Kitab Pusaka

New Picture (1)Kitab Pusaka

Karya : Wu Lung Shen

Saduran : Tjan ID

sumber : dimhad

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Jilid 1 : Jago pedang yang dikhianati kekasih

Di SUATU JALAN bukit yang sepi nun jauh di sana, dibawah rembulan yang redup, lamat-lamat tampak dua sosok manusia sedang berlarian dengan langkah tergesa-gesa. Menanti mereka semakin mendekat, tampaklah kalau dua orang itu adalah seorang nenek berambut putih yang sedang menggandeng tangan seorang bocah cilik.

Sambil berlari kencang, tiada hentinya nenek berambut

putih itu berpaling kebelakang memandang kearah belakang

dengan sinar mata gugup, panik dan ketakutan.

Sekilas pandangan saja, dapat diketahui kalau mereka

sedang menghindarkan diri dari suatu persoalan atau

pengejaran dari sementara orang.

Tapi bila dilihat dari langkahnya yang lamban serta

perawakan tubuhnya yang telah menua, bisa diketahui pula

jika dia bukan seorang manusia persilatan, melainkan seorang

nenek biasa yang berhati baik. Didepan sana terbentang

Seruling Pelenyap Sukma (Thiat Tjui Tjen Bu Lim)

sebuah hutan bambu yang amat lebat, melihat itu bagaikan

sipenjelajah gurun pasir yang bertemu dengan tanah hijau,

wajah nenek itu segera berseri, dengan cepat dibopongnya

bocah itu kemudian sambil mengerahkan sisa tenaga yang

dimilikinya, dia kabur masuk ke dalam hutan dengan napas

tersengal.

Setelah berada didalam hutan, nenek itu kembali berpaling

dan celingukan beberapa waktu lamanya ke tempat luaran

sana, kemudian itu baru ia hembuskan napas panjang dan

meletakkan sibocah ketanah.

Sambil duduk kelelahan. ia berkata: “Aaaaiii. masih untung

Thian melindungi kita dan lolos dari mulut harimau, mari kita

beristirahat sebentar!”

Baru selesai sinenek bergumam, mendadak dari belakang

tubuhnya berkumandang suara seram yang kedengarannya

mendirikan bulu roma orang. mendengar suara itu si nenek

segera berpaling…

Mendadak ia menjerit tertahan saking kaget dan takutnya.

“Aaaah…”

Entah sejak kapan, ternyata dibelakang tubuhnya telah

berdiri berjajar tiga orang bersenjata golok yang mengenakan

kain kerudung hitam diatas wajahnya.

Ditengah jeritan kaget sinenek, dari balik hutan secara

beruntun muncul lagi empat lima orang berkerudung hitam.

Ia tak berani berayal lagi, buru-buru dibopongnya tubuh

bocah itu ingin menerjang ke luar dari kepungan, siapa tahu

baru saja ia bangkit berdiri, dua orang manusia telah muncul

dihadapannya dan menghadang jalan pergi nya.

Tergetar keras perasaan sinenek setelah menjumpai empat

penjuru penuh dengan musuh. hatinya menjadi dingin

separuh, buru-buru ia menjatuhkan diri berlutut, lalu sambil

menangis pintanya:

“Kumohon kepada hohan sekalian agar mengampuni

selembar jiwa bocah ini, keluarga Suma tinggal seorang sauya

ini saja, dia masih kecil dan tak tahu urusan, kumohon kepada

kalian kasihanilah selembar jiwanya.”

Sambil berkata, air mata nenek itu jatuh bercucuran

dengan amat derasnya.. sungguh mengenaskan sekali

keadaannya.

Siapa tahu yang diperoleh sebagai penggantinya adalah

gelak tertawa licik yang mendekati kalap.

Terdengar salah seorang diantaranya berkata;

“Toaya sekalian bertugas disini memang bertujuan untuk

melenyapkan keturunan Suma Tiong Ko, kau sinenek jelek

yang sudah hampir mampus. untuk menyelamatkan diri saja

belum tentu sanggup, masih berani benar memikirkan

keselamatan orang lain, lebih tak usah banyak ngebacot lagi!”

Mendengar perkataan itu, sinenek bertambah gelisah,

sambil menangis tersedu-sedu kembali pintanya,

“Ooohhh… hohan sekalian, kalau mau membunuh, aku

saja! Kumohon kepada kalian agar suka mengampuni

selembar jiwanya, berbuatlah sedikit kebajikan!”

“Mengampuni jiwanya? Berbuat kebajikan? Hmmn Toaya

tak pernah memikirkan soal tetek bengek semacam itu, toaya

hanya tahu setia pada tugas tidak tahu apa artinya memberi

pengampunan dan apa artinya berbuat kebaikan, enyah kau

dari sini! Kalau tidak, terhitung kau sendiripun kujagal

sekalian!”

Sehabis mendengar kata kata yang sama sekali tiada

harapan itu, si nenek berambut putih itu menangis semakin

menjadi, tampal ia memeluk bocah itu makin kencang, isak

tangisnya juga makin nyaring menggema di dalam hutan itu.

Si bocah yang berada dalam pelukannya itu melototkan

sepasang matanya yang jeli, dia mengawasi terus lelaki

bersenjata golok disekeliling tempat itu dengan penuh

kebencian, dan balik sorot matanya yang masih polos, jelas

terlihat tiada perasaan jeri atau ketakutan yang terpancar

keluar.

Mendadak terdengar salah seorang lelaki itu membentak

keras, tubuhnya bergerak ke muka menghampiri nenek itu,

kemudian sambil mendorong tubuh nenek itu kebelakang,

makinya kalang kabut.

Kasihan si nenek yang telah lanjut usia itu, kena didorong

oleh lelaki tadi, bagaikan mabuk arak saja tubuhnya segera

mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, begitu

terjatuh ketanah, dia mengaduh tiada hentinya..

Kemudian sambil mengayunkan goloknya ke bocah itu,

lelaki berkerudung itu tertawa seram.

“Heeh .. . heeh …bocah keparat, kau jangan salahkan kalau

Toayamu berhati kejam!”

Selesai berkata dia lantas mengayunkan goloknya

membacok tubuh bocah tersebut.

Melihat majikan mudanya terancam bahaya disaat yang

kritis inilah mendadak ia menubruk ke atas bocah itu dan

melindunginya dengan menggunakan tubuh sendiri.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang

dari mulut nenek itu, percikan darah segar segera

berhamburan mengotori sekujur badan lelaki itu.

Ketika semua orang berpaling ketempat kejadian maka

tampaklah ayunan golok dari lelaki itu sudah menembusi perut

si nenek sehingga ususnya pada keluar semua…

Kasihan si nenek yang setia membela majikannya sampai

mati, demi keselamatan majikan mudanya dia rela

mengorbankan nyawanya.

Lelaki berkerundung itu segera mendengus dingin, sambil

membersihkan goloknya dan noda darah, dia mencaci maki

kalang kalut:

“Nenek jelek, nenek sialan, tampaknya kau memang sudah

bosan hidup, pingin mati saja”

Seraya berkata dengan gemas dia lantas menendang mayat

si nenek yang masih menindih diatas tubuh bocah itu sehingga

mencelat ke tempat jauh sekali dari sana.

Betul betul perbuatan orang pembunuh keji yang

membunuh orang tak berkedip, kekejaman, kebuasan dan

kebrutalannya sukar dilukiskan dengan kata kata.

Bocah itu melirik sekejap kearah mayat si nenek yang mati

demi menyelamatkan jiwanya itu, kemudian menangis tersedu

sedu,

Melihat itu dengan gusar lelaki berkerundung tersebut

membentak keras :

“Menangis, menangis terus! Hm, hayolah menangis sampai

puas. beritahu pada raja akhirat nanti, akulah yang telah

mengirimmu Pulang ke sana . !”

Begitu selesai berkata, goloknya kembali diayunkan

kedepan untuk membacok batok kepala bocah itu.

Disaat yang amat kritis inilah, dari tengah udara

berkumandang suara pekikan yang nyaring memekikkan

telinga.

Tampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan

bagaikan sambaran kilat telah meluncur masuk ketengah

arena, kemudian tampak cahaya putih berkelebat lewat,

serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati segera

berkumandang memecahkan keheningan.

Dengan perasaan terkesiap kawanan jago berkerundung

yang berada disekeliling tempat tu berpaling, entah sejak

kapan tahu tahu di tengah arena telah bertambah dengan

seorang busu setengah umur yang memegang sebilah

pedang.

Sementara itu, si lelaki berkerundung yang telah

menyiapkan bacokan mautnya terhadap bocah tadi, kini sudah

tewas ditanah.

Seketika itu juga suasana dalam hutan itu menjadi gempar,

serentak semua orang menyebarkan diri ke empat penjuru

dan bersiap siaga mengurung busu setengah umur itu rapat

rapat.

busu berusia setengah umur itu kira-kira telah berusia

empat puluh tahun, matanya tajam dengan wajah yang

tampan, dibawah janggutnya memelihara segumpal jenggot

kambing, pakaiannya ringkas dan nampak sangat gagah

sekali.

Dengan sorot matanya yang tajam dia memandang sekejap

sekeliling tempat itu, kemudian dengan dingin ujarnya:

“Kawanan tikus! Apakah kalian ingin membunuh orang

sampai keakar-akarnya?”

Tak seorang manusiapun yang menjawab, semua orang

bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak

diinginkan.

Sampai lama kemudian, salah seorang diantaranya baru

berkata.

“Orang she Wan, lebih baik kau jangan mencampuri urusan

orang lain, apakah kau berani menanggung peristiwa yang

berlangsung pada hari ini?”

Lelaki setengah umur itu menatap tajam pembicaraan

tersebut lekat lekat, lalu sahutnya :

“Iya,aku Wan Liang akan menanggungnya seorang diri. jika

kalian tidak puas, silahkan maju bersama-sama, kalau tidak,

cepat sipat ekor dan pergi dari sini!”

Suaranya nyaring dan bertenaga penuh, selesai berkata ia

lantas mengawasi orang-orang disekitar tempat itu dengan

sinis.

Mendadak terdengar beberapa kali bentakan nyaring

berkumandang memecahkan keheningan, lelaki berkerudung

yang berada disekeliling tempat itu serentak maju bersama

dan mengayunkan golok mereka untuk membacok tubuh Wan

Liang.

Sungguh hebat manusia yang bernama Wan liang itu.

melihat sergapan dari kawan lelaki berkerudung itu. dia

tertawa dingin lalu berpekik keras, suara nyaring menjulang

tinggi sampai keangkasa.

Mendadak sepasang bahunya digetarkan sambil melejit

keudara dengan menggunakan suatu gerakan tubuh yang

cepat bagaikan sambaran kilat dia meluncur mengitari

sekeliling tempat itu ….

Seketika itu juga timbul di arena pertarungan tampak

serentetan cahaya putih berkelebat lewat, bagaikan kupu kupu

yang terbang diantara bebungaan, dia meluncur kesana

kemari dengan lincahnya. Dalam waktu singkat jeritan ngeri

yang memilukan hati berkumandang memecahkan

keheningan, bayangan manusia berkelebat, cahaya putih

menyambar, jeritan ngeri segera bergema memecah

keheningan.

Tahu tahu ditengah arena telah bertambah dengan enam

sosok mayat yang membujur di tanah-

Sisanya yang dua orang segera melarikan diri terbirit-birit

meninggalkan tempat kejadian.

Busu setengah umur yang mengaku bernama “Wan Liang”

itu tetap berdiri tenang ditempat semula seakan akan tak

pernah terjadi suatu peristiwa apapun, dengan napas tenang,

wajah tidak berubah, dia berdiri tertawa disitu.

Akhirnya ia menatap bocah tersebut dan menegur sambil

tertawa: “Nah, kau merasa terkejut sekali dengan peristiwa

ini?”

Sampai sebesar itu, belum pernah bocah tersebut

menyaksikan mayat mnnusia yang bergelimpangan serta

pertarungan yang begitu sengit sejak tadi ia sudah berdiri

tertegun disitu dengan tubuh kaku.

Menanti Wan Liang menegur, dia baru tersadar kembali

dari lamunan, dengan cepat ia menjatuhkan diri berlutut

sambil berkata:

“Oooh . Pousat yaya terima kasih atas pertolonganmu itu

sehingga membuat aku…”

Menyaksikan kejadian itu, Busu setengah umur itu segera

memegang perutnya sambil tertawa terbahak-bahak, suara

tertawanya yang keras segera menelan ucapan bocah itu

berikutnya.

Selesai tertawa, ia baru berkata: “Hayo bangun, tak usah

mengucapkan kata kata yang tak berguna lagi…”

Sembari berkata dia lantas membangunkan bocah itu dan

diperhatikan sejenak.

Tampak bocah itu berwajah tampan dengan bibir yang

merah serta dua baris gigi yang putih. pada hakekatnya dia

merupakan seorang

bocah yang amat menarik.

Wan Liang segera menepuk nepuk bahu bocah itu

kemudian menghela napa panjang, pikirnya.

“Bocah ini benar benar amat kasihan dan menyenangkan.

aku bisa menolongnya, hal ini merupakan suatu kemujuran.

Kalau dilihat dari potongan badannya, jelas dia merupakan

bahan bagus unutk berlatih silat… tapi apa mungkin aku bisa

membawanya pergi?”

berpikir sampai disitu. dia telah bersiap siap membalikkan

badannya untuk pergi, tapi ketika dilihatnya bocah itu

menangis dengan begini sedihnya ia lantas menghela napas

panjang. pikirnya dihati:

“Wan Liang wahai Wan Liang . . menolong orang lain

merupakan kewajiban bagi setiap umat manusia, apakah kau

tega membiarkan bocah yang tak tahu urusan ini mesti

berdiam di sini dihembus angin dingin?”

Berpikir sampai disini, tanpa terasa busu berusia

pertengahan itu mundur beberapa langkah lagi, mendesak ia

mendongakkan kepalanya berpekik nyaring, lalu membalikkan

badan berlalu dari sana.

Dalam waktu singkat tampak bayangan tubuhnya

berkelebat lewat dan lenyap dibalik hutan sana.

Sinar rembulan yang redup kini telah menembusi hutan

menyoroti si bocah yang berada disana seorang diri. ia sedang

mendekan diatas tubuh nenek tersebut sambil menangis

tersedu-sedu.

“Thio popo… Thio popo… ” gugamnya terus menerus.

-ooo)(00000)(000-

BUKIT CIAT THIAN Hong menjulang tinggi keangkasa dan

berdiri angker diantara bukit-bukit yang lain.

Waktu itu matahari sudah tenggelam kelangit barat

mendatangkan sinar yang kemerah-merahan, kemudian awan

gelappun mendekati tanah perbukitan itu dan menyelimuti

seluruh jagad.

Tebing Goan Gwat Peng berbentuk sebuah topi yang datar

menutupi puncak Ciat Thian Hong.

Diatas tanah datar tersebut duduk berkerumun beberapa

orang, ada yg berdiri, ada yang berbincang bincang, ada pula

yang sedang memandang ketempat kejauhan.

Tiba tiba dari tanah datar dipuncak bukit itu berkumandang

datang dua kali pekikan nyaring, menyusul kemudian tampak

dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan seperti angin

puyuh melayang turun di atas tanah datar itu, gerakannya

cepat dan mengagumkan sekali.

Bayangan manusia itu seperti dari seorang pria dan

seorang wanita, usia mereka diantara tiga empat puluh

tahunan

Begitu tiba ditempat tujuan, mereka mengawasi sekejap

sekeliling tempat itu. kemudian si pria berkata sambil tertawa

terbahak-bahak: “Haaahhh. . . haaahhh. . Haaabbh…. rupanya

kalian sudah berdatangan lebih awal, aaiii … tiga orang

saudara dari bukit Tiang pek san-pun telah jauh-jauh

berangkat kemari, sungguh tak kusangka, oooh …. masih ada

Kang pangcu dari sungai kuning juga telah datang…. selamat

berjumpa, selamat bejumpa. rasanya tidak sia-sia perjalanan

aku orang she Siau hari ini”

Selesai berkata dia lantas menyalami setiap orang yang

hadir disana dan mengajaknya berbincang-bincang sebentar.

Sementara itu, seorang kakek berambut putih telah datang

menghampiri kedua orang itu, lalu sambil menjura katanya.

“Siau tayhiap berdua telah datang terlambat, membuat

kami harus menunggu dengan cemas, sewaktu datang tadi

apakah kalian berdua telah melihat dia?”

Orang yang berbicara tadi adalah Pangcu dari perkumpulan

Tiang Ciau Pang disungai kuning Kang Hong Siang adanya. dia

berusia tujuh puluh tahun dan mempunyai anak buah

sebanyak ribuan orang lebih. boleh dibilang perkumpulannya

merupakan perkumpulan paling besar, paling tangguh dan

paling berpengaruh didalam dunia persilatan dewasa ini.

Lelaki she Siau itu segera tertawa ter-bahak2,

“Haaaahh haaah haaah .. tampaknya Kang tangkeh

seorang yang terburu napsu, kalau waktunya belum sampai,

mana mungkin dia akan datang lebih awal? Lagi pula malam

ini kita telah menanti kedatangannya disini, apakah kita mesti

kuatir dia lagi kelangit?”

Ternyata sepasang suami istri ini adalah Bi Kun Lun (Kun

lun indah) Sian Wie Goan dan Siau Hu Yong(Hu Yong

Tertawa) Chin lan eng dua orang jago yang dianggap sebagai

pemimpin dunia persilatan dewasa ini.

Dalam pada itu, rembulan sudah berada di angkasa

membuat suasana diatas tanah datar dipuncak bukit itu

nampak agak terang, semua orang segera berkumpul ke

tengah lapangan tersebut.

Bi Kunlun Siau Wie Goan mendongakkan kepalanya

memandang waktu, kemudian ujarnya dengan wajah berseri:

“Waktunya sudah tiba, murgkin orang She Wan akan

mengingkari janjinya..”

Belum selesai dia berkata, mendadak dari tengah udara

telah berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat

nyaring….

Mendengar pekikan tersebut, semua orang menjadi

tertegun, pada saat itulah tampak sesosok bayangan hitam

secepat kilat telah meluncur ditengah udara lalu melayang

turun ke tanah.

Serta merta semua orang mundur beberapa langkah

dengan terperanjat. Dengan manisnya orang itu segera

melayang turun ke atas permukaan tanah.

“Haaahhh… haaahhh . .. haaahhh . . . aku orang she Wan

sudah datang terlambat, bila kalian harus menunggu agak

lama, harap suka dimaafkan” katanya lantang.

Rupanya orang yang baru datang itu adalah si busu berusia

pertengahan Wan Liang.

Tampak sekulum senyum, menghiasi bibirnya. Dia berdiri

ditengah arena dengan angkuh dan mengawasi setiap orang

disekitar arena dengan pandangan tajam, akhirnya sorot mata

tersebut berhenti diatas tubuh Bi Kun-lun Siauw Wie Goan.

Mendadak paras mukanya berubah menjadi amat serius,

katanya sambil tertawa dingin :

“Hmm. …hmm…..sudah kuduga kalau permainan ini

merupakan sandiwara hasil ciptaanmu, Siau Wie Goan,

kuberitahu kepadamu, aku Wan Liang bersikap cukup baik

kepadamu, menganggap kau sebagai saudara sendiri siapa

tahu kau si manusia munafik berwajah manusia berhati

binatang, apa maksudmu merusak nama baikku? Bahkan pada

hari ini telah mengundang jago-jago dari golongan putih dan

golongan hitam untuk menungguku disini, masa kau anggap

aku tidak tahu kalau tujuanmu adalah menginginkan batok

kepalaku ini….? Hm, sekarang aku orang she Wan sudah

datang memenuhi janji, akan kulihat permainan setan macam

apa lagi yang bisa kau tunjukkan kepadaku?”

Sekulum senyuman manis selalu saja menghiasi ujung bibir

Bi Kun Lun Siau Wie Goan, katanya dengan santai :

“Saudara Wan, kau salah paham, berbicara dari hubungan

persahabatan kita ini, masa aku tega melakukan perbuatan

semacam ini kepadamu? Tindak tandukmu itu hanya dalam

hati kecilmu yang tahu, sekalipun aku Siau Wie Goan ingin

melindungi dirimu juga tidak mungkin bisa mewujudkan

keinginanku tersebut …”

Mendengar perkataan itu, Wan Liang menjadi gusar sekali

sehingga dari balik matanya memancar cahaya berapi api

yang penuh diliputi kegusaran, sambil menggigit bibir serunya

“Siau Wie Goan, kau merampas cinta dan menjebak

temanmu itu ketempat yang memalukan, bahkan secara diam

diam menghubungi kawanan jago dari golongan hitam dan

putih untuk bersama sama menyerang diriku, sekarang masih

bisanya mengucapkan kata kata yang sok gagah, hmm … kau

anggap aku orang she Wan adalah seorang bocah berusia tiga

tahun yang bisa kau tipu mentah mentah .. .. “

Belum habis dia berkata. Bi Kun Lun Siau Wie-Goan telah

menimbrung lagi:

“Sekarang sudah bukan saatnya berdebat mempersoalkan

masalah itu lagi, malam ini begitu banyak teman yang telah

berada disini, mereka sudah menunggu dengan tak sabar.

sedangkan aku orang she Siau cuma kebetulan saja ikut

menghadiri pertemuan ini, bila kau merasa ada persoalan,

sampaikan saja kepada mereka!”

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah penuh senyuman

dia melanjutkan: “Wan heng, mari ku perkenalkan beberapa

orang teman kepadamu, dia adalah Kang pangcu, ketiga

orang bersaudara itu datang dari Tiang Pek San, dan dia ini

adalah ketua Go Bi Pay…”

“Aku orang she Wan sudah tahu.terima kasih banyak atas

perkenalanmu, aku she Wan sudah lama mengenal mereka,

buat apa kita mesti banyak berbicara lagi.”

Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat(Tiga Malaikat bengis dari

Tiang Pek San) Li Gi segera tertawa dingin tiada hentinya, lalu

berkata:

“Bagus, bagus… tampaknya ucapan dari jago pedang angin

puyuh memang cukup cepat dan tegas. nama besarmu bukan

cuma nama kosong belaka. jauh-jauh kami datang kemari

tentu saja bukan dikarenakan ingin bersilat lidah belaka. mari

biar aku orang she Li yang mencoba kepandaian silatmu lebih

dulu.”

Selesai berkata ia lantas meloloskan sebilah golok dan

bersiap siap untuk melancarkan serangan.

Kit Hong Kiam Khek Wan Li cukup sadar akan keadaan

yang dihadapinya, selesai itu diapun telah bertekad untuk

menghadapi masalah tersebut dengan pertaruhan selembar

jiwanya. maka begitu dilihatnya Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat,

si bintang berkepala sembilan Li Gi telah meloloskan

senjatanya tanpa sungkan sungkan lagi diapun segera

mencabut keluar pedang Kit Hong Kiam yang tersoren

dibelakang punggungnya.

Terdengar suara dentingan yang amat nyaring menggema

memecahkan keheningan menyusul kemudian terlihat cahaya

biru memancar ke empat penjuru.

Si Bintang berkepala sembilan logi segera meloloskan

pedangnya daridalam sarung kemudia serunya tertawa:

“Pedang bagus!”

Setelah memegang senjatanya, Kit Hong Kiam khek Wan

Liang segera menggetar pelan senjata mestikanya itu,

ditengah udara segera muncul tiga kuntum bunga pedang

yang menyilaukan mata.

Demonstrasi jurus Bwe Hoa Sam Long (Tiga Kuntum Bunga

Bwee melompat) tersebut dengan cepat memancing pujian

semua orang.

Sebenarnya tujuan dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang

bukan untuk memamerkan kepandaiannya, tapi kejadian ini

justru telah membangkitkan amarah dari bintang berkepala

sembilan Li Gi.

Tampak sepasang matanya melotot besar dengan

memancarkan cahaya kebuasan. ditatapnya wajah Kit Hong

Kiam Khek Wan Liang dengan penuh kegusaran, kemudian

sambil tertawa seram katanya,

“Orang she Wan, lebih baik jangan menjual lagak lagi

disini. mari kita tentukan kemampuan kita diujung senjata!”

Begitu selesai berkata, goloknya segera diputar kencang,

lalu membacok ketubuh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang

dengan mempergunakan jurus Soat Kay Hoan-San (salju

menyelimut Hoa san).

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang merupakan seorang tokoh

sakti dalam dunia persilatan dewasa ini, ilmu pedangnya

sangat lihay sekali, meski belum sampai setahun dia terjun

kedalam dunia persilatan, akan tetapi nama besarnya telah

menggetarkan seluruh kolong langit.

Ilmu pedangnya yang telah mencapai puncak

kesempurnaan itu boleh dibilang merupakan seorang jago

pedang paling tangguh selama seratus tahun belakangan ini.

Ketika dilihatnya golok Kiu Tau Siu Li Gi membacok datang,

sambil mendengus dingin dia miringkan kepalanya kesamping

dan mengegos dari ancaman tersebut, kemudian dengan

cekatan dia mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

“Li tangkeh!” ujarnya dengan lantang, “kalau hanya

mengandalkan kemampuanmu seorang masih ketinggalan

jauh sekali, mengapa kalian bertiga tidak maju bersama sama

saja?”

Cemoohan yang bernada mengejek ini kontan saja

membuat paras muka Kiu tau siu Li Gi menjadi merah padam.

kegusarannya makin membara, bentaknya keras :

“Keparat she Wan, serahkan selembar jiwa anjingmu!”

Seusai bekata bagaikan anjing gila dia menubruk kedepan.

goloknya diayun ke udara dan membacok batok kepala Kit

Hong Kiam Khek Wan Liang secara keji.

Pada saat itulah dari dalam arena kembali melompat keluar

dua sosok bayangan manusia sambil mengayun golok masing

masing. mereka menyerang Kit Hong Kiam Khek secara ganas.

Tak bisa disangkal lagi, kedua orang itu bukan lain adalah

loji dan losam dari Tiang Pek Sam Sat, Pia Mia Siu(Binatang

beradu jiwa )Li Khing, dan Liat hwe Siu(binatang berangasan)

Li Hiong.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang menjadi girang. setelah

dilihatnya ketiga orang itu turun tangan bersama, tanpa terasa

ia mendongakan kepalanya dan berpekik nyaring, menyusul

kemudian sambil menerjang kemuka, dia mengembangkan

permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam Hoatnya untuk

melancarkan serangan balasan.

Tiang Pek Sam Sat bukan manusia sembarangan. mereka

sudah terkenal dalam dunia persilatan, sudah banyak

kejahatan yang mereka lakukan, kekejamannya bukan

kepalang, tak sedikit manusia yang tewas ditangan mereka.

Dalam kalangan Liok lim, mereka dikenal sebagai jago kelas

satu yang disegani banyak orang, Akan tetapi bila

dibandingkan dengan kehebatan Kit Hong Kiam khek, maka

kemampuan mereka itu boleh dibilang masih selisih jauh

sekali.

Tak selang berapa saat kemudian, empat orang yang

berada diarena pertarungan itu sudah saling bergebrak

sebanyak sepuluh gebrakan lebih.

Mendadak Tiang Pek Sam Sat berpekik aneh, tubuh mereka

melejit setinggi satu kaki lebih, kemudian dengan membentuk

satu garis, tiga bilah golok mereka dengan posisi segitiga,

terbagi menjadi atas, kiri dan kanan bagaikan sebuah jalan

mengurung tubuh Kit Hong Kiam Khek.

Menghadapi ancaman tersebut, Kit Hong Kiam khek Wan

Liang mendengus dingin, dengan jurus Ki-hwee liau-thian

(mengangkat obor membakar langit) pedangnya diangkat

diatas kepala.sepasang matanya mengawasi ketiga kuntum

bunga golok yang meluncur tiba dari tengah angkasa itu

dengan seksama ….

Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ketiga kuntum

bunga golok yang meluncur datang dari tengah angkasa itu

telah tiba dalam sekejap mata . …

Traaaang benturan senjata yang amat nyaring

berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian

terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati bergema,

bayangan manusia segera berpisah, loji dari Tiang Pek Sam

Sat, si binatang beradu jiwa Li Kheng telah terkapar ditanah

dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Dan sebaliknya si binatang berkepala sembilan Li Gi dan si

binatang berangan Li Hong segera melejit kesamping untuk

menghindarkan diri, kemudian tanpa berpaling lagi mereka

kabur menyematkan diri dari tempat tersebut.

Sehabis melukai ketiga orang lawannya Itu, Kit Hong Kiam

Khek Wan Liang berdiri tenang seakan-akan tak pernah terjadi

sesuatu apapun, ia berdiri ditempat dengan senyum dikulum,

lalu sambil tersenyum tegurnya :

“Sekarang, tiba giliran siapa”

Bi Kun lun Siau Wie Goan maju dua langkah kedepan, lalu

sahutnya sambil tertawa seram :

“Atas kesudian beberapa orang sahabat yang hadir di arena

malam ini untuk mempercayai diriku, aku telah diangkat

menjadi pemimpin mereka sesungguhnya tujuan kami

mengundang kehadiran saudara Wan kemari, tak lain adalah

berharap kau suka meluluskan satu permintaan kami.”

“Apakah permintaan kalian itu?” tanya Kit Hong Kiam Khek

Wan Liong sambil tertawa dingin.

“Minta kepadamu untuk selamanya mengundurkan diri dari

dunia persilatan…” jawab Bi Kun Lun Siau Wie Goan tegas.

“Kalau tidak . . ?” Wan Liang balik bertanya

“Terpaksa aku harus berbuat kasar kepadamu” Baru selesai

Bi Kun Lun Siau Wie-Goan mengutarakan kata katanya, Siau

Hu Yong Cian Lan Eng yong berada disampingnya telah

menukas dengan wajah sedingin es

“Wie-Goan buat apa banyak bicara dengannya, waktu

sudah tidak pagi lagi.”

Begitu mendengar ucapan tersebut, seketika itu juga Kit

Hong Kiam Khek merasakan sorot matanya memancarkan

cahaya berapi, dia tak menyangka kalau kekasih yang

dicintainya, kini telah berubah menjadi seorang manusia sekeji

ini.

Tak tahan lagi, akhirnya dia mencaci maki dengan penuh

kegusaran :

“Perempuan rendah, . sekalipun sudah menjadi setan, aku

orang she Wan ingin mendahar darah dan dagingmu!”

Siau Hu yong Chin Lan Eng segera tertawa terkekeh-kekeh

dengan jalangnya :

“Heehh… . heeehhh. ,.. Wan tayhiap yang sok suci dan sok

gagah, memangnya kau anggap bisa menelan aku Lan eng

dengan begitu saja ? Malam ini, bila kau bisa meninggalkan

tempat ini dalam keadaan selamatpun sudah merupakan suatu

kemujuran bagimu”

Saking marahnya Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sempat

tertawa nyaring, suaranya ibarat monyet monyet di selat Wi

sia yang berpekik bersama, suaranya penuh kepedihan.

kesedihan, seperti menjerit, seperti menangis, mengerikan

sekali kedengarannya.

Begitu selesai tertawa, mendadak ia melotot besar,

mencorong sinar tajam dari balik matanya, sambil menggertak

gigi bentaknya.

“Aku orang she Wan tidak percaya kalau kau si perempuan

rendah bisa memiliki kemampuan untuk menahanku disini,

malam ini aku orang she Wan datang dengan membawa tekad

untuk beradu jiwa, tapi setelah mendengar perkataan itu, aku

orang she Wan justru tak akan mati, ingin kulihat apa yang

bisa kau lakukan terhadap diriku?”

Baru selesai Kit Hong Kiam Khek Wan Liang berkata,

mendadak terdengar suara seseorang yang tua tapi nyaring

bergema datang.

“Omitohud!”

Dari sudut tanah lapang itu pelan pelan berjalan mendekat

seorang pendeta tua.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera berpaling sekejap ke

arahnya, ternyata orang itu adalah Leng Kong taysu,

ciangbujin dari partai Go bi .. ..

Dengan langkah pelan Leng kHong toysu berjalan ketengah

arena, kemudian tegurnya:

“Wan tayhiap, sejak berpisah baik baikkah kau? Mengingat

hubungan persahabatan kita selama beberapa tahun, pinceng

ingin menasehatimu dengan sepatah kata: Turutilah anjuran

dari Siau tayhiap, sejak detik ini mengundurkan diri dari

keramaian dunia persilatan dan jangAn muncul kembali dalam

keramaian dunia!”

“Mengapa? Persoalan dari aku orang she Wan hanya aku

sendiri yang bisa memutuskan. Hari ini, mengapa taysu malah

berkomplot dengan kaum munafik untuk menghadapi aku?”

Malam ini, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah cukup

menyadari akan situasi yang dihadapinya, diapun tahu

kesalahan pahaman umat persilatan kepadanya tak mungkin

bisa dijelaskan dalam sepatah kata saja, oleh karena itu sikap

maupun caranya berbicara pun turut berubah menjadi agak

keras dan ketus.

Tapi dengan demikian. hal ini justru telah telah

membangkitkan kemarahan umum dari semua jago lihay yang

berkumpul diarena hari ini.

Belum sempat Leng KHong taysu menjawab pertanyaan itu,

ketua Tiang Ciu Pang dari sungai kuning Kang Hong Siang

telah membentak dengan penuh kegusaran:

“Orang she Wan, yakinkah kau dapat mengundurkan diri

dengan selamat..?”

“Soal ini tidak perlu kau risaukan!” jawab Kit Hong Kiam

Khek Wan Liang sinis.

“Bagus sekali!” ketua Tiang ciau pang Kang-Hong Siang

tertawa lebar, “rupanya kau orang she Wan, seorang manusia

tak tahu diri, hm… kau anggap kepandaian yang kau miliki

sudah terhitung sangat liehay? Siapa tahu lohu dapat

memenuhi harapanmu itu”.

Begitu selesai berkata dia segera menggerakkan sepasang

bahunya dan bergerak kedepan dengan kecepatan luar biasa,

belum tiba pada sasarannya, sebuah pukulan dahsyat yang

disertai desingan angin tajam telah di lontarkan keatas tubuh

Kit Hong Kiam Khek.

Sebelum peristiwa ini, antara Kang Hong Siang dan Wan

Liang memang sudah pernah terikat oleh suatu perselisihan,

kin begitu musuh besar saling bertemu,tanpa terasa lagi

Padam seluruh wajahnya, tanpa banyak berbicara lagi

pertarungan sengit segera berkobar.

Padahal keadaan seperti ini justru merupakan apa yang

dihadapkan oleh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang, sebab

berbicara soal kemampuan. dia masih sanggup untuk

mengungguli setiap orang yang hadir diarena bila pertarungan

dilangsungkan satu lawan satu.

Tapi orang kuno pernah berkata. Sepasang tangan susah

menghadapi empat tangan, hohan sukar menahan kerubutan

orang banyak Andai kata belasan orang jago lihay yang hadir

sekarang menyerang bersama sama, betapapun lihaynya ilmu

silat yang dimiiki Kit Hong Kiam Khek Wan Lang, toh lebih

banyak ancaman bahayanya daripada keuntungan.

Maka diapun segera menggunakan sistim memecah belah

kekuatan lawan untuk mengobarkan kemarahan mereka satu

demi satu, kemudian membereskan pula mereka satu demi

satu, sehingga dengan demikian, akan makin melemah

kekuatan lawannya.

Tatkala serangan dari Kang Hong Siang di lancarkan

datang, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga tak sungkan

sungkan lagi, pedang mustikanya segera diayunkan ke udara

membentuk serentetan bianglala yang amat menyilaukan

mata, lalu dengan Jurus Khong Ciok Say “burung merak

mementangkan sayap” pedangnya membuat selapis kabut

pedang yang tebal untuk membendung lebih dulu ancaman

dahsyat lawan, setelah itu sambil berpekik nyaring tubuh

berikut pedangnya melebur menjadi satu mulai

mengembangkan permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam hoat

yang telah didalaminya selama dua puluh tahunan itu.

“Sreeet, sreseet, sreeet…..” tiga buah serangan berantai di

lancarkan secara beruntun memaksa Kang pangcu yang

menjagoi sungai Huang Ho ini terdesak mundur sejauh satu

kaki-

Belum lagi dirinya berdiri tegak, suatu pekikan nyaring

kembali berkumandang, pedangnya dengan menciptakan

selapis cahaya tajam langsung membabat batok kepala Kang

Hong Siang dengan ‘Liu tian ciau ka’ “kilat dan guntur menjadi

satu”.

Pada hakekatnya serangan tersebut dilancarkan dengan

kecePatan yang amat sukar diikuti dengan pandangan mata,

mimpipun Kang Hong Siang tidak mengira kalau ilmu pedang

Kit Hong Kiam yang amat termashur itu mengandung jurus

ampuh yang mematikan.

Menanti ia menyadari tibanya cahaya biru didepan mata,

keadaan sudah terlambat, tanap terasa ia menjerit kaget:

“Habislah riwayat ku kali ini!”

dengan cepat ia memejamkan matanya menantikan

datangnya kematian.

Di saat yang kritis itu. mendadak dari tengah arena

meluncur dua sosok bayangan hitam kemudian menyusul dari

arena itu berkumandanglah suara bentrokan senjata yang

amat nyaring…

Tiba tiba saja Kang Hong Siang merasakan munculnya

segulung angin pukulan yang dahsyat itu menghantarnya

keluar dari arena dan jatuh terkapar ditanah.

Menanti dia dapat kembali, tampaklah Leng Khong toysu

dan Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menyelamatkan selembar

jiwanya barusan.

sementara itu, Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menjadi

naik pitam, dia itu lantas membentak dengan nyaring:

“Saudara sekalian malam ini dia tak boleh dibiarkan pergi

lagi dalam keadaan hidup.:

Selesai berkata dia segera meloloskan pedang nya lebih

dulu.

Kawanan jago lainnya juga meloloskan senjata masing

masing, hanya Leng kong taysu, ketua dari Go bi pay saja

yang menggulung bajunya sehingga kelihatan lengannya yang

kekar, ia tidak mempergunakan senjata tajam,.

Menyaksikan situasi yang terbentang ada di depan mata

itu, seketika itu juga Kit Hong Kiam Khek Wan Liang

merasakan hatinya turut menjadi tegang, dia cukup tahu kalau

kawanan jago yang hadir di arena sekarang terdiri dari jago

jago golongan putih maupun hitam, sebagian besar jago jago

itu merupakan kelas satu dalam dunia persilatan, bukan

berarti suatu pekerjaan gampang untuk melarikan diri dari

kepungan dengan selamat.

Tampak sorot matanya itu terakhir berhenti diatas tubuh Bi

Kun Lun Siau Wie Goan, dibalik sorot matanya itu terpancar

keluar rasa benci dan dendam yang amat tebal.

Selama ini Bi Kun Lun Siau Wie Goan hanya tertawa dingin

tiada hentinya, sedang istrinya Siau Hu Yong Chi Lan Eng

tertawa jalang, tampaknya mereka sengaja berbuat demikian

untuk membangkitkan kemarahan dari Kit Hong Kiam Khek

Wan Liang agar lebih cepat turun tangan untuk menentukan

mati hidup mereka.

Benar juga, Kit Hong Kiam Khek segera masuk perangkap,

dengan sorot mata yang berapi-api seperti binatang buas. dia

memandang ke kiri kanan dengan garangnya, persis seperti

seekor harimau yang sedang mengincar mangsanya.

Anehnya, sekalipun kawan jago tersebut sudah begitu lama

melakukan pengepungan, namun tak seorangpun diantara

mereka yang maju untuk melancarkan serangan

Tapi hal inipun tak bisa disalahkan. Kit Hong Kiam Khek

Wan Liang sudah termashur dipersilatan sebagai seorang

jagoan yang amat dahsyat. bagaimanapun banyaknya

kawanan jago yang mengurungnya, tak urung mereka dibikin

tercekat juga oleh kegagahan lawannya.

It ci hoa kim (pedang satu huruf) Yu liang gi dari Thian

cong pay tak dapat menahan sabarnya lagi, mendadak ia

membentak keras.

“Apalagi yang mesti dinantikan?”

Begitu selesai berkata (bunga kuncup baru mekar),

kemudian dengan membawa sambaran angin tajam

membacok tubuh Wan Liang.

Begitu It Ci hoa Kiam Yu liang gi mempelopori serangan

tersebut, To gan sinkun (malaikat sakti bermata tunggal) Cong

Eng hui yang berada disebelah kanannya segera

menggerakkan senjata andalannya Siang coa kou (sepasang

kaitan ular) untuk menyerang Kit Hong Kiam Khek.

Begitu dua orang itu sudah melibatkan diri dalam

pertempuran, serentak puluhan orang jago lihay lainnya turut

melepaskan pula serangan-serangan.

Walaupun Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah bertekad

untuk melangsungkan pertarungan sengit, setelah

menyaksikan kejadian itu, tak urung naik pitam juga

dibuatnya, dia segera membentak gusar: “Bedebah, kalian

benar-benar tak tahu malu !”

Pedang Kit Hong Kiamnya segera berubah dengan jurus

Ban Hong jut ciau (selaksa lebah keluar sarang), secepat kilat

dia menerjang It ci hoa Kiam Yu Liang Gi, tapi sampai

ditengah jalan, nendadak dia marubah jurus serangannnya

menjadi Thian ho ta sia (sungai langit tumpah kebawah)

dengan kecepatan tinggi ia berganti menususk pergelangan

tangan dari To Gan sinkun Cong Eng hui.

Jurus serangan ini sekilas pandangan seperti terdiri dari

dua gerakan, padahal diantara maju mundurnya terbentuk

selapis cahaya tajam yang bersambungan,

It-ci hoa-Kiam Yu Liang gi. si jagoan pedang dari Thiamcong-

pay itu segera merasakan pandangan matanya menjadi

kabur, sementara dia mundur dengan gugup, pedang sakti

dari

Kit Hong Kiam Khek telah berganti arah mengancam To

gan-sinkun.

Dipihak lain To Gan sinkun Cong Eng hui mimpipun tak

pernah menduga kalau Kit Hong Kiam Khek bakal

mempergunakan taktik suara ditimur menyerang kebara unutk

memperdaya dirinya, menanti desingan angin pedang sudah

tiba didepan badan, untuk menghindar tak sempat lagi.

Tahu tahu ujung pedang Wan Liang secepat kilat sudah

menyambar diatas pergelangan tangannya secara telak.

Mendadak terdengar To gan sinkun Cong Eng hui menjerit

keras, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan

sempoyongan, sambil memegangi pergelangan tangannya

yang terluka dia mengundurkan diri dari arena pertarungan.

Beberapa macam gerakan itu dilakukan dalam waktu

singkat, meski panjang untuk diceritakan. padahal

kecepatannya ibarat sambaran cahaya berkilat saja.

Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi kilatan

golok dan pedang serta suara teriakan yang memekakan

telinga, diantaranya terdengar beberapa kali jeritan ngeri serta

teriakan kesakitan.

Dalam sekejap mata, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang telah

dikepung musuh dari empat penjuru, semua musuh yang

dihadapinya rata rata merupakan jagoan kelas satu, walaupun

ia sudah mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya

untuk melawan, namun setiap saat dia mesti menghadapi

rintangan yang cukup berat.

Betul dia tangguh dan berilmu tinggi, tapi mungkinkah dia

untuk menghadapi kerubutuan puluhan orang sekaligus.

Ternyata Bi Kun Lun siau Wie Goan cukup licik, setiap kali

melancarkan serangan dia selalu meninggalkan beberapa

bagian tenaga murninya. sikap tersebut seakan-akan hendak

memberi kesempatan bagi Kit Hong Kiam Khek untuk

mengatur naps, tapi bagi pandangan orang yang pintar maka

tindakan semacam ini justru menunjukkan kelicikan, seakanakan

dia merasa tidak puas sebelum menyaksikan Wan Liang

mati kelelahan dan kehabisan tenaga.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang cukup memahami keadaan

tersebut, maka diapun khusus mencari Siau Wie Goan sebagai

sasarannya, jurus serangan demi jurus serangan semuanya

dibacokkan ketubuh Bi kun lun.

Tak selang setengah perminum teh kemudian sekujur

badan Kit Hong Kiam Khek sudah penuh dengan luka bacokan

, darah segar telah membasahi seluruh badannya, namun dia

masih tetap melawan dengan gagah beraninya.

Siau Hu Yong Chin Lan Eng katanya saja turut ambil bagian

dalam kerubutan tersebut, tapi dia lebih tepat kalau dibilang

membantu mencaci maki.

Perempuan jalang yang tak tahu malu ini sembari

melancarkan serangan, ia selalu melontarkan kata kata

cemoohan dengan kata yang kotor dan cabul untuk

merangsang kegusaran Wan Liang.

Bahkan boleh dibilang setiap kata yang diucapkan olehnya

terasa bagiakan sebilah pisau yang menembusi perasan Wan

Liang, membuat ia merasa amat menderita.

Begitulah disamping harus melakukan perlawanan matimatian

terhadap ancaman yang datang dari kawanan jago

lihay, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga harus menaan sakit

hatinya akibat cemoohan orang, batinnya mengalami

penderitaan, siksaan yang amat sangat ini membuat jago tua

ini teringat untuk mati.

Tapi baru saja ingatan untuk mati melintas didalam

benaknya, napsu untuk hidup serta bara api dendam yang

membara dalam bati semakin berkobar, dengan cepat ingatan

mana melintas dalam benaknya, diam-diam dia pun berpikir :

“Aku tak boleh mati, bagaimanapun juga aku harus tetap

hidup lebih lanjut !”

Begitu ingatan mana melintas lewat, tiba-tiba ia

mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, segenap

sisa tenaga dalam yang di milikinya dihimpan menjadi satu,

dengan mennjejakkan kakinya ketanah. Dia melambung tinggi

dua kaki lebih ke tengah udara, kemudian berjumpalitan,

pedang menciptakan berkuntum bunga pedang yang bagaikan

hujan gerimis menyelimuti tubuh semua orang.

Waktu itu para jago bertarung dengan penuh napsu,

menyaksikan ia melambung keudara. serentak semua orang

mengangkat goloknya ke atas pula.

“Omitohud” seru Leng Khong taysu dari Go Bi Pay

menyusul dibelakang tubuh Wan Liang, dia melejit pula

ketengah udara sambil melancarkan sebuah pukulan.

Bila digencet dari atas dan bawah, bagaimanapun lihaynya

ilmu silat yang kau miliki, rasanya sulit juga untuk

menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Kit liong-Kiam-kek Wan Liang memang cukup lihay,

tubuhnya yang baru melesat sejauh satu kaki dari permukaan

tanah itu mendadak menghentikan gerakan badannya, lalu

dengan ilmunya Sia Khong Teng sin (Menghentikan badan

ditengah udara) dia menahan gerakan tubuhnya, kemudian

pedanga yang sebenarnya hendak membacok kebawah itu

diangkat keatas secara tiba-tiba.

Dengan meringankan tubuh Liu Im ti (Tangga awan

berjalan) yang amat liehay itu, tubuhnya melejit keudara, saat

itulah dia bertemu dengan sergapan yang dilepaskan Leng

Khong taysu dari atas kebawah.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sangat membenci kawanan

jago silat yang menganggap dirinya pendekar tapi

kenyataannya berbuat sewewenang wenang, tanpa berpikir

panjang lagi pedangnya dengan manggunakan jurus Thian

khong lui hee (guntur menggelegar dari tengah angkasa)

langsung membabat sepasang kaki Leng Kong taysu.

Kasihan Leng khong taysu yang terlalu memandang enteng

lawannya itu, tatkala menyaksikan pedang saktinya

menyambar kebawah, tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk

melejit keudara.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang

memecahkan keheningan. kaki Leng Hong taysu tahu-tahu

sudah terpapas kutung menjadi dua bagian, orangnya pun

segera ribih terkapar keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Bi Kun Lun Siau Wie Goan yang pertama menemukan

peristiwa ini, sambil membentak gusar tubuh berikut

pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian meluncur

kearah mana Kit Hong Kiam Khek terjatuh tadi.

Sayang keadaan sudah terlambat. tubuh Kit Hong Kiam

Khek telah lenyap dibawah tebing Goan Gwat Peng tersebut.

-Bagian Pertama-

SENJA TELAH menjelang tiba, matahari sore dengan

membawa sisa cahayanya telah bersembunyi dibalik bukit,

angin berhembus kencang menggugurkan dedaunan yang

mengering.

Dalam suasana beginilah, lamat lamat terdengar suara

derap kaki kuda yang lemah diiringi suara gemerisik

berkumandang datang diri bawah bukit sana ….

Tak lama kemudian, dari balik tikungan bukit muncul

seekor kuda kurus yang bernafas memburu dan tubuh penuh

dengan pasir, di-atas kuda tadi duduk seorang lelaki setengah

umur yang berpakaian dengan warna luntur. sebilah pedang

antik tersoren dipinggangnya, tapi wajahnya murung dan

sedih. .

Dengan termangu dia duduk diatas pelana sambil

membawa sinar mata ke tempat sana.

Dalam pangkuannya sebelah depan duduk pula bocah

berumur lima, enam tahun yang berwajah tampan dengan

bibir yang merah serta dua baris gigi berwarna putih.

Kuda itu, dengan susah payah berjalan maju ke depan.

Mendadak terdengar bunyi burung yang ber-kaok kaok,

ketika lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya

tampaklah seekor burung gagak sedang bertengger diatas

dahan sambil berbunyi tiada hentinya.

Dengan rasa segan lelaki setengah umur itu menarik

kembali sinar matanya yang sayu, kemudian tertawa dingin,

gumamnya:

“Binatang sialan, kaupun dapat mewartakan suasana

murung bagi diriku .. . .”

Tiba tiba kuda kurus itu terkulai lemas dan roboh terkapar

keatas tanah ….

Dengan tubuh terkejut lelaki setengah umur itu menyambut

tubuh si bocah dan melompat turun dari atas pelana.

Sungguh cepat gerakan tubuhnya, tampak bayangan abu

abu berkelebat lewat, lelaki setengah umur itu sudah

melayang turun ke atas tanah.

Tangannya yang satu menahan tali lesnya, sementara

tangan yang lain mengelus bulu surai kuda tersebut sambil

ujarnya dengan penuh perhatian :

“Siau hek, kau terlalu lelah, mari kita istirahat sebentar,

menanti kesehatan tubuhmu sudah pulih kembali kita baru

lanjutkan perjalanan ini… “

“Aaai… kau pasti akan menggerutu kepada ku sebagai

majikan yang tak pernah memikirkan tentang dirimu, padahal

aku sendiri pun merasa murung dan sedih, coba bayangkan,

Hanya setahun, dalam setahun yang singkat, kau dan aku

telah berubah … bukankah begitu? Siau hek…”

Kuda kurus yang bernama “Siau hek” itu seakan akan

mengerti dengan perkataan dari majikannya, dia meringkik

tiada hentinya seperti lagi menghela nafas.

Lelaki berusia pertengahan itu segers menepuk nepuk leher

si kuda menitahkan kepadanya untuk beristirahat. lalu sambil

duduk di sampingnya, dengan penuh kasih sayang dia

membelai bulu surai kuda itu seraya katanya-

“Kau bertambah kurus Siau hek, untung kau dan aku tak

usah menempuh badai lagi. teringat tahun berselang, kita

masih termasyur sampai dimana-mana, kapankah kita pernah

menjadi anjinga yang dikejar kejar orang? Apakah inilah balas

jasa yang harus kita terima bagi perjuangan kita selama

sepuluh tahun?”

Gumamam tersebut segera menyentuh perasaan sedih

yang mencekam perasaan lelaki setengah umur itu, dia separti

merasakan tekanan batin yang amat hebat tapi tak sanggup

untuk mengutarakannya keluar, selesai berkata ternyata dia

mendekam diatas tengkuk si Siau hek dan menangis tersedu

sedu ….

Air mata yang panas meleleh keluar membasahi pipinya

dan menembusi pakaiannya, tiap air mata berarti setetes

darah, suatu persoalan.

Yaa, selama sepuluh tahun berjuang, menanamkan

kebaikan dan kebajikan bagi manusia tapi hasil yang

diperolehnya hanya cemoohan dan dendam kesumat, bahkan

kekasih yang di cintai bagaikan nyawa sendiripun telah

meninggalkan pelukannya berpindah ke pelukan orang-lain.

Yang lebih mengenaskan lagi adalah ia lari ke dalam

pelukan seorang lelaki yang sebetulnya merupakan sobat karib

yang dianggap bagaikan saudara kandung sendiri, tak heran

kalau dia jadi sedih dan melelehkan air mata.

“Hayo bangun Siau hek! Kita sudah hidup miskin dan

terdesak, tiada sesuatu kenangan yang bisa diingat kembali”

Ucapan semacam itu entah sudah diulang beberapa kali,

dan sslalu diucapkan dalam keadaan kecewa dan sedih

Siau hek segera menggerakkan lehernya sambil meringkik

panjang, tiba tiba ia bangkit berdiri.

Mula mula lelaki itu membimbing bocah itu terlebih dulu,

kemudian ia baru naik keatas punggung kudanya dan

melanjutkan perjalanannya menelusuri jalan.

Waktu itu sudah bulan sembilan, angin musim gugur

berhembus kencang menggugurkan dedaunan dan

menggoyangkan dahan serta ranting, membuat suasana jadi

bertambah suram dan gelap ….

Ditengah keheningan yang mencekam hanya ada derap

kaki kuda serta deruan angin kencang yang membelah bumi,

suasana semacam ini membuat pendekar itu merasa dirinya

makin kesepian, makin terasing dari keramaian dunia.

Ternyata lelaki setengah umur itu tak lain adalah Kit Hong

Kiam Khek Wan Liang yang pernah menggetarkan seluruh

dunia.

Apakah dia benar benar telah mengundurkan diri dari

keramaian dania persilatan?

Berapa tahun berselang, baik jago dari golongan putih

maupun golongan hitam segera akan mengacungkan

jempolnya bila menyinggung tentang Kit Hong Kiam Khek Wan

Liang.

Tapi sekarang, apa sebabnya dia bisa berubah menjadi

begitu mengenaskan dan menyedihkan?

Dia sesungguhnya lagi menghindarkan diri dari apa?

Sedang menantikan apa?

Waktu itu, setelah dari tebing Koan jit peng Kit Hong Kiam

Khek telah jatuh tak sadarkan diri.

Orang bilang: Siapa menanam kebaikan dia akan mendapat

kebaikan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pernah menolong

nyawa seorang bocah didalam sebuah hutan yang lebat,

akhirnya selembar jiwanya ditolong pula oleh bocah kecil itu.

Ketika Kit Hong Kiam Khek Wan Liang tersadar kembali dari

pingsannya dan melihat si bocah kecil yang duduk

disampingnya, seketika itu juga keinginan untuk hidup segera

tumbuh dalam hatinya, dia bertekad hendak hidup lebih jauh,

bertekad hendak mencari kecepatan uniuk membalas dendam,

membalas sakit hati.

Maka sambil memaksakan diri dia mengambil obat dari

sakunya, lalu menitahkan kepada bocah itu untuk

mengobatinya.

Bocah itu adalah putra dari Suma Tiong-yu, seorang

pembesar setia dari Pemerintah asa itu, selain cerdik juga

berbakat bagus, oleh karena itu ia dapat melaksanakan

perawatan yang baik untuk menyembuhkan luka dari lelaki

tersebut.

Berhubung kedua orang itu sama sama hidup sebatang

kara maka timbul perasaan simpatik diantara kedua belah

pihak.

Kit-Hong-Kiam-kek Wan Liang merasa marah karena

difitnah orang dan dikucilkan dari dunia persilatan, sebaliknya

Suma Thian-yu, si bocah itu telah kehilangan kedua orang tua

nya dan tak punya tempat tinggal lagi.

Maka dari itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera

mengambil keputusan untuk mengajaknya melakukan

perjalanan bersama. Setelah beristirahat selama beberapa hari

dibawah bukit Ciat thian Hong, sambil berusaha

menghindarkan diri dari pengejaran Bi Kun Lun Siau Wie

Goan, diapun berusaha menyembuhkan luka nya.

Ternyata setelah sehat kembali, Kit Hong kiam Khek Wan

Liang merasakan pukulan batin yang amat berat membuatnya

berusaha untuk menghindarkan diri dari kenyataan, sering

merasakan tersentuh hatinya dan sedih, padahal penderitaan

yang dialaminya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan

dengan apa yang diderita bocah kecil itu.

Suma Thian yu pernah bermaksud untuk belajar silat dari

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang namun permintaan itu ditolak

olehnya.

Perlu diketahui, selama hidupnya Kit Hong Kiam khek Wan

Liang selalu terbenam dalam ilmu silat, maka masa depannya

menjadi hancur tak karuan, sini dia merasa muak terhadap

Segala macam perselisihan dau pembunuhan dalam dunia

persilatan

Mengingat apa yang telah dialaminya selama ini, sudah

tentu dia tak ingin menyaksikan bocah itu mengalami nasib

yang sama seperti diri nya, tak heran kalau permintaan bocah

itu di tolak tegas-tegas.

Waktu malam sudah kelam, angin berhembus kencang

membuat suasana amat mengerikan.

Setelah melewati sebuah gunung yang tinggi, didepan

muncul sebuah bukit kecil yang diliputi kabut tebal,lama sekali

Kit Hong Kiam khek Wan Liang memperhatikan bukit tersebut,

akhirnya dia bergumam lagi kepada si kuda Siau-hek

“Sudah sampai siau Hek, didepan sanalah bukit Gi Im Hong

masih ingatkah kau? Enam tahun berselang aku pernah

memberitahukan kepadamu dikemudian hari aku akan

mengajaknya berdiam dibukit ini tak kusangka enam tahun

kemudian, kami benar-benar telah kembali kesini, bukit Gi im

hong masih tetap seperti dulu, tapi di. . ,”

Dengan sedih dia menghela napas panjang, semua

kemurungan yang memenuhi dadanya selama inipun buyar

mengikuti helaan napas tersebut.

Tanpa terasa bayangan tubuh Siau Hu yong Chin Lan eng

melintas kembali dalam benaknya, wajahnya yang menawan,

senyumnya yang manis, dan suaranya yang begitu merdu.

Sumpah setianya masih mendengung dalam telinganya,

cinta kasihnya yang dalam serasa masih menyelimuti dadanya,

tanpa terasa Wan Liang menjadi melamun, terbuai oleh

lamunan nya yang indah.

Hingga burung gagak berbunyi memecahkan kesunyian, ia

baru tersadar dari lamunannya

Puncak Gi Im Hong terletak dalam propinsi Oulam dalam

deretan pegunungan Kil ih san, puncak itu menjulang tinggi ke

angkasa dikelilingi banyak bukit lainnya.

“Rumah” dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang terletak

dipunggung bukit terjal tersebut, yaitu didalam sebuah gua

kuno yang dikelilingi oleh semak belukar.

Gua itu ditemukan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pada

enam tahun berselang, ketika ia sedang menemani Siau hu

yong Chin San eng berpesiar ketempat itu, waktu itu mereka

telah bekerja keras hampir sebulan lamanya untuk

mendandani gua itu, bahkan menyiapkan pula alat

perlengkapan rumah tangga sebagai tempat mereka berdiam

dikemudian hari.

Tapi, perubahan manusia sukar diduga siapa sangka enam

tahun kemudian, yang datang kembali ke gua hanya seorang

pendekar pedang yang murung dan sedih.

Yaa, siapakah yang dapat menduga perubahan nasib yang

bakal menimpa dirinya ?

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan mengajak Yu Ji dan

kuda kurus menuju kedepan gua. ternyata ia tak berani masuk

kedalam, semua benda yang berada disana hanya akan

membangkitkan kenangan dan kesedihan di dalam hatinya

saja.

Tiba didepan gua, lamat lamat Wan Liang mengendus bau

harum tubuh dari kekasihnya, andaikata yang masuk kedalam

rumah- mereka sekarang adalah mereka berdua, tentu indah

sekali suasananya ketika itu. . .Angin gunung berhembus

kencang membuat Yu ji merasa kedinginan setengah mati,

tanpa terasa dengan gigi beradu pintanya kepada Wan Liang;

“Paman, aku kedinginan; bagaimana kalau kita imasuk

untuk beristirahat ?”

Mendengar perkataan itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang

baru tersentak bangun dari lamunannya.ia melirik sekejap

kearah Yu ji, benar juga ia telah mengkerut menjadi satu dan

gemetar tiada hentinya. Dengan perasaan hati yang kecut

Wan Liang segera membawanya melompat turun dari atas

kuda, dengan cepat ia menemukan tombol rahasia pembuka

pintu, setelah mengikat kudanya didahan pohon, dia

membopong bocah itu masuk kedalam gua.

Ruangan gua itu sangat luas, setelah melalui gerbang,

mereka melewati sebuah lorong yang panjang satu kaki,

didalam terdapat ruangan-ruangan gua yang terang

benderang. pada langit-langit gua itu penuh terdapat mutiara

yang digunakan sebagai alat penerang.

Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera menurunkan Suma

Thian yu keatas tanah, kemudian melangkah masuk kedalam

pintu sebelah kanan.

Baru saja melangkah maju setengah tindak, mendadak ia

menjerit tertahan dengan penuh lain kaget:

“Haaaah?” Seperti orang kalap ia menerjang masuk

keruang dalam.

Suma Thian yu dibikin tertegun oleh tindak tanduknya yang

aneh itu, dia cepat memburu kedalam ruangan dan mengintip

dengan rasa ingin tahu

Tampak Kit Hong Kiam Khek sedang berdiri termangu

memegang sebuah kotak kayu yang berukir indah, matanya

mendelong sementara tangannya yang memegang kotak

tersebut gemetar tiada hentinya.

Lama kemudian, ia baru membuka kotak itu, ternyata

didalamnya berisi secarik kertas…

Dengan wajah pucat, bibir gemetar keras dan mata melotot

besar, lama sekali Kit Hong kiam khek Wan Liang tertegun,

akhirnya dia merobek robek kertas itu, membanting kotak

kayu itu ketanah dan menyumpah dengan penuh kegusaran:

“Perempuan lonte, kamu benar benar perempuan lonte yang

tidak tahu malu, watakmu memang watak lonte, melihat orang

lain lantas tertarik, bukan cuma menyia nyiakanku, kaupun

memaki aku . .. Hmm! Kau perempuan berhati busuk seperti

ular beracun, kau anggap perbuatanmu itu akan membuatku

marah dan mampus? Haaahhh . . . .haa ha ha haa…..aku

justru tak akan mampus, lihat saja nanti…”

Dalam gelak tawa yang amat keras itulah segenap amarah

dan rasa bencinya dilampiaskan keluar, suaranya mengerikan

sekali, seperti orang tertawa dan juga bagai orang menangis

seperti berteriak, lalu seperti monyet yang berpekik, membuat

tiap orang yang sempat mendengarkan suara tertawanya itu

menjadi bergidik.

Dalam waktu singkat seluruh cahaya dalam gua itu

bagaikan bergoncang keras, seperti ada gempa bumi yang

tiba tiba melanda tempat itu, membuat Yu ji yang berada

didepan pintu pun merasakan sukmanya serasa melayang

meninggalkan tubuh, bulu kuduknya pada bangun berdiri,

tangan kakinya gemetar keras.

Jilid 2. Yu-ji, Pewaris muda Bu Tong Pay

DAN tiba-tiba suara tertawanya berhenti, seperti sebuah

bola yang kehabisan udara tiba-tiba dia menjatuhkan diri

diatas meja dan menangis tersedu sedu.

Dalam waktu singkat rasa gusar yang membara kini

berubah menjadi keheningan dan kesedihan, dari sini dapat

diketahui betapa rumitnya pertentangan batin yang sedang

melanda didalam hati. Sampai lama kemudian Wan Liang baru

menghentikan tangisnya dan mendongakkan kepala,

kebetulan ia saksikan Suma Thian yu sedang berjongkok

hendak memungut giok bei retak yang melompat keluar dalam

kotak kayu itu. Hawa amarah yang selama ini mencekam

perasaannya mendadak saja meledak dengan suara

menggelegar bentaknya keras-keras:

“Yu ji, jangan pungut benda itu!”

Suma Thian yu amat terkejut, merah padam wajahnya

karena jengah, dengan cepat ia letakkan kembali giok bei

yang dipunggutnya ketempat semula, kemudian Siap

meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, kemarahan kit hong

kiam kek Wan Liang telah mereda, pelan-pelan dia berkata

lagi:

“Yu ji, ambil benda itu! Ia menandakan hati paman telah

retak, bawalah, aku percaya, waktu dapat mengobati luka

paman yang sudah parah ini.”

Suma Thian-yu benar benar dibikin pusing dan tak habis

mengerti oleh sikap pamannya yang luar biasa itu, untuk

sesaat dia tak tahu harus memungut benda itu atau jangan.

Melihat kejadian itu, Wan Liang segera berseru kembali:

“Apa yang kau sangsikan lagi. Biarpun diatasnya telah

bertambah dengan sebuah bekas retakan, namun tidak

mengurangi kecemerlanganannya yang asli, Yu ji, kau masih

muda, sekarang tak akan kau pahami keadaan tersebut,

sekalipun ku utarakan hal yang sesungguhnya belum tentu

kau akan mengerti, biarkan waktu yang menjelaskan

kesemuanya ini kepadamu!”

Seusai berkata, kembali dia menghela napas. Berapa

banyak yang diketahui Suma thian yu? Dalam benaknya yang

masih polos dia merasa bahwa mainan giok bei yang terletak

ditanah itu sangat indah, tentu saja ia tak tahu kalau dibalik

mainan giok bei itu sebenarnya tersimpan suatu kenangan

yang indah juga memedihkan hati, sekalipun diatasnya diliputi

kesedihan dan awan gelap namun cahaya aslinya masih tetap

bersinar terang.

Suma Thian yu tidak sangsi lagi, dengan sangat berhati-hati

ia memungut benda itu dari atas tanah lalu menyimpannya

kedalam saku. Yu ji amar menyukainya, meski diatasnya telah

bertambah dengan sebuah celah yang cukup dalam.

Pelan-pelan kit hong kiam kek berjalan keluar, ditatapnya

Suma Thian yu sekejap, kemudian tegurnya: ‘Kau sudah

lapar? Apakah ter biasa makan rangsum kering?”

“Ehmm..!” Suma Thian yu mengiakan, padahal dia tak tahu

apa yang disebut rangsum kering, jangankan melihat

bentuknya, mendengar namanya pun belum pernah.

Wan Liang berjalan kesamping Siau Hek, dari dalam

kantung kulitnya ia mengeluarkan sebungkus rangsum kering,

sambil di angsurkan ke tangan Suma Thian yu katanya:

“Untuk sementara waktu makanlah rangsum kering ini

untuk menahan lapar, kalau menginginkan air, diatas dinding

yang dibelakang tubuhmu terdapat mata air yang agak dingin

airnya, jangan diminum sekaligus, lebih baik kumurkan dulu

dimulut, kemudian baru ditelan kalau tidak, badanmu bisa tak

tahan.”

Suma Thian yu segera membuka bungkusan kertas itu,

ternyata yang dimaksudkan sebagai rangsum kering adalah

kerak nasi yang mengeras bagai batu, tanpa terasa keningnya

berkerut dan agak lama dia ragu untuk memakannya.

Tapi, ketika ia teringat disampingnya berdiri si paman

berwatak aneh yang sedang mengawasi gerak geriknya, maka

tanpa berpikir panjang lagi ia segera menggigitnya.

Sebab kalau dia ragu, berarti memberitahukan kepada

paman itu kalau dia bukan seorang anak yang tahan uji.

Begitulah, setelah menggigit sepotong dia memakanrnya

dengan lagak seakan-akan enak, malah sambil makan dia

berkata.

Eeehmm…enak sekali rasanya, paman, mengapa kau tidak

turut makan..?

Sejak permulaan hingga sekarang, kit hong kiam kek Wan

Liang mengawasi terus gera-gerik bocah itu, melihat keuletan

sibocah tersebut, saking terharunya air matanya jatuh

bercucuran, katanya kemudian dengan suara parau.

“Nak, kau memang hebat sekali, dengan usiamu begitu

muda, ternyata kau begitu ulet, tahan uji dan mempunyai

semangat besar untuk mengendalikan diri, masa depan mu

pasti cemerlang.”

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, sekulum senyuman

segar menghiasi wajahnya.

Ketika Yu ji mendongakkan kepalanya dan menemukan

senyuman menghiasi wajah paman nya, dia menjadi tertegun.

Semenjak berkenalan dengan pamannya, baru pertama kali

ini dia menyaksikan orang itu tertawa, segera pikirnya:

“Ternyata paman bukan orang yang menakutkan!

senyuman itu begitu ramah dan menawan hati”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa ia lantas menubruk

kedalam pelukan Kit hong kiam kek Wan Liang sambil berseru:

“Paman….”

Kit hong kiam kek Wan Liang memeluk tubuh suma Thian

yu erat erat, saking terharunya dia sampai tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun, sampai lama, lama sekali,

sambil membelai tubah Yu ji, dia bergumam lirih.

“Yu ji, kau … kau masih kedinginan?”

“Masih sedikit, paman”

“Selewatnya berapa hari, paman akan mengajarkan

semacam sim hoat tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin,

bersediakah kau untuk mempelajarinya…?”

Mendengar kabar itu, Suma Thian yu menjadi girang

setengah mati, dengan wajah berseri segera sahutnya:

“Sungguh paman? Ohh, paman, kau betul-betul sangat baik

kepadaku, tak kusangka kalau paman bersedia mengajarkan

kepandaian ilmu silat kepadaku”

Kit hong kiam kek wan Liang mengelengkan kepalanya

berulang kali, sambil tertawa getir ujarnya:

“Bukan, bukan begitu, aku hanya akan mengajarkan tenaga

dalam saja untuk mengusir hawa dingin”

“Mengapa?”

Sejak mengetahui kalau pamannya dapat terbang, Suma

Thian yu merasa kagum sekali, maka betapa kecewanya dia

setelah mengetahui kalau pamannya tidak berhasrat untuk

mewariskan kepandaian tersebut bepadanya.

Buru-buru dia berseru lagi:

“Yu ji ingin terbang, terbang ke angkasa dengan bebas,

hidup bahagia, mengapa paman tidak bersedia

mengajarkannya kepadaku?”

“Anak baik” kata Kit hong kiam kek wan Liang sambil

menghela napas, “aku tidak berharap kaupun mengikut jejak

hidup dari paman, kalau kuterangkan sekarang mungkin kau

belum dapat memahaminya, waktu itu kalau paman tidak

belajar silat, bagaimana mungkin kualami nasib yang tragis

seperti apa yang kualami sekarang. Aaaai…. untuk

menyesalpun sudah tak sempat lagi buat paman, mengapa

pula aku harus menyeret mu untuk terjun pula kedunia seperti

ini?”

Berbicara sampai disitu, diamatinya Yu ji beberapa saat,

dirabanya tulang badan sekujur badannya, lalu berguman.

“Tapi… mengapa pula aku harus menyia-nyiakan bakat

yang begini baiknya untuk berlatih silat?”

Tapi setelah termenung beberapa saat, kembali dia

menggelengkan kepalanya berulang kali sambil melanjutkan:

“Tidak, aku tak bisa berbuat demikian hal ini harus

disalahkan apa sebabnya aku bisa menerima nasib setragis ini”

Dengan kebingungan Suma thian yu memandang tingkah

laku Wan Liang yang sangat aneh, kemudian tanyanya dengan

tercengang:

Paman, apa yang sedang kau katakan?”

“Ahh…tidak” Kit hong kiam kek Wan liang menyambut,

dengan perasaan apa boleh buat dia melanjutakan, “aku rasa

lebih baik pu satkan saja semua pikiianmu untuk memperoleh

kesuksesan dibidang satra, dikemudian hari kau bisa

menyamai ayahmu, menjadi pembesar yang berpangkat

tinggi, sukakah kau akan pangkat tinggi?”

Suma Thian yu segera menggelengkan kepalanya berulang

kali, tak tahu apa yang meski dijawab, padahal dia sendiri pun

tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkan dengan sastra,

dan apa pula yang dimaksudkan dengan ilmu silat, dalam

keadaan begitu, bayangkan saja, bagaimana mungkin dia bisa

menentukan pilihannya untuk menjawab.

Walau demikian, perasaan yang bersembunyi didalam

hatinya berbicara bahwa dia enggan menjadi pembesar, sebab

kehidupan semacam itu terlampau terikat, tidak bebas.

Kembali Kit hong kiam kek Wan Liang berkata:

“Jangan banyak curiga, andaikata paman bersedia

melepaskan ilmu silat untuk mengejar bidang sastra, sejak

dahulu aku telah merebut gelar Congkoan, kau anggap paman

tidak mengeri akan Su siu ngo keng?”

“Tidak, tidak, Yu ji bukan berpendapat demikian, hanya

saja Yu ji merasa malas untuk mempelajarinya…..”

“Sekarang, waktu sudah tidak pagi, malam ini kau boleh

berada bersama paman, aku lihat kaupun sudah cukup lelah,

lebih baik pergi-beristirahat lebih dulu”

Keesokan harinya, ketika Suma Thian yu terbangun dari

tidurnya, ia tidak menemukan pamannya berada dalam kamar,

cepat-cepat bocah itu bangun sambil lari keluar.

Baru tiba dimulut gua, dia saksikan Kit hong klam kek wan

Liang sedang berjalan masuk sambil menenteng pedang.

Dengan suara keras Yu ji segera berteriak, “Paman, pagi

benar kau sudah bangun, Yu ji mengira kau sudah pergi

meninggalkan tempat ini!”

Kit hong kiam kek wan Liang segera tersenyum.

“Anak bodoh, mana paman akan meninggalkan dirimu

seorang diri? Di sini adalah rumah ku, sekarang merupakan

ruman kita, mengapa tanpa sebab aku harus pergi

meninggalkan tempat ini?”

“Yaa, benar”. Tempat ini adalah rumah kita, paman,”

apakah setiap hari kau tentu akan bangun tidur sepagi ini?”

“Ehmm, udara pagi membantu manusia untuk

menyehatkan badan, dikemudian hari kaupun tak boleh malas

tidur terus, setiap pagi harus bangun iebih awal lagi”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan,

“Mari kita perbaiki sedikit pintu luar gua ini, daripada

membiarkan orang jahat berhasil memasuki tempat ini”

“Bagaimana cara memperbaikinya?”

“Sederhana sekali, asal kita sumbat pintu gua yang

pertama, lalu membuka pintu gua yang lain, hal ini akan

beres”

Dengan kecerdasan dan ilmu silat yang dimiliki Kit hong

kiam kek, tak selang beberapa lama kemudian pekerjaan

mereka untuk memindahkan pintu gua tersebut dapat berjalan

dengan lancar.

Sambil menepuk-nepuk bajunya membersihkan dari debu,

Wan Liang berkata dengan penuh rasa percaya pada diri

sendiri:

“Siau wi goan, wahai Siau wi goan, sekali pun kau lebih

licikpun tak akan berhasil menemukan aku Wan Liang!”

Kemudian kepada Yu ji yang berada disampingnya dia

berpesan.

“Yu ji, selanjutnya kau pun tak boleh bermain-main disini,

mengerti?”

“Mengapa?” dengan perasaan tak mengerti dia

membelalakan matanya lebar-lebar dan bertanya keheranan,

“kalau tidak bermain di sini, aku harus bermain dimana?”

“Masuk keluar lewat pintu belakang, disitu merupakan gua

bagian belakang, didepan gua adalah hutan bambu yang amat

luas, pagi hari kalau kau suka bermain, bermainlah disitu, tapi

kau harus ingat dengan pesan paman, jangan membiarkan

jejak kita diketahui orang, mengerti?”

Suma Thian yu masih tidak habis mengerti tapi dia tak

berani bertanya lebih jauh, sebab dia cukup menyadari bahwa

watak pamannya ini aneh sekali, sekali salah bertanya bisa

jadi akan mengakibatkan datangnya dampratan atau teguran

marah.

Malam musim gugur adalah malam yang dingin, terutama

sekali ditempat ketinggian puncak Gi im hong di bukit Kiu ih

san, boleh dibilang tempat itu tidak cocok untuk dihuni

manusia maupun binatang.

Oleh karena itu, bukan saja Kit hong kiam kek Wan Liang

telah mewariskan tenaga dalamnya kepada Yu ji, lagi pula

diapun mengeluarkan empat butir pil Ku goan cing wan yang

selama ini dianggapnya sebagai mestika yang melebihi nyawa

sendiri untuk Yu ji telan, bahkan membantunya pula untuk

menembusi jalan darah penting dalam tubuhnya.

Setelah lewat beberapa bulan lamanya, tubuh Suma Thian

yu yang lemah kini menjadi kekar dan kuat, terutama sekali

udara disitu memang berjalan lancar.

Dalam waktu singkat, tiga tahun sudah berlalu tanpa

terasa, kecuali mempunyai dasar tenaga dalam yang kuat, Yu

ji hanya pandai ilmu sastra dan ilmu sejarah, karena selain

kepandaian itu, Kit hong kiam kek Wan Liang tidak

mengajarkan ilmu pedang kepadanya.

Padahal didalam kenyataannya usaha Kit hong kiam kek

Wan Liang hanya sia-sia belaka sebab setiap kau dia keluar

untuk berlatih pedangnya, suma Thian yu selalu mengintip

secara diam-diam dan menyerap kepandaian tersebut sedikit

demi sedikit.

Dalam dua tahun saja, seluruh jurus pedang Kit hong kiam

hoat yang paling diandalkan oleh Kit hong kiam kek Wan Liang

telah ber hasil dicuri semua oleh Suma Thian yu.

Pada dasarnya Suma Thian yu adalah seorang bocah yang

cerdik dan mempunyai bakat bagus untuk belajar silat, dia pun

mempunyai ingatan yang luar biasa, tiap kali berhasil

menyadap suatu jurus pedang pada malam harinya, maka

dipagi harinya kemudian ia mencoba untuk melatih diri.

Meski begitu, dalam kenyataanya Kit hong kiam kek sendiri

sama sekali tidak memahami akan rahasia tersebut.

Mungkin inilah yang dinamakan takdir, bila takdir

menghendaki demikian, siapakah yang bisa membantahnya

lagi?

Suatu hari Suma Thian yu bermain main seorang diri ke

dalam hutan bambu diluar gua, setiap kali keluar dari guanya,

dia selalu menuruti pesan dari Wan Liang untuk mgmeriksa

dahulu sekeliling tempat itu, bila tidak menemukan manusia

yang mencurigakan, ia harus kabur keluar dari gua secepat

cepatnya menuju kehutan bambu.

Bagaikan pencuri saja, Suma Thian yu selalu berpaling

dengan curiga untuk memperhatikan apakah pamannya Wan

Liang membuntuti atau tidak, kemudia dia akan lari

kebelakang sebuah batu besar, mengambil sebuah pedang

yang terbuat dari bambu dan melatih diri dengan amat tekun.

Setelah pedang bambu ada ditangan, Suma thian yu mulai

melatih ilmu pedang Kit hong kiam hoatnya dari awal sampai

akhir, semua jurus serangan dirangkaikan menjadi satu dan

menyerangnya dengan kecepatan tinggi, sebentar menyerang

sebentar bertahan sebentar meninggi sebentar merendah,

ketika mencapai pada puncaknya, hampir saja seluruh

bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata.

Seorang bocah cilik yang berusia delapan tahun ternyata

sanggup membawakan ilmu Pedang kit hong kiam hoat yang

pernah mengemparkan dunia persilatan itu dengan begitu

hafal dan matang, seandainya dia tidak berbakat bagus, mana

mungkin hal ini dapat dilakukan?

Setiap kali melatih diri, Suma Thian yu selalu akan

termenung sampai lama sekali, ada kalanya dia membuat

garis-garis ditanah untuk memecahkan perubahan jurus

serangannya, setelah itu garis- garis itu akan dihapus dengan

kaki dan mulai berlatih lagi agak awal.

Semangat dan keuletan semacam ini betul-betul sesuatu

yang luar biasa sekali.

Hari ini Suma thian yu keluar dari guanya itu jauh lebih itu,

dalam gua tak ada persoalan yang harus dikerjakan, muka

diapun menggunakan waktu yang paling baik untuk

melakukan penyelidikan kemudian melatih ilmu pedang

curiaannya itu bersungguh-sungguh.

Tatkala dia selesai berlatih dan baru saja akan kembali

kedalam gua, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar

suara seseorang yang serak tua sedang memuji:

“Ilmu pedang bagus! Ilmu pedang bagus! Betul-betul luar

biasa sekali……”

Mendengar teguran itu, Suma Thian yu menjadi tertegun,

dia mengira jejaknya ketahuan pamannya, dengan cepat dia

berpaling kebelakang.

Tapi dengan cepat dia merasa terkejut, ternyata hutan itu

sepi dan kosong, tak nampak sesosok bayangan manusia pun

berada disana.

“Mungkinkah aku telah salah mendengar? Aaaaah, tidak

mungkin, tidak mungkin aku salah mendengar, kalau

tidak…..aaah, jangan-jangan di sini ada setannya….”

Teringat akan setan, tanpa terasa bulu kuduknya pada

bangun berdiri, hawa dingin pun segera menyerang ke dalam

ulu hatinya.

“Bocah, aku berada disini!” suara yang parau tua itu

kembali berkumandang datang.

Mendengar seruan tersebut, dengan cepat Suma Thian yu

berpaling tapi dengan cepat dia menjerit kaget:

“Aahh!”

Ternyata diatas batu cadas raksasa itu, entah sejak kapan

telah duduk seorang kakek yang amat gagah.

Tampak kakek itu memakai baju pendeta yang berwarna

abu-abu, jenggotnya sepanjang dada, ketika berkibar

terhembus angin kelihatan menambah kewibawaannya.

Suma Thian yu segera tertarik oleh kelihaian yang

mengagumkan itu, meski dia merasa kakek itu ramah dan

amat simpatik, tapi dia masih tetap berdiri termangu disitu

sambil mengawasi dengan mulut melongo.

Sampai lama sekali, dia baru bisa menegur.

Siapakah kau orang tua?” Dengan ramah kakek itu

mengape kearahnya lalu ujarnya sambil tersenyum manis:

“Mari, kemarilah, kau tak usah takut bocah!”

Seakan akan mempunyai suatu daya pengaruh yang besar

tak terbantahkan, tak sadar Suma Thian yu berjalan

mendekatinya, tapi sepasang matanya masih menampikkan

sorot mata takut.

Dengan cepat kakek berambut putih menjulurkan

tangannya untuk membelai rambut Suma Thian yu, lalu sambil

tertawa katanya.

“Bocah, siapakah namamu? Darimana kau pelajari ilmu

pedang tersebut?”

Dengan hormat sekali Suma Thian yu menjawab.

“Aku bernama Suma Thian yu, ilmu pedang ini…

Tiba-tiba dia merasa rikuh untuk mengatakanya keluar,

yaa, bagaimanapun juga kepandaian tersebut diperoleh

dengan jalan mencuri, bagaimana mungkin dia dapat berterus

terang kepada orang lain?

Melihat bocah itu ragu-ragu untuk menjawab, kakek

berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haahhh…. haaahhh….tak usah malu, dengan

usiamu yang begitu muda, kau bisa mencuri belajar demi

kepentingan pribadi, hal mana boleh dibilang sesuatu yang

luar biasa, juga menunjukkan hasratmu untuk maju”

Mendengar perkatan itu, Suma Thian yu merasakan hatinya

bergetar keras, segera pikirnya:

Darimana dia bisa tahu kalau aku belajar dengan mencuri?

Jangan-jangan dia adalah dewa?”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa merah padam selembar

wajahnya karena jengah, tanpa terasa dia menundukkan

kepalanya rendah-rendah.

Kembali kakek berambut putih itu berkata:

“Bocah, tiada sesuatu yang perlu dijengahkan, semua

persoalanmu cukup kupahami, kau tahu sudah berapa lama

aku datang kemari?

Ketika di tunggunya sebentar dan tidak melihat, Yu ji

menjawab, dia menyambung kata–katanya lebih jauh:

“Aku sudah semenjak tiga hari berselang memperhatikan

gerak gerikmu, dengan usiamu yang begitu muda tapi tekun

melatih diri, dikemudian hari kau pasti akan berhasil dengan

sukses”

Dengan mulut membungkam Suma Thian yu mendengar

perkataan itu tanpa berbicara, dia hanya merasakan kakek ini

terlampau misterius, pada hakekatnya seperti dewa dalam

dongeng, tanpa terasa timbul rasa hormatnya kepada kakek

itu.

“Bocah, beritahu kepadaku, siapakah orang yang berdiam

bersamamu didalam gua itu!” tanya si kakek lebih jauh,

“jangan takut, aku bu kan orang jahat…..”

“…..” dengan cepat Suma Thian yu menggelengkan

kepalanya berulang kali tanpa menjawab, tak sepatah katapun

yang diutarakan keluar dari mulutnya.

“Bagus sekali!, bagus sekali, tak mau menjawab tak

apalah” kakek berambut putih itu tertwa terbahak-bahak dan

mengganguk memuji.

Yu ji segera mendongakkan kepalanya memandang ke arah

kakek itu dengan pandang menyesal, sorot mata itu seakanakan

sedang memberi-tahukan kepada si kakek bahwa dia tak

dapat menjawab sejujurnya.

Tampak kakek itu bisa memahami maksud hati diri Yu ji,

sambil tertawa dia lantas manggut-manggut.

“bocah, kau tak usah berbicara lagi, aku cukup memahami

maksud hatimu itu, apa yang kau lakukan memang benar, aku

tak dapat menyalahkan dirimu”

Setelah mendengar perkataan dari kakek itu, Suma Thian

yu merasa semakin rikuh sehingga selembar wajahnya

berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

“Bocah, inginkah kau untuk mempelajari ilmu silat yang luar

biasa?” mendadak kakek itu mengalihkan pokok

pembicaraannya ke soal lain.

“Ingin…..”

“Dapatkah kau hidup menderita?” tanya si kakek lebih jauh.

“Dapat, aku dapat, apakah kau orang tua bersedia memberi

pelajaran ilmu silat padaku?”

Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah….haah…tulang belulang lohu sudah hampir

mengering, mana mungkin aku bisa memberi pelajaran

Kepadamu, lagipula akupun tak tahu harus menggunakan

kepandaian apa saja untuk memberi pelajaran Kepadamu!”

Mendengar jawaban tersebut, Yu ji menjadi tertegun, lalu

dengan keheranan dia bertanya.

“Kalau begitu…..”

Belum habis dia berkata, kakek berambut putih itu sudah

menukas kembali:

“Besok pagi kau boleh datanglagi kesini, tapi ingat jangan

kau ceritakan pertemuan kita pada hari ini kepada siapun,

termasuk orang dalam gua itu, mengerti?”

“Yu ji turut perintah” dengan hormat sekali Suma Thian yu

segera membungkukan badannya memberi hormat.

Siapa tahu ketika mendongakkan kepalanya lagi, bocah itu

segera menjerit kaget.

Rupanya sikakek berambut putih yang semula berada

didepan matanya itu kini sydah lenyap tak berbekas.

Tampaknya dikala dia menganggukan kepalanya tadi,

kakek itu sudah pergi meninggalkan tempat itu, sedemikian

cepat gerakan tubuh nya sehingga sukar rasanya untuk di

percayai.

Dengan termangu-mangu Suma Thian yu memandang

ketempat kejauhan sana, sementara benaknya masih dipenuhi

oleh semua gerak-gerik, tingkah laku, serta setiap patah kata

yang dilakukan kakek itu.

Dalam hati kecilnya mulai diliputi perasaan curiga, terutama

sekali kata sikakek menjelang kepergiannya tadi, seakan-akan

si kakek itu sudah tahu kalau orang yang menghuni didalam

gua itu adalah Kit hong kiam kek Wan Liang.

Tanpa terasa Suma Thian yu menjadi agak takut, dia tak

tahu kakek berambut putih tadi seorang kawan atau lawan.

Dia hanya merasa bahwa kemunculan kakek berambut

putih itu kelewat aneh, dan kepergiannya juga terlampau

misterius.

“Siapakah dia?” tanpa terasa Suma Thian yu bergumam

seorang diri.

Yaa, siapakah dia? Siapakah kakek yang aneh itu?

Mungkinkah dia adalah orang yang bermaksud jahat terhadap

Kit hong kiam kek Wan Liang?

Mungkinkah dia adalah seorang musuh paman nya yang

sedang mengincar keselamatannya? Atau orang ia. lewat

secara kebetulan saja?

Atau mungkin dia memang benar-benar ada niat untuk

memberi pelajaran ilmu silat kepadanya?

Pelbagai ingatan yang berkecamuk dalam benaknya itu,

membuat Yu ji jadi termangu-mangu.

Bagian Kedua

MUSIM panas kembali telah menjelang tiba.

Setiap pagi, dari dalam hutan bambu disebelah barat

puncak Gi im hong di bukit Kiu ih san, selalu muncul segulung

cahaya pedang yang menyambar-nyambar.

Cahaya tersebut dipancarkan dari pedang Suma Thian yu

setiap kali dia melatih kepandal silatnya.

Cuma sekarang dia sudah bukan Yu ji yang dulu, waktu

terasa berlalu dengan begitu cepat, delapan tahun sudah

lewat tanpa terasa, dari seorang bocah yang manis, kini Suma

Thian yu telah berubah jadi seorang pemuda tampan.

Tatkala dia telah selesai melatih ilmu pedang Kit hong kiam

hoat nya, sambil menarik kembali pedang bambunya dia

lantas bergumam:

“Heran, mengapa suhu belum juga datang? Aahh benar,

dia orangtua telah berkata kalau hari ini kedatangannya akan

sedikit terlambat”

Sambil berkata dengan menentang pedang bambu, pelanpelan

dia berjalan keluar dari hutan bambu itu.

Tatkala baru tiba ditepi hutan, mendadak… “Sreeett”

setitikk cahaya emas menyambar kearahnya dari depan sana.

Suma thian yu menjadi amat terperanjat, sambil menekuk

kaki kirinya dan menarik kebelakang secara tiba-tiba tubuhnya

melesat ke belakang dengan gerakan datar, kemudian setelah

melihat kearah benda itu, pikirnya dengan geli.

“Aaaah… benda kecil ini hanya mengagetkan hati ku saja,

aku masih mengira ada senjata rahasia yang di sambit

datang”

Ternyata benda kuning tersebut adalah ekor ular kecil yang

berwarna kuning emas, panjangnya kurang lebih satu depa

dan seluruh badannya memancarkan cahaya emas seandainya

ular itu tak bergerak di tanah, orang pasti akan mengiranya

sekeping emas.

tatkala ular emas itu menyaksikan Suma thian yu dapat

menggegos seranggannya dengan gampang dan sedikitpun

tidak gugup, dengan cepat dia sadar kalau telah berjumpa

dengan musuh tangguh, cepat-cepat ia melarikan diri keluar

hutan.

Walaupun Suma Thian yu dibesarkan diatas gunung, tapi

baru pertama kali ini dia saksikan ular kecil seindah ini, tanpa

terasa timbul sifat kekanak-kanakannya, tanpa memikirkan

tentang ancaman mara bahaya lagi, dia segera melakukan

pengejaran dari belakang.

Delapan tahun melatih diri dengan tekun, apa lagi

mendapat petunjuk dari guru yang pandai, ilmu meringankan

tubuh yang dimiliki Suma Thian yu sekarang boleh dibilang

sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali…

Tampak tubuhnya melejit ketengah udara lalu mengejar

dari belakang tubuh ular emas tersebut.

Bagaikan dibelakang tubuhnya ada matanya, ternyata ular

emas itupun merasa kalau Suma Thian yu sedang mengejar

dirinya, mendadak dia melingkarkan tubuhnya menjadi satu

hingga berbentuk gelang, kemudian menggelinding sejauh

dua kaki lebih dari tempat semula dengan suatu gerakan yang

amat cekatan.

Tatkala Suma Thian yu menyaksikan mahluk kecil itu

pandai sekali berkelit dan melarikan diri, timbul perasaan ingin

tahu dan gembira nya didalam hati dia merasa semakin

tertarik dengan binatang tersebut.

Sebenarnya asal dia sambit binatang itu dengan batu,

niscaya ular emas itu akan terbunuh, tapi dia tak tega berbuat

begitu, ia merasa kalau bisa ditangkap hidup-hidup, sudah

pasti makhluk kecil itu merupakan kawan bermain yang

menyenangkan.

Maka selangkah demi selangkah dia mengejar terus dengan

ketat.

Akhirnya ular berwarna emas itu telah lari menuju kedepan

sebuah gua, Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu

menjadi amat gelisah, kuatir ular emas itu lari kedalam gua

sehingga lebih sukar untuk menangkapnya.

Maka kakinya lantas menjejak tanah, kemudian seluruh

tubuhnya melambung ketengah udara bagaikan anak panah

yang terlepas dari busurnya dia menerjang kearah mana ular

emas itu melarikan diri.

Si ular emas itupun cukup licik, ternyata ia melejitkan

tubuhnya lalu sambil membabatkan ekornya ketanah, secepat

kilat ular tadi menyusup kedalam semak belukar disamping

gua tersebut.

Tindakannya ini sama sekali diluar dugaan Suma Thian yu,

maka ketika ia menyadari akan hal ini, keadaan sudah

terlambat, ular emas tadi telah menyusup masuK kebalik

semak belukar.

Buru-buru Suma Thian yu melayang turun keatas tanah

dan memeriksa sekeliling semak tersebut, namun bayangan

tubuh dari ular emat tadi sudah lenyap tak berbekas.

Akhirnya dengan gemas bercampur dongkol didepakdepakan

kakinya keatas tanah sambil menghela napas.

“Benar-benar seekor binatang yang licik, sebenarnya saya

hanya ingin mengajakmu bermain, siapa tahu kau

ketakutan…”

Tapi pemuda itu enggan menyerah dengan begitu saja,

dengan cepat dia mengambil sebatang ranting pohon dan

menghantam kesana kemari di sekeliling semak tersebut,

dalam anggapannya asal ular emas kecil itu masih

bersembunyi disana, niscaya dia akan kabur keluar.

Siapa tahu walapun sudah dibongkar sekian lama ternyata

tiada hasilnya barang sedikitpun, akhirnya dengan hati

mendongkol dia mema tahkan ranting pohon tersebut sembari

menyumpah.

“Ingat saja”, bila kena kutemukan lagi dikemudian hari,

pasti tak akan kuampuni dirimu.

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, Suma

Thian yu segera memandang sekejap kedalam gua, lalu

gumamnya.

Jangan-jangan dia kabur kedalam gua?

Berpikir sampai disitu, tanpa ragu-ragu lagi dia berjalan

menuju ke depan gua, tapi melihat keadaan gua tersebut ia

menjadi tertegun.

Semak yang lebat telah tumbuh diluar gua itu sehingga

hampir saja menutupi seluruh gua tadi, menengok dari luar,

keadaan dalam gua itu gelap gulita dan terasa menyiarkan

bau amis yang menusuk hidung.

Dalam keadaan demikian, betapapun besarnya nyali Suma

Thian yu, tak urung hatinya agak keder juga, dia menjadi

sangsi untuk me lanjutkan perjalanannya memasuki gua

tersebut.

Seandainya dalam gua itu berdiam binatang buas atau ular

beracun, bukankah tindakannya memasuki gua tersebut akan

sangat membahayakan keselamatan jiwanya, apalagi kalau

ular emas itu sudah terlanjur kabur, untuk menangkapnya

kembali pun bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Berpikir demikian, dengan putus asa dia lantas memandang

sekejap ke arah depan gua.

Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, dengan girang

serunya kemudian:

“Aaah, ada akal, kali ini kau simakhluk kecil jangan harap

bisa lolos lagi!”

Tampak pedang bambunya diayunkan keatas semak

didepan gua itu dengan sepenuh tenaga, seketika itu juga

semua rumput dan ilalang sudah terpapas bersih, apalagi

setelah di injak-injak, tak selang berapa saat kemudian, depan

gua itu menjadi rata dan suasana didalam gua itupun menjadi

lebih terang.

Tindakannya ini bukan khusus untuk membuat terangnya

suasana dalam gua saja, setelah terjadinya kegaduhan

barusan, andaikata didalam gua tersembunyi binatang buas

atau ular beracun, niscaya binatang-binatang itu sudah kabur

keluar.

Tapi sudah sekian lama ia menunggu, ternyata didalam gua

tenang-tenang saja tanpa terjadinya suatu peristiwa, hal ini

membuktikan kalau didalam gua itu memang tidak terdapat

makhluk beracun atau binatang buas.

Dengan memberanikan diri Suma Thian yu lantas

melangkah masuk kedalam gua itu.

Mendadak ia menangkap suara rintihan yang sangat lemah

berkumandang datang dari dalam gua itu, suara tersebut

bagaikan rintihan kesakitan dari sejenis binatang, tapi menurut

dugaannya, sudah jelas suara tersebut bukan suara manusia.

Bau apek didalam gua tersebut amat tebal, hal ini

merupakan bukti kalau tempat itu sudah lama tak pernah

dijamah manusia sehingga udaranya lembab, tapi darimana

datangnya suara rintihan tersebut.

Delapan tahun melatih diri dengan tekun tenaga dalam

yang dimiliki Suma Thian yu sekarang telah membuat pemuda

tersebut bisa memandang ditempat kegelapan, kini dia sudah

memperhatikan keadaan dalam gua, namun tiada sesuatupun

yang berhasil ditemukan, semen-tara suara aneh tadi masih

saja berkumandang tiada hentinya.

Maka dari dalam sakunya dia mengeluarkan korek api dan

membuat alat penerangan yang diangkat keatas, ketika ia

mencoba memeriksa sekitar tempat itu, hatinya semakin

keheranan ternyata di tempat itu tidak dijumpai apa-apa, gua

itu kosong melompong.

Anehnya, suara yang sangat aneh itu masih saja

berkumandang datang dari dalam gua itu.

Jika tiada benda, tiada makhluk, darimana datangnya suara

aneh itu?

Tanpa terasa peristiwa ini membuat Suma Thian yu tidak

habis mengerti, untuk sesaat lamanya dia berdiri termangu

disitu sambil termenung, kemudian atas dorongan rasa ingin

tahu yang tebal, dia melanjutkan kembali perjalanannya

memasuki gua itu.

Cahaya api yang berada ditangannya membuat suasana

dalam gua itu menjadi terang.

Mendadak Suma Thian yu menemukan dinding gua yang

datar dan licin itu penuh didapati tonjolan-tonjolan serta

lekukan-lekukan yang sangat aneh, tapi oleh karena sudah

berusia lama hingga diatasnya sudah dilampiri oleh debu dan

pasir, seandainya tidak diperiksa dengan seksama sulit

rasanya uniuk menemukan rahasia tersebut.

Buru-buru Suma Thian yu menggosoknya dengan tangan,

setelah pasiur dan debu itu hilang, diatas dinding tersebut

segera muncul sebuah ukiran berbentuk manusia.

Penemuan ini segera saja membuat pemuda itu kegirangan

sampai lupa daratan, buru-buru dia membersihkan dinding

yang lain dari debu dan pasir, setiap kali dia selesai

membersihkan sebuah tonjolan maka muncul pula sebuah

ukiran berbentuk manusia.

Bentuk ukiran dari manusia-manusia itu ada yang

berbentuk duduk atau berukir secara hidup dan indah.

Suma thian yu tahu kalau ukiran manusiadibuat oleh

kepandaian silat yang maha sakti, sudah pasti disinilah

seorang tokoh silat jaman dahulu kala meninggalkan ilmu

silatnya,

Selama delapan tahun terakhir ini, dia seringkali

mendengar suhu serta paman Wan nya membicarakan

kejadian semacam ini.

Kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu penemuan

yang tak terduga, andaikata dia juga tahu kalau ular kecil

berwarna emas itu merupakan raja ular yang paling beracun di

didunia ini, sampai matipun dia tak akan berani untuk

mengejarnya, dan mungkin dia pun tak akan terpancing

sampai di dalam gua kuno ini..

Sementara dia sedang berdiri sambil memperhatikan

bentuk gaya dari ukiran tersebut, mendadak terendus bau

harum yang menyegarkan muncul dari balik gua itu, bau itu

harum sekali, seperti bunga anggrek, seperti juga bau buah

yang matang, tapi yang pasti bau harum tersebut membuat

sekujur badannya segera segar kembali.

Dalam sekejap mata pula bau busuk yang semula

menyelimuti gua itu tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Tapi suara aneh tadi bergema semakin nyaring daripada

tadi, untuk sesaat lamanya Suma Thian yu menjadi lupa

dengan ukiran di atas dinding yang baru saja ditemukannya

itu.

Dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk kedalam

gua menghampiri sumber dari suara aneh tersebut.

Tapi, walaupun Yu ji telah menggeledah seluruh isi gua itu,

alhasil dia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang

mencuri-gakan, hal ini membuatnya semakin tertegun dan

keheranan.

Dalam pada itu bahan penerangan yang di bawanya sudah

hampir habis, dia lantas membuang sisa obornya ke tanah

dengan harapan akan pergunakan sisa waktu yang amat

sedikit itu untuk mengingat ingat gerakan aneh yang tertera

diatas dinding.

Siapa tahu, pada saat itulah suatu peristiwa aneh kembali

terjadi di depan matanya.

Tatkala sisa obor itu dibuang ke atas tanah, tiba-tiba saja ia

temukan disudut dinding gua itu tumbuh sebatang rumput liar

yang kecil dan pendek, tanpa terasa ia teringat kembali

dengan bau harum semerbak yang diendusnya tadi, janganjangan

bau harum tadi berasal dari rumput liar ini?”.

Ternyata dugaannya memang benar, sewaktu dia

membungkukkkan badannya mendekati rumput liar tersebut,

bau harum semerbak yang terendus makin menebal,

sebaliknya suara eneh yang kedengaran tadipun makin lama

semakin bertambah nyaring.

Tampak olehnya rumput liar itu terbagi menjadi tiga daun,

bentuk daunnya seperti pedang dengan panjang sejari tangan,

warnanya merah darah.

Sejak kecil Suma Thian yu memang dipelajari nama dan

bentuk pelbagai rumput dan tumbuhan aneh dari kit hong

kiam kek Wan Liong, meski begitu, ternyata dia tidak

mengetahui nama dari rumput aneh dijumpainya sekarang.

Dasar sifat kanak-kanakanya belum hilang, ternyata Suma

Thian yu memetik selembar daun pedang tersebut dari

tangkainya dan dien-dus dekat lubang hidungnya.

Siapa tahu, begitu daun tadi tersentuh oleh tangan Suma

Thian yu, tiba-tiba saja daun tadi menjadi layu dan bau

harumnya pun seketika itu juga lenyap tak berbekas.

Kenyataan ini membuat Suma Thian yu semakin

tercengang. Bukankah daun itu masih segar sewaktu dipetik?

Mengapa begitu tersentuh dengan tangannya lantas layu dan

mati?

Setelah mengalami pengalaman tersebut, dia tak berani

bertindak gegabah lagi, ia tahu tumbuhan aneh semacam ini

merupakan suatu tumbuhan yang amat langka, menyianyiakan

selembar daun yang di lakukannya barusan sudah

merupakan pantangan yane besar, jika sisa yang tinggal dua

lembar itu harus disia-siakan belaka, hal ini benar benar

merupakan suatu tindakan yang patut disesalkan.

Maka diapun membungkukkan badan dan menjilat daun

berbentuk pedang itu dengan lidahnya.

Baru saja ujung lidahnya menyentuh daun tersebut,

mendadak… , “Weees!” diiringi suara yang pelan, segulung

cairan segar segera meleleh keluar lewat lidahnya masuk ke

dalam perut.

Seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras, rongga

badannya terasa merekah besar, apalagi ketika cairan tadi

masuk ke dalam perutnya, pemuda itu segera merasakan

tubuhnya seakan-akan terjerumus ke dalam gudang es yang

dingin sekali.

Tak terlukiskan rasa kaget yang dialami Suma Thian yu,

buru-buru dia duduk bersila sambil bersemadi, ilmu Ciong

goan sim hoat ajaran Kit hong kiam kek Wan Liang segera

dikerahkan untuk mengelilingi seluruh badannya.

Tak lama kemudian hawa dingin tadi lenyap tak berbekas,

dia segera merasakan sekujur badannya menjadi lebih enteng

dan segar.

Dasar pemuda yang pintar, lagipula memang berbakat

alam, dengan cepat ia sadar kalau benda yang dihisapnya

adalah suatu benda yang amat langka, maka dengan kilat ia

membungkukkan badannya lagi dan menempelkan lidahnya

keatas daun terakhir yang masih tersisa.

Kali ini, tatkala caiian tersebut masuk kedalam tubuhnya,

bukan saja membuat badannya saja bergetar keras, seluruh

lidahnya kontan menjadi kaku bercampur gatal, segulung

cairan panas secepat kilat menerjang masuk melalui rongga

mulut dan mengalir ke dalam perutnya.

Begitu hawa panas tadi berjumpa dengan hawa dingin yang

berada dalam perutnya, seketika itu juga terjadi suatu reaksi

yang sangat hebat, seketika itu juga Yu ji merasakan perutnya

seperti mau meledak, rasa sakit yang melilit perutnya tak

terlukiskan dengan kata-kata, buru-buru dia memejamkan

matanya untuk mengatur pernapasan.

Tak lama kemudian, semua penderitaan yang dialaminya

itu telah hilang tak berbekas, aliran hawa panas itupun

dengan melewati pusar bergerak naik keatas menuju Khi hay

hiat, lalu seperti seekor tikus yang terjang kesana terjang

kemari secara beruntun menembusi jalan darah Im ciau, Hun

sui, Kian it, ki ciau dan Thim liong ki hiat.

Kemudian setelah berhenti cukup lama didalam jalan darah

Tham tiong hiat, Yu ji merasakan hawa panas menyengat

sekujur badannya membuat peluh jatuh bercucuran

menbasahi sekujur tubuhnya.

Dengan cepat pemuda itu tahu kalau ilmu Ciong goan sim

hoat ajaran paman Wannya masih belum mampu untuk

mengusir hawa panas dalam tubuhnya itu untuk bergerak

lebih ke atas.

Maka dengan cepat dia mencoba untuk menggabungkan

ilmu Hu siang sin kang ajaran dari kakek berambut putih itu

dengan kepandaian ajaran paman Wannya, ternyata ilmu

gabungan ini luar biasa sekali, akhirnya hawa panas yang

menyengat badan itu berhasil menembusi jalan darah Tham

tiong hiatnya mencapai jalan darah Hoa kay hiat diatas ubunubun,

kemudian setelah mengitari tubuhnya sekali lagi hawa

panas tadi mengalir kembali ke dalam pusar.

Bagaikan baru lolos dari beban berat, Suma Thian yu meng

hembuskan napas panjang, dan sambil menyeka keringat,

ketika angin berhembus lewat, dia merasakan tubuhnya

sangat enteng sekali seperti tak berbobot lagi.

Kebetulan pada waktu itu api obor sudah, padam, tinggal

sisa cahaya kuning yang redup tapi suasana dalam gua itu

justru terasa makin terang benderang, hal ini membuat Thian

yu semakin keheranan.

Padahal, darimana dia bisa tahu kalau hal tersebut justru

merupakan kasiat dari ke dua lembar daun berbentuk pedang

itu?

Sementara dia masih kebingungan, mendadak dari atas

langit langit gua berkumandang suara batuan yang retak,

diikuti permukaan tanah di mana ia berpijak bergoncang

keras.

Tanpa terasa pemuda itu segera menjerit kaget: “Aaah,

gempa bumi!”

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia

lantas melejit keluar dari dalam gua, baru saja tubuhnya

mencapai pintu gua, dari belakang tubuhnya berkumandang

suara gemuruh yang amat memekakan telinga.

Dengan cepat Suma Thian yu berpaling, apa yang terlihat

membuat ia terkejut sehingga peluh dingin bercucuran.

“Sungguh berbahaya!” pekiknya dalam hati.

Ternyata gua itu tak sanggup menahan getaran gempa

yang amat dahsyat itu sehingga runtuh kebawah.

Memandang reruntuhan batu gunung yang menimpa gua

itu, Suma Thian yu menghela napas panjang gumamnya:

“Sayang sekali, kepandaian sakti yang tertera dalam gua itu

akan punah dengan begitu saja.

Kalau takdir telah berkata demikian siapa yang bisa

membantah? Coba kalau Suma Thian yu sehari lebih awal

menemukan gua itu, bukankah ilmu silat maha sakti yang

tertera diatas dinding akan berhasil dipelajarinya?

Tapi, andaikata sehari lebih awal dia temukan gua itu,

belum tentu dia akan menjumpai rumput mestika tersebut.

Ya,jika takdir telah mengatur segala sesuatunya, siapa pula

yang bisa membantah?

Kini, gua kuno tersebut sudah rata dengan tanah, namun

goncangan diluar masih berlangsung terus dengan

dahsyatnya, pohon bertum bangau, batu cadas bergulingan,

seluruh jagad seakan berubah menjadi mengerikan, bagaikan

hari kiamat sudah hampir tiba.

Menyaksikan bencana alam yang sedang berlangsung itu,

mendadak Suma Thian yu teringat dengan gurunya, diamdiam

ia berpekik dalam hati kecilnya:

“Aduh celaka, suhu pasti sedang menanti dengan hati yang

amat gelisah…..”

Berpikir demikian, cepat-cepat dia melejit ketengah udara,

lalu secepat kilat dia meluncur kedepan menembusi hutan

bambu yang lebat.

Tapi begitu sampai didalam hutan bambu, ternyata gempa

bumi telah berhenti, sedang diatas batu cadas besar itupun

tampak seorang kakek berambut pulih sedang duduk dengan

tenang disana.

Menghadapi serangkaian peristiwa yang beruntun itu, Suma

Thian yu benar-benar dibuat kebingungan tak karuan,

pikirnya:

“Jangan-jangan aku berada impian? Atau mungkin gempa

bumi itu hanya tipuan?”

Sementara dia diliputi oleh perasaan curiga dan tidak habis

mengerti, mendadak terdengar kakek berambut putih

menegur:

“Kau telah pergi kemana? Sudah hampir setengah jam

lamanya aku menantikan kedatanganmu”

Dengan cepat Suma Thian yu menghampiri gurunya, lalu

sambil berlutut jawabnya dengan agak gagap:

“”Tecu tahu salah, aku… “

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, si

kakek berambut putih itu telah menjerit tertahan, lalu

tanyanya dengan keheranan:

“Apa yang telah kau jumpai? Cepat katakan kepadaku

dengan berterus teriang…”

Tentu saja Suma Thian yu tak berani berbohong, dia lantas

membeberkan bagaimana ia menemukan ular beracun,

bagaimana masuk ke dalam gua dan bagaimana dia salah

makan daun liar….

Kakek berambut putih itu mendengarkan semua penuturan

dengan seksama, menanti anak muda itu telah menyelesaikan

kata-katanya, sambil tertawa kakek itu baru berkata:

“Suatu penemuan aneh, betul-betul suatu penemuan aneh,

ini baru cerita besar, suatu peristiwa yang besar sekaii. Yu ji,

penemuan aneh seperti ini bukan setiap orang dapat

mengalaminya, akupun tak usah menguatirkan

keselamatanmu lagi. Mulai sekarang, urat Jin meh dan tok

meh dalam tubuhmu sudah tembus, tenaga dalammu telah

mencapai puncak kesempurnaan, asal kau bersedia melatih

diri beberapa saat lagi, tak sulit untuk membawamu mencapai

puncak kesem-purnaan yang tak terhingga”

Suma Thian yu hanya termanggu seperti tidak memahami

perkataan tersebut, namun kakek rambut putih itu tidak ambil

perduli, kemudian dia berkata lebih lanjut.

“Tahukah kau, rumput Jiar apakah yang telah kau makan

itu?”

“Tecu tidak tahu.”

“Rumput itu dimakan Jin sian kiam lan, meskipun kau

hanya berhasil makan dua lembar saja, hal sudah merupakan

suatu kejadian yang luar biasa, daun yang tengah

membantumu untuk menembusi nadi Jin meh dan tok-meh

dalam dada, sedang dua lembar lainnya, yang satu bisa

membuat orang melihat dalam kegelapan seperti ditempat

terang, sedang yang lainnya berkhasiat kebal racun,

tampaknya daun yang terbuang sia-sia itu adalah rumput

kebal racun, tapi ada satu hal tak usah kau kuatir, yakni

tangan kirimu sudah kebal terhadap segala macam serangan

beracun.

Mengetahui kalau lengan kirinya kebal terhadap segala

macam racun, tanpa terasa dia bertanya dengan wajah

keheranan:

“Mengapa suhu!”

Kakek berambut putih itu segera tersenyum.

“Nak, apakah kau lupa bahwa daun itu kau petik dengan

tangan kirimu? Tatkala tanganmu menyentuh daun kebal

racun tersebut, sari racun tersebut telah menyusup masuk

kedalam kulit badanmu, itulah sebabnya daun itu dengan

cepat menjadi layu, tapi justru karena itu, telapak tangan

kirimu menjadi menyerap sari daun tersebut yang

menyebabkan lengan itu menjadi kebal terhadap racun.

Suma Thian yu yang mendengar ucapan tersebut menjadi

amat keheranan, sudan barang tentu rasa girangnya tak

terlukiskan dengan kata-kata.

Sampai lama kemudian, kakek berambut putih itu baru

bertanya lagi:

“Yuji, sudah berapa tahun kau mengikuti diriku?”

“Sudah delapan tahun suhu!”

“Betul, sudah delapan tahun” kakek berambut putih itu

meng-angguk, selama delapan tahun ini, apa saja yang telah

kau pelajari?”

Mendengar pertanyaan itu, Suma Thian yu segera

menundukkan kepalanya dan tak berani menjawab.

Si kakek berambut putih itu cukup tahu akan tabiat bocah

itu yang suka merendah dan sedikupun tidak angkuh, maka

sambil tertawa ramah katanya lagi:

“Yu ji, tahukah kau siapa nama gurumu?”

Suma thian yu memandangi gurunya dengan termangu,

kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tecu yang tak berbakti sama sekali tak tahu siapa nama

suhu…”

“Hal ini tak menyalahkan dirimu” kata kakek berambut

putih itu sambil mengelus jenggotnya dan tertawa, “aku tak

pernah menyinggung soal ini kepadamu, tahukah kau

mengapa aku tidak memberitahukan hal ini kepadamu?”

“Yu ji tak tahu!”

“Menerima murid mudah, mendidik murid sukar, andaikata

aku menghasilkan seorang murid yang tak becus bukankah hal

ni hanya akan menambah dosa bagi umat persilatan?”

Setelah berhenti sebentar, kakek berambut putih itu

menyambung lebih jauh.

“Selama delapan tahun ini aku selalu dan tiap saat

mengamati tabiat serta gerak gerikmu, kuketahui kemudian

bahwa kau adalah seorang yang polos, jujur dan setia,

sedikitpun tidak mempunyai sifat angkuh, kau memang tidak

memalukan menjadi muridku”

Kembali dia berhenti menarik napas panjang, kemudian

melanjutkan.

“Hari ini aku baru secara resmi menerima sebagai murid,

kau harus tahu tingkat kedudukkanmu dalam dunia persilatan

sekarang adalah sangat tinggi, dikemudian hari jika kau sudah

berpisah dariku untuk turun kegunung dan be kelana dalam

dunia persilatan, ingatlah selalu bahwa manusia itu adalah

sederajat, jangan anggkuh, jangan takabur, bersikaplah jujur

kepada orang, ingatlah selalu dengan ajaran Nabi, dengan

begitu kau baru bisa mengamalkan baktimu untuk umat

manusia, mengerti?”.

Dengan hati yang tulus Suma Thian yu menerima nasehat

itu, sahutnya dengan hormat:

“Tecu menerima perintah”

Kakek berembut putih itu segera tertawa lebar, katanya

lagi:

“Tahun ini aku telah berusia sembilan puluh tahun, orang

persilatan menyebutku Put Go cu, artinya belum bisa

menyadari ajaran agama To yang sebenarnya. Perguruanku

bersumber dari Bu tong pay, sekarang Hian cing tojin adalah

keponakan muridku atau juga kakak seperguruanmu, jadi

orang jujur dan bijaksana, berbicara soal ilmu silat dia

terhitung jago nomor satu dunia persilatan, bila kau telah

berjumpa dengannya nanti, harap kau bersikap jujur dan tulus

hati kepadanya.”

Ketika mengetahui kalau gurunya adalah ketua pendekar

besar yang nama besarnya telah menggetarkan dunia

persilatan pada enam puluh tahun berselang, hatinya merasa

gembira sekali sehingga untuk sesaat lamanya hanya menjadi

ternganga dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Perlu dimengerti, Put Go cu adalah seorang pendekar besar

yang paling kosen dari partai Bu tong semenjak perguruan ini

didirikan, sejak berusia delapan belas tahun ia terjun dalam

dunia persilatan, dengan mengandalkan sebatang hud tim

(kebutan) dia malang melintang dalam dunia persilatan tanpa

tandingan,bersama dengan Tan Pak cu mereka berdua disebut

Tionggoan ji cu.

Ilmu pukulan Tay cing to liong ciang yang amat termashur

dalam partai Bu tong sekarang, tak lain adalah hasil ciptaan

dari kakek itu.

Semenjak mengundurkan diri dari dunia persilatan, Put Go

cu menemukan puncak Gi im hong sebagai tempat

pertapaannya, siapa tahu selama berkelana dia tak menerima

murid, kemudian ia telah menemukan seorang ahli waris yang

kesetiannya bisa diandalkan.

Kiranya sewaktu Kit hong kiam kek Wan liang mengajak

Suma Thian yu datang ke bukit itu, secara kebetulan

kedatangan mereka diketahui Put Go cu yang meneliti bentuk

badan Suma thian yu segera berkesimpulan kalau bocah ini

amat berbakat untuk belajar silat.

Hanya saja pada waktu itu dia mengira Suma thian yu

sebagai murid Kit hong kiam kek, maka ia tak berani bertindak

secara gegabah.

Kendatipun demikian, setiap hari Put Go Cu selalu datang

disekitar tempat itu untuk mengawasi keadaan dari bocah itu.

Lama kelamaan, akhirnya ia berhasil menemukan

rahasianya, dia tahu kalau Kit hong kiam kek Wan Liang tak

lebih hanya memeliharanya tanpa bermaksud untuk

menerimanya menjadi murid.

Kenyataan ini justru amat cocok dengan keinginan Put go

cu, maka dia pun segera memunculkan diri dan menerimanya

menjadi murid.

Selama delapan tahun, disamping harus berlatih Bu siang

sin kang, Suma Thian yu juga melatih ilmu pukulan Tay cing

to liong ciang, meski hanya delapan tahun, ia telah berhasil

mendapatkan semua kepandaian dari Put Go cu, yang kurang

sekarang tinggal kematangannya.

Sudah barang tentu, siapa tak akan mengira kalau jago tua

tersebut tinggal dibukit Gi im hong, lebih tak menyangka kalau

dia bakal menerima seorang murid yang begitu muda, jodoh

semacam ini boleh dibilang merupakan kemujuran Yu ji.

Lama sekali Put Go cu memperhatikan wajah Yu ji,

kemudian ia baru berkata lagi:

“Yu ji, sekarang aku sudah tak mempunyai kepandaian

apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu, satu-satunya

harapanku sekarang melihat kau menjadi tenar, memberi

bantuan kepada umat manusia dan berbakti untuk dunia

persilatan, gunakanlah kebenaran untuk menundukkan orang,

jangan menggunakan pedang untuk menaklukkan orang, kau

harus tahu, dunia persilatan merupakan gudang orang pintar,

diatas gunung masih ada gunung, diatas manusia pandai

masih ada manusia pandai yang lain, dengan kepandaian yang

kau miliki sekarang, meski cukup tangguh kemampuanmu,

tapi kalau tidak baik-baik melatih diri, tak akan lama kau bisa

tenar dalam dunia persilatan…….”

Setiap patah kata dari Put Go cu merupakan nasehat yang

tiada tara harganya, dengan hati yang tulus Suma Thian yu

mendengarkan dengan seksama, diam-diam dia mengingat

semua perkataan itu didalam hati.

“In su!” ujarnya kemudian, “Yu ji pasti akan melaksanakan

pesan kau orang tua dengan bersungguh hati, pasti akan

kuhadapi orang dengan cinta kasih dan menyelamatkan

umat manusia dari penindasan.”

“Bagus sekali, aku selalu percaya dengan watakmu, mulai

besok kau tak usah datang kemari lagi.

“In su, kau orang tua……..”

“Tak usah banyak bicara lagi” tukas Put go cu hambar “aku

cukup mengetahui maksud hatimu, kau berharap agar aku

jangan meninggal kan dirimu bukan!”

“Betul!” Suma Thian yu manggut-manggut, wajahnya

penuh dengan air mata membuat pandangan matanya

menjadi kabur.

Dengan cepat Put Go cu menghibur:

“Di dunia ini tiada perjamuan yang tak buyar, asal dalam

hatimu selalu teringat dengan perkataanku, meski terpisah

oleh samudra yang luas, sesungguhnya aku tak berbisah dari

hati mu. Anak bodoh, kau sudah bukan anak kecil lagi, setelah

belajar silat kaupun harus terjun ke dunia persilatan untuk

melatih diri, asal kau bersedia melakukan perbuatanperbuatan

yang bermanfaat bagi umat manusia, membantu

kaum lemah dan menegakkan keadilan, aku sudah merasa

puas sekali.”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan:

“Kalau ilmu silat hanya dipendam terus di atas pegunungan

yang sepi, maka kepandaian tersebut tersebut ibarat barang

yang tak berguna, apalagi kau toh masih ada dendam

keluarga yang harus dituntut balas”

Menyinggung kembali soal “dendam keluarga”, Suma Thian

yu segera merasakan darah yang beredar dalam tubuhnya

bergolak keras, tadi dia masih merasa berat hati untuk

meninggalkan gurunya, tapi sekarang keadaannya menjadi

berbeda, api dendam telah membara dalam dadanya, pada

saat ini dia malah berharap bisa terbanh meninggalkan tempat

itu.

Memandang hawa amarah yang mulai menyelimuti wajah

Suma Thian yu, Put Go cu menggelengkan kepalanya secara

diam-diam sambil menghela napas panjang.

Jilid 3. Kitab pusaka yang tidak ada tulisannya

“Dunia persilatan yang banyak urusan dan banyak

kesulitan, kini telah bertambah lagi dengan seorang bintang

pembuluh, napsu mem- bunuh yang berkobar didada orang ini

kelewat besar!”

Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya,

“Siapakah musuh besarmu ?”

Sebenarnya Suma Thian-yu sudah terjerumus dalam

pengaruh api dendam yang membara, mendengar perkataan

itu dia menjadi tertegun lalu menghela napas panjang, dan

sahutnya :

“Hingga kini tecu masih belum tahu siapa musuh besarku”

Tampaknya Pu Go cu juga merasa agak tercengang oleh

kejadian tersebut, masa siapakah musuh besar pembunuh

ayahnya juga tidak di Ketahui? Dengan cepat dia mendesak

lebih jauh:

Dunia luas, kemana kau hendak mencari musuhmu?”

Apakah sedikit jejakpun tidak kau temukan?”

“Tidak” Suma Thian yu menghela napas Panjang. Ketika

peristiwa itu terjadi, tecu baru berusia lima tahun, akupun

dibopong oleh Thio popo untuk melarikan diri, oleh karena itu

siapakah pembunuh ayahku belum kuketahui”

“Hm, apa yang pernah dikatakan Thio popo”

“Dia hanya pernah berkata pada tecu bahwa musuh

besarku adalah seorang penjahat pemetik bunga (Jai hoa cat)

yang berhasil buron dari penjara, namanya kurang jelas, suhu,

apakan kau tahu siapakah penjahat pemetik bunga tersebut?”

Put Go cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian

sahutnya:

“Aaahh jumlahnya terlalu banyak, sulit bagiku untuk

mengingat ingat begitu banyak orang, untung saja masih ada

setitik cahaya terang ini, cepat atau lambat pasti akan berhasil

kau temukan orangnya”

Selesai berkata, dia memandang sebentar keadaan cuaca,

kemudian katanya lagi kepada Suma Thian yu:

“Waktu sudah tidak pagi lagi, kaupun harus pulang, tapi

sebelum perpisahan ini aku inun sekali menyaksikan hasil

latihanmu selama de lapan tahun ini, ilmu pedang Kit hong

kiam hoat telah berhasil kau ketahui inti sarimu pukulan Tay

cing to liong pat si ajaranku itu satu kali”

Mendengar perkataan itu, Suma Tian yu segera

merasakan semangatnya bangkit kembali, sahutnya.

“Tecu terima perintah!”

Menyusul kemudian dia melompat ke tengah lapangan dan

memberi hormat dulu kepada Put Go cu, kemudian tenaga

dalamnya dihimpun kedalam telapak tangan dan sejurus demi

sejurus dimainkan depan penuh semangat.

Dalam waktu singkat seluruh arena telah di liputi oleh

deruan angin pukulan yang memekikkan telinga, demikian

dahsyatnya permainan tersebut sehingga bayangan tubuhnya

hampir saja tidak terlihat lagi.

put Go cu yang menyaksikan kejadian itu merasa gembira

sekali, apalagi setelah mengetahui betapa pesatnya kemajuan

yang telah dicapai muridnya itu, tanpa terasa ia lantas

mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tu ji, berhenti!” mendadak Put Go cu mera bentak keras.

“Suhu, apakah tecu salah ?”

Put Go cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak, tidak salah, aku merasa gembira sekali setelah

menyaksikan hasil yang berhasil kau capai itu”

Suma Thian yu tidak memahami apa yang dimaksudkan

gurunya, mendengar perkataan itu, dia lantas bertanya.

Cepatlah pulang pulang, dalam gua telah terjadi peristiwa”

tukas Put Go cu cepat.

“Apa?” Suma Thian-yu menjerit keras saking kagetnya.

Put Gho cu tidak menjawab pertanyaan itu, dia segera

menarik tangan Suma Thian-yu sambil serunya dengan

gelisah:

“Cepat, hayo cepat berangkat, kalau terlambat kau tak

akan sempat melihat pamanmu lagi”

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu

sudah melayang sejauh satu kaki lebih, kemudian dengan

kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur ke arah gua

kuno tersebut.

Hingga detik itu, Suma Thian yu masih tertegun dan tidak

habis mengerti, dia tak tahu apa gerangan yang sebenarnya

telah terjadi.

Selama sepuluh tahun berdiam disitu, puncak Gi im hong

selalu berada dalam keadaan tenang, bayangan musuh yang

selalu dikuatirkan Kit hong kiam kek Wan Liang tak pernah

muncul disana, dia yakin hal ini mungkin disebabkan

perubahan pintu guanya, atau mungkin juga dia sudah

dilupakan oleh umat persilatan.

“Tapi, siapa tahu…..”

Ketika Put Go cu dan Suma Thian-yu berdua tiba didepan

gua, pemandangan yang terbentang dihadapan mereka

membuat kedua orang itu merasakan tubuhnya bergetar

keras.

Ternyata dalam mulut gua itu penuh dengan tanda darah

yang mem basahi hampir semua lapangan yang berada disitu,

rumput-rumput telah berubah menjadi merah, tiga sosok

mayat yang bermandikan darah terkapar kaku disitu.

Dengan cemas Put Go cu segera berseru:

“Kau cepat masuk ke dalam gua!”

Waktu itu Suma Thian-yu sudah kehilangan pegangan,

mendengar perkataan itu dengan cepat dia menyelinap masuk

kedalam gua.

Namun baru saja masuk ke gua, mendadak kakinya terikat

oleh sesuatu benda sehingga hampir saja kakinya jatuh

terjungkal ke atas tanah, ketika ia mengamati benda itu,

ternyata dia adalah bangkai Siau-hek, si kuda kurus yang setia

kepada majikannya.

Sementara itu Put Go cu jaga telah masuk ke dalam gua,

menyaksikan pemandangan yang terbentang didepan mata

itu, ujarnya dengan sedih:

“Jangan gugup, jangan panik, anak Yu! Yang penting

sekarang adalah mencari pamanmu.”

Selesai berkata, mereka berdua segera melakukan

pemeriksaan keseluruh gua, namun tak dijumpai bayangan

tubuh dari Kit hong kiam kek. Suma Thian yu semakin gugup

bercampur gelisah, gumamnya berulang kali.

“Aduh celaka, aduh celaka….”

“Tampaknya Put Go cu pun merasakan kalau gelagat tidak

menguntungkan, buru-buru dia menarik tangan suma thian yu

dan mengajak nya keluar, seluruh bukit telah diperiksa namun

bayangan tubuh dari Kit hong kiam kek Wan Liang belun juga

ditemukan.

Perasaan hati mereka dewasa ini berat bagaikan dibanduli

barang seberat ribuan kati, terutama Suma Thian-yu, dia

merasakan jantung nya berdebar debar keras, seakan-akan

hendak melompat keluar dari rongga dadanya saja….

Pemuda itu sudah mendapat firasat jelek, sudah pasti

paman Wan nya mengalami nasib tragis, sejak kematian

Siauw hek dan ditemukannya tiga sosok mayat didepan gua,

tak bisa disangkal lagi suatu pertarungan sengit pasti telah

berlangsung disana, dan besar kemungkinannya paman Wan

telah mengalami musibah dalam pertarungan itu.

Berpikir sampai disini, Suma Thian yu sema kin gugup dan

panik, kalau bisa dia ingin cepat cepat menemukan paman

Wan.

Bagaikan orang kalap saja dia segera melepaskan diri dan

cekalan tangan Put Gho cu, kemudian sambil lari ke depan,

teriaknya ber ulang kali:

“Paman, paman, kau berada di mana….”

“Paman! Paman…..”

Dia berteriak dengan sekuat tenaga, sambil berteriak

sembari berlari, semua jalan di telusuri tanpa tujuan.

Tapi tiada jejak apapun yang berhasil ditemukan, tidak

terdengar pula suara jawaban.

“Habis sudah, habis sudah sekarang, paman lelah lenyap

tak berbekas… habis sudah sekarang!”

“Paman, Yu ji berada disini, paman…kau berada

dimana….?”

Put Go cu yang menyaksikan kejadian itu turut merasakan

hatinya menjadi kecut, dia kuatir kesedihan yang memuncak

akan berakhir dengan isi perut yang terluka, buru buru

serunya:

“Yuji, Yu ji,.. hati-hati dengan kesehatan badanmu,

pamanmu tak bakal tertimpa kejadian apa apa.”

Ucapan tersebut tentu saja terbatas pada menghibur saja,

sebab bahkan Put Go cu pribadipun tidak berani menjamin

kalau kit hong kiam kek tak tertimpa kejadian apa apa.

Mendadak terdengar Suma Thian-yu menjerit kaget,

dengan kecepatan tinggi dia melesat kedalam hutan sebelah

depan sana dan meluncur kebawah sebatang pohon.

Ketika Put Go cu turut menyusul ke situ tampaklah Suma

Thian yu sedang memeluk seorang kakek yang berpelepotan

darah, orang itu tak lain adalah Kit-bong-kiam kek Wan Liang.

Put Go cu tak berani berayal lagi, buru-buru dia berjongkok

sambil menguruti dada Wan Liang, kemudian mengambil

keluar buli-buli kecil dari sakunya dan mengeluarkan sebutir pil

berwarna kuning.

Dengan cekatan dia membuka mulut Kit hong kiam kek dan

menjejalkan obat itu keda lam mulutnya, kemudian diapun

membantunya untuk menguruti kembali dadanya.

Tak lama kemudian put Go cu menghentikan usahanya,

sambil menghela napas dia mengelengkan kepalanya berulang

kali.

“Aaaai……lukanya kelewat parah, bajingan itupan amat

kejam, tak dengan cara sekeji ini dia melukai dirinya,

sekalipun ada obat mestika, paling-paling hanya akan

memperpanjang kehidupannya beberapa waktu saja”

Mendengar perkataan itu, Suma thian yu merasakan

hatinya dingin separuh, dengan sedih dia menundukkan

kepalanya, lalu sambil me-meluk tubuh paman Wan nya ia

menangis tersedu-sedu.

“Paman…ooh paman… dengarkah kau suara panggilanku?

Paman…aku adalah Yuji…Yuji yang paling kau sayang,

dengarkah kau… paman”

“Jangan berteriak lagi” cegah Put Go cu dengan cepat,

“sebentar dia akan mendusin, kalau bisa jangan membuat

hatinya sedih”

Benar juga, tak lama Put Go cu menyelesaikan katakatanya,

Kit hong kiam kek Wan liang segera menggerakkan

badannya dan membuka matanya lebar-lebar, tapi kemudian

menutup kembali.

Setelah lewat beberapa saat lagi dia baru membuka

matanya yang telah pudar dan memandang sekejap kearah Yu

ji, sambil menahan rasa sakit katanya:

“Aku sudah tak sanggup lagi, nak, paman sudah tua …

aaai, dia kelewat kejam….dia…..”

“Paman, jangan banyak berbicara lagi,” buru-buru suma

Thian yu berseru, “kau pasti akan sembuh kembali,

beristirahatlah dengan tenang, kau pasti akan sembuh

kembali.”

Kit hong kiam kek Wan Liang mengerutkan dahinya

menahan rasa sakit yang luar biasa, pelan-pelan suma Thian

yu membaringkannya ke tanah, tapi dengan susah payah Kit

hong kiam kek berusaha menahan tubuhnya dan meronta

bangun, ujarnya sambil menggelengkan kenapanya berulang

kali :

“Nak, aku salah…. aku…. aku tidak baik….baik…

memelihara dirimu…. semua urusanmu telah ku….

kuketahui…. aduh, aduuh… apakah Locianpwe ini adalah

gurumu….?”

Suma Thian yu segera mengangguk, sahutnya dengan

jujur.

“Benar paman, Yu ji, paman, tahukah kau bahwa Yu ji tak

seharusnya mengelabuhimu”

Pelan-pelan Kit hong-kiam-kek Wan Liang mengangguk,

sahutnya sambil tertawa getir.

“Nak, paman tak akan menyalahkan dirimu, tidak

seharusnya paman me……melarang kau untuk…untuk belajar

ilmu silat”

Ketika secara tiba-tiba dia menyaksikan Put Go cu berjalan

masuk dari tepi hutan, tanpa terasa bisiknya dengan lirih.

“Siapa dia?”

Tak heran kalau Kit hong-kiam-kek wan Liang tidak kenal

dengan Put Go cu, sebab ketika Kit hong kiam kek wan Liang

terjun kedalam dunia persilatan, Put Go cu telah

mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan

Dengan suara rendah dan hormat Suma Thian yu

menjawab: “Dia orang tua adalah Put Go cu, nama yang

sesungguhnya tidak Yu-ji ketahui”

Begitu mengetahui kalau guru dari Suma Thian yu adalah

Put Go cu, salah seorang dari Tionggoan Jicu yang amat

termasyhur itu, Kit hong kiam kek Win Liang merasa tertegun,

kemudian dengan perasaan lega bisiknya lirih :

“Inilah rejekimu nak, paman terlalu gembira, sangat

gembira sekali………”

Berkata sampai disitu, mendadak tubuhnya mengejang

keras dan muntah darah segar.

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu menjadi

terperanjat sekali, buru-buru teriak nya:

“Suhu cepat kemari, pamanku sudah parah

keadaannya…..”

Baru habis dia berkata, Put Go cu yang sedang meronda

ditepi hutan itu telah melayang datang, sambil

membangunkan kepala Kit hong kiam kek dan menekan

nadinya, diam-diam menghela napas sambil menggelegnkan

kepalanya.

“Aaai, tampaknya ia sudah tak bisa bertahan lagi”

Sembari berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya

untuk menguruti nadinya, tak lama Kemudian Kit hong kiam

kek Wan Liang membuka kembali matanya.

Setelah memandang sekejap kearah Suma thian yu dan Put

Go cu, katanya sambil tertawa getir.

“Locianpwee, boanpwe sudah tak sanggup lagi untuk

bertahan, tidak kusangka akhirnya aku harus tewas di tangan

perempuan rendah itu, mati bukan sesuatu yang menakutkan,

tapi jika dendam sakit hati ini belum terbalas……penasaran

rasanya hatiku

Ia lantas berpaling kearah Suma thian yu, kemudian

lanjutnya.

“Yu ji, paman mati penasaran, setelah… setelah sampai

dalam dunia persilatan, jangan… jangan kau sebut naa…

nama dari paman tak akan ada orang yang bi… bisa

mengampuni dii…. dirimu”

Berbicara sampai disitu. dia seperti teringat akan sesuatu,

sekujur badannya gemetar keras, mukanya berubah menjadi

merah, sambil miringkan badannya dan menuding ke arah

pedangnya yang tergelecak empat kaki dihadapannya, dia

berkata.

“Sebenarnya pedang itu ingin kuhadiahkan kepadamu, tapi

jika kau membawa pedang tersebut malah justru akan

mendatangkan ketidak beruntungan saja…..’

Tatkala Suma Thian yu menyaksikan kesegaran Kit hong

kiam kek Wan Liang tiba-tiba pulih kembali, ucapan yang

diutarakan juga ti dak terputus-putus lagi, dia mengira lukanya

sudah membaik, hatinya, menjadi girang sekali.

Paman kau pasti akan menjadi baik, teriaknya dengan

gembira “bukankah kau sudah merasa agak baikan sekarang?”

Kit hong kiam kek segera menggelengkan kepalanya

berulangkali, sahutnya sambil tertawa rawan.

“Anak bodoh, terlampau sedikit yang kau ketahui, ingat…

ingat de.. dengan ke.. kelicikan kebusukan dunia persilatan…

Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba hatinya terasa

amat sakit, dengan memaksakan diri ia berusaha untuk

mengendalikan rasa sakit tadi lalu berkata lebih jauh.

Bila bertemu de…dengannya…. Siauhu yong …. kau… kau

mesti….

Belum habis dia berkata, mendadak sekujur badannya

mengejang keras, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat

dan seorang jago pedang yang amat termashyur dalam

dunia persilatan pun telah mengakhiri hidupnya.

Dia sebenarnya masih ingin meninggalkan pesan-pesannya,

banyak persoalan yang harus ditinggalkan, tapi mampukah dia

mengutarakan semua isi hatinya itu?

Seorang pendekar besar telah mengakhi hidupnya disebuah

bukit yang terpencil, jauh dari keramaian dunia.

Apa yang berhasil diperolehnya? Susah payah hidup

didunia, mengandalkan kepandaian silatnya menumpas kaum

penjahat, tapi apakah yang berhasil diraihnya atas jerih

payahnya?

Menyaksikan paman Wannya berpulang ke alam baka,

Suma thian yu merasa sedih sekali, dia segera memeluk

jenasahnya dan menangis tersedu-sedu.

Put Go cu adalah seorang jago yang sudah lama

mengasingkan diri dari keramaian dunia, terhadap segala

persoalan dia memandang ham bar, soal mati hiduppun bukan

masalah besar baginya, tapi sekarang toh menundukkan juga

kepalanya dengan wajah sedih.

“Bu liang siu hud” bisiknya lirih.

Perasaan hatinya yang tenang kini mulai bergejolak lagi,

entah ia sedih karena kematian pendekar besar itu? Ataukah

merasa terharu menyaksikan nasib Suma thian yu yang

mengenaskan?

Sampai lama, kemudian, Put Go cu baru berkata lagi:

“Anak Yu, tak usah menangis, ia tak akan mendengar suara

isak tangismu lagi, orang yang sudah matipun tak akan bisa

hidup kem bali, apa gunanya meui menangis? Kau harus

teguhkan hatimu dan melakukan suatu pekerjaan besar yang

menggemparkan dunia persilat an sehingga tak sampai

menyia-nyiakan harapannya.”

Ketika mendengar ucapan tersebut, Suma thian yu

bukannya berhenti menangis, dia makin sedih.

Ia terkenang kembali kejadian dimasa lalu, yakni pada

sepuluh tahun berselang, waktu itu ada suatu ketika dia takut

kepada pamannya yang berwatak aneh ini, dia membencinya,

karena dia tidak mengerti.

Teringat Wan Liang pernah berkata begini kepadanya: “Kau

masih muda, bagaimanapun juga yang kau pahami masih

terlampau sedikit.”

Yaa, benar, dia memang mengetahui sedikit tentang

pamannya itu, mengetahui secara sepintas saja.

Siapa tahu ketika Suma thian yu sudah mulai merasa

betapa kasih dan ramahnya paman Wan, ternyata paman Wan

telah pergi mening galkannya untuk selamanya, padahal Thian

yu masih membutuhkan banyak petunjuk tentang kehidupan

didunia ini tapi siapa yang akan memberi petunjuk

kepadanya?

Berpikir sampai disini, tanpa terasa air matanya kembali

jatuh berlinang.

Dia tahu, mulai sekarang dia akan menjadi anak tanpa

sanak tanpa keluarga dan tanpa rumah. Sewaktu Thio Popo

membawanya meninggalkan rumah dulu, dia masih belum

tahu apa menderitanya “tak punya rumah”, kini nasib jelek

menimpa dirinya tanpa terasa, bagaimana mungkin kejadian

ini tidak membuat sedih dan mencucurkan air mata.?

Bagian KETIGA

“BANGUNLAH Thian-yu” tiba tiba Put Gho cu memecahkan

kesunyian, “cepat kubur jenasah pamanmu, karena suatu

persoalan aku tak dapat tinggal kelewat lama disini”

Dengan air mata bercucuran Suma thian yu bangkit berdiri

dari atas tanah, lalu memandang sedih ke arah Put Gho cu,

sepasang mata nya yang merah telah basah oleh air mata.

Put Gho cu tak tega menyaksikan kajadian itu, segera

hiburnya:

“Kesempatan dimasa datang masih amat panjang, suatu

ketika kita murid dan guru pasti akan berjumpa lagi,

sepeninggal aku nanti, cepatlah kebumikan jenasah pamanmu,

tinggalkan tempat ini dan ingat baik baik pesan terakhir dari

pamanmu, dunia persilatan penuh de ngan mara bahaya, lebih

baik kau jangan kelewat menonjolkan diri, dalam menghadapi

semua persoalan pun harus berhati-hati”

Sembari berkata dia membelai rambut pemuda itu dengan

lembut, setelah memperhatikannya beberapa lama, ia baru

berkata:

“Nah, aku pergi dulu!”

Selesai berkata, tampak sepasang bahunya bergerak, tahutahu

dengan kecepatan luar biasa dia lenyap dari pandangan

mata Yu ji.

Bagaikan baru bangun dari impian, buru-buru Suma thian

yu berlutut dan menyembah tiga kali, katanya:

“Suhu diatas, tecu tak akan menyia-nyiakan harapanmu”

Ketika ucapan tersebut diucapkan, Put Gho cu mungkin

sudah berada setengah li jauhnya dari tempat tersebut.

Setelah Put Gho cu pergi, Suma Thian yu gera memungut

pedang Kit hong kiam milik paman Wan yang tergeletak di

tanah, lalu sambi1 memandang ujung pedang, itu gumannya:

“Paman, kau orang tua tak akan pernah mati, Thian yu

pasti akan mempergunakan pedang ini untuk membangun

kembali nama besar serta kegagahan kau orang tua seperti

dimasa lalu.

“Paman, sekalipun dunia persilatan amat berbahaya dan

penuh dengan siasat, Thian yu juga akan menelusurinya demi

membalaskan dendam bagi sakit hatimu.

“Beristirahatlah dengan tenang paman, berbaringlah disini

dengan segala kedamaian, tak usah kuatir, tiada sesuatu yang

ber harga untuk kau orang tua pikirkan, tak lama kemudian di

dalam dunia persilatan akan muncul kembali seorang Kit hong

kiam kek (jago pedang angin puyuh), dialah Thian yu, juga

merupakan duplikat dari kau orang tua!”

Sambil berkata dia mendongakkan kepalanya memandang

awan tebal di angkasa, awan yang melayang jauh di udara

dan tak mungkin bisa diraba seperti juga meraba impian.

Suasana disekeliling tempat itu serasa begitu, seakan-akan

keadaan pun turut berduka cita atas meninggalnya pendekar

besar itu.

Mungkin gempa bumi yang terjadi tadi merupakan pertanda

datangnya nasib buruk paman? Kalau memang begitu, ooh…

betapa agungnya paman”

“Yaa, paman memang seorang yang agung” gumam Suma

thian yu dengan suara lirih.

Kemudian ia mempergunakan pedangnya untuk menggali

liang dan membaringkan jerazah Kit hong kiam kek kedalam

liang tersebut, tak selang beberapa saat kemudian disitu telah

bertambah dengan sebuah kuburan baru, seorang pendekar

besarpun beristirahat untuk selamanya disana, yaa untuk

selama-lamanya…

Dengan termangu Suma thian yu memperhatikan kuburan

tersebut, tanpa bicara, sorot matanya kaku dan tak bersinar,

tanpa berkedip memandang keatas pusara, sementara titik air

mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ia tak perlu berkat apa-apa lagi, tiada orang yang

mendengarkan suaranya lagi.

Dia berdoa, diam-diam dan secara bersungguh-sungguh…

Pikirannya amat kalut seakan dia jauh dari dunia ini, jauh dari

mmasyarakat tanpa sanak, tanpa keluarga, yang ada hanya

keheningan bukit yang mencekam seluruh jagad.

Lama…lama sekali…akhirnya dia bangkit berdiri, baru saja

akan membalikan badan, tiba-tiba….

Dua sosok bayangan manusia entah sendiri kapan telah

berdiri dibelakangnya, mereka datang tanpa suara berdiri

disitu tanpa bergerak membuat Suma thian yu benar-benar

merasa terperanjat sekali.

Padahal dengan kepandaian silat yang miliki sekarang,

secarik daun yang jatuh dari jarak sepuluh kakipun dapat

didengar olehnya dengan jelas, tapi mengapa dia tak

mendengar apa-apa akan kehadiran kedua orang itu?

Setelah menenangkan hatinya, Suma thian yu baru

memperhatikan kedua orang itu dengan seksama, mereka

berdua adalah kakek berusia kira-kira lima puluh tahun yang

berwajah serupa, kedua-duanya mengenakan jubah panjang

hitam.

Waktu itu, kedua orang kakek tersebutpun sedang

mengawasi Suma Thian-yu tanpa berkedip, mereka hanya

berdiri mematung disana tanpa bergerak barang sedikitpun

juga.

Satu-satunya perbedaan yang terdapat pada kedua orana

kakek itu adalah diatas pipi sebelah kiridari kakek yang ada

disebelah kanan terdapat sebuah tahi lalat sebesar kacang

kedelai.

Bila dilihat dari raut wajah kedua orang ini, tampaknya

bukan termasuk orang jahat, agak lega juga Suma Thian yu

menjumpai hal ini.

Buru buru dia menjura seraya menegur:

“Entah ada urusan apa cianpwee berdua datang kemari?”

Kedua orang Kakek itu tidak menjawab, hanya senyuman

hambar menghiasi bibirnya’, mereka tidak bersuara pun tidak

bergerak.

Suma Thian yu lantas mengira kedua orang itu kalau bukan

bisu tentu tuli, maka dengan suara yang lebih keras serunya:

“Entah ada urusan apa cianpwe berdua….”

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar kakek bertahi

lalat hitam disebelah kanani itu menukas dengan suara

lembut.

“Kau tak usah bertanya lagi, aku sudah tahu kuburan

siapakah itu…. “

Sambil berkata ia lautas menuding ke arah gundukan tanah

baru di belakang Suma Thian yu.

Suma Thian yu tidak kenal dengan kedua, orang kakek itu,

mendengar mereka berdua langsung menanyakan soal

kuburan pamannya begitu bertemu, dikiranya kedua orang ini

ada sangkut pautnya dengan orang jahat pembunuh

pamannya, kontan saja amarahnya berkobar.

“Ada kepentingan apa kau menanyakan tentang persoalan

ini?” bentaknya kemudian.

Dua orang kakek itu tidak menjadi gusar lantaran peristiwa

tersebut, malah justru tertawa bodoh.

Dengan suara yang tenang dan halus kakek bertahi lalat itu

segera bertanya lagi:

“Yang berada didalam sana tentunya orang mati bukan?

Siapakah orang mati itu?”

Geli dan mendongkol Suma thian yu dihadapkan

pertanyaan bloon semacam itu, dengan cepat dia berpikir:

“Aaah, jangan-jangan kedua orang ini cuma orang bodoh?

karena berpendapat demikian maka tanpa terasa anmarahnya

menjadi reda, dengan suara lembut ia menyahut:

“Orang mati siapakah yang berada disitu, tak usah kalian

urus, aku rasa andaikata kalian mempunyai urusan penting

lainnya, lebih baik cepatlah tinggalkan tempat ini”

Mendengar ucapan mana, kedu orang kakek itu segera

mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak,

suaranya keras hingga memantul diseluruh hutan.

Sedemikian kerasnya suara tertawa tersebut akhirnya Suma

thian yu merasa tak tahan, dengan suara keras jeritnya:

“Hey, apa yang kau tawakan? Menjemukan”

Dua orang kakek itu menghentikan suara tertawanya

kemudian memandang bodoh ke arah Suma Thia yu, setelah

itu katanya:

“Bocah muda, masih kecil sudah berangasan sekali, lain kali

pasti sukar mendapat bini!”

Selesai berkata, lagi lagi mereka tertawa terbahak-bahak.

Pada hakekatnya Suma Thian yu dibikin kebingungan

setengah mati oleh tingkah lakunya kedua orang itu. coba

kalau Kedua orang itu tidak bermaksud jahat kepadanya,

niscaya dia sudah memburu kedepan untuk menghajar

mereka berdua.

“Hmm, rupanya kaliau berdua ada maksud untuk

memperolok orang? Apa yang lucu? Kalau ada orang mati

seharusnya turut berduka cita. masa kalian malah tertawa

tergeletak di depan kuburan seseorang yang baru saja mati…”

Teguran dari Suma Thian yu ini amat keras tapi tidak

pantas untuk dipakai menegur orang yang berusia lanjut,

semestinya, dua orang Kakek itu akan mencak-mencak

kegusaran setelah mendengar teguran itu, siapa tahu apa

yang kemudian terjadi justru merupakan kebalikannya.

Terdengar kakek bertahi lalat disebelah kanan itu segera

berkata:

“Perkataan bocah ini benar juga, kita memang seharusnya

bersedih hati, hei hiante, mari kita bersedih hati!”

Begitu selesai berkata, ternyata ia benar-benar menangis

tersedu sedu, disusul kemudian oleh kakek yang ada disebelah

kirinya. Dalam waktu singkat, isak tangis mereda telah

menyelimuti seluruh angkasa.

Menyaksikan dua orang kakek sinting yang sebentar

tertawa sebentar menangis ini, suma thian yu menggelengkan

kepalanya berulang kali sambil menghela nafas panjang:

“Cukup, cukup.. . tangisan kalian berdua sudah cukup,

asal…” cegahnya dengan cepat.

Dua orang kakek itu segera berhenti menangis, seperti

merasa sayang sekali dengan butiran air matanya, begitu

berhenti menangis, air mata merekapun berhenti mengalir.

“Nah bocah cilik” kata kakek bertahi lalat itu kemudian,

“permintaanmu telah kulakukan dengan baik, sekarang

gantian kami bersaudara yang ingin memohon kepadamu”

Tingkah laku yang kocak dan tata bahasa kedua orang

kakek yang halus segera mendatangkan perasaan simpatik

dalam hati Suma Thian yu, maka diapun segera mengangguk.

“Baiklah, asal bisa kulakukan pasti akan ku lakukan,

katakanlah terus terang”

“Nah begitu baru anak pintar, kakek bertahi lalat itu

tertawa, “sekarang aku hendak bertanya dulu, kau tinggal

dimana?”

“Buat apa kau menanyakan tentang soal ini!”

“Tak usah kaugubris, jawab saja pertanyaan ku itu!”

“Maaf, sebelum kuketahui asal usul kalian berdua yang

sebenarnya, jangan harap bisa mendapat jawaban dariku”

“Wah, itu tak benar namanya” desak kakek bertahi lalat

dengan cepat, “bukankah kau sendiri yang telah berjanji akan

melakukan permintaanku, jangan kuatir, kami berdua bukan

penjahat”

Suma thian yu segera menggelengkan kepalanya berulang

kali.

“Siapa yang akan mempercayai ucapanmu? Kalau di lihat

dari cara kalian yang datang secara sembunyi-sembunyi saja

sudah diketahui kalau kamu berdua agak tidak beres, masa

aku tidak boleh curiga?”

Mendengar perkataan itu, si kakek bertahi lalat tersebut

segera manggut-manggut memuji, sambungnya cepat:

“Baiklah, kubatalkan pertanyaanku ini dan sekarang jawab

saja kepada kami siapakah orang yang telah tiada ini?”

“Maaf, pertanyaan inipun tak dapat kujawab”

“Waah… aneh betul kau ini. kalau tidak ingin berterus

terang katakan saja secara blak-blakan. Hei, bocah cilik,

sebenarnya apakah maksudmu?”

“Tidak karena apa apa, hanya sepatah kata bisa kujawab,

aku tidak memahami maksud tujuan kalian berdua.”

Kakek bertahi lalat itu segera garuk-garuk kepala yang tak

gatal, lalu sambil berpaling ke arah kakek yang lain, dia

berseru:

“Hiante, lebih baik kita jangan mencampuri urusan lagi,

mari kita pulang saja dan tidur”

Kakek kedua ini macam orang bisu saja, sejak muncul

sampai sekarang ia tak berbicara sepatah katapun, kakaknya

menangis, diapun menangis, kakaknya tertawa, diapun

tertawa, sekarang kakaknya hendak pergi ternyata dia pun

benar-benar membalikkan badan dan pergi semua tingkah

lakunya sungguh tidak habis di-mengerti.

Yaa, manusia aneh! Kedua orang itu betul-betul aneh,

meski dalam dunia terdapat banyak urusan aneh, namun

belum pernah di jumpai manusia seaneh kedua orang ini.

Sebelum pergi, kakek bertani lalat ini sempat berpaling dan

tertawa bodoh kepada Suma Thian yu seraya berkata:

“Hei bocah, sekalipun kau tidak bilang aku juga tahu, kami

berbuat begini tak lain Cuma ingin mengetahui apakah kau

bisa tutup mulut memegang rahasia atau tidak, padahal

suhumu itu sudah memberitahukan semuanya ini kepadaku,

setelah berjumpa hari ini, hah … haah…. ternyata apa yang

dikatakan memang tidak bohong!”

Berbicara sampai disini, dia lantas bersama adiknya

berjalan seenaknya menuju ke hutan.

Waktu itu suma thian yu tak sempat berpikir untuk

memberitahu asal usul kedua kakek tersebut karena pertama

dia sedang sedih, kedua diapun sudah dibikin pusing oleh

ulah kedua kakek kembar itu.

Tapi setelah mendengar perkataan terakhir si kakek bertahi

lalat, hatinya kontan bergetar keras, pikirnya cepat.

“Heran, darimana ia bisa kenal dengan suhuku?”

Baru saja ingatan tersebut meiintas dalam benaknya, satu

ingatan lain secepat kilat telah melintas dalam benaknya,

dengan suara lantang segera bentaknya.

“Cianpwee berdua, harap tunggu sebentar”

Waktu itu, kedua orang kakek kembar tersebut telah tiba

ditepi hutan, mendadak mereka berhenti, kemudian sambil

membalikkan ba-dan, satu dari kiri yang lain dari kanan

mereka bersama-sama berjalan balik, sementara senyuman

bloon masih menghiasi bibirnya.

Dengan seksama Suma Thian yu segera mengamati wajah

kedua orang kakek itu begitu merasa dugaannya tak meleset

dan tahu kalau mereka adalah tokoh persilatan yang pernah

disingung suhunya, diam-diam ia menyesali dirinya yang

bermata tak berbiji hingga hampir saja menyia nyiakan suatu

kesempatan bagus.

Buru-buru dia berlutut ketanah, lalu berseru.

“Locianpwee berdua, harap kalian suka memaafkan Thian

yu yang punya mata tak berbiji sehingga berbuat kurang ajar

kepada kalian, atas kesalahanku tadi, mohon cianpwee berdua

sudi memaafkan”

Hiiii hiiii hiiii… kau hilang apa bocah cilik?” kakek hertahi

lalat itu tertawa terkekeh-kekeh, apa itu cianpwe? Aku tidak

mengerti, siapa sih cianpwe mu itu?”

Suma Thian yu tahu kalau manusia aneh semacam mereka

adalah manusia manusia yang tak suka akan segala adat

istiadat dan tata cara yang menjemukan, meski demikian,

sebagai searang angkatan muda, ia tidak ingin bersikap

kurang hormat, maka ia bertanya dengan hormat:

“Benarkah Locianpwe berdua adalah… “

Kakek bertahi lalat itu segera menggoyangkan tangannya

berulang kali mencegah dia berbicara lebih jauh, ujarnya:

“Bukan, bukan, apakah hanya di karenakan persoalan ini

saja kau undang kami kemari?”

Belum habis dia berkata, si kakek disebelah kiri yang

bersikap macam orang bisu itu sudah menepuk bahu

rekannya, kemudian menuding ke luar hutan, anehnya dia

tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Si Kakek bertahi lalat itu segera berpaling dan tertawa,

sahutnya tak sabar:

“Sudah tahu adikku, kawanan anjing cilik itu belum pergi

bukan? baik, mari kita pergi!”

Kepada Suma Thian yu lanjutnya:

“Hei bocah, kita jumpa lagi malam nanti!”

Nadanya amat terburu-buru seperti sudah tidak sabar

untuk menunggu suatu persoalan sehingga begitu selesai

berkata, buru-buru dia sudah membalikkan badan dan berlalu

dari situ.

Tapi kasihan sekali, langkahnya justeru sedemikian

lambannya hingga selangkah demi selangkah persis seperti

langkah seorang nenek berusia delapan puluh tahunan.

Tapi anehnya, gerakan tubuh yang nampak sangat lamban

itu justru cepat sekali bagaikan sambaran kilat, hanya didalam

sekejap mata saja ia sudah lenyap dari pandangan sianak

muda itu.

Memandang arah lenyapnya bayangan tubuh kedua orang

itu, Suma Thiau yu menggelengkankepalanya berulang kali

sambil bergumam:

“Manusia aneh, benar-benar manusia aneh!”

Malam kembali menyelimuti seluruh angkasa dan

meninggalkan keheningan yang luar biasa, terutama sekali

ditengah pegunungan yang jauh dari keramaian manusia.

Bukit Kiu gi san kembali diliputi oleh keheringan yang mati,

seram dan menggidikkan hati.

Suma Thian yu masih ingat dengan ucapan yang diutarakan

kedua orang manusia aneh itu menjelang kepergiannya tadi,

maka dia telah menelusuri seluruh bukit, semak belukar, sejak

kentongan pertama sampai tengah malam, tapi ia gagal

menemukan jejak dari kedua orang manusia aneh tersebut.

Ia sangat gelisah, tapi tak bisa menyalahkan kepada

pemuda ini, bagaimana tidak?

Sewaktu akan pergi meninggalkannya tadi kedua orang

manusia aneh itu hanya mengatakan “kita jumpa lagi malam

nanti”, tanpa menerang kan waktunya, maupun tempat

pertemuan, pada hal bukit Kiu gi san begitu besar, kemana dia

harus pergi mencarinya?

Manusia aneh memang selalu berwatak aneh, bila ia tak

ingin berjumpa denganmu, meski kau jelajahi seluruh bukit

juga tak akan menemukan nya, sebaliknya bila ia ingin

bertemu dengan dirimu, sekalipun kau kabur keujung langit,

dia tetap akan muncul juga dihadapanmu.

Justru karena alasan inilah, akibatnya Suma Ghian yu mesti

lari semalaman suntuk tanpa hasil, meski badan sudah basah

kuyup namun hasilnya tetap nihil.

Akhirnya dengan kecewa dia duduk dibawah sebatang

pohon siong sambil bergumam:

“Aaii, tampaknya aku tertipu, tahu begini aku tak akan

kemari untuk dihembus angin barat laut sambil menahan

kedinginannya.”

Sambil mengomel dia mengambil sebutir batu kecil dari

atas tanah, lalu ditimpuk secara gemas kedalam hutan sana.

“Sialan, aku tak akan mencari lagi, anggap saja aku sedang

sial!” omelnya lagi.

Batu yang ditimpuk kedalam hutan bagaikan tenggelam ke

dasar samudera saja, hilang lenyap dengan begitu saja,

kemudian disusul suara seorang bergema dari balik hutan:

“Aduuuh …. sialan, manusia kurang ajar darimana yang tak

punya mata, apakah tidak tahu kalau dalam hutan ada

orangnya? Aduuh biyung … sakit betul kepalaku!”

Suma Thian yu terperanjat sekali setelah mendengar

perkataan itu, buru-buru dia melejit ke udara dan melesat ke

dalam hutan.

Dari situ ia saksikan ada dua orang kakek sedang keluar

bersama dari balik pepohonan.

Dan begitu mengetahui siapakah kedua kakek itu, Suma

Tnian yu bersorak kegirangan :

“Ohh cianpwee, rupanya kau?”

Dari balik hutan berjalan keluar sepasang kakek berbaju

hitam,

dengan pandangan kebodoh-bodohan mereka sedang

mengawasi wajah Suma Thian yu tanpa berkedip, kemudian

terdengar kakek bertahi lalat itu mengomel:

“Hei bocah, rupanya kau sudah tak sabar untuk menanti

sejenak lagi? Anak muda sudah tak bisa bersabar, ketemu

orang memanggil cian pwe, cianpwe melulu, sungguh

menjemukan”

Tertebak jitu isi hatinya, merah padam selembar wajah

Suma Thian yu karena jengah, sungguh menyesal hatinya.

Lama kemudian ia baru berkata agak tergagap.

“Entah ada persoalan apakah cianpwee menyuruh Thian yu

datang kemari?”

“Siapa yang suruh kau kemari?” bentak kakek bertahi lalat

itu, “anak muda tidak belajar baik, justru senang berbohong,

aku toh hanya mengatakan akan bertemu lagi entar malam,

siapa yang menyuruh kau kemari?”

Sekali lagi paras muka Suma Thian yu berubah jadi merah

padam sesudah mendengar teguran itu, ia tersipu-sipu hingga

tak bisa menjawab, sedangkan didalam hati pikirnya:

“Wu san sian gi siu (Sepasang kakek tolol dari bukit Wu

san) betul-betul terhitung manusia paling aneh didunia ini,

coba kalau suhu tidak berpesan agar menahan sabar terhadap

manusia semacam ini, aku benar-benar segan untuk

berurusan dengan mereka!”

Baru saja dia berpikir sampai disitu, mendadak kakek

bertahi lalat itu telah membentak gusar:

“Bocah, kau jangan memikirkan akal busuk dalam hatimu,

kesabaran dapat menghindari segala malapetaka, kau tahu hal

ini bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan!

Bila kau tak memiliki kesabaran tersebut, lebih baik cepatlah

tinggalkan tempat ini!”

Suma Thian yu merasa amat terperanjat, segera pikirnya:

“Sungguh lihay, jangan jangan diatas mukaku tertera

tulisan besar? Kalau tidak, mengapa ia dapat menebak suara

hatiku secara jitu?”

Berpikir sampai disitu, buru-buru dia berkata:

“Boanpwe tidak berani.”

Menyaksikan tampang pemuda yang macam monyet

kepanasan itu, kakek bertahi lalat tersebut segera tertawa

lebar.

“Haah…haaah…. kalau bicara tidak sejujurnya, si bocah

tidak bisa diajar, hiante mari kita pergi saja!”

Selesai berkata kedua orang itu segera membalikkan badan

siap pergi meninggalkan tempat itu.

Suma Thian yu menjadi amat gelisah setelah menyaksikan

peristiwa tersebut, buru-buru dia maju beberapa tindak

kedepan menghadang dihadapan kedua kakek tersebut,

kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut katanya:

“Locianpwe, jangan pergi dulu, boanpwe masih ada urusan

hendak dilaporkan”

Kakek bertahi lalat itu segera membalikan badannya sambil

melototkan matanya besar-besar, serunya dengan gusar.

“Huuh….. dasar bertulang lunak, maunya belajar

merangkak macam anjing budukan. Hmm.. Seorang lelaki

sejati tak akan sembarangan berlutut!”

Mendengar ucapan tersebut, tidak menunggu lebih lama

lagi Suma Thian yu segera melompat bangun, kemudian

dengan wajah serius.

Diam-diam kakek bertahi lalat itu mangut-manggutlalu

berpaling dan memandang adiknya yang berada disamping,

tampak kakek itu pun turut manggut-manggut .

Seolah-olah telah mendapat ijin, kakek itu berpaling

kembali kearah Suma thian yu sambil katanya:

“Hei bocah, apa tujuanmu memohon sesuatu kepada lohu?”

Agak tertegun Suma Thian yu mendapat pertanyaan

tersebut untuk sesaat lamarya dia tak sanggup menjawab.

“Yaa, benar! Karena apakah aku memohon kepadanya?”

“Tiada suatu permintaan bukan?” kakek bertahi lalat itu

tersenyum, “bagus sekali! Tapi lohu menyuruh kau

menghadap justru karena aku hendak memohon sesuatu

kepadamu”

“Selama boanpwe sanggup untuk melaksanakannya, pasti

akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya”

Dia mengira kakek itu hendak menanyakan kembali

persoalan yang menyangkut diri paman Wan, dulu ia belum

memahami asal usul kakek ini, maka rahasia tidak dibocorkan,

tapi sekarang, setelah tahu kalau kakek ini adalah seorang

pendekar sejati yang berilmu tinggi, ia lantas berpendapat

bahwa tiada pentingnya untuk merahasiakan hal tersebut.

Maka dia telah bersiap-siap, jika seandainya kakek itu

bertanya kembali tentang paman Wan maka diapun akan

menjawab dengan sejujur nya.

Kakek bertahi lalat itu segera berseri wajahnya.

Sungguh?” dia berseru, “ahaa .. . kalau begitu tak salah lagi

pilihanku, aku tahu dengan bakat serta kecerdasanmu, sudah

pasti tak akan muncul persoalan apa-apa”

Dari dalam sakunya dia lantas mengeluarkan secarik kertas

yang telah berwarna kuning lantas diserahkan kepada Suma

thian yu sambil katanya berseru menjawab.

“Dalam tiga hari, kau mesti memahami isi tulisan yang

tertera diatas kertas ini, kalau tidak jangan harap bisa

meninggalkan bukit kiu gi san barang setengah langkahpun.”

Suma Thian yu menerima kertas kuning itu dan

memperhatikannya sekejap, mendadak ia berseru dengan

wajah tercengang.

“Kertas ini….”

“Kertas ini berisikan ranasia ilmu silat yang maha sakti,

bukankah kau gila silat?Kertas ini kutemukan beberapa hari

berselang diatas bukit ini, sayang lohu tak becus dan tak

sanggup memahami rahasia dari kepandaian silat tersebut,

maka sekarang kuberitahukan kepada mu agar dalam tiga hari

harus bisa menyelesaikan apa yang lohu perintahkan,

beranikah kau untuk mencobanya?”

Setelah termenung sejenak, akhirnya dia berkata.

“Boanpwe bersedia untuk mencoba, tapi aku tidak

mempunyai keyakinan untuk pasti berhasil”

“Tidak bisa!” teriak kakek bertahi lalat ini dengan gusar,

“tanpa suatu keyakinan, pekerjaan apapun tidak akan berhasil

dilaksanakan, bisa juga mesti dkerjakan, tidak bisa juga mesti

dilakukan, pokoknya kau tak boleh putus asa, tak boleh

berhenti ditengah jalan, mengerti?”

Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan anti

pati dalam hati Suma thian yu, dia merasa kakek ini terlalu

berlagak, memaksa orang lain untuk menuruti kemauannya

sehingga menimbulkan perasaan jemu bagi yang

mendengarkan.

Setelah termenung sejenak, akhirnya ia berkata:

“Pentingkah kertas ini bagimu? Seandainya boanpwe tidak

bersedia atau tidak bisa, apa pula yang bisa kau lakukan?”

“Tidak mau harus mau, tidak bisa harus bisa, tiga hari

kemudian kita berdua akan kembali” sahut si kakek bertahi

lalat sambil menarik wajahnya.

Dia segera melemparkan kertas itu kehadapan Suma Thian

yu, kemudian sambil membalikkan badannya bagaikan

hembusan angin melun- cur masuk ke dalam hitan, sekejap

kemudian bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap dari

pandangan.

Suma Thian yu ingin menghalangi kepergian mereka, tapi

terlambat, akhirnya sambil gelengkan kepalanya dia menghela

napas panjang.

“Aaaai…. dasar orang aneh tetap orang aneh….masa

memaksa orang untuk melakukan pekerjaan yang tak ingin

dilakukan olehnya?”

Diambilnya kertas itu dan diperiksnya dengan seksama,

kemudian dibalik dan diteliti bagian yang lain, namun itu

segera berdiri tertegun. Kitab pusaka apakah itu? Ternyata

kertas itu kosong melompong sama sekali tak ada isinya baik

cuma satu huruf maupun sebuah garispun.

Dengan gemas dia lantas menyumpah:

“Sialan, lagi-lagi aku tertipu, aaai…. Wu san siang gi

memang manusia manusia yang gemar menggoda orang,

baik! Tiga hari kemudian, bila aku tidak merobek-robek kertas

itu di hadapan mereka, aku tak akan bernama Suma Thian

yu!”

Sambil berkata diapun masukkan kertas itu ke dalam

sakunya, suatu perasaan sedih karena dipermainkan orang

segera menyelimuti perasaannya, dia ingin menangis, ingin

menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan keluar

semua kekesalan yang mencekam perasaannya.

Ia mendongakkan kepalanya memandang bintang yang

bertaburan di angkasa, lalu memandang sungai dan daratan

rendah dibawah bukit, pemuda itu merasa ia tak boleh tinggal

dalam bukit terus menerus, sebagai seorang lelaki, ia harus

berkelana ke mana-mana, harus mencari pengaman dan

memperjuangkan suatu karya yang besar bagi sejarah

hidupnya.

Apalagi dendam orang tuanya yang belum dibalas, sakit

hati paman Wan juga belum di tuntut….

“Aku harus pergi!”

Lama kemudian ia baru mengucapkan kata-kata tersebut.

Tapi dengan cepat ia teringat kembali kalau janji

pertemuannya tiga hari mendatang belum dipenuni, entah

baeaimana pun, janji tetap janji, ia tak ingin mengingkar janji,

dia ingin menuntut suatu keadilan dari orang yang telah

mempermainkan dirinya, Wu san sian gi.

Sepasang manusia bodoh dari bukit Wu san merupakan

sepasang pendekar yang bernama besar dalam dunia

persilatan, mereka berdua adalah saudara sekandung.

Kakek bertahi lalat adalah kakaknya Ma Khong Sian dengan

julukan Tay gi siu (kakek bodoh pertama), sedangkan adiknya

ji gi siu (kakek bodoh kedua) Khoug Bong, jangan dilihat dia

seperti orang bisu, sesungguhnya kakek ini merupakan

seorang jago pendebat yang pandai sekali bersilat lidah.

Usia Wa san siang gi telah mencapai enam puluh tahun,

sepanjang hidupnya mereka selalu berjiwa pendekar,

menolong kaum yang lemah dan membabat kaum alim, nama

besarnya sudah termasyur diseluruh dunia persilatan.

Sejak terjun ke arena persilatan, kedua orang ini selalu

muncul bersama, bahkan lagaknya macam orang bloon,

padahal Toa gi siu Khong Sian yang berlagak bodoh adalah

seorang yang amat cerdas, sedang Ji gi siu Khong Bong yang

berlagak macam orang bisu adalah seorang pendebat yang

pandai bersilat lidah.

Sekalipun demikian, mereka gemar berlagak seperti orang

bloon, bahkan sewaktu berada di hadapan Suma Thian yu,

gerak gerik mereka macam orang yang terkena oleh sebuah

penyakit ingatan.

Berapa hari berselang, ketika kedua orang kakek itu sedang

berpesiar di lembah Ong im kok di bukit Kiu gi san, tanpa

sengaja mereka telah menemukan kertas kulit itu, sebagai

manusia yang berpengalaman luas, dalam sekilas pandangan

saja mereka sudah tahu kalau kertas kulit ini bukan benda

sembarangan.

Mereka tahu kalau kertas kulit itu bukan berisikan ilmu silat

maha sakti peninggalan dari seorang tokoh silat dimasa

lampau, tentulah secarik peta rahasia yang berisikan harta

karun, maka kertas itupun segera disimpan kedalam saku.

Dengan watak Wu san siang gi yang tawar terhadap nama

serta keuntungan meterial, penemuan tersebut tidak

dianggap kelewat serius, mau ilmu silat juga boleh, barang

mestika juga boleh, mereka berdua sama-sama merasa tidak

tertarik.

Mereka berpendapat tujuan belajar silat adalah untuk

menyehatkan badan dan menjauhkan diri dari segala macam

penyakit, bukan bertujuan untuk mencari nama atau

kedudukan, harta kekayaan pun dipakai untuk menolong kaum

miskin, bukan uniuk mencari keuntungan bagi kepentingan

sendiri.

Oleh karena itu, mereka berdua berhasrat untuk mencari

seseorang yang dapat dipercaya dan menghadiahkan kertas

kulit yang ditemukan itu kepadanya, dari pada membiarkanya

hingga terjatuh ketangan kaum sesat dan menimbulkan

kerugian bagi umat persilatan.

Karena itulah mereka lantas mencari Suma thian yu yang

jujur dan dapat dipercaya dan menyerahkan kertas itu

kepadanya untuk dise lidiki. Dengan tanpa tujuan Suma thian

yu berjalan kesana kemari diatas bukit Kui gi san, pelbagai

ingatan berkecamuk dalam benaknya sampai pikirannya belum

dapat juga menjadi tenang kembali.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang bocah yang berusia

enam belas tahun, lagi pula tak pernah terjun kedunia

persilatan, padahal begitu luas, kemanakah dia harus pergi

sekarang?

Mendadak terdengar suara benturan nyaring, “Plaak” entah

dari mana datangnya segulung kertas, ternyata dengan tepat

menghantam diatas kakinya.

Suma thian yu merasa amat terkejut cepat-cepat

dipungutnya kertas itu dan diperiksa isinya.

Terbaca diatas kertas itu terasa beberapa huruf yang

berbunyi demikian:

“Hati yang tenteram dapat menjernihkan pikiran, Pikiran

yang jernih dapat menemukan kesimpulan, batas waktu tiga

hari akan berlalu dengan singkat, harap pergunakan setiap

detik sebaik-baiknya.”

Dibawah surat itu tidak dicantumkan tangan, tapi dalam

sekilas pandang saja, Suma thian yu mengetahui kalau surat

itu ditulis oleh Wu san siang gi, itu berarti kemurungan serta

kegelisahan yang mencekam perasaanya semalam diketahui

semua oleh kedua orang kakek tersebut.

Atau dengan perkataan lain, kedua orang kakek itu tentu

berada disekeliling sana sambil mengawasi gerak-geriknya

setiap saat.

Berpikir sampai disitu, peluh dingin segera membasahi

badannya, karena ngeri buru-buru teriaknya:

“Locianpwe, harap segera menampilkan diri , boanpwe

hendak berbicara dengan mu”

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar suara yang

amat lirih berkumandang disisi telinganya.

“Tiada pekerjaan yang sukar didunia, yang penting adalah

kemauan. Maksud hatimu dapat lohu mengerti, kau harus tahu

tinggi persoalan yang sukar didunia ini, yang penting asal kau

ada kemauan dan dan bersedia untuk berjuang, dengan

begitu masalah besar baru dapat tercapai. Jangan kau lihat

kertas itu tidak berhuruf, sesungguhnya adalah Bu Khek.”

Pembicaran tersebut dilakukan orang kakek tersebut dari

berapa li jauhnya dari tempat itu, demonstrasi ilmu

menyampaikan suara yang amat sempurna ini segera

membuat Suma Thian yu merasa kagum sekali.

Mendengar kata “Bu khek” yang diutarakan Wu san siang

gi, Suma Thian yu yang cerdas tiba-tiba saja teringat dengan

perkataan dari gurunya Put Gho cu:

“Bu khek menimbulkan unsur panas dan dingin. Unsur

panas dan dingin atau Tay khek akan menimbulkan Ji gi, akan

menimbulkan Sam cay lalu menjadi Bu siu, lalu dari Bu siu

menjadi ngo heng, lak hap, jit seng dan akhir nya menjadi pat

kwa….”

Maka bila mendengar kata Bu khek yang di ucapkan kakek

itu, jangan-jangan diatas kertas tanpa kata ini sesungguhnya

tersimpan suatu rahasia yang amat besar?

Memikir sampai disini, satu ingatan segera terlintas dalam

benaknya, rasa percaya pada diri sendiripun muncul kembali,

buru buru dia mengeluarkan kertas itu dan diperiksanya

dengan seksama.

selang berapa saat, ia menggelengkan kepala berulang kali

sambil menghela napas panjang, gumamnya:

“Wahai Thian yu. .. benarkah kamu begitu bodoh, tak

becus, tak punya kemampuan?”

Dengan gemas di cengkeramnya kertas itu lalu beranjak

pergi meninggalkan tempat itu.

Baru berjalan sepuluh langkah, mendadak dari arah bawah

bukit sana berkumandanglah suara pekikkan nyaring yang

amat memekikkan telinga, ia tertegun dan segera berpaling

kearah sana, tampaklah dua sosok bayangan hitam dengan

kecepatan bagai hembusan angin bergerak mendekat.

Sekejap mata berkumandang kembali suara keras bergema

tinggi ke angkasa, mendengar pekikan itu Suma Thian yu

tertegun, cepat ia mendongakkan kepalanya, tahu-tahu dua

sosok bayangan manusia telah muncul dihadapannya.

Menyaksikan kejadian itu, diam-diam Suma Thian yu

menggerutu dalam hatinya;

“Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini!“

Ingatan tersebut baru lewat, sipendatang tadi telah

melayang turun dihadapan mukanya.

Orang yang disebelah kiri adalah seorang kakek berusia

lima puluh tahunan, bermata garang bermulut lebar,

bertelinga tikus dan memelihara jenggot hitam yang panjang,

dia memakai jubah pendeta dengan sebilah pedang

tergantung dipunggungnya, tapi rambutnya yang panjang

dibiarkan terurai panjang, sehingga tampangnya amat tak

sedap dilihat.

Orang kedua adalah seorang lelaki berusia empat puluh

tahunan, berwajah persegi dengan mata seperti mata elang,

hidung membengkak besar, mulut model paruh, berpakaian

ringkas dan membawa senjata sepasang martil besar,

tampangnya sangat garang.

Begitu sampai disitu, kedua orang iut dengan keempat

buah mata bajingannya mengawasi Suma thian yu sekejap

lalu mendengus dan segera melanjutkan kembali

perjalanannya ke depan.

Suma Thian yu menjadi melongo menyaksikan tingkah laku

kedua orang yang tak dikenalnya itu, ia tak habis mengerti

mengapa kedua orang itu muncul secara tergesa-gesa,

berhenti sebentar dihadapan nya, lalu setelah mendengus

berlalu pula dengan tergesa-gesa?

Yang lebih aneh lagi, selama dua hari belakangan ini

hampir semua orang yang dijumpainya adalah manusiamanusia

persilatan yang serba aneh dan mencengangkan.

Setelah termanggu-manggu berapa saat lamanya, pemuda

itu melanjutkan kembali perjalanannya menuruni bukit itu,

sembari berjalan benaknya berputar terus memikirkan kertas

tanpa kata yang konon berisi ilmu silat lihay itu.

Tak terasa sampailah anak muda itu ditepi sebuah selokan

dengan air yang jernih dan deras.

Pikiran yang kusut selama beberapa hari belakangan ini

serta badannya yang penat, membuat pemuda itu murung,

amat kusut dan sedih, tanpa terasa ia duduk ditepi sungai dan

mengawasi air yang mengalir dengan termangu.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya keheningan itu

dipecahkan oleh berkumandangnya suara pekikan keras

dikejauhan sana.

Dengan perasaan terkejut Suma Thian yu berpaling, dari

kejauhan sana ia saksikan dua sosok bayangan manusia

sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.

Tak usah diamati lebih jauh pun ia dapat mengenalinya

sebagai dua orang manusia kejam yang pernah dijumpainya

tadi.

Begitu sampai disitu, kedua orang manusia buas itu

melangkah kedepan menghampiri Suma Thian yu, mereka

baru berhenti setibanya satu kaki di depan pemuda tersebut,

sementara keempat biji matanya mengawasi terus pedang

dipunggung pemuda itu tanpa berkedip.

Jilid 4

TIBA-TIBA lelaki setengah umur itu membentak keras:

“Hei, bocah cilik! Apa hubunganmu dengan she Wan

tersebut?”

Suma thian yu mambalikan badannya dan melirik sekejap

kearah orang itu dengan pandangan dingin, lalu sahutnya:

“Tak usah kau urus!”

Jawaban ini bukan menggusarkan lelaki setengah umur itu,

dia malah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, sambil

menuding kearah Suma thian yu katanya kepada tosu tua itu:

“Coba kau lihat! Bocah keparat ini benar-benar tak tahu

tingginya langit dan tebalnya bumi, ternyata dia berani

bersikap kurang ajar kepada kaum tua, heehh… heehh,..

heehh…”

Suma thian yu merasa gusar sekali menyaksikan sikap hina

lawannya, dengan cepat ia melompat bangun kemudian

bentaknya:

“Hei, apa yang kau tertawakan? jangan cengar-cengir

dihadapanku.

Lelaki setengah umur itu segera menarik kembali

senyumannya dan berhenti tertawa.

“Hmm, bocah cilik, apa Hubunganmu dengan orang she

Wan? Cepat katakan..hardiknya kembali.

“Sauya justru tak mau menjawab, mau apa kau?” dengan

nada yang lebih ketus Suma thian yu menyahut.

Ucapan tersebut segera menggusarkan lelaki setengah

umur itu, sorot matanya memancarkan kebuasan, hawa napsu

membunuhpun menyelimuti seluruh wajahnya, dengan

menyeramkan dia membentak:

“Hei bocah, orang she Wan itu pun tak berani bersikap

kurang ajar dihadapanku, kau sibocah kunyuk yang masih

berbau air tetek berani kurang ajar kepadaku? Hmm, benarbenartak

tahu diri”

Bukannya takut, Suma Thian yu malah selangkah demi

selangkah maju kedepan menghampiri kedua orang itu.

Kagum sekali sitosu tua itu menyaksikan keberanian orang,

segera katanya pula:

“Hei bocah muda, lohu tak tega membunuhmu, asal

pedang yang kau gembol diserahkan kepadaku, kau segera

akau kulepaskan.”

Mendengar itu, Suma Thian yu mendongakkan kepalanya

dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaahh….. rupanya pedang inilah yang kau

incar, apa susahnya?”

Sembari berkata dia lantas meloloskan pedang Kit hong

kiam peninggalan paman Wan nya dan disodorkan kedepan,

katanya lagi sam bil tertawa dingin:

“Pedang ini sudah berada ditangan sauya sekarang, nih

ambillah sendiri……..”

Tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring.

“Bocah muda lihat serangan.”

Tosu tua itu mengayunkan pedangnya dari bawah keatas

dengan jurus Sit gou huang gwat (badak sakti menengok

rembulan) dan menu suk tenggorokan Suma Thian yu.

Si anak nuda itu berilmu tinggi dan bernyali besar, ketika

menyaksikan pedang lawan menusuk ke arah dadanya, dia

miringkan kepalanya sambil membuang bahunya kesamping,

lalu tertawa nyaring.

Denean cepat gerakan tubuhnya dirubah, pedang Kit hong

kiam kek menusuk balik ketenggorokan tosu tua tersebut

dengan jurus Ciong liong ji hay (naga sakti masuk samudera).

“Kalau diberi tanpa membalas, tidak sopan namanya!” dia

berseru.

Tindakannya yang tenang dalam menghadapi bahaya dan

serangannya yang cepat daLam perubahan, mau tak mau

membuat lelaki setengah umur yang menyaksikan jalannya

pertarungan itu diam-diam bersorak memuji.

He. tarungan segera berlangsung d* nya. roareka berdua

saling m?n*

Pertarungan segera berlangsung dengan serunya, mereka

berdua saling menyerang dan saling mendesak, semua

ancaman dilakukan dengan

cepat lawan cepat, dengan cepat menaklukkan cepat.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat,

ternyata kekuatan mereka berdua seimbang.

Bagi Suma Thian yu, meski pertarungan kali ini adalah

penarungannya yang pertama, tapi oleh karena latihannya

teratur dan tekun, maka sewaktu di praktekkan ia sama sekali

tidak gugup atau tegang, malahan semua ancaman di lakukan

secara tepat dan sempurna.

Tosu tua itu makin bertarung semakin kaget pikirnya

kemudian:

“Sewaktu orang she Wan itu masih hidup, namun

kemampuannya sudah mencapai taraf yang begitu hebat,

kalau dibiarkan hidup niscaya dia akan merupakan ancaman

besar dikemudian hari, aku tak boleh membiarkan ia hidup

terus!”

Berpikir begitu, gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah,

serangan yang dilancarkanpun makin lama semakin dahsyat.

Lambat laun Suma Thian yu kena dikurung kembali oleh

gerakan ilmu pedang lawan yang amat dahsyat itu.

Mendadak Suma Thian yu berpekik, pedang Kit hong

kiamnya di rubah menjadi gerakan Kian hou in liang (harimau

muncul naga ber- sembunyi), telapak tangan kirinya di

ayunkan kemuka cepat, pedangnya di iringi kilauan cahaya

tajam langsung meluncur ke tubuh tosu tua itu.

Di tengah jeritan mana, tampak bayangan orang saling

memisah dan mundur kebelakang.

Suma Thim yu telah bendiri kembali ditempatnya semula

dengan wajah tidak berubah, sikapnya sangat tenang seakanakan

tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Sebaliknya keadaan dari tosu tua itu mengerikan, jubah

sebelah kirinya telah robek sebagian oleh sambaran pedang

Kit hong kiam, dibawah ketiak kirinya telah bertambah dengan

sebuah jalur luka yang memanjang, darah segar bercucuran

amat deras.

Waktu itu dia sedang mundur dengan sempoyongan.

Walaupun berhasil dengan serangannya, Suma thian yu tidak

melakukan pengejaran lebih jauh, dari sini dapat diketahui

betapa mulia dan bajiknya pemuda ini, dia tidak ingin mencari

keuntungan disaat orang sedang tak siap atau berada diposisi

lemah.

Lelaki setengah umur yang menonton jalannya pertarungan

itu dari samping arena maju memayang tosu tua itu buru-buru

tegurnya:

“Tidak pernah menduga bukan It tim totiang?”

“Tidak mengapa, tak kusangka bocah keparat itu sangat

lihay, Sim kong! Bereskan dia, jangan biarkan dia hidup”

Ternyata lelaki setengah umur itu bersama Hek hong hou

(harimau angin hitam) It im kong sedangkan tosu tua itu

adalah It tim tootiang dari partai Hoa san.

Perlu diketahui, suhu dan si Harimau angin malam Sim

Kong adalah seorang gembong iblis kelas satu dari golongan

Liok- lim dewasa ini, dia merupakan seorang manusia yang

paling disegani baik oleh golongan putih maupun golongan

hitam.

Asal orang mendengar nama Hoat Kang-si (si mayat hidup)

Ciu Jit hwe, bulu kuduknya pasti pada bangun berdiri Karena

ngeri

Si Mayat hidup Ciu Jit hwe mempunyai tiga orang murid,

murid yang pertama adalah Hek hong hou (Harimau angin

hitam) Sim kong murid kedua bernama Cing bin kui (setan

muka hijau) kang Tham, sedang murid yang ketiga adalah

seorang perempuan, mereka menyebutnya Yan tho hoo

(Gadis cantik bunga tho) Hoo hong, selain b banyak sudah

kejahatan yang telan dilakukan, merekapun memiliki segenap

kepandaian silat dari Si Mayat hidup Ciu Jit hwe.

000O000

IT TIM TOJIN termasuk jago pedang nomor satu pula

didalam partai Hoa san pay, ia sudah mempunyai pengalaman

selama puluhan tahun dalam permainan ilmu pedang, orang

ini pun merupakan seorang tosu Siluman yang sukar dihadapi.

Tak heran kalau Suma Thian yu menjadi tertegun sesudah

mendengar pembicaraan mereka, mimpipun dia tak

menyangka kalau lelaki se tengah umur itu tak lain adalah Hek

hong hou yang termasyur itu.

Setiap kali paman Wan membicarakan soal dunia persilatan

dengannya, dia selalu menyinggung pula tentang kebuaasan

serta keganasan Sim Kong, bahkan selalu berpesan kepadanya

agar berhati hati bila bila suatu hari bertemu dengannya.

Seperminuman teh kemudian, Hek hong hou Sim kong

telah selesai membalut luka yang diderita It tim tojin, dengan

sorot mata yang memancarkan sinar kebuasan, selangkah

demi selangkah dia maju mendekati Suma thian yu dan

berhenti satu kaki dihadapannya.

Tiba-tiba dia tertawa seram, katanya:

“Bocah keparat, toaya akan menggunakan tangan telanjang

untuk mencoba kelihayan Kit hong kiam hoat yang tersohor

itu, nah lancarkan seranganmu!”

Suma thian yu tidak sungkan-sungkan lagi, dengan alis

berkernyit, dia tusuk jalan darah Kiu wi hiat diatas dada Hek

hong hou Sim kong dengan jurus Im liong tham jiu (naga

mega merentangkan cakar).

“Serangan yang bagus!” seru Hek hong hou Sim kong

sambil tertawa dingin.

Sepasang tangannya segera direntangkan dengan juris

Hiong ciau kian sui (ular ganas mengunting air), ia tangkis

datannya serangan pedang itu dengan tangan telanjang.

Suma thian yu tak menyangka kalau musuhnya bakal

menghadapi serangan tersebut dengan tangan kosong belaka,

ia jadi terperanjat.

“Taak!” ketika pedang dan lengan saling beradu ternyata

lengan si harimau angin hitan Sim Kong sama sekali tidak

menderita cedera apa-apa, sebaliknya lengan kanan Suma

Tihan yu yang menggenggam pedang tergetar keras sampai

kesemutan, telapak tangan menjadi panas, hampir saja

pedangnya terlepas dari genggaman.

Kejadian ini semakin mengejutkan hati Suma Thian yu,

cepat-cepat dia menarik kembali pedangnya sambil melompat

mundur.

Ketika matanya dialihkan kewajah lawan, di lihatnya si

harimau angin hitam Sim Kong sedang memandangnya sambil

tertawa dingin, wa jahnya diliputi oleh sikap sinis dan

menghina.

Suma Thian yu menjadi sedih sekali, hatinya terasa sakit

bagaikan diiris-iris dengan pisau, sedihnya bukan kepalang ia

tak menyangka sudah sepuluh tahun belajar ilmu dan akhirnya

nyaris terluka ditangan orang pada gebrakan yang pertama,

rasa malu dan menyesal bercampur aduk menjadi satu.

Si Harimau angin hitam Sim kong segera tertawa seram,

ejeknya:

“Bocah keparat, hari ini toaya akan menyuruh kau

menyerah dengan hasil takluk, ayolah!”

Bagi seorang laki-laki, kepala boleh dipenggal namun harga

diri tak boleh digadaikan, dengan menggertak gigi, Suma thian

yu segera membentak keras:

“Bajingan busuk, aku akan beradu jiwa denganmu,

serahkan nyawa anjingmu!”

“Sreet! sreet! sreet! Secara beruntun ia lepaskan tiga buah

serangan berantai yang amat dahsyat.

Namun si harimau angin hitam sim kong masih tetap

berlagak pilon, seakan-akan serangan ini dianggap enteng

saja, tampak tubuhnya berkelit kekiri menggegos kekanan,

dengan amat mudah sekali dia telah meloloskan diri dari

serangan itu.

“Bocah keparat” ejeknya dengan tertawa dingin, “lebih baik

berlatihlah sepuluh tahun lagi, saat itu boleh datang lagi untuk

bertarung melawanku. Nah, hati-hati, toaya akan menyuruh

kau minum air”

Mendadak bayangan tubuh Hek hong hou lenyap tak

berbekas, sementara Suma thian yu masih tertegun, tiba-tiba

dadanya terasa menjadi kencang, ketika ia merasakan ada

suatu ancaman bahaya, sayang keadaan sudah terlambat,

segulung angin pukulan yang dahsyat telah mendorong

tubuhnya hingga terjengkal kebelakang.

Baru saja ia menjejakkan kakinya untuk melompat

kedepan, tahu-tahu kakiknya terasa dingin dan….”Byuuur”

seluruh badannya tercebut ke danau.

Padahal ilmu silat yang dimiliki Suma thian yu terhitung

tangguh, cuma sayang pengalamannya masih cetek, sedang

Hek hong hou Sim kong adalah seorang jago yang tangguh,

sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak pertarungan

sengit dialaminya, karena itu baik dibidang pengalaman

maupun taktik, ia sepuluh kali lipat lebih hebat dari Suma

thian yu.

Tak heran kalau begitu pertarungan berlangsung, dia lantas

memilih posisi yang lebih menguntungkan dengan memaksa

Suma thian yu membelakangi sungai, dengan tanah dekat

sungai yang gembur tanpa disadari keadaan tersebut

melemahkan posisi kekuatan yang dimiliki pemuda itu sebesar

tiga bagian lebih.

Kasihan Suma Thian yu yang tak tahu keadaan yang

sebenarnya, dia mengira ilmu silat sendiri yang tak becus.

Begitu tercebur ke dalam air, Suma Thian yu segera

menjejakkan kakinya dan muncul kembali dipermukaan air, ia

saksikan Hek hong hou Kim Kong sedang tertawa terpingkalpingkal.

Ia memandang searahnya dengan wajah mengejek,

sedangkan It tim tojin yang terlukapun sekarang ikut tertawa

tergelak.

Suma Thian yu merasa sedih sekali tanna terasa air

matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, sambil

menggigit bibir dia bersiap sedia naik kembah ke daratan

untuk beradu jiwa dengan lawan.

Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, dia

merasa kemampuannya masih selisih jauh bila dibandingkan

dengan musuhnya, naik ke atas daratan untuk melanjutkan

pertarungan berarti hanya mencari penyakit buat diri sendiri,

tapi kalau tidak naik ke daratan, dia merasa sukar untuk

menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja….

Pelbagai ingatan sagera berkecamuk didalam benaknya,

sekarang dia tidak sangsi lagi, dia harus pergi meninggalkan

tempat itu, sekalipun dianggap sebagai pengecut dia juga

harus pergi, karena dia tak ingin mampus dengan begitu saja.

Seorang lelaki yang ingin membalas dendam tiga tahun pun

belum terlambat, asal bukit nan hijau,kenapa dia kuatir

kekurangan kayu bakar,? Maka sekali lagi ia menyelam

kedalam air dan tak muncul kembali.

Dengan amat tenang kedua orang manusia bengis itu

menunggu ditepi sungai, tapi setelah tunggu punya tunggu

Suma Thian yu belum juga menampakkan diri, mereka segera

berseru tertahan:

“Kita tertipu!”

Hek hong-hou Sim Kong yang melongok ke air lebih dulu,

ketika bayangan tubuh dari Suma Thian yu tidak ditemukan,

dia segera men- depak-depakkan kakinya sambil menyumpah:

“Bocah keparat, sialan kau! Hmm, sekalipun kau kabur

keujung langit, suatu ketika kau pasti akan terjatuh kembali ke

tangan toaya!”

It tim tojin yang terluka ikut memburu ke tepi sungai

memandang air sungai yang tenang, ia berkata:

“Tampaknya bocah keparat itu pandai ilmu berenang,

tampaknya hari ini kedatangan kita sia-sia belaka, sialnya

pedang mustika itupun di bawa kabur keparat tersebut, waah,

bagaimana pertanggung jawabku nanti kepada guruku?”

“Hmm, keenakan buat keparat itu, baiklah, untuk

sementara waktu pedang Kit hong kiam itu biar disimpan

olehnya, tapi cepat atau lam bat pedang itu pasti terjatuh

kembali ketangan kami. Mari berangkat, kita menuju kehilir,

mungkin keparat itu sudah berenang menuju kearah sana.

Sambil membimbing It tim tojin, dia segera melakukan

pengejaran menuju kearah hilir.

Benarkah Suma Thian yu menuju kehilir? Ternyata pemuda

itu belum pergi jauh, dia masih berada dalam air didekat

tempat kejadian, hanya saja membunyikan diri dibalik

tumbuhan gelaga yang amat lebat, dengan menahan napas

dia bersembunyi terus disana sampai kedua orang itu pergi

meninggalkan tempat itu.

Ketika kedua orang manusia bengis itu pergi, dia baru

menampakkan diri dari tempat persembunyiannya dan naik

keatas daratan, kemudian dengan mengerahkan ilmu

meringankan tubuhnya dia kabur meninggalkan tempat itu.

Sekarang dia sudah basah kuyup, terhembus angin gunung

yang dingin, tubuhnya segera mengigil karena kedinginan,

dengan sedih tubuhnya berbaring diatas tanah

membayangkan kembali pendidikan paman Wan nya selama

sepuluh tahun, didikan gurunya selama delapan tahun,

ternyata semua yang diharapkan gagal total, baru tejun

kearena untuk pertama kalinya, dia harus menderita

kekalahan secara mengenaskan….

Makin dipikir hatinya makin sedih, wajahnya menjadi amat

murung dan kesal.

Mendadak ia teringat kembali pada kertas tanpa kata yang

masih berada dalam sakunya.

“aahh… habis sudah, habis sudah, sudah pasti kertas kulit

itu sudah basah kuyup…”

Sambil berkata dia memandang gulungan kertas yang

berada dalam genggamannya, karena binggung dia sampai

tak mempunyai keberanian untuk membuka kertas itu dan

diperiksa isinya.

Saking gelisahnya dia menangis tersedu-sedu, kini batas

waktu yang ditentukan tiga hari tinggal dua hari, tapi bukan

saja ia tak dapat membongkar rahasia dibalik kertas tanpa

kata itu, bahkan kertasnya menjadi kumal, bagaimana

mungkin dia dapat memberikan pertanggungan jawabnya

kepadi Wu san Siang gi nanti?

“Thian yu wahai Thian yu, kenapa nasibmu seburuk itu?

Aaai…. sudahlah, biar aku menerima semua penderitaan

tersebut”

Sambil berkata dia lantas membuka genggaman tangannya

dengan sangat berhati hati, ternyata kertas itu sudah melekat

menjadi satu karena terendam dalam air.

Dengan sangat berhati-hati Sama Thian yu segera

memisahkan kertas yang melekat itu satu persatu, mendadak

ia menjerit kaget.

“Aaaaah…!”

Sepasang matanya segera memancarkan cahaya tajam,

sementara kemurungan yang mencekam pikirannya tadi

seketika lenyap tak berbekas. Rupanya diantara kertas yang

kosong tadi, kini sudahmuncul beberapa buah garis hitam.

Penemuan ini segera menggirangkan hati Suma thian yu,

bagaikan menemukan harta pusaka saja, dia bersorak sorai

kegirangan.

Buru-buru dia menggunakan kukunya untuk mengorek

lapisan lilin yang melekat diatas kertas tersebut.

Lambat laun garis garis hitam tadi kini telah berubah

menjadi sebaris tulisan.

Jantung Suma thian yu pun ikut berdebar keras mengikuti

munculnya sebarisan tulisan itu.

Akhirnya dia melompat bangun dan berjingkak-jingkrak

seperti orang gila, semua kemurungan yang semula

mencekam perasaannya, kini sudah lenyap tak berbekas, dia

berterima kasih kepada Hek hong hou sekarang, betapa tidak?

seandainya ia tidak mendorongnya sehingga tercebur kedalam

air, bagaimana mungkin rahasia dari kertas tanpa kata itu

dapat diketahui olehnya?

“Aku telah menemukannya, aku telah menemukannya…”

seperti orang gila Suma Thian yu berteriak-teriak keras.

“Hei bocah, apa yang telah kau temukan?” suara seorang

kakek menegur secara tiba-tiba.

Mendengar teguran tersebut, dengan terperanjat Suma

Thian yu segera berpaling, tapi dengan copat dia berdiri

tertegun.

Entah sedari kapan, dibelakang tubuhnya berdiri seorang

pengemis tua yang berambut kusut dan pakaian compangcamping

tak karuan…

Cepat-cepat Suma thian yu masukan kertas itu ke dalam

sakunya, kemudian menyahut:

“Aaah, aku cuma main-main, tidak ada apa-apa”

Pengemis tua itu segera memejamkan matanya, lalu

tertawa tarbahak-bahak.

“Ha ha ha ha…..bocah, kau tak usah membohongi aku,

kertas apa yang berada dalam genggamanmu itu ?”

“Oooh, tadi rfcu telah kehilangan sebuah surat, tapi

sekarang telah kutemukan kembali”

Oooh kau adalah anaknya Wan Liang? kembali pengemis

tua itu bertanya.

Suma Thian yu merasa keheranan, selama beberapa hari

belakangan ini, setiap orang yang dijumpainya selalu

menanyakan soal paman Wan padanya, mungkinkah paman

Wan telah menyalahi begitu banyak orang? Kalau tidak,

mengapa begitu banyak orang yang datang menanyakan

dirinya dan mencari jejaknya?

“Ada urusan apa kau bertanya tentang dirinya? Dia orang

tua sudah tiada, dia adalah pamanku”

“Ooh, tidak apa-apa, oleh karena aku sipengemis tua

menyaksikan pedang yang kau bawa itu adalah miliknya maka

aku menjadi teringat akan dirinya dan bertanya kepadamu”

Setelah berhenti sebentar, dia bertanya lagi.

“Hei bocah, siapakah namaamu?”

Suma Thian yu menyaksikan pengemis tua itu berwajah

gagah dan berwibawa, meski memakai pakaian yang kotor

dan penuh tambalan, namun tidak menutupi kegagahannya,

dengan cepat dia menduga kalau pengemis tua inipun seorang

pendekar lihay.

Maka dengan suara yang tulus dan hormat, sahutnya:

“Boanpwe she Suma bernama Thian yu

“Oooh……. dimanakah rumahmu?”

“Aku tak punya rumah!”

Teringat rumah, tanpa terasa Suma Thian yu menjadi amat

sedih sekali hampir saja air matanya jatuh bercucuran.

“Apa hubunganmu dengan Suma Tiong ko?”

“Dia adalah mendiang ayahku, mengapa lo cianpwee

menanyakan soal ini?”

Pengemis tua itu tidak menjawab, dia hanya mengawasi

Suma Thian yu dari atas kepala sampai kakinya dengan

seksama, sekulum senyuman segera tersungging diujung

bibirnya.

Sementara itu Suma thian yu berusa untuk mengingat-ingat

siapakah gerangan pengemis tua itu, maka diingatnya kembali

wajah serta ciri khasnya setiap jago persilatan yang pernah

didengar dari paman Wan nya itu, akhirnya dia teringat

dengan seseorang, dengan sikap lebih menghormat, pemuda

itupun bertanya:

“Locianpwe, apakah kau she wi….?”

“Aahh sudah lupa, aku si pengemis tua sudah melupakan

nama serta julukan kusendiri”

Dari sini bisa diketahui kalau pengemis ini tak lain adalah

she “wi” yang dimaksudkan Suma thian yu tadi.

Sebahgai seorang yang cerdas, tentu saja Suma thian yu

mengetahui akan hal itu, buru-buru dia membungkukkan

badanya untuk memberi hormat, lalu ujarnya;

“Maafkan kalau boanpwe punya mata tapi tidak berbiji, dari

mulut suhiku boanpwe tahu kalau locianpwe adalah seorang

pendekar gagah dan besar, sungguh beruntung hari ini

boanpwe bisa bertemu muka, kejadian seperti ini merupakan

suatu kemujuran bagiku”

“Ciiss, kaupun suka akan segala macam adat istiadat, apa

itu locianpwe …locianpwe, huuh, sungguh aku si pengemis tua

jadi jemu, kalau kau tak segera meluruskan punggungmu,

jangan salahkan kalau aku si pengemis tua akan menggebuk

orang…”

Rupanya ternyata pengemis tua ini adalah Siau yau kuy

atau penge mis yang hidup senang Wi Kian, umurnya sudah

tua tapi masih suka berkelana kesana kemari tanpa aturan, ia

merupakan seorang lawan paling tangguh dari kawanan iblis

dari golongan hitam.

Siau yau kuy Wi Kian amat membenci segala macam

kejahatan, setiap penjahat yanp terjatuh ketangannya, jarang

sekali ada yang bisa lolos dalam keadaan hidup.

Kepandaian yang paling diandalkan adalah, Tan ci kang dan

Kui goan khi kang, dihari-nari biasanyadiapun menciptakan

Siau yau pang hong yand dikombinasikan dengan ilmu toya

penggebuk anjingnya, kepandaian tersebut amat lihay dan

disegani banyak orang.

Semenjak Sian yau kay menampakkan diri, Suma Thian yu

lantas mengingat-ingat siapa gerangan tokoh persilatan ini,

akhirnya dia dapat menginggat juga akan diri Siau yau kay ini.

Sementara itu, Siau yau kay sedang mengangkat tongkat

Ta kau pangnya sambil berlagak mau memukul, sedang

dimulut dia bertanya:

“Bocah, barang apa yang berada dalam saku mu? Basanya

bukan hanya sepucuk surat biasa, bukan? Hayo cepat jawab,

kalau tidak aku si pengemis segera akan membereskan

dirimu!”

Suma Thian yu menjadi tertegun setelah mendengar

perkataan itu, dia tahu kalau hal ini tak bisa dirahasiakan lagi,

maka diambilnya kertas tanpa kata itu dan disodorkan

kehadapan Sian yau kay seraya berkata:

“Yaa, kertas ini memang bukan sepucuk surat melainkan

selembar kitap pusaka yang berisikan ilmu silat maha sakti,

silahkan locian pwe periksa.”

Seraya berkata dia lantas menceritakan secara ringkas

bagaimana berhasil menjumpai Wu san siang gi siu, bagaima

tercebur keair dan lantaran bencana jadi untung dengan

ditemukannya rahasia kitab tanpa kata itu.

Setelah mendengar penuturan tersebut, Siau yau kay Wi

Kian segara tertawa, ujarnya:

“Nak, simpan baik-baik benda itu, aku sipengemis bukan

bermaksud untuk mendapatkan nya, melainkan hanya ingin

tahu saja. Sebab benda mustika semacam ini biasanya

hanyaakan diperoleh oleh mereka yang berjodoh, sekarang

kau berhasil mendapatkannya, ini berarti kau punya jodoh,

dikemudian hari hasil yang kau peroleh tentu hebat, simpanlah

baik-baik dan jangan diperlihatkan kepada orang lain.”

“Locianpwe, mengapa ilmu silat si lelaki she Sim itu begitu

lihaynya?”

“Hek hong hou atau harimau angin hitam Sim kiong atau

setan muka hijau Sam Tham serta Yan too hoa atau

perempuan cantik bunga too ho Hong adalah jago-jago lihay

dari golongan Liok lim yang sangat iihay, kecuali kalah dengan

berapa orang gembong iblis, ilmu silat mereka boleh dibilang

sudah terhitung tangguh”

Berbicara sampai disini, Siau yau kay berhenti sebentar

untuk menelan air liur kemudian sesudah berhenti sejenak,

lanjutnya lebih jauh.

Terutama si Mayat hidup, gembong iblis ini cukup

pusingnya banyak orang, jangankan aku sipengemis tidak

mampu mengalahkan dia, biar empek bodohmu berdua juga

hanya mampu bertarung seimbang, aai…dalam dunia

persilatan dewasa ini timbul suasana yang memedihkan yang

tragis, hawa sesat dan dan hawa iblis sudah merajai dunia

persilatan, sementara kawanan pendekar yang mengaku

dirinya orang putihpun sudah berbondong-bondong

menyeberang ke golongen sesat, coba bayangkan sendiri

suasana begini pantas untuk disedihkan atau tidak?”

Suma Thian yu segera merasa hatinya terdengar keras

sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat serunya.

“Locianpwee, setelah mendengar perkataan itu, aku

menjadi keheranan, apakah dalam dunia persilatan sudah

tidak terdapat lagi seorang lelaki sejati yang mau menjunjung

tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan serta

melenyapkan kaum durjana serta kaum iblis dari muka bumi?”

“Siapa? Siapa yang bersedia memikul tanggung jawab

yang amat berat ini? Sekalipun ada, mereka juga tak tahu

bagaimana mesti turun tangan.

Misalnya saja seserti paman Wan mu itu, dia terasing

dalam dunia persilatan karena menjunjung kebenaran dan

keadilan, tapi tiada orang yang mau memahami citacitanyaitu,

setelah ada contoh yang nyata, aai…siapakah yang

sudi mengorbankan diri lagi meneruskan cita-cita luhurnya

itu?”

“Aku Suma Thian yu pasti akun berusaha keras untuk

melanjurkan cita-cita luhur paman Wan yang belum

terselesaikan itu, sekalipun harus terjun ke lautan api atau

menyerempet bahaya, aku tak akan menolak, aku pasti akan

lenyapkan kaum durjana dari muka bumi dan menegakkan

kembali keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan!”

Siau yau kay memuji tiada hentinya sehabis mendengar

perkataan itu, tanpa terasa ia memperhatikan pemuda itu

beberapa kejap lagi, kemudian katanya:

“Nak, kegagahanmu sungguh mengangumkan, tapi…aaii,

bukanya aku si pengemis tua ini hendak menghinamu, dengan

kepandaian silat yang kau miliki sekarang, meski kau terhitung

juga seorang jago pilihan dari golongan muda tapi kalau ingin

di bandingkan dengan angkatan yang lebih tua, kepandaian

silatmu masih ketinggalan jauh sekali.”

Setelah berhenti sesaat, dia berkata lebih jauh. “Dengan

usia kamu yang begitu muda sudah sepantasnya bila kau

mencari guru yang pandai lari serta belajar ilmu silat yang

lebih hebat, sehingga begitu munculkan diri, kepandaianmu

akau mengejutkan setiap orang.”

Suma Thian yu merasa sangat tidak puas setelah

mendengar perkataan itu, ia merasa sudah tak dapat

berdiam lebih lama lagi disitu, betul melatih diri di gunung

yang sepi dapat mendidik disiplin yang tinggi baginya, tapi dia

harus segera melaksanakan cita-citanya serta tugas yang di

bebankan kepadanya.

Ia memang tidak sangsi terhadap perkataan dari Siau yau

kay, sebab apa yang dialami barusan dimana tubuhnya simpai

tercebur dalam air sudah merupakan suatu bukti yang nyata,

Siau yau kay yang berpengalaman luas, sekali pandang ia

dapat menebak isi hatinya, maka sambil tertawa katanya.

“Nak, sewaktu muda dulu, aku si pengemis juga

mempunyai watak seperti kau, itulah seperti kau, itulah

sebabnya penderitaan yang baru kualami amat banyak, bila

kau bersikeras ingin turun gunung, tentu saja aku si

pengemis tua tak akan menghalangi mu, tapi kau harus

mampu menyentuh ujung bajuku didalam sepuluh gebrakan”

Ucapan tersebut segera dirasakan oleh Suma Thian yu

sebagai suatu penghinaan terhadap kemampuannya, dia

merasa dengan mengandal kan ilmu Kit hong kiam hoat seria

Lay cing to liong pat si yang telah dipelajarinya selama

belasan tahun, mustahil dia tak mampu menyentuh ujung baju

lawan.

Maka dengan cepat dia memutar otaknya mencari jalan,

sementara diluarnya dia berkata dengan wajah tak berubah.

“Boanpwee tak berani”

“Kau tak berani? Hmm, Aku si pengemis tua tak akan

membiarkan kau menganggur dengan seenaknya”

Selesai berkata tampak bayangan manusia berkelebat

lewat, “plaak.!” bahu kanan Suma Thian yu sudah terhajar

telak.

“Hayo balas!” teriak Siau yau kay dengan lantang, “hei

bocah apakah kau hanya akan berdiri melulu disitu untuk

menantikan kema-tianmu…?”

Karena tanpa sebab dirinya dihajar orang, tentu saja Suma

Thian yu mandah menyerah, buru buru dia mengembangkan

permainan jurus silat Tay cing To liong pat si untuk

menghadapi serangan lawan.

Siau yau kay segera tersenyum begitu dilihatnya Suma

Thian yu melancarkan serangan balasan, mendadak dia

memutar badannya kencang sambil berkelit kesamping,

setelah itu diapun mengambangkan ilmu meringgankan

tubuhnya yang sempurna menerobos kesana kemari bagaikan

kupu kupu yang terbang diantara aneka bunga, sebentar

kekekiri sebentar ke kanan, tiada hentinya ia berPUtar

mengelilingi tubuh Suma Thian yu.

Semakin bertarung, Suma Thian yu merasa semakin

bersemangat, serangan demi serangan yg dilancarkan dengan

ilmu Tay cing to liong pai si dikembangkan semakin gencar

dan kuat, bahkan diepaskan secara beruntun tanpa henti.

Namun anehnya, setiap kali serangannya sudah hampir

menyentuh tubuh lawan, tiba-tiba saja bayangan tubuh lawan

hilang tak berbe kas, bahkan sebagai balasannya dia seringkali

merasa dijawil orang dari belakang punggungnya atau ditiup

tengkuknya, akan tetapi bila dia membalikkan badan untuk

menyerang, tahu-tahu bayangan tubuh lawan hiiang lagi.

Pertarungan semacam ini pada hakekatnya tidak mirip lagi

sebagai suatu pertarungan, melainkan mirip joged kera saja,

bagaimanapun Suma thian yu mengerahkan segenap tenaga

dan kemampuannya untuk melancarkan serangan, dia selalu

tak mampu mengapa-ngapakan lawannya.

Dalam waktu singkat, sepuluh jurus sudah lewat, dengan

wajah sedih Suma Thian yu segera menghela napas, dia

mengendorkan kembali tangannya dan menundukkan kepala

dengan air mata bercucuran.

Menyaksikan kejadian itu, Siau ya kau segera tertawa

terbahak bahak, “Haaa..haaa.. haaa..” tak usah bersedih hati

bocah muda, de ngan usiamu yang begitu muda ternyata

sudah memiliki kemapuansetaraf ini, hal mana sudah

merupakan sesuatu yang luar biasa, aku si pengamis tua ingin

bertanya kepadamu, siapa gerangan yang telah mewariskan

ilmu pukulan Tay cing to liong ciang tersebut kepadamu.”

“Ilmu itu diajarkan oleh guru boanpwee, Put Gu cu!”

“Aaah, dia masih hidup?” seru Siau yau kay tercengang,

kemudian gumamnya lagi, “tak heran kalau kau lebih tangguh

dari Wan liong, rupanya orang itulah yang telah mewariskan

kepandaian silatnya kepadamu”

“Locianpwee, Thian yu tidak ingin turun gunung lagi,

mohon kau orang tua sudilah kiranya mewariskan sedikit

kepandaian kepadaku agar memperbaiki kemampuan

boanpwee yang amat minim ini.” pinta Suma Thian yu

kemudian dengan wajah murung.

“Haaah …haaah .. .haaah. .. aku si pengemis memang

berwatak malas, selamanya tak pernah mengajar orang lain,

ditambah pula aku orangnya suka lari kesana kesini, kalau

menyuruh aku tinggal disisni untuk mengajar murid, jangan

toh setahun, seharipun aku bisa mampus kekeringan.”

“Tapi

“Aku tahu, kau merasa putus asa bukan? Padahal dengan

kepandaian silat yang kamu miliki sekarang, semestinya tak

bakal kalah ditangan si harimau angin hitam Sim kong, aku

curiga dengan peristiwa terceburnya engkau kedalam air…

sebab menurut penilaianku, ketidakbecusan dirimu,

semestinya kalian bisa bertarung seimbang!”

“Tidak !” Aku tak mampu mengalahkan dia, bahkan

bayangan tubuhnya pun tak sempat ku lihat, tahu-tahu aku

sudah tercebur ke dalam air, jangankan mengalahkan,

berbicara seimbang saja tak mungkin”

“Kau keliru anak muda” ucap Siau yau kay cepat “dilihat

dari sinnar matamu, seharusnya kau sudah memiliki tenaga

dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, sepantasnya

tak mungkin bisa kalah di tangan Sim Kong, apalagi ilmu

pedang Kithong kiam hoat dan Tay cing lo liong pat si

merupakan ilmu sakti didalam dunia persilatan, salah saja

diantara kepandaian tersebut sudah cukup untuk menjagoi

dunia peralatan, aku lihat…. mungkin hal ini disebabkan

kurang tahu dalam menghadapi lawan, seandainya aku

sipengemis tua tahu kalau kau sudah menguasahi ilmu Tay

cing lo liong pat si, aku benar benar tak berani sesumbar

dengan mengatakan akan melayanimu sebanyak sepuluh

jurus.!”

Setelah mendengar penjelasan dari Siau yau kay, dan

melihat pengemis itu tidak bermaksud mencemooh dirinya,

tanpa terasa rasa percaya pada diri sendiri muncul kembali

dalam benak Suma Thian yu, buru-buru dia menceritakan

kembali apa yang dialaminya.

Mendengarkan penuturan itu, Siau yau kay mengelus

jenggotnya sambil tersenyum, setelah itu katanya:

“Nah itulah dia, tak heran kalau dikalahkan. Baiklah, aku

sipengemis tua akan berbuat baik kepadamu untuk

mengajarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh tersebut

untukmu, anggap saja tanda mata atas penemuan kita ini”

Sembari bcrkata, dia lantas merentangkan sepasang

lengannya dan mundur sejauh satu kaki.

Tiba tiba nampaklah Siau yau kay Wi Kian menggerakkan

tubuhnya dengan cepat, terasa bayangan manusia berkelebat

lewat, tahu-tahu dia sudah berkelebat kian kemari dengan

kecepatan bagai sambaran petir, namun gerakkan tersebut

tak pernah lebih dari wilayah seluas lima langkah.

Suma Thian yu segera memusatkan segenap pikiran dan

perhatiannya untuk mengikuti gerakan tadi, namun dia

menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela

napas, sebab ia sama sekali tidak berhasil menyaksikan

rahasia dari ilmu langkah tersebut.

Hal ini membuat pemuda itu diam-diam menyumpahi

kebodohan dirinya.

Dalam waktu singkat Siau yau kay itu telah selesai

melakukan ilmu langkah Ciok tiong luan poh tersebut dan balik

kehadapan Suma Thian yu, tanyanya: “Bagaimana? Sudah kau

lihat jelas?”

Dengan perasaan menyesal Suma thian yu menggelengkan

kepalanya berulang kali, dengan wajah merah padam seperti

kepiting rebus, sahutnya tergagap.

“Boanpwe bodoh, tak berhasil kusaksikan rahasia dari ilmu

langkah tersebut”

“Anak bodoh, masa karena soal itu saja harus bersedih

hati? Bila sekilas pandangan saa kau sudah dapat menangkap

rahasia ilmu langkah tersebut, lantas apa artinya ilmu rahasia

tersebut? bagaimana perasaanmu ketika berhadapan dengan

aku si pengemis tua tadi?”

“Benar-benar sukar diraba gerakannya, tak dapat ditangkap

bayangannya, bagaikan sedang mengejar angin menangkap

bayangan saja” puji Suma Thian yu tanpa berpikir panjang

lagi.

“Padahal aku bisa berbuat demikian karena mengandalkan

ilmu langkah tersebut” kata Sian yau kay menerangkan, “nak,

kau harus baik-baik melatih diri, bila ada jodoh kita akan

bersua lagi dikemudian hari. Sekarang, aku si pengemis tua

hendak pergi mencari empek bodohmu itu”

Selesai berkata, tampak bayangan manusia berkelebat

lewat, tahu-tahu bayangan tubuh dari Siau yau kay sudah

lenyap tak berbekas.

Kejadian ini sekali lagi membuat sepasang mata anak muda

itu terbelalak lebar-lebar dengan mulut melongo.

Sampai lama kemudian, dia baru bergumam:

“Untuk memahami saja tak bisa, bagaimana mungkin bisa

dilatih? Sekalipun dewa juga tak mungkin bisa memahami ilmu

langkah semacam itu bila Cuma memandang dalam sekejap

mata saja!”

Berpikir demikian, pelan-pelan dia berjalan turun gunung,

tapi sewaktu melewati tempat dimana Siau yau kay

mendemonstrasikan ilmu serakan tubuhnya itu, mendadak…..

“Aaaah!” dia menjerit kaget.

Tampak diatas permukaan tanah telah muncul enam belas

buah bekas telapak kaki yang amat dalam, setiap telapak kaki

itu mendesak dalam tanah sedalam setengah depa, rumput

yang semula tumbuh diatas bekas telapak kaki itu, kini sudah

melayu dan dan mati membuat Suma Thian yumerasa terkejut

sekaligus keheranan.

Penemuan mana tentu saja membuat Suma thian yu

merasa amat berterima kasih, buru-buru dia berpaling kearah

mana Siau yu kay melenyapkan diri dan menjura dalam,

katanya:

“Terima kasih banyak locianpwc atas petunjukmu!”

Kemudian dengan perasaan gembira, penuh rasa percaya

pada diri sendiri, selangkah demi salangkah dia mulai melatih

diri dengan mengikuti bekas telapak kaki yang sudah ada.

Seringkali kejadian yang ada di dunia ini memang aneh

sekali, sesuatu pekerjaan yang mungkin sederhana

nampaknya, kadangkala justru semakin sukar untuk dipelajari.

Ketika Suma thian tu menyaksikan keenas belas bekas

telapak kaki yang tertera diiatas tanah itu, pada mulanya dia

mengira asal dilatih maka kepandaian itu mudah untuk

dikuasahi, siapa tahu begitu kakinya mulai menginjak diatas

bekas telapak kaki tersebut, ia menjadi kebingungan.

Anak muda itu tak tahu bagaimana mesti bergerak

mengikuti bekas telapak kaki itu, sebab keenam belas buah

bekas telapak kaki itu semuanya mirip “langkah pertama”,

juga mirip “langkah terakhir”.

Suma Thian yu yang cerdik, kontan saja terjerumus dalam

suasana bingung yang amat tebal.

Tapi, semakin sukar persoalan yang dihadapi, semakin

mengobarkan rasa ingin tahu dari Suma Thian yu, dia tahu

suatu pekerjaan yang makin sukar dicapai, biasanya semakin

hebat bila telah diketahui, apalagi waktu yang tersedia

baginya tak terbatas.

Maka dengan seksama dia lantas mulai menyelidiki

kepandaian tersebut dengan sabar. Sekali gagal dicoba untuk

kedua kalinya, gagal lagi dicoba lagi, sekali demi sekali dia

berusaha terus menerus pantang menyerah………

Kegagalan memang merupakan guru yang baik dan

pangkal dari kesuksesan, tanpa kegagalan darimana mungkin

datangnya kesuksesan, kalau tidak pernah merasakan getirnya

kegagalan, mana mungkin bisa merasakan nikmatnya

kesuksesan?

Sang surya telah terbit diufuk timur, lambat laun bergeser

ketengah angkasa, dan akhirnya tenggelam dilangit barat.

Maka kegelapan malampun menyelimuti kembali bukit Kiu

gi san, angin gunung yang dingin berhembus kencang.

Mendadak diantara hembusan angin kencang terdengar

suara Suma Thian yu yang sedang bersorak sorai.

“Aku telah berhasil…ooh, Thian! Aku telah berhasil, ha ha

ha ha….”

Lembah Cing im kok ditengah fajar yang menjelang tiba,

diliputi kabut yans amat tebal, hari itu merupakan hari yang

amat indah.

Sang surya bagaikan panglima perang yang ampuh

menaklukan iblis kegelapan, munculkan diri diufuk timur dan

memancarkan sinar ke emas-emasan menyoroti seluruh jagad.

Namun Suma Thian yu masih tertidur nyenyak dibalik

rerumputan, semalam dia kelewat gembira, kelewat lelah,

sudah seharian penuh dia melatih ilmu tersebut, meski pada

langkah kelima ia berhasil menemukan kunci rahasia dari ilmu

langkah tersebut, tapi dia sendiri telah kelelahan.

Sekalipun lelah, namun perasaan yang mendekam didalam

hatinya adalah perasaan yang manis dan hangat, sehingga

walaupun sedang tidur nyenyak, sekulum senyum manis

masih sempat menghiasi ujung bibirnya.

Disaat ia sedang tidur dengan nyenyak inilabh tampak dua

sosok bayangan manusia berwarna hitam muncul ditempat itu

dan berhenti dihadapannya.

Mendadak terlihat sebatang buluh dmasukan kedalam

lubang hidung Suma Thian yu dan menkilik-kiliknya berulang

kali, kontan sajasianak muda itu bersin dan melompat

bangun dari tidurnya.

Begitu ia membuka matanya, maka tampaknya dua orang

kakek telah berdiri dihadapannya.

“Locianpwe, rupanya kalian!” serunya keras.

Ternyata yang datang tak lain adalah Siang gi siu

(sepasang kakek bodoh) dari bukit wu san, buru-buru Suma

Thian yu menjura dan memberi hormat, katanya:

“Boanpwe tak tahu akan kedatangan cianpwe berdua,

harap cianpwe berdua sudi memaafkan keteledoran boanpwe

yang molor terus.”

Toa gi siu (sikakek bodoh pertama) Khong sian tertawa

terkekeh kekeh, lalu berkata:

“Heeeeehh…..heeeeehh…….heeeeehh….siapa tak tahu dia

tak bersalah, kau tak usah banyak adat”

Kemudian setelah menggelengkan kepalanya berulang kali,

dia melanjutkan.

“Seandainya disini muncul seekor ular beracun, atau

muncul seorang malaikat bengis, apakah kau anggap masih

bisa hidup segar bugar?

“….Dengan cepat Suma Thian yu menundukkan kepalanya

rendah-rendah.

“Kemana larinya kertas tanpa kata itu? Apakah kau telah

berhasil memecahkan rahasianya?” tanya Toa gi siu Khong

Sian dengan wajah serius.

“Ya, sudah berhasil kupecahkan rahasianya Suma Thian yu

bersorak gembira.

Cepat-cepat dia merogoh ke dalam sakunya untuk mencari

kitab itu, tapi sesaat kemudian dengan perasaan terkejut,

paras mukanya berubah hebat, serunya lagi:

“Aduh celaka, ke mana larinya kertas itu?”

Rupanya kertas yang semula berada dalam sakunya itu, kini

sudah lenyap tak berbekas.

“Hayo ganti! Kau harus mengganti! Suusah payah

kutemukan mestika yang tak ternilai harganya itu, tapi

sekarang kau menghilangkannya, hayo cepat cari sampai

ketemu, kalau tidak ku penggal batok kepalamu!”

Dengan kemarahan yang meluap-luap, Toa gi siu Khong

Sian berteriak-teriak.

Suma Thian yu menjadi gelisah setengah mati bagaikan

semut diatas kuali panas, peluh dingin bercucuran deras,

wajahnya memucat bagaikan mayat, semalam dia masih

memeriksanya sekali lagi, hari ini kenapa bisa lenyap tak

berbekas?”

“Bocah keparat, mengapa bisa hilang? Hayo cepat jawab,

cepat cari sampai ketemu!” lagi-lagi Toa gi siu Khong Sian

berteriak dengan marah.

Berada dalam keadaan seperti ini, apa lagi dapat diucapkan

Suma Thian yu? Terpaksa dia mengiakan berulang kali dan

beranjak untuk pergi.

Pada saat itulah, Ji gi siu (kakek bodoh ke dua) Khong

Bong yang selama ini membungkam terus, berseru dengan

cepat:

“Tunggu sebentar!” Kau hendak mencarinya ke mana?”

“Yaa, betul juga perkataan ini!” pikir Suma Thian yu setelah

mendengar perkataan itu, dia lantas berhenti.

Kemana ia mesti mencari kini? Kalau dicuri orang selagi dia

tidur nyenyak, pencuri itu pasti sudah kabur meninggalkan

tempat itu, kemana ia mesti mengejarnya?

Berpikir sampai disitu, dia menjadi tertegun, lalu dengan

wajah tersipu ia menundukkan kepalanya rendah-rendah,

seandainya disitu ada lubang maka ia pasti sudah menerobos

masuk untuk menyembunyikan diri.

Tiba tiba si Kakek bodoh kedua Khong Bong mengayunkan

tangan kanannya seraya berkata:

“Disini terdapat selembar, apakah milikmu?”

Suma Thian yu segera berpaling, begitu melihat kertas

tersebut adalah kertas miliknya yang hilang, buru-buru

sahutnya:

“Benar! benar! Benar….” Melihat tingkah laku sang pemuda

itu, Wu san siang gi segera memegangi perut sendiri sambil

tertawa terpingkal pingkal, tertawa sampai air matapan turut

jatuh bercucuran

Selesai tertawa, Toa gi siu Khong Sicu baru berkata:

“Inilah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagimu, kau

harus selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi

setiap persoalan. Ketahuilah dunia persilatan itu amat

berbahaya dengan manusia yang licik dan keji, sedikit saja

lengah maka akibatnya bencana besar akan tiba, bencana

paling kecil adalah rusak nama badan terluka, kalau bencana

besar…. nyawamu pasti akan terbang ke akherat, ingatlah

baik-baik pelajaran ini. ingatlah baik baik!

Suma Thian yu segera mengiakan berulang kali, sekarang

dia baru mengerti kalau tindakan Wu san gi siu

mempermainkan dirinya, sebetulnya mempunyai arti yang

mendalam.

Tanpa terasa dia menjadi terharu sekali dan menerima

nasehat tersebut dengan perasaan yang tulus.

Ji gi siu Khong Bong segera menyerahkan kertas tersebut

ketangan Suma Thian yu, lalu tanyanya.

“Apakah berbasil kau pahami?”

“Ya, boanpwee telan memahami rahasia dari kertas tanpa

kata ini, tapi isi kertas itu…”

Secara ringkas dia lantas bercerita tentang pengalaman

yang dijumpainya semalam, dimana ia berjumpa dengan Siau

yau kay Wi kian. bagaimana menerima warisan ilmu langkah

dan sebagainya…..

Mendengar kisah tersebut, dengan wajah serius Toa gi siu

Khong Sian berkata:

“Aku sudah mengetahui semua kejadian itu, pengemis tua

itu sudah menceritakan segala sesuatunya kepadaku, kalau

tidak begitu, darimana aku bisa tahu kalau kau sedang

bersembunti disini dan molor? Kau bisa lupa makan lupa tidur

dan berusaha terus untuk mempelajari dan menekuninya,

semangat semacam ini memang pantas dihargai. Ketahuilah,

ilmu langka Ciok tiong luan poh cap lak tui (enam belas

langkah kacau pembingung sukma) meski tak sedap

kedengarannya, tapi tak terkirakan manfaatnya, kepandaian

itu merupakan kepandaian yang paling diandalkan sipengemis

untuk ber kelana dalam dunia persilatan, asal kau dapat

memahaminya, sekalipun berjumpa dengan iblis tua dari dunia

persilatan, kendatipun tak sanggup mengalahkannya, paling

tidak kau masih sanggup untuk menghindarkan diri dari setiap

ancaman“

Suma Thian yu merasa gembira sekali, dia tak mengira

kalau hanya dalam sehari saja sudah memperoleh petunjuk

yang sangat berharga dari seorang tokoh persilatan yang amat

lihay, apalagi mewariskan kepandaian rahasianya, kejadian ini

betul-betul merupakan suatu perkah yang sangat besar bagi

dirinya.

Akan tetapi dia tidak pernah berpikir lebih mendalam lagi,

mengapa orang lain bersedia mewariskan kepandaian

andalannya itu kepada dia? Apa sebenarnya tujuan orang itu?

Mungkinkah hal ini hanya dikarenakan dia menarik

perhatiannya?

Tanggung jawab yang di bebankan diatas pundaknya dari

hari kehari semakin bertambah berat, namun ia masih belum

merasakan nya, dunia persilatan yang penuh pembunuhan,

dunia yang penuh noda sedang menggapai kearahnya, dia

harus bertanggung jawab untuk meredakan badai

pembunuhan yang sedang melanda dunia persilatan,

menegakkan keadilan dan kebenaran dalam masyarakat,

bayangkan saja betapa berat dan pentingnya tugas serta

tanggung jawabnya.

“Nak, tahukah kau apa yang tercantum didalam kitab

tersebut?” Terdengar Tay gi siu Khong Sian bertanya.

“Entahlah, meskipun boanp telah berhasil membongkar

rahasia ker tas tanpa kata itu, namun belum sempat untuk

membaca apalagi mempelajari isi kitab tersebut

“Tak usah dibaca lagi, kertas ini hanya selembar kertas

rongsok yang tak yang tak berguna”

“Apa? Cianpwee bilang kertas ini palsu? Aah, mana

mungkin?”

“Sebenarnya aku pun berpendapat demikian kata Toa gi siu

Khong Sian, kemudian sambil berpaling kearah Ji gi siu Khong

Bong, kata nya. “Hiante, lebih baik kau saja yang

menerangkan”

suma Thian yu segeras mengalihkan sorot matanya

keewajah Ji gi siu Khong Bong, dia buru-buru ingin tahu

rahasia yang kerada dibalik kertas tanpa kata tersebut.

“Apalagi yang mesti dibicarakan? palsu ya palsu apa lagi

yang musti dijelaskan? sahut Ji gi siu Khong Bong cepat.

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan:

“Semoga saja lembaran yang asli jangan sampai terjatuh

ketangan iblis, kalau tidak, kebenaran dan keadilan pasti akan

diinjak-injak, dunia persilatan tak pernah akan menjadi tenang

kembali!”

Setelah mendengar perkataan itu, Suma Thian yu dibuat

semakin kebingungan setengah mati, ditatapnya wajah si

kakek bodoh kedua Khong Bong, kemudian sambungnya:

“Locianpwee, dapatkah kau memberi penjelasan lebih

jauh?”

“Boleh saja. Cuma selesai lohu berbicara nanti, kembali ada

sebuah tugas yang hendak kuserahkan kepadamu, dan kau

tak boleh me nolak tugas tersebut.”

“Haai, lagi-lagi sebuah tugas.” pikir Suma Thian yu didalam

hati kecilnya.

Namun diluarnya dengan cepat dia menjawab.

“Baik, boanpwee akan melaksanakannya dengan baik.”

Ia tak pernah mempertimbangkan akibatnya karena

sekarang dia hanya ingin mengetahui rahasia di balik kitab

tanpa kata tersebut.

Si Kakek bodoh kedua Khong Bong manggut-manggut,

ujarnya kemudian:

“Ditinjau dari apa yang tercantum dalam kitab ini, dapat

dikelahui bahwa isinya adalah sejenis kitab maha sakti

peninggalan Ku hay siansu, seorang pendeta lihay yang hidup

pada empat ratus tahun berselang, kitab itu bernama Kun

tun kan kun huan siu cinkeng dan merupakan sebuah kitab

pusaka yang sudah pasti merupakan sejenis kepandaian yang

luar biasa akan tetapi… “

Berbicara sampai disitu, dia sengaja berhenti sebentar,

seakan akan hendak menggoda Suma Thian yu.

Ketika itu pemuda tersebut sedang mendengarkan

dengan seksama, ketika orang tua itu berhenti berbicara,

segera dia membuka mulut hendak bertanya, tapi dengan

cepat Ji gi siu Khong Bong telah berkata lebih dahulu:

“Tapi kenyataannya jauh berbeda sekali, tulisan yang

tercantum didalam kertas ini adalah tulisan bahasa Han,

padahal Ku hay siansu adalah seorang Tibet, sekalipun sudah

berkelana cukup lama didaratan Tionggoan, namun sepatah

kata tulisan Han pun tidak dipahami olehnya. Dan sini dapat

diketahui kalau kertas ini adalah barang palsu”

Dengan wajah termangu-mangu Suma Thian yu

mendengarkan penje-lasan tersebut, sementara Tay gi siu

Khong Sian manggut-manggut de ngan perasaan puas,

tanyanya lagi:

“Hiante, menurut dugaanmuu, mungkinkah Cinkeng

tersebut sudah keluar dari tanah?”

“Tentu saja sudah keluar dari tanah, bahkan telah diambil

orang. Sudah pasti orang itupun seorang yang licik, kalau

tidak, tak mungkin dia menirukan Cinkeng asli untuk

membuat sebuah yang palsu!”

“Kalau begitu orang itu pintar sewaktu bodoh sesaat?”

tanya Toa gi siu Khong sian.

“Ya, tentu saja cerdik!”

“Tapi aku anggap orang itu merupakan seorang yang

‘paling bodoh.” ucap Toa gi siu Kong Sian sambil

menggelengkan kepalanya berulang kali. “Setelah ia berhasil

mendapatkan kitab yang asli, mengapa harus membuat yang

palsu? Bukankah ibarat melukis ular di beri kaki?”

“Benar! Inilah sebabnya orang itu boleh dibilang seseorang

yang paling pintar, tetapi juga seseorang yang paling bodoh.”

Ji gi siu Khong Bong menyatakan setujunya pula dengan

pernyataan tersebut.

Ketika selesai mengucapkan perkataan tersebut, mendadak

dengan wajah serius Ji gi siu Khong Bongberpaling kearah

Suma thian yu, kemudian katanya:

“Bocah, sekarang kau telah mendengar habis semua

perkataanku, maka kaupun harus segera melaksanakan

sebuah tugas yang amar sulit, yakni setelah turun gunung

nanti, bila kau berhasil mendengar kalau kitab pusaka tersebut

telah muncul, maka kau harus berusaha dengan sepenuh

tenaga untuk melindungi kitab pusaka itu agar tidak sampai

terjatuh kembali ketangan orang-orang laknat, mengerti?”

“Baik, boanpwee akan turut perintah!” jawab Suma Thian

yu dengan wajah bersungguh-sungguh.

Tapi ketika ia teringat akan dendam keluarga, sakit hati

paman Wan dan kini ditambah lagi tugas berat tersebut,

timbul perasaan yang sangat berat didalam hatinya.

Tiba-tiba Ji gi siu Khong Bong menuding kearah kitab

pusaka palsu ditangan Suma Thian yu, lalu berkata:

“Lebih baik kitab palsu itu dirobek saja, toh disimpan juga

tak ada gunanya”

Suma Thian yu memperhatikan sekejap kertas tersebut.

sesungguh nya dia hendak merobeknya seketika itu juga, tapi

ingatan lain seakan melintas dalam benaknya, bagaimanapun

juga ia telah bersusah payah sebelum berhasil menemukan

rahasia kitab itu, kalau belum dilihat isinya sudah dirobek,

rasanya hal ini amat disayangkan.

Jilid 5

Maka dia menyimpan kitab tersebut kedalam sakunya,

kemudian baru berkata kepada sepasang kakek bodoh dari

bukit Wu san itu.

“Cianpwe berdua, besok boanpwe hendak meninggalkan

bukit Kiu gi san untuk melacaki jejak musuh besarku, sebagai

seorang anak yang berbakti, boanpwe merasa berkewajiban

untuk membalaskan dendam bagi sakit hati orang tuaku,

entah cianpwe berdua masih ada petunjuk apa yang hendak

disampaikan?”

Sambil tertawa, Toa hi siu Khong Sian manggut-manggut,

sahutnya:

“Bakti kepada orang tua memang merupakan soal utama

yang paling penting, bila kau bisa berbakti kepada orang tua

maka seluruh penjuru dunia dapat kau lewati, aku tahu kau

polos dan jujur, hatimu penuh welas kasih dan mulia,

dikemudian hari pasti berhasil, menciptakan suatu pekerjaan

besar, tapi dunia persilatan amat berbahaya, maka berhatihatilah

dalam mencari kawan.

Baru selesai Toa gi siu Khong Sian berkata, Ji gi siu Khong

Bong telah menyambung:

“Walaupun dewasa ini dunia persilatan diliputi oleh tabir

iblis dan hawa sesat, suasana macam ini tak akan bisa

bertahan lama, se jak dulu sampai sekarang, kejahatan tak

pernah bisa menenangkan kebenaran, bagaimana pun

brutalnya perbuatan kaum iblis dan manusia laknat, suatu

ketika mereka pasti akan tertumpas habis. Berbuatlah

kebajikan dan kemuliaan bagi umat manusia, mesti harus

mendaki bukit golok, menyeberangi samudera api, walaupun

harus menembusi sarang naga dan gua harimau, tapi

perbuatanmu tidak menyalahi hukum alam dan suara hati,

majulah pantang mundur, kendatipun akhirnya harus mati

demi membela kebenaran, kau akan mati sebagai seorang

pahlawan”

Dengan perasaan yang tulus Suma Thian yu menerima

semua nasehat itu dengan hati yang bersungguh-sungguh,

hingga kini dia baru me ngetahui sejelas-jelasnya watak dari

sepasang kakek bodoh tersebut.

Diam-diam timbul perasaan kagum didalam hatinya, ia

berpikir.

“Benar-benar terlalu agung, orang yang benar-benar cerdas

memang mirip bodoh, mengapa aku tidak mempergunakan

ucapan mereka sebagai pedoman hidupku?”

Setelah menyampaikan nasehatnya kepada Suma Thian yu,

Sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san sama sekali tidak

menantikan jawaban nya, mereka segera membalikkan badan

dan berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh

mereka berdua sudah lenyap tak berbekas.

Memandang bayangan punggung kedua orang kakek itu,

Suma Thian yu merasa seakan-akan kehilangan buah mutiara

yang tak ternilai harganya dan merasa murung dan sedih.

Sekali lagi ia hidup menyendiri dialam semesta yang begini

luas, sampai kapan keadaan seperti ini baru akan berakhir?

Sementara dia masih termenung, mendadak dari kejauhan

sana terdengar suara pekikan nyaring berkumandang

memecahkan kesunyian.

Suma Thian yu merasa amat terperanjat setelah

mendengar suara pekikan tersebut, dengan perasaan tertegun

pikirnya:

“Heran, mengapa selama beberapa hari ini bukit kiu gi san

jadi begini ramai? Satu rombongan baru lewat, rombongan

lain menyusul datang, mungkinkah dibukit ini telah ditemukan

suatu benda mestika ?”

Sementara dia masih termenung, suara pekikan tersebut

sudah semakin mendekat, bahkan jumlahnya tidak hanya

satu.

Suma Thian yu sudah terbiasa mendengar suara pekikan

tersebut, dia acuh tak acuh, bahkan sambil berpaling dia

memejamkan matanya seperti orang hendak tidur.

Tiba-tiba terlintas satu ingatan didalam benaknya, mengapa

tidak mempergunakan kesempatan itu untuk memeriksa isi

kitab pusaka palsu itu?

Berpikir demikian, dia lantas merogoh ke dalam sakunya

dan mengeluarkan kertas tersebut dan dipegang dalam

tangan.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras:

“Hei bocah muda, benda apakah yang sedang kau pegang

itu?”

Sungguh tak disangka suara pekikan yang kedengarannya

masih jauh tadi, tahu-tahu dihadapan mukanya telah

melayang turun seorang kakek berusia tujuh puluh tahun,

berperawakan tinggi besar, bercambang, bermata besar,

beralis tebal dan bermulut lebar. Orang itu ber tampang

menyeramkan sekali.

Suma Thian yu mencoba untuk memeriksa sekeliling

tempat itu, ketika dilihatnya tak ada orang lain selain kakek

itu, apalagi orang itu pun bermuka bengis dan menyeramkan,

maka timbul satu ingatan dalam benaknya untuk

mempermainkannya dengan menggunakan kitab pusaka palsu

tersebut.

Dengan suara nyaring dia lantas berkata.

“Aku tak dapat memberitahukan kepadamu, sebab benda

ini adalah sebuah mestika yang tak ternilai harganya!”

Sambil berkata dengan wajah tersenyum mengejek dia

melirik sekejap kearah kakek itu, kemudian sengaja

menyimpan kertas tadi ke dalam saku.

Setelah itu dengan senyuman aneh menghiasi diujung bibir,

dia berkata lebih jauh:

“Padahal sekalipun kuberitahukan kepadamu juga tak

mengapa, kertas ini isinya adalah ilmu silat peninggalan dari

Ku hay Siansu!”

Mendengar perkataan itu, paras muka kakek tersebut

berubah hebat, mencorong sinar buas dari balik matanya, dia

sepera membentak

“Kau tidak membohongi aku? Bawa kemari!”

Nadanya keras dan bersifat memerintah, seakan-akan

pemuda itu sudah sepantasnya untu menyerahkan kitab

pusaka itu kepadanya.

“Huh…apa yang kau andalkan untuk memerintahku berbuat

demikian? kitab ini toh aku yang menemukan, kenapa harus

kuserahkan lagi kepada orang lain. Heeh, heeh, heh sungguh

menggelikan!”

“Lohu ingin bertanya kepadamu, apakah kitab tersebut

adalah kitab pusaka Kun tun kan kun huan siu Cinkeng?” nada

suara dari kakek tersebut menjadi jauh lebih lembut.

“Aduuh …dari maka kau bisa tahu?” Suma Thian yu purapura

merasa terkejut, padahal dalan hati kecilnya dia geli

sekali.

Selama hidup belum pernah dia permainkan orang iain

seperti apa yang dilakukannya saat ini, ia merasa apa yang

telah dilakukannya benar-benar amat memuaskan hatinya.

Seandainya Suma Thian yu tahu kalau kakek yang berada

dihadapannya sekarang adalah salah seorang dari Ci san su

mo (empat iblis dari bukit Ci san), Jit ci to (pencoleng berjari

tujuh) Tam Yu yang pernah menderita kekalahan ditangan

gurunya Put Gbo cu dimasa lalu, niscaya dia tak akan berani

mempermainkan kakek itu.

Terdengar pencoleng berjari tujuh Tam yu tertawa

terbahak-bahak dengan bangganya.

“Haah…haah….haah…bersusah payah aku mencari kesana

kemari, akrhirnya berhasil kutemukan tanpa susah payah,

nampaknya saat lohu untuk unjuk gigi sudah tiba. Nah bocah

muda, oleh karena kitab pusaka itu berhasil kau temukan,

maka lohu bersedia mengampuni selembar jiwamu, cepat

serahkan kitab tersebut kepadaku!”

Suma Thian yu sudah menduga akan sikap dari kakek

tersebut, maka dia tidak marah atau pun merasa kaget, pelanpelan

dia menarik ke luar kitab itu hirgga muncul separuh dari

balik sakunya, kemudaan berkata lagi.

“Tidak ada pekerjaan yang semudah itu di kolong langit,

tinggalkan dulu nama besarmu, saya ingin tahu cukup

pantaskah kau menerima pusaka ini”

Mendengar perkataan itu, si Pencoleng berjari tujuh Tam

Yu tertawa seram.

“Haah…haah….haah….bocah keparat, tak heran kalau kau

berani bersikap kurangajar kepadaku, rupanya kau belum tahu

siapakah diri ku ini? Lohu she Tam bernama Yu. Coba nilailah

apakah aku pantas untuk mendapatkan kitab pusaka yang

berada ditanganmu itu?”

Haah….haah…” Suma Thian yu tertawa tergelak lagi

setelah mendengar nama tersebut, bila kau tidak

menyebutkan namamu itu, mungkin aku masih akan

menyerahkan kitab tersebut kepadamu, tapi setelah

mengetahui siapa gerangan dirimu itu…Hmm, sauya tak sudi

untuk menyerahkan kepadamu”

“Kenapa?” teriak si Pencoleng berjari tujuh dengan gusar,

“bocah keparat, tampaknya arak kehormatan kau tak mau,

arak hukuman kau pilih. Sebentar jika kau sudah merasakan

kelihayanku, jangan lagi berkaok minta ampun”

Suma Thian Yu kembali tertawa keras.

“Aku tak dapat menyerahkan kepadamu karena kau adalah

bekas panglima yang kalah di tangan Put Gu cu locianpwe,

kalau nyawamu saja berhasil ditemukan secara untunguntungan,

mana ada hak bagimu untuk mendapatkan kitab

pushka tersebut?”

Mendengar ucapan tersebut, si Pencoleng berjari tujuh Tam

Yu menjadi tertegun, kemudian dari malu dia menjadi gusar,

serunya:

“Bocah keparat, apa hubunganmu dengan siluman tosu

itu?”

Apa hubunganku dengannya lebih baik tak usah kau

campuri, dan kaupun tidak berhak untuk mengetahuinya, lebih

baik jangan semba rangan berpikir. Maaf, sauya tak dapat

menemani lebih lama lagi.”

Selesai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berlalu

dari tempat itu.

Namun tiba-tiba terdengar suara bentakan keras

menggelegar di udara.

“Berhenti !”

Tampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan

bagaikan sambaran kilat berlelebat lewat dari atas kepala

Suma Thian yu dan menghadang perginya,

Suma Thian yu segera memicingkan mata dan membentak

dengan nada sinis:

“Bagaimana? Ingin merebut dengan kekerasan ?”

“Betul, lohu memang ingin berbuat demikian”

“Hmm! Bagaimanapun juga pencoleng memang berjiwa

kerdil dan tak becus, sekali menjadi bajingan selamanya tetap

bajingan, apakah kau tidak malu? Hmm, terhadap seorang

pemuda pun menggunakan cara kekerasan….”

“Heeeh….heeeh….heeeh…. bocah keparat, tak kusangka

kau memiliki selembar bibir yang pandai bersilat lidah,

selamanya lohu tak doyan dengan permainan semacam ini

lebih baik segera serahkan kitab tersebut ke padaku.”

“Huuuh, kau belum berhak!”

Begitu ucapan terakhir diutarakan, tampak bayangan

manusia berkelebat lewat dan “Plok” sebuah tempelengan

keras telah bersarang di atas pipi kakek tersebut.

Paras muka si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu berubah

hebat, mukanya merah padam seperti babi ppnggang, dengan

suara yang meng geledek bentaknya keras-keras.

“Bocah keparat, kau ingin mampus?”

Sepasang lengannya diayunkan kedepan melancarkan

bacokan semen-tara tubuhnya ikut menubruk kemuka

bagaikan harimau lapar menerkam domba, mengerikan sekali

keadaannya.

Suma Thian yu sudah mempunyai perhitungan yang cukup

matang dalam menghadapi keadaan tersebut, ia tidak gugup

ataupun panik, menanti sepasang kepalan lawan sudah berada

setengah depa dihadapan nya, mendadak dia menyelinap

kesamping, kemudian mengembangkan ilmu langkah Ciok

tiong tuan poh cap lak sui yang dipelajari dari Sisu yau kay wi

Kian semalam.

Baru saja sepasang lengan si Pencoleng berjari tujuh Tam

Yu mengayun kedepan, mendadak serasa bayangan manusia

berkelebat lewat, sementara ia masih tertegun, mendadak

tengkuknya seperti dihembus orang.

Dengan perasaan terkejut buru-buru dia memutar

badannya secepat kilat, kemudian tangan dan kakinya hampir

bersamaan waktunya me nendang ke tubuh Suma Thian yu

keras-keras.

Sayang dia cepat, Suma Thian yu lebih cepat lagi, baru saja

lengannya mencapai setengah jalan, kembali tengkuknya

dihajar orang sehingga terasa linu, panas dan perih.

Dengan terjadinya peristiwa itu, semangat si Pencoleng

berjari tujuh Tam Yu menjadi dingin separuh, dia sadar bahwa

pada hari ini telah bertemu dengan musuh tangguh, tak

ampun peluh dingin segera bercucuran keluar membasahi

tubuhnya.

Tapi sifat rakusnya dan keinginannya untuk mendapat

mestika membuat dia lupa akan keselamatan akan jiwanya diri

sendiri, dengan mata gelap si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu

mengeluarkan ilmu Thian sai ciang andalannya untuk

melancarkan serangan pukulan dahsyat untuk

menggurungseluruh badan Suma thian yu.

Semenjak mempelajari ilmu langkah Ciok tiang luan poh,

rasa percaya diri Suma Thian yu terbadap kemampuan sendiri

semakin bertambah, pada hakekatnya ia seperti telah berubah

menjadi seseorang yang lain, entah serangan dahsyat macam

apapun yang telah digunakan si Pencoleng berjari tujuh Tam

yu untuk mendesak musuhnya, ia selalu gagal untuk

mendesak lawannya.

Sedangkan Suma Thian yu justru berputar kian kemari

bagaikan kupu kupu yang menari ditengah bebungahan,

setiap ada kesempatan dia selalu menowel, meraba,

mencakar, mencubit seluruh badan kakek tersebut.

Tak selang berapa saat kemudian, keadaan si Pencoleng

berjari tujuh Tam Yu sudah lemas seperti seekor ayam jago

yang kalah bertarung, seluruh badannya basah kuyup oleh

keringat, mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti

kerbau, mengenaskan sekali keadaannya

Sambil berputar terus kian kemari, Suma Thian yu segera

mengejek sambil tertawa:

“Bagaimana? Terbukti bukan kalau kau masih belum cukup

mampu untuk mendapatkan kitab ini?”

Berbicara sampai disitu, mendadak gerakan tubuhnya

berubah, mendadak ia menerobos masuk ke dalam, kemudian

tangannya mencongkel ke muka…

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang

dari mulut si pencoleng berjari tujuh Tam Yu.

“Kali ini aku hanya mencongkel sebelah matamu saja

sebagai peringatan, lain kali aku harap kau jangan

menganiaya kaum muda lagi dengan semaunya sendiri” seru

Suma Thian yu.

Selesai berkata, pasang kakinya segera menjejak

permukaan tanah dan tubuhnya melambung keudara,

kemudian diringi suara pekikan panjang yang penuh nada

gembira, secepat kilat dia turun dari bukit tersebut.

Sampai lama kemudian, pekikan itu masih saja bergema

ditengah hutan.

Bersamaan waktunya dengan lenyapnya bayangan tubuh

Suma Thian yu di ujung jalan sana, dari atas bukit melayang

turun tiga sosok bayangan hitam yang langsung menghampiri

si pencoleng berjari tujuh Tam yu yang terluka.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah berada

ditempat kejadian, seorang diantaranya segera memeluk

tubuh si pencoleng berjari tujuh Tam Yu sambil berteriak:

“Suhu, suhu, kenapa kau orang tua? Siapa yang telah turun

tangan sekeji ini kepadamu?”

Pencoleng berjari tujuh Tam Yu membuka matanya yang

tinggal sebelah dan mengawasi pendatang tersebut, lalu

sahutnya dengan sedih:

“Sudah pergi, bocah keparat itu sudah pergi, dia telah

mendapatkan kitab pusaka Kun tun dan kun huan siu cinkeng

dari Ku hau sian siau, muridku, kau tak boleh bertindak

gegabah, kau bukan tandingan bocah keparat tersebut”

Ketika dua orang kakek lainnya mendengar ucapan

tersebut, ternyata tanpa memperdulikan Si Pencoleng berjari

tujuh Tam Yu yang sedang terluka, mereka segera berseru

cepat:

“Tam Yu, maaf!”

Begitu selesai berkata, kedua orang itu segera melejit

ketengah udara dan meluncur ke arah dimana Suma Thian yu

melenyapkan diri dengan kecepatan luar biasa.

Si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu yang terluka dan

menyaksikan kepergian kedua orang itu segera berseru

dengan penuh kebencian:

“Tak berperasaan tak memperdulikan kesetiaan antar

persaudaraan, baik, selama aku orang she Tam masih hidup,

tak akan kulepaskan kalian berdua. Heehh… heehh… kalian

berani kesitu tak lebih hanya akan menghantar kematian

dengan percuma, tetapi memang paling baik jika kalian bisa

segera melaporkan diri kepada raja akhirat.”

Ternyata kedua orang itu adalah Sam yap koan mo serta

Coa tau jin mo, kedua orang ini pun termasuk anggota Ci san

su mo, jadi sebenarnya adalah saudara angkat sipencoleng

berjari tujuh Tam yu sendiri.

Dalam pada itu, sepeninggal dari lembah Cing im kok,

Suma Thian Yu melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan

luar biasa.

Tapi tak berapa jauh dia berjalan, mendadak dari arah

belakang terdengar suara pekikkan aneh bergema tiada

hentinya, Suma Thian yu mengira si pencoleng berjari tujuh

yang melakukan pengejaran, maka sengaja ia perlambat

larinya.

Dalam sekejap mata, dari arah belakang terdengar suara

ujung baju tersampokangin bergema tiba….

Dengan perasaan terkejut Suma Thian yu segera berpikir:

“Heran, kenapa bukan cuma seorang!”

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat didalam

benaknya, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang

membentak keras:

“Hei bocah muda, berhenti kau!”

Suma Thian yu segera menghentikan tubuhnya dan

berpaling, tampak olehnya dua orang kakek berdandan aneh

sedang menyusul tiba dengan kecepatan luar biasa.

Kehadiran kedua orang kakek yang tak dikenal itu amat

mencengangkan hatinya, tapi dia tahu pendatang pendatang

tersebut tidak bermaksud baik, mungkin juga disebabkan kitab

pusaka palsu tersebut, maka tegurnya dengan cepat:

Ada urusan apa kalian berdua datang kemari?”

Salah seorang diantaranya adalah seorang kakek berusia

tujuh puluh tahun, menggunakan pakaian dengan tiga warna

yang berbeda dan berwajah seram, dilihat dari dandanannya

dapat diketahui kalau orang itu adalah Sam yap koay mo (Iblis

aneh tiga daun) pentolan dari Ci san su mo.

Disampingnya adalah seorang kakek berusia enam puluh

tahunan, memakai baju panjang model orang desa, bermata

tikus, hidung pesek, kumis melintang dan kepala berbentuk

segitiga, tak disangkal lagi dia adalah manusia paling buas dari

Ci san su mo, Coa tou jin mo atau manuusia iblis berkepala

ular Sim moay him adanya.

Dengan suara sedingin es, Sam yap koay mo segera

menegur:

“Bocah keparat, kau tak usah berlagak bodoh lagi, setelah

melukai adik angkatku, apakah kau masih ingin mungkir?

Hmm, tak kusangka seorang bocah busuk yang masih berbau

tetek berani bertindak sekejam itu,

heeeh…..heech….heeeh…..tiada lain, asalkau serahkan kitab

itu yang disakumu itu kepada kami, segala sesuatunya akan

kuanggap impas dan tidak dipermasalahkan lagi, tapi kalau

tidak…”

“Haaah…haahh…haahh..kalau kitab pusska ttu tidak

kuserahkan, apakah kalian hendak membalas dendam bagi

sakit hati adik angkatmu itu? kata Suma Thian yu sambil

tertawa terbahak-bahak.

“Betul! Ucapanku selamanya kupegang teguh asal kau mau

serahkan kepada kami, kamipun tak akan mengingkari janji”

“Ciiss, manusia tak tahu malu” dengus Suma Thisn yu

dengan wajah sinis, ia memandang hina terhadap watak orang

yang rendah, “bersa habat dengan manusia macam kau,

sungguh mengenaskan sekali rasanya…sayang Put Gho cu

locianpwe tidak membereskan kalian dimasa lalu, sayang

sungguh amat sayang!”

Seraya berkata dia segera menggelengkan kepalanya dan

menghela napas panjang, sikapnya yang memandang rendah

musuhnya seakan-akan tak akan pandang sebelah matapun

terhadap kemampuan musuhnya itu.

Sam Yap Koay mo menjadi naik darah setelah mendengar

perkataan itu, sepasang matanya berubah menjadi merah

membara, tulang belu langnya bergemerutukan nyaring, tibatiba

ia membentak keras:

“Bocah keparat, serahkan nyawamu!”

Telapak tangannya segera diayunkan kedepan, segulung

angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya

menggulung tubuh Suma Thian yu.

Menghadapi ancaman tersebut, pemuda itu mendengus

dingin, sepasang bahunya bergerak dan mundur sejauh satu

kaki lebih, kemudian pedangnya di loloskan dan…….”Criiing!”

pedang Kit hong kiam sudah dihunus dari sarungnya.

“Setan tua yang tak tahu malu” teriaknya lantang,

“tampaknya kau belum mengetahui akan kelihayan sauya?

Tidak sukar bila kau mengi nginkan kitab pusaka itu, asal bisa

menangkan satu jurus saja ditangan sauya, kitab tersebut

akan kupersembahkan kepadamu.”

Mendengar perkataan itu, Sam yap Kuay mo tertawa

terkekeh-kekeh dengan seramnya.

“Heeeh……heeeh…..heeeh…..dengan mengandalkan

kepandaian mu juga berani berbicara sesumbar? Betul-betul

manusia tak tahu diri, baik, lohu akan memenuhi

pengharapanmu itu”

Selesai berkata dia lantas bergerak maja ke depan dengan

jurus Gi san tiam hay (menggeser bukit membendung

samudera) dia bacok tu buh bagian bawah dari Suma Thian

yu.

Anak nuda itu tertawa panjang, pedangnya segera

didorong sejajar dada, tanpa gugup barang sedititpun juga

pedang itu diputar dite ngah jalan menusuk keatas dan

mengancam dada Sam yap koay mo dengan jurus Tan hong

tian yang (burung hong menghadap matahari).

Melihat datangnya ancaman tersebt, Sam yap koay mo

nampak agak tertegun,kemudian sambil tertawa seram

katanya.

“Rupanya kau adalah ahli waris dari bajingan anjing

budukan she Wan terebut, ini lebih bagus lagi, lohu akan

membekukmu hidup-hidup untuk menerima pahala sehingga

tidak sia-sia perjalananku kali ini”

Berbicara sampai disitu, dia lantas menggapai kesamping,

si Manusia iblis berkepala ular segera melompat maju

kedepan, dasar memang bermuka tebal, ternyata gembong

iblis dari Liok lim ini telah bekerja sama untuk mengerubuti

pemuda berusia enam belas tahun itu.

Suma Thian yu dihadapkan dua orang gembong iblis

sekaligus bukannya merasa heran malah sebaliknya tertawa

panjang, menyusul kemudian gerakan tubuhnya berubah dan

dia segera mengembangkan ilmu langkah Ciat tiong luan poh

cap lak tui untuk melayani musuhnya.

Dalam waktu singkat seluruh arena sudah dipenuhi oleh

bayangan manusia yang berkelebat kesana kemari menerjang

keluar dari ke pungan kedua orang itu.

Sam yat koay mo serta Coa tau jin mo hanya merasakan

manusia berkelebat lewat, tahu-tahu mereka sudah kehilangan

bayangan tubuh lawan, dengan perasaan terkejut mereka

segera berpaling ke samping.

Tampaklah Suma Thian yu sudah berdiri di luar arena

dengan sekulum senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya.

“Aku lihat lebih baik kalian berdua melatih diri selama

sepuluh tahun lagi sebelum datang mencoba sauya mu lagi,

sekarang maaf kalau sauya tak akan melayani lebih lama lagi”

demikian ia berseru.

Selesai berkata, dengan gerakan tubuh yang cepat ia

berlalu dari sana.

Tentu saja kedua orang iblis tersebut tidak bersedia

melepaskan musuhnya dengan begitu saja, melihat kejadian

itu mereka berpekik ke ras lalu melakukan pengejaran.

Suma Thian yu termenung sebentar, kemudian secara tibatiba

menghentikan gerakan tubuhnya, sambil membalikkan

badan ia berseru dengan tertawa terbahak-bahak:

“Haaah….. haaah……haaah…..tidak sulit bila kalian ingin

mendapatkan kitab pusaka itu asal kamu berdua bisa

menangkan satu jurus atau setengah gerakan saja dalam

seratus jurus gebrakan, tanpa banyak berbicara kitab tersebut

akan segera kuserahkan kepada kalian, cuma,…….

Berbicara sampai disita, dia berhenti sebentar, lalu sambil

melirik sekejap ke arah dua orang iblis tersebut, lanjutnya:

“Kitab pusaka itu cuma ada selembar, bagaimana cara

kalian berdua untuk membaginya secara adil?”

Si Manusia iblis berkepala ular Sim Moay him mendengus

dingin.

“Hmm, bocah keparat, kau lak usah mencoba untuk

mengadu domba kekuatan kami berdua, aku orang she Sim

bukan manusia sebangsa itu, lohu tidak mau kitab pusaka itu

tapi pedangmu itu akan kurampas.”

Suma Thian yu menunjukkan wajah sinis, “Hmm, dimulut

saja berbicara soal kegagahan dan kebenaran, padahal siapa

tahu dalam hati kecilnya? Lebih baik tak usah banyak bicara

lagi, mau turun tangan lebih baik cepatlah turun tangan!”

Begitu selesai berkata, pedang Kit hong kiamnya segera

menyapu tubuh Coa toa jin mo dengan jurus Lip sau ngo gak

(menyapu rata lima bukit), sementara jari tangan kirinya

bagaikan tombak menotok tubuh Sam yap koay mo.

Agak tertegun juga kedua orang iblis tersebut ketika

dilihatnya Suma Thian yu berani melawan mereka berdua

bersama-sama, segenap kepandaian silat yang dimilikinya

segera dikeluarkan untuk mendesak musunnya.

Dalam waktu singkat, ketiga orang itu sudah bertarung

sebanyak dua puluh gebrakan, menang kalah masih belum

bisa ditentukan sedang kekuatan mereka nampak seimbang.

Sambil bertarung melayani serangan-serangan dari kedua

orang iblis tersebut, diam-diam Suma Thian yu merasa

gembira, ternyata ilmu langkah Ciok tion luan pah cap lak tui

yang diwariskan Siau yau kay kepadanya memang terbukti

lihay sekali, bila pertarungan semacam ini dilangsungkan lebih

jauh maka sampai besokpun kedua orang iblis tersebut tak

akan mampu berbuat apa-apa kepadanya.

Maka diapun lantas berseru.

“Aduuh….aku sudah tak mampu lagi, lebih baik aku

mengaku kalah saja!”

Mendengar seruan tersebut, kedua orang iblis itu segera

menghentikan serangannya.

Suma Thian yu segera merogoh kedalam sakunya dan

mengeluarkan kertas kuning itu, kemudian katanya:

“Apa yang sauya ucapkan selama kupegang teguh,

sekarang terbukti aku tak mampu untuk mengalahkan kalian

berdua, maka terpaksa kitab pusaka ini harus kuserahkan

kepada kalian, cuma ada syaratnya.

Apa syaratnya!” teriak kedua orang ituham pir berbareng.

“Setelah berhasil mendapatkan kitab pusaka nanti, kalian

dilarang mengejar sauya lagi, kalau tidak kitab ini akan sauya

robek seketika ini juga”

Sambil berkata, Suma Thian yu segera berlagak hendak

merobek kertas tersebut.

Suma Thian yu tersenyum, dia lantas merogoh kedalam

sakunya dan mengeluarkan kitab tadii, kemudian ujarnya.

“Agar adil, sauya akan menguji secara jujur, disini terdapat

sebiji mata uang, bila kalian bisa menebak secara jitu ditangan

sebelah manakah mata uang itu kugenggam, maka kitab

pusaka itu akan menjadi milik siapa, bagaimana?”

Kedua orang itu segera menyatakan akur, maka Suma

Thian yu memperlihatkan mata uang tersebut, setelah

digoyangkan berulang kali dia melemparkannya ke udara,

setelah di sambut dengan kedua belah tangan, tangan mana

dipisahkan kekiri dan kekanan kemudian di sodorkan kedepan

dua orang iblis tersebut seraya berkata.

“Nah, siapa yang akan menebak lebih dulu?”

“Toako, kau saja yang menebak lebin dulu kata si Manusia

iblis berkepala ular Sim Moay.

Sam yap Koay mo tertawa seram, diapun tidak sungkansungkan

segera menuding tangan kiri Suma Thian yu sambil

berseru.

“Tangan kiri!”

Suma Thian yu pura-pura menghela napas panjang, sambil

membuka tangannya dia berseru:

“Aaah, sayang, tebakanmu salah, yang betul ada ditangan

kanan, terpaksa kitab ini harus kuserahkan kepada adik

angkatmu!”

Betapa mendendamnya Sam yap koay mo sewaktu

dilihatnya kitab pusaka tersebut diperoleh adik angkatnya,

Manusia iblis berkepala ular, sekalipun satu ingatan keji segera

melintas dalam benaknya, namun wajahnya sama sekali tak

berubah, bagaikan persoalan itu tak pernah dipikirkan didalam

hati, ia berkata sam bil tertawa:

“Lote, kionghi atas keberhasilanmu, asal tak sampai jatuh

ketangan orang lain, loko turut merasa gembira”

Kemudian sambil menarik muka katanya kepada Suma

Thian yu:

“Bocah keparat, serahkan cepat, jangan mencoba

bermaksud jahat, kemudian kau boleh pergi dan sini. Tapi

ingat, hati-hati kalau sampai bertemu dikemudian hari, lohu

tak akan berbelas kasihan lagi kepada dirimu”

Suma Thian yu segera berpikir:

“Huuh, siapa yang takut kepadamu? Dengan

mengandalanmu kepandaianmu itu, meski berlatih sepulun

tahun lagipun, sauya tak akan merasa kuatir.”

Pelan-pelan dia letakkan kertas itu kebawah kakinya,

kemudian sambil melejit keudara dia berlalu dari situ dengan

kecepatan luar biasa.

Sambil berkelebat pergi kembali Suma Tian yu berpekik

nyaring, sekali lagi dia telah mempermainkan manusia bengis

dan meninggalkan bibit bencana untuk mereka.

Tak bisa disangkal lagi, sepeninggalnya dari tempat itu,

pasti akan terjadi perang urat syaraf antara kedua orang iblis

tersebut, membayangkan apa bakal terjadi antara mereka

berdua, pemuda itu tertawa sendiri, tertawa puas.

Dengan membawa sekulum senyuman yang cerah karena

sehabis mempermainkan iblis keji, pemuda itu melanjutkan

kembali perjalanannya ke depan.

Entah berapa banyak bukit tinggi dan tebing curam yang

telah dilewati…..

Malam, telah mencekam seluruh jagad.

Malam itu adalah sebuah malam yang gelap gulita, tiada

rembulan diangksa kecuali beberapa bintang yang

mengerdipkan sinarnya seperti lirikan anak nakal.

Setelah melalui suatu perjalanan yang amat panjang. Suma

Thian yu mulai merasakan juga badannya letih, diapun duduk

diatas sebuah batu besar untuk melepaskan lelahnya.

Selesai bersemedi mengatur pernapasan, rasa lelahnya

pelan pelan hilang dan badan terasa segar kembali.

Mendadak ditengah keheningan malam yang mencekam

sekeliling tempat itu dia seperti mendengar suara rintihan lirih

bergema dari kejauhan sana.

Suma Thian yu merasakan sekujur badannya bergetar

keras, ia segera mendusin kembali dan lamunannya, dengan

suatu gerakan kilat dia melompat bangun lalu memperhatikan

dengan seksama.

Tapi suasana disekitar itu menjadi sepi. “Aneh” dia segere

bergumam, “sudah terang kudengar suara rintihan, kenapa

secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas? Zungkinkah aku

telah salah mendengar?”

Mustahil kalau dia salah mendengar, karena dengan tenaga

dalam yang dimilikinya sekarang, ketajaman pendengarannya

amat diandalkan, bunga yang jatuh berapa puluh kaki dari

situpun dapat ia dengar dengan jelas.

Sementara dia masih termenung, mendadak terdengar

suara rintihan tersebut kembali berkumandang datang.

Mendadak Suma Thian yu menggerakkan tubuhnya dan

melesat kedalam hutan disisi tebing sebelah sana dengan

kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Setelah masuk kedalam hutan dan menyaksikan

pemandangan di sekitar lempat itu, darah panas yang

menggelora dalam tubuhnya merasa mendidih, amarahnya

memuncak, apa yang terpapar didepan matanya sekarang

benar-benar merupakan suatu pemandangan yang

mengerikan sekali.

Ternyata ditengah tanah lapang dalam hutan tersebut,

nampak mayat bergelimpangan disana, bahkan disitupun

penuh dengan kutungan kaki atau potongan lengan, darah

kental telah menggenangi seluruh permukaan tanah.

Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak

kedengaran sedikit suarapun, hanya angin gunung yang

meaehembus menderu-deru,

Bangkai kuda, mayat manusia, membuat suasana menjadi

seram, mengerikan dan mendirikan balu roma orang.

Suma Thian yu adalah seorang pemuda yang berjiwa

pendekar, benci segala kejahatan dan bernyali besar, tapi

setelah menyaksikan pe mandangan yang terpapar didepan

matanya, tak urung bergidik juga hatinya.

Namun dia masih tetap berusaha untuk menenangkan

hatinya, ia berusaha untuk menekan perasaan kaget, gugup

dan seramnya, kemudian selangkah demi selangkah

menelusuri mayat yang bergelemparan di tanah dan berusaha

menemukan sumber dari suara rintihan tersebut.

Dia berdoa semoga berhasil menemukan salah seorang

korban kekejian itu dalam keadaan hidup, agar perbuatan

biadab tersebut terkubur bersama jasad.

Agaknya Yang Maha Kuasa telah mengaturkan segala

sesuatu bagi umatnya, apa yang di harapkan ternyata tidak

sia-sia…..

Akhirnya Suma Thian yu berhasil menemukan sesosok

tubuh manusia sedang menggeliat diantara tumpukan mayat

yang hancur dengan darah kental yang berceceran ditanah.

Menolong orang brgaikan menolong api, penemuan

tersebut membuat Suma Thian yu buru-buru berjalan

mendekati korban tersebut.

Rupanya dia adalah seorang lelaki setengah umur yang

berperawakan tinggi besar dan bermuka cambang, darah

kental masih mengotori bibirnya, tapi ia masih bernapas meski

berada dalam keadaan tak sadar.

Suma Thian yu segera meraba dada lelaki setengah umur

tersebut, terasa hawa hangat masih ada sedang debarang

jantungnya lemah sekali.

“Untung saja masih bisa tertolong!”

Buru-buru dia membopong tubuh lelaki setengah umur,

membangunkannya, kemudian dari dalam sakunya

mengeluarkan sebuah pil Ku goan cing wan peninggalan dari

Kit hong kiam kek Wan Liang semasa hidupnya dan dijejalkan

kedalam mulut lelaki tersebut.

Dengan mengikuti air liur, pil tersebut segera hancur dan

mengalir masuk kedalam perut.

Dan tak selang beberapa saat kemudian, laki-laki setengah

umur itu sudah menggerakkan badannya, diatas wajahnya

yang pucat terlintas warna merah dadu, pelan-pelan dia

membuka madanya yang sayu dan memandang sekejap

kearah Suma Tnian yu, sorot mata itu penuh dengan pancaran

rasa terima kasih yang amat tebal.

Namun sejenak kemudian, ia memejamkan kembali

matanya dan memperdengarkan suara rintihan.

Menyaksikan keadaan itu, Suma Thian yu segera menyadari

kalau lelaki ≫setengah umur itu sudah menderita luka dalam

parah, nyawanya amat krins dan tak mungkinbisa

disempuhkan hanya mrngandalkan khasiat obat.

Maka diapun bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya,

kemudian sambil menempelkan telapak tangannya keatas

jalan darah Mia bun hiat di tubuh lelaki itu, ia salurkan hawa

sakti Bu siang sinkang untuk membantu lelaki itu.

Segulung hawa panas yang menghangatkan badan segera

mengalir lewat jalan darah Mia bun hiat dan menyusup

kedalam tubuh lelaki itu.

Sejak makan buah mestika Jin sian kiam lan jalan darah

penting Jiu meh dan tok meh yang berada dalam tubuh Suma

Thian yu telah tem bus, kesempurnaan tenaga dalam yang

dimilikinya sekarang sudah tidak bisa ditandingi oleh umat

persilatan lainnya.

Tak sampai seperminum teh, seluruh wajahnya telah basah

oleh keringat hawa panas mengguap dari atas ubun-ubunnya,

betul juga, paras laki-laki setengah umur itu dari pucat pasi

kini berubah menjadi merah padam kembali.

Terdengar orang itu merintih dan memuntahkan darah

yang berwarna hitam, begitu darah hitam tersebut keluar, rasa

menderita pun segera lenyap, orang itu sadar kembali dari

pingsan

Tampak orang itu segera melompat bangun, kemudian

sambil menyembah didepan anak muda itu seruny:

“Tio Ci bui dari Sin liong piau kiok mengucapkan banyak

terima kasih atas budi pertolongan siauhiap.”

Buru-buru Suma Thian yu menyingkir kesamping untuk

menghindarkan diri, lalu katanys tersipu sipu.

“Aaah, saling menolong di kala orang sedang mengalami

kesulitan sudah merupakan kewajiban dari setiap umat

persilatan, kebetulan saja aku lewat disini, buat apa mesti

ucapkan terima kasih?” Perkataan Tio cianpwe terlalu

berlebihan”

“Boleh saya tahu siapakah nama siauhiap?”

“Boanpwe Suma Thian yu!”

Ternyata Tio Ci hui yang terluka ini adalah saudara angkat

dari cong piautau perusshaan ekspedisi Si liong-piaukiok di

kota Heng-ciu yang disebut orang Mo im sin-liong (naga sakti

penggosok awan) dalam masa berkelananya dalam dunia

persilatan, dengan dua puluh empat jurus ilmu pena pembetot

sukmanya sudah amat tersohor dalam dunia persilatan, orang

persilatan menjulukinya sebagai Si Berewok berpena baja.

Si Berewok berpena baja Tio Ci-hui yang menyaksikan tuan

penolongnya masih begitu muda, diam-diam timbul perasaan

malu dan menyesal dalam hati kecilnya.

Katanya, enghiong kebanyakan muncul dan kaum muda,

ketika dilihatnya orang itu mana usianya muda juga tak

bersikap sombong atau tinggi hati, kenyataannya mana

membuat hatinya makin kagum lagi.

Buru-buru dia berseru kembali:

“Suma siauhiap masih muda tapi berjiwa be sar,

kegagahanmu benar benar amat mengagumkan, terimalah

sebuah persembahanku lagi.”

Seraya berkata, sekali lagi dia menjatuhkan diri berlutut.

Tindakkan tersebut kontan saja membuat Suma Thian yu

menjadi amat gelisah, saking gelisahnya, selembar wajahnya

berubah menjadi merah padam lantaran tersipu-sipu, sambil

membangunkan si Brewok berpena baja, serunya cepat:

“Tio cianpwe, kau kelewat sungkan, apalah artinya sedikit

bantuan yang kuberikan?”

Dengan sikap yang menaruh hormat sahut si Berewok

berpena baja:

“suma siauhiap berkali kali menyebutku sebagai cianpwe,

akupun merasa tak berani untuk menerimanya. Andaikata kau

tiak menampik keinginanku, tolong janganlah memanggil

cianpwe lagi kepadaku, bagaimana sebut saja aku sebagai

saudara Tio?

Menyaksikan ketulusan dan kesungguhan hati orang, Suma

Thian yu pun tidak bersikeras lagi, sahutnya kemudian:

“Saudara Tio, bila kau menghendaki demikian, baik, thian

yu akan menuruti perintah.”

<ooOoo>

TATKALA si Berewok berpena baja menyaksikan sikap

menghormat kepadanya, iapun tak sungkan lagi, dia tahu bila

ia sendiri selalu bersikap hormat, hal mana justeru membuat

suasana akan bertambah canggung, asal budi kebaikan

tersebut dibalas pada suatu saat, rasanya hal itupun tidak

terlalu berlebihan.

Apalagi dia menyaksikan suma Thian berwajah tampan dan

menawan hati, hal mana semakin menimbulkan perasaan

simpatik didalam hatinya.

Ketika Suma Thian yu menyaksikan Berewok berpena baja

Tio Ci hui hanya mengawasinya dengan termanggu, dengan

cepat dia menegur:

“Saudara Tio, silahkan beristirahat sebentar, kemudian kita

harus membereskan mereka yang telah tewas”

Mendengar ucapan tersebut, si Berewok berpena baja Tio

Ci hui merasa tertegun, hatinya merasa sedih sekali.

Selama ini dia selalu cekatan dan pandai bekerja dalam

dunia persilatan, kali ini dia mendapat tugas lagi untuk

mengawal barang penting menuju ke Kwang-say kota

Kiongshia, sebelum berangkat kakak angkatnya Mo im sin

liong telah berpesan bahwa barang kawalan mereka kali ini

amat penting artinya, sebab berhasil atau tidak sangat

mempengaruhi nama baik perusahaan mereka.

Maka sengaja dia mengundang si Berewok berpena baja

Tio Ci hui dengan memimpin sejumlah jagoan kelas satu untuk

berangkat me lindungi mestika yang tak ternilai harganya.

Sepanjang jalan menuju keselatan, tak nyana sewaktu

berjalan sampai di wilayah Kiu gi san telah terjadi peristiwa

tragis, bukan cuma barang kawalannya kena dibegal, bahkan

dia pun kena dipecun-dangi secara mengenaskan sekali.

Memandang mayat-mayat yang tergelepar memenuhi

seluruh tanah, si Berewok berpena baja Tio Ci hui menghela

napas panjang

Setelah mengalami peristiwa berdarah ini, dia tak tahu

bagaimana harus mempertanggung jawabkan diri terhadap

kakak angkatnya Mo im-sin liong, coba kalau bukan ditolong

oleh pemuda yang berada didepan mata sekarang, mungkin

diapun akan kehilangan selembar jiwanya ditengah bukit yang

terpencil ini.

Teringat akan hal-hal yang memedihkan hatinya, dia segera

mera-sakan hatinya bergejolak keras, air matanya bercucuran

dan seluruh badannya gemetar keras.

Suma Thian yu yang turut menyaksikan kejadian itu, diamdiam

ikut merasa berduka, pikirnya: “Selama aku masih hidup,

aku berte kad akan membantu Sin liong piau kiok untuk

menemukan kembali barang kawalan yang di begal

orang…….”

Berpikir sampai disitu, dia lantas menghibur si Berewok

berpena baja Tio Ci bui dengan suara lembut.

“Saudara Tio, kejadian toh sudah berlangsung, disedihkan

juga tak ada gunanya, asal kita bisa menemukan sebuah titik

terang saja, biar pembegal-pembegal itu kabur keujung

langitpun, aku percaya duduknya perkara pasti akan

terbongkar juga……Sekarang keadaan ma sih belum

terlambat, mengapa kau tidak menmbangkitkan semangatmu

untuk melakukan sesuatu usaha yang lebih bersemangat.

Si Berewok berpena baja Tio Ciu hui segera manggutmanggut,

sahutnya kemudian:

“Apa yang Suma siauhiap katakan memang benar, cuma

pembegal pembegal itu hampir semuanya mengenakan kain

kerudung hitam serta tidak meninggalkan jejak apapun, kalau

dibilang sungguh memalukan, mereka semua rata-rata berilmu

tinggi, orangnya banyak lagi, aku Tio Ci hui betul-betul tak

berdaya dan tak berkemampuan untuk menahan salah

seorang saja diantara mereka”

Sambil berkata wajahnya menunjukkan perasaan menyesal,

kecewa, sedih dan menyalahkan diri.

Suma Thian yu adalah seorang yang cerdas, begitu

mendengar pembegal-pembegal tersebut berkerudung,

lagipula terjadi dibukit Kiu gi san, satu ingatan dengan cepat

muncul dalam benaknya, dia tahu peristiwa ini pasti luar biasa,

siapa tahu ada hubungannya dengan ke matian paman

Wannya yang mengenaskan……

Teringat akan paman Wan, hatinya merasa sedih sekali,

raut wajah penuh kasih sayang yang telah memelihara dan

mendidiknya selama sepuluh tahun segera muncul kembali

dalam benaknya, dia tidak dapat mengendalikan rasa pedih

dalam hatinya lagi, sambil mengepal tinju dan mendongak ke

angkasa, lirihnya:

“Aku hendak membalas dendam …” Waktu itu si Berewok

berpena baja Tio Ci hui sedang tercekam dalam kesedihan,

ketika secara tiba tiba dilihatnya pemuda di hadapannya

menunjukkan wajah gusar dengan hawa pembunuhan

menyelimuti wajahnya, bahkan menggumam hendak

membalas dendam, terkejutlah dia, diam diam pikirnya

dengan perasaan bergidik:

“Betul betul amat tebal hawa pembunuhan yang

menyelimuti wajahnya, kalau dilihat dari keadaannya, dia

mempunyai asal usul yang amat mengenaskan atau suatu

pengalaman hidup yang memedihkan hatinya, jikalau tidak,

mana mungkin dia menunjukkan emosi yang be gitu besar dan

mengerikan?”

Tiba-tiba terdengar burung gagak berkaok.

Kedua orang itu segera tersentak kembali dari lamunan

masing masing.

Suma Thian yu memperhatikan suasana malam yang

mencekam sekeliling tempat sekejap, lalu ujarnya kepada

siberewok berpena baja:

“Saudara Tio, malam sudah semakin kelam, mari kita harus

selesaikan pekerjaan yang paling penting”

Maka kedua orang itupun menggunakan pedang masingmasing

membuat liang lahat….

Tak selang berapa lama kemudian, mereka telah

menyiapkan tiga belas buah liang lahat.

Yaa, angka tiga belas, suatu angka yang di anggap

membawa sia. Sambil membopong mayat-mayat rekannya

yang telah kaku, satu persatu siberewok berpena baja

memasukkan jenasah-jenasah tersebut ke dalam liang lahat,

dalam keadaan demikian, dia tak dapat membendung rasa

sedihnya lagi sehingga menangis tersedu-sedu.

Manusia adalah mahkluk berperasaan, walaupun

kedudukan si Berewok berpena baja dalam perusahaan Sik

liong piaukiok amat tinggi, namun dia adalah seorang yang

berjiwa terbuka, dalam waktu-waktu biasa dia tak pernah

membedakan hubungan tingkat kedudukan, pergaulannya

dengan para piausu itu amat akrab, sehingga bukan saja ia

dicintai juga dihormati oleh semua orang.

Kini, mereka telah meninggalkan dunia ini, akan beristirahat

untuk selamanya ditengah bukit yang terpencil dan jauh dari

keramaian manusia, untuk selama-lamanya…..

Tak heran kalau dia menangis semakin sedih setelah

menyaksikan rekan-rekan senasib sependeritaanya seperi

harus berpisah untuk selamanya.

Siapa bilang enhiong tidak melelehkan air mata? Mesti

mereka baru akan mengucurkan air mata bila keadaan sudah

amat memedihkan.

Kesedihan yang muncul dari dalam hati sanubari pun

merupakan kesedihan yang paping mencekam perasaan,

Suma Thian yu mulai terpengaruh juga oleh suasana yang

mengharu itu sehingga tanpa terasa titik air mata pun turut

jatuh berlinang.

Pekerjaan akhirnya diselesaikan dalam suasana yang penuh

kesedihan dan kedukaan…

Ditengah bukit, dalam lapangan yang luas, kini telah

bertambah dengan tiga belas buah kuburan baru, disanalah

tiga belas orang piau su yang setia sampai mati beristirahat

untuk selamanya.

Suma Thian yu mendongakkan kepalanya memandang

kegelapan malam yang semakin mencekam, kabut telah

menyelimuti permukaan, pakaian merekapun telah basah, ia

tahu fajar tak lama lagi akan menyingsing, buru-buru dia

berjalan mendekati si Berewok berpena baja.

Waktu itu si Berewok berpena baja berdiri termangu-mangu

didepan kuburan sambil menahan rasa sedih yang luar biasa.

Orang yang sedih selamanya memang paling gampang

menaruh simpatik dan memahami kesedihan orang lain.

Suma Thian yu menepuk bahu siberewok berpena baja

pelan, lalu hiburnya dengan lembut:

“Saudara Tio, harap kau tak usah bersedih hati lagi,

sekalipun peristiwa ini terjadi diluat dugaan, janganlah kau

bawa kesedihan menuju ke hal-hal yang negatip. Asal kita bisa

melacak peristiwa ini sehingga duduknya perkara menjadi

jelas, dan kita pun bisa membalas kan dendam untuk mereka,

aku yakin arwah sahabat-sahabat ini dialam baka pasti akan

terhibur juga”

Setelah mendengar kata-kata hiburan dari Suma Thian yu

tersebut, si Berewok berpena baja Tio Ci hiu menghentikan

isak tangisnya, sa hutnya kemudian dengan suara parau:

“Baik, selama Tio Ci hui masih hidup. aku pasti akan

berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuh kawanan

pembegal berkerudung itu untuk membalaskan dendan bagi

ketiga belas saudara ini”

Sekalipun harus naik kebukit golok atau meyeberangi

lautan minyak mendidih, aku Sama Thian yu pasti akan

membantu dengan segala kemampuan yang kumiliki”

Janji sianak muda itu dengan bersungguh sungguh.

Nadanya selain tulus wajahnyapun serius, sama sekali tidak

bersikap pura-pura.

SiBerewok berpena baja Tio Ci hui merasa terharu sekali,

dia tak menyangka kalau pemuda tersebut bukan saja amat

membenci kejahatan juga suka membantu orang, dia

bersyukur karena dalam usahanya membalas dendam dan

merebut kembali barang kawalan yang dibegal, ia telah

memperoleh bantuan dari seorang tokoh yang gagah dan

lihay.

Sehingga hal mana membuat hatinya yang sedih merasa

agak terhibur juga, sambil menjura serunya.

“Terima kasih banyak atas bantuan siauhiap, selumnya aku

Tio Ci hui atas nama seluruh anggota perusahaan Sin liong

piaukiok mengu capkan banyak-banyak terima kasih

kepadamu”

Aaah, saudara Tio terlalu sungkan, bagikmu persoalan

semacam ini sudah merupakan suatu kewajiban”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebij jauh:

“Mari kita pergi! Fajar sudah hampir menyingsing, luka

dalam yang saudara Tio derita baru baru sembuh, kau harus

mendapat banyak waktu untuk beristirahat”

Si Berewok berpena baja Tio Ci hui manggut-manggut, dia

mengambil kembali pena bajanya lalu memandang sekejap

kearah tiga belas buah kuburan itu dengan termangu,

akhirnya dia bergumam:

“Saudara-saudaraku, beristirahatlah dengan tenang disini!”

Sekalipun aku Tio Ci hui harus mengorbankan jiwa, badan

harus hancur remuk, pasti aian membalaskan dendam untuk

kalian!”

Selesai bergumam, bersama Suma Thian yu berangkatlah

dia meninggalkan tempat itu.

Angin dingin menghembus lewat mengibar ujung baju,

suasana ditempat penjuru tampak gelap gulita.

Inilah saat-saat menjelang rintangnya fajar.

Bila fajar hampir menyingsing, kadangkala saat-saat

terakhir itulah merupakan saat yang paling gelap….

Mereka berdua segera mencari sebuah gua untuk

beristirahat, karena tubuh memang sudah penat, tak lama

kemudian merekapun tertidur nyenyak sekali.

Bangun dari tidurnya, sinar matahari sudah memancar

masuk kedalam gua, buru-buru mereka berdua mengisi perut

dengan rangsum sambil bersiap siap untuk melanjutkan

perjalanan lagi.

Terdengar Suma Thian yu berkata:

“Saudara Tio, mari kita berangkat!”

Baru saja ucapan terakhir diutarakan, tiba-tiba dari luar gua

terdengar seseorang menegus sambil menyeringai

menyeramkan.

“Heehh.. heehh…heehh…tidak sukar kalau ingin pergi, tapi

tinggalkan dulu pedang Kit hong kiam tersebut!”

Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu maupun si

Berewok berpena baja merasa tertegun, mereka heran kenapa

kehadiran orang itu sama sekali tidak diketahui oleh mereka?

Itu berarti orang tersebut tentu mempunyai aeal usul yang

luar biasa.

Tanpa terasa kedua orang itu bersama-sama berpaling

kearah mana berasalnya suara tersebut.

Didepan depan gua tampak berdiri seorang manusia aneh

berbaju hitam yang mengenakan kain kerudung, sepasang

matanya yang nampak dari luar memancarkan cahaya tajam

yang menggidikkan.

Si Berewok berpena baja Tio Ci hui yang menjumpai

kehadiran manusia berkerudung itu, tanpa mengucapkan

sepatah katapun segera bertindak lebih dulu, diam-diam ia

menghimpun tenaga dalamnya lalu dengan gaya harimau

lapar menerkam domba, sebuah pukulan dahsyat yang di

sertai tenaga penuh langsung di ayunkan ke tubuh manusia

aneh berkerudung itu.

Serangan tersebut dilancarkan dengan mempergunakan

segenap tenaga dalam yang dimiliki si Berewok berpena baja

Tio Ci hui, maksudnya ingin membunuh, manusia aneh

berkerudung hitam itu tertawa dingin, sepasang tangannya

masih lurus kebawah dan sama sekali tidak menggubris atau

pun berkelit kesamping. kalau dilihat dari sikapnya itu, dia

seakan akan tak memandang sebelah matapun terhadap si

Bere wok berpena baja.

Waktu itu si Berewok berpena baja Tio Ci hui baru sembuh

dari luka parahnya, melihat sikap lawannya yang begitu

memandang hina, amarahnya kontan saja membara, api

untuk membalas dendam membangkitkan suatu kekuatan

besar dalam tubuhnya.

Begitu serangan pertama belum berhasil, bagaikan seekor

burung raksasa dia keluar dari gua tersebut.

Pada saat yang bersamaan pula Suma Thian yu melompat

keluar juga dari dalam gua.

Si Berewok berpena baja Tio Ci hui belum mengalami

keadaan seperti ini, sikap memandang rendah yang

diperlihatkan manusia aneh berkerudung itu membuat

amarahnya semakin membara, tampak rambutnya pada

berdiri, tiba-tiba ia menerjang kedepan manusia aneh

berkerudung itu, kemudian sepasang telapak tangannya

didorong kedepan, sekali lagi tampak segulung angin pukulan

yang termaha dahsyat menghantam atas tubuh manusia aneh

berkerudung itu.

Menyaksikan datangnya ancaman, manusia aneh

berkerudung itu pun mengayunkan pula telapak tanganya

untuk menyambut datangnya serangan tersebut, ketika dua

gulung angin pukulan dahsyat saling bertemu satu sama

lainnya, tiba-tiba saja…..”Blaaamm” suatu benturan dahsyat

menimbulkan hembusan angin puyuh yang menerbangkan

batu serta pasir.

Sepasang bahu manusia aneh berkerudung itu tampak

bergetar sedikit, ujung bajunya berkibar kencang, sebaliknya

si Berewok berpena baja Tio Ci hui kena terhantam mundur

sejauh tiga langkah dengan sempoyongan, dia bersusah payah

sebelum berhasil berdiri tegak.

Suma Thian yu yang menyaksikan jalannya pertarungan itu

dari sisi arena dapat melihat keadaan tersebut dengan lebih

jelas lagi, dia tahu ilmu silat yang dimiliki manusia aneh

berkerudung itu masih setingkat lebih lihay dibandingkan

dengan kepandaian silat yang dimiliki Tio Ci hui, diam-diam

dia merasa gelisah.

Begitu berhasil berdiri tegak, tiba tiba si Berewok berpena

baja meloloskan senjata andalannya dari belakang punggung,

tangan ka nannya diayunkan kedepan, pena dengan

hembusan angin dahsyat segera meluncur kedepan menotok

tubuh manusia aneh berkerudung tersebut, bentaknya dengan

penuh kegusaran:

“Pembegal yang tak tahu malu, serahkan nyawa anjingmu!

Sejak kedua buah pukulannya gagal menimbulkan sesuatu

kerugian bagi musuhnya, amarah dalam dada si Berewok

berpena baja sudah berkobar, maka sekarang dia lantas

mengembangkan ilmu pena Ji cap si si Thi pit hoat (dua puluh

empat jurus ilmu pena baja) yang amat termashur itu dengan

harapan bisa merobohkan musuhnya itu.

Dalam suasana ini, rasa ingin menangnya membara amat

dahsyat dalam dadanya, segenap perhatian maupun

tenaganya tertuju kedepan, dia bertekad hendak mengalahkan

musuhnya, itulah sebabnya tenaga serangan yang

dipergunakan pun amat besar.

Mencorong sinar tajam dari balik mata manusia aneh

berkerudung hitam itu, tampaknya dia sudah dapat menebak

maksud hati siBerewok berpena baja tersebut, setelah tertawa

seram tubuhnya melejit keudara untuk menghindarkan dari

ancaman tersebut, kemudian dari udara sebuah pukulan

dilancarkan keatas kepala Si Berewok berpena baja dengan

jurus Hu im sip gwat (awan tebal menutupi rembulan).

Bagaimanapun juga, si berewok berpena bajaTio ci hui

memang tak malu disebut jagoan lihay didalam dunia

persilatan, sudah belasan tahun lamanya dia melatih diri

dalam permain baja tersebut, baik ilmu tenaga maupun dalam

Ilmu tenaga luar telah berhasil mencapai puncak

kesempurnaan.

Maka begitu dilihatnya manusia aneh berkerudung hitam

itu menerkam kebawah sambil melancarkan serangan, buruburu

dia melompat keatas sambil melepaskan tusukan dengan

pena bajanya.

Berada ditengah udara, kekuatan manusia aneh

berkerudung hitam itu sangat berkurang banyak, buru-buru

dia pergunakan jurus To yu cian hui (membalikkan sayap

terbang ke depan) buru-buru melayang tiga kaki ke depan—-

Begitu berhasil mendesak lawan, si Berewok berpena baja

memutar pena ditangan kanannya membentuk lapisan

bayangan senjata yang sangat tebal, sekali lagi dia menerjang

kearah manusia aneh ber kerundung hitam tersebut.

Dalam teori ilmu silat, yang menjadi faktor utama adalah

mengendalikan musuhnya, maka setelah melayang turun

kebawah, manusia aneh berkerundung hitam itu segera

mengayunkan kembali tangannya berusaha untuk merebut

posisi yang lebih menguntungkan.

Jilid 6

suma thian yu yang menyaksikan jalannya pertarungan dari

sisi arenapun tak berani bersikap santai waktu itu, dengan

sorot mata yang tajam, dia mengawasi terus jalannya

pertarungan dengan harapan andaikan siberewok berpena

baja tak sanggup mempertahankan diri, maka dia akan

membantu setiap saat.

Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung ditengah

arena sudah mencapai puncak keseruanya.

Si Berewok berpena baja dengan mengandalkan pena

bajanya memainkan serangkaian serangan berantai untuk

mendesak lawannya, sedangkan manusia aneh berkerudung

hitam pun memainkan sepasang telapak tangan kosongnya

untuk menahan datangnya serangan pena lawan.

Dalam waktn singkat, seluruh arena telah dipenuhi oleh

bayangan manusia serta angin pukulan yang menderu deru,

lima kaki di sekitar arena diliputi oleh debu dan pasir yang

berterbangan memenuhi angkasa, pertarungan tersebut

benar-benar merupakan suatu pertarung an yang jarang sekali

dijumpai kehebatannya.

Mendadak terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu

meraung gusar, sepasang telapak tangannya melancarkan

serangkaian yang berantai, dalam waktu singkat dia sudah

melepaskan tiga buah serangan dahsyat yang kesemuanya

menggunakan jurus jurus mematikan, kontan saja si Berewok

berpena baja kena di desak sampai mundur sejauh satu kaki

lebih dari tempat semula.

Mempergunakan kesempatan itu, si berewok berpena baja

segera mundur tiga langkah dan kemudian ia menarik napas

panjang-panjang danmenghimpun segenap tenaga dalam

yang dilatihnya selama puluhan tahun ini keujung senjatanya.

Begitu senjata pena baja itu digetarkan kembali ditengah

udara, dalam dalam waktu seluruh angkasa seraya dilipati oleh

angin puyuh yang dahsyat, bayangan pena yang berlapis-lapis

hampir seluruhnya mengurung tubuh manusia aneh

berkerudung hitam itu rapat-rapat.

Merasakan tenaga kurungan yang semakin besar

menggencet tubuhnya, kemarahan manusia aneh itu semakin

membara, tubuhnya segera melompat kedepan, tiba-tiba

dengan suatu gerakan cepat tangannya menghantam kedepan

dadanya si Berewok berpena baja dengan jurus Lip pei thay

san (mencabut keluar bukit Thay san.)

Segulung kekuatan yang maha dahsyat bagai hancurnya

bendungan, langsung saja meluncur kedepan dengan

kekuatan yang mengerikan.

Menanti si Berewok berpena baja menyaksikan datangnya

ancaman tersebut, untuk menghindar sudah tak sempat lagi,

tanpa terasa dia menjerit kaget:

“Habis sudah riwayatku kali ini!”

Sepasang telapak tangannya segera didorong kedepan,

sambil memejamkan mata dia menanti saat kematianrya tiba.

Siapa tahu disaat yang keritis itulah tiba-tiba terdengar

suara bentakan keras menggema yang pecahkan keheningan,

segulung angin pukulan teah menyambar kedepan, lalu

seorang pemuda tampan tahu- tahu sudah berada

dihadapnnya.

Si berewok berpena baja hanya merasakan pandangan

matanya menjadi kabur, seluruh badannya tahu-tahu sudah

didorong oleh segulung tenaga lembut yang halus hingga

tergeser lima depa kesamping, sementara tenaga pukulan

lawan yang maha dahsyat itu sudah menyambar lwat sisi

tubuhnya.

“Blaam” terdengar benturan suara keras menggelegar

memecahkan kesunyian, sebatang pohon siong yang berada

dibelakangnya sudah tumbang keatas tanah.

Si berewok berpena baja Tio Ci-hui menjadi amat

terperanjat, mukanya pias seperti mayat, matanya terbelalak

lebar dan mulutnya terngangga.

Si berewok berpena baja Tio Ci-hui hampir tidak percaya

dengan apa yang dilihat, ternyata orang yang mendorong

tubuhnya kesamping dan menyelamatkan jiwanya tak lain

adalah Suma Thian yu.

Tapi yang paling terperanjat bukan dia melainkan manusia

aneh berkerudung hitam itu, dia percaya serangan yang

dilancarkannya ba rusan sudah pasti dapat berhasil

mengalahkan Tio Ci hui, siapa tahu dari tengah jalan telah

muncul seorang Thia Kau kiai, bukan saja usahanya sia-sia

belaka, dia sendiri malah kena tergetar mundur.

Kontan saja seluruh hawa amarahnya dilampiaskan keatas

tubuh Suma Thian yu, hawa pembunuhan dengan cepat

menyelimuti wajahnya, dengan wajah penuh kegusaran

teriaknya.

“Bocah busuk, kau pandai sekali menyergap orang…….”

“Haaaa…..haaah……haaah, menyergap orang. Hmm, masih

bisanya berkata begitu, untuk menjegal dirimu, buat apa mesti

menggunakan cara main sergap?”

Ucapan yang amat takabur ini kontan saja membuat si

Berewok berpena baja menjadi terkesiap, matanya terbelalak

lebar dan mengawasi Suma thian yu tanpa berkedip, dia kuatir

sianak muda itu akan menderita kerugianbesar.

Walaupun sudah dua kali nyawa si berewok berpena baja

ditolong oleh Suma Thian yu, namun sebelum menyaksikan

kelihayan dari anak muda tersebut dengan mata kepala

sendiri, dia tak percaya kalau bocah tersebut memiliki

kemampuan yang amat lihay.

“Seorang bocah muda berusia enam tujuh belas tahun,

berapa besarkah kemampuan yang bisa dimilikinya?” demikian

dia berpikir.

Tapi seringkali kenyataan bisa berbeda jauh dengan apa

yang diduga dalam harinya.

Seketika itu juga suasana dalam arena berubah menjadi

luar biasa heningnya, inilah saat-saat terakhir menjelang

berlangsungnya suatu badai yang amat dahsyat.

Selama ini manusia aneh berkerudung hitam itu cuma

membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara sepasang

matanya yang dingin bagaikan es mengawasi pedang Kit

hong kiam yang tersoren dipunggung Suma Thian yu tanpa

berkedip.

Menyaksikan keadaan tersebut, Suma Thian yu segera

memecahkan kesunyian itu lebih dulu, katanya:

“Pencoleng berkerudung, tidak sulit jika kau menginginkan

pedangku ini, cuma harus dilihat dulu apakah kau memiliki

kemampuan tersebut, asal kau sanggup menangkan satu jurus

dari sauya, pedang ini tanpa syarat akan kupersembahkan

kepadamu, kalau tidak, hari ini sauya ingin merenggut pula

selembar nyawamu.

Menyinggung soal pedang Kit hong kiam, tanpa terasa arak

muda itu terbayang kembali paman Wan nya yang dikasihi.

Mendadak hawa amarah berkobar didalam dadanya, ia tak

sanggup mengendalikan dirinya lagi, dengan mata melotot

besar dia segera mencabut keluar pedang Kit hong kiamnya

lalu diiringi suara gemerinciug nyaring, serentetan cahaya

tajam kehijau-hijauan memancar ke empat penjuru.

Melihat itu, tanpa terasa manusia aneh berkerudung itu

berseru memuji:

“Betul-betul sebilah pedang bagus”

Berdiri dibawah sinar fajar dengan pedang terhumus, Suma

Thian yu nampak sangat gagah dan penuh memancarkan

sinar kewibawaan.

Si Berewok berpena baja dapat menyaksikan raut wajah

Suma Thian yu penuh diliputi hawa pemenuhan yang sangat

tebal, tahukah dia kalau pemuda itusedang diliputi oleh

amarah yang membara?.

Tampaknya manusia aneh berkerudung hitam pun tahu

kalau musuhnya bukan sembarangan musuh, dia tak berani

memandang enteng lawannya, pelan-pelan pedangnya pun

diloloskan keluar.

Suatu pertarungan yang amat seru pun segera akan

berlangsung didepan mata.

Suma Thian yu yang muda dan berjiwa panas tak dapat

menahan diri lebih dulu, dia berpekik gusar, tenaga dalamnya

disalurkan ke dalam lengan kanan, kemudian pedangnya di

putar dengan jurus sin liong jut im (naga sakti keluar dari

mega) tampak selapis bunga pedang yang amat menyilaukan

mata langsung menusuk kearah tenggorokan manusia

berkerudung tersebut…..

“Serangan bagus!” seru manusia berkerudung itu sambil

berkelit kesamping.

Tangan kanannya dengan memainkan jurus Hek coa jut

tong (ular hitam keluar dari guaj menyergap jalan darah Sian

ki niat didalam tubuh Suma Thian yu, pedangnya dilancarkan

bersamaan dengan gerakan tubuhnya.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dia

sudah kehilangan bayangan dari Suma Thian yu.

Sementara dia masih tertegun, mendadak dari sisi

badannya terdengar seseorang tertawa nyaring.

“Sauya berada distni!”

Betapa gusarnya manusia aneh berkerudung hitam itu

karena merasa dipermainkan, sambil berpekik nyaring

tubuhnya berputar arah, pedangnya dengan jurus Ya wan

heng tok (sampan kecil menyeberang sungai) membabat

pinggang Suma Thian yu.

Belum kagi serangan itu tiba, Suma thian yu sudah

merasakan desingan angin tajam yang menyambar tiba, ia tak

berani berayal, denga ilmu langkah Ciok yiong koan poh ia

menyelinap kesamping, memakai jurus Hoa sui hong siau

(Bunga berterbangan mengikuti angin) ia menyelinap

kebelakang tubuh manusia aneh berkerudung hitam itu sambil

tertawa dingin.

Padahal manusia aneh berkerudung hitam itu sudah

merasa kalau serangannya dilancarkan dengan cepat dan

tepat, baru saja ujung pedangnya hampir menusuk ditubuh

lawan, tahu-tahu bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas,

disusul terdengar pihak lawan tertawa dingin dari belakang.

Rasa kagetnya tak terlukiskan dengan kata, buru-buru

pedangnya dimainkan dengan gencar. Sreet! Sreeet! Sreeet!

Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan kilat

dengan jurus-jurus Kan kun to cuan (dua berputar balik), Khi

koan tian hong (bianglala memancar diangkasa), Po im kian jit

(menyingkap awan melihat matahati).

Tampak selapis cahaya bintang yang menyilaukan mata,

disertai cahaya pedang yang berkilauan dengan cepat

mengurung Suma thian yu dalam kepungan kabut pedang.

Sekarang, Suma Thian yu baru merasakan kelihayan

lawannya, buru buru ia salurkan ilmu Bu siang sia kang dari

perguruannya kedalam permainan pedang, selapis bunga

pedang diciptakan memenuhi angkasa, lalu disertai desingan

angin tajam langsung menyapu kedepan.

Setika itu juga tampaklah dua belah menari-nari diangkasa,

cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, bunga pedang

menyusul kemana-mana, pertarungan yang sedang

berlangsung benar-benar merupakan suatupertarungan yang

amat sengit.

Selama ini si Berewok berpena baja Tio Ci hui hanya

menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi arena, selama ini

dia amat menguatir kan keselamatan jiwa Suma Thian yu,

bahkan mengucurkan peluh dingin baginya.

Akan tetapi setelah menyaksikan kelihayan yang dimiliki

pendekar cilik ini, dia baru merasa terkejut bercampur girang,

sekarang dia sudah tak bisa membedakan lagi mana yang

Suma thian yu dan mana si manusia berkerudung.

Kecuali dua sosok bayangan manusia yang saling

menyambar dibalik kabut pedang yang tebal, ia hampir boleh

dibilang tidak melihat apapun.

Makin bertarung Surna Thian yu merasa makin perkasa,

rasa ingin menang hampir menyelimuti seluruh benaknya.

Mendadak dia berpekik nyaring, seluruh badannya melejit

ketengah udara, pedang Kit hong kiamnya menciptakan

selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, dengan

cepatnya lapisan cahaya itu mengurung seluruh badan

manusia berkerudung itu.

Bagaikan bayangan iblis yang menempeli lawan, manusia

berkerudung hitam itu selalu berputar kesana kemari, kekiri

kekanan mengikuti gerakan dari Suma Thian yu.

Yang seorang adalah manusia aneh berkerudung hitam,

sedang yang lain adalah seorang pemuda berwajah tampan,

saat itu mereka berdua sudah bertarung sampai titik keadaan

yang paling kritis, terlihat lapisan cahaya perak berkilauan dan

amat menusuk pandangan.

Makin bertarung manusia aneh berkerudung hitam itu

semakin ter peranjat, ia tidak nyangka kalau kepandaian silat

yang dimiliki pemuda itu begitu dahsyat, pada hakekat

merupakan musuh paling tangguh yang pernah dijumpainya,

seketika itu juga mencorong sinar keraguan dari balik

matanya.

Diam-diam dia lantas berpikir.

“Bocah keparat ini bertarung hanya mengandalkan pedang

Kit hong kiam yang memainkan ilmu pedaog Kit hong kiam

hoat, sudah jelas dia merupakan murid dari Wan Liang. Kalau

dilihat usianya yang muda, ternyata ilmu silatnya sepuluh kali

lipat lebih hebat dari pada Kit hong kiam Wan Liang, bukankah

kejadian ini sangat aneh? Hari ini, kalau ia tidak kubunuh,

sudah pasti dikemudian hari akan jadi bibit bencana bagi

diriku sendiri…..”

Berpikir sampai disitu, dia lantas berpendapat bahwa

“menghajar ular tidak mati, bibit bencana tidak ada habisnya”,

siapa tahu kkarena pikirannya harus bercabang, permainan

pedangnya menjadi lamban.

Hal mana segera memberikan peluang baik sekali bagi

Suma Thian yu. Dengan pedang Kit hong kiamnya digetarkan

keras, tubuhnya melompat kedepan sambil melakukan sebuah

sapuan kilat, selapis cahaya pedang memancar keempat

penjuru, menanti manusia aneh berkerudung hitam itu sudah

kena disambar lepas oleh cukilan pedang Suma Thian yu.

Dengan cepat terlihatlah selembar wajah yang amat

tampan sekali muncul dari balik kain tersebut.

Peristiwa ini sama sekali diluar dugaan, mimpipun manusia

aneh berkerudung hitam itu tak menyangka kalau gerakan

lawan bisa secepat itu, buru-buru dia melancarkan sebuah

bacokan kilat, kemudian sepasang bahunya bergerak dan lalu

ia melejit ketengah-tengah udara, dalam beberapa lompatan

saja dia sudah mencapai puluhan kaki dan lenyap dari

pandangan mata.

Tindakan yang sangat tiba-tiba ini diluar dugaan siapapun,

ternyata manusia aneh berkerudung hitam itu bukan kabur

lantaran kalah, melainkan justru karena kain kerudungnya

kena disambar hingga terbuka.

Panjang untuk diceritakan, cepat didalam kenyataaan, sejak

terjadinya peristiwa kain kerudung yang tersingkap sampai

tindak melarkan diri, semuanya dilakukan dalam waktu

singkat, sehingga si Berewok berpena baja Tio Ci hui yang

berdiri disisi arena tak sempat melihat jelas paras muka yang

sebetulnya dari manusia berkerudung itu.

Begitu berhasil menyingkap kain kerukdung lawan, tiba-tiba

Suma Thian yu merasakan ada segulung tenaga pukulan yang

menyergap tubuhnya, buru-buru dia miringkan kesamping

untuk menghindarkan diri.

Tampak serangan tersebut dilancarkan manusia

berkerudung itu dalam keadaan gusar, angin pukulan itu

sedemikian dahsyatnya se hingga sebatang pohon yang

berada dibelakang Suma Thian yu terhajar sampai patah dan

roboh ke tanah.

Melihat kesempatan untuk membalas dendam segera akan

berakhir, buru-buru Suma Thian yu berseru keras.

“Kejar!”

Dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya, dia langsung melejit ke depan.

Si Berewok berpena baja yang menyaksikan rekannya

melakukan pengejaran, diapun dengan perasaan bingung ikut

melakukan penge jaran pula dari belakang.

Ditengah pegunungan sepi, terlihatlah tiga sosok bayangan

manusia secepat sambaran kilat melakukan kejar mengejar,

bagaikan tiga gulung asap hitam, mereka meluncur cepat ke

muka.

Makin kabur manusia berkerudung itu semakin cepat,

bagaikan kuda liar dia berlarian tiada hentinya.

Sambil menggigit bibir, Suma Thian yu segera mengejardari

belakangnya dengan ketat.

Lima kaki, tiga kaki, satu kaki….

Tampaknya Suma Thian yuskan berhasil menyusul

dibelakang tubuh manusia aneh berkerudung hitam itu,

seakan akan mempunyai mata dipunggungnya, mendadak dia

merentangkan sepasang tangannya, kemudian bagaikan

seekor burung elang raksasa, dengan kecepatan luar biasa

menerebos masuk kedalam hutan.

Tanpa berpikir panjang lagi Suma Thian yu segera melejit

ketengah udara dengan jurus Cing cian tui hong (Comberet

hijau mengejar angin) diapun ikut mengejar kedalam hutan.

Orang persilatan mempunyai pantangan yang besar, yakni

bila bertemu hutan jangan. Namun Suma thian yu sama sekali

tidak memperdulikan tantangan tersebut.

Begitu masuk kedalam hutan, dia segera kehilangan jejak

dan dari manusia aneh berkerudung hitamitu, untuk sesaat

Suma Thian yu menjadi sangsi…

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema dari

dalam hutan, tiga titik cahaya disertai dengan angin tajam,

dengan berpen car dalam posisi segitiga langsung meluncur ke

arah Suma Thian yu.

Suma thian yu adalah seorang anak mada yang belum

berpengalaman, mimpipun dia tak menyangka kalau manusia

berkerudung hitam itu bakal melancarkan serangan

mematikan seperti ini, menanti dia sadar akan datangnya

bahaya, tiga batang pian beracun telah muncul didepan mata.

“Aaah…!” serunya kaget.

Dalam keadaan yang amat berbahaya, Suma Thian yu

segera ber tindak cepat, dengan gerakan Gi kiong ciu pon

(menggeser posisi maju berlangkah) badannya melejit lima

depa ke samping.

“Sreet! Sreet! Sreet! tiga batang pian terbang telah

meluncur lewat dari sisi tubuhnya dan menghajar diatas dahan

pohon disebelah kanan.

Kalau dibilang berbahaya, keadaan yang dihadapinya saat

itu benar-benar berbayaha sekali, sedikit saja meleset bisa

mengakibat kan pisau beracun menembusi ulu hatinya.

Peluh dingin bercucuran membasahi seluruh badan Suma

Thian yu, sejak dilahirkan dari rahim ibunya, belum pernah ia

alami kejadian seperti ini, kontan saja amarahnya berkobar.

Dengan cepat ia melejit keudara sambil menerjang kearan

mana datangnya sergapan tersebut, berada ditengah udara

dia berpekik pan jang, sepasang telapak tangannya didorong

ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Seketika itu juga terdengarlah suara gemuruh yang amat

memekikkan telinga dalam hutan tersebut, lalu beberapa

batang pohon siong bertumbangan ke atas tanah.

Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu dalam keadaan

gusar ini telah disertakan tenaga Bu siang sin kang yang maha

dahsyat, kehebatannya benar-benar mengerikan sekali.

Tapi, suasana didalam hutan tersebut masih tetap senyap

tak kedengaran sedikit suarapun, sementara bayangan tubuh

dari manusia aneh berkerudung hitam itu sudah lenyap.

Sambil mendepak-depakkan kakinya keatas tanah dengan

gemas, Suma Thian yu bergumam:

“Bajingan licik yang berotak anjing……..hitung-hitung

nasibmu memang lagi mujur!”

Pada saat itulah, si Berewok berpena baja Tio Ci-hui telah

sampai pula ditempat tujuan.

Kepada rekannya yang baru tiba itu, Suma Thian yu

menggelengkan kepalanya berulang kali, rasa kecewa terlintas

di atas wajahnya.

“Sudah kabur!” dia bergumam sambil menghela napas.

“Suma Hiante, tindakanmu melakukan pengejaran tadi

sungguh mencemaskan hatiku! Tahukah kau, mereka adalah

manusia-manusia laknat yang berhati busuk, perbuatan keji

seperti apa saja dapat mereka lakukan, lain kali jika bertemu

lagi dengan peristiwa semacam ini, kau harus berhati-hati lagi”

Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera teringat

kembali dengan tindakan yang baru saja dilakukan, berbicara

yang sesungguh nya andaikata didalam hutan tadi benarbenar

sudah disiapkan musuh dalam jumlah banyak, bisa jadi

dia menderita kerugian yang amat besat.

Maka dengan perasaan menyesal katanya:

“Tadi aku hanya dibikin jengkel oleh keadaan hingga mata

gelap, lain kali aku pasti akan bertindak lebih hati-hati lagi”

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia teringat akan

sesuatu, segera serunya:

“Tio toako, sungguh tampan wajah orang itu”

“Apa? Kau berhasil melihat jalan raut wajah orang itu?

seru si Berewok berpena baja cepat.

“Yaaa, walaupun hanya sikejap mata, namun aku dapat

melihat jelas raut wajah orang itu.

“Berapa besar usianya?”

“Antara empat puluh tahunan”

“Bagaimanakah tampangnya?”

“Bermata jeli, beralis mata lentik, hidung mancung dan

mulut lebar…….”

“Bermata jeli, beralis mata lenting, hidung mancung dan

mulut lebar, mungkinkah dia? Si Berewok berpena baja Tio

Cihui segera bergumam pelan.

“Siapakah dia? Tio toako…. “ buru-buru Suma Thian yu

bertanya.

“Aaaah, tak mungkin” kembali si Berewok berpena baja Tio

Ci hui menggelengkan kepalanya berulang kali, mustahil bisa

dia, yaa dia adalah seorang Kuncu, seorang lelaki sejati”

“Siapakah dia Tio toako? Siapa yang kau maksudkan?”

melihat si Berewok berpena baja bergumam tiada hentinya,

timbullah perasaan ingin tahu di dalam hati Suma Thian yu.

“Hiante, kau tak usah bertanya, aku hanya salah bicara

saja. Orang itu bernama besar dan berkedudukan terhormat di

dalam dunia persilatan, dia adalah seorang pemimpin dunia

persilatan yang paling dihormati orang selama sepuluh tahun

terakhir ini.”

Siapakah dia?”

“Bi ku lun (Kun lun indah) Siau wi goan!”

Oleh karena anak muda itu mendesak terus menerus,

terpaksa si Berewok berpena baja ini harus menyebut juga

nama tersebut.

Tetapi selang beberapa saat kemudian, dia berkata lebih

jauh:

“Raut wajah Siau Tayhiap mirip sekali dengan orang kau

jumpai itu, maka aku telah salah menduga akan dirinya.”

“Siau Wi goan? Suatu nama yang amat dikenal……” sehabis

mendengar perkataan dari si Berewok berpena baja, Suma

Thian yu ber pikir terus tiada hentinya.

Dia merasa seperti pernah mendengar nama itu, ia

berusaha keras untuk menemukan siapa gerangan dia.

Akhirnya dia teringat, bukankah nama tersebut adalah

nama yang seringkali di sumpahi dan dimaki-maki paman

Wan?

Yaa, benar! Paman Wan malah pernah berkata begini:

“Siau Wi goan wahai Siau Wi goan! Bagaimanapun licikmu,

tak mungkin kau akan berhasil menemukan aku orang she

Wan”

Kejadian itu sudah berlangsung lama sekali, waktu itu ia

dan paman Wan baru selesai membenahi gua mereka.

Maka selapis hawa pembunuhan yang menakutkan dengan

cepat menyelimuti wajah Suma Thian yu, darah panas segera

mendidih dalam dadanya, iapun merasa menyesal.

Ia menyesal mengapa membiarkan manusia aneh

berkerudung hitam itu lolos dari pengejarannya, andaikata

waktu itu dia berhasil membekuknya, bukankah semua

kecurigaan tersebut dapat dipecahkan?

“Suma hiante, mengapa kau?” Ketika si Berewok berpena

baja menyaksikan paras muka Suma Tbian yu berubah aneh,

dia segera ber tanya dengan wajah tercengang.

Suma Thianyu sedang termenung sambil mutar otaknya

keras-keras, cepat-cepat ia menjawab:

“Aaaah, tidak apa-apa!” “

Masih sedih?”

“Yaa, benar”

Dia tak ingin membocorkan rahasia tersebut, terutama

sekali rahasia antara paman Wan dengan Siau Wi-aoan. Tentu

saja alasanyang terutama adalah karena dia belum

memahami secara keseluruhan akan rahasia tersebut, ia kuatir

tindakannya yang kelewat terburu-buru justru akan

ditertawakan orang.

Apa lagi kalau didengar dari ucapan si Berewok berpena

baja Tio Cu hui terhadap Siau Wi goan mendekati rasa hormat

yang berlebihan, dia merasa antipatik yang diperlihatkan bisa

mencurigai orang itu, bahkan akan mempersulit usahanya

untuk membongkar perbuatan jahat yang dilakukan Siau Wi

goan.

Si Berewok berpena baja Tio Ci bui belum lama berkenalan

dengan Suma Thian yu, tentu saja dia tak dapat meraba jalan

pikiran dari sianak muda itu.

Dengan nada menghibur, dia lantas berkata: “Adikku,

biarkan saja pencoleng itu kabur, lain kali bila kitasampai

menemukannya kembali, jangan kita biarkan mereka lolos,

mari kita pergi sekarang”

Suma thian yu segera menyarungkan kembali pedangnya

kedalam sarung, kemudian ia memetik sekuntum bunga,

mengendusnya pelan-pelan dan jalan mengikuti si berewok

berpena baja.

Bagian Ketujuh

Perusahaan Sin Liong piaukiok terletak diujung jalan Heng

yang dalam kota Heng ciu, bangunannya menempati areal

tanah seluas puluhan hektar, dinding pekarangannya terbuat

dari batu hijau, disisi pintu gerbang berdiri sepasang patung

singa batu yang berat nya mencapai puluhan ribu kati.

Setiap orang orang persilatan yang datang di kota Heng

ciu, kebanyakan akan berkunjung keperusahan Sin liong

piaukiok untuk menyambangi cong piauiaunya “Mo im sin

liong” (naga sakti penggosok awan) Wan Kiam Cu.

Seakan-akan siapa saja yang bisa berkunjung ketempat itu,

maka sekeluarnya dari sana maka kedudukkannya akan terasa

lebih tinggi dan terhormat…

Hari itu, ketika cong piautau Mo im sin liong Wan kiam ciu

sedang berancang-bincang dengan seorang tetamu yang

datang ber kunjung, tiba-tiba dari luar pintu muncul anak

buahnya yang segera memberi laporan:

“Cong piautau, Tio piautau telah kembali!” Mendengar si

adik angkatnya telah pulang, Ko im sin liong Wan Kiam ciu

merasa girang sekali, segera serunya:

“Ehmm, sampaikan padanya setelah menyelesaikan urusan,

suruh datang kemari, oh yaa, benar, beritahu kepadanya

sepanjang jalan dia tentu amat lelah…..

Mendengar perkataan itu, buru-buru orang itu berseru lagi:

“Lapor cong piautau, Tio piautau pulang sendirian, dia

datang hanya ditemani orang pemuda.”

“Apa?” mendengar ‘aporan itu, dengan terkejut Mo im sin

liong Wan Kiamciu melompat bangun, tak sempat minta maaf

kepada tamunya lagi, buru-buru dia lari keluar.

Para ramunya yang menjumpai kejadian itu segera tahu

kalau disana telah terjadi suatu peristiwa.

Karena itulah mereka bersama sama ikut memburu

keluar pintu gerbang. Begitu sampai didepan pintu, Mo im sin

liong Wan Kiamcu saksikan adik angkatnya si Berewok

berpena baja Tio Ci hui berdiri didepan pintu dengan wajah

sedih dan murung, dibelakangnya mengi kuti seorang pemuda

berwajah tampan.

Buru-buru dia menegur: “Hiante, sebenarnya apa yang

telah terjadi?”

Berjumpa kakak angkatnya, si Berewok berpena baja

merasa bagaikan bertemu sanak sendiri, rasa sedih yang tibatiba

mendekam perasaannya membuat ia tak bisa

mngendalikan diri lagi.

Ia segera memeluk saudara angkatnya dengan air mata

berlinang, tak sepatah katapun yang bisa diucapkan.

Melihat itu, Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera berkata

lagi:

“Hiante, aku sudah tahu, apakah barang kawalanmu

dibegal orang?”

Si Berewok berpena baja manggut-manggut tanpa

menjawab.

“Tidak mengapa” hibur Wan Kiam ciu cepat, “sebagai

seorang lelaki kita harus dapat menghadapi setiap perubahan,

bisa diambil bisa pula dilepas, kau sudah lelah, beristirahatlah

dulu, kemudian baru pelan-pelan menceritakan kisah tersebut

kepadaku”

Cong piautau dari perusahaan Sin liong piau kiok memang

seorang lelaki yang hebat dan berjiwa besar.

Suma Thian yu yang berdiri dibelakang Si Berewok berpena

baja Tio Ci hui diam-diam merasa kagum sekali.

Pelan-pelan Si Berewok berpena baja mendongakkan

kepalanya, lalu dengan mata merah katanya sedih.

“Toako, siaute tak becus, ternyata tak mampu melindungi

barang kawalan tersebut, yang lebih tak beruntung lagi,

mereka telah gugur semua ditangan musuh”

Dia lantas menceritakan semua kisah kejadian itu dengan

jelas, ketika berbicara tentang ketiga belas saudara yang

tewas, Tio Ci hui tak dapat membendung air matanya lagi.

Selesai mendengar laporan tersebut, Mo im sin liong wan

Kiam cie menunjukkan pula rasa sedih yang tebal, butiran air

mata tampak mengembang dalam kelopak matanya, tapi dia

masih berusaha keras untuk menahannya agar jangan meleleh

keluar.

Sampai lama kemudian, Wan Kiam ciu baru berkata.

“Hiante, aku telah membuatmu susah selama ini, cepatlah

rawat lukamu, kau harus lebih mengutamakan kesehatan

badanmu….

Kemudian sambil menjura ke arah Suma Thian yu,

lanjutnya:

“Suma Siauhiap, terima kasih banyak atas bantuanmu,

siauhiap tentu merasa lelah bukan, silahkan mengikuti Tio

hiante masuk kedalam untuk beristirahat!”

Saking terharunya si Berewok berpena baja melelehkan air

mata dengan deras, tentu saja dia rikuh untuk pergi

beristirahat.

Tiga belas saudara telah gugur, sepasukan kereta barang

telah hilang….akhirnya ia tertunduk dengan sedih, titik air

mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu tidak menghalanginya untuk

menangis, dengan membawa perasaan sedih dia berjalan

masuk keruang da lam, sebelum berlalu, pesannya kepada

kasir.

“Turunkan bendera perusahaan, naikkan bendera berduka

cita!”

Bendera berduka cita merupakan bendera yang dinaikkan

untuk mengenang para piaucu yang tewas, setiap kali ada

yang jatuh korban dalam setiap perjalanan, cong piautau pasti

akan memerintahkan sang kasir untuk mengganti bendera

perusahaan dengan bendera segitiga pertanda duka cita

Malam itu seluruh perusahaan berada dalam suasana

hening, setelah cong piautau memerintahkan orang untuk

mengatur para tamu untuk tidur, dia mengurung diri dalam

kamar baca dan berjalan mondar mandir semalaman suntuk

dengan perasaan sedih.

Keesokan harinya, ketika Mo im sin liong Wan Kiam ciu

sedang berada dalam lamat-lamat tidur, mendadak ia

mendengar suara hiruk pikuk dari luar, Wan kiam ciu segera

tersadar kembali dari tidurnya.

Baru saja dia akan melangkah keluar dari kamar, seorang

pegawainya telah lari mendekat sambil berteriak:

“Aduuh celaka… Cong…. Cong piautau panji duka cita

dicuri orang….

Diam-diam Mo im sin liong Wan Kiam merasa tertegun,

tapi dia masih berusahau untuk mempertahankan

ketenangannya, sambil mengulapkan tangannya dia berseru:

“Pergilah kau! Aku akan segera menyusul…”

Sepeninggal pegawainya, Mo im sin liong Wan Kiam ciu

mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang,

pelbagai pikiran serasa berkecamuk didalam benaknya, ia

tidak habis mengerti siapa gerangan manusia aneh

berkerudung hitam itu? Mengapa pula mereka bermusuhan

dengannya?

Tatkala Mo im sin liong Wan Kiam ciu tiba ditengah

lapangan, ditengah lapangan sudah penuh kerumunan ratusan

orang pegawai dan puluhan orang piausu, diantaranya

terdapat pula jago-jago persilatan yang kebetulan berkunjung

kesana.

Tatkala semua orang menyaksikan cong piautaunya

munculkan diri, suasana menjadi hening, sorot mata semua

orang ditujukan kearahnya dan setiap orang membungkam

diri dalam seribu bahasa.

Dengan senyuman getir menghiasi wajahnya, Mo im sin

liong Wan kiam ciu pelan-pelan berjalan ketengah arena dan

manggut-manggut kepada setiap orang yang dijumpainya.

Saat itulah, seorang kakek munculkan diri dari kerumunan

orang banyak dan berjalan menuju kehadapan Wan Kiam ciu,

setelah memberi hormat katanya:

“Lapor cong piautau, pagi tadi ketika Hui lam keluar hendak

menaikkan bendera, tiba-tiba dijumpai panji duka cita itu

sudah hilang, sementara diujung tiang bendera telah

ditemukan sebatang panah, silahkan congpiau memeriksanya”

Mendengar laporan itu, Mo im sin liong wan Kiam ciu

mendongakkan kepalanya, benar juga, di pucuk tiang bendera

itu telah sebatang anak panah.

Melihat itu, katanya sambil tersenyum:

“Sim suhu, mundurlah dulu”

Menanti piausu yang bernama Sim Hui lam mundur, Mo im

sin liong wan Kian ciu melakukan perondaan ke seluruh

lapangan, kemudian baru berkata dengau suara lantang:

“Saudara sekalian, sejak didirikan hingga kini perusahaan

kita sudah bercokol selama dua puluh tahun lamanya, berkat

bantuan dari saudara sekalian, perusahaan kita baru berhasil

mencapai sedikit kemajuan seperti hari ini, lohu yakin tak

pernah menyalahi sobat sobat dari dunia persilatan, siapa tahu

berapa hari berselang barang kawalan kita dibegal orang,

kemarin panji duka cita juga dicuri orang, rejeki tidak tiba

berbareng, bencana tidak jalan sendiri, jelas hal ini merupakan

suatu pembicaraan dan suatu tantangan buat kita, yang patut

disesalkan hingga kini, kita masih belum mengetahui dengan

jelas siapa gerangan musuh kita tersebut.”

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak terdengar

seseorang berseru keras.

“Kalau begitu pembegal itu berkerudung?”,

Pelan-pelan Mo im sin liong wan Kian ciu mengangguk,

sambungnya lebih jauh:

“Benar! Mereka adalah sekawanan pencoleng berkerudung

hitam, tanpa kita ketahui siap mereka, mana mungkin kita bisa

turun tangan untuk melacaki jajaknya? Setelah lohu berpikir

keras semalaman suntuk, akhirnya aku berhasil menarik dua

kesimpulan”

Berbicara sampai disini, dia berhenti sejenak untuk

memandang orang-orang yang berada dihadapannya, setelah

itu sambungnya lebih jauh:

“Pertama kita tutup pintu perusahaan untuk mencari jejak

pencoleng, kedua melanjutkan usaha ini sambil menantikan

perubahan selanjutnya”

begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana menjadi

gempar, masing masing saling berbisik membicarakan

persoalan itu, ada yang setuju gegasan pertama ada pula

yang menyetujui gagasan kedua, untuk sesaat suasana

menjadi kacau balau tak karuan.

Mo im sin liong sama sekali tidak melakukan tindak

pencegahan apa-apa, sebab ia sendiripun tidak tahu harus

memilih yang manakah diantara kedua macam gagasan

tersebut.

Ditengah suasana yang hiruk pikuk, mendadak terdengar

seorang pemuda berseru dengan lantang:

“Harap saudara sekalian sedikit tenang!”

Suara yang menggeledek itu kontan saja membuat suasana

dalam arena berubah menjadi tenang kembali, serentak

semua orang berpaling kearah pemuda itu.

Ternyata pemuda itu tak lain adalah Suma Thian yu yang

diajak datang bersama si Berewok berpena baja Tio Cihui

kemarin.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu memperhatikan Suma Thian

yu sekejap, lalu tanyanya dengan suara lembut:

“Siauhiap, apakah kau mempunyai suatu pendapat?”

Suma Thian yu segera menjura, kemudian sambil menuding

kearah tiang bendera itu katanya:

“Asal panah tersebut dapat kita ambil, rasanya tidak sulit

untuk mengetahui siapakah musuh kita itu”

Mendengar perkataan itu, Mo im sin liong wan Kiam ciu

menjadi tertegun, ia mendongakkan kepalanya lalu

membungkam dalam seribu bahasa.

Perlu diketahui tiang bendera itu tingginya paling tidak

mencapai dua puluhan kaki bukan suatu pekerjaan yang

sudah untuk memanjat naik ke puncak tiang setinggi itu.

Mendadak dari tengah arena berkumandang suara teguran

yang amat merdu:

“Siauhiap, apakah kau berniat untuk menggajak kami

bergurau? Atau mentertawakan kami yang tak mampu naik ke

atas?”

Mendengar ucapan tersehat, Suma Thian yu segera

berpaling, tapi dengan cepat ia menjadi tertegun.

Ternyata dari tepi arena berjalan keluar seorang gadis

berbaju hijau yang cantik rupawan, kulit tubuhnya putih halus,

usianya enam belas tahun, mukanya bulat telur dengan

hidung yang mancung, bibir yang kecil dan mata yang jeli.

Boleh dibilang dia adalah seorane gadis yang cantik

rupawan, membuat Suma Thian yu menjadi tertegun dan lupa

untuk menjawab.

Tiba-tiba terdengar Mo im sin liong Wan Kiam ciu menegur

keras:

“Anak Lan, jangan kurangajar!”

Dengan cepat Suma Thian yu menjadi tersadar kembali,

segera pikirnya:

“Ternyata dia adalah putri kesayangan dari Wan cong

piautau, tak heran kalau kecantikannya bagaikan bidadari dari

kahyangan”

Maka dia lantas menjura kepada nona itu sembari berkata:

“Nona telah salah paham, aku hnya bermaksud baik saja”

“Hmmm! Maksud baik?” nona itu menggigit bibirnya

kencang kencang, “tolong tanya, dari mana kau bisa tahu

kalau dengan mengambil panah tesebut maka kita akan

mengetahui siapakah musuh kita itu?”

“Aku hanya berpendapat demikian, karena…..

Belum habis dia berkata, terdengar Mo im sin-Iiong telah

menukas sambil tertawa.

“Saudara sekalian, lupakan saja persoalan hari ini, apalagi

kesempatan sebaik ini juga sukar ditemukan, mengapa tidak

kita gunakan kesempatan ini untuk menggunakan suatu

perlombaan?”

Secara tiba-tiba Mo im sin-Iiong Wan Kiam cui

mengucapkan perkataan itu apalagi dalam suasana seperti ini.

Kontan saja semua orang dibikin kebingungan setengah

mati, semua orang tidak tahu rencana apakah yang terselip di

balik kesemuanya itu?

Setiap orang dengan wajah keheranan bersama-sama

menunggu ia melanjutkan kembali kata-katanya.

Menyaksikan semua orang merasa keheranan, Mo im sin

liong Wan Kiam ciu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…..haahh……haahh apakah kalian keheranan?”

“Kalian pasti mengira lohu sedang mencari gara-gara dalam

suasana seperti ini bukan?” jangan curiga, ilmu silat memang

melupakan suatu kepandaian yang harus dipacu untuk maju,

mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan ini untuk

menyelenggarakan suatu perlombaan untuk memperebutkan

panah? Selain sebagai hiburan juga untuk mengendorkan

pikiran yang sudah penat dan lelah!

“Bagus sekali!” mendengar usul itu, semua orang segera

bersorak sorai dengan gembira.

Hanya siberewok berpena baja Tio Gi-hui seorang yang

memandang Wan Kiam ciu sambil termangu-mangu, dia cukup

mengetahui watak dari kakak angkatnya ini, mustahil dia bisa

melakukan perbuatan semacam ini dalam suasana dan

keadaan semacam ini, maka dalam hati kecilnya dia lantas

berpikir:

“Jangan jangan dia mencurigai Suma siaute? Kalau tidak,

mungkin ia sudah mengetahui kalau ada musuh yang telah

menyelundup dibalik kawanan manusia yang hadir sekarang?”

Si Berewok berpena baja Tio Gi-hui memang tak malu

disebut sebagai seorang jago kawakan dalam dunia persilatan,

ternyata apa yang dipikirkan Mo im sin liong Wan Kiam ciu

telah memerintahkan pegawai pegawainya untuk

membereskan lapangan, menyiapkan meja per jamuan dan

memerintahkan koki untuk menyiapkan hidangan dan arak.

Tak selang berapa saat kemudian, sekeliling lapangan

sudah dipenuhi oleh meja kursi, yang tersisa hanyalah tanah

lapang seluas lima kaki dengan tiang bendera itu sebagai

pusatnya.

Buru-buru Mo im sin liong mempersilahkan para tamu

untuk duduk, sedangkan dia bersama putri kesayangannya

duduk di meja utama disebelah timur.

Suma Thian yu duduk bersama dengan si berewok berpena

baja Tio Ci hui….

Setelah duduk, dengan suara lirih si Berewok berpena baja

Tio Ci hui segera berbisik kepada Suma Thian yu:

“Hiante, selama berada disini, berhati-hatilah dalam

pembicaraan maupun gerak gerik”

“Kenapa?” tanya pemuda itu keheranan.

“Kau harus tahu, kelewat menunjukkan kelihayanmu hanya

akan menuncing rasa dengki orang lain”

Si Berewok berpena baja Tio Ci hui hanya bisa berkata

demikian, karena dia sendiripun tidak mengerti apa maksud

yang sebenarnya dari kakak angkatnya itu.

Setelah semua orang duduk dan hidangan di keluarkan, Mo

im sin liong Wan Kiam ciu segera mengangkat cawannya

sambil bangkit ber diri, kemudian kepada semua orang

serunya;

“Saudara sekalian, mari kita keringkan secawan arak,

perusahaan kami tak pernah menerima kunjungan kunjungan

yang begitu banyak dari tamu-tamu agung seperti hari ini,

adapun didalam peryelenggaran pertemuan ini, lohu selain

ingin menyelenggaraan permaian perebutan anak panah,

akupun ingin sekali menyaksikkan saudara sekalian bisa

memberikan pertunjukan yang menarik.”

Ucapan tersebut mempunyai arti yang mendalam, beberapa

orang diantara mereka yang berperasaan tajam segera dapat

menangkap maksud lain dibalik ucapan tersebut, masingmasing

lantas membicarakannya dengan suara berbisik-bisik.

Selesai berkata, Mo im sim liong segera meneguk habis isi

cawannya, kemudian memandang sekeliling tempat itu sambil

menantikan reaksi.

Dalam waktu singkat, dari meja sebelah barat telah berdiri

seseorang, sambil menjura orang itu berseru:

Cong piauiau, siauloji akan turun kearena paling dulu.

Ternyata orang itu adalah piausu Sim Hui lam. Sambil

menggulung bajunya dia menuju ketengah arena, setelah

memberi hormat katanya:

“Sobat darimanakah yang ingin memberi petunjuk

kepadaku?”

Sim Hui lam merupakan seorang piausu yang paling

sombong dan tinggi hati dalam perusahaan tersebut,

walaupun dia cuma seorang jagoan dari kelas dua, namun

dihari-hari biasa dia sering membentak-bentak anak buahnya

atau mendamprat anak buahnya dengan kata kasar, sebab itu

banyak orang yang tak senang kepadanya.

Sudah banyak tahun dia bekerja dalam perusahaan, tetapi

belum pernah naik pangkat, maka begitu ada kesempatan

untuk memamerkan kepandaiannya, tentu saja dia tak akan

melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja.

Begitu sampai ditengah arena, semua orang segera berbisik

membicarakan persoalan itu, sayang tak seorangpun yang

menampakan diri.

Melihat tiada orang yang menanggapi tantangannya itu, dia

menjadi rikuh sendiri, dan akhirnya sambil menjura kepada

Cong piautaunya dia berkata.

“Cong piautau, bagaimana kalau Hui lam mainkan

serangkai ilmu pukulan saja untuk menghibur para tamu?”

“Belum sempat Mo im sin liong menjawab, sesorang telah

melayang turun ketengah arena, kemudian sahutnya:

“Tidak perlu, biar aku saja yang menemanimu bermain

beberapa gebrakan…..”

Sim Hui lam segera berpaling, ternyata orang itu adalah

seorang lelaki setengah umur yang berbaju perlente, sekilas

pandangan saja dapat diketahui kalau dia adalah tamu yang

berkunjung semalam, buru buru dia menjura sambil bertanya.

“Tolong tanya siapakah nama saudara? Kalau kau bersedia

untuk bermain beberapa geb rakan, hal ini lebih baik lagi”

Lelaki setengah umur itu menjura untuk membalas hormat,

lalu sahutnya.

Aku she Kang bernama Pun san, orang persilatan

menyebutku sebagai Cha gi sui (tikus bersayap), silahkan Sim

suhu memberi petunjuk”

“Kalau begitu maaf…” kata Sim Hui lam sambil menjura.

Dengan jurus Hek hou tou sim (harimau hitam mencuri

hati) mendadak kepalan kanannya disodokkan ke perut si

Tikus bersayap Kang Pun san.

Kang Pun san tertawa nyaring, dengan cepat dia memutar

badannya menghindar, kemudian dengan jurus Hay see sian

sian (membunuh ular didasar laut) ia balas menumbuk jalan

darah Tay yang hiat ditubuh Sim Hui lam.

Bagaimanapun juga kalau orang orang dari kelas dua yang

sedang melakukan pertunjukan, pertarungan mereka meski

nampaknya tegang dan seru, padahal bagi orang yang ahli,

pertarungan itu ibaratnya perkelahian anak kecil sedikitpun

tidak menarik hati.

Wan Pek lan, putri kesayangan Mo im sin liong wan Kiam

ciu yang berada disamping ayahnya segera tertawa, serunya.

“Huuh… .pada hekekatnya seperti tombak melawan tombak

mainan, sama sekali tak ada gunanya, ayah! Cepat suruh

mereka berhenti, jangan membuat perusahaan kita betul-betul

sampai kehilangan muka.”

Baru saja ucapan gadis tersebut selesai diucapkan,

mendadak terdengar Sim Hui lam yang berada ditengah

arena menjerit kesaki tan:

“Aduuuuh……”

Kemudian sambil memegangi perut sendiri, tubuhnya roboh

ketanah, mukanya pucat dan peluh dingin jatuh bercucuran

dengan derasnya.

Si tikus bersayap Kang Pun san tertawa tergelak-gelak

seraya bsrseru:

“Maaf, maaf……!”

“Bagaikan seorang pemenang yang hebat, dia berdiri

ditengah arena dengan kepala di angkat dada dibusungkan,

tampaknya seperti lagi menunggu orang kedua terjun

kearena.

Sikap kekanak-kanakan semacam itu sungguh menggelikan

sekali.

Agak mendongkol juga Wan Pek lan menjumpai sikap

orang tua itu,

buru-buru serunya kepada ayahnya:

“Ayah, bagaimana kalau Lan ji yang turun kearena untuk

membereskan dia….?”

“Baik!” sahut Mo im sin liong Wan Kiam ciu sambil

mengangguk, “cuma ingat, pertarungan ini hanya terbatas

sampai saling menutul, jangan sampai membuat kesalahan

dengan tamu.”

Wan Pek lan bersorak gembira, bagaikan anak panah yang

terlepas dari busurnya dia melesat ketengah udara, kemudian

bagaikan burung merak membentangkan bulu-bulunya, dia

melayang turun ditengah arena.

Gerakan tubuhnya indah dan lincah, segera disambut oleh

para jago dengan tempik sorak yang gegap gempita.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang menyaksikan gerakan

tubuh puterinya amat indah sehingga mendapat pujian dan

tepuk tangan orang banyak, dalam hatinya merasa girang

sekali, sepasang matanya sampai menyipit karena senyuman

yang kelewat tebal diwajahnya, lama sekalimulutnya

yang tertawa belum juga dirapatkan.

Dengan gerakan Kim ki tok lip (ayam emas berdiri disatu

kaki), Wan Pek lan berdiri dingin arena, kemudian sambil

tertawa dia berkata kepada si Tikus bersayap Kang Pun san:

“Kang tayhiap, boanpwee ingin sekali memohon petunjuk

beberapa jurus darimu, harap tayhiap suka banyak mencari

petunjuk”

Semenjak menyaksikan ilmu meringankan tubuh nona Wan

yang lincah dan cepat tadi, diam-diam si Tikus bersayap Kang

Pun san telah merasa gelisah sekali, terutama setelah

mendapat tantangan, diam diam dia mengeluh didalam hati.

Tapi, dengan watak Kang Pun san yang sombong, takabur

dan berlagak sok tentu saja tak mungkin baginya untuk

mengundurkan diri dengan ketakutan, bagaimanapun juga,

dia harus menghadapi kenyataan tersebut sambil menggertak

gigi.

Maka setelah balas memberi hormat, dia menyambut

dengan suara agak tergagap.

“Aku orang she Kang beruntung dapat berkenalan dengan

nona, kejadian ini benar-benar merupakan suatu

keberuntungan buat aku orang she Kang….”

Sembari berkata, diapun memasang kuda-kuda yang

rendah dengan sepasang kepalan disiapkan didepan dada,

agaknya dia sudah bersiap siaga menghadapi lawan.

Sesungguhnya nona Wan merasa muak sekali terhadap

kawanan manusia yang sok berjual lagak seperti ini, melihat

sikap lawan, dia sengaja berdiri seenaknya sambil berkata

dengan suara dingin.

“Silahkan!”

Si Tikus bersayap Kang Pun san pun merasa amat

mendongkol menyaksikan sikap menghina dari nona Wan,

dengan perasaan marah yang berkabar dia berseru pula.

“Maaf aku orang she Kang akan menyerang dulu”

Dengam jurus Ji yan jut ciau (burung walet keluar sarang),

kepalan tangan kiri menekan kedada lawan, sementara tangan

kanan mem babat payudaranya.

Bertarung melawan orang, terutama seorang pria

berhadapan dengan wanita, maka menyerang payudara anak

gadis merupakan suatu pantangan yang besar.

Pada dasarnya Kang Pun snn cuma seorang manusia kelas

tiga, lagi pula jarang sekali berkelana didalam duuia

persilatan, dalam gelisahnya ia sudah melupakan pantangan

tersebut.

Tapi kawanan jago berpengalaman yang menyaksikan

kejadian itu, kontan saja menjadi marah-marah sambil

menyumpah.

Terlebih-lebih nona Wan sendiri, kemarahannya kontan

memuncak, sepasang matanya mengawasi ancaman tersebut

lekat-lekat, kemudian secara tiba-tiba ia membentak keras:

“Roboh kau!”

Tampak sepasang lengannya diayunkan kemuka secepat

sambaran petir, kontan saja si tikus bersayap seakan-akan

benar-benar be tumbuh sayapnya, seluruh badannya mencelat

sejauh satu setengah kaki lalu….”Buk!” badan nya terjatuh

keras keras diatas tanah. Bagaikan anjing budukan yang baru

terserang penyakit parah, sampai lama sekali ia belum juga

bisa merangkak bangun.

Tempik sorak yang gegap gempita kembali berkumandang

diseluruh angkasa, ditengah sorak sorai tersebut, nona Wan

menjura ke empat penjuru, lalu mengulumkamkan senyuman

manis dan merayu…….

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara panjang yang

menyakitkan telinga menggema dari meja sebelah barat,

menyusul kemudian tampak seseorang menampakkan diri

dengan berjumpalitan ditengah udara, kemudian meayang

turun tepat lima enam langkah dihadapan nona Wan. Nona

Wan mencoba untuk memperhatikan pendatang itu, ternyata

dia adalah seorang lelaki berusia tiga puluh tahun,

berperawakan setinggi enam depa, memelihara jenggot hitam

dan berdandan sebagai Busu, sebiiah pedang tersoren

dipunggungnya.

Begitu turun ke arena, dia segera meujura sambil

memperkenalkan namanya:

“Aku adalah Ban Hoan kiam (pedang selaksa bunga) Tan

Sim dari Thiam cong pay, sengaja datang untuk memohon

petunjuk dari nona.”

Ketika Nona Wan menyaksikan potongan wajah orang ini

tidak memuakkan, rasa mendongkolnya seketika hilang

separuh, tapi begitu mendengar orang itu menggunakan nama

Thiam cong pay untuk menakut nakuti orang, seketika itu juga

hatinya jadi tak senang kembali, segera tanyanya dengan

cepat:

“Kau hendak beradu senjata? Ataukah beradu tangan

kosong belaka?”

“Kedua duanya sama saja” sahut Ban hoa kiam Tan Sim

dari Thiam cong pay sambii tersenyum, “toh tujuan dari

pertandingan silat yang di selenggarakan ayahmu hari ini

hanya bertujuan untuk menghibur hati, aku lihat lebih baik

kita beradu tangan saja”

Mendengar ucapan tersebut nona Wan termenung sejenak,

dan baru berkata:

“Sudah lama kudengar pihak Thiam cong pay termashur di

dunia persilatan karena ilmu pedangnya, lama sudah boanpwe

mengagumi hal itu, apalagi kesempatan macam ini jarang kita

jumpai, oleh karena itu boanpwe berharap bisa meminta

petunjuk dalam ilmu pedangnya saja, harap Tan tayhiap sudi

memberi muka padaku” Ban hoa kiam Tan Sim adalah adik

seperguruan dari It ci hoa kiam (pedang satu huruf bunga) Yu

Liang Gi, wataknya memang tidak menentu terutama sifat

ingin menang.

Mendengar sanjungan dari nona Wan, hatinya menjadi

gembira, paras mukanya ikut pula berubah-ubah, segera

sahutnya:

“Senjata tak bermata, seandainya nona terjadi apa

apa…….”

Tidak menunggu dia menyelesaikan kata-katanya, dengan

cepat nona Wan berseru kembali:

“Dalam suatu pertarungan, tak urung kedua belah pihak

mungkin akan menderita luka, jika boanpwee sampai

menderita cidera, hal itu merupakan kesalahanku sendiri yang

belajar silat tak becus, mana mungkin aku bakal menyalahkan

Tan tayhiap? Harap kau jangan menampik keinginanku ini.”

Ucapan dari nona Wan itu amat tepat dan beralasan sekali,

karena sehabis mendengar ucapan tersebut, Ban hoa kiam

Tan Sim segera berpaling kearah Mo im sin liong Wan Kian

ciu, Wan cong piautau seperti meminta persetujuannya.

Tentu saja Wan Kiam ciu segera manggut-manggut sambil

tersenyum tanda setuju. Melihat Mo im sin liong telah

memberikan persetujuannya, pelan-pelan Ban hoa kiam Tan

Sim meloloskan pedang nya dari sarung.

“Criiing!” berbareng dengan dilolosnya senjata tersebut,

tampak cahaya putih memancar Keempat penjuru dan amat

menyilaukan mata.

Melihat itu, serentak semua orang berteriak memuji.

“Sebilah pedang bagus!”

Ban hoa kiam Tan Sim makin gembira hatinya karena dipuji

orang banyak, pedangnya segera digetarkan ketengah udara

menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal, tapi

sekejap mata kemudian kabut pedang itu tahu-tahu lenyap tak

berbekas.

Sekali lagi para jago yang menyaksikan demonstrasi itu

bersorak sorai memberikan tepuk tangan yang ramai,

kesemuanya ini membuat Ban hoa kiam Tan Sim merasa

senang sekali.

Nono Wan sendiri hanya meloloskan pedangnya dengan

suatu gerakan yang sederhana, kemudian sambil

menggenggam pedangnya ia turut menikmati demonstrasi Ban

hoa kiam Tam Sim yang sedang kegirangan itu.

Dalam nada itu, Suma Thian ya yang duduk disamping Si

pena baja bercambang Tio Ci hui bertanya dengan suara lirih:

“Tio toako, bagai manakah kepandaian ilmu pedang yang

dimiliki nona Wan..?”

“Pertunjukan bagus segera akan berlangsung, hiante

mengapa kau mesti terburu napsu?” sahut sipena baja

bercambang Tio Ci hui dengan suara lirih.

Kontan saja Suma Thian yu merasakan wajahnya berubah

menjadi merah padam dan panas sekali, buru-buru dia

mengalihkan kembali perhatiannya ketengah arena.

Si pena baja bercambang Tio Ci hui melirik sekejap kearah

sipemuda itu, kemudian tertawa:

Orang bilang: Cinta yang mendalam, membuat perhatian

semakin menebal.

Tindakan Suma Thian yu yg begitu menaruh perhatian

terhadap nona Wan kelihatan amat menyolok, mungkinkah

secara diam-diam sianak muda itu telah jatuh cinta kepada

sinona?

Tidak!

Perlu diketahui, partai Thiam cong pay ketika itu amat

termashur karena ilmu pedangnya yang lihay, terutama

beberapa puluh tahun belakangan ini, boleh dibilang banyak

sekali jago lihay dari pihak Thiam cong pay yang bermunculan,

diantaranya nama It ci hoa kiam Yu Liang gi paling termashur.

Oleh karena itu, Suma Thian yu segera menarik kesimpulan

kalau adik seperguruan dari Yu Liang gi ini pastilah seorang

jago yang cu kup lihay pula, padahal nona Wan begitu lemah

gemulai, mungkinkah dia sanggup menghadapi kelihayan dari

seorang jago pedang kenamaan?

Sementara itu pertarungan ditengah arena sudah mulai

berkobar, nona Wan dengan menggunakan jurus Cay hong

tian ci (burung hong mementang sayap) melepaskan sebuah

tusukan mendatar keatas jalan daran Hoa kay hoat di tubuh

Ban hoa kiam Tan Sim.

Ban hoa kiam Tan Sim sebagai seorang jagoan dari Thiam

cong pay, tentu saja bukannya manusia sembarangan, melihat

datangnya ancaman tersebut, ia segera tertawa dingin.

Jilid 7 : Dewi burung hong Wan Pek lan

“SUATU SERANGAN yang amat baik!”

Mendadak kaki kanannya mundur kebelakang lalu

menyelinap kesamping meloloskan diri dari tusukan lawan,

kemudian pedangnya dengan jurus Bei lui cut hong (bunga

mawar baru mekar) pedangnya secepat sambaran petir

menusuk jalan darah Ki kiat dan Kian li hiat ditubuh nona

Wan…….

Dia lincah, ternyata nona Wan lebih lincah dia cepat, nona

Wan jauh lebih cepat lagi.

Perlu dlketahui, jurus serangan pertama dilancarkan nona

Wan tersebut pada hakekatnya merupakan suatu pancingan

terhadap mu suhnya, maka sewaktu musuhnya beikelit, tibatiba

ujung pedangnya berputar memainkan jurus Ji lay ciang

tiau (Ji lay menaklukkan rajawali) untuk menusuk ketubuh

lawan secepat kilat.

“Weeesss….” tahu-tahu ujung pedang itu sudah menusuk

ke arah tenggorokan Tan Sim.

Melihat datangnya ancaman tersebut, mau tak mau Ban

hoa Kiam Tan Sim bermandi peluh dingin juga karena

terperanjat.

Sungguh hebat manusia yang bernama Tan Sim ini, buruburu

dia menggunakan gerakan jembatan gantung untuk

menjatuhkan diri ke belakang, kemudian sambil menarik

perutnya sambil melompat bangun pedangnya menggunakan

jurus Seng kay tu jin (putik bunga baru me kar) secara

beruntun melepaskan tiga buah serangan berantai.

Sreeeet! Sreeeeet! Sreeeet!” angin serangan yang tajam

bagaikan amukan ombak samudra serentak menggulung ke

atas tubuh nona Wan.

Sekalipun nona Wan merupakan seorang ahli silat, toh dia

merasa tak tahan juga menghadapi serangan lawan yang

beruntun, cepat-cepat dia mundur sejauh empat langkah ke

belakang untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Tapi dengan terjadinya peristiwa ini, maka hal tersebut

segera membangkitkan pula perasaan ingin menang didalam

hati nona Wan.

Sebagai putri kesayangan cong piautau, tentu saja nona itu

merasa kejadian yang baru di alaminya merupakan suatu

kejadian yang amat memalukan, maka dia bertekad untuk

merebut kembali keadaan tersebut dari lawannya.

Terdengar gadis itu berpekik nyaring, lalu pedangnya

menggunakan gerakan Po hong pat ta (angin puyuh meryapu

delapan penjuru) dan tubuhnya menggunakan gerakan

Hwesio hong luo liu (angin puyuh menggoyangkan liu) segera

meneroros masuk kedalam pertahanan lawan, setelah itu

secara beruntun dia lancarkan empat buah serangan berantai,

serangan demi serangan, jurus demi jurus dilancarkan secara

gencar dan amat dahsyat.

Ban hoa kiam Tan Sim hanya merasakan cahaya pedang

yang berada didepan matanya amat menyilaukan mata dan

desingan angin dingin menyayat badan, untuk sesaat dia

menjadi gugup dan tak sempat melihat jelas ancaman lawan,

serta merta dia melompat mundur kebelakang untuk berusaha

menghindarkan diri dengan, tindakannya itu dia justeru

terjebak kedalam perangkap nona Wan, mendadak terdengar

nona Wan berpekik nyaring, ujung bajunya berkibar

terhembus angin, secepat kilat pedangnya menusuk ke tubuh

lawan.

Selama hidup belum pernah Ban hoa kiam Tan Sim

menyaksikan gerakan tubuh secepat ini, menanti dia sadar

kalau nana Wan sedang menerjang tiba, waktu sudah

terlambat.

Dalam keadaan begini, dia segera terpekik nyaring.

“Mampus aku kali ini!”

Belum habis teriakan itu bergema, terdengar suara baju

yang robek kemudian sirapnya cahanya pedang Nona Win

telah berdiri ditengah arena dengan senyum dikulum.

“Maaf, maaf!” katanya.

Ban hoa kiam Tan Sim masih saja berdiri dengan wajah

kebingungan, sampai-sampai pakaian bagian dadanya yang

robek memanjangpun sama sekali tidak dirasakan olehnya,

sungguh mengenaskan sekali keadaannya.

Menanti semua jago mentertawakannya, Ban hoa kiam Tan

Sim baru tahu kalau baju bagian dadanya sudah robek, tentu

saja rasa malunya bukan alang kepalang. Dalam keadaan

begini, setebal tebalnya muka, diapun merasa rikuh untuk

tinggal disitu lebih lama lagi, terpaksa sambil menjura

katatanya :

“Ilmu pedang yang nona miliki sungguh hebat sekali, aku

orang she Tan benar-benar merasa kagum sekali, dikemudian

hari bila ada kesempatan lagi aku pasti akan memohon

petunjuk lebih jauh, maaf, aku mohon diri lebih dulu!”

Tanpa memberi hormat lagi kepada semua orang, dia

segera membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Kepergian Ban hoa kiam Tan Sim dalam ke adaan gusar

sekarang, pada akhirnya akan menimbulkan banyak sekali halhal

yang tak di inginkan, cuma kesemuanya itu terjadi

dikemudian hari….

Sementara itu, Nona Wan merasa girang sekali setelah

secara beruntun berhasil menangkan dua orang jago, baru

saja dia akan meng gunakan kesempatan itu untuk mundur

kembali ke tempat semula, mendadak ia mendengar ayahnya

sedang berbisik dengan menggunakan ilmu menyampaikan

suaranya:

“Lan-ji, sekarang kau boleh mengumumkan permainan lain

yang lebih bermutu!”

Setelah mendengar peringatan dari ayahnya lewat ilmu

menyampaikan suara, nona Wan baru teringat kembali dengan

tujuan yang terutama dari ayahnya sewaktu

menyelenggarakan pertemuan ini.

Maka dia lantas menuju kembali ketengah arena dan

menjura keempat penjuru, setelah itu katanya:

“Cianpwee sekalian, tadi ada seorang tamu yang

menemukan diatas tiang bendera terdapat sebatang anak

panah tersebut sebagai bahan permainan, mari kita lihat siapa

yang dapat mengambil turun anak panah tersebut, tentu

saja dia pula pemenangnya, dan sebagai pemenang tentu saja

ada hadiahnya”

Selesai berkaca dia memandang sekejap lagi sekeliling

arena, kemudian melanjurkan;

“Cianpwe manakah yang hendak mendemonstrasikan ilmu

meringankan tubuhnya paling dulu?”

Seraya berkata dia lantas mengundurkan diri ke samping.

Pada saat itulah, si Pena baja bercambang Tio Ci hui

berbisik lirih kesisi Suma thian yu.

“Hiante, lebih baik dapat mempertahankan ketenanganmu

sambil menunggu terjadinya segala perubahan”

“Mengapa?” tanya Suma Thian yu keheranan.

“Pokoknya asal kau turuti perkataanku, hal ini tak bakal

salah lagi, bagaimanakah hasil dari peristiwa ini, kau akan

segera mengetahui dengan jelas”

“Apakah Wan cong piautau mempunyai suatu rencana?”

“Sett.. jangan keras keras” buru-buru Tio Ci hui

mencegahnya berbicara lebih jauh.

Semenjak nona Wan mengemukakan usulnya, hingga kini

masih belum nampak ada seorang manusiapun yang

menempakkan diri, agaknya semua orang tidak berani

menunjukkan kejelekannya.

Padahal berbicara sebenarnya, untuk mencapai tiang

bendera setinggi ini, seandainya seseorang tidak memiliki

ilmu meringankan tubuh yang tiada taranya di dunia ini,

mustahil hal tersebut dapat dilakukan olehnya…”

Melihat tiada orang yang maju, Nona Wan merasa girang

sekali, buru-buru serunya dengan lantang.

“Kalian kelewat sungkan dan terlalu memandang luar biasa

persoalan begini saja! Biar boanpwe mendemontrasikan

kejelekan lebih dulu seandainya gagal, barulah mohon

cianpwe sekalian sudi mewakiliku”

Seraya berkata dia lantas membetulkan pakaiannya

sambil bersiap sedia melakukan lompatan.

Perlu diketahui, sejak kecil nona Wan sudah mendapat

didikan dari ilmu ayahnya Mo im-sin liong untuk mendalami

ilmu silat maupun ilmu meringankan tubuh, kepandaian yang

dimilikinya waktu itu boleh dibilang sudah mencapai ke

tingkatan yang amat sempurna.

Selama ini Mo im sio liong wan kiam ciu memang

termashur didalam dunia persilatan ilmu pukulan Hu mo ciang

hoat serta ilmu meringankan tubuh Mo im sin hoat yang luar

biasa.

Kata orang begitu ayahnya begitu pula anak nya. Sejak

kecil nona Wan sudah amat gemar mempelajari ilmu

merinuankan tubuh, ditambah lagi ramainya bakatnya bagus

dan otaknya memang encer, maka kemajuan yang

diperolehnya boleh dibilang cepat sekali.

Itulah sebabnya orang menghormatinya sebagai Bi hong

siancu (Dewi burung hong cantik)

Tampaknya gadis itu meloloskan pedangnya dan

mengencangkan ikatan tali pinggangnya kemudian setelah

bersiap menghimpun tenaga dia menjejakan kakinya keatas

tanuh dan meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya dengrn gerakan Ii hong cong thian (burung bangau

menerjang angkasa).

Sekali lompatan, tubuhnya telah mencapai belasan kaki

tinggi nya, ketika gerakannya sudah hampir berhenti,

mendadak sepasang kakinya menyambar tiang bendera

tersebut, kemudian dengan meminjam tenaga pantulan

tersebut badannya melayang dua kaki lagi, kini tinggal lima

kaki lagi untuk mencapai puncak tiang bendera tersebut.

Sementara itu tempik sorak dan sorak-sorai yang gegap

gempita telah berkumandang dari bawah, bahkan adapula

hadirin yang sudah bangkit dari tempat duduknya sambil

memuji.

Dibawah tempik sorak yang gegap gempita, tubuh nona

Wan melompat naik satu kaki lagi.

Sayang pada saat itulah hawa murni dalam pusarnya habis

terpakai, kecuali sepasang tangan nya segera menyambar

tiang bendera itu dan melanjutkan dengan jalan merangkak,

tiada cara lain lagi bagi nona itu untuk melanjutkan usahanya

untuk mencapai puncak tiang bendera dan mengambil turun

panah tersebut.

Beratus-ratus pasang mata para jago yang berada dibawah

tiang bendera segera berdebar keras, semua orang merasa

tegang dan bersama sama mengikuti gerak gerik si nona itu

Sayang nona Wan tidak melakukan hal itu, mendadak dia

berjumpalitan dan meluncur lagi kebawah dengan kepala

dibawah kaki diatas.

Beberapa orang diantara jago yang bernyali kecil segera

berteriak kaget.

“Oooooh, berbahaya…!”

Siapa tahu baru saja jeritan itu dilontarkan nona Wan telah

berjumpalitan kembali dengan kaki dibawah kepala diatas,

dengan selamat melayang turun kembali ke tanah tanpa

menimbulkan sedikit suarapun.

Meski tugasnya tak terselesaikan, namun perbuatannya itu

mendapatkan pujian dan tepuk tangan yang ramai.

Bi hong siancu Wan Pek lan segera menju kepada para

hadirin dengan wajah tersipu-sipu, kemudian mengundurkan

diri ke tempat duduknya semula.

Setelah menghibur putrinya, pelan-pelan Mo im sin liong

wan Kiam ciu bangkit meninggalkan tempat duduk, kemudian

berjalan menuju ke tengah arena.

Seketika itu juga suasana dalam arena menjadi hening dan

sepi, karena semua orang mengira Mo ini sin liong wan Kiam

ciu hendak turun tangan sendiri, maka seluruh perhatian

orang tertuju kepadanya.

Ada diantara mereka yang belum pernah menyaksikan

kelihayan ilmu silat Wan congpiau tau, segera timbul harapan

dapat menyaksikan kelihayan jagoan tersebut

Mo im sin hong wan Kiam ciu memperhatikan sekejap

sekeliling arena, lalu dengan suara dalam dan berat ujarnya.

“Saudara sekalian, kamu semua adalah sahabat karib aku

Wan Kiam ciu, karena itu lebih baik akupun berbicara secara

terus terang. Berapa hari berselang, barang barang kawalan

dari perusahaan kami telah dibegal orang, semalam kantor

kamipun kemasukan orang, dua peristiwa yang memalukan ini

boleh dibilang baru pertama kali ini dialami oleh perusahaan

kami, sudah beberapa kali aku memutar otak untuk mencari

tahu sebab kesalahanku ini tak aku yakin menyalahi sahabat

dari manapun, oleh karena itu kurasa dibalik kesemuanya ini

tentu ada hal-hal yang tak beres”

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, pelan-pelan

serot matanya dialihkan kepada wajah Suma thian yu,

kemudian kemudian sambungnya:

Aku rasa orang yang melakukan pembegalan itu sudah

pasti teman baru dari dunia persilatan, kalau tidak siapa pula

yang berani menyusahkan aku orang she Wan? Untung saja

setiap persoalan pasti ada waktunya untuk terbongkar secara

tuntas, karenanya aku mohon bantuan dari sobat sekalian

untuk bersama-samaku menyelidiki persoalan ini disamping

mohon petunjuk.

“Sekarang, marilah kita lanjutkan permainan tadi, bila

saudara sekalian enggan untuk menunjukkan kejelekan,

bagaimana kalau aku orang she Wan saja yang menunjuk

orangnya?

Baru saja Mo im sin liong Wan kiam ciu menyaksikan

perkataannya, dari arena segera terdengar suara teriakkan

orang yang menyatakan persetujuannya.

Mo im sin liong Wan kiam ciu segera tersenyum, dia

memandang kearah Suma thian yu lalu berkata:

“Kumohon Suma siauhiap sedia memberi petunjuk! Kau

adalah orang pertama yang menemukan anak panah dipuncak

tiang, karena itu mohon Suma siauhiap sudi menunjukkan

pula kebolehanmu. Nah, saudara sekalian mari kita bertepuk

tangan untuk siauhiap kita ini!”

Diam-diam Suma Thian yu agak tertegun juga ketika

dilihatnya Mo im sin liong Wan Kiam cu menunjuk kearahnya,

satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya:

“Jangan-jangan dia mencurigai aku sebagai orang yang

membegal barang dan meningga1kan tanda panah dipuncak

tiang? Yaa,benar, sewaktu berbicara tadi, dia selalu

memandang kearahku.”

Meski dalam hati ia berpikir demikian, tanpa terasa pemuda

itu berdiri juga, ujarnya sambil menjura:

“Aku hanya mengerti sedikit kepandaian kasar saja, tak

berani menunjukkan kejelekanku dihadapan orang”

“Aaah… Suma sauhiap terlalu sungkan” seru Mo im sin

liong Wan Kiam ciu sambil tertawa, “pertemuan semacam ini

jarang bisa di jumpai, jang Tio Ci hui, mengapa siauhiap narus

menampik?”

Begitu Mo im sin liong Wan Kiam ciu selesai berbicara,

seorang lo piasu segera bangkit berdiri seraya berkata:

“Apakah Suma sauhiap tidak memandang sebelah mata

kepada kami? Bagaimana watak Wan cong piautau bukankah

kau ketahui,, apakah dia kurang memberi pelayanan

kepadamu?”

Ucapan lo piasu ini agak emosi dan bernada keras, sama

sekali tidak mirip sikap seorang tuan rumah kepada tamu.

Suma Thian yu sepera mengalihkan sorot matanya kewajah

si piausu itu, setelah meman dang sekejap dingan sorot mata

dingin, dia menyahut cepat: “Andaikata aku tidak memiliki

kepandaian apa-apa, bukankah hal ini sama artinya dengan

memberi kesulitan kepada orang lain?”

Piasu tua itu mempunyai kedudukan setingkat dibawah

Sipena baja bercambang Tio ci hui, tapi karena wataknya yang

beranggasan, pandangannya yang sempit, maka orang

menyebutnya sebagai Boan thian hui (terbang memenuhi

angkasa) Ya Nu.

Boan thian hui Ya Nu kontan saja tertawa dingin setelah

mendengar perkataan dari Suma thian yu, serunya:

“Suma siauhiap, dihadapan orang lebih baik jangan

berbohong, kau bisa menemukan anak anah dipuncak tiang,

hal ini menunjukkan kalau kau memiliki ketajaman mata yang

melebihi orang lain, masa kau tidak memiliki kemampuan

untuk mencapai puncak tiang tersebut?”

Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera tertawa

terbahak-bahak.

“”Hahahaha……apa susahnya kalau hanya soal itu?” Aku

masih dapat melihat kalau diujung anak panah itu terikat

secarik kertas!”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana dalam arena

menjadi gaduh, semua orang segera mengalihkan sorot

matanya kepuncak tiang benderu itu, tapi seiain kabut tipis

ternyata mereka tidak berhasil menyaksikan apa-apa.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera tertawa dingin, tibatiba

sindirnya:

“Bila dugaan lohu tidak meleset, Suma siau biap pasti dapat

melihat pula isi surat tersebut.”

Sudah jelas kalau ucapan itu mengandung suatu nada

ejekan dan suatu peringatan, tentu saja Suma Thian yu dapat

menangkap pula arti lain dari perkataan itu.

Hatinya makin mendongkol lagi, dengan cepat dia berpikir:

“Aku Suma Thian yu bukan seorang manusia yang takut

urusan, kalau toh kau bersikap begitu kasar kepadaku,

mengapa pula aku harus bersikap sungkan terhadap dirimu?”

Berpikir demikian, dia lantas berkata:

“Wan cong piutau mempunyai maksud yang mendalam

sekali, sayang aku tidak memahami maksud ucapan Wan cong

piautau yang sebenarnya. Baiklah, kalau toh semua orang

memaksa aku untuk mempamerkan kejelekan, aku menurut

saja”

Sembari berkata pelan-pelan dia berjalan menuju ketengah

arena.

Sementara itu beratus pasang mata para jago telah

ditujukan kepadanya, di antara sekian banyak orang, yang

paling merasa kuatir adalah si Pena baja bercambang Tio Ci

hui.

Dia cukup mengetahui jelas watak dari Suma Thian yu,

bahkan sekarang tak langsung menyangkut pula dirinya

sendiri.

Tapi bagaimana pun kuatirnya dia, kenyataan kini sudah

mulai terbentang didepan mata.

Suma Thian yu tiba ditengah arena, dia berdiri sambil

membusungkan dada dan tidak menunjukan perasaan takut,

sambil menatap tiang bendera itu ia berpekik keras

memekikkan telinga yang mendengar.

Ditengah suara pekikken nyaring yang mekikkan telinga,

mendadak nampak Suma Thian yu melompat ketengah udara

setinggi dua puluh kaki lebih, sewaktu tenaganya sudah

hampir mengendor, tiba tiba sepasang kakinya saling

bertumpukan satu sama lainnya.

Ternyata dia telah mengeluarkan ilmu Liu im ti (tangga

menuju awan) yang sudah lama punah. Dengan gerakan

tubuh seperti inilah tubuhnya melambung ketengah udara dan

ternyata mampu melampaui puncak tiang bendera.

Di tengah sorak para jago yang gegap gempita, Suma

Thian yu sudah berputar satu lingkaran dipuncak tiang

bendera itu lalu melayang turun kembali ketanah.

Ketika mencapai tanah, wajahnya tidak berubah, napas tak

memburu, tapi di tangannya telah bertambah dengan

sebatang anak panah.

Suasana di arena yang tiba-tiba hening bagaikan mati

dengan cepat menjadi gaduh kembali oleh suara suara sorak

sorai yang mem memekikkan telinga, tak lama setelah

pemuda itu berhasil mencapai tanah.

Demonstrasi kepandian silat yang dilaku kau Suma thian yu

ini selain membuat semua orang tertegun, bahkan Wan kiam

ciu sendiri pun terbelalak dengan mara melotot besar, dia

benar-benar dibuat terkesiap oleh kelihayan lawannya.

Sepasang mata Wan Pek hong yang jeli dan lembut

seakan-akan terhisap oleh suatu kekuatan besar, ternyata

diapun turut menatap wajah Sama Thian yu lekat-lekat.

Tentu saja perbuatannya dengan pandangan yang begitu

mesrah tak diketahui oleh siapapun.

Sambil membawa anak panah itu, Suma Thian yu segera

mempersembahkan anak panah iadi kehadapan Mo im sin

liong Wan Kiam ciu. katanya kemudian:

“Untung saja aku tidak membuatmu kecewa”

Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera menerima anak panah

tersebut, benar juga diujungnya terikat segulung kertas.

Dengan cepat kertas itu, ternyata isinya berbunyi demikian:

“Uang kawalan sudah diterima, waktu membayar tiada

batasnya”

Dibawah tulisan itu terlukiskan sebuah topeng muka setan.

Selesai membaca tulisan itu, dengan gemas Mo im sin liong

menggumpal kertas sebut menjadi satu kemudian

membantingnya ketanah, setelah itu sambil tertawa seram

katanya :

“Waktu membayar tiada batasnya!. Hmm, benar-benar

suatu ucapan yang tekebur, asal aku Wan Kiam ciu masih bisa

hidup, uang terbegal pasti akan kucari sampai ketemu”

Berbicara sampai disitu, dengan sorot mata yang tajam dia

mengawasi wajah Suma Thian yu lekat-lekat, kemudian

ujarnya dingin :

“Siauhiap, merepotkan dirimu saja. Tapi, apakah siauhiap

dapat mengisahkan kembali apa yang telah kau jumpai waktu

itu?”

Sejak semula Suma Thian yu sudah menaruh perasaan tak

puas terhadap Wan Kiam ciu ta pi setelah dia membayangkan

kembali seandai nya dia yang menjadi Mo im sin liong dan

menghadapi keadaan seperti itu, apakah dia tak akan bersikap

semacam itu pula?

Cuma saja, dia merasa amat penasaran kalau dirinya

dianggap mempunyai hubungan dengan para pembegal

barang kawalan tersebut.

Suma Thian yu segera mendongakkan kepa lanya

memandang wajah Mo im sin liong kemudian secara ringkas

dia menceritakan kembali apa yang telah dijumpainya waktu

itu.

Sambil mendengarkan dengan seksama, diam-diam Mo im

sin liong Wann Kiam ciu mengawasi terus perubahan wajah

dari Suma Thian yu, me nanti pemuda itu menyelesaikan

ceritanya, dia baru menarik kembali sorot matanya seraya

berkata:

“Siauhiap, benarkah ceritamu itu?” “Tentu saja sebenarbenarnya

“Ooooh …. tolong tanya apa sebabnya manusia

berkerudung itu munculkan diri lagi didepan mulut gua?

Apakah setelah membegal barang kawalan kami, diapun tak

mau melepaskan nyawa Tio hiante?”

Pertanyaan hu diajukan amat lihay, karena Suma Thian yu

sama sekali tak mampu untuk menemukan alasan si manusia

berkerudung itu mencari dirinya, maka setelah ditanya balik

oleh Wan Kiam ciu, diam-diam Suma Thian yu menjadi amat

terperanjat.

Untuk melanjutkan rasa curiga tersebut, Suma Thian yu

terpaksa harus membuka rahasia diri nya dengan berkata:

“Manusia berkerudung itu munculkan diri karena hendak

merampas pedangku ini!”

Setelah ucapan tersebut diutarakan, semua orang baru

mulai memperhatikan pedang yang digembolnya itu.

Tampaknya Mo im sin liong Wan kiam ciu ingin mengetahui

persoalannya sampai jelas, ia segera mendesak lebih jauh:

“Tolong tanya pedang apakah yang siauhiap gembol itu?”

Suma Thian yu merasa semakin tak senang hati, tapi

sahutnya juga dingin: “Kit hong kiam”

“Kit hong kiam? Mo im sin liong Wan Kiam ciau menjerit

kaget, “rupanya kau adalah ahli waris dari Kit hong kiam kek

Wan Liang, maaf maaf…….”

Walaupun dimulut dia berkata begitu, namun wajah Wan

Kiam ciu sudah diliputi hawa amarah.

Begitu selesai berkata, dia segara berpaling dan melotot

sekejap kearah Pena baja bercambang Tio Cihui dengan

penuh kegusaran, te riaknya kemudian ;

“Hiante, apakah kau sudah mengerti?”

Sejak melihat Suma Thian yu terjun kearena tadi, si Pena

baja bercambang Tio Ci hui su dah merasa amat panik seperti

duduk dikursi beracun saja, dia kuatir kalau sampai Suma

Thian yu menjadi naik pitam oleh kesalahpahaman tersebut.

Maka ia makin terkesiap lagi setelah ditegur oleh kakak

angkatnya dengan gusar, tahu kalau urusan telah berkembang

ma kin runyam, terpaksa sambil menggerttk gigi keras dia

bangkit berdiri sambil menyahut:

“Aku tahu!”

Mendengar itu, kemarahan Mo im sin liong Wan Kiam ciu

tak terkendalikan lagi, segera bentaknya keras-keras,

“Mengapa kau berkenalan dengan kaum pembegal?”

Si Pena baja bercambang Tio Ci hui sendiripun dibuat naik

pitam setelah mendengar tuduhan kakak angkatnya yang

tanpa dasar, baru saja dia akan membantah, mendadak terde

ngar Suma Thian yu berpekik keras, dengan sorot mata tajam

dia melotot gusar kearah Wan Kiam ciu, kemudian serunya:

“Wan tayhiap, kalau berbicara harap sedikit tahu diri,

jangan menfitnah orang semaunya sendiri, kau harus tahu

kalau menfitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Dalam

hal apa

aku Suma Thian yu mirip pembegal? Aku harap kau bisa

memberi keterangan yang jelas kepadaku!”

Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang merasa dirinya ditegur

seorang pemuda ingusan didepan orang banyak, menjadi turut

naik darah, dengan mata melotot besar bentaknya keras:

“Kit hong kiam kek Wan liang merupakan musuh umat

persilatan, kaum pencoleng yang rendah martabatnya, kau

anggap dirimu bisa baik sampai seberapa jauh?”

Benar-benar suatu peristiwa yang tak disangka seorang

pimpinan umat persilatan yang dianggap orang sebagai lelaki

sejati ternyata mencaci maki seorang bocah yang baru terjun

kedalam dunia persilatan dihadapan umum. Agaknya Wan

kiam ciu sudah tidak dapat mengendalikan perasaan gusarnya

lagi:

Suma thian yu bukan seorang pemuda yang suka dimaki

orang, apalagi orang menghina paman Wan yang

dihormatinya, hal ini membuatnya semakin tak tahan.

Apalagi bila membayangkan saat kematian paman Wan nya

dalam keadaan mengenaskan, darah panas didalam dadanya

serasa mendidh.

Dengan suara menggeledek ia segera membentak keras:

“Bajingan tua, tutup bacot anjingmu!”

Telapak tangan yang penuh berisikan tenaga dalam segera

diayunkan ke tubuh Mo im sinliong Wan kiam ciu dengan

kekuatan yang sangat mengerikan hati.

Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak cepat

mempertimbangkan lagi apakah disekeliling tempat itu penuh

dengan anak buah Mo in sin liong

Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu dengan

kekuatan penuh ini segera meluncur ke depan dengan amat

dahsyatnya.

Betul Mo im sin Iiong Wan Kiam ciu merupakan seorang

pendekar besar dari utara dan sejalan sungai besar yang

berilmu tinggi namun setelah menyaksikan datangnya angin

pukulan yang begitu dahyat, hatinya terkesiap juga dibuatnya,

cepat-cepat ia menyingkir kesamping untuk meloloskan diri.

“Blaaaamm…..!” terdengar suara benturan keras yang

memekakkan telinga menggelegar memecahkan keheningan.

Debu dan pasir segera beterbangan memenu hi angkasa,

semua orang membelalakkan mata nya lebar-lebar dengan

mulutnya melongo, sa king kagetnya semua orang sampai

melompat bangun dari tempat duduknya.

Menanti pasir dan debu sudah sirap dan semua orang

dapat melihat jelas pemandangan disekeliling tempat itu,

jeritan kaget sekali lagi bergema memecahkan keheningan.

Ternyata permukaan tanah dimana Mo im sin liong Wan

kiam cui berdiri telah muncul sebuah liang sedalam satu depa

dengan luas lima depa, suatu daya pukulan yang menggidikan

hati.

Dengan adanya kenyataan ini, mau tak mau semua orang

harus memperbaharui kembali penilaian mereka terhacap

kemrmpuan Suma thian yu ini.

Pada saat itulah, tiba tiba dari tengah udara melayang

sesosok tubuh manusia.

Menanti Suma Thian yu melihat jelas paras muka orang itu,

dihadapsnnya telah bertambah dengan seorang piausu tua,

dia tak lain adalah Boan thian hui Ya Nu.

Begitu munculkan diri, dia segera menjura kepada Wan

Piautau, setelah itu katanya.

“Cong piautau, membunuh ayam buat apa menggunakan

golok kerbau? Untuk membereskan seorang bocah ingusan,

tak usah kau turun tangan sendiri, lebih baik lohan saja yang

mewakilinya!”

Mo im siu liong Wan kiam ciu sebagai seorang pimpinan,

tentu saja merasa kurang leluasa untuk bertarung pada babak

pertama, maka dia segera menangguk tanda setuju dan

mengundurkan diri kebelakang.

Tindakan tersebut sedikit banyak menunjuk kan pula

kelemahan dalam hatinya serta perasaan takutnya tapi orang

lain tak akan mengetahui akan hal ini.

Setelah melancarkan serangan dengan kekuatan dahsyat

tadi, Suma Thian yu merasa sedikit agak menyesal, karena

pena baja berecambang Tio ci-hui barangkali telah menasehati

nya agar bersabar dan jangan kelewat memper lihatan

kehebatannya. Akan tetapi setelah menyaksikan sikap Boan

thian hui Ya Nu yang begitu takabur dan sombong, api

kegusaran yang telah padam, kini mulai berkobar kembali

dalam dadanya.

Boan thian hui Ya Nu memang benar-benar sombong

sekali, dengan amat takabur serunya:

“Bocah keparat, cabut keluar pedang Kit hong kiam mu,

aku ingin tahu apakah murid ajaran dari Wan Liang adalah

seorang manusia tiga kepala enam langkah?”

Sembari berkata ia sembari melepaskan senjata sam ciat

kun (petungan beruas tiga) nya sambil mempersiapkan diri.

Biasanya orang yang dapat memainkan sanjata sam ciat

kun merupakan seorang jagoan silat yang berilmu tinggi, Boan

thian hui Ya Nu bisa menduduki kursi ketiga dalam

perusahaan Sin liong piaukiok, tentu saja kedudukan tersebut

bukan diraih secara untung-untungan.

Suma thian yu memandang sinis sikap Boan thian hui,

setelah memandang sekejap kearahnya, dia lantas berkata:

“Dengan dirimu aku tak pernah punya dendam dan sakit

hati, buat apa kita muski saling bertarung dengan

menggunakan kekerasan? Maaf aku sedikit jual mahal,

bagaimana kalau kumohon petunjuk darimu dengan

menggunakan tangan kosong saja?”

Boan thian hui Ya Nu adalah seorang manusia yang

sombong dan takabur, tapi dia tak mengira kalau lawannya

lebih takabur dari pada

dirinya, kontak hawa amarahnya memuncak.

“Bocah keparat, kau sudah bosan hidup rupanya? Atau

mungkin kau memandang rendah diriku? Bentaknya keraskeras.

”Kedua-duanya bukan!” Jawaban dari Suma thian yu yang

dingin dan angkuh.

Ucapan tersebut tak ayal lagi merupakan sebuah bom atom

yang segera mengubah suasana tegang menjadi makin panas.

Pertama-tama Boan thian hui Ya Nu tak bias menahan diri

dulu, sambil maju kedepan, tongkatnya dengan jurus pau lui

ki ciau (guntur dahsyat menyerang ular) langsung

menghantang tulang leng kay kut ditubuh Suma thian yu.

Seandainya berganti dengan seseorang berjiwa gagah, tak

mungkin mereka akan menghadapi lawannya yang masih

muda apalagi yang bertangan kosong itu dengan

menggunakan senjata.

Dasar Boan thian hui Ya Nu memang seorang yang

bermuka tebal, dia sama sekali tidak ambil peduli akan hal itu,

baginya yang penting serangan tersebut akan mengenai

sasarannya secara telak.

Dengan cekatan Suma thian yu berkelit kesamping untuk

menghindarkan diri, kemudian sindirnya:

“Orang she Ya, dalam tiga jurus aku akan menyuruhmu

melepaskan senjata Sam ciat kun!”

“Kentut busuk!” teriak Boan thian hui Ya Nu dengan sekujur

badan bergetar keras, coba kau rasakan serangan ku ini lagi!

Sembari berkata, dengan jurus Im hong huang sau(angin

dingin menyapu hebat) dia langsung menyapu pinggang Suma

thian yu.

Sianak muda ini sudah merasa kalau persoalan yang

dihadapi hari ini tak bias diselesaikan dengan begitu saja,

maka ditunggunya toya itu hamper mengenai tubuhnya, dia

baru merendahkan tubuhnya kesamping, ayunan tongkat

Boan thian hui Ya Nu persis menyambar lewat dua inci diatas

batok kepala pemuda itu.

Ilmu gerakan tubuh patah tulang yang didemontrasikan

oleh Suma Thian-yu ini benar-benar tepat sekali, selain indah

juga mendatangkan tempik sorak dari segenap jago lainnya.

Ditengah sorak-sorai yang gegap gempita, tiba-tiba tampak

sesosok bayangan manusia berkelbat lewat, lalu terdengar

seseorang membentak amat nyaring:

“Lepas tangan!”

Ketika semua orang berpaling, tampak Boan thian hui Ya

Nu sedang mengaduh kesakitan, badannya mundur beberapa

langkah dengan sempoyongan, dengan susah payah ia baru

dapat berdiri tegak, sedangkan senjata Sam ciat kun-nya telah

terbuang entah kemana.

Ketika memandang lagi kearah Suma thian yu, tampat

pemuda itu masih berdiri diarena dengan senyum dikulum,

seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun,

sedangkan senjata Sam ciat kun milik Ya Nu kini sudah

berpindah ketangannya.

Perubahan itu berlangsung terlalu cepat, sedemikian

cepatnya membuat semua orang tak sempat melihat jelas

bagaimana caranya Sam ciat kun itu bisa berpindah tangan,

mereka tak percaya bahkan Ya Nu sendiripun tak habis

mengerti.

Padahal kalau dibicarakan kagi, kejadian ini bukanlah suatu

kejadian yang aneh, sejak Suma thian yu berhasil mempelajari

ilmu Ciat tiong puan poh cap lak tui dari Siau yau kay Wi kian,

daya kemapuannya didalam melakukan serangan menjadi satu

kali lipat lebih dahsyat daripada dalam keadaan biasa.

Dalam pada itu, suara tepuk tangan kembali berkumandang

gegap gempita dalam arena, walaupun Suma thian yu

dianggap sebagai pembegal, tapi keindahan gerakan tubuhnya

membuat orang bersorak sorai tanpa terasa.

Boan thian hui Ya Nu benar-benar merasa malu sekali,

karena mendapat malu dihadapan orang banyak, sepasang

matanya berubah menjadi merah padam penuh rasa benci,

setelah melotot sekejap kearah pemuda itu dengan gusar,

selangkah demi selangkah dia maju kedepan dan

menghampirinya….

Jelas dia sudah merasa gusar sekali. Bagaikan seekor

harimau buas yang sedang mementangkan cakar dan gigi

taringnya siap menerkam mangsa…..

“Ya Nu, mundur!” tiba-tiba dari tengah arena

berkumandang suara bentakan nyaring.

Dengan jelas Boan thian hui Ya Nu mendengar kalau

teriakan itu berasal dari congpiautau nya, tapi dia berlagak

seakan-akan tidak mendengar, ia sudah diliputi oleh hawa

amarah sehingga tak dapat mengendalikan diri lagi.

Melihat wajah orang yang menyeringaiseram, diam-diam

Suma thian yu pun merasa terkesiap, buru-buru dia

mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tak

di inginkan, ia tahu Ya Nu merasa amat gusar hingga

kehilangan sifat kemanusiaannya, besar kemungkinan dia

akan beradu jiwa dengannya.

Makin lama semakin bertambah dekat, kini Ya Nu sudah

dua tiga langkah dihadapan mukanya, menyaksikan sikap

lawan yang menyeringai seram, Suma thian yu merasakan

jantungnya berdebar keras, sementara puluhanorang lainnya

juga merasakan hatinya berdebar keras….

Suatu pertarungan sengit dengan cepat akan berkobar, bila

sampai meledak bisa dibayangkan keadaannya pasti

mengerikan sekali….

Disaat yang amat kritis itulah…..

Mendadak sesosok bayangan manusia berkelbat lewat, Mo

im sin liong Wan kiam ciu yang berada dimeja utama tadi

tahu-tahu sudah melayang turun diantara kedua orang itu,

kepada Boan thian hui Ya Nu katanya dengan nada

menghibur:

“Adik Ya, mundurlah kau, biar aku yang mengatur tempat

ini!”

Menyaksikan Mo im sin liong telah menampilkan diri,

terpaksa Boan thian hui Ya Nu mengundurkan diri dengan

membawa rasa benci yang mendalam.

Sebelum meninggalkan tempat itu, dengan perasaan tidak

terima katanya kepada Suma Thian yu:

“Bocah keparat, selama gunung nan hijau, air tetap

mengalir suatu ketika pasti akan tiba saatnya bagi kita untuk

melakukan perhitungan ini…..”

Suma Thian yu tidak menanggapi ucapan tersebut, dia

hanya memandang sekejap ke arah Ya Nu dengan pandangan

sinis, sementara senyuman

dingin yang menghiasi ujung bibirnya semakin

menebal.

Paras muka Mo im sin liong Wan Kiam ciu berubah menjadi

dingin seperti es, bentaknya dengan suara ketus:

“Suma siauhiap, lohu tidak pernah kenal de ngan dirimu,

berjumpa pun baru kali ini, ten tu saja tak bisa dibilang

mempunyai ikatan dendam atau sakit hati, tolong tanya

mengapa kau berbuat demikian?”

Mo im sin liong Wan Kiam ciu mengutarakan ucapan

tersebut tanpa ujung pangkal yang jelas, kontan saja Suma

Thian yu dibikin kehe ranan, dia segera bertanya:

“Wan tayhiap, apa yang kau maksud?”

“Asal dalam hati kau mengerti akupun tak usah

mengumumkannya lagi secara blak-blakan”

Tentu saja Suma Thian yu tahu kalau yang dimaksudkan

adalah soal pembegalan barang kawalan, dengan suara dingin

dia segera me nyambut:

“Sudah lama kudengar Wan tayhiap pandai membedakan

mana yang benar dan mana yang salah, setiap persoalan

dihadapi dengan otak yang dingin, tak lahunya apa yang

kujumpai hari ini berbeda sekali dengan keadaan yang

sebetulnya, tolong tanya dimanakah letak ke tidak beresan

diriku…?”

Untuk sesaat Mo im sin liong Wan Kiam ciu tak dapat

menjawab penanyaan itu, setelah ter menung sesaat dia pun

lantas berkata:

“Kalau toh Siauhiap enggan untuk mengaku secara berterus

terang, jangan salahkan kalau LOHU terpaksa harus bertindak

kasar. Kalau ber

tanya soal ketidak beresanmu, pertama asal usul siauhiap

tidak jelek, kaupun menyusup kedalam perusahaan kami dan

setelah barang kawalan kami dibegal, kedua darimana

siauhiap bisa tahu kalau diujung anak parah yang menancap

dipuncak tiang bendera ada surat nya, berdasarkan dua hal ini

terbukti sudah kalau siauhiap terlibat dalam perisimatiwa ini”

Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera

mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Hah…haah… haah… keterangan yang dikatakan Wan

tayhiap selain memaksakan sesuatu alasan tanpa dasar, juga

menggelikan sekali, aku toh muridnya Kit hong kiam Seng,

siapa bilang kalau asal usulku tidak jelas? Menolong orang

yang di begal orang juga merupakan suatu kejadian yang

wajar, apa yang dicurigakan? Kalau dibilang mengapa aku bisa

menyaksikan kertas surat yang berada dipanah dipuncak tiang

bendera, hal ini berdasarkan ketajaman mata seseorang,

sesungguhnya juga bukan merupakan sesuatu yang aneh,

kalau atas dasar hal hal diatas maka kau lantas menuduh aku

sebagai pencoleng, maka kenyataan ini benar-benar

menggelikan sekali”

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh:

“Bilamana Wan tayhiap ingin mengecek ketajaman mataku,

dengan senang hati aku akan melayani keinginanmu itu”

Semua tuduhan Mo im sin liong Wan kiam cui kena

ditangkis semua hingga ludes, sepantasnya kalu dia

mempercayai perkataan lawan.

Siapa tahu Wan kiam cui sudah mempunyai perhitungan

sendiri, maka dari malunya dia menjadi marah, bukan saja dia

tidak menerima tantangan Suma thian yu, malah sebaliknya

membentak keras:

“Lohu tak punya banyak waktu untuk melayani dirimu,

sudah, tak usah banyak bacot lagi”

Setelah kenyataan berubah menjadi begini, sadarlah Suma

thian yu kalau pihak lawan memang berniat mencari garagara,

maka sambil tertawa dingin ujarnya:

“Mengakunya saja seorang congpiautau, ke nyataannya

apa yang dikatakan tak lebih hanya

ucapan anak berusia tiga tahun, aku bukanlah seorang

manusia yang takut urusan, asal Wan tayhiap ingin bertarung,

katakan saja terus terang, mau terjun ke kuali berisi minyak

atau naik ke bukit golok, aku akan melayani semua

tantanganmu itu”

Sampai kini, Suma thian yu baru menanggapi ucapan

musuhnya dengan suara yang kasar.

Tapi dengan begitu pula, suasana yang semula tenang

segera diliputi kembali oleh kobaran api peperangan.

Dalam waktu singkat, beberapa orang piausu telah

bermunculan diri pula ke dalam arena dan mengepung Suma

thian yu rapat-rapat.

Mimpipun Suma thian yu tidak menyangka kalau Sin liong

piaukiok yang terkenal sebagai suatu perubahan orang-orang

kaum lurus bisa bertindak memalukan seperti ini, tanpa terasa

dia mendonggaakkan kepalanya sambil berpekik nyaring.

Mendadak dia mencabut keluar pedangnya….”Criiiing!”

cahaya biru memancar amat menyilaukan mata, tahu-tahu dia

sudah meloloskan pedang Kit hong kiam yang amat tajam itu.

Dalam marahnya, Mo im sin liong Wan Kiong cui juga

meloloskan pedang mestikanya.

Si Pena baja bercambang Tio Ci hui yang selama ini

menonton saja dari sisi arena segera menampilkan diri ke

tengah lapangan setelah menyaksikan keadaan bertambah

runyam, sambil berlarian teriaknya keras-keras:

“Saudara sekalian, jangan bertarung dulu, dengarkanlah

perkataanku!”

Walaupun kedudukan Si Pena baja bercambang Tio Ci hui

dalam perusahaan setingkat dibawah Wan kiam ciu, tapi

berhubung dia adalah seorang yang jujur dan setia kawan,

maka semua orang menaruh hormat kepadanya.

Seruannya itu segera ditanggapi semua orang, kecuali Wan

Kiam ciu seorang, hampir semua orang mundur beberapa

langkah dan memberi jalan lewat baginya.

Setibanya didepan Wan Kiam ciu, Si Pena baja bercambang

Tio Ci hui menjura dalam-dalam, kemudian katanya.

“Toako, kau telah memfitnah orang baik, Suma siauhiap

tidak bersalah, apalagi diapun me naruh budi kepadaku.

“Cuuuh, apakah gurunya Wan Liang tidak ber salah?”

jengek Mo im sin liong wan Kiam ciu sambil meludah.

Belum sempat si Pena baja bercambang Tio Ci bui sempat

mengucapkan sesuatu, Suma Thian yu telah berkata lebih

dulu.

“Benar, dia orang tua memang tidak bersalah, justru

karena dalam dunia persilatan penuh dengan manusiamanusia

yang tak bisa membedakan mana yang benar dan

mana yang salah, maka dia orang tua baru mati penasaran….”

Selapis hawa nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti

wajah Mo im sin liang Wan Kian ciu, si Pena baja bercambang

Tio Ci hui menyaksikan

keadaan makin kritis, buru-buru dia memberi tanda kepada

Suma Thian yu seraya berkata:

“Suma Hiantit, bersabarlah dulu, memandang diatas

wajahku, tinggalkanlah tempat ini! Tak ada gunanya

memperebutkan persoalan yang sama sekali tak ada gunanya

ini”

Ketika mengucapkan perkataan tersebut na danya setengah

merengek, hal ini membuat Suma Thian yu merasa amat

terharu, pikirnya:

“Meninggalkan tempat inipun ada baiknya juga, toh dengan

dua tiga patah kata mustahil bagiku untuk menyadarka

kembali bajingan tua yang keras kepala ini”

Walaupun dia ingin pergi, ternyata orang lain tidak

membiarkannya pergi.

Sambil tertawa dingin Mo im sin liong wan Kiam ciu

berkata:

“Sekalipun perusahaan Sin liong piaukiok bukan sarang

naga gua harimau, tempat inipun bukan tempat yang bisa di

datangi dan ditinggalkan orang dengan semaunya sendiri, bila

siauhiap tak memberikan suatu pertanggungan jawab

kepadaku hari ini, jangan harap kau bisa pergi meninggalkan

tempat ini barang selangkahpun.”

Si Pena baja bercambang Tio Ci cui jadi gelisah sekali,

buru-buru serunya lagi kepada Wan Kiam Ciu:

“Toako, sekalipun tidak memberi muka ke pada pendeta,

paling tidak aku harus menghargai Sang Buddha, aku bersedia

menanggung se mua barang kawalan yang hilang, hanya saja

kumohon kalian jangan berkeras kepala terus, biarkanlah

urusan selesai dulu sampai disini!”

Dengan sorot mata penuh amarah Mo im sin liong Wan

Kiam ciu melotot sekejap kearah Tio Ci hui, lalu dia

membalikkan badan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun

masuk ke ruang dalam.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan semua orang,

siapapun tak tahu permainan busuk apakah yang sedang di

persiapkan, sehingga se mua orang segera berbisik-bisik lirih.

Dengan cepat si pena baja bercambang Tio-Ci cui berpaling

lagi kearah Suma Thian yu seraya berkata:

“Hiante, cepat kamu tinggalkan tempat ini, cepat atau

lambat persoalan ini pasti akan menjadi terang kembali,

walaupun sekarang kau di tuduh orang, tapi tak usah putus

asa, lapangkan dadamu, mengerti?”

Dengan mata berkaca-kaca, Suma Thian yu mengangguk,

setelah menjura dalam-dalam katanya:

“Tio toako, budi kebaikkanmu tak akan aku lupakan untuk

selamanya, asalkan kau bersedia mempercayai diriku, aku

percaya orang lain tak akan mampu untuk melukai diriku.”

Setelah menyarungkan kembali pedangnya, dia berkata

lebih jauh:

“Di kemudian hari, budi kebaikan ini pasti akan kubalas.”

Kemudian dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan

secepat kilat melompat keluar dari pagar pekarangan rumah.

Dalam sekejap mata saja, bayangan tubuhnya sudah

lenyap dari pandangan mata.

Dengan mata berkaca-kaca, si Pena baja ber cambang Tio

Ci cui memperhatikan bayangan punggungnya hingga lenyap

dari pandangan, kemudian dia baru menyeka air matanya

mem bentur dengan tempat duduk Bi hong siancu Wan Pek

lan, dia berseru tertahan, ternyata bayangan tubuh nona wan

sudah lenyap dari pandangan.

Si Pena baja bercambang Tio Ci hui cukup mengetahui

watak dari Wan Peklan, karena dia lah yang sering bermain

dengan nona itu sejak si nona masih kecil, begitu dilihatnya

nona Wan tak ada di tempat, dia lantas menduga kalau gadis

itu sudah menyusul Suma Thian yu, tak terlukiskan rasa

gelisah hatinya setelah mengetahui akan hal itu.

Dia tahu, Wan peklan tentu tidak terima akan persoalan

tadi sehingga kepergiannya niscaya akan menimbulkan

keonaran baru.

sebenarnya dia hendak masuk kedalam untuk melaporkan

kejadian ini kepada Wan kiam cui, tapi teringat kalau Wan

kiam cui sedang marah, ia merasa bila hal ini dilaporkannya

kepada Wan kiam cui, besar kemungkinan kalau hal ini akan

menimbulkan amarahnya, sebab itu diapun menahan diri.

Sementara itu, Suma Thian yu telah meninggalkan kantor

perusahaan Sin liong piaukiok dengan perasaan berat, murung

dan kesal.

Orang bilang: Siapa yang berbaik hati dia akan memperoleh

yang baik pula.

Tapi apa yang dialami justru merupakan kebalikanya, maka

sambil melanjutkan perjalanan dengan kepala tertunduk,

pikirnya diam-diam:

“Besar kemungkinan paman Wan yang kusayangi

dan mengalami nasib seperti apa yang ku alami

sekarang, karena salah paham akhirnya dia menjadi dibenci

orang. aaii…. kalau memang begitu, sungguh mengenaskan

sekali nasibnya…..”

Setelah meninggalkan kota, didepan mata terbentang

sebuah tanah perbukitan, waktu itu matahari sedang bersinar

dengan teriknya, Suma thian yu berjalan terus tanpa berhenti,

sekarang sepeser uang pun tak dimiliki, pakaian dan uang

yang dimilikinya masih tertinggal dikantor Sinl liong piaukok,

bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya dikemudian hari?

Sementara dia masih murung, sampailah pemuda itu

dibawah sebatang pohon besar, dia segera duduk disana

sambil memejamkan matanya rapat-rapat….

Mendadak terasa segulung angin berhembus lewat, dengan

perasaan terkejut dia segera membuka matanya, tampak

sesosok bayangan hitam dengan kecepatan luar biasa sedang

meluncur ke arahnya.

Dalam keadaan gugup, dia tidak memikirkan lebih jauh lagi,

buru-buru disambutnya bayangan hitam tersebut dengan

sepasang tangannya, ternyata benda itu adalah sebuah

bungkusan besar, yang lebih mengherankan lagi, buntalan

tersebut ternyata miliknya.

Sementara dia masih tertegun, mendadak dari belakang

tubuhnya berkumandang suara tertawa merdu yang amat

sedap didengar, dengan cepat Suma thian yu membalikkan

badannya kemudian menjerit kaget:

“Aaaaah, rupanya kau!”

“Siapakah orang itu?”

Ternyata dia tak lain adalah putri kesayangan dari Mo im

sin liong Wan kiam cui, yakni si Dewi burung hong Wan Pek

lan.

Sambil menarik kembali senyumannya, si dewi burung hong

berkata dengan wajah bersungguh-sungguh:

“Bawalah serta buntalanmu itu, aku memang khusus

datang kemari untuk mengirimkannya bagimu”

“Oooh, terima kasih nona Wan”

Seraya berkata dia lantas mengambil buntalan tersebut dan

siap meninggalkan tempat itu.

Tampaknya ia sudah merasa penasaran sekali terhadap

keluarga Wan, maka setelah bertemu dengan gadis itu, dia

mengurungkan niatnya untuk beristirahat.

Belum lagi berapa langkah, mendadak terdengar nona Wan

membentak lagi:

“Suma siauhiap, harap tunggu sebentar!”

“Ada apa nona Wan? Dengan perasaan terperanjat Suma

thian yu berpaling seraya bertanya.

“ada sesuatu persoalan kumohon petunjukmu”

“Persoalan apa?” tanya Suma thian yu.

Si Dewi burung hong berjalan mendekat dengan wajah

kemalu-maluan, lalu berkata:

“Aku ingin memohon beberapa petunjuk ilmu silatmu!”

Dengan wajah berkerut bercampur keheranan, Suma thian

yu memandang sekejap kearah Wan Pek lan, kemudian

tanyanya keheranan:

“Nona Wan, apa maksudmu? apakah ayahmu yang

memerintahkan kepadamu untuk menahan aku disini?”

“Soal ini tak usah kau urusi, aku sudah lama mendengar

orang bilang tentang kelihayan ilmu pedang Kit hong kiam

hoat, karena itu aku ingin sekali memohon petunjukmu”

“Nona Wan, buat apa kau mendesak orang terus-menerus?

Aku sedang merasa kesal, lebih baik urungkan saja niatmu itu”

Sepasang alis mata si Dewi burung hong Wan Pek lan

segera berkenyit sesudah mendengar perkataan ittu, serunya

sambil tertawa dingin:

“Siauhiap, apakah kau tidak memandangsebelah matapun

terhadap diriku?”

“Tidak, aku tidak berniat bertarung melawan

dirimu, lebih baik kau urungkan saja niatmu itu!”

Jauh-jauh si dewi burung hong Wan Pek lan menyusul

kesana, tujuannya tak lain adalah untuk memnta petunjuk

ilmu silat dari anak muda tersebut, tekadnya itu sudah bulat,

tak perduli apapun yang dikatakan Suma thian yu, dia sama

sekali tidak ambil peduli.

Sambil menarik muka dan melototkan sepasang matanya,

ia membentak nyaring:

“Sekalipun tak mau juga harus mau, kalau tidak, jangan

harap kau bisa meninggalkan tempat ini”

Suma thian yu yang melihat si nona menghadang jalan

perginya, dia lantas tahu kalau pihak lawan memang datang

dengan sesuatu maksud tertentu, maka setelah menghela

napas panjang, katanya:

“Aku Suma thian yu merasa tak pernah bersalah pada

langit, tak pernah bersalah pada manusia, sungguh tak

kusangka kalian mengejarku terus-menerus, nona, kumohon

kepadamu, sukalah melepaskan sebuah jalan bagiku”

Menyaksikan wajah Suma thian yu yang mengenaskan dan

perkataan yang memilukan, Bi hong siancu Wan Pek lan

segera tertawa geli, katanya dengan marah:

“Kalau dilihat dari tampangmu yang mengenaskan, seakanakan

telah dianiaya orang saja, aku toh hanya bermaksud

untuk meminta petunjuk saja kepadamu tanpa mengandung

maksud lain”

Mendengar perkataan itu, dengan keheranan Suma thian

yu segera bertanya:

“Mengapa harus bertarung dengan ku?”

“Aai, kau ini benar-benar…..”

Setelah berhenti sejenak, gadis itu berkata lebih lanjut:

Karena kau tangguh, maka aku baru memohon petunjuk

darimu, hal ini hanya suatu permohonan saja, mengapa kau

berusaha menampik dengan pelbagai alasan?”

“Permohonan? Aku tidak mengenal segala macam hal

seperti itu”

“Jadi maksudmu, kau tak ingin bertarung melawan diriku?”

“Benar nona Wan!” jawaban dari Suma thian yu itu tegas

dan bersungguh-sungguh.

Si nona Wan segera meloloskan pedangnya sambil

membentak:

“Baik, akan kulihat apakah kau akan turun tangan atau

tidak!”

Pedangnya diputar suatu lingkaran busur, kemudian

dengan jurus Long li cian ciau (membunuh naga ditengah

ombak) langsung membacok batok kepala Suma Thian yu.

Ternyata Suma Thian yu mengatakan tidak bertarung tetap

tidak bertarung, buru-buru dia miringkan kepalanya sambil

menghindar ke samping, setelah itu teriaknya kaget:

“Kau…..”

Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, bacoka

pedang dari Bi hong siancu Wan Pek lan telah menyambar

tiba, terpaksa dia harus mundur selangkah lagi ke belakang.

“Kau benar benar….”

“Ya, aku benar-benar hendak mengajakmu bertarung!”

Sembari berkata dia mendesak maju ke muka sambil

melancarkan bacokan, ia sama sekali tidak memberi

kesempatan kepada lawannya untuk berganti nafas, bahkan

secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai

yang semuanya ditujukan ke jalan darah kematian di tubuh

Suma Thian yu.

Waktu itu Suma Thian yu tidak bersenjata, dia didesak

terus sampai mundur berulang ka li, dalam waktu singkat

pemuda itu sudah ter jerumus dalam posisi yang berbahaya

sekali.

Dalam keadaan begini, dia tak dapat menahan diri lagi

menghadapi ancaman maut, tanpa berpikir panjang lagi dia

berpekik nyaring kemudian tubuhnya melejit setinggi satu kaki

ke tengah udara.

Ditengah jalan pedangnya ditarik kembali dan secara tibatiba

mengeluarkan gerakan tubuh Yau cu huan sin (burung

belibis membalikkan badan)

pedangnya berubah menjadi beratus-ratus kuntuk bunga

pedang dan mengurung bersama ketubuh Bi hong Siancu

dengan jurus Ciang liong ji hay (naga sakti masuk ke laut).

Inilah salah satu jurus penolong yang ampuh dari ilmu

pedang Kit hong kiam hoat.

Waktu itu Bi hong Siancu sedang risau kare na lawannya

belum juga meloloskan pedangnya, tak terlukiskan rasa girang

dalam hatinya ketika menyaksikan Suma Thian yu menghunus

pedangnya sambil melancarkan serangan balasan, teriaknya

dengan segera:

“Akan kulihat kau bisa berkeras kepala sampai kapan!”

Sembari berkata, buru-buru pedangnya berputar

membentuk selapis kabut senjata yang menyelimuti

kepalanya, dia telah bersiap siaga untuk menyambut

datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras guna

mencoba sampai dimanakah ketangguhan lawannya.

Siapa tahu Suma thian yu tidak bertindak seperti apa yang

diharapkan, mendadak dia merubah jurus serangan ditengah

jalan, kemudian melayang turun kembali ke tanah, bentaknya

dingin, “Nona Wan, kau kelewat mendesak orang”

Menyaksikan pemuda itu menarik kembali serangannya

sambil melayang turun ke tanah, Bi hong siancu Wan Pek lan

kuatir kalau ia menyimpan kembali pedangnya kedalam sa

rung, maka terhadap perkataan dari Suma Thian yu dia tak

ambil peduli.

Mendadak gadis itu membentak nyaring, pedangnya

memapas ringgung lawan dengan jurus Thian li hui ko atau

malaikat perempuan memutar tombak.

Suma Thian yu benar-benar mendongkol luar biasa, tanpa

terasa pergelangan tangannya digetarkan lalu mengayunkan

pedangnya dengan

jurus yang diandalkan ialah Im liong tham jiau (naga mega

mementangkan sayap) ujung pedangnya seperti cakar naga

yang di ayunkan kedepan langsung menotak jalan darah Cian

Keng hiat dibahu lawan.

Bi hong siancu Wan Pek lan merasa amat gembira,

akhirnya apa yang di harapkan terwujud karena pancingannya

berhasil menjebak lawan, tanpa terasa semangatnya berkobar

dia pun mengembangkan pelajaran silat dari ayahnya untuk

melepaskan serangan keji.

Jilid 8 : Tuduhan keji

Tak selang beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah

saling bertarung sepuluh gebrakan lebih, sepanjang

pertarungan itu berlangsung, Suma Thian yu selalu mengalah

dan berbelas kasihan dalam serang-serangannya, anehnya Bi

hong siancu pun seakan-akan mempunyai pandangan yang

sama, dia pun selalu berbelas kasihan didalam melancarkan

serangannya.

Sekilas pandangan pertarungan yang berlangsung antara

kedua orang itu tampaknya amat seru, padahal dalam hati

masing-masing sudah ada perhitungannya, pertarungan

mereka berlangsung amat santai dan tidak saling

membahayakan jiwa masing-masing.

Lama-kelamaan kedua orang ada kalanya mereka berdua

sempat bertanya-tanya sendiri, buat apa mereka berdua harus

saling bertarung?

Akhirnya Bi hong siancu Wan Pek-lan yang tertawa merdu

lebih dulu, pedang mestikanya diputar kencang menciptakan

selapis hujan pedang yang tebal dan langsung mengancam

jalan darah Tiong teng hiat dan Tham tiong kiat ditubuh

lawan.

Ditengah pekikan nyaring gadis itu, Suma Thian yu tersadar

pula dari lamunannya, tak terlukiskan rasa kagetnya melihat

ujung pedang lawan tahu-tahu sudah berada didepan dada.

xx X xx

SIANAk MUDA itu membentak nyaring, Pedang Kit hong

kiamnya diputar untuk menangkis pedang lawan dengan jurus

Sik poh thian keng (batu hancur langit terkejut),

menggunakan kesempatan itu ia menerobos masuk kedepan

dan menusuk jalan darah Tham tiong hiat dan tiong teng hiat

si nona tersebut.

“Tidak sopan kalau suatu pemberian tidak dibalas dengan

pemberian lain…!” serunya.

Berbareng dengan seruan itu, terdengar Bi hong siancu

menjerit keras lalu mundur beberapa langkah dengan

sempoyongan dan akhirnya roboh terkapar diatas tanah.

Menyaksikan kejadian itu, Suma Thian yu amat terkejut,

buru-buru dia menyimpan pedangnya dan lari kesisi Bi hong

siancu sambil tanyanya dengan gelisah:

“Nona Wan, apakah kau terluka?”

Bi hong siancu Wan Pek lan berdiam kaku seperti patung,

sepasang matanya terpejam rapat-rapat, napasnya memburu

dan kelihatan menderita sekali…

Suma Thian yu makin cemas setelah menyaksikan kejadian

ini dengan perasaan bingung, buru-buru serunya:

“Nona Wan, nona Wan…'”

Melihat Wan Pek lan belum juga membuka matanya, dia

tak dapat mengindahkan ucapan yang mengatakan “antara

lelaki dan perempuan ada batas-batasnya lagi”, dengan cepat

dia melakukan pemeriksaan.

Tampak napasnya teratur, matanya terpejam rapat dan

mukanya merah segar, walaupun sudah diperiksa sekian lama,

tidak dijumpai gejala-gejala aneh dibalik denyutan nadi lawan,

kesemuanya ini segera menimbulkan perasaan curiga dalam

hatinya.

Padahal Bi hong siancu Wan Pek lan sama sekali tidak

terluka, apa yang dilakukan sekarang tak lebih hanya berpurapura

belaka.

Berbicara yang sesungguhnya, maksud tujuan dan tindakan

yang dilakukannya ini amat dalam selain hendak

menyelesaikan pertarungan yang sama sekali tak berguna itu,

diapun ingin mencari tahu sampai dimanakah watak dan

perangai dari Suma thian yu.

Dengan sepasang mata setengah terpejam, diam-diam dia

melirik dan mengikuti gerak-gerik Suma thian yu dengan

seksama dari pagi hingga sekarang, kini ia baru

berkesempatan untuk menyaksikan wajah Suma Thian yu

dengan jelas.

Melihat tampangnya yang gagah dan ganteng, makin dilihat

dia merasa makin tertarik, tanpa terasa pikirnya dalam hati:

“Aaah, mustahil dia tersangkut dalam peristiwa pembegalan

barang kawalan, ooh Thian! Hal ini mustahil bisa terjadi! Ayah

pasti telah salah menuduh orang baik!”

Berpikir sampai disitu, jantungnya serasa berdebar amat

keras.

Pada waktu itulah dia merasa telapak tangan Suma Thian

yu yang panas dan hangat telah ditempelkan diatas dadanya

padahal sejak dewasa selain ibunya hampir tak pernah ada

orang yang pernah menyentuh badanrya, apalagi meraba

diatas sepasang payudaranya.

Tapi sekarang, orang yang meraba payudaranya adalah

seorang lelaki, seorang pemuda tampan yang gagah dan

mempunyai daya tarik, apalagi merupakan orang yang

dicintainya, bayangkan saja bagaimana mungkin hatinya tidak

menjadi mabuk?

Dia menjadi mabuk, mabuk seperti terbang di angkasa,

perasaan semacam ini belum pernah dialaminya sepanjang

hidup, dia ingin menampik namun tak tega untuk melepaskan

kenikmatan seperti itu, keadan semacam ini amat

mengenaskan, juga amat manis dan mesra….

Tapi perempuan tetap perempuan, terutama sekali gadis

remaja yang mulai mengenal arti kata cinta, bagaimanapun

cintanya kepada pemuda itu toh sepasang matanya segera

membuka kembali, ia tidak membiarkan pihak lawan meraih

keuntungan kelewat lama.

Pada dasarnya Suma Thian yu adalah seorang pemuda

paling bodoh didunia ini, kecuali merasa gelisah, dia sama

sekali tak dapat menekan kobaran emosi dalam hatinya.

Begitu melihat Bi hong siancu mendusin, rasa girangnya

melebihi sekeluarga miskin yang secara tiba-tiba menemukan

sebuntalan emas murni, dengan cepat dia bersorak gembira.

“Nona Wan, kau tidak apa-apa bukan?”

Bi hong siancu Wan Pek lan menutup mulutnya rapat-rapat

dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Suma Thian yu yang melihat gadis itu mendusin kembali,

tak terlukiskan rasa girangnya ia menghembuskan napas

panjang lalu berkata:

“Waah….hampir saja aku dibikin kaget setengah mati,

terima kasih banyak, kau tidak terluka apa-apa!”

Sebetulnya perkataan semacam itu tak pantas diutarakan

keluar, jika ada pihak ketiga hadir disitu, ia pasti akan merasa

perkataan mana kelewat mesra, padahal tindakan dari Suma

Thian yu ini tak lebih merupakan suatu perbuatan yang

mendekati ketolol-tololan.

Bi hong siancu Wan Pek lan sengaja menegur dengan suara

keras.

“Huuh, masa kau merasa kuatir? Hmm, mungkin kau

bertambah gembira bila menyaksikan aku mati!”

Perkataan semacam inipun tidak seharusaya diutarakan,

tapi pada dasarnya kedua orang itu memang berwatak aneh,

setelah saling ribut sekian lama, akhirnya mereka malah

merasakan kemesraannya.

Kau berani mengatakan dialam semesta ini tiada sesuatu

kekuatan besar yang mengatur segala-galanya?

Sesungguhnya Malaikat cinta mengatur bagi mereka berdua

segala sesuatunya, apakah kau ingin membantah? Kecuali

kalau kau mempunyai kekuatan lainnya itu lain cerita.

Suma thian yu mengira gadis itu masih masih marah,

dengan wajah minta maaf dia berkata:

“Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, maaf jika aku

membuatmu terjatuh, harap kau sudi memaafkan.”

Pada dasarnya anak gadis memang lebih perasa dari pada

kaum lelaki, lagi pula hati mereka lebih lembek.

Melihat wajah Suma Thian yu yang mengenaskan itu, Bi

hong siancu Wan Pek lan tak jadi curiga, cepat ia menyahut:

“Kesemuanya ini gara-gara aku mencoba unjuk

kepandaian, sehingga akibatnya kau dibikin terperanjat,

apakah kau menyalahkan aku?”

“Aah, mana, mana…” buru buru Suma Thian yu menyahut,

“asal kau tidak terluka, aku merasa girang sekali “

“Mengapa sih kau begitu menaruh perhatian kepadaku?” Bi

hong siancu balik bertanya.

“Karena… karena…”

Suma Thian yu mengulangi perkataan tersebut sampai

beberapa kali tanpa berhasil untuk melanjutkannya.

“Aku tahu kau tak punya alasan bukan?”

“Ehmmm…!”

“Ya, memang banyak kejadian yang berlangsung secara

wajar, tiada suatu bentuk alasan, yang pasti, aku rasa sesuatu

yang nyata di dunia ini selamanya tak beralasan, bukankah

begitu?”

“Maaf nona, aku merasa kagum sekali kepadamu yang

melebihi orang lain”

“Jangan nona, nona melulu, aku toh bukan tak punya

nama, mengapa kau selalu memanggil dengan nama

tersebut?” ketika mengucapkan perkataan tersebut, nadanya

tersipu-sipu.

“Ahh betul, tolong tanya siapakah nama nona?” buru-buru

sianak muda itu bertanya.

“Aku bernama Pek lan, ketika masih kecil orang

memanggilku Lan ji, kau boleh memanggil aku sebagai adik

Lan!”

“Adik Lan…” Suma Thian yu segera memanggil, tapi kata

selanjutnya dia tak sanggup untuk melanjutkan.

Waktu itu, Suma Thian yu merasa amat gembira sekali

selama bergaul dengan Wan PeK lan, tapi kalau ditanya

menpapa, dia sendiripun tak mampu untuk mengucapkan

sesuatu.

Itulah sebabnya manusia dinamakan mahkluk yang

berperasaan, yang terpenting manusia bukan rumput atau

binatang, manusia adalah mahkluk yang berperasaan.

Kadangkala perasaan semacam itu baru bisa tumbuh dan

meningkat mencapai pada puncaknya bila manusia yang

berlawanan jenis bertemu.

Ada orang bilang: Hubungan manusia antara manusia

terdapat semacam daya tarik menarik, hal ini tak lain adalah

perasaan.

Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam suasana yang santai

karena berbincang dan bergurau, tanpa terasa matahari telah

bergeser kearah barat, langit diliputi oleh cahaya keemasemasan.

Bi hong siancu Wan Pek lan mendongakkan kepalanya dan

memandang keadaan cuaca sekejap, kemudian suaranya

dengan terkejut.

“Aaah, matahari sudah condong kebarat, aku harus segera

pergi dari sini.

Entah mengapa, sewaktu mendengar gadis itu hendak

pergi, Suma Thian yu segera merasa hatinya kosong dan

kecut, ditatapnya nona Wan dengan wajah termangu, dia

seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat itu

diurungkan.

Padahal Bi hong siancu sendiripun tak ingin berpisah

dengan pemuda tersebut, buru buru ia mengusulkan.

“Engkoh Yu, bagaimana kalau kita kembali?”

“Kembali? Kembali kemana?” tanyanya.

“Ke rumahku!” sahut Bi hong siancu.

“Ah, bukankah hal itu sama dengan mengantar diriku

kembali ke mulut harimau?”

“Tak mungkin, aku akan membujuk ayahku, dia pasti dapat

memahami kesulitanmu.

“Terima kasih atas maksud baikmu, sayang aku masih ada

urusan penting yang tak dapat ditunda lagi, lebih baik kita

berpisah dulu sampai disini, moga-moga kita akan bersua

kembali dimasa mendatang” kata Suma Thian yu.

Berbicara sampai disitu dia lantas bangkit berdiri dan sekali

lagi memandang sekejap kearah Bi hong siancu.

Bi hong siancu yang melihat dia hendak pergi, hatinya

menjadi amat gelisah, buru-buru dia bertanya: “Engkoh Yu,

kau bermaksud hendak pergi ke mana?” kata Bi hong siancu

sedih.

“Bagi seorang lelaki, cita-citanya berada di empat penjuru,

seluruh jagad bisa dijadikan rumahnya, oleh karena itu,

kemana aku sampai, disitulah aku akan berada”

“Apakah kau akan kembali lagi kemari?”

“Tentu akan kembali, menanti sampai fitnahan terhadap

diriku sudah jadi jelas sekali.”

“kalau selamanya tak pernah menjadi jelas kembali…?”

“Itu berarti selama hidup aku tak akan menginjakkan

kakiku kembali ke perusahaan Sin liong piaukiok.” jawab Suma

Thian yu.

“Sungguh?” selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang

matanya telah basah oleh air mata, menyusul kemudian dua

baris air mata jatuh berderai membasahi pipinya.

Suma Thian yu merasakan hatinya menjadi kecut, setelah

menghembuskan napas hiburnya.

“Aku pasti kembali untuk menengokmu, asalkan kau benarbenar

menyukai aku kembali kemari”

“Tidak, kau bohong! Aku tahu kau sedang menghiburku,

kau tak mungkin akan kembali lagi…”

Berbicara sampai disitu ternyata dia menangis terisak

dengan amat sedihnya.

Menangis semacam senjata yang ampuh bagi kaum wanita,

air mata juga merupakan semacam taktik untuk mencapai

pada tujuannya, seperti juga Suma Thian yu sekarang, dia

dibikin melumer juga hatinya oleh isak tangis dan air mata

yang jatuh bercucuran.

Seketika itu juga sang pemuda tersebut menjadi gelagapan

sendiri dengan perasaan panik, untuk sesaat dia tak berhasil

menemukan kata-kata yang cocok untuk menghibur hati gadis

she Wan tersebut, karena itu dengan mata terbelalak dia

hanya bisa memandang dengan wajah kebingungan.

Sementara itu, satu ingatan tiba tiba melintas dalam

benaknya:

“Jangan-jangan nona Wan jatuh hati padaku.”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia memandang

sekejap kearahnya, siapa tahu makin dilihat dia merasa hal itu

makin benar, tanpa terasa jantungnya berdebar keras.

Buru-buru dia maju kedepan dan memegang bahu si nona,

lalu hiburnya dengan suara lembut.

“Aku pasti akan kembali untuk menengokmu, asal hatimu

tak akan berubah untuk selamanya”

Perkataan itu benar benar sangat manjur, pelan-pelan Bi

hong siancu mendongakkan ke palanya dan memandang

sekejap kearahnya dengan pandangan mata yang merah,

kemudian dengan wajah tersipu-sipu menundukkan kepalanya

rendah-rendah.

Sementara mereka berdua merasa berat hati untuk saling

berpisah…. Dari arah jalan raya sana terdengar suara derap

kaki kuda yang amat ramai berkumandang dari kejauhan sana

yang makin lama semakin mendekat.

Agak tertegun Bi hong siancu mendengar suara itu, dia

segera memasang telinga baik-baik, mendadak serunya

tertahan:

“Aduh celaka, ayahku telah menyusul kemari”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Apa kau tak mendengar suara bel itu? suara yang berasal

dari kuda tunggangan milik ayah”

Kemudian dengan cepat serunya kepada Suma Thian yu.

“Cepat lari, mereka sudah datang, kalau keburu terkurung,

bisa berabe juga akhirnya!”

Mendengar itu, Suma Thian yu segera terta wa terbahakbahak.

“Haah haah haah. Aku Suma Thian yu adalah seorang

manusia yang tak akan mencari gara-gara bila tiada urusan,

dan tidak takut menghadapi setiap kejadian bila menjumpai

urusan, kalau toh mereka sudah datang, memangnya bisa

menelanku hidup-hidup?”

Terkesiap jnga Bi hong Siancu setelah mendengar

perkataan itu, buru buru pintanya dengan nada setengah

merengek:

“Engkoh Yu, kumohon kepadamu sudilah kiranya untuk

menghindarkan diri lebih dahulu, ayahku bukan seorang

manusia yang bisa diusik dengan begitu saja, demi kau, juga

karena aku, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!”

“Kalau aku pergi, bukankah hal ini akan di tertawakan

orang?”

“Darimana mereka bisa tahu kalau kau berada bersamasamaku?”

Baru saja Bi hong siancu menyelesaikan kata-katanya,

mendadak dari tengah udara berkumandang suara gelak

tertawa yang menyeramkan, mendengar itu kedua orang

tersebut menjadi terkesiap dan segera berpaling.

Tampak dua bayangan manusia dengan kecepatan luar

biasa meluncur turun dihadapan kedua orang itu.

Suma Thian yu mencoba untuk mengawasi orang itu

dengan seksama, ternyata dia tak lain adalah Boan thian hui

Ya Nu bersama seorang manusia berusia empat puluh tahun.

Begitu berjumpa dengan kedua orang itu, buru-buru Bi

hong siancu memberi hormat seraya berkata:

“Paman Ya, mengapa kaupun datang kemari?”

“Hmm, bukankah semuanya ini gara-gara kau?” Eeh,

kenapa kau bisa berada bersama anjing lelaki ini?”

Begitu Boan thian hui Ya Nu menyaksikan Suma Thia yu,

hatinya kontan menjadi panas kembali, mungkin inilah yang

dikatakan dalam pepatah sebagai:

“Dua orang musuh besar saling berjumpa, sepasang

matapun ikut memerah”

Suma Thian yu tentu saja tidak mau menunjukan

kelemahannya, dengan cepat dia berseru:

“Hmm, prajurit yang pernah kalah, kau masih punya muka

untuk datang mencariku, huuh sunggah tak tahu malu”

Ternyata Boan thian hui Ya Nu tidak menjadi marah

sebaliknya malahan tertawa.

Anjing cilik, keparat terkutuk, kita berjum pa lagi, mari,

mari, kuperkenalkan kau dengan sahabatku ini, dia adalah

Sang tayhiap”

Suma Thian yu mencoba untuk mengamati orang iyu,

tampak wajahnya hijau membesi seperti baru saja sembuh

dari suatu penyakit yang sangat parah, mendadak dia teringat

akan seseorang, tanpa terasa tanyanya.

“Apakah orang ini yang disebut Cing bin kui (setan muka

hijau) Seng Tham?”

“Setan muka hijau adalah suatu kata makian, Suma Thian

yu sengaja berkata demikian dengan maksud untuk

menyindir lawannya.

Siapa tahu manusia bermuka hijau itu tertawa seram

setelah mendengar seruan tersebut, sahutnya:

“Benar, bocah keparat, tampaknya kau cukup tahu akan

diriku, aku memang bernama setan muka hijau, sedang kau

sebentar lagi akan berubah menjadi setan muka putih”

Belum sempat Suma Thian yu menjawab, dari tengah

udara telah berkumandang lagi tiga kali suara pekikan

panjang.

Mendengar suara pekikan tersebut, paras muka Bi hong

siancu Wan Pek lan berubah menadi pucat pias, segera

serunya:

“Ayahku datang “

Betul juga, dari hadapan mereka segera muncul tiga sosok

bayangan manusia, dalam sekejap mata bayangan tersebut

sudah tiba di depan Suma Thian yu, orang yang berada di

tengah itu sudah membentak dengan penuh kegusaran

sebelum kakinya mencapai tanah:

“Perempuan rendah, kau berani pagar makan tanaman,

diam-diam bersekongkol dengan, kaum laknat!”

Mendengar ayahnya melontarkan makian yang keji dan

amat tak sedap didengar itu, kontan saja Bi hong siancu

menangis tersedu-sedu. Suma Thian Yu adalah seorang lelaki

yang berjiwa kesatria, dia amat membenci watak Mo im sin

liong Wan Kiam ciu.

Sambil menggerakkan tubuhnya dia segera menerjang

kehadapan Wan Kiam ciu, kemudian serunya sambil

menuding:

“Wan tay hiap, aku benar-benar merasa malu untukmu,

tindakanmu itu sungguh lebih rendah daripada binatang,

darimana kau bisa tahu kalau putriku bertindak pagar makan

tanaman?

“Dia membelai dirimu, hal ini merupakan suatu fakta!”

bentak Mo im sin liong Wan Kiam ciu dengan gusar.

Mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu segera tertawa

terbahak bahak.

“Haahhh…haahh… hahh… Wan tayhiap, di depan orang

yang jujur tak usah berbicara bohong, apa maksud

kedatanganmu sudah aku pahami, aku orang she Suma akan

menerimanya satu persatu …..”

Dalam pada itu, Boan thian hui ya Nu menimbrung dari

samping.

“Cong piautau, buat apa mesti ribut dengannya? Lebih baik

dibunuh saja habis perkara”

Si manusia berbaju hijau yang berada disampingnya seperti

takut tidak kebagian kesempatan saja, tiba-tiba ia menyerobot

maju ke lalu sambil tertawa dingin serunya:

“Anjing keparat, Toaya akan melengkapi keinginanmu itu!”

Seraya berkata dia lantas mengayunkan telapak tangannya

menghantam dada Suma Thian yu.

Melihat datangnya bacokan tersebut, Suma Thian yu

miringkan badannya lalu berkelit ke samping, katanya sambil

tertawa:

“Selamanya sianya enggan membunuh prajurit tak

bernama”

Gagal dalam serangannya yang pertama, si setan muka

hijau Sang tham maju kedepan sembari melancarkan sebuah

pukulan lahi, dampratnya dengan penuh kegusaran:

“Bangsat, kau pingin mampus rupanya?”

Tenaga pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan

kedepan sehingga menimbulkan deruan angin tajam yang

amat memekikkan telinga.

Jarak kedua dua belah pihak cuma lima langkah, begitu si

setan muka hijau Sang tham mengayunkan telapak

tangannya, Suma thian yu segera merasakan datangnya

hembusan angin dingin yang mencekam perasaannya.

Dengan perasaan terkesiap dia lantas melayang kesamping

untuk menghindarkan diri, dengan mempergunakan ilmu Ciok

tiong luan poh sin hoat ajaran si pengemis yang suka

berpelancong cong Wi Kian, tampak ujung bajunya terhembus

angin dan tahu-tahu dia sudah berdiri satu kaki dari posisi

semula …

Begitu Suma Thian yu mendemontrasikan ge rakan tubuh

yang amat indah, Bi hong siancu segera bersorak memuji.

Tampak pemuda itu segera mengejek si setan muka hijau:

“Sauya tak akan bersedia untuk bertarung melawan setan

tanpa nama, mengerti?”

“Anjing keparat” kontan saja setan muka hijau Sang tham

mencaci maki kalang kabut, “Toaya bernama Sang Tham,

ingat baik-baik namaku agar kalau sudah mampus mengetahui

siapa pembunuhmu, cepat lolosan pedangmu!”

Sebetulnya Suma Thian yu memang tidak mempunyai

kesan baik terhadapnya, apalagi setelah mendengar kalau dia

adalah murid kedua dari si mayat hidup Ciu Jit hwee atau adik

seperguruan dari si macan angin hitam Sim Kong,

kemarahannya segera berkobar.

Sengaja ejeknya dengan suara yang sinis:

Sang Tham? Sayang seribu kali sayang, sauya belum

pernah dengar nama Sang Tham berkumandang dalam dunia

persilatan”

Berbicara sampai disitu dia lantas sedekap tangan dan

tertawa terkekeh-kekeh, seolah-olah dia sama sekali tak

pandang sebelah matapun ternadap si setan muka hijau Sang

Tham.

Perlu di ketahui, si setan muka hijau Sang tham adalah

seorang manusia yang liar dan membunuh orang tanpa

berkedip, mendengar perkataan itu bukannya menjadi gusar

malah tertawa tergelak, suaranya menusuk pendengaran dan

tak sedap didengar…

Selesai tertawa, mendadak sepasang mata nya yang buas

dan tajam bagaikan sembilu itu yang menembusi hati, ia

mengawasi wajahnya Suma Thian yu tanpa berkedip,

membuat anak muda itu bergidik, pikirnya:

“Amat luar biasa tenaga dalam orang ini!”

Walau Sang Tham menduduki urutan kedua dalam

perguruan si mayat hidup Ciu Jit hwee, namun usianya jauh

diatas usia kakak sepergu ruan si harimau angin Sim Kong,

sebab mayat hidup Ciu Jit hwee mengutamakan urutan dalam

penerimaan muridnya tanpa mempersoalkan perbedaan usia

diantara mereka.

Sampai di manakah kepandaian silat dari harimau angin

hitam Sim Kong, sewaktu be-ada di lembah Cing im kok yang

lalu, sudah pernah dirasakan oleh Suma thian yu dan terbukti

memang luar biasa. Benar, kekalahannya yang dideritanya

tempo hari hanya terbatas pada soal pengalaman dan

pengetahuan, namun kekalahan tersebut diterimanya dengan

hati yang tulus.

Dalam pada itu, si setan muka hijau Sang tham telah

meloloskan sebilah pedang lengkungberbentuk kaitan dari

punggung nya, kemudian serunya setelah tertawa seram:

“Hehehehe…..bila toaya telah membegalmu, kau toh akan

mengenali diriku?”

Seraya berkata, pedang kaitan berbentuk bulan sabit

direntangkan kedepan, kemudian sambil bergerak maju

kedepan, dia membacok tubuh Suma thian yu dengan jurus

Hek coa jui tong (ular hitam keluar dari gua).

Suma Thian yu memang berniat untuk mempermainkan

setan muka hijau, menghadapi ancaman tersebut ternyata ia

tidak meloloskan pedang Kit hong kiamnya. Dengan sepasang

mata yang tajam dia mengawasi pedang kaitan tersebut lekat

lekat kemudian setelah tertawa dingin ejeknya:

“Setan tua, dalam sepuluh gebrakan aku akan menyuruh

kau memperlihatkan wujud sebenarnya!”

Baru selesai dia berkata, pedang kaitan dari Setan muka

hijau Sang Tham telah menusuk tiba, tampaknya beberapa

inci lagi segera akan menyentuh ujung baju Suma Thian yu.

Pada saat itulah mendadak Suma Thian yu mendengus

dingin, menyusul bayangan tubuh nya berkelebat lewat dan

tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata. Gagal dari

serangannya yang pertama, mendadak setan muka hijau Sang

Tham merasakan datangnya dengusan dingin yang bergema

dari belakang tubuh, buru-buru dia membalikkan badannya,

seketika itu juga terasa hawa dingin menembusi tulang

belakangnya, ternyata Suma Thian yu sudah menyelinap

kebelakang punggungnya.

Kontan saja sifat buas dari setan muka hijau berkobar

dalam dadanya, pedang kaitan berbentuk sabitnya dengan

jurus Heng Sau gian kun (menyapu rata selaksa

prajurit)segera menyapu kedepan mengikuti berputaran

badan-nya kemudian pedang itu ditusuk kemuka de ngan

kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Siapa tahu baru saja sepasang bahunya bergerak, tampak

ada bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah

kehilangan lagi bayangan tubuh dari Suma Thian yu.

Kali ini, setan muka hijau Sang Tham bertindak lebih cerdik,

ketika senjatanya mencapai setengah jalan, tiba-tiba

tubuhnya berputar kencang dan membacok kebelakang

punggung.

Di dalam anggapannya, serangan yang dilancarkan kali ini

pasti akan berhasil telak, sekalipun Suma Thian yu licik juga

tidak akan lolos dari serangan pedangnya yang aneh tapi sakti

itu. Maka itu, bersamaan dengan berputarnya sang badan,

dalam hati kecilnya dia tertawa dingin tiada hentinya.

Siapa tahu selicik-liciknya dia, orang lain tidak lebih bodoh.

Suma Thian yu tahu-tahu sudah berdiri disisinya sambil

bertepuk tangan dan bersorak sorai.

“Hooree… rupanya kau sedang menghantam si angin

busuk,” ejeknya sambil tertawa tergelak, “sauya toh berada

disini, kenapa angin tak berdosa yang di hajar? Nah, sekarang

sudah lewat tiga jurus, masih ada tujuh jurus lagi untuk

memaksamu menunjuk wujud aslimu!”

Selama hidup belum pernah setan muka hijau Sang Tham

di perlakukan orang dengan cara macam ini, kontan saja

berteriak dengan penuh kegusaran:

“Bocah keparat, serahkan nyawamu!”

Menyusul teriakan itu tubuhnya bergerak kedepan bagaikan

orang kalap, sambil menciptakan selapis cahaya pedang dia

menyerang secara membabi buta.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang selama ini hanya

melihat jalannya pertempuran dari tepi arena, sesungguhnya

tak pandang sebelah matapun terhadap si setan muka hijau.

Oleh sebab itu menang kalah Sang tham boleh dibilang tiada

sangkut pautnya pula dengan dia, akan tetapi setelah

menyaksikan Sang thsm mulsi nekad dan siap beradu jiwa, ia

menjadi amat gelisah, teriaknya tanpa sadar:

“Saudara sekalian, maju bersama!”

Selesai berkata ternyata dia menerjang lebih dahulu

kedalam arena, disusul kemudian oleh dua orang piausu dan

Boan thian hui ya Nu.

Bi hong siancu Wan Pek lan menjadi gelisah sekali setelah

menyaksikan kejadian tersebut, berdiri disitu dia lantas

berteriak penuh kegelisahan.

“Oooh Thian, sungguh memalukan sekali perbuatan kalian!”

Yang dimaksudkan sebagai orang yang memalukan tentu

saja perbuatan dari ayahnya yang main kerubut serta

menyerang kaum muda, sebagai seorang cong piautau

ternyata dia menggunakan sistem pertarungan roda berputar

untuk meng-giliri seorang bocah cilik,

bila kabar ini tersiar keluar, nisciya hal mana akan sangat

memalukan dan merosotkan pamornya di depan mata umum.

Waktu itu Suma Thian yu sedang merasa gembira karena

berhasil menangkan San Tham, melihat kawanan musuhnya

menyerang bersama, dia segera berpekik dengan suara yang

amat nyaring, dengan suatu kecepatan luar biasa dia

mencabut keluar pedang Kit hong kiam yang tiada

tandingannya dikolong langit itu.

Begitu pedang Kit hong kiam diloloskan, dari empat penjuru

sudah menyambar tiba lima macam senjata tajam.

Dalam repotnya Suma Thian yu segera mengeluarkan jurus

Ya can pat hong atau berta rung malam delapan penjuru

untuk memunahkan ancaman lawan dengan kekerasan.

Waktu itu kemarahannya telah berkobar, buru-buru dia

menghimpun tenaga dalamnya sambil memutar pedang,

secara beruntun dia lepaskan dua kali serangan berantai untuk

mendesak mundur lima orang yang mengerubutinya sampai

beberapa langkah, kemudian bentaknya pada Wan Kiam cu

dengan kobaran emosi:

“Wan tayhiap, dendam ini akan kuingat selalu dihati, suatu

ketika aku orang she Suma pasti akan berkunjung lagi ke Sin

liong piauliok untuk menentukan mati hidup bersamamu!”

Selesai berkata, dia berpekik nyaring, sepasang kakinya

menjejak tanah dan melambung ke tengah udara kemudian

dengan kecepatan luar biasa melesat ke dalam hutan lewat

dibelakang tebing.

Melihat pemuda itu melarikan diri, tentu saja Mo im sin

liong enggan untuk melepaskan dengan begitu saja, sambil

membentak pendek, kakinya menjejak tanah dan segera

mengejar dengan kecepatan tinggi.

Keempat orang lainnya tak mau ketinggalan, serentak

mereka melakukan pengejaran dengan kecepatan tinggi.

Tak lama kemudian Suma Thian yu telah tiba ditepi hutan.

Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang berada dibelakangnya

segera membentak keras:

“Bocah keparat, jangan kabur! Tinggalkan dahulu selembar

nyawamu!”

Belum habis dia berkata, Suma Thian yu telah menembusi

hutan dan menyelinap dibalik dedaunan.

Tentu saja Mo im sin liong tak rela melepakan mangsanya

dengan begitu saja, dia segera memberi tanda kepada rekanrekannya

agar melanjutkan pengejaran tersebut.

Mendadak dari balik hutan brkumandang suara pekikan

areh yang amat nyaring….

Mendengar pekikan tersebut, Mo im sin liong Wan Kiam ciu

menjadi tertegun, ketika ia mendongakkan kepalanya, tampak

tiga sosok bayangan manusia sedang melesat keluar dari

dalam hutan dan melayang turun dihadapan mereka, persis

menghadang jalan pergi orang-orang itu.!

Melihat siapa yang datang Boan thian hui Ya Nu segera

menjerit kaget.

“Aaah, pencoleng berkerudung!”

Betul, disitu telah muncul tiga orang manusia berkerudung,

ketiga orang itu menutupi wajahnya dengan kain berwarna

hitam dengan jubah berwarna hitam pula, selain sepasang

matanya yang berkilauan tajam, boleh dibilang tak terlihat

bagaimanakah mimik wajahnya ketika itu.

Begitu berjumpa dengan manusia berkerudung itu,

kemarahan Mo im sin liong Wan kiam ciu semakin memuncak,

tanpa bertanya merah atau hijau lagi, segera bentaknya

keras-keras:

“Siapa yang berada didepan sana? Mengapa menghadang

jalan pergi kami?”

“Toayamu hendak menghalangi jalan pergi mu, mau apa

kau?” sahut manusia berkerudung yang ada ditengah dengan

dingin.

“Siapakah kau?”

“Orang yang telah membegal barang kawalan perusahaan

kalian” jawab orang itu dingin.

“Wan piautau, membunuh adalah suatu perbuatan yang

dilakukan hanya dengan mengangkat tangan, mengapa kau

mesti melakukan pembunuhan terhadap seorang bocah cilik?”

“Apa sangkut pahutnya antara bocah keparat dengan

kalian?”

“Ooh, soal itu mah lebih baik tak usah di campuri Wan

piautau, bocah itu sudah kubawa pergi, kalau punya

kemampuan minta sajalah kepadaku!”

Selama hidupnya Mo im sin liong Wan Kiam ciu hidup

diujung golok, begitu rnenrtengar ke tiga orang itu mengaku

sebagai pembegal barang kawalannya dan mereka pula yang

telah menyelamatkan Suma Thian yu, kontan saja marah,

ssgera dia menerjang ke muka dan melepaskan sebuah

bacokan ke tubuh orang itu.

“Kiam ciu!” terdengar orang berkerudung itu membentak

keras, “masih ingin hidupkah kau?”

Ketika mendengar teguran tersebut, Mo im sin liong Wan

Kiam ciu yang sedang memasang gaya untuk melancarkan

serangan menjadi agak terhenti, kemudian ia berdiri

termangu-mangu ditempat semula dengan perasaan terkesiap.

“Suara orang ini sangat kukenal… sebenarnya siapakah

dia?” demikian ia berpikir.

Sementara dia masih termenung, terdengar orang itu

berkata lagi:

“Kiam ciu, matikan saja keinginanmu itu, lebih baik pulang

saja ke rumah…..”

Mendengar perkataan itu, mendadak Mo im sin liong Wan

Kiam ciu teringat akan seseorang, paras mukanya segera

berubah hebat, tapi dengan cepat ia menggelengkan

kepalanya untuk menyangkal kembali jalan pemikiran

tersebut, tanyanya sambil mendongakkan, kepala

“Siapakah kau? Dapatkah aku mengetahuinya?”

“Sesaat sebelum ajalmu tiba, aku pasti akan menyingkap

kain kerudung ini untuk memperlihatkan wajah asliku

kepadamu!”

Mendengar perkataan tersebut, Mo im sin liong Wan Kiam

ciu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa panjang.

“Haaah….haaah….haaah….sungguh beruntung kita bisa

saling bersua muka pada hari ini, bersusah susah aku mencari

jejakmu akhirnya berhasil ditemukan tanpa bersusah payah.

Bila kalian bertiga tidak segera menyerahkan barang kawalan

kami yang dibegal, jangan harap kalian bisa keluar dari sini

dengan keadaan hidup!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas memberi perintah

kepada para piausunya.

“Bekuk mereka semua!”

Siapa tahu belum selesai dia berkata, mendadak terdengar

ke tiga orang manusia berkerudung itu tertawa tergelak

bersama.

Ketika Wan Kiam ciu mendongakkan kepalanya, dengan

perasaan kaget segera jeritnya:

“Aaaah”

Ternyata ke empat orang pembantu yang dibawanya telah

berdiri mengintari dibelakang tubuhnya dengan berjajar,

sambil megang senjata, meraka mengawasi kearahnya dengan

senyuman licik menghiasi bibirnya.

Merasakan gelagat tidak beres, dengan perasaan terkesiap,

Mo im sin liong segera bertanya:

“Kalian…”

Belum habis dia berkata, Boan thian hui Ya Nu telah

menyela sambil tertawa licik.

Wan congpiautau, kau terkejut? Siapa suruh kau pikun dan

tolol, jangan salahkan jika kamipun bertindak pagar makan

tanaman, heeh…heeeh…, hari ini adalah hari kematianmu,

cuma bila kan bersedia menyerahkan perusahaan Sin liong

piaukiok kepadaku, tentu orang she Ya pun bisa berbelas

kasihan dengan mengampuni selembar jiwamu.”

Ternyata Boan thian hui Ya Nu telah bersekongkol dengan

kawanan penyamun berkerudung itu, tentu saja si Setan muka

hijau Sang Tham pun diundang datang secara khusus untuk

membantu pihak mereka.

Mimpipun Mo im sin liong Wan Kiam ciu tidak menyangka

kalau mata-matanya berada dalam tubuh perguruan sendiri,

melihat masa

jayanya sudah lewat, diam-diam ia menghela napas

panjang, akhirnya setelah mengambil keputusan didalam hati,

katanya sambil tertawa sedih:

“Ya Nu! Lohu bersikap sangat baik kepada mu, siapa tahu

kau adalah seorang manusia yang berpakaian binatang.

Pepatah kuno memang berkata benar: Tahu orangnya,

tahu mukanya belum tentu tahu hatinya… Ternyata lohu

sudah salah menilai dirimu, tidak sulit bila kau menginginkan

perusahaan ini, cuma kau mau mesti bertanya dulu kepada

pedangku ini, jika dia setuju, tentu saja lohu akan

menyerahkan de ngan sepasang tangan terbuka…”

Setan muka hijau Sang Tham tertawa seram.

“Heehh…heeehh…heehh.,. kematian sudah berada didepan

mata, buat apa mesti banyak ber bicara lagi? Toaya akan

segera mengirim dirimu lebih dulu untuk pulang kerumah

kakek moyangmu”

selesai berkata, pedang kaitan berbentuk bulan sabitnya

diayunkan ke muka menusuk tenggorokan wan Kiam ciu.

Mo im sin-liong wan Kiam ciu tertawa seram, pedangnya

dengan jurus Sau soat hee ciat (Membersinkan salju dibawah

rumah) menangkis datangnya ancaman pedang kaitan

tersebut, menyusul kemudian dengan jurus Sin liong ji hay

(naga sakti masuk samudra) secepat kilat dia menusuk ke ulu

hati setan muka hijau Sang Tham.

Boan thian hui Ya Na paling mengetahui kemampuan yang

sebetulnya dari Wan Kiam cui, dia kuatir setan hijau Sang

Tham terkecoh, maka sambil memutar senjata Sam ciat kunnya

ia terjun pula ke arena pertarungan, suatu pertarungan

sengit dengan cepat berkobar…..

Mo im sin liong wan Kiam ciu dengan megandalkan ilmu

pedang Hu mo kiam hoat serta Mo im sin hoatnya yang lihay

pernah menjagoi utara dan selatan sungai besar, meski

sekarang diharuskan berhadapan langsung dengan dua orang

musuh tangguh, dia masih dapat memberikan perlawanan-nya

dengan gigih, dia kuatir dikerubuti orang banyak, maka begitu

turun tangan dia lantas melancarkan ancaman dengan jurusjurus

dahsyat dan mematikan.

Benar juga, tak lama kemudian si setan muka hijau Sang

Tham keok lebih dulu, menyusul kemudian Boan thian hui Ya

ikut terpapas kutung sebuah jari tangan-nya.

Tiga orang manusia berkerudung yang berada disamping

arena dan melihat gelagat tidak menguntungkan, dengan

cepat membentak keras dan bersama-sama terjun ke arena

pertarungan, dengan demikian situasinya segera berubah, Mo

im sin liong kena terdesak sehingga mundur kebelakang

berulang kali……..

Sepasang tangan sulit melawan empat tangan, seorang

gagah sukar melayani gerombolan monyet, apalagi usia Mo im

sin liong San Kiam ciu telah mencapai enam puluh tahunan,

setelah bertarung sekian lama ia makin tak kuasa menahan

diri.

Pada mulanya dia masih dapat memutar senjatanya dengan

leluasa, tapi lama-kelamaan akhirnya makin keteter dan tak

sanggup menahan diri lebih lanjut.

Paras muka Mo im sin liong berubah menjadi merah padam

bagaikan darah, sepasang matanya merah berapi-api, pakaian

yang dikenakan olennya kini telah bertambah dengan

beberapa buah lubang, hingga detik ini dia benar-benar

kehabisan tenaga dan berada diambang kematian. Tampak

giginya saling bergemerutukan keras, mendadak ia berjongkok

lalu sambil membentak nyaring, sepasang lengan-nya

diluruskan kemuka dan tubumenerjang keudara dan berusaha

untuk melompat keluar dari arena dengan mengerahkan sisa

kekuatan yang dimilikinya.

Boan thian hui Ya Nu yang mendendam karena jarinya

dipapas kutung, tentu saja tak akan membiarkan dia

melarikan diri dengan begitu saja, sambil memberi tanda

kepada semua orang, serentak mereka melompat ke muka

dan menubruk bersama ketubuh Mo im sin liong Wan kiam

cui.

Tujuh macam senjata bagaikan titik air hujan berbareng

membacok kearah tubuh lawan.

Tampaknya Mo im sin liong Wan Kiam akan terjerumus

kedalam bahaya maut dan tak mungkin jiwanya bisa tertolong

lagi…

Disaat yang amat kritis itulah mendadak dari tengah udara

berkumandang suara pekikan nyaring yang memekikkan

telinga, menyusul kemudian terlihat sesosok bayangan

manusia berwarna hitam masuk ke dalam arena dengan

kecepatan luar biasa.

Seketika itu juga terdengar suara benturan senjata yang

amat ramai disusul jeritan kesakitan bergema memenuhi

angkasa, diantara ba yangan manusia berkelebat lewat, tujuh

delapan sosok bayangan manusia tahu-tahu sudah roboh

rerkapar diatas tanah sambil mengaduh kesakitan.

Ditengah arena pertarungan, kini telah berdiri seorang

kakek berwajah segar yang sangat berwibawa, ditangannya

menggenggam sebuah senjata kebutan dan berdiri disitu

sambil tersenyum.

Waktu itu sebenarnya Mo im sin liong sudah memejamkan

matanya siap mati, ketika tiba-tiba muncul seorang bintang

penolong dari atas langit, ia merasa terkejut sekali, buru-buru

melompat bangun, kemudian dengan hormat dia menjura

seraya berkata:

“Berkat bantuan dari saudara, kuucapkan banyak terima

kasih atas pertolonganmu!”

“Cepat-cepatlah pulang, kuatirnya kalau terjadi sesuatu

peristiwa yang diluar dugaan!”

Mendengar perkataan itu, Mo im sin liong merasa amat

terkejut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya,

kemudian jeritnya kaget:

“Aah, jangan-jangan aku sudah terkena siasat memancing

harimau turun gunung?”

Kakek itu mengangguk dan tersenyum, lalu ia tidak bicara

lagi.

Mo im sin liong Wan kiam cui merasa gelisah sekali, buruburu

tanyanya lebih jauh:

“Tolong tanya siapakah namamu agar budi kebaikan ini

bisa kubalas dikemudian hari!”

“Cepatlah pergi! Tak ada gunanya menanyakan soal itu

kepadaku, lebih baik segera pulang keperusahaan Piaukiok

untuk menyelamatKan bencana” kembali kakek itu tegsenyum!

Mo im sin liong Wan Kiam ciau tidak bertanya lebih jauh,

dia segera menjura kemudian melompat pergi meninggalkan

tempat itu, dalam beberapa langkah saja dia sudah lenyap

dari pandangan mata.

Sepeninggal Mo im sin liong, kakek itu baru mengalihkan

sorot matanya dan mengawasi ketujuh orang pencoleng yang

tergeletak ditanah lalu sambil mengibaskan senjata

kebutannya, ia berkata :

“Semuanya cepat bangun! Sudah tak becus macam

gentong nasi, masih berani berlagak sok pendekar”

Seakan-akan memiliki kewibawaan yang luar biasa, ketujuh

orang pencoleng yang sedang merintih diatas tanah itu segera

merangkak

bangun kemudian dengan empat belas matanya yang

memancarkan sinar takut bercampur merengek, mereka

bersama-sama mengawasi tubuh kakek tersebut.

Si kakek segera tersenyum, katanya.

“Lohu paling benci dengan segala macam permainan

rendah dan busuk seperti ini, berbicara dari perbuatan yang

kalian lakukan, sebetulnya tak seorangpun tak boleh dibiarkan

hidup, tapi mengingat kalian belum melakukan kejahatan

besar, maka sengaja kuampuni jiwa mu sekali ini saja, bila lain

kali sampai terjatuh kembali ketangan lohu, tak akan seenteng

ini yang bakal kuberikan”

Berbicara sampai disitu, ditatapnya ketujuh orang itu

dengan pandangan tajam, kemudian bentaknya lebih lanjut.

Mengapa tidak segara enyah dari sini? Apakah ingin

menunggu sampai lohu yang menghantar keberangkatan

kalian?”

Meski suaranya halus namun memancarkan semacam

kewibawaan yang membuat orang tak berani melanggarnya.

Hoan thian hui Ya Nu berangkat duluan disusul lima orang

lainnya, tinggal seorang manusia berkerudung yang masih

tetap tinggal disitu sambil mengancam:

“Toaya tak akan melupakan peristiwa yang berlangsung

hari ini dengan begitu saja, tinggalkan namamu, dikemudian

hari pasti akan kubalas pemberianmu pada hari ini”

Kembali kakek itu tertawa terbahak-bahak setelah

mendengar ucapan tersebut.

“Bagus, punya keberanian, punya semangat, lohu paling

suka dengan manusia semacam kau, baik! Jika kau ingin

membalas peristiwa hari ini, silahkan saja datang ke telaga

Tong ting yu untuk mencari Heng see Cinjin…”

Mengetahui kalau kakek yang berada dihapannya kali ini

adalah Heng see Cinjin yang nama besarnya sudah termashur

dalam dunia persilatan sejak puluhan tahun berselang,

manusia berkerudung itu tak berani banyak berbicara lagi. dia

segera membalikkan badan dan segera melarikan diri terbiritbirit

meninggalkan tempat itu.

Memandang bayangan hitam yang semakin menjauh dari

pandangan mata itu. Heng see Ciajin tertawa terbahak-bahak,

kemudian selesai tertawa bentaknya dengan suara rendah.

“Bocah, sekarang kau sudah boleh keluar.”

Baru selesai dia berkata, dari dalam hutan terdengar

sesorang menyahut lantang:

“Aku telah datang!”

Sesosok bayangan manusia melayang keluar dari balik

pepohonan, setelah berputar satu lingkaran diudara, dengan

entengnya dia melayang turun di muka Heng see Cinjin.

Ternyata orang itu tak lain adalah si pendekar cilik Suma

Thian yu. Begitu mencapai permukaan tanah Suma Thian yu

segera berkata dengan hormat:

“Rupanya cianpwee, maaf bila boanpwee punya mata tak

berbiji.”

Heng see Cinjin segera tertawa terbahak-bahak”.

“Haaah, haaah, haaah, sudah kau dengar namaku. Bocah,

siapakah gurumu?”

“Guruku adalah Put gho chu.”

Mengetahui kalau guru Suma Thian yu adalah Put Gho cu

yang angkat nama bersamanya tak terasa Heng see Cinjin

tertawa bergelak.

Tapi secara tiba-tiba dia menghentikan kembali gelak

tertawanya, kemudian setelah melirik sekejap kearah pedang

yang tersoreng dipunggung Suma Thian yu, katanya agak

tercengang. Dari mana kau dapatkan pedang itu?”

“Hadiah dari paman boanpwee, Kit hong kiam Wan Liang.”

“Ehmm, bagaimana dengan dia? Sekarang dia berada

dimana?”

“Dia seorang tua telah tiada.”

“Sudah mati?” paras muka Heng see Cinjin berubah hebat,

“apa yang menyebabkannya kema tian-nya?”

Begitu teringat dengan kematian paman Wan nya yang

mengenaskan, sepasang mata Suma thian yu berubah

menjadi merah padam, titik air mata jatuh bercucuran

membasahi pipinya, sampai lama kemudian ia baru berusaha

untuk menekan kesedihan yang mencekam dalam dadanya.

Kemudian secara ringkas dia menceritakan kisah kematian

Wan Liang yang mengenaskan itu kepada Heng see Cinjin,

kemudian secara ringkas mengisahkan pula apa yang telah

dialaminya di perusahaan Sin liong piaukiok.

Heng see Cinjiu mendengarkan dengan seksama, kemudian

sambil mengdongakkan kepalanya dia menghela napas

panjang.

“Aaai… sakit hati tenggelam ke dasar samudra, tiada saat

untuk membuktikan kebersihan diri lagi”

“Sungguhkah dugaan dari locianpwee itu?

“Ehhmm …kau tahu manusia macam apakah Bi kun lun

Siau Wi goan yang menjadi musuh bebuyutannya paman

Wan?”

Suma Thian-yu menggelengkan kepalanya berulang kali.

BoanPwee kurang jelas, mohon kau sudi memberi

penjelasan”

“Aaai….siancay, kalau persoalan ini saja tidak kau pahami,

bagaimana mungkin fitnahan yang menimpa Wan Liang bisa

terselesaikan dengan baik…?”

Selesai berkata, Heng see Cinjin segera duduk bersila dan

mempersilahkan pula kepada Suma Thian yu untuk duduk,

kemudian katanya.

“Nak, kau duduklah dulu, akan kujelaskan semua perangai

yang sebenarnya dan Siau Wi goan”

Suma Thian-yu segera duduk. Pada saat itulah mendadak

ia teringat kembali dengan bencana yang menimpa

perusahaan Sin liong piau kiok, buru-buru katanya:

“Locianpwee, bagaimana dengan keadaan di Sin liong

piaukiok?”

“Anak bodoh, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan

dirimu? Mereka amat membencimu sehingga kalau bisa makan

dagingmu dan menghirup darahmu, buat apa kau mesti

memperhatikan dirinya? “

“Tapi……

Melihat sikap Suma Thian yu yang murung dan penuh

perasaan cemas, diam-diam Heng see Cinjin memuji atas

kebesaran hati dan sifat kependekaran dari pemuda itu,

katanya sambil tertawa:

“Bencana bisa dihindari, bagaimana dengan kekesalan?

Nak, tak usah kau pikirkan tentang masalah itu, dengarkan

dulu perkataanku. Sudah pasti wan Kiam ciu si manusia tolol

itu dapat dibantu”

Mendengar ucapan mana, Suma Thian yu segera berpikir

lagi didalam hati:

“Menunggu kau menyelesaikan kata katanya, mungkin Sin

liong piaukiok sudah hancur menjadi puing-puing yang

berserakan?”

Walaupun dia berpikir demikian, toh perasaannya agak

tenang banyak, karena setelah Heng see Cinjin berkata

demikian, sudah pasti ia telah mengatur suatu rencana yang

matang.

Sementara itu Heng see Cinjin telah memandang sekejap

ke arah Suma Thian yu, lalu berkata.

“Nak, orang yang hendak kau cari adalah pemimpin

kalangan putih dari dunia persilatan dewasa ini, andaikata dia

adalah musuh umum dari dunia persilatan saat ini, lohu yakin

usahamu itu pasti akan segera berhasil, sa yang Bi kun lun

Siau Wi goan adalah seorang yang dianggap sebagai seorang

Kuncu, seorang enghiong hohan dari dunia persilatan, bila kau

berani mencarinya, berarti kau sedang menantang seluruh

umat persilatan untuk berduel, akibatnya tak bisa dibayangkan

dengan kata-kata.

Mendengar sampai disitu, Suma Thian yu segera bertanya

dengan perasaan gugup:

“Kalau begitu, harapan dari boauwe ini tak mungkin bisa

terwujud….?”

“Aku rasa demikian, kecuali kalau kau memiliki suatu

kepandaian yang luar biasa”

Berbicara sampai disitu, Heng see Cinjin berhenti sejenak,

kemudian melanjutkan :

“Cuma, manusia tak akan menangkan takdir, kebenaran

pasti akan ditegakkan, asal kau dapat menemukan suatu bukti

dari kejahatan yang telah dilakukan Siau Wi goan, tentu saja

hal ini akan mempermudah dirimu untuk mempermudah

dirimu untuk melaksanakan tugas tersebut”

“Jadi locianpwee menganggap dia adalah seorang yang

baik?”

“Hanya bisa mengatakan demikian, karena dia tidak

mempunyai bukti yang menunjukkan kalau telah melakukan

kejahatan”

Suma Thian-yu merasakan hatinya sakit sekali, katanya

kemudian dengan cepat:

“Dia adalah orang jahat! Dia adalah pemimpin dari

rombongan penyamun berkerudung itu!”

“Aku memang pernah mendengar berita tersebut” kata

Heng see Cinjin hambar, “tapi kalau sesuatu kejadian belum

dibuktikan dengan mata kepala sendiri, hal mana tak dapat

diper caya dengan begitu saja”

Suma Thian yu menjadi sangat gelisah, serunya lagi

dengan cemas.

Hal 57 dan 58 hilang

Suma thian yu seorang yang cerdas, mendengar perkataan

itu, kecurigaan-nya lenyap, kemurungan dan kekesalan yang

semula menyelimuti wajahnya pun lenyap, dengan perasaan

terima kasih, dia awasi Heng See cinjin tak berkedip, sepatah

katapun tak sanggup diucapkan karena haru.

Melihat itu Heng see Cinjin segera berkata sambil

tersenyum:

“Orang yang baik selalu dilindungi Thian, persoalanmu kali

ini hanya ada rasa kejut tiada bahaya, semoga kau dapat maju

dengan gagah berani….”

“Terima kasih atas petunjuk dari cianpwee, seru Suma

Thian yu sambil bangkit dan mengucapkan rasa terima

kasihnya.

Heng see cinjin mengulapkan tangannya menyuruh dia

duduk, dan katanya lagi:

“Mereka segera akan datang, mari kita duduk dan menanti

sejenak!”

“Siapa mereka?” tanya Suma Thian yu dengan rasa

keheranan.

“Sebentar kau akan mengerti, buat apa mesti terburu

napsu?”

Berbicara sampai disitu, Heng see cinjin segera memasang

telinga dan mendengarkan dengan seksama, kemudian ia

segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah…haah….haah…mereka sudah datang, cara kerja

kedua orang setan cillk ini benar-benar cepat sekali!”

Suma Thian yu tidak tahu permainan macam apakah yang

hendak dilakukan Heng see cinjin ini, untuk sesaat dia menjadi

kebingungan setengah mati dan cuma bisa mengawasi kakek

itu dengan wajah termangu.

Heng see Cinjin segera menuding keatas tebing, lalu

tertawa terbahak-bahak.

“Haah… haah… haah…coba lihat, bukankah mereka telah

datang?”

Suma Thian yu segera berpaling, mengikuti arah yang

ditunjuk Heng see Cinjin, tampak ada dua sosok bayangan

manusia sedang meluncur mendekat dengan kecepatan luar

biasa. Cukup dilihat dari gerakan tubuh mereka,

dapat diketahui kalau kedua orang itu adalan jago-jago

persilatan nomor wahid dari kolong langit…

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah melayang

turun disamping mereka, ternyata ke dua orang itu adalah

muda mudi yang berusia antara tujuh delapan belas tahun.

Begitu mencapai diatas permukaan tanah, muda mudi itu

segera melayang turun ke tanah dan menyembah kepada

Heng see Cinjin sembari melapor:

“In su, tugas yang dibebankan kepada kami telah

diselesaikan, cuma sayang kami gagal untuk melindungi Mo im

sin liong Wan Kiam ciu Wan cong piautau”

“Apa? Wan congpiautau telah tertimpa suatu musibah?”

Setelah menjerit kaget, dengan gusar Heng see Cinjin

segera menegur sepasang muda mudi itu:

“Bodoh! Bagaimana pesanku pada kalian? Masa urusan

sekecil inipun tidak bisa dibereskan secara tepat? Begitu masih

ingin membicarakan masalah besar lainnya?

Ternyata sepasang muda mudi ini adalah murid

kesayangan dari Heng see cinjin, mereka adalah saudara

sekandung, yang lelaki bernama Thia Cian, yang perempuan

Thia Yong.

Sejak kecil dua saudara ini hidup sengsara karena di tinggal

mati kedua orangnya, oleh Heng see Cinjin mereka pun di

bawa pulang kebukit Kun san dipelihara disana.

Oleh karena kedua orang itu mempunyai bakat yarg baik

untuk berlatih silat, timbul perasaan sayang Heng see Cinjin

kepada mereka, sejak kecil kepandaian silatnya telah diberikan

kepada mereka berdua.

Perlu di ketahui Heng see Cinjin adalah kakak seperguruan

Leng gho Cinjin ketua partai Kun lun dewasa ini, ilmu silatnya

lihay sekali.

Berhubung adik perguruannya Leng gho Cin jin sombong

dan kemaruk akan nama dan kedudukan, sedangkan dia

hambar akan nama dan kedudukan, seringkali kedua orang

bersaudara perguruan ini bentrok berselisih paham, akhirnya

diapun menyerahkan kedudukan ciangbun jin tersebut kepada

Leng gho Cinjin.

Sedangkan dia sendiripun berkelana dalam dunia

persilatan, selain mengasingkan diri diapun memusatkan

segenap perhatiannya untuk mendidik anak muridnya.

Oleh karena itu, begitu terjun kedalam dunia persilatan,

dua bersaudara Thia segera menjadi tenar dan

menggemparkan dunia persilatan, semua orang menyebut

mereka sebagai Thi pit suseng (sastrawan berpena baja) dan

Toan im siancu.

Sementara itu Thi pit suseng Tnia Cian sedang berkata

dengan nada menyesal:

“In su, dalam melindungi keselamatan jiwa Wan

congpiautau, tecu berdua memang tidak berkemampuan,

justru karena kami datang tepat pada waktunya, maka Sin

Liong piauklok baru selamat dari jurang kehancuran”

Suma Thian yu menjadi gelisah sekali setelah mendengar

kalau Wan cong piantau menderita luka parah, baru saja Thi

pit suseng Thian Cian menyelesaikan kata-katanya, dengan

cepat dia telah bertanya:

“Apakah jiwanya terancam bahaya?”

Jilid 9 : Mengusut pencoleng berkerudung

Dengan cepat Thi pit suseng Thia Cian menggelengkan

kepalanya berulang kali.

“Sukar untuk diramalkan, tapi nampaknya memang

terancam jiwanya”

“Si tua bangka tolol dan bodoh itu sudah sepantasnya

merasakan sedikit penderitaan, kalau tidak, mana mungkin ia

dapat membedakan yang baik dan yang buruk”

Kemudian kepada Thi pit suseng Thia Cian kembali

bertanya.

“Cian ji, siapakah yang telah melakukan pembantaian

terhadap perusahaan pengawal barang itu?”

“Tecu tidak tahu, konon mereka adalah segerombolan

penyamun berkerudung”

“Aaaah, lagi-lagi gerombolan penyamun kerudung!” gumam

Suma Thian-yu seorang diri, kemarahan-nya makin membara.

Tampaknya Heng see cinjin sudah mempunyai perhitungan

dalam hatinya, ia berkata kemudian:

“Sudah kuduga sejak semula, begitupun lebih baik, kalau

tidak demikian, lama-kelamaan Sin liong piaukiok bakal

dikuasahi pula oleh mereka….”

Dalam pada itu, Toam im siancu Thio Yong yang berada

disamping, telah menimbrung:

“In su, bencana yang menimpa perusahaan Sin liong

piaukiok tak akan berakhir sampai disini saja!”

“Kenapa?”

“Tecu mendengar ada seorang pencoleng berkerudung

yang mengancam akan datang lagi sesaat sebelum

meninggalkan tempat itu”

“Sungguhkah perkataanmu itu?” tanya Heng see cinjin

dengan perasaan terperanjat.

“Benar Insu, tecu pun ikut mendengar ancaman tarsebut”

sambung Thi pit suseng Thia Cian dengan cepat.

Paras muka Heng see cinjin segera berubah menjadi amat

serius, katanya kemudian:

“Bajingan yang menggemaskan, selama lohu masih hidup

didunia ini, aku pasti akan menghadapi mereka sampai titik

darah yang peng habisan”

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

“Anak Cian, apakah orang-orang dari perusahaan piaukiok

itu pada mengetahui kejadian ini?”

“Yaa, mereka semua mengetahui”

“Kalau begitu aku bisa berlega hati, setelah terjadinya

peristiwa yang menimpa mereka ini, tentu mereka akan

bertindak lebih seksama dan waspada” gumam Heng see

cinjin kemudian.

Setelah Suma Thian yu mendengar pembicaraan mereka,

hatinya merasa semakin gelisah, bagaimana sikap Mo im sin

liong Wan Kiam cui terhadapnya, asal dia masih memiliki

kemampuan maka dia bertekad hendak menyelamatkan

bencana tersebut.

Maka kepada Heng see cinjin katanya.

“Locianpwe, aku ingin sekali pergi ke Sin liong piaukiok

untuk melihat keadaan, entah bolehkah aku kesitu?”

Heng see cinjin segera berpaling dan memandang sekejap

ke arah Suma Thian yu dengan ramah, lalu ia balik bertanya:

“Kau berani kesana?”

“Berani saja, memangnya mereka masih bisa membenci

aku? Atau berbuat sesuatu yang tak menguntungkan bagiku?”

“Soal ini sukar untuk dikatakan, nak, ketahuilah kesalahan

paham Mo Im sin liong Wan Kiam ciu terhadap dirimu sudah

kelewat mendalam, bila kau kembali kesitu maka hal mana

hanya akan menambah kesulitan saja bagimu.”

Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera tertawa

dengan penuh rasa percaya pada diri sendiri, sahutnya.

“Aah, tidak mungkin, asal aku merasa tak pernah

melakukan suatu perbuatan yang melanggar kebenaran,

sekalipun mereka menaruh kesalahan paham terhadap

boanpwee, hal mana juga tak menjadi soal”

Melihat pemuda itu bersikeras hendak pergi juga, terpaksa

Heng see cinjin harus mengangguk untuk menyetujuinya.

Suma Thian yu segera berpamitan kepada Heng see cinjin

bertiga, kemudian sambil membalikkan badan dia balik

ketempat semula.

Waktu itu senja telah tiba, kota Hong ciu telah dipenuhi

oleh cahaya lentera yang berwar na warni, setelan menempuh

perjalanan sekian waktu, akhirnya sampailah Suma Thian yu di

depan perusahaan Sin liong piaukiok…

Waktu itu pintu masih terbuka lebar, enam orang lelaki

bersenjata golok dan tombak berdiri didepan pintu, ketika

menyaksikan Suma Thian yu muncul dintu, serentak mereka

berteriak keras.

“Setan cilik, mau apa kau datang kemari?” Suma Thian yu

menjura dan tertawa, sahutnya.

“Harap toako suka melapor ke dalam, katakan kalau ada

seorang manusia yang bernama Suma Thian yu ingin

berbicara dengan Tio piautau”

Salah seorang lelaki kekar itu melotot sekejap ke arah

Suma Thian yu dengan gusar, ke mudian sambil berjalan balik

kedalam ruangan, gumamnya kemudian.

“Akan kulihat apakah kau masih punya nyawa untuk pulang

kerumah nanti…”

Tak lama setelah masuk ke dalam, lelaki kekar itu telah

muncul kembali diiringi oleh Pena baja bercambang Tio Ci hui.

Begitu melihat kemunculan si Pena baja bercambang Tio Ci

hui, dengan langkah cepat Suma Thian yu menyongsong

kedatangannya, lalu beireru denean gembira. “Tio toako…”

Tampak paras muka Pena baja bercambang

Tio Ci hui suram tak bersinar, seolah-olah dia menyimpan

suatu kedukaan yang amat besar, tegurnya dengan nada

hambar.

“Hiante, mau apa kau balik lagi kemari?”

Suma Thian yu semakin tercengang menyaksikan paras

muka si Pena baja bsrcambang Tio Ci hui yang sangat aneh

itu, buru-buru tanyanya lagi dengan keheranan.

“Tio toako, mengapa kau? Kalau kulihat wajahmu yang

murung dan suram, jangan-jangan telah terjadi sesuatu

ditempat ini?”

Maksud Suma Thian yu, dia menanyakan spakah Wan Kiam

ciu telah tewas karena luka dalam yang dideritanya, tapi si

Pena baja bercambang Tio Ci hui telah salah mengartikan

sebagai kepura puraan anak muda itu dalam peristiwa

penyerbuan musuh tangguh terhadap perusahaan mereka.

Kontan saja paras mukanya berubah hebat, serunya penuh

kegusaran.

“Hiante, dihadapan orang jujur tak usahlah berlagak, kau

bisa saja membohongi semua orang yang ada didunia ini, tak

seharusnya membohongi aku Tio Ci hui!”

Suma Thian yu tertegun mendengar ucapan itu, buru-buru

dia bertanya lagi:

“Toako apa maksudmu?”

Si Pena bajo bercambang Tio Ci hui melotot dengan penuh

kegusaran, serunya dingin.

“Mengapa kau tidak masuk dan melihat sendiri?”

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan

masuk ke dalam.

Dengan penuh keheranan Suma Thian yu segera mengikuti

pula di belakangnya masuk ke dalam perusahaan tersebut.

Dalam pada itu, rasa ingin tahu sudah timbul dalam hati

kecilnya, didalam anggapannya Bi hong siancu Wan Pek lan

sepantasnya keluar untuk menyambut kedatangannya begitu

mendengar akan kehadirannya, tapi sekarang mengapa dia

malahan menghindarkan diri? Mungkinkah sampai sekarang

mereka masih menaruh kecurigaan terhadap dirinya?

Berpikir sampai disitu, dia melewati sebuah tanah

lapangan, tampak olehnya mayat-mayat berserakan diatas

tanah, sekelompok penolong sedang mengobati kaum terluka

yang tergeletak ditanah pula, pemandangannya mengenaskan

sekali.

Sementara itu, si Pena baja bercambang Tio Ci hui yang

barjalan didepan masih tetap membungkam dalam seribu

bahasa, dalam keadaan seperti ini mau tak mau timbul juga

kecurigaan di dalam hati Suma Thian yu.

Sesudah melewati tanah lapang, didepannya terbentang

sebuah pagar bambu, Pena baja bercambang membuka pintu

pagar dan membawa Suma Thian yu masuk ke dalam.

Disitu merupakan sebuah kebun bunga setelah melewati

sebuah jalanan kecil, terbentang sebuah bangunan rumah

yangmungil dan indah.

Degan wajah serius Pena beja bercambang Tio Ci hui

melanjutkaa perjalanannya masuk ke dalam, Suma Thian yu

terpaksa harus mengikuti di belakangnya dengan mulut

membungkam

Tak lama kemudian, sampailah mereka didalam sebuah

kamar tidur yang cukup besar dan luas.

Pena baja bercambang Tio Ci hui berpaling dan

memerintahkan Suma Thian yu agar menunggu sebentar

diluar, sedang dia sendiri masuk kedalam.

Tak selang berapa saat kemudian, pintu kamar terbuka,

seorang gadis cantik memunculkan diri.

Sepasang mata dara itu sudah berubah menjadi merah

membengkak, noda air mata masih menghiasi wajahnya,

sungguh mengibakan hati keadaannya, membuat orang yang

meman dang makin lama semakin kasihan.

Dara manis tersebut tak lain adalah kekasih hati Suma

Thian yu sendiri Bi hong sian cu (Dewi burung hong) Wan Pek

lan.

Begitu berjumpa gadis itu, Suma Thian yu segera berseru

tertahan,

“Adik Lan…”

Bi hong siancu Wan Pek lan segera menempelkan jari

tangannya didepan bibir memberi tanda agar berbicara jangan

keras-keras, kemudian ujarnya dengan sedih.

“Mau apa kau balik lagi kemari? Cepatlah pergi!”

Ucapan tersebut bagaikan sebaskom air dingin yang

diguyurkan keatas kepala Thian yu, kobaran api cintanya yang

membara kontan berubah menjadi dingin dan mem beku,

hatinya seperti ditusuk tusuk dengan pisau tajam, sakitnya

bukan kepalang.

Menyaksikan paras muka Suma Thian yu berubah menjadi

hebat, Bi hong siancu Wan Pek lan tertawa dingin lagi,

katanya lebih jauh.

“Kau…kau…anjing geladak berwajah manusia berhati

binatang, mau apa datang ke mari? Cepat enyah dari

hadapanku!”

Paras muka Suma Thian yu berubah membesi oleh ucapan

tersebut, segera teriaknya,

“Apa…apa maksudmu berkata demikian? Kau… kau telah

berubah, adik Lan, benarkah kau tidak memahami perasaan

hatiku?”

“Hmm… apa maksudku memangnya tidak kau pahami? Kau

angap aku Wan Pek lan merupakan seorang bocah yang buru

berusia tiga tahun?”

“Baik, sebelum kau berbicara, akupun tidak akan pergi!

Akan kulihat bagaimana cara untuk mengusirku!” kata Suma

Thian ya pula dengan wajah penuh kegusaran.

Baru saja Wan Pek lan hendak membantah, dari dalam

ruangan telah berjalan keluar Pena baja bercambang Tio Cu

hui.

Begitu membuka pintu lebar- lebar, dia lanas berteriak ke

arab Suma Thian yu penuh ke gusaran:

“Coba kau lihat! Perbuatan siapakah ini?”

Suma Thian yu berpaling, paras mukanya segera berubah

hebat, ternyata di atas pemba ringan berbaring seorang kakek

yang bertubuh penuh luka, paras mukanya pucat pias,

napasnya amat lemah dan keadaannya mengerikan sekali.

Suma Thian yu segera memejamkan matanya rapat-rapat,

dia merasa tak tega menyaksikan adegan semacam itu.

Dengan cepat Pena baja bercambang Tio Ci hui telah

merapatkan kembali pintu kamarnya, lalu memberi tanda

kepada Suma Thian yu dan Bi Hong siancu Wan Pek Lan agar

keluar dari sana.

Setibanya ditengah tanah lapang, Pena baja

bercambang Tio Ci hui baru berkata dengan suara dalam:

“Thian yu, katakan kepadaku berterus terang apa

hubunganmu dengan manusia berkerudung itu?”

“Tio toako, kau anggap aku Suma Thian yu adalah seorang

pencoleng?” Suma Thian yu balik bertanya dengan melotot,.

“Kalau bukan begitu, mengapa kau datang untuk

melakukan penyelidikan lagi?”

“Melakukan penyelidikan?” Suma Thian yu membentak

semakin gusar. “Thio toako, hari ini aku datang demi

keselamatan perusahaanmu, dengan ucapan toako tersebut,

bukankah sama artinya dengan kau menilai orang mengguna

kan hati picik seorang siaujin”

“Thian yu, ketika kau dikerubut dan melarikan diri, siapa

yang telah menolong dirimu?” tanya Pena baja bercambang

Tio Ci hui lagi penuh kegusaran.

“Seorang tokoh silat yang lihay”

“Hmm…bukankah mereka adalah tiga orang penjahat

berkerudung? Bagus, perbuatanmu memang bagus sekali

sengaja bertarung melawan manusia berkerudung, malammalam

meninggalkan surat diatas tiang bendera, lalu purapura

berkelahi melawan Boan Thian hui dan akhirnya merayu

nona Wan, tampaknya semua peristiwa tersebut telah kau atur

secara sempurna sekali!”

Tak terlukiskan pedihnya hati Suma Thian yu setelah

mendengar perkataan itu, dari apa yang telah diucapkan ia

dapat menarik kesimpulan kalau Pena baja bercambang Tio Ci

hui pun menaruh kesalahan paham kepadanya.

Tanpa terasa dengan kepedihan yang amat tebal dia

mengalihkan sorot matanya ke wajah Bi hong siancu Wan Pek

lan, seolah-olah. dia ingin mencari tahu perasaan hatinya

lewat wajah gadis itu.

Apa lacur, paras muka Bi hong siancu Wan Pek lan pun

berubah amat serius, hawa pembunuhan yang amat tebal

telah menyelimuti seluruh wajahnya, sepasang matanya

melotot amat besar.

Menyaksikan kesemuanya itu, Suma Thian yu menghela

nafas panjang, kepada Pena baja bercambang Tio Ci hui

katanya:

Tio toako, kalian salah paham, aku Suma Thian yu berani

bersumpah kepada langit bawa aku bukan manusia rendah

yang terkutuk semacam itu, tapi soal mau percaya atau tidak

terserah kepadamu, lebih baik Thian yu mohon diri saja lebih

dahulu”

Selesai menjura dalam-dalam, dia membalikan badan dan

siap meninggalkan tempat itu.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Bi hong siancu Wan Pek lan

membentak dengan nyaring.

“Ada urusan apa? Nona Wan?” Suma Thian yu segera

berpaling.

Ketika Bi hong siancu Wan Pek lan mendengar Suma Tbian

yu merubah panggilan kepadanya sebagai “nona Wan”

perasaan yang tak puas itu semakin memuncak hawa

amarahnya berkobar, dengan kening berkerut dan tertawa

dingin tiada hentinya dia berseru:

“Boleh saja kalau ingin pergi, tapi tinggalkan dulu selembar

jiwamu…!”

“Tinggalkan selembar jiwamu?” Suma Thian yu balik

bertanya dengan keheranan, mengapa?

“Mengapa? Hmm, membunuh ayah merupakan suatu

peristiwa yang besar, dendam sakit hati ini lebih dalam dari

samudra, bayar dulu selembar wajah ayahku!” bentak si nona

gusar.

Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu segera

menengadah dan tertawa terbahak bahak, suaranya pilu dan

memedihkan hati, seakan-akan dia hendak mengeluarkan

semua ke sedihan, kemurungan dan kekesalan yang

mencekam dalam dadanya.

Selesai tertawa dia melotot besar, mencorong sinar tajam

yang menggidikan hati dari balik matanya, setelah

memandang sekejap kedua orang itu, dia berkata:

Thian yu sudah lama tidak memikirkan soal mati hidupku

lagi, bila ingin merenggut nyawaku, silahkan saja turun

tangan”

Kemarahan Bi hong siancu Wan Pek lan benar-benar telah

memuncak, tanpa berpir panjang lagi dia meloloskan

pedangnya, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun

dia melepaskan sebuah tusukan kilat keulu hati anak muda

tersebut.

Suma Thian yu berdiri tegak dengan wajah tenang,

terhadap datangnya ancaman tersebut dia bersikap seakanakan

tidak melihat, perasaan hatinya waktu itu sangat kalut, ia

ingin mati saja daripada dituduh melakukan perbuatan yang

tak benar, apalagi kalau bisa mati di ujung pedang

kekasihnya, hal ini dirasakan lebih memenuhi harapannya.

Oleh karena itu, dia memejamkan matanya menantikan

saat kematiannya tiba.

Tampaknya ujung pedang Bi hong Siancu Wan Pek lan

segera akan menyentuh dada Suma Thian yu, Pena baja

bercambang Tio Ci hui juga telah bersiap untuk berteriak…..

Disaat yang amat kritis itulah mendadak Bi hong siancu

Wan Pek lan menarik kembali serangannya, lalu membuang

pedang itu ketanah.

Sesudah menghela napas panjang, dengan wajah murung

dan sedih dia berkata.

“Engkoh Yu, pergilah kau! Mulai detik ini Sin liong piauktok

tidak mengharapkan kehadiranmu disini!”

Seusai berkata, tanpa memungut kembali pedangnya, dia

lantas membalikkan tubuhny dan berjalan pergi dari sana.

Dengan sepasang mata berkaca-kaca Suma Thian yu

memperhatikan bayangan punggung Bi hong siancu Wan Pek

lan hingga lenyap dari pandangan mata, kemudian tanpa

berbicara apa-apa, dia pun membalikkan badan menuju

kepintu gerbang.

Pada saat itulah, dengan air mata bercucuran membasahi

pipinya, Pena baja bercambang Tio Ci berkata sedih:

“Hiante, harap tunggu sebentar!”

Suma Thian yu berpaling dan menyahut pelan

“Toako, emas murni tidak takut dibakar, aku akan

menggunakan waktu untuk membuktikan kebersihanku!”

Kemudian tanpa menggubris diri Pena baja bercambang Tio

Ciu hui lagi, dia lantas membalikan badan dan berlalu dari situ.

Melihat bayangan punggung Suma Thian yu yang semakin

menjauh, Pena baja bercambang Tio Ci hui mmerasakan suatu

kekosongan dan kesedihan yang mencekam perasaan-nya.

Ia merasa sedih sekali, karena hingga kini dia masih belum

dapat membuktikan manusia macam apakah Suma Thian yu

itu.

Tatkala bayangan punggung Suma Thian yu telah lenyap

dari pandangan-nya, tiba-tiba ia menghembuskan napas

panjang, lalu berguman:

“Entah orang lain menganggap kau sebagai penjahat, aku

Tio Ciu hui masih tetap mempercayaimu sepanjang masa”

Sayang Suma Thian yu sudah tidak mendengar perkataan

itu lagi, meski demikian dia boleh cukup berbangga hati Sebab

yang paling berharga dan paling mulia bagi seseorang yang

hidup didunia ini adalah dipercayai orang dengan perasaan

yang tulus.

Dengan membawa perasaan kesal, masgul dan murung,

pelan-pelan Suma Thian yu berjalan meninggalkan

perusahaan Sin liong piaukiok, meninggalkan kota Heng Ciu.

kala itu rembulan telah bersinar ditengah awang-awang,

suasana amat sepi, hening, tak kedengaran sedikit suarapun.

Berjalan seorang diri di tengah keheningan malam, Suma

Thian yu bagaikan seorang pelancong yang sedang menikmati

keindahan malam tapi siapa pula yang bisa menduga

bagaimana kah perasaan hatinya waktu itu….?

Manusia paling gampang berkhayal bisa berada seorang

diri, apa lagi kalau baru saja mengalami suatu percobaan

hidup yang berat…

Sudah barang tentu tak terkecuali pula bagi Suma Thian

yu, dia teringat akan rumah, teringat orang tua sendiri, asal

usulnya serta paman Wan…. dia membayangkan pula tragedi

yang menimpanya hari ini…

Makin di pikir rasa sedihnya makin memuncak, sampai

akhirnya sambil berjalan dia me nangis tiada hentinya.

Ada kalanya dia ingin sekali menangis sepuas-puasnya, ada

kalanya ingin mengakhiri hidupnya, tapi bila teringat sakit

hati pamannya Wan nya yang belum terbalas, dendam

keluarga belum terbalas, semua kesedihan segera berubah

menjadi amarah…

Maka, diapun teringat akan manusia berhati binatang, Bi

kun lun (kun lun indah) Siau wi goan.

Berhasil menemukan orang itu, berarti dapat

menghilangkan kecurigaan yang mencekam hatinya, dapat

pula membalaskan sakit hati paman Waa nya.

Begitu teringat akan Bi kun lun Siau wi goan, Suma Thian

yu segera merasakan semangatnya kembali berkobar, dengan

langkah tegap dia berjalan kemuka, langkahnyapun makin

lama makin cepat.

Ujung dari kegelapan adalah terbitnya fajar, tapi sesaat

yang paling gelap.

Kokokan ayam bergema dikejauhan sana, membelah

kegelapan malam yang mencekam, lambat laun diufuk timur

pun secerca cahaya.

Akhirnya sinar matahari yang berwarna keemas-emasan

pun memandar keempat penjuru dan menyinari seluruh jagad.

Suma thian yu telah menuruni bukit, berjalan melalui

sawah dan menuju ke sebuah dusun yang jelek dan miskin.

Seekor anjing berwarna kuning lari keluar dari dusun dan

pelan-pelan menghampiri Suma thian yu.

Ketika tiba dihadapan Suma Thian yu, mendadak kaki

depannya menjadi lemas, tubuhnya segera berguling ke atas

tanah,

Suma Thian yu amat terperanjat, dia segera memeriksa

dengan seksama, tapi apa yang kemudian terlihat

membuatnya tertegun.

Ternyata anjing itu sudah memuntahkan darah hitam yang

kental dan bau busuk, ia sudah mati dalam keadaan yang

mengerikan,

Suma Thian yu berjalan menghampiri, lalu setelah

menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali,

dia melanjutkan per jalanannya kedepan.

Belum lagi berjalan empat langkah, kembali tampak

olehnya seekor anjing buas menerjang keluar dari balik pintu

sebuah gedung.

Suma Thian yu tertegun dan segera menyingkir ke samping

jalan sambil mengawasi anjing itu lekat-lekat.

Tampak anjing buas itu memantangkan mulutnya lebarlebar

dan menerjang ke depan Suma Thian yu dengan

ganasnya.

Berada dalam keaadaan seperti ini, mau tak mau Suma

Thian yu harus bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan

yang tak diingin kan, tenaga dalamnya disalurkan dan

bilamana perlu dia hendak membunuh anjing tersebut.

Siapa tahu, belum lagi mencapai berapa kaki, anjing buas

itu sudah meraung keras kemudian roboh tergeletak keatas

tanah.

Rasa tegang yang semula mencekam Suma Thian yu

segera lenyap tak berbekas, dia men coba untuk mengawasi

lebih seksama, ternyata anjing buas itu sudah mati dengan

darah me ngalir keluar dari ke tujuh lubang indranya,

keadaannya persis anjing pertama.

Bila terjadi suatu peristiwa aneh, kejadian yang pertama

mungkin saja merupakan suatu kebetulan, tapi bila terjadi

untuk kedua kalinya, jelas kejadian mana bukan terjadi tanpa

sebab. Dengan cepat Suma Thian yu menerjang masuk

kedalam gedung Itu, tapi apa yang kemudian terlibat

membuatnya menjerit kaget.

“Aaaaah!”

“Apa yang telah dilihatnya?”

Seluruh gedung dalam keadaan sepi, hening seperti

kuburan, suasananya begitu mengerikan membuat bulu kuduk

orang pada bangun berdiri saja. Waktu itu, seharusnya

merupakan saat orang bangun tidur, tapi disini tak nampak

sesosok bayangan manusiapun, seakan-akan disitu sudah

tidak berpenghuni lagi.

Suma Thian yu melangkah lebih jauh ke dalam gedung itu,

belum lagi berapa latakah, di tepi jalan ditemui sesosok mayat

membusuk yang terkapar disitu, usus dan isi perutnya telah

berhamburan keluar, keadaannya mengeri kan sekali.

Sebagai pemuda yang cerdas, suma Thian yu segera dapat

merasakan gejala yang tak beres disitu, buru-buru dia

menghampiri kamar yang terdekat, tapi begitu dibuka, sekali

lagi ia menjerit kaget,

“Aaaah!”

Buru-buru dia mengundurkan diri dengan wajah memucat,

tangannya dipakai untuk menutupi wajahnya, ia betul-betul

tak tega untuk mendongakkan kepala.

Ternyata apa yang dilihat didalam ruangan itu hanya penuh

dengan mayat yang bergelimpangan dimana-mana,

keadaannya sangat mengerikan, ada yang tua, ada yang

muda, ada yang laki, ada pula yang perempuan.

Di alam semestakah? Atau di nerakakah tempat

pembantaian yang kejam dan tak berperi kemasiaan?

Sejak dilahirkan di dunia ini, belum pernah Suma Thian yu

mengalami kejadian yang begitu mengenaskan, entah

bagaimanapun dia tak tega untuk memandang lebih jauh, tapi

bisa diduga olehnya bahwa semua anggota perkampungan

telah dibantai orang secara keji.

Siapakah orang-orang itu? Siapa pula pembunuhnya? Apa

sebabnya orang-orang itu terbunuh?

Mengapa pembunuhnya begitu kejam dan tak berperi

kemanusiaan?

Setelah menjumpai persoalan sebelumnya, kini dihadapkan

pula dengan adegan seram seperti itu, bisa dibayangkan

bagaimanakah pe rasaan Suma Thian yu sekarang.

Tanpa berpikir panjang lagi, dia sepera membalikan badan

dan lari keluar dari situ.

Mendadak terdengar suara orang terbatuk-batuk.

Menyusul kemudian seseorang berseru dari belakang:

“Kau…berhenti!, berhentilah kau…!”

Suma Thian yu tercekat sesudah mendengar seruan itu, dia

merasa seakan-akan muncul segulung hawa dingin yang

merembas melalui punggungnya dan terus naik keatas.

Dengan cepat dia membalikan badannya, kontan bulu

kuduknya pada bangun berdiri lantaran kaget, mulutnya

ternganga lebar, tak sepotong suarapun yang sempat

dilontarkan.

Ternyata didepan pintu kamar kedua telah berdiri seorang

kakek berjubah hitam yang berambut panjang dan berwajah

penuh darah. waktu itu dia sedang menggape dengan lemas,

sorot matanya yang sayu dan tak jauh dari kematian

memandang lurus tewajah Suma Thian yu tanpa berkedip.

Begitu rasa kagetnya berhasil dikuasahi, pelan-pelan Suma

Thian yu berjalan kedepan, lalu sambil memayang kakek itu

tanyanya:

“Lotiang, kobarkan sedikit semangatmu, cepat beritahu

kepadaku, apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Kakek sekarat itu menggerakan kelopak matanya, air mata

darah jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan suara parau

dia berbisik.

“See…sekelompak manusia…manusia berkerudung

tee…telah …memm…membunuh seluruh ang…anggota

perkampungan ii…ini…”

Ketika berbicara sampai disitu, sekujur badannya gemetar

keras, seolah-olah napasnya hampir putus, buru-buru Suma

Thian yu membimbing kakek itu dan menempelkan telapak

tangannya dipunggungnya, lalu menyalurkan hawa murni

untuk menunjang hidup kakak itu.

Setelah mendapat bantuan tenaga dari sianak muda itu,

kesegaran kakek sekarat itu su dah berubah membaik, tampak

dia berpaling dan memperhatikan Suma Tbian yu sekejap,

kemudian katanya.

“Sungguh menggemaskan, sungguh menggemaskan, hanya

gara-gara sebutir mutiara, mereka telah pergunakan cara yang

keji dan ter kutuk ini untuk membunuhi kami rakyat jelata

yang tak pandai bersilat, tapi, sekalipun mereka berbutat

demikian…….”

Ketika berbicara sampai disitu, sekujur badan kakek itu

bergoncang keras lalu menjerit.

“Lepaskan tanganku, aku amat kesakitan!”

Agak tertegun Suma Thian ya selelah mendengar ucapan

tersebut, dia segera melepaskan cekalannya.

Kakek itu berseru terahan, lalu memuntahkan segumpal

riak kental bercampur darah.

Suma Thian yu amat terperanjat, buru-buru dia berusaha

untuk memayangnya kembali, tapi kakek itu sudah roboh,

nyawanya sudah me layang meninggalkan raganya.

Untuk kesekian kalinya Suma Thian yu menyaksikan

sesosok nyawa meninggalkan raga nya, tak terlukiskan

perasaan pedih yang men cekam perasaannya ketika itu.

Dia membaca doa dengan hormat, kemudian membalikkan

badan dan beranjak pergi, sekarang ia lebih bertekad lagi

untuk mencari Bi kun lun Siau Wi goan dan membalas

dendam.

Ketika meninggalkan dusun kecil itu, Suma Thian yu

merasakan hatinya bertambah berat, ia berusaha untuk

mencari tahu siapa otak yang mendalangi organisasi

perampok berkerudung tersebut.

Ia pun tak habis mengerti, mengapa orang-orang itu

membantai rakyat tak bersalah yang tinggal dalam

perkampungan tersebut hanya gara gara sebutir mutiara saja?

Sampai dimanakah pentingnya mutiara itu?

Serentetan pertanyaan yang penuh kecurigaan dan tanda

tanya itu membentuk sebuah simpul mati didalam benaknya.

Ia merasa teka-teki ini baru bisa dipecahkan bila dia

berkunjung sendiri kekota Tiang an dan menjumpai Siau Wi

goan.

Suatu hari, sampailah Suma Thian yu di kota Tiang an,

waktu itu tengah hari baru saja lewat, manusia yang berlalu

lalang ditengah jalan bagaikan ikan yang berenang dalam

sungai.

Sesudah menanyakan alamat Bi kun lun Siau wi goan dari

orang jalan, dengan cepat Suma Thian yu berhasil

menemukan alamat yang di cari tersebut…

Pendekar besar yang memimpin dunia persilatan baik untuk

golongan putih maupun golo ngan hitam ini berdiam diujung

gang Li gi keng, dikedua belah sisi pintu gerbang terbentang

dinding pekarangan raksasa yang sangat tinggi dan kekar,

sepasang singa batu besar berada ditepi pintu, bangunannya

mentereng, gayanya penuh wibawa.

Setelah lama berdiri di depan pintu gerbang seorang lelaki

kekar baru munculkan diri dan merghampiri Suma Thian yu

sambil menegur.

“Engkoh cilik, apakah kau sedang mencari orang?”

“Betul, aku hendak menyambangi Siau tayhiap” jawab

Suma Thian yu dengan sopan.

Mengetahui kalau Suma Thian yu hendak me nyambangi

majikannya,tanpa terasa lelaki itu memperhatikan tamunya

sekejap lagi, ia mera sa pemuda ini gagah perkasa, tampan

dan kekar, ia lantas tahu kalau orang itu bukan manusia

sembarangan.

Maka sambil tersenyum katanya lagi.

“Engkoh cilik, ada urusan apa kau mencari Siau tayhtap?”

“Tolong saudara sudi melaporkan, katakan saja aja seorang

dari luar desa she Suma yang ingin menyambangi”

Lelaki berpakaian ringkas itu segera mengiakan dengan

sopan, lalu masuk ke dalam.

Sementara itu, Suma Thian yau sedang berpikir didalam

hati:

“Kalau dilihat dari sikap centengnya yang sopan santun dan

tahu peraturan, orang tidak akan mengira kalau Siau wi goan

adalah seorang manusia bengis yang berhati buas, lebih baik

aku menggunakan tata kesopanan lebih dulu sebelum

menggunakan kekerasan, kemudian baru me mutuskan

menurut situasi”

Sementara dia masih termenung, lelaki berpakaian ringkas

itu sudah munculkan diri, setelah menjura dalam-dalam

kepada Suma Thian yu, katanya:

“Majikan kami mempersilahkan engkoh cilik masuk!”

Kemudian dengan sikap yang amat menghormat, dia

mempersilahkan tamu untuk masuk. Setelah mengucapkan

beberapa patah kata merendah, Suma Thian yu baru

mengikuti lelaki itu masuk keruang dalam.

Sepanjang jalan, yang di jumpainya hanya jago-jago

persilatan saja, ketika orang- orang itu menjumpai kehadiran

Suma Thian yu, hampir rata-rata menunjukkan wajah

tertegun.

Menanti Suma Thian yu sudah lewat, mereka baru berbisik

bisik membicarakan peristiwa tersebut.

Suma Thian yu berlagak seolah olah tidak merasa, bahkan

dihati kecilnya sempat memuji Bi kun lun Siau Wi goan yang

pandai menjamu tamunya.

Lelaki kekar itu mengajak Suma Thian yu menusuki

ruangan tengah, tepat di muka ruangan tergantung sebuah

papan nama terbuat dari kayu yang bertuliskan:

“JIN HONG LIU WAN”

Artinya: Perbuatan bajik sampai di mana-mana.

Selain hurufnya terbuat dari emas, gaya tu lisan-nya yang

juga kuat bertenaga, tampaknya di tulis oleh seorang

kenamaan.

Suma Thian yu mendongakkan kepalanya

memandang sekejap, kemudian baru mengikuti lelaki itu

menuju ke ruang dalam.

Sesaat sebelum melangkah masuk ke ruang tengahv

mendadak sorot matanya melintas di atas wajah lelaki

setengah umur yang duduk di kursi utama itu, hatinya kontan

tertegun, Pe kiknya kemudian di hati.

Kenal amat wajah orang ini! Bukankah dia adalah… ehmm,

betul! Yaa dialah orangnya! Benar benar memang dia”

Rupanya setelah melihat wajah lelaki setengah umur yang

duduk dikursi utama itu tiba-tiba saja dia teringat dengan

manusia berkeru dung yang kain kerudungnya kena disingkap

itu, kedua-duanya berparas tampan dan gagah, sekarang

Suma Thian yu merasa teka-teki mana betul-betul sudah

terbongkar.

Dalam pada itu, lelaki setengah umur tadi sudah

meninggalkan tempat duduknya seraya menjura, kemudian

sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh keda tangan Suma siauhiap

di rumahku benar-benar merupakan suatu kehormatan,

silahkan duduk! Silahkan duduk !”

Seorang pelayan segera datang menghidangkan air teh dan

dipersembahkan kehadapan Suma Thian yu.

Sedang anak muda itu diam-diam berpikir.

“Sesudah datang kemari, aku harus bersikap sewajar

mungkin coba kulihat permainan busuk apakah yang hendak

mereka gunakan”

Maka tanpa sungkan diapun duduk, lalu setelah menerima

cawan air teh, katanya kepada lelaki setengah umur itu sambil

tersenyum.

“Secara kebetulan aku lewat sini, sudah lama ku dengar

akan kebajikan Siau tayhiap, itulah sebabnya sengaja aku

berkunjung kemari”

“Aaah, mana, mana” Bi kun lun Siau Wi goan tersenyum,

“siauhiap terlalu memuji, Wi goan tak lebih cuma seorang kuli

silat yang kasar, aku tidak memiliki kebajikan apa-apa, un tuk

pandangan siauhiap tersebut, Wi goan mengucapkan terima

kasih lebih dulu”

Kemudian setelah berhenti sejenak dan memandang

sekejap sekeliling arena, katanya lebih jauh.

“Kunjungan Suma siauhiap benar-benar merupakan suatu

kejadian yang luar biasa, marilah kuperkenalkan dengan

saudara-saudara lain yang berada disini”

Mula-mula dia perkenalkan kepada Suma Thian yu lebih

dahulu, setiap ucapan maupun sikapnya amat menyanjung

dan menghormati Suma siauhiap, walaupun Suma Thian yu

juga tahu kalau lawan adalah seorang yang pandai

bicaramanis, tetapi manusia memang seorang makhluk yang

aneh. Meski Suma Thian yu tahu kalau dia sengaja disepak,

namun dalam hati kecilnya justru merasa puas sekali.

Selesai memperkenalkan Suma Thian yu kepada rekanrekannya,

kemudian Siau Wi goan pun memperkenalkan

empat orang tamu yanfcg berada di sekeliling tempat itu.

Orang pertama adalah seorang tosu tua berjenggot merah

yang berusia tujuh puluh tahunan, dia adalah guru Bi Kun un

Siau Wi qoan yang disebut Leng gho Cinjin, menjabat pula

sebagai ciang bunjin partai Kun lun.

Orang kedua adslah seorang perempusn muda berusia dua

puluh lebih, tiga puluh kurang. Bi kun lun Siau Wi toan hanya

mengatakan dia she Ho bernama Hong, tanpa

memperkenalkan gelarnya.

Namun Suma Thian yu cukup mengenali perempuan itu

sebagai murid ketiga dari mayat hidup Ciu Jit bwee yang

berjulukan Yan tho hoa(Bunga tho indah).

Orang ke tiga berwajah tampan dan gagah, dia bernama

Cun gan siu cau (sastrawan berparas ganteng) Si Kok seng.

Suma Thian yu merasa amat menaruh hati terhadap

pemuda ini sejak pandangan yang pertama, diapun paling

menaruh kesan baik kepadanya.

Orang yang diperkenalkan paling akhir adalah seorang

kakek berbaju sastrawan, ternyata

dia seorang ahli ilmu pedang yang paling top dari partai

Tiam cong yang disebut orang It ci hoa kiam (pedang bunga

satu huruf) Yu-Liang gi.

Setelah mengucapkan kata-kata sungkan, suasana dalam

ruangan pun bertambah luwes, karena diantara ke empat

orang itu Suma Thian yu hanya menaruh kesan baik terhadap

Cun gan siucay Si Kok seng, maka dia pun lantas bertanya

kepadanya.

“Saudara Si, boleh aku tahu nama gurumu?”

Melihat pertanyaan dari Suma Thian yu amat kasar, mulamula

Cun gan siucay Si Kok seng agak tertegun, kemudian

sahutnya:

“Sejak kecil aku gemar belajar ilmu silat, tiap sampai di

suatu tempat akupun mempela jari semacam kepandaian,

itulah sebabnya se tiap orang yang pernah memberi pelajaran

ke padaku kuanggap sebagai guruku, Suma siuahiap coba

bayangkan saja, bagaimana caraku untuk menjawab

pertanyaanmu itu?”

Suma Thiauyu terpaksa mengiakan dan tidak bertanya lebih

jauh.

Pada saat itulah, Bi kun lun Siau Wi goan baru bertanya

kepada Suma Thian yu:

“Siauhiap, tolong tanya ada urusan apakah kau berkunjung

kemari?”

Tanpa berpikir panjang, Suma Thian yu segera menjawab:

“Aku memang mempunyai beberapa persoalan yang ingin

ditanyakan kepada Siau tayhiap, hanya tak kuketahui apakah

Siau tayhiap bersedia untuk membertahukan kepadaku atau

tidak?”

Diam-diam Bilun lun Siau Wi goan agak terkejut setelah

mendengar perkataan itu, kemudian iapun tertawa terbahakbahak.

“Ha ha ha ha ha……boleh, tentu saja boleh, kita toh bukan

orang luar, apapun yang ingin siauhiap tanyakan, harap

ditanyakan secara blak-blakan.

“Siau tayhiap, tahukah kau kalau barang kawalan dari

perusahaan Sin liong piaukiok telah dibegal orang?”

Siau Wi goan pura pura terkejut, sambil menggeleng

tanyanya:

“Aaaah…… Wi goan tak tahu akan berita ini, tolong tanya

kapan dibegalnya?”

Meskipun orang tak mau mengaku, Suma Thian yu juga tak

sampai mengumbar amarahnya, dia berkata lebih jauh:

“Kalau begitu, tentu saja Siau tayhiap juga tak tahu bukan

jika Wan cong piautau telah menderita luka parah dan jiwanya

terancam mara bahaya:

Sebelum Bi kun lun Siau Wi goan sempat menjawab, It ci

hoa kiam Yu Liang gi dari Tiam cong pay yang berada

disisinya telah menimbrung:

“Hei, ucapan siauhiap tersebut seakan-akan membawa

nada teguran, apakah kau menaruh curiga kalau Siau tayhiap

tersangkut dalam pe ristiwa ini?”

Bi kun lun Siau Wi goan segera tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha ha ha……ucapan saudara Yu kelewat berat,

selama ini Wi goan tak pernah menuduh orang dengan kata

yang bukan-bukan apalagi siauhiap toh bertujuan baik!”

Sampai disitu dia lantas berpaling kearah Suma Thian yu

sambil bertanya.

“Benarkah Wan congpiautau telah terluka parah dan

jiwanya terancam? Aaai….siapakah telah turun tangan sekeji

itu terhdapnya?”

“Konon segerombolan perampok berkerudung jawab Suma

Thian yu langsung dan tanpa berusaha untuk merahasiakan.

Paras muka Bi kun lun Siau Wi goan berubah amat serius

setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian:

“Oooh, rupanya perbuatan dari perampok berkerudung!

Ehmm, Wi goan memang sudah lama mendengar orang bilang

kalau dalam du nia persilatan telah muncul suatu organisasi

besar semacam ini, selain jejaknya sukar di buntuti, cara

kerjanya pun bersih tanpa me ninggalkan jejak, sayang Wi

goan tak berhasil menyelidiki sarang mereka.”

Berbicara sampai disini, ia sengaja bertanya kepada

gurunya Leng gho Cinjin:

“Suhu, pernahkah kau mendengar hal ini?”

Leng gho Cinjin segera manggut-manggut.

“Yaa, dengar sih pernah dengar, hanya tak pernah

kujumpai saja orangnya.”

Rasa curiga timbul kembali dalam hati Suma

Thian yu, bila berbicara soal tampang Bi kun lun Siau Wi

goan, dia jujur dan gagah, caranya berbicara sopan dan tahu

tata cara, tidak gampang marah, pada hakekatnya boleh di

bilang berhati bajik.

Tapi, kenyataan sudah terbentang didepan mata, pesan

paman Wan sebelum ajalnya serta peringatan dari Heng si

Cinjin, semuanya mengatakan Siau Wi goan sebagai pentolan

perampok.

Dengan kejadian tersebut, Suma Thian yu menjadi serba

salah dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, ia

teringat pula akan pembantaian brutal yang terjadi dalam

dusun kecil gara-gara sebutir mutiara itu, ia bertekad untuk

mencari kesimpulan dari persoalan mana melalui jejak mutiara

itu.

Maka diapun mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain,

pertanyaan tersebut tak pernah diajukan lagi, justru hal mana

sangat ber kenan dihati Bi kun lan, semua pertanyaan segera

dijawab bahkan sikapnya bertambah luwes dan halus.

Malam itu, Suma Thian yu diminta oleh Siau goan untuk

tetap tinggal disana seusai per jamuan, Siau Wi goan

menitahkan kepada Cun pan siucay Si Kok seng untuk

menemani Suma Thian yu berjalan-jalan menikmati keindahan

alam.

Diam-diam Suma Thian yu merasa amat girang, sebab dia

menganggap hanya dengan ber buat demikianlah ia bisa

mempelajari situasi gedung keluarga Siau sambil sekalian

mencari tahu kabar berita tentang mutiara tersebut.

Kedua orang itu berjalan, menuju kelapangan, tiba-tiba

Suma Thian yu bertanya:

“Saudara Si, apakah kau dengar kalau ada semacam benda

mesttka yang telah munculkan diri?”

“Apakah kitab pusaka? Kitab pusaka tanpa kata?” Cun gan

siucay Si Kok seng balik ber tanya.

“Bukan, bukan benda itu, tapi mestika lain-nya?”

“Aku belam pernah mendengarnya, Suma siauhiap,

dapatkah kau memberitahukan kepadaku?”

“Konon didalam dunia persilatan telah muncul sebutir

mutiara Ya beng cu yang tak ternilai harganya”

“Mutiara Ya beng cu?” ulang Si Kok seng dengan

terperanjat”, kapan munculnya?”

“Sudah muncul, dan kini sudah dirampok oleh perampok

berkerudung!” sambil berkata Suma Thian yu melirik sekejap

kearah Si Kok seng dengan ujung matanya.

Tampak paras muka Si Kok seng berseri, kontan ia

mendamprat:

“Perampok sialan, tampaknya gerak gerik mereka sudah

makin merajalela.”

Dan pembicaran tersebut, Suma Tbian yu tahu kalau lagilagi

dia kebentur dinding alias gagal total, sekalipun

ditanyakan lebih jauh juga tak akan menghasilkan apa- apa,

maka ia pun mengurungkan niatnya semula. Mereka berdua

segera melanjutkan perjalanannya, mengajaknya pergi

ketempat itu.

Dilihat dari sini, dapat ditarik kesimpulan kalau Bi kun lun

Siau Wi goan benar-benar se orang manusia yang sangat licik

dengan tipu muslihat yang berbahaya, itu berarti dia harus

selalu berwaspada terhadap dirinya.

Tapi, justru karena soal ini pula Suma Thian yu jadi lebih

bertekad untuk membongkar teka teki itu sehingga tuntas dan

terungkap seluruhnya.

Begitulah, sambil berbincang bincang sambil berjalan-jalan,

makin berbicara makin cocok rasanya, sehingga hampir boleh

dibilang masing-masing pihak merasa sayang karena baru

berjumpa sekarang.

Suatu ketika, Si Kok seng mohon diri lebih dulu untuk

kembali kekamarnya. kini tinggal Suma Thian yu seorang.

Kesempatan semacam ini boleh dibilang merupakan sebuah

peluang yang baik sekali, ketika Suma Thian yu menyaksikan

didepan sana terdapat cahaya yang memancar keluar dari

sebuah ruangan, tanpa sadar ia berjalan meng hampiri

ruangan itu.

Tapi, ketika ia baru melangkah naik keatas anak tangga,

mendadak dari balik ruangan, terdengar seorang perempuan

sedang berteriak minta tolong:

“Tolong, tolong! Oooh…..tolooong”

Suma Thian yu amat terperanjat sesudah mendengar

teriakan itu, sifat pendekarnya seperi timbul, dengan cepat dia

lari menghampiri mulut jendela.

Tapi pada saat yang bersamaan, dari belakang tubuhnya

berkumandang suara tertawa di ngin, lalu seseorang menegur:

“Bocah keparat, rupanya kau adalah pencoleng yang

bekerja diwaktu malam.”

Agak tertegun Suma Thian yu mendengar seruan itu, cepat

dia membalikkan badan, entah sedari kapan dua orang kakek

telah ber diri dibelakang tubuhnya sedang mengawasi

kearahnya penuh kegusaran.

Suma Thian yu sangat gelisah, ia tahu kalau pihak lawan

salah paham, maka ujarnya:

“Kalian berdua salah paham, cepat! Pencolengnya masih

berada didalam, mari kita tengok bersama-sama!”

“Heeh…heeh…heeh…bocah keparat, kau tak usah berlagak

pilon lagi” jengek kedua orang kakek itu sambil tertawa seram,

dengan mata kepala sendiri lohu melihat kau berbuat

terkutuk, sekarang masih ingin mungkir lagi? Hayo jalan!

Segera menjumpai majikan!”

Seraya berkata dua orang itu satu dari kiri yang lain dari

kanan segera bertindak hendak menggusur dengan kekerasan.

Suma Thian yu merasa tak pernah melakukan perbuatan

salah, diapun tak takut mengha dapi tuan rumah, maka

serunya dengan dingin.

“Tak usah merepotkan kalian, aku masih mempunyai kaki

untuk berjalan sendiri”

Mendengar itu, dua orang kakak tersebut segera berjalan

satu di muka yang lain dibelakang dan menggusur Suma Thian

yu menuju ke ruang tengah.

Diluar dugaan, ruangan tengah sudah hadir banyak orang,

tapi tidak kelihatan Bi kun lun dan Cun gan siucay dua orang.

Begitu Suma Thian yu muncul dalam ruangan depan, dari

balik ruangan segera muncul Leng gho Cinjin.

Jenggot merahnya yang panjang tampak bergerak tanpa

hembusan angin, mukanya diliputi hawa pembunuhan, begitu

berjumpa dengan Suma Thian yu, ia segera menggebrak meja

sambil memaki:

“Anjing keparat, tak nyana tampangmu ganteng tapi

nyatanya seorang Cay hoa cai (pen jahat pemetik bunga),

padahal tuan rumah bersikap cukup baik terhadapmu”

Begitu dilihatnya situasi, tidak beres, buru-buru Suma Thian

yu memantah.

“Locianpwee, kau telah menaruh kesalahan paham

terhadapku, aku Suma Thian yu bukanlah manusia rendah

seperti apa yang kau tu-duhkan, harap lakukan pemeriksaan

lebih dulu dengan seksama”

Leng gho Cinjin sama sekali tidak menggubris ucapan itu,

begitu Suma Thian yu selesai bicara, kontan dia membentak

dengan gusar.

“Kentut anjing! Semua fakta sudah ada didepan mata, kau

anggap pinto menuduh tanpa dasar?”

Berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan orang untuk

mengundang Bi kun lun Siau Wi goan dihalaman belakang.

Setelah itu makinya lebih jauh.

“Bocah keparat, apa yang hendak kau katakan lagi?

Peraturan rumah tangga yang berla ku disini amat ketat,

dengan dosa yang kau lakukan tiada ampun lagi bagimu.

Sekarang cepat kau kutunggi lengan kananmu sendiri kalau

tidak, jangan harap kau bisa tinggalkan rumah keluarga Siau

pada hari ini barang setengah langkah pun”

Setelah menyaksikan keadaan yang terbentang didepan

mata, terutama sikap lawan yang tidak mencari tahu lebih

dulu siapa salah siapa benar, Suma Thian yu segera sadar, dia

mengerti kalau dirinya sudah terjebak ke dalam perangkap

musuh yang licik.

Maka sambil membusungkan dada, ujarnya dengan wajah

bersungguh sungguh.

“Locianpwee, berulang kali kau menuduh Thian yu sebagai

manusia berdosa, bahkan pe nyesalanpun tak diberi,

tampaknya hal ini me rupakan sebagian dari rencana keji yang

telah kalian persiapkan. Hmm! Dihadapan orang jujur lebih

baik tak usah berbohong, bila ingin beradu kepandaian, Suma

Thian yu tak akan berkerut kening”

“Haah…haah…haah… punya semangat punya keberanian,

pinto paling suka dengan pemuda semacam ini”

Dia sepera memberi tanda, It ci hoa kiam (pedang bunga

satu huruf) Yu Liang gi dari partai Tiam cong segera melompat

ke hadapan Suma Thian yu, lalu berkata.

“Lohu ingin mencoba sampai dimanakah kehebatan ilmu

pedangmu!”

Sementara berbicara, pedang yang digembolnya segera

diloloskan dari sarung.

Suma Thian yu mendengus dingin, tiba-tiba dia mencabut

keluar pedang Kit hong kiamnya dari sarung, cahaya biru yang

menyilaukan mata segera memancar keempat penjuru.

Begitu melihat pedang mestika yang berada ditangan anak

muda itu, kontan saja It ci hoa kiam Yu Liang gi menjerit

kaget.

“Haah….? Kit hong kiam….?”

Jeritan tersebut segera memancing perhatian segenap

orang yang hadir didalam ruangan itu, serentak semua orang

mengalihkan sorot mata nya keatas pedang mestika ditangan

Suma Thian yu.

Leng gho Cinjin turut tertawa seram sesudah menyaksikan

kemunculan pedang Kit hong kiam tersebut, segera

jengeknya.

“Heeh…heeh…heeh…rupanya kau adalah murid pencoleng,

tak heran kalau kaupun manusia bajingan, kawan-kawan,

ringkus bangsat kecil ini!”

Bagaikan segerombol kawanan lebah, kawanan jago yang

berada dalam ruangan segera mengurung Suma Thian yu

ditengah arena.

Tapi, pada saat itulah It ci hoa kiam Yu Liang gi

membentak dengan suara lantang.

“Harap tunggu sebentar saudara sekalian, berilah

kesempatan buat aku orang she Yu untuk mencoba sampai

dimanakah kelihayan dari ilmu pedang Kit hong kiam hoat

yang menggetarkan dunia persilatan itu!”

Oleh bentakan mana, serentak semua jago mundur satu

langkah ke belakang, namun mereka tidak mengendorkan

posisi pengepunggannya.

Kemarahan yang berkobar didalam dada Suma thian yu

waktu itu ibaratnya gunung berapi yang meletus, sekarang ia

sudah mengerti kenapa paman Wan nya sampai dituduh yang

bukan-bukan oleh orang lain, hal mana menambah

berkobarnya api kemarahan dalam dadanya.

Dengan jurus Tui huang wang gwat (mendorong jendela

melihat rembulan), pedang kit hong kiamnya melepaskan

sebuah tusukan ketubuh It ci hoa kiam, tapi baru sampai di

tengah jalan mendadak berganti jurus menjadi gerakan Gwat

gi seng sia (rembulan bergeser bintang berpindah), kali ini dia

tusuk tenggorokan orang dengan kecepatan bagaikan anak

panah yang terlepas dari busur.

Walaupun dua jurus serangan yang berbeda namun

bergabung menjadi satu, dibalik serangan-nya terdapat

perubahan kosong yang merupakan tipuan yang tak terduga

sebelumnya.

Dalam partai Tiam cong, It ci hoa kiam Yu liang gi terhitung

juga pedang paling top, selain lihay dalam limu pedang,

orangnya juga licik dan pintar.

Sekarang, ia harus tercekat perasaannya se telah

menyaksikan dua serangan Suma Thian yu yang dilancarkan

dalam satu gerakan bersama, buru-buru kaki kirinya bergeser,

pedang nya diputar mengikati gerakan badan.

Kali ini secara hebat ia berhasil membendung jurus

serangan pertama dari Suma Thian yu, lalu mengikuti gerakan

mana dengan jurus Hong Ki im yong (angin berhembus awan

meng gulung) dia ciptatan pelbagai lapis bunga pe dang untuk

mengurung sekujur tubuh lawan.

Tiba-tiba Suma Thian yu berpekik panjang, pedangnya

berubah menjadi Lui tian ciau kat(guntur dan petir

bersusulan), secepat sambaran kilat, dia tembusi lapisan

pedang Yu liang gi dan langsung menusuk ke ulu hatinya.

Kekuatan mereka berdua boleh dibilang seimbang, sulit

untuk membedakan mana yang ampuh dan mana yang lemah,

sebab disatu pihak merupakan jagoan kenamaan dari partai

Tiam cong, dilain pihak merupakan ahli waris dari Wan

tayhiap.

“Taaang …! mendadak terdengar suara senjata tajam yang

saling beradu, cahaya pedang ditengah arena segera lenyap

tak membekas, lalu bayangan manusia melintas, Suma Thian

yu telah melompat keluar dari arena pertarungan.

Maai, maaf…..ujarnya sambil menjura dan senyuman

menghiasi ujung bibirnya.

Pada mulanya It ci boa kiam Yu Liang gi masih merasa

kebingungan dan tidak habis mengerti menunggu ia

menggerakan lengannya dan sepotong kain bajunya tahu-tahu

terlepas dari lengan dan jatuh ketanah, ia baru tahu apa yang

telah terjadi.

Dengan wajah merah padam karena jengah, It ci hoa kiam

Yu Lianeg gi menundukan kepalanya rendah-rendah dan

segera mengundurkan diri dari arena pertarungan.

Leng gho Cinjin tidak menyangka kalau Yu Liang gi sebagai

seorang jago pedang kenamaan bisa menderita kalah di

tangan seorang pemuda ingusan yang baru terjun kedunia

persilatan.

Rasa malu bercampur gusar segera berkecamuk menjadi

satu dalam benaknya, kepada kawanan jago yang lain, dia

berseru.

“Saudara-saudara sekalian, hayo turun tangan dan bekuk

bajingan muda itu…!”

Pada saat itulah, mendadak dari sudut berkumandang

suara pekikan panjang yang nyaring, ketika,semua orang

berpaling tampaklah Bi kun lun dengan membawa Cun gan siu

cay melangkah masuk kedalam arena. Suasana diarena segera

menjadi gempar, mereka seolah-olah sudah lupa dengan

perintah yang diturunkan Leng gho Cinjin semula. “Setelah

melangkah masuk kedalam arena, Bi kun lun Siau wi goan

segera menghardik semua orang agar jangan ribut, kemudian

dengan senyum dikulum dia menjura kearah Suma Thian yu

sambil memohon maaf:

“Suma Siauhiap, semua kesalahan Wi goan, tidak

sepantasnya kuterbitkan begini banyak kesulitan bagimu,

salah paham-salah paham se muanya ini hanya suatu

kesalahan paham belaka.

Kemudian setelah tertawa nyaring, katanya lebih jauh.

“Harap kau sudi memaklumi, andaikata sihian le tidak pergi

memberi kabar kepadaku, mung kin bencana yang bakal

terjadi akan besar sekali. haaa…haah…haaahh….”

Rasa benci Suma thian yu benar-benar sudah merasuk

ketulang sum-sum, bagaimanapun penjelasan dari Bi kun lun,

tak mungkin bisa meredakan rasa rasa ketidak puasannya.

Tampak dia menarik kembali pedangnya, lalu berpamitan

pada Bi kun lun Siau Wi goan. “Atas pelayananmu yang baik,

aku tak akan melupakan untuk selamanya. Biarlah aku mohon

diri lebih dulu, untung masa mendatang masih panjang,

biarlah kebaikanmu itu kubayar dikemudian hari saja.”

Kemudian setelah mengucapkan pula beberapa parah kata

perpisahan dengan Cun gan siu cay Si Kok seng, dia

membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu kawanan jago liehay yang mengepung di

sekeliling tempat itu masih menghadang jalan pergi Suma

Tbian yu, mereka dengan sorot mata yang merah membara

karena amarah menatap anak muda itu lekat-lekat, seakanakan

mereka adalah sekelompok ular berbisa yang siap

memagut…..

Melihat hal itu, Suma Thian yu tertawa dingan sambil

mendongakan kepalanya dia menerjang maju terus kedepan.

Tiba-tiba dari muka sana muncul seorang kakek kurus

ceking bermata tikus berhidung elang yang menghadang jalan

perginya dengan golok dilentangkan didepan dada, lalu

menegur.

“Bocah keparat, tempat ini bukan tempat yang bisa

diganggu seenaknya, boleh saja bila kau ingin meninggalkan

tempat ini, tapi ditinggalkan dulu sedikit tanda mata, congkel

lebih dulu kedua biji matamu, kemudian baru pergi”

“Haaahh…haaaha…haaaha…kau ingin mencongkel

mataku…? Huuuh, jangan mimpi” Suma Thian yu tertawa

tergelak.

Kakek ceking itu semakin melotot dengan buas, goloknya

diangkat siap membacok.

Tapi saat itulah kembali Bi kun lun Siau wi goan

membentak keras.

“Saudara Cian, jangan bertindak gegabah, biarkan saja dia

pergi!”

Buru-buru kakek ceking she Ciang itu menarik kembali

goloknya, setelah melotot sekejap kearah suma Thian yu

dengan angkuh, dia mundur selangkah seraya berkata.

“Hmm, enakan keparat ini!”

Suma Thian yu berjalan kehadapannya, lalu tertawa

angkuh pula.

“Maaf!” katanya.

Seusai beikata dia lantas melangkah pergi dari situ, Suma

Tbian yu memang bernasib jelek, berulang kali dia harus

dituduh orang ka rena salah paham, rasa pedih yang

mencekam perasaannya betul-betul tak terlukiskan dengan

kata-kata.

Sekarang ia sudah menaruh perasaan muak yang amat

sangat terhadap dunia yang sangat indah ini.

Belum jauh meninggalkan kota Tiang an, bintang sudah

bertaburan diangkasa, kegelapan malam telah menyelimuti

seluruh jagad, orang yang berlalu lalang dijalan semakin

sedikit.

Dalam keadaan seperti inilah mendadak dari arah belakang

ber kumandang suara derap kaki kuda yang ramai, suara

tersebut kedengarannya janggal sekali dalam suasana begini.

Lambat laun suara derap kaki kuda itu semakin mendekat,

Suma Thian yu tahu kalau dibalik kesemuanya itu pasti ada

sesuatu yang tak beres. Diam-diam dia menghimpun

tenaganya sambil bersiap-siap siaga menghadapi se gala

kemungkinan yang tak di inginkan.

Pada saat itulah, suara bentakan nyaring telah

berkumandang lagi dari belakang.

Suma Thian yu mengira Bi kun lnn Sian Wi goan telah

melakukan pengejaran dari belakang, hawa pembunuhan

segera menyelimuti seluruh wajahnya, dengan cekatan dia

meloloskan pedang Kit hong kiam yang tersoren di-punggung

seraya membalikkan badan, kemudian menghadang jalan

pergi pendatang tersebut ditengah jalan.

Tak berapa saat kemudian, dari depan sana muncul lima

ekor kuda jempolan yang di larikan kencang kencang,

penunggangnya adalah perampok perampok berkerudung

hitam.

Kalau tidak melihat masih mendingan, begitu menyaksikan

kemunculan kawanan pencoleng tersebut, kontan saja

amarahnya berkobar, dia berpekik panjang, suaranya

menggaung jauh ketengah udara dan menggetarkan seluruh

pepohonan yang tumbuh di sekeliling tempat itu.

Tampak tubuhnya melejit ketengah, pedang Kit hong

kiamnya menciptakan segulung kabut pedang berwarna putih,

lalu menyergap kelima orang penunggang kuda berkerudung

itu.

Tindakan gegabah semacam ini sebetulnya merupakan

pantangan yang paling besar bagi umat persilatan,

sesunguhnya Suma Thian yu pun memahami akan hal ini,

tapi… bagaimaaa mungkin dia bisa membendung rasa

mangkel dan kobaran amarah yang telah dipendamnya selama

banyak tahun?

Tindakan mana rupanya diluar dugaan kelima orang

penunggang kuda berkerudung itu, meski tugas mereka kali

ini adalah menyergap Suma Thian yu, namun mereka tidak

berharap terjadinya pembunuhan yang tak berarti.

Tapi sekarang, setelah menyaksikan Suma Thian yu muncul

bagaikan malaikat yang datang dari kahyangan, serentak lima

orang itu membentak pendek, kemudian bagaikan ledakan

mercon, mereka menyusup keempat penjuru untuk

menyelamatkan diri.

Terdengar suara ringkikan kuda yang meloloskan senjata

tajam masing-masing.

Sebenarnya Suma Thian yu mengharapkan suatu hasil yang

baik dalam gebrakan yang pertama, tapi begitu gagal dengan

serangan yang pertama, tubuhnya ikut melayang turun keatas

tanah, dengan cepat dia dikepung kelima orang pencoleng

berkerudung itu dari empat penjuru.

0ooo0

Jilid 10

Terdengar dia mendengus dingin, dengan sorot mata

memancarkan cahaya tajam, bentaknya sembari menggertak

gigi:

“Apakah kedatangan kalian berlima untuk merenggut

nyawa sauya? Turutilah nasehatku, sipat ekor dan pulang saja

kerumah dengan tenang, laporkan kepada Siauw Wi goan,

begitu aku orang she Suma berhasil menemukan bukti yang

nyata, pasti akan kubasmi keluarga Siau dengan darah”

Baru selesai dia berkata, terdengar orang yang berada di

paling depan telah tertawa dingin tiada hentinya.

“Hehehehe….bocah keparat, tinggalkan pedang mestika

milikmu, kalau tidak hari ini ditahun depan adalah hari ulang

tahun kematian mu yang pertama!”

Suma Thian yu segera menyodorkan pedang Kit hong

kiamnya kedepan setelah mendengar perkataaa itu, katanya

sambil tertawa angkuh: “Nih, sauya persembahkan dengan

kedua belah tanganku, ambillah sendiri!”

Ketika manusia berkerubung tersebut menyaksikan

perbuatan lawannya, dia masih mengira Suma Thian yu benarbenar

berhasrat untuk menyerahkan pedang itu kepadanya, ia

lantas maju beberapa langkah kedepan siap menerima

sodoran mana.

Tiba-tiba Suma Thian yu membentak nyaring:

Sambutlah!”

Pedangnya meluncur kedepan seperuti anak panah yang

terlepas dari busurnya, pedang Kit hong kiam tersebut

langsung menyambar kewajah penjahat berkerudung itu.

Meryusul gerakan mana seluruh tubuh Suma Thian yu ikut

pula menerjang maju kemuka.

Tampaknya pedang itu segera akan menyambar ditubuh

lawan, manusia berkerudung itu menjerit kaget, buru-buru dia

berkelit kesamping.

Disaat yang amat singkat inilah Suma Thian yu

menggerakkan tangannya untuk membacok pergelangan

tangan lawan sambil membentak.

“Tinggalkan dahulu lenganmu!”

Menyusul jeritan ngeri yang memilukan hati, seperti burung

yang kena bidikan saja, manusia berkerudung itu melejit

kebelakang.

Sayang tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, setelah

itu roboh terjengkang ke tanah dan tak sanggup berdiri lagi.

Diatas tanah tinggal sebuah lengan yang terpaksa, darah

kental membanjiri permukaan tanah dan menyusup ke dalam.

Setelah berhasil meraih kemenangan dalam pertarungan

pertama, kemarahan Suma Thian yu agak mereda, dia

memandang sekejap manusia berkerudung yang terpapas

lengannya itu, kepada keempat orang rekan-nya ia berseru

sambil tertawa dingin.

“Siapa lagi yang ingin maju untuk mengantar kematian?”

Ketika mendengar tantangan tersebut, keempat orang

manusia berkerudung itu serentak mengayunkan goloknya dan

maju menerjang dari empat penjuru, dilihat dari gerakan

tubuh mereka, jelas kalau orang-orang itu adalah jagoan kelas

satu dalam dunia persilatan.

Kendatipun demikian, Suma Thian yu yang bernyali besar

sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap

mereka.

Dia berdiri dengan segenap perhatiannya dihimpun menjadi

satu, ditunggunya sehingga senjata tajam ke empat orang itu

hampir mengenai tubuhnya….

Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari balik

keheningan berkumandang suara bentakan gusar yang amat

nyaring:

“Mundur!”

Menyusul kemudian, terlihat sesosok bayangan hitam

meluncur datang secepat sambaran kilat dan langsung

menyerbu ke dalam arena pertarungan.

Mendengar bentakan tersebut, keempat manusia

berkerudung itu segera mengundurkan diri dan memberi

sebuah jalan lewat.

Pendatang itu menancapkan kakinya ditanah setelah

pencoleng-pencoleng berkerudung itu mengundurkan diri,

begitu sampai dia lantas menegur:

“Suma siaubiap, Wi goan telah datang terlambat, kau tidak

terluka bukan?”

Ketika Suma Thian yu mendongakkan kepalanya, dia

segera mengenali orang itu sebagai Bi kun lun Siauw Wi goan,

maka dengan perasaan mendongkol sahutnya:

“Terima kasih atas bantuan yang datang tepat pada

waktunya, Siau tayhiap, mengapa ke datanganmu begitu

kebetulan?”

Ucapan mana mengandung maksud ganda, dia menuduh Bi

kun lun lah yang telah bermain gila secara diam-diam.

Bi kun lun Siau Wi goan berlagak seolah-olah tidak

mendengar, bukan saja tidak gusar, malahan tertawa seram.

“Suma siauhiap, tampaknya kesalah pahamku terhadap Wi

goan sudab kelewat mendalam! Ketahuilah semua persoalan

yang ada didunia ini tak akan terungkap sebelum peti mati di

buka, aku Wi goan betul-betul bermaksud baik kepadamu, tapi

nyatanya malah mendapatkan kesalahan paham belaka,

padahal orang-orang ini sama sekali tak ada sangkut pautnya

dengan Wi goan!”

Padahal penjelasan dari Bi kun lun Siau Wi goan tersebut

berlebih-lebihan sehingga tak ubahnya seperti menampar

mulut sendiri.

Suma Thian yu merasa geram sekali setelah mendengar

perkataan itu, tapi justeru karena demikian, dia semakin

merasa yakin kalau Bi kun lun Siau Wi goan adalah seorang

pentolan pencoleng yang licik dan sangat berbahaya.

Menghadapi manusia semacam ini, jalan yang terbaik

adalah menjauhi dan jangan sampai terkena pelet, kalau tidak

maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang,

Suma Thian yu adalah seorang manusia yang cerdas

dengan bakat yang luar biasaa, sekilas pandangan saja dia

sudah dapat menduga sampai kesitu, maka sambil tertawa

dingin katanya:

“Kalau mememang begitu, akulah yang kelewat curiga,

terima kasih atas bantuanmu, biarlah kubayar dikemudian hari

saja”

Selesai berkata dia lantas ber berjalan melalui sisi Bi Kun

lun Siau Wi gon dan berlalu dari situ..

Belum lagi dua langkah, mendadak dari belakang

punggungnya berkumandang datang suara desingan angin

pukulan yang sangat kuat langsung menyergap jalan darah

Pek hwee hiat di punggungnya.

Sebenarnya Suma Thian yu berprinsip sebelum berhasil

memegang bukti yang nyata tentang kejahatan yang telah

dilakukan Bi kun lun Siau Wi goan, dia enggan untuk ribut

atau bentrok dengan manusia tersebut, apa lagi kalau sampai

terjadi bentrokan secara kekerasan.

Orang bilang: Cocok atau tidaknya seserang dalam

pergaulan ditentukan dalam sepa tah kata, dia tahu banyak

berbicara dengan manusia licik hanya akan mendatangkan

kesulitan dan kerugian bagi dirinya sendiri, oleh sebab itu dia

berusaha menjauhi.

Maka sambil menahan rasa mangkel dalam hatinya, dia

siap berlalu meninggalkan tempat itu.

Siapa sangka disaat dia membalikkan badan siap

meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dari belakang

punggungnya mendesing datang segulung hawa pukulan yang

langsung menyergap jalan darah Pek hwee hiat di belakang

benaknya…

Dalam perkiraan Suma Thian yu, serangan terkutuk yang

rendah dan tak tahu malu itu dilakukan Bi kun lun Siau Wi

goan, saking gemasnya sepasang gigi sampai saling

bergerutukan keras.

Cepat-cepat ia menghimpun tenaga dalam ajaran

pamannya Kit hong kiam kek Wan Liang yakni ilmu Jiong goan

sim hoat untuk me lindungi seluruh badan, setelah itu telapak

tangannya didorong keatas menyongsong datangnya serangan

pembokong itu.

Dan begitu merasa kalau serangannya sudah dihadapi,

Suma Thian yu segera bergeser kekiri lalu berputar dengan

ujung kaki sebagai as untuk berganti arah, himpunan tenaga

dalam yang telah dipersiapkan ditangan kanan itu secepat kilat

dibabat kebelakang menghantan tubuh musuhnya, sementara

tubuhnya turut berputar pula menangkis, berputar dan

menyerang yang dilakukan Suma Thian yu meski panjang

untuk diceritakan, padahal ketiga macam gerakan itu

dilakukan hampir pada saat yang bersamaan.

Menanti dia sempat melihat jelas paras muka lawannya,

orang itu sudah kena terhajar oleh serangan dahsyatnya itu

sampai mencelat sejauh satu kaki lebih dan jatuh tak sadarkan

diri dengan sikap terlentang.

Diluar dugaan ternyata orang itu bukan Bi kun lun Siau Wi

goan seperti apa yang diduga semula melainkan seorang

pencoleng berkeru dung kain hitam.

Selama hidup Suma Thian yu paling benci dengan

perbuatan menyergap yang dilakukan dari belakang,

kemarahannya segera berkobar, sambil membentak tubuhnya

menerjang kearah pencoleng berkerudung yang sudah

tergeletak itu siap melakukan pukulan yang mematikan.

Bi kun lun Siau Wi goan sendiri berdiri termangu-mangu

disitu tak tahu apa yang meski dilakukan.

Dalam situasi seperti ini, keadaannya yang paling

mengenaskan, mau turut campur tak bisa, tidak turut campur

bagaimana?

Dalam pada iiu, tiga orang manusia berkendung lainnya

jaga tak berani bertindak secara sembarangan karena

kehadiran Siau Wi goan disitu, terpaksa mereka harus

mengorbankan jiwa rekannya tanpa bisa berbuat banyak.

)o(X)o(

TAMPAKNYA kepalan sakti dari Suma thian yu segera akan

menghantam diatas kepala pencoleng berkerudung itu,

serentak semua orang memejamkan matanya rapat-rapat

karena tak tega menyaksikan peristiwa yang amat mengerikan

itu.

Pada dasarnya Suma Thian yu memang berhati welas

kasih, begitu muncul keinginan-nya untuk mengampuni jiwa

orang, ia lantas tak tega untuk melanjutkan niatnya semula

untuk melakukan pembunuhan.

Dari serangan memukul segera diubah menjadi serangan

mencakar…. Kraaas!” terdengar suara kain yang robek,

akhirnya kain kerudung hitam orang yang terluka itu terbakar

dan muncullah raut wajah aslinya.

Manusia berkerudung yang terobek kain kerudungnya

adalah seorang kakek kurus ceking bermata tikus berhidung

elang, dia tak lain adalah kakek ceking yaug telah

menghadang jalan pergi Suma Thian yu ketika berada di tanah

lapang gedung keluarga Siau tadi.

Setelah mengetahui siapa gerangan orang yang dihadapi,

Suma Thian yu segera tertawa seram

“Haaah…haah….haaah, nampaknya aku Suma Thian yu

memang tidak salah melihat orang”

Kemudian sambil mengangkat tangan kakek ceking itu,

ujarnya lagi kepada Bi kun lun Siau Wi goan dengan lantang:

“Siau tayhiap, bukankah orang ini adalah anak buahmu?”

Dikala Suma Thiar yu merobek kain kerudung orang itu itu

tadi, Bi kun lun Siau Wi goan sudah meraia gelisah bercampur

gusar. Dia gelisah karena jejaknya ketahuan dan kuatir Suma

Thian yu membocorkan rahasia tersebut keluar sehingga

mempengaruhi nama baiknya dikemudian hari.

Dia marah karena kakek itu sudah merusak rencana yang

telah disusunnya dengan susah payah.

Apalagi sesudah mendengar pertanyaan dari Suma Thian

yu ibaratnya orang yang langsung mengorek luka dalam

tubuhnya, benar-benar tak sedap perasaannya ketika itu.

Tanpa terasa timbul niat jahat didalam hatinya, sambil

menghindarkan diri dari tanggung jawab sahutnya:

“Tentu saja kenal, keparat tua ini adalah tamu yang datang

menyambangi Wi goan kemarin, sungguh tak kusangka dia

adalah seorang manusia berhati keji, seorang komplotan dari

perampok berkerudung yang kejam itu, harap Suma sauhiap

jangan marah, kuperiksa orang ini dengan seteliti mungkin”

Sembari berkata dia berjalan mendekati Suma thian yu,

sementara sinar matanya memancarkan cahaya kebuasan

yang membuat anak muda itu terkesiap dan segera

menghimpun tenaganya bersiap siaga menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diinginkan

Kasihan kakek bertubuh kurus berhidung elang itu, dia

sudah jatuh tak sadarkan diri, mukanya pucat pasi seperti

mayat, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa

luka dalam yang dideritanya cukup parah.

Bi kun lun Siauw Wi goan telah berjalan menuju ke

hadapan Suma Thian yu, akan tetapi memandang keadaan si

kakek kurus yang kempas-kempis dengan lemah, dia segera

berseru sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kalau dilihat keadannya yang begitu lemah, agaknya tidak

enteng luka yang diderita olehnya, berarti jaraknya dengan

kematian pun tidak jauh, lebih baik dibunuh saja!”

Sudah barang tentu Suma Thian yu tak ingin memberi

kesempatan kepada Bi kun lun untuk menghilangkan saksi

hidup ini, baru saja dia berusaha untuk mencegah perbuatnya

itu, mendadak terasa cahaya perak berkelebat lewat lalu..

“Craaap!

Menanti Thian yu memeriksa kembali, di atas dada kakek

ceking itu sudah menancap sebatang peluru perak sepanjang

empat inci yang menembusi tubuh tersebut.

Atas peristiwa ini, Suma Thian yu menjadi teramat gusar, ia

lepaskan cekalannya terhadap kakek ceking itu kemudian

membalikkan tubuhnya.

Ternyata perbuatan tersebut hasil perbuatan dari tiga

orang perampok berkerudung yang lain, saat itu ketiga orang

perampok berkerudung tadi telah menggotong rekannya yang

terluka dan melarikan diri menuju kehutan.

Suma Thian yu tidak rela membiarkan kawanan penjahat

tersebut melarikan diri, tak sempat memberi kabar kepada Bi

kun lun lagi, dia segera menggerakan tubuhnya, bagai anak

panah yang terlepas dari busurnya, secepat kilat dia menyusul

dibelakang kawanan perampok berkerudung tersebut.

Melihat itu, Bi kun lan Siau Wi goan menjadi gelisah, buruburu

ia turut mengejar sambil berteriak:

“Suma siauhiap, harap tunggu sebentar.”

Namun Suma Thian yu berlagak seolah olah tidak

mendengar, malah dia mempercepat gerakan tubuhnya

menyusul sampai di tepi hutan.

Tapi ke empat perampok berkerudung tadi sudah melarikan

diri dan lenyap dari pandangan mata.

Sementara itu, Bi kun lun Siau Wi goan telah menyusul pula

ke situ, terdengar ia berkata:

“Suma Siauhiap, musuh yang kabur jangan dikejar, bila

mereka sampai terjatuh kembali ke tangan Wi goan

dikemudian hari, pasti akan kukuliti tubuhnya kemudian

kucincang badan nya”

Pelan-pelan Suma thian yu membalikan badannya lalu

menatap sekejap wajah Bi kun lun Siau Wi goan dengan wajah

diliputi hawa pembunuhan, ia sama sekali tidak terpengaruh

oleh ucapan mana. “Hmmm, terlalu keenakan kawanan

perampok tersebut gumamnya dingin, pokoknya selama Thian

yu masih dapat bernafas, pasti akan kubasmi kawanan

manusia laknat itu sampai akar-akarnya”

Kemudian setelah memandang sekejap ke lima ekor kuda

jempolan yang tertinggal disitu.

“Siauhiap, bagaimana kalau dari ke lima kuda jempolan

yang tertinggal ini Siauhiap hanya membawa pulang empat

ekor dan tinggalkan seekor untukku?”

Bi kun lun Siau Wi goan menjadi teramat gusar setelah

mendengar perkataan itu, dengan nada berat dia segera

menegur:

“Apa-apaan kau ini? Apakah kau mencurigai aku punya

hubungan dengan kawanan perampok berkerudung itu? Bila

siauhiap tetap tak bisa memahami kenyataan yang

sebenarnya, tindakanmu itu benar-benar tak bisa

dimaafkan….”

Suma thian yu berpaling dengan pandangan sinis lalu

tertawa dingin.

“Heeehh…heeeh…heeeh…aku rasa dihati masing-masing

sudah mempunyai pandangan sendiri, sekarang memang tak

perlu kau akui, toh suatu saat akan tiba juga saatnya untuk

membongkar semua rahasia ini”

Selesai berkata dia membalikkan badan dan segera berlalu

dari sana…

Sikapnya yang sinis dan memandang hina terhadap orang

lain ini, kontan saja membangkitkan rasa gusar yang membara

didalam hati Bi kun lun Siau Wi goan.

Tahukah apa sebabnya orang ini selalu bersabar dan

berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan secara

langsung dengan Suma Thian yu…?

Sebab dia kuatir jejak dan rahasianya ter bongkar, asal dia

bertarung melawan Suma thian yu, niscaya semua rahasianya

bakal terbongkar…

Sekalipun demikian, kesabaran orang ada batas-batasnya,

sindiran dan ejekan Suma thian yu yang dilontarkan berulang

kali membuat seorang manusia yang tak berperasaan akan

marah, apalagi orang itu adalah Bi kun lun Siau Wi goan

seorang pemimpin dunia persilatan dewasa ini?

Mendadak terdengar ia membentak penuh amarah:

“Berhenti!”

Tiba-tiba dia meloloskan pedangnya dari sarung, sorot

matanya tajam bagaikan sembilu, ketika pedang tersebut

digelarkan maka tampaklah getaran cahaya pedang dari ujung

senjata tersebut memancar keluar tiada hentinya.

Mendengar suara bentakan tersebut, Suma Thian yu segera

berhenti, apa lagi ketika mendengar suara lawan meloloskan

pedang, menggunakan kesempatan dikala bukannya

membalikkan diri, dia turut meloloskan pula pedang Kit hong

kiamnya.

Suasana menjadi tegang dan seram, kedua belah pihak

dengan senjata terhunus berdiri saling berhadapan dalam

jarak hanya sepuluh langkah belaka.

Sambil menggertak gigi menahan diri Bi kun lun Siau Wi

goan memaki dengan geramnya:

“Bocah keparat, kau kelewat menghina orang! Apakah kau

anggap Siau Wi goan adalah seorang manusia yang dapat

dihina dan dipermain kan seenak hatimu sendiri? Hari ini, bila

kau tidak memberi penjelasan yang terang, jangan harap bisa

pergi meninggalkan tempat ini!”

“Orang she Siau!” Suma Thian yu balas mengejek,

“kenyataan telah tertera didepan mata, apakah kau

bermaksud untuk menyangkal lagi? Jika kau ingin mengetahui

dengan jelas, ehmm, tak ada salahnya kuterangkan

kepadamu. Yang jauh tak usah dibicarakan, aku hanya ingin

tahu hari ini kau sebagai pemimpin dunia persilat an, apa lagi

dalam gedungmu terkumpul begitu banyak jago lihay,

mengapa sewaktu sauya dikepung kepung bangsat

berkerudung kau bisa muncul secara tiba-tiba untuk

membantu?”

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, kemudian

melanjutkan lebih jauh.

Kalau toh….kau berniat untuk membantu, mengapa kau

biarkan diriku disergap orang? Mengapa kau berpeluk tangan

belaka membiarkan kawanan manusia laknat itu melarikan

diri, bukan saja tidak mengejar, malahan membentak diriku

agar berhenti, apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu

sangat mencurigakan? Kini setelah menyaksikan anak buahmu

melakukan tindakan yang salah sehingga jejaknya ketahuan,

lagi-lagi kau membunuh orang untuk menghilangkan saksi,

bahkan terhadap perbuatan keji kawanan perampok

berkerudung itu pun kau tidak memberikan reaksi apa-apa,

bukankah kesemuanya ini semakin memperlihatkan jiwamu

yang memang sudah busuk? Hmmm, kau jangan menganggap

aku sebagai seorang bocah yang baru berusia tiga tahun,

jangan kau anggap semua perbuatanmu itu bisa mengelabuhi

diriku dan membuatku bodoh selalu!

Tatkala selesai mendengar perkataan tersebut, mendadak

Bi kun lun Siau Wi goan mendongakkan kepalanya dan

berteriak gusar, suara teriakan yang dipancarkan dengan

disertai tenaga yang sempurna itu kontan saja menggetarkan

seluruh penjuru dunia dan membuat daun serta ranting jatuh

berguguran keatas tanah.

Seusai berteriak dia berkata sambil tertawa dingin:

“Hanya berdasarkan beberapa persoalan yang tetek bengek

ini kau ingin menfitnah aku Siau wi goan? Bocah keparat,

mengapa kau tidak renggut sekalian selembar nyawaku?”

“Betul, betul, persoalannya sekarang adalah aku belum

berhasil mendapatkan bukti yang nyata!”

Bi kun Iun Siau wi goan semakin naik pitam sesudah

mendengar jawaban mana, teriaknya lagi:

Selama ini lohu tidak menganggapmu sebagai kawanan

percoleng, aku menerima dengan segelas kehormatan,

bersikap baik kepada mu, siapa sangka kau bocah keparat

ternyata hanya manusia yang tak tahu diri, kau telah

membalas kebaikanku dengan perbuatan keji. Baik lah untuk

memperpanjang umurku selama beberapa puluh tahun lagi,

lohu akan mengalah sepuluh jurus untukmu, begitu sepuluh

jurus sudah lewat, terpaksa harus dilihat bagaimanakah

nasibmu nanti”

Seandainya Suma Thian yu tidak mendengar perkataan itu,

keadaannya masih mendingan, begitu mendengar ucapan

mana, dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring,

ditatapnya Bi kun lun Siau Wi goan dengan sorot mata

setajam sembilu.

“Orang she Siau, kau betul-betul latah dan gila!” serunya

dengan suara lantang, kau hendak mengalah sepuluh jurus

untukku? Hmm kau anggap aku hanya seorang bocah cilik?

Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu berada diluar

gua tempo hari, apakah kau berhasil menangkan setengah

jurus dariku?”

Setelah keadaan berubah menjadi begini rupa, Suma thian

yu dipaksa untuk membuka kartu.

Kontan saja ucapan mana membuat Bi kun lun Siau Wi

goan menarik napas dingin, paras mukanya berbuat hebat,

tapi sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sediakala.

Hanya saja… kali ini selapis hawa napsu membunuh telah

menyelimuti seluruh wajahnya.

Sebetulnya Suma Thian yu berbicara demikian, tujuannya

adalah memancing reaksi dari Bi kun lun Siau Wi goan, begitu

menyaksikan musuhnya berubah muka, dia menjadi terang

dan mengerti, tak terlukiskan rasa gembira dalam hatinya

sekarang.

Sekali pun demikian, dia masih membutuhkan suatu bukti

yang nyata dan berada didepan mata sebelum anak muda

tersebut dapat membunuh Siau Wi goan. Orang bilang:

“Seorang Kuncu membalas dendam, tiga tahun pun belum

terhitung terlambat” kematian paman Wan yang begitu

mengenaskan hingga kini belum dapat diungkap olehnya

secara jelas, maka dia harus menahan diri dan bertindak

sangat berhati-hati, sebab sedikit salah melangkah, bisa jadi

dia akan dianggap musuh umum oleh umat persilatan.

Sebaliknya Bi kun lun Siau Wi goan sendiripun berperasaan

serba bertentangan, di samping dia ingin memperalat pemuda

ini, tetapi dipihak lain dia pun kuatir anak muda ini akan

merusak dan menghancurkan semua rencana yang telah

disusunnya selama ini.

Mumpung kini berada ditengah alas yang sepi dan tiada

manusia lain, apa salahnya kalau pemuda ini dibunuh saja

agar tidak menmbulkan bibit bencana dikemudian hari?

Berpikir sampai disitu, napsu membunuh yang berkobar

dalam dada Siau Wi goan makin menjadi, tampak dia maju ke

depan berapa langkah, lalu ujarnya:

“Bocah muda, lohu sudah hidup setua ini, namun belum

pernah dihina dan disindir orang dengan seenaknya seperti

saat ini, bila aku tidak meringkus kau pada hari ini, tentunya

kau anggap di dunia ini sudah tiada orang pan dai lagi!”

Suma Thian yu tertawa sinis.

“Hmmm, dengan kemampuan yang kau miliki itu, kau

hendak membereskan aku?”

Seraya berkata pedang Kit hong kiamnya diangkat sejajar

bahu, lalu tangan kananya bergerak ke atas, dengan jurus

Ciong liong jiu hay (naga sakti masuk ke laut) pedangnya

seperti seekor naga sakti menyodok jalan darah Ki kan hiat

ditubuh Bi kun lun.

Selama ini Bi kun lun Siau Wi goan mengawasi terus ujung

pedang lawannya, begitu menyaksikan ujung pedang tersebut

menusuk ke bawah teteknya, mendadak ia bergerak dan

melejit ke samping tambil berseru keras:

“Jurus pertama!”

Suma Thian yu menjadi amat gusar menyaksikan

musuhnya hanya menghindar tidak membalas, ia segera

menarik kembali pedangnya dan tidak melancarkan serangan

lagi.

Bi kun lun Siau Wi goan kelihatan agak tertegun tatkala

menyaksikan lawannya menarik kembali serangannya, dengan

perasaan tercengang bercampur gusar ia segera membentak.

“Kenapa kau? Bocah keparat, sudah dibikin ketakutan?”

Suma Thian yu mendengus dingin, setengah memaki

teriaknya.

“Orang she Siau, kau tak usah sombong dan berlagak sok,

dengan mengandalkan kemampuan yang kau miliki itu, masih

belum berhak bagimu untuk mengalah untukku, jika ingin

bertarung, hayolah kita bertarung secara blak-blakan dan

bertempur sampai titik darah penghabisan, kalu ingin bermain

pura-pura mah, hmmm, sauya tidak cocok denagn selera

permainan seperti itu!”

Bi kun lun Siau Wi goan kembali tertawa terkekeh-kekeh.

“Hehehehehe…. rupanya begitu, aku masih mengira kau

takut menghadapi diriku! Beginipun ada baiknya juga, aku

orang she Siau akan menyempurnakan keinginanmu itu….”

Ketika ucapan terakhir masih berada dibibir, Siau Wi goan

telah menggerakkan pedang nya dan menyerang dengan jurus

Ci kou thian bun (mengetuk langsung pintu langit), tampak

serentetan cahaya hijau meluncur kedepan dan menusuk

tubuh Suma Thian yu dengan kecepatan luar biasa.

Ditinjau dari gerakan tubuhnya ini, tidak sulit untuk

diketahui betapa cepat dan sempitnya jalan pikiran Bi kun lun

Siau Wi goan, dia hanya maunya mencari keuntungan belaka,

buktinya sementara pembicaraan masih berlangsung, ia sudah

menyergap orang secara tiba-tiba.

Kecuali berhadapan dengan seseorang yang berkepandaian

silat sangat lihay, biasanya cara menyergap semacam ini akan

menda-tangkan suatu hasil yang amat baik.

Untung saja kewaspadaan Suma Thian yu masih tetap

tinggi, sekalipun sedang berbicara namun ia telah bersiap

siaga menghadapi se gala kemungkinan yang tak diinginkan.

Selama menghadapi manusia licik macam Bi kun lun Siau

Wi goan, orang memang selalu berprinsip “meski manusia tak

berniat melukai harimau, harimau justru ada niat melukai

manusia”.

Maka begitu pedang Siau Wi goan menusuk datang, dia

lantas berteriak lantang:

“Sebuah serangan yang amat bagus!”

Mendadak ia membalikan tangannya mainkan jurus Long

kian sin ciau (ombak menggulung ular sakti).

Pedang Kit hong kiamnya seperti segulung ombak dahsyat

langsung menyapu kedepan dan mengetarkan pedang Bi kun

lun Siau Wi goan sehingga tergetar dari posisi semula.

Menyusul kemudian pedangnya berubah menjadi gerakan

Im liong tham jiau (naga yang mementangkan cakar)

langsung mencengkeram jalan darah kit hou hiat diatas

tenggorokan Bi kun lun.

Bagi seorang jago silat, begitu serangan dilancarkan maka

akan diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak. Serangan

Suma thian yu didalam menghadapi ancaman bahaya ini

betul-betul amat hebat, bukan setiap jago silat yang

mempergunakannya dengan sempurna.

Bi kun lun Siau Wi goan cukup mengetahui mutu suatu

serangan, sebagai pemimpin dunia persilatan, tentu saja ia

enggan menerima kerugian yang berada didepan mata.

Menyaksikan kejadian tersebut, buru-buru dia menarik

kembali pedangnya untuk mengutamakan keselamatan

sendiri, setelah itu teriaknya dengan perasaan terkejut!

“Aaaah, ilmu pedang kit hong kiam hoat!”

Sementara berseru, tubuhnya telah melepaskan diri dari

kurungan kabut pedang yang dipancarkan oleh Suma thian yu,

siapa tahu Suma Thian yu memang berhasrat memberi

pelajaran yang setimpal untuk Bi kun lun sehingga ia tahu diri.

Tiba-tiba ia berpekik nyaring, pedang Kit hong kiamnya

diputar menciptakan selapis bayangan pedang yang

memenuhi angkasa, bagaikan benduangan sungai Huang ho

yang jebol, dengan amat dahsyatnya langsung mengurung

ketubuh Siau Wi goan.

Bagi jago lihay yang bertarung, yang menjadi pantangan

terbesar adalah memecahkan perhatian.

Bi kun lun Siau Wi goan menjerit kaget, hawa murninya

yang terkumpul segera membuyar sebagian besar, ditambah

pula Suma thian yu dengan serangan berantainya, ia kena di

desak sampai mundur terus berulang kali.

Sekilas pandangan ia seperti didesak mundur, padahal ia

justru manfaatkan kesemppatan tersebut untuk menghimpun

kembali hawa murninya disamping mencari titik kelemahan di

tubuh Suma Thian yu sehingga dapat mempersiapkan

serangan balasan yang mematikan”

Begitu turun tangan Suma Thian yu berhasil mendesak

mundur seorang jago silat yang memimpin dunia persilatan

dewasa ini, semangat bertarungnya segera berkobar, ia

berpekik berulang kali lalu pedang Kit hong kiamnya dengan

jurus Liong teng kiu siau (naga melompat kelangit sembilan)

ia langsung menggorok tengkuk Bi kun lun.

Mendadak Bi kun lun Siau goan melejit ke udara dengan

gerakan elang raksasa menentang sayap, pedangnya berputar

secepat kilat dengan jurus Ceng lui kan hong (guntur bergetar

angin terbendung) dia lepaskan serangan balasan untuk

menyongsong datangnya ancaman tersebut.

“Traaang!” ketika sepasang pedang saling bertemu

ditengah udara, terdengarlah suatu benturan nyaring yang

memekakkan telinga, akibatnya kedua orang itu sama-sama

terdorong mundur sejauh satu langkah.

Bi kun lun Siau Wi goan yang lihay, tidak menggubris

apakah senjatanya cedera atau tidak, dia menerjang lagi

kedepan melakukan tubrukan, dengan jurus Cuan im si gwat

(menembusi awan mengejar rembulan) dengan membawa

desingan angin serangan yang tajam ia langsung menusuk

jalan darah Tham tiouw hiat di bagian tengah dada antara

kedua tetek Suma Thian yu…..

Sudah barang tentu Suma Thian yu tak berani

mengendorkan perhatiannya dalam menghadapi ancaman

tersebut, buru-buru dia me ngembangkan permainan ilmu

pedang Kit hong kiam hoat ajaran paman Wan nya untuk

melayani serangan musuh.

Begitulah, sebentar kedua orang itu bergu mul menjadi

satu, sebentar lagi berpisah, situasi pertarungan yang

berlangsung kian lama kian bertambah seru, keadaannya

benar-benar sangat mengerikan.

Kedua orang ini, yang satu adalah pendekar besar dari

golongan putih dan hitam sedangkan yang lain adalah seorang

pendekar yang baru muncul di dunia persilatan, pertarungan

yang kemudian berkobar sungguh menggetarkan sukma setiap

orang.

Pertarungan sengit macam ini sulit dijumpai dalam dunia

persilatan, kedua orang itu sama-sama mengeluarkan pelbagai

jurus simpanan-nya untuk berusaha membunuh lawannya.

Sementara itu Bi kun lun Wi goan makin bertempur makin

terkejut, dia cukup mengetahui akan kelihayan ilmu pedang kit

hong kiam hoat tersebut, sewaktu kit hong kiam kek Wan

liang masih termashur dikolong langit dulu, dia pernah

bersahabat karib dengan Bi kun lun Wi goan, mereka sering

berkelana bersama sehingga kedua belah pihak sama-sama

mengetahui keunggulan dan kelemahan lawan-nya.

Tapi kini permainan pedang Kit hong kiam hoat dari Suma

thian yu berbeda dengan permainan yang pernah dilakukan

Wan liang dahulu, tak heran kalau Siau WI goan dibikin

terperanjat sekali.

Kalau dilihat dari gerakan tubuh Suma Thian yu, nampak

kalau permainan itu ajaran dari Kit hong kiam kek Wan Liang,

tapi yang berbeda adalah tenaga dalamnya justru setingkat

masih diatas kemampuan Wan Liang pribadi….

Kejadian ini sama artinya dengan Wan Liang telah muncui

kembali di dalam dunia persilatan.

Sementara ingatan mana melintas dalam benak Bi kun lun

Siau Wi goan, sambil bertarung ia pun bertanya:

“Apa hubunganmu dengan Wan Liang? Cepat katakan!”

“Guruku!” jawab Suma Thian yu singkat.

Suma Thian yu memang sengaja membohonginya,

sekalipun dikatakan Wan Liang adalah gurunya juga tak salah,

memang ilmu pedang kit hong kiam hoat tersebut didapatkan

dengan cara mencuri belajar, namun yang dia pelajari toh ilmu

dari Kit hong kiam kek Wan Liang.

Siapa tahu Bi kun lun Siau Wi goan segera tertawa nyaring

sesudah mendengar perkataan itu, sambil melompat keluar

dari arena pertarungan, serunya cepat:

“Mengapa tidak kau terangkan semenjak tadi?”

“Sekalipun kukatakann, apa gunanya?”, melihat orang itu

melompat keluar dari arena, Suma Thian yu segera berniat

untuk menghadapi siasat lawan dengan siasat pula.

Terdengar Bi kun lun Siau Wi goan tertawa terbahakbahak.

“Haah…haaah…haaah…apakah gurumu berada dalam

keadaan baik-baik?”

Sebelumnya Suma Thian yu hendak mengatakan kalau

gurunya telah meninggal dunia, tapi ingatan lain segera

melintas dalam benaknya, dia merasa tak perlu berbicara

sejujurnya menghadapi manusia licik seperti itu.

Maka sahutnya kemudian dengan lantang:

“Berkat kemurahan Thian, Beliau berada dalam keadaan

sehat wal’afiat seperti sedia kala!”

Bi kun lun Siau Wi goan segera memperlihatkan sikap

seakan-akan merasa gembira sekali.

“Apakah dia pernah menyinggung tentang aku?” tanyanya.

“Ehmm… ” Suma Thian yu hanya mengiakan saja.

“Apa yang dia katakan?” Siau Wi goan seperti ingin

mengetahui sejelas-jelasnya, ia lan tas menunjukkan sikap

seakan-akan sangat ramah.

Suma Thian yu berlagak serius, jawabnya:

“Setiap kali dia orang tua menyinggung tentang kau, dia

pasti akan mencaci maki dirimu kalang kabut, dikatakan kau

adalah iblis paling keji yang ada didunia ini! Dikatakan pula

binimu yang tak tahu malu itu adalah seorang perempuan

jalang yang kebusukan hatinya melebihi ular berbisa!”

Mimpipun Bi kun lun Siau Wi goan tidak menyangka kalau

Suma Thian yu dapat mengucapkan kata-kata makian sekeji

ini, kontan saja amarahnya memuncak, dengan mata melotot

besar dan menggertak gigi menahan diri, bentaknya keraskeras:

“Bocah keparat! Kalau ingin berbicara, sedikitlah tahu diri,

apakah kau sudah bosan hidup?”

Kembali dia menerjang ke muka, pedangnya diayunkan

kedepan melepaskan serangan lagi dengan jurus Han Bwee tu

luan (Bunga BWee mengeluarkan sari) dia tusuk dada Suma

Thian yu.

Mencorong sinar tajam dari balik mata anak muda itu, dia

membentak pendek, langkah Ciok tiong luan poh ajaran Siau

yau kay Wi Kian segera digunakan, tampak ujung baju

terhembus angin, tahu-tahu dia sudah menyelinap ke

belakang punggung Bi kun lun, sementara pedang Kit Hong

kiamnya bagaikan cahaya pelangi menusuk jalan darah Ki tong

hiat di belakang punggung lawan.

Kemarahan Suma Thian yu telah memuncak dia merasa

bukan cara yang tepat untuk mengulur waktu dengan manusia

semacam ini karena itu serangan yang kemudian di lancarkan

langung ditujukan kebagian mematikan ditubuh lawan.

Begitu Suma Thian yu gunakan ilmu gerakan tubuh Cok

liong luan poh, gerakan tubuhnya menjadi bertambah cepat,

menanti Bi kun lun Siau Wi goan menjumpai bayangan tubuh

Suma Thian yu telah lenyap dari pandangan dan hawa dingin

dari tusukan pedang sudah tiba dipunggungnya, dia baru

menjerit kaget.

“Mati aku kali ini!”

Dengan sedapat mungkin dia menerjang maju kemuka,

maksudnya adalah mencari kesempatan hidup ditengah

keputus asaan.

Tapi Suma Thian yu mengikuti terus bagaikan bayangan,

ujung pedangnya sudah menempel diatas bajunya.

Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara

bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan.

Sesosok bayangan tubuh yang bergerak cepat, dengan

membawa segulung tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan

angin puyuh langsung membacok Giok seng kun dibelakang

benak Suma Thian yu, sungguh dahsyat dan mengeri kan

sekali ancaman mana.

Suma thian yu merasa terperanjat sekali, ia tahu bila

pedangnya dilanjutkan penusukan-nya kedepan, niscaya Bi

kun lun Siau Wi goan tewas diujung pedangnya, akan tetapi

sebagai resikonya diapun akan terhajar mati oleh serangan

yang datangnya dari arah belakang itu. Berada dalam keadaan

seperti ini, terpaksa dia harus mengutamakan keselamatan

sendiri lebih dulu, kemudian baru soal membalas dendam.

Cepat-cepat pedangnya ditarik kembali, kemudian kakinya

bergeser dan sekali berkelebat ia sudah melompat keluar dari

arena pertempuran. Atas kejadian mana, Bi kun lun Siau Wi

goan segera lolos dari lubang jarum kematian, selembar

jiwanya berhasil diseret keluar dari dalam neraka. Disaat Suma

Thian yu berdiri tegak, ia saksikan ditengah arena bertambah

dengan seorang pemuda berbaju hijau, orang itu adalah Cun

gan siu cay Si Kok seng. Sambil tertawa Suma Thian yu

berseru:

“Oh, rupanya saudara Si, sungguh hebat tenaga

pukulanmu, nyaris batang leherku kena kau tebas kutung!”

Sambil tersenyum buru-buru Cun gan siacay Si Kok seng

menjura dan meminta maaf, katanya:

“Bilamana siaute telah bertindak ceroboh harap saudara

Suma sudi memaafkan!”

Kemudian sambil berpaling kearah Bi lun lun Sau Wi goan,

ia berkata pula:

“Kalian berdua adalah sama-sama orang sendiri mengapa

harus saling bertarung?”

Bi kun lun Siau Wi goan tidak mengucapkan barang sepalah

katapun, mendadak dia membalikan badan dan berlalu dari

sana.

Memandang bayangan punggung Bi kun lun Siau Wi goan

yang menjauh, Cun gan siucay Si Kok seng menggelengkan

kepala sambil menghela napas panjang, kepada Suma Thian

yu katanya:

“Tabiat orang itu memang sangat aneh, saudara Suma,

buat apa kau mesti ribut dengannya?

Suma Thian yu tidak menggubris ucapan mana, waktu itu

dia sedang berdiri dengan pelba gai persoalan berkecamuk

didalam benaknya.

Apa yang barusan dikatakan Si kok seng, pada hakekatnya

sama sekali taterdengar olehnya…

Pelan-pelan Cun gan siucay Si Kok Seng mendekati Suma

Thian yu, lalu dengan sikap yang menghormat tanyanya.

“Saudara Suma, kau masih marah kepadaku?” Suma Thian yu

berseru tertahan, buru-bu sahutnya dengan nada minta maaf:

“Tidak, tidak…! Aku sedang memikirkan suatu persoalan

…”

“Persoalan apakah itu? Bolehkah diberitahukan kepadaku?”

Si Kok seng bertanya lebih jauh.

“Tolong tanya bagaimanakah hubungan saudara Si dengan

Siau tayhiap….?

“Soal ini…kami hanya pernah berjumpa beberapa kali saja,

buat apa kau menanyakan tentang soal ini?”

“Bagaimana watak orang itu?”

Sambil bertanya, kali ini Suma thian yu memperhatikan

perubahan wajah dan sikap Cun gan siaucay Si kok seng.

Cun gan siucay Si Kok seng termenung dan

mempertimbangkannya sejenak, setelah itu baru sahutnya.

“Menurut hasil pengamatan siaute selama banyak waktu,

aku rasa dia adalah se orang yang jujur, periang, suka

berteman, ramah dan rendah diri, satu satunya kejelekan yang

dimiliki adalah wataknya yang berangasan, saudara Suma, kau

bertanya begini teliti tentang dirinya apakah kau menaruh

curiga terhadap orang itu?”

Ketika mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa Suma

Thian yu melirik dan memperhatikan beberapa kejap Cun gan

siau cay Si Kok seng, melihat wajah orang itu menunjukkan

kejujuran, dia pun menyahut dengan suara hambar:

“Ooh, tidak apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja.”

“Saudara Suma, aku lihat belum tentu demikian, apakah

kau mempunyai suatu rahasia yang sulit dibicarakan?

Walaupun kita baru bersahabat beberapa hari, sesungguhnya

kita merasa saling mencocoki satu sama yang lainnya, anggap

saja diriku sebagai saudara sendiri, bila kau mempunyai

kesulitan, utarakan kepada ku, asal siauje sanggup

membantumu, sudah pasti akan kubantu dirinu dengan sekuat

tenaga”

“Aaah, tidak apa-apa” Suma Thian yu menyangkal berulang

kali, “terima kasih banyak atas perhatian saudara Si,

kebaikanmu itu tak akan kulupakan untuk selamanya…”

Cun gan siaucay Si Kok seng mengerti, sekalipun

ditanyakan lebih jauh juga tak bakal mendapatkan suatu

hasilpun, maka diapun mengalihkan pokok pembicaraan ke

soal lain, tanyanya:

“Saudara Suma, kau bermaksud hendak kemana?”

“Aku mengembara tak menentu, empat samudra sebagai

rumahku, dan kau…?”

“Sama saja, bila ksu tak keberatan, bagaimana kalau

kudampingi dirimu sepanjang perjalanan?”

“Akan kusambut dengan senang hati” jawab Suma thian yu

ringkas.

Maka berjalanlah kedua orang itu menuruni bukit.

Sepanjang jalan Cun gan Siucay Si Kok seng seperti ada

maksud untuk membaiki anak muda tersebut, semua

pembicaraannya amat santai dan persoalan apapun

dibicarakan.

Setiap kali melalui suatu tempat, dia pasti menerangkan

riwayat jago yang bercokol di sana serta keadaan daerah

disekitarnya, diantaranya dia pun membicarakan pula sedikit

tentang sembilan partai besar dan beberapa orang jago yang

menonjol dari golongan rimba hijau.

Tapi ada satu hal yang tak pernah dibicira kan Cun gan

siucay selama ini, yakni asal usul serta perguruannya.

Setiap kali Suma Thian yu menanyakan soal ini, Cun gan

siucay Si Kok seng selalu menye lamurkan dengan masalah

lain, akibatnya lama kelamaan hal ini menimbulkan kecurigaan

di dalam hati Suma Thian yu, oleh karena itu Suma Thian yu

sendiripun selalu menghindarkan diri bila berbicara soal

riwayat hidupnya serta tanggung jawab serta tugas yang

terbeban di atas bahunya…

Hari itu mereka berdua tiba di kota Siau Kwan, hari sudah

gelap dan burung terbang kembali ke sarangnya, suasana

remang mendatangkan perasaan murung bagi siapa pun.

Dari kejahuan mereka berdua menyaksikan munculnya

sebuah dusun dengan asap yang mengepul, tanpa terasa

Suma Thian yu teringat kembali akan pemandangan yang

mengerikan dari perkampungan yang anggota keluarganya

dibantai tempo hari, sehingga tanpa terasa dia

menghembuskan napas panjang…

Dengan perasaan ingin tahu, terdengar Cun gan Siucay Si

kok seng segera bertanya:

“Saudara Suma, mengapa kau menghela napas? Kulihat

sepanjang jalan kau selalu berkeluh kesah, apakah dalam

hatimu terdapat ke

murungan dan kesedihan yang tak terungkapkan?”

“Tidak, aku hanya teringat akan suatu peristiwa berdarah

yang mengerikan sekali…” jawab Suma Thian yu sambil

menggeleng.

“Peristiwa apa sih yang begitu kau risaukan?”

Suma Thian yu menuding perkampungan di depan sana,

lalu menjawab:

“Perkampungan itu telah memancing luapan perasaanku,

karena disanalah kusaksikan suatu adegan pembunuhan yang

mengerikan sekali.”

Secara ringkas dia lantas menceritakan apa saja yang telah

disaksikan olehnya dalam per kampungan mana kepada Cun

gan Siaucay Si Kok seng, diantaranya dia sempat mencaci

maki pula perbuatan biadab dari kawanan perampok

berkerudung itu.

Mendengar penuturan mana, parat muka Cun gan siaucay

Si Kok seng berubah hebat, ia me mandang ke tempat

kejauhan, lalu pelan-pelan berkata:

“Ooooh….rupanya begitu, tak heran kalau malam itu kau

menanyakan soal mutiara, rupa nya kau mencurigai perbuatan

tersebut dilaku kan oleh Siau tayhiap?”

“Benar! Hingga kini aku masih mencurigai pembunuh keji

itu adalah Siau Wi goan”

Berbicara sampai disitu, Suma Thian yu segera

memperhatikan wajah Si Kok seng lekat-lekat, sebab

tujuannya berkata demikian memang ingin mengetahui reaksi

lawan.

Cun gan Siucay Si Kok seng termenung beberapa saat

lamanya, kemudian baru berkata:

“Seandainya kalau perbuatan terkutuk ini dilakukan olehnya

aku pasti akan membabalaskan dendam bagi sukma

penasaran yang tewas dalam perampungan tersebut. Suma

heng, bila kau dapat memberitahukan keadaan waktu itu

dengan lebih jelas, hal mana akan lebih baik” Berbicara

sampai disitu, dia lantas menunjuk kan wajah marah, alis

matanya berkenyit dan menggertak gigi menahan emosi.

Semenjak kecil Suma Thian yu sudah hidup ditengah

gunung yang jauh dari keramaian dunia, segala macam

kelicikan dan kebusukkan manunia masih asing baginya, maka

setelah merasakan ucapan Si Kok seng yang gagah perkasa

itu, ia dibuat terharu sampai tak sanggup mengucapkan

sepatah katapun.

Dengan cepatnya pula segala macam kecurigaan yang

semula dilimpahkan atas diri Si Kok seng, seketika lenyap

sebagian besar,

bahkan menyesal telah mencurigai rekannya itu.

Cun gan siaucay Si Kok seng mengikuti terus perubahan

sikap lawannya secara diam-diam, setelah mengetahui

perubahan dari orang itu, diam-diam ia tertawa geli, ia merasa

menang, permainan caturnya telah berhasil menguasai posisi

yang strategis, itu berarti usahanya untuk mengendalikan

Suma Thian yu dikemudian hari akan berjalan lebih mudah,

hingga tugas yang dibebankan kepadanya pun bisa dilaksana

kan dan tercapai pada apa yang diharapkan.

Begitulah, mereka berdua telah memasuki kota Siau kwan

dan mencari sebuah rumah makan yang kecil ditepi jalan.

Sepanjang perjalanan kedua orang itu sudah merasa lapar,

maka tanpa dibilang mereka ber dua sama-sama membelok

kedalam rumah makan tersebut.

Baru saja melangkah masuk kedalam pintu, dari balik

ruangan berjalan keluar dua orang manusia, ketika empat

orang saling bersua, masing-masing mundur selangkah

dengan ter peranjat.

Ketika mendongakkan kepalanya Suma Thian yu segera

mengenali orang itu sebagai Thi pit suseng (sastrawan

berpena baja) Thi bersaudara. Tak terasa lagi dia segera

berteriak gembira.

“Ooeh…rupanya saudara Thia, hidup manusia memang

sering bertemu dilain tempat, meng apa kalian berdua bisa

muncul disini?”

Ketika Thi pit suseng Thia Cuau melihat orang itu adalah

Suma Tbian yu, diapun segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah… haaahh….haaahh….kami belum lama tiba disini,

eeeh..bukankah kau pergi keperusahaan Sin liong piaukiok?

Mengapa bisa muncul dikota jelek dan sepi seperti ini?”

“Tapi… panjang sekali untuk diceritakan” sahut Suma Thian

yu sambil menghela napas, “tempat ini bukan tempat yang

cocok untuk ber bincang-bincang, bila Thia toako tak ada

urusan penting, bagaimana kalau kita duduk kembali sambil

berbicara?”

“Begitupun baik juga!” berbicara sampai disitu, Thi pit

suseng Thia Cuan segera mengalihkan sorot matanya kearah

adiknya.

Tuan im siancu Thia Yong tertawa manis hingga kelihatan

dua baris giginya yang putih, nampak dia manggut-manggut.

“Duduk sebentar lagipun tak ada salahnya”

Maka mereka berempat masuk kembali kedalam rumah

makan.

Oleh Suma Thian yu, Cun gan siucay Si Kok seng segera

diperkenalkan kepada Thia bersaudara.

Sedangkan Cu gan Siucay segera menaruh kesan yang baik

begitu berjumpa Toan im sian cu dalam pandangan yang

pertama.

Untuk memperlihatkan sikapnya yang hangat, dia segera

memaksakan diri untuk mentraktir, ia memanggil pelayan dan

memesan sayur yang mahal harganya.

Tentu saja dalam rumah makan sederhana semacam ini,

tak mungkin bisa menyiapkan sayur yang mahal harganya itu.

Padahal Cun gan siucay Si Kok seng berbuat demikian

bukan bermaksud untuk memperli hatkan kedudukannya saja.

Thi pit suseng Thia Cuan merasa tidak sabar menyaksikan

kejadian tersebut, segera selanya:

“Sudahlah, hantar saja beberapa macam sayur seadanya!”

Pemilik warung itu adalah seorang kakek berambut putih,

dia segera mengiakan berulang kali, kemudian tanyanya:

“Apakah perlu arak?” “Tentu saja” sahut Cun gan siucay Si

Kok seng lagi, “asal ada arak bagus yang berumur sepuluh

tahun keatas, boleh bawa kemari!”

Pemilik warung itu mengiakan berulang kali dan segera

berlalu dari situ.

Menanti pemilik warung itu sudab berlalu, Cun gan Siucay

Si Kok seng baru berpaling dan ujarnya kepada Toan im

siancu Thia Yong sambil tertawa:

“Nona Thia sudah terbiasa dengan hidangan disini?”

“Bagus sekali” jawab Toan im siancu Thia Yong tersenyum

hingga nampak sepasang lesung pipinya yang manis.

Menyaksikan senyuman si nona, Cun gan sisucay Si Kok

seng segera merasakan jantung nya berdebar keras, ia seperti

merasa mendapat berkah yang tak ternilai harganya,

Thit pit suseng Thia Cuan merasa sangat tak puas

menyaksikan kejadian itu, dia merasa pemuda ini licik dan

tidak jujur, suka merayu dan tidak setia, akan tetapi

berhubung orang itu adalah rekan seperjalanan Suma Thian

yu maka iapun merasa sungkan untuk mengumbar

amarahnya.

Perjamuan itu berlangsung sangat meriah, sepanjang

perjamuan Suma Thian yu lebih ba nyak berbincang bincangdengan

Thi pit su seng Thia Cuan daripada dengan lainnya.

Sedangkan Cun gun siaucay Si Kok seng dengan taktik

merayunya berbicara tiada henti nya dengan Toan im siancu

Thia Yong, dia bertanya ini itu tiada habisnya membuat si

nona kadangkala merasa bosan dan muak…

Akan tetapi, setiap Kali Toan im siancu mencari

kesempatan untuk mengajak Suma Thian yu berbicara, dia

selalu dibuat sakit hati oleh jawaban sang pemuda yang amat

tajam.

Dasar watak kaum gadis memang keras kepala dan ingin

menang sendiri, ditimbang jalan pikirannya sempit, apa yang

hendak di kerjakan selalu berusaha mencapai sukses, kalau

tidak maka dia akan berjalan sebaliknya meski tahu kalau

jalan itu salah.

Itulah sebabnya, kendatipun Thia Yong merasa muak dan

bosan berbincang-bincang dengan Cun gan siaucay Si Kok

seng, namun untuk memenuhi tuntutan pembalasan

dendamnya terhadap Suma Thian yu, ia harus menyabar kan

diri dan melayani pertanyaan Si Kok seng dengan sikap

berpura-pura hangat…..

Di dalam perkiraannya semula, cara terse but pasti akan

memancing rasa cemburu dan perhatian dari Suma Thian yu,

siapa tahu pe muda itu berlagak seakan- akan tidak

melihatnya, bahkan berbincang-bincang dengan asyik nya…

Menyaksikan rencana dan usahanya mengalami kegagalan

total, Toan im siatcu Thia Yong merasakan hatinya hancur

lebur, mendadak ia menggebrak meja dan bangku berdiri.

“Aku akan pergi dulu!” teriaknya keras-keras. Oleh tindakan

yang amat mendadak dari si nona, tiga orang lain-nya merasa

amat terperanjat.

Padahal waktu itu Cun gan siaucay Si Kok seng sedang

berbicara dengan asyik, sekali, tidak menyangka kalau gadis

itu bakal bertindak seperti ini, kontan saja pemuda itu dibuat

ter tegun dan memandang wajahnya kebingungan, ia tak

habis mengerti didalam hal apakah dia telah melakukan

kesalahan terhadap gadis itu.

Padahai Suma Thian yu sendiripun berpendapat demikian,

dia memandang wajah Toan im siancu Thia Yong dengan

sikap tertegun, tindakan si nona yang amat tiba-tiba ini benarbenar

tidak dipahami olehnya.

Thi pit suseng Thia Cuan paling memahami tabiat dari

adiknya ini, apalagi sejak kecil dialah yang merawat adiknya

ini, maka semua tindak tanduknya Thia Cuan yang paling me

mahami.

Tampak dia turut bangkit berdiri, lalu ter tawa terbabakbahak.

“Haaah…haah…haah… baik, berangkat…..”

Berangkat, memang waktu sudah tidak pagi, kita masih

harus berangkat ke kota San tin untuk mencari penginapan”

Keempat orang itu berangkat meninggalkan warung dan

masing-masing mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang

sempurna berangkat menuju kekota San tin dengan cepat.

Sepanjang jalan, Cun gan siucay Si Kok seng ada niat untuk

memperlihatkan kebolehannya dia selalu memimpin di paling

muka bahkan kerap kali berpaling dan berseru kepada tiga

orang rekannya agar berjalan lebih cepat.

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam

merasa geli, tanpa terasa dia pun memandang rendah diri Si

Kok seng.

Semenjak Thi pit suseng Thia Cuan berjumpa dengan Suma

Thian yu, dia seperti telah menemukan teman yang mencocoki

hatinya saja, sepanjang jalan selalu berada disampingnya

bahkan berbincang dan bergurau dengan amat leluasa.

Pada saat itulah Thi pit suseng berbisik kepada Suma thian

yu:

“Suma hiante, bagamanakah hubungan persahabatanmu

dengan Si Kong seng?”

xXx

“TAK BISA dibilang sangat akrab” jawab Suma Thian yu,

“kami hanya bertemu secara kebetulan, untuk mengurangi

kesepian sepanjang jalan maka kami memutuskan untuk

melakukan perjalanan bersama

“Ooooh…Thi pit suseng Thia Cuan mengiakan, lalu

membisiknya, “orang ini tidak jujur dan berjiwa munafik,

sudah pasti bukan manusia baik-baik, hiante, kau harus selalu

waspada dan bersiap-siap siaga menghadapi segala

kemungkinan yang tak diinginkan

“Siaute pun berpendapat demikian” Suma Thian yu

manggut-mauggut, “terutama sekali atas riwayat dan asal

usulnya, hingga kini ma sih menjadi sebuah tanda tanya

besar”.

Sambil melanjutkan perjalanan, secara ring kas dia lantas

mengisahkan perkenalannya dengan Si Kok seng.

Thi pit suseng Thia Cuan hanya membungkam diri dalam

seriba bahasa, sorot matanya yang memandang kaku

kedepan, lalu mempercepat langkahnya dan menyusul

dibelakang Cun pan siaucay Si Kok seng dengan ketat.

Setelah melalui sebuah hutan yang lebat, sampailah

mereka di kota Han san tin.

Can gan siucay Si Kok seng yang berlarian kencang didepan

mendadak menghentikan ge rakan tubuhnya, lalu sambil

berpaling kearah tiga orang dibelakangnya dia berkata:

“Untuk menyingkat jalan, bagaimana jika kita menembusi

hutan lebat di depan sana?”

Thi pit suseng Thia Cian buru-buru meng goyangkan

tangannya mencegah:

“Jangan, jangan, siapa yang sudah bosan hidup, dialah

yang akan menembusi hutan lebat itu”.

Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu segera

bertanya dengan wajah tercengang:

“Apakah di dalam hutan itu terdapat ancaman bahaya yang

amat besar…?”

“Selama sepuluh tahun terakhir ini, setiap orang yang

hendak pergi ke Kota Han san tin dari Siau kwan, pasti akan

melingkari hutan lebat ini, mengenai apa sebabnya aku kurang

begitu tahu.”

Cu gan siucay Si Kok seng yang berada didepan, segera

tertawa terbahak-bahak sesudah mendengar ucapan itu,

katanya:

“Benarkah ada kejadian seperti ini? Aku orang she Si

justeru tak percaya dengan segala tahayul!”

Sambil berkata dia membalikkan badan dan meninggalkan

jalan raya umuk lari ke arah hutan lebat itu.

Toan im siancu Thia Yong ada maksud untuk memanasi

hati Suma Thian yu, ia segera mem buat muka setan kepada

kakaknya dan anak muda itu, kemudian setelah mendengus

dingin katanya:

“Hmmm…..aku tak sudi menjadi pengecut macam kalian

berdua!”

Selesai berkata dia menyusul di belakang Cun gan siucay Si

Kok seng dan lari menuju kearah hutan.

Melihat adiknya mengumbar napsu, Thi pit suseng menjadi

sangat gelisah, segera teriaknya:

“Adik Yong! Kembali, adik Yong…. “

Belum habis dia berseru, mendadak…..

Dari arah depan sana terdengar Cun gan siau cay Si Kok

seng menjerit kaget dan melompat mundur kebelakang,

disusul Toan im siancu Thia Yong menjerit kaget pula sambil

menyingkir kesamping.

Thi pit suseng Thia Cuan dan Suma Thian yu merasa amat

terperanjat setelah mendengar suara jeritan itu, serentak

mereka meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tiba dihadapan Cun gan siucay Si Kok seng, apa yang

kemudian terlihat membuat kedua orang itu mundur

selangkah dengan paras muka berubah hebat.

Ternyata mereka menyaksikan sebuah tugu disisi hutan…

sebuah tugu peringatan yang terbuat dari tulang-tulang

tengkorak manusia, diatas tugu itu terlukiskan:

“Kembali! Maju lebih kemuka berani mati” Ketujuh huruf itu

amat besar dan semuanya tersusun oleh tulang manusia yang

memutih.

Sesudah hilang rasa kagetnya, dengan mendongkol Cun

gan siucay Si Kok seng meludah, teriaknya.

“Manusia jadah dari manakah yang berani menggunakan

benda-benda semacam itu untuk menakut-nakuti aku? Hmm,

aku Si Kok seng justru ingin mencobanya…”

Nama Si Kok seng yang diucapkan terakhir sengaja

diucapkan dengan sangat nyaring.

Begitu selesai berkata, mendadak telapak tangannya

diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yang sangat

dahsyat dengan cepat meluncur kedepan.

“Braaak…!” susunan tugu yang terbuat dari tulang belulang

itu segera hancur berantakan dan berserakan diatas tanah.

Thi pit suseng Thia Cuan merasa amat terperanjat setelah

menyaksikan kejadian ini, baru saja ia hendak mencegah

perbuatan mana, tugu tulang belulang itu sudah hancur

remuk, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, ia sadar

bakal celaka.

Selang beberapa saat mereka menanti, namun suasana

dalam hutan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit

suarapun.

Kenyataan ini membuat Si Kok seng makin takabur, buruburu

serunya kepada tiga orang yang lain:

“Serbu saja! Mari kita langsung menyerbu kedalam hutan

tersebut!”

Selesai berkata dia lantas berjalan paling depan memasuki

hutan itu, di susul oleh Toan im siancu.

Thi pit suseng kuatir adiknya menjumpai mara bahaya,

maka dia lantas mengajak Suma Thian yu menyusul dipaling

belakang.

Baru saja ke empat orang itu memasuki hutan, mendadak

terdengar suara tertawa dingin yang mengerikan

berkumandang memecahkan keheningan, disusul kemudian

suara pekikan aneh muncul dari empat penjuru dan

menggema diseluruh hutan.

Thi pit suseng Thia Cuan sudah berpengalaman didalam

menghadapi beratus-ratus kali pertarungan, pengalamannya

luas sekali, begi tu menyaksikan suasana gelap yang

menyelimuti hutan tersebut, ia sudah mendapat firasat jelek,

apa lagi setelah mendengar suara pekik kan aneh itu, tanpa

terasa bulu kuduknya bangun berdiri.

Buru-buru teriaknya dengan suara keras:

“Si siauhiap, jangan bertindak gegabah, kau harus berhatihati….”

Sembari berkata dia lantas melayang kesamping adiknya

Toan im siancu dan diam-diam bersiap siaga menghadapi

segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Mendadak terdengar Cun gan siucay Si Kok seng menjerit

kaget, suara kaget itu berasal dari lima kaki dihadapan

mereka.

Suma Thian yu yang pertama-tama menerjang kedepan

setelah mendengar seruan kaget itu, dengan suatu gerakan

yang cepat dia

melayang turun diatas tubuh Si Kok seng.

Mendadak pandangan matanya terasa silau, ternyata

didepannya terdapat sebuah tanah kosong seluas dua puluh

kaki, waktu itu api membara dengan terangnya menyinari

sekitar tempat itu

Ditengah hutan muncul sebuah tanah lapang, kejadian ini

sudah cukup mengherankan hati orang, apa lagi kalau tanah

lapang itu terang benderang seperti disiang hari saja, hal ini

lebih aneh lagi, tanpa sadar ke empat orang itu merasakan

jantungnya berdebar keras.

Jilid : 11

TOAN-IM Siacu Thian Yong yang amat teliti, dengan

menyapu sekejap sekeliling arena tersebut, mendadak ia

menjerit kaget:

“Aaah, kalian lihat, benda apakah itu?”

Dengan perasaan terkesiap semua orang segera berpaling

kearah mana yang ditunjuk nona Thia, kemudian serentak

mereka menjerit kaget.

Ditengah jeritan kaget inilah, mendadak tampak empat

sosok bayangan manusia melompat keluar dari kegelapan dari

bergerak mendekat dari empat penjuru tanah lapang itu.

Sebenarnya kejadian apakah yang membuat keempat jago

muda mudi itu menjerit kaget.

Ternyata Toan im siancu Thia Yong telah menemukan

sesosok mayat yang digantung di atas dahan sebatang pohon

besar disudut sebelah barat.

Setelah keempat orang itu berjalan mendekat, Suma Thian

yu lah yang pertama-tama menjerit kaget.

“Aaah, dia adalah Kang Pun san!”

Thi pit suseng Thia Cuan berpaling, lalu bertanya dengan

nada tercengang:

“Hiante kau kenal dia?”

“Benar, dia adalah Cha gi sut tikus bersayap) Kang Pun

san, waktu ia dikalahkan oleh nona Wan dalam perusahaan

Sin liong piau kiok, sungguh tak sangka ia telah tewas disini”

Cun gan siucay Si Kok seng mendongakkan kepalanya dan

memperhatikan jenazah si tikus bersayap Kang Pun san

beberapa saat, kemudian jengeknya sambil tertawa seram:

“Hehehehehe……gentong nasi seperti ini memang sudah

sepantasnya mampus, aku orang she Si berada disini, ingin

kulihat siapa yang berani mengusik diriku!”

Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar suara

dengusan dingin yang lirih bergema memecahkan keheningan.

Menyusul kemudian sesosok bayangan hitam meluncur

keluar dari balik hutan, bagaikan seilas cahaya kilat mengitari

angkasa lalu lenyap.

Semua orang merasakan pandangan matanya jadi silau,

belum sempat mereka menyaksikan bayangan hitam itu, tibatiba

Cun gan siucay Si Kok seng menjerit ngeri, seluruh

tubuhnya bergetar keras dan segera roboh terjengkang kearas

tanah.

Peristiwa itu terjadinya sangat mendadak, tiga orang

lainnya tak sempat memberi bantuan, jalan darah Si Kok seng

sudah tertotok dan jatuh tak sadarkan diri.

Suma Thian yu menerjang maju kedepan, menyaksikan

kejadian itu ia merasa gusar sekali, kearah dalam hutan

bentaknya penuh keguiaran:

“Setan alas, darimanakah yang berada didalam hutan?

Kalau punya keberanian hayolah munculkan diri, kalau

beraninya hanya main sem bunyi dan menyergap orang secara

diam-diam, hal ini bukan perbuatan seorang enghiong

hohan…..”

Baru selesai Suma Thian yu memaki, mendadak terdengar

tiga kali suara pekikan nyaring dikumandang dari tiga arah

yang berbeda, suaranya nyaring seperti lolongan srigala, se

perti juga jeritan kuntilanak, terutama sekali ditengah

kegelapan, suasananya terasa menggidikkan hati setiap orang

yang mendengarnya.

Ditengah suara pekikan yang aneh itulah mendadak

terdengar tiga kali desingan angin tajam membelah angkasa,

ditengah arena tahu-tahu sudah bertambah dengan tiga orang

kakek berbaju hitam.

Dua orang diantaranya ternyata dikenal oleh Thi pit suseng

Thia Cuan, sambil tertawa tergelak, segera serunya:

“Aku mengira siapa yang datang, ternyata kalian dua orang

tangkeh dari Tiang-pek san, tampaknya kalau orang sudah

mendapat jodoh maka dimanapun selalu bertemu, kembali

kita bersahabat lagi dengan mesrah”

Diri ketiga orang kakek berbaju hitam itu, orang yang

berada disebelah kanan adalah lotoa dari Tiang pek sam sat

(tiga malaikat bengis dari bukit Tiang pek) yang disebut Kiu

tau siu (binatang berkepala sembilan) Li Gi, yang disebelah kiri

adalah kakek kurus bercambang, dia adalah losam Liat hwee

siu (binatang berapi membara) Li Hiong, sedangkan orang

yang berdiri ditengah are na itu berambut sepanjang

punggung, memakai gelang berbentuk rembulan diatas

kepalanya, berusia enam puluh tahunan, mata besar alias

mata tebal, hidung besar mulut besar dan bertampang seperti

singa, dia membawa tongkat berbentuk rembulan, mukanya

bengis dan menyeramkan.

Orang ini merupakan iblis paling keji dan paling ganas

dalam dunia liok lim dewasa ini orang menyebutnya sebagai

Hui cha cuncu (Rasul garpu terbang) Kiong Lui.

Garunya Sip hiap jin mo (Manusia iblis penghisap darah) Pi

Ciang hay merupakan jago paling lihay dalam kalangan iblis,

bersama Hoat seng si (Mayat kaku hidup) Ciu Jit hwee mereka

disebut Ih Lwe ji mo (sepasang iblis dari kolong langit).

Waktu itu, binatang berkepala sembilan Li Gi menatap

sekejap ketiga orang itu dengan sorot mata buas, lalu ujarnya:

“Apakah kalian bertiga tidak kenal tulisan?”

“Kalau kenal kenapa? Kalau tidak kenal kenapa pula?”

Suma Thian yu balik bertanya.

Kiu tausiu Li Gi mengawasi Suma Thian yu dengan sorot

mata setajam sembilu, kemudian tanyanya penuh kegusaran:

“Siapa kau? Apakah sudah bosan hidup?”

“Hmm, dengan mengandalkan tampangmu semacam ini,

kau masih belum pantas untuk menanyakan nama sauyamu!”

“Li lote” pada saat itulah terdengar Hui cha cun cu Kiong

Lui berkata dengan suara dingin, “jagal saja dia kan beres?

Buat apa mesti banyak bersilat lidah dengan dirinya?

Kiu tau siu Li Gi tertawa seram, tulang belulang diseluruh

tubuhnya bergemerutuk keras, mukanya berubah menjadi

merah padam, sepasang lengannya menjadi merah membara,

agaknya dia siap sedia melancarkan serangan.

Thi pit suseng Thia Cuan melompat ke depan dan berdiri

diantara Li Gi dengan Suma Thian yu, lalu sambil tertawa

terbahak-bahak serunya:

“Hiante, harap jangan marah, serahkan saja setan tua itu

kepadaku…

Dalam perkirarn Kiu tau siu Li Gi, Suma Thian yu masih

muda dan gampang diroboh kan, baru saja dia akan memberi

pelajaran kepada sang pemuda, siapa tahu dari tengah jalan

muncul seorang Tuia Kau kim.

Melihat kemunculan Thi pit suseng, terkesiaplah hatinya,

dia tahu kalau musuhnya yang ini sangat tangguh.

Tapi setelah berada dalam keadaan demikian terpaksa ia

harus bulatkan tekad untuk meng hadapinya.

Sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya

melancarkan sekuah pukulan yang dahsyat menghantam

tubuh Thi pit suseng.

Melihat serangan yang begitu berbahaya dari lawannya,

meledak hawa amarah dalam dada Thia Cuan, telapak tangan

yang satu digunakan untuk menyapu ke bawah, sementara

telapak tangan yang lain digunakan untuk membacok ke atas,

dengan jurus Siang hong tiau yang (sepasang burung hong

menghadap mata hari) dia sambut datangnya ancaman lawan

dengan sepasang tangannya berbareng.

“Blaaammm…!” terdengar suara ledakan keras menggema

memecahkan keheningan, tiga dua gulung angin serangan itu

saling ber tubrukan di tengah udara terjadilah pusingan angin

yang menyebar ke empat penjuru.

Terdesak oleh sisa angin pukulan itu, masing-masing pihak

terdorong mundur selangkah ke belakang.

Kiu tausiu Li Gi tidak menyangka kalau tenaga dalam yang

dimiliki lawan begitu sempurna, termakan oleh pukulan yang

memaksa nya mundur, dia terkejut bercampur mendongkol.

Baru saja tubuhnya dapat berdiri tegak, mendadak dia

berpekik nyaring, tubuhnya seperti elang raksasa menerjang

ke tengah udara, sepasang tangannya diluruskan ke depan,

kesepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, dengan

jurus Ciang ing phu toh (Elang sakti menerjang kelinci) dia

lansung mencengkeram batok kepala Thi pit suseng Thia

Cuan.

Sebagai murid kesayangan dari Heng si Cin jin, Thia Cuan

memiliki ilmu silat yang tinggi serta warisan langsung dari Kun

lun-pay, begitu menyaksikan Kiu tau siu Li Gi menerjang ke

bawah dengan dahsyatnya, ia sama sekali tidak menjadi

gugup, dengan memperkuat posisi kuda-kudanya, dengan

jurus Kiau cong ki ku (memukul genta menghantam tambur)

sepasang tangannya bersama-sama di sodok ke depan

menghajar tubuh Li Gi.

Jurus serangan ini merupakan salah satu jurus yang

dahsyat dari empat macam kepandaian Kun lun kim hoat.

Hui cha cun cu Kiong Lui yang menonton jalan-nya

pertarungan dari sisi arena menjadi tetegun oleh kejadian itu,

mendadak bentaknya keras-keras.

“Tahan!”

Sepasang telapak tangan dua orang yang sedang bertarung

sudah terlanjur di lancarkan, dihentikan jelas tak sempat lagi,

disaat Kiong Lui membentak keras itulah, ditengah udara

kembali terjadi suatu bentrokan keras yang menimbulkan

suara ledakan dahsyat.

Menyusul kemudian tampak debu dan pasir beterbangan

memenuhi angkasa, udara menja di gelap dan Kiu tau siu Li Gi

mendengus ter tahan, tubuhnya seperti bintang yang jatuh

roboh ke tanah, mukanya pucat pias seperti mayat, ujung

bibirnya basah oleh noda darah.

Thi pit suseng Tia cuan sendiri, walaupun terpengaruh juga

oleh gelombang angin sera ngan itu, namun dia tetap sehat

wal’afiat seperti sedia kala, pelan-pelan dia bangkit berdiri

kemudian ditatapnya Hai cha cun ca Kiong Lui tanpa berkedip.

Kiong Lui mendeham beberapa kali, kemudian dengan

seorang tua yang berpengalaman dia bertanya:

“Aoa hubunganmu dengan Bi kun lun Siau Wi goan?”

“Aku sama sekali tidak kenal dengan orang ini” jawab Thia

Cuan tegas.

“Bocah keparat, kau berani mengelabuhi aku? Hmmm,

melihat gerakan tubuhmu jelas semuanya merupakan

kepandaian silat aliran Kun lun pay, padahal Bi kun lun Siau

Wi goan adalah murid kesayangan dari Leng-go cinjin, ketua

Kun lun pay sekarang, masa kau tidak kenal dirinya?”

Mendengar perkaraan tersebut, Thi Pit suseng segera

memperhatikan Hui cha cun cu se kejap kemudian balik

bertanya:

“Maaf, kalau mataku buta, tolong tanya siapakah nama

besarmu?”

“Bocah keparat, mengingat usiamu masih muda dari tak

tahu urusan, aku enggan ribut denganmu, setiap jago

persilatan yang berkelana dalam dunia persilatan hampir

semuanya kenal dengan lohu, masa kau tidak tahu?”

Berbicara sampai disitu dia berkerut kening, kemudian

sambil menuding keujung hidung sen diri serunya:

Suma Thian yu paling benci dengan sikap latah dan takabur

semacam ini mendengar, per kataan tersebut ia mendengus

dingin, matanya memandang sinis dan senyuman dingin

menghiasi ujung bibirnya.

Hui cha cun cu Kiong Lui dapat menyaksikan sikap sinis

anak muda tersebut, mendadak sepasang matanya melotot

besar, sinar buas me mancar keluar, sesudah tertawa seram,

serunya:

“Bocah keparat, kau tidak puas?”

Suma Thian yu memandang sekejap wajah Kiong Lui

dengan pandangan sinis, kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Habahahahana……belum pernah sauya dengar seorang

manusia she Kiong dalam dunia persilatan, mungkin kau

hanya seorang pra jurit tak bernama yang rendah

kedudukannya. Tapi lantaran malu mengakui hal tersebut,

maka sengaja kau pakai kata-kata yang mem buat untuk

menggertak?”

Padahal setelah mendengar lawannya she Kiong tadi, Suma

Thian yu sudah mengerti siapa gerangan orang yang

dihadapinya, tapi dia sengaja mengejek, maksudnya adalah

untuk memancing kemarahan musuhnya yang latah dan

takabur ini.

Betul juga, Hui cha cun cu Kiong Lui kontan dibuat mencakmencak

karena kegusaran, selapis hawa pembunuhan yang

amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, ia

maju selangkah mendekati anak muda itu, kemudian toya

berbentuk bulan sabitnya diayun ke pinggang lawan dengan

jurus Heng sau jian kun (menyapu rata seribu prajurit).

“Bila kau ingin mampus, lohu akaa memenuhi keinginanmu

itu!” makinya sambil menahan geram.

Gembong iblis kenamaan memang berbeda dengan

kawanan jago lainnya, ayunan toya tersebut paling tidak

mempunyai kekuatan sebesar lima ratus kati, jangankan tubuh

Suma Thian yu terdiri dari darah dan daging, sekali pun terdiri

dari baja aslipun tak sanggup menahan pukulan mana.

Tatkala Suma Thian yu menyaksikan ayunan senjata Hou

tou pang berbentuk bulan sabit itu amat gencar dan cepat,

buru-buru dia melejit ke tengah udara.

“Weess! diiringi desingan angin tajam yang kuat, senjata

toya Hou topang berbentuk bulan sabit itu menyambar lewat

hanya beberapa inci dibawah kaki anak muda tersebut.

Begitu serangan toyanya mengenai sasaran yang kosong,

Hui cha cun cu Kiong Lui segera menahan tubuhnya dan

menarik kembali senja ta Hou topang berbentuk bulan sabit

yang di ayunkan ke muka tadi.

Setelah itu dia mempertinggi serangannya satu depa lebih

ke atas, kali ini yang diancam adalah pinggang lawan.

Suma Thian yu tahu lihay terpaksa dia gunakan ilmu bobot

seribu, membawa tubuhnya melayang turun kebawah, senjata

Hou to pang berbentuk bulan sabitnya menyapu bagian bawah

tubuh dengan membawa desingan angin tajam.

Berhubung tenaga serangannya begitu dahsyat, dimana

serangannya menyambar lewat secara lamat-lamat Suma

Thian yu merasakan kulit badannya amat sakit.

Dalam pada itu, Liat bwee siu Li Hiong sudah melompat

kehadapan Toan im siancu Thia Yang, telapak tangannya

segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah bacokan.

Menanti lengannya diayunkan kedepan itulah dia baru

membentak.

“Budak rendah! loya akan menemanimu bergembira!”

Toan im siancu Thio Yong menduga sampai disitu, melihat

serangan yang datang begitu dahsyat ibarat bukit Thay san

yang menindih kepala, dengan perasaan terperanjat ia

menyingkir kesamping, gadis itu tak berani menyambut

ancaman mana dengan kekerasan.

Begitu lolos dari ancaman, Toan im siancu Thin Yong

meloloskan sembilan pedang mestika dari pinggangnya lalu

sebelum Lian hWee siu li hiong menyerang lagi, ia sudah

mengembangkan jurus-jurus mautnya sambi1 menerjang

kedepan.

Tatkala Thi pit suseng Thia Cun menyaksikan adiknya

sudah terjun ke arena pertarungan, tanpa terasa ia

memusatkan seluruh perhatiannya mengikuti jalannya

pertarunan, tangannya meraba diatas gagang pedang dan

siap memberi penolongan bilamana perlu,

Dipihak lain, Suma Thian yu yang bertarung dengan tangan

kosong menghadapi toya Hou to pang berbentuk bulan sabit

sudah mulai tak sanggup menahan diri, bayangkan saja Hui

cha cun cu sebagai tokoh kelas satu dalam dunia Liok lim

dewasa ini, baik lwekang maupun gwakangnya boleh dibilang

sudah mencapai tingkat yang sempurna, toya Hou to pang

seberat berapa ratus kati yang berada dalam permainannya

ringan bagaikan toya kayu, selain serangannya berat, gerakgeriknya

juga enteng, gesit dan cekatan.

Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Suma Thian

yu menghadapi mu suh setangguh ini, untuk sesaat dia dibikin

geleng kepalanya oleh gerakan tubuh orang yang aneh dan

cekatan, belum mencapai sepuluh gebrakan, ia sudan keteter

hebat dan hanya sangaup menangkis belaka.

Beraba dalam situasi yang kritis dan tegang seperti ini,

mendadak ia berpekik nyaring, tu-buhnya melejit lima kaki ke

tengah udara dengan gaya burung bangau terbang ke

angkasa, pedangnya segera dicabut keluar dari sarung.

Serentetan cahaya biru memancar keempat penjuru dan

amat menusuk pandangan mata.

Suma Thian yu memainkan selapis kabut pe dang berwarna

biru untuk melindungi badan, bagaikan sebuah jala perangkap

ikan yang besar dan datang dari langit, dengan cepat tubuh

Hui cha cun cu dikurung rapat.

Hui cha cun cu Kiong Lui terhitung seorang gembong iblis

yang sukar dihadapi, dia mendongakkan kepalanya

memperhatikan sekejan ancaman lawan, kemudian setelah

tertawa dingin jengeknya:

“Hehehehenehe…… kiranya kau adalah ahli waris dari

orang she Wan”

Sambil berkata tongkat Hou to pang nya di angkat keatas

dan diputar bagaikan sebuah roda kereta, diantara perputaran

yang kencang itulah pelan-pelan dia menyongsong bayangan

pedang yang diciptakan Kit hong kiam tersebut.

Dalam waktu singkat terdengar dua kali ben turan keras

ditengah udara, pedang dan tongkat Hou to pang telah saling

membentur keras hingga menimbulkan percikan bunga api.

Menggunakan kesempatan dikala pedangnya bentrok

dengan toya lawan, Suma Thian yu segera melayang turun

keatas tanah, sebaliknya Hui cha cun cu Kiong Lui kena

tertekan oleh kekuatan lawan hingga kakinya amblas tiga inci

kadalam tanah, namun ia tetap berdiri tak bergerak.

Dengan mengandalkan serangan tersebut, Suma Thian yu

segera mengembalikan posisi nya yang terdesak menjadi lebih

mantap, pedangnya segera berputar sambil melancarkan

serangan gencar, dengan Kiong Lui segera ber lempur sengit.

Selama ini Thi pit suseng hanya berpeluk belaka sambil

menonton jalannya petrarungan massal, dia tidak berani

membantu karena kuatir menimbulkan suatu pertarungan

massal, dia dapat melihat bahha kepandaian silat yang dimiliki

kedua belah pihak berada dalam keadaan seimbang, dia pun

mengerti menang kalah tidak bisa di temukan dalam waktu

singkat, maka dia sendiripun tak kelewat terbaru napsu untuk

turun tangan.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian empat orang

yang sedang bertarung sengit di tengah arena teiah berhasil

menentukan siapa menang siapa kalah. Toan im siam cu yang

melancarkan serangan berantai mendesak musuhnya habishabisan,

kalau di lihat dari keadaan si Liat hwee sin Li hiong

sekalian, tampaknya tiga jurus kemudian ia tentu keok.

Di pihak lain keadaan pertarungan antara Suma Thian yu

melawan Hui cha cun cu justru merupakan ke balikannya, kini

anak muda tersebut hanya memiliki sisa kekuatan untuk

mempertahankan diri belaka, ia tak memiliki tenaga lagi untuk

mempertahanan diri, ia tak memiliki tenaga untuk

melancarkan serangan balasan.

Sedangkan Kiong Lui sendiri justru makin bertarung

semakin perkasa, senjata pentungan Hou to pangnya tak

pernah mengendor sedikit pun, serangan demi serangan

dilancarkan se cara gencar dan semuanya membawa deruan

angin tajam yang memekikkan telinga, semua ini membuat

suasana dalam arena pepertarungan berubah lebih

mengerikan.

Thi pit suseng Thia Cian yang menyaksikan peristiwa ini

menjadi sangat gelisah, dengan suara dalam ia lantas

memrmembentak:

“Tahan!”

Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi

disiang hari bolong, Liat bwee siu Li Hiong segera melepaskan

dua buah serangan berantai dan melompat mundur lebih

duluan.

Tentu saja Toan im siancu tak ingin membangkang perintah

kakaknya, sambil menarik kembali pedangnya ia membentak:

“Hmmm, keenakan kau si setan tua!”

Dihak lain, Hui cha kun cu Kiong Lui seakan tak mendengar

suara bentakan itu, bukan nya berhenti dia malah

melancarkan serangan-nya makin gencar, senjata Hou to pang

nya

dengan membawa deruan angin tajam membacok seluruh

tubuh Suma Thian yu secara bertubi-tubi.

Setelah melalui pertarungan yang seru, sesungguhnya

Suma Thian yu sudah kehilangan banyak tenaga, kepalanya

terasa pening dan badannya lemas tak bertenaga.

Suara bentakan dari Thi pit suseng barusan baginya ibarat

sebaskom air dingin yang diguyurkan keatas kepalanya,

segera membuatnya sadar kembali, cepat dia

mengembankaan gerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari

kepungan lawan.

Hai cha cun cu Kiong Lui tak rela melepas kan usaha yang

berhasil dicapainya selama ini, senjatanya kembali diputar

membelah angkasa dengan jurus kay san to liu (membuka

bukit air mengalir), kali ini dia membacok jalan darah Pek

bwee hiat dibelakang kepala Suma Thian yu.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Thi pit su seng Thia Cuan

segera berkerut kening, menda dak ia berpekik nyaring……

Tampak ujung bajunya berkibar terhembus angin kemudian

tubuhnya menerjang kedepan secepat kilat, sepasang telapak

tangannya dilontarkan kedepan, secara keras lawan keras, dia

menggetar pergi senjata Hou to pang lawan, kemudian

menghadang jalan pergi Kiong Lui.

Melihat itu, Hui cha cun cu Kiong Lui menghimpun tenaga

dalamnya sambil membentak keras:

“Orang sbe Thia, jadi kau ingin mencari keuntungan dalam

air keruh. Bagus sekali, hmm! Seandainya lohu tidak teringat

kalau kau masih punya hubungan dengan Bi kun lun (Kun lun

indah), kau anggap nyawamu masih bisa dipertahankan

hingga sekarang? Hmm, mung-kia sedari tadi sudah berpulang

ke alam baka”

Thi pit suseng Thia Cuan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…haaah…haah… terima kasih banyak atas

kebaikanmu, cuma sayang toaya sama se kali tidak ada

sangkut pautnya dengan Siau Wi goan, selain itu akupun tidak

saling mengenal dengannya, bila kau menginginkan nyawaku,

lebih baik ambillah dengan mengandalkan pandaian silatmu

sendiri.”

Suaranya datar, tidak tidak meninggikan kepala

merendahkan derajat sendiri dibalik kelembutan terdapat nada

keras, ucapan mana sege ra membungkamkan mulut

gembong iblis itu.

Tapi justeru karena hal tersebut, dari malu nya si gembong

iblis itu menjadi naik darah, dia segera tertawa dingin tiada

hentinya:

“Heeeh…heeeh…heeeh… barang siapa berani masuk hutan

harus mampus, kau tidak menyaksikan jenasah diatas pohon

itu? Inilah contoh yang paling baik bagi mereka yang

bersikeras ingin melanggar peraturanku, berbicara dan cara

tindak tanduk kalian semua, sebetulnya hanya ada satu jalan

kematian saja. Akan tetapi berhubung lohu mempunyai

sumpah yang mengatakan bahwa setiap sahabat Bi kun lun

akan kulepas, maka kau boleh pergi dari sini, tapi bocah

keparat yang menggemaskan ini tak boleh meninggalkan

tempat ini barang setengah langkah pun.

Yang di maksudkan sebagai bocah keparat tak lain adalah

Suma Thian yu.

Pada dasarnya Suma Thlan yu adalah seorang bocah yang

berjiwa keras dan tinggi hati, mendadak dia membalikkan

tubuhnya sambil tertawa mengejek, katanya:

“Dengan mengandalkan kepandaianmu itu kau hendak

menahan aku disini? Lebih baik gerakkan lagi senjata

rongsokanmu itu, sauya akan melayanimu untuk bertarung

seratus gebrakan.

Suma Thian yu rugi didalam tenaga dalam yang tak

berhasil melampaui kesempurnaan Kiong Lui, maka dia

mengusulkan untuk ber tarung sebanyak seratus gebrakan

dalam permainan ilmu pukulan.

Siapa tahu Hui cha cun cu Kiong Lui malah tertawa

terbahak-bahak dengan seramnya

“Hehehebebehe….memang hal itu paling bagus, bocah

keparat, hari ini aku akan suruh kau menderita kekalahan

secara puas lahir batin, kemudian aku akan menggantungmu

hidup-hidup diatas pohon agar ditonton semua orang!”

Dengan lemah gemulai Toan im siancu dihadapan Hui cha

cun cu, lalu serunya:

“Jika kau berani, mengganggu seujung ram butnya, Thia

Yong yang pertama-tama akan beradu jiwa paling dulu

denganmu, sampai wak tunya jangan salahkan lagi kalau nona

tidak mengenal ampun!”

Sambil berkata dia lantas menggeserkan ba dannya dan

berdiri disamping Suma Tbiau yu. Mencorong sinar bengis dari

balik mata Kiong Lui, sambil mementangkan mulutnya yang

lebar dia membentak:

“Lebih baik kalian bertiga maju bersama, dalam sepuluh

gebrakan bila aku gagal meng hancur lumatkan kalian, dengan

tangan terbuka lohu akan menghantar kalian pergi dari sini!”

Benar-benar suatu ucapan yang amat sesumbar.

Bayangkan saja ke tiga orang muda mudi itu adalah jagojago

pilihan dari kaum muda, Thia si hengte (dua bersaudara

Thia) telah memperoleh warisan langsung dari Heng si cinjun,

sedangkan Suma Thian yu mendapat warisan keluarganya,

kesempurnaan mereka terhitung jagoan nomor wahid dikolong

langit.

Untuk bertarung satu lawan satu, mungkin saja mereka

masih belum sanggup, tapi kalau tiga orang bekerja sama,

belum tentu ia sanggup merobohkan mereka dalam sepuluh

gebrakan saja.

Diatas wajah mereka bertiga serentak terlintas perasaan

memandang rendah yang amat sinis.

Dalam sekilas pandangan saja Hui cha cun cu Kiong Lui

sudah dapat menembusi jalan pemikiran ke tiga orang

lawannya, mendadak ia melemparkan senjata Hou to pang

nya ke depan kaki Liat hwee siu Li Hiong, kemudian sambil

menggulung bajunya hingga nampak lengan yang kekar,

berbulu dan berotot besar itu, ia bersiap sedia melancarkan

serangan. “Perkataan seorang lelaki sejati berat bagaikan

bukit karang”, dalam sepuluh gebrakan kemudian kalian pasti

akan mampus diatas genangan darah segar!

Suma Thian yu tidak banyak bicara, segera menghimpun

segenap tenaga dalamnya kedalam lengan, lalu sambil

menggunakan ilmu pukulan Tay cing to liong ciang ajaran

gurunya Put gho cu, dia membacok tubuh Kiong Lai dengan

jurus Ci kou thian bun (mengetuk pintu langit selatan).

Toan im siancu tidak ambil diam, dari samping ia

menyerang dengan jurus Im liong tham jiau (naga sakti

mementang cakar), ketika sampai ditengah jalan, dia

mengubah serangan pu kulannya menjadi cengkraman dan

mencengkeram belakang kepala lawan.

Hanya Thi pit suseng seorang yang tidak berkutik, dia

masih menanti serangan balasan dari Hui cha cun cu dengan

tenang, untuk kemudian melancarkan serangan dahsyat bila

kesempatan baik telah tiba.

Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu maupun Thia

Yong sesungguhnya cuma serang an tipuan belaka, sekilas

pandangan serangan mana kelihatannya cepat seperti

sambaran kilat, sesunguhnya dibalik ancaman mana

tersembunyi dua gerakan lain yang dipersiapkan untuk

mundur.

Benar-benar lihay Hui cha cun cu ini, agaknya ia telah

berhasil menebak jitu suara hati kedua orang lawannya,

menghadapi ancaman tersebut ia tidak menjadi gugup atau

panik.

Ditunggunya serangan lawan hampir menca pai tubuhnya

ketika secara tiba-tiba dia memutar tubuhnya melancarkan

serangan balasan, jurus serangannya ganas dan mengerikan,

seakan-akan dia bermaksud memanah dua ekor burung dalam

sekali bidikan.

serangan yang berkelebat secepat sambaran kilat, tahutahu

sudah tiba di depan Thia Yong.

Mendadak Thi pit suseng membentak nyaring, tubuhnya

menerobos masuk kedalam arena kemudian telapak

tangannya diayunkan ke muka membabat jalan darah Leng

tay hiat di punggung Hui cha cun cu.

Waktu itu sesungguhnya Hui cha cun cu Kiong Lui sedang

bersyukur karena serangannya akan segera berhasil mencapai

sasaran, mendadak dia merasakan tibanya desingan angin

tajam dari arah belakang, kenyataan tersebut kontan

membuatnya menjadi tertegun.

Berada dalam keadaan begini harus mengesampingkan

dulu kedua orang musuhnya yang berada didepan, ia

membalikkan badan dan melepaskan serangan balasan.

Serangan ini dilepaskan dalam keadaan gusar, tenaga

dalam yang disertakan benar-benar luar biasa dahsyatnya.

Ketika Thi pit suseng Thia Cuan termakan oleh sapuan

tangan pukulan itu, badannya sege ra mundur beberapa

langkah dengan sempoyongan, dadanya terasa sakit sekali,

sadarlah dia bahwa isi perutnya telah terbakar.

Masih untung Hui cha cun cu Kiong Lui masih teringat akan

sumber perguruannya serta hubungan-nya dengan Siau Wi

goan, coba kalau tidak begitu, asal dia menambah tenaga

serang annya dengan dua bagian tenaga saja, niscaya Thi pit

suseng sudah tewas seketika.

Begitu Thi pit suseng mundur kebelakang, kini didalam

arena tinggal Suma Thian yu serta Toan im siancu yang sudah

lelah karena kehabisan tenaga, tak selang dua gebrakan

kemudian, Toan im siancu mengalami nasib seperti

kakaknya, isi perutnya menderita luka dan roboh terduduk

diatas tanah.

Dengan demikian tinggal Suma Thian yu seorang yang

harus berjuang mempertahankan diri, diam-diam ia mengertak

giginya keras-keras, secara beruntun dia melepaskan tiga

buah serangan berantai masing-masing dengan jurus Kun kun

to coan ( Dunia diputar balik) Kui seng ti to (Bintang kejora

jatuh jumpalitan) dan Sian hong sau soat ( Angin berpusing

menyapu salju), semuanya merupakan jurus penolong dari

ilmu pukulan Tay cing to liong ciang.

Betapa hebatnya serangan itu bisa dilihat dari Hui cha cun

cu Kiong Lui yang tak berani menyongsong serangan itu

dengan kekerasan, secars beruntun dia mengegos sebanyak

tiga kali, kemudian melompat sejauh satu kaki lebih.

Tampaknya dari sepuluh gebrakan yang di janjikan kini

tinggal dua gebrakan lagi, bila Hui cha can cu Kiong Sui gagal

merobohkan musuhnya, terpaksa dia harus menghantar

lawan-lawannya ini untuk berlalu dari daerah terlarang itu.

Mendadak Hui cha cun cu Kiong lui berpekik nyaring,

tubuhnya melejit setinggi tiga kaki ketengah udara, bagaikan

seekor naga bengis meninggalkan samudra, dengan

membawa deruan angin puyuh dia menyambar keatas kepala

Suma Thian yu.

Thi pit suseng Thia Cuan yang menyaksikan peristiwa itu

segera melupakan tenaga dalam yang dideritanya, sambil

berpekik nyaring degan membawa luka dia menerjang ke arah

Suma Thian yu.

“Hiante, cepat mundur! Dia telah menggunakan Pek lek si

hun ciang (Pukulan geledek pembetot sukma)!”

Baru selesai Thi pit suseng berseru, di tengah angkasa

telah bergema suara geledek yang menggelegar dengan

nyaringnya.

Ketika Suma Thian yu mendongakkan kepala, dia jadi

terperanjat, wajah berubah pucat, tak sempat memandang

sekejap lagi, dia sudah me lesat kesamping untuk

menghindarkan diri.

Disaat yang amat kritis inilah, ditengah udara

berkumandang pekikan nyaris yang memekakkan telinga, lalu

seperti sekilas cahaya yang membuyarkan awan hitam,

petikan nyaring ter sebut seketika itu juga menawarkan suara

gemuruh guntur yang mengelegar diangkasa.

Semua orang yang semula tertegun oleh suara guntur,

dengan cepat merasakan hatinya menjadi tenang kembali,

untuk sesaat mereka seperti melupakan tragedi yang sedang

terjadi didepan mata.

Ketika memandang lagi kearah Hui cha cun cu, seketika itu

dia sedang mengayunkan sepasang telapak tangannya dan

secepat kilat meng hantam tubuh Suma Thian yu, siapa tahu

pada saat itulah suatu kejadian aneh telah berlangsung.

Tampaknya suara pekikkan nyaring yang membetot sukma

itu telah mengacaukan pikiran Hui cha chun cu, tampak

tubuhnya buru-buru berjumpalitan di tengah udara, lalu

sepasang telapak tangannya segera ditarik kembali, seperti

barung yang hinggap dia atas tanah, dengan entengnya dia

melayang turun kembali kepermukaan tanah.

Sementara semua orang masih tertegun, sesosok bayangan

manusia nampak berkelebat lewat dari balik hutan, hanya

sekejap kemudian, tahu-tahu ditengah arena telah berdiri

seorang bocah lelaki berusia sebelas dua belas tahunan.

Heran! Mungkinkah suara pekikan tadi berasal dari bocah

lelaki yang masih ingusan ini?

Kalau memang begitu, bukankah bocah lelaki ini adalah

seorang bocah ajaib didunia ini?

Tapi rasanya hal ini mustahil, tak bisa masuk akal, hal ini

mana mungkin bisa terjadi? Seorang bocah lelaki yang masih

berusia sebelas dua belas tahunan, masih bersifat kekanakkanakkan,

bagaimana mungkin bisa memiliki ilmu silat yang

begitu lihaynya?

Tapi cahaya kilat yang terlibat tadi sudah jelas merupakan

bayangan tubuh dari bocah ini selain dia siapa lagi?

Tampak sepasang kening bocah lelaki itu menonjol tinggi

sekali, dia sedang berdiri ber tolak pinggang sambil mencaci

maki:

“Kiong Lui, lagi-lagi kau membuat kejahat an disini”,

seandainya aku tidak datang tepat waktunya, kembali ada jiwa

yang akan mela. yang disini, hmmm…! Apakah kau sudah

melu pakan dengan kata-katamu tempo hari…?”

Sungguh menggelikan sekali keadaan Hui cha cun cu Kiong

Lui yang telah berusia enam puluh tahunan itu, kalau tadi

sikapnya garang angkuh dan jumawa sekali, maka setelah

berjumpa dengan bocah lelaki itu, keadaannya berubah

seperti tikus berjumpa kucing, sikapnya menghormat dan

tunduk sekali.

Semua orang lantas mengalihkan perhatian nya kewajah

bocah itu, tampak dia mengena kan baju berwarna putih

bersih, rambutnya di gulung menjadi satu, matanya besar lagi

bulat, wajahnya menarik dan menyenangkan, kecuali itu tidak

terlihat sesuatu gejala lain yang istimewa.

Akan tetapi sikap Hui cha cun cu Kiong Lui bagaikan sedang

menghormati dewa pujaannya saja, dengan sikap yang amat

menghormati dia berkata:

“Sobat kecil, kenapa sudah lama kau tidak bermain kemari?

Lohu sangat rindu kepadamu!”

“Huuuuh, siapa yarng kesudian bermain disini?” Ibuku

bilang kau adalah telur busuk terbesar didunia ini, ia

melarangku bermain denganmu” sahut bocah lelaki itu terus

terang.

Suma Thian yu yang mendengar perkataan itu menjadi

amat geli sekali sehingga tak tahan ia tertawa terkekeh.

Mendadak bocah lelaki itu berpaling, sepasang matanya

melotot besar dan memancarkan sinar berkilauan.

“Benar-benar lihay sekali tenaga dalam orang ini, entah

bagaimana cara berlatih?” anak muda itu segera berpikir.

Sementara itu sibocah telah memperlihatkan dua baris

giginya yang putih bersih sambil menegur:

“Siapa yang bernama Suma Thian yu?”

Agak tertegun Suma Thian yu mendengar pertanyaan itu,

setelah termangu sesaat buru-buru sahutnya:

“Akulah orangnya”

Bocah lelaki itu segera mengamati Suma Thian yu sekejap,

kemudian katanya:

“Tak heran kalau ibuku mencarimu, nih! Disini ada sepucuk

surat untukmu, ambil dan bacalah sendiri!”

Suma Thian yu makin terperanjat lagi sete lah mendegar

perkataan itu, buru-buru dia menyambut surat itu dan dibuka

lalu dibaca isi-nya, diatas surat itu hanya tercantum beberapa

huruf yang berbunyi:

“Datanglah segera selesai membaca surat ini”

Dibawahnya tidak nampak tanda tangan atau kode tertentu

dari penulis surat itu.

Dengan wajah termangu Suma Tnian yu mengawasi wajah

si bocah itu lekat-lekat, pelbagai ingatan segera berkecamuk

didalam be naknya membuat dia terasa pusing umuk

memikirkannya.

Siapakah bocah ini? Siapa pula ibunya?

Ada urusan apa dia khusus datang kesitu untuk

mencarinya?

Siapa musuh besanya? Apa sangkut pautnya dengan

dirinya?

Serentetan pertanyaan tersebut membuat Suma Thian yu

menjadi sangat murung dan tak tahu apa yang mesti

dilakukan, untuk sesaat dia menjadi gelagapan hingga tak

sepatah katapun sanggup diutarakan.

Sambil tertawa cekikikan bocah lelaki itu segera menegur:

“Bila kau selesai membaca, mari kita segera berangkat!”

“Tolong tanya sobat kecil, kita akan kemana?” Suma Thian

yu segera bertanya:

“Tentu saja ke rumahku!”

Sambil menyahut bocah itu segera menarik tangan Suma

Thian yu dan siap berlalu dari situ.

Mendadak terdengar Hui cha cun cu Kiong Lui membentak

keras:

“Tungqu sebentar! Sobat kecil, dia masih berhutang kepada

lohu….!”

Bocah lelaki itu segera berpaling, mencorong sinar tajam

dari matanya, setelah menatap sekejap wajah Kiang Lui

dengan gusar, serunya kembali:

“Kau kuatir tidak bisa menagih kembali? Hutang apa sih?

Biar aku saja yang membayarkan baginya”

“Oooh, tidak, tidak!” Hui cha cun cu segera menampik, asal

sobat kecil telah mengambil alih hutang tersebut, tentu saja

lohu tak bisa berkata apa-apa lagi, sekembalinya kerumah

nanti, sampaikan salamku untuk ibumu!

Bocah lelaki itu mendengus dingin, ia segera berlalu

meninggalkan hutan tersebut.

Tiba-tiba dua bersaudara Thia berpekik nysring, kedua

orang itu segera melompat ke depan dan menghadang jalan

pergi bocah itu.

Sambilmenjura Th i pit suseng Thia Cuan segera menegur:

“Tolong tanya sobat cilik, siapa namamu dan dimana

rumahmu?”

Dengan tak sadar bocah lelaki itu menukas:

“Kau takut aku akan melalapnya hidup-hidup? Paling cepat

sebulan paling lambat dua bulan, tanggung dia dapat

berjumpa lagi dengan kalian berdua”

Walaupun usia bocah lelaki ini masih muda, namun caranya

berbicara seperti orang dewasa, sehingga dua bersaudara Thia

pun turut merasa keheranan.

Dengan cepat Toan im-siancu Thia Yong bertanya:

“Dimanakah rumah kediamanmu?”

Kali ini si bocah lelaki itu tertawa cekikikan.

“Tak usah kuatir, bukan aku yang berhak menjadi mak

comblang, dua bulan kemudian dia pasti akan mengunjungi

kalian berdua di bukit Kun san telaga Tong ting ou”.

Begitu bocah lelaki itu selesai berkata, se lembar wajah

Toan im-siancu Thia Yongpua turut berubah menjadi merah

padam seperti apel yang masak, dia lantas mendesis dan

berseru sambil melotot:

“Hmmm, tampaknya kau mencari penyakit!”

Sambil berkata dia lantas mengayunkan telapak tangannya

menghantam wajah bocah lelaki itu.

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian ini segera

berseru dengan amat gelisah:

“Nona Thia……”

Belum habis dia berkata, bocah lelaki itu telah membentak

pula dengan suara keras:

“Ayo berangkat! Tempat ini bukan tempat yang aman”

Kalau dibicarakan sesungguhnya sukar masuk diakal, Suma

Thian yu hanya melihat bocah kecil itu mengangkat

lengannya, tahu-tahu seluruh badan Toan im siancu sudah

melayang ditengah udara seperti selembar daun yang ter

hembus angin puyuh, tahu-tahu ia sudah dikirim ke sisi badan

kakaknya…

Dengan demikian, kendatipun Toao im sian cu Thia Yong

lebih bina1 dan wataknya lebih aneh pun, mau tak mau dia

harus merasa kagum dan tunduk terhadap bocah itu.

Buru-buru dia memberi tanda kepada kakaknya dan berlalu

dari situ.

Melihat kejadian tersebut, wajah bocah lelaki itu nampak

berseri, dia memarik tangan suma thian yu dan menembusi

hutan itu.

Kali ini mereka tidak bergerak ke arah bukit Han-san

melainkan justru berbalik ke jalan kecil, semua jalanan yang

mereka lalui sebagian besar adalah jalan perbukitan yang

sempit dan curam.

Untung saja Suma Thian yu memiliki ilmu silat yang hebat.

Ilmu meringankan tubuhnya pun amat sempurna, dengan

begitu dia masih bisa membuntuti selalu lima langkah di

belakang bocah lelaki itu.

Sekarang Suma Thian yu baru benar-benar dapat

menyaksikan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang

dimiliki bocah lelaki itu, jangan dilihat bocah itu bergerak

dipaling de pan, namun langkahnya enteng dan cepat hing ga

kalau dilihat dari tempat kejauhan, sepa sang kakinya seakanakan

tidak menempel di atas tanah.

Diam-diam Suma Thian yu menghela napas panjang,

pikirnya:

“Diluar langit masih ada langit, diatas ma nusia masih ada

manusia, tampaknya soal ilmu silat memang tiada tara

dalamnya”

Apa yang di katakan orang kuno memang tidak salah,

setinggi-tingginya sebuah bukit, tentu ada bukit lain yang jauh

lebih tinggi, selihay-lihaynya kepandaian seseorang, sudah

pasti ada orang lain yang jauh lebih lihay daripadanya.

Bayangkan saja berapa usia bocah lelaki yang masih bau

kencur ini? Tapi dalam kenyataan-nya, baik ilmu lwekang,

gwakang maupun ginkang semuanya telah mencapai puncak

kesem purnaan, sekalipun sejak berada dalam kandungan

ibunya dia sudah mulai melatih diri, belum tentu kepandaian

silatnya bisa mencapai tingkatan demikian hebatnya.

Bila ditinjau dari kepandaian silat yang di miliki bocah ini,

bisa dibayangkan pula sampai dimanakah taraf kepandaian

silat yang di miliki ibunya? Tapi dalam dunia persilatan belum

pernah terdengar nama seorang jagoan perempuan semacam

itu, siapakah dia?

Sambil berlarian menempuh perjalanan be nak Suma Thian

yu dipenuhi oleh pelbagai per soalan yang memusingkan

kepalanya, terutama sekali dalam surat tersebut tidak

dicantumkan nama maupun tanda tangan, mungkinkah bocah

ini salah mencari orang?

Malam itu udara gelap gulita, tiada rembulan, hanya

bintang yang betebaran memenuhi angkasa.

Walaupun Suma Thian yu memiliki kepandaian untuk

melihat dalam kegelapan, tapi saat itu dia tak sanggup melihat

pemandangan yang berada satu kaki dihadapannya, hal ini

membuat hatinya diam-diam merasa amat gelisah.

Sebenarnya dia ingin bertanya kepada bocah itu ke

manakah mereka hendak pergi, tapi dia pun kuatir

ditertawakan oleh pihak lawan, padahal kalau tidak ditanyakan

hatinya terasa amat kesal dan gugup.

Mendadak bocah lelaki yang sedang berlarian di muka

berpaling seraya berseru:

“Sudah hampir sampai, bagaimana kalau kita mempercepat

sedikit perjalanan kita?”

Selesai berkata, tanpa menunggu persetujuan dari Suma

Thian yu lagi dia lantas menghimpun tenaga dalamnya dan

berganti gerakan tubuh, kali ini dia menempuh perjalanan

dengan meng gunakan ilmu meringankan tubuh Pat pah kan

cian (delapan langkah mengejar comberet).

Tentu saja Suma Thian yu tak berani berayal pula, buruburu

dia menghimpun tenaga murnuinya dan

mengembangkan ilmu meringankan tubuh Leng kong siu tok

yang sangat lihay itu, bagaikan peluru yang melejit kedepan,

ia mengejar lawannya dengan ketat.

Tiada hentinya bocah lelaki didepan itu ber paling dan

melihat apakah Suma Thian yu ber hasil menyusulnya atau

tidak, namun sepanjang jalan dia tak pernah berbicara lagi

walau se patah kata pun, hal mana semakin menambah

misteriusnya suasana.

Setelah menempuh suatu perjalanan yang cukup panjang,

menembusi beberapa bukit, entah oerapa jauh sudah mereka

berjalan akhirnya terdengar bocah lelaki itu bersorak gembira:

“Sudah sampai, didepan sana adalah rumahku”

000O000

WAKTU ITU Suma Thian yu sudah kehabisan tenaga,

dengan badan lemas, napas tersengkal-sengkal, seluruh

badannya basah kuyup oleh keringat, membuatnya untuk

sesaat tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan itu, si bocah lelaki itu segera berkata

sambil tertawa cekikikan:

“Tampaknya aku telah membuatmu kepayahan, padahal

waktu kedatangan kita masih terlambat setengah kentongan

daripada waktu telah kutetupkan sebelumnya!”

Ucapan tersebut tak ubahnya menyindir ketidak becusan

Suma Thian yu dalam melakukan perjalanan, kontan saja

paras muka anak mu da itu berubah menjidi merah sebentar,

hijau sebentar, panas sebentar, dingin sebentar, rasanya tak

terlukiskan dengan kata kata.

Sedemikian jengahnya pemuda itu, sehingga seandainya

disana terdapat sebuah lubang gua, niscaya dia sudah

menerobos masuk ke dalam untuk menyembunyikan diri.

Dengan cepat dia berpaling ke arah puncak bukit didepan

sana, mendadak ia tidak menjumpai rumah seperti yang

dikatakan bocah uu, kecurigaan segera timbul, sambil meman

dang wajah si bocah itu tanyanya agak terdengung:

“Sobat cilik, dimana rumahmu?”

“Itu dia, dibelakang bukit sana” jawab si bocah sambil

menunjuk kedepan sana.

Suma Thian yu melihat tempat yang ditunjuk adalah bukit

didepan sana, hatinya lantas menjadi lega, akan tetapi

sewaktu tidak menjum pai jalan tembus disitu, keningnya

lantas ber kerut dan wajahnya memperlihatkan rasa ke

sulitan.

Ternyata antara tempat dimana mereka ber ada sekarang

dengan bukit yang berada dise berang sana dipisahkan oleh

sebuah jurang yang lebarnya kurang lebih tiga puluh kaki,

jangankan manusia, sekalipun binatang juga belum tentu bisa

melampauinya.

Orang hanya mungkin mencapai puncak seberang bila dia

menuruni lembah jurang itu le bih dulu, atau bila dia bersayap

dan sanggup terbang melampauinya.

“Bagaimana cara kita menyeberang kesana?” dengan

perasaan tercengang akhirnya Suma Thian yu berseru.

“Tentu saja ada caranya, harap kau kau jangan kelewat

terburu napsu” sahut si bocah cepat.

Diam-diam Suma Thian yu berpikir lagi:

“Kau punya cara apa? Memangnya bisa ter bang

menyeberangi jurang ini? Kalau memang demikian, bukankah

dia sudah menjadi dewa bukan manusia lagi…?”

Sementara itu terdengar sibocah sedang ber gumam

seorang diri.

“Ing ji memang cukup binal, tahu kalau aku bakal datang

terlambat, dia tak mau menunggu aku sebentar lagi, hmmm,

sebentar aku harus menghukum dia”

Ketika Suma Thian yu mendengar dikebut kannya nama

“Ing ji”, dia semakin keheranan, segera pikirnya lagi:

“Mungkinkah bocah lelaki ini masih mempunyai seorang

adik perempuan yang lebih kecil?”

Sementara dia masih berada dalam keadaan bingung dan

tidak habis mengerti…

Mendadak bocah kecil itu berpekik nyaring kearah bukit

disebrang sana, suara pekikannya amat nyaring memekikan

telinga, seperti suara genta dari kuil yang menggaung

diseluruh tanah perbukitan, nyaring, keras dan mengagumkan.

Cukup dilihat dari kemampuannya berpekik nyaring, jika

seseorang tidak memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh

tahun hasil latihan, jangan harap ia bisa berbuat demikian.

Diam-diam Suma Thian yu menghela napas panjang, suatu

perasaan rendah diri segera muncul dihati kecilnya.

Begitu suara pekikan tersebut sirap, dari seberang bukit

sana berkumandang suara pekikan burung hong, kemudian

tampak seekor burung raksasa berwarna hijau terbang

mendekat.

Dengan cepat Suma Thian yu menjadi mengerti, rupanya

yang dimaksudkan sebagai “Ing-ji” adalah burung yang

sedang melintasi jurang sekarang, atau dengan perkataan

lain, burung tersebutlah sebagai sarana angkutan untuk

menyeberangi jurang itu.

Dalam waktu singkat burung yang berwarna warni itu

sudah melintasi dua buah puncak bukit, tampaknya ia seperti

ada maksud untuk mempermainkan si lelaki tersebut, sambil

terbang merendah dan berputar beberapa kali, dia berkaok

tiada hentinya.

Menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan geli bercampur

mendongkol bocah itu membentak:

“Ing-ji, waktu sudah siang, mengapa kau tidak segera

turun? Apakah kau menunggu sampai kubekuk batang

lehermu nanti?”

Ing ji masih saja berkaok sambil putar kian kemari,

tampaknya ia makin sengaja tak mau melayang turun

kebawah. Akhirnya dengan marah bocah itu berteriak: “Jika

kau tidak turun lagi, lihat saja nanti sekembalinya dari sini

akan kulaporkan kepada ibu agar kau dihukum!” Menurut

aturan, Ing ji pasti akan menuruti perkataan itu dan melayang

turun kebawah, sekalipun dia hendak berubah, paling tidak

ulahnya tak akan sampai menggusarkan majikan mudanya.

Suma Thian yu adalah seorang pemuda yang cerdas, ia

segera merasakan ada sesuatu yang tak beres, sepasang

matanya yang tajam dengan cepat menyapu sekejap sekitar

sana, akhirnya dia menjerit kaget:

“Aaaah, coba lihat, apakah itu?”

Mendengar seruan tersebut, si bocah itu segera berpaling,

paras mukanya kontan berubah.

Ternyata diatis batang pohon raksasa dibelakang mereka

berdua, melingkar seekor ular raksasa sebesar baskom,

kepalanya berbentuk segitiga, sepasang matanya seperti

lampu lentera dan memancarkan cahaya bengis, kalau dilihat

dari sikap dan gayanya, tampaknya ular itu sudah bersiap

sedia melancarkan sergapan kearah mereka berdua.

Dengan marah bocah itu segera membentak:

“Rupanya binatang keparat ini yang sedang mengacau, tak

aneh kalau Ing-ji tak berani turun kebawah…”

Sambil berkata telapak tangan-nya segera diayunkan

kedepan menghantam ular beracun itu, angin pukulan yang

menderu-deru langsung menghajar tubuh binatang tadi.

Siapa tahu ular beracun itu amat cekatan, dia segera

miringkan kepalanya menghindarkan dirinya dan menyusul

kemudian sambil mementangkan mulutnya dia menyemburkan

segumpal kabut tebal.

“Hati-hati ada racunnya” Suma Thian y menjerit kaget, lalu

sambil mencabut keluar pedangnya serunya lagi kepada bocah

itu, “sobat kecil, seranglah dia agar menjadi marah, tapi hatihati

dengan semburan udara beracun-nya”

Sambil berkata dia mengeluarkan dua butir pil anti racun

dan menyerahkan sebutir kepada si bocah sebelum sebutir

yang lain ditelan ke perut, kemudian dia baru menjejak tanah

melejit ke udara, dari atas dahan pohon itulah dia

mengayunkan pedangnya membacok ekor ular rersebut.

Si bocah yang berada dibawah segera mele paskan pukulan

dahsyat pula ke atas kepala ular beracun itu setelah

menyaksikan Suma Thian yu turun tangan.

Menghadapi ancaman dari muka dan belakang, ular

beracun itu berpekik marah, matanya yang buas makin

memancarkan sinar tajam, tanpa perdulikan ancaman

terhadap ekornya, “Weesss” mendadak ia melejit ke depan

dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari

busjrnya, lalu mementangkan mulutnya lebar-lebar dan

menyemburkan kabut beracun yang berbau busuk.

Mimpipun si bocah itu tak menyangga kalau ular beracun

itu tidak takut dengan ancaman pukulannya, begitu terkena

semburan kabut beracun tersebut, kendatipun ia sudah

menelan pil anti racun, toh kepalanya terasa pusing juga,

dengan sempoyongan tubuhnya mundur ke belakang.

Disaat pikiran si bocah sedang bercabang inilah, secepat

angin ular beracun itu mener jsng ke depan.

Bocah lelaki itu menjerit kaget, lalu mundur ke belakang.

Lihay sekali ular beracun itu, ekornya segera disapu

kedepan dan mentalkan tubuh bocah itu.

“Blaaam!” bocah itu segera terbanting keras-keras diatas

tanah, mssih untung tempat dimana ia terjatuh adalah tanah

berumput, kalau tidak, niscaya pantatnya akan robek.

Sementara itu, Suma Thian yu telah menerjang kebawah

berbareng dengan kebasan ekor ular beracun itu, pedangnya

langsung menembusi punggung binatang itu.

Sepantasnya dengan tertusuknya punggung si ular, paling

tidak binatang itu, akan terluka, namun kenyataannya bukan

sajs tidak mati malahan justru menimbulkan sifat buas dan

garang dari ular raksasa tersebut.

Terdengar ular raksasa itu berpekik kesakitan, tubuhnya

bergulingan diatas tanah, ekornya dikibaskan keatas dan

segera menggurung ke tubuh Suma Thian yu.

Menghadapi ancaman tersebut, Suma Thian yu berlagak

seolah-olah tidak melihatnya, secara berputar dia

melepaskan tiga buah tusukan berantai yang semuanya di

tujukan kebagian mematikan ditubuh sang binatang.

Dengan kejadian ini, sifat buas si ular raksasa itu makin

menjadi, sambil mementangkan taringnya dia menyemburkan

kabut beracun yang makin tebal mengurung seluruh tubuh

anak muda tersebut.

Suma Thian yu makin menggila, secara beruntun dia

melepaskan tujuh delapan buah serangan tubuh ular itu.

Termakan oleh bscokan pedang Kit Hong kiam yang tajam,

seketika itu juga si ular beracun itu terbelah menjadi tiga

bagian, tetapi ular itu belum mati juga.

Padahal berada dalam keadaan seperti ini, asal bagian

“tujuh inci” dari ular yang mematikan itu kena di gencet,

niscaya ular beracun itu akan mati seketika.

Sayang Suma Thian yu merasa asing terhadap keadaan

semacam itu, dia tidak mengerti rahasia tersebut, oleh sebab

itu dia harus menggorbankan tenaganya untuk berjuang mati

matian.

Akibatnya bukan saja dia gagal membinasakan ular beracun

itu, malah sebaliknya karena kelewat lama terkurung oleh

kabut beracun si ular, meluruh tubuhnya menjadi kaku dan

akhir nya jatuh tak sadarkan diri.

Begitu dia roboh kebetulan tubuhnya jatuh vdiatas perut

ular itu, dengan cepat si ular raksa sa itu membalikkan badan

sambil mementangkan mulutnya lebar-lebar siap menerkam

tubuh anak muda tersebut.

Disaat yang amat kritis inilah, menndadak dari tengah

udara berkumandang suara pekikak burung hong yang amat

nyaring. si Ing-ji me nutup kembali sepasang sa yapnya dan

secepat kilat menukik kebawah serta menotol bagian “tujuh

inci” dari ular beracun itu.

Sementara itu ular beracun itu sedang memusatkan

perhatiannya untuk menelan Suma Thian yu, mimpipun dia tak

menyangka kalau “Belalang menubruk comberet, burung nuri

mengincar dari belakang” tiba-tiba saja bagian dari “tujuh inci”

nya terasa amat sakit, darah sege ra menyembur keluar dari

mulutnya, lalu sete lah mengejang beberapa saat, tubuhnya

roboh menindih diatas badan Suma Thian yu.

Ular beracun itu paling tidak berbobot lima ratus kati lebih,

begitu jatuh menindih badan Suma Thian yu yang sedang

pingsan, si anak muda itu segera muntah darah segar.

Ing-ji seperti pahlawan yang menang perang segera

mentangkan sayapnya terbang keangkasa dan berpekik

kegirangan.

Dalam pada itu, si bocah lelaki tersebut sudah mengatur

napas dan mendesar keluar hawa beracun yang mengeram

didalam tubuhnya, melihat si ular raksasa tersebut menindih

diatas badan Sumi Thian yu, dengan cepat dia memburu

mendekat, lalu bekerja keras menyingkirkan bangkai ular

raksasa itu. Kemudian dia memanggil Ing ji, membopong

tubuh Suma Thian yu keatas punggung ular itu dan diiringi

pekikan nyaring, Ing-ji menye berangkanmereka kepuncak

sebelah depan. Selama ini Suma Thian yu berada dalam

keadaan tidak sadar, bagaimanakah cara mereka

menyeberangi jurang tersebut, boleh dibilang dia sama sekali

tidak tahu. Tatkala pemuda itu sadar kembali dari pingsannya,

dia merasakan tubuhnya sudah dibaringkandidalam

sebuah rumah kecil yang rapat dan tak tembus angin. Dengan

cepat dia melompat bangun, tapi kepalanya terasa pusing

sekali, dia segera roboh dan tertidur kembali.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia seperti

mendengar pintu kamar dibuka orang, lalu bocah lelaki itu

berjalan ke dalam ruangan.

Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya, ternyata

bocah lelaki itu adalah bocah yang membawanya ke sana.

Maka sambil memaksakan diri untuk duduk, segera

tegurnya:

“Tolong tanya dimanakah aku sekarang?”

“Di rumahku!” sahut bocah itu sambil membelalakkan

matanya lebar-lebar.

“Sudah berapa lama aku tertidur?” kembali Suma Thian yu

bertanya?”bagaimana caraku menyeberang ke mari?”

Bocah lelaki itu tertawa cekikikan.

“Ing-ji yang membopongmu kemari”

“Oooh” sambil berkata Suma Thian yu beru saha untuk

bangkit berdiri.

Siapa tahu begitu ia berdiri, seketika itu juga kepalanya

terasa pusing sekali, ia menjadi sempoyongan dan hampir saja

roboh ter jengkang keatas tanah.

Buru-buru bocah lelaki itu memayangnya lalu berseru

dengan cemas:

Hawa racun yang mengeram dalam tubuh mu belum

hilang, lebih baik berbaringlah dulu, ibuku segera akan tiba”

Suma thian yu menurut dan membaringkan tubuhnya lagi,

pada saat itulah tirai pintu ter singkap dan masuk seseorang.

Suma Thian yu merasakan pandangan msta nya menjsdi

silau, tahu-tahu seorang perempuan cantik jelita telah berdiri

dihadapannya.

Suma thian yu merasakan pandangan mata nya menjadi

silau, dengan cepat dia amati perempuan itu lebih seksama.

Ternyata perempuan itu berusia tiga puluh tahunan,

berwajah bulat telur, beralis lentik, bermata jeli, hidung

mancung dan bibir yang kecil mungil, ia benar-benar cantik

sekali. Dengan cepat dia menyadari kalau perempuan

cantik jelita ini tak lain adalah ‘ibu’ yang dimaksudkan

bocah lelaki itu.

Buru-buru dia melompat bangun sambil menjura.

“Berkat pertolongan anda, aku merasa berterima kasih

sekali”.

Perempuan cantik itu tertawa hingga nampak sepasang

lesung pipinya yang indah, katanya:

“Berbaringlah lebih dulu. bila ada persoalan lebih baik kita

bicarakan nanti saja”. Kemudian kepada si bocah katanya

pula: “Liong ji, cepat ambil kuah jinsom itu dan bawa kemari”.

Liong-ji segera berlalu dengan cepat, tak selang berapa

saat kemudian dia sudah muncul kembali dalam ruangan

dengan membawa se mangkuk kuah jinsom.

Perempuan cantik itu menerima mangkuk tersebut dan

segera disuapkan kemulut Suma Thian yu, kemudian sambil

menyuruh pemuda itu ber baring kembali, tangannya yang

halus, lembut dan hangat itu ditempelkan diatas dadanya,

segulung hawa murni lantas menyusup masuk ke dalam

tubuhnya.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak Suma thian

yu merasakan ada segulung hawa panas mengalir melalui

dada dan terus masuk ke pusar, kemudian mengalir ke

sepasang kakinya sedang dari sepuluh jari kakinya terbuang

keluar.

Tak selang beberapa saat kemudian, Suma Thian yu

merasakan semangatnya berkobar kembali, ia merasa sesar,

terutama kuah jinsom yang barusan diteguknya kini sudah

mulai menyebar keseluruh hadan, tubuh yang semula

lemahpun kini telah pulih kembali.

Selama hidup belum pernah Suma Thian yu menjumpai

cara penyembuhan semacam ini, dari sini dapat ditarik

kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki perempuan

cantik ini benar-benar telah mencapai puncak

kesempurnaannya.

Ketika Liong ji menyaksikan mukanya berubah menjadi

merah dadu, sadarlah dia kalau hawa racunnya telah punah,

dia bersorak gembira dan lari menghampiri ke sisi Suma Thian

yu, serunya sambil menarik tangan anak muda itu:

“Terima kasih langit, terima kasih bumi akhirnya kau toh

sembuh kembali, ayo bangun. Mari kita bermain-main diluar

sana”

“Liong-ji!” perempuan cantik itu segera membentak, “jika

kau nakal lagi, hati-hati kalau lbu menghajarmu, kini

kesehatan badan siauhiap baru saja pulih, dia harus

beristirahat be berapa hari lagi sebelum benar benar sembuh”

Liong ji menjulurkan lidahnya sambil membuat muka setan,

lalu, secara diam-diam menyingkir kesamping perempuan

cantik itu dan tak berani berbicara lagi.

Sambil tersenyum perempuan cantik itu berkata lagi kepada

Suma Thian yu:

“Tahukah kau apa sebabnya kuundang kemari?”

Dengan cepat Suma Thian yu menggeleng.

“Boanpwe tidak tahu, harap diberi petunjuk”

“Kau merasa keheranan bukan? Apa sebab nya tanpa

sebab tanpa musabab Liong ji mengundangmu berkunjung ke

gua Hui liong tong?”

Berbicara sampai dlsitu, perempuan cantik itu lantas

menuding kearah Liong ji seraya berkata:

“Dia adalah putraku, Gak Kun liong, bocah ini mengikuti

nama marga orang tuaku”

Suma Thian yu hanya mendengarkan dengan tenang,

sedang dihati kecilnya merasa keheran sebab sudah setengah

harian lamanya perempuan cantik itu berbicara, namun dia

belum pernah menyinggung tentang alasannya mengundang

ia kesitu.

Agaknya perempuan cantik itu dapat menebak suara hati

orang, dia dapat menangkap kecurigan dalam hati kecil Suma

Thian yu, maka ujarnya lagi:

Jilid : 12

Pernahkah kau mendengar nama Kau ih li (perempuan

berbaju putih)…

“Boanpwe berpengetahuan cetek, tidak me ngetahui

tentang nama tersebut…” sahut pe muda itu cepat.

“Tentu saja kau tak mengetahui, orang per silatan pun

jarang sekali mengetahui nama ter sebut, Kau ih li adalah

julukanku ketika aku masih melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan dulu. Dua puluh tahun berselang, aku pernah

melakukan pengembaraan didunia persi latan serta melakukan

beberapa macam peker jaan yang menggemparkan

masyarakat, tapi akhirnya aku dibelenggu oleh suatu

persoalan yang mana membuatku putus asa sehingga akhir

nya balik kebukit ini”.

Setelah berhenti sejenak, perempuan itu berkata lebih

jauh:

“Sejak itu aku bersumpah tak akan turun gunung lagi,

suhuku pun memperingatkan kepadaku agar tidak meninggal

gua ini lagi, sebab mendapat pukulan batin yang berganda

datang nya ini, seluruh pikiran dan perhatianku hana

kucurahkan untuk mendidik Liong-ji, kini ilmu silat yang

dimiliki Liong-ji sudah mencapai delapan sembilan bagian

kepandaianku, yang masih kurang baginya hanya pengalaman

serta kesempurnaannya belaka”

“Berapa hari berselang, kebetulan guruku berpesiar kemari,

dia telah meninggalkan beberapa tugas kepadaku yang

mengatakan bahwa berapa hari lagi akan lewat seorang yang

ber nama Suma Thian yu hendak pergi ke bukit Han san, aku

ditugaskan untuk menahanmu lama berapa hari di sini…

Sedang mengapa sebabnya dia orang tua datang kemari

aku sendiripun kurang begitu jelas”

Beberapa patah perkataan itu semakin membuat Suma

Thian yu keheranan, akhirnya dengan perasaan tercengang

dia bertanya:

“Tolong tanya cianpwe, siapakah nama guru mu itu?”

Hui Hong tongcu( pemilik gua naga terbang) perempuan

berbaju putih Gak Say bwee menyahut:

“Dia bernama Cang liong, orang persilatan menyebutnya

sebagai Cang Iiong lo sian jin” Begitu mendengar nama

julukan tersebut kontan saja Suma Thian yu berseru tertahan:

“Oooh….. rupanya tokoh persilatan itu” Ternyata Cang liong lo

sian jin adalah se orang pendekar aneh yang sudah termashur

dan menggemparkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun

berselang, berbicara soal tingkatan kedudukannya dalam

dunia persilatan serta soal tingkatan ilmu silatnya, mungkin

tiada orang yang bisa menandingi kelihayannya.

Lo sianjin ini sudah berusia seratus tahun lebih, dia pun

sudah amat menguasai ilmu aga ma Buddha maupun ilmu

silat, kepandaian silat yang dimilikinya begitu sempurna

hingga dalam sekali kebasan tangannya saja, dia mampu

untuk membunuh orang dari jarak sepuluh kaki, meniup patah

ranting pohon dari jarak jauh, menotok jalan darah diudara

kosong dan melukai orang dengan pedang terbang.

Sewaktu dia berhasil membunuh Cuan San ji sat (dua

malaikat bengis dari bukit Cuan san) dilembah Cui im kok

bukit Lu san dengan pe dang terbangnya, oleh umat persilatan

dia di sebut sebagai dewa pedang nomor wahid dari dunia

persilatan.

Selama hidupnya Cang liong Lo-Sianjin ha nya menerima

seorang murid saja yakni Hui liong tongcu, konon dia masih

mempunyai hu bungan famili dengan Lo-sianjin tersebut, soal

apakah hubungan mereka itu, tidak seorang manusiapun yang

tahu.

Hui liong Tongcu Gak Say-bwee adalah se orang

perempuan yang gemar akan ketenangan oleh sebab itu

semua pekerjaan yang dia laku kan tak pernah disinggung

kepada orang lain, semuanya dikerjakan secara diam-diam

tanpa menimbulkan berita, keadaannya ibarat ‘naga sakti yang

nampak kepalanya tak kelihatan ekornya’.

Orang persilatan yang tahu kalau dalam

dunia persilatan terdapat seorang Pendekar perempuan

yang bernama Kau ih li, merekapun tahu kalau pendekar

perempuan itu suka meno long orang tanpa pamrih, karena

mereka hanya tahu nama tak parnah melihat orangnya, oleh

sebab itu semua orang hanya menyebut nya sebadai Kau ih li.

Kau ih li Gak Say-bwe pernah terlibat dalam jaring

percintaan, siapa tahu setelah melahir kan Liong-ji, suaminya

mati karena sakit, di tambah pula dia memang sudah bosan

berkelana didalam dunia persilatan, maka dia lantas

mengundurkan diri dari keramaian dunia dan kembali kegua

Hu liong tongnya ini.

Itulah sebabnya diantara orang persilatan, kecuali beberapa

orang tokoh silat dari angkat an tua, pada hakekatnya tak

seorangpun yang mengetahui asal usulnya yang sebenarnya.

Dari gurunya Put Gho cu, Suma Thian yu mendapat tahu

kalau dalam dunia persilatan ter dapat seorang pendekar aneh

yang bernama Cong liong Lo sianjin, oleh karena itu setelah

mengetahui nama dari gurunya Hui liong Tong cu, dia

merasakan hatinya bergetar keras, tan pa terasa diapun

mempunyai penilaian yang berbeda lagi terhadap perempuan

cantik itu.

“Tak heran kalau Liong-ji dengan usianya yang masih

begitu muda ternyata memiliki ke pandaian silat yang luar

biasa, ternyata ibunya adalah anak murid dari Cang liong lo

sianjin demikian ia berpikir.

Sementara Suma Thian yu masih berbincang-bincang

dengan mereka ibu dan anak, mendadak dari depan sana

berkumandang beberapa kali suara pekikan burung hong.

Dengan cepat Hui liong tongcu Sak Say hwe berseru:

“Liong ji, ada tamu agung tiba, cepat keluar dan

menyambut kedatangannya”

“Gak Kun liong segera menarik langan Suma Thian yu

sambil berseru:

“Engkoh Thian yu, bagaimana kalau kau ikut aku?”

Hui liong Tongcu Gak Say hwee segera tertawa geli,

serunya:

“Tampaknya kau sudah memperoleh rekan yang cocok,

kalau begitu ajaklah dia serta”

Suma Thian yu segera melompat bangun, rasa pening yang

semula mendarat di kepalanya kini tersapu lenyap, setelah

menjura kepada Hui liong tongcu, katanya:

“Terima kasih banyak cianpwe atas pengobatanmu!”

“Pergi, pergi, orang sudah hampir tiba didepan gua!” desak

Gak Say hwee cepat.

Agaknya Gak Kun liong seperti amat terbu ru-buru, sambil

menarik tangan Suma Thian yu, seperti segulung angin puyuh

dia lari ke arah mulut gua….

Belum lagi mereka berdua sampai di mulut gua, dari luar

sana kedengaran suara serak se orang tua sedang berseru:

“Tamu agung sudah datang, masih belum ada orang yang

datang menyambut, beginikah cara si hwesio gundul itu

mengajarkan kalian menerima tamu…?”

Begitu mendengar suara tersebut, Gak Kun Hong segera

berteriak:

“Aai, rupanya si pengemis tua yang datang!”

Sambil berseru dia lantas memburu kemulut gua.

Baru saja mereka berdua meninggalkan gua, tampak

bayangan manusia depan mata, tahu-tahu seorang pengemis

tua sudah muncul dihadapan mereka.

Begitu melihat paras muka pendatang itu, Suma Thian yu

turut berteriak keras:

“Oooh, rupanya Wi Lo-cianpwe yang datang”. Siapa

sebenarnya yang telah datang? Dia memang tak lain adalah

Siau yau kay (penge mis yang suka pelancongan) Wi Kian

yang su dah menggetarkan seluruh dunia persilatan!

Dengan wajah cemberut, tanpa memandang sekejap pun

kearah Suma Thian yu, pengemis itu langsung mencengkeram

arah baju Gak Kun liong, kemudian mencaci maki kalang kabut

“Bocah cilik! Apa yang pernah aku si pengemis tua katakan

kepadamu? Setelah mendengar suaraku, mengapa kau masih

bersembunyi disini, apakah kau takut kulalap dirimu?”

“Oooh….engkoh pengemis, kau jangan marah, hadiah yang

kau janjikan untukku sudah kau bawah belum?” tegur Gak

Kun liong sambil tertawa cengar cengir.

Begitu mendengar ucapan mana, Siau yau kay Wi Kian

segera melepaskan cengkeraman-nya dan bergumam sambil

menepuk kening sendiri:

“Aduh celaka, sudah setua ini, kenapa aku begitu pelupa?”

“Waaah… tidak bisa jadi, tidak bisa jadi, kau membohong

saja, aku tak akan memper kenankan kau masuk.

Siau yau Kay Wi Kian menjadi amat gelisah, kembali dia

berseru:

“Bocoh cilik, kau harus menunggu dengan sabar, baiklah,

aku si pengemis akan pergi dulu, pasti akan kubawa

hadiahnya bila datang lagi nanti….”

Sambil berkata, dia lantas membalikkan badan siap berlalu

dari tempat itu.

Menyaksikan kejadian ini, dengan gugup Gak Kun liong

mencegah:

“Tak usah, tak usah, pokoknya lain kali mesti kau ingat

baik-baik, ibu sedang menung gu kau di dalam, masuklah

kedalam”

Sambil mengangkat bahu, Siau yau kay wi Kian membuat

muka setan, kemudian katanya lagi sambil membalikkan

badan:

“Tak usah yaa tak usah, lain kali aku si pengemis tua tentu

akan mengintai baik-baik” Selesai berkata dia lantas berjalan

menuju kedalam gua, sedang Suma Thian yu dan Gak Kun

liong mengikuti dibelakangnya.

Sekarang Suma Thian yu baru berkesempatan untuk

memperhatikan keadaan di dalam gua Hui liong tong,

namanya saja sebuah gua, pada hal mulut guanya saja mirip

gua, sedang dalamnya mana lebar, besar lagi, tiang besar

yang penuh ukiran dengan dinding yang gemerlapan tak kalah

indahnya dengan ruang besar keluarga kaya.

Didalam sana penuh bergelantungan lukisan-lukisan orang

kenamaan, ditengah ruangan terdapat selembar meja berkaki

delapan yang terbuat

dari batu dengan delapan buah kursi batu, diatasnya

berjajar tempayan yang berisi buah-buah segar.

Kedua sisi ruangan tengah adalah kamar tamu, disebelah

kiri adalah kamar tidur Suma Thian yu, sedangkan sebelah

kanannya mungkin merupakan kamar tidur Gik Say hwe

dengar putranya.

Untuk sesaat Suma Thian yu dibuat tertegun oleh berbagai

barang yang ada disana, tanpa terasa dia mulai berpikir

bagaimana caranya barang-barang tersebut dipindah ke dalam

sana dan siapa yang membuatnya?

Rasa ingin tahu membuat dia terjerumus kedalam lamunan.

Sementara itu Siau yau kay Wi Kian sudah masuk kedalam

ruangan, bagai kan pulang ke rumah sendiri saja dia langsung

menuju ke kursi utama dan duduk disana, teri aknya keras:

“Hei bocah, cepat kau buatkan air teh, mengapa kau masih

belum juga masuk kedalam?”

Gak Kun liong segera mencibirkan bibirnya membuat muka

setan, sahutnya setengah meng ejek:

“Aduh, besar amat lagakmu, aku sengaja tak mau buatkan

air teh untukmu, mau apa kau? Tunggulah saja sampai

hadiahnya diberikan kepadaku, pasti akan kubuatkan sepoci

air teh wangi untukmu”

Mendengar perkataan itu, Siau yau kay wi Kian tertawa

terbahak-bahak, suaranya keras hingga menggetarkan seluruh

ruangan tersebut, Ditengah gelak tertawa itulah, pintu kamar

sebelah kiri terbuka dan muncullah seorang perempuan muda

berparas cantik.

Dengan wajah penuh senyuman, Hui liong Tongcu Gak Say

bwee berjalan ke depan Siau yau kay Wi Kian dan menjura

dalam-dalam, lalu ujarnya amat lembut:

“Putraku memang nakal sekali, harap Wi tayhiap sudi

memakluminya”

“Mana, mana, kalau seorang bocah tidak nakal,

keberhasilannya dikemudian hari tentu amat terbatas, kalau

seorang sudah jadi goblok, kau suruh dia nakal pun belum

tentu ia bisa nakal.

Berbicara sampai disitu, dia lantas merogoh ke dalam

sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, sambil

disodorkan kehadapan Liong-ji, katanya:

“Nih, hadiah dari aku si pengemis tua, ayo buatkan air teh

untukku!”

Melihat hadiah tersebut, Gik Kun liong membelalakan mata

lebar-lebar, lama kemudian dia baru berseru:

“Terima kasih!”

Dia segera lari ke ruangan dalam, tampaknya setelah

menerima hadiah, dia lantas mem buatkan air teh untuk

tamunya.

Memandang bayangan punggung Liong-ji yang lenyap di

balik gua sana, Hui liong Tongcu menggelengkan kepalanya

berulang kali sambil menghela napas panjang, katanya:

“Semenjak kecil bocah ini kehilangan orang tuanya,

ditambah lagi sudah terbiasa kumanja, akhirnya jadilah watak

tidak takut langit tidak takut bumi, aku sungguh menguatirkan

dia!”

Siau yau kay Wi Kian terbahak-bahak.

“Haaah…haaah…haaah… bocah ini berbakat baik, berhati

mulia, masa depannya pasti cemer lang, buat apa kau meski

menguatirkan keselamatan jiwanya?”

Mendengar perkataan itu, Hui liong Tongcu Say bwee baru

merasa sedikir agak tenang. Sejak datang sampai kini, Siau

yau kay sama sekali tidak mengajak Suma Thian yu bicara

barang sepatah katapun, hal ini membuat anak muda itu

seperti tersingkirkan dan berdiri disamping dengan kepala

tertunduk dan wajah tersipu-sipu.

Dalam sekias pandangan saja, Hui liong tongcu Gak Say

bwee dapat melihat akan hal itu, kepada Wi Kian segera

ujarnya: “Sauhiap ini adalah…”

“Aku tahu” tukas Siau yau kay Wi Kian dengan dingin,

kemudian kepada Suma Thian yu serunya, “mengapa kau

berkomplot dengan orang membegal barang kawalan Sin

Hong piauklok?” Rupanya Siau yau kay Wi Kian bersikap

dingin terhadap Suma Thian yu karena dia salah paham

terhadap anak muda itu,

dianggapnya dialah yang telah berkomplot dengan

kawanan perampok berkerudung untuk membegal dan

menyerbu Sin Hong pioukiok.

Agak tertegun Suma Thian yu setelah mendengar

perkataan itu, dia segera melompat bangun, kemudian dengan

gagahnya dia membantah:

“Locianpwe, kau anggap Thian yu adalah seorang manusia

rendah yang terkutuk dan tak

tahu malu?”

“Justru karena kau tidak mirip, maka aku si pengemis tua

baru dapat ber sabar hingga kini, coba kalau tidak, sekali hajar

kubinasakan di rimu semenjak tadi” teriak Siau yau kay Wi

Kian dengan ludah yang muncrat kesana-kemari.

Secara ringkas Suma Thian yu menceritakan keadaan yang

dialaminya ketika itu, kemudi an bercerita pula bagaimana dia

berkunjung kerumah Sin kun lun Siau Wi goan hingga

akhirnya lari kesana.

Dengan tenang Siau yau kay mendengarkan penuturan

tersebut hingga selesai, pelan-pelan bawa amarahnya

mengendor.

Pada saat itulah Gak Kun liong telah cul sambil

menghidangkan air teh.

Terdengar Siau yau-kay Wi Kian berkata:

“perjalanan yang jauh akan memperlihatkan kekuatan

kuda, persoalan yang lama memperlihatkan watak manusia.

Bagaimanakah ke adaan yang sebenarnya tak lama kemudian

ba kal terbongkar, sampai waktunya akan diketahui siapa

benar siapa salah”

Baru saja Siau yau kay Wi Kian menyelesaikan

perkataannya, mendadak berkumandang suara tertawa dingin,

suara itu meski rendah

dan lemah akan tetapi setiap orang yang bera

da dalam gua itu bisa mendengar dengan jelas sekali.

Hui liong Tongcu Gak Say bwe tanpa ber paling tertawa

tergelak, lalu tegurnya:

“Aaaah rupanya dua orang empek bodoh telah berkunjung

kemari, bila tidak disambut dari kejauhan, harap sudi

dimaafkan”

Mendengar ucapan mana, semua orang segera berpaling ke

arah mulut gua, entah sedari kapan, dimulut gua sudah berdiri

dua orang kakek.

Begitu melihat siapa yang datang, Suma Thian yu segera

bersorak kegirangan: “Aaah, locianpwe!”

Benar juga, ternyata yang datang adalah Wu sao siang gi

siu (sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san) seperti juga

tempo hari, dalam kemurculan mereka kali ini, raut wajah ke

dua orang itu tetap dingin kaku, tidak berbi cara tidak tertawa,

keadaan mereka ibaratnya dua sosok manusia yang terbuat

dari kayu.

Hui liong Tongcu Gak Say bwee sebagai tuan rumah segera

bangkit dan menyambut kedatangan mereka, setelah

memperasilahkan ke dua orang tamunya duduk, baru sapanya

sambil ter tawa:

“Angin apakah yang membawa kalian berdua kemari?”

“Angin pengemis!” jawab Tay gi siu Khong Sian sambil

menuding Siau yau kay.

“Angin pengemis?” Hui liong Tongcu tertegun sesudah

mendengar perkataan itu.

Belum pernah ia mendengar tentang angin pengemis,

hingga jari tangan Tay gisu menuding ke arah Siau yau kay, ia

baru memahami apa yang dimaksudkan, maka ujarnya lagi

sambil tersenyum.

“Ooh, rupanya kau sejalan, mengapa Oi tay hiap sudah

masuk begini lama namun ia tak pernah menyinggung tentang

kalian berdua?”

“Huu, siapa yang sudi melakukan perjalanan bersama

mereka berdua? Hmm, tak tahu malu” sela Siau yau kay Wi

Kiam cepat, selamanya aku si pengemis tua melakukan

perjalanan seorang diri, sedang kalian berjalan meng ikuti

dibelakang pantat aku si pengemis tua, memangnya itu berarti

melakukan perjalanan bersama? Hmm, tak tahu malu!”

Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya lagi

kepada Tay gi siu Khong sian:

“Bagaimana? Apakah urusan itu sudah diselesaikan?”

“Urusan apa?” Tay gi su berlagak bodoh.

“Tentu saja urusan Sin liong piau kiok”

“Kapan sih kau serahkan urusan itu kepadaku?”

“Hmmm, sekalipun tanpa kalian berdua, aku si pengemis

tua sama saja bisa menyelidiki persoalan ini sampai tuntas”

Tay gi siu Khong Sian tertawa terbahak:

“Haahh…haah…haah… itu namanya tak usah di suruh

mengaku sendiri, biniku, kita kan melakukan perjalanan

bersama….?” Merasa dirinya salah berbicara hingga

rahasianya terbongkar, Siau yau kay Wi Kian turut

mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Manusia-manusia berilmu tinggi ini memang kebanyakan

berwatak aneh, bila berjumpa selalu di sertai dengan suara

ribut atau cekcok, andaikata orang lain tidak memahami watak

mereka yang sebenarnya, mendengar ucapan mereka yang

bernada panas serta saling menyindir itu, niscaya hati mereka

akan berdebar karena kuatir.

Dengan wajah bersungguh-sungguh Tay gi si Khong Sian

berkata:

“Semua perkataan dari bocah ini adalah benar dan nyata,

peristiwa diperusahaan Sin liong piau kiok bukan dia yang

melakukan, Siau yau Kay Wi Kian segera manggut-manggut,

“Aku percaya bukan dia yang melakukan, saudara Kiong,

sebenarnya bajingan keparat manakah yang melakukan

perbuatan ini?”

Tay gi siu Khong Sian kembali mengelengkan kepalanya

berulang kali.

“Tahuku, mereka adalah perampok berkerudung!”

Sambil mengepali sepasang tinjunya dan menggebrak

meja, Siau yau kay Wi Kian berseru lagi:

“Aku, sipengemis tua akan menyelidiki peristiwa ini sampai

tuntas!”

Ketika kedua orang itu selesai berbicara Suma Thian yu

segera manfaatkan kesempatan itu untuk bangkit berdiri,

katanya sambil menjura dalam dalam-dalam:

“Boanpwe ucapkan banyak-banyak terima kasih atas

kesudian cianpwe membersihkan namaku”

Siapa tahu Tay gi siu Kiong Sian yang memandangi Suma

Thian yu segera melototkan matanya lebar-lebar, kemudian

dengan nada gusar tegurnya .

“Kau bocah keparat yang tak becus, masih punya muka

untuk berjumpa denganku?”

Ucapan tersebut ibaratnya guntur yang mem belah bumi

disiang bati bolong, seketika itu juga membuat Suma Thian yu

menjadi amat terperanjat.

Dia tak menyangka kalau satu gelombang belum mereda,

gelombang lain telah muncul kembali.

Baru saja kecurigaan Siau yau kay terhadap Suma Thian yu

dibikin terang, sekarang Tay gi siu Khong Sian telah

mendamprat anak muda itu lagi dengan marah.

Tampak Suma Thian yu berdiri termangu-mangu sambil

memandang Tay gi siu dengan tercengang, ia tidak mengerti

perbuatan salah apakah yang telah dilakukan olehnya.

Melihat Suma Thian yu membungkam, Tay gi siu Khong

Sian makin naik darah, sambil mencengkeram baju pemuda

itu, bentaknya lagi.

“Ke mana perginya kitab Cinkeng tersebut?”

Mendengar soal Kitab pusaka tanpa tulisan paras muka

Suma Thian-yu berubah hebat, segera pikirnya:

“Habis sudah riwayatku kali ini, tanggung seperangkat

tulang badanku bakal rontok semua….”

Dengan gugup dia menyahut:

“Telah kuhadiakan kepada Sam yap koay mo!”

“Apa? Telah kau serahkan kepada iblis buas itu? Kau anak

tolol, cucu kura-kura, manusia goblok semacam kau tak bisa

diampuni dengan begitu saja….”

Selesai berkata, tangannya segera diayunkan kedepan

dan…”Plok!” sebuah tamparan yang amat keras bersarang

diatas pipi Suma thian yu, membuat kepalanya pusing tujuh

keliling, matanya berkunang-kunang dan wajahnya merah

separuh.

Siau yau kay Wi Kian yang menyaksikan kejadian ini

merasa tak tega, buru-buru cegahnya:

“Tay gi pak, lepaskan dia, kalau ada urusan mari kita

bicarakan secara pelan-pelan, buat apa sih kau mesti berbuat

macam monyet kena terasi saja.”

Dengan gemas dan mendongkol Tay gi siu Khong Sian

membanting Suma Thian yu keras-keras ketanah, lalu serunya

dengan keras: “Tahukah kau betapa pentingnya benda itu?”

“Aaah, apa sih pentingnya sebuah kitab pusaka palsu” Suma

Thian yu segera membantah. “Telur busuk, benda itulah baru

benda yang asli!” teriak Tay gi siu Khong sian dengan mata

mendelik.

“Haaah!” Suma Thian yu menjerit kaget, mukanya berubah

menjadi hijau membesi untuk sesaat lamanya dia tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali

Tay gi siu Khong sian berkata:

“Coba kau menuruti perkataanku dari merobek nya, mana

mungkin terjadi peristiwa seper ti hari itu? Aku minta kau

menggantinya. Sambil berkata, kembali Tan gi siu Khong Sian

mengayunkan tangannya siap menampar wajan Suma Thian

yu lagi.

Mendadak dan luar gua berkumandang suara gelak tertawa

yang amat nyaring, disusuli seseorang berseru dengan

suaranya yang tua tapi amat nyaring:

“Tak usah kuatir bocah, benda itu barang palsu”

Beberapa orang tokoh persilatan yang hadir dalam gua

sama-sama

tertegun setelah mendengar perkataan itu, sedangkan Hui

im tongcu Gak say bwe segera melayang keluar lebih dahulu

dari dalam gua.

Gak Kun liong Juga turut bersorak dengan gembira:

“Hore, sucou datang!”

Buru-buru dia mengikuti dibelakang ibunya memburu

keluar dari gua tersebut.

Ketika para jago melihat Gak Kun liong ikut keluar, mereka

baru berpaling kemulut gua.

Tampak bayangan manusia berkelebatan lewat, semua

orang hanya merasakan pandangan manyanya menjadi silau

tahu-tahu seorang kakek berkepala botak tapi berjenggot

warna perak telah muncul dalam gua.

Siau yau kay Wi kian yang selamanya acuh tak acuh dan

berbuat semuanya sendiri, kini menunjukkan pula sikap yang

hormat dan serius setelah Berjumpa dengan tokoh tua

tersebut, “Aaah, kami tak tahu kalau locianpwe akan nadir,

kami tidak menyambut dari terapat jauh harap sudi

dimaafkan” buru-buru serunya dengan wajah serius.

Pendeta tua berjenggot perak itu manggut-manggut

kepada setiap orang yang berada dalam gua sambil tertawa,

kemudian ujarnya:

“Silahkan duduk, semuanya tak usah banyak adat”

Sejak kemunculan pendeta tua berjenggot perak itu, Gak

Kun liong tak pernah melepas kan genggaman tangannya,

meski orangnya kecil bocah ini memang berotak setan,

terdengar ia berseru!

“Sucou, jika kau orang tua ingin datang, mengapa tidak kau

kabarkan terlebih dulu kepada Liong Ji, gara-gara ini aku

sampai gelisah selama beberapa hari.

Pendeta tua berjenggot perak itu membelai rambut Gak

Kun liong dengan penuh kasih sayang, ujarnya sambil tertawa

ramah:

“Lain kali aku pasti akan memberitahukan kepadamu lebih

dulu, tapi aku lihat kau bukan buru-buru ingin berjumpa

dengan sucou, kau hanya ingin cepat-cepat menerima hadiah

dari sucou!”

Merah padam selembar wajah Gak Kun liong sesudah

mendengar perkataan itu, sambil menyembunyikan wajahnya

dalam pelukan pendeta tua itu, katanya manja:

“Sucou hanya beraninya menganiaya anak kecil, sucou

jahat, aku toh tidak minta hadiah kepadamu, sekalipun ingin

minta, terpaksa hanya minta kepada sucou untuk

mengajarkan kepandaian kepadaku?”

Pendeta tua itu tertawa terbahak-bahak.

“Haah…haah…haah… nah coba lihat, belum disuruh kau

toh sudah mengaku sendiri”

Kontan seluruh ruangan diramaikan oleh gelak tertawa

yang ramai, sehingga Gak Kun liong menjadi tersipu-sipu dan

tak berani men dongakkan kepalanya lagi:

Sementara itu, Ji gi siu Khong Bong telah bertanya kepada

pendeta tua itu dengan hormat:

“Locianpwe, tadi kau mengatakan bahwa kitab cinkeng itu

palsu, benarkah hal ini?” Pendeta tua itu tersenyum.

“Sesungguhnya yang dimaksudkan sebagai Kitab pusaka

tanpa kata adalah sejilid kitab yang palsu tapi nyata, kitab

pusaka yang palsu dan nyata selalu menggunakan yang palsu

men jadi benar, yang asli menjadi palsu, dibilang asli dia asli,

dibilang palsu dia palsu, sampai akhirnya tergantung pada

siapa yang berjodoh dengan kitab pusaka itu. saat itulah asli

paltu nya baru diketahui”

Semua orang dibuat kebingungan setengah mati oleh

perkataan itu, tapi mereka mengerti kalau dibalik ucapan

mana sesungguhnya tersimpan suatu rahasia yang amat sulit,

tapi bila rahasia mana bisa dipahami, dalam sekali artinya.

Suma Thian yu merasakan hatinya bertambah berat setelah

mendengar ucapan pendeta tua itu, seandainya kitab pusaka

itu asli, padahal dia sendiri yang menyerahkan kepada

manusia iblis berkepala ular Sim Moay hing, maka dosanya ini

sulit untuk ditebus lagi.

Sebaliknya bila cinkeng itu palsu, berarti yang asli ada

didunia ini, dia pernah berjanji kepada sepasang kakek bodoh

dari Wu san untuk menemukan kembali kitab pusaka itu dan

melindunginya hingga tidak sampai terjatuh ke tangan musuh,

hal ini berarti dia harus memikul tanggung jawab yang berat,

suatu kesalahan bertindak bisa berakibat dia menyesal

sepanjang masa.

Beberapa orang jago lihay yang hadir di arena pun diamdiam

sedang mencelah ucapan dari pendeta tua itu.

Sebagaimana diketahui, pendeta berjenggot perak ini

merupakan seorang tokoh silat yang berkedudukan sungguh

amat tinggi didalam dunia persilatan, baik jago dari golongan

hitam maupun dari golongan putih semuanya menaruh hormat

kepadanya, bagi orang persilatan, nona Cong liong ceng sama

halnya dengan nama Kwan-im, Pusat bagi rakyat awam.

Dalam pada itu, Cong liong Losiansu telah mengalihkan

sorot matanya ke wajah Suma Thian yu, mendadak ia

menemukan setitik noda darah yang melekat dipakaian bagian

dada anak muda tersebut, ketika noda darah itu terkena

pantulan sinar matahari, ternyata membiaskan setitik cahaya

tajam yang menyilaukan mata.

Cong liong Losiansu segera berseru tertahan, kemudian

serunya:

“Hei bocah, darimana datangnya noda darah diatas

dadamu?”

Suma Thian yu tertegun setelah mendengar pertanyaan itu,

sebelum sempat menjawab, Gak kun liong yang berada

disisinya telah menjawab lebih dulu.

“Socou, itulah kenangan yang diperoleh sewaktu

membunuh ular beracun .

Sambil berkata Gak Kun liong lantas mengi sahkan kembali

peristiwa pertarungan dengan ular beracun tadi.

Selesai berkata sapasang matanya segera di alihkan

kewajah sucounya seperti menunggu be berapa patah kata

pujian darinya.

Siapa tahu paras muka Cong liong lo siansu berubah

menjadi amat serius setelah mendengar perkataan itu, segera

tegurnya:

“Apakah kepala ular itu….. segera tegurnya:

“Apakah kepala ular itu sudah dipukul sampai hancur?”

“Belum” Gak Kun long segera menggeleng.

Paras muka Cong liong Lo siansu berubah aneh sekali,

kembali dia berseru cemas:

“Cepat, kita ambil mutiara dikepala ular itu” Sambil berkata,

tangan yang satu menyambar Suma thian yu, tangan yang

lain mengepit Gak Kun liong, dia segera beranjak lebih dulu

meninggalkan gua.

Para jago lainnya baru sadar setelah mendengar perkataan

dari pendeta tua itu, buru-buru mereka turut menyusul dari

belakang.

Tiba diluar gua, terdengar Hui im tongcu Gak say bwe

berkata sambil tertawa:

“Waah, kita tak bisa menyebrang kesana…” Ketika semua

orang mengalihkan perhatian-nya kedepan, benar juga,

tampak pendeta tua itu telah menyeberang ke lembah

seberang dengan menumpang burung hong.

Sementara itu, Cong liong lo siancu yang baru saja

menyeberangi jurang,dari tempat kejauhan secara lamatlamat

Suma Thian yu telah menyaksikan ada beberapa sosok

bayangan manusia berada diatas puncak seberang.

Sebelum dia mengucap sesuatu, Cong liong lo siansu telah

berseru dengan cemas:

“Aduh celaka, kawanan penjahat telah mendahului kita.”

Ing ji yang membawa mereka menyeberangi jurang

agaknya mengerti perkataan manusia, mendadak ia menukik

kebawah dan menyambar keatas puncak bukit dengan

kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sebelum Ing ji berhenti, ketiga orang penumpangnya

sudah berlompatan sendiri keatas tanah.

Gak Kun liong yang paling gelisah, dia yang pertama-tama

memburu kesisi bangkai ular beracun itu, ketika di lihatnya

kepala sang ular sudah hancur berantakan, dia segera

berteriak:

“Sucoa mutiara ularnya sudah dilarikan orang!” Ketika Cong

liong Losiansu dan Suma Thian yu memburu pula kesitu, betul

juga, mereka saksikan mutiara dalam kepala ular beracun itu

sudah lenyap tak berbekas.

Pendeta tua itu menghela napas panjang, ujarnya

kemudian sambil menggeleng.

Sudah, sudahlah, ternyata benar-benar sudah dicuri orang,

sayang kalau sampai mustika berharga itu terjatuh ketangan

orang jahat, aaai, aaai, takdir, takdir, kalau takdir berkata

demikian, apa yrng bisa kita lakukan? Mari kita kembali saja”

Suma Thian yu segera maju sambil berseru. “Locianpwe,

bagaimana kalau kami kejar penjahat itu?”

“Tak usah dikejar lagi, penjahat itu sangat lihay tak

mungkin ia bisa terkejar, bagaimanapun juga lolap sudah tahu

siapa yang mencuri mutiara ular itu, masa kita takut ia bisa

kabur ke langit?”

“Siapa? Suocu siapa yang telah melarikan mutiara ular itu?

Gak Kun liong rmendesak dengan perasaan mendongkol.

“Bila ditinjau dari bentuk badan bayangan hitam yang

sedang melarikan diri tadi, sudah pasti dia adalah Hui cua

Cung cu Kiong Lai.

Setelah berhenti sebentar, pendeta tua itu melanjutkan:

“Sampah masyarakat itu merupakan satu-satunya murid

dari Sin hiat jin mo (Manusia iblis menghisap darah), ilmu

silatnya sangat lihay, kepandaian andalannya adalah Pek lek si

hun ciang (Pukulan geledek pembetot sukma), keampuhannya

ilmu pukulan ini boleh di

bilang merupakan salah satu kepandaian ampuh dikalangan

hitam, tapi kalau dibanding kan dengan ilmu pukulan Luan si

im hong ciang (pukulan angin dingin bangkai busuk) dari Hoat

si si (Mayat hidup) Ciu Jit hui, akan terlihat mana yang lebih

jelek dan mana yang lebih unggul”

Gak Kun liong dan Suma Thian yu menja di tertarik sekali

setelah mendengar cerita itu, ketika dilihatnya pendeta itu

berhenti sejenak, dengan cepat dia menyambung:

“Kenapa? Cepat beri penjelasan”

Cong liong lo siansu sengaja mendehem untuk membasahi

kerongkongannya dengan air ludah kemudian pelan-pelan

melanjutkan:

Ilmu pukulan angin dingin bangkai busuk amat beracun

sekali, barang siapa yang bertarung melawannya terkena

sapuan ancin pukulannya, maka seluruh badannya akan

membusuk, bahkan hanya menyerempet dikulit badan pun

akan berakibat suatu pembengkakan seperti tersengat api

sebelum akhirnya membusuk pula, oleh sebab itu dia menjadi

satu-satunya orang yang bisa menandingu Hui cha Can cu.

Maka Manusia iblis penghisap darah Pi-Ciang hay pun

menitahkan anak muridnya untuk mencari ular beracun yang

telah berusia seribu tahun, sebab ular itu pasti memiliki

mutiara penolak racun yang berkhasiat bagi tubuhnya, asal

mutiara penawar racun itu telah berhasil di dapatkan, berarti

dia dapat bertarung lagi dengan si Mayat hidup Ciu jit hwe

tanpa kuatir keracunan lagi” Berbicara sampai disitu, dia

berhenti sejenak, lanjutnya dengan tertawa ramah:

“Siapa tahu Hui cha cun cu Kiong Lui yang menjadi nelayan

yang beruntung, bukankah hal inipun merupakan suatu

takdir?”

“Tidak bisa!” teriak Gak Kun liong dengan perasaan tidak

puas, “aku pasti akan mencari nya sampai ketemu, engkoh

Thian yu, mari kita pergi mencarinya untuk membuat

perhitungan!”

“Kau yakin dapat menangkan dia?” tanya Cong liong lo

siancu dengan perasaan tak puas.

“Tentu saja dapat menangkan dia dengan pasti, engkoh

Thian yu, bukankah tempo hari dia hanya bisa membiarkan

aku membawamu pergi dari sini…?”

“Benar” Suma Thian yu manggut-manggut sambil

mengiakan.

Cong liong lo siansu tertawa panjang.

“Haaahh…haaah… haaah… ini yang dinamakan si rase

takut dengan keganasan harimau, dia bukan takut kepadamu,

melainkan jeri terhadap kepandaian silat ibumu, maka dia

baru mengalah tiga bagian kepadamu, seandainya kau benarbenar

bisa mengalahkan dia, buat apa dia menjadi seorang

jago kelas wahid dalam kalangan rimba hijau?”

Taktik memanasi hati orang yang digunakan Cong liong lo

siansu ini ibaratnya api yang bertemu minyak, kontan saja

membuat Gak kun liong yang pada dasarnya bersifat ingin

menang merasa terbakar hatinya, dia segera melompat

bangun, lalu sambil menarik tangan Suma Thian yu siap

melakukan pengejaran.

Mendadak terdengar suara pekikan burung hong bergema

memecahkan keheningan, Cong liong lo siansu segera

berseru:

“Long ji, buat apa mesti tergesa-gesa macam orang takut

tak kebagian makanan, coba lihat ibumu telah datang, dia

pasti mempunyai cara yang baik untuk mengatasi persoalan

ini.”

Baru selesai dia berkata, dari tengah udara telah

kedengaran suara hembusan angin tajam, kemiiian tampak

Ing-ji dengan membawa Hui im tongcu dan Siau yau kay Wi

Kian telah melayang turun ke atas tanah.

Begitu bertemu dengan ibunya, Gak kun liong segera

menubruk kedalam pangkuannya sambil berseru manja:

“Ibu, kau harus mencarikan akal bagiku”

“Ada urusan apa Liong-ji?” Hui im Tongcu tidak mengerti

akan peristiwa yang barusan terjadi, maka dia bertanya

dengan perasaan tercengang.

Secara ringkas Cong liong lo siansu menceritakan apa yang

telah terjadi.

Siau yau kay Wi Kian yang berada disisinya dengan capat

berseru penuh semangat:

“Hiiih…hiihh…hiiih…biasanya kasus semacam ini paling

cocok dengan seleraku, bagaimana kalau aku sipergemis tua

yang menemanimu membuat keramaian?”

Suma Thian yu merasa girang sekali setelah mendengar

Siau yau kay menyanggupi untuk menemaninya, sementara

Gak Kun liong juga telah melepaskan diri dari pelukan ibunya

dan berlari menghampiri sipengemis sambil mere ngek agar

cepat membawa mereka pergi.

Menyaksikan kemanjaan putranya, tanpa terasa Hui im

Tongcu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil

menghela napas, ka tanya:

“Aaai, kalau bocah sudah terbiasa dimanja, di kemudian

hari entah siapa yang bisa mengurusi nya?”

Cong liong lo siansu hanya tersenyum belaka tanpa

menjawab.

Berapa saat kemudian dia baru berpaling kearah Suma

Thian yu

seraya berkata: “Anak Yu, kaupun boleh ikut, perduli

berhasil atau tidak, kau harus kembali kesini!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia

menambahkan:

“Setelah kau kemari nanti, ada tugas yang jauh lebih

penting lagi hendak kuserahkan ke padamu”

“Baik!” Suma Thian yu mengiakan, Kemudian bersama Siau

yau kay dan Gak Kun liong berangkat meninggalkan bukit

tersebut.

Siau yau kay wi kian langsung membawa kedua orang

pemuda itu menuju ke bukit Han san, sepanjang jalan dengan

tiada jemu-jemunya Siau yau kay wi kian menanyai Suma

Thian yu terus-menerus tentang masalah perusahaan Sin liong

piaukiok dan perselisihan-nya dengan congpiautau mereka Mo

im si liong Wan Kiam ciau.

Untuk kesekian kalinya Suma thian yu mengulangi kembali

kisah kejadian tersebut, dan akhirnya diapun dengan perasaan

jemu ia balik bertanya:

Locianpwe, sebenarnya apa hubungan mu dengan Wan

congpiautau?”

“Aku si pengemis tua adalah susioknya” kini Siau yau kay

baru mengutarakan indentitas yang sebenarnya.

Ooh…..” dalam hatinya Suma Thian yu lantas berpikir, “tak

heran kalau dia mendamprat ku habis-habisan begitu bersua

muka denganku tadi, rupanya mereka mempunyai hubungan

yang begitu akrab!”

Tatkala matahari sudah mulai tenggelam, sampailah ketiga

orang itu didepan hutan yang amat lebat, Siau yau kay Wi

Kian lantas memanggil kedua orang pemuda itu dan membisik

kan sesuatu kepada mereka, kemudian baru meneruskan

perjalanan menembusi hutan.

Dan setelah keluar dari hutan, Siau yau kay telah berseru:

“Sudah beres! Kita boleh melaksanakan tugas seperti apa

yang direncanakan Lo siang, masing-masing harus berjaga

pada posnya masing-masing, tak boleh kemaruk akan pahala

sehingga menggagalkan rencana kita ini”

Seusai berkata, mereka bertiga segera sama-sama

menyusup masuk kedalam hutan, bagaikan memasuki daerah

tak bertuan, begitu berada dalam hutan, mereka bertiga

lantas memencarkan diri. Ditengah kegelapan malam, tampak

tiga sosok bayangan manusia terbagi menjadi tengah kiri dan

kanan bersama-sama menerjang masuk kedalam hutan.

Tiba ditepi tanah lapang ditengah hutan, Siau yau kau Wi

Kian tidak maju lagi, sambil berdiri ditengah lapangan

tersebut, dia lantas berteriak teriak macam orang gila.

“Hari ini ada arak hari ini mabuk, besok ada kesulitan besok

baru murung. Bila masuk istana iblis dianggap istana malaikat,

angkat cawan minum bersama bidadari…”

Belum habis dia bergumam, terdengar dua kali bentakan

nyaring bergema memecahkan keheningan, lalu nampak dua

titik cahaya tajam

yang disertai dengan suara-suara desingan angin tajam

langsung menyambar ke tubuh Siau yau kay wi kiam.

Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Siau yau kay

merasa amat girang, pikirnya:

“Anjung keparat, masuk jebakan kalian!”

Baru saja ingatan tersebut lewat, dua macam senjata

rahasia itu sudah muncul di depan mata.

Siau yau kay segera berteriak kesakitan:

“Aduuh mak, habis sudah riwayat aku si pengemis tua!”

Entah gerakan apa yang dipergunakan, tahu-tahu senjata

rahasia yang meluncur datang itu

lenyap bagaikan batu yang tenggelam di tengah samudra,

punah tak berbekas, tapi pada saat yang bersamaan pula Siau

yau kay telah rubuh terjungkal ke atas tanah.

Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang amat nyaring

berkumandang memecahkan ke heningan, tampak dua sosok

bayangan manusia bagaikan sambaran petir cepatnya telah

mela yang turun didepan mata.

Terdengar salah seorang diantaranya segera mencaci maki

kalang kabut.

“Pengemis busuk yang tak punya mata, tidak dilihat dulu

tempat apakah ini, hmm, memangnya dianggap setiap orang

boleh memasuki tempat ini sekehendak hati sendiri?”

Sambil berkata dia lantas membungkukkan badan sambil

memeriksa apakah Siau yau kay Wi Kian sudah mati atau

belum.

Siapa tahu, baru saja dia membungkukkan badannya,

mendadak terdengar pengemis itu tertawa dingin, seperti

mayat yang bangkit kembali, tahu-tahu Wi kian mengebaskan

ujung bahunya ke depan…

Orang itu segera mendengus tertahan dan roboh terkapar

ke atas tanah….

Bersamaan waktunya, Siau yau kay Wi kian juga melompat

bangun, serunya sambil tertawa terbahak-bahak:

“Haah…haah…haah… berani melukai orang segera

sembunyi, kalian memang pantas mampus!”

Selesai berkata, dia mengawasi wajah ke dua orang itu

dengan lebih seksama, kemudian sambil menjerit kaget dia

berteriak:

“Aduuh mak, rupanya kalian berdua dari Tiang pek san,

waduh, kelewat besar keonaran yang ku buat kali ini, berapa

butir batok kepala aku si pengemis tua bisa ludas terpenggal

nanti”

Selesai berkata buru-buru dia melarikan diri ke luar hutan.

Rupanya orang yang melepaskan senjata rahasia tadi

adalah Kiu tau siu (bintang berkepala semblan) Li Gi serta Liat

hwee siu (bintang berapi) Li Hiong dua orang, yang tergeletak

diatas tanah sekarang adalah Liat hwee siu Li Hiong.

Di dalam kegelapan tadi, Kiu tau siu Li Gi tidak dapat

melihat jelas pendatang tersebut, tapi kini setelah mengetahui

kalau pengemis tua yang mereka sergap tak lain adalah Siau

yau kay yang disegani setiap orang, kontan sa ja mereka

menghembuskan napas dingin.

Tak heran kalau mereka tak berani melakukan pengejaran

meski menyaksikan Siau yau kay melarikan diri.

Tampaknya Siau yau kay akan segera keluar dari hutan itu,

mendadak dari dalam hu tan bergema suara bentakan rendah:

“Lihat serangan!”

Beberapa titik cahaya tajam yang disertai desingan angin

tajam segera meluncur kedepan dan menyergap tubuh Siau

yau kay.

Wi Kian memang sangat lihay, menyaksikan datangnya

sergapan senjata rahasia, tanpa gugup barang sedikitpun jua,

dia membuang tubuhnya kebelakang dengan gerakan

jembatan gantung, lalu menghimpun tenaga dalamnya

kedalam dan melayang mundur dari situ dengan gerakan

datar, lalu setelah berhasil berdiri tegak segera ejeknya:

“Waaah, untung tidak sampai mampus!”

Mendadak dari balik hutan melayang keluar sesosok

bayangan manusia, meminjam cahaya bintang Siau yau kay

segera mengamati wajah orang itu lebih seksama, ternyata dia

adalah orang pemuda yang berwajah amat tampan.

“Bocah, kalau dilihat tampangmu yang begitu tampan,

sungguh tak kusangka kalau hatimu kejam, orang muda sudah

belajar berbuat kalau sudah dewasa nanti mau jadi apa kau?”

Siau yau kay berpura-pura mendamprat:

Pemuda ganteng itu sesungguhnya tak lain adalah Cun gan

siucay (sastrawan berparas tampan) Si Kok seng, pemuda

bermuka manusia berhati binatang ini sesungguhnya hendak

menghantar Suma Thian yu serta dua bersauda ra Thia

kedalam hutan dan meminjam kekuatan Hui cha Cun cu

hendak membasmi mereka bertiga, maka begitu sampai dalam

hutan dia lantas melaporkan namanya dan memberi kabar

kepada Hui cha Cun cu akan kehadiran-nya.

Kemudian sambil berlagak menghancurkan tugu dan

mencaci maki, dia memancing kehadiran Hui cha Cun cu,

sedang dia sendiri berlagak seakan-akan jalan darahnya

tertotok dan roboh tak sadarkan diri ditanah….

Dengan tindakan mana, selain bisa menghin darkan diri

dari tugas, diapun dapat mencuci bersih kejahatannya, sayang

perhitungan manusia takkan menangkan takdir, akhirnya

Suma Thian yu berhasil ditolong oleh Gak Kun liong sedang

dua bersaudara Thia pun berhasil lolos pula dengan selamat,

dengan demikian rencana busuknya mengalami kegagalan

total.

Dalam pada itu, Cun gan siuacay Si kek seng yang

menyaksikan pengemis tua itu sanggup memunahkan

sergapan-nya secara mudah, dengan cepat ia menjadi sadar

bahwa pengemis tua ini mustahil datang tanpa membawa

suatu maksud tertentu.

Maka diapun tanpa sungkan- sungkan meloloskan

pedangnya, kemudian sambil berdiri empat langkah dihadapan

Siau yau kay Wi Kian, serunya dengan suara lantang:

“Pengemis busuk, jalan ke sorga tidak kau tempuh, jalan ke

neraka justru kau terjang, nampaknya kau sudah bosan hidup

sehingga sengaja datang kemari untuk menghantar nyawa

mu” Baru selesai pemuda iblis itu berkata, Kiu tausiu Li Gi

yang kuatir rekannya kelewat memandang enteng lawan

segera memberi peringatan:

“Si hiante, dia adalah Siau yau kay yang bernama besar,

kau tak boleh bersikap kelewat gegabah!”

Sekarang Cun gan siaucay Si Kok seng baru terkesiap, dia

tidak mengira kalau pengemis tua yang sama sekali tidak

punya keistimewaan apa-apa ini sesungguhnya adalah Siau

yau kay Kian yang disegani dan ditakuti setiap orang, diamdiam

ia menarik napas dingin. Tapi rasa jerinya itu hanya

disembunyikan dalam hati, sedang diluaran ia lantas berseru

sambil tertawa dingin:

“Aku mengira siapa yang begitu bernyali berani membuat

keonaran disini, rupanya hanya pengemis busuk yang dibenci

oleh setiap orang, sungguh beruntung sauya bisa bersua

denganmu hari ini, mumpung ada kesempatan aku hendak

memberi pelajaran kepadamu, agar kau tahu bahwa diluar

langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia

pandai lain-nya”

Sedemikian jumawa dan takaburnya perkataan itu,

membuat Kiu tau siu Li Gi yang berdiri tenang disisinya turut

bergidik hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri, peluh

dingin segera jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Siau yau kay Wi Kian menengadah dan tertawa tergelakgelak.

“Haah…haah…haah… bagus, bagus sekali, hari ini aku si

pengemis tua memang ingin membuka mataku, mari, mari,

lebih baik kalian berdua maju bersama saja, dengan tangan

kosong akan kulayani kalian berdua sebanyak tiga ratus

gebrakan.

Semhari berkata, telapak tangannya segera diayunkan

kedepan dengan jurus Liong su yu hay (naga berpesiar ke

empat samudera), sasa rannya adalah Can gan siucau Si Kong

seng, tapi sewaktu sampai ditengah jalan, dia memutar

gerakannya dan merubah pukulan menjadi serangan jari, kali

ini dia mengancam jalan darah Tiong teng hiat di depan dada

Kiu tau siu Li Gi.

Dalam satu jurus mempunyai dua kegunaan yang berbeda,

kontan saja mendesak Si Kok seng dan Li Gi harus turun

tangan memberikan perlawanan.

Terdengar dua kali bentakan gusar bergema memecahkan

keheningan, Si kok seng telah mengayunkan pedangnya

dengan jurus Lan kang to cay (Membendung sungai

mengeringkan samudra), dia menyerang dari sisi sebelah

kanan, sementara Kiu tau siu Li Gi mengangkat goloknya

membacok dari sebelah kiri.

Tujuan Siau yau kay yang sebetulnya tak lain hanya ingin

membelenggu kedua orang itu, jadi sama sekali tiada maksud

membunuh mereka.

Maka diapun mengembangkan ilmu langkah Ciok tiong luan

pon hoat untuk berputar-putar mengitari mereka berdua.

Dalam waktu singkat seluruh arena sudah dipenuhi dengan

bayangan manusia yang sebentar bergerak kekanan, sebentar

kekiri, se bentar keatas dan sebentar lagi kebawah, hal mana

membuat dua orang bajingan itu berkaok-kaok kegusaran.

Sambil bertarung mempermainkan ke dua orang itu, Siau

yau kay mulai merasa kuatir, apa sebabnya hingga kini Hui

cha Cun cu belum juga menampakkan diri, coba kalau

tujuannya bukan untuk memancing kemunculan Hui cha Cun

cu, kedua orang bajingan ini tak akan mampu bertahan

sebanyak sepuluh gebrakan.

Dalam pada itu, Gak Kun liong dan Suma Thian yu berdua,

satu dari kiri yang lain dari kanan secara terpisah telah

menyelundup masuk kebelakang hutan, sebab tempat tinggal

Hui cha Cun cu terletak dibelakang hutan tersebut.

Sesuai dengan rencana yang telah disusun oleh Siau yau

kay, sementara pengemis itu ber kaok-kaok memancing

kemunculan musuh, Suma Thian yu dan Gak Kun liong berdua

akan menyelundup kedalam rumah dan menyelesaikan tugas

mereka.

Taktik suara ditimur menyerang dibarat ini bernama pula

siasat memancing harimau turun gunung, kelihayannya luar

biasa sekali.

Tanpa menjumpai hadangan apapun Gak Kun liong telah

berhasil menyusup masuk ke dalam hutan, tampak sepuluh

kaki selewatnya jalan kecil itu dia akan sampai dirumah

kediaman Hui cha Cun cu.

Disaat tubuhnya baru mencapai jalanan kecil inilah,

mendadak dari jalan berkumandang suara tertawa dingin yang

amat mengerikan.

Mendengar suara tertawa tersebut, Gak Kun Hong mundur

satu langkah kebelakang, mendadak dari sisi jalan ia saksikan

sesosok bayangan manusia menampakkan diri dan

menghadang jalan perginya.

Gak Kun liong segera angkat kepalanya, tapi ia jadi

tertegun setelah mengetahui siapa gerangan orang itu,

pikirnya:

“Heran, mengapa setan tua ini belum lari kesana?”

Dengan suara lantang diapun menegur:

“Kiong Lui, hampir saja mengejutkan hati ku! Kenapa kau

bersembunyi seorang diri ditepi jalan? Apakah menyambut

kedatanganku?”

Ternyata orang yang menghadang jalan pergi Gak Kun

liong adalah Hui cha Cun cu Kiong Lui.

Tampak ia meludah, kemudian serunya dingin:

“Jawab dulu, mengapa kau malam-malam datang kemari?

Apakah kaupnn sengaja datang dari gua Hui im tong untuk

menyambut kedatangan ku?”

Gak Kun liong melototkan sepatang matanya yang besar

dan bulat itu sambil menyahut.

“Aku hendak mencarimu untuk bermain, sekalian hendak

memberitahukan satu hal kepadamu”

“Hmm, mencari aku hendak bermain? Masa membawa

orang?” Hui cha Cun cu Kiong Lui mendengus dingin.

“Membawa siapa?” Gak Kun liong mencibir.

“Sipengemis busuk itu. Mau mungkir?”

Setelah mendengar kalau gembong iblis tersebut hanya

menyebut Siau yau kay seorang, Gak Kun liong segera tahu

kalau jejak Suma Thian yu belum ketahuan, kontan hatinya

merasa lega.

Sambil menggigit bibir dia lantas berpikir sejenak, akhirnya

dia berhasil menemukan suatu siasat bagus, katanya cepat:

“Ibuku tak suka kalau aku pergi jauh, setiap kali ia tentu

mengutus orang untuk mengikutiku, apa boleh buat”

“Heeeh…heeeh…heeeh…bocah, lohu toh bukan anak

berusia tiga tahun, kau ingin mengelabuhi ku? Tadi kau bilang

hendak menyampaikan sebuah kabar untukku, cepat katakan”

seru Hui cha Cun cu sambil tertawa licik.

“Coba lihat, galak amat kau ini! Ya sudahlah, aku tak ingin

main, tak ingin bicara lagi, selamat tinggal!”

Selesai berkata dia lantas membalikkan badai dan kabur

dari situ.

Menyaksikan hal itu Hui cha Cun cu segera membentak

gusar, kemudian sambil mengejar, dia mencengkeram kerah

baju Gak Kun liong.

“Bocah keparat! Sebelum mengemukakan alasannya,

jangan harap kau bisa meloloskan diri dari sini!” dampratnya.

Merasakan datangnya desingan angin dingin dibelakang

tubuhnya, Gak Kun liong segera merendah sambil melejit

kesamping, teriaknya:

“Hei, kau ingin bertarung?”

“Aku ingin memberi pelajaran kepada mu, mau apa kau?”

Sambil berseru, Hui cha Cun cu mencengkeram batok

kepala Gik Kun liong lagi dengan jurus Cong eng phu toh

(elang sakti menerkam kelinci).

Gik Kun liong sendiripun bukan manusia sembarargan,

meski usianya masih muda, ke pandsian silatnya telah

mendapat warisan langsung dari ibunya, baik dalam soal

tenaga dalam, maupun soal ilmu meringankan tubuh,

kepandaiannya tidak kalah dari seorang jago kelas satu dalam

dunia Persilatan.

Padahal Hui cha cun cu Kiong Lui sendiripun menaruh

perasaan was-was terhadap Gak kun liong, semua serangan

yang dilancarkan boleh dibilang tidak menggunakan tenaga

penuh, dengan begitu ia justru termakan oleh siasat Gak kun

Liong.

Tampak bocah itu melompat kekiri mengegos kekanan,

gerakan tubuhnya sangat aneh, dia selalu berputar mengitari

sekeliling Hui cha cun cu sambil menggoda.

Sebagai manusia yang berpengalaman, dalam sekalian

pandangan saja Hui cha Cun cu sudah mengetahui kalau

bocah ini mempunyai sesuatu maksud tertentu, tanpa terasa

bentaknya dengan gusar:

“Bocah keparat, cepat katakan rencana busukmu, kalau

tidak, jangan salahkan kalau lohu akau bertindak keji

kepadamu”

Memukul anjingpun harus melihat pemiliknya, Gak Kun

liong memang dasarnya cerdik, diapun pandai menduga setiap

persoalan yang bakal terjadi, dari ucapan lawan dia tahu kalau

musuh hanya gertak sambal belaka. Sambil cengar-cengir

segera sahutnya: “Aku toh sudah bilang, hendak mencarimu

untuk diajak main, suruh kau menebak dulu toh bukan

persoalan? Padahal aku memang hendak memberitahu

kepadamu, aku telah mem bunuh seekor ular beracun”

“Kentut!” Hui cha Cuncu membentak gusar, “apa sangkut

pautnya antara ular beracun denganku? Kau ingin

mempermainkan lohu?”

“Aduuh mak, kenapa sih kau galak amat?”

Aku dengar kau sedang berusaha keras untuk mencari ular

beracun berusia seribu tahun, maka sengaja kusampaikan

berita ini kepadamu, sepantasnya kau berterima kasih atas

jerih payahku ini. Sekarang kau malah galak amat kepadaku,

hmm, lihat saja nanti, akan ku laporkan kepada ibuku agar

kau diberi pelajaran yang setimpal”

Mendengar ucapan mana, Hui cha Cun cu merasakan

jantungnya berdebar keras, tapi setelah dipikir kembali, dia

merasa bocah itu jelas lagi membohonginya, mana mungkin

ular beracun ditemukan secara gampang…?

Kontan saja dia mencaci maki penuh kemarahan:

“Keparat, hukuman mati boleh dihindari tapi hukuman

hidup jangan diharap bisa dihindari, aku tak doyan dengan

permainan begitu, kau harus ditempeleng atas kebohongan

mu itu”

Gak Kun liong tahu, sewaktu berbicara penjagaan lawan

pasti menendor, buru-buru dia menerobos kedepan sambil

mengayunkan telapak tangannya.

“Plaaaaakkkk!” sebuah tamparan keras menghajar telak

diatas pipi Hui cha Cun cu, membuat dia berkaok-kaok

kesakitan.

Dalam marahnya Hui cha Cun cu segera men dorong pula

sepasang lengannya kedepan dan melepaskan sebuah pukulan

yang maha dahsyat.

Gak Kun liong bukan anak bodoh, dengan cepat dia berkelit

kesamping, bukan mundur ia justru menyerobot maju kemuka

dan memotong dada Kiong Lui, kepalan-nya yang digenggam

kencang lantas dihantamkan keras-keras, kemudian dia

menerobos kebelakang punggung musuhnya lewat bawah

ketiak.

“Hei, sauya berada disini!” teriakannya sambil bersorak

kegirangan.

Secara beruntun Hui cha Cun cu harus menderita dua kali

pukulan, bisa dibayangkan be tapa gusarnya orang itu, dari

malu dia jadi naik darah sambil memutar badan, sebuah

pukulan dengan tenaga sebesar lima bagian segera

dilontarkan kemuka.

Gak Kun liong sedang asyik bertarung, tentu saja dia jeri

menghadapi ancaman semacam itu, hawa murninya segera

dihimpun ke dalam telapak tangan dan siap menyongsong

datangnya ancaman lawan dengan keras lawas keras.

“Blaaaamm!” suatu ledakan keras menggelegar diangkasa.

Akibat dari bentrokan tersebut, kedua belah pihak samasama

tergetar keras badannya, tapi tidak sampai menimbulkan

cedera apapun.

Atas kejadian tersebut, Hui cha Cun cu makin naik darah, ia

segera menerkam lagi kemuka dan membacok dada Gak Kun

liong dengan jurus Im liong tham- ciau (naga sakti

mementang cakar).

Tiba-tiba dari tengah hutan sana berkumandang dua kali

jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Hui cha Cun cu menjadi tertegun, tanpa terasa gerak

serangannya menjadi terhenti.

Gak Kun liong segera tertawa terbahak-bahak, ejeknya:

“Hahahahahaha……. bagus sekali! Rupanya kedua ekor

anjing budukan itu sudah dibikin mampus”

Selesai berkata dia lantas ngeloyor pergi meninggalkan

tempat itu.

Menyaksikan keadaan tersebut, Hui cha Cun cu menjadi

teramat gusar, sambil menggertak gigi menahan diri makinya:

“Bocah keparat, rupanya kau memang sengaja datang

mencari gara-gara, bagus, bila kubiarkan kau lolos dari hutan

ini sekarang, mu lai hari ini aku bukan she Kiong lagi”.

Seraya berkata dia lantas mengejar sampai lima langkah

dibelakang Gak Kun liong.

Menghadapi kejaran tersebut, Gak Kun liong sama sekali

tidak berpaling, dia malah menyusup masuk ketengah

lapangan ditengah hutan dan persis menyongsong kedatangan

Siau yau kay Wi Kian.

Tolong, tolong, dibelakang ada srigala buas!” buru-buru ia

berteriak minta tolong.

Siau yau kay Wi Kian menyelinap melalui sisi Gak Kun Hong

dan segera menghadang dihadapan Hui cha Cun cu, lalu

tegurnya sambil tertawa terbahak-bahak:

“Selamat bersua kembali saudara Kiong, aku harap kau

sehat sehat selalu selama ini, kena pa kau bisa pindah ke

tempat semacam ini?”

Kemarahan Hui cha Cun cu makin membara setelah

bertemu dengan Siau yau kay Wi Kian, tanpa banyak cincong

dia lantas mendamprat: “Sudah pasti kau si pengemis busuk

yang membuat rencana busuk ini, ayo jawab, mau apa kau

malam-malam datang kemari?”

“Aduuh…kita kan orang sendiri, mengapa sih galak amat?

Saudara Kiong, usia kita sudah tua, kenapa sifat

berangasanmu belum juga berkurang?”

Sambil berkata Siau yau kay menunggu berita Suma Thian

yu dengan tenang, bagaimana pun juga Suma Thian yu sudah

masuk ke dalam hutan, tapi hingga kini belum nampak juga

munculkan diri, kejadian ini akhirnya membuat dia merasa

membuat dia merasa kuatir sekali.

Betul Kun liong sudah menahan lawan untuk sesaat

lamanya dan kini berganti Siau yau kay yang menghadang,

sekalipun cara bertarung semacam ini merupakan suatu

pertarungan dengan cara bergilir, namun bukan berarti tak

boleh.

Akan tetapi, keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung

terlalu lama lagi, dan Suma Tnian yu belum juga berhasil,

pada akhirnya ke dua belah pihak pasti akan jatuh korban.

Sementara pembicaraan berlangsung, Hui cha Cun cu pun

mengawasi anak buahnya yang tergeletak ditanah, tatkala

dilihatnya Tiang pek siang tat dan Si Kok seng mendengkur

semua dengan begitu nyenyak, amarahnya langsung saja

berkobar lagi, segera bentaknya:

“Pengemis busuk, bagus sekali perbuatanmu, hari ini kalau

ada kau berarti tak ada aku, kita harus bertarung sampai salah

satu mampus” Seraya berkata, ia lantas melancarkan

serangan dengan jurus Huang hong cian bong (angin puyuh

menggulung puncak), dan diantara deruan angin pukulan

yang memekikkan telinga, segulung angin serangan dahsyat

langsung me nerjang ketubuh Siau yau kay.

Siau yau kay yang diancam segera tertawa terkekeh-kekeh,

tangan yang sebelah dilintang kan didepan dada sementara

telapak tangan yang lain siap melancarkan serangan, kepada

Gak Kun liong serunya:

“Liong-ji, tunggu aku diluar hutan sana!” Sementara

berbicara, angin pukulan lawan telah meluncur datang, Siau

yau kay segera mengegos kesamping lalu berkelit dengan

gerakkan amat cepat.

jilid : 13

Pengemis sakti yang pernah malang melintang dalam dunia

persilatan karena ilmu langkah Ciok tiong luan poh cap lak tui

nya ini benar-benar memiliki tenaga dalam yang amat lihay,

akan tetapi lawannya Hui cha Cun cu Kiong Lui sendiri pun

merupakan gembong iblis nomor satu dari golongan Liok lim,

apalagi suhunya si Manusia iblis penghisap darah, dia

merupakan raja iblis yang disebut Kay si siang mo (sepasang

iblis sakti dari jagad) bersama mayat hidup.

Begitu bertarung, kedua belah pihak sama sama

mengeluarkan ilmu pukulan berat, Hui cha Cun cu.

mengembangkan ilmu pukulan Pek lek si hun ciang nya yang

maha dahsyat dan satu jurus demi satu jurus meneter

musuhnya secara pasti.

Seketika itu jaga seluruh angkasa diliputi angin puyuh yang

menderu-deru, seperti ombak dahsyat yang menghantam

tepian, kelihayannya benar-benar mengerikan.

Tujuan yang terutama dari Siau yau kay Wi Kian tak lain

adalah memberi waktu yang cukup buat Suma Thian yu untuk

melaksanakan tugasnya, sebab itu dia selalu menghindari

yang berat menghadapi yang ringan, menghindari kenyataan

menyongsong yang kosong, dengan mengandalkan ilmu

gerakan tubuhnya yang sakti dia berusaha memunahkan

sebagian besar dari ancaman yang tiba.

Seperti seekor kupu-kupu yang terbang di antara aneka

bunga, sebentar ke atas sebentar ke kiri dan sebentar lagi ke

kanan, sambil berkelit dia selalu mengejek dan mencemooh

guna mengacaukaa pikiran musuh.

Tapi, Hui cha Cun cu pun seorang manusia yang amat

lihay, dalam sekilas pandangan saja ia sudah bisa menduga

maksud tujuan Siau yau kay, tanpa terasa pikirnya:

“Kedatangan kedua orang ini tidak seperti mencari balas,

diapun tidak berniat bertarung melawanku, mungkinkah

kedatangan mereka mempunyai suatu rencana tertentu?

Tidak, tak mungkin, aku tidak memiliki sesuatu yang bisa di

incar orang dengan siasat liciknya!”

Semakin dipikir dia merasa makin bingung dan tak habis

mengerti, sudah jelas tahu jika orang datang karena sesuatu

tujuan, tetapi tak bisa diduga apa tujuannya, hal mana kontan

saja membuat hatinya kesal bercampur mendongkol.

Sementara pertarungan antara kedua orang itu masih

berlangsung, mendadak terdengar suara pekikan nyaring

bergerai memecahkan keheningan, meski suaranya tak keras

tapi mengalun tiada hentinya di tengah udara.

Mendengar suara pekikan tersebut, Siau yau kay

merasakan semangatnya berkobar kembali, diam-diam ia

girang karena Suma Thian yu telah berhasil hingga tidak siasia

kedatangan mereka kali ini, tanpa terasa diapun turut

berpekik nyaring.

Mendadak gerakkan tubuhnya berubah, sepasang

tangannya diayunkan berulang kali melepaskan tiga buah

pukulan berantai, sedemikian cepatnya serangan yang

dilancarkan memaksa Hui cha Cun cu terdesak mundur sejauh

beberapa langkah.

Siapa tahu Siau yau kau segera menarik kembali

serangannya begitu berhasil mendesak Kiong Lui, serunya

sambil tertawa keras

“Maaf aku si pengemis tua harus mohon diri lebih dulu!”

Begitu selesai berkata, tubuhnya sudah melompat keluar

dari hutan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah

lenyap dibalik keeelapan…

Hui cha Cun cu yang dikacau orang masih berdiri

termangu-mangu dengan perasaan tidak mengerti, dia tak

tahu apa gerangan yang sedang dilakukan musuhnya itu,

karena ingin tahu, akhirnya dia menjejakkan kakinya ke

tanah dan ikut mengejar keluar hutan.

Begitu tiba di hutan, disitu tak nampak sesesok bayangan

manusiapun, suasana di keliling sana masih tetap sepi tidak

ada manusia siapapun, tanpa terasa serunya sambil

mendepakkan kakinya berulang kali:

“Pengemis busuk, kuperingatkan kepadamu, bila kita

bersua lagi dikemudian hari, saat itulah merupakan saat

ajalmu, coba akan kulihat kau bisa berbuat gila sampai

kapan!”

Selesai berkata dia lantas kembali ketanah lapangan dan

menyadarkan rekan-rekannya, ternyata rekannya tiada yang

cedera, mereka banya ditotok saja jalan darahnya.

Dengan kejadian ini, Hui cha Cun cu semakin dibikin

kebingungan dan tidak habis mengerti.

Mendadak satu ingatan melintas dengan cepat dalam

benaknya, kemudian terdengar ia menjerit kaget:

“Aduuuh, jangan-jangan karena benda mestika itu!”

)-)-)-)-)-)-)

sementara itu, Siau yau kay Wi Kian yang mendengar suara

pekikan nyaring dari Suma Tnian yu, segera meninggalkan Hui

cha Cun cu Kiong Lui dan melayang keluar dari hutan.

Diri kejauhan sana dia menyaksikan ada dua sosok

bayangan manusia yang kecil sedang menuju kedepan. Siau

yau kay tak berani berayal lagi, dia segera mengerahkan ilmu

meringankan tubuh Leng khong siu tok melakukan pengejaran

secepat kilat dari belakang.

Hanya didalam beberapa kali lompatan saja, ia berhasil

mendahului dua orang tersebut, begitu sampai dia lantas

menegur:

“Bocah, kau telah berhasil?”

“Untung tidak gagal, cuma ada sebutir!” sahut Suma Thian

yu dengan wajah berseri,

“Setan cilik, tentu saja hanya sebutir, dari mana datangnya

dua butir?” seru Siau yau kay setengah girang setengah

mendamprat.

Sambil berjalan Gak Kun liong pun mulai menggerutu.

“Engkoh Thian yu, cara kerjamu amat lamban, sama sekali

tak bisa cekatan, masa hanya mengambil sebutir mutiara saja

membutuhkan waktu sampai setengah hari? Hampir saja

selembar nyawaku melayang”

Sambil tertawa Suma Thian yu menggelengkan kepalanya

berulang kali, katanya:

“Tahukah kau, gembong iblis tersebut telah

menyembunyikan mutiara tersebut dengan amat rahasia

sekali, setelah memeras otak setengah harian lamanya, aku

baru berbasil mengorek-nya keluar dari atas dinding

ruangannya”

Mendengar perkataan itu, Siau yau kay segera berpikir

sejenak, lalu katanya:

“Aaah, tidak mungkin, masa sedemikian cepatnya dia

menyembunyikan benda itu? Kecuali kalau sebelumnya dia

sudah tahu kalau kami bakal datang ke sana”

Dengan wajah serius Suma Thian yu kembali berkata:

“Perduli amat, pokoknya tugas kita kali ini telah berhasil

dengan lancar, mari kita memberi laporan. Aah, betul, aku

belum sempat mengucapkan terima kasih kepada kalian

berdua!”

Begitulah sambil berbicara sambil berjalan, tanpa terasa

ketiga orang iitu sudah tiba diatas puncak bukit.

Gak Kun liong segera bersuit nyaring ketebing seberang

sana memberi tahu kepada si burung hong untuk menjemput

mereka.

Tak lama kemudian dari bukit seberang terdengar suara

pekikan dari Ing ji.

Mendadak terdengar Siau yau kay Wi Kian berbisik lirih:

“Sett! tenang sedikit, aku seperti mendengar suara ujung

baju terhembus angin, jangan-jangan gembong iblis itu

merasa mutiaranya hilang dan menyusul kemari?”

Suma Thian yu dan Gak Kun liong segera memasang

telinga dan mendengar suara ujung baju terhembus angin

berkumandang datang.

Dengan wajah gelisah Gak Kun liong lantas berseru:

“Waah bagaimana baiknya? Ing ji masih belum juga datang

kemari…?”

“Apa yang kita takuti?” sahut Siau yau kay tenang, “paling

baik lagi kalau dia berani menyusul kemari, aku si pengemis

tua memang ingin memberi sedikit pelajaran kepadanya”

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak

terdengar tiga kali pekikan aneh berkumandang datang dari

punggung bukit.

Gak Kun liong dengan perasaan makin gelisah mengawasi

bukit seberang tanpa berkedip, dia berharap Ing ji bisa segera

sampai disana.

Mendadak dari tengah udara berkumandang suara pekikan

burung hong, Gak Kun liong segera menari nari sambil

berteriak:

“Nah sudah datang, Ing ji sudah datang”

Baru selesai dia berkata dari belakang punggung mereka

telah berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat

mengerikan.

Dengan cepat Gak Kuu liong berpaling, tanpa terasa dia

menjerit kaget:

“Aaaah !”

Apa yang diduga Siau yau kay memang tepat sekali, Hui

cha Cun cu Kiong Lui dengan memimpin Kiu tau siu Li Gi dan

Liat bwe siu Li Hiong telah muncul dihadapan mereka.

Siau yau kay segera mendengokkan kepalanya dan tertawa

terbahak-bahak:

“Haah…haaah…haaah…kalau sudah bermusuhan, dunia

kok rasanya amat sempit, dimana saja kita selalu bersua

kembali, hei orang she Kiong, kita memang sudah ditakdirkan

untuk berjumpa terus, bagus, sebelum mampus kita tak usah

buyar.

Hui cha Cun cu melotot musuh-musuhnya dengan sorot

mata penuh kebencian, dia menggerakkan bahunya melayang

kehadapan ke tiga orang itu, kemudian bentaknya gusar:

“Bangsat sialan, pengemis busuk, siapa yang sudah

melarikan mutiaraku?”

Akhirnya sorot mata penuh kebencian itu berhenti diatas

wajah Suma Thian yu, kembali bentaknya:

“Pasti kau. Ayo jawab!”

Sekulum senyum hambar menghiasi raut wajah Suma Thian

yu, dia tak sudi menjawab pertanyaan itu.

Hui cha Cun cu yang berpengalaman tentu saja dapat

menyaksikan sikap lawannya, sinar kebuasan dan rasa benci

yang mencorong ke luar dari balik matanya makin menjadi,

tanpa berkedip barang sekejappun dia menatap wajah Suma

Thian yu lekat-lekat, kemudian selangkah demi selangkad

berjalan mendekati anak muda tersebut.

Gak Kun liong yang menyaksikan kejadian tersebut

merasakan hatinya semakin gelisah, buru-buru dia lari kesisi

tubuh Suma Thian yu dan siap membantunya.

Tapi Liat hwe siu Li Hiong segera memburu kedepan dan

menyerobot didepan Gak Kun liong dengan menghalangi jalan

perginya.

Makin lama Hui cha Cun cu semakin mendekati mereka,

mendadak ia berhenti lalu sambil mengulurkan tangannya dia

berseru:

“Bawa kemari setan licik, ayo serahkan mutiara itu

padaku!”

“Kalau ingin turun tangan, silahkan saja turun tangan

sendiri…” jengek Suma Thian yu sambil tertawa sinis.

Hui cha Cuncu menjadi amat gusar, teriaknya mendadak:

“Kau anggap lohu tak berani?”

Seraya mengancam sekali lagi dia mendekati Suma Thian

yu sampai dua langkah.

Tanpa disadari Suma Thian yu mundur dua langkah

kebelakang, kini tubuhnya telah berada di tepi jurang, bila

dia mundur selangkah lagi, niscaya tubuhnya akan terjerumus

kedalam jurang, terkubur di dasar lembah.

Siau yau kay Wi Kian yang menyaksikan kejadian ini

menjadi amat kuatir, peluh dingin bercucuran membasahi

seluruh tubuhnya, buru-buru dia memperingatkan:

“Yu ji, jangan mundur lagi!”

Mendengar peringatan tersebut, Suma Thian yu manggutmanggut,

dengan mempergunakan sisa sorot matanya dia

melirik kebelakang.

Wouw! Sungguh mengerikan, dibelakang tubuhnya telah

terbentang jurang yang tak nampak dasarnya. Suma Thian yu

segera merasakan peluh dingin bercucuran membasahi

seluruh tubuhnya, bulu kuduk pada bangun semua.

Hui cha Cun cu Kiong Lui memperdengarkan suara tertawa

liciknya yang mengerikan, lalu serunya:

“Keparat busuk, kenapa mutiara itu tidak segera kau

serahkan, apakah kau sudah bosan hidup?”

Suma Thian yu mendengus dingin.

“Hmm, jika kau berani maju selangkah lagi, sauya akan

gugur bersama mutiara ini”

Sebenarnya Suma Thian yu hendak menggunakan ancaman

tersebut sebagai gertak sambal, siapa tahu Hui cha Cun cu

tidak memakan gertakan tersebut, dia malah mendongakkan

kepalanya dan segera tertawa seram.

“Heeh…heehh…heehh.. bagus sekali, biar lohu

menyempurnakan keinginanmu itu!”

Seraya berkata, dia lantas mengayunkan telapak tangannya

dan membacok tubuh Suma Thian yu.

Waktu Itu Suma Thian yu sudah berdiri di tepi jurang,

jangankan melancarkan serangan, sekalipun menggerakan

tubuhpun bisa akan berakibat marabahaya yang mengancam.

Maka ketika menyaksikan datangnya ancaman dari Hui cha

Cun cu, dia lantas menghela napas panjang dan sambil

memejamkan matanya melompat turun kedalam jurang.

Siau yau kay dan Gak Kun liong yang menyaksikan itu

segera menjerit kaget.

“Ooooohh, Thian yu!”

Karena tak tega, mereka berdua pun segera memejamkan

matanya rapat-rapat.

Keadaan yang dihadapi Suma Thian yu waktu itu memang

saat kritis dan berbahaya sekali, kendatipun ada malaikat yang

berada di sana belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya.

Bayangkan saja, si anak muda itu sudah di desak hingga

berada ditepi jurang, seandainya orang bermaksud untuk

memberi bantuan, bisa jadi pihak lawan akan melancarkan

sergapan dengan mempergunakan peluang tersebut,

akibatnya belum lagi orang lain tertolong, dia sendiri akan

menjadi korban.

Oleh sebab itu, kendatipun Siau yau kay memiliki

kepandaian silat yang maha sakti, dia cuma dapat

membiarkan Suma Thian yu terkubur di bawak jurang.

Tapi, pada akhirnya pada suatu peristiwa di luar dugaan

telah terjadi.

Hidup di dunia ini, kadangkala memang bisa terjadi suatu

peristiwa aneh yang sama sekali tak terduga.

Suma Thian yu meloncat mundur kebelakang, ia bertekad

untuk bunuh diri, sebab bagaimanapun jua mestika tersebut

tak dapat dibiarkan terjatuh ketangan musuh, daripada

berakibat seperti dalam peristiwa kitab tanpa kata dulu, Siapa

tahu baru saja tubuhnya meninggalkan tebing, mendadak dari

belakang tubuhnya ber kumandang suara pekikan burung

Hong yang keras sekali.

Menyusul kemudian terasa segulung angin kencang

berembus lewat, tubuh Suma Thianyu yang sedang meluncur

kebawah itu sudah disambar oleh suatu benda yang lunak,

kemudian pelan-pelan dibawa terbang membumbung ke

angkasa.

Suma Thian yu menjadi gembira sekali sesudah

menyaksikan peristiwa tersebut, segera pekiknya:

“Aku tertolong, aku sudah tertolong! Oooh, terima kasih

langit, terima kasih bumi, terima kasih Ing ji!”

Ditengah jeritan kaget semua orang, Ing ji telah membawa

Suma Thian yu terbang jauh melampaui puncak tebing dan

berpekik gembira tiada hentinya.

Mendengar suara pekikan itu, Gak Kun liong

mendongakkan kepalanya, apa yang kemudian terlihat

membuatnya turut berpekik nyaring:

“Horeee…..engkoh Yu sudah tertolong!”

Dia segera menjejakan kakinya ketanah kemudian

melambung keudara dan melompat naik ke atas punggung

Ing ji.

Tak terlukiskan rasa gusar dan mendongkol Hui cha Cun cu

setelah dilihatnya Suma Thian yu berhasil meloloskan diri dari

mara bahaya, bahkan tertolong, rambut dan jenggotnya pada

berdiri kaku saking marahnya, sambil berpekik nyaring telapak

tangannya segera diayunkan ke udara, melepaskan sebuah

pukulan dahsyat ke tubuh burung hong tersebut.

Ing ji adalah seekor burung hong yang berperasaan tajam,

dia memahami watak manusia, menyaksikan datangnya

serangan dari Hui cba Cun cu, dia lantas berpekik nyaring, lalu

sepasang sayapnya dikembangkan dan dikibaskan berulang

kali.

Angin puyuh yang menderu-deru, pasir dan batuan

beterbangan memenuhi angkasa, daun dan ranting

beterbangan membuat pemandangan terasa kabur…..

Hui cha Cun cu maupun Tiang pek siang sat tak kuasa

menahan deruan angin pukulun yang amat kuat tadi, masingmasing

lantas menutup muka sambil menyembunyikan diri

kesisi pohon, lalu memeluk batang pohon erat-erat, kuatir

kalau tubuh mereka terseret oleh angin puyuh sehingga

tercebur kedalam jurang.

Gak kun liang segera bertepuk tangan sambil bersorak

sorai, teriaknya kepada Siau yau-kay:

“Cianpwe cepat naik!”

Siau yau kay pun sadar, bila sekarang tidak pergi, sebentar

pasti akan menjumpai banyak kesulitan, maka dia lantas

menjejakkan kakinya ketanah dan melompat naik ke atas

punggung Ing ji.

Menanti ketiga penumpangnya sudah duduk baik-baik, Ing

ji menutup kembali sayapnya dan meluncur ketengah udara,

suara pekikan panjang menggema diudara menyayat suasana.

“Bocah keparat, Hui cha Cung cu Kiong Lui kontan saja

mencaci maki kalang kabut setelah menyaksikan ketiga orang

itu melarikan diri, “lohu akan menunggu terus disini, akan

kulihat sampai kapan kau baru muncul kembali disini.”

Benar juga, ternyata Kui cha Cun cu Kiong Lui menunggu

terus disitu sampai kemunculan Suma Thian yu dikemudian

hari, hanya ini kejadian dikemudian hari, jadi tak perlu

dibicarakan sekarang.

Ketika Siau yau kay bertiga tiba kembali dalam gua, Hui im

Tangcu Gak Say hwe yang menyongsong paling dulu, dia

lantas menegur:

“Sebenarnya apa yang telah terjadi, mengapa Ing ji pergi

sekian lama baru kembali?”

Siau yau kay Wi Kian tertawa panjang.

“Kalau dibicarakan panjang sekali ceritanya, ambil sepoci

arak lebih dulu, setelah lolos dari kematian, aku si pengemis

tua harus minum sampai mabuk.”

Sementara itu Ceng lion- Li siansu juga turut munculkan

diri, dibelakangnya mengikuti Sian gi siu dari Wu san, melihat

mereka bertiga pulang dengan selamat, segera tegurnya

sambil tertawa:

“Bagaimana dengan hasil perjalanan kalian? Tentunya

melalui suatu pertempuran yang amat sengit bukan!”

Gik Kun liong segera menarik ujung baju Cong liong lo

siansu sambil berseru manja:

“Sucou, orang she Kiong itu menganiaya Liong-ji, kau

orang tua harus membalaskan sakit hatiku ini!”

Cong liong Lo siansu hanya tersenyum belaka, lama

kemudian ia baru bertanya kepada Suma Thian yu atas hasil

perjalanannya.

Secara ringkas Suma Thian yu lantas mengisahkan

pengalaman yang baru saja dialaminya, lalu dari sakunya

mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam dan

menyerahkan kepada lo siansu tersebut.

Cong liong Lo siansu menerima bungkusan kain hitam itu

dan membuka pembungkusnya, seketika itu jua seluruh

ruangan berubah menjadi terang benderang bermandikan

cahaya.

“Haaah….Ya kong cu!” pekik Lo siansu kaget.

Semua orang menjadi gembira sesudah mendengar pekikan

itu dan sama-sama mengalihkan perhatiannya, betul juga,

ternyata mutiara tersebut adalah sebutir Ya kong cu yang

amat sukar ditemukan di dunia ini.

Setelah mengamati sejanak, Cong liong lo siansu berkata

sambil menggeleng.

“Thian yu, kau sudah salah ambil, benda ini bukan Han

kong cu anti racun yang diperoleh dari benak ular beracun”

Seluruh tubuh Suma Thian yu mendingin setelah

mendengar ucapan ini, buru-buru bantanya:

“Thian yu telah menggeledah seluruh ruangan, disitu hanya

ada benda itu saja, tak kutemukan mestika lainnya”

“Waaah, aneh sekali” gumam Cong liong lo siansu, “masa

bukan dia yang mengambil mutiara anti racun dari ular

beracun tersebut? Atau mungkin disembunyikan ditempat

lain?”

Gak Kun liong yang teliti lantas berpiki pula dengan

seksama, akhirnya dia berseru:

“Benar, Kiong Lui si setan tua ini memang tidak melarikan

mutiara anti racun tersebut!”

“Dari mana kau bisa tahu?” Cong liong lo-siansu seperti

sengaja hendak mencari tahu.

Secara ringkas Gak Kun liong lantas mengisahkan

pertarungannya melawan Hui cha Cun cu, dan akhirnya dia

pun mengisahkan pula ba gaimana Hui cha Cun cu menuntut

kembali mutiaranya.

Setelah dianalisa dan diselidiki kembali secara seksama,

akhirnya semua orang berkesimpulan bahwa Kiong Lui

memang tidak tahu menahu tentang mutiara anti racun itu.

Cong liong lo siansu segera bergumam:

“Lantas, siapa yang melakukan hal ini? Selain dia, orang

lain tak akan bermanfaat mendapat mntiara anti racun itu,

mungkinkah sudah dilarikan oleh si Mayat hidup?”

Diantara sekian jago yang hadir sekarang, kecuali Cong

liong Lo siansu beserta Suma Thian yu, Gak Kun liong, yang

lain tak sempat melihat bayangan pungung dari pencuri

mutiara tersebut, oleh sebab itu siapapun merasa kurang

leluasa untuk menimbrung.

Dengan demikian soal mutiara anti racun pun menjadi

sebuah teka teki bisu yang tak terjawab, siapapun tak tahu

mutiara mana telah terjatuh ke tangan siapa.

Cong liong Lo siansu segera menyerahkan kembali mutiara

Ya kong cu tersebut ke tangan Suma Thian yu kemudian

katanya:

“Bagaimana kalau kita kembalikan saja mutiara ini

kepadanya?”

“Jangan!” Suma Thian yu berseru keras.

Mendengar ucapan ini, semua orang tertegun dan menatap

ke arth Suma Thian yu dengan keheranan.

“Kenapa?” tanya Siang gi siu dari Wu san ketus.

“Tentu saja jangan dikembalikan kepadanya” teriak Suma

Thian yu dengan perasaan mendongkol, “coba bayangkan

sendiri Ya beng cu ini di dapatkan dengan mengorbankan

seratus butir batok kepala manusia, apakah kita harus

menyerahkan kembali dengan begitu saja kepadanya?”

Semua orang masih belum memahami ucapan Suma Thian

yu, Siau yau kay yang berangasan cepat menegur:

“Hei, bocah, kau berbicara jangan berbelit-belit, blak-blakan

saja, tak perlu di putar balikkan”

Merah padam selembar wajah Suma Thian yu karena

jengah, secara ringkas diapun mengisahkan kembali kejadian

yang dialaminya dalam dusun yang dilaluinya tempo hari,

sebagai akhir kata dia menambahkan:

“Pada mulanya Thian yu mengira perbuatan tersebut

dilakukan oleh pencoleng berkerudung, atau pasti ada sangkut

pautnya dengan Bi kun lun Siau Wi goan maka sewaktu tiba di

keluarga Siau, secara diam-diam kuperhatikan hal ini, akhirnya

aku gagal menemukan sesuatu jawaban, sama sekali tak

kusangka kalau perbuatan ini ternyata hasil karya dari Kiong

Lui, bayangkan saja, apakah aku harus menyerahkannya

dengan begitu saja?”

“Benar!” Gan Kun liong yang pertama-tama menyatakan

persetujuannya.

Kau yakin kalau mutiara ini adalah mutiara yang hilang dari

dusun tersebut?” tanya Tay gi siu Kiong Sian pula dengan

suara tegas.

“Thian yu tidak berani memastikan tapi b lum pernah

kudengar dikolong langit terdapat dua macam Ya beng cu

yang sama bentuknya” Jawaban dari Suma Thian yu ini sangat

diplomatis, membuat Tay gi siu jadi tergagap dan tak

mampu menjawab.

Gak Kun liong turut tertarik, dia segera menimbrung pula:

“Engkoh Yu, tahukah kau kalau Hui cha Cun cu itu sejalan

dengan Siau Wi goan?”

“Soal ini…aku kurang begitu tahu”

“”Benar! Perampok berkerudung itu sudah pasti bukan Hui

cha Cun cu” desak Gak Kun liong.

Didesak oleh beberapa patah kata tersebut Suma Thian yu

dibikin terdesak sehingga tak sanggup menjawab, padahal apa

yang dia katakan tadipun hanya merupakan suatu dugaan

belaka.

Bantahan dan Gak Kun liong inipun tak lebih hanya suatu

perumpamaan yang mendua-duga juga.

Hui im Tongcu Gak Say bwe yang selama ini hanya

membungkam, segera turut menimbrung:

“Buat apa kita mesti memperdebatkan persoalan seperti

ini? Thian yu, simpanlah dulu, benda macam begini tak boleh

sampai terjatuh ke tangan orang jahat, sedang mengenai

Kiong Lui, aku paling jelas dengan tabiatnya, jadi tindakanmu

menyerobot mutiara nya bukanlah suatu perbuatan yang

salah.

“Mengapa ibu?” tanya Gik Kun liong tidak habis mengerti.

“Cerewet!” tegur Hui im Tongcu Gak Say bwe cepat,

kemudian baru menerangkan, “antara Bi kun lun Siau Wi goan

dengan Kiong Lui sesungguhnya mempunyai hubungan

persaudaraan, nah, sekarang sudah jelas bukan?”

Hingga disitu, semua orang baru memahami duduk

persoalan yang sebenarnya, perdebatan nya dengan Suma

Thian yu pun dengan cepat diakhiri sampai disitu pula.

Siang gi siu dari Wu San lantas bangkit dan menghampiri

Hui im Tongcu, membisikkan sesuatu disisi telinganya, tampak

Gak Say bwe segera tersenyum sambil manggut-manggut.

Menyusul kemudian Tay gi siu menjura kepada semua

orang seraya berkata:

“Kami akan mohon diri lebih dulu, bila urusan telah selesai,

kita pasti akan bersua kembali”

Kemudian sambil berpaling kearah Suma Thian yu,

lanjutnya dengan wajah serius:

“Thian yu, kau harus baik-baik mengingat perkataanku,

setiap saat mencari tahu jejak kitab Cin keng tersebut”.

Begitulah, mereka berdua lantas berlalu setelah

menyampaikan pesannya, seperti sepulung hembusan angin,

bayangan tubuh mereka lenyap diluar gua sana.

Siau yau kay Wi Kian segera memohon diri Pula ketika

dilihatnya dua orang tokoh aneh itu sudah pergi, tapi Hui im

Tongcu segera menahannya sambil berkata:

“Kau toh tiada urusan penting apa-apa, kenapa mesti

terburu- buru….

Siau yau kay menggelengkan kepalanya berulang kali,

ucapnya sambil tertawa lebar:

“Kehadiranku disini hanya merupakan suatu beban yang

berat, apalagi setelah berapa hari tidak mengemis, rasanya

kantongku sudah mulai kosong”

Kemudian setelah memberi hormat kepada Cong liong 1o

siancu, katanya kepada Suma Thian yu sambil tertawa

mesteris:

“kesempatan baik sukar ditemukan, baik-baiklah

memanfaatkan nya…”

Selesai berkata, dia lantas beranjak meninggalkan gua

tersebut.

Menyaksikan mereka semua berlalu dari situ, Suma Thian

yu segera merasakan satu hal dia merasa orang-orang itu

seperti menyim pan suatu rahasia yang besar.

Nyatanya mereka datang depan begitu saja, pergipun

dengan begitu saja hingga seakan mereka hanya kebetulan

lewat dan menyamangi tempat itu, padahal siapa yang

menduga kalau dibalik kesemuanya itu sebetulnya terjalin

suatu buhungan batin yang erat!

Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam waktu singkat tiga

puluh hari sudah lewat.

Suatu hari, pagi-pagi sekali Cong liong lo siansu sudah

berada ditanah lapang dibelakang gua sana.

Seorang bocah berusia sebelas, dua belas tahun dan

seorang pemuda berusia delapan sembilan belas tahun sedang

melangsungkan suatu pertarungan yang amat seru, kedua

belah pihak sama-sama saling menyerang dan saling

menyergap dengan gencarnya.

Di tepi lapangan, berdiri pula seorang nyonya muda yang

berparas amat cantik.

Saat itulah, Cong liong lo siansu berjalan ke sisi nyonya

muda tersebut dengan langkah pelan, kemudian ujarnya

sambil tertawa:

“Selama satu bulan ini, kemajuan yang berhasil diraih

kedua orang ini sungguh mengagumkan, tidak sia-sia lolap

membuang banyak tenaga untuk mereka berdua”

Hui im tongcu hanya mengawasi terus Kedua orang yang

sedang bertarung itu, mendengar ucapan mana, ia tidak

berpaling, hanya sahutnya:

“Liong ji jauh lebih bodoh dan bebal, coba kau lihat,

bukankah Thian yu belum menggunakan segenap tenaga yang

dimilikinya?”

“Soal ini tak bisa disalahkan”, hibur Cong liong lo siansu,

liong ji baru berumur berapa? Janganlah mengharapkan

terlalu tinggi, kalau tidak kecewamu akan makin besar. Anak

kecil sudah dapat mencapai tingkatan sehebat ini,

sesungguhnya hal ini sudah terhitung luar biasa”

“Berhenti!” tiba-tiba Hui Im Tongcu berteriak keras.

Dua orang yang sedang bertarung segera melompat

mundur setelah mendengar teriakan tersebut, sambil

membawa pedang masing-masing mereka berjalan kehadapan

Cong liong lo siansu kemudian sapanya sambil memberi

hormat:

“Selamat pagi!”

Cong liong lo siansu membelai rambum Gak kun liong dan

berkata sambil tertawa ramah:

“Liong ji, kau harus beristirahat dulu, biar engkoh yu mu

berlatih lebih dulu”

Kemudian perintahnya kepada Suma siauhiap:

“Thian yu, cepat kau latih kembali ilmu pukulan Sian po

hwe hong ciang tersebut!”

Suma Thian yu segera mengiakan, sambil membawa

pedangnya dia berjalan menuju ke tengah lapangan,

kemudian setelah memberi hormat kepada kakek itu, satu

jarus demi satu jurus dia mulai melatih ilmu silatnya dari awal

sampai akhir.

Ilmu pukulan sian po hui hong ciang (pukulan angin

berpusing) merupakan ilmu andalan yang paling dibanggakan

Cong liong lo siansu sepanjang hidupnya, kali ini Suma Thian

yu dapat melatihnya dengan enteng, ringan, cepat luwes dan

bertenaga, jurus demi jurus di lepaskan seperti air sungai

huang ho yang mengalir tiada hentinya.

Betapa gembiranya Cong liong lo siansu menyaksikan

kelihayan bocah tersebut berlatih, dia tertawa terbahak-bahak

tiada hentinya, kemudian sambil berpaling kearab Gak Say

bwe, ujarnya:

“Coba kau lihat, bagaimana hasil latihannya itu? Asal bocah

ini diberi waktu yang cukup untuk melatih diri, tak sulit untuk

menjadi seorang jagoan nomor wahid dikolong langit”

Hui im tongcu Gak Say bwee ikut merasa gembira sekali.

Selesai melatih ilmu pukulan Sian po hui hong ciang,

kembali Suma Thian yu melatih ilmu pedang Bu beng kiam

hoat yang sekali lagi mendapat sambutan hangat.

Ketika pemuda itu selesai berlatih, Cong liong Lo siansu

memanggilnya menghadap, lalu berkata dengan gembira:

“Tampaknya kau berlatih dengan tekun dan rajin sehingga

dapat mencapai kesuksesan seperti hari ini, sebentar kau

boleh memberes kan buntalanmu untuk turun gunung, penuhi

janjimu di bukit Kun san, kemudian selesaikan sebuah tugas

yang akan kusampaikan padamu”

Sejak disuruh berdiam dalam gua Hui im tong, Suma Thian

yu belum pernah memahami maksud tujuan yang sebenarnya,

kini dia baru terceranjat sesudah mendengar perintah Cong

liong lo siansu, tanpa terasa wajahnya menunjukkan

kesangsiannya.

Dalam sekilas pandangan saja, Cong liong lo siansu sudah

dapat menebak jalan pemikiran pemuda itu, sambil

tersenyum dia segera berkata:

“Dunia persilatan dewasa ini sudah berada diambang pintu

badai pembunuhan yang paling mengerikan sepanjang seratus

tahun belakangan ini, tak sampai berapa tahun kemudian,

banjir darah sudah pasti akan melanda seluruh dunia

persilatan, tapi ini, sudah merupakan takdir, tiada orang

yang sanggup menyelamatkan badai pembunuhan berdarah

itu.

“Aku masih ingat ketika berusia delapan tahun dulu, dunia

persilatan juga pernah dilandai badai pembunuhuhan

berdarah, banyak jago persilatan yang terlibat dalam

peristiwa tersebut dan tewas secara mengerikan, kini

sekejap mata seratus tahun sudah lewat, dan sekarang

badai pembunuhan itu kembali mengancam kita, kita” bahkan

badai kali tampaknya timbul akibat dari munculnya kitab tanpa

kata, berdasarkan tafsiran inilah maka lolap lantas mengambil

keputusan untuk mewariskan segenap kepandaian silat yang

kumiliki kepadamu agar kau bisa bertanggung jawab untuk

menolong sesama umat manusia dari kehancuran”

Berbicara sampai disitu, Cong liong lo siansu berhenti

sejenak, kemudian setelah memandang sekejap sekeliling

tempat itu, bisiknya lagi dengan suara rendah:

“Setelah menghadiri pertemuan dibukit Kun san, kau harus

seorang diri berangkat ke Lhasa ibu kota Tibet, disebelah

utara kota Lhasa terdapat sebuah kuil yang bernama Phutara

si, dari situlah kau dapat mulai menyelidiki sumber mula dari

kitab pusaka tersebut, seandainya kitab itu belum sampai

terbawa ke daratan Tionggoan, berarti badai pembunuhan

ini bisa ditolong, kalau tidak, yaa… umat persilatan harus

menghadapi situasi tersebut dengan lebih perihatin.”

Sampai disini, Suma Thian yu baru mengerti apa sebabnya

Hui Im Tongcu mengundangnya kesitu, tanpa terasa hatinya

bertambah murung dan berat….

Menyaksikan pembahan wajah anak mnda tersebut, Cong

liong lo siansu segera membentak gusar:

“Jadi kau segan ke situ?”

“Bukan, bukan begitu… ” sahut Suma Thian yu tanpa

berpikir panjang lagi “sekali pun boanpwe harus terjun ke

lautan api pun, aku rela melaksanakannya, apalagi cuma

melakukan perjalanan jauh saja”

“Kau bohong, perubahan wajahmu telah mem beritahukan

segala sesuatunya itu kepadaku”

“Locianpwe, kau harus tahu, sejak kecil Thian yu sudah

kehilangan orang tuaku, dendam kesumat keluargaku belum

terbalas, kemudian berkat kebaikan hati paman Wan, aku

dipeliharanya sampai menginjak dewasa, sebelum

meninggalkan paman Wan telah berpesan kepadaku untuk

membalaskan dendam baginya, kemudian Wu san siang gi

menyerahkan tugas kepadaku untuk melindungi kitab pusaka

tanpa kata, ditambah lagi teka teki soal mutiara anti racun

yang terjadi berapa waktu berselang, semua tugas tersebut

kini sudah menjadi beban ku, hanya sayang semua tugas

mana tak satupun yang bisa kulaksanakan dengan baik, tiap

kali teringat akan hal ini aku menjadi amat sedih sekali,

maka…”

“Aku mengerti, sekilas pandangan persoalan didunia ini

beribu ribu macam corak, padahal keunggulannya hanya satu,

seperti apa yang kau ucapkan barusan, tampaknya

persoalanmu se-muanya merupakan persoalan yang pelik,

padahal jika dianalisa kembali satu persatu, semuanya akan

berubah menjadi soal sepele yang bisa diselesaikan secara

gampang!”

Mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu termenung

beberapa saat lamanya, ia segera menemukan kalau

perkataan itu memang benar, serta merta perasaannya pun

menjadi lebih terbuka.

Tengah hari itu, dengan perasaan berat hati Suma Thian yu

harus mohon diri kepada Cong liang lo siansu dan Hui im

Tongcu, ke mudian dihantar oleh Gak Kun liong dengan

menumpang Ing ji berangkatlah pemuda meninggalkan gua

Hui im tong.

Selama hampir sebulan penuh, Gak Kun liong selalu bergaul

dengan Suma Thian yu, baik siang atau malam, hubungan

mereka boleh bilang sudah amat akrab, sebetulnya Suma

Thian yu melarang dia menghantarnya ke puncak seberang,

tapi bocah itu bersikeras hendak menghantarnya.

Ketika Ing ji terbang sampai ditengah jalan, mendadak

burung itu berpekik keras, kemudian hanya berputar-putar

saja disekitar tempat itu tanpa ada maksud melayang turun.

Gak Kun liong yang menyaksikan kejadian itu segera

berteriak:

“Ing ji, apa yang terjadi? Apakah di depan sana ada

ancaman mara bahaya?”

Ing ji mengerti pertanyaan majikannya, dia manggut

berulang kali sambil berpekik nyaring.

Suma Thian yu segera memuji kecerdasan burung itu,

katanya:

“Ing ji, banyak terima kasih atas pemberitahuanmu, tak

mengapa, terbang saja terus, kami masih sanggup untuk

menghadapi ancaman bahaya macam apapun”

Setelah mendengar ucapan Suma Thian yu itu, Ing ji baru

berpekik gembira, ia lantas mengembangkan sayapnya dan

menukik kebawah.

Dalam waktu singkat, Ing ji sudah hinggap dipuncak

seberang, sambil melompat turun ketanah, Suma Thian yu

menjura kepada Gak Kun liong sambil berkata:

“Adik Liong, pulanglah lebih dulu, bila urusanku telah

selesai pasti akan kembali lagi kemari untuk berkumpul lagi

denganmu”

“Janji yaa, jangan bohong”.

“Tentu saja, aku pasti akan memenuhi janji”

Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar tiga kali

pekikan aneh berkumandang memecahkan keheningan,

menyusul kemudian tampak bayangan manusia berkelebat

lewat, dalam waktu singkat dari belakang tubuh Suma Thian

yu sudah muncul tiga orang kakek.

Begitu ketiga orang itu munculkan diri, mereka segera

mengurung rapat-rapat Suma Thian dan Gak Kun liong.

Sekilas pandangan saja Suma Thian yu segera mengenali

mereka sebagai Hui cha Cun cu yang datang bersama Tiang

pek ji sat, buru buru ujarnya kepada Gak Kun liong:

“Adik Liong, cepat pergi, biar aku seorang diri yang

menghadapi mereka bertiga”

“Tidak, aku ingin mati hidup bersama kau, bila ada rejeki

kita nikmati bersama, kalau ada susah kita tanggulangi

bersama, kini kau menemui kesulitan, masa aku harus pergi

seorang diri?” seru Gak kun liong cepat.

Menyaksikan Gak Kun liong begitu bersikeras dengan

pendiriannya, Suma Thian yu ingin menghibur dirinya dengan

beberapa patah kata, tapi musuh uangguh keburu sudah

dekat, apa lagi mereka semua memandang kearahnya dengan

penuh kegusaran.

Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk tidak banyak

berbicara lagi, bagamanapun juga kehadiran Gak Kun liong

memang banyak membantu baginya menghadapi lawan.

Maka sambil tersenyum dia mengangguk.

“Baiklah, untuk kali ini kukabulkan, tetapi jangan Untuk lain

kali.”

Gak Kun liong bersorak kegirangan, dia segera melompat

turun dari punggung burungnya itu sambil menepuk kepala

Ing ji, ujarnya:

Ing ji untuk sementara waktu beristirahat lah dulu diatas

pohon, kau tidak boleh turut serta dalam keramaian ini lhoo…”

Hui cha Cun cu semakin naik darah lagi setelah

menyaksikan sikap Suma Thian yu yang masih sempat tertawa

dan bergurau kendati pun mereka sudah dikepung rapat, sikap

semacam itu pada hakekatnya sama dengan tidak

memandang sebelah mata pun terhadap mereka.

Tanpa banyak berbicara ladia maju sambil melepaskan

sebuah pukulan, teriaknya dengan gusar:

“Bangsat… akan aku lihat kau bisa tertawa sampai kapan?”

Suma Thian yu berdiri membelakangi Hui cha Cun cu ketika

merasakan sambaran angin tajam dari balik punggung, buruburu

dia mengeluarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh in

hoat untuk mengegos ke samping, tidak nampak bahunya

bergerak, tahu-tahu orangnya sudah berpindah posisi.

“Setan tua” seru pemuda itu kemudian sambil tertawa,

“keadaanmu sekarang memang mirip sekali dengan anjing

penjaga pintu. aai… tak kusangka kau memiliki kesabaran

yang begitu besar, satu bulan penuh kau tetap mengeram

terus disini, semangatmu yang tinggi sungguh membuat

hatiku merasa amat kagum”

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar lagi suara

bentakan keras menggelegar diangkasa:

“Boocah keparat. Raja akhirat sedang menggapai

tangannya kepadamu…

Suma Thian yu sudeh menduga kalau serangan yang

dilancarkan itu paling tidak mengandung tenaga pukulan

sebesar delapan bagian, lagipula kekejiannya mengerikan,

tanpa pikir panjang dia membalikkan badan menerjang ke

samping Hui cha Cun cu, kemudian serunya sambit tertawa

cekikikan:

“Hai, anjing budukan penjaga pintuku, tampaknya kalian

belum akan puas sebelum sampai di sungai Huang ho, ingin

merebut kem-bali mutiara itu? heh…hee..lebih baik urungkan

saja niatmu itu”

Seraya berkata, tangan kanannya segera memainkan jurus

Hui so-sui hong (serat terbang terhembus angin) untuk

mencubit pelan di bawah ketiak Hui cha Cun cu.

Cubitan mana tentu saja membuat Kiong Lui kegelian, dia

sampai mencak-mencak kegusaran Sambil berkaok-kaok dia

melompat ke belakang sebatang pohon, ketika muncul

kembali, tangannya telah bertambah dengan sebatang senjata

toya berbentuk bulan sabit.

Dengan garangnya orang itu menerjang ke muka,

kemudian sambil memutar senjata Hou to pangnya dia

membacok batok kepala pemuda itu dengan jurus Sam yang

kay tay (Sam yang membuka air).

Toya Hou to pang tersebut paling tidak mencapai berat

enam lujuh puluh kati, ditambah kekuatan sewaktu membacok

hingga total jenderal kekuatannya mencapai lima ratus kati

lebih.

Kendatipun Suma Thian yu memiliki tenaga yang amat

sempurna, toh ia tak berani menyambut datangnya ancaman

tersebut dengan keras lawan keras.

Buru-buru dia mengigos kesamping, kemudian balas

melancarkan sebuah sodokan untuk menotok jalan darah Hian

ki hiat lawan.

Meskipun Hui cha cun cu tidak menyangka kalau dalam

waktu satu bulan yang singkat, Suma Thian yu telah

memperoleh kemajuan pesat dalam kepandaian silatnya,

melihat kelihayan permainan tangan kosongnya, dia benarbenar

merasa terperanjat sekali.

Hanya berpisah berapa hari, namun Suma Thian yu yang

sekarang bukan lagi Suma Thian yu yang dulu.

Kini, Suma Tnian yu sudah merupakan seorang tokoh

persilatan muda yang berilmu sangat tinggi.

Menyaksikan datangnya sambaran tangan Suma Thian yu

yang begitu cepat bagaikan sambaran petir, sudah bareng

tentu Hui cha Cun cu tak berani berayal, cepat-cepat dia

menarik kembali senjatanya kemudian melompat mundur

sejauh setengah kaki lebih dari posisi semula.

Hei orang she Kiong seru Suma Thian yu dengan suara

lantang, “lebih baik dengarkan saja anjuranku, jangan

memikirkan soal mutiara ya kongcu lagi, sebab hanya dengan

cara itu saja selembar nyawamu baru dapat diselamatkan,

jikalau sauyamu sampai marah hmmm, kau bisa menyesal

sekali…

Kalau tak mendengar ucapan itu masih mendingan, berigu

selesai mendengar ucapan mana kemarahan Hui cha Cun cu

benar-benar tidak dilukiskan dengan kata-kata.

Sambil membentak keras, senjata Hou to pangnya diputar

kencang menciptakan selapis bayangan tebal yang

menyelimuti seluruh tubuhnya, menyusul kemudian secepat

kilat menyodok tubuh Suma Thian yu, bentaknya keras:

“Ayo, maju semua!”

Tiang pek ji sat tak ambil diam, serentak mereka

mempersiapkan senjata masing-masing dan maju mengerubuti

Suma Thian yu.

Gak Kun liong kecil orangnya, besar nyalinya menyaksikan

kedua orang malaikat bengis itu maju bersama, serentak

diapun meloloskan pedangnya, lalu dengan jurus Kay san to

hu (mebuka bukit mencari sumber air) tangan kananya

menyerang Li hiong, sementara tangan kirinya membabat si

mahkluk berkepala sembilan Li Gi, semuanya dilepaskan

dengan kecepatan yang mengagumkan.

Tiang pek ji sat bukan manusia sembarangan, mereka tak

sudi bertarung melawan Gak kun liong, kedua orang itu

segera berpisah kekiri dan kekanan menghindarkan diri dari

serangan Gak kun liong, kemudian maju lagi menyerang Suma

thian yu.

Marah juga Suma thian yu menyaksikan serangan dari

kedua orang itu, dia jadi nekad, sambil mundur dua langkah,

pedang Kit hong kiamnya segera diloloskan dari sarungnya.

begitu senjatanya diloloskan, segera berkumandang

pekikan nyaring yang menggerincing.

Liat hwe siu Li hiong, orang ketiga dari Ting pek sam sat

hanya merasakan cahaya biru berkelebat lewat didepan

matanya, tahu-tahu dia merasakan dadanya menjadi dingin

sekali, diiringi dengan jeritan ngeri, tubuhnya segera roboh

terkapar ditanah bermandikan darah segar.

Semenjak mempelajari ilmu Bu beng kiam hoat, baru

pertama kali ini Suma Thian yu mempergunakannya untuk

menghadapi lawan.

Siapa tahu baru saja pedangnya diloloskan dan satu

ayunan ringan melintas, seorang jago lihay dari kalangan Liok

lim telah roboh binasa diatas tanah.

Kenyataan tersebut segera membuat Suma Thian yu berdiri

tertegun ditempat, dia menjadi lupa kalau disitu masih ada

dua orang musuh tangguh yang harus dihadapi.

Ketika Kiu tau siu Li Gi mendengar adik nya menjerit ngeri,

dengan cepat ia berpaling, tahu-tahu dijumpainya Li Gi sudah

terkapar tewas dengan tubuh bermandikan darah, peristiwa ini

segera membuat hatinya sakit.

Dengan mata merah membara, dia membentak keras,

kemudian goloknya segera diayunkan kedepan dan membacok

kearah samping dengan jurus Hong toan lo siong (angin

memotong pohon siong).

Sementara itu Suma Thian yu masih berdiri bodoh ditempat

tanpa berkutik, tampaknya ujung golok Li Gi segera akan

menembus pinggangnya. Dengan perasaan terkejut Gak Kunliong

menjerit:

“Hati hati engkoh Yu!”

Mendadak Suma Thian yu tersadar kembali dari

lamunannya, serta merta dia memutar pedangnya untuk

menangkis, setelah itu perge langan tangannya membalik ke

bawah, cahaya biru kembali berkelebat lewat. Terdengar Kiu

tau siu Li Gi menjerit kesakitan kemudian tu buhnya roboh

terjengkang ke tanah.

Pada hakekatnya Suma Thian yu tidak sempat melihat jelas

apa yang terjadi, tapi secara beruntun dia telah membunuh

dua malaikat bengis, hal ini membuatnya tertegun.

Ketika berpaling kembali, tampaknya olehnya Kiu tau siu Li

Gi seperti babi yang baru disembelih, bergulingan diatas tanah

sambil merintih tiada hentinya.

Tak jauh dari sisi tubuhnya tertinggal sebuah lengan kanan

yang menggenggam golok.

Memandang semua pemandangan yang tertera didepan

mata, Suma Thian yu merasa seakan-akan berada dalam

impian saja, hanya dalam satu bulan ilmu pedangnya telah

menperoleh kemajuan yang pesat, dalam sekali gebrakan saja

secara beruntun dia berhasil meroboh kan dua orang jago

lihay dari kalangan Liok-lim.

Hal ini serasa dalam impian saja, sukar untuk dipercaya.

Bahkan Hui cha Cun cu pun merasa terkesiap setelah

menyaksikan peristiwa ini, segulung hawa dingin segera

menyusup lewat punggungnya membuat ia merasa bergidik,

sambil menggenggam senjata toya Hou lo pangnya, dia

cuma berdiri kaku ditempat, lupa melepaskan serangan lagi.

Pulang saja kau!” kata Sama Thian yu kemudian hambar,

“suatu ketika, aku akan membalaskan dendam bagi seratus

jiwa yang melayang dalam dusun tersebut, ingat, hari ini ku

ampuni jiwamu karena aku telah mendapatkan mutiara

mustika itu dari tanganmu, maka aku tak tega untak

membunuhmu…”

Hui cha Cun cu adalah seorang manusia luar biasa kalau

dia disuruh untuk mengaku kalah sebelum bertempur, maka

lebih baik mampus saja dalam pertarungan.

Betul dia sudah tahu kalau ilmu pedang Suma Thian yu

sangat lihay, tanpa bertanding pun sudah diketahui siapa lebih

tangguh siapa lebih lemah, tapi kalau dia disuruh lari terbiritbirit

hanya berdasarkan sepatah katalawan, jangankan dia

terhitung gembong iblis termashur dalam kalangan liok lim,

sekalipun seorang keroco yang tak bernama pun tak akan sudi

melakukan perbuatan yang memalukan itu.

Hui cha Cun cu segera mementangkan sepasang matanya

yang tajam dan penuh pancaran sinar kebencian itu,

kemudian setelah melotot sekejap kearah Suma Thian yu,

katanya dingin:

“Bocah keparat, kau tak usah takabur lebih dulu, mari kita

tentukan kelibayan masing-masing dalam permainan tangan

kosong!”

Begitu selesai berkata, dia segera membuang senjata

tongkat Hou tong pang nya ketanah.

Suma Thian yu segera menyarungkan kembali pedangnya

ke dalam sarung sambil bersiap menghadapi serangan lawan.

Hui cha Cun cu memang tak malu disebut seorang

gembong iblis yang licik dan berbahaya, dia ingin

mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya yang

mencapai enam puluh tahun hasil latihan untuk mengejar

Suma Thiat yu yang masih ingusan.

Kedua belah pihak saling berhadapan tanpa bergerak,

selang beberapa saat kemudian Hui cha Cun cu baru

membentak keras, dengan jurus Sin jut kui meh (malaikat

muncul setan menghilang) yang disertai dengan tenaga

sebesar enam bagian, dia menghajar pemuda tersebut.

Suma Thian yu merentangkan sepasang tangannya

dipisahkan kesebelah samping, dengan jurus Po im kiam jit

(menyingkap awan melihat matahari) dia punahkan serangan

musuh, lalu membentak dengan marah:

“Kau benar-benar keras kepala dan tak tahu diri, baik,

mengingat dihari-hari biasa supaya tak punya dendam

maupun sakit hati dengan mu hari ini aku masih akan

memberi satu kesempatan kepadamu untuk hidup, tapi jika

kau belum juga mau mengerti, hmmm kalau begitu jangan

salahkan lagi sepasang telapak tangan ku tak kenal ampun

lagi……

Berbicara sampai disitu, telapak tangan kirinya segera

melakukan tangkisan keatas, sementara telapak tangan

kananya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya

langsung menyodok jalan darah Hian ki hiat didada Hui cha

cun cu dengan kecepatan luar biasa.

00o00 00o00

Lagi-lagi Hui cha cun cu dibikin terperanjat oleh kelincahan

gerak tubuh Suma thian yu, terutama sekali kesanggupan

anak muda itu menutup diri dari sergapannya, kemudian

melancarkan serangan balasan. Secara beruntun dia mundur

tiga langkah, lalu dengan jurus Ban hong jut cau (selaksa

lebah keluar dari sarang), dia hantam tenggorokan pemuda

itu.

Suma thian yu mendegus dingin, dia mengegos kesamping

dengan cepat, menyusul kemudian sebuah pukulan balasan

dihantamkan ke tubuh kiong lui keras-keras.

Serangan itu sekilas pandangan tampak lembuk lagi lunak,

namun cepatnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Menyaksikan kejadian tersebut, Kiong Lui segera tertawa

terkekeh-kekeh dengan seramnya.

“Bocah keparat, tampaknya kau sudah terjepit

sekarang…hmm, lebih baik menyerah saja untuk menerima

kematian, daripada harus mampus dengan tubuh tercincang!”

Sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia melakukan

tangkisan.

Siapa tahu setelah terjadi penangkisan itu kiong Lui

merasakan tubuhnya bergetar keras, cepat-cepat dia mundur

kebelakang untuk menyelamatkan diri.

“Sungguh lihay!” pekiknya dalam hati.

Walaupun dia berhasil meloloskan diri dari ancaman lawan,

namun keadaannya benar-benar amat mengenaskan.

“Ayo, sambut lagi sebuah pukulan ku ini!” seru Suma thian

yu sambil tertawa dingin.

Telapak tangan kanannya kembali diayunkan kemuka

menciptakan berlapis-lapis bayangan tangan yang segera

menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung tubuh lawan.

Berulang kali dipaksa dibawah angin, Hui cha cun cu sudah

dibikin gusar sekali, bulu dan rambutnya sampai berdiri semua

bagaikan kawat, apalagi menyaksikan keangkuhan pemuda

itu, kemarahannya menjadi-jadi.

Sambil membentak keras, tiba-tiba saja dia merubah

gerakan tubuhnya, kali ini dia gunakan dua jurus penolong

dari ilmu Po to pak an(ombak dahsyat memecah ditepian) dan

Hu kong keng im (cahaya kilat lintasan bayangan) untuk

melepaskan bacokan maut, bersamaan waktunya dia melejit

pula ke tengah udara.

Suma thian yu tak berani memandang enteng musuhnya

setelah pihak lawan mengeluarkan jurus mautnya, terutama

sekali sesudah pihak musuh melambung ke angkasa, biasanya

gerakan itu pasti akan dilanjutkan dengan serangan maut

lainnya.

Cepat-cepat dia pusatkan seluruh perhatiannya kesatu titik,

hawa Kui goan sim hoat pun disalurkan ke seluruh bagian

badan, lalu dengan menghimpun tenaga pukulan Bu siang

sinkang dalam telapak tangan, dia bersiap siaga menghadapi

segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Baru selesai Suma Thian yu melakukan persiapan, di

tengah udara sudah berkumandang suara gemuruhnya guntur

memekikkan telinga.

Rupanya Hui cha Cun cu iah mengeluarkan ilmu pukulan

andalannya yakni Pek lei si hun ciang untuk menghadapi

lawan, berbareng dengan menggemanya geledek, terlihat dua

kilasan cahaya kilat yang disertai desingan angin tajam

menghantam kearah kepala lawan.

Suma Thian yu pernah merasakan kelihayan dari Pek lek si

hun ciang lawan, dia cukup mengetahui kelihayan musuhnya,

coba kalau tempo hari tidak ditolong Gak Kun liong, mungkin

ia sudah tewas sedari dulu.

Akan tetapi, semenjak dia mempelajari ilmu Sian po hui

hong ciang hoat ajaran Cong liong lo siansu, semangatnya

berkobar lagi, walaupun ia belum pernah mencoba sampai

dimana kekuatan pukulan tersebut, namun rasa percayanya

pada diri sendiri meningkat.

Sambil tertawa hambar, tenaga Bu siang sinkangnya

dilontarkan melalui telapak tangan dan menyongsong

datangnya ancaman lawan.

“Blaaamm….” ketika dua gulung angina pukulan yang

menderu-deru bagaikan angin pukulan yang berbenturan satu

sama lainnya, ledakan dahsyat menggelegar disusul

beterbangan-nya pasir dan debu.

Akibat dari benturan itu, tubuh Hui cha cun cu terpental

sejauh beberapa kaki dan terbanting keras-keras diatas tanah.

Suma Thian yu sendiri pun mundur beberapa langkah

dengan sempoyongan sebelum akhirnya dia berhasil berdiri

tegak.

Paras muka Hui cha Cun cu pucat pias seperti mayat, rasa

kaget dan tercengang menghiasi wajahnya, untuk sesaat ia

jadi tertegun.

Akhirnya sambil merangkak bangun dari atas tanah,

serunya dengan nada penuh kebencian”

“Bocah keparat, selama gunung nan hijau, air tetap

mengalir, hutang ini tak akan kulupakan untuk selamanya,

sampai jumpa lagi lain kesempatan!”

Tanpa berpaling lagi, dia lantas melarikan diri terbirit-birit

meninggalkan tempat itu.

Menyelamatkan diri dalam keadaan yang mengenaskan

boleh dibilang baru pertama kali dilakukan Kiong Liu selama

hidupnya, masih untung Suma Thian yu berbaik hati dengan

mengampuni jiwanya, coba kalau tidak, sudah pasti dia akan

mampus sedari tadi.

Tapi justeru karena kewelas kasihannya ini, dikemudian

hari gembong iblis tersebut justru mengakibatkan banyak

kematian yang mengenaskan bagi umat persilatan lainnya,

tentu saja hal ini sama sekali diluar dugaaan anak muda

tersebut.

Melihat Kiong Liu sudah melarikan diri, Gak Kun liong

segera bersorak kegirangan, sambil lari ke sisi Suma Thian yu,

serunya dengan wajah berseri:

“Engkoh Thian yu, sungguh hebat pukulanmu tadi, apa sih

namanya?”

Suma Thian yu sendiri pun tidak habis mengerti mengapa

dia berhasil mengalahkan gembong iblis tersebut dalam sekali

pukulan, mendapat pertanyaan tersebut segera sahutnya

sambil tertawa hambar:

“Bu siang sinkang!”

“Bu siang sinkang? Aaaah, betul, aku pernah mendengar

ibu bercerita, konon dalam dunia persilatan terdapat seorang

pendekar yang bernama Put Gho cu, diakah yang

mengajarkan ilmu tersebut kepadamu?”

“Yaa, betul, dia adalah guruku”

“Tak heran kalau begitu lihay, lain kali kau mesti

mengajarkan ilmu tersebut kepadaku, mau bukan?”

“Tentu, asal adik Liong senang, sekalipun hatiku yang kau

maui juga akan kuberikan”

“Ooeh engkoh Thian yu, kau memang sangat baik, selama

hidup Liong ji akan berterima kasih terus kepadamu”

Suma Thian yu mengalihkan pandangannya keatas langit,

setelah melihat waktu dia memandang pula dua sosok jenasah

yang tergeletak ditanah, katanya kemudian sambil menghela

napas:

“Bu beng kiam hoat benar-benar memiliki kekuatan yang

luar biasa, aku menyesal serang anku tadi telah

mengakibatkan mereka berdua satu mati satu terluka parah”

“Aah, mereka kan orang jahat yang senang berbuat bejat,

matipun masih untung”

“Tapi mereka toh tak ada dendam kesumat apapun dengan

diriku?”

“Aiai, sudahlah, tak usah dibicarakan lagi, engkoh Thian yu,

kau harus berangkat, semoga sepanjang jalan selamat dan

sukses selalu”

Gak kun liong segera memanggil Ing ji dan menunggang

burungnya dia balik kembali kepuncak seberang.

Memandang bayangan punggung nya hingga lenyap dari

pandangan, Suma thian yu baru berbisik pelan:

“Adik liong, kaupun harus baik-baik menjaga diri”

Ketika ucapan tersebut diutarakan, Gak kun liong mungkin

sudah sampai di gua Hui im tong.

Setelah berpisah dengan Gak kun liong, seorang diri Suma

thian yu berangkat meninggalkan bukit Han san menuju ke

kota tong sia.

Perjalan yang ditempuh amat jauh, tempat yang dilalui

melulu tanah perbukitan yang tinggi, akhirnya Suma thian yu

membeli keledai untuk melanjutkan perjalanan.

Keledai tak bisa lari cepat, pemuda itupun tidak terburuburu

melanjutkan perjalanan, maka memanfaatkan

kesempatan itu, dia menikmati pemandangan alam yang indah

disepanjang jalan.

Dari situ menuju Tong ting ou paling tidak membutuhkan

waktu dua puluh hari jika perjalanan ditembuh dengan cara

begini, tapi justru dia akan sampai ketempat tujuan persis

sebelum waktu yang ditetapkan oleh dua bersaudara Thia.

Suatu pagi, dia meninggalkan Lu teng berangkat kekota

Tong sia, tiba-tiba awan gelap menyelimuti seluruh angkasa

membuat udara menjadi gelap gulita.

Melihat hujan deras segera turun, Suma thian yu menjadi

amat gelisah, dia segera larikan keledainya cepat-cepat untuk

menuju kesebuah hutan didekatnya.

Mendadak terdengar bunyi guntur menggelegar disusul

sambaran kilat yang tajam, lalu hujan pun turun amat deras.

Hujan turun begitu deras dan keras, agaknya membuat

keledai itu ketakutan sambil berpekik nyaring tahu-tahu

binatang itu lari kencang menuju keatas gunung.

Suma Thian ya ikut merasa terkejut, cepat-cepat dia

memeluk leher keledai kencang-kencang dan membiarkan

binatang tersebut berlarian tanpa tujuan. Hujan turuu semakin

deras…

Kini Suma Thian yu telah basah kuyup oleh derasnya air

hujan.

Suatu ketika, mendadak keledai itu berpekik nyaring sambil

menyambar kepuncak bukit, dengan perasaan terkejut Suma

Thian yu mendongakan, kepalanya, tiba-tiba dia melihat ada

sebuah rumah kayu muncul dibalik bukit sana.

Rupanya kesanalah keledai itu berlarian.

Suma Thian yu menjadi amat kegirangan.

Sambil menepuk kepala keledainya dia memuji berulang

kali.

“Wahai keledai, kau memang pintar, mari kesana untuk

berteduh dari hujan keparat ini”

Keledai itu berpekik nyaring, secepat terbang dia lari kearah

rumah kayu tersebut.

Baru sampai didepan rumah kayu itu, mendadak dari balik

rumah terdengar suara bentakan nyaring menggelegar

memecahkan keheningan:

“Lihat serangan!”

Menyusul kemudian muncul tiga titik cahaya bintang yang

menembusi kabut hujan dan menyambar tiba.

Suma Thian yu sangat terkejut, cepat-cepat dia menarik tali

lesnya kuat-kuat.

Sambil meringkik panjang, keledai itu segera mengangkat

kakinya keatas dan bergeser setengah kaki dari posisi semula.

Tiga titik cahaya tajam itu dengan membawa desingan

angin tajam, menyambar lewat persis disisi telinga Suma

Thian yu dan melesat kedepan….

Suma Thian yu sendiri kena digoncang pula oleh lejitan

keledai tersebut hingga terjatuh ketanah. Bersamaan

waktunya, mendadak pintu rumah dibuka dan muncul kepala

seorang gadis muda.

Walaupun hujan masih turun dengan derasnya, namun

Suma Thian yu dapat mengenali perempuan itu sebagai Yan

tho hoa (bunga tho indah) Ho Hong yang pernah dijumpainya

di rumah Bi kun lun Siau Wi goan tempo hari.

Begitu mengetahui siapakah perempuan itu, Suma Thian yu

segera melompat naik lagi keatas punggung keledainya dan

siap berlalu dari tempat tersebut.

Jilid : 14

Mendadak dari arah belakangnya berkumandang suara

tertawa cekikikan yang amat genit, disusul perempuan itu

berseru:

“Hei, saudara cilik, kau lagi marah rupanya? Kemarilah,

coba kau lihat hujan begitu deras, apakah kau tak ingin

berteduh sebentar sebelum pergi?”

Waktu itu Suma Thian yu sudah basah kuyup ketimpa air

hujan, apa lagi setelah mendengar kata-kata yang genit itu,

kontan saja ia menjadi merinding dan berdiri semua bulu

kuduknya.

“Hujan ini pasti turun terus tiada hentinya” demikian dia

berpikir, “aah, perduli amat, lebih baik aku berteduh lebih dulu

disini, toh ia tak bakal bisa melahap diriku!”

Berpikir sampai disitu, dia lantas membalikkan keledainya

dan pelan pelan berjalan mendekati rumah kayu tersebut.

Sambil keledainya Suma Thian yu berteduh dibawah emper

rumah, di dalam ruangan keliahatan api membara dengan

hangatnya, Ho Hong sedang mengeringkan tubuhnya.

Waktu itu si Bunga tho indah Ho Hong hanya mengenakan

seperangkat baju yang amat tipis, selain itu didalamnya tidak

memakai apa-apa, dengan begitu terlihat amat jelas seluruh

anggota tubuhnya yang terlarang, terutama payudaranya yang

montok dengan putingnya yang memerah.

Terkesiap hati Suma Thian yu setelah menyaksikan

kejadian tersebut, dia merasa tubuhnya seperti tersambar

aliran listrik bertegangan tinggi saja, kontan membuat semua

anggota badannya kaku.

Buru-buru ia duduk bersila sambil memusatkan seluruh

perhatian nya kesatu titik, lalu mulai memejamkan mata dan

mengatur napas.

Kontan saja perbuatannya itu disambut gelak tertawa

cekikikan dari si Bunga tho indah Ho Hong, rupanya dia

kegelian.

“Aduh … kau memang perjaka yang masih suci, kenapa,

kenapa sih? Memangnya seluruh tubuhku tumbuh duri

beracunnya?”

Suma Thian yu tidak menghiraukan ucapan lawan, dia

hanya memusatkan terus perhatiannya ke satu titik dan

mengatur nafas.

Dalam waktu singkat hawa dingin yan semula mencekam

tubuhnya, kontan saja lenyap hingga tak berbekas.

Tiba-tiba Bunga tho indah Ho Hong berjalan mendekati

pemuda itu dengan langkah yang lemah gemulai, kemudian

sambil tertawa genit katanya:

“Lepaskan pakaianmu yang basah, biar ku keringkan

sebentar, setelah kering nanti baru kau kenakan lagi, kalau

tidak, kau bisa masuk angin”

“Tidak usah, terima kasih” tampik Suma Thian yu dengan

nada dingin dan kaku.

Jangankan beranjak, mata pun tak pernah memandang ke

arah perempuan tersebut.

Menyaksikan sikap dingin anak muda itu, Si Bunga tho

indah Ho Hong segera memutar otaknya, kemudian berseru

tertahan:

“Aaah, benar, aku lupa kalau belum mengenakan pakaian,

tak heran kalau tak berani memandang kearahku, saudara

cilik, kau jangan mentertawakanku”

Selesai berkata ia lantas bersembunyi dibelakang pintu dan

mengenakan kembali pakaiannya yang telah kering, dalam

waktu singkat dia sudah muncul kembali dengan pakaian yang

rapi.

Suma thian yu benar-benar merasa muak menyaksikan

tingkah lakunya yang tengik, genit dan menjemukan itu.

Bunga tho indah Ho Hong sudah amat mashur dalam dunia

persilatan sebagai seorang perempuan genit berwajah cantik,

boleh dibilang hampir sebagian besar umat persilatan

mengenalinya. Sangat banyak jago termashur yang terpikat

oleh kegenitannya itu sehingga tunduk seratus persen

dibawah telapak kakinya. Hal ini disebabkan pertama, Si

Bunga tho indah Ho Hong memang dilahirkan dengan

selembar mulut yang pandai merayu, kedua, ilmu silatnya

amat lihay dan sakti, itulah sebabnya banyak sekali pemudapemuda

yang terpikat olehnya.

Padahal watak Si Bung tho indah Ho Hong sendiri tidak

termasuk jahat, ia bisa mempunyai nama buruk semua hari

ini, semuanya tak lain adalah hasil didikan gurunya.

Bayangan saja, murid yang di didik Si Mayat Hidup Hoat Si

si, bagaimana mungkin bisa menjadi baik?

Si Mayat Hidup Ciu jit hwe merupakan pentolan iblis dalam

golongan iblis, ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang tiada

taranya didalam dunia persilatan.

Dibawah didikannya, dia mempunyai tiga murid, dua

diantaranya adalah Hek hong hou (harimau angin hitam) Lim

Kang dan Kim bin kui (setan muka hijau) Siang tham.

Kedua orang itu merupakan jago-jago lihay dulu dalam

kalangan Liok lim. mereka sudah banyak melakukan kejahatan

dan membunuh orang tak terhitung jumlahnya.

Si Bunga tho indah Ho Hong adalah seorang gadis yang

baik. hingga kini dia masih tetap suci bersih tanpa noda,

hanya sayang sekali sekuntum bunga teratai yang tumbuh

diatas lumpur, bagaimana bisa menjaga nama baiknya? Orang

tak ada yang percaya kalau gadis ini masih suci bersih….

Dikolong langit ini memang terdapat banyak kejadian yang

tragis, Si Bunga tho indah Ho Hong hanya satu diantara sekian

banyak kejadian lainnya.

Selama ini, dia selalu berusaha untuk maju selalu berusaha

untuk kembali kejalan yang bersih dan lurus, akan tetapi

ucapan manusia dan lingkungan hidup bagaikan benteng baja

yang kuat,

selalu saja menghalangi jalan perginya.

Maka dia selalu putus asa, mulai kecewa, mulai berbuat

sewenang-wenang dan kian terjerumus……..

Sampai pada akhirnya dia sendiripun menjadi buta, buta

untuk membedakan mana yang benar.

Ada kalanya dia berjalan kearah yang benar, tapi ada pula

saatnya dia berjalan kearah yang salah.

Bagi seorang perempuan, apa pula yang bisa dia perbuat?

Bertarung melawan lingkingan? Menghadapi ucapanucapan

cabul dengan kasar? Atau dia harus berjuang untuk

mencapai kedudukan tinggi….?

Tidak, tidak mungkin seorang perempuan bisa berbuat

demikian, perempuan hanya tahu bagaimana mencintai dan

dicintai, ia tak kan mengerti tentang bagaimana cara

melanjutkan hidup.

Ia seringkali bergumam begini:

“Burung gagak di dunia ini semuanya hitam, lelaki, mereka

hanya tahu memuaskan napsu, mereka tak tahu bagaimana

perasaan seorang wanita, hmmm bila aku Ho Hong

manfaatkan kelebihanku, apa sulitnya untuk menaklukkan

mereka dibawah telapak kakiku?”

Akhirnya ucapan tersebut menjadi prinsip hidupnya selama

ini, tak heran kalau dia pun mencoba merayu dan menggaet

hati Suma Thian yu, setelah dia bertemu dengannya.

Siapa tahu Suma Thian yu adalah lelaki sejati yang tahan

uji, hatinya setenang air, di tambah lagi ia tidak gemar

bermain perempuan.

Menyaksikan pemuda itu sama sekali tak terpikat oleh

bujuk rayunya, Bunga tho indah Ho Hong semakin penasaran,

diam-diam dia menyumpai pemuda itu sebagai lelaki palsu,

tapi iapun segera menyusun rencana untuk menyiapkan

sebuah perangkap.

“Kau benar-benar tak takut dingin?” Bunga tho indah Ho

Hong menegur sambil tertawa, “ooohh, mengerti aku

sekarang, lantaran aku ada disini maka kau enggan

melepaskan pakaianmu bukan?”

Sambil berkata ia melirik sekejap kewajah pemuda itu,

siapa tahu semakin dipandang makin tertarik, dia ingin sekali

menjatuhkan diri kedalam pelukannya dan merasakan

kehanggatan tubuhnya, walau hanya sebentar saja. Tapi dia

lantas berpikir kembali, tindakan yang terlampau tergesa-gesa

bisa mengakibatkan kegagalan total, maka kembali ujarnya

sambil tertawa:

“Duduklah dulu disini, aku akan mengambilkan kayu bakar

diluar sana”

Ia melompat keluar dan lenyap dibalik pintu itu.

Suma Thian yu masih tetap duduk kaku ditempat tanpa

berkutik, sepatah katapun tidak berbicara, kepergian Ho Hong

pada hakekatnya tidak memancing perhatiannya.

Siapa pula yang menduga jikalau saat itu Suma thian yu

sedang melakukan suatu percobaan, mengeringkan

pakaiannya dengan pancaran hawa murninya, disaat Ho Hong

sedang mengoceh tiada hentinya tadi, ia sudah memejamkan

mata sambil mengatur napas bahkan tak selang beberapa saat

kemudian dia sudah berada dalam semedinya.

Tak selang beberapa saat kemudian, tubuhnya makin lama

makin mengering, penemuan ini tentu saja amat

menggirangkan hati Suma thian yu.

Ketika Ho hong berlalu, pakaiannya telah mengering, tapi

dia hanya membuka matanya sambil memandang keluar

jendela saja, ia sedang berpikir sampai kapan hujan tersebut

baru akan berhenti.

Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat

diluar jendela, mula-mula Suma thian yu mengira si Bunga tho

indah Ho Hong telah kembali, maka dia segera memejamkan

matanya rapat-rapat.

Siapa tahu segera terdengar lagi suara panggilan yang lirih:

“Adik hong, adik Hong….”

Merasakan keadaan tak beres, buru-buru Sum thian yu

melompat bangun dan menyembunyikan diri dibalik tempat

kegelapan.

Tak lama kemudian terlihat seseorang berjalan masuk

kedalam ruangan itu.

Dia bermuka hijau bertaring panjang, bajunya panjang

berkembang-kembang, dalam sekilas pandangan saja dapat

dikenalinya sebagai si setan muka hijau Siang Tham.

Ketika masuk kedalam ruangan, Siang Tham tidak melihat

Suma Thian yu, dia hanya berseru tertahan sambil berguman:

“Heran, Sumoay telah pergi kemana?”

Pada saat itulah Ho Hong masuk dari pintu depan, ketika

gadis itu menyaksikan ji-suhengnya berada disana, dengan

gusar segera menegu