Pedang Bunga Bwee

New Picture

Pedang Bunga Bwee

Saduran : Tjan ID

Ebook oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

Jilid 1

MALAM kelam seluruh kota Yang- chiu diliputi kegelapan, suasana sunyi senyap. Disisi kota itu terletak suatu telaga yang disebut telaga So – Si – Auw, berbeda dengan suasana kota, telaga itu ramai sekali dengan perahu-perahu pesiar yang hilir mudik ditengah telaga.

Ketika itulah, tampak sebuah perahu berlabuh jauh

ditengah telaga, pintu jendelanya tertutup rapat, dari balik

ruang perahu tak kedengaran sedikit suarapun.

Dari lampu lentera yang jauh tergantung diatas tiang layar,

para penduduk kota Yang-chiu segera mengenali perahu itu

sebagai perahu pribadi Liek Hong Hwie, pelaCur kelas tinggi

dari kota tersebut

Lie Hong Hwie baru muncul tiga bulan berselang, namun

keharuman namanya sudah menjelajahi hampir seluruh kota

Yang – chiu, keCantikan wajahnya, potongan badannya yang

menggiurkan kepandaian sastra serta musiknya yang

menawan sudah terkenal dan mempesonakan banyak orang.

Malam semakin kelam, tiba-tiba dari tempat kejauhan

bergerak datang sebuah sampan keCil, diatas perahu itu

duduklah seorang pelaCur yang tak laku dalam dagangannya,

dengan sinar mata keheranan ia menatap perahu Lie Hong

Hwie tajam-tajam, sementara dalam hati merasa heran.

Apa sebabnya ini hari perahu tersebut kelihatan begitu

sunyi? Padahal pada hari hari biasa suasana tentu diramaikan

dengan gelak tertawa manusia.

Perahu sampan meluncur semakin dekat kurang lebih lima

enam tombak dari perahu besar tersebut, mendadak

jendelanya terbentang lebar disusul munculnya seraut wajah

hitam yang penuh dengan cambang.

“Siapa ? apa maksudmu datang kemari ?” terdengar orang

itu membentak dengan nada tegang dan lantang.

Pelacur diatas sampan itu kelihatannya tertegun lalu

tertawa.

“Aaaaaah kiranya Loo Loya..” serunya. “Angin apa sih yang

telah menghembus dirimu, sehingga malam ini bisa muncul

disini sambil minum arak sunyi ? Aku datang untuk menjenguk

adik manis dari keluarga Lie “.

“Malam ini aku pinjam perahu nona Lie untuk menjamu

seorang tamu agung, saat ini nona Lie tiada waktu, kau tak

usah mencari dia lagi, mau ketemu besok saja “

Jendela kembali tertutup, roman wajah yang hitam itupun

lenyap dari pandangan-Pelacur itu tak berani banyak bicara

lagi, buru-buru ia dayung perahunya meninggalkan tempat itu.

Dia kenali wajah hitam tadi sebagai orang penting dalam

pemerintahan kota Yang – chiu, dia adalah pengawal pribadi

dari Tie-hu thayjien yang bernama Loo Sian Khek. ilmu

silatnya telah tersohor dalam dunia persilatan, perbuatannya

tegas dan adil, kota Yang-chiu bisa aman dari pencuri pun

sebagian besar berkat tenaganya.

Tetapi ada satu hal yang aneh hubungan persahabatan Loo

Sian Khek amat luas lagi pula ia paling pantang main

perempuan nakal. Apa sebabnya pada malam ini ia malah

menjamu tamunya diatas perahu Lie Hong Hwie, seorang

pelacur kelas tinggi ? siapa yang sedang dijamu ? mengapa

gerak geriknya penuh rahaSia ?

Meskipun pelacur itu merasa curiga, namun ia tak berani

mengintip Sebab nama besar Loo Sian Khek sudah sangat

tersohor, kalau sampai cari gara-gara dengan dirinya, maka

kerugian besar tentu akan didapat.

Suasana diliputi keheningan, beberapa saat kemudian dari

balik ruang perahu berkumandang suara seseorang yang

lembut dan merdu:

“Looya berdua cuma melulu minum arak belaka, bagaimana

kalau aku nyanyikan sebuah lagu untuk kalian ? Waaaah kalau

begini terus, bisa-bisa orang lain anggap kita yang ada disini

sudah mati semua “

Loo Sian Khek ingin menampik, tapi suara lain segera

menyambung: “Loo heng, biarkanlah dia menyanyi sudah

lama kudengar nama harum nona Lie menggetarkan kota

Yang- chiu, mungkin nama besarnya tidak berada dibawah

Loo- heng, selama ini siauw-te belum pernah minta

petunjuknya . “

Agaknya kedudukan orang ini luar biasa, ucapan tersebut

tidak menimbulkan amarah dalam hati Loo Sian Khek. Malah ia

berkata kemudian setelah termenung beberapa saat: “Liem

kongcu, dalam keadaan seperti ini kau masih punya

kegembiraan untuk…”

“Loo-heng apa gunanya bersikap tegang selalu ?” Tukas

Liem – kongcu sampai tertawa, “cuma sekuntum bunga mawar

putih yang terlalu biasa, perlu apa selalu dikuatirkan ?

mungkin ada orang yang sengaja ajak kau bergurau manusia

hidup untuk bersenang-senang, tak usah kita pikirkan masalah

itu lagi Lebih baik kita minum cari kesenangan lagi pula hatiku

sudah kesal sejak tadi, Bukalah jendela jendela itu agar udara

segar bisa berhembus masuk.”

Belum sempat Loo Sian Khek menampik, Liem kongcu

sudah mengambil tindakan cepat dengan membuka seluruh

jendela ruangan tersebut.

Mengikuti terbukanya jendela, terlihatlah suasana dalam

ruang perahu itu, perabot diatur rapi dan indah, ditengah

ruangan tersusun sebuah meja perjamuan dan disekitar meja

tadi duduklah tiga orang.

Loo sian Khek berusia empat puluh tahunan, perawakan

tubuhnya tinggi kekar, sedang Liem kongcu berusia dua puluh

lima enam tahunan. badannya berwarna hitam namun

tampan, Sedang orang ketiga adalah seorang nona berwajah

cantik, dia bukan lain adalah Lie Hong Hwie.

Loo Sian Khek kerutkan alisnya yang tebal, agaknya ia

merasa kurang leluasa untuk mengumbar amarah, cuma

gerutunya:

“Kongcu, kau adalah seorang anak sekolahan yang tak tahu

persoalannya dunia persilatan, pemilik bunga mawar putih itu

sudah empat tahun lamanya malang melintang dalam dunia

persilatan selama ini tiada korbannya yang dibiarkan hidup,

kali ini dia sudah cari satroni dengan ayahmu, peristiwa ini

benar luar biasa sekali, sebab selamanya ia cuma turun

tangan terhadap orang kangouw dan jarang tancapkan kaki

ketempat lain”.

“Aaaah, aku rasa hal ini pasti disebabkan hioloo ci – Liong –

Teng milik nenek moyangku itu” sahut Liem kongcu sambil

tertawa hambar, “Siauw-te cuma tahu itulah benda mustika,

tak tahu dimanakah letak kemustikaannya ? maka setelah

ayah ku menerima surat ancaman, beliau segera serahkan

benda itu kepada siauw-te dan perintahkan aku untuk ikut

Loo- heng datang kemari menjumpai bunga mawar putih itu,

nanti seandainya persoalan bisa diselesaikan secara damai,

harap Loo-heng sudahi saja persoalan itu sampai disini.”

“Tetapi disamping itu siauw-te pun ingin menanyakan apa

sih kegunaan dari hioloo ci-Liong-Teng tersebut”

“Kongcu pikiranmu terlalu polos.” kata Loo Sian Kheksambil

menghela napas panjang.

“Tindak tanduk si bunga mawar putih sadis dan telengas,

semoga saja dia tidak melukai diri Kongcu, dengan demikian

aku orang she- Loo pun bisa pertanggung jawabkan

keselamatan kongcu dihadapan ayahmu, Kalau tidak… Yaaa…

demi membalas budi Thayjien sekalipun harus korbankan jiwa

aku harus lindungi keselamatan kongcu “

“Betulkah si mawar putih itu tidak pakai aturan ? macam

apa sih orangnya ?” seru Liem Kongcu kurang percaya,

sepasang matanya melotot bulat-bulat. Perlahan-Iahan Loo

Sian Khek menghela napas panjang.

“Empat puluh tahun lamanya si Bunga mawar putih malang

melintang dalam dunia persilatan namun tak seorangpun yang

berhasil menyaksikan wajah aslinya, setiap kali ia selesai

membunuh orang, ditinggaikannya sekuntum bunga mawar

putih sebagai tanda, bahkan kebanyakan jago kangouw yang

dibunuh adalah jagoan-jagoan lihay kenamaan, Ditinjau dari

hal ini bisalah kita tarik kesimpulan bahwa ilmu silatnya betulbetul

sangat lihai, dan perbuatannya pun telengas…”

“Siauw-te tidak setuju dengan caramu berpikir menurut

penglihatan siauw-te, kemungkinan besar dia adalah seorang

terpelajar yang kenal akan seni “

” Berdasarkan alasan apa Kongcu berkata demikian ?”

“Seandainya dia adalah seorang jagoan kasar dari dunia

persilatan, tidak mungkin akan gunakan Bunga Mawar Putih

sebagai tanda pengenalnya, kau tahu bukan ? bunga mawar

adalah dewi diantara jenis bunga lain apa lagi yang berwarna

putih, disamping itu iapun meminjam tempat tinggal nona Lie

sebagai tempat pertemuan, aku rasa dia betul-betul seorang

yang kenal dengan seni”.

“Ucapan Kongcu mungkin ada benarnya.” kata Loo Sian

Khek setelah tertegun sejenak.

“Perbuatan si bunga mawar putih kali ini memang rada luar

biasa, pada umumnya ia bunuh orang kemudian tinggalkan

tanda, jarang sekali sebelum peristiwa adakan janji lebih

dahulu, mungkin hal ini disebabkan ayahmu bukan orang

kangouw maka ia berlaku lebih sungkan. Tetapi

bagaimanapun juga situasi pada malam ini jauh lebih banyak

bahayanya dari pada selamat”

“Sudahlah, tak usah kita pikirkan persoalan itu lagi, dengan

hadirnya seorang jago lihay macam Loo-heng, aku rasa siauwte

tidak bakal terancam mara bahaya “

“Kongcu, kau menilai diriku terlalu tinggi” seru Loo Sian

Khek sambil tertawa getir. “walaupun aku orang she-Loo

pernah belajar ilmu silat beberapa tahun, untuk menghadapi

pencuri-pencuri cilik mungkin masih sanggup, tapi kalau

dibandingkan dengan tokoh sakti macam si Bunga mawar

Putih aku masih terpaut jauh.”

“Bercerita kejadian lampau, susiok dari aku orang she-Loo

yang bernama Sam Yap Toojien-pun dua puluh tahun

berselang telah menemui ajalnya digunung Thay Heng San

dengan sekuntum bunga mawar putih berada disisinya. Waktu

itu aku orang she – Loo belum terjun-kan diri kedalam

kangouw, setelah suhuku mendengar berita buruk ini, diamdiam

ia bereskan jenasahnya lalu membungkam diri.”

“Apakah gurumu sudahi persoalan tersebut sampai disana

saja ?” tanya Liem Kengcu tercengang.

Merah jengah selembar wajah Loo Sian Khek.

“Bukan saja suhu tidak adakan pembalasan, untuk

merahasiakan peristiwa tersebut. Sebab pertama, jejak si

bunga mawar putih tak menentu, gerak-geriknya bagaikan

naga sakti yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya, sulit

untuk menemukan dirinya. Kedua, perbuatan serta akhlak

memang kurang lurus, sekalipun tidak mati ditangan si Bunga

Mawar Putih, gurukupun akan ambil tindakan untuk bersihkan

pergUruan dari noda “

“oooouw… kalau begitu perbuatan yang dilakukan si Bunga

mawar putih belum tentu adalah pekerjaan jahat semua “.

Kembali Loo Sian Khek tertawa getir.

“Perduli bagaimanakah perbuatannya, membunuh manusia

adalah perbuatan yang tercela.” Agaknya Liem Kongeu merasa

pembicaraan mereka sudah terlampau jauh, segera ia

membungkam. Loo Sian Khek pun buru-buru alihkan suasana

yang serba kaku ita kedalam masalah lain-

“sudahlah, kita tak usah banyak bicara lagi, lebih baik kita

nikmati suara merdu dari nona Lie ” katanya.

Selama ini Lie Hong Hwie duduk disamping dengan mulut

membungkam, pada saat inilah sambil tertawa ringan ujarnya:

“Sejak naik keperahu kalian berdua minum arak dengan

mulut membungkam, aku yang rendah tak berani

mengganggu, nama besar Loo loya sih sudah lama kudengar

tak disangka Kongcu-ya ini adalah sauw-ya dari Walikota

Yang-chiu”

“Sungguh aneh, aku jarang keluar rumah, dari mana bisa

jadi orang terkenal dikota Yang chiu ” ujar Liem Kongcu

tersenyum. Lie Hong Hwie mengerling sekejap kearah-nya,

lalu berkata:

“Nama besar Liem Sauw-ya terkenal diseluruh Kiang-Tok.

setiap keluarga dikota Yang-chiu, kenal akan dirimu, hanya

saja tempat kami sini terlalu rendah, tidak patut dikunjungi

oleh Liem Sauw-ya”.

“Haaaa…. haaa…. haaaa…. Sudah lama aku dengar

keCantikan serta kepandaian nona Lie tiada keduanya, nama

harummu sudah tersohor diempat penjuru, cukup mendengar

beberapa patah katamu tadi, aku yakin namamu bukan nama

kosong belaka. Ayoh, Cepatlah nyanyikan sebuah lagu untuk

kami nikmati “

“Sauw-ya, kau adalah orang pandai dari Kiang-Tok,

seandainya dalam nada laguku nanti kurang sesuai, harap

Siauw-ya suka beri petunjuk…” kata Lie Hong Hwie sambil

mempermainkan alat Piepa ditangannya.

“oooouw… kau ingin menguji diriku?”

“Aku yang rendah tak berani bertindak kurang-ajar

dihadapan Siauw-ya aku hanya berharap Siauw-ya bermurah

hati dengan ajukan persoalan yang tidak terlalu sulit, dari

pada aku yang rendah mendapat malu “

“Baiklah, kalau begitu nyanyilah bait kenangan dari Tu-Bok,

aku rasa lebih sesuai dengan pemandangan saat ini “.

Lie Hong Hwie tersenyum, jari tangannya mulai bermain

diatas senar pie-pa dan berkumandanglah irama lagu yang

merdu diiringi nyanyian yang menawan hati.

“Bagus Bagus sekali” seru Liem Kongcu sambil bertepuk

tangan, selesai gadis itu menyanyi “Tahu ditempat ini ada

perempuan cantik yang pandai, meskipun dicaci maki ayah,

aku datang juga kemari untuk berkenalan dengan dirimu “.

“oooouw kiranya Sauw-ya diawasi dengan ketat oleh Liem

ThayJien ” Liem Kongcu tertawa jengah.

“Benar ” ia mengangguk “Ayah takut aku main terus hingga

mengesampingkan pelajaran, maka pada hari-hari biasa larang

aku bergaul sembarangan, karena itulah suatu kesempatan

baik telah kubuang dengan sia-sia “

“Lantas bagaimana kau bisa datang kemari pada hari ini?”

“Kita sudah bicara setengah harian, apakah kau tidak

dengar ?”

“Kalian Looya sekalian lagi membicarakan soal serius, tidak

pantas bagi aku yang rendah untuk ikut mendengarkan

sekalipun aku mendengarkan juga percuma sebab tidak

mengerti agaknya ada seseorang bersimbol bunga Mawar

Putih ajak kalian berdua untuk berjumpa disini…”.

“Tidak salah memang peristiwa inilah yang terjadi” Liem

Kongcu tersenyum, ” ia berjanji untuk muncul pada kentongan

kedua, aku rasa sebentar lagi ia bakal datang tiba pada

saatnya, seumpama terjadi peristiwa diluar dugaan, aku harap

kau jangan takut “.

“Bagi kami yang melakukan pekerjaan begini, sudah

terbiasa menjumpai kejadian yang aneh dan kukoay, gebrak

meja saling memaki lalu dilanjutkan dengan pertarungan

sudah sering terjadi, nyali kamipun sudah terlatih jauh lebih

besar “.

“Aku takut peristiwa pada malam ini akan jauh lebih serius

“Tapi tidak sampai gberakan golok mainkan pedang bukan

?” seru Lie Hong Hwie terperanjat.

“Sulit untuk dikatakan tapi kau boleh legakan hati,

bagaimana tegang pun suasana nanti, peristiwa ini tidak akan

merembet pada dirimu, sudahlah jangan kita urusi lagi soal

itu, mari pinjamkan alat Pie-pe tersebut kepadaku “.

“Sauw-ya, kau hendak berbuat apa ? ” tanya Lie Hong Hwie

dengan suara kaget. Liem kongcu tersenyum.

“Irama lagu yang merdu tak boleh tidak harus dibalas, aku

ingin menyanyikan pula sebuah lagu untukmu ” katanya.

“Aaaah aku yang rendah tak berani menerimanya, melayani

minum arak. menyanyi sudah merupakan tugasku…”

“Berhadapan muka dengan gadis cantik, tak boleh tidak

aku harus punya pikiran demikian- Hal inipun terdorong oleh

rasa gembiraku yang meluap…”.

“Tak bisa jadi ” tukas Lie Hong Hwie cemas. “Harap

siauwya maafkan, alat Piepa ini aku yang rendah tak pernah

dipinjamkan kepada orang-orang lain, kalau sauw-ya

bersikeras ingin nyanyi, biarlah aku yang rendah carikan alat

Pie-pa lain-..”

“Aku takut alat Piepa lain tidak akan menimbulkan irama

lagu yang begitu merdu seperti yang nona mainkan ” kata

Liem Kongcu sambil tersenyum penuh berarti. Berubah hebat

selembar wajah Lie Hong Hwie, serunya agak paksa:

“Sauw-ya, pandai benar kau bergurau seandainya siauw-ya

suka mendengarkan nyanyianku, biarlah aku yang rendah

mempersembahkan sebuah lagu lagi, Bagaimanapun juga aku

tak berani merepotkan diri siauw-ya “

Seraya berkata ia mainkan jari-jari tangannya diatas senar

pie-pa dan berkumandanglah irama lagu yang cepat dan

secara lapat-Iapat terkandung hawa napsu membunuh.

Liem Kongcu tersenyum dan membungkam, sebaliknya Loo

Sian Khek tercengang, ia tak habis mengerti dalam

menghadapi kehadiran musuh tangguh sauw-ya ini masih ada

kegembiraan untuk menikmati nyanyian dari seorang pelacur,

disamping itu iapun menggerutu terhadap Lie Hong Hwie

sebuah alat piepa apa sih kehebatannya, masa dipinjam

sebentarpun tak boleh….

Sebuah lagu selesai dimainkan jari Lie Hong Hwie tiba-tiba

berubah sangat berat suaranya tegas dan nyaring, hawa

napsu membunuh semakin menebal, sampai Loo sian Khek

yang tidak mengerti irama lagupun merasakan hatinya

bergetar keras.

Ia ingin mengutarakan perasaan tersebut mendadak

serentetan cahaya putih berkelebat lewat diatas meja tahutahu

sudah tertancap sekuntum bunga mawar putih.

Sungguh hebat tenaga sambitan tersebut, batang bunga

mawar tadi dalam- dalam menembusi permukaan meja yang

terbuat dari kayu cendana itu.

“Aaaah si Bunga mawar Putih telah datang ” Seru Loo Sian

Khek terperanjat.

Belum habis ia berseru, dalam ruang perahu telah

bertambah dengan seseorang, ia pakai baju serba putih,

wajahnya tertutup oleh selapis kain warna putih pula sehingga

cuma sepasang matanya yang kelihatanEmpat

penjuru tidak tertampak bekas perahu, darimana

datangnya bunga mawar putih itu? sungguh membuat orang

heran dan tak habis mengerti, sebab dialas kakinya pun sama

sekali tidak meninggalkan noda air.

Bagaimanapun juga tak mungkin ia terbang turun dari atas

langit

Saking kaget dan tercengangnya beberapa saat lamanya

Loo Sian Khek tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Liem Kongcu jauh lebih tenang, ia bangun berdiri dan

menjura dalam- dalam, lalu ujarnya:

” Andakah sang enghiong yang telah tinggalkan surat dan

ajak kami berjumpa ditempat ini ?”

” Hmmm tidak salah sudah kau bawa barang itu ?”

“Meskipun Hiooloo ci-Liong-Teng merupakan barang

peninggalan dari nenek moyangku, namun ayahku tak berani

membangkang, beliau telah serahkan benda itu kepada cay

he, setiap saat bisa cayhe serahkan benda itu kepada

Enghiong “

“Ehmmm, bagus sekali ” si Bunga mawar putih

mengangguk dingin, “seandainya Liem Koei Lin bukan

terhitung seorang pembesar jujur, tak perlu aku buang banyak

waktu dan tenaga dengan percuma, sekalian batok kepalanya

akan kubawa serta”

Liem Kengcu tersenyum, dari sakunya ia ambil keluar

sebuah buntalan kecil lalu diletakkan diatas meja, katanya:

“hioloo ci Liong Teng berada didalam bungusan itu,

silahkan enghiong mengambilnya, hanya cayhe ada satu hal

yang merasa kurang jelas. Benda tersebut sudah diturunkan

berabad-abad lamanya dalam keluarga kami, dan rahasia

inipun tak diketahui orang lain, dari mana enghiong bisa

mengetahui persoalan tersebut?”. si Bunga mawar Putih

tersenyum.

“Tiada persoalan dikolong langit yang berhasil mengelabui

diriku ” sahutnya.

“enghiong, ucapanmu ini rada sedikit berlebihan- Ada satu

persoalan aku rasa enghiong tidak tahu “.

“Emmmm soal apakah itu ?”

“enghiong masih belum tahu, relakah cahye biarkan

enghiong bawa pergi benda mustika keluargaku itu “.

Agaknya si Bunga mawar Putih dibikin tertegun oleh

ucapan tersebut, setelah melengak beberapa saat ia lantas

menegur dengan suara dingin: “Siapa namamu ? putra

keberapa dari Liem Koei Lin ?”

“cayhe Liem Kien Hoo ayahku tak berputra lain, aku adalah

putra tunggalnya “.

“hmmm sudah kuselidiki jelas, Liem Koei Lin benar-benar

seorang lelaki jujur dan ramah, maka dari itu sengaja

kulanggar kebiasaan dan menjumpai dirimu dengan muka

berkerudung, maksudku tidak lain ingin mengampuni selembar

jiwamu, harap kau jangan mencari kematian buat diri sendiri

“.

“Waaah… kalau begitu, barang siapa yang berhasil melihat

wajah enghiong yang sebenarnya tentu bakal mati binasa “

“Tidak salah wajahku berarti renggutan jiwa, barang siapa

melihat pasti binasa.”

” Haaa… haaaa… haaaa aku duga diatas wajah anda tentu

ada suatu bagian yang jelek dan malu dilihat orang, bukankah

begitu ?” goda Kian Hoo kemudian sambil tertawa terbahakbahak.

“Sialan kau benar-benar ingin cari mati ” hardik si Bunga

mawar Putih, agaknya ia mulai dibikin gusar, sementara

telapaknya perlahan-lahan diangkat keatas.

” Eeeei… nanti dulu, nanti dulu.” buru-buru Liem Kian Hoo

berseru setelah menyakslkan kejadian itu. ” cahye adalah

seorang anak sekolahan yang lemah, aku hanya bisa melayani

kau untuk membicarakan soal Cengli, kalau mau berkelahi sih

itu urusan dari Loo toako, Loo-heng urusan selanjutnya aku

serahkan kepadamu “

Dari tanya jawab yang dilakukan Liem Kian Hoo dengan si

Bunga mawar Putih, Loo Sian Khek sudah merasa keadaan

bakal runyam, diam-diam ia mengerutu akan kelancangan

sianak muda itu banyak. bicara sehingga menggusarkan

gembong iblis yang berhati telengas ini. Dan kini setelah

urusan jadi berabe lantas diserahkan kepadanya,

Dalam keadaan seperti ini, mau tak mau dengan keraskan

kepala terpaksa ia maju juga , ujarnya:

“Bunga mawar Putih Liem kongcu adalah anak sekolahan,

kalau ingin bergebrak, silahkan cari gara gara dengan aku

orang she Loo “. si Bunga Mawur Putih melirik sekejap

kearahnya lalu tertawa dingin.

“Hmmm segala kurcaci dan gunung Thay-heng-sanpun

berani pentang bacot dihadapanku, ayoh cepat enyah dari sini

” -serunya. “jangan dikata kau, sekalipun gurumu sihidung

kerbau pun tidak kupandang sebelah matapun.”

Loo Sian Khek tertegun dan dibikin serba salah, ia berasal

dari gunung Thay-Heng-San di bawah bimbingan Tiang coen

cinJien, Partai Tiang coenpun terhitung suatu perguruan

kenamaan dalam dunia persilatan, siapa sangka bukan dia

saja yang dimaki oleh si Bunga mawar Putih, sekalian gurunya

pun dicaci maki.

berada dalam keadaan seperti ini, kendati ia sadar

kepandaiannya masih bukan tandingan lawan, namun ia tak

kuat menahan diri, segera bentaknya gusar:

“Bajingan tengik yang tak tahu diri, aku orang she-Loo

akan kasi sedikit pelajaran padamu” Kepalannya dengan

terhadang oleh sebuah meja segera dihantam kearah si Bunga

mawar Putih, Dengan sebat si Bunga mawar Putih menangkis,

tiba-tiba ia mundur beberapa langkah kebelakang dan berseru

tercenggang:

“Eeeei… . tak nyana Tiang coen-cupun bisa mendidik

seorang murid macam kau “

Dalam pada itu Loo Sian Khek pun diam-diam merasa

hatinya bergetar keras, namun iapun heran- Ternyata pihak

lawanpun berhasil ia paksa sampai mundur beberapa langkah

kebelakang. Sambil tersenyum segera jengeknya:

“haaa… haaa… haaa… Kiranya si Bunga Mawar Putih yang

telah menggetarkan kolong langit, tidak lebih hanya seorang

gentong nasi yang sama sekali tidak cocok dengan kebesaran

namanya “.

” Manusia yang tak tahu diri, kalau tidak kuberi sedikit

kelihaian, kau tentu akan pandang enteng diriku Lihat

serangan “.

Dengan teramat gusar si Bunga Mawar Putih melompat

kedepan, telapak tangannya bergerak melancarkan tiga buah

serangan berantai, serangan demi serangan dilancarkan makin

hebat.

Loo sian Khek terperanjat ia tak tahu bagaimana harus

bergerak untuk membendung datangnya ancaman, terpaksa

tangannya dikebas kedepan dan menunjukan suatu gerakan

yang kaku dan kasar.

Mendadak… suatu kejadian aneh telah berlangsung

didepan mata, gerakan serangan pihak lawan semakin lama

semakin lambat, terutama sekali pada jurus yang terakhir

dimana sebenarnya ia hendak mengancam jalan darah ci-

Tong- Hiat, tetapi sampai ditengah jalan mendadak berhenti.

Telapak tangan Loo Sian Khek segera menyambar lewat

dan kebetulan menyambar diatas wajahnya, kain kerudung

berwarna putih itu segera tersingkap dan muncullah wajah

aslinya, Loo Sian Khek tertegun, ia berseru tertahan dan

gerakan telapakpun jadi lupa untuk diteruskan.

Setelah kain kerudung tersingkap. tampaklah selembar

wajah putih halus kekanak-kanakan, Rambutnya panjang dan

usianya baru lima enam belas tahunan, dia adalah seorang

nona Cilik yang Cantik dan manis.

SiBunga Mawar Putih yang telah empat puluh tahun

lamanya malang melintang dalam dunia persilatan tak

mungkin adalah seorang nona cilik… . setelah tertegun

beberapa saat, iu segera membentak dengan suara keras:

” Eeeeei… budak liar, dari mana kau datang ? berani benar

menyaru sebagai si bunga mawar putih?”

Dengan termangu-mangu nona cilik itu menatap wajahnya,

tak sepatah katapun ia menjawab.

Loo sian Khek ulangi sekali lagi pertanyaan itu, tiba-tiba

dengan wajah berkerut nona cilik itu berseru:

“Nona jalan darahku tertotok…”.

Mendengar seruan itu, sekali lagi Loo Sian Khek tertegun,

pertama, dalam ruang perahu tak ada orang lain, siapa kah

yang dimaksudkan nona oleh nona cilik itu ? kedua, ia sama

sekali tidak menotok jalan darahnya, tapi dilihat dari

keadaannya jelas jalan darahnya sudah ditotok orang.

Belum habis ingatan itu berkelebat dalam Loo Sian Khek.

tiba-tiba Lie Hong Hwie yang selama ini berdiri diujung bilik

perahu telah maju beberapa langkah kedepan, sambil

menatap Liem Kiam Hoo yang duduk disisi meja ia tertawa

dingin tiada hentinya.

“Tak kusangka Liem Kongcu yang terkenal diseluruh kota

Yang-chiu sebenarnya adalah seorang jago lihay yang

sempurna dalam tenaga lwee-kang ” serunya. Liem Kian Hoo

tersenyum.

“Akupun tidak menyangka nona Lie yang tersohor akan

kecantikannya, bukan lain adalah seorang pendekar wanita “

balasnya.

Air muka Lie Hong Hwie kaku dan adem Selangkah demi

Selangkah ia jalan mendekati nona cilik itu kemudian dari

tekukan lengannya ia Cabut keluar Sebatang duri ikan,

gerakan tubuh nona cilik itupun segera pulih kembali seperti

sedia kala. Dengan cepat ia meloncat kedepan, tangannya

diayun dan perseni sebuah tamparan keras keatas wajah Loo

Sian Khek.

“Plooook…” belum sempat melihat jelas bayangan tubuh

lawan, Loo Sian Khek merasakan pipinya jadi panas, linu dan

amat sakit.

“Bajingan tengik ” terdengar nona cilik itu berseru sambil

kertak gigi ” Kau berani menganiaya diriku . ” suaranya penuh

dengan nada kekanak-kanakan, nada yang dingin dan kaku

macam tadi sama sekali tidak kedengaran.

Sementara Loo Sian Khek pusing tujuh keliling, Liem Kian

Hoo dengan gusar telah meloncat bangun dari tempat

duduknya.

“Budak ingusan, kau berani bikin gara gara ” teriaknya.

Lengan diayun, serentetan cahaya putih meluncur kedepan

langsUng mengancam nona cilik itu.

“Traaaang …. . ” diiringi bentrokan nyaring, tulang ayam itu

terhadang dan rontok keatas tanah, kemudian Lie Hong Hwie

putar badan mengirim sebuah gablokan keatas pipi nona cilik

itu.

Sang nona menjerit kesakitan, sambil menutupi wajahnya

ia terbongkok-bongkok menahan sakit.

“Manusia yang tak berguna,” maki Lie Hong Hwie dengan

nada gusar “Sudah memalukan, berani pula main kasar dan

kurang ajar kau memang harus dikasi hajaran “. Lalu ia

berpaling kembali kearah Liem Kian Hoo dan berseru sambil

tertawa dingin:

“Aku masih sanggup untuk mengurusi orangku sendiri, tak

berani merepotkan kongcu untuk mewakili diriku “.

“Haaaa… haaa… haaaa…” sebuah gablokan ditukar dengan

sebuah gablokan nona benar-benar seorang yang adil dan

bijaksana “.

Sementara itu setelah rasa sakit hilang, Loo Sian Khek

memandang kearah nona cilik itu lalu memandang kearah

Liem Kian Hoo dan akhirnya menatap Lie Hong Hwie, hampirhampir

saja ia tidak percaya dengan sepasang matanya

sendiri.

“Tahu kongcu memiliki ilmu silat yang begitu lihay, aku tak

usah pula buang tenaga dengan percuma ” terdengar Lie

Hong Hwie berseru kembali sambil menatap sianak muda itu.

“Tahu kalau nona adalah ahli waris dari si Bunga Mawar

Putih, akupun tak usah menanti kehadiran sidayang cilik ini “

balas Liem Kian Hoo dengan cepat, “Empat Senar alat Pie-Pa

sembilan lubang seruling, tahukah nona akan kisah tersebut ?”

Lie Hong Hwie kelihatan tercengang dan termangu-mangu,

lama sekali ia baru berseru sambil gertak gigi:

“Kiranya kongcu adalah ahli waris dari Liuw Boe Hwie ?

bagaimana pertanggungan jawab Kongcu atas janji sepuluh

tahun ?”.

“Keadaan guruku sama halnya dengan si-Bunga Mawar

Putih, beliau tak sanggup untuk memenuhi sendiri janji

tersebut, tugas serta tanggung jawabnya telah ia serahkan

kepada cayhe “

“Kapan dan dimana ?”

“Waktunya sama dan tempatnya sama pula”

Lie Hong Hwie menatap wajah si anak muda itu tajamtajam,

kemudian berpaling kearah nona cilik itu dan berseru:

“Ci Kian- menepi “

Dengan air mata bercucuran nona cilik itu berlalu, tidak

lama kemudian perahu pun lambat- lambat bergerak menepi.

Hujan turun rintik-rintik, udara penuh berawan. Suasana

sunyi senyap menambahkan keseraman ditengah malam yang

buta.

Diluar kota Wie-Yang, diatas sebuah jembatan kutung

duduklah tiga sosok bayangan manusia, Diantara ketiga sosok

bawangan manusia itu, hanya Loo Sian Khek seorang

merasakan hatinya bergolak keras.

Tujuh delapan tahun ia mengabdi dalam pemerintah kota

Yang-chiu, mimpipun tak pernah menyangka Liuw Su-ya yang

pegang urusan administrasi dalam pemerintahan dan

berbongkok-bongkok lemah itu bukan lain adalah sorang ahli

silat kenamaan.

“Siauw – Sin ” atau si – Rasul Seruling Liuw Boe Hwie

adanya. Semakin tak mengira Liem kongcu yang lemah lembut

bukan lain adalah ahli warisnya.

Beberapa saat lamanya berdiri diatas tiang jembatan yang

tinggal puing berselarakan, Liuw Boe Hwie gelengkan

kepalanya yang penuh dengan rambut beruban, lalu menghela

napas panjang.

“Aaaai… ditempat inilah sudah sepuluh tahun berselang

aku dengan si-Bunga Mawar putih telah melangsungkan duel

sengit dengan air yang mengalir deras sebagai penghalang.

Dia menggunakan alat Pie-pa sedang aku menggunakan

seruling, pemandangan pada waktu itu masih selalu terbayang

dalam benakku.

Aaaaai air sungai tetap mengalir, tapi kejadian didunia

sudah banyak berubah, sepuluh tahun kemudian walaupun

aku tak bisa penuhi janji dengan ilmu silat dibadan, tetapi

selembar jiwaku berhasil berhasil dipertahankan entah

bagaimana keadaannya dengan si Bunga mawar putih ?”

“Liuw cianpwee ” ujar Loo Sian Khek dengan nada

menghormat. “Dalam kolong langit cuma kau seorang yang

berhasil melihat sendiri wajah sebenarnya dari si Bunga Mawar

Putih, sebenarnya macam apakah dia ?”

Liuw Boe Hwie termenung berpikir sejenak. kemudian baru

menjawab:

“Malam ini kami berduel dengan ambil tempat pada ujung

jembatan, suatu ketika itupun gelap gulita sehingga sulit untuk

melihat nyata wajah sebenarnya, tetapi secara lapat lapat aku

merasa bahwa dia adalah seorang perempuan cantik berusia

empat puluh tahunan”.

“Aaaaai… akhirnya teka-teki yang menyelubungi si Bunga

mawar putih terbongkar juga ” Loo Sian Khek

menghembuskan napas panjang “seandainya orang kangouw

tahu bahwa si Bunga Mawar Putih adalah seorang perempuan,

entah bagaimana gemparnya ? terutama sekali kalau mereka

tahu bahwa si Bunga Mawar Putih yang lihay sudah jatuh

pecundang ditangan cianpwee.”

“Loo lote, kau tak boleh berkata demikian, meskipun dalam

irama seruling loohu berhasil setingkat pada waktu itu dan

berhasil menggetarkan tubuhnya hingga terluka parah,

padahal diriku sendiripun tidak banyak berbeda, kalau tidak

penting apa perlunya aku seret Hoojie untuk terjerumus pula

didalam air keruh ini ?. Waktu bergerak cepat, dalam sekejap

mata sepuluh tahun sudah lewat.

Selama ini loohu telah menciptakan seorang murid untuk

gantikan kedudukanku. Aku rasa pada saat ini si Bunga Mawar

Putih pun sudah berhasil mendidik ahli warisnya, Aaaaai

siapapun tidak sangka apabila dalam janji pertemuan untuk

kedua kalinya, kami harus gantungkan keturunan kedua untuk

memenuhinya ” suaranya penuh haru dan penyesalan.

“Cianpwee, aku rasa ucapanmu ada sedikit kurang tepat “

sela Loo sian Khek rada tergerak hatinya.

“Bagian mana yang kau rasa salah ?”.

“Menurut penuturan cianpwee, setelah bertanding melawan

si Bunga mawar Putih pada sepuluh tahun berselang,

meskipun cianpwee menang setingkat namun kedua-duanya

sama menderita luka sehingga siapapun tak dapat

menggunakan tenaga Iweekang lagi “.

“Tidak salah, sejak kejadian itu hawa murni dalam tubuh

loohu menderita kerusakan besar kecuali menggunakan

gerakan yang biasa, banyak ilmu silat yang disertai tenaga

dalam tak sanggup aku gunakan lagi, aku rasa keadaan si

Bunga Mawar Putih jauh lebih runyam…”.

“Tetapi, selama sepuluh tahun ini perbuatan si Bunga

Mawar Putih tak pernah berhenti.” tukas Loo Sian Khek cepat

“Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa perbuatan tersebut kalau

bukan dilakukan sendiri tentu dilakukan oleh ahli waris-nya,

maka aku duga si Bunga Mawar Putih mendidik muridnya jauh

lebih duluan dari cianpwee…”.

“Perkataan Loo lote tidak salah ” jawab Liuw Boe Hwie

dengan wajah serius, “seandainya si Bunga Mawar Putih tak

ada ahli waris lain, dengan tenaga Iweekang Lie Hong Hwie,

tahukah kau sampai dimanakah taraf kepandaian yang ia

miliki?”.

“Tidak begitu jelas ” sahut Liem Kian Hoo sambil tertawa

ringan, “Waktu itu kami tidak bergebrak secara resmi, sampai

dimanakah taraf kepandaian masing-masing pihak belum

berhasil diselidiki jelas, seandainya aku tidak temukan adanya

suatu keistimewaan diatas alat pie-panya, aku sama sekali

tidak percaya kalau ia punya sangkut paut dengan si Bunga

Mawar Putih”

“Aaaah tidak aneh kalau Liem kongcu bersikeras untuk

pinjam alat pie-panya ” seru Loo Sian Khek. “Kiranya kau

sudah berhasil menemukan titik kecurigaan diatas alat

musiknya. Sungguh menyesal siauw-te gagal menemukan hal

tersebut meski sudah luntang-lantung selama bertahun-tahun

dalam dunia persilatan- Membicarakan soal pengalaman serta

ketajaman mata, aku masih bukan tandingan kongcu “

Liem Kian Hoo tertawa ringan-

“Loo-heng, kau terlalu sungkan, pelajaran yang kita pelajari

berbeda, ilmu silat Loo- heng lebih mengutamakan Gwa-kang

sedang yang siauw-te pelajari lwee-kang. Bicara terus terang,

mula-mula akupun tidak temukan sesuatu pada diri Lie Hong

Hwie, menanti ia mulai memetik alat Pie-pa nya dan aku

temukan warna yang berbeda diatas ke-empat buah senarnya,

timbulah kecurigaanku, maka sengaja aku hendak pinjam alat

tadi, namun ia berulang kali menolak permintaanku. Untuk

meyakinkan dugaanku maka aku mendesak lebih jauh dalam

keadaan apa boleh buat terpaksa ia mainkan alat pie-panya

memberi kode dan panggil masuk si Bunga Mawar Putih

gadungan untuk munculkan diri lebih pagi dari yang

direncanakan.”

“Aaaaai…. ternyata Kongcu benar-benar cermat dan

seksama, sungguh membuat orang merasa kagum. orang

kangouw berkata bahwa kaum pelajar, kaum wanita, kaum pa

dri serta Rahib merupakan orang orang yang tak boleh

dipandang enteng, boleh dikata siauw-te telah mendapat

pelajaran jangan dikata kongcu serta Lie Hong Hwie, cukup

sang dayang cilik yang menyaru sebagai si Bunga mawar

putihpun tak boleh dipandang remeh” Liem Kian Hoo

mendongak tertawa terbahak-bahak.

” Haaaa…. haaaaa…. haaaa… Loo-heng, kau dibikin jeri

lebih dahulu oleh nama besarnya kemudian dikejutkan pula

atas kehadirannya yang mendadak, maka terlalu tinggi kau

nilai dayang tersebut, padahal sejak semula ia sudah

bersembunyi diatas perahu, seumpama Loo-heng perbesar

nyalimu aku rasa kau tidak bakal tertipu olehnya.”.

“Kongcu, kau tak usah menutupi kejelekanku ” Loo sian

Khek tertawa getir ” Apabila bukan Kongcu turun tangan

secara diam diam dan menotok jalan darahnya, entah

kerugian apa lagi yang akan siauw-te derita “

“Loo heng ucapanmu ini salah besar, dengan kepandaian

sifat yang dimiliki Loo-heng, asal begitu turun tangan lantas

kerahkan segenap tenaga yang kau miliki, meskipun ilmu Hut-

Hauw Koen mu belum tentu bisa menangkan dia, paling

sedikit tidak sampai akan menderita kerugian besar hanya

dalam beberapa jurus belaka, seandainya tiada keyakinan

siauw-tepun tidak akan sengaja suruh Loo-heng turun tangan

lebih dahulu sehingga membuat kau mendapat malu “.

Merah padam selembar wajah Loo Sian Khek. teringat

pemandangan pada waktu itu ia benar-benar merasa malu

sekali hingga tergagap dan tak sanggup mengucapkan

sepatah katapun.

Agaknya Liuw Boe Hwie berhasil menemukan kerikuhannya,

buru-buru ia menyela:

“padahal dalam soal ini tak bisa salahkan Loo lote, nama

besar si Bunga mawar putih memang terlalu mengemparkan

dunia persilatan dengan adanya kejadian ini maka

pengalamanmupun akan bertambah, dilain hari seumpama

menjumpai kejadian seperti ini lagi, kaupun tidak akan jadi

gelagapan tidak karuan-.

“perkataan cianpwee memang benar, sejak pertama nyali

boaopwee sudah dibikin pecah dahulu oleh nama besar si

Bunga Mawar Putih, kalau tidak akupun tidak akan setegang

itu. Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan

perbuatan si Bunga Mawar Putih amat telengas, banyak

korban telah berjatuhan ditangannya, Sedang boanpwee,

pertama, sadar kepandaianku tidak memadahi orang kedua,

harus pikirkan keselamatan kongcu, maka mau tak mau aku

harus bertindak was- was.”

“Loo lote, mungkin kau sudah menaruh salah paham atas

berita yang tersiar dalam dunia persilatan, meskipun si Bunga

Mawar Putih telengas dalam menghadapi korbannya tetapi ia

bertindak lurus dan adil, selama hidup tak pernah salah

membunuh orang. Meskipun Hoojie tak bisa bersilat dengan

kebesaran jiwanya tak mungkin ia akan mengganggu jiwanya,

apa lagi terhadap lelaki sejati macam kau, ia semakin tidak

akan mencelakai dirimu”.

“Boanpwee tidak setuju dengan pendapat ciapwee ini “

seru Loo Sian Khek setelah tertegun sejenak. “Si Bunga

mawar putih pernah membunuh susiokku, dan kenyataannya

memang paman guruku ini sedikit nyeleweng dalam tindak

tanduknya maka boanpwee tidak akan persoalkan kembali,

tetapi sipedang sakti TiU Hauw dari Soat Tiong serta Sah Ceng

Him Poocu dari sungai Huang Hoo adalah pendekar-pendekar

sejati, mengapa ia pun membinasakan mereka berdua ?…..”.

“Aaaaaaai ” Liuw Boe Hwie menghela napas panjnng,

“Tidak sedikit manusia dalam dunia persilatan berkedok mulia

dan pendekar padahal dibalik kedok tersebut melakukan

tindakan yang tercela, meskipun aku tidak tahu kejahatan apa

saja yang telah dilakukan kedua orang itu, namun aku yakin si

Bunga mawar putih tidak akan salah membunuh orang yang

tak berdosa “

Loo sian Khek ada maksud membantah, pada saat itulah

dari tepi seberang berkumandang suara seseorang sambil

tertawa:

“Situa Liuw pertempuran yang dilangsungkan sepuluh

tahun berselang meski menanamkan dendam didalam hati

masing-masing, namun dengan andalkan ucapanmu barusan,

aku bisa berlaku lebih sungkan kepadamu pada malam ini …”

Mendengar seruan itu, Liuw Boe Hwie bertiga tersentak

kaget, buru-buru mereka angkat kepala dan menengok kearah

mana berasalnya suara tadi, tampaklah tiga sosok bayangan

manusia berdiri tegak di tepi seberang, Lie Hong Hwie berdiri

dengan wajah adem dan kaku, dalam bopongannya terdapat

alat Pie-pa senjata andalannya, Ci-Kian sibudak cilik berdiri

sambil cibirkan bibir, sedang diantara mereka berdua

berdirilah perempuan berusia setengah baya, rambutnya telah

beruban dan wajahnya keren penuh wibawa, terutama dari

sepasang matanya memancarkan cahaya kilat yang

menggidikan, perempuan ini bukan lain adalah si Bunga

mawar putih yang telah mengetarkan sungai telaga.

Loo Sian Khek diam-diam merasa bergidik juga setelah

menyaksikan keangkerannya meski ia tahu bahwa tenaga

Iwekangnya yang dimiliki sudah punah, begitu hebat rasa

bergidiknya hingga merasuk ketulang sungsum.

Semetara itu terdengar Liuw Boe Hwie mendongak tertawa

terbahak-bahak. lalu menjura dalam-dalam. “Pek sian-cu,

bagaimana keadaanmu sejak berpisah ? dalam sekejap mata

sepuluh tahun sudah lewat, kecantikan sian-cu tak berubah

hanya rambut tambah beruban, ini menandakan bahwa usia

makin bertambah banyak “

“Hmmm tua bangka she Liu, kau tak usah usil” Tegur si

Bunga mawar putih sambil mendengus “Kaupun jauh lebih

tua, ketika bertemu muka tempe dulu, kau masih merupakan

seorang pendekar yang ganteng dan gagah, tapi Sekarang kau

lebih mirip dengan Seekor burung gagak tua “

Si Rasul seruling Liuw Boe Hwie punya julukan lain sebagai

pertapa burung Bangau sakti, kini si Bunga mawar putih

membandingkan dirinya dengan burung Gagak. Loo Sian Khek

yang mendengar diam-diam merasa geli, namun ia tak berani

mengutarakan keluar perasaan tersebut.

Liuw Bin Hwie tidak kelihatan marah, sambil tertawa ia

malah berkata kembali:

“walaupun tulang sudah tua, namun tidak mengurangi

keromantisannya, Cloe-Nio sudah berubah, entah masihkah

gairah cintanya ?”

TuBok adalah seorang pujangga terkenal pada ahala Tong,

orang itu begitu romantis sehingga banyak membuat cerita

roman yang seram bagi keturunannya, sedang Cloe-Nio adalah

seorang pelacur kenamaan di telaga So-Si-Auw.

Mendengar ia dibandingkan dengan seorang pelacur, si

Bunga mawar putih kontan menegur:

“Ciss ngaco belo, kau anggap aku manusia macam apa ?”

“Murid kesayanganmu telah tersohor diseluruh jagad,

bukankah dia telah meneruskan karirmu ?”

“Tua bangka kalau bicara tahulah sedikit adat” teriak si

Bunga mawar putih dengan air muka berubah hebat, “

Muridku berbuat demi kian disebabkan keadaan yang

terpaksa, pertama, untuk memenuhi janji sepuluh tahun kita,

Dan kedua untuk menyelidiki sebuah benda yang sangat

penting sekali artinya bagiku”.

“Aku tahu, kau hendak menggunakan hio-loo Ci-Liong-Teng

untuk memulihkan tenaga dalammu yang telah punah.” tukas

Liuw Boe Hwie sambil tertawa dan mengangguk.

“Tapi sayang usahamu kali ini akan sia sia belaka…”.

“Tentu saja sia-sia, sebab kau sudah mendahului diriku…

menipu barang mustika orang dan mengajar rusak anak orang

lain, kau betul-betul bajingan tua yang tak tahu malu.” maki si

Bunga mawar putih dengan gusarnya.

“Sian-cu dugaanmu ini salah besar, pertama kali loohu

terjun ke gedung keluarga Liem memang mengandung

maksud begitu, tapi akhirnya aku temukan bahwa mutiara

diatas hioloo itu sudah lenyap dan tak mungkin bisa timbulkan

kemustajabannya, kebetulan pula aku temukan Liem Kongcu

berbakat baik, maka aku batalkan niatku pertama dan

menerima dia sebagai muridku, aku hendak menciptakan

seorang pendekar sejati demi kebahagiaan serta keadilan

dunia persilatan !”

Setelah mendengar ucapan itu, Liem Kian Hoo baru tahu

apa kegunaan dari Hioloo Ci -Liong-Teng milik keluarganya,

dan iapun baru paham apa sebabnya Liuw Boe Hwie si Rasul

seruling ini sudi jadi juru tulis dalam gedung keluarganya !

Sebaliknya si Bunga Mawar Putih agak sangsi, ia berseru :

“Hmmm ! cuma setan mau percaya ucapanmu, jarang

sekali orang tahu akan rahasia mutiara sakti diatas hioloo Ci-

Liong-Teng tersebut, mana mungkin bisa lenyap secara

mendadak, lagi pula kurang satu saja diantara mutiara atas

hioloo, kehebatan mustika itu tidak akan nampak, orang lain

tidak akan sebodoh itu dengan mencuri salah satu saja

diantaranya.”

“Cianpwee, kau telah salah menuduh guruku.” seru Liem

Kian Hoo buru-buru.

“Hioloo tersebut merupakan barang mustika keluarga kami,

diatasnya memang semula ada sebutir mutiara, tapi benda

tersebut sudah lenyap sejak dua puluh tahun berselang,

guruku sama sekali tidak tahu akan kejadian itu.”.

“Hmmmm ! kalau begitu usaha tua bangka she-Liuw inipun

menemui kegagalan total ” kata si Bunga Mawar Putih agak

kecewa.

“Hanya tidaklah pantas kalau ia turunkan ilmu silatnya

kepadamu, kau adalah keturunan pembesar, masa depan

sangat cemerlang, apa gunanya ikut melibatkan diri dalam

kancah dunia persilatan ?”.

Liem Kian Hoo tersenyum, “Ayahku sudah bosan menjabat

pangkat, maka beliau larang boanpwee untuk menduduki

pangkat pula, apalagi dasar watak boanpwee suka keluyuran,

disamping cocok dengan seleraku, dengan belajar silat ini

akupun bisa lindungi keselamatan ayahku.”

“Hmmm ! disinilah letak ketololan ayahmu, sejak dulu tahu

begini aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi

kepadanya, sewaktu meninggalkan surat ancaman semestinya

sekalian kutebas batok kepalanya !”.

“Setiap manusia punya cita-cita yang berbeda, aku harap

cianpwee pun sudah pikirkan masalah ini terlalu sederhana,

sewaktu cianpwee titahkan dayang cilik itu meninggalkan

surat ancaman, boanpwee serta guruku telah mengetahui

akan hal itu, asal ia berani bertindak lebih jauh, tidak mungkin

ia bisa tinggalkan tempat itu dengan mudah!”

“Bajingan cilik yang tak tahu diri, berapa banyak yang telah

diajarkan tua bangka she-Liuw kepadamu, berani betul

bersikap kurang ajar di-hadapanku ” teriak si Bunga Mawar

Putih marah marah. “Berganti pada tahun berselang, akan

kukasi pelajaran langsung kepadamu agar kau tahu lihay ! “.

“Haaaa…. haaaaa…. haaaaa…. Pek Siancu, harap jangan

marah ! ” Sela Liuw Boe Hwie sambil tertawa terbahak-bahak,

” Kita berdua sudah merupakan malaikat pintu yang terbuat

dari kertas belaka, diluar kelihatan keren dan menakutkan

padahal dalam kenyataan…. kosong melompong ! biarlah

mereka dari angkatan kedua yang menyelesaikan persoalan ini

!”

Si Bunga Mawar Putih menghela napas sedih, meskipun

diluaran ia kelihatan tenang, setelah termenung beberapa saat

lamanya ia berkata kembali kepada muridnya:

“Anak Hoo ! janji sepuluh tahunku dengan Pek Sian-cu

terpaksa harus kuserahkan kepadamu untuk diselesaikan !

usia nona Lie kurang lebih sebanding dengan dirimu, hanya ia

masuk perguruan lebih duluan, Nama besarku selama ini telah

kuserahkan diatas pundakmu semua, harap kau tahu diri dan

berjuang sedapat mungkin !”

“Tecu mengerti, tecu akan berusaha sekuat tenaga agar

suhu tidak jadi kecewa ! “.

Liuw Boe Hwie tertawa getir, ia lantas berpaling kearah si

Bunga Mawar putih dan berkata lebih lanjut:

“Mari kita mengundurkan diri dan saksikan jalannya

pertarungan ini sambil berpeluk tanggan, teringat sepuluh

tahun kemudian bakal muncul kembali untuk mengalahkan

diriku, Aaaaai . . . . siapa sangka kita berdua sudah buang

waktu sepuluh tahun dengan percuma, janji ini akhirnya harus

diserahkan kepada orang lain untuk diselesaikan !”.

Mula mula si Bunga Mawar Putih menghela napas panjang,

diikuti serunya dengan keras:

“Tua bangka she-Liuw, kau jangan bangga dulu, sepuluh

tahun berselang aku berhasil kau kalahkan, belum tentu ini

hari kau menang kembali, seandainya Hong Hwie tak berhasil

menangkan muridmu, aliran sungai dibawah jembatan ini

merupakan tempat kuburku !”

“Cianpwee, apa gunanya kau paksakan keretakan ini ?”

seru Liem Kian Hoo tertegun “Bukankah kau tiada terikat

dendam atau sakit hati berdarah dengan guruku ? menang

kalah dalam suatu pertarungan sudah merupakan suatu

kejadian yang jamak…”

“Keparat cilik, tak usah kau nasehati diriku.” tukas si Bunga

Mawar putih teramat gusar.

“Selama hidup si Bunga Mawar putih hanya menderita

kalah satu kali, meski bunga mawar harum semerbak setiap

tahun, kapan ada batang tumbuh kembali setelah tumbang ?”

Liem Kian Hoo bungkam dalam seribu bahasa, ia tahu Bu

lim cianpwee ini telah memandang namanya lebih penting dari

nyawa sendiri, sedang gurunya sendiri meskipun tidak

mengutarakan kata-kata tersebut, dalam hatinya pasti punya

pandangan yang sama seperti si Bunga Mawar Putih.

Beberapa saat ia membungkam, akhirnya duduk bersila

diatas ujung jembatan dan ambil keluar sebuah seruling

pendek dari sakunya.

Benda tersebut merupakan senjata mustika si Rasul

seruling Liuw Boe Hwie, walaupun gurunya telah wariskan

seluruh kepandaiannya serta irama not lagu kepadanya,

seruling itu sendiri baru diserahkan kepadanya pagi tadi,

waktu itu dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran

gurunya serahkan seruling itu kepadanya, seolah-olah ia telah

serahkan jiwanya kepada dia.

Sementara itu Lin Hong Hwie pun telah duduk pula

dihadapannya, alat Pie-panya yang kemarin masih berada

ditangan, hanya catnya telah dihapus sehingga kelihatan

wajah aslinya.

Kedua belah pihak sama-sama menanti dengan tenang,

menantikan duel seru yang bakal berlangsung.

Lama… lama sekali, akhirnya Lie Hong Hwie bertanya

dengan suara lirih:

“Apakah kongcu sudah siap ?”

“Sudah siap !” sahut Liem Kian Hoo tersenyum, ” Selama

belajar silat sembilan tahun, baru kali ini cayhe turun tangan

secara resmi, dapat bertemu dengan peristiwa sebesar ini dan

nona yang begini cantik sebagai musuh, sekalipun kalah

akupun merasa tidak kecewa !”.

Diantara nada yang gagah terselib nada halus menawan,

Lie Hong Hwie merasa hatinya bergerak, dari biji matapun

terpancar keluar cahaya-yang sangat aneh.

“Hong Hwie ! ” bentak Si Bunga Mawar-Putih dari samping,

“pertarungan ini menentukan mati hidupku, kau jangan

anggap sebagai suatu permainan belaka !”

Seluruh tubuh Lie Hong Hwie bergetar keras dengan cepat

ia pusatkan perhatiannya keatas senjata, jari tangan menari

diatas senar dan muncul lah serentetan irama nyaring yang

sangat menusuk pendengaran.

Kemarin malam Loo Sian Khek sudah pernah

mendengarkan irama lagunya, namun keadaanya jauh

berbeda dengan malam ini. Kemaren suaranya kosong tak

berisi, paling banyak menyeret orang ke-dalam lamunan,

sebaliknya pada malam ini dibalik irama tersebut seolah-olah

penuh berisi benda yang berwujud, seakan-akan terdapat

banyak sekali jarum yang tajam sama sama menembusi

badannya, begitu sakit rasanya sempat keringat dingin

menguncur keluar membasahi tubuhnya.

Untung dengan cepat irama seruling dari Liem Kian Hoo

segera berkumandang dan mengalun diangkasa, suaranya

lembut dan memanjang bagaikan benang yang tiada

berpangkal. Makin cepat irama Pie-pa tersebut, makin lembut

suara seruling, kekuatan mereka boleh dikata seimbang.

Liuw Boe Hwie serta si Bunga Mawar Putih pejamkan mata

memperhatikan irama tersebut, seakan-akan dari gabungan

irama seruling dan pie-pa mereka terkenal kembali

pengalaman masa silam

Air sungai yang mengalir dengan tenang di-bawah

jembatan tiba tiba mulai beriak dan akhirnya menggulung

dengan dahsyatnya menghantam tepi sungai dan menghajar

tiang jembatan.

Seluruh permukaan bumi bergetar, batu bata berjatuhan

dan rontok kedalam sungai.

Loo Sian Khek terkejut bukan kepalang, jantungnya

berdebar keras menyaksikan peristiwa tersebut.

Irama lagu semakin gencar, suara Pie-pa bergema

bagaikan gemuruh selaksa prajurit yang berlarian dilapangan

pertarungan suaranya gagah hebat dan penuh semangat.

Diatas air muka si Bunga Mawar Putih pun mulai terlintas

rasa bangga, sedang Liuw Boe Hwie kelihatan murung, ia

tidak sangka kalau kehebatan yang dimiliki Lie Hong Hwie jauh

diatas kemampuan Si Bunga Mawar Putih tempo dulu, tetapi

sewaktu ia perhatikan pula irama seruling dari Liem Kian Hoo,

hatinya semakin terperanjat bercampur keheranan.

Air muka sianak muda diliputi ketenangan serta keramahan

yang luar biasa, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh irama

gagah yang kuat dan dahyat itu, irama serulingnya tidak

melawan tapi cuma bertahan. Seakan-akan samudra luas yang

tenang tak berombak membentang diseluruh permukaan.

Ketika prajurit yang kuat dan menerjang dengan hebatnya

tiba ditepi samudra, mereka segera berhenti prajurit yang

lebih ganas dan lebih buaspun tidak mungkin bisa bertarung

melawan samudra, mereka hanya bisa mencaci maki,

menantang ditepi samudra dengan sia-sia belaka.

Menyaksikan hal tersebut, dalam hati Liuw Boe Hwie

merasa sangat girang, segera pikirnya:

“Sungguh luar biasa bocah ini, irama lagu “Ciang-Hay-

Leng” kuajarkan kepadanya hanya sebagai permainan belaka,

siapa sangka ia sudah lebur irama tersebut kedalam ilmu

silat…”

Senyum kebanggaan diatas wajah si Bunga Mawar Putih

lenyap tak berbekas berganti dengan wajah gelisah dan tidak

tenteram.

Agaknya Lie Hong Hwie sudah teliesenrseret kedalam

kancah kegusaran jari tangannya menari semakin cepat, boleh

kata bagaikan terbang saja bergerak kesana kemari tiada

hentinya, napsu membunuh yang terkandung dibalik irama

lagu itupun semakin dahsyat.

Seakan-akan jendral yang memimpin pasukan tersebut

sudah jadi gila, ia perintahkan anak buahnya menerjang

ketengah samudra, bagaikan orang tidak waras, bagaikan

orang kehilangan akal sehat menerjang . . . . dan menerjang

terus kedepan.

Liuw Boe Hwie tesenyum, kembali pikirnya:

“Hoo-jie sungguh pandai, saat ini dayang tersebut sudah

kehilangan akal sehatnya, asal ia ubah irama lagunya jadi

“Huang-Hong~Ing ” atau Mengiring angin puyuh, seketika itu

juga diatas permukaan samudra, bahkan lebih lembut dan

lebih halus.

“Aaaaa, sayang… sayang mengapa bocah ini sudah buang

kesempatan sebagus ini ? ” pikir Liuw Boe Hwie gegetun, “

irama Ciang-Hay~Leng mu akan bertahan seberapa lama ?

kalau tidak menghancurkan dirinya sekarang, mau tunggu

sampai kapan lagi ?”.

Ia angkat kepala, tampaklah air muka si Bunga Mawar

Putih telah berubah pucat pias bagai mayat, air mata

berlinang membasahi wajah-nya, dengan sinar mata

mendelong ia sedang memperhatikan air sungai yang mengalir

deras dibawah jembatan.

Ia segera mendusin pikirnya lebih jauh:

“Aku sungguh bodoh sudah hidup setua ini tapi kalah dalam

keteguhan iman… sekalipun pertarungan ini berhasil

kumenangkan dan sinenek tua itu dipaksa mati, apa gunanya

? apa keuntungannya ?”

“Sepuluh tahun berselang aku langsungkan duel matimatian

melawan sinenek tua itu dengan akibat kedua belah

pihak sama-sama terluka parah meskipun nyaris lolos dari

lubang jarum, tapi apa gunanya ?”

Berpikir sampai disitu, iapun jadi sadar kembali timbul rasa

menyesal dalam hati kecilnya.

Dalam pada itu si Bunga Mawar putih menghela napas

panjang dan lambat lambat berjalan ketepi jembatan siap

melompat kedalam sungai, sebab ia sadar muridnya tak bakal

bisa menangkan Liem Kian Hoo. sekalbdabipun Lie Hong Hwie

berusaha untuk terjang kemuka dengan segenap tenaga, tapi

akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan mati.

Liuw Boe Hwie ingin berteriak memanggil dirinya, tapi ia

sadar tenaga dalamnya telah musnah, sekalipun berteriak juga

percuma, ia tak bakal bisa menangkan irama Pie-pa yang

nyaring-

Ketika si-Bunga Mawar Putih berjalan sampai separuh jalan

tiba-tiba ia berhenti, sebab pada saat itu irama Pie-pa dari Lie

Hong Hwie telah berubah jadi ringan, halus, dan lunak.

Seakan-akan jendral yang memimpin penyerangan itu

sudah sadar akan tiada ujung pangkalnya samudra, ia

berpaling dan memerintahkan pasukannya kembali ketepian.

Kemudian ia lepas pakaian perang, membubarkan anak

buahnya dan meninggalkan keramaian dunia.

Suara genta gereja menarik kedatangannya, para padri

sambil tersenyum menanti kedatangannya, membawa ia

masuk kedalam kuil, cukur kepala dan jadi padri, hidup

tenteram penuh kedamaian

Irama Pie-pa telah berhenti, irama seruling-pun berhenti,

air sungai jadi tenang kembali.

Perlahan-lahan Lie Hong Hwee tersenyum lega, keringat

mengucur keluar membasahi wajah nya, Liem Kian Hoo pun

bangun berdiri, pada ujung bibirnya tersungging senyum

memuji

“Kongcu ! kepandaianmu tiada tandingan, aku yang rendah

merasa takluk dan sadar bahwa aku bukan tandinganmu ! “

kata Lie Hong Hwee sambil menjura dalam-dalam.

“Nona kau terlalu sungkan, kepandaian cayhe pun hanya

terbatas sampai disini saja.” sahut Liem Kian Hoo sambil

tertawa.

“Kalau nona bersikeras melanjutkan pertarungan tadi,

cayhe tak tahu apa yang harus dikerjakan, sampai akhirpun

paling-paling kedua belah pihak sama-sama menderita kalah,

untung nona cerdik dan buru-buru tarik kembali serangan

sehingga cayhe dengan susah payah dapat mengimbangi atas

maksud mulia nona aku merasa amat berterima kasih sekali”.

Merah jengah seluruh wajah Lie Hong Hwie.

” Kongcu, apa gunanya kau putar balikkan fakta !” serunya.

“Tadi, terang-terangan kongcu rtqrpunya kesempatan baik

untuk rebut kemenangan, tapi anda bertahan belaka, justru

itulah aku yang rendah berhasil menyelamatkan jiwaku.”.

“Nona, kau salah besar, ketebalan iman cayhe tak dapat

memadahi nona, selama bertahanpun aku tergantung pada

ketenangan jiwa, seandainya suatu saat timbul niatku untuk

melawan, niscaya jiwaku sudah direngut dari muka bumi !”.

Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, Lie Hong Hwie

tundukkan kepala dan membungkam.

Beberapa patah kata dari kedua orang itu segera membuat

dua orang tua itu jadi tertegun, lama sekali Liuw Boe Hwie

baru menghela napas panjang, ujarnya:

“Pek Sian-cu ! akhirnya sengketa antara kita berduapun

berhasil diselesaikan !”

Si-Bunga Mawar putih tersenyum lega, “Eeei tua bangka

she-Liuw, Kiong-hie ! kau berhasil mendidik seorang murid

yang bagus.” serunya.

“Haaaa… haaaa… haaaa… murid Sian-cu pun luar biasa,

seandainya sepuluh tahun berselang kita miliki kebesaran jiwa

seperti mereka berdua, ini hari kita pun tak usah merana dan

tersiksa macam begini !”

“Terlambat sudah! menyesalpun tak berguna kita harus

bersyukur karena kita tidak terperosok lebih kedalam, pada

akhir hayat kita masih bisa selesaikan peristiwa ini secara baik

baik !”

Kabut pertarungan akhirnya berubah jadi awan kedamaian,

liku-likunya masalah ini hanya empat orang itu yang paham,

Loo Sian Khek serta Ci-Kian tidak akan mengerti ! tapi mereka

tahu masalah ini telah berlalu, Loo Sian Khek merasa tenteram

sedang Ci-Kian masih kurang puas, tempelengan yang

diterima akibat Liem Kian Hoo masih belum sempat dibatas.

“Pek Sian-cu ! terdengar Liuw Boe Hwie berseru sambil

tertawa, “peristiwa masa lampau sudah berlalu,

persahabatanpun sudah terjalin kembali. Kami yang kesitu ?

ataukah kalian yang datang kemari ? waaah rada berabe kalau

kita harus bercakap cakap dengan air sungai sebagai

penghalang !”.

“Eeeeei… tua bangka she-Liuw, mengapa pada mulutmu

tak pernah tumbuh gading ? apa artinya ditempat yang gelap

gulita seperti ini ? mari kita menuju keperahu dari Lie Hong

Hwie saja ! ” undang si Bunga Mawar Putih sambil tertawa.

“Waaduuh… waaduuuh… buat aku si Suya rudin tak berani

kunjungi tempat seperti itu, semalam seribu tahil perak…

waah…! jumlah itu cukup buat penghidupan loohu dalam

setahun, aku harap memandang diatas wajah sahabat lama

kasih potongan beberapa persen buatku bagaimana ?”

“Haaaa… haaaa… haaaaa… setelah punya murid yang

kaya, apakah kau takut kekurangan uang ?”

Liuw Boe Hwie ingin mengucapkan lagi beberapa kata

gurauan, tiba tiba ia saksikan air muka Lie Hong Hwie berubah

hebat, sambil tudingkan alat Pie-panya kearah depan, ia

membentak keras:

“Siapa yang kasak-kusuk di sana ?”

Dari balik kegelapan terdengar dengusan beberapa orang,

kiranya dibalik alat pie-pa itu tersembunyi puluhan jarum

Bwee-Hoa-Ciam, jelas orang-orang yang bersembunyi dibalik

kegelapan berhasil ia lukai.

Disusul dengusan berat tadi, dari empat penjuru muncul

bayangan manusia langsung mengurung mereka, jumlah

mereka puluhan orang, bahkan gerak geriknya lincah dan

mantap.

Menyaksikan kejadian itu Liuw Boe Hwie terkesiap, buruburu

serunya kearah muridnya:

“Addduuuuh celaka, mereka sudah menemui kejadian, mari

kita segera tengok kesana !”.

Sungai kecil itu hanya selebar dua tombak, ditambah pula

kutungan jembatan yang menjorok ke depan, jaraknya

semakin dekat lagi, meski tenaga dalam yang dimiliki Liuw Boe

Hwie sudah lenyap namun dasarnya masih ada, dengan ringan

dia berhasil meloncat keseberang disusul Liem Kian Hoo dari

belakangnya.

Loo Sian Khek pun ada maksut ikut menyeberang namun

entah apa sebabnya tiba tiba ia berhenti.

Liuw Boe Hwie yang barusan tiba ditepi seberang segera

mendengar suara teguran dari seseorang diantara para

pengurung tersebut:

“Eeeeei Liuw thay-hiap, bagaimana kaupun sampai disini ?”

-oo0dw0oo-

Jilid 2

SUARA itu sangat dikenal, Liuw Boe Hwie segera berpaling

dan dengan cepat iapun berseru tertahan:

“Ooooow . . . . kiranya Tiong-liesen Chiu-Siang Kiat, Ceng-

Tiong-Su-Hauw, Yap tootiang dari gunung Pa-san serta Thiat

Bok Thaysu dari Siauw lim, Entah ada peristiwa besar apa

yang mengejutkan kalian hingga sama-sama berkumpul disini

?”

Thiat Bok Thaysu dari partai Siauw-lim adalah seorang

padri berusia setengah abad, ia segera maju rangkap

tangannya menjura dan berkata:

“Pinceng serta para enghiong hoo-han datang kemari untuk

melenyapkan seorang iblis Bu-lim yang telah banyak

membunuh orang !”.

“siapakah yang kalian cari ?” tanya si Rasul seruling lebih

jauh, meski dalam hati ia sudah mengerti siapa yang

dimaksudkan

“Dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali si Bunga Mawar

Putih muncul kembali dikota Yang-Chiu, setelah mendapat

berita ini pinceng sekalian segera berangkat kemari, dan

mencari ke-tempat tujuan seperti yang kami ketahui, siapa

sangka kedatangan kami rada terlambat selangkah, anak

murid dua bersaudara Be dari Tiong-Chiu telah terluka !”.

Liuw Boe Hwie tahu yang dimaksudkan sipadri ini tentulah

orang-orang yang dilukai Lie Hong Hwie barusan, sepasang

alisnya kontan berkerut.

Belum sampai ia kasi penjelasan dengan wajah gusar si

Bunga Mawar Putih telah munculkan diri sambil berseru:

“Tua bangka she-Liuw, kau boleh menyingkir kesamping,

persoalan ini adalah urusan pribadiku!”

Ucapan ini seketika mengejutkan semua orang yang ada di

keempat penjuru, mereka tercengang sebab si Bunga Mawar

Putih yang telah menggetarkan dunia persilatan puluhan

tahun lamanya bukan lain adalah seorang perempuan cantik.

“Kau adalah si Bunga Mawar Putih ?” tanya Thiat Bok

Thaysu tertegun sejenak.

“Selama empat puluh hanya tua bangka she Liuw seorang

kenal diriku, kalau kalian tidak percaya suruh saja ia buktikan

kebenaran ini, benarkah aku si Bunga Mawar Putih atau bukan

?”

Sinar mata semua orang sama-sama dialihkan kearah Liuw

Boe Hwie, terpaksa si Rasul seruling mengangguk.

“Tidak salah, dia adalah Pek Sbdabian-cu !”.

“Aaaaah . . . . ! Liuw Thay-hiap tersohor karena tindak

tindak tandukmu yang penuh bersifat pendekar, mengapa kau

bisa bergaul dengan si Bunga Mawar Putih?…” seru Thiat Bok

Thaysu tercengang.

Air muka Liuw Boe Hwife berubah hebat, baru saja ia

hendak buka suara, si Bunga Mawar Putih sudah berseru

sambil tertawa dingin:

“Kalian tak usah seret situa bangka she-Liuw sejalan

dengan aku, kami adalah musuh bebuyutan dan baru saja

selesai bertarung, sayang kalian tidak sempat saksikan sendiri

kejadian itu. Aku Si Bunga Mawar Putih bukan manusia

rendah, berani berbuat berani tanggung jawab, aku sudah

mengerti jelas akan maksud kedatanganmu. Dahulu aku orang

she-Pek pernah membunuh beberapa orang dan mungkin

orang-orang itu ada hubungannya dengan kalian, maka kamu

semua hendak menuntut balas, bukankah begitu ? Nah !

carilah satroni dengan diriku, dahulu aku orang she-Pek berani

membunuh mereka, sekarang akupun tidak takut menghadapi

kalian. Bukan aku menyesal karena kedatangan kalian agak

terlambat sedikit!”

“Sungguh tak nyana sicu berani bicara terus terang,

kamipun tak usah banyak bersilat lidah lagi.” seru Thiat Bok

thaysu dengan sepasang mata melotot bulat.

Si Bunga Mawar Putih tertawa sinis kearah Liuw Boe Hwie,

jengeknya:

“Tidak aneh kalau dari tempat kejauhan kami sudah

mendengar irama seruling mengalun diangkasa, kiranya Liuw

thay-hiap sedang pamerkan kehebatannya disini, Sayang

kedatangan siauwte rada terlambat selangkah sehingga tak

dapat ikut serta menyaksikan keramaian tersebut tetapi

dengan adanya bantuan dari Liuw thay-hiap, aku rasa

pertarungan hari ini untuk melenyapkan gembong iblis dari

muka bumi bisa berjalan semakin lancar.”

Liuw Boe Hwie benci dengan lagak tengik nya, ia cuma

tertawa dingin dan tidak menjawab. Lie Kian Hoo yang berdiri

disisi gurunya tak dapat menahan sabar, ia segera berseru:

“Anda sudah salah sangka, sepuluh tahun berselang guruku

dengan Pek cianpwee memang pernah melakukan

pertarungan dengan akhir seri, masing-masing pihak menaruh

rasa kagum pada kepandaian masing-masing,rtqr kemudian

menentukan untuk berjumpa kembali sepuluh tahun

kemudian, kali ini mereka berdua tak mau turun tangan

sendiri, maka pertarungan ini diwakili oleh aku serta nona Lie

ahli waris dari musuh berubah jadi sahabat, belum sempat

bercakap-cakap, kalian sudah datang mengganggu

ketenangan kami !”.

Sungguh lihay ucapan ini, bukan saja ia telah menjelaskan

hubungan Liuw Boe Hwie dengan si Bunga Mawar Putih,

bahkan secara lapat-lapat iapun menunjukan sikap mereka

untuk memihak pada si Bunga Mawar Putih.

Dengan perasaan penuh berterima kasih Lie Hong Hwie

melirik sekejap kearahnya, sebaliknya si Bunga Mawar Putih

tak mau terima maksud baiknya, ia menegur:

“Bocah cilik, siapa suruh kau bicara tidak karuan apa

gunanya kau beritahukan urusan itu kepada mereka ?”

“Boanpwee harus jelaskan dulu duduknya perkara, dari

pada nantinya mereka seret guruku untuk sama-sama

menghadapi dirimu !”.

“Hmmm ! meskipun situa bangka she-Liuw mau bantu

mereka, akupun tidak ambil perduli!”

“Pek Sian-cu, kau jangan salah paham “. Buru-buru Liuw

Boe Hwie menerangkan. “Aku orang she-Liuw sama sekali

tidak salahkan perbuatan Sian-cu, akupun tidak akan gunakan

kesempatan ini ! “. Air muka Be Si Coen berubah hebat.

“Liuw Thay-hiap ! ! kau adalah pendekar Bu-lim, mengapa

pergaulanmu malah dengan manusia manusia macam begini.”

serunya.

“Perbuatan Pek cianpwee gagah dan utamakan keadilan, ia

tak pernah salah membunuh seorang manusia baik !” teriak

Liem Kian Hoo penuh semangat ” Putra Be Hong Hwie telah

melakukan banyak perbuatan terkutuk andalkan nama kalian

berdua, sudah sepantasnya kalau manusia macam ini mati

ditangan Pek cianpwee, Hmmm !terhadap perbuatan terkutuk

putranya sendiri bukan malah mawas diri malah sebaliknya

hendak bikin perhitungan dengan Pek cianpwee, kalian benarbenar

manusia tidak tahu malu.”

Merah padam selembar wajah Be Si Coen, dari malu ia

dibikin gusar oleh sindiran tersebut, segera teriaknya:

“Liuw thay-hiap, sungguh sopan muridmu ini !”.

Liuw Boe Hwie tersenyum.

“Ucapan dari muridku mungkin rada sedikit keterlaluan

namun dalam kenyataanya perbuatan serta tingkah laku

putramu memang terlalu keliwat batas !….” serunya.

Air muka Be Si Coen berubah semakin hebat, tapi ia jeri

akan nama besar dari si Rasul seruling maka tindak tanduknya

tak berani gegabah sambil tertawa dingin segera serunya

kepada para jago diempat penjuru:

“Dengan ikut campurnya Liuw Boe Hwie dalam peristiwa ini

hari, aku takut urusan akan semakin berabe”.

Semua orang sama-sama terkesiap, sinar mata merekapun

segera dialihkan kearah Thiat Bok Thaysu sebab

membicarakan dalam soal ilmu Iweekang, dialah paling lihay

diantara rombongan tersebut, Thiat Bok thaysu termenung

beberapa saat lama-nya, kemudian dengan wajah berat

katanya:

“Persahabatan antara Liuw thay hiap dengan si Bunga

Mawar Putih tak bisa dicampuri oleh pinceng, tetapi demi

nama baik Liuw thay-hiap serta kelancaran dalam usah

melenyapkan bibit bencana dari muka bumi, aku harap thayhiap,

suka mengundurkan diri dari sini !”.

Walaupun jejak Si Rasul seruling bagaikan bagaikan bangau

diangkasa, ia tak pernah ikut serta dalam partai maupun

perguruan apapun, namun dengan ilmu silatnya yang

menjagoi Bu-lim, mau tak mau memaksa Thiat Bok thaysu

harus bersikap sopan kepadanya, nada ucapannya

mengandung maksud memohon, sebab ia tahu si Bunga

Mawar putih seorangpun sudah cukup lihay apalagi kalau

dibantu oleh Liuw Boe Hwie sekalian, kemungkinan menang

bagi pihaknya akan semakin menipis.

Liuw Boe Hwie meninjau dahulu situasi yang terbentang

waktu itu, ia tahu situasi pada malam ini sangat kritis, tentu

saja ia tak dapat bersikeras untuk ikut terjun dalam masalah

ini, tapi dengan watak serta nama besarnya, ia liesenmerasa

malu untuk berpeluk tangan belaka, Maka dari itu setelah

termenung sejenak, akhirnya sambil tertawa ia berkata:

“Kalau kalian cari si Bunga Mawar Putih karena dendam

pribadi, tentu saja aku orang she Liuw tak akan ikut campur,

tapi kalau kalian akan menganggap Pek Sian-cu sebagai

pembunuh, maka terpaksa aku orang she-Liuw harus ikut

campur !”.

Ucapan ini amat lihay, diantara rombongan tersebut

kepandaian silat Thiat Bok thaysu paling tinggi, tapi peraturan

perguruan Sauw-lim pun paling ketat, anak murid partai

tersebut tak seorang pun jadi korban si Bunga Mawar Putih,

dengan dialihkan dendam umum jadi dendam pribadi maka

paling sedikit ia berhasil mengesampingkan hweesio tua itu

dari peristiwa didepan mata saat ini.

Si Bunga Mawar Putih yang ada disamping meskipun tidak

berbicara tetepi ia merasa sangat kagum atas diri Liuw Boe

Hwie, sekalipun ilmu silatnya telah musnah namun kecerdikan

serta pengalamannya sama sekali tidak berkurang. Air muka

Thiat Bok Thaysu berubah hebat setelah mendengar

perkataan itu, segera serunya:

“Sudah lama aku mendengar thay-hiap banyak melakukan

perbuatan muIia, mengapa dalam kenyataannya perbuatanmu

malah kebalikannya ?”

“Apa salah aku orang she Liuw ? ? harap thaysu suka kasi

petunjuk ?”

“Selama empat puluh tahun sudah ratusan jiwa melayang

ditangannya, apakah perbuatan dari si Bunga Mawar putih

dianggap benar ?”.

“Siapa saja yang jadi korban Pek Sian-cu aku rasa thaysu

pun pernah mendengar, coba katakanlah korban korban

manakah yang tak pernah melakukan kejahatan dan

perbuatan keji ? Thaysu sebagai anggota dari perguruan

kenamaan aku rasa sepantasnya kalau setuju dengan

perbuatan ini !”

“Lalu pinceng mau bertanya apa salah suhengku Thiat-Sim

hingga dibunuh pula olehnya ? tanya Thiat Bok Thaysu

dengan wajah sedih.

“Apa ? Thiat Sim Thaysu pun menemui kematian ?” seru

Liuw Boe Hwie dengan air muka berubah.

“Tiga bulan berselangbdab suhengku telah mati dibawah

puncak Cay-Wi-Hong digunung Siong-san, disisi mayatnya

tertinggal sekuntum bunga mawar putih sebagai tanda,

terhadap korban lain aku tak berani menjamin, tapi terhadap

suheng dari pinceng ini, aku yakin bahwa dia tak pernah

melakukan perbuatan keji atau kejahatan apapun . . “.

“Bagaimana penjelasan Pek Sian-cu terhadap peristiwa ini

?” Liuw Boe Hwie segera berpaling kearah si Bunga Mawar

Putih. Mula mula si Bunga Mawar putih tertegun, kemudian

tertawa dingin tiada hentinya.

“Tua bangka she-Liuw, aku rasa kau tentu paham akan

kejadian ini, perlu apa bertanya lagi kepadaku ?”.

“Liuw Boe Hwie melengak tapi ia segera paham maksud

ucapannya, padri angkatan ” Thiat” dari Sauw-lim adalah jago

jago kosen, sedang ilmu silat si Bunga Mawar putih telah

musnah, tak mungkin ia berhasil melukai dirinya, Sedang

muridnya Lie Hong Hwie pun sejak tiga bulan berselang sudah

ada dikota Yang-Chiu, tak mungkin peristiwa ini merupakan

hasil karya mereka.

Thiat Bok Thaysu yang mendengar ucapan itu, tiba tiba

salah mengartikan maksud kata kata tersebut, kepada Liuw

Boe Hwie sambil tertawa dingin segera jengeknya:

“Oooouw . . . ! kiranya antara Liuw thay-hiap dengan si

Bunga Mawar Putih telah terjalin ikatan yang dalam, sudah

tahu masih pura pura bertanya ! “.

“Thaysu, harap kau jangan salah paham.” buru buru Liuw

Boe Hwie goyangkan tangannya.

“Suheng anda adalah padri sakti, kematiannya pasti bukan

perbuatan dari Pek Sian-cu, aku orang she-Liuw berani

menjamin dengan batok kepalaku “.

Liuw thay-hiap, sudahlah, kau tak usah coba bela diri lagi “

Be Si Coen tertawa seram. “Thiat Sim Thaysu adalah seorang

padri penuh welas kasih, selama hidup tak pernah ikat

permusuhan dengan siapapun, kecuali si Bunga Mawar putih

pembunuh sinting, tak ada orang lain yang berani turun

tangan kepadanya, lagi pula ilmu silat yang dimiliki Thiat Sim

thaysu sangat lihay, hanya andalkan kekuatan si Bunga Mawar

Putih seorang belum tentu bisa mencelakai dirinya, mungkin

Liuw thay hiap pun ikut serta ambil bagian dalam peristiwa ini

?”

Ucapan ini mengerakkan hati Thrtqriat Bok thaysu dengan

sinar mata curiga ia lantas berpaling kea-rah si Rasul Seruling.

Liuw Boe Hwie naik pitam, dengan amat gusar ia tuding Be

Si Coen lantas memaki:

“Hey orang she-Be, kau jangan mefitnah orang she-Liuw

tidak sudi melakukan perbuatan seperti itu.”.

“Hmmm . . . Hmmm . . . ! . cayhe hanya menduga belaka,

tetapi ditinjau dari hubungan Liuw thay-hiap dengan si Bunga

Mawar Putih, aku tetap menaruh curiga”.

Liuw Boe Hwie benar2 sangat gusar hampir saja ia

tempeleng wajah orang itu. Namun baru saja telapaknya

diangkat setengah jalan ia turunkan kembali dan menhela

napas panjang, ia menyesal tenaga dalamnya sudah punah !

Rasa curiga dalam hati Thiat Bok thaysu makin menebal

setelah menyaksikan kejadian itu, ia mengira Liuw Boe Hwie

ikut serta dalam peristiwa pembunuhan atas diri Thiat Sim

thaysu, karena menyesal maka timbullah gerak gerik yang

kurang Ieluasa.

“Mungkin ada alasan kuat yang mendasari kematian

suhengku, dapatkah Liuw Thay-hiap katakan keluar ? “

tanyanya serius, Liuw Boe Hwie teramat gusar, saking

dongkolnya sampai ia tak sanggup mengucapkan sepatah

katapun.

“Liuw loo-jie, kau tak usah melibatkan diri dalam persoalan

ini.” seru si Bunga Mawar Putih secara tiba-tiba, seraya maju

kedepan. “Thiat Sim si keledai gundul itu memang mati

ditanganku !.. tak ada orang lain yang membantu perbuatanku

ini dan tiada alasan yang mendaki peristiwa tersebut aku

bunuh dirinya karena tidak senang keledai gundul itu !”

Liuw Boe Hwie tahu, ucapan ini muncul karena hati yang

mendongkol buru-buru ia berseru:

“Pek Sian-cu ! terus terangan bukan kau yang lakukan, apa

perlunya terima dosa orang lain ?”.

“Bunga Mawar Putih sudah menerima salah tafsir orang,

lebih banyak membunuh seorangpun tidak mengapa !” sahut

Bunga Mawar putih tertawa dingin.

Air muka Thiat Bok Thaysu segera berubah amat serius.

“Pek sicu sudah mengaku, thayhiap ! apa yang hendak kau

katakan Iagi ?” katanya.

“Thaysu, harap kau jangan bertindak secara gegabah,

jangan beri kesempatan bagi pembunuh sebenarnya untuk

cuci tangan !”

“Liuw Loo-jie, sudahlah jangan banyak bicara macam

perempuan” seru si Bunga Mawar Putih sambil ulap

tangaannya. Kau adalah seorang lelaki namun tidak tidak

seberani aku, bunuh orang bayar jiwa, hutang barang bayar

uang, biarkanlah mereka bertindak..

“Omintohud !” Thiat Bok Thaysu segera rangkap

tangannya. “Kalau memang Pek sicu telah berkata demikian,

pincengpun terpaksa harus tuntut keadilan, kepada diri sicu !”.

Si Bunga Mawar putih melirik sekejap kearahnya, mulut

tetap bungkam dalam seribu bahasa. Lie Hong Hwie segera

maju menghampiri gurunya ia berseru:

“Suhu ! biarlah tecu . . . . . .”.

“Nona cilik, lebih baik menyingkir saja, disini tak ada

urusanmu.” sela Thiat Bok thaysu dengan wajah serius.

“Keledai gundul yang punya mata tak berbiji.” teriak Lie

Hong Hwie sangat gusar. “Kedudukan guruku sangat tinggi

kau tidak pantas untuk berduel, nonamu akan turun tangan

lebih dahulu menghantar kau pulang kenegeri barat !” Seraya

berkata, alat Pie-pa tersebut langsung dihantamkan keatas

tubuh padri itu.

Thiat Bok Thaysu kibaskan tangannya menangkis, Traaang

. . . . ! sisi telapaknya berhasil membabat diatas senjata itu

sehingga menimbulkan suara nyaring.

Dalam bentrokan itu tubuh Lie Hong Hwie terdorong

mundur sejauh tiga empat langkah, sedang Thiat Bok thaysu

bergetar keras, ia kelihatan agak melengak.

Sedangkan Be Si Coen yang menyaksikan kejadian ini

berseru tertahan, dengan nada terperanjat serunya:

“Bajingan perempuan ini lihay juga, bahkan muridnya saja

begitu lihay apalagi gurunya, Aku lihat kita tak perlu ikuti

peraturan Bu-lim lagi, untuk melenyapkan bibit bencana mari

kita maju serentak !”.

Para jago yang ada diempat penjurupun dibikin terkejut

oleh kejadian ini, mereka jeri akan kehebatan tenaga dalam

Lie Honlieseng Hwie, karena takut si Bunga Mawar Putih jauh

lebih lihay maka mereka sama-sama maju meluruk kedepan,

Lie Hong Hwie, karena ia takut mereka lukai gurunya, segera

lepaskan Thiat Bok Thaysu dan putar badan menghadang si

Bunga Mawar Putih, Pie-panya disapu kedepan menghajar

orang orang itu!.

Tenaga dalam yang dimiliki Be Si Coen sekalian walaupun

tidak sehebat Thiat Bok Thaysu namun merekapun jago jago

kenamaan dalam dunia persilatan, tidak sampai beberapa

gebrakan mereka berhasil paksa Lie Hong Hwie jadi kerepotan

napasnya mulai tersengkal-sengkal.

Walaupun begitu untuk sementara waktu gadis tersebut

masih sanggup mempertahankan diri, karena para jago tak

berani mengurung terlalu dekat sebab mereka jeri akan diri si

Bunga Mawar Putih yang selama ini hanya berdiri sambil

berpeluk tangan beIaka.

Thiat Bok thaysu sendiri bagai manapun juga masih jaga

gengsi dan kedudukannya ia malu untuk turut dalam

kerubutan itu, bukan maju ia malah mundur kesisi kalangan.

Liem Kian Hoo mulai naik pitam dibuatnya setelah

menyaksikan pengeroyokan itu. sambil cabut keluar

pedangnya ia berteriak keras:

“Manusia manusia pengecut ! kalian sungguh tidak malu,

manusia kenamaanpun beraninya main kerubut !”.

Pedangnya berputar membentuk satu lingkaran kemudian

terjang masuk kedalam kepungan dan bekerja sama dengan

Lie Hong Hwie membendung serangan musuh, satu pedang

satu Pie-pa bekerja sama dengan eratnya menyambut

serangan-serangan gencar dari Tiong Chiu Siang Kiat, Ceng

Tiong Su Hauw serta Yap Jeng Cie sijago pedang dari Pa-san

tujuh orang.

Kedua orang itu pertama, berani dan bernyali besar

bagaikan anak harimau baru turun dari gunung, kedua, telah

mewarisi ilmu silat gurunya serangan serangan merekapun

sangat dahsyat, bukan saja ketujuh orang kenamaan itu tak

berhasil mendesak maju sebaliknya malah terdesak mundur

kebelakang, tapi kaki merekapun bergeser selangkah demi

selangkah makin menjauhi si Bunga Mawar putih.

Liuw Boe Hwie menghela napas panjang, ia saling bertukar

pandangan sekejap dengan si Bunga Mawar Putih lalu tertawa

getirbdab, mereka mengerti sekalipun bakat kedua orang

muda mudi itu bagus namun hasil yang dicapai amat terbatas,

seumpama satu lawan satu mungkin masih punya harapan

untuk menang, sekarang mereka berdua harus melawan tujuh

orang, soal kalah cepat atau lambat tentu akan terjadi, pada

saat itulah tiba-tiba Thiat Bok Thaysu bergeser menuju

kehadapan si Bunga Mawar Putih.

“Sicu !” tegurnya “Tadi kau mengatakan bahwa perbuatan

tersebut kau lakukan sendiri dan akan kau tanggung pula

seorang diri, apa gunanya kau paksa bocah bocah itu untuk

adu jiwa ?”.

“Partai Siauw-lim benar benar merupakan tulang punggung

dari dunia persilatan.” jengek si Bunga Mawar Putih dingin “

Cukup ditinjau dari bala bantuan yang thaysu bawa, aku

sudah merasa kagum akan kehebatan nama besar kalian.”

Thiat Bok Thaysu melirik sekejap kearah sembilan orang yang

sedang bertarung lalu dengan wajah malu sahutnya:

“Pinceng sadar bahwa perbuatan kami agak kurang

cemerlang. tapi demi melenyapkan bibit bencana bagi umat

Bu-Iim!”. Merah padam selembar wajah Thiat Bok thaysu ia

segera berpaling kearah kalangan dan berseru:

“Harap kalian suka berhenti bertarung, tujuan kita bukan

untuk menghadapi kedua orang siauw Pwee tersebut !”.

Diantara para pengerabut, Yap Jeng Cie agak lebih baik,

mendengar seruan itu ia lantas tarik diri dan meloncat mundur

dari kalangan, sedangkan Tiong Chiu Siang Kiat serta Ceng

Tiong Su Hauw tetap meneruskan gempuran2 gencarnya, di

samping itu Lie Hong Hwie serta Liem Kian Hoo pun tidak sudi

membiarkan mereka loloskan diri, semakin bahaya situasi

yang mengancam si Bunga Mawar Putih serta Liuw Boe Hwie,

makin gencar pula serangannya.

Cahaya pedang menggulung gencar, bayangan Pie-pa

menyilaukan mata, keenam orang itu malah terkurung hingga

tak sanggup lepaskan diri dari kalangan.

Makin bertarung Be Si Coen makin terperanjat tiba tiba

teriaknya dengan suara keras:

“Yap Tootiang, Thiat Bok Thaysu, dua orang bajingan cilik

ini terlalu ampuh, biarlah kami kurung mereka berdua disini,

kita bekerja dengan dua rombongan !”

Thiat Bok merasa ucapan itu certqrngli, ia lantas berseru

keras pada si Bunga Mawar Putih:

“Pinceng jamin muridmu tak ada bahaya, harap Sicu jangan

melepaskan diri dari pertanggungan jawab lagi !”.

“Thaysu ingin memberi petunjuk dengan jalan bagaimana

?”, tanya si Bunga Mawar Putih dengan angkuh.

Untuk beberapa saat lamanya Thiat Bok Thay su tak berani

ambil putusan, sebab ia tahu si Bunga Mawar Putih tentu

sangat dahsjat, apalagi disana masih ada pula Liuw Boe Hwie.

Sebaliknya Ci Kian yang tahu akan kejadian ini jadi gelisah,

ia segera lari mendekat, serunya sambil menahan isak tangis:

“Hujien… kau…”.

“Ci Kian ! tutup mulut dan menyingkir ke-samping.” Hardik

si Bunga Mawar Putih. “Tempat ini bukan hakmu ikut campur,

mengerti ? baik-baiklah berdiri disamping, tak perduli kejadian

apa yang menimpa diriku kau tak boleh datang ke-mari, kalau

aku mati, kau masih ingat apa yang harus kau lakukan ?”.

“Budak masih ingat !” Ci Kian mengangguk sambil menahan

isak tangis dalam tenggorokkan.

“Kalau kau masih ingat itu lebih bagus, semoga kau dapat

biarkan aku mati meram, dengan demikian tidak sia-sia aku

pelihara dan didik dirimu sedari kecil hingga dewasa.”

Air mata jatuh bercucuran makin deras membuat seluruh

wajah Ci Kian basah dengan air matanya.

Pada saat itulah Thiat Bok Thaysu pun sudah ambil

keputusan, ia berseru:

“Pinceng ingin mohon beberapa petunjuk dari Sicu dengan

ilmu Tat Mo Sam Si dari partai Siauw Lim.”

“Haaa . . . haaa . . . haaa . . . bagus sekali, Tat Mo Sam Si

merupakan ilmu paling hebat dari partai Siauw Lim, sungguh

tak nyana pada akhir hajatku masih berkesempatan untuk

menjajal ilmu sakti tersebut !”.

Lie Hong Hwie serta Liem Kian Hoo jadi repot, yang

seorang berteriak suhu dan yang lain berseru cianpwee,

mereka berdua sama sama putar badan siap menghadang.

Agaknya Be Si Coen dapat menebak maksud hati mereka,

buru buru teriaknya: “Kawan-kawan waspada dan perketat

kepungan ! hati-hati dengan dua manusia rendah ini mau

ngeloyor pergi”

Ceng Tiong Su Hauw putar badan menghadang jalan pergi

mereka, delapan buah telapak sama-sama bergerak kedepan

melancarkan selapis haw murni yang amat luar biasa, dengan

kekerasan ia paksa kedua orang itu kembali kedalam

kepungan.

Dipihak lain Thiat Bok Thaysu pun sudah mulai

melancarkan serangan, telapak tangannya didorong kedepan

dengan jurus Loei Tong Ban Wu atau Bendu Sejagad

Tersambar Geledek, angin pukulannya menderu deru langsung

mengancam ulu hati si Bunga Mawar Putih.

Perempuan berusia setengah baya ini berdiri tegak tak

berkutik, dengan tiada gentar sedikitpun ia putar telapak

tangannya membabat pergelangan.

Thiat Bok Thaysu, gerakannya cepat luar biasa dan malah

lebih dulu mengancam tubuh padri -tersebut.

Thiat Bok Thay melengak, jalan darah pada tekukan

lengannya cuma terasa agak kaku, namun sama sekali tidak

mempengaruhi daya serangan serta kekuatan tenaga

dalamnya.

Sementara Thiat Bok Thavsu masih keheranan apa

sebabnya tenaga dalam dari si-Bunga Mawar Putih begitu

lemah, tubuh perempuan itu sudah bersalto ditengah udara

mundur kebelakang kemudian roboh terjengkang keatas

tanah.

“Thaysu, jangan…” Buru-buru Liuw Boe Hwie berseru,

namun belum habis ia berseru badannya pun ikut roboh

keatas tanah.

Ternyata dalam keadaan cemas buru-buru ia maju kedepan

untuk mencegah, namun Yap Jeng Cie dari gunung Pa-san

yang menyaksikan kejadian itu salah mengira ia hendak

membokong Thiat Bok Thaysu, buru-buru pedangnya

berkelebat menusuk kedepan.

Desiran angin pedang sangat tajam, Liuw Boe Hwie

gerakkan tangannya membabat namun karena tiada

bertenaga lengan sendiri malah terhebat kutung, badanpun

tak kuasa ikut roboh terjengkang keatas tenah.

Hanya didalam satu jurus kedua orang tokoh sakti dari

dunia persilatan ini telah roboh terjengkang keatas tanah,

kemenangan yang diluar dugaan ini malah mencengangkan

kedua orang itu.

Dengan berlangsungnya pertarungan disebelah sini,

dengan sendirinya pertarungan dipihak kedua telah berhenti,

Pertama-tama Lie Hong Hwie perdengarkan dahulu jeritan

kagetnya.

“Suhu…”.

Dengan cepat badannya menubruk kesisi si-Bunga Mawar

Putih, tampak perempuan itu sedang muntah darah segar,

wajahnya pucat pias, napasnya lemah tenaga untuk

berbicarapun tak ada.

Liem Kian Hoo pun memburu kesisi gurunya Liuw Boe

Hwie. mula-mula ia totok dahulu jalan darahnya agar darah

berhenti mengalir, kemudian meloncat hangun, menuding

Thiat Bok Thaysu sekalian dan memaki kalang kabut:

“Kalian pembunuh-pembunuh tak tahu malu, keberanian

kalian cuma terbatas untuk menghadapi dua orang tua yang

sama sekali tiada bertenaga untuk melawan.”.

“Eeeh… sebenarnya apa yang telah terjadi ? ” Tanya Thiat

Bok Thaysu tergagap, ia masih belum paham.

Dengan air mata mengembeng dikelopak mata, Liem Kian

Hoo menggembor keras:

“Apa yang terjadi ? kau masih belum mengerti ? dalam

pertarungan sengit yang terjadi sepuluh tahun berselang

suhuku serta Pek cianpwce telah menderita luka parah hingga

ilmu silatnya musnah, kalau tidak, terhadap manusia-manusia

tolol macam kau, tak mungkin merek berdua terluka.”

“Benarkah sudah sudah terjadi peristiwa ini ? mengapa

tidak mereka ucapkan sejak tadi ?”

“Mengapa harus mereka katakan ? dengan pribadi suhuku

serta Pek cianpwee kau anggap mereka sudi minta ampun dan

merengek-rengek kepada kalian untuk dilepaskan jiwanya.”

Pucat pias seluruh wajah Thiai Bok Thaysu, ia bungkam

dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba Yap Jeng Cie dari gunung Pa-san cabut keluar

pedangnya lalu dibabat keatas lengan sendiri, darah segar

muncrat keluar membasahi permukaan, dengan tinggalkan

kutungan lengan ia putar badan dan berlalu dari situ tanpa

mengucapkan sepatah katapun.

“Kau anggap dengan mengutungi sebuah lenganmu lantas

urusan sudah dianggap beres ??” Teriak Liem Kian Hoo kearah

bayangan punggungnya, “Suatu saat aku hendak sembelih

kalian satu persatu untuk cuci bersih penghinaan yang kami

terima hari ini !”.

Yap Jeng Cie pura-pura tidak mendengar, tanpa berpaling

barang sekejap pun ia berlalu dari situ.

Thiat Bok Thaysu pun tiba-tiba berjalan kesisi Lie Hong

Hwie, seraya menjura dalam-dalam ujarnya:

“Ini hari pinceng telah bertindak gegabah hingga melukai

suhu anda, kesalahan ini sudah sepantasnya ditebus dengan

selembar jivvaku, namun misteri kematian suhengku belum

jelas, pinceng mohon kelonggaran dari sicu untuk kasih

kesempatan buat diriku selidiki persoalan ini, dilain waktu dosa

ini pasti akan kutebus.”

Dengan pandangan benci Lie Hong Hwie melirik sekejap

kearahnya, ia mulutnya tetap membungkam dalam seribu

bahasa.

Dengan wajah lesu dan sedih Thiat Bok Thaysu lantas

menatap sekejap kearah keenam orang rekannya kemudian ia

berbisik lirih: “Mari kita pergi ! “.

“Thaysu, untuk membabat rumput harus membabat seakar

akarnya, dari pada meninggalkan bencana dikemudian hari!”

seru Be Si Coen dengan hati tidak senang.

“Tidak boleh, setelah sekali salah kita tak boleh melakukan

kesalahan untuk kedua kalinya !”.

“Perbuatan si-Bunga Mawar Putih kejam lagi telengas,

sekalipun thaysu cabut jiwanya paling banter. “.

“Tidak bisa kita bertindak demikian !” seru Thiat Bok thaysu

sambil geleng kepala”.

“Ilmu silatnya sudah punah sejak sepuluh tahun berselang,

orang yang mencelakai suhengku bukan dia tapi orang lain,

sekalipun si-Bunga Mawar putih tak mau menolak tuduhan

tersebut namun pinceng sudah dibikin jelas duduk perkara!”.

“Hmmm ! Mungkin Thiat Siut Thaysu bukan mati

ditangannya. tapi putraku benar-benar mati ditangannya.”

teriak Be Si Coen sambil memancarkan cahaya buas.

“Perbuatannya membuat aku tak punya turunan, aku

hendak bunuh dirinya, membinasakan pula muridnya agar

iapun tak punya ahli waris, tak punya keturunan.”

“Urusan pribadi Be Sicu tiada sangkut pautnya dengan

pinceng.” Tukas Thiat Bok Thaysu gusar.

“Peristiwa yang terjadi malam ini timbul karena pinceng,

sampai detik ini akulah yang bertanggung jawab atas segala

akibatnya, tetapi kalau Be sicu niat membinasakan mereka,

Hmm maaf, pinceng tak mau ikut campur !”.

Tiong Chiu-Siang-Kiat saling bertukar pandangan sekejap,

akhirnya dibawah tatapan sinar mata Thiat Bok Thaysu yang

tajam, tanpa mengucapkan sesuatu apapun, bersama-sama

Ceng-Tiong-Su Hauw berlalu dari situ.

Fajar mulai menyingsing, ditengah kesunyian yang

mencekam hanya terdengar isak tangis Lie Hong Hwie serta

Ci-Kian yang memilukan hati.

Liem Kian Hoo dengan mulut membungkam berdiri disisi

Liuw Boe Hwie, pipinya penuh basah oleh air mata, sinar

matanya berapi-api penuh dengan rasa dendam.

Kokokan ayam jantan lapat lapat berkumandang dari

kejauhan, sinar sang surya lambat-Iambat mulai menyoroti

kota Yang Chiu .

Musim gugur telah menjelang tiba, hampir setiap hari hujan

deras membasahi seluruh permukaan bumi membuat udara

jadi lembab dan tidak enak dibadan.

Senja telah menjelang tiba, hujan yang mengesalkan hati

akhirnya berhenti juga setelah seharian penuh tertuang dari

angkasa titik air saling berjatuhan dari batang batang pohon

yang gersang membasahi tanah yang kendur hingga

timbulkan suara dentingan yang nyaring.

Diatas sebuah jalan gunung yang sempit dan curam tiba

tiba muncul dua ekoa kuda jempolan diatas kuda duduklah

sepasang lelaki berpakaian ketat, baju mereka basah kuyup

oleh air hujan jelas mereka telah kehujanan ditengah jalan,

dari uap putih yang mengempul dari badan kuda

menumpukan pula bahwa perjalanan ini dilakukan siang

malam tanpa beristirahat.

Mengapa mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa

perduli basahnya air hujan dan teriknya sinar mata hari ?

-o O o-

Kedua orang itu bukan lain adalah Liem Kian Hoo serta Loo

Sian Khek, jauh jauh menempuh perjalanan ribuan li dari kota

Yang Chiu hingga kepropinsi Im-Lam, apa yang sedang

mereka kerjakan ? sedang berpesiar ?.

Akhirnya kedua ekor kuda itu berhenti didepan sebuah

persimpangan jalan, Loo Sian Khek membesut air hujan yang

membasahi wajahnya lalu termenung beberapa saat, seolaholah

sedang menentukan kearah manakah mereka hendak

menuju.

“Bagaimana ?” Tegur Liem Kian Hoo dengan hati gelisah “

Loo toako ! apakah kau sudah tidak kenali jalan lagi ?”.

“Benar! ” sahut Loo Sian Khek sambil menggeleng.

“Sepuluh tahun berselang aku pernah ikuti guruku berkunjung

kebenteng keluarga Liok, tapi sekarang ingatanku sudah agak

kabur, maka dari itu sulit bagiku untuk menentukan jalan

manakah yang benar”.

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, kemudian katanya:

“Ceng Tiong Su Hauw adalah orang kenamaan dalam dunia

persilatan, mari kita tanya saja kepada orang yang kebetulan

kita jumpai, persoalan ini tak boleh diundur lagi, sebab

bilamana kabar dari Tiong Chiu SiangKiat tiba lebih dahulu,

mungkin mereka sudah bikin persiapan dan tidak

menguntungkan bagi kita !”.

“Sungguh enak ucapan dari loote.” Loo Sian Khek tertawa

getir “Coba pikirlah beberapa banyak rumah penduduk yang

kita jumpai sepanjang jalan ? ditengah pegunungan yang

terpencil, kadangkala sampai puluhan li jauhnya pun belum

tentu ada jejak manusia !”.

“Kalau begitu kita tetapkan saja salah satu jalan

diantaranya, kalau beruntung kita akan tiba ditempat tujuan

!”.

“Tidak sempurna caramu itu ! daerah sekitar tempat ini

merupakan pegunungan semua, sekali salah jalan berarti dua

tiga ratus li harus kita tempuh sebelum balik kembali ketempat

semula perjalanan kitapun akan tertunda selama sehari!”

“Lalu bagaimana baiknya ?” seru Liem Kian Hoo semakin

gelisah, “Bagaimanapun kita tak bisa selalu menunggu disini

bukan !liesen”. Loo Sian Khek termenung beberapa saat

lamanya kemudian baru ujarnya sambil menuding salah satu

jalan diantaranya:

“Benteng Keluarga Liok terletak disebelah Tenggara, aku

rasa lebih besar betulnya apabila kita lewati jalan ini !”.

Liem Kian Hoo tidak berdicara, ia segera cemplak kudanya

maju kedepan.

“Loote ! aku hanya menduga belaka, tak berani kuyakini

bahwa jalan itu adalah yang harus kita tempuh sebenarnya ! “

buru buru Loo Sian Khek berseru sambil mengejar kedepan.

“Perduli amat ! bagaimana juga kita harus maju kedepan,

setelah salah paling cepat putar kembali kejalan semula,

sekalipun ada diujung langit dasar samudra, aku harus

temukan kawanan bajingan itu dan bikin perhitungan dengan

mereka ! ” Loo Sian Khek ragu ragu sejenak, akhirnya ia

menghela napas panjang.

“Padahal empat saudara dari keluarga Liok tidak terhitung

terlalu jahat, paling banter mereka bertindak karena tidak

selidiki dahulu duduknya perkara, dimana bisa ampuni

jiwanya, seperti tindakan loote terhadap Be Si Coen.”

Liem Kian Lloo tertawa dingin.

“Perbuatannya terhadap guruku serta Pek cianpwee

keterlaluan sekali, meski dibunuhpun dosanya belum bisa

diampuni untung aku cuma mencukil sebuah biji matanya

belaka, kalau bukan orang she-Be itu cepat cepat meloloskan

diri akan kutebas pula lidahnya, akan kulihat dikemudian hari

dapatkah ia putar balik duduknya perkara dan menghasut

orang lain !”.

Loo Sian Khek termenung beberapa saat, kemudian ujarnya

kembali:

“Reputasi Tiong Chiu Siang Kiat dalam dunia persilatan

memang kurang baik, pantas apabila loote bersikap demikian

terhadap mereka, tetapi Ceng Tiong Su Hauw tidak terlalu

jahat, mereka masih sering melakukan perbuatan mulia,

dapatkah loote bersikap agak longgar sedikit kepadanya . . .”

“Tidak bisa ! keempat orang ini lebih lebih harus dibunuh,

kalau Tiong Chiu Siang Kiu hanya melakukan kejahatan kecil

maka sebagai hukumannya mata harus dicukil lidah harus

dipotong, Lain halnya dengan keempat orang itu, bukan saja

aku hendak menuntut batas buat guru serta Pek-Cianpwec,

bahkan diatas kitab kecil milik si bunga Mawar Putih yang

muat nama nama orang Bu-lim yang harus dibunubdabh

karena kejahatannya tercantum pula mereka, bahkan nama

mereka berada dipaling atas, seandainya ilmu silat Pek

cianpwee tidak punah, sejak semula mereka sudah dibunuh !”

Ucapan ini membuat Loo Sian Khek melengak.

“Hubungan persahabatan guruku dengat empat bersaudara

keluarga Liok sangat akrab, mengapa beliau tidak tahu apabila

mereka pernah melakukan perbuatan terkutuk”.

“Tidak sedikit jumlah manusia dikolong langit yang diluar

pura pura ramah dan penuh belas kasih, padahal didalam

hatinya bejad dan banyak melakukan perbuatan terkutuk !”.

“Dapatkah loote beritahu kepadaku?”.

“Tidak bisa ! aku sudah menyanggupi permintaan dari Pek

Cianpwee, kecuali berjumpa dengan orangnya pribadi,

kejelekan mereka tidak akan diumumkan kepada siapapun,

disinilah letak kebijaksanaan Pek cianpwee, sepanjang hidup

membasmi kejahatan namun tidak sudi mengutarakan

alasannya, ia rela menerima setiap kesalahan pahaman orang

lain daripada menjelekan orang dihadapan umum, ia telah

serahkan tugas yang belum selesai ini kepadaku, tentu saja

aku tak mengecewakan harapannya !”.

Loo Sian Khek menghela napas panjang.

“Dalam dunia persilatan tersiar berita bahwa si Bunga

Mawar Putih adalah seorang pembunuh yang berjiwa dingin

dan berhati keji, tak nyana dia orang tua adalah seorang

pendekar sejati yang khusus membasmi kejahatan.”

Perbuatan seorang pendekar sejati hanya terbatas pada

keamanan umat dunia dan sama sekali tidak memperduli

nama sarta pamor sendiri Pek clanpwee telah serahkan

tugasnya kepadaku, aku takut tugas tersebut tak dapat

keselesaikan secara baik sebab orang-orang yang tercantum

namanya diatas kitab tersebut banyak bagaikan bintang

dilangit, sebilah pedangku ini entah harus membunuh

beberapa banyak orang !”

“Begitu banyak jumlahnya ?”. Liem Kian Hoo menghela

napas dan mengangguk.

Loo Sian Khek tidak berani bertanya lebih jauh siapa saja

yang tercantum dalam kitab tersebut ia tahu bertanyapun

percuma, tanpa terasa wajahnya kelihatan makin murung.

Kebetulan Liem Kian Hoo berpaling, menyaksikan perubahan

wajahnya sambil tersenyum ia lantas berkata:

“Loo-heng boleh berlega hati. dari partai anda cuma

susiokmu seorang yang tercantum namanya dan tugas itu

telah diselesaikrtqran sendiri oleh Pek cianpwee! gurumu

Tiang Coen cinjien adalah seorang manusia berjiwa besar, ia

tidak akan terseret pula dalam bencana ini !”.

Dengan hati lega Loo Sian Khek menghembuskan napas

panjang lalu tertawa ringan.

“Sepanjang hidup guruku bertindak jujur dan adil, aku sih

tidak menguatirkan hal ini . . . aneh ! bukankah Pek cianpwee

sendiri punya ahli waris ? mengapa tugasnya yang belum

selesai tidak diserahkan kepada nona Lie untuk menyelesaikan

?” Suatu ingatan berkelebat dalam benak Liem Kian Hoo,

segera jawabnya lagi:

“Maaf urusan ini tak dapat kujelaskan kepadamu, lagipula

nona Lie sendiripun tidak tahu akan adanya pekerjaan ini,

seumpama dikemudian hari Loo heng bertemu dengan dirinya,

harap kau suka menutupi rahasia ini !”.

Dengan wajah tercengang Loo Sian Khek mengangguk

tidak Iama kemudian ia teringat kembali akan satu persoalan,

tak tahan tanyanya lagi:

“Masih ada satu persoalan yang membuat Ih-heng tidak

jelas, bulan berselang ketika Loo-te bergebrak melawan Be Si

Coen tidak sampai tiga gerakan kau berhasil mencukil sebuah

biji matanya, aku lihat tenaga dalammu telah peroleh

kemajuan pesat kalau dibandingkan sewaktu ada dikota Yang

Chiu tempo dulu ! dengan kepandaian yang dimiliki Loote

semestinya kau tidak akan sampai kalah oleh mereka, apa

sebabnya loote simpan kepandaian lihaymu dan duduk

menyakikan berlangsungnya peristiwa menyedihkan itu”.

“Aaaaai…. sudah ditakdirkan demikian, dibicarakanpun

percuma, harap Loo heng jangan banyak bertanya !”.

Beruntun Loo Sian Khek mengajukan pula beberapa

pertanyaan namun tidak mendapat jawaban semua ia mulai

merasa bahwa sianak muda ini penuh diliputi kemisteriusan.

“Aaaaah salah . . . kita sudah salah jalan, tempat ini adalah

dusun suku Biauw ! ” tiba tiba Loo Sian Khek berseru setelah

memeriksa keadaan disekelilingnya.

“Darimana Loo heng bisa tahu ?”.

Sambil menuding rumah gubuk dihadapannya, orang she

Loo itu menjawab:

“Hanya suku Biauw saja yang akan membangun atap

rumahnya berbentuk bulat, asal kita lihat modelnya segera

akan ketahui !”

“Aku rasa Loo heng sengaja hendak bawa aku kemari,

bukankah begitu ?”

Merah jengah selembar wajah Loo Sian Khek.

“Kan tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak begitu

menguasahi jalan disini, persolan pada sepuluh tahun

berselang mana bisa diingat lagi dengan begitu jelas ? lagi

pula sewaktu aku menunjukan arah jalan, Loote telah

memutuskan dengan cepat.”

“Loo heng tak usah kasih penjelasan lagi” tukas Liem Kian

Hoo tersenyum berarti. “Aku tahu hubungan pribadimu

dengan Ceng Tiong Su Hauw saugat akrab, ketika kau

bersembunyi di-jembatan kutung kota Yap Chiu pun

disebabkan tidak ingin berjumpa dengan mereka, sejak

memasuki propinsi In Lam kau sudah perlambat perjalanku

dengan alasan hujan, sepanjang perjalanan setiap kali

bertemu dengan persimpangan tidak pernah kau tunjukan

jalan yang benar bagaimana bodohnya siauw-te, lama

kelamaan aku tentu merasakannya pula, bukan begitu ?”

“Harap Loote suka maafkan perbuatanku ! sewaktu Ih-heng

ikut suhu berkunjung kebenteng keluarga Liok pada sepuluh

tahun berselang, kami telah mendapat pelayanan yang sangat

baik, aku tidak tega melihat mereka terluka diujung pedang.”

“Benar atau tak boleh tidak harus diterangkan keadilan dan

kebenaran tak boleh tidak harus ditegakakan !”.

“Aaaaai . . . . seandainya ada alasan yang buat kematian

mereka, tentu saja lh heng tak akan mencegah maksud loote.”

“Tak ada alasan untuk mengampuni kesalahan mereka,

mengingat maksud mulia dari Loo-heng maka selama ini aku

pura-pura bersikap bodoh dan ikuti dirimu salah jalan, baiklah

! paling banyak kuberi waktu selama dua hari bagi mereka

untuk bikin persiapan, dapatkah mereka mencari jalan hidup

selama dua hari ini, terpaksa harus kita lihat apakah mereka

punya rejeki atau tidak !”

“Terima kasih loote !” Loo Sian Khek segera menjura dalam

dalam. “Bantuan yang dapat lh-heng berikan kepada

merekapun terbaliesentas sampai disini saja, kejadian

dikemudian hari lh heng tidak akan ikut campur lagi !”.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia larikan kudanya menuju

kearah sebuah rumah gubuk sambil berjalan serunya:

“Apabila kematian sudah menjelang tiba, siapa yang dapat

menolong mereka ? bagaimanapun akhirnya manusia harus

mati, sekalipun tidak dibunuh orang, iapun tak bisa selamanya

hidup didunia, Loo-heng tak perlu berterima kasih kepadaku,

bencana atau rejeki semuanya telah ditetapkan oleh Thian !”.

Tibalah sianak muda itu didepan sebuah rumah gubuk yang

rada besar dan lebar diantara rumah penduduk lain, ia loncat

turun dari kuda dan mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian pintu segera terbuka kembali,

Ternyata penghuni rumah itu belum tidur, ruangan dibagi jadi

tiga bagian, paling depan adalah ruang tamu dimana kurang

lebih ada lima enam orang gadis sedang berkumpul sambil

bersulam, gadis yang buka pintu tadi berusia delapan

sembilan belas tahunan, walaupun berpakaian aneh namun

wajahnya amat cantik,

Liem Kian Hoo sendiri walaupun berasal dari keluarga kaya,

dalam rumah banyak terdapat dayang, namun ia jarang

bergaul dengan wanita terutama sekali kaum gadis remaja,

maka dari itu berhadapan dengan sekelompok gadis muda ia

rada tertegun dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya tak

sepatah katapun berhasil diucapkan.

Gadis yang buka pintu tadi jauh lebih bebas, sambil tertawa

ia lantas mempersilahkan tamunya untuk masuk.

“Koan lang, silahkan masuk kedalam !”.

Merah jengah selembar wajah si anak muda itu, sahutnya

tergagap:

“Kami… kami sudah salah jalan sedang malam telah

menjelang tiba, maka terpaksa kami ganggu ketenangan

kalian pada saat seperti ini. Aku rasa tempat nona kurang

leluasa bagi kami ! lebih baik kami cari tempat lain saja.”.

“Koan-lang, kau tak boleh berkata begitu.” seru gadis itu

kurang senang hati, “walaupun rumah kami kecil namun

pelayanan kami terhadap tamu tidak kalah dengan rumah lain,

seandainya Koan-Lan pindah ke rumah lain, dari mana kami

punya muka untuk bertemu lagi dengan orang lain !”.

Liem Kian Hoo melengabdabk setelah mendengar

perkataan itu, maka saat itulah Loo Sian Khek sudah turun

dari kuda dan masuk kedalam ruangan, segera bisiknya:

“Keluarga suku Biauw paling suka menerima tamu, kita

sudah mengetuk pintu rumahnya, dalam sopan santun tak

mungkin bagi kita untuk pindah ketempat lain, kalau tidak

maka mereka akan anggap kejadian ini sebagai suatu

penghinaan.”

Tanpa terasa Liem Kian Hoo segera melangkah masuk

kedalam ruangan, gadis-gadis itupun sambil tertawa letakkan

sulaman mereka keatas meja, tuang air teh dan melayani

mereka dengan baiknya, Gadis pertama yang buka pintu tadi

paling giat diantara gadis-gadis lain, sambil memerintahkan

orang untuk siapkan makanan. ia tuangkan sendiri dua cawan

air teh panas. ujarnya sambil tertawa:

“Koan Lang, kalian tentu sudah lapar bukan ? mari minum

teh dulu ! arak dan sayur segera akan dihidangkan, kami

merasa amat bangga bisa menerima kalian berdua sebagai

tamu agung kami, tolong tanya siapakah Koan-lang ?”.

” Oooouw, cayhe she-Liem bernama Kian Hoo, malammalam

datang menganggu ketenangan nona, hal ini membuat

kami merasa tidak tenteram, harap kalian tak usah repotrepot.

Cukup makanan seadanya saja untuk menangsal perut.

Tolong tanya dalam rumah nona masih ada siapa lagi.”

Berhubung ia temukan dalam rumah itu penuh dengan

gadis muda dan hal ini membuat gerak-geriknya jadi rikuh,

maka ia ajukan pertanyaan tersebut. Gadis itu tersenyum

manis, lalu menjawab:

“Aku masih punya orang tua tapi ini hari tak ada dirumah

semua, sedang mereka adalah saudara saudara misanku,

mereka tinggal sangat jauh dari sini. Karena untuk menghadiri

pesta bulan purnama besok malam, sengaja datang menginap

dirumah kami, terpaksa untuk keperluan ini ayah serta ibuku

pindah ketempat lain. Oooh yaa ! aku bernama Watinah,

Koan-lang harap panggil saja dengan namaku, kau tak usah

sungkan2 !”.

Setengah harian lamanya Liem Kian Hoo mendengar

perkataan gadis itu, namun tidak banyak yang ia pahami,

namun ia tahu gadis suku Biauw lebih polos dan terbuka,

terhadap hubungan laki perempuan tidak terlalu terikat, maka

sikapnya pun jauh lebih bebas.

“Nona Wa!” segera tegurnya samrtqrbil tertawa, Gelak

tertawa merdu bergema memenuhi ruangan, terutama sekali

Watinah, ia tertawa sampai terbongkok-bongkok. Liem Kian

Hoo tak tahu apa yang sedang mereka tertawakan, sikapnya

jadi sangat kikuk. Lama sekali Watinah tertawa cekikian,

kemudian baru berkata:

“Kami orang orang Biauw tidak punya she dan cuma punya

nama kepanjangan belaka, aku bernama Watinah dan bukan

berarti boneka, ayahku bernama Walian dan kalau mengikuti

cara Koan lang maka ia jadi bernama Wawalian,

kedengarannya jadi mirip ucapan bahasa Han kalian yang

berarti simuka Bocah, Ooooo . . . . sungguh berarti sekali !”.

Merah jengah sianak muda itu, buru-buru serunya

tergagap:

“Aaaah . . . maaf , . . maaf . . . aku jadi tak enak hati.”.

“Tidak mengapa ! adat istiadat masing-masing daerah

memang berbeda, tentu saja kami tak bisa salahkan diri Koanlang

!”

Dalam pada itu dua tiga orang gadis telah muncul dari

belakang ruangan sambil hidangkan sayur dan arak, bau

harum segera tersebar memenuhi seluruh ruangan.

“Malam ini kami siapkan sayur terburu-buru sehingga tak

dapat baik-baik melayani kalian berdua.” kata Watinah dengan

nada menyesal, “Biarlah besok saja kami siapkan sayur yang

lebih baik, tanggung kalian berdua tentu akan puas !”.

“Nona, kau tak usah repot-repot, besok pagi kami akan

berangkat untuk melanjutkan perjalanan kembali !”

“Aaaah, mana boleh begitu ?” Seru Watinah kurang

senang, “Kalian jauh jauh datang kemari, mana boleh

berangkat sebelum hadiri pesta Bulan Purnama ? bukankah

artinya kalian tak pandang sebelah mata terhadap kami ? tak

boleh, bagaimanapun juga kalau mau berangkat harus tunggu

sampai besok lusa !”

Sementara Liem Kian Hoo hendak menampik, sambil

tertawa Loo Sian Khek telah berkata:

“Aku dengar pesta Bulan Purnama adalah suatu pesta besar

yang dilakukan setahun sekali diwilayah Biauw, sungguh tak

nyana kami bisa mendapat kesempatan sebaik ini, kalau tidak

hadir sungguh sayang sekali, Loote ! bagaimana kalau kita

berdiam diri sehari disini ?”.

Liem Kian Hoo tahu kembali dia ciptakan kesempatan bagi

Ceng Tiong Su Hauw untuk loloskan diri, ia tersenyum dan

membungkam. Watinah mengira ia sudah setuju untuk tetap

tinggal disana, ia jadi kegirangan setengah mati.

“Dengan ikut sertanya Koan-lang dalam pesta Bulan

Purnama besok malam, suasana tentu akan semakin meriah,

terutama sekali kami bisa undang tamu macam Koan-lang,

benar-benar merupakan suatu penghormatan buat kami !”

Gadis-gadis lainnya pun ikut utarakan rasa gembira

mereka, sinar matapun sama dialihkan kearah Liem Kian Hoo

membuat sianak muda itu jadi jengah dan tersipu-sipu.

“Sebenarnya macam apa sih pesta Bulan Purnama itu ?”

akhirnya ia bertanya dengan nada rikuh.

“Besok adalah hari Tiong-chiu juga merupakan pesta

sembahyangan orang Biauw terhadap dewa rembulan, waktu

itu lari dan nyanyi akan menghiasi suasana, tanggung Loote

akan gembira dan tambah pengalaman !”.

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, tiba-tiba tanyanya:

“Kita sama-sama merupakan tamu, mengapa mereka

teristimewa menahan diriku ?”. Loo Sian Khek mendongak

tertawa terbahak-bahak kembali sahutnya:

“Loo-te masih muda lagipula ganteng, tentu saja disenangi

oleh siapapun, berbeda dengan Ih-heng yang sudah tua lagi

jelek, pelayanan baik yang kami terima malam inipun sebagian

besar karena ikut mendapat sinar Loo-te !”.

Liem Kian Hoo merasa kurang senang dengan ucapan itu,

belum sempat ia bicara, Watinah telah berkata kembali,

agaknya ia malah merasa gembira dengan ucapan itu:

“Loo-heng, ucapanmu terlalu sungkan, kami orang Biauw

paling kagum dengan laki laki sejati. Terutama sekali terhadap

lelaki kekar macam anda, tentu mendapat penyambutan yang

hebat, aku tanggung besok malam kau tidak akan kesepian !”.

“Haaaa . . . haaaaa . . . . haaaa . . . sepanjang hidup belum

pernah aku terima pelayanan seindah ini, sungguh tak nyana

nona begitu memuji diriku, mari kuhormati nona dengan

secawan arak !”.

Seraya berkata ia angkat cawanliesen dan diangsurkan

dihadapannya Watinah, dengan cepat Watinah sambar cawan

arak Liem Kian Hoo dan diangkat pula ketengah udara. Loo

Sian Khek segera teguk habis isi cawan tersebut, kemudian

dua jari tangannya ditutupkan keatas cawan, ujarnya sambil

tersenyum:

“Aku telah menyampaikan maksud hatiku, terserah

bagaimana sikap nona sendiri !”.

Watinah tertegun, sinar matanya dialihkan kearah Liem

Kian Hoo, biji matanya berkilat tajam, lama sekali ia baru

menjawab:

“Terima kasih, aku tidak akan melupakkan budi anda ! “.

Habis berkata ia tempelkan cawan itu kesisi bibir lantas

menegukkan hingga separuh, setelah itu di-serahkannya pula

kehadapan Kian Hoo, tangannya kelihatan gemetar, dengan

suara lembut katanya: “Koan-lang ! aku hormati separuh

cawan arak untukmu !”

Terhadap tindakan gadis tersebut, Liem Kian Hoo merasa

melengak dan diluar dugaan, menjumpai pula arak yang

sebenarnya berwarna semu hijau kini sudah berubah jadi

merah kena gincu di-atas bibirnya, ia semakin tertegun,

beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah

katapun. Melihat pemuda itu tidak menerima angsuran

cawannya, air muka Watinah berubah hebat.

“Apakah Koan-lang tak mau menerima penghormatanku ?”

tanyanya dengan suara sedih.

“Nona, adat istiadat kita berbeda, seumpama aku berbuat

demikian aku takut hal ini malah kurang sopan terhadap diri

nona !”

Air muka Watinah berubah makin mengenaskan air mata

jatuh bercucuran membasahi wajah-nya, sementara gadisgadis

lain yang berada di-sekeliling tempat itupun berubah

amat serius, sinar mata semua orang sama sama ditujukan

kearah sianak muda itu, Liem Kian Hoo tercengang, ia segera

berseru:

“Loo-heng, sebenarnya apa yang telah terjadi ?”.

“Watinah menghormati dirimu dengan tata cara suku Biauw

yang paling tinggi, seumpama loote tidak menerima maka hal

ini dianggap sebagai suatu penghinaan serta suatu peristiwa

yang sangat memalukan, untuk menebus semuanya itu maka

hanya satu jalan saja baginya yaitu kematian “.

“Aaaah . . . . bagaimana bolehbdab jadi ? . . .” Teriak Kian

Hoo terperanjat.

“Orang Biauw menganggap bibir seorang gadis perawan

merupakan lambang kesucian seseorang, maka dari itu sisa

arak yang diangsurkan kepadamu menunjukkan pula suatu

penghormatan yang sangat tinggi.” Loo Sian Khek

menerangkan lebih lanjut.

Meskipun Kian Hoo tidak percaya, tapi menyaksikan sikap

Watinah serta gadis gadis lain, ia tahu apa yang dihadapi

sekarang bukan gurauan belaka, dengan hati apa boleh buat

terpaksa diterimanya juga cawan arak itu dan meneguk habis

isinya.

Tempik sorak bergema memenuhi angkasa, dengan

perasaan amat berterima kasih Watinah mengecup telapak

tangan sianak muda itu, kemudian bisiknya lirih dengan air

mata jatuh bercucuran:

“Terima kasih Koan-lang ! sepanjang hidup aku akan

berterima kasih kepadamu !”.

Liem Kian Hoo tergagap dan tak mengerti apa yang harus

dibuat, separuh cawan arak yang telah masuk kedalam

perutnya terasa panas merangsang namun wangi dan harum

semerbak . . Gerak gerik Watinah ketika itu berubah jauh lebih

lembut dan hangat, ujarnya kembali:

“Koan-lang, kau datang dari tempat kejauhan, kurangilah

minum arak, dibelakang sana ada pembaringan, setelah

bersantap pergilah beristirahat dan simpanlah tenagamu, agar

besok kita bisa bergembira sepuas-puasnya !”.

Liem Kian Hoo memang merasa rada lelah, namun sambil

teriawa ujarnya pula:

“Setelah kita tempati pembaringanmu bagaimana dengan

kalian sendiri ?”.

“Kami tidak tidur. kami harus kerja lembur semalam suntuk

!”.

” Nona, rajin benar kalian !”.

Watinah tersenyum, “Puluhan hari hujan melulu membuat

kami mengira pesta Bulan Purnama yang akan diadakan besok

tidak jadi diselenggarakan ! maka siapapun tidak bersiap

sedia, siapa tahu ketika senja menjelang tiba tadi hujan tibatiba

berhenti, terpaksa semua orang harus kerja lembur untuk

siapkan pakaian baru, bukan kami saja yang berbuat

demikian, seluruh nona yang ada didalam dusun ini sama

sama repot semua ! inilah rejeki yang dibawa oleh Koan-lang .

. . !”.

Sekarang Kian Hoo baru tahu mengapa mereka kerja

lembur sampai jauh malam, kiranya mereka sedang

persiapkan pakaian baru untuk menghadiri pesta besok

malam, iapun tersenyum.

“Mengapa tidak kalian siapkan rtqrsejak dulu dulu,

bukankah sama saja artinya ?”.

Para gadis tertawa cekikikan, Kian Hoo lantas tahu tentu

dia sudah salah berbicara hatinya menyesal sekali.

“Koan-lang kau tidak paham dengan adat istiadat kami.”

Watinah menjelaskan “Satu stel pakaian baru mempunyai

sangkut paut yang amat besar terhadap kami, pakaian

tersebut harus dibuat apabila sudah yakin pas dengan

potongan badan sendiri, seumpama pakaian itu sudah dibuat

tapi tidak dipakai maka kejadian ini akan mendatangkan

ketidak beruntungan sepanjang hidup, maka dari itu sampai

menjelang saatnya, baju itu baru mulai dibuat Semoga Thian

melindungi kami dan memberi malam yang cerah pada esok

hari ! “.

“Nona, kau boleh berlega hali, besok malam bulan tentu

muncul dengan cerahnya.” Hibur Kian Hoo “Setiap hari Tiongehiu,

bulan purnama akan menyinari seluruh jagad, aku ikut

hadir dalam pesta tersebut dan menikmati tari nyanyi kalian,

kejadian ini boleh dikata suatu pengalaman yang paling

menggembirakan bagiku”.

Loo Sian Khek tertawa terbahak-bahak.

“Tepat, teringat nyanyian para pelacur dikota Yang-Chiu”

sering mereka nyanyikan bait syair Yong Tiaw Ko dari Siok

Thay sipujangga dari ahala Song, isinyapun menyangkut soal

rembulan, sayang lh-heng tak ngerti tulisan, jangan dikata bait

syairnya meski irama lagunya pun lupa, Loo-te, sebagai

seorang siucay kenamaan diwilayah Kanglam kau tentu tahu

bukan !”.

“Sungguh ?” Teriak Watinah dengan girang-nya, “Koan

lang, bagaimana kalau kau bernyanyi untuk kami ? “.

Gadis-gadis lainpun mendesak pula, dalam keadaan apa

boleh buat terpaksa Kian Hoo tarik suara dan bersenandung.

Ditengah alunan suara yang berat dan mempesonakan hati

itulah Kian Hoo mengakhiri senandung-nya, suasana dalam

ruangan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, para

gadis yang hadir dalam ruangan sudah dibikin terpesona oleh

kemerduan suara anak muda itu.

Dalam pada itu setelah bernyanyi Liem Kian Hoo merasa

amat lelah, tanpa terasa ia tertidur diatas meja, lama . . . lama

sekali . . . akhirnya Watinah disadarkan kembali dari

lamunannya oleh dengkuran yang keras. Air mata jatuh

berlinang membasahi seluruh wajahnya, dengan pandangan

mesra ia tatap wajah sianak muda itu. tanpa terasa ia

membelai rambutnya seraya berguman:

“Semoga diberkahi umur panjang, hidup sentausa hingga

akhir jaman. Sungguh indah irama lagu ini . . . . Koan-lang

kau sudah mabok ! juga lelah ! akan kubimbing kau masuk

kamar dan beristirahat !”.

Demikianlah dibawah bimbingan Watinah, si anak muda itu

dipayang masuk keruang belakang untuk beristirahat. Loo Sian

Khek menghela napas panjang rasa menyesal terlintas diatas

wajahnya, Ketika Watinah muncul untuk kedua kalinya ia

lantas maju menjura sambil tertawa.

“Nona, kiong-hie, kiong-hie kau telah mendapat calon

suami yang ganteng dan hebat !”. Watinah menghela napas

sedih.

“Tuan Loo ! apakah kau sudah punya bini ? ia bertanya.

“Belum ada, aku hanya berharap kau bisa rayu dirinya

dengan segala kelembutan serta kemesrahan hingga

sepanjang masa tidak meninggalkan dirimu kembali! aku bisa

serahkan dia kepada nona secantik dirimu, hatikupun bisa

lega!”

“Aku tak berani berpikir demikian ! ” Watinah geleng kepala

sambil menghela napas panjang. “Walaupun aku sudah jatuh

hati pada pandangan pertama, namun aku tak tahu

bagaimana sikapnya terhadap diriku, mungkin ia tidak

pandang sebelah matapun terhadap aku seorang gadis Biauw

dan tak berpendidikan . .”

“Inilah sebabnya aku lantas memberi kisikan agar kau

lepaskan racun kejimu ke dalam tubuhnya” Kata Loo Sian

Khek tersenyum. “Aku tahu gadis-gadis suku Biauw paling

lihay didalam menguasahi kekasihnya, sekalipun jauh ribuan li

dari hadapan, kau bisa memanggil dia kembali kesisimu cukup

dengan menggerakkan racun keji yang ada didalam tubuhnya

kalau aku bukan temukan tanda khusus di depan pintu

rumahmu, aku sama sekali tidak menyangka kalau kau adalah

Ku Sin Li atau si dewi racun yang amat tersohor di seluruh

wilayah Biauw. Racun apa yang

Telah kau lumerkan dalam air liurmu tadi ?”

“Racun Thian-Hiang-Si ?” seru liesenLoo Sian Khek

terperanjat.

Dengan wajah sedih Watinah mengangguk.

“Tidak salah, sejak hari ini jiwa kita telah terikat jadi satu,

aku rela mengikuti dirinya, bagaimana dengan dirinya…”

Malam Tiong-Chiu, Rembulan bersinar dengan cerahnya

menyingkap kegelapan yang meliputi seluruh jagad, bintang

bertaburan memenuhi angkasa, sinar keperak-perakkan yang

indah menyorot keseluruh pelosok.

Ditengah sebuah lapangan yang luas, api unggun berkobar

dengan besarnya, laki perempuan suku Biauw dengan pakaian

beraneka ragam menyanyi, menari dengan gembiranya.

Dentungan tambur yang memperdengarkan irama jaman

purba mengiringi tarian serta nyanyian muda mudi itu, mereka

nyanyi bersarna, menari bersama dan gembira ria bersamasama.

Kesemuanya ini menimbulkan kesan yang dalam bagi Liem

Kian Hoo, dengan hati terpesona ia menikmati kesemuanya

itu, seandainya ia tidak takut melanggar adat, ingin sekali

sianak muda itu ikut terjunkan diri dan menari, menyanyi

bersama sama muda mudi itu.

Sepanjang hari Watinah duduk disisinya dengan penuh

kemesraan, disisi lain Loo Sian Khek duduk sambil meneguk

arak sekuat mungkin, agaknya ia hendak meminjam pengaruh

arak untuk lenyapkan kemurungan serta kesalahan dalam

hatinya.

Diantara muda mudi yang sedang bergembira di- tengah

kalangan, Liem Kian Hoo kenali beberapa orang diantaranya,

mereka adalah saudara-saudara misan Watinah yang

dijumpainya kemarin malam.

Tiba-tiba timbul rasa heran dalam hatinya, sianak muda itu

segera bertanya:

“Nona, mengapa kau tidak turut serta dalam pesta pora ini

? “.

Dengan lembut Watinah menggeleng, ia tidak menjawab.

Kebetulan seorang nona cilik berusia tiga belas tahunan berdiri

disisi mereka, bocah itu segera menjawab:

“Watinah adalah kepala suku kami, tentu saja tidak

sembarangan ia boleh ikut serta dalam pesta ini ! “.

” Oooooouw ! kiranya begitu, tidak aneh kalau semua

orang bersikap hormat kepadamu, ternyata kau punya

kedudukan yang begitu tinggi mengapa tidak kau katakan

sejak semula ?”.

“Seorang suku liar mana bisa dbdabibandingkan dengan

keluarga Bangsawan dari Koan-lang ? daripada merasa malu,

kan lebih baik jangan dikatakan bukankah begitu ?”.

“Nona, salah kalau kau punya pikiran demikian, walaupun

lingkungan pengaruhmu tidak luas, bagaimanapun juga kau

adalah pemimpin dari sekelompok umat manusia, kalau

dibandingkan dengan diriku, Waaaah, . . aku masih bukan

apa-apamu…”

“Aku dengar tuan Loo mengatakan bahwa ayah Koan-Lang

adalah seorang pembesar Kerajaan kelas satu !”.

“Oooouw. . . itu urusan ayahku pribadi, kan pangkatnya

tidak mungkin diserahkan kepada diriku, seumpama aku ingin

naik pangkat seperti halnya orang lain, akupun harus belajar,

ujian dan menempuh perjuangan setingkat demi setingkat !”

Berdasarkan kecerdikan Koan-lang ditambah hubungan

ayahmu dengan atasan, aku rasa tidak sulit bagimu untuk

menduduki pangkat tinggi.

“Nona, kau terlalu memuji. Watakku malas lagipula

meskipun sudah jadi pembesar pengaruhpun dibatasi oleh

undang-undang, tidak seperti halnya nona, pengaruhmu besar

dan wibawamu luar biasa.”

“Koan-Iang, kalau kau suka dengan jabatan ini, kedudukan

kepala suku ini sekarang juga kuserahkan kepadamu !”.

“Nona, kau bukan lagi bergurau ? ” Seru Kian Hoo

melengak.

“Aku tidak bergurau, asal Koan-lang suka maka anak

buahku yang ada disekitar delapan ratus li dari sini serta lima

ribu orang pendudukku akan tunduk dan taat pada perintah

Koan-lang! ” Dari nada ucapan yang tegas sianak muda itu

sadar bahwa gadis itu tidak begurau, ia segera berkata pula

dengan nada serius:

“Nona, harap kau jangan bergurau, pangkat kepala suku ini

adalah jabatan turun temurun, mana boleh kau serahkan

kepadaku begitu saja ? lagipula aku berjiwa pesiar, aku

bercita-cita untuk mengunjungi semua tempat dikolong langit

yang berpemandangan indah, maksud baik nona terpaksa aku

terima dihati saja !”

“Aaaaai . . . ! akupun tahu kedudukan yang tak berarti

semacam ini tak akan dipandang sebelah matapun oleh Koanlang,

kegagahan serta jiwa Koan-lang membuat aku merasa

kagum, seandainya aku bisa lepaskan krtqredudukanku

sebagai kepala suku, aku pasti mendampingi Koan-lang untuk

berpesiar kescluruh kolong langit.”

“Harap nona jangan berkata demikian.” buru-buru Liem

Kian Hoo menukas, ” Kau pikul tugas yang sangat berat,

kebahagiaan sukupun tergantung kepada kebijaksanaan nona,

mana boleh kau tiru caraku yang tiada berarti ini ?”.

Dengan amat sedih Watinah menghela napas panjang, titik

air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya. Liem Kian Hoo

sendiripun diam-diam menyesal ia terlalu banyak bicara

hingga mendatangkan kerepotan pada diri sendiri, mulutnya

lantas membungkam dalam seribu bahasa.

-oo0dw0oo-

Jilid 3

DALAM pada itu rembulan telah condong ke Barat, Loo Sian

Khek telah dibikin setengah mabok oleh air kata-kata,

wajahnya merah padam seperti terbakar namun ia tidak

berhenti minum, seteguk demi seteguk arak mengalir masuk

kedalam perutnya. Dengan perasaan heran Liem Kian Hoo

mengerling sekejap kearah rekannya, ia tercengang oleh sikap

orang she Loo itu.

“Loo heng, sudahlah jangan minum lagi segera cegahnya,

“Besok pagi kita harus melanjutkan perjalanan lagi”.

Loo Sian Khek gelengkan kepalanya berulang kali,

“ini hari ada arak, ini hari harus mabok, kejadian diesok

hari tak dapat diduga . . . . “.

Melihat tingkah lakunya yang disengaja, Liem Kian Hoo

rada naik pitam, segera tegurnya:

“Loo heng, kau tak usah berpura pura lagi sinting lagi, aku

tahu, kau berbuat demikian karena sengaja hendak menunda

perjalananku agar empat saudara keluarga Liok bisa bikin

persiapan Hmm ! bicara terus terang saja, aku tidak perduli

akan kesemuanya ini, asal niatku untuk mencari mereka masih

terkandung dibadan, Tidak takut mereka akan lari keujung

langit atau menerobos kedalam tanah, kalau besok kau masih

mabuk, maka aku akan berangkat seorang diri !”.

“Koan-lang ! aku telah mencelakai dirimu, aku pasti akan

menuntut balas bagimu, aku hendak menghancur lumatkan

tubuhnya didepan kuburanmu, kemudian menggunakau

darahnya untuk menyirami kuburanmu.”

Kutukan ini merupakan kutukan terkeji dari suku Biauw,

mendengar perkataan itu Luga tercengang, perasaan tidak

habis mengerti berkelebat di atas wajahnya.

“Watinah ! ” ia berseru dengan nada tergagap. “Kau baru

berkenalan selama sehari dengan keparat cilik itu, kenapa kau

begitu membenci diriku ? apakah kau sudah lupa terhadap

hubungan kita selama puluhan tahun.”.

“Benar, aku membenci dirimu, rasa benciku telah merasuk

ketulang sumsum !” maki Watinah bagaikan seekor binatang

edan. “Kau adalah iblis paling keji diatas kolong langit dewasa

ini, baru satu hari kau telah menghancurkan seluruh

penghidupanku! tiap kali teringat peristiwa ini meski dalam

impianpun akan kukejar sukmamu, atau kugigit dirimu, kau

dapat membinasakan dirinya namun tak akan berhasil

membunuh diriku, sekarang aku tidak akan mencari kau.

tunggu saja setelah jenasahnya dikuburkan, aku akan berdoa

dalam kuil Ban-Ku Toa-Sin-Bio, di sana akan ku-mohonkan

bencana bagimu, agar sepanjang hidupmu selalu menderita

bagaikan digerumuti oleh berjuta-juta racun keji, agar

sukmamu sepanjang masa tak bisa kembali kealam baka,

selalu menderita dan gentayangan !”.

Air muka Luga berubah hebat, seakan-akan kutukan

Watinah telah menghantam titik kelemahannya, keringat

dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Watinah putar badan, sinar matanya berubah kembali jadi

lembut dan halus seraya membelai kening Liem Kian Hoo yang

masih berdiri termangu-mangu, bisiknya lirih:

“Koan-lang, maafkanlah diriku, aku telah mengundang

bencana bagimu, dan maafkan pula aku tak bisa mengiringi

kematianmu saat ini juga, sebab aku adalah istrimu maka aku

harus menuntut balas lebih dahulu bagimu, setelah aku

berhasil menghirup darah segar musuh besar kita, mengunyah

daging musuh kita, aku pasti akan menyusul dirimu kealam

baka !”.

“Watinah, apa yang sedang kau katakan ?” seru Liem Kian

Hoo kebingungan. “Bukankah aku masih segar bugar dan

belum mati ? kenapa kau hendak balaskan demdam bagiku ?

coba lihat keadaanmu pada saat ini, sampai akupun dibikin

kebingungan dan tidak habis mengerti !”

Watinah tertegun, ia mundur kebelakang dan menatap

wajah sianak muda itu dengan mata terbelalak, perasaan tidak

percaya mulai terlintas pada mimik wajahnya, setelah tertegun

beberapa saat ia bertanya:

“Koan-lang, apakah kau sama sekali tidak merasakan

penderitaan ?”.

“Penderitaan ?” Liem Kian Hoo segera menggeleng.

Sikap sianak muda itu tentu saja membuat Luga

tercengang, ia tatap musuhnya dengan sinar mata kurang

percaya.

“Koan-lang, coba aturlah pernapasan.!” kembali Watinah

berseru, wajahnya mulai diliputi pengharapan.

Liem Kian Hoo sama sekali tidak merasakan sesuatu yang

aneh, bagaikan anak kecil yang diperintah oleh ibunya ia

memandang sekejap sekeliling kalangan, ditemuinya setiap

orang sedang memandang kearahnya dengan mata terbelalak

dan wajah tegang, ia tahu peristiwa yang dialaminya pasti luar

biasa sekali, maka buru-buru ia tarik napas salurkan hawa

murninya mengelilingi dua belas Tiong-Loo dan akhirnya

perlahan-lahan dihembuskan keluar, walaupun ditengah

malam buta namun dibawah sorotan sinar rembulan serta

cahaya api, tampaklah diantara hembusan napasnya disertai

bubuk warna merah darah.

Watinah serta Luga yang ikut menyasikan warna merah

tadi segera menunjukkan reaksi yang berbeda, gadis suku

Biauw itu segera meloncat kegirangan dan berteriak:

“Aaaaah… Thian-Hiang-Si ! kenapa aku sudah melupakan

racun tersebut? dengan andalkan benda itu, tiada racun keji

lainnya yang bisa mencelakai dirimu lagi. Koan-lang, aku

benar-benar merasa kegirangan !”.

Sedangkan Luga berdiri termangu-mangu setengah harian

lamanya, kemudian sambil tertawa dingin serunya :

Aku rasa keparat cilik ini benar-benar memiliki kepandaian

yang luar biasa, ternyata kesemua ini adalah hasil permainan

bagusmu, Hmmm kalian tunggu saja saatnya, aku memang

tak dapat mengapa apakan Thian-Hiang-Si namun ada orang

yang bisa mengatasi racun itu. Tunggu saja tanggal mainnya,

akan kusuruh kalian merasakan penderitaan yang terhebat,

mungkin penderitaan itu amat mengerikan jauh diluar dugaan

kalian berdua “.

Sehabis mengancam ia jejakkan kakinya ke-atas tanah lalu

seperti halnya sewaktu tiba ditempat itu tadi, dengan enteng

dan cepat ia melayang pergi dan lenyap ditengah kegelapan.

Air muka Watinah berubah hebat, ia enjotkan badan siap

melakukan pengejaran. Liem Kian Hoo segera menarik lengan

gadis itu, dalam sentakan inilah ia temukan bahwa

kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Watinah ternyata

jauh diluar dugaan, setelah ikut berlompatan sejauh puluhan

langkah ia baru berhasil menghalangi jalan perginya.

“Penjahat rudin tak perlu dikejar, biarkanlah ia berlalu dari

sini !” serunya. Watinah berhenti, air mata jatuh berlinang

membasahi pipinya, sambil memeluk tubuh sianak muda itu ia

berbisik:

“Koan-lang, kali ini aku benar-benar telah mencelakai

dirimu, aku telah membawa penderitaan bagimu !”.

“Eeeeei… Watinah, kenapa kau ucapkan lagi kata-kata

semacam itu…?”.

Watinah menghela napas sedih dan bungkam dalam seribu

bahasa. Menyaksikan gadis itu membungkam Liem Kian Koo

mendesak lebih lanjut.

Lama sekali akhirnya Watinah baru berkata dengan nada

sesenggukan:

“Dibicarakan pada saat inipun percuma, menanti pesta

Bulan purnama ini selesai diseIenggarakan akan kuceritakan

kembali kepadamu ! semoga saja suhu dapat berbelas kasihan

dan mengampuni kita berdua.”

Liem Kian Hoo tercengang, ia tidak habis mengerti apa

yang sedang dimaksudkan gadis suku Biauw ini, namun iapun

membungkam dalam seribu bahasa…. suasana jadi sunyi…

hening tak kedengaran sedikit suarapun, pesta bulan purnama

telah dikacaukan oleh kehadiran Luga, kegembiraan rakyat

suku Biauwpun banyak berkurang, meski pesta dilanjutkan

namun tidak semeriah dan seramai tadi lagi.

-ooo0ooo-

Ditengah sebuah pegunungan yang tinggi terbentang hutan

belukar yang luas dan tebal, pohon tumbuh tinggi menjulang

keangkasa membuat suasana sekeliling tempat itu jadi lembab

dan selalu basah.

Disuatu tempat yang meliputi daerah cukup luas, tampak

suatu pemandangan yang sangat aneh, dari atas permukaan

tanah memancar keluar lima buah warna yang tajam dan

sangat menyilaukan mata, inilah pusat kabut beracun yang

paling ditakuti oleh setiap umat manusia.

Baru pertama kali ini Liem Kian Hoo menikmati

pemandangan seaneh itu, tanpa terasa ia sudah menghela

napas sambil berseru memuji:

“Sungguh tak nyana kabut beracun bisa memancarkan

cahaya begini indah dan menawan, semakin tak disangka

kalau tempat yang terkutuk dan mengerikan bagi sementara

orang sebenarnya adalah suatu tempat yang sangat indah

bagaikan nirwana. Cukat-Liang pernah berkata: Bulan Lima

menyeberangi sungai, ada jalan masuk tak ada jalan keluar,

sungguh suatu ucapan yang tak masuk diakal !”.

“Loote, tidak usah kau bandingkan ucapan orang kuno.”

Sela Loo Sian Khek dari samping.

“Dipandang sepintas lalu, tempat ini memang indah

bagaikan nirwana, tapi dalam kenyataan tidak lebih

merupakan neraka bagi umat manusia, seandainya kau

berhasil menyingkap kabut tebal yang menyelimuti tempat itu,

maka kau bakal tahu beberapa banyak tulang tulang putih

yang berserakan disitu !”.

“Aaaaah ! meski demikian, benda-benda jelek itu tidak

sampai mempengaruhi keindahan alam sekelilingnya. Thian

telah menakdirkan ada hidup dan mati. seandainya ” Dia “

mengijinkan aku untuk memilih tempat kematianku, maka aku

rela tulang belulangku terkubur dibalik keindahan alam

tersebut !”.

“Koan-Iang, mengapa kau selalu membicarakan soal

kematian ?” Sela Watinah dengan alis berkerut “situasi yang

kita hadapi dewasa ini amat berbahaya, mati hidup sukar

diduga Koan-lang, mengapa kau ucapkan kata kata yang tidak

baik ?”.

“Haaaa…. haaaa… haaaa…. mati hidup sudah ditentukan

takdir, bencana atau rejeki tak dapat diubah dengan apapun

juga, apakah kau kira asal kita ucapkan beberapa patah kata

yang baik lantas bencana bisa hilang dengan sendirinya?

sekalipun membicarakan soal mati, belum tentu kita benarbenar

bisa mati !”.

Watinah menghela napas panjang, titik air mata jatuh

berlinang, dengan sedih bisiknya:

“Aku tidak berani berpikir seperti Koan-lang, sebab bencana

ini akulah yang berikan kepadamu, sungguh tak nyana karena

rasa cintaku kepadamu malahan telah mendatangkan bencana

yang tak terhingga bagimu !”.

“Nah… nah… kembali kau ucapkan kata-kata yang tidak

genah, karena rasa cintamu kepadaku, kau sudah lepaskan

racun Thian-Hiang Ku kedalam tubuhku, walaupun benda tadi

berhasil selamatkan jiwaku, aku masih tetap tidak percaya

bisa mengakibatkan selihay itu, terhadap racun keji tersebut

aku sudah menaruh curiga, aku dengar kalian gadis-gadis

suku Biauw tiap2 siang hari Toan-yang selalu mengumpulkan

lima jenis racun dan binatang binatang beracun tersebut

kalian adu sehingga akhirnya yang paling menang kalian

gunakan untuk membuat racun keji guna mempengaruhi

kaum pria”.

“Racun keji yang kau maksudkan adalah racun tingkat

bawahan, tentu saja tidak begitu menakutkan, lain halnya

dengan racun keji yang diciptakan oleh suhuku Ku Sin-Poo,

benda itu berbentuk suatu zat tak berwujud yang bisa

diperintah dan digerakkan oleh batin, mencabut jiwa manusia

pada jarak sepuluh li dari siempunya racun tersebut bukan

suatu perbuatan yang terlalu sulit. Dan kini aku telah

melanggar perintah beliau dengan melepaskan racun Thian-

Hiang-Si kedalam tubuhmu.”

“Aku masih belum paham. sebenarnya Thian Hiang-Si itu

benda apa sih…?” Tegas Liem Kian Hoo cepat.

Watinah merandek sejenak, lalu dengan nada sedih

jawabnya:

“Tiada halangan begiku untuk beritahukan hal ini

kepadamu, Thian Hiang-Si adalah sejenis semut terbang yang

khusus dihasilkan dalam wilayah Biauw kami, warnanya merah

dan baunya sangat harum. Dikarenakan aku menggunakan

ratu semut sebagai induk Racun kejiku maka setiap hari

dengan telaten kupelihara binatang tersebut.

Sepuluh tahun lamanya aku rawaliesent dan pelihara

sehingga terciptalah racun keji yang mempengaruhi jiwaku,

Benda ini baru boleh digunakan bilamana keadaan sangat

terdesak, bahkan setiap kali digunakan racun tersebut baru

bisa kutarik kembali bilamana korban telah mati dan perduli

pihak lawan bagaimana lihaypun pasti akan menemui ajalnya

bila termakan oleh racun tersebut. Sewaktu aku berlatih racun

keji itu, aku pernah bersumpah berat, racun ada manusia

tetap hidup, racun lenyap manusia mati.”

“Haaaa… haaaa… haaaa… kenapa sih perkataanmu makin

lama makin melantur ? teringat sewaktu kau lepaskan racun

didalam arakku, apakah dalam menghadapi musuh kau tak

dapat menggunakan cara tersebut ? lagipula kau sudah

tanamkan racun keji itu kedalam tubuhku, mengapa kau

sendiri tidak mati ?”.

“Aaaaai ! Koan-lang, kau adalah orang luar, tidak aneh

kalau tak paham dengan keistimewaan ilmu tersebut. Ketika

aku tanamkan racun itu kedalam tubuh Koan-lang, hatiku

sama sekaIi tidak mengandung rasa permusuhan, maka aku

gunakan cara pelepasan secara damai, kalau tidak asal aku

ayunkan tanganku riiscaya dewa racun akan melukai musuh

tanpa berwujud dan tanpa bau, gerakan racun-racun itu

sesuai dengan perintah isi hatiku, sedangkan mengenai

persoalan mengapa aku tidak mati. hal ini lebih mustajab lagi,

aku cuma membagikan separuh bagian racun tersebut

kedalam tubuh Koan-lang, sedang aku sendiri masih ada

separuh tentu saja hal ini tidak mempengarui diriku,

dikemudian hari apabila Koan-lang tidak berada disisiku dan

mungkin kau berada ribuan li jauhnya dari tempatku berada,

setiap kali hatiku rindu, aku dapat gerakkan racun tersebut

disebut racun keji pribadi “.

“Seandainya aku tidak mau kembali ?”.

Air muka Watinah berubah hebat. “Waktu itu racun keji

tersebut akan memberikan reaksinya dan tidak mau turut

perintah lagi maka kita berdua akan sama2 menemui

ajalnya!”.

Liem Kian Hoo jadi amat terperanjat, sedikit banyak ia

mulai mempercayai ucapan gadis tersebut. Terdengar Watinah

berkata kembali wajah serius:

“Kami suheng-moay berlima masing-masing orang

mempunyai racun pribadi yang berbeda dengan racun Thian-

Hiang-Si ku paling lihay, maka selama ini Luga menaruh

perasaan jeri terhadap diriku, dan disebabkan alasan ini pula

mengapa Koan-lang tidak takut dengan racun keji

kalajengking hijau pada ubdabjung anak panahnya, tetapi

seandainya racun Thian-Hiang-Si ku dibandingkan dengan

racun Ching-Ku dari suhuku, maka punyaku masih selisih amat

banyak.”

“Aku tidak sangsi apabila ilmu silat guruku sangat lihay,

tetapi mengenai kemanjuran racun keji ini, aku masih kurang

begitu percaya, seandainya dikolong langit benar terdapat

kejadian ini, bukankah segala macam ilmu silat hanya sia-sia

belaka untuk dipelajari ? aku sama sekali tidak percaya

dengan segala macam cerita dongeng tersebut.”

“Koan-lang, kau benar-benar tak mau tahu, hanya

membaca buku melulu lebih baik daripada tanpa membaca

buku, bukankah Khong Hu-Cupun memahami segala persoalan

? seandainya ia dilahirkan beberapa ribu tahun lebih lambat,

niscaya akan kusuruh beliau merasakan kelihayan dari ilmu

racun kejiku !”.

“Sudahlah, kau jangan terlalu menghina Khong Hu-Cu,

beliau bisa disebut seorang Nabi tentu saja ucapannya tidak

bakal salah, kalau kau ingin buktikan kelihayanmu cobakan

saja pada diriku, gerakan Thian-Hiang-Si mu ! dan akan

kusaksikan apakah aku benar-benar merasakan reaksinya !”.

“Tidak bisa jadi, permainan ini bukan permainan kanakkanak.”

kata Watinah seraya menggeleng. “Dan sekarang

akupun cuma memiliki separuh bagian belaka, seandainya aku

gagal menguasai mereka, bukankah kita bakal menemui

ajalnya ?”.

“Bagaimanapun akhirnya tidak lolos dari kematian, apa

yang perlu kita takuti ? daripada mati ditangan gurumu, kan

lebih enak mati bunuh diri ? terkubur ditempat yang begini

indah, sungguh nyaman dan menawan hati…”

Belum habis ia bicara, mendadak dari dalam hutan

berkumandang suara serak seseorang:

“Keparat cilik, kau punya semangat ! sungguh tak nyana

dari angkatan mudapun masih ada orang yang tidak pandang

sebelah matapun terhadap Toan Kiem Hoa, sungguh jarang

kutemui manusia bernyali macam kau !”.

Suara itu nyaring bagaikan genta, menggetarkan hati

semua orang sehingga berdebar keras. Selesai bicara orang

yang berada didalam hutan merasa amat terperanjat dan

saling bertukar pandangan. Terutama sekali Watinah, ia

menguasai keadaan disekitar daerah Biauw, terhadap kabut

berwarna yang menyelimutrtqri hutan itupun menguasai

sepenuhnya, ia heran seseorang hidup ditengah kabut

beracun ternyata tidak mati bahkan bisa berbicara seenaknya.

Sungguh suatu peristiwa aneh yang tak pernah dijumpai

dalam kolong langit…

Belum habis rasa rasa heran mereka, dari dalam hutan

kembali berkumandang suara seseorang lagi “Eeeei… tua

bangka, kau jangan keburu berbangga hati, bocah perempuan

yang ada disamping pemuda itu adalah anak murid dari Ku

Sin-Poo! ditinjau dari keadaan mereka yang begitu mesra,

permainan sie-poa mu belum tentu terlalu tepat !”.

Suara orang ini agak lebih lembut dan halus, agaknya

berasal dari seorang gadis.

“Tepat atau tidak itu termasuk urusan lain, pokoknya

jarang sekali ada orang yang mengutarakan kata-katanya

terhadap Toan Kiem Hoa dengan nada tersebut,

bagaimanapun aku tak mau lepaskan kesempatan ini, aku

sudah mengharap-harapkan kejadian ini selama sepuluh

tahun…”

Ketika mula pertama Liem Kian Hoo mendengar ada orang

berbicara dari balik hutan, ia mengira orang itu pasti Ku Sin-

Poo adanya, sebab ia sudah mendengar sampai dimanakah

kelihayan kabut beracun tersebut, kecuali Ku Sin-Poo seorang

tak mungkin orang lain bisa berdiam dalam hi!tan itu dengan

tenang.

Tapi kemudian setelah mendengar dalam hutan ternyata

bukan seorang melulu bahkan nada ucapannya tidak mirip Ku

Sin-Poo. iapun berlega hati, kepalanya berpaling kearah

Watinah ingin menanyakan asal usul orang yang ada didalam

hutan itu.

Watinah membalas dengan sinar mata bimbang-dan

menyatakan tidak kenal, Liem Kian Hoo makin ingin tahu,

akhirnya ia berteriak lantang:

“Tolong tanya kalian berdua adalah cianpwee dari mana ?”.

Suasana dalam hutan sunyi beberapa saat, kemudian

terdengar orang pertama tadi berseru:

“Bocah cilik, tidak jelek tata kesopananmu, nada ucapanmu

tidak kecil.”

“Hanya saja bakatnya terlalu jelek, mungkin bukan bakat

seperti yang kita idamkan…” sambung suara perempuan tadi.

“Perduli amat janji sepuluh tahun sudah hampir tiba, dan

orang ini adalah manusia pertama yang bisa mendekati syarat

yang kita butuhkan, perduli bagaimana juga harus kita jajal,

kalau tidak maka kita akan sia-sia menanti sepuluh tahun.”

Tanya jawab dari kedua orang itu semakin mencengangkan

hati Liem Kian Hoo, dari nada ucapan mereka seolah-olah

diantara mereka dengan Ku Sin Poo terdapat persoalan yang

belum diselesaikan maka berjanji sepuluh tahun kemudian

untuk menyelesaikan persoalan ini lewat tangan orang lain

dan agaknya mereka ada maksud menggunakan dirinya untuk

memenuhi janji tersebut maka mereka menilai dan

membandingkan bakatnya…

Meski hatinya kheki, tapi kata-kata “sepuluh tahun” amat

menusuk pendengarannya, janji sepuluh tahun gurunya Liuw

Boe Hwie dengan bunga mawar putihpun akhirnya diwakili

oleh murid-murid dan berakhir tragis, sekarang mereka berdua

pun ingin menggunakan dirinya untuk penuhi janji sepuluh

tahun. Alisnya kontan berkerut, kepada dua orang rekannya ia

berseru:

“Ayoh kita pergi saja dari sini ! “.

Loo Sian Khek adalah manusia yang paling takut kerepotan,

sebagai seorang jago kawakan ia tahu dua orang yang hidup

dalam hutan itu bukan manusia sembarangan maka ia

menyatakan setuju, sedang Watinah terlalu menuruti kemauan

Liem Kian Hoo, tentu saja ia tidak menampik.

Baru saja ketiga orang itu hendak berlalu, orang yang ada

didalam hutan berseru kembali dengan nada cemas:

“Eeeei… bocah muda, tunggu sebentar !”.

Liem Kian Hoo tidak ambil gubris, ia teruskan

perjalanannya kedepan diikuti dua orang rekannya. Belum

jauh mereka berlalu, tiba-tiba terasa desiran angin tajam

menyambar lewat dari sisi tubuhnya, disertai berkelebatnya

cahaya hijau tahu-tahu dua sosok bayangan manusia telah

menghadang dihadapannya.

Liem Kian Hoo tertegun, ia kaget terhadap gerak tubuh

mereka berdua, semakin tercengang lagi setelah melihat

dandanan mereka. Kiranya dua orang yang berdiri

dihadapannya saat ini adalah sepasang laki perempuan,

usianya telah mencapai enam puluh tahun, hal ini ditinjau dari

rambut mereka yang telah beruban semua, namun yang aneh

wajah mereka masih seperti anak muda belaka, sifat kekanakkanakannya

belum hilang dan seakan-akan baru berusia

delapan sembilan belas tahunan.

Wajah mereka buliesenlat lagi gemuk, segar dan polos,

pakaian yang dikenakan berwarna menyolok dan berkembangkembang

sehingga sepintas pandang kedua orang itu mirip

dengan bocah yang berusia lima enam tahun. Watinah yang

masih muda belia tak kuasa menahan rasa gelinya setelah

menyaksikan sepasang manusia aneh itu, tak tahan ia tertawa

cekikikan.

“Eeeei . . bocah perempuan, jangan tertawa ! ” hardik

orang laki-2 itu dengan gusar.

Gelak tertawa Watinah makin menjadi keras, kiranya orang

lelaki yang barusan bicara bukan lain adalah suara perempuan

yang mula-mula dikira wanita itu, tak nyana sang lelaki punya

suara lembut seperti perempuan. Sedang orang yang

berdandan perempuan itupun naik pitam ketika melihat

Watinah tak mau berhenti tertawa, dengan suara kasar

tegurnya:

“Bocah perempuan, jangan tertawa, apa yang kau

tertawakan?”.

Sekuat tenaga Watinah menahan gelak tertawanya, lalu

sambil menuding kearah kedua orang itu serunya: “Kalian

sendiri punya potongan wajah seorang bocah, kenapa

malahan panggil kami sebagai bocah ? terutama sekali nada

ucapanmu, yang lelaki jadi perempuan sedang yang

perempuan jadi laki, darimana aku tidak jadi geli.”

Selesai bicara kembali ia tertawa terkekeh-kekeh. Agaknya

perempuan itu merasa sangat gusar, badannya berkelebat

kedepan langsung ayun tangannya untuk kirim sebuah

gablokan.

“Budak busuk yang tak tahu diri, kau berani bersikap

kurangajar terhadap kami ? ” makinya

Dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat, tak mungkin

bagi Watinah untuk meloloskan diri, ia hanya berharap

gap!okan tersebut tidak terlalu berat baginya.

Disaat yang amat kritis ilulah, mendadak ia merasakan

lengannya ditarik orang disusul badannya miring kesamping,

desiran angin tajam seketika menyambar lewat dan sisi

wajahnya, ia terperanjat dan gugup, menanti hatinya bisa

tenang kembali maka ditemuinya orang yang barusan

selamatkan dirinya bukan lain adalah Liem Kian Hoo. Saat itu

pemuda tersebut sedang memandang ke-arahnya dengan

wajah serius, kemudian dengan nada menegur ia berseru:

“Watinah, jangan tertawa lagi !”.

Watinah tertegun, ia tidak mengira gerakan tubuh sianak

muda tersebut sedemikian Iihaynya, sementara ditengah rasa

terkejut dan girang, belum sempat ia mengucapkan sesuatu,

dengan nada halus Liem Kian Hoo telahbdab berkata kembali:

“Padahal tiada sesuatu hal yang patut ditertawakan nada

suara mereka sama sekali tidak berubah, hanya dandanannya

saja yang berbalik, yang lelaki sebenarnya adalah perempuan

sedang yang perempuan sebenarnya adalah lelaki..”

MuIa mula Watinah tiada maksud untuk menjelaskan ini ia

malahan merasa tercengang, segera ia awasi kedua orang itu

lebih seksama lagi. sedikitpun tidak salah, ia temukan orang

yang berdandan lelaki itu punya lubang diatas telinganya.

Sedang orang yang berdandan perempuan memelihara

kumis dan jenggot, jelas membuktikan bahwa mereka

berdandan kebalikannya dari keadaan umum. Kedua orang itu

sama-sama tertegun, sesaat kemudian terdengar orang yang

berdandan sebagai wanita itu berseru:

“Bocah muda, darimana kau bisa tahu ?”.

Liem Kian Hoo tertawa hambar.

“Bukankah kalian berdua bergelar Heng-Thian Siang Lie

atau sepasang kekasih pendendam takdir? kau adalah sidewa

awet muda Tonghong It Lip sedangkan dia adalah nyonyamu

Tiang-Ceng-Siancu Mong Yong Wan adanya, kalian memang

jodoh yang ideal, kau merasa benci karena tidak dilahirkan

sebagai perempuan sebaliknya istrimu benci karena tidak

dilahirkan sebagai pria, maka kalian, yang lelaki pakai baju

perempuan sedang yang perempuan pakai baju orang lelaki.”

“Bocah muda, darimana kau bisa kenal dengan diri kami ?”

Teriak Mong-Yong Wan yang berdandan sebagai pria.

“Meskipun cayhe belum pernah berjumpa dengan kalian,

tetapi tingkah laku serta dandanan kalian sudah cukup jelas

membuktikan bahwa dugaanku tidak meleset, apabila barusan

gerakan tubuh Mong-yong siancu adalah ilmu langkah Leng-

Im-Poo serta ilmu telapak Hut-Hoa-Ciang, dikolong langit tak

ada manusia kedua yang…”

“Kau ngaco belo !” tukas Mong Yong Wan dengan air muka

berubah hebat. “Kami jarang sekali munculkan diri dalam

dunia persilatan, dan tidak banyak orang yang kami kenal,

coba sebutkan siapakah gurumu…?”

“Suhuku adalah si Nabi seruling Liuw Boe Hwie adanya,

beliau sama sekali terlalu asing bagi kalian berdua !”.

“Macam apakah Liuw Boe Hwie itrtqru ? diapun bisa

mendidik seorang murid macam kau ?” Seru Mong-Yong Wan

setelah termenung sejenak.

“Kau tak usah mungkir lagi, dengan andalkan

pengetahuanmu untuk menebak ilmu langkah Leng-lm-Poo

serta ilmu telapak Hut Hoa-Ciang ku barusan, jelas

membuktikan kalau kau masih punya guru lain.”.

“Sian-su, harap kau jangan berkata demikian sekalipun

guruku belum pernah berjumpa dengan kalian berdua namun

ilmu silatnya sama sekali tidak berada dibawah kalian berdua,

namun memang kuakui gerakan tangan yang barusan

kugunakan bukan pelajaran dari guruku.”.

“Lalu siapakah yang wariskan gerakan tersebut kepadamu

?” Buru-buru Tonghong It Lip yang berdandan sebagai wanita

berseru dengan nada tercengang, Liem Kian Hoo tertawa dan

mengerling.

“Orang itu adalah sahabat karib kalian ber dua, tetapi

cayhe telah mendapat pesan wanti wan-tinya untuk tidak

bocorkan rahasia ini, maka aku berharap kalian suami istri

berdua suka maafkan diriku !”.

Kembali Tonghong It Lip termenung beberapa saat

mendadak ia mendengus dingin.

“Sekalipun tidak kau katakan juga tidak mengapa, tidak

sulit untuk mencari tahu asal usulmu dan beberapa orang

yang terbatas ini !”.

“Lebih baik ada jangan mengandung maksud demikian.”

ancam Liem Kian Hoo sambil tarik kembali senyumannya.

“Cayhe pun tiada maksud mengganggu kalian berdua lebih

jauh. Kalian berdua sudah ada dua puluh tahun berdiam

ditempat yang tenang dan tentram semacam ini. buat apa

harus cari kerepotan dan kesulitan buat diri sendiri ?”.

“Tempat yang tenang ?” jengek Tonghong It Lip sambil

tertawa dingin. “sepanjang hidup, belum pernah kami

dapatkan penghidupan yang aman tenteram dan diliputi

ketenangan, diantara belasan sahabat karibku musuh dan

sahabat berbanding seimbang. sebelum aku berhasil

mengetahui asal usulmu hatiku semakin tidak tenteram, bocah

muda, aku lihat lebih baik kau bikin persiapan lebih dahulu !”.

Menyaksikan orang itu sudah berdiri dalam sikap siap

melancarkan serangan, Liem Kian Hoo jadi agak cemas,

segera teriaknya:

“Cayhe tanggung orang itu bukan sahabat dan bukan

musuh kalian berdua, dan aku jamin tidak akan bocorkan

rahasia jejak kalian kepada orang lain !”.

Tonghong It Lip tertawa dingin.

“Hmmm ! diantara sahabat karib kami kalau bukan musuh

tentu teman, sebelum kau jelaskan lebih dahulu, jangan harap

bisa tinggalkan tempat ini dengan mudah !”.

Selesai bicara, tidak menanti Liem Kian Hoo buka suara,

badannya langsung menubruk kedepan sambil melancarkan

empat lima buah serangan berantai, tiap serangan baik yang

nyata maupun tipuan memiliki perubahan yang ampuh dan

sakti.

Namun serangan-serangan hebat itu tidak sampai

merepotkan sianak muda itu, dengan enteng ia berkelebat

kesana dan berkelit kemari, dalam sekejap mata seluruh

ancamam berhasil ia hindari dengan gampang.

Kejadian ini segera mencengangkan Tonghong lt Lip

sampai ia dibikin termangu-mangu, meski demikian

serangannya sama sekali tidak mengendor.

Mong-Yong Wan yang saksikan jalannya pertarungan dari

sisi kalangan jadi terperanjat segera teriaknya:

“Bocah keparat, sebenarnya kau berasal dari mana ? begitu

ruwet ilmu silatmu…”

” Oleh sebab itulah aku menasehati kalian berdua tak usah

buang tenaga dengan percuma, kalian tidak bakal berhasil

menebak asal usulku lewat ilmu silat yang kumiliki…”

“Keparat cilik, meski dalam jurus silatmu mencakup

kepandaian musuh maupun temanku, aku masih tidak puas.

Sekarang, hadapi dahulu tiga jurus serangan gabungan dari

kami suami istri berdua, apabila kau bisa menandingi kami

maka kami akan biarkan kalian berlalu dari tempat ini!”

Ditinjau dari air muka Tonghong It Lip yang amat serius

dalam mengucapkan kata-kata tersebut, Liem Kian Hoo sadar

tiga jurus yang hendak dilancarkan pasti paling lihay sekali,

tetapi kejadian sudah berubah seratus delapan puluh derajat,

tidak menyanggupi pun tidak mungkin kecuali membongkar

rahasia asal-usul sendiri, dan inipun tidak ingin ia lakukan,

maka terpaksa dengan wajah ringan ia menyahut:

“Bailiesenklah, akan cayhe coba menerima tiga jurus

serangan gabungan dari kalian berdua !”.

Tonghong It Lip dan Mong-Yong Wan saling bertukar

pandangan sekejap, lalu diikuti lelaki berdandan wanita itu

bergerak lebih duluan, ujung bajunya dikebaskan kedepan

menyambar bahu lawan, Liem Kian Hoo tetap berdiri tak

berkutik menanti ujung baju lawan hampir menggulung

tubuhnya ia baru miringkan badan kesamping.

Mong-Yong Wan tak mau berpeluk tangan belaka, laksana

kilat ia turun tangan mengirim sebuah hajaran menyambut

datangnya sang tubuh yang mundur kebelakang. Brraaaak !

ditengah bentrokan nyaring, sepasang suami istri itu mundur

selangkah kebelakang, air muka mereka sama-sama berubah

hebat.

Ternyata ilmu gabungan yang dipelajari mereka berdua

telah diselami selama dua puluh tahun lamanya, meski

sewaktu turun tangan ada yang lebih dahulu dan ada yang

belakangan namun dalam kenyataan serangan mereka tiba

hampir bersamaan waktunya, bahkan posisi yang mereka

ambil pun amat strategis, meski musuh lebih lihaypun sulit

untuk lolos dengan gampang.

Siapa sangka, kali ini mereka telah menjumpai peristiwa

yang sama sekali berada diluar dugaan, ketika jurus serangan

mereka dilancarkan kedepan, tiba-tiba bayangan tubuh Kian

Hoo lenyap tak berbekas, dan bentrokan nyaring yang

meledak diangkasa tadipun hasil dari bentrokan telapak

tangan mereka sendiri.

Dalam pada itu dengan wajah penuh senyuman, Liem Kian

Hoo berdiri setengah depa disisi kalangan, Tonghong It Lip

segera menjerit kaget.

“Kau… kau adalah…”.

“Siapa aku ? ” Hardik Liem Kian Hoo sam bil melototkan

matanya. Diatas wajah Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan

terlintas rasa kaget dan takut yang tak terhingga, mereka

tergagap dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun,

Liem Kian Hoo tersenyum, suaranya berubah jadi amat lunak

dan halus, katanya lirih:

“Sejak tadi Cahye sudah nasehati kalian berdua tak usah

buang tenaga dengan percuma, kalian sih tak mau dengarkan

nasehat nah ! coba lihat bagaimana sekarang ? bukankah siasia

belaka usaha kalian ? terhadap kalian Cap Sah Yu tiga

belas sahabat orang itu menaruh perhatian khusus, maka dari

itu ia mintabdab agar setiap kali aku berjumpa dengan kalian

untuk sampaikan maksud hatinya, ia minta kalian bisa jaga

diri, kalau tidak maka ia tidak akan lepaskan kalian !”.

” Dia …. dia masih hidup dikolong langit ?” tanya Tonghong

It Lip tergagap.

“Tentu saja !” sianak muda itu tersenyum, “Belum pernah

ia kendorkan perhatiannya terhadap kalian, meski kalian tidak

menjumpai dirinya dan diapun tak dapat bertemu dengan

kalian namun asal kalian tunjukkan sedikit gerakan, maka ia

segera akan munculkan diri untuk merobohkan kamu semua.”

“Aaaaai…! kalau begitu kami tiga belas orang tak mungkin

bisa berkumpul kembali ” bisik Mong Yong Wan sambil

menghela napas panjang, ” Sejak pertemuan dihutan bambu,

hanya disebabkan satu persoalan semua orang cekcok dan

ribut dengan lihaynya sehingga hampir saja kami jadi saling

bermusuhan, sejak itu kami sembunyi disini, sebagian

besarpun dikarenakan ingin menghindari kejaran musuh.”

“Haaaa… haaaa… haaaa… tentang persoalan ini, ia

mengetahui jauh lebih jelas dari dirimu, terus terang

kuberitahukan kepadamu, peristiwa inipun merupakan suatu

kesengajaan baginya untuk mengatur hal tersebut, seandainya

kalian tidak cepat dibubarkan, cepat atau lambat kalian pasti

akan terbitkan keonaran.”

“Apa ? jadi kitab tersebut palsu ?” jerit Tonghong lt Lip lagi

dengan nada kaget.

“Kitabnya sih asli, tetapi ia terlalu memahami sifat-sifat

kalian tiga belas orang dan tahu bahwa kalian tidak mungkin

bisa bersatu padu untuk untuk mewujudkan satu kesatuan,

maka sejilid kitab yang asli sengaja ia bagi jadi empat bagian,

tiap bagian ada seperempat adalah asli sedang tiga perempat

lainnya adalah palsu, setelah itu ia tinggalkan jejak diempat

penjuru agar kalian melakukan pencarian sendiri, dan

kemudian agar kalian anggap kitab yang didapatkan adalah

kitab yang asli.”

Air muka Mong Yong Wan berubah sangat hebat dengan

hati mangkel teriaknya:

“Kurangajar, kalau begitu dia adalah seorang penipu ulung,

kami sudah membuang waktu dua puluh tahun dengan sia sia

belaka…”

Tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya, Liem Kian

Hoo berkata lebih lanjut:

“Ia sama sekali tidak membohonrtqrgi diri kalian, bukankah

tempo dulu iapun sudah tinggalkan pesan kepada kaiian agar

setelah kitab tersebut didapatkan maka kalian harus

mengeluarkan di hadapan rekan-rekan lainnya untuk dipelajari

bersama, seandainya kalian mendengarkan nasehatnya dan

masing-masing ambil keluar kitab yang ditemukan maka kalau

digabungkan jadi saja, kalian bakal mendapatkan satu jilid

kitab yang lengkap, siapa suruh kalian rakus, ingin cari

keuntungan sendiri dan mengangkangi kitab tersebut buat diri

pribadi ? sekalipun begitu, perserikatan tiga belas sahabat

telah dihancurkan olehnya !”

“Disinilah letak kebesaran jiwanya, apabila ia biarkan kalian

tiga belas orang bergabung dan melakukan kejahatan, berapa

banyak malapetaka dan bencana yang bakal terjadi dalam

dunia persilatan ? tidak sulit bagi dirinya pada waktu itu untuk

lenyapkan kamu semua, tapi ia berbaik hati dan berbelas

kasihan, maka nyawa kalian tidak dicabut sebaliknya

memberikan jalan hidup yang benar kepada kalian untuk

bertobat dan menyesal. Hmm ! berani benar kau menuduh

yang bukan-bukan terhadap dirinya.”

Tonghong It lip dan Mong Yong Wan bungkam dalam

seribu bahasa, Watinah bingung dan tidak habis mengerti apa

yang sedang mereka bicarakan, hanya Loo Sian Khek yang

tahu dan kontan merasakan jantungnya berdebar keras.

Dua puluh tahun berselang ketika ia masih belajar silat di

gunung Thay Heng-san, pernah didengarnya tentang tiga

belas Sahabat yang sangat menggemparkan dunia persilatan.

Perserikatan tersebut merupakan kerja sama tiga belas orang

manusia berkepandaian lihay untuk melakukan kejahaian

didunia, tetapi jejak mereka amat rahasia dan jarang yang

temui wajah asli mereka.

Kemudian tersiar berita bahwa mereka siap mendirikan

sebuah partai dalam dunia kangovv, kabar ini seketika

menimbulkan pergolakan hebat dalam Bu-lim, banyak jagojago

dari kalangan lurus menggabungkan diri untuk

menghalangi niat mereka ini.

Tetapi aneh sckali, entah apa sebabnya tiba tiba ketiga

belas sahabat itu lenyap dari peredaran Bu lim dan sejak itu

jejak mereka tidak ketahuan ujung mulanya lagi.

Dan sekarang, Loo Sian Khek baru tahu, kiranya tiga belas

sahabat terdesak dan terpaksa mengasingkan diri karena

dikalahkan oleii seorang tokoh sakti dunia persilatan, dan

tokoh silat itu ada hubungan yang sangat erat dengan Liem

Kian Hoo, ia jadi menduga-duga siapakah jago itu ? dan sejak

kapan sianak itu mengikat tali hubungan dengan dirinya ?

Berbagai pertanyaan yang membingungkan hatinya, namun

ada satu hal yang pasti, yakni sepasang suami istri yang

berada dihadapannya saat ini adalah dua orang diantaranya

tiga belas sahabat yang pernah menggetarkan sungai telaga

dua puluh tahun berselang, tanpa terasa hatinya jadi bergidik.

Dalam pada itu setelah termenung sejenak Tonghong It Lip

menegur kembali:

“Apa hubunganmu dengan dirinya”.

“Hubungan apapun tidak ada, tidak lama berselang secara

kebetulan cayhe telah berjumpa dengan dirinya dan mendapat

pula beberapa petunjuk didalam kepandaian silat, disamping

itu ia pun titip pesan kepadaku agar menyelidiki jejak kalian

semua, dan sekarang kalian dua orang suami istri adalah

orang keempat dan orang kelima yang pernah kujumpai !”

“Siapakah tiga orang lainnya ? bagaimana keadaan mereka

saat ini ?”.

“Maaf, nama mereka tak mungkin dapat kusebutkan.”

sahut Liem Kian Hoo seraya menggeleng. “Mereka termasuk

rombongan yang rada sial, kitab mustika yang berisi

seperempat kepandaian sakti itupun tidak berhasil mereka

temukan, dan sekarang mereka benar-benar sudah bertobat,

mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan dunia

persilatan lagi, kehidupan mereka tidak memperoleh petunjuk

yang seksama mungkin tidak akan kenali mereka lagi, maka

dari itu lebih baik kalian tak usah bertanya lebih lanjut !”.

“Dapatkah kau beritahu kepada kami sebenarnya dia

adalah manusia macam apa ?” kembali Tonghong It Lip

bertanya. “Dua puluh tahun berselang ia muncul dengan

wajah berkerudung, setelah mengancurkan perserikaliesentan

kami tiga belas orang, pernah kami lakukan penyelidikan yang

seksama atas asal-usulnya, namun hasilnya tetap nihil !”

“Tentang soal itu maafkan pula diriku karena tak dapat

memberi jawaban…” Kembali sianak muda itu menggeleng.

“sepanjang hidupnya ia tak pernah munculkan diri dalam

dunia persilatan akupun tidak tahu nama aslinya, meski

kukatakan bagaimanakah bentuknya, belum tentu kalian bisa

kenali dirinya meski telah saling berhadapan muka.”.

“Tapi paling sedikit kau dapat mengatakan bukan, dia

adalah seorang pria atau wanita ?” buru-buru Mong Yong Wan

mendesak.

“Apa bedanya antara pria dan wanita ? seandainya dia

memiliki sifat macam kalian berdua, bukankah aku sendiripun

tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ini !”.

Air muka Tonghon It Lip serta Mong Yong Wan kontan

berubah hebat ketika mendengar sindiran dari sianak muda

itu, terdengar siorang lelaki yang berdandan sebagai wanita

itu membentak dengan nada gusar:

“Keparat cilik, sekalipun kau telah mewarisi ilmu silatnya

kami tidak akan ambil gubris, sepanjang beberapa tahun kami

selalu menyelidiki dan mempelajari ilmu silat untuk

menghadapi dirinya, tiada halangan kami hendak gunakan kau

sebagai kelinci percobaan…!”

“Oooouw ! kalian hendak andalkan catatan sebanyak

seperempat itu hendak menciptakan kepandaian untuk

menghadapi dirinya ?”.

Tonghong It Lip tertawa dingin, mendadak telapak

tangannya berkelebat kedepan sambil melancarkan sebuah

serangan, telapak tanganya berwarna merah dan

memancarkan kabut bercahaya kilat.

Liem Kian Hoo gerakan sepasang bahunya dan menghindar

dengan kecepatan bagaikan kilat. Watinah serta Lo Siau Khek

yang menghindar kurang cepat segera tersambar oleh kabut

bercahaya itu. Watinah tetap tidak geming seolah-olah tidak

merasakan sesuatu. lain halnya dengan Loo Sian Khek, ia

mundur sempoyongan kemudian perlahan-lahan roboh keatas

tanah.

Menyaksikan kejadian ini Liem Kiau Hoo jadi teramat gusar,

segera bentaknya.

“ilmu beracun apa yang telah kau gunakan ?”

“Koan lang, mereka telah menghisap sari racun yang

terkandung dalam kabut beracun, kau harus waspada dan

berhati-hatibdab.” jerit Watinah.

“Mengapa kau sendiri tidak keracunan ?”

“Aku pernah menelan pil mustajab bikinan suhuku, maka

badanku sama sekali tidak terpengaruh…”.

“Kalau begitu carikan akal untuk menolong dirinya !” teriak

sianak muda itu lebih jauh seraya menuding kearah Loo Sian

Khek.

“Tidak bisa, aku tidak punya obat penawar cuma suhu

seorang yang dapat menyelamatkan jiwanya !”.

“Haaaaa… haaaaa… haaaa… bocah perempuan, kau

jangan bermimpi disiang hari bolong” jengek Tonghong lt Iip

sambil tertawa terbahak-bahak…” ilmu telapak ini sengaja

kuciptakan untuk menghadapi Toan Kiem Hoa Hmmm !

dengan andalkan sedikit kepandaiannya jangan harap ia bisa

selamatkan jiwanya!” ucapannya tersebut jelas menghina dan

memandang rendah Ku Sin Poo. sebagai muridnya Watinah

langsung naik pitam teriaknya:

“Kentutmu ! akupun tidak berhasil kau lukai. Hmmm !

masih ingin menghadapi suhuku ? ” Mong Yong Wan tertawa

dingin.

“Bocah perempuan, kau jangan mengira dirimu tetap sehat

walafiat, nantikan saja sebentar lagi kau bakal tahu

kelihaiannya!”.

Watinah tidak percaya, telapaknya digetarkan langsung

menyapu kearah tubuh perempuan berdandan pria itu, tetapi

baru saja telapaknya digerakkan sampai separuh jalan dengan

otamatis ditarik kembali, rasa sakit yang amat menderita

terlintas di atas wajahnya.

“Eeeei… kenapa kau? ” sahut Liem Kian Hoo menegur.

“Aku sendiripun tidak tahut sedikit kukerahkan tenaga

murniku, dada segera terasa jadi sumpek, sesak dan muak

sekali, agaknya seperti mau muntah…”

Belum habis bicara, mendadak mulutnya terbentang lebar

dan muntahkan air liur bercampur riak berwarna merah darah,

wajahnya langsung berubah pucat pias bagaikan mayat,

dengan amat lemas tubuhnya duduk mendeprok diatas tanah,

tangannya dirogohkan kedalam tenggorokan dan mengorek

tiada hentinya, seolah-olah ia belum puas muntah dan ingin

mengeluarkan seluruh isi perutnya.

Air muka Liem Kian Hoo berubahrtqr hebat, jari tangannya

bergerak cepat secara beruntun menotok empat buah jalan

darah ditubuh Watinah untuk menghalangi gerakan

selanjutnya, setelah itu sambil berpaling kearah Tonghong It

Lip bentaknya:

“Cepat serahkan obat penawarnya kepadaku!”

“Bocah muda, hitung-hitung kau masih punyai sedikit

pengetahuan.” seru Tonghong It Lip sambil tertawa dingin.

“Dan untung kau cepat bertindak sehingga tidak membiarkan

air darah yang lumer dari jantungnya muntah semua keluar.

untuk sementara jiwanya memang berhasil kau seIamatkan,

tapi… heee… heeee… cepat atau lambat akhirnya ia bakal

modar juga…”

“Aku perintahkan kau untuk segera serahkan obat penawar

kepadaku!” kembali sianak muda itu membentak dengan

wajah keren.

“Ooouw… hooo… hooo… enak benar kalau bicara, dengan

andalkan apa sih aku harus menolong jiwanya ?”

“Demi selamatkan jiwamu sendiri, sebenarnya aku bertugas

untuk mengawasi tingkah lakumu, kalau kalian masih juga

berbuat kejahatan maka aku segera akan mewakili orang itu

untuk memberi peringatan kepada kalian ..!”

“Haaaa… haaaa…. haaaa… sekalipun orang itu datang

sendiripun belum tentu ia bisa permainan kami seperti sedia

kala, apalagi manusia macam kau ?”.

Napsu membunuh mulai terlintas diatas wajah si-anak

muda itu, dengan wajah membesi teriaknya:

“Terhadap kalian tiga belas orang sahabat itu sengaja

memberi petunjuk kepadamu dimana letak titik kelemahan

untuk mencabut jiwa kalian, dan kalian suami istri berduapun

termasuk diantaranya, sebenarnya aku ada maksud

melepaskan sebuah jalan hidup buat kalian setelah

mengetahui bahwa kalian mengasingkan diri kedalam gunung

dan tidak bikin keonaran lagi tapi ditinjau dari tingkah laku

serta perbuatan kalian saat ini, Hmm ! harap kalian jangan

salahkan kalau aku hendak bertindak tegas kepada kalian

demi tertegaknya keadilan serta keamanan !”

Tonghong It Lip dibikin bergidik juga oleh keseraman serta

keseriusan sianak muda itu. Mong Yong Wan yang

menyaksikan suaminya mulai terpengaruh oleh gertakan

mana, buru-buru berteriak memberi peringatan:

“Eeeeei tua bangka, kau jangan sampai tertipu oleh siasat

licik keparat cilik ini, kita jangan menyia-nyiakan penderitaan

kita selama dua puluh tahun ditengah pegunungan yang

terpencil ini, apakah kau jadi ketakutan hanya digertak oleh

beberapa patah kata keparat tersebut ?”

Tonghong It Lip tertegun dan segera berhasil menguasahi

diri kembali, ia lantas mendongak tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa… haaaa… haaaa… bocah muda, pandai benar kau

berlagak sok lihay, hampir-hampir saja loohu pun berhasil kau

kelabui dengan gertak sambalmu itu, sekalipun orang itu telah

mewariskan seluruh kepandaian silatnya kepadamu, aku

percaya kepandaianmu masih belum dapat menandingi hasil

gemblengan kami selama dua puluh tahun lamanya”.

“Aaaaai…! siapa yang menimbulkan keonaran ia tidak boleh

dibiarkan hidup, untung aku sudah ucapkan kata kata ini sejak

semula, bagaimanapun juga tindakanku untuk lenyapkan

kalian bukan suatu tindakan yang salah…”

Sikap serta tingkah laku sianak muda itu segera memancing

sifat ganas Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan, satu dari

kiri yang lain dari kanan segera menyerang datang bersamaan

angin pukulan sang wanita berdandan pria itu berwarna hijau.

Liem Kiau Hoo segera enjotkan badannya menghindar

kesamping dikala dua gulung angin pukulan lawan belum tiba.

“Bocah muda, jangan harap kau bisa main setan lagi

difaad&psn kami..!” teriak Tonghong It Lip.

Ditengah bentakan keras ia bersama Mong Yong Wan

mendorong telapaknya keluar, dengan gerakan setengah

lingkaran, seketika itu juga angin pukulannya yang berwarna

merah darah bagaikan sebuah angin melesat puluhan tombak

kearah depan, kemudian lambat-lambat turun ketengah

kalangan dan mengurung seluruh pemuda itu.

Mong Yong Wan pun getarkan telapaknya, segulung cahaya

asap warna hijau melesat menggulung tiada hentinya

disekeliling tubuh si-anak muda itu, makin menyebar makin

besar dan makin luas,

Liem Kian Hoo berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang.

air mukanya tetap tenang, sementara dalam hati sangat

terperanjat, ia sadar perkataan yang diutarakan bahwa

mungkin terlalu tajam hingga memaksa sepasang suami istri

ini mengeluarkan ilmu silatnya yang paling berharga.

Meskipun sianak muda ini telah peroleh petunjuk untuk

menghadapi ilmu telapak angin berputar yang dihasilkan oleh

serangan gabungan ini, namun ia tidak menyangka tenaga

lwekang mereka telah mendapat kemajuan yang begitu

pesat,bahkan dapat pula berdiam dalam kabut beracun, Liem

Kian Hoo mulai sadar bahwa pertarungan yang terjadi ini hari

tak mungkin bisa diselesaikan dengan gampang…”

Tampaklah segulung hawa pukulan berwana merah dan

segulung hawa pukulan berwarna hijau menyusup datang dari

dua arah yang berlawanan, ketika saling bertemu, bukan

bentrokan yang terjadi sebaliknya dua gulung tenaga tersebut

bergabung kemudian bcrsama-sama mendesak dan

mengurung kedepan semakin rapat.

Keadaan amat kritis sekali, kecuali adu tenaga dengan

kekerasan tak ada cara lain lagi yang dapat digunakan sianak

muda itu.

Liem Kian Hoo berdiri tenang, dari matanya memancar

keluar cahaya tajam. mendadak sepasang lengannya

dipentangkan segulung hawa merah secara lapat-lapat muncul

dari ubun-ubunnya, lalu diikuti bentakan nyaring bajunya

bagaikan sebuah bola karet segera memancar keempat

penjuru dengan dahsyat.

Bluummm…” Ditengah ledakan yang maha hebat, dua

gulung cahaya kabut berwarna hijau dan merah itu laksana

terhembus oleh angin puyuh segera menyebar dan lenyap

tertiup angin, Air muka Tonghong It Lip beruban hebat,

teriaknya tertahan:

“Keparat cilik, hebat juga ilmu silatmu ternyata ilmu Ci-

Khie-Ceng Kie pun berhasil kau pelajari !”.

Ditengah teriakan tersebut sepasang telapaknya diulapkan

berulang kali, hawa pukulan berwarna merah yang telah

tersebar itu segera bergabung kembali menjadi satu dan sekali

lagi kearahnya. Mong Yong Wan tidak berani berayal, telapak

tangannya segera bergerak menggabungkan diri dengan

serangan suaminya, kabut hijau perlahan-lahan berkumpul

kembali jadi satu garis lurus lalu melanjutkan kurungannya

kearah depan.

Kali ini suami istri berdua telah kerahkan segenap tenaga

yang dimilikinya, keringat mulai mengucur keluar dengan

derasnya, Menggunakan kekuatan daya getar tadi Liem Kian

Hoo menghadang serangan gabungan mereka yang pertama

dan kini setelah menyaksikan kerja sama kedua orang itu tak

berhasil dihancurkan diam-diam ia mengeluh, pikirnya:

“Habislah sudah…! kau telah serahkan tugas berat itu

kepadaku namun tidak memberi waktu yang cukup bagiku

untuk mempelajari dan mendalami ilmu silat itu, meskipun sinkang

tiada tandingan telah kau wariskan kepadaku, mana

mungkin dalam waktu dua puluh hari yang singkat aku

berhasil jadi sakti ? lagipula kau terlalu pandang tinggi diri

sendiri dan memandang enteng orang lain.”.

Pakaiannya tetap mengembung bagaikan sebuah bola

karet, hawa merah yang lembut dan memancar keluar dari

lubang pori-pori bajunya tak sanggup lagi memaksa buyar

tenaga gabungan lawan, Air muka Tonghong It Lip berubah

amat buas, ia menyeringai dan tertawa seram.

“Binatang cilik, serahkan jiwamu !” teriaknya. “Terhadap

kejadian ini, kau harus salahkan orang itu punya sepasang

mata yang buta, tugas seberat ini telah ia serahkan kepada

kau sibocah yang masih bau tetek untuk selesaikan, dalam

ilmu silat keberhasilan bukan terletak pada bakat namun lebih

mengutamakan soal kematangan..”

“Tutup mulut !” bentak Liem Kian Hoo ditengah desakan

hebat “Kau jangan keburu berbangga hati, walaupun kitab

yang kalian dapatkan adalah bagian yang terakhir namun

dibagian atas masih ada satu kepandaian yang bisa mencabut

jiwa kalian berdua, sekalipun harus adu jiwa, akupun tidak

ambil gubris.”.

“Dengan tenaga dalammu, kau ingin menggunakan jurus

tersebut ?” tanya Tonghong It Lip tertegun.

Liem Kian Hoo tertawa nyaring, dengan wajah keren dan

sedikitpun tidak jeri ia berseru berat: Giok Sak Ci Hun! “.

sepasang telapak seger digabungkan jadi satu, senar mata

dicurahkan kearah pihak lawan dan terpancarkan wajah yang

agung dan penuh wibawa membuat orang merasa bergidik.

Tonghong lt Lip serta Mong Yong Wan sama-sama terkesip,

mereka sudah hapal sekali dengan-posisi jurus itu terutama

sekali sikap Kian Hoo dewasa ini, membuat mereka makin

tercengang dan tidak percaya.

Terhadap jurus ampuh ini hampir boleh dikata mereka

sudah buang tenaga selama sepuluh tahun lamanya, namun

belum berhasil juga ditemukan titik pemecahan, setiap kali

mereka selalu jumpai kegagalan total sehingga hal ini

membuat mereka mengira bahwa jurus itu merupakan sebuah

jurus tipuan yang mungkin digunakan untuk membohongi

orang belaka… suasana ditengah bukit itu sunyi senyap tak

kedengaran sedikit suarapun, tiga orang berdiri saling,

berhadapan dengan mulut bungkam.

“Benar benarkah kalian hendak cari kematian ? ” akhirnya

Liem Kian Hoo menegur dengan alis berkerut.

Tonghong It Lip mendehem.

“Pengaruh yang terpancar keluar lewat jurus Giolc-Sak-Ci-

Hun tersebut memang luar biasa, namun kami selalu merasa

bahwa jurus itu hanya suatu jurus tipuan belaka, lihay hanya

diatas kertas Sebelum dicoba kami merasa tidak percaya !”

“Aku beri peringatan kalian, lebih baik jangan, bertindak

gegabah, sebab sampai saatnya, kalian akan menyesal dan

tak mungkin bisa menolong diri kembali”.

Tonghong lt Lip melirik sekejap kearah Mong Yong Wan,

menyaksikan istrinya tidak menunjukkan pendapat, ia lantas

tertawa ringan.

“Dalam hati kami dewasa ini hanya ada seorang rausuh,

apabila kau memang wakil dari orang itu maka sekalipun

harus aku jiwa kami tidak akan mnndur dari hadapanmu ! “

katanya.

Liem Kian Hoo berdiri tenang, beberapa saat kemudian ia

lantang, diikuti lengannya dikebas kedepan, segulung hawa

pukulan yang luar biasa seketika memancar keluar dari

tubuhnya, begitu hebat angin pukulan tersebut membuat bumi

bergoncang batu berguguran dan pasir debu berterbangan….

Menyaksikan perisriwa itu air muka Tonghong It Lip serta

Mong Yong Wan berubah hebat, sambil gertak gigi mereka

menahan diri, sungguh dahsyat angin pukulan yang

menyambar datang, baju mereka terkoyak-koyak oleh

sambaran tersebut, bahkan batu kerikil yang tajam

berhamburan melukai tubuh mereka.

Dari perubahan air muka kedua orang itu, Liem Kian Hoo

tahu bahwa mereka mulai jeri dan ketakutan, mereka sudah

dibuat bergidik oleh keampuhan jurus serangan tersebut dan

sadar pula bahwa kedua orang itu tak akan bertahan lama,

angin pukulan yang tajam dan tiada ujung pangkal nya ini

bakal merobek dan menghancur lumatkan tubuh mereka.

Sekarang, Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan baru

percaya akan kelihayan jurus tersebut, namun sayang sudah

terlambat… terlambat untuk selamatkan jiwanya.

Dalam keadaan seperti ini ketiga orang itu sama sama

menyadari bahwa nasib mereka berada diujung tanduk, setiap

saat mungkin saja ajal akan menjelang tiba.

Disaat yang amat kritis itulah, mendadak – – dari balik

hembusan angin taupan tadi muncul sesosok bayangan

manusia, dan orang itu adalah seorang wanita.

Gerakan tubuhnya amal gesit dan lincah, meskipun

ditengah deruan angin pukulan yang tajam gerakan tubuhnya

sama sekali tidak terhadang, mula mula ia bergerak

kehadapan Kian Hoo lebih dahulu, telapak tangannya yang

putih dan halus laksana kilat bergerak menotok dua buah jalan

darah penting ditubuhnya.

Liem Kian Hoo segera merasakan segulung tenaga yang

halus dan lunak menyusup kedalam tubuhnya, begitu tiba

didalam tubuh tenaga tadi segera menghadang dan

menyumbat hawa murninya yang sedang mengalir keluar

dengan hebatnya itu.

Kemudian ia putar badan dan dengan suatu gerakan yang

indah pula mendorong tubuh Tonghong It Lip serta Mong

Yong Wan sehingga mundur kebelakang dengan

sempoyongan.

Menanti ketiga orang itu sadar dan mendusin kembali dari

kecapaian serta keletihan, tampaklah perempuan itu sedang

bekerja keras menyembuhkan Watinah serta Loo Sian Khek.

Pertama-tama Tonghong lt Lip menghela napas panjang

lebih dahulu, ia saling bertukar pandangan sekejap dengan

Mong-Yong Wan, wajahnya pucat pias bagaikan mayat,

mulutnya terkunci rapat.

“Sii…. siapa kau ?” tegur Liem Kian Hoo dengan nada

terperanjat.

Perempuan itu berpaling dan tersenyum, ketika itulah Kian

Hoo baru melihat jelas bahwa perempuan itu berwajah amat

cantik, usianya kurang lebih tiga puluh tahunan dan memakai

baju warna putih bersih.

Mula mula Sianak muda itu di kliesenejutkan oleh kecatikan

wajahnya, diikuti iapun tertegun karena ia berhasil

memunahkan jurus “Giok-Sak-Ci-Hun” nya yang ampuh, untuk

sesaat ia berdiri termangu-mangu dan tak tahu apa yang

harus dilakukan.

Watinah pun perlahan-lahan sadar dari pingsannya, ia buka

mata siap mengucapkan sesuatu namun perempuan itu

menggeleng dan memberi tanda agar ia tutup mulut.

Watinah mengangguk dan membungkam, dengan sinar

mata kagum dan terima kasih ia menatap wajah perempuan

tersebut.

Dari sinar mata yang terpancar keluar dari balik mata

Watinah, sianak muda itu merasa bahwa gadis itu kenal

dengan perempuan tadi. Dari air muka Tonghong It Lip

berdua pun, ia membuktikan bahwa mereka kenal dengan

perempuan tersebut.

Liem Kian Hoo termangu-mangu, otaknya berputar dan

sebentar kemudian ia sadar siapakah perempuan tersebut,

dengan sinar mata sangsi dan kurang percaya iapun ikut

menatap perempuan tadi.

“Aaaaah…! sungguh tak nyana Ku Sin Poo yang dihormati

orang-orang suku Biauw sebagai Dewi adalah seorang

perempuan muda … . ia luar biasa, jurus ampuh Giok-Sak-Ci-

Hun kupun berhasil ia punahkan.” pikir Kian Hoo dalam hati.

Dalam pada itu perempuan tadi telah meletakkan tubuh

Watinah keatas tanah dan bangun berdiri, sinar matanya

menyapu sekejap kearah tiga orang itu kemudian sambil

tertawa dingin jengeknya:

“Hmm ! ilmu telapak Ching-In-Ciang tidak bakal bisa

membendung diriku, sedang jurus ampuh yang dikatakan

tiada tandingan dikolong langit pun tidak lebih silat kasar

untuk mengadu jiwa, ditinjau dari sikap kalian yang tak

berguna tadi, sebenarnya aku ogah campur tangan, apabila

aku tidak takut muridku pun terluka, akan kubiarkan kalian

bertiga saling adu jiwa sampai modar semua !”.

Merah padam selembar wajah Liem Kian Hoo, sepasang

matanya menatap tubuh perempuan itu tajam-tajam.

“Bocah muda, mengapa sih kau menatap diriku terus

menerus ?” kembali perempuan itu menegur sambil tertawa

ringan.

“Ditinjau dari ucapan cianpweebdab, seharusnya anda

adalah Toan Cianpwee yang telah menggetarkan wilayah

Biauw, tetapi…”

“Tetapi usiaku terlalu muda, bukankah begitu bocah

muda?” sela perempuan tadi sambil tertawa bangga. “Kau

sudah tertipu oleh kata Nenek atau ” Poo” yang ada didepan

namaku, dalam wilayah Biauw tulisan “Poo” atau nenek

menandakan suatu penghormatan, dan sama sekali bukan

mengartikan tingkat usiaku, namun kaupun jangan terlalu

percaya dengan sepasang mata sendiri, wajah serta potongan

muda seseorang belum tentu bisa menunjukkan usia yang

tepat, coba tebaklah, menurut perkiraanmu aku telah berusia

berapa?”

“Agaknya Cianpwee baru berusia tiga puluh tahun….”

“Tiga puluh tahun?” Ku-Sin-Poo segera mendongak dan

tertawa terkekeh-kekeh. “Pandai benar kau berbicara, ketika

aku berusia tiga puluh tahun, mungkin kau masih belum

dilahirkan dalam kolong langit !”.

Liem Kian Hoo tertegun, wajahnya jelas menunjukkan

hatinya sangsi dan tidak percaya.

“Kau tentu tidak percaya bukan ? Nah, tiada halangan

tanyakan saja persoalan ini kepadanya !” kata Toan Kiem Hoa

lebih jauh seraya menuding kearah Mong Yong Wan. Air muka

perempuan berdandan pria ini berubah hebat, dengan suara

serak serunya:

“Toan Kim Hoa, wajahmu awet muda karena kau andalkan

tomat yang banyak tumbuh disekitar wilayah ini, apanya yang

luar biasa ?”.

“Memang… memang tidak hebat ! tetapi aku pingin tanya,

selama sepuluh tahun kalian suami istri hidup sengsara

ditempat ini dan tidak ingin pergi tinggalkan daerah sekitar

sini. bukankah dikarenakan tomat mustajap itu pula? sayang

pohon tomat itu cuma ada sebatang dan justru pohon tadi

berada didalam genggamanku. janji sepuluh tahun sudah

hampir tiba, buah tomat yang tumbuh diatas pohon itupun

sudah amat banyak, selama ini aku selalu menepati janji dan

tidak memetiknya barang sebiji pun, persoalan terletak pada

bagaimana caranya kalian hendak menangkan pertaruhan ini

?”

Mong Yong Wan mendengus gusar, ia tidak menjawab, dari

sepasang matanya terpancar keluar cahaya penuh kebencian.

Kembali Toan Kiem Hoa tertawa bangga, serunya: “sepuluh

tahun berselang, kalian sudah kalah sekali. sepuluh tahun

kemudianrtqr kalian masih belum berhasil juga rebut

kemenangan, Bagaimana? apakah perlu aku undurkan sepuluh

tahun lagi agar kalian bisa dapatkan seorang wakil untuk

mengalahkan diriku ?”.

“Tidak usah, kami mengaku kalah !” sahut Tong It Lip

sambil menghela napas.

“Kalau sejak dahulu tahu begini, sepuluh tahun terakhir pun

tidak akan kami buang dengan sia-sia !”.

“Kalau begitu kau masih terhitung cerdik, sepuluh tahun

berselang aku hanya mengajak kalian bergurau belaka, maka

sengaja aku pura-pura menang dengan ngotot. sebab aku

merasa kalian berdua terhitung tidak jelek dan ada maksud

membangkitkan semangat kalian. siapa sangka kalian berhati

tinggi dan berani bicara sesumbar kalian mengira asal

mendidik seorang ahli waris maka aku bakal dikalahkan,

sekarang kalian tentu sudah paham bukan? meskipun kalian

turun tangan sendiri, akupun dapat gebah kalian pergi cukup

dengan tangan sebelah belaka.”.

Ucapan ini amat menyinggung perasaan Tonghong It Lip, ia

naik pitam dan segera teriaknya keras-keras:

“Toan Kiem Hoa ! kau tak usah sombong dan pentang

bacot, soal tomat tak perlu kita bicarakan lagi, kau telah

mempermainkan kami selama sepuluh tahun, hutang ini cepat

atau lambat pasti akan kami tuntut, apabila ada kesempatan

sepuluh tahun lagi, kami pasti akan berhasil mendapatkan

seorang ahli waris untuk menginjak-injak dirimu.”.

“Benarkah kau punya keyakinan tersebut ?”

“Tentu saja ! bahkan belum tentu sepuluh tahun,mungkin

didalam satu dua tahun…”

“Tentang hal tersebut aku boleh percayaku tahu dalam dua

tiga tahun belakangan kalian banyak temukan rahasia intisari

ilmu silat tetapi kalian harus tahu bahwa bakat kalian sendiri

terbatas, jangan harap dalam kehidupan kalian ini bisa

mencapai taraf tersebut seandainya kalian berhasil

mendapatkan sebuah kumala yang belum di-asah, aku

percaya mungkin kalian dapat menciptakan seorang jago yang

maha sakti..”

” Dari… dari mana kau bisa tahu ?” jerit Tonghong It Lip

serta Mong Yong Wan dengan air muka berubah hebat.

“Jangan lupa daerah ini termasuk daerah kekuasaanku,

selama kalian berada dalam wiiayah Biauw jangan harap bisa

lolos dari pengawasanku, selama sepuluh tahun belakangan

tak sebuah gerak gerik serta tingkah laku kalian yang lolos

dari pengawasanku, cuma saja kalian tidak tahu akan hal ini !

“.

Seakan-akan dikalahkan secara mutlak, dengan wajah

pucat pias Tonghong It Lip menghela napas panjang. Mong

Yong Wan pun kelihatan lemas dan putus asa, mereka

bungkam. Toan Kiem Hoa tertawa, katanya kembali:

“Apabila harus bertindak menurut watakku, maka saat ini

juga aku hendak hukum mati kalian berdua agar tidak

meninggalkan bibit bencana di kemudian hari…”.

“Tak usah kau teruskan, kami mengaku kalah !” tukas

Tonghong It Lip cepat.

“Jangan terburu napsu, perkataanku belum selesai ku

utarakan keluar, selama banyak tahun belum pernah kujumpai

orang yang bisa menandingi diriku, aku benar-benar

menganggur sekali, maka aku suka mengubah keputusanku

dengan memberi kesempatan kepada kalian! Mulai ini hari.

setiap saat dan dimanapun aku selalu menantikan kedatangan

ahli warismu untuk mengalahkan diriku, dan akupun akan

selalu tinggalkan sepuluh biji tomat diatas pohonnya, akan

kulihat apakah kalian punya rejeki atau tidak untuk peroleh

mustika tersebut !”.

“Sungguhkah ucapan ini ?” seru Tongho ng U Lip sangsi,

hampir hampir ia tidak percaya dengan telinganya sendiri.

“Haaaa… haaaa… haaaa…. dengan andalkan kedudukanku

sebagai Ku Sin Poo diwilayah Biauw, belum pernah kuingkari

janji sendiri!”.

Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan saling bertukar

pandangan sekejap, dalam hati mereka merasa amat girang

sekali.

Toan Kiem Hoa tertawa panjang, tiba-tiba ia berkata lagi:

“Namun sebelum itu aku hendak peringatkan lebih dahulu

kepada kalian, usia manusia ada batasnya, pohon tomat pun

tak mungkin selalu tumbuh dengan segar, aku tak dapat

menanti kedatangan kalian sepanjang hidup…!”

“Apa maksudmu ?”

“Sejak kuno oliesenrang berkata mencari bak bagaikan

mencari kecantikan hal itu hanya bisa jumpai dan tak mungkin

dimohon.” apabila kalian hendak mencari seorang ahli waris

yang benar2 bebakat bagus, aku rasa usaha kalian akan

menemui kesulitan bagaikan mencari jarum didasar samudra,

sebenarnya bocah muda ini memang sasaran yang paling

tepat, sayang sudah didahului orang lain, di tinjau dari

keadaan kalian yang barusan bertarung, mungkin ia tidak

bakal sudi kalian gunakan lagi dunia amat luas… aku nasehati

kalian lebih baik matikan saja cita-cita kalian itu !”.

“ltu urusan pribadi kami, tak usah kau campuri !” teriak

Mong Yong Wan gusar.

“Satu hari kami masih hidup dikolong langit, satu hari pula

akan kucari ahli waris ku yang sesuai !”.

Dengan wajah hambar Tonghon It Lip serta Mong Yong

Wan putar badan siap meninggalkan tempat itu, mendadak

Liem Kian Hoo rentangkan tangannya dan laksana kilat

menghadang di hadapan mereka berdua, teriaknya:

“Tunggu sebentar, bukankah diantara kita masih belum

diselesaikan, mengapa buru-buru mau pergi ?”

“Bajingan cilik, kau anggap kami bener2 jeri kepadamu ? “

teriak Mong Yong Wan sambil mencak mencak kegusaran.

“Soal ini bukan soal takut dan tidak, kalian harus berjanji

dahulu untuk tidak berbuat kejahatan lagi, kalau tidak, untuk

menunaikan kewajiban yang dibebankan di atas pundakku,

maka dengan pertaruhan jiwa akan kularang kalian munculkan

diri kembali kedaratan Tionggoan.”

“Bajingan cilik, jurus Giok Sak Ci Hun cuma dapat

digunakan satu kali, sekarang, kau hendak bicara dan

menghalangi perjalanan kami dengan andalkan apa ?” jengek

Tonghong It Lip sambil tertawa dingin.

“Hanya andalkan sehembusan napas dalam dadaku, selama

napas masih berjalan dan sukma masih dihayat badan, aku

pasti akan tunaikan tugasku sampai selesai !”.

Tonghong It Lip tertawa seram, telapaknya bergerak siap

melancarkan serangan. Pada saat itulah Toan Kiem Hoa

meloncat kedepan dan menghadang diantara kedua belah

pihak, tegurnya dengan nada gusar:

“Bocah muda, akulah yang melepbdabaskan mereka dari

sini !”.

“Itu urusan cianpwee pribadi, dan sama sekali tiada

bersangkut paut dengan urusan boanpwee.”

“Kurang ajar ! berada dalam wilayah Biauw kau berani

mencampuri dan menghalangi perbuatan aku Ku Sin Poo ?”

teriak Toan Kiem Hoa dengan nada dingin.

“Bocah muda, agaknya kau sudah bosan hidup ?”.

“Aku bukan rakyat suku Biauw, mengapa harus tunduk dan

turuti perintah cianpwee ?”.

Meskipun Liem Kian Hoo sadar bahwa tenaga lweekang

yang dimiliki Toan Kiem Hoa sangat lihay, terbukti dari

kemampuannya untuk memunahkan jurus Giok-Sak-Ci-Hun

yang ampuh tadi namun ia tidak jeri, dengan wataknya yang

keras-ia tak sudi tunduk dan takut kepada orang lain, apalagi

mendengarkan perintahnya.

Sementara itu Watinah sudah mendusin, dengan suara

yang lemah ia memohon:

“Koan-lang, janganlah musuhi guruku… turutilah

permintaannya”.

“Sekalipun dia adalah gurumu, aku tak dapat melepaskan

tanggung jawab serta tugas yang dibebankan padaku,

gampang sekali kalau inginkan aku lepaskan mereka pergi.

Pertama, mereka berdua harus berjanji dahulu kepadamu

bahwa kepergiannya saat ini tidak akan melakukan perbuatan

jahat lagi…”.

“Kedua, kecuali melangkahi dahulu mayatku !” Sembari

berkata ia melirik sekejap kearah Toan Kiem Hoa, sebab

dewasa ini cuma dia seorang yang mampu mencabut jiwanya,

Toan Kiem Hba tertawa dingin, telapaknya segera diangkat

ketengah udara.

“Kau anggap aku tidak berani membinasakan dirimu ?”

teriaknya.

“Tentu saja cianpwee mampu untuk melakukannya, tapi

boanpwee pun bukan seorang manusia rendah yang takut

mati !”

Air muka Toan Kiem Hoa berubah hebat, badan-maju

kedepan, telapak tangannya diayun kedepan.

“Suhu, ampuni jiwanya !” terdengar Watinah berteriak

dengan hati cemas.

Gerakan tubuh Toan Kiem Hoa amat cepat dan lincah, baru

saja Kian Hoo angkat tangannya siap menangkis, mendadak

gerakan serangannya sudah berubah, dengan suatu gerakan

yang enteng, ringan dan lincah ia sudah mengubah arah

dan… Plaaak ! dengan telapak tadi mampir diatas pipi sianak

muda itu.

Liem Kian Hoortqr tertegun, sebab dalam serangannya

barusan seolah-olah Toan Kiem Hoa sama merangsek kedepan

sehingga selisih jaraknya amat dekat, ikat pinggangnya rada

terangkat sehingga memancarlah sebutir mutiara yang sangat

menyilaukan mata.

Diam-diam Watinah bersorak setelah menjumpai Toan Kiem

Hoa tidak melukai sianak muda itu, tapi iapun tahu

bagaimanakah watak Liem Kian Hao, ia takut dia semakin

gusar setelah mendapat penghinaan tersebut.

-oo0dw0oo-

Jilid 4

DI LUAR dugaan, setelah ditampar Liem Kian Hoo sama

sekali tidak memberikan reaksi, ia malah berdiri termangumangu

ditempat semula.

“Kau berani kurangajar lagi dengan diriku ?” Tegur Toan

Kiem Hoa dengan nada dingin, serentetan cahaya aneh

berkelebat diatas mata Kian Hoo.

“Cianpwee, kau…” serunya.

“Tidak usah banyak bicara lagi, aku sedang menanyakan

bagaimana sikapmu ?”.

“Siap mendengarkan titah dari cianpwee.” Liem Kian Hoo

menyahut dengan sikap hormat.

Peristiwa ini tentu saja mencengangkan hati Tonghong It

Lip serta Mong Yong Wan, mereka tidak tahu apa sebabnya

sikap sianak muda itu bisa berubah demikian cepat, walaupun

Liem Kian Hoo sudah kena ditampar, namun mereka tahu

perubahan sikap si bocah muda itu pasti bukan disebabkan

alasan tersebut.

Toan Kiem Hoa sama sekali tidak memberi kesempatan

bagi mereka berdua banyak berpikir serunya dingin:

“Kenapa kalian belum juga berlalu ? apakah menunggu

pesta perpisahan lebih dulu ?”.

Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan saling bertukar

pandangan sekejap, kemudian putar badan dan berlalu.

Menanti bayangan kedua orang itu sudah lenyap dari

pandangan, Toan Kiem Hoa baru berpaling kearah Watinah

sembari memerintah:

“Gotong orang yang terluka itu kedalam rumahku,

perjalanan harus dilakukan rada cepat, kalau tidak ia tidak

akan tertolong lagi”.

Yang di maksudkan adalah Loo Sian Khek, maka tanpa

banyak bicara lagi Kian Hoo segera menggotong tubuhnya dan

siap melanjutkan perjalanan. Dalam pada itu laksana seekor

burung putih Toan Kiem Hoa sudah enjotkan badannya dan

lenyap dibalik sebuah tikungan.

Menantikan bayangan tubuh perempuan inipun lenyap dari

pandangan, dengan rasa-tercengang Watinah baru berkata:

“Koan lang, sikap suhu aneh sekali, belum pernah ia

bersikap murah hati kepada siapapun!”

Liem Kian Hoo tidak kasi komentar, ia cuma berseru:

“Dimanakah suhumu berdiam ? mari kita segera kesana,

jangan sampai terlambat sehingga mengakibatkan kematian

Loo heng.”

“Aku telah melanggar peraturannya perguruan, suhu pasti

akan menghukum diriku, entah bagaimana nasibku

selanjutnya…?” ujar Watinah pula dengan hati sedih.

“Kau boleh berlega hati, aku tanggung suhumu pasti akan

mengampuni jiwamu.”. Ucapan tersebut begitu yakin dan

mantap memaksa Watinah tanpa sadar berpaling kearahnya,

Liem Kian Hoo tersenyum, ujarnya kembali:

“Tak usah kau tanyakan apa alasannya, yang penting aku

tidak membohongi dirimu !”.

Habis bicara tanpa menanti jawaban lagi ia bergerak

mengejar kearah mana Toan Kiem Hoa lenyapkan diri tadi,

Watinah tertegun sesaat akhirnya iapun ikut mengejar dengan

kencangnya.

-o0o-

Bukit terjal berdiri menjulang ke angkasa, kabut tebal

menyelubungi sekeliling puncak tersebut Pohon bambu nan

hijau, selokan dengan air yang jernih serta bunga bunga

gunung yang indah semerbak membuat bukit tersebut indah

dan mempersonakan hati siapapun juga.

Liem Kian Hoo benar-benar terpesona oleh pemandangan

yang berada dihadapannya, ia tarik napas panjang-panjang

dan ujarnya kepada Watinah yang ada disisinya:

“Tidak aneh kalau suku Biauw menganggap suhumu

sebagai malaikat, cukup ditinjau tempat tinggalnya sudah

mencerminkan liesensuatu tempat yang indah bagaikan

nirwana. Aaaaai… begitu indah menawan pemandangan

ditempat ini, membuat pikiran serta perasaanpun ikut terbuai

kealam impian.”

Watinah tidak ingin menghilangkan kegembiraan orang, ia

menghela napas dan menyahut:

“Koan-lang sudah lama hidup ditanah Tiong-goan yang

penuh dengan pemandangan indah, apakah kau tertarik oleh

kejelekan tanah Biauw kami yang gersang dan tidak menarik

ini ?”.

“Haaaa… haaaa… haaaa… dimanapun manusia berada

tentu akan menjumpai bukit-bukit yang indah

mempersonakan, kalau diingat dengan kata-kata orang kuno

yang menyatakan gunung itu jelek dan mengerikan, maka aku

rasa pujangga tersebut harus digablok mulutnya agar tahu

rasa…”

Watinah tidak paham mengapa sikap sianak muda

mendadak bisa berubah begitu riang dan gembira, sejak

digablok oleh Toan Kiem Hoa, seolah-olah Liem Kian Hoo telah

berubah jadi manusia lain, kegembiraannya bukan saja lenyap

bahkan terlipat ganda, hal ini membuat ia tidak habis mengerti

dan tidak menjawab.

Agaknya Liem Kian Hoo dapat merasakan kemurungan

gadis itu, sambil tersenyum ia menegur:

“Watinah mengapa kau selalu tidak senang hati ? apakah

kau kuatir suhumu tidak akan melepaskan dirimu ?”.

Dengan sedih Watinah mengangguk, beberapa saat ia

termenung lalu sambil menghela napas katanya: “sewaktu

pertama kali ku temui diri Koan lang, aku telah sadar bahwa

Koan lang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, kemudian

akupun kagum oleh tingkah laku serta watak Koanlang, maka

dari itu dengan tidak tahu malu aku menyatakan perasaan

hatiku kepadamu, bahkan aku sudah melupakan peraturan

perguruan yang ketat. Sebetulnya aku masih mengharapkan

dengan kepandaian yang Koan lang miliki bisa kalahkan suhu,

meski akhirnya namaku rusak, namun bisa mengiringi Koan

lang tidak sia sia pula hidupku. siapa sangka apabila Koan lang

dibandingkan dengan suhu, maka kau masih selisih amat jauh

maka aku tidak berani bayangkan bagaimana keaadaann kita

selanjutnya”.

“Tentang soal ini tak usah kau pikirkan lebih jauh, aku

mengakui suhumu memang sangat lihay, jangan dikata aku

bukan tandinganya, meskipun umat dunia yang ada dewasa

inipun jarang sekali ada yang bisa menandingbdabi beliau,

tetapi aku tak usah kuatirkan soal itu, aku percaya suhumu

tidak akan menyusahkan diriku dan kaupun boleh berlega

hati.”

“Apakah Koan lang kenal dengan guruku ?” tanya Watinah

dengan nada curiga. Liem Kian Hoo segera menggeleng.

“Boleh dikata kenal, boleh dikata pula tidak kenal, sebab

aku belum pernah berjumpa dengan dirinya, tentu saja tak

boleh dikatakan kenal, tetapi antara aku dengan dirinya

pernah terkait selapis hubungan. dan hubungan ini tak berani

kuberitahukan kepadamu, tunggu saja setelah aku selesai

berunding dengan suhumu baru ambil keputusan

bagaimanapun juga ia tidak akau menganggap aku sebagai

musuh lagi.”

Karena menjumpai sianak muda itu sangat merahasiakan

persoalan tersebut, terpaksa Watinah memendam

pertanyaannya kedalam hati. Dalam pada itu mereka berdua

semakin mendekati puncak, kabut-pun semakin tebal

menyelimuti jagat ditengah lapisan kabut yang tebal secara

lapat-lapat tampak beberapa buah bangunan berdiri dengan

megahnya disitu. Watinah segera menuding kedepah dan

teriaknya:

“Guruku berdiam disana, beberapa deret bangunan yang

paling depan adalah tempat kami berlatih ilmu silat, kemudian

di belakangnya merupakan tempat dimana beliau bersemedi,

sekalipun kami adalah anak muridnya namun di larang

mengunjungi tempat itu.”

” Kalau begitu mari kita menunggu ditempat ini saja !” kata

sianak muda itu sambil berhenti. Belum lama mereka menanti,

dari balik kabut yang tebal muncul dua orang manusia, yang

satu adalah Luga yang pernah ditemui sewaktu berada dalam

pesta bulan purnama. dan yang lain adalah seorang gadis

suku Biauw yang berusia dua pulu tahunan, namun wajahnya

amat jelek sekali.

“Toa suci !” buru-buru Watinah menyapa seraya menjura.

“Siauw Moay mendapat perintah da…”

“Suhu telah berpesan. beliau memerintah kau membawa

Liem Kongcu menuju kebelakang dan serahkan orang yang

terluka itu kepada Luga” tukas gadis jelek itu dengan dingin,

selintas perasaan girang berkelebat diatas wajah Watinah,

sementara Luga dengan wajah hambar maju menerima tubuh

Loo Sian Khek dari tangan Liem Kian Hoo, secara lapat lapat

sinar matanya masih mengandnng rasa benci dartqrn dendam.

Dengan rasa tidak tenteram Liem Kian Hoo awasi bayangan

tubuh Luga sambil mengempit Loo Sian Khek masuk kedalam

sebuah bangunan rumah agaknya gadis jelek tadi dapat

meraba isi hatinya, dengan nada dingin lagi hambar serunya:

“Harap kongcu berlega hati, suhu telah memerintahkan

Luga untuk merawat dan mengobati luka sahabatmu itu, aku

rasa tak bakal ada persoalan yang terjadi.”

Merah jengah selembar wajah Liem Kian Hoo.

“Cahye sama sekali tidak bermaksud demikian, harap enci

jangan banyak menaruh curiga ” katanya.

“Hmmm ! harap kongcu jangan panggil aku sebagai enci,

aku tidak punya rejeki sebaik itu “. sebenarnya Liem Kian Hoo

bermaksud baik, ia tidak mengira bisa ketanggor batunya,

wajahnya berubah semakin merah hingga mirip babi

panggang. Dengan sikap serta pandangan dingin gadis itu

putar badan lalu berialu dari sana.

Watinah yang ada di sisinya takut Liem Kian Hoo jadi riku,

buru-buru ia maju dan berbisik lirih:

“Harap Koan-lang jangan tersinggung, selamanya toa suci

ku memang berwatak demikian!”

“Eeehmm… watak toa sucimu ini memang hebat sekali.”

sambung sianak muda itu tertawa jengah.

“Aaaaai…! terhadap setiap orang Toa suci tidak selalu

bersikap dingin dan hambar, terutama sekali terhadap diriku,

ia sangat baik bagaikan terhadap saudara kandung sendiri,

tapi ini hari… berhubung ada Koan-lang..”.

Liem Kian Hoo melengak.

“Bukankah aku tidak menyalahi dirinya ? aku panggil dia

enci berhubung usianya lebih tua daripada diriku “.

“Aaaai..! Toa suci paling dia benci dengan orang laki,

terutama laki-laki bangsa Han. Dahulu dia adalah gadis cantik

kenamaan dalam wilayah Biauw, entah bagaimana kemudian

ia jatuh cinta dengan seorang lelaki bangsa Han, lelaki itu

adalah seorang jual obat yang merantau kesana kemari,

dengan rayuan yang manis serta janji yang muluk-muluk

akhirnya lelaki itu berhasil mendapatkan hati Toa-ci, ternyata

lelaki itu hanya mengincar harta serta kepandaian silatnya

belaka.

Toa suci adalah murid kesayangan suhu dan merupakan

kepala suku dari kelompok suku Huang-Kiem atau emas

murni. Dalam wilayah sukunya banyak terdapat tambang

emas yang ternilai harganya.

Setelah lelaki itu kawin dengan Toa suci dan berhasil

mempelajari seluruh kepandaian silat yang dimiliki, diam-diam

ia turun tangan keji hendak membunuh Toa suci dengan

racun, kemudian membawa pasir emas yang dihasilkan dalam

daerah tersebut melarikan diri balik kedaratan Tionggoan.

Untung Toa suci berhasil diselamatkan jiwanya oleh suhu,

tetapi wajahnya pun jadi rusak dan jelek macam begini…”.

“Aaaah, tidak aneh kalau ia bersikap demikian Lelaki

macam itu memang patut dibunuh, apakah Toa sucimu

lepaskan dirinya begitu saja ?”.

“Tentang soal ini akupun kurang jelas, sejak terjadi

peristiwa tragis itu Toa suci selalu mendampingi suhu, bahkan

jabatan kepala sukupun diserahkan kepada orang lain, bukan

begitu saja nama lelaki itupun tak pernah diungkap olehnya,

kejadian ini sudah berlangsung puluhan tahun berselang

waktu itu aku masih kecil dan tidak begitu jelas terhadap

semua kejadian.”

“Sewaktu aku masih belajar silat digunung, ia selalu

berpesan kepadaku agar jangan sekali-kali kawin dengan

bangsa Han, ia menganggap setiap lelaki tak boleh dipercaya

terutama lelaki bangsa Han, sikapnya kurang hormat terhadap

dirimu, aku rasa hal ini tentu disebabkan laporan dari Luga..”

“Aaaaah, tidak boleh jadi, pendapatnya benar benar Bo

cengli.” seru Kian Hoo seraya menggeleng. “Mana boleh ia

anggap seluruh bangsa Han adalah bajingan berhubung ia

telah bertemu dengan seorang bajingan? kalau ada

kesempatan aku pasti menjelaskan hal ini kepadanya.”.

“Koan-lang, lebih baik jangan cari penyakit buat diri sendiri,

watak toa suci kaku dan keras, tidak gampang ia suka

mendengarkan nasehat orang bahkan suhupun tidak

mengurusi dirinya, buat apa Koan-lang banyak urusan ?. ini

hari, seandainya bukan ia ketahui bahwa kau punya hubungan

dengan suhu, mungkin seketika itu juga ia akan bikin

keonaran terhadap dirimu, ilmu silatnya terpaut tidak seberapa

jauh dari Suhu, dus berarti ia sangat berbahaya bagimu. Asal

di-kemudian hari Koan-lang bisa membuktikan bahwa kau

bukanlah manusia seperti apa yang dibayangkan, dengan

sendirinyaliesen kesalahan paham ini bisa hapus dengan

sendirinya.”

“Bicara setengah harian, kiranya kau tidak percaya

terhadap diriku?” seru sianak muda itu tersenyum.

“Pikiranku tidak secupat toa suci, setelah kuserahkan

seluruh jiwa ragaku kepada Koan-lang berarti pula aku sudah

siap menerima segala yang bakal terjadi, sekalipun Koan-lang

adalah lelaki macam seperti aku tidak menggubris, bila

kemudian hari Koan-lang merasa bosan terhadap diriku tak

usah kau gunakan pelbagai cara untuk mencelakai diriku,

katakan saja kepadaku maka seketika itu juga aku bisa

membereskan nyawaku sendiri.”

Liem Kian Hoo merasa amat terharu oleh ucapan-nya,

segera ia berseru:

“Watinah, percayalah kepadaku, aku bukan manusia

macam itu.”.

“Hmmm ! terhadap lelaki yang pandai merayu lebih-lebih

harus waspada dan hati-hati, sebab lelaki macam begini paling

tak boleh dipercaya.” mendadak dari sisi mereka

berkumandang suara yang amat dingin,

Dengan kaget Liem Kian Hoo angkat kepala, kiranya

perempuan jelek tadi telah muncul kembali disitu dan berdiri

tidak jauh dari mereka.

Diam-diam ia dibikin kaget oleh kesempurnaan ilmu ginkang

nya, disamping itu hatinya pun merasa panas oleh

perkataan tersebut Dengan wajah membesi serunya:

“Aku sedang menyampaikan isi hatiku kepada Watinah, apa

sangkut pautnya dengan dirimu ? kau tidak puas terhadap

bangsa Han itu urusanmu sendiri, kau tidak berhak untuk

menilai dan bandingkan tingkah laku-ku, lebih-lebih kau curi

dengar pembicaraan kami”.

Diam-diam Watinah kuatir sekali, ia takut kekasihnya

bentrok dengan perempuan jelek itu. Siapa sangka Toa suci

dari Watinah itu tergerak hatinya, ia cuma berkata kembali

dengan nada dingin:

“Aku tidak punya waktu sesenggang ituuntuk curi dengar

rayuanmu itu, apa yang kau ucapkan sesuai dengan apa yang

kau pikirkan !”

“Aku bertindak menurut isi hatiku, tak usah kau

peringatkan diriku ! ” teriak sianak muda itu marah-marah.

Dari sikapnya yang gagah dan sama sekali tidak

menunjukkan perasaan takut ini. Gadis jelek itu malah

tertawa, nada suarapun sbdabemakin lembut ujarnya ringan:

“Lebih bagus kalau kau bertindak demikian hitung-hitung

aku sudah menguatirkan siauw sumoay ku dengan sia-sia

belaka. Suhu telah menantikan kedatangan kalian,

pembicaraan semacam ini lebih baik kita lanjutkan saja

dikemudian hari”.

Liem Kian- Hoo jadi agak sungkan setelah mendengar

suara gadis jelek itu makin lunak, dengan wajah kalem iapun

mengangguk.

“Harap cici-suka membuka jalan !”. gadis jelek itu putar

badan dan berlalu, terhadap sebutan cici itupun tidak

menunjukkan reaksi lagi. Liem Kian Hoo serta Watinah segera

menyusul diri belakang, melewati sederetan bangunan dan

melewati sebuan jalan kecil yang penuh dengan rumput hijau.

Selama ini gadis jelek itu berjalan dengan mulut

membungkam, bayangan punggungnya kelihatan molek dan

menarik hati, Liem Kian Hoo menduga usianya baru dua puluh

tahunan, tapi setelah mendengar cerita dan Watinah ia baru

tahu bahwa usianya hampir mendekati empat puluh tahunan,

terutama sekali teringat peristiwa tragis yang menimpa

dirinya, sianak muda ini merasa simpatik dan lupakan segala

tingkah lakunya yang kurang sopan.

Bahkan dalam hati ia berjanji setibanya didaratan

Tionggoan akan dicarinya lelaki tidak setia itu untuk dikasi

pelajaran. Gadis jelek yang berjalan dengan didepan

mendadak berpaling sambil berkata.

“Kau tak usah mencampuri urusan orang lain, persoalanku

tidak ingin dicampuri orang lain !”

Liem Kian Hoo terperanjat tanpa sadar ia berseru “Cici,

darimana kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan didalam

hati..?”. Gadis jelek itu berpaling dan bungkam dalam seribu

bahasa. Liem Kian Hoo ingin bertanya lebih jauh, tapi ketika

itulah mereka sudah tibadidepan sebuah bangunan bambu

dan berhenti.

Dari balik ruangan berkumandanglah suara dari Toan Kiem

Hoa:

“Sani dan Watinah tunggu diluar, biarkan bocah muda itu

masuk kedalam seorang diri !”.

Sekarang Liem Kian Hoo baru tahu bahwa, gadis jelek itu

bernama Sani, ketika merasa mendengar pesan dari Toan

Kiem Hoa kelihatan air mukanya menunjukkan rasa

tercengang.

Sianak muda itu tersenyum, mendorong pintu dan masuk

ke-dalam, perabot yang ada didalam ruangan itu sederhana

sekali drtqran cuma sebuah tikar belaka, ketika itu Toaa Kiem

Hoa sedang duduk bersila diatas tikar tadi sambil menatap

mutiara diatas ujung ikat pinggangnya dengan mata

mendeIong.

Dengan amat hormat Liem Kian Hoo menjura, lalu sapanya:

“Cianpwee !”.

“Kau cuma bisa panggil aku sebagai cianpwee belaka ?”

tanya Toan Kiem Hoa sambil angkat kepala.

“Boanpwee tidak tahu bagaimana harus memanggil diri

cianpwee, sebab boanpwee hanya mendapat pesan untuk

menyampaikan sepatah kata kepada orang yang membawa

mutiara itu.”.

“Apa yang hendak disampaikan ? dan urusan apa ?”.

“Ia berharap mutiara tersebut bisa disatu padukan,

disamping itu menyampaikan pula dua patah syair yang

berbunyi:

“Hubungan kasih hanya sebagai kenangan indah. peristiwa

laksana impian indah yang lenyap setelah mendusin…”.

“Cuma dua patah kata ini belaka ?” tanya Toan Kiem Hoa

dengan wajah sedih.

“Benar, Cuma dua patah kata ini !”

“Aaaaaai ! sedikitpun tidak salah, dua patah kata ini telah

mencakup seluruhnya, pemuda tampan gadis cantik air mata

bercucuran kecewa dan menyesal mengapa tidak berjumpa

sebelum nikah, memang tidak pantas kami saling berjumpa,

menghadiahkan mutiara tanpa cinta yang mendalam,

mengapa aku harus menghambat pengembalian benda itu ?

apakah mutiara ini harus di serahkan kepadamu ?”.

“Benar, boanpwe membutuhkan mutiara itu, sebab dengan

andalkan benda tersebut harus pergi melakukan pekerjaan ! “.

Tiba tiba air muka Toan Kiem Hoa berubah jadi lunak, ia

tatap sianak muda itu tajam tajam, dibalik sinar matanya

penuh mengandung rasa sayang yang tak terhingga, setengah

harian lamanya ia bungkam kemudian baru menghela napas

panjang.

Cukup meninjau dari wajahmu, sudah sepantasnya aku

tahu siapakah kau, darimana kau bisa tahu akan diriku?”

“Boanpwee sendiripun tidak tahu, sewaktu mendapat

perintahnya ia sama sekali tidak tahu pula kalau cianpwee ada

diwilayah Biauw, dan akhirnya aku berhasil temukan cianpwee

sedemikian cepat, hal ini boleh dikata merupakan takdir “.

“Takdir… takdir…” Toan Kiem Hoa ulangi kata-kata

tersebut sampai beberapa kali, ia baru menghela napas.

“Mungkin perkataanmu benar, inilah kehendak takdir.

Takdir memang ampuh dan tak bisa dihindari ! ia tidak tahu

siapakah aku dan akupun tidak tahu siapakah dia, berkumpul

sedetik untuk kemudian berpisah kembali, meski demikian…

cinta kami bersemi diatas mutiara tersebut, dua puluh tahun

sudah lewat, mutiara ini memang sudah sepantasnya

dikembalikan kepadamu. Tahukah kau cara penggunakannya

?”.

“Tahu. sewaktu hendak berangkat boanpwee pun

membawa serta hioloo Ci-Liong Teng itu “

Toan Kiem Hoa termangu-mangu, beberapa kali bibirnya

bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun

dibatalkan, sedangkan Liem Kian Hoo pun sedang memikirkan

banyak persoalan, ia ingin bicara namun takut untuk

mengutarakannya keluar.

Ketika masing-masing pihak menemukan keadaan yang

serba rikuh ini, akhirnya Toan Kiem Hoa buka suara lebih

dahulu, ia bertanya. “Apa yang hendak kau ucapkan ?”

“Mungkin tidak pantas bagi boanpwee untuk mengajukan

pertanyaan ini, tempo dulu cianpwee dengan…”.

“Apakah ia tidak menceritakan hal itu kepadamu ?”.

“Tidak, boanpwee sedang berada dibalik kabut

kemisteriusan, sedikit ilmu silat yang kumiliki pun berkat

ajaran dari suhuku si Nabi seruling Liuw Boe Hwie, hingga

musim semi tahun ini menjelang tiba, boanpwe baru

mengetahui sedikit duduknya perkara dan belajar ilmu silat

selama sepuluh hari untuk kemudian diutus keluar.”.

“Oooouw…! kiranya begitu, tidak aneh kalau jurus Giok Sak

Ci Hun tersebut baru mencapai dua bagian kesempurnaan,

kalau tidak niscaya aku masih tidak mengerti. Ditinjau dari

keadaan ini, kau memang masih butuhkan latihan yang-rajin

dan giat, ambillah mutiara ini. Tempatku ini, sangat hening

dan tenang, gunakanlah tempat ini untuk perdalam ilmu

silatmu…”

Ditengah sentilan jarinya yang enteng, mutiara tadi dengan

menciptakan serentetan cahaya putih segera meluncur

kehadapan Liem Kian Hoo.

Dengan cepat sianak muda itu menerimanya, sebelum ia

bertindak sesuatu, Toan Kiam Hoa telah bangun berdiri sambil

berdiri sambil berpesan:

“Dalam berlatih silat pikiran tak boleh bercabang, kaupun

tak usah bertemu dengan Watinah lagi, aku akan lindungi

keselamatanmu dari luar. Satu bulan kemudian kau boleh

berlalu bersama-sama dirinya ! hitung-hitung rejeki bocah

perempuan itu baik sekali, kalau tidak memandang diatas

wajahmu, terhadap perbuatannya yang menghianati

perguruan, aku pasti akan menghukum berat dirinya !”.

Mendengar ucapan itu Kian Hoo jadi kegirangan setengah

mati.

“Terima kasih cianpwee ! tempo dulu cianpwee…”

Tidak menanti ia selesaikan ucapannya Toan Kaem Hoa

sudah mengerti apa yang sedang dipikirkan sianak muda itu,

ia goyang tangan dan berseru:

“Apalagi ia tidak ceritakan kejadian masa silam kepadamu,

akupun tidak ingin bongkar rahasia ini, berlatihlah disini

dengan hati tenteram, jangan pikirkan hal hal yang tak

berguna”.

“Baik, boanpwee akan turut perintah !”. Toan Kiem Hoa

tersenyum, ia segera berjalan keluar dari ruangan itu, baru

berjalan beberapa langkah mendadak ia berhenti dan bertanya

dengan wajah serta sikap yang aneh.

“Apakah selama ini ia baik-baik saja? apakah masih seperti

keadaan tempo dulu?”.

“Ia sudah lebih tua dari keadaan semula, tidak seperti

cianpwee tetap awet muda, hanya kesehatanmu tetap

terjamin dan selalu dalam keadaan sehat walafiat.”

“Aaaaai, dalam kenyataan akupun sudah tua, tua dalam

pikiran dan perasaan, wajah serta lahiriah yang tetap muda

tak bisa digunakan sebagai patokan. Manusia lambat laun

akan semakin tua, kalau dipikir justru wajahku yang tetap

awet muda ini malah menambah kelucuan pada diriku”.

Ditengah helaan napas panjang, ia bergerak keluar dan

lenyap dibalik pintu.

Dengan termangu-mangu Liem Kian Hoo duduk mendeprok

dalam ruangan tersebut, pelbagai masalah berkecamuk dalam

benaknya, lama.. lama sekali, tiba tiba korden tersingkap dan

sigadis jelek Sani pun muncul sambil membawa sekeranjang

buah-buahan. Ketika menyaksikan sianak muda itu duduk

termangu-mangu, dengan suara keras ia segera menegur:

“Bukankah suhu perintahkan kau pusatkan pikiran dan

jangan berpikir yang bukan-bukan ? ayoh, jangan buang

waktu dengan percuma lagi, cepatlah, mulai dengan usahamu,

kalau lapar makan buahan tersebut, selama sebulan ia tidak

bakal datang kemari lagi, kalau ada urusan sampaikan saja

kepadaku !”.

Liem Kian Hoo terperanjat, buru-buru ia pusatkan pikiran

dan menyahut.

“Baiklah, terima kasih cici !”.

Sani mendengus dingin, ia putar badan dan berlalu.

Beberapa saat Liem Kian Hoo duduk tenang, akhirnya ia ambil

keluar hioloo Ci-Liong-Teng itu dari saku dan diletakan diatas

tikar, kemudian meletakan pula mutiara tadi keatas tutup

hioloo dimana semula mutiara tersebut terletak.

Kejadian aneh segera berlangsung didepan mata, mutiara

tadi dengan cepat memancarkan cahaya keperak-perakan

yang tipis membuat warna tembaga diatas hioloo itu jadi

terang dan bening sekali, ditengah keheningan itulah secara

lapat-lapat muncul pelbagai gambaran serta tulisan yang aneh

di-atas dinding hioloo tersebut.

Beberapa saat lamanya Liem Kiem Hoo periksa tulisan tadi,

mendadak sekilas cahaya kegirangan berkelebat lewat diatas

wajahnya, diikuti tidak lama kemudian seluruh pikirannya telah

terbenam dan tercurahkan diatas tulisan-tulisan itu…

Setelah melewati masa satu bulan yang panjang dan lama,

akhirnya Liem Kian Hoo sadar dari keadaan yang kosong,

suasana dalam ruangan sama sekali tidak berubah, kecuali

tempat dimana selama ini ia duduk bersila muncul sebuah

bekas lekukan yang dalam dan nyata.

Dibawah tikar sebetulnya beralasan batu hijau yang keras

lagi kuat, ketika sianak muda itu bangun berdiri dan

menyaksikan lekukan diatas batu tersebut sepasang alisnya

kontan berkerut, diikuti ujung bajunya dikebas kedepan, bekas

lekukan tadi seketika lenyap tak berbekas, permukaan batu

jadi halus dan licin bagaikan sebuah permukaan cermin.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia tahu usahanya selama ini

telah berhasil, ia lantas menyingkap korden dan berjalan

keluar, dimana terlihat Toan Kiem Hoa serta gadis jelek Sani

berdiri menanti sambil tersenyum.

Belum sempat sianak muda itu buka suara, Toan Kiem Hoa

telah lari mendekat sambil mencekal tangannya erat-erat ia

berseru dengan hati penuh kegirangan:

“Bocah, akhirnya kau berhasil juga…” serentetan suara

sesenggukan memecahkan kesunyian, titik air mata jatuh

berlinang membasahi wajahnya. Liem Kian Hoo sendiri dibikin

kelabakan dan berdiri melongo-longo oleh tindakan

perempuan itu, ia tak tahu apa sebabnya Toan Kiem Hoa bisa

begitu terharu.

Agaknya Toan Kiem Hoa pun mendusin akan perbuatannya

yang keterlaluan, buru-buru ia lepas tangan dan berkata

dengan nada kikuk:

“setelah menyaksikan kau berhasil dengan latihanmu, dan

mengetahui pula keturunan sahabat karibku berhasil memiliki

ilmu silat yang lihay, hatiku jadi kegirangan setengah mati,

hampir saja melupakan segala hal…”.

“Cianpwee, banyak terima kasih ! selama sebulan ini sudah

terlalu banyak aku merepotkan diri cianpwee…” kata sianak

muda itu pula dengan hati terharu.

Toan Kiem Hoa tersenyum lega dan membungkam dalam

seribu bahasa, menanti beberapa saat tiada ucapan lain, Kian

Hoo tak dapat menahan diri lagi, segera tanyanya :

“Dimanakah Watinah ? “.

Hilang lenyap senyuman yang semula menghiasi ujung bibir

Toan Kiem Hoa. ia tidak menjawab.

Menyaksikan air muka perempuan itu menunjukan

perubahan aneh, Liem Kian Hoo menyangka Watinah telah

dijatuhi hukuman olehnya, ia jadi sangat gelisah.

“Cianpwee, bukankah kau sudah setuju untuk mengampuni

segala kesalahannya ?” ia menegur.

Toan Kiem Hoa tetap membungkam dalam seribu bahasa.

“Benarkah kau sangat memperhatikan keadaan Watinah ? “

Sela Sani dengan suara hambar.

“Tentu saja, kalian telah apakan dirinya ?”

“Aaaaai…! nasibnya benar benar beruntung dan berhasil

menjumpai manusia macam kau, tapi . . . kenapa Thian begitu

keji dan kejam terhadap diriku ?”

Begitu sedih hatinya mengenang nasib buruk yang

menimpa dirinya, Sani menangis tersedu sedu. Liem Kian Hoo

jadi semakin cemas bercampur gelisah, teriaknya keras-keras:

“Sebenarnya bagaimana dengan diri Watinah ?”

“Ia diculik dan dibawa lari oleh Luga ” kata Toan Kiem Hoa

tiba tiba dengan nada benci.

“Binatang ini betul-betul terkutuk, seandainya aku berhasil

menemukan dirinya, pasti akan kuhancur lumatkan tubuhnya,

agar ia merasakan penderitaan dan siksaan bagaimana digigit

dan digerumuti selaksa ulat ulat racun”.

“Aaaaah ! sudah terjadi peristiwa semacam ini ?” Teriak

sianak muda itu terperanjat.

Saking mendongkol dan marahnya, air muka Toan Kiem

Hoa berubah pucat kehijau-hijauan, ia bungkam. Sani yang

ada disisinya segera mewakili gurunya untuk menjawab:

“Watinah telah diculik dan dilarikan oleh Luga serta

sahabatmu she Loo itu, selama ini bajingan tengik itu

mengejar diri Watinah terus menerus, justru Watinah tidak

tertarik kepadanya sungguh tak nyana kali ini ia berani

melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan…”

“Lalu… ba… bbagaimana… bagdaimana jadinya a?

Cianpwee ! subdahkah kau selidiki dan mengejar jejak mereka

?”.

“Karena harus melindungi dirimu yang sedang melakukan

latihan, maka suhu tak sanggup untuk pisahkan diri

melakukan pengejaran.” sahut Sani agak gusar, “sewaktu aku

mengejar kearah tempat tinggal Luga, maka kutemui ia

beserta orang she-Loo itu diikuti beberapa orang bangsa Han,

dengan membawa Watinah melarikan diri tempat itu !”

“Aaaah, mereka pastilah Ceng-Tiong-Su-Hauw empat

manusia gagah dari Ceng-Tiong, tapi Loo Toako, mengapa ia

bisa~ berbuat demikian.”.

“Otak Luga sangat sederhana sekali, lagipula iapun tidak

akan mempunyai nyali sebesar ini, aku rasa kejadian ini

sebagian besar pasti muncul dari benak manusia she~Loo itu.

Hmmm ! bukankah sejak semula aku sudah bilang, bangsa

Han tak ada yang baik, mereka semuanya adalah manusia

manusia jahanam, manusia manusia laknat !”.

Liem Kian Hoo amat tersinggung, hawa gusar menyelimuti

seluruh wajahnya. Menyaksikan kegusaran orang, buru buru

Sani berkata kembali:

“Tentu saja terkecuali dirimu ! “.

Dalam keadaan serta situasi macam begini, Liem kian Hoo

tidak ingin beradu mulut dengan perempuan jelek ini, buru

buru ia berkata kembali:

“Ilmu silat Loo Sian Khek ada batasnya, sedangkan

kepandaian silat yang dimiliki Luga pun tidak akan lebih lihay

dari Watinah, secara bagai mana mereka dapat membekuk

dan menculik Watinah ?”.

“Watinah diculik dan dilarikan oleh mereka setelah dibius

oleh obat pemabok ” kata Toan Kiem Hoa dengan wajah

membesi.

“Obat pemabok seperti itu cuma ada didaratan Tionggoan.

oleh sebab itu kejadian ini pasti dipimpin oleh manusia she

Loo itu, dia pastilah otak dari pada komplotan tersebut Hmm !

orang itu memang berwajah jujur dan gagah, sebenarnya ia

licik, keji dan rendah martabatnya, seandainya ia tak ada

hubungan dengan dirimu, aku pasti tak akan sudi

menyelamatkan jiwanya ! dan seandainya aku bukan sedang

melindungi dirimu, sejak tadi sudah ku kejar diri mereka.”

Liem Kian Hoo termenung dan bebrpikir beberapad saat

lamanya, aia merasa gelisbahpun percuma, maka hatinya

segera ditenangkan kembali.

“Benarkah mereka bisa bersembunyi sehingga bayangan

dan jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas ?” tanyanya.

“Seandainya aku tahu jejak serta tempat persembunyian

mereka, buat apa menanti sampai detik ini…”.

“Cianpwee, dapatkah kau wariskan kepandaian untuk

menggerakkan ulat racun kepadaku ?” tanya LiemKian Hoo

kembali setelah termenung beberapa saat, pertanyaan ini

mencengangkan hati Toan Kiem Hoa.

“Kau bukan orang suku Biauw, mengapa hendak

mempelajari kepandaian tersebut ? tanyanya.

“Watinah pernah menanamkan separuh dari Thian Hiang si

nya kedalam tubuhku, aku dengar racun tersebut merupakan

racun sakti pengganti sukma, meskipun berada beberapa ribu

pal dari sini kedua belah pihak tentu akan merasakan

reaksinya asal aku menggerakkan racun keji yang tertanam

dalam tubuhku, bukankah dengan gampang aku berhasil

temukan jejak mereka ?”.

Toan Kiem Hoa tertawa dingin.

“Aku bergelar Ku Sin Poo, seandainya cara ini dapat di

gunakan. kenapa aku harus menan ti sampai saat ini ?”.

“Apakah sudah cianpwee jajal ?”.

“Sejak semula aku telah melepaskan Ching Ku yang

tertanam dalam tubuhku untuk melakukan pencarian, namun

hasilnya nihil dan jejak mereka tak berhasil ditemukan, aku

rasa agaknya mereka telah mendapatkan bantuan seorang

ampuh untuk mensukseskan usahanya dan orang pasti

mengerti sedalam-dalamnya kepandaian racun. maka dari itu

ia berhasil memotong dan menghalangi perasaan halusku

untuk mencari jejak mereka !”

“Mungkinkah dikolong langit dewasa ini benar-benar ada

orang yang memiliki ilmu racun, jauh lebih ampuh dari

Cianpwee?” air muka Kian-Hoo berubah hebat.

Air muka Toan Kiem Hoa berubah hebat, ia kelihatan amat

gusar sekali.

“Justru aku tidak percaya akan kejadian ini, tetapi peristiwa

tersebut terang-terangan terjadi di hadapan ku, oleh karena

itu aku bersumpah hendak selidiki peristiwa ini sampai jelas

dan menemukan orangr yang secara ditam-diam melinduqngi

serta membarntu mereka”.

“Cianpwee, apakah kau punya keyakinan dapat

menemukan mereka ?” Tanya sianak muda itu setelah

tertegun beberapa saat lamanya. Kontan sepasang mata Toan

Kiem Hoa melotot bulat-bulat.

“Kalau tidak berhasil temukan mereka, selama hidup aku

malu berjumpa dengan manusia lagi ! ” teriaknya.

Habis berseru, badannya laksana sebatang anak panah

yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dan lenyap

dari hadapan mereka berdua.

“Cianpwee ! jangan pergi dahulu, tunggu aku sebentar !”

buru-buru Kian Hoo berteriak.

Tetapi suaranya hanya mengalun kosong di-angkasa,

bayangan tubuh Toan Kiem Hoa tidak muncul kembali

dihadapannya,

Dengan mendongkol Sani lantas menegur:

“Eeee…! kenapa sih kau bersikap demikian kurangajar

terhadap suhu ? kenapa kau ucapkan kata kata semacam itu ?

kau tahu, disebabkan peristiwa ini hatinya tertekan, dua jam

setelah Luga menghianati perguruan, suhu telah mengetahui

kejadian itu, seandainya ketika itu ia hendak cari mereka maka

orang orang itu dengan gampang akan berhasil ditemukan,

tetapi disebabkan dirimu, terpaksa ia harus tahan marah dan

kegusaran yang meluap-luap untuk melindungi

keselamatanmu…”

“Tapi, aku kan tidak membutuhkan perlindungannya ?”.

“Kau benar benar tidak tahu diri ” seru Sani sambil tertawa

dingin. “pada waktu itu merupakan saat yang paling kritis

bagimu dalam berlatih ilmu pernapasan, seandainya kau tak

sanggup menguasahi diri maka kau bakal tertawa dan

menangis sendiri seandainya bukan suhu salurkan hawa

murninya lewat udara untuk bantu menenangkan hatimu,

mungkin kau sudah habis sejak dulu. Selama hidup Su-hu

berwatak keras hati, dalam wilayah Biauw pun-kcdudukannya

sangai tinggi bagaikan malaikat, setelah terjadi peristiwa itu,

nama besarnya mendapat pukulan hebat, tetapi demi dirimu ia

tidak ambil perduli, aku benar benar tidak mengerti apa

sebabnya ia bersikap begitu baik kepadamu, sudah banyak

tahun aku mendampingi suhu, belum pernah kujumpai ia

menaruh perhatian besar terhadap seseorang.”.

Liem Kian Hoo yang mendengar perkataan tersebut jadi

termangu-mangu dibuatnya, ditengah kebingungan ia mulai

teringat, setiap kali ia berlatih hingga mencapai kekritisan

selalu berhasil dihindari dengan lancarnya, ia tidak menyangka

selama ini Toan Kiem Hoa membantu secara diam-diam.

Tapi, apa sebabnya Toan Kiem Hoa membantu dirinya ?

apakah berdasarkan sedikit hubungannya dengan orang itu ?

ditinjau dari nada ucapan Toan Kiem Hoa apakah hanya

tempo dulu antara mereka berdua pernah ada hubungan yang

cukup erat. Orang itu tak mau berterus terang, Toan Kiem

Hoa pun tak mau bicara, sebenarnya apa yang terjadi tempo

dulu ?

Setengah harian lamanya ia putar otak, namun gagal untuk

menemukan alasan yang tepat. tapi ia sadar bahwa ucapan

yang diutarakan tanpa maksud tadi sudah amat menyinggung

perasaan halus Toan Kiem Hoa yang berwatak tinggi hati,

maka ia berlalu dengan membawa hawa amarah.

Teringat betapa cinta dan kasihnya perempuan itu terhadap

dirinya, Kian Hoo merasa perbuatannya barusan memang

kurang sopan, ia termenung beberapa saat lamanya,

kemudian baru ujarnya kepada Sani:

“Demi Toan cianpwee, lebih lebih demi Wa-tinah, aku harus

mencari Luga beserta komplotan-nya, hanya aku tak tahu arah

tujuan, dapatkah cici memberi petunjuk kepadaku ?”.

“seandainya guruku menjumpai bencana, sudikah kau

membantu dirinya tanpa pikirkan keselamatan sendiri ?” tanya

Sani setelah termenung sejenak, sepasang matanya menatap

sianak muda itu tajam-tajam.

“Aaaah, mungkinkah Toan cianpwee menjumpai bencana ?”

teriak Kian Hoo kaget.

“Aku sendiripun tidak tahu, tapi dalam perasaan hatiku

selalu punya firasat tersebut, tahukah kau bahwa aku adalah

berasal dari suku Huang Kiem atau Emas Murni, dalam suku

kami terdapat sejenis ilmu hitam yang luar biasa, ilmu

tersebut dapat meramalkan kejadianku belum sempurna, aku

cuma dapat merasakan garis besarnya belaka !”

Terhadap ucapan ini Liem Kian Hoo percaya, sebab Sani

pernah menebak tepat isi hatinya, setelah merandek ia baru

berkata:

“Toan Cianpwec jauh lebih lihaby daripada diridku,

dapatkah akau membantu diribnya ?”

“Dalam masalah ini persoalannya bukan mampu atau tidak,

tapi sungguh-sungguhkah dirimu ? dan tulus iklas kah kau

lakukan perbuatan ini ?”

“Jangan membicarakan soal budi yang pernah dilepaskan

Toan cianpwee kepadaku, cukup ditinjau dari kedudukannya

sebagai suhu dari Watinah, aku akan kerahkan segenap

kemampuan ku untuk membantu dirinya, meski badan harus

hancur lebur aku tidak akan menyesal !”.

“Bagus ! meninjau dari beberapa patah kata ucapanmu

barusan, akan kurobah pandangan jelek-ku terhadap kalian

bangsa Han, mari kita berangkat!”

“Hendak kemana ?”

“Tentang soal ini aku tak sanggup untuk menjawab,

dengan kekuatan lari yang kita miliki dewasa ini tak mungkin

bisa menyusul suhu lagi, tetapi menurut firasat yang muncul

dalam hati sanubariku aku percaya disaat ia menjumpai situasi

yang paling berbahaya kita sudah tiba disana!”

Liem Kian Hoo bungkam dan cuma mengangguk.

Demikianlah Sani segera pejamkan matanya, dengan

kebatinannya yang kuat ia hendak tentukan arah yang harus

dituju, kurang lebih seperempat jam kemudian ia baru buka

mata, biji matanya berkilat dan teriaknya keras-keras:

“Ayoh berangkat! Malaikat pelindungku mengatakan arah

yang harus kita tuju adalah selatan!”

Habis berkata ia berangkat lebih dahulu kedepan dengan

gerakan cepat, Liem Kian Hoo masih menyangsikan ketepatan

petunjuk yang didapatkan berdasarkan suara batinnya itu.

namun dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk

berpikir panjang, badannya segera bergerak menyusul dari

belakang.

Gerakan tubuh Sani amat cepat, badannya laksana

segulung asap ringan meluncur kedepan melewati jalan

gunung yang amat sempit lagi sulit dilalui. Mula-mula Liem

Kian Hoo mengira ia tak bakal sanggup menyusul perempuan

jelek itu, namun setelah mengepos napas ia baru sadar bahwa

kemajuan yang diperoleh selama sebulan ini amat pesat sekali

hingga berada diluar dugaan, badannya meluncur kemubka

dengan ringadn dan enteng, maeski tak sanggubp melampaui

namun tidak sampai tertinggal jauh.

Demikianlah satu didepan dan yang lain di-belakang

terbang mereka meluncur terus kedepan, ketika itu waktu

sudah menunjukan senja hari, kurang lebih ada tiga jam

lamanya mereka berlari dan beberapa ratus li telah dilewati

tanpa terasa.

Jalan gunung tidak nampak lagi, mereka berlarian ditengah

hutan yang lebat dan batu karang yang runcing dan

berserakan dimana-mana, kabut tebal menyelimuti seluruh

permukaan, binatang buas berkeliaran dimana-mana.

Selama ini Liem Kian Hoo hanya tahu melakukan perjalanan

dan sama sekali tidak memperhatikan keadaan disekelilingnya,

menanti perjalanan mereka terhadang oleh sungai, Sani baru

berhenti disusul Kian Hoo pun ikut berhenti berlalu.

Menyaksikan Sani sigadis jelek itu beristitahat dengan

napas tersengkal-sengkal dan keringat mengucur dengan

derasnya, sianak muda itu sambil tersenyum lantas menegur:

“Cici, apakah kau merasa lelah sekali ?”

Sani mengerling sekejap kearahnya dan tersenyum.

“Kongcu, kemajuan pesat yang kau peroleh selama sebulan

sama halnya dengan hasil latihan kami selama sepuluh tahun

lamanya ! ” ia berseru dengan nada memuji.

Liem Kian Hoo sendiripun tidak habis mengerti mengapa ia

tidak merasakan badannya lelah, menyaksikan keadaan Sani ia

sadar bahwa apa yang diucapkan sedikitpun tidak salah,

terpaksa ia tertawa rikuh.

“Mungkin aku seorang lelaki, maka kekuatan tubuhku jauh

lebih kuat dari pada kalian kaum wanita !”.

“Kongcu, kau tak usah merendahkan diri, membicarakan

dari kekuatan tubuhku tidak akan kalah dengan lelaki

siapapun, kepandaian yang dipelajari kongcu hampir sebagian

besar telah suhu wariskan kepadaku. Satu-satunya alasan

yang masuk diakal adalah Kongcu betul-betul memiliki bakat

yang luar biasa dan melebihi orang lain, tidak aneh kalau suhu

memandang tinggi dirimu”.

Tentu saja Liem Kian Hoo merasa kurang leluasa untuk

mengakui alasan itu, namun iapun tidak punya alasan lain

untuk menerangkan maka ia cuma tertawa bodoh sebagai

jawabnya.

Dalam pada itu rSani termenung tbeberapa saat lqamanya,

mendadark sambil menuding kearah air sungai yang

terbentang dihadapan mereka ujarnya:

“Kongcu, tahukah kau tempat apakah ini ?”

Liem Kiem Hoo menggeleng, sungai tersebut tidak begitu

lebar tetapi warna airnya sangat istimewa, air itu berwarna

coklat kehitam-hitaman yang amat menyilaukan mata.

“Tempat ini merupakan daerah terlarang bagi suku Biauw

kami, sungai ini disebut sungai Kematian, katanya ujung

sungai ini bersumber dari Malaikat Kehidupan, tentu saja

dongeng ini tak berfakta, tetapi tak ada pula manusia yang

membantah tahukah Kongcu, apa sebabnya ?”.

Liem Kian Hoo tidak mengerti mengapa ia ajukan

pertanyaan tersebut, terpaksa ia menggeleng.

“AIasannya gampang sekali, sebab belum pernah ada

orang yang berhasil tiba diujung sungai ini dan melakukan

penyelidikan Air terjun, apabila ingin menyelidiki sumber air

sungai itu maka seseorang harus menembusi air terjun itu

lebih dahulu dan hingga sekarang belum ada orang yang

berani melakukannya. Sebab air sungai ini mengandung bahan

racun yang amat ganas dan dahsyat.

Barang siapa yang terkena air sungai ini maka badannya

segera akan membusuk dan hancur, maka manusia manusia

selihay suhupun tidak berani coba-coba melakukan

penyelidikan Kongcu, tahukah kau apa maksudku membawa

kau datang kemari ?”.

Liem Kian Hoo dibuat semakin bingung, dengan perasaan

tidak habis mengerti ia menyahut:

“Aku rasa cici tidak bakal suruh aku terjun kedalam sungai

untuk menyelidiki sumber air sungai ini bukan …?”

“Itu sih tidak, aku datang kemari karena ingin mewujudkan

cita-citaku, Kongcu sudah kau lihat wajahku ?”.

Liem Kian Hoo masih belum mengerti maksud hatinya,

tetapi menyaksikan sikapnya serius terpaksa ia menjawab:

“Aku dengar dari Watinah, tetapi disebabkan perbuatan

manusia laknat maka wajahmu berubah jadi begini”.

“Tidak salah ! Manusia laknat yang keji itu benar-benar

terkutuk, aku rela mati dibunuh oleh-nya, tapi benci dan

mendendam karena ia bertindak kejam dengan meracuni

diriku hingga wajahku berubah jadi sangat jelek, satu-satunya

harapan yang terkandung dalam hatiku selama ini adalah

menuntut balas dan membinasakan manusia laknat tersebut.”

“Memang tidak ada salahnya cici menuntut balas kepada

munusia terkutuk itu, namun apa hubungannya dengan sungai

ini ?”

“Hubungannya besar sekali. bajingan itu sangat licik dan

banyak akal, seandainya aku keluar mencari dirinya dengar

wajah macam begini, maka tujuanku akan kelihatan dengan

nyata, begitu mendapat kabar pasti akan kabur dan

bersembunyi. Oleh karena itu aku harus mengubah wajahku.

“Apa yang cici pikirkan memang benar, dalam wilajah

Tionggoan kami banyak terdapat kepandaian untuk mengubah

raut muka, aku dapat bantu dirimu untuk..”.

“Tidak usah, aku hendak mengubah wajahku hingga

berubah sama sekali bagaikan orang lain, akan kupancing dia

untuk mencari diriku dengan sendirinya…”.

“Cici, cara apa yang hendak kau lakukan ?”

“Menggunakan air sungai ini ” kata Sani sambil menuding

kearah sungai dengan warna hitam tersebut “Aku sudah

melakukan penyelidikan yang seksama dan mendapat

kesimpulan bahwa bahan racun yang terkandung dalam air

sungai ini merupakan tandingan dari racun yang mengeram

dalam tubuhku, Agar wajahku mengalami perubahan maka

aku membutuhkan bantuan dari kongcu, nanti apabila aku

keluar dari air sungai maka segeralah kongcu jangan salurkan

hawa murni berhawa Yang mu kedalam tubuhku dan tembusi

Hian-hin-Kwan-Hiat ku. Kesempatan ini merupakan

kesempatan yang telah kutunggu-tunggu selama puluhan

tahun lamanya, aku harap kongcu jangan mengecewakan

harapanku, sebab dalam kolong langit dewasa ini hanya

Kongcu seoranbg yang, cocok ddengan syarat inai, lagipula

menburut firasat batinku, tindakan ini mempunyai hubungan

yang erat sekali dengan usaha Kongcu untuk menyelamatkan

suhu dari lubang kematian.

Kongcu, asal kau suka membantu diriku sehingga

harapanku terwujud, maka sepanjang hidup aku akan selalu

berterima kasih kepadamu !”.

Selesai bicara tanpa menantikan reaksi dari Liem Kian Hoo

lagi, dengan gerakan yang cepat ia lepaskan seluruh pakaian

yang ia kenakan sehingga beberapa saat kemudian Sani sudah

berada dalam keadaan bugil, telanjang bulat tanpa sedikit

benangpun menutupi bagian ” Terlarang ” nya.

Ditengah sorotan cahaya sang surya disenja hari dan

ditengah ketegunan Liem Kian Hoo, tubuhnya yang montok,

padat dan putih itu terjun kedalam air sungai yang penuh

dengan ombak.

Waktu . . sedetik . . semenit berlalu dengan cepatnya, air

sungai yang penuh dengan riak ombak tetap mengganas dan

menggulung seperti sedia kala… tak kelihatan sesuatu apapun

yang terjadi, sungai… hening… dan tak bersuara.

Diam-diam sianak muda itu berdoa, semoga Sani berhasil

memenuhi harapannya.

Ketika tubuh Sani yang telanjang bulat dan indah menawan

muncul dihadapannya tadi, pendekar misterius yang berasal

dari keluarga kaya ini kehilangan ketenangan hatinya, seluruh

wajah berubah merah padam, jantung berdebar keras.

Selama dua puluh tahun ia selalu hidup dibawah didikan

serta pengawasan yang ketat, meski ia dibesarkan dalam

keluarga kaya, tidak sedikit dayang cantik berkeliaran dalam

gedung Ti-hu, namun dayang-dayang itu tiada kesempatan

untuk melayani Sauw Kongcu mereka.

Karena sianak muda ini selalu mendapat didikan Boen

maupun Boe yang ketat, pelajaran sastra diterima secara

terbuka dan pelajaran silat secara rahasia, sekalipun begitu

baik Boen maupun Boe ia selalu berada dalam pengawasan

yang ketat, Lie Hong Hwie pelacur kenamaan tersebut

merupakan gadis pertama yang masuki kedalam hatinya,

namun setelah mengetahui rahasia dibalik asal usul gadis

tersebut tidaklah mungkin baginya untuk melanjutkan

hubungan itu dengan suatu percintaan.

Menerima cinta kasih serta penbyerahan Watinahd

merupakan kejaadian yang palinbg menghangatkan badannya,

sekalipun begitu, hubungannya dengan Watinah selalu terjalin

dalam keadaan saling hormat menghormati kedua belah pihak

belum sampai melakukan hal-hal di luar tata sopan.

Dan sekarang, secara tiba-tiba Kian Hoo berhasil melihat

rahasia sebenarnya dari seorang gadis, membuat ia paham

dimanakah letak daya yang sebenarnya dari kaum hawa,

Potongan badan yang padat montok, pahanya yang putih

halus, kulitnya yang bersih, pinggangnya yang ramping,

payudaranya yang penuh berisi serta segala sesuatunya

mendebarkan hati jejaka tersebut….

Hanya sekilas ia memandang seluruh bagian tubuh gadis

itu sesaat Sani terjun kedalam aliran air sungai yang berwarna

hitam gelap itu, meski cuma sekejap namun cukup

mengacaukan pikiran Kian Hoo, secara tiba-tiba… entah dari

mana datangnya hawa napsu birahi yang meluap-luap muncul

dan mempengaruhi seluruh benaknya….

Waktu berlalu dengan cepatnya, ditengah kesunyian serta

keheningan yang mencekam seluruh angkasa itulah tiba-tiba

air berwarna hitam itu memisah kesamping diikuti sesosok

bayangan manusia yang putih bersih menubruk datang.

“Cepat ! Cepat, lakukan seperti apa yang kukatakan.”

terdengar Sani yang berseru dengan suara cemas.

Hampir boleh dikata tiada kesempatan baginya untuk

berpikir, tubuh Sani yang masih basah dan bugil itu sudah

menubruk kedalam pangkuannya, Liem Kian Hoo tak berani

berayal, buru-buru telapaknya menekan diatas Sam-Ciat gadis

itu, segulung hawa murni yang beraliran panaspun dengan

cepat mengalir kedalam tubuhnya, (Yang dimaksudkan Sam-

Ciat adalah bagian atas Lambung, bagian tengah lambung

serta bagian atas selangkangan).

Mula-mula tubuh Sani bergetar keras, diikuti ia tak berkutik

lagi. Liem Kian Hoo yang belum pernah pegang badan wanita,

saat ini merasakan dimana telapaknya menekan merupakan

suatu tempat yang lunak lagi halus, daya rangsang dalam

badannya semakin berkobar mengikuti getaran badan Sani

yang keras semakin meluap napsu birahi berkorban dalam

dadanya.

Tanpa sadar Liem Kian Hoo mulai gunakan tangannya yang

lain untuk meraba dan meremas remas buah dadarnya yang

padat tberisi, dengan qkesadaran yang rmulai berkurang ia

mulai gerayangi seluruh bagian terlarang gadis itu, napsu

birahi sukar dikendalikan lagi dalam tubuhnya.

Mula-mula Sani menggeliat, ia mendongak dan memandang

kearah si anak muda itu dengan pandangan kaget dan

tercengang.

Liem Kian Hoo tersenyum ringan, senyuman yang halus

dan sama sekali tidak mengandung hawa jahat, tangannya

tetap bergeser dari dada menuju keatas bahunya, kemudian

dari bahu menuju kelehernya yang putih dan terakhir ia

menghela napas panjang.

Sianak muda ini menghela napas setelah menyaksikan

wajahnya yang jelek, seandainya ia tidak berwajah buruk,

dengan rambutnya yang hitam, panjang serta berkilat serta

kulit badannya yang halus putih dan bersih, boleh dikata Sani

benar-benar seorang gadis yang sangat cantik.

Apalagi sepasang biji matanya yang bening laksana bintang

timur, begitu cemerlang dan menawan hati, Agaknya Sani

dapat membaca isi hati sianak muda itu dari helaan napasnya,

ia tersenyum sedih dan berkata lirih:

“Liem Kongcu, keburukan wajahku telah merusak

pemandangan matamu !”.

“Tidak ! setelah bergaul agak lama dengan cici, aku sudah

terbiasa memandang wajahmu.”

Sani termenung sejenak, tiba-tiba dengan suara yang aneh

ia berkata kembali:

“Kongcu, pandanglah wajahku yang buruk ini lebih lama !

raut wajahku yang jelek segera akan lenyap dari muka bumi

untuk selama lamanya, aku berharap kau suka ingat-ingat

bentuk mukaku ini, sebab hal ini akan memberi kebaikan

bagimu”.

“Tapi cici, mengapa sampai sekarang wajahmu belum juga

berubah ?”.

“Sebab sengaja kupertahankan beberapa saat lebih lama

agar Kongcu dapat memandangnya.”.

“Kenapa ? aku kepingin cepat-cepat melihat wajah cici

berubah jadi cantik kembali “.

Sani menghela napas panjang, lalu angkat telapaknya dan

mulai menggaruk pipinya, Kejadian aneh tiba-tiba berlangsung

didepan mata, mengikuti garukan itu kulit luar yang

menyeramkan itu mulai mengupas segumpal demi segumpal

dan beberapa saat kemudian muncullah wajah yang cantik,

halus dan putih mempesonakan hati.

Hampir-hampir saja Liem Kian Hoo tidak percaya dengan

mata sendiri dalam waktu singkat inilah raut muka Sani telah

berubah sama sekali, ia kelihatan jauh lebih kurus, jidat yang

semula bulatpun sekarang berubah jadi lancip.

Namun, meski demikian, wajahnya kelihatan jadi amat

cantik sekali bagaikan bidadari yang baru turun dari

kahyangan.

“Kongcu, periksalah wajahku, bagaimana keadaanku pada

saat ini ?” Tanya Sani dengan suara gemetar.

Lama sekali Liem Kian Hoo tertegun, kemudian ia berseru

tertahan.

“Cantik, sungguh amat cantik ! Cici, sayang ditempat ini tak

ada cermin, aku tak berdaya untuk melukiskan bagaimana

cantiknya dirimu saat ini”

“Benarkah ?” Begitu terharu gadis Biauw ini sehingga titik

air mata mulai jatuh berlinang.

“Tentu saja sungguh ! kalau tidak percaya, pandanglah biji

mataku, meski kecil mungkin dapat digunakan sebagai cermin

untuk memeriksa bagaimana cantiknya dirimu sekarang”.

Sani kedipkan matanya, air mata jatuh berlinang, ia tatap

biji mata sianak muda itu tajam-tajam dan beberapa saat

kemudian ia peluk tubuh Kian Hoo lalu menangis tersedusedu.

Liem Kian Hoo memahami bagaimanakah perasaan

hatinya ketika itu, ia belai rambutnya yang halus dan

menghibur:

“Kiong-hie, kiong-hie ! Cici, akhirnya kau berhasil temukan

kembali kecantikanmu, seharusnya kau bergembira dengan

hasil tersebut kenapa kau malah sedih ?”.

Sepasang bahu Sani bergetar tiada hentinya, sedang Liem

Kian Hoo merasakan suatu perasaan yang aneh, gesekan kulit

dengan kulit gadis itu menimbulkan panas yang aneh, Buruburu

ia dorong Sani seraya berseru:

” Cici ! kenapa kau ? mengapa tubuhmu berubah begini

panas.”

Sani tidak menjawab, lengannya peluk sianak muda itu

semakin kencang, bahkan hampir seluruh tubuhnya

ditempelkan di atas dadanya, pipi yang halus basah oleh air

mata ditempelkan diatas tubuh Kian Hoo, biji matanya yang

jeli memancarkan sinar yang aneh, kulitnya yang putih lambat

laun berubah jadi merah.

Tiba-tiba lubang hidung Kian Hboo mencium bau dyang

aneh sekalai, bau tadi menbgobarkan kembali napsu birahi

yang berhasil ia tahan tadi, bahkan bergolak semakin dahsyat

dari keadaan semula. Hawa panas yang tersebar dari tubuh

Sani menembusi pakaiannya yang tipis dan membakar

hatinya, belum pernah sianak muda itu merasakan keadaan

seperti ini, ia benar-benar terpikat.

Tangannya yang bertahan diatas tanah makin lemah dan

kehabisan tenaga, bahkan kakipun jadi lemas, ia tak kuat

menahan bobot badannya lagi. mereka jatuh berbaring diatas

tanah dan saling bertindihan satu sama lainnya…

Seluruh kesadaran lenyap, pikiran kosong. hanya napsu

birahi yang berkobar makin dahsyat, hanya dengusan napas

makin menderu… kencang,… keras… rintihan

berkumandang… dan entahlah apa yang telah terjadi…

Hujan badai telah lenyap… suasana jadi hening, sunyi tak

kedengaran sedikit suarapun, kesadaranpun lambat laun pulih

kembali mereka dapat berpikir kembali dengan sehat, keadaan

jadi normal.

Ketika Kian Hoo buka matanya, ia temukan Sani duduk

termangu mangu disisinya. ia tetap kelihatan cantik jelila,

hanya air mata telah membasahi seluruh pipi dan wajahnya

yang halus.

Liem Kian Hoo tertegun sesaat lalu teringat kembali apa

yang sudah ia lakukan beberapa saat berselang, ia jadi kaget

dan segera meloncat bangun sambil pukul jidatnya sendiri ia

berteriak kalap, agaknya macam orang sinting.

“Kurangajar ! kurangajar ! aku harus mati . . . oooouw . . .

Thian ! apa yang telah kulakukan ?…”.

Sani bangkit berdiri, ambil pakaiannya dan dipakaikan

keatas badannya yang kekar, lalu dengan suara lembut ia

berkata:

“Pakailah bajumu, kau bisa sakit kalau tetap telanjang.”.

“Cici…” jerit Kian Hoo sambil genggam tangannya, “Aku…

aku…. aku malu terhadap dirimu, aku telah bersalah

kepadamu…”

“Kongcu, jangan terlalu ikuti suara hatimu ! peristiwa ini tak

bisa salahkan dirimu, seharusnya akulah yang harus malu

kepadamu, dan sepantasnya akulah yang harus lebih tenang,

lebih waspada tetapi ketika aku tahu bahwa wajahku pulih

kembali seperti sedia kala, aku lupa keadaan, hatiku betulbetul

bebrgolak sehinggad tak kuasa menaahan diri.”

Dibabwah hiburan Sani akhirnya sianak muda itu berhasil

menenangkan hatinya, ia memandang tempat kejauhan

dengan sinar mata kosong…. hampa

“Aaaai…! air racun ini dinamakan sumber Kehidupan.” kata

Sani kembali sambil menghela napas, Sumber air ini

mempunyai suatu daya kekuatan untuk mendorong napsu

birahi manusia, merangsang seseorang untuk menikmati sorga

dunia ! sering kali orang Biauw kami gunakan sumber air

tersebut sebagai obat orang yang lemah syahwat. Kongcu,

tahukah engkau apa sebabnya kita terangsang ? sewaktu

Kongcu salurkan hawa murni kedalam tubuhku, kau telah

terpengaruh oleh daya kerja air mujijat itu, namun sungguh

tak nyana Kongcu punya daya tahan yang luar biasa, daya

kerja air itu belum juga tunjukan reaksinya sementara aku

telah berusaha menguasai diri… Aaaai ! tak disangka sedetik

aku kurang rapat menjaga diri, akhirnya terjadi pula apa yang

tidak diharapkan, peristiwa ini boleh dikata sebagai takdir.”.

Liem Kian Hoo masih melongo-longo dan tidak habis

mengerti, Sani yang menyaksikan keadaan sianak muda itu

lantas menghela napas dan terangkan lebih lanjut:

“Tenaga Iweekang kongcu amat sempurna, sewaktu

tubuhku menempel dalam badanmu, hawa dingin yang

menyerang tubuhku sudah lenyap dan daging busuk diatas

wajahku pun sudah hancur oleh air mujijat ini, tetapi aku tak

mau ambil tindakan dengan cepat, hal ini dikarenakan aku

hendak gunakan wajahku yang jelek untuk membendung

napsu birahi yang berkobar dalam tubuh Kongcu, aku

berharap napsu birahi Kongcu bisa dibendung setelah melihat

mukaku yang seram ini.”

“Lalu apa sebabnya tidak cici ceriterakan sifat dari sumber

air itu kepadaku?”

“Aaaaai . . . ! inilah akibat sifat tamakku”. sahut Sani

tertawa getir. “Aku tahu bahwa kau adalah seorang lelaki

sejati yang kukuh memegang tata kesopan, seandainya

kuberitahukan dahulu hal tersebut, mungkin kau akan

menampik permohonanku.”.

Liem Kian Hoo termenung beberapa saat kemudian baru

berseru dengan nada menyesal:

“Cici kau jangan berkata begitu ! aku sendiripun merasa

amat malu dan benci terhadap diri sendiri”.

“Aaaai..! sebenarnya hal ini tak bisa salahkan dirimu,

sewaktu pertama kali kau raba tubuhku, aku mengira dayra

kerja sumber titu sudah mulaiq bereaksi, tetarpi dari sinar

matamu aku tidak temukan napsu birahi, hal ini membuat aku

jadi kaget bercampur tercengang, kemudian aku pikir mungkin

hal ini disebabkan imanmu sangat kuat dan tahan terhadap

segala godaan, maka aku mulai mengupasi kulit kulit busuk

yang ada diluar, kemudian karena gembira kulepaskan

penguasaan terhadap diriku, Aaaai . . . ! sungguh tak nyana

karena hal ini terjadilah peristiwa yang tak disangka, tubuhku

yang kotor dan tidak suci ini malah telah menodai kebersihan

kongcu.”

Liem Kian Hoo jadi terharu bercampur malu setelah

mendengar perempuan itu tidak menyalahkan dirinya malahan

menegur diri sendiri, ia berteriak:

“Cici ! aku Liem Kian Hoo bukan manusia yang tidak

bertanggung jawab, aku bersumpah mulai hari ini…”

“Kongcu ! jangan kau teruskan ucapanmu itu, hatiku sudah

layu, sudah semestinya kubalas kebaikanmu yang suka bantu

aku pulihkan kembali wajahku yang buruk, yang kusesalkan

hanyalah persembahanku kepadamu tak dapat dilakukan

dengan badan yang masih perawan, untung wajahku telah

pulih kembali, bagaikan hidup untuk kedua kalinya, aku telah

persembahkan seluruh kesucianku dalam kehidupan yang

kedua kalinya ini kepadamu, peristiwa yang terjadi tadi

anggap saja sebagai balas jasaku kepadamu, kau tidak

berhutang lagi kepadamu apa yang telah terjadi sebagai suatu

impian indah, setelah mendusin semuanya lenyap dan hilang,

keadaan kita tetap seperti sedia kala dan kau tak usah

mengutarakan maksud apapun…”

“Apa yang cici ucapkan adalah menurut pendapatmu tapi

lain halnya bagi diriku.” seru Kian Hoo buru-buru. “Aku tak

dapat menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu impian

belaka.”

“Kongcu ! aku nasehati dirimu lebih baik jangan terlalu

keras hati, aku kagum terhadap suami macam kau, kalau

usiaku lima belas tahun lebih muda dan tidak pernah terjadi

peristiwa terkutuk seperti yang kualami dahulu, dengan hati

rela pasti aku akan menyertai dirimu. Tapi sekarang tak usah

kita bicarakan lagi !”.

“Usia bukan soal, apalagi wajah cici kelihatan masih amat

muda….”.

“Tidak mungkin, tahun ini aku telah berusia tiga puluh

sembilan tahun, kalau dibandingkan dirimu maka aku mirip

rumput dimusim rontok yang hendak dibandingkan dengan

bunga dimusim semi, kau masih ingat perkataan guruku ?

Tuanya seorang manusia bukan terletak pada raut muka tapi

pada hati, mungkin hatiku, jalan pikiranku jauh lebih tua

berlipat-lipat ganda daripada usiaku yang sebenarnya….”

Liem Kian Hoo masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi

dengan wajah adem Sani telah menyambung:

“Kongcu, jangan lupa bahwa aku adalah istri orang lain,

walaupun orang itu sudah tinggalkan diriku, walaupun aku

sudah bermusuhan dengan orang itu, tapi aku merupakan

istrinya yang sah, apakah Kongcu inginkan aku berhianat pada

suamiku dan nyeleweng ?”.

Mendengar perkataan tersebut Liem Kian Hoo jadi

terperanjat ia tidak berani bicara lagi.

Sani menghela napas panjang, perlahan-lahan ia ambil

pakaiannya yang tersebar diatas tanah dan mulai dikenakan,

tubuhnya yang bugil dan indah-pun perlahan-lahan tertutup

dan bersembunyi dibalik pakaian.

Liem Kian Hoo memandang gerak gerik perempuan itu

dengan sinar mata tertegun, ia merasa aneh dan tak habis

mengerti.

-oo0dw0oo-

Jilid 5

“KONGCU, mengapa kau memandang diriku terus

menerus?” mendadak Sani menegur sambil tertawa, Merah

jengah selembar wajah Kian Hoo.

“Aku hendak mengucapkan sepatah kata yang mungkin

tidak sesuai untuk diutarakan, Cici benar benar amat cantik,

kau adalah seorang gadis yang paling cantik dikolong langit”.

“Oouw, didaratan Tionggoan banyak tersebar gadis cantik,

aku tidak berani menerima pujian kongcu itu !”

“Tapi aku bicara sebenarnya.”

“Kecantikan seseorang gadis kadangkala merupakan bibit

bencana bagi diri sendiri atau racun keji bagi orang lain.

Kongcu, camkanlah ucapanku ini, kurang berhati-hati kau

bertindak, bisa jadi kau dicelakai oleh kecantikan gadis lain.”

Liem Kian Hoo tundukan kepala membungkam.

Agaknya Sani merasa apa yang diucapkan terlalu berat, ia

tertawa sedih dan berkata kembali:

“Tentu saja aku percaya kau bukan seorang lelaki hidung

belang… aku hanya berharap kau bisa melupakan hubungan

senggama yang pernah kita lakukan ini !”.

“Melewati samodra akan bertemu air, mendaki gunung

tertutup kabut, cici ! kau telah memberi satu persoalan yang

amat sulit bagiku.”

“Kongcu, kau…”.

“Cici, kau adalah gadis pertama yang masuk dalam lembar

hidupku, terhadap Watinah aku memang menaruh cinta. tapi

cinta seorang pria bukan segampang seperti yang kau

pikirkan, terutama sekali terhadap suatu kejadian yang sukar

dilupakan !”

Titik-titik air mata jatuh membasahi wajah Sani. serunya

gemetar:

“Kongcu, seandainya kau benar-benar serius, setiap kali

kau membutuhkan katakanlah kepadaku, aku pasti akan

mengabulkan permintaanmu tanpa pikir panjang, kecuali

kawin dengan dirimu yang tak dapat kulakukan.”

“Cici, kau anggap aku lelaki macam apa ?”.

“Aku hanya dapat melakukan sebanyak itu Kongcu, harap

kau jangan terlalu mendesak diriku !”.

“Sudah… sudahlah, selama ini cici sudah terlalu banyak

menaruh kebaikan kepadaku, tiada berhak bagiku untuk

mohon lebih banyak darimu satu kali berbuat salah, kesalahan

tersebut tak boleh diulang kembali Cici, kaupun tak usah

berkata demikian lebih-lebih tak usah berkorban lebih banyak

bagiku, akan kuusahakan sekuat mungkin untuk menguasahi

diri sendiri dan kecantikanmu akan selalu kuberi tempat dalam

lubuk hatiku !”

Habis berkata ia kenakan bajunya dan berdandan selesai

segalanya mendadak ia temukan se pasang mata Sani

memandang kedepan dengan cahaya hampa, ia jadi

keheranan sementara hendak bertanya tiba-tiba Sani tertawa

dan berkata:

“Ayoh berangkat ! barusan aku berdoa dan mohon kepada

Malaikat untuk memberi petunjuk kearah mana kita harus

pergi !”.

“Lalu bagaimana jawabnya ?”

“Malaikat beritahu kepadaku agar berangkat keselatan,

dalam bayangan benakku ia tunjukkan suatu tempat dan

apabila ingatanku tidak salah tempat itu seharusnya adalah

bukit Srigala langit digunung Mang Chiong San !”.

Walaupun Kian Hoo tidak percaya, namun ia bertanya juga:

“Jauhkah gunung Mang Chiong San dari sini ?”.

“Walaupun gunung Mang Chiong San terletak diwilayah In-

Iam namun masih termasuk daerah suku Biauw kami, apabila

kita potong jalan maka dalam dua hari akan tiba disana,

firasat dalam hatiku agaknya memberi kisikan adanya mara

bahaya ditempat itu, aku rasa kita harus cepat-cepat

berangkat kesitu !”

“Mungkinkah Watinah serta Toan Cianpwee berada disana

?” tanya sianak muda itu cemas.

“Tidak begitu jelas, tapi kita harus percaya pada petunjuk

Malaikat, selamanya petunjuk dari Malaikat tak bakal salah”.

“Kalau Malaikat betul-betul tahu, mengapa ia tidak kasi

petunjuk yang lebih jelas lagi ?”.

“Disinilah letak percobaan Malaikat terhadap kita,

kepercayaan serta ketulusan hati kita dicoba dan diuji oleh

Malaikat, apabila kita percaya dengan petunjuk ” Nya “, maka

kita tak boleh mencurigai salah atau betulnya petunjuk itu.

kalau kita tidak percaya kepada “Nya”, iapun tak usah

membaiki kita dengan memberitahukan segala hal kepada

kita”.

Liem Kian Hoo menggeleng, ia tetap tetap tidak percaya

tapi iapun tidak berani menunjukkan penentangan, maka dari

itu setelah Sani menetapkan arah iapun segera menyusul

kemana gadis itu pergi.

Demikianlah kedua orang itu mulai mengembara ditengah

hutan belantara yang lebat dan jarang dijamah manusia,

dalam keadaan seperti ini Sani menunjukan kematangan

pengetahuan seorang suku Biauw, seringkali ia kasi petunjuk

kepada Kian Hoo buah-buahan apakah yang boleh dimakan

dan sumber air apa yang boleh diminum, kemudian

menggunakan sejenis dedaun untuk menunjukan arah yang

benar.

Dua hari sudah lewat, mereka berdua selalu melakukan

perjalanan ditengah hutan belantara yang lebat dan lembab

dari cahaya matahari, makin hari sianak muda itu makin tak

sabar, ia tak tahu sampai kapan mereka baru bisa keluar dari

hutan tersebut, kalau lapar mereka bersantap, kalau lelah

beristirahat walaupun Sani selalu menasehati dirinya agar

sabar namun penderitaan selama beberapa hari ini cukup

membuat ia tersiksa.

Untung keadaan semacam ini tidak berlangsung lama,

disaat batas-batas kesabarannya sudah hampir habis keluarlah

mereka dari dalam hutan belantara, dan tibalah disebuah

tanah rumput yang amat luas.

Diujung padang rumput itu menjulang tinggi sebuah

gunung yang besar lagi megah, puncak gunung lenyap dibalik

awan, tinggi curam dan mengerikan.

“Itulah gunung Mong-Chiong-San !” kata Sani sambil

menghembuskan napas panjang. “Bukit Srigala Langit terletak

dilambung gunung, dari tempat ini menuju bukit tersebut kita

harus lewati daerah kekuasaan dari suku Leher Panjang yang

masih liar dan biadab, setelah berjumpa dengan mereka nanti

harap Kongcu bertindak hati-hati, jangan sampai timbulkan

kesalahan paham dengan mereka.”

“Kenapa ? apakah Suku Leher panjang masih Liar dan

belum pernah berhubung dengan dunia luar.”

“Suku Leher Panjang adalah suku paling cerdik diantara

suku Biauw kami, namun merekapun merupakan suku Iain

tetapi dalam hati mereka masih tertancap sifat yang paling

buas, paling biadab dari suku apapun, terhadap bangsa asing

baik itu bangsa Han maupun Biauw sendiri mereka selalu

anggap musuh, bahkan niat balas dendam mereka kuat sekali,

asal kita salah, salah seorang diantara mereka, maka seluruh

anggota suku akan bersama-sama musuhi kita, sebelum

korbannya dibunuh mati mereka tak akan puas, oleh sebab itu

jarang sekali suku Biauw kami berhubungan dengan mereka”.

“Apakah cici dengan kepandaian silat yang dimiliki saat ini

masih jeri terhadap mereka ?”.

“Jangan berkata demikian.” seru Sani seraya menggeleng.

“Kedua belah pihak sama-sama berasal dari suku yang tak

berbeda, aku tidak ingin terjadi bentrokan dan saling bunuh

dalam suku sendiri, lagipula orang-orang dari suku Leher Panjang

masih memiliki banyak ilmu senjata rahasia serta ilmu

hitam, serangan mereka tak bisa dijaga-jaga tibanya…”

“Haaaa… haaaa… haaaa… kalau cuma senjata rahasia sih

tak perlu kukuatirkan apalagi ilmu Hitam, lebih lebih tak boleh

dipercaya.”

“Kongcu ! jangan lupa, tujuan datang kemari bukan hendak

angkat nama dan menjagoi suku suku lain !”.

“Bagaimana kalau seandainya mereka menyerang kita lebih

dahulu ?”.

“Soal ini tak mungkin terjadi, asal tidak melanggar

pantangannya aku rasa mereka tidak bakal sengaja cari garagara

dengan kita, apalagi aku punya ikatan persahabatan

dengan kepala suku mereka, aku percaya mereka tidak akan

sampai menyusahkan kita”.

“Cici, kau jangan lupa bahwa wajahmu sekarang telah

berubah, mereka belum tentu bisa kenali dirimu lagi.” seru

Kian Hoo memperingatkan.

Sani berpikir sebentar, kemudian dari sakunya ambil keluar

sebuah cincin baja dan dikenakan diatas jarinya, lalu sambil

tertawa ia berkata:

“Benda ini dihadiah kepala suku mereka yang terdahulu

kepada ayahku sebagai tanda mata, dengan adanya cincin ini

mereka pasti akan lepaskan kita berlalu tanpa banyak

merintangi usaha kita, sebab tempo dulu ayahku pernah

selamatkan jiwa kepala suku mereka yang terdahulu, maka

sebagai rasa terima kasih dan bersahabat mereka hadiahkan

cincin ini”.

Setelah mendengar perkataan itu Liem Kian Hoo tidak

bersuara lagi, mereka berdua segera lewati padang rumput itu

dan menuju kekaki gunung.

Tidak selang beberapa saat kemudian mereka sudah tiba

didepan sebuah benteng yang dibangun terdiri dari bambu,

pintu benteng itu tepat didirikan dimulut lembah untuk menuju

keatas gunung.

Puluhan tombak diluar tembok bambu merupakan tebing

tinggi yang curam dan terjal, jadi pintu benteng itu merupakan

satu2-nyba jalan penghubdung.

Dengan cepaat kedua orang bitu masuk kedalam benteng,

belum jauh mereka masuk Liem Kian Hoo berdua telah

dikurung oleh sekelompok manusia yang berbentuk aneh

sekali.

Setelah menjumpai kelompok manusia-manusia tersebut,

sianak muda itu baru sadar apa sebabnya mereka dinamakan

suku Leher Panjang, kiranya setiap orang yang ada didalam

benteng itu memiliki leher yang panjang sekali, lebarnya

seperti lengan dan panjang beberapa depa, menyungging

batok kepala yang menjulang diatas, keadaan mereka jadi

kelihatan amat lucu dan menggelikan sekali.

Ketika orang-orang itu mengurung mereka berdua,

mulutnya komat-kamit mengucapkan kata kata yang tak

dimengerti tangannya tuding kemari menunjukan perasaan

heran, bahkan perasaan gelipun terpancar diatas wajah

mereka, mulut terbentang dan senyuman menghiasi semua

orang, Liem Kian Hoo tidak mengerti apa yang sedang mereka

ucapkan, kepada Sani yang ada disisinya segera ia bertanya:

“Apa yang sedang mereka bicarakan ?”.

“Mereka sedang mentertawakan kita punya bentuk yang

menggelikan !”.

“Apa ? mereka bilang bentuk badan kita mengelikan ? lalu

apakah bentuk badan macam mereka baru dikatakan cantik

dan menarik ?”.

“Patokan kecantikan bagi suku Leher panjang terletak pada

pendek dan panjangnya leher seseorang, makin panjang leher

mereka makin cantik pula orang itu. Sedang leher kita terlalu

pendek tentu saja mereka anggap kita sebagai manusia yang

paling jelek dikolong langit !”.

Belum pernah Kian Hoo mendengar kisah semacam ini, ia

jadi tertarik.

“Waaaah… kalau begitu, asal kita punya leher yang

panjangnya mencapai tiga depa, mereka pasti akan

menganggap kita sebagai manusia yang paling cantik didunia

!”.

“Sedikitpun tidak salah, teringat Bini kepala suku yang

terdahulu dianggap gadis tercantik dari seluruh suku, aku

pernah menjumpai dirinya sewaktu masih kecil, meski

lehernya tidak mencapai tiga depa, paling sedikit ada dua

depa setengah panjangnya !”.

“Waaaduuuh! kalau didaratan Tionggoan terdapat manusia

semacam ini, seluruh penduduk akan menganggap manusia

itu sebagai setan gantung yang baru muncul dari akhirat.”

Teriak Liem Kian Hoo sambil menjulurkban lidahnya.

“Kdalau kecantikana macam begini, baku sih lebih baik

mengundurkan diri saja”. Sani tertawa.

” Adat istiadat tiap daerah selalu berbeda, ” katanya,

“seumpama sejak dilahirkan kau berdiam di sini, tanggung

kaupun akan merasa bahwa orang yang berleher panjang

merupakan manusia tercantik didunia bahkan kau akan

berusaha dengan segala macam daya upaya untuk menarik

panjang leher sendiri”.

“Apakah leher mereka sejak dilahirkan sudah sepanjang itu

?”.

“Mana mungkin terjadi ? Manusia yang di lahirkan dalam

kolong langit, kecuali terdapat sedikit perbedaan yang tak

begitu menyolok boleh dikata tak bakal terjadi selisih

perbedaan yang begitu besar, Leher-leher mereka yang

panjang tentu saja hasil karya manusia itu sendiri setelah

lahir, dalam suku Leher panjang terjadi kebiasaan setiap bayi

yang dilahirkan, leher mereka segera dikalungi dengan gelang

besi, mengikuti usianya yang makin lama semakin bertambah,

bobot gelang besi itupun makin diperberat sesuai dengan

bobot badan orang itu sendiri, panjang pendeknya leher

seseorangpun ditetapkan menurut tingkatan serta patokan

sampai dimanakah kecantikan yang dibutuhkan.

Ketika bocah itu sudah berusia dua puluh tahun dan bobot

gelang emas yang telah ditetapkan telah mencapai batasnya

maka leher tersebut akan diukur panjangnya, apabila leher

orang itu lebih panjang dari ukuran normal maka dia akan

mendapat kebahagiaan, serta kehormatan yang luar biasa

dalam suku itu, sebaliknya bila panjang leher itu tidak

mencapai ukuran normal maka orang itu kadangkala akan

tersiksa hidupnya, bahkan seringkali tercekik mati oleh gelang

besi itu sendiri.”

“Sungguh ganas ! sungguh ganas ! adat istiadat ditempat

ini benar-benar melanggar peri kemanusiaan.”.

“Kecantikan dan peri kemanusiaan kadangkala tak bisa

berdiri sejajar…” ujar Sani sambil tersenyum. “Demi

kecantikan, bukankah gadis-gadis didaratan Tionggoan kalian

memeram kaki sendiri sehingga kecil sekali ? apakah inipun

tidak melanggar peri kemanusian ? Mengapa Kongcu tidak

merasa bahwa perbuatan itu ganas ?”.

Liem Kian Hoo dridesak sampai btungkam dalam seqribu

bahasa, karrena malu terpaksa ia alihkan sinar matanya

kesekeliling tempat itu.

Kebetulan ada seorang bocah lelaki berusia dua belas

tahunan berjalan disisinya, sebuah gelang besi tergantung

diatas lehernya yang panjangnya mencapai satu depa

setengah itu, kepalanya besar menjulur diangkasa.

Karena ingin tahu tanpa terasa sianak muda itu meraba

sebentar keatas gelang besi tersebut Tindakan ini dilakukan

tanpa maksud apa apa, namun Sani yang menyaksikan

perbuatan itu kontan berubah air muka.

“Kongcu, jangan ! ” teriaknya.

Tapi terlambat, saku Leher Panjang yang ada disekeliling

tempat itu sudah jadi gempar, masing-masing mundur

beberapa tumbak kebelakang dan mengurung mereka berdua

ditengah kalangan dengan ketatnya.

Sedangkan bocah yang gelang besinya diraba tadi sudah

menjerit aneh lalu lari meninggalkan tempat itu dengan

gerakan yang amat cepat.

Ketika mendengar jeritan Sani kemudian menyaksikan

orang orang suku Leher Panjang menunjukan reaksi yang

aneh, Liem Kian Hoo dibikin kebingungan dan tidak habis

mengerti. Saat itulah Sani telah berkata kembali dengan nada

cemas.

“Kongcu ! kau telah timbulkan bencana hebat, gelang besi

diieher suku Leher panjang dianggap keramat dan benda

paling agung diantara barang-barang lain, kecuali orang tua

mereka sendiri siapakah dilarang menyentuh gelang tersebut.

Mengapa justru kau telah melanggar pantangan terbesar bagi

mereka ?”.

“Darimana aku bisa tahu dengan pantangannya ?” seru

Liem Kian Hoo terperanjat. “Bagaimana sekarang baiknya ?”.

“Tak ada cara lain ! kau telah melakukan suatu penghinaan

besar terhadap bocah itu sehingga ia mengalami rasa malu

yang hebat, demi mempertahankan nama baiknya serta

kebersihan dirinya terpaksa ia akan ajak kau untuk berduel,

untuk mencuci bersih penghinaan dan rasa malu mereka ia

cuma punya satu jalan, yaitu membinasakan dirimu lalu

mencuci gelang besi itu dengan darah segarmu !”.

“Duel ? aku harus berduel melawan seorang bocah cilik ?”

“Tidak salah ! bagaimanapun juga kau harus menerima

tantangannya, apabila kau tidak ingin mati maka satu-satunya

jalan bagimu adalah membinasakan bocah itu agar ia mencuci

bersih penghinaan serta rasa malunya dengan darah segar

sendiri.”.

Hampir hampir saja Liem Kian Hoo meloncat keangkasa

saking kagetnya, ia berteriak keras: “Tidak bisa jadi ! mana

boleh aku bunuh seorang bocah ? Cici ! apakah kau punya

jalan lain untuk menyelesaikan peristiwa ini ?”.

“Tak ada jalan lain lagi!” sahut Sani sam bil mengeleng

“Kehormatan seorang suku Biauw jauh lebih berat daripada

nyawa sendiri, segala-penghinaan dan rasa malu cuma dapat

dicuci bersih dengan darah segar saja, apabila darah itu bukan

milik musuh maka harus menggunakan darah sendiri, dalam

wilayah Biauw kami, setiap orang tidak akan membiarkan

manusia pengecut hidup dikolong langit !”.

“Lalu bagaimana baiknya ? bagaimanapun juga tak

mungkin bagiku untuk membinasakan seorang bocah,

seumpama kita berbicara sesuai dengan keadaan pada

umumnya, setelah aku cari gara-gara dengan dirinya pantas

kalau nyawaku harus berkorban ditangannya, tetapi aku rasa

kematian yang tidak jelas duduk perkaranya ini terlalu tidak

berharga bagiku ! cici cepatlah carikan jalan lain untuk

mencegah peristiwa ini ! gunakanlah cincinmu untuk mencari

kepada suku mereka, jelaskan kesalah pahaman ini, kalau

tidak aku akan pentang kaki untuk ngeloyor pergi”.

Dengan wajah murung dan sedih Sani menggeleng, “Aku

harap kau jangan ngeloyor pergi, dengan kepandaian silat

yang kbau miliki mungkdin bisa lolos daari sini denganb

selamat, tetapi bocah yang kau tinggalkan itu bakal menderita

ia tidak dapat mencuci bersih segala penghinaan yang

tertimpah pada dirinya, terpaksa untuk menebus rasa malu itu

dia harus bunuh diri sedang orang tua serta sanak

keluarganya pun harus mengiringi kematian tersebut dengan

bunuh diri pula, bahkan kematian mereka tidak cemerlang.

Bagi suku Biauw kami, dalam kolong langit cuma ada dua

benda yang dianggap paling bersih, yaitu darah serta api

apabila mereka gagal mendapatkan darah segar dari musuh

besarnya maka segenap isi keluarganya terpaksa harus bakar

diri untuk menebus penghinaan itu”.

“Waaaah, kalau begitu cepatlah kau te

mui kepala suku mereka dan jelaskan masalah ini..”

“Panjang leher bocah itu beberapa depa, pakaian yang di

kenakan adalah pakaian bangsawan, dia justru adalah putra

kandung dari kepala suku sendiri !”.

Liem Kian Hoo tidak menyangka rabaan yang dilakukan

secara tidak sengaja dapat mengakibatkan kerepotan yang

demikian besar, untuk “berlalu tidak mungkin, untuk terima

berduelpun tidak mungkin, saking cemas dan gelisahnya ia

jadi mencak mencak dan tidak tahu bagaimana harus

bertindak.

Dalam pada itu suku Biauw yang ada di sekelilingnya

sedang menatap mereka berdua dengan sinar mata buas,

lehernya yang kecil panjang menyungging sebutir batok

kepala yang besar mengerikan, keadaan mereka tidak berbeda

dengan ular-ular beracun yang angkat kepalanya karena

gusar, sinar mata mereka berapi dan penuh diliputi perasaan

dendam.

Dengan hati gelisah Liem Kian Hoo menanti setengah

harian lamanya, menyaksikan situasi di sekeliling kalangan

tetap tenang sedangkan bocah itupun tidak kelihatan muncul

kembali, tanpa terasa ia bertanya:

“Dimanakah bocah itu ? mengapa belum muncul Juga ?”.

“Ia sedang berdo’a minta do’a restu dari dukun, tidak

selang beberapa saat kemudian bocah itu pasti akan muncul”.

Liem Kian Hoo gendong tangan menghela napas panjang,

dalam keadaan seperti ini ia benar benar tak kuasa menahan

diri.

b”Kongcu. lebih dbaik kau berhatai hati.” bisik bSani

dengan suara yang lirih. “Ilmu yang dimiliki suku Leher

panjang amat lihay, apalagi ayah bocah itu adalah kepala

suku, terhadap ilmu hitam sedikit banyak pasti telah dikuasai,

dikala berduel nanti harap Kongcu mantapkan hati dan

berusaha merebut kemenangan secepat mungkin !”.

Liem Kion Hoo tidak percaya akan ilmu hitam, tentu saja ia

tidak takut terhadap ilmu hitam, tetapi ia tidak rela berduel

melawan seorang bocah, setelah putar otak setengah harian

lamanya mendadak sekilas cahaya berkelebat diatas matanya.

“Aku temukan suatu cara ! ” serunya.

Sani tidak tahu apa yang berhasil ia dapatkan, belum

sempat bertanya mendadak suasana di sekeliling kalangan jadi

gempar dan riuh rendah dengan suara teriakan, disusul para

suku Leher Panjang yang mengurung tempat itu sama-sama

membuka satu jalan.

Dari tempat kejauhan muncul tiga orang langsung menuju

ketengah kalangan, Bocah yang gelang lehernya diraba tadi

berjalan dipaling depan, dibelakangnya mengikuti dua orang,

salah satu diantaranya memiliki perawakan tubuh yang tinggi

besar, badannya penuh dengan tato lehernya yang kecil dan

panjang itu mencapai dua depa lebih, kepalanya besar

tersungging diudara, wajahnya buas dan mengerikan jelas dia

adalah ayah dari bocah itu atau kepala suku dari suku Leher

Panjang.

Disisi kepala suku itu mengikuti seorang lelaki yang berusia

hampir sebaya dengan kepala suku itu, perawakan tubuhnya

kekar pula, seluruh tubuhnya penuh tertancap bulu binatang,

dandanannya mirip seorang dukun dan raut wajahnya tidak

mirip seorang suku Biauw, jelas dia adalah seorang bangsa

Han.

Menyaksikan dukun dari suku Leher panjang ternyata

adalah seorang bangsa Han, meski heran Liem Kian Hoo jadi

kegirangan, buru buru ia lari kedepan menyongsong

kedatangan orang itu, kurang lebih dua tiga tombak dari

mereka ia berhenti dan menjura.

“Loo Sianseng, agaknya kaupun berasal dari daratan

Tionggoan” serunya cepat.

“Dapatkah anda bantu diri cayhe untuk menjelaskan

kesalah pahaman ini…”

Lelaki setengah tua itu tetap bungkam dalam seribu

bahasa, ia berlagak pilon, sebaliknya kepala suku itu denganr

bahasa Han yantg lancar segeraq menghardik kerras-keras:

“Ciiis ! kalian anjing bangsa Han betuI-betul bernyali,

berani menghina dan bikin malu putraku siapakah namamu ?”.

sekalipun Kian Hoo merasa tidak senang hati karena

ucapannya yang tajam serta menyinggung perasaan itu

namun dikarenakan kesalahan terletak pada dirinya maka ia

tetap bersabar diri.

“Cayhe she Liem bernama Kian Hoo.” sahutnya

memperkenalkan. “Dan aku berasal dari kota Wie Yang didaratan

Tionggoan, oleh sebab satu persoalan maka aku telah

tiba ditempat anda, siapa tahu karena tidak sengaja cayhe

telah melanggar pantangan suku kalian dan menyalahi

putramu, harap kepala suku dapat memberi maaf karena

kejadian ini muncul akibat kesalahpahaman belaka.”

“Anjing cilik bangsa Han ! kau anggap gelang leher dari

suku Leher Panjang kami boleh di sentuh dan dengan

seenaknya ?- setelah kau bernyali berani datang kemari,

seharusnya cari kabar dahulu siapakah aku dan apakah

pantangan suku kami. Anjing cilik bangsa Han ! aku kira kau

sudah bosan hidup dikolong langit !”

Lama kelamaan Liem Kian Hoo dibikin naik pitam juga oleh

makian tersebut, air mukanya berubah keren.

“Sudah cayhe jelaskan bahwa peristiwa ini terjadi karena

salah paham, mengapa kepala suku bagiku tidak pakai aturan

? lagipula Nabi pernah berkata bahwa empat penjuru adalah

tetangga, tidak dikarenakan kalian adalah suku asing lantas

berpandangan lain, apa maksudmu memaki diriku sebagai

bangsa Han.”.

“Anjing bangsa Han. kaisar dari bangsa Han kalianpun tidak

lebih hanya seorang kepala suku belaka, kedudukannya

sejajar dengan diriku dengan andalkan apa kalian hendak

paksa kami tunduk kepala dan takluk ? dan apa alasannya

pula kalian usir kami hingga harus hidup ditengah gunung

yang terpencil ? setiap kali berjumpa dengan anjing bangsa

Han macam kau, sudah kheki Ayoh anak anak ! tangkap

anjing cilik ini !”

Seraya berteriak ia beri kode kepada suku-suku Leher

Panjang yang ada dibelakangnya, namun orang orang itu tidak

ambil suatu tindakan apapun. Kepala suku semakin naik

pitam, dengan suara kalap teriaknya:

“Gentong nasi ! bangsa cecunguk ! kalian berani

membangkang perintahku ? barang siapa yang tidak mau

turun tangan, aku segera akan suruh Hoat Su untuk bacakan

mantera agar sukma kalian digaet dan disiksa dalam neraka,

kemudian menindihi kalian dengan batu !”.

Walaupun beberapa patah kata itu diucapkan dengan

bahasa Han, namun orang orang suku Leher Panjang itu dapat

memahami maksudnya dari gerak tangan itu. mereka sama

sama berseru keras kemudian selangkah demi selangkah maju

mendesak kedepan, air muka mereka mencerminkan tindakan

itu dilakukan sangat terpaksa.

“Tunggu sebentar ” .. tiba-tiba Sani meloncat kedepan.

“Apakah kau adalah putra dari kepala suku Tiako ?”

Kepala suku itu tertegun, lama sekali ia baru bertanya:

“Kau berasal dari suku mana ? apa hubunganmu dengan

Tiako ?”

” Aku berasal dari suku pasir Emas, cincin ini adalah tanda

mata yang diberikan kepala suku Tiako kepada kami.” sahut

Sani seraya tunjukkan cincin yang berada dijari tangan

kanannya.

“Ia pernah berkata dengan andalkan cincin ini, maka aku

boleh mencari sahabat dan teman macam apapun dalam

dusun suku Leher Panjang!”.

Air muka kepala suku itu berubah hebat, sebab sebagian

besar suku Leher panjang yang sedang bergerak maju segera

berhenti bergerak setelah menjumpai cincin besi itu, sisanya

walaupun tidak berhenti namun langkah mereka lambat sekali,

jelas orang-orang itu merasa takut terhadap cincin besi itu.

Air muka Kepala suku itu berubah jadi amat jelek, dengan

suara keras kembali ia berteriak:

“Tiako sudah modar, sukmanya telah berubah jadi setan

iblis, kau membawa cincinnya berarti kau adalah jelmaan dari

setan iblis. aku Ha-san kepala suku paling gagah dari suku

Leher Panjang punya malaikat pelindung dari Hoat su. aku

tidak takut setan iblis.”

Sanipun tertegun oleh teriakan itu, mendadak ia mendusin

dan segera bentaknya:

“Kepala suku Tiako pasti mati bditanganmu, kaud telah

merampasa dan mengangkanbgi kedudukannya ! kau adalah

seorang pembunuh!”.

Omong kosong ! Tiako sendiri yang cari mati, dia telah

berbuat dosa terhadap Malaikat, maka Malaikat menghukum

mati dirinya dengan sambaran geledek, orang itu betul-betul

berdosa, sampai sukmanya yang gentayanganpun masih

mencelakai orang.”.

Sani tertawa dingin.

“Aku tidak mau ambil perduli atas persoalan yang terjadi

dalam suku kalian, Tiako sudah mati berarti cincin ini tidak

berguna lagi, ini nan aku dengan kedudukanku sebagai kepala

suku Pasir Emas hendak mohon dirimu untuk menerima

peraturan yang telah ditetapkan Malaikat, orang bangsa Han

ini telah meraba gelang leher putramu sehingga meninggalkan

penghinaan dan rasa malu ini dengan cara yang telah

ditetapkan oleh malaikat !”

Hasan tertegun, sedang orang orang suku Leher Panjang

disekeliling kalangan yang mengerti bahasa Han segera

bersorak menyatakan setuju, bahkan maksud itu segera

disampaikan kepada rekan-rekan lainnya, tidak selang

beberapa saat kemudian semua orang suku Leher Panjang

sama sama berteriak menyatakan persetujuannya.

Beberapa saat lamanya Hasan berdiri tertegun, akhirnya ia

cabut keluar golok yang tersoren dipinggangnya dan

diserahkan kepada bocah itu, teriaknya keras-keras:

“Kuli, gunakanlah golok ini untuk memenggal batok kepala

anjing bangsa Han itu, gunakan darah segarnya untuk

mencuci bersih gelang lehermu itu, percayalah ! Hoat-su dapat

melindungi keselamatanmu, Malaikat dapat menghadiahkan

kekuatan kepadamu !”.

Berbicara sampai disitu suaranya kedengaran agak gemetar

dan dengan pandangan jeri ia melirik sekejap kearah Dukun

bangsa Han yang berdiri disisinya itu. Air muka dukun itu

tetap dingin dan hambar, sama sekali tidak menunjukkan

perubahan apapun.

Sebaliknya Ku Li setelah menerima golok tersebut dengan

wajah riang gembira dan gagah selangkah demi selangkah

maju mendekati tubuh Liem Kian Hoo benar tidak ingin

melayani apa lagi ajak ia berduel, maka selangkah demi

selangkah pula ia mundur kebelakang untuk menghindar.

Suasana sekeliling kalangan jadi sunyi senyap tak

kedengaran sedikit suarapun, setiap suku Le-her panjang yang

hadir disana bsama sama curahdkan perhatiannyaa ketengah

kalabngan dengan wajah puas, Setelah mundur belasan

langkah kebelakang sianak muda itu tidak sabaran lagi,

kepada Sani teriaknya:

“Cici ! cepat-cepatlah carikan satu jalan keluar,

bagaimanapun juga tidaklah pantas bagiku untuk berduel

melawan seorang bocah cilik ! “.

Air muka Sani pada saat inipun telah berubah jadi berat, ia

awasi terus tingkah laku bocah cilik itu sementara mulutnya

memberi jawaban:

“Satu-satunya bantuan yang dapat kuberikan kepadamu

pada ini adalah memberikan sebilah golok kepadamu. agar

kau bisa menghadapi serangan musuh tidak dengan tangan

kosong belaka !”.

Dikala Liem Kian Hoo masih berdiri tercengang, dengan

suatu gerakan yang amat cepat ia berkelebat kesini sianak

muda itu, kemudian mencabut keluar sebilah senjata pendek

dari pinggangnya dan diserahkan ketangannya.

“Hati-hati dengan serangan bokongan, perhatikan ujung

golok !” Bisiknya lirih.

Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti Liem

Kian Hoo menerima pemberian senjata tajam itu.

“Bagus sekali! ” dalam pada itu Ku-Li sang bocah cilik itu

sudah berteriak dengan hati gembira, “sebenarnya aku tidak

rela membinasakan seorang musuh yang tidak memberikan

perlawanan, sekarang kau telah bersenjata. Nah hati-hatilah!

aku akan mulai dengan seranganku !”.

Tanpa menungu reaksi dari Liem Kian Hoo dengan ganas ia

melancarkan sebuah babatan ke depan langsung mengacam

bahu seranganku !.

Sianak muda itu tiada maksud untuk memberi perlawanan

melihat datangnya serangan ia sabetkan senjata kesamping

dengan gerakan seenaknya… Traang…! diiringi suara

bentrokan yang sangat memekikan telinga, percikan bunga api

muncrat keempat penjuru.

Kekuatan sibocah cilik itu betul betul luar biasa sekali,

dalam bentrokan barusan senjata yang ada dalam genggaman

LiemKian Hoo terpukul hingga mencelat ketengah udara.

Suasana jadi gempar, orang-orang suku Leher panjang

yang nonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan samasama

bersorak sorai, sedangkan Hasan pun mengendorkan

wajahnya yang tegang dan bergranti dengan mukta

kegirangan. Kqetika menjumpair serangannya yang pertama

berhasil merontokan senjata lawan, Ku-li kegirangan selengan

mati, teriaknya keras-keras:

“Eeeei anjing bangsa Han ! pungut kembali senjatamu,

dipandang badanmu yang tinggi besar sungguh tak nyata kau

adalah seorang lelaki yang sama sekali tak berguna, aku benar

benar merasa malu dan menyesal buat ketidak becusanmu,

ayoh cepat ! pungut kembali senjataku itu, aku tidak rela

membinasakan seorang musuh dalam keadaan tangan

kosong.”

Walaupun nada suaranya agak sombong dan tinggi hati,

namun secara lapat lapat menumpukan kegagahannya, niat

bermusuhan yang ada dalam hati Kian Hoo semakin hambar

lagi, sambil tertawa ia berkata:

“Sahabat cilik, diantara kita sama sekali tidak terikat

dendam sakit hati sedalam lautan, sekalipun tadi secara tidak

sengaja aku telah menyalahi dirimu, mengapa hanya

disebabkan persoalan sekecil itu harus saling beradu jiwa ?

Apabila kau merasa bahwa persoalan ini baru bisa diselesaikan

apalagi gelang lehermu telah dicuci dengan darah-ku, aku rela

membiarkan golokmu membacok di-atas lenganku, kemudian

gunakan darah yang mengalir keluar untuk menyelesaikan

kesulitan tersebut !”.

Inilah cara penyelesaian yang dianggap paling tepat oleh

Liem Kian Hoo, sebab kesalahan terletak pada dirinya maka ia

rela menahan sedikit penderitaan untuk menghapuskan salah

paham tersebut dengan sendirinya nada ucapan ini

kedengaran lebih halus dan ramah. Siapa sangka air muka Kuli

segera berubah sinis setelah mendengar perkataan itu, ia

tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmmm ! kiranya kalian anjing bangsa Han adalah manusia

pengecut yang takut mati, sungguh membuat aku pandang

hina diri kalian, kau jangan mimpi disiang hari bolong ! Untuk

menghilangkan penghinaan yang diterima gelang leherku,

hanya darah panas yang mengalir keluar dari leher yang bisa

mencucinya hingga bersih, apabila kau takut sakit, baikbaiklah

berlutut diatas tanah sekali tebas akan kuberi

kepuasan kepadamu kalau tidak, bertindaklah sebagai seorang

satria, pungut kembali senjatamu dan kita langsungkan

kembali satu pertarungan terbuka.”

Ucapan ini membangkitkan kegusaran dalam hati Kian Hoo,

ia naik pitam dan tak kuasa menahan diri lagi teriaknya:

“Karena kau seorang bocah, aku tidak ingin cari gara gara

dengan dirimu, tapi kau kurang ajar berani bicara yang bukanbukan.

Hmmm ! kalau kau mendesak terus menerus, jangan

salahkan aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi

terhadap dirimu”.

Ku-li lintangkan goloknya didepan dada dan tertawa

tergelak

“Haaaa…. haaaa… haaaa… bocah cilik dalam suku Biauw

kami jauh lebih bernyali daripada orang dewasa anjing bangsa

Han kalian, seperti kau, Hmm seorang manusia pengecut yang

takut mati, betul-betul tidak lebih berharga dari seekor anjing.

Tak usah banyak bicara lagi ! cepat pungut kembali senjatamu

untuk terima kematian ! Kau bisa berjumpa dengan aku boleh

dikata agak beruntung, sebab paling sedikit aku dapat

memberi kesempatan bagimu untuk mati secara seorang

enghiong !”.

“Kentut busuk !” Teriak Liem Kian Hoo sangat gusar “

Binatang cilik, aku orang she-Lim adalah seorang lelaki sejati,

aku tidak akan menggunakan senjata untuk menghadapi

seorang setan cilik macam kau, apalagi dalam tiga jurus aku

tak berhasil merampas senjatamu, akan kerentangkan leherku

agar bisa dipenggal olehmu dengan gampang.”

Ku-li meraung gusar, sambil rentangkan goloknya ia segera

maju dan melancarkan sebuah bacokan, Liem Kian Hoo sudah

merasakan keampuhan tenaganya maka ia tidak kasi hati lagi,

tangannya berkelebat kedepan kemudian mengirim sebuah

sentilan kearah ujung golok tersebut.

“Traaaang . . !” . diiringi suara bentrokan nyaring, ujung

golok Ku-li kena disentil hingga gumpil sebagian, golok itu

sendiri termakan oleh tenaga sentilan kontan mengayun balik

kebelakang, Air muka Ku-li berubah hebat, badannya buruburu

mundur ke belakang untuk memunahkan tenaga tekanan

yang menyerang datangi dengan susah payah akhirnya ia

berhasil juga untuk mempertahankan goloknya tidak sampai

lepas dari genggaman.

Orang orang suku Leher panjang yang ada disekeliling

kalangan sama berseru kaget, agaknya mereka tidak

menyangka kalau Liem Kian Hoo memiliki ilmu silat yang amat

sempurna.

Yang paling cemas adalah Hasanb, cinta kasih sdeorang

ayah terahadap putranya bmemang agung, saking

menguatirkan keselamatan putranya hampir-hampir saja ia

ikut terjun kedalam kalangan. Dukun bangsa Han yang berdiri

disisinya segera mendengus dingin.

“Harap kepala suku perhatikan ! persoalan ini menyangkut

mati hidup putramu ! lebih baik nantikan dengan hati tenang,

Malaikat pasti melindungi kaum ksatria ! aku lihat Ku-li jauh

lebih gagah daripada dirimu sendiri !”.

Meskipun Hasan adalah seorang kepala suku, namun

kelihatan ia terhadap dukun bangsa Han itu, mendengar

teguran ia segera berhenti dan alihkan kembali sinar matanya

ketengah kalangan dengan hati kebat kebit.

Dalam pada itu setelah Ku-li berhasil mempertahankan

tubuhnya ia berteriak keras, goloknya kembali dibabat

kedepan tanpa membawa sedikit desiran angin seranganpun,

Liem Kian Hoo tersebut gerakannya tepat lagi mantap.

Ketika golok Ku-li baru saja membabat sampai separuh

jalan, telapak Kian Hoo sudah menyambar datang, mendadak

bocah itu rendahkan tangannya kebawah, ujung golok tibatiba

berputar menghindari jari tangan lawan dan sekarang

mengancam tengkuk.

Menghadapi perubahan tersebut Liem Kian Hoo sama sekali

tidak jadi gugup, ia miringkan badannya kesamping lalu

mengetuk perlahan tubuh golok itu ” jurus kedua ” serunya.

“Dalam jurus selanjutnya akan kurampas golokmu ini !”.

Termakan ketukan itu tubuh Ku-li maju dengan

sempoyongan lalu terjungkal keatas tanah, namun bocah itu

sebat sekali dengan cepat ia meloncat bangun sementara

tangannya telah bertambah lagi dengan sebilah senjata

pendck, golok Kian Hoo yang disampok jatuh tadi.

setelah menggenggam senjata disepasang tangannya, Ku-li

maju sambil gertak gigi, mendadak lengannya diayun ke

depan, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata

segera berkelebat kedepan, kiranya ia gunakan pisau pendek,

yang dipungut dari atas tanah itu sebagai senjata rahasia.

Liem Kian Hoo bertindak cepat menyambar gagang pisau

belati itu, seketika ia merasakan cahaya dingin merasuk

tulang, hatinya jadi tergerak.

Kiranya sewaktu Sani menyerahkan pisau belati tersebut

kepadanya, berhubung bentuk pisau itu tiada yang aneh maka

ia anggapb sebagai senjatda biasa dan tidaak ambil

perhatbian, bahkan sewaktu tersampok jatuh keatas

tanahpun, ia malas untuk punggutnya kembali.

Namun setelah Ku-li menggunakan pisau itu sebagai

senjata rahasia, dan dari ujung pisau memancarkan

serentetan agin dingin yang merasuk tulang, bahkan apabila

tenaga dalamnya tidak mengalami kemajuan pesat niscaya

akan terluka oleh hawa dingin yang terpancar keluar dari

ujung pisau itu, sianak muda ini baru sadar, pisau belati yang

tidak menarik ini sebenarnya adalah sebilah senjata mustika,

dan sekarang iapun mengerti apa sebabnya Sani suruh ia

perhatikan ujung pisau.

Mula mula ia mengira Sani suruh ia perhatikan ujung pisau

lawan, sungguh tak nyana dalam kenyataan ia sedang

beritahu kepadanya bahwa ujung pisau belatinya punya kasiat

lain.

Sementara ia masih termenung, tiba tiba Ku li

memperdengarkan suitan panjang, suara suitan itu

menggemaskan dan mengerikan sekali, sama sekali tidak mirip

suara yang dipancarkan oleh seorang bocah yang baru berusia

sebelas dua belas tahunan, bersamaan itu pula batok

kepalanya yang tersungging diatas leher yang panjang

berubah jadi mengerikan sekali, cahaya hijau memancar dari

sepasang mata, bagaikan hembusan angin puyuh badannya

menubruk kedepan, golok panjangnya dengan membawa

desiran angin tajam segera menyapu datang.

Liem Kian Hoo merasa tercengang, sebab ia temukan

deruan angin serangan yang terpancar kali ini istimewa sekali,

walaupun membawa desiran tajam namun sama sekali

berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Meskipun demikian ia menyambut juga datangnya

serangan dengan telapak, dan tepat ia berhasil menggencct

pergelangan Ku-li, tiga jarinya menjepit ke arah urat nadi

kemudian merampas golok lawan, bersamaan itu pula sebuah

tendangan dilancarkan menghajar bocah itu sampai mencelat.

Dasar hati pemuda ini tulus dan welas kasih ia merasa tiga

jurus serangan yang dilancarkan sudah cukup memberi

peringatan buat bocah itu, maka dalam tendangan berikutnya

ia sama sekali tidak desertai dengan tenaga serangan yang

hebat, ia cuma menghalau tubuhnya agar mencelat

kebelakang belaka.

Tubuh Ku-li menrcelat kebelakantg dan bergulingq guling

diatas rtanah kemudian merangkak bangun lagi, mulutnya

yang lebar dan besar di pentangkan dan sekali lagi ia

perdengarkan suitan panjang yang memekikkan telinga,

ditengah suitan tersebut penuh terkandung hawa napsu

membunuh yang meluap luap.

Suitan yang begitu nyaring memekikkan telinga serta

menggetarkan hati itu membuat pikiran Kian Hoo bercabang,

pada saat itulah mendadak segulung tenaga dorongan yang

amat besar menggulung kearah tangannya, golok panjang

yang berhasil ia rampas tadi seakan-akan dikendalikan orang

secara otomatis lepas dari cengkeramannya dan langsung

menusuk keulu hatinya.

Peristiwa yang terjani diluar dugaan ini memaksa Kian Hoo

jadi tertegun dan tidak tahu ba gaimana harus

menghadapinya, sebelum otaknya berputar dan pikiran kedua

berkelebat lewat, golok panjang tadi dengan membawa

desiran angin tajam telah merobek pakaiannya dan menerjang

kedalam perut.

Menyaksikan kejadian itu Sani jadi amat ter peranjat, buru

buru ia loncat kesisi tubuhnya sambil berteriak:

“Liem Kongcu ! kenapa kau…”.

Liem Kian Hoo berdiri tertegun, ia tak sanggup menjawab

pertanyaannya dan tidak menunjukkan reaksi apapun,

sementara golok panjang itu sudah menembusi tubuhnya

hampir mencapai dua coen, bahkan tubuh golok yang

menancap diatas dada sianak muda itu masih bergetar keras.

Sani amat cemas,sambil menangis serunya:

“Bukankah sejak tadi aku sudah suruh kau berhati-hati,

ilmu hitam suku Leher Panjang…”.

“Anjing bangsa Han t sekarang kau sudah tahu lihay

bukan.” teriak Ku – li ditempat kejauhan sambil tertawa seram.

Tiba tiba Liem Kian Hoo tertawa panjang, dadanya

membusung kedepan dan golok panjang itu mencelat lima

enam depa dari tubuhnya kemudian diiringi suara nyaring

rontok keatas tanah, pakaian bagian dadanya robek namun

tidak nampak darah yang memancar keluar.

Kejadian ini bukan saja membuat suku-suku Biauw yang

ada disekeliling tempat itu jadi gempar dan berteriak kaget,

bahkan Sani yang ada di sisi tubuhnya pun hampir saja tidak

percaya dengan pandangan mata sendiri.

“Cici kau ! telah tertipu oleh kata kata ” Dukun ” seru Kian

Hoo sambil tertawa, “padahal dalam bacokan tadi sama sekali

tidak disertai ilmu hitam, tapi termasuk suatu sim-hoat ilmu

silat yang agak lihay, aku pernah dengar guruku si Nabi

seruling Lie Boe Hwie berkata bahwa kepandaian semacam ini

mungkin dinamakan “Kian Si-Sin-Kang”, sewaktu dilancarkan

harus pinjam benda lain untuk melakukannya, mula-mula

memang tidak menunjukan reaksi dan tenaga dalam

tersembunyi dalam benda tersebut, tapi beberapa saat

kemudian barulah kelihatan reaksinya, yaitu melukai orang

dikala korbannya tidak siap. sebenarnya aku tidak percaya

bisa terjadi peristiwa semacam ini, tetapi ketika merampas

senjata tadi aku berhasil mendapatkan senjata itu terlalu

mudah, maka timbullah kecurigaan dalam hatiku, menanti aku

teringat akan hal ini keadaan sudah terlambat…”

“Perduli amat dengan segala macam ilmu yang penting

lukakah dirimu…?” tukas Sani dengan hati gelisah.

“Tidak, coba lihat, bukankah aku sehat wal afiat ?”

Sani agak sangsi, sinar matanya dialihkan kearah

pakaiannya yang robek itu.

“Kau tentu anggap akupun memiliki serangkaian ilmu silat

yang luar biasa bukan ?” ujar sianak muda itu kembali sambil

tertawa, “padahal kalau sudah kukatakan sama sekali tidak

aneh, aku berhasil menghindari bokongan dari ilmu Kian-Si

kang tersebutpun tidak lain disebabkan suatu kebetulan saja”.

Sembari berkata dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah

benda yang berwarna hitam gelap, inilah hioloo Ci-Liong-Teng

pusaka keluarga-nya, berhubung benda itu tidak terlalu besar

dan harganya tak ternilai maka selama ini sianak muda itu

menyimpannya dalam saku.

Saat ini, sambil mengambil keluar hioloo tersebut, ujarnya

sambil tertawa:

“Aku bisa lolos dari kematian tidak lain karena andalkan

benda ini, tusukan golok tadi dengan tepat dan kebetulan

sekali menusuk keatas hioloo ini terbuat dari bahan yang kuat

maka aku sama sekali tidak terluka, bahkan untuk

menggirangkan hati bocah itu, sengaja kusalurkan hawa

murniku untuk menghisap golok tadi agar tidak sampai

jatuh…”

sewaktu ia menyebut tentang ” Kian-Si-Singkang ” air muka

lelaki setengah baya bangsa Han yang berdandan sebagai

dukun itu rada ber-ubah, apalagi ketika Liem Kian Hoo

mengeluarkan hiolbo Ci-Liong Teng, sepasang biji matanya

memancarkan cahaya tajam,namun tak seorangpun yang

memperhatikan perubahan aneh itu.

Terdengar Ku-li meraung keras, air mukanya berubah

mengganas sekali, tiba-tiba ia menyalurkan lehernya yang

paling panjang sehingga leher yang sudah sepanjang

beberapa depa makin panjang setengah depa lagi sehingga

kelihatanlah daging lehernya yang berwarna abu-abu dan

mirip bambu itu.

Diikuti suara bentrokan nyaring bergema memekikkan

telinga, gelang leher yang tergantung pada lehernya secara

otomatis merekah membentuk gelang kecil dan terjatuh

keatas tangannya. Menyaksikan perubahan itu Sani menjerit

kaget, teriaknya:

“Aduh celaka, cepat serahkan pisau belati itu kepadaku.”

Tetapi teriakan itu terlambat setindak, Ku-li sudah ayunkan

sepasang tangannya, berpuluh gelang besi yang kecil itu

dengan menciptakan selapis bayangan hitam telah meluncur

datang.

Dalam keadaan gugup Liem Kian Hoo melancarkan sebuah

babatan, namun angin pukulan yang menderu-deru laksana

gulungan ombak ditengah samudra ini gagal membendung

bayangan gelang tersebut diiringi desiran tajam yang

memekikkan telinga gelang-gelang itu tetap meluncur datang,

bahkan dari mulut retakan diatas kutungan gelang itu

tersebarlah bubuk bubuk warna kuning.

Makin cepat gelang-gelang itu berputar makin luas bubuk

kuning itu tersebar diangkasa, de ngan cepat benda tersebut

telah meluncur kehadapan mereka berdua.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Liem Kian Hoo

gerakkan pisau belatinya ketengah udara, disaluri hawa murni

yang dahsyat ia ciptakan selapis dinding cahaya untuk

membendung datangnya ancaman terhadap dia serta Sani.

Cahaya dingin yang memancar keluar dari ujung pisau

belati itu menunjukkan kehebatannya, serentetan cahaya hijau

yang tajam dan menyilaukan mata seketika menyapu lenyap

bubuk bubuk kuning yang menyebar datang, diikuti suara

dentingan nyaring yang amat memekikkan telinga menggema

diangkasa, belasan gelang kecil yang mengancam datang

itupun segera terbabat hancur ja di berkeping keping dan

rontok keatas tanah.

Perubahan ini terjadi dalam waktu sekejap mata belaka,

ketika Liem Kian Hoo tarik kembali cahaya dingin ditangannya,

kembali Ku-li perdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan

hati, batok kepalanya besar dan tersungging diatas itu

dibanting keatas tanah, dari antara leher yang panjang segera

menyembur keluar sumber darah segar …. Plaaaak ! tahu

tahu batok kepalanya sudah menggeletak ditanah.

Kiranya dalam bantingan keras barusan, mentah-mentah ia

sudah patahkan leher sendiri yang panjang itu jadi dua

bagian.

Agaknya Liem Kian Hoo tidak menyangka peristiwa tersebut

bisa berubah jadi begini serius.

Berhubung kesalahan terletak pada dirinya, maka

sepanjang berduel ia selalu bertindak sungkan, meski dalam

keadaan bahayapun ia mencari jalan selamat belaka tanpa

masud untuk melukai atau membunuh pihak lawan, siapa

nyana ditengah berkelebatnya gelang besi Ku-li telah mati

bunuh diri, kejadian ini benar-benar ada diluar dugaannya.

Memandang mayat Ku-li yang masih berkelejitan diatas

tanah, sianak muda itu tertegun dan tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun, ia merasa meski aku tidak

bunuh Pek-Jin, namun Pek-Jin mati karena aku…

Dengan penuh air mata Hasan menubruk ke atas jenasah

anaknya Ku-li lalu menangis tersedu-sedu, setelah itu

meloncat bangun dan “Waala…waaallaaa…” berteriak dan

berkaok-kaok keras dengan bahasa Biauw.

Mengikuti teriakan itu orang orang suku Biauw yang ada

disekeliling tempat itu ikut berteriak keras, suasana jadi ramai

dan hiruk pikuk.

Liem Kian Hoo tidak tahu apa yang telah terjadi, buru buru

ia bertanya kepada Sani.

“Apa yang mereka katakan ?”

“Ia minta agar putranya dikubur dengan upacara

penguburan yang paling mulia.”

“Kalau benar demikian adanya, aku harus ikut hadir dalam

upacara penguburan ini dan baik baik berdoa dihadapan

kuburannya, aku tidak menyangka bocah cilik itu punya jiwa

ksatria dan gagah, meskipun ia tidak mati ditanganku

namun…”

“Aaaaai ! buat suku Leher Panjang, gelang leher

merupakan pertanda jiwa mereka. gelang tetap ada manusia

tetap hidup, gelang hancur manusiapun mati. maka gelang

leher mereka meski merupakan sejenis senjata rahasia yang

amat lihay, apabila tidak mencapai keadaan yang kritis dan

mengancam keselamatannya tidak akan digunakan secara

sembarangan. Kongcu telah membabat hancur gelang

lehernya ini ia berarti mati ditanganmu…”.

“Adat istiadat macam apakah ini ?… kenapa begitu boecengli…”

teriak Kian Hoo.

“Kongcu, tak usah kau urusi dahulu soal adat istiadat dan

cengli, hadapi dahulu situasi yang terbentang didepan mata

saat ini ! “.

“Dewasa ini apa yang harus kita lakukan ?”

“Kepala suku Leher Panjaog, Hasan mohon semua orang

untuk menyetujui permintaannya yaitu mengubur jenasah

putranya dengan upacara paling meriah, tapi semua orang

tidak setuju dan sekarang mereka kemudian kita baru siapkan

rencana selanjutnya !”.

“Apa hubungannya antara persiapan kita dengan hasil

rundingan mereka ?…” Tanya Kian Hoo tidak mengerti,

matanya terbelalak lebar.

“Apabila jenasahnya dikubur dengan upacara paling

meriah, maka ini berarti semua suku Leher Panjang akan

musuhi kita secara serentak, kita akan dibunuh lebih dahulu

kemudian dengan gunakan jantung serta isi perut kita untuk

menghormati jenazah bocah itu. Hasan adalah kepala suku

Ku-Li adalah putra kepala suku, sesuai dengan peraturan

memang seharusnya bertindak demikian, tetapi ketika Ku-li

meninggal dunia ia telah kehilangan gelang lehernya

merupakan suatu hal yang memalukan semua anggota suku,

maka orang orang suku Leher panjang tidak sudi mengakui

Hasan sebagai kepala suku lagi, karena keluarga Hasan telah

ternoda.”

Terhadap pelbagai urusan tetek bengek macam ini

sebenarnya Liem Kian Hoo tidak mengerti, tapi setelah

dijelaskan Sani iapun menghela napas panjang.

“Manusia yang telah mati tak mungkin hidup kembali, apa

gunanya berbuat tetek bengek yang tak berguna dalam

upacara penguburannya ? apalagi bersembahyang dengan

gunakan jantung serta hati manusia sebagai sajian, betul betul

suatu perbuatan biadab, dengan mereka aku tak pernah ikat

tali permusuhan atau perselisihan meski kematian bocah itu

disebabkan aku namun tidak seharusnya mereka seret pula

dirimu dalam masalah ini !”

Sani termenung beberapa saat, tiba tiba dengan nada berat

ujarnya:

“Aku melihat dibalik peristiwa ini agaknya ada hal-hal yang

patut dicurigakan, terutama sekali kepala suku mereka Hasan,

sikap serta tindak tanduk yang ia perlihatkan sangat

mencurigakan sekali, belum pernah ia berjumpa dengan

dirimu tetapi terhadap segala sesuatu mengenai dirimu dirimu

agaknya ia tahu jelas, maka mula pertama putranya Ku-li

hendak tantang-kau untuk berduel ia sudah menunjukan sikap

menolak permintaannya, jelas ia sudah tahu sampai

dimanakah taraf kepandaianmu.”.

“Cinta kasih orang tua terhadap putranya suci dan agung,

siapapun dikolong langit punya perasaan yang sama, hal ini

tak dapat salahkan dirinya…”.

Sani tertawa dingin. “seumpama kau adalah seorang

manusia biasa, apabila harus bergebrak melawan bocah itu,

ada berapa besar harapanmu untuk rebut kemenangan ?”

tanyanya.

Liem Kian Hoo tertegun, setelah berdiam diri beberapa

waktu ia baru menjawab: “Meskipun usia bocah itu masih

kecil. namun kekuatan serta kepartdaianya sangat hebat,

puluhan lelaki dewasa biasa belum tentu merupakan

tandingannya.”.

“Nah, itulah dia, setelah mempunyai seorang putra yang

begini kosen dan hebat, yang jadi ayah apa gunanya merasa

kuatir dan cemas? kecuali ia sudah tahu sampai dimanakah

kelihayan pihak lawan maka ia tunjukan perasaan gelisah,

bahkan hendak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya

untuk merusak peraturan.”.

Liem Kian Hoo berdiam diri beberapa saat untuk putar otak,

lalu ujarnya kembali:

“Anggap saja apa yang cici katakan benar, dan ia sudah

tahu asal usulku, tapi apa sangkut pautnya dengan persoalan

ini ?”.

“Hal ini membuktikan bahwa petunjuk yang diberikan Dewa

kepadaku tepat sekali, rombongan dari Luga tentu sudah

melewati tempat ini dan pernah berhubungan dengan dirinya,

maka ia tahu segala sesuatu tentang dibrimu!…”.

Makidn dipikir Liem aKian Hoo merasab hal ini sangat

masuk diakal, ia jadi kegirangan setengah mati.

“Aaaaah, kalau benar begitu sungguh bagus sekali…”

serunya.

Belum habis ia berkata, perundingan antara Hasan dengan

orang orang suku Leher Panjang itu telah selesai, semua

orang anggota suku mundur ketempat semula dan menanti

dengan tenang sedangkan Hasan lantas berunding dengan

lelaki setengah baya berdandan sebagai dukun itu.

“Bagaimana perundingan mereka ?” tanya Kian Hoo lagi.

“Mungkin sangat menguntungkan bagi posisi kita, mereka

minta Hasan dengan kedudukannya sebagai kepala suku

tantang kau untuk berduel lebih dahulu, apabila dia menang

maka mereka akan mengabulkan permintaannya dengan

mengubur jenasah bocah itu dengan upacara penguburan

paling meriah, seandainya ia kalah dan mati dalam

pertempuran maka seluruh anggota sukupun telah

menyanggupi untuk bersama-sama melakukan pembalasan

dendam.”

“Kalau begitu perduli dia menang atau kalah yang jelas

tidak akan menguntungkan kita, mengapa kau katakan malah

menguntungkan…”

“Peristiwa yang kita hadapi saat ini tidak seburuk seperti

apa yang kau bayangkan ” kata Sani sambil tersenyum.

“Menurut dugaanku, walaupun Hasan adalah seorang kepala

suku namun dalam kenyataan dia adalah seorang pengecut

yang tak bernyali, ia tidak bakal berani tantang dirimu untuk

berduel…”

“Bagaimana kau bisa tahu ? bukankah kau mengatakan

setiap lelaki yang ada dalam wilayah Biauw adalah ksatria

yang takut mati ?”

“Diantara ksatria terdapat pula sampah masyarakat, dan

bajingan ini termasuk salah satu diantaranya, sekarang ia

sedang mohon kepada sang dukun untuk menghadapi dirimu

dengan ilmu hitamnya..”

Liem Kian Hoo tertegun dan dengan wajah tegang segera

alihkan sinar matanya kearah kedua orang itu, sedikitpun tidak

salah nampak Hasan sedang gerakkan tangan kakinya

menunjukkan sikap merengek, yang aneh ternyata lelaki

bangsa Han itu, geleng kepala tiada hentinya, seakan-akan ia

menampik permohonan dari kepala suku itu.

Suku suku Leher panjang yang berada di sekeliling

kalangan sudah tidak sabar menunggu, mereka berkaok-kaok

minta Hasabn untuk segera dtampil kedepan.a

Menjumpai harabpannya sia-sia belaka, dengan wajah kesal

Hasan bergeser ketengah kalangan sinar matanya

memancarkan cahaya kebencian yang meluap-luap, dengan

suara keras teriaknya:

“Anjing cilik bangsa Han ! kau telah mem binasakan

putraku, dalam daratan Tionggoan kalian ada pepatah

mengatakan: Hutang uang bayar uang, hutang darah bayar

darah, bagaimana pertanggungan jawabmu sekarang

terhadap diriku ?”.

Liem Kian Hoo tertegun dan tidak tahu bagaimana harus

menjawab, Sani yang berada disisinya segera berkata:

“Saat ini si bangsa Han tersebut sedang berada didalam

wilayah Biauw kami, maka ia harus mentaati peraturan dari

suku bangsa Biauw kita, buat seorang ksatria hanya ada satu

jalan yang bisa ditempuh yaitu kalau bukan membunuh dia

akan mati terbunuh, putramu mati dalam suatu duel tapi

sayang ia pengecut, sebelum merasakan bacokan golok

musuh ia sudah bunuh diri, sukmanya yang lepas dari raganya

kotor itu maka kau harus wakili dirinya untuk melakukan yaitu

mencuci dengan darahmu atau darah musuhmu !”

Ucapan ini gagah dan penuh semangat jantan membuat

suku Leher panjang yang ada di sekeliling kalanganpun ikut

bersorak memuji.

“Perempuan lonte busuk ! kau adalah seorang suku Biauw,

mengapa kau malah membantu anjing bangsa Han untuk

mengerubuti diriku ?”.

“Cahaya murni Dewa hanya menyoroti kaum ksatria dan

tidak membedakan suku bangsa, pedang keadilan hanya

menebas batok kepala kaum pengecut, aku harap kau suka

jaga nama baik suku Biauw dengan menerima tantangan

berduel ini, jangan lakukan permainan licik yang terkutuk

lagi.”

Sekali lagi orang-orang suku leher panjang bersorak sorai

dengan ramainya. Air muka Hasan berubah jadi merah padam,

sambil berkaok-kaok gusar teriaknya:

“Baik ! Heei lonte busuk, akan kubereskan dahulu anjing

bangsa Han ini, kemudian akan kuhadapi dirimu !”

Sani tetap bersikap tenang, kepada Kian Hoo pesannya:

“Kongcu, bertindaklah yang mantap dan percayalah pada

diri sendiri, dalam pertarungan yang menentukan antarra

hidup dan matti kau tak boleqh memiliki keharlusan hati

seorang wanita, bersikap murah hati kepada musuh berarti

bertindak kejam terhadap diri sendiri, jangan lupa bahwa kita

masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan.”

Liem Kian Hoo bungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu Sani telah meloncat keluar dari kalangan,

sedang dua orang suhu Leher panjang dengan wajah serius

telah muncul sambil membawa sepasang tombak, sepasang

gendewa serta sekantong anak panah.

Hasan memilih tiga batang tombak, sebuah gendewa dua

belasan batang anak panah, setelah itu dua orang suku Leher

panjang tadi persembahkan tombak serta golok tersebut

kehadapan Liem Kian Hoo agar iapun memilih senjata untuk

hadapi tantangan itu.

Dengan angkuh sianak muda itu menolak pemberian

senjata, ia loloskan pedang yang tersoren dipinggang dan

berkata lantang:

“Sebilah pedang tersoren ditangan, menjagal naga

menusuk harimau bagaikan menebas anjing, pedang

berkelebat angin awan berubah bentuk, di-bawah ujung

pedang batok kepala manusia laknat bergelindingan.”.

Ditengah seruan lantang yang gagah perkasa itu, dua

orang suku Leher panjang tadi berlalu dengan wajah gembira,

Hanya Sani yang kelihatan amat gelisah teriaknya:

“Kongcu, kau menolak yang panjang dan memilih yang

pendek, dalam tindak tanduk harus berhati-hati.”.

Liem Kian Hoo melemparkan sebuah senyuman manis lalu

berdiri tegak ditengah kalangan siap menantikan serangan

lawan.

Dalam pada itu dipihak Hasan telah merentangkan

gendewa dan pasang anak panah, ditengah desiran angin

tajam sebilah anak panah telah meluncur datang laksana

sambaran kilat mengancam ulu hatinya.

Sianak muda itu tetap tenang, melihat datangnya ancaman

pedang mustika dalam genggamannya segera ditebas

kebawah, dengan tepat dan pas ia punahkan datangnya

ancaman tersebut.

“Traaaang !” suara bentrokan nyaring bergetar memenuhi

seluruh angkasa, meski Kian Hoo berhasil merontokan

datangnya ancaman tersebut, diam diam iapun merasa

terperanjat sebab daya luncur anak panah yang dilepaskan

Hasan jauh diluar dugaannya, pergelangan dimana ia

mencekal pedang itu terasa sakit dan kaku.

Hasan tidak memberi kesempatan baginya untuk bertukar

napas. “Sreeet !… Sreeet !… Sreeet !….” beruntun ia lepaskan

kembali tiga batang anak panah yang meluncur datang saling

susul menyusul, kecepatan dan kekuatannya benar benar luar

biasa.

Ketika anak panah pertama meluncur sampai ditengah

jalan, anak panah ketiga telah dipasang di atas busur,

kesebatan serta kecepatan geraknya betul-betul luar biasa.

Dengan adanya pengalaman pahit tadi, kali ini Liem Kian

Hoo tidak berani menangkis datangnya serangan dengan

pedang, ia tarik panjang panjang, badannya segera meloncat

keangkasa menghindari anak panah pertama, setelah itu

badannya segera berjumpalitan dan berdiri pada anak panah

kedua, mengikuti daya luncur senjata itu badannya ikut

meluncur beberapa tombak jauhnya dari tempat semula,

setelah itu dengan gerakan Monyet tua berloncatan didahan ia

gantung badannya kebawah, meminjam sedikit tenaga yang

masih tersisa ia tendang datangnya ancaman dari anak panah

ketiga sehingga arahnya berubah dan meluncur keangkasa.

Agaknya orang orang suku Leher panjang yang ada

disekeliling tempat itu belum pernah menyasikan adegan

sehebat ini, sekalipun Liem Kian Hoo adalah musuh mereka

namun tak urung orang-orang itu pada bersorak memuji .

Liem Kian Hoo sendiripun merasa amat bangga setelah

berhasil menghindari datangnya ancaman dengan suatu gerak

tubuh yang lincah dan sebat.

Ia melirik sekejap kearah Sani, ditemuinya diatas wajah

yang cantik terlintas kekesalan serta kesedihan yang luar

biasa, untuk sesaat ia tidak habis mengerti apa sebabnya

gadis itu murung.

Dalam pada itu dengan wajah hijau membesi Hasan telah

membentak:

“Anjing bangsa Han, terimalah kembali tiga batang anak

panahku ini !”

Ditengah bentakan nyaring, ia bcabut tiga batadng anak

panah daan sama-sama dibpasang diatas busur, lalu

merentangkan gendewa tadi dan sekali lagi melepaskan anak

anak panah itu kearah lawan.

Datangnya serangan dari tiga batang anak panah ini aneh

sekali, senjata tersebut tidak meluncur dengan garis lurus

melainkan serong dan berputar kesamping, kemudian yang

satu diatas dan yang lain dibawah laksana gulungan ombak

ditengah samudra mengacau datang.

Mimpipun Kian Hoo tidak pernah menyangka dalam

permainan anak panahpun terdapat kepandaian sehebat ini,

berhubung datangnya ancaman tiga batang anak panah itu

tak menentu terpaksa ia menanti ditengah kalangan dengan

tenang untuk sementara waktu tidak menunjukan gerakan

apapun.

Anak panah meluncur datang dengan cepat-nya, ketika

berada tujuh delapan depa di hadapannya, anak panah yang

berada ditengah mendadak berputar arah dan menyerang dari

arah kanan, sedang dua batang sisanya mengancam datang

dengan arah yang makin kacau, kiri kanan saling bersambaran

entah arah mana yang sebenarnya diancam, membuat orang

jadi kebingungan setengah mati.

Ditengah rasa kaget dan melengak, tidak ada waktu bagi

Kian Hoo untuk berpikir panjang, terpaksa ia harus

menghadapi dahulu anak panah yang mengancam datang

lebih dahulu itu, pergelangannya dikerahkan tenaga, ujung

pedang membentuk kuntum kuntum bunga pedang dan

segera membabat keatas anak panah itu.

Sreeeet ! Sreeet ! ditengah desiran nyaring, batang bambu

diatas anak panah tersebut berhasil dihancurkan lumatkan dan

rontok keatas tanah, tetapi ujung panah yang terbuat dari besi

berhasil menembusi pertahanan bunga bunga pedang dan

langsung mengancam keatas tubuhnya.

Air muka Liem Kian Hoo berubah hebat, buru-buru ia

gunakan tangannya sebelah untuk mencengkeram ujung anak

panah itu pula ditengah desiran tajam dua batang anak panah

lainnya telah mengancam datang.

Sianak muda itu kehabisan akal, mengikuti gerakan yang

sama ia getarkan bunga bunga pedang uutuk menyambut

datangnya serangan itu. Criiiiing .. . ! anak panah kedua

berhasil mencelat kesamping. Kraaaak . . . ! anak panah

ketiga patah jadi dua bagian.

sekalipun begitu mara bahaya bbelum lenyap, andak panah

yang maencelat keangkabsa itu berputar satu lingkaran

ditengah udara kemudian meluncur kembali kebawah dan

mengancam dari belakang punggung, sedangkan anak panah

yang berhasil dibabat patah itu mengikuti desiran tajam

meluncur pula mengancam tubuhnya.

Dalam keadaan terdesak dan apa boleh buat terpaksa

sianak muda itu membentak keras, pedang dalam

genggamannya segera disentil kearah anak panah itu,

kemudian seluruh hawa murni yang dimiliki disalurkan

kedalam tubuh membuat baju-nya, menembusi hawa khiekang

pelindung badan dan menggurat kulit badan, meski

serangan berhasil menembusi pertahanan lawan namun

sianak muda itu cuma terluka sedikit saja.

Liem Kian Hoo jadi teramat gusar, sinar matanya berapi

api, ia membentuk keras, pedangnya diiringi cahaya hijau

laksana kilat meluncur kearah tubuh Hasan, ujung pedang

laksana jilatan lidah ular beracun langsung menusuk

tenggorokannya.

Menyaksikan sianak muda itu berhasil menghindarkan diri

dari ancaman panah bergelombang yang dilepaskan, Hasan

tertegun dan melengak, belum sempat ia berpikir lebih jauh

ujung pedang lawan telah mengancam datang, terpaksa ia

gunakan busur dalam genggamannya untuk menangkis

datangnya ancaman tersebut

“Kraaaak….!” gendewa itu patah jadi dua bagian terbabat

pedang lawan, busur yang menekuk segera memantul kembali

dan menyambut datangnya serangan berikutnya, dalam

bentrokan ini Liem Kian Hoo merasakan pergelangannya jadi

kaku dan panas, pedangnya tak sanggup dipertahankan lagi

dan lepas dari tangan.

Hasan sendiripun tergetar mundur sejauh tiga langkah

lebih, busur itu tak dapat dipertahankan dan mengetarkan

lewat, bersama itu pula telapak tangannya terluka sepanjang

setengah coen, darah segar mengucur keluar dengan

derasnya membuat ia kesakitan sekali.

Ditengah rasa sakit yang menyerang badan-Hasan menjadi

kalap, ia sambar sebatang tombak langsung ditusukan

ketubuh sianak muda itu.

Setelah pedangnya tergetar lepas, sianak muda itu jadi tak

bersenjata, terpaksa ia sambut datangnya serangan dengan

tangan kosong. Ditengah desakan hebat, Kian Hoo kerahkan

seluruh tenaga yang dimilikinya, ditengah suatu babatan yang

tajam ia berhasil mematahkan tombak yang mengancam

datang itu jadi dua bagian.

Mimpipun Hasan rtidak menyangkat pihak lawan meqmiliki

tenaga srakti sehebat itu, ia tak berani maju lagi kecuali

berkaok-kaok gusar, Liem Kian Hoo tak ingin bertindak malang

tanggung, ia sambar pula dua batang tombak lain yang

tertancap diatas tanah, sepasang lengannya bergerak dan

mentah-mentah dua batang tombak tadi berhasil ditekuk

hingga jadi dua buah gelang tembaga, diiringi suara nyaring

gelang tersebut rontok keatas tanah.

Air muka Hasan berubah hebat, ia menjulurkan lehernya

yang panjang dan kecil itu lalu melepaskan gelang leher yang

tergantung pada lehernya tersebut.

Liem Kian Hoo tahu ia sudah terdesak hebat maka orang

itu bersiap sedia mengunakan gelang lehernya untuk

melakukan pertarungan yang menentukan antara hidup dan

mati, ia tidak berani berayal hawa murninya segera disalurkan

mengelilingi seluruh badan.

Hasan ayunkan tangannya, gelang leher itu segera

meluncur datang dengan hebatnya, Liem Kian Hoo tahu lihay

sedang pisau belati milik Sani pun tak ada dalam genggaman,

terpaksa ia kerahkan tenaga dalamnya membabat kearah

gelang tersebut.

Siapa sangka diatas gelang leher Hasan itu dipasang

sebuah mata rantai yang kecil, tidak menanti gelang tersebut

bersentuhan dengan ujung telapak Kian Hoo, lengannya sudah

disentakan ke belakang dan gelang leher itupun meluncur

balik kebelakang.

Kemudian ia bersiul nyaring, suaranya keras memekikkan

telinga, badannya yang tinggi besar berputar, meloncati

beberapa orang dan segera melarikan dari tempat itu dengan

terbirit-birit.

-oo0dw0oo-

Jilid 6

KEJADIAN ini membuat Licm Kian Hoo jadi tertegun,

agaknya ia tidak pernah mengira bahwa Hasan bisa ambil

tindakan pengecut dengan melarikan diri dari kalangan.

Suku-suku leher panjang diempat penjuru yang

menyaksikan kejadian itupun jadi gempar, mereka berkaokkaok

gusar bahkan gelang yang tergantung diatas lehernya

yang panjang itupun sama sama di lepaskan.

Liem Kian Hoo mengira orang orang itu hendak menyerang

dirinya serentak, buru-buru badannya meloncat kedepan

untuk pungut kembali pedangnya dari tanah dan bersiap sedia

melakukan perlawanan.

Sani buru-buru menghampiri dirinya seraya mencegah.

“Kongcu, jangan salah paham, mereka bukan hendak

menghadapi dirimu !” serunya.

Belum sampai sianak muda itu habis melengak, ditengah

teriakan-teriakan gusar suku suku leher panjang yang ada

disekeliling tempat itu sudah bergerak ke hadapan Ku-li,

gelang leher mereka sama-sama dihantamkan keatas mayat

itu sehingga dalam sekejap mata jenasah bocah tadi sudah

hancur berkeping-keping….

“Mengapa mereka menyerang sesosok mayat ?” tanya Liem

Kian Hoo tercengang.

“Hasan adalah seorang kepala suku, tak disangka dia

adalah seorang pengecut yang takut mati, dalam menghadapi

seorang musuh ternyata sudah melarikan diri, hal ini boleh

dikata merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan

bagi kami orang-orang Biauw, maka mereka bersama-sama

merusak jenasah Ku li sebab dia adalah putra dari Hasan.”.

“Tindakan ini tak bisa terhitung bahwa suku Biauw kami

buas dan biadab, dalam tata cara orang Han kalianpun

terdapat hal hal yang sebenarnya tidak masuk diakal, seorang

berbuat dosa, seluruh sanak keluarganya ikut dijagal, bahkan

yang telah matipun kuburannya dibongkar dan mayatnya

dicambuk. Kongcu, bagaimana penjelasanmu mengenai tata

cara bangsa Han kalian ini?…”

Liem Kian Hoo dibikin bungkam dalam seribu bahasa,

merah jengah selembar wajahnya.

“Sungguh menyesal aku bukan seorang kaisar, kalau tidak

pasti akan kuhapuskan tata cara yang sama sekali tidak masuk

diakal ini!” serunya sementara itu dengan wajah berat orangorang

suku Leher Panjang itu pungut kembali gelang lehernya

lalu dengan mulut membungkam sama-sama mengundurkan

diri dari sana, tidak selang beberapa saat kemudian ditengah

kalangan yang luas tinggal mereka berdua, bahkan sang

dukun itupun lenyap entah kemana perginya.

“Apakah peristiwa ini berakhir sampai disini saja ?” Tanya

Kian Hoo keheranan.

“Tidak ! ini hari boleh dikata merupakan hari yang paling

memalukan bagi suku leher panjang, dewasa ini mereka buruburu

kembali keru-mah untuk mohon ampun pada dewanya

masing-masing sebab tak dapat menuntubt balas kepadamdu,

tapi mulai baesok kau sudah bjadi musuh umum dari seluruh

anggota suku mereka, keujung langit atau dasar samudrapun

mereka tidak akan melepaskan dirimu !”

“Dari mana mereka boleh bertindak demikian ? ” teriak

sianak muda itu gusar.

“Ku li mati karena bunuh diri sedang Hasan melarikan diri,

sebalikpun urusan ini ada sangkut pautnya dengan diriku tapi

akupun berbuat demikian demi membela diri…. bagaimanapun

aku tak bisa berpeluk tangan membiarkan mereka bunuh

diriku bukan ?”.

Sani tertawa getir.

“Setiap peristiwa yang terjadi dikolong langit tidak selalu

sebanding dengan alasan-alasan yang sebenarnya, kalau tidak

jagad akan damai dan aman tenteram.” katanya.

” Aaaaaa, peristiwa ini telah terjadi, akupun terpaksa harus

terima semua kenyataan ini, untung pembalasan dendam

mereka baru dilakukan mulai besok, dewasa ini lebih baik kita

segera berangkat untuk menyelesaikan urusan kita sendiri

dimanakah letak bukit Srigala Langit yang kau maksudkan itu

?”.

Sani menentukan arah lalu menuding kearah sebuah

puncak gunung, sahutnya:

“Bukit itu akan segera kelihatan setelah melewati bukit

seberang, tetapi Kongcu harus bertindak hati-hati, tempat

belakang sana merupakan daerah kuil suci bagi suku suku

Leher Panjang dan merekapun sangat pandai dalam hal

membuat alat-alat jebakan sesempurna bangsa Han kalian

namun sebagian besar mereka pasang alat jebakan itu

disesuaikan dengan keadaan alam, kita harus hati-hati

bertindak.”.

“Kau pernah mengunggulkan ilmu hitam mereka yang

dikatakan lihay, dan akhirnya terbukti bahwa kesemuanya ini

cuma permainan anak kecil yang khusus untuk membohongi

orang, dalam hutan belantara yang lebat itu sekalipun ada alat

jebakan panah serta gunung golok bangsa Han kami,

permainan tersebut tidak terhitung seberapa, apalagi ada cici

disampingku, aku rasa persoalan ini tak perlu terlalu

dirisaukan !”

Sani menggerakan bibirnya seperti mau mengatakan

sesuatu, namun akhirnya ia cuma menghela napas panjang

belaka dan melanjutkan perjalanan dengan mulut

membungkam.

Liem Kian Hoo sama sekali tidak ambil perhatian terhadap

peringatan perempuan itu, ia menyusul dari belakang dengan

hati tenang, sepanjang perjalanan mereka lewati banyak sekali

rumah penduduk suku Leher Panjbang, namun meredka tutup

pintunaya rapat-rapat,b tetapi dari balik lubang jendela

muncullah serentetan sinar mata penuh kebencian serta

perasaan dendam.

Perjalanan dilakukan dengan mulut membungkam, rumah

penduduk makin lama semakin berkurang dan akhirnya

mereka tiba disebuah mulut selat yang sempit.

“Kongcu, mungkin kau tidak ambil perhatian terhadap

ucapanku karena andalkan ilmu silat mu yang lihay serta

nyalimu yang besar, tetapi aku sangat memahami keadaan

dari suku Leher Panjang, aku harap kita jangan sampai

berpisah !”

Mendengar ucapan gadis itu amat serius Liem Kian Hoo

harus tarik kembali keangkuhan-nya, dalam hatipun semakin

waspada.

“Harap cici berlega hati, aku pasti akan mendengarkan

seluruh petunjukmu disaat dan keadaan seperti apapun ! “

sahutnya.

Sani menghela napas panjang, tiba-tiba ia percepat

langkahnya laksana terbang meluncur ke-arah bukit sebelah

depan, Liem Kian Hoo ingat terus pesan Sani yang minta agar

mereka jangan sampai terpisah, ia segera mengepos tenaga

dan dengan kencang mengikuti terus dibelakang tubuhnya.

Jalan gunung yang sempit ini berada diantara tebing yang

curam serta jurang yang dalam, lebar jalan tidak lebih hanya

dua depa dan cukup dilalui seorang belaka.

Liem Kian Hoo takut gadis itu mendadak berhenti sehingga

terjadi tumbukan dengan dirinya karena susah mengeram

gerakan tubuhnya, maka selama ini ia tidak berani berjalan

terlalu dekat dengan dirinya, meski demikian ia tidak paham

apa sebabnya Sani bergerak demikian cepat.

Setelah bergerak beberapa saat lamanya, jalan gunung itu

makin lama semakin sempit, hampir boleh dikata kadang kala

mereka harus bergerak dengan punggung menempel diatas

dinding tebing, sekalipun begitu gerakan tubuh Sani sama

sekali tidak berkurang, ia lanjutkan perjalanan dengan

gerakan cepat.

Lama kelamaan Liem Kian Hoo tak kuasa menahan diri,

teriaknya:

“Cici. bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan perlahan

sedikit ?…”.

Karena harus berrbicara, hawa mturni yang terkuqmpulkan

jadi buryar, langkah kakinya makin bertambah berat…

mendadak ia merasa kakinya menginjak tempat kosong. diikuti

dari atas bukit berkumandang suara gemuruh yang amat

keras, berpuluh-puluh batu cadas bagaikan hujan gerimis

berguguran kebawah.

Liem Kian Hoo terperanjat dan segera mendongak

tampaklah batu-batu cadas itu meluncur kebawah dengan

hebatnya, tiga empat tombak di-sekeliling tubuhnya

terjangkau dalam ancaman tersebut apalagi ia berada disuatu

daerah yang ter-batas, tak mungkin baginya untuk

menghindar ke-tempat lain, terpaksa sepasang telapaknya

didorong kedepan untuk memunahkan datangnya ancaman

tersebut.

Batu batu cadas itu bagaikan hujan gerimis rontok kebawah

dengan hebatnya, suara gemuruh memekikan teiinga, Liem

Kian Hoo terdesak hebat, laksana kilat badannya meluncur

kearah depan ambil kesempatan batu pertama berhasil dipukul

kesamping oleh serangannya.

Belum sampai beberapa tombak ia berlalu, rombongan batu

yang kedua sudah turun kebawah dengan hebatnya. Untung

Sani telah berhenti dan putar badan mengirim sebuah

pukuIan, batu-batu cadas itupun berhasil dibendung oleh

serangannya dan sama-sama terpental kearah jurang.

Menanti sianak muda itu berhasil tiba disisi tubuh Sani rasa

kagetnya baru berhasil dilenyapkan beberapa saat ia

membungkam, kemudian sambil menjulurkan lidahnya ia

menghela napas panjang. Sungguh lihay ! sungguh lihay !

bagaimana mereka pasang alat jebakan semacam ini . . . .”

“Sekarang kongcu tidak akan mengatakan jebakan mereka

sebagai suatu permainan anak kecil bukan ?” jengek Sani

sambil tersenyum. Merah padam selembar wajah sianak muda

itu.

“Cici, apa gunanya kau sindir diriku ? aku tidak menyangka

kalau alat jebakan tersebut bisa mereka pasang diatas…”

“Aaaai…! aku sendiripun tidak tahu, dua puluh tahun

berselang Kepala Suku Tiako pernah mengundang ayahku

untuk berkunjung ketempat ini, ia beritahu kami bahwa jalan

ini disebut jalan burung terbang, artinya jalan ini baru bisa

dilalui apabila seseorang memiliki gerakan tubuh yang gesit

dan ringan seperti burung terbang, maka sejak semula aku

sudah bergerak maju dengan gerakan yang paling cepat, aku

berusaha untuk meringankan tubuhku semampu kekuatanku…

Kongcu, bagaimana kau sampai menyentuh alat jebakan

mereka ?”

Liem Kian Hoo termenung sejenak, kemudian baru berkata:

“Karena harus berbicara, maka tekanan langkahmu agak

berat, seolah-olah aku merasa menginjak tempat kosong…”.

“Nah, itulah dia ! diatas jalanan yang hendak kita lewati ini

pasti mereka sudah membuat banyak sekali liang-liang kecil,

setiap liang kecil itu dihubungkan dengan tumpukan batu yang

ada diatas bukit akan tergerak dan segera bergelindingan

kebawah.”.

“Lalu bagaimana cara mereka melampaui tempat ini ? aku

tidak percaya kalau mereka dapat bergerak lebih ringan dan

lebih gesit dari burung yang terbang diangkasa.”.

“Kongcu, lucu benar pertanyaanmu ini” Sani tertawa

cekikikan “jalanan ini bukan suatu jalanan yang bisa ditempuh

oleh sembarangan orang, sekalipun hendak bersembayang

kedalam kuil suci mereka, orang itupun harus mendapat

petunjuk lebih dahulu dari orang yang paham dengan jalan ini,

sebelum dilewati lubang lubang kecil tersebut mereka tutupi

dengan papan kayu, seperti halnya ketika aku lewat ditempat

ini tempo dulu, sepanjang perjalanan dilapisi papan kayu, hal

ini me-nunjukan betapa ketat dan telitinya mereka bekerja”

“Aaaaaai ! sekarang aku baru tahu sampai ditaraf manakah

kemampuan yang kumiliki.”.

“Setelah mengalami satu peristiwa maka kecerdikan

seseorang akan bertambah, asal dikemu-dian hari Kongcu

bertindak lebih hati-hati, aku rasa itu sudah cukup.”.

Habis berkata gadis Biauw inipun bagaikan seekor burung

meluncur kembali kedepan, kali ini Liem Kietn Hoo tak berani

berayal lagi, dengan kencang ia membuntuti terus dari

belakang.

Beruntung sepanjang perjalanan mereka tidak jumpai mara

bahaya lagi, sedang jalan gunungpun makin lama semakin

lebar sehingga akhirnya mereka tiba didepan sebuah hutan

dan berhenti.

Sani termenung beberapa saat lamanya sambil mengawasi

keadaan disekeliling tempat ini, menyaksikan sang gadis

berhentbi Kian Hoo segedra menghampiri aseraya bertanyab:

“Cici, mengapa berhenti dan tindak lanjutkan kembali

berjalan ?”

“Hutan yang ada dihadapi kita ini sungguh aneh sekali,

sewaktu tempo dulu aku datang kemari bentuknya sama sekali

berbeda.” kata Sani dengan alis berkerut.

“Cici berkunjung kemari ketika dua puluh lahun berselang

seandainya waktu itu ada bibit pohon yang baru tumbuh.

maka setelah lewat dua puluh tahun pohon itupun sudah

tumbuh lebat, tentu saja keadaannya jauh berbeda dengan

keadaan dahulu”.

“Tidak benar ! dua puluh tahun berselang, ditempat ini

sama sekali tak ada pohon, bahkan pohon-pohon yang berada

dihadapan kita saat ini berbentuk aneh sekali, belum pernah

aku jumpai pohon macam ini dalam wilayah Biauw !”

Liem Kian Hoo ikut mengawasi hutan itu beberapa saat,

lalu dengan nada tercengang iapun berseru:

“Tepat sekali ! ponon ini adalah Pohon Pak yang,

kebanyakan tumbuh disekitar daerah Kang lam, bagaimana

mungkin pohon semacam ini bisa tumbuh begitu lebat disini ?

pasti ada orang sengaja menanam pohon tersebut ditempat

ini, tapi apa maksudnya pohon Yang-Liuw ini ditanam ditengah

pegunungan yang terpencil dan sunyi ?”

Sani tak habis mengerti, ia tak dapat pecahkan teka teki ini

maka cuma menggeleng belaka, sedangkan Liem Kian Hoo

menyelidiki lebih jauh mendadak dengan nada gembira

teriaknya.

“Aaaah, sudah kutemukan, pohon pohon yang-liuw ini

ditanam sesuai dengan letak barisan Ngo heng yang ampuh !”

“sampai seberapa jauh Kongcu memahami soal barisan

tersebut ?” Tanya Sani sambil menyapu sekejap kearahnya.

“Terlalu dalam sih tidak, cuma guruku Liuw Boe Hwie

mempunyai kepandaian terhadap barisan-barisan itu maka

sedikit banyak aku mendapat didikan serta keterangannya,

ditinjau dari letak posisi pohon Liuw ini aku rasa barisan ini

adalah Ceng-Huan-Ngo-Heng~Tin, asalkan kita bergerak

mengikuti perubahan dan temukan pintu hidup, dengan

sendirinya hutan ini dapat kita lalui dengan gampang !”.

Sembari berkata ia berputar beberapa kali didepan hutan

itu seraya berguman seorang diri:

“Kiri tiga kanan empat, tengahb lima samping ddua,

menjumpai daelapan mundur sbatu aaah benar, disinilah letak

pintu hidup.”

Sambil berkata ia tuding sebuah luang kosong diantara dua

batang pohon, kemudian dengan penuh perasaan bangga ia

tersenyum angkuh kearah Sani.

Menyaksikan tingkah laku sianak muda itu air muka Sani

berubah amat serius, lama sekali ia membungkam kemudian

baru berkata:

“Kongcu, lebih baik berhati-hatilah dalam setiap

tindakan…”.

“Haaaaa… haaaa… haaaaa… pasti benar dan tak bakal

salah lagi ! kali ini giliranku untuk bertindak sebagai petujuk

jalan bagi cici.”.

Sani tidak langsung menyahut ia berpikir sebentar setelah

itu baru katanya:

“Terhadap soal barisan aku sama sekali tidak mengerti.

tentu saja Kongcu harus bertindak sebagai petunjuk jalanku !”

Liem Kian Hoo benar benar amat bangga, sementara ia

siap melangkah masuk kedalam hutan tiba-tiba Sani

melepaskan ikat pinggangnya dan berikan ujung sebelah

kepada sianak muda itu, katanya:

“Meskipun aku tidak paham tentang barisan, namun aku

tahu bahwa dalam barisan tersebut terdapat banyak

perubahan diluar dugaan, dan ampuh sekali, maka aku

berharap kongcu suka mencekal ujung ikat pinggang ini agar

kita berdua jangan sampai saling berpisah !”

Terhadap ketelitiannya Lum Kian Hoo merasa amat kagum,

ia segera menerima ujung ikat pinggang itu dan sambil

tersenyum melangkah masuk kedalam hutan.

Sani pun ikut masuk kedalam, diantara kedua orang itu

terpaut jarak sejauh lima enam depa, gerakan langkah mereka

lambat sekali, Barisan yang ditanam dalam hutan tersebut

persis seperti apa yang ia katakan, sepanjang perjalanan

mereka dapat bergerak dengan lancar tanpa menjumpai

halangan, ketika mendekati lohor dari antara pepohonan

mereka dapat saksikan sebuah gunung menjulang didepan

mata, jelas perjalanan sudah hampir mencapai akhir Liem Kian

Hoo jadi amat bangga, sambil tertawa ia berpaling dan

serunya keras-keras:

“Cici, coba lihat kita sudah hampir melewati…”.

Belum habis ia bicara air mukanya sudah berubah hebat,

kiranya diujung ikat pinggang tersebut tidak nampak Sani

yang berwajah cantik lagi tapi sebagai gantinya di sana berdiri

seorang makhluk aneh yarng mengerikan btentuknya.

Makhlquk tersebut secrara dipaksakan boleh disebut seorang

manusia bahkan seorang wanita.

Namun membicarakan soal raut wajahnya boleh dikata

tiada berbeda dengan setan atau siluman apapun, rambutnya

panjang dan awut-awutan terurai menutupi bahunya yang

telanjang, dari wajah hingga ketubuhnya memancar selapis

cahaya hitam, matanya sipit, lubang hidungnya menghadap

keatas, dan mulutnya amat besar sehingga kelihatan jelek dan

buruk sekali wajahnya.

Yang paling memuakan adalah sepasang buah dadanya

yang besar dan tergantung kebawah bagaikan pepaya,

sungguh menjijikan sekali, pinggangnya tertutup oleh secarik

gaun pendek, sepasang pahanya yang kasar, besar lagi hitam

tersungging didepan mata, rambut kasar berwarna hitam

hampir-hampir menutupi seluruh perut dan pahanya.

Perawakan tubuh Kian Hoo boleh dikata tidak terlalu

pendek, namun kalau dibandingkan dengan perempuan buruk

itu ia masih belum apa apanya.

Ketika mendengar seruan sianak muda itu, ia segera

menyeringai tertawa kegelian, dengan suara yang serak

bagaikan tong bobrok ujarnya:

“Haaaa…. haaaa…. haaaa… bocah muda ! manis benar

mulutmu, kok panggil aku sebagai cici ? Aduh…. mungkin

usiaku jauh lebih kecil dari umurmu.”.

Melihat tampangnya saja Liem Kian Hoo sudah muak

apalagi sewaktu ia berbicara dari mulutnya menyiarkan bau

jengkol yang benar-benar amis dan memualkan, hampirhampir

saja pemuda itu jatuh kelenger.

Setengah harian lamanya ia dibikin “Mabok” oleh bau

“jengkol” nya yang istimewa itu, akhirnya sianak muda itu

berteriak:

“Kau… siapa kau ? dimana enciku ?”

“Hiiiii… hiiiiii… hiiiiii… bukankan aku adalah encimu ? Hiiii…

hiiii… hiiiii…” Genit benar gadis buruk ini, sambil tertawa

cekikikan ia berlagak macam gadis pemalu.

“Omong kosong !” Bentak Kian Hoo naik pitam, “Yang

kumaksudkan adalah orang lain…”.

Gadis buruk itu goyangkan badannya sehingga sepasang

tetek yang tergantung kebawah bagaikan buah pepaya itu ikut

bergondal gandul tiada hentinya, ngeri benar keadaannya

membuat perut jadi mual dan kepingin muntah.

“Hiilii… hiiiii… hiiiii… orang lain ?” serunya sambil

celingukan kesana kemari “Kok tidak ada orang ? sudah lama

ku-ikuti dirimu, selama ini pula kau seorang yang berputar

kayun dalam hutan ini !”.

“Omong kosong !” kembali Kian Hoo membentak gusar.

“Terang-terangan enciku mengikuti aku dibelakang, bahkan ia

cekal ujung ikat pinggang tersebut, kau sudah apakah dirinya

?”.

“Eeeehmmm…! agaknya ada seseorang pernah terjebak

dalam hutan ini, apakah dia adalah encimu ?”

“Tidak salah, sekarang dia berada dimana ?”.

“Tiga hari berselang ia sudah ditangkap oleh simonyet tua

!”.

“Kentut makmu !” maki Kian Hoo, ” Belum lama berselang

enciku sama-sama aku masuk kedalam hutan ini”.

“Waaaah ! kalau begitu aku sih tidak tahu, aku cuma lihat

kau berputar dalam hutan seorang diri bahkan jalan yang kau

lewati adalah jalan kematian semua, sebenarnya aku tidak

mau ikut campur, namun setelah kulihat bahwa wajahmu

ganteng maka aku tidak tega biarkan kau mati dalam hutan,

oleh sebab itu buru-buru aku membuntuti dari belakang !”.

Menyaksikan gadis buruk itu berbicara terus terang dan

blak-blakan, tidak mirip seorang penipu. Liem Kian Hoo jadi

keheranan.

“Kemana perginya enci Sani ? ” serunya. “Bagaimanapun

tak mungkin ia lenyap begitu saja ! sekalipun ia mengalami

bencana, tidak seharusnya aku buta dan tuli sama sekali tidak

merasakan kejadian itu. Eeeei ! sejak kapan kau pegang ujung

ikat pinggang tersebut ?”.

“Kurang lebih satu jam berselang ! ” jawab Gadis buruk itu

setelah berpikir sejenak.

“Kutemui kau berputar putar dalam hutan seorang diri

sambil menyeret ikat pinggang tersebut.”.

“Omong kosong ! sejak aku masuk kedalam hutan sampai

sekarang belum sampai melewati satu jam ” gembor Kian Hoo

dengan amat gusar.

Gadis buruk naik pitam, sambil mencibirkan bibirnya yang

tebal lagi hitam serunya:

“Kapan aku pernah membohongi dirimu ? aku sudah

berdiam selama belasan tahun dalam hutan ini, setiap

mengitari tiga ratus batang pohon berarti seperempat jam,

aku sudah ikuti dirimu mengitari seribu batang pohon, kalau

dihitung bukan berarti sudah lewati satu jam ?”.

Liem Kian Hoo tertegun, ia merasa sepanjang perjalanan

agaknya tidak sampai menjumpai begitu banyak pohon, tapi

ditinjau dari ucapan gadis buruk itu agaknya ia tidak sedang

berbohong, untuk sesaat ia jadi bingung dan tidak habis

mengerti. Tiba tiba gadis buruk itu tertawa.

“Aaaah, sekarang aku tahu sudah, kau melewati Hwie-Sian-

Bun maka tidak tahu berapa lama sudah kau lewati,

seandainya jejakmu tidak berhasil kutemui mungkin sepanjang

hidup kau bakal berputar terus didalam hutan ini !”.

“Omong kosong. terang terangan aku berja lan masuk

lewat pintu hidup, sebentar lagi akan kutembusi hutan ini !”.

Sekali lagi sigadis buruk itu tersenyum.

“Kau hendak keluar lewat mana ?” tanyanya. Liem Kian

Hoo angkat kepala dan memandang kearah mana dijumpai

gunung tadi, namun dengan cepat ia berseru kaget, kiranya

dalam wak tu singkat itulah pemandangan dihadapannya

sudah berubah, gunung yang dijumpainya secara lapat-lapat

tadi sekarang sudah berubah jadi bayangan pohon yang tak

terhingga banyaknya, gadis buruk itu segera tertawa

cekikikan.

“Saat ini kau berada diperbatasan antara jalan Hwie-sian

dengan jalan sesat, tentu kau telah menjumpai pemandangan

yang menyesatkan bukan? apabila tidak cepat berhenti

ditempat ini, sebentar kemudian kau akan berada dalam jalan

mati..”.

Liem Kian Hoo tersentak kaget, dengan hati terperanjat

serunya: “barisan apakah yang dipasang disini ?”.

“Aku sendiripun tidak tahu barisan apakah ini, barisan ini di

susun oleh ayahku serta si monyet tua !”.

“Siapakah ayahmu ? dan siapa menyet tua itu?”

“Ayahku sudah mati sedang monyet tua seperti kalian,

diapun seorang pria tetapi berhubung raut wajahnya mirip

monyet dan iapun she-Kauw maka aku serta ayah panggil dia

sebagai monyet tua. sedang aku sendiri bernama Tong-Kauw,

si-monyet tua panggil aku dengan sebutan si Bligo”.

Mendengar kata “Bligo” Kian Hoo tak tahan ingin tertawa,

sebab badan gadis buruk ini memang persis seperti buah

Bligo.

Melihat sianak muda itu tertawa, sigadis buruk itu jadi

bangga, ujarnya:

“Eeeei bocah muda. ayoh tertawalah sekali lagi. sungguh

manis kalau kau tertawa, senyuman simonyet tua tidak

seindah dan semanis dirimu”.

Liem Kian Hoo tahu gadis buruk ini bukan saja berwajah

jelek bahkan tololnya luar biasa, ia jadi kheki.

“Sudah… sudah… jangan banyak bacot yang tak berguna,

aku hendak pergi mencari enciku ! ” teriaknya.

“Percuma… ! kau tidak bakal temukan dirinya ! “.

Mendengar perkataan itu suatu ingatan berkelebat dalam

benak sianak muda itu, buru buru ia tertawa dan berkata:

“Tong-Kauw, hapalkah kau dengan keadaan hutan ini ?”

“Tentu saja hapal ! sejak kecil aku dibesarkan dalam hutan

ini, setiap batang pohon yang terletak disini aku berputar satu

kali ? aku hendak temukan kembali enciku “

Gadis buruk itu tertegun, kemudian serunya:

“Bukankah tadi kau panggil aku sebagai enci ? setelah aku

jadi encimu, apa gunanya kau cari orang lain lagi ?”.

“Tadi aku tidak tahu kalau kau…”.

“Tapi sekarang kau kan sudah tahu !”.

Menyaksikan wajahnya yang buruk dengan sebaris gigi

yang runcing, Liem Kian Hoo merasa seram, hatinya bergidik.

“Kau anggap sebutan cici boleh digunakan buat setiap

orang ?” Kalau kau tak mau bawa jalan, aku akan pergi

sendiri, Hmmm ! cuma andalkan sedikit perubahan macam ini,

belum tentu benar-benar bisa mengurung diriku…”.

Selesai bicara ia siap meninggalkan tempat itu. Dengan

cepat gadis buruk itu menghadang dihadapannya sambil

berteriak:

“Tidak boleh, kau tidak paham dengan perubahan yang

terdapat dalam barisan ini, kalau menerjang masuk kedalam

seenaknya maka hanya satu jalan kematian saja bagimu !”.

“Enyah dari sini ! sekalipun mati kaupun tak usah turut

campur !”.

Namun gadis buruk itu tetap menghadang dihadapannya,

Liem Kian Hoo habis sabarnya ia segera ayun kepalannya

mendorong bahunya, Siapa sangka gadis buruk itu memiliki

tenaga yang luar biasa sekali, bahkan dari balik tubuhnya

secara lapat-lapat terdapat segulung tenaga pantulan yang

hebat.

Baru saja telapak tangan Kian Hoo menempel diatas

bahunya, ia sudah terpental balik oleh daya pental yang

memancar keluar dari tubuh gadis buruk itu, badannya

mundur lima enam langkah kebelakang dengan sempoyongan,

akhirnya ia menumbuk diatas sebuah pohon tadi patah jadi

dua bagian.

Seketika itu juga suasana disekelingnya berubah jadi gelap

gulita, angin guntur menderu deru… dari dalam hutan muncul

selapis kabut yang tebal mulai menutupi seluruh

pemandangan

xx xOx x x

Liem Kian Hoo seketika merasakan tubuhnya bagaikan

terjerumus dalam kegelapan yang tak terhingga, begitu gelap

suasana disekitarnya membuat lima jari sendiripun tak dapat

dibedakan, lebih-lebih jangan harap bisa melihat keadaan

diluar, tapi ia dapat bedakan dan rasakan segulung daya

tekanan dibalik deruan angin puyuh serta sambaran guntur.

Daya tekanan yang tak berwujud itu makin lama makin

besar dan makin rapat sehingga membuat ia terengah-engah.

Bukan saja daya tekanan itu menghalangi pernapasannya

bahkan menggencet dirinya ditengah, seolah-olah tubuhnya

hendak di-remuk redamkan jadi bubuk.

Ia tahu apa yang telah terjadi, sebab Liuw Boe Hwie

gurunya pernah menceriterakan keampuhan dari barisan

tersebut, walaupun cuma beberapa batang pohon serta batu

yang diatur sedemikian rupa, namun cukup untuk

menghancurkan setiap orang yang memasukinya.

Tadi, secara gegabah ia menyerang gadis buruk itu, siapa

nyana daya pental yang terpancar keluar dari badannya begitu

mengejutkan, bukan saja ia sekarang terjerumus dalam

keadaan sulit…

Ia sadar gelisahpun percuma apalagi dalam keadaan seperti

ini, maka ia mulai pusatkan perhatiannya, mengatur

pernapasan dan berjuang melawan tenaga tekanan yang tak

berwujud tersebut.

Perlahan…. perlahan…. lama kelamaan tenaga tekanan tak

berwujud itu makin berkurang namun empat penjuru masih

gelap gulita, ia tarik napas panjang panjang, seluruh

kekesalan serta kesesakan dalam dadanya dihembuskan

keluar meski demikian badannya tak berani berkutik barang

sedikitpun jua.

Sebab ia tahu asal badannya sedikit bergerak maka ia bakal

terjerumus dalam barisan itu semakin dalam, entah mara

bahaya apa lagi yang bakal dijumpai.

“Sungguh aneh ! terang terangan barisan ini diatur dengan

posisi Ceng-Huan-Ngo-Heng-Tin, sedang akupun masuk lewat

pintu hidup, tapi mengapa bisa terjadi begini ? apakah cara

yang diajarkan suhu kepadaku salah besar ?”.

Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat, tenaga

tekanan diluar tubuhnya semakin hebat, buru-buru ia buang

seluruh pikiran yang tak berguna dan berdiri dengan hati

tenang, pikirannya sama sekali tak berani bercabang

memikirkan persoalan lain lagi.

Entah lewat berapa saat lamanya, ia rasakan ada sebuah

telapak tangan yang kasar sedang merasa amat tersiksa,

namun ia tak berani berkutik bahkan ingatan untuk

menyingkirkan telapak itu pun tak berani.

Diikuti terdengar suara yang kbasar dan serak dbagaikan

tong Baobrok berkumandbang datang:

“Eeeeeei ! bocah muda, kau betul-betul hebat, ditengah

gencetan angin puyuh serta guntur yang menyerang dari

empat penjuru, kau belum mati juga !”.

Jelas suara itu berasal dari gadis buruk itu, begitu ngeri

suaranya sampai perut kontan jadi mual dan ingin muntah,

tapi ia tidak berani berpikir yang bukan-bukan.

Beberapa saat lamanya gadis buruk itu meraba tubuhnya

kemudian baru menarik bajunya kearah depan, Tanpa sadar

Liem Kian Hoo ikut terseret keluar dari dalam barisan

mengikuti kekuatan daya tarik itu, sepertanak nasi lamanya ia

baru merasakan pandangan matanya jadi terang, bahkan

udarapun jadi lebih segar,

Saat itulah ia berani buka mata untuk memperhatikan

keadaan sekelingnya, tampak bintang bertaburan diangkasa,

bayangan pohon menutupi seluruh pemandangan dan ia

sudah berada di luar hutan, Tampak Tong-Kauw sambil

pantang bibirnya yang tebal lebar-lebar tertawa cekikikan

tiada hentinya.

“Saudara cilik, kau betul-betul luar biasa” pujinya. “Dua jam

terperosok ditengah barisan angin dan guntur, ternyata kau

tetap sehat walafiat tanpa menderita luka barang sedikitpun

juga.” senyuman itu sangat jujur dan polos membuat Liem

Kian Hoo meski mendongkol namun tak sanggup

mengutarakan kemangkelannya.

“Terima kasih kau telah menolong aku lolos dari mara

bahaya.” katanya hambar, Tong Kauw mendongak tertawa

terbahak-bahak.

“Haaaa… haaaaa… haaaa… kau tak usah berterima kasih

kepadaku, tadi aku benar benar tersiksa rasanya, aku tidak

tahu kalau tenagamu begitu besar, kalau tidak sewaktu kau

hantam diriku aku tidak akan berani melawan dengan gunakan

ilmu sin-kang pantulan atau Huan Kie-Sin-kang, ilmu tersebut

diajarkan ayahku untuk melindungi keselamatanku makin

besar tenaga yang menyerang diriku makin besar pula tenaga

pantulan yang memancar keluar dari tubuhku, kalau kau

menghantam tidak terlalu keras, mungkin tubuhmu tidak akan

terlempar kedalam barisan Hong-Loei-Tin bagaikan layanglayang

putus benang, Saudara cilik, apakah kau terluka ?”.

Setelah dihantam gadis buruk itu malah menguatirkan

keselamatannya, hal ini membuat Kian Hoo jadi jengah sampai

pipinyab berubah merah dpadam, sahutnyaa gelagapan:

“Akbu baik sekali, sama sekali tidak terluka barang

sedikitpun.”

“Haaaa…. haaaa…. haaaa…. kalau begitu bagus sekali,

kalau tidak aku bisa sedih sepanjang hidup, seandainya kau

tidak beruntung dan mati, maka akulah yang sudah

mencelakai dirimu, belum pernah kujumpai lelaki seganteng

dirimu, aku benar-benar serasa tidak tega membiarkan kau

mati!”

“Tong Kauw, cukup sudah ! jangan ucapkan kata-kata yang

tidak genah, kau harus bantu aku untuk temukan kembali

enciku itu !”.

“Hmmm ! kenapa sih kau selalu memikirkan encimu itu ?”

Seru Tong Kauw cemberut, wajahnya berubah membesi

“Apakah aku tidak boleh jadi encimu ? “.

Liem Kian Hoo naik pitam, kepingin sekali ia gablok mulut

gadis buruk itu. tapi teringat pelajaran yang barusan diterima

dengan paksa ia tekan hawa amarah tersebut sianak muda ini

segera mendengus dingin sebagai jawaban.

Menunggu setengah harian lamanya belum juga

mendengar Liem Kian Hoo menjawab, Tong Kauw jadi amat

kecewa, keluhnya sambil menghela napas:

“Saudara cilik, aku tahu kau tak sudi karena wajahku terlalu

buruk!”. Nada ucapannya penuh mengandung rasa kesal,

murung dan sedih.

Liem Kian Hoo jadi tega, dengan suara rendah bisiknya:

“Tong Kauw, aku bukan bermaksud demikian…”.

Tak usah bicara lagi ” Tong Kauw meng geleng dengan

sedih. “Aku sendiripun paham, jangan dikata kau sampai

ayahku sendiripun mengatakan aku jelek sekali seperti wewe

kantong, ia tidak suka kepadaku, walaupun wariskan ilmu silat

kepadaku namun jarang sekali bergaul dengan diriku, ia selalu

suruh aku jaga hutan ini seorang diri, maka ketika ia mati aku

sama sekali tidak sedih, hanya Saudara cilik, keadaanmu

berbeda, sejak pertama kali bertemu dengan dirimu, aku

sudah merasa senang. bahkan sewaktu kau menggaplok diriku

tadi akupun tidak marah, kalau kau benar-benar benci dengan

diriku, aku hiduppun tak berarti… aku jelek, aku buruk dan

sejak dilahirkan aku selalu begini sebab memang aku

ditakdirkan demikian sering kali aku berharap wajahku bisa

berubah rada menarik.”.

“Tong Kauw, janrganlah berpikirt demikian ” hibqur sianak

muda ritu dengan suara halus, ia benar-benar dibuat terharu,

“seseorang boleh punya beberapa orang enci, asal kau suka

bantu aku untuk menolong enciku itu, bagaimana kalau

akupun panggil kau sebagai enci ?”.

“Sungguh ? kau tidak akan menipu diriku?” teriak Tong

Kauw kegirangan.

“Tentu saja sungguh, buat apa aku membohongi dirimu !”.

Tong Kau tertawa, tapi dengan cepat ia jadi murung

kembali. katanya:

“Tapi dalam hutan ini benar-benar tak ada encimu, aku

selalu berjaga disini dan belum pernah menemukan tanda

tanda atau jejak orang lain.”.

“Omong kosong ! terang-terangan aku datang kemari

bersama-sama…”.

“Aaaaai! kalau kau berkeras tidak mau percaya, akupun tak

bisa berbuat Iain. dalam hutan memang ada seseorang

terkurung di-situ, tapi dia adalah seorang pria.”.

Dari sikap serta lagak gadis buruk itu, Kian Hoo merasa

yakin bahwa ia bukan sedang berbohong. dalam keadaan apa

boleh buat terpaksa ia berkata:

“Kalau begitu bawalah aku menuju ketem-pat dimana pria

itu terkurung !”. Tong Kauw tidak segera berangkat, ia

bertanya kembali:

“seandainya aku tak berhasil temukan encimu, apakah kau

tak suka memanggil diriku sebagai enci ?”

Liem Kian Hoo tidak ingin banyak cingcong dengan dirinya,

segera ia berseru:

“Asal kau suka membantu dinku, perduli berhasil ditemukan

atau tidak aku pasti akan menganggap dirimu sebagai enciku

“.

Tong Kauw jadi kegirangan, ia tertawa cengar-cengir.

“Saudara cilik, kau baik sekali aku pasti akan membawa kau

untuk menjelajahi seluruh hutan ini”.

Seraya berkata dengan hati girang ia buka jalan dan masuk

kembali kedalam hutan Liauw itu, berputar kekiri berbelok

kekanan sambil berjalan sianak muda itu mengawasi terus

perubahan yang terkandung didalamnya, beberapa saat

kemudian ia berteriak keras:

“Aaaaah kiranya hutan ini kecuali diatur dengan posisi

barisan Ceng-Huan-Ngo-Heng-Tin, masih terselip pula

perubahan dari barisan Pat-kwa, tidak aneh kalau aku

tersesat”.

” Saudara cilik, kau amat cerdik. hanya memandang sekilas

saja barisan ini berhasil kau tebak dengan tepat, tapi

perubahan dalam barisan ini banyak sekali, diantaranya

terdapat Ceng-Huan -Ngo-Heng, Khie-Bun-Pat-Kwa, Kioe-

Kong, Hoo-Toh, Yu-Uong-Hwie-Yen, Liat-Siu serta Poo-Loo-

Ban Hiang, ayahku serta simonyet tua telah membuang

banyak tenaga dan pikiran baru berhasil membangun hutan

ini. sedang aku sendiripun cuma tahu bagaimana lewati

tempat ini, apakah artinya dan bagaimana perubahannya aku

sama sekali tidak tahu. sekarang ayahku sudah mati, aku pikir

cuma simonyet tua seorang yang benar-benar mengerti akan

makna serta rahasia barisan ini…”

“Siapa sih monyet tua itu ?”.

“Monyet tua yaa monyet tua, aku cuma tahu ia she-Kauw

dan seperti ayahku, diapun seorang kakek tua, cuma

kepandaiannya sangat lihay, lebih baik kau jangan cari garagara

dengan dirinya.”.

Liem Kian Hoo merasa banyak kagum gadis buruk ini punya

pengetahuan yang luas, tapi ada pula beberapa bagian yang

tololnya luar biasa, sekalipun ditanya lebih jauh belum tentu ia

dapatkan yang dicari, maka ia segera alihkan pokok

pembicaraan kesoal lain. katanya:

“Teringat tadi kau pernah berkata bahwa tiga hari

berselang simonyet tua itu berhasil menangkap seseorang

dalam hutan ini, benarkah demikian ?”.

Tidak salah, tiga hari berselang ada sepasang laki

perempuan memasuki hutan ini, agaknya yang pria sedang

dikejar oleh wanita itu. akhir simonyet tua membawa pergi

wanita itu dan tinggalkan sang pria disini, karena begitu buka

suara tadi kau lantas tanyakan encimu, maka aku mengira

perempuan itu adalah encimu !”b.

“Macam apakahd perempuan itu a?” buru-buru Kiban Hoo

bertanya.

Tong Kauw berpikir sejenak kemudian baru menjawab:

“Usianya lebih tua darimu, wajahnya cantik jelita, bajunya

warna putih dan kepandaian silatnya sangat lihay.”.

Liem Kian Hoo jadi sangat terperanjat sebab menurut apa

yang dituturkan Tong-Kauw barusan berarti perempuan itu

ada kemungkinan adalah Toan Kiem Hoa, ia jadi amat getisah.

“Kita tak usah mencari ciciku itu, mari tengok dahulu pria

yang kau ceritakan tadi” serunya.

Tong Kauw tidak habis mengerti apa sebabnya secara tiba

tiba sianak muna itu berubah niat, tapi ia sangat penurut

sekali, mendengar seruan itu iapun putar arah.

Tidak selang beberapa saat kemudian tiba tiba ia tuding

kcsebuah pohon dan berkata:

“Itu dia, pria tersebut berada disana, mungkin sudah mati

!”.

Liem Kian Hoo segera lari kesitu, air mukanya berubah

hebat sebab ia segera kenali orang itu bukan lain adalah Luga,

wajahnya hitam pekat darah kental mengalir keluar dari tujuh

lubang inderanya, jelas ia mati kerena keracunan, jari

tangannya masih tertancap diatas dahan pohon dan diatas

dahan itu terukir beberapa patah kata yang berbunyi:

“Karena mendengar hasutan manusia laknat aku telah

mengecewakan suhu, meski mati aku tidak menyesal. Suhu

menemui kesulitan, harap cici segera maju kedepan.”.

Jari tangannya terakhir masih hendak mengukir tulisan,

mungkin saat ajalnya telah tiba sebelum ia sempat

menyelesaikan pesannya, tulisan akhir cuma diukir separuh

saja.

Membaca tulisan itu air muka Liem Kian Hoo berubah

hebat, ditinjau dari pesan terakhir yang ditinggalkan Luga

jelas menunjukan bahwa bukan saja Toan Kiem Hoa sudah

menjumpai mara bahaya, ditinjau tulisan ” Cici ” yang terukir

pasti ia maksudkan diri Sani, atau dengan perkataan ini Sani

tentu sudah datang kemari.

Disamping itu disisi mayat Luga masih tertinggal sebilah

pisau belati, menyaksikan kesemuanya ini ia jadi tertegun dan

berdiri termangu-mangu. Melihat keadaan sianak muda itu

Tong Kauw jadi keheranan, segera tegurnya:

“Saudara cilik, kenapa kau ?”.

“Tong Kauw ! dalam hutan ini kbecuali dirimu mdasih ada

siapa alagi yang bisa bmasuk keluar dalam hutan ini tanpa

halangan ?”.

“Tentu saja simonyet tua itu !”. Hawa gusar segera

memancar keseluruh tubuh Kian Hoo, teriaknya keras-keras:

“Kalau begitu segera bawa aku menuju kesana !”.

“Bukankah kau hendak mencari encimu ? hutan ini masih

ada separuh yang belum kita lewati ! ” kata Tong Kauw

tertegun.

“Tak usah dicari lagi ! enciku telah ditangkap oleh monyet

tua !…”. Tong Kauw jadi merandek dan kelihatan murung

sekali.

“Saudara cilik ” katanya. “Kalau kau ingin cari simonyet tua

itu untuk bergebrak, lebih baik tak usah saja, sebab sekalipun

aku membantu dirimu belum tentu bisa menangkap dirinya.”.

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu ! aku harus pergi

kesana untuk menyumpai monyet keparat ltu, sebab bukan

saja ia sudah menangkap enciku, bahkan sudah menangkap

pula…”.

Kata selanjutnya sulit diutarakan, sebab ia sendiripun tak

tahu harus memanggil Toan Kiem Hoa dengan sebutan apa.

Tong Kauw tetap ragu ragu dan berdiri melongo. Liem Kian

Hoo tak dapat menahan sabar lagi, dengan suara kasar

teriaknya:

“Eeeei… kalau kau tak mau bawa aku kesitu, sekarang juga

aku akan pergi mencari sendiri, kau takut kepadanya tapi aku

tidak takut, setelah berhasil kutangkap dirinya, aka kubeset

dan kukupas kulit monyetnya yang sudah keriputan itu.”.

“Baik… pergi… pergi, kita segera berangkat, demi kau aku

rela bentrok dengan monyet tua itu mempunyai kepadatannya

yang lihay kaupun tak usah bentrokan dengan dirinya demi

kau, sebab bagiku sekalipun harus korbankan jiwa pun harus

kulawan dirinya, urusan ini tidak menyangkut dirimu”.

“Tidak bisa jadi, asal ia berani melukai dirimu, aku tidak

akan mengampuni jiwanya.” Kian Hoo tahu gadis buruk itu

sudah bulatkan tekad, sekalipun dinasehati juga percuma,

maka ia berkata:

“Baiklah ! tunggu saja setelah ia lukai diri-ku, kau baru ada

jiwa dengan dirinya, sekarang cepat bawa aku kesitur !”.

Dengan multut membungkam TqongKauw putar bradan

dan berjalan kembali kedepan, setelah keluar dari hutan

mereka berjalan masuk lewat sebuah jalan gunung.

Ketika itu fajar telah menyingsing, kabut yang tebal

membuat hawa udara jadi amat dingin sekali membuat si anak

muda itu bersin beberapa kali, menyaksikan tubuh Tong Kauw

yang telanjang ia jadi tidak tega, segera tegurnya:

“Tong Kauw, apakah kau tidak kedinginan ? mengapa kau

tidak berpakaian ?”.

“Tidak dingin. sepanjang tahun empat musim aku selalu

berada dalam keadaan seperti ini.” jawab Tong Kauw sambil

tertawa bangga. “sebenarnya ayahku suruh aku berpakaian,

tapi setelah kupakai baju itu maka badanku terasa bagaikan

tersiksa, maka segara kulepas pakaian itu dan sampai

sekarang tetap telanjang.”.

Liem Kian Hoo geleng kepala, dalam hati ia tak tahu

bagaimanakah perasaannya pada saat ini, tapi ia tidak muak

lagi seperti ketika berjumpa untuk pertama kalinya tadi,

meskipun raut wajah gadis ini amat jelek dak buruk namun

hatinya mulia, sikap baik terhadap dirinya selama inipun

muncul dari dasar sanubari yang bersih, tidak terkandung

pikiran sesat, mungkin gadis buruk ini masih belum mengerti

akan hubungan cinta antara muda mudi, lebih-lebih mengenai

napsu birahi dan hubungan sex.

Mendapat perhatian khusus dari sianak muda itu, Tong

Kauw kegirangan setengah mati, sam bil berjalan naik keatas

bukit ia tuding kedepan seraya berseru:

“Monyet tua itu berdiam diatas sana, semula tempat itu

merupakan kuil Suci dari suku Leher Panjang, tapi setelah

simonyet tua datang kemari kuil suci itu segera didudukinya,

ia larang orang orang suku Leher Panjang itu datang kesana

untuk bersembahyang, karena perbuatannya ini maka orangorang

suku Leher Panjang sangat membenci dirinya, tapi jeri

pula terhadap dirinya…”

Pada saat ini sianak muda tersebut sedang diliputi

ketegangan, ia tidak ingin banyak bicara, mendengar simonyet

tua itu berdiam diatas bukit. tubuhnya segera berkelebat

terjang keatas, hal ini membuat Tong Kauwjadi gelisah dan

buru buru berteriak:

“Saudara cilik, jangan terburu napsu, tunggu aku sebentar

!”.

Liem Kian Hoo tidak ambil gubris, ia terus kan gerakkan

meluncur kedepan tidak selang beberapa jauh. mendadak dari

hadapannya meluncur datang titik titik cahaya hijau.

Melihat datangnya ancaman, Liem Kian Huo miringkan

badan sambil siap menyambut datangnya serangan itu,

Tong Kauw yang ada dibelakang buru buru berteriak keras:

“Saudara cilik- jangan dipegang. benda itu adalah api setan.”.

Berada ditengah udara ia kirim sebuah pukulan kedepan

membuat dua titik cahaya hijau itu segera terbabat dan rontok

diatas rumput disisi jalan, begitu terkena benda cahaya hijau

itu menyebar keempat penjuru dan berkobarlah jilatan api

yang amat dahsyat, bahkan disertai pula bau busuk yang

sangat menusuk hidung.

Sekarang Liem Kian Hoo baru sadar bawa dua titik cahaya

hijau yang mengancam kearahnya tadi adalah senjata rahasia

yang tersebut dari belirang, api macam ini mengandung hawa

racun yang luar biasa, asal menempel diatas benda segera

terbakar. Untung Tong Kauw lepaskan serangan untuk

merontokkan ancaman itu, kalau tidak niscaya telapaknya

sudah habis terbakar. Kewaspadaannya berlipat ganda, segera

bentaknya: “Bangsa tikus darimana berani melancarkan

serangan bokongan “.

“Tak usah ditanya lagi, pasti hasil karya dari si-mayat hidup

itu.” sahut Tong Kauw cepat.

Hanya dia seorang yang suka main api, api setan yang

dinamainya im-Leng-To-Kut – Ciam. Hmmm ! orang-orang

suku Leher panjang justru pada takut dengan anak panahnya

ini.”

Sianak muda ini jadi dibikin kebingungan se tengah mati,

mula-mula ada orang yang dinamakan simonyet tua sekarang

muncul pula seseorang yang dinamakan Mayat hidup,

siapakah nama sebenarnya mereka tak ada yang diketahui

maka ia bertanya:

“Siapakah simayat hidup itu ?”.

“Si-Mayat hidup yaa si – Mayatb hidup.” aku cudma tahu ia

melaaksanakan segalab pekerjaan mengikuti perintah dari

simonyet tua, kalau kau ingin menanyakan pelbagai persoalan

kepadanya, biar ku tangkap simayat hidup itu dan tanyalah

sendiri kepadanya.”.

Seraya berkata badannya menubruk kedepan teriaknya:

“Eeeei mayat hidup, ayoh keluar saudara cilikku hendak

bertanya kepadamu !”.

Dari balik batu yang besar kembali melucur keberapa titik

cahaya hijau langsung menyerang tubuh Tong Kauw.

Namun terhadap datangnya ancaman itu sigadis buruk itu

tidak ambil perduli, telapaknya yang besar segera diayun dan

terus api itupun seketika buyar keempat penjuru.

“Eeee… mayat hidup, kalau kau sudah bosan hidup,

teruskan permainan setanmu itu untuk mengganggu aku !”

teriaknya sambil tertawa.

Badannya segera menerjang kebalik batu, dan tidak lama

kemudian ia sudah muncul sambil menarik seorang kakek tua.

Menjumpai sikakek itu Liem Kian Hoo melengak, kiranya

simayat hidup yang dimaksudkan oleh Tong Kauw bukan lain

adalah sikakek bangsa Han yang berdandan sebagai dukun

ketika berada dalam dusun suku Leher Panjang tadi, ketika itu

keadaannya mengenaskan sekali sebab jenggotnya yang

panjang dibetot seenaknya oleh Tong Kauw.

“Eeeei…. Tong Kauw, kau benar-benar bangsat, telur busuk

yang goblok ! . . . maki orang tua itu. ” Ayoh cepat lepaskan

aku !”.

“Lepaskan dirimu ? Ooouw… tidak gampang ! tadi, apa

sebabnya kau melepaskan api setan untuk membokong

saudara cilikku tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ?”

“Sejak kapan bangsat cilik ini jadi saudaramu ?” Teriak

sikakek marah-marah. dengan amat gembira Tong Kauw

tertawa terbahak-bahak.

“Soal ini tak usah kau campuri, pokoknya sekarang kau

harus berdiri dengan tenang, apa yang ditanyakan saudara

cilikku lebih baik jawablah sejelas-jelasnya, kalau tidak akan

kubetot jenggotmu ini sampai gundul kelimis !”.

Dari sepasang mata kakek tua itu memancar keluar cahaya

buas, tapi terhadap Tong Kauw agaknya ia merasa sangat

jeri,b setelah diancadm ia bungkam daalam seribu bahabsa,

Liem Kian Hoo yang menyaksikan keadaan tersebut jadi tidak

tega, kepada Tong Kauw ujarnya:

“Lepaskan dia, agar ia berdiri sendiri…”

“Tidak bisa jadi, bajingan tua ini licik sekali, kalau

kukendorkan cekalannya ia bakal main setan.”.

Sianak muda itu berpikir sebentar, tiba tiba ia totok sebuah

jalan darah diiga kakek tua itu, kemudian menabok pula

punggungnya, Sikakek tua itu mendengus dengan berat,

badannya perlahan-lahan terduduk keatas tanah, namun

jenggotnya masih dicekal Tong Kauw maka badan nya jadi

setengah tergantung keatas, kelihatan sekali ia kesakitan

hebat.

“Tong Kauw ” sianak muda itu berkata kembali, ” sekarang

kau tak usah cemas, aku telah melepaskan sendi-sendi

tulangnya, sekalipun kepingin bergerakpun ia tak bakal bisa

berkutik lagi.”

Karena mendengar ucapan itu Tong Kauw pun lepas

tangan, sedikitpun tidak salah sikakek tua itu segera duduk

keatas tanah dan mendengus tiada hentinya.

Menyaksikan kejadian ini sigadis buruk ini jadi kegirangan

serunya:

“Saudara cilik, bagus sekali caramu ini, ayah ku cuma

mengajari diriku bagaimana cara memukul orang dan

bagaimana cara menerima pukulan, tidak seperti kau,

orangpun bisa dikuasahi, Eeeeei kapan-kapan kau harus

ajarkan kepandaian ini kepadaku”.

Liem Kian Hoo tidak banyak menggubris obroIan gadis

buruk itu, dengan wajah adem hardiknya kepada sikakek tua

itu:

“Mengingat usiamu sudah lanjut, sebenarnya tidak pantas

aku bersikap kasar kepadamu, tapi meninjau dari caramu

melepaskan api beracun untuk mencelakai diriku tanpa

mengeluarkan sedikit suarapun, membuktikan kalau kau

bukan manusia baik-baik. Sekarang aku hendak bertanya

beberapa pertanyaan kepadamu lebih baik jawablah

sejujurnya. dari pada mencari penyakit buat diri sendiri.”

Kakek tua itu bungkam dalam seribu bahasa, dari sepasang

matanya memancar keluar cahaya penuh dendam. Liem Kian

Hoo berpikir sebentar lalu bertanya:

“Beberapa hari berselang benarkah ada beberapa orang

sambil membawa seorang gadis datang ketempat ini ?”r.

“Keparat cilitk she-Liem, kauq tak usah banyark bacot lagi.”

teriak kakek itu sambil melotot gusar.

“Lima hari berselang Loo Sian Khek bersama Ceng-Tiong-

Su-Hauw serta Be Si Coen dari Tiong-Chiu telah datang

kemari. mereka membawa seorang pria dan seorang gadis

suku Biauw, suku Biauw yang pria baru berdiam dua hari telah

melarikan diti turun gunung, ia terkurung dalam barisan dan

mungkin sekarang sudah modar..”.

“Soal itu aku tahu. yang kutanyakan adalah gadis itu”.

“Gadis suku Biauw itu sudah ditahan majikan diatas

gunung, bahkan tiga hari berselang suhu dari gadis biauw

itupun ikut datang, ia terjebak dalam hutan dan kena

ditangkap majikan. sekarang mereka dikurung diatas gunung

semua.”

“Bagaimana keadaan mereka sekarang ?” tanya sianak

muda itu dengan air muka berubah hebat. Kakek tua itu

tertawa dingin.

“Belum modar, tapi merekapun tidak akan hidup terlalu

!ama !”.

“Sebenarnya bagaimana keadaan mereka ?”

“Mereka berani membangkang perintah ma jikan maka

mereka dikurung dalam gua Hek-Hong Hiat, cepat atau lambat

mereka pasti modar, kecuali kalau mereka suka mengabulkan

permintaan majikan, mungkin masih ada jalan hidup.”.

“Apa permintaan majikanmu terhadap mereka berdua ?”.

“Heee… heee… heee… majikan kami adalah seorang tokoh

sakti yang pandai dalam soal Boen (sastra) maupun Boe

(silat), kepandaiannya tiada tandingan dikolong iangit…”.

” Aku tidak menanyakan soal itu “.

“Walaupun simonyet tua sudah lanjut usia, tapi dia paling

doyan main perempuan ” sela Tong Kauw dari samping.

“Diatas gunung ia pelihara banyak sekali gadis-gadis

muda.”.

“Benarkah ada kejadian seperti ini ?” bentak Kian Hoo

sambil mencekik leher orang tua itu.

Karena dicekik, si orang tua itu tak bisa bernapas. matanya

jadi melotot semakin gede apa lacur tangan serta kakinya tak

bisa bergerak maka ia tak sanggup meronta.

Sianak muda itu takut cekikannya mencabut jiwa kakek tua

itu, beberapa saat kemudian ia lepas tangan dan membanting

tubuhnya keatas tanah. Napas kakek tua itu terengah-engah,

tapi tidak lama ia berhasil menguasai diri. sambil mendengus

ujarnya:

“Benar atau tidak itu urusan majikanku, apa gunanya kau

menyiksa dan mengganggu diriku ? majikan kami memang

sudah tertarik oleh gadis Biauw itu, justru karena hal inilah

maka sang pria yang ikut datang jadi gusar melarikan diri.

kemudian suhu dari bocah perempuan itu datang, majikan

semakin tertarik tapi kedua orang gadis itu bersikeras

menolak.”

Hmmm ! terhadap mereka boleh dikata majikan cukup

sungkan, perduli mereka memaki dan mencaci maki macam

apapun ia tidak membinasakan mereka, mereka hanya

dikurung dalam gua angin hitam belaka.”

Setelah mengetahui Watinah serta Toan Kiem Hoa meski

tertangkap namun belum ternoda, Kian Hoo pun berlega hati,

dengan gemas ia angkat tubuh kakek tua itu dan sekali lagi

dibanting keatas tanah keras-keras.

“Tidak lama berselang masih ada gadis tertangkap pula

oleh majikan kalian, dimanakah gadis itu ?”.

“Omong kosong.” Tukas sikakek sambil melotot “Gadis itu

memang berparas cantik, tapi ia sendiri yang datang mencari

majikanku, majikan kami sama sekali tidak menangkap

dirinya.” Ucapan ini membuat Kian Hoo melengak, wajahnya

kelihatan sangsi.

“Apa? enciku bisa secara sukarela naik keatas gunung

untuk menjumpai majikanmu ?”.

“Apa yang kuketahui sudah kukatakan kepadamu, apakah

tentang soal inipun aku hendak berbohong ?”

Liem Kian Hoo berdiri tertegun, bagaimana pun juga ia

tidak percaya Sani dapat berbuat demikian, tapi sikap serta

nada ucapan kakek tua ini membuat dia mau harus percaya.

“Mungkin encimu suka dengan monyet tua itu…” Timbrung

Tong Kauw berlagak pinter.

“Ngaco belo ! dia bukan perempbuan macam itu !d”.

Bentakan gusaar ini membuat bTong Kauw jadi mengkeret

dan tak berani bicara lagi. Sementara itu pemuda tersebut

berpikir sejenak kemudian tanyanya lagi kepada sang kekek:

“Siapakah nama majikanmu ? dia adalah seorang manusia

macam apa ?…”.

“Majikanku she-Kauw bernama Heng-Hu”.

“Tok-Chiu-Suseng sisastrawan bertangan keji Kauw Heng

Hu! kiranya bajingan tua itu bersembunyi disini !”.

“Bajingan cilik, darimana kau bisa tahu gelar majikan

kami…”.

Kian Hoo tidak ambil gubris, ia berguman seorang diri:

“Dua puluh tahun, Kau Heng Hu bisa peroleh kemajuan

sepesat ini, sungguh suatu kejadian yang tak terduga,

diantara tiga belas sahabat aku sudah bertemu lima orang,

dan ditinjau dari lima orang yang kutemui sebelumnya mereka

belum seberapa.”.

Menyaksikan pemuda itu berguman seorang diri, Tong

Kauw jadi gelisah serunya.

“Saudara cilik, sudah selesai belum kau bertanya ? agaknya

kau kenal dengan tua tua itu ? benarkah kita mencari dirinya

hendak diajak berkelahi ?”.

Dengan wajah keren Kian Hoo menabok tubuh sikakek tua

itu dibeberapa bagian agar gerak-geriknya bisa pulih kembali

seperti sedia kala, setelah itu dengan suara keren ujarnya:

“Cepat enyah dari sini dan sampaikan kepada Kauw Heng

Hu, sahabat karibnya si manusia berkerudung yang pernah

dijumpai dalam hutan bambu hijau dua puluh tahun

berkunjung datang !”.

Si kakek tua itu lemaskan otot-otot pinggangnya kemudian

dengan wajah curiga dan gusar segera berlalu dari sana.

Ketika Liem Kian Hoo serta Tong Kauw lambat-lambat

berjalan diatas sebuah lapangan, sang surya sudah

memancarkan sinarnya keseluruh jagad. Cahaya matahari

menyoroti sebuah kuil yang berdiri angker diatas bukit,

didepan kuil merupakan sebuah tanah lapangan, semula

tempat ini merupakan kuil Suci orang-orang suku Leher

ranjang untuk menghormati dewanya, tapi sekarang telah

diduduki oleh tamu misterius.

Tong Kauw berjalan didepan dan Kian Hoo ada dibelakang,

ketika tiba dilapangan luar kuil gadis buruk itu segera

berteriak kepbada seorang leldaki setengah baaya yang

beperawbakan kurus pendek:

“Eeeei… monyet tua, aku membawa saudara cilik datang

kemari untuk ajak kau berkelahi !”

Lelaki setengah baya itu berdiri lima enam orang, mereka

adalah Ceng-Tiong-Su-Hauw beserta Be Si Coen sang loo-toa

dari Tiong-Chiu-Siang Kiat, ditambah sikakek tua tadi,

sedangkan bayangan Sani serta Loo Sian Khek tidak nampak

sama sekali.

Perlahan-Iahan Liem Kian Hoo bergeser kedepan sinar

matanya memancarkan cahaya kegusaran membuat Ceng-

Tiong-Su Hauw serta Be Si Coen dengan perasaan jeri mundur

selangkah kebelakang, namun mereka tidak menunjukan

reaksi apapun. Lama sekali lelaki setengah baya itu

mengawasi Kian Hoo, setelah itu sambil tertawa dingin

jengeknya:

“Manusia berkerudung yang muncul dua puluh tahun

berselang apakah dirimu seorang keparat cilik ?”.

“Tentu saja bukan, aku adalah wakilnya !”

“Haaaa… haaaa… haaaa… bagus, bagus sekali ! setelah

berpisah dua puluh tahun, aku ingin sekali pergi mencari

dirinya sungguh tak nyana ia sudah kirim seorang wakil

datang kemari, Keparat cilik ! berapa banyak kepandaian yang

telah diwariskan kepadamu ? kau bisa mewakili dirinya sampai

dimana ?”.

“Kauw Heng Hu, jangan kau anggap dirimu luar biasa,

walaupun tidak seberapa kepandaian silatnya yang berhasil

kuwarisi, tetapi aku sudah mendapat perintahnya untuk

mengawasi dan menyelidiki tingkah laku kalian tiga belas

sahabat selama dua puluh tahun ini, dengan perbuatanmu

yang jahat, terkutuk dan biadab, sudah sepantasnya kalau

manusia laknat macam kau harus segera dienyahkan dari

muka bumi”.

“Haaaa… haaaa… haaaa… meskipun kau telah mewarisi

seluruh kepadaian silat yang dimilikipun aku tidak ambil

perduli, selama dua puluh tahun setiap saat aku kepingin

berduel dengan dirinya, sayang jejaknya tak berhasil

kutemukan, sekalipun kau tidak datang aku siap muncul

kembali didaratan Tionggoan, akan kukumpulkan seluruh

rekanku dahulu dan membentuk kembali persekutuan tiga

belas sahabat, tujuanku tidak lain untuk pancing agar ia

munculkan diri, sungguh tak nyangka malaikat elmaut sudah

kirim kau datang kemari, beginipun lebih bagus, aku tak rusah

repot lagit, aku percaya dqengan umpan dirrimupun ia pasti

akan munculkan diri !”.

“Tok-Chiung-Suheng ! kau jangan mimpi disiang hari

bolong.” Teriak Kian Hoo amat gusar. “Banyak diantara tiga

belas sahabat yang tersohor tempo dulu telah bertobat dan

tidak melakukan kejahatan lagi, mereka tidak bakal sudi

mengikuti kemauanmu !”

“Soa! inipun tidak terlalu penting.” Kata Kauw Heng Hu

sambil tertawa hambar, ” Maksudku untuk mengumpulkan

kembali Tiga Belas sahabat pun tidak lebih hanya sebagai

kedok belaka, dengan kemampuan yang kumiliki sekarang

tidak akan kupikirkan keuntungan bagi orang ke-dua,

sekalipun tiga Belas Sahabat itu benar-benar bisa dikumpulkan

paling banter aku cuma mendapat beberapa orang pembantu

untuk melaksanakan maksudku belaka. Apalagi kejadian ini

tidak mungkin, maka tak usah kita bicarakan lagi, “Si Leng

Yan-Khek” Sun Tong Hay telah modar, perempuan jelek yang

ia tinggalkan pun tak mungkin bisa menutupi kekosongan

tersebut, maka lebih baik tak usah kita bicarakan lagi !”.

“Monyet tua, kau berani maki aku ?” Tong Kauw berkaokkaok

marah.

“Hmmm ! memangnya aku maki dirimu, kau mau apa ?

Nyawa nu tidak sampai kukirim keakhirat bersama-sama

sisetan tua itu sudah cukup untung bagimu…”.

“Tong Kauw ” Liem Kian Hoo segera mencegah. “jangan

ribut dahulu, tunggulah sampai duduknya perkara jadi terang

!”

Kena dicegah, Tong Kauw pun jadi tenang kembali dan

mengundurkan diri ke belakang.

“Hmmm ! sekarang sudah tak ada urusan yang dibicarakan

lagi” Seru Kauw Heng Hu sambil tertawa dingin. “Mula-mula

aku masih menduga jagoan macam apakah yang telah muncul

di daratan Tionggoan sehingga dapat memaksa Ceng Tiong-

Su-Hauw serta Tiong-Chiu Siang-Kian melarikan diri terbiritbirit

macam anjing kena digebuk, kiranya keparat cilik macam

dirimulah orangnya… hanya saja, mengingat kau datang

mewakili simanusia berkerudung itu, aku tidak heran dengan

kehadiranmu ini. Bocah keparat, ada beberapa pertanyaan

apakah bisa kau terangkan lebih dulu ?”

“Apa yang ingin kau tanyakan ?” Kian Hoo tercengang.

“Siapakah sebenarnya simanusia berkerudung itu ? dan

sekarang dia berada dimana ?”.

“Maaf, apa yang kau tanyakan tak bisa kujawab semua,

namun aku bisa kasih keterangan kepadamu, orang itu masih

hidup dalam sehat walafiat dan ia tidak akan mencampuri

urusan dunia persilatan lagi, semua tanggung jawabnya telah

ia serahkan kepadaku “.

Kauw Heng Hu tertawa dingin.

“Tidak segampang itu bocah ! Kau masih belum sesuai

untuk memikul tanggung jawab ini, kau tidak mau bicarapun

tidak mengapa, cepat atau lambat aku bisa menemukan

jejaknya, Kini aku ingin menanyakan persoalan kedua, apa

hubungan Toan Kiem Hoa dengan orang itu ?”

“Sama sekali tak ada hubungan !”.

“Hmmm ! kau jangan berbohong, ilmu silat nya memiliki

gerakan yang sejenis dengan kepandaian orang itu… mungkin

dialah si tetamu berkerudung itu !”.

“Sama sekali bukan “.

” Haaaa… haaaa… haaaa… perduli benar atau tidak, yang

Toan Kiem Hoa saat ini sudah terjatuh ketanganku, aku bisa

suruh ia menjawab sendiri persoalan ini, sudahlah…. eeeei

bocah keparat, akupun tidak ingin banyak bertanya lagi,

sekarang kau boleh utarakan maksud kedatanganmu!…”

“Aku minta kau serahkan tiga gadis serta manusia-manusia

sampah masyarakat itu kepadaku !”.

“Bocah keparat, kau bukan sedang mimpi ?” jengek Kauw

Heng Hu sambil tertawa tergelak.

“Aku sudi menerima permintaanmu ini,Hm …mmm !

seorang bocah bayi yang belum hilang bau tetek macam

kaupun berani perintah-perintah aku ?”.

“Kalau kau tidak menurut, terpaksa aku laksanakan

perintah orang itu, dan tuntut keadilan atas perbuatanmu.”

hardik sianak muda itu gusar.

Kauw Heng Hu tetap berdiri sambil tertawa sinis, tubuhnya

sama sekali tidak berkutik, dengan keras lawan keras ia terima

datangnya serangan tersebut.

“Braaaak !” diiringi bentrokan dahsyat pundaknya bergetar

keras, sedangkan Liem Kian Hoo sendiri dipaksa mundur

sejauh dua tiga langkah ke-belakang, sepasang lengannya jadi

linu dan sakit.

Menyaksikan peristiwa itu Tong Kauw jadi amat cemas,

buru-buru teriaknya:

“Saudara cilik, berbicara soal berkelahi kau belum mampu,

kau tak bakal menangkan dirinya !”.

Seraya berteriak badannya menubruk kedepan, sepasang

lengannya meluncur bagaikan panah sedikitpun tidak

membawa desiran suara.

Terhadap datangnya ancaman ini Kauw Heng Hu tak berani

berhayal, buru-buru ia mengengos kesamping kemudian

teriaknya marah-marah:

“Gentong nasi, perempuan lonte, si Bligo jelek, kau cari

mati ? “.

Ingosan itu membuat serangan Tong Kauw mengenai

sasaran kosong, namun tubuhnya cukup gesit dengan cepat ia

putar pinggang, sisa tenaga pukulan yang terpancar keluar

dari telapaknya seketika menghantam diatas tembok kuil yang

berada beberapa tombak dihadapannya sehingga ambrol dan

sebuag lubang yang sangat besar.

Debu pasir berguguran suara gemuruh memekikkan

telinga.

Ceng-Tong-Su-Hauw serta Be si Coen yang berdiri paling

dekat dengan dinding tembok itu seketika terhajar oleh

percikan batu, mereka kesakitan dan berkaok kaok sambil

mundur kebelakang, sejak itu tak seorangpun berada berdiri

lebih dekat kalangan.

Liem Kian Hoo sindiri dibikin tertegun dan lupa meneruskan

serangannya, ia telah dibikin kaget dan tercengang oleh

kedasyatan angin pulan yang dilepaskan Tong Kauw.

“Eeei monyet tua ! ” terdengar Tong Kauw berteriak.

“Kau berani menganiaya saudara cilikku, aku akan adu jiwa

dengan dirimu !”.

“Perempuan jelek, bligo busuk, akan ku jagal dirimu lebih

dahulu kemudian baru bikin perhitungan dengan bangsat cilik

itu !” maki Kauw Heng Hu pula dengan wajah gusar.

-oo0dw0oo-

Jilid 7

BERSAMAAN dengan ancaman itu sang tubuh maju

kedepan, jari tengah berkelebat menotok jalan darah di atas

tetek Tong Kauw.

Si Bligo sama sekali tidak gentar, sambil putar telapak ia

babat urat nadi orang.

Kauw Heng Hu punya perawakan satu kali lipat lebih

pendek dari Tong Kauw, untuk menghajar roboh musuhnya ia

harus angkat tangannya lewati pundak baru mencapai

sasaran, sebaliknya bagi si perempuan Bligo cukup

membabatkan telapaknya ia sudah mengenai sasaran, maka

dari itu meski serangan dilancarkan tidak sama waktunya

namun bentrok pada saat yang bersamaan.

“Bluuuuk !” tenaga daya pental dalam badan Tong Kauw

menunjukkan reaksinya, angin totokan kena dipukul balik,

sementara ujung telapaknya sudah membabat tiba dan

dengan telak bersarang diatas pergelangan musuh.

Kauw Heng Hu menjerit kesakitan, badannya kena

ditumbuk sampai mundur empat lima Iangkah, saking

nyerinya ia sampai berkaok-kaok.

Untung tenaga dalam yang ia miliki amat sempurna, maka

dalam tumbukan tersebut nyaris ia lolos dari luka parah, meski

demikian si monyet tua itu pun jadi pitam, segera teriaknya

keras-keras:

“Bangsat keparat! sungguh tak nyana Soen Tong Hay

masih meninggalkan kepandaian hebat buat dirimu !”

“Tia justru takut kau menganiaya diriku, maka secara diamdiam

ia wariskan ilmu silat ini kepadaku…” jawab Tong Kauw

sambil tertawa bangga.

Air muka Kauw Heng Hu berubah hebat kemudian ia

menyeringai seram.

“Bagus ! Bagus ! sejak dulu aku memang sudah tahu kalau

ia tidak jujur dan diam-diam menyimpan sebagian ilmu silat

sakti, Hmmm ! agaknya secawan arak racun yang kucekoki

kepadanya bukan perbuatan yang penasaran…”.

“Apa ? jadi ayahku mati karena kau racuni ? teriak Tong

Kauw sambil membelalakan matanya.

“Haaaa… haaaaa… haaaaa… sedikitpun tidak salah,

dengan susah payah aku temukan sejilid kitab pusaka ilmu

silat, berhubung kecerdikan ayahmu sangat luar biasa maka

aku undang dirinya untuk menyelidiki bersama, siapa sangka

secara diam-diam ia punya maksud jelek, dengan ambil

kesempatan selagi aku tidak perhatikan ia telah robek satu

halaman yang penting untuk disembunyikan, perbuatan ini

berhasil kutemukan, tentu saja perbuatannya tak bisa

kuampuni, maka akupun menggunakan peluang selagi ia tidak

siap, diam-diam masukkan racun kedalam araknya agar ia

modar dalam keadaan mengerikan…”.

“Omong kosong!” Tukas Tong Kauw sambil berteriak “Kau

sendiripun bukan manusia baik-baik, “Ayah pernah beritahu,

sewaktu kau serahkan kitab tersebut kepadanya, secara diamdiam

kaupun telah sembunyikan dua tiga lembar lebih dahulu,

kau yang menipu dirinya lebih dahulu !”

Kauw Heng Hu agak melengak, diikuti ia tertawa tergelak.

“Haaaa… haaaa… haaaa… ternyata Soen Tong Hay bukan

orang tolol, kiranya perbuatanku telah ia ketahui, untung aku

turun tangan dahulu, kalau tidak mungkin akulah yang

mendapat giliran untuk meneguk arak racun itu lebih

dahulu…”.

Tong Kauw jadi amat sedih, ia menangis tersedu-sedu.

“Tidak aneh kalau ayah selalu memaki aku terlalu goblok

sehingga semua kepandaian tidak berhasil aku pelajari”

serunya, “Ternyata sejak semula ia sudah tahu kalau kau

bakal mencelakai dinnya, dua bulan menjelang kematiannya ia

masih akan wariskan sebuah kepandaiannya kepadaku

katanya ilmu tersebut dapat digunakan untuk menghadapi

dirimu, sayang sebelum aku berhasil mempelajarinya ia sudah

keburu mati…”.

“Haaaa… haaaa… haaaa… kalau begitu selama hidup

jangan harap kau bisa mempelajari ilmu itu lagi, meski

lembaran kitab yang ia sembunyikan tidak berhasil kutemukan

namun aku melihat dengan mata kepala sendiri ia bakar

lembaran itu sampai hancur, tindakan pertama yang ia

lakukan setelah sadar bahwa dia keracunan adalah

memusnahkan kitab itu, ia takut aku mendapatkannya, tetapi

ia tidak pernah menyangka setelah kitab itu musnah, dikolong

langit dewasa ini tiada orang yang dapat melawan diriku lagi !

“Monyet tua !” Teriak Tong Kauw sambil menubruk

kedepan, air mata jatuh bercucuran “Aku bersumpah akan

membinasakan dirimu, aku hendak menuntut balas buat

ayahku…”.

Dengan sebat Kauw Hehg Hu mengigos kesamping,

mendadak dari sakunya ia ambil keluar sebuah paku tajam

yang berwarna keperak perakan sambil mencekal senjata itu

bentaknya:

“Perempuan jelek, janganlah cari gara-gara kepadaku

dengan andalkan ilmu sinkang daya pentalanmu itu, senjata

tongkat Thian- Seng-Kang-Teng-Ciang ku tidak akan gentar

menghadapi daya pentalmu !”.

Agaknya Tong Kauw amat jeri sekali dengan wajah

ketakutan. Dalam pada itu Liem Kian Hoo sudah mendusin,

buru-buru ia menghadang di hadapan perempuan tersebut

sambil membentak dengan nada gusar:

“Tok-Chiang-Suseng ! kau telah mencelakai ayahnya

sampai mati, apakah kau hendak membinasakan pula dirinya.”

Kauw Heng Hu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa… haaaa… haaaa… mula-mula siperempuan jelek ini

memang bisa digunakan untuk menjaga barisan Ban-Sioe-

Meh-Liem tersebut, tapi kini dudukya perkara berhasil

diketahui, aku tak dapat biarkan ia hidup lebih jauh lagi.”

serunya.

Sambil berkata ia cekal tongkat pendeknya lalu

mengencangkan paku tajam diujung tongkat, tadi keatas

kepala Tong Kauw, perempuan Bligo ini jadi ketakutan, buruburu

ia melarikan diri kebelakang dan bersembunyi dibelakang

tubuh Kian Hoo.

Kauw Heng Hu menubruk kedepan, kali ini senjatanya

ditujukan kearah sianak muda itu. Kian Hoo tak bersenjata

terpaksa ia berkelit kesamping Terhadap Liem Kian Hoo

agaknya Kauw Heng Hu tidak pandang sebelah matapun, ia

putar arah lalu sambil ayun tongkat pendeknya ia teruskan

pengejaran kearah Tong-Kauw, memaksa perempuan itu lari

pontang panting untuk cari tempat persembunyian.

Dari sikap Tong Kauw yang begitu jeri terhadap tongkat

pendek tadi, Liem Kian Hoo pun dapat segera tarik kesimpulan

bahwa tongkat pendek tersebut pasti merupakan sebuah

senjata tajam yang maha dahsyat.

Untuk beberapa saat ia tak tahu bagaimana caranya untuk

bantu si Bligo lepas dari kesulitan.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia rogoh sakunya,

tiba tiba ia meraba pisau belati milik Sani yang tertinggal

dalam kantong, hatinya jadi sangat gembira.

Pisau belati ini pernah digunakan untuk membabat gelang

leher Ku-Ii sewaktu ada didusun suku Leher Panjang, ketika

itu terbukti bahwa senjata tersebut tajam luar biasa, tak bisa

salah lagi pisau belati ini pastilah sebilah senjata mustika.

Dalam pada itu Kauw Heng Hu sudah memaksa Tong Kauw

hingga tersudut, posisi perempuan bligo tapi semakin kritis.

Tidbak sempat lagi dbagi Kian Hoo uantuk berpikir pbanjang,

ia membentak keras sambil ayun pisau tubuhnya menubruk

kedepan langsung menusuk punggung simonyet tua itu.

“Saudara cilik, hati hati dengan senjatanya.” Buru-buru

Tong Kauw berseru dengan nada cemas ketika menyaksikan

peristiwa itu,

Gerakan tubuh Kian Hoo cepat laksana sambaran kilat,

sekilas cahaya berkelebat lewat tahu-tahu ia sudah meluncur

ke depan, Kauw Heng Hu seketika merasakan desiran tajam

menyerang belakang punggungnya, ia sadar pasti ada sebilah

senjata mustika yang luar biasa tajamnya sedang mengancam

datang, meski ia punya tenaga sin-kang pelindung badan, jeri

pula Kauw Hu untuk menerima serangan tersebut dengan

keras lawan keras.

Terpaksa ia putar badan sambil ayun tongkatnya

menyambut datangnya tusukan pisau belati itu.

“Tiiiing !” ditengah bentrokan keras, bunyi dentingan

nyaring bergema memenuhi angkasa, Liem Kian Hoo

merasakan sepasang tangannya bergetar keras diikuti jarijarinya

mengendor, tak kuasa lagi pisau belatinya dicekal lebih

jauh dan tahu sudah dirampas oleh pihak lawan dengan

kekerasan.

Sianak muda ini jadi melengak, ia dibuat tertegun oleh

kejadian ini.

Kiranya didalam bentrokan barusan, pisau belati

mustikanya tidak tahan melawan ketajaman paku perak

diujung tongkat pendek itu, mentah-mentah pisaunya

terpantek oleh paku tadi hingga tembus kedalam dan

tergantung diatas tongkat tadi, maka ketika disentak oleh

Kauw HengHu tak ampun lagi lepaslah senjata tersebut dari

tangannya, MuIa mula Kauw Heng Hu melepaskan dahulu

pisau belati rampasan dari atas pakunya, kemudian tertawa

terbahak-bahak ia menjengek:

“Bocah keparat, kau masih punya mustika apalagi untuk

diadukan dengan ketajaman paku Thian-Seng-Thiat-Chiang ku

ini ?”.

Air muka Kian Hoo berubah amat serius, sepasang telapak

disilangkan sejajar dengan dada kemudian ia perlihatkan

sebuah pusisi jurus yang sangat ampuh.

Setelah saling bentrok sebanyak dua kali dengan Kauw

Heng Hu, sianak muda itu sadar bahwa tenaga dalam yang

dimiliki masbih terpaut jauhd dari tenaga Iwaeekang orang,

mbaka dalam keadaan terpaksa ia harus mengeluarkan jurus

adu jiwa yaitu jurus “Giok-San-Ci-Hun ” !.

Agaknya Kauw Heng Hu tidak kenal akan kelihaian jurus ini,

dengan termangu-mangu ia awasi sianak muda itu dan

sedikitpun tidak bikin persiapan.

“Tok-Chiu-Suheng ! ” seru Liem Kian Hoo dengan wajah

serius, “Ditinjau dari mimik wajahmu agaknya kau belum kenal

dengan jurus seranganku ini, maka aku perlu beritahu lebih

dahulu kepadamu, jurus seranganku ini bernada Giok-Sak-Ci-

Hun, setelah dilancarkan akan menghasilkan daya pukulan

yang maha dahsyat.”.

” Hmmm ! jurus tersebut dinamakan Giok-Sak Ci-Hun atau

Gugur berbareng, aku rasa kau sendiripun bakat ikut modar

bukan ?” jengek Kauw Heng Hu seraya mengerling sekejap

kearahnya.

“Sedikitpun tidak salah ! demi melenyapkan seorang

penjahat macam dirimu, sekalipun harus korbankan diri

akupun tidak merasa sayang!”.

Tiba-tiba Kan Heng Hu mendongak tertawa panjang.

“Haaaa… ha… haaa… keparat cilik ! kepandaianmu untuk

membual sungguh luar biasa, apasih yang dinamakan Giok-Si-

Ci-Hun, terhadap Tong hong It Lip serta Mong-Yong-Wan

sepasang suami istri gentong nasipun kau tidak sanggup

menghadapi, masih ingin gunakan kepandaian tersebut untuk

menakut-nakuti diriku…”.

Merah jengah selembar wajah Liem Kian Hoo, ia tahu

peristiwanya dengan suami istri Heng-Thi an-Sian-Li telah

deketahui monyet tua ini, hawa gusar langsung berkobar dan

ia tumpahkan semua kemarahan ini keatas tubuh Kauw Heng

Hu.

Ia membentak gusar, sepasang telapak didorong kemuka

berbareng, dan meluncurlah segulung angin pukulan yang

maha dahsyat kearah Tok-Chiu -Suseng.

Dengan suatu gerakan yang ringan dan enteng Kauw Heng

Hu kebaskan telapaknya kemuka, iapun mengirim satu

pukulan untuk sambut datangnya serangan tersebut.

Dalam perkiraannya cukup dengan telapak sebelah saja

sudah lebih untuk menahan kedahsyatan lawan.

Siapa sangka sertelah angin sertangan menempel

qdibadan, mula-mrula badannya terdorong mundur sejauh

beberapa langkah diikuti tenaga pukulan yang meluncur

datang tiada hentinya itu membungkus seluruh pakaian yang

ia kenakan hancur berkeping-keping. bagaikan bubuk dan

melekat ditubuhnya rapat-rapat.

Kejadian ini berlangsung dengan cepat membuat ia

terkesiap dan ketakutan setengah mati, buru-buru ia salurkan

hawa murni yang dimiliki untuk pertahankan keutuhan badan.

Setelah bersusah payah akhirnya dari pori-pori kulit berhasil

pula mendesak keluar segulung angin pukulan yang

membendung hawa pukulan lawan, ia agak bisa bergerak

kembali walau masih sempit ruang geraknya.

Dalam pada itu Liem Kian Hoo sendiripun merasa terkejut

bercampur tercengang setelah melepaskan serangannya, jurus

ampuh yang mematikan ini pernah digunakan satu kali, tempo

dulu tenaga serangannya tidak berhasil menciptakan suasana

sedahsyatnya ini, sedangkan kali ini ia merasa jauh lebih

leluasa, angin pukulan yang dilepaskan tiada hentinya

mengalir keluar, seakan-akan tiada batasnya sama sekali.

Setelah melengak beberapa saat lamanya, ia pun dapat

menemukan sumber dari kemajuannya, kesempurnaan tenaga

dalam yang dimilikinya kini tentu merupakan hasil dari

semedinya selama sebulan didalam kamar semedi Toan Kiem

Hoa, selama sebulan ia telah berlatih sesuai dengan petunjuk

diatas hioloo Ci-Liong-Teng, kepandaian itulah membuat

tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat.

Sementara itu Kauw Kauw Heng Hu salurkan segenap

kemampuannya untuk mempertahankan diri, ketegangan

meliputi wajahnya, keringat dingin mengucur keluar

membasahi seluruh badan keadaannya menggenaskan sekali.

Menyaksikan keadaan orang, Liem Kian Hoo merasa sangat

bangga, sambil tertawa tergelak ejeknya:

“Tok-Chiu-Suseng, sekarang kau sudah ngerti akan

kelihayanku bukan ?…”.

Dalam pada itu Ceng-Tiong-Su-Hauw serta Be Si Coen

sekalian diliputi perasaan terperanjat, takut dan ngeri, seorang

demi seorang mulai ngeloyor kedalam kuil, seakan-akan

mereka sudah tahu bahwa Kauw Heng Hu tidak bakal berhasil

mempertahankan diri .

Ketika itu meskipun Liem Kiam Hoo berhasil duduk diatas

angin, namun ia tak sempat untuk meluangkan waktu

menghalangi jalan pergi mereka, terpaksa dengan wajah

gusar teriaknya kepada beberapa sosok bayangan punggung

itu:

“Bajingan-bajingan bernyali tikus, kalian jangan ngeloyor

pergi. jangan dikata didalam jagad, sekalipun kalian lari

keujung langitpun aku orang she Liem tidak akan melepaskan

kalian…

“Keparat cilik ! kau jangan keburu merasa bangga.”

Mendadak Kauw Heng Hu membentak keras ditengah

kurungan angin pukulan, “Aku tidak percaya kau betul betul

berhasil menguasahi diriku !”.

Sepasang telapak direntangkan, angin pukulan berputar

yang ada diluar tubuhnya mendadak semakin kuat, seketika

itu juga angin pukulan si-anak muda itu ikut tertuntun dan

mulai berputar kencang, bukan begitu saja bahkan kuda kuda

Kian Hoo pun mulai tergempur dan ikut bergoncang.

Senyuman menyeringai mulai menghiasi kembali wajah

Kauw Heng Hu, sepasang telapak berputar semakin kencang

dan hawa pukulannya makin lama semakin dahsyat, Liem Kian

Hoo tak kuasa menahan diri lagi badannya ikut berputar kencang-

Batu, pasir dan kerikil mulai ikut berputar.

Dalam sekejap mata seluruh angkasa telah diliputi kabut

kuning yang sangkat tebal, ditengah bayangan debu

tampaklah dari lubang hidung, mulut dan lubang telinga Kauw

Heng Hu mengucurkan darah segar, wajahnya kelihatan

bertambah bengis dan menyeramkan.

Tubuh Kian Hoo setelah berputar beberapa saat lamanya,

ia mulai merasakan kepalanya pening tujuh keliling, angin

pukulan yang dihasilkan telapak tangannya makin lemah,

namun ia tak sanggup mengerem tubuhnya sebab makin

lemah daya serangannya makin besar ia terpengaruh oleh

tenaga berpusing orang, akhirnya iapun jatuh tidak sadarkan

diri ditengah putaran kencang itu.

Pasir serta kabut lambat laun mulai berhenti, suasana pun

mulai pulih kembali dalam ketenangan. Rambut Kauw Heng

Hu awut-awutan dan terurai panjang kebawah, wajahnya

penuh berpelepotan darah, sambil menginjak tubuh Kian Hoo

yang menggeletak diatas tanah ia perdengarkan gelak tertawa

panbjang yang sangadt menusuk telinaga.

“Keparat ciblik ! kau betul-betul luar biasa, seandainya aku

tidak berhasil melatih ilmu pukulan berpusing Hwie-Swan-

Khie-Kang mungkin ini hari ajalku telah tiba, sekarang…

heee… hee… kau tak bakal bisa berlagak lagi.

“Monyet tua, cepatlah kau lepaskan saudara cilikku itu.”

Terdengar Tong Kauw yang ada di-luar kalangan berteriak

sambil menangis, “Asal kau lepaskan saudara cilikku itu, aku

ampuni selembar jiwamu !”

“Perempuan jelek, nyawamu sendiripun susah

dipertahankan lagi, kau masih berani jual lagak dihadapanku.”

Seraya berkata Kauw Heng Hu tertawa pan jang dengan

seramnya, kemudian dari saku sianak muda itu ia ambil keluar

hioloo Ci-Liong-Teng tersebut, setelah diperiksa sejenak

kemudian ia merogoh pula sebutir mutiara dan masukkan

mutiara tadi kedalam hioloo tersebut.

Dengan sinar mata penuh ketegangan ia awasi terus

perubahan dalam hioloo tadi, tidak lama…

Ia buang muka dengan wajah kecewa,

Kiranya dari balik hioloo ia tidak menemukan sesuatu

apapun, yang tampak hanya dinding hioloo yang licin dan

mengkilap.

Sementara ia masih pusatkan perhatiannya diatas hioloo

tadi mendadak tampaklah segulung angin pukulan mendesak

tiba, ia segera berpaIing. Tampalah Tong Kauw tanpa

menggubris keselamatan sendiri sedang menubruk datang

dengan hebatnya, Berada dalam keaadaan tidak siap buruburu

ia getarkan tangannya untuk menangkis.

Braaaak….! ditengah bentrokan dahsyat orang she-Kauw

itu tak sanggup mempertahankan diri, tubuhnya kena

tertumbuk sampai mundur sejauh lima enam lasgkah, dengan

cepat ia sambar tongkat pendek berujung paku tadi untuk

berjaga diri.

Tong Kauw bergerak sebat, menggunakan kesempatan

selagi musuh terdesak mundur, ia sambar tubuh Kian Hoo

yang menggeletak diatas tanah lalu putar badan dan

melarikan diri, Menyaksikan tingkah laku derempuan itu, Kauw

Heng Hu naik pitam, dengan gusar bentaknya:

“Perempuan jelek, akan kulihat kau hendak melarikan diri

kemana !”.

Seraya acungkan tongkat pendeknya, ia mengejar dari

belakang. Langkah kaki Tong Kauw sangat lebar, lagi pula

bergerak cepabt, meskipun hardus membopong Liaem Kian

Hoo nambun gerakan tubuhnya masih cepat laksana

hembusan angin puyuh, kendati Kauw Heng Hu sudah

mengejar dengan segenap tenaga namun belum berhasil juga

menyusul gadis itu.

BegituIah satu didepan yang lain dibelakang dengan amat

cepat mereka telah kembali kedalam hutan tersebut. Kauw

Heng Hu yang ada dibelakang lantas berteriak.

“Perempuan jelek, kali ini akan kulihat kau hendak

melarikan diri kemana lagi !”.

Tanpa ragu-ragu Tong Kauw menerobos masuk kedalam

hutan, Kauw Heng Hu pun segera menyusul dari belakang,

dua orang itu sama-sama hapal dengan jalan didalam barisan

ini setelah menerobos kesana kemari dalam hutan tersebut

tidak lama kemudian sampailah mereka di-pusat barisan itu.

Mendadak Tong Kauw berhenti, meletakan tubuh Kian Hoo

keatas tanah dan telapaknya langsung membabat keatas

sebatang pohon yang berdiri dihadapannya.

Menjumpai perbuatannya perempuan jelek itu. Kauw Heng

Hu sangat terperanjat buru buru teriaknya:

“Tong Kauw, kau sudah edan ? kalau kau tebang batang

kayu itu maka kita semua tidak bakal bisa hidup lagi.”.

Tong Kauw si perempuan bligo tidak ambil gubris omongan

itu, ia teruskan babatannya sampai separuh jalan, setelah itu

sambil berpaling barulah ujarnya:

“Monyet tua, asal kau berani maju selangkah lebih dekat

lagi maka aku akan membuka kunci dari barisan ini dengan

menebang pohon tersebut setelah pohon ini tumbang apa

yang bakal terjadi aku rasa kau pasti mengetahui jelas bukan

?”.

Tidak salah lagi, ancaman ini seketika membuat Kauw Heng

Hu mengkeret, ia tidak berani maju lagi.

Setelah merandek sesaat ia tertawa aneh dan berkata:

“Meskipun aku tidak membunuh dirimu, kau pun tak akan

lolos dari kematian !”.

“Omong kosong ! asal tanganku tidak kulepaskan barisan

ini tidak akan menunjukkan perubahan.”.

“Haaaa… haaaa… haaaa perempuan jelek, si Bligo toloI,

kalau begitu tunggulah disini ! akan kulihat sepanjarng hidup

kau tettap berdiri disqitu sambil bersriap sedia !”.

Ucapan ini membuat Tong Kauw tertegun, kemudian

dengan wajah kecut serunya:

“Aaaaah benar ! seandainya perutku lapar lantas

bagaimana…”.

“Haaa… haaaa… haaaa… kalau sampai demikian adanya

maka kau harus mati karena kelaparan !”.

Mendadak Tong Kau mendongak, dengan gusar teriaknya.

“Monyet tua, kau jangan keburu senang hati,

bagaimanapun aku tak bisa hidup lebih lama mari kita mati

bersama-sama saja !” Seraya berkata ia tunjukkan sikap

hendak menebas pohon tersebut.

Kauw Heng Hu jadi amat cemas, buru-buru ia berteriak:

“Tong Kauw, janganlah berbuat demikian, bagaimana kalau

aku carikan akal untuk menolong dirimu ?”

Kauw Heng Hu tertawa licik.

“Tunggulah sebentar disini, aku akan pergi kesana sebentar

untuk mencari sebatang kayu sebagai menyanggah pohon ini,

dengan disanggah pohon tersebut maka tanganmu bisa

dicabut keluar tanpa mengerakkan barisan ini, bukankah

keadaan tersebut bagus sekali.” katanya.

“Tidak… tidak… kalau kau tidak balik lagi lalu bagaimana

?”.

“Oooouw . . aku pasti kembali ! aku pasti kembali!

percayalah kepadaku, dan legakanlah hatimu .”.

Sembari berseru buru-buru ia mengundurkan diri sejauh

lima enam tombak dari kalangan, setelah itu orang she-Kauw

tadi putar badan dan melarikan diri terbirit birit,

Terdengar Tong Kauw yang ada dibelakang masih sempat

berteriak:

“Eeeeeei monyet tua ! akan kutunggu seperempat jam

lamanya, kalau kau belum balik jaga maka tanganku segera

akan kucabut agar barisan ini tunjukkan kelihayannya.”.

Tiada jawaban dari Kauw Heng Hu, jelas monyet tua itu

sudah melarikan diri jauh jauh dari sana.

sementara itu Liem Kian Hoo yang menggeletak dibawah

kaki Tong Kauw sudah mendusin, kepalanya masih pusing

tujuh keliling, badannya lemas dan sama sekali tak bertenaga,

namun kesadarannya sudah pulih, apa yang mereka bicarakan

dapat ia tangkap semua dengan jelas.

Tak tahan lagi sianak muda ini menggela napas panjang,

katanya:

“Tong Kauw, kau benar benar goblok ! kau anggap ia benar

benar akan balik kemari ?”

“Hiiii… hiiii… hiiii…” Tong Kauw tertawa cekikikan ” Kalau ia

tidak balik maka tanganku segera akan kucabut keluar, biar

barisan ini mulai tunjukkan kelihayannya !”. jawaban ini

membuat Liem Kian Koo jadi mendokol bercampur geli, sekali

lagi ia menghela napas panjang,

” Si Bligo toIol, waktu ia ia sudah jauh tinggalkan hutan ini,

mana mungkin kau bisa mencelakai dirinya…” ia berkata.

Tong Kauw tiba2 mendadak ia cabut tangannya dari balik

babatan tersebut.

Kraaaak…. bluuuum…! batang pohon itu segera tumbang

keatas tanah diiringi suara gemuruh yang sangat memekikkan

telinga, Liem Kian Hoo amat terperanjat saking kagetnya

sampai sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.

Namun dari balik hutan tersebut kecuali getaran keras akibat

tumbangnya pohon tadi sama sekali tidak muncul perubahan

lain.

Terdengar Tong Kauw mendongak tertawa terbahak-bahak

dengan bangganya setengah harian lamanya ia tertawa

kemudian baru berkata:

“Saudara cilik, kau dengan si Monyet tua itu adalah orangorang

pinter, siapa sangka kali ini kamu berdua sudah kena

tertipu mentah oleh aku si Tolol ! “

Ucapan ini Kian Hoo disamping membuat hatinya pun

merasa gembira.

“Lalu… lalu… pohon tetiron n ” teriaknya tanpa kuasa.

Tong Kauw tertawa.

“Pohonnya sih pohon sungguhan, cuma kunci dari barisan

ini tidak terletak disini, pohon ini sengaja diatur ayahku secara

diam-diam tanpa sepengetahuan simonyet tua itu, sebelum

meninggal ayahku pernah berpesan, seandainya suatu hari si

monyet tua itu ingin mencelakai aku maka aku boleh gunakan

cara ini untuk menakut-nakuti dirinya, sungguh tak nyana cara

ini berhasil aku gunakan dengan sukses pada hari ini”.

Liem Kian Hoo termenung, kemudbian menghela nadpas.

“Aaaaai, aayahmu betul-betbul seorang pendekar sakti “

katanya. “seumpama ia tidak dibunuh oleh Kauw-Heng Hu, si

Tok Chiu Suseng pun tidak akan secongkak dan sebuas

begini.”

Titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Tong

Kauw, keluhnya dengan suara isak:

“Aku selalu mengira ayah sangat benci terhadap diriku, tapi

ditinjau dari segala persiapan serta segala perbuatannya, ia

masih suka dan mencintai diriku !”.

“Tentu saja, dikolong langit tak ada orang tua yang tidak

mencintai putra putrinya.”.

Tong kauw kembali termenung, sesaat kemudian tiba-tiba

ia bertanya:

“Saudara cilik, kiranya kaupun punya kepandaian hebat,

begitu lama kau berhasil berduel dengan simonyet tua itu,

sekarang apakah keadaan-mu sudah rada baikan ?”.

“Belum ! ” Liem Kian Hoo menggeleng dan tertawa getir.

“Tenaga murniku mengalami kerusakan hebat, paling

sedikit harus beristirahat sehari penuh baru bisa pulih seperti

sedia kala, tapi selama seharian penuh ini kita harus

bersembunyi dimana ? sebentar lagi Kauw Heng Hu bakal

balik kesini, sedang kaupun tak bisa menangkan dirinya…”

“Aku tidak jeri kepadanya.” tukas Tong-Kau cepat cepat.

“Tapi aku takut dengan tongkat pendeknya ayah pernah

berkata bahwa paku tajam di ujung tongkat itu merupakan

tandingan yang terutama dari ilmu sinkang tenaga pental !”.

“Bukankah keadaannya sami mawon ? sewaktu ia datang

kemari nanti, tongkat pendeknya itu pasti akan ia bawa serta

!”.

“Kalau begitu biarlah kugendong dirimu dan kita melarikan

diri ketempat luaran, setelah ilmu silat berhasil kita latih nanti

kita cari dirinya lagi untuk bikin pembalasan”.

“Tak bisa, aku tak dapat meninggalkan tempat ini”.

“Apakah kau menguatirkan encimu itu ? ” tanya perempuan

Bligo sambil melototkan matanya.

“Bukan soal itu, aku menguatirkan dua orang gadis yang

disekap dalam gua Angin Hitam, mereka punya gubungan

yang sangat erat sekali dengan diriku, aku tak dapat biarkan

mereka selalu terjatuh ditangan Kauw Heng Hu”.

“Saudara cilik, kenapa sih kau selalu mengingat hubungan

dengan kaum gadis muda ?” sela Tong Kauw sambil

menyengir

Mendengar apa yang diucapkan gbadis Bligo tersdebut

tidak karuaan dan keedan-ebdanan, Kian-Hoo agak kheki,

kontan menegur:

“Jangan omong yang bukan-bukan ! ayoh cepat pikirkan

suatu tempat yang tenang dan aman agar aku bisa

beristirahat seharian penuh, setelah tenang tenagaku pulih

aku hendak bikin perhitungan lagi dengan Kauw Heng Hu.”

Tong Kauw putar biji matanya, tiba tiba ia berkata.

Kalau kau ingin suatu tempat yang tidak diketahui simonyet

tua itu, maka hanya ada satu tempat saja yaitu gua Kioe Kie

Tong.”.

“Dimanakah letak gua Kioe Kie Tong tersebut ?”.

“Gua Kioe Kie Tong adalah tempat ayahku melatih ilmu silat

secara diam-diam…”.

Lieni Kian Hoo jadi kegirangan setengah mati, buru-buru ia

berseru:

“Kalau begitu cepatlah bawa aku kesitu !”.

Sambil tertawa cekikikan dan cengar cengir seperti kuda

Tong Kauw membopong tubuh sia-nak muda itu, lalu putar

badan keluar dari hutan melewati bukit serta tebing, lama

sekali akhirnya sampailah mereka didepan sebuah gua,

didepan gua penuh tumbuh rotan, tidak salah lagi tempat itu

betul betul terpencil dan rahasia sekali letaknya.

Menyingkap rotan masuk kedalam gua, kembali mereka

beberapa waktu lamanya, sepanjang perjalanan suasana gelap

gulita tak nampak lima jari sendiri.

Namun Tong Kauw sangat hapal dengan liku-likunya

tempat itu, ia berjalan terus sampai suatu tempat baru

berhenti, dibuatnya obor sebagai penerangan dan saat itulah

Liem Kian Hoo baru temukan dirinya telah berada didalam

sebuah gua yang tinggi dan besar.

Mula pertama sinar matanya terbentur dengan serentetan

tulisan yang di ukir dengan ilmu jari Kiem Kong Ci, baru

membaca beberapa baris jantung sianak muda itu berdebar

keras.

Ditinjau dari nada tulisan diatas dinding gua itu jelas

menunjukkan bahwa tulisan itu berasal dari Soen Tong Hay,

terbaca olehnya tulisan itu berbunyi:

“Pada masa silam aku adalah satu diantara Tiong Goan-

Cap-Sah-Su tiga belas sahabat dari Tionggoan, beruntung

Tok-Chiu-Suseng Kauw-Heng Hu berhasil peroleh sejilid kitab

pusaka yang disebut Koei-Hua-Pit-Kip dimana tercantum

pelbagai ilmu bersemedi serta ilmu hitam yang dahsyat,

denganr kemampuanku akthirnya ia ajak qaku untuk berlartih

bersama.

Siapa sangka orang itu berhati keji dan curang, ia

sembunyikan dahulu dua lembar terakhir dari kitab tadi

sehingga kitab pusaka itu jadi tidak utuh, perbuatan betulbetul

patut disesalkan.

“sepintas lalu aku baca kitab tersebut, dapat diketahui

bahwa isi kitab pusaka ini luar biasa, maka timbullah pikiranku

untuk melenyapkan manusia cilik ini, sebab bila sampai kitab

ini terjatuh semua ke tangannya, pastilah dunia kangouw akan

timbul banjir darah, maka sengaja akupun menyembunyikan

sebagian dari kitab tadi.

“Akupun sadar bahwa aku tak berteman, putriku pun

bodoh. Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak

diinginkan maka inti sari kitab pusaka itu telah kuserahkan

kepada putriku untuk menyimpannya barang siapa yang

membaca tulisan ini harap suka merawat baik-baik putriku

dengan intisari kitab pusaka itu sebagai imbalannya.

Tertanda:

Soen Tong Hay “.

Habis membaca tulisan itu, Liem Kian Hoo segera berpaling

kearah Tong Kauw ! seraya bertanya.

“Tong Kauw ! sebelum ayahmu menemui ajalnya, apakah ia

pernah serahkan suatu benda kepadamu untuk disimpan ?”.

“Tidak, tidak ada ! ” jawab Tong Kauw sambil menggeleng.

” Ayah cuma berpesan bahwa aku dilarang membawa

siapapun datang kemari, ia tidak serahkan barang apapun

kepadaku.”.

Kian Hoo tahu perempuan jelek ini tidak bakal berbohong,

aliskan kontan berkerut, sambil peras otak gumamnya:

“sungguh aneh sekali ! didalam surat wasiatnya terangterangan

ayahmu mengatakan bahwa ada semacam benda

telah diserahkan kepadamu untuk disimpan, coba pikirlah

sekali lagi dengan seksama !”.

Tong Kauw garuk kepala sambil putar otak, namun

akhirnya kembali ia menggeleng.

“Sama sekali tak ada, coba lihat sehelai bajupun tidak

kukenakan dibadan, darimana aku bisa sembunyikan suatu

barang dalam tubuhku ?”

Liem Kian Hoo tak dapat berbuat lain, terpaksa ia teruskan

usahanya putar otak untuk me-mecahkan teka teki ini, lama

sekali ia berpikir namun tiada hasii sama sekali, terpaksa ia

singkirkan persoalan itu untuk melanjutkan penelitiannya keseluruh

bilik gua itu.

Terlihatlah empat penjuru dinding mengkilap dan kosong

melompong, secuwil barang pun tidak nampak.

“Saudara cilik, bukankah kau berkata hendak duduk semedi

untuk atur pernapasan ?” tiba-tiba Tong Kauw

memperingatkan. ” Ayoh cepatlah mulai bersemedi !”.

“Aaaaah, benar, selagi aku mengatur pernapasan jangan

sekali-kali kau usik diriku, dan kau pun dilarang ajak aku

berbicara !”.

“Tentang soal ini aku sudah tahu” jawab Tong Kauw sambil

tertawa bodoh. “setiap kali ayahku sedang bersemedi, iapun

selalu berbuat demikian, sering kali ia bawa aku kedinding

sebelah sekarang baiklah akupun menanti dirimu di ruang

sebelah saja, setiap saat kau telah selesai beristirahat

panggillah aku kemari.”.

Menyasikan perempuan itu jauh lebih penurut dan banyak

urusan yang diketahui, tanpa terasa sianak muda itu

tersenyum kearahnya, Tong Kauw sangat gembira, sambil

tertawa cengar cengir iapun berlalu dari situ.

Sepeninggal sigadis bligo, kembali Liem Kian Hoo

mengamat amati tulisan diatas dinding itu setengah harian

lamanya, tanpa terasa lagi ia merasa ikut bersedih hati buat

Soen Tong Hay.

“Siorang tua itu tentu seorang jago yang amat cerdik sekali

sehingga tiada tandingan dikolong langit, sungguh tidak

beruntung putrinya dilahirkan begitu toIol, dungu dan

gobloknya luar biasa, kata kata Putriku tidak cerdas yang

terukir diatas dinding benar-benar membawa suatu perasaan

yang luar biasa.”.

“Benda yang dimaksudkan pasti ada, cuma sayang Tong

Kauw dungunya tidak ketolongan lagi, entah ia sudah buang

barang itu kemana ? aaaai …. ia benar-benar telah menyianyiakan

jerih payah ayahnya selama ini.”.

Setelah menyesali kebodohan gabdis jelek itu bdeberapa

saat laamanya, ia baru bbenar benar duduk semedi, pejam

mata dan atur pernapasan.

Semedi kali ini makan waktu yang lama sekali, hawa murni

yang mengalami kerusakan hebatnya sedikit demi sedikit

berhasil dihimpun kembali, meskipun tidak sesegar semula,

namun paling sedikit ia sudah bisa mengerahkan tenaganya

untuk bergebrak melawan orang, Selama ini Tong Kauw benar

benar tidak datang mengganggu dirinya, bahkan hingga detik

itu ia tidak perdengarkan sedikit suarapun.

“Si Budak tolol itu entah sudah lari kemana ?” pikirnya

didalam hati, “Mungkin ia tidak kuat menahan rasa sepi

didalam gua dan telah jalan-jalan diluaran. Kini Kauw Heng Hu

sudah bermusuhan dengan dirinya, sebentar kemudian apabila

ia sadar bahwa dirinya kena ditipu olehnya orang itu tentu

akan melakukan pencarian secara besar besaran, seandainya

sampai ditemukan sitolol itu pasti akan menderita kerugian

besar.”

Karena berpikir akan hal itu, hatinya jadi sangat gelisah,

buru teriaknya:

“Tong Kauw, Tong Kauw…”.

Suara pantulan menggema diseluruh ruang gua, beberapa

saat kemudian terdengarlah jawaban dari si gadis Bligo itu:

“Saudara cilik, apakah kau sudah selesai bersemedi ? aku

segera datang…”.

Setelah mendengar jawabannya dan tahu gadis jelek itu

sehat wal’at’iat tanpa kekurangan sedikit apapun, Liem Kian

Hoo menghembuskan napas lega. Tidak selang beberapa saat

kemudian terdengar suara langkah lebar, diatas wajahnya

yang berwarna hitam penuh berkelepotan air mata.

“Tong Kauw, mengapa kau menangis ?”. tanya Kian Hoo

keheranan..

Sambil menyeka air mata yang menetes keluar dan dengan

nada malu-malu jawab perempuan jelek ini:

” Aku pergi ketempat ayah dan ajak dia berbicara, aku

beritahu kepadanya. bahwa sekarang aku, sudah punya

seorang saudara cilik yang bersikap sangat baik kepadaku, aku

minta ia suka berlega hati”.

“Bukankah ayahmu sudah mati ? darimana ia bisa

mendengar perkataanmu ?…”

Tong Kauw tertegun dan berdirib menjublak dengdan sinar

mata baodoh.

“Akupun tbidak tahu apakah ia bisa dengar atau tidak akan

perkataanku pokoknya setiap kali ada persoalan tentu

kukatakan kepadanya, sejak ayah meninggal kaulah orang

pertama yang pertama yang bersikap sangat baik kepadaku,

maka sewaktu kuberitahukan hal ini kepadanya, saking

gembiranya aku sampai menangis.”

Liem Kian Hoo benar benar dibikin terharu oleh ucapan ini,

hiburnya dengan suara lembut:

“Asalkan kau bersungguh-sungguh dan jujur, aku rasa

sukma ayahmu diakhirat tentu dapat menangkap apa yang

kau ucapkan !”.

Maksud sianak muda itu dengan ucapan tersebut tidak lain

hanya ingin menghibur hatinya belaka, siapa sangka Tong

Kauw segera menyambung:

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah, ini sewaktu aku ajak

dia berbicara tiba-tiba kepalanya jatuh dari atas tembok,

mungkin ia sudah mendengar perkataanku dan ikut

bergembira buat diriku!”

“Eeeee… darimana batok kepala ayahmu bisa berada diatas

dinding tembok ?” seru Kian Hoo melengak. Tong Kauw

tertawa.

“setelah ayah mati, karena aku takut tak dapat berjumpa

lagi dengan dirinya maka secara diam diam kutebas batok

kepalanya dan kusembunyikan didalam gua, agar setiap kali

aku bisa datang untuk menengok dirinya !”.

Ucapan ini membuat sianak muda itu mengkirik bulu

kuduknya pada bangun berdiri.

“Ayahmu mati karena dicelakai orang, mati nya tidak wajar

dan sukmanya sangat menderita, mana boleh kau rusak pula

jenasah ?” ia menegur dengan nada keras.

“Kenapa tidak boleh ? ayahku yang suruh aku berbua

demikian, akupun berbuat atas permintaanya sendiri !”.

“Omong kosong! mana mungkin ayahku suruh kau penggal

batok kepalanya untuk disimpan ?”

“Benar, sungguh-sungguh…” Teriak Tong Kauw amat

gelisah. “Sebelum ayah mati, ia selang berkata kepadaku,

suatu hari seandainya ia masih berkata bahwa aku terlalu tolol

maka seandainya batok kepala tersebut kupenggal dan

kusimpan selalu maka setiap kali ia bisa merawat diriku dari

dunia sana !”.

Liem Kian Hoo tridak membantah tlagi, ia mengheqla napas

panjanrg.

“Aaaaai… ayahmu pun seorang manusia kukoay, orangpun

sudah mati, masa seperangkat tengkorak bisa merawat dan

menjaga dirimu?…” Ucapan ini sangat menyedihkan hati Tong

Kauw ia sesungguhkan dan menangis tersedu-sedu.

“Benar,. . ucapanmu tidak salah… uuuuh… uuuuh…

uuuuh… kulit diatas batok kepala tu sudah kering, kulitpun

sudah tidak karuan, keadaannya sama sekali berbeda dengan

apa yang sering ia katakan kepadamu semasa masih

hidupnya.”.

“Apa yang ia katakan kepadamu ?”.

“Dia bilang: “Tong-jie ! asal kau berhasil mempelajari

seluruh barang yang ada didalamku maka sepanjang hidup

kau tikak usah takut dianiaya orang lagi !” tetapi hai ini mana

mungkin ? didalam otak ayah entah sudah tersimpan ilmu

serta kepandaian apapun, dengan andalkan ketololan serta

kegoblokanku, sepanjang hidup jangan harap aku bisa

mempelajari seluruhnya !”.

“Benar ayahmu berkata demikian ?” Tiba tiba sianak muda

itu bertanya, hatinya agak ber-gorak.

“sedikitpun tidak salah, setiap hari paling sedikit ia ulangi

perkataan itu satu kali dihadapanku, bahkan sewaktu berada

dihadapan simonyet tua itupun berkata demikian, maka

ucapan tersebut sudah hapal diluar kepala!”.

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, mendakak ia berkata:

“Batok kepala ayahmu disimpan dimana ? mari ajak aku

kesitu !”.

“saudara cilik, kau bukan bermaksud untuk mengembalikan

batok kepala itu kedalam liang kubur bukan ?”.

“Siapa bilang aku hendak berbuat demikian ? ayahmu telah

berpesan agar kau berbuat demikian, tentu saja ia punya

maksud yang mendalam, Dia adalah ayahmu berarti pula

angkatan tua ku, sudah sepantasnya kalau aku pergi

menyambanginya “.

Pertayaan ini melegakan hati Tong Kauw, ia lantas berkata

dengan hati gembira:

“Asal kau tidak suruh aku menghantar pulang batok kepala

itu kedalam liang kubur, kau ingin berbuat apa lakukanlah

sekehendak hatimu, bahkan akupun akan berikan kepadamu

dengan senang hati apabila kau inginkan, hanya benda inilah

satu-satunya barang peringatan yang ditinggal kan ayah

kepadaku !”

Liem Kian Hoo tidak sempat banyak cing-cong lagi dengan

dirinya, ia lantas suruh gadis itu membawa jalan.

Tong Kauw menyulup api obor, lalu ujarnya:

“Aku sudah hapal sekali dengan liku liku gua ini, sekalipun

tidak membawa obor pun bisa sampai kesitu dengan

gampang, tapi lain halnya dengan dirimu.”.

Liem Kian Hoo tidak gubris ocehan tersebut ia berjalan

keluar dari gua itu mengikuti di-belakang Tong Kauw.

Setelah berbelok beberapa tikungan sampailah mereka

disebuah ruang gua yang jauh lebih kecil dari gua pertama,

disitu banyak terletak batu batuan serta mainan dari emas

serta kumala, mungkin disinilah tempat tinggal Tong Kauw

selama ini.

Diatas dinding tembok terdapat sebuah lekukan yang

berupa sebuah gua kecil, dalam gua tadi terletak sebutir batok

kepala, kulit, serta dagingnya sudah mengering, sepasang

matanya cekung ke dalam, gigi menongol keluar dan kelihatan

sangat menyeramkan.

Tong Kauw segera pungut batok kepala itu untuk

diletakkan diatas tangan, setelah itu ujarnya:

“Sewaktu ayah masih hidup, wajahnya tidak sejelek dan

seseram ini, ia selalu memaki aku berwajah jelek, padahal

sekarang ia jauh lebih jelek daripada aku sendiri !”.

Liem Kian Hoo terima bacok kepala tersebut terdapat

sebuah retakan panjang buru buru ia bertanya:

“Tong Kauw, kenapa bagian sini retak-retak ?”.

Tong Kauw periksa sebentar batok kepala ayahnya, lalu

menjawab:

“Mula-mula ditempat ini tak ada retakan, mungkin retakan

itu terjadi sewaktu terjatuh tadi.

Biarkah batok kepala ini tadi menggelinding dan jatuh retak

dengan sendirinya ?”.

“Tidak salah ! seandainya batok kepala ini bukan batok

kepala dari ayahku sendiri, mungkin aku sudah lari pontang

panting saking takut dan ngerinya.”.

Sianak muda itupun bungkam dalam seribu bahasa

sementara otaknya berputar kencang, sambil menyungging

tenkorak itu diam2 ia berdoa:

“Cianpwee, bukan saja caramu berpikir sangat luar biasa

bahkan setelah matipun masih dapat menunjukkan tandatanda,

dalam hati boanpwe merasa sangat kagum, seandainya

dugaan boanpwee meleset dan tidak tepat, segala sesuatu

perbuatanku yang kasar serta ceroboh harap cianpwee suka

maafkan ! perduli bagaimanapun juga, boan pwee pasti akan

melaksanakan pesan cianpwee untuk baik-baik

memperlakukan Tong Kauw, dan sepanjang masa akan

kuanggap darinya sebagai saudara sendiri.”

Tong Kauw yang selama ini berdiri disisi si anak muda itu.

ketika menyaksikan mulut Kian-Hoo kemak kemik ia

tercengang.

“Saudara cilik, apa yang kau katakan kepada ayahku “

segera tegurnya.

Liem Kian Hoo tidak menjawab, menanti doanya telah

selesai ia baru berkata kepada diri Tong Kauw.

“Tong Kauw, tadi kau mengatakan rela hadiahkan batok

kepala ini kepadaku, benar benarkah ucapanku itu ?”.

“Tentu saja sungguh-sungguh, tapi apa gunanya kau minta

batok kepala itu ?”.

“Hendak kuhacurkan !”.

“Hendak kau hancurkan ? kenapa ?” teriak siperempuan

goblok itu terperanjat.

Liem Kian Hoo tahu meskipun alasannya di terangkan

kepadanya belum tentu gadis bodoh ini mengerti, lagi pula

iapun tidak punya keyakinan penuh, maka terpaksa ia

gunakan cara lain untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan wajah kaku membesi segera tegurnya: “Tong Kauw

! setelah kau dianggap diriku sebagai saudara sendiri,

semestinya kau dengarkan perkataanku, kau tak boleh

memikirkan ayahmu lagi, lagi pula mulai sekarang tugas

menjaga dan merawat dirimu telah terjatuh ketanganku, apa

gunanya kau simpan batok kepala ini lagi.”

Setengah harian lamanya Tong Kauw berdiri menjublak,

akhirnya dengan menahan isak tangis katanya:

“Saudara cilik, aku adalah seorang perempuan goblok,

terserah kau hendak melakukan apa saja…”.

Dengan wajah serius dan keren Liam Kian Hoo angkat

tengkorak itu keatas, lalu dengan telapak lain menabok batok

kepala tadi, tulang tengkorak seketika hancur berkepingkeping

dan rontok keatas tanah, didalam tulang tidak nampak

sesuatu benda apapun, kosong melompong tak ada isinya, hal

ini membuat sianak muda itu tercengang dan berdiri

menjublak.

Tong Kauw tak kuasa menahan diri setelah menyaksikan

tulang tengkorak ayahnya hancur berkeping-keping, ia lari

maju kedepan merampas beberapa potong kepingan tulang

itu, memeluk dan menagis tersedu-sedu.

“Ooouw ayah…! demi saudara cilik, aku tak dapat merawat

dirimu lagi, mulai detik ini akupun tak dapat berjumpa lagi

dengan dirimu.”.

Dalam pada itu Liem Kian Hoo merasa sangat menyesal

dengan perbuatannya, buru ia maju menghibur:

“Tong Kauw, sudahlah, jangan menangis, kesemuanya ini

anggap saja kesalahanku, anggap saja aku sok pinter

sehingga me lakukan suatu perbuatan yang sama sekali salah

besar !”.

“Perbuatan apa yang salah besar ?” tanya Tong Kauw

dengan mata terbelalak titik air mata jatuh berlinang dengan

derasnya, Liem Kian Hoo menghela napas panjang.

“Aaaai…! sekarang dikatakan percuma lebih baik tak usah

kita pikirkan lagi, Tulang tengkorak dari Soen cianpwee telah

hancur berkeping-keping oleh perbuatannya yang tak di

sengaja lebih baik kita kembalikan saja sisa tulangnya

ketempat semula ! “.

” Terang-terangan kau sengaja menghancurkan tulang

tengkorak ayahku kenapa kau mengatakan tidak sengaja ?”

Liem Kian Hoo tak dapat menjawab pertanyaan itu,

terpaksa dengan menahan diri dan pura pura marah tegurnya:

“Tong Kauw, sebenarnya kau suka mendengarkan

perkataanku atau tidak ?…”.

Mungkin Tong Kauw takut sianak muda itu benar-benar

naik pitam, buru ia kumpulkan sisa tulang teagkorak ayahnya

yang berserakan diatas tanah itu lalu disimpan diatas dinding

gua. ketika air matanya jatuh membasahi kulit kering diatas

tengkorak tadi tiba tiba suatu peristiwa aneh telah terjadi.

Terkena air mata dari perempuan goblok itu lapisan kulit

kering diatas tengkorak tadi mendadak mengepulkan segulung

asap putih yang sangat tebal diikuti suara gemeresak yang

nyaring.

Dalam sekejap mata seluruh kulit serta daging kering tadi

lenyap tak berbekas, tinggal sisa setumpukan tulang putih

yang memancarkan cahaya tajam.

Berada dibawah sorotan cahaya obor, tampaklah diatas

tulang tulang putih itu muncul pelbagai tulisannya sangat

lembut sehingga untuk sesaat tak dapat terlihat jelas tulisan

apayang tertera disitu, Menyaksikan hasil penemuannya itu,

Liem Kian Hoo bersorak kegirangan.

“Hoooree… akhirnya berhasil kutemukan juga, mula mula

aku masih mengira benda itu di sembunyikan didalam tulang

kepala, siapa tahu kiranya disembunyikan disini !”.

Agaknya Tong Kauw sendiripun dibikin tertegun oleh

perubahan aneh dihadapan mukanya, buru-buru ia bertanya:

“Saudara cilik, apa yang telah kau temukan ?” pemuda itu

menggosok tulisan tadi agar jauh lebih jelas, sianak muda itu

menyahut:

“Aku telah menemukan barang yang dititipkan ayahmu

kepadamu, Caranya berpikir betul luar biasa sekali, seandainya

tadi kau tidak menangis, niscaya benda tersebut tidak bakal

ditemukan dan sungguh tak nyana kalau benda tersebut

sebenarnya disembunyikan didalam kulitnya !”.

Tong Kauw masih tidak mengerti. namun karena

menyaksikan Liem Kian Hoo sedang pusatkan seluruh

perhatiannya untuk membaca tulisan itu, maka ia tidak berani

mengganggu keasyikan orang.

Liem Kian Hoo mencari sebentar diantara tulang itu,

akhirnya ia temukan permulaan dari tulisan tulisan tersebut,

dan tidak salah lagi gaya tulisan itu memang tulisan itu

memang tulisan dari Soen Tong Hay.

Terbaca ia menulis:

“Aku sadar bahwa Kauw Heng Hu adalah seorang manusia

yang licik dan keji, sedangkan Tong-jie goblok dan tak tahu

urusan, aku takut tulisan diatas dinding gua akhirnya diketahui

juga olehnya aku menemukan cara ini untuk tinggalkan

seluruh catatan tersebut disini.

“Seandainya, Kalau tidak mengijinkan Tong jie hidup

sebatang kara, tentu ada seseorang dapat memecahkan

rahasia ini dan menemukan tulisan-tulisan yang kutinggalkan.

Kalau tidak maka aku akan menyesal selamanya dan

penasaran sepanjang masa.”.

“inti sari dari kitap pusaka Koei-Hua-Pit-Kip adalah sebagai

berikut…”.

Diatas tulang tulang pulih itu tampak ada lukisan pun ada

tuIisan, bukan saja memuat inti sari dari ilmu silat yang maha

dahsyat bahkan tercatat pula cara berlatih tenaga dalam yang

amat sakti, perubahan perubahan barisan beserta bagaimana

cara orang suku Biauw melatih ilmu racun keji serta

bagaimana caranya jadi seorang dukun.

Liem Kian Hoo hanya sempat menikmati garis besarnya

saja, ia benar-benar terpesona dan seluruh perhatiannya

terhisap oleh isi catatan tadi sehingga Tong Kauw yang

tertidur disisinya pun sama sekali tak terasa.

Setengah harian lamanya ia baru mendusin kembali,

menyaksikan Tong Kauw tertidur pulas dengan bersandar

ditepi dinding tembok, sianak muda itu segera dorong dorong

tubuhnya sambil menegur:

“Tong Kauw, kenapa kau tertidur ?”.

“Hmmm…! aku panggil dirimu sampai beberapa kali,

namun kau tidak menggubris diriku terpaksa aku tidur saja

karena mangkel !” jawab Si Gadis Bligo sambil cibirkan

bibirnya.

“Aaaaah, maaf, maaf Tong Kauw b! barang yang

dditinggalkan ayaahmu betul-betulb luar biasa saktinya

membuat aku yang membaca jadi lupa bersantap ?”

“Ada ! ada ! ” jawab Tong Kauw dengan kegirangan ” Ayah

sering ajak aku untuk berdiam sampai dua tiga hari ditempat

ini, maka sering pula membawa persediaan daging kering

serta arak dalam jumlah besar, mungkin sekarang masih ada

persediaan yang tersisa disana, aku segera pergi ambil,

perutku pun sejak tadi sudah lapar dan gemerutukan cuma

sebelum kau bersantap aku jadi malu untuk makan sendiri.”

“Budak bodoh, kalau perut sudah lapar harus cepat-cepat

diisi, kenapa musti malu-malu sama aku ?”

Tong Kauw bangun berdiri untuk persiapkan makanan,

Liem Kian Hoo kembali berpesan:

“Lebih baik ambillah lebih banyak bahan-bahan makanan

itu, mungkin kita harus berdiam agak lama ditempat ini”.

“Mau apa ? kau tidak pergi mencari si Monyet tua itu ?”.

“Dengan kemampuan yang kita miliki sekarang, meskipun

berhasil temukan Kauw Heng Hu juga percuma, maka aku

ingin mempelajari lebih dahulu satu dua macam kepandaian

yang ditinggalkan ayahmu, dengan demikian sekalipun kita

bertemu dengan monyet tersebut, kitapun tak usah takut dan

jeri kepadanya lagi !”.

“Baiklah !” sahut Tong Kauw setelah berpikir sejenak,

“Bagaimanapun aku harus dengarkan perkataanmu !”.

Ia lantas putar badan dan keluar dari gua, sedangkan Liem

Kian Hoo dengan meminjam cahaya api dengan hati-hati

sekali mengumpulkan kepingan kepingan tulang kepala itu dan

pusatkan seluruh perhatiannya untuk menyelidiki serta

mempelajarinya.

Kurang lebih sepuluh hari kemudian Liem Kian Hoo sudah

berhasil menguasahi dua tiga macam kepandaian yang tertera

disitu, meskipun kepandaian sakti yang termuat diatas tulang

kepala itu sangat banyak, namun untuk mempelajari

keseluhan ilmu tadi membuang waktu terlalu banyak maka

sianak muda itupun memilih kepadaian-kepandaian yang

sesuai dan berguna bagi dirinya saja. yang dipelajari lebih

dahulu.

Ia berlatih terus dengan rajinbnya hingga diradsakan sudah

cukaup mampu untuk bmerobohkan Kauw Heng Hu, setelah

itu barulah ia beritahu kepada Tong Kauw untuk diajak keluar

dari gua.

Selama ini Tong Kauw pun ikut mempelajari beberapa

macam kepandaian, dalam waktu Liem Kian Hoo temukan

bahwa gadis ini sebenarnya tidak terlalu bodoh, mungkin pada

masa silam Soen Tong Hay terlalu cepat dan terlalu banyak

mencekoki kepandaian kepadanya dimana ia berharap

putrinya cepat-cepat lihay maka bukannya berhasil malahan

semakin runyam.

Keadaan tersebut tidak berbeda dengan seseorang yang

diberi makanan banyak agar gemuk, namun makanan itu

sekaligus diberikan secara berlebihan maka bukannya jadi

gemuk, orang itu malahan jadi mual dan muntah-muntah.

BegituIah sekeluarnya dari gua, persoalan paling utama

yang akan dikerjakan kedua orang itu adalah menuju ke

tebing Srigala langit untuk mencari Kauw Heng Hu.

Tetapi ketika mereka tiba disitu, tebing Srigala Langit yang

amat luas hanya tinggal sebuah kuil kosong melompong

belaka, sesosok bayangan manusiapun tidak nampak.

Liem Kian Hop jadi amat gelisah, buru-buru ia suruh Tong

Kauw untuk menghantar dirinya menuju gua Angin Hitam,

sebab dari mulut lelaki bangsa Han yang berusia lanjut itu, ia

dengar Toan Kiem Hoa serta Watinah disekap ditempat itu.

Jelas Kauw Heng Hu sudah tinggalkan tempat itu, tapi

bagaimanakah keadaan gadis itu ? sudah dibunuh ? ataukah

dibawa pergi ?

Sementara itu Tong Kauw kelihatan sangsi dan ragu, ia

tidak menjawab juga tidak menyanggupi.

Menanti si anak muda itu mendesak berulang kali, dengan

hati kebat-kebit ia baru menjawab:

“Aku… aku … . takut. … dii… disitu ada setannya ! “

“Omong kosong.” Tukas Kian Hoo dengan wajah keren.

“Ditengah siang hari bolong mana mungkin ada setan !

sepanjang hari kau cekali batok kepala ayahmupun tidak

takut, mengapa kau malah takut dengan bangsa setan ?”

“Aku tidak membohongi dirimu, disitu benar-benar ada

setannya, mayat-mayat suku Leher Panjang kebanyakan

dikubur disitu, sering kali mayat mereka bangkit kembali dan

mencari mangsa … hiii…”.

“Kalau kau berarni ngaco belo ttidak karuan lagqi aku tidak

akarn menggubris dirimu ” Ancam Kian Hoo dengan nada

gusar

“Kalau kau tidak berani naik keatas, beritahu saja arahnya,

aku akan menuju kesitu seorang diri!!..”.

Tong Kauw paling takut kalau didiamkam oleh sianak muda

itu, mendengar ancaman tadi terpaksa dengan besarkan nyali

ia bawa Liem Kian Hoo mengintari kuil menuju bukit sebelah

belakang.

Jalan gunung tersebut benar benar kelihatan menyeramkan

meski ditengah siang bolong namun membawa perasaan aneh

bagi orang yang lewat, bau busuk serta desiran angin dingin

mendirikan bulu roma.

Baru saja melewati sebuah tikungan, Tong Kauw yang

berjalan dipaling depan mendadak putar badan dan melarikan

diri terbirit-birit, saking takutnya sambil lari ia terkencing

kencing.

“Waaduuuh… waaaduuuh… celaka… celaka … setannya

sudah datang… hhhiiiii…”.

Sebagai seorang lelaki tentu saja Liem Kian Hoo tidak

percaya dengan ocehan gadis Bligo tersebut ia biarkan Tang

Kauw lewat dari sisinya sementara ia sendiri maju kedepan,

membelok pada tikungan tadi dan ia segera temukan adanya

sesosok bayangan hitam yang tinggi besar berdiri

menghadang di hadapannya.

Sianak muda itu tidak berputar langsung membabat

kedepan.

“Brraaak . . . ! “. diiringi suara bentrokan nyaring, bayangan

hitam itu roboh keatas tanah, secara lapat-lapat terlihat

bahwa bayangan itu mirip dengan potongan badan manusia.

Tentu saja Liem Kian Hoo tidak akan percaya kalau

bayangan hitam itu adalah setan, ia maju semakin dekat dan

segera ditemuinya bahwa bayangan hitam tadi bukan lain

adalah mayat seorang suku Leher Panjang, ditinjau dari tulang

tulangnya yang sudah kering jelas menunjukkan bahwa orang

itu sudah mati lama sekali.

Dibelakang punggung mayat tadi terikat sebuah tonggak

yang diikat jadi satu dengan mayat tadi, patahan tongkat

dibagian kakinya masih kelihatan jelas, Sianak muda itu lantas

angkat kepala periksa keadaan sekeliling tempat itu, ia lihat

sepanjang jalan masih berdiri berpuluh puluh sosok majat,

setiap dua tiga tombak berdirilah sesosok mayat ditunjang

oleh sebuah tonggak kayu.

Menyaksikan hal itu Liem Kian Hoo lantas tertawa tergelak,

seraya menggape Tong Kauw ujarnya:

“Coba lihat, mana ada setan ? yang ada cuma sesosok

mayat yang berdiri karena disanggah oleh sebatang tonggak

kayu, terang ada orang sengaja mengatur permainan ini untuk

menakut-nakuti orang.”.

Dengan langkah hati-hati serta sangsi Tong Kauw maju

mendekat, ia melirik sekejap kearah mayat-mayat itu, lalu

dengan suara gemetar katanya kembali:

“Saudara cilik, aku masih takut, tadi… tadi aku lihat dia

masih bisa bergerak !”.

“Omong kosong !” Tegur sianak muda itu gusar ” Orang

yang sudah mati lama sekali mana bisa bergerak ? tentu

matamu sudah melamur karena hatimu ketakutan.”

“Tidak, aku tidak menipu dirimu, ketika langkah pertama

aku injak tempat ini, tiba-tiba ia buka matanya lebar lebar

melototi aku, kemudian sepasang tangannya dipentangkan

siap mencengkeram aku !”.

Menyaksikan si perempuan Blogo yang punya potongan

seperti Bligo ini ketakutan setengah mati bahkan sampai

terkencing-kencing, Liem Kian Hoo jadi geli, katanya:

“Aaaaah, mungkin mayat itu tertiup angin maka bergerakgerak,

pertama karena kau dibuat takut dahulu oleh

bayanganmu sendiri maka hembusan angin tersebut kau

anggap sebagai mayat hidup yang menggerakan anggota

badannya, pada hal seseorang yang telah mati sukmanya

sudah lepas dari badan kasar, dikolong langit sama sekali tak

ada setan.”

Tong Kauw berpikir sejenak, lalu ia bertanya:

“Beberapa hari berselang, kenapa batok kepala ayahku

secara tiba-tiba bisa menggelinding sendiri dari atas tembok

?”.

Liem Kian Hoo terdesak, ia takb sanggup memberdi

jawaban atas apertanyaan itu bmaka dengan gunakan cara

lama ia berkata:

“Tong Kauw, kalau kau merasa takut tunggu sajalah disini

aku akan maju seorang diri”.

“Jangan ! jangan !” buru buru Tong Kauw goyangkan

tangannya berulang kali.

“Saudara cilik, aku mau ikut dirimu, jangan sekali-kali kau

tinggalkan aku seorang diri di tempat ini, mungkin setan-setan

itu takut kepadamu maka mereka tak berani berkutik, kalau

kau sudah berlalu, mereka pasti akan mencari aku.”

“Nah, kalau begitu cepatlah ikut aku maju kedepan, jangan

berdiri melulu disini sambil takut pada bayangan sendiri.”

Tong Kauw tidak berani terlalu jauh meninggalkan si anak

muda itu, ia cekal pakaian Kian Hoo erat-erat dan menguntil

terus dengan kencangnya.

“Tong Kauw ” ujar Liem Kian Hoo sambil tertawa, “Sungguh

tak nyana badanmu yang tinggi besar sebetulnya punya nyali

yang kecil se-upil, masa sama setan pun takut ? sekalipun

dikolong langit benar-benar ada setan atau sukma yang

gentayangan itupun berbentuk roh yang tak dapat dilihat

dengan mata manusia, asal kita tidak berbuat jahat, maka

hawa setan dapat kita buyarkan dan kitapun tidak terpengaruh

oleh mereka”.

“Aku tidak mengerti dengan penjelasanmu itu, aku tidak

paham, aku cuma tahu dan takut.”

Liem Kian Hoo menghela napas panjang, dengan perasaan

apa boleh buat ia geleng kepala, demikianlah iapun berjalan

lebih dahulu dimuka disusul oleh Tong Kauw dibelakangnya

yang menguntil terus dengan kencang, seolah-olah ia takut

sianak muda itu mendadak tinggalkan dirinya seorang diri

disitu.

Mayat-mayat yang berdiri disepanjang jalan walaupun

selama ini tidak menunjukkan gerak-gerik apapun, namun raut

wajah serta bentuknya sangat menakutkan, mayat-mayat itu

semuanya berasal dari suku Leher Panjang, bahkan ditinjau

dari pakaian yang dikenakan mungkin mereka adalah kepalakepala

suku turun temurun, sebab leher mereka luar biasa

panjangnya.

Ditambah pula dengan batok kepala yang besar dan

menyeringai bagaikan kepala ular sendok itu terkulai lemas

kebawah, setiap kali terhembus angin, batok kepala itu

bergoyang tiada hentinya, sekalipun sianak muda itu tidak

takut setan tak urung hatinya merasa tidak tenteram pula.

Dengan aman tenteram dan tidakb mengalami gangdguan

apapun meraeka berhasil meblewati puluhan sosok mayat

mayat itu, nyali Tong Kauwpun semakin besar, kini ia berani

melepaskan pakaian Kian Hoo dan berjalan sendiri dibelakang.

Sekonyong-konyong…

Sesosok mayat yang ada disamping mereka perdengarkan

suara suitan nyaring yang mengerikan sekali.

“Kukkk… kuuuukkk… kuuuukk… kiiiiikkkk…”

Suitan tersebut amat menusuk pendengaran, Tong Kauw

ketakutan setengah mati, serasa sukma terlepas dari raganya

ia lari kedepan menubruk tubuh Kian Hoo dan memeluknya

erat-erat.

“Saudara cilik… aduuuh… tolong… tolong… aduuh mak,

benar-benar ada setan…” teriaknya kalang kabut.

Liem Kian Hoo sendiripun dibikin tergetar hatinya oleh

suitan nyaring itu, buru-buru ia angkat kepala memandang.

Tampaklah mayat itu punya potongan yang aneh sekali,

seluruh badannya kering kerontang bagaikan sebongkok kayu

kering, panjang lehernya mencapai dua meter, rambut

panjang menutupi batok kepalanya, jelas mayat itu adalah

mayat seorang gadis.

-oo0O0ow-

Pakaian yang menempel dibadannya sudah hancur oleh

hembusan angin, sepasang tetek diatas dadanya tergantung

kebawah bagaikan dua lembar sayur busuk, pinggangnya

kering dan menyusut sedangkan perutnya buncit dan

menonjol besar sekali bagaikan seorang perempuan sedang

bunting kulitnya warna hitam pekat dan tinggal kulit

pembukus tulang belaka.

Wajahnya benar-benar mengerikan sekali, potongan

badannya serta keadaannya yang telanjang bulat itu membuat

orang jadi muak dan ingin muntah.

Dengan sinar tajam Sianak muda itu awasi terus mayat

gadis ini tajam-tajam, namun mayat tersebut sama sekali tidak

menunjukan perubahan apa pun. Tetapi suara suitan nyaring

tadi jelas muncul dari mulut mayat gadis bunting itu, hal ini

membuat Kian Hoo tercengang dan berdiri menjublak.

Lama… lama sekali, namun mayat gadis bunting itu tidak

menunjukan suatu gerakan apa-pun, akhirnya Kian Hroo tak

dapat metnahan diri lagiq, sambil mondorrong tubuh Tong

Kauw katanya:

“Aaaah, mungkin jeritan tadi berasal dari sejenis burung

yang bersembunyi disekitar sini, coba Iihat, bukankah mayat

itu sama sekali tidak berkutik..”

“Tapi… tapi… punggungnya sama sekali tidak ditunjang

tongkat kayu, mana mungkin jeritan tadi suara burung ?

apalagi jeritan tersebut dahulu pernah kudengar, menurut si

Monyet tua katanya beginilah jeritan setan penasaran..!” Seru

Tong Kauw dengan wajah ngeri.

“Baik, baiklah, anggap itu memang jeritan setan !” Kata

Kian Hoo dalam keadaan apa boleh buat. “Tetapi kecuali dia

bisa menjerit jerit belaka sama sekali tak bisa berbuat lain, ia

tidak makan orang, tindak mencakar orang, apa gunanya kita

merasa takut”.

Saking takutnya hampir-hampir saja Tong Kauw menangis,

dengan suara gemetar ujarnya kembali:

“Saudara cilik, aku benar benar sangat takut, begitu takut

hatiku sampai sukar dilukiskan dengan kata kata, seandainya

ia benar benar bisa menggigit dan mendahar diriku, aku sih

tidak ambil perduli, tetapi kalau ia cuma menjerit-jerit terus

macam begini, aku jadi tidak tahan, kalau ia menjerit lagi,

aku… aku… mungkin aku bisa mati ketakutan.”

Dalam keadaan seperti ini Liem Kian Hoo tidak habis

mengerti harus menggunakan cara apa untuk melenyapkan

rasa takut yang sudah menempel dalam hati Tong Kauw,

terpaksa dengan keraskan hati ia berkata:

“Tong Kauw, mengikuti tata kesopanan apa bila seseorang

telah mati, maka tidak pantas kalau kita ganggu atau kita

rusak jenasahnya, tetapi melihat wajahmu yang pucat pias

dan hatimu yang ketakutan setengah mati, aku tak dapat

berbuat lain kecuali menghajar jenasah ini, lagi pula aku-pun

ingin membuktikan sebenarnya jeritan tadi berasal dari mulut

mayat ini ataukah bukan. Nah menyingkir lah lebih dahulu,

akan kuhajar mayat ini !”.

“Saudara cilik, kau tak boleh menghajar tubuh mayat itu,

bagaimana kalau seandainya di tubuhnya mengandung racun

?” Cegah Tong Kauw dengan wajah tegang. “Ayah pernah

berkata kepadaku setiap orang suku Biauw yang telah mati

badannya tentu dilapisi oleh semacam obat racun agar

tubuhnya jangan sampai membusuk dan hancur.”.

“Kau boleh legakan hati, tentu saja aku tidak sebodoh itu

dengan menghantam mayat tadi menggunakan tangan”.

Seraya berkata sianak muda itu lantas bongkokkan badan

memungut sebutir batu, kemudian dengan diarahkan keatas

perut mayat gadis yang bunting itu ia melancarkan sebuah

serangan dahsyat.

Didalam serangan tersebut, ia tidak menggunakan tenaga

terlalu besar, meski demikian akibat nya luar biasa sekali.

“Bruuuk….!” Batu tadi amblas kedalam lambung gadis tadi

sehingga berlubang dan muncratlah sejumlah air warna hitam

yang menyiarkan bau amis serta busuk sekali, begitu busuk air

hitam yang mengalir keluar dari kandungan mayat gadis tadi

sehingga membuat kepala Kian Hoo dan Tong Kauw jadi

pening tujuh keliling dan perut terasa sangat mual.

Buru-buru Liem Kian Hoo tarik tangan Tong Kauw dan

meloncat mundur dua langkah kebelakang. Bersamamaan

dengan terjadinya penyerangan itu, suatu peristiwa

mengerikan yang tak disangka sangkapun telah berlangsung.

-oo0dw0oo-

Jilid 8

SETELAH mayat gadis bunting itu kena hajar perutnya yang

menggembung, lehernya yang panjang dengan batok kepala

yang besar mendadak menggeleng beberapa kali, setelah itu

kepalanya mendongak keatas sementara anggota badannya

pun mulai bergoyang goyang dengan kerasnya.

Diujung lehernya yang panjang bagaikan ular sendok

tersungging sebutir batok kepala yang aneh dengan rambut

yang panjang terurai kebawah, mimik wajah mayat gadis

bunting itu sangat mengerikan sekali, apalagi dalam keadaan

begini mayat itu mulai menyeringai dan tertawa seram.

Panca indranya mengerikan sekali hidungnya sudah hilang

dan tinggal lubang yang besar sehingga hampir boleh dikata

rata dengan pipinya gigi taring yang panjang mencuat keluar

bagaikan pisau belati, terutamba sekali sepasadng matanya

yanga berwarna biru bpada saat ini memancarkan cahaya biru

yang tajam dan menyilaukan mata, pokoknya keadaan dari

mayat gadis bunting ini sangat menyeramkan sekali.

“Kiiikkk… kiiiiikk… kkkiiiikkk… kembali mayat gadis bunting

itu perdengarkan jeritan tajam yang menyeramkan hati, gigi

taringnya mulai membentang lebar, dan jari tangan dengan

kuku yang panjang pun bergerak siap melancarkan tubrukan

kearah dua insan manusia yang berdiri disisinya.

Kali ini bukan saja jeritan ngeri itu terdengar amat jelas

bahkan terlihat jelas oleh Liem Kian Hoo sekalian bahwa suara

tadi betul betul berasal dari mayat gadis bunting tersebut.

Liem Kian Hoo seorang pemuda pemberani memiliki ilmu

silat yang amat lihay, namun menghadapi keadaan serta

peristiwa macam ini tak urung ia dibikin bergidik juga

sehingga bulu roma pada bangun berdiri, buru buru ia mundur

kebelakang berulang kali.

Sedangkan Tong Kauw sudah tak dapat menguasai diri lagi,

saking takutnya ia jatuh terduduk diatas tanah, sepasang

tangannya menutupi mata sendiri rapat, keberanian untuk

memandang ke arah mayat gadis bunting itupun lenyap tak

berbekas, ia betul betul ketakutan setengah mati.

“Kiiiikkk… kkkiiiikkk…. kiiiikkkk… Kuuuuukkk… kuuuukkk…

kuuuukkkk…”

Jeritan menyeramkan kembali berkumandang dari mulut

mayat gadis bunting itu, bukan saja dari mayat gadis tadi,

bahkan dari empat penjuru mulai berkumandang suara

sahutan yang seketika membuat seluruh bukit jadi ramai

dengan suitan-suitan serta jeritan jeritan aneh, batok batok

kepala mayat suku Leher Panjang yang semula terkulai lemas

itupun satu persatu bangkit kembali, sepasang mata mereka

terbentang lebar dan mulai memancarkan cahaya biru yang

mengerikan.

Tidak selang beberapa saat kemudian, empat penjuru

sekeliling mereka sudah dipenuhi oleh mayat-mayat suku

Leher Panjang yang telah membusuk dan mengering itu,

begitu rapat mayat mayat tadi mengurung Liem Kian Hoo

berdua sehingga keadaan tersebut bagaikan sebuah pagar

kayu, begitu rapat kepungan tadi sedikitpun tidak ada ruangan

kosong, bau busuk sangat menusuk penciuman membuat

perut jadi mual dan ingin muntah rasanya.

Yang aneh lagi, ternyata mayat hidup itu mempunyai

potongan serta mimik yang hampir sama sama lainnya.

Kulit yang telahb mengering, matda yang berwarnaa biru

tajam serbta gigi taring yang menyeringai seram, satu satunya

hal yang aneh adalah ketika itu mayat-mayat hidup tersebut

bukannya berbuat gaduh malahan berdiri tenang sekali,

mereka tidak perdengarkan jeritan-jeritan mengerikan lagi

bahkan setelah membuat lingkaran kurang lebih satu tombak

dihadapan Liem Kian Hoo berdua, mereka tidak mendesak ke

depan lebih jauh.

Tong Kauw ketakutan setengah mati, selama ini ia duduk

mendeprok diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar

sedang mulutnya melongo, kesadarannya boleh dikata sudah

punah sama sekali.

Keadaan berlangsung lama sekali, kedua belah pihak sama

sama bungkam dan tidak menunjukkan reaksi apapun.

Namun, bagaimanapun jugi Liem Kian Hoo adalah seorang

anak sekolahan yang sudah banyak membaca kitab

pengetahuan, dalam hati ia tidak percaya dengan segala

macam bentuk setan.

Walaupun pada saat ini ia bikin kaget dan terperanjat oleh

peristiwa yang terbentang didepan mata, namun hanya

sebentar ia tertegun untuk kemudian tenang kembali.

Dengan sikap yang tenang dan sama sekali tidak gugup

bentaknya terhadap diri Tong Kauw:

“Tong Kauw ! ayoh bangun !”.

Tong Kauw terkesiap dan segera mendusin kembali dari

lamunannya, dengan suara tertahan jeritnya:

“Saudara cilik, jangan sekali kali kau ajak mereka untuk

berkelahi, seandainya kau sampai kena ditangkap oleh mereka

akan aku tidak berani menolong dirimu, kalau sampai terjadi

begitu apa yang harus aku lakukan..”.

“Tidak mengapa.” sahut Liem Kian Hoo sambil tersenyum.

“Mereka tidak berani menangkap aku, lagipula mayat mayat

hidup ini hanya merupakan hasil penyaruan dari manusia

hidup belaka, sekalipun akhirnya kita harus mati paling banter

kitapun akan berubah jadi setan. Tentu saja setan tidak akan

takut pada bangsa setan sendiri, sampai waktunya kita baik

baik kasi pelajaran kepada mereka !”.

Pelajaran yang sangat sederhada sekali ini ternyata berhasil

menggerakkan hati Tong Kauw yang goblok dan tahur urusan

nyalinyta bertambah besqar, ia segera mrerangkak bangun

dari atas tanah dan berteriak:

“Sedikitpun tidak salah! saudara cilik, setelah mendengar

ucapanmu ini akupun tidak usah merasa takut lagi”.

Seraya berkata ia berjalan mendekati sianak muda itu.

Namun dengan cepat Liem Kian Hoo menyingkir satu

langkah kebelakang seraya berteriak:

“Tong kauw, kau jangan kemari. Hmm… baunya luar biasa,

coba lihat badanmu begitu kotor.”

Kiranya takutnya menghadapi mayat mayat hidup tadi,

Tong Hauw telah terkencing kencing hingga seluruh celana

basah kuyup, pada saat ini dari tempat maha menyiarkan bau

busuk yang sangat menusuk hidung.

Dengan cepat Tong Kauw dapat merasakan akan hal itu, ia

jadi jengah dan ujarnya dengan nada malu-malu:

“Aku benar-benar tidak berguna, mungkin tadi pagi aku

terlalu banyak makan sehingga kini emas busuk itu tak

terbendung lagi dan melorot keluar dengan sendirinya.”

Liem Kian Hoo dibikin mendongkol bercampur geli oleh

tingkah lakunya, sambil memencet hi dung menahan bau

ujarnya kembali:

“Nah, kalau begitu berdiri lah disitu tak berkutik, lihat saja

bagaimana caraku untuk mengusir pergi mayat mayat hidup

ini !”

Tong Kauw benar-benar sangat penurut, ia lantas berdiri

ditempat semula tanpa berkutik, sepasang matanya terbelalak

lebar-lebar dan mengawasi sianak muda itu bagaimana

caranya mengusir mayat-mayat hidup tersebut.

Tampak sianak muda itu termenung beberapa saat

lamanya, sebentar kemudian ia sudah mendapatkan cara yang

tepat.

Kiranya ketika mula pertama ia bertemu dengan mayatmayat

hidup itu, hatinya dibikin gugup dan tidak tenang,

namun setelah dipikir dengan lebih seksama ia merasa tidak

mungkin dikolong langit benar-benar ada setan atau sukma

yang gentayangan, yang ada hanyalah ilmu dukun yang dapat

menguasahi mayat-mayat itu untuk bergerak seperti apa yang

tercantum dalam surat wasiat Soen Tong Hay, yaitu sebagian

kepandaian sakti yang termuat dalam kitab pusaka Koei-Hua-

Pit-Kip.

Kitap pusaka Koei-Kua-Pit-Kip telah terjatuh ketangan Kauw

Heng Hu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa mayatmayat

hidup ini mungkin sekali adalah hasil permainan

setannya untuk menakut-nakuti orang.

Dengan didapatkannya penjelasan ini maka sianak muda itu

tak perlu merasa takut lagi, namun iapun mengalami kesulian

didalam memecahkan teka-teki.

Menurut penilaiannya, mayat-mayat hidup ini dapat

bergerak karena mereka mendapat hawa panas dari manusia

hidup, tapi ada satu hal yang patut disesalkan, yaitu selama ini

ia tidak mempelajari kepandaian bagaimana caranya

mengendalikan mayat-mayat itu dari catatan Soen Tong Hay

sebab ia merasa hanya buang waktu percuma, maka saat

inipun ia tak tahu bagaimana caranya mengusir mayat-mayat

tadi.

Disamping itu iapun merasa tidak habis mengerti apa

sebabnya mayat-mayat hidup itu tidak meneruskan

penyerbuannya kedepan dan berhenti di sekelilingnya belaka

?.

Otaknya diperas… lama… lama sekali namun sianak muda

ini gagal menemukan jawabannya, terpaksa sang telapak

segera disiapkan dan badan pun mendesak satu langkah

kedepan.

Ternyata mayat mayat hidup itu sangat jeri kepadanya,

ketika menyaksikan sianak muda itu maju selangkah kedepan

buru-buru mereka meloncat mundar selangkah kebelakang,

meski demikian posisinya masih tetap seperti sedia kala.

Agaknya Liem Kian Hoo tidak begitu percaya, kembali ia

maju tiga langkah ke muka.

Peristiwa semula terulang kembali, bersamaan dengan

majunya tubuh sianak muda itu, demikian jarak mereka

dengan Tbong Kauw pun sedmakin dekat, beaberapa sosok

mabyat hidup diantaranya segera pontang cakar buka mulut

siap menubruk kearah gadis tolol itu.

“Saudara cilik… celaka… celaka… setan itu mau

menangkap diriku.” jerit Tong Kauw ketakutan.

Terpaksa Liem Kian Hoo mundur kembali kebelakang, dan

mayat mayat hidup tadipun mundur dan berdiri seperti sedia

kala.

“Saudara cilik, coba lihat mereka hanya takut kepadamu

dan tidak jeri kepadaku, janganlah kau tinggalkan diriku lagi !”

keluh si gadis Bligo dengan nada memohon.

Ucapan ini menggerakkan akal cerdik sianak muda itu,

segera ia berpikir:

“Aaaaah, sedikitpun tidak salah, kita berdua sama-sama

adalah manusia, mengapa mayat-mayat hidup itu cuma takut

kepadaku seorang dan tidak takut kepada si gadis Blo’on itu ?

apa bedanya antara aku dengan dirinya ?”.

Pikiran ini mendatangkan suatu ingatan dalam hatinya,

membuat pikirannya jadi terang dan segera menyadari akan

sesuatu.

Ia merasa dari antara dadanya muncul suatu hawa panas

yang istimewa sekali, tanda-tanda yang mencurigakan ini

hanya terdapat pada tubuhnya dan tak ada dalam tubuh Tong

Kauw, maka mayat mayat hidup tersebut hanya jeri

kepadanya seorang.

Tanpa sadar Liem Kian Hoo lantas meraba kea-rah

dadanya, dimana segera memancar keluar segulung cahaya

keperak perakan yang sangat menyilaukan mata.

Ketika tangannya muncul kembali dari saku maka diantara

telapaknya telah bertambah dengan sebutir mutiara yang

memancarkan cahaya tajam. Mutiara tersebut bukan lain

adalah mutiara yang mula-mula terletak diujung hioloo Ci-

Liong-Teng kemudian Toan Kiem Hoa mengembalikan

kepadanya, dengan andalkan cahaya mutiara yang aneh dan

tajam inilah ia berhasil mempelajari ilmu silat yang tercatat

didalam hioloo tersebut.

Oleh sebab itu setelah ia selesai berlatih, untuk menjaga

segala hal diluar dugaan maka dari dalam ruang semedi Toan

Kiem Hoa ia ambil sebutir mutiara yang kurang lebih besarnya

sesuai dengan mutiara aslinya dan diletakkan diatas hioloo

tersebut, sedangkan mutiara yang asli ia sembunyikan didalam

dada.

Ia tahu banyak jago kangouw mebngetahui rahasida yang

menyangkaut hioloo Ci-Libong-Teng tersebut, maka dari itu

apabila mutiaranya disembunyikan maka ia akan terhindar dari

banyak kesulitan yang tidak diinginkan, contohnya saja

keadaan pada saat ini, meski Hioloo itu kena dirampas Kauw

Heng Hu namun si monyet tua itu gagal untuk mendapatkan

ilmu silat yang tercantum disana.

Sungguh tak nyana bukan saja mutiara itu punya

keistimewaan tersebut, benda itupun punya kasiat untuk

memusnahkan segala bentuk ilmu hitam serta pengaruh

setan.

Demikianlah ketika mutiara itu diambil keluar dari dalam

saku, mayat-mayat hidup itu jadi kacau balau tidak karuan,

mereka sama-sama mundur kebelakang dan pontang-panting

cari tempat persembunyian sementara sinar yang terpancar ke

luar dari mutiara itupun semakin tajam dan semakin

cemerlang sehingga sangat menyilaukan mata.

Menyaksikan dirinya berhasil menemukan cara untuk

mengusir mayat-mayat hidup itu, Liem Kian Hoo kegirangan

setengah mati, sambil mencekal mutiara tadi ia mendesak

kedepan lebih jauh.

Rombongan Mayat mayat hidup tadi semakin kalut dan

mereka sama-sama lari terbirit-birit.

“Saudara cilik.” jerit Tong Kauw dengan suara gembira,

“Mustikamu betul-betul luar biasa sekali, bagaimana kalau

hadiahkan kepadaku ?”.

Liem Kian Hoo tidak menggubris ocehan gadis Blo’on itu, ia

putar badan dan lanjutkan pengejarannya kearah mayatmayat

hidup tersebut, membuat mayat-mayat tadi lari

tunggang langgang keempat penjuru dan bersembunyi

ditempat kegelapan, dalam sekejap mata tak sesosok

mayatpun berani menekati tubuhnya terlalu dekat.

Meski demikian Liem Kian Hoo pun tidak berani mengejar

lebih jauh, sebab masih ada Tong Kauw disitu, ia takut budak

goblok ini dilukai oleh mayat mayat hidup itu, Mendadak . . . .

dari tengah udara kembali berkumandang suara jeritan setan

yang sangat menyeramkan.

Jeritan setan ini muncul dari mayat gadis bunting itu,

begitu keras dan tajam suaranya membuat telinga seperti

ditusuk-tusuk dengan jarum, agaknya jeritan ini bermaksud

untuk menenteramkan mayat-mayat lainnya.

Terbukti setelah suitan tajam itu diperdengarkan, maka

mayat mayat hidup lainnya segera jadi tenang kembali

rbahkan mereka mtulai membentuk qsuatu barisan pranjang.

Agaknya mayat gadis bunting itu merupakan pemimpin

diantara mayat-mayat hidup lainnya, ia berdiri dibarisan

belakang dan dari mana perdengarkan jeritan jeritan aneh

yang mengerikan.

“Kiiikkk… kiiikkk… kiiikkk…”

Mayat hidup yang berdiri dipaling depan segera menubruk

kedepan mengikuti komando tersebut, sepasang jari

tangannya yang kering dan tajam segera dipentangkan lebar

lebar menubruk ke arah mutiara ditangan Liem Kian Hoo.

Sianak muda itu rada tertegun dan terjelos hatinya

menyaksikan mayat hidup itu secara mendadak tidak jeri pada

cahaya mutiara lagi bahkan melakukan perampasan, buruburu

sepasang telapaknya didorong kedepan secara serentak

melancarkan sebuah serangan, cahaya mutiara menyambar

kedepan dan angin pukulan mengulung lewat dari telapak

yang lain.

Baru saja mayat hidup itu menubruk sejauh setengah depa,

gerakannya segera terbendung oleh angin pukulan sianak

muda itu.

“Bruuuuk !” ditengah bentrokan dahsyat, mayat hidup itu

kena dihantam telak, badannya segera hancur dan tulang

belulang rontok serta tersebar diatas tanah, seketika itu juga

ia musnah dan berantakan.

“Kiiiikkk… kiiiikkkk…. kikkk….!”.

Jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya, sesosok demi

sesosok mayat mayat hidup itu seca ra teratur melancarkan

tubrukan dahsyat kemuka. Liem Kian Hoo pun menggunakan

cara yang sama, satu persatu menghadapi mayat-mayat hidup

itu dan memusnahkannya.

Dalam sekejap mata seluruh permukaan tanah sudah

dipenuhi dengan tulang tengkorak putih yang berserakan

dimana-mana, sedang mayat-mayat hidup itupun tetap

menerjang maju kedepan, bagaikan kunang-kunang menubruk

api, satu persatu dimusnahkan dengan gampangnya.

Walaupun selama ini Liem Kian Hoo tidak terluka oleh

serangan lawan, namun menyaksikan mayat-mayat yang

dipergunakan orang ini ia merasa tidak tega, bahkan hatinya

mulai tidak benar.

Berhubung mayat-mayat hidup itu bergerak karena

mendapat perintah dari mayat gadis bunting itu lewat

jeritannya. timbullah suatu ingatan dalam benak sianak muda

ini untuk menangkap penyamun tangkap rajanya lebih dahulu.

Ia membentak, sambil mencekal mutiara sakti itu badannya

meleset ketengah udara kemudian langsung menubruk kearah

mayat gadis bunting tadi.

Menyaksikan sianak muda itu berlalu, Tong Kauw jadi

sangat cemas, buru buru teriaknya:

“Saudara cilik, jangan tinggalkan aku seorang diri, tunggu

aku sejenak…”.

Iapun segera enjotkan badan dan ikut melesat kedepan.

Agaknya mayat gadis bunting itu punya perasaan yang

tajam, ketika menyaksikan Liem Kian Hoo menubruk datang,

iapun bersuit nyaring lalu mengigos kesamping.

“Setan bunting, kau hendak lari kemana”?” bentak Liem

Kian Hoo penuh kegusaran.

Ia enjotkan badannya dan mengejar kemuka dengan

kecepatan laksana sambaran kilat.

Namun gerak-gerik mayat gadis bunting itu pun tidak kalah

hebatnya, dengan lincah dan gesit ia melarikan diri lewat

jalan-jalan gunung ditempat itu.

Liem Kian Hoo tak mau lepaskan mayat tadi begitu saja,

dengan kencang ia mengejar terus dibelakangnya disusul

Tong Kauw dibelakang si anak muda itu, demikianlah kejar

mengejar antara dua orang manusia dengan sesosok mayat

hiduppun segera berlangsung dengan serunya.

Beberapa saat lamanya mereka saling berkejar kejaran,

akhirnya tibalah mereka didepan sebuah gua yang sangat

besar, mayat gadis bunting tadi langsung menerobosi gua itu

dan masuk kedalam.

Liem Kian Hoo tidak berani gegabah, ia segera berhenti

didepan pintu gua dan putar otak dengan alis berkerut, ia

takut didalam gua telah tersedia pelbagai permainan busuk.

Sebaliknya Tong Kauw yang berada disisinya telah tertahan

sambil menuding kearah gua itu:

“Saudara cilik, inilah -gua- Angin Hitam !”.

Mendengar gua tersebut adalah gua Angin Hitam, Liem

Kian Hoo tersentak kaget, ia segera teringat akan nasib

Watinah serta Ton Kiem Hoa.

Tanpa pikir panjang lagi tubuhnya segera berkelebat masuk

kedalam gua, suasana ditempat itu memancarkan cahaya

tajam sehingga mereka dapat melanjutkan pengejarannya

kedalam gua dengan leluasa.

Kembali mereka saling berkejaran beberapa saat lamanya,

akhirnya sampailah mereka diujung gua, agaknya mayat gadis

bunting itu merasa tiada jalan lagi untuk melarikan diri, ia

menempel keatas dinding gua, sepasang matanya

memancarkan cahaya biru tua, sebaris giginya yang tajam

menyeringai seram, keadaan mayat itu jauh lebih mengerikan

lagi.

Liem Kian Hoo mendengus dingin, telapaknya disiapkan

kemudian dengan diarahkan kearah mayat gadis bunting itu ia

melancarkan sebuah serangan.

Mendadak

Sebelum ia sempat melancarkan serangan, dari balik

kegelapan kembali terdengar suara me-ngikik yang amat

mengerikan, sesosok bayangan hitam menubruk datang

dengan hebatnya.

Liem Kian Hoo mengira kembali ada sesosok mayat hidup

yang bersembunyi didalam gua itu melancarkan serangan

bokongan, dengan cepat ia dorong cahaya mutiaranya kearah

depan, Siapa sangka, mayat hidup yang muncul kali ini sama

sekali tidak jeri dengan cahaya mutiara, gerakan tubrukannya

sama sekali tidak terhalang bahkan jauh lebih dahsyat.

Liem Kian Hoo didesak hebat, mau tak mau terpaksa ia

alihkan telapaknya yang penuh dengan hawa murni itu

menghantam bayangan hitam tersebut.

“Bluuuuk !” Termakan oleh angin pukulan yang amat

dahsyat itu, bayangan hitam tadi menjerit keras, diikuti suara

desiran tajam meluncur dari tubuhnya mengancam empat

penjuru.

“Sreeet ! Sreeet ! Sreeet !” berpuluh-puluh gulung desiran

angin dingin menyambar kemuka menembusi angin

pukulannya dan langsung menghantam tubuh Kian Hoo.

Berada dalam keadaan seperti ini, tidak sempat bagi sianak

muda itu untuk mengigos, ia terancam bahaya dan tidak tahu

bagaimana harus menghadapi situasi yang sangat kritis ini.

Ontunglah pada saat yang sangat berbahaya ini Tong Kauw

yang berada dibelakangnya telah tiba disana, gadis tolol itu

segera lintangkan badannya didepan tubuh Kian Hoo.

“Duuuk… duuuk… duuuk…!” berpuluh-puluh gulung

desiran angin dingin tadi diiringi suara bentrokan keras

bersarang di tubuhnya semua.

Diikuti kemudian suara dentingan nyaring menggema

memecahkan kesunyian Dan terakhir terdengar jeritan ngeri

yang menyayatkan hati menghalau seluruh irama dentingan

tadi. Setelah itu suasana pulih dalam keheningan, sunyi

senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Liem Kian Hoo tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia

teringat akan keselamatan Tong Kauw, buru-buru cahaya

mutiaranya dialihkan ke sisi tubuh gadis tolol itu.

Tampak si Gadis Blo’on tadi sedang pentang mulutnya lebar

lebar dan menyengir kuda, sedikitpun tidak menunjukkan

tanda tanda teriuka, ia jadi lega hati.

“Tong Kauw.” katanya dengan nada penuh rasa kuatir,

“Bagaimana perasaanmu saat ini ?”

“Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. aku tidak tahu

setanpun bisa melepaskan senjata rahasia, untung badanku

memiliki tenaga sinkang daya pental yang maha hebat, bukan

aku yang kerluka malahan dia yang terluka malahan dia yang

terbinasakan !”

Liem Kian Hoo tertegun lalu perlahan-lahan menggeserkan

mutiara itu keatas tubuh bayangan hitam tadi, sekarang ia

baru temukan kalau bayangan hitam tersebut ternyata bukan

lain adalah Hasan kepala suku Leher panjang yang pernah

ditemuinya tempat dulu.

Saat ini badannya sudah hancur lebur termakan oleh

gelang leher sendiri, kematiannya benar benar mengerikan

sekali.

Setelah mengalami kekalahan total sewaktu berduel

melawan Liem Kian Hoo dibawah gunung tempo dulu,

sebenarnya ia harus tebus kekalahan itu dengan kematian,

namun ia takut mati dan melarikan diri sehingga timbulkan

amarah rakyatnya, sungguh tak nyana meski ia sudah

bersembunyi di tempat ini namum gagal untuk lolos dari

kematian.

Sementara si anak muda itu masih berdiri termangumangu,

mendadak terdengar pula suara bantingan keras

menggema datang, seolah-olah ada suatu benda berat yang

roboh keatas tanah.

Buru-buru ia alihkan cahaya mutiaranya, tampaklah mayat

gadis bunting yaug melarikan diri kedalam gua tadi, mendadak

secara otomatis roboh sendiri keatas tanah.

Tong Kauw jadi kebingungan dan tidak habis me ngerti,

serunya:

“Eeeeei ! coba lihat, kenapa setan perempuan ini tiba-tiba

bisa mati sendiri ?”

Tong Kauw tidak paham namun Liem Kian Hoo mengerti

apa yang sebenarnya telah terjadi. Hadangan-hadangan

mayat hidup yang ditemuinya tadi bukan lain adalah hasil

permainan setan dari Hasan secara diam-diam, maka dari itu

setelah Hasan mati dan hawa panasnya buyar maka mayatmayat

hidup itupun kehilangan tenaga yang mengendalikan

mereka, termakan pula oleh cahaya mutiara maka sirnalah

kekuatan tersebut.

Namun ia malas untuk menjelaskan duduknya perkara ini

kepada Tong Kauw, maka seraya menendang mayat Hasan

kesamping gua katanya:

“Sudah selesai, kini mayat mayat hidup itu sudah sirna dan

hancur, ayoh cepat kau bawa aku ketempat penjara yang

biasa digunakan oleh Tong Kauw Hu !”.

Tong Kauw kurang percaya, ia periksa dulu keadaan mayat

gadis bunting itu, setelah yakin bahwa mayat tadi telah tak

berkutik lagi dengan hati gembira ia berseru:

“Saudara cilik, kau benar-benar punya kepandaian, setansetan

ini telah berhasil kau hancurkan semua, lain kali akupun

tak takut dengan setan lagi, penjara dari si Monyet tua itu

terletak didepan sana !”

Sambil busungkan dada gadis tolol ini segera maju

kedepan, jelas hatinya merasa amat gcmbira. Setelah berjalan

beberap saat lamanya, sampailah mereka ditempat yang

dituju, tempat itu merupakan sebuah ruang batu yang tinggi

besar, secara lapat-lapat terdengar suara angin menderu-deru

dari empat belah dinding hawa dingin merembes masuk tiada

hentinya membuat badan jadi sakit dan tulang jadi linu.

“Ditempat inilah si Monyet tua itu biasa menyekap orang.”

kata Tong Kauw sambil menuding ruang batu tersebut. “Angin

yang berhembus dalam ruangan ini berasal dari bawah tanah,

menurut ayahku katanya selama sebulan angin itu berhembus

terus tiada hentinya, seseorang yang kena terhembus

tubuhnya dapat hancur bagaikan bubuk.”.

Liem Kian Hoo tidak menggubris ocehannya, ia awasi

keadaan ruangan itu dengan harapan bisa menemukan jejak

dari Toan Kiem Hoa serta Watinah.

Namun ia dibikin kecewa, ternyata ruang batu itu kosong

melompong, tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak

ada disana.

Kedua orang gadis yang dicari tiada dalam ruangan

tersebut, mati hidupnya susah diduga, meskipun mereka

meninggalkan suatu tanda atau jejak. tidak mungin jejak itu

masih tertinggal disana, tentu benda-benda tadi sudah

terhembus lenyap oleh deruan angin tajam.

Dalam pada itu ketika Tong Kau menyaksikan sianak muda

itu sedang melakukan pencarian diempat penjuru, meski tidak

tahu apa yang sedang dicari namun dengan senang hati iapun

ikut bantu melakukan pencarian.

Beberapa saat kemudian tiba tiba gadis tolol itu berseru:

“Coba lihat, benda apakah ini ?”.

Buru-buru Liem Kian Hoo lari menghampirinya, tampak

gadis tolol itu sedang ambil keluar sebuah selendang sutera

dari balik celah celah tembok, tak kuasa lagi jantungnya

berdebar keras.

Kain sutera yang ditemukan Tong Kauw barusan bukan lain

adalah barang miliknya, ketika berada didusun orang Biauw

dimana tempat itu sedang melangsungkan pesta Bulan

Purnama, kain sutera tersebut telah ia hadiahkan buat

Watinah sebagai balasan atas pemberian kain sutera oleh

gadis itu, maka sekilas pandang saja Kian Hoo kenali barang

miliknya ini.

Dan selama ini Watinah selalu menyimpan kain sutera itu

baik-baik, kini ia temukan kain ta di berada disini, hal ini sama

halnya membuktikan bahwa- gadis ini jauh lebih banyak

bahaya dari pada beruntung.

Buru-buru ia buka kain sutera tersebut, tampaklah diatas

kain tadi tertera beberapa patah kata yang ditulis dengan

darah segar.

TuIisan itu kira kira berbunyi demikian: “Siauw-moay serta

suhu telah ditawan oleh musuh tangguh, walaupun kesadaran

untuk sementara punah namun keselamatan tidak terancam.

“Musuh terlalu ampuh, mau tak mau terpaksa siauw-moay

harus gunakan kesucian badanku untuk turuti napsu

binatangnyab, untuk sementadra waktu siauw-amoay serta

suhub aman.”

“Bajingan itu tidak berhasil menemukan jejak kongcu

disekitar tempat ini dan mengira ilmu silatnya sudah tiada

tandingan, kini ia sudah tinggalkan wilayah Biauw untuk terjun

kembali kedaratan Tionggoan guna angkat nama dan bikin

onar, untuk menjaga keselamatan suhu siauw-moay akan

selalu menyertai bajingan namun hati tetap milik kongcu,

semoga Thian mengasihani diriku dan suatu saat kita dapat

berjumpa kembali….”

Walaupun tiada tangan, namun ditinjau dari nada tulisan

tersebut jelas merupakan surat yang dibuat oleh Sani.

Selesai membaca surat itu, dalam hati Liern Kian Hoo

berpikir:

“ia takut aku kehilangan jejak setelah mengejar sampai

disini, maka dibuatnya secarik surat agar aku tahu kemanakah

mereka pergi, demi Watinah dan Toan Kiem Hoa,

pengorbanannya benar benar sangat besar.”

Disatu pihak ia merasa kuatir buat keselamatan Watinah

serta Toan Kiem Hoa, dipihak lain ia terharu oleh pengorbanan

dari Sani, mencekal kain sutera itu untuk beberapa saat

lamanya. Kian Hoo tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Lama sekali ia berdiri termenung, akhirnya sianak muda ini

menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:

“Aaaaai !, agaknya aku harus kembaki kedaratan

Tionggoan untuk mengejar mereka !”

“Saudara cilik, apakah kau membawa pula diriku ?” sela

Tong Kauw dengan cepat.

Menjumpai keadaan gadis tolol itu patut dikasihani, Liem

Kian Hoo tidak tega meninggalkan dia seorang diri ditempat

itu, terpaksa sahutnya:

“Bisa saja aku bawa serta dirimu, tetapi kau harus berjanji

untuk mendengarkan perkataanku dan dandananmu pun tak

boleh macam sekarang ini, daerah Tionggoan berbeda dengan

tempat ini, pertama tama kau harus mengenakan pakaian

lebih dahulu.”.

Mengetahui sianak muda itu suka membawa serta dirinya,

Tong Kauw kegirangan setengah mati sambil meloncat-loncat

seperti anak kecil, soraknya:

“Baik, baik, tentu akan kuturubti semua perkatdaanmu, kau

suruah aku jilat-jilbat air kencing mu pun aku mau.”

Liem Kian Hoo menghela napas panjang, dengan hati

murung ia tinggalkan ruang batu itu dan keluar dari gua.

oOo

Seorang lelaki kekar berwajah hitam dan seorang pemuda

ganteng dengan menunggang dua ekor kuda jempolan

perlahan lahan muncul dari balik tikungan.

Dua orang ini bukan lain adalah Liem Kian Hoo serta Tong

Kauw, berhubung gadis tolol itu memiliki perawakan tubuh

yang tebal maka sengaja Liem Kian Hao mendadani dirinya

sebagai seorang pria disamping memberi pula nama samaran

baginya yaitu Soen Tong.

Soen adalah she dari ayahnya Leng-Yan-Khek serta Tong

adalah nama aslinya, maka ia cuma lenyapkan kata Kauw

saja. Dengan demikian Tang Kauw pun dengan wajah yang

baru, nama yang baru menuju ke penghidupan serta dunia

yang baru pula baginya.

Sekalipun ia sudah berdandan sebagai seorang pria, namun

wajahnya yang luar biasa dan mengerikan itu sepanjang

perjalanan telah banyak mendatangkan kerepotan bagi Liem

Kian Hoo, tetapi untuk mewujudkan pesan terakhir dari Seon

Tong Hay maka selama ini sianak muda itu hanya bersabar

belaka.

Diiringi suara derapan kaki kuda yang nyaring, mereka

berdua telah memasuki sebuah jalan yang menghubungan

jalan gunung dengan sebuah dusun. Pada saat itulah tak

kuasa lagi Liem Kian Hoo berpesan:

“Tong Kauw, mulai saat ini aku hendak sebut dirimu

dengan nama A-Tong, sedang kaupun harus selalu ingat

bahwa pada saat ini kau memakai baju seorang pria, maka

dalam tingkah laku maupun gerak-gerik harus mirip seorang

pria !” Tong Kauw atau sekarang bernama Soen Tong

mengangguk dan tertawa bodoh.

“Aku tahu, akan kuingat selalu pesanmu itu ” katanya.

“Apabila aku berjumpa dengan seorang nona cilik yang

berwajah lumayan, aku tidak akan sembarangan menarik narik

tangannya lagi…”

“Ehmmm! disamping itu kaupun harus ingat bahwa

sekarang kita sedang pergi menengok guruku, dia orarng tua

sedang mterawat lukanya qditempat ini marka ketika

berjumpa dengan beliau nanti kau harus bersikap hormat dan

tahu sopan santun, jangan bertindak liar dan kasar macam

orang hutan belaka !”

“Aku tahu, aku tahu, akan ku anggap dia sebagai ayahku

sendiri !”.

“Nah, begitulah baru betul !”.

Berbicara sampai disitu, Kian Hoo pun lantas ceplak

kudanya melanjutkan perjalanannya kedepan diikuti Soen

Tong dari belakang.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah

jembatan tersebut untuk masuk kedalam dusun.

Haruslah diketahui pada saat itu musim dingin telah tiba,

air sungai telah membeku jadi salju yang tebal, banyak sekali

bocah bocah cilik sedang bermain ski diatas permukaan salju

tersebut suasana riang gembira dan ramai sekali.

Ketika Liem Hoo tiba diujung jembatan, tiba-tiba dengan

wajah serius ia loncat turun dari kuda dan meneruskan

perjalanan dengan berjalan kaki Soen Tong yang menyaksikan

perbuatan sianak muda itu jadi tercengang, dengan suara

yang serak dan keras teriaknya:

“Saudara cilik, jembatan ini kokoh dan kuat sekali,

sekalipun kita lewat dengan menunggang kudapun jembatan

ini tidak bakal bobol !”.

Liem Kian Hoo berpaling memandang gadis tolol itu

sekejap, lalu dengan wajah serius jawabnya:

“Orang dungu, apa yang kau ketahui ? suhuku berdiam

didalam dusun ini, dan aku melanjutkan perjatana dengan

berjalan kaki ini berarti suatu penghormatan besar bagi dia

orang tua, beginilah cara kita orang-orang dari angkatan muda

menghormati cianpweenya!”.

“Huuuu… sungguh merepotkan.” Keluh Soen Tong dengan

bibir dicibirkan. “Saudara cilik! macam apa sih gurumu itu ?

dia galak atau tidak ?…”

Sianak muda itu berpikir sebentar, untuk menghindari

segala kerepotan sengaja ia menakut-nakuti gadis tolol itu.

“Ooooouw… suhuku adalah seorang jago yang lihaynya

luar biasa, semua kepandaian silat yang kumiliki adalah hasil

ajarannya semua, nanti kalau berjumpa dengan dia orang tua,

kau harus berhati-hati, jangan sampai menimbulkan hawa

amarahnya !”.

Soen Tong jadi mengkeret ketakutan.

“Kalau begitu aku tidak ikut masuk saja bagaimana kalau

aku tunggu disini saja?”

“Bagaimana kalau aku berada disana lama sekali, apakah

kau akan menunggu terus disini ?”.

“Tidak mengapa, aku boleh saja ikut main ski es dengan

bocah bocah cilik itu, coba lihat mereka bermain kesana

kemari, oooouw… sungguh menyenangkan sekali !”. Sinar

matanya yang memancarkan cahaya aneh segera ditujukan

kearah bocah bocah cilik yang sedang bermain itu.

Liem Kian Hoo tahu bahwa sifat kekanak-kanakannya masih

belum lenyap, maka sambil tertawa ia menggeleng.

“Sudahlah, jangan ngaco belo terus-terusan, kau sudah

segede ini masa kepingin bermain dengan bocah-bocah cilik

?”.

Soen Tong tak bisa berbuat lain, terpaksa sambil tundukkan

kepala sedih ia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Tiba-tiba… dari tengah permukaan salju itu berkumandang

suara jeritan kaget, ternyata seorang bocah cilik yang sedang

bermain diatas permukaan salju itu kurang hati-hati dan

menginjak permukaan saIju yang tipis, tidak ampun lagi

badannya segera tercebur kedalam air sungai didalam nya.

“alaupun air didalam sungai itu tidak terlalu dingin, namun

dalam sekali, setelah bocah cilik tadi terjerumus kedalam

sungai badannya seketika lenyap tak berbekas.

Liem Kian Hoo jadi gugup, buru-baru ia lari ketempat

kejadian, tampaklah bocah tadi sudah terbawa arus sungai

dan lenyap didasar air.

Meskipun Sianak muda itu punya kepandaian yang sangat

lihay diatas daratan, namun ia sama sekali tidak mengerti

akan ilmu berenang, menyaksikan peristiwa ini ia jadi

kehabisan akal dan tak berkutik.

Soen Tong pun ikut lari keten pat kejadian, tanpa

mengucapkan sepatah katapun ia bongkokkan pinggang dan

segera terjun kedbalam sungai lewdat lubang es taadi.

Liem Kian Hboo jadi kaget.

“Tong Kauw !” serunya, “Apakah kau bisa ilmu berenang

?”.

Namun Soen Tong tidak sempat menjawab pertanyaan lagi,

badannya yang besar dan kasar telah terjun kedalam sungai

dan lenyap dari permukaan.

Sianak muda itu jadi kehabisan akal, terpaku dengan hati

gelisah dan cemas menanti diluar gua salju tadi.

Dalam pada itu bocah-bocah lainnya sudah menangis

tersedu-sedu karena ketakutan.

Dalam sekejap mata peristiwa ini sudah tersiar keseluruh

dusun, semua penduduk dusun, semua penduduk dusun itu

jadi gempar dan sama-sama lari menuju ketempat kejadian,

pelbagai ocehan dan pendapat berkumandang diangkasa,

suasana amat ramai dan ribut sekali.

Kembali beberapa saat sudah lewat, tiba tiba dari atas

permukaan air bergema suara getaran yang sangat keras,

orang orang dusun takut mereka pun ikut tercembur kedalam

sungai, mereka pada lari keatas daratan sehingga suasana

semakin gaduh.

Liem Kian Hoo merasa kuatir buat keselamatan Soen Tong

serta bocah itu, ia tetap berdiri disamping gua salju tadi,

ketika hatinya semakin gelisah itulah mendadak lima enam

tombak dari tempat kejadian itu terjadi bentrokan keras diikuti

munculnya sebuah lubang yang sangat besar, Soen Tong

dengan badan basah kuyup sambil mengepit tubuh bocah

malang itu tahu-tahu sudah muncul diatas permukaan.

Liem Kian Hoo sangat kegirangan, buru-buru ia tarik

tubuhnya naik kedaratan, setelah itu serahkan bocah tadi

kepada orang tuanya yang segera menerima dengan isak

tangis, ucapan terima kasih segera mengalir dari empat

penjuru ditujukan buat gadis tolol tadi.

Wajah Soen Tong yang hitam pekat saat in telah berubah

jadi kehijau-hijauan, setelah merangkak keluar dari air dan

menyemburkan banyak air dari perutnya ia baru gelengkan

kepalanya berulang kali.

“Oooouw! sungguh lihay, sungguh lihay, hampir hampir

saja aku mati karena kehabisan napas, sungguh tidak enak

berdiam lama di-dasar air sungai ini.”

“Tong Kauw…. eeei… A-Tong, kira-kiranya kaupun pandai

ilmu berenang ?” seru Kian Hoo tercengang.

Namun dengan cepatb Soen Tong mengdgeleng.

“Aku tiadak bisa, coba bbayangan ditempat kediamanku

sana sama sekali tak ada sungai ataupun kali, dari mana aku

bisa belajar ilmu berenang ?” katanya.

“Lalu bagaimana mungkin kau bisa turun kedalam air dan

menolong bocah itu ?”.

“Aku sendiripun tidak tahu.” sahut Soen Tong dengan mata

terbelalak besar “Dahulu aku pernah lihat si monyet tau

memelihara ikan emas, aku mengira berenang sangat

gampang, sungguhi tak nyana dugaanku sama sekali tidak

benar, tadi aku cuma berpikir bagaimana caranya untuk

menolong bocah itu maka tanpa pikir panjang aku langsung

terjun kedalam air, setelah berada diba-wah air aku lihat

bocah itu sedang bergerak didepan, akupun tak tahu

bagaimana caranya mencengkeram tubuhnya, semakin tak

kuketahui bagai mana pula caranya aku berhasil keluar dari air

!” jawaban ini membuat Liem Kian Hoo tertegun, ia percaya

gadis tolol ini tidak habis mengerti. Ketika itulah tiba-tiba

terdengar seorang kakek tua berseru sambil menghela napas

panjang:

“Berkorban untuk menolang orang, tidak pikirkan

keselamatan sendiri menempuh bahaya, beginilah baru

perbuatan seorang pendekar sejati !”

Liem Kian Hoo berpaling memandang ke arah orang yang

berbicara barusan, ia segera kenali orang itu bukan lain adalah

suhunya si Rasul seruling Liuw Boe Hwie adanya, kelihatan

wajah nya kusut dan sebuah lengan bajunya kosong

melompong dan berkibar tertiup angin, tak kuasa lagi sambil

menjerit tertahan suaranya:

“Suhu ! kau telah keluar selama beberapa waktu apakah

kau berada dalam keadaan sehat walafiat ?”.

Liuw Boe Hwie tersenyum.

“Yaaaah, boleh dikata untung belum mati tak bisa

dikatakan terlalu baik, aku selalu menantikan kehadiranmu

kembali, kepergianmu kali ini sungguh lama sekali !”.

Liem Kian Hoo sangat terharu, beribu-ribu masalah ingin ia

utarakan keluar namun tak tahu dari mana ia harus bicara.

Menyaksikan keadaan muridnya, Liuw Boe Hwie lantas

tertawa.

“Perlahan-lahan, jangan terburu napsu, bimbinglah dahulu

sahabatmu itu kedalam ruangan, pada jaman seperrti ini

jarang tsekali bisa ditqemui orang yangr berjiwa besar macam

dia !”.

Sebaliknya Soen Tong yang ada diatas tanah tiba-tiba

berteriak:

“Saudara cilik, aku amat beredih hati, adakah sikakek tua

ini adalah suhumu ? mengapa ia cuma punya sebuah tangan

belaka ?”.

“A-Tong. jangan ngaco belo ! ” hardik Si anak muda itu

gusar, “jangan bersikap kurang-ajar terhadap guruku !”.

Buru-buru kepada Liuw Boe Hwie sambungnya: “Suhu,

harap kau jangan marah, dia adalah seorang dungu !”.

“Sekalipun tidak kau katakan akupun tahu, hanya manusia

polos dan sederhana macam dialah baru punya kebesaran jiwa

yang murni dan sejati, aku hanya menghormati dan kagum

pada dirinya, tak mungkin bisa marah oleh perkataan itu !”

Dalam pada itu bocah yang tercebur kedalam sungai tadi

telah mendusin, ia beserta orang orang tuanya segera datang

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas

pertolongan itu, Liem Kian Hoo takut urusan semakin

merepotkan buru-buru ia tarik tangan Soen Tong untuk

mengikuti dibelakang Liau Boe Hwie menuju kedalam sebuah

bangunan rumah.

MuIa-mula ia suruh Soen Tong ganti pakaian dahulu,

kemudian memberi semangkok wedang jae untuknya

diminum, setelah itu baru paksa ia naik kepembaringan untuk

tidur.

Menanti Soen Tong telah diatur, barulah si anak muda itu

menceritakan kisah perjalanannya menuju keselatan selama

ini, tentu saja banyak bagian yang serasa tidak sesuai untuk

dibicarakan ia rahasiakan didalam hati…

Dengan tenang Liuw Boe Hwie mendengarkan si-anak

muda itu bercerita, menanti ia telah menyelesaikan kisahnya

sambil menghela napas panjang katanya.

“Hao-jie ! sejak dulu kalau aku tahu bahwa ayahmu adalah

seorang jago lihay, akapun tidak usah bersusah payah untuk

wariskan kepandaian silatku kepadamu !”.

“Suhu ! harap kau jangan berkata begini, walaupun ayahku

pandai bersilat tetapi ia sangat menghormati diri suhu, lagi

pula sejak dua puluh tahun berselang ia sudah tak pernah

membicarakan soal dunia persilatan lagi, maka dari itu beliau

lantas suruh tecu angkat suhu sebagai guru, menanti suhu

mengalami celaka dan lengannya kutung, Beliau baru

menceritakan rahasia tersebut, disamping itu berhubung

tecupun harus melaksanakan tugas berat yang dibebankan si

Bunga Mawar Putih cianpwee kepadaku, mau tak mau ia

wariskan beberapa kepandaian kepadaku, dengan pesan agar

tecu temukan kembali mutiara diatas hioloo Ci-Liong-Teng dan

mempelajari isi-nya, kemudian menggunakan tenaga sin kang

diatas hioloo tadi bantu suhu serta Pek cianpwee pulihkan

kembali tenaga dalamnya.”

“Aaaaai… walaupun kau mendapat bantuan dari sahabat

karib ayahmu tempo dulu sehingga mutiara itu bisa didapat

kembali, namun hioloo Ci-Liong-Teng kembali kena dirampas

orang, agaknya harapan untuk pulihkan kembali tenaga

lweekangku hanya sia sia belaka….”.

” Tidak ! suhu, tecu telah menghapalkan seluruh pelajaran

rahasia tenaga sin-kang itu hingga hapal diluar kepala.” buruburu

sianak muda itu menanggapi “Lagi pula kunci utama

untuk mengembalikan tenaga Iweekang suhu terletak pada

mutiara tersebut dan bukan hioloo nya, maka sungguh

beruntung mutiara sakti ini tidak lenyap, harapan suhu untuk

pulihkan kembali ilmu silat yang telah punah pun masih sangat

besar.”

“Sungguh ?” seru Liau Boe Hwie dengan sinar mata

terharu, “Sungguh tak nyana pada suatu hari aku orang she-

Liauw berhasil juga memenuhi harapan tersebut.”.

Suaranya diiringi sesenggukan, sehingga hampir-hampir

saja tidak kedengaran apa yang sedang di ucapkan.

“Suhu, sepanjang hidup kau orang tua berjuang, belum

pernah melakukan perbuatan yang merugikan umat manusia,

Thian akan selalu melindungi orang budiman. Thian tidak akan

suruh kau orang tua menderita terus sepanjang masa !”

Liuw Boe Hwie termenung sejenak, mendadak ia berkata:

“Harapan untuk memulihkan kembbali tenaga lweedkangku

mungkin amasih ada, tetabpi bagaimana dengan sinenek tua

she-Pek….”

“Menanti tenaga Iweekang suhu telah pulih kembali seperti

sedia kala, tecu akan segera berangkat untuk menolong Pek

loocianpwee !”.

“Kau masih banyak tugas yang belum diselesaikan

disamping harus mengejar Kauw Heng Hu, kaupun harus

menolong Ku-Sin-Poo serta dua orang murid perempuannya,

Toan Kiem Hoa punya hubungan istimewa dengan ayahmu,

terutama sekali gadis yang bernama Watinah, dia adalah bakal

istrimu, mana boleh kau biarkan mereka terjatuh ditangan

kaum bajingan ? persoalan ini tak dapat dibiarkan berlarutlarut,

mana kau ada waktu sebanyak itu untuk mengurusi

segala persoalan tetek bengek ?”.

Liem Kian Hoo menghela napas panjang.

“Jagad begini luas, aku harus pergi kemana untuk

menemukan mereka ?” keluhnya. “lagi pula mencari manusia

bukanlah urusan yang gampang, maka terpaksa tecu akan

bertindak sesuai dengan keadaan, bertemu dengan pesoalan

apapun akan kukerjakan lebih dahulu.”

“Mungkinkah ayahmu bakal terjun kembali kedunia

persilatan…”.

“Tidak mungkin ayahku mencampuri persoalan ini lagi,

kalau tidak, ia tak akan serahkan tecu untuk angkat suhu

sebagai guru, Tecu bocorkan rahasia ini dihadapan suhupun

sudah melanggar pesan-pesannya, maka dari itu tecu harap

suhu suka melupakan saja persoalan ini !”.

Kembali Liuw Boe Hwie termenung beberapa saat lamanya,

lalu ia berkata:

“Ayahmu bisa tahu gelagat dan segera mengundurkan diri

dari percaturan Bu-Iim, tindakan ini merupakan suatu tindakan

yang tepat dan cerdik, tapi apa sebabnya ia malah menyeret

dirimu untuk terperosok kedalam masalah dunia kangouw ?”

“Tentang soal ini tecu sendiripun kurang jelas, tetapi tecu

rasa dia punya suatu tujuan serta maksud tertentu… Suhu,

sekarang akan kuserahkan mutiara ini kepadamu, disamping

itu akan kuberikan pula rahasia pelajaran sin-kang tersebut,

waktu tidak banyak lagi, kami akan berangkat…”

Begitulah, dalam rumah gubuk yang jelek segera

terpancarlah serentetan cahaya tajam yang menyilaukan

mata.

Sang surya muncul ditengah awabn. cahaya keemadsemasan

menyoraoti seluruh jagbad mengusir hawa dingin

yang mencekam permukaan bumi. Ketika salju telah meleleh

dan hawa jadi hangat maka daun daun hijaupun mulai tumbuh

disetiap dahan pepohonan.

Ditengah sebuah hutan bunga Bwee diluar dusun kecil yang

ada ditengah bukit, berdirilah seorang kakek tua berlengan

tunggal sedang mengawasi bunga bwee itu dengan termangumangu.

Ketika kakek tua itu mendongak, terlihatlah titik titik air

mata jatuh berlinang, Apa yang sedang ia sedihkan ? Dari

tempat kejauhan tiba tiba muncul seorang pemuda yang

berwajah sangat tampan, sambil berlari mendekat serunya

dengan nada terharu.

“Suhu, kiong-hie. kiong-hie, bukan saja tenaga

Iweekangpun telah pulih seperti sedia kala, bahkan kesehatan

serta kesegaranmu berlipat ganda, ilmu pukulan ” Han-Hian-

Ci-Kut ” atau Bau Harum Merasuk tulang yang barusan kau

gunakan benar-benar luar biasa sekali, bukan saja tidak

menimbulkan suara bahkan tidak tampak tanda apapun, hal

ini membuktikan bahwa tidak sia-sia kau orang tua menderita

selama banyak tahun !”

Kakek tua itu menyeka air mata yang membasahi pipinya,

lalu tertawa getir. Dibelakang pemuda ganteng itu berdiri

seorang lelaki kekar yang tinggi besar dan berwarna hitam,

terdengar ia tertawa dengan suara serak:

“Suhu, mengapa kau menangis ? sekalipun bunga

berguguran, tidak pantas kalau kau tangisi begitu sedih !”.

“A-Tong, kembali kau ngaco belo.” tegur sianak muda itu

sambil berpaling. “Suhu meneteskan air mata kegirangan

sebab tenaga dalamnya telah pulih kembali.”

“Kalau gembira mestinya tertawa, mengapa ia malah

menangis ?” bantah lelaki hitam itu kurang percaya.

Sepasang alis pemuda itu berkerut kencang ia ada maksud

memaki lelaki hitam tadi dengan beberapa patah kata pedas,

namun keburu dicegah oleh kakek tua itu dengan goyangan

tangan ramah.

“Hoo-jie, jangan kau tegur diri A-Tong lagi, ” katanya. ” ia

tidak tahu urusan, lagipula apa yang ia ucapkan tadi memang

tepat sekali, tetesan air mataku tadi memang muncul karena

sedih atas gugurnya bunga rbunga bwee ini t!”

Mendengar diqrinya dibelai srikakek tua itu, lelaki berwajah

hitam tadi jadi bangga, tampak ia tertawa senang, sebaliknya

sianak muda itu jadi melengak.

“Suhu, persoalan apa yang membuat hatimu sedih ? “.

” Aaaaai… perasaan seperti ini tak bakal kau pahami,

kecuali kalau kau sudah berusia seperti aku sekarang.”

Sianak muda itu bungkam dalam seribu bahasa, suasana

didalam hutan itupun pulih kembali dalam keheningan.

Beberapa saat kemudian Liem Kian Hoo baru ambil keluar

sebatang seruling pendek dari sakunya kemudian dengan

sangat hormat dipersembahkan kepada kakek tua itu.

“Suhu !” ujarnya, “Kini tenaga lweekang mu telah pulih

seperti sedi kala, sudah sepantasnya kalau seruling kumala ini

kau terima kembali !”.

Air muka Liuw Boe Hwie berubah hebat,

“Hoo-jie, apakah kau sudah tidak sudi me ngakui aku

sebagai gurumu lagi ?…”.

“Tecu tidak berani punya pikiran demikian ! tecu berhasil

jadi orang berkat didikan suhu, budi kebaikanmu berat

bagaikan bukit thay-sandan dalam bagaikan samudra…”.

“Aaaai, sudahlah, jangan kau berkata begitu walaupun aku

pernah wariskan ilmu silatku kepadamu tetapi sekarang kalau

dibandingkan dengan dirimu aku bukan apa-apanya, maka aku

rasa seruling ini tidak berguna bagiku tapi sangat bermanfaat

buat dirimu, apabila kau kembalikan seruling ini kepadaku

sekalipun kulit mukaku lebih tebal-pun aku tidak berani

anggap diriku sebagai gurumu lagi”.

” Suhu, tecu sama sekali tak ada maksud demikian, sehari

jadi guru maka selama hidup tetap adalah guru, rasa hormat

tecu kepada suhu tidak pernah padam sepanjang masa, hanya

saja berhubung suhu angkat nama karena seruling maka tecu

ada maksud mengembalikan seruling yang merdu merayu

dapat berkumandang kembali dikolong langit.”.

Liuw Boe Hwie tertawa getir, sambil angkat lengannya yang

kutung ia mengeluh:

“Dengan sebuah lengan belaka, dapatkah aku bermain

seruling ?”.

Liem Kian Hoo melengak, akhirnya dengan tersipu-sipu ia

menunduk.

“Tecu patut mati…”.

Dengan sedih Liuw Boe Hwie goyangkan tangannya.

“Hoo-jie, aku tahu hatimu jujur dan polos, tidak mungkin

bisa timbul rasa kurang hormat dalam hatimu, tetapi aku sang

guru yang tak berguna cuma bisa menghadiahkan barang itu

kepadamu, suatu nama kosong belaka yang dapat kuberikan

buat kau.”

“Suhu, apakah gelar kebesaran mupun hendak kau

serahkan kepada tecu ?…”.

“Tidak salah, setelah berkelana hampir separuh hidupku

aku baru berhasil mendapatkan tadi, tahukah kau bagaimana

aku bisa dapatkan nama tersebut ?”

“Tecu tahu, pada empat puluh tahun berselang ketika

digunung Huangsan diadakan pertemuan besar kaum Bu-lim,

suhu telah menggunakan seruling emas ini untuk menundukan

jago jago lihay dari suluruh jagad, maka untuk mengagumi

kehebatan suhu, semua jago menghadiahkan gelar tersebut

kepada kau orang tua !”.

Mengungkap masa yang silam, Liuw Boe Hwie jadi

bersemangat kembali, ujarnya lagi sambil menghela napas:

“Justru karena nama ini aku dapatkan dengan susah payah,

maka sengaja kuhadiahkan kepadamu, walaupun sang peniup

seruling belum mati namun sang peniup seruling itu telah

cacad. di kolong langit jangan sampai lenyap seorang Nabi

Seruling, maka dari itu nama besar ini terpaksa harus

kuserahkan kepadamu”.

Dengan wajah serius Liem Kian Hoo jatuhkan diri berlutut

diatas tanah. ujarnya dengan penuh rasa hormat:

“Tecu mengucapkan terima kasih atas hadiah yang suhu

berikan kepada diri tecu, tecu berjanji tidak akan menyianyiakan

harapan suhu sehingga irama seruling dapat selalu

berkumandang diseluruh jagad !”.

“Sudahlah, jangan terlalu sungkan.” tukas Liuw Boe Hwie

sambil membimbing bangun muridnya. “Kalau dibicarakan

sepantasnyab akulah yang medngucapkan terimaa kasih

kepadambu, dengan kemampuan yang kau miliki saat ini

mungkin tidak terbatas sampai disitu saja, Nabi Seruling dua

patah kata ini mungkin malah merendahkan derajatmu. tetapi

aku berbuat demikian berhubung ingin mewujudkan suatu

keinginan pribadiku, atau boleh dikata suatu permohonan “.

“Suhu, katakanlah apa kemauanmu, tecu pasti akan

melaksanakannya dengan seksama !”.

“Irama seruling adalah suatu kepandaian bunyi-bunyian

yang digunakan melumpuhkan syaraf musuh, namum kau

harus tahu dikolong langit bukan cuma aku seorang yang

menguasahi kepandaian tersebut”.

“Tecu tahu, tujuh senar alat pie-pa dari Pek loocianpwee

pun merupakan suatu kepadaian silat lewat irama yang sangat

ampuh.”.

Dengan cepat Liuw Boe Hwie menggeleng.

“Walaupun irama Pie-pa dari nenek Pek merupakan

kepandaian yang luar biasa, namun kepandaian tersebut

belum dapat menaklukan hatiku meski pada sepuluh tahun

berselang kami sama-sama terluka setelah melangsungkan

suatu duel sengit namun aku dapat membuktikan kalau

kelihayannya belum seberapa, sebab namanya tidak terkenal

karena kepandaian itu, disamping itu aku pun masih memiliki

sebuah irama lagu yang belum sampai kugunakan, sebab aku

sadar seandainya irama itu kugunakan niscaya ia tak bakal

kuat menahan diri, dalam hati kecilku sekarang cuma ada dua

orang yang boleh dikata sangat ampuh.”.

Dengan hati terperanjat Liem Kian Hoo membelalakkan

matanya lebar-lebar, menyaksikan keadaan muridnya Liuw

Boe Hwio berkata kembali:

“Harapanku yang paling besar selama hidup ku kali ini

adalah mengunakan irama pembetot sukma itu untuk beradu

dengan mereka berdua, siapa sangka selama ini aku tidak

mendapatkan kesempatan tersebut, dan kini aku sudah jadi

cacad maka harapanku terpaksa harus kuserahkan kepadamu

untuk melaksanakannya !”.

“Siapakah kedua orang itu ?”.

“Si Dewa seruling Im It serta si raja Tambur Loei Thian

Coen !”.

“Belum pernah tecu dengar nama besar dari kedua orang

ini dalam dunia persilatan”.

“Tidak salah, kedua orang ini bjauh lebih tahud bagaimana

caraa menyembunyikanb diri daripada aku, jarang sekali

mereka munculkan diri dalam dunia kangouw maka jarang

sekali orang mengetahui harapan ini !”.

“Suhu, belum pernah kau ceritakan persoalan ini kepada

tecu ! “.

“Irama pembetot sukma adalah suatu sinkang irama tingkat

tinggi, dahulu belum mencapai puncak kesempurnaan maka

percuma kalau kuwariskan kepandaian tersebut kepadamu,

bukan kemajuan yang akan didapat sebaliknya malah akan

mengalutkan pikiranmu, Iain halnya dengan saat ini, tenaga

dalammu sudah mencapai puncak kesempurnaan tentu saja

irama sakti ini boleh kau pelajari “

Seraya berkata perlahan-lahan dari sakunya ia ambil keluar

sebuah gulungan kertas warna kuning dan diserahkan kepada

sianak muda itu sambil berpesan:

“Seluruh kepandaian yang kumiliki dewasa ini ialah irama

pembetot sukma paling dahsyat nah, terimalah kepandaian ini

dan baik-baiklah menggunakan”.

Dengan penuh keseriusan Liem Kian Hoo jatuhkan diri

berlutut diatas tanah kemudian menerima pemberian tadi dan

dibaca sementara, sekilas rasa kaget dan girang melintas

diatas wajahnya.

Menyaksikan perubahan air muka muridnya dengan hati

riang Liauw Boe Hwie menegur:

“Hoo-jie, apakah dibalik kepandaian tersebut ada bagian

yang bermanfaat bagimu ?”.

“Terlalu bagus, terlalu bagus bagiku, dengan demikian

masalah pelik yang sedang kuhadapi pun bisa diatasi, tidak

aneh kalau jurus ” Giok Sak Ci Hun yang kugunakan selalu tak

dapat mencapai puncak kehebatan, kiranya kepandaianku

belum mencapai tujuan.”.

“Jurus Giok Sak Ci Hun bukankah merupakan kepandaian

silat ajaran orang tuamu ? apa sangkut pautnya dengan irama

pembetot sukma ?”.

“Jurus ini punya hubungan yang erat sekali dengan irama

tersebut, sebelum melancarkan ju rus tersebut terdapat

beberapa bait syair yang belum pernah kuselidiki dengan

seksama, sedang sedang sewaktu ayahku wariskan

kepandaian itu kepadaku pun aku belum pernah tahu akan

maknanya, tapi sekarang aku sudah paham, ternyata irama

seruling ini mempunyai pengetahuan yang sama dengan jurus

ampuh tersebut”.

Liauw Boe Hwie rmengulangi pulat empat bait syaqir yang

diucapkran sianak muda itu, mendadak dengan terharu ia

cekal tubuh Kian Hoo sambil berseru:

“Hoo jie, apakah kau benar benar sudah paham ?”.

“Tecu telah paham, semua kepandaian dasarnya adalah

hati naluri sendiri, segala tindakan segala gerakanpun didasari

oleh hati naluri sendiri, apabila irama seruling tidak muncul

karena naluri, dan jurus tidak dilancarkan mengikuti naluri

maka keampuhan akan punah tak berbekas.”

Dengan termangu-mangu Liauw Boe Hwie lepaskan tubuh

sianak muda itu lalu menghela napas.

“Aaaai ! ayahmu betul betul seorang pendekar aneh yang

selama banyak tahun aku berada dalam alam impian,

seandainya sejak dulu aku mendapat petunjuk, niscaya aku

tidak akan jadi macam begini…”.

“Tidak mungkin, aku rasa ayahkupun belum pernah berpikir

sampai kesana, ilmu silat di kolong langit asalnya adalah satu,

seandainya ayahku bisa saling berunding dan bekerja sama

dengan suhu mungkin kedua belah pihak akan sama-sama

mendapat kemajuan, hanya dia orang tua sudah tidak pernah

memikirkan soal dunia persilatan lagi, sekalipun kita

beritahukan kepadanya saat inipun percuma !”.

Liauw Boe Hwie menghela napas dan menggeleng,

akhirnya ia alihkan pokok pembicaraan ke soal lain:

“Untung ayahmu maupun aku ada maksud untuk wariskan

kepandaian ini kepadamu, dikemudian hari kau tentu akan

cemerlang dan tersohor dikolong langit, keberhasilanmu pasti

berada diatas ayahmu, lebih lebih aku tak usah dikatakan lagi

!”.

Ditengah kegembiraan iapun membawa perasaan sedih,

buru-buru sianak muda itu berkata:

“Tecu masih banyak membutuhkan petunjuk serta nasehat

suhu !”.

“Haaaa… haaaaa… haaaaa… sudah… sudahlah, aku

mengakui kepandaianku terlalu cetek, tetapi dengan adanya

ahli waris buat gelar Nabi Serulingku ini maka akupun tak usah

kecewa, ayoh jalan, kita pulang kerumah untuk membereskan

barang-barang keperluan, demi aku pribadi kau telah banyak

membuang waktu.”

“Apakah suhu mengijinkan tecu selalu mendampingi diri

suhu ? “.

“Haaaaa… haaaa… Hoo-jie, kau tak perlu terlalu sungkan,

sekarang aku tidak lebih hanya seorang manusia cacad, tidak

banyak yang bisa kuberikan kepadaku, namun bagaimanapun

juga aku tak mau tunggu saat ajalku sambil ongkangongkang,

maka aku putuskan untuk ikut dirimu pergi

lemaskan otot !”.

Soen Tong yang selama ini bungkam terus disamping lama

kelamaan tak kuat menahan diri, apalagi setelah mengetahui

bahwa mereka hendak berangkai sambil tertawa lebar

selanya:

“Aku segera siapkan kuda !”. Tanpa banyak cincong lagi ia

lari kemuka untuk siapkan kuda-kuda tunggangan.

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Liem

Kian Hoo tertawa dan berkata:

“Sudah berapa hari lamanya budak ini kita kurung dalam

kamar, mungkin ia sudah jemu dan tidak tahan, namun apa

boleh buat, seandainya kita lepaskan dia keluar, mungkin

banyak kerepotan bakal ia tinggalkan buat kita !”.

“Perempuan ini belum hilang sifat kekanak-kanakannya,

dan ia merupakan sekeping kumala yang belum diasah, aku

sih amat suka kepadanya !”

“Kalau begitu harap suhu suka menerima dirinya sebagai

muridmu. ayahnya banyak meninggalkan kepandaian yang

maha sakti, apabila suhu tidak jemu harap kau orang tua suka

bantu menurunkan ilmu tadi kepadanya”.

“Eeeeei… bocah, kembali kau main licik dihadapanku,

terang terangan kau suruh aku ikut mempelajari kepandaian

dalam kitab pusaka Koei Hu-Pit-Kip, kenapa sok cari alasan

macam2 ?”. Liem Kian Hoo menggeleng dan tertawa.

“Tecu tidak berani punya pikiran demikian, kepandaian

yang ditinggalkan Leng-Yan-Khek di-atas tulangnya terlalu

banyak dan dalam, artinya tecu pun hanya mengerti separuh

belaka, Suhu jauh lebih pandai dan banyak pengetahuan, asal

diselidiki tidak sulit untuk memecahkannya, justru tecu yang

ingin nunut cari keuntungan !”.

“Tidak salah, sungguh tak nyata setelah jadi tua dan punya

dua orang murid, semuanya malah gantian memberi pelajaran

kepadaku, ayoh jalan, kitab pusaka Koei-Hua-Pit-Kip pasti

mengandung ilmu yang mendalam, sembari melakukan

perjalanan kita selidiki perlahan-lahan kalau kita harus

berdiam beberapa hari lagi disini, mungkin gubukku pun akan

dibongkar oleh budak busuk ini”.

Sambil tertawa guru dan murid dua orang segera bergerak

menuju kedusun !…

Tiga ekor kuda jempolan berlarian diatas permukaan salju

untuk mulai suatu perjalanan jarak jauh.

Berhubung tiada tujuan maka merekapun berjalan

sekenanya, mereka hanya melakukan pencarian sekenanya

belaka.

Lie Hong Hwie entah membawa si Bunga mawar Putih

bersembunyi dimana ?

Kawanan penjahat dibawah pimpinan Kauw Heng Hu pun

entah membawa Toan Kiem Hoa, Watinah serta Sani

bersembunyi dimana.

Dalam sekejap mata musim dingin telah berlalu dan musim

semi pun menjelang tiba, kalau dihitung-hitung sejak

pertempuran ditelaga So-Si-Auw satu tahun telah lewat,

selama setahun ini banyak perubahan yang telah terjadi.

Liem Kian Hoo yang mengembara kesana kemari tanpa

tujuan mulai rindu akan kampung halamannya, secara lapat

lapat ia merasa rindu akan orang tuanya, rumahnya…

Ketika maksud hatinya ia sampaikan kepada sang guru,

Liuw Boe Hwie termenung sejenak lalu sambil bertepuk

tangan ia berseru:

“Sepantasnya sejak dulu kita harus pergi ke kota Yang-

Chiu, sekarang aku rasa rada terlambat!”

“Suhu, apa maksud ucapanmu ini ?” tanya Kian Hoo

dengan hati terperanjat.

“Sejak ayahmu secara diam diam menghancurkan

persekutuan tiga belas sahabat, ketiga belas orang itu tentu

selalu mencari jejak ayahmu, Kauw Heng Hu sebagai salah

satu diantara tiga belas sahabat, apakah tidak mungkin pergi

mencari jejak ayahmu pula ?”.

“Aaaaah, tidak mungkin, dahulu ayahku muncul sebagai

manusia berkerudung, mereka sama sekali tidak kenal raut

wajah ayahku, lagipula tecu pun belum pernah membocorkan

rahasia ini”.

“Aaaaai…! Loo Sian Khek sendiripun mungkin tidak tahu,

tetapi setelah ia ceritakan keadaanmu kepada Kauw Heng Hu,

maka dari tubuhmu ia akan peroleh tanda tangan yang

mencurigakan, sejak kau tinggalkan kota Yang-Chiu mendadak

tenaga dalammu peroleh kemajuan pesat sedang kaupun tidak

berjumpa dengan orang yang licik dan keji didalam, ramah

diluar, orang she-Loo itu tentu akan mencurigai akan diri ayah

mu.”

Keterangan ini membuat Kian Hoo jadi sangat gelisah,

dengan hati terperanjat serunya.

“Belum pernah tecu berpikir sampai kesitu kalau begitu

mari kita berangkat pulang ! “.

“Aaaaa..! sekalipun kita berangkat saat ini juga,

kedatangan kitapun sudah terlambat satu dua bulan lamanya,

Untung ilmu silat ayahmu luar biasa, ia tentu punya

kemampuan untuk berjaga diri !”.

“Tentang soal ini sukar untuk dikatakan, tenaga dalam

Kauw Heng Hu belum tentu bisa menangkan ayahku, tetapi

seandainya mereka membokong dan mencelakai secara diamdiam,

maka keadaan yaahu jadi berbahaya sekali.

Liauw Boe Hwie berpikir sejenak, lantas berkata:

“Ayahmu sebagai seorang pembesar Kerajaan, aku rasa

tentu sikap dan cermat dalam setiap tindakan, aku rasa ia

tidak akan tertipu mentah-mentah, lagi pula Kauw Heng Hu

sebagai seorang kangouw belum tentu punya keberanian

sebesar ini untuk cari gara-gara dengan pihak pemerintah

meski demikian memang jauh lebih baik kalau kita segera

berangkat kesitu, lagi pula ditinjau dari penuturanmu jelas

hubungan Ku Sin Poo dengan ayahmu bukan hubungan

sahabat biasa, setelah perempuan itu kena ditawan sudah

sepantasnya kalau kita kabarkan berita ini kepadanya”.

Selesai berunding Liem Kian Hoo merasa makin cemas, ia

kepingin sekali punya sayap hingga dapat terbang kembali

kekota Yang chiu.

-oo0dw0ooJilid

9

PERJALANAN yang amat jauh tak mungkin bisa ditempuh

dalam sekejap mata, terpaksa sianak muda itu harus menahan

sabar, sepanjang jalan mereka ganti kuda sampai beberapa

kali, setengah bulan kemudian sampailah mereka dikota Yang-

Chiu.

Da!am situasi seperti ini tak seorangpun punya minat untuk

menikmati keindahan alam, mereka langsung kembali

kegedung Tihu,setibanya didipan pintu, sianak muda itu

langsung mencengkeram seorang pengawal dan bertanya:

“Thayjin ada didalam atau tidak ?”.

Tindakan secara mendadak ini membuat pengawal tersebut

tertegun dan tidak habis mengerti, menanti ia temui kalau

orang itu adalah Liem sauw ya, barulah ia buru-buru berlutut

memberi hormat.

“Cepat katakan apakah thayjien ada di rumah ?” kembali

sianak muda itu menegur.

“Tidak ada, dua bulan berselang thayjin telah minta cuti

dan pergi dari gedung !”.

“Aduh celaka…” teriak Kian Hoo terjelos, badannya

bagaikan diguyur dengan segentong air dingin.

Liauw Boe jauh lebih tenang, buru buru ia bertanya kepada

pengawal itu:

“Mengapa thay-jien minta cuti ?”.

“Tentang soal ini hamba kurang jelas, ham ba cuma tahu

dikarenakan suatu urusan pribadi Thay-jien telah minta cuti

beberapa waktu, setelah urusan gedung pemerintah

diserahkan Ong Thay-jien untuk mewakilinya, Liem Thay jien

lantas berlalu !”.

Saking cemasnya air matapun jatuh bercucuran membasahi

wajah Kian Hoo, ia depakkan kakinya berulang kali dan tidak

tahu apa yang harus dilakukan.

Menyaksikan perbuatan muridnya, Liauw Boe Hwie lantas

menghibur:

“Hoojie, jangan gugup, Thay-jien dapat berlalu setelah

menyerahkan tugasnya kepada orang lain, hal ini

menunjukkan kalau beliau tidak menjumpai hal-hal diluar

dugaan, lebih baik pulanglah lebih dahulu dan tanyakan

duduknya perkara hingga jadi jelas !”.

Perlahan-lahan Liem Kian Hoo dapat tenangkan hatinya,

gedung keluarga Liem terletak dibelakang gedung

Pemerintahan, isi gedungpun sederhana sekali, sejak Liem

Hujien meninggal kecuali ayah dan anak berdua cuma ada

dayang serta mak inang saja yang mengurusi rumah tangga.

Ketika Mak inang itu melihat Kian Hoo telah pulang, ia

kelihatan gembira namun iapun tak tahu kemana perginya

Liem Koei Lin, katanya setelah Liem thay-jien minta cuti lantas

ganti pakaian preman dan berlalu.

Liem Kian Hoo menanyakan pula gerak-gerik ayahnya

sesaat berangkat namun tidak mendapatkan tanda tanda yang

mencurigakan, meski demikian hatinya jadi agak lega, sebab

ditinjau dari penuturan Mak Inang tadi, tingkah laku Liem Koei

Lin tenang sekali, sedikitpun tidak perlihatkan tanda tanda

gelisah atau gugup, bahkan berangkat diiringi seorang kacung

pula.

Namun ada satu hal yang patut dicurigai, dikota Wie-Im,

ayahnya sama sekali tak ada sahabat karib, dengan watak

Liem Koei Lin tidak mungkin ia seenaknya meletakan jabatan

hanya untuk menyambangi seorang sahabat belaka.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba

bagaikan mendusin dari impian buru-buru ia lari masuk

kedalam kamar baca ayahnya, kemudian menggulung sebuah

lukisan diatas dinding dan munculkan sebuah pintu rahasia.

Pintu tadi didorong dan dibalik dinding muncullah sebuah

ruang rahasia yang luas dan mempunyai perabot yang rumit

tetapi sangat rapi. Liuw Boe Hwie yang menjumpai kejadian ini

jadi melengak dan tercengang.

“Sudah delapan sembilan tahun lamanya aku berada disini,

sungguh tak pernah kuduga kalau dalam ruang baca masih

ada sebuah ruang rahasia” gumannya.

“Tecu sendiripun baru tahu akan rahasia ini menjelang

kepergian tecu tempo dulu, dalam ruang rahasia inilah ayah

mewariskan Sim-hoat ilmu silat kepada diri tecu, maka dari itu

tecu pikir kemungkinan besar ditempat ini dapat ditemukan

suatu tanda yang mencurigakan “.

Sembari berkata ia melakukan pencarian yang seksama

diseluruh ruang rahasia tersebut, akhirnya ia temukan diatas

dinding telah berkurang sebilah pedang kuno yang biasanya

tergantung disana, disamping itu diatas meja tulis tertinggal

secarik kertas dimana berisikan tulisan dari ayahnya.

“Ditunjukkan putraku Kian Hoo:

Dalam melaksanakan tugas kau bertindak kurang hati-hati,

akibatnya pihak penjahat telah mengejar datang kemari.

Untung aku selalu waspada dan segera mengetahui akan mara

bahaya yang datang mengancam.

Mengingbat urusan amat dserius dan pentaing, maka

terpabksa akupun berangkat kekota Wie-Im untuk

membuntuti jejak bajingan itu, apabila kau telah kembali dan

membaca surat ini, cepat-cepatlah datang membantu aku !”.

Ketika sianak muda itu membaca surat tersebut ia jadi

tertegun, sebab Liem Koei Lin ayahnya sudah dua bulan

lamanya meninggalkan rumah, namun surat tadi baru ditulis

setengah bulan berselang.

Liauw Boe Hwie yang berdiri dibe!akang si-anak muda

itupun dapat membaca isi surat tadi, nampak diapun

termenung sambil putar otak, akhirnya seorang tua ini

berkata:

“Tentu ayahmu berhasil mengetahui keadaan dirimu dari

mulut kawanan bajingan ini dan tahu kalau kau dalam

beberapa waktu mendatang bakal pulang kerumah, maka

buru-buru ia balik lagi untuk meninggalkan surat tersebut…”

“Mungkin memang demikian duduknya perkara.” sahut Kian

Hoo setelah termenung sebentar.

“Suhu, agaknya kita harus segera berangkat menuju kekota

Wie Im !”.

“Tentu saja harus demikian, setelah ayahmu seorang

mungkin masih belum sanggup untuk menyelesaikan

persoalan ini, maka ia butuhkan bantuanmu.”

Demikianlah mereka bertiga pun kembali melakukan

perjalanan cepat menuju kekota Wie-lm untung perjalanan

tidak terlalu jauh, hanya dua hari kemudian sampailah mereka

ditempat tujuan.

Kota Wie lm adalah kampung halaman dari Han Sim

seorang panglima tersohor pada ahala Si Han, berhubung

itulah kota tersebut sangat ramai sekali.

Setibanya didalam kota, mereka bertiga mengitari seluruh

kota satu kali namun tidak menemukan sesuatu jejak apapun.

Menanti malam telah menjelang tiba, mereka bertigapun

beristirahat dalam sebuah rumah penginapan, malam itu Kian

Hoo tak dapat tertidur karena pikirannya sangat kalut,

sedangkan Soen Tong yang ada dikamar tetangga telah

mendengkur sejak tadi, begitu keras suara dengkurannya

sampai dinding tembok pun bergetar.

Semakin kalut pikirannya sianak muda itu semakin tak

dapat pulas, dengan susah payah akhir nya semalaman sudah

hampir lewat, sementara rasa ngantuk mulai menyerang

benaknya, tiba-tiba

Terdengar suara gaduh berbkumandang dari ddalam kamar

Soean Tong yang terbletak disebelah ka-marnya, diikuti gadis

tolol itu berkaok-kaok keras.

“Keparat cilik, kau berani pukul aku akan kucabut jiwamu.”

Liem Kian Hoo tidak tahu ditengah malam buta begitu si

gadis tolol itu sedang ribut dengan siapa, buru-buru ia

mengenakan pakaian dan lari ke kamar sebelah.

Tampaklah Soen Tong sedang duduk diatas pembaringan

dalam keadaan telanjang bulat sambil berkaok kaok gusar,

didepan pembaringan menggeletak sebilah kutungan pedang.

Menyaksikan keadaan tersebut, pemuda kita buru-buru

tutup pintu rapat-rapat sebab ia tidak ingin mengejutkan tamu

tamu dikamar lain, lagi pula keadaan Soen Tong saat ini tidak

patut dilihat orang. setelah itu dengan suara lirih tegurnya:

” A-Tong, jangan ribut, apa yang telah terjadi?”.

Hawa amarah berkobar dalam hati Soen Tong, dengan

jengkel jawabnya.

“Ketika aku sedang tidur tiba-tiba badanku terasa amat

sakit. aku lantas bangun maka kutemui ada seorang keparat

cilik sedang menusuk tubuhku dengan senjata, namun

pedangnya seketika kena digetar patah oleh tenaga sim-kang

daya pental, aku mendusin lagipula tidak terluka buru buru

melarikan diri lewat jendela !”.

Liem Kian Hoo berpaling, tidak salah lagi jendela dalam

keadaan terpentang lebar lebar, ia jadi amat terperanjat.

“Macam apakah orang itu ? ” kembali ia bertanya.

“Aku sendiripun tidak tahu sebab tidak nampak terlalu

jelas, agaknya seorang pemuda yang berwajah tampan, ilmu

silatnya pun tidak jelek, tusukan pedangnya terasa amat sakit

sekali bahkan selagi melarikan diri gerakan tubuhnya pun

amat cepat !”

“Lalu mengapa tidak kau kejar orang itu ?”

Dengan tersipu sipu Soen Tong menyahut:

“Sebelum meninggalkn tempat ini, keparat cilik itu sudah

membawa lari semua pakaianku, bukankah kau pernah

beritahu kepadaku kalau tidak berpakaian dilarang lari-lari

ditempat luaran ? maka aku tidak berani mengejar !”.

“Saudara cilik ” keluh Soen Tong dengan wajah kecut ” Aku

benar-benar tidak biasa memakai baju, seandainyra kau bacok

akut beberapa kali qdengan sebilah rgolok mungkin aku tidak

ambil perduli, namun kalau kau suruh aku mengena kan

benda yang halus dan lunak itu, seluruh tubuhku jadi gatal

sekali, mau tidurpun rasanya tidak bisa, Untung ditengah

malam buta tak terlihat orang maka aku telanjangi diriku

sendiri dan tidur.”

Liem Kian Hoo dibikin berabe oleh tingkah laku gadis tolol

ini, sementara otaknya berputar dan menduga duga siapakah

sang pembokong tersebut, seandainya orang itu diutus oleh

Kauw Heng Hu, mengapa yang diarah adalah Soen Tong si

gadis Blo’on yang gobloknya sudah tidak ketolong an lagi itu ?

Mungkin karena harta ? jelas dalam sakunya tidak

membawa intan atau permata bahkan sepotong uang

perakpun tak ada, tidak mungkin orang itu ada maksud

mencuri barang-barangnya, lagi pula berdasarkan kepandaian

yang dimiliki orang itu, jelas dia bukan seorang pencuri biasa.

Mungkin karena dia adalah seorang gadis ? hal ini semakin

tidak mungkin lagi, siapa yang sudi main cinta dengan seorang

gadis jelek yang berwajah mengerikan bagaikan wewe ?

setengah harian lamanya ia putar otak namun tidak berhasil

mendapatkan jawaban, terpaksa ia bertanya.

“A-Tong, barang apa yang kau simpan dalam tubuhmu ?”

” Tidak ada! ” sahut Soen Tong seraya menggeleng, namun

sejenak kemudian tiba-tiba ia menjerit:

“Aduh celaka, batok kepala ayahku telah dj curi orang itu !”

“Apa ? bukankah batok kepala ayahmu disimpan dalam gua

Kioe~Chi-Tong ?…”.

“Tidak, aku benar benar merasa berat hati untuk tinggalkan

ayah seorang diri, maka diam diam kusimpan tulang

kepalanya didalam saku, karena takut kau tahu maka selama

ini aku membungkam.”.

” Kau…. kau benar benar goblok, tolol!”.

Soen Tong Hay telah mengukir seluruh inti sari kitab

pusaka Koei-Hua-Pit-Kip diatas tulang kepalanya, demi

menghormati jenasah dari seorang jago sakti, Kian Hoo tidak

berani berbuat kurang ajar dengan segala menggembol batok

kepalanya, maka sengaja ia salin catatan itu diatas sebuah

kitab dan tinggalkan tulang kepala tadi didalam gua.

Siapa sangka diam-diam budak jelek yang tololnya tidak

ketolongan ini sudah membawanya keluar, walaupun catatan

intisari kitab pusaka Koei Hua Pit-Kjp sudah ada salinannya,

namun apabila membiarkan benda itu terjatuh ketangan orang

lain, kemungkinan besar dapat menimbulkan bencana,

terutama kalau sampai terjatuh ketangan Kauw Heng Hu,

keadaan bakal semakin runyam.

Ketika Kauw Heng Hu serahkan kitab tadi ketangan Soen

Tong Hay, isinya sudah tidak lengkap, sedangkan Soen Tong

Hay sendiri selagi menyelidiki kitab itupun diam diam

menyembunyikan pula beberapa bagian, maka apa yang

didapat mereka berdua sama-sama tidak lengkap, tapi lain

halnya kalau orang itu adalah utusan dari Kauw Heng Hu,

dengan didapatkannya catatan tersebut berarti ia sudah

mendapatkan kitab yang lengkap.

Soen Tong yang kehilangan tulang kepala ayahnya merasa

amat sedih sekali, ia menangis tersedu sedu, melihat

kesedihan orang Liem Kian Hoo jadi tidak tega untuk memaki

lebih jauh, terpaksa ia berdiri dengan keadaan serba salah.

Pada saat itulah dari luar jendela mendadak berkelebat

lewat sesosok bayangan manusia disusul Liuw Boe Hwie pun

muncul dalam ruangan.

“Suhu, telah terjadi suatu peristiwa yang menimpa diri ATong.”

ujar Sianak muda itu cepat.

“Aku tahu, ketika mendengar suara yang mencurigakan aku

segera keluar dari kamar dan melakukan pengejaran, ternyata

orang itu langsung, lari menuju kekuil Han-Ong-Sie, disana ia

disambut oleh dua orang siluman tua, karena aku merasa

bukan tandingan dari kedua orang siluman tua itu maka

terpaksa aku balik kemari !”.

“Siapakah kedua orang siluman tua itu ?”

“sebetulnya aku tidak kenal dengan kedua orang itu,

namun setelah mendengar penuturanmu aku berani

memastikan kalau mereka berdua ada lah Heng-Thian-Siang-li,

bahkan keparat cilik yang melakukan pembokongan itubpun

bukan orangd sembarangan, kaalau pandangan bmataku tidak

salah lihat jelas dia adalah Lie Hong Hwie anak murid sinenek

she-Pek.”.

“Apa ?” Kian Hoo tertegun, saking kaget dan

tercengangnya ia tak sanggup menutup mulutnya kembali.

oO0Oo.

Kuil Han-Ong-Sia terletak diluar kota Wie-Im, bangunannya

sudah rusak dan hancur, tem-boknya banyak yang rontok dan

berlubang, patung arca Han Ong yang ada dimeja

sembahyanganpun tinggal separuh potong, keadaan kuil itu

menyedihkan sekali.

Lama kelamaan sianak muda itu jadi jengkel hawa

amarahnya segera disalurkan keatas patung arca tersebut.

Sreeet ! sebuah pukulan dahsyat menghancurkan sisa patung

Han-Ong yang berdiri ditengah ruangan.

“Hoo-jie, mengapa kau salurkan hawa amarahmu keatas

patung arca tersebut…?” tegur Liuw Boe Hwie.

“Hmmm ! teringat Han Sim pun tidak lebih hanya seorang

manusia tak berpedidikan, hanya karena gagah saja lantas

sombongnya tidak karuan, bagaimana akhirnya ? iapun tidak

mendapat akhir yang baik, manusia macam begini tidak

berhak untuk mendapat penghormatan dari generasi yang

akan datang !”

Liuw Boe Hwie bungkam dalam seribu baha sa, sedangkan

Soen Tong jadi tertarik, iapun menirukan cara sianak muda itu

dengan melancarkan sebuah pukulan menghajar sebuah

patung Han-Sim.

Siapa sangka ketika angin pukulan itu menghajar telak

diatas patung arca tadi, bukannya hancur berantakan

sebaliknya patung tadi secara otomatis telah bergeser sendiri

kesamping.

“Eeeei saudara cilik, coba lihat patung arca ini bisa

bergerak sendiri…” jerit Soen Tong dengan nada kaget.

Belum habis ia menjerit dari balik patung tadi muncul

seorang pengemis yang berpakaian kumal dan berambut

awut-awutan, sambil tertawa terbahak-bahak ia berseru:

” Han-Ong tidak becus dan memalukan kami kaum

pengemis, kalian mau hancurkan patungnya perduli amat

dengan kami, tetapi Loo Thay Thay (Nyonya Tua) ini adalah

orang baik, kami kaum pengemis pun justru mencari sedekah

berkat kebaikan hatinya, kami tak boleh biarkan iapun ikut

hancur karena Han Sim.”

Kbeterangan ini mdenyadarkan Soena Tong bahwasanyba

patung itu bisa bergeser sendiri bukan lain lantaran permainan

setan dari sipengemis tersebut, ia hendak maju untuk

menghantam dirinya namun kena dicegah Kian Hoo.

“Siapakah anda ?” Tegur sianak muda itu setelah

mengawasi pengemis tersebut beberapa saat kemudian ia

baru berkata lagi:

“Dengan kepandaian yang anda miliki, aku rasa kau pasti

bukan pengemis sembarangan !”

“Kaum pengemis tiada tempat tinggal tetap, untuk mencari

sedekah harus berkeliaran keempat penjuru, siapa bilang ada

perbedaan antara pengemis biasa dan pengemis luar biasa ?

ucapan dari engkoh cilik ini sungguh aneh sekali, aku ingin

tahu pengemis macam apakah baru bisa dikatakan pengemis

biasa ?”.

Sekali lagi sianak muda itu dibikin bungkam dalam seribu

bahasa, Liauw Boe Hwie yang ada disisinya segera

menyambung sambil tertawa:

“Dengan kepandaian lihay yang kau miliki namun justru

berada dalam barisan pengemis, itu lah baru dinamakan

istimewa !”.

“Meskipun aku si pengemis bisa bermain beberapa jurus

gerakan kembangan, kepandaian inipun kami siapkan untuk

menghadapi anjing-anjing galak, nasibku memang sudah

ditakdirkan jelek, lagi pula harus menuruti peraturan nenek

moyang-ku, dilarang mencuri dilarang merampas, maka untuk

melanjutkan hidup terpaksa aku harus mengemis, apanya

yang istimewa ?”

“Hrnmm ! sudah berapa lama kau berada disini ?”.

” Kemarin aku sipengemis berhasil mendapatkan sedikit

sisa sayur serta beberapa renceh uang kecil yang habis

kubelikan arak setengah kati, setelah minum sampai mabuk

aku telah tidur semalaman disini !”.

“Bagus sekali ! kalau memang kau tidur semalaman disini

tentu tahu bukan kemana perginya-tiga orang yang

mendatangi kuil ini tadi pagi-pagi buta ?”.

“Haaa… haaa… haaa… selama ini aku sipengemis tertidur

pulas, sama sekali tidak nampak separuh sosok bayangan

setanpun, namun aku memang sudah dibangunkan oleh tiga

ekor anjing kurang ajar !”

“Dimana ada anjing ?” sela Soen Tong sambil celingukan.

“Kenapa aku tidak lihat anjing yang kau maksudkan itu ?r”.

“Haaa… haataa… haaa… tqentu sudah kau rlihat anjinganjing

itu, sebab anjing itu yang satu kehilangan tangan

sebelah, yang kedua adalah anjing cilik sedang anjing ketiga

adalah seekor anjing betina…”.

Mendengar dirinya secara tidak langsung di maki Liauw Boe

Hwie naik pitam, bentaknya gusar:

“Manusia kurangajar, pengemis terkutuk ! kami bertanya

secara baik-baik, mengapa kau memaki orang seenaknya ?”.

Soen Tong yang masih belum paham segera menyela dari

samping.

“Suhu, yang dia maksudkan tiga ekor anjing bukanlah ia

tidak memaki dirimu ?”.

“Tolol, Blo’on ! anjing betina itu adalah kau sendiri ” maki

Kian Hoo jengkel.

“Kurangajar, kurangajar, kau berani maki aku !” jerit Soen

Tong, Kepalannya langsung diayun kedepan menghantam

dada pengemis tersebut.

Dengan sebat pengemis tadi mengigos kesamping, tongkat

bambunya segera disapu kearah ke kakinya dengan suatu

jurus serangan yang sangat aneh, Soen Tong tak sempat

berkelit, seketika kakinya kena dihajar.

Namun ia memiliki tenaga pental yang melindungi

tubuhnya, bukan saja tidak terluka bahkan malahan memental

balikkan tongkat bambu itu sehingga terpental dan balik

menyapu kearah kaki pengemis itu sediri.

Air muka pengemis itu berubah hebat, buru-buru ia

getarkan tongkatnya kesamping untuk memunahkan

datangnya ancaman.

Soen Tong melangkah setindak kemuka, telapaknya yang

lebar langsung dihantamkan keatas batok kepala pengemis

itu.

Merasakan datangnya ancaman, pengemis itu mendengus

gusar, tongkatnya diputar balas menotok dadanya.

Soen Tong terlalu mengandalkan tenaga daya pentalnya, ia

tidak menggubris datangnya serangan, dengan gerakan yang

tetap ia lanjutkan cengkeramannya kemuka.

“Kraaaak…!” tongkat bambu itu patah jadi dua bagian,

sedang Soen Tong pun kesakitan sampai mulutnya tak dapat

merapat, sepasang telapaknya langsung menjambret dadanya

lalu diangkat ketengah udara.

Setelah itu lawannya dibanting keatas tanah sanbil

menekan dirinya keatas tanah, teriaknya penuh kegusaran.

“Kau maki aku sebagai anjing, sekarang aku akan suruh

kau merasakan jadi anjing yang menjilat air kencing !”

Permukaan tanah tempat itu penuh dengan debu dan pasir,

tenaga Soen Tong pun sangat besar, setelah pengemis itu

kena ditekan keatas tanah badannya tak berkutik lagi,

keadaannya mengenaskan sekali.

Liem Kian Hoo yang menyaksikan kejadian itu takut ia

menindih mati pengemis tersebut, buru-buru bentaknya:

“A-Tong. ayoh cepat lepaskan dirinya, aku masih ada

pertanyaan hendak diajukan kepadanya !..”

Kena ditegur Soen Tong baru lepaskan pengemis itu,

namun kakinya yang besarpun dengan cepat menginjak dada

pengemis tadi, serunya:

“Tidak bisa kulepaskan dirinya begitu saja ia harus

menirukan gonggongan anjing sebanyak tiga kali, setelah itu

aku baru bisa lepaskan dia pergi !”.

Dengan sinar mata gusar pengemis itu melototi wajah Soen

Tong, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa,

Menyaksikan pengemis itu membungkam, Soen Tong

menginjak dadanya semakin berat, ancamnya: “Kalau kau

tidak mau berteriak lagi, sekali injak kugencet dirimu sampai

mati !”.

Saking sakitnya pengemis itu sampai gertak gigi, namun ia

bersikeras tidak buka suara, mulut nya terkancing rapat-rapat.

Kian Hoo takut ia benar-benar mati diinjak perempuan tolol

itu, kembali cegahnya.

“A-Tong, kenapa sih kau tidak bmenuruti perkatdaanku ?”.

Kali aini Soen Tong tbak berani membangkang, ia tarik

kembali kakinya yang gede sambil mengomel:

“Hmmm ! kalau bukan saudara cilikku mintakan ampun

buat dirimu, akan kuinjak dirimu sampai hancur”.

Pengemis itu meloncat bangun, dengan gemas ia meludah

keatas tanah lalu bangkit berdiri dan lari keluar dari ruang kuil.

“Pengemis sialan, kau masih berani ngeloyor pergi ?”

bentak Liuw Boe Hwie gusar.

Ia enjotkan badan segera ikut meluncur kedepan, lengan

tunggalnya langsung menotok punggungnya. Dalam pada itu

pengemis tadi baru saja lari keluar dari pintu, tahu serangan

jari Liuw Boe Hwie telah meluncur tiba, kelihatan ia bakal

roboh terjengkang.

Mendadak serentetan cahaya putih meluncur datang dari

balik pintu dan langsung menghajar urat nadi Linw Boe Hwie.

Untuk menyelamatkan diri terpaksa si rasul seruling harus

lepaskan mangsanya untuk menolong diri lebih dahulu,

tangannya berputar menyambut datangnya cahaya putih itu,

ternyata sebuah mangkuk gumpil.

Alisnya langsung berkerut, ia bermaksud buang mangkuk

itu keatas tanah, namun ketika itulah dari luar pintu telah

berkumandang datang suara gelak tertawa seseorang:

“Haaaa… haaaaa… haaaaa… tua bangka she-Liuw, jangan,

jangan kau buang itulah yang diandalkan aku sipengemis tua

untuk cari sesuap nasi !”.

Bersamaan dengan gelak tertawa itu dari luar kuil

melayang masuk seorang pengemis berusia lanjut, rambutnya

awut-awutan dan memakai baju compang-camping, sambil

mencekal sebuah tongkat bambu warua hijau selangkah demi

selakangkah ia berjalan masuk kedalam.

Ketika mengetahui siapakah pengemis tua itu Liuw Boe

Hwie pun lantas tertawa.

“Eeeeei… peminta minta tua apakah manusia kurangajar

tadi adalah anak buahmu ?”

Selangkah demi selangkah pengemis tua itu berjalan masuk

diikuti pengemis muda tadi dengan wajah kesal, kecut dan

kusut pengemis tua itu tidak langsung menjawab pertanyaan

si Rasul Seruling, matanya melirik sekejap kearah Liem Kian

Hoo serta Soen Tong, setelah itu barulah ujarnya:

“Tua bangka she-Liuw, dalam sobal apakah-muriddku telah

menyalaahi kalian sehibngga menimbulkan kegusaran kamu

semua ?”

“Tanyakan saja kepadanya !” pengemis tua itu melotot

sekejap kearah pengemis itu, hal ini membuat pengemis tadi

dengan badan gemetar segera menjawab.

“Tecu tidak tahu Loo sianseng ini adalah sahabat karib dari

Pangcu”.

“Gentong nasi ! masa terhadap si Rasul Seruling Liuw Thayhiap

pun kau tidak kenal ? buat apa kau kerkelana didalam

dunia kangouw ?”.

“Liuw Thay-hiap adalah seorang pendekar sejati yang

gagah perkasa, tecu tidak tahu kalau dia orang tua cuma

punya tangan sebelah…”

“Apa ?” pengemis tua itu berseru tertahan “Eeeeei tua

bangka she-Liuw, mengapa dengan tanganmu ?”.

“Aaaaa . . . ! susah susah untuk dikatakan kedua orang itu

adalah…”.

Sekarang Liem Kian Hoo baru tahu kalau pengemis tua itu

bukan lain adalah Pangcu dari perkumpulan Kay-pang yang

bergelar To-Si-Sin-Kay atau sipengemis sakti dari dunia jagad

Tong Thian Gwat adanya.

Buru-buru ia maju memberi hormat seraya berkata:

“Siauw-tit adalah Liem Kian Hoo, sedang dia adalah murid

suhu yang paling akhir Soen Tong adanya !”

Tong Thian Gwat mengawasi kedua orang itu beberapa

saat lamanya, lalu dengan nada tercengang serunya:

“Liuw Loo-jie, sejak kapan kau telah menerima dua orang

murid yang begitu bagus ? kalau dibandingkan mereka

berdua, murid binatang ku ini boleh dikata bagaikan kotoran

manusia dibandingkan dengan pualam !”.

Sekilas rasa malu berkelebat diatas wajah pengemis itu,

dengan sikap sangat hormat ia maju menjura kepada Liuw

Boe Hwie, katanya:

“Liuw thay-hiap, boanpwee Chi Siang datang mohon maaf

kepada kau orang tua, boanpwee benar-benar tidak tahu

kalau kau orang tua adalah seorang pendekar sejati, maka

tadi banyak menyinggung perasaanmu, untung muridmu telah

cukup menghajar diriku, orang budiman tidak akan pikirkan

kesalahan orang kecil, harap kau suka ampuni kesalahanku

itu..”

Melihat tampangrnya yang patut tdikasihani Liuwq Boe

Hwee tidakr tega, sambil tertawa ia lantas berkata:

” Sudah sudahlah, mungkin kau memang cocok untuk jadi

ahli waris dari pengemis tua itu, mulutmu tak pernah

mengucapkan separuh kata baikpun !”

“Sebenarnya boanpwee juga tidak berani sembarangan

menyinggung perasaan orang.” ujar Chi Siang lagi dengan

wajah kerut.

“Tapi disebabkan kalian bertiga menanyakan tiga orang

lainnya, boanpwee kira kalian adalah segolongan dengan

mereka maka aku lantas bertindak kurangajar.”

“Apa hubunganmu dengan mereka bertiga ?” buru-buru

Liuw Boe Hwie bertanya.

Tong Thian Gwat kelihatan rada tercengang.

“Liuw Loo-jie, apakah kau sama sekali tidak tahu akan

kejadian yang telah berlangsung dalam dunia persilatan ?”

tegurnya.

“Aku tidak tahu, dalam dunia kangouw telah terjadi

peristiwa apa ?”.

“Aaaaai ! walaupun dewasa ini belum disiarkan secara

resmi dalam dunia kangouw, namun secara diam diam dunia

kangouw kita sudah berada dalam keadaan yang sangat kritis,

membuat hati orang tidak tenang, kami kaum pengemis yang

punya pendengaran serta penglihatan yang jauh lebih tajam

telah mengetahui akan hal ini lebih dahulu, maka kamipun

siap untuk maju duluan.”.

“Kamipun tahu kalau anak buahmu tersebar luas baik

diutara maupun diselatan, kabar berita kalian paling tajam,

ayoh cepat katakan sebenarnya apa yang telah terjadi ?”.

“Kemarin dalam kuil ini telah berkumpul beberapa orang

gembong iblis yang maha lihay, pernah kalian dengar akan

nama Tiga Belas Sahabat ?”.

“Pernah ! Heng Thian Siang Li yang muncul ditempat ini

kemarin malam bukanlah dua di antaranya ?”.

“Eeeeeei, darimana kau bisa tahu ?”

” Aku sih tidak apa apa, aku hanya kenal mereka lagipula

karena satu persoalan sedang mencari mereka, coba katakan

peristiwa apa yang telah terjadi ?”.

Tong Thian Gwat termenung setengah harian, lalu baru

menjawab.

“Tempo dulu Tiga belas Sahabat ada maksud mencelakai

Bu-lim, kemudian entah apa sebabnya jejak mereka tiba-tiba

lenyap tak berbekas, beberapa waktu mendekat ini aku

dengar mereka muncul kembali didaratan Tionggoan dan siap

mendirikan kembali suatu persekutuan dimana secara terbuka

mereka hendak tantang kita orang-orang dari kalangan lurus

untuk berduel !”.

“Tok Chiu Suseng Kauw Heng Hu tentu berada diantaranya

bukan ?” sela Kian Hoo tidak tahan.

” Sauw-hiap, walaupun kau belum pernah terjun kedunia

persilatan agaknya persoalan dalam dunia kangouw tidak

asing lagi bagimu !” tegur Tong Gwat sambil melirik sekejap

kearahnya.

Liem Kian Hoo tersenyum.

“Siauw tit mendengar cerita ini dari orang lain belaka,

silahkan pangcu lanjutkan perkataanmu!” katanya.

“Diantara tiga Belas Sababat tidak salah lagi memang Tok

Chiu Suseng Kauw Heng Hu bertindak sebagai pimpinan, pada

waktu waktu mendekat ini ia sedang kumpulkan sahabat

lamanya untuk membentuk persekutuan, bahkan telah

memilih kota Wie-Im sebagai markas besarnya.”

“Menurut apa yang siauw-tit ketahui, diantara tiga belas

sahabat ada beberapa orang telah mengundurkan diri dan ada

pula yang sudah mati mungkin jumlahnya tidak mencapai tiga

belas orang lagi !”.

“Tidak salah ! ” kembali Tong Thian Gwat membenarkan ia

lirik sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan dalam.

“Diantara tiga belas sahabat hanya sepuluh orang adalah

orang lama sedang tiga orang lainnya adalah tiga orang

perempuan”.

“Tiga orang perempuan ? macam apakah mereka itu ?”.

” Usia dari bocah bocah perempuan itu tidak terlalu besar,

paras mukanya cantik jelita dan ilmu silatnya sangat lihay

sekali, sudah banyak anak murid perkumpulanku yang mati

binasa ditangan mereka, kamipun tidak tahu ketiga orang

bocah perempuan itu berasal dari mana !”.

Liem Kian Hoo termenung beberabpa saat lamanyad,

menurut dugaaan hatinya ketigba hatinya ketiga orang gadis

itu kemungkinan besar adalah Sani serta Lie Hong Hwie, lalu

siapakah gadis ketiga?.

Terdengar TongThjan Gwat berkata kembali.

“Kemarin aku mendapat kabar lagi dan tahu kalau mereka

hendak berkumpul ditempat ini, maka aku serta muridku Chi

Siang lantas datang kemari untuk cari kabar, hasilnya

penjagaan mereka ketat sekali, walaupun sudah putar akal

gagal juga bagi kami untuk menyusup masuk.

Setengah harian lamanya kami berdiam dise kitar sini,

akhirnya sembilan orang diantara mereka membubarkan diri

dan tersisa Heng Thian Siang Li suami istri menunggu disini,

lewat beberapa saat kemudian seorang gadis yang menyaru

diri jadi priapun tiba disana, mereka bertiga lantas berlalu, Loo

lap buru buru menguntit mereka dari belakang, akhirnya aku

lihat mereka masuk kedalam sebuah bangunan besar,

sedangkan Chi Siang yang tetap berdiam disini entah

bagaimana kemudian bi sa berjumpa dengan kalian bertiga ! “.

“Pangcu, tolong tanya bangunan itu terletak dimana ?”

buru-buru Kian Hoo bertanya.

“Tidak jauh letaknya dari sini, penjagaan di tempat itu

sangat ketat sekali, aku rasa disitulah tiga belas sahabat

beristirahat”.

” Pangcu, tahukah kau bahwa disamping Kauw Heng Hu

simonyet tua itupun membawa dua orang gadis, apakah

mereka juga ada disitu ?”.

“Tentang soal ini loohu kurang jelas, jejak Tiga BeIas

Sahabat sangat rahasia sekali, sekalipun loohu telah kerahkan

segenap tenaga anak buahku pun berita yang kuketahui cuma

begini sedikit, sedangkan mengenai bangunan besar itupun

belum lama berselang baru berhasil loohu temukan !”.

” Eeei pengemis tua, apa rencanamu selanjutnya ?” sela

Liuw Boe Hwie.

“Aaaaai, aku sendiripun tidak tahu, diantara tiga belas

orang itu rata-rata merupakan jago-jago ampuh, sekalipun

aku berhasil mengetahui rencana busuk mereka, satu-satunya

jalan yang bisa aku lakukan adalah kabarkan berita ini kepada

partai besar agar mereka bisa sama-sama bertindak.”.

“Kalau bertindak demikian maka usaha kita akan terlambat

menanti kekuatan mereka sudah terbentuk, sekalipun seluruh

jago dikolong langit bersatu padupun belum tentu bisa hadapi

mereka dengan gampang, kalau mbau gempur merekda

seharusmya kiata lakukan sekabrang juga.”

“sekarang bukan Loohu melenyapkan semangat juang diri

kita, sekalipun kita beberapa orang bersatu padupun percuma

saja, mungkin kita malah akan menghantar kematian dengan

percuma”.

“Kalau tidak masuk gua macan, mana bisa mendapatkan

anak harimau ?…”.

” Aaaai Sauw-hiap gagah perkasa dan berhati jantan, tidak

malu jadi murid si RasuI seruling, hanya emosimu terlalu

berkobar.”

Liuw Boe Hwie tersenyum. “Eeeei pemgemis tua, muridku

ini cuma mewariskan gelar si Rasul Serulingku belaka, sedang

mengenai ilmu silatnya ia jauh lebih ampuh dari pada

kepandaianku sekalipun murid dogol yang baru kuterima

inipun jauh lebih ampuh berkali lipat daripada diriku sendiri,

kalau tidak percuma boleh kau tanyakan kepada muridmu !”.

Dengan wajah kikuk Chi Sian tunduk kepala dan

membungkam.

Sedangkan Tong Thian Gwat dengan wajah tercengang

lantas berseru.

“Liuw Loo-jie, puluhan tahun tidak berjumpa, sebenarnya

kau sudah main setan apa saja ?”.

“Dewasa ini tiada waktu untuk menerangkan persoalan ini

kepadamu, kalau memang kau tahu markas besar dari Tiga

Belas sahabat maka urusan tak boleh terlambat lagi, kami siap

meluruk dan menghancurkan mereka, mau ikut atau tidak

terserah pendapatmu sendiri.”

Tong Thian Gwat tertegun beberapa saat lamanya,

kemudian ia baru berkata:

“Liuw Loo-jie, manusia macam kaupun telah tampil

kedepan untuk menghadapi persoalan ini, aku sipengemis tua

sebagai seorang pangcu mana boleh mengkeret macam kuku

kura-kura, mau terjun keair, terjun keapi, aku sipengemis tua

akan ikuti kemauan kalian.”.

” Haaaaa… haaaa… haaaa… bagus, bagus sekali perkataan

macam inilah baru mirip ucapan seorang pengemis tua seperti

kau, ayoh berangkat !”

“Suhu, lebih baik kau berpikir tiga kali sebelum bertindak !”

sela Chi Siang ragu-ragu.

“Kentut !” maki pengemis tua ini dengan mata melotot.

“Coba lihat bagaimana gagahnya anak murid orang lain,

kau benar benar memalukan diriku, kalau kau berani bicara

lagi aku sipengemis tua segera usir kau dari perguruan !”.

Chi siang jadi ketakutan, ia lantas bungkam dalam seribu

bahasa.

Sementara itu srambil menggetartkan tongkat bamqbu

ditangannya,r Tong Thian Gwan berkata.

“Ayoh jalan ! ayoh jalan ! ini hari sekalipun nyawa aku

sipengemis tua harus lenyap ditangan orangpun harus

kuterjang daerah terlarang dari Tiga Belas Sahabat, sekalipun

mati aku mati dengan bangga !”

Liuw Boe Hwie melirik sekejap kearah Liem Kian Hoo lalu

ikut dibelakang pengemis itu dan berlalu, sedangkan Soen

Tong dengan riang gembira berseru:

“Saudara cilik, apakah kita mau pergi berkelahi ? sampai

waktunya kau jangan halangi diriku loo, aku hendak bergebrak

sampai puas dan sampai lelah !”.

“A-Tong, nanti kalau benar-benar sampai berkelahi aku

tidak akan menghalangi kemauanmu tapi kaupun harus

berhati, orang orang itu bukan manusia sembarangan, jangan

sampai kena dipukul orang sebelum kau sempat menghajar

orang lain !”.

” Haaaa… haaaaa… haaaa… aku tidak takut, ayah telah

mewariskan ilmu tahan pukulan kepadaku, sekalipun sekalipun

dijotos tidak akan mengapa, tapi kalau kubalas dengan

jotosan ku, akan kusuruh mereka rasakan bogem mentah

yang luar biasa !”.

Tong Thian Gwat serta Chi Siang saling bertukar

pandangan, mereka tidak tahu manusia aneh macam apakah

kedua orang murid dari Liuw Boe ini.

Dengan gerakan tubuh beberapa orang itu dalam sekejap

mata mereka sudah tiba ditempat tujuan.

Tempat itu merupakan sebuah bangunan yang sangat

besar dengan tembok pekarangan yang tinggi, didepan pintu

berdiri sepasang singa batu yang amat besar, sepasang pintu

yang besar dan berwarna merah tertutup rapat.

Sambil menuding pintu besar itu ujar Tong Thian Gwat:

“Ditempat inilah, kita hendak terjang masuk secara terang

terangan atau diam diam ?”

Liem Kian Hoo tersenyum.

“Kita datang dengan membawa maksud cari keonaran,

tentu saja jauh lebih baik menerjang secara terang terangan,

A-Tong, coba kau hancurkan dahulu singa-singa batu itu !”.

Dengan gembira Soen Tong terima perintang ia maju

kedepan dengan langkah lebar, sepasang lengannya

dipentangkan memeluk singa batu itu keras-keras lalu

digoyangkan beberapa kali, setelah itu mendadak ia angkat

singa batu tadi kete-ngah udara dan dilemparkan ke atas

singa batu ke dua.

Tubuh singa batu itu ada beberapa tombak dengan berat

ribuan kati, seluruh tubuh terbuat dari batu hijau yang keras,

namun berada ditangan Soen Tong, arca seberat ribuan kati

itu enteng bagaikan barang mainan belaka.

“Bluuuummm!” diiringi bentokan dahsyat, percikan bunga

api muncrat keempat penjuru sepasang singa batu yang amat

besar itu kontan hancur berkeping-keping.

Tong Thian Gwat adalah seorang jago tua dengan tenaga

Iweekang yang amat sempurna, namun setelah menyaksikan

kejadian ini hatinya bergidik juga.

“Saudara cilik, apa yang harus aku lakukan kemudian ?”

teriak Soen Tong kegirangan.

“Tunggu sebentar, kita lihat dulu bagaimana reaksi dari

dalam ruangan tersebut.”.

Dengan tingkah laku bodoh Soen Tong ber henti dan awasi

pintu tajam tajam, namun aneh sekali walaupun diluar gedung

terjadi peristiwa yang menggemparkan, dari balik gedung

suasana tetap sunyi senyap tak kelihatan sesosok bayangan

manusiapun seolah olah gedung tersebut adalah sebuah

gedung kosong.

“Eeeei pengemis tua mungkin matamu sudah lamur.” ujar

Liuw Boe Hwie sambil tertawa dan melirik sekejap kearah

pengemis tua itu.

“Jangan jangan kau sudah bawa kami kedepan sebuah

bangunan kosong !”.

Merah jengah selembar wajah Tong Thian-Gwat, buru-buru

katanya:

“Liuw Loo-jie kalau tidak ingat bahwasanya kau adalah

sahabat karibku, cukup mendengar beberapa patah katamu ini

aku si pengemis tua akan ajak kau untuk berduel sejak umur

dua puluh tiga tahun terjun kedalam dunia kangouw aku

sipengemis tua percaya belum pernah salah lihat”.

Melihat gurunya disindir, Chi Siang pun lantas berkata

“Biarlah kujebolkan pintu gedung ini, kemudian kita periksa

apakah didalam bangunan ini benar orang atau tidak.”

Seraya berkata ia maju kedepan kemudian pasang kudakuda

dan melemparkan sebuah pukulan dahsyat keatas pintu

tersebut.

“Braaaaak!” pintu tersebut bukan saja tidak jebol bahkan

gemilang sedikitpun tidak, bahkan dari dalam bangunan

suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Merah padam selembar wajah Chi Siang saking malunya,

Kian Hoo takut Tong Thian Gwat guru dan murid mendapat

malu, buru buru ia-maju kedepan sambil berkata:

“Harap Chi suka mundur selangkah, terhadap benda mati

macam begini buat apa harus a-du otot ? biarlah siauw-te

gunakan sedikit akal untuk mendobraknya !”.

Sembari berkata sepasang telapaknya lantas ditempelkan

diatas pintu kemudian dengan cepat badannya meloncat

mundur kebelakang. pintu yang tebal dan berat itu bergoyang

keras di ikuti ambruk kedalam diiringi suara yang amat keras.

Air muka Tong Thian Gwat kontan berubah hebat, kepada

Liuw Boe Hwie ia menghela napas sambil berkata :

“Liuw Loo jie, aku benar benar takluk kepadamu, dengan

tenaga lweekang yang dimiliki muridmu, aku pengemis tua

mengakui bahwa aku masih terpaut jauh sekali.”

Liuw Boe Hwie tersenyum.

“Eeeeei pengemis tua, aku nasehati dirimu lebih baik

jangan banyak berpikir yang bukan-bukan.” katanya.

“Bukankah aku pernah berkata kepadamu, muridku ini jauh

lihay dari pada mu, muridku ini jauh lebih lihay daripada diriku

sendiri, sejak kini aku lihat dunia kangouw lebih baik

diserahkan buat kaum muda saja !”.

Tong Thian Gwat menghela napas dan membungkam.

Sementara itu Soen Tong yang punya sepasang ma ta

tajam, tiba-tiba menemukan sesosok bayangan manusia

berkelebat lewat didalam gedung, buru-buru serunya:

“Coba lihat, si mayat hidup…”

Sembari berseru ia terjang masuk kedalam gedung.

Liem Kian Hoo pun dapat melihat bayangan punggung

orang itu, ia kenal orang tersebut bukan lain adalah si dukun

tua dari suku Leher Panjang yang pernah ditemuinya, atau

kata lain antek dari Kauw Heng Hu, hatinya tergolak, ia sadar

Kauw Heng Hu pasti berdiam disini.

Namun ia merasa takut Soen Tong yang menemui bahaya

seorang diri mendapatkan kerugian besar, buru-buru

cegahnya:

” A-tong ! tunggu sebentar…”

Belum habis ia berteriak, tubuh Soen Tong yang gede

bagaikan kerbau sudah dilempar orang dari dalam pintu . . .

Plaaak ! pantatnya mencium tanah keras keras hingga

menimbulkan suara nyaring.

Untung ia punya kulit badan yang atos dan kuat, lagi pula

dilindungi oleh Sin-kang daya pental yang maha sakti,

sekalipun terbanting keras di atas tanah namun sama sekali

tidak terluka.

Dengan cepat perempuan goblok itu meloncat bangun dari

atas tanah, sepasang matanya melotot bulat-bulat.

Dalam pada itu gelak tertawa nyaring berkumandang keluar

dari balik pintu disusul teguran seseorang dengan suara

lantang:

“Kawanan tikus darimana berani bikin onar ditempat ini !”.

Bersamaan dengan teguran tadi dari balik pintu muncul

enam orang laki perempuan bercampur baur.

Usia keenam orang itu rata-rata sudah mencapai setengah

baya, kecuali Heng-Thian-Siang-Li sepasang Kekasih

Pendendam Takdir, boleh dikata tak seorangpun yang dikenal

oleh Kian Hoo, hal ini membuat ia tertegun sebab orang yang

ingin dicari seperti Kauw Heng Hu, Sani, Lie Hong Hwio

sekalian tak ditemuinya.

“Tiang-Ching-Siancu” Mong-Yong Wan tertawa dingin tiada

hentinya setelah berada diluar pintu.

“Aku kira siapa yang sudah datang, kiranya sikeparat cilik

yang nyaris lolos dari wilayah Biauw.” jengeknya sinis,

“Bangsat cilik, kau harus berhati-hati, ini hari tak ada Toan

Kiem Hoa yang bakal membantu dirimu lagi !”.

Liem Kian Hoo sama sekali tidak menggubris atas ejekan

Mong-Yong Wan itu, sinar mata nya dialihkan kearah empat

orang lainnya yang tak dikenal dan mengawasi tajam-tajam.

Orang-orang itu bisa menimbulkan diri bersamaan dengan

Heng-Thin-Siang-Li, lagipula sikapnya angkuh dan perkasa,

kemungkinan besar ke-empat orang ini bukan lain adalah

empat diantara Tiga Belas Sahabat yang tersohor tempo dulu.

Ayahnya Liem Koei Lin, bukan lain adalah jago berkerudung

maha sakti yang berhasil membubarkan persekutuan Tiga

Belas sahabat tempo dulu, ketika orang tua itu membongkar

rahasianya serta menyerahkan tanggung jawab masalah itu

kepadanya, ia pernah menyerahkan sebuah daftar nama

beserta ciri-ciri khas dari masing-masing orang seperti Heng-

Thian-Siangli yang punya ciri-ciri aneh tentu saja gampang

dikenali, tetapi lain hal nya dengan keempat orang itu. Maka

terpaksa ia harus menduga duga menurut analisa sendiri.

Orang pertama yang sangat menusuk penglihatannya

adalah dua orang lelaki setengah baya yang memiliki raut

muka macam tomat kecuali perawakan badan yang berbeda,

mereka mempunyai paras muka yang mirip satu sama lainnya.

Ia merasa yakin bahwa mereka berdua pastilah sepasang

saudara diantara Tiga Belas Sahabat yang disebut ” Jt-Tin-

Ching-Hong” Atau segulung angin sejuk Kong Toa Hauw serta

” Pan-Loe-Wi In ” Atau segumpal awan hitam Kong Toa Kiat,

Angin dan awan merupakan benda yang paling sulit

ditangkap, mereka pakai gelar gelar macam itu dus berarti

menunjukkan pula bahwa ilmu meringankan tubuh yang

dimiliki dua bersaudara ini amat sakti dan luar biasa sekali.

Sedangkan dua orang sisanya ia tidak kenal meski sudah

putar otak beberapa saat lamanya. Si pengemis Sakti Tong

Gwat lantas berjalan menghampiri sisi tubuhnya, kemudian

dengan suara lirih ia bertanya:

“Sauw-hiap, apakah kau kenal dengan beberapa orang itu”,

“Tentang Heng-Thian- Siang-Li serta dua bersaudara she-

Kong rasanya dugaan siauw-tit tak bakal salah lagi, namun

terhadap dua orang kakek tua lainnya siauw-tit jadi bingung,

siapakah sebenarnya mereka berdua ?”

“Sikakek yang memakai baju abu abu adalah “Thiat-Hok-

Sian” Si Dewa Bangau Baja Cia Tiong Beng, sedang kakek

berjubah kuning adalah Koei-Lim-Ciauw-Cu ” atau Penebang

Kayu dari Kota Koei-Lim Yu Yat adanya, menurut apa yang

lohu ketahui, diantara Tiga Belas Sahabat orang inilah paling

sulit dihadapi…”.

“Siauw-tit mengerti, tempo dulu memang mereka berdua

paling kosen diantara tiga belas rekan lainnya.” kata Kian Hoo

seraya mengangguk.

“Tapi dewasa ini boleh dikata kepandaian ” Tok-Chiu-

Suseng ” si Mahasiswa bertangan keji Kauw Heng Hu lah yang

paling lihay, asal Kauw Heng Hu tak ada disini, tidak terlalu

sulit bagi kita untuk menghadapi kecnam orang ini !”.

Mendengar ucapan tersebut diutarakan dengan penuh

keyakinan, mau tak mau TongThian Gwat dibikin setengah

percaya setengah tidak, dalam pada itu Liem Kian Hoo telah

tampil kedepan, sambil mengawasi keenam orang itu satu

persatu ujarnya lambat-lambat:

“Kauw Heng Hu ada dimana ? suruh dia keluar untuk

menjumpai diriku !”.

“Keparat busuk, apa maksudmu mencari Kauw toaku ?”

jerit Mong-Yong Wan sambil tertawa tergeIak.

“Aku dengar kalian Tiga Belas Sahabat kem bali berkumpul

disini dan angkat monyet she-Kauw itu sebagai pemimpin

dengan maksud membangun kembali peesekutuan Tiga Belas

sahabat yang telah bubar, maka sengaja aku datang kemari

untuk kasi peringatan kepada kalian, disamping itu akupun

hampir suruh Kauw Heng Hu lepaskan kembali dua orang

gadis yang ditangkapnya sewaktu ada diwilayah Biauw.”

“Keparat cilik, pandai benar kau bermimpi disiang hari

bolong, kau anggap Tiga Belas Sahabat lemah dan gampang

dianiaya macam tempo dulu ? kali ini kita tiga belas sahabat

telah bersatu padu kembali, tujuan kami bukan lain ingin cari

orang berkerudung itu untuk bikin perhitungan, sayang terlalu

cepat ia bersembunyi maka kami ingin menggunakan dirimu

untuk paksa dia munculkan diri.”.

” Kalian takb usah buang tendaga dengan percauma.”

tukas Kiabn Hoo dengan cepat.

“Orang itu sudah tahu jejak kalian, mungkin ia sudah

pernah datang kemari untuk mencari kalian semua !”

Air muka keenam orang itu berubah hebat, mereka saling

bertukar pandangan sekejap.

Kong Toa Kiat tampil kedepan, ujarnya:

“Cuwi sekalian ! coba lihat bukankah ucapan siauw-te tepat

sekali ? kecuali orang itu, siapakah yang memiliki kesaktian

begitu hebat sehingga dapat selamatkan Toan Kiem Hoa tanpa

menimbulkan suara maupun tanda-tanda apapun.”

Ucapan ini membuat jantung Kian Hoo berdebar keras,

buru-buru tanyanya:

“Orang itu sudah datang kemari ? “.

“Tidak salah ! ” jawab Mong-Yong Wan sambil tertawa

dingin.

“Seandainya apa yang kau katakan tidak bohong, maka

orang itu memang sudah pernah datang kemari, tetapi kecuali

ia selamatkan Toan Kiem Hoa tanpa menimbulkan kegaduhan,

ia tidak menunjukkan gerak gerik apapun, ditinjau dari hal ini

bisa ditarik kesimpulan bahwa kekuatannya cuma begitu

begitu saja, agaknya persiapan kami yang terlalu serius

kepadanya hanya merupakan suatu perbuatan yang rada

berlebihan belaka ! “

“Omong kosong!” Bentak sianak muda itu amat gusar.

“Orang itu bisa menolong orang tanpa menimbuIkan sedikit

suarapun, hal ini sudah cukup menunjukkan kalau

kepandaiannya jauh lebih lihay dari kalian semua, seandainya

ia ingin memenggal batok kepala kalian semua, pekerjaan ini

akan di lakukan dengan gampang sekali.”

“Kalau ia betul betul hebat, kenapa tidak berbuat demikian

?”

Kian Hoo terbungkam oleh pertanyaan tadi ia jadi kelabaan

dan tak tahu apa yang harus diutarakan.

Mong- Yong Wan terbahak-babak, ujarnya kembali.

“Toan Kiem Hoa dikurung dalam sekamar dengan gadis

suku Biauw itu, kemampuannya untuk menolong seorang lebih

banyakpun tidak mampu, apalagi ingin berhadapan muka

dengan kami ?”

“Mungkin dia hendak menjajal kbemampuan ku, madka

tugas ini iaa serahkan kepadbaku untuk menyelesaikannya !”

Mong-Yong-Wan tertawa dingin tiada hentinya.

Kong Toa Hauw yang ada di sisi perempuan itu tak dapat

menahan sabar lagi, ia loncat kedepan dan berseru:

“Tiang-Ching-Siancu, buat apa banyak bicara yang tak

berguna dengan dirinya, kalau memang keparat cilik ini adalah

ahli warisnya, mari sekali gablok kita bunuh dirinya, kemudian

coba kita lihat apakah bangsat itu masih bisa bersembunyi lagi

atau tidak !”.

Mong-Yong-Wan tersenyum dan mengundurkan diri .

“Tenaga sin-kang Kong-heng amat dahsyat baiklah, keparat

cilik ini akan kuserahkan kepada mu untuk dijajal !” katanya.

Sepasang bau Kong Toa Hauw sedikit ber-goyang, laksana

kilat ia sudah terjang kedepan, pergelangannya langsung

membabat bahu kanan sianak muda itu dengan gerakan yang

aneh tapi ampuh, tidak malu ia bergelar segulung angin sejuk.

Liem Kian Hoo pusatkan tenaga membalik pergelangan

kemudian melancarkan pula sebuah serangan menyambut

datangnya ancaman itu.

“Plaaaaak!” diiringi bentrokan nyaring tubuh Kong Toa

Hauw terdesak mundur dua langkah kebelakang, ia berdiri

tertegun dan hampir-hampir saja tidak percaya dengan

penglihatan sendiri.

“Tiang-Ching-siancu ! ” serunya. “Agaknya keparat cilik ini

tidak bodoh dan macam gentong nasi seperti apa yang kau

katakan !”.

“Mungkin dalam beberapa waktu berselang ia mendapat

kemajuan pesat lagi dalam ilmu silatnya !” jawab Mong-Yong-

Wan sambil tertawa kikuk.

Walaupun Liem Kian Hoo sendiri berhasil duduk di atas

angin, tak urung iapun terperanjat, sebab sejak ia mendapat

ilmu sakti dari hioloo Ci Liong-Teng kemudian mendapat pula

pelajaran sakti dari Soen Tong Hay, ilmu silatnya boleh dikata

peroleh kemajuan amat pesat, dalam serangan tadipun ia

sudah memakai tenaga sebesar sembilan bagian, siapa sangka

hasilnya cuma berhasil memaksa Kong Toa Hauw mundur dua

langkah ke belakang belaka, ditinjau dari hal ini bisa ditarik

kesimpurlan bahwa selamta sepuluh tahunq kepandaian silrat

yang dimiliki gembong iblis ini telah peroleh kemajuan pesat.

Seorang saja sudah begini lihay. apalagi enam orang turun

tangan berbareng, kelihaiannya tentu luar biasa sekali.

Sementara ia masih mengeluh didalam hati, memdadak

dilihatnya air muka Kong Toa Hauw menunjukkan suatu

perubahan, sebagai seorang yang cerdik dengan cepat ia

dapat memahami sebab-sebab sebenarnya bahkan

mendapatkan pula suatu cara untuk mengatasi kesulitan itu.

Ditinjau dari potongan wajah beberapa orang itu, Kong Toa

Hauw berdua termasuk rada jujur dan polos, sedang Heng-

Thian-Siang-Li licik dan keji, Cia Tiong Beng latah dan Yu Yat

angkuh, dengan watak watak yang berbeda, gampang sekali

baginya untuk menggunakan mereka.

Dalam pada itu Kong Toa Hauw telah siap-siap

melancarkan serangannya kembali, wajahnya amat keren dan

serius.

Liem Kian Hoo pun tidak banyak bicara, tenaga

lweekangnya disalurkan hingga mencapai sepuluh bagian, ia

siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang bakal

terjadi.

Tiba-tiba terdengar Kong Toa Hauw membentak keras,

telapaknya sekali lagi dilancarkan menghantam dada Iawan.

Sejak tadi sianak muda itu sudah bikin persiapan,

tangannya segera menempel diatas telapak lawan, pinjam

tenaga pukulan itu tubuhnya mencelat ke-depan dan

melayang kearah Kong Toa Kiat, bentaknya:

“Eeeei… sahabat, jangan menganggur!”. sembari berseru

iapun mengirim sebuah pukulan kedepan.

Dalam keadaan tidak siap menghadapi serangan musuh,

tentu saja kekuatan Kong Toa Kiat mengalami kerugian besar,

terkena hantaman ini tubuhnya terdesak mundur sampai

puluhan langkah jauhnya baru bisa berdiri tegak.

Setelah berhasil dalam serangannya, Kian Hoo lantas

berpaling dan serunya kepada Soen Tong: “A-tong, kedua

orang kakek tua inipun bukan orang baik, bukankah kau

kepingin berkelahi ? kenapa masih berpeluk tangan belaka ?”.

Sejak badannya terlempar keluar dari pintu tanpa

mengetahui siapa yang melakukan perbuatan itu, hati Soen

Tong sudah panas sekali, namun ia tak berani turun tangan

secara gegabah sebelum ada petunjuk dari sianak muda itu.

Kini mendapat tawaran dari Kian Hoo, tanpa banyak

cincong lagi kepalannya langsung disodok kearah perut sidewa

Bangau Baja Cia Tiong Beng. Angin pukulan berdesir tajam,

jurus serangan ini dilancarkan dengan kecepatan sukar

dilukiskan dengan kata-kata, melihat datangnya ancaman Cia

Tiong Beng segera lintangkan tangannya menangkis.

“Plaaak….!” dalam bentrokan ini tulang pergelangannya

terasa amat sakit, bahkan totokan balasan yang dilancarkan

pun mengenai sasaran kosong, dalam bentrokan kali ini

memiliki sinkang tenaga pental yang maha sakti, seandainya

ia tidak cepat-cepat tarik tangannya hampir-hampir saja

tulang jari sendiri tergetar patah oleh tenaga balikan tersebut.

” A-Tong, masih ada seorang kakek tua lagi jangan

lepaskan dia pergi !” kembali si anak muda itu berteriak.

Makin bertarung Soen Tong semakin kegirangan, ia putar

badan kirim pula sebuah jotosan kearah Yu Yat.

Dari pengalaman Cia Tiang Beng barusan, “Yu Yat” tidak

berani menerima datangnya serangan dengan keras, bahunya

buru-buru di rendahkan dan menghindar kesamping.

Menyasikan kejadian itu, sengaja Liem Kian Hoo tertawa

terbahak-bahak dan menjengek:

“Kalian tua-tua bangka sudah bersembunyi selama sepuluh

tahun dari keramaian Bu-Iim, kenapa masih begitu tidak becus

? agaknya diantara Tiga Belas sahabat kecuali beberapa orang

yang terbatas kemajuannya, lainnya cuma manusia manusia

bernama kosong belaka !”.

Mendengar ejekan itu air muka keempat orang itu berubah

hebat, terutama sekali Kong Toa Hauw, wajahnya berubah

jadi hijau membesi, teriaknya keras-keras:

“Bocah keparat, diantara Tiga belas sahabat sudah berapa

banyak yang kau temui ?”

“Kecuali kalian berenam aku teblah berjumpa dedngan

“Tok-Chiu-aSuseng ” Kauw Hbeng Hu, ilmu silatnya tak usah

dibicarakan lagi, disamping itu masih ada ” Sian-Kian Tan-San

” Atau si Sepasang bahu menyungging bukit Lie Put Peng

serta “Soat-Su” atau si kakek salju Kok Han, kedua orang ini

sudah cuci tangan dari persoalan Bu-lim dan mengundurkan

diri dari pelbagai masalah dunia persilatan, tak usah berbicara

tentang tiga orang itu, cukup membicarakan dari situasi

dewasa ini, aku rasa kecuali Heng-Thian-Siang-Li yang cukup

berhak untuk disebut jago kelas wahid, lainnya sama sekali

tidak becus. Ooh yaa, setelah kalian berkumpul kembali,

apakah kamu semua pernah saling jajal kepandaian ?”.

Melihat semua orang membungkam, Kian Hoo tersenyum dan

berkata kembali:

“Sewaktu pertama kali aku berjumpa dengan Heng-Thian-

Siang-Li diwilayah Biauw tempo dulu, tidak sampai sepuluh

gebrakan aku telah dipaksa sampai kalang kabut tidak karuan,

seandainya Toan Kiem Hoa cianpwee tidak menolong tepat

pada waktunya, hampir hampir saja selembar jiwaku

melayang.

ini hari setelah berjumpa dengan kalian, aku rasa

kehebatan mereka kalian berempat masih belum sepadan

dengan kehebatan mereka suami istri berdua!…”.

Perkataan ini bukan saja diluar dugaan Heng Thian-Siang-Li

bahkan Liuw Boe Hwie pun dibikin tertegun sebab menurut

cerita sianak muda itu tempo dulu, keadaan yang sebenarnya

bukan demikian, tetapi sebagai seorang kangouw kawakan

hanya dipikir sebentar saja, ia lantas paham dengan maksud

hati sianak muda itu.

Air muka si Dewa awet muda Tonghong It Lip serta

Tiang~Ching-siancu ” Mong-Yong Wan berubah sangat hebat.

Kiranya ketika Tiga Belas sahabat telah berkumpul kembali,

demi gengsi dan nama baik sengaja mereka sembunyikan

keadaan sebenarnya dari hasil pertarungan tempo dulu dan

mengibul yang bukan-bukan, Kian Hoo sebagai seorang

pemuda cerdik segera menangkap akan hal itu dari ucapan

Kong Toa Hauw tadi, namun bukan saja rahasia itu tidak

dibongkar, malahan ia mengaku terus terang, kejadian ini

betul betul ada diluar dugaan sepasang suami istri itu.

Dengan cepat Tonghong It Lip putar otak, sebentar saja ia

dapat memahami maksud sianak muda itu, namun ia tak

dapat berbuat sesuatu apapun, keadaannya bagaikan si bisu

menelan empedu, walaupun pahit namun tbak dapat

mengutdarakan kepahitaan tersebut.

Disbamping itu Liem Kian Hoo pun tahu, bahwa orang yang

melemparkan tubuh Soen Tong keluar dari pintu tadi bukan

lain adalah Tonghong It Lip, kembali sambil tertawa ujarnya.

“Yang lain tak usah dikatakan cukup ditinjau

kemampuannya untuk melemparkan tubuh rekanku dari pintu,

aku rasa kalian berempat belum tentu bisa berbuat yang sama

seperti dia.”

Haruslah diketahui, meskipun tiga belas sahabat telah

berkumpul jadi satu, namun sebagai orang yang berwatak

tinggi hati, diluar mereka rukun padahal dalam hati siapapun

tak mau tunduk kepada siapa.

Karena hal inilah sewaktu Kauw Heng Hu mengumpulkan

mereka kembali sengaja ia tunjukkan beberapa macam

kepandaian sakti yang memaksa semua orang tak bisa bicara,

diluar mereka tunduk belum tentu dalam hati merasa puas.

Dan kini Liem Kian Hoo menyanjung-nyanjung Heng-Thian-

Siang Li, kebetulan sekali perbuatannya ini justru mengena

pada titik kelemahan mereka.

Kong Toa Hauw langsung tertawa dingin, sambil melirik

sekejap kearah Mong Yong Wan jengeknya:

“Kiong-hie, kiong-hie… setelah sepuluh tahun bersembunyi

diwilayah Biauw, kiranya kalian berdua telah berhasil melatih

diri hingga begitu lihay, agaknya kami masih bukan tandingan

kalian !”.

“Kong toa-heng, harap jangan salah paham.” buru-buru

Mong-yang Wan menyela. “Keparat cilik ini sengaja hendak

mengadu domba kita, agar kita tidak bisa akur dan bekerja

sama !”.

“Hmmm ! kenapa ucapannya justru tiada berbeda banyak

dengan apa yang pernah kalian berdua ucapkan ?”.

“Kong Toa-heng !” Tonghong It Lip segera angkat bicara

pula, “persoalan yang tak usah kita bicarakan pada saat ini,

sekarang lebih baik kita bereskan keparat cilik ini lebih dahulu

!”.

Kong Toa Hauw semakin naik pitam, teriaknya: “Dengan

kemampuan kalian berdua rasanya tidak terlalu sulit untuk

merobohkan keparat cilik ini, mengapa kalian ingin kami

tunjuk kejelekan didepan orang ? apakah kalian berdua baru

merasa puas apabila kami benar benar mendapat malu besar

?”.

Selesai berkatar ia peluk tangatn dan mengundurqkan diri

kalangran, sedangankan Kong Toa Kiat, Cia Tiong Beng serta

Yu Yat pun menunjukkan sikap kurang puas, pertarungan tak

mungkin bisa dilangsungkan lagi.

Keadaan memaksa Tonghong It Lip tak bisa berbuat lain,

terpaksa sambil keraskan kepala ujarnya kepada Mong-Yong

Wan:

“Nio-cu ! mari kita bekerja sama untuk meringkus si budak

jelek itu lebih dahulu !”

Mereka tahu sampai dimanakah keampuhan Liem Kian Hoo,

lagipula mereka sudah terlanjur mengibul, maka terpaksa

mereka cari lawan yang agak lunak lebih dahulu, menurut

perhitungan mereka, Soen Tong dapat dibanting keluar

dengan gampang rasanya perempuan ini paling enteng untuk

dihadapi…

Mong-Yong Wan pun tak dapat turun dari keadaan,

terpaksa ia manggut-2.

“Baiklah, aku dengar dari Kauw toako yang mengatakan

budak jelek ini adalah putri dari Soen Tong Hay, tak nyana ia

berani cari gara-gara dengan kita orang, sebagai angkatan

yang lebih tua sudah sepantasnya kalau kita kasi sedikit

pelajaran kepadanya !”.

Dalam pada itu Soen Tong pun sudah tahu kalau tadi ia

dibanting oleh Tonghong It Lip, dengan mata melotot bulatbulat

makinya penuh kegusaran: “Bagus, bagus sekali, kiranya

kau sinenek tua yang gendut dan katelah yang banting aku,

kalau aku tidak balas membanting dirimu, aku bukan manusia

!”.

Ia tidak tahu kalau Heng-Thian-Siang-Li adalah pria

menyaru wanita dan perempuan menyaru pria, ia mengira

Tonghong lt Lip pun seorang perempuan maka ia maki dirinya

sebagai sinenek tua yang gendut lagi kate.

Walaupun Tonghong It Lip merasa benci sebab tidak

dilahirkan sebagai perempuan sehingga akhirnya ia berdandan

sebagai seorang wanita, namun kena dimaki Soan Tong

dengan ejekan tersebut iapun dibikin naik pitam.

“Budak jelek, kau cari mati.” bentaknya dengan air muka

berubah sangat hebat.

Ditengah bentakan nyaring, tubuhnya meluruk kedepan,

telapak disilang sejajar dada dan disodok kemuka.

Berhubung tubuhnya sangat pendek, maka serangannya

tersebut hanya mencapai pinggang Soen Tong, jarinya laksana

kaitan mencukil seasang biji matanya.

Tempat paling lemah yang tak tercapai oleh tenaga daya

pental gadis itu hanya sepasang matanya belaka, buru-buru ia

putar tangan mencengkeram urat nadi musuh.

Soen Tong meskipun kasar dan badan, namun dalam

pertarungan gerak-geriknya lincah dan gesit, serangan Mong

Yong Wan amat cepat namun cengkeramannya jauh lebih

cepat, sekali sambar urat nadi Mong Yong Wan sudah kena

dicengkeram.

Namun pada saat itulah jotosan Tonghong It Lip telah tiba,

tidak ampun lagi serangan tersebut bersarang telak diatas

lambungnya.

Suami istri pembenci Takdir dapat mencantumkan diri

sebagai salah satu diantara Tiga Belas Sahabat, tentu saja

tenaga lweekangnya luar biasa sekali, Soen Tong segera

merasakan perutnya amat sakit hingga merasuk ketulang

sumsum, lengannya tak sanggup diangkat kembali,

persendiannya telah lepas dan patah.

Yang paling celaka adalah Mong Yong Wan urat nadinya

kena dicengkeram oleh Soen Tong erat-erat, ketika

perempuan tolol itu tergetar mundur kebelakang, iapun ikut

terseret, ketika Soen Tong jatuh terjengkang iapun ikut roboh

sehingga bergumul jadi satu.

Ketika Soen Tong merasa kesakitan tadi, tanpa sadar

cekalannya pada urat nadi lawanpun diperkeras, tidak ampun

lagi tulang pergelangan Mong-yong Wan seketika tergencet

hancur berantakan seandainya ia tidak memiliki tenaga lweekang

yang sempurna, niscaya ia sudah roboh binasa.

Karena kesakitan itulah tubuhnya meronta keras-keras,

ditengah bentakan keras sepasang kakinya melancarkan

tendangan kilat keatas dada Soen Tong membuat perempuan

tolol itu kesakitan dan tanpa sadar lepaskan cekalannya.

Ambil kesempatan itulah Mong Yong Wan loncat bangun

dari atas tanah dan loloskan diri, dengan demikian sepasang

suamib istri inipun tdak dapat bergebarak lebih jauh bsebab

tulang tangan mereka tak berani utarakan rasa sakit itu diatas

wajahnya.

Liem Kian Hoo pun merasa kuatir bagi keselamatan Soen

Tong, meski ia tahu gadis goblok itu dilindungi tenaga sinkang

namun ia tidak lega hati, sambil maju menghampiri

dirinya ia menegur:

“A-Tong, bagaimana keadaanmu ?”.

“Saudara cilik !” sahutnya sambil menekan perutnya.

“Nenek tua itu luar biasa lihaynya, perut ku terasa sakit

sekali.”.

“Bukankah kau terluka ?”.

“Tidak ! aku tidak bakal terluka, ayah pernah berkata

kepadaku, kalau aku terluka maka dari tujuh lubang indranya

bakal mengucur darah segar, dan jiwaku tak bakal ketolongan

lagi, tapi aku tidak sampai begitu, cuma perutku sakit sekali,

Nenek tua itu galak bener, saudara cillk, kau harus balaskan

dendam bagiku !”

Melihat keadaan gadis itu mirip seseorang yang terluka,

Kian Hoo pun berlega hati, ia lantas berpaling kearah Heng-

Thian-Siang-li dan tersenyum ujarnya:

“ilmu silat yang kalian berdua miliki benar-benar lihay

sekali, apakah kalian masih ada kegembiraan untuk kasi

petunjuk satu dua jurus lagi kepadaku ?”.

“Keparat busuk ! ” teriak Mong-Yong-Wan sambil gertak

gigi.

“Kau jangan mengejek terus, suatu hari aku akan suruh

kau merasakan bagaimana kelihayan kami ! badanmu akan

kuhancur lumatkan hingga berkeping keping !”.

“Suatu hari ? kenapa tidak ini hari juga ?” kembali Kian Hoo

mengejek.

“Kalian berdua suka membiarkan aku hidup beberapa hari

lagi, budi kebaikan sebesar ini entah bagaimana caranya harus

kubalas !”.

Mong-Yong Wan menjerit keras, ia muntah darah segar dan

jatuh tidak sadarkan diri saking khekinya.

Tonghong It Lip amat mencintai istrinya, buru-buru ia peluk

tubuh perempuan itu sambil serunya kepada Cia Tiong Beng:

“Cia-heng, hawa darah istrikv telah menyerang kejantung,

tolong kau suka membantu aku lancarkan peredaran darahnya

!b”.

Sementara itdu Cia Tiong Benag pun sudah menbemukan

keadaan yang kurang beres, namun berhubung Mong-Yong-

Wan adalah seorang perempuan ia merasa kurang leluasa

untuk mengurut tubuhnya maka dengan alis berkerut segera

sahutnya:

“Tentang soal ini siauw-te tidak berani melakukannya aku

lihat lebih baik Tonghon-heng lakukan sendiri.”

“Bicara terus terang, persendian lengan sauw te telah copot

dari tempat semula, siauw-te sudah tak dapat salurkan tenaga

lagi!” kata Tonghong lt Lip sambil tertawa getir.

Cia Tiong Beng dapat melihat bahwa orang itu bukan

sedang berbohong, ia lantas terima tubuh Mong-Yong Wan

dan menguruti tubuhnya agar aliran darah dapat berjalan

kembali dengan lancar, sedangkan Yu Yat meloncat

kehadapan Tong hong It Lip, mencekal lengannya dan sekali

sodok ia sambung kembali persendiannya yang copot itu,

katanya:

“Tonghong-heng, mengapa tidak kau katakan sejak tadi ?”.

Saking sakitnya keringat dingin menguncur keluar tiada

hentinya membasahi seluruh tubuh Tonghong It Lip, ia

menghela napas panjang.

“Aaaaai…! keparat cilik itu benar-benar sudah peroleh

seluruh kepandaian silat dari manusia berkerudung itu “

katanya, ” Sewaktu masih berada diwilayah Biauw tempo dulu,

hampir-hampir saja kami dua orang menderita kerugian besar,

semuanya ini tidak lain karena nama, berhubung ingin

menjaga gengsi maka sengaja kami mengibul aaaai ! inilah

yang dikatakan pepatah kuno sebagai : ingin jaga gengsi

harus merasakan siksasaan hidup.”

Pada saat inilah Kong Toa Hauw baru tahu kalau ia sudah

tertipu oleh hasutan Kian Hoo, kontan orang itu naik pitam,

hardiknya:

“Keparat cilik, memandang usiamu masih begitu muda, tak

nyana licikmu luar biasa !”.

“Bukankah mereka bicara tidak jujur lebih dulu ? apa

salahnya kalau aku bantu bohongan mereka agar kedengaran

jauh lebih sempurna ?”.

“Keparat cilik sialan, dengan perbuatanmu yang rendah dan

licik semacam ini, kau tak bisa diampuni lagi !”.

-oo0dw0oo-

Jilid 10

DI TENGAH bentakan keras ia mengirim sebuah babatan

kedepan, kali ini hawa gusarnya telah meluap, meski arngin

pukulan matsih berada seteqngah tombak darri sasaran

namun kehebatannya sudah terasa.

Liem Kian Hoo tak berani bertindak gegabah, iapun kirim

sebuah pukulan dengan tenaga sebesar sepuluh bagian,

dalam suatu bentrokan dahsyat, masing-masing pihak mundur

selangkah kebelakang.

Menyaksikan kejadian itu Kong Toa Kiat ada maksud maju

membantu, namun Kong Toa Hauw.

“Titi, tunggu sebentar, aku ingin tahu sampai dimanakah

kehebatan serta kemampuannya!”.

Kong Toa Kiat mengiakan dan segera berhenti.

Soen Tong yang ada disisinya lantas maju menyongsong

sambil tertawa, ejeknya:

“Eeeeei monyet berwajah merah, kau pengen berkelahi ?

ayoh majulah, akan kulayani kemauanmu ! “.

Kong Toa Kiat sangat gusar, telapaknya di putar langsung

menubruk kedepan, namun kali ini ia sudah punya

pengalaman dan tidak berani bertarung jarak dekat lagi

dengan gadis tolol ini.

Pukulan-pukulan udara kosong segera dilepaskan dari suatu

jarak tertentu namun Soen Tong tidak ambil perduli, dengan

andalkan tenaga sinkang pelindung badannya ia selalu cari

kesempatan untuk mencengkeram bahu atau lengan musuh.

Dalam pada itu Kong Toa Hauw pun sudah bertarung

sengit melawan Liem Kian Hoo, empat orang terbagi jadi dua

kelompok masing-masing melakukan pertarungan yang sengit

sekali.

Sepuluh gebrakan kemudian Liem Kian Hoo berhasil rebut

diatas angin, tenaga dalamnya sebanding dengan tenaga

Iweekang Kong Toa Hauw namun jurus serangannya lebih

sempurna, ia lebih banyak menyerang dari pada bertahan

memaksa Kong Toa Hauw selalu terjerumus dalam keadaan

berbahaya, untung ilmu meringankan tubuhnya amat

sempurna, setiap kali keadaan mencapai kritis ia selalu

berhasil meloloskan diri.

Dipihak lain keadaan Soen Tong jauh lebih rugi, walaupun

pukulan udara kosong dari Kong Toa Kiat tidak berhasil

melukai dirinya namun dapat membendung gerakannya,

setiap kali ia menerjang kedepan selalu terhadang jalan

perginya ditengah jalan.

Agaknya Kong Toa Kiat pun dapat menyadari bahwa

sepasang matanya merupakan titik kelemahan gadis tolol itu,

setiap kali ada kesempatan jari tangannya segera diputar

mencukil sepasang matanya, untung gerak-gerik Soen Tong

gesit sekali, setiap kali iapun dapat meloloskan diri.

Dua tiga puluh gebrakan kembali sudah berlangsung,

situasi dalam pertarunganpun berubah, berhubung usia yang

masih muda dan kesempurnaan tenaga dalam yang kurang

matang, lama kelamaan Liem Kian Hoo mulai terdesak dan

setiap kali Kong Toa Hauw lah yang pegang peranan.

Sebaliknya Soen Tong yang punya tenaga a-iam tidak takut

lelah, sekarang ia malah berhasil menguasahi seluruh

kalangan, hal ini membuat hatinya kegirangan

“Saudara cilik !” teriaknya.

“Bajingan tua ini sudah hampir tidak mam pu lagi,

tunggulah sebentar kugulingkan dahulu si tua bangka ini

kemudian baru membantu diri mu !”.

Liem Kian Hoo tidak menggubris teriakan itu, ia sudah tidak

sabaran lagi, suatu saat ia teledor sehingga kena diserang

oleh Kong Toa Hauw walaupun reaksinya kemudian cukup

keras dan serangan tadi kena ditangkis. namun tak urung

lengannya jadi linu juga dibuatnya.

Liuw Boe Hwie yang menyaksikan peristiwa itu dari sisi

kalangan jadi terperanjat, namun ia pun merasa kurang

leluasa untuk maju membantu terpaksa sambil pura pura

iseng ujarnya kepada Tong Thian Gwat:

“Eeeeei pengemis tua, aku dengar ilmu Liong Henc Pat Sin

mu sangat dahsyat sekali, ini hari kenapa kau cuma nonton

belaka sambil berpeluk tangan ? ayoh demontrasikan

beberapa jurus kepandaianmu itu”

Tong Thian Gwat menghela napas panjang, “Liuw Loo~jie,

apa gunanya kau ajak aku bergurau ?” serunya. “Beberapa

macam kepandaianku bukannya kau tidak paham. seandainya

ini hari tiada kedua orang muridmu sebagai tulang punggung,

meski nyaliku lebih besarpun aku tidak akan berani

menggunakan selembar jiwaku sebagai bahan permainan.”

“Haaaa… haaaaa… haaaa… pengemis tua, kalau bicara

janganlah macam orang patah semangat, sedikit banyak

kaupun seorang bketua dari suatdu perkumpulan, aapakah

kau relab melihat seorang bocah cilik jual nyawa bagi dirimu ?

seandainya sebuah lenganku belum kutung, niscaya aku akan

suruh mereka rasakan kelihayan dari seruling emasku.”

Didengar dari nada ucapan mu seakan akan gembong iblis

tersebut begitu lihay, aku tidak percaya kalau mereka sanggup

mempertahankan diri dari irama Pembetot sukmaku…”

Ucapan ini menggetarkan hati Kian Hoo, diam-diam ia

memaki atas kegoblokannya dimana telah melupakan

kemampuannya yang asli sebaliknya malah ajak orang lain

berduel.

Kiranya yang dimaksudkan dengan ucapan Liuw Boe Hwie

bukanlah suruh sianak muda itu bertarung menggunakan

irama seruling, melainkan ia sedang memberi peringatan

kepadanya agar menggunakan jurus tadi dengan rahasia

irama serulingnya.

Semangat Liem Kian Hoo seketika berkobar kembali, hawa

murninya langsung disalurkan ke seluruh telapak untuk paksa

mundur Kong Toa Hauw setelah itu sepasang telapaknya

disilangkan didepan dada dan mempersiapkan jurus “Giok-

Sak-Ci-Hun ” nya yang ampuh.

Tonghong It Lip pernah merasakan pahit getirnya ditangan

sianak muda itu, buru buru ia memperingatkan:

“Kong toa-heng, hati hati, keparat cilik ini akan unjukkan

kepandaian ampuhnya !”.

“Hmmm ! sekalipun lebih lihaypun belum tentu bisa

membuat hatiku jeri!” sahut Kong Toa Hauw kurang percaya.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia mendongak dan

bersenandung lantang:

“Seruling ada disanubari suara ada dimulut awan ada

digunung rembulan ada dilangit !”.

Selesai bersenandung sepasang telapaknya di ayun

kemuka, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana

gulungan ombak ditengah samudra segera menyapu keluar

dengan hebatnya.

Termakan oleh dorongan angin pukulan itu tubuh Kong Toa

Hauw terdorong mundur kebelakang dengan sempoyongan…

“Braaak !” punggungnya mencium dinding tembok sehingga

ambrol dan muncullah sebuah lubang yang sangat besar.

Dalam pada itu Kong Toa Kiat yang sejak tadi terkurung oleh

serangan-serangan Soen Tong jadi cemas bercampur gusar

ketika menyaksikan saudaranya terluka dan menderita kalah,

iba meraung kerasd, tubuhnya bergaerak hendak membayang

bangun saudaranya.

Siapa sangka Soen Tong sama sekali tidak memberi

kesempatan baginya untuk berbuat demikian, laksana kilat

sepasang lengannya dijulurkan ke muka menyambar

pinggangnya kemudian mengangkat seluruh tubuhnya

ketengah angkasa.

Air muka Kong Toa Hauw yang merah telah berubah jadi

keemas-emasan, berada diantara reruntuhan dinding tembok

ia meronta bangun, lalu dengan nada cemas teriaknya:

“Cepat lepaskan saudaraku !”.

“Seandainya kalian menyanggupi untuk mengundurkan diri

dari persekutuan Tiga Belas sahabat dan berjanji tidak akan

membantu Kauw Heng Hu melakukan kejahatan lagi, aku

segera lepaskan saudaramu ! ” kata Liem Kian Hoo dengan

wajah serius.

Air muka Kong Toa Hauw berubah semakin hebat, akhirnya

ia menghela napas sedih.

“Aaaaaai..! kekalahan kami pada dua puluh tahun

berselang ditangan manusia berkerudung masih mendingan,

sungguh tak nyana setelah berlatih giat selama dua puluh

tahun kepandaian kami masih belum memadahi seorang

bocah cilik-pun, sekalipun kulit wajah kami lebih tebalpun kami

berdua-tidak minat untuk tetap berada diantara Tiga Belas

Sahabat lainnya !”.

“Ehmmm…! A-Tong, lepaskan dirinya!”

Soen Tong tidak membantah, ia lantas melemparkan tubuh

Kong Toa Kiat keatas tanah.

“Monyet berwajah merah ! ” Serunya, “memandang diatas

wajah saudara cilikku, uniuk kati ini kuampuni selembar

jiwamu ! “.

Begitu terlempar keatas tanah, Kong Toa Kiat segera

memijit dan buru-buru memayang tubuh saudaranya,

kemudian dengan suara mendendam teriaknya:

“Keparat ciIik. mulai detik ini nama kami berdua tercoret

dari persekutuan Tiga Belas Sahabat, namun kau jangan

mengira kalau urusan diantara kita sudah lelesai begitu saja !”

“Itu terserah pada kalian sendiri, asalkan satu hati aku

orang she-Liem belum mati, kalian boleh saja mencari diriku !”

Kong Toa Kiat tidak banyak bicara lagi, ia pondong tubuh

Kong Toa Hauw dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata

mereka sudah lenyap dari pandangan.

Cia Tiong Beng rserta Yu Yat satling bertukar pqandangan

sekejarp kemudian laksana kilat mengundurkan diri kedalam

bangunan dan melenyapkan diri.

Tonghong It Lip pun buru-buru memayang tubuh Mongyong

Wan yang sudah lama mendusin, mereka berdiri

tertegun beberapa saat lama-nya, jelas kedua orang suami

istri ini merasa heran dan tidak habis mengerti apa sebabnya

tenaga dalam waktu singkat.

Namun mereka sadar bahwa kekuatan merasa mereka

berdua bukan tandingan dari sianak muda itu.

“Apa rencana kalian selanjutnya ?” tegur Kian Hoo sambil

mengawasi sepasang suami istri itu dengan sinar mata tajam.

Tonghong It Lip bungkam beberapa waktu, setelah itu baru

sahutnya:

“Persekutuan Tiga Belas sahabat didirikan kembali oleh

Kauw toako, kalau kau punya kepan daian tiada halangan

membicarakan soal ini langsung dengan orangnya !”.

“Haaaaa… haaaa… haaaaa… kalian jangan anggap setelah

menyebut nama Kauw Heng Hu lantas hatiku jadi gentar

justru kedatanganku kemari adalah bermaksud mencari

dirinya.”

“Hmm ! kalau begitu tunggu sajalah disi-ni, kami segera

cari Kauw toako untuk diajak ke luar menemui dirimu !”.

“Ehmmm, demikianpun boleh juga tetap akupun hendak

peringatkan kalian lebih baik kurangi segala permainan busuk,

kami sudah bikin onar setengah harian lamanya disini,

seumpama Kauw Heng Hu benar-benar ada didalam, sejak dia

sudah munculkan diri, apa gunanya harus sampai datangnya

undangan dari kalian ?”.

Air muka Tonghong It Lip berubah hebat.

“Tadi Kauw toako memang tak ada disini, tetapi aku tahu ia

segera akan kembali asal kau tunggu sebentar lagi di sini

niscaya ia akan munculkan diri !”. Liem Kian Hoo berpikir

sebentar, kemudian tertawa.

“Aku tahu bahwa ucapanmu tak boleh di-percaya, namun

akan ku coba untuk mempercayai dirimu !”.

Mendengar sianak muda itu sudah setuju, karena takut ia

berubah pikiran buru buru Tong hong It Lip memayang Mongyong

Wan dan segera mengundurkan diri.

Dalam pada itu sikap Tong Thian Gwat terhadap Kian Hoo

sudah berubah seratus delapan puluh derajat bahkan dalam

benaknya sudah diliputi oleh pelbagai kecurigaan, namun ia

merasa tidak leluasa untuk tanyakan persoalan itu, maka

segera ujarnya:

“Sauw-hiap, apakah kau benar benar hendak menanti

beberapa waktu ditempat ini ?”

“Benar !” sianak muda itu mengangguk “Mereka boleh saja

mengingkari janji, namun kita tak boleh melakukan kesalahan,

untung saja seperempat jam segera akan berlalu dan mereka

tidak akan terlalu jauh melarikan diri, aku punya keyakinan

untuk menyusul mereka !”

“Sauw-hiap, kau tidak pantas untuk melepaskan dua

bersaudara Kong meninggalkan tempat ini, mereka berlalu

dengan membawa rasa malu, dikemudian hari tentu akan

mendatangkan banyak kerepotan.”

“Diantara Tiga Belas Sahabat, hanya mereka berdua yang

boleh dianggap rada jujur dan polos, aku tidak ingin

melakukan pembunuhan yang tak berguna. seandainya aku

ada maksud demikian, asal kutambahi satu bagian tenaga lagi

dalam serangannya tadi niscaya jiwanya telah melayang. Dua

puluh tahun berselang simanusia berkerudung itu dapat

lepaskan mereka, kenapa dua puluh tahun kemudian aku

harus membinasakan mereka ?”.

Tong Thian Gwat ada maksud menanyakan soal simanusia

berkerudung, namun ketika dilihatnya sianak muda itu sedang

kerutkan dahi seolah-olah sedang memikirkan satu masalah

yang sulit, diapun lantas batalkan maksudnya.

“Eceei pengemis tua !” Liuw Boe Hwie segera menarik

tangannya. “Untuk sementara waktu lebih baik kita bungkam

saja, sebab beberapa waktu yang amat singkat ini justru

menyangkut mati hidup kita !”.

Dengan wajah melengak Tong Thian Gwat menengok, ia

lihat Liem Kian Hoo sedang duduk bersila diatas tanah,

mulutnya kemak-kemik seperti mengucapkan sesuatu namun

tidak kedengaran apa yang sedang diucapkan, sementara

sepasang lengannya menunjukkan gerak-gerik yang susah

dimengerti.

Dalam pada itu dengan sinar mata tegang Liuw Boe Hwie

mengawasi terus sepasang pintu yang terbentang lebar

dihadapannya, air muka si orang tua ini kelihatan tidak

tenteram. Tong Thian Gwan serta muridnya Chi Siang berdiri

dalam keadaan kebingungan, beberapa kali mereka ingin

bertanya namun setiap kali Liuw Boe Hwie goyangkan

tangannya mencegah.

Sedangkan Soe Tong merasa nganggur, ia ber jalan

kehadapan kepingan singa kumala itu dan menyambung

kembali kepingan kepingan tadi, Hanya Liem Kian Hoo

seorang tetap duduk bersila diatas tanah sambil kemak kemik,

sementara tangannya selalu memperlihatkan beberapa

gerakan yang tidak dimengerti.

Setengah harian kemudian mendadak tampak sepasang

telapaknya didorong kearah dinding tembok, gerakan yang

digunakan tetap merupakan jurus Giok-Sak-Ci-Hun namun

dalam serangannya kali ini sama sekali tidak kedengaran

sedikit suarapun.

Sesaat setelah ia melepaskan pukulan tadi, dari atas

tembok mulai nampak bubuk serta pasir berguguran keatas

tanah dan akhirnya hampir seluruh dinding tadi rontok dan

hancur berantakan, muncullah sebuah gua pintu seluas

beberapa tombak diatas dinding tadi, bekas-bekas pukulan

rata dan halus seolah-olah dibabat oleh senjata yang tajam.

“Hoo-jie!” teriak Liuw Boe Hwie kegirangan. “Kali ini kau

tak usah gentar terhadap diri Kauw Heng Hu lagi !”.

“Soal ini sulit untuk dikatakan, aku cuma punya keyakinan

untuk tidak kalah, kalau ingin menangkan dirinya mungkin

masih harus memiliki kepandaian tambahan lainnya ?”.

Sedang Tong Thian Gwat menjulurkan lidahnya, ia

mendekati reruntuhan itu dan mengawasinya beberapa saat,

ditemuinya bekas hancuran tembok tadi remuk bagaikan

bubuk, tak kuasa lagi sipengemis tua ini menjerit tertahan.

“Kepandaian apakah ini ? aku sipengemis tua hidup sampai

hari bukan saja belum pernah melihat kehebatan semacam ini,

mendengarpun belum pernah !”

“Jurus ni bernama Giok-Sak-Ci~Hun.” Liuw Boe Hwie

menerangkan sambil tersenyum.

“Dan merupakan suatu kepandaian yang maha dahsyat,

namun sekarang nama kepandaian itu harus disebut sebagai

ilmu Boe Siang sinkang !”

“Suhu, keberhasilanku ini justru berkat petunjuk yang

sangat berharga dari kau orang tua.” bisik Liem Kian Hoo

dengan rasa terharu.

Liuw Boe Hwie tersenyum dan menggeleng, ” Sudahlah, tak

usah kau tumpuk pujian itu ketubuhku, aku cuma memberi

kisikan yang tak berarti belaka, bisa berhasil dengan sukses

pun sebagian besar berkat bakat serta kecerdikanmu yang

luar biasa, siapa yang bisa mencapai taraf sedemikian

hebatnya ?”.

Liem Kian Hoo termenung sejenak, seakan-akan hendak

mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia bertanya:

“Sekarang sudah berapa lama ?”

“Satu jam lebih.” jawab Chi Siang cepat, ” Dari balik

gedung tidak nampak sesosok bayangan setanpun yang

muncul, aku masih mengira Sauw-hiap telah lupa akan hal

ini.”.

“Apa ? sudah satu jam lebih ? aduuuh celaka, kalau mereka

berhasil loloskan diri sih bu-kan urusan, jangan-jangan

Watinah pun kena diculik kembali oleh mereka !”.

“Sauw-hiap, akupun pernah dengar bahwa ada seorang

gadis terkurung disini, apakah benar bahwa gadis itu

adalah…”

“Tidak salah, gadis itu adalah bakal istri siauw-tit, dia

adalah seorang kepala suku Biauw, beberapa bulan berselang

ia kena diculik oleh Kauw Heng Hu dan dibawanya datang

kemari…”.

“Waaah, kalau begitu keadaan kurang menguntungkan.”

seru Tong Thian Gwat kaget.

“Terhadap gembong gembong iblis macam mereka, tidak

seharusnya kita bicarakan soal kepercayaan, Siauw-hiap, kau

terlalu mempercayai orang-orang itu, seandainya nona itu

sampai mengalami sesuatu…”

“Kalau memang terjadi hal itu, apa dayaku ?” tukas Kian

Hoo sambil tertawa getir.

“Tadi, seandainya aku tidak lepaskan Heng Thian-Siang Li

dan langsung menerjang kedalam seandainya Kauw Heng Hu

benar benar ada didalam, bukankah tindakan ini malah akan

mencelakai kalian semua ?”.

“Sau-hiap, bukankah tenaga Iweekangmu telah mencapai

puncak kesempurnaan, apakah kau masih bukan tandingan

dari Kauw Heng Hu ?”

“Aaaaah pangcu, kau tidak tahu, meskipun beberapa waktu

belakangan ini ilmu silat siauw tit mendapat kemajuan pesat

dan memahami pula intisari dari beberapa macam kepandaian

sakti,namun ilmu tersebut belum pernah kugunakan, maka

dari itu ketika berhadapan dengan Kong Toa Hauw pun

hampir hampir saja jatuh kecudang di tangannya, untung

suhuku cepat memberi petunjuk sehingga aku sadar dan

berhasil mengundurkan pihak lawan, pada waktu itulah

sebenarnya kesempatan yang paling baik buat kita untuk

membasmi kawanan iblis, siapa tahu ketika itu pula siauw tit

telah merasakan sesuatu yang aneh, maka aku pun lantas

menyanggupi Tonghong It Lip untuk menanti beberapa saat,

tujuanku tidak lain ingin menggunakan waktu yang amat

singkat ini untuk perdalam ilmu silatku, siapa sangka aku telah

membuang waktu begitu lama.”

“Sauw-hiap, dalam waktu satu jam yang singkat ternyata

kepandaianmu kembali peroleh kemajuan pesat, seandainya

aku sipengemis tua tidak melihat dengan mata kepala sendiri,

sekalipun ada orang beritahu kepadaku pun aku tidak akan

percaya !”.

Liuw Boe Hwie tersenyum.

“Eeeei pengemis tua, kembali kau bicara yang tak berguna,

bukankah tadi sudah kukatakan, kemajuan pesat yang

didapatkan Hoo-jie bukanlah hasil latihan seharian belaka, ia

sudah memiliki dasar tenaga dalam tubuhnya, sekarang ia

berhasil pula menemukan intisari dari kepandaian itu maka

kemajuannya jadi semakin pesat, seandainya dikatakan

penemuan yang secara tiba-tiba bisa menghasilkan kemajuan

yang begitu pesat, bukankah hal ini sama artinya mengatakan

bahwa hasil latihan kita selama puluhan tahun hanya sia sia

belaka ?”.

“Aaaaai ! meskipun demikian, namun penemuan yang

secara tak terduga ini benar-benar sukar dipercaya, ada

sebagian orang yang berlatih seumur hidup namun tiada hasil,

sebaliknya Liem Sauw hiap hanya membutuhkan waktu

selama satu jam saja tenaga dalamnya sudah peroleh

kemajuan yang demikian pesat, bukankah kejadian ini benarbenar

mencengangkan hati ?”.

“Haaaaa… haaaa… haaaaa… disinilah letak pentingnya

bakat serta kecerdikan seseorang, bukannya aku sengaja

mengibul, bakat yang dimiliki muridku ini boleh dikata jarang

sekali di jumpai diantara laksaan orang, oleh karena itu

kitapun tak usah ber silat lidah karena masalah ini, sekarang

urusan yang paling penting adalah masuk kedalam gedung

dan melakukan pemeriksaan, menurut dugaanku didalam

ruangan pasti tak nampak sesosok manusiapun tetapi urusan

sukar dikatakan, gelar Kauw-Heng Hu adalah Tok Chiu Suseng

sisastrawan bcr tangan keji. mungkin ia sudah atur jebakanjebakan

keji didalam sana, lebih baik kita berhati-hati dalam

setiap tindakan.”.

Liem Kian Hoo tahu bahwa ucapan tersebut ditujukan

kepadanya, buru-buru ia menjawab:

“Ucapan suhu tepat sekali, sewaktu berjalan masuk

kedalam gedung nanti lebih baik kita bersatu padu agar satu

sama lain bisa saling membantu !”.

Selesai berkata ia berjalan masuk lebih dahulu disusul oleh

Soen Tong, Tong Thian Gwat, Chi Siang dan ditutup oleh Liuw

Boe Hwie, lima orang membentuk barisan yang panjang

melakukan pencarian dan pemeriksaan yang seksama ke

dalam gedung itu.

Setelah menembusi halaman yang amat luas dihadapan

mereka muncul sebuah bangunan besar suasana sunyi senyap

tak kedengaran sedikit suarapun.

Ruangan itu diatur amat rapi dan bersih, di tengah ruangan

teratur sebuah meja perjamuan di atas meja terdapat sayur

serta arak yang masih mengepul panas, jelas orang-orang

yang ada dalam gedung itu belum lama berlalu dari situ.

Bukan begitu saja bahkan dalam gedung tadi penuh

dengan barang antik yang indah dan mempersonakan.

Dasar sifat pengemis, melihat hidangan yang begitu lezat

Tong Thian Gawt serta Chi Siang tanpa banyak bicara

langsung menyerbu kemeja perjamuan, sang pengemis tua

menyambar ayam panggang yang ada di meja sedangkan

muridnya menyambar guci arak.

Melihat tingkah laku kedua orang itu, buru-buru Liuw Boe

Hwie mencegah:

“Eeei pengemis tua, jangan rakus macam orang yang tidak

pernah makan kau harus periksa dahulu dalam hidangan itu

ada racun atau tidak !”

“Sebagai pengemis yang cari makan dimana-mana.

sepanjang tahun belum tentu merasakan perut yang kenyang

” kata Tongb Thian Gwat samd bil menelan aiar Iudah.

“Mumpubng disini telah siap hidangan lezat sekalipun

makanan makanan ini dicampuri dengan racunpun aku

sipengemis tua harus mencicipinya !”.

“Aku sama sekali tidak melarang kalian bersantap, namun

kan jauh lebih baik kalau dicoba lebih dahulu !”.

Tong Thian Gwat dipaksa apa boleh buat, terpaksa ia cari

sebatang jarum perak lantas ditusukkan kedalam daging ayam

panggang tadi, keti ka dicabut kembali ternyata ujung jarum

perak itu masih tetap bercahaya kilat, dengan rasa gembira

pengemis inipun tertawa terbahak-bahak.

“Arak dan sayur yang lezat, mana mungkin ada racunnya

?”.

Ia masukkan daging ayam itu kedalam mulut dan dikunyah

dengan lezatnya, dalam sekejap mata seluruh daging ayam

tadi sudah berpindah kedalam perut.

Soen Tong yang menyaksikan kejadian itu tak kuat

menahan air liurnya, beberapa kali matanya melirik kearah

Liem Kian Hoo.

Dalam pada itu sianak muda itu sedang pusatkan seluruh

perhatiannya untuk memeriksa gedung tersebut, ia tidak

melihat akan sikap gadis tolol itu, sebaliknya Liuw Boe Hwie

melihat akan hal ini, sambil tertawa lantas ujarnya:

“A-Tong, apakah kau ingin makan ? untung disini sudah

tersedia makanan lezat, nah bersantaplah sekehendak hatimu

!”.

Soen Tong jadi kegirangan, ia sambar ikan yang ada diatas

meja kemudian bersama durinya sekaligus dimasukkan

kedalam mulut, sambil mengunyah serunya:

“Oooow nikmat, lezat sekali. saudara cilik, apakah kau ingin

mencicipi ?”

Liem Kian Hoo tiada kegembiraan sama sekali, ia geleng

kepala berulang kali.

Perbuatan beberapa orang ini menimbulkan rasa lapar pula

bagi Liuw Boe Hwie, ketika menjumpai ada buah anggur

diatas sebuah tempayan ia lantas memetik beberapa butir

seraya berkata.

“Bajingan-bajingan itu pandai benar menikmati kebahagian

hidup, sekarang baru musim semi, darimana mereka dapatkan

buah anggur sebesar ini ?”.

Sembari berkata ia masukkan, buah anggur itu kedalam

mulut, tapi pada saat itulah mendadak dari samping ruangan

berkelebabt datang serentdetan cahaya putaih yang

menyilabukan mata tepat menembusi buah anggur tersebut.

Kejadian ini membuat Liuw Boe Hwie terperanjat ia tidak

tahu darimana munculnya cahaya putih tersebut, ketika buah

anggur tadi diperiksa maka ditemuinya cahaya putih tadi

ternyata adalah sebatang tusuk gigi dimana tepat menembusi

buah anggur tadi. Menyaksikan peristiwa itu, Liem Kian Hoo

pun lantas berseru:

“Dalam ruangan ada orang…”

Tubuhnya langsung meluncur keluar pintu dan memeriksa

empat penjuru, namun tidak nampak sesosok manusiapun ada

disitu, menanti ia masuk kembali kedalam ruangan tampaklah

Soen Tong, Tong Thian Gwat serta Chi Siang telah

menggeletak diatas tanah, sedangkan Liuw Boe Hwie tetap

berdiri ditempat semula sambil mengawasi buah anggur itu

dengan termangu-mangu. Sianak muda ini jadi amat

terperanjat buru-buru tanyanya:

“Suhu, apa yang sudah terjadi ? “.

“Aku sendiripun tidak tahu, pokoknya penyakit ini timbul

dari hidangan yang mereka santap !” jawab Liuw Boe Hwie

sambil tertawa getir.

Liem Kian Hoo sangat terperanjat ia segera berjongkok dan

memeriksa beberapa orang itu merah padam dan segar sekali,

sedikitpun tidak menunjukkan tanda tanda keracunan, namun

mereka tertidur pulas.

“Tak usah diperiksa lagi.” kata Liuw Boe Hwie sambil

menghela napas panjang. “Mereka sudah terkena obat

pemabok yang membuat orang tertidur pulas, jiwanya tidak

bakal terancam, asal sudah tidur beberapa saat mereka akan

bangun kembali dalam keadaan segar, justru akulah yang

hampir-hampir jadi sukma gentayangan !”.

“Suhu ! darimana kau bisa tahu ?” Liuw Boe Hwie tertawa

getir, ia angkat buah anggur tersebut lalu sambil menuding

tusuk gigi yang menembusi buah itu katanya:

“Asal kau lihat benda ini tentu akan jadi paham sendiri,

tusuk gigi ini terbuat dari kayu Boe-Kouw-Bok yang

merupakan sejenis kayu paling cepat menunjukkan reaksinya

bila terkena racun yang bisa lolos dari periksaan jarum perak,

namun jangan harap bisa lolos dari pemeriksaan kayu Boe-

Kouw-Bok ini !”.

Liem Kian Hoo awasi tusuk gigi diatas buah anggur itu

dengan hati terkesiap, ia temukan tusuk gigi itu terbuart-rapi

dan haluts sekali, diataqs tusuk gigi tardi terukir lukisanlukisan

relief yang indah, bagian yang menonjol keluar dari

buah anggur itu kurang lebih satu coen dan berwarna biru

tua, tanpa terasa dengan hati tercengang tanyanya:

“Suhu, dari mana kau bisa tahu kalau tusuk gigi ini terbuat

dari kayu Boe-Kouw-Bok ?”.

“Aaaai…! racun yang dapat dicampurkan kedalam bahan

makanan ada dua jenis, jenis pertama adalah racun-racun

yang dapat dicampurkan kedalam sayur serta arak, racun

macam ini biasa sekali sehingga dapat dijajal dengan jarum

perak, sedang jenis kedua adalah racun yang dicampurkan

didalam buah buahan, racun macam ini jauh lebih ampuh,

mula-mula buah-buahan itu direndam dalam air racun

sehingga sari racun meresap kedalam buah-buahan itu

kemudian buah tadi didiamkan beberapa saat maka racun itu

akan terserap kedalam buah tadi dan tak berwujud sama

sekali, namun daya kerja racunnya sangat lihay. pihak istana

mempunyai cara untuk mengatasi kesukaran ini yaitu

menggunakan kayu Boe-Kouw-Bok yang dihasilkan diwilayah

Barat, kendati racun macam apapun pasti dapat diperiksa.

Ketika aku masih muda tempo dulu, kayu macam ini pernah

kujumpai satu kali, maka sekilas pandang aku segera

kenalinya kembali !”.

“Kalau begitu orang yang melepaskan kayu tersebut dari

balik kegelapan telah menyelamatkan jiwa suhu ?”

“Mungkin benar dugaanmu, pokoknya ia tidak bermaksud

jahat !”.

Liem K.ian Hoo melirik sekejap kearah Soen Tong sekalian,

lalu tanyanya kembali:

“Suhu, darimana kau tahu kalau mereka bukan keracunan

?”.

“Orang yang menolong aku secara diam-diam itu tidak

ingin mereka keracunan pula bukan ? namun ia tidak

menghalangi niat mereka untuk bersantap, hal ini menujukkan

bahwa makanan itu tidak ada halangan untuk disantap…”

Liem Kian Hoo semakin terperanjat lagi.

“Orang itu hapal sekali dengan keadaan tempat ini, ia pasti

ada hubungan yang erat dengan Tiga Belas Sahabat !”

serunya.

Liuw Boe Hwie manggut tanda setuju dengan pendapat itu

namun iapun tidak tahu siapakah orang tersebut.

Beberapa saat kemudian, sianak muda itu berkata kembali:

“Orang inipun aneh sekali, setelah ia lepaskan tusuk gigi

tadi aku segera melakukan pencarian, namun hasilnya tetap

nihil, aku rasa lebih baik kita cepat tinggalkan tempat ini”.

“Bagaimana dengan mereka ?” tanya Liuw Boe Hwie seraya

menuding tiga orang yang menggeletak di atas tanah.

“Mereka tertidur pulas sekali, jelas sudah terkena obat

pemabok atau sebangsanya, kita guyur saja dengan air dingin,

niscaya mereka akan mendusin !”

Namun Liuw Boe Hwie segera menggeleng.

“Tong Thian Gwat adalah ciangbunjien partai Kay-pang,

obat pemabok biasa tidak akan berhasil mengelabui dirinya,

namun ia sudah terkena obat pemabok yang sangat lihay,

menurut dugaanku paling sedikit dua belas jam kemudian

mereka baru mendusin !”.

“Hal ini bukankah berarti kami harus menanti seharian ?”.

“Orang itu justru ada maksud menghalangi perjalanan kita

agar mereka ada kesempatan untuk mengundurkan diri,

lagipula orang yang berada dalam kegelapan itupun

membiarkan mereka terjebak, hal ini menunjukkan kalau ia

pun ada maksud yang sama !”

Liem Kian Hoo menghela napas panjang dan

membungkam.

“Gelisahpun percuma.” hibur Liuw Boe Hwie kembali.

“Untung ayahmu selamat dan tidak kekurangan sesuatu

apapun, bahkan berhasil menolong seseorang, hal ini

menunjukkan kalau ia sudah mulai mengawasi gerak-gerik

kaum penjahat itu, cepat atau lambat kita pasti akan

mendapatkan kabar beritanya !”.

Dengan perasaan apa boleh buat Liem Kian Hoo

mengangguk, ia lantas menarik tubuh Tong Thian Gwat, Chi

Siang serta Soen Tong untuk di dudukan keatas kursi,

kemudian iapun ikut duduk sambil berkeluh kesah.

“Hoo-jie !” kata Liuw Boe Hwieb lagi sambil tedrtawa.

“Ditempaat ini kita bakabl menunggu beberapa waktu lagi,

bagaimanapun juga kita harus cari makanan untuk menangsal

perut kau jagalah keselamatan mereka, aku hendak keluar un

tuk cari makanan.”

“Hal ini mana boleh jadi ? kalau ada tugas biarlah tecu yang

laksanakan saja !”.

“Bukannya aku ada maksud memperlihatkan sikap seorang

guru terhadap muridnya, namun aku ingin carikan pekerjaan

bagimu agar kau jangan tetap duduk termenung belaka

macam orang kehilangan semangat !”

Merah padam wajah sianak muda itu, ia merasa sangat

berterima kasih buat kebaikan guru-nya, maka ia bangun

berdiri dan menuju keruang belakang.

Namun ketika ia tiba di dapur sianak muda ini jadi tertegun,

tadi sewaktu ia melakukan pemeriksaan, dapur itu sunyi

senyap, namun sekarang api mengepul dibawan tungku dan

tampak sebuah kukusan dengan daging babi yang harum

semerbak muncul disana.

“Siapa lagi yang main setan ditempat ini ?” pikirnya.

“Delapan bagian pasti hasil permainan setan dari orang yang

melepaskan tusuk gigi tersebut sebenarnya apa maksudnya

berbuat demikian ?”.

“Sahabat ? atau musuh ?”.

“Ia bermaksud baik ? atau bermaksud jahat ?”

“Kalau bermaksud baik berarti sahabat, tidak pantas kalau

ia biarkan Soen Tong sekalian terjebak, kalau musuh berarti

mengandung maksud jahat, tapi mengapa ia tolong suhu.”

Liem Kian Koo merasa pikirannya sangat kalut, ia tak dapat

ambil keputusan mengenai daging babi itu.

Mendadak dari belakang punggungnya berkumandang

suara desiian ringan, buru-buru ia berpaling tampaklah diatas

pintu telah tercancap secarik kertas. ia tidak sempat menerima

isi surat itu lagi, buru-buru badannya mengejar keluar namun

disana tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Dalam sekejap mata orang itu bisa menyembunyikan diri

tak berbekas, kecepatan geraknya benar-benar sukar

dilukiskan dengan kata-kata… Dengan membawa perasaan

murung ia balik kembali kedapur, dibacanya surat itu yang

kira-kira berbunyi:

“Dalam guci ada arak, diatas tbungku ada dagindg babi,

minum daan santaplah debngan hati lega, rombongan berjalan

kearah Barat, tidak selang beberapa hari tentu akan ditemui,

besok sewaktu melanjutkan perjalanan jangan membawa

orang banyak, berjumpa dengan bukit bertanah lumpur hatihati

dengan api beracun !”.

Membaca tulisan itu Liem Kian Hoo jadi tertegun, gaya

tulisan itu meminjukan tulisan seorang gadis, siapakah orang

itu ? seandainya gadis itu (seumpama dugaannya tidak salah)

benar-benar bermaksuk baik dan selalu memberi petunjuk

kepadanya, ini berarti kalau ia bukan ke pihak musuh, namun

apa sebabnya tingkah laku orang itu penuh terselubung

misterius ?

Sembari berkata ia masukkan surat tadi ke-dalam saku,

kemudian menambahi kayu bakar ke dalam tungku, tidak

selang beberapa saat kemudian daging babi diatas kukusan itu

sudah matang, bau harum segera tersiar keempat penjuru.

Didalam dapur ia menemukan pula seguci arak, kemudian

bersama daging babi tadi dihidangkan ketengah ruangan dan

santap bersama sama Liuw Boe Hwie, sedangkan peristiwa

yang baru di alami tadi sama sekali dirahasiakan didalam hati.

Dalam hati kecilnya ia sudah punya perhitungan, dalam

persekutuan Tiga Belas sahabat telah bertambah dengan tiga

orang gadis, satu adalah Sani, yang lain adalah Lie Hong Hwie

dan kemungkinan besar gadis ketiga adalah orang yang

meninggalkan surat peringatan kepadanya itu, bahkan

kemungkinan besar orang itu masih mengawasi geriknya

secara diam-diam.

“Perduli bagaimanapun juga, aku harus temukan orang

itu…

Demikianlah, sambil bersantap otaknya berputar terus,

selesai bersantap iapun berbaring diatas kursi dengan hati

tenang, ujarnya kepada Liuw Boe Hwie sambil tersenyum:

“Suhu, dewasa ini kita berada disarang musuh, disamping

itu harus menjaga pula keselamatan tiga orang yang jauh

tidak sadarkan diri, maka kita harus ada salah satu yang tetap

berada dalam keadaan segar kini aku mau tidur lebih dahulu.

nanti malam kita gantian berjaga-jaga !”.

Diam-diam Liuw Boe Hwie keheranan atas perubahan sikap

sianak muda itu sekembali dari dapur, meski ia tahu tentu

sudah terjadi suatu perubahan namun ia tidak banyak

bertanya, dengan hati gembira permintaan itupun dikabulkan.

Menanti sianak muda itu mendusin dari tidurnya, bintang

telah bertaburan diangkasa, kembali ia cari makanan dalam

dapur untuk menangsal perut setelah itu persilahkan Liuw Boe

Hwie untuk beristirahat.

Mrenanti siorang ttua itu sudah pqulas, Liem-Kianr Hoo

keluar dari ruangan dan berjalan bolak balik dengan

tenaganya dalam halaman.

Rembulan bersinar dengan terangnya memenuhi seluruh

jagat, bintang bertaburan diangkasa menambah keindahan

dimalam itu, angin malam berhembus sepoi sepoi membawa

bau harum bunga yang semerbak, suasana bening dan sunyi…

Liem Kian Hoo pun lantas mendongak dan bersenandung.

suaranya lantang dan penuh semangat sehingga kedengaran

amat mempesonakan hati.

Ketika sianak muda itu menyelesaikan senandungnya, tiba

dari balik kegelapan berkumandang suara pujian:

“Indah, bagus…”.

Liem Kian Hoo tertawa dingin.

“Akhirnya ketahui juga tempat persembunyianmu !”

serunya.

Ia segera enjotkan badan menubruk kearah mana

berasalnya suara itu, tampak dari balik kegelapan melayang

keluar sesosok bayangan manusia dimana laksana kilat orang

itu menyusup ke-dalam gedung.

Liem Kian Hoo tak mau lepas tangan begitu saja, ilmu

meringankan tubuhnya segera dikerahkan mengejar bayangan

tadi dengan kencang-nya.

Dibawah sorotan sinar rembulan nampaklah bayangan

manusia itu punya potongan badan yang ramping dan kecil

dengan memakai baju warna merah, tidak salah lagi orang itu

adalah seorang gadis.

Ilmu meringankan tubuhnya benar benar amat sempurna,

berada diatas atap ia lari dan loncat dengan lincahnya seakanakan

sedang berlarian diatas tanah lapang belaka, meskipun

sianak muda itu sudah salurkan segenap tenaganya bukan

saja berhasil menyusul bahkan jaraknya makin lama tertinggal

semakin jauh.

Setelah melewati atap rumah yang panjang, mereka

berlarian disebuah tanah lapang disusul ma suk kedalam

hutan maka sulitlah baginya untuk menyusul dalam keadaan

buru-buru segera teriaknya:

“Eeei, kalau kau tidak berhenti juga, jangan salahkan kalau

aku hendak melepaskan senjata rahasia !”.

Ancaman itu sama sekali tidak diguris oleh gadis tadi,

kakinya sama sekali tidak mengendor bahkan jauh lebih cepat

menyusup kedalam hutan itu.

Liem Kian Hoo semakin gelisah, ia merogoh kedalam saku

dan melemparkan benda yang sempat disautnya itu kearah

depan.

Sambitan ini disertai tenaga yang amat dahsyat, tampak

serentetan cahaya meluncur kearah punggung orang itu

diiringi desiran angin tajam, dalam sekejap mata serangan

telah mengancam tiba. Bayangan manusia itu terdesak,

terpaksa ia berhenti sambil putar badan menyambut

datangnya ancaman.

Dalam pada itu Liem Kian Hoo telah menyusul sampai

dibelakang orang itu, tangannya langsung berkelebat

menyambar lengannya dan dicekal kencang-kencang.

Dibawah sorotan sinar rembulan, tampaklah olehnya bahwa

orang yang berhasil dicekal barusan bukan lain adalah seorang

gadis bahkan seorang gadis yang cantik sekali, wajahnya bulat

telur dengan sepasang biji mata yang jeli dan bening ketika itu

sedang mengawasi dirinya dengan sinar mata gusar.

Merah padam, selembar wajah Liem Kian Hoo buru-buru ia

lepaskan cekalannya dan berdiri dengan sikap kikuk, tak tahu

apa yang harus di ucapkan dalam keadaan seperti ini.

Terdengar gadis itu mendengus lalu tertawa dingin.

“Aku dengar orang berkata bahwa kau adalah seorang

kongcu paling ramah dan paling sopan dikota Wie-Yang, tak

disangka kau cuma seorang lelaki hidung belang yang rendah

perbuatannya.” ia menyindir.

Liem Kian Hoo jadi malu sekali, seandainya disitu ada gua

tentu ia akan menerobos masuk ke dalam untuk bersembunyi.

Setengah harian lamanya ia berdiri termangu-mangu,

akhirnya sianak muda itupun berkata:

“Nona ! maaf, maaf, berhubung bgelisah maka cadyhe

telah melakaukan kesalahan,b ada satu hal ingin cahye

ucapkan keluar… mutiara tersebut.

Kiranya dalam keadaan cemas, Kian Hoo telah

menggunakan mutiara diatas hioloo Ci-liong Teng sebagai

senjata rahasia, Tampak gadis itu memandang sekejap kearah

mutiara dalam genggamannya, lalu tertawa dingin tiada

hentinya.

“Kenapa dengan mutiara ini ?” serunya dingin. “Apakah kau

takut aku rampas mutiara ini kau pernah berkunjung

kerumahku, coba lihat saja bukankah barang yang ada disana

jauh lebih berharga daripada mutiaramu ini ?”.

Seraya berkata sepasang telapaknya dirapatkan seolah-olah

hendak menghancur lumatkan mutiara tersebut.

Liem Kian Hoo jadi amat cemas, buru-buru teriaknya:

“Nona, jangan, jangan kau lakukan !”.

“Kenapa tidak boleh ? kau anggap aku tidak mampu

mengganti sebutir mutiara tersebut sebagai senjata rahasia

untuk menghajar diriku, apakah kau anggap benda ini aku

dapatkan karena mencuri ?”.

“Cayhe sama sekali tidak bermaksud demikian tetapi kau

harus tahu bahwa mutiara ini ada lah barang keturunan

kami…”. Mendengar ucapan itu sang gadispun lantai buka

telapaknya kembali sambil memperhatikan dengan seksama,

tampaklah cahaya mutiara itu tajam sekali bahkan berwarna

kehijau hijauan, gadis itu jadi percaya. Namun ketika

menyaksikan sikap Kian Hoo yang kikuk sambil tertawa ringan

segera ujarnya:

“Kalau benar benda ini adalah pusaka keturunanmu,

mengapa kau gunakan sebagai senjata rahasia ?”.

Merah padam selembar wajah sianak muda itu.

“Cayhe belum pernah menggunakan senjata rahasia,

berhubung tadi dipaksa oleh keadaan dan takut nona keburu

masuk kedalam hutan maka aku gunakan benda ini untuk

mengejar dirimu, harap nona jangan marah dan suka

mengembalikan kepadaku”.

“Mengapa kau kejar diriku ? “.

Liem Kian Hoo tertegun, kemudian dengan rada sangsi

katanya:

“Sambitan tusuk gigi dalam ruabng tengah sertad

meninggalkan saurat peringatanb didapur apakah hasil karya

nona ?”.

“Menurut dirimu ?”.

“Cayhe rasa kecuali nona tak mungkin perbuatan itu adalah

hasil karya orang lain !”.

Mendadak senyuman yang menghiasi bibir dara itu lenyap

tak berbekas, ia mendengus dingin.

“Kalau kau sudah tahu bahwa perbuatan itu adalah hasil

karyaku, mengapa kau tega bertindak keji kepadaku ? apakah

aku pernah melakukan hal hal yang merugikan kalian ?”.

Ucapan ini membuat Liem Kian Hoo merasa serba salah,

tapi berhubung kesalahan terletak pada dirinya, terpaksa

dengan suara lirih katanya:

“Terhadap perhatian serta cinta kasih nona terhadap kami,

cayhe merasa amat berterima-kasih !”.

“Sungguh istimewa caramu menyatakan rasa terima kasih

kepadaku.” seru dara itu kembali sambil tertawa dingin.

“Tanpa mengucapkan sepatah katapun melepaskan senjata

rahasia, bahkan serangan dilancarkan dengan kekuatan

dahsyat, seandainya kepandaianku rada cetek bukankah

punggungku sejak tadi sudah berlubang ditembusi senjata

rahasiamu ?”.

Terpaksa Liem Kian Hoo tertawa jengah.

“Walaupun serangan yang cayhe lancarkan terlalu kasar,

namun aku percaya nona tidak bakal terluka ” katanya.

“Sebab ditinjau dari gerakan tubuh nona yang amat sebat,

hal ini menunjukkan kalau ilmu silat yang nona miliki luar

biasa sekali.”.

Dara itu tertawa dingin.

“Hmm, pandai benar kau mengucapkan kata-kata yang

manis.” serunya. “Aku ingin bertanya kepadamu, sewaktu kau

hendak melepaskan mutiara itu, apakah kau sempat

memikirkan persoalan-persoalan itu ?”

Sianak muda itu jadi tertegun, bicara sejujurnya sesaat

melepaskan senjata rahasia tersebut ia memang tidak sempat

memikirkan soal itu, yang terpikirkan olehnya ketika itu

hanyalah bagaimana caranya untuk menghalangi pihak lawan

masuk kedalam hutan.

Menyaksikan siarnak muda itu titdak sanggup menqjawab

pertanyaarnnya, gadis ini marah sekali, ujarnya dengan nada

dingin.

“Terhadap kalian aku sudah bersikap sungkan, siapa

sangka sebagai balasan kau bersikap begini kasar kepadaku,

hmmm, hitung-hitung sepasang mataku telah salah melihat

orang. Cisss, kau masih bisa-bisanya minta kembali mutiara itu

dari tanganku !”

Liem Kian Hoo semakin kikuk sampai-sampai tak sanggup

bicara, gadis itu semakin tak mau kendorkan sindirannya, ia

berkata kembali:

“Mutiara ini aku dapatkan dengan andalkan kepandaianku

kalau kau ingin mendapatkannya kembali, tiada halangan

kaupun merampas dengan andalkan kepandaianmu pula !”.

Liem Kian Hoo malu sekali, merah padam wajahnya seraya

menjura dalam dalam kearah gadis itu katanya:

“Nona pernah melepaskan budi pertolongan kepada

guruku, bagaimanapun juga cayhe tidak berani menyalahi diri

nona, seandainya nona tidak ingin mengembalikan mutiara itu,

cayhepun tidak berani memaksa, hanya tolong nona suka

menjawab secara jujur, apakah nona telah menggabung kan

diri dengan Tiga Belas Sahabat ?”.

“Apa sangkut pautnya urusan ini dengan di rimu ?”

“Sebagian besar orang yang ikut serta dalam, perserikatan

Tiga Belas sahabat merupakan manusia-manusia rendah dari

Kangouw, seandainya nona turut serta dalam perserikatan itu

cayhe nasehati diri nona lebih baik cepat-cepat mengundurkan

diri, sebab cayhe sudah bersumpah tidak akan berdiri

berdampingan dengan Tiga Belas Sahabat, kemungkinan

besar dikemudian hari aku akan membalas budi nona dengan

perbuatan diluar dugaan !”

“Aku sih tidak termasuk diantara Tiga Belas Sahabat, cuma

aku punya sedikit hubungan dengan, mereka.”

“Kalau begitu bagus sekali, diantara Tiga-Belas Sahabat tak

seorangpun termasuk manusia budiman, seandainya nona

memang tidak tergabung dengan mereka, hal ini merupakan

suatu keberuntungan yang sangat besar, anggap, saja mutiara

itu sebagai hadiahku kepada diri nona suka menyanggupi satu

permintaanku ! “.

“Apa permintaanmu itu ?”.

“Meskipun mutiara ini adalah mustika keturunanku, namun

mempunyai hubungan yang sang at erat dengan Hioloo Ci-

Liong Teng, hioloo pusaka itu telah berhasil dirampas oleh

Kauw Heng Hu dengan akalnya, namun sebelum memperoleh

mutiara ini ia tak akan berhasil mendapatkan ranasia ilmu silat

yang tertera diatas dinding hioloo tadi, maka dari itu cayhe

hanya berharap agar mutiara ini jangan sampai terjatuh

ketangan Kauw-Heng Hu daripada memberi sayap bagi

harimau ganas dan menerbitkan banyak bencana di kemudian

hari”.

Selesai berkata ia menjura dalam-dalam kemudian putar

badan dan berlalu, hal ini membuat gadis itu jadi tertegun.

Baru puluhan tombak si anak muda itu berlalu mendadak

dari arah belakang berkumandang datang jeritan kaget, buruburu

ia berpaling, tampaklah di sisi dara itu telah bertambah

dengan seorang perempuan berbaju hitam, tangannya

mencengkeram diatas urat nadi dara itu dengan maksud

merampas mutiara dalam genggamannya sedangkan gadis itu

sedang meronta dengan sekuat tenaga.

Menyaksikan kejadian itu. Liem Kian Hoo jadi sangat

terperanjat buru-buru ia maju menghampiri sambil

membentak keras:

“Siapa kau ? apa maksud tujuanmu ? ayoh cepat lepaskan

cengkeramanmu.”

Perempuan berbaju hitam itu berpaling dan memandang

sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, lalu

mendengus.

“Keparat cilik, ayoh enyah dari sini, lebih baik jangan

mencampuri urusan orang lain !”.

Perempuan berbaju hitam itu berusia kurang lebih tiga

puluh tahunan, paras mukanya agak mirip dengan dara

tersebut, hanya diantara alisnya terselip kerutan yang

menunjukkan kebengisan jiwanya.

Dalam pada dara manis tadi telah terjatuh, ketangan

perempuan itu, namun ia bersikeras mem pertahankan dirj,

mutiara tersebut dicekal erat-erat dan bagaimanapun juga tak

mau lepas tangan meskipun ia tak tahu apa hubungan mereka

berdua, namun sianak muda ini tidak ingin menyaksikan

mutiaranya terjatuh ketangan orang lain, segera tubuhnya

maju kedepan dan membabat tubuh perempuan berbaju

hitam itu.

Gerak gerik perempuan berbaju bhitam itu gesitd sekali,

kakinyaa sedikit bergebser tahu-tahu ia sudah berkelit

bersama-sama dara itu, laksana kilat pula tangannya balas

melancarkan sebuah totokan kearah iga Liem Kian Hoo.

Angin serangan belum mengenai tubuhnya namun desiran

angin tajam yang menyambar lewat sudah terasa amat

memusuk badan, buru-buru si anak muda itu berkelit

kesamping, tanpa terasa sepasang tangannya pun perlihatkan

jurus ” Giok-Sak-Ci Hun ” yang ampuh itu.

Agaknya siperempuan berbaju hitam itu tahu kelihayannya,

buru-buru ia tarik tubuh dara manis itu untuk dilintangkan

didepan badannya.

Dara itu memandang sekejap kearah Kian-Hoo, sinar

matanya penuh diliputi kemurungan, hal ini membuat sianak

muda itu tidak tega dan gagal melancarkan serangan, sebab

apabila ia melepaskan pukulan juga niscaya gadis itu akan

terluka lebih dahulu.

Terdengar perempuan berbaju hitam itu tertawa dingin

kembali, kepada gadis itu bentaknya:

“Bwce Cie ! kalau kau tidak mau lepas tangan, jangan

salahkan kalau aku tidak akan bertindak sungkan lagi

kepadamu !..”

Gadis itu menggertak gigi bungkam dalam seribu bahasa.

Melihat gadis itu tidak memberikan reaksi-nya, perempuan

berbaju hitam itu jadi sangat marah, telapaknya langsung

membabat kearah pergelangannya keras-keras, jelas ia ada

maksud menghancurkan tangan itu.

Liem Kian Hoo jadi sangat kaget, buru-buru ia maju

kedepan siap menangkis datangnya babatan tersebut.

Siapa sangka gadis itu tiba-tiba gertak gigi sambil membalik

telapaknya melancarkan sebuah serangan menghantam Liem

Kian Hoo yang sedang maju menjongsong, angin pukulan

yang keras itu seketika memaksa tubuh sang anak muda

tergetar mundur beberapa langkah kebelakang.

“Braaaaaak…. !” pada saat yang bersamaan telapak

siperempuan berbaju hitam itupun sudah bersarang telak

diatas pergelangannya.

Liem Kian Hoo sangat terperanjat ia tidak habis mengerti

apa sebabnya gadis itu menghalangi niatnya untuk membantu,

bahkan rela membiarkan pergelangannya terhajar.

Siapa sangka kejadian ternyatab berlangsung didluar

dugaan, baacokan perempuanb berbaju hitam itu bukan saja

tidak melukai tubuh gadis itu, sebaliknya ia malah berhasil

meloloskan diri dari cengkeramannya bahkan perempuan

berbaju itu malah mundur kebelakang sambil memegang

telapak sendiri, agaknya ia menderita luka parah pada

telapaknya itu.

“Bibi ! ” ujar gadis itu dengan wajah adem…”

“Sejak ayah meninggal dunia, keluarga Ong kita tinggal dua

orang perempuan belaka, selama ini aku selalu anggap dirimu

sebagai seorang angkatan yang lebih tua dan mendengarkan

semua perkataanmu bahkan terhadap perbuatanmu yang

bersahabat dan bersekongkel dengan manusia jahatpun aku

paksakan diri untuk tidak ikut campur selama ini aku selalu

mengalah kepadamu, hal ini bukan berarti aku jeri

kepadamu.”.

Perempuan berbaju hitam itu melengak beberapa saat

lamanya, kemudian baru berseru dengan penuh kebencian:

“Lonte cilik, ! tidak aneh kalau beberapa saat belakangan

ini kau tidak sehormat dan sepatuh seperti tempo dulu,

kiranya secara diam-diam kau telah mempelajari ilmu

memindahkan jalan darah dari keluarga Ong kita. Hmm !

setan tua itu pandai benar membohongi diriku, katanya kitab

pusaka tersebut telah dibakar habis oleh ibumu, kiranya

secara diam diam ia telah wariskan kepandaian tersebut

kepadamu.”.

“Kitab pusaka tersebut benar-benar telah dibakar oleh

ibuku, Ayahpun tidak berhasil mendapatkan keseluruhan, ia

cuma mewariskan garis besarnya belaka.”.

“Sekalipun cuma garis besarnyapun sudah cukup, aku

adalah adik kandungannya namun ia tidak ambil perduli, sejak

ibumu dibawa pulang kerumah, ia tak pernah anggap aku

sebagai saudara kandungnya, Hmm, sampai matipun ia masih

tinggalkan serangkaian ilmu silat agar angkatan yang lebih

rendah dapat menganiaya diriku.”.

“Omong kosong ! ” bentak gadis itu gusar.

“Ayah selalu menperhatikan dirimu, ia selalu menyayangi

dirimu, kecuali ilmu silat, belum pernah ia tidak turuti

kemauanmu “.

“Hmmm ! semuanya itu cuma palsu belaka ia ada maksud

mengangkangi ilmu silat keturunan keluarga Ong kita, ia tidak

bermaksud untuk wariskan kepandaian itu kepadaku, dan ia

ada maksud serakah r!”.

“Ayah sama tsekali tiada maqksud serakah darn ingin

monpoli ilmu silat tersebut bagi dirinya sendiri, ia sudah

merasakan akan watak keji dan telengasmu, ia takut setelah

kau berilmu silat lihay lantas memakai kepandaian untuk

mencelakai orang, maka sebelum ajalnya beliau ajarkan

sebagian dari ilmu silat tersebut harus kuwariskan kepadamu

!”.

“Tahun dulu aku sudah menikah, kenapa kau masih

rahasiakan kepandaian tersebut ?” teriak perempuan berbaju

hitam itu dengan nada gusar.

“Harus aku lihat dahulu kau kawin dengan siapa, hmmm !

manusia macam itupun pantas jadi suamimu” teriak gadis itu

pula dengan nada gusar.

“Sejak bangsat itu tiba dirumah belum pernah ia lakukan

perbuatan baik, apalagi beberapa waktu belakangan ia sudah

membawa datang sekelompok kaum gembong iblis serta

sampah masyarakat kerumah kita. Sebuah keluarga yang baik

telah ia jadikan tidak karuan.”

“Kurangajar, kau berani mencampuri urusanku…”.

“Bibi ! inilah terakhir kalinya aku sebut dirimu dengan

sebutan tersebut, tadi kau telah putuskan hubungan kita

dengan babatan telapakmu, dus berarti hubungan kitapun

habis sampai disini seandainya kau berani melakukan

perbuatan jahat lagi, jangan salahkan kalau aku hendak

memusuhi dirimu !”.

Dengan penuh kegemasan perempuan berbaju hitam itu

melirik sekejap kearahnya lalu melirik pula kearah mutiara

tersebut dengan sinar mata ke semsem.

“Lonte cilik ! dewasa ini anggap saja kau lebih lihay, namun

kalau kau ingin musuhi diriku masih terlalu pagi untuk

dibicarakan Kauw Heng Hu terus menerus ingin dapatkan

rahasia dalam hioloo Ci-Liong~Teng, seandainya mutiara itu

ma sih ada ditanganmu, cepat atau lambat kau bakal

merasakan kelihayannya !”.

Selesai bicara ia jejak kakinya dan lenyap dibalik hutan.

Dari pembicaraan kedua orang itu Liem Kian Hoo pun dapat

meraba hubungan antara kedua terang itu, namun ia tidak

ingin menyela pembicaraan mereka berdua, menanti

siperempuan berbaju hitam itu sudah berlalu ia baru berjalan

menghampiri Ong Bwee Chi sidara manis itu.

Dalam pada Ong Bwee Chi sedang mengucurkan air mata,

melihat ia maju mendekat segera serunya: “Nih, ku

kembalikan mustikaku !”.

Liem Kian Hoo melengak, namun segera ujarnya sambil

tertawa: “Nona Ong ! aku datang tidak dengan maksud minta

kembali mutiara itu !…”.

“Aku tahu, tapi benda ini punya sangkut pa ut yang amat

besar dengan situasi dunia persilatan, aku tidak ingin mewakili

dirimu menanggung resiko ini lagi !”

Setelah mendengar perkataan ini, mau tak mau Liem Kien

Hoo terpaksa harus menerima kembali mutiara itu, setelah

menyimpan benda itu kedalam sakunya ia berkata dengan

penuh rasa menyesal:

“Demi mutiara ini, memaksa nona harus bentrok dengan

bibi sendiri, cayhe merasa sangat menyesal dengan kejadian

ini.”.

Tiba-tiba Ong Bwee Chi menyeka air mata dan tertawa.

“Soal ini tak bisa menyalahkan dirimu” katanya, ” kesemua

ini akulah yang tidak benar, Sebenarnya kalau mengikuti

pesan ayahku, setelah aku bersalah melatih kepandaian

tersebut maka aku diwajibkan membinasakan dirinya dengan

cara apapun, namun aku tidak tega turun tangan, maka

timbullah banyak kesulitan bagi diriku sendiri !”.

Ucapan ini sangat mengejutkan Liem Kian Hoo, sebelum ia

sempat bertanya, sambil tertawa getir Ong Bwee Chi telah

berkata kembali:

“Kau tentu punya firasat bahwa ayahku adalah seorang

yang kejam dan telengas bukan, sehingga saudara kandung

sendiripun hendak dibunuh.”.

“Sebelum cayhe mengerti duduknya perkara, tidak berani

aku mengambil segala macam perbandingan bagi ayahmu !”.

“Aaaaai ! padahal dalam soal ini tak dapat salahkan ayah,

sejak semula ia sudah ada maksud berbuat demikian namun

selama itu pula ia harus korbankan jiwa sendiri, maka sewaktu

tugas ini ia serahkan kepadaku, wajahnya menunjukkan

perasaan sedih yang tiada taranya…”.

“Dapatkah nona jelaskan duduknya perkara yang

sebenarnya ?” seru Liem Kian Hoo dengan hati kaget dan

tercengang.

“Aaaai . . . . ! kalau dibicarakan kejadian ini merupakan

peristiwa jelek dari keluarga Ong kami, mendiang ayahku

bernama Ong Beng Siang, walaupun sejak kecil belajar silat

namun selalu memegang teguh peraturan nenek moyang

kami, belum pernah beliau tampil didalam dunia persilatan

maka namanya tidak dikenal oleh siapapun.”.

“Ditinjau dari kepandaian yang nona miliki, ayahmu pasti

seorang jago yang maha sakti tukas sianak muda itu tak

tahan. “Seandainya ia suka berkelana dalam dunia persilatan,

tidak sulit untuk angkat nama jadi seorang pendekar yang

tersohor !”.

“Sudahlah, jangan kau berkata demikian, jusrtu karena hal

inilah mengakibatkan orang tuaku mengalami celaka…

baiklah, akan kuceritakan peristiwa ini sejak kakekku

meninggal maka tinggallah ayahku serta seorang adik

perempuan yang berusia sangat muda, dia bukan lain adalah

Bibi Giok Yong yang barusan kau jumpai, karena ayahku tak

ada saudara lain maka terhadap adik perempuannya ini ia

selalu manja dan sayang luar biasa, sejak kecil ia sudah diberi

dasar ilmu silat yang kokoh, namun bibi Giok Yong tidak

sependapat dengan cara ayahku mengasingkan diri, ketika

berusia lima belas tahun diam-diam ia sudah ngeloyor pergi

dan berbuat sewenang-wenang ditempat luaran dengan

andalkan kepandaian keluarga sehingga ia dikenal orang

sebagai Hek-Swie Sian atau bunga Swie-Sian hitam !”.

” Aaaah, kiranya Hek Swie-Sian adalah dirinya, aku dengar

perbuatannya keji sekali, ia pernah membinasakan banyak

jago sakti, dan malang melintang selama lima enam tahun

dalam dunia persilatan, bahkan namanya sejajar dengan si

bunga mawar putih, kemudian entah apa sebab namanya

lenyap dari dunia persilatan”.

Ong Bwee Chi mengangguk.

” Aku sendiripun tidak tahu duduk perkara yang

sebenarnya, aku cuma tahu kalau ditempat luaran ia telah

bertemu dengan seorang lawan tangguh dimana ia dipaksa

untuk menyembunyikan diri, setelah pulang kerumah ia ribut

dan recoki ayahku untuk memberi pelajaran ilmu silat yang

lebih dalam, ayah tidak tega menolak permintaannya lagipula

tidak ingin ia terjun kembali kedalam dunia persilatan, maka

sengaja ia beri pelayaran beberapa ilmu silat yang sukar

dilatih dan mengurungnya dirumah, pada waktu itu ibuku

belum lama kawin dengan ayah, diam-diam ibu dapat melihat

kekejian diatas raut wajahnya, dikemudian hari ia pasti akan

banyak melakukan kejahatan, maka demi kebaikannya diamdiam

ia kasi peringatan kepada ayahku agar jangan wariskan

ilmu pemindahan jalan darah yang paling lihay kepadanya.”

“Entah bagaimana kemudian, ternyata rahasia ini diketahui

olehnya, ia jadi amat membenci ibuku, sering kali ia ada

maksud mencelakai ibuku, namun ibupun seorang perempuan

yang cerdik setiap kali ia berhasil meloloskan diri dengan

selamat.

“Tetapi ketika ibuku sedang melahirkan, ambil kesempatan

selagi beliau masih lemah itulah ia sudah totok jalan darah

ibuku sehingga urat nadi dalam tubuhnya pecah dan binasa !”.

“Sungguh keji perbuatannya !” seru Liem Kian Hoo dengan

hati terperanjat.

“Siapa bilang tidak ? setelah peristiwa itu ayahpun baru

tahu sebab sebab kematian ibuku, tetapi ia tak sanggup

menemukan bukti lapipula tidak ingin putus hubungan dengan

dirinya, maka rahasia itu selalu disimpan dalam hati.

Sejak bibi Giok Yong berhasil membinasakan ibu, kembali ia

recoki ayah untuk wariskan iimu pemindahan urat nadi

kepadanya, sebab asal kepandaian ini berhasil ia dapatkan

maka tenaga dalamnya akan mendapat kemajuan pesat

bahkan ia tidak akan takut diserang musuh.

Namun ayahku almarhum sudah menaruh perasaan waswas

kepadanya, lagi pula sejak kematian ibu, ayah memahami

benar-benar bahwa bibit bencana yang mengakibatkan

peristiwa tragis itu bukan lain adalah kitap pusaka ilmu silat itu

maka kitap tadi lantas dibakar habis.

“Dengan alasan inilah ayah selalu menampik

permintaannya, namun berhubung kepandaian itu dalam

sekali artinya, ayahpun hanya paham empat lima bagian

belaka, Melihat tiada harapan baginya untuk mewariskan apa

yang diketahui, kembali ayahku menampik permintaaanya,

kejadian ini membuat ia semakin mendendam ayah, dan

akhirnya digunakanlah semacam obat racun yang sangat lihay

dimana racun itu dicampurkan kedalam buah-buahan untuk

mencelakahi ayah…”.

“Aaaaah ! kalau begitu buah anggur yang ada diruang tamu

kalianpun mengadung racun keji itu ?” Seru Kian Hoo

terkesiap.

“Tidak salah ! ketika ayahku keracunan, waktu itu aku baru

berusia sepuluh tahun dan belum tahu urusan, ayah takut

akupun mengalami nasib yang sama maka dengan menahan

siksaan badan beliau menyusup kedalam istana Kaisar untuk

mencuri kayu Boe-Kouw-Bok dan diam diam serahkan

kepadaku dan menitahkan aku hapalkan diluar kepala.

Kemudian berpesan pula kepadaku seandainya ia masih

melakukan kejahatan, maka aku tak usah mengingat

hubungan keluarga lagi, segera basmi dia dari muka bumi

agar tidak sampai mencelakai banyak orang lagi.”.

“Aaaaai…! kalau begitu, bibimu memang punya alasan

yang kuat untuk dibunuh, lalu apa sebabnya nona tidak mau

turun tangan juga terhadap dirinya ?”.

“Sejak ia mencelakai ayahku sampai mati, agaknya liangsim

nya mengalami pukulan besar, sejak itu waktu ia selalu

tinggal dirumah dan bersikap ramah sekali kepadaku, diwaktu

senggang ia wariskan ilmu silat kepadaku, meskipun dalam

hati aku masih ingat selalu akan dendam sakit hati orang

tuaku, namun menjumpai sikapnya aku jadi ragu-ragu untuk

turun tangan, oleh sebab itulah sembari diam-diam

mempelajari ilmu silat yang diwariskan ayah kepadaku,

akupun belajar silat darinya, ia tidak tahu kalau aku punya

kepandaian lain. tiada hentinya selalu memuji akan kemajuan

pesat yang kuperoleh, demikianlah tujuh delapan tahun pun

segera lewat tanpa terasa, sampai tahun berselang tiba-tiba ia

tidak betah berdiam dirumah lagi dan pergi keluar seorang diri

!”

“Tadi aku dengar kau mengatakan bahwa ia sudah kawin,

entah ia kawin dengan siapa ?”

“Kawin dengan seorang bajingan terkutuk, seorang srigala

hidung bangor !…” sahut Ong Bwee Chi dengan wajah penuh

kegusaran.

Menyaksikan air mukanya tidak cerah, Liem Kian Hoo tidak

berani menukas, terdengar gadis itu menghela napas panjang

dan menyambung kembali kata-katanya:

“Kepergiannya kali ini tidak terlalu lama, akupun tidak

dengar keonaran yang ia terbikan, namun ia pulang dengan

membawa seorang pria itu sih bersih dan gagah, ilmu silatnya

tidak lemah namun watak serta tingkah lakunya terlalu jelek,

setiap kali bertemu dengan aku tentu mengucapkan kata-kata

cabul yang tengik, saking gusarnya beberapa kali aku

bergebrak melawan dirinya, namun berhubung aku tak berani

mengeluarkan kepandaian ajaran ayah maka aku selalu bukan

tandingannya, setiap kali terjadi pertarungan bibi Giok Yong

lah selalu yang melerai bahkan memperingatkan dirinya

dengan kata kata pedas.”

“Sejak ditegur dia baru berhenti menggoda diriku, kurang

lebih dua bulan berselang tiba tiba ia kembali dari tempat

luaran dengan membawa banyak teman dan katanya hendak

mendirikan perserikatan Tiga Belas Sahabat, berhubung masih

kekurangan beberapa orang maka ia tarik bibi Giok Yong

untuk ikut serta, bibi langsung menyanggupi maka merekapun

lantas gunakan rumahku sebagai markas besar, sejak hari itu

banyak kerepotan yang terjadi membuat suasana dalam

rumahku jadi gaduh dan tidak pernah tenteram !”.

“Aku dengar katanya diantara Tiga Belas Sahabat masih

ada dua orang gadis muda lagi…”

“Tidak salah, seorang bernama Lie Hong Hwie, katanya dia

seorang pelacur kenamaan dari kota Wie-Yang dan pernah

ada hubungan dengan dirimu !”.

-oo0dw0oo-

Jilid 11

UCAPAN ini membuat wajah sianak muda itu berubah jadi

merah padam.

“Berhubung perguruan kami ada hubungan maka diantara

kami berduapun pernah berhubungan tak bisa dikatakan ada

hubungan istimewa” sahutnya, ” Aku dengar gadis kedua

adalah seorang gadis she-Sa”.

“Betul, dia adalah ” Peng-Sim-Siancu ” si dewi berhati beku

Salichi, parasnya cantik jelita dan genit sekali, hubungannya

dengan Kauw Heng Hu, sang lootoa dari tiga belas Sahabat

paling baik, dan mengadakan hubungan gelap dengan Goan Ci

Tiong sehingga mendongkolkan hati bibi Yong, beberapa kali

ia sampai bentrok dengan dirinya!”

Liem Kian Hoo melengak, Sani ganti nama jadi Salichi serta

pengorbanan dirinya yang maha besar dapat dipahami sianak

muda ini, sebaliknya nama dari Goan Ci Tiong belum pernah ia

dengar diantara tiga bersahabatpun tak ada nama orang ini, ia

tak tahu dari manakah orang ini dan tidak tahu pula mengapa

iab sampai ada maidn dengan Sani.

Ong Bwee Chi tebrtawa dingin dan berkata kembali:

“Salichi memuji dirimu tiada hentinya, Lie Hong Hwie pun

menilai dirimu sangat tinggi, katanya bukan saja kau pandai

dalam soal Boe, soal Boen pun luar biasa, bakat serta

kecerdikanmu tiada tandingan, hal ini membuat bajingan tua

itu menderetkan dirimu sebagai musuh tangguh nomor

dua…”.

“Siapakah yang dinilai sebagai musuh tangguh nomer satu

?”.

“Katanya orang itupun punya hubungan dengan dirimu,

orang orang lama yang duduk dalam Perserikatan Tiga Belas

Sahabat pernah menderita kerugian besar ditangannya, aku

tidak tahu siapa kah namanya, mungkin cuma kau sendiri

yang paham siapakah orang itu !”.

Liem Kian Hoo tahu yang dimaksudkan gadis itu bukan lain

adalah ayah kandungnya Liem Koei Lin, buru buru katanya:

“Cayhe sendiripun tidak tahu siapa namanya orang

berkerudung itu hanya pernah mewariskan ilmu silatnya

kepadaku !”.

“Sekalipun tidak kau katakanpun tidak mengapa, mereka

segera akan berhasil menemukan orang itu !”.

“Dimana ?” tanya Kian Hoo terperanjat sebenarnya Ong

Bwee Chi tidak ingin bicara, namun menyaksikan sikapnya

yang cemas tak tahan lagi ia tertawa cekikikan.

“Sewaktu datang kemari Kauw Heng Hu membawa dua

orang gadis, yang rada tua bernama Toan Kiem Hoa, katanya

dia adalah seorang yang tersohor diwilayah Biauw, orang itu

sudah dikurung hampir puluhan hari lamanya disini, suatu

malam mendadak tanpa menimbulkan sedikit suarapun

perempuan itu lenyap tak berbekas, mereka jadi kelabakan

setengah harian lamanya tanpa peroleh hasil sedikitpun maka

disimpulkan bahwa dia tentu sudah ditolong orang, selama

beberapa hari ini Kauw Heng Hu sekalian berkeliaran ditempat

luaran untuk mencari jejaknya, menanti kehadiranmu ini hari

barulah boleh dikata mereka berhasil mendapatkan hasil yang

diharapkan !”

“Kenapa aku bisa diikut sertakan dalam masalah itu ?”.

“Berkumpulnya kembali tiga belas sahabat bukan lain

bermaksud untuk menghadapi simanu-sia berkerudung yang

misterius itu, mula-mula mereka menaruh curiga bahwa orang

itupun sudah mati, tapi sewaktu kau berada bdidepan pintu

tdadi mengatakan abahwa orang itubpun sudah mencari

kesini, mereka baru percaya bahwa usaha menolong orang

yang telah terjadi adalah hasil perbuatannya, ketika kau bikin

onar diluar pintu tadi, Kauw Heng Hu memang tak ada disini,

beberapa saat setelah Heng-Thian-Siang-Li masuk kedalam

Kauw Heng Hu telah pulang, namun setelah mendengar

ucapan itu tanpa banyak bicara ia segera berangkat kegunung

Thay-Heng-san !”.

“Mau apa ia berangkat kegunung Thay-Heng San ?”

“Toa Kiem Hoa terkena racun pembuyar tulang dari Kauw

Heng Hu, seluruh badannya lemas tak bertenaga dan tak bisa

berkutik, untuk memunahkan racun tersebut hanya seorang

yang tinggal digunung Thay-heng-san saja yang dapat

melakukan, maka Kauw Heng Hu menduga orang itu menduga

orang itu pasti membawa Toan Kiem Hoa berangkat kesitu,

mereka hendak menyusul kesana dan menghalangi niatnya,

sebab ilmu silat Toan Kiem Hoa lihay sekali, untuk menangkap

perempuan itu Kauw Heng Hu pun harus menggunakan akal,

maka mereka rasa seandainya tenaga lweekangnya bisa pulih

kembali hal hal akan mendatangkan banyak kerepotan bagi

mereka.

Oleh sebab itulah Kauw Heng Hu tak ada waktu

menghadapi dirimu lagi, buru buru ia tinggalkan pesan dan

berlalu, sedangkan Bibi Giok Yong serta Goan Ci Tiong

ditinggalkan ditempat ini untuk menghadapi dirimu, agaknya

Goan Ci Tiong tidak ingin tinggal disini mencari penyakit, maka

setelah menaruh obat pemabok didalam sayur dan arak, buruburu

ia bersama bibi Giok Yong berlalu…”.

“Selama ini kau selalu tinggal ditempat ini ?”

“Tidak salah, disini adalah rumahku, sekali pun bibi Giok

Yong tidak mau namun aku masih membutuhkannya !”.

“Lalu apa sebabnya kau biarkan rekan-rekanku maban obat

pemabok itu !…”.

“Hmmm ! gadis jelek itu sudah merusak singa batu didepan

rumahku.” seru Ong Bwee Chi sambil cibirkan bibirnya,

“sedangkan sepasang pengemis itu merusak pintu rumahku,

maka aku harus kasi sedikit pelajaran kepada mereka…”

“Nona, perbuatanmu ini sudah merusak pekerjaan besar

ku, tenaga dalam yang dimiliki gembong gembongr iblis itu

luart biasa sekali, qseandainya mererka berhasil temukan

orang itu maka kejadian yang tidak diinginkan bisa

berlangsung, sekarang bagaimana baiknya.”.

“Aneh benar sih kau ini ? kan obat pemabok itu bukan aku

yang lepaskan, apa gunanya kau salahkan diriku ? kalau sejak

tadi aku tahu kalau kau adalah orang yang tidak pakai aturan,

sepatah katapun tidak ingin kuberitahukan kepadamu !”.

Liem Kian Hoo dibikin apa boleh buat, terpaksa ia menjura

dalam-dalam sambil berkata:

“Pelbagai kesalahan yang pernah kulakukan selama ini,

harap nona suka maafkan, dapatkah nona carikan akal untuk

menyadarkan beberapa orang itu ?…”.

“Aku tak bisa melakukannya, sebab obat pe mabok dari

Goan Ci Tiong tak bisa dipunahkan dengan obat apapun,

sebelum dua hari dua malam mereka tak bakal mendusin !”.

“Apa ? dua hari dua malam ? kalau sampai demikian

adanya bukankah urusan bakal runyam ?”

“Eeeei… sebenarnya apa hubunganmu dengan orang yang

sedang berangkat kegunung Tha Hengsan itu ? mengapa kau

kelihatan begitu cemas ?…” tegur Bwee Chi sambil tertawa.

Liem Kian Hoo berpikir sebentar, kemudian baru jawabnya

dengan serius:

“Beliau adalah ayahku !”.

“Aaaah, bukan kan ayahmu adalah Tihu thay jien ?…”.

“Tidak salah ! ayahku bukan lain adalah si manusia

berkerudung itu, seperti halnya ayahmu, meskipun ayahku

belajar silat namun tidak pernah digunakan, sewaktu masih

muda ayahku sudah mencampuri urusan orang lain yang

mengakibatkan kerepotan bagi diri sendiri.”

Ong Bee Chi jadi ikut gelisah, serunya:

“Waaaah, kalau begini bisa celaka ! lebih baik kau

tinggalkan saja mereka ditempat ini dan berangkat lebih

dahulu menuju kegunung Thay-Heng san !”.

Wajah Kian Hoo kelihatan murung sekali, ia termenung dan

membungkam.

Agaknya gadis she-Ong ini tahu akan maksud hatinya,

buru-buru ia berkata:

“Legakanlah hatimu, dalam waktu sesingkat ini tidak

mungkin ada orang-orang datang ke mari, mereka tidak akan

menemui mara bahaya, sedang orang-orang itupun baru

berangkat setengah harian, asal kau cepat-cepat menyusul

rasanya masih sempat untuk mendahului mereka, bukankah

dalam gedung masih ada seorang kakek tua yang jadi gurumu

? akan kusampaikan berita ini kepadanya, urusan tak boleh

terlambat lagi, cepat-cepatlah berangkatlah !”.

“Kalau begitu aku harus merepotkan diri nona !” seru

sianak muda itu terharu.

“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi, berangkatlah menuju

kearah barat ! urusan ini penting dan mendesak sekali,

asalkan kau dapat merebut waktu sedetik berarti kau dapat

menolong ayahmu dari ancaman mara bahaya, ilmu

meringankan tubuhku jauh lebih cepat daripadamu sebentar

kemudian aku susul dirimu !”.

“Nona, kaupun hendak berangkat kegunung Thay Heng san

?” tanya Liem Kian Hoo melengak.

Merah jengah selembar wajah Ong Bwee Chi.

“Di antara Tiga Belas sahabat terdapat pula bibi Giok Yong

serta Goan Ci Tiong, akupun tak bisa menghindari tanggung

jawab ini maka sudah sepantasnya kalau aku bantu dirimu !”

katanya.

Liem Kian Hoo tidak tahu apa yang harus dikatakan,

mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang suara

seseorang yang serak dan tua:

“Loohu sudah tahu duduknya perkara, menolong orang

bagaikan menolong api, nona Ong-pun tak usah repot-repot

beritahukan kabar tersebut kepadaku, kalian boleh segera

berangkat, dua hari kemudian loohu akan berusaha untuk

susul kalian semua kegunung Thay Han san !”.

-o O oDengan

rasa kaget Liem Kian Hoo berpaling kebelakang,

tampaklah Liuw Boe Hwee guru nya sudah berdiri tidak jauh

dari sisi mereka, buru-buru ia bertanya:

“Suhu ! sejak kapan kau tiba disini ? ,,, ” Kau melangkah

didepan aku menyusul di belakang, berkelana selama puluhan

tahun dalam kangouw bukan perjalanan sia sia, masa aku tak

dapat mengelabuhi pendengaran kalian sudahlah. sekarang

bukan waktunya untuk bicara, cepatlah kalian berangkat !”

Sianak muda itu merasa amat geblisah, iapun tiddak kasi

penjelaasan lagi, segebra ia menjura kepada gurunya.

“Suhu ! baik-baiklah jaga diri, tecu akan berangkat lebih

dahulu !”.

Habis bicara ia lantas menerobos kedalam hutan berangkat

kearah Barat, beberapa saat sudah ia berlari namun tidak

kedengaran suara di-belakangnya, ia kira Ong Bwee Chi tidak

menyusul.

Siapa tahu ketika ia berpaling, tampaklah gadis itu sambil

tersenyum membuntuti dibeIakang-nya, melihat pemuda itu

berpaling dara tadi segera percepat langkahnya dan jalan

sejajar dengan dirinya.

Dalam hati Kian Hoo ada urusan, ia tak ada kegembiraan

untuk banyak bicara, sepanjang perjalanan mulutnya

bungkam dalam seribu bahasa, sedangkan Ong Bwee Chi

adalah seorang gadis, tentu saja leluasa baginya untuk ajak

bicara lebih dahulu, maka dalam sekejap mata ratusan li

sudah ditempuh.

Suasana semakin gelap, cahaya sang surya lenyap dibalik

gunung, sampailah mereka disebuah jalan datar, di hadapan

mereka muncul bukit-bukit kecil bagaikan gundukan tanah

pekuburan.

Kian Hoo buru buru akan menerjang keatas. namun dengan

cepat Ong Bwee Chi menghalangi niatnya itu sambil menegur:

“Tunggu sebentar ! kau sudah meluapkan pesan yang

kutulis dalam surat peringatan itu ?”

Teguran ini menyadarkan sianak muda itu ia teringat dalam

surat peringatan yang dikirim dara tersebut memang

tercantum kata-kata yang berbunyi:

“Berhati-hatilah terhadap bahaya api beracun bila mana

berjumpa dengan bukit bertanah lumpur.”.

Namun meninjau dari situasi yang amat sunyi disekeliling

tempat itu ia jadi ragu ragu deng an rasa tercengang segera

tanyanya:

“Mungkinkah ada orang yang bersembunyi ditempat ini

untuk membokong kita ?”.

“Ehmm !” Ong Bwee Chi manggut-2.

“Goan Ci Tiong mendapat tugas untuk menghalangi jalan

pergimu, sewaktu ia hendak berangkat aku sempat melihat ia

siapkan senjata apinya kemudian mengatakan bahwa bukit

tanah lumpur merupakan posisi yang paling bbagus untuk

menyderang, dengan paerbuatannya yanbg keji lagi pula suka

bermain api beracun dan sebangsanya maka aku duga ia akan

melancarkan serangan bokongan kepadamu ditempat ini, oleh

sebab itulah senjata ku tinggalkan surat peringatan agar kau

waspada…”

Liem Kian Ho meninjau sejenak situasi di sekeliling tempat

itu, kemudian berkata:

“Bukit ini gundul kelimis dan tidak nampak sebatang

pohonpun, bahkan sebuah tempat untuk bersembunyi pun tak

ada, dengan siasat licik apakah ia hendak menyerang aku

dengan api beracunnya”.

“Makin datar tempat itu semakin sulit bagi seseorang untuk

berjaga diri !”.

“Namun kita kan tidak mungkin berdiri terus menerus

ditempat ini.”.

“Aku tidak bermaksud begitu.” sahut Bwee Chi seraya

mengerling sekejap kearahnya. “Kita harus bersiap sedia

sehingga tidak sampai menemui bencana, keadaan begitulah

yang kita ihginkan, tidak ada salahnya bukan kalau kita

bertindak hati-hati !”

Sembari berkata ia merogoh kedalam sakunya dari ambil

keluar sebuah botol porselin kecil lalu ambil keluar dua butir

pil berwarna putih, satu ditelan sendiri sedang yang lain

diberikan kepada Kian Hoo.

“Telanlah pil itu! inilah pil salju Peng-Soat Wan yang khusus

punya daya lawan terhadap api beracun, Iagipula mempunyai

daya terhadap hawa panas yang menyerang tubuh !” katanya

kembali. “Nanti, apabila kita menyerbu kemuka, pertajam

mata serta telinganmu, munkin dengan berbuat demikian kita

bisa melewati bencana ini dengan selamat !”.

Liem Kian Hoo menerima pil tadi dan dimasukkan kedalam

mulut, kemudian ia menerjang naik keatas bukit tersebut.

Nampaklah sebuah jalan lumpur yang kecil lagi sempit

terbentang didepan mata, tak sesosok bayangan manusiapun

yang ada disitu, Belum sampai ia mengucapkan sesuatu

kepada diri OngBwee Chi, mendadak terdengar ledakan

dahsyat berkumandang dari bawah kakinya, diikuti dari balik

lumpur diempat penjuru tempat itu bermunculan jilatan api

berwarna hijau, dalam sekejap mata sekeliling tubuh mereka

telah berubah jadi lautan api.

Menyasikan empat penjuru sekeliling tubuh nya telah

berubah jadi lautan api, sianak muda itu jadi gugup dan

rgeragapan. Dalatm keadaan gelisqah ia enjotkan rbadan

ketengah angkasa, dari situ ia bisa melihat keadaan

disekitarnya, namun dengan cepat hatinya terjelos.

Kiranya dalam waktu singkat itulah seluruh penjuru telah

berubah jadi lautan api, baik diatas bukit bawah bukit maupun

dijalan depan atau jalan belakang, semua tempat sudah

penuh dengan jilatan api berwarna hijau, kecuali kalau mereka

adalah seekor burung yang bisa terbang ke angkasa, mungkin

bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk lolos dari tempat

itu.

Liem Kian Hoo kehabisan akal, terpaksa ia gertak gigi

sambil mengepos tenaga murni hasil latihan dari hioIoo Chi-

Liong-Teng keseluruh tubuh nya dan membentuk selapis

dinding hawa yang kuat dan bisa membendung sambaran api,

lalu perlahan-Iahan melayang masuk ketengah jilatan api.

Ketika kakinya menginjak permukaan tanah, jilatan api itu

segera menyingkir seolah-olah terdesak oleh dinding hawa

murninya yang kuat dan tak sanggup mendekati tubuhnya

namun kobaran api semakin menjulang tinggi keangkasa dan

melampaui batok kepalanya, dengan begitu terbentuk lah

sebuah jala api yang segera mengurung badannya.

Untuk sementara waktu kobaran api warna hijau itu tak

bisa melukai badannya, hal ini mem buat Kian Hoo rada lega,

otaknya pun jadi makin dingin, sekarang ia mulai mencari akal

untuk meloloskan diri dari tempat bahaya itu,

Mula pertama yang paling mengherankan hatinya adalah

asal mula dari lautan api itu, jilataa api berkobar dari atas

permukaan namun diatas tanah sama sekali tidak nampak

adanya benda terbakar lalu darimana datangnya jilatan api itu

? dan bagaimana mungkin api tadi bisa berkobar dengan

hebatnya ?.

Masalah kedua yang merisaukan hatinya adalah

keselamatan dari Ong Bwee Chi, karena simpatik gadis

berbaju hitam kecil mungil dan cantik itu sudah menyertai dia

berangkat ke Barat, ketika ia menempuh bahaya tadi, dara

tersebutpun ikut serta, hal ini berarti bahwasanya iapun,

sudah terjebak pula didalam lautan api ini.

“Nona Ong, dimana kau ?” segera teriaknya dengan hati

cemas,

Baru saja ia selesai berteriak, dari balik kobaran api muncul

sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah Ong Bwec

Chi. ketika itu dara tersebut telah melepaskan pakaian warna

hitam nya dan membungkus seluruh tubuhnya dengan sebuah

serat lembek berwarna keperak-perakan, menyaksikan ia

selamat sianak muda itupun meng hembuskan napas lega.

“Liem… Liem kongcu, badanmu tidak sampai terluka bukan

?” terdengar dara itu berteriak. “Huuu ! hatiku benar benar

amat cemas kenapa kau sudah menerjang masuk kemari

sebelum habis mendengarkan perkataanku…”.

Sembari berkata ia membuka serat lemas warna perak tadi

kemudian mengerudungi pula tubuh Kian Hoo kedalam serat

tadi, setelah itu ia menegur kembali:

“Untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya api,

sengaja kubawa sisik ikan Hiu salju Peng-Wan-Ciauw-Siauw

dari rumah, benda itu merupakan salah satu benda mustika

dari istana kerajaan yang bisa menghindari sengatan api,

belum sempat kuambil keluar benda itu kau sudah lari keluar

lebih dulu.”.

Meskipun serat tipis itu lebar namun tidak cukup untuk

mengerudungi tubuh dua orang sekaligus, maka terpaksa Ong

Bwee Chi harus menempelkan tubuhnya rapat-rapat diatas

badan pemuda itu.

Bau harum semerbak terhembus keluar menusuk lubang

hidungnya, gesekan kulit dengan kulit menimbulkan sesuatu

daya rangsang yang aneh sekali dalam tubuh kedua orang itu,

meski timbul perasaan aneh namun berada dalam keadaan

seperti ini tak sempat bagi mereka berdua untuk berpikir yang

bukan bukan.

Berada didalam naungan serat lembek Peng Wan-Ciauw-

Siauw, Kian Hoo malahan merasa rada sumpek dan

kepanasan, segera ujarnya kepada sang gadis dengan suara

lirih:

“Nona Ong ! lebih baik biarkanlah aku keluar dari naungan

seratmu, aku rasa api tersebut tidak terlalu lihay”.

“Omong kosong ! api beracun dari Goan Ci Tiong sangat

lihay, besi bajapun dapat meleleh apa lagi badanmu.” Seru

sang dara tidak percaya. “Kau anggap badanmu jauh lebih

kuat daripada sekeping besi baja ?”.

“Aku tidak bermaksud demikian,b sebelum nona tdiba disini

aku asudah agak lamab terkurung didalam lautan api,

seandainya api itu betul-betul hebat sejak tadi badanku sudah

meleleh, namun apa yang terjadi ? bukankah tubuhku masih

tetap utuh ?”.

Mendengar ucapan iai Ong Bwee Chi baru mendusin,

sekalipun serat lembek Peng-San-Ciauw Siauw punya

kemampuan untuk membendung hawa panas, namun berada

lingkungan kobaran api yang begitu dahsyat apa sebabnya

mereka sama sekali tidak merasakan hawa panas barang

sedikit pun jua ?”

Berpikir sampai disitu, ia lantas membuka sedikit serat

lembek yang mengerudungi badannya dan menonjolkan

sebagian dari badannya.

Tampaklah jilatan api yang menempel diatas tubuhnya

sama sekali tidak mendatangkan perasaan apapunt Liem Kian

Hoo tidak sabar lagi, ia segera menerobos keluar dan sengaja

memperkurang hawa khie-kang yang melindungi tubuhnya

hingga seluruh badannya terjilat api tanpa mendapat

perlindungan apapun.

“Apa yang terjadi ?” ternyata ia tidak merasa kan sesuatu

apapun, jangan dikata terluka, merasa panaspun tidak.

Ia masih belum percaya, tangannya segera dimasukkan

kedalam kobaran api dan terasalah jilatan api itu amat dingin,

suatu peristiwa yang aneh sekali.

“Aaaaah…! mengapa jilatan api ini sama sekali tidak terasa

panas ?….” tak kuasa ia menjerit.

“Ooooouw….! sekarang pahamlah sudah aku, api ini

pastilah api palsu !….”.

“Api palsu ? mana apipun bisa dipalsukan ?”

“Goan Ci Tiong adalah seorang manusia yang licik dan

punya banyak akal busuk, permainan2 setan yang berhasil ia

pahamipun tidak sedikit jumlahnya, entah dengan cara apakah

ia berhasil menciptakan sejenis api palsu yang dipandang

sepintas lalu seolah olah mengerikan sekali, padahal sama

sekali tidak terasa panas.”.

“Apabila api ini benar-benar tidak melukai orang, ayoh kita

cepat cepat menerjang kedepan!”

“Tidak boleh, jangan bertindak gegabah.” buru buru Ong

Bwee Chi menggeleng serta mencegah. “Semakin ia berbuat

demikian, semakin kelihatan betapa menakutkannya orang itu,

ia tentu sudah menyiapkan suatu perangkbap yang jauh

ledbih mengerikan abagi kita !”

“Tbapi, kita kan tak bisa selalu berada disi-ni belaka ?

bagaimanapun kita musti cari suatu akal untuk meninggalkan

tempat ini !”.

Ong Bwee Chi berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia

baru berkata:

“Satu satunya cara yang dapat kita lakukan adalah

perlahan-Iahan maju kedepan sambil membungkus tubuh kita

dengan serat lembek Peng-i Wan-Ciauw-Siauw tersebut,

dengan berbuat demikian, kendati ia akan mengeluarkan

siasat paling keji siperangkap paling busukpun tidak akan

mencelakai diri kita !”.

“Tidak bisa jadi ! serat tipis itu paling banter hanya bisa

mengerudungi seseorang belaka, apabila kita berdua harus

dilindungi berbareng maka kakipun sukar ditekuk, dalam

keadaan semacam itu mungkin kita bisa bergerak kemuka ?”

“Kalau begitu menyeberanglah lebih dahulu dengan

mengenakan serat mustika itu” kata Ong Bwee Chi setelah

tertegun sesaat

“Biarkanlah aku berjaga jaga disini, tujuan dari Goan Ci

Tiong adalah menghadapi dirimu seorang, ia tidak akan berani

mengapa apakan dirimu !”.

“Hal ini mana boleh jadi ?” Dengan cepat Kian Hoo

menggeleng berulang kali, “seandainya nona sampai menemui

mara bahaya bagaimana cayhe bisa berlega hati ? untung

sekali aku punya hawa khie-kang pelindung badan asal kita

menerjang kedepan dengan sekuat tenaga mungkin kita masih

bisa meloloskan diri dari bencana ini !”.

“Huuuu…!” Ong Bwee Chi mencibirkan bibirnya, ” Akutahu

kalau kepandainmu sanggat lihay, tak perlu orang lain

menguatirkan keselamatanmu “.

Berada dalam keadaan seperti iai.LiemK.ian Hoo merasa

malas untuk cekcok mulut dengan dirinya, ia tertawa dan

segera berseru:

“Nona, harap kau suka berhati hati, aku akan berangkat

lebih dahulu….”.

Selesai bicara ia enjotkan badan menerjang kedalam lautan

api yang berkobar dengan dahsyatnya itu, kini ia tak sanggup

membedakan arah lagi maka dengan andalkan ingatannya

sewaktu masih berada diatas puncak bukit tadi ia menerjang

kearah lekukan tanah yang jauh lebih rendah, ia merasa arah

yang dituju tak bakal salah maka seluruh perhatiannya

dipusatkan kearah sana danr menerjang kemutka dengan

cepatqnya.

Didalam berberapa kali loncatan, ia sudah berada sangat

jauh dari tempat semula.

Telinganya masih sempat menangkap teriakan Ong Bwee

Chi dari belakang dengan nada cemas namun ia tidak ambil

perduli, sianak muda itu lan jutkan larinya kearah depan.

Kurang lebih beberapa li kemudian keluarlah Kian Hoo dari

lingkaran lautan api, memandang jilatan api yang begitu

dahsyat dibelakang tubuhnya ia berteriak keras:

“Nona Ong, aku sudah keluar dari lingkaran lautan api,

cepatlah datang kemari !”.

Tiada jawaban dari Ong Bwee Chi, sebaliknya dari balik

semak belukar berkumandang keluar suara teguran seseorang

dengan nada yang sangat dingin:

“Keparat cilik, kau sedang mengigau disiang hari bolong ?

Hmmm ! tahukah kau bahwa perbuatanmu sekarang justru

sudah terjatuh kedalam dugaanku, kini kau sudah masuk

kedalam perangkapku !”.

Mendengar suara itu Liem Kian Hoo terperanjat, ia segera

berpaling kearah berasalnya suara itu.

Tampaklah seorang lelaki berpotongan siucay dengan

memakai baju warna hijau munculkan diri dari balik

perumputan, dari sepasang mata orang itu terpancar keluar

cahaya mata penuh kelicikan.

“Siapa kau ?” segera ia menegur.

” Haaa… haaaa… haaaa… bukankah sibudak cilik itu sudah

beritahukan kepada dirimu ?”.

“Hmmm ! kiranya kau adalah Goan Ci Tiong!”

“Tidak salah ! aku masih punya suatu gelar yang disebut

Ban Miauw Sin Koen, selamanya apa yang telah

kuperhitungkan tidak pernah meleset, perangkap yang

kupasang tidak pernah kosong.”.

“Hmmm ! bukankah kau ingin menggunanakan api beracun

untuk menghadapi diriku ? setengah harian sudah lewat, tidak

lebih yang kutemui cuma api api palsu belaka !”.

“Siasat yang paling bagus adalah sulitnya seseorang untuk

menentukan kebenaran serta kepalsuan.” Kata Goan Ct Tiong

seraya tertawa tergelak.

“Api palsu yang kulepaskan tadi memang cuma serangan

kosong belaka, namun pada saat itulah aku sudah

menanamkan bibit dari api sebenarnya, bahkan bibit api yang

sebenarnya telah kutanamkan diatas tubuhmu !”

Liem Kian Hoo merasa amat terperanjat sehabis

mendengar perkataan itu, buru-buru ia meraba seluruh

tubuhnya namun sama sekali tidak menemukan sesuatu tanda

yang mencurigakan sementara ia hendak menegur akan

kebohongan orang, tiba-tiba Goan Ci Tiong tertawa terbahakbahak

dan melancarkan sebuah serangan bokongan, pukulan

ini dilepaskan amat cepat dan ganas bahkan mempunyai daya

pukulan yang maha dahsyat.

Liem Kian Hoo mengira ucapan yang diutarakan pihak

lawan barusan tidak lain hanya ingin memecahkan

perhatiannya agar serangan yang dilepaskan bisa bersarang

dengan telak, menyaksikan datangnya ancaman ia membentak

keras, dengan kerahkan segenap tenaga yang dimilikinya

sepasang telapak tangannya didorong kedepan seraya memaki

dengan penuh kegusaran:

“Bajingan keparat yang tak tahu malu..”.

Dua gulung angin saling bertemu ditengah udara

menimbulkan suara ledakan yang amat keras, dalam

bentrokan tersebut tubuh Goan -Ci -Tiong terpental mundur

beberapa langkah kebelakang lalu mendongak dan tertawa

terbahak-bahak.

” Haaa… haaaa… haaa… keparat cilik, kau anggap gelar

Ban Biauw Sin Koen tersebut aku dapatkan dengan gampang ?

bibit api sudah kutanamkan dan kobarkan api segera akan

menjilat tubuhmu, nah nantikanlah bagaimana rasanya apabila

seseorang tubuhnya terbakar oleh kobaran api !”.

Habis berkata badannya mundur beberapa langkah

kebelakang, Kian Hoo ingin pengejar namun secara tiba-tiba ia

menemukan sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya, ia

mencium suatu bau sangit yang sangat menusuk hidung,

bersamaan itu pula dari depan dadanya mulai mengepulkan

segulung asap yang tipis.

Terdengar Goan Ci Tiong tertawa tergelak dari tempat

kejauhan, ia berseru:

“Hey keparat cilik ambil kesempatan sebelum kau

terpancang jadi babi panggang tiada halangan kuberitahukan

apa sebabnya sehbingga kau harusd mati, didalan akobaran

api palbsuku tadi secara diam-diam terkandung uap belirang

yang gampang terbakar, uap tadi telah terhisap oleh badan

serta baju yang kau kenakan! ketika kau melancarkan sebuah

serangan kepadamu tadi, sengaja aku berbuat demikian agar

kaupun menyalurkan hawa murnimu, dengan demikian hawa

panas dalam tubuhmu akan semakin meningkat nah ! hawa

panas dalam tubuhmu itulah yang segera akan membakar uap

belirang yang menempel dilubang pori porimu sehingga

bajumu terbakar kini api sudah mulai berkobar, nah

saudaraku, selamat menikmati penderitaan yang betul betul

nyaman bagi dirimu….”.

Belum habis ia berkata, Liem Kian Hoo sudah merasakan

hawa panas yang membakar tubuhnya sukar ditahan lagi,

pakaiannya mulai terjilat oleh bunga bunga api, rasa sakit

begitu hebat sampai menusuk ketulang sumsum.

Dalam keadaan gelisah bercampur gusar, men dadak ia

membentak keras:

“Bajingan ! sekalipun mati aku tidak akan mengampuni

dirimu !”,

Tubuhnya meluncur kemuka laksana anak pa nah yang

terlepas dari busur, dengan kerahkan se genap tenaga

Iweckang yang dimilikinya ia kirim sebuah pukulan dahsyat

kemuka.

Goan Ci Tiong terlambat untuk menghindar badannya

tersapu oleh angin serangan musuh hingga sempoyongan dan

mundur beberapa langkah kebelakang.

Liem Kian Hoo masih ingin melancarkan sebuah serangan

kembati, namun jilatan api yang berkobar ditubuhnya semakin

ganas dan semakin menghebat, bagaikan seorang manusia

berapi ia roboh kesakitan keatas tanah.

Pada saat itulah Ong Bwee Chi dengan memakai serat

lemas Peng Wan Ciauw Siauw tiba ditempat itu, menyaksikan

keadaan Kian Hoo ia menjerit kaget.

“Liem Kongcu ! cepat jatuhkan diri keatas tanah dan

berguling-guling.”.

Bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimi liki sianak

muda itu amat sempurna dan punya dasar yang kuat,

meskipun berada dalam keadaan seperti itu namun

kesadarannya sama sekali belum punah, buru buru ia jatuhkan

diri berguling-guling diatas tanah.

Tetapi api beracun itu benar-benar luar biasa sekali, ketika

api tadi mencium tanah seketika kobarannya padam, namun

begitu meninggalkan permukaan tanah, api berkobar kembali

semakin hebat.

” Cepat lepaskabn seluruh pakaidanmu…” kembalai Ong

Bwee Chi bberteriak.

Pada saat itu Liem Kian Hoo sedang berguling-guling diatas

tanah bagaimakan sebuah bola berapi, tiada kesempatan

sama sekali baginya untuk melepaskan pakaian yang melekat

ditubuhnya, namun teriakan dari Ong Bwee Chi tersebut telah

mendatangkan suatu ingatan didalam benaknya.

Ia meraung keras, dengan kerahkan segenap tenaga dalam

yang dimiliki ia semburkan hawa Iweekang itu keluar dari

badan. Tersebarlah berpuluh puluh bunga api ketengah udara,

kemudian laksana bintang kejora berjatuhan keempat penjuru.

Dalam getaran yang terakhir ia telah menggetar hancurkan

seluruh pakaian yang melekat di atas tubuhnya, bersamaan itu

pula ia sudah memaksa keluar seluruh jilatan api yang

bersumber dari lubang pori porinya, dengan demikian maka

iapun pada saat ini jadi telanjang bulat, tak sehe lai

bennngpun yang melekat ditubuhnya.

Goan Ci Tiong menjerit kaget, laksana anak panah yang

terlepas dari busur dalam beberapa kali loncatan ia menjauhi

tempat kejadian dan melarikan diri.

Menyaksikan pihak musuh lari, tanpa memperdulikan

segala apapun Liem Kian Hoo meloncat bangun dan siap

melakukan pengejaran.

“Liem Kongcu ! ” Ong Bwee Chi segera ber teriak keras, “

Musuh rudin tak perlu dikejar lebih jauh, perhatikan kesehatan

badan sendiri…”

Mengungkap tentang Badan, sianak mudaitu mendusin

keadaan yang mengenaskan daripada dirinya, buru-buru ia

menerobos kedalam rerumputan dan menyembunyikan diri

disitu,

“Liem Kongcu ! bagaimanakah keadaan Iuka ditubuhmu ? “

buru-buru Ong Bwee Chi berseru sambil berjalan

menghampiri.

Liem Kian Hoo memeriksa sekejap keadaan tubuhnya, ia

lihat banyak gelembung gelembung air muncul diatas

badannya dan ketika itu terasa sakit sekali.

Namun teringat keadaan dirinya yang bugilt tanpa

memperdulikan rasa sakit lagi ia berteriak:

“Nona Ong ! carikanlah sedikit benda yang dapat menutupi

tubuhku”.

Sebenarnya Ong Bwee Chi hendak menyingkap rumput

untuk memeriksa keadaan lukanya, namun sehabis

mrendengar teriaktan tersebut ia qbaru teringat brilamana

sianak muda itu sedang berada dalam keadaan bugil, tak

kuasa lagi merah padam selembar wajahnya, cepat-cepat ia

mengundurkan diri.

Permintaan yang diajukan sianak muda itupun membuat ia

serba salah, sebab pada saat ini ia sendiripun memakai

seperangkat baju ringkas yang tak mungkin bisa diberikan

kepada orang lain, setelah termangu mangu beberapa saat

lamanya ia baru teringat bahwa mantel berwarna hitamnya

masih tertinggal disisi kobaran api palsu, buru-buru ia

mengenakan serat Peng-Wan-Ciauw-Siauw untuk melewati

lautan api guna mengambil pakaian tersebut kemudian

dilempar kedalam rerumputan.

Beberapa saat kemudian Liem Kian Hoo te lah merangkak

keluar dari balik rerumputan, menyasikan keadaan sianak

muda itu meski wajahnya masih kelihatan kaget dan tegang

namun tak kuasa lagi Ong Bwee Chi tertawa terbahak-bahak.

Perawakan tubuh mereka berdua berbeda jauh, dengan

sendirinya pakaian hitam yang dikenakan sianak muda itu

cuma bisa menutupi sampai lututnya belaka, keadaannya jadi

lucu sekali, kakinya telanjang, mukanya hitam dan rambutnya

hangus, potongan Kian Hoo ketika itu benar-benar

mengenaskan sekali.

“Wajahku tentu amat mengenaskan bukan ?” kata Liem

Kian Hoo dengan nada jengah.

“Haaaa…. haaaa…. haaaa… siapa yang bilang ?” Seru Ong

Bwee Chi sambil menahan rasa gelinya. “pakaian yang kau

kenakan adalah baju perempuan, namun berada diatas

tubuhmu kelihatan jauh lebih indah daripada dikenakan oleh

kaum wanita sendiri, ada orang mengatakan walaupun See-

Sie berada dalam keadaan rambut yang awut awutan dan baju

yang kusut namun kecantikan wajahnya tak akan berkurang

aku rasa ucapan ini pantas sekali kalau dipersembahkan untuk

anda !”.

Merah jengah selembar wajah Liem Kian Hoo.

“Nona Ong, harap kau jangan mentertawakan diriku lagi…”

mohonnya. “Aaai… perbuatan Goan Ci Tiong benar benar

mengerikan.”.

“Hmmm ! seandainya kau suka mendengarkan nasehatku

dan kita berjalan keluar sambil mengenakan serat Peng-Wan-

Ciauw Siauw, bukankah kau tak usah menderita kerugian

sebesar ini ?”.

“Dibicarakan pada saat ini apa gunanya ? seandainya aku

tidak menelan pil Peng-Soat-Wan yang nona berikan kepadaku

tadi, mungkin pada saat ini seluruh badanku sudah terbakar

oleh api beracun itu. bahkan tenaga untuk menolong diri

sendiripun tak ada !”.

Melihat sianak muda itu sudah menyesali atas

perbuatannya, Bwee Chi merasa tidak enak hati untuk

mengejek lebih jauh, maka dengan nada penuh perhatian ia

bertanya:

“Bagaimana keadaan luka di tubuhmu ?”.

“Luka parah sih tidak ada, cuma banyak gelembung

gelembung air muncul diatas tubuh ku !”.

“Oooouw ! keluar gelembung air diatas tubuhmu ? ” Seru

Sang dara dengan nada cemas, jangan sekali-kali kau

pecahkan gelembung air tersebut, sebab api yang membakar

tubuhmu itu mengandung racun yang maha dahsyat, untung

pil Peng-Soat-Wan bisa melenyapkan racun api, mari kita

cepat cepat mencari tempat pemondokan kemudian

mempolesi gelembung air diatas tubuhmu dengan Peng-Soat-

Wan, kalau tidak mungkin akan mendatangkan bencana

bagimu dikemudian hari!”

“Kita membutuhkan waktu beberapa lama untuk

menyembuhkan luka luka itu ?”

“Pil Peng-Soat-Wan mempunyai daya kasiat yang sangat

tinggi, asalkan dipoleskan diatas luka maka dalam dua tiga

hari saja luka lukamu akan sembuh kembali “.

“Aaaai…! pingin cepat akhirnya jadi lambat, semoga saja

selama dua tiga hari ini tidak sampai terjadi sesuatu hal yang

luar biasa !”.

Ong Bwee Chi tertawa.

“Gelisahpun tak berguna.” katanya. ” Siapa suruh kau tidak

mau dengarkan perkataanku ?” Liem Kian Hoo mengerutkan

alisnya, sebelum ia sempat berbicara Ong Bwee Chi sudah

mengerti akan maksud hatinya, buru buru ujarnya kembali:

“Janganlah kau terburu buru ingin melanjutkan perjalanan

apabila gelembung air diatas tubuhmu tidak cepat-cepat

dilenyapkan, bakal keracunan atau tidak perlu bita bicarakan,

cukup asal kulitmu robek dan air darah yang amis mengucur

keluar tiada hentinya, keadaan tersebut sudah cukup untuk

menyiksa dirimu”.

Liem Kian Hoo menghela napas panjang dan

membungkam, Dara tersebut telah mengutarakan keluar

seluruh isi hatinya, ia sadar kecuali beristirahat selama

beberapa hari dengan sabarkan hati tak ada cara lain yang

bisa menolong dirinya.

Ong Bwee Chi ambil keluar dua butir pil Peng-Soat-Wan

dan suruh dia menelan kemudian melanjutkan perjalanan

lambat-lambat.

Liem Kian Hoo benar-benar risau dan gelisah, namun ia tak

berani melanjutkan perjalanan terlalu cepat, sebab Ong Bwee

Chi sudah menerangkan kelihayan dari api beracun itu, apabila

gelembung diatas tubuhnya sampai pecah maka racun yang

mengalir keluar akan membusukan kulit badan dibagian yang

lain, kalau sampai demikian adanya maka bukan saja

perjalanannya akan tertunda beberapa hari mungkin malah

berbulan bulan lamanya.

Untung tak selang beberapa saat mereka melakukan

perjalanan sampailah disebuah kota keciI. Mereka mencari

sebuah rumah penginapan dan beristirahat dengan tenang

selama dua hari,

Pil Peng-Soat-Wan benar-benar manjur sekali, bukan saja

gelembung air itu lenyap tak berbekas bahkan kulit badannya

telah rata kembali seperti sedia kala.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan kemudian atas kerugian

yang diderita akibat kecerobohannya kali ini, ia merasa besar

sekali kerugian yang didapatkan, kecuali banyak waktu sudah

terbuang juga sebutir mutiara serta sebatang seruling emas

boleh dibilang banyak benda berharga lainnya ikut terbakar

habis dalam peristiwa ini. Tersebut juga catatan seruling yang

diserahkan Liuw Boe Hwie kepadanya.

Untung catatan rahasia itu sudah hapal diluar kepala

sedang kitab catatan ilmu silat yang di tinggalkan Soen Tong

Hay pun berada ditangan Liuw Boe Hwie, kalau tidak mungkin

ia akan merasa menyesal akibat kejadian itu.

Perjalanan yang kemudian dilangsungkan aman tenteram

dan tidak menemui hadangan lain, setelah mereka digunung

Thay-Heng-san, tetapi pada saat itulah kembali Liem Kian Hoo

menemukan suatu hal baru yang merisaukan hatinya.

Ia teringat bahwa Liuw Boe Hwie serta Soen Tong sekalian

berangkat hanya terlambat sehari daripada dirinya, namun

untuk menyembuhkan luka api tersebut ia sudah membuang

waktu dua hari, dus berarti dengan perjalanan yang dilakukan

Liuw Boe Hwie sekalian, rombongan tersebut pasti berhasil

disusul oleh dirinya beserta Ong Bwee Chi yang melakukan

perjalanan siang malam.Tetapi mengapa sampai waktu itu

belum ada kabar beritanya barang sedikitpun ?

Persoalan inilah yang membuat ia risau, apa lagi keadaan

ayahnya yang tidak begitu jelas semakin merisaukan hatinya,

maka yang ia pikirkan saat ini adalah cepat cepat naik

gunung.

Ketika Liem Kian Hoo serta Ong Bwee Chi tiba dikaki

gunung Thay-Heng san, mereka segera meneruskan

perjalanannya untuk mendaki gunung tadi, dua hari sudah

mereka buang untuk mengarungi daerah pegunungan seluruh

tujuh ratus li persegi namun hasilnya nihil, hal ini membuat

mereka jadi kecewa.

Kiranya gunung-Thay-Heng-san merupakan sebuah gunung

yang penuh dengan tebing yang tinggi lagi curam serta hutan

yang lebat, jarang sekali pemburu yang berdiam disana,

jangan dikata untuk mencari jejak Liem Koei Lin serta Toan

Kiem Hoa, bahkan bayangan dari Kauw Heng Hu sekalianpun

tidak nampak.

Peristiwa ini tentu saja membuat sianak muda itu jadi

gelisah bercampur cemas bagaikan seekor lalat tak berkepala,

ia lari kesana kemari mencari tanpa tujuan, apabila Ong Bwee

Chi tidak menasehati dirinya terus menerus mungkin sianak

muda itu sudah dibikin sinting saking gelisahnya.

Menurut pandangan Ong Bwee Chi, ia merasa setelah Toan

Kiem Hoa menderita luka parah dalam didalam kolong langit

cuma ada seseorang tokoh sakti yang telah lama

mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan bahkan

punya kepandaian yang luar biasa tentang ilmu pertabiban.

Seandainya digunung Thay-Heng-san benar-benar terdapat

seorang tabib yang begitu lihay, maka beberapa orang

diantara pemburu yang berdiam disekitar gunung itu tentu

pernah menerima budinya, maka untuk mencari kabar berita

tentang tabib tersebut harus mencari dari mulut orang-orang

itu.

Liem Kian Hoo mempunyai pandangan yang berbeda

dengan dara tersebut, tetapi berada dalam keadaan seperti ini

ia tak dapat berbuat lain kecuali menuruti cara dari gadis itu

untuk mencari kabar dari para pemburu yang berdiam

disekitar sana.

Siapa sangka belasan orang yang mereka tanyai, semuanya

geleng kepala sambil menjawab:

“Tidak tahu !”.

Hanya dua patah kata itu belaka dan tak ada tambahan

kata kata lain, walaupun begita bagi Ong Bwee Chi yang

memperhatikan mimik wajah orang-orang itu dengan

seksama, ia tahu kalau jawaban itu tidak jujur dan iapun sadar

tentu mereka mem punyai suatu kesulitan yang tak bisa

diutarakan kepada orang lain.

Ketika mereka menanyai orang yang keempat belas, orang

itu adalah seorang gadis dusun yang mencari sesuap nasi

dengan menangkap ular, didalam rumahnya banyak sekali

terdapat keranjang bambu yang digununakan untuk

menyimpan ular bahkan memelihara pula beberapa ekor ular

beracun, disamping itu dalam rumahnya tergantung pula

berapa stel baju pria, mungkin pakaian suaminya atau

ayahnya yang naik gunung mencari ular dan belum pulang.

Dalam usahanya yang keempat belas ini kembali Ong Bwee

Chi serta Liem Kian Hoo tidak berhasil memperoleh hasil yang

diharapkan, jawaban yang mereka terima tetap cuma dua

patah kata belaka:

“Tidak tahu !”.

Dalam keadaan seperti ini mendadak suatu ingatan

berkelebat dalam benak Ong Bwee Chi, ia masuk kedalam

rumah gadis dusun itu dan melepaskan ular beracun yang

sedang dipelihara didalam keranjang bambu tadi.

Menyaksikan perbuatan dara itu, gadis dusun tersebut

buru-buru lari masuk hendak menghalangi perbuatannya,

siapa sangka pada saat itulah tiba tiba Ong Bwee Chi menotok

jalan darahnya, lalu menangkap salah seekor ular kecil bersisik

merah dan memagutkan ular tersebut keatas iga gadis

tersebut.

Setelah itu ia membinasakan ular tersebut dan disusupkan

kedalam genggaman gadis dusun itu, selesai berbuat demikian

ia tarik tangan Liem Kian Hoo untuk berlalu.

Terhadap tingkah laku Ong Bwee Chi yang aneh dan

kukoay ini, Liem Kian Hoo jadi tercengang, ia hendak turun

tangan menghalangi perbuatannya namun dengan wajah

serius gadis itu segera menegur:

“Seandainya kau ingin mengetahui jejak serta kabar berita

dari ayahmu, lebih baik pada saat ini janganlah mencampuri

urusan orang lain !”

Walaupun Liem Kian Hoo belum paham dengan maksud

tujuannya, tetapi bergaul selama beberapa hari ini ia merasa

bahwa Ong Bwee Chi adalah seorang gadis yang budiman dan

penuh welas kasih, ia tidak mungkin akan melakukan

perbuatan yang keji dan telegas tanpa sesuatu alasan, maka

dengan hati setengah percaya setengah tidak ia biarkan dara

tersebut berbuat sekehendak hatinya.

Ong Bwee Chi menarik tangan Liem Kian Hoo untuk

bersembunyi dibelakang sebuah batu cadas, lalu dengan

bangga ujarnya:

“Nanti apabila keluarganya pulang, aku percaya orang yang

sedang kita cari segera akan ditemukan. Ular yang kugunakan

untuk memagut iga gadis dusun itu bernama Hoa-Bi-Lian dan

merupakan salah satu diantara lima ekor ular paling beracun

dikolong langit, setelah kena terpagut maka dalam waktu

singkat seseorang bisa menemui ajalnya.”

“Aaaah, seandainya tidak kunjung kembali bukankah dia

bakal mati…” seru sianak muda itu kaget.

“Kau tak usah kuatir, aku telah menotok jalan darah Hu-

Hwie serta Pak-Ciat-hiat nya, dengan begitu sari racun yang

terhisap kedalam tubuhnya tidak akan menyerang jantung,

Untuk sementara waktu ia memang merasa tersiksa namun

tidak sampai membahayakan jiwanya.”.

Liem Kian Hoo berpikir sejenakb lalu berkata kdembali:

“Bagaimaanapun juga akub merasa cara ini kurang sesuai

untuk kita gunakan, seandainya mereka benar-benar tidak

tahu tempat tinggal dari tokoh sakti itu, lalu bagaimana

jadinya ?”.

“Dugaanku tidak bakal meleset” sahut Ong Bwee Chi sambil

tertawa dingin, “Orang-orang itu pasti tahu akan kabar

beritanya, namun berhubung mereka sudah mendapat pesan

agar jangan membocorkan rahasianya, bila gadis itu benarbenar

mati, aku bisa mengiringi pula kematiannya !”.

Melihat gadis itu gusar, lagipu!a teringat bahwa ia berbuat

demikian demi kebaikannya terpaksa Liem Kian Hoo

membungkam dalam seribu bahasa. Setelah menanti lama

sekali tidak salah lagi, dari tempat kejauhan muncul seorang

lelaki setengah baya yang menggendong keranjang bambu

dipunggungnya, ketika tiba didepan pintu ia lantas berteriak:

“A-Kim ! akhirnya ini hari kita berhasil menangkap ular

rasaksa tersebut, nanti kita bisa kirimkan ular tersebut kepada

Ban Loo Ya-cy, seandainya ia tahu akan berita ini pasti akan

kegirangan setengah mati.”.

Sembari berkata ia melangkah masuk kedalam rumah,

namun dengan cepat lelaki setengah baya itu sudah menjerit

kembali dengan nada kaget:

“A-Kim, kenapa kau “.

Agaknya ia sudah menemukan perubahan yang terjadi

dalam rumah itu, setelah berkumandang suara jeritan tadi

terdengarlah suara yang sangat ribut disusul suara lelaki tadi

sambil mrnahan isak tangis berteriak tiada hentinya:

“A-Kim… A-Kim…”.

Liem Kian Hoo merasa amat tidak tenteram dengan

peristiwa lersebut, sebelum ia sempat berbuat sesuatu tiba

tiba terasa Ong Bw’ee Chi menyentuh lengannya sambil

memberi tanda agar ia menengok keluar.

Tampaklah lelaki setengah baya itu sambil tetap

mengendong keranjang bambu tersebut segera menyambar

tubuh gadis dusun yang berada dalam keadaan tidak sadar

tadi dan buru-buru lari keluar.

Ong Bwee Chi mengedipkan separang matanya dan

tersenyum kearah sang pemuda untuk menunjukkan rasa

bangga, menanbti lelaki tadi dsudah pergi jauah mereka

berduab baru munculkan diri dari tempat persembunyian dan

menguntit secara diam-diam.

Agaknya lelaki setengah baya itu merasa amat cemas dan

ingin buru-buru menolong orang, maka sepanjang perjalanan

ia berlari terus tanpa memperdulikan apakah di belakangnya

ada orang yang menguntit atau tidak, kurang lebih setelah

berlari satu jam lamanya sampailah ia didepan sebuah dinding

tebing yang menjulang tinggi ke angkasa, lelaki tadi segera

menarik-narik tali rotan yang tergantung ditebing tersebut.

“Sungguh tak nyana diatas tebing curam itupun terdapat

hal hal yang luar biasa.” Bisik Liem Kian Hoo tak tahan lagi.

Tampaklah tebing bukit itu menjulang tinggi keangkasa,

bukan saja curam bahkan boleh dikata tegak lurus dan tak

mungkin bisa didaki oleh siapapun, tidak aneh kalau mereka

tidak menemukan jejak seorang manusiapun kendati sudah

beberapa kali melewati tempat itu.

Terlihatlah lelaki itu menarik narik tali rotan itu semakin

gencar, beberapa saat kemudian terde ngarlah seseorang

menegur dari atas bukit dengan suara berat:

“Siapa ?”.

“Ban Loo Ya-cu, hamba adalah Tan Loo-toa !” sahut pria itu

dengan suara keras.

“Bukankah aku sudah berpesan bahwa selama beberapa

hari ini kalian dilarang mengganggu diriku ? apa maksudmu

datang kemari ?” hardik orang yang ada diatas bukit dengan

nada gusar.

“Putri hamba AKim telah terpagut ular berbisa Hoa-Bi-Xian,

hamba mohon bantuan dari kau orang tua agar suka

menyembuhkan lukanya!”

“Gentong nasi ! bangsat ! sungguh memalukan sekali,

bukankah kaupun seorang tukang tangkap ular ? setelah

tergigit oleh ular Hoa-Bi-Lian apa bisa tertolong lagi ? aku

cuma bisa mengobati penyakit, tak dapat mengobati nyawa

yang mau melayang!”

“Ban Loo Ya-cu ! ” rengek pria itu setengah sesenggukan

“A-Kim benar benar belum mati, harap Loo-cu suka berbelas

kasihan dan menyelamatkan selembar jiwa putriku !”.

Orang yang ada diatas bukit termenung beberapa saat

lamanya, setelah itu baru bertanya:

“Dia belum mati ? bagaimanakah keadaannya pada saat ini

?”.

“Jantungnya masrih berdenyut, dtari mulut lukanqya

mengalir kelruar air warna hitam dan daya kerja racunnya

belum menyebar luas, sekarang ia jatuh tidak sadarkan diri

dan seperti tertidur pulas, badannya sama sekali tak

berkutik…”

“Bagian manakah yang terpagut ular berbisa itu ?”.

“Diatas dadanya !”. Orang yang berada diatas kembali

termenung beberapa saat lamanya lalu ujarnya lagi:

“Selama setengah bulan mendatang ia tidak bakal mati,

sekarang kau tak usah gelisah, bawalah pulang lebih dahulu,

aku bisa berkunjung ke-tempat tinggalmu untuk

menyembuhkan lukanya ini hari mungkin…”.

“Loo Ya-cu ! mungkinkah jiwanya bisaber tahan selama

setengah bulan…” keluh pria itu sambil menangis,

“Bangsat ! keparat ! aku bilang ia tak bakal mati pasti tak

bakal mati !…” maki orang yang ada diatas bukit semakin

gusar. “Kalau ia sampai mati, akan kuganti selembar jiwanya!

apakah ucapanku pun kau tidak percaya…”.

Agaknya pria setengah baya itu menaruh kepercayaan yang

luar biasa terhadap orang yang diatas bukit itu, bukan saja

percaya bahkan menaruh pula rasa hormat, mendengar

bentakan tadi ia lantas menggendong tubuh gadis tersebut

siap meninggalkan tempat itu.

Liem Kian Hoo serta Ong Bwee Chi yang mengikuti

dibelakang pria itu jadi sangat kecewa sekali.

Sebab walaupun suara orang itu berkumandang dari atas

bukit namun tak dapat kedengaran dimanakah orang itu

menyembunyikan diri, satu satunya hal yang bisa ditentukan

adalah suara itu bukan berasal dari puncak tebing, sebaliknya

berasal dari balik dinding tebing.

Tebing itu licin lagi tegak lurus, sama sekali tak ada tempat

yang bisa digunakan untuk berpijak kaki, dimanakah orang itu

menyembunyikan diri.

Letaki itu berjalan beberapa langkah meninggalkan tempat

itu, tiba-tiba ia berhenti kembali dan sekali lagi menarik tali

rotan tersebut

“Tan Loo-toa! ” terdengar orang yang ada diatas bukit

kembali memaki dengan gusarnya. “Bukankah aku suruh kau

pulang lebih dahulu ? mengapa kau masih banyak bacot disini

? kalau kau cari gara gara terus disini. hati-hati ! bisa jadi aku

tidak akan mengurusi putrimu lagi !”.

” Loo Ya-cu ! ” ujar pria itu dengan nada hormat. “Ular

rasaksa yang kau inginkan telah berhasil kutangkap !”.

“Benar ?” jerit orang diatas bukit dengan gembira, ” Apakah

ular yang berhasil kau tangkap adalah ular yang kumaksudkan

?”.

“Sedikitpun tidak salah ! hamba telah bertindak menuruti

perintah kau orang tua, sampai ini hari siang aku selalu

berjaga jaga disisi gua-nya, dan tadi ular tersebut munculkan

diri maka aku segera menghadang jalan baliknya dan

merobohkan ular tersebut dengan bubuk belirang, ternyata

ular itu benar benar berhasil kutangkap…”

Suasana hening mencekam dipuncak bukit tersebut,

akhirnya dari balik rerumputan diatas tebing bukit itu muncul

sebuah keranjang bambu yang amat besar dan dilemparkan

kebawah, keranjang itu dihubungkan dengan sebuah tali.

Pria itu buru-buru menggendong putrinya duduk didalam

keranjang bambu itu, kemudian bagaikan terbang keranjang

tadi ditarik naik keatas tebing.

Menyasikan kejadian itu Liem Kian Hoo merasa sangat

gembira, ia siap mengejar dari belakang namun perbuatannya

ini dengan cepat dihalangi oleh Ong Bwee Chi.

Dengan cepat keranjang bambu itu ditarik naik keatas

tebing dan akhirnya lenyap dibalik rerumputan, Liem Kian Hoo

yang perjalanannya di halangi Bwee Chi jadi sangat cemas,

gerutunya:

“Tempat itu tingginya mencapai puluhan tombak, sekalipun

kita mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lebih sempurna

pun jangan harap bisa naik kesitu, dengan perbuatanmu

barusan, coba bayangkan kita harus naik keatas dengan cara

apa ?”.

“Apakah kau ada maksud untuk ikut naik keatas tebing itu

dengan nunut dibawah keranjang yang dipakai dua orang itu

?”.

“Kecuali cara ini, apakah kau mempunyai jalan lain?” tanya

Kian Hoo dengan mata meIotot.

“Cara lain sih belum berhasil kudapatkan namun aku tahu

seandainya kita menggunakan ca ra ini niscaya kita tak bakal

berhasil naik keatas !”

“Bagaimana kau bisa tahu ?”

“Gampang sekali untuk menerangbkan alasan tersdebut,

sitokoh saakti Ban Loo Yab-cu sengaja mencari tempat yang ia

tak suka diganggu oleh kehadiran orang lain, kita sudah lama

sekali mencari jejaknya, tentu iapun sudah tahu akan hal ini,

apa bila ia ingin berjumpa dengan kita sejak semula orang itu

sudah munculkan diri untuk mencari kita berdua, tetapi kalau

ditinjau dari sikapnya pada saat ini jelas orang itu tak mau

bertemu dengan kita, apabila kita bersikiras untuk ikut nunut

didalam keranjang tadi, seandainya ia merasakan bobot yang

berbeda dan tak suka menarik kita keatas, kemungkinan besar

ia bisa melemparkan tubuhmu dari tengah udara.”.

“Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini ?” tanya Kian

Hoo melengak, Ong Bwee Chi tertawa misterius.

“Cara adalah suatu hasil pemikiran seseorang asal kita

sudah tahu tempatnya, aku rasa tidak sulit untuk mendaki

bukit tersebut” katanya.

Liem Kian Hoo tahu kalau gadis itu sudah punya rencana

matang dalam benaknya, buru-buru ia menjura dalam dan

berkata:

“Nona Ong, aku tahu kecerdasanmu melebihi orang lain,

cepatlah katakan caramu itu !”.

Ong Bwee Chi tersenyum, sambil menuding kearah rotan

yang tergantung kebawah bukit ujarnya:

“Rotan itu bukankah merupakan tangga yang paling tepat

bagi kita untuk mendaki tebing bukit ini ? Ban Loo Ya-cu

tersebut sengaja menaruh seutas tali rotan yang terkulai

kebawah bukit tujuannya bukan lain sebagai alat untuk

berhubungan berita dengan orang bawah, namun kita bisa

menggunakan benda itu sebagai alat untuk naik keatas !”.

Seolah-olah baru mendusin dari impian, Liem Kian Hoo

berseru tertahan, ia ada maksud untuk lari keluar dan

memanjat bukit dengan rotan itu namun kembali Ong Bwee

Chi mencegah:

“Tunggu sebentar ! apa bila kau berbuat de mikian, ia yang

sudah mendapat kabar berita lebih dahulu pasti akan turun

tangan menghalangi maksud kita untuk naik, oleh sebab itu

apabila kita hendak mendaki keatas maka kita harus

melakukannya dikala ia tidak sadar dan ia tidak menduga

sama sekali !”.

Liem Kian Hoo berdiri tertegunb, ia tak paham dapa yang

dimaksaudkan gadis terbsebut, sambil garuk-garuk kepala

tanyanya:

“Lalu kau punya apa lagi ?”

“Tentu saja menggunakan rotan tersebut, namun tanpa

menggerakan benda itu barang sedikitpun !”.

“Walaupun gerakan tubuh kita ringan bagaikan kapas,

sedikit banyak masih ada pula yang dinamakan bobot badan.”

kata sang pemuda serba salah dan semakin tidak mengerti.

“Kalau kau suruh memakai rotan itu untuk mendaki namun

melarang untuk menggoyangkannya, hal ini boleh dikata

merupakan suatu hal yang tak mungkin bisa kita lakukan !”.

“Justru hal-hal yang tak mungkin terjadi akan kulakukan

hingga mungkin terjadi, Nah, ikutilah diriku !” seru Ong Bwee

Chi sambil tertawa bangga.

Terpaksa Liem Kian Hoo mengikuti dibelakang dara

tersebut, setibanya dibawah tebing Ong Bwee Chi ambil keluar

dua bilah pisau belati yang tajam dari pinggangnya dan

serahkan sebilah diantaranya ketangan sianak muda itu,

kemudian sambil tertawa ia berkata:

“Pisau belati ini tajamnya luar biasa, bawa lah benda itu

dan tirukan saja apa yang aku lakukan !”.

Dengan pandangan bodoh Liem Kian Hoo menerima pisau

belatinya yang digenggam ditangan segera ditusukkan kearah

batu gunung didinding tebing lalu bergelantungan ditengah

udara, setelah itu tangan yang lain mencekal tali rotan itu

kencang kencang dan memberi tanda kepada Liem Kian Hoo.

Dengan cepat sianak muda itu dapat memakai cara yang

digunakan gadis tersebut, buru-buru ia gigit pisau belati itu

dimulut kemudian sepasang tangannya mencekal tali rotan

tadi dan memanjat naik keatas, oleh karena Ong Bwee Chi

sudah me narik rotan itu lebih dahulu keatas, maka dengan

sendirinya ujung rotan yang ada disebelah atas sama sekali

tidak menunjukkan tanda apa apa.

Menanti sianak muda sudah tiba disisi Ong Bwee Chi, tanpa

menunggu perintahnya ia segera keluarkan tungan sebelahnya

untuk menusukkan pisau belatinya keatas batu gunung,

setelah itu ia tepuk bahu sendiri.

Ong Bwee Chi terrsenyum dan mentgangguk ujung

kqakinya menginjark diatas bahu Kian Hoo dan meminjam

tempat pijakan tersebut badannya meloncat kembali ketengah

udara setinggi satu tombak, lalu dengan cara yang sama

menarik sianak muda itu naik keatas.

Begitulah segera bergilir dan saling bantu membantu,

dalam sekejap mata Ong Bwee Chi serta Liem Kian Hoo sudah

berada kurang lebih tiga puluh tombak dari atas permukaan,

kalau dihitung hitung maka mereka tinggal mendaki dua puluh

tombak lagi untuk mencapai rerumputan tersebut.

Siapa sangka diluar dugaan mereka ternyata tali rotan itu

berakhir disana, ujung rotan sebelah atas dihubungkan lewat

sebuah lubang kecil yang ada diatas dinding dan gua itu

besarnya cuma sekepalan, tidak mungkin bagi seseorang

untuk menerobos masuk.

Menyaksikan kejadian itu Liem Kian Hoo memandang

kearah Ong Bwee Chi dan tertawa getir, ia menunjukkan suatu

perbuatan apa boleh buat.

Sambil kerutkan dahi Ong Bwee Chi berpikir beberapa saat

lamanya, tiba-tiba ia angkat kakinya dan ditunjukkan kepada

Kian Hoo yang menunjukkan bahwa ia membutuhkan tempat

untuk berpijak.

Liem Kian Hoo tertegun, dengan suara lirih segera serunya.

“Masih ada dua puluh tombak lebih, mana mungkin kau

bisa loncat keatas ?”.

Ong Bwee Chi tetap bersikeras menunjukkan tanda

tersebut terpaksa Liem Kian Hoo menekuk lututnya dan

membiarkan dara itu berdiri diatas kakinya.

Dengan sangat berhati-hati Ong Bwee Chi mencekal tali

rotan tersebut dan memotongnya sampai putus, setelah itu ia

berdiri lurus dan menusukkan pisau belatinya keatas batu

dinding.

Kali ini berhubung ia membawa tali rotan yang panjangnya

puluhan tombak bobot badannya jadi makin bertambah

panjang lenganya paling hanya mencapai ketinggian tujuh

depa belaka.

Liem Kian Hoo kerutkan dahinya, ia merasa apabila harus

mendaki naik dengan cara begini mungkin sebelum mencapai

diatas puncak ia sudah mati kecapaian, sebab bobot rotan itu

sendiri sudah mencapai seratus kati, ditambah bobot seorang

manusia dan harus bergelantungan diatas pisau belati dengan

andalkan tangan sebelah, bagaimanapun cara ini sangat

membuang tenaga.

Maka dari itu sewaktu tubuhnya merangkak naik dan tiba

disisi tubuh Ong Bwee Chi, mendadak sianak muda itu

menemukan suatu akal, ia tidak buru-buru merangkak naik

namun menggunakan sepasang kakinya untuk menjepit rotan

tersebut guna mempertahankan tubuhnya, setelah itu ia

membuat sebuah lubang kecil diatas dinding dengan memakai

pisau belatinya, setelah itu ia baru memotong rotan tadi

sepanjang beberapa tombak sedang sisanya ia biarkan tetap

bergelantungan dibawah dengan ujung rotan tersebut

ditancapkan kedalam lubang yang baru ia buat.

Menyaksikan perbuatan sianak muda itu Ong Bwee Chi

tersenyum, ujarnya:

“Aku sedang menguatirkan bahwa tenaga kita tidak cukup

dan ada maksud untuk memotong rotan tersebut, namun

akupun takut apabila kita potong rotan tadi maka perbuatan

ini akan mengejutkan orang yang berada diatas, caramu untuk

mengatasi masalah ini benar-benar lihay sekali, bahkan jauh

lebih cerdik daripada diriku”.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia benarkan posisi bahunya biar

gadis itu menginjak tubuhnya sebagai tempat pijakan.

Berhubung beban yang dibawa semakin enteng maka

tenaga untuk merangkak naikpun semakin besar, gerakan

merekapun dengan sedirinya semakin cepat.

Dalam beberapa saat kemudian sampailah mereka disisi

rerumputan tersebut, kali ini demi keselamatan dan keamanan

Ong Bwee Chi, sianak muda itu mendaki keatas lebih duluan,

ia lihat tempat dimana mereka munculkan diri bukan lain

merupakan sebuah jalan sempit ditengah selat yang hanya

cukup dilalui oleh satu orang.

MuIut selat penuh tumbuh rerumputan yang tinggi lagi

subur, tempat itu terletak pula diatas dinding tebing yang

curam maka dengan sendirinya sulit ditemukan oleh orang

yang beradu dibawah, apabila tak ada orang yang membawa

jalan mimpipun mereka tidak akan menduga kalau diatas bukit

yang tegak lurus dan terpencil itu masih ada manusia yang

hidup disana.

Keranjang bambu serta tali rami yang digunakan untuk

mengerek orang tadi naik keatas bukit masih terletak dimulut

selat tersebut Liem Kian Hoo menunggu Ong Bwee Chi sudah

naik keatas baru masuki selat tersebut dengan langkah hatihati.

Jalan sempit didalam selat itub memanjang ke-adrah

depan, makian jauh jalanan bitu semakin lebar dan akhirnya

sampailah mereka discbuah tanah lapang yang sangat luas.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah bukit yang berdiri

menyendiri itu terdapat sebuah dataran yang menekuk

kedalam serta luas sekali, dise keliling tanah lapang tadi

penuh berserakan batu-batu cadas yang besar dan tinggi,

boleh dikata tempat itu merupakan sebuah tempat misterius

yang bagus sekali untuk menyembunyikan diri.

Ketika itu lohor sudah lewat, sang surya condong kearah

barat, suasana dalam selat terasa dingin dan menyeramkan

hembusan angin menyambar kian kemari menusuk tulang,

meminjam sorotan cahaya sang surya dari balik gunung

tampaklah ditengah lapangan tiidi berdiri berpuluh buah

rumah batu, sekeliling rumah rumah batu itu tumbuh rumput

dan bunga yang aneh serba aneka ragam jenisnya.

Setelah tiba ditempat itu, Liem Kian Hoo takut diusir orang

lagi, ia menghembuskan napas panjang dan bergumam:

“Sungguh tak nyana ditempat ini masih terdapat dunia lain

yang begini indah !”

Sebaliknya Ong Bwee Chi memperhatikan rerumputan yang

tumbuh disekitar sana dengan seksama, lalu berkata:

“Ban Loo Ya-cu ini benar-benar seorang tabib sakti !

rumput obat serta bunga obat tumbuh ditempat ini tak

sebuahpun yang bukan benda-benda berharga, entah

bagaimana sulitnya ketika ia mengumpulkan bibit-bibit rumput

dan bunga itu yang kemudian menanamnya disini !”

“Nona Ong, agaknya kau punya pengertian yang mendalam

sekali tentang ilmu pertabiban.” goda Kian Hoo sambil

tertawa.

Ong Bwee Chi tertawa hambar.

“Aku cuma mengerti sedikit sekali” sahutnya, “sewaktu aku

masih kecil seringkali aku ikut belajar ilmu obat obatan dari

ayahku almarhum, dahulu ayahku pun punya pengetahuan

yang sangat luas tentang kepandaian tersebut, sayang terlalu

cepat ia meninggal dunia, kalau tidak mungkin aku masih bisa

mendapatkan pelajaran yang lebih banyak lagi !”.

Mengingat tentang ayahnya, sepasang mata dara tersebut

jadi memerah, Liem Kian Hoo sama sekali tidak mengira

ucapan yabng diutarakan sdecara bergurau aitu sudah

membabngkitkan rasa sedih dalam hatinya:

Buru-buru sambil tertawa:

“Padahal dengan kecerdasan serta pengetahuan yang nona

Ong miliki sekarang, jarang sekali orang yang ada dikolong

langit dewasa ini bisa menandingi kecerdikanmu, terutama

sekali akal nona Ong dikala hendak mendaki bukit ini,

pengetahuan serta pengalamanmu benar-benar membuat

cayhe merasa sangat kagum !”.

Sudah tentu Ong Bwee Chi pun mengerti akan maksud

tujuannya, dalam hati ia merasa terharu sekali, sambil tertawa

hambar segera ujarnya: “Tidak berani kuterima pujianmu yang

setinggi langit itu, akupun tidak berani terlalu menyanjung

kehebatan ayahku, Apakah kau lupa bahwa ayahmu pun

seorang tokoh sakti yang berkepandaian silat amat lihay

namun pintar merahasiakan asal-usulnya selama puluhan

tahun ? seandainya tiada Kauw Heng Hu yang dibikin garagara

mungkin dia orang tuapun belum suka munculka diri…

disamping itu siauw-moay pun mempunyai satu persoalan

yang selalu tersimpan dalam hatiku, entah sudikah Liem-heng

kasi penjelasan ?”

“Entah persoalan apakah yang hendak nona Ong tanyakan

kepadaku ?” tanya sang pemuda melengak.

Ong Bwee Chi tersenyum manis, “sebenarnya apakah

hubungannya antara ayahmu dengan Toan Kiem Hoa dari

wilayah Biauw ?” tanyanya.

“Nona Ong, apa sebabnya kau menanyakan persoalan ini

?”.

“Mungkin hal ini disebabkan siauw-moay suka mencampuri

urusan orang lain, tempo dulu siau w moay tidak tahu kalau

sijago aneh berkerudung itu adalah ayahmu, maka timbullah

suatu perasaan dalam hati siauw-moay bahwasannya

hubungan ayahmu dengan Toan Kiem Hoa tentu luar biasa

sekali !”

“Berdasarkan alasan apakah kau mengatakan demikian ?”.

“Dua orang gadis yang terkurung dalam penjara, aku

dengar salah satu diantaranya adalah bakal bini Liem heng,

namun ayahmu hanya menolong Toan Kiem Hoa seorang

belaka dari cengkeraman musuh, ditinjau dari sudut ini

jelaslah sudah bahwa diantara mereka berdua pasti pernah

terjalinr suatu hubungant yang sangat erqat !”.

“Tentangr soal ini cayhe sendiripun kurang jelas.” kata Liem

Kian Hoo tersipu-sipu. “Aku cuma tahu sewaktu masih muda

ayahku pernah berjumpa dengan Toan cianpwee, sebenarnya

apa yang pernah terjadi diantara mereka berdua, ayahku

maupun Toan cianpwee tidak pernah menceritakannya

kepadaku !”.

“Ditinjau dari tindak tanduk serta sikap Liem heng, aku

berani memastikan bahwa ayahmu pada masa mudanya

tentulah seorang pendekar yang sangat romantis, kecantikan

Toan Kiem Hoa hingga kini tidak berkurang, bisa dibayangkan

betapa cantik jelitanya perempuan itu ketika masa mudanya,

memang sudah jamak kalau pendekar gagah mendapatkan

gadis jelita. Liem-heng, apakah kau merasa ucapan dari

siauw-moay rada keterlaluan ?”

Dari pembicaraannya dengan Toan Kiem Hoa tempo dulu,

sedikit banyak Kian Hoo telah berhasil mendapatkan suatu

bayangan atas apa yang pernah terjadi antara ayahnya

dengan perempuan Biauw itu dikala mereka milih muda, dan

kini apa yang diduga Ong Bwee Chi persis seperti apa yang

dibayangkan pula, meski demikian berhubung masalah ini

menyangkut perbuatan ayahnya dikala masih muda, sebagai

anak tentu saja ia tak berani mengaku atau pun membantah.

-oo0dw0oo-

Jilid 12

MAKA DARI itu dengan wajah berubah merah jengah ia

tertawa kikuk dan membungkam.

Untung Ong Bwee Chi tidak mendesak lebih lanjut,

terdengar dara itu sambil menuding kearah rumah batu

dihadapan mereka serunya:

“Meskipun kita tidak tahu benarkah ayahmu pernah

berkunjung kemari atau tidak, namun aku rasa Ban Loo Ya-cu

bukan lain adalah orang yang hendak mereka cari, lebih baik

kita cepat-cepat menemui dirinya dan menanyakan persoalan

ini kepadanya !”.

Liem Kian Hoo memang ingin cepat-cepat mengetahui jejak

ayahnya, selesai mendengar perkataan itu bagaikan seekor

burung yang terlepas dari sangkar ia melayang kearah kebun

bunga itu dan menerjang kearah rumah berbatu yang

berjejer-jejer dihadapannya.

Ong Bwee Chi menyusul dari belakang, ketika mereka

berdua tiba didepan rumah batu itu mendadadak sepasang

muda mudi ini berseru dan berdiri-tertegun.

Kiranya rumah-rumah batu itu meski terdiri dari puluhan

bangunan banyaknya, namun bebtuk serta potongannya

persis satu sama lainnya, bangunan pertama berjarak

beberapa tombak dari bangunan berikutnya dan bangunan

bangunan tersebut berhubungan satu dengan lainnya dengan

terowongan yang terbuat dari batu pula.

Yang paling aneh, ternyata diatas bangunan rumah batu itu

tidak nampak ada jendela maupun pintu untuk masuk

kedalam.

Lagi pula beberapa puluh buah bangunan rumah batu itu

dari kejauhan tampak seperti bentuk rumah dengan dinding

dan atap, tetapi setelah didekati ternyata terdiri dari batu-batu

besar yang disusun dan ditempelkan satu sama lainnya

dengan rapat, sedikitpun tidak nampak ada celah atau lubang

barang sedikitpun jua.

Beberapa lingkaran sudah kedua orang itu mengintari

bangunan rumah batu itu, namun belum juga menemukan

pintu untuk masuk kedalam, Liem Kian Hoo jadi tercengang,

segera ujarnya:

“Mungkinkah didalam rumah batu ini ada manusianya ?”.

“Siapa bilang tak ada penghuninya ? kecuali orang yang

semula berdiam disini, tadi dengan mata kepala sendiri kita

saksikan orang penangkap ular itu dengan membawa putrinya

mendatangi pula tempat ini, aku rasa kecuali bangunan rumah

batu ini tak ada tempat lain untuk menyembunyikan diri !”.

“Lalu darimana mereka masuk kedalam ?”.

“Ada bangunan rumah tentu ada pintu masuknya, hanya

saja kita belum sempat menemukan pintu tersebut !”.

Seraya berkata ia mulai meraba dinding batu bangunan

tersebut dan mengetuknya dengan seksama, agaknya dara

tersebut ada maksud menemukan pintu lewat cara itu.

Setengah harian sudah mereka mencari dengan susah

payah namun hasilnya tetap nihil, melihat akan hal tersebut

sambil tertawa getir Liem Kian Hoo berkata.

“Empat penjuru dari bangunan rumah ini tiada celah

maupun lubang, aku rasa pintu masuk tak mungkin ada

disana, atau kecuabli mereka telahd menggali sebuaah lubang

dan mebrangkak masuk lewati situ !”.

Ucapan ini diutarakan tanpa maksud tertentu namun

segera menggerakkan hati Ong Bwee Chi yang cerdik.

“Sedikitpun tidak salah ” ia berseru “Pintu masuk keluar

dari bangunan rumah batu ini terletak dibawah tanah, mereka

tentu sudah menggali sebuah terowongan untuk

menggabungkan dunia luar dengan bangunannya !”.

Sembari berkata ia tinggalkan dinding batu dan mulai

melakukan pencarian disepanjang permukaan tanah, ketika itu

sang surya sudah terbenam, suasana gelap mulai mencekam

seluruh selat bahkan pemadangan disekeliling tempat itupun

mulai samar-samar dan sukar dibedakan. Terpaksa Ong Bwee

Chi menggunakan batu untuk mengetuk disekeliling

permukaan tanah disana.

Suara yang ditimbulkan oleh ketukan itu keras sekali, tetapi

dari balik bangunan rumah itu sama sekali tidak menunjukkan

suatu tanda apa-pun, Liem Kian Hoo tak bisa berbuat lain

terpaksa iapun mengikuti cara gadis itu mulai mengetuk

permukaan tanah.

“Aaaaah, kiranya terletak disini !” serunya.

Buru-buru Kian Hoo memburu kedepan, tampaklah Ong

Bwee Chi sedang membuka sebuah papan batu dari atas

tanah dan muncullah sebuah gua yang sangat dalam.

Dibalik penutup batu itu tertera beberapa huruf dan dapat

terbaca dengan jelas sekali, tulisan itu berbunyi:

“Pintu untuk memasuki dunia yang gelap tak bersinar !”.

“Sungguh aneh pintu ini !” seru sianak mu da itu pula.

“Sssttt…! Ban Loo Ya-cu itu bisa memilih tempat seperti ini

untuk berdiam diri, aku duga tabiatnya tentu kukoay dan jauh

berbeda dengan manusia biasa.” Seru Ong Bwee Chi memberi

peringatan. “Liem-heng, ada baiknya kau sedikit mengerem

mulutmu, janganlah membanding-bandingkan benda disini

seenaknya, daripada nantinya menimbulkan hal hal yang

kurang menyenangkan dari tuan rumah tempat ini !”.

Merah jengah selembar wajah Kian Hoo, ia menyesal tadi

sudah bicara seenaknya, buru-buru ia bertanya dengan suara

lirih: “bApakah kita akadn turun kebawaha ?”.

“Tentu sajba !” sahut Ong Bwee Chi sengaja memperkeras

suaranya. “Terang terangan tuan rumah sudah tahu akan

kehadiran kita, namun tetap tutup pintu tak sudi berkenalan

dengan kita berdua, padahal kita ada maksud untuk bertemu

maka terpaksa kita harus menerjang masuk dengan

mengurangi tata kesopanan !”.

Liem Kian Hoo tahu gadis itu sedang memberi peringatan

kepada orang yang ada didalam rumah, dengan sabar ia

menanti beberapa saat lamanya diIuar gua.

Siapa sangka suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran

sedikit suarapun, tiada jawaban yang muncul dari dalam

rumiih batu itu, lama kelamaan Kian Hoo tak kuasa menahan

sabar lagi, ia segera loncat masuk kedalam gua tersebut.

Didasar gua terbentang sebuah lorong yang gelap gulita

tidak nampak lima jari sendiri, terpaksa Kian Hoo ambil keluar

mutiara yang berada dalam sakunya, dengan andalkan cahaya

mutiara tadi perlahan-lahan ia bergerak kedepan.

Anak tangga yang ada didalam gua itu jelas merupakan

hasil karya manusia, dari rendah anak tangga tersebut makin

naik keatas, arahnya bukan lain adalah bangunan rumah batu

itu. Setelah berjalan beberapa saat lamanya, sampailah

mereka dalam ruangan rumah batu pertama.

Ruangan itu tertutup rapat dan sama sekali tiada celah atau

lubang barang sedikitpun jua, kecuali tabung bambu sebagai

ventilasi pengganti hawa udara tiada benda lain yang terdapat

disana, beratus ratus ekor kelelawar berbulu putih segera

terbang kian kemari dengan menimbulkan suara berisik ketika

tersorot oleh cahaya mutiara tersebut.

“Liem-heng, hati hati, jangan sampai terbentur oleh

kelelawar-kelelawar itu !” jerit Ong Bwee Chi dengan suara

kaget.

Liem Kian Hoo sendiripun merasa amat terperanjat, sebab

kelelawar-kelelawar itu bukan saja bulunya aneh bahkan

tubuhnya jauh lebih besar dari kelelawar biasa, moncongnya

tajam dengan gigi yang tajam sehingga bentuknya

menyeramkan sekali.

“Apakah kelelawar kelelawar ini pemakan manusia ?” buruburu

ia bertanya.

“Bukan saja pemakan manusia bahkan menghisap pula

darah manusia” sahut sang dara dengan badan gemetar “

tubuh kelelawar itu penuh mengandung racun yang keji,

barang siapa yang tertempel niscarya akan mati, stetan setan

gantqung putih ini branyak terdapat digurun pasir wilayah

See-Ih, entah bagaimana mungkin bisa muncul di tempat ini.”.

“Kelelawar-kelelawar itu dinamakan setan putih ?”.

“Benar, para pedagang yang sering lewat di gurun pasirlah

yang memberi julukan tersebut kepada kelelawar-kelelawar

itu, mereka lukiskan betapa keji dan beracunnya binatangbinatang

itu, barang siapa yang berjumpa pasti akan mati

binasa, seolah-olah manusia itu telah bertemu dengan setan

pencabut sukma !”.

“Loosianseng berkerudung itu dikatakan sebagai se-orang

tabib sakti, mengapa ia memelihara binatang-binatang celaka

pembunuh manusia ini ?…”. tanya Kian Hoo kurang paham.

“Aku sendiripun tidak tahu, mungkin sekali binatang itu

sangat berguna dalam ilmu pertabibannya ? dikolong langit

banyak sekali terdapat binatang-binatang celaka yang memiliki

ciri-ciri khas tertentu, siapa tahu kalau sitabib sakti itu

menggunakan ciri khas dari kelelawar ini untuk menolong

orang yang membutuhkannya ?”.

“Aaaaai.. terhadap ilmu pertabiban, sedikitpun aku tidak

paham, akupun tidak mengerti penjelasan-penjelasan yang

barusan kau berikan kepadaku, lebih baik kita cepat cepat

berlalu !”.

Untuk menghindari serangan bokongan dari kelelawar

kelelawar putih itu, mereka berdua ber-jalan dengan sangat

hati hati, namun agaknya kelelawar kelelawar putih itu sangat

takut terhadap cahaya mutiara, binatang-binatang itu segera

terbang menyingkir tatkala mereka lewat.

Dengan hati kebat kebit dan jantung berdebar keras

akhirnya lorong itu berhasil mereka lewati, sampailah kedua

orang itu didalam ruang batu kedua.

Pemandangan yang meraka temukan didalam ruangan itu

jauh lebih mengerikan lagi.

Tampaklah keadaan dari ruang batu kedua ini tiada

berbeda jauh dengan ruang pertama tadi. hanya saja dalam

ruang kedua ini terdapat sebuah pembaringan yang terletak

ditengah ruangan, pembaringan itu terbuat dari porselin putih

dan bentuknya seperti sebuah mimbar. diatas pembaringan

tadi tidur terlentang seorang gadis dalam keadaan telanjang

bulat, banyak sekali kelelawar-kelelawar putih hinggap diatas

tubuh gadis telanjang itu dan menghisap darahnya.

Gadis telanjang itu bukan lain adalah gadis dusun A-Kim

yang oleh Ong Bwee Chi sengaja di pagutkan ular, maksud

dara tersebut bukan lain hendak mengunakan perbuatannya

ini untuk menemukan tempat tinggal dari sitabib sakti yang

sedang mereka cari.

Walaupun tujuan mereka akhirnya berhasil, namun gadis

dusun itu sendiri telah mendapat penyiksaan yang luar biasa

mengerikan Menyaksikan peristiwa ini Ong Bwee Chi langsung

naik pitam, dengan sinar mata berapi api teriaknya:

“Kurangajar ! apabila bajingan tua ini terjatuh ketanganku,

akan kubeset kulit tubuhnya…” Liem Kian Hoo pun melengak

menjumpai kejadian itu, tetapi ia jauh lebih tenang pikirannya,

sambil menarik tangan gadis itu ujarnya:

“Nona Ong ! kemungkinan sekali cara inilah merupakan

cara yang paling tepat untuk mengobati lukanya !”.

Omong kosong ! aku cuma menotok jalan darahnya belaka

sehingga menghalangi racun ular menyerang kejantung,

caranya untuk menolong gampang sekali, asal jalan darahnya

dibebaskan lalu dengan salurkan tenaga dalam, dengan cepat

racun ular itu akan terdesak.”

Ucapan ini membuat Liem Kian Hoo tertegun. terhadap

siorang tua yang belum pernah dijumpainya pun segera timbul

suatu perasaan aneh. Kalau ditinjau dari sikap hormat dan

patuh dari rakyat sekitar bukit terhadap kepada siorang tua

itu, semestinya dia adalah seorang tabib sakti berhati welas,

tetapi kalau ditinjau dari perbuatannya terhadap gadis itu,

jelas menunjukkan betapa keji, telengas dan sadisnya

perbuatan orang itu. Setelah berpikir beberapa saat ia lantas

berkata kepada gadis she-Ong itu:

“Nona Ong ! coba kau dekati gadis itu dan periksalah

apakah ia sudah mati atau masih hidup ?” Ong Bwee Chi

termenung sejenak, lalu ambil keluar dua bilah pisau belati

dan ayunkan tangannya kedepan.

Sreeet ! Sreeet ! diiringi dua kali desiran tajam dua ekor

kelelawar putih rontok keatas tanah dan mati ditembusi pisau

belati itu, Kelelawar kelelawar lainnya segera buyar dan

beterbangan kian kemari sambil memperdengarkan cicitan

aneh, bahkan sebagian besar diantaranya segera menubruk

kearah kedua orang itu. Sejak tadi Liem Kian Hoo sudah bikin

persiapan dengan tangan sebelah ia kirim sebuah pukulan

dahsyat kedepan.

Termakan oleh hembusan angin yang maha dahsyat itu,

beberapa ekor kekelawar itu segera terseret kebelakang

menumbuk dinding batu dan rontok keatas tanah, dalam

sekejap mata puluhan ekor kelelawar putih itu sudah mati

terhajar, sisa nya yang sempat lolos dari angin pukulan segera

terbang melewati terowongan dan melarikan diri ke ruang

depan.

Menanti kelelawar putih itu sudah terusir semua, Ong Bwee

Chi baru berjalan mendekati pembaringan itu, tampak seluruh

tubuh gadis itu penuh dengan mulut luka, noda darah

berkelepotan diseluruh tubuhnya, sewaktu ia periksa denyutan

nadinya, dengan wajah gusar gadis itu segera berteriak:

“Bajingan tua, sungguh keji perbuatanmu. Sedang Liem

Kian Hoo segera menghela napas panjang, tak usah ditanya ia

sudah tahu bagaimanakah hasil pemeriksaan itu.

Dengan amat sedih Ong Bwee Chi melepaskan pakaian

luarnya yang berwarna hitam itu dan ditutupkan keatas tubuh

gadis telanjang itu, kemudian sambil menahan isik tangis

katanya:

“Walaupun kau bukan mati ditanganku, namun aku tak bisa

melepaskan diri dari pertanggungan jawab atas kematianmu

beristirahatlah dengin tenang ! aku pasti akan membiarkan

kau mati dengan mata meram !”

“Aaaaaai….! siorang tua she-Ban itu entah merupakan

manusia aneh macam apa ?” si anak muda itu ikut menghela

napas.

“Manusia aneh apa? dia tidak lebih adalah seorang manusia

edan, manusia sinting yang tidak waras otaknya, tunggu saja

saatnya, akan kuberi pelajaran kepadanya !”.

Beberapa saat Liem Kian Hoo membungkam dalam seribu

bahasa, akhirnya dengan suara lirih ia berkata:

“Mari kita lanjutkan perjalanan kedalam, kita masih harus

bekeija keras untuk menemukan sikakek tua itu. Namun

dengan adanya peristiwa yang mengerikan ini berarti

pandangan kita terhadap dirinya pun harus dirubah, semula

kita tiada bermaksud memusuhi dirinya, namun sekarang,

mau tak mau kita harus selalu waspada dan berhati-hati

terhadap segala hal yang tidak diinginkan !”

Dengan air mata bercucuran dan mulut membungkam Ong

Bwee Chi meninggalkan ruang batu itu, melewati terowongan

dan tiba diruang batu ketiga, disana kosong melompong tak

nampak sebuah bendapun, merekas lanta meneruskan

perjalanannya kedepan.

Siapa sangka apa yang ditemui sedikit ada diluar dugaan,

lima enam buah ruang batu berikutnya merupakan ruang

kosong semua, menanti mereka masuk dalam ruang

kedelapan barulah menemukan sesuatu disana, apa yang

berhasil mereka temukanpun merupakan suatu peristiwa

berdarah yang mengerikan dan mendirikan bulu roma.

Ditengah ruangan tersebut terletak sebuah bangku, diatas

bangku duduklah seorang dan dia bnkan lain adalah Tan Lootoa

sipenangkap ular. tangan serta kakinya ketika terikat

kencang kencang diatas bangku tersebut, pakaian bagian

dadanya robek dan rongga dadanya muncul sebuah lubang

yang amat besar darah segar masih mengucur keluar tiada

hentinya, jelas terlihat bahwasanya jantung orang itu mentahmentah

sudah dikorek keluar oleh orang, walaupun

pemandangan mengerikan yang mereka lihat dalam ruang

depan tadi telah merubah sikap mereka terhadap sikakek

misterius itu, tetapi pemandangan menyeramkan yang mereka

temukan saat ini semakin menggusarkan hati kedua orang itu.

“Kalau aku berhasil menangkap bajingan ini, akan kusuruh

diapun merasakan bagaimanakah menderitanya seseorang bila

rongga dadanya dibedah.” sumpah Kian Hoo sambil meraung

gusar.

Ong Bwee Chi bungkam dalam seribu baha sa, ia berebut

masuk kedalam terowongan lebih dahulu untuk melanjutkan

penggeledahannya.

Liem Kian Hoo pun mengikuti dibelakang-nya, kini ia sudah

melupakan sama sekali tujuan utamanya datang ketempat itu

untuk mencari tahu kabur berita tentang ayahnya, yang ia

pikirkan kini adalah menemukan sikakek bertangan telengas

itu dan menanyakan apa maksudnya melakukan perbuatanperbuatan

sinting.

Dalam ruang batu kesembilan penuh berisikan botol botol

obat obat serta kotak-kotak berisi obat, diatas dindingpun

banyak tergantung rumput-rumput obat yang sedang

dikeringkan, namun tak nampak sesosok bayangan manusia

pun berada disana.

Dengan tergesa gesa mereka menerobosi terowongan dan

tiba diruang batu ke sepuluh.

Pemandangan selanjutnya yang berhasil mereka temui

boleh dikata jauh lebih mengerikan lagi, seolah-olah tempat

itu sudah berubah jadi sebuah neraka.

Disekeliling ruang batu terletaklah lima enam buah gentong

besar, ditengah ruang berdiri pula sebuah meja terletak

beberapa buah kotak kayu.

Benda benda itu sih tak begitu mengherankan justru isi dari

benda benda itulah yang amat mengejutkan hati manusia.

Dalam sebuah gentong, entah berisikan cairan apa yang

menyiarkan bau tidak enak bertumpuklah lengan manusia

serta kaki manusia dalam keadaaan utuh serta segar.

Dalam gentong lain berisikan pula panca indra dari

manusia, ada telinga, hidung, mata dan semuanya dalam

keadaan segar serta utuh.

Bergerak lebih kedalam, tampak pula isi gentong itu berupa

otak, hati, limpa, ginjal, usus serta pelbagai macam isi perut

manusia, semua alat tubuh manusia itupun berada dalam

keadaan segar.

Yang paling mengejutkan lagi adalah isi ember yang ada

diatas meja, dalam ember itu terletak sebuah jantung

manusia, darah yang mengucur keluar kelihatan masih segar

bahkan jantung itupun masih berdenyut tiada hentinya.

Seluruh tubuh Ong Bwee Chi gemetar keras tak kuasa lagi

ia merapatkan tubuhnya kedalam pangkuan Kian Hoo seraya

berseru kaget:

“Oooouw… sungguh mengerikan sekali…”.

Kian Hoo sendiripun merasa amat terperanjat menyaksikan

pemandangan tersebut namun bagaimana juga dia adalah