudah mempunyai warna. Oleh narapraja dan

kawula para Majapahit, warna kita ini adalah warna Sriwijaya.

Betapa pun kita hendak mengatakan bahwa kita akan setya

kepada kerajaan Majapahit, mereka sudah tak mempunyai

kepercayaan terhadap diri kita. Dipihak eyang Demung Lebar

Daun kitapun sudah diberi warna hijau. Artinya warna dari

benih yang telah bersemi. Dengan demikian kita telah

mempunyai dua warna yang diberi oleh dua fihak. Dan

diantara kedua warna itu, yang satu jelas menganggap kita

sebagai warna yang menyilaukan pandang mata, menusuk

bola mata. Sedang yang lain merupakan warna yang

menyejukkan mata, menumbuhkan harapan …..”

“Pandai benar engkau merangkai kata kiasan, adi Damar”

cepat Arya Kembar menukas, ”ya, kiranya aku sudah jelas apa

yang engkau kehendaki. Demikian kiranya adi Warak,

bakankah begitu, adi?”

Arya Warak mengiakan. ”Yang penting sekarang kita harus

menentukan langkah bersama untuk menghadapi persoalan

pasukan Sriwijaya itu”

“Adi Damar” sambut pula Arya Kembar ”dalam hal itu

bagaimana kiranya pendapatmu?”

Sebelum mulai bicara, Arya Damar mendeham, rupanya

kerongkongannya terekat oleh lidah yang mengering ”Jika

diharuskan memilih, ingin menjadi gunduk karang yang dibenci

atau menjadi tumpu harapan, maka aku memilih menjadi

tumpu harapan. Dan sesungguhnya, betapa pun baik bekal

hati kita namun kehadiran kita di pura Majapahit itu memang

tak disukai oleh para narapraja kawula. Lebih2 kita mendapat

kedudukan penting dalam keraton. Dan berbicara soal

pengabdian, sudah tentu kita lebih harus mengabdi kepada

kerajaan dan tanah air kita daripada di rantau orang. Ini sudah

umum.”

 

 

“Tetapi adi Damar” tiba2 Arya Warak membantah ”raden

Adityawarman tidaklah menampakkan sikap dan tindakan

seperti itu. Dia sangat setya dalam pengabdiannya kepada

Majapahit”

“Hm, dia memang lain, kakang Warak” sahut Arya Damar

”dalam hal dirinya, aku memang kurang jelas. Kemungkinan

kakang Kembar tahu akan hal itu”

Kedua arya itu segera mencurah pandang ke arah Arya

Kembar. Arya Kembar meregang kepala. ”Mengenai diri raden

Adityawarman, memang sukar kita nilai. Tetapi menurut

peadapatku, sekurang-kurangnya ada dua hal yang

membuatnya bersikap demikian”

Ia hentikan kata katanya untuk memperhatikan kesan dari

kedua kawannya. Tampak Arya Damar dan Arya Warak

mencurah perhatian. ”Raden Adityawarman mempunyai latar

kehidupan yang berlainan dari kita. Dia masih mempunyai

hubungan darah dengan gusti ratu Indreswari atau masih

keluarga dekat dengan baginda Jayanagara. Karena baginda

Jayanagara tidak berputera, maka menurut adat, dialah putera

yang terdekat dan diangkat sebagai pengganti raja Majapahit.

Namun apabila tidak menjadi raja Majapahit, pun apabila ia

kembali ke tanah Malayu, ia akan menggantikan tahta

kerajaan ayahandanya di Darmasraya. Jatuh keatas, demikian

garis hidup raden Adityawarman. Oleh karena itu, tidaklah

mengherankan bahwa dia dapat mengambil sikap dan

pendirian tersendiri dalam pengabdiannya terhadap kerajaan

Majapahit”

Memang dalam kelompok yang disebut arya tanah

seberang itu, Adityawarman tidak ikut serta dan memang

takkan disertakan.

“Kakang Kembar dan kakang Warak” kata Arya Damar

selanjutnya ”rupanya persoalan ini telah menjadi persoalan

 

 

kita. Karena di luar kehendak dan rencana kita, kita sudah

dilibatkan dalam peristiwa kedatangan pasukan Sriwijaya itu.

Dan mau tak mau, kita harus menghadapi persoalan itu. ”Arya

Kembar dan Arya Warak mengangguk. Ya” gumam Arya

Kembar ”sudah terlanjur basah, mengapa kita tak mandi

sekali. Rupanya baginda juga tak menyukai kedatangan

pasukan Sriwijaya itu maka baginda segera mengalihkan

mereka ke pulau Bali. Padahal, adi tentu tahu, bahwa para

adipati dipesisir tenggara, raja2 Bali, mulai mengunjuk sikap

tak puas kepada kerajaan Majapahit karena kehadiran kita

ditengah pusat pemerintahan. Dengan begitu jelas mereka

tentu tak suka dengan orang Sriwijaya. Tidakkah dapat kita

tafsirkan bahwa tindakan baginda itu tak lain hanya suatu

siasat untuk meminjam tangan orang Bali belaka?”

“Benar, kakang Kembar” sambut Arya Damar ”tetapi

apabila hal itu benar merupakan siasat yang telah disiapkan

baginda, maka kitapun dapat menggunakan siasat itu untuk

menyiasati baginda”

Arya Kembar dan Arya Warak terbeliak. ”Apa maksud, adi

Damar?” tegur Arya Kembar.

“Kita misalkan, baginda memang mempunyai tujuan untuk

menghapus pasukan Sriwijaya dengan meminjam tangan

orang Bali. Baiklah, ”kata Arya Damar, ”itu memang suatu hal

yang amat menguntungkan pasukan Sriwijaya. Karena apabila

tiada suatu pahala, tentu sukar pasukan Sriwijaya itu dapat

menanam pengaruh di bumi Majapahit. Dengan memperoleh

pahala, tentulah tiada alasan lagi bagi baginda maupun

kerajaan Majapahit untuk menolak kehadiran pasukan

Sriwijaya di Majapahit. Kemenangan atas raja Bedulu, akan.

menempatkan pasukan Sriwijaya pada kedudukan yang

kokoh. Dan hal itu kakang Kembar dan kakang Warak, akan

merupakan sandaran yang kuat untuk menjelang kenaikan

kedudukan kita di pemerintahan Majapahit”

 

 

“O, engkau maksudkan, baginda telah khilaf dalam

perhitungannya?” ulang Arya Warak.

“Sudah tentu baginda akan menyangkal” kata A’ya Damar

”tetapi bagi kita, rencana baginda itu merupakan suatu

peluang besar”

“Tetapi adi Damar” masih Arya Warak meragu,

”bagaimana apabila pasukan Sriwijaya sampai menderita

kekalahan?”

Arya Damar tertawa, ”Ah, jangan kakang Warak

mencemaskan hal itu. Percayalah, eyang Demang Lebar itu

seorang ahli negara dan senopati yang pandai, tak mungkin

beliau akan mengirim pasukan yang beranggautakan prajurit2

tak berguna. Dan dalam hal itu, agar apa yang kita harap tak

gagal, maka aku ingin mendapat kesempatan untuk memimpin

pasukan ke Bali itu”

Tiba2 Arya Warak terkesiap. ”Kudengar baginda hendak

menunjuk patih Dipa dari Daha menjadi pimpinan pasukan ke

Bali itu”

“Ya, memang benar” kata Arya Kembar ”dalam hal itu,

tentulah ada sesuatu yang hendak dilakukan baginda.

Bukankah hal itu berarti baginda masih tak berkenan

melimpahkan kepercayaan penuh kepada kita?”

“Dan mengapa pula lurus mengangkat patih dari Daha

itu?” Arya Warak menyelutuk pula ”bukankah patih itu dulu

bekas bekel bhayangkara keraton Majapahit ?”

Arya Kembar mengiakan.

“Hm, jika demikian” kata Arya Warak pula ”jelas baginda

lebih terpengaruh oleh kekuatiran akan meningkatnya

kekuasaan kita dalam pemerintahan, daripada soal keturunan

kasta. Bukankah patih Dipa itu berasal dari rakyat biasa?

Mengapa baginda mencurahkan kepercayaan sebesar itu

 

 

sehingga pimpinan pasukan kerajaan tidak diserahkan kepada

kita atau lain senopati di pura kerajaan, tetapi kepada patih

Dipa?”

“Di situ makin tampak kecenderungan untuk menduga

bahwa baginda memang mempunyai maksud tertentu dalam

mengirimkan pasukan Sriwijaya ke Bali itu” sambut Arya

“Harus dicegah,” seru Arya Kembar ”tampaknya patih Dipa

itu makin lama makin menjulang kedudukannya. Apabila dia

naik pada puncak kekuasaan, kita tentu akan disingkirkan.

Oleh karera itu, jangan kita lepaskan kekuasaan kita dalam

pengiriman pasukan kerajaan ke Bali itu. Kita harus berusaha

untuk merebut pimpinan pasukan itu. Salah seorang dtantara

kita, atau adi Damar atau adi Warak”

Arya Warak mengangguk. ”Bagaimana kalau kakang

Kembar sendiri ?”

Arya Kembar menggeleng kepala, ”Kali ini, aku akan tetap

berada di pura saja. Mengingat hubunganku yang dekat

dengan bibi ratu Indreswaii maka aku akan berusaha agar bibi

ratu dapat melimpahkan pengaruhnya, mencegah apabila

baginda hendak bertindak yaug tak menguntungkan pasukan

Sriwijaya”

“Jika demikian baiklah adi Damar saja,” seru Arya Warak

pula. Dan Arya Kembar pun mendukung. Dalam soal

berperang, Arya Damar memang mempunyai selera yang

besar. Selain ilmu kanuragan, iapun mempelajari juga tentang

gelar2 atau susunan ilmu mengatur barisan. ”Jika kakang

berdua merestui akupun sanggup untuk menerima beban itu”

kata Arya Damar.

Melalui Arya Kembar yang memohon kepada ratu

Indreswari, soal pimpinan pasukan kerajaan Majapahit yang

akan diberangkatkan ke Bedulu itu, telah dibicarakan ratu

 

 

Indreswari dengan baginda. Namun tidak seluruhnya berhasil.

Baginda meluluskan Arya Damar hanya sebagai pimpinan

pasukan Sriwijaya. Sedang pimpinan pasukan Majapahit tetap

diserahkan kepada patih Dipa.

Ratu Indreswari tahu akan perangai puteranya. Sebagai

seorang ibu, ia amat kasih sayang terhadap puteranya. Tetapi

sebagai seorang ibusuri, ia menghormati puteranya sebagai

seorang raja binatara. Ia seorang puteri yang pandai dan

bijaksana, tahu menempatkan diri. Itulah sebabnya maka

walaupun yang terakhir sendiri sebagai permaisuri, namun ia

dapat merebut kasih rahyang ramuhun Kertarajasa sehingga

kemudian diangkat sebagai sri tinuheng pura atau permaisuri

yang tertua.

Baginda Jayanagara pun cukup bijaksana. Ia

menempatkan kewajiban seorang putera terhadap seorang

ibu, sehingga ia menempatkan kedudukan seorang raja

dengan keluarga, urusan negara dengan urusan peribadi.

Dalam rangka pembicaraan dengan Arya Kembar dan

Arya Warak itulah maka Arya Damar merenung di perahunya

setelah ia kembali memenuhi undangan patih Dipa, ”apabila

sampai pecah pertempuran, sedapat mungkin hindarilah

korban jiwa ….” mulutnya berbisik-bisik mengulang kata2 patih

Dipa. Hampir ia menerima pesan itu dalam hati tetapi tiba2

terpancarlah suatu percik sinar yang menyambar benaknya,

”ah, bagaimana mungkin dalam pertempuran akan

menghindari jatuhnya korban?”

Setiap hal yang terbentur dengan ketidak sesuaian pada

pikiran orang, tentu mudah menghamburkan sanggahan lebih

lanjut. Setelah mempunyai syak wasangka akan pesan patih

Dipa, maka berkelanjutan pula prasangka Arya Damar

mencurah, ”tidakkah hal itu suatu maksud untuk

mempersempit ruang gerakku, untuk memperkecil hasil

pasukan Sriwijaya?” Arya Damar meluapkan desuh manakala

 

 

penilaiannya tiba pada hal itu, ”hm, patih itu memang

mempunyai nafsu besar untuk meraih ke puncak

pemerintahan. Ia tentu bernafsu sekali untuk memperoleh

pahala besar pengiriman pasukan kerajaan ke Bali ini agar ia

dapat masuk ke pura”

Makin menilai, makin meluaslah prasangka Arya Damar

terhadap diri patih Dipa. ”Hm, apabila ia memiliki nafsu untuk

meraih kedudukan tinggi, memang dapat dimengerti. Setiap

orang tentu memiliki cita-cita sedemikian. Tetapi apabila dalam

melaksanakan cita-citanya itu dia merugikan kepentingan lain

orang, tentulah orang itu akan menentangnya. Kiranya tiada

lain tujuan yang tersembunyi dalam pesannya itu kecuali

hendak mempersulit kedudukanku sehingga apabila tugas

menundukkan raja Bedulu itu selesai, maka dialah yang

mendapat pahala besar sedang aku akan dipaksa menggigit

jari melihat prajurit2 Sriwijaya dititahkan angkat kaki dari

Majapahit”

Setiap pikiran yang sudah dikuasai prasangka buruk, tentu

akan menimbulkan suatu rasa tidak puas dan melahirkan

sikap yang menentang. Demikian dengan Arya Damar. Ia tak

puas dengan ucapan patih Dipa dan diam2 timbul dalam

pikirannya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan

garis perintah panglima pasukan. Ia akan bertindak menurut

keadaan. Ia akan berjuang demi kepentingan pasukan

Sriwjaya. Arya Lembang diundang datang. Keduanya

berunding mengenai langkah2 yang akan diambil manakala

mereka sudah mendarat di Kuta.

Keesokan pada hari kedua setelah peristiwa itu, maka

berlabuhlah iring-iringan armada Majapahit di bandar Kuta.

Bandar itu termasuk telatah kekuasaan kerajaan Bedulu. Raja

Bedulu telah menempatkan seorang nayaka bernama Sugriwa

sebagai penguasa bandar Kuta.

 

 

Kedatangan pasukan Majapahit telah menimbulkan

kegemparan di Kuta. Tetapi berkat kebijaksanaan patih Dipa

dapatlah lurah Sugriwa menerima dengan sikap bersahabat.

”Kedatangan kami, ki lurah,” kata patih Dipa ”tiada bermaksud

lain kecuali hendak membawa amanat keselamatan dari

baginda Majapahit kepada seluruh rakyat Bali. Karena

sesungguhnya hubungan antara kerajaan Bali dengan

kerajaan kami sudah berlangsung sejak jaman kerajaan

Panjalu”

“O, semoja demikianlah yang akan direstukan dewata,

gusti patih” kata lurah Sugriwa. Kemudian ia menyatakan

bahwa dirinya hanya sebagai orang bawahan raja Bedulu

yang ditugaskan menjaga keamanan bandar Kuta, ”dalam hal

yang gusti patih titahkan itu, hendaknya gusti patih

menghadap baginda raja kami”

Patih Dipa mengatakan bahwa memang tujuannya hendak

menghadap baginda di Bedulu akan tetapi karena menderita

kerusakan perahu maka terpaksalah sebagian dari rombongan

kami akan singgah di sini dan sebagian akan melanjutkan

berlayar ke Gianyar untuk menghadap baginda di Bedulu.”

Lurah Sugriwa terkesiap, mengangguk dalam keraguan.

”Gusti patih” katanya ”suatu kehormatan bagi bandar Kuta

untuk menerima kunjungan dari perutusan kerajaan Majapahit.

Tetapi terpaksa hamba harus minta maaf kehadapan gusti

patih karena hamba merasa telah lalai mempersiapkan

penyambutan sehingga dalam waktu yang sesingkat ini,

hamba tak mampu menyediakan tempat peristirahatan bagi

rombongan gusti patih”

Patih Dipa merenung. Memang benar kata lurah itu.

Kedatangannya di Kuta, tanpa memberitahukan lebih dulu.

Padahal jumlah prajurit Sriwijaya yang ikut dalam perjalanan

ke Bali itu tak kurang dari dua puluh ribu orang. Untuk

 

 

memberi tempat pada sekian banyak orang, tentu harus

membangun suatu perumahan yang besar.

“Gusti patih” cepat lurah Sugriwa menyusuli kata2 ”bukan

maksud hamba hendak mengatakan bahwa hamba tak

sanggup menerima kunjungan prajurit2 rombongan gusti patih.

Tetapi hamba maksudkan tak dapat menyediakan tempat

yang layak bagi rombongan gusti patih. Namun hamba akan

berusaha untuk memindahkan para penduduk ke sebuah

tempat penampungan sementara, kalau perlu ke candi2 dan

rumah suci, agar rumah2 mereka dapat ditempati prajurit2

tuan”

Patih Dipa terkejut. Ia tak mengharapkan hal itu. Ia tak

ingin mengganggu kemenangan para penduduk karena hal itu

akan menimbulkan kesan tak baik Dan ia memang mengakui

bahwa lurah itu tak bersalah. Maka buru2 ia berkata, ”Ki lurah,

sungguh mengharukan sekali kesungguhan ki lurah untuk

menyambut kedatangan kami. Dalam hal ini, memang kamilah

yang bersalah karena sebelumnya tak memberitahu lebih

dahulu kepada ki lurah. Oleh karena sifatnya hanya sementara

waktu, maka biarlah pada malam hari mereka tidur di dalam

perahu.”

Lurah Sugriwa terkejut dan berkeras meminta agar

prajurit2 Majapahit itu beristirahat di daratan. Tetapi patih Dipa

pun tetap menolak karena tak mau mengganggu ketenangan

penduduk. Akhirnya diputuskan, bahwa beberapa orang

pimpinan pasukan supaya menginap di tempat lurah Sugriwa.

Sedang anakbuahnya tidur di perahu.

Demikian setelah menginap semalam, patih Dipa

membawa pasukan Majapahit melanjutkan berlayar ke

Gianyar. Iring-iringan perahu pasukan Majapahit berlabuh di

muara sungai Pakerisan, kemudian rombongan patih Dipa

menuja ke Gianyar.

 

 

Tak beda dengan lurah Kuta, pun lurah Gianyar terkejut

mendengar warta kedatangan pasukan dari Majapahit itu.

Segera ia mempersiapkan

seluruh rakyat Gianyar untuk

bersiap menyambut.

Kedatangan patih Dipa

diterima dalam upacara adat

yang meriah. Lurah Gianyar

hendak menghormati

perutusan kerajaan

Majapahit yang dipimpin

oleh seorang patih.

Kesan pertama yang

dirasakan patih Dipa adalah

bahwa penyambutan yang

penuh kehormatan itu juga

mengandung suatu

pernyataan bahwa rakyat

Gianyar benar2 bersatu dan

taat akan lurah pimpinan mereka. Dan bahwasanya segala

upacara adat yang diperlengkapi dengan barisan bersenjata

tombak dan keris, merupakan suatu pernyataan betapa kokoh

kekuatan mereka untuk mempertahankan keselamatan tempat

Namun patih Dipa bukan orang yang gemar berprasangka

buruk. Ia menganggap hal itu sudah menjadi hak dan

kewajiban mereka yang layak dalam setiap menerima

kunjungan utusan mancanagara.

Dengan sikap yang penuh bersahabat, patih Dipa

menjelaskan tentang kunjungannya ke Gianyar. Rupanya

lurah Gianyar tertarik akan peribadi patih itu. Selain terkejut

karena patih yang ditugaskan kerajaan Majapahit itu ternyata

seorang yang masih muda, pun lurah itu amat terkesan atas

 

 

rangkaian kata yang diucapkan dengan lancar dan tegas oleh

patih itu.

Rombongan patih Dipa dijamu dengan penuh kehormatan

oleh lurah Gianyar. Sesungguhnya ada sesuatu yang

dirasakan aneh oleh lurah itu. Dalam hati kecil, ia tak

menyukai akan maksud kunjungan perutusan Majapahit itu ke

Bedulu. Namun ia tak kuasa untuk menahan rasa kagum dan

perindahannya terhadap peribadi patih Majapahit itu.

Betapapun ia tak dapat meluapkan sesuatu yang mengendap

dalam hati kecilnya itu.

Patih Dipa pun pandai menghormati tuan rumah. Dia tidak

menganggap bahwa lurah Gianyar itu lebih rendah

pangkatnya, melainkan didudukkannya sebagai tuan rumah

yang wajib dihormati. Lurah Gianyar terkejut setelah terlibat

dalam percakapan sehabis perjamuan, bahwa patih yang

semuda itu ternyata memiliki berbagai pengetahuan yang

cukup mengesankan. Bahkan dalam membicarakan soal

perkembangan agama Syiwa dan Budha di pulau Bali,

dapatlah patih Dipa memberikan pengarahan yang sesuai.

Pengetahuan tentang agama itu, pun membuat lurah Gianyar

yang sudah setengah baya umurnya, tak habis memuji dalam

hati. Adalah karena mendapat penampung percakapan yang

mencocoki hati, lupalah lurah itu akan menyelidiki maksud

yang sebenarnya dari kunjungan perutusan Majapahit. Ia lebih

banyak melibatkan tetamunya dalam percakapan, mengenai

agama Syiwa dan Buddha. Tiada disadarinya bahwa malam

sudah kian larut. Malam itu lurah Gianyar meminta rombongan

patih Dipa menginap di tempat kediamannya.

Memang patih Dipa tidak berapa banyak membawa

rombongannya. Ia hanya membawa ketiga cucu dari empu

Kapakisan yakni Banyak Kawekas, Banyak Wukir dan Banyak

Ladrang, beserta empatpuluh prajurit pilihan. Gajah Para

diperintahkan supaya tinggal di perahu.

 

 

“Ki tumenggung” pesan patih Dipa ”apabila dalam tiga hari

aku tak kembali, segeralah siapkan pasukan untuk menyusul

ke Bedulu.”

0odw-mcho0

Apabila patih Dipa dan rombongan yang berada di Gianyar

bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan menghadap raja

di Bedulu, adalah di bandar Kuta telah terjadi peristiwa yang

menegangkan suasana.

Arya Damar, Arya Lembang dan beberapa perwira serta

prajurit pengirirg berjumlah duapuluh orang menginap di

rumah lurah Sugriwa. Sedang prajurit2 yang lainnya, tinggal di

Walaupun kurang senang dalam hati, ketika menerima

pesan dari patih Dipa, bahwa hendaknya yang tinggal

didaratan hanya beberapa puluh orang saja sedang induk

pasukan supaya tetap berada di perahu, namun Arya Damar

harus mengakui bahwa petunjuk yang diberikan patih Dipa itu

memang tepat

“Raden Damar” kata patih Dipa waktu itu, ”usahakanlah

untuk menghilangkan kecurigaan orang Bali. Bersikaplah

ramah dan bersahabat dergan lurah Sugriwa. Rupanya dia

mempunyai pengaruh besar di kota ini. Jika diminta tinggal di

rumah lurah itu, raden cukup bersiap dengan dua tiga puluh

prajurit pilihan. Sisanya supaya tetap tinggal di perahu.

Penjagaan perahu kita supaya dijaga ketat jangan sampai

terjadi sesuatu yang tak diharapkan”

“Sudah tentu, ki patih” sahut Arya Damar dengan nada

agak tinggi, ”prajurit2 Sriwijaya sudah terlatih baik untuk

menjaga armadanya. Dan kecuali bersikap sahabat dengan

lurah Sugriwa, akupun akan mengadakan penyelidikan

 

 

tentang keadaan mereka, baik kekuatan mereka maupun

tempat2 yang penting di bandar ini”

“Bagus raden” patih Dipa memuji sejujurnya, ”tetapi yang

penting janganlah menimbulkan hal2 yang dapat mengganggu

suasana. Keluarkanlah titah untuk memberi peringatan keras

kepada prajurit raden, agar jangan bertindak di luar garis adat

penduduk sehingga dapat menimbulkan keonaran”

“Aku cukup tahu bagaimana harus menguasai anak

prajurit, ki patih” sahut Arya Damar dengan nada bangga.

Diam2 ia mencemoh patih Dipa. ”Setelah mendengar betapa

luas dan tepat langkah yang hendak kuambil untuk menyelidiki

keadaan orang2 Kuta, barulah patih ini gugup dan bergegas

mengeluarkan perintah baru lagi, hm …..” ia mendengus dalam

hati. Demikian prasangka yang telah mencengkeram pikiran

Arya Damar sehingga ucap dan tindakan patih Dipa selalu

ditafsirkan menurut bayang prasangkanya.

Sekalipun begitu, Arya Damar mau juga melakukan pesan

patih Dipa karena diam2 ia mengakui bahwa hal itu memang

tepat. Ia menyadari betapapun kedatangan pasukan Majapahit

dan Sriwijaya itu adalah bermaksud hendak memanggil raja

Bedulu menghadap ke Majapahit. Sudah tentu mengandung

kemungkinan bahwa raja Bedulu akan menolak dan tindakan

paksa-pun tak dapat dihindari. Oleh karena itu inti kekuatan

pasukan dan perahu2 Sriwijaya harus dijaga keutuhannya.

Itulah sebabnya maka Arya Damar hanya menyertakan

duapuluh prajurit, untuk bermalam di rumah lurah Sugriwa.

Lurah Sugriwa mempunyai tiga orang putera. Yang sulung,

putera lelaki bernama Gede Puja, yang kedua juga lelaki

bernama Made Teja dan yang bungsu seorang anak

perempuan bernama ni Tari. Gede Puja mewakili ayahnya

mengerjakan pengawasan di bandar yang penuh dengan

perahu penangkap ikan. Made Teja, tak mau bekerja.

 

 

Kegemarannya hanya mengembara, mencari ilmu. Saat itu

diapun sedang berguru pada seorang resi dipura Ulu Atu,

sebuah kuil yang indah di atas sebuah bukit karang, terletak di

jasirah selatan dari bandar Kuta.

Ni Tari, bukan saja merupakan puspa kebanggaan

keluarga lurah Sugriwa, pun merupakan bunga sanjungan

rakyat Kuta, Kecantikannya yang cemerlang bagai burung

merpati terbang di siang hari, dilengkapi pula oleh berbagai

ilmu kepandaian kewanitaan. Dia mahir menguasai pekerjaan

rumah tangga, diapun pandai sekali dalam seni tari. Adatnya

tiada yang tercela, ramah dan halus tutur sapanya kepada

orang. Ramainya bandar Kuta dikunjungi orang, antara lain

karena keharuman bunga Tari yang mekar dan menyiarkan

keharuman sampai ke seluruh telatah Bedulu.

Secara kebetulan, pada hari kedua setelah pasukan

Sriwijaya datang maka berlangsunglah upacara Molis atau

upacara pemandian suci. Upacara itu diadakan di dua buah

tempat yakni di Kuta dan Sanur. Beribu rakyat dari luar dan

dalam kota Kuta, berbondong-bondong mandi di laut. Tua

muda, laki perempuan, besar kecil semua ikut serta dalam

upacara Molis itu.

Hari itu Kuta benar2 tenggelam dalam keramaian.

Sesungguhnya, lurah Sugriwa amat prihatin dengan upacara

Molis kali itu karena di banda Kuta, tengah berlabuh beberapa

armada perahu Sriwijaya. Rupanya ia membicarakan juga hal

itu dengan Arya Damar dan panglima pasukan Sriwijaya itu

memberi kesanggupan untuk menyingkirkan perahu2 mereka

agar perayaan itu dapat berlangsung sebagaimana mestinya.

Memang Arya Damar telah menepati janji. Tetapi prajurit2

Sriwijaya itu sukar untuk dikuasai ketegangan hatinya. Mereka

adalah prajurit2 yang sudah lama meninggalkan kampung

negerinya. Sudah lama pula tidak turun ke darat. Mereka

adalah lelaki2 yang masih muda, bertenaga kuat. Melihat

 

 

gadis2 mandi di pantai laut, darah mereka mendebur keras.

Terutama apabila yang mandi itu adalah kelompok gadis dari

pedalaman dimana menurut adat kebanyakan masih berbuka

dada, prajurit2 itu seperti kehilangan semangat. Mata

merentang lebar2, terlongong-longong menganga.

Sudah lasim dalam suasana dimana orang berkelompok

dalam jumlah besar, terutama di kalangan anak muda, tentu

akan timbul sesuatu yang disebut iseng. Sesuatu yang

sesungguhnya tidak mempunyai arti lain daripada suatu luap

pernyataan keberanian atau kepahlawanan. Keberanian atau

kepahlawanan yang diada adakan menurut selera, lingkungan

hidup dan alam pikirannya.

Demikian pula dengan prajurit2 Sriwijaya itu. Di antara

mereka, terutama yang masih muda, timbul juga rasa ingin

mengunjukkan keberanian agar dipuji oleh kawan-kawannya.

“Tuan nayaka Sidempu” tiba2 seorang prajurit berpangkat

pratyaya atau perwira berkata kepada seorang lelaki muda

yang tengah tegak di buritan perahu memandang penuh

pesona akan pemandangan di tepi pantai dimana upacara

Molis sedang berlangsung. Rupanya pratyaya itu sempat

memperhatikan bahwa pandang mata atasannya tertuju

kearah sekelompok gadis2 yang sedang memandikan tubuh di

Nayak’a, demikian pangkat dalam keprajuritan Sriwijaya

yang berada dibawah seorang senapati, yang bernama

Sidempu itu terkejut, ”Engkau, pratyaya prajurit Sebuku” cepat

nayaka Sidempu berpaling ”mengapa ?”

“Tuan” kata pratyaya Sebuku agak tersipu ”ramai benar

upacara mandi di laut itu”

“Rupanya rakyat Bali memang masih taat akan upacara

adat agama Syiwa Buddha. Mereka mandi di laut untuk

membersihkan dosa2 yang melekat pada dirinya”

 

 

“Mereka masih lugu, tuan2,” kata pratyaya Sebuku.

Nayaka Sidempu mengangguk, ”Benar. Sungguh indah sekali

alam kehidupan di pulau ini …”

“Tetapi kaum wanitanya lebih indah lagi, tuan,” sambut

pratyaya Sebuku dengan cepat ”sesungguhnya mereka

merupakan keindahan dari kewajaran ciptaan Hyang Widdhi,

tetapi ah …” pratyaya itu menghela napas dan menelan air liur

di kerongkongannya.

“Mengapa Sebuku ?” tegur nayaka Sidempu.

“Anakbuah tuan adalah prajurit2 perang. Tiap hari mereka

hanya berlatih baris, jarang mendapat kesempatan

menyaksikan peristiwa seperti itu, tuan.”

“Lalu ?” nayaka Sidempu kerutkan kening.

“Tuan tentu dapat membayangkan sendiri, betapa deras

darah mereka mengalir” ia menunjuk pada prajurit2 yang tegak

berjajar di sepanjang geladak perahu ”berbahaya sekali tuan

apabila membiarkan mereka menikmati pemandangan itu.”

Nayaka Sidempu mengerut dahi. ”Lalu, apakah aku harus

mengenyahkan mereka masuk ke bawah ruang perahu ?”

Pratyaya Sebuku gelengkan kepala, ”Bukan, tuan, bukan

demikian yang kumaksudkan. Jika sebelumnya berlangsung

upacara itu, memang amat bijaksana apabila menitahkan

mereka bersembunyi dalam perahu. Tetapi kini sudah

terlanjur. Mereka sudah menikmati pemandangan yang

mempesonakan itu. Apabila mereka dilarang tentu akan timbul

peristiwa yang tak diinginkan. Dalam keadaan seperti mereka

saat ini, dimana darah kelakiannya merangsang, tentu mereka

akan nekad untuk mencari penyaluran. Dan selama hal itu

belum terpenuhi, pikiran dan semangat mereka tentu akan

merana tak keruan. Justetu pada saat ini pikiran dan

semangat mereka dibutuhkan untuk menghadapi

 

 

kemungkinan pecahnya pertempuran manakala raja Bedulu

menolak titah raja Majapahit”

“Hm” desuh nayaka Sidempu. Ia tak mengatakan apa2 dan

hal itu ditafsirkan oleh pratyaya Sebuku sebagai suatu

“Oleh karena itu, baiklah tuan mengambil kebijaksaan,

bagaimana suasana yang bergejolak dalam hati prajurit2 kita

itu dapat teratasi” segera Sidempu menyusuli kata-katanya.

Memang nayaka Sidempu juga tak terluput dari keadaan

itu. Ia bagai terkena pesona dikala menyaksikan gadis2 yang

masih perawan, sama berbuka baju, menyunting bunga dan

mengurai rambut yang hitam legam, membenam diri dalam air.

Dada mereka yang padat berisi bagai buah yaug masih

ranum, betis yang menguning padi, merupakan daya tarik

yang seolah mencopotkan jantung para prajurit prajurit itu,

mereka terdiri dari lelaki2 muda dan kasar.

“Lalu bagaimana pendapatmu, Sebuku ?” Sidempu balas

“Tuan” kata Sebuku yang rupanya memang pandai bicara

”dalam soal ini baiklah tuan lepaskan tangan. Artinya, jangan

tuan ikut campur agar tidak mendapat teguran dari senapati

Arya Lembang. Baiklah hal itu dialihkan akan diri mereka,

tanggung jawab mereka sendiri”

Nayaka Sidempu mencurah pandang kepada orang

bawahannya. Dan Sebuku pun cepat menjelaskan

“Begini, tuan. Baiklah tuan masuk kedalam ruang perahu

dan aku lah yang akan menghadapi mereka. Dengan suatu

cara untuk berlomba, dapatlah kusuruh mereka melakukan

sesuatu yang kurasa dapat memuaskan selera mereka”

Sidempu tiada mengutarakan keberatan. Dan memang

demikianlah setiap kali pratyaya Sebuku mengajukan

 

 

persoalan. Tentu telah diatur sedemikian rupa sehingga orang

atasannya itu menerima.

Setelah Sidempu masuk maka pratyaya Sebuku segera

menghampiri kawanan prajurit yang sedang berkerumun di

geladak perahu. ”Hai, prajurit2, apa yang kalian lihat sampai

sedemikian rupa itu ?”

Prajurit Rakata yang bertubuh kekar, menyahut, “Apalagi

kalau tidak sedang menikmati anak ayam mandi di kali”

Kawan-kawannya tertawa. Mereka tahu Rakata itu gemar

akan wanita. Setiap kali perahu berlabuh, dia tentu turun ke

daratan untuk mencari wanita. Pandai pula ia menciptakan

istilah untuk mengiaskan seorang wanita, yang cantik maupun

yang jelek diberi istilah yang menarik, kadang lucu.

“Apa engkau tak pernah melihat orang mandi?” tegur

Sidempu pula.

“Tiap hari” sahut prajurit Rakata ”tetapi tidaklah seperti

yang ini. Aduh, rela umurku dikurangi setahun dua, asal dapat

ikut mandi dengan mereka”

“Mereka lebih suka mandi bergembira ria daripada harus

mengurangi umurmu dan mengidinkan engkau bersama

mereka”

“Ho, anak ayam tak perlu ditanya. Mereka harus

ditangkap” sahut Rakata. Kembali kawan-kawannya tertawa

dan membenarkan.

“Jangan main2 dengan ayam Bali” seru pratyaya Sebuku,

”jago2 Bali terkenal dengan tajinya yang tajam, Rakata”

“Ah, apa jago Bali ? Mana mampu melawan jago

Palembang ?”

“Rakata” kata Sebuku, ”apakah engkau benar2

menginginkan gadis2 Bali itu ?”

 

 

“Tiada seorang lelaki sehat yang mengatakan tidak ingin,

pratyaya” sahut Rakata ”tidakkah engkau demikian juga. ki

Sebuku ?”

“Aku sudah mempunyai anak isteri, Rakata”

“Uh, jangan memakai alasan anak isteri. Di rumah engkau

mempunyai anak isteri, tetapi disini, bukankah engkau,

seorang bujangan ?”

“Ya” pratyaya Sebuku mengangkat bahu ”tetapi aku dapat

menahan napsu, tidak seperti anak muda”

Rakata tertawa. ”Menahan itu mengandung arti memaksa

diri, menyiksa pikiran. Mengapa harus berbuat begitu pratyaya

? Bukankah kita prajurit2 yang telah dikirim jauh ke tanah

Majapahit dan Bali ? Bukankah setiap saat kita harus

menyabung nyawa? Bukankah kita tak tahu apakah kelak kita

dapat pulang kembali ke rumah dengan masih selamat ? Nah,

dalam keadaan hidup yang tak menentu itu, mengapa kita

harus menyiksa diri? Kita harus bersenang- senarg hari ini.

esok, lusa, jangan kita pikirkan. Karena apabila jiwapun sukar

diketahui masih menghuni dalam raga kita mengapa lain2 soal

harus kita risaukan sekarang ?”

“Benar, benar” seru beberapa prajurit yang lain.

Sebuku tertawa. Ia tak mau membantah setiap hal yang

telah menjadi pendiran orang banyak. ”Baik lah” katanya

kemudian ”lalu bagaimana maksudmu?”

”Andaikata tak takut melanggar peraturan” kata Rakata

”ingin saat ini aku loncat ke dalam laut dan berenang

menghampiri ke tempat bidadari2 itu”

“Kalau engkau dibebaskan dari peraturan, apakah engkau

mampu menghampiri mereka ?”

“Tentu” sahut Rakata seraya tegakkan kepala.

 

 

“Dan membawa kemari ?” Sebuku menambahkan.

“Sanggup” seru Rakata.

“Tidak begitu sederhana, kawan” kata pratyaya Sebuku

pula ”engkau tahu saat ini di siang hari, apabila engkau

renangkan gadis itu kemari, jelas dia akan menjerit-jerit minta

tolong”

“Lalu bagaimana maksudmu ?”

Sebuku tak lekas menjawab melainkan mendeham

sebentar. Setelah itu baru ia berkata, ”Hai, kalian prajurit

Rakata, Borong dan Sijunjung. Dengarkan. Aku mempunyai

usul yang bagus. Jika kalian setuju, segera lakukan, jika tidak

setuju, hapuskan saja.”

Beberapa prajurit segera beringsut mengerumuni pratyaya

Sebuku. Kata Sebuku, ”Ambillah beberapa gadis Bali itu ke

perahu ini. Tetapi jangan sampai menimbulkan keributan.

Artinya jangan sampai diketahui orang. Nanti yang seorang,

kita berikan kepada nayaka Sidempu. Kita tentu akan

mendapat hadiah”

“Tetapi apakah nayaka setuju atas tindakan itu?” tanya

prajurit Borong.

“Ah, Borong” desuh Sebuku ”jika kita minta idin, sudah

tentu dia menolak. Tetapi kita lakukan hal ini secara diam2.

Dan akulah yang bertanggung jawab. Nah, siapa diantara

kalian yang sanggup, boleh maju. Tetapi ingat, apabila gagal

sehingga menimbulkan keributan, berarti kalian tak dapat

memenuhi syarat dan akibatnya harus ditanggung sendiri”

Luapan rasa gembira mendengar kata2 pratyaya itu

segera menyusut ketika mendengar keterangan yang terakhir.

Beberapa prajurit yang sedianya hendak ajukan diri, terpaksa

harus mengekang napsu. Hanya beberapa prajurit saja yang

sanggup, yakni Rakata, Borong dan Sijunjung.

 

 

Ketiga prajurit itu segera diturunkan ke laut. Mereka

berenang menyelam sehingga tak tampak orangnya. Pelahanlahan

mereka menghampiri ke tempat gadis mandi itu.

Hari Molis merupakan hari pemandian yang ramai sekali.

Beratus bahkan beribu orang datang ke Kuta untuk mandi di

laut, upacara mandi itu berlangsung sampai petang hari. Bagi

kaum tua, merupakan hari yang keramat dimana menjelang

masa keakhiran hidup, mereka sudah bersiap-siap

membersihkan diri dari lumpur kedosaan. Bagi yang setengah

tua, merupakan titik tolak dari suatu kehidupan baru yang

penuh harap akan menuju ke jalan yang suci dan terang.

Sedangkan bagi kaum muda yang kebanyakan belum

menghayati apa arti daripada pemandian suci itu kecuali

hanya menerima dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh

para kaum tua, hari itu merupakan suatu upacara yang

menggembirakan. Mereka akan dapat menikmati mandi di laut

bebas, melihat alam pemandangan Kuta yang indah, bertemu

dengan beribu orang dari berbagai pelosok. Suatu hari yang

benar2 baru dan lain daripada hari2 panjang dalam kehidupan

di desa kelahirannya.

Upacara pemandian Molis itu suci sifatnya. Tetapi ada

kalanya sifat suci itu, kurang dihayati oleh mereka2 yang tidak

meresapi arti mandi itu. Kelompok-kelompok yang sering

terhinggap oleh pemikiran semacam itu, kebanyakan adalah

para muda. Lelaki maupun perempuan, perjaka ataupun

perawan. Ada pula diantara gadis itu, menyembunyikan suatu

maksud berupa permohonan dalam batin kepada Batara

Baruna atau Dewa Laut, agar dirinya dipermandikan dari

segala kotoran jasmaniah dan rohaniah, sehingga

terpancarlah cahaya kecantikan pada tubuhnya. Semoga

cahaya itu akan cepat mengundang para muda yang telah

ditakdirkan oleh batara agung sebagai jodoh mereka.

 

 

Demikian kelakar dari kawanan gadis remaja yang saat itu

tengah berenang makin ke tengah. Mereka terdiri dari enam

dara yang cantik dan lincah.

Apabila sifat nakal itu hanya dimiliki oleh anak laki, kiranya

tidak benar. Anak2 perempuan, dara2 dan gadis2, pun akan

tumbuh sifat kenakalannya apabila berkelompok dalam jumlah

banyak. Demikian dengan dara Shanti dan kawan-kawannya

yang tengah membenam diri di laut. Mereka tinggal di Kuta.

“Shanti” tegur salah seorang kawannya ”mengapa Nyoman

tak tampak ?”

Shanti, sidara berambut ikal mayang menyeringai ”Maruni,

mengapa tanya kepadaku ? Carilah dia dan tanya padanya

sendiri ?”

“Ih” Maruni tertawa ”jangan pura-pura. Siapakah yang tak

kenal Raja Lasem dan burung gagak dari Kuta . Hi, hi, jika

bukan Nyoman, tak ada kiranya pemuda lain yaug sanggup

memerankan tarian Raja Lasem. Dan tak ada dara di bumi

Kuta yang mampu melincahkan tarian burung gagak seperti

dara Shanti”

Beberapa kawannya tertawa gelak-gelak. Rupanya olok2

Maruni itu memang mengena. Karena malu Shanti lalu

menyelam kedalam air. Melihat itu Maruni segera berseru

pelahan kepada kawan-kawannya. ”Hayo, kita tinggalkan dia.”

Iapun segera mendahului berenang. Kawan-kawannyapun

“Mari kita menyelam, agar dia bingung mencari kita” tiba2

Maruni mendapat pikiran untuk mempermainkan Shanti.

Kelima dara itupun segera menyelam ke dalam laut.

Mereka gemar mandi di laut dan pandai berenang.

Persangkaan mereka memang tepat. Shanti tentu bingung

manakala ia timbul lagi di permukaan air dan tak melihat

 

 

kawan-kawannya. Tetapi sayang dia tak pernah timbul lagi

sehingga olok olok kawan-kawannya itupun tak menimpah

dirinya. Dan kawan kawannya itupun tak sempat juga untuk

melihat bagaimana ulah dan kerut wajah Shanti apabila timbul

di permukaan air. Mereka pun tak pernah timbul pula dari

bawah air. Hanya seorang yang dapat meluncur ke atas

permukaan air lagi, yalah Maruni. Maksudnya hendak

mengolok Shanti supaya bingung, ternyata dia sendiri yang

bingung. Ia tak melihat keempat kawannya, tidak pula Shanti.

”Ah, mungkin mereka balas memperolok diriku dan sudah

berenang ke daratan” setelah beberapa saat memandang ke

sekeliling penjuru, akhirnya ia tiba pada kesimpulan begitu dan

berenanglah ia menuju ke tepi. Namun dicarinya ketempat

mereka menimbun pakaian, juga tak tampak kawan2 itu.

“Ah, mungkin mereka hendak menggoda aku” gumam

Maruni lalu mengenakan pakaian dan menunggu.

Saat itu surya mulai merebah ke barat. Orang2 pun sudah

mulai naik ke daratan dan Maruni makin gugup. Kemanakah

gerangan kelima kawannya itu ? Mengapa diantara orang2

yang naik kedarat itu tak tampak mereka berlima. Begitu pula

diantara orang2 yang masih mandi, tidak seorang pun dari

kelima kawannya itu tampak.

“Adakah …” Maruni tak berani melanjutkan kata-katanya.

Karena pada hari suci seperti hari itu, tak baik untuk berbicara

yang buruk. Namun ia melanjutkan kata2 itu dalam hatinya,

”Adakah mereka mendapat kecelakaan di laut ?”

Kecemasan Maruni meningkat. Ia mulai gelisah, kemudian

bingung dan gugup. Karena sampai orang orang itu sudah

selesai naik kedarat semua, belum juga kelima kawannya itu

tampak. ”Jelas mereka tentu mendapat kecelakaan” akhirnya

ia memberanikan diri untuk mengikat kesimpulan. Ia segera

lari menuju ke tempat lurah Sugriwa untuk melaporkan

peristiwa itu.

 

 

Gede Puja keluar menyambut. Pemuda itu terkejut

mendengar laporan Maruni. Bergegas ia memanggil

anakbuahnya untuk diajak menuju ke tempat peristiwa.

Mereka segera menurunkan beberapa perahu dan sampan

mendayung ke tengah laut. Tetapi tak juga melihat kelima

gadis itu atau pun juga sosok mayat mereka. Puja

memerintahkan anakbuahnya mendayung ke tempat armada

perahu prajurit Sriwjaya. Dengan memberi isyarat, akhirnya

Puja dinaikkan ke perahu nayaka Sidempu.

Saat itu armada Sriwijaya bergerak kembali ke tempat

mereka berlabuh semula.

“Ah, tidak, ki Puja” kata Sidempu setelah menerima

pertanyaan Puja apakah anakbuah Sidempu melihat mayat

lima orang gadis yang mendapat kecelakaan waktu mandi di

laut ”kami mentaati permintaan ki lurah untuk menyingkir dari

tepi pantai. Sama sekali kami tak melihat barang sesosok

tubuh manusia di permukaan laut”

Puja tak mempunyai alasan untuk mencurigai mereka. Ia

segera minta diri untuk melanjutkan pencariannya lagi. Namun

sampai surya lenyap dari permukaan laut, tetap ia tak

menemukan kelima gadis itu.

“Mengapa Puja ?” tegur lurah Sugriwa demi melihat

puteranya pulang dengan bermuram durja.

Puja segera menceritakan laporan ni Maruni tadi, serta

usahanya untuk mencari tetapi sia2. Ia menghempaskan

tubuhnya keatas sebuah balai2 lalu menghela napas. ”Baru

pertama kali ini sepanjang sejarah Kuta, upacara Molis telah

berlumuran dengan korban”

Ni Tari keluar. Ia menjerit lalu menangis ketika mendengar

cerita Puja. ”Ah, Batara Agung, mengapa mereka menderita

nasib sedemikian rupa ? Adakah Batara Agung murka kepada

kami ?”

 

 

Lurah Sugriwa juga berduka atas peristiwa itu. Namun ia

berusaha untuk menghibur puterinya. ”Sudahlah Tari, jangan

berkelarutan engkau merintih duka. Jika memang demikian

yang dikehendaki Batara Baruna, apa daya kita kecuali harus

menengadahkan kepala melepaskan mereka dengan doa puji

agar mereka diterima di Nirwana”

Walaupun lengking tangisnya berhenti namun belum reda

juga isak ni Tari. Kelima gadis itu adalah kawannya juga.

Mereka sering menari bersama dalam pesta upacara yang

sering diadakan di Kuta. Ia tak nyana bahwa ia harus berpisah

dengan mereka secara sedemikian menyedihkan.

“Sudahlah, nini,” lurah Sugriwa menghibur pula “hal itu

masih belum pasti. Besok kita larjutkan mencari mereka lagi.

Malam ini bersiaplah engkau dalam acara tari untuk

menghormat kedatangan utusan Majapahit”

Ni Tari terkejut. ”Adakah ayah sudah memutuskan hal itu

?”

Lurah Sugriwa mengangkat muka, mencurah pandang

kepada puterinya, ”Ya, mengapa, Tari ?”

Ni Tari pejamkan kelopak matanya yang bagus, menghela

napas. ”Ah, tak apa apa, rama”

“Adakah sesuatu yang memberatkan hatimu, nak?” masih

ayah itu hendak menyelami perasaan puteri yang dikasihinya.

Namun Ni Tari tak menjawab, bahkan menunduk. Melihat

itu lurah Sugriwa makin gugup. ”Nini, mengapa engkau

tampak bermuram durja dalam menanggapi soal penyambutan

utusan dari Majapahit itu ? Katakanlah, nak, bagaimana

pendapatmu ?”

Pelahan-lahan Tari mengangkat muka, sinar matanya

yang bening memancar kilau bintang kejora. Namun sinar

kemilau itu seolah terselubung kabut halimun yang dingin.

 

 

”Rama, apakah rama tak marah apabila aku hendak

menghaturkan pendapatku ?”

“Ah, Tari, sejak kecil sampai berangkat dewasa,

pernahkah engkau menerima kemarahan rama. Pernahkah

rama menyelentik engkau, apalagi memukulmu.” lurah

Sugriwa menatap wajah puterinya, ”katakanlah, Tari, mungkin

rama setuju mungkin tidak. Tetapi yang pasti rama takkan

marah kepadamu.”

“Baik, rama” kata Tari ”sesungguhnya rama, Tari tak dapat

menemukan jawaban, mengapa kita harus menghormat

utusan itu, rama”

“O” desuh lurah Sugriwa dengan nada longgar, ”sudah

jamak bagi peradaban kita orang Bali, bahwa kita harus

menjamu setiap tetamu dengan baik. Karena aku seorang

nayaka kerajaan Bedulu yang ditugaskan untuk menjaga

keamanan Kuta, maka wajiblah aku menghormat kedatangan

utusan dari kerajaan Majapahit, Tari.”

“Ah” Tari mendesah ”benar, rama. Tetapi menurut

keterangan kakang Puja, utusan itu bukan dari Majapahit,

melainkan dari tanah Sriwijaya”

Lurah Sugriwa terkesiap sejenak, lalu menyahut, ”Benar,

Tari. Tetapi mereka dibawah titah kerajaan Majapahit.

Kedatangan mereka bukan atas nama Sriwijaya tetapi atas

nama kerajaan Majapahit”

Puteri mengangguk. ”Benar, rama. Memang serupa tetapi

berbeda.”

Lurah Sugriwa terbeliak pula. ”Apa maksudmu, Tari ?”

“Serupa, karena kedatangan mereka itu tak lain bertujuan

untuk menitahkan baginda di Bedulu supaya menghaturkan

sembah bakti kepura Majapahit. Berbeda, karena yang

 

 

berlabuh di Kuta ini, adalah pasukan Sriwjaya dan yang

menuju ke Gianyar itu pasukan Majapahit”

“Bagaimana engkau tahu hal itu, Tari ?”

Tari tertegun diam. Wajahnya tampak mengernyit

keraguan. Melihat itu lurah Sugriwa segera menegurnya.

”Katakanlah, Tari. Apapun yang hendak engkau unjuk

kehadapanku, aku tak marah. Rama hanya dapat marah

apabila engkau belajar dusta”

Ni Tari mengangguk. ”Tari tak pernah bohong, tak ingin

berdusta, rama. Siang tadi, seorang pengalasan datang

membawa surat kakang Teja, menerangkan tentang hal

mengenai kedatangan orang2 Sriwijaya dan pesan supaya

aku harus hati2 menjaga diri”

“Dia tidak mengirim berita apa2 kepadaku ?” tanya lurah

Sugriwa..

Ni Tari pelahan sekali gelengkan kepala. ”Mungkin dia

takut kepada rama. Rama, apakah benar2 engkau benci

kakang Teja”

Lurah Sugriwa mendesuh, ”Hm, anak itu memang keras

kepala dan sukar menerima kata2 orang tua. Aku tak

menyukai sifatnya yang pemalas itu.”

“Tetapi apakah rama membenci benar2 kepada kakang

Teja” Tari mengulang pertanyaannya.

Lurah Sugriwa menatap puterinya, ”Tari, apakah perlu

kujawab pertanyaanmu itu.”

“Ah, rama, kasihanlah pada kakang Teja” kata dara itu

dengan nada mulai mengembang isak.

Melihat itu lurah Sugriwa cepat berkata, ”Tari,

dengarkanlah. Engkau tentu ingin mendengar jawabku atas

pertanyaanmu itu, bukan ? Bukan rama tak mau menjawab,

 

 

melainkan merasa bahwa saat ini engkau tentu belum dapat

menghayati arti jawabanku itu. Andai kujawab, bahwa aku

tidak memberci kakangmu Teja, dalam hati engkau tentu tak

percaya, karena nyatanya aku telah mengusirnya pergi dan

tak pernah mencarinya. Jika kujawab bahwa aku benci

kepadanya, engkau tentu bersedih, bahkan mungkin engkau

akan mengatakan rama ini seorang ayah yang kejam.

Bukankah begitu, Tari ?”

Tari tak menyahut melainkan memandang wajah ayahnya.

“Apa yang terkandung dalam hati seorang tua terhadap

putera puterinya, belum tiba masanya engkau dapat

menghayati sekarang. Kelak apabila engkau sudah menjadi

orangtua, barulah engkau mampu meresapinya. Cukup

kiranya kuberikan sepetik kata untuk menamsilkan perasaan

bati seorang tua terhadap anaknya dan kebalikannya.

Orangtua ibarat mata dan anak ibarat kaki. Kalau kaki terantuk

batu, tertusuk benda tajam dan menderita kesakitan, maka

matapun menangis. Namun kalau mata yang sakit, kaki tetap

tak ikut menderita, tetap melonjak-lonjak. Cukuplah kiranya

jawabanku itu. Tari, kutahu kakangmu Teja itu amat kasih

kepadamu. Maka engkaupun wajib menurut apa pesannya.

Memang berjaga diri, harus engkau lakukan setiap hari,

bahkan setiap detik, sepanjang hidupmu” lurah Sugriwa

mengakhiri persoalan yang satu untuk beralih ke soal yang

“Baik, rama” sahut Tari ”dan kiranya apa yang

dikemukakan kakang Teja tentang prajurit2 yang singgah di

Kuta ini, benar bukan ?”

“Memang benar” lurah Sugriwa mengiakan ”namun

sebagai rakyat yang beradab, selama tetamu itu tak

mengunjuk sikap permusuhan, wajiblah kita terima.”

 

 

“Benar, rama” kata ni Tari pula ”tetapi kurasakan ada

suatu kejanggalan dalam peristiwa ini. Kuingat sudah lama

sekali, kerajaan Bedulu tak terikat hubungan apa2 dengan

kerajaan Jawadwipa. Mengapa kali ini kerajaan Majapahit

mengirim pasukan kemari, bahkan membawa prajurit2 dari

Sriwijaya pula ? Apakah maksud mereka, rama ?”

Diantara ketiga anaknya, walaupun lahir perempuan tetapi

lurah Sugriwa tahu bahwa Tari itu berotak tajam dan gemar

mendengar cerita tentang sejarah kerajaan Bali. Sering

puterinya itu mengemukakan pendapat yang diluar dari alam

pikirannya, daya pencapaiannya. ”Patih yang mengepalai

perutusan tak menerangkan hal itu kepadaku. Dia hanya

mengatakan hendak menghadap baginda di Bedulu untuk

menyampaikan titah raja Majapahit”

“Tetapi kita dapat merabanya, rama” kata Tari ”suatu

perutusan yang membawa maksud baik, tentu hanya terdiri

dari beberapa mentri dan narapraja, jumlahnyapun tentu tidak

besar. Tetapi perutusan Majapahit kali ini, diiring dengan

prajurit yang berjumlah besar. Tidakkah kita layak mencurigai

itikat baik mereka ?”

Lurah Sugriwa terbeliak. Diam2 ia seperti tersadar dan

mengakui kebenaran ucapan puterinya. Namun ia berusaha

untuk menghibur. ”Ah, Tari, soal itu kita serahkan saja kepada

keputusan baginda. Aku hanya seorang nayaka, apapun yang

baginda titahkan, tentu kulaksanakan.”

“Ah, janganlah rama berpandangan begitu” bantah Tari

”kerajaan Bedulu benar milik baginda tetapi bumi tumpah

darah seluruh kawula termasuk kita sekeluarga. Kita wajib

menjaga ketenteraman bumi ini, rama.”

“Ya” lurah Sugriwa mengangguk ”memang benar. Lalu

bagaimana maksudmu, nini ?”

 

 

“Aku mempunyai suatu firasat bahwa kedatangan utusan

Majapahit itu tentu tak membawa maksud baik kepada

kerajaan Bedulu” kata ni Tari ”tetapi itu hanya firasat,

kenyataannya mari kita nantikan.”

Lurah Sugriwa mengangguk. Dalam hati ia memang

membenarkan ucapan puterinya.

“Rama” tiba2 ni Tari berkata pula, ”bagaimanakah

pandangan rama pribadi, adakah baginda di Bedulu akan

berkenan menerima amanat yang dibawa perutusan Majapahit

itu ?”

Lurah Sugriwa terbeliak. ”Tetapi aku belum jelas amanat

apakah yang akan disampaikan perutusan Majapahit itu, Tari.

Bagaimana aku dapat menyatakan sesuatu ?”

“Rama” seru ni Tari ”amanat itu tak lain adalah menitahkan

baginda Bedulu supaya menghadap kepura Majapahit”

“Bagaimana engkau tahu akan hal itu, Tari ?” seru lurah

Sugriwa terkejut.

Ni Tari menerangkan bahwa hal itu terjadi secara tak

sengaja ketika tiba2 seorang bujang perempuan datang

memberitahu kepadanya tentang percakapan antara beberapa

prajurit yang menginap dirumah lurah ”Roro, prajurit2 itu

kurang ajar, tidak sopan. Mereka memperbincangkan diri roro”

kata bujang perempuan itu.

“Ah, jangan percaya kepada omongan bujang, Tari” tukas

lurah Sugriwa.

“Memang tidak, rama” sahut Tari ”tetapi aku membuktikan

sendiri Kuajak bujang itu ke tempat para prajurit yang

dimaksudkan itu. Disitu kudengar mereka berbicara dengan

asyik sekali. Salah seorang prajurit mengatakan bahwa ia

mengharap patih Dipa yang akan menghadap baginda di

Bedulu itu gagal dan raja Bedulu akan marah lalu menyerang

 

 

utusan Majapahit. Salah seorang prajurit lain mengatakan,

kemungkinan besar baginda di Bedulu akan menolak untuk

menghadap raja Majapahit. Pendapat itu didukung oleh

beberapa prajurit lain yang menyatakan raja Bedulu tentu

merasa terhina dengan kedatangan perutusan Majapahit itu

dan pertempuran tentu akan pecah. Mereka amat gembira

sekali mengharapkan peristiwa itu. Tahukah rama apa

sebabnya ?”

Lurah Sugriwa gelengkan kepala.

“Mereka mengharapkan peperangan agar dapat merebut

wanita2 Bali dan terutama …” ni Tari tak melarjutkan katakatanya.

Ia menunduk tersipu-sipu.

“Terutama siapa ?” lurah Sugriwa memandang lekat2 pada

puterinya ”apakah … engkau ?” sesaat rupanya lurah itu

menyadari apa maksud puterinya.

Ni Tari tidak menyahut melainkan mengangguk. Lurah

Sugriwa termenung-menung. Ia menyadari bahwa dengan

mengundang prajurit2 itu menginap di kelurahan, memang

suatu hal yang tak menguntungkan. Ia menyadari pula bahwa

dengan mempunyai seorang anak perempuan yang cantik,

hanya akan mengundang bahaya. Pikirannya jauh melayanglayang,

mencari suatu cara bagaimana hendak

menyelamatkan puterinya dari ancaman yang kemungkinan

akan terjadi itu.

“Itulah sebabnya mengapa kukatakan bahwa peringatan

kakang Teja itu tepat sekali” kata Tari.

Mendengar itu seketika lurah Sugriwa seperti disadarkan,

”Apakah kakangmu Teja tidak mengatakan akan pulang ?”

“Tidak” kata ni Tari. Kemudian cepat gadis itu dapat

menanggapi apa yang terkandung dalam pertanyaan

 

 

ramanya, ”rama maksudkan, akan menyuruh kakang Teja

membawa aku ke kuil di Bukit ?”

“Selama prajurit2 itu masih berada di Kuta, kurasa untuk

sementara waktu engkau tinggal bersama kakangmu Teja.

Lebih baik kita menjaga diri daripada harus tertimpah sesuatu

yang tak kita inginkan”

“Jika demikian, besok akan kusuruh seorang pengatasan

untuk mengabarkan hal itu kepada kakang Teja” kata ni Tari.

“Atau yang lebih tepat lagi” sambut lurah Sugriwa, ”esok

akan kusuruh kakangmu Puja mengantar engkau ke bukit.”

“Baik, rama” kata ni Tari ”lalu bagaimana dengan

perjamuan malam nanti ?”

“Karena sudah terlanjur mengundang mereka, terpaksa

kita harus melangsungkan” kata lurah Sugriwa.

0o-dw-mch-o0

II

LEGONG merupakan tarian yang paling tenar di Bali.

Suatu tarian yang indah, halus dan agung. Tarian itu

mengisahkan sebuah cerita dalam dongeng atau cerita

dongeng yang diujudkan dalam bentuk tarian.

Banyak sekali cerita2 dongeng yang dapat dilakukan

dalam bentuk tari tarian. Tetapi yang sering dimainkan adalah

ceritera tentang Raja Lasem yang pergi berperang. Dalam

perjalanan menuju ke medan laga, seekor burung gagak

terbang melintas diatas kepala raja itu. Menurut kepercayaan,

burung gagak dianggap sebagai lambang alamat buruk. Tiba2

burung gagak itu menyerang raja Lasem dengan maksud

menghalangi baginda. Raja murka lalu menitahkan supaya

burung gagak dibunuh. Kemudian raja melanjutkan perjalanan,

 

 

bertempur dengan ratu Syaitan yang jahat dan berakhir raja

kalah dan binasa.

Demikian pada malam itu, untuk menghormat dan

menghibur kedatangan pasukan Sriwijaya sebagai utusan

kerajaan Majapahit maka lurah Sugriwa telah mengadakan

perjamuan yang dimeriahkan dengan tarian Legong dengan

mengambil ceritera Raja Lasem, burung gagak dan ratu

Raja Lasem diperankan oleh ni Tari, burung gagak oleh

Maruni dan ratu Syaitan oleh gadis ni Rendang. Demikian

rencana lurah Sugriwa. Tetapi ternyata tiba pada waktunya, ni

Maruni tak muncul. Dan lebih terperanjat pula lurah Sugriwa

ketika mendengar tentang hilangnya kelima gadis ketika

sedang mandi di laut.

“Puja” kata lurah itu kepada puteranya yang sulung

”sudahkah engkau melakukan penyelidikan ke kapal prajurit2

Sriwijaya itu ?”

Gede Puja mengatakan sudah tetapi tak menemukan hasil

sesuatu apa. ”Adakah engkau tak melihat sesuatu yang

mencurigakan pada mereka ?” tanya lurah Sugriwa.

Puja gelengkan kepala, ”Tidak rama” Pada saat itu ni Tari

muncul ”Rama, sampai saat ini Maruni belum juga datang ?

Apakah kemungkinan dia tak mau datang ?”

“Apa alasannya ?” balas lurah Sugriwa.

“Ah, cukup beralasan, rama” kata ni Tari, “hilangnya kelima

kawan itu sangat mengganggu pikiranku apalagi Maruni yang

terlibat mengalami peristiwa itu. Dia tentu bersedih sekali.”

“Ya, akupun juga gelisah” kata lurah Sugriwa, “tetapi

kegelisahan itu tak boleh mengabaikan lain hal yang sudah

menjadi tanggung jawab kita, misalnya acara tari yang hendak

kita hidangkan dalam perjamuan malam ini”

 

 

“Rama, aku hendak mencari Maruni” tiba2 Puja berkata.

Tetapi lurah Sugriwa mencegah, mengatakan tak perlu.

“Biar, rama” kata ni Tari ”soal tarian dapat kita persirgkat,

cukup menghidangkan adegan raja Lasem bertempur

melawan ratu Syaitan.”

Sejenak lurah Sugriwa merenung kemudian menyetujui.

Dalam pada itu ketika Puja melangkah keluar, maka Tari pun

mengikuti, ”Kakang Puja, kemanakah engkau hendak mencari

Maruni ?”

“Ke pantai” sahut Puja.

“Bagus, kakang” seru ni Tari kemudian dengan nada

berbisik ia menyatakan keraguannya tentang hasil

penyelidikan yang dilakukan Puja siang tadi. ”Kakang Puja,

apakah kakang bersedia melakukan rencanaku?”

“Apakah itu ?” Puja kerutkan dahi.

“Aku tetap tak percaya bahwa hilangnya kelima gadis itu

karena kecelakaan” kata Tari. ”kurasa kapal prajurit2 Sriwijaya

itu layak dicurigai. Tetapi mereka menolak kedatangan kakang

dengan mengatakan tak tahu tentang gadis2 itu. Bukankah

kakang tak diberi kesempatan untuk menggeledah perahu

mereka ?”

Puja serentak hentikan langkah, menatap wajah adiknya.

”Tari, engkau benar. Memang aku percaya begitu saja apa

keterangan mereka. Ya, memang harus diselidiki lagi perahu2

itu. Kalau perlu kita geledah dengan paksa …”

Tari tersenyum hambar. ”Ah, tidak semudah itu kakang.

Mereka terdiri dari prajurit2 perang yang bersenjata lengkap.

Bagaimana kakang hendak menghadapi mereka ?”

Puja tertegun pula.

 

 

“Hanya ada sebuah cara, kakang Puja” kata Tari ”yalah

dengan cara bersembunyi melakukan penyelidikan itu.

Bawalah beberapa orang yang pandai menyilam untuk

mendekati perahu mereka. Jika mungkin, siapkan alat kait dan

tali untuk naik ke perahu mereka. Jika tidak mungkin, cukup

bersembunyi di samping perahu, mendengarkan pembicaraan

mereka. Kakang tentu dapat bertindak menurut gelagat

bagaimana baiknya”

Cerahlah seketika wajah Puja. ”Bagus, Tari. segera akan

kulakukan rencanamu itu”

“Hati-hati, kakang” Tari mengantar pesan.

Dalam perjamuan, ni Tari tampak kurang bersemangat

dalam membawakan tariannya. Namun Arya Kembar, Arya

Lembang dan perwira2 Sriwijaya yang menyaksikan, tak

kunjung henti menghambur puji. Keindahan dan kehalusan

gerak tari Legong yang dibawakan oleh gerak jari jemari ni

Tari yang melentik lentik bak duri landak, kelemasan tubuhnya

yang ramping meliuk liuk dalam gerak yang lemah gemulai,

bagaikan bulir batang padi yang berguncang rebah tegak

dihembus angin. Dan yang paling mempesona semangat para

senopati, dan perwira Sriwijaya adalah wajah dara itu.

Seketika melayang-layanglah semangat mereka dibuai khayal

Pada waktu kecil, Arya Damar dan Arya Lembang pernah

mendengar cerita dari orang2 tua, bahwa suramnya pamor

kerajaan Sriwijaya adalah karena mustika istana Sriwijaya

telah dibawa ke Majapahit. Kala itu karena masih kecil, Arya

Lembang tak tahu dan menanyakan mustika apakah yang

telah diangkut orang Majapahit itu? Pertanyaan itu dijawab

oleh yang bercerita, seorang bujang tua dari keluarga Arya

Lembang, bahwa mustika itu adalah sepasang puteri dari

baginda Tribuana Mauliwarman yang bernama Dara Petak

dan Dara Jingga.

 

 

Kecantikan dari kedua puteri baginda itu, terutama Dyah

ayu Dara Petak, tiada keduanya di seluruh kerajaan Sriwijaya.

Bahkan di seluruh penjuru jagad. Sejak kedua puteri itu lahir

maka kerajaan Sriwijaya telah mencapai kejayaan dan

kemegahan. Kedua puteri itu merupakan mustika kerajaan

Sriwijaya yang memancarkan sinar kejayaan keseluruh jagad”

kata bujang tua itu.

“Ah, secantik-cantik manusia tentu masih kalah dengan

bidadari” bantah Arya Lembang yang sering mendengar kata

orang bahwa bidadari itu luar biasa cantiknya. Pada hal ia

sendiri belum tahu bagaimanakah sesungguhnya yang

dianggap cantik itu.

“Eh, bagaimana engkau” bujang tua bersungut sungut ”aku

berani bersumpah, kalah cantiklah bidadari di kahyangan

dengan dyah sang Ayu Candra Dewi dan sang ayu Kembang

Dadar”

“Jika demikian, wajiblah puteri Sriwijaya itu kita rebut

kembali agar kerajaan Sriwijaya tetap jaya” kata Arya

“Tidak mungkin, raden” kata bujang tua ”puteri Candra

Dewi telah diambil permaisuri oleh raden Wijaya yang

kemudian menjadi baginda raja Majapahit yang pertama”

“Apakah raja Majapahit itu masih hidup ?”

“Sudah wafat” jawab bujang tua tetapi sekarang telah

diganti oleh puteranya yang bernama Jayanagara, putera dari

puteri Candra Dewi juga”

“Kita boyong saja puteri itu. Bukankah dia berasal dari

Sriwijaya ?” bantah Arya Lembang.

Bujang tua gelengkan kepala lalu masuk kedalam,

meninggalkan Arya Lembang dalam cengkaman kesan.

Terpercik dalam relung hati anak itu suatu kesan bahwa jika

 

 

hendak mengembalikan kejayaan kerajaan Sriwijaya, puteri

Cindra Dewi harus diboyong kembali ke Sriwijaya. Kesan itu

dibawanya sehingga ia berangkat dewasa.

Teringat akan pujian bujang tua terhadap kecantikan puteri

Candra Dewi atau Dara Petak, timbullah suatu keheranan.

Mungkinkah puteri Candra Dewi itu lebih cantik dari ni Tari,

puteri lurah Sugriwa, yang saat itu tengah menari dalam tari

Legong yang indah gemulai ? Dulu ketika masih kecil ia tak

mengerti bagaimana wanita yang disebut cantik itu. Tetapi kini

ia sudah tahu dan menurut penilaiannya, ni Tari itu amat

menonjol sekali kecantikannya. Benarkah puteri Candra Dewi

tiada tara kecantikannya sehingga melebihi bidadari ? Ah,

diam2 ia tertawa dalam hati. Bujang tua itu tak pernah

mengembara ke lain negeri dan mungkin jarang melihat wanita

cantik sehingga pandangan dan dunianya sesempit katak

dalam tempurung. Demikian ia menarik kesimpulan.

Renungannya tergetar lenyap ketika seorang dara

menghaturkan hidangan minuman dan mempersilahkannya

minum. Bau tuak yang harum2 sedap segera berhamburan

menusuk hidung ketika dara itu menuangkan kendi ke dalam

cawan. Dengan gembira ia segera menyambuti cawan dan

meneguknya habis. ”Ah, harum sekali tuak bali ini” serunya

Dara itu tak menjawab melainkan tersenyum dan

menuangnya lagi. Sehabis meneguk, Arya Lembang

menyelimpatkan pandang ke samping. Dilihatnya Arya

Damarpun tengah dilayakni oleh seorang dara manis.

Berpaling ke kiri dilihatnya beberapa perwira pun tengah

minum. Memandang ke muka, prajurit2 anakbuahnya yang

duduk dijajaran kursi pun tengah menikmati tuak.

“Ki lurah, sungguh nikmat benar tuak ini” seru Arya Damar

kepada tuan rumah ”dari bahan apakah?”

 

 

Lurah Sugriwa menerangkan bahwa tuak di Bali terbuat

dari macam2 bahan. Ada yang dari brem, ada yang dari legen

atau air sari bunga kelapa, ada pula dari singkong, ketan dan

lain2. Arak yang dihidangkan malam itu, khusus dari bahan

brem yang sudah tersimpan sampai beberapa tahun.

Rupanya Arya Damar, Arya Lembang dan prajurit2

anakbuahnya merasa gembira sekali malam itu. Mereka

minum sepuas-puasnya sambil tak pernah melepaskan

pandang matanya kearah tari Legong yang dibawa ni Tari.

Tuak, betapapun ringannya, tetap mengandung daya

perangsang. Menghangatkan tubuh dan memperkeras aliran

darah, kadang ada juga yang membangkitkan nafsu. Demikian

tuak yang dinikmati ki senopati dan prajurit2 Sriwijaya itu. Arya

Damar yang lebih tua dan biasa minum, memang masih dapat

bertahan. Tetapi Arya Lembang sudah menampakkan gejala2

mabuk. Wajahnya merah dan lidahnya mulai lincah bicara.

Dan dalam keadaan mabuk itu maka tercurahlah apa yang

terkandung dalam hati. Arya Lembang mulai memuji-muji

kecantikan ni Tari. ”Huh, paman Lubuk itu ludah tua, tak tahu

pengalaman. Mana mungkin terdapat wanita Sriwijaya yang

lebih cantik dari gadis Bali ini” pikirannya mulai merambang.

Tiba2 pada saat itu pertunjukan tari telah tiba pada adegan

Raja Lasem rubuh tertampar jari2 beracun dari raja Syaitan.

Seketika Arya Lembang loncat ke tengah gelanggang,

menghantam raja Syaitan yang diperankan ni Rendang

sehingga gadis, itu terhuyung-huyung rubuh ke belakang.

Kemudian ia memeluk Raja Lasem atau ni Tari. ”Ah, apakah

engkau terluka, gadis jelita?”

Ni Tari terkejut sekali. Ia hendak meronta tetapi terlambat.

Kedua lengan Arya Lembang yang kokoh telah mendekap

tubuhnya. Pada saat ia hendak berontak, tubuhnya pun telah

diangkat oleh Arya Lembang. Lurah Sugriwa terperanjat

sekali, demikian dengan beberapa orang kelurahan. Mereka

 

 

serempak hendak maju menyerang Arya Lembang. Ni

Rendang ditampar sehingga rubuh pingsan, sudah

menimbulkan kemarahan orang2 kelurahan Kuta. Kemudian

ditambah pula dengan tingkah ulah Arya Lembang yang

memeluk dan mengangkat tubuh ni Tari, tak mungkin lagi

mereka mengendalikan diri. Mereka merasa terhina. Mereka

tak menghiraukan apa akibatnya lagi, hinaan itu harus dibalas,

bahkan kalau perlu dengan tebusan darah.

“Barang siapa berani maju, akan kubunuh” seru Arya

Lembang seraya menghunus pedang.

Seorang lelaki bertubuh kekar, orang kepercayaan lurah

Sugriwa yang terkenal pembesani, segera melantang.

”Hendak engkau pengapakan ni Tari itu ?”

“Akan kubawa ke kapal dan kubawa ke Sriwijaya menjadi

isteriku” seru Arya Lembang. Sepasang matanya merah,

mulutnya berbusa.

Gemparlah suasana perjamuan di pendapa kelurahan.

Arya Damar terkejut tetapi sebelum ia sempat bertindak,

beberapa prajurit Sriwijya telah mencabut senjata dan

berhamburan mengepung lurah Sugriwa dan orang2

“Lembang…..” teriak Arya Damar yang cemas

menyaksikan peristiwa tak terduga-duga itu. Tetapi sebelum ia

sempat melanjutkan kata katanya, Arya Lembang sudah

menjawab, ”Kakang Damar, jangan cemas, akulah yang

bertanggung jawab semua peristiwa di sini!”

 

 

Walaupun sebagai pimpinan teratas, tetapi dalam

kenyataan karena Arya Lembang yang membawa prajuritprajurit

Sriwijaya itu maka dialah yang lebih besar

pengaruhnya pada pasukan Sriwijaya. Pernyataan panglima

Sriwijaya itu cukup memberi

peringatan bagi Arya Damar,

bahwa seluruh anak buah

pasukau Sriwijaya tentu

berdiri di belakang Arya

Torong, orang tinggi

besar yang menjadi

kepercayaan lurah, tak

dapat menahan kemarahan

lagi. Dengan nekad ia

menerjang prajurit yang

menghadang di mukanya.

Tetapi prajurit itu sudah siap.

Segera ia menyongsong

dengan tombaknya. Torong

masih dapat menghindar ke samping lalu menerkam tombak

prajurit itu, didorong dengan sekuat tenaga. Prajurit itu terkejut

sekali ketika merasakan tenaga Torong yang besar. Ia

terdorong ke belakang sampai lima langkah. Tetapi serempak

pada saat itu, ujung tombak dari lain prajurit telah bersarang

padi paha kiri Torong. Torong menjerit, lepaskan tombak yang

hampir berhasil direbutnya, mendekap paha dan meraung

raung kesakitan.

Lurah Sugriwa mencabut keris, menikam seorang prajurit

yang menghadang didepannya. Tetapi prajurit itu cukup

waspada. Ia menyisih lalu gerakkan tangkai tombak

menghantam kepala lurah Sugriwa. Gerakan itu amat cepat

dan karena jarak amat dekat, lurah Sugriwa tak menyangka

dan tak sempat menghindar. Untung ia masih dapat

 

 

menundukkan kepala sehingga bahunya nya yang terkena

sabatan tangkai tombak. Sekalipun demikian cakuplah

membuat lurah yang sudah setengah tua itu terhampar jatuh.

Untunglah beberapa pengalasan kelurahan segera

menyambuti tubuhnya.

“Hayo, siapa lagi yang berani mengganggu …” belum

sempat Arya Lembang melantangkan tantangannya,

sekonyong-konyong pemuda yang mengenakan dandanan

sebagai pedanda atau pandita loncat ke tengah gelanggang,

tepat di belakang Arya Lembang. Karena Arya Lembang

tengah menghadap ke arah orang2 kelurahan, demikian pula

dengan prajurit2 anakbuahnya, maka mereka tak tahu sama

sekali akan kedatangan pedanda muda itu. Selain datang dari

arah belakang pun gerakannya hampir tak mengeluarkan

suara. Dan selekas berada di belakang Arya Lembang dengan

sebuah gerak yang amat cepat, pedanda muda itu

mencengkeram bahu Arya Lembang dan menekannya.

“Anh …” Arya Lembang menjerit kejut dan kesakitan.

Sedemikian besar rasa sakit yang menyerang tulang bahu

Arya Lembang sehingga ia kehilangan tenaga. Tubuh ni Tari

pun menumpah ke lantai.

Prajurit2 itu terkejut dan serempak berpaling karena

mendengar jerit kesakitan senopati Arya Lembang. Alangkah

kejut mereka ketika melihat Arya Lembang telah dikuasai oleh

seorang pedanda muda. Belum sempat mereka berbuat

sesuatu, terdengarlah pedanda muda itu berseru dengan nada

yang penuh kemarahan. ”Kalian berani maju selangkah, orang

ini tentu kuremas hancur tulangnya”

Arya Lembang benar2 tak berdaya dalam cengkeraman

pedanda muda itu. Arya Damar marah sekali. Ia mencabut

pedang. ”Hm, tindakanmu itu hanya akan mengorbankan jiwa

kawanmu ini!” seru pedanda muda itu.

 

 

“Siapa engkau!” seru Arya Damar.

“Aku Made Teja, putera lurah Sugriwa!” sahut pedanda

muda itu.

“Engkau hendak membunuh senopati Arya Lembang yang

memimpin armada Sriwijaya?” seru Arya Damar sengaja

menekankan kekuatan Sriwijaya untuk menggetarkan nyali

pedanda Teja.

“Hal itu tergantung dari engkau dan anakbuahmu” sahut

Arya Damar kerutkan dahi, ”Apa maksudmu?”

“Ada empat kesalahan yang kalian lakukan terhadap kami”

kata pedanda Teja, ”pertama, sebagai utusan dari kerajaan

Majapahit yang hendak memaksa raja kami untuk

menghaturkan sembah ke pura Majapahit?”

Arya Damar terkejut, ”Bagaimana engkau tahu?” serunya.

“Adalah karena kami hanya kawula, adalah karena ayah

hanya seorang nayaka yang wajib tunduk pada titah raja maka

kesalahan kalian yang pertama yang sesungguhnya

merupakan hinaan bagi seluruh kawula Bali, kami

pertangguhkan” jawab Teja yang bukan merupakan jawaban

dari pertanyaan Arya Damar, ”kedua ….”

“Bagaimana engkau tahu hal itu?” Arya Damar mengulang

“Hm” desuh pedanda Teja ”yang penting benar atau tidak

hal itu. Mengapa engkau mengherankan sesuatu yang

menjadi kenyataan. Salah seorang prajurit dalam armada

Sriwijaya itulah yang mengatakan kepadaku. Kesalahan kalian

yang kedua” pedanda Teja melanjut ”prajurit2 kalian di perahu

itu telah menculik lima gadis desa ini dikala mereka sedang

mengadakan permandian suci di laut ….”

 

 

Kali ini benar2 Arya Damar tersengat kejut. ”Jangan bicara

sekehendak hatimu! Kulihat dandananmu seperti seorang

pandita tetapi mengapa mulutmu gemar menghambur fitnah?”

Pedanda muda itu menatap wajah Arya Damar tajam2

kemudian ujarnya, ”Lepas dari diriku ini siapa, tetapi sejak

kecil aku tak pernah berbohong dan memang ayahku tak

pernah mengajar aku berdusta. Apa yang kukatakan, memang

berbukti. Sekarang juga kalau kita memeriksa ke perahu2 itu,

tentulah terdapat kelima gadis yang hilang”

“Bagaimana kalau tidak ada?” masih Arya Damar tak mau

“Bunuhlah aku!” sahut pedanda Teja serentak ”tetapi

apabila terbukti?”

“Akan kuhukum prajurit2 yang bersalah itu” sahut Arya

Pedanda Teja melanjutkan ”Yang ketiga, kalian telah

bertindak liar, berani merampas adikku Tari. Kemudian yang

keempat, kalian telah melukai orang-orang ponggawa

kelurahan dan ayahku. Nah, tidakkah keempat kesalahan itu

cukup untuk kuambil tindakan?”

Arya Damar menimang. Orang-orang kelurahan dapat

dihadapi prajurit-prajurit pengiringnya. Yang menjadi persoalan

adalah Arya Lembang yang dikuasai pedanda muda itu.

Apabila ia bertindak keras, dikuatirkan pedanda muda itu akan

melaksanakan ancamannya. Kehilangan seorang Arya

Lembang, berat sekali artinya bagi pasukan Sriwijaya dan

tidak sesuai dengan imbalan jiwa seorang pedanda. Akhirnya

ia mengambil keputusan. ”Baiklah, ki sanak, perbuatan yang

engkau tuduhkan kepada kami itu memang benar. Tetapi hal

itu kami lakukan di luar kesadaran dan karena pengaruh tuak.

Engkau sebagai seorang pedanda harus maklum akan hal itu”

 

 

Arya Damar berhenti sejenak untuk menyelidik tanggapan

Teja. Tampak anakmuda itu hanya mendesuh. ”Oleh karena

itu, demi memelihara suasana persahabatan diantara kita,

sukalah engkau melepaskan adi Lembang yang engkau

kuasai itu”

“Hanya begitu?” tanya Teja.

Arya Damar merentang mata ”Lalu apa maksudmu?”

“Tuan” seru pedanda Teja ”menilik busana dan wibawa

tuan, tuan tentu senopati atau pimpinan prajurit prajurit

Sriwijaya”

“Benar, aku tumenggung Arya Damar yang ditugaskan

memimpin pasukan Majapahit ke Bali”

“Tumenggung Arya Damar” seru pedanda Teja. Arya

Damar terkesiap namun Teja tak terpengaruh dan melanjut

”sebagai pimpinan, tuan adalah yang dipertuan dalam

pasukan Sriwijaya. Tetapi di Kuta sini, kamilah yang berkuasa.

Kami hanya tunduk pada kekuasaan baginda di Bedulu.

Adakah tuan sudah merasa cukup hanya dengan

penyelesaian begitu saja. Bagaimana dengan kelima gadis

yang tertawan di perahu itu? Bagaimana dengan ayahku dan

seorang pengatasan yang menderita luka itu?”

Arya Damar kerutkan dahi dan tak puas atas sikap Teja.

”Ya, kutahu, kedudukanku adalah sebagai tetamu. Tetapi yang

kuanggap sebagai tuan rumah adalah lurah Sugriwa, bukan

engkau. Jika aku meminta maaf, pun kepadanya, bukan

kepadamu.”

Teja tertawa hambar. ”Aku tak menginginkan pernyataan

maaf, melainkan suatu tindakan nyata dari pembebasan

kelima gadis itu dan supaya tuan segera mengangkat sauh

tinggalkan bandar Kuta”

 

 

“Lepaskan adi Arya Lembang dulu!” teriak Arya Damar

yang mulai tak sabar.

“Tidak” sahut Teja dengan tegas ”sebelum kelima gadis itu

dibebaskan, aku pun tak dapat melepaskan senopati ini”

“Pedanda” seru Aiya Damar marah ”engkau seorang

pedanda dan aku seorang senopati. Brahmana dan ksatrya

terikat oleh keutamaan untuk memegang janji. Lepaskan

senopati kami dan akan kulepaskan kelima gadis itu jika

benar2 mereka berada di dalam perahu kami. Ini janjiku”

Teja termenung sejenak. Sesaat kemudian ia berseru

kepada beberapa bujang untuk mengangkut ni Tari ke dalam.

Setelah itu baru ia berkata, ”Baik, aku peicaya pada janji

seorang senopati” ia lepaskan tangan dan menyurut mundur.

Arya Damar cepat menghampiri Arya Lembang,

”Bagaimana keadaanmu, adi?” tegurnya sesaat melihat Arya

Lembang masih tegak memejamkan mata.

Sampai beberapa saat baru Arya Lembang membuka

mata dan berseru, ”Tidak apa-apa, kakang” kemudian ia

berpaling menghadap kearah Teja ”engkau manusia pengecut,

engkau keparat !”

Terkejut Teja mendengar hamun makian itu. ”Jangan

bermulut kotor! Masih ringan apabila aku hanya bertindak

begitu terhadap dirimu” kemudian ia berseru kepada Arya

Damar. ”Tuan, bagaimana janji tuan. Lekaslah selesaikan

peristiwa ini”

“Tidak ada janji!” bentak Arya Lembang. Rupa dia malu

sekali karena dirinya telah dicengkeram tak berdaya di

hadapan prajurit2 pengiringnya, ”serahkan jiwamu sebelum

kuambil tindakan keras”

Teja terbeliak. ”Apa katamu? Senopati Arya Damar telah

mengucapkan janji hendak melepaskan kelima gadis yang

 

 

ditawan di perahu. Mengapa engkau hendak merusak

suasana perjanjian ini ?”

“Sudahkan engkau menagih janji kepada kakang

tumenggung Arya Damar” seru Arya Lembang ”tetapi aku tak

pernah berjanji kepadamu. Saat ini kalau engkau minta janji

kepadaku, akupun dapat memberi. Nah, dengarkanlah, aku

berjanji hendak mengambil jiwamu!”

“Wahai, orang Sriwijaya” sambut pedanda Teja

”demikianlah martabat dari seorang senopati? Yang seorang

telah memberikan janjinya, yang seorang menyangkal.

Siapakah sesungguhnya yang menjadi pimpinan pasukan

Sriwijaya itu?”

“Sudah tentu kakang tumenggung Arya Damar” sahut Arya

Lembang ”apapun yang telah dijanjikan kepadamu, tentu akan

dipenuhi kakang tumenggung. Tetapi akupun akan memenuhi

janjiku kepadamu tadi, mencabut nyawamu”

“Engkau hendak ingkar janji pemimpinmu!”

“Sama sekali tidak” sahut Arya Lembang ”karena

pendirianku sejak kecil sampai menjadi senopati, akan

menghukum setiap manusia yang berbuat licik. Aku benci

dengan manusia pengecut seperti engkau”

“Engkau berani menganggu adikku!” seru Teja.

“Aku tidak mengganggunya tetapi hendak ku bawanya

pulang kujadikan isteriku. Bukankah keluargamu akan lebih

bahagia mendapat menantu seorang senopati?”

“Adikku sudah mempunyai kekasih. Kutahu dia tak mau

menikah dengan orang mancanagara!”

“Itu katamu, bukan kata gadis itu,” masih Arya Lembang

 

 

Teja geram sekali. ”Hm, adakah begitu cara orang

Sriwijaya, tingkah seorang senopati yang dihormati para

prajurit, memperistri anak gadis orang dengan membawa lari

secara paksa?”

“Huh” dengus Arya Lembang marah, “begitukah cara

orang Bali, apabila seorang pemuda menyerang orang? Jika

memang seorang ksatrya, mengapa engkau menyerang aku

dari belakang? Bakankah itu cara seorang pengecut yang

licik?”

Teja balas tertawa menghina, ”Adakah perlu untuk

memberlakukan seorang manusia hina dengan cara seorang

ksatrya?”

“Engkau pengecut!” teriak Arya Lembang.

“Untuk menghadapi seorang perampok gadis!” karena tak

tahan dimaki, akhirnya meluncurlah kata2 Teja yang kasar.

Sudah tentu Arya Lembang tak kuasa lagi menahan

kemarahannya. Dia adalah seorang senopati dari sebuah

pasukan besar. Bagaimana mungkin ia dapat bertahan, dimaki

di hadapan prajurit2 anakbuahnya. ”Keparat, hayo, kita

bertanding secara ksatrya!”

Arya Damar kuatir kalau terjadi sesuatu atas diri Arya

Lembang maka cepat ia mencegah. ”Adi Lembang, mengapa

harus bertindak begitu?”

Sesungguhnya dalam kata2 Arya Damar itu terselip suatu

peringatan halus bahwa tak perlulah Arya Lembang berbuat

begitu, cukup memerintahkan prajurit2 pengiring untuk

menangkap Teja. Ia sendiri menghindari mengeluarkan

perintah itu karena sudah terlanjur berjanji kepada Teja. Yang

dapat dan kuasa serta bebas memberi perintah kepada prajurit

pengiring adalah Arya Lembang. Tetapi rupanya Arya

Lembang tak dapat menangkap isyarat yang diberikannya.

 

 

Atau mungkin karena masih berdarah panas, Arya Lembang

hendak menunjukkan kegagahannya dihadapan para

“Harap kakang tumenggung jangan kuatir. Menghadapi

seekor lalat, cukup dengan menggerakkan sebuah jari tangan

saja” kata Arya Lembang dengan nada bangga.

Pedanda Teja tak mengucap sepatah kata. Ia tegak

bersiap dengan sikap tenang. Kemudian Arya Lembang

berkata pula, ”Adakah engkau benar2 bersedia menghadapi

aku?”

“Tidakkah engkau melihat bahwa aku masih berada di

sini? Jika takut, tentulah aku sudah mundur” sahut Teja.

“Bagus” seru Arya Lembang ”untuk menghindari tuduhan

bahwa aku seorang senopati menghina seorang pedanda,

maka cobalah engkau katakan dengan cara apa kita lakukan

pertandingan ini?”

“Aku seorang murid pedanda” sahut Teja ”yang diajar

tentang ilmu ajaran agama, bukan ilmu berkelahi. Dalam hal

ini aku tak mempunyai permintaan apa2 dan hanya menurut

saja apa yang engkau kehendaki”

Arya Lembang terkesiap atas ketenangan pemuda itu.

Diam-diam ia menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu

yang digdaya. Jika tidak, tak mungkin seorang diri dia berani

tampil menguasai seorang senopati, seorang diri pula berani

menghadapi rombongan pengiring senopati yang berjumlah

duapuluh orang. Namun rasa angkuh dan mengagulkan diri

dari Arya Lembang, cepat menindas semua getar2

kecemasannya. Ia merasa telah menyelesaikan ilmu

kedigdayaan dari gurunya seorang sakti dari pertapaan di

Talangbetutu, Palembang. Dan dari kedigdayaan itulah maka

ia berhasil diangkat sebagai senopati dan dipercayakan untuk

memimpin pasukan Sriwijaya ke Majapahit. Sudah banyak

 

 

musuh yang dihadapi dan dirubuhkannya, mengapa ia harus

gentar menghadapi seorang pedanda desa?

Tumbuhnya kepercayaan pada diri sendiri, memancarkan

keangkuhannya sebagai seorang senopati. Serentak ia

berseru, ”Jika aku kalah, aku bersedia bunuh diri di

hadapanmu”

“Tidak perlu” seru Teja ”aku tak menghendaki jiwamu,

cukup jika engkau bebaskan kelima anak gadis itu dan

tinggalkan bandar ini”

“Tetapi bila aku menang, apa katamu?” balas Arya

“Terserah kepadamu”

“Akupun tak menghendaki jiwamu tetapi cukup jika dapat

memperoleh gadis Tari sebagai isteriku” sahut Arya Lembang.

Teja hanya mendengus dan mempersilahkan Arya

Lembang segera mulai menyerangnya. Demikian setelah

putus pembicaraan, kedua anakrnuda itupun lalu mulai

berbicara dengan bahasa pertempuran. Serangan pertama

dibuka oleh Arya Lembang yang mengarahkan tinjunya ke

dada lawan. Tetapi ternyata serangan itu hanya bersifat

penjajagan. Maka selekas Teja mengisar ke samping, segera

Arya Lembang menghentikan tinju dan mengganti dengan

sebuah terkaman ke bahu. Namun Teja tiba2 mengendap ke

bawah dan balas menerkam lambung. Arya Lembang terkejut,

cepat ia loncat mundur.

Babak permulaan itu mengejutkan sekalian prajurit2

pengiring Arya Lembang. Demikian pula Arya Damar. Ia tak

menyangka bahwa pedanda muda itu ternyata memiliki ilmu

kanuragan yang mengejutkan.

Arya Lembang tertawa dingin. Segera ia merobah gaya

serangannya dengan loncat menerkam dan menerjang. Ia

 

 

mengandalkan akan kedua tangannya yang keras. Oleh

gurunya ia mendapat latihan keras dalam ilmu pukulan

sehingga tulang2 tangannya amat keras sekali. Sampai pada

tataran tertentu, dapatlah ia menghantam pecah seekor kepala

Krak ….. pada saat yang tak menyempatkan untuk

menghindar, Teja terpaksa menyongsong pukulan lawan.

Letupan dua kerat tulang yang saling beradu keras,

meruntuhkan keluhan dalam hati kedua lawan itu. Teja

merintih dalam hati karena lengannya serasa patah. Namun

kerut wajahnya tak kuasa menyembunyikan rasa sakit itu

hingga tampak kerut wajahnya meliuk-liuk. Sedangkan Arya

Lembang juga mengeluh dalam hati karena tinjunya telah

terdampar oleh tenaga yang dahsyat sehingga ia tersurat

mundur setengah langkah.

Adu kekerasan tenaga itu telah memberi gambaran akan

nilai kekuatan keduanya. Dalam hal kerasnya tulang, nyata

Arya Lembang lebih unggul. Tetapi dalam hal tenaga, Teja

lebih menang. Keduanya cepat dapat mengetahui kelemahan

lawan dan kelemahan dirinya sendiri. Kini Arya Lembang

melancarkan serangan yang gencar. Ia memaksa lawan

supaya mengadu pukulan. Tetapi Teja pun tahu. Ia tak mau

terperangsang oleh serangan gencar dari lawan. Ia lebih

banyak melonjak dan melincah untuk menghindar dan mencari

kesempatan untuk balas menyerang.

Pertempuran pun berjalan makin seru. Arya Lembang

memang gagah perkasa. Dia difihak yang menyerang dan

tampak Teja sibuk mempertahankan diri. Kegiatan Arya

Lembang makin meningkat ketika prajurit2 pengiringnya

bersorak sorai memberi dorongan semangat.

Makin lama Teja makin terdesak. Diam2 ia memuji

kedigdayaan senopati muda dari Sriwijaya itu. Dalam pada itu

diam2 diapun menimang suatu keputusan. Apabila selalu

 

 

difihak yang diserang niscaya pada suatu saat, mungkin ia

terkena atau lambat menghindar, tentulah akan menderita

kekalahan. Sebelum hal itu terjadi baiklah ia menggunakan

siasat, memancing lawan supaya menerkamnya. Pada saat itu

ia tak perlu menguatirkan tinju lawan yang keras dan dapat

balas menerkam lawan. Apabila terjadi terkam menerkam,

jelas ia tentu dapat mengatasi lawan karena ia lebih kuat

dalam kekuatan tenaga.

Sesaat ia hendak melaksanakan rencananya, tiba2 dari

arah belakang terdengar lengking teriakan memanggil

namanya, ”Kakang Teja …” Teja cepat dapat mengenali nada

itu sebagai suara adiknya, ni Tari. Ia pun berpaling karena

ingin melihat bagaimana keadaan Tari. Memang walaupun

termasuk seorang anak yang nakal, pemalas dan suka

berkelana, tetapi Teja paling mengasihi adiknya. Demikian

pula ni Tari, ia paling sayang akan kakaknya yang kedua itu.

Kesempatan itu dapat diketahui Arya Lembang. Ia tak mau

mensia-siakan peluang itu. Dengan sekuat tenaga, ia

menghujamkan tinju ke dada Teja.

“Kakang, dia hendak memukulmu …” ni Tari menjerit keras

ketika melihat betapa seram wajah Arya Lembang dikala

mengayunkan tinju itu.

Teja terkejut dan menyadari. Hendak loncat menghindar

sudah tak sempat, hendak menangkispun terlambat. Dalam

keadaan berbahaya ia masih berusaha untuk mengisar tubuh

ke samping. Duk …. bahu kirinya termakan tinju Arya

Lembang. Seketika itu pula Teja terdampar ke belakang dan

rubuh. Arya Lembang menyeringai. Ia cepat loncat

menghampiri dan menginjak dada Teja.

“Kakang …” ni Tari menjerit pula dan hendak lari

menerkam Arya Lembang. Ia tak menghiraukan suatu apa

lagi, adakah ia nanti dibunuh atau di pukul Arya Lambang.

 

 

Tetapi sebelum langkah diayun, tiba2 terdengar Arya

Lembang memekik kejut dan terpelanting jatuh.

Ternyata Teja telah mendapat kesempatan baik walaupun

harus menderita kesakitan. Ketika kaki Arya Lembang berayun

hendak menginjak dadanya, dengan kecepatan yang tak

terduga, Teja segera menyambar kaki senopati itu, terus

disentakkan sekuat-kuatnya. Dan selekas Arya Lembang

rubuh, Tejapun melenting bangun dan mencekik tengkuk

senopati itu lalu tubuhnya diangkat tinggi siap hendak

dilontarkan,

“Tunggu!” Arya Damar serentak berseru cemas ”jika

engkau berani membunuhnya, duapuluh ribu prajurit Sriwijaya

yang berada dalam perahu akan kuperintahkan untuk

meratakan bandar Kuta ini”

“Teja, turunkanlah!” tiba2 terdengar pula seseorang

berseru nyaring. Teja mengenali suara itu sebagai kakaknya,

Gde Puja. Pelahan lahan wajahnya yang merah membara

mulai meredup dan tangannya pun mulai menurunkan tubuh

Arya Lembang.

“Teja, lepaskanlah dia” seru Puja pula kepada adiknya.

Teja berpaling kearah kakaknya. ”Mengapa, kakang?

Adakah engkau takut akan akibatnya? Akulah yang

bertanggung jawab semua ini”

“Bukan, adikku” kata Puja ”lepaskan, mereka tentu segera

angkat kaki dari sini”

Teja tertawa tak bersuara, ”Tak mungkin, kakang. Mereka

mengandalkan prajuritnya yang berjumlah puluhan ribu”

“Biarlah, Teja, percayalah kepadaku. Mereka tentu akan

bergegas tinggalkan tempat kita”

 

 

Rupanya Puja mempunyai pengaruh juga kepada adiknya.

Teja pun melepaskan tubuh Arya Lembang ke lantai dan

pelahan-lahan beringsut mundur ke tempat ni Tari.

“Ki tumenggung Arya Damar” seru Puja ”kunasehati

lekaslah tuan membawa senopati Arya Lembang dan

pengiring2 tuan kembali ke perahu”

“Mengapa, ki sanak?” Arya Damar heran.

“Saat ini orang orangku tengah melubangi bagian bawah

dari perahu2 tuan. Tak berapa lama lagi perahu2 tuan itu

berlubang dan akan digenangi air …..”

“Ki sanak!” teriak Arya Damar seperti terpagut ular.

“Ki tumenggung, waktu amat berharga. Jika tuan tak lekas

kembali, perahu-perahu tuan tentu kemasukan air dan

tenggelam di perairan Kuta”

Arya Damar marah sekali. ”Jika anakbuahku mati, kalian

sekeluargapun akan kupenggal kepala semua”

Puja tertawa ”Sekalipun ayam, kalau ayam Bali juga sukar

disembelih. Apa pula kami manusia Bali. Tetapi ingat, ki

tumenggung, mati keluarga Sugriwa masih layak untuk

duapuluh ribu prajurit2 Sriwijaya. Karena walaupun dapat

berenang ke tepi, tetapi telah kusiapkan rakyat dan orang

orangku untuk menyambut mereka dengan anakpanah”

Tergetar hati Arya Damar mendengar kata2 itu.

Sesungguhnya ia tak mengerti tentang hilangnya kelima gadis

itu. Menilik keterangan pedanda Teja dan Puja, ia curiga

memang prajurit2 Sriwijaya di perahu itulah yang melakukan.

Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas keselamatan

prajurit2 Sriwijaya, sudah barang tentu Arya Damar tak

menghendaki apa yang diucapkan Puja itu akan terlaksana. Ia

menimang lebih lanjut, bahwa kelima gadis itu tiada artinya

dengan keseluruh pasukan Sriwijaya yang dibawanya. ”Baik,

 

 

Puja” akhirnya ia mengalah ”engkau harus percaya bahwa aku

tak tahu menahu tentang perbuatan anakbuahku yang berada

di dalam perahu karena selama ini aku menginap di rumah

ayahmu”

“Itulah sebabnya maka akupun melarang adikku Teja

untuk mencelakai senopati Arya Lembang dan masih memberi

kesempatan kepada ki tumenggung untuk melepaskan gadis2

itu” sahut Puja.

“Baik” akhirnya Arya Damar menerima ”mari kita ke pantai”

ia mengajak sekalian pengiringnya. Karena kuatir

menimbulkan persoalan lagi maka Arya Damar memberi

perintah supaya Arya Lembang jangan diberi pertolongan

melainkan diangkat ke perahu.

Bukan kepalang marah Arya Damar ketika mengetahui

perbuatan prajurit Rakata dan kawan kawannya yang telah

membawa kelima gadis Kuta yang sedang mandi di laut.

Rakata mengatakan bahwa ia telah mendapat idin dari

pratyaya Sebuku. Arya Damar menitahkan supaya pratyaya

Sebuku dan prajurit-prajurit yang bersalah itu dihukum mati.

”Mereka telah melanggar peraturan pasukan sehingga

menyebabkan senopati mendapat hinaan orang Kuta” kata

Arya Damar.

Dengan menjatuhkan hukuman mati itu, Arya Damar

hendak menegakkan kewibawaan peraturan prajurit dan

sekalian kewibawaannya sendiri. Tetapi ia tak menyadari

bahwa walaupun tampaknya prajurit2 itu takut dan taat tetapi

ada beberapa yang tak puas terhadap tindakan Arya Damar

yang dianggap takut kepada orang Kuta. Salah seorang yang

tak puas itu adalah perwira Sidempu. Ia malu karena

mendapat teguran dari Arya Damar bahwa sebagai seorang

perwira, ia tak mampu menguasai anakbuahnya. Memang

Rakata dan beberapa prajurit itu, termasuk anakbuah

 

 

Shanti dan keempat kawannya telah diantar dengan

perahu kecil ke daratan dan Arya Damar pun menuntut supaya

lubang2 pada perahu2 itu ditutup. Setelah semua perbaikan

selesai, Arya Damar memerintahkan armada berangkat ke

timur. Mereka hendak pindah dari Kuta ke Sanur.

Pertemuan kelima gadis dengan kawan-kawannya yang

telah menunggu di pantai berlangsung dalam suasana

mengharukan dan gembira.

“Ketika sedang menyelam, tiba2 kaki kami seperti ditarik

orang. Kami meronta tetapi tak berhasil bahkan karena

terminum air kamipun pingsan. Ketika sadar ternyata kami

sudah berada di atas sebuah perahu besar, dikerumuni oleh

beberapa prajurit yang memandang kami dengan tertawa”

demikian keterangan kelima gadis itu.

“Lalu ?” tanya Puja.

Kelima gadis itu merah mukanya. Shanti menjawab

dengan kemalu maluan, ”Mereka teramat kurang ajar sekali.

Ah, kami berlima telah dijadikan bulan-bulanan kekurang

ajaran mereka. Karena malu aku nekad hendak loncat ke

dalam laut tetapi tertangkap. Kedua tangan dan kakiku diikat.

Mereka hendak merusak kehormatanku” wajah Shanti makin

merah dan menunduk, ”tetapi mereka saling berebut dan

akhirnya terjadi perkelahian. Perkelahian itu menimbulkan

keributan besar sampai kemudian pemimpin mereka turun

tangan. Kami berlima ditempatkan disebuah tempat yang

dijaga oleh beberapa prajurit”

“Untuk apa?” tanya Puja pula.

“Kami dijadikan sebagai tawanan. Menurut percakapan

beberapa prajurit penjaga itu, pemimpin mereka hendak

menjadikan kami sebagai barang hadiah kepada siapa nanti

yang dalam peperangan berjasa paling besar” kata Shanti

”tetapi semalam telah terjadi perobahan yang berbahaya.

 

 

Penjaga membuka pintu dan hanya mengeluarkan aku

seorang. Katanya, aku akan dibawa ke tempat pemimpin

mereka. Aku tak mau dan melawan tetapi apa dayaku.

Akhirnya aku dapat diikat dan dipanggul prajurit itu. Ketika

berjalan melalui lorong geladak tiba2 sesosok bayangan hitam

menyerang prajurit itu. Setelah prajurit itu rubuh lalu diikat

pada tiang dan kemudian ia membawa aku ke dalam tempat

tutupan lagi. Dia pesan supaya aku dan kawan2 waspada.

Besok tentu akan dibebaskan”

“Siapakah orang itu?” tiba2 ni Tari bertanya.

“Made Teja” seru Shanti lalu berpaling mengobarkan

pandang mencari ”ah, kemanakah kakang Teja?”

Tari pun terkejut demikian pula dengan Puja dan beberapa

orangnya. Jelas tadi Teja ikut dalam rombongan mereka ke

pantai tetapi mengapa saat itu ia tak tampak. Seorang lelaki

tua dalam rombongan itu segera tampil dan menyerahkan

sepucuk surat kepada Puja. Puja cepat membacanya dan

menghela napas.

“Ah, anak itu sudah kembali ke pura Ulu Atu” kata Puja

”dia jugalah yang mengajarkan kepadaku tentang rencana

melubangi dasar kapal orang Sriwijaya. Dan dia pula yang

menolong kelima gadis itu”

“Ya” kata ni Tari ”jika kakang Teja tak muncul saat itu, aku

tentu sudah dibawa ke perahu orang Sriwijaya. Rama harus

diberitahu hal ini agar janganlah membenci kakang Teja”

“Bukan hanya itu saja” sambut Shanti ”kami berlima telah

bersepakat akan beramai-ramai menghadap Made Teja di

pura Ulu Atu dan menghaturkan sesaji pada para dewa di kuil

itu”

Rencana Shanti itu cepat mendapat sambutan gegap

gempita dari sekalian orarg. Mereka akan merencanakan

 

 

menghaturkan sesaji besar-besaran ke pura Ulu Atu dan

beramai ramai akan menghaturkan terima kasih kepada Made

Teja sebagai pahlawan kota Kuta.

Apabila rombongan rakyat yang membawa kelima gadis itu

bersuka ria menuju ke kelurahan, adalah Arya Damar tampak

bermuram durja di atas perahu. Tak lama kemudian Arya

Lembang pun tersadar. Rupanya karena marah, Teja telah

mencengkeram tengkuk senopati itu kuat2 sehingga Arya

Lembang tak dapat bernapas dan pingsan.

Senopati muda itu terkejut manakala mendapatkan dirinya

berada dalam perahu. Segera ia lari keluar dan mendapatkan

Arya Damar yang masih bertopang dagu.

“Kakang Damar, bagaimana ini?” serunya.

“Kita menuju ke lain bandar” jawab Arya Damar ”kita kalah

janji dengan orang Kuta”

Atas permintaan Arya Lembang, Arya Damar pun

menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi. Ketika

mendengar tentang hukuman mati yang dijatuhkan pada

Sebuku dan beberapa prajurit, Arya Lembang terkejut, ”Ah,

apakah hukuman itu tidak terlalu berat bagi mereka?”

Arya Damar cepat menindas sesuatu yang mungkin

menimbulkan ketidak puasan hati Arya Lembang. ”Adi

Lembang, mereka telah melanggar peraturan keprajuritan.

Kedua, mereka telah mencontreng muka pimpinan tanpa

pimpinan mengetahui apa yang telah mereka lakukan”

0odw-mcho0

Alun alun keraton Bedulu penuh dengan prajurit2 dari

kelompok2 pasukan Bedulu yang mengenakan beraneka

ragam pakaian dan senjata. Mereka tegak berjajar dalam

kelompok barisan masing2.

 

 

Sepanjang jalan dari pintu gapura ke pendapa agung,

penuh dengan bermacam juada, umbul2 dan petaka-petaka,

diseling dengan hiasan daun janur dalam bermacam bentuk

dan corak.

Sepasukan prajurit bhayangkara dengan senjata tombak

terhunus, tegak berjajar di pintu pendapa. Gamelan bertalu

nyaring melagukan irama penyambutan tamu agung ketika

perutusan Majapahit yang dikepalai patih Dipa tiba.

Patih Kebo Warung yang merangkap juga sebagai

senopati pasukan Bedulu, menyambut kedatangan rombongan

patih Dipa dengan upacara adat. Setelah itu maka kedua patih

itupun segera masuk ke pendapa agung, langsung menuju ke

Diam2 patih Dipa terkesan oleh penyambutan yang

dilakukan kerajaan Bedulu. Mereka telah menyambut dengan

layak dan meriah. Namun di balik kemeriahan itu, ada sesuatu

yang menimbulkan serangkai kesimpulan. Kemeriahan itu,

bukan suatu kemeriahan suasana pesta penyambutan

melainkan lebih cenderung pada kemeriahan suasana

perkemasan perang. Ia terkejut ketika melihat bahwa patih

Kebo Warung tidak mengenakan busana kebesaran sebagai

seorang patih, melainkan sebagai seorang senopati. Demikian

pula dengan para hulubalang, nayaka dan prajurit2.

Dan kejut patih Dipa makin meningkat manakala ia

berhadapan dengan baginda Pasung Rigih yang saat itu

mengenakan busana kebesaran yang cemerlang. Baginda

duduk di sebuah singgasana bertatah ratna mutu manikam.

Singgasana itu terletak di atas sebuah persada dari batu

marmar hijau yang berukirkan delapan ekor naga bermahkota,

kepala dan ekor kedelapan ular naga itu terjalin satu sama

lain. Di kanan kiri baginda, tegak dua orang pengawal yang

bertubuh tinggi besar.

 

 

Baginda dihadap oleh segenap mentri nayaka dan

hulubalang kerajaan. Suatu pasewakan atau perapatan besar

telah dilangsungkan dalam menerima utusan kerajaan

Setelah mengunjuk hormat maka patih Dipa dan

rombongan, dipersilahkan duduk di hadapan raja. Patih Dipa

membawa duapuluh pengawai termasuk ketiga anakmuda

cucu dari empu Kapakisan. Selesai menghaturkan sembah,

maka raja Bedulu lalu menitahkan supaya patih Dipa

menghaturkan maksud kedatangannya.

Setelah menyampaikan salam keselamatan dari baginda

Jayanagara maka patih Dipa pun menghaturkan pula firman

baginda yang termaktub dalam sepucuk surat kepada raja

“Patih Kebo Warung, terimalah surat itu dan bacalah” titah

raja Bedulu. Kebo Warungpun segera menerima surat itu dan

mulai membaca. Isinya tak lain suatu amanat dari baginda

Jayanagara di Majapahit untuk raja Bedulu dan seluruh rakyat

Bali, agar selalu mendapat rahmat dan petunjuk dewata dalam

menjalankan kebijaksanaan memerintah kerajaan Bedulu.

Dalam mendengarkan pembacaan itu, patih Dipa diam2

memperhatikan tanggapan terutama dari raja lalu para mentri

dan suasana dalam perapatan agung saat itu. Dilihatnya raja

Bedulu tenang2 saja mendengar bunyi surat itu, seolah

mendengar suatu berita yang sepi.

Kemudian patih Kebo Warung melanjutkan :

Bahwa hubungan yang erat antara kerajaan Jawadwipa

dengan Bali yang dilahirkan sejak jaman kerajaan Panjalu,

tumbuh sampai pada jaman Singasari, hendaknya

berkembang terus hingga kini, antara kerajaan Majapahit

yang tegak jaya dibawah kebijaksanaan kami, Jayanagara

yang bertegak nama penobatan sebagai Isywara SundaraTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

 

pandiadewa, yang telah mempersatukan daerah kerajaan

Panjalu: Daha, Jenggala serta Kahuripan, dan daerah

kekuasaan meliputi seluruh nuswantara. Bahwa

hendaknya raja Pasung Rigih yang telah mendapat restu

kami untuk memerintah di kerajaan Bedulu, Bali, dapat

melaksanakan hubungan itu dengan berkunjung ke pura

Majapahit menghadap kami. Agar hubungan yang telah

tumbuh selama berabad abad itu tetap kekal dan sejahtera

dalam naungan kami.

Semoga Dewata Agung melimpahkan berkah.

Tertanda

Jayanagara, Wilwatiktanata bergelar abiseka Sri Isywara

Pada saat Kebo Warung selesai membaca, maka

terdengarlah raja Pasung Rigih berbatuk-batuk, cahya

wajahnyapun bertebar merah. Suasana hening lelap sehingga

terdengar nafas2 yang memburu keras dari para mentri

nayaka yang berada dalam ruang balairung itu.

Patih Dipa cepat menanggapi bahwa suasana mulai

meningkat tegang. Yang jelas, ia memperhatikan bagaimana

patih Kebo Warung dalam membacakan kalimat2 terakhir

pada surat itu, telah berganti nada. Penuh kemarahan dan

“Baginda” seru patih Kebo Warung sambil menghunjuk

sembah ”hamba telah selesai melakukan titah paduka. Mohon

paduka menurunkan titah lebih lanjut kepada hamba”

“Adakah harus kuberikan titah lagi kepadamu, patih ?” seru

raja Pasung Rigih.

Patih Kebo Warung terkesiap.

 

 

“Paduka belum melimpahkan titah, gusti” sembah patih itu

Raja Bedulu tertawa, ”Kebo Warung, cobalah engkau

jawab pertanyaanku. Engkau seorang patih, patih dari

kerajaan manakah engkau ini ?”

Patih Kebo Warung terbeliak. Namun dijawabnya juga,

”Sudah tentu dari kerajaan paduka di Bedulu gusti”

“Adakah kerajaan Bedulu itu dibawah kekuasaan

Majapahit?”

“Tidak, gusti” sahut patih Kebo Warung dengan tegas

”sepengetahuan hamba, kerajaan Bedulu sudah berdiri

beratus tahun dengan bebas dan berdaulat”

“Benarkah ini surat dari raja Majapahit yang mengatakan

bahwa kerajaan Majapahit kekuasaannya meliputi daerah

seluruh nuswantara?”

“Raja Majapahit bebas mengatakan demikian, gusti” sahut

patih Kebo Warung ”tetapi hamba tak merasa bahwa kerajaan

paduka di Bedulu ini, dibawah naungan Majapahit”

“Layakkah jika aku, rajamu, harus menghadap raja

Majapahit?”

“Sangat tidak layak, gusti” sahut patih Kebo Warung

dengan serentak ”karena hal itu merupakan suatu titah agar

paduka mengakui raja Majapahit sebagai maharaja yang

memberi naungan kepada kerajaan Bedulu”

“Adakah sudah engkau pertimbangkan segala akibat dari

jawabanmu itu, Kebo Warung?”

“Hamba lahir, dibesarkan dan mengabdi pada kerajaan

Bedulu. Seluruh jiwa dan raga hamba adalah milik Bedulu.

Akan hamba serahkan demi membela kerajaan Bedulu”

 

 

Raja Pasung Rigih tertawa. ”Jika engkau sudah menyadari

akan kesemua itu, adakah yang masih akan kutitahkan

kepadamu lagi?”

Kebo Warung terbeliak, ”adakah paduka maksudkan

supaya hamba menolak isi surat raja Majapahit itu, gusti?”

serunya bergopoh memberi sembah.

“Hm” desuh raja Pasung Rigih ”apakah perlu harus

kukatakan lagi? Kecuali engkau menghendaki rajamu tunduk

kepada Majapahit”

“Baik, gusti” setelah memberi sembah kepada raja maka

patih Kebo Warung segera berpaling menghadap patih Dipa.

”Ki patih, surat dari baginda raja di Majapahit telah kami

terima. Jelas sudah maksudnya. Tetapi yang mulia baginda

raja kami, tidak berkenan meluluskan titah baginda di

Majapahit. Karena, pertama baginda raja kami tak merasa

terikat oleh suatu keharusan untuk menghadap ke pura

Majapahit. Kedua kali, baginda raja kami ingin menikmati

ketenangan dan kesejahteraan dalam kerajaan Bedulu.

Baginda tak ingin melakukan perjalanan keluar yang jauh.”

Patih Dipa yang sejak tadi mengikuti percakapan antara

raja Pasung Rigih dengan patih Kebo Warung, terkejut dan

cepat dapat menduga bahwa raja Pasung Rigih tentu akan

menolak titah raja Majapahit. Soal penolakan adalah hak bagi

raja Pasung Rigih untuk menentukan. Tetapi patih Dipa tak

setuju akan sikap dan cara raja Bedulu itu memperlakukan

seorang utusan. ”Adakah demikian jawaban baginda Bedulu?”

“Ya, demikian” jawab Kebo Warung.

“Tetapi ki patih” kata patih Dipa, ”surat itu dari baginda

Majapahit kepada baginda di Bedulu. Apapun titah jawaban

dari baginda Bedulu, selayaknyalah kalau ditulis pula agar

dapat kuhaturkan kebawah duli baginda di Majapahit”

 

 

Kebo Warung tertegun. Memang pernyataan patih

Majapahit itu benar. Namun jelas sudah bahwa raja Bedulu

telah menyerahkan kekuasaan untuk menolak isi surat dari

Majapahit. Tak mungkin raja Bedulu akan meluluskan untuk

membalas dengan surat. Ia harus mengatasinya sendiri.

“Ki patih” kata Kebo Warung ”bahwa kami hormati tuan

sebagai duta nata Wilwatikta, adalah sudah suatu

penghormatan yang besar apabila menilik bunyi surat baginda

Majapahit yang sedemikian terhadap baginda raja kami. Maka

jika baginda Bedulu tak berkenan membalas surat dan cukup

dengan kata2 saja, kiranya sudah layak”

Patih Dipa menyanggah, ”Tetapi yang berucap itu adalah

tuan, ki patih, bukan baginda raja Bedulu sendiri”

Merah wajah patih Kebo Warung mendengar kata-kata

patih Dipa. Ia merasa terhina, ”Maksud ki patih, kata-kataku itu

tiada tuan anggap ?”

Beberapa nayaka dan hulubalang tampak memberingas.

Berpuluh puluh pandang mata mereka mencurah kearah diri

patih Dipa. Namun patih Dipa tetap bersikap tenang. ”Ki patih”

serunya dengan nada yang tak berobah ”kedatangan ke

Bedulu ini membawa rasa persahabatan dan kedamaian. Dan

aku hanyalah sebagai duta dari sang nata Majapahit. Apabila

baginda di Bedulu tak berkenan melimpahkan sepucuk surat

balasan, tidakkah layak apabila aku memohon sepatah titah

dari baginda sebagai jawaban yang akan kuhaturkan kepada

baginda di Majapahit?”

“Baginda raja Pasung Rigih telah melimpahkan kekuasaan

kepadaku untuk menjawab,” seru patih Kebo Warung.

“Maaf, ki patih” kata patih Dipa, ”tuan rupanya salah faham

dengan perkataanku. Surat itu dari baginda raja Majapahit,

seyogya baginda di Bedulu yang menjawab”

 

 

“Surat itu dikuasakan kepada ki patih sebagai duta, apa

salahnya kalau baginda raja Bedulu juga menguasakan

kepadaku, patih Bedulu, untuk memberi jawaban ?”

Patih Dipa terkesiap. Memang sepintas, kata-kata patih

Bedulu itu beralasan. Tetapi sesungguhnya hal itu merupakan

suatu hal yang diada-adakan. Bukankah raja Bedulu sudah

hadir di balairung, mengapa tak mau langsung memberi titah

kepadanya? Bukankah sikap raja Bedulu terlalu congkak?

Hampir saja meluaplah kemarahan patih Dipa. Tetapi pada

lain kejab ia mengakui bahwa surat dari baginda Jayanagara

itu memang dapat menyinggung perasaan seorang raja.

Bahwa raja Bedulu bersikap keras, memang sukar

dipersalahkan. Namun sebagai seorang narpati atau utusan

seorang raja, patih Dipapun harus melaksanakan titah.

Betapapun apabila sudah tak mungkin diselesaikan dengan

jalan damai, ia terpaksa harus melakukan titah baginda untuk

menggempur Bedulu.

“Ki patih” serunya ”tak mungkin baginda di Majapahit akan

mengirim surat sedemikian isinya apabila dahulu sebelumnya

tiada hubungan suatu apa antara kerajaan Jawadwipa dengan

Bedulu”

Patih Kebo Warung tertawa, ”O, mungkin hal itu terjadi

pada jeman prabu Kertanagara dari Singasari. Tetapi kini

Singasari sudah lenyap dan di Jawadwipa telah berganti

beberapa kerajaan. Jika Majapahit menginginkan hubungan

dengan Bedulu, haruslah hubungan itu atas dasar

persahabatan, bukan suatu naungan Majapahit kepada

Bedulu”

Patih Dipa mengangguk, ”Benar. Tetapi kerajaan

Majapahit menginginkan untuk mempersatukan nuswantara.

Karena hanya dengan persatuan dan kesatuan itu, kita akan

kuat dan jaya”

 

 

“Mengapa tidak Bedulu yang menjadi pimpinan persatuan

itu?” balas Kebo Warung.

“Ki patih” seru patih Dipa ”jangan kita terhanyut dalam

rangsang perasaan tetapi hendaknya kita melihat kenyataan.

Ini urusan negara, urusan rubuh tegaknya seluruh bangsa.

Bagaimana mungkin Bedulu dapat menguasai seluruh

nuswantara? Majapahit dapat memenuhi syarat2

kepemimpinan itu. Daerahnya luas, memiliki rakyat berjuta-juta

dan pasukan perang yang kuat”

Mata patih Kebo Warung membelalak lebar. Ia marah

sekali mendengar ucapan patih Dipa yang dianggapnya

menghina kerajaan Bedulu. Namun sebelum ia sempat

menumpah kata2, tiba2 raja Pasung Rigih berseru, ”Hai

utusan Majapahit, jangan engkau lancung mulut. Walaupun

kecil, tetapi kerajaan Bedulu diperintah oleh raja dari Bali yang

aseli. Tidak seperti halnya Majapahit, rajanya bukan aseli

keturunan orang Majapahit atau Singasari atau kerajaan lain di

Jawa-dwipa yang lampau”

Merah telinga patih Dipa mendengar hinaan raja Bedulu itu

kepada baginda Jayanagara, ”Ayahanda baginda adalah

ksatrya Majapahit aseli”

“Tetapi ibunya puteri Malayu !” seru raja Bedulu.

“Tetapi jelas baginda Majapahit itu putera Majapahit sejati”

“Hai, utusan Majapahit, dengarkanlah” raja Bedulu mulai

murka ”kerajaan Bedulu sebuah kerajaan yang bebas

merdeka. Bedulu menolak campur tangan lain kerajaan yarg

hendak menguasai Bedulu. Apalagi apabila kerajaan itu

diperintah oleh raja yang berdarah keturunan dari lain negara”

Seketika suasanapun tegang. Beberapa prajurit yang

menjaga balairung itu, mulai merabah tangkai senjata masing2

demi melihat wajah patih Dipa merah padam.

 

 

“Dengan demikian, paduka menolak isi surat dari baginda

Majapahit ?” tiba2 patih Dipa mengulang penegasan.

“Sudah cukup jelas pendirianku” sahut raja Bedulu.

“Baik, gusti” kata patih Dipa ”jika demikian hamba mohon

diri akan kembali kepasukan hamba”

Raja Bedulu terkejut, ”Adakah engkau membawa pasukan

kemari ?”

Patih Dipa mengiakan.

“Apa titah-rajamu ?”

“Apabila paduka tak berkenan meluluskan titah baginda

raja Majapahit maka hamba diberi wewenang untuk

menyerang kerajaan Bedulu” kata patih Dipa dengan tenang,

mantap dan tak gentar.

Raja Bedulu, patih Kebo Warung dan seluruh mentri

nayaka kerajaan Bedulu terkejut. Terdengar hiruk pikuk suara

“Hm” raja Bedulu mendengus ”engkau percaya akan

mampu mengalahkan kerajaan Bedulu?”

“Hamba hanya melakukan titah baginda junjungan hamba.

Dan hamba akan melaksanakan titah itu sebaik-baiknya, gusti”

kata patih Dipa.

Merah padam wajah raja Bedulu seketika. Rupanya Kebo

Warung tak kuasa lagi menahan kemarahannya. Sebelum

mendapat titah raja, ia sudah berseru memberi perintah

kepada para hulubalang, ”Tangkap utusan Majapahit itu!”

Para hulubalang dan kelompok prajurit bhayangkara yang

bersenjata lengkap serentak berhamburan menghampiri patih

Dipa. Berpuluh-puluh ujung pedang dan tombak mengarah

kepada patih Dipa.

“Serahkan dirimu ……. !”

 

Bersambung ke jilid 41

Iklan

9 thoughts on “Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 36-40)

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s