Pendekar Pengejar Nyawa

New Picture

Pendekar Pengejar Nyawa

Oleh : Khu Lung

Saduran : Gan K.L

Jilid 1

Beberapa baris tulisan huruf-huruf indah yang masih basah tintanya itu tertera di atas selembar kertas yang dibentangkan di atas

sebuah meja batu marmer. Sinar lilin menyorot dari sebuah lampion yang dibungkus kain paris merah, membuat kertas berwarna biru

muda itu terlihat berwarna ungu muda tertimpa cahaya merah dari lampion,

kelihatan aneh dan janggal. Tulisan yang indah dan berseni

itu jadi tampak lebih menarik dan merasuk hati. Surat itu tidak

dibubuhi tanda tangan pengirimnya, namun mengandung bau dupa

wangi, bau dupa yang mengandung seni, dari tulisan surat bukan

surat, syair bukan syair itu, siapa pun susah menduga siapakah

orang yang mengirimkan surat ini.

Yang menerima surat ini adalah Kim Pian-hoa, anak seorang

hartawan terkenal di Pak-khia. Ia sedang duduk di pinggir meja. Raut mukanya yang putih halus

dan selalu terpelihara itu terlihat berkerut-kerut seakan mendadak kesakitan lantaran terbacok

senjata tajam. Kedua biji matanya melotot mengawasi surat itu, seolah baru saja menerima surat

panggilan dari Giam-lo-ong (Raja Akhirat).

Dalam ruang pendopo yang besar itu hadir tiga orang lagi. Seorang adalah laki-laki tua

berjubah sutera, berperawakan kekar dan bersikap gagah, namun rambutnya sudah beruban. Ia

sedang menggendong kedua tangannya mondar-mandir di ruangan itu. Entah sudah berapa lama

atau berapa kali ia berjalan pulang-pergi, seperti tidak merasa letih. Umpama ia berjalan lurus,

mungkin jarak yang telah ditempuhnya tidak kurang dari jarak antara Pak-khia dan Thio-kah-gou.

Seorang lagi adalah laki-laki berpakaian serba hitam dengan tulang pipi yang menonjol,

bermata elang dan bersikap dingin tenang, tapi terlihat jelas wataknya yang keji dan culas. Ia

duduk di samping Kim Pian-hoa. Kedua tangannya sedang mengelus-elus sepasang potlot baja

yang ditaruh di atas meja. Jari-jari tangannya kurus kering dan panjang, sendi-sendi tulangnya

tampak menonjol seperti rangka besi.

Raut wajah kedua orang ini kaku serius, sepasang mata yang jeli selalu berputar mengawasi

sekelilingnya, dari pintu ke arah jendela, dari jendela balik ke arah pintu, begitu tak putus-putusnya

dengan perhatian penuh.

Selain kedua orang ini, masih ada seorang tua berkepala gundul berpakaian sederhana,

tubuhnya kecil pendek dan kurus, ia duduk di pojok seakan bersemedi dengan memejamkan mata.

Tiada tanda istimewa di badan orang ini, tapi kedua daun kupingnya entah kenapa tidak tampak di

tempatnya, namun digantikan oleh kuping palsu berwarna putih, entah terbuat dari apa.

Laki-laki tua berjubah sutera menghampiri meja, dijemputnya kertas bertulisan itu, katanya

dingin: “Ini terhitung apa? Undangan? Tanda hutang? Dengan mengandalkan secarik kertas tak

berharga seperti ini, dengan gampang dia hendak mengambil Giok-bi-jin, satu dari empat benda

mestika di kota raja…..” Lalu ia menggebrak meja dengan keras, bentaknya: “Coh Liu-hiang, oh

Coh Liu-hiang. Jangan kau memandang remeh para enghiong di kota raja.”

Kim Pian-hoa bersungut-sungut, katanya dengan gemetar dan sangsi: “Kenyataannya dengan

hanya mengandalkan secarik kertas yang sama, entah sudah berapa banyak benda mestika yang

berhasil dicurinya. Kalau dia mengatakan jam sekian hendak mengambil sesuatu barang, siapa

pun jangan harap bisa menggagalkan usahanya.”

“Oh, apa ya?” sela laki-laki baju hitam dengan nada dingin.

Kim Pian-hoa menghela nafas, ujarnya: “Bulan lalu Khu Sian-ho dari Jalan Gulung Tirai juga

menerima secarik kertas yang sama, katanya hendak menjemput Kim-liong-pwe milik Khu-ya

warisan leluhurnya. Bukan saja Sian-ho menyimpannya di sebuah kamar rahasia, malah

mengundang dua orang Si-wi dari istana raja pula, Siang-ciang-hoan-thian (Sepasang Tangan

Membalik Langit) Cui Cu-ho dan Bwe-hoa-kiam Pui Hoan untuk berjaga di luar pintu rahasia.

Penjagaan sedemikian rapat, seumpama lalat pun tidak akan dapat lolos. Namun setelah lewat

jam yang dijanjikan, saat mereka membuka pintu kamar….. aaaiii, Kim-liong-pwe tetap saja

hilang.”

Laki-laki baju hitam tertawa dingin, jengeknya, “Ban-lo-piauthau bukanlah Cui Cu-ho, aku

Seng-si-poan bukan Pui Hoan, apalagi…. ” ia melirik laki-laki tua gundul di pojok, lalu

menyambung dengan perlahan, “Eng-locianpwe yang paling ditakuti oleh kalangan maling dan

pencuri di seluruh dunia pun hadir di sini, kami bertiga kalau tidak mampu membekuk Coh Liuhiang,

pasti tidak ada lagi orang yang mampu.”

Baru sekarang laki-laki tua gundul itu membuka matanya, ujarnya, “Cui-heng terlalu

mengagulkan diriku. Sejak peristiwa Hun-tai dulu, Lo-si sudah tidak berguna lagi. Orang yang

hidupnya mencari nafkah dengan mengandalkan sepasang telinganya, kini telah diprotoli orang,

kan sama seperti pengemis kehilangan ular untuk bermain sulap.”

Bila orang pernah mengalami kekalahan yang begitu mengenaskan, apalagi kedua kupingnya

pun hilang, pasti ia tidak berani mengungkit-ungkit peristiwa yang memalukan itu. Kalau orang

berani mengolok-olok, tentu dia akan menghunus senjata untuk ajak adu jiwa. Tapi laki-laki tua

gundul itu bicara sambil tertawa berseri tanpa malu, malah seakan merasa bangga dan senang.

Laki-laki tua berjubah sutera itu adalah Thi-ciang-gin-pian (Pukulan Besi Ruyung Perak), Ban

Bu-tik, Cong-piauthau Ban-seng Piaukiok di kota raja. Sambil mengelus jenggotnya, ia tertawa

gelak, ujarnya: “Kaum persilatan siapa yang tidak tahu ketajaman telinga Toh Eng yang tiada

bandingannya di dunia? Memang saat peristiwa Hun-tai dulu mengalami kekalahan kecil, tapi

kekalahan itu malah membawa rezeki besar. Apalagi sejak kau memasang dan menggunakan

Pek-ih-sin-hi (Telinga Sakti Baju Putih), ketajaman kupingmu jadi semakin lihai.”

Toh Eng atau si Elang Gundul menggeleng kepalanya, ujarnya tersenyum senang, “Aku sudah

tua, sudah tak berguna lagi, kalau bukan karena ingin berkenalan langsung dengan maling paling

sakti di antara para pencuri, laki-laki sejati di antara bajingan, tidak sudi aku muncul kembali di

Bulim.”

Tiba-tiba Kim Pian-hoa tertawa: “Kabar yang kudengar dari pembicaraan orang di Bulim,

katanya cukup asalkan Eng-locianpwe pernah mendengar suara pernafasan seseorang, maka

lantas dapat membedakan apakah orang itu laki-laki atau perempuan, berapa usianya, bagaimana

asal-usulnya. Peduli siapa pun asalkan suara pernafasannya pernah didengar oleh Eng-locianpwe,

selama hidup ia tak akan bisa lolos, ke mana pun ia melarikan diri, Eng-locianpwe pasti akan

menemukan dan menangkapnya pula.”

Toh Eng tertawa senang, dengan memicingkan mata ujarnya, “Kabar di kalangan Kangouw

seringkali dibumbui dan dibesar-besarkan.”

Terdengar suara kentongan yang terbawa hembusan angin malam, tiba-tiba Seng-si-poan

berjingkrak bangun, lalu katanya, “Jam satu tepat!”

Kim Pian-hoa segera berlari ke pojok tembok, dari belakang sebuah pigura bergambar

perempuan telanjang, ia menekan sebuah tombol untuk membuka pintu rahasia, dilihatnya kotak

kayu cendana berukir indah masih menggeletak di situ, seketika ia menarik nafas dan

menghembuskannya dengan lega, katanya tertawa sambil berpaling, “Tak nyana ketenaran nama

kalian bertiga benar-benar cukup membuat Coh Liu-hiang jeri dan tidak berani datang.”

Seng-si-poan menengadah, ujarnya sambil bergelak tertawa, “Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang,

ternyata kau pun seorang…..”

“Ssstt!” tiba-tiba didengarnya Toh Eng mendesis, segera Seng-si-poan menghentikan tawanya,

maka terdengar suara rendah serak yang mengandung daya tarik sedang berkata, “Giok-bi-jin

sudah kuambil, Coh Liu-hiang mengucapkan terima kasih!”

Bergegas Ban Bu-tik memburu ke jendela dan memukulnya hingga terbuka, dilihatnya di

tempat gelap di kejauhan sana berdiri seseorang, tangannya menggenggam sebuah benda

sepanjang tiga kaki, di bawah sinar rembulan, warnanya yang putih kehijauan berkilau

memancarkan cahaya terang, mulut orang itu sedang berkata: “Jam dua belas mencuri, jam satu

ke mari untuk mengucapkan terima kasih, tata tertib selalu kupatuhi, maaf, maaf!”

Pucat pias wajah Kim Pian-hoa, serunya gemetar: “Kejar, lekas kejar!”

Api lilin berkerlap-kerlip, angin menderu, bayangan orang berkelebatan. Seng-si-poan dan Ban

Bu-tik telah melesat keluar lebih dulu.

Toh Eng berkata dengan nada berat: “Apa benda itu betul Giok-bi-jin?”

Kim Pian-hoa membanting kaki: “Aku melihat jelas, tidak salah lagi!” Berbareng dengan

bantingan kakinya, badannya sudah meluncur keluar, ternyata kongcu hartawan ini memiliki

kepandaian silat yang tidak lemah.

Toh Eng sedikit menggelengkan kepala, ujarnya: “Orang lain gampang kau tipu, tapi aku….

hm!” Dengan nanar ia menatap kotak kayu cendana itu dan berjalan perlahan mendekatinya.

Sekonyong-konyong sebuah suara “Breng” yang keras terdengar di belakangnya, begitu keras

bunyi suara itu sampai badannya tergetar mencelat. Ternyata Pek-ih-sin-hi atau kuping palsu itu

terbuat dari logam campuran perak, daya salurnya teramat hebat, suara yang memekakkan itu

terasa menggetar-pecahkan selaput kupingnya. Selamanya ia amat membanggakan sepasang

kupingnya ini, sungguh mimpi pun tak terfikir olehnya kalau kuping logamnya ini akan membawa

akibat yang amat fatal juga bagi dirinya. Saking terkejutnya, ia berjumpalitan ke tengah udara,

berbareng dengan itu sepasang telapak tangannya membalik menghantam ke belakang, tapi

bayangan orang tak kelihatan lagi di belakangnya.

Suara itu kembali terdengar di luar jendela, dengan sebat ia menjejakkan kakinya, badannya

pun melenting keluar jendela, tiba-tiba terdengar bunyi yang ramai di bawah kakinya, waktu ia

menunduk, ternyata kakinya menginjak sepasang gembreng yang besar.

Berobah pucat roman muka Toh Eng, teriaknya: “Celaka!” Seperti orang gila, lekas ia melesat

masuk ke dalam pendopo. Dilihatnya kotak kayu cendana itu masih tetap di tempatnya tanpa

kurang suatu apa pun, tapi sebuah daun jendela di sebelah sana tampak bergerak tak hentihentinya.

Seperti patung kayu, Toh Eng menjublek di tempat, mimik mukanya aneh dan lucu, entah

sedang menangis atau lagi tertawa, cuma mulutnya bergumam: “Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang,

kau benar-benar lihai, tapi kau jangan takabur, suaramu sudah kudengar, akan datang suatu

ketika kau akan kutemukan.”

Angin berdesir di belakangnya. Ban Bu-tik, Seng-si-poan dan Kim Pian-hoa beruntun melesat

masuk ke dalam pendopo. Dilihatnya tangan Ban Bu-tik menjinjing sebuah patung wanita laksana

bidadari yang terbuat dari batu giok, katanya: “Ternyata hanya tipuan belaka, Giok-bi-jin ini

ternyata palsu.”

“Meski palsu, paling tidak juga berharga beberapa tahil perak. Itu yang namanya tidak berhasil

mencuri ayam malah kehilangan segenggam beras. Begitu tenar dan besar namanya, malam ini

toh terjungkal pula di tangan kita.”

Dengan sorot mata pudar Toh Eng tetap mengawasi kotak kayu cendana itu, katanya lirih:

“Jika itu palsu, lalu yang tulen ada di mana?”

Berubah pucat wajah Kim Pian-hoa, serunya gemetar: “Sudah tentu…. ada… di dalam… kotak

ini..”

Segera ia berlari memburu maju dan membuka kotak itu. Giok-bi-jin yang tersimpan di dalam

kotak itu ternyata telah lenyap. Kim Pian-hoa menjerit pilu, lalu roboh pingsan.

Saat Ban Bu-tik memeriksa, di dalam kotak terdapat secarik kertas biru muda berbau wangi, di

atasnya ada tulisan indah dan tajam berbunyi: “Pian-hoa Kongcu kehilangan, maling sakti

meninggalkan bau harum.”

-ooo-

Kini ia tidur tengkurap di dek sebuah kapal. Cahaya matahari pagi bulan lima dengan hangat

menerpa tubuhnya yang separuh telanjang, terutama punggungnya yang lebar, sehingga

berwarna merah seperti tembaga. Angin laut basah sejuk berhembus sepoi-sepoi menyingkap

rambutnya yang panjang halus terurai, kedua tangannya yang berotot terjulur ke depan, jari-jarinya

panjang terpelihara dan kuat, serta memegang sebuah patung porselen yang mengkilap halus

berkilauan, itulah Pek-giok-bi-jin, patung perempuan cantik terbuat dari batu pualam.

Seolah-olah ia sedang terlelap di tengah samudera raya.

Sebuah kapal dengan tiga tiang layar besar dan tinggi, layar berwarna putih, bentuk kapal

panjang menyempit, terbuat dari bahan kayu yang keras dan mengkilap. Siapa pun yang berada di

atas kapal ini, pasti hatinya tenang tenteram, merasa hidupnya penuh dengan kemewahan.

Waktu itu permulaan musim panas, sang surya memancarkan cahaya terang benderang,

burung camar terbang rendah berputar-putar di sekeliling kapal, terasa semarak dan romantis,

diliputi oleh kegembiraan masa muda yang gemilang.

Selayang pandang, samudera raya amat luas tak berujung pangkal, daratan nun jauh di sana

terlihat seperti segunduk bayangan abu-abu yang sejajar dengan garis langit dan air. Di sini adalah

dunia tersendiri, tak pernah kedatangan tamu-tamu yang membosankan.

Pintu yang menembus ruang bawah selalu terbuka, dari kamar bawah berkumandang suara

tawa nyaring merdu. Kemudian seorang gadis cantik muncul dan berjalan di dek kapal. Ia

mengenakan pakaian longgar berwarna merah menyala yang sedap dipandang, rambutnya terurai

mayang, setiap kakinya melangkah, tampak betis dan telapak kakinya yang indah dan putih halus

menggiurkan, terus saja ia menghampiri, dengan perlahan ujung jari kakinya menggelitik telapak

kaki orang. Terbersit senyuman mekar di raut mukanya yang elok seakan ratusan macam

kembang serempak mekar semerbak dalam waktu yang bersamaan.

Laki-laki itu mengerutkan kakinya, katanya sambil menghela nafas, “Thiam-ji, apa kau tidak

bisa diam?” Lagak lagu suaranya rendah, mengandung daya tarik yang luar biasa.

Terdengar suara kikik tawa yang panjang nyaring, “Akhirnya salah juga terkaanmu!”

Dengan malas ia membalikkan badan, cahaya matahari menimpa mukanya, kedua alis tebal

memayang, diliputi kekasaran sikap laki-laki yang penuh dengan kejantanan, namun biji matanya

yang bening menunjukkan kehalusan hatinya. Hidung yang tegak berdiri membayangkan

ketegasan, tegas dalam keputusan dan tindakan. Tapi sekali tertawa, ketegasan hati yang keras

itu seketika berubah menjadi halus mesra, sikap dingin itu seketika berubah menjadi simpatik dan

halus kasihan.

Ia mengangkat tangannya untuk menutupi cahaya matahari yang menyilaukan matanya,

wajahnya dihiasi senyum lebar sambil memicingkan mata, sorot matanya memancarkan

kenakalan, penuh humor dan kecerdikan, katanya, “Li Ang-siu, jangan nakal ya, seorang Song

Thiam-ji saja sudah cukup membuatku tobat!”

Li Ang-siu tertawa terpingkal sambil memeluk pinggang, katanya menahan tawa, “Kecuali

Song Thiam-ji, memangnya orang lain tidak boleh nakal?”

Coh Liu-hiang menepuk papan dek di sebelahnya, katanya, “Baiklah kau duduk di sini dan

menemani aku berjemur. Karanglah sebuah cerita untuk kudengar, cerita banyolan yang lucu,

dengan akhir cerita yang menggembirakan, tragedi menyedihkan di dunia ini sudah cukup

banyak.”

Li Ang-siu menggigit bibir, katanya, “Aku tidak mau duduk, tak mau bercerita, aku pun tak mau

berjemur… sungguh tak terfikir olehku, kenapa kau suka berjemur…. “Lain di mulut lain di hati,

katanya tidak mau berjemur, justru dia berjongkok dengan perlahan dan duduk di pinggir orang,

malah kedua kakinya terjulur agar tersorot sinar matahari.

“Apa jeleknya berjemur? Seseorang asal bisa meniru sifat matahari, dia pasti takkan

melakukan perbuatan yang hina dan memalukan. Siapa pun bila berada di bawah sorotan sinar

matahari yang sejuk menyegarkan ini, dia pasti takkan memikirkan sesuatu yang jahat.”

“Aku justru sedang memikirkan hal jahat, “ujar Li Ang-siu sambil mengerling penuh arti.

“Tentu kau sedang mencari akal supaya aku merangkak bangun mengerjakan sesuatu, betul

tidak?”

“Kau ini memang setan, segala persoalan tak bisa mengelabuimu,” lamat-lamat suara tawa

cekikikannya pun berhenti, lalu katanya pula, “Tapi kau memang harus mengerjakan persoalan ini,

sejak pulang dari kotaraja, kau selalu tiduran, bila terus-terusan begini maka kau tentu akan

menjadi bajingan.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Kau ini mirip dengan guru sekolahku waktu kecil, kecuali kau

tidak punya jenggot kambing seperti dia.”

Seketika mata Li Ang-siu melotot, Coh Liu-hiang tertawa lebar, katanya pula, “Di kotaraja aku

sudah menghadapi tampang-tampang orang yang mengagulkan diri sebagai Enghiong, kecuali si

Elang Gundul tua bangka itu yang punya sedikit kepandaian, yang lain gentong nasi belaka. Ban

Bu-tik katanya berkepandaian tinggi, sepasang potlotnya menurut kabar bisa menotok dua ratus

delapan belas Hiat-to di tubuh orang. Namun ketika aku berkelebat di sampingnya, ia hanya berdiri

seperti baru bangun dari mimpi.”

Li Ang-siu membuka mulut, “Siapa yang tidak tahu ginkang Coh-toasiauya tiada

bandingannya… tetapi Coh-toasiauya, bualanmu sudah selesai belum?”

“Sudah habis, nona Li ada petunjuk apa?”

“Akan kuajukan beberapa persoalan padamu,” kata Li Ang-siu sambil mengeluarkan sejilid

kitab tipis kecil dari lengan bajunya. “Barang yang kau ambil di Kilam tempo hari terjual tiga puluh

laksa tail. Untuk membantu keluarga Ong-piauthau Liong-hou piaukiok selaksa tail, pembantu

keluarga Tio dan Thio masing-masing disokong lima ribu tail, untuk membantu Ong-siucay

melunasi ongkos penguburan seribu tail, membeli kado pernikahan Tio Kok-bing seribu lima ratus

tail, untuk menyumbang The……”

Coh Liu-hiang menghela nafas, tukasnya, “Memangnya aku tidak tahu semua itu?”

Li Ang-siu meliriknya, katanya, “Pendek kata, tiga puluh laksa tail itu telah habis dibagikan,

lima ribu tail yang kau sedot dari pengeluaranmu sendiri pun telah aku gunakan empat ribu tail

untuk keperluan kita.”

Coh Liu-hiang tertawa getir, “Nona, memangnya kau tidak bisa sedikit berhemat?”

“Apa hidupmu belum cukup mewah? Orang-orang usil di kalangan Kangouw mulai

membicarakan kejelekanmu, orang tidak tahu, uang yang kau pakai adalah milikmu sendiri, semua

bilang kau pura-pura dermawan lantaran memakai uang hasil curian.”

“Persetan dengan omongan orang, perduli apa dengan kita? Hidup manusia di dunia ini apa

artinya kalau tidak berfoya-foya, mengapa kita harus hidup menderita? Mengapa kau berubah

menjadi sedemikian cupat?”

“Aku tidak menyuruhmu hidup menderita, aku cuma…..”

“Kalian sedang mengobrol tentang apa? Apa tidak lapar?” tiba-tiba berkumandang suara dari

ruang bawah.

Li Ang-siu geli mendengar logat orang, katanya tertawa, “Terlalu, memangnya dia tidak bisa

bicara dengan logat yang enak didengar orang lain?”

“Kau tidak perlu mencelanya, dengan susah-payah dia memasak buat kita, namun kau tidak

mau makan, tak heran kalau dia marah-marah. Orang kalau marah, logat kampung-nya pun akan

dibawa serta, “demikian ujar Coh Liu-hiang. Tampaknya ia tidak bergerak, tahu-tahu sudah

menarik tangan Li Ang-siu sembari berbangkit.

Dengan sengaja Li Ang-siu merengek aleman, “Segala urusan selalu kau membela Thiam-ji,

maka dia…. “belum habis bicara, tiba-tiba raut mukanya berubah, serunya tertahan, “Coba lihat,

apa itu?”

-ooo-

Permukaan laut ditimpa cahaya sang surya, tampak sesosok bayangan orang terapung

mendatangi terbawa oleh arus, ternyata sesosok mayat manusia.

Hanya dengan memutar badan, Coh Liu-hiang sudah berada di pinggir dek, sekali raih ia

menarik segulung tali terus diikatnya, sekali ayun tali panjang itu melesat seperti anak panah

langsung mengarah pada mayat terapung itu, seperti ular hidup saja, tali dengan tepat dan persis

menjerat mayat itu.

Mayat ini masih mengenakan pakaian sutera halus yang mahal, pinggangnya menyoren pipa

cangklong terbuat dari batu pualam, raut mukanya hitam legam melepuh besar. Dengan perlahan

Coh Liu-hiang meletakkan mayat itu di atas dek, katanya sambil menggeleng, “Tak tertolong lagi.”

Sebaliknya Li Ang-siu mengamati kedua tangan mayat itu, tampak jari tengah dan jari manis

tangan kiri mayat itu masing-masing terpasang cincin emas hitam mengkilap terbuat dari baja

murni. Tangan kanannya tidak mengenakan cincin, tapi ada bekas jalur putih yang menandakan

biasanya pada jari tengahnya itu pun mengenakan cincin.

Berkerut alis Li Ang-siu, katanya, “Chit-sing-hwi-hoan (Cincin Terbang Tujuh Bintang),

mungkinkah orang Thian-sing-pang?”

“Ya, dari Thian-siang-pang, malah pimpinan tertingginya Chit-sing-toh-hun (Tujuh Bintang

Perenggut Nyawa) Cou Yu-cin. Tetapi Thian-sing-pang biasanya bercokol dan berkuasa di daerah

Hoan-lam, mengapa dia bisa mati di tempat ini?”

“Badannya tidak terluka, mungkinkah dia mati karam?”

Coh Liu-hiang menggelengkan kepala, perlahan ia menyingkap baju orang, terlihat tulang

rusuk ke-lima di dada sebelah kiri, antara Yu-kin-hiat dan Ki-hun-hiat, bercap sebuah telapak

tangan warna merah darah.

“Cu-soa-ciang!” seru Li Ang-siu menghela nafas.

“Akhir-akhir ini dari Cu-soa-bun telah muncul beberapa tokoh muda yang lihai, jumlah anak

murid kurang lebih tujuh puluhan, namun yang bisa mengalahkan dan membunuh Chit-sing-tohhun

tidak lebih dari tiga orang.”

“Ya, Pang, Nyo, Sebun….. ilmu silat ketiga orang ini mungkin lebih unggul dari Cou Yu-cin.”

“Tapi ada permusuhan apa antara Cu-soa-bun dan Thian-sing-pang?”

Li Ang-siu berfikir, lalu menjawab, “Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, Sing-tong Hiangcu dari

Thian-sing-pang mempersunting puteri kedua Ciangbunjin Cu-soan-bun waktu itu, Pang Hong.

Dua tahun kemudian, nona Pang meninggal dunia. Pang Hong lalu meluruk ke markas Thian-singpang

untuk mengusut persoalan ini, akhirnya diketahui ternyata nona Pang memang meninggal

dunia lantaran sakit keras, tapi hubungan kedua keluarga sejak itu terputus.”

“Masih ada yang lain?”

“Dua puluh enam…. mungkin dua puluh lima tahun yang lalu, Thian-sing-pang pernah

merampas barang kawalan yang dilindungi oleh anak murid Cu-soa-bun. Waktu itu kebetulan

Pang Hong baru saja wafat setelah sakit tua, fihak Cu-soa-bun sedang sibuk memilih calon

Ciangbunjin penggantinya, maka urusan itu tertunda setahun berikutnya. Meski murid Thian-singpang

yang merampas barang kawalan itu sudah mengaku salah dan meminta maaf, namun

barang-barang itu tidak pernah dikembalikan.”

Peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu ia tuturkan dengan hafal dan fasih sekali, seolah-olah

sedang menceritakan sejarah rumah tangga leluhur sendiri.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, katanya, “Ingatanmu memang tidak pernah mengecewakan orang

lain….. tetapi semua peristiwa itu sudah berlalu, juga tidak terhitung permusuhan dendam kesumat

sedalam lautan, fihak Cu-soa-bun tidak akan menguntit Cou Yu-cin sampai di sini lantaran

peristiwa lama itu, lalu turun tangan keji, pasti dalam peristiwa ini ada latar belakang atau ada

sebab-musabab yang belum kita ketahui.”

Sekonyong-konyong seorang gadis lain muncul dari ruang bawah, serunya dengan bersungutsungut,

“Kalian sedang mengobrol apa?” Dia pun memakai pakaian lebar yang amat longgar,

berwarna kuning seperti bulu angsa, setiap langkah kakinya memperlihatkan pahanya yang halus,

betis kakinya yang indah dan kulit kakinya yang putih lembut.

Rambutnya yang panjang hitam legam diikal menjadi dua jalur kuncir, waktu memburu keluar

gerak-geriknya lincah, kedua kuncirnya bergoyang-gontai, raut mukanya yang bundar seperti

kwaci berwarna abu-abu pudar, dihiasi sepasang biji mata yang jelas perbedaan hitam putihnya,

kelihatan amat menawan, cantik dan nakal. Mukanya sedang bersungut mendongkol, tetapi begitu

melihat mayat itu, mendadak ia menjerit ketakutan, lalu memutar badan terus lari terbirit-birit

masuk kembali ke ruang bawah, larinya malah lebih cepat daripada waktu datangnya tadi.

“Nyali Thiam-ji biasanya besar bila melakukan tugas berat apa pun, tapi setiap kali melihat

mayat, takutnya setengah mati, makanya sering kukatakan, siapa yang bisa menundukkan dia,

hanya orang mati yang bisa mengekang dirinya.”

Dengan nanar Coh Liu-hiang mengawasi permukaan laut nan jauh di sana, katanya kalem,

“Coba tunggu saja, mayat yang terapung lewat di sini kupastikan tidak hanya satu.”

Belum lagi Li Ang-siu sempat buka suara, tiba-tiba dari ruang bawah di balik pintu, terlihat

tangan halus putih terjulur keluar mendorong sebuah nampan besar. Nampan besar itu diletakkan

di atas dek, di atasnya ada dua ekor burung dara yang dipanggang matang, jeruk kuning teriris

merekah, beberapa kerat potongan daging kerbau, separoh ayam goreng, seekor ikan gurame, di

samping itu ada pula secawan air tomat kental, dua piring nasi putih, sebotol anggur berwarna

merah coklat, botol itu basah oleh butiran-butiran air yang menguap, agaknya baru dikeluarkan

dari rendaman es batu.

Tatkala itu Coh Liu-hiang sudah menurunkan jangkar, sehingga perahu mereka berlabuh di

tengah lautan. Tanpa sungkan-sungkan Coh Liu-hiang gegares semua hidangan yang sudah

disiapkan untuk dirinya, belum lagi ia habis menggeragoti seekor burung dara, betul juga dari arah

semula terapung datang pula sesosok mayat orang.

Mayat ini mengenakan jubah pendek warna merah legam, panjangnya cuma sampai ke

lututnya, meski raut mukanya sudah terendam air laut tapi kelihatan masih sedemikian putih

bersih, usianya paling baru empat puluhan, di bawah dagunya memelihara jenggot pendek, namun

ujung matanya belum memperlihatkan kerut-kerut kulit muka. Telapak tangan kirinya halus,

telapak tangan kanan sebaliknya begitu kasar dan jelek sekali, otot-otot tulangnya menonjol

keluar, hampir satu kali lipat lebih besar daripada telapak tangan kirinya. Waktu telapak tangannya

dipentang, warnanya mirip dengan jubah yang dipakai.

Mata Li Ang-siu yang bening terbelalak membundar, katanya kaget, “Orang ini adalah Sat-jiususeng

(Pelajar Bertangan Pembunuh) Sebun Jian.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Sebun Jian membunuh Cou Yu-cin, namun dia terbunuh pula

oleh orang lain.”

“Tapi siapa pula yang membunuhnya?” tanya Li Ang-siu seperti menggumam. Habis bicara

matanya menjelajahi keadaan tubuh orang, terlihat luka berlubang di tenggorokan Sebun Jian,

darah sudah tersapu bersih oleh air laut, kulit dagingnya berwarna abu-abu merekah membesar. Li

Ang-siu menarik nafas, katanya, “Luka tusukan pedang.”

Coh Liu-hiang mengiyakan sambil manggut-manggut.

“Lebar luka pedang ini cuma satu dim lebih, di dalam Bulim cuma Hay-lam dan Lao-san dua

aliran besar ilmu pedang yang biasa menggunakan pedang setipis dan sesempit seperti ini.”

“Tidak salah,” kata Coh Liu-hiang mengiyakan.

“Hay-lam dan Lao-san, dua partai ini berjarak tidak jauh dari sini, tetapi ilmu pedang Lao-san

hanya diajarkan pada murid-murid tosu yang beragama, mengutamakan welas asih dan berjiwa

luhur, jadi Sebun Jian mati tertembus pedang murid Hay-lam-kiam-khek yang ganas dan telengas,

benar-benar peristiwa yang aneh dan membingungkan.”

“Aneh?” Coh Liu-hiang mengerutkan kening.

“Rasanya Hay-lam-pay tiada dendam dan tidak ada permusuhan dengan Cu-soa-bun, malah

boleh dibilang punya hubungan yang cukup erat. Delapan tahun yang lalu, Cu-soa-bun diserbu

dan dikepung oleh Bin-lam-chit-kiam, dari tempat ribuan li Hay-lam mengirim anak buah memberi

bantuan, sekarang tokoh kosen Hay-lam-pay membunuh Tianglo Cu-soa-bun, sungguh

membingungkan dan tak bisa dimengerti.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Tanpa sebab Cou Yu-cin mampus di tangan Sebun Jian,

sebaliknya Sebun Jian terbunuh pula oleh murid Hay-lam-pay, sebetulnya rahasia apa yang

terselip dalam peristiwa ini?”

Li Ang-siu tertawa manis, katanya, “Memangnya kau hendak turut campur urusan orang lain?”

“Bukankah tadi kau bilang aku terlalu malas? Akan kuselesaikan persoalan ini supaya kau bisa

membuktikan apakah aku malas atau seorang cerdik pandai.”

“Kukira peristiwa ini berlatar-belakang dan berbuntut luas dan panjang, lagi pula amat

berbahaya. Yong-cici sedang sakit, menurut hematku, lebih baik kita tidak melibatkan diri dalam

peristiwa ini.”

“Segala persoalan yang berbahaya selalu mendorong hasratku untuk menyelesaikannya.

Semakin menyangkut rahasia yang lebih rahasia, pasti nilai benda yang tersangkut-paut pun amat

mahal, memangnya aku hanya berpeluk tangan saja melihat peristiwa ini?”

“Aku tahu kalau kau tidak berhasil membongkar rahasia ini, pasti kau tidak bisa tidur nyenyak,

sejak dilahirkan kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tukang mengurus persoalan orang

lain,” Tiba-tiba tawanya semakin lebar, katanya pula, “Tapi persoalan ini tiada berujung pangkal,

seumpama menggagap jarum di laut. Sampai detik ini, tidak ada satu pun sumber penyelidikan,

kau hendak mencampuri urusan ini, kurasa kau tak akan bisa turun tangan.”

“Coba kau tunggu saja, sumber penyelidikanku lambat-laun akan semakin banyak,” Setelah

meneguk arak, Coh Liu-hiang mulai menggerogoti paha ayam dan makan-minum dengan

lahapnya di atas geladak.

“Aku kagum melihat seleramu. Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa makan dengan

lahapnya.”

Tanpa terasa kakinya bergeser ke pinggir, tangannya bersandar pada pagar besi, pandangan

matanya mengawasi permukaan laut di kejauhan sana.

Dilihatnya sesosok mayat lain terapung di permukaan, seperti terbawa oleh arus ke arah sini.

Ternyata mayat ini adalah seorang Tosu berjubah hijau dengan wajah yang dipenuhi jambang.

Tangan-kakinya telah dingin kaku, tetapi jari-jarinya masih menggenggam sepotong pedang

buntung, badan pedang yang sempit panjang masih memancarkan cahaya dingin, rambut

kepalanya awut-awutan menutupi separoh wajah, batok kepalanya terbelah dua. Sungguh

mengenaskan kematian orang ini, sampai Li Ang-siu memalingkan muka tak tega melihat

keadaannya yang mengerikan.

“Ternyata betul murid Hay-lam-pay.”

“Kau…. kau kenal dia?”

“Ya, orang ini adalah Ling-ciu-cu, salah seorang dari Hay-lam-sam-kiam (Tiga Pedang dari

Hay-lam-pay), keganasan ilmu pedangnya di dalam Bulim hanya ada beberapa orang saja yang

bisa menandingi.”

“Sekali tusuk melubangi tenggorokan orang, tidak nyana batok kepala sendiri pun terbelah

menjadi dua oleh bacokan orang,” Sepintas ia berpaling melihat sebentar, lalu katanya pula,

“Dilihat dari keadaannya, waktu bacokan orang itu meluncur tiba, dia tidak mampu berkelit lagi,

terpaksa ia mengangkat pedang menangkis, tidak dinyana, bukan saja orang itu mampu

membacok putus pedangnya, kekuatannya yang hebat masih kuasa membelah batok kepalanya

pula. Hay-lam-cui-kiam kabarnya terbuat dari gemblengan besi dingin dari dasar lautan, orang itu

mampu membacok pedangnya hingga putus, ai….. pedang yang tajam! Pedang yang berat!”

“Dari mana kau tahu kalau lawannya itu menggunakan pedang?”

“Tokoh silat kenamaan yang menggunakan golok di Bulim zaman ini, siapa yang mampu

mendesak Ling-ciu-cu hingga tidak mampu mengegos lagi… tiada jurus ilmu pedang Hay-lamkiam-

pay yang tidak menggunakan kekerasan, kalau dia tidak terdesak dan terpaksa, mana

mungkin ia mengangkat pedang untuk menangkis bacokan golok musuh yang mengarah batok

kepalanya?”

“Benar,” Coh Liu-hiang manggut-manggut. “Perubahan ilmu golok memang tak selincah dan

serumit ilmu pedang umumnya. Bagi orang yang bergaman golok, jika hendak mendesak lawan

yang bersenjatakan pedang hingga tidak mampu berkelit lagi, memang sesukar memanjat ke

langit,” ia tertawa lebar, katanya lebih lanjut, “Tapi kau melupakan seseorang.”

Biji mata Li Ang-siu bersinar, katanya tertawa, “Kalau yang kau maksud Bu-ing-sin-to (Golok

Sakti Tanpa Bayangan) Ca Bok-hap, dugaanmu salah besar.”

“Mengapa salah?”

“Ca Bok-hap sebagai tokoh nomor satu dalam ilmu golok, kecepatan ilmu goloknya tiada

wujud, tidak kelihatan bayangannya. Waktu ia membacok, mungkin Ling-ciu-cu belum sempat tahu

dari arah mana sambaran golok itu datang, terpaksa ia mengangkat pedangnya untuk menangkis,

namun Toa-hong-to merupakan salah satu senjata pusaka dari tiga belas senjata sejati di kolong

langit, rasanya cukup berlebihan untuk membacok Hay-lam-cui-kiam.”

“Nah, uraianku kan sudah cocok dengan keadaan?”

“Tapi kau jangan lupa, Ca Bok-hap malang-melintang tiga puluhan tahun di padang pasir,

julukannya “Soa-mu-ci-ong” (Raja Padang Pasir), untuk apa dia jauh-jauh meluruk ke sini?”

“Kau bilang tidak mungkin, sebaliknya aku berpendapat kemungkinan besar ya.”

“Kau ingin bertaruh denganku?”

“Aku tidak mau bertaruh denganmu, karena jelas kau akan kalah.”

“Boleh kalian bertaruh, siapa kalah harus mencuci mangkuk-piring selama setengah bulan,”

tiba-tiba terdengar suara menyeletuk dari ruang bawah.

“Setan cilik, memang kau biasa mengambil keuntungan dari kekalahan orang lain,” semprot Li

Ang-siu.

Coh Liu-hiang terlongong sambil bertopang dagu di pinggir geladak, seolah-olah ia tidak

mendengar percakapan mereka.

“Apa yang sedang kau tunggu?” tanya Li Ang-siu mendekati. “Apa kau sedang menunggu Ca

Bok-hap?”

“Mungkin….”

“Sia-sia saja, Raja Padang Pasir takkan datang, seumpama kemari, tiada seorang pun yang

mampu membunuh dia.”

“Cou Yu-cin jarang bergaul dengan Sebun Jian, kenapa Cou Yu-cin dibunuhnya? Ling-ciu-cu

tiada dendam permusuhan dengan Sebun Jian, mengapa Sebun Jian dibunuh? Ca Bok-hap dan

Ling-ciu-cu, yang seorang tinggal di ujung laut, yang lain tinggal di ujung langit, jelas tiada

hubungan antara satu dengan lainnya, kenapa pula Ling-ciu-cu sampai dibunuh olehnya?” Coh

Liu-hiang menghela nafas, katanya lebih lanjut, “Itu menandakan banyak persoalan dalam

peristiwa ini, semuanya belum bisa ditentukan.”

Kini sudah lewat lohor, sejak pertama kali menemukan mayat, kira-kira sudah dua jam

berselang, di atas geladak terbaring tiga sosok mayat manusia, ternyata mayat keempat sudah

terapung mendatangi terbawa arus.

Kalau ketiga mayat terdahulu terapung dan naik-turun mengikuti alunan gelombang, mayat

yang ini justru seperti kantong kulit yang berisi hawa padat, seluruh badannya terapung di

permukaan air. Menghadapi tiga mayat seram terdahulu, Li Ang-siu masih berani melirik dua tiga

kali, tapi begitu melihat mayat yang ini, meski hanya sekilas saja, seluruh badannya terasa

menggigil dan mengkirik bulu kuduknya, serta tak berani melihatnya lagi.

Awalnya badan mayat ini entah gemuk atau kurus, Coh Liu-hiang sendiri tidak bisa

membedakan, yang terang mayat ini sekarang sudah melembung besar seperti diisi air, malah

sebagian anggota badannya sudah mulai membusuk. Berapa usia mayat ini, tua atau muda, Coh

Liu-hiang juga sukar menebak, karena rambut dan alis serta bulu badannya sudah sama rontok

dan mengelupas kulitnya. Demikian pula biji matanya mencotot keluar hampir pecah, seluruh

kulitnya sudah berubah warna abu-abu gelap, sehingga membuat orang mual dan ngeri,

menyentuh dengan jari pun Coh Liu-hiang merasa enggan.

“Racun yang hebat sekali,” ujar Li Ang-siu. “Biar kuminta Yong-ci naik memeriksanya,

sebetulnya racun macam apakah ini?”

“Racun ini, Yang-yang pun tak akan mengenalnya,” kata Coh Liu-hiang.

“Kau membual lagi, meski ilmu silatmu cukup hebat, namun dalam hal Am-gi, belum tentu kau

lebih unggul dari Thiam-ji, bicara soal menyamar dan merias serta kepandaian menggunakan

racun, kau bukan apa-apa dibanding Yong-ci.”

“Tapi orang ini mati bukan lantaran terkena racun saja.”

“Bukan racun, memangnya gula?”

“Boleh juga dianggap gula…. air gula.”

Li Ang-siu melengak, serunya heran, “Air gula?”

“Itulah hasil ramuan Sin-cui-kiong yang dibanggakan, di kalangan kangouw dinamakan Thianit-

sin-cui, sementara murid-murid Sin-cui-kiong menamakannya Jiong-cui.”

“Memangnya Thian-it-sin-cui jauh lebih hebat dan lebih beracun daripada segala macam racun

yang ada di kolong langit ini?”

“Sudah tentu, kabarnya bobot setitik Thian-it-sin-cui sama dengan tiga ratus gantang air biasa,

orang biasa cukup minum setetes saja, kontan jiwanya akan melayang karena seluruh badannya

akan meledak,” kata Coh Liu-hiang menghela nafas, lalu menambahkan, “Thian-it-sin-cui tidak

berbau tidak berwarna, sukar dicoba dan sukar diketahui kelainannya, maka si raja padang pasir

pun tak terhindar dari bokongannya.”

“Jadi… orang ini adalah Ca Bok-hap?”

“Ehm!” Coh Liu-hiang manggut-manggut.

“Badannya sudah berubah sedemikian rupa, dari mana kau bisa mengenalinya?”

“Pakaian yang dikenakannya meski baju biasa, namun kakinya mengenakan sepatu kulit

domba yang tinggi, terang dia adalah seorang penggembala. Kulit badannya putih halus,

sebaliknya kulit muka kasar, itu karena dia biasa mondar-mandir di padang pasir, di pinggangnya

tergantung gelang baja peranti untuk menggantung golok, namun golok dan sarungnya sudah

hilang, menandakan bahwa senjata yang dia bawa adalah golok pusaka, maka sudah diambil oleh

orang yang mengincarnya.”

“Dari beberapa petunjuk yang ada ini, aku yakin orang ini pasti si raja padang pasir Bu-ing-sinto

Ca Bok-hap adanya,” kata Coh Liu-hiang lebih lanjut.

“Kulihat kau memang cocok menjadi opas, setiap persoalan pembunuhan yang kau usut tentu

lebih sempurna dan lihai daripada si Elang Gundul yang tersohor sebagai opas nomor wahid di

seluruh jagad ini.”

“Masih ada lagi,” kata Coh Liu-hiang tertawa. “Di atas badannya tergantung sebuah lencana

perak, di atas lencana ini terukir seekor onta bersayap. Kalau aku tidak bisa menebak bahwa

orang ini adalah si raja padang pasir, tentulah aku ini seorang yang sudah pikun.”

Kembali Li Ang-siu cekikikan geli, katanya, “Kau memang seorang cerdik yang hebat.” Tetapi

segera sirna seri tawanya, katanya pula dengan mengerut kening, “Soal apa yang menggerakkan

hati si raja padang pasir dan murid-murid Sin-cui-kiong? Terang persoalan ini pasti tidak kecil

artinya, kini si raja padang pasir sudah ajal, jelas…..”

Coh Liu-hiang segera menukas, “Kau hendak membujuk aku agar berpeluk tangan saja,

bukan?”

“Aku tidak ingin membujukmu, cuma kuharap kau jauh lebih berhati-hati.”

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi segumpal awan yang melintas, katanya tertawa,

“Kabarnya murid-murid Sin-cui-kiong adalah dara ayu jelita yang jarang dicari bandingannya,

entah bagaimana kalau dibandingkan dengan ketiga nona kami?”

Li Ang-siu tertawa getir sambil menggeleng kepala, “Apa kau tidak bisa bicara yang benar?”

Satu jam sudah berlalu, suasana lautan tetap hening lelap, tiada pertanda sesuatu gerakan

apa pun.

“Kurasa kau tidak perlu menanti pula,” ujar Li Ang-siu.

“Kalau tidak ada mayat yang lain, maka persoalan ini berhenti pada utusan dari Sin-cui-kiong.

Kalau orang-orang ini memperebutkan benda mestika, maka benda pusaka itu sudah pasti jatuh

ke tangan utusan Sin-cui-kiong.”

“Kalau ada mayat lainnya pula?”

“Perduli apa, berapa pun banyaknya mayat manusia, cukup kita perhatikan dan sadari mayat

terakhir terbunuh oleh siapa, maka sumber penyelidikan sudah berada di tangan kita.”

“Kau yakin tokoh-tokoh kosen ini mati karena memperebutkan benda pusaka?”

“Manusia mampus lantaran harta benda, setidaknya orang-orang ini tetap manusia.”

Li Ang-siu melepaskan pandangan ke arah nan jauh, katanya perlahan, “Benda pusaka yang

menarik, sampai tokoh-tokoh kosen seperti mereka pun ikut berebut, maka barang ini tentu amat

berharga dan mengejutkan,” Lama-kelamaan ia menjadi tertarik oleh persoalan ini, terbukti dari

sorot matanya yang bercahaya.

Song Thiam-ji yang berada di ruang bawah mendadak bersuara pula, “Kalian tidak tahu kalau

Yang-yang punya seorang bibi misan yang berada di Sin-cui-kiong?”

“Oh, Yang-yang punya seorang bibi misan yang menjadi murid Sin-cui-kiong? Dua hari ini

apakah kesehatannya sudah lebih baik? Apa masih mengalirkan air liur?”

“Kau ingin dia naik ke atas?” tanya Li Ang-siu.

“Sudahlah, orang demam pilek lebih baik tiduran saja.”

Terdengar seorang menyahut dengan suara lembut, “Tidak menjadi soal, sakitku memang

sudah sembuh, mendengar kata-katamu, aku….”

Terdengar Song Thiam-ji berseru pula, “Yong-ci jangan kena tipu, dia sudah tahu kau datang,

maka sengaja dia mengeluarkan kata-kata prihatin padamu.”

Suara lembut itu menjawab, “Seumpama dia memang berkata begitu, asal dia suka

mengatakan, aku sudah senang.” Sesosok bayangan semampai dengan langkah kaki gemulai

seenteng asap melenggok muncul dari tangga kayu dari ruang bawah.

Gadis ini mengenakan jubah panjang yang longgar dan lemas, kepanjangan sampai terseret di

atas geladak dan menutupi seluruh kakinya, cahaya matahari yang benderang menyinari rambut

panjangnya yang terurai mayang, biji matanya bening, membayangkan senyum manisnya nan

lembut, selintas pandang seolah bidadari dari kahyangan.

“Yang-ci, “seru Li Ang-siu membanting kaki, “Angin begini besar, buat apa kau naik ke sini?

Awas nanti kau jatuh sakit lagi dan tidak bisa bangun, kongcu kita yang romantis bisa marah pada

kami.”

“Di atas sini panas dan gerah, siapa yang tahan menyekap diri di ruang bawah, lagipula aku

pun ingin melihat apakah benar murid Sin-cui-kiong bakal datang.” Tangannya membawa

seperangkat kimono yang lembut halus, dengan perlahan ia melampirkannya ke atas badan Coh

Liu-hiang, lalu katanya lembut, “Cuaca mulai dingin, awas nanti kau pun terkena demam.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Kau selalu memperhatikan orang lain, sebaliknya tidak

prihatin terhadap dirimu sendiri…. asal kau memperhatikan dirimu, masa kau bisa sakit.”

Li Ang-siu mencibirkan bibir, lalu katanya, “Memangnya kami yang tidak pernah sakit, tidak

pernah memperhatikan kesehatanmu.”

So Yang-yang menepuk kedua pipinya, katanya tertawa, “Terlalu banyak bermakan hati, kau

bisa cepat bertambah tua.”

Li Ang-siu memeluknya, katanya cekikikan, “Aku ini memang kutu busuk yang suka cemburu

dan makan hati, Yong-ci, mengapa kau tetap baik pada diriku?” Tubuh So Yang-yang yang

semampai dan lemah dipeluknya dan diangkat ke atas.

Pada saat itulah mayat kelima terapung tiba.

-ooo-

Kalau dinilai secara keseluruhan, mayat ini sudah bukan mayat yang lengkap lagi, karena

anggota badan sebelah kiri terbelah dari pundak, seluruh lengan kirinya sudah hilang. Untung

mukanya masih dalam bentuk lengkap, jadi masih jelas kelihatan wajahnya yang jelita, pembunuh

yang telengas itu agaknya tak tega merusak raut wajahnya yang cantik.

Badannya mengenakan pakaian dari kain sari panjang, pakaian tanpa potongan dan model,

karena begitu saja dari atas ke bawah sari halus itu membelit badannya, di tengah pinggangnya

mengenakan sabuk tali sutera warna perak, kedua kakinya yang indah mengenakan sepatu dari

bahan yang sama seperti sabuk peraknya.

Pakaian sari yang tinggal separoh itu berlepotan darah, jika tidak mengenakan sabuk tali

perak, tentu kain sari halus yang melilit tubuh itu sudah hanyut terbawa gelombang laut, meski

demikian badannya sudah hampir telanjang.

Lekas So Yang-yang memalingkan muka, matanya yang elok sudah berlinang air mata.

Li Ang-siu pun memejamkan mata, katanya, “Yong-ci, menurutmu apakah dia murid Sin-cuikiong?”

So Yang-yang manggut-manggut tanpa bersuara.

“Perempuan secantik ini siapa tega membunuhnya?” ujar Coh Liu-hiang gegetun.

“Orang yang bertangan keji ini pun sudah ajal,” kata Li Ang-siu.

“Maksudmu Ca Bok-hap?”

“Sudah tentu Ca Bok-hap, kecuali dia, siapa pula yang mampu melancarkan serangan golok

sedemikian cepat?”

“Ehm!” kembali Coh Liu-hiang memanggut.

“Setelah tahu dirinya terkena racun, menggunakan sisa tenaga yang masih ada, dia

membacok lawan, hatinya dirundung kebencian yang meluap, maka bacokannya itu menghasilkan

akibat yang mengerikan, keji dan berat.”

“Semua uraianmu itu memang masuk akal,” ujar Coh Liu-hiang.

“Kini sumber penyelidikan yang kita tunggu sudah putus, kita pun tak perlu bersusah-payah

lagi.”

“Memang tiada perkara lagi?”

“Semua orang yang bersangkutan sudah mati, masih ada perkara lain?”

“Kau yakin dia mati di tangan Ca Bok-hap?”

“Memangnya bukan?”

“Jangan kau lupa, setelah Ca Bok-hap mati, Toa-hong-to mungkin jatuh ke tangan orang lain.

Dengan menggunakan Toa-hong-to, orang itu bisa membunuh dia supaya orang lain menyangka

persoalan ini sudah tamat sampai di sini.”

“Ah, benar juga fikiranmu.”

“Kalau dia ingin orang berpendapat demikian, maka peristiwa ini sudah tentu belum berakhir.

Menurut pendapatku, persoalan ini justru baru dimulai.”

“Kalau begitu, mengapa dia tak melenyapkan saja mayat-mayat ini, supaya orang tak mampu

membedakan dan mengenali mayat-mayat ini, mana mungkin mengusut persoalan ini pula?”

“Orang-orang ini adalah tokon kosen ternama di kangouw, boleh dikata adalah pimpinan

tertinggi cabang persilatan. Jika mereka mendadak menghilang bersama, anak murid atau

anggota perguruan mereka masa tidak menyelidiki dan mencari jejak mereka?”

“Oleh karena itu…. “So Yang-yang mengerut kening.

“Oleh karena itu dia harus bertindak sesuai rencana, supaya orang lain menyangka kelima

orang ini saling bunuh, sehingga anak murid dan anggota perguruan sendiri pun kehilangan

sasaran untuk menuntut balas, apa pula yang harus mereka selidiki?”

Li Ang-siu menghela nafas, katanya, “Tapi pasti tak terfikir olehnya di dunia ini masih ada

orang yang senang mencampuri urusan orang lain.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Kukira dia memang tak pernah memikirkan hal itu.”

“Tapi siapakah si dia itu? Kemungkinan setiap orang adalah si dia itu… sekarang sumber yang

ada pun sudah terputus, kau hendak menyelidiki, bukankah berarti menggagap jarum di lautan?”

“Tidak salah,” ujar Coh Liu-hiang. Tiba-tiba badannya mencelat tinggi terus terjun ke laut.

“Apa yang hendak kau lakukan?” teriak Li Ang-siu.

“Mengambil jarum,” sahut Coh Liu-hiang sebelum badannya masuk ke air, seperti seekor ikan

raksasa, tahu-tahu badannya sudah hilang ditelan air laut. Permukaan laut ditimpa sinar matahari

keemasan, sama sekali tidak menimbulkan percikan sedikit pun.

“Yang-ci, kau…,” seru Li Ang-siu sambil membanting kaki. “Mengapa kau tidak

mencegahnya?”

“Dalam dunia ini, siapa yang mampu mencegah setiap keiinginannya?” sahut So Yang-yang.

So Yang-yang berdua mengeluarkan kain layar yang besar untuk menutupi ke eempat mayat

manusia itu. Baru sekarang Song Tham-ji berani menongolkan kepalanya. Tangan kanannya

menjinjing sebuah lampion, berbentuk bagus, sementara tangan kiri membawa sekeranjang buahbuahan.

Sinar bintang mulai pasang aksi berkelap-kelip di tengah angkasa raya, air laut kelihatan

mengeluarkan cahaya cemerlang seperti lembaran kain sutra yang mengkilap, dengan nyaman

dan segar mereka duduk berjajar merasakan hembusan angin lalu yang sepoi-sepoi namun dalam

sanubari mereka sedikitpun tidak merasa nyaman dan tenteram. Siapa akan merasa segar dan

nyaman bila di samping mereka rebah lima sosok mayat manusia.

Lama sudah Coh Liu-hiang pergi jauh di permukaan laut sana, nampak setitik sinar kelap-kelip

laksana bintang di tengah lautan, segera Li Ang-siu berseri tawa riang serta berkata: “Aku hanya

mengharap jangan sampai dia kena dijala orang karena dianggapnya seekor ikan raksasa.”

Song Thiam-ji cekikikan, ujarnya: “Kalau ada orang anggap manusia sebagai ikan, tentu orang

itu termasuk saudara tuamu.” Belum habis ia bicara, tiba-tiba ia berjingkrak bangun seraya

menjerit-jerit, kaki mencak-mencak berlompatan sedang kedua tangan mencakar sana garuk sini,

tahu-tahu sebuah benda meluncur jatuh dari lengan bajunya, kiranya itulah seekor ikan.

Li ANg-siu ketika bertepuk tangan dan tertawa besar, serunya: “Bagus, bagus sekali, akhirnya

ada orang yang melampiaskan kedongkolanku!”

Entah kapan ternyata Coh Liu-hiang tahu-tahu sudah berdiri di sana, tangannya menjinjing

eekor ikan, sebetulnya tangan kananpun menjepit seekor ikan yang lain namun tahu-tahu sudah

masuk ke dalam baju Song Thiam-ji saking kaget dan ketakutan, selebar muka Song Thiam-ji

sampai pucat pias, sambil banting-banting kaki segera ia memburu hendak mencubitnya.

Coh Liu-hiang tertawa gelak-gelak, katanya: “Barusan aku melihat seorang yang selalu ingin

kau temui, kalau sampai sakit kau mencubit aku, aku tidak akan omong lagi.”

Song Thiam-ji mencubit lengannya lalu memeluk lehernya, tanyanya: “Siapa dia lekas

katakan?”

Coh Liu-hiang mengedipkan matanya, sorot matanya laksana bintang-bintang berkelap-kelip.

Katanya tertawa: “Siapa orang yang paling ingin kau temui? Dalam kolong langit ini petikan

harpa siapa paling bagus? Seni lukis siapa paling baik? Syair siapa yang dapat membuat orang

kehilangan semangat? Masakan siapa pula yang lezat dan tiada bandingannya di seluruh dunia?”

Belum habis ia berkata, Li Ang-siu sudah menyeletuk seraya bertepuk: “Aku tahu sudah yang

kau maksudkan adalah Biau-ceng Bu hoa itulah.”

Song Thiam-ji tarik tangan Coh Liu-hiang, katanya: “Apa benar kau melihatanya? Dimana dia

sekrang?”

“Seorang diri dia duduk di atas sebuah sampan, seperti membaca mantera seperti sedang

membaca syair, waktu mendadak aku menongol keluar dari dalam air, air mukanya itu sayang

kalian tidak akan pernah melihatanya!”

“Kau kenal dia?” tanya Song Thiam-ji.

“Aku hanya tiga kali bertemu dengan dia, pertama kali, tiga hari tiga malam dia menemani aku

minum arak, kedua kali bermain catur lima hari lima malam, dan terakhirnya dia berdebat tentang

ajaran Buddha selama tujuh hari tujuh malam dengan aku.” Meneguk air tomat, lalu ia

menambahkan. “Tentang ajaran Budha sudah tentu aku tidak ungkulan melawan dia, tapi minum

arak dia bukan tandinganku.”

“Bagaimana permainan catur kalian?” tak tahan Li Ang-siu bertanya.

“Biar kukatakan seri alias sama kuat. Tapi hwesio itu justru tidak mengakui putusan ini!”

“Kecuali minum arak dan berkelahi, mungkin apapun kau tidak akan ungkulan melawan

orang.” olok Li Ang-siu.

“Omong kosong, paling tidak sola makan aku jauh lebih kuat dari dia,” kata Coh Liu-hiang

sungguh-sungguh. Saking gelinya Li Ang-siu terloroh-loroh sampai memeluk pinggang.

Sebaliknya Song Thiam-ji menarik-narik lengan bajunya, tanyanya mendesak: “Kenapa tidak

kau undang dia untuk mampir kemari?”

“Semula dia mau, tapi baru saja kukatakan ada beberapa gadis cantik ingin bertemu dengan

dia, tiba-tiba berubah sikapnya seperti kelinci yang mendadak kena panah, lari terbirit-birit.”

“Diakan sudah menjadi Hwesio, kenapa pula harus takut terhadap perempuan?” kata Thiam-ji

gemas sambil memonyongkan mulut.

“Justru karena dia seorang Hwesio baru dia takut, kalau bukan Hwesio tentu dia tidak takut.”

Coh Liu-hiang menjelaskan.

“Kalau dia bukan Hwesio” sela Li Ang-siu. “Ku tanggung dia akan lari datang lebih cepat dari

lari seekor kelinci.”

So Yang-yang tertawa lembut, timbrungnya: “Khabarnya orang itu adalah Hwesio kenamaan

dalam kalangan Buddha, bukan saja Syair, tulis, gambar seni sastra serba pandai, malah

silatnyapun termasuk golongan tokoh kosen.”

“Memangnya tokoh kosen belaka,” sela Coh Liu-hiang. “Malah boleh dikata merupakan salah

satu murid dari Siau-lim yang paling menonjol dan paling pintar, sayang dia… sungguh dia terlalu

pintar keahliannya terlalu luas dan banyak, namanyapun amat besar dan harum. Maka Thian-ouw

taysu dari Siau-lim-si dalam mencantumkan nama-nama calon pengganti Ciangbunjin mendatang,

ternyata memilih Bu-siang yang segalanya tidak ungkulan melawan dia.” Demikian tutur Coh Liuhiang.

Tiba-tiba Coh Liu-hiang bertepuk tangan dan berkata: “Sungguh tak nyana, Li Ang-siu ternyata

kenalan intim Bu-hoa yang tahu segala seluk beluk.”

“Sudah tentu dia tidak akan punya sangkut paut dengan peristiwa ini.” Demikian sela So Yangyang,

“Adakah kau melihat orang lain pula?”

“Mayat-mayat ini terbawa arus dari arah timur, setiap perahu di sebelah timur asa sudah

kuperiksa semua, kecuali Bu-hoa, hanya sebuah perahu lain termasuk milik kaum persilatan.”

“Siapa dia?” tanya So Yang-yang.

“Di atas perahu itu terdapat Su-toa_hu-hoat dari Kay-pang, Su-toa tianglo dan Pangcu mereka

yang baru. Tahukah kau Jin-lo-pangcu tahun yang lalu sudah meninggal? Coba kau terka

siapakah pejabat Pangcu yang baru?”

“Siapa?” balas tanya So Yang-yang.

(Bersambung ke Jilid 2)

Jilid 2

“Coba kau terka dulu dia adalah teman baikku, takaran araknya hampir sama dengan aku,

demikian pula takaran nasinya setanding, suatu ketika, malah pernah dia menggambar lukisan

untuk kau!”

“Ah, mungkinkah Lamkiong Ling?”

“Benar dia!”

“Kalau dia terpilih menjadi Kaypang Pangcu, maka suasana dan kehidupan kaum persilatan

tentu berubah, tidak melulu memupuk kebijaksanaan dan kesetiaan, tidak pula mengutamakan

perbedaan tua muda, kini sudah mulai mementingkan pambek dan kecerdikan dan watak,

sungguh suatu hal yang harus dibuat girang.”

Li Ang-siu tiba-tiba menyeletuk: “Sudah tentu Lamkiong Ling tidak akan punya sangkut paut

dengan peristiwa ini, maka….”

“Maka aku sudah kehabisan akal” tukas Coh Liu-hiang tertawa getir.

“Lebih baik lagi kalau kau kehabisan akal” ujar So Yang-yang. “Aku sendiripun tidak ingin

merepotkan diri”

Coh Liu-hiang melotot ke arah layar terbentang itu, katanya: “Coba kalian pikir, adakah

persamaan di antara kelima orang ini, umpamanya….”

“Umpamanya mereka semua adalah manusuia….” tukas Li Ang-siu.

Coh Liu-hiang tertawa getir pula, ujarnya: “Kecuali persamaan ini memangnya tidak ada

persamaan yang lain?” Coba kau pikir sedikit cermat.

So Yang-yang bangkit sembari berseri tawa: “Kalian ingin berpikir, marilah dipikir di ruang

bawah saja, aku hendak menyeduh air teh kental, semalam suntuk kalian berpikirpun tak menjadi

soal. Tapi siapapun kularang duduk di sini makan angin”

Kamar-kamar di bagian ruang bawah dibangun serba mewah dan serasi, tiada sejengkalpun

tempat kosong yang percuma, tiada sesuatu benda yang menyolok pandangan, segalanya serba

cocok serasi dan semarak, barang-barang di sini serba antik.

Tepat di bawah tangga adalah sebuah kamar tidur yang dipajang serba mewah dan sedap

dipandang, pelan-pelan sinar lampu menyoroti segala pelosok kamar, kamar bawah yang semula

gelap lambat laun menjadi terang. Coh Liu-hiang yang berjalan paling depan mendadak

menghentikan langkahnya, seolah-olah kakinya mendadak terpaku di atas lantai tak bergeming

lagi. Di dalam ruang bawah ini ternyata sudah ada seseorang, seorang perempuan.

Tampak orang membelakangi pintu, duduk di atas kursi yang biasa senang diduduki Coh Liuhiang

dilihat bayangan orang dari arah belakang tampak sanggul kepalanya serta sebuah tangan,

tangan yang putih halus dan indah sekali.

Tatkala itu tangannya memegangi sebuah cangkir, isi cangkir adalah arak yang biasanya suka

diminum Coh Liu-hiang. Agaknya sedikitpun orang itu tidak merasa sungkan.

Coh Liu-hiang, So Yang-yang, Li Ang-siu dan Song Thiam-ji berempat sama berdiri melongo di

atas lantai papan, mulut terbuka, suara tertelan dalam tenggorokan. Kapan perempuan ini masuk,

sedikitpun mereka tidak tahu. Mungkin dia masuk di saat Coh Liu-hiang terjun ke laut tadi, namun

gerak-geriknya dapat mengelabui So Yang-yang, Li Ang-siu dan Song Thiam-ji mungkin tidak

rendah kepandaiannya!

Terdengar suara nan merdu dingin berkata pelan-pelan: “Apakah maling kampiun Coh Liuhiang

yang masuk?”

“Benar, apakah cayhe salah memasuki rumah orang?” sahut Coh Liu-hiang.

“Kau tidak salah jalan, memang ini tempatmu.” kata perempuan itu dingin.

“Kalau toh ini tempatku sendiri, kenapa nona duduk di tempatku itu?”

“Karena aku senang duduk di sini”

“Tepat benar alasanmu, sungguh tepat”

“Selain itu kudengar Coh Liu-hiang selamanya tidak pernah menampik kehadiran perempuan”,

tiba-tiba ia menggeser kursi dan berputar balik menghadap ke arah Coh Liu-hiang, sinar lilin tepat

menyinari wajahnya.

Kalau dalam dunia ini ada wajah perempuan yang bisa membuat laki-laki menghentikan

napasnya, itulah wajah perempuan ini, demikian pula bila kerlingan perempuan dalam dunia ini

mendebarkan jantung laki-laki, tak lain kerlingan perempuan ini juga, kini kedua biji mata yang

pandai mengerling itu sedang menatap muka Coh Liu-hiang, katanya aleman:

“Sekarang sudah cukup belum alasanku itu?”

“Ya, alasan itu mendadak berubah menjadi cukup dan jadi baik” ujar Coh Liu-hiang tersendat.

Sorot matanya pelan berkisar dari raut wajah nan cantik itu menurun ke bawah. Kini ia mendapati

orang mengenakan jubah panjang dari sari putih, dilihatnya pula orang itu mengenakan tali sabuk

warna perak.

“Sekarang,” ujar perempuan itu pula dengan kalem. “Mungkin kau sudah tahu aku datang dari

mana?”

“Lebih baik kalau aku tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Dalam dunia ini, anak perempuan yang tidak sudi kukenal, itulah anak murid Sin-cui-kiong”

Mendadak perempuan itu berdiri, memutar badan mengangkat poci perak dari atas rak serta

menuang secangkir penuh. Coh Liu-hiang menghela napas dengan rasa rawan, tanyanya: “Ingin

aku tahu maksud kedatanganmu kecuali minum arak, adakah urusan lainnya?” sembari bicara ia

maju mendekat serta menarik kursi itu dan lekas-lekas mendudukinya.

Perempuan itu berpaling, katanya sepatah demi sepatah sambil menatap mukanya: “Angkuh,

tidak sopan, dingin kaku, tapi ada pula satu dua titik terang yang membuat setiap nona cilik

kepincut padamu… ternyata memang tidak berbeda keadaanmu dengan kabar yang kudengar.”

“Terima kasih…. entah ada tidak khabar di Kang-ouw itu membicarakan kepribadianku yang

lain?”

“Tentang apa?”

“Kalau ada perempuan asing menyelundup masuk ke kamarku, duduk di atas kursiku, minum

arakku lagi, sering kulempar dia ke dalam laut. Terutama bila perempuan itu anggap dirinya amat

cantik, sebenarnya sedikitpun dia tidak cantik.” dengan nyaman ia menggeliat menjulurkan kaki,

tangan seolah-olah sudah siap menikmati sikap galak perempuan ini yang marah-marah.

Memang seketika memutih selebar muka perempuan itu saking marahnya, tangan yang

pegang cangkirpun gemetar. Lekas Li Ang Siu memburu maju dan merebut cangkir emas di

tangannya itu, katanya tertawa manis: “Kalau nona hendak membanting cangkir, biar kuganti dulu

dengan cangkir besi.”

Rona wajah perempuan ini berubah pula dari putih menghijau lalu merah padam, tiba-tiba

malah ia unjuk senyum lebar bak bunga mekar, katanya: “Bagus sekali, kalian memang amat lucu

dan menyenangkan, tapi suasana berkelakar sudah berlalu.”

“Oh, jadi sekarang kau sudah siap untuk menangis?” olok Coh Liu-hiang pula.

“Kalau tidak kau kembalikan barang itu, mungkin hendak menangispun kau tidak bisa.”

“Kembalikan? Memangnya pernah aku meminjam sesuatu kepadamu?”

“Sudah tentu kau tidak pinjam, siapa yang tidak tahu di kolong langit ini, Coh Liu-hiang

selamanya tidak pernah pinjam sesuatu barang dari orang lain”, ejeknya dingin. “Kau mencurinya!”

“Mencuri?” seru Coh Liu-hiang mengerut kening. “Barang apamu yang kucuri?”

“Thian-it-sin-cui”, sahut perempuan itu lantang.

Mendadak melotot besar biji mata Coh Liu-hiang, teriaknya: “Apa katamu?”

Kembali perempuan itu berseru pelan-pelan, “Thian-it-sin-cui!”

“Maksudmu, Thian-it-sin-cui dalam istana kalian dicuri orang?”

“Dari tempat ribuan li jauhnya kesusul kemari, memangnya aku harus menipu dan main-main

dengan kau?”

Seketika terpancar rasa senang dari sorot mata Coh Liu-hiang, gumamnya: “Bagus, bagus,

sekali segala perubahan ini menjadi menarik sekali, entah berapa banyak Thian-it sin-cui kalian

yang tercuri orang?”

“Tidak banyak, hanya beberapa tetes saja, tapi cukup membuat tiga puluhan tokoh-tokoh

kosen Bulim mampus secara konyol tanpa diketahui sebab musababnya. Kalau cara yang

digunakan tepat seluruhnya bisa tiga puluh tujuh”

So Yang-yang menghembuskan napas, katanya: “Jadi kau beranggapan kehilanganmu itu

adalah dia yang curi?”

“Kecuali maling kampiun Coh Liu-hiang, siapa pula yang mampu mengusik sebatang rumput

atau seonggok kayu di Sin-cui-kiong?”

“Terima kasih akan pujianmu, kalau begitu kalau kukatakan aku tidak pernah melakukan hal itu

pasti kau tidak akan mau percaya”

“Bisakah kau membuat aku percaya?”

“Mungkin….mungkin bisa” mendadak ia mencelat bangun terus menarik tangannya, katanya:

“Paling tidak kau harus kubawa melihat sesuatu, aku berani tanggung beberapa benda itu cukup

menarik perhatianmu….menarik sekali”

Perempuan yang dingin dan angkuh ini, entah kenapa dia mandah saja tangannya digenggam

dan ditarik.

Kata So Yang menghela napas: “Kalau dia ingin menarik tangan anak perempuan, mungkin

tiada orang yang menolaknya”

Song Thiam-ji berkedip-kedip, ujarnya: “Kalau anak murid Sin-cui-kiong semua terdiri dari

kaum pria tentuknya lebih baik!”

“Perempuanpun tidak menjadi soal” sela Li Ang-siu, “Tapi lebih baik kalau dia rada jelek.”

“Ya, lebih baik pula kalau muka mereka rata-rata seperti sundel bolong” kelakar Song Thiam-ji.

Waktu kain layar itu tersingkap, mayat-mayat itu di bawah sorotan bintang-bintang di langit

kelihatan seram dan mengerikan.

“Kau periksa dia lebih dulu, tentunya kau kenal siapa dia?” kata Coh Liu-hiang.

Dengan nanar gadis itu mengawasi pundak kiri yang terbelah itu, sekian lama ia menjublek

seperti patung kayu, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan mimik wajahnya, katanya dingin:

“Dia bukan murid Sin-cui-kiong”.

Kembali Coh Liu-hiang terkejut, teriaknya pula: “Bukan?”

“Selama hidupku belum pernah kulihat perempuan ini.”

Coh Liu-hiang mengelus-elus hidung, seakan-akan barusan kena ditempeleng orang, katanya

getir: “Semula kukira orang-orang dalam Sin-cui-kiong kalian sendiri yang mencurinya,

prasangkaku adalah dia ini, tapi sekarang…..”

“Sekarang kau masih merasa lucu dan ketarik.”

“Kalau perempuan ini bukan murid Sin-cui-kiong, kenapa dia berdandan seperti itu? Tentunya

bukan maksud tujuannya sendiri, dan si dia itulah yang menyuruhnya menyamar untuk memancing

terkaan orang ke arah yang salah.”

“Terkaan salah apa?” tanya gadis itu.

“Dia ingin supaya orang menyangka Ca Bok-hap terbunuh oleh perempuan ini, kalau

kenyataan dia sendiripun terbunuh oleh Ca Bok-hap segala persoalan tamat sampai di sini, jelas

dia tidak ingin orang lain menyelidiki persoalan ini lebih lanjut, cuma perempuan yang harus

dikasihani ini menjadi kambing hitamnya.”

“Kau bicara begitu jelas, tentunya sudah tahu siapa si dia yang kau maksud?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Semoga aku bisa mengetahuinya”

Terkulum senyuman sinis dan jahat di ujung mulut si gadis, namun Coh Liu-hiang tidak

memberi kesempatan orang bicara, kembali ia menarik tangannya, matanya menatapnya pula,

katanya: “Nona Leng (dingin), kalau kau ingin memecahkan jawaban teka-teki ini, maka kau harus

percaya kepadaku!”, kedengarannya suaranya lemah lembut kasih sayang dan jujur pula,

sebaliknya sorot matanya jauh lebih kuat daya tariknya dari nada suaranya yang dapat

menundukkan kekerasan hati orang lain.

Akhirnya tersenyum lebar gadis itu, ujarnya: “Aku bukan she Leng”

“Lalu aku harus panggil kau siapa?” bersinar sorot mata Coh Liu-hiang.

Tiba-tiba gadis itu menarik muka pula, katanya dingin: “Kau boleh panggil aku nona Leng

saja!”

“Pertama, yang harus kuselidiki lebih dulu Thian-it-sin-cui itu tidak akan mendatangkan

kekayaan, juga tidak bisa menambah kepandaian ilmu silat berlipat ganda, memangnya kenapa

mencurinya?”

“Kukira pertanyaannya ini harus ditujukan kepadamu lebih dulu”

“Hanya satu kegunaan Thian-it-sin-cui, yaitu untuk mencelakai jiwa orang, malah membunuh

tanpa dirasakan dan diketahui lebih dulu oleh si korban, dia mengeluarkan banyak tenaga

memeras daya pikiran dan akal untuk mencuri Thian-it-sin-cui, terang hanya satu tujuan.”

“Satu tujuanpun sudah cukuplah.”

“Nah, dapat kita pastikan bahwa seseorang yang hendak dicelakai jiwanya oleh si dia, pastilah

seseorang yang tidak gampang dibunuh menggunakan sembarangan obat beracun, lain pula

seseorang yang tidak mungkin dia bunuh mengandalkan kepandaian atau kekuatannya sendiri”

Gadis itu segera manggut-manggut, katanya: “Benar, kalau tidak buat apa si dia menyerempet

bahaya untuk mencuri Thian-it-sin-cui?”

“Tapi kalau benar dia berhasil mencuri Sin-cui dari Sin-cui-kiong, masih berapa orang yang

tidak mampu dia bunuh? Untuk bisa berhasil mencuri air sakti itu dari Sin-cui-kiong tentunya

memerlukan kepandaian setingkat seperti kau”. Coh Liu-hiang tersenyum, katanya lebih lanjut:

“Dari sini dapatlah kita simpulkan dia mencuri air sakti itu, tentu ada orang yang membantunya

secara diam-diam”

“Siapa orang yang kau maksudkan?” jengek si gadis dingin.

Coh Liu-hiang menatapnya bulat-bulat: “Setelah air sakti itu hilang, adakah orang hilang dari

istana kalian?”

“Jadi kau maksudkan bahwa murid istana kami sendiri yang bantu dia mencuri air sakti itu,

maka setelah air itu tercuri, maka dia sendiripun harus menyelamatkan diri begitu?”

“Memangnya tidak mungkin terjadi?”

“Sudah tentu mungkin, sayang sekali selama puluhan tahun tidak pernah seorang murid istana

kami yang hilang atau melarikan diri!”

Bertaut alis Coh Liu-hiang, sejenak berpikir, lalu katanya pula: “Sejak kehilangan air sakti itu,

masakah istana kalian tiada terjadi sesuatu? Umpamanya ada orang bunuh diri…..”

Seketika berubah sikap si gadis, serunya: “Darimana kau bisa tahu?”

Bersinar mata Coh Liu-hiang, katanya keras: “Jadi ada orang bunuh diri, betul tidak? Kenapa

dia harus bunuh diri?”

“Persoalan istana kita memangnya setimpal kau sembarang tanya?” sentak gadis itu beringas.

Coh Liu-hiang menggenggam tangannya, katanya pelan-pelan: “Nona Leng, kau harus

sejujurnya menceritakan peristiwa itu kepadaku, karena peristiwa itulah kunci dari persoalan ini,

kau….kau harus percaya padaku”

Gadis itu menarik tangan serta pelan-pelan berpaling muka, lama sekali ia menepekur diam,

akhirnya dengan lambat-lambat ia berkata: “Dia seorang anak gadis yang mungil dan cantik jelita,

rupawan dan romantis lagi, usianyapun paling muda, dia….dia sudah meninggal, tidak bisa

kusinggung soal dirinya lagi….”

Berkilat biji mata Coh Liu-hiang, katanya: “Apakah dia sudah hamil, merasa malu dilihat

orang?”

Gadis itu tidak menjawab, tapi sebelah tangannya semampai menggenggam kencang bajunya,

terang hatinya bergolak diliputi haru dan pedih serta penasaran.

“Jelas sudah kalau begitu,” kata Coh Liu-hiang lantang. “Tentu si dia itu sudah melanggar

kesuciannya lebih dulu, di bawah ancaman dan bujuk rayunya, dia berhasil mencuri ‘air sakti’ itu,

tapi si ‘dia’ tidak menepati janjinya membawanya pergi untuk dijadikan istrinya, maka terpaksa dia

menempuh jalan pendek!”

“Tutup mulutmu!” sentak gadis itu dengan badan gemetar.

“Sejak dulu kala, gadis yang romantis sering mengalami nasib yang mengenaskan, daripada

kau bersedih, lebih baik kau berusaha menemukan si ‘dia’, menuntut balas bagi si korban.”

Sigap sekali gadis itu membalik tubuh, katanya bergetar: “Cara bagaimana untuk mencari si

‘dia’ itu?”

“Sebelum dia ajal, apakah dia berpesan apa-apa?”

Berlinang air mata si gadis, katanya haru: “Dia cuma berkata… dia berdoa terhadap bayi dalam

kandungannya.”

“Dalam keadaan demikian, kenapa dia tidak sudi menyebut si ‘dia’ itu, seolah-olah dia kuatir

orang lain bakal mencelakai jiwanya…ai! Kekuatan iblis apakah yang dia miliki, gadis yang baru

mekar itu sampai kepincut mati-matian kepadanya?”

“Selamanya memang dia tidak pernah menyinggung si ‘dia’. Hakekatnya tak pernah mulutnya

menyebut seseorang lelaki, sungguh mimpipun kami tidak pernah menduga peristiwa semacam itu

bisa terjadi.”

“Biasanya, adakah dia punya teman lelaki?”

“Hampir boleh dikatakan selamanya dia tidak pernah bicara dengan lelaki siapapun!”

Aneh, kenapa hari ini, bisa terjadi peristiwa-peristiwa aneh….empat orang yang satu sama lain

tidak saling kenal meninggal dalam waktu yang bersamaan pada satu tempat pula! ‘Air’ sakti dari

Sin-cui-kiong secara misterius tercuri orang! Seorang gadis suci pingitan yang selama hidupnya

tidak pernah bicara dengan lelaki tiba-tiba diketahui hamil, selintas pandang ketiga peristiwa aneh

ini satu sama lain tiada hubungan apa-apa, namun justru saling gandeng geret … Coh Liu-hiang

angkat kepala, gumamnya: “Siapa yang bisa memberi penjelasan menghadapi persoalan aneh

seperti ini?”

“Kau sendiri!” seru gadis itu.

Cohg Liu-hiang tertawa getir, ujarnya: “Aku”

Gadis itu memandang tajam, katanya begis: “Demi kau sendiri, kau harus membongkar

rahasia teka-teki ini.”

“Tapi dari mana aku harus menyelidiki? Boleh dikata aku tidak punya sumber penyelidikan

sama sekali.”

“sumbernya pasti ada, dan kau sendiri pula yang harus menemukannya.” kata si gadis,

kembali ia membalik badan membelakangi Coh Liu-hiang, katanya tandas: “Kuberi tempo satu

bulan, jika kau tidak berhasil menemukan Sin-cui-kiong akan meluruk mencarimu”

“Kenapa kau membalik badan? memangnya bila kau berhadapan dengan aku tidak mampu

mengeluarkan kata-kata yang tidak aturan ini?”

Gadis itu tidak hiraukan kata-katanya, dengan gemulai ia beranjak menuju buritan kapal. Di

belakang kapal, di tempat yang gelap tampak sebuah sampan kecil yang dapat bergerak gesit dan

laju. Dengan enteng ia melayang turun, sekejap lalu sampan itu sudah meluncur pergi ditelan

kegelapan malam.

Coh Liu-hiang bertopang dagu di dek kapal, dengan berdiam diri ia mengawasi bayangan

orang pergi. Sinar bintang redup, sampan kecil itu terombang-ambing digoyang-gontai alunan

ombak, sari panjang di atas badannya tertiup angin melambai-lambai seolah-olah dewi kahyangan

sedang menari-nari di tengah lautan. Tiba-tiba saja dia berpaling muka sambil unjuk seri tawa

manis, serunya: “Aku bernama Kiong Lam-yan!”

Coh Liu-hiang menjulurkan kedua kakinya dengan nyaman, ia rebah di atas kursi malasnya,

matanya menatap pusaran arak yang berada di dalam cangkirnya, katanya menggumam:

“Memang dia amat cantik, terutama senyum tawanya lebih cemerlang dari sinar bintang yang

kelap-kelip di angkasa dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan”

“Sebulan kemudian, kemungkinan kau tidak akan merasa dia cantik, terutama bila ujung

pedangnya mengancam tenggorokanmu…” demikian goda Li Ang-siu tawar.

“Dia tidak menggunakan pedang.” ujar Coh Liu-hiang.

Berkedip-kedip mata Li Ang-siu, “Apa dia menggunakan pisau sayur?” Tak tahan Coh Liuhiang

tertawa geli, katanya sungguh-sungguh: “Yang dia gunakan adalah mangkok sayuran”

“Mangkok sayuran?”

“Kalau tidak pakai mangkok, mana bisa menadahi cukamu yang tumpah dari gucimu yang

terbalik?”

Song Thiam-ji cekikikan, katanya: “Jangan kau menyakiti hatinya lho, bahwasanya dia lebih

lihay dari Kiong Lam-yan”

“O….” Coh Liu-hiang berseru heran.

Song Thiam-ji memegang pinggang, katanya dengan megap-megap geli: “Kiong Lam-yan

paling hanya seorang murid dari Sin cui-kiong, tapi nona Li Ang Siu kita ini sebaliknya adalah

Ciang-bujin Sin-cui-kiong!”

Li Ang-siu menubruk maju, dampratnya kertak gigi: “Setan cilik, ingin mampus kau!” Sambil

terkekeh geli, Song Thiam-ji berlari sambil berkaok-kaok: “Yang-ci, tolong! Lihay benar Ciang-bujin

dari Sin-cui-kiong!” begitulah mereka kejar-mengejar dengan senda gurau riang gembira.

Dengan tersenyum simpul, So Yang-yang mengawasi Coh Liu-hiang, katanya lembut:

“Sekarang bagaimana tindakanmu?”

“Sampai detik ini, memang tiada sesuatu sumber penyelidikan yang dapat kutemukan, tapi

paling tidak sekarang ini sudah tahu bahwa si ‘dia’ pasti adalah seorang lelaki tampan, kalau tidak

mana mungkin gadis pingitan itu bisa terpincut kepadanya?”

“Belum tentu seorang gadis pasti menyukai seorang lelaki yang tampan lho”

“Menurut pandanganmu, orang macam apa sebenarnya si ‘dia’ itu?”

“Pasti dia seorang yang pandai bicara, sangat pintar, pandai menarik perhatian dan hati

seorang gadis, serta romantis sekali, gadis remaja yang menanjak dewasa, selamanya tak akan

kuasa melawan laki-laki semacam itu.”

“Tapi laki-laki macam itu memangnya bisa masuk ke Sin-cui-kiong?”

“Laki-laki seperti itu bila sudah masuk ke Sin-cui-kiong, mungkin takkan bisa keluar dengan

jiwa tetap hidup…. dalam dunia ini laki-laki yang bisa keluar dengan tetap hidup dari Sin-cui-kiong,

mungkin hanya beberapa orang saja”

“Oleh karena itu, terpaksa aku harus mohon bantuanmu untuk melakukan sesuatu.”

“Maksudmu hendak mengutus aku ke Sin-cui-kiong?”

“Aku….aku hanya menguatirkan kesehatan badanmu”

“Kau anggap aku selemah itu tak tahan dihembus angin?”

“Entah bisa tidak kau menemukan piaukohmu, tanyakan biasanya laki-laki mana yang

diperbolehkan keluar masuk Sin-cui-kiong? Serta tanyakan juga orang macam apakah sebenarnya

gadis yang bunuh diri itu? Lebih baik kalau bisa menemukan barang-barang peninggalan gadis itu,

kalau dia ada meninggalkan buku atau surat, itulah lebih baik.”

“Begitu terang tanah, aku segera akan berangkat.”

“Cuma kau….”

Dengan aleman So Yang-yang segera mendekap mulut orang dengan jari-jarinya yang runcing

halus, katanya tertawa: “Apa yang ingin kau kemukakan, aku sudah tahu….setelah aku pergi,

bagaimana dengan dirimu?”

“Tujuh hari kemudian, akan kutunggu kau di Hong-hi-ting di pesisir Tay-bing-ouw di Ki-lam”

“Kilam? Bukankah di sana letak dari pusat Cu-soa-pang?”

“Hay-lam-pay dan Chit-sing-pang terlalu jauh dari sini, Ca Bok-hap sebaliknya datang dari

ujung perbatasan yang jauh di ujung langit, aku mengharap dari anak murid Cu-soa-pang dapat

mencuri berita yang kuperlukan.”

“Tapi kau harus hati-hati, kalau mereka tahu kau….”

“Walau mereka membenci aku, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadapku”. Tiba-tiba

Coh Liu-hiang membentangkan tapak tangannya, entah kapan tahu-tahu tangannya sudah

menggenggam sebuah botol porselen kecil, begitu sumbatnya dibuka, seketika terendus semacam

bau harum yang terasa aneh memenuhi ruangan besar itu.

Segera Coh Liu-hiang tarik suara dan bersenandung: “Malam hari maling kampiun

meninggalkan bau wangi, entah di mana sukma gentayanganmu?”

“Jadi kau ingin supaya aku meninggalkan bau-bau wangi ini di mana-mana?”

“Betul! Sepanjang jalan ini, tiada halangannya kau meninggalkan sedikit bau ini, supaya orang

selamanya susah meraba jejakku sebetulnya di mana, takkan terduga pula oleh mereka bahwa

aku sebenarnya sudah berada di Kilam”

“Tapi kau…. kali ini hendak muncul dengan duplikat siapa?”

“Anggota Cu-soa-bun kebanyakan adalah hartawan besar. Kalau aku ingin mendapatkan

kepercayaan mereka, menghormatiku, jalan satu-satunya harus menyamar sebagai seorang lakilaki

per

lente yang lebih royal membuang uang dari mereka, sambil menggeliat malas ia bangkit berdiri

lalu mendorong almari yang penuh buat menyimpan botol-botol arak itu ke samping, ternyata di

belakang almari minuman ini terdapat sebuah pintu kecil yang sempit.

Di belakang pintu sempit rahasia ini terdapat sebuah kamar segi enam yang berbentuk aneh.

Enam dinding sekelilingnya terpasang kaca yang halus dan terang, cukup memasang sebuah

lentera sudah dapat menerangi sepuluh lipat keadaan kamar kecil ini.

Sepanjang dinding kaca ini, dikelilingi pula lemari-lemari pendek terbuat dari kayu di mana

terdapat ratusan laci-laci kecil, setiap laci tercantum nomor-nomor yang berbeda, tak ubahnya

seperti laci-laci toko obat.

So Yang-yang menggelendot dipinggir pintu, katanya tertawa: “Yang kau inginkan mungkinkah

nomor enam puluh tiga? Atau mungkin pula nomor seratus tiga belas?”

Coh Liu-hiang menarik laci bernomor enam puluh tiga, di dalamnya tersimpan perangkat jubah

dan celana ketat yang terbuat dari sutra halus warna biru tua, kelihatannya setengah baru, di

samping itu terdapat pula sepasang sandal yang dari kain, sebuah kantong kecil warna hitam

terbuat dari kulit ikan cucut, serta sejilid buku tipis.

Coh Liu-hiang mengerut kening, tanyanya: “Apa benar nomornya?”

Mungkin tidak salah.

Tapi dinilai dari pakaian ini, bukan baju yang sering dipakai orang kaya.

Para pedagang besar yang bermukim di kota Kilam yang paling besar menanam modal hanya

terdapat dua macam saja. Macam pertama adalah Cukong besar dari pemilik Bank di Sansay,

bagi cukong yang sudi mengenakan pakaian seperti itu boleh dianggap cukup berlebihan.

“Oh ya, hampir aku lupa bahwa perak milik orang-orang Sansay kebanyakan pernah digodok

dulu dengan air obat, adakalanya aku amat heran, mereka menyimpan uang sebanyak itu, apakah

tujuannya?”

Lalu ia membalik halaman buku itu, tampak halaman pertama bertuliskan:

Nama : Ma Pek Ban Pekerjaan : Direktur bank Su-kong Sansay Usia : Empat puluhan Hobby :

Tiada Ciri-ciri : Setiap melewati tempat berair pasti mencopot sandal, di waktu hujan selalu

berusaha mengenakan payung orang lain, badannya selalu membawa bau seperti sudah lama

tidak pernah mandi.

Belum selesai Coh Liu-hiang membaca, lekas ia tutup buku itu terus dikembalikan ke dalam

laci. Katanya menghela napas panjang: “Kalau kau ingin aku menyamar seperti orang ini, lebih

baik aku mati saja”

“Kau sendiri yang suruh aku menulis dan mencatat bahan-bahan itu di dalam buku, pengemis

yang joroknya setengah mati kau pernah menyamarnya, kenapa tidak mau….?”

Lekas Coh Liu-hiang ulapkan tangannya, ujarnya: “Lebih baik aku menjadi pengemis daripada

menjadi cukong seperti dia itu.”

“Kalau begitu, coba kau lihat nomor seratus tiga belas”

Coh Liu-hiang menarik laci nomor seratus tiga belas, di dalam tersimpan seperangkat pakaian

yang bagus dan perlente terbuat dari bahan yang mahal, sepasang sepatu kulit yang mengkilap,

dua butir bola besi yang mengeluarkan suara gemerincing bila ditimang-timang di telapak tangan,

sebatang golok melengkung yang dihiasi jamrut, kecuali itu terdapat sebuah kantong yang terbuat

dari kulit ikan cucut hitam sejilid buku tipis pula.

Kata So Yang-yang: “Yang sering pulang pergi di Kilam ini, kecuali Cukong dari Sansay ini,

orang lain yang paling royal adalah pemilik perkebunan didaerah luar perbatasan Tiang pek-san,

yaitu ketua Jay-sam-pang yang berdagang kolesom.

“Nah agaknya orang ini jauh lebih menarik” ujar Coh Liu-hiang.

Lalu iapun membalik lembaran buku tipis itu, dimana tercantum juga:

Nama : Thio Siau Lim.

Pekerjaan : Pedagang obat kolesom di Koang-gwa.

Usia : Tiga puluh enam.

Hobby : Arak keras, berjudi dan main perempuan…

Belum habis membaca kembali Coh Liu-hiang ,menutup buku itu, katanya tersenyum: “Cukup

menarik, memang amat menarik.”

“Aku sudah tahu tentu cukup memenuhi seleramu. Tapi bagaimana juga, kau tetap harus bawa

peti itu, aku sudah siapkan nomor tiga, tujuh, dua delapan dan empat puluh di dalam peti itu.”

“Baik, sejak sekarang biar aku menyamar jadi Thio Siau lim untuk beberapa hari lamanya”

ditengah gelak tawanya ia mambuka kantong kulit itu, lalu mengeluarkan sebuah kedok muka

yang halus dan tipis.

“Kwi-gi-tong”, tiga huruf emas bergaya tandas seperti naga melingkar atau burung hong

menari, tampak berkilauan di bawah penerangan sinar pelita.

Di sanalah komplek perjudian terbesar di seluruh kota Kilam.

Tatkala itu pelita baru saja dipasang, suasana di Kwi-gi-tong amat ramai dan hiruk-pikuk.

Sebuah ruangan besar penuh sesak, diliputi bau arak dan asap tembakau yang mengepul

menyesakkan nafas, terendus pula bau pupur dan gincu di atas badan perempuan, bau keringat

busuk di atas badan laki-laki… kepala setiap hadirin semua dibasahi butiran keringat yang kemilau

tersorot sinar pelita.

Tapi ada pula yang berseri tawa riang, namun ada pula yang lesu dan patah semangat, ada

yang bersikap tenang, ada pula yang bersikap tegang mengepal tinju dan gemetar seluruh

badannya.

Ruangan paling depan ada dua meja Bay-kiu, dua meja judi dadu, dua meja Capjiki. Tingkatan

orang yang bertaruh di sini pun paling acak-acakan, kaya miskin tidak ada perbedaan, asal ada

uang boleh bertaruh. Suara hiruk-pikuk di sini pun paling ramai. Pada setiap meja judi itu berdiri

seorang laki-laki berseragam hitam yang berikat pinggang kain merah, siapapun yang menarik

dalam taruhan, dia harus menyetornya sepuluh persen.

Ruangan tengah rada sepi dan tenang, di sini hanya terdapat tiga meja, orangnya pun lebih

sedikit, tiga meja sama penuh dikelilingi orang-orang gemuk berperut gendut, terang mereka itu

hartawan-hartawan yang getol judi, uang perak bertumpuk-tumpuk yang ada di atas meja dan ada

pula di hadapan orang-orang, di pinggir meja tersedia arak dan makanan, tak ketinggalan pula

rokok. Puluhan gadis-gadis ayu yang berpakaian mewah dengan perhiasan menghiasi seluruh

badan mondar-mandir sambil jual senyuman manis, seperti kupu-kupu yang mengelilingi kuntum

bunga, dari sini mencorot uang perak, di sini menjumput dua keping uang emas.

Para penjudi itu agaknya tidak hiraukan perbuatan mereka, maklum berapa sih arti uang kecil

itu. Maka yang kalah cepat sekali kantong uangnya kosong, yang menang sebaliknya kantong

uangnyapun tidak kelihatan padat. Uang perak atau emas sama mengalir ke kantong baju gadisgadis

itu melalui jari-jari yang penuh dihiasi cincin berkilauan, akhirnya sama bertumpuk di dalam

kas sang majikan yang memiliki rumah perjudian ini. Perjudian di sini memang dibuka dan

diusahakan oleh pihak Cu-soa-pang.

Rumah dibagian belakang, pintunya tertutup kerai tebal. Dalam rumah ini terdapat tujuh

delapan penjudi, namun gadis-gadis yang melayani di sini pun paling banyak, ada yang

menyediakan hidangan, ada yang menuang arak, ada pula yang menggelendot dalam pelukan

orang. Sebutir demi sebutir mereka ngupaskan kwaci terus dijejalkan ke mulut penjudi-penjudi

yang dermawan itu, jari-jari mereka laksana duri mawar, kerlingan matanya tajam semanis madu.

Disini tidak kelihatan uang perak dan mas kontan cuma beberapa lembar cek yang bergerak

kesana kemari, namun angka angka yang tertulis di atas lembar cek itu, cukup membuat orang

bisa hidup senang seumur hidup.

Seorang pemuda bermuka pucat, mengenakan jubah panjang hijau pupus berdiri di pinggir

meja sambil tersenyum simpul, tak henti-hentinya ia menepuk pundak dari satu ketamu yang lain,

katanya, “Hari ini nasibmu kurang mujur, pergilah bawa Cu-ji ke dalam malas-malasan saja.”

Jawabnya selalu diselingi tawa besar: “Buat apa kesusu, belum lagi lima laksa tail!”

Maka tangan si pemuda segera ditarik, dengan tersenyum senang ia mengelus jenggotnya

yang baru tumbuh, tangan yang ia gunakan selalu tangan kiri. Tangan kanannya selalu

bersembunyi di dalam lengan bajunya.

Pemuda ini bukan lain adalah pengurus tertinggi Kwi-gi-tong ini, tak lain adalah murid Ciangbunjin

Cu-soa-pang, yaitu Sat-jin-giok-lan, Han-bin-beng-siang Leng Chiu-hun.

Tiba-tiba seorang laki-laki kurus tepos bermata juling dengan kepala seperti keledai

berpakaian perlente menyelinap masuk, dari kejauhan ia sudah menjura dan berkata hormat

sambil tertawa, “Selamat siang, Cheng-cu baik-baik saja?”

Leng Chiu-hun menarik muka, segera ia menghampiri sambil menggendong tangan, makinya

dengan mengerut kening, “Thia Sam, berani kau main terobos di tempat ini?”

Tersipu-sipu Thia Sam membungkukkan badan, sahutnya sambil tertawa lebar, “Mana Siaujin

berani sembarangan masuk,cuma….” Sambil melotot lalu dia berbisik: “Semalam kedatangan

seorang tamu royal, semalam saja dia sudah menghamburkan tiga laksa di tempat Siau-cui sana,

waktu Siaujin mencari tahu, ternyata tangannya masih gatal, maka Siaujin memberanikan diri

membawa orang itu ke mari.”

“O, orang macam apakah dia?”

“Dia she Thio, bernama Thin Siau-lim.”

“Thio Siau-lim?” Leng Chiu-hun menepekur. “Amat asing nama ini bagiku.”

“Kabarnya dia jarang masuk perbatasan, maka…..”

“Orang-orang macam apa yang berjudi di tempat ini, tentunya kau sudah tahu. Orang yang

tiada punya asal-usul seumpama hendak menghamburkan uangnya, orang-orang ini pun takkan

memberi peluang kepadanya.”

“Siauya tak usah kuatir, orang yang tidak punya asal-usul mana Siaujin berani membawanya

ke mari…. tamu she Thio itu adalah pedagang kolesom terbesar di Siang-pek-san, kali ini datang

ke Kilam hendak membuang sedikit uang mencari hiburan.”

“Kiranya, pemetik kolesom, biar kulihat dulu,” kata Leng Chiu-hun, lalu ia menyingkap kerai

melongok keluar, tampak seorang lelaki berjambang pendek, muka ungu, dengan sikap gagah

sedang berdiri di luar pintu sambil menggendong tangan. Tangannya menggenggam dua butir bola

besi yang mengeluarkan suara gemeretak, namun tindak-tanduknya kelihatan angker dan

berwibawa, semua hadirin di dalam rumah itu tiada yang sebanding dengan dia, seolah-olah

burung bangau di tengah ayam babon.

Bergegas Leng Chiu-hun menyingkap kerai dan melangkah maju dan memapak, katanya

sambil bersoja: “Thio-heng datang dari tempat jauh, siaute tidak melayani dengan semestinya,

harap suka dima’afkan” sembari tertawa lebar segera ia menarik tangan Thio Siau-lim seolah-olah

sekali pandang seperti teman lama layaknya.

Thio Siau-lim ternyata seorang jujur yang selalu menepati omongannya, orang kaya yang

keluar uang tanpa berubah air mukanya, kebetulan meja di tengah sedang berjudi pay-kiu, segera

ia rogoh kantong dan ikut pasang, beberapa kali lintasan saja dia sudah kalah lima laksa tail.

Gadis-gadis ayu itu segera berebut maju, beramai-ramai berebut menuangkan arak, berebut

hendak melihat kartu pula, Thio Siau-lim bergelak tertawa, tangan kiri menarik tangan kanan

memeluk, mendadak dari kantong bajunya dia mengeluarkan setumpuk uang kertas, katanya:

“Nah mari dimulai lagi, bagaimana kalau aku jadi bandarnya?”

Waktu Leng Chiu-hun melirik dilihatnya lembaran uang kertas paling atas adalah lembaran

sepuluh laksa tail, seketika mukanya berseri tawa senang, katanya: “Kalau Thio-heng jadi bandar,

biar siaute ikut bertaruh”

Yang jadi bandar saat itu adalah ketua dari empat puluh perusahaan besar di seluruh kota

Kilam, dia sudah meraih puluhan laksa tail, memangnya ingin mengundurkan diri, tawaran dari

Thio Siau-lim jadi kebetulan malah, segera ia surungkan kartunya ke tengah meja, katanya:

“Silahkan Thio-heng pegang kartu, Siaute pasang Thian bun”

Thio Siau-lim menindihkan dua bola besinya ke atas lembaran uang, serunya: “Mestikaku,

tindih mereka baik-baik, jangan sampai ada satupun yang lari”

Babak perjudian seterusnya sungguh amat menyenangkan, masing-masing berlomba

mempertahankan uang dengan kemahirannya, namun jantung berdebar dan hatipun tidak kurang

tegangnya, keringat sama bercucuran di jidat, separo dari kemenangan uang cukong beras tadi

akhirnya kendang, namun ia bisa melihat gelagat, segera ia berhenti dan tinggal ke belakang

menarik gadis kesayangannya. Dua orang yang lain kabarnya terkenal paling takut bini, meskipun

ingin menarik balik modalnya semua, namun terpaksa harus mundur dan pulang. Setelah tengah

malam yang masih berjudi dalam rumah ini tinggal empat lima orang.

Thio siau-lim mengisap pipa cangklong yang diangsurkan seorang gadis yang duduk di

pinggirnya, tangannya mengocok kartu sedang matanya menghadap Leng Chiu-hun, katanya

tertawa lebar: “Lote, keluarkan uangmu dan pasanglah!”

Leng Chiu-hun tersenyum, sahutnya: “Ya, Siaute memang sudah siap pasang.” kembali ia

merogoh keluar setumpukan uang kertas, sepasang matanya jelalatn seperti mata anjing ajak

yang mencari sasaran, mendadak ia dorong semua uangnya dipasangkan ke Thian-bun pula,

katanya tersenyum: “Tiga puluh laksa tail, tidak peduli kalah menang, kali inilah yang menentukan”

Sekali pasang tiga puluh laksa tail, meski yang hadir dalam perjudian adalah hartawan kaya

raya, semua sama kaget dan berubah air mukanya, tiada satupun yang berani ikut pasang.

Thio Siau-lim tetap tertawa riang, katanya: “Baik, mari kita berhantem sendirian”, segera ia

lemparkan dadunya, tujuh angin. Leng Chiu-hun segera mengambil kartu, seratus, semetara Thio

siau-lim ambil yang nomor tiga, tanpa dilihat lagi Chiu-hun terus membalik kartu itu pelan-pelan.

Selembar Thian dan selembar Jin, itulah Thiankan. Serempak semua hadirin sama

mengeluarkan suara kagum dan ngiler, para gadis malah berteriak-teriak sambil tepuk tangan.

Tampak Thio Siau-lim merangkap tangan, ditepuk lalu didorong, hanya sekilas dilihatnya, lalu

“Plak”, ia banting kedua kartunya di pinggir meja. Semua orang menunggu de

ngan rasa tegang dan mata terbelalak tak tahan tanya berbareng: “Bagaimana?”

Sedikitpun tidak berubah air muka Thio Siau-lim, segera ia menghitung tiga puluh laksa tail

terus diangsurkan ke dapan Leng Chiu-hun, katanya tertawa: “Nah terimalah, aku mengaku kalah!”

Berputar biji mata Leng Chiu-hun, katanya tertawa: “Hari ini tentunya kalian sudah puas,

biarlah dilanjutkan lain hari saja”

Perjudian bubar, masing-masing melangkah ke belakang sambil menggandeng gadis

pujaannya kelelap dalam buaian mimpi dengan berpelukan.

Thio Siau-lim menggeliat, katanya tertawa: “Lote, kau memang jempol, tepat pandanganmu,

menyikatnyapun dengan telak”

Leng Chiu-hun tertawa tawar, ujarnya: “Apa ya…”, secepat kilat mendadak tangan kiri terulur

mencabut golok yang tergantung di pinggang Thio Siau-lim, ujung golok yang kemilau tahu-tahu

sudah mengancam pelipisnya, jengeknya dingin: “Sebenarnya siapa kau? Apa kerjamu di sini?”

Sikap Thio Siau-lim tidak berubah sedikitpun, katanya berseri tawa: “Apa Lote sedang

berkelakar sama aku? Aku tidak mengerti?”

“Betul, kau tidak tahu!” jengek Leng Chiu-hun dingin. Tangan kirinya tiba-tiba menggablok

meja, dua kartu yang disisihkan Thio Siau-lim ke pinggir meja itu mendadak mencelat naik dan

jatuh terbalik, tergeser ke atas meja. Tampak kedua kartu sama bentuk sama nomornya. Duaduanya

As.

Mata Leng Chiu-hun setajam pisau, desisnya bengis: “Terang barusan kau menang, kenapa

pura-pura kalah?”

“Mataku rada lamur, mungkin aku salah lihat.”, sahut Thio Siau-lim tertawa.

“Seorang laki-laki sejati berani terus terang, saudara ada keperluan apa datang ke sini?”

bentak Leng Chiu-hun: “Lebih baik bicara terus terang…. apa sengaja kau hendak menarik hatiku?

Apa maksud tujuanmu?”

Sirna senyum tawa Thio Siau-lim, katanya dengan bada berat: “Mata Leng-heng memang

tajam…ya, memang cayhe kemari memang ada maksud-maksud tertentu, tapi persoalan ini bukan

saja membawa untung bagi diriku, dengan pang kalianpun…..” sengaja ia unjuk tawa penuh arti,

secara lihay sengaja ia hentikan kata-katanya.

Tanpa berkesip Leng Chiu-hun menatapnya, sorot matanya semakin kalem dan tangan ditarik

sambil melempar pisau ke atas serta ditangkapnya pula, “srettt” ia kembalikan pisau ke dalam

sarungnya, katanya pelan-pelan: “Kalau begitu, kenapa tidak secara terus terang saja kau minta

bertemu dengan aku?”

Thio Siau-lim tersenyum, ujarnya: “Untuk mengerjakan urusan luar biasa, harus melalui jalan

yang tidak biasa pula, jikalau aku tidak membuat sesuatu sehingga Leng-heng menaruh kesan dan

perhatian kepadaku, apa yang cayhe katakan Leng-heng mau percaya?”

Leng Chiu-hun berkata tawar: “Dengan tiga puluh laksa tail untuk memberi kesan itu, apa kau

tidak merasa terlalu mahal?”

“Kalau persoalan bisa sukses, tiga puluh laksa tail cuma beberapa persen saja dari seluruh

peruntungan yang bisa kita capai.”

Muka pucat Leng Chiu-hun seketika memancarkan sinar terang, katanya: “Pekerjaan yang

melanggar hukum, Pang kami selamanya tidak mau mengerjakannya”

“Walau Cayhe miskin, sedikitnya punya kekayaan ribuan laksa tail, pekerjaaan melanggar

hukum dan berbahaya sekali-kali Cayhe tidak akan sudi mengerjakannya”

Tiba-tiba Leng Chiu-hun menepuk meja pula, sentaknya beringas: “Urusan ini kalau tidak

melanggar hukum dan tidak menyerempet bahaya, keuntungan bakal sedemikian besarnya,

kenapa tidak cari orang lain tapi justru kau mencari Pang kita?”

“Karena pekerjaan ini harus diselesaikan oleh tampilnya salah satu tianglo Pang kalian, kalau

tidak bukan saja tidak terhitung kesulitan yang harus kita hadapi, boleh dikata sulit bisa berhasil”

“Siapa yang kau maksudkan?”

“Sat-jiu-su-seng Sebun Jian!”

Leng Chiu-hun perlahan-lahan membalik badan melangkah dua tindak dengan kalem pula

serta duduk pelan.

“Kalau Sebun cianpwe sudi menampilkan diri, pekerjaan ini seratus persen pasti berhasil, oleh

karena itu Leng-heng harus berusaha supaya Sebun-cianpwe sudi keluar untuk merundingkan

persoalan ini. Setelah mendengar penjelasan Cayhe, Sebun cianpwe sendiri pasti tidak akan

menampik”

“Guruku selamanya tidak gampang mau menemui tamu, katakan saja kepadaku kan sama

saja”

“Untuk soal ini aku harus bicara berhadapan dengan Sebun-cianpwe”

Leng Chiu-hun tiba-tiba putar badan, bentaknya gusar: “Memangnya sengaja kau hendak

mempermainkan aku”

Thio Siau-lim tertawa gelak-gelak, serunya: “Orang yang main-main dengan uang tiga puluh

laksa tail mungkin belum pernah terjadi di dunia ini?”

Dengan nanar Leng Chiu-hun menatap muka orang sekian lamanya, akhirnya berkata dengan

nada berat: “Kedatanganmu tidak kebetulan, guruku sekarang tidak berada di Kilam.”

“Apa benar?”

“Selamanya aku tidak pernah bohong”

Lama sekali Thio Siau-lim menepekur, lamat laun sikapnya kelihatan amat kecewa, katanya

menghela napas seraya menengadah:

“Sayang! sayang! Keuntungan tiga ratus laksa tail sudah di depan mata, agaknya segala

rencana bakal gagal total” segera ia bersoja terus angkat langkah keluar dengan lesu.

Lekas Leng Chiu-hun memburu maju serta menariknya, katanya: “Maksudmu tiga ratus

laksa?”

“Aku ini seorang pedagang, kalau tidak mendapat keuntungan sepuluh lipat, mana aku sudi

menghamurkan tiga puluh laksa?”

Tergerak hati Leng Chiu-hun, tanyanya: “Sudikah kau menunggu sampai guruku pulang?”

“Urusan sepenting dan segenting ini mana bisa diulur-ulur, kecuali….”

“Kecuali?” cepat Leng Chiu-hun menegas, “Kecuali bagaimana?”

“Kecuali sebelum pergi Sebun-cianpwe ada meninggalkan pesan apa-apa, dikatakan kemana

tujuannya lalu cepat kita menyusulnya ke sana, mungkin waktunya masih keburu”

Sampai detik itu, mau tidak mau Leng Chiu-hun semakin ketarik, katanya membanting kaki:

“Setiap kali suhu keluar pintu tak pernah dia meninggalkan pesan apa-apa, cuma kali ini… setelah

menerima sepucuk surat, hari kedua pagi-pagi benar lantas berangkat.”

Bersinar mata Thio Siau-lim, tanyanya: “Sepucuk surat? Dimana?”

Leng Chiu-hun menariknya, katanya tergesa-gesa: “Mari ikut aku?”

“Kemana?”

“Lip-te-kui-hun-jin Nyo Siong, tentunya kau pernah mendengar namanya bukan?”

“Jadi surat itu sekarang berada di tangan di rumah Nyo cianpwe?”

“Benar, kuingat sebelum guruku pergi, pernah masukkan surat itu ke dalam sampulnya pula

dan diserahkan kepada Nyo susiok untuk disimpan, jikalau bisa melihat surat itu, kukira pasti bisa

tahu kemana tujuan guruku”

“Tapi, apakah Nyo-cianpwe sudi memperlihatkan surat itu kepada kita?”

“Tiga ratus laksa tail, bagi siapapun asal dia manusia, jumlah ini bukan terhitung jumlah kecil”

Mereka tidak menunggu kereta, dengan jalan cepat setelah menikung dua jalanan mereka tiba

di tempat tujuan.

Pada sebuah jalanan berbatu yang bersih dan tidak begitu pendek, di sini hanya terdapat

enam bangunan gedung-gedung besar. Rumah kediaman Nyo Siong adalah bangunan nomor dua

dari kiri.

Tak perlu Thio siau-lim memperhatikan keadaan sekitarnya, ia cukup tahu bahwa bangunan

gedung-gedung besar di sekitar ini rata-rata adalah tempat tinggal hartawan-hartawan kaya raya

dari seluruh Kilam, malah celah-celah papan batu antara satu dengan yang lainnyapun disapu

dengan bersih. Tapi seorang berkedudukan seperti Nyo siong ini, seharusnya mendiami sebuah

bangunan tunggal yang menyendiri di luar kota.

Agaknya Leng Chiu-hun meraba jalan pikirannya, segera ia menjelaskan sambil tertawa:

“Walaupun guruku rada aneh dan suka menyendiri, tapi entah mengapa, justru berkukuh untuk

tinggal dalam kota, memang beliau tidak suka bicara dengan orang, tapi malah menyukai suara

percakapan orang.”

“Gurumu…. bukankah ini rumah ini tempat tinggal Nyo….”

“Suhu dan Nyo susiok tinggal bersama dalam satu gedung, pintu hitam pekarangan bagian

luar ternyata hanya dirapatkan saja. Leng Chiu-hun langsung mendorong pintu terus beranjak

masuk, pekarangan sepi dan tak terdengar suara orang.

Pelita di dalam ruang pendopo seharusnya ditambah minyak, ruang sedemikian besar hanya

disinari lampu yang remang-remang menjadikan suasana terasa seram dan mendebarkan jantung.

“Biasanya Nyo-susiok suka tidur pagi-pagi” demikian kata Leng Chiu-hun. “Begitu beliau tidur,

para pembantunya segera ngeloyor keluar diam-diam, terutama bila guruku tiada di rumah,

mereka semakin bertingkah.”

“Pelayan atau gendak masakah juga keluyuran keluar malam hari?”

“Dalam rumah ini selamanya tiada kacung dan babu”

Mereka berputar melewati ruang pendopo langsung menuju bilangan belakang. Keadaan di

sini lebih senyap, pada deretan kamar di sebelah kiri sana lapat-lapat terlihat cahaya api yang

menyorot keluar. Kata Leng Chiu-hun: “Aneh, apakah Nyo susiok malam ini belum tidur?”

Baru saja kaki melangkah hendak melewati deretan pohon mangga di tengah pekarangan

setetes air tiba-tiba jatuh menitik di atas pundaknya, tanpa sadar ia segera mengusap dengan

tangannya, cahaya api yang menyorot keluar dari jendela kebetulan menerangi tangannya, darah

segar, punggung tangannya ternyata berlepotan darah.

Dengan kaget Leng Chiu-hun angkat kepala, di atas dahan pohon mangga lapat-lapat seperti

terlihat seseorang sedang menggapai kepadanya. Sebat sekali ia enjot kaki melesat naik, secepat

kilat pula ia mencengkeram pergelangan tangan, namun hanya sebelah tangan orang yang

dipegangnya tiada yang lainnya, hanya tangan yang berlepotan darah.

Tak tertahan Leng Chiu-hun menjerit kaget: “Susiok, Nyo susiok!” tak ada jawaban dari dalam

kamar.

Seperti orang kemasukan setan segera ia lompat turun dan menerjang daun pintu menerobos

masuk ke dalam. Dilihatnya Nyo Siong rebah di atas ranjang seolah-olah sedang tidur lelap, hanya

batok kepalanya dan rambutnya yang ubanan yang berada di luar kemul yang menutupi seluruh

badannya. Tapi keadaan dalam kamar morat-marit, setiap benda berkisar dari tempatnya semula,

tiga peti kayu di pinggir ranjangpun sudah jungkir balik dan terbuka.

Tanpa banyak pikir Leng Chiu-hun memburu ke dekat ranjang dan tanganpun menyingkap

kemul tebal yang terbuat dari kain kapas.

Darah, badan yang berlepotan darah tanpa terlihat kaki dan tangan.

Gemetar seluruh badan Leng Chiu-hun seperti orang kedinginan, katanya seraya gemetar:

“Ngo-kui-hun-si, beginikah Ngo-kui-hun-si itu…..”

Bergegas ia putar badan dan menerjang keluar pula, sebuah tangan yang lain tergantung di

atas teras, darah masih menetes, kematian Nyo siong dengan badan terpotong-potong terang

berlangsung sebelum melebihi setengah jam.

Agaknya Thio Siau-lim pun amat kaget dan berdiri terlongong di tempatnya.

“Cu-soa-bun tiada dendam permusuhan dengan Ngo-kui, kenapa Hiat-sat-ngo-kui menurunkan

tangan jahatnya?”

“Kau…. darimana kau tahu kalau Hiat-sat-ngo-kui yang turun tangan?” tanya Thio Siau-lim.

“Ngo-kui-hun-si (lima setan membagi mayat) merupakan lambang mereka” desis Leng Chiuhun

dengan penuh dendam dan kebencian.

“Lambang kan biasanya bisa juga dipinjam orang lain untuk melakukan kejahatan”

Agaknya Leng Chiu-hun tidak mendengar ucapan Thio Siau-lim, kini ia mulai memeriksa dan

mengobrak-abrik pula semua barang-barang yang ada di dalam kamar.

“Apa pula yang kau cari? surat itu terang sudah hilang” ujar Thio Siau-lim.

Memang surat itu tiada di tempatnya, hilang tanpa bekas.

Semakin pucat raut muka Leng Chiu-hun, kelihatannya begitu menakutkan, mendadak orang

menubruk tiba menjambak baju Thio Siau-lim, teriaknya beringas: “Sebetulnya apa sangkut

pautmu dengan peristiwa ini?”

“Kalau ada sangkut pautnya, memangnya aku bisa berada di sini?”

Dengan melotot sekian saat Leng Chiu-hun deliki orang, pegangan tangannya semakin kendor

dan akhirnya terlepas, katanya dengan suara serak berat: “Tapi bagaimana kedatanganmu bisa

begini kebetulan?”

“Karena beberapa hari ini aku memang sedang sebal” sahut Thio Siau-lim tertawa getir, tibatiba

sorot matanya berputar katanya: “Kenapa kau tidak lihat ke kamar gurumu, mungkin sesuatu

dapat kau temukan di sana”

Leng Chiu-hun berpikir sebentar, pelita di angkatnya terus menuju bilik sebelah timur.

Pintunyapun tidak terkunci, tianglo Cu-soa-bun yang suka menyendiri ini ternyata tinggal di sebuah

kamar serba sederhana.

Di atas dinding cuma terdapat selembar gambar lukisan, bukan gambar pemandangan atau

hasil seni lukis dari karya pelukis kenamaan, namun hanya selembar gambar seorang perempuan

setengah badan, sedemikian hidup dan menakjubkan lukisan gambar ini. Jaman itu sulit dicari

gambar orang setengah badan. Tak terasa Thio Siau-lim meliriknya dua tiga kali ke arah gambar

itu, semakin dipandang semakin terasa perempuan dalam gambar sedemikian cantik jelita, sulit

dikatakan dengan kata-kata. Meskipun hanya selembar gambar lukisan saja, namun seolah-olah

mempunyai daya tarik yang tak bisa dilawan.

Tak tahan Thio Siau-lim memuji sambil menghela napas gegetun: “Tak nyana Subomu ini

ternyata seorang perempuan cantik luar biasa”

“Sampai sekarang guru masih jejaka” sahut Leng Chiu-hun dingin.

Thio Siau-lim tertegun: “O, kalau begitu tak heran kalau dia suka tinggal bersama Nyo

cianpwe, tidak heran pula di sini tidak pakai pelayan perempuan” mulutnya bicara sementara

dalam hati ia membatin: “sampai sekarang Sebun Jian masih jejaka? Kenapa pula dia

menggantung gambar perempuan cantik ini di dalam kamarnya? Siapa dan pernah apa

perempuan ini dengan dia?”

Mungkin gambar ini hanyalah lukisan biasa saja. Tapi lukisan biasa, kenapa pula bisa

digambar setengah badan?

Kini Thio Siau-lim sudah berada dalam kamar sebuah hotel, di luar jendela tampak tujuh

delapan laki-laki tinggi besar yang berikat pinggang kain merah tua sedang mondar-mandir

berjaga di sekeliling kamar.

Laki-laki ini selalu merubung dan membimbingnya kembali ke dalam kamarnya seolah-olah

pengawal pribadinya saja. Yang benar, mereka adalah anak buah yang diutus Leng Chiu-hun

untuk mengawasi gerak-geriknya.

Leng Chiu-hun sih tidak bertujuan jahat terhadapnya, cuma saja ia tidak rela dan penasaran

bila tiga ratus laksa tail itu terjatuh ketangan orang lain. Tentunya Thio Siau-lim sendiripun paham

akan seluk beluk ini. Tak tertahan ia tertawa geli, tawa riang yang mengandung arti.

Kalau dia benar-benar ingin melakukan sesuatu, dalam pandangannya kedelapan laki-laki ini

bolehlah dianggap delapan patung kayu belaka!

Ia padamkan pelita lalu melojoti seluruh pakaian sampai telanjang bulat terus rebah di atas

ranjang. Sedapat mungkin ia kendorkan kaki tangannya, kemul kapas yang bersih terasa empuk

dan kasar menggesek badan, rasanya sungguh nyaman dan nikmat sekali. Lama kelamaan

seluruh badannya sudah berhenti bergerak dan dalam keadaan ketenangan cuma otaknya saja

yang masih bekerja.

Mendadak genting di atas kamar berkeresek dan bergerak pelahan, cahaya rembulan yang

remang-remang menyorot masuk menerangi kamar yang gelap ini. Beberapa buah genteng sudah

bergeser dan dipindah dari tempatnya namun sedikipun tidak mengeluarkan suara yang

mengejutkan, agaknya penyatron ini adalah seorang ahli dalam perjalanan malam, gerak-gerik

kakinya cekatan dan hati-hati.

Kejap lain tampak sesosok bayangan orang selicin ikan menerobos masuk, kedua tangan

bergelantungan di atap rumah, menunggu sebentar setelah tidak mendengar sesuatu suara, lalu

seenteng daun ia melompat turun ke atas lantai.

Thio-Siau-lim tetap rebah tanpa bergerak, mata dipincingkan mengawasi gerak-gerik orang

dalam hati ia tertawa geli, kalau orang ini maling kecil, kalau dia berani datang kemari terang

bahwa kakek moyangnnya dulu memang berhutang jiwa kepada dirinya,

BERSAMBUNG JILID 3

Jilid 3

Di bawah penerangan sinar rembulan yang redup, tampak orang ini mengenakan kedok hitam

mengenakan pakaian hitan legam yang ketat membungkus potongan badannya yang padat dan

montok serta ramping, ternyata ia seorang gadis yang berpotongan menggiurkan.

Tangannya menggenggam sebilah Liu yap-to yang pendek dan ringan, sinar golok kemilau

ditimpah sinar rembulan yang remang-remang, sepasang matannya yang jeli dan menyolok antara

hitam dan putihnya sedang menatap orang yang rebah diatas ranjang tanpa berkedip.

Thio-siau-lim merasa amat lucu dan menarik. Memang amat menyenangkan. Gadis montok

yang menggiurkan, ternyata seorang pembunuh gelap pula. Tidak sedikit kejadian yang pernah

dialami Thio-Siau-lim, tapi belum pernah ada gadis menggiurkan yang coba membunuh dirinya,

baru pertama kali ini.

Kuatir membuat kaget dan takut pembunuh gelap ini, ia menggores semakin keras pura-pura

tidur nyenyak. Namun perempuan pembunuh ini agaknya tak ingin membunuh dia.

Dengan berjinjit-jinjit ia maju mendekat, pakaian Thio-Sia-lim yang bertumpuk dilantai

dijemputnya lalu dirogohnya kantong dan diperiksa isinya, ditimang-timangnya tumpukan lembaran

uang besar itu, lalu ia jejalkan kembali kedalam sakunya.

Jadi perempuan pembunuh inipun tidak bermaksud mencuri, kalau toh tidak ingin bunuh tidah

mencuri lagi, memangnya apa maksud kedatangannya?

Matanya celingukan kian kemari, dilihatnya peti kayu bercat hitam dibawah ranjang, segesit

kucing ia melompat kesana, sebelah tangannya dengan cekatan membuka tutup peti kayu.

Thio-Siau-lim bergerak seperti tiba-tiba terjaga dari impiannya, gumangnya: “Eh ada orang ya?

Siapa itu?”

Perempuan itu amat kaget seperti kuatir mengejutkan orang-orang diluar jendela itu. Namun ia

tidak bersuara, waktu perpaling kelihatan ia mengulum senyum geli, ternyata kedoknya sudah

hilang, sinar rembulan melalui lubang gebteng diatas kebetulan menyoroti mukanya, ternyata

memang cantik mempesona.

Thio-Siau-lim sengaja pentang lebar-lebar kedua matanya, dia tak bersuara.

Perempuan itu unjuk senyum lebar dan manis mesra menatapnya pula dengan pandangan

menarik jari-jari tangannya yang runcing halus pelan-pelan sudah merambati kancing-kancing

bajunya didepan dada, satu-persatu dia membuka pakaiannya.

“Kau…. kau ini….” Thio-Siao-lim melenggong.

Lekas perempuan itu angkat jari didepan mulutnya, menyuruhnya jangan bersuara, dengan

gemulai pinggannya meliuk gontai, pakaian ketat yang membungkus tubuhnya seketika melorot

jatuh kebawah. Kecuali pakaian hitam itu bagian dalamnya kosong plontos tanpa secarik

benangpun jua.

Cahaya rembulan seketika menyoroti seluruh badannya yang montok telanjang laksana

gading.

Serasa sesak napasnya Thio-Siau-lim, disaat ia terlongong, tiba-tiba terasa badan yang padat

kenyal, licin, dingin dan lembut laksana ular tahu-tahu menyusup masuk kedalam kemulnya.

Bau badannya mambawa harum sabun cendana yang semerbak, agaknya dia baru saja

mandi. Harum sabun yang wangi sedap baunya, tapi anahnya, waktu bau wangi ini terau dari

badannya, cukup membuat nafsu birahi seorang laki-laki sirna tanpa diketahui kemana perginya.

Badanya yang licin dan berminyak bagai ular sudah membelit badan Thio-Siau-lim.

Thio-siau-lim menggumang melonggo: “Tengah malam buta rata, memdadak ada seorang

gadis cantik, membuka polos pakaiannya, menyusup kedalam kemul, cerita macam ini mungkin

seorang pengarang cerita porno yang paling brutalpun takkan bisa menuliskannya seperti ini?”

Gadis itu rebah dipinggir telingannya, katanya berbisik sambil cekikikan geli: “Seorang laki-laki

ketiban rejeki sebesar ini, memangnya masih belum puas?”

“Apa kau ini siluman rase? Atau setan?”

“Ya, memang aku ini siluman rase, aku hendak mencekikmu sampai mati.”

Mendadak gemetar sekujur badan Thio-Siau-lim, katanya: “Bicara terus terang, hatiku takut

setengah mati!”

Gadis itu pelan-pelan mengelusnya, katanya tertawa genit: “Jangan takut, seumpama rase

menjadi siluman, dia tetap mempunyai ekor, coba kau raba pinggangku, apa ada ekornya tidak? ia

tarik tangan orang…..

“La…..lu, siapa kau sebenarnya?”

“Leng kongcu kuatir kau kesepian, sengaja mengutus aku kemari untuk menemani kau,

sekarang kau boleh lega hatilah?”

“Leng kongcu memang baik hati, kau tidak kalah baiknya, apapun yang kau inginkan, pasti

kuberikan.”

“Aneh, biasanya Leng-kongcu bersikap dingin kaku, kenapa terhadap kau sebaliknya?

Memangnya….ada sesuatu permintaan apa-apa terhadapmu?”

“Em…”

Gadis itu merapatkan badannya, reaksinya sungguh amat mendebarkan jantung, katannya:

“Orang baik, katakan kepadaku apakah yang sedang kau rundingkan dengan dia?”

“Ai….”

Meliuk-liuk pinggang sigadis, katannya berbisik: “Malam ini agaknya Leng-kongcu amat sibuk,

apakah terjadi sesuatu?… Tiga orang Tiang-lo yang bertempat tinggal dirumah Ciangbunjin itu

kenapa tidak tampak bayangannya?”

Agaknya gadis itu jadi uring-uringan, katanya aleman sambil mendorong dada orang: “Diajak

bicara diam saja, baik! aku tidak mau hiraukan kau lagi.”

“Sekarang bukan saatnya untuk bicara”

“Tapi sekarang kau harus….” belum lenyap suaranya mendadak si gadis rasakan seluruh

badan kejang linu, kaki tangannya tak mampu bergerak lagi. Baru sekarang dia betul-betul kaget,

teriaknya tertawa: “Kau…. apa yang kau lakukan?”

Tiba-tiba Thio-Siau-lim bangun berduduk katanya sambil berseri tawa mengawasinya: “Kau

beritahu aku dulu, siapa kau? Setelah itu baru kejelaskan tentang diriku.”

“Bukankah tadi sudah kuberitahu, Leng kongcu yang suruh aku kemari?”

“Orang yang diutus Leng-kongcu, mana mungkin merambat turun dari atas genteng.”

Biji mata yang indah itu kini menyorotkan rasa ketakutan serunya: “Kau…. jadi kau sudah

melihatnya tadi?”

“Harus disayangkan, tak sengaja aku tadi melihatnya.”

“Kau, kenapa tadi kau tidak bersuara?”

“Kau kan tidak suruh aku bicara? Apalagi aku hanya tidak senang rahasiaku diselidiki orang

tetapi gadis jelita handak buka baju telanjang dihadapanku, memangnya amat kebetulan malah

bagi aku.”

“Kau…… kau bangsat bangor ini” maki si gadis mendesis gusar.

“Sekarang, tibalah saatnya kau mengaku terus terang.”

Gadis itu melotot matanya, suaranya serak saking gusar” “Ingin rasanya kubunuh kau!”

“Tidak mau bicara?”

Berkeriut gigi si gadis, “Kalau tidak kau bunuh aku, kelak pasti akan menyesal”

“Baik, kau tidak mau bicara, orang lain pasti bisa memaksamu bicara” mendadak ia gulung

tubuh orang dengan kemul kapas itu terus berteriak-teriak keras: “Tangkap maling….” tangkap

mata-mata!”

keruan pucat pias selembar muka sigadis, sungguh mimpipun ia tidak menyangka orang tega

hati, memperlakukan dirinya sekeji ini.

Sekejap saja orang diluar pintu sudah menerjang masuk, bentaknya bersama: “Dimana matamatanya?”

Thio Siau lim menuding gadis diatas ranjang katanya: “Tuh disana, lekas bawa ketempat Leng

kongcu kompes keterangan asal usulnya!”

Kaget dan girang pula para laki-laki itu, namun mereka toh menjingjing gulungan kemul kapas

itu beramai-ramai.

Badan si gadis tak mampu bergerak, namun mulutnya bisa mencaci maki. “Kau binatang, kau

anjing, kau…. akan modar tanpa liang kubur….”

Pelan-pelan Thio-Siau-lim menggaruk hidungnnya katanya menggumang: “Ada orang anggap

aku hidung belang, aku bisa menerimanya tapi kalau ada orang hendak anggap aku ini seorang

pikun, terpaksa aku harus memberi hajaran kepadannya.

Lin-yap-to itu masih menggeletak diatas lantai. Thio-Siau-lim menjemputnya dan ditimangtimang

dan diawasi, katannya mengerut kening: “Jadi perempuan ini orang Thian Sing pang?

Bagaimana mungkin Thian Sing pang berada sisini.” sesaat lamanya ia menerawang lalu ia

kenakan pakaiannya, sedikit pundaknya terangkat, tiba-tiba badannya meluncur keluar dari lobang

diatas genteng.

Sesaat lamanya ia mendekam diatas genteng, setelah meneliti keadaan sekelilingnya

mulutnya menggumam sendiri: “Dia datang dari sebelah timur, jadi Thian Siang pang berdiam

disebelah timur.” segera ia kembangkan ilmu entengi tubuh dari wuwungan rumah kewuwungan

rumah yang lain, seperti mega yang mengembang berada dibawah kakinya angin malam nan

dingin menghembus lewat membasahi mukanya.

Bentuk wuwungan satu sama lain berbeda, demikian penghuni dari rumah-rumah dibawah

sama juga, terdiri dari orang-orang yang berlainan pula sifat dan kesenangannya, dengan aneka

ragam kehidupan juga, namun siapa pula yang dapat membandingi dirinya hidup dalam kehidupan

yang aneka ragam itu.

Malam semakin berlarut sepekat tabir malam suasanapun lelap rumah-rumah itu sedang

tenggelam dalam kegelapan, kadang kala terdengar jerit tangisan orok-orok yang terjaga ditengah

malam atau suara senda gurau suami istri yang bermain diatas ranjang……

Kecuali suara-suara riang gembira ini, tentunya ada kalanya terdengar juga suara cacimaki

dari mulut yang penasaran. Suara kecing menubruk tikus. Suara ngorok laki-laki gendut yang tidur

nyenyak, serta dadu yang jatuh kedalam mangkok dengan suara ketokan yang nyaring.

Diwaktu malam berlalu diatas wuwungan rumah orang sungguh merupakan suatu kesenangan

yang lain dari pada yang lain, terasa keunggulan yang tak mungkin dibandingi. Perasaan seperti

inilah yang paling dia sukai.

Tiba-tiba dilihatnya cahaya lampu menyorot terang dipekarangan didepan sana namun

ditempat gelap dimana sorot lampu tidak mencapainya, seakan-akan tampak kemulau sinar golok

dan bayangan orang yang mendekam disana.

Tiba-tiba Thio Siau-lim hentikan luncuran badannya, gumangnya: “Mungkin disinilah

tempatnya.” sebat sekali ia menyembunyikan diri dibelakang wuwungan, sesaat lamanya ia

meneliti keadaan sekitarnya. Dilihatnya seorang berjalan keluar dari dalam rumah, katannya

setelah berludah: “Apa Sam-kohnio belum kembali?”

Laki-laki tegap ditempat gelap dipojokan sana segera menyahut: “Belum kelihatan”

Orang itu menggeliat pinggangnya, katannya ragu ragu: “aneh mungkinkah terjadi sesuatu?”

“Mengandalkan kecerdikan Sam-moay, yakin takkan terjadi apa-apa.”

Mendadak Thio Siau-lim melemparkan Liu-yap-to itu kebawah seraya menbentak: “Sammoaymu

itu sudah terjatuh ke Pang kita, kalian tunggu saja akibatnya!” “Trap!” Liu-yap-to itu

menancap didaun pintu!

Dari dalam rumah beruntun melesat bayangan orang laksana pedang yang disampitkan, ia

mengenakan pakaian ketat warna hitam, tangannya menggenggam sebatang pesang yang

kemilau memancarkan cahaya hijau.

Melihat gerakan orang, kembali Thio Siau-lam dibuat kaget. “Kepandaian orang ini agaknya

lebih tinggi dari Chit-sing-toh-hun Cou Yu-cin. dari mana Thian-sing-pang mempunyai tokoh kosen

tersenbunyi seperti dia ini?”

Seenteng asap cepat sekali ia melesat pergi, bayangan hitam itupun mengejar kencang dan

ketat dibelakangnya. Sengaja dia memperlambat larinya sambil berpaling kebelakang.

Dibawah penerangan sinar sembulan, dilihatnya muka laki-laki ini seperti mayat hidup. Tapi

sepasang matannya yang sipit laksana bintang kejora yang menyorot terang, selintas pandang

lebih menakutkan dari kilauan pandangannya.

Baru saja Thio Siau lim menghentikan langkahnya, lelaki baju hitam itu sudah menerjang tiba,

dimana sinar pedang menari berterbangan. “Sret, sret, sret” berputaran beberapa kali, dalam

sekejap saja orang sudah menusuk tiga kali.

Ketiga tusukan pedang ini bukan saja cepat lagi tepat, sasaran yang ditusuk tak lepas dari

tempat-tempat mematikan dibadan Thio Siau-lim, mungkin ilmu pedangnya belum boleh dikatakan

sudah mencapai puncak kesempurnaannya, namun serangannya amat ganas dang telengas,

jarang dicari tandingan sekeji seperti dia ini dalam dunia persilatan. Sorot matanya memancarkan

kebencian, kekejaman dan sinar buas seperti srigala kelaparan, seakan-akan hobbynya yang

terbesar selama hidup ini adalah membunuh orang, tujuan hidupnyapun demi membunuh orang.

Gaya permainan pedangnyapun amat aneh, sikutnya keatas, kelihatannya ia cuma

mengandalkan kekuatan pergelangan tangan untuk menusukkan pedang. Bila saatnya tidak

diperlukan, selamanya tidak pernah dia menyia-nyiakan sedikitpun tenaganya.

Melihat raut muka orang seperti mayat hidup, menyaksikan permainan dan gaya serangan

pedang yang aneh dan lucu ini, mendadak tergerak hati Thio-Siau-lim, teringat olehnya akan

seseorang.

Dengan lincah dan cara yang aneh sekali pergelangan tangan orang itu bergerak dengan gesit

dan enteng, sinar pedang menusuk keluar dari lengan kanannya, seperti percikan kembang api

layaknya, tiada seorangpun yang mendapat meneliti gerak perubahannya.

Dalam selintasan kilat beruntun ia menusuk tiga belas kali, sementara Thio-Siau-lim telah

melampaui empat wuwungan rumah, sinar pedang laksana ular jahat membelit badanya, namun

sejauh itu tidak berhasil menyentuh ujung bajunyapun.

Itulah gaya gerakan pedang yang lebih cepat dari sambaran kilat, namun gerakan badan yang

jauh lebih cepat pula dari kilat dipamerkan oleh Thio-Siau-lim. Waktu tusukan keempat belas

dilancarkan mendadak tersendat terhenti satu kaki didepan tenggorokan Thio-Siau-lim.

Gerak tusukan pedangnya boleh dikatakan teramat cepat dan deras, batang pedangnyapun

amat wajar dan enteng saja, batang pedangnya bergeming seilipun tidak, gerakan badan Thio-

Siau-lim yang meluncur secepat kilat itu mendadak berdiri dihadapan muka, seolah olah samasama

membeku ditengah udara.

Terpancar sorot aneh dari biji mata dari laki baju hitam ini, katanya tegas: “Kau bukam murid

Co-soa-bun, lagu suaranyapun ganjil dan lain dari pada yang lain, dingin, rendah berat, serak,

pendek, kedengarannya bukan kata-kata yang keluar dari tenggorokan manusia, walaupun

suaranya rendah datar, namun membawa daya kekuatan yang menusuk sanubari orang, sehingga

orang sulit melupakan setiap patah kata yang pernah dia ucapkan.

Thio Siau-lim tertawa, katanya: “Darimana kau tahu kalau aku bukan murid Cu-soa-bun?”

“Murid Cu-soa-bun tiada seorangpun yang bisa meluputkan diri dari tiga belas tusukan

pedangku.”

“Sudah tentu kau bukan orang Thian sing-pang.”

“Tidak salah!” sahut laki-laki baju hitam. Lenyap suaranya, pedangnya yang terhenti ditengah

jalan mendadak menusuk datang pula. Betapa cepat tusukan ini sungguh luar biasa, begitu

pedang menusuk. hakikatnya jarang dicari orang yang dapat meluputkan diri dari tusukan pedang

yang hanya berjarak satu kaku saja.

Tapi hebat memang kepandaian Thio siau-lim, sebelum pedang orang bergerak, tahu-tahu ia

sudah berkelebat mundur tiga kaki, walau orang hendak menusuk tenggorokan Thio Siaulim,

sedikitpun ia tidak jadi marah, malah katanya tertawa: “Kalau kau toh bukam murid Thian-sing

pang, akupun bukan murid Cu soa bun, kau dan aku boleh dikata selamanya tidak saling kenal,

kenapa kau harus membunuh aku?”

Ucapannya belum cukup tiga puluh kata namun dilontarkan dengan cepat sekali, namun lakilaki

baju hitam sudah menusukkan tiga puluh enam serangan pedangnya pula, gaya serangan

yang ganas lebih keji. Biasanya dia tidak suka banyak bicara, karena sebelum ia bicara pedang

ditangannya sudah memberikan jawaban yang sekak-aos. Mati! Itulah jawaban yang biasa ia

berikan kepada orang.

“Ilmu pedang kilat, ilmu pedang yang ganas keji, memang tidak malu dijuluki pedang cepat

nomor satu dari Tionggoan…. hebat memang pedang menyapu sukma tanpa bayangan setitik

merah dari Tionggoan.”

Tiada jawaban, setelah tiga puluh enam tusukan, tigapuluh enam tusukan melandai pula

mengancam tenggorokannya.

Selama itu Thio Siau-lim tidak pernah balas menyerang, mukanya mengulum senyum simpul,

katanya: “Kalau kau ingin pinjam tangan membunuh orang, carilah It-tiam-ang(setitik merah)….

kabar di Kangouw, masa ada yang mau mengeluarkan harga tinggi, seumpama teman baik atau

darah daging sendiri, kaupun hendak membunuhnya, apa benar kabar yang kudengar ini?” habis

kata katanya ini, tiga puluh tusukan pedang yang ketiga kalinya sudah dilontarkan pula.

Kata Thio Siau-lim menghela napas: “sudah tentu lama kudengar perihal sepak terjangmu,

sayang kau tidak mau buka suara, sebetulnya ingin aku mengobrol dengan kau, bukankah ngobrol

lebih nikmat dan aman dari pada mengayun golok mempertaruhkan jiwa menimbulkan banjil

darah.”

Pedang panjang It tiam-ang mendadak berhenti pula, sorot matanya yang tajam menyedot

sukma orang kembali menatap Thio Siau lim, mendadak ia menyeringai tawa menunjukkan baris

giginya yang putih, katanya: “Maling kampiun suka mengasih sukma, malam hari suka

meninggalkan bau harum….jadi kau ini Coh Liu-hiang!”

Kali ini ganti Thio Siau lim yang melengak kaget, katanya tertawa geli: “Siapa yang kau

maksud Coh Liu-hiang itu?”

“Kecuali maling kampiun Coh Liu-hiang yang meluputkan diri diri dari seratus empat puluh

empat tusukan pedangku tanpa membalas, masih tetap tersenyum lagi, kukira sukar dicari

keduanya dikolong langit.”

“Terkaanmu memang benar” Thio Siau-lim tertawa besar. “Memang aku tidak senang

menggunakan kekerasan, bunuh membunuh mengalirkan darah, merupakan perbuatan goblok

mannusia yang utama.”

Berkilat sorot mata It tiam-ang, tanyanya: “Selamanya kau tidak pernah membunuh orang?”

“Kau tidak percaya?”

“Kau selamanya tidak pernah membunuh orang, dari mana kau bisa tahu betapa nikmatnya

membunuh orang?”

“selamanya kau belum pernah terbunuh, tentunya belum bernah merasakan betapa derita jiwa

seseorang yang dibunuh, kalau seseorang membangun kesenangan hati sendiri diatas

kesengsaraan orang lain, orang macam itu kukira tidak berguna lagi.”

Kembali terpancar percikan api yang menyala dari biji mata It-tiam ang. Belum lagi ia bersuara,

tiba-tiba terdengar seseorang membentak: “It-tiam-ang, hayo serang! Kenapa kau tidak turun

tangan?”

Ternyata baru sekarang murid-murid Thian sing-pang menyusul tiba, empat lima orang berdiri

diatas wuwungan empat tombak jauhnya, hanya seorang laki-laki kekar yang melompat maju

berdiri lebih dekat, serunya sambil benting kaki:

“Kami keluar uang mengundang kau, bukan mengundangmu untuk putar bacot melulu.”

It-tiam-ang melirikpun tidak kearah orang itu, malah Thio-Siau-lim yang unjuk senyum,

katanya: “Mengandalkan ilmu pedangnya yang hebat itu, entah berapa uang yang perakmu untuk

membeli sekali tusukan pedangnya?”

Laki-laki tegap berbaju sutra itu tertawa dingin, jengeknya: “Keluar dua ketip perak saja sudah

terlalu banyak, orang suka mengagulkan bagaiman lihaynya It-tiam-ang, siapa tahu kiranya dia

hanyalah seorang lemah yang tidak berani bertindak.”

Baru saja kata kata “lemah” diucapkan, sinar pedang mendadak berkelebat, belum lagi

mengutarakan jeritan suaranya. Laki-laki itu sudah terjungkal jatuh. Thian-toh-hiat

ditenggorokannya berlobang dalam mengeluarkan setitik darah.

Cuma setitik darah segar.

Dibawah penerangan sinar bintang, tampak kulit daging mukanya berkerut-kerut kejang,

selembar mukanya dihiasi butiran keringat sebesar biji kacang, meski sudah kerahkan setaker

tenaganya, suaranya tak terdengar pula dari lehernya. namun terdengar dari napasnya yang ngosngosan

seperti binatang hendak disembelih.

It-tiam-ang, setitik merah yang teramat lihay, sampai membunuh orangpun tak sudi

mengeluarkan banyak tenaga, kebetulan telah menusuk tempat yang mematikan, sekali tusuk

kebetulan menamatkan jiwa orang, setengah milipun pedang itu tidak menusuknya lebih dalam.

Pelan pelan ujung pedang It-tiam-ang terjulur kebawah. ujung pedangnyapun terdapat setitik

darah, dengan sinar sorot matanya menatap titik darah itu, tanpa angkat kepala, katanya kalem:

“Orang yang hidup, tiada seorangpun yang bisa memakiku sebagai orang lemah.

Derit napas ngos ngosan lama kelamaan semakin lemah, raut muka murid Thian sing-pang itu

sudah pucat tak berdarah lagi, akhirnya napaspun berhenti.

Kata Thio-Siau-lim menengadah menghela napas: “Bagus benar membunuh tanpa kelihatan

darah, setitik merah diujung pedang.” pelan pelan ia merogoh keluar secarik sapu tangan sutera

putih, lalu ditutupkan diatas muka laki laki itu.

Baru sekarang para murid Thian sing pang berkoak mencaci maki: “It-tiam-ang, kau.” biasanya

mengutamakan keadilan dan kesetiaan, kenapa hari ini….”

It-tiam-ang segera menukas dengan kasar: “Aku hanya menjual pedang, bukan orang

siapapun bila dia menghina aku, maka dia harus mati!”

Murid-murid Thian sing pang banting kaki dan mendamprat: “Kita sewa kau untuk membunuh

orang, kenapa kau tidak berani turun tangan kepadanya?”

Sekilas It-tiam-ang melirik kepada Thio Siau-lim, katanya kalem: “Kalian minta aku untuk

menghadapi Cu-soa-pang saja, orang ini sebaliknya bukan murid Cu-soa-pang” “Sret” pedang

tersarung kembali kedalam serangkanya, sigap sekali ia melompat turun kebawah terus tinggal

pergi.

Sungguh gusar dan kaget murid-murid Thian sing-pang, mendadak seorang membentak:

“Orang inilah yang semalam sekongkol dengan Leng Chiu-hun, orang ini pula yang tadi di cari oleh

Sam kohnio”

“Benar, sahut Thio-Siau-lim. “Kalau sekarang kalian hendak memukul dia, lekas kalian susul

ke Kwi-gi-tong,…” belum lenyap suaranya tiba-tiba berkelebat, waktu para murid Thian-sing-pang

menubruk datang, bayanganya sudah jauh puluhan tombak.

Lima belas lentera yang terbuat dari tembaga, oleh tangan ahli disusun sedemikian rupa,

menyerupai bentuk budur, sebelah atapnya ditutup oleh kap lampu yang terbuat dari tembaga

bundar berlobang-lobang pula, maka sorot lampu terkumpul pada satu sasaran lobang sehingga

memancarkan cahaya terang yang menyolok mata

Bentuk lampu yang aneh ini sebetulnya ditaruh diatas meja judi yang beralas kain beludru

warna hijau, namun meja judi panjang lebar dan besar itu, kini digunakan sebagai tempat kompes

oleh Leng Chiu-hun. Ternyata gadis yang digulung kemul kapas oleh Thio Siau-lim itu terikat

kencang diatas meja kompes itu, sorot lampu yang terang itu tertuju kemukanya yang pucat dan

cantik itu.

Kedua matanya melotot lebar, kelopak matanya membesar bundar, semangatnya runtuk dan

loyo seolah-olah dalam keadaan tidak sadar, terdengar mulutnya sedang kumat-kamit

menggumam: “Aku she Sim, bernama San-koh…, aku she Sim….bernama San-koh…. aku murid

Thian sing-pang… aku murid Thian-sing-pang,…”

Leng Chiu-hun bercokol diatas kursi besar dipinggir meja judi itu mukanya kaku dan membeku,

sedikitpun tidak menunjukkan perasaan, cuma sorot matanya menyurutkan senyum ejek yang keji.

Baru saja Thio Siau-lim melangkah masuk segera menggeleng kepala dan katanya menghela

napas: “Serigala betina yang licik ini, agaknya berubah menjadi domba yang jinak. Apa sekarang

dia sudah mau buka mulut?”

Leng Chiu-hun tertawa tawar, ujarnya “Perempuan yang lahirnya keras dan kukuh

bahwasanya terkadang melempem dan tak punya pendirian, seseorang bila ingin perempuan

menyingkap rahasianya, tentunya laki-laki itu seorang pikun”

“Urusan yang berbahaya seperti ini, memang tidak cocok dilaksanakan oleh kaum hawa,

didalam dapur atau dipinggir ranjang barulah tempat yang cocok bagi mereka. Sayang perempuan

yang pintar, justru tidak paham akan teori ini.”

“Thio-heng masih ingin tanya apa kepadanya?” tanya Leng Chiu-hun tertawa sadis, matanya

melirik kepada Thio Siau-lim, katanya pula: “Seumpama sekarang kau bertanya dulu dia

mempunyai berapa gendak, pasti dia akan menjelaskannya.”

Thio Siau-lim batuk-batuk kering, ia maju mendekat serta membungkuk mengawasi Sim-Sankoh,

katanya: “Apa kau masih kenal aku?”

Dengan lemah dan lesu Sim Sam koh membuka kelopak matannya, mendadak ia tertawa

cekikikan, sahutnya: “Tentu aku masih kenal kau, kau adalah seorang kekasihku, yang paling

memberi kenikmatan kepadaku, tapi kau adalah bajingan, seekor binatang….”

Leng-Chiu-hun tertawa terbahak-bahak, serunya: “Bisa dimaki sebagai binatang oleh

perempuan seperti ini, Thio-heng tentunya kau memang seorang akhli yang jempolan dalam

bidang itu. “Binatang” dimulut perempuan ada kalanya mempunyai makna yang jauh lebih berarti.”

Dengan tertawa kecut Thio Siau-lim meraba hidungnya, tanyanya pula: “Kenapa kau hendak

menyelidiki rahasiaku?”

Sim San-koh menjawab: “Karena gerak-gerikmu waktu mencari Leng Chiu hun amat

mencurigakan, entah rahasia apa yang sedang kalian rundingkan?”

“Memangnya sepak terjangku ini ada sangkut pautnya dengan fihak Thian-sing-pang kalian?”

“Tentu ada sangkut pautnya, kali ini Thian-sing-pang meluruk ke Kilam, tujuannya memang

hendak mencari Cu-soa-pang, Leng Chiu-hun, justru seorang murid Cu-soa-pang yang

mempunyai kekuasaan penting.”

Leng Chiu-hun terkekeh ‘tawa’, selanya “Cu-soa-bun biasanya tiada bermusuhan dengan

Thian-sing-pang, kenapa Thian-sing-pang hendak mecari gara-gara?”

Sim-san-koh menjelaskan: “Karena Thian-sing-pang Pangcu Chit-sing-toh-hun Coa Yucin

mendadak hilang, sebelum dia berangkat hendak mencari Sat-jiu-eng Se-bun Jiang dari Cu-soabun.”

Berkilat mata Thio Siau-lim tanyanya “Tahukah kau untuk apa dia mencari Sebun Jian?”

“Tidak tahu.”

“Apakah Co-yu cin biasanya ada ikatan persahabatan dengan Sebun Jian?”

“Selamanya tiada hubungan sama sekali”

“Tahukah kau bahwa Sebun Jian sekarang sudah menghilang?”

“Tidak tahu.”

Semakin kencang kerut alis Thio Siau-lim, agaknya dia sedang memeras otak memikirkan

persoalan pelik.

Mendadak Leng-Chiu-hun membentak bengis:

“Peristiwa ngeri yang terjadi dalam perguruan kita, apa ada sangkut pautnya dengan Thian

sing-pang?”

“Peristiwa berdarah apa. Sedikitpun aku tidak tahu!”

Leng Chiu-hun mengerling kearah Thio Siau-lim. Kata Thio Siau-lim: “Sebelum Cu Yu cin

keluar pintu, apakah dia pernah menerima sepucuk surat?”

Sim-San-koh berpikir sebentar, sahutnya: “Ya, tidak salah!”

Bersinar mata Thio Siau-lim, tanyanya: “Tahukah kau dimana surat itu sekarang disimpan?”

Kembali Sim Sin-koh berpikir dulu baru menjawab: “Ciangbujin menyerahkannya ke pada Jisuheng.”

“Siapa suhengmu?”

“Thian jiang sing Song Kang.”

“Dimana dia sekarang?”

“Dia masih di Jiciu mencari derma untuk membayar It-tiam-ang, malam ini pasti dia sudah

menyusul datang.”

“Tiong goan It-tiam-ang?” seru Leng Chiu-hun kaget dan tersirap darahnya. “Apakah

pembunuh bayaran yang berdarah dinging itu? Kenapa Thian sing-pang sudi memberi bayaran

mahal kepadanya?”

Sim-san-koh tertawa kaku, katanya: “Karena kami harus menghadapi Cu-soa-bun kalian.

Jikalau terbukti kalian ada membunuh Ciangbujin kita, maka tugasnya adalah membunuh kalian

satu-persatu sampai habis!”

Raut muka Leng Chiu-hun yang pucat semakin memutih tak berdarah, jari-jari tangannya yang

runcing halus, tak henti-hentinya menggosok gagang golok dipinggir pinggangnya, tanyanya:

“Berapakah upah yang kalian berikan kepadanya?”

“Satu laksa tail, setiap kepala orang yang dibunuhnya ditambah satu ribu tail bila berhasil

membunuh kau Leng Chiu-hun, nilainya adalah lima ribu tail!”

Seketika Leng Chiu terloloh-loloh seperti orang sinting, katanya: “Bagus, baru sekarang aku

tahu bahwa jiwaku ternyata dinilai lebih mahal dari orang lain, tetapi lima ribu tail bukan jumlah

yang banyak, aku malah bisa membayar dia selaksa tail…….atau dua laksa tail.”

“It-tiam-heng biasanya mengutamakan kesetiaan dan dapat dipercaya, asal dia sudah

menerima kontrak kami, seumpama kau berani membayar sepuluh lipat dari upah yang kami

berikan, dia tidak akan sudi menerimannya.”

Tawa Leng Chiu-hun tiba-tiba terhenti, jari-jarinya menggenggam kencang gagang goloknya,

matanya tertuju kelaur jendela, seakan akan takut It-tiam-ang yang serba misterius dan

menakutkan itu sembarang waktu akan menyerang masuk.

Seperti orang linglung Sim San-koh tertawa memandang Thio Siau-lim, katanya: “Sebetulnya

siapa namamu? Seharusnya kaulah yang menggunakan nama Thian Jiang-sing, Ji suhengku

meski bergelar Thian jiang sing mana dia berbadab kekar dan kuat seperti kau?”

Thio Siau-lim ulurkan jarinya menotok Hia-to tidurnya, katanya menggumang: “Anak

perempuan tidak boleh banyak bicara. Kalau berubah menjadi perempuan cerewet, mungkin kau

tidak laku kawin. Perempuan yang tidak payu (laku) kawain, selamanya tidak sudi aku melihatnya

dalam dunia ini jikalau tiada perempuan yang tidak payu kawain, persoalan buruk tentu takkan

sebanyak ini”

o0o

SIM SAN KOH akhirnya tidur dengan nyenyak.

Mata Leng Chiu-hun masih menatap keluar jendela, mulutnya komat-kamit: “Tionggoan It-tiamang….

sampai dimanakah kecepatan perdangnya? Benarkan dia sejahat dan keji seperti yang

tersiar diluaran? Memangnya dia benar.”

“Leng-heng tidak perlu banyak pikiran” tukas Thio Siau lim “Yang terang kau segera akan

berhadapan dengan dia!”

Tiba-tiba Leng Chiu-hun bejingkrak bangun seperti disengat kala, teriaknya: “Segera dia akan

datang?”

Kalau dia ingin datang tentunya sudah datang

Jari Leng Chiu-hun yang menggenggam gagang golok sudah memutih kencang mendadak ia

menggebrak meja, serunya keras: “Baik, biar dia datang! Seumpama maling kampiun Coh Liu

Hiang datang juga, belum tentu aku gentar terhadapnya memangnya kenapa aku harus jeri

menghadapi Tionggoan It tiam ang?”

Thio Siau lim tersenyum simpul: “Apakah Coh Liu-hiang lebih menakutkan dari Tionggoan Ittiam-

ang?”

“Dalam kolong langit ini, siapa pula yang lebih menakutkan dari Coh Liu-hiang?”

“Menrut apa yang kutahu, sedikitpun Coh Liu-hiang tidak perlu dibuat takut, bahwasanya dia

seorang bijaksana, bajik dan baik hati, mungkin tiada orang yang lebih baik dalam dunia ini kecuali

dia.”

Sungguh menggelikan…… sungguh aku belum pernah dengar kata-kata lucu yang

menggelikan seperti ini, seumpama Coh Liu-hiang sendiri mendengar ucapanmu, mingkin giginya

akan protol saking geli.

Thio Siau-lim menghela napas katanya tertawa getir: “Manusia, memang amat aneh, ada

kalanya dia lebih percaya obrolan orang lain yang bohong malah tidak percaya omongan jujur”

Sekonyong-konyong, genteng diatas ruang pendopo itu berderak.

Gelak tawa Leng Chiu-hun seketika sirap seluruh badannya seketika mengejang tegang

laksana pelor yang dipasang busur dan dijepretkan, badanya melenting kepinggir jendela, serunya

lantang: “Sahabat diluar sudah tiba Kwigi-tong, mari silahkan turut!”

Sementara Thio Siau-lim pelan-pelan membuka pintu, berjalan keluar pelan-pelan, katanya

tertawa: “Kalau kalian kemari hendak bekelahi silahkan cari dia, jikalau ingin mengadu untung,

Cayhe malah melayani.”

Luar gelap pekat hanya disinari bintang-bintang kelap-kelip, namun kelihatan diatas atap

rumah berjejer bayangan orang yang berkumpul menjadi satu, agaknya sedang merundingkan

sesuatu, lalu melompat lima orang laki-laki, namun seorang lagi sedang berdiri dipinggir atap sana

sambil menggendong pedang, sikapnya sangat acuh tak acuh seperti tidak terjadi apa-apa, namun

sepasang matanya laksana mata srigala memancarkan sinar terang, dikegelapan malam, Thio

Siau-lim melihat jelas orang yang itu adalah Tionggoan It-tiam-ang.”

Salah seorang laki-laki yang turun lebih dulu berpakaian kencang, selebar mukanya jambang

bauk, namun ukuran badannya yang kurus kering tidak setimpal dengan jenggot kasarnya itu,

diantara kelima orang ini Gingkangnya jauh lebih tinggi dari empat yang lain, begitu menginjak

bumi dengan tanjam segera ia menatap Thio Siau-lim, katanya bersoya: “Apakah tuan yang

menjadi majikan rumah ini?” tampak tapak tangannya terangkap dibagian luar, pada jari tengah

dan jari tak bernama masing-masing mengenakan tiga cincin baja warna emas hitam.

Thio Siau-lim tertawa, sapanya: “Apakah tuan ini Thian jing-sin Song Kang?”

“Ya” sahut laki-laki jambang bauk.

Thio Siau-lim menyingkir kesamping katannya tertawa: “Majikan dari rumah ini sudah

menunggu didalam, silahkan!”

Leng Chiu-hun kembali duduk diatas kursi besar dipinggir meja judi itu. Golok panjangnya yang

berkilau sudah terlolos keluar, ujungnya mengancam leher Sim San-koh, dengan dingin ia sambut

kedatangan Song Kang katanya sinis: “Sungguh kebetulan kedatangan Song jisiansing, aku

berhasil menangkap seorang maling perempuan, kalau Song jisiansing ada minat, silahkan tampil

kedepan untuk mengompes keterangan bersama.

Song Kang berdiri membelakangi pintu, raut wajahnya yang bundar membeku besi itu kini

sudah melar menjadi warna abu-abu, entah dia harus menerjang maju melabrak orang ataukah

bertindak menurut gelagat. Sulit dia mengambil keputusan.

Leng Chiu-hun gelak-gelak ujarnya: “Song jisiansing apakah pakaianmu terlalu sempit,

menahan napas sampai merah padam mukamu agaknya kau harus mencari tukang jahit yang lain,

bolehlah Cayhe perkenalkan seorang tukang jahit yang pandai kepada Song jisiansing.”

Murid-murid Thian-siang-pang berings gusar, serempak mereka menyerbu masuk. Tiba-tiba

Song Kang membalikkan tapak tangan ia pukul terjungkir keluar pintu seorang yang menerjang

paling depan, seperti tidak terjadi apa-apa lekas ia rangkap tangan dan berkata dengan tawa

dipaksakan: “Ini…kukira terjadi salah paham.”

“Salah paham?” Leng Chiu-hun angkat alinya.

“Orang yang terancam diujung golok Leng kongcu adalah Sunoyku.”

“Wah, aku bertindak kurang hormat malah kalau Sumoymu suka memberi tahu asal-usulnya,

mana berani Cayhe bertindak kurang ajar” Mulutnya bicara sungkan, namun ujung goloknya tetap

mengancam dileher Sim San-koh, sedikitpun tiada maksud membebaskan tawanannya.

Kelihatanya betapa prihatin dan gugup pada roman muka Song Kang, katanya pula dengan

tertawa dipaksakan: “Kalau saudara sudi membebaskan Sumoyku, Pang kami akan berterima

kasih dan hutang budi.”

“Hubungan antara laki perempuan, jikalau sampai keliwat batas, memang sukar mengelabui

mata orang lain.” ujar Leng Chiu-hun tertawa besar.

Akhirnya berubah juga air muka Song Kang sentaknya: “Apa katamu?”

“Aku berkata demi Sumoymu, yang romantis ini, Suheng sendiri sudah kulupakan.” demikian

olok Leng Chiu-hun.

Semakin merah dan padam raut muka Song Kang, katanya tersendat:

“Sumoyku……..Suheng….”

Leng Chiu-hun mendadak berjingkrak berdiri, bentaknya bengis: “Seorang laki-laki bicara terus

terang, biar aku jelaskan kepadamu persetan dengan mati hidup Cou Yu-cin atau kemana dia

telah pergi, Cu soa-hun tidak pernah tahu menahu, tentang Sumoymu ini, kau ingin membawanya

pergi, kukira tidak sedemikian gampang.”

Song Kang mengepal kencang kepalannya, tangannya gemetar: “Kau……….. apa

keinginanmu.”

“Kalau kau ingin perempuan ini pulang dengan masih hidup, segera kau harus bersumpah dan

tanggung orang-orang Thian-siang-pang kalian selamanya dilarang memasuki wilayah Kilam,

tentang temanmu diatas atap itu, sudah tentu kaupun harus ajak dia kembali.”

Belum selesai ia bicara, tiba-tiba didengarnya kesiur angin keras menyambar, sesosok

bayangan orang melesat masuk dari jendela kanan, kejadian yang berlangsung secepat kilat,

terdengar “Tring” yang nyaring, hampir saja golok ditangan Leng Chiu-hun dijentik lepas oleh

orang itu.

Waktu semua orang berpaling, tampak setitik merah dari Tionggoan sudah berdiri diatas atap

sebelah kanan. Tanpa bersuara, tindakannya ini sudah memberi jawaban yang cekak-aos dan

paling gampang dan bisa dimengerti: “Kalau aku ingin datang atau pergi, siapapun tiada yang

mampu mengurusi dirinya.”

Keruan berubah wajah muka Leng Chiu-hun, dasar licik, segera ia ganti sikap dan berubah

mimik, katanya tertawa: “Asal saudara tidak mencampuri urusan Thian-sing-pang, sembarang

waktu ingin berada di Kilam, murid-murid Cu-soa-hun kami tentu akan menyambutmu dengan

pesta kebesaran.”

Kini Song Kang tak tahan lagi, bentaknya: “It-tiam-ang kau sudah bunuh seorang murid kami,

bukan saja aku tidak mencari perhitungan padamu, malah kumaki mereka, terhadap bapakku

sendiripun Song Kang tidak pernah bertindak sesungkan ini. Tapi barusan jelas kau bisa menolong

Sam-moy, namun kau tidak mau turun tangan, kau….”

Setitik merah menyahut dingin: “Selamanya aku hanya tahu membunuh orang, tidak tahu

bagaimana cara menolong orang”

Sorot matanya lebih dingin dari pisau tajam, Song Kang hanya melirik sekilas saja, kata-kata

selanjutnya seakan-akan disambut dimulutnya. Sesaat kemudian, baru berkata kata pula: “Kalau

demikian kenapa tidak kau bunih dia?”

“Aku bunuh orang tidak pernah dengan cara membokong, kau suruh dia keluar, biar kubunuh

dia untuk kau.”

“Cuma sebelum Cayhe keluar, batok kepala Sumaoymu ini harus berpisah dari badan

kasanya.” ancam Leng Chiu-hun menyeringai sinis.

Dengan dongkol Song Kang membanting kaki, serak katanya: “Baik, kuturuti kemauanmu.

Sejak kini Thian-sing-pang tidak akan menginjak daerah Kilam.” Orang seperti Song Kang

memang tiada duanya kedudukan tinggi di Kang-ouw, namun dalam Pang mereka sendiri, kalau

ingin hidup dan berkecimpung dikalangan Kang-ouw, setiap patah katanya sekokoh gunung,

selamanya tak boleh dirobah.

Leng Chiu-hun unjuk tawa lebar, katanya: “Kalau demikian…..”

Tiba-tiba didengarny seseorang menyeletuk sambil tertawa seri-seri:” Jangan kau lupa Lengheng,

akupun punya bagian atas diri nona ini!”

Sigap sekali Song Kang memalik badan, dilihatnya Thio Siau-lim yang sedang melangkah

masuk sambil berseri tawa, sepasang matanya seolah olah hendak menyemburkan api, bentaknya

murka: “Kau ini barang apa? Mau turut campur?”

“Aku bukan barang,” ujar Thio Siau-lim tetap berseri tawa. “Aku manusia!”

Sambil menggerung Song Kang lontarkan kepalannya, cincin dijarinya seketika memancarkan

sinar dingin, untuk mencabut jiwa orang segampang membalikkan tapak tangan. Namun dimana

kepalanya menjotos, tahu tahu mengenai tempat kosong kerena bayangan orang didepannya tibatiba

hilang.

Waktu ia menoleh dilihatnya Thio Siau-lim sedag cengar-cengir berdiri dibawah emperan

rumah sana, katanya: “Sungguh Cayhe katankan berkelahi aku tidak suka layani.”

Sungguh gusar dan kaget Song Kang dibuatnya, beruntun ia memberi tanda ulapan tangan

kepada It-tiam-ang, namun It-tiam-ang seolah-olah tidak melihatnya, tak tahan terpaksa Song

Kang berseru: “Ang-heng kau…. memangnya belum tiba saatnya kau membunuh orang?”

It-tiam-ang berpaling kearah Thio Siau-lim sebentar sahutnya: “Manusia dalam dunia ini dapat

kubunuh semua, tetapi dia…. kau suruh orang lain saja yang lebih lihay dari aku!” dari atap rumah

ia lemparkan buntalan uang perak, tanpa berpaling terus tinggal pergi.

Song Kang melongo dan menjamblek ditempatnya, sungguh mimpipun tak terpikirkan olehnya

Tionggoan It-tiam-ang yang membunuh manusia seperti membabat rumput hari ini kebentur

batunya, ada pula orang yang tidak mampu atau tidak mau dibunuhnya.

Thio Siau-lim berdiri diam menggendong tangan bajunya melambai tertiup angin, katanya terus

tersenyum. “Sebetulnya syaratku jauh lebih gampang dari yang diajukan oleh Leng Kongcu.”

Akhirnya Song Kang kewalahan dan banting-banting kaki, serunya. “Apa keinginanmu?

Katakan!”

“Asal kau ke berikan surat Suhengmu yang diberikan kepadamu sebelum dia pergi, cukup

hanya kubaca sebentar, bukan saja segera kuantar Sumoymu keluar, malah akan kusewa tandu,

dan kubunyikan poyah renteng untuk membuang hawa sebalny.

Karena Song Kang melengak, katanya: “Jadi syaratmu hanya ingin melihat surat itu?”

“Ya, setelah kubaca segera kukembalikan.”

Lama Song Kang menepekur, katanya pelan-pelan kemudian: “Surat itu sudah kubakar tapi

apa yang tertulis dalam surat itu akupun pernah membacanya, entah ada sangkut-paut apa surat

itu dengan kau, kenapa kau ingin melihatnya?”

“Tidak perlu kau tahu apa maksudku hendak membaca surat itu. Cuma ingin aku tahu apa kau

tidak ingin Sumoymu yang genit ini kembali dalam pelukanmu?”

Song Kang mempertimbangkan, sekilas ia mengawasi raut muka Sumaoynya yang kelihatan

pucat dibawah sorot sinar lampu, seketika darah bergolak dalam rongga dadanya, tanpa hiraukan

segalanya, segera ia berteriak keras: “Baik, akan kukatakan. Sebetulnya surat itu tidak

mengandung rahasia apa apa, namun….. mendadak mulutnya menjerit seram sejadi jadinya,

badanpun tersungkur beberapa kali dan roboh terjerembab.

Murid murid Thian-sing-pang seketika berpekik kaget dan menjadi gaduh, sedikitpun tidak

terlihat luka apa-apa diatas badannya, namun sekejap saja, sejalur darah pelan-pelan merembes

keluar dari tulang punggung pada ruas yang ketujuh.

Berubah air muka Leng Chiu-hun serunya “Inilah orang kedua yang mati lantaran surat itu,

Thio heng, kau…..” waktu ia berpaling, Thio Siau-lim yang berdiri diemper rumah sudah tidak

kelihatan lagi bayangannya.

Begitu Song Kang roboh sambil melolong seram diujung tembok nan gelap berkelebat sesosok

bayangan hitam yang menghilang, orang lain memang tiada yang melihat, tapi mana bisa lepas

dari sepasang mata Thio Siau-lim nan jeli.

Sebat sekali badannya segera melambung tinggi beberapa tombak terus mengejar dengan

kencang, siapa tahu bayangan hitam itu tahu-tahu sudah puluhan tombak jauhnya. Betapa tinggi

Gingkangnya, kaum persilatan sama mengetahui, siapa tahu Gingkan bayangan hitam itupun

ternyata tidak lemah.

Dua sosok bayangan satu didepan yang lain dibelakang, sama melesat terbang diatas kota

Kilam yang malam itu terasa kering panas, laksana dua layang-layang yang terikat pada seutas

benang. Ternyata bayangan itu kuasa bertahan dalam jarak tentu meski diudak laksana meteor

jatuh oleh Siau-lim. Sekejap saja keduanya sudah melapaui tembok kota langsung menuju kearah

nan jauh dimana diliputi kabut tebal yang pekat, tahu-tahu mereka sudah sampai dipesisir Thaibeng-

ouw, danau kenamaan dibawah bulan ini, kelihatan teramat indah dan menajubkan

pemandangannya.

Lambat laun Thio Siau-lim berhasil memperpendek jarak antara mereka, terang dalam sekejap

saja bakal menyandak bayangan itu. Memang dalam kolong langit ini perduli siapapun, ilmu

Gingkangnya betapapun pasti satu tingkat lebih rendah dibandingkan ilmu meringankan tubuh.

“Sahabat hentikan saja langkahmu,” seru Thio Siau-lim tertawa: “Aku berjanji tidak akan

melukaimu seujung rambutmu, tapi kalau kau ingin terjun keair, terang kau ingin menderita malah.”

Bayangan itu perdengarkan gelak tawanya seperti burung kokok beluk, katanya: “Coh Liuhiang,

akhirnya aku dapat mengenalimu juga!” ditengah suara katanya, sekoyong-koyongnya

seseatu benda meluncur ditengah udara terus meledak mengahamburkan asap kabut warna ungu

yang berbau aneh, seketika seluruh badannya tertelan ditengah-tengah kabut tebal itu, tidak

ketinggalan Thio Siau-lim sendiripun tertelan didalamnya pula.

Terasa berat asap kabut itu sehingga terasa seperti sesuatu bentuk benda yang menindih

seluruh badan Thio Siau-lim, bukan saja pandangan matanya menjadi kabur, gerak-gerik

badannya yang lincah itupun tak kuasa dikembangkan pula. waktu dia berhasil menerobos keluar

dari kepungan asap yang tebal sambil menahan napas, dirinya sudah dipinggir danau, bayangan

itupun sudah menghilang, tampak air danau yang tenang itu bergelombang membundar lembut

semakin melebar dan akhirnya sirna sama sekali.

Dengan mendelong Thio Siau-lim mengawasi riak air membundar yang lembut itu, mulutnya

menggumang: “Apakah ilmu Jinsut yang misterius dari kaum pesilat Tangni (Jepang)? Kenapa

belum pernah kudengar kaum pesilat di Tionggoan ini ada orang yang mahir menggunakan ilmu

yang mendekati aliran sesat ini?”

Menurut catatan orang kuno Jinsut adalah semacam ilmu yang dapat membuat badan

kasarnya sendiri tiba-tiba sirna menghilang dihadapan musuh, untuk mempelajari ilmu ini sampai

sempurna, orang harus putus hubungan dengan cinta asmara, mempersembahkan jiwa raga

sendiri sebagai pertaruhan untuk mencapai palajaran Jinsut yang paling tinggi, betapa derita dan

sengsara pelajaran ini, sungguh tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Seumpama kaum

persilatan di tangani sendiri tokoh yang pandai mempelajari Jinsut biasanya dipandang sebagai

tokoh misterius bak umpama momok atau dedemit belaka.

Sesaat lamanya Thio Siau-lim menjumblek ditempatnya, katanya sambil tertawa kecut: “Orang

itu pandai menggunakan Jinsut, memiliki Gingkang yang hebat pula, baru hari ini Coh Liu-hiang

betul-betul kebentur musuh tangguh. Sayang sampai sekarang masih belum bisa kuketahui

siapakah dia sebenarnya?”

Mendadak didengarnya seseorang berkata dingin: “Coh Liu-hiang, cabut senjatamu!”

Suaranya serak-serak basah, berbarengan sesosok bayangan hitam tahu-tahu melangkah keluar

dari tengah kabut dipinggir danau, dia bukan lain adalah Tionggoan It-tiam-ang.

“Kenapa kaupun berada disini?” tanya Thio Siau-lim tertegun.

“Aku mengejar jejakmu sejak tadi, sampai sekarang baru kutemukan kau disini, tentunya kau

tidak akan bikin aku kecewa bukan?”

Thio Siau-lim mengeluh hidung, ujarnya: “Sejak tadi kau menguntit aku? Kenapa?”

“Hanya untuk menghujamkan pedangku ketenggorokanmu.”

Thio Siau-lim melengak, “Kau hendak bunuh aku?” tanyanya

“Mungkin akulah yang kau bunuh.” Sahut It-tiam-ang sinis.

“Kau kan tahu selamanya aku tidak pernah membunuh orang, apalagi kau.”

“Kau tidak suka bunuh aku, biar aku membunuhmu”

“Bukankah tadi kau sudah bilang tidak…”

“Aku tidak mau membunuh orang lantaran orang lain, aku membunuh kau lantaran aku

sendiri.”

“Kenapa?”

“Bisa berduel dengan Coh Liu-hiang, sampai mati, merupakan suatu peristiwa yang patut

membesarkan hatiku.”

Thio Siau-lim geleng kepala, katanya tertawa sambil menggendong tangan: “Sayang aku

sendiri tiada minat berkelahi maafkanlah!”

“Kau mau tidak harus bertanding dengan aku,” sentak It-tiam-ang. Ditengah alunan suaranya

yang bergema ditengah udara sinar pedanganya laksana bianglala menusuk tiba, Thio Siau-lim

tetap menggendong tangan, tanpa bergerak sedikitpun, tahu-tahu sinar pedang berhenti sendiri

setengah dim didepan lehernya.

Sinar pedang yang kemilau membuat kedua alisnya kelihatan memucat kala menyilang

dilehernya, tampak bergetar diancam oleh sinar pedang yang berhawa dingin. Tapi sikap dan air

mukanya sedikitpun tidak berubah, semangatnya seolah-olah dibuat dari besi baja.

It-tiam-ang segera dorong setengah dim ujung pedangnya kedepan, ujung pedangnya tidak

tergeser sedikitpun dari sasarannya, pergelangan tangannya seakan-akan terbuat dari besi murni.

Suaranya serak dan mengancam: “Kau kira kau tidak berani bunuh kau?”

Ujung pedang tinggal dua inci didepan terggorokan Thio Siau-lim namun sedikitpun

ketenanganya tidak tergoyah, katanya tertawa tawar: “Sudah tentu bukan kau tidak berani, cuma

kau tidak sudi.”

“Aku bertekad hendak membunuh kau, kenapa tidak sudi?”

“Kau membunuhku dengan cara ini, kesenangan apa yang kau mungkin kau peroleh?”

Ujung pedang tiba-tiba tergetar, tangan It-tiam-ang setengah dan sekokoh batu itu, ternyata

sudah bergeming,, bentaknya dengan suara sember:

“Kau benar-benar begitu yakin?” Mendadak pedangnya menusuk maju.

Dari kepala sampai kekaki Thio Siau-lim sedikitpun tidak kelihatan bergerak, walau ujung

pedang yang tajam itu hanya menyerempet lewat lehernya, namun tusukan pedang ini

kemungkinan bisa membasmi tenggorokannya.

Raut muka It-tiam-ang tetap dingin seperti es, namun kulit dagingnya kelihatan mulai berkerutkerut

mengejang, selebar mukanya tiba-tiba mengkeret dengan aneh, katanya: “Kau…. kau sudi

bertanding dengan aku?” suaranyapun sudah gemetar.

“Sungguh harus dimaafkan!” sahut Thio Siau-lim menghela napas.

“Bagus!” seru It-tiam-ang menengadah sambil tertawa panjang. Nada tawanya rawan dan

pedih, ternyata pedangnya sendiri diputar balik terus menusuk tenggorokannya sendiri.

Sudah tentu perbuatan nekad It-tiam-ang amat mengejutkan Thio Siau-lim, secara reflek tapak

tangannya menebas tegak hendak merebut pedang orang, namun cepat sekali pergelangan

tangan It-tiam-ang bergerak lincah, ujung pedangnya tetap tertahan mengarah tenggorokannya.

Sementara Thio Siau-lim kembangkan ilmu Khong-jiu-peh-to dengan kekerasan ia berusaha

merebut senjata orang.

Dibawah penerangan cahaya bintang yang kelap-kelip, tampak sinar pedang berkelebatan

bayangan orangpun seluruh timbul dengan cepat dan gesit serta lincah sekali, betapapun kedua

orang ini sudah mulai turun tangan namun gerak-gerik kedua sama cepat dan jauh berbeda dari

pertempuran adu silat umumnya, karena yang satu berusaha bunuh diri sementara yang lain

berusaha menolong dan menggagalkan usaha orang untuk mencari jalan pendek.

Perkelahian seperti ini, sungguh belum bernah terjadi sejak dulu kala. Dalam sekejap mata

saja puluhan jurus sudah berlalu, sekonyong-konyongnya terdengar “Creng” kumandang petikan

harpa dari tengah danau, petikan demi petikan harpa mengalun turun nail bergema ditengah udara

nan sunyi lengang, namun lapat-lapat terasa mengandung penasaran dan kebencian, seumpama

negara sedang menghadapi keruntuhan rasa marah dan cinta sukar terbendung, seolah-olah

terhina dan tak terlampias perasaan gejolak hatinya.

Begitu petika suara harpa mengalun diudara, alam semesta serasa diliputi rasa rawan yang

dibakar oleh nafsu membunuh, bintang-bintang diangkasa raya seakan-akan menjadi redup dan

kelelep, panorama alam dalam keindahan danau Tay-bing-ouw menjadi kuncup dan tak berkesan

pula.

Memang dasar watak dan relung hati Thio siau-lim memang lapang dan terbuka, dia seorang

jujur dan polos yang tidak mempunyai rasa jahat, tidak menjadi soal ia mendengar suara harpa

yang mengandung daya tarik luar biasa. Sebaliknya riwayat hidup It-tiam-ang jauh berlainan, sejak

kecil ia sudah hidup menderita dan kelana di Kang-ouw mengecap kesengsaraan dan kenistaan,

memangnya dia berwatak keji berhati sempit dan selalu dihinggapi penasaran akan tiada keadilan,

kalau tidak mana mungkin dia menjadi seorang pembunuh bayaran, membunuh orang sebagai

hobby.

Tatkala itu alunan suara harpa sudah kumandang ditelingany seketika darah mendidih dan

badan terasa panas membakar, ternyata ia sukar mengendalikan diri lagi, mendadak ia bersuit

panjang dan nyaring sambil menengadah, pedangnya bergerak terbalik pula menusuk kearah Thio

Siau-lim.

Tusukan ini amat cepat dan ganas, tidak sempat Thio Siau-lim berpikir, secara reflek badanya

bergerak mengegos diri, cuaca memang remang-remang, namun jelas kelihatan sepasang

matanya It-tiam-ang merah telah berdarah, gerak-geriknya membabi-buta seperti kesetanan.

Waktu tusukan kedua It-tiam-ang dilancarkan, tak bisa lagi Thio siau-lim berkelit pula, kalau dulu ia

masih tetap bersikap tenang, tapi kini ia menghadapi lawan yang betul-betul sudah kehilangan

kesadarannya. Petikan harpa semakin cepat, gerak sambaran pedang It-tiam-ang ikut menjadi

cepat, seolah-olah gerak-gerikn dan jalan pikirannya sudah terkendali dan dibelenggu oleh suara

petikan harpa itu, sehingga ia tidak punya pedoman dan kontrol atas dirinya sendiri lagi.

Keruan Thio Siau-lim tersirap darahnya bukan ia kuatir pedang It-tiam-ang akan melukai

dirinya, adalah ia tahu kalau pertempuran cara seperti ini berlangsung lebih lama lagi, It-tiam-ang

pasti akan bisa melukai atau membunuh dirinya.

Cahaya pedang sudah menjadi tabir berkilat terang yang membungkus seluruh badan Thio

Siau-lim, sinar pedang yang merabu seperti gila ini, terang takkan dapat dikendalikan atau

ditundukkan oleh siapapun juga.

Thio Siau-lim mendadak berseru lantang: “Apa kau berani ikut aku kebawah?” ditengah gema

suaranya tiba-tiba badannya melambung tinggi jumpalitan ditengah udara terus terjuh kedalam

danau.

Tanpa ragu-ragu sedikitpun It-tiam-ang menelat perbuatannya ikut terjun kedalam air. Tapi di

air jauh berbeda dengan daratan, waktu It-tiam-ang tusukkan pedangnya, paling-paling hanya

menimbulkan riak gelombang ait yang berbuih, sukar dia melukai lawannya pula.

Bersambung jilid 4

Jilid 4

Sebaliknya berada di dalam air Thio Siau-lim laksana naga bermain di tengah lautan, gerak

badannya segesit ikan selicin belut, cukup berkelebat dan meliukkan badan, tahu-tahu ia sudah

mencengkeram pergelangan tangan It-tiam-ang serta menotok hiat-tonya. Setelah tidak berkutik,

lalu ia angkat badan orang serta dilemparkan ke pinggir danau, serunya tertawa: “Ang-heng, walau

sekarang kau sedikit menderita, tentunya jauh lebih enak daripada kau menggila dan mampus

jadinya.”

Lalu ia putar badan dan selulup ke dalam air. Cepat sekali ia berenang menuju ke arah

datangnya suara harpa.

Kabut tebal mengembang di permukaan air, keadaan remang-remang, jauh di tengah danau

sana berlabuh sebuah sampan kecil. Di atas sampan tunggal ini duduk bersila seorang padri muda

yang mengenakan jubah putih, jari-jarinya tengah memetik harpa, di tengah keremangan kabut

tampak biji matanya laksana bintang kejora yang bersinar menyala, bibir merah gigi putih, raut

mukanya lebih mirip dengan wajah perempuan cantik dibanding kekasaran muka seorang laki-laki,

namun tindak-tanduknya kelihatan lemah lembut, wajar dan gagah, sifat-sifatnya ini perempuan

siapa pun takkan bisa menandinginya.

Seluruh badannya selintas pandang seperti amat bersih, tiada debu sedikit pun yang

mengotori badannya, seolah-olah dia baru saja turun dari khayangan di tengah angkasa yang

berawan.

Coh Liu-hiang memandangnya dua kali, segera ia berseru dengan tertawa sambil mengerut

kening: “Kiranya dia, seharusnya aku

sudah ingat sejak tadi. Kecuali dia, siapa pula yang mampu memetik suara harpa sebaik itu…

celaka adalah aku yang hampir mati dari efek alunan suara harpanya tadi.”

Ia menyelam maju dan baru melongokkan kepalanya dari permukaan air setelah berada dekat

di pinggir sampan, katanya: “Dalam hati Taysu memangnya ada perasaan yang tidak bisa

direlakan?”

Petikan harpa seketika kacau berantakan dan akhirnya berhenti. Padri itu agaknya kaget,

namun sikapnya tetap tenang dan tenteram. Sekilas ia berpaling, segera unjuk senyum mekar,

katanya: “Setiap kali Coh-heng bertemu dengan Pinceng, apakah badanmu harus selalu basah

kuyup seperti ini?”

Padri muda ini bukan lain adalah Biau-ceng Bu-hoa yang terkenal di seluruh kolong langit.

Tempo hari waktu dia menikmati petikan harpanya di atas sampan di tengah lautan, kebetulan Coh

Liu-hiang muncul dari dalam air serta mengejutkan hatinya juga.

Cepat Thio Siau-lim melompat naik ke atas sampan, katanya melotot: “Siapa itu Coh Liuhiang?”

Bu-hoa tersenyum, ujarnya: “Kecuali Coh-heng, dalam kolong langit ini siapa yang mampu

sampai sedemikian dekatnya di samping Pinceng. Siapa pula kecuali Coh-heng yang memahami

makna alunan suara harpa, menaklukkan sanubari orang.”

Thio Siau-lim tergelak-gelak, “Kecuali Coh Liu-hiang, seluruh dunia siapa pula yang mampu

mengejutkan kau dari dalam air…. Bu-hoa, Bu-hoa, namamu memang Bu-hoa (tiada kembang),

namun tak terhitung kembang-kembang suci yang terbenam dalam sanubarimu.”

Di tengah gelak tawanya, cepat ia meraih ke muka menanggalkan kedok mukanya terus

dilempar ke dalam air. Maka muncullah muka asli Coh Liu-hiang di tengah danau di atas sampan

di bawah penerangan bintang-bintang kecil di angkasa raya. Entah berapa banyak gadis yang tak

bisa tidur bisa melihat raut wajahnya ini.

Kata Bu-hoa: “Kedok muka yang sedemikian indah dan bagus kenapa Coh-heng buang ke

dalam air?”

“Kedok muka ini sudah konangan oleh tiga orang, kenapa harus kupakai lagi?”

“Cara menyamar Coh-heng sungguh tiada bandingan di seluruh jagat. Seumpama Pinceng

tidak mengenali penyamaranmu, siapa pula yang punya ketajaman mata dapat mengenali

samaranmu?”

“Peduli bagaimana mereka membongkar kedok samaranku, yang terang muka asliku sudah

mereka ketahui. Kalau samaran muka seseorang sampai dikenal oleh tiga orang, seumpama

mukanya amat buruk pun lebih baik dia kembali kepada muka aslinya saja.”

“Entah siapa kedua tokoh yang lain itu?” tanya Bu-hoa.

“Orang pertama adalah ‘membunuh orang tiada darah, setitik darah di ujung pedang’.”

Bu-hoa sedikit mengerutkan kening. Mendadak harpa tujuh senar di pangkuannya ia buang ke

dalam air juga.

“Harpamu paling tidak jauh lebih mahal daripada kedok mukaku tadi, kenapa pula kau

membuangnya ke dalam air?”

“Di sini kau menyinggung nama orang itu, berarti harpa itu sudah tersentuh oleh bau anyirnya

darah, selanjutnya pasti tidak akan bisa mengumandangkan suara suci dan bersih,” lalu ia pun

mencuci kedua tangannya di dalam air danau, dikeluarkannya secarik sapu tangan putih untuk

menyeka kering tangannya.

“Kau kira air danau ini bersih? Bukan mustahil di dalamnya ada……”

“Orang bisa membuat air kotor, sebaliknya air tidak akan mengotori manusia. Mengalir pergi,

datang yang baru, selamanya tidak akan kotor.”

“Tak heran kau suka menjadi Hwesio, orang seperti kau kalau tidak mencukur gundul jadi

orang beribadat, mungkin kau tidak akan bisa hidup di dalam dunia fana.”

Bu-hoa tertawa tawar, tanyanya: “Memangnya siapakah orang kedua?”

“Orang kedua ini walau sudah tahu akan diriku, sebaliknya aku belum tahu siapa dia. Yang

kutahu bahwa ginkangnya amat tinggi, senjata rahasianya amat keji, malah dia pun mahir

menggunakan Jinsut!”

“Jinsut?” bergetar badan Bu-hoa.

“Kau paling paham akan segala sumber, tahukah kau apa ajaran Jinsut pernah masuk ke

Tionggoan?”

Bu-hoa berpikir sesaat lamanya, katanya kalem: “Aliran Jinsut asal-mulanya diajarkan dari Ihho

(Arab), seumpama di daratan Tang-ni sana sendiri ilmu ini termasuk kepandaian misterius yang

amat disegani. Tapi menurut pandangan Pinceng, kemampuan dan kesaktianmu bukan saja

punya taraf yang sejajar dan setanding, malah mungkin ada sedikit melampauinya.”

“Kau mengagulkan aku, apa kau ingin supaya kelak bila bermain catur aku sengaja mengalah

kepadamu?”

“Ilmu silat di Tang-ni sebetulnya bersumber dari bangsa kita di jaman dinasti Tong dulu, cuma

mereka sedikit menambahi bumbu dan dirubah serta direvisi dan terciptalah aliran lain yang

tersendiri. Kaum persilatan di Tang-ni sekarang yang paling terkenal adalah Liu-seng-jiu, It-to-liu

dan lain-lainnya. Aliran perguruan kebanyakan mereka mengutamakan ketenangan mengatasi

gerakan, bergerak belakangan mengatasi yang duluan, bukankah mirip dan serasi dengan ajaran

Lwekang murni dari aliran bangsa kita? Tentang permainan ilmu pedang mereka yang ganas dan

keji, gampang dan murni, bukankah sesumber dengan ilmu golok yang berkembang paling jaya

dan lama pada dinasti Tong dulu?”

“Memang kau paham segala sumber ilmu, namun Jinsut itu……”

“Jinsut ilmu sihir, nama ini kedengarannya memang amat aneh dan mengandung arti yang

amat dalam, namun sebetulnya tidak lepas dari ginkang, am-gi, obat bius dan ilmu rias diri yang

dikombinasikan menjadi satu, cuma sejak dilahirkan pembawaan mereka suka meniru, mempunyai

dasar semangat aneh yang lain dari yang lain. Setelah berhasil mempelajari ilmu dari bangsa kita,

bukan saja bisa meresapinya dan menyedot inti sarinya, malah bisa pula memecah, menganalisa

dan memperluas ajaran itu seolah-olah menjadi dongeng aneh dan menakjubkan.”

“Aku hanya bertanya, setelah mengalami godokan dan gemblengan dalam proses perubahan

ilmu yang mereka miliki serta akhirnya menjadi ilmu yang dinamakan Jinsut itu, apakah ilmu itu

pernah masuk ke dalam tanah air kita? Adakah orang yang berhasil mempelajarinya?”

“Kabarnya dua puluh tahun yang lalu pernah datang seorang bangsa Arab ahli sihir yang

mendarat dan akhirnya dia menetap di

daerah Binglam selama tiga tahun. Kaum Bulim di daratan besar bila ada yang pandai

menggunakan Jinsut kukira pasti hasil ajaran dari orang Arab itu. Selama tiga tahun dia menetap

di sana, dan yang pasti bahwa dia adalah seorang tokoh silat kenamaan di daerah Binglam sana.”

“Binglam?” Coh Liu-hiang mengerutkan kening. “Apakah keturunan Tan dan Lim, dua aliran

Bulim terbesar di sana?”

“Cuaca malam seindah ini, kau malah mengajak aku membicarakan soal duniawi, memangnya

tidak menyia-nyiakan pemandangan seindah gambar lukisan di malam ini?”

“Memangnya aku ini orang kasar dari dusun, apalagi pada saat sekarang, kecuali persoalanpersoalan

duniawi ini, segala macam urusan lain tiada yang menarik perhatianku.”

Mendadak ia berdiri, katanya sambil tertawa besar, “Kalau kau hendak berkhotbah atau main

catur, setelah persoalanku beres, tentu akan kucari kau, dan lagi aku berjanji badanku tentu akan

kering dan bersih.”

“Baik, janji main catur ini jangan sekali-kali kau lupakan, lho!”

Kepala Coh Liu-hiang menongol keluar dari permukaan air, serunya keras: “Siapa bila

melupakan janji dengan Bu-hoa, tentu orang itu orang linglung.”

Bu-hoa mengantar badan orang yang berlalu pergi segesit ikan, katanya sambil tersenyum:

“Dapat berkenalan dengan orang seperti dia, peduli teman atau musuh, bolehlah terhitung suatu

kejadian yang menggembirakan.”

Coh Liu-hiang kembali ke daratan, ia jinjing badan It-tiam-ang dan mencari sepucuk pohon

tinggi besar, dicarinya dahan-dahan pohon yang rimbun dedaunannya, di sana ia baringkan badan

orang, lalu melompat turun, serunya sambil mengulap tangan: “Biar sekarang kita berpisah,

setengah jam lagi kau akan siuman sendiri. Aku tahu kau pasti tidak suka aku melihat keadaanmu

yang serba runyam bila kau siuman nanti.”

Langsung ia berlari-lari masuk ke kota, sepanjang jalan pulang pergi ia putar otak, terasa

sampai detik ini persoalan ini masih acak-acakan, sedikit pun tak berhasil ia raba sumber

persoalannya. Dia berkeputusan untuk sementar tidak usah susah-susah putar otak memikirkan

persoalan ini, biarlah otaknya istirahat saja beberapa waktu.

Otak manusia memang aneh, kalau lama tidak dipakai pun bisa karatan, sering dipakai dan

melelahkan dia pun bisa menjadi linu dan kejang.

Waktu ia tiba di kota, sang surya sudah keluar dari peraduannya. Pagi sudah menjelang, di

jalan sudah kelihatan beberapa orang berlalu-lalang. Baju Coh Liu-hiang sudah kering, ia

membelok dua kali berputar dua kali, tahu-tahu ia kembali ke Kwi-gi-tong. Mayat Song Kang tak

kelihatan. Sim San-koh dan murid-murid Thian-sing-pang sudah tidak kelihatan sama sekali.

Beberapa laki-laki berseragam hitam sedang memberesi keadaan yang morat-marit. Melihat

Coh Liu-hiang, beramai-ramai mereka membentak: “Sekarang perjudian belum dibuka, datanglah

nanti malam, kenapa terburu-buru?”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Aku hendak mencari Leng Chiu-hun.”

“Kau terhitung barang apa,” damprat laki-laki itu. “Berani kau langsung memanggil nama

Kongcu kami.”

“Memang aku ini bukan barang apa-apa, namun tak lain adalah saudara kenalan Leng Chiuhun.”

Beberapa laki-laki itu saling pandang, serempak mereka melempar sapu terus berlari masuk

ke dalam.

Tak lama kemudian, dengan langkah malas Leng Chiu-hun berjalan keluar, air mukanya

tampak lesu seperti kurang tidur, namun kedua biji matanya berkilat terbang, dari atas ke bawah

dia amat-amati Coh Liu-hiang, tanyanya dingin: “Siapa tuan ini? Seingatku belum pernah aku

punya saudara kenalan seperti kau ini.”

Coh Liu-hiang sengaja celingukan ke sekelilingnya, lalu katanya merendahkan suara: “Aku

inilah Thio Siau-lim. Demi mengelabui mata kuping orang, sengaja aku menyamar seperti ini.”

Sekilas Leng Chiu-hun melengak, cepat sekali ia sudah menarik tangannya sambil tertawa

besar, serunya: “Kiranya kau Thio-jiko, aku memang pantas mampus. Sudah sekian lamanya tak

bertemu, sampai saudara sendiri pun sudah kulupakan.”

Coh Liu-hiang tertawa geli, ia diam saja dirinya ditarik masuk ke dalam sebuah kamar tidur

yang dipajang amat indah, kelihatan kepala seorang perempuan dengan rambutnya yang awutawutan,

sebuah tusuk konde menggeletak di pinggir bantal.

Tiba-tiba Leng Chiu-hun menyingkap kemul, katanya dingin: “Tugasmu sudah selesai, kenapa

belum pergi juga?”

Tersipu-sipu perempuan itu merangkak bangun dan cepat-cepat mengenakan pakaiannya

terus berlari keluar dengan langkah sempoyongan.

Baru sekarang Leng Chiu-hun duduk sambil menatap Coh Liu-hiang, katanya: “Tak nyana ilmu

rias saudara ternyata begini lihay. Setelah mengubah samaranmu sekarang, tentunya tidak

sewajar dan leluasa seperti semula. Kalau saudara menyamar lebih jelek sedikit, tentunya sukar

konangan. Caramu ini…… raut mukamu sedikit banyak tentu akan menimbulkan perhatian orang.”

Coh Liu-hiang mengelus hidung, katanya: “Apa Leng-heng ada melihat sesuatu keganjilan atas

samaranku?”

Hampir saja pecah perut Coh Liu-hiang saking menahan geli, namun lahirnya tetap tenangtenang

saja, ujarnya: “Menyamar di waktu malam gelap, bentuknya kurang sempurna, namun ya

apa jadinyalah!”

Kembali Leng Chiu-hun meliriknya dua kali, katanya: “Sebetulnya sih cukup baik, asal

hidungmu sedikit rendah, matamu disipitkan, tentu lebih sempurna.”

“Ya, ya, lain kali tentu akan kurubah,” sahut Coh Liu-hiang menahan geli. Sambil celingukan,

katanya tiba-tiba: “Di mana Sim San-koh?”

“Aku tidak suka meniru cara saudara, tentunya sudah kulepas dia pulang. Walau Thian-singpang

tiada punya tokoh-tokoh yang menonjol, jelek-jelek merupakan sindikat yang kenamaan juga,

tentunya aku tidak suka mengikat pertikaian-pertikaian terlalu mendalam dengan mereka.”

“Memang betul demikian, entah saudara sudah mengutus anak buah untuk memperhatikan

gerak-gerik kaum persilatan di kota Kilam ini?”

“Aku sudah suruh orang mencari dengan seksama. ‘Ngo-kui’ bahwasanya tidak berada di

dalam kota, kecuali itu memang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal, namun mereka tiada

sangkut-pautnya dengan urusan kita ini.”

“Siapakah orang itu?”

“Dandanan orang itu aneh dan lucu, pedangnya sempit panjang, bukan lain adalah tokoh dari

Hay-lam-kiam-pay, dilihat dari tindak-tanduknya dia orang kosen, kukira kalau bukan Ling Ciu-cu

pasti Thing-ing-cu.”

“Thing-ing-cu,” seru Coh Liu-hiang berjingkrak bangun. “Di mana dia sekarang?”

“Kenapa saudara begini tegang?” tanya Leng Chiu-hun heran.

“Jangan tanya dulu, lekas katakan di mana dia sekarang, kalau terlambat mungkin sudah

kasep.”

“Dia tidak menginap di biara atau di dalam kuil, namun bermalam di In-ping-lay di selatan kota.

Untuk apa saudara begini kesusu untuk menemui dia?”

Belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah berlari keluar, gumamnya: “Semoga

kedatanganku belum terlambat. Semoga dia tidak menjadi korban yang ketiga lantaran surat itu.”

Areal bangunan In-ping-lay ini amat luas, tidak sedikit tamu-tamu luar kota yang menginap di

dalam hotel ini, namun orang beribadah hanya Thing-ing-cu satu-satunya seorang diri menempati

sebuah kamar di pekarangan samping yang kecil, menghadap ke arah matahari terbit. Cuma saat

mana orangnya sedang keluar.

Bagi seorang ahli seperti Coh Liu-hiang, setelah dia mencari tahu letak kamarnya, dengan

cepat ia sudah berada di pekarangan kecil itu, menggunakan sebatang kawat baja dengan mudah

ia membuka gembok dan masuk ke dalam kamar.

Nama besar Thing-ing-cu memang amat disegani, semua barang atau perbekalan yang dia

bawa tidak banyak, cuma sebuah buntalan kain kuning. Dalam buntalan terdapat beberapa stel

pakaian, dua p asang kaus kaki panjang dan segulung buku dan kertas tulisan. Buku ini ia buntal

di dalam lempitan pakaian dalamnya, diikat pula dengan benang sutera. Kelihatannya Thing-ing-cu

amat memandangnya sangat berharga. Coh Liu-hiang berpikir: “Surat misterius itu bukan mustahil

disimpan di dalam buku ini?”

Coh Liu-hiang insyaf bahwa surat itu menyangkut peristiwa ini, dan penting serta besar artinya

bagi dirinya untuk mencari sumber penyelidikan. Bukan mustahil merupakan kunci penjelasan

rahasia peristiwa ini, kalau tidak, tidak mungkin beberapa jiwa berkorban secara konyol lantaran

surat itu.

Hati-hati Coh Liu-hiang membuka ikatan benang sutera itu. Benar juga, di antara lembaran

buku-buku itu melayang jatuh selembar sampul surat. Betapa girang hatinya. Cepat ia jemput surat

itu, di atas secarik kertas merah jambon tertulis dua baris kata-kata yang bergaya indah dan

berseni, kelihatannya buah tangan seorang perempuan.

Kertas surat itu sudah telempit, membekas garis-garis luntur sehingga menjadi kucel, terang

sudah dibaca dan dilempit entah berapa kali, namun tetap dipelihara dan disimpan

dengan baik, dari sini dapatlah disimpulkan bahwa penerima surat ini memandangnya amat

berharga.

Isi surat itu rada mengambang dan pakai sindiran lagi, jelas penulisnya mengharap penerima

surat ini putuskan saja hubungan asmara, jangan selalu pikir dan mengenang dirinya. Kalau

dikatakan secara terang atau cekak-aos, artinya adalah: “Aku tidak suka kepadamu, maka jangan

kau terlalu tergila-gila kepadaku.”

Sudah tentu surat ini ditujukan kepada Thing-ingcu, surat itu tertanda ‘Liong-siok’ dua huruf

kecil, tentunya nama kecil perempuan itu.

Diam-diam Coh Liu-hiang menarik napas, batinnya: “Naga-naganya sebelum menjadi orang

beribadat Thian-ing-cu pernah mengalami patah hati. Bukan mustahil lantaran kejadian itu dia

mengorbankan masa depannya dan menyucikan diri mengabdi kepada ajaran Thian. Sampai

sekarang dia masih bawa surat cinta ini, kiranya dia pun seorang romantis.”

Tanpa sengaja ia mencuri lihat rahasia pribadi orang lain, dalam hati ia amat menyesal,

akhirnya ia toh tidak menemukan surat misterius itu, mau tak mau hatinya merasa kecewa pula.

Buntalan kain kuning kembali pada posisi dan bentuknya semula, siapa pun takkan bisa

membedakan bahwa buntalan ini barusan pernah disentuh orang.

Waktu beranjak di jalan raya, Coh Liu-hiang menggumam sendiri: “Ke manakah Thian-ing-cu?

Dari tempat jauh dia meluruk ke mari, tentunya hendak menyelidiki jejak Suhengnya Ling-ciu-cu.

Kalau toh sudah berada di Kilam, bukan mustahil dia akan mencari kabar ke Cu-soa-bun……”

karena pikirannya ini, segera ia menyetop sebuah kereta besar, terus dibedal menuju ke Kwi-gitong.

Dilihatnya Leng Chiu-hun sedang berdiri di ambang pintu sambil menggendong tangan,

agaknya barusan mengantar seorang tamu.

Begitu melihat Coh Liu-hiang, ia tertawa. Katanya, “Kau masih terlambat juga.”

Lekas Coh Liu-hiang bertanya: “Barusan apakah Thian-ing-cu ke mari?”

“Ya, kau mencari dia, sebaliknya dia mencari aku! Anehnya, pihak Hay-lam-kiam-pay pun

kehilangan seseorang. Anehnya lagi dia tidak mencari tahu kepada orang lain, justru mencariku.

Hay-lam dan Kilam berjarak ribuan li, pihak Hay-lam-pay kehilangan orang, bagaimana mungkin

Cu-soa-bun bisa tahu jejaknya?”

“Tahukah kau, setelah meninggalkan tempat ini dia hendak ke mana?”

“Pulang ke In-ping-lau, aku sudah berjanji lewat lohor aku akan balas berkunjung ke sana!”

Belum orang habis bicara, bayangan Coh Liu-hiang sudah tak kelihatan. Kali ini ia sudah tahu

jalannya, langsung ia memburu ke pekarangan kecil itu. Jendela kamar itu sudah terbuka, seorang

Tosu tinggi kurus yang menggelung tinggi rambut kepalanya sedang duduk di sisi jendela

menuang air the. Entah apa yang sedang dipikirkan, dari poci yang tertuang miring, sedikit pun

tidak kelihatan air teh mengalir keluar, namun orang agaknya tidak sadar, tangannya masih

menjinjing poci teh itu.

Coh Liu-hiang merasa lega, gumamnya pula: “Syukur aku tidak terlambat. Kali ini betapa pun

tidak akan kubiarkan orang lain membunuhnya lebih dulu sebelum aku bertindak!”

Segera ia merangkap tangan bersoja ke dalam kamar, serunya: “Apakah Thian-ing Totiang

yang berada di dalam rumah?”

Begitu asyik Thian-ing-cu memeras otak, sehingga seruan yang demikian keras pun tidak

mengagetkan dirinya. Coh Llu-hiang geli, batinnya: “Tosu romantis ini mungkin sedang

mengenang perempuan bernama ‘Ling-siok’ itu.”

Dengan langkah lebar ia mendekati jendela, katanya pula: “Kedatangan cayhe ini

demi suheng…..” sampai di sini baru didapati bahwa poci itu sudah kosong, air teh sudah

mengalir habis membasahi selebar permukaan meja, malah membasahi pakaiannya pula.

Cepat sekali otak Coh Liu-hiang bekerja. Dengan lirih ia tepuk pundak orang, tak nyana

dengan badan kaku orang roboh menggelundung ke lantai. Setelah rebah di lantai, kaki tangannya

tetap bergaya seperti duduknya tadi, dengkul tertekuk tangan masih menjinjing poci teh itu.

Keruan bukan kepala terkejutnya Coh Liu-hiang. Lekas ia melompat masuk, kaki tangan Thianing-

cu ternyata sudah kaku dingin, napasnya sudah berhenti, dadanya berlepotan darah, ternyata

setelah tertotok jalan darahnya, lalu tertusuk mati oleh sebatang pedang di dadanya.

Ahli pedang yang kenamaan dari Hay-lam-pay ini ternyata terbunuh secara menggelap dan

tanpa disadari oleh sang korban sendiri. Pembunuh itu menghunjamkan pedangnya dari dada

tembus ke punggung, namun poci teh di tangannya toh tidak terlepas jatuh. Betapa takkan

mengejutkan kepandaian si pembunuh itu!

Betapa hati Coh Liu-hiang takkan mencelos. Dengan cermat ia periksa keadaan sekeliling

kamar, namun tiada tanda mencurigakan yang dia temukan, terang kepandaian pembunuh itu

amat tinggi.

Sambil mengawasi jenazah Thian-ing-cu, Coh Liu-hiang berdoa dalam hati: “Meski bukan aku

yang membunuhmu, tapi kau mati lantaran aku. Kalau orang itu tidak tahu aku hendak mencarimu,

belum tentu dia membunuhmu. Sayang sekali di waktu hidupmu kau sendiri memegang kunci

rahasia yang menyangkut persoalan ini, kau sendiri tidak tahu-menahu.”

Sampai sekarang Cou Yu-cin, Sebun jian, Leng-ciu-cu, Ca Bok-hap berempat mempunyai

titik persamaan, yaitu mereka berempat pasti pernah menerima sepucuk surat dan surat itu

pasti ditulis oleh satu orang, sumber penyelidikan inilah satu-satunya yang dikejar dan ingin

diketahui oleh Coh Liu-hiang. Untuk membongkar rahasia ini, dia harus tahu siapakah penulis

surat itu. Apa pula yang tertulis dalam surat itu?

Tepat tengah hari, cahaya matahari nan terik menyinari jalan raya yang berlandaskan papan

batu hijau itu sampai mengkilap.

Beranjak di jalan berbatu licin ini, walau air muka Coh Liu-hiang tidak mengunjuk perasaan

hatinya, namun hati kecilnya teramat kecewa hampir putus asa.

Surat-surat yang pernah diterima Cou Yu-cin, Sebun Jian, dan Ling-ciu-cu boleh dikata sudah

hilang. Song Kang, Nyo Siong dan Thian-ing-cu yang punya hubungan erat dengan persoalan ini

pun terbunuh untuk menutup mulutnya, yang ketinggalan hanyalah pihak Ca Bok-hap, mungkin

dari sana masih ada sumber penyelidikan yang dapat ditemukan. Tapi waktu Ca Bok-hap keluar

pintu, apakah dia meninggalkan surat itu? Seumpama dia meninggalkan surat itu, kepada siapa

dia serahkan surat itu? Seumpama Coh Liu-hiang sudah tahu siapa orang itu, memangnya dia

bisa menemukan jejak orang itu yang berada di tengah gurun pasir yang tak terjelajah oleh

manusia?

Coh Liu-hiang menarik napas. Ia belok ke jalan samping di mana ia memasuki sebuah warung

arak dan makan-minum sepuasnya. Kalau perut laki-laki sudah dijejal, sesak dengan makanan

enak yang memenuhi seleranya, pikirannya pun menjadi terang dan jernih. Dari jendela yang

terpentang lebar, iseng-iseng Coh Liu-hiang melongok keluar dengan sorot pandangan tertarik

mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Mendadak dilihatnya beberapa orang lakilaki

sedang menuntun kuda mengiringi seorang gadis berpakaian jubah

ungu. Mereka membelok ke arah sini dari jalan raya besar sana.

Beberapa laki-laki itu sudah tentu takkan menarik perhatian Coh Liu-iang, namun gadis yang

berdandan sebagai nyonya muda itulah yang membuat matanya bersinar terang. Dia bukan lain

adalah Sim San-koh.

Tampak muka bundar kwacinya itu bersungut-sungut. Sambil mengerut alis, mimik mukanya

seakan-akan uring-uringan dan selalu hendak mencari gara-gara kepada orang lain, namun para

laki-laki itu pun acuh tak acuh dan berjalan goyang gontai tak bersemangat.

Thian-sing-pang yang biasanya malang-melintang dan ditakuti di daerah Hoan-lam ini ternyata

begini mengenaskan, sampai diusir orang dari kota Kilam, betul-betul suatu kejadian yang amat

memalukan dan merupakan hinaan.

Waktu tiba di bawah pohon gundul di ujung jalan sana, mereka berhenti. Agaknya sedang

merundingkan sesuatu. Laki-laki itu sama naik ke atas kuda, teus dicemplak ke arah timur keluar

kota, sementara seorang diri Sim San-koh melanjutkan perjalanan ke arah barat, arah yang

berlawanan.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, terpikir sesuatu olehnya. Lekas ia lemparkan sekeping uang di

atas meja sebagai pembayaran makan-minumnya. Dengan tergesa-gesa ia mengejar ke arah

barat pula, maka dilihatnya potongan badan yang langsing, montok dan menggiurkan itu sedang

berlenggang di depan sana.

Dari kejauhan Coh Liu-hiang terus menguntit di belakangnya. Dengan puas ia menikmati gaya

sang gadis cantik yang berlenggang menggoyangkan pinggul, siapa pun yang melihatnya dengan

nyata pasti jantungnya berdebar keras. Demikianlah, rasa kecewa dan putus asa Coh Liu-hiang

tadi sudah terlupakan sama sekali.

Agaknya Sim San-koh tidak menyadari dan tidak tahu bila dirinya dikuntit orang. Seumpama

dia melihat Coh Liu-hiang, dia pun tidak akan mengenalnya, karena Coh Liu-hiang sekarang bukan

lagi Thio Siau-lim dalam penyamarannya tadi.

Saban-saban Sim San-koh berhenti menanyakan sesuatu kepada orang-orang di pinggir jalan

atau kepada pemilik toko dan penarik kereta, entah apa yang sedang dicarinya.

Tujuannya ke luar kota, jalan yang dilaluinya pun semakin sempit, penuh semak belukar dan

jorok. Akhirnya dia menuju ke pojokan kota, di mana merupakan tempat tinggal rakyat tingkat

rendah yang miskin. Sudah tentu Coh Liu-hiang teramat heran, sungguh ia tidak habis mengerti,

siapakah sebetulnya yang sedang dia cari.

Orang seperti Sim San-koh berada di daerah seperti itu, sudah tentu kedatangannya menjadi

perhatian orang banyak, ada beberapa bajingan gelandangan malah saling tuding dan bersuit

menggoda, agaknya mereka sedang berdebat main nilai segala.

Tapi Sim San-koh tidak memperdulikan tingkah laku orang lain, seolah-olah acuh tak acuh dan

tak mendengar ocehan kotor mereka. Kalau orang mengawasi dirinya, dia pun balas melotot

kepadanya, malah sering dia bertanya ke sana ke sini pula. Orang yang dia cari dan ditanyakan

alamatnya itu agaknya sudah lama menetap di daerah ini, tidak sedikit yang menuding suatu arah

sambil menjelaskan. Tempat yang ditunjuk ternyata adalah sebuah bukit kecil.

Di atas bukit kecil ini dibangun dua deret rumah gubuk, keduanya dibangun dari papan-papan

yang bersambung satu sama lainnya, bentuknya tidak genah dan miring serta reot, terang di sini

merupakan daerah miskin yang dihuni oleh para gelandangan di pinggir kota Kilam.

Semakin heran dan tak mengerti Coh Liu-hiang

dibuatnya.

“Di tempat seperti ini, adakah seseorang yang bisa dia temukan?”

Setelah tiba di bawah bukit, kembali Sim San-koh bertanya kepada seorang perempuan yang

berperut besar. Kali ini lapat-lapat Coh Liu-hiang ada mendengar ia bertanya demikian: “Sun Hakboh

apakah tinggal di atas sana? Yaitu siucay tukang gambar itulah?”

Nyonya berperut besar itu menggeleng-gelengkan kepala, sebagai jawaban bahwa ia tidak

tahu, namun seorang anak tanggung di sampingnya segera berteriak: “Sun-siucay yang

dikatakannya itu bukan lain adalah Sun-lothau itulah.”

Baru sekarang nyonya itu tertawa, katanya; “Oh, jadi kau hendak mencari Sun-lothau? Dia

tinggal di rumah ketujuh di atas sana, di muka rumahnya ada tergantung kerai berbentuk Pat-kwa,

gampang sekali ditemukan.”

Orang macam apa pula Sun-siucay itu? Kenapa Sim San-koh harus menemukan dia?

Mungkinkah ada tokoh-tokoh lihay yang menyembunyikan diri di daerah miskin di pinggir kota

Kilam ini?

Coh Liu-hiang berputar ke samping rumah nomor tujuh yang dimaksud. Dari sebuah lobang

jendela kecil yang terletak di samping rumah, ia melongok ke dalam. Tampak seorang kakek

ubanan yang berbadan bungkuk sedang duduk di pinggir meja reot. Penerangan di dalam gubuk

itu remang-remang, namun kentara jelas si orang tua ini hidup dalam kemelaratan, seolah dia

sudah tidak menaruh minat akan kehidupan manusia umumnya. Dengan tenang ia duduk di

tempatnya, seolah-olah sedang menunggu waktu menjelang ajalnya saja.

Kakek tua laksana sebatang lilin di tengah hamparan hujan badai ini, memangnya kenapa bisa

menimbulkan perhatian Sim San-koh? Sungguh Coh Liu-hiang tidak habis mengerti. Waktu ia

terheran-heran itulah Sim San-koh sudah menyingkap kerai melangkah masuk. Sekilas ia

menjelajahkan pandangannya, lalu me

ngerut kening, katanya: “Apa kau ini Sun Hak-boh, Sun-siucay?”

Roman muka si kakek tetap kaku tidak menunjukkan perubahan rasa hatinya, katanya kaku:

“Iya, aku memang Sun Hak-boh, tanya nasib dua tail, soal jiwa satu tail.”

Semakin dalam kerut alis Sim San-koh, katanya: “Yang kucari adalah guru gambar Sunsiucay,

bukan ahli nujum.”

Sun Hak-boh menyahut tawar: “Aku inilah guru lukis Sun-siucay, namun sejak dua puluh tahun

yang lalu aku sudah mengalihkan objekku. Kalau nona hendak bergambar, tentunya sudah

terlambat dua puluh tahun.”

Baru sekarang kerut alis Sim San-koh menjadi longgar, katanya: “Ganti objek atau tidak bukan

soal, asal kau betul adalah guru gambar dua puluh tahun yang lalu, memang kaulah yang kucaricari.”

Sembari bicara, dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan gulungan sebuah lukisan, terus

dibeber di atas meja di depan Sun Hak-boh. Dengan tajam ia menatap Sun Hak-boh, katanya

dengan nada berat: “Kutanya kau, apakah gambar lukisan ini hasil karyamu? Siapa pula orang

yang kau gambar ini?”

Ingin Coh Liu-hiang ikut melihat gambar lukisan itu, sayang penerangan di dalam rumah rada

gelap, bayangan Sim San-koh justru menghalangi gambar lukisan itu, maka nihillah niat hatinya.

Yang dapat dilihat adalah selebar muka Sun Hak-boh yang tetap pucat kosong, sedikit pun ia

tidak menunjukkan mimik mukanya, seperti tidak berperasaan sama sekali. Seumpama seorang

pikun, seolah-olah tinggal raga kasarnya itulah yang masih bertahan tanpa sukma dan jiwa.

Hakekatnya sorot matanya tak pernah me

mandang ke arah gambar lukisan itu. Dengan hambar dan pandangan kosong ia menatap

lurus ke depan. Dari pandangan hambar dan kosong itu, sepatah demi sepatah ia berkata: “Aku

tidak tahu siapa yang menggambar lukisan ini, dari mana pula aku bisa tahu siapa yang digambar

di dalam lukisan itu.”

Sekali berdiri Sim San-koh menjinjing baju di depan dadanya, katanya gusar: “Kenapa kau

tidak tahu? Di atas gambar ini terang ada tanda tangan namamu.”

“Lepaskan tanganmu, memangnya matamu picak, tidak melihat kalau aku ini seorang buta?”

Seperti mukanya mendadak ditampar orang, lekas Sim San-koh melepaskan tangannya,

teriaknya: “Kau… jadi apa pun kau tidak bisa melihatnya lagi?”

“Kalau mataku masih bisa melihat, memangnya kenapa aku harus menyimpan alat lukisanku?

Menggambar adalah jiwaku, sudah lama aku kehilangan jiwa, yang duduk di sini bukan lain adalah

seonggok mayat belaka.”

Lama sekali Sim San-koh menjublek di tempatnya, pelan-pelan ia menggulung pula gambar

lukisan itu. Namun baru setengah saja, tiba-tiba ia meletakkan kembali lukisan itu di atas meja,

katanya keras: “Walau kau tidak bisa melihat lukisan gambar ini, tapi mungkin kau masih ingat

kepadanya. Dia seorang perempuan cantik, masihkah kau ingat kapan kau pernah melukis

seorang perempuan cantik?”

“Sekarang walau aku ini seorang tua renta yang miskin dan picak, tapi dua puluh tahun yang

lalu, aku Sun Hak-boh adalah tokoh yang kenamaan.”

Rona wajahnya nan hambar kosong itu secara aneh memancarkan cahaya cemerlang yang

sekejap saja, cahaya yang bangga seolah-olah menghidupkan kembali jiwa dan sukmanya.

Katanya lebih lanjut: “Dua puluh

tahun yang lalu, orang sering membandingkan aku sebagai Co Cut-hin, seperti Go To-cu,

entah putri-putri bangsawan dari kalangan apa pun dalam dunia, sama berebut minta aku

menggambarkan lukisan mereka. Entah berapa banyak perempuan-perempuan cantik yang

pernah kulukiskan…..”

“Tapi yang satu ini jauh berlainan…. kau harus percaya kepadaku. Walau berapa banyak

perempuan jelita yang pernah kau lukis, melulu dia inilah pasti tidak akan pernah kau lupakan.

Peduli siapa pun, bila pernah melihat raut wajahnya, selama hidupnya tentu tidak akan

melupakannya.”

Sun Hak-boh menepekur sebentar, mendadak ia bertanya: “Gambar lukisan yang kau maksud

apakah lebar dua kaki panjang tiga kaki? Apa orang yang kulukis itu mengenakan pakaian hijau

dengan pripit biru, di bawah kakinya mendekam seekor kucing hitam……” entah kenapa nada

suaranya semakin gemetar dan akhirnya tak kuasa meneruskan kata-katanya.

Sebaliknya Sim San-koh berjingkrak senang, katanya: “Tidak salah, memang gambar itulah.

Aku tahu kau pasti tidak akan melupakannya, tentunya kau pun ingat siapakah perempuan cantik

yang kau lukis ini?”

Kini sekujur badan Sun Hak-boh yang gemetar, rona wajahnya yang hambar dan kosong

kelihatan amat takut dan jeri, katanya dengan suara serak: “Jadi dia yang kau tanyakan…. dia

yang kau tanyakan…. aku…. aku tidak ingat siapa dia…. aku tidak pernah mengenalnya.”

Kedua tangannya berpegangan di tepi meja, meja sampai berkeriut keras ikut gemetar.

Dengan sempoyongan ia coba berdiri di atas kakinya, lalu dengan terhuyung-huyung hendak lari

ke luar pintu.

Cepat Sim San-koh menariknya, lalu menekannya duduk kembali di kursinya semula, katanya

bengis: “Kau pernah melihatnya, bukan? Kau pun masih mengingatnya, bukan?”

“Nona, kumohon kau lepaskan aku saja….. Seorang tua miskin yang tidak berguna seperti aku

ini, di sini aku menunggu ajal dengan tenang, kenapa kau harus memaksaku?”

“Sret!”, Sim San-koh mencabut badik serta mengancam tenggorokannya, ancamnya bengis:

“Tidak kau katakan, biar kubunuh kau!”

Bergetar sekujur badan Sun Hak-boh, akhirnya ia berteriak keras: “Baik, akan kukatakan,

dia….. dia bukan manusia, dia adalah iblis perempuan!”

Mengintip sampai di sini, hati Coh Liu-hiang pun diliputi perasaan heran dan tertarik akan

persoalan ini. Siapakah perempuan di atas lukisan itu? Apa pula sangkut-pautnya dengan Sim

San-koh? Kedatangannya semula hendak menyelidiki berita Suhengnya Cou Yu-cin, memangnya

kenapa pula tanpa kenal jerih-payah mencari seorang pelukis rudin yang sudah tua renta ini dan

dengan mengancam menanyakan asal-usul perempuan di atas gambar lukisan itu?

Memangnya perempuan itu punya sangkut-paut dengan suatu rahasia yang menyebabkan

Cou Yu-cin dan lain-lainnya menghilang?

Kini si pelukis mengatakan tidak mengenal perempuan itu setelah berselang dua puluh tahun

kemudian. Kenapa kelihatannya dia amat menakutinya? Apa benar dia seorang iblis perempuan?

“Iblis perempuan?” terdengar Sim San-koh menjengek hidung. “Perempuan secantik ini mana

bisa dikatakan iblis perempuan?”

“Tidak salah, memang dia teramat cantik. Selama hidupku betapa banyak perempuan cantik

yang pernah kulihat, namun tiada seorang pun yang bisa dibandingkan dengan dia. Kecantikan

orang lain paling-paling bikin pandanganmu kabur, namun kecantikannya bisa membikin kau gila,

sehingga kau rela mengorbankan segala milikmu termasuk jiwa ragamu sendiri. Tidak banyak

yang kau harapkan, cukup untuk dapat melihat senyum tawanya belaka.”

Walaupun dia sedang melukiskan betapa cantiknya sang bidadari, namun suaranya

kedengaran sember dan bergetar ketakutan, seolah-olah memang sering terjadi banyak korban

yang ingin melihat senyum tawanya saja.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, pikirnya: “Kalau terlalu ayu memang ada kalanya

bisa berubah menakutkan, namun selama hidupku ini kenapa belum pernah aku berjumpa dengan

perempuan cantik yang bisa membuat hatiku takut?”

Sementara itu terdengar Sun Hak-boh sedang menutur lebih lanjut: “Waktu aku melihatnya,

sudah tentu aku pun amat kaget dan merasa lemas sekujur badanku berhadapan dengan

kecantikannya. Waktu itu aku belum berupa buruk seperti sekarang, kalau tidak mau dikata

sebagai pemuda ganteng cakap, pernah beberapa gadis terkena penyakit rindu oleh karena aku,

namun aku anggap hal itu seperti sepele saja. Tapi dia….. di hadapannya, seolah-olah berubah

menjadi budaknya, ingin rasanya kupersembahkan segala milikku kepadanya.”

Sim San-koh mengangkat alis, katanya, “Apa benar di dunia ini ada perempuan secantik itu?”

“Orang yang belum pernah melihat rupanya, memang sukar mempercayainya. Lukisan itu, aku

yakin karyaku ini cukup bernilai, namun mana aku mampu melimpahkan mimik wajahnya nan asli

memabukkan setiap orang yang melihatnya, tindak-tanduknya…., boleh dikata aku hanya bisa

melukis seperseribu dari segala kesempurnaan dirinya.”

“Dia mencarimu hanya untuk supaya kau lukis?”

“Ya. Setelah bertemu aku, lantas dia minta supaya dibuatkan empat lembar lukisan dirinya.

Aku menghabiskan waktu tiga bulan lamanya. Kuperas segala daya cipta, keringat, keahlianku,

akhirnya berhasil dengan sukses.”

Mendadak terkulum senyuman bangga di ujung mulutnya, katanya kalem: “Dalam tiga bulan ini

setiap hari setiap saat aku berhadapan dengan dia….. tiga bulan ini sungguh merupakan hari-hari

bahagia selama hayatku, tapi tiga bulan kemudian dia…..” Sampai di sini, senyuman di ujung

mulutnya tiba-tiba sirna, roman mukanya kembali mengunjuk rasa takut yang tak terperikan.

Kembali sekujur badannya gemetar dan berkeringat dingin.

Tak tahan tertawa Sim San-koh: “Tiga bulan kemudian bagaimana?”

“Tiga…. tiga bulan kemudian, malam setelah aku menyelesaikan keempat lembar lukisan itu,

dia menyiapkan meja perjamuan. Dia sendiri yang melayani aku makan-minum sehingga serasa

arwahku terbang ke awang-awang. Karena dicekok arak terus-menerus, memangnya kondisi

badanku sudah teramat lelah setelah memeras keringat selama tiga bulan, beberapa cangkir saja

aku lantas jatuh mabuk. Waktu aku siuman, baru aku tahu, dia….. dia…..” kalamenjing di lehernya

naik-turun menelan ludah, sepatah demi sepatah kata-katanya keluar dari tenggorokannya yang

tersendat: “Ternyata kedua biji mataku sudah dia korek keluar dengan kekerasan.”

Mendengar sampai di sini, Sim San-koh di dalam rumah dan Coh Liu-hiang di luar sana sama

berjingkrak kaget. Lama kemudian Sim San-koh baru menarik napas panjang, katanya: “Kenapa

dia berbuat demikian?”

Sun Hak-boh tertawa rawan, sahutnya: “Karena aku pernah melukis dirinya, dia tidak suka aku

melukis bagi perempuan lain lagi.”

Biasanya Sim San-koh sering berlaku kejam membunuh orang tanpa berkesip, tapi begitu

mendengar kekejaman perempuan yang telengas ini, tapak tangannya sampai berkeringat,

gumamnya: “Iblis perempuan…. memang dia betul iblis perempuan.”

“Sudah kukatakan dia adalah iblis perempuan. Siapa pun yang memilikinya, pasti akan

mengalami bencana. Nona, kau…. untuk apa kau cari dia? Gambar lukisan ini cara bagaimana

pula bisa terjatuh ke tanganmu?”

“Gambar lukisan ini adalah milik Toa-suhengku, Cou Yu-cin,” sahut Sim San-koh.

Bersinar biji mata Coh Liu-hiang, batinnya: “Ternyata tebakanku tidak meleset, perempuan itu

ternyata ada hubungannya dengan Cou Yu-cin.”

“Kalau demikian, kenapa tidak kau tanyakan asal-usulnya kepada suhengmu?” tanya Sun Hakboh.

“Toa-suhengku sudah menghilang.”

“Menghilang?….. sebelum menghilang?”

“Dulu sudah tentu pernah kutanyakan, namun dia tidak mau menjelaskan.”

“Kalau dia tidak mau menjelaskan, kenapa kau ingin tahu?”

Kata Sim San-koh penasaran, “Selama hidupnya Toa-suheng tidak mau menikah lantaran

perempuan ini. Kebahagiaan hidup suhengku boleh dikata terkubur oleh perempuan ini. Setiap

waktu, setiap saat, ia selalu merindukannya sehingga lupa makan tidak bisa tidur. Sehari-hari

selalu dalam keadaan linglung dan suka mengigau. Selama sepuluh tahun tak pernah

kehidupannya berubah. Namun dia sebaliknya tidak pernah menunjukkan perhatiannya kepada

suhengku, apa yang dia berikan kepada suhengku melulu penderitaan dan kesengsaraan belaka.”

“Kau hendak menemui dia demi kebaikan Toa-suhengmu?”

“Ya!” ujar Sim San-koh kertak gigi dengan penuh kebencian. “Aku membencinya!”

“Kau membencinya lantaran kau sendiri pun mencintai suhengmu? Kalau bukan lantaran dia,

mungkin kau sudah menjadi bini Toa-suhengmu, benar tidak?” laki-laki tua yang tidak punya mata

ini ternyata dapat menem

busi relung hati orang lain.

Sim San-koh serasa ditusuk jarum. Dengan lemas ia jatuh terduduk, namun lekas ia bangkit

kembali, katanya dengan suara ringan: “Aku mencarinya ada sebab lainnya pula.”

“Sebab apa?”

“Suatu malam Toa-suheng pernah menerima sepucuk surat. Lalu dia termenung menghadap

gambar lukisan ini sampai pagi tanpa tidur. Hari kedua, pagi-pagi benar dia lantas keluar pintu dan

tak pernah kembali lagi.”

“Tak pernah kembali sejak keluar pintu?”

“Ya, oleh karena itu kupikir menghilangnya Toa-suheng pasti ada sangkut-pautnya dengan

perempuan ini. Bukan mustahil surat itu adalah buah permainannya. Jikalau bisa menemukan dia,

mungkin aku bisa menemukan Toa-suheng pula.”

Lama Sun Hak-boh berdiam diri, lalu katanya pelan-pelan: “Aku tahu namanya adalah Chiu

Ling-siok.”

Nama Chiu Ling-siok tidak membawa pengaruh apa-apa bagi Sim San-koh, namun amat

mengejutkan bagi Coh Liu-hiang yang mengintip di luar jendela. Tiba-tiba dia teringat pada surat

yang dia baca dalam buntalan Thiang-ing-cu tempo hari, bukankah tanda tangan penulis surat itu

adalah Ling-siok juga? Jadi surat cinta itu ternyata bukan ditujukan kepada Thiang-ing-cu, tapi

ditujukan kepada Ling-ciu-cu. Setelah Ling-ciu-cu menghilang, seperti pula Sim San-koh, Thianing-

cu menaruh curiga kepada penulis surat itu dan ingin mencari jejaknya pula. Karena

kesimpulannya ini, tanpa ragu-ragu, cepat Coh Liu-hiang menyelinap masuk lewat jendela.

Serasa kabur pandangan Sim San-koh, tahu-tahu di dalam bilik reot itu sudah bertambah

seseorang di hadapannya. Dengan kaget ia mundur mepet ke dinding, bentaknya bengis: “Siapa

kau?”

Coh Liu-hiang tersenyum simpul sambil mengawasi muka orang, ujarnya: “Nona tidak

perlu kaget. Seperti kedatangan nona, Cayhe pun sedang menyelidiki jejak Chiu-hujin, Chiu

Ling-siok itu.”

Senyumannya sungguh mengandung tenaga gaib sehingga orang merasa tenteram, terutama

kekuatan yang dapat meredakan kekuatiran hati perempuan. Ternyata Sim San-koh mulai tenang,

tanyanya: “Untuk apa kau mencari dia?”

Dua kali lirikannya kemudian, segala kewaspadaan terhadap Coh Liu-hiang sudah sirna tak

berbekas, namun kedua biji matanya malah membelalak besar. Coh Liu-hiang tahu tatapan mata

orang tidak lebih hanya ingin memperlihatkan keindahan matanya saja, jadi tiada rasa gusar atau

kekuatiran. Maka dengan tersendat-sendat, sengaja ia berkata, “Karena Cayhe dengan Chiu Lingsiok

juga….” Sampai di sini ia sudah melihat jelas gambar lukisan yang dibeber di atas meja.

Seketika mulutnya seperti disumbat, seketika ia berdiri menjublek.

Perempuan dalam lukisan ini alis matanya terang bersinar, sungguh seraut wajah nan ayu,

molek laksana hidup, memang bidadari di antara manusia, gambar perempuan ini mirip benar

dengan gambar yang pernah dilihatnya di kamar Sebun Jian tempo hari. Kamar yang sederhana

itu hanya diisi selembar gambar lukisan perempuan ini, terang betapa rindu dan mendalam

kenangannya kepada perempuan ini, sampai sekarang dia hidup sebatang kara tentunya karena

perempuan ini pula. Sebaliknya Ling-ciu-cu terima menjadi orang beribadah lantaran dia pula.

Sampai detik ini Coh Liu-hiang sudah tahu ada tiga laki-laki terpincut-pincut sampai lupa

daratan dan terima hidup sebatang kara tidak kawin selama hidup, mereka adalah Sebun Jian,

Cou Yu-cin dan Ling-ciu-cu.

“Kau kenal dia?” tanya Sim San-koh menatapnya.

“Aku tidak mengenalnya, untung tidak kenal.”

Sun Hak-boh berkata, “Aku tak perduli siapa kalian, kalian sama-sama hendak mencari tahu

jejaknya. Apa yang kuketahui sudah kuterangkan, bolehlah kalian pergi.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Sim San-koh.

“Sejak malam itu, aku tidak pernah melihatnya lagi…. atau boleh dikatakan aku tidak pernah

mendengar suaranya lagi.”

“Kau hanya memberitahu namanya saja, apa sih gunanya?” ujar Sim San-koh penasaran.

“Apa yang kuketahui memang cuma sebanyak itu saja.”

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menyeletuk, “Katamu kau pernah menggambar empat lembar

lukisannya?”

“Ya, empat lembar.”

“Apa kau tahu kenapa dia minta kau melukis empat lembar?”

“Waktu itu aku pun heran. Orang lain cukup minta satu lembar saja, kenapa dia sendiri minta

empat lembar? Waktu aku sudah menyelesaikan gambar ketiga, akhirnya tak tertahan kutanyakan

kepadanya.”

“Adakah dia memberitahu kepadamu?” cepat Coh Liu-hiang bertanya.

“Dia memberitahu kepadaku…. karena dia hendak memberikan keempat lembar lukisan itu

kepada empat orang laki-laki. Dengan keempat laki-laki itu pernah terjadi…. cinta asmara dan saat

itu terpaksa dia harus putus hubungan dengan mereka.”

“Dia mencari pelukis ternama sepertimu ini, maksudnya supaya kecantikannya kau lukiskan di

atas kertas ini, lalu masing-masing ia bagikan kepada empat laki-laki itu. Dengan demikian, meski

ia putus hubungan dengan mereka, mereka toh tidak akan melupakan dirinya. Ingin dia membuat

keempat laki-laki itu menderita dan merasa rindu setiap kali melihat gambar lukisannya itu,”

demikian ujar Coh Liu-hiang.

“Perempuan kejam! Maksud tujuannya me

mang terlaksana. Setiap kali Suhengku mengawasi lukisan ini, hatinya menderita serasa

seperti diiris-iris sembilu.”

“Tiba pada titik persoalannya sekarang: kenapa dia harus putuskan hubungannya dengan

mereka?” ujar Coh Liu-hiang.

“Kalau seorang perempuan tanpa kenal kasihan dan tega hati memutuskan hubungannya

dengan laki-laki pujaannya, biasanya hanya satu sebab saja.”

“Sebab apa?” tanya Coh Liu-hiang.

“Yaitu dia hendak menikah dengan laki-laki lain, laki-laki yang lebih tampan, lebih baik dari

keempat laki-laki itu.”

“Benar, isi hati perempuan hanya bisa diraba dan diselami oleh perempuan.”

“Laki-laki yang mengawininya itu, kalau tidak memegang kekuasaan besar, pasti memiliki ilmu

silat tinggi, atau mungkin mempunyai kekayaan harta yang tak ternilai banyaknya.”

Sim San-koh tersenyum mengawasi Coh Liu-hiang, lalu menambahkan: “Tentunya mungkin

pula laki-laki itu seperti kau yang punya senyuman manis yang menarik sanubari setiap

perempuan.”

“Nona sekarang pun tergerak dan tertarik?”

Merah jengah muka Sim San-koh, namun matanya menatap lekat-lekat, katanya sambil

tertawa genit:

“Untung tidak banyak laki-laki seperti kau dalam dunia ini, harta karun pun belum tentu

dipandang oleh dia, maka laki-laki yang mengawininya itu pastilah tokoh Bulim yang punya

kedudukan tinggi dan nama besar! Asal kita bisa menemukan siapakah laki-laki itu, tentu dapat

menemukan dia.”

“Bagus, persoalan ini memang makin menyempit, namun kaum persilatan di Kangouw entah

berapa banyak tokoh-tokoh kosen. Menurut pemandanganku, lebih baik nona serahkan gambar

lukisan ini kepadaku, tunggu saja di rumah. Setelah aku berhasil mendapat berita yang nyata,

pasti akan kuberi kabar kepada nona.”

Dengan pandangan genit Sim San-koh melangkah maju menjatuhkan diri di atas badan orang,

katanya sambil menatapnya: “Kenapa aku harus menyerahkan kepadamu? Kenapa aku harus

percaya kepadamu?”

Berputar biji mata Coh Liu-hiang, tiba-tiba ia membisiki beberapa patah kata di pinggir telinga

orang.

Seketika berubah air muka Sim San-koh, kaki tersurut dua langkah, serunya gemetar: “Jadi

kau…. kau…. setan jahat ini.”

Membalikkan tubuh seperti orang kesurupan setan, segera ia angkat langkah seribu.

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menghela napas lega. Segera ia gulung gambar lukisan itu, lalu ia

berdiri di depan meja. Tanpa berkedip ia mengawasi Sun Hak-boh. Tatapan matanya yang tajam

seolah-olah terasakan juga oleh Sun Hak-boh yang buta ini. Dengan kurang tenteram, ia

menggerakkan badan di atas kursi, akhirnya ia berkata: “Kenapa kau tidak segera berlalu?”

“Aku sedang menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu keterangan yang masih kau rahasiakan mengenai si… dia itu.”

Sesaat Sun Hak-boh terlongong, katanya sambil menghela napas, “Urusan apa pun takkan

bisa mengelabuimu, ya?”

“Aku tahu kau pasti membencinya, namun kau tidak suka ada orang yang mencelakai dia. Tapi

kalau kau tidak mau membeberkan terus terang apa saja yang kau ketahui mengenai dirinya,

mungkin dia benar-benar bakal dibunuh orang.”

“Kenapa?” seru Sun Hak-boh kuatir dan berubah roman mukanya.

“Keempat laki-laki yang menerima gambar lukisan itu sekarang sudah mati semua.”

“Sudah mati? Bagaimana bisa mati?”

“Walau sekarang aku belum tahu seluk-be

luk kematian mereka, namun aku sudah tahu mereka sama-sama pernah menerima sepucuk

surat dari Chiu Ling-siok dan akhirnya menemui ajalnya secara misterius setelah keluar pintu.”

“Kau…. maksudmu Chiu Ling-siok yang mencelakai jiwa mereka?”

“Kalau Chiu Ling-siok ingin mereka menderita sakit rindu seumur hidupnya, tentu takkan

mencelakai jiwa mereka. Suratnya itu mungkin lantaran dia menghadapi sesuatu kesukaran, minta

mereka lekas datang membantu kesulitannya.”

“Benar, bila seorang perempuan menghadapi kesukaran, yang diingatnya tentulah laki-laki

yang paling baik kepada dirinya, dan hanya orang-orang itu pula yang berkorban dan suka

berjuang setia bagi kepentingannya.”

“Namun keempat orang itu sudah menemui ajalnya. Orang yang mencabut jiwa mereka,

beruntun mencabut jiwa orang lain pula, tujuannya hanyalah untuk menutupi rahasia hubungannya

dengan keempat orang itu, berusaha supaya aku tidak melibatkan diri dalam persoalan rahasia ini.

Dari sini dapatlah disimpulkan, kesukaran yang dihadapi pasti belum tertanggulangi, bukan

mustahil sekarang dia dalam bahaya.”

“Kalau toh persoalan ini begini berbahaya, kenapa kau harus melibatkan diri dalam

petualangan ini? Memangnya kau ingin menolong dia?”

“Kalau aku tidak tahu di mana sekarang dia berada, bagaimana bisa menolongnya?”

Sun Hak-boh menepekur sesaat lamanya, katanya pelan-pelan: “Tadi kalian lupa menanyakan

sesuatu kepadaku.”

“Soal apa?”

“Kau lupa bertanya kepadaku di tempat mana aku menggambar lukisannya.”

“Betul, soal ini pun tentu ada hubungannya.”

“Lima li ke luar kota terdapat sebuah Oh-i

am! Di sanalah aku membuat lukisan itu. Pemimpin biara itu adalah Siok-sim Taysu, kenalan

kentalnya. Tentunya dia tahu di mana sekarang si dia berada.”

“Masih ada lagi?” tanya Coh Liu-hiang.

Sun Hak-boh tertunduk tidak bersuara lagi.

Coh Liu-hiang menggulung gambar itu, terus tinggal pergi. Tapi mendadak ia berputar pula dan

katanya: “Walau mata sudah buta, namun hati tidak buta. Dengan hati sebagai mata, memangnya

kau tidak bisa melukis lagi…. Sun-heng, cobalah kau berpikir dengan cermat, harap jagalah dirimu

baik-baik.”

Sekilas Sun Hak-boh melengak, seketika alis dan biji matanya yang kosong bergerak-gerak,

serunya keras: “Terima kasih akan petunjukmu, harap tanya siapakah nama besarmu?”

Waktu itu Coh Liu-hiang sudah pergi jauh.

Di tempat gelap di luar jendela, tiba-tiba terdengar jawaban dingin seseorang: “Dia she Coh,

bernama Liu-hiang.”

Waktu Coh Liu-hiang tiba di bawah bukit, dilihatnya sebuah kereta berenda hitam berhenti di

depan sana. Kereta tunggangan yang paling umum di kota Kilam untuk menempuh perjalanan

jauh dengan cepat. Dirinya memang tidak leluasa mengembangkan ginkang, maka Coh Liu-hiang

mendekat dan bertanya: “Apa kereta ini sedang menunggu orang?”

Kusir kereta bermuka bundar, sahutnya sambil berseri tawa: “Memang sedang menunggumu,

ayolah berangkat!”

“Tahukah kau ada sebuah Oh-i-am di luar kota?”

“Tepat bila kau mencari diriku untuk mengantarmu ke sana. Kemarin baru saja aku mengantar

bini sembahyang ke sana. Silakan naik kereta, tanggung tidak akan kesasar.”

Kereta berjalan dengan cepat, di dalam kereta Coh Liu-hiang mulai putar otak memikirkan

kembali persoalan ini, kini persoalan

sudah dibikin ringkas dan kuncinya terletak pada: apakah dia bisa menemukan jejak Chiu Lingsiok

saja. Yang diketahuinya sekarang tidak lebih hanyalah bahwa Sebun Jian, Cou Yu-cin, Lingciu-

cu dan Ca Bok-hap sama keluar pintu lantaran surat undangan Chiu Ling-siok. Tapi kenapa

Chiu Ling-siok mengundang mereka? Apa benar hendak meminta bantuan mereka? Perempuan

seperti dia itu, kesulitan apa pula yang dia hadapi sehingga harus meminta bantuan orang untuk

mengatasinya?

Bersambung ke Jilid 5

Jilid 5

Kereta berjalan cukup cepat, namun letak Oh-i-am memang tidak dekat, untung Coh Liuhiangpun

sedang peras otak menerawang, sehingga dalamn perjalanan tidak menjadi gugup.

Akhirnya ia tersentak dari keyakinan berpikir waktu mendengar suara kusir kereta: “Nah, Oh-iam

berada dalam hutan di depan sana, silahkan kau turun saja!”

Di depan sana adalah sebidang hutan Tho, di pinggir sungai terdapat sebuah biara kecil, saat

mana menjelang magrib, dari dalam biara lapat-lapat terdengar suara mantra. Agaknya para

biarawati sedang sembahyang magrib.

Biara dalam hutan Tho dengan pemandangan alam yang sejuk permai, mamang Siok-sim

Taysu itu adalah seorang cendikia, kalau tidak mana mungkin bisa bersahabat kental dengan

perempuan secantik Chiu Ling-siok.

Pintu besar biara terpentang lebar, Coh Liu-hiang langsung berjalan masuk, pelita belum

dipasang di dalam biara, suara mantra masih terdengar halus tenang. Seorang biarawati berjubah

hitam dengan selubung putih sedang berdiri di bawah pohon di bawah teras sana, agaknya

sedang mengenang masa silam dan penuh duka cita. Sampai pada keadaan ini, langkah Coh Liuhiang

mau tidak mau diperlambat. Dengan berjinjit Coh Liu-hiang maju mendekat dan coba

bertanya: “Apakah Siok-sim Taysu berada di dalam biara?”

Sekilas biarawati itu melirik kepadanya, lalu merangkap tangan di depan dada, katanya: “Pin-ni

adalah Siok-sim, entah Sicu datang dari mana? Untuk apa kemari?”

“Sudah lama Taysu melepas diri duniawi, entah masih ingatkah kepada temanmu lama Chiu

Ling-siok?”

“Ingat berarti tidak ingat, tidak ingat itulah ingat, kenapa sicu bertanya? Kenapa Pin-ni harus

menjawab?”

“Setelah bicara berarti tidak omong, kalau tidak omong berarti sudah bicara, kalau Taysu

berkukuh tidak mau bicara, bukankah mirip seperti itu?”

Terunjuk senyum di ujung mulut Siok-sim Taysu, katanya: “Sicu ternyata tahu tentang ajaran

Budha”

“Ya, tahu satu dua bait saja”

“Sicu seorang paham, kenapa pula Pin-ni harus menyelesaikan? Kalau Sicu bisa datang

kemari tentu kau sudah dapat penjelasan Sun Hak-boh bahwa gambar lukisan Chiu Ling-siok

adalah untuk diberikan kepada orang lain sebagai tanda kenangan?”

“Bagaimana kelanjutannya?”

“Ling-siok memang berjodoh dengan Budha, setelah memutuskan tali asmara yang

membelenggu dirinya, sedikitpun tiada angan-angannya hidup dalam duniawi, dua puluh tahun

yang lalu, di bawah sumpah dan Pn-ni sendiri yang mencukur rambutnya menjadi biarawati”

“Jadi biarawati?….sekarang….”

“Mengandal bakat dan kesadarannya, sudah tentu takkan lama hidup menderita di dalam

duniawi.”

“Dia…. apakah dia sudah meninggal?”

“Pergi datang, tanpa janggalan….O-mie-to-hud, siancay siancay”

Akibat ini sungguh di luar dugaan Coh Liu-hiang, bagaimanapun tak pernah dia pikirkan bahwa

Chiu Ling-siok bukan menikah kepada orang lain, ternyata mencukur rambut menjadi biarawati, tak

terduga pula orang ternyata sudah meninggal.

Seketika ia menjublek dan terlongong di tempatnya seolah-olah sekujur badan menjadi lemas

tak mampu bergerak.

Siok-sik Taysu tersenyum, ujarnya: “Dari mana sicu datang? Kenapa tidak kembali ke tempat

asal?”

Dengan hambar Coh Liu-hiang membalik badan, langsung beranjak keluar, gumamnya:

“Kalau Chiu Ling-siok sudah ajal, memangnya siapa yang menulis surat itu? Memangnya

orang lain yang memalsu nama dan tulisannya? Memangnya kematian Cou Yu-cin dan lain-lain

hakikatnya tiada sangkut paut dengan dia?”

Sampai sekarang dia belum bisa mendapatkan bukti yang nyata bahwa surat-surat yang

diterima oleh Cou Yu-cin berempat adalah tulisan Chiu Ling-siok sendiri. Yang diketahui hanyalah

bahwa Sebun Jian, Cou You-cin, Ling Ciu-cu dan Ca Bok-hap berempat semasa hidupnya sama

terpincut kepada Chiu Ling-Siok.

Dengan tertawa getir Coh Liu-hiang menggumam: “Tapi itu bukan alasan untuk mengatakan

bahwa mereka ajal lantaran dia sekarang, kalau Chiu Ling-siok sudah lama meninggal, aku harus

bekerja mulai permulaan pula”

Tatkala itu dia sudah keluar dari bilangan hutan Tho, beberapa langkah kemudian tiba-tiba ia

menghentikan langkah, serunya tertahan: “Tidak benar! Urusan ini rada janggal!”

Secara cermat kembali ia menyelusuri lekuk-liku urusan dari semula serta menganalisa

dengan kenyataan yang dihadapi, tiba-tiba ia bertepuk tangan, ujarnya: “Siok-sim Taysu tak

pernah keluar pintu, darimana ia tahu aku pernah pergi ke tempat Sun Hak-boh? Darimana pula ia

bisa tahu dia ada beritahu kepadaku bahwa lukisan itu sengaja hendak dihadiahkan kepada orang

lain?”. Sebat sekali ia berlari balik menerjang masuk ke dalam biara, tidak kelihatan bayangan

orang di bawah pohon.

Suara mantra masih kumandang, waktu Coh Liu-hiang menerjang masuk, para biarawati yang

sedang sembahyang malam itu sama tersentak kaget, dengan nanar mata Coh Liu-hiang

menjelajah setiap raut muka orang, tak dilihatnya biarawati yang berjubah hitam tadi, segera ia

bertanya dengan keras: “Di mana Siok-sim Taysu?”

Seorang biarawati tua menjawab dengan hambar: “Dalam biara kecil ini tiada orang yang

dipanggil Siok-sim!”

“Bukankah Siok-sim Taysu ketua dari Oh-i-am?”

“Biara kecil ini dinamakan Tho-am, Oh-i-am terletak di sebelah barat kota, beberapa li lagi

harus berputar ke sana”

Jadi biara kecil ini ternyata bukan Oh-i-am? Coh Liu-hiang melenggong, katanya tergagap:

“Tadi ada seorang suhu berjubah hitam yang berdiri di bawah pohon sana, masa dia bukan salah

seorang penghuni biara ini?”

Biarawati tua itu menatapnya dengan sorot aneh, seperti mengawasi seorang linglung atau

gila, katanya perlahan-lahan: “Seluruh penghuni biara ini sekarang hadir di sini menyelesaikan

sembahyang malam, masakah ada orang di bawah pohon sana tadi?”

Coh Liu-hiang berlari-lari ke arah barat, diam-diam ia mengeluh: “Kenapa aku begini ceroboh,

kereta besar nan mewah itu, mana mungkin sudi menunggu penumpang di daerah miskin seperti

itu? Terang memang dia sedang menunggu aku, sehingga aku gampang terjebak olehnya.

Tujuannya terang supaya aku menyangka Chiu Ling-siok benar sudah mati dan menjerumuskan

aku ke jalan lain”

Tatkala itu hari sudah mulai petang, tempat itu sudah jauh dari kota, Coh Liu-hiang

kembangkan ilmu entengi tubuhnya, tak lama kemudian dilihatnnya jauh di bawah kaki gunung di

depan sana sebuah bayangan tembok biara.

Biara atau kuil yang bobrok dan sudah lama tak terurus lagi, setitik sinar terang kelap-kelip

menyendiri di malam gelap, angin menghembus keras menghamburkan dedaunan kering

sehingga bunyi keresekan seolah-olah bunyi langkah setan gentayangan yang sedang mencari

mangsa. Serasa berdiri bulu kuduk Coh Liu-hiang menghadapi suasana seram ini, seakan-akan

setan gentayangan itu sedang menyebul tengkuknya, namun ia tidak berhenti atau putar balik

karenanya, seringan burung walet langsung ia melesat ke arah titik sinar pelita itu.

Di pinggir dian kecil, duduk seorang biarawati (nikoh) jubah hitam sedang termangu-mangu,

jubahnya sudah banyak berlubang dan kucel, roman mukanya kuning seperti malam, sikapnya

linglung seperti orang kesurupan setan.

Coh Liu-hiang batuk-batuk kering lalu tanyanya: “Apakah di sini Oh-i-am?”

“Oh-i-am, sudah tentu Oh-i-am, siapa berani bilang tempat ini bukan Oh-i-am?”

Tak terlihat sikap pura-pura oleh Coh Liu-hiang, tanyanya pula: “Apakah Siok-sim Taysu ada?”

Biarawati itu berpikir sebentar, tiba-tiba ia terkikik geli, sahutnya: “Ada, tentu ada, siapa bilang

dia tiada?”

Biara bobrok yang aneh dan ganjil, biarawati yang misterius serta tawanya yang lucu, tak

tertahan Coh Liu-hiang merasa bergidik seram, katanya: “Entah sudikah suhu bawa Cayhe

menemui Siok-sim Taysu?”

Biarawati itu mendadak berdiri, katanya: “Mari ikut aku!” tangannya terulur mengangkat dian,

seperti api setan menyoroti kain gordyn yang sudah luntur warnanya, patung Budha yang sudah

kotor dan bercat hitam. Di mana-mana berserakan daun-daun kering, rumput liar tumbuh dengan

suburnya, debu dan galagasi. Dengan kaki pincang, satu tinggi yang lain rendah, biarawati itu

membawanya melalui pekarangan yang sudah menjadi semak belukar, tak terlihat bayangan

seorangpun dalam Oh-i-am ini. Kalau ada tentulah setan atau dedemit yang sedang mengintip

kedatangan mereka.

Keadaan belakang jauh lebih gelap, pohon di tengah pekarangan tumbuh dengan daunnya

nan lebar, di bawahnya adalah deretan kamar-kamar tempat tinggal, kamar yang paling tengah

adalah sebuah ruangan pemujaan. Angin malam menghembus daun jendela yang sudah bobrok

sehingga mengeluarkan suara keriat-keriut yang menakutkan, siapapun yang mendengar suara

seperti itu di tengah malam buta rata di tempat yang seram seperti itu pula tentulah jantungnya

bisa mencelat keluar dari rongga dada saking takutnya.

Tiba-tiba biarawati itu berpaling sambil unjuk seri tawa, katanya: “Tunggulah sebentar”

Coh Liu-hiang mengawasi gelagasi yang memenuhi daun pintu, tak tertahan ia bertanya: “Apa

Siok-sim Taysu sedang bersamadi?”

“Bersamadi, tentu sedang bersamadi, siapa bilang dia tidak sedang samadi” sahut biarawati itu

tertawa sambil menyiak gelagasi terus berjalan masuk.

Terpaksa Coh Liu-hiang menunggu di luar pekarangan belukar. Di luar jadi semakin gelap

gulita, kokok beluk sedang memperdengarkan suaranya seperti pekik setan yang kesusahan,

berdiri di bawah pohon, tak terasa berdiri bulu roma Coh Liu-hiang.

Sesaat kemudian, terdengar biarawati itu bersuara dari ruang pemujaan: “Suhu, ada orang

menengok engkau, apa kau sudi menemuinya?”

Tak lama kemudian biarawati itu berjalan keluar sambil angkat dian di tangannya, katanya:

“Guruku mengangguk, silahkan kau masuk!”

“Terima kasih!” ujar Coh Liu-hiang berlega hati. Bagaimanapun juga dia benar-benar berharap

dapat bertemu muka dengan Siok-sim Taysu. Dengan langkah lebar ia melangkah masuk, sinar

dian menyorot masuk dari belakangnya.

“Siok-sim Taysu….Taysu” seru Coh Liu-hiang tidak mendapat jawaban, keadaan ruang

pemujaan yang remang-remang berhawa dingin membuat orang mengkirik. Coh Liu-hiang maju

dua langkah pula, angin menghembus masuk, tiba-tiba dilihatnya sesosok bayangan melayang di

atas, waktu ia angkat kepala mana ada bayangan manusia. Yang dilihat hanyalah seperangkat

tulang belulang manusia.

Tengkorak yang lengkap ini bergantung-gantung di atas belandar, bergoyang gontai

terhembus angin bau apek dan amis merangsang hidung, tak terasa Coh Liu-hiang sampai

terlongong di tempatnya saking kaget.

Tiba-tiba didengarnya biarawati itu terloroh-loroh menggila di depan pintu, teriaknya mencakmencak

sambil tepuk tangan: “Kau sudah melihatnya… kau sudah melihatnya, kenapa kau tidak

bicara?”

Tengkorak yang tergantung di atas itu ternyata adalah tulang-tulang Siok-sim Taysu yang ingin

ditemuinya. Ternyata orang sudah menggantung bunuh diri, kulit dagingnya sudah menjadi

jerangkong.

Biarawati gila itu ternyata tidak mengebumikan jenazahnya, orang malah main tipu dan

berkelakar dengan cara sekeji ini, terang biarawati ini seorang gila yang berhati jahat, dan punya

tujuan jelek pula. Tawanya yang menggila masih kumandang, biarawati itu masih mencak-mencak

dan tepuk tangan, dian di tangannya sudah terbanting pecah. Karena sinar api padam, hawa setan

terasa lebih melingkupi sanubarinya.

Tak terasa berkeringat tapak tangan Coh Liu-hiang, setindak demi setindak ia mundur ke arah

pintu. Mendadak tengkorak di atas itu menubruk ke arah Coh Liu-hiang. Saking kagetnya serasa

copot nyali Coh Liu-hiang, hendak berkelit ingin mengulur tangan meraihnya pula. Tepat pada saat

itulah secarik sinar pedang secepat kilat menyelonong turun menembusi tulang-tulang kerangka

itu, menusuk dada Coh Liu-hiang. Sungguh cepat dan keji benar tusukan pedang ini.

Hampir saja Coh Liu-hiang tidak mampu berkelit lagi, lekas ia menyedot napas mendekukkan

dada. “Cret”, ujung pedang menggores koyak baju di depan dadanya. Bersamaan dengan itu

berbintik-bintik sinar hitam yang sukar dipandang dengan mata telanjang lagi di malam nan gelap

langsung mendorong ke tenggorokan dan beberapa Hiat-to penting di dadanya.

Sesosok bayangan hitam yang lain melambung tinggi ke arah belandar dan “Blum” atap rumah

diterjang berlubang besar dan pecah berhamburan, diiringi gelak tawa yang seram dan penuh

dendam dan kedongkolan laksana terbang melarikan diri.

Begitu Coh Liu-hiang meluputkan diri dari tusukan pedang ia sudah menduga lawan pasti

menyusuli dengan serangan lain yang lebih keji dan mematikan, bersama dengan mendekuk dada

segera menjatuhkan diri menggelundung di atas tanah.

Sinar hitam melewat lewat menyerempet mukanya. Sempat pula dilihatnya bayangan hitam

yang menjebol atap itu mengenakan pakaian serba hitam, kecepatan gerak tubuhnya laksana

setan terbang. Terang orang ini pula yang tempo hari membunuh Thio-jiang-sing-song-kang dan

menghilang dengan jinsut di Tay-bing-ouw.

Setelah Coh Liu-hiang melompat bangun dan mengejar ke atas genteng, bayangan orang

yang misterius itu sudah tidak kelihatan lagi. Bintang kelap-kelip di angkasa raya, angin

menghembus sepoi-sepoi dingin. Berdiri di atas genteng, keringat dingin tanpa terasa sudah

membasahi sekujur tubuhnya. Setelah melongo sekian lamanya, ia lompat turun pula ke pelataran,

dilihatnya biarawati gila tadi sedang berdiri mematung seperti orang linglung tanpa bergerak, tak

bersuara lagi.

Coh Liu-hiang hinggap di depannya, bentaknya bengis: “Siapa orang itu? Apa kau sudah

sekongkol sama dia?”

Di kegelapan malam, terlihat muka biarawati itu mengunjuk senyuman aneh, mata dipicingkan,

dengan genit mengerling kepada Coh Liu-hiang, katanya cekikikan: “Dia…aku…” tawanya

mendadak terputus, sekujur badanpun tiba-tiba gemetar dan kejang , kontan ia terjengkang roboh,

terlihat beberapa titik darah mengalir keluar dari tenggorokan dan dadanya.

Ternyata senjata rahasia yang menyerang Coh Liu-hiang tadi melesat keluar pintu dan

semuanya mengenai badannya. Lekas Coh Liu-hiang berjongkok memeriksa lukanya, terlihat

darah segar yang mengalir keluar sebentar saja berubah warna menjadi hijau mengkilap. Disusul

lobang panca indranya sama melelehkan darah segar yang sama.

“Keji benar senjata rahasia ini,” gumam Coh Liu-hiang merinding. “Kau..kau pergilah dengan

tenang!” Ia maklum terkena senjata rahasia beracun sejahat itu, siapapun takkan mampu

menyembuhkannya, kalau reaksi dirinya tadi sedikit terlambat mungkin dirinya sekarang yang

rebah sekarat meregang jiwa.

Dada biarawati masih rada hangat dan denyut jantungnya masih terasa, mendadak ia

membuka mata mengawasi Coh Liu-hiang, sorot matanya berubah bening dan terang secara

menakjubkan.

“Masih ada pesan apa yang hendak kau katakan?”

Bibir biarawati bergerak-gerak, akhirnya tercetus suara lemah dari mulutnya: “Bu…bu…”

“Kau tiada pesan apa-apa bukan?”

Muka biarawati mengjunjuk rasa gelisah, keringat membasahi seluruh kepalanya, tapi meski ia

sudah kerahkan setaker sisa tenaganya, tenggorokannya serasa tertutup dan tak mampu

mengeluarkan suara lagi.

Akhirnya ia meninggal. Sebelum ajal pikirannya mendadak sadar dan jernih, sebetulnya ia

hendak memberi bahan penyelidikan yang amat penting kepada Coh Liu-hiang sayang Coh Liuhiang

tidak tahu.

Waktu Coh Liu-hiang keluar dari Oh-i-am, malam sudah terlambat, perasaanyapun teramat

berat, bahan penyelidikan yang terakhir di mana ia mempunyai harapan besar, akhirnya terputus

pula.

Batinnya: “Tak heran pembunuh itu tidak takut aku mencari datang ke Oh-i-am, ternyata dia

sudah tahu bahwa Siok-sim Taysu sudah mati. Kalau tidak waktu aku berada di luar jendela Sun

Hak-boh berjaga-jaga akan perbuatan kejinya, toh akhirnya dia punya banyak kesempatan untuk

turun tangan kepadanya untuk menutup mulut Sun Hak-boh”

“Jadi memang dia ingin pinjam mulut Sun Hak-boh mengatakan Oh-i-am lalu memalsu Sioksim

Taysu memancingku ke jalan yang keliru, siapa nyana aku berhasil membongkar tipu

muslihatnya. Karena tipu muslihat gagal, dia sudah memperhitungkan aku pasti akan meluruk ke

Oh-i-am, maka dia sudah sembunyi di atas belandar lebih dulu waktu aku kurang siaga,

melemparkan tengkorak Siok-sim Taysu, berkesempatan turun tangan pula kepadaku”

“Walau kali ini dia gagal pula, namun rencana kerjanya sebetulnya memang cukup cermat.

Tindakannya jauh lebih jahat, asal sedikit aku terlena, sulit aku terhindar dari kekejian tangannya.

Begitu besar dan keras tekadnya merintangi aku melibatkan diri dalam persoalan rahasia ini, tanpa

segan-segan membunuh jiwa beberapa orang, dapatlah disimpulkan bahwa urusan yang

menyangkut dirinya itu pasti teramat penting dan besar artinya, pasti akan mengejutkan siapapun

juga”

Menempuh bahaya, sebetulnya bukan soal apa-apa baginya. Semakin berbahaya urusan, dia

malah semakin bergairah dan besar daya tariknya. Mendadak ia menengadah dan tertawa besar,

katanya: “Kau dengarkan, perduli siapapun kau, kalau hendak menggertak atau menakuti aku

pastilah kau sedang mimpi. Cepat atau lambat pasti aku akan membongkar kedok rahasiamu, kau

tidak akan lolos dari tanganku”

Alam belukar jauh dari jejak manusia, lawan misterius bagaikan setan itu entah masih

sembunyi di sekitarnya entah mendengar tidak tantangan ini.

Setelah menghentikan tawanya, kembali Coh Liu-hiang tenggelam dalam pikiran. “Sebetulnya

apakah yang hendak diucapkan oleh biarawati sebelum ajalnya? ‘Bu’ yang dia maksudkan tentu

tidak berarti ‘bukan’?” gumamnya, “Dilihat dari sorot matanya, tentu banyak omongan yang hendak

dia katakan, apakah dia maksudkan pembunuh itu she Bu?”

Waktu Coh Liu-hiang kembali ke kota, pasar malam sudah usai. Sungguh penat dan lapar,

namun langsung dia menuju ke Kwi-gi-tong.

Orang seperti Chiu Ling-siok tentunya perempuan yang cukup ternama, orang yang

mengawininya tentu terkenal juga. Murid Cu-soa-bun cukup banyak dari segala tingkatan,

pergaulan merekapun amat luas, bukan mustahil di antara orang-orang mereka ada yang tahu

jejak mereka.

Beberapa hari ini, mau tidak mau hatinya ikut gundah dan kurang tentram, tidak pernah terpikir

olehnya bahwa diri sendiripun punya pandangan dan pergaulan amat luas, kenapa sebelum ini

belum pernah ia mendengar nama Chiu Ling-siok dari mulut orang? Kalau dia sendiri tidak tahu

menahu tentang orang itu, orang lain mana mungkin bisa tahu?

Sekonyong-konyong didengarnya dentam kaki kuda yang berlari di jalan raya di belakangnya,

disusul suara bentakan nyaring: “Minggir!” baru saja Coh Liu-hiang menyingkir ke pinggir jalan,

seeokor kuda sudah berkelebat lewat dari sampingnya. Kuda yang hitam dari kepala sampai

ekornya, tiada bulu warna lain kecuali warna hitam yang mengkilap, kilap sinar itu mirip benar

dengan cahaya kilauan mutiara hitam.

Mantel hitam di atas kuda melambai-lambai tertiup angin memperlihatkan pakaian ketat warna

merah berapi, kuda dan penunggangnya cepat sekali membedal lewat, hampir saja Coh Liu-hiang

keterjang jatuh. Bukan saja Coh Liu-hiang tidak jadi marah, malah dia berteriak kejut memuji:

“Sungguh seekor kuda yang amat bagus!”

Seperti pula terhadap perempuan, menilai kuda merupakan keahlian Coh Liu-hiang pula. Ada

kalanya begitu dia melihat kuda bagus, hatinya jauh lebih riang gembira dibanding dia melihat

perempuan cantik.

Walau hanya sekilas dan dari arah belakang ia melihat bayangan kuda itu, namun ia berani

memastikan kuda itu pasti kuda pilihan yang jempol dan bukan mustahil kelahiran dari peranakan

naga. Orang yang bisa menunggang kuda seperti itu, tentulah diapun bukan sembarangan tokoh.

“Siapa pula orang itu?” Coh Liu-hiang menggumam seorang diri: “Untuk apa datang di Kilam?”

Perempuan cantik ada kalanya menikah dengan suami bodoh, namun kuda jempolan tak mungkin

dimiliki oleh sembarangan orang awam. Kalau kuda bagus memilih majikan, pandangannya jauh

lebih tajam dari perempuan cantik memilih calon suaminya, paling tidak dia tidak mudah dibujuk

rayu kata-kata manis mulut laki-laki, tak mungkin pula tergila-gila sampai jatuh semaput melihat

banyaknya uang emas. Dan tapi bila dia sudah memilih seseorang, jauh lebih setia dari pada

perempuan terhadap suaminya” terasa Coh Liu-hiang tertawa geli sendiri.

Dia sembarang waktu selalu mencari kesempatan untuk menghibur hati dan tertawa-tawa,

sekaligus untuk mengendurkan urat syarafnya yang selalu tegang beberapa hari ini. Itulah

sikapnya sebagai manusia, mungkin itu pula sebabnya kenapa dia selalu bisa hidup dikala

menghadapi antara mati dan hidup. Urat syaraf seseorang bila terlalu tegang setiap kali

menghadapi bahaya maka bagaimanapun dia akan kehilangan akal sehatnya, entah cara

bagaimana harus menghadapinya. Apalagi dia yakin pandangannya pasti tidak salah, karena

terhadap perempuan dan kuda, boleh dikata dia mempunyai kewibawaan yang tidak pernah

dimiliki oleh orang lain.

Belum lagi tiba Kwi-gi-tong, dari kejauhan Coh Liu-hiang sudah melihat kuda hitam itu. Dia

berdiri di bawah lampion yang tergantung di depan pintu Kwi-gi-tong, kepalanya sedang

bergoyang turun naik menengadah sambil meringkik pendek.

Tali kendalinya oleh si majikan tidak diikat pada tiang bendera, rupanya tak kuatir kudanya itu

bakal dicuri orang, beberapa orang tampak berdiri berkeliling di kejauhan, tiada seorangpun yang

mendekatinya.

Tapi ada seorang lagi berjongkok sambil memeluk perut, mulut merintih dan muka berkeringat

sambil mengerut kesakitan. Coh Liu-hiang menghampiri serta menepuk pundaknya, katanya:

“Kawan kena disakiti ya?”

“Kuda kurcaci ini galak sekali,” sahut orang itu sambil meringis.

“Kembang elok banyak durinya, perempuan cantik seperti pula kuda pantang diganggu.

“Selanjutnya kau harus selalu ingat kata-kataku ini”, karena ingin melihat siapa penunggang

kuda ini, sembari bicara langsung ia masuk ke dalam rumah.

Waktu itu belum tengah malam, saatnya Kwi-gi-tong paling ramai dikunjungi penjudi, tapi

walau sinar lilin terang benderang namun dalam rumah sunyi senyap, Coh Liu-hiang mengkerut

kening, segera ia menyingkap kerai terus melangkah masuk.

Tampak puluhan penjudi sama berdiri mepet tembok dengan muka pucat ketakutan, gadisgadis

cantik yang biasanya berlalu lalang segesit burung walet, kini sama berdiri di pinggir dengan

badan gemetar.

Waktu ia jelajahkan pandangannya, para laki-laki pelindung sama rebah tak berkutik di atas

lantai, memang ada yang tak mampu bergerak, tapi ada pula yang memang tak berani merangkak

bangun. Puluhan pasang mata sama menatap ke arah orang yang mengenakan mantel merah.

Dengan tegar dia berdiri di depan meja bundar membelakangi pintu, muka Coh Liu-hiang

hanya bisa melihat cambuk panjang di tangannya yang bersinar kemilau, muka orang tidak bisa

dilihatnya. Tapi rona muka Leng Chiu-hun dapat dilihatnya jelas.

Muka Leng Chiu-hun seperti tidak berdarah, sorot matanya mengunjuk rasa kaget, gugup dan

jera, dengan tajam ia sedang menatap laki-laki bermantel hitam di hadapannya.

Sunyi senyap, tiada suara apapun dalam kamar judi ini, saking tegang jantung serasa hampir

meledak, badanpun gemetar, begitu hening serasa sesak napas dan mencekam hati, seumpama

anak panah di atas busur yang terpentang, hujan badaipun bakal menerjang tiba.

Tiada seorangpun yang perhatikan Coh Liu-hiang masuk, Coh Liu-hiangpun tidak mengganggu

usik orang lain, cuma secara diam-diam ia melangkah ke sana, lalu berdiri di pinggir dengan

berdiam diri.

Dari samping sekarang dia dapat melihat muka orang bermantel hitam ini, kiranya seorang

pemuda. Mantel hitam itu membungkus badannya yang ramping berpakaian serba hitam, ketat

pula. Sabuk hitam, sepatu kulit kuda hitam, sarung tangan kulit sapi hitam, tangannya

menggenggam cambuk panjang warna hitam pula, hanya roman mukanya yang kelihatan pucat,

pucat yang menakutkan.

Dari samping dapat dilihat jelas oleh Coh Liu-hiang hidung mancung, bibir nan tipis terkatup

rapat menggambarkan kekerasan tekadnya, dingin dan kaku. Alisnya lentik tegak ke atas, bulubulu

alisnya yang hitam menaungi sepasang mata yang melekuk ke dalam, seumpama telaga

jernih yang tak kelihatan dasarnya. Tiada seorangpun yang dapat meraba jalan pikiran dan

maksud hatinya.

Raut mukanya itu boleh dikata serba sempurna. Pemuda ini boleh dikata tiada satupun cacat

pada badannya, keadaan yang serba sempurna ini sungguh membuat jera nyali setiap hadirin.

Dengan menatap orang, agaknya Leng Chiu-hun sedang mempertimbangkan jawaban apa

yang akan dia lontarkan. Namun pemuda serba hitam ini sedikitpun tak kelihatan tergesa-gesa,

hanya ia balas menatap orang dengan dingin. Akhirnya berkata Leng Chiu-hun perlahan-lahan:

“Kalau tuan ingin berjudi, sudah tentu aku suka mengiringi. Tapi Cayhe mohon tanya dulu siapa

nama kebesaran tuan, tentunya tuan tidak sekikir itu untuk memberitahu kepadaku bukan?”

“Aku tidak punya nama!” sahut pemuda itu pendek. Lagu suaranya dingin, tajam dan cekak

aos, namun rada berlainan dibanding Tionggoan It-tiam-ang. Kedua lagu suara laksana pisau,

cuma pisau Tionggoan It-tiam-ang sudah karatan, pisau pemuda ini justru bisa bikin putus rambut

yang disebul di atasnya, nada suara It-tiam-ang bengis dan menyeramkan sementara kata-kata

pemuda ini kasar, temberang dan cekatan:

“Kalau tuan tidak sudi memperkenalkan nama besarmu, mungkin….”

“Mungkin kenapa?”

“Menurut kebiasaan di sini, selamanya tidak berjudi dengan orang asing…” Leng Chiu-hun

menatap sorot mata si pemuda, lalu tertawa kering dan berkata: “Tapi tuan datang dari jauh,

Cayhe tentu tidak akan bikin tuan kecewa”

“Itulah bagus”

“Judi apa yang tuan ingini?”

“Biar judi dadu saja”

“Taruhannya….”

Sekali ulur si pemuda mengeluarkan sebentuk Giok-pit, tampak Giok-pit ini mengeluarkan

pancaran sinar hangat, tiada cacad sedikitpun. Sampaipun Coh Liu-hiang selama hidupnya belum

pernah ia melihat batu jade sesempurna itu. Sudah tentu Leng Chiu-hunpun seorang ahli dalam

menilai sesuatu benda, seketika berkilat sorot matanya, namun mulutnya berkata tawar: “Tuan

pasang batu jade ini untuk mempertaruhkan apa?”

“Mempertaruhkan kau!”

Berubah air muka Leng Chiu-hun, serunya tertawa besar: “Bertaruh aku? Aku Leng Chiu-hun

masa begitu berharga?”

“Kalau aku menang, maka kau harus ikut aku”

Seperti tenggorokannya mendadak diiris pisau seketika berhenti tawa Leng Chiu-hun, matanya

mendelik ke arah batu jade di atas meja, terpancar rasa tamak dan ingin mengangkanginya, lalu ia

melirik ke arah dadu di pinggiran sana, mendadak ia menjawab lantang: “Baik! Aku pasang diriku!”

Kata-kata ini seketika menimbulkan keributan pada kamar judi yang hening lelap tadi. Namun

Coh Liu-hiang tahu bahwa Leng Chiu-hun berani mempertaruhkan dirinya tentu dalam permainan

enam biji dadu ini, dia mempunyai cara atau kepandaian khas yang tidak mungkin dilakukan orang

lain, ia yakin dirinya pasti menang.

Tampak sebutir demi sebutir Leng chiu-hun menjumput dadu itu serta dimasukkan ke dalam

porselen berbentuk seperti mangkuk, lalu menutupnya pula dengan tatakan bundar, katanya

pelan-pelan: “Cara judi dengan dadu banyak macamnya, tuan…..”

“Aku pasang yang terkecil, jumlah titik yang paling kecil itulah yang menang”

Leng Chiu-hun tersenyum, ujarnya: “Pasang besar atau kecil sama saja, tuan silahkan!”

Baru saja ia hendak dorong dadu itu kepada orang, si pemuda sudah berkata: “Silahkan kau

dulu yang mengocok”

Leng Chiu-hun berpikir sebentar, lalu katanya: “Baik setitik sama….”

“Setitik yang sama dianggap seri!” sambung si pemuda.

“Bagus!” seru Leng Chiu-hun. Begitu tangan terangkat, suara dadu dalam mangkok

berkumandang di dalam ruangan judi yang sunyi itu.

Maka Leng Chiu-hun amat prihatin dan tegang, seluruh perhatiannya ia tumplek pada

mangkok yang dia kocok terus di pinggir telinganya, dadupun terus berbunyi dan berkerotokan di

dalam mangkok, suaranya seolah-olah menyedot sukma setiap hadirin.

Saking tegang serasa sesak napas setiap hadirin. “Brak!” tahu-tahu Leng Chiu-hun sudah

menggabrukkan mangkok porselen itu di atas meja.

Puluhan mata serempak menatap ke arah jari-jari tangannya yang putih mulus, pelan-pelan

tangannya mulai terangkat membuka tutup, maka tampaklah enam dadu….

Kembali ruang judi digemparkan oleh suara ribut dan bisik-bisik para hadirin. Keenam dadu itu

ternyata adalah sama menunjukkan setitik merah, seakan-akan seperti enam tetes darah merah di

atas tutup tatakan itu. Enam dadu berarti enam titik, jumlah yang tidak mungkin dikurangi lagi,

terang Leng Chiu-hun berada pada posisi yang tak mungkin kalah lagi, ujung mulutnya segera

mengunjuk senyuman bangga akan kemenangan.

Coh Liu-hiang membatin: “Kepandaian Leng Chiu-hun mengocok dadu memang hebat, entah

dengan cara apa si pemuda bisa mengalahkan dia?”

Sedikitpun si pemuda tidak menjadi keder, sikapnya tetap dingin kaku, katanya dingin:

“Memangnya hebat!”

“Tuan, silahkan!” ujar Leng Chiu-hun.

“Baik!” sekonyong-konyong cambuk panjang di tangannya bagai ular hidup meluncur ke depan

seperti memagut. Keruan Leng Chiu-hun kaget, ia kira orang hendak main kekerasan, siapa tahu

cambuk yang meluncur bagai kilat itu tiba-tiba berhenti di atas dadu, ujung cambuknya dengan

gesit selincah ular hidup menggulung sebutir dadu, seperti mulut ular memagut lalu dilepas pula:

“Serr” dadu itu seketika mencelat terbang lempeng ke depan sana dan “trap” melesak masuk ke

dalam dinding yang dikapur putih halus, seluruh dadu itu terporot di atas dinding, yang kelihatan

hanya setitik warna merah. Bisa menggunakan lentikan tangan menimpuk dadu terporot ke dalam

dinding dan hanya menunjukkan satu titik saja sudah bukan kerjaan yang gampang, mungkin

hanya ahli senjata rahasia kelas luhur saja yang mampu melakukan. Si pemuda justru

memerlukan cambuk panjang enam kaki untuk membelit dadu lalu melempar, kekuatan

pergelangan tangan, ketajaman matanya, benar-benar hebat dan sukar dibayangkan

kehebatannya.

Tak tertahan seluruh hadirin sama berseru memuji. Di tengah suara hiruk pikuk kekaguman

dan rasa heran itulah dadu kedua kembali tergulung, dengan cara yang sama kembali

ditimpukkan, dadu kedua ini tepat melesak masuk mengenai dadu pertama, muka yang

menghadap keluar tetap sama, setitik merah pula. Begitulah cambuk itu bergerak melingkarlingkar

turun naik beruntun menggulung sisa dadu yang lain, dadu ketiga didorong dadu keempat

dan dadu keempat didorong dadu kelima dan seterusnya sampai keenam dadu semua dilempar ke

dalam dinding, yang kelihatan hanya satu titik merah yang rata dengan permukaan dinding.

Keruan terbelalak mata semua hadirin menyaksikan pertunjukkan hebat menakjubkan ini.

Namun sikap si pemuda tak berubah, mimiknya tetap kaku, katanya pelan-pelan: “Enam dadu

hanya satu titik, kau kalah!”

Pucat pias selembar muka Leng Chiu-hun, mendadak ia berteriak: “Tidak masuk hitungan,

cara seperti itu mana dapat masuk hitungan?”

“Kau hendak mungkir dan main curang?” baru sekarang si pemuda menyeringai.

Cambuk panjangnya kembali terayun terbang bagaikan ular beracun menggulung kearah Leng

Chiu-hun. Bagaimanapun juga Leng Chiu-hun bukan seorang lemah, “sreng” tahu-tahu pedangnya

sudah terlolos keluar. Siapa nyana cambuk ular itu seakan-akan bernyawa, tahu-tahu bisa

menukik merubah arah dan dengan kencang tahu-tahu sudah membelit senjata lawan, sekali tarik

dan sendal seketika gaman Leng Chiu-hun mencelat terbang lepas dari cekalan tangannya.

“Clep!” menancap di atas belandar, gagang pedangnya bergoyang-goyang melambaikan kuncir

benang sutranya. Lebih celaka lagi raut mukanya yang pucat memutih itu tiba-tiba sudah

memetakan sejalur garis merah darah.

“Kau sudah kalah,” jengek si pemuda. “Hayo ikut aku pergi!”

Saking kaget dan ketakutan Leng Chiu-hun sampai berdiri menjublek dengan badan lemas

lunglai.

Tiba-tiba suara seseorang menyela dengan kalem: “Begitu asyik kalian berjudi, tanganku jadi

gatal, marilah biar aku ikut bertaruh!” suaranya halus senyumnya tawar, siapa pula kalau bukan

Coh Liu-hiang.

Waktu cambuk terayun menari-nari di tengah udara, mantel itu sedikit terangkat dan

tersingkap, sekilas terlihat oleh Coh Liu-hiang lapisan kain merah bagian dalam mantel hitam itu

tersulam seekor unta terbang. Jikalau bukan lantaran unta terbang itu, mungkin Coh Liu-hiang

tidak akan sudi menampilkan diri.

Semua hadirin sudah melongo dan ciut nyalinya oleh kepandaian silat si pemuda, kini melihat

ada orang masih berani hendak bertaruh kepadanya semua sama melototkan mata mengawasi

Coh Liu-hiang.

Sebaliknya, Leng Chiu-hun merasa mendapat anugerah dewata yang menolong

kesusahannya, seketika mukanya berseri tawa lebar, katanya: “Thio heng ternyata ingin bertaruh

juga, sungguh baik sekali, baik sekali”

Setenang lautan samudra, mantep dan teguh tekadnya, sepasang mata si pemuda bagai

tajamnya ujung pisau lekat-lekat menatap muka Coh Liu-hiang. Siapapun bila ditatap oleh mata

seperti itu mungkin arwahnya bisa copot dari badan kasarnya.

Sebaliknya Coh Liu-hiang bersikap acuh tak acuh seperti tak terjadi apa-apa, katanya berseri

tawa: “Tuan datang dari gurun pasir bukan?”

Air muka si pemuda yang dingin dan kaku seketika berubah, tanyanya mendesis: “Siapa kau?”

“Seperti tuan, akupun sudah melupakan namaku”

“Kau hendak pasang judi? baik! Judi apa?”

“Judi dadu, tetap judi dadu, tentunya jumlah sedikit yang menang!”

Reaksi para hadirin sungguh lucu mendengar kata-katanya ini, mereka kira orang ini sudah

gila, enam dadu itu kini cuma menunjukkan satu titik,memangnya dia bisa menang?

Agaknya si pemuda tertarik dan merasa senang, sorot matanya bercahaya, tanyanya:

“Taruhanmu…..”

“Kalau tuan kalah, sudah tentu mainan batu jade ini menjadi milikku, Leng-kongcupun tak usah

ikut kau. Kecuali itu, ingin aku mengajukan beberapa patah pertanyaan kepada tuan!”

Pertaruhan yang ringan dan murah saja, seketika terangkat alis si pemuda, tanyanya: “Kalau

kau yang kalah?”

“Kalau aku kalah, akan kujelaskan semua urusan yang ingin benar kau ketahui itu”

Berubah air muka si pemuda, “Dari mana kau bisa tahu hal apa yang ingin kuketahui?”

“Mungkin aku mengetahui”

Lain orang bila kalah taruhannya amat tinggi nilainya, sebaliknya kalau dia sendiri yang kalah

hanya kalah omongan saja, malah belum pasti dan baru mungkin saja, pertaruhan seperti ini

sungguh tidak adil, semua orang kira si pemuda tentu tidak mau terima meski jelas dia bakal

menang.

Tak nyana si pemuda berpikir sebentar, lalu berkata tandas: “Baik, pertaruhan ini jadilah!”

“Aku tahu tuan pasti akan bertaruh!”

“Dadu sudah kutimpukkan, apa kaupun hendak menimpukkan sekali lagi dengan cara yang

sama?”

“Tidak perlulah!”

Terasa oleh semua orang bahwa otak orang ini memang tidak normal, dilihatnya ia

menghampiri meja judi lain dan mengambil enam butir dadu yang lain.

Dia genggamn keenam biji dadu itu dalam tapak tangan. Leng Chiu-hun serasa seluruh jiwa

raganyapun ikut tergenggam dalam tapak orang. Kalau sikap Coh Liu-hiang biasa dan wajar,

sebaliknya seluruh badan Leng Chiu-hun sudah dibasahi keringat dingin. Tak tertahan ia berseru

memperingatkan: “Thio heng, jangan kau lupa pihak lawan sudah melempar setitik angka saja”

“Aku tahu” ujar Coh Liu-hiang tawar. Segera sebelah tangannya terayun melemparkan sebiji

dadu. Semua orang mengira dia hendak menelat perbuatan si pemuda, tapi paling-paling dia

hanya bisa mendapat angka sebanding dengan lawan, paling-paling tidak terkalahkan namun toh

tidak akan menang. Tapi takjub dan heran pula semua hadirin dibuatnya karena biji dadu itu

meluncur amat lambat dan aneh sekali, kalau si pemuda menimpuk dengan ujung cambuknya,

sebaliknya ia melontar dengan tangan, betapa besar perbedaan antara pertunjukkan kepandaian

ini, kenapa pula Coh Liu-hiang harus mempertunjukkan kejelekan diri sendiri, namun serta melihat

dadu yang ditimpukkan itu bergerak lambat di tengah udara seperti terikat benang dan ditarik

pelan dalam satu garis datar, sungguh semua orang sama tak mengerti, kenapa dadu itu tidak bisa

membelok atau jatuh.

Semua orang memang tidak tahu betapa besar pengerahan lwekang untuk menggerakkan

timpukan dadu sekecil itu dengan gerakan lambat yang lempang itu, namun mereka maklum

bahwa lambat itu jauh lebih sukar dari pada cepat.

Tatkala dadu kedua i tangan Coh Liu-hiangpun melesat keluar, luncurannya rada cepat sedikit

mengejar dadu pertama dan “Trak!” dadu pertama ternyata diterjang pecah hancur. Luncuran biji

dadu ketiga lebih cepat sedikit lagi mengejar biji kedua dan “Tras!” sekali lagi dadu keduapun

terpukul hancur. Begitulah satu persatu Coh Liu-hiang jentikan dadunya, biji keempat

menghancurkan biji ketiga, biji kelima menghancurkan biji keempat dan seterusnya, biji kelima

amat cepat dan besar setelah menghancurkan biji keempat terus meluncur menumbuk tembok

dan terpental balik, kebetulan kebentur dengan biji keenam yang melesat tiba, kedua biji terakhir

ini saling bentur di tengah udara dan hancur bersama.

Enam biji dadu sama hancur menjadi bubuk berhamburan di atas lantai, dan anehnya bubuk

dadu itu akhirnya bertumpuk di dalam bidang yang sama sehingga menumpuk tinggi. Sudah tentu

semua hadirin dibikin melongo keheranan seakan-akan sedang melihat permainan sulap layaknya.

Coh Liu-hiang menepuk-nepuk tangan, katanya tertawa: “Daduku hancur, setitikpun tiada lagi,

tentunya tuan yang kalah”

Tak tahan akhir Leng Chiu-hun berjingkrak kegirangan, serunya bertepuk tangan: “Benar,

enam dadu setitikpun tiada lagi, bagus, bagus sekali!”

Seketika pucat muka si pemuda, cara yang digunakan Coh Liu-hiang memang baik dan

mengambil keuntungan melulu, namun cara permainannya benar-benar merupakan kepandaian

asli dan tulen, sedikitpun tak mungkin secara kebetulan. Apalagi cara yang ia gunakan untuk

mengalahkan Leng Chiu-hun juga sama dengan cara nakal-nakalan, mana bisa ia mengatakan

kelicikan orang lain? Saat mana mimik wajahnya mirip benar dengan keadaan Leng Chiu-hun

waktu kalah tadi, mau mungkirpun tak bisa lagi. Biasanya dia sering permainkan orang sesuka dan

seriang hatinya, tak nyana hari ini dia ketemu batunya dan balas dipermainkan orang secara

konyol.

Tampak biji matanya yang cekung setenang air laut yang dalam dan mantep kini berubah

seperti mega di ujung langit berubah berulang kali terhembus angin lalu dengan bentuk warna

warna. Sorot mata yang semula dingin kini memperlihatkan perasaan.

Coh Liu-hiang merasa heran melihat perubahan ini, batinnya: “Kalau matanya itu tumbuh di

atas badan perempuan, maka perempuan itu pasti cantik molek, cukup sekali ia mengerling lakilaki

akan rela berkorban demi dirinya, sayang sepasang mata yang indah ini dimiliki oleh laki-laki

tumbuh di tempat yang tidak benar.”

Sesaat lamanya si pemuda baju hitam menjublek, mendadak cambuk panjangnya terayun dan

mengamuk seperti orang kesurupan melecuti orang-orang yang menonton di pinggiran. Dalam

sekejap saja puluhan orang kena dihajar babak-belur, beramai-ramai mereka keluar

menyelamatkan diri, si pemuda masih terus ayunkan cambuk lemasnya, bentaknya bengis: “Pergi!

Semua menggelundung pergi! Satupun tak boleh tinggal di sini!”

Suara hiruk pikuk membuat suasana ruang judi menjadi gaduh, jerit tangis para gadis-gadis

pelayan yang berjatuhan dan saling berhimpitan terdengar menyayat hati, malah ada yang berlari

keluar sambil merangkak. Keruan berubah air muka Leng Chiu-hun sambil bertanya gusar:

“Orang-orang itu tidak mengusik kau, kenapa kau lampiaskan….”

“Kaupun lekas menggelundung keluar!” damprat si pemuda baju hitam, “menggelinding

keluar!”

Darah segar setetes demi setetes mencucur keluar dari muka Leng Chiu-hun, namun

mengusappun tidak, dengan melotot ia pandang si pemuda, jengeknya dingin: “Kalau kau tidak

mau mengaku kalah di hadapan orang banyak, tentu aku boleh keluar, namun….”

“Tar!” kembali mukanya kena lecutan cambuk. Tapi ia tetap berdiri di tempatnya tanpa

bergeming, katanya pula pelan-pelan: “Asal kau ingat, akan datang suatu ketika aku orang she

Leng pasti akan menuntut balas berlipat ganda kepada kau”

Kembali cambuk si pemuda terayun, hardiknya: “Cambuk keempat!”

Leng Chiu-hun membanting kaki, sambil kertak gigi ia melangkah keluar.

Tatkala itu seluruh ruangan sudah kosong melompong tidak kelihatan bayangan orang lain

kecuali Coh Liu-hiang dan si pemuda baju hitam, agaknya rasa gusar dan penasaran si pemuda

masih belum terlampias, kembali ia bikin hancur segala perabot dan gambar lukisan atau pajangan

apa saja di atas dinding.

Coh Liu-hiang tetap berdiri di pinggir meja, sambil tersenyum ia mengawasi ulah orang yang

mengamuk itu, katanya: “Sekarang semua orang sudah menyingkir, tuan boleh mengaku kalah

bukan?”

Pelan-pelan terjulur lemas dan menjuntai ke lantai cambuk panjang si pemuda baju hitam,

tampak pundaknya turun naik, lambat laun napasnya mulai normal kembali, dengan suara rendah

tertahan akhirnya ia bersuara: “Apa yang ingin kau tanyakan? Lekas katakan!”

Sebentar Coh Liu-hiang termenung, katanya: “Surat yang diterima ayahmu sebelum beliau

masuk ke pedalaman, apakah pernah kau melihatnya? Entah apa sebenarnya yang tertulis di atas

surat itu?”

Sigak sekali mendadak si pemuda membalik badan, sorot matanya setajam pisau menatap

muka Coh Liu-hiang, serunya bengis: “Dari mana kau tahu siapa ayahku? Cara bagaimana kau

tahu beliau masuk pedalaman? Bagaimana pula kau bisa tahu sebelum ke pedalaman beliau

pernah menerima sepucuk surat?”

“Jangan kau lupa, sekarang akulah yang berhak bertanya kepada kau!”

“Pertanyaan sudah kau ajukan, sekarang akulah yang sedang tanya kepada kau”

“Pertanyaanku belum kau jawab, kenapa kau balas bertanya kepadaku malah?”

“Aku hanya menerima pertanyaanmu, toh tidak berjanji hendak menjawab pertanyaanmu”

Coh Liu-hiang melongong, katanya tertawa: “Selama ini ingin aku melihat siapakah orang yang

paling tidak pegang aturan dalam dunia ini, baru hari ini aku benar-benar kebentur”

“Pertanyaan sudah kau ajukan, baru mainan itu boleh kau ambil, orang she Leng pun sudah

kulepas pergi, pertaruhan antara kita sudah impas dan lunas, kini tiba saatnya kau menjawab

pertanyaanku!”

Kata-kata ini diucapkan seperti poyah renteng meledak, cepat dan gugup, seolah-olah

sebelumnya memang sudah dia rencanakan dalam hati, sungguh Coh Liu-hiang tidak pernah

menduga pemuda dingin dan angkuh ini ternyata bisa main licin dan licik, ujarnya tertawa getir:

“Kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu?”

Hanya sepatah kata jawaban si pemuda: “Mati!”

“Kalau aku tidak mau mati?”

Sungguh lucu dan tepat sekali pertanyaan ini, sejak kecil dan sebesar itu, belum pernah si

pemuda menghadapi seseorang dengan sikap yang seperti itu. Sorot matanya yang dingin

membeku itu tiba-tiba memancarkan ledakan kembang api, desisnya sadis: “Kalau bukan kau

yang mampus biar aku yang mati!” belum lenyap gema suaranya, cambuk panjangnya mendadak

menyabet tiba.

Jalur cambuk panjangnya itu seakan-akan membuat banyak lingkaran-lingkaran besar kecil

yang tidak terhitung banyaknya, setiap lingkaran cambuknya itu agaknya hampir menjerat leher

Coh Liu-hiang. Bahwasanya satupun tiada yang berhasil menjerat.

Seenteng asap mengembang, tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah berada di belakang si pemuda,

katanya mengolok: “Jikalau aku tidak membiarkan kau cari kematian?”

Sekali raih si pemuda menanggalkan mantel terus dikebutkan, mantel hitam yang lebar itu

seketika berkembang dan menungkrup ke arah kepala Coh Liu-hiang seperti segumpal awan, di

antara berkelebatnya bayangan hitam tampak terselip tujuh titik sinar bintang dingin. Agaknya si

pemuda sudah murka betul-betul serangannya tidak mengenal kasihan lagi, begitu tangan kiri

menarik mantel, Chit-sing-ciam yang tersembunyi di gagang cambuknya berbareng merangsek

tiba.

Serangan kombinasi ini dinamakan Hun-te-hwie-siang (bintang terbang di bawah mega),

ternyata salah satu ilmu tunggal Tay-mo-siu-tiong yang pernah malang melintang di kolong langit,

entah berapa banyak tokok-tokoh silat kenamaan yang menemui ajalnya oleh serangan hebat ini.

Tujuh bintik sinar bintang tertekan di bawah gumpalan mega hitam, siapapun jangan harap

bisa melihatnya jelas, di saat ia mendengar angin sambaran senjata rahasia musuh untuk

berkelitpun sudah terlambat.

Mimpipun Coh Liu-hiang tidak mengira pemuda inipun membekal kepandaian tinggi dan ilmu

yang sekeji ini, kesiur senjata rahasia yang menerjang di udara tahu-tahu sudah melesat tiba di

depan dada. Kalau dia harus berkelit, terang tak sempat lagi, dalam seribu kesibukannya lekas ia

menyedot kulit daging dadanya, secepat anak panah ia menjatuhkan badan terus menggelundung

mundur.

Luncuran tujuh bintik sinar bintang itu sendiripun secepat kilat, namun Coh Liu-hiang mundur

lebih cepat dari luncuran senjata rahasia itu, tahu-tahu ia sudah mundur mepet dinding, tenaga

luncuran senjata rahasia itupun sudah kendor dan jauh lebih lemah. Mendadak ia ulurkan

tangannya, seperti menangkap nyamuk ke tujuh bintik bintang hitam itu kena ditangkap olehnya.

Seketika si pemuda bergetar berdiri dengan kesima, teriaknya tak tertahan: “Gerakan badan yang

teramat cepat, sungguh hebat Hun-kong-coh-ing (menangkap bayangan membagi cahaya)”

Ditengah suara bentakannya, beruntun ia menyerang dengan lecutan cambuknya tujuh kali.

Ilmu cambuk orang lain biasanya laksana hujan badai, namun lingkaran cambuknya ini justru

serapat dan seketat mega mendung sebelum hujan turun sebelum bayu menghembus layu.

Kalau gerak lingkaran cambuk orang entah menyapu miring atau menyodok maju, tapi

lingkaran ini justru menggulung datang dari berbagai arah, lingkaran besar membelit hingga

lingkaran kecil, di dalam lingkaran kecil masih ada lingkaran lebih kecil lagi, di luar lingkaran besar

masih ada lingkaran yang lebih besar pula.

Sekilas pandang seperti ada ribuan lingkaran bayangan cambuk yang berterbangan di tengah

udara berlapis bertumpuk, ada yang akan menjirat tangan ada yang akan menjirat kepala, kalau

orang biasa tidak bergebrak sama dia hanya melihat bayangan lingkaran cambuknya yang tak

terhitung banyaknya itu, mungkin sudah pusing kepala dan jatuh semaput.

Umpamanya Coh Liu-hiang sendiri selama hidupnya belum pernah menghadapi lingkaranlingkaran

aneh seperti itu, namun ia insaf asal satu di antara sekian banyak lingkaran itu menjirat

anggota badannya tentu akibatnya amat fatal. Tapi lingkaran besar kecil sekian banyaknya

sungguh sulit diraba lingkaran mana yang tulen atau lingkaran yang ini cuma serangan pura-pura

belaka. Lingkaran yang berisi atau kosong campur aduk. Secepat kilat sambung menyambung

menggulung dirinya, untuk memunahkannya sesulit manjat ke langit.

Sembari berkelit Coh Liu-hiang peras otaknya mencari akal, tiba-tiba dilihatnya di atas meja

judi terdapat sebuah bumbung yang berisi batangan bambu kecil panjang satu kaki, batang-batang

bambu ini biasanya digunanakan untuk mempermudah dalam pembayaran para penjudi dengan

nilai-nilai uang yang tidak sama menurut waris dan panjangnya.

Sekali berkelebat dan jumpalitan sejauh empat tombak, dengan mudah Coh Liu-hiang sudah

meraih batang bambu kecil itu, waktu cambuk melingkar datang pula mendadak ia timpukkan

sebatang bambu ke dalam lingkaran cambuk. Terdengar “pletek!” kisaran lingkaran cambuk itu

dibikin lambat, namun batangan bambu itu patah menjadi dua.

Begitu lingkaran cambuk mematahkan batangan bambu, bayangan lingkaranpun sirna, namun

begitu si pemuda kembali menggentak cambuknya, lingkaran-lingkaran yang tak terhitung

banyaknya kembali menggulung tiba. Lingkaran demi lingkaran menerjang datang, batangan

bambu di tangan Coh Liu-hiang pun sebatang demi sebatang ditimpukkan, setiap batang bambu

tepat sekali masuk di tengah-tengah lingkaran cambuk. Maka terdengarlah suara “pletak-pletok”

seperti ledakan poyah, tampak lingkaran cambuk satu demi satu menghilang, batangan bambupun

patah satu per satu.

Suara seperti itu enak didengar, namun keadaan pertunjukkannya jauh lebih mengasyikkan.

Kalau dikatakan ilmu cambuk si pemuda boleh menjagoi seluruh dunia, cara Coh Liu-hiang

memusnahkannyapun tiada bandingannya di kolong langit.

Maklum begitu ujung cambuk melingkar, kekuatannya sudah terhimpun penuh dan tinggal

dimanfaatkan saja, begitu menyentuh sesuatu benda lain atau mendapat perlawanan tenaga luar

lainnya kekuatan yang terhimpun itu mau tak mau harus tersalurkan, oleh karena itu begitu

batangan bambu tertimpuk masuk maka kekuatan lingkaran cambuk itu pasti menggulungnya

sampai patah, setelah batangan bambu dipatahkan kekuatan lingkaran cambuk itupun punah,

dengan sendirinya lingkaran itupun sirnalah.

Gampang sekali untuk menerangkan teori ini, namun di saat menghadapi musuh dan

bergebrak seru seperti sekarang ini, untuk menjelaskan teori ini, sungguh amat sukar dan tak

mungkin dilakukan.

Memang Coh Liu-hiang seorang genius, seorang berbakat untuk mempelajari ilmu silat. Bukan

saja setiap ilmu silat yang dia pelajari pasti dapat diyakinkan dengan sempurna, malah

pengalaman dan kecerdikan otaknya dalam menghadapi segala bentuk perubahan serangan

musuhpun teramat luas jauh melebihi orang lain. Banyak ilmu silat yang jelas takkan mungkin

dapat dia pecahkan, serta dia sendiri sudah menghadapinya dalam praktek, sekilas saja secara

reflek pasti dapat dia pikirkan cara pemecahannya. Maka sering terjadi seseorang yang sebetulnya

membekal ilmu silat yang lebih tinggi dari dia, setelah bergebrak malah dia kena dikalahkan

olehnya. Meski dia kalah dengan keheranan dan secara aneh seperti tidak masuk akal, namun

semakin aneh semakin mereka tunduk lahir batin. Memang di situlah letak salah satu cacat hati

manusia.

Kepandaian Hwie-hoan-tao-goat, Heng-sing-pou-hi (Cincin terbang menjirat rembulan awan

berkembang menata hujan) si pemuda baju hitam biasanya malang melintang di gurun pasir

selamanya belum pernah mendapat tandingan setimpal, tak nyana secara kenyataan dia

menghadapi cara pemecahan yang aneh dan menakjubkan.

Lama kelamaan hatinya jadi gugup dan gelisah, cambuk diputarnya semakin kencang, maka

lingkaranpun semakin banyak. Semakin banyak lingkaran, batangan bambu yang ditimpukkanpun

semakin banyak juga, sebentar saja batangan bambu Coh Liu-hiang terang akan habis. Sudah

tentu si pemuda baju hitam diam-diam girang, batinnya: “Setelah batangan bambumu habis kau

gunakan, akan kulihat apa pula yang bisa kau lakukan?”

Tengah pikirannya bekerja, dilihatnya setelah Coh Liu-hiang menimpukkan batangan bambu di

tangan kanan, lingkaran cambuknya mematahkan batangan bambu itu, begitu lingkaran lenyap

daya kerja lingkaran cambuk yang lain sudah tentu rada tertahan dan menjadi kendor. Ternyata

Coh Liu-hiang tidak sia-siakan kesempatan paling baik ini, dengan gerakan Hun-kong-cou-ing

kembali ia raut batangan bambu yang sama patah berserakan di lantai itu, dari satu kini menjadi

dua, jumlahnya semakin banyak dan takkan putus bahkan lebih banyak dari yang diperlukan.

Gelisah dan gusar pula si pemuda baju hitam, lingkarannya tiba-tiba di kiri, lain kejap sudah di

kanan, dari depan lalu berkisar ke belakang, saking dongkolnya malah ada lingkaran cambuknya

yang tidak menjirat ke arah Coh Liu-hiang. Tapi walau lingkaran cambuk itu menjurus ke arah satu

sudut manapun saja, asal tangan Coh Liu-hiang bergerak, batangan bambunya dengan tepat pasti

masuk ke tengah lingkaran cambuknya.

Dasar pembawaan watak si pemuda inipun keras kepala dan kukuh, semakin lihay cara

pemunahan lawan, semakin dia nekad dan berjuang mati-matian, tidak mau dia gunakan

permainan ilmu cambuk lainnya.

Akhirnya tak tertahan Coh Liu-hiang tertawa geli, serunya: “Apa belum puas kau membuang

lingkaran-lingkaran sebanyak ini?”

“Selamanya tidak akan percuma lingkaran yang kubuat ini!” sahut si pemuda kertak gigi.

“Sampai kapan kau hendak menjirat orang dengan lingkaran cambukmu?”

“Sampai kau terjirat mampus!”

“Kalau selamanya aku tidak bisa mati?”

“Selama itu pula aku berusaha menjirat lehermu”

Coh Liu-hiang melengak, katanya kewalahan: “Watak dan kemauan tuan ternyata tidak

ubahnya seperti kerbau dungu!”

“Kalau kau tidak sabar menghadapi lingkaran cambukku, lekaslah menggelinding pergi”

“Bagus, sungguh menyenangkan kata-katamu, sampai akupun…..”

Di tengah percakapan, lingkaran cambuk tetap bergulung-gulung tiba hendak menjirat

badannya. Batangan bambu tetap ditimpukkan memunahkannya. Sampai pada kata-katanya

terakhir, tangan Coh Liu-hiang masih menggenggam sepuluhan batang-batang bambu, sekaligus

tiba-tiba ia timpukkan bersama, namun tiada satu batangpun meluncur ke tengah lingkaran.

Pertempuran-pertempuran tokoh-tokoh silat tingkat tinggi, mana boleh lena atau meleng? Saking

kegirangan, tahu-tahu ujung cambuk si pemuda sudah menjerat leher Coh Liu-hiang, begitu ujung

cambuknya melilit, “plok” tahu-tahu muka Coh Liu-hiang berbekas sejalur goresan darah. Meski

kena sedikitpun Coh Liu-hiang tidak menjadi gugup, bagai seekor ular atau belut dengan licin dan

gesit sekali badannya berputar dengan mudah ia sudah membebaskan diri sekaligus ia

jengkangkan badannya ke belakang terus melesat mundur dengan badan menengadah ke atas,

tahu-tahu sudah mundur mepet tembok.

Bersambung ke Jilid 6

Jilid 6

“Masih kau ingin lari?” jengek si pemuda baju hitam. Karena berhasil, mana mau ia

mengampuni lawannya, lingkaran cambuknya kembali menggulung tiba.

Tepat pada saat itulah sekonyong-konyong selarik sinar pedang laksana kilat melesat masuk

dari luar jendela. Sementara cambuk panjang sudah bergulung-gulung menjadi lingkaran, tentunya

ujung cambuknya tak kelihatan lagi, namun pedang itu justru cepat dan persis sekali menutul di

ujung cambuk, kekuatan gubatan cambuk yang melingkar seketika punah dan menjadi lemas.

Kalau cambuk panjang itu diumpamakan ular, maka tutulan pedang itu telak sekali menusuk pada

tempat kelemahan si ular tujuh dim di bawah lehernya.

Kaget gusar dan heran pula si pemuda baju hitam, bentaknya: “Siapa?”

Belum lenyap suaranya, sesosok tubuh orang tahu-tahu sudah melayang masuk lewat jendela

hinggap di hadapannya.

Orang ini juga mengenakan pakaian serba hitam membungkus perawakan badan yang kurus

dan kencang dan kekar seperti macan kumbang yang baru saja menerobos keluar dari dalam

hutan. Seluruh badannya diliputi kekuatan luar biasa, tapi seraut wajahnya kelihatan abu-abu kaku

seperti mayat tidak memperlihatkan perasaan hatinya. Terutama sepasang matanya yang tajam

dingin menatap orang siapapun dalam pandangannya, laksana seekor ikan yang sudah pasrah

nasib untuk disembelih olehnya.

Walau si pemuda tidak tahu bahwa orang yang dihadapi ini adalah pembunuh nomor wahid di

Tionggoan It-tiam-ang, namun karena pandangan sorot matanya terasa badannya menjadi risi dan

gatal, lekas dia melengos ke arah Coh Liu-hiang, jengeknya dingin: “Ternyata kau sudah

menyembunyikan pembantu”

Coh Liu-hiang hanya meraba-raba bekas luka di mukanya, bersenyum tanpa bersuara.

Terdengar si pemuda berbaju hitam mencemooh lagi: “Setelah kalah mengundang bala

bantuan, memangnya tokoh-tokoh Bu-lim di Tionggoan begini tak becus dan tak tahu malu?”

It-tiam-ang mendadak menyeringai dingin, jengeknya: “Kau kira dia sudah kalah?”

Si pemuda terloroh dingin, sambil melangkah ujarnya: “Kena sekali lecutanku, memangnya

aku yang kalah?”

It-tiam-ang mengerling kepadanya sekali lagi, sorot pandangannya seperti menghina dan tak

pandang mata, mendadak ia melangkah maju , menggunakan pedang di tangannya ia menyungkit

beberapa batangan bambu yang terputus-putus.

Si pemuda baju hitam tidak tahu permainan apa yang sedang orang lakukan, katanya dingin:

“Jadi kaupun ingin menjajal; seperti perbuatannya tadi?” demikian tantangnya.

“Kau periksa dulu baru buka mulutmu” sekali gentak dan ayun pedangnya batangan bambu itu

sama terbang ke depan namun luncurannya tidak cepat.

Tak tahan si pemuda ulur tangan menyambuti, dilihatnya batangan bambu tetap tidak berubah

bentuknya, cuma di setiap batangan bambu itu masing-masing menancap bintik-bintik bintang

yang bersinar gelap dingin.

It-tiam-ang balas mencemooh: “Lantaran bintik-bintik bintang inilah dia terkena lecutan

cambukmu, kalau tidak masakah sekarang kau masih hidup?”

“Kau…..maksudmu demi menolong jiwaku baru dia….”

“Kalau dia tidak berusaha memukul jatuh senjata rahasia itu, seujung bajunyapun jangan

harap kau bisa menyentuhnya!”

Bergetar badan si pemuda, batangan bambu di tangannya sama berjatuhan, rona mukanya

berubah hijau lalu merah dan akhirnya putih, pelan-pelan sorot matanya beralih ke arah Coh Liuhiang,

katanya gemetar: “Kau….tadi kau ke….kenapa tidak kau katakan?”

“Kan belum tentu senjata rahasia itu mengincar dirimu?”

“Senjata rahasia ini disambitkan dari arah belakangku, sudah tentu sasarannya adalah aku.”

“Terkena sekali lecutanmu juga tidak menjadi soal, kenapa aku harus banyak mulut sehingga

kau pedih hati?”

Si pemuda berdiri mematung, sekian lama ia menjublek di tempatnya, matanya yang bundar

besar itu mulai berlinang air mata, cuma sedapat mungkin ia menahan tetesan air matanya.

Sengaja Coh Liu-hiang tidak mengawasinya, katanya tertawa: “Ang-heng, apakah kau melihat

siapa orang yang membokong dengan senjata rahasia itu?”

Sahut It-tiam-ang dingin: “Kalau kau melihatnya, memangnya kubiarkan dia pergi?”

“Aku tahu gerak-gerik orang itu laksana setan, namun sulit memang melihat jelas siapakah dia

sebetulnya. Di dalam Bulan di Tionggoan sebetulnya tidak banyak tokoh-tokoh lihay seperti dia

itu.”

“Aku tahu siapa dia,” mendadak si pemuda menyelutuk bicara.

“Kau tahu?” Coh-Lu-hiang tersirap. “Siapa dia?”

Si pemuda tidak bicara lagi, tangannya merogoh kantong mengeluarkan sepucuk sampul

surat, katanya, “Inilah surat yang ingin kau lihat, ambillah.”

“Terima kasih, terima kasih!” betapa girang hati Coh-Liu hiang.

Si pemuda meletakkan sampul surat itu di atas meja, tanpa berpaling lagi ia tinggal pergi,

waktu tiba di luar pintu, kepala tertunduk dan setetes air mata jatuh di atas tanah.

Beberapa malam dan beberapa hari sudah Coh Liu hiang memimpikan untuk mendapatkan

surat itu dengan susah payah. Tak nyana surat yang diharap-harapkan itu kini berada di

hadapannya, sungguh girang sekali hatinya, jantungnya berdebar-debar, baru saja ia ulurkan

tangan hendak menjumput surat itu. Tiba-tiba sinar pedang berkelebat menyontek sampul surat

itu.

Tak urung berubah air muka Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir, “Apa Ang-heng sedang

kelakar dengan aku?” It-tiam-ang meraih sampul surat itu dari ujung pedangnya, sahutnya dingin,

“Kalau kau menginginkan surat ini, kalahkan dulu pedang di tanganku ini.”

“Sudah kukatakan aku tidak mau berkelahi dengan kau, kenapa kau selalu mendesakku?”

“Kalau kau sudah bergebrak dengan pemuda itu, kenapa tidak sudi berkelahi dengan aku?”

“Umpama ingin berkelahi, biarlah aku membaca surat itu dulu.”

“Setelah bergebrak, kalau aku mati, boleh kau ambil surat ini, kalau kau yang mati, surat ini

akan kukubur bersama jenazahmu.”

“Baru saja watak kerbau dungu pergi, kini aku berhadapan dengan watak sapi,” sekonyongkonyong

laksana kilat cepatnya badannya melesat terbang, tangan kiri mencolok biji mata It-tiam

ang, sementara tangan kanan merebut sampul surat itu.

Cukup memutar setengah lingkar badannya pedang It-tiam-ang sudah menusuk tiga kali pada

tiga sasaran yang berlainan. Selicin belut Coh Liu-hiang membungkuk badan, tahu-tahu badannya

menerobos lewat dari bawah sinar pedang, tangan kirinya setengah tergenggam menjojoh

lambung It-tiam-ang, tangan kanan tetap bergerak merebut sampul surat itu. Dia bergerak cepat

mendesak maju, betapa berbahaya gerakan tubuhnya, betapa cepat dan tangkas sekali cara

permainannya, sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menghadapi lawan tangguh, seketika bangkit semangat It-tiam-ang. Permainan pedangnya

dikembangkan semakin cepat, lebih ganas dan berbahaya.

Tampak sinar pedang berkelebat pergi datang amat cepatnya menjadi tabir cahaya terang,

sebentar pedang berubah laksana puluhan batang pedang, ratusan dan ribuan. Setiap batang

pedang yang berkilauan itu tidak lepas dari incaran ke tempat mematikan di tubuh Coh Liu-hiang

yang dicecar terutama tenggorokannya.

Namun gerak-gerik Coh Liu-hiang gesit keras dan secepat angin lesus berputar, tujuannya

hanya ingin merebut sampul surat di tangan It-tiam-ang. It-tiam-ang mengerut kening, ternyata ia

masukkan sampul surat itu ke dalam kantongnya.

Dengan baju bagian dada sedikit tersingkap ke kanan, tangan kiri baru saja hendak

memasukkan sampul surat itu ke dalam saku bajunya sebelah kanan, mau tidak mau gerakan

pedang di tangan kanannya rada terganggu dan pancaran sinar pedang yang rapat dan ketat itu

mau tidak mau menjadi sedikit terbuka. Tibalah saatnya sekarang bagi Coh Liu-hiang

memperlihatkan kehebatan kepandaiannya, mendadak badannya menerjang masuk, tangan kiri

mengunci jalan permainan pedang It-tiam-ang, sementara tangan kanan memegang pergelangan

tangan It-tiam-ang yang memegang surat, dalam sekejap mata beruntun ia merubah tujuh macam

gerakan tangan.

Karena tangan kanan terkunci dan tak berkutik lagi, It-tiam-ang mundur berulang-ulang,

sebaliknya Coh Liu-hiang seperti bayangan mengikuti wujudnya, dia melihat terus sehingga orang

mati kutu, tahu-tahu pergelangan tangan terasa linu kemeng, ternyata urat nadinya telah tergencet

oleh jari-jari Coh Liu-hiang.

Saking girang baru saja Coh Liu-hiang hendak merebut sampul surat itu, siapa tahu mendadak

It-tiam-ang menjentikkan jarinya sambil surat itu seketika melayang jauh ke depan sana. Sudah

tentu perubahan yang tak terduga ini membuat Coh Liu hiang kaget, sebab sekali ia melejit

memburu ke arah sampul surat itu serta meraihnya, setitik sinar kemilau kembali berkelebat

membabat tiba. Betapapun sinar pedang itu jauh lebih cepat dari gerakan orang, tahu-tahu sampul

surat itu sudah tertusuk di ujung pedang.

Baru saja ia tarik pedang dan hendak meraih sampul surat itu, sekonyong-konyong Coh Liu

hiang melejit ke tengah udara dan mendadak pula jumpalitan ke belakang, tangkas sekali tiba-tiba

kedua tapak tangannya menepuk, tahu-tahu sampul surat dan ujung pedang kena tergencet di

antara kedua tapak tangannya. Pertempuran ini sudah tentu jauh lebih hebat, lihay dan

menakjubkan.

Gerakan pedang It-tiam-ang beruntun berubah tujuh variasi, namun gerak tubuh Coh Liu hiang

pun berubah tujuh kali, seluruh badannya seenteng daun pohon bergelantungan di ujung pedang

seperti bendera yang melambai mengikuti gerakan pedang lawan.

Tapi dalam keadaan seperti itu, sungguh ia tidak berani menjemput sampul surat itu, karena

sedikit ia mengendorkan gencetan tapak tangannya, tajam pedang yang bergerak melebihi kilat,

mungkin bakal menembus dadanya.

It-tiam-ang tidak putus asa, badannya bergerak teramat cepat dan gesit sekali, namun

bagaimanapun ia bergerak berbagai variasi, jangan harap ia bisa melempar Coh-liu-hiang dari

ujung pedangnya. Malah terasa pedangnya semakin bertambah berat kekuatan tenaga yang dia

kerahkan pun harus berlipat ganda, tanpa terasa sekujur badan sudah mandi keringat.

Sampai akhirnya pedangnya sudah tak mampu bergerak lagi, terpaksa ia acungkan miring ke

atas udara, berat badan Coh-liu-hiang serasa ribuan kati menindih ke atas badannya.

Begitulah yang satu di udara yang lain bercokol di tanah, kedua pihak saling bertahan, kalau

pedang itu bukan terbuat dari baja murni pilihan, pedang sakti yang tiada bandingnya, mungkin

sejak tadi sudah patah menjadi dua.

Mendadak It-tiam-ang menghardik keras, sekuat tenaga ia mengentak naik pedangnya,

mendadak badanpun melambung tinggi ke tengah udara, dari ketinggian ia putar ujung pedangnya

ke bawah terus dihunjamkan ke bumi. Kalau ujung pedang menekuk turun dan menusuk ke

bawah, sudah tentu tidak mungkin pula mempertahankan diri di ujung pedang lawan. Maka

terdengarlah “Pletak”, Coh-Liu-hiang terbang miring dua tombak terjatuh di atas tanah, kedua

tapak tangannya masih menggencet ujung pedang dan sampul surat itu. Tapi pedang sakti yang

terbuat dari baja murni hasil gemblengan seorang ahli pencipta pedang, biasanya dipandang lebih

berharga oleh jiwa It-tiam-ang sendiri, akhirnya patah menjadi dua potong.

Pucat pasi muka It-tiam-ang, suaranya gemetar, “Bagus, memang ilmu silat hebat, ginkang

yang tinggi dan gerakan badan yang indah!”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya, “Ah, Angheng hanya memuji saja!” belum habis katakatanya

seri tawanya mendadak menjadi kaku membeku.

“Tang” kutungan pedang di tangannya jatuh, sedangkan sampul surat itupun rontok

berhamburan seperti abu berterbangan, kebetulan angin menghembus masuk dari jendela,

seketika cukilan kertas surat itu terhembus hilang terbawa angin.

Ternyata waktu kedua orang mengadu kekuatan tenaga dalam tadi, Lwekang masing-masing

disalurkan bergelombang untuk saling mempertahankan diri, jangan kata hanya kertas surat saja,

seumpama papan besi atau lembaran bajapun takkan tahan.

It-tiam-ang ikut tertegun, serunya tergagap, “Ini…. ini….”

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya tertawa getir, “Mungkin memang sudah suratan

takdirku, aku tidak diijinkan melihat surat ini.”

It-tiam-ang melongo sesaat lagi, katanya, “Su… surat itu apa sangat penting?” sebenarnya ia

tahu pertanyaannya berlebihan, kalau surat itu tidak penting dan besar artinya, memangnya buat

apa Coh Liu-hiang harus berusaha merebutnya dengan mempertaruhkan jiwa, memangnya

kenapa pula sekian banyak yang mati lantaran surat itu.

Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa, serunya, “Itupun tak apa-apa, sebaliknya aku bikin

pedangmu kutung, seharusnya aku minta maaf kepadamu!”

Sesaat lamanya It-tiam-ang berdiam diri, katanya sambil mendongak, “Selama hidup ini bila

aku mencarimu lagi untuk berkelahi, pedang inilah contohnya.” “Trap,” kutungan pedang di

tangannya tahu-tahu sudah menancap di atas belandar.

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat sesosok bayangan orang meluncur masuk, ternyata pemuda

baju hitam tadi itulah, setelah surat tadi hancur, terpaksa Coh Liu-hiang harus mencarinya pula,

tak nyana orang telah kembali pula, keruan ia berteriak kegirangan, “Kebetulan kedatangan tuan,

ada urusan Cayhee hendak mohon petunjukmu.”

Siapa tahu si pemuda baju hitam seakan-akan tidak mendengar seruannya, selebar mukanya

mengunjukkan rasa gugup dan kuatir sambil celingukan kian kemari, tiba-tiba ia lari kesana dan

menyelinap masuk ke belakang kerai jendela.

Kwi-gi-tong ini dipajang serba mewah dan istimewa, di depan setiap jendela dipasang

gantungan kerai warna abu-abu yang tebal. Mungkin lantaran perjudian disini diadakan setiap

malam hari supaya sinar lampu tidak menyorot keluar.

Waktu itu hari masih pagi, maka kerai jendela belum ditarik, jadi masih tergulung di samping.

Pemuda baju hitam bertubuh kurus tinggi, kalau dia sembunyi disana, tentu jejaknya takkan

ditemukan lagi.

Sekilas pandang Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang saling pandang, hati masing-masing merasa

heran dan tak habis mengerti. Kenapa setelah pergi si pemuda putar balik? Kenapa pula

sedemikian gugup? Wataknya keras berhati tinggi dan angkuh lagi, memangnya ada siapa

orangnya yang dapat menakutkan dirinya sehingga perlu menyembunyikan diri?

Tak lama kemudian, dari kejauhan beruntun terdengar suitan bambu, suaranya melengking

tinggi dan pendek, sahut menyahut, dalam sekejap saja tahu-tahu sudah berada di sekeliling

rumah judi ini. Disusul bau amis yang terbawa angin merangsang hidung. Dari luar pintu melata

masuk dua puluhan ular beraneka warnanya, berukuran besar kecil tak merata.

Coh Liu-hiang mengerut kening, sekali lompat ia naik ke atas meja judi dan duduk bersimpuh.

It-tiam-ang pun mengerut alis, dia malah melambung tinggi duduk di atas belandar. Kutungan

pedangnya ia cabut terus dilempar ke bawah, seekor ular yang paling besar kontan terpantek di

atas lantai.

Ternyata kekuatan ular itu amat besar, mungkin karena kesakitan lidahnya menjulur keluar

masuk, badannya menggelepar-gelepar amat kerasnya berdentam di atas lantai, sampai ubin batu

yang keras itu pecah dan retak. Tapi tenaga lemparan It-tiam-ang amat keras dan besar, kutungan

pedangnya itu ternyata amblas sampai ke gagangnya meski ular beracun itu meronta dan

menggelepar sekuat tenaganya, betapapun ia tidak kuasa membebaskan diri. Sementara ular-ular

beracun yang lain terus main terjang, ada yang menggigit ekornya, ada yang menggigit badannya,

sekejap saja seluruh kulit dagingnya sudah terisap habis sama sekali.

Rasanya mual dan heran pula It-tiam-ang yang duduk di atas belandar, katanya, “Ular ini rada

ganjl, darimanakah datangnya?”

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Mungkin Ang-heng sudah mencari kesulitan sendiri,”

belum habis katanya dari luar pintu sudah beranjak masuk tiga orang.

Laki-laki yang di tengah bertubuh tegap, pakaian yang dipakainya penuh tambalan, sudah

tambalan ditambal lagi, entah berapa kali tambalan sehingga kelihatannya tebal namun dicucinya

dengan bersih. Walaupun pakaian yang dipakainya pakaian pengemis, namun sorot matanya

bercahaya, memancarkan kilat hijau bengis, sikapnya amat garang dan pongah, seolah olah tidak

pandang sebelah mata kepada siapapun juga.

Dua orang lain di belakangnya juga berpakaian serba tambalan, raut mukanya buas dan di

atas punggungnya masing-masing menggemblok tujuh delapan karung bagor. Terang mereka

adalah murid-murid Kaypang yang berkedudukan paling tinggi.

Tata tertib Kaypang biasanya amat keras dan ketat dalam mengawasi setiap tindak tanduk

murid-muridnya, tingkatan satu sama lain dipandang dan dipatuhi dengan hormat, pengemis tinggi

besar ini tanpa memikul satu karung bagorpun, paling hanyalah murid kecil yang belum masuk jadi

anggota Kaypang. Tapi dari sorot mata dan sikap kedua murid Kaypang berkarung tujuh delapan

itu, kelihatannya malah takut dan segan serta menghormat kepada laki-laki ini, bagi pandangan

seorang yang kenyang pengalaman Kangouw, sekali pandang saja sudah terasa kesan aneh dan

ganjil ini.

Lebih aneh lagi pengemis ini bermuka buas, bengis dan sadis. Malah sudah tergembleng

dalam kehidupan melarat dan rudin, sering lantang luntung dalam Bulim, entah dari sudut atau

posisi mana kita menilainya, seharusnya kulit dagingnya hitam kasar. Tapi sekujur badannya justru

berkulit putih halus laksana bentuk batu jade yang paling sempurna seperti kulit perawan pingitan

yang tidak pernah keluar rumah dan merawat badannya dengan baik sampai mengkilap.

Coh Liu-hiang menghela nafas pula, gumamnya, “Kesulitan memang sudah tiba!”

Pengemis tinggi kekar menjelajahkan pandangan matanya yang berkilauan bengis berbentuk

segitiga, akhirnya dengan mendelik ia tatap Coh Liu-hiang, katanya gusar, “Keparat, berani kau

membunuh ular sakti dari Pun pang, memangnya sudah bosan hidup?”

Baru saja It-tiam-ang hendak menjawab, Coh Liu-hiang sudah keburu berkata, “Pun pang?

Pun Pang yang tuan maksudkan, entah Pang yang mana?”

Pengemis besar jahat itu menyeringai sadis, bentaknya, “Keparat, memangnya kau picak?

Masakah murid murid Kaypang tidak kau lihat tegas?”

“Murid Kaypang sudah tentu dapat kubedakan, cukup puluhan tahun yang lalu tuan sudah

diusir dari Kaypang, kenapa hari ini masih berani kau mengagulkan diri sebagai murid Kaypang?”

Berubah air muka pengemis bengis bertubuh besar itu, mulutnya terpentang lebar terloroh

loroh sambil menengadah, serunya, “Tak nyana kau bocah pupuk bawang inipun tahu akan asal

usul tuan besarmu?”

“Kalau aku tidak tahu, memangnya siapa akan tahu asal usulmu? Semula kau she Pek, karena

perbuatan jahat kelewat batas, kulit badan kau rawat sedemikian bersihnya, maka kawan-kawan di

Kangouw sama memanggilmu sebagai Pek-giok mo kay, kau malah merasa bangga dan

mengagulkan diri huh. Terakhir dari predikatmu semula kau buang, mengubah nama sendiri

menjadi Pek-giok-mo saja.” Sehafal mengisahkan asal usul keluarga sendiri Coh Liu-hiang

membeber asal usul si pengemis bengis ini.

Bentak Pek-giok-mo dengan beringas, “Bagus sekali, masih ada apa pula?”

“Sepuluhan tahun yang lalu, watak kebinatanganmu mendadak kumat sekaligus kau perkosa

dan bunuh tujuh belas perawan tingting di Hon-shu Sohciu. Saking marahnya, Jin-lo pangcu

berkeputusan menghukum mati dirimu sesuai dosa-dosamu. Ternyata kau cukup pintar dan tahu

diri, siang-siang kau sudah lari dan bersembunyi, karena tidak berhasil membekuk kau, terpaksa

dia mengumumkan mengusir kau dari anggota Kaypang.”

“Benar, benar sekali,” Pek-giok-mo menyeringai sadis, “Cuma sekarang Jin Lothau sudah

mampus, Pangcu baru tidak sekolot dan sepicik dia. Dia tahu kalau yang kita hendak angkat diri

dan mengembang luaskan kekuasanmu, dia perlu bantuan sepasang tanganku ini, meski Locu

tidak sudi menelan pengalaman pahit yang lalu, namun melihat maksud baiknya, terpaksa aku

turuti saja kemauannya.”

Perbuatan kotor dan hina dina di masa lalu yang dia lakukan dikorek dan dibeber dihadapan

umum, bukan saja dia tidak merasa sedih dan marah, malah bersikap senang dan bangga. Jikalau

manusia ini sudah terlalu bejat, masakah dia bertebal muka dan tidak tahu malu?

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Biasanya Lamkiong Ling mengutamakan welas asih

dan bajik serta bijaksana, namun apa yang dia lakukan untuk hal ini kukira kurang bijaksana dan

kurang cermat!”

Belum lagi Pek-giok-mo buka suara, murid-murid Kaypang tujuh kantong itu sudah sama

membentak bengis. “Putusan dan anugerah Pangcu kita, siapa yang berani sembarangan

mengeritiknya dalam dunia ini?”

“Orang lain tidak berani, mungkin hanya aku yang berani.”

“Kau terhitung barang apa?” damprat murid Kaypang yang lain.

Dimana-mana kenapa ada orang bertanya aku ini barang apa? Jelas, aku bukan barang, aku

ini manusia, kukira tiada bedanya dengan kalian. Malah kalau dipandang mata mungkin rada

tampan dan gagah, masakah hanya sedikit perbedaan ini kalian tidak tahu?”

Pek-giok-mo menyeringai dingin, jengeknya, “Kalau begitu aku ingin tahu siapakah orang ini,

berani bicara begini congkak dihadapanku, memangnya sudah bosan hidup?”

Coh Liu-hiang bersikap kalem, ia anggap kata-kata orang sebagai kentut belaka, ujarnya

tersenyum, “Siapa bilang aku bosan hidup? Justru aku sedang hidup senang dan bergairah, arak

baik dalam dunia ini cukup kuminum seumur hidup, apalagi ada seorang teman seperti Lamkiong

Ling yang sering mengundang aku makan minum.”

Berubah murid-murid Kaypang kantong tujuh, tanyanya, “Kau kenal dengan Lamkiong Pangcu

kita?”

“Walau aku ingin berkata tidak kenal, apa boleh buat, selama hidup ini aku paling pantang

membual.”

Mata sipit segitiga Pek-giok-mo kembali mengamat-amatinya dari atas ke bawah, seakan-akan

ingin tahu apakah orang sedang mengagulkan diri belaka, sebaliknya seorang murid kantong tujuh

menyelutuk dingin, “Bukan mustahil dia sedang mengulur waktu menunggu bantuan sehingga

bocah keparat itu berkesempatan lari.”

“Mampukah bocah keparat itu lolos, sebelumnya aku sudah pendam seorang pembunuh yang

akan menggorok lehernya, jangan harap seorangpun dalam ruangan ini bisa hidup!” demikian

Pek-giok-mo menyeringai seram.

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya, “Kalau Lamkiong Ling melihat sikap bicaramu sekasar ini

terhadapku, mungkin dia bisa marah-marah.”

Pek-giok-mo terloroh-loroh. “Kalau demikian, biarlah aku membuatnya marah sekalian.”

Kembali mulutnya mengeluarkan suitan bambu, dua puluh ular-ular itu kembali angkat kepala

pentang mulut dan menjulurkan lidahnya serempak mereka menerjang ke arah Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya, “Walau biasanya aku tidak suka membunuh orang, tapi

membunuh ular-ular jahat seperti ini selamanya aku tidak pakai pantangan,” di tengah gelak

ketawanya, ular-ular itu sudah melesat terbang menerjang ke arah dirinya. It-tiam-ang yang berada

di atas belandar memang ingin menonton permainannya, namun melihat kehebatan ular-ular itu,

mau tidak mau ia merasa kuatir juga.

Baru sekarang Coh Liu-hiang turun tangan, cepat sekali kedua tangannya bekerja, sekali raih

ia pencet tujuh dim bawah kepala ular, terus dibanting ke lantai, ular itu tak bisa bergerak lagi.

Begitulah seperti orang sedang bermain sulapan layaknya, kalau tangan kiri memencet tangan

kanan melempar, begitulah kanan kiri berganti memencet dan melempar setiap pencet tujuh dim di

bawah leher dan begitu dilempar melayanglah si ular itu. Dalam sekejap saja dua puluhan ular-ular

besar kecil yang galak-galak itu sudah dia lempar semua, tiada satupun yang ketinggalan hidup.

Betapa telak cengkeraman dan persis tenaga pencetannya, serta kecepatan gerak tangannya

sungguh amat menakjubkan. Sampaipun It-tiam-ang yang biasanya mengagulkan kecepatan

gerak pedangnya mau tidak mau merasa takjub dan melongo.

Mengawasi mayat-mayat ular itu, Coh Liu-hiang malah menghela nafas, gumamnya, “Musim

semi sudah mendatang, saat paling tepat untuk menikmati sop ular. Sayang Song Thian-jit tak

berada di sini, kalau tidak dia bisa masakan hidangan lezat bagi aku.”

Otot di atas mata Pek-giok-mo merongkol keluar, sorot matanya hampir menyemburkan bara

berapi. Maklumlah, kawanan ular itu merupakan piaraannya selama puluhan tahun yang sudah

menghabiskan jerih payahnya untuk mencari di lembah pegunungan dan di rawa-rawa lalu diberi

makan berbagai macam obat-obatan serta dilatihnya pula dengan susah payah. Setelah berhasil

ia pikir hendak malang melintang di kalangan Kangouw mengandal binatang berbisanya ini, siapa

tahu orang cukup menggerakkan tangan pergi datang, semua ular piaraannya kena dibunuh

semuanya, malah hendak dibuat sop ular segala. Saking murka sesaat Pek-giok-mo menjublek di

tempatnya, seluruh tulang-tulang badannya mendadak berbunyi gemertak, dengan gigi berkeriut ia

tatap Coh Liu-hiang setapak demi setapak ia mendesak maju.

“E, eh, aneh. Kenapa dalam perutmu seperti ada orang mengocok dadu? Tapi kulihat

tampangmu yang buas menyebalkan ini, dadu yang kau lempar tentulah berjumlah satu dua tiga.”

Mulut Coh Liu-hiang mengejek, tawa namun iapun tahu bahwa kepandaian Pek-giok-mo tidak

boleh dipandang ringan apalagi sekarang orang sudah menghimpun seluruh kekuatannya, sekali

turun tangan tentu bukan kepalang dahsyatnya.

Dengan waspada matanya mengawasi tangan Pek-giok-mo, tampak tapak tangan Pek-giokmo

yang putih halus itu kini samar-samar seperti mengepulkan hawa hijau.

Tiba-tiba It-tiam-ang berseru memperingati, “Tapak tangannya beracun, hati-hatilah kau!”

“Jangan kau kuatir,” sahut Coh Liu-hiang, “Rasanya takkan bisa membinasakan aku.”

Pek-giok-mo menyeringai, desisnya, “Siapa bilang tak bisa membinasakan kau?”

Disaat perang tanding bakal berlangsung itulah, sekonyong-konyong seorang berseru

mencegah, “Tahan!” di tengah bergeraknya bayangan orang di tengah sinar redup, satu orang

melangkah cepat ke dalam ruangan, tampak orang beralis lancip tegak, berbadan kekar tegak

dengan dada lapang, pakaiannya seperangkat jubah hijau, namun terdapat dua tiga tambalan

juga.

Walau raut mukanya tampan dan mengulum senyum, tapi tanpa marah sudah menunjukkan

wibawanya, di tengah alisnya lapat-lapat menunjukkan perbawa yang menciutkan nyali orang yang

dihadapinya, sikapnya tenang dan mantap, tidak patut dimiliki orang yang baru berusia dirinya ini.

Melihat kedatangan orang ini, murid-murid Kay-pang itu segera menyurut mundur dan berdiri tegak

menundukkan kepala tanpa berani bersuara pula, sampaipun Pek-giok-mo pun mundur ke

samping, kedua tangan diluruskan mundur.

Belum pernah It-tiam-ong melihat orang ini, namun ia bisa meraba pasti dia itulah Liong-thau

Pangcu Lamkiong Ling, pejabat Pangcu Kaypang yang baru.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya, “Kebetulan kau datang Lamkiong-heng, kalau barusan

aku keburu menjadi santapan ular-ular jahat itu, kelak tentu kau kehilangan niatan untuk minum

arak.”

Lamkiong Ling merangkap tangan menjura, katanya, “Untung siautee masih keburu datang,

kalau tidak ketiga muridku yang buta melek ini, mungkin malah menjadi sop manusia bikinan Coh

heng sendiri.”

“Kau sudah menjadi Pangcu, kenapa omonganmu menjadi tidak genah begitu?”

“Bicara dengan orang seperti kau Coh-heng, kalau pakai urusan sopan santun segala,

memangnya kelak Coh-heng sudi menjadi teman baikku? Tapi bagaimanapun perbuatan kasar

murid-murid Pang kita, sukalah kalian memaafkan.”

Mendadak ia menarik muka keren lalu berputar menghadapi ketiga murid Kaypang berkantong

tujuh itu, dampratnya bengis. “Usia kalian tidak kecil lagi, kenapa bekerja begini ceroboh, tidak

tanya dulu siapa yang kau hadapi lantas berani turun tangan, memangnya kalian sudah lupa tata

tertib Pang kita.

Lagaknya kata-kata ini tidak ditujukan kepada Pek-giok-mo, namun jelas dampratan ini

menyangkut diri Pek-giok-mo pula. Pek-giok-mo tertawa-tawa, ujarnya, “Pangcu tak usah

menuding Hweesio memakinya kepala gundul, mereka sih belum turun tangan, akulah yang sudah

bertindak.”

Lamkiong Ling membalik menghadapinya, katanya dengan nada keras, “Kalau begitu ingin

Pucoh bertanya kepada Pek-susiok, kenapa tidak tanya lebih dulu lantas sembarangan turun

tangan, memangnya Pek-susiok ingin keluar lagi dari Pang kita?”

Meski ia hargai Pek-giok-mo sebagai “Susiok” tapi pengemis galak dari Sohciu ini seketika

mengkeret dan tertunduk karena ditatap begitu rupa, senyum tawanya sirna, katanya meringis,

“Kita sedang mengejar bocah keparat itu, melihat… mereka berada di sini, tentulah kami sangka

merekalah yang menyembunyikan bocah keparat itu!”

“Sudahkah tanya kepada mereka berdua?” desak Lamkiong Ling.

“Tidak… belum!”

Lamkiong Ling gusar, dampratnya, “Kalau belum kau tanya, darimana kau tahu kalau mereka

menyembunyikan orang? Orang itu jahat dan amat berbahaya, siapapun takkan memberi ampun

kepadanya, memangnya kedua orang ini sudi melindunginya?”

Tertunduk dalam kepala Pek-giok-mo, tak berani bercuit lagi.

Lamkiong Ling tertawa dingin, katanya lebih lanjut, “Apalagi ada Tionggoan It-tiam-ang dan

Maling Kampiun Coh Liu-hiang berada di sini, siapakah manusia di kolong langit ini yang kemari,

pastilah harus sopan santun dan kenal adat, mengandal apa pula kalian berani bertingkah dan

begitu pongah di sini?”

Memang tidak malu Lamkiong Ling seusia itu sudah menjabat Pangcu dari suatu perserikatan

pengemis terbesar seluruh kolong langit, beberapa patah kata-katanya yang sederhana, bukan

saja memaki dan menyalahkan terhadap murid-murid Kaypang sendiri, sekaligus ia perkenalkan

asal-usul Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang, walau dia mendamprat anak buahnya sendiri, namun

sedikitpun tidak menurunkan derajat dan amor pihak Kaypang mereka.

Lebih penting lagi mulutnya ia menggambar pemuda baju hitam itu sebagai durjana jahat yang

berdosa besar, maksudnya supaya Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang tidak melindunginya lagi.

Sebaliknya Coh Liu-hiang diam-diam sedang heran. “Pemuda itu dari gurun pasir nan jauh

mana mungkin baru saja memasuki Tionggoan lantas melakukan sesuatu terhadap murid-murid

Kaypang, malah naga-naganya perbuatan itu tidak kepalang tanggung.”

Setelah tahu orang yang mereka hadapi adalah Maling Kampiun Coh Liu-hiang yang terkenal

di seluruh jagad ini, seketika murid-murid Kaypang itu melongo kesima.

Pek-giok-mo tertawa lebar menengadah, “Kiranya tuan ini adalah Coh Liu-hiang. Aku Pekgiok-

mo hari ini kecundang di tangan maling kampiun, tidak perlu dibuat malu. Kini Pangcu sudah

berada di sini, tidak perlu aku banyak ribut lagi… selamat bertemu lain kesempatan!” dengan

penuh kebencian ia pelototi Coh Liu-hiang, lalu tinggal pergi tanpa menoleh lagi.

Pelan-pelan Lamkiong Ling menghela nafas, ujarnya, “Walau belakangan ini sepak terjang

orang ini sudah berubah, namun jiwa dan wataknya masih sempit dan kasar. Tindak tanduknya

masih berangasan, maka harap Coh-heng tidak berkecil hati.”

“Kalau orang lain tidak menyalahkan aku saja sudah puas hatiku, masakah aku harus

salahkan orang lain.”

“Tak nyana Coh-heng dan Ang-heng berdua bisa berada disini, biasanya memang Siaute tak

pernah menetap lama di kota ini, namun sering datang kemari bolehlah terhitung sebagai tuan

rumah juga sebentar kuharap kalian suka iringi aku minum sepuasnya,” selanjutnya ia tidak

singgung pula soal si pemuda baju hitam tadi.

Sudah tentu Coh Liu-hiang pun kebenaran, malah katanya tertawa besar, “Setahun penuh

kalian selalu minta sedekah sesuap nasi, apakah juga sering minta arak kepada orang? Baik,

peduli dari mana arak kalian dapatkan, ada orang traktir aku makan minum, selamanya aku tidak

buang kesempatan baik ini, maklumlah arak yang tak usah keluar duit, rasanya memang jauh

berlainan sekali.”

It-tiam-ang tetap bercokol di atas belandar tidak mau turun, sahutnya dingin, “Selamanya aku

tidak pernah minum arak.”

“Wah, hidangan lezat yang menimbulkan selera masakah disia-siakan, memangnya kau tidak

merasa lapar?”

“Arak bikin tangan gemetar, hati lemah, untuk membunuh orang jadi kurang cepat.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Kalau lantaran untuk membunuh orang lantas pantang minum

arak, boleh dikata seperti kuatir mencret-mencret lantas tak mau makan nasi, bukan saja pikiran

brutal malah boleh dikata tidak kenal kasihan terhadap mulut dan perut sendiri. Ang-heng, kau…”

Mendadak dilihatnya dua murid Kaypang muncul dari pintu belakang, terus menjura kepada

Lamkiong Ling, kata seorang di sebelah kiri, “Rumah belakang sudah kami periksa dengan para

Tianglo, namun tak terlihat jejak orang jahat itu.”

Berputar biji mata Lamkiong Ling, katanya sambil soja kepada Coh Liu-hiang, “Kalau demikian

harap Coh-heng suka menyerahkan orang itu kepada kami.”

Coh Liu-hiang berkedip-kedip, tanyanya, “Siapakah orang yang kau katakan?”

“Terus terang siaute sendiri belum jelas asal-usulnya, cuma gerak-geriknya enteng dan gesit

ilmu silatnya tinggi, dua hari yang lalu di Tio-koan-tin pernah melukai puluhan murid-murid Pang

kami, mencuri beberapa benda penting kami pula, tadi Song-hu-hoat lagi, maka Pang kami sekalikali

tidak akan melepaskannya demikian saja.”

“O… ada orang demikian? Kejadian begitu?”

“Apa benar Coh-heng tidak tahu akan orang ini?” tanya Lamkiong Ling kereng.

“Seumpama aku mengincar sesuatu milik orang lain, takkan bekerja di atas kepala orang

orang Kaypang kalian.”

“Begitu lebih baik…” ujar Lamkiong Ling tersenyum, membarengi kata-katanya sekonyongkonyong

dari lengan bajunya melesat terbang dua batang pedang pendek. Kedua batang pedang

pendek Lamkiong Ling ini sekaligus bisa digunakan sebagai pencocoh jalan darah. Boan koan-pit

atau Hun-cui-cok dan delapan macam senjata tajam lainnya, ‘Jit gi pat-bak, Ki long cap-sha cek’

memang boleh dibilang sebagai kepandaian tunggal yang tiada bandingannya di Bulim,

sampaipun kepandaian silat itu Jip eks Pangcu terdahulu yang sudah ajalpun agaknya setingkat

lebih rendah.

Dua batang pedang pendeknya melesat sebagai kilat menyambar, langsung menerjang kerai

jendela dari kain beludru sebelah bawahnya, It-tiam-ang duduk di atas memandang ke bawah,

jelas sekali pandangannya, dilihatnya di bawah kain kerai yang menjuntai turun itu terlihat ujung

sepatu kulit hitam yang menonjol keluar.

“Blus, crap!” kedua batang pedang pendek itu tembus masuk ke dalam sepatu panjang berat

itu, seolah-olah memantek kedua sepatu itu di atas lantai, senyumnya lebar Lamkiong Ling masih

terkulum pada ujung mulutnya, katanya pelan-pelan, “Sampai pada detik ini, tuan masih tidak mau

keluar?”

Kain gorden itu tetap tak bergerak dan tak terdengar reaksi apa-apa. Sekaligus Lamkiong Ling

melirik ke arah Coh Liu-hiang, dilihatnya sikap Coh Liu-hiang tenang-tenang saja seperti apapun

tak diketahui olehnya, akhirnya Lamkiong Ling menjengek tawa dingin, “Baiklah!” sedikit ia ulapkan

tangan, kedua murid Kaypang yang barusan masuk segera melolos golok di pinggangnya,

menerjang ke depan dengan langkah lebar, golok terayun membacok bersama ke arah kerai

jendela.

Walau sifat It-tiam-ang kaku dingin dan tak berperasaan, tak urung berdetak juga jantungnya,

seumpama pemuda baju hitam itu tidak ayal, paling tidak kedua kakinya pasti cacat atau

terkutung.

Dimana golok-golok itu menyambar kerai jendela itu melayang berjatuhan, namun tak terlihat

darah muncrat. Jendelanya terbuka, angin menghembus masuk, sehingga kerai bagian atas yang

masih tergantung terhembus bergoyang-goyang, namun tak terlihat bayangan anusia, ternyata

kedua sepatu hitam panjang di belakang kerai itu kosong melompong tanpa diketahui kemana si

pemakainya.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya, “Kerai sebagus ini dibacok kutung menjadi dua,

sepasang sepatu kulit kerbau semahal ini dilobangi dua tusukan pedang, Lamkiong heng tidak

merasa sayang?”

Sedikit berubah air muka Lamkiong Ling, katanya dingin, “Kerai putus bisa dijahit kembali,

sepatu bolong bisa ditambal. Kalau orangnya merat, murid-murid Kaypang kami pun bisa

mengejarnya.”

Murid berkantong delapan itu berobah mukanya, selanya, “Memangnya bangsat itu lari dengan

berkaki telanjang?”

“Siapa yang tugas jaga di luar jendela?” tanya Lamkiong Ling dengan kereng.

“Para saudara dari Thiam-kon-bio dari Kilan,” sahut murid kantong delapan itu.

“Bawa mereka dan serahkan kepada Kongsun Huhoat,” bentak Lamkiong Ling. “Jatuhi

hukuman sesuai peraturan rumah tangga.

“Baik!” sahut murid kantong delapan sambil menjura, sebat sekali badannya menerobos keluar

melalui jendela, lalu terdengar suara hardikan di luar jendela.

Lamkiong Ling putar badan sambil unjuk tawa dipaksa kepada Coh Liu-hiang, katanya bersoja,

“Siaute masih ada urusan, hari ini biarlah kami berpisah dulu.”

“Baru saja kau menimbulkan selera minumku, memangnya kenapa tergesa-gesa mau pergi?”

Coh Liu-hiang coba menahannya.

“Ketagihan arak Coh Liu-hiang, dalam kolong langit ini siapa yang bisa selalu melunasinya?

Dalam dua hari mendatang Siaute pasti mengundangmu. Harap Ang-heng inipun jangan menolak

undanganku.”

Dimana tangannya terangkat dan sedikit sendat, kedua pedang pendek itu mencelat naik terus

terbang kembali ke tangannya, ternyata pada gagang kedua pedang terikat seutas rantai lembut

yang terbuat dari platina.

Dengan terburu-buru Lamkiong Ling mengundurkan diri, maka terdengar pula suara ribut-ribut

di luar jendela, suara suitan saling bersahutan pula semakin lama menjauh dan akhirnya tak

terdengar pula.

Berkata Coh Liu-hiang prihatin, “Lamkiong Ling memang seorang berbakat dan seorang

pemimpin yang lihay, di bawah kekuasaannya Kaypang ternyata sehari demi sehari semakin kuat

dan kokoh… mungkin memang rada terlalu kuat.”

Baru sekarang It-tiam-ang melompat turun, biji matanya jelalatan, katanya, “Menurut kau,

apakah pemuda tadi benar sudah pergi?”

Coh Liu-hiang tertawa, “Memangnya jendela di sini hanya satu?”

Terdengar seorang berkata dingin, “Cuma sayang Lamkiong Ling itu tidak berpandangan

setajam Coh Liu-hiang,” sembari bicara tahu-tahu pemuda baju hitam tadi sudah nongol keluar

dari daun jendela yang lain, kaos kakinya yang putih bersih kelihatan berlepotan debu.

Baru sekarang It-tiam-ang sadar bahwa sepatu kulitnya memang ditonjolkan keluar sedikit,

orang membuka sepatu dan lolos keluar jendela, lalu dari bawah emperan merayap ke jendela

yang lain serta menyembunyikan diri di belakang kain gorden jendela yang lain. Semuda ini usia

pemuda itu, namun kecerdikannya luar biasa, dapat dia gunakan titik lemah dari watak manusia

untuk mengambil keuntungan, tepat sekali perhitungannya bahwa Lamkiong Ling pasti menyangka

dirinya sudah melarikan diri, maka dia segan memeriksa tempat yang lain.

Tampak si pemuda baju hitam menghampiri ke depan Coh Liu-hiang, sesaat lamanya ia

melotot kepadanya, mendadak berkata keras, “Lamkiong Ling adalah teman baikmu, aku

sebaliknya belum pernah kenal atau bertemu dengan kau, kau tidak bantu dia malah membantu

aku, sebenarnya apa maksudmu?”

Rasa curiga si pemuda ternyata sedemikian tebal, orang lain membantunya, bukan saja tidak

terunjuk rasa terima kasihnya, malah dia curiga orang ada gejala-gejala yang tidak

menguntungkan dirinya.

“Aku bantu kau dan tidak bantu dia seorang pengemis, rudin sekali, sebaliknya kau ini punya

uang, maka perlu aku menjilat pantatmu.”

Sesaat lamanya si pemuda masih melotot kepada Coh Liu-hiang, akhirnya ujung mulutnya

mengulum senyum, namun ia tahan sehingga dirinya tidak tertawa, katanya tetap dingin,

“Meskipun kau sudah bantu aku, sekali-kali aku tak sudi menerima budi kebaikanmu ini.”

Coh Liu-hiang juga menahan tawa, ujarnya, “Siapa yang bantu kau? Apa perlu orang lain

membantu kau, apalagi orang-orang seperti murid-murid Kaypang itu masakah terpandang dalam

matamu?”

“Kau kira aku takut kepada mereka?” damprat si pemuda gusar.

“Sudah tentu kau tidak takut, kalau kau sembunyi di belakang jendela, tak lebih hanya ingin

mempermainkan mereka saja.”

Saking marah merah padam muka si pemuda, kakinya melangkah mendekat seraya

membentak bengis, “Jangan kau kira lantaran sudah bantu aku, lantas boleh sembarangan

mengejek dan permainkan aku, aku…” belum habis kata-katanya, tiba-tiba ia mencelat setinggitingginya.

Kiranya tanpa sadar kakinya yang telanjang itu menginjak bangkai ular, saking kaget

dan jijik ia mencelat naik ke atas meja, hampir saja menubruk pangkuan Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya, “Kita ini orang gagah yang tidak takut langit dan bumi,

kiranya hanya takut kepada ular,” baru sekarang pula ia sadari sikap gugup dan ketakutan si

pemuda yang berlari kembali tadi lantaran takut dikejar ular, jadi bukan karena takut menghadapi

kepandaian murid-murid Kaypang, pemuda kaku dingin ini takut ular, sungguh membuat orang

sukar percaya.

Merah muka si pemuda, katanya dengan nafas memburu, “Bukan aku takut, aku hanya jijik…

sesuatu yang lunak dan licin berbau lagi, aku amat membencinya, memangnya kau kira hal ini

menggelikan?”

“Tidak, tidak menggelikan!” ujar Coh Liu-hiang mengerutkan muka. “Kalau setiap perempuan

takut ular, kenapa laki-laki tidak boleh takut? Kenapa laki-laki harus sedikit tidak takut terhadap

barang-barang seperti itu?”

Mendengar kata-katanya ini, sorot mata It-tiam-ang yang dingin kaku itu mengunjuk rasa geli

yang tertahan, sebaliknya selebar muka si pemuda merah jengah.

Pada saat itulah terdengar seseorang menjengek dingin, “Maling kampiun yang terkenal di

seluruh dunia, ternyata bukan saja pandai berkelakar, diapun pintar membual.”

Entah kapan seseorang berdiri menggelendot di depan pintu, dia bukan lain Pek-giok-mo

adanya, tangannya menjinjing kantong kain abu-abu, entah apa yang terisi di dalamnya? Keruan

berubahlah air muka si pemuda baju hitam, lahirnya Coh Liu-hiang bersikap tenang namun

jantungnya berdebar keras, katanya tawar, “Adakah tadi kekuatan dia tak berada di sini?”

“Pangcu kami sudah memperhitungkan pasti dia masih berada di sini.” Pek-giok-mo

menyeringai dingin, “Cuma memberi muka kepada kau si Maling romantis ini, maka sementara dia

menyingkir pergi, kini setelah dia undurkan diri, kau…”

Pemuda baju hitam tiba-tiba berkata lantang, “Tidak usah kalian pandang mukanya, aku tiada

sangkut-paut dengan dia.”

“Kalau demikian, kau mau keluar sendiri, atau tunggu kami yang meluruk masuk?”

Tanpa menunggu orang bicara habis, pemuda baju hitam sudah melompat terbang keluar

jendela, disusul terdengar suara bentakan dan keluhan, lalu terdengar pula derap langkah ramai

saling kejar dan tak terdengar pula, “Kalian punya pangcu seperti Lamkiong Ling, benar-benar

mendapat rejeki setinggi gunung, pemuda itu berbuat salah terhadap Lamkiong Ling, memang

sebal dan setimpal memperoleh ganjarannya!”

“Yang berbuat salah terhadap aku Pek-giok-mo ini, belum tentu dia bernasib baik.” Mendadak

Pek-giok-mo keluarkan senjata warna hitam legam dengan bentuk yang aneh dari dalam

kantongnya, bentaknya, “Jembatan jangan disamakan jalan, meski kau kenal baik Lamkiong Ling,

Pek-giok-mo sebaliknya tidak kenal siapa kau, kau berbuat salah terhadapku, terhitung hari

kematianmu sudah tiba hari ini.”

“Kenapa banyak orang ini aku mati, kalau aku mati apa sih manfaatnya bagi kalian?” kata Coh

Liu-hiang angkat pundak.

“Banyak sekali manfaatnya!” Pek-giok-mo menyeringai sadis, tiba-tiba gaman aneh di

tangannya teracung ke depan. It-tiam-ang mandah berpeluk tangan menonton saja dilihatnya

senjata itu mirip ganco atau gantolan, seperti cakar bagian gagangnya diberi gelangan untuk

melindungi jari-jari tangan sendiri dengan batangan berwarna hitam seperti Long-gan Pang penuh

ditumbuhi duri-duri bengkok ke belakang sementara ujung paling depan adalah cakar-cakar setan

yang dapat dikembang dan ditarik masuk, jari-jari cakarnya hitam mengkilap, terang sudah

dilumuri racun jahat.

Selama It-tiam-ang malang melintang di Kangouw, sudah ratusan kali gebrak dengan berbagai

musuh, namun belum pernah dilihatnya senjata seaneh ini, diapun tak mengerti apa manfaat atau

kegunaan daripada senjata aneh macam ini.

Bagi setiap tokoh silat adalah jamak setiap kali macam senjata aneh yang baru seperti pula

anak kecil melihat barang mainan baru ketarik dan merasa aneh pula. Demikian pula It-tiam-ang

tidak ketinggalan mempunyai asa yang sama, diapun ingin melihat bahwasanya gumam seaneh ini

punya permainan jurus-jurus yang aneh pula, ingin pula dia melihat cara bagaimana Coh Liu-hiang

memunahkan kepandaian lawan.

Terdengar Coh Liu-hiang berkata, “Alat mainan untuk menangkap ularmu ini, juga hendak kau

gunakan untuk menghadapi manusia?”

Pek-giok-mo terloroh-loroh serunya, “Jit hun-ji-jianko ini, bukan saja bisa menangkap ular, juga

bisa mencengkeram sukmamu, biar hari ini kau jajal-jajal.” Dalam berkata-kata ini beruntun ia

sudah lancarkan tujuh delapan jurus serangan, memang jurus permainannya aneh dan lucu, lihat

lagi, tiba menutul enteng mendadak menyerampang keras, adakalanya dimainkan lincah

mengandung perubahan yang aneh-aneh, tapi mendadak menyerang dengan kekuatan besar

untuk merobohkan musuh.

Pengemis buas dari Kosoh ini ternyata memang sudah tekun berlatih menggembleng ilmu

permainan senjatanya yang luar biasa ini, tipu-tipu serangan yang lemas dan keras saling berganti

dengan leluasa dan cepat ini, sungguh sukar dihadapi oleh siapapun. Tapi kalau dia sendiri belum

bisa mengendalikan kekuatan dan permainannya sendiri, betapapun ia takkan mampu

melancarkan tipu-tipu yang luar biasa seperti itu.

Gerak badan Coh Liu-hiang berubah dan berubah lagi, agaknya memang ingin melihat sampai

dimana dan betapa pun hebat dan gerak perubahan serangan Jit gi jian lawan, dalam waktu dekat

ia mandah berkelit saja tanpa balas menyerang.

Maklumlah hobbynya memang bermain silat, hobbynya ini boleh dikata jauh melebihi orang

lain, melihat bentuk suatu senjata aneh, rasa ketariknya puluhan lipat melebihi It-tiam-ang. Di

seluruh kolong langit ini, entah berapa banyak senjata aneh yang pernah dilihatnya, bukan saja

pernah melihat diapun sudah bisa mematahkan cara-cara serangan lawan, kini mendadak ia

kebentur Ji-gi-jian yang lain dari yang lain pula, sudah tentu ia tidak mau melepas kesempatan

untuk menjajalnya, sebelum dia paham menyeluruh dari permainan Ji-gi-jian serta tipu-tipu

perubahannya, boleh dikata dia segan turun tangan serta menghentikan serangan Pek-giok-mo.

Tapi karena keisengannya ini, beberapa kali ia menghadapi serangan-serangan berbahaya musuh

yang hampir saja menamatkan jiwanya, namun ada kalanya sengaja ia tunjuk titik kelemahan diri

sendiri memancing serangan lawan memperlihatkan jurus-jurus tunggalnya.

Cakar-cakar berbisa yang mengkilap itu, beberapa kali sudah menyerempet kain pakaiannya,

sampaipun It-tiam-ang ikut kaget dan mengucurkan keringat dingin.

Karena dapat mendesak lawan dan berada di atas angin, lebih gairah semangat Pek-giok-mo,

tipu demi tipu mematikan dari jurus-jurus tunggal ilmu Ji-gi-jiannya dia kembangkan tak habishabis,

Coh Liu-hiang didesak dan dirabanya sampai berulang-ulang.

Mendadak Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa, “Kiranya permainan ilmu Ji-gi-jian mu ini

paling hanya begini saja, untuk menangkap ular memang sedapat mungkin bisa kau gunakan,

hendak menangkap orang masih jauh sekali!”

Pek-giok-mo membentak, “Jurus permainan Ji-gi-jian ku ini selama hidupmu jangan harap kau

bisa melihatnya dengan sempurna.” Pengemis buas yang licik dan licin ini, agaknya dapat meraba

maksud tujuan Coh Liu-hiang. Dia tahu sebelum Coh Liu-hiang melihat keseluruhan jurus-jurus

tipu permainan Ji-gi-jiannya ini takkan turun tangan balas menyerang. Kata-katanya ini memang

hendak menyudutkan Coh Liu-hiang, kalau Coh Liu-hiang tidak balas menyerang, maka dengan

lebih leluasa ia bisa lancarkan tipu-tipu keji ilmu Ji-gi-jiannya, apalagi Ji-gi-jian yang dia yakinkan

ini masih mempunyai tipu-tipu keji yang dahsyat dan lihay masih belum sempat dia kembangkan,

tujuannya adalah hendak menyudutkan Coh Liu hiang pada posisi yang kepepet dan tak mungkin

bisa berbuat banyak, barulah saat itu sekali serang dia bikin Coh Liu hiang mampus oleh

cengkraman cakar senjatanya yang beracun.

Jelas Coh Liu hiang tahu akan hal ini namun dia justru membakar hati orang dan

memancingnya: “Sejak tadi kau sudah kehabisan akal dan hampir putus asa, aku tak percaya kau

ini punya kemampuan lain apa lagi”, sembari bicara kakinya menyurut mundur kesudut yang

mematikan kepojok ruangan. Memang nyalinya teramat besar, tanpa ragu-ragu ia gunakan

jiwanya sendiri sebagai pertaruhan hanya untuk melihat gerak perubahan dari ilmu Ji gi-jian

keseluruhannya serta variasi perubahannya.

Sungguh pertaruhannya teramat besar It-tiam ang tidak habis pikir bahwa dalam dunia ini ada

orang mempermainkan pertaruhan jiwa sebagai permainan bercanda belaka, ia tak tahu

membedakan apakah ini perbuatan bodoh atau pintar?

Mancing ikan, memang permainan orang-orang pintar, tapi kalau diri sendiri dijadikan umpan

untuk mengail ikan bolehlah diartikan terbalik bahwa ikanlah yang berbalik memancing dirinya.

Coh liu hiang sedang tunggu kesempatan supaya Pek-giok mo terpancing, demikian pula Pekgiok

mo sedang menunggu Coh Liu hiang terkait begitu pula Coh Liu hiang sendiri mundur ke

sudut yang mematikan, tiba-tiba Pek-giok mo menyeringai tawa, serunya: “Jurus-jurus hebat

mematikan Lohu akan kau lihat setelah kau sudah ajal.”

Dalam sekejap saja dia sudah menyerang lagi tujuh jurus, satu persatu bisa dihindari oleh Coh

Liu hiang dengan mudah tampak Ji gi jian musuh mendadak meluncur lempang dari tengah,

menyerang kemukanya. Coh Liu hiang mengkeretkan badan mundur satu kaki, dia sudah

perhitungkan tepat posisi kedatangan Ji gi jiau jelas takan bisa mencapai dirinya, serunya tertawa

besar: “Kalau kau tidak…”, baru sampai disini kata-katanya, tiba-tiba didengarnya “Sret” cakar

setan yang hitam legam terkembang itu tiba-tiba melenting copot dari badannya terus

mencengkeram ke dadanya. Ternyata pada batang Ji-gi-jian ini di dalamnya ada dipasang pegas

yang mempunyai daya pental yang amat keras, cukup asal Pek goik mo menekan tombol di

gagang yang dipegangnya, jari-jari cakar setan itu lantas mencelat keluar mencengkeram ke arah

sasarannya.

Jari-jari cakar setan ini disambung oleh seutas rantai lembut empat kaki panjangnya, maka Ji

gi jian yang semula hanya panjang tiga kaki enam dim, mendadak berobah sepanjang tujuh kaki

enam dim, jarak yang semula tak bisa dicapai kini dengan mudah dicapainya.

Kini Coh Liu hiang sudah tidak mungkin bisa mundur lagi, ia insyaf asal kulit badannya sedikit

tergores atau lecet oleh jari-jari cakar setan lawan, maka jiwanya takkan hidup lebih dari satu jam.

Sebagai tokoh kosen yang berkepandaian silat tinggi, dengan seksama It-tiam-ang menonton

pertempuran ini, sudah tentu ia jauh lebih terang dari orang yang sedang bertempur sendiri, begitu

dia melihat serangan Pek giok mo terakhir ini, serta merta, ia menghela napas. Posisi Coh Liu

hiang terang sudah kepepet dan tidak mungkin mundur pula, untuk berkelit lagipun tiada peluang

pula. Kalau jari-jari cakar setan ini tidak dilumuri racun, mungkin dengan gerakan Hon-kong-cohing

(menyibak cahaya menagkap bayangan) dia bisa menangkap cakar setan lawan, tapi jari-jari

cakar setan ini amat beracun, boleh dikata disentuhpun cukup membahayakan jiwa orang.

Mau tidak mau Coh Liu hiang menjadi kaget pula, namun meski hati mencelos ia tidak menjadi

gugup karenanya, disaat-saat menghadapi bahaya antara mati dan hidup, toh terpikir juga oleh

otaknya yang cerdik cara untuk mematahkan serangan mematikan ini.

Tampak pundaknya sedikit bergerak, tahu-tahu tangannya sudah mencekal sesuatu, kebetulan

cakar setan sudah menyelonong tiba di depan dadanya, secara reflek langsung ia angsurkan

benda dalam cekalannya masuk ke tengah jari-jari cakar setan itu.

“Trap.” jari-jari cakar setan segera mengatup kencang dan ditarik mundur pula, benda yang

tercengkeram di dalam jari-jari cakarnya yang hitam legam itu dibantingpun takkan terlepas,

setelah ditegasi kiranya hanyalah segulung gambar lukisan.

Maklumlah, sesuai dengan julukan Maling Kampiun, betapa cepat gerakan tangan Coh Liuhiang

tiada bandingannya di seluruh kolong langit, kalau dia ingin sesuatu dari kantong dalam baju

orang segampang dia membalikkan tapak tangannya sendiri, apalagi merogoh keluar barang

miliknya sendiri. Oleh karena itu maka dalam saat yang kritis di saat jiwanya terancam elmaut

itulah ia merogoh keluar gulungan gambar itu serta disesapkan ke tengah jari-jari cakar setan.

Betapa cepat daya luncuran cengkeraman cakar setan itu, kalau orang lain yang menghadapi,

belum lagi gulungan gambar dirogoh keluar mungkin dadanya sudah berlobang besar dan

jantungnya tersedot keluar.

Meskipun gulungan gambar itu amat penting artinya, namun menghadapi saat saat penentuan

mati hidup jiwanya sendiri, betapapun tingginya nilai sesuatu benda miliknya, bolehlah dibuang

atau dikorbankan untuk menebus jiwanya.

Mimpipun Pek-giok-mo tidak pernah terpikir akan akal licik lawan, sekali serangannya luput

seketika berubah air mukanya, sebat sekali ia sudah mundur tujuh kaki, agaknya jeri bila Coh Liuhiang

merangsek dan mencecar dirinya malah. Siapa tahu Coh Liu-hiang sedikitpun tak bergeming

dari tempatnya berdiri, cuma katanya tersenyum lebar: “Walau kau ingin mencabut nyawaku, aku

sebaliknya tidak ingin menamatkan jiwamu, kini kemampuan aslimu sudah kau tunjukkan, lebih

baik kau serahkan saja barang yang tercengkeram dalam cakar setanmu itu, lalu lekaslah enyah

dari sini!”

Memang Pek-giok-mo tidak tahu barang apa yang tercengkeram di dalam cakar setannya, tapi

sesuatu benda yang tersimpan dan dikeluarkan dari kantong badannya tentulah sesuatu yang

bernilai tinggi. Maka kata-kata Coh Liu-hiang menggerakkan hatinya, katanya dingin: “Maksudmu

supaya aku mengembalikan gulungan kertasmu ini?”

Bersambung ke Jilid 7

Jilid 7

Coh Liu Hiang tertawa, oloknya, “Cakar setan yang peranti mencabut nyawa orang, kini hanya

berhasil merenggut segulung kertas, memangnya kau tidak merasa malu ?”

Pek-giok-mo tertawa besar, ujarnya, “Kalau toh tanya segulung kertas bobrok, kenapa kau

harus minta supaya aku mengembalikan kepada kau ?”

Mau tidak mau gugup juga hati Coh Liu-hiang, batinnya : “Keparat ini memang licik dan banyak

akalnya,” dimulut ia menyahut tawar, “Kalau kau ingin memilikinya, boleh kuberikan kepada kau

untuk membesut air matamu, atau bolehkah untuk menyeka ingusmu saja.”

Pek-giok-mo menyeringai tawa dingin, katanya: “Yang harus mengalirkan air mata sekarang

mungkin malah kau sendiri.” lalu ia mundur lagi beberapa langkah, pelan-pelan ia keluarkan

gulungan gambar itu lalu dibentang setengah halaman, hanya sekilas pandang saja rona mukanya

tiba-tiba mengunjuk perasaan yang aneh dan lucu, tiba-tiba pula ia bergelak tertawa.

Melihat aneh mimik tawa orang, bertanya Coh Liu-hiang heran: “Apa yang kau tertawakan?”

“Untuk apa kau menyimpan gambar lukisan bini Jin Jip di dalam kantongmu? Kulihat usiamu

masih muda, memangnya kau sedang terserang penyakit rindu sepihak kepada bini Jin lothau?”

Sungguh girang dan kaget bukan kepalang hati Coh Liu-hiang mendengar kata-kata Pek-giokmo

setelah orang melihat gambar lukisan itu, jawaban teka-teki selama ini yang dicarinya ubekubekan

tidak ketemu, dan kiranya sekarang didengarnya dengan tanpa mengeluarkan banyak

tenaga. Saking kegirangan, tanpa sadar ia berteriak: “Jadi Chiu Ling-siok ternyata menikah

dengan Kaypang Pangcu yang terdahulu, memangnya kedudukannya mulia dan diagungagungkan,

namanya jauh lebih suci dan terpandang, jauh lebih tinggi dibanding Sebun-jian dan

lain-lain.”

Melihat mimik muka serta tingkah lakunya, Pek-giok-mopun kelihatan heran dan tak mengerti,

katanya: “Chiu Ling-siok?…. siapa Chiu Ling-siok itu?”

“Bukankah kau tadi berkata bahwa dia istri Jin Jip Jio-lo pangcu dari Kaypang?”

“Istri Jin Jip itu she Yap, bernama Yap Siok-tin….”

Coh Liu-hiang melengak kaget pula, teriaknya: “Lalu lukisan gambar itu…”

“Yang dilukis di atas gambar ini adalah Yap Siok-tin, kau sendiri sudah menyimpan gambar

lukisannya, memangnya belum tahu nama aslinya?”

Baru sekarang Coh Liu-hiang dibikin paham: “Tak heran tiada orang Kang-ouw yang tahu di

mana jejak Chiu Ling-siok, ternyata dia sudah mengubah nama dan menikah dengan Kaypang

pangcu, ai, betapa buruk dan tercela nama perempuan siluman ini dulu, kalau ingin menikah

dengan tokoh kosen yang kenamaan di kalangan Kangouw, sudah tentu harus merubah she ganti

nama, untuk hal ini seharusnya sejak mula sudah harus kupikirkan.

Tiba-tiba Pek-giok-mo berubah beringas, serunya bengis: “Jikalau kau maki Jin-lothau kau

maki delapan belas keturunannyapun tak menjadi soal, tapi istrinya adalah seorang perempuan

suci welas asih dan luhur budi serta bijaksana, sampaipun aku Pek-giok-mo harus tunduk dan

kagum kepadanya, jikalau kau berani omong dengan perkataan kotor mengenai dirinya pula,

murid-murid Kaypang sebanyak laksaan anggota pasti tak seorangpun yang sudi mengampuni

jiwamu.

Coh Liu-hiang maklum, setelah Chiu Ling-siok menikah dengan orang tentu dia sudah cuci

tangan membina diri, kembali menjadi manusia baik-baik, biasanya memang dia sendiri amat

simpatik dan mengagumi orang seperti ini, sudah tentu diapun takkan membeber sepak terjangnya

dulu yang memalukan, sorot matanya berputar, tiba-tiba ia berkata: “Entah di mana sekarang Jihujin

berada?”

“Kulihat kau begitu kepincut sampai lupa daratan, memangnya kau sudah berkeputusan rela

menikah dengan seorang janda? Tapi ketahuilah dia adalah seorang suci yang patuh akan adat

istiadat, kau ini kodok buruk jangan harap bisa merasakan daging burung bangau”

Kembali berputar biji mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Jin-jip mengusirmu dari perguruan

Kaypang sehingga kau harus sembunyi ke barat mengempet ke timur, selama puluhan tahun

belum pernah kau mengecap hidup kesenangan pula, memangnya kau tidak membencinya

malah?”

“Dia orang sudah mampus, kalau membencinya memangnya bisa berbuat apa?” dengus Pek

Giok-mo dengan penuh kebencian.

“Walau dia sudah mati, namun istrinya toh masih hidup?”

Dengan keki Pek-giok-mo pelototi Coh Liu-hiang, jari-jari tangannya mencabuti jenggot di

bawah dagunya yang sudah hampir habis dicabuti olehnya sendiri, sorot matanya yang semula

galak dan bengis lambat laun menunjuk senyuman tawa lebar, katanya pelan-pelan: “Walau katakatamu

ini keterlaluan, tapi justru mencocoki seleraku”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Terhadap siapa bicara apa, pengertian ini cukup

kupahami!”

Pek-giok-mo terkial-kial, serunya: “Tak heran orang lain suka bilang Coh Liu-hiang adalah bajul

buntung yang jahat dan paling mungil, sampaipun aku kini lambat laun sudah mulai ketarik dan

menyukai kau”

“Lalu di manakah istrinya sekarang berada?” desak Coh Liu-hiang lebih lanjut.

“Sayang, aku sendiripun tidak tahu”

Sebentar saja Coh Liu-hiang melenggong, lalu ia bersoja dan berkata: “Selamat bertemu lain

kesempatan!” lalu ia berjalan keluar tinggal pergi.

Seru Pek-giok-mo keras: “Meski aku tidak tahu, namun ada orang lain yang tahu”

Seketika Coh Liu-hiang menghentikan langkahnya dan bertanya sambil membalik badan:

“Siapa?”

“Memangnya kau tidak bisa memikirkannya?”

“Mungkin Lamkiong Ling sebetulnya bisa memberitahu kepadaku, tapi sekarang belum tentu”

“Orang lain punya sebutir mutiara, kau hendak memintanya dengan mulut kosong, sudah tentu

dia tidak sudi memberikan kepada kau, tapi kalau kau suka menukarnya dengan benda lain yang

lebih mahal dari mutiara, masakan dia tidak sudi memberikan kepada kau?”

Coh Liu-hiang diam sebentar, tanyanya: “Dengan apa aku harus menukarnya?”

“Asal usul pemuda baju hitam itulah.”

Coh Liu-Hiang mengikuti jejak Pek-giok-mo, sementara It-tiam-ang menguntit dibelakang Coh

Liu-hiang, seolah-olah mereka pandang wuwungan rumah penduduk sebagai jalan raya yang lebar

dan rata,mereka berlompatan terbang diatas rumah orang.”

Waktu itu lama sudah larut, di seluruh pelosok kota sudah tak terlihat lagi adanya sinar api

yang menyorot keluar dari dalam rumah.

Sembari jalan, berkata Pek-goik-mo dengan suara rendah berat: “Dengan kau Coh-liu-hiang

kau sendiri yang mengikuti jejakku lho,bukan aku yang membawamu kemari.

“Aku tahu akan maksudmu” sahut Coh Liu hiang.

“Baiklah kalau kau tahu.”

“It-tiam-amg” ganti Coh Liu-hiang berseru ke belakang. “Kau dengar, kau sendiri yang ikut di

belakangku, bukan aku membawa kemari lho,” tapi tiada jawaban di belakang.

Waktu Coh liu-hiang berpaling, entah kapan bayangan It-tiam-ang sudah pergi tanpa

meninggalkan bekas. Tak tahan Coh Liu-hiang mengelus-ngelus hidungnya gumamnya tertawa

getir: “Kalau kau tidak suka dia datang, dia malah tinggal pergi, siapa bila bersahabat dengan

orang macam demikian, tentulah kepalanya sendiri dibikin pusing.”

Terdengar Pek-giok-mo berkata: “Rumah di depan yang terlihat sinar lampu menyorot keluar

itu, itulah Hiang-tong (Markas-cabang) penting dari Kaypang, sekarang aku mau pergi jangan kau

mengikuti jejakku, kalau kau sendiri yang menemukan tempat itu, tiada sangkut pautnya dengan

diriku.”

“Bahwasannya aku tidak melihat dirimu kemana kau hendak pergi akupun tidak tahu !”

“Bagus” sekali mendekam terus menerjang turun, dari tempat gelap sana segera terdengar

seseorang membentak dengan kereng: “Naik ke langit masuk ke bumi !”

“Si pengemis tidak mau datang.” Pek-giok-mo segera menyambung. Disusul suara berbisikbisik

sekian lama, lalu terdengar pertanyaan pula : “Di mana bocah itu?”

“Ruang pendopo.”

“Akhirnya pangcu berhasil membekuk dia?”

“Agaknya dia sendiri yang kemari, malah duduk dengan angkuh dan gagah-gagahan, entah

kenapa pangcu malah bersikap sungkan dan ramah-tamah kepadanya.”

Coh-liu-hiang mendekam di atas genteng rumah diseberang sana. Dilihatnya Pek-giok-mo

mendorong pintu lalu menyelinap masuk dalam rumah ada lampu,namun jendelanya tertutup rapat

yang terlihat hanya bayangan orang yang mondar mandir, bagaimana keadaan di dalam, tidak

jelas.

Sekeliling rumah dijaga ketat dan masih banyak lagi penjaga-penjaga gelap yang tersembunyi,

ada kalanya yang terlihat hanyalah sinar golok mereka yang mencorong mengkilap ditempat

gelap, terdengar pula suara bisikan percakapan mereka.

Laksana asap entengnya Coh Liu-hiang menggerakakan badannya berputar satu lingkaran,

kini ia tiba di belakang rumah, mendadak ia batuk-batuk kering dua kali, dari tempat gelap segera

terdengar orang membentak dengan suara hilir : “Naik langit masuk bumi.”

“Si pengemis tidak mau datang” sahut Coh liu-hiang meniru Pek-giok-mo tadi.

Orang itu lantas berdiri dan keluar dari tempat gelap, setelah jelas akan diri Coh liu Hiang ia

bergerak tanya : “Siapa kau ?”

“Peminta beras” sahut Coh liu-hiang, tahu tahu tangan kanannya sudah menutuk Hiat-to orang

itu, berbareng tangan kiri meraih badan orang terus dijinjing ke belakang dan direbahkan di atas

pohon, katanya pelan-pelan: “Aku ini bukan manusia, aku ini siluman rase, kau tahu tidak ?”

Sorot mata orang itu menunjukkan rasa takut dan kaget, ingin mengangguk, badan tak bisa

bergerak, terpaksa biji matanya berkedip-kedip.

Seenteng asap Coh Liu-hiang melayang turun lalu menuju ke sebuah jendela yang tersorot

cahaya lampu dari dalam setelah membuat lobang kecil ia dekatkan matanya untuk mengintip ke

dalam. Tampak tengah ruang besar, di dalam sana dijajar dua meja cendana, kedua sisi masingmasing

diduduki dua pengemis ubanan, karung yang digendong tebal dan bertumpuk-tumpuk,

tentunya semua berjumlah sembilan karung. Tentulah mereka adalah Tianglo dan Hu-hoat dari

Kaypang.

Pek-giok-mo dengan congkaknya duduk jaga di tempat teratas, roman mukanya tetap

mengunjuk sifat pongah dan kekerasan hatinya.

Di sebelah atasnya lagi adalah Lamkiong Ling Pangcu Kaypang yang baru. Pemuda baju

hitam itu ternyata juga hadir dalam ruangan ini, dia duduk berhadapan dengan Lamkiong Ling.

Begitu banyak tokoh-tokoh Bulim yang mengelilingi dirinya, ternyata sedikitpun dia tak unjuk

tasa takut, mata besarnya terpentang lebar mengawasi Lamkiong Ling, lagaknya selalu dia siap

berdiri dan ajak berkelahi dengan siapapun.

Terdengar Lamkiong Ling tengah berkata dengan suara kereng: “Tuan melukai murid-murid

Kaypang kami, melukai pula Tianglo Hu-hoat kita, mungkin hanya merupakan salah paham

belaka, Puncoh tidak akan mengulur panjang persoalan ini, cuma ingin tanya keperluan apa tuan

datang kemari dari tempat jauh?”

Pemuda baju hitam melotot kepadanya, sahutnya dingin: “Sudah berapa kali kau ajukan

pertanyaan itu yang sama ini, kalau aku sudi menjawab, memangnya harus tunggu sampai

sekarang?”

Lamkiong Ling ternyata kelewat sabar, katanya kalem: “Sebetulnya kau ada tujuan apa

memusuhi Kaypang kami? Kalau kau mau jelaskan, mungkin Puncoh bisa wakili laksaan murid

Kaypang kita memberikan segala fasilitas akan keperluanmu”

“Kalau aku ingin batok kepalamu, apa kau suka memberikan?”

Akhirnya Lamkiong Ling berkata bengis: “Jangan kau lupa, saat ini dan ditempat ini

sembarangan waktu aku bisa mencabut jiwamu, tapi aku hanya ingin tanya maksud

kedatanganmu, kau tidak mau jelaskan, bukankah kau tidak tahu diri?”

Tidak kalah ketusnya si pemuda baju hitam menjawab: “Sampai sekarang aku masih tetap

duduk ditempat ini, memang aku tidak tahu diri, kalau kukatakan asal usulku, berarti maksudmu

sudah tercapai, masakah aku bisa duduk ungkang-ungkang disini?”

Mendengar sampai disini, diam-diam Coh-Liu hiang tertawa geli: “Kelihatannya pemuda ini

keras kepala dan angkuh lagi, seperti tidak tahu apa-apa, siapa tahu kiranya dai jauh lebih cerdik

dan cekatan dari orang lain, agaknya Lomkiong Ling hari ini kebentur lawan tangguh.”

Tampak raut muka Lamkiong Ling sudah membesi hijau, amarahnya sudah bergolak di rongga

dadanya, namun akhirnya dapat dia kendalikan pula, katanya lembut dengan tertawa lebar: “Kalau

Puncoh ingin membunuh kau, buat apa pula harus tanya asal-usulmu? Masakan kau sendiri belum

paham akan pengertian secetek ini?”

“Sudah tentu aku cukup paham, malah terlalu paham, kalau toh kau tidak tahu siapa aku, dan

tidak tahu berapa banyak pula orang-orang yang berada dibelakangku, lebih tidak tahu pula

berapa banyak rahasia Kaypang kalian yang sudah kuketahui, hatimu sendiri yang main curiga

dan suka meraba-raba masakah kau bisa berlega hati membunuhku demikian saja.”

“Kalau demikian, bukankah aku harus menahanmu malah.”

“Lebih baik kalau kau tahan diriku disini, makan minum disini, tidur disini, cuma aku kuatir

kalian para pengemis ini apa mampu menyediakan segala keperluanku.”

Pek Giok-mo tiba-tiba menyeringai tawa katanya: “Dengan cara halus tidak mau bicara boleh

gunakan kekerasan, masakan dia tidak akan bicara?”

“Siapapun di antara kalian bila berani menyentuh seujung jariku saja mungkin jiwa beberapa

orang akan menggeletak di hadapanku, kalau kalian tidak percaya, silahkan turun tangan saja”.

Pemuda ini halus dan kasar serba bisa, pintar mungkir, pandai mengancam dan bisa

menggertak lagi, hampir saja Coh Liu-hiang bersorak senang di luar jendela.

Pada saat itu, mendadak “Blang”, jendela di depan sebrang Coh Liu-hiang mengintip ini tibatiba

jebol berlobang besar, bagai anak panah sesosok bayangan orang menerjang masuk. Sinar

pedang orang itu bagai kilat menyambar, kiranya It-tiam-ang.

Melihat It-tiam-ang mendadak muncul, sungguh kaget dan senang pula hati Coh Liu-hiang,

batinnya: “Ternyata dia tetap menguntit aku, tapi tepat sekali kedatangannya.”

Tampak begitu kaki It-tiam-ang menyentuh tanah, beruntun pedangnya sudah bergerak tujuh

delapan belas kali tusukan ke arah Su-toa-Tianglo dan Pek-giok-mo dan lain-lain. Orang-orang ini

merupakan tokoh-tokoh silat kelas tinggi dalam Bulim, namun serangan dilancarkan teramat

mendadak, menghadapi tusukan secepat, ganas dan aneh ini mereka mencaci: “It-tiam-ang,” seru

Lamkiong Ling gusar. “Kuhormati kau sebagai Enghiong kenamaan, berani kau bertingkah di

Hiang-oh Kaypang kami?”

“Biasanya aku tidak kenal sanak kadang, memangnya kau tidak tahu?” jengek It-tiam-ang. Lalu

ia menerjang ke samping pemuda baju hitam dan membentak datar: “Tidak lekas kau pergi!”

Tak nyana si pemuda malah melotot kepadanya, tanyanya: “Kenapa aku harus pergi ikut kau?”

Sekilas It-tiam-ang melongo, jengeknya: “Kau tidak mau pergi, biar kubongkar asal usulmu di

hadapan mereka.”

Kini ganti si pemuda yang tertegun, katanya tertawa dingin: “Baik, terhitung kau menang,

ayolah pergi!”

Tapi saat mana Ji-gi-jiau, Boan-koan-pit, tongkat bambu hijau, Siang-thi-koay dan tujuh

delapan macam senjata lainnya sudah meluruk bersama ke arah mereka. Setiap hadirin dalam

ruang pendopo ini adalah tokoh-tokoh silat nomor wahid, setiap gaman yang mereka gunakan

rata-rata senjata berat yang ampuh dan hebat kekuatannya, ganas dan keji pula serangannya,

lekas si pemuda baju hitam merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebilah senjata, sekali

ayun dan gentak ia bikin senjatanya lempang kaku, kiranya itulah sebatang Bian-to yang terbuat

dari baja murni. “Cret, cret, cret” beruntun ia membacok beberapa kali, gerakan ilmu goloknya

amat keras dan tidak kalah ganasnya, berkesiur angin goloknya amat tajam dan deras, ternyata

cara tempurnya menempuh jalan kekerasan juga.

Begitulah dengan golok dan pedang mereka bertempur berdampingan, siapa pula yang harus

mereka takuti? Namun kalau mereka ingin menerjang keluar dari kepungan, tentulah sesukar

manjat langit. Beruntun It-tiam-ang tusukkan pedangnya puluhan kali, baru mendadak ia berseru

keras: “Tidak segera kau turun tangan, biar aku berteriak saja.”

Sudah tentu orang lain tidak tahu apa maksud kata-katanya dan kepada siapa ditujukan,

sebaliknya Coh Liu-hiang yang mengintip di luar jendela tertawa getir, batinnya: “Akhirnya dia

menarikku juga untuk berkecimpung dalam air basah ini”, sejenak ia berpikir, lalu dari atas ia

menjemput puluhan genteng, begitu jendela dia pukul hancur, beruntun ia timpukkan genteng

seraya berteriak: “Awas, lihat Ngo-tok-thong paku ini!”, walau hanya pecahan genteng biasa saja,

namun ditimpukkan oleh seorang ahli tentulah jauh sekali faedahnya, ada yang terbang naik ke

tengah udara langsung menerjang ke arah musuh, ada pula yang berpura-pura menderu

menyerampang datar dari bawah, ada pula yang naik turun menari-nari.

Orang banyak tidak tahu senjata rahasia macam apakah ini, namun mendengar ngo-tok (lima

racun), belum lagi senjata rahasia mengenai dirinya, beramai-ramai mereka sudah lompat

menyingkir, jiwa sendiri lebih penting, tak sempat pula mereka melukai orang lain.

Maka dengan gampang It-tiam-ang dan pemuda baju hitam mendapat kesempatan untuk

menerjang keluar. Sebat sekali Lamkiong Ling meluncur menyusuri ke dinding jendela di belakang

sana, namun suasana sunyi dan keadaan di luar jendela gelap pekat, kurang jelas siapa penimpuk

senjata rahasia ini, sebat sekali ia lembarkan sebuah kursi keluar, menyusul diapun menerjang

keluar sambil membentak: “Sahabat tunggu sebentar!”

Masakah Coh Liu-hiang mau ayal-ayalan, belum lagi orang memburu keluar, bayangannya

sudah menghilang di kejauhan sana. Begitu menerjang keluar bersama, It-tiam-ang dan pemuda

baju hitam terus lari sekencang-kencangnya, ginkang kedua orang itu agaknya setanding, setelah

berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauhnya sudah, pemuda baju hitam itu tiba-tiba berhenti,

katanya melotot: “Siapa suruh kau menolong aku?”, wataknya yang aneh, matipun ia tidak sudi

terima kebaikan orang lain.

Kalau orang lain setelah menempuh bahaya menolong jiwanya lalu mendapat pertanyaan yang

kurang ajar seperti ini aneh kalau orang itu tidak dibikin semaput saking gusarnya.

Tapi sedikitpun It-tiam-ang tidak menjadi gusar, katanya sambil tertawa meringis: “Siapa mau

tolong kau? Kau mampus atau hidup peduli apa dan tiada sangkut paut dengan aku”

Membelalak besar mata pemuda baju hitam, katanya heran: “Kau bukan menolongku,

memangnya untuk apa kau kemari?”

“Tadi aku ada merusak barang seorang teman dan kau harus kubawa kepadanya sebagai

gantinya.”

Sekilas si pemuda melongo, akhirnya dia berseru naik darah: “Kau ini sedang kentut apa aku

tidak mengerti.”

“Kau tidak mengerti, sebaliknya aku tahu” terdengar seorang menyela tawa yang kemalasmalasan

serta gerakan tubuh laksana setan gentayangan, di kolong langit ini kecuali si maling

kampiun Coh Liu-hiang kiranya takkan bisa dicari keduanya.

Memang kalau Coh Liu-hiang hendak menguntit seseorang, siapapun jangan harap bisa

menyesatkan orang dan lolos dari pengawasannya. Melihat orang datang sedikitpun It-tiam-ang

tidak mengunjuk rasa heran, katanya dingin: “Inilah suratmu itu, kini dia kuserahkan sebagai

gantinya.” bicara pada kata-katanya yang terakhir bayangannya sudah berkelebat di tempat

kejauhan sana.

Mengawasi bayangan orang, si pemuda baju hitam geleng-geleng kepala, ujarnya: “Apakah

otak orang itu rada sinting?”

“Cacat orang ini adalah suka ikut mencampuri urusan orang lain, dia anggap barusan sudah

bantu kesulitanku, siapa tahu justru bikin runyam suatu persoalan besar yang sedang kuselidiki.”

“Persoalan besar apa yang bikin kau uring-uringan kepadanya?” tanya si pemuda.

“Semula aku hendak gunakan jamrud untuk menukar mutiara, dia malah menggagalkan

kontrak dagangku”

Dengan mendelong pemuda ini mengawasinya sekian lama seolah-olah pada mukanya

mendadak tumbuh sekuntum bunga yang indah, sorot matanya memancarkan rasa heran dan

aneh serta ketarik ingin tahu, katanya: “Kukira hanya dia itu yang sinting, siapa tahu kau ini malah

sudah pikun.”

“Itulah yang dinamakan sederita sepenanggungan, jenis yang cocok satu sama lain.”

“Aku tiada cacat seperti yang kau katakan, ma’af aku ingin pergi.” ujar si pemuda sambil putar

badan hendak tinggal pergi.

Kata Coh Liu-hiang: “Pertanyaan yang ini kau ajukan kepadaku tidak kau tanyakan lagi?”

Kata-kata ini seumpama gantolan yang menjambretnya kembali, cepat ia putar badan dan

unjuk seri tawa kegirangan, serunya, “Sekarang sudah sudi memberi tahu?”

Berkata Coh Liu-hiang tanpa pikir, “Sudah kulihat sulaman gambar unta terbang dalam balik

mantelmu, maka aku tahu kau pasti sanak kadang Raja Gurun, aku pernah bertemu dia, maka

kutahu bila dia sudah masuk ke Tionggoan.”

Bersinar biji mata si pemuda, teriaknya tertahan, “Kau pernah bertemu dengan ayahku?”

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau sudi percaya kepadaku, kesulitan yang

kami hadapi bersama saat ini, tidak sukar untuk dibereskan!”

Langsung si pemuda menatap kedua matanya, sepasang mata yang lebih cemerlang dari

pancaran sinar bintang kejora, mendadak roman mukanya bercahaya dan tertawalah si pemuda

riang, katanya, “Baik, aku mempercayaimu.”

Coh Liu-hiang segera duduk berpunggung wuwungan rumah, disaat bisa duduk dia tak pernah

berdiri, kaki tangan ia julurkan sebebas mungkin, katanya tertawa, “Kalau begitu aku hanya minta

kepadamu menjelaskan apa maksud tulisan dalam surat yang diterima ayahmu itu?”

“Surat? Bukankah sudah kuserahkan kepada kau?”

“Mungkin sudah ditakdirkan, aku tidak boleh melihat langsung surat itu, tapi cukup puaslah

hatiku asal bisa mendengar j uga.”

“Bagaimana kalau aku tidak pernah membacanya?”

Coh Liu-hiang menjadi tegas, katanya, “Kalau kau katakan tidak pernah membaca surat itu,

mungkin aku kontan jatuh semaput.”

“Nah, bolehlah kau semaput saja.”

“Jadi kau benar-benar tidak pernah membacanya?” teriak Coh Liu-hiang.

Pemuda baju hitam malah tertawa geli, sahutnya, “Aku tidak membaca, namun pernah

kudengar ayah membacakan kepadaku.”

Coh Liu-hiang menghembuskan nafas panjang gumamnya, “Bisa kau tersenyum semanis ini,

umpama aku benar-benar jatuh semaput dan jiwa sampai melayangpun setimpal juga.”

“Kau dengar beginilah isi tulisan surat itu.”

“Nanti sebentar, biar kucuci dulu kupingku biar bersih.”

Si pemuda tertawa lebar, katanya, “Tulisan itu berbunyi, ‘Sejak berpisah beberapa tahun ini

semangat dan kesehatan tuan tentu jauh lebih perkasa dari dulu, sebaliknya aku jauh lebih sayu

dan kurus, apalagi sekarang tersekap di tengah mara bahaya, harap tuan suka mengingat

hubungan baik kami dulu, lekaslah datang menolongku, kalau tuan tidak datang, terang jiwaku

takkan tertolong lagi.’ Tanda tangan surat itu adalah satu huruf, Siok saja.”

Dengan susah payah, akhirnya terhitung Coh Liu-hiang sudah melihat surat itu secara tidak

langsung, apa yang tertulis dalam surat itu memang sudah dalam terkaannya, tapi bisa

membuktikan secara kenyataan betapapun dia akan lebih yakin dalam tugas penyelidikannya lebih

lanjut.

Sayang dalam surat itu tidak menjelaskan kesukaran apa yang sedang dihadapinya? Mau tak

mau Coh Liu-hiang merasa kecewa pula, dengan melongo ia menepekur sekian lamanya,

gumamnya, “Bagaimanapun, kesulitan yang dihadapi Chin Ling-siok, pastilah punya sangkut paut

dengan pihak Kaypang.”

Tukas si pemuda baju hitam, “Ayahpun berpikir demikian, oleh karena itu aku beranggapan

menghilangnya ayahku, pasti ada hubungan dengan Kaypang, kalau tidak buat apa aku mencari

gara-gara kepada pihak Kaypang.”

Kembali Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Kapan surat itu diterima? Siapa pula yang

mengantarnya kesana?”

Tutur si pemuda itu dengan sikap sombong, “Ayahku sebagai pendekar besar di gurun pasir

setiap tahun jejaknya tidak menentu, maka hubungan dengan berbagai anak buahnya yang

tersebar luas di gurun pasir menggunakan burung dara pos. Meskipun dia dijuluki raja gurun pasir,

namun kekuasaannya menjalar memasuki beberapa propinsi di pedalaman dalam sini. Satu bulan

yang lalu surat itu diterima melalui burung pos di pangkalan Ling-shia.”

“Lalu siapakah yang membawa surat ini dan diserahkan orang yang mengurus pangkalan dara

pos di Ling-shia? Dari mana pula dia bisa tahu bahwa Raja gurun ada mendirikan pangkalan

burung dara pos yang tersebar luas di gurun pasir, terutama yang berada di Ling-shia itu?”

“Mungkin tiada orang yang bisa menjawab pertanyaanmu ini.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang yang mengutus pangkalan burung dara pos di Ling-shia itu sudah

mampus seluruhnya.”

Tersirap darah Coh Liu-hiang, sekian lama ia menepekur, katanya pula, “Baru satu bulan

ayahmu keluar pintu, darimana kau bisa tahu kalau dia mendadak menghilang?”

“Sejak perjalanan dari rumah sampai memasuki Tionggoan, setiap hari ayah pasti ada kabar

hubungan dengan setiap pangkalan burung dara pos yang pernah dia lalui. Tapi sepuluhan hari

yang lalu, surat-surat yang dibawa burung pos mendadak terputus, jikalau tidak mengalami

sesuatu perubahan besar, mana beliau bisa lupa untuk berkirim surat kepadaku.”

“Maka kau segera berangkat menyusulnya kemari?”

“Sudah tentu aku segera berangkat menuju ke Tionggoan, sepanjang jalan aku mencari tahu

pada setiap pangkalan-pangkalan burung dara, namun tidak kuperoleh kabar berita dari beliau.

Pengurus pangkalan burung dara pos di Ling-shia, semua menggeletak mampus secara

mendadak, barulah aku mulai gelisah dan akhirnya aku meluruk ke pihak Kaypang.”

“Apa yang pernah kau dengar di Kaypang?” tanya Coh Liu-hiang dengan tatapan mata

berbahaya.

“Apapun aku tak berhasil mendapat tahu, semua orang-orang Kaypang bukan saja tidak tahu

siapa ayahku, jejaknya pun tidak diketahui, malah belakangan ini katanya mereka tidak pernah

menghadapi sesuatu kesulitan apapun, maka tidak mungkin mereka mengundang orang luar untuk

membantu menyelesaikan sesuatu.”

Dia tatap muka Coh Liu-hiang serta katanya pula, “Tapi hal-hal ini semakin bikin aku curiga,

dapatlah kurasakan bila lahirnya mereka seperti aman sentosa, pasti di belakang tabir

kesentosaan ini tersembunyi sesuatu rahasia besar apa? Jelas ayahku kemari karena menerima

surat dari isteri Pangcu mereka, terang pasti ada ikatan dan hubungan dengan pihak mereka,

mana bisa mereka mengatakan tidak tahu menahu?”

“Bukan mustahil kesulitan Jin-hujin adalah persoalan pribadinya, bahwasanya dia tidak ingin

orang-orang Kaypang yang lain tahu, maka pertemuannya dengan ayahmu pastilah dilangsungkan

secara rahasiap pula.”

“Memang ada kemungkinan begitu, tapi pernah aku dihadapi dua persoalan aneh. Pertama:

tiada seorangpun anggota Kaypang yang tahu dimana istri Pangcu mereka yang terdahulu berada.

Kedua, tidak boleh kau melupakannya, bahwa Lopangcu mereka Jin Jip baru saja menemui

ajalnya dalam beberapa waktu belakangan ini, meski dikatakan beliau wafat karena terserang

penyakit, tapi siapa yang pernah melihatnya sendiri?”

Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak bangun, katanya dengan nada berat, “Pergi datang

ceritamu, hanya kata-kata inilah yang tepat menusuk ke sasarannya, tapi jangan sekali kali kau

ucapkan kata-katamu ini kepada orang lain. Kalau tidak mungkin kalangan Kangouw bakal timbul

suatu kegemparan besar. Jabatan Pangcu yang teragung bagi Kaypang yang terbesar kekuasaan

dan anggotanya di seluruh kolong langit ini, siapapun ingin mendudukinya, peduli dia anggota

Kaypang atau orang dari luar kalangan.”

“Tujuanku hanya menemukan ayahku, persetan bakal timbul geger atau keonaran di kalangan

Kangouw, toh tiada sangkut pautnya dengan aku?”

“Begitu besar hasratmu untuk mengetahui jejak ayahmu, kenapa mereka tiada seorangpun

yang tahu asal-usulmu?”

“Gampang saja alasannya… setiap murid Kaypang yang pernah kukompes keterangannya,

mereka takkan bisa membocorkan rahasia pribadiku sedikitpun juga.”

“Agaknya kau sudah pengalaman dan cukup tenaga melakukan pembunuhan.”

“Kalau aku tidak bunuh mereka, jiwakupun akan dibunuh. Memang membunuh orang bukan

perbuatan yang patut dibuat senang, tapi toh lebih baik daripada jiwa sendiri dibunuh orang!”

“Darimana kau tahu bahwa Lamkiong Ling hendak bunuh kau? Kenapa tidak langsung kau

tanyakan persoalanmu tadi kepadanya?”

“Sejak melihatnya aku mendapat firasat bahwa dia bukan orang baik-baik!”

“Itu hanya perasaanmu sendiri, alasan ini belum cukup kuat.”

“Bagi aku, alasan ini sudah lebih dari cukup,” mendadak matanya bersinar dan menatap Coh

Liu-hiang nanar, katanya pula pelan-pelan, “Coba kau pikir, bila kau bertanya kepadanya, apa dia

sudi memberitahu kepadamu?”

“Coba kau pikir… dengan alasan apa dia tidak mau memberi penjelasan kepadamu?”

“Jikalau dia melakukan sesuatu yang memalukan sudah tentu ia tak mau menjelaskan.”

“Kalau begitu, jikalau tidak mau memberitahu kepadaku, bukankah malah membuktikan bahwa

dia memang benar pernah melakukan sesuatu yang memalukan. Coba kau pikir, adakah orang

pikun seperti itu dalam dunia ini?”

“Jikalau dia beritahu kepada kau, sudikah kau beritahu kepadaku?”

“Dengan alasan apa pula aku tidak mau beritahu kepada kau?”

“Maling kampiun Coh Liu-hiang, ternyata tidak menyebalkan seperti apa yang pernah

kudengar,” tersimpul senyum dikulum pada raut mukanya yang kaku dingin, bak umpama sungai

salju mulai mencair, seperti hawa nan dingin terhembus angin musim semi yang sejuk membuat

perasaan orang hangat dan sejuk.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau mau sering-sering tertawa-tawa, akan kau

dapatkan banyak orang di dunia ini, tidak menyebalkan seperti yang kau bayangkan.”

Seketika si pemuda menarik muka, katanya dingin, “Banyak orang yang menyebalkan dalam

dunia ini, tiada sangkut pautnya dengan diriku, aku hanya tanya kau sekarang kau pergi tanya

kepada Lamkiong Ling, kapan kau akan memberitahukan kepadaku?”

“Besok pagi… asal bisa diketahui dimana aku bisa menemui kau…”

“Besok pagi, pergilah kau tamasya keliling Toa-hing-ouw, akan kau lihat seekor kuda hitam

mulus, asal kau berkata ‘Bawa aku menemui mutiara hitam’ tiga kali, lalu menarik kupingnya tiga

kali pula, pasti dia akan mengantar kau menemui aku. Ingat, tidak lebih tidak kurang, hanya boleh

tiga kali, jangan terlalu ringan, ataupun teramat berat.”

“Kalau tertarik empat kali dan rada berat bagaimana?”

“Mungkin dia akan antar kau terjun ke Toa-bing-ouw mencari mutiara di dalam danau,”

mendadak ia melirik kepada Coh Liu-hiang sambil tersenyum, dengan lincah ia putar badan terus

berlari pergi seenteng asap mengembang.

Coh Liu-hiang awasi bayangan orang menghilang di balik pepohonan, katanya seorang diri,

“Mutiara hitam, mutiara hitam, orang sering bicara mutiara hitam adalah benda mustika yang

membawa mala petaka bagi pemiliknya, namun semoga kau mutiara hitam ini membawa rejeki

besar bagiku malah, sekarang aku benar-benar membutuhkan nasib baik.”

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi bintang-bintang di angkasa sesaat lamanya dia

menerawang, sinar bintang yang kelap kelip selalu mendatangkan ketenteraman bagi relung

hatinya, otak jernih, perasaan tentram, biasanya asal dia rebah telentang di atas dek kepalanya,

persoalan rumit apapun, dengan mudah dapat dia bereskan.

Tapi sinar bintang malam ini agaknya tidak membawa banyak pengaruh untuk bantu dirinya,

sudah sekian lamanya ia peras otak, benaknya masih kalut, tak urung ia tersenyum geli, batinnya,

“Memangnya sinar bintang-bintang disini jauh berbeda dengan sinar bintang di lautan?”

Akhirnya ia berkeputusan kembali ke Hiang-tong milik Kaypang itu.

Cahaya lampu dalam ruang pendopo masih terang benderang, waktu Coh Liu-hiang meluncur

dan lompat turun, tiada orang menegurnya dari tempat gelap dengan kata-kata, “Naik ke langit

masuk ke bumi lagi.” Terpaksa Coh Liu-hiang batuk-batuk keras di luar pintu lalu bersuara lantang,

“Apakah Lam-heng ada di dalam?”

Dari ruang pendopo segera terdengar penyahuan, “Silahkan masuk.”

Meja kursi yang terbalik sudah ditata rapi kembali, jendela yang dijebol rusakpun sudah

diperbaiki, pecahan genteng di atas lantaipun sudah disapu bersih, ruang pendopo tetap dalam

keadaan biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu disini. Sebesar ini ruang pendopo ini, yang

hadir hanya Lamkiong Ling seorang yang duduk bertengger menghadap meja yang sudah tersedia

mangkok sumpit dan beberapa guci arak.

Agaknya Lamkiong Ling memang sedang menunggu kedatangan Coh Liu-hiang, melihat Coh

Liu-hiang beranjak masuk sedikitpun ia tidak heran, cuma lekas ia berdiri dan soja, sapanya, “Coh

heng benar-benar menepati janji menagih undangan minum arakku ini. Untung siaute sudah

menyiapkan beberapa guci arak bagus ini, kalau tidak kedatangan Coh-heng pasti akan kecewa.”

“Kau tahu aku bisa menemukan tempatmu ini? Sedikitpun kau tidak merasa heran?”

“Bila Coh heng menagih undangan minum arak, tiada seorangpun di kolong langit ini yang bisa

lari dari kewajiban ini? Seumpama Siaute sembunyi ke ujung langit, dapat diketemukan oleh Cohheng,

tentunya tidak perlu dibuat heran.”

“Benar, hidungku ini biasanya memang punya penyakit dimana ada arak bagus sekali endus

aku lantas bisa menemukannya, apalagi begini banyak Cu-yap-ceng yang kugemari,” dengan

tertawa besar ia menempati sebuah kursi pandangannya menyapu lantas berkata pula, “Cuma

sayang ada arak tiada hidangan lainnya sehingga kurang selera, tahukah kau bagi aku si tukang

gegares ini, boleh dikata sebagai suatu penyiksaan.”

“Masakan memang sudah ada, Siaute sudah menyediakan beberapa ekor ayam panggang

yang gemuk-gemuk, sebatang paha babi dan beberapa macam masakan bakso dan ikan.”

“Memangnya semua masakanmu itu bisa menghilang? Kenapa tidak kulihat?”

“Tentu Coh-heng tidak melihatnya, karena tadi ada orang datang, semua masakan itu dibuang

ke dalam selokan seluruhnya.”

Coh Liu-hiang mengedipkan matanya, katanya, “Apakah orang itu punya permusuhan atau

dendam kesumat sedalam lautan dengan aku?”

“Dia tahu tamu yang Siaute tunggu adalah Coh-heng, maka dia lantas caci maki diriku,

katanya Siaute hanya menyediakan masakan murahan begini untuk menyambut kedatangan Cohheng

apakah tidak menyiksa lidah si maling kampiun.”

“Coh Liu-hiang tidak makan daging ayam, memangnya cuma minum angin barat laut?”.

Terdengar seorang berkata dengan tertawa: “Duniawi memang serba susah, sehingga jiwa

prikemanusiaan tinggal sisanya saja, kalau setiap hari makan daging babi dan ayam, lalu berapa

banyak binatang berjiwa itu bisa tetap bertahan hidup.” Seseorang melayang ringan dari belakang

pendopo sana, tidak tampak kotoran debu melekat di badannya, sampaipun senyuman yang

menghina roman mukanya serasa bersih dan cemerlang, dia bukan lain adalah Biau-ceng Bu-Hoa.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Kiranya kau, Hwesio gundul seperti kau ini tidak kenal

barang berjiwa, memangnya kau menghendaki aku jadi Hwesio seperti kau? Apalagi seumpama

aku jadi Hwesio, tetap aku akan gegares anjing dan celeng, begitu melihat ikan dan dagin tentu

menetes air liurku.”

“Daging dan barang berjiwa adalah makanan orang-orang kotor, memangnya kau tidak ingin

ganti selera?”

Coh Liu-hiang girang, katanya: “Masakah kau sudi turun ke dapur?”

“Main harpa harus ada orang yang tahu musik, demikian juga hidangan lezat harus

disuguhkan kepada tukang makan yang tahu membedakan rasa, jika bukan demi kau yang sejak

kecil sudah bisa membedakan baik buruk sesuatu rasa hidangan, buat apa Pinceng harus kena

asap dan kotor oleh debu?”

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: “Ini memang aneh, darimanapun Bu Hoa Taysu keluar,

kelihatannya sepuluh lipat lebih bersih dari aku, agaknya kau memang serba suci dan bersih!” lalu

ia menuang tiga cangkir arak penuh, katanya sambil angkat cangkir: “Untung arak adalah

minuman paling murni dan suci kalau sampai arakmu Taysu tidak mau minum buat apa pula arti

arak suguhanmu ini?”

Kata Coh-Lin-hiang kepada Bu Hoa sambil tertawa: “Jikalau tiga orang minum arak bersama,

cuma kau seorang yang tidak mabuk baru aku hetul-betul kagum kepada kau!”

Takaran minum ketiga orang ini memang sama mengejutkan, kalau ada orang keempat hadir

diantara mereka, tentulah orang itu akan mengira guci besar itu berisi air jernih dan bukan arak.

Dua guci sebesar itu agaknya habis ditenggak bergantian oleh mereka bertiga namun sedikitpun

tidak berubah rona muka mereka. Satu sama lain saling loloh dan seperti berlomba saja tanpa

pakai juri.

Mendadak berkata Coh Liu hiang: “Konon dikalangan Kang-ouw ada seorang takaran minum

araknya dikatakan tiada tandingan diseluruh jagat, minum ribuan cangkir tanpa mabuk pada suatu

hari dia minum tiga ratus cawan Ji-wo-thay Kwan-gwa, ternyata masih mampu berdiri dan berjalan

pulang.”

“O, apa orang demikian? Siapa dia?” tanya Lamkiong Ling.

Lam-kiong Ling hanya tertawa besar katanya: “Dikatakan tiga ratus cawan, sebetulnya kalau

bisa minum sampai jumlah ini, sudah cukup hebat. Setiap penggemar arak dikolong langit ini tiada

seorangpun yang tidak suka mengagulkan takaran minumnya sendiri, menurut pandangan Siaute,

belum tentu dia bisa lebih unggul minum lebih banyak dari kami bertiga.”

“Pernahkan kau melihatnya? Pernahkah kau bersama dalam perjamuan?” tanya Coh Liu-hiang

dengan tatapan tajam.

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Sayang Siaute belum pernah melihatnya, kalau tidak ingin

benar aku mengadu kekuatan minum sama dia.”

Coh Liu-hiang mengelus hidungnya, katanya mengguman: “Kesempatan mana mungkin sudah

tiada lagi.”

“Asal dia belum mati, kelak pasti masih ada kesempatan.”

Coh Liu-hiang meletakkan cangkir araknya, katanya sepatah demi sepatah, “Siapa bilang dia

belum mati?”

“Hah, jadi dia sudah mati?” seru Lamkiong Ling terbelalak. “Kapan dia mati? Kenapa tiada

orang-orang Kangouw yang tahu?”

“Darimana pula kau tahu bila orang-orang Kangouw tiada yang tahu berita kematiannya?”

Bu Hoa tersenyum, selanya, “Kaypang paling cepat dan gampang menyadap berita, kalau

orang Kangouw ada yang tahu akan kabar ini, Pangcu dari Kaypang masakah tidak bisa tahu

juga?”

“Benar, memang tiada orang lain yang tahu akan berita ini, karena aku sudah

menyembunyikan jenazahnya, sengaja kurahasiakan supaya orang lain tidak tahu akan berita

kematiannya.”

“Kenapa?” tanya Lamkiong Ling dengan mata melotot.

Berkilap mata Coh Liu-hiang, katanya kalem, “Pembunuhnya sengaja mengatur rencana dan

berusaha mengelabui orang, tujuannya hendak membuat orang-orang Kangouw sama menyangka

mereka saling bunuh sendiri dan gugur bersama, jikalau tidak kusembunyikan jenazah mereka dan

berita ini sampai bocor, mungkin si pembunuh lebih enak ongkang-ongkang kaki menggendong

tangan, kenapa aku harus membiarkan dia hidup tenang dan tentram?”

Lamkiong Ling manggut-manggut, “Benar tindakan Coh-heng membuat sanak kadang atau

orang-orang perguruan mereka tiada yang tahu bahwa mereka sudah mati, maka tetunya mereka

berusaha mati-matian untuk menyelidiki jejak orang-orang itu, dengan sendirinya si pembunuh

itupun jangan harap bisa melewatkan kehidupannya dengan tenang dan aman!”

Bu Hoa tersenyum, selanya pula, “Sudah sering Pinceng bilang, bila penjahat kebentur maling

kampiun, tentulah semasa hidupnya dulu sudah kelewat takaran dosa-dosanya.

Kata Coh Liu-hiang menatap Lamkiong Ling, katanya, “Sudikah kau bantu aku mengejar si

pembunuh itu?”

“Coh-heng jangan lupa,” ujar Lamkiong Ling. “Murid-murid Kaypang kami sudah biasa turut

campur urusan orang, memang tidak setenar maling kampiun dalam hal ini, kukira terpaut tidak

banyak.”

“Kalau demikian sukalah kau beri tahu kepadaku, dimana sekarang beradanya isteri Jin-le

pangcu?”

Lamkiong Ling melengak heran, tanyanya, “Adapah Jin-hujin ada sangkut pautnya dengan

persoalan ini?”

“Seluk beluk persoalan ini, kelak kau pasti akan tahu, sekarang cukup asal kau beritahu

dimana Jin-hujin berada, berarti kau sudah bantu mengatasi kesulitanku.” Matanya menatap tajam

kepada Lamkiong Ling, lalu meneruskan sambil tertawa besar, “Kalau kau tidak sudi mmberitahu,

mungkin aku akan menganggap kau menyembunyikan si pembunuh, jikalau sampai aku cerewet

di luaran, kau Kaypang pangcu inipun mungkin akan ketiban kesulitan.”

Kata Lamkiong Ling menghela nafas, “Sejak Jin-lopangcu wafat, Lin-hujin ingin mensucikan

diri sebagai murid Kaypang, sebetulnya Siaute tidak bisa membawa orang luar bikin kaget dan

mengganggu ketenangannya.” Rada merandek ia pandang Coh Liu-hiang dengan tertawa,

katanya pula, “Tapi terhadap orang lain Siaute tidak takut, berhadapan dengan Coh-heng, aku jadi

kewalahan!”

“Jadi kau sudi menerangkan dan menunjukkan tempatnya?” Coh Liu-hiang menegas.

“Tuduhan menyembunyikan si pembunuh, mana Siaute berani memikulnya?”

“Dimana Jin-hujin sekarang?”

“Tempat tinggal Jin-hujin amat rahasia, orang lain takkan mudah menemukan, kalau Coh-heng

mau menghabiskan sisa arak ini, biar Siaute membawamu ke sana bagaimana?”

“Kalau kau hendak mempersulit dia seharusnya mencari akal lain, suruh dia minum arak

bukankah kebetulan malah bagi dirinya,” sela Bu Hoa tertawa.

“Memang Bu Hoa lebih tahu akan kesenangan dirikku,” seru Coh Liu-hiang tertawa besar lalu

ia angkat guci serta di tangannya arak masuk ke dalam mulutnya sampai habis, sedikitpun air

mukanya tidak berubah, katanya tertawa pula, “Sekarang boleh berangkat?”

Sedikit ragu-ragu berkata Lamkiong Ling, “Entah sukakah Coh-heng tunggu lagi kira-kira satu

jam? Siaute masih ada urusan dalam Pang kita.”

Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Tempat tujuan kita itu, bisakah ditempuh dua hari

pulang pergi?”

“Dua hari jauh berkecukupan!”

Coh Liu-hiang memandang keluar jendela, melihat cuaca, lalu katanya, “Baiklah, satu jam

kemudian, aku datang lagi,” ia bersihkan mulutnya dengan lengan baju terus melangkah tinggal

pergi, berbareng tangannya sambar cangkir arak di hadapan Bu Hoa, terdengar gelak tawanya

kumandang di luar jendela, serunya, “Bu Hoa suka masakan, Lamkiong senang arak, datang

gegares, pergi setelah kenyang. Begitulah kehidupan manusia, apa pula yang dikejarnya, tidak

cukup nasi berkelebihan hidup senang berfoya-foya.”

Sampai kata-katanya terakhir, Coh Liu-hiang sudah pergi jauh, cangkir arak tadi tiba-tiba

melayang lambat dari luar dan tepat jatuh di depan Bu Hoa. Araknya sudah habis, namun di

dalamnya terisi sebuah benda, itulah mainan patung Buddha yang tergantung di tali sutra di

pinggang Bu Hoa.

“Coh Liu-hiang hebat sekali gerakan tangannya,” seru Lamkiong Ling ternganga.

Bu Hoa sebaliknya menghela nafas, katanya pelan-pelan, “Jikalau bukan hanya benda yang

tidak berarti ini, masakah pinceng biarkan dia sembarangan ambil, jikalau dia suka menghindari

kekerasan jangan suka agulkan diri, mungkin hidupnya akan sampai hari tua!”

* * *

Kabut tebal membuat pemandangan remang-remang di permukaan Toa-bing ouw.

Lama juga Coh Liu-hiang mondar-mandir di sekeliling Toa-bing ouw, tiba-tiba didengarnya

suara ringkik kuda lalu didengarnya pula derap lari kuda mendatangi, kini jelas keadaan seekor

kuda sedang lari mendatangi menyusuri pinggir danau. Meski kabut tebal dan remang, namun bulu

kuda yang hitam mengkilap kelihatan nyata.

“Kuda oh kuda.” Coh Liu-hiang memapak ke sana. “Sayang kau sudah milik orang lain, kalau

tidak, sungguh aku merasa berat membiarkan orang lain naik di punggungmu.”

Seperti mengerti maksud kata-katanya, kuda hitam manggut-manggut.

Lalu ia berbisik di pinggir telinganya, berkata, “Bawa aku menemui mutiara hitam,” tiga kali,

lalu menarik kuping kirinya tiga kali pula. Orang lain mungkin tak sabar lagi akan menariknya

empat kali dengan keras, namun Coh Liu-hiang berpendapat bahwasanya seorang manusia tidak

pantas berbuat kasar terhadap binatang, kecuali orang itu sendiri hampir sama dengan si binatang

itu.

Betul juga segera kuda hitam itu berlari cepat ke depan membawa jalan. Coh Liu-hiang tidak

naik ke punggungnya. Dari belakang ia mengawasi gerak-gerik si kuda, terasa jauh lebih

menyenangkan daripada ia sendiri naik di punggungnya.

Di pinggir danau yang lebat ditumbuhi pohon itu dengan dahan-dahannya yang menjuntai

turun itu, tersembunyi sebuah sampan. Pemuda baju hitam yang menamakan diri mutiara hitam itu

berada di atas sampan, agaknya ia sedang melamun menghadapi permukaan danau yang sejuk

dan permai.

Lahirnya kelihatan dia begitu kaku dingin, apapun yang terjadi dalam dunia ini seolah-olah

tiada masuk perhatiannya, bahwasanya hatinya jauh lebih berat dibebani berbagai pikiran dan

kesulitan.

Coh Liu-hiang batuk-batuk lalu menegur sambil tertawa, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang pikirkan kau,” sahutnya tanpa berpaling. Mendadak ia berjingkrak bangkit

berhadapan dengan Coh Liu-hiang, serunya keras, “Ingin aku tahu apa yang berhasil kau

tanyakan?”

“Belum berhasil kutanyakan.”

“Memang aku tahu dia pasti takkan menerangkan kepadamu.”

“Walau tidak menerangkan, tapi dia hendak ajak aku menemuinya.”

“Bagus, kalau kau berangkat, aku akan mengintil di kejauhan.”

“Kalau kau ingin mengintil Lamkiong Ling tanpa jejakmu diketahui olehnya, ginkangmu masih

jauh ketinggalan.”

“Seumpama konangan, memangnya dia bisa berbuat apa terhadapmu?”

“Memang tidak apa-apa, cuma jangan harap kau bisa menemukan Jin-hujin pula.”

Hek-tiu-ciu (mutiara hitam) berpikir sebentar, tanyanya, “Berapa lama kau pergi?”

“Dua hari.”

“Baik, dua hari kemudian aku tetap menantimu di tempat ini.”

“Dua hari kemudian, menjelang magrib, akan datang seorang gadis berpakaian warna luntur

ke Toa bing ouw ini, bila saat itu aku belum tiba, harap kau beritahu kepadanya, suruh dia

menunggu aku!”

“Ada janji dengan kekasih menjelang magrib, ternyata maling kampiun memang serba

romantis, sayang aku tidak kenal siapa perempuan itu, cara bagaimana aku harus wakilkan kau

memberitahu kepadanya?”

“Dia she Soh, sekali kau bertemu dengan dia pasti akan tahu. Memang tidak sedikit orang

yang tamasya di Toa-bing-ouw, namun jarang ada anak perempuan seperti dia itu.”

“Dia cantik sekali?”

“Hanya cantik saja masih kurang untuk melukiskan dirinya!”

“Siapa sih sebenarnya, pernah apamu?”

“Apa pertanyaanmu tidak keterlaluan?”

Memicing mata mutiara hitam, katanya dingin, “Baik, pergilah kau… tapi kalau dia tidak mau

tunggu kau bagaimana?”

“Kalau dia tidak mau tunggu aku, biar aku mampus tenggelam di Toa-bing-ouw!”

“Agaknya kau amat yakin.”

“Kalau tidak yakin yang masih dimiliki Coh Liu-hiang mungkin hanya mayat busuknya saja,” dia

melangkah beberapa tindak, tiba-tiba berpaling dan bertanya, “Apa kau tidak merasa nama Hektin-

cu mu ini tidak seperti nama perempuan?”

“Kalau benar aku ini seorang perempuan, mungkin sudah kubunuh kau!”

“Kalau kau benar seorang perempuan, tentulah sikapmu tidak segalak ini terhadapku.”

* * *

Beberapa li di sebelah tenggara Ki-poh terdapat sebuah gunung bernama Ni-san. Gunung ini

tidak begitu tinggi, namun pemandangan alamnya teramat permai dan indah, segar dipandang

mata. Belum lama Coh Liu-hiang beranjak di atas gunung, ia rasa dirinya seolah-olah berada di

awang-awang.

Mendadak Coh Liu-hiang berkata, “Berapa lama sudah kami meninggalkan Ki-lam?”

“Kan baru sehari, masakah kau sudah lupa?” sahut Lamkiong Ling.

“Walau baru saja aku tiba disini, kurasa segala tetek bengek di kota Kilam ini amat

membosankan, jikalau bisa menetap disini selamanya, orang kasar seperti aku ini mungkin bakal

jadi seorang budiman!”

Sesaat lamanya Lamkiong Ling berdiam diri, katanya menghela nafas, “Semasa hidup Jinlo

pangcu, selalu dia ingin mengasingkan diri di tempat ini, sayang sekali beliau selalu terlibat oleh

kesibukan dalam Pang kita, sehingga cita-citanya baru terlaksana setelah beliau wafat!”

“Kau amat kangen kepada beliau?”

“Beliau ada orang yang paling bajik, bijaksana dan penuh cinta kasih sesama manusia, aku…

aku adalah anak yatim piatu, tanpa beliau, takkan ada hari ini bagi aku!”

“Cukup lama aku kenal kau, baru pertama kali kudengar kata-katamu ini.”

“Kehidupan di kalangan Kangouw, yang kuat hidup, yang lemah mampus. tak pernah berhenti

perebutan antara menang dan kalah ini, ada kalanya tiada waktu aku memikirkan sesuatu, tak

berani pula memikirkannya.”

“Ya, kalau terlalu banyak memikirkan sesuatu, hati akan jadi lemah, dan orang yang berwatak

lemah memang takkan hidup lama di Kangouw.”

Lamkiong Ling hanya tertawa tawa tanpa bicara lagi. Tampak sebuah jalanan sempit berlikuliku

merambat di samping gunung yang naik ke puncak, sebelah dinding gunung yang terjal tinggi,

sebelahnya lagi adalah jurang ratusan tombak dalamnya, pemandangan disini tidak kalah indah

elok, namun keadaan justru teramat berbahaya.

Apakah Jin-hujin tinggal di puncak gunung?

“Jin hujin cantik rupawan tiada bandingan dalam jagat ini, masakah dia sudi menetap di

termpat yang lebih rendah dari orang-orang lain?”

“Selamanya aku jarang dibuat tegang setiap kali mendengar cerita romantis tentang Jin-hujin,

terpikir pula segera aku sendiri bakal berhadapan dengan beliau, jantungku ini serasa hampir

melompat keluar!”

Tiba-tiba terdengar suara aliran air dari kejauhan, disebelah depan menghadang sebuah

jurang sempit, di bawah jurang adalah sebuah aliran sungai yang mengalir deras, bibir kedua

jurang terpaut sepuluhan tombak, satu sama lain hanya dihubungkan oleh sebuah balok kayu

yang tergandeng oleh alam.

Di atas balok kayu yang cuma dua kaki lebarnya, duduk bersila seorang, pakaiannya

melambai-lambai tertiup angin, kalau terjatuh ke bawah pasti badan hancur lebur, namun orang ini

memejamkan mata seolah-olah sedang tidur nyenyak.

Dengan duduk bersila dari bawah pakaiannya menonjol keluar ujung kakinya, namun

sepasang bakiak justru dia jajar di hadapannya, di atas bakiak ini terletak pula sebatang pedang

aneh yang bersarung warna hitam.

Setelah dekat baru Coh Liu-hiang jelas melihat raut mukanya yang kekuning-kuningan, beralis

tebal berhidung elang, walau kedua matanya terpejam, namun terasa hawa membunuh yang tebal

merasuk sanubari orang yang melihatnya. Deru angin yang keras menyingkap dan menarikan

jubah besar kedodoran yang dipakainya, di depan dadanya tampak disulam dengan benang sutra

emas delapan huruf yang berbunyi, ‘Pedang peranti pembunuh, siapa melawan pasti dia mampus!’

Coh Liu-hiang mengkirik dibuatnya, katanya perlahan sambil mengawasi Lamkiong Ling,

“Siapa sih dia?”

Lamkiong Ling geleng-geleng kepala.

“Apa di seberang sana tempat tinggal Jin hujin?”

Lamkiong Ling manggut-manggut.

Coh Liu-hiang beranjak maju sambil menjura, katanya, “Sahabat ini sukalah memberi jalan

sebentar?”

Orang itu tetap duduk tanpa bergeming, seolah-olah tidak mendengar suaranya.

Coh Liu-hiang tarik suara, katanya lebih keras, “Sahabat ini, bolehkah minta jalan, kami

hendak ke seberang sana?” suaranya lantang bergema di alam pegunungan. Tapi orang itu tetap

diam saja tanpa bergerak.

Coh Liu-hiang meringis kepada Lamkiong Ling, katanya, “Sayang saudara ini tidak mau buka

mulut, seolah-olah dia mau bilang, ‘Gunung ini aku yang membuka, pohon ini aku yang tanam,

kalau ingin lewat jalan ini, tinggalkan uang sewamu'”, sengaja ia ucapkan kata-katanya lebih keras

untuk memancing reaksi orang itu.

Tiba-tiba kelopak mata orang itu bergerak, matanya sedikit terbuka seperti sebuah garis

lembut saja, Coh Liu-hiang yang ditatap serasa seperti diiris oleh ujung pisau, sungguh hatinya

amat terkejut.

Terdengar orang itu berkata pelan-pelan, “Betapa besar dunia ini, kemana saja boleh pergi,

kenapa kalian harus lewat jalan sini?” kata-katanya amat kalem dan pelan, setiap patah katanya

amat jelas, namun kedengarannya kaku dan menusuk kuping, seperti tajam pisau yang sedang

menyisik bambu.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, serunya bertanya, “Nama besar tuan ini?”

“Thian-hong-cap-si-long!”

“Apakah tuan bukan orang kelahiran dari Tionggoan?”

“Rumahku berada di Ih-ho-koh di Tang-bi!”

Berubah air muka Coh Liu-hiang saking kaget, tanyanya, “Jadi kaukah Jin hiap dari Ih-ho itu?”

Thain-hong-cap-si-long pejamkan mata, tak bersuara lagi. Dingin perasaan Coh Liu-hiang

membayangkan musuh misterius yang menghilang di tengah kabut di pinggir danau tempo hari,

batinnya, “Mungkinkah orang itu adalah dia ini?”

Dalam pada itu Lamkiong Ling pun tampil kemuka, seraya menjura, “Ih ho Jin hiap, bagai naga

sakti tiada tandingan, dua puluhan tahun yang lalu, yang pernah muncul dan berkelana di daerah

Bing-ciat itu, apakah bukan Cianpwe?”

“Tidak salah,” sahut Thian-hong-cap-si-long.

“Untuk kedua kalinya Cianpwee putar balik pula, sehingga kami angkatan muda bisa saksikan

kepandaian silat tunggal dari Ih-ho, sungguh Wanpwe amat sedang beruntung, entah sudah

berapa lama Cianpwe menyeberang lautan datang kemari pula?”

Berkata Thian hong cap si long kalem, “Sepuluh hari yang lalu kutinggalkan perahu mendarat,

lima hari yang lalu aku sudah tiba disini.”

“Aneh,” sela Coh Liu-hiang, “Agaknya Cayhe pernah melihat Cianpwe di Toa-bing-ouw?”

Thian hong cap-si-long menyeringai dingin jengeknya : “Tentulah matamu itu picak.”

Coh Liu-hiang ingin bicara lagi, lekas Lamkiong Ling mengedipi padanya katanya tertawa,

“Sebetulnya Wanpwee ingin mohon petunjuk dan pengajaran Cianpwee, apa boleh buat kami

sedang mengurus persoalan penting, semoga Cianpwe sudi memberi jalan sebentar,

sekembalinya nanti pasti Wanpwee mohon pengajaran.”

Bersambung JILID 8

Jilid 8

Tiba-tiba terbuka lebar kedua biji mata Thian Hong Cap Si Long, katanya bengis: “Kalian pasti

hendak jalan lewat sini? Apakah hendak menemui Chiu Ling Siok?”

Melonjak jantung Coh Liu Hiang, orang asing ini kiranyapun tahu akan nama Chiu Ling Siok.

Dilihatnya Lamkiong Ling mengerutkan alis, katanya: “Chiu Ling Siok..? Apakah maksud Cianpwee

adalah Jin Hujin?”

“Hm!” Thian Hong Cap Si Long menjawab dengan geraman.

“Cianpwee kenal sama dia?” tanya Lamkiong Ling pula.

Tiba-tiba Thian Hong Cap Si Long menengadah sambil terbahak-bahak keras, tawa yang

mengiriskan bergema dan menggetarkan bumi sampai daun-daun pohon sama rontok berjatuhan.

Coh Liu Hiang dan Lamkiong Ling saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang menjadi

buah tertawaan orang.

Terdengar Thian Hong Cap Si Long berkata sambil tetap tertawa: “Kau tanya aku kenal tidak

padanya? Karena dia aku terima dihina dan dipermainkan oleh Jin Jip, dengan dendam dan penuh

penyesalan aku kembali ke Tangni, aku bersumpah satu hari Jin Jip masih hidup, aku takkan

menginjak kakiku di Tionggoan……………..demi kebahagiannya, aku terima sekali pukulan Jin Jip,

tanpa membalasnya! Karena dia sampai sekarang aku masih membujang! Dan sekarang, kau

malah tanya aku apakah mengenalnya!”

Coh Liu Hiang melongo, sungguh tak pernah terpikir olehnya, pendekar dari Ih Ho di Jepang

ini, ternyata ada sangkut pautnya dengan permainan asmara antara Jin Jip suami istri, lebih tak

terkira pula bahwa laki-laki aneh yang berdarah dingin ini, kiranya juga mengenal asmara! Betapa

mendalamnya cintanya terhadap Chiu Ling Siok, agaknya tidak kalah tebalnya dari Ca Bok Hap

dan lain-lainnya.

Kecuali Ca Bok Hap Sebun Jian, Cou Yu Cin dan Ling Ciu Cu, orang ini adalah yang kelima.

Kelima orang sama-sama tergila-gila terhadap satu perempuan, rela hidup menderita selamanya

dengan membujang. Cuma kalau Ca Bok Hap berempat sudah menemui ajalnya semua,

ketinggalan orang ini saja yang masih hidup.

Akhirnya gelak tawanya yang menggila berhenti, kata Thian Hong Cap Si Long bengis: “Kini

Jin Jip sudah mampus, maka Chiu Ling Siok akhirnya akan menjadi milikku, kecuali aku jangan

harap siapapun dalam dunia ini bisa berhadapan dengan dia!”

“Tapi Jin Hujin………”

“Dia tidak sudi menemui orang lain lagi, pergilah kalian!”

“Cayhe sebagai murid Kaypang sudah sepantasnya menghargai pendapat Jin Hujin, cuma

saudara Coh ini,……..” sampai disini ia berhenti serta berpaling kepada Coh Liu Hiang.

“Apa benar dia tidak sudi menemui orang luar, aku perlu saksikan kata-kata dari mulutnya baru

mau percaya!” kata Coh Liu Hiang tegas.

Lamkiong Ling berbisik: “Kalau dia tetap berjaga dibalok batu ini, cara bagaimana kita bisa

menyebrang kesana?”

Balok batu ini melintang dipermukaan jurang yang puluhan tombak lebarnya dibawah aliran

deras lagi, siapapun sukar terbang menyebrang kesana, jikalau hendak melesak lewat atas kepala

Thian Hong Cap Si Long, hasilnya adalah seperseribu.

Berjelalatan biji mata Coh Liu Hiang, katanya kemudian sambil tersenyum: “Bagaimanapun

juga, aku harus mencobanya!”

Belum habis kata-katanya, “Sreng” tiba-tiba selarik sinar kemilau melesat keluar dari lengan

baju Thian Hong Cap Si Long yang lebar dan menyangkut diatas sebatang pohon sebesar lengan

diseberang sana. Belum lagi Coh Liu Hiang sempat melihat barang apa yang melesat terbang itu,

“Peletak” terlempar pula dahan pohon itu yang sudah kutung dan terjatuh kedalam jurang, gelang

perak berkilauan itu tahu-tahu sudah meluncur balik pula menghilang kedalam lengan bajunya

pula.

Memang ada ratusan macam senjata rahasia yang dipakai oleh tokoh-tokoh Bulim di

Tionggoan ini, diantara mereka tak terhitung banyaknya merupakan tokoh-tokoh yang termasuk

ahli dalam permainan senjata rahasia tunggal sendiri, namun gerak gerik Thian Long Si Cap Long

ini jauh berlainan dengan kepandaian orang lain, gelang terbang yang kemilau perak itu,

kelihatannya jauh lebih hebat, aneh dan luar biasa, kelihatannya seperti hidup dan terkendali

diwaktu terbang berputar :

“Kepandaian dari Ih Ho, memang jauh berlainan dari yang lain!” seru Coh Liu Hiang.

Thian Hong Cap Si Long menyeringai dingin, katanya bangga: “Inilah Si Kian Sut, salah satu

rahasia dari kepandaian sembilan Jinsut. Kalau aku tidak kenal belas kasihan, bagaimana kalau

batang pohon itu adalah lehermu? Tidak lekas kau enyah dari sini?”

“Si Kian Sut? Menakutkan benar namanya, cuma pohon itu barang mati, manusia tetap hidup,

memangnya aku terima mengulurkan leher untuk kau jirat sampai mati?”

“Kau ingin mencoba?” damprat Thian Hong Cap Si Long. Ditengah bentakkannya, selarik sinar

kemilau tahu-tahu sudah melesat kearah Coh Liu Hiang.

Terasa sinar kemilau ini menyilaukan mata, sebuah sinar membundar seperti paruh elang

laksana kilat menerjang tiba, daya luncurannya jauh lebih cepat dari apa yang dia bayangkan

semula. Tapi sebat sekali ia menggeser kedudukan tujuh kaki kesamping, tak nyana sinar perak

itu ternyata seperti hidup, seperti bayangan mengikuti wujudnya, tahu-tahu mengejar tiba pula.

Beruntun Coh Liu Hiang bergerak bagai kilat tujuh kali berkelit, namun pandangannya serasa

ditutupi bayangan perak yang berkelebat rapat dan kencang, sehingga ia kehabisan akal entah

cara bagaimana untuk menyelamatkan diri.

Sekonyonh-konyong tiga bintik sinar hitam melesat terbang dari tapak tangan Coh Liu Hiang,

dua bintik sinar bintang yang kehitam-hitaman terbang datar kesamping, namun setitik diantaranya

telak sekali membentur sinar perak itu, hingga mengeluarkan suara nyaring, disusul suara “Creng”

yang lebih keras, cahaya perak yang memenuhi angkasa seketika sirna, paruh elang itu mematuk

menjadi sebuah bundaran gelang dan jatuh ketanah, tapi mendadak mencelat naik dan terbang

kembali.

Berubah gusar air muka Thian Hong Cap Si Long, bentaknya: “Bagero, berani kau pecahkan

Si Kian Sut ku…….baik, coba kau lihat pula Tam Sim Sut Ki!” sekoyong-konyong sebuah tabir

kabut tebal warna abu-abu laksana gelombang pasang menerpa datang, ditengah kabut tebal ini

lapat-lapat seperti diselingi selarik sinar bintang yang gemerlapan. Lekas Coh Liu Hiang melompat

mundur lalu menjejak tanah melambung tinggi ketengah udara.

“Blum” terdengar ledakan dahsyat, bagai pasir menyambar, kabut tebal itu seketika pecah

berkembang keempat penjuru, sebuah pohon besar yang semula berada dibelakang Coh Liu

Hiang, ternyata sudah keterjang hancur dan terbelah ditengah-tengahnya, kedua sisinya lantas

tumbang kekanan kiri, poros pohon ternyata sudah hangus seperti disambar geledek, kebetulan

hembusan angin berlalu, daun-daun pohon sama rontok menguning. Sepucuk pohon yang semula

tumbuh subur menghijau, dalam sekejap saja sudah kuyu menguning dan layu hangus.

Mau tak mau tersirap darah Coh Liu Hing melihat kehebatan kepandaian orang, batinnya :

“Jingsut yang dia latih kiranya amat sesat dan ganas sekali.” Sementara dengan ringan badannya

meluncur turun tiga tombak jauhnya diatas jembatan batu, Thian Hong Cap Si Long yang sudah

diliputi hawa membunuh dengan mata membara hanya beberapa kaki dihadapannya.

Lamkiong Ling berseru kaget dan kuatir: “Pendekar Ih Ho hebat dan lihay, Coh heng kau harus

hati-hati!”

“Jinsut aku sudah menjajalnya,” sahut Coh Liu Hiang tertawa, “Biar sekarang aku jajal pedang

peranti pembunuhmu ini!”

Sepatah demi sepatah berkata Thian Hong Cap Si Long: “Kau ingin mencoba Ni Hun It To

Jan?”

“Sekarang umpama kau beri aku kesempatan keseberang sana, akupun tidak sudi lagi,

sekarang kau jauh lebih menarik dari pada Jin Hujin, setelah aku menjajal Ni Hun It To Janmu,

masih ingin aku sedikit ngobrol dengan kau.”

Thian Hong Cap Si Long menyeringai dingin, katanya: “Ni Hun It To Jan merupakan intisari

dari segala ilmu pedang, setiap kali pedang di lolos harus menghirup darah dan menebus nyawa,

tiada seorangpun yang kuasa melawannya, setelah kau mencobanya, maka jangan harap kau

masih bisa bicara dengan orang lain, tanpa berkedip ia tatap Coh Liu Hiang, sorot matanya

memancarkan cahaya aneh yang menyesatkan, demikian pula setiap nada suaranya seolah olah

mengandung daya sedot yang bisa menyesatkan pikiran orang.

Roman muka Coh Liu Hiang tetap mengulum senyum manis, sekujur badannya dari kepala

sampai kaki sudah diliputi kewaspadaan dan kesiapan, matanya justru menatap kebatang pedang

atau golok itu.

Panjang golok ini kira-kira lima kaki, sempit panjang seperti pedang. Golok panjang yang aneh,

tentu dimainkan pula dengan jurus dan tipu-tipu yang aneh pula. Sekonyong-konyong Thian Hong

Cap Si long meraih goloknya seraya mencelat dan terloloslah goloknya! Sinar goloknya laksana

kemilau permukaan air yang ditimpa cahaya rembulan, putih menghijau berhawa dingin, menusuk

daging menyusup tulang.

Dengan tangan kiri memegang terbalik sarang golok, tangan kanan mengacungkan golok

panjang kedepan setinggi alis, tajam golok mengarah keluar, sembarang waktu goloknya itu bisa

bergerak menyapu dan membabat dengan dahsyat. Bagai patung batu, badannya berdiri tegak

sekokoh gunung, sorot matanya yang aneh menatap kemuka Coh Liu Hiang. Sinar golok dan sinar

matanya seolah-olah sudah membungkus dan mengurung sekujur badan Coh Liu Hiang.

Walau golok lawan belum bergerak, tapi Coh Liu Hiang sudah merasakan hawa membunuh

yang merembes keluar dari ujung golok tajam ini, semakin lama semakin tebal, berdiri

ditempatnya, ternyata sedikitpun tidak berani terlena dan sembarang bergerak! Ia tahu sedikit

bergerak meski hanya ujung jarinya saja, maka besar kemungkinan titik kelemahannya akan

merupakan sasaran empuk bagi lawannya, maka golok musuh yang hebat itu mungkin laksana

kilat akan bergerak mengarah ketempat itu.

Teori ketenangan mengatasi gerakan merupakan intisari yang terutama dari ilmu pedang aliran

Tang Ni. “Musuh tidak bergerak aku tak bergeming, musuh bergerak aku bertindak lebih dahulu,

tidak bergerak tidak mengapa, sekali serang harus kena sasaran.” Bahwasannya pertempuran

tokoh silat kelas tinggi, memang cukup sejurus saja sudah bisa menentukan menang dan kalah.

Coh Liu Hiang merasa butiran keringat sudah mulai merembes membasahi ujung hidungnya,

namun seraut muka Thian Hong Cap Si Long yang kuning seperti malam itu seolah-olah seperti

mayat hidup yang kaku, tidak menunjukkan suatu perubahan.

Mendadak kedua bakiak kayu itu mencelat jatuh kedalam jurang, lama dan lama sekali baru

terdengar suaranya yang membalik dari kedua bakiak yang kecemplung keair. Bakiak itu mencelat

jatuh keair karena tertendang oleh kaki Thian Hong Cap Si Long yang menggeser maju sebelah

kakinya. Selangkah demi selangkah Thian Hong Cap Si Long mendesak maju.

Mau tidak mau Coh Liu Hiang harus ikut bergerak, namun ia tidak tahu cara bagaimana dirinya

harus bergerak. Telapak kaki Thian Hong Cap Si Long yang telanjang menggesek balok batu yang

kasar selangkah demi selangkah menggeser maju, kulit tapak kakinya sampai tergesek pecah,

dipermukaan balok batu ketinggalan noda darah yang merembes keluar. Tapi sedikitpun ia tidak

merasakan sakit. Seluruh pikiran, semangat dan perhatiannya, ia tumplek diatas batang goloknya,

sedikitpun ia tidak perduli atau tidak merasakan adanya sesuatu yang bergerak dikehidupan

mayapada ini, kalau kakinya menggeser dan badannya bergerak maju, namun batang goloknya

tetap teracung kedepan tanpa bergeming sedikitpun.

Pada saat itulah segulung angin kencang, tiba-tiba menerjang kepinggang Coh Liu Hiang.

Seluruh perhatian Coh Liu Hiang tertuju pada batang golok lawan, mimpipun ia tidak menduga

orang akan menyerang lebih dulu menggunakan sarung pedangnya, saking kejutnya mau tidak

mau secara reflek sebat sekali ia berkelit mundur. Tapi bertepatan dengan itu pula, Thian Hong

Cap Si Long melolong keras dan lantang, golok ditangannya melebihi kilat cepatnya tahu-tahu

sudah membabat dan membacok.

Agaknya dia sudah perhitungkan jalan mundur Coh Liu Hiang, sudah memperhitungkan bahwa

Coh Liu Hiang terang takkan bisa mundur lagi, memang serasi benar sambaran senjatanya ini,

kalau dinamakan pedang berantai pembunuh. Babatan goloknya kelihatan gerakan biasa dan

sepele saja, tapi inti sari ilmu pedang, kecerdikan otak disaat menghadapi musuh tangguh, batas

tertinggi dari manusia akan ilmu silat yang dipelajarinya, boleh dikata sudah termasuk dan

terkandung didalam sejurus babatan golok panjang ini.

Sorot mata Thian Hong Cap Si long membara merah. Pakaian yang dikenakanpun tiba-tiba

melembung dan melambai-lambai dipenuhi tenaga murni yang merembes keluar dari seluruh poripori

kulit badannya. Babatan golok ini harus membunuh, betapapun ia tidak bisa memberikan

kelonggaran. Apa benar Ni Hun It To Jan tiada tandingannya diseluruh kolong langit? Dimana

sinar golok menyambar badan Coh Liu Hiang pun terjungkal roboh…. Untuk mundur tidak

mungkin, berkelitpun tak bisa, terpaksa ia terjunkan diri kedalam jurang dari atas balok batu itu.

Jiwanya memang tidak mampus oleh babatan golok, namun apakah dia masih bisa bertahan hidup

terjatuh kedalam jurang yang dalam serta aliran air yang demikian derasnya.

Lamkiong Ling terbelalak dan berseru kaget. Siapa sangka belum lagi suaranya hilang dan

mulut sempat terkatup, bayangan Coh Liu Hiang tiba-tiba sudah melesat mumbul keatas pula.

Kiranya meski badannya terjungkal kebawah, namun ujung kakinya masih menyangkut dibibir

batu, begitu sambaran golok lewat ia lekas kerahkan tenaga pada ujung kakinya dan dengan

seenteng burung camar badannya mencelat naik empat tombak, kini badannya menukik menubruk

langsung kepada Thian Hong Cap Si Long. Kalau dia sengaja berdiri diatas balok batu,

kelihatannya sengaja menempuh bahaya, padahal siang-siang dia sudah memperhitungkan jalan

mundurnya, jauh sebelum bergebrak, dia sudah memperhitungkan setiap macam kemungkinan

yang bakal terjadi, maka begitu badannya terjungkal balik, ia serta merta mencelat naik keatas,

bukan saja sudah mengerahkan segala tenaga, kecerdikan dan kehebatan gingkangnya, termasuk

pula kepintaran dan pengalaman luasnya dalam menghadapi bahaya dan musuh-musuh tangguh,

meski hanya satu jurus mereka bergerak, namun pertandingan ini sudah merupakan pertandingan

ilmu silat dan kecerdikan otak yang tiada taranya.

Begitu golok membabat Thian Hong Cap Si Long sudah tiada sisa tenaga lagi, pula betapa

cepat reaksi Coh Liu Hiang menghadapi serangannya, serta tinggi gingkangnya, sungguh jauh

berada diluar dugaannya. Diatas balok batu itu memang teramat bahaya, semula Thian Hong Cap

Si Long hendak menggunakan keuntungan berbahaya ini, siapa tahu ada untung pasti ada ruginya

juga, kini situasi berubah seratus delapan puluh derajat, mau untung malah dia sendiri yang

buntung sekarang.

Dengan menukik dari atas kebawah, serangan Coh Liu Hiang yang hebat ini, terang dia takkan

mampu berkelit atau mundur lagi. Maka terdengar “Creng” goloknya membacok diatas balok batu,

kembang api muncrat, namun Coh Liu Hiang sudah berhasil meraih rambut kepalanya, serunya

sambil tertawa panjang: “Tuan masih ingin kemana….” belum habis kata-katanya, seketika sirap

pula gelak tawanya.

Ternyata rambut yang berada ditangannya, hanyalah rambut palsu dan pada ujungnya

kelihatan pula mengelupas selembar kedok muka yang terbuat dari lilin. Dilihatnya badan Thian

Hong Cap Si Long jumpalitan jungkir balik kebawah jurang dan mendadak “Cring” seutas rantai

lembut melesat keluar dari lengan bajunya memaku kedinding jurang. Badannya lantas

bergelantungan pulang pergi beberapa kali mengikuti daya berat badannya lalu dengan enteng

meluncur hinggap diatas tanah, sedikitpun tidak terluka apa-apa, malah kelihatan diantara riak

gelombang air sungai yang mengalir deras itu bayangannya berlari bagai terbang.

Serunya: “Coh Liu Hiang, sudah kau saksikan Khong Siam Sut dari Ih Ho, bukankah amat

hebat dan tiada bandingannya diseluruh jagat?” belum hilang gema suaranya, bayangannya

sudah pergi jauh dan menghilang.

Terpaksa Coh Liu Hiang hanya mengawasi bayangan Thian Hong Cap Si Long pergi dengan

pandangan melongo, dikejarpun tak akan tersusul, dirintangipun tak bisa, lama juga dia

mengawasi rambut dan kedok palsu ditangannya. Dilihatnya butiran air setetes demi setetes

mengalir jatuh dari balik kedok palsu itu.

Mendadak Coh Liu Hiang tertawa lebar: “Apapun yang terjadi, aku sudah bikin keringatnya

gemerobos…………….kukira raut mukanya sudah kaku sampaipun tak bisa mengeluarkan keringat,

ternyata kedok ini yang buat gara-gara.”

Baru sekarang Lamkiong Ling memburu datang, katanya tertawa: “Kepandaian silat dari Ih Ho

Kak benar-benar ganas dan berbahaya, luar biasa pula, kalau bukan ginkang Coh heng yang tiada

bandingannya diseluruh jagad ini, hari ini kukira siapa takkan bisa lolos dari babatan golok selihai

itu.”

Coh Liu Hiang menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba ia tertawa pula: “Kepandaian silatnya memang

ajaran dari Ih Ho, tapi dia orang Tionggoan bukan dari Ih Ho.”

Lamkiong Ling melengak, tanyanya: “Darimana Coh heng bisa tahu?”

“Kalau dia betul-betul seorang asing dari Ih Ho, lalu darimana dia bisa tahu kalau aku bernama

Coh Liu Hiang?”

Lamkiong Ling berpikir sejenak, serunya: “Benar, Siaute kan tadi tidak pernah menyinggung

nama Coh heng.”

“Apalagi kalau dia benar-benar datang dari Ih Ho, kita berdua takkan kenal padanya, lalu buat

apa dia harus mengenakan kedok muka memalsukan diri?”

“Kalau dia bukan pendekar dari Ih Ho, memangnya siapa dia?”

“Sampai detik ini aku belum bisa meraba siapa dia, tapi aku berani pastikan bahwa dia cukup

kenal siapa diriku, demikian pula aku pasti kenal baik dirinya……….” sorot matanya tiba-tiba

bercahaya, sambungnya dengan tertawa: “Lingkup persoalan ini tidak begitu luas lagi, karena

tokoh-tokoh silat seluruh jagat ini yang betul-betul kenal akan muka asli diriku tidak banyak,

apalagi yang mempunyai kepandaian silat setinggi itu, dapatlah dihitung dengan jari.”

“Tapi menurut apa yang Siaute ketahui, tokoh-tokoh silat dari tionggoan yang pandai

menggunakan ilmu Jinsut dari negeri seberang boleh dikata tiada seorangpun.”

“Jinsut jelas bukan kepandaian perguruannya. Disaat-saat yang begitu berbahaya, toh dia

tidak mau menggunakan ajaran silat perguruannya yang asli, sudah tentu karena dia tahu, sekali

dia memperlihatkan kepandaian asli perguruannya, maka pasti dapat kuketahui siapa dia adanya.”

Bersinar pula biji mata Lamkiong Ling, katanya: “Kalau begitu, siapa orang ini, bukankah

sudah berada dalam terkaanmu?”

“Rahasia alam tidak boleh bocor, hal ini biar kutunda sementara untuk menyelidikinya lebih

lanjut.”

“E,eh, agaknya Coh heng pandai jual mahal juga kepadaku ya!” kelakar Lamkiong Ling.

Coh Liu Hiang menggeliatkan badannya, ujarnya: “Bagaimanapun, hari ini akhirnya aku bisa

bertemu dengan Jin Hujin, bukan?”

“Kalau Coh heng tidak bisa menemuinya, mungkin Siautepun bisa mati saking gugupnya”

Keduanya tertawa besar sambil berpandangan, lekas mereka menyeberang melalui balok batu

dan terus memanjat keatas, sampai disini mereka tak perlu memanjat keatas lagi, terlihat dipinggir

sebidang hutan kecil berdiri tegak tiga gubuk bambu berderet. Lamkiong Ling jalan didepan dan

langsung menghampiri sebuah gubuk paling kiri serta berseru lantang: “Teecu Lamkiong Ling

sengaja kemari menyampaikan sembah hormat kepada Hujin.”

Sesaat kemudian terdengar sahutan seseorang dengan pelan-pelan: “Kalau toh kau sudah

datang, doronglah pintu dan masuklah sendiri.”

Suara ini begitu halus, lembut dan merdu. Mendengar lagu suara yang demikian dapatlah

dibayangkan orang macam apa pula yang bicara.

Tak terasa bergetar perasaan Coh liu Hiang, terbangkit semangatnya, katanya sambil berbisik:

“Hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, aku sudah merasa sekujur badan segar dan

bergairah.”

Lamkiong Ling tidak hiraukan kata-katanya, pelan-pelan ia dorong pintu, lalu melangkah

masuk dengan tindakan hati-hati. Berada ditempat ini, Kaypang Pangcu yang berkuasa ini ternyata

bertindak begini hati-hati seperti anak sekolah yang terlambat masuk kelas, takut konangan oleh

gurunya dan dihukum, bernapas keras-keraspun tak berani.

Pintu gubuk yang terbuat dari anyaman daun nyiur ini semula memang setengah terbuka, dari

sela-sela pintu yang terbuka ini mengepul keluar asap dupa, diatas pohon beringin yang besar itu

bertengger seekor burung yang tak ketahuan namanya, agaknya sedang tertidur.

Setiba ditempat rindang dibawah lindungan pohon besar itu, agaknya Coh Liu Hiang takut

membuat gaduh ketenangan yang lelap ini, maka langkah kakinya dia atur dan berderap dengan

enteng seperti kucing.

Maka terdengar pula suara merdu nyaring itu berkata: “Pintu kan sudah terbuka, kenapa kau

tidak langsung masuk?”

Burung itu terkejut, bangun dan mengeluarkan suara aneh, maka terpentang lebar daun pintu

didepan gubuk paling kiri.

Pandangan pertama yang terlihat oleh Coh Liu Hiang adalah perempuan berambut panjang

yang terurai diatas pundaknya, berpakaian serba hitam berlutut kaku didepan sebuah meja

pemujaan, begitu tenang dan tak bergerak sedikitpun, seakan-akan sejak dulu kala dia memang

sudah berlutut ditempat itu.

Kebetulan dia membelakangi pintu, maka tidak terlihat raut mukanya. Namun demikian hanya

mendengar suara merdu dan bening itu tanpa disadari Coh Liu Hiang sudah berdiri terlongong

ditempatnya. Belum pernah terpikir olehnya seorang perempuan yang berlutut membelakangi

dirinya, mempunyai daya tarik yang sedemikian besarnya. Tanpa berpaling Jin Hujin berkata

pelan-pelan: “Lamkiong Ling siapa yang kau bawa kemari?”

Cepat-cepat Coh Liu Hiang menjura dan berkata: “Cayhe Coh Liu Hiang, sengaja kemari

mohon bertemu dengan hujin!”

“Coh Liu Hiang………” suara Jin Hujin kedengaran datar, sedikitpun tidak merasa heran, kagum

atau tertarik. Baru pertama kali ini nama Coh Liu Hiang, ketiga huruf ini dipandang sedemikian

tawar dan sepele, apalagi oleh seorang perempuan, mungkin selama malang melintang dengan

ketenarannya yang romantis, baru pertama kali ini mengalami sambutan yang dingin.

Lekas Lamkiong Ling menjura pula, katanya: “Sebetulnya Teecu tidak berani membawa orang

luar mengganggu ketenangan Hujin, soalnya Coh kongcu ini, mempunyai sangkut paut yang

mendalam dengan Pang kita, apalagi kedatangannya kali ini menyangkut pula urusan Pang

kita………”

“Persoalan dalam Pang kita tiada sangkut pautnya dengan aku, kenapa harus cari diriku?”

“Tapi urusan ini justru amat erat hubungannya dengan Hujin.” tukas Coh Liu Hiang tandas.

“Mengenai persoalan apa sih?”

Sekilas Coh Liu Hiang melirik kepada Lamkiong Ling, katanya dengan prihatin: “Sebun Jian,

Cou Yu Cin, Ling Ciu Cu dan Ca Bok Hap empat Cianpwee, tentunya Hujin kenal baik dengan

mereka, kedatanganku ini kebetulan ada hubungan pula dengan mereka berempat.”

Sambil berbicara dengan seksama ia awasi reaksi Jin Hujin, meski tak melihat raut mukanya,

namun dapat dilihatnya kedua pundaknya yang datar dan tenang itu, seakan-akan mendadak

bergerak. Akhirnya pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berpaling.

Memang Coh Liu Hiang sedang menunggu orang memutar badan, ingin dia melihat raut wajah

orang yang membuat banyak laki-laki tergila-gila padanya, maka disaat kepala orang bergerak,

jantungnya berdetak tambah cepat. Tapi setelah orang berhadapan muka dengan dirinya, seketika

Coh Liu Hiang amat kecewa dibuatnya.

Karena muka orang mengenakan cadar yang terbuat dari kain sutera hitam, sampaipun

sepasang matanyapun tertutup, agaknya orang sedemikian kikir dan hati-hati memperlihatkan raut

wajahnya, supaya orang tidak melihatnya.

Serasa kerlingan tajam mata orang menembus kain sutera hitam itu sedang menatap pada

dirinya, menembus raga dan melihat hatinya. Tapi ia tidak tertunduk kerenanya, memang tiada

seorangpun dikolong langit ini yang mampu bikin dirinya tertunduk.

Lama dan lama sekali baru Jin Hujin buka suara pula, katanya pelan-pelan dengan tenang: “

Benar, memang aku kenal keempat orang itu, tapi hal ini terjadi dua puluh tahun yang lalu kenapa

kau datang kemari mengganggu aku membawa urusan yang sudah lama kulupakan ini!”

“Tapi belakangan ini Hujin ada pernah menulis surat kepada mereka, bukan?” tanya Coh Liu

Hiang.

“Nulis surat!” Jin Hujin menegas dengan hambar.

Dengan nanar, Coh Liu Hiang menatapnya, katanya: “Benar, surat! Dalam surat itu berkata

Hujin menghadapi kesulitan, minta mereka lekas datang membantu, kedatangan Cayhe ini justru

mohon keterangan, kesulitan apa yang sedang melibatkan Jin Hujin?”

Sesaat Jin Hujin terdiam, katanya tawar: “Aku tidak ingat kapan aku pernah menulis surat

macam itu, mungkin kau salah lihat?”

Seolah-olah mulut Coh Liu Hiang disumbat oleh sesuatu yang pahit getir, sungguh ia tak habis

pikir, kenapa Jin Hujin tau mau membeberkan rahasia surat-surat itu. Tapi dia belum putus asa,

katanya pula lebih keras: ” Jelas sekali Hujin pernah menulis surat itu, hal ini Cayhe takkan salah

lihat.”

“Darimana kau tahu tak salah lihat?” jengek Jin Hujin dingin. “Memangnya kau kenal gaya

tulisanku?”

Kembali Coh Liu Hiang melongo dan terkunci mulutnya, sesaat ia terlongong dan tak bersuara

pula.

Pelan-pelan Jin Hujin putar badan berlutut pula, katanya: “Lamkiong Ling, waktu keluar tutup

sendiri pintunya, maaf aku tidak mengantar kalian!”

Pelan-pelan Lamkiong Ling menarik Coh Liu Hiang yang masih menjublek ditempatnya.

Katanya: “Kalau Hujin tidak menulis surat itu, tentulah tulisan orang lain yang memalsu namanya,

marilah kembali!”

Nama palsu……..tidak salah! Gumam Coh Liu Hiang. Tiba-tiba sorot matanya tertuju keatas

meja pemujaan, tanyanya: “Apakah jenazah Im Lopangcu diperabukan?

Belum Jin Hujin menjawab, Lamkiong Ling sudah mendahului: “Semua murid Kaypang setelah

meninggal harus diperabukan, itulah aturan turun temurun sejak dahulu.”

Ternyata Jin Hujin mendadak nimbrung: “Kaupun tak perlu menyesal, suamiku almarhum

sekian tahun disiksa penyakitnya, rebah diatas ranjang, mendadak meninggal, tidak banyak orang

yang bisa berjumpa dengan beliau. Lekaslah kau pergi saja!”

Mendadak bersinar biji mata Coh Liu Hiang, sahutnya: “Terima kasih Hujin.”

“Tiada sesuatu bantuan yang kuberikan kepadamu, tak perlu kau berterima kasih kepadaku.”

Coh Liu Hiang mengiakan sambil mengundurkan diri, sementara dalam hatinya ia sedang

menerawang dua patah kata-kata Jin Hujin yang terakhir. Kedengarannya kata-kata itu biasa dan

umum, bahwasannya mengandung arti yang mendalam sekali.

Tanpa banyak bicara mereka kembali melalui jalan semula, agaknya Lamkiong Ling tahu

perasaan Coh Liu Hiang, maka ia tidak mengganggunya, ia iringi orang berjalan pulang. Setiba di

Kilam, sudah tengah malam hari ketiga.

Baru sekarang Lamkiong Ling berkata sambil menghela napas: “Pulang pergi sejauh ini tentu

bikin Coh heng letih, Siaute pun amat kecewa sekali!”

“Memang aku sendiri yang suka urusan, malah kau ikut menemani aku pulang pergi,

sepantasnya aku traktir kau minum dua tiga cawan arak.”

Sekali menemani Coh heng minum arak, paling tidak harus mabuk sampai tiga hari, lebih baik

Coh heng ampuni aku kali ini saja.

Memang Coh Liu Hiang mengharap orang lekas pergi saja, katanya tertawa besar: “Baik kali

ini kuampuni kau, lekaslah kau pergi, kalau tidak kuseret kau pergi minum arak lho.” belum habis

ia bicara Lamkiong Ling sudah bersoja dan tinggal pergi sambil tertawa tergelak-gelak.

Begitu Lamkiong Ling menyingkir, lekas Coh Liu Hiang menyusul ke Toa-bing-ouw. Kali ini

tanpa banyak mengeluarkan tenaga, ia berhasil menemukan mutiara hitam, begitu dirinya muncul,

biji mata mutiara hitam seketika berkilauan, bergegas ia melompat bangun diatas sampannya,

tanyanya: “Kau sudah bertemu dengan Chiu Ling-siok?”

“Walau ada orang berusaha merintangi perjalananku, akhirnya aku berhasil menemuinya

juga.”

“Apa benar dia sedemikian cantiknya?”

“Kenapa kau bersikap seperti perempuan, tidak tanya apa yang telah kubicarakan dengan dia,

malah tanya kecantikannya lebih dulu. Sayang dia mengenakan cadar, aku sendiripun tak melihat

raut mukanya.”

Agaknya mutiara hitam jauh lebih kecewa dari Coh Liu Hiang, katanya menghela napas:

“Apa saja yang ia katakan?”

“Katanya dia tidak ingat kapan dia pernah menulis surat itu.”

“Apakah bukan dia yang menulis surat itu?”

“Kalau dia yang menulis surat itu, pasti dia sudah tahu kalau Sebun jian dan yang lainnya

sudah ajal lantaran dia, masakah dia menipuku? Memangnya dia tidak suka bila aku bantu dia

membongkar rahasia ini?”

Mutiara hitam terlongong sekian lamanya, gumamnya: “Tidak salah, memang tiada alasan dia

membohongi kau, tapi………” mendadak ia pegang tangan Coh Liu Hiang, teriaknya:

“Katamu dia menggunakan cadar hitam, bukan?”

Coh Liu Hiang mengiakan dengan mengut-manggut.

“Bukan mustahil yang kau temui bukan Chiu Ling-siok? Tapi samaran orang lain?”

“Tidak mungkin orang lain menyamar dirinya!”

“Kau sendiri tidak melihat raut mukanya, darimana kau bisa tahu kalau dia bukan tiruan?”

“Mukanya memang tidak kulihat, namun lagu suaranya, gerak-geriknya serta tutur katanya,

dalam dunia ini siapa yang mampu meniru dia? Apalagi, bila dia tiruan, tentulah takkan ada orang

yang berusaha merintangi aku, supaya aku gagal menemuinya.”

“Kalau demikian, bukankah rahasia ini takkan bisa dibongkar oleh siapapun?”

“Dalam pandangan Coh Liu Hiang, selamanya tidak pernah ada pengertian ‘takkan bisa’

segala.”

“Dalam matamu ada nama apa? Mungkin hanya ada suka ‘mengagulkan diri’ belaka” jengek

mutiara hitam.

Tanpa hiraukan kata-kata dan sikap orang, Coh Liu Hiang celingukan kian kemari, tanyanya:

“Orang yang kupesan kepadamu untuk memperhatikan kedatangannya itu, masakah belum tiba?”

“Sudah pernah datang!”

“Kau sudah melihatnya, dimana dia?”

“Sudah mati!” jawabnya dengan ringan, namun bagi pendengaran Coh Liu Hiang laksaan

halilintar menyambar kepalanya. Kontan ia berjingkrak sambil mencengkeram pundak mutiara

hitam, teriaknya: “Apa katamu?”

“Kataku dia sudah terbunuh oleh orang.”

“Kau………kau melihatnya sendiri.”

“Kau diam saja melihat dia dibunuh orang? kau….Memangnya kau tidak punya perasaan?”

teriak Coh Liu Hiang dengan suara serak.

Pundak mutiara hitam hampir saja teremas hancur, namun ia kertakkan gigi menahan sakit,

bergeming atau mengeluhpun tidak, sinar matanya berkaca-kaca seperti berlinang air mata,

sebaliknya mulutnya masih berkata dengan dingin: “Kalau tidak kulihat memangnya kenapa?

Kau…kau tidak minta aku melindunginya, apalagi hakekatnya aku tidak kenal dia, mati atau

hidupnya apa sangkut pautnya dengan aku?”

Coh Liu Hiang melotot sekian lamanya, jari-jarinya akhirnya mengendor, badannya bergoyang

gontai dan akhirnya mendeprok duduk ditanah. Soh Yong-yong ternyata sudah ajal. Anak

perempuan yang begitu pintar, cerdik, lembut dan halus ternyata sudah meninggal. Sungguh dia

tak mau percaya, tidak mau percaya bahwa didalam dunia ini ada orang yang tega membunuh

dirinya.

Mata mutiara hitam yang bundar besar itu sedang menatap Coh Liu Hiang, katanya sambil

menggigit bibir: “Apakah benar perempuan itu begitu penting bagi dirimu?”

Serak suara Coh Liu Hiang: “Selamanya kau tidak akan mengerti betapa penting artinya dia

bagiku, aku rela diriku yang dibacok hancur oleh musuh, sekali-kali tidak akan kuizinkan orang

bermain gila terhadap jiwanya.

Mutiara hitam tertunduk sekian lamanya, mendadak ia angkat kepala dengan hati bergejolak

haru, katanya membanting kaki: “Boleh kau bersedih akan kematiannya, tapi aku takkan ikut pilu

karenanya, kau tiada hak membuatku ikut bersedih terhadap kematian seorang perempuan yang

tidak kukenal, benar tidak?”

Coh Liu Hiang melompat bangun, kembali ia meremas pundak orang, serunya: “Benar, tak

perlu bersedih karena kematiannya, tapi kau harus jelaskan padaku siapakah yang

membunuhnya?”

Naik turun dada mutiara hitam, tak lama kemudian baru ia bersuara dengan nada berat:

“Kemarin menjelang petang dia sudah tiba, dia berada diatas kapal sana itu, celingak-celinguk,

sekali lihat lantas kau tahu dia orang yang kau tunggu, baru saja aku ingin menghampiri……………”

“Tapi kau tidak mendekatinya, benar tidak? Kalau tidak dia takkan mati!” damprat Coh Liu

Hiang bengis.

“Belum algi aku melangkah kesana, tahu-tahu datang empat orang menuju kapal itu, keempat

orang itu seperti sudah kenal baik dengan dia, mereka menyapa lebih dulu dan ber

bicara beberapa patah, kelihatannya diapun melayaninya dengan tersenyum.” “Bagaimana

bentuk atau raut muka keempat orang itu?” segera Coh Liu Hiang mengesak. “Jarakku dengan

mereka cukup jauh, tidak keulihat jelas raut muka mereka, yang terang mereka mengenakan jubah

panjang warna hijau mulus, dari kejauhan warnanya itu amat menyolok pandangan.”

“Dikala hendak mencelakai jiwa orang, masih mereka mengenakan pakaian yang menyolok,

dalam hal ini pasti ada latar belakangnya yang sudah dimengerti.” Jengek Coh Liu-hiang dingin.

“memang mereka sengaja supaya orang lain hanya memperhatikan pakaian mereka. dengan

sendirinya tidak perhatikan rayt muka mereka, sebaliknya pakaian boleh sembarang waktu

ditinggalkan dan ganti yang lain.”

:Kalau toh kau thau akan hal ini, kenapa tidak sengaja kau perhatikan.”

“Balakangan baru kuingat hal ini, toh waktu itu aku bukan dewa, mana tahu kalau mereka

hendak membunuh orang? apalagi lihat perempuan itu agaknya kenal dengan mereka, sudah

tentu aku tidak terlalu ambil perhatian.”

“Cara bagaimana mereka turun tangan?’ “Kelihatannya mereka amat asyk dalam percakapan,

maka tidak enak aku mengganggu mereka, kulihat keempat laki-laki itu agaknya hendak

mengajaknya pergi, namun di geleng kepala menolak, keempat laki-laki itu menggerakkan kaki

tangan, bicara setengah harian, dia masih tetap geleng kepala sambil tersenyum, keempat orang

itu menjadi kewalahan serempak besoja aaknya hendak mengundurkan diri.”

“Bagaimana kelanjutannya?” desak Coh Liu-hiang tidak sabar.

“Tidak ada selanjutnya… disaat mereka bersoja itulah, dari lengan baju keempat orang itu

berbareng melesat keluar senjata rahasia, begitu banyak senjata rahasia itu, cepat lagi arah begitu

dekat, walau perempuan itu meloncat, namun sudah terlambat, terdengar pekik jeritannya, tahutahu

badannya menerjang langkah dan kecebur dalam air.”

Gemetar suara Coh Liu-hiang: “Senjata rahasia itu…. apa benar mengenai dirinya?”

“Tidak mengenai dia memangnya mengenai diriku?”

“Kau saksikan dia dibokong orang, masakah…masakah…”

“Kau sangka aku ini apa? Memangnya aku ini patung kayu? Melihat dia terbokong sudah tentu

amat terkejut, tapi waktu aku memburu datang, keempat laki-laki jubah hijau itu sudah menghilang

entah ke mana, air darah masih bergolak dalam danau, namun jenazahnya tidak kelihatan

mengambang naik”

Tak menunggu orang bicara habis, Coh Liu-hiang sudah berkelebat terbang ke atas.

Mengawasi gerak-gerik badannya yang seenteng burung walet, mendadak mutiara hitam

berkata menghela napas: “Tak nyana orang yang biasanya teguh, gagah dan tenang, adakalanya

dia merasa pilu dan haru, orang yang dapat membuatnya sedih dan gugup walau dia mati

terhitung punya rejeki dan berbahagialah di alam baka!”

Pagar kayu di pinggir kapal yang patah sudah diperbarui dengan yang baru, air danau di

bawahnya teramat tenang, hembusan angin malam membawa bau harum, sinar bintang kelapkelip

seperti kerlingan sang jelita, segala sesuatu tiada sedikitpun tanda-tanda kekerasan dan

pembunuhan di sini.

Hampir Coh Liu-hiang tidak bisa membayangkan, di tempat seindah ini ada orang tega

membunuh seorang gadis jelita yang begitu rupawan, ingin dia mencari bekas-bekas senjata

rahasia yang menancap di pagar pagar kayu, karena dari senjata rahasia yang mereka gunakan

ini kemungkinan dia bisa mencari tahu asal usul pembunuh itu.

Tapi segala sesuatu yang cacat di sini sudah diperbarui semua dengan sedemikian telitinya,

menghadapi musuh-musuh seperti ini bukan saja perlu bekal kecerdikan harus pula punya

keberanian, namun harus punya nasib yang baik pula. Dengan menggelendot di atas pagar, Coh

Liu-hiang mengamati sinar bintang di keremangan angkasa yang berkabut.

Mendadak sebuah sampan terkayuh mendatangi dari tengah danau sana, di atas sampan

duduk seorang kakek tua berbaju kasar dengan caping bambu yang rendah, dia sedang duduk

mengisi cangkir minum arak, waktu tiba di pinggir Hong-ih-tin beberapa kali ia melirik mengawasi

Coh Liu-hiang, mendadak ia tertawa, serunya: “Anak muda, kalau ingin minum arak melampiaskan

kepedihan hati, marilah silahkan naik ke sampanku ini menemani Li-siu minum beberapa cangkir!”

Nelayan tua ini ternyata begitu supel dan senang bergaul, Coh Liu-hiang mengelus hidung,

sekali lompat ia hinggap di atas sampan, selamanya tidak tahu sungkan atau pura-pura, diraihnya

cangkir dan poci, sekali tenggak ia habiskan secangkir arak. Katanya sambil angsurkan poci arak

ke depan si nelayan tua: “Apa lotiang punya simpanan arak cukup banyak untuk membakar

kepedihan dalam relung hatiku?”

Agaknya nelayan tua sudah biasa menghadapi para remaja yang banyak tingkah, ia angkat

sebuah guci di sampingnya, sambil tersenyum sahutnya: “Hawa sejuk pemandangan seindah ini,

kenapa saudara kecil berlinang air mata?”

Coh Liu-hiang terloroh-loroh sambil menengadah, serunya: “Berlinang air mata? Selama hidup

orang she Coh tidak tahu betapa rasa air mata itu?” suara tawanya semakin lemah dan akhirnya

berhenti. “Tak” dengan keras ia turunkan cangkir arak tak jadi diminumnya.

Dengan mendorong nelayan tua itu mengawasinya sekian lama, mendadak ia menarik napas

panjang dan berkata rawan: “Adakah yang begitu sedih bagi diriku, seumpama aku betul-betul

mati, apa pula halangannya?”

Coh Liu-hiang berjingkrak bangun seraya menarik pundak si nelayan tua, teriaknya: “Yongyong

kau….benarkah kau?” tak perduli sampan itu bakal terbalik, sekali jinjing ia peluk orang

sekencangnya, serunya bergelak tawa: “Memang aku tahu kau takkan bisa mati, aku tahu takkan

ada orang tega membunuhmu”

Soh Yong-yong memeluk lehernya, katanya pelan sambil rebah di pinggir kupingnya:

“Turunkan aku, kau tidak malu dilihat orang?”

“Aku kan hanya memeluk kakek tua kerempeng, meski dilihat orang apa pula halangannya?”

dengan sebelah tangannya ia pegang hidungnya, serta katanya: “Ada seorang Song Thiam-ji,

seorang Li Ang-siu aku sudah cukup dibuat pusing kepala, tak kira kau malah jauh lebih nakal dari

mereka, sengaja kau bikin aku sedemikian gugup dan sedih”

“Bukan aku hendak membuatmu gelisah, maksudku supaya orang-orang itu betul anggap

diriku sudah mampus, maka mereka takkan berjaga-jaga lagi, coba kau pikir masakah aku tega

membuatmu begitu gugup dan gelisah?”

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menurunkannya, tanyanya dengan menatap mukanya: “Adakah

mereka melukaikau?”

“Cara kerja keempat orang itu sungguh kejam dan telengas, untung sebelumnya aku sudah

melihat gejala-gejala yang tidak benar, kalau tidak…. kalau tidak mungkin aku tak bisa bertemu

dengan kau lagi.”

“Terhadap orang seperti kau, mereka bisa menurunkan tangan jahat, pantas kalau mereka

kupenggal kepalanya, lekas kau beritahu siapa mereka?”

“Mana aku kenal mereka?”

“Tapi kau ada bicara dengan mereka bukan?”

“Kemarin aku sedang tunggu kau di kapal itu, mendadak datang empat orang, salah satunya

tanya apakah aku nona Soh, katanya mereka adalah murid-murid Cu-soa-pang, dikatakan pula

bahwa kau yang suruh dia menjemput aku”

Dia tertawa manis, lalu melanjutkan: “Tapi aku tahu, kau tahu bahwa aku menunggu di sini,

sekali-kali tidak mungkin suruh orang lain, kau tahu aku paling benci berhadapan dengan laki-laki

asing yang tak kukenal, oleh karena itu timbul rasa curigaku, sudah tentu kutolak permintaan

mereka, kulihat pula mereka saling melirik memberi tanda, maka siang-siang aku sudah siap dan

waspada”

“Untunglah kau tahu akan diriku, laki-laki yang tidak akan membuatmu muak dan benci…. tapi

kenapa tidak kau bongkar saja kedok mereka waktu itu? desak mereka untuk menjelaskan!”

“Sepak terjang orang-orang itu sedemikian kejam, rencananya sempurna dan teliti, di belakang

mereka pasti ada orang, aku sendiri tidak tahu apa aku kuasa menghadapi mereka, maka…..”

“Maka kau pura-pura terkena serangan senjata rahasia mereka, supaya urusan tidak berbuntut

panjang”

“Kau tahu aku paling tidak suka berkelahi dengan orang”

“Tapi warna darah di dalam air, apa pula yang telah terjadi?”

Soh Yong-yong cekikikan, ujarnya: “Kebetulan waktu aku lewat Kielam, kubeli satu dos yancu

untuk Thiam-ji”

Coh Liu-hiang tertawa besar sambil tepuk tangan, tiba-tiba ia hentikan tawanya serta berkata

dengan nada berat: “Tapi tiada orang yang tahu bila kau sedang menunggu aku di sini,

memangnya siapa orang-orang ini? Darimana tahu kau menungguku di sini? Adakah Hek-tin-cu?

Dia pasti bukan orang demikian”

“Persoalan ini boleh kelak kau pikir lebih lanjut.” ujar Soh Yong-yong lembut. “Benar! Sekarang

tiba saat nya kutanya hasil dalam tugas perjalanan bagaimana? sudahkah kau ketahui biasanya

laki-laki siapa saja yang keluar masuk Sin-cui-kiong?” “Waktu hal ini kutanyakan kepada

bibiku,coba kau terka bagaimana jawabannya?’ “Apa yang dia katakan?” “Katanya : Jangan kati

laki-laki,sampaipun ayam jagoan jangan harap bisa mondar-mandir keluar masuk Sin-cui-kiong.”

Tak tahan Coh-Liu-hiang menahan tawanya, katanya mengerut kening: “Jikalau tiada laki-laki

keluar masuk SIn-cui-kiong, bagaimana pula si gadis cilik itu bisa bunting? Biasanya bagaimana

keadaan hidupnya? Adakah sesuatu barang peninggalannya?”

“Gadis itu bernama Sutouw King, gadis pendiam yang sehari-hari hidup dalam ketenangan,

jarang bicara, kecuali bisa iseng memetik harpa, tiada sesuatu hobbynya pula, siapapun takkan

percaya dan membayangkan bisa terjadi peristiwa itu.”

“Gadis pendiam yang tak suka bicara, perasaannya biasanya paling suburm jikalau dampai dia

jatuh cinta terhadap seseorang, sampai mati cintanya itu takkan goyah dan luntur, oleh karena itu

dia rela dirinya menjadi korban, betapapun tak mau membocorkan rahasia lelaki itu.”

“Terhadap berbagai type wanita, apakah kau tahu sedemikian jelasnya?”

Coh-Liu-hiang mengelus hidungnya, lekas ioa menukas: “Apa benar dia tidak meninggalkan

sesuatu?’

Tidak! Boleh dikata perjalananku sia-sia, apapun tiada yang brhasil kutanyakan.

“Tapi orang-orang itu kuatir bila kau mendapatkan sesuatu rahasia maka kau harus dibunuh

untuk menutup mulut. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang itu punya sesuatu ciri

yang merupakan sumber penyelidikan kami didalam Sin-ciu-kiong, cuma sampai detik ini belum

ada orang yang memperhatikan… tapi kenapa sumber-sumber ini tidak sampai menjadi perhatian

orang banyak?”

“Dan, kau? Beberapa hari ini. apa pula hasilmu?” balas tanya Soh Yong-yong.

Coh Liu-hiang ceritakan dengan jelas sampai se detail-detailnya, apa yang dia alami selama

beberapa hari ini.

Mendengar betapa kejam dan ganas serta wataknya yang menyendiri tentang Tionggoan Intiam-

ang Soh Yong-yong geleng-geleng kepala, mendengar tentang gambar luksan dan tilusan

surat itu matanya terbelalak. Mendengar bahwa Chiu Ling-siok ternyata adalah istri ekc pangcu

Kaypang yang terdahulu, dan Coh Liu-hiang sendiripun pernah menemuinya ter tertahan Soh

Yong-yong berteriak tertahan.

Supaya Soh Yong-yong tidak kuatir dan terlalu tegang, sengaja Coh Liu-hiang hanya ceritakan

sepintas saja tentang pertempurannya dibatu jembatan diatas jurang yang dalam itu. Tapi SOh

Yong-yong pun sudah terlalu tegang sampai mengepal kencang jari-jarinya.

katanya gemetar : “Bukan saja ilmu silat orang itu tinggi, malah keji dan telengas pula, banyak

akal muslihatnya, kau menghadapi musuh macam itu betul-betul harus waspada dan lebih hatihati.”

Satu persatu Coh-Liu-hiang membuka jari-jarinya, yang terkepal itu, katanya lembut dengan

tersenyum: “Tahukah kau orang lain sering berkata Coh-Liu-hiang adalah manusia yang paling

dikatuki diseluruh jagat ini seumpama orang itu amat menakutkan, masakah dia bisa menandingi

Coh-Liu-hiang.”

“Coh-Liu-hiang memang teramat tangguh sayang sanubarinya terlalu bajik dan lemah, orang

lain tega membunuhnya, sebaliknya dia tidak tega melukai orang, coba katakan cara bagaimana

aku takkan kuatir?”

Coh-Liu-hiang menepuk-nepuk tangnnya, katanya tertawa: “Jangan kuatir untuk membunuh

Coh-Liu-hiang, bukan soal gampang.”

Soh Yong-yong unjuk tawa manis, namun alis berkerut pula, katanya: “Coba kau pikir, mungkin

tidak ada orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long adalah orang misterius yang

membunuh Thian-jiang-sing Song Kang dan orang yang terjun kedanau itu”

“Memangnya dia jikalau terkaanku tidak salah yang membunuh Ca-Bok-hap, Cou-Yu cinLing

ciu-cu dan Sebun Jianpan dia, orang yang mencari Thian-it-sin-cui dari. Sin-cui-kiong, tentulah dia

pula!”

“Begitu besar hasratnya hendak membunuh kau, berusaha merintangimu menemui Jin-hujin

Caiu-Ling siok, sungguh tak nyana Caiu-Ling siok tidak mau bicara apa-apa bukankah segala

usahanya itu sia-sia belaka?’

Mendadak Coh-Liu-hiang unjuk senyum lebar katanya: “Caiu-Ling siok masih mengucapkan

beberapa patah kata yang amat penting artinya. “apa katanya?” “Dengarlah dengan seksama, dia

berkata: ‘Kaupun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sudah rebah berpenyakitan beberapa

tahun, mendadak meninggal orang-orang dapat menemui beliau tidak banyak jumlahnya… “

SOh Yong-yong berpikir sejenak, katanya: “Aku tak bisa meraba beberapa patah kata itu

mengandung arti yang amat penting apa?’ “Coba kau pikirkan secara seksama, pasti kau dapat

simpulkan”

Kembali Soh Yong-yong ulangi beberapa patah kata-kata itu akhrinya sorot matanya bersinar

katanya: “Aku tahu sekarang, kalau Jin lo pangcu itu sudah lama berpenyakitan diatas ranjang,

mana mungkin bisa mati secara mendadak, murid-murid Kaypang mereka, kalau toh tahu bahwa

Pangccu mereka sakit menjelang ajal, sudah sepantasnya selalu menjaganya dan merawatnya

dengan beliau hanya terbatas beberapa orang saja.”

“Begitulah!” seru Coh Liu-hiang tepuk tangan. “Kedengarannya beberapa patah kata itu biasa

saja, namun satu sama lain saling bertentangan, Jin-hujin itu memang berotak cerdik coba kau

pikir kenapa dia mengeluarkan kata-kata yang saling bertentangan ini ?”

“Apa bukan sedang memberi bisikan kepada kau?’ “Memang begitulah!” “Tapi ada persoalan

apa yang tidak langsung dia utarakan kepada kau? Memangnya persoalan itu dia rahasiakan

terhadap Lamkiong Ling? Masakah Lamkiong Lingpun…” “Meskipun rumit seluk beluk dan banyak

lobang kelemahan serta hubungan satu sama lainnya, tapi sekali-kali kami jangan secepat itu

menarik kesimpulan, karena persoalan ini amat penting dan besar artinya, tidaklah sederhana

seperti rabaan kita semula!”

“Kalau begitu, jadi kau harus pergi menemui Jin hujin itu pula?” “Ya, harus menemui sekali

lagi!”

Soh Yong-yong menggenggam tangannya katanya lembut: “Tapi kau harus ingat, bahaya

untuk kedua kalinya ini tentu lebih besar kalau toh mereka tahu kunci rahasia dari semua

persoalan ini berada ditangan Jin-hujin, mana mungkin mereka mau memberi kesempatan

kepadamu untuk berhadapan sendiri dengan Jin-hujin?”

“Kukira, sementara mereka takkan mengira bahwa aku pergi menemui Jin-hujin lagi, maka

perjalananku kali ini lebih cepat lebih baik kalau terlambat bahayanya tentu semakin besar.”

“Sekarang mereka paling baru membokong dan menyergap kau, tapi bila kau sudah hampir

membongkar kedok rahasia mereka, pasti mereka bakal menggunakan segala cara untuk

menghadapimu.”

“Kalau hendak memancing ikan besar, sudah tentu berani memberi umpan yang besar pula”

“Mana kau… kau sendiri hendak menjadi umpan itu untuk memancingnya keluar?’

Terasa oleh Coh-Liu-hiang jari-jari tangan Soh Yong-yong yang menggenggam tangannya dan

gemetar, maka tangannya yang hangat dan kokoh ia balas menggenggam, katanya tertawa:

“Umpan ini memang terlalu besar, betapapun besar ikan itu takkan bisa menelannva bulatbulat,

kau tidak usah kuatir, dengarkan saja kataku, lekas kau pulang kemudian lemparlah botolbotol

arakku kedalam laut biar dingin, suruh pula Thian-ji menyediakan beberapa ekor ayam,

dalam lima hari mendatang, pasti aku sudah pulang dan menggasak habis semuanya!”

Soh Yong-yOng menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun biji matanya memancarkan

sinar terang dan lembut hangat laksana bintang kejora. Akhirnya ia tertawa lebar dan katanya:

“Sudah tentu kau bisa pulang, dalam dunia ini siapa yang mampu merintangimu?”

Diatas dunia ini, tiada sesuatu yang lebih menggairahkan dari pada raut muka seorang jelita

dan keyakinannya, waktu Coh Liu hiang tiba diatas daratan, terasa tenaga segar semangat

bergairah.

Soh Yong-yong memang seorang gadis penurut. Gadis yang jelita yang pintar, ternyata masib

dengar katanya, itulah kebahagiaan yang terbesar bagi seorang laki-iaki.

Dengan puas dan senang hati Coh Liu hiang mengguman seorang diri: “Dunia ini sungguh

tiada sesuatu yang menyulitkan diriku….”

Terdengar seseorang menanggapi sambil tertawa: “Tapi apakah kau tidak menyulitkan dunia

kehidupan ini?” belum hilang suaranya Bu Hoa tahu-tahu melayang turun, sikapnya yang agung

suci senyumannya yang welas asih dibawah penerangan sinar bintang kelihatan demikian

memukau seperi dewata dari langit.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya: Ku kira hanya aku sendiri si kucing malam ini, tak nyana

masih ada lagi.

“Masih ada dua.” kata Bu Hoa.

Wuktu Coh Liu hiang berpaling, dilihatnva seseorang berdiri mematung didalam Hong-ih-ting,

sana pakaian hitamnya kelihatan mengkilat ditimpah sinar bintang, siapa lagi kalau bukan Hek tin

cu, Entah lantaran apa pemuda yang aneh dan luar biasa itu tetap berdiri di sana, menjublek

seperti orarg linglung.

“Malam pertama di Toa bing ouw, menyediri di Hong-ih-ting Pinceng kira itulah Coh hetng,

waktu aku hendak kesana tak kira Coh heng sudah muncul disini.

“Malam sudah selarut ini, tak kira kau masih ada selera pesiar ketempat ini?”

“Janji main catur dan minum arak tempo hari setiap waktu tak pernah terlupakan oleh Pinceng,

memang sengaja aku kemari mencari Coh heng untuk menepati janji.”

Mana ada selera Coh-Liu-hiang main catur minum arak segala. Tapi biji matanya berputar, tiba

tiba ia mendapat akal, katanya tertawa: “Untuk main catur kami berdua sudah cukup hendak

minum arak perlu ditambah Lam kiong Ling lagi baru menarik.”

“Kalau demikian, tiada halangan kami gedor rumahnya menjadi tamu tak diundang!’

“Baiklah kau tunggu disini sebentar biar kugugah dulu sahabat yang sudah tertidur di sana itu,

sebentar kuiringi kau kesana!” tanpa menunggu jawaban Bu Hoa, badannva sudah berkelebat

kearah Hong-ih thing, dilihatnya Hek-tin-cu menjublek seperti patung tanpa bergeming, alisnya

berkerut dalam seolah-olah ada sesuatu persoalan pelik yang merundung hatinya.

Coh Liu-hiang tertawa, katanya; “Hanya kuda tidur sambil berdiri, Hek heng kenapa meniru

kuda?”

Hek-tin-Cu tersentak sadar dan berpaling, sekilas itu terkandung banyak perubahan dari

kerlingan matanya, namun suaranya tetap dingin: “Kalau tuan ingin bercanda, lebih baik pergilah,

kau mencari nelayan tua itu”

“Tidak jelek pandangan matamu.” puji Coh Liu-hiang.

Hek tin-cu menengadah kepala tanpa hiraukan orang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, ujarnya: “Malam ini aku sudah ada janji tak bisa temani kau

minum arak, biar dua tiga hari lagi kami berbincang lebih lanjut.

Mendadak orang keluarkan kata-kata yang tiada juntrungannya ini keruan Hek-cin Cu terheran

heran, baru saja ia hendak umbar waktunya tiba-tiba Coh-Liu hiang menekan suara berbisik

dengan cepat: “Bawa kudamu dan tunggu aku diluar pintu selatan soal ini menyangkut urusan

penting bisa tidak membongkar rahasia keseluruhannya tergantung dari kerja sama kami ini.”

Disaat Hek-tin-cu masih terlongong, Coh Liu hiang sudah putar badan sambil bergelak tawa

tinggal pergi.

Ada sementara orang, tanpa tidur tiga hari tiga malam tidak apa-apa tentunya Coh Liu Hiang

termasuk diantara orang-orang itu, demikian pula Bu-Hoa dan Lamkiong Ling.

Bahwasanya Bu Hoa tidak perlu mengetuk pintu, hakekatnya Lamkiong Lingpun tidak tidur, kini

dia sedang menghadapi araknya minum seorang diri seolah-olah memang sedang menunggu

kedatangan mereka. Papan catur dengan biji-bijinya sudah tersedia diatas meja, demikian pula

arak dan hidangan gegaresnya sudah siap diatas meja.

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: “Akhirnya, kali ini kami bertiga harus benar-benar menentukan

menang kalah, sebelum rebah tak berkutik siapapun dilarang berlalu, entah bagaimana maksud

Coh-heng?”

“Kau kan tahu aku ini pemabukan yang takkan pergi sebelum tenggelam dalam air kata-kata,

kenapa tidak kau tanya Bu Hoa, malah tanya aku?” sembari main catur dia tenggak araknya

dengan lahap, sedemikian asyiknya seumpama dilecut dan dihajarpun dia takkan mau pergi.

“Lamkiong heng toh tidak tahu betapa asyiknya orang main catur, sungguh suatu hal yang

harus disesalkan.”

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Pemain catur harus peras otak main secara serabutan

akan kalah, mana bisa dibanding kenikmatan seorang penonton yang bebas merdeka?” demikian

Bu Hoa bicara pula, tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meletakkan sebiji caturnya digaris pinggir

paling sudut.

Berkerut alis Bu Hoa, katanya: “Teori catur sejak dulu kala sampai sekarang, Pinceng pernah

membacanya semua, belum pernah kulihat cara permainan seperti ini, daerah bawah yang amat

penting ini, apakah Coh-heng tidak perlu menjaganya?”

Bersambung ke jilid 9

Jilid 9

“Permainan caturku ini teramat menakjubkan silahkan kau peras otak memecahkannya, aku

berkesempatan untuk menunaikan hajat, dimana tempat hajat yang terdekat, terpaksa Lamkiong

Ling harus tolong menunjukkan tempatnya”.

Dengan tersenyum Lamkiong Ling bawa dia kebelakang, Coh Liu-hiang sudah kebelet dan

diujung tanduk, terburu-buru ia berlari masuk, namun lewat lobang angin disebelah belakang sana,

ia meluncur keluar. Lobang angin ini kira-kira satu kaki lebarnya, bocah ingusanpun sukar lewat

lobang sekecil ini, siapa tahu tulang belulang dan badan Coh Liu-hiang sudah dilatihnya

sedemikian rupa bisa dipasang-surutkan menjadi kecil dan lemas, cara yang ditempuh benarbenar

jalan yang tak mungkin dibayangkan orang lain.

Setelah melayang jauh puluhan tombak, barulah Coh Liu-hiang tersenyum geli, batinnya : “Bu

Hoa, Bu Hoa, permainan caturku tadi memang busuk dan tak bisa dicium, karena kau harus

memecahkan letak kehebatan dan dari cara permainanku itu, boleh dikata laksana mencari tulang

dalam telur…. tapi permainan caturku memang lain dari yang lain, disaat kalian sangka aku

terjeblos kedalam kakus mungkin aku sudah tiba digunung Hi-san”.

Pepohonan rimbun melambai bergoyang menyambut datangnya musim semi diluar pintu

selatan, memang pemandangan alam di Kilam menyerupai Kanglam, terutama pada malam

purnama seperti ini, lebih jelas kentara akan persamaan ini.

Di bawah bayangan dedaunan pohon yang menyuntai turun tak kelihatan bayangan orang

yang hanyalah sepasang biji mata yang bersinar terang kemilau. Bagai asap melayang Coh Liuhiang

meluncur kesana dan berbisik: “Mana kudanya?”

“Kau masih sembunyi-sembunyi sebetulnya hendak kemana?” tanya mutiara hitam.

“Kalau bukan rahasia, masakah aku bisa bertindak sembunyi-sembunyi? Jikalau rahasia mana

boleh kuberi tahu kepadamu”.

“Kalau tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepada kau? Kalau tidak aku

percaya kepadamu buat apa kupinjamkan kuda kepadamu?”

“Hanya perempuan yang suka mencari tahu rahasia orang lain, cuma perempuan, biasa

menggunakan caranya ini untuk memeras orang. Kenapa kau jadi meniru watak seorang

perempuan?”

Mutiara hitam tercengang walau tidak kelihatan perubahan air mukanya dimalam nan gelap ini,

namun dari sorot matanya yang dingin itu, kelihatan terjadi perubahan yang rumit atas pikirannya.

Akhirnya dia bersuit berlahan, derap kuda lantas terdengar lari mendatangi, langkah kakinya

sedemikian enteng laksana dahan pohon liu yang tergontai terhembus angin, hampir tak

kedengaran tapak kakinya berdentam di atas tanah.

“Aku tahu sekali-sekali kau tidak akan sudi dianggap sebagai kaum perempuan” ujar Coh Liuhiang.

Mutiara hitam melengos, tiba-tiba berpaling pula, tanyanya: “Kapan kau kembalikan kudaku?

Dimana aku harus menunggu?”

Coh Liu-hiang cemplak keatas kuda sahutnya!

“Sekarang aku sudah tidak menghadapi bahaya, pergi ke kota dan main sesuka hatimu ingin

kemana dengan tak usah kuatir diganggu murid-murid Kaypang. Dalam dua hari ini kudamu

kukembalikan, bila mana aku belum mati lho”. Belum habis kata-katanya Coh Liu-hiang sudah

keprak kudanya membedal ke depan sambil tertawa panjang.

Kuda itu memang sakti dan hebat luar biasa. Coh Liu-hiang keluarkan kemahirannya naik kuda

sekencang-kencangnya ia larikan kuda ini, terasa angin menderu dipinggir kupingnya pepohonan

dikedua samping jalan berkelebat mundur kebelakang cepat sekali: Memang kecepatan laksana

kilat inilah yang paling disenangi oleh Coh Liu-hiang, bukan lantaran tiada sebab maka Coh Liuhiang

ingin pinjam kuda ini yaitu karena dia tidak ingin menguras tenaga hanya untuk menempuh

perjalanan jauh ini. Tenaga perlu dia pertahankan untuk melakukan sesuatu yang teramat penting

artinya.

Waktu kuda Jian li kik membawanya tiba di Ni san, sementara tengah malam sudah berselang

dibawah gunung Coh Liu-hiang mencari rumah pemburu dan titipkan kudanya disana dengan

menyongsong terbitnya matahari langsung ia manjat ke atas gunung.

Cahaya matahari membuat balok batu yang melintang itu kelihatan sangat mengkilat tapi kali

ini tiada orang yang merintangi jalan Coh Liu-hiang, kicauan burung nan merdu seolah-olah

menyambut kedatangannya segalanya serba tenang dan tentram gubuk-gubuk yang kokoh

berderet disana masih tetap dibawah tingkah sinar matahari, pintu masih setengah terbuka,

melongok kedalam lewat jendela yang terbuka, keadaan sunyi-senyap tiada sesuatu gerakan.

Segala ketenangan ini tak kelihatan adanya tanda-tanda sesuatu kekerasan terjadi, tetapi

terlalu tenang dan sunyi. Sehingga hati Cob Liu-hiang merasakan firasat jelek, tanpa mengetuk

pintu langsung ia menerjang masuk kedalam.

Ternyata Ciu Liang-siok sudah tidak di tempatnya lagi. Di atas kasur bundar tempat duduknya

hanya ketinggalan sebuah tusuk konde hitam terbuat dari gading, bebauan harum masih terendus

cukup keras.

Tersirap darah Coh Liu-hiang, serunya: “Jin hujin…. Jin hujin…. dimana kau?”

Sudah tentu ia tahu serunya takkan mendapat jawaban, sembari berteriak-teriak, lekas sekali

ia sudah geledah ketiga gubuk berderet itu dengan seksama, namun bayangan nyamukpun tidak

ditemukan. Selagi perabot dan benda didalam gubuk masih tetap pada tempatnya seperti tidak

pernah disentuh tangan, tidak terlihat pula adanya tanda-tanda perkelahian disana.

Tapi Jin hujin Chiu Ling-siok kemana perginya? Seperti anjing pelacak yang mengejar

buruannya, sekali lagi Coh Liu-hiang mulai, mencarinya dengan lebih teliti, dia mengharap Jin hujin

ada meninggalkan sesuatu apa-apa meskipun itu hanya sebuah tanda rahasia, tapi tentulah amat

besar artinya.

Tapi setiap sudut setiap tempat tertentu sudah dia periksa dengan teliti, tiada sesuatu tandatanda

atau tulisan yang memberikan keterangan, bantal guling tertata rajin diatas ranjang,

pakaianpun tertumpuk rapi didalam lemari, diatas toilet menggeletak tiga batang sisir yang dijajar

dan bersih, perabot-perabot Rumah tangga berada di tempat masing masing. Semuanya serba

beraturan tidak ada satu kesalahan.

Kalau tempat ini mau dikatakan ada sesuatu yang ganjil, yaitu bahwa semua serba rapih rajin

dan beraturan pula seperti hendak sengaja ditata dan diatur sedemikian rupa untuk dipamerkan

orang.

Dengan kepala terasa berat Coh Liu-Hiang melangkah keluar, sorot matanya tiba2 tertumbuk

pada tusuk konde hitam yang menggeletak diatas kasur bundar itu. Kasur ini adalah kasur yg

sering dipakai oleh Jin hu Jin, diatas kasur ada menggeletak tusuk kondenya, sebetulnya tidak

perlu dibuat heran maka pada waktu datangnya tadi Coh Liu-Hiang sedikit pun tidak menaruh

perhatian.

Tapi sekarang setelah ia melihat keadaan rumah yang serba aneh dan ganjil ini maka

sebatang tusuk konde pun terlalu terasa menyolok pemandangan, karena tusuk konde ini melulu

tidak diletakan pada tempat yang sebenarnya mana bisa berada di kasur bundar ini kalau tidak

ada sesuatu maksud tertentu?

Dengan kedua jarinya pelan pelan Coh Liu-Hiang menjepit tusuk konde ini, tiba2 didapatinya

ujung tusuk konde ini menunjuk pintu kecil yg menembus kebelakang. Sampai detik ini pintu itu

masih tertutup rapat. Tergopoh gopoh Coh Liu-Hiang melompat ke arah pintu kecil tersebut, terasa

daun pintu terkunci atau terpalang dari sebelah luar sana. Sorot matanya seketika memancarkan

cahaya terang yang amat menggembirakan hari tanpa ayal ia mengayunkan kaki menendang jebol

dan melompat keluar.

Belakang gunung jauh lebih belukar dan jarang di injak kaki manusia.

Seperti seekor kucing yg hendak merunduk mangsanya dirumpun semak belukar tiba tiba

dilihatnya diatas dahan pohon berduri sebelah kiri melambai secuil kain sobekan warna hitam kain

itu jelas sobekan baju yg dipakai oleh Jin hu Jin. Lekas Coh Liu-hiang membelok kekiri lalu

berjalan cepat-cepat dengan hati-hati, sekoyong-koyong didengarnya seringai tawa seram.

Seorang berkata sambil terloroh-loroh kesenagan: “Kalau kau tidak sudi aku menyentuh

seujung jarimu, akupun tidak mau memaksa, sampai sekarang kenapa tidak kau lekas lompat

saja?” seringai tawa dan kata-kata ini, ternyata dikeluarkan oleh pengemis galak dari Bulim Pek

Giok mo adanya.

Disusul terdengar suara Jin Hujin berkata: “Aku toh bakal mampus, kenapa kau masih begitu

tergesa-gesa”.

Pelan-pelan dan hati-hati Coh Liu-hiang menggeremel maju, perawakan tubuh Jin-hujin yang

ramping semampai, sedang berdiri diambang jurang, hembusan angin gunung melambaikan

pakaiannya, seolah-olah sembarang waktu dia bisa terhembus jatuh ke bawah.

Cadar hitam masih menutupi mukanya, kedua tangannya memeluk sebuah gentong kecil berisi

abu Jin-loapangcu, sementara sambil menyeringai sadis Pek-giok-mo menghadang didepannya

kira-kira empat kaki jauhnya, gaman yang dia pakai sekarang ganti sebatang Long gak ong yang

berat dan ganas itu.

Hanya Pek-giok-mo seorang, diam-diam Coh Liu-hiang bersyukur dan lega hati.

Terdengar Pek-giok-mo membentak keras: “Cepat mati lekas menitis pula, kalau kau tahu

bakal mati, kenapa ulur-ulur waktu?”

“Nyawa amat berharga, bisa hidup sekejap lagipun, jauh lebih baik”.

Gigi Pek-giok-mo gemeretak, desisnya: “Untuk menuntut balas kepada Jin-lothan, aku sudah

menunggu dua puluh tahun! Meski aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, melihat

abu jeneazahnya tersebar beterbangan, sekarang dapat memaksamu putus jiwa lagi, terhitung

terlampiaslah dendam hatiku selama ini”.

“Aku tahu, kau mencariku untuk menuntut balas, tapi cara bagimana kau bisa menemukan

tempat ini?” tanya Chiu Ling-siok.

Pek-giok-mo menyeringai sinis, ujatnya: “Kau kira tempatmu ini teramat rahasia?”

“Memang tempat ini amat tersembunyi dan terahasia”.

“Tempat yang begini tersembunyi, siapakah orang yang membawa kemari? Bukan mustahil

kalau dia tahu bila kau berada ditempat ini?”

Sesaat lamanya Chiu Ling siok berdiam diri katanya sambil menghela napas panjang:” Ya,

sejak lama seharusnya sudah kupikirkan hal ini, cepat atau lambat dia pasti takkan mengantepi

aku hidup!”

“Kalau pertanyaanmu sudah habis, apa lagi yang kau tunggu?” bentak Pek-giok-mo.

“Kalau toh kau sudah menunggu dua puluh tahun kenapa harus ribut dan tak sabar menunggu

lagi beberapa kejap?”

Jelalatan mata Pek-giok-mo, katanya menyeringai: “Apakah kau sedang menunggu orang

untuk menolong kau? Bukan kau sedang mimpi?”

Chiu Ling siok mendongak, agak sedang melihat cuaca, katanya memilukan: “Sampai detik ini,

memang tiada orang akan bisa menolongku …. mati, bagaimana rasa sebenarnya?” dengan

memeluk gentong berisi abu jenazah itu dia sudah siap menerjun diri kedalam jurang.

Mendadak Coh Liu-hiang keluar seraya membentak: “Pek-giok-mo, walau selamanya aku

belum pernah membunuh orang, tapi asal tanganmu bergerak, biar kubunuh kau lebih dulu”.

Long gak-pang ditangan Pek-giok-mo sudah terangkat, namun seketika ia berdiri menjublek

dengan mata terbelalak.

Cepat sekali Coh Liu-hiang bertindak tanpa memberi kesempatan orang memutar otak

ditengah suara bentakannya, juga bayangan badannya seperti elang menyambar mangsanya ia

jingjing badan Chiu Ling-siok dari pinggir jurang.

Baru sekarang Pek-giok-mo sadar dan gusar bentaknya: “Orang she Coh! Kenapa kau selalu

turut campur urusan orang lain?” Long-gak-pang yang panjang dan berat itu, tahu-tahu sudah

melandai datang menyapu kearah Coh Liu-hiang dah Chiu Ling-siok.

Long gak pang adalah gaman panglima perang yang biasa digunakan dalam medan laga

beranda, betapa berat kuat dan hebat macam senjata ini, jarang terlihat dipakai oleh tokoh-tokoh

persilatan pada umumnya. Pek-giok-mo memang dibekali tenaga raksasa pembawaan sejak

dilahirkan senjata yang begitu berat dapat dia mainkan dengan lincah enteng dan serasi sekali.

Siapa nyana tidak berkelik atau menyingkir Coh Liu-hiang justru memapak maju. Waktu

menarik dan menjinjing badang orang tadi Coh Liu-hiang sudah menginsafi bahwa Chiu Ling-siok

sudah kehilangan kepandaian silatnya maka sekali-sekali ia takkan membiarkan orang cidera

sedikitpun. Oleh karena itulah maka ia bertindak cepat tegas dan menempuh bahaya.

Tampak bayangan badannya menekuk dan menggeliat, tahu-tahu badannya sudah menyusup

dan menerjang kedalam samberan Long gak pang yang bergigi-gigi tajam runcing dan kemilau itu,

secara mendadak ia turun tangan menarik dan menyodok kesikut Pek-giok-mo.

Maka lengan Pek-giok-mo yang bergerak mengikuti ayunan Long gak pang itu, serta merta

tersentak naik dan tak kuasa mengendalikan diri pula! Tahu tapak tangan Coh Liu-hiang sudah

menepuk kebawah ketiaknya. Seketika Pek-giok-mo rasakan setengah badannya kesemutan dan

kemeng, Long gak pang tak kuasa dipegang lagi terpental terbang ketengah udara menembus

mega jatuh kedalam jurang.

Gerakan menyanggah, menyodok dan menepuk dari Coh Liu-hiang, kalau dikatakan amat

biasa dan tiada sesesuatu keistimewaannya, tapi betapa besar bahaya cara serangannya itu, serta

keanehan gerak tipunya, siapapun takkan mampu melakukan atau menirunya.

Sungguh mimpipun Pek-giok-mo tidak pernah berpikir dalam satu gebrak saja gamannya

secara aneh kena dilucuti oleh lawan, selama puluhan tahun ia malang melintang di Kangouw,

belum pernah mengalami peristiwa yang memalukan seperti ini, tanpa sadar ia melongo di

tempatnya.

Dilihatnya Coh Liu0hiang berdiri di hadapannya dengan adem ayem seperti tidak pernah

terjadi apa-apa, katanya tersenyum lucu: “Tidak kau lekas pergi?”

Ternyata ia tidak menyerang lebih jauh, malah memberi kesempatan Pek-giok-mo pergi

demikian saja. Lebih tak terpikir oleh Pek-giok-mo hari ini ia mengalami kejadian yang lebih ganjil

ini, dirinya kejam dan telengas bertangan gapah, sudah tentu takkan pernah terpikir olehnya

jiwanya bakal diampuni sedemikian saja. Sesaat lamanya ia kememek dan tak tahu kaget?

Girang? atau heran? Katanya tersendat: “Kau…masakah kau….”

Berkata Coh Liu-hiang tawar: “Asal setiap saat kau berpikir kenapa aku belum mampus?,

maka selanjutnya kau akan tahu diri cara bagaimana bersikap terhadap sesama manusia!”

Tanpa bicara lagi Pek-giok-mo segera putar tubuh dan lari sipat kuping.

“Klontang!” baru sekarang terdengar gema suara keras dari bawah jurang sana, kiranya baru

sekarang Lok-gak-pang jatuh menyentuh dasar jurang. Coh Liu-hiang pelan-pelan putar badan

menghadapi Chiu Ling-siok dengan tersenyum lebar: “Agaknya cayhe datang terlambat!”

“Betapapun akhirnya kau datang juga”, ujar Chiu Ling-siok bersyukur menghela napas, lalu

sambungnya: “Sekilas pandang aku lantas tahu kau seorang pandai, pasti bisa menangkap arti

kata kataku, maka kau pasti akan memburu datang pula. Maka waktu Pek-giok Mo mencari aku

aku berusaha menyembunyikan diri dan perlahan lahan lari ke tempat ini. Mendengar aku kemari

hendak terjun kebawah jurang, maka ia menunda nunda turun tangan.

Coh Liu-Hiang tertawa, ujarnya: “kalau bukan karena keagungan Hujin, mana bisa membuat

Pek-giok Mo yang buas bertangan gagah itu jeri menyentuh badan Hujin? Jikalau bukan mendapat

petunjuk tusuk konde hujin, mana cayhe bisa memburu kesini pula?”

Kedua orang lain jenis yang sama pintar dan cerdiknya, ternyata bertemu di tempat ini secara

kebetulan. Berkata Chu Ling Siok sambil tertawa tawa: “Ketahuilah bahwa apa yg kulakukan ini

bukan demi mempertahankan jiwaku sendiri. Tapi jika tidak kubeber rahasia yang kupendam

dalam relung hatiku, bukankah kematianku terlalu disayangkan?”

“Apakah boleh sekarang hujin tuturkan rahasia hatimu itu?”

“kalau sekarang tidak kubeberkan maka mungkin selamanya tidak akan ada kesempatan lagi,

tapi hal ini sangan rumit dan menyangkut persoalan besar yg amat penting artinya, cara

bagaimana aku harus mulai ceritaku?”

Tampa berpikir Coh Liu-Hiang berkata tegas:” Surat! Tentunya dari ke empat pucuk surat yg

hujin kirim itu, surat surat yang diterima oleh Ca Bok Hap, Sebun Jian, Ling Ciu dan Cou Ya Cin,

bukan tulisan dan kiriman hujin”

Ya ….. Akulah yg bikin celaka jiwa mereka.

Kenapa hujin menulis surat surat itu, kesulitan apa yg hujin hadapi?

Pernahkah kau dengar cerita Han Sian Te pada jaman kuno dulu, sebagai raja dia seperti

boneka atau golekan yang dikekang dan dipermainkan para mentrinya, bukan saja tidak punya

hak kekuasaan dan tak bebas bertindak, malah jiwa sendiripun tak mampu dipertahankan.

Tersirap darah Coh Liu-hiang : “Masakah Jin lopangcupun……..”

“Keadaan Jin Jip selama tiga tahun belakang ini, persis benar dengan raja yang harus

dikasihani itu. Namanya saja dia sebagai Kaypang Pangcu, apapun yang harus dia lakukan harus

tunduk dan patuh oleh petunjuk seseorang”.

Tak tahan bertanya Coh Liu-hiang: “Terkekang oleh siapa dia?”

“Lamkiong Ling!” sahut Chiu Ling-siok sepatah demi sepatah dengan tandas.

Coh Liu-hiang membanting kaki : “Kiranya memang benar dia, memang dia!”

“Asal mulanya ia seorang anak yatim piatu, sejak kecil dia diasuh dan dirawat serta dididik oleh

Jin Jip, diberi pelajaran ilmu silat lagi.

Memang bocah itu berotak encer, pintar sekali apapun yang diajarkan Jin Jip pasti dapat dia

pelajari dengan baik dan sempurna, malah lambat launnya jauh mengungguli gurunya”.

Tapi mengandalkan kepandaian silat tinggi Ji lopangcu……..

Meski usianya lanjut, kepandaian Jin Jip tidak mundur, badanpun kekar dan sehat. Tapi tiga

tahun belakang ini, entah mengapa mendadak dia dihinggapi semacam penyakit aneh bukan saja

badan dan kesehatannya semakin lemah dan buruk, malah kaki tangan menjadi lumpuh, boleh

dikata sudah menyerupai seorang cacat”.

Orang gagah paling takut menghadapi penyakit, sejak dulu kala memang demikianlah

kejadiannya!” ujar Coh Liu-hiang.

Tapi penyakit ini datang tidak wajar, dan diluar batas nalar.

“Maksud Hujin. Apakah ada orang sengaja meracuninya?”

“Ya, begitulah!”

Walau Coh Liu-hiang sudah tahu, namun tak tahan ia bertanya: “Siapa?”

“Hanya ada seorang yang mempunyai kesempatan menaruh racun, yaitu Lamkiong Ling?

Sebelum kedok aslinya terbongkar, siapapun akan beranggapan dia anak yang paling berbakti

terhadap orang tua, bukan saja segala tugas urusan penting dan sulit dalam Pang dia sendiri yang

menyelesaikan sampaipun tempat tinggal makan tidur Jin Jip dia sendiri pula yang meladeninya

memang sedemikian telaten dia meladeni segala keperluan Jin Jip aku malah nganggur, semula

aku amat haru melihat kebangkitannya siapa tahu apa yang dia lakukan itu tak lain hanya untuk

mencari kesempatan menurunkan tangan kejinya”.

“Tapi lantaran kewatir menimbulkan kecurigaan orang lain, maka tidak berani meracun Jin

lopangcu mati seketika, betapa telengas dan kejam hatinya begitu teliti dan cermat cara kerjanya

sampai akupun kena dikelabuhi”.

“Yang dia kena kelabuhi akan kekejamannya memang bukan kau seorang saja setelah Jin Jip

sadar akan kekejian orang namun sudah terlambat, Jin Jip sudah tidak mampu berbuat apa-apa

atas dirinya, segala apapun dia harus tunduk akan perintahnya, bukan saja tidak berani

membongkar tipu muslihat kejahatannya, malah dia pandang muka orang dan harus menjilat dan

mengagulkan”. Sampai disini, kata-kata yang semula tenang datar berubah gemetar dan tersendat

dalam tenggerokkan, maka dapatlah dibayangkan kehidupan tertindas dan terkekang terhina itu,

pastilah diliputi rasa haru dan derita lahir batin yang keluar batas.

Mendidih darah Coh Liu-hiang mendengar ceritanya ini, katanya marah-marah: “Masakan tiada

orang tahu atau perduli akan segala perbuatannya itu?”

“Dihadapan orang lain sikapnya sangat hormat, dan patuh terhadap Jin Jip dan aku, siapa

akan bisa menembus kedok aslinya yang kejam dan telengas itu?”

“Jin lopangcu sudah kehilangan tenaga, sudah tentu tidak leluasa membongkar perbuatan

jahatnya secara berhadapan, tapi disaat dia tiada ditempat, kenapa tidak dibongkar saja tipu

muslihatnya yang keji itu!”

“Hari-hari belakangan ini, aku dan Jin Jip boleh dikata sudah dia kurung secara halus tanpa

ijinnya siapapun dilarang menemui kami. Terhadap orang luar dia katakan Jin Jip sedang sakit

keras, tidak boleh diganggu, memangnya siapa yang tak percaya kata-katanya? Semua muridmurid

Kaypang sama mengharapkan penyakit Jin Jip lekas sembuh, siapa yang berani datang

mengganggunya?”

“Kalau demikian, cara bagaimana Hujin mengirimkan keempat pucuk surat itu?”

“Kuminta Lamkiong Ling mengirimkan”.

“Lamkiong Ling?” teriak Coh Liu-hiang melengak.

“Untuk mengirim surat kepada Sebun Jin dan Cou Yu-cin tidak sulit, tapi Ling-ciu-cu dan Ca

Bok hap, satu dilaut selatan, yang lain digurun pasir nan jauh dibarat laut sana, kecuali Lamkiong

Ling yang bisa memimpin para pengemis diseluruh jagat ini yang bisa mengirim kesana, siapa

pula yang mampu mengirim surat itu tiba pada alamatnya dengan selamat?”

“Benarlah kalau begitu, seru Coh Liu-hiang bertepuk: “semula aku heran, Ca-Bok hap, Ling-ciu

cu. Sebelum Jin dan Cou Yu-cin bertempat tinggal jauh dekat tidak menentu jikalau keempat

pucuk suratmu kau kirim bersama Sebun Jian dah Cou Yu-cin sudah tiba sebaliknya Ca-bok hap

dan Ling ciu-cu mungkin belum menerima suratnya, tapi mereka berempat justru tiba pada saat

dan waktu yang bersama bukankah aneh hal ini?” Coh Liu-hiang menelan ludah, lalu

menyambung: “baru sekarang aku tahu, ternyata Lamkiong Ling sudah perhitungkan waktunya, ia

sudah perhitungkan setelah Ca-Bok hap dan Ling-ciu cu menerima surat dan berangkat dalam

perjalanan, baru dia kirim surat untuk Sebun Jian dan Cou-Yu cin persis dan tepat benar

perhitungannya akan kedatangan mereka berempat pada waktu yang sama, namun dia bikin

mereka mati pada saat yang sama pula”

Setelah memahami semua seluk beluk persoalan ini, semakin terasa olehnya betapa teliti dan

cermat cara kerja Lamkiong Ling sungguh menakutkan.

Chiu Ling-siok menarik napas panjang, katanya pelan-pelan: “Sejak Jin jip jatuh sakit, laksaan

murid kaypang yang tersebar di seluruh pelosok dunia sama anggap dan pandang Lamkiong Ling

sebagai calon tunggal pewarisnya, cukup sepatah kata Lamkiong Ling jangan kata hanya untuk

mengirim surat, seumpama suruh mereka menempuh gunung berapi dan terjun ke air mendidih,

banyak orang yang berlompat mendahului terima tugas ini, betapa besar kekuatan dan

kekuasaannya , masakah boleh dibuat permainan?”

“Tapi cara bagaimana dia mau mewakili Hujin mengirim surat itu?”

“Di dalam waktu-waktu ini, untuk membeli hati orang, pengeluaran teramat besar, tapi untuk

angkat nama dan mendirikan wibawa di dalam dunia persilatan, masakah dia merasa eman dan

kikir mengeluarkan segala harta benda meski dengan cara gelap?”

“Mungkinkah tujuan yang pertama dia tujukan kepada Hujin?”

“Setelah aku menikah dengan Jin Jip, meski merubah she ganti nama, tapi dia cukup jelas

mengenai seluk belukku, sudah tentu hal ini lantaran Jin Jip yang terlalu percaya kepadanya. Hari

ke hari biaya yang dia keluarkan relatif amat besar jumlahnya, semua tabungan milik Kaypang

selama puluhan tahun sudah dikurasnya sampai habis, suatu hari dia paksa aku untuk mencarikan

jalan keluar, oleh karena itu terpaksa kutulis keempat pucuk surat itu”

“Tidak salah dalam surat Hujin itu tidak dijelaskan kesulitan apa sebenarnya yang Hujin

hadapi. Sebaliknya Cou Yu-cin dan Sebun Jian amat gampang mengeruk uang sebanyak

mungkin, harta milik pihak Hay-lam-paypun tidak kecil jumlahnya, apalagi raja gurun pasir, tak

perlu dikatakan. Apalagi Lamkiong Ling menyangka surat Hujin itu bertujuan pinjam uang kepada

mereka?”

“Karena dia hendak memperalat aku, maka kesempatan inipun kugunakan ganti memperalat

dia untuk mengirimkan suratku itu, asal dapat bertemu dengan mereka berempat, segala urusan

gampang diselesaikan”

“Tapi kenapa pula Lamkiong Ling mengubah maksudnya semula? Tidak memeras uang

mereka, sebaliknya mencabut jiwa mereka?”

“Itulah karena seseorang! Sehari setelah surat-surat itu dikirimkan, malam datanglah orang itu,

mereka bicara dalam kamar tertutup semalam suntuk, maka urusan lantas berobah seratus

delapan puluh derajat!”

Bersinar mata Coh Liu-hiang, tanyanya segera berkata: “Siapa orang itu?”

“Aku sendiri tidak melihatnya”

Dengan kecewa, Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Kau hanya tahu akan

kedatangannya?”

“Demi mengawasi tindak tanduk kami, Lamkiong Ling menetap di gubuk sebelah. Kalau toh

kami sudah ikan dalam jaringnya, maka dia tidak begitu hati-hati terhadap kami, maka segala

keadaan dalam gubuknya itu kebanyakan dapat kudengarkan, meski lwekangku sudah punah,

untung kepandaian kupingku masih kupertahankan”

“Kau dengar apa saja yang mereka bicarakan?”

“Pembicaraan mereka amat lirih, berat dan prihatin, aku tahu persoalan yang mereka

rundingkan pasti sesuatu rahasia yang teramat penting, kadang kala agaknya ada sedikit

perdebatan yang cukup sengit, namun tak bisa kudengar persoalan apa yang mereka bicarakan”

“Sayang kau tidak bisa mendengarkan percakapan mereka tokoh yang misterius ini bukan

mustahil adalah orang di belakang layar yang pegang peranan akan semua peristiwa misterius ini”

“Tokoh misterius ini, hari kedua pagi-pagi benar lantas pergi tak lama kemudian Lamkiong Ling

masuk membawa semangkok kuah kolesom, katanya untuk Jin jip supaya tambah tenaga”

Berkilat sorot mata Coh Liu-hiang: “Kuah kolesom ini pastilah membawa sesuatu akibat yang

fatal?”

“Sudah lama dia tidak berbuat sebaik ini, aku tahu dibalik perbuatannya ini pasti tersembunyi

suatu muslihat, tapi aku sudah gunakan tiga macam cara, namun tidak berhasil ketemukan adanya

sesuatu ramuan sesuatu jenis racun dalam kuah itu!” Chiu Ling-siok menghela napas lalu

meneruskan: “Tentunya kaupun tahu, dulu aku termasuk seorang tokoh yang cukup lihay

termasuk tingkatan kelas satu di Bulim dalam permainan racun, kalau dalam kuah itu ada

dicampur sedikit racun apapun, perduli dengan cara dari aliran atau golongan mana saja, pastilah

dapat kucoba dengan baik. Maka aku berpendapat bahwa kuah kolesom ini tentulah tidak ada

apa-apanya yang perlu dikuatirkan”

“Oleh karena itu dengan lega hati ia berikan kuah itu untuk diminumkan kepada Jin

Lopangcu?”

“Kalau toh kuah itu benar tiada racun, kenapa aku harus mengabaikan kebaikan Lamkiong

Ling? Apalagi saban hari Jin Jip hanya bisa makan bubur, memang dia memerlukan bahan obatobatan

untuk menambah kesehatan dan semangatnya”

Tiba-tiba tergerak hati Coh Liu-hiang, tanyanya keras: “Setelah minum kuah kolesom itu,

apakah seluruh badan Jin lopangcu menjadi melepuh besar?”

Chiu Ling-siok kaget dan kesima dibuatnya, tanyanya: “Darimana kau bisa tahu?”

“Thian-it-sin-cui! Kau tidak berhasil mencoba kadar racun di dalam kuah itu, karena itulah Tianit-

sin-cui.”

Baru sekarang dia lebih yakin dan berkesimpulan lebih jelas, bahwa biang keladi dari semua

peristiwa pembunuhan ini, ternyata adalah orang yang mencuri Tian-it-sin-cui dari Sin-cui-kiong itu,

sudah tentu dia pula yang membunuh Thian-jiang-sin Song Kang dan orang yang menyamar jadi

Thian hong cap-si liong itu, meski Lamkiong Ling seorang musuh yang cukup menakutkan, namun

kelicinan dan kekejaman orang itu, jauh melebihi Lamkiong Ling yang hanya diperalat saja.

Walau sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu rahasia Lamkiong Ling, tapi jikalau dia tak berhasil

menyelidiki siapa orang itu, segala jerih payahnya selama ini berarti sia-sia belaka.

Semakin hebat badan Chiu Ling-siok gemetar, katanya: “Sejak mula aku tidak percaya

Lamkiong Ling tega membunuh Jin Jip dengan tangannya sendiri, aku tidak percaya bahwa kuah

itu beracun, tapi sekarang, sekarang.

Mendadak ia menubruk ke depan Coh-Liu-hiang dan berseru dengan suara serak: “Segala

persoalan sudah kututurkan kepada kau, dapatkah kau membalas dendamku?”

Coh-Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Setelah segala rahasia ini terbongkar, tanpa aku

turun tangan, Lamkiong Ling sendiri takkan bisa hidup lebih lama lagi, tidak heran tak segan-segan

dia gunakan segala cara dan menghabiskan seluruh harta benda tujuannya hendak merintangi aku

menemui kau.”

“Tapi kenapa dia sudi membawamu kemari?”

“Sejak mula dia segan bentrok dengan secara berhadapan setelah kudesak dan kupaksa

saking kewalahan dan tak berdaya barulah dia membawaku kemari. Dia tahu dihadapannya

sekali-kali kau takkan berani membocorkan rahasianya, merandek sebentar lalu menggumam:

“Hari itu dia minta aku tunggu dua jam maksudnya tentu bukan menyelesaikan urusan dalam

kaypang, tidak lain supaya pembunuh kejam itu datang kemari lebih dulu, menyaru jadi Thianhong-

cap-si liong menunggu aku dijembatan batu itu, dengan dia sendiri yang mengiringi, bukan

saja dia tak perlu takut aku berhadapan dengan kau, diapun hendak gunakan situasi tempat yang

berbahaya ini untuk menyikat aku, supaya kelak tidak menginggalkan bibit bencana. Jikalau

selamanya aku tak berhasil menemukan kau sudah tentu dia akan jauh lebih lega dan hidup

ongkang-ongkang.

“Dia suruh orang menunggumu dan membunuh kau, jikalau tak berhasil lalu dia iringi kau

menemui aku, dengan kehadirannya sudah tentu aku tidak bisa sembarangan bicara, mendadak

Chiu-Ling siok tertawa pilu, lalu katanya pula: “Dia sendiri berpendapat perbuatannya cukup rapi

dan hati-hati, siapa tahu Thian maha adil, akhirnya dia takkan lolos dari pertanggungan jawab

perbuatannya.

“Bahwasanya dia sendiri kukira belum tentu tega, diapun kuatir aku akan kembali pula disini,

maka dia bocorkan tempat tinggalmu kepada Pek-giok-mo, dengan pinjam tangan Pek-giok-mo

untuk menyumbat mulutmu, dikala orang lain tahu kejadian ini, dia boleh segala tanggung jawab

dia timpakan kepada Pek-giok-mo…” sampai Coh Liu-hiang tertawa disini, ujarnya pula: “Tapi tidak

terpikir olehnya, bahwa selekas ini aku sudah menyusul kemari, permainan caturku itu agaknya

tidak sia-sia kujalankan. Cuma disaat dia sadar akan muslihat permainan caturku itu, kejadian

sudah terlambat.”

Sesaat lamanya Chiu Ling-siok menepekur mendadak berkata pula: “Thian-hong-cap-si liong

tadi kau ada menyinggung nama ini?”

“Ya, Apakah hujin juga kenal akan orang ini?”

Meski aku tidak mengenalnya, dulu sering aku mendengar Jin Jip menyinggung dirinya.

“Tak kuduga memang ada orang seperti itu dalam dunia ini, kukira nama Thian hong-cap-silong

hanyalah nama palsu yang mereka sebut untuk mengada-ada saja!”

“Lahirnya Jin Jip halus dan keras batinnya selamanya jarang dia mau tunduk dan mengagumi

orang, namun terhadap Thian hong cap-si-long ini dia teramat kagum dan menghormatinya, setiap

kali menyinggung nama orang selalu dia memujinya sebagai orang gagah laksana gemlengan besi

baja.”

“Orang seperti itu memangnya ada hubungan apa dengan Lamkiong Ling? Kenapa Lamkiong

Ling meminjam namanya? … Apa Hujin tahu dimana dia sekarang?”

“Orang ini sudah meninggal sejak duapuluh tahun yang lalu.”

Siapa yang membunuhnya?

“Yang membunuhnya adalah Jin Jip.”

Tak terasa Coh Liu hiang tertegun, katanya tak mengerti: “Jin-lopangcu sedemikian hormat

dan mengaguminya kenapa pula membunuhnya?”

“Thian hong cap-silong menyebrangi lautan dan mendarat di Tionggoan maksudnya hendak

jajal kepandaian dengan tokoh-tokoh Bulim. Waktu itu belum lama Jin Jip memangku jabatan

Kaypang Pangcu, saat gemilang dan ketenarannya mencapai puncaknya, sudah tentu Thian hongcap-

si-long tidak sia-siakan kesempatan untuk bertanding sama dia, tidak lama setelah dia berada

di Tionggoan, langsung ia berkirim surat menantang kepada Jin Jip, dimana dijelaskan tanggal

waktu dan tempat pertandingan.”

“Thian hong-cap-si-long itu memang terlalu takabur, betapa besar negeri kita dan berapa

banyak tokoh-tokoh silat yang hebat kepandaian silatnya, seumpama harimau mendekam naga

menyembunyikan diri, masakah mengandal tenaganya seorang bisa malang melintang?”

“Setelah menerima surat tantangan Thian Hong-cap-si-long, demi nama baik Kaypang, sudah

tentu dia tidak menolak tantangannya, apalagi waktu itu disaat jaya-jayanya, dia memang ingin

juga berkenalan dengan pendekar pedang dari Tangni yang aneh dan luar biasa itu.”

Betapa hebat dan menakjubkan pertandingan kali itu tentulah menggetarkan bumi

menggoncangkan langit, sayang aku terlambat lahir duapuluh tahun, betapa menyenangkan bila

bisa menyaksikan pertandingan besar yang tiada taranya ini.”

“Kalau kau sudah lahir pada waktu itu, tentu kau akan kecewa, karena pertempuran itu tidak

seru dan tidak menakjubkan.”

Kenapa begitu? tanya Coh Liu-hiang melongo.

“Biasanya Jin Jip tidak mau mengagulkan diri, setelah menerima surat tantangan, kejadian ini

ia tidak siarkan kepada umum, sampai sekarang tokoh-tokoh Kangouw yang tahu akan peristiwa

inipun tak banyak. Orang yang mengiringi dia dalam pertandingan itu, cuma Sutauw Tianglo

seorang yang kini sudah meninggal, kecuali itu boleh dikata tiada orang ketiga yang tahu.”

“Dimana tempat pertandingan ditentukan?”

“Kabarnya tempat itu berada di Binglam, pada sebuah gunung yang tidak begitu terkenal

namanya, maksudnya supaya tidak menimbulkan perhatian sesama kaum persilatan.”

“Kalau demikian, Thian-hong-cap-si-long yang takabur itu, kiranya seorang yang tidak

mengejar nama, kalau tidak seumpama Jin lopangcu menutupi peristiwa itu, tentulah dia sendiri

akan menyiarkan peristiwa besar itu.”

“Di dalam surat tantangannya itu memang ada dijelaskan, bertanding demi mengukur

kepandaian silat bukan untuk mengejar nama, waktu Jin Jip dan Sutouw Tianglo tiba ditempat

yang ditentukan, Thian-hong-cap-si-long ternyata sudah menunggu disana, tanpa banyak kata,

segera ia turun tangan kepada Jin Jip.”

“Sepatah Katapun tidak bicara?” “Menurut cerita Jin Jip kepadaku, waktu ia tiba diatas gunung.

Thian-hong-cap-si long sedang duduk diatas batu besar itu, kedua tangannya menyoreng sebilah

pedang panjang yang sudah terlolos dari sarungnya, begitu melihat Jin Jip, segera ia bangkit dan

pasang kuda-kuda menurut ajaran tunggal ilmu pedang dari Tang-ni, mulutnya hanya berkata dua

patah saja” “Dua patah kata apa?” “Hanya berkata ‘marilah.’ lali dia tutup mulut, melihat orang

sedemikian angkuh, Jin Jip naik pitam, maka diapun malah buka suara.” “Apakah Jin-lopangcu

menggunakan senjata juga.” “Jin Jip bersenjata Bak-kau-pang, senjata tradisi dari leluhur para

Pangsu Kaypang yang terdahulu, belum sepuluh jurus mereka bertempur, Jin Jip sudah berhasil

memukul pedang panjang ditangan Thian-hong-cap-si long, tongkatnya telak mengenai badannya,

kontan Tahian hong-cap-si-long roboh dengan muntah darah.

Heran Coh-liu-hiang dibuatnya, teriaknya: “Thian hong cap si-long muluruk datang dati tempat

jauh,membekal kepandaian yang tiada taranya, masakan tidak begitu becus ilmu pedangnya?”

“Waktu itu Jin-Jip pun heran, belakangnya baru dia tahu, kiranya Jin Jip bukanlah orang

pertama yang pernah bertanding dengan Thian hong-cap si-long pada hari yang sama

sebelumnya dia sudah bertanding dengan orang lain lebih dulu,malah membekal luka dalam yang

amat perah: Jikalau dia mau buka suara tentu Jin Jip tidak sudi mengambil keuntungan ini, namun

dia justru bila dia katakan orang sangka dirinya jerih, maka dia hanya mengeluarkan kata

kata’marilah’, sepatah katapun tidak dia singgung tentang luka-luka dalamnya: Jin Jip kira orang

keliwat angkuh, tidak sudi banyak bicara dengan orang lain.

Luka-luka dalam yang dideritanya memang teramat parah ditambah sekali ketukan tongkat Jin

Jip didadanya lagi, manusia besipun takkan kuat bertahan hari itu juga dia menemui ajalnya,

sebelum ajal sepatah katapun ia tidak mau unjuk kelemahannya, diapun tidak salahkan Jin-jip,

cuma berkata bahwa dia bisa ajal dimedan laga tidak sia sialah perjalanannya ini.

Bergolak darah Coh-liu-hiang,katanya menengadah sambil menghela napas: “Sampai ajalnya

Thian-ong-cap si-long tidak mau unjuk kelemahan, tidak mau kehilangan kepercayaan akan

keyakinan diri sendiri, sudah tahu bahwa jiwanya bakal ajal namun dia tetap menghadapi

pertandingan secara jantan, memang tidak malu dan jarang sekali ditemui orang gagah seperti

gemblengan baja seperti itu.”

“Mungkin itulah semangat juang yang paling dibanggakan oleh para Busu di tangani sanai???

“Bagaimana jua orang seperti dia patut dipuji dan dibuat bangga,tidaklah heran dan puluh

tahun kemudian Ji-lopangcu masih sedemikian kagum dan mengenangnya.” “memang tanggung

jawab kematian Thian-hong-cap-si-long bukan lantaran Jin Jip,namun Jin Jip sendiri berkata bila

waktu itu dia sedikit perhatikan, pastilah bisa mengetahui luka-luka yang diderita oleh Thian-hongcap-

si-long.” “Siapakah orangnya yang sudah melukai berat Thian-hong-cap-si-long sebelum mati

ditangan Jin Lo Pangcu?”

“Selama ini Jin Jip tidak menyinggung orang itu.” “Tentulah orang itu pula seperti Jin-lopangcu,

seorang tokoh yang tidak suka menonjolkan nama, sehingga pertarungannya dengan Thian-hongcap-

si-long dulu sampai kini masih merupakan rahasia dan tiada orang yang tahu.” berhenti

sebentar Coh Liu-hiang meneruskan:

“Dengan kekuatan Lwekangnya orang memukul Thian-hong-cap-si-long sampai luka berat,

betapa tinggi kepandaian silatnya, dapatlah dibayangkan! Setelah terluka parah melawan orang ini

Thian-hong-cap-si-liong masih kuat memburu ketempat perjanjiannya dengan Jin Jip, tentulah

tempat dimana dia terluka parah itu masih termasuk dalam wilayah Bing-Lam, lalu, siapakah tokoh

tersembunyi?… Ah…, apakah… ?”

Mendadak Ciu-ling-siok menyela: “Kutebar cerita ini kepadamu, bukan tanpa alasan?” “Masih

ada alasan apa?” “Sebelum ajalnya Thian-hong-cap-si-liong berpesan sesuatu kepada Jin Jip, tapi

bagaimanapun dengan susah payah pernah kutanyakan kepada Jin Jip, namun dia selalu geleng

kepala dan tidak mau menerangkan.

“Kenapa Jin lopangcu begitu rapat merahasiakan hal itu?” “Hal itu akupun tidak tahu, tapi

belakangan dapatlah aku menerka-nerka sebagian.” “O ?”

“Setiap kali Jin Jip melihat Lamkiong Ling, selalu teringat kepada Thian-hong-cap-si-liong,

karena hal itu selalu dia menghela napas dan berdoa serta meneras diri, belakangan meski dia

sudah tahu Langkiong Ling mencelakai jiwanya tapi dia tetap bersikap alim dan tak mau

mengeluarkan kata-kata yang menyinggung Lamkiong Ling, selalu ia berkata, memang dialah

yang bersalah terhadap Lamkiong Ling, sampai dewasa, persoalan apa pula yang pernah dia

salah lakukan terhadap Lamkiong Ling?”

Sorot matanya seolah-olah terpancar keluar dari balik cadar hitamnya, dengan tajam ia

tatap,COh Liu-hiang, katanya tandas: “Maka kupikir pesan terakhir menjelang ajal Thian-hong-capsi-

liong, tentulah mengenai Lamkiong Ling, Jin Jip merasa berdosa terhadap Thian-hong-cap-siliong,

maka terhadap Lamkiong Ling ia mengalah dan memberi hati.” “Maksudmu bahwa

Lamkiong Ling adalah keturunan Thian-hong-cap-si-long?” “Ya, begitulah tentunya!”

Coh Liu-hiang berpikir sebentar, katanya bertepuk tangan: “Benar, Jin lopangcu tidak mau

memberi tahu persoalan itu, tentulah dia kuatir Lamkiong Ling mengetahui rahasia riwayat

hidupnya, sehingga timbul rasa dendam dan keinginan menuntut balas.

“terhitung kau bisa menyelami jerih payah Jin Jip, waktu itu dia sudah pandang Lamkiong Ling

sebagai anak kandungnya sendiri, sudah tentu ia harus merahasiakan bahwa dirinyalah yang

membunuh ayah kandungnya, selama hidupnya sepak terjangnya terang-terangan, namun toh dia

menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain, betapa derita batinnya, dapatlah

dibayangkan.”

Tapi bagaimanapun ia menyimpan rahasia ini yang mencelakai jiwanya toh tetap Lamkiong

ling juga. Duapuluh tahun yang lalu secara tidak sengaja dia melakukan kesalahannya itu, tak

nyana duapuluh tahun kemudian dia harus mempertaruhkan jiwa sendiri untuk menebus dosadosa

masa lalu.”

“Kalau Thian yang maha kuasa menghendaki dia memberikan imbalan dengan jiwanya, kukira

tidak adillah keputusan ini.”

“Tapi apa benar Lamkiong Ling mengetahui persoalan ini? Pembunuh misterius itu apakah

benar ada sangkut pautnya dengan Thian-hong-cap-si-liong? Kalau tidak dari mana dia

memperoleh pelajaran tunggal Jinsut dari Tang-ai?”

“Semua rahasia ini, menjadi tanggunganmu untuk membongkarnya satu persatu, segala

rahasia yang kuketahui sudah kuberikan kepadamu, sekarang boleh kau pergi”

Sorot mata Coh-liu-hiang balas menatap orang, katanya tiba-tiba: “Cayhe masih ingin mohon

sesuatu kepada Hujin.” “Masih ada persoalan apa?”

Entah sudikah Hujin membuka cadar penutup muka supaya Cayhe dapat menikmati wajah

Hujin yang rupawan?”

Lama Chiu Ling-siok tenggelam dalam renungannya, katanya rawan: “Apa benar kau ingin

melihat mukaku?”

“Bukan hanya satu dua hari saja Cayhe mempunyai keinginan ini.”

Hatinya amat ketarik, memang ingin dia menikmati wajah tercantik sejagat yang dipuja-puja

oleh kalayak ramai, kalau tidak mungkin dia akan menyesal seumur hidup.

“Dua puluh tahun mendatang,” kata Chiu Ling siok akhirnya, “Kau adalah orang kedua yang

pernah melihat mukaku.”

“Hanya dua orang yang bisa melihat wajah Hujin.” Coh Liu-hiang menegas dengan heran dan

tak mengerti.

Ya, hanya dua orang, kau dan Jin Jip…

Kenapa? Orang lain… mendadak Coh Liu-hiang melongo dan tak kuasa melanjutkan katakatanya,

selama hidupnya entah betapa banyak berbagai persoalan dan kejadian aneh yang

pernah dia alami, namun belum pernah terjadi sesuatu yang bisa bikin hatinya bergetar dan

terkesima.

Cadar hitam itu pelan-pelan tersingkap. Dalam hati Coh-Liu-hiang mengharap bisa menikmati

seraut wajah nan ayu rupawan laksana bidadari, siapa tahu setelah cadar hitam itu tertanggalkan,

seraut muka yang terpampang dihadapannya ternyata menyerupai wajah setan iblis yang paling

menakutkan.

Diatas mukanya itu, tidada secuil kulit dagingnyapun yang utuh mengkilap, selembar mukanya

tonjol-menonjol laksana permukaan kawah gunung yang sudah membeku berlobang-lobang besar

kecil, tiada panca indra tidak berbentuk, apapun tiada, yang ada hanya daging-daging merah

darah yang buruk dan menjijikan lobang-lobang yang merekah!

“Sekarang kau sudah puas belum?” tanya Chiu ling siok dengan pilu.

“Cayhe… sungguh Cayhe tidak habis mengerti…”

“Sekarang toh kau sudah tahu, kenapa hanya Jin Jip dan kau saja yang pernah melihat raut

wajahku, karena sejak lama mukaku ini sudah rusak, kupikir, tiada perempuan di dalam dunia ini

yang sudi mukanya dilihat orang dengan bentuk yang menakutkan seperti ini, benar tidak?” lagu

bicaranya ternyata sedemikian tenang dan dingin, namun mendengar kata-kata ini serasa ditusuk

sembilu ulu hati Coh Liu hiang.

Dia seorang yang pernah tunduk, tanpa sadar sekarang dia tertunduk, katanya tersekat:

“Cayhe memang patut mati, kenapa Cayhe harus paksa Hujin…”

“Kau tidak memaksa, aku sendiri rela memperlihatkan kepadamu.” kerlingan matanya masih

lembut dan bersinar terang, sepasang matanya yang menyorot terang ini, bukan saja tidak

memperlihatkan rasa haru, takut dan penyesalan malah menunjukkan sekulum senyuman manis.

Katanya lebih lanjut pelan-pelan: “Cuma sayang kau terlambat datang sehingga aku tidak bisa

memperlihatkan raut wajahku dua puluh tahun yang lalu kepada Maling kampiun, bagi kau

memang merupakan suatu yang mengecewakan, betapa akupun tak merasa kecewa?”

“Bagaimanapun perubahan raut wajahku Hujin keagungan Hujin masih tiada bandingan di

seluruh kolong langit, Cayhe bisa berhadapan dengan keagungan Hujin, sudah terhitung

beruntung dan bahagia selama hidup.”

“Kau tak usah menghibur aku, karena aku tidak sedih dan menderita, dua puluh tahun sejak

raut mukaku ini dirusak, belakangan ini baru aku betul-betul mengecap kehidupan bahagia nan

sejati, mengawasi segumpal mega yang terhembus angin pengununggan, ia berkata lebih tenang:

“Kadang kalau aku malah berterima kasih kepada orang yang menyebabkan raut mukaku rusak

ini, jika bukan dia masa aku bisa mengecap kehidupan bahagia dan tenang tenteram selama dua

puluh tahun ini”

“Entah siapakah orang yang setega itu?”

Chiu Ling-siok mengalihkan sorot matanya, dengan nanar ia tatap Coh Liu-hiang, katanya

kalem: “Pernahkah kau dengar nama Ciok Koan-im?”

“Ciok Koan-im?” jerit Coh Liu-hiang.

“Tentu kau pernah dengar nama itu, memangnya dia seorang perempuan yang berilmu silat

paling tinggi dan berjiwa sempit serta kejam tiada bandingannya di seluruh jagad ini, kini mungkin

dia terhitung perempuan tercantik di seluruh dunia!”

“Dia…ada dendam sakit hati apa dengan Hujin?”

“Tiada dendam sakit hati apa-apa, paling-paling dia hanya satu kali melihat aku”

“Lalu kenapa dia….”

Chiu Ling-siok menukas kata-katanya: “Dalam kabar yang tersiar di kalangan Kangouw, konon

dia mempunyai sebentuk kaca iblis, setiap hari ia selalu bertanya kepada kaca ini: “Siapakah

perempuan tercantik di seluruh jagad ini?”

“Apakah kaca itu selalu menjawab bahwa dia adalah perempuan tercantik di seluruh dunia?”

“Benar, sampai suatu ketika jawaban kaca iblis ini mendadak berubah, dia mengatakan

aku…katanyanya Chiu Ling-siok adalah perempuan tercantik di kolong langit, dan bencana yang

menimpaku dimulai sejak jawabannya itu”

Tentunya hal ini menyerupai dongeng belaka. Dongeng yang tidak menarik, namun

mengandung mistik yang tak bisa diterima oleh kesadaran manusia, tanpa terasa Coh Liu-hiang

sampai linglung mendengar ini, katanya sesaat kemudian dengan menghela napas: “Oleh karena

itu, maka dia lantas mencari Hujin?”

“Setelah ia berhadapan denganku, pernah memandangku tanpa berkedip selama dua jam.

Akhirnya mendadak ia bertanya: ‘Chiu Ling-siok, kau ingin aku membunuhmu atau kau sendiri

merusak raut wajahmu?'”

“Pertanyaan ini sungguh amat menggelikan”

“Tapi waktu itu sedikitpun aku tidak merasa geli, terasa kaki tanganku berkeringat dingin,

sepatah katapun tak kuasa bicara, dia mengawasiku sekian lamanya pula, tiba-tiba memutar

badannya dan berkata: “Tiga bulan lagi, aku akan kemari pula, saat itu jikalau kulihat mukamu

masih sama seperti sekarang ini, biar kubunuh kau” di atas meja dia meninggalkan sebuah botol

kecil serta berkata pula: “Kubiarkan kau pertahankan kecantikanmu selama tiga bulan lagi,

tentunya kau cukup tahu cara bagaimana menggunakan kesempatanmu!”

“Kalau dia sudah pergi, kenapa Hujin tidak?”

“Bila Ciok Koan-im sudah keluarkan kata-katanya hendak membunuh seseorang, tiada

seorangpun yang bisa lolos dari tangannya, dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan

kepandaian silatnya, waktu itu aku sendiripun belum ingin mati!”

“Masakah dalam dunia ini ada orang yang betul-betul ingin mati?”

Pelan-pelan Chiu Ling-siok pejamkan matanya, ujarnya: “Waktu itu aku masih muda, masih

amat berat meninggalkan kehidupan yang romantis ini, kupikir, meski aku tidak secantik ini lagi,

tapi masih tetap bisa hidup, toh jauh lebih baik dari mati” ia membuka mata seperti sedang

tertawa-tawa, katanya menyambung: “Kupikir pula, sedikitnya aku masih mempertahankan tiga

bulan kecantikanku, sudah tentu aku harus sayang dan menggunakan kesempatanku ini, lalu

dalam jangka tiga bulan ini, apa pula yang harus kulakukan?”

Tak tahan Coh Liu-hiang menimbrung: “Maka Hujin ingin meninggalkan kesan kecantikan itu di

dalam sanubari setiap insan yang pernah melihatmu, maka Hujin lantas menemui ahli gambar

yang paling terkenal pada jaman itu, Sun Hak-bok.”

Chiu Ling siok melengak, katanya: “Kau… kau sudah tahu semua?”

“Cayhe sudah pernah menemui Sun siansin!”

“Perbuatanku waktu itu memang terlalu kasar… malam dimana ia berhasil menyelesaikan

gambar lukisan diriku, batas waktu tiga bulanpun sudah tiba, Ciok koan im bisanya paling

menepati janji dan waktu.”

“Maka pada malam itu juga Hujin merusak roman muka sendiri?”

Botol kecil peninggalan Ciok koan im itu berisi obat balur yang bisa membakar kulit jauh lebih

panas dari bara api, sampai disini lagu suaranya yang tenang kembali bergetar dan haru pula.

“Karena tidak ingin Sun siangsing melihat roman muka Hujin yang telah rusak setelah siuman

maka…”

“Waktu aku meloloskan cairan obat itu kemukaku, aku sudah kehilangan kesadaran kalau tidak

mau dikata sudah gila maka… oleh karena itu baru bisa aku melakukan perbuatan yang terkutuk

itu, aku… aku…” mendadak ia menutup muka dengan kedua tangan sendiri, tak bicara lagi.

Coh liu hiang menghela napas panjang, ujarnya: “Sampai sekarang baru Cayhe tahu kenapa

hujin berbuat sedemikian kejam terhadap Sun siangsing, kenapa pula harus membikin empat

gambar lukisan dulu aku masih kabur dan tak tahu serta salah menebak akan maksud tujuan

Hujin.”

“Peduli apapun maksud tujuanmu, aku melakukan serendah itu, kau tak pantas memaafkan

aku, benar tidak?”

Sesaat lamanya Coh Liu hiang terbungkam katanya kemudian dengan suara haru: “Cayhe

hanya tahu Jin hujin yang sekarang adalah perempuan yang paling lembut welas asih dan bajik

soal bagaimana sepak terjang Chiu Ling siok yang dulu bukan saja Cayhe tidak tahu juga tidak

akan ambil perhatian.”

Chiu Ling siok juga berdiam lama katanya kemudian: “Dalam dua puluh tahun ini, memang

sudah banyak perubahanku, sudah tentu kaupun bisa menerka siapa yang membuatku berubah”

“Jin lopangcu!”

Tidak menjawab Chiu Ling siok melah berkata: “Dalam keadaan gila aku mengorek keluar

kedua biji mata Sun Hak bok, aku sendiripun lantas jatuh pingsan, waktu aku siuman kembali,

seluruh kepalaku sudah diperban, selanjutnya aku hidup dalam kegelapan selama beberapa

bulan, waktu itu sungguh tak tahu, aku betapa aku harus berterima kasih kepada Siok sin Taysu,

jikalau bukan rawatannya dengan telaten mana aku hidup sampai sekarang?” nada suaranya

semakin tenang. katanya lebih lanjut: “Tapi disaat aku melihat sinar matahari, baru aku tahu orang

yang selalu mendampingiku, ternyata bukan Siok sim namun Jin jip”

“Oleh karena itu rasa terima kasih dan utang budi Hujin lantas ditujukan kepada Jin

Lopangcu?”

“Waktu itu bukan saja aku tidak merasa terima kasih, atau utang budi, malah aku amat

membencinya.”

“Membencinya?”

“Waktu aku berhadapan dengan jin jip kulihat pula raut mukaku, setelah menyaksikan raut

mukaku ini, baru sadar aku takkan bisa hidup lebih lama lagi, aku sudah kehilangan kecantikan

mukaku, berarti kehilangan jiwa ragaku pula.” meghela napas ia meneruskan:

“Waktu itu bukan saja teramat sedih, hatikupun amat marah lebih benci pula kenapa Jin jip

justru menemui aku pada saat seperti itu, kembali gilaku kumat, kontan aku mengusinya pergi”.

“Keadaan Hujin waktu itu, sedikit banyak Cayhe bisa merasakan dan memahaminya”

“Kalau begitu kaupun harus tahu, manusia seperti jin jip kau hajar diapun takkan gampang

mengusirnya pergi, hari kedua pagi-pagi, dia datang pula, aku megusirnya lagi”.

“Tapi hari ketiga dia tetap datang pula”

“Setiap hari datang, setiap hari kuusir dia. Kugunakan kata-kata paling kotor paling rendah

untuk memakinya, malah menghajarnya pula, tapi setiap pagi dia tetap mengunjungi aku.”

Pelan-pelan ia mengelus gentong dipelukannya, meskipun itu merupakan sebuah gentong

kecil yang dingin, lagi seakan-akan membawa hawa hangat yang tak terbatas yang menghibur

hatinya.

“Kau tahu” demikian ia melanjutkan pula. “Waktu itu dia sudah sebagai Kaypang Pangcu,

sebetulnya tak perlu terhadap perempuan yang buruk rupa dan kotor seperti aku ini dia bersikap

begitu rupa, sekarang kau melihat mukaku tentu, kaupun bisa merasakan, kecuali Jin jip, kukira

tiada laki-laki dalam dunia ini yang sudi terima dihina dan direndahkan. Kecuali aku ini orang yang

betul-betul sudah ayal, kalau tidak mana bisa hatiku tak terharu dan iba terhadap sikapnya ini?”

“Itulah karena yang dicintai Jin lopangcu bukan kecantikanmu yang sudah hilang itu, adalah

jiwa dan sukma Hujin, diakan tahu meski raut muka Hujin sudah berubah, jiwa dan sukmapun

takkan berubah!”

“Sayang dimasa hidupnya Jin jip tidak kenal kepada kau, kalau tidak, pasti dia akan jadi

sahabat karibmu… cuma pengertianmu terhadapnya sih belum cukup, terkaanmu tetap salah

terhadap dia.”

“Oh? Salah?”

“Sebelum peristiwa itu terjadi, hanya dua kali aku pernah berhadapan dengan Jin jip cara

bagaimana dia bisa begitu kepincut terhadapku? Apalagi, yang kelihatan cantik waktu itu hanyalah

ragaku, sukma atau jiwaku justru teramat buruk dan kotor.”

“Ada kalanya seseorang bisa juga jatuh cinta pada penglihatan pertama, mencintainya sampai

ketulang sumsumnya”

Agaknya Chiu Ling siok tertawa mendengar kata-kata ini, ujarnya: “Bagaimanapun, itu bukan

sebab yang utama, sebab yang utama adalah karena dia ikut merasakan betapa besar derita

seorang perempuan setelah dia kehilangan kecantikannya, diapun tahu hanyalah rasa iba dan

kasih sayang yang dapat meringankan beban penderitaan ini, maka dia berkeputusan

mengorbankan diri sendiri, untuk mendampingi aku menghiburku seumur hidup!” kepalanya

menengadah, katanya pula: “Sudah kukatakan, dia adalah orang yang paling bajik diseluruh

kolong langit ini.”

Bersambung ke Jilid 10

Jilid 10

“Bagaimanapun, tidak bisa dikatakan dia mengorbankan diri sendiri.” ujar Coh Liu-hiang.

“meski dia tidak mempersunting perempuan tercantik di dunia, namun dia memperoleh

kehalusannya, keagungannya, serta isteri yang setia.”

“Terima kasih, terima kasih, akan kata-katamu ini” kata Chiu Ling-siok lembut. “Selamanya kau

tidak akan mengerti setelah mendengar kata-katamu ini betapa riang gembira hatiku ini.”

“Cayhe malah harus berterima kasih kepada Hujin, yang telah memberi tahu kejadian masa

lalu, selama hidup Cayhe, selamanya takkan bisa mendengar cinta asmara yang sedemikian suci

murni dan mengasyikan.”

“Tahukah kau, kecuali Jin Jip, bukan saja kau orang kedua yang pernah melihat mukaku ini,

kau pula laki-laki satu-satunya yang amat kukasihi, aku amat berterima kasih!” tatapannya

semakin lembut dan semakin hangat.

Dengan penuh kasih sayang ia mengelus gentong kecil, perlahan-lahan lalu melanjutkan katakatanya:

“Hanyalah karena Jin Jip meskipun dia memberikan kehidupan bahagia dan tentram

selama duapuluh tahun, namun hanya Kau saja yang bisa memberikan ketenangan hati dan

keteguhan iman untuk menghadapi kematianku”.

“Mati?” Coh Liu-hiang tersentak kaget.

“Setelah Jin Jip meninggal, tujuan hidupku hanyalah untuk membongkar rahasia pribadi dari

kejahatan Lamkiong Ling, sekarang cita-citaku sudah tercapai, kau kira aku masih bisa tetap

hidup?”

Perjalanan cukup jauh dan lama, waktu telah tiba, di Kilam hati Coh Liu-hiang masih dirundung

kesedihan. Dengan mendelong ia mengawasi badan Jin-hujin melayang-layang jatuh ditelan mega

kedalam jurang yang tak terukur dalamnya, sedikitpun ia tidak mampu menolong atau berbuat

apa-apa. Walaupun dia melihat dengan jelas, sorot mata Jin-hujin menjelang ajal adalah

sedemikian tenang, sedikitpun tidak memperlihatkan tekanan derita, meski diapun tahu, kematian

bagi jiwa Jin-hujin yang sudah rapuk, tidak lebih hanyalah istirahat yang abadi, tapi dia masih

merasa amat pilu dan sedih, sungguh bukan kepalang rasa marah dan gusarnya. Dia bersumpah,

dia harus menemukan Lamkiong Ling. Hampir dia segera hendak meluruk kepada Lamkiong Ling.

Malam sudah larut, tapi didalam Hiang-tong pihak Kaypang di Kilam, cahaya lilin masih

terpasang terang-benderang seperti tengah hari bolong.

Setiba di Kilam sebetulnya tidak terpikir oleh Coh Liu-hiang untuk segera menemui Lamkiong

Ling, maka dia hanya menemukan seorang murid Kaypang serta menanyakan dimana Lamkiong

Ling sekarang berada.

Di bawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, diatas kursi cendana yang besar itu

bagai patung duduk seseorang dengan gagahnya dia bukan lain adalah Lamkiong Ling.

Tangannya sedang menopang dagu, duduk disana, seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat

berat mengganjal hatinya, seolah-olah pula Sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapakah

yang dia tunggu?

Dari wuwungan rumah yang di luar sana Coh Liu-hiang sudah melihat dirinya, Pek giok mo,

pasti sudah pulang lebih dulu, tentunya diapun sudah tahu Seorang diri Coh Liu-hiang sudah

berhadapan langsung dengan Chiu Ling siok dan bicara.

Lalu, kenapa dia tidak segera menyingkir? Kenapa masih tetap duduk disana? Apakah ini

merupakan sebuah jebakan? Di dalam pekarangan yang luas itu, sudah terpendam tenaga

pembunuh yang tak terhitung banyaknya, tanpa segan-segan. Lamkiong Ling menjadikan dirinya

umpan untuk memancing kedatangan Coh Liu-hiang?

Tapi pekarangan sedemikian sunyi senyap tak kelihatan bayangan manusia, tak terlihat

adanya jebakan dan hawa angker, lantai batu hijau mengkilap ditingkah sinar bintang laksana

kaca.

Lamkiong Ling mendadak menengadah, serunya sambil tersenyum: “Apa Coh-heng sudah

tiba? Sudah lama siaute menunggu disini?”

Rada kaget Coh Liu-hiang dibuatnya, terdengar Lamkiong Ling berkata pula: “Coh-heng tak

usah kutlir, hanya Siaute seorang yang berada disini, tiada jebakan atau perangkap segala”.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Sudah tentu disini tiada perangkap apa-apa, sudah

tentu aku cukup lega hati, urusan seperti ini tentunya kau tidak suka bikin kejut lain orang sudah

tentu tahu lebih baik persoalan ini diselesaikan diantara kami berdua saja, ditengah kumandang

kata-katanya, badannya sudah melayang masuk keluar pendepo dengan pandangan berkilat ia

tatap Lamkiong-Ling.

Lamkiong Ling-pun balas menatapnya sorot matanya setajam pisau sebuah mata serigala

setajam mata burung elang pula. Lama Sekali baru Lamkioug Ling menarik napas, katanya: “Kau

sudah tahu, bukan?”.

Coh Liu-hiang mangut-mangut ujarnya ; “Kaupun sudah tahu bahwa aku sudah tahu, benar

tidak?”.

Lamkiong-Ling mangut-mangut pula katanya : “Tapi Siaute masih belum menyingkir, masih

menunggu disini, tentunya Coh-heng merasa heran bukan?”

“Kau tidak menyingkir, karena kau tahu, kau takkan bisa menyingkir, kemanapun!”

“Aku tidak menyingkir lantaran aku memang tidak mau menyingkir kalau tidak betapa besar

dunia ini, kemana saja aku tidak bisa pergi”

Coh Liu-hiang menarik kursi lalu duduk, katanya: “kalau kau pergi, kau harus meninggalkan

segala milikmu, terumbang-ambing dalam hidup pembuangan diri. Tapi jikalau dipaksa untuk

meninggalkan ketenaran nama dan kekuasaan yang kau pegang sekarang, tentulah jauh lebih

menderita daripada kau menghadapi kematian”.

Lamkiong Ling terbahak-bahak, serunya: “Coh-heng betul-betul seorang sahabatku yang

paling karib, kau tahu segala isi hati dan cita citaku,” mendadak ia tarik senyum-tawanya,

bentaknya bengis: “Kalau toh begitu mendalam pengertianmu akan pribadiku”, tentunya kau tahu

sampai matipun aku tidak akan sudi membuang segala itu, sesuatu yang kudapat atas jerih

payahku dengan memeras keringat dan darah, tiada seorangpun yang kuasa memaksaku untuk

meninggalkanya demikian saja”.

“Tidak bisa tidak kau harus membuangnya!”

Lamkiong Ling berjingkrak bangun, hardiknya beringas: “Kenapa tidak bisa tidak aku harus

membuangnya? Meskipun aku sudah membunuh Jin Jip, tidak lebih karena aku harus menuntut

balas bagi kematian ayahku! Dendam orang tua sedalam lautan, siapa manusia dalam Kangouw

yang berani mencercah perbuatanku?”

“Jadi kau sudah tahu rahasia tentang pribadimu sendiri?”

“Jin Jip sangka dia bisa merahasiakan ter?hadapku, apa kaupun menyangka bisa mengelabui

diriku?”

Panjang Coh Liu hiang menghela napas, katanya kalem: “Seandainya perbuatanmu itu hanya

untuk menuntut balas kematian ayahmu seumpama tiada orang-orang Kangouw yang

mengganggu usik dirimu, tapi murid-murid Kaypang, jikalau mereka tahu kau membunuh Jin Jip,

apakah mereka masih berdiam diri dan membiarkan kau tetap menjadi Pangcu mereka?”

Bergetar badan Lamkiong Ling, tiba-tiba badannya meloso tertunduk pula diatas kursinya,

kata-kata Coh Liu-hiang laksana sebilah pisau menusuk telak keulu hatinya.

Seperti mendadak jauh lebih tua, kepalanya tertunduk, katanya rawan; “Coh Liu-hiang! Coh

Liu-hiang! Kenapa kau menyudutkan diriku demikian rupa? Sebetulnya sedikitpun aku tidak ingin

melukai kau, kau……., kenapa kau suka turut campur urusan orang lain?”

Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya tertawa kecut: “Mungkin karena sejak dilahirkan

aku sudah dibekali pembawaan suka mencampuri urusan orang lain”.

Sejak pertama kali aku melihatmu, lantas aku berpendapat kau boleh kuangkat sebagai

temanku seumur hidup, kau….. masihkah kau ingat pertama kali kami bertemu ditempat mana?”.

“Dikaki Thaysan, waktu itu bukan saja

Kiloh-su-hiong berhasil merampok barang kawalan Siang-gi-piaukiok dari Kim-leng, malah putri

dari Cong piauthau Sa Thiangi pun diculiknya. Setelah mendengar kabar buruk ini tak terkendali

timbul sifatku suka mencampuri urusan orang lain, tepat aku menyusul ke Thay san, tak kira kau

tiba lebih dulu ditempai itu.

Sorot matanya yang tajam berkilat lambat laun menjadi tenang dan kalem, katanya pelan:

“Waktu aku tiba disana, seorang diri dengan mengandal sepasang tapak tangan besimu, kau

sudah bikin Ki-loh-su hiong terluka parah. Melihat kepandaian silatmu yang luar biasa, masih

berusia muda dan gagah pula, aku jadi ketarik kepadamu. Waktu itu bila ada orang bertanya

kepadaku, siapakah Enghiong muda nomor satu diselurub jagat ini, tanpa sangsi aku pasti akan

mengatakan kepada mereka. Lamkiong Ling itulah orangnya.”

“Sejak pertemuan itu,kau dan aku lantas jadi sahabat karib”, ujar Lamkiong Ling tertawa riang:”

Setiap aku punya waktu senggang pasti aku bertamu ke atas kapalmu untuk foya-foya dua hari,

masih ingat tidak waktu aku gambarkan Soh yong-yong……”.

“Waktu itu adalah hari-hari terlama sejak kami berkumpul dalam lima hari, kami berdua

menenggak habis seluruh arak simpanan di dalam kapalku. Pernah satu kali, karena mabuk aku

terjun kedalam laut hendak menangkap rembulan, ternyata kaupun ikut terjun ke air hendak bantu

aku, rembulan akhirnya tak berhasil kami tangkap diluar dugaan kami sama-sama menangkap

seekor kura-kura laut yang amat besar”.

Kura-kura itu merupakan hidangan paling lezat yang pernah kunikmati selama hidup, kau dan

aku berlomba siapa yang makan lebih banyak kura-kura sebesar itu ternyata dapat kami habiskan

dalam sehari, tapi karena itu perut kita berontak dan sakit dua hari.

Kedua orang tertawa gembira berpandangan seperti sudah melupakan ganjalan hati diantara

mereka Tapi entah kenapa, lama kelamaan gelak tawa semakin lirih dan akhirnya sirap.

Coh Liu-hiang menggumam; “Kehidupan beberapa hari ini sungguh nikmat dan

menyenangkan, ada kalanya aku merasa heran, kenapa kehidupan gembira selalu terasa begitu

pendek”.

“Asal kau tidak rusak hubungan baik ini, kami tetap masih bisa menikmati kehidupan yang jauh

tebih menyenangkan, asal kau tidak buka mulut, dan orang lainpun tidak akan yang tahu”.

Lama Coh Liu-hiang menepekur, lama sekali ia berpikir, akhirnya berkata sambil menghela

napas: “Jikalau mau berkata ada sesuatu yang dapat menggerakkan hati Coh Liu-hiang, itulah

persahabatan yang kental!”

“Kau . . . kau mau tutup mulut?”

“Aku tidak akan mengatakan…….”

“Sahabat …… memang aku tahu Coh Liu-hiang memang sahabat kental Lamkiong Ling”.

“Aku tidak akan katakan, tapi kau harus terima dua syaratku!”.

Lamkiong Ling melengak, ..tanyanya: “Dua syarat apa?”

“Walau kau harus menuntut balas terhadap kematian ayahmu, tindakanmu tidak semestinya

begitu kejam, tidak pantas pula kau mencelakai jiwa beberapa orang yang tak berdosa aku harap

sementara kau meletakkan jabatan Pancumu, pergilah cari suatu tempat menyekap diri dan

renungkan segala kesalahanmu selama ini. Kau…. masih muda, kelak masih bisa bekerja mulai

dari permulaan, mengandal bakat dan kecerdikanmu, kelak tentu banyak yang bisa kau hasilkan”.

Membesi muka Lamkiong Ling, katanya dengan tertawa menengadah: “Coh Liu-hiang,

sahabat baikku! Terhitung tidak kau katakan hendak membunuhku, dan sebaliknya kau suruh aku

bekerja dari permulaan, kelak kapan? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun …” mendadak ia

berjingkrak bangun, sekujur badannya gemetar keras, katanya serak: “selama hidup seseorang,

punya berapa kali dua puluh tahun? Kenapa kau harus paksa aku mengorbankan! saat-saat

terindah selama hidup jiwaku ini? kenapa tidak cekak aos saja kau katakan hendak

membunuhku?”

“Aku hanya ingin kau bertobat dan menebus dosa akan semua perbuatanmu, hanya ingin kau

merubah tata hidup dan menyesal diri, aku tidak ingin kau mati. Ketahuilah, mati, bukan cara

terbaik untuk menebus dosa seseorang”.

“Lalu apa pula syaratmu yang kedua? Ingin pula aku mendengarkan”.

“Aku hanya ingin tahu dan sukalah kau memberi tahu kepadaku, siapakah sebetulnya si “dia”

itu?”.

“Dia?” Lamkiong Ling menegas dengan mengerut alis.

“Ya. dia yang membunuh Thian-eng-cu dan Song Kang, dia adalah orang yang menyaru jadi

Thian-hong-cap-si-long, orang yang hendak mencabut nyawaku, dia pula orangnya yang mencuri

Thian-it sin-cai dari Sin-cui kiong itu”.

Seperti kena setrum kuat badan Lamkiong Ling bergetar hebat, seketika ia terkesima dan

melongo,

“Jelas kau sudah tahu, perbuatannya itu. tentu bukan hanya ingin membunuh Jin Jip saja, dia

pasti banyak mempunyai rencana jahat lainnya, sekali-kali aku tidak bisa berpeluk tangan

menyaksikan rencana jahat kalian terlaksana, aku harus merintanginya”.

Lamkiong Ling kertak gigi, katanya sepatah demi sepatah: “Selamanya kau takkan bisa

merintangi dia, tiada seorangpun dalam dunia ini yang mampu menghalangi maksudnya!”

“Sampai detik ini, kenapa kau masih merahasiakan dirinya? Tahukah kau, kematian Jin Jip

tidak lebih hanyalah salah satu petilan dari rencana jahatnya, kau tidak lebih hanya diperalat untuk

membunuh Jin Jip saja bila tiba waktunya dimana dia pandang perlu, jiwamu sendiripun bakal dia

bunuh juga.

Mendadak Lamkiong Ling terkial-kial menggila lagi, serunya: “Dia memperalat aku? Diapun

bisa membunuh aku?…. tahukah kau siapa dia?”

“Justru aku tidak tahu siapa dia, maka kutanya kau”.

“Sangkamu aku sudi mengatakan kepada kau?”

“Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Sebetulnya akupun tidak ingin melukai kau, kenapa kaupun

ingin mendesakku?”

“Kaulah yang memaksaku bukan aku memaksamu walau aku tidak ingin melukai kau kalau

sudah terpaksa, apa boleh buat aku harus turun tangan terhadapmu”.

“Kau pasti takkan bisa turun tangan karena ilmu silatmu terang bukan tandinganku”.

“Apa benar?” jengek Lamkiong Ling, kelihatannya badannya tidak bergerak, namun tahu-tahu

tubuhnya melesat terbang lempang dari atas kursinya, demikian pula Coh Liu-hiaug tidak pernah

bergeming, tapi badannya pun ikut mencelat terbang.

Tapi setiba di tengah udara Coh Liu-hiang masih bergaya orang duduk, kursi kayu cendana

yang besar berat itu, seolah olah lengket dengan kulit badannya. Keduanya beradu ditengah

udara, terdengar dua tapak tangan saling beradu keras, beruntun sempat tujuh kali, dalam tempo

sedemikian pendek dan secepat kilat keduanya sudah adu pukulan tujuh kali. Tujuh pukulan

kemudian, bayangan keduanya terpental balik pula kearah datangnya masing masing.

Membawa kursinya dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Coh Liu-hiang

meluncur balik ketempatnya, persis ditempatnya semula tanpa tergeser sedikitpun, sedemikian

berat dan keras kursi cendana itu, namun tidak menimbulkan suara apapun beradu dengan lantai

batu hijau.

Sebaliknya Lamkiong-Ling jumpalitan balik dan meluncur pula keatas kursinya, namum dia

buat kursi cendana yang berat itu terkeresek mengeluarkan suara, roman mukanya pun berubah

pucat dan bengis.

Walau keduanya tidak menderita luka-luka namun tak dapat disangkal sudah menunjukkan

perbedaan tingkat kepandaian silat mereka. Meski pendek gebrak pertarungan adu ke pandaian

ini, jelas akibatnya bakal merupakan ketentuan situasi Bulan mas mendatang. Kelihatannya

gebrak sekali ini sedemikian enteng dan singkat saja, namun betapa penting arti pertarungan ini

tidaklah lebih genting dan gawat dari suatu pertempuran mati hidup yang pernah terjadi pada

mana lalu.

“Lamkiong Ling! Masakah kau masih ingin paksa aku turun tangan terhadapmu?”

Dari merah berubah hijau dan memuncat pula rona wajah Lamkiong Ling, sikapnya kelihatan

sedih dan harus dikasihani, katanya menghela napas dengan menengadah: “Lamkiong Ling!

Lamkiong Ling! Kau berlatih menggembleng diri selama duapuluh tahun, ternyata tak mampu

menghadapi gebrakan serangan musuh?” mendadak ia melompat bangun, bentaknya keras: “Coh

Liu-hiang, jangan kau takabur, kalau Lamkiong Liong hari ini berani menunggumu disini, masakah

aku tidak punya cara lain untuk menundukkan kau?” ditengah hardikannya sambil mcngulupkan

tangan, tahu-tenu seorang laki-laki tinggi besar delapan kaki, dengan telanjang dada dan kepala

pelontos gundul seperti kingkong beranjak keluar sambil menjinjing sebuah kursi tinggi diatas

pundaknya.

Dibawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, tampak jelas diatas kursi itu duduk

pula seseorang, raut mukanya pucat pias, sepasang biji matanya yang indah tertuju kosong

lempang kedepan.

Berubah pucat muka Coh Liu-hiang teriaknya tersirap: “Yong ji, kau…. bagaimana kau bisa

berada disini?” Soh Yong-yong seperti tidak mendengar pertanyaannya. Ia duduk lemas tanpa

bergerak.

Lamkiong Ling tertawa dingin, ejeknya: “sudah tentu akulah yang mengundang kemari, kecuali

aku siapa yang mampu mengundangnya kemari?”

“Peristiwa di Hong-ih-ting, dipinggir Toa-bing-ouw, keempat laki-laki jubah hijau itu jadi orangorang

utusanmu?”

“Ya, tidak salah !” Lamkiong Ling mengakui.

“Darimana kau bisa tahu dia berada disana?”

“Bulan purnamu di Toa bing-ouw, janji pertemuan menjelang magrib! Kalau Bu Hoa sudah

memberi ingat kepada aku, sudah tentu aku harus menengok sendiri, kulau aku dulu pernah

menggambar lukisannya, karena aku tidak bisa mengenalnya?”

“Kau kuatir dia berhasil mencari tahu seluk rahasia pihak Sin-cui-kiong, maka kau suruh anakanak

buahmu turun tangan jahat, tapi kalau toh kalian sudah turun tangan serapi itu dari mana

pula dia bisa tahu bila dia belum ajal?”

Limkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Aku tahu pemuda baju hitam itu ada menyaksikan dari

kejauhan, sengaja kubiarkan dia untuk membawa kabar kepadamu, tapi waktu kau kemari

sedikitpun tidak menunjukan kesedihan hati, dari sini dapatlah kusimpulkan bahwa Soh Yong-yong

hakekatnya, belum mati! Oleh karena itu kau pura-pura masuk WC, terus melarikan diri, aku tidak

mengejar kau, malah mengejar dia! Memang sukar mengejar kau lebih gampang meringkus dia!”

“Sebaliknya dia sedikitpun tidak menaruh curiga terhadap kau, kalau tidak mana mungkin bisa

terjatuh ketanganmu?”

“Memangnya dia pernah mencurigai sahabat karib Coh Liu-hiang”.

Tiba-tiba Coh Liu-hiang seperti teringat sesuatu, bentaknya keras: “Tidak benar! Waktu

keempat laki jubah hijau turun tangan kepadanya, kau sedang menemani aku menemui Jin-hujin,

terang kejadian itu ada orang lain yang merencanakan, siapa dia? Darimana pula dia bisa kenal

dengan Yong ji?”

Berubah pula air muka Lamkiong Ling bentaknya bengis: “Kalau aku sudah keluarkan

perintahku, memangnya aku sendiri harus hadir disana?” tanpa menunggu Coh Liu-hiang bica?ra

kembali ia membentak: “turunkan dia?”

Laki-laki besar seperti kingkong melempangkan kedua tangannya didepan dada, pelan-pelan

ia turunkan kursi yang dipanggulnya tadi.

“Kenapa tidak kau pertotonkan kekuatan kedua tanganmu itu?” kata Lamkiong Ling kepada

manusia Kingkong itu.

Laki-laki besar itu membuka lebar mulutnya yang bertaring besar menyeringai lucu, kedua

tapak tangan segede kilas itu peran-pelan terulur kedepan meraih sebuah kursi, pelan-pelan pula

kedua tangannya terangkap mundur dan sedikit gencet, “pletak” kursi kayu cendana yang berat

dan besar itu kena digencetnya hancur berkeping-keping.

Lamkiong Ling tertawa besar, serunya: “Bagus sekali! Sekarang letakkan kedua tapak

tanganmu diatas kepala nona cilik itu, Cuma kau harus hati-hati sedikit, jangan kau gencet

kepalanya sampai pendang” betul juga pelan-pelan tangan sebesar itu cukup memegang kepala

Soh Yong-yong lalu sedikit ditarik ke atas.

Menuding Coh Liu-hiang, berkata Lamkiong Ling kepada manusia kingkong itu; “Sekarang

pentang lebar matamu, pandang seluruh badannya, asal jarinya saja bergerak, lekas kau gencet

remuk batok kepala nona itu”.

Laki-laki Kingkong itu ternyata terolok-olok senang, seperti mendapat suatu mainan yang

menarik hatinya, sebaliknya Coh Lau-hiang merasa kaki tangan berkeringat dingin katanya sambil

menengadah: Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Tak nyana kau tega melakukan pebuatan serendah

hina dina seperti ini

Kau…. tindakanmu ini sungguh membuat hatiku kecewa”.

Lamkiong Ling melengos, katanya serak: “Sebetulnya aku tidak ingin berbuat begini tapi

kenapa harus mendesakku begini rupa?”

“Sekarang, kau…. apa keinginanmu yang sebenarnya?”

“Aku hanya ingin kau tahu Soh Yong-yong sudah terjatuh ditanganku, kalau kau masih ingin

dia tetap hidup, maka jangan sekali-kali ikut campur mengurusi persoalan pribadiku!”

Lama Coh Liu-hiang berpikir, katanya kemudian: “Jikalau aku tidak hiraukan jiwanya, tetapi

mencampuri urusanmu, bagaimana?”

Lamkiong Ling bepaling, sahutnya tertawa: “Aku yakin benar, Coh Liu-hiang bukan laki-laki

yang suka berbuat senekad itu”.

“Kalau demikian, kau…. maksudmu kau hendak menahan Soh Yong-yong selamanya

ditempatmu ini?”

“Peduli dimana saja, pasti akan kuusahakan supaya kau tahu bahwa dia masih tetap hidup,

kukira keputusan ini jauh lebih baik dari kematiannya, benar tidak?”

“Tapi akupun masih tetap hidup, sehari aku masih bernyawa, jangan harap kalian bisa berlega

hati. Seandainya sekarang aku menyetujui saranmu ini, kalian toh tetap akan berusaha

menamatkan jiwaku, benar tidak?”

Lambat-lambat Lamkiong Ling menarik muka, katanya sepatah demi sepatah: “Itulah

persoalan lain, mati hidupmu tiada hubungannya dengan mati hidupnya, jikalau kau masih ingin

dia tetap hidup, sekarang juga harus tunduk akan perkataanku”.

“Setelah aku mati, kaupun membunuhnya juga”.

“Kalau kau sudah mampus, mati atau hidup masih ada hubungan apa dia dengan kau, tetapi

jikalau kau masih hidup tentu takkan tega melihat kematiannya lantaran kau ya?”

“Kukira imbalan syaratmu ini terlalu tidak adil!”

“Sampai detik ini, kau masih bermimpi memperoleh imbalan syarat yang adil?” seru Lamkiong

Ling terbahak-bahak. Palagi, sebelum kau mampus, kau kan masih punya kesempatan bisa

menolongnya keluar dengan selamat”.

Dengan nanar Coh Liu-hiang mengawasi ke arah muka Soh Yong-yong, tanpa sadar ujung

jarinya mulai gemetar. Jikalau ada orang bilang ternyata Coh Liu-hiang bisa juga gemetar mungkin

tiada orang dalam kolong langit ini yang mau percaya.

“Coh Liu-hiang!” seru Lamkiong Ling tertawa besar. Sebenarnya aku cukup memahamimu

sampai ketulang-tulangmu, aku tahu kau harus tunduk kepadaku, sekarang tiada pilihan lain lagi

bagi kau!”

Ujung mata Coh Liu-hiang seperti mengerling sekilas kepadanya, lalu berkata dengan

menghela napas lebih dulu: “Lamkiong Ling, kalau kau sudah bikin aku kecewa mungkin suatu

ketika akupun bisa bikin kau teramat kecewa terhadapku”.

Ketika itu mendadak terdengar suara samberan: “serrr”, selarik bayangan hitam membawa

deru angin kencang, bagai ular jahat tahu-tahu membelit kencang keleher laki-laki kingkong itu.

Dengan menjerit marah laki-laki Kingkong itu angkat kedua tangannya, baru saja tangannya

terangkat, seenteng asap secepat kilat tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah berkelebat kesana dan

menyambar Soh Yong-yong seperti elang menyambar anak ayam kedepan sana.

Saking kagetnya, Lamkiong Ling hendak ikut menubruk maju, tetapi selarik sinar pedang yang

tajam berhawa dingin tahu-tahu laksana bianglala meluncur tiba menghadang didepannya.

Coh Liu-hiang membawa Soh Yong-yong kepojok pendopo sana baru sempat menghela napas

lega, gumannya tertawa: “Hek tin-cu, It giam-ang, aku kenalan dengan kalian sungguh nasibku

menjadi baik”.

Cambuk ditangan Hek tin-cu sudah ditariknya sekencang gendewa, dengan kedua tangannya

ia menarik setakar tenaganya, seperti kawanan nelayan di sungai Tiang Kang yang menarik

perahunya menanjak air diselat-selat yang berbahaya, badannya hampir rebah sejajar dengan

lantai, jari-jari tangan dan lengannya yang halus sudah menghijau hitam dan merongkol obatobatnya.

Walau dia sudah kerahkan setakar kekuatannya menarik, laki-laki Kingkong itu ternyata

tidak bisa ditarik roboh, ujung cambuknya boleh dikata sudah menjerat kencang masuk kedalam

kulit dagingnya, sampai kedua biji matanya yang besar itu mencorot keluar seperti mata ikan mas.

Tapi sedikitpun ia tidak bergeming ditempatnya, bukan saja tidak ulur tangan mengendor jeratan

ujung cambuk dilehernya diapun memburu kearah Hek Tin-cu, sementara lehernya bersuara

keruyukan, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh: “Anak muda kau takkan bisa menarikku

roboh!”

Bukan saja Hek tin-cu belum pernah melihat orang yang bertenaga sedemikian besarnya,

diapun belum pernah melihat manusia dengan otak setumpul ini, sungguh hatinya kejut dan heran,

mendadak ia berseru lantang: “Apa sebaliknya kau mampu menarikku roboh?”

Laki-laki Kingkong membuka mulutnya tertawa lebar, betul-betul ia gunakan kekuatan lehernya

untuk menarik cambuk panjang, kedua pihak sama-sama menggunakan seluruh kekuatannya.

“Tas” cambuk panjang itu tiba-tiba putus ditengah-tengah.

Badan Hek tin-cu menumbuk tembok, saking kagetnya ia jejak kaki melambung naik ke atas

belandar, tampak badan laki-laki Kingkong sebesar menara itu pelan-pelan roboh terjerembab,

kulit mukanya yang hitam dan merah ungu, lidahnya sudah terjulur panjang keluar demikian pula

kedua biji matanya mencorot keluar, seolah-olah masih melotot kepada Hek tin-cu. Tak tahan Hek

tin-cu dibuatnya, katanya tertawa kecut dengan bergidik: “Orang yang punya kekuatan luar biasa

pada kaki tangannya kenapa otaknya selalu tumpul!”

Memandang dari atas belandar dilihatnya It-tiam-ang dan Lamkiong Ling sedang berhadapan

seperti dua onggok kayu sampai sedemikian jauh belum ada yang bergerak lebih dulu. Mata

Lamkiong Ling tertuju pada ujung pedang ditangan It-tiam-ang melirikpun tak berani ke arah lain,

tapi kejadian disekitarnya meski dia tidak melihatpun bisa mendengar atau membayangkan.

Keringat dingin sudah berketes-ketes diatas jidatnya mendadak berkata dengan keras: “It tiam-ang

kontan kau hanya membunuh orang karena uang, apa benar?”

Biji mata It-tiam-ang yang abu-abu dingin membeku seperli biji mata ikan yang sudah mati

kaku menatap kepadanya tanpa bersuara.

“Jikalau kau mau bantu aku membunuh Coh Liu-hiang kuberi kau selaksa tail”.

Bergerak ujung mulut It tiam-ang, katanya sambil tertawa lebar: “Selaksa tail? Apakah Coh Liuhiang

berharga setinggi itu?”

“Kau bunuh aku, jelas tiada orang yang sudi membayar kau setinggi itu, benar tidak!”

“Benar, karma manusia seperti kau ini sepeserpun tak berharga,” jengek It-tiam-ang.

“Kalau demikian, lebih tidak setimpal kau membunuh, aku.”

Terunjuk senyum sinis menghina diujung mulut It-tiam-ang, katanya kalem: “Tabukah kau,

seumpama lonte (pelacur), bila dia kebentur tamu yang dia penujui, bolehlah diam, layani sekali

secara gratis, kali ini aku membunuhmu pula secara gratis!” habis kata-katanya pedangnyapun

bergerak.

Merah jengah muka Hek-tin-cu, tapi tidak tertahan dia lertawa geli, katanya: “Perumpamaan ini

walau kotor dan kasar, tapi amat tepat sekali”.

Tampak dalam sekejap itu It-tiam-ang sudah menusuk tujuh kali, ilmu pedangnya teramat

brutal dan aneh, serba istimewa, lengan bagian atas sikut sedikirpun tak bergeming tapi bintikbintik

sinar pedangnya laksana hujan gencarnya merangsak pada lawan! Beruntung Lam kiong

Ling tersurut mundur tujuh langkah, serunya dengan gelak tawa serak: “It-tiam ang, kau kira aku

takut pada kau?”

“Aku tak suruh kau takut kepadaku aku cuma ingin kau mampus”

“Mungkin kau lah yg mampus” damprat Lam kiong Ling. Sekali raih ia tarik sebuah kursi terus

di lempar, bebareng tangan kanan meraba pinggang melolos sepasang Bian-to. “Sret-sret-sret”

sinar golok seperti sekuntum salju yang berterbangan di angkasa, tiga kali goloknya membacok

dengan dahsyat. Gerak serangan goloknya tanpa kembangan variasi, tapi cepat, gesit, ganas dan

kenyataan.

Selama hidup dan malang melintang It-tiam ang tidak terhitung menghadapi lawan lawan

tangguh sudah tentu ia cukup tau banyak ilmu silat seperti ini yang cukup menakutkan. Jikalau kau

beranggapan ilmu silat ini tidak enak dipandang mata, tahu tahu sejurus sambaran kilatnya sudah

menamatkan jiwamu.

Ilmu golok semacam ini sebenarnya tidak ada sesuatu yg indah yg patut dibanggakan, tiada

guna atau manfaat lainnya selain untuk membunuh orang.dan manfaat dalam hal ini justru amat

berguna sekali.

Semakin menyala biji mata It-tiam ang serunya tertawa besar ” Tak nyana hari ini aku bisa

berhadapan dengan lawan tangguh seperti kau ini, tak sia sia perjalanan ku kali ini.”

Sinar golok dan hawa pedang, mendesak mundur dan membuat sesak napas Hek-tin cu,

sekujur badan terasa dingin, sudah lama dia menyaksikan pertempuran tokoh tokoh kosen, tapi

belum pernah menyaksikan pertempuran seperti ke dua orang ini. Seolah olah pertempuran ini

bukan manusia yg sedang berkelahi, lebih pantas kalau dikatakan dua serigala kepalaparan

sedang berebut mangsa, setiap jurus, setiap tipu serangannya tujuannya mencabut jiwa

musuhnya, terang tiada maksud lain kecuali membunuh musuhnya.

Sinar golok dan pedang saling sambar dan saling gubat menggubat serang menyerang, walau

tidak mendengar benturan ke dua senjata, namun hawa membunuh yg bersuhu dingin menguap

naik sehingga Hek-tin Cu yang berada diatas beranda terdesak, napas sesak dan tak kuat

bertahan lagi.

Lekas ia melompat tiga tombak jauhnya kemudian melayang turun kelantai dilihatnya Coh Liu-

Hiang sedang sibuk mengurut dan melancarkan jalan darah Soh Yong-Yong, wajah Soh Yong-

Yong yang pucat tadi lambat laun mulai merah berwarna darah.

Tak tahan Hek-tin cu memburu maju dan menepak pundah Coh Liu-Hiang,” Tahukah kau

orang lain sedang adu jiwa demi kau?” “Tahu” sahut Coh Liu-Hiang “Memangnya kau tidak perduli

dan turut campur?”

Coh Liu-Hiang tertawa tawa ujarnya “Kalau Tionggoan It-Tiam Ong sudah turun tangan

memangnya perlu orang lain turut campur?” “Agaknya kau lega sekali” olok Hek-tin Cu.

“Masakah ilmu pedang It-Tiam Ong tidak bisa melegakan hatiku?” Terdengar “Cret” It-Tiam

Ong melompat miring tujuh langkah baju atasnya tampak tergores robek terkena sambaran golok,

darah segar sudah merembes membasahi badannya.

Lam kiong-Ling tertawa besar serunya “It-Tiam Ong kau masih belum puas?” “Cis” It-Tiam Ong

berludah keatas pundaknya yang terluka, tahu tahu pedangnya sudah menusuk pula. Seketika

berubah pula air muka Hek-tin cu, sentaknya bengis:” Sekarang kau masih berlega hati?”

Coh Liu-Hiang tertawa getir katanya “Kalau It-Tiam Ong sudah turun tangan, jikalau siapa ikut

membantunya, siapa adalah lawannya apalagi kepandaian silat ke dua orang ini sama setingkat

sebanding. Siapa pun jangan harap bisa melukai siapa.” “Oleh karena itu kau berpeluk tangan saja

begitu?” “Dalam sepuluh jurus Lamkiong-Ling pasti kena dibikin cedera juga oleh pedang It-Tiam

Ong, tidak lebih dari tiga puluh jurus dia pasti minta menghentikan pertempuran. Kalau belum

waktunya tidak berguna aku ikut mencampuri.”

“Mungkin hatimu sudah tumplek pada nona cantikmu ini, masa masih perduli dengan mati

hidup orang lain. Sungguh tak nyana oleh ku Coh Liu Hiang yang cemerlang namanya ternyata

lebih mementingkan paras cantik daripada persahabatan kental.”

Belum habis kata katanya terdengar “Cret” sekali lagi, Lamkiong Ling terhuyung mundur,

pakaiannya berlubang, darah pun membasahi pakaiannya. Coh Liu Hiang menyengir sambil

berpaling pada Hek-tin Cu, katanya “Belum penuh sepuluh jurus malah, benar tidak?”

Sekian lama Hek-tin Cu tertunduk entah apa yg ia renungkan, akhirnya ia tujukan sorot

matanya ke muka Soh Yong-yong. Sorot matanya yang kelihatan dalam itu. Seakan akan timbul

suatu perubahan yang sedemikian rumit. Katanya pelan pelan “Dia memang teramat cantik.”

“Bukan hanya cantik saja.” “Tapi menurut pendapatku, perempuan yang lebih cantik dari dia

masih banyak jumlahnya.”

“Mungkin dia tidak bisa terhitung yg tercantik, tapi paling lembut, paling setia, paling pandai

melayani dan perempuan yg paling bisa menyelami hati orang lain. Menurut apa yang tahu

mungkin belum pernah ada perempuan yang bisa dibandingkan dia di dalam dunia ini.”

Pucat muka Hek-tin Cu agaknya hendak mengucapkan apa apa, namun ia tahan sambil

mengigit bibir, tiba tiba ia membalik badan tak sudi melihat mereka lagi. Terdengar Lamkiong Ling

sedang membentak:” Coh Liu-Hiang! marilah kau saja yang perang tanding ini sama aku untuk

menyelesaikan urusan ini. Kau sendiri tadi yang mengatakan hal ini, apa sekarang kau masih

ingat?” “Sudah tentu masih ingat.”

“Jikalau kau ingin tahu siapa tokoh misterius itu, lekas kau suruh keparat berdarah dingin ini

menghentikan pertempuran.” Coh Liu-Hiang angkat pundak katanya” Sayang bukan saja aku tidak

bisa turun tangan, akupun tidak bisa menyuruhnya berhenti…. Jikalau It tiam-Ang ingin membunuh

seseorang, tiada seorang pun yg kuasa mencegahnya.”

Siapa tahu mendadak It tiam-Ang melompat setombak jauhnya, katanya dingin “Aku sudah

berhenti, karena dia tidak mampu bunuh aku, akupun tidak mampu membunuhnya. Kalau

perkelahian ini diteruskan tidak ada artinya, biarlah kuserahkan pada kau.” “Terima kasih.”

Lama juga It tiam-Ang menatapnya lekat lekat, katanya kalem “Tidak perlu terima kasih, asal

kau ingat sejak semula sampai akhir It tiam-Ang tetap sahabatmu.” Belum habis berkata badanya

sudah melambung tinggi jumpalitan kebelakang terus melesat ke luar jendela dan memghilang

entah kemana.

“kenapa dia selalu bilang datang ya datang mau pergi tinggal pergi.” Baru sekarang Lamkiong

Ling berhasil mengatur nafas, katanya serak “Coh Liu-Hiang kalau kau ingin menyelesaikan

persoalan ini marilah ikut aku!.” Coh Liu-Hiang menengok ke arah Soh Yong yong katanya;” Ikut

aku?”

Hek tin-Cu menyela keras katanya “Coh Liu-Hiang saat ini amat berat untuk tinggal pergi, demi

perempuan ini urusan apapun boleh tidak usah diurus.”

Berputar biji mata Lamkiong Ling katanya “Jikalau kau tidak mau pergi jangan salahkan aku.”

Sengaja ia putar badan jalan lambat lambat, agak nya ia tidak ingin melarikan diri sebab di tahu

“lari” bukan suatu cara terbaik, kalau tidak sejak lama dia sudah menghilang tak karuan peran.

Betapa Coh Liu-hiang tidak bisa membiarkan orang pergi demikian saja, katanya: “Hek heng,

agaknya sementara aku harus serahkan dia dalam pengawasanmu”.

Hek tin cu mendongak memandang langit, sahutnya dingin: “Masa kau tidak kuatir?”

“Dia tertotok Hiat-tonya dengan Jong jiu hoat tapi setelah kuurut tadi, sebentar lagi bakal

siuman. Cukup asal Hek heng beritahu kepadanya, suruh dia selekasnya pulang, urusan lain tidak

perlu dia kuatirkan”.

Sesaat Hek tian cu ragu-ragu, sahutnya kemudian: “Baiklah! Pergilah kau, aku akan suruh dia

pulang, tapi aku tetap akan menunggu kau, masih ada pertanyaan yang hendak kuajukan

kepadamu.

Setelah Coh Liu-hiang keluar mengikuti jejaknya, baru Lamkiong Ling percepat langkahnya.

Beberapa kejap mereka berlari-lari kencang, entah berapa jauh perjalanan sudah mereka tempuh,

tiba-tiba Lamkiong Ling berkata: “Agaknya kau lega menyerahkan dia kepada orang lain?”

“Kenapa aku harus kuatir?”

“Masalah kau tahu bila anak muda itu tidak akam mecelakai jiwanya?”

“Kau kira karakter dan martabat orang lain sekejam dan telengus sepeti kau?”

“Aku hanya anggap kau ini orang yang cerdik pandai dan cermat, siapa tahu ada kalanya

kaupun bertindak kurang hati-hati”.

“Memangnya aku ini serba teliti, jikalau pernah terpikir dalam benakku bila Hek tin cu punya

alasan untuk mencelakai jiwa Yong ji, meski sekarang aku terpaksa, sekali-kali tidak akan

kusserahkan Yong ji kepadanya, jika kau pikir dengan persoalan ini kau hendak bikin hatiku tidak

tenang, sehingga gugup dan kacau, kunasehati kau batalkan saja niatmu ini”.

Lamkiong Ling terloroh-loroh dingin, selanjutnya memang dia tidak banyak kata lagi. Tampak

tak jauh di depan sana bayangan air kemilau dibungkus kabut tebal, tahu-tahu mereka sudah tiba

di Toa bing-ouw.

Di bawah ayoman dahan pohon Liu yang menjuntai turun, sebuah sampan terikat disana

didalamnya ternyata terpasang sebuah pelita yang bersinar terang, dari luar jendela kelihatan

disana sudah tersedia sebuah meja hidangan yang serba komplit.

Setelah Coh Liu-hiang masuk ke dalam ruangan kapal, Lamkiong Ling menarik galah dan

menutul tanggul, sehingga sampan meluncur ke tengah danau. Kabut tebal dimana-mana banyak

asap seperti hujan, mengikuti riak gelombang yang mengalun halus, sampan melaju ke depan

terbawa angin, di tengah alam semesta yang tak berujung pangkal ini, terkadang si maling

romantis yang misterius, orang akan terpesona tanpa sadar, tak tertahan orang akan berdiri bulu

kuduknya.

Coh Liu-hiang memilih kursi dan duduk dengan nyaman, namun hatinya sedikitpun tidak

merasa nyaman, terasa olehnya persoalan yang dihadapinya ini makin lama semakin janggal.

Kenapa Lamkiong Ling membawa dirinya ke tempat ini? Pembunuh misterius itu, apakah dia

berada di atas sampan besar ini?

Tapi kecuali Coh Liu-hiang dan Lamkiong Ling, jelas di atas sampan tiada orang ketiga! Hal ini

Coh Liu-hiang berani pastikan sesaat setelah dia beranjak ke atas sampan ini.

Hembusan angin malam nan sepoi-sepoi, menyibak bau harum arak dan masakan, bau daun

pohon liu nan wangi, tapi yang tersedop dalam pernapasan Coh Liu-hiang sebaliknya adalah hawa

membunuh yang amat tebal.

Kini Lamkiong Ling sudah duduk berhadapan dengan Coh Liu-hiang, katanya sambil

mengawasinya: “Tahukan kau kenapa aku membawamu kemari?”

“Tentunya kau tidak ingin membunuhku disini, jikalau kau hendak membunuh aku, tentunya

lebih jauh meninggalkan air lebih baik”.

“Benar, tiada orang yang mau membunuh Coh Liu-hiang di dalam air”.

“Apakah si dia yang suruh kau membawaku kemari?”

“Benar! Dia beritahu kepadaku, bilamana aku sendiri tidak bisa menyelesaikan persoalan ini,

bawa saja kau kemari, biar dia sendiri yang akan menyelesaikan”.

“Kau kira dia akan datang?”

“Tentu akan datang!”

“Pikiranmu setelah dia datang, lantas bisa menyelesaikan persoalan ini?”

“Jikalau ada seseorang yang bisa menghadapi Coh Liu-hiang, orang itu adalah si dia itulah!”

“Siapa si dia itu, sungguh aku tak mengerti dia punya cara penyelesaian apa?”

“Cara yang dia gunakan tiada orang lain yang dapat menyimpulkan sebelumnya”.

“Agaknya kau terlalu yakin akan kemampuannya?”

“Dalam dunia ini jikalau ada orang yang dapat kupercayai, orang itu hanya dia saja”.

Coh Liu-hiang pejamkan mata, katanya pelan-pelan: “Siapakah orang yang demikian itu?

Kalau toh dia sudah tahu membunuh Coh Liu-hiang diatas air jauh lebih sukar daripada didaratan

kenapa membawaku keatas sampan ini? Sebetulnya rencana apa yang sedang dia atur?

Sebenarnya dia punya cara apa untuk menghadapi aku? Sungguh aku tak sabar lagi menunggu,

ingin secepatnya aku berhadapan dengan dia”.

Teringat akan kelicikan orang, telengas dan kejahatannya, mau tidak mau Coh Liu-hiang

bergidik bulu romanya, musuh-musuh yang pernah dia hadapi selama hidupnya, sungguh tiada

seorangpun yang begini menakutkan,

Lamkiong Ling menuang dua cangkir arak, katanya: “Jikalau aku jadi kau, sekarang lebih baik

minum-minum dulu, tidak berguna kau banyak peras otak, apalagi saat-saatmu menikmati arak toh

takkan lama lagi”.

Arak bening berwarna hijau pupus kelihatan memancarkan cahaya didalam cangkir emas.

Lamkiong Ling angkat cangkirnya terus ditenggak habis, katanya menengadah: “Tapi aku

berdoa semoga menemukan rahasia ini bukan kau. Siapapun dia, jikalau hendak membunuh

sahabat yang dulu pernah menangkap kura-lura besar bersama tentunya bukan sesuatu yang

patut dibuat girang!”

Jari tangan Coh Liu-hiang menyentuhpun tidak cangkir arak itu, katanya: “Akupun mengharap

kau adalah Lamkiong Ling yang pernah bantu aku menangkap kura-kura itu”.

Lamkiong Ling tertawa-tawa, tiba-tiba ia mengerut alis, katanya: “Arakmu ….”.

Masih banyak waktu untuk aku minum arak sekarang tidak perlu tergesa-gesa!

Coh Liu-hiang ternyata tidak tergesa-gesa minum arak, sungguh suatu kejadian luar biasa dan

aneh.

“Kau jangan lupa, aku adalah seorang yang amat teliti”.

“Kedua cangkir arak ini kutuang dari poci yang sama, jikalau kau masih kuatir, secangkir ini

biar kuhabisi sekalian!” lalu ia raih cangkir dihadapan Coh Liu-hiang dan ditenggaknya habis.

“Agaknya orang yang terlalu teliti meski mungkin bisa berumur panjang, berapapun dia harus

mengorbankan arak-arak bagus yang seharusnya dia nikmati”.

“Tidak seharusnya kau curiga arak ini mengandung racun, tokoh mana dalan dunia ini

meracun mati Coh Liu-hiang hanya dengan permainan arak beracun. Masakah dia bakal

menaruh…..” belum lagi kata-kata “racun” keluar dari mulutnya, air mukanya mendadak berubah

hebat. Lengan, jidat dan lehernya…. otot-otot hijau merongsok keluar semua.

“Kenapa kau?” teriak Coh Liu-hiang kaget.

“Arak ini….” sahut Lamkiong Ling bergetar.

“Apa benar arak ini mengandung racun?” seru Coh Liu-hiang tersirap darahnya, lekas ia

memburu maju dan membuka kelopak mata Lamkiong Ling, namun tak terlihat tanda-tanda

keracunan, tapi sekujur badan Lamkiong Ling semakin panas seperti terbakar.

Melonjak jantung Coh Liu-hiang, teriaknya kaget: “Thian it sin cui, arak ini ada dicampur

dengan Thian it sin cui!”

Coh Liu-hiang membanting kaki, katanya: “Sampai sekarang kau masih belum paham? Bahwa

dia mencampuri air sakti itu didalam arak ini, tujuannya bukan hendak mencelakai jiwaku, namun

kaulah yang menjadi sasaran utama! Diapun tahu setiap waktu aku selalu bertindak hati-hati,

sebaliknya kau tidak mungkin kau bersiaga terhadapnya”.

Coh Liu-hiang menengadah dan melanjutkan: “Sejak naik ke atas sampan ini aku sudah

merasa disini diliputi mara bahaya, numun tak pernah terpikir olehku dengan cara apa dia hendak

mencelakai diriku, baru sekarang aku paham, ternyata yang dia tuju bukan aku sebaliknya jiwamu

yang diincarnya”.

“Tapi dia…. kenapa dia harus membunuhku?” teriak Lamkiong Ling keras.

“Karena asal kau mati segala sumber penyelidikan ku bakal putus semuanya, asal kau sudah

ajal, dia tetap boleh keluntang-keluntung kemana dia suka, dan tidak akan ada orang tahu siapa

sebenarnya si “dia” itu”.

Bergetar badan Lamkiong Ling, agaknya ia amat kaget akan kata-kata ini, matanya

mendelong. Kini sekujur badannya mulai membengkak besar, kulit dagingnya mulai pecah,

sampaipun urat nadi dan jalan darahnyapun merekah, ujung mata, hidung, sela-sela kuku jarinya,

mulai merembeskan darah segar.

Coh Liu-hiang membentak keras: “Tanpa kenal kasihan dia turun tangan jahat membunuhmu,

kenapa kau masih mempertahankan menyimpan rahasianya? Lekas kau katakan siapakah dia

sebenarnya, sekarang kau masih sempat mengatakan”.

Seperti mata ikan mas biji mata Lamkiong Ling melotot keluar, gumannya: “Katamu dia hendak

membunuh aku…. aku masih tidak percaya…. “

“Sudah tentu dia harus membunuh kau! Kalau tidak jelas dia tahu aku takkakn minum arak

kenapa dia menaruh racun dalan arak? Kenapa tidak beritahu kepadamu lebih dahulu bahwa arak

itu beracun?”

Agaknya Lamkiong Ling tidak memahami kata-katanya seluruhnya, mulut tetap menggumam

sendiri: “Aku tidak percaya…. aku tidak percaya….”

Sekali raih Coh Liu-hiang cengkram baju didepan dadanya, teriaknya serak: “Kenapa kau tidak

percaya? Masa kau…. “

Bibir Lamkiong Ling yang sudah merekah, mendadak menampilkan senyum pilu, katanya:

“Tahukah kau siapa dia?”

“Siapa? Siapa dia” desak Coh Liu-hiang.

Sepatah dengan sepatah Lamkiong Ling meronta keluarkan kata-katanya: “Itulah suatu

rahasia, tiada seorangpun dikolong langit ini tahu akan rahasia ini, aku…. akupun punya seorang

saudara sepupu engkoh sepupuku, si “dia” bukan lain adalah engkoh sepupuku itu”.

Coh Liu-hiang terlongong ditempatnya seperti linglung, badan terhuyung mundur setengah

langkah, serendeh dipinggir meja serasa sekujur badan lemas lunglai dan hampir meloso jatuh.

Rada lama kemudian, baru dia bersuara dengan tertawa getir: “Tak heran kau begitu percaya

kepadanya, tak heran kau begitu dengar petunjuknya. Tapi….. tapi siapakah engkohmu itu?

Sampai detik ini kau masih segan menyebut namanya?”

Mulut Lamkiong Ling mengap-mengap seperti ikan mas yang menghirup napas dipermukaan

air, mulutnya penuh digenangi darah segar. Kini lidahnyapun mulai merekah, sepatah katapun tak

kuasa bicara lagi.

Entah beberapa lama Coh Liu-hiang menjublek duduk di atas kursi. Kini bahan

penyelidikannya sudah putus sama sekali, dia harus mulai dari permulaan pula.

Entah berapa ia sudah mengalami mara bahaya, entah berapa jerih payahnya yang dia

korbankan, baru diketahui bahwa Cou Yu cin, Sebun Jian, Ling ciu-cu dan Ca Bok-hap keluar pintu

setelah masing-masing menerima sepucuk surat. Entah sudah mengalami beberapa kali

kegagalan dan kekecewaan baru berhasil dia selidiki sipenulis surat itu sekaligus membongkar

segala rahasia Kay pang.

Betapa besar kesulitan dan derita yang dialaminya untuk semua itu, jikalau tidak dibekali

kecerdikan dan keberanian yang luar biasa, boleh dikata takkan ada orang yang kuat bertahan

menghadapi tantangan-tantangan yang hebat dan mengerikan itu. Tapi Lamkiong Ling sekarang

sudah ajal, segala jerih payah dan usahanya selama ini berarti sia-sia. Karena sampai detik ini, ia

belum berhasil mengetahui siapakah biang keladi atau tokoh misterius dalam peristiwa ini.

Fajar sudah menyingsing, kabut dipermukaan danau malah makin tebal.

Coh Liu-hiang menggeliat sambil menghirup napas segar, gumamnya: “Kini, yang kuketahui

masih berapa banyak?” memang bahan-bahan yang masih berada dibenaknya tidak banyak lagi.

Bahan satu-satunya yang ketinggalan yaitu pembunuh misterius adalah saudara sepupu Lamkiong

Ling ditangan si “dia” itu masih memiliki Thian-it-sin-cui yang cukup untuk mencelakai jiwa tiga

puluh tiga orang. Tapi siapakah sebenarnya si “dia” itu?

Dengan Thian-it-sin-cui dia sudah membunuh Jin Jip, Ca Bok-hap dan Lamkiong Ling.

Sasaran selanjutnya entah siapa! Tentu tokoh kosen yang berilmu amat tinggi namanya cukup

tenar dan terpandang sebagai angkatan tertinggi di Bulim.

Tokoh itu tentu mempunyai hubungan yang amat erat dengan si “dia” itu, paling tidak takkan

curiga bahwa si dia bakal mencelakai jiwanya, kalau tidak cara bagaimana si dia dapat

mencampurkan Thian-it-sin-cui kedalam cawan minumannya?

Coh Liu-hiang pejamkan mata, mulutnya menggumam: “Thian hong cap-si-long, ternyata

bukan seorang diri datang ke Tionggoan, dia masih membawa dua orang putri kandungnya,

setelah dia mati, seorang anaknya dia titipkan kepada Jin Jip supaya diasuh sampai besar, lalu

seorang anak lainnya? Kepada siapa dia serahkan anaknya yang lain? Siapa pula yang tahu

mengenai keajadian ini?” peristiwa sudah berlalu diselang duapuluh tahun lamanya, kini boleh

dikata sudah tiada sumber yang dapat dibuat bahan penyelidikan.

Mendadak Coh Liu-hiang melompat bangun katanya keras: “Aku sudah tahu, kalau Thian hong

cap si long menyerahkan anaknya yang kecil kepada Jin Jip, putra besarnya tentu dia serahkan

kepada tokoh kosen yang bertanding pertama kali dengan dia. Asal aku bisa menemukan siapa

orang ini, tentulah dapat menemukan siapa si “dia” itu”.

Kini Coh Liu-hiang memang belum tahu siapakah tokoh silat yang bergebrak dengan Thian

hong cap-si-long sebelum Jin Jip, tapi dia sudah tahu :

Pertama: Tingkat kedudukan dan nama tokoh tentu amat tinggi dan tenar. Baru Thian hong

cap-si-long sudi mencarinya, lalu menghadapi Jin Jip. Tidak banyak tokoh-tokoh silat di kalangan

kangouw yang lebih tinggi tingkatannya dan ketenarannya dari Kaypang Pangcu, maka scopnya

bisa lebih diperkecil.

Kedua: Ilmu silat orang ini teramat tangguh maka bisa melukai Thian hong cap-si-long.

Ketiga: Watak dan martabat orang ini tentu seperti Jin Jip, berjiwa besar lapang dada dan

welas asih, maka harus dia menerima anak yatim Thian hong cap-si-long, malah menurunkan ilmu

silatnya yang tiada taranya kepada si bocah.

Keempat: Orang ini tentu tidak suka mengagulkan diri dan membuat sensasi, maka walaupun

dia harus unggul dan mengalahkan pendekar pedang (pendekar samurai) tersohor dari Tang ni

“Jepang” tiada tokoh Kangouw yang tahu akan kejadian besar itu.

Kelima: Tokoh ini tentu menetap didaerah Binglam atau lingkungan yang tidak jauh dari sana,

maka setelah Thian hong cap-si-long terkalahkan dengan luka parah, dia masih sempat memburu

ketempat pertandingan yang dia janjikan dengan Jin Jip.

Coh Liu-hiang menhela napas panjang-panjang, ujarnya: “Kini, terhitung tidak sedikit hasil

analisaku ini”.

Lekas ia memburu keluar, galah dia samber terus mendorong kapalnya ketepi, sekali lompat ia

dapat mendarat dengan enteng. Mendadak derap kuda berlari mendatangi, seseorang membedal

kudanya lari mendatangi, belum lagi dekat badannya sudah mencelat tinggi lepas dari punggung

kudanya meluncur hinggap didepannya, siapa dia kalau bukan Hek tin cui simutiara hitam.

“Ternyata kau bisa menemukan aku” sambut Coh Liu-hiang: “Mana dia?”

Hek tin cu tidak lantas menjawab, sesaat ia pandang orang, sahutnya dingin: “Dia memang

penurut dan dengar kata, kini sudah berangkat pulang” mendadak matanya melotot, katanya

keras: “Tapi ingin aku tanya kau sebetulnya dimana ayahku berada? Kenapa se-ama ini kau

mengulur-ulur waktu tak mau jelaskan tempat tinggalnya?”

Coh Liu-hiang tertunduk, sahutnya: “Ayahmu sudah…. sudah meninggal dunia”.

Tersentak badan Hek-tin-cu, serunya serak: “Kau…. apa katamu?”

“Aku sudah mengurus baik-baik jenazah ayahmu di Ang-yiok-gay di Loh-tiong. Didusun

nelayan dipesisir laut sana, ada seorang bernama Li Tho-cu, kalau kau pergi kesana, boleh kau

minta kepadanya untuk mengantarmu ke atas kapalku. Setelah kau ketemu Soh Yong yong kau

akan bertemu dengan jenazah atau pusara ayahmu”.

Hek-tin-cu mendesak maju menarik lengannya, serentak beringas: “Jenazah ayahku kenapa

bisa berada diatas kapalmu. Apakah kau yang mencelakai jiwanya?”

“Seluk beluk persoalan ini, sulit untuk menjelaskan dalam waktu singkat, tapi Yong-ji akan

menjelaskan sedetailnya kepadamu…. mengenai pembunuh ayahmu, kini berada di dalam

sampan itu, belum habis kata-katanya Hek tin-cu sudah melesat naik kearah sampan.

Jelilitan sorot mata Coh Liu-hiang mendadak seru lantang: “Kupinjam kuda saktimu sekali lagi,

kelak pasti akan kukembalikan”, belum lenyap suaranya badan sudah melejit naik mencemplak

kepunggung kuda terus dibedal kencang kearah selatan.

Setelah Coh Liu-hiang berhasil menemui Ciu Ling-Siok di Ni san, lalu ia ambil kudanya yang

dititipkan di rumah seorang pemburu langsung kembali ke Kilam, tujuan utamanya adalah

menemui Lamkiong Ling maka untuk memburu waktu ia belum kembalikan kuda hitam itu kepada

pemiliknya Hek tin-cu, Cuma ia titipkan ke sebuah hotel yang berdekatan, waktu itu ia tiba di

Hiantong Kaypang, kuda yang cerdik ini mencebol kandang menerjang keluar mencari pemiliknya,

lantaran kuda inilah maka Hek tin-cu dan It-tiam ang baru tahu bahwa Coh Liu-hiang sudah

kembali ke Kilam maka mereka menyusul tiba pada saatnya berhasil menolong Soh Yong-yong

pula.

Mengandal kepintaran kuda ini pula sehingga Coh Liu-hiang didalam waktu yang tersingkat,

memburu waktu pula menuju ke Bianglam. Tetapi setiba di Bianglam mau tidak mau ia jadi putus

asa dan kecewa dibuatnya.

Kejadian dua puluh tahun yang lalu orang-orang sudah lupa sekali, sedang keluarga besar dari

marga Tan dan Lim yang merupakan simbol kebesaran kaum Bulim didaerah Binglam ini

hakikatnya tidak tahu menahu siapakah sebenarnya Thian hong cap-si-long.

Hari itu Coh Liu-hiang tiba di Sian-yu merupakan kota terbesar dan teramai banyak tempattempat

tamasya disini, hati Coh Liu-hiang sedang masgul dan kesal maka selera minum dan

makan menjadi kendor, yang diinginkan hanya minum dua cangkir teh kental yang pahit.

Binglam merupakan daerah penghasil daun teh yang termashur didalam kota Sianyu banyak

terdapat warung-warung teh, alat-alat untuk minum teh disinipun jauh berbeda dengan tempat lain,

tampak setiap orang yang duduk diwarung arak menikmati minuman tehnya sama memejamkan

mata, menggunakan cioki yang lebih kecil dari cangkir arak untuk menikmati atau menilai rasa air

teh itu. Orang yang minum teh dengan cawan besar disini dalam pandangan masyarakat Binglam

tak ubahnya dipandang sebagai kerbau dungu.

Tidak ketinggalan Coh Liu-hiang-pun minta disediakan Thi Koan im yang rasanya pahit getir

dan wangi, kalau ditenggak teh ini memang pahit dan getir, namun setelah masuk keperut, mulut

terasa wangi dan semerbak sampai sekian lama tak hilang-hilang.

Setelah menghabiskan dua poci kecil, rasa masgul dan kesal Coh Liu-hiang sudah semakin

sirna dan ketenangan kembali menghayati sanubarinya. Dan baru sekarang dia mengerti aturanaturan

untuk minum teh disini sedemikian banyaknya, tujuannya adalah untuk menekan perasan

dan melatih kesabaran, cara atau kepandaian membina dan melatih watak dan kesabaran,

ternyata hasil gemblengan dari air teh kental yang pahit getir dari sepoci-poci kecil ini.

Jauh berlainan dengan warung arak ditempat lain yang penuh sesak, tentu timbul keributan,

demikian pula diwarung teh ini penuh sesak, namun setiap orang bicara secara bisik-bisik, tindaktanduk

seseorang teramat hati-hati kuatir mengganggu orang lain.

Bersambung ke jilid 11

Jilid 11

Tatkala itulah mendatangi dua laki-laki besar berjubah sutera memasuki warung teh ini sambil

mengobrol panjang pendek. Salah seorang laki-laki bermuka burik, di punggungnya menggendong

sebuah buntalan kain kuning, sembari jalan ia berkata dengan tertawa: “Bertemu sahabat karib di

rantau, sungguh merupakan kesenangan yang tak terhingga. Hari ini Siaute harus ajak Pang-heng

minum sepuasnya!”

Laki-laki yang lain mukanya penuh ditumbuhi cambang bauk yang kaku, katanya bergelak

tawa: “Chi-heng sudah lama menetap di Binglam ini, apakah hobimu hanya minum teh saja dan

tak suka minum arak lagi?”

“Arak!” seru laki-laki burik tertawa lebar. “Pang-heng, setiap hari kau sudah biasa minum arak,

tapi hari ini akan kusuguh kepadamu air teh yang lain dari yang lain, boleh dikata sebagai dewa di

antara teh. Bukan Siaute suka membual, air teh seperti ini mungkin seumur hidup Pang-heng

belum pernah merasakannya.”

Serta-merta perhatian dan pandangan semua hadirin dalam warung teh itu tertuju ke arah

mereka. Tapi laki-laki burik ini anggap sekelilingnya seperti tiada orang lain, dari buntalan kain

kuningnya ia keluarkan sebuah bumbung bambu sepanjang satu kaki. Begitu ia membuka sumbat

bumbung, bau harum seketika merangsang setiap hadirin, seketika semangat terasa segar seperti

memabukkan.

Laki-laki cambang bauk itu bergelak tawa, ujarnya, “Harum benar teh ini! Beberapa tahun tak

berjumpa, tak nyana Chi-heng sekarang menjadi begini kikir.”

Dengan hati-hati laki-laki burik itu menuangkan secomot daun teh, lalu suruh pelayan

menyeduhnya dengan air panas yang paling bening dari sumber asli, barulah dia berpaling dan

berkata tertawa: “Bicara terus terang, walau sudah lama aku menyimpan daun teh sepeti ini, tapi

jikalau tidak bertemu dengan Pang-heng sahabat lamaku, rasanya Siaute amat sayang untuk

meneguknya meski hanya seteguk saja.”

Laki laki brewok itu tertawa, tanyanya: “Kalau Chi-heng begini kikir dan sayang meminumnya,

kenapa selalu kau bawa-bawa ke mana kau pergi?”

“Lantaran daun teh ini adalah kegemaran seorang tokoh kosen Bulim Cianpwe. Dulu Siaute

pernah mendapat budi pertolongannya, tiada sesuatu yang dapat kubalas, maka selama beberapa

tahun ini dengan susah payah aku berusaha menemukan daun teh ini untuk kuhaturkan kepada

beliau, terhitung sebagai balasan budi kebaikannya dulu. Kalau kuberikan benda lainnya, tentu

beliau tidak mau terima!”

Kata laki-laki brewok: “Entah siapakah Bulim Cianpwe itu? Begitu patuh dan hormat sikap Chiheng

terhadapnya?”

Senyuman laki-laki burik itu semakin pongah, katanya kalem: “Tentunya Pang-heng pernah

dengar nama besar Thian-hong Taysu?”

“Thian-hong Taysu?….” jerit laki-laki brewok. “Apakah Ciangbunjin Siau-lim-si sekte Selatan,

Hong-tiang Taysu dari Siau-lim-si di Poh-han?”

“Betul, memang beliau adanya!” sahut laki-laki burik dengan bangga.

Tergerak tiba-tiba hati Coh Liu-hiang. Tak tahan segera ia maju menghampiri, serunya: “Boantian-

sing (bintang bertaburan di langit), aku ini kan teman lamamu, kenapa kau tak undang aku

minum teh?”

Laki-laki burik itu meliriknya sekilas, seketika ia menarik muka, katanya: “Siapa saudara ini?

Cayhe agaknya amat asing terhadapmu.”

Coh-Liu-hiang tersenyum, ujarnya; “Tujuh tahun yang lalu di lorong Thi-say-cu di Pak-khia,

memangnya Chi-heng sudah melupakan kejadian dulu?”

Belum habis ia berkata, laki-laki burik itu sudah melonjak bangun, serunya bergetar: “Apakah

tuan adalah……..”

Coh Liu-hiang terloroh-loroh, tukasnya: “Cukup asal kau masih ingat, buat apa kau singgung

namaku.”

Tersipu-sipu laki-laki burik menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, serunya hormat: “Tujuh

tahun yang lalu, jikalau….. berkat pertolongan Kongcu, kalau tidak aku Chi-ma-cu (Chi si burik)

tentu sejak dulu sudah terjungkal oleh Bwe-hoa-kiam Pui Hoan dan Siang-ciang-hoan-thian

(Sepasang Tangan Membalik Langit) Cui Cu-ko. Aku Chi-ma-cu setiap saat selalu ingat dan ingin

membalas budi pertolongan Kongcu dulu, sungguh amat gegetun karena jejak luhur Kongcu tidak

menentu, sungguh tidak nyana hari ini akhirnya bisa bertemu dengan Kongcu di sini, sungguh aku

ketiban rejeki besar.”

Agaknya laki-laki brewok itu amat heran dan tergerak hatinya melihat Chi-ma-cu yang terkenal

susah dilayani dan lincah tangan ini sudi berlutut dan bersikap hormat terhadap anak muda ini.

Tapi dia pun seorang kawakan Kangouw, bisa melihat gelagat lagi, lapat-lapat dia sudah dapat

meraba bahwa pemuda ini tidak suka namanya disinggung di depan umum, sehigga asal-usulnya

tidak diketahui orang banyak, maka ia pun tidak banyak tanya. Lekas ia pun bersoja dan menyapa:

“Cayhe Pang Thian-ho, kelak kemudian harap Kongcu suka memberi petuah!”

Coh Lin-hiang tertawa lebar, ujarnya: “Nama besar Ya-yu-sin (Malaikat Gelandangan Malam),

Cayhe pun pernah mendengarnya seperti geledek yang menyambar di pinggir telinga.”

Bertiga beruntun mereka menghabiskan tiga poci air teh kental. Setelah mengobrol ala

kadarnya, barulah Coh Liu-hiang mulai memancing ke persoalan yang dituju. Katanya sambil

pandang Chi-ma-cu dengan serius: “Tadi kudengar Chi-heng menyinggung nama Thian Hong

Taysu, apakah Hweesio yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan pada empat puluh

tahun yang lalu, dengan pukulan tangan memberantas Pat-ok (delapan durjana) dan melawan

Thian-bun-su-lo seorang diri itu?”

“Ya, memang beliau,” sahut Chi-ma-cu.

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Kabarnya Taysu ini sudah lama mengasingkan diri, tak

nyana sampai sekarang masih punya hobi menikmati daun teh.”

Chi-ma-cu ikut tertawa, katanya: “Dulu setelah Jip Sin Taysu wafat, seharusnya beliau orang

tua yang mewarisi Ciangbunjin Siau-lim-pay. Tapi beliau orang tua malah menyerahkan kepada Jisutenya

Thian Ouw Taysu. Jauh-jauh dia malah hijrah ke Binglam sini, konon lantaran menyukai

daun-daun teh yang nikmat dan enak di sini.”

Cob Liu-hiang menepekur, katanya: “Sudah berapa lama Thian Hong Taysu pegang tampuk

pimpinan Siau-lim-si di Poh-thian ini?”

“Hitung-hitung sudah lebih dari dua puluh tahun.”

Mendadak Coh Liu-hiang gebrak meja, serunya keras: “Tidak salah lagi! Tentu dia! Pasti dia!

Seharusnya sudah kuingat akan dirinya.”

Chi-ma-cu melongo heran, tanyanya: “Apa Kongcu pun kenal baik dengan beliau?”

Selebar muka Coh Liu-hiang riang gembira, katanya: “Coba kau katakan, ketenaran nama

besar Thian Hong Taysu, apakah jauh lebih unggul dari Jin-lopangcu dari Kaypang yang

terdahulu?”

Chi-ma-cu tidak tahu ke mana juntrungan pertanyaan ini, katanya hambar: “Beliau orang tua

boleh dikatakan merupakan simbol tertinggi dari seluruh Bulim di jaman ini. Memang ketenaran

Jin-lopangcu amat berkumandang, tapi kalau dibandingkan beliau orang tua, kukira setingkat lebih

rendah.”

“Ilmu silat beliau orang tua tentunya teramat tinggi dan susah diukur,” kata Coh Liu-hiang pula.

“Betapa tinggi kepandaian silatnya, mungkin Kongcu sendiri…” Chi-ma-cu merandek, “bukan

tandingannya.”

Coh Liu-hiang tertawa: “Beliau punya latihan yang lebih ampuh dan membekal Lwekang yang

tiada taranya, sudah tentu tak terkatakan tingkat kepandaian silatnya, seumpama pedang pusaka

yang selalu disimpan tak pernah memperlihatkan pancaran sinarnya yang cemerlang!”

Chi-ma-cu pun tertawa, katanya: “Dalam kalangan Kangouw tersiar kabar bahwa lantaran

senang minum teh maka beliau orang tua terima hijrah ke Binglam ini. Tapi menurut perkiraan

Cayhe, mungkin beliau orang tua tidak suka keramaian dan memegang jabatan memikul tugas

berat lagi, maka beliau tidak mau terima jabatan Ciangbunjin Siau-lim-pay di Siong-san.”

“Itulah benar. Sebelum Jin Jip, tokoh kosen yang bertanding dengan Thian-hong-cap-si-long,

kecuali dia, siapa lagi? Bahwa Thian-hong-cap-si-long bisa menyerahkan putra sulungnya kepada

beliau, sudah tentu mati pun ia bisa meram dengan tenteram!”

Chi-ma-cu semakin heran mendengar kata-kata ini, tanyanya memberanikan diri: “Siapa pula

Thian-hong-cap-si-long itu?”

“Itulah seorang yang amat aneh.” sahut Coh Liu-hiang. “Walaupun berita kematiannya

terbenam dalam keramaian, namun ia berhasil membuat Pangcu dari suatu sindikat terbesar di

dunia ini dan Ciangbunjin dari golongan silat terbesar di Tionggoan, terima mewakili dirinya

mengasuh dan mendidik kedua putra-putranya sampai dewasa.” Tiba-tiba tergerak hatinya,

mendadak ia menjerit tanpa kuasa: “Dia menantang bertanding dengan Thian-hong Taysu dan Jinlopangcu,

bukan mustahil memang bertujuan menyerahkan kedua puteranya kepada beliau?

Memang dia sendiri pernah mengalami derita hidup yang menyedihkan hatinya sehingga dia

bosan hidup dan mencari jalan pendek, maka ia harap putra-putranya kelak bisa menonjol dan

menjadi manusia besar yang berguna? Atau sebelumnya dia memang sudah berkeputusan pasrah

jiwanya di tangan Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu, tujuannya supaya kedua orang ini dengan

tekun dan gigih mendidik putra-putranya?”

Semakin bingung Chi-ma-cu mendengar omongan yang tak kenal juntrungan ini, tak tahan ia

menyela pula: “Kongcu bermaksud Thian-hong-cap-si-long itu, demi…. ia rela korbankan jiwanya

sendiri?”

“Dia tahu dua tokoh kosen seperti Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu tentulah tidak akan

sembarangan mau menerima dan mendidik anak orang lain. Tapi jiwanya justru ajal di tangan

mereka. Karena terpaksa, mau tidak mau tak bisa menolak lagi….”

“Sungguh patut dibanggakan dan harus dipuji ayah yang demikian, entah siapakah kedua

putranya itu?” tanya Chi-ma-cu.

“Seorang adalah Lamkiong Ling,” sahut Coh Liu-hiang.

“Apakah Kaypang Pangcu yang baru?”

“Benar!”

“Dan seorang lagi?”

“Seorang lagi adalah… adalah…” Mendadak Coh Liu-hiang mendongak sambil tertawa getir,

katanya setelah menghela napas: “Semoga tebakanku meleset. Dia sudah membunuh sembilan

jiwa orang yang tak berdosa, sasaran selanjutnya….” Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri,

teriaknya: “Sasaran selanjutnya apa bukan Thian-hong Taysu?”

“Untuk ini Kongcu tak usah kuatir,” kata Chi-ma-cu yakin. “Peduli siapa pun orang itu, kalau dia

ingin mencelakai jiwa Thian-hong Taysu, mungkin memang saat ajalnya sendiri sudah tiba. Meski

Thian-hong Taysu sudah lama tidak mencampuri urusan duniawi, namun ilmu silatnya belum

pernah berhenti dilatih.”

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya dengan tertawa kecut: “Kalau kau tahu siapa orang

itu, tentu takkan mengeluarkan kata-kata seperti ini, ‘dia’….”

Tak tahan Chi-ma-cu mengajukan pertanyaan pula: “Siapakah dia sebetulnya?”

Agaknya Coh Liu-hiang segan mengatakan siapakah sebenarnya si ‘dia’ itu. Sesaat ia

menepekur, tiba-tiba ia tertawa dan berkata: “Kebetulan aku ada urusan hendak menemui Thianhong

Taysu, kebetulan bisa membawa sekalian daun tehmu, kau kuatir tidak kalau kuantarkan?”

Bergegas Chi-ma-cu menurunkan buntalan kuning itu terus diangsurkan ke hadapan Coh Liuhiang,

katanya tertawa: “Jangan hanya soal daun teh, umpama Chi-ma-cu menyerahkan jiwa

raganya, aku Chi-ma-cu pun tak perlu kuatir.”

Coh Liu-hiang tertawa-tawa. Belum sempat ia bicara lebih lanjut, mendadak dilihatnya pemilik

warung teh ini menghampiri dirinya dengan sangat tergopoh-gopoh. Ia menjura hormat kepada

Coh Liu-hiang, lalu berkata dengan unjuk seri tawa: “Seorang tamu yang duduk di meja pojok

sebelah sana ingin bicara beberapa patah kata dengan Kongcu, entah Koncu sudi pindah ke meja

sana sebentar?”

Di pojok ruangan sebelah sana memang ada sebuah meja dengan tiga buah kursi. Seorang

berpakaian abu-abu sedang duduk menghadap pojok dinding, sejak tadi dia memang sudah duduk

di sana, bergerak pun tidak, seperti patung layaknya. Orang ini mengenakan topi rumput datar

sebesar baskom, kini topi besarnya itu dia tanggalkan ke belakang lehernya, sehingga batok

kepalanya tertutup dan tidak terlihat dari belakang, yang kelihatan hanya gulungan rambutnya

yang sudah ubanan.

Sejak datangnya tadi, belum pernah dia menoleh atau mengamati Coh Liu-hiang dengan jelas.

Coh Liu-hiang pun belum pernah melihat raut mukanya, kenapa pula mendadak orang itu minta

Coh Liu-hiang pindah ke sana untuk bicara?

Karena hati merasa heran, Coh Liu-hiang jadi tertarik dan ingin ke sana untuk melihat apa

sebenarnya yang diinginkan orang itu. Baru saja kakinya melangkah ke sana, orang itu pun sudah

bangkit dari tempat duduknya walau orang ini tetap tidak mau berpaling, seolah-olah di belakang

punggungnya tumbuh sepasang mata saja.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, sekonyong-konyong ia bergelak tawa, ujarnya: “Apakah tuan ini

adalah Sin-eng Go-lopothau?”

Badan orang itu agaknya rada tergetar, namun lekas sekali Coh Liu-hiang sudah menghampiri

dan duduk di belakangnya, katanya tertawa besar: “Di kolong langit ini, kecuali Go-lopothau (opas

tua she Go), siapa lagi yang mempunyai ketajaman telinga sesakti ini?”

Orang itu tertawa getir, katanya: “Di kolong langit ini, memang kenyataan tiada sesuatu yang

dapat mengelabui Coh Liu-hiang si Maling Romantis.”

Tampak muka orang ini luar biasa sekali, tulang pipinya menonjol, dagunya pendek, biji

matanya berkilat, sepasang kupingnya berwarna abu-abu putih, kiranya terbuat dari perak murni.

Kalau tidak tertutup oleh topi rumputnya, sekali pandang saja orang lain akan tahu bahwa orang ini

mengenakan telinga palsu.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: “Sejak berpisah di kota raja, tahu-tahu beberapa bulan

sudah berselang, tak nyana suara aku orang she Coh ternyata masih belum terlupakan oleh Golopothau.

Yang amat mengherankan, seingatku hari itu Cayhe seperti tidak mengeluarkan

perkataan apa pun, entah dari mana Go-lopothau bisa tahu dan membedakan suaraku.”

Sin-eng tertawa: “Manusia di kolong langit ini bukan saja nada suara bicaranya berlainan,

sampai pun derap kakinya waktu berjalan pun berbeda. Coh Liu-hiang si Maling Romantis

membekal Ginkang yang tiada taranya, sudah tentu suara langkah kakinya jauh berlainan dengan

orang lain. Aku si tua kecil ini kalau tidak bisa membedakan langkah kaki si Raja Maling, sepasang

kupingku ini patut kuberikan kepada anjing saja biar digegares habis.”

“Pek-ih-sin-ji (Kuping Sakti Baju Putih) ternyata tidak bernama kosong,” Coh Liu-hiang memuji

sambil mengacungkan jempol.

Mendadak ia menekan suara, lalu berkata dengan pelan-pelan: “Dari jarak laksaan li Golopothau

mengejar sampai di sini, apakah tujuanmu adalah Pek-giok-bi-jin itu?”

Sin-eng segera unjuk tawa dibuat-buat, sahutnya: “Umpama Losiu punya nyali setinggi langit,

sekali-kali tidak akan berani minta barang yang sudah berada di tangan Maling Budiman!”

Coh Liu-hiang menatapnya lekat-lekat, “Lalu untuk apa pula tuan ke mari?”

Sin-eng pun menekan suaranya, sahutnya: “Losiu sedang menguntit jejak Boan-thian-sing Chima-

cu itu …….”

Coh Liu-hiang mengerutkan kening, katanya: “Apakah karena peristiwa di lorong Thi-say-cu

tujuh tahun yang lalu itu?”

Sin-eng tertawa getir pula, ujarnya : “Semula Losiu tidak tahu bila peristiwa itu ada hubungan

dengan Maling Budiman, kalau tidak sekali-kali aku tidak akan berani mencampuri persoalan ini.

Tentunya kau tahu, seseorang bila dia menerima sesuap nasi dari jabatan dan tugas yang

diberikan pemerintah, selama hidupnya jangan harap kau bisa bebas dari segala beban

pertanggung-jawaban dari tugas yang dipikulnya. Ada urusan seumpama kau tidak suka

mengurusnya, tapi terpaksa dan dipaksa untuk membereskannya.”

Berkata Coh Liu-hiang dengan heran : “Peristiwa tujuh tahun yang lalu memang Chi-ma-cu

ada salahnya, tapi Bwe-hoa-kiam dan Siang-ciang-hoan-thian Cui Cu-ho mengandalkan

kekuasaannya menindas orang, perbuatannya patut ditumpas dan diberantas. Apalagi karena

peristiwa itu Chi-ma-cu insaf diri dan selanjutnya mencuci tangan dari pergaulan Kangouw, jauhjauh

menyingkir ke tempat ini. Ke mana pun ia pergi, Go-lopothau harus mengejarnya sampai di

sini dan hendak memberantasnya? Janganlah kau mendesak orang sedemikian rupa.”

“Losiu hidup setua ini memangnya tidak bisa melihat gelagat dan tak tahu urusan ?” ujar Sineng

tersenyum. “Sekarang aku sudah tahu bahwa Maling Budiman ada sangkut-pautnya dengan

persoalan ini, masakah aku berani banyak urusan lagi?” Ia menghela nafas panjang, lalu

menambahkan : “Losiu mohon Kongcu bicara di sini sebenarnya masih ada persoalan lain yang

mohon penjelasanmu.”

“Masih ada urusan apa?” tanya Coh Liu-hiang mengerutkan alis.

Sesaat Sin-eng ragu-ragu, katanya tandas: “Lamkiong Ling, Pangcu dari Kaypang, sepuluhan

hari yang lalu sudah meninggal di Tay-bing-ouw di Kilam, kejadian itu entah apakah Maling

Budiman sudah tahu?”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Tentunya Go-Lopothau tidak beranggapan akulah yang telah

membunuh Lamkiong Ling, bukan?”

Lekas Sin-eng unjuk tawa pula, sahutnya : “Mana berani Losiu punya pikiran seperti itu, cuma .

. . . . . . . . “

“Cuma apa ?” Coh Liu-hiang mendesak.

“Cuma kematian Lamkiong Ling Pangcu sungguh amat mengerikan. Kabarnya, setelah ajal,

badannya dicacah hancur berkeping-keping oleh orang, maka seluruh anggauta Kaypang semua

bersumpah hendak menemukan si pembunuh.”

Coh Liu-hiang mengerutkan alis, sudah tentu dia tahu siapa orang yang mencincang badan

Lamkiong Ling sampai berkeping-keping, dia bukan lain adalah Mutiara Hitam yang menuntut

balas bagi kematian ayahnya. Sudah tentu terpikir juga olehnya bahwa murid Kaypang sampai

sekarang belum tahu akan intrik Lamkiong Ling dengan si dia itu serta rencana jahatnya jangka

panjang. Tapi semua persoalan ini dia tidak ingin diketahui atau dibicarakan dengan orang lain.

Terdengar Sin-eng berkata pula setelah menghela nafas: “Peristiwa saling bunuh-membunuh

di kalangan kangouw memang tidak pantas losiu tanyakan atau mencampurinya, cuma soalnya

Losiu ada hubungan amat intim beberapa puluh tahun dengan beberapa anak murid Kaypang, kali

ini aku bertemu mereka di tengah jalan.”

“Memangnya anak murid Kaypang semua menyangka akulah yang turun tangan membunuh

Lamkiong Ling?”

“Sekali-kali mereka pun tidak berani curiga kepadamu, cuma mereka mengatakan Maling

Budiman pasti tahu siapakah biang keladi pembunuh dari Lamkiong Ling, oleh karena itu mereka

mohon kepada Losiu bila bertemu dengan kau mewakili mereka tanyakan hal ini. Peduli kau

Maling Budiman ini tahu atau tidak, cukup asal sepatah katamu saja, seluruh murid-murid Kay

pang pasti tiada yang berani banyak komentar lagi.”

“Peristiwa itu ya memang aku mengetahuinya,” sahut Coh Liu-hiang dengan mata bersinar.

“Kalau Maling Budiman tahu, entah sudikah memberi penjelasan?” seru Sin-eng dengan

jantung berdebar-debar.

Berkata Coh Liu-hiang dengan nada berat: “Seumpama aku memberitahu, kau pun takkan bisa

berbuat apa-apa, namun . . . ” Mendadak ia bangkit berdiri serta menambahkan: “Tiga hari lagi,

boleh kau menunggu kabarku di taman besar keluarga Lim di Poh-thian. Sampai saatnya pasti

akan kujelaskan siapakah biang keladi dari pembunuhan Lamkiong Ling dan kuserahkan orangnya

kepadamu.”

***

Tanpa kenal lelah Coh Liu-hiang seharian itu bertunggang di punggung kuda dan membedal

kudanya dengan kencang, langsung menuju Poh-thian.

Maghrib kembali menjelang. Setelah menitipkan kudanya di tempat yang aman, cuaca petang

gelap ini amat kebetulan malah untuk dirinya sehingga dengan leluasa langsung meluncur ke

Siau-lim-si. Terasa olehnya waktu sudah terlalu banyak terbuang percuma, maka tidak sempat lagi

ia datang secara sewajarnya sebagai tamu, tanpa memberitahu kedatangannya lagi.

Siau-lim-si di Poh-thian ini memang tidak sebesar dan seangker Siong-san Siau-lim-si, tapi kuil

besar yang tenggelam dalam tabir malam ini kelihatan angker serta terasa amat seram seperti

raksasa yang bercokol di atas gunung.

Angin malam menghembus sejuk dan sepoi sepoi basa, sayup-sayup terdengar suara

tembang mantra, asap dupa kelihatan mengepul tinggi. Lapat-lapat terendus bau kayu cendana

yang terbakar harum semerbak, alam diliputi keheningan yang khidmat dan agung, maka terasa

hawa membunuh atau watak kekejian lenyap di sini.

Angin musim rontok menghembus gundul dedaunan dan menghamburkannya ke atas undakan

batu. Pintu besar di ujung undakan batu di sana terbuka lebar, dari luar pintu di kejauhan samarsamar

kelihatan pepohonan yang tumbuh tinggi besar di tengah pekarangan kelenteng.

Maju lebih jauh ke depan, itulah ruang pemujaan dan kamar berhala yang besar dan angker.

Di tempat ini setiap orang, pada jam-jam tertentu, boleh keluar masuk dengan leluasa, tapi pada

saat-saat tertentu bukan sembarang orang yang berani sembarang memasukinya. Nama Siau-lim

memang sudah menggetarkan dunia, peduli siapa pun bila dia tiba di tempat ini, mau tidak mau

pasti timbul rasa patuh, hikmah dan kewaspadaannya. Walau pintu di sini terbuka lebar, tapi siapa

pula yang berani sembarangan melangkah ke tempat seram ini?

Coh Liu-hiang tidak masuk dari pintu besar, dia langsung melompati pagar tembok. Dalam

relung hatinya lapat-lapat sudah mendapat firasat jelek, terasa meski waktu sesingkat apa pun tak

bisa ditunda-tunda lagi.

Sinar surya yang terakhir masih memancar dengan cahaya kuning kemerah-merahan redup.

Wuwungan rumah yang berlapis-lapis seperti berlomba mengadu ketinggian. Di bawah pancaran

cahaya sinar matahari yang menguning ini, selayang pandang seperti puncak-puncak gunung

yang bersambung, seolah-olah warna darah sudah bertaburan di puncak bukit.

Di manakah Thian-hong Taysu? Bagai burung walet, Coh Liu-hiang meluncur dari satu

wuwungan ke wuwungan yang lain. Diam-diam hatinya bimbang dan bertanya-tanya. Tidak lebih

badannya sedikit lebih merandek, maka terdengarlah seruan sabda Budha: “Omitohud!”

Belum lagi seruan pendek ini sirap suaranya, di wuwungan rumah yang tinggi ini berturut-turut

berkelebat naik empat sosok bayangan gundul.

Keempat orang ini sama mengenakan jubah agama warna abu-abu, mengenakan kaos kaki

warna putih, rata-rata berusia empat puluhan, empat raut muka yang angker dan serius, masingmasing

memiliki sepasang biji mata berkilat tajam. Keempat pasang mata yang tajam bersinar ini

semua menatap lekat-lekat ke muka Coh Liu-hiang.

Mau tidak mau Coh Liu-hiang amat terkejut dibuatnya: “Padri-padri Siau-lim ternyata memang

tidak boleh dipandang rendah!” Hati membatin, sementara lahirnya tetap wajar, katanya tersenyum

simpul: “Para Taysu, apa sudah makan?”

Pertanyaan yang sudah biasa dan umum dalam pergaulan, sekedar basa-basi seseorang yang

bertemu menjelang saat-saat waktu makan dengan teman baiknya, kebanyakan sering

mengajukan pertanyaan seperti ini.

Akan tetapi dalam keadaaan dan di tempat seperti ini, tak urung keempat padri itu sekilas

tertegun kemekmek. Padri tertua yang berdiri di paling kiri segera angkat bicara dengan suara

sangat tajam: “Dua puluh tahun terakhir sudah tidak ada orang Kangouw yang pernah berpijak di

atas wuwungan Siau-lim-si. Sicu (tuan budiman) hari ini ternyata melanggar kebiasaan ini,

tentunya ke mari dengan sesuatu tujuan tertentu, silahkan kau jelaskan maksud kedatanganmu!”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Maksud kedatanganku, seumpama sudah kujelaskan,

tentunya para Taysu tak mau percaya.”

Beringas muka padri tertua ini, bentaknya: “Kalau Sicu tidak mau menjelaskan maksud

kedatanganmu, jangan heran kalau pinceng (Padri miskin) beramai akan turun tangan secara

gegabah.”

Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya: “Selama hidup Cayhe paling pantang bergebrak dengan

anak murid Siau-lim, buat apa para Taysu harus mendesak begini rupa melanggar kebiasaan lagi.”

Padri tertua itu menjadi marah, bentaknya: “Kalau Sicu tidak terus terang, silahkan ikut

Pinceng turun ke bawah.” Seiring dengan bentakannya, lengan jubahnya yang gombrong itu tibatiba

dikebutkan, melambai enteng laksana awan mengambang, pesat dan kuat seperti kilat

menyambar, langsung menerjang ke tenggorokan Coh Liu-hiang serta membelitnya.

Sebagai seorang beragama, tidak enak para padri Siau-lim membawa senjata di kandang

sendiri, maka lengan baju panjang dan gombrong ini sebagai ganti gaman mereka, dalam dunia

persilatan hanya dikenal Lip-in-thi-sia (Lengan Besi Mega Mengalir) adalah pelajaran tunggal dari

Bu-tong-pay, diluar tahu khalayak ramai bahwa kepandaian kebutan tangan jubah anak murid

Siau-lim bukan saja tidak lebih asor dari kepandaian tunggal Bu-tong-pay itu, malah betapa besar

dan kokoh kekuatan kebutan mungkin lebih unggul dan hebat luar biasa.

Serangan Hwi-siu-kang padri setengah baya ini bukan saja dapat dibuat menyerang secara

kekerasan, dapat pula diubah secara lebih lunak, tenaga lunaknya malah jauh lebih bermanfaat

karena sekaligus bisa untuk merebut gaman yang dipakai. Sementara kekuatan kerasnya

menggetar putus urat nadi lawannya.

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Murid-murid Siau-lim semua baik dan alim, cuma

wataknya saja yang rada berangasan.” Mulut bicara, sementara badannya sudah melambung

tinggi ke udara bagai burung bangau melejit naik ke angkasa. Di kala kata-kata terakhirnya habis

diucapkan, seenteng burung walet badannya sudah melesat empat tombak jauhnya.

Begitu kebutan lengannya mengenai tempat kosong, seketika tersirap darah padri setengah

baya ini, serunya: “Sicu, hebat benar Ginkangmu, tak heran kau berani bertingkah dan mencari

gara-gara di Siau-lim-si.”

Serempak keempat padri bergerak dengan tangkas, masing-masing bergerak menurut posisi

masing-masing. Mereka sudah memperhitungkan, betapa pun jauh lompatan Coh Liu-hiang, tentu

badannya akan meluncur turun dan pinjam wuwungan genteng untuk berpijak. Begitu kaki

menyentuh genteng, berarti orang sudah masuk ke dalam barisan keempat padri ini.

Di luar tahu mereka, kehebatan Ginkang Coh Liu-hiang justru lain dari yang lain, ternyata

badannya bisa meluncur terus tanpa mencari tempat berpijak. Badannya laksana ikan dalam air,

sekali meliuk dan melejit pula, tahu-tahu badannya sudah melesat empat tombak pula ke depan

dengan kepala di bawah kaki di atas, langsung ia menukik turun dan menghilang di bawah

emperan yang gelap pekat. Terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan: “Cahye ke mari

bukan untuk bertingkah. Setelah urusan kuselesaikan, pasti aku akan menemui para taysu untuk

mohon maaf sebesar-besarnya.”

Keempat padri ini sama menjublek di tempat, rona muka mereka berubah beberapa kali.

Padri tertua itu bersuara dengan nada berat: “Hian-hoat segera memberi kabar akan terjadi

perubahan. Hian-thong dan Hian-biau, ikuti jejakku.” Sembari bicara, lekas ia menubruk ke arah

datangnya suara Coh Liu-hiang. Tapi bintang kelap-kelip di angkasa raya, angin malam

menghembus sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pohon, mana kelihatan bayangan Coh Liuhiang

lagi?

Coh Liu-hiang maklum kalau saat sekarang dia minta bertemu dengan Thian-hong Taysu,

sekali-kali para padri Siau-lim ini takkan sudi membawa dirinya. Kalau toh dijelaskan takkan

menjadi beres, terpaksa ia main terobos dan bertindak kasar.

Begitu bayangan tubuhnya menyusup ke tempat gelap, cepat sekali sudah meluncur terbang

pula ke depan, tidak menuju ke tempat lain, kembali dia melesat balik ke wuwungan rumah yang

paling tinggi di mana tadi dirinya berpijak.

Dilihatnya ketiga padri yang memburunya berkelebat lewat di bawah emper rumah, siapa pun

tiada yang menduga bahwa dia balik ke tempatnya semula, maka melirik pun tidak ke arah sini.

Coh Liu-hiang menunggu kira kira beberapa menit, maka terdengarlah di berbagai bangunan

kelenteng yang luas dan besar ini suara ketukan Bok-khi yang bersuara datar, rendah dan berat.

Beruntun kelihatan bayangan orang yang gesit dan tangkas berterbangan lompat dari satu

wuwungan dengan lincah sekali.

Naga-naganya Siau-lim-si meski tempat yang aman tenteram, tapi betapa cepat dan cekatan

gerak-gerik mereka dalam menghadapi perubahan ini serta kewaspadaan yang tinggi, sungguh

tidak malu dipandang sebagai tempat terlarang dan angker bagi kaum persilatan.

Dengan tertawa kecut Coh Liu-hiang membatin: “Maksudku supaya bisa selekasnya

berhadapan dengan Thian-hong Taysu, siapa tahu dengan adanya keadaan serba tegang dan

ribut ini mungkin tidak leluasa aku bertindak.”

Teringat akan keadaan Thian-hong Taysu yang sungguh amat mendesak dan berbahaya, mau

tidak mau hatinya jadi bingung dan gelisah. Apa boleh buat, sampai detik ini dia sendiri masih

belum tahu di mana letak tempat bersemayam Thian-hong Taysu.

Kini suara Bok-khi sudah berhenti, suasana kelenteng kuno yang angker ini semakin hening

lelap dan seram menakutkan.

Tapi terasa oleh Coh Liu-hiang suasana hening dan ketenangan yang luar biasa ini justru lebih

berbahaya bagi dirinya. Kelenteng yang kelihatan dilingkupi ketenangan ini bahwasanya

tersembunyi suatu mara bahaya yang hebat dan mengancam jiwa.

Namun tiada tempo buat dia untuk banyak berpikir. Sekilas ia pejamkan mata berpikir

sebentar, mendadak ia menerjang keluar dari tempat gelap dan melesat ke sebuah wuwungan

kelenteng di seberang sana.

Pakaiannya melambai melawan angin, badannya sudah melambung tinggi, seluruh bangunan

kelenteng Siau-lim-si seolah-olah berada di bawah kakinya. Betul juga, jejaknya seketika kelihatan

oleh orang di bawah.

Tampak bayangan orang mulai bergerak, berkelebat secepat kilat, dari pekarangan luas di

berbagai tempat di bawah sana langsung menubruk ke suatu arah yang sama, cuma pekarangan

kecil di sebelah barat sana sedikit pun tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.

Tanpa menunggu kedatangan mereka, cepat Coh Liu-hiang melesat ke arah sana, serunya

sambil tertawa panjang, “Cang-king-kek, perpustakaan Siau-lim terkenal di seluruh jagat, para

Taysu apakah boleh pinjamkan kepadaku untuk kubaca sekedarnya?”

Begitu lenyap suara tawanya, cepat sekali luncuran badannya membelok arah, tidak ke arah

selatan, malah menuju ke beberapa gerombolan pohon-pohon besar yang rimbun dengan

dedaunannya, ke sana ia melesat dan menyembunyikan diri. Terdengar sahut-menyahut di bawah

sana berkata: “Ternyata benar orang tu hendak menyatroni ke Cang-king-kek.”

“Awas, hati-hati! Perhatikan Cang-king-kek!”

Kekayaan buku-buku agama yang tersimpan di Siau-lim-si memang menjagoi di seluruh dunia.

Orang-orang yang menyerempet bahaya menyelundup masuk ke Siau-lim memang kebanyakan

bertujuan mencuri kitab-kitab pelajaran silat, agama dan lwekang dan buku macam lainnya yang

tak terhitung banyaknya, rata rata buku pusaka yang tak ternilai harganya. Para padri Siau-lim

sudah tentu sama menyangka Coh Liu-hiang meluruk datang hendak mengincar sesuatu di Cangking-

kek, siapa pula yang tahu dan sadar bahwa dia sengaja memancing mereka bersuara di timur

menggempur di barat, sengaja ia main petak umpet secara lihai.

Tampak bayangan orang berkelebat dan berlari-lari menuju ke timur, cepat sekali Coh Liuhiang

sudah meluncur ke arah barat, arah yang berlawanan.

Kali ini dia tidak meluncur di atas genteng, tapi menyusuri serambi panjang dari bangunanbangunan

megah itu. Di balik bayang-bayang pepohonan, semua kamar-kamar yang dilalui tiada

kelihatan sorot api. Di antara keresekan bunyi dedaunan pohon, sayup-sayup terdengar tembang

mantra yang mengalun lirih.

Pekarangan nan sepi tak kelihatan bayangan manusia, terasa dilingkupi suasana kesunyian

yang tak terkendalikan. Kehidupan para padri di dalam kelenteng kuno yang serba sunyi ini, entah

bagaimana mereka melewatkan hari demi hari dalam kehidupan yang tawar ini.

Tanpa berlambat-lambat lagi Coh Liu-hiang terus beranjak maju, sementara dalam hati diamdiam

ia menghela napas. Bagi orang-orang yang tahan hidup dalam kesunyian ini, betapa pun

dalam hati ia menaruh hormat dan salut setinggi-tingginya.

Soalnya Coh Liu-hiang cukup prihatin, dia sendiri pernah mengalami, tiada sesuatu kesunyian

di dalam kehidupan duniawi seperti ini yang bisa ditahan.

Begitulah, dengan tindakan cepat, dari satu bangunan ke bangunan lain, dari pekarangan sini

lewat ke pekarangan yang satunya pula, serambi sini, membelok ke sana, kamar-kamar yang

dilewati semua gelap gulita. Lantai papan batu hijau yang kelihatan mengkilap tersorot sinar

bintang-bintang di langit, sepetak demi sepetak meluncur mundur pesat sekali.

Sekonyong-konyong didengarnya suara bentakan yang berat: “Sicu harap berhenti!”

Segulung tenaga pukulan yang membawa deru angin amat dahsyat tahu-tahu sudah

merangsek tiba ke mukanya.

Coh Liu-hiang kertak gigi, tidak berkelit tidak menyingkir, ia pun tidak balas menyerang.

Dengan kekerasan kulit dagingnya, ia mandah digenjot oleh sejurus Pek-poh-sin-kun (Pukulan

Sakti dari Ratusan Langkah) yang cukup ampuh untuk menghancurkan batu gunung sekalipun.

Tampak badannya bagai dilanda gelombang pasang yang dahsyat sehingga badannya

terpental terbang ke belakang.

Padri beralis putih berjenggot panjang di hadapannya agaknya merasa di luar dugaan bahwa

dengan sekali pukulannya dengan telak merobohkan lawan. Tapi terasa pandangannya serasa

kabur, pemuda yang digenjotnya terpental terbang itu tahu-tahu melejit bangun dan terbang

kembali ke hadapannya, malah berseri tawa lagi. Bukan saja gerak-geriknya cekatan dan enteng,

pergi datang seperti kilat, lebih hebat lagi bahwa pukulan sakti dengan jurus Khek-san-bak-gu

(Dari Balik Gunung Memukul Kerbau) dari Siau-lim ternyata sedikit pun tidak melukai anak muda

ini.

Keruan si Taysu pengawas gereja yang punya latihan silat puluhan tahun dengan keyakinan

lwekangnya yang tiada taranya seketika melongo dan menjublek di tempatnya. Dengan

mendelong ia mengawasi Coh Liu-hiang, sesaat lamanya tak kuasa bersuara.

Coh Liu-hiang sengaja mandah terpukul, tujuannya memang hendak bikin si padri terkesima

dan sementara tak bersuara membuat kaget orang lain. Kalau tidak, betapapun raganya bukan

dibuat dari baja, memangnya ia kuat bertahan dari pukulan beruntun yang sudah cukup

membuatnya kapok ini?

Akhirnya si padri berkata dengan pelan-pelan: “Sicu memiliki ilmu silat setinggi ini, Loceng

belum pernah menghadapinya, entah dapatkah Sicu memperkenalkan diri?”

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: “Kalau Cahye perkenalkan namaku, mungkin Taysu akan

sangka kedatanganku ini hendak mencuri buku pusaka di sini.”

Padri alis putih berkata: “Kalau Sicu hendak mencuri sesuatu di sini, pastilah kau tidak akan

datang ke tempat ini.”

Coh Liu-hiang tertawa, terpaksa ia perkenalkan diri: “Cahye Coh Liu-hiang!”

Mencelos hati si padri alis putih, serunya tertahan: “Apakah Maling Romantis Coh Liu-hiang?”

Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa: “Taysu jauh berpisah dengan duniawi, tak

nyana ternyata tahu juga julukan busuk Cayhe yang memalukan itu?”

Roman muka si padri yang semula tegang dan membesi sekarang kelihatan mengendor dan

unjuk rasa gembira. Sorot matanya yang berkilat dingin kini terunjuk senyuman riang pula, katanya

kalem: “Walau Loceng sudah lama terasing dari keramaian diunia persilatan tapi aku punya

seorang Sute yang punya pengalaman luas dan pergaulan bebas. Setiap kali dia datang ke mari,

tentu dia bercerita banyak persoalan lucu-lucu, aneh dan kisah yang menarik. Demikian juga

kebesaran serta kepahlawanan Coh Liu-hiang yang perwira, merupakan kisah-kisah petualangan

yang menarik di antara cerita-cerita yang kudengar.”

“Orang yang Taysu maksudkan apakah Bu Hoa?” tanya Coh Liu-hiang.

Padri alis putih tersenyum, ujarnya; “Selama ratusan tahun ini, murid Siau-lim yang punya

pergaulan dan pengalaman luas seperti itu hanya dia seorang.”

“Dia….apakah sekarang dia berada di sini?” tanya Coh Liu-hiang tak sabar.

“Kedatangan Sicu apakah hendak mencari dia?”

“Maksud utama kedatangan Cayhe sebetulnya hendak mohon bertemu dengan Thian-hong

Taysu.”

“Ciangbun-suheng sudah lama tidak menerima tamu orang luar, tapi terhadap Coh-sicu

tentunya dia masih suka menerimanya, cuma sayang kedatangan Sicu sekarang kurang

kebetulan.”

“Apakah Thian-hong Taysu sudah…” tanya Coh Liu-hiang gugup.

Padri alis putih tersenyum lebar, katanya: “Ciangbun-suheng sudah bebas dari segala

kesulitan pikiran yang mengganggu kehidupan manusia pada umumnya, kini hanya punya hobi

suka menikmati berbagai macam dedaunan teh, sejak kedatangannya dulu sampai sekarang

kesenangannya belum pernah luntur dan berubah. Sekarang dia sedang melihat daun teh, siapa

pun dilarang mengganggunya.”

Coh Liu-hiang menghela napas lega, katanya tertawa lebar berseri: “Jikalau Thian-hong

sedang menikmati teh dengan penilaiannya seorang diri, sekali-kali Cayhe tidak berani

mengganggu dan tidak segugup ini, cukup asal aku bisa bertemu lebih dulu dengan Bu Hoa

Suheng juga sama sajalah.”

“Kalau kedatangan Sicu kebetulan tidak bisa berhadapan dengan Ciangbun-suheng, maka

jangan harap kau bisa bertemu dengan Bu Hoa pula.”

“Kenapa?” tanya Coh Liu-hiang.

Padri alis putih tersenyum pula, ujarnya: “Murid Siau-lim kami yang pandai dan pernah

menikmati serta menilai kenikmatan teh dari Tang-ni juga cuma Bu Hoa seorang. Asal dia datang

ke mari, tugas pertama yang dia lakukan ialah menggodok wedang menyeduh teh bagi Ciangbunsuheng.”

Seketika berubah hebat air muka Coh Ling-hiang, jeritnya: “Jadi Bu Hoa sekarang sedang

bantu Thian-hong Taysu menggodok wedang menyeduh teh?”

Padri alis putih manggut-manggut, sahutnya tertawa: “Kalau Coh-sicu ingin bertemu dengan

mereka, mungkin harus tunggu sampai besok pagi.”

Boleh dikata saking gugupnya Coh Liu-hiang sudah hampir gila, namaun akhirnya dia bisa

berlaku tenang, katanya: “Apakah di pekarangan belakang sana tempat mereka menikmati air

teh?”

“Betul!” sahut padri alis putih manggut.

Tiba-tiba Coh-Liu-hiang menuding ke belakang padri alis putih, katanya: “Tapi yang

mendatangi di belakang Taysu itu bukankah Bu Hoa?”

“Di mana?” tanya padri alis putih sambil berpaling.

Begitu dia berpaling, di belakangnya kosong melompong tak terlihat bayangan seorang pun.

Waktu ia berpaling ke muka pula, Coh-Liu-hiang di hadapannya tahu-tahu sudah lenyap tak

karuan perannya.

Begitu kepala gundul si padri berpaling, badan Coh Liu-hiang lantas menerjang terbang ke

sana. Luncuran tubuhnya ini sudah ia kerahkan seluruh kekuatannya. Sebelumnya dia sudah incar

dan siapkan tempat injakan kakinya. Begitu ujung kaki menutul bumi, kembali badannya melesat

empat tombak. Belum lagi padri alis putih sempat berpaling, bayangannya sudah berkelebat

puluhan tombak jauhnya. Ginkang Coh Liu-hiang yang tiada bandingannya di seluruh jagat,

setelah dikembangkan di saat yang teramat genting ini, tempo kecepatannya sungguh luar biasa.

Menunggu kepala si padri berpaling pula, bayangannya sudah menyelinap ke pinggir pagar

tembok yang lebih rendah di belakang sana.

Di belakang pagar tembok yang rendah ini, terdapat sebuah pekarangan kecil pula, rumput

dan pepohonan kembang tumbuh subur dan terawat baik di sini. Di tengah rumpun bambu di

sebelah kiri sana, terdapat tiga bilangan gubuk pintu terbuka dengan kerai bambu menjuntai turun.

Dari sela-sela kerai yang lembut memandang ke dalam, samar-samar kelihatan dua sosok

bayangan orang sedang duduk bersimpuh berhadapan di atas lantai.

Suasana di sini sunyi senyap, angin menghembus dedaunan, bayangan orang di atas kerai

jadi bergerak-gerak turun naik, seolah-olah mereka berdua sedang berada di khayangan.

Orang di sebelah kanan terang adalah Bu Hoa.

Sebuah anglo kecil yang terbuat dari tanah merah berada di depannya. Selain sebuah ceret

tembaga dan sebilah kipas, terdapat pula seperangkat peralatan minuman teh yang amat bagus.

Saat itu, tiga buah mangkok kecil sebesar cangkir arak sudah sama diisi penuh air teh, serangkum

bau teh yang semerbak terendus keluar dari celah-celah kerai bambu, ditambah bebauan kuntum

kembang harumnya sungguh memabukkan.

Yang duduk di hadapan Bu Hoa adalah seorang padri tua yang lanjut usia dengan badan kurus

kering, jenggot dan alisnya sudah memutih. Saat itu dia sedang menerima secangkir air teh dari

tangan Bu Hoa. Sambil pejamkan mata, pelan-pelan ia angkat cangkir teh itu ke dekat mulutnya

hendak ditenggaknya habis.

Sekonyong-konyong Coh Liu-hiang membentak keras. Secepat anak panah ia menerjang

masuk ke balik kerai bambu seraya berseru: “Air teh ini tak boleh diminum!”

Begitu melihat dirinya, seketika berubah roman muka Bu Hoa, tapi cepat sekali sikapnya sudah

tenang kembali.

Sebaliknya kulit daging di ujung mulut Thian-hong Taysu sedikit bergerak pun tidak. Naganaganya,

andaikan dunia kiamat dan langit jatuh di hadapannya, roman mukanya pun takkan

berubah atau terkejut.

Namun dengan kalem ia meletakkan cangkir tehnya, pelan-pelan pula membuka matanya

yang terpejam.

Dipandang oleh sorot mata yang tajam ini, Coh Liu-hiang sendiri merasa rikuh dan serba salah

malah.

KENANGAN MASA LALU

Berkata Thian-hong Taysu tawar: “Sicu ke mari main terjang secara gegabah, apakah tidak

merasa terlalu kasar?”

Lekas Coh Liu-hiang menjura, sahutnya, “Cahye terlalu terburu nafsu, harap Taysu suka

maafkan kekasaran Cayhe!”

Sesaat lamanya Thian-hong menatapnya lekat-lekat, katanya pula kalem: “Selama duapuluh

tahun ini, yang bisa menerjang masuk ke mari sepanjang jalan ini, Sicu merupakan orang pertama.

Kalau kau mampu ke mari, tentulah bukan orang sembarangan. Silakan duduk dan minum teh

dulu, bagaimana?”

Padri agung dari Siau-lim ini ternyata latihannya sudah mencapai puncak kesempurnaannya,

sedikit pun tidak timbul amarahnya karena ketenangannya terganggu, mau tidak mau Coh Liuhiang

merasa kagum dan memuji dalam hati.

Bu Hoa ikut tersenyum, timbrungnya: “Benar, kalau toh Coh-heng sudah ke mari, kenapa tidak

duduk dulu minum secangkir teh untuk menghilangkan lelah di tengah jalan.”

Thian-hong Taysu tertawa tawar, katanya: “Ternyata Coh-sicu adanya, tak heran Ginkangmu

begitu tinggi, dalam dunia ini tiada orang kedua yang bisa menandingi.”

“Tidak berani!” sahut Coh Liu-hiang merendahkan diri.

Berkata Thian-hong Taysu tertawa: “Walau sudah lama Lo-ceng terpisah dari urusan duniawi,

tapi bisa berhadapan dengan kegagahan dan kehebatan tunas muda jaman ini, sungguh hatiku

teramat gembira. Kuilku yang bobrok ini tiada arak untuk menyambut kedatanganmu, silahkan

Coh-sicu minum teh saja.” Kembali ia angkat cangkir teh pula.

Lekas Coh Liu-hiang berseru mencegahnya lagi: “Teh ini tidak boleh diminum.”

“Walau air teh ini belum termasuk minuman dewata, sudah terhitung kualitas pilihan juga,

kenapa tidak boleh diminum?”

Sekilas mengerling kepada Bu Hoa, tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Cayhe terima

titipan seorang sahabat, kini kubawakan daun teh yang terbaru dan pasti luar biasa rasanya, dan

lagi Cayhe yakin benar mengenai penilaian kualitas air teh ini Cayhe pun cukup ahli. Masakan

Taysu tidak sudi mencicipinya lebih dulu?”

Seketika terbuka seri tawa Thian-hong Taysu, katanya senang: “Kalau demikian, biarlah Loceng

tunda minum yang ini dan rasakan dulu teh yang kau bawa.”

Padri tua yang sudah mencapai puncak kesempurnaan latihan Lwekang dan silatnya ini,

menghadapi persoalan apa pun takkan tergoyahkan imannya, tapi mendengar adanya seduhan air

teh dari seorang ahli, seketika tak terkendali rasa senangnya.

Dalam hati Bu Hoa teramat gusar, namun sikap dan mimik wajahnya sedikit pun tidak pernah

menampilkan perasan hatinya. Ternyata ia pun tersenyum, katanya: “Tak nyana Coh-heng pun

punya kegemaran ini. Bagus, sungguh bagus!”

Segera ia bangkit berdiri, tempat menyeduh teh ia berikan pada Coh Liu-hiang, sedang

beberapa cangkir teh yang sudah dia seduh tadi semuanya dia buang keluar perkarangan.

Coh Liu-hiang memandangnya sekali, katanya tertawa: “Air yang begitu berharga dibuang

begitu saja, apa tidak sayang?”

Dia tidak mengatakan “teh” namun menyebut ‘air’, cuma saja tidak secara langsung ia

menyebut nama Thian-it-sin-cui. Namun sikap Bu Hoa tetap tenang dan wajar, sahutnya tertawa:

“Air hasil saringan dari cairan salju murni ini memang cukup berharga, namun simpanan dalam kuil

kami tidak sedikit jumlahnya. Coh-heng kalau punya hasrat boleh nanti bawa segentong kalau mau

pulang!”

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, dengan laku hormat ia bersimpuh dan mulai

membuat api menggodok wedang.

Tiba-tiba Thian-hong Taysu tertawa tawar, katanya: “Sekarang airnya belum matang, Coh-sicu

berkesempatan mengutarakan maksud kedatanganmu. Menghadapi teh kualitas paling baik

adalah pada saat-saat hati Lo-ceng paling riang. Jikalau Coh-sicu ada persoalan yang perlu

dibicarakan, kinilah saatnya yang terbaik.”

Mendadak terasa oleh Coh Liu-hiang senyum dikulum padri tua kosen yang tawar ini

hakikatnya mengandung kecerdasan luar biasa yang tak terukur tingginya. Sorot mata yang

tenang dan kalem ini seolah-olah bisa main selidik akan isi hati seseorang yang dipandangnya.

Perlahan-lahan Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Kedatangan Wanpwe hanya ingin

mohon Taysu suka mendongeng.”

“Mendongeng?” Thian-hong Taysu rada mengerutkan kening.

“Puluhan tahun yang lalu, ada seorang pendekar samurai bernama Thian-hong-cap-si-long

yang datang dari negeri seberang. Beliau pernah menantang bertanding kepandaian silat dengan

para tokoh-tokoh silat kosen dari Tionggoan, satu di antaranya adalah Jin-lopangcu dari Kaypang,

seorang yang lain entah apa benar Taysu adanya?”

Lama Thian-hong Taysu berdiam diri, entah sedang menepekur, baru akhirnya ia tarik napas

panjang, katanya prihatin: “Peristiwa dua puluh tahun yang sudah lalu, Lo-ceng sudah hampir

melupakannya,tak nyana hari ini Sicu menyinggung pula peristiwa itu… Benar, orang kedua yang

Sicu maksudkan memang Lo-ceng adanya.”

Bersinar biji mata Coh Liu-hiang, katanya: “Thian-hong-cap-si-long menyeberangi lautan untuk

menantang bertanding, namun tiada minatnya untuk mencapai kemenangan dan tidak mencari

ketenaran, sebaliknya malah pasrah nasib dan terima binasa demikian saja. Kalau rabaan

Wanpwe tidak meleset, apakah dia membekal sesuatu urusan hati yang menyedihkan?”

Kembali Thian-hong Taysu menepekur sekian lamanya, sahutnya pelan-pelan : “Rabaanmu

tidak meleset, memang dia punya urusan yang menyedihkan.”

“Jikalau Taysu sudi menjelaskan, sungguh tak terhingga rasa terima kasih Wanpwe!” Coh Liuhiang

mohon setulus hati.

Berkilat tajam mata Thian-hong Taysu. Lama ia tatap Coh Liu-hiang, katanya menghela napas.

“Pengalaman lalu laksana asap mega, sebetulnya Lo-ceng tidak mau menyinggungnya pula. Tapi

Sicu datang dari tempat nan jauh, maksudnya hanya ingin tahu seluk-beluk peristiwa itu, dalam hal

ini persoalan satu sama lain yang bersangkut-paut tentu amat besar artinya.”

Coh Liu-hiang mengangguk, ujarnya: “Taysu bijaksana dan tahu betapa pentingnya urusan ini.

Wanpwe tidak akan menyimpan rahasia persoalan ini, sangkut-paut urusan ini memang amat

penting dan besar artinya, tapi Wanpwe boleh berjanji dan bersumpah bahwa Wanpwe bersusah

payah hendak membikin terang peristiwa misterius ini sekali-kali bukan demi kepentingan pribadi

atau hendak mencari ketenaran, terutama bukan untuk maksud kejahatan.”

Thian-hong Taysu tertawa tawar, ujarnya: “Kalau Sicu punya maksud jahat dan tujuan pribadi,

mana mungkin bisa duduk di tempatku ini?”

Bergetar jantung Coh Liu-hiang, lekas dia membungkuk hormat dan berkata: “terima kasih

akan kebijaksanaan Taysu dan sukalah memeriksanya.”

Thian-hong Taysu pejamkan kelopak matanya, katanya pelan-pelan: “Thian-hong-cap-si-long

teguh hati dan perkasa sekali. Sedemikian besar hobinya akan ilmu silat, namun sayang dia pun

seorang yang terlalu romantis. Dua puluh tahun lebih yang lalu, Hoa-san dan Ui-san dua keluarga

besar persilatan terjadi bentrokan hebat sehingga pertarungan berlangsung sampai bertahuntahun,

dengan akibat yang amat fatal bagi kedua belah pihak. Terutama pihak Ui-san, akhirnya

mengalami kekalahan total dan habis-habisan, terakhir yang masih bertahan hidup tinggal Li Ki

seorang.”

Tak tahan Coh Liu-hiang bertanya: “Apa sangkut-pautnya peristiwa ini dengan Thian-hongcap-

si-long?”

Tutur Thian-hong Taysu lebih lanjut tanpa hiraukan pertanyaan Coh Liu-hiang: “Demi

menyelamatkan diri, nona Li Ki naik kapal dagang ikut berlayar ke negeri seberang, yaitu Husiang.

Waktu itu dia sendiri pun terluka dalam yang cukup parah, ditambah kehidupan di atas

lautan yang serba kekurangan, setiba di Hu-siang-to maka penyakitnya sudah teramat parah dan

sukar disembuhkan lagi.”

“Apakah nona Li Ki ini akhirnya bertemu dengan Thian-hong-cap-si-long di Hu-siang-to itu?”

tanya Coh Liu-hiang pula.

Thian-hong menghela napas, katanya: “Begitulah kejadiannya. Diam-diam sejak melihat

pertama kalinya, Thian-hong-cap-si-long pun jatuh cinta kepadanya, sampai beberapa hari tidak

bisa tidur tidak enak makan. Dengan segala jerih payah dan usahanya, lambat laun ia mengobati

dan menyembuhkan nona Li. Sudah tentu mau tidak mau nona Li teramat haru dan merasa hutang

budi akan ketelitian rawatannya yang begitu telaten. Hari keempat setelah luka-lukannya sembuh,

lantas dia menjadi suami isteri dengan Thian-hong-cap-si-long.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Perjodohan ditentukan takdir dan kehendak Thian. Akad

nikah terjadi di luar lautan, benar-benar merupakan suatu legenda yang menawan hati.”

“Cuma sayang kehidupan yang mereka kecap bersama tidak terlalu panjang. Setelah nona Li

melahirkan dua orang putera Thian-hong-cap-si-long, suatu ketika mendadak dia tinggal pergi

tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat.”

Coh-Liu-hiang terperanjat, jeritnya: “Masakah dia kembali ke Tiong-toh pula?”

“Meski hal itu belum berani dipastikan lagi, kejadian tentu seperti terkaanmu, karena tidak lama

setelah nona Li meninggalkan Thian-hong-cap-si-long, empat orang dari Hoa-san-cit-kiam yang

masih ketinggalan hidup mendadak semua menemui ajalnya secara mengenaskan. Banyak tersiar

kabar simpang siur di kalangan Kang ouw. Katanya, nona Li Ki, satu-satunva keluarga yang masih

hidup dari warga Ui-san-pay, pulang menuntut balas bagi kematian ayah dan para saudaranva.”

Coh Liu-hiang menepekur, katanva kemudian: “Kalau demikian, pada waktu di Hu-siang to

tentu nona Li ini pernah mempelajari semacam ilmu kepandaian silat yang tiada taranya, atau

mungkin pula hasil pelajaran dari Thian-hong-cap-si-long!”

“Dalam hal ini terkaanmu tidak seluruhnya benar,” ujar Thian-hong Taysu. “Sekali-kali Thianhong-

cap-si-long tidak pernah mengajarkan sejurus ilmu silat kepadanya. Dia pasti pernah

menemukan sesuatu keajaiban yang besar artinya. Mengenai rejeki besar apa yang dia pernah

peroleh, hal itu dia rahasiakan dan mengelabui Thian-hong-cap-si-long pula.”

“Benar, penemuan nona Li itu pastilah amat luar biasa anehnya. Kalau tidak di dalam jangka

waktu yang begitu pendek, ilmu silatnya takkan mungkin bisa maju berlipat ganda tingginya,

sekaligus ia berhasil membunuh Hoa-san-su-kiam….. Tapi setelah ia berhasil menuntut balas,

apakah dia tidak kembali ke Tang-ni untuk menengok dan mengasuh pula kedua putranya?”

“Tidak,” sahut Thian-hong Taysu. “Waktu itu putranya yang kecil masih merupakan orok kecil

yang memerlukan air tetek ibunya. Betapa pedih dan marah Thian-hong-cap-si-long waktu itu,

maka ia cepat-cepat berlayar pulang ke Tiong-toh dengan membawa kedua anaknya itu untuk

mencari ibunya.”

‘Apakah dalam kalangan Kangouw wakiu itu tiada mendengar kabar beritanya nona Li itu?”

tanya Coh Liu-hiang.

“Justru di situlah letak keanehannya,” ujar Thian-hong Taysu. “Setelah nona Li itu melakukan

peristiwa besar yang mengejutkan langit menggetarkan bumi itu, ternyata lantas menghilang entah

menyembunyikan diri di mana, seolah-olah ia menghilang dari permukaan bumi ini. Dengan susah

payah Thian-hong-cap-si-long mencarinya selama setahun lebih tanpa hasil, akhirnya dia putus

asa…. Waktu itulah baru dia datang ke mari.”

“Jadi, begitu tiba di Tiong-toh, dia tidak lantas menantang bertanding dengan Taysu?” Coh Liuhiang

menegas.

Thian-hong Taysu menarik napas panjang, ujarnya: “Dia mendesak dan ribut kepadaku

menantang bertanding, aku berkukuh menampiknya. Belakangan, saking kewalahan, dia main

kasar dan membakar Cang-king-kek. Aku terdesak dan apa boleh buat, terpaksa kuterima

tantangannya untuk mengadu tiga kali pukulan tapak tangan. Siapa tahu… siapa tahu waktu aku

lancarkan pukulan yang ketiga, ternyata dia tidak berkelit dan tidak menyingkir, tidak lantas

menyerang atau melawan pula, karena tak sempat menarik kembali, sehingga dia terluka parah.”

Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya: “Ternyata tidak meleset terkaan Wanpwe. Waktu itu

dia sudah putus asa dan dingin perasaannya, tiada niatnya hidup lebih lama pula, maka dia pikir

hendak menyerahkan kedua putranya kepada dua orang yang cocok dipasrahi, maka tanpa

tanggung-tanggung sengaja dia terima dilukai oleh Thian-hong Taysu.”

Tutur Thian-hong Taysu lebih lanjut dengan rawan: “Setelah aku melukainya, segera kupapah

dia masuk ke tempat semediku. Siapa tahu, di saat aku mengambil obat, tahu-tahu dia sudah pergi

tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat. Dibeberkannya pengalaman hidupnya, minta

pula kepadaku supaya mau menerima putra sulungnya serta mendidiknya. Waktu aku menyusul

ke tempat yang dia tunjuk dalam suratnya, pikirku hendak mengembalikan putra sulungnya itu,

ternyata di tempat itu aku bertemu dengan Jin-lopangcu, barulah aku tahu bahwa dia sudah

menemui ajal di tangan Jin-lopangcu.”

Cerita panjang yang merupakan tragedi yang menyedihkan ini dituturkan oleh seorang padri

tua dengan tenang dan mantap bagaikan sang Budha, lebih terasa merasuk dan mengundang

kepiluan yang menyesakkan napas dan misterius.

Sejak tadi Bu Hoa duduk dengan tenang di tempatnya, sekalipun tidak kentara perubahan

mimik mukanya. Thian-hong Taysu dan Coh Liu-hiang sejak tadi pun tak berpaling kepadanya,

seolah-olah tiada kehadirannya di tempat itu.

Seolah-olah seorang yang berada di luar lingkungan dan persoalan yang dibicarakan sedikit

pun tiada sangkut paut dengan dirinya, cerita memilukan yang dikisahkan Thian-hong Taysu itu

seperti tidak pernah mengetuk sanubarinya.

Sesaat keheningan melingkupi ruang semedi yang kecil ini, disusul suara air bergolak

memecah kesunyian.

Dengan laku hati-hati dan pelan-pelan Coh Liu-hiang mulai menyeduh daun teh yang dia

bawa.

Bersambung ke Jilid 12

JILID 12

Setiap gerak-gerik tangannya sedemikian hati-hati, waspada dan tepat, memang dia sedang

pinjam gerakan yang lambat dan mantap ini untuk menekan dan mencuci bersih pikiran batinnya

yang sedang kalut dan risau.

Lalu dengan kedua tapak tangannya, ia bimbing secangkir air teh yang masih panas mengepul

itu diangsurkan ke hadapan Thian-hong Taysu dengan laku hormat, katanya dengan suara berat,

“Terima kasih Taysu!”

Dengan kedua tangannya pula Thian-hong Taysu menerima cangkir teh itu, katanya kalem,

“Peristiwa dulu serta urusan yang ingin kau ketahui, kini sudah tahu belum?”

Coh Liu-hiang mengiakan sambil manggut-manggut.

Thian-hong Taysu tertawa tawar, ujarnya, “Bagus sekali, apa yang dapat Lo-ceng uraikan ya

hanya sebegitu saja!”

Ternyata dia tidak tanya kepada Coh Liu-hiang untuk apa dia ingin tahu peristiwa masa lalu

yang terpendam ini, mulailah dia menghirup air teh itu dengan laku yang penuh perhatian dan

nikmat sekali. Sekilas ini, raut mukanya yang semula kelihatan serius dan angker, seketika

mengendur dan luluh. Nampak sorot matanya yang mengandung kepedihan itu tampak semakin

tebal, maka mulailah dia pejamkan kelopak matanya pelan-pelan, gumamnya, “Secangkir air teh

ini, memang jauh lebih nikmat dan baik kwalitetnya dari air teh yang terdahulu tadi.”

Lama Coh Liu-hiang mengawasi raut mukanya serta gerak-geriknya dengan segala

perhatiannya, sungguh tak teraba olehnya bahwasanya padri tua yang punya kedudukan luar

biasa ini, berapa banyak mengetahui seluk beluk persoalan yang dia hadapi, tak tertahan ia

bertanya, “Apa tiada sesuatu yang Taysu hendak tanyakan kepada Cayhe?”

Sesaat Thian-hong taysu diam saja, katanya tawar, “Apakah Jin-lopangcu sudah wafat?”

matanya tidak terbuka seolah-olah pertanyaan ini ia ajukan sambil lalu saja.

Sebaliknya Coh Liu-hiang menghela nafas panjang, cepat ia mengiakan. Kembali ia suguhkan

secangkir air teh yang sama, katanya, “Apa yang ingin Taysu ketahui, sekarang tentunya sudah

jelas seluruhnya.”

Thian-hong Taysu hanya manggut manggut tanpa bersuara lagi.

Perlahan-lahan Coh Liu-hiang bangkit berdiri, katanya “Entah bisakah Taysu memberi ijin

supaya Wanpwe berbicara beberapa patah kata dengan Bu Hoa Suheng?”

Sahut Thian-hong Taysu pelan-pelan, “Persoalan yang perlu dibicarakan, memang perlu

dikatakan. Pergilah kalian!”

Baru sekarang Bu Hoa bangkit berdiri, sikap dan tindak tanduknya kelihatan masih sedemikian

adem ayem dan seperti tidak terjadi apa-apa, dengan hormat ia menjura kepada Thian hong

Taysu, tanpa bersuara diam-diam ia mengundurkan diri. Sepatah katapun ia tak bersuara.

Waktu badannya sudah hampir mundur keluar dari kerai bambu, Thian-hong Taysu mendadak

pentang mata memandangnya sekilas arti yang terkandung dalam sorot matanya kelihatannya

amat ruwet dan terbedakan. Tapi sepatah kata diapun tak bicara lagi.

Malam sudah larut.

Jalan di belakang gunung sini amat sempit dan memanjang berliku-liku, di bawah penerangan

sinar bintang-bintang kecil, membayang-bayangi dedaunan pohon di kedua pinggir jalan, seluruh

alam semesta seolah-olah sudah tenggelam di dalam suasana kepedihan nan dingin dan kabut

yang tebal.

Coh Liu-hiang sedang beranjak adu pundak dengan Bu Hoa di jalanan sempit dan berliku-liku

itu, sampai detik ini merekapun tiada yang bersuara lebih dulu. Begitu sunyi senyap laksana dalam

neraka pegunungan yang gelap gulita ini.

Akhirnya Bu Hoa unjuk senyuman, katanya, “Meskipun kau tidak langsung membongkar

kedokku, tapi aku tidak menaruh hormat padamu, itulah karena dia kuatir Thian-hong Taysu

bersedih hati saja, benar tidak?”

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya, “Menurut pendapatmu kecuali itu, tiada sebab lainnya?

Umpama persahabatan kami berdua!”

“Persahabatan kami, sampai sekarang yang masih ketinggalan tidak lebih besar dari kerikil

yang menyusup masuk ke dalam mata belaka.”

“Benar,” ujar Coh Liu-hiang. “Kalau mata kelilipan kerikil, air mata pasti bercucuran.”

“Tiada halangannya sekarang kau beritahu kepadaku,” pinta Bu Hoa. “Sebetulnya berapa

banyak persoalan yang sudah kau ketahui?”

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menjawab, “Sudah banyak persoalan yang kuketahui, namun

masih banyak pula yang belum kuketahui.”

“Apa saja yang sudah kau ketahui?” tanya Bu Hoa tersenyum. “Apa-apa pula yang masih

belum kau ketahui dan pahami?”

“Aku sudah tahu kau adalah putra sulung Thian hong-cap-si-long itu, saudara sepupu atau

engkoh Lamkiong Ling, tapi darimana pula kau bisa tahu bahwa Lamkiong Ling adalah adik

sepupumu? Terang Thian-hong Taysu tak kan pernah memberitahukan kepadamu.”

“Sebab ini sebetulnya kau bisa merabanya,” sahut Bu Hoa. “Waktu ayahku almarhum

meninggal, aku sudah berumur tujuh tahun, memang ada kalanya aku tidak tahu urusan, tapi

sedikit banyak mungkin sudah bisa dia membedakan sesuatu urusan yang cukup banyak pula,

dan yang penting, selamanya dia takkan melupakan kejadian-kejadian yang dia ketahui itu.”

“Apa yang kau ketahui mungkin terlalu banyak,” kata Coh Liu-hiang.

“Tentunya kaupun sudah tahu, Thian-it-sin-cui, akulah yang mencurinya.”

“Tidak salah,” sahut Coh Liu-hiang menyengir kecut. “Walau Sin-cui-kiong melarang semua

laki-laki keluar masuk, tapi seorang beribadah yang alim dan beriman tinggi tentulah di luar batas

larangan itu, di dalam pandangan manusia umumnya, biasanya mereka pandang orang-orang

beribadah atau Hwesio bukan sebagai laki-laki sejati. Bahwasanya diantara seluk beluk persoalan

ini, bukan mustahil bakal terjadi suatu kelemahan dalam penyakit pandangan atau penilaian,

sayang sekali dan kasihan nona romantis yang masih hijau itu, akhirnya dia harus gugur dan

berkorban demi kau…”

Bu Hoa tetap tersenyum, katanya, “Seorang perempuan yang belum pernah sentuh badan

dengan laki-laki, selalu takkan kuat dipelet atau dibujuk rayu, kalau toh dia sendiri merasa rela dan

tentram dalam menghadapi kematiannya, kenapa pula kau harus merasa sayang bagi dirinya.”

Coh Liu-hiang menatapnya nanar, sekian lama katanya, “Kau ini memang orang yang aneh,

betapapun perbuatan kotor rendah, serta kata hina dan jahat, bila keluar dari perkataan mulutmu,

kau bisa menyetirnya sedemikian halus dan lembut, menggunakan nada yang paling merdu dan

mengasyikkan.”

Tak berobah sikap dan mimik Bu Hoa, katanya tertawa pula, “Kau sendiri kan juga tahu aku

menghabiskan jerih payah dari cucuran darah dan keringatku mencuri Thian-it-sin-cui, apa maksud

tujuanmu?”

“Karena Jin lo-pangcu dan Thian-hong Taysu tidak akan gampang bisa dibunuh oleh

sembarang orang, apalagi kau menghendaki kematian mereka tidak menunjukkan sesuatu bekas

yang mungkin bisa menimbulkan rasa curiga orang-orang lain, atas perbuatan dirimu.”

“Uraianmu amat tepat sekali,” puji Bu Hoa.

“Orang yang menyamar menjadi Thian-hong cap-si-long di jembatan balok kayu itu, tentunya

kau adanya, demikian pula yang membunuh Thian jiang sing Song Kang dan Thian eng-cu dari

Lam hay pay, orang yang menghilang ke Toa-bing-ouw menggunakan ilmu Jinsutnya itu, tentulah

kau pula adanya,” demikian Coh Liu-hiang membuka tabir rahasia yang mencurigakan hatinya

selama ini.

“Benar,” Bu Hoa pun mengakui terus terang.

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya, “Hari itu juga aku melihatmu di Toa-bing-ouw,

seharusnya aku sudah bercuriga atas dirimu, cuma sayang seumpama waktu itu aku menaruh

curiga terhadap setiap manusia yang berada dalam dunia ini, sekali-kali takkan menaruh curiga

terhadap Bu Hoa yang tidak sudi mendengar petikan harpa yang mengandung nada membunuh!”

“Kau tidak usah rawan hati,” sela Bu Hoa, “Sekali tempo setiap orang pasti pernah melakukan

kelalaian.”

“Di dalam U-i-am murid Siok-sim Taysu yang pikun itu,” ujar Coh Liu-hiang tertawa getir,

“Sebelum ajal sebetulnya dia sudah membongkar rahasia dirimu, sayang dia hanya sempat

mengatakan ‘Bu’ saja lantas putus nafas. Lebih disayangkan pula asosiasi atau kesimpulanku

tidak tertuju kepada namamu, sungguh tidak pernah terpikir olehku, ‘Bu’ yang dimaksudkan adalah

petikan dari pelengkap Bu Hoa.”

“Aku sendiripun tidak menyangka sebelum ajal ternyata kesadarannya pulih kembali, kalau

tidak waktu aku membunuh Siok-sim Taysu tentu membereskan dia sekalian?”

“Tapi kenapa kau bunuh Siok-sim Taysu pula?”

“Setiap orang yang ada sedikit sangkut pautnya dengan peristiwa ini, tidak bisa aku

membiarkannya hidup lebih lama lagi,” sahut Bu Hoa tandas. “Kau tahu, tetapi tindakan dan

perbuatanku selamanya amat teliti dan cermat, selamanya aku tidak mau main spekulasi atau

menyerempet bahaya.”

“Oleh karena itu, kaupun ingin membunuhku?” tanya Coh Liu-hiang.

Bu Hoa menghela nafas, ujarnya, “Sesungguhnya aku mengharap kau tidak terlibat dalam

peristiwa ini, siang-siang sudah kukatakan kepada Lamkiong Ling, bila dalam dunia ini ada orang

yang bisa membongkar rahasia kita, orang itu tentulah Coh Liu-hiang.”

“Di Toa-bing-ouw, dalam U-i-am, di atas balok batu jembatan itu,” kata Coh Liu-hiang

menghela nafas, “Beberapa kali kau sudah turun tangan, kau hendak membunuhku hal ini tidak

perlu kubuat heran. Tapi kenapa pula kau hendak membunuh Yong-ji?”

“Sebelumnya aku sudah menduga kau tentu akan mengutus dia pergi ke Sin-cui-kiong

menyelidiki peristiwa tercurinya Thian-sin-cui dan sebab musabab kematian gadis pingitan itu,

maka cepat sekali aku sudah berkesimpulan bahwa orang yang kau janjikan untuk bertemu di Toabing-

ouw sore hari itu tentulah dirinya. Tentunya kau pun mengerti, aku ini kan bukan orang

bodoh.”

“Seseorang kalau terlalu pintar, seharusnya bukan sesuatu yang patut dibuat girang atau

menguntungkan bagi diri sendiri.”

“Memangnya kau ini seorang bodoh?” tanya Bu Hoa tersenyum.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya, “Baru sekarang aku tahu, bahwasanya aku tidak sepintar

yang pernah kubayangkan sendiri, kalau tidak lama seharusnya aku sudah berhasil dengan

usahaku, bila keadaan mendadak dan memang diperlukan, kau pasti akan membunuh Lamkiong

Ling sekalian untuk menutup mulutnya.”

Bu Hoa pun menghela nafas, ujarnya, “Betapa aku ini sepintar apa yang pernah kubayangkan

sendiri, kusangka bila Lamkiong Ling mati, segala sumber penyelidikanmu akan terputus

seluruhnya. Persoalan tidak akan merembet ke atas diriku, kalau tidak masakah aku tega

membunuh adik kandungku sendiri?”

“Titik tolak dari kunci persoalan ini yang terpenting adalah lantaran dia mengatakan sebelum

ajalnya bahwa kalian adalah saudara sepupu, jikalau tidak karena bahan rahasia ini, akupun

takkan bisa mencarimu kemari.”

Lama Bu Hoa membungkam, kabut di samping gunung semakin tebal. Hembusan angin

pegunungan sudah membawa pertanda bakal menjelangnya musim dingin. Hawa mulai dingin

sehingga sekujur badan terasa hampir membeku.

“Sampai sekarang yang belum bisa aku pahami betul adalah segala perbuatanmu ini,

sebetulnya hendak menuntut balas? Ataukah untuk merebut kekuasaan? Sebetulnya semua ini

maksud dari nuranimu sendiri? Ataukah pesan peninggalan ayahmu sebelum beliau wafat?”

Secara blak-blakan Coh Liu-hiang ajukan ganjalan hatinya.

Terangkat alis Bu Hoa, sahutnya, “Darimana kau bisa berpikir bahwa ayahku almarhum ada

meninggalkan pesan warisannya?”

“Bahwa kau ikut dibawa ke Tionggoan, sudah tentu Jinsut dan ilmu pedang yang kau pelajari

hasil didikan dari pihak ayahmu. Tapi waktu beliau wafat, usiamu masih kecil sekali-kali tidak

mungkin membekal kepandaian tingkat tinggi yang sedemikian hebat, untuk ini dengan mudah

dapat dimengerti bahwa pasti dia meninggalkan buku pelajaran ilmu silat tunggalnya kepada kau,

secara rahasia kau menyembunyikannya pula, sampaipun Thian-hong Taysu tidak tahu dan kena

kau kelabui.”

“Ya, tepat terkaanmu,” sahut Bu Hoa mengakui terus terang.

“Oleh karena itu segera aku teringat tanpa pamrih tidak mungkin dia mengorbankan jiwa

raganya secara sia-sia, tujuannya supaya kalian masuk ke dalam perguruan Siau-lim dan

Kaypang, bukan mustahil setelah kalian sama tumbuh dewasa, beruntun bisa mewarisi jabatan

aliran ilmu silat dari golongan terbesar dan pimpinan sindikat terbesar pula, selangkah lebih lanjut

yaitu menjagoi atau merajai seluruh dunia persilatan. Mungkin ini hanya cita-cita impiannya yang

ingin dia capai, tapi sayang dia sudah mati sebelum cita-citanya terlaksana, maka kalianlah yang

mewarisi tugas untuk mencapai cita-citanya ini, kalau tidak masakah dengan rela dia terima binasa

demikian saja.”

Kembali Bu Hoa membungkam lama, akhirnya tersenyum simpul. Katanya, “Tahukah kau

kenapa selama ini aku menyukai kau? Karena kau punya otak, sering aku berkata, setiap orang

yang kenal kau dari dekat, perduli dia kawan atau lawan, sama saja merupakan suatu

keberuntungan dan patut dibuat girang.”

“Kalau demikian, jadi analisaku tepat semuanya?”

“Mungkin analisamu benar, mungkin pula salah, kelak perlahan-lahan kau akan tahu sendiri…”

Mendadak Bu Hoa menghentikan langkah, pelan-pelan dia putar badan menghadapi Coh Liuhiang,

katanya, “Apapun yang telah terjadi, kau sudah membongkar kedok rahasiaku,

membongkar segala perbuatanku, apa pula yang kau kehendaki?”

Dengan nanar Coh Liu-hiang menatapnya dan lama kemudian baru dia menghela nafas,

katanya, “Kau tahu aku selamanya tidak suka membunuh orang, apalagi membunuh kau!”

Bu Hoa tertawa, katanya kalem, “Tapi kau pun harus tahu, sekarang kau tidak bunuh aku,

sebaliknya akulah yang akan membunuhmu.”

“Benar, asal kau dapat membunuh aku, maka kau bisa bebas dan bersimaharaja di dunia ini

secara lalim, karena orang yang tahu seluk-beluk rahasiamu dalam dunia ini hanya aku satusatunya!”

Bu Hoa berkata pelan-pelan, “Jadi sekarang kau sedang menunggu aku turun tangan?”

“Meskipun aku tidak menghendaki, agaknya tiada jalan pilihan lainnya lagi.”

Keduanya tidak banyak bicara lagi.

Mereka sama tahu perkataan yang perlu mereka bicarakan sudah habis.

Angin di atas gunung semakin keras dan menderu-deru, hujan bayu segera akan meliputi alam

semesta ini, pakaian dan rambut mereka sama terhembus melambai-lambai tapi sikap keduanya

masih tegak di tempatnya dengan tenang dan wajar, namun sorot mata keduanya sudah

mencorong terang mengandung hawa membunuh.

Sekonyong-konyong terdengar ledakan keras disertai kilat menyambar, dibarengi dengan

geledek mengguntur, air hujanpun seperti dituang dari tengah angkasa. Berbareng dengan guntur

menggelegar dan kilat menyambar ini kedua kepalan Bu Hoa langsung menjojoh dengan dahsyat.

Itulah pukulan sakti yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan dari Siau Lim pay,

pertama kali dalam penyerangan dia gunakan ilmu pukulan dari pelajaran perguruannya. Pukulan

yang dahsyat keras dan kokoh kuat ini, diiringi dengan sambaran kilat dan geledek mengguntur,

sungguh hebat pukulannya ini laksana menggetarkan bumi mengejutkan langit layaknya! Jikalau

tidak menghadapinya secara langsung, mungkin siapapun takkan percaya bahwa Bu Hoa yang

biasanya alim dan lemah lembut itu, ternyata bisa melontarkan jurus pukulan yang begitu dahsyat.

Sebat sekali badan Coh Liu-hiang berputar, tampak tangannya tegak miring menabas ke urat

nadi Bu Hoa, serangan balasannya ini kelihatan biasa dan enteng sekali dibanding dengan

kepalan Bu Hoa itu boleh dikata jauh ketinggalan dan bukan apa-apa.

Tapi serangan tapak tangan yang biasa dan tiada sesuatu yang menakjubkan ini, justru telak

sekali mematahkan gaya pukulan Bu Hoa yang lihay itu.

Cepat sekali Bu Hoa kembangkan kelincahan badannya, belum lagi suara guntur yang

bergema di tengah angkasa sirap, beruntun dia sudah lontarkan empat jurus pukulan Kiang hiong

hu hou ‘menundukkan naga mengalahkan harimau’ setiap serangan dahsyat ini merupakan inti

sari pukulan sakti dari Siau-lim-pay yang teramat ampuh.

Namun dengan gampang Coh Liu-hiang dapat mematahkan semua rangsekan hebat ini,

malah disamping mematahkan dia masih sempat balas menyerang jauh berkelebihan tenaga

serangan balasannya.

Setelah delapan belas jurus pukulannya dilontarkan, sedikitpun Bu Hoa tidak berhasil

menempatkan posisinya di tempat yang menguntungkan, kepalan kanan mendadak ia tarik

mundur, waktu ia sodokan keluar pula, tiba-tiba terdengar “Ser,” dari pukulan tahu-tahu ia rubah

menjadi tutukan jari.

Selentikan jarinya ini, merupakan pemusatan tenaga dalamnya yang dilandasi kekuatan Tamci

sin-theng (selentikan jari sakti), segulung angin kencang yang menderu pesat sekali meluncur

ke arah Ki-bun dan Ciang tai dua hiat to yang terletak di bawah bahu kanan.

Tak usah kena tertutuk telak kena jari lawan, cukup tersapu oleh samberan anginnya saja,

setengah badan Coh Liu-hiang seketika akan linu kemeng tak mampu bergerak, maka dalam

kilasan lain, jiwanya pasti akan melayang di bawah tepukan tapak tangan Bu Hoa yang menyusul

datang pula.

Tapi badan Coh Liu-hiang tiba-tiba doyong ke samping, gerakan miring yang lincah dan

seenaknya saja, desiran angin tutukan jari yang kuat itu, hanya menyapu lewat dari pinggir

pakaiannya saja. Sebaliknya tapak tangan kirinya tahu-tahu sudah menyelonong tiba di bawah

ketiak Bu Hoa.

Maka rangsekan Bu Hoa yang dahsyat ini terpaksa terhalang oleh gerakannya sendiri untuk

bertahan membela diri, dari menyerang berubah membela diri, tangan kanan tersurut balik,

sementara tangan kiri yang dia tepukan ke depan sudah berubah menjadi serangan tapak tangan

pula, pinggir tapak tangannya mengiris miring mengarah Ki-ti-hiat di badan Coh Liu-hiang.

Lekas Coh Liu-hiang melintangkan kaki ke kiri, badan ikut berputar, sementara sikut kirinya ikut

bergerak menyodok dengan keras.

Terpaksa Bu Hoa harus batalkan serangannya dan merubah permainan pula. Seketika terlihat

bayangan tapak tangan bergulung-gulung menari turun naik, laksana menari-nari di tengah angin

badai. Itulah Hong-ping-ciang kepandaian terdahsyat dari aliran Gwakeh Siau-lim-pay.

Sesuai dengan namanya, ilmu pukulan ini tidak melulu mengutamakan kekuatan Lwekang

namun mengutamakan kelincahan dan kecepatan menempuh kemenangan, gaya permainannya

seperti capung terbang melawan angin, seperti kupu menari berebutan madu. Gerak-geriknya

lincah disertai variasi perubahan yang menakjubkan sperti main sulapan saja. Serangan gertakan

yang kosong jauh lebih banyak dari pukulan telak yang sesungguhnya.

Tapi setiap kali ia lontarkan pukulan telak yang sesungguhnya, seketika pula terbendung tak

berkutik oleh tipu permainan Coh Liu-hiang.

Di dalam waktu yang begitu singkat, beruntun Bu Hoat sudah ganti berbagai mainan dari Siaulim-

sin-kun ‘pukulan sakti Siau-lim-pay’, Tam-ci-sin-thong, Hong-ping-ciang, tiga macam ilmu

dahsyat yang dibanggakan dari Siau lim si. Ketiga macam ilmu silat ini masing-masing mencakup

perubahan dari dasar kekerasan yang dahsyat, kelincahan nan meruncing tajam, serta variasi

perubahan yang rumit dan susah diselami. Jalan permainannya satu sama lain jauh berbeda,

namun masing-masing merupakan ilmu silat sejati yang teramat ampuh kenamaan dan

menggetarkan dunia persilatan.

Sebaliknya jurus permainan yang digunakan Coh Liu-hiang sebaliknya merupakan ilmu silat

paling umum biasa dan paling dikenal di kalangan Kangouw, entah berapa banyak mungkin

laksaan kaum persilatan di Kangouw yang mampu memainkan jurus-jurus tipu silat seperti itu.

Tapi sama-sama jurus tipu yang rendahan dan umum ini, dalam permainan Coh Liu hiang

justru jauh sekali perbedaannya. Setiap gerak yang dia permainkan, telak dan persis tanpa

tergeser seper-sepuluh mili umpamanya. Setiap gerakan yang dia lancarkan boleh dikata tiga kali

lipat lebih cepat dari tokoh-tokoh silat terlihay manapun.

Kalau dinilai secara tunggal gerak permainannya itu mungkin terlalu tawar dan tiada sesuatu

yang menakjubkan, tapi kalau dimainkan di saat kedua orang bergebrak, setiap jurus tipu

permainannya justru dia kembangkan secara luar biasa dengan perbawa yang teramat ampuh

pula.

Ada kalanya hampir tak terpikir dalam benak Bu Hoa bahwa jurus tipu permainan ilmu silatnya

yang begitu lihay dan aneh ini, bagaimana mungkin bisa dipunahkan sedemikian gampang oleh

Coh Liu-hiang menggunakan jurus tipu yang paling sepele dan umum? Bukan saja dipunahkan,

malah dirinya balas diserang lagi.

Kembali kilat menyambar, halilintar memekakkan telinga, hujan semakin deras.

Hujan bayu membuat alam semesta seakan hampir kiamat, di atas gunung belukar ini gelap

gulita laksana di tanah pekuburan.

Bahwasanya mereka sudah tidak melihat bayangan bentuk badan lawan, mengandalkan

ketajaman telinga mendengarkan deru angin pukulan lawan, menghadapi serta mengatasinya.

Tapi hujan bayu sedemikian derasnya, lama-kelamaan deru angin pukulan merekapun kelelap tak

terdengar pula.

“Dar!” guntur menggelegar disertai kilat menyambar pula. Secepat kilat itu pula Coh Liu-hiang

letakkan kakinya berkelit, sementara Bu Hoa melejit melambung ke tengah udara. Puluhan bintik

sinar kelap-kelip seperti sinar bintang yang dingin sederas hujan bayu ini melesat tiba ke arahnya.

Di dalam malam yang begitu gelap, untuk menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia

sekencang ini, boleh dikata tak mungkin lagi. Waktu badan Bu Hoa meluncur turun, ujung

mulutnya sudah mengulum senyum sinis.

Tepat di tengah suara guntur yang menggelegar itulah, terdengar Coh Liu-hiang mengeluarkan

jerit kaget yang gelelap. Disusul sinar kilat kembali berkelebat. Tapi bayangan Coh Liu-hiang pun

tak kelihatan lagi.

Di tengah kegelapan, nafas Bu Hoa memburu turun naik, serunya menggembor, “Coh Liu –

hiang, Coh Liu-hiang! Dimana kau?”

Terdengar seseorang menjawab dengan suara kalem di belakangnya, “Aku di sini!”

Keruan terkejut Bu Hoa laksana disengat kala, hampir saja jantungnya melonjak keluar dari

rongga dadanya.

Tapi dia tiada perlu membalik badan, dia hanya berdiri kaku dengan tenang. Sesaat kemudian

pelan-pelan kepalanya ditundukkan, katanya penuh kekecewaan, “Bagus sekali, baru hari ini aku

betul mendapatkan buktinya bahwa aku memang benar-benar bukan tandinganmu.”

Lagu suaranya sedemikian datar, wajar dan tenang, seperti baru saja memperoleh buktinya

cuma suatu permainan judi yang tidak begitu besar, siapapun takkan dapat merisaukan bahwa dia

sudah pertaruhkan jiwanya di dalam permainan judi yang sekaligus bakal menentukan mati

hidupnya pula.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Meski kau sudah kalah, tapi bagaimanapun

kekalahan tak perlu dibuat malu, karena kau sudah membawakan sikap seorang jantan!”

Bu Hoa mengeluarkan tawa yang pendek, katanya, “Jikalau aku yang menang, jauh lebih

jantan lagi, cuma sayang hal itu selamanya tidak akan ada kesempatan lagi untuk

membuktikannya, benar tidak?”

“Benar, memang kau tiada punya kesempatan lagi untuk menang.”

“Sebagai pihak yang menang, sikap kejantananmu ternyata patut dipuji juga, mungkin lantaran

kau sudah terbiasa menjadi pihak yang menang, seolah-olah selamanya kau takkan pernah punya

waktu untuk kalah!”

Coh Liu-hiang berkata suara berat, “Seorang bila berdiri di pihak yang sejajar dengan

musuhnya, selamanya dia takkan bisa dikalahkan.”

Sekonyong-konyong Bu Hoa mendongak sambil terkial-kial panjang gelak tawanya melolong

kumandang di tengah hujan, banyu yang deras ini seperti gelak tawa orang yang kesurupan setan,

katanya kemudian, “Apakah aku salah… Jikalau aku berhasil dengan sukses, siapa pula yang

berani mengatakan aku salah…” bunyi guntur yang memekakkan telinga memutus loroh tawanya

yang menggila.

Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kalem, “Kenapa kau tidak lari?”

Gelak tawa Bu Hoa menjadi helaan nafas rawan, sahutnya, “Lari? Apakah aku ini manusia

yang patut melarikan diri? Seseorang bila dia hendak menikmati ajaran ilmu silat yang dia latih,

maka dia harus belajar lebih dulu cara bagaimana untuk menerima kekalahan…”

Tiba-tiba kembali ia terloroh, katanya menyeringai, “Betapapun besar kemenangan itu, takkan

bisa membuatku kesenangan sampai lupa diri! Betapapun besarnya kekalahan itu, juga takkan

bisa membuat aku lari mencawat ekor seperti anjing liar yang digunduli!”

“Kau memang tidak pernah membuatku kecewa,” ujar Coh Liu-hiang rawan.

“Sekarang apa yang kau ingini atas diriku?”

“Aku hanya bisa membongkar rahasiamu, tapi tak bisa aku menjatuhi hukuman kepada kau,

karena aku bukan penegak hukum, bukan malaikat atau dewata, aku tiada hak kekuasaan untuk

menjatuhkan hukuman kepadamu!”

Bunuh diri itu menebus dosa

“Apapun yang telah terjadi, kesimpulanmu ini sungguh harus dipuji dan dibanggakan. Sejak

dulu kala, mungkin tiada seorang tokoh kosen dalam Kangouw yang mempunyai jalan pikiran

seperti itu,” Bu Hoa balas memuji.

“Kelak setelah beberapa tahun berselang, orang yang mempunyai pikiran seperti ini, dari hari

ke hari akan bertambah banyak. Kelak masyarakat akan tahu sendiri, kekuatan kasar takkan bisa

menyelesaikan segalanya, tiada seorang dalam dunia ini yang punya kuasa untuk hak mencabut

jiwa orang lain!”

“Ya, itu urusan kelak, sekarang…”

“Sekarang aku akan serahkan dirimu kepada orang yang patut menjatuhkan hukuman kepada

dirimu.”

“Kau hendak menyerahkan diriku kepada orang lain?”

“Tidak salah.”

“Kalau toh kau sendiri tak kuasa menjatuhkan hukuman kepadaku, siapa pula manusia dalam

dunia ini yang setimpal menjatuhkan hukuman kepadaku?”

“Orang-orang itu meski belum mempunyai jiwa yang luhur dan bajik, tapi hukuman dan

undang-undang yang mengerti diri mereka, siapapun harus mematuhinya.”

“Apakah kau sendiri selamanya mematuhi undang-undang itu?” jengek Bu Hoa.

“Yang kami pandang hina, hanyalah undang-undang yang ditegaskan oleh sementara orang

yang lalim belaka, hukum peraturan seperti itu, sudah tentu tidak patut kami hormati atau patuhi.

Tapi budi wening dan keadilan serta kebenaran, siapapun tak pantas memandangnya rendah!”

“Coh Liu-hiang! Kau memang seorang yang aneh betul-betul. Tapi apapun yang terjadi, jangan

harap kau bisa menyerahkan aku kepada orang-orang macam itu.”

“Kenapa?” Coh Liu-hiang menegas. “Kau sebenarnya seorang agung, tangan-tangan kotor

orang-orang itu memang tidak seharusnya menyentuh pakaianmu, tapi siapa suruh kau melakukan

kejahatan keluar batas yang berdosa begitu besar. Seumpama maharaja pun kalau dia melanggar

hukum, diapun patut dijatuhi hukuman seperti rakyat jelata. Memangnya kau tidak paham akan arti

kata-kata ini?”

Bahwasanya Bu Hoa seperti tidak pernah mendengar kata-katanya ini, dengan tersenyum ia

menggumam, “Coh Liu-hiang, bagaimanapun jangan kau harap jari-jari orang-orang itu bisa

menyentuh seujung jariku saja,” berkata-kata, tahu-tahu badannya perlahan-lahan meloso roboh.

Halilintar kembali menggelegar, kilat menyambar berulang kali.

Lekas Coh Liu-hiang memburu maju memayang badannya, di tengah samberan kilat, meski

hanya sekilas saja, namun ia lihat raut mukanya yang ganteng halus dan alim itu kini sudah

berubah sedemikian kaku dan membesi hijau.

Coh Liu-hiang amat kaget, serunya, “Bu Hoa, kau… kenapa kau begitu bodoh? Mati..

memangnya bukan cara yang paling rendah untuk lari dari pertanggung-jawaban?”

Bu Hoa membuka mata, sekuatnya ia unjuk tawa, sahutnya, “Aku bukan lari dari

pertanggungan jawa, bukan aku tidak berani menghadapi mereka, tidak lain karena aku tidak sudi

tunduk di hadapan manusia-manusia hina dina itu.”

Tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya cemerlang, katanya pula, “Perduli kesalahan

apapun yang pernah kulakukan, betapapun aku masih seorang agung yang terpandang, jauh lebih

agung dan terpandang dari kebanyakan orang-orang di dunia ini! Coh Liu-hiang, apakah kau tidak

mengakui akan hal ini?” perlahan-lahan kelopak matanya terpejam.

Selamanya dia takkan bisa mendengar jawaban Coh Liu-hiang. Kilat menyambar pula, roman

mukanya sudah kembali seperti biasa, tenang tenteram dan sentosa, malah ujung mulutnya

mengulum senyum mekar.

* * *

Dalam taman kembang nan luas dalam lingkungan keluarga besar she Lim di Poh tian,

kembang-kembang sedang mekar, harum semerbak.

Opas kenamaan Sin-eng Go-lopothau bersama seorang Kaypang Tianglo yang berbadan

tinggi kurus bermuka tegang sedang menunggu di bawah pohon dengan gelisah.

Terdengar Kaypang Tianglo itu sedang bertanya, “Kau pikir apakah dia akan datang?”

Sin-eng tersenyum, sahutnya, “Peduli Coh Liu-hiang itu manusia baik atau jelek, jujur atau

jahat, tapi kalau dia sudah mengatakan hendak datang, dia pasti datang. Siapapun, urusan

apapun, jangan harap bisa menghalangi dirinya.”

Terdengar seseorang berkata kalem di atas pohon, “Benar, perduli Sin-eng ini orang baik atau

jelek, jujur atau jahat, tapi pandangannya terhadap Coh Liu-hiang, ternyata memang tidak

meleset.”

Di tengah kata-katanya, Coh Liu-hiang melayang dari atas pohon, sedikitpun tak bersuara

waktu kakinya menyentuh tanah.

Dengan tersenyum, kembali ia menambahkan, “Tapi bukankah Sin-eng sudah mendengar bila

aku berada di atas pohon, maka sengaja kau mengeluarkan kata-kata ini?”

Sin-eng tertawa besar, serunya, “Kata-kata Coh Liu-hiang laksana kuda lari dapat dikejar

selalu menepati janji, hal ini memang sejak lama Siau-loji mengetahuinya!”

Tak tahan berkata Kaypang Tianglo, “Pembunuh itu, apakah Coh Liu-hiang sudah

membawanya kemari?”

Gumam raut muka Coh Liu-hiang, sahutnya menarik nafas panjang, “Dia sudah meninggal!”

“Sudah mati?” teriak Sin-eng kaget.

“Benar!”

“Dia… cara bagaimana kematiannya?” tanya Sin-eng.

“Kalau dia sudah mati, peduli cara bagaimana kematiannya, apakah tidak sama saja?”

“Tapi…”

“Kukatakan dia sudah mati!” bentak Coh Liu-hiang aseran. “Masakah kau tidak percaya

omonganku?”

Sin-eng lekas unjuk tawa dibuat-buat, ujarnya, “Setiap patah kata Maling Kampiun, masa si tua

bangka seperti aku ini tidak mempercayainya, tapi dia… siapakah dia sebenarnya?”

Sesaat Coh Liu-hiang mempertimbangkan, katanya, “Walau dia amat jahat dan keji, tapi tidak

rendah dan hina dina. Meski dia seorang pembunuh, tapi tidak malu kalau dia disebut seorang

Kuncu sejati. Kini kalau dia sudah mati, buat apa kalian harus tanya siapa dia. Manusia setelah

mati, namanya ikut terkubur!”

Kaypang Tianglo tiba-tiba menukas, “Tapi dimana jenazahnya? Seumpama dia sudah

mampus, murid-murid Pang kitapun harus…”

“Apa yang hendak kalian lakukan akan jenazahnya? Jadi kau hendak menghadapi seseorang

yang sudah mati, bukankah jalan pikiran dan niat kalian ini jauh lebih rendah dan hina dina dari si

pembunuh itu.”

Biasanya menghadapi persoalan apapun selamanya tidak pernah Coh Liu-hiang dipengaruhi

emosinya. Kaypang Tianglo ini belum pernah menghadapi amarahnya yang begini besar. Seketika

ia bungkam dan amat jeri hatinya.

Berkata Coh Liu-hiang dengan lantang, “Kuberitahu kepada kalian, bahwa dia sudah mati

kematiannya berarti mencuci segala dosa semasa hidupnya. Jikalau kalian tidak percaya, jikalau

kalian masih belum puas, silahkan kalian berdaya upaya sendiri! Tapi jika kalian berani datang

merecoki aku pula, jangan salahkan bila aku bertindak kasar tidak tahu rasa sungkan lagi!” lenyap

suaranya, bayangannya pun sudah menghilang di kejauhan. Sin eng dan Kaypang Tianglo berdiri

menjublek di tempatnya.

Sampaipun Coh Liu-hiang sendiri tidak tahu dan heran kenapa dirinya hari ini berubah begini

uring-uringan dan marah-marah. Mungkin menghadapi kematian Bu Hoa dia teramat sedih, pilu

dan rawan. Atau mungkin lantaran dia teramat penat.

Apapun yang telah terjadi, setelah pengalamannya ini yang terpikir dalam angan-angannya

selekasnya pulang ke kapalnya, mengerek layar berlayar jauh ke tengah samudera meninggalkan

khalayak ramai yang membosankan ini.

Dia hanya memikirkan di dalam pelukan lautan teduh, hembusan angin laut nan hangat di

bawah terik sinar matahari yang keemasan, mengendorkan seluruh urat syaraf dan otot-otot

badannya, rebah dan istirahat dengan nyaman beberapa hari, minum beberapa arak anggur yang

nikmat segar, makan buah-buahan segar dan hidangan lezat masakan Song Thian-ji, rebah

disamping So Yong-yong, mendengarkan kisah dongengan Li Ang-siu yang mempesonakan.

Dengan kecepatan maksimum dia menyusul pulang ke atas kapalnya.

Mendadak Coh Liu-hiang menyadari bahwa Thian yang berkuasa seolah-olah tidak mau

memberi peluang kepada dirinya untuk istirahat melepaskan penatnya.

Sebelum dia tiba di atas perahunya, suatu peristiwa besar yang begitu mendadak

perubahannya belum pernah dia hadapi selama hidupnya sedang menunggu kedatangannya,

mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa peristiwa seperti ini bakal menimpa dirinya.

Coh Liu-hiang si maling kampiun kembali ke atas perahunya seperti sang kelana pulang ke

dalam rumahnya. Hembusan angin di permukaan laut masih terasa hangat basah, sehangat hati

dan perasaannya.

Jauh di ujung langit di tengah lautan sana, segumpal mega sedang melayang datang pelanpelan.

Kapal, mengalun berlenggang di tengah permainan air laut, sinar matahari bercahaya

terang benderang sehingga dek kapal yang bersih mengkilap laksana sebongkah kaca besar.

Lekas Coh Liu-hiang tinggalkan pakaiannya, mencopot sepatu. Dek kapal yang panas seperti

membakar telapak kakinya, membuat hatinya terasa seperti dikili-kili dan malas, seolah-olah

badannya ingin melayang.

Tak tertahan ia berseru dengan lantang, “Soh Yong-yong, Li Ang-siu, Song Thiam-ji, tidak

lekas kalian boyong semua makanan yang paling lezat, biar kutelan seluruh kapal ini.”

Tiada sahutan, tiada reaksi, seluruh kapal tenggelam dalam suasana tenang dan sunyi

senyap, bahwasanya seorangpun tiada, Soh Yong-yong, Li Ang-siu dan Song Thiam-ji telah

menghilang entah kemana.

Rasa hangat dan malas-malas yang mengetuk hati Coh Liu-hiang seketika buyar, dia sudah

geledah dan obrak-abrik seluruh pelosok kapal, sampaipun lemari, gentong beraspun sudah dia

buka. Namun seujung rambut mereka pun tak diketemukan oleh Coh Liu-hiang.

Kemanakah mereka?

Ada kalanya Li Ang-siu pernah naik ke darat beli pupur atau gincu, Song Thiam-ji ngelayap di

pasar beli sayuran setengah hari, namun tiga orang pergi sekaligus belum pernah terjadi selama

ini. Memangnya mereka minggat tanpa pamit?

Itu tidak mungkin, selama beberapa tahun ini mereka adalah tritunggal yang merupakan salah

satu bagian dari jiwa raga Coh Liu-hiang. Untuk ini, siapapun takkan bisa memisahkan mereka.

Lalu kemana mereka, kenapa tak ada di atas kapal? Memangnya mengalami bencana dan kena

dicelakai orang?

Kembali Coh Liu hiang menerjang masuk ke bilik-bilik di dalam kamar.

Ia percaya dan yakin akan kepandaian silat mereka sudah cukup berlebihan untuk

menghadapi segala perubahan yang mendadak, dan lagi di dalam bilik-bilik setiap sudut kapalnya

ini, ia ada pasang berbagai alat-alat rahasia yang hebat dan lain dari yang lain. Semua alat-alat

rahasia itu, bisa dalam waktu yang amat singkat membuat seorang musuh seketika kehilangan

daya untuk melawan. Ada pula yang membuat musuh jatuh pingsan, ada pula yang dapat

membelenggu atau mengunci ke empat kaki tangan orang, ada lagi alat yang bisa membuat

seseorang terjungkir ke dalam laut.

Tapi kenyataan semua alat-alat rahasia itu tidak pernah tersentuh, tiada sesuatu benda dan

perabot yang morat-marit atau terletak tidak dalam posisi sebenarnya. Dalam lemari makan yang

bertabir kain tipis, terdapat tiga ayam panggang, sebotol arak anggur yang paling ia gemari,

demikian pula cangkir arak yang paling dia sayangipun sudah diseka dan dibersihkan sampai

mengkilap. Di atas ranjang Li Ang-siu tergeletak sejilid buku harian, lembaran buku terbuka tepat

pada kejadian impian kejutnya. Demikian pula di atas ranjang Soh Yong-yong terdapat sepasang

benang sulaman, sepasang kaos kaki yang belum jadi.

Jelas sekali mereka dengan tenang tanpa tergesa-gesa meninggalkan perahu ini, kecuali di

dalam waktu yang amat singkat seseorang bisa sekaligus membekuk dan membuat mereka

bertiga tidak berdaya. Tapi tokoh seperti ini, sampai detik ini, dalam ingatan Maling Kampiun

belum pernah dilahirkan. Sungguh Coh Liu-hiang tidak habis mengerti.

Semakin dipikir dan diselidiki, semakin sulit dia memahami. Semakin gugup dan risau pula

hatinya.

Masgul dan gelisah seperti semua terkurung di kuali panas, tak henti-hentinya dia lari keluar

masuk dari bilik ini ke bilik lain, putar kayun dan sibuk setengah mati. Setelah jerih payahnya

gagal, terakhir baru dia temukan secara mendadak di atas kursi tempat duduk yang dia sukai,

terdapat segunduk pasir kuning yang mengkilap.

Di atas gundukan pasir ini terdapat sebutir mutiara hitam yang cemerlang.

Tempat ini sebetulnya paling gampang ditemukan, namun seseorang kalau sudah terangsang

oleh gugup dan gelisah, justru sering mengabaikan atau melalaikan perhatiannya pada tempat

yang paling menyolok.

Coh Liu-hiang meremas secomot pasir kuning itu, pasir berjatuhan dari sela-sela jari-jarinya

sederas hujan air. Maka dilihatnya pula secarik kertas tertindih di bawah gundukan pasir kuning ini,

dimana terdapat dua baris huruf-huruf yang ditulis rapi dan bagus sekali.

Coh Liu-hiang mencuri kuda di pinggir danau. Hek-cin-cu menculik si cantik di atas lautan.

* * *

Kini Coh Liu-hiang bercongklang di punggung kuda Hek-cin-cu.

Hari itu ia tiba di sebuah kota kecil di pinggir Ma lian ho.

Matahari amat terik, deru angin membawa tebaran pasir, sebuah kota kecil serba miskin dan

kekurangan. Seorang perempuan tua yang berpakaian tidak lengkap sedang menuntun seorang

bocah laki-laki yang pucat hijau seperti warna sayur, sedang sembunyi di belakang daun pintu

sambil mengintip ke dalam, menunggu sedekah dari tamu-tamu budiman.

Tapi di atas dataran tinggi bertanah kuning yang miskin dan tandus ini, kota kecil ini sudah

merupakan tempat yang makmur dan serba mewah, karena di lingkungan ratusan li sekitarnya,

hanya disini saja yang ada air jernih.

Oleh karena itu, walau dalam kota ini terdapat beberapa bilangan rumah-rumah tembok,

beberapa toko dan rumah makan. Setelah Coh Liu-hiang menempuh perjalanan jauh yang

menyulitkan, seolah-olah dia sedang memasuki sebuah sorga di kota kecil ini.

Boleh dikata hampir siang malam ia menempuh perjalanan di atas punggung kudanya, hampir

terlupa olehnya betapa lezat dan nikmatnya hidangan dan bau arak, tidur, serta kejadian tempo

hari.

Jikalau ia tidak menunggang kuda ini bahwasanya tak mungkin secepat ini ia sudah tiba di

kota kecil ini, di sini, pada cuaca terang yang tiada angin puyuh, dari kejauhan dapat kau terawang

kemegahan bangunan tembok besar yang melingkar-lingkar di atas gunung gemunung di udara

sana.

Hari ini angin berhembus kencang, pasir kuning berterbangan membumbung ke angkasa,

pelayan-pelayan toko dan pemilik warung makan di pinggir jalan tak henti-hentinya menyapu

bersih debu pasir yang hinggap di atas kue kongpiang atau barang dagangan lainnya.

Cukup semenit saja kau menghentikan pekerjaanmu, kue-kue itu akan terbungkus oleh lapisan

debu pasir warna kuning laksana minyak sapi. Kue macam itu, di tempat seperti ini, sudah

merupakan makanan paling lezat dan berharga untuk mengenyangkan perut.

Sebuah kereta bobrok ditarik seekor kuda sedang mendatangi dari ujung jalan sana, kusir

kereta adalah laki-laki kekar yang tidak sabaran, seakan-akan ia hendak mencambuk dan

menghabiskan tenaga kuda yang kurus kering itu supaya kereta berlari lebih kencang lagi.

Tepat pada saat itu, seekor kucing berlari keluar dari sebuah warung arak, agaknya hendak

menyebrang jalan. Kebetulan kereta berkuda itu sedang mencongklang pesat mendatangi, terang

si kucing takkan bisa terhindar lagi, tergilas atau terinjak mampus.

Pada saat itu pula, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang menerjang keluar pula dari

warung arak itu, begitu cepat laksana anak panah meluncur tiba, ia tubruk dan tangkap kucing itu,

dengan badan raganya ia lindungi kucing itu dari injakan kaki kuda dan tergilas roda kereta yang

berat.

Maka kaki kuda menginjak punggungnya, demikian pula roda kereta menggilas lehernya.

Sudah tentu kejadian yang luar biasa ini membuat banyak orang-orang di jalanan menjerit kuatir.

Coh Liu-hiang sendiripun berubah air mukanya.

Dengan pertaruhkan jiwa sendiri ini melindungi seekor kucing, apakah dia berotak miring?

Demikian pula kusir kereta melihat keretanya menggilas seseorang, kejutnya bukan kepalang.

Lekas ia tarik kendali menghentikan kereta, lompat turun lalu berlari ke belakang, ingin ia

memeriksa dan menolong.

Dilihatnya orang itu masih rebah di tanah, sebelah tangannya memeluk kucing itu sembari

tawa berseri, katanya lucu, “Pus mungil, lain kali kalau menyebrang jalan harus hati-hati, jaman

seperti ini banyak manusia yang buta matanya, kalau kau tergilas mampus oleh keparat seperti itu,

memangnya tidak sia-sia dan penasaran?”

Kaki kuda dan roda kereta menginjak dan menggilas badan orang ini, dari atas kepala sampai

ke ujung kaki, ternyata tak terlihat sedikit lukapun di atas badan laki-laki ini, hanya baju rombeng

yang dipakainya itu tambah berlobang dua tempat.

Sudah tentu kejut dan gusar pula kusir kereta, bentaknya memaki, “Siapa keparat yang kau

maksud, jika kau mampus, bapakmu ini harus kena perkara,” saking gusar kontan ia layangkan

kakinya menendang.

Tangan kanan orang itu masih memeluk kucing, mata melirikpun tidak, cukup tangan kiri

sedikit bergerak, entah apa yang terjadi, badan kusir kereta yang tinggi kekar itu tahu-tahu

melayang naik ke atas seperti disurung ke atap rumah orang.

Kaget dan geli pula orang-orang yang menonton kejadian lucu di tengah jalan ini, baru

sekarang kusir kereta itu tahu takut dan kaget, jikalau orang sedang kerepotan dan mencakmencak

di atap rumah. Orang itu sebaliknya pelan-pelan bangkit terus masuk ke warung arak

sambil memeluk kucing manis itu, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa atas dirinya.

Sinar matahari menyoroti selebar mukanya yang kehijauan ditaburi cambang bauk lebat dan

kasar, nampak seri tawanya yang kemalas-malasan, sepasang matanya yang besar hitam dan

bercahaya.

Tadi badannya bergerak secepat anak panah, gerak-geriknya gesit laksana naga mencari

harimau ngamuk, kini langkah kakinya malah bergoyang gontai seperti ogah berjalan, ingin

rasanya cepat-cepat ada orang yang menggotong dirinya masuk ke dalam warung arak.

Mendadak Coh Liu-hiang melompat turun dari punggung kudanya, teriaknya keras-keras, “Oh

Thi-hoa, Oh hongcu (Oh si gila), kenapa kau bisa berada di sini?”

Orang itu berpaling dan melihat Coh Liu-hiang pula, seketika ia berjingkrak kegirangan,

serunya tertawa besar, “Coh Liu-hiang, kau ulat tua yang busuk ini, dengan cara bagaimana pula

kau bisa berada di sini?” Tanpa hiraukan kucing dalam pelukannya lagi ia memburu ke depan,

sekali pukul ia hantam pundak Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang tidak mau rugi, sekali sodok iapun

pukul perut orang.

Saking kesakitan keduanya menjerit mengaduh, namun tawa riang mereka membuat mata

berkaca-kaca hampir menangis saking kegirangan akan pertemuan yang tak terduga ini.

“Tak heran selama beberapa tahun belakangan ini aku tidak melihatmu, kukira kau sudah

mampus karena malas, kiranya kau sembunyi di tempat ini.” Demikian kata Coh Liu-hiang.

“Kau Lo co jong ulat tua busuk inipun bagaimana bisa tiba di sini, apa diusir oleh gendakgendakmu

itu sampai ngacir ke tempat ini?”

Kembali mereka saling pukul dan tertawa berhadapan, dengan langkah semula mereka masuk

ke kedai arak, mereka duduk di pinggir meja yang sudah reot, kucing kembang itu segera loncat

naik ke atas meja.

Sekali jewer Oh Thi-hoa segera menariknya turun ke bawah, katanya tertawa, “Pus mungil,

jangan kau cemburu, ulat tua busuk ini adalah teman baikku, dia sudah datang, terpaksa kau

mendekam di samping saja…” dalam ocehannya Coh Liu-hiang ternyata dinamakan ulat busuk,

kalau dipikir dia sendiri hampir pecah perut saking geli.

Kata Coh Liu-hiang tertawa besar, “Sekian tahun tak bertemu, tak nyana kau kucing malas ini

sudah punya teman baru.. mari! Pus mungil, kau minum dua cangkir bersamaku!”

“Apa, minum dua cangkir?” tanya Oh Thi-hoa membelalak. “Hari ini kalau tidak kucekok kau

dua ratus cangkir, anggap aku bukan teman baikmu.” Lalu ia gebrak meja dan berkaok-kaok,

“Arak! Arak! Lekas antarkan arak, memangnya kau hendak membuat temanku mati kekeringan.”

Seorang nyonya kurus, kecil hitam dan kering, menenteng sebuah poci arak keluar. “Blang,” ia

banting poci arak yang terbuat dari tanah liat itu ke atas meja, putar badan lalu tinggal pergi.

Tanpa bersuara melirikpun tidak kepada Oh Thi-hoa. Sebaliknya kedua mata Oh Thi-hoa

terbelalak seperti hendak mencolot keluar, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah-olah dia

mengawasi seorang perempuan yang tercantik di seluruh jagad ini.

Coh Liu-hiang tertawa geli, batinnya, “Mungkin kucing malas ini sudah terlalu lama tidak

melihat cewek, macam apa sebenarnya bentuk seorang perempuan jelita, mungkin sudah dia

lupakan.”

Sebetulnya nyonya ini tidak begitu jelek, usianya pun belum tua. Matanyapun bening bundar

dan tidak sipit, cuma badannya kurus kering bobot dagingnya tidak cukup empat kati, seperti ayam

babon yang kelaparan dan kering dihembus angin.

Setelah bayangan orang menghilang ke balik pintu sana, baru Oh Thi-hoa berpaling, dia tuang

dua cangkir arak, katanya tertawa, “Coh Liu-hiang, kau harus rada hati-hati. Oh Thi-hoa yang

sekarang kau hadapi takaran minumnya tidak sama dengan Oh Thi-hoa masa lalu. Masih segar

dalam ingatanku kau cekoki aku sampai mabuk sebanyak delapan puluh delapan kati, sekarang

aku harus mulai menuntut balas.”

“Delapan puluh sembilan… masakah kau sudah lupakan kejadian dalam genteng besar itu?”

“Mana bisa aku melupakan, kali itu aku hanya mencampur sesendok obat urus-urus dalam

arakmu, kau malah ceburkan badanku ke dalam gentong arak keluarga Thio itu, sehingga aku

mabuk tiga hari tiga malam.”

“Apakah kau masih ingat kapan peristiwa itu terjadi?”

“Delapan belas… mungkin hampir genap sembilan belas, waktu itu, aku bocah yang baru

berusia delapan sembilan tahun. Jikalau tidak berkawan dengan kau teman jelek ini, masakah aku

bisa belajar minum arak.”

Coh Liu-hiang berkakakan, ujarnya, “Jangan kau lupa, pertama kali kami minum, arak itu toh

hasil curianmu.”

“Apa benar?” ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa getir. “Aku sudah lupa.” Akhirnya ia berkakakan

pula, serunya, “Bicara terus terang, arak curian rasanya memang lebih nikmat, selama hidup ini

aku takkan bisa merasakan arak seenak itu,” dia hanya menengadah kepala, arak semangkok

besar itu, sekejap saja sudah habis.

Coh Liu-hiang melihat perbuatan orang, diapun habisi araknya, lalu tanyanya mengerut alis,

“Apakah ini arak?”

“Apa kalau bukan arak?”

“Tadi kukira cokak!”

Oh Thi-hoa terbahak-bahak, kembali dia tuang arak dan berkata, “Di tempat seperti ini ada

arak seperti ini pula, sudah terhitung besar rejekimu.”

Coh Liu-hiang terima arak yang diangsurkan, gumamnya, “Agaknya kucing malas ini bukan

saja sudah lupa akan paras jelita yang sesungguhnya, sampaipun rasa arak yang tulenpun sudah

dia lupakan.”

Puluhan poci arak, dalam sekejap sudah tertenggak habis ke dalam perut, sudah tentu nyonya

kurus kecil itupun berulang kali keluar masuk puluhan kali. Setiap kali ia banting poci arak di atas

meja terus putar badan tinggal pergi.

Belakangan setiap orang menongol keluar pintu, hati Coh Liu-hiang menjadi tegang, hampir

tak tertahan dia hendak menutupi kedua telinganya, apa boleh buat, kedua tangannya dengan

tersipu-sipu harus pegangi meja, kalau tidak meja reot itu pasti bisa remuk dan rontok seluruhnya.

Sebaliknya setiap kali nyonya kurus kecil itu muncul, biji mata Oh Thi-hoa lantas bersinar

cemerlang, suara tawanya pun lebih lantang, sikapnya yang semula malas dan ogah-ogahan

seketika bersemangat.

Tak tertahan akhirnya Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Anak muda yang harus

dikasihani, bahwasanya berapa lama kau sudah menetap di tempat seperti setan ini.”

Oh Thi-hoa mengedip-ngedip matanya, sahutnya, “Masihkah kau ingat, berapa tahun sudah

berselang sejak terakhir kali aku bertemu dengan kau?”

“Tujuh tahun, tak nyana sekejap saja sudah tujuh tahun.”

Mata Oh Thi-hoa memandang keluar nan jauh di sana, katanya rawan, “Waktu itu musim

panas, di Mo-jin-ouw danau jangan murung. Tahun itu kembang teratai berkembang biak amat

indahnya di Mo-jin-ouw, kami gunakan daun kembang teratai sebagai cawan arak, setiap kali

tenggak habis melempar selembar daun, belakangan daun-daun teratai itu hampir saja

menenggelamkan perahu yang kita tumpangi, daun teratai di pinggirmu sudah bertumpuk setinggi

hidungmu.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya, “Musim panas tahun itu, sungguh cepat berlalu!”

Mendadak Oh Thi-hoa berkakak, serunya, “Masihkah kau ingat siapa pula yang tahun itu

berada bersama kami?”

“Seumpama kita sudah melupakan kehadiran manusia dalam dunia ini, tentu takkan

terlupakan kepada Ko Ah-nam, waktu itu dia baru saja berhasil mempelajari Wi hong li-kiam dari

Hong-san, setiap kali mabuk, tentu dia mainkan ilmu pedang itu di hadapan kami sehingga Kimleng

yang suka iseng setiap hari merubung di pinggir danau tak mau pergi ingin menonton

pertunjukan gratis, sudah tentu di antara mereka ada yang ingin mencuri belajar ilmu pedangnya

itu.”

“Bicara terus terang, ilmu pedangnya itu tidak begitu bermutu, belakangan setiap kali ia

berlatih ilmu pedangnya, aku lantas terkencing-kencing. Sungguh aku heran, nama julukan Lenghong-

ji kiam-khek gelarnya itu entah cara bagaimana dia dapatkan.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Katamu ilmu pedangnya tidak baik, tapi Ki Bing-yam malah

bilang bahwa ilmu pedangnya itu tiga puluh persen lebih bagus dari Hoa-san-pay Ciangbun Ji

Siok-tin.”

“Benar!” seru Oh Thi-hoa mengelus tapak tangan. “Jago mampus itu bisa tiga hari tidak bicara,

namun begitu buka suara selalu mengagulkan ilmu pedangnya sendiri. Kukira delapan puluh

persen dia sudah jatuh hati kepadanya.”

“Tapi dia sebaliknya malah jatuh hati kepada kau, kalau tidak masakah dia sudi bergaul dan

keluntungan dengan laki-laki setan arak seperti kami ini, apa kau masih ingat waktu hari kau

mabuk, pernah kau berjanji hendak menikah dengan dia.”

Oh Thi-hoa menyengir, ujarnya, “Masa aku tidak ingat, hari kedua setelah aku sadar sudah

kulupakan peristiwa itu, siapa tahu dia justru tidak lupa, malah dia menuntut dan desak aku ingkar

janji, dia takkan punya hidup lagi, dia hendak bunuh diri, terpaksa malam itu juga aku terjun ke

dalam air, dan selulup sejauh mungkin melarikan diri.”

Belum habis cerita orang, Coh Liu-hiang sudah mendekap meja karena perut sakit tertawa

terpingkal-pingkal, katanya dengan nafas ngos-ngosan, “Tak heran, hari kedua setelah terang

tanah, tiba-tiba kudapati kalian berdua sudah tidak kelihatan pula bayangannya, itu waktu aku kira

kalian sudah kawin lari. Oleh karena itu Ki Ping-yam yang menjadi masgul dan murung, malam itu

hampir saja dia mampus karena mabuk, hari ketiga ternyata diapun menghilang, sampai sekarang

belum pernah aku melihatnya.”

Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya, “Kalau bukan lantaran Ko Ah-nam mengejarku mati-matian,

memangnya aku bisa lari ke tempat nan jauh ini?”

“Sejak tujuh tahun kau lari ke sini, kau tetap tinggal di sini?”

“Tiga tahun setelah dia mengejarku, baru aku lari ke tempat ini.”

“Jadi kau sudah empat tahun menetap di sini?”

Oh Thi-hoa teguk araknya, katanya pula, “Tiga tahun sepuluh bulan.”

“Soal apa yang menyebabkan kau kerasan tinggal di tempat setan seperti ini selama itu,

sungguh aku tidak habis mengerti.”

Kembali Oh Thi-hoa tenggak araknya, mendadak ia pelototi Coh Liu-hiang, serunya, “Kau ingin

aku bicara kepadamu?”

“Lekas katakan!”

Oh Thi-hoa dekatkan mulutnya ke telinga Coh Liu-hiang, katanya, “Sudahkah kau melihat

tegas perempuan yang mengantar arak tadi?”

Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, serunya, “Kau… jadi lantaran dia kau menetap sedemikian

lama di tempat ini?”

“Tidak salah!”

Lekas Coh Liu-hiang berpegangan meja, agaknya dia kuatir kalau dirinya jatuh semaput. Dari

atas ke bawah bolak-balik ia amati Oh Thi-hoa dengan seksama, seperti setua ini baru pertama

kali ia pernah melihat laki-laki brewok di hadapannya ini. Ia lalu pelan-pelan duduk kembali di

tempatnya, setelah tenggak secangkir arak, berkata pelan-pelan, “Aku ingin mohon sesuatu

kepadamu.”

“Soal apa?”

“Perempuan itu dari kaki sampai kepala, dalam hal apa dia lebih elok dari Ko Ah nam, bisakah

kau jelaskan?”

Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, sahutnya, “Biar kuberitahu kepadamu, Ko Ahnam

hendak mengejar aku, sebaliknya aku mengejar dia malah empat tahun lamanya aku tak

berhasil menyanderanya, disitulah letak kebalikannya, kau tahu tidak?”

Mata Coh Liu-hiang menatap mukanya, melotot sepeminuman teh lamanya, baru dia unjuk

rasa senang dan tertawa besar pula, sambil mendekap meja, katanya, “Karena baru sekarang aku

mau percaya, bahwa karma memang bisa terjadi di dunia ini.”

Oh Thi-hoa manggut-manggut, dengusnya, “Apa yang kau tertawakan, aku memang tahu

perasaan hati manusia yang paling suci dan bersih ini, orang kasar dan awam seperti kau, selama

hidup pasti takkan mengerti.”

Coh Liu-hiang menekan perut, katanya, “Oh Tuhan! Cinta suci nan setia! Sukakah kau ampuni

aku? Aduh, perutku hampir pecah!”

Dengan bersungut-sungut Oh Thi-hoa diam saja, sekaligus dia habiskan tiga cawan lagi.

Mendadak iapun terbahak-bahak, keduanya mendekap meja, dan tertawa besar berhadapan

saling pandang dan tuding, air mata sampai bercucuran.

Bersambung ke Jilid 13

JILID 13

“BAGAIMANA bisa terjadi asmara suci murni ini coba kau kisahkan kepadaku.”

“Setelah kuceritakan kau jangan tertawa lho!”

“Tidak! Tanggung tidak tertawa!”

“Pertama kali aku tiba di sini, sudah tiga bulan aku tak pernah melihat perempuan, begitu

melihat dia, kau boleh mengatakan dia kurang cantik, tapi aku beranggapan ditempat ini ia

merupakan perempuan yang paling cantik.”

“Aku mengakui.”

“Oleh karena itu aku ingin………. bermain-main dengan dia, dalam anggapanku, sekali raih

tentu berhasil, siapa tahu dia justru pandang aku sebagai orang mati, melirikpun tidak sudi

kepadaku.

Coh-Liu-hiang tahan rasa gelinya, katanya: “Memangnya Hong-liu ‘bajul Kaucu Hoa-tiap oh

‘kupu kembang’, dipandang sepele oleh perempuan kecil itu, sungguh keterlaluan dan penasaran!

Sampai akupun ikut merasa jengkel”

Semakin ia tidak hiraukan aku, Semakin merupakan daya tariknya dalam pandanganku. aku

siap dalam bulan, siapa tahu dua bulan kemudian, sedikitpun aku tidak mendapat kemajuan maka

aku persiapkan dari tiga bulan, siapa tahu…” ia tertawa getir, “Tak usah kukatakan kaupun sudah

melihatnya, aku sudah berjerih payah selama tiga tahun sepuluh bulan penuh, dalam pandangan

matanya tetap sebagai orang mati, malah unjuk tawa atau tersenyum kepadakupun dia tidak

pernah.”

Coh Liu hiang memang tahan geli dan tak tertawa, memang dia takkan bisa tertawa. Ikut

prihatin akan usaha teman karibnya yang gagal ini.

Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, katanya keras: “Jikalau kau unjuk sedikit rasa

kasihan kepadaku, biar kutuang arak sepoci ini ke dalam hidungmu.”

“Aku tidak kasihan kepadamu, aku malah kagum kepadamu, kagum hampir mampus.”

Oh Thi hoa terkial-kial sampai arak dalam mulutnya menyemprot keluar membasahi selebar

meja, “Sekarang.” katanya, “Aku ingin dengar ceritamu, kenapa pula kau bisa sampai disini?

Memangnya ada siapa yang hendak paksa kau untuk mengawini dia menjadi binimu?”

Sikap riang Coh Liu hiang tadi seketika sirna, mukanya tampak masgul dan kesal, sesaat ia

berdiam diri, lalu katanya pelan-pelan: “Apa kau masih ingat Soh Yong-yong, Li Ang siu dan Song-

Thiam ji?”

“Sudah tentu masih ingat, waktu itu mereka masih gendak genduk cilik, sekarang tentunya

sudah tumbuh dewasa menjadi perawan jelita, masakah mereka hendak menikah dengan kau, tak

heran kau lari ke tempat sejauh ini.”

“Orang lain sama menyangka hubunganku dengan mereka rada kurang genah, bahwasanya

sejak berusia dua belasan mereka sudah ikut padaku, tidak lebih mereka pandang aku sebagai

toakonya sendiri, anggap aku sebagai teman karib, dan aku… tentunya kau tetap percaya

kepadaku, sejak mula aku pandang mereka sebagai adik kandungku.”

“Orang lain tidak percaya kepada kau, tapi aku tahu kau ulat tua busuk ini, kalau bertindak

rusuh memang bikin kepala orang lain pusing tujuh keliling, tapi bila kau bertindak baik, orang lain

mimpipun tidak pernah menduganya.”

Coh Liu hiang menarik napas panjang, ujarnya rawan: “Kini mereka bertiga sama diculik oleh

orang.”

Tersirap darah Oh Thi-hoa, serunya: “Diculik orang? Siapa orangnya yang punya nyali sebesar

itu?”

“Pernahkah kau dengar nama Ca Bok-hap raja padang pasir?”

“Keparat itu berani mencari gara-gara terhadapmu? Biar kubeset dia menjadi umpan anjing!”

“Bukan dia, tapi putranya Hek tin-cu.”

“Persetan dia Hek tin-cu atau Pek tin-cu ‘mutiara putih’ berapa banyak sih dia punya nyali,

berani mengganggu usik saudara kami?” Tiba-tiba ia gebrak meja seraya berdiri, serunya lantang:

‘Hayo berangkat! Kita buat perhitungan kepadanya!”

“Kau ingin ikut aku?”

“Kau ulat tua busuk ini.” damprat Oh Thi-hoa gusar. “Kau pandang aku apa? Kau menghadapi

kesulitan, kalau tidak aku membantumu siapa yang bantu kau?

Coh Liu hiang berjingrak berdiri, serunya: “Dengan kau sebagai teman seperjalananku, kalau

padang rumput tidak kuobrak-abrik jangan panggil aku sebagai Maling kampiun!” mendadak ia

hentikan tawanya, sekilas ia melirik ke pintu belakang, katanya: “Tapi bagaimana dia? Kau tidak

mau perdulikan ia lagi?”

Oh Thi hoa tertawa lebar, ujarnya: “Cukup asal sepatah katamu saja, batok kepalaku ini pun

boleh kuserahkan, masakah aku tidak tega meninggalkan dia?”

Dengan tertawa besar, mereka beriring keluar pintu.

Tak nyana nyonya kurus kecil itu mendadak memburu keluar dengan langkah seperti terbang

dari belakang pintu, dengan kencang dia tarik lengan baju Oh Thi-hoa, teriaknya lantang: “Kau

hendak tinggal pergi demikian saja?”

Sekilas Oh Thi-hoa melengak, tanyanya: “Apa rekening arakku belum kubayar?”

“Siapa sudi terima uangmu.” suruh nyonya kecil kurus dengan suara serak: “Yang kuinginkan

adalah kau sendiri.”

Kata-kata ini seketika membuat Oh Thi-hoa terpaku di tempatnya, demikian juga Coh Liu hiang

menjublek tak bergerak.

Berkata Oh Thi-hoa tersendat: “La… lalu kenapa kau selama ini tidak hiraukan sapa tegurku?”

“Aku tidak mau hiraukan kau, lantaran aku tahu, kau menyukai aku karena aku tak mau

hiraukan kau!” jawab nyonya kurus kecil.

Kembali Oh Thi-hoa melenggong, katanya tertawa getir: “Coh Liu hiang, kau sudah dengar?

Jangan sekali-kali kau pandang perempuan siapa saja sebagai manusia pikun, siapa bila pandang

perempuan seorang pikun, dia sendiri yang pikun.”

Bercucuran air mata nyonya kurus kecil, katanya: “Kumohon kepadamu jangan tinggalkan aku,

asal kau tidak pergi, segera aku rela menikah dengan kau.”

Kata-kata ‘menikah’ laksana sengat kala yang menusuk ulu Oh Thi-hoa, dengan kaget ia tarik

lengan bajunya, seperti kelinci yang ketakutan dikejar harimau lapar cepat ia melarikan diri.

Walau gerak-gerik Coh Lui-hiang tidak lambat, kuda tunggangannya dapat berlari sekencang

angin puyuh, tapi dia harus kerahkan segala tenaganya, barulah berhasil menyandak Oh Thi-hoa,

serunya tertawa besar : “Kau tak usah takut, dia takkan menyandak kau, dia tidak memiliki

Ginkang setinggi Ko Ah-nam.”

Baru sekarang Oh Thi-hoa kendorkan larinya, katanya tertawa getir: “Kau dengar, ternyata dia

tahu bahwa aku menyukai dia lantaran dia tidak mau hiraukan aku! Kau bunuh akupun, aku takkan

mau percaya, perempuan tampangnya itu, ternyata sedemikian cerdik.”

“Sebodoh-bodoh perempuan, tentulah seorang ahli pula dalam bidang ini, mungkin selama

hidupnya ini memang dia sedang menjebak dan memancing laki-laki goblok seperti kau ini terjerat

muslihatnya, memangnya dia tidak bisa pentang mata lihat orang?”

“Perempuan!” ujar Oh Thi-hoa menghela napas. “Selama hidupku ini, mungkin takkan bisa

menyelami jiwa perempuan.”

“Tapi perempuan justru paling paham menghadapi laki-laki, mereka tahu kebanyakan laki-laki

itu bertulang kere!”

Akhirnya Oh Thi-hoa bergelak tertawa, katanya : “Maksudmu tak lain hanya ingin mengatakan

bahwa aku ini memang balong(tulang) kere”

“Kalau toh kau berpikir demikian, kenapa aku harus menyangkal!” dia sudah lompat turun dari

kudanya, jalan berjajar dengan Oh Thi-hoa, beberapa jauh kemudian baru ia sadari bahwa Oh Thihoa

membawanya menempuh perjalanan yang keliru, segera ia bertanya: “Kemana kau hendak

pergi?”

“Lan-ciu”

“Lan-ciu! Heng-tin-cu tinggal di padang pasir di luar perbatasan, untuk apa kita menuju ke Lanciu?”

“Demikian saja kita berdua hendak pergi ke padang pasir, setelah kau berhadapan dengan

Hek-tin-ciu, mungkin tanganmu sendiripun kau tidak mampu mengangkatnya, memangnya kau

ingin melabrak orang?”

Coh Liu-hiang mengerutkan keningnya, katanya : “Aku sudah tahu bahwa padang pasir serba

berbahaya.”

“Berbahaya? Memangnya kau sangka cukup dilukiskan dengan sepatah kata ‘berbahaya’

saja? Orang yang belum pernah ke padang pasir, mimpipun tak pernah terpikir olehnya betapa

menakutkan padang pasir itu.”

“Kau sedang gertak dan menakuti aku?”

Oh Thi-hoa pejamkan mata, ujarnya : “Ditengah padang pasir nan luas tak kelihatan ujung

pangkalnya itu, jiwa seseorang manusia merupakan sebutir kerikil yang tak berarti sama sekali,

seumpama Coh Liu-hiang si maling kampiun yang kenamaan itu mampus ditelan pasir kuning di

sana juga merupakan kejadian biasa, tak terhitung istimewa.”

“Kau takkan bisa membuatku takut!”

Oh Thi-hoa tidak hiraukan ocehannya, katanya pelan-pelan: “Disana begitu terik sehingga

ingin rasanya kau sendiri membeset kulitmu, sebaliknya kalau malam dinginnya bisa bikin

darahmu membeku dalam badan. Gundukan gunung dalam sedetik bisa berubah menjadi tanah

yang datar, tanah datar tiba-tiba menjadi tanah yang tinggi, dikala angin badai melanda tiba,

sebuah kota besarpun mungkin bisa terpendam dan dikubur didalam pasir, ditambah air yang

merupakan barang termahal melebihi jiwa, khabarnya dalam setiap jam, sepuluh manusia yang

berada di padang pasir mati kekeringan.”

“Tempat yang sepuluh kali lebih berbahaya dari padang pasirpun pernah ku datangi,” sela Coh

Liu-hiang tertawa.

Terbuka mata Oh Thi-hoa, katanya keras: “Yang kau hadapi dulu hanya manusia, tapi yang

harus kau hadapi di sana adalah kebesaran alam serta kekejamannya! Apalagi kau tidak tahu

menahu tentang seluk beluk padang pasir, sebaliknya Hek-tin-cu sejak kecil dibesarkan di padang

pasir, cuaca, situasi bumi, tata kehidupan manusia serta pergaulan adat istiadat bangsa minoritas

di sana, tiada yang kau ketahui, mengandalkan apa kau hendak mengikuti dia?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Ucapanmu ini memang benar!”

“Apalagi, sampai sekarang kau sendiri belum tahu dimanakah dia sebetulnya berada, benar

tidak?”

Coh Liu-hiang manggut sambil mengiakan.

“Kalau demikian, hakekatnya kau takkan bisa menemukan dia, kau kira padang pasir hanya

sebesar taman kebun rumahmu? Di sana langit tersentuh bumi, bumi bersambung dengan langit,

sehingga kau sulit membedakan arah, dan lagi bahasa pergaulan bangsa gembala sepatah

katapun kau tidak mengerti. Jikalau kau hendak menjelajah kesana, membentur nasib, cukup dua

putaran jalan, kau pasti sudah tersesat jalan, dalam jangka tujuh hari kau akan mati kering karena

dahaga,” matanya semakin melotot mengawasi Coh Liu-hiang, tambahnya keras : “Sebetulnya kau

seorang yang punya otak jernih dan pikiran pandai, memangnya kali ini kau sudah gila saking

gelisahnya?”

Sesaat lamanya Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kemudian dengan tertawa getir :

“Memang aku gila saking gelisah, tapi betapapun sukar dan berbahayanya, aku tetap akan

menyusul kesana, jikalau kau………………”

“Kau ulat busuk ini,” damprat Oh Thi-hoa gusar : “Kau sangka aku gentar?”

“Jadi maksudmu…………..”

“Maksudku, jika kita memang harus pergi, kita harus bekerja dengan sempurna dan

mempersiapkan diri. Urusan harus berhasil dengan gemilang, jangan seperti orang pikun terima

menghantar kematian secara sia-sia belaka. Kita harus bertindak dengan tenang dan kepala

dingin.”

“Apa sekarang kau tenang dan dingin kepala?” tanya Coh Liu-hiang tertawa.

Oh Thi-hoa ikut tertawa, ujarnya : “Melihat kau bersikap seperti anak kecil yang diburu nafsu,

sungguh tak tertahan aku ingin marah, kita sekarang sudah cukup dewasa, pekerjaan seorang

dewasa harus menunjukkan gengsi dan pamor orang dewasa pula.”

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, katanya gemas : “Beberapa hari ini, pikiranku memang

terlalu kusut!”

“Kau bisa berpikir demi keselamatan orang lain, jelas bahwa kau ini memang anak mungil,

tidak seperti tutur kata orang lain, adalah seekor rase, seekor ular beracun.” kembali ia berkaokkaok

keras :” Jika kita ingin menolong mereka, kita harus menjadi rase atau ular berbisa, ditempat

seperti itu manusia yang berpegang pada prikemanusiaan takkan bisa berumur panjang.”

Coh Liu-hiang mengamat-amatinya, katanya geleng-geleng : “Mungkin aku masih bisa menjadi

rase, tapi ular beracun……………..akupun tak kuasa berbuat demikian apalagi kau.”

“Oleh karena itu, kita harus mencari orang yang dapat merubah kita menjadi ular beracun itu.”

“Siapa?”

“Si-kong-ke Ayam jantan mati.”

Maksudmu Ki Ping-yan? Kau tahu dimana ia berada?

“Dia berada di Lan-ciu.”

“Dia? memangnya dia amat hapal dan sudah menjadi lurah di padang pasir?”

“Ketahuilah dia sudah kaya raya, kekayaannya itu dia keduk dari padang pasir. Setelah dia

berpisah dengan kau, langsung dia menuju ke padang pasir, dan dalam lima tahun dia sudah

menjadi pedagang yang paling pintar dan cerdik, dia sekarang seorang hartawan besar.”

“Sebaliknya kau tetap laki-laki yang paling rudin yang serba miskin!” Olok Coh Liu-hiang.

“Maka itulah pernah kukatakan, laki-laki yang gagal dalam permainan bidang perempuan, dia

akan lebih sukses dalam usahanya.”

Coh Liu Hiang terloroh-loroh godanya: “Memangnya kau sendiri kira, kau seorang ahli dalam

bidang perempuan?”

Lan-ciu, merupakan kota besar yang termasyhur, ramai, makmur dan pusat perdagangan yang

terletak di persimpangan jalan, pusat dari segala kekayaan alam, pusat perdagangan, pusat

berkumpulnya orang-orang kaya yang suka berpetualang.

Di tempat seperti ini, kekayaan bukan apa-apa dalam pandangan manusia, tapi bila kau benarbenar

memiliki kekayaan yang berlimpah, masyarakat tetap akan bersikap hormat dan tunduk

kepadamu.

Ki Ping-yang adalah salah satu dari sekian banyak hartawan yang menimbulkan hormat dan

disegani, itu pertanda hartawan seperti dia ini, dimanapun sukar dicari keduanya.

Sebetulnya dia tidak punya usaha dagang yang menentu, setiap usaha dagang apapun asal

mendatangkan keuntungan uang, ia pasti sukar menanamkan modal dan kaki atau tangannya,

berbagai perdagangan didalam kota Lan cui kalau uang yang berputar sepuluh prosen

keuntungannya, satu persen adalah miliknya.

Orang yang begini luas pergaulan dagangnya orangnya yang dihormati dan disegani, siapa

pula yang tidak mengenalnya? Oleh karena itu, dengan gampang Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa

menemukan tempat tinggalnya.

Seorang laki-laki menyambut tamu berbadan tegap kekar membawa mereka memasuki

pekarangan yang lebat ditumbuhi pepohonan dan pemuda berbaju putih bersih mengantar mereka

memasuki sebuah pendopo yang luas dan terpanjang mewah dan megah, dan setiap orang yang

mereka temui bersikap hormat dan sopan santun, walaupun mereka mengenakan pakaian

seorang penyambut tamu.

Ruang tamu yang besar terbuka ini dilembari kerai-kerai bambu, sehingga terik matahari di

musim kemarau ini, teraling di luar angin lalu menghembus deras sehingga kerai bergoyang,

selintas pandangan didalam kerai seolah-olah ada burung walet sedang terbang bebas diangkasa.

Oh Thi-hoa menghela napas ujarnya: “Beginilah pamor seorang hartawan, umpama kacungkacung

itu sama memandang rendah kami, mimik muka mereka masih hormat dan sopan. Jago

mampus kita itu seperti ditakdirkan lahir untuk kaya, sedikitpun tidak memperlihatkan sikap kasar

sebagai tuan tanah atau keluarga penindas.”

Sorot mata Co- Liu-hiang mengawasi bayangan kembang di atas jendela, kupingnya

mendengar suara air gemerisik, tangannya menumpang secangkir air teh bening wangi

merangsang hidung, katanya tiba-tiba:

“Menurut hematku ini amat sulit.”

“Soal apa amat sulit?” tanya Oh Thi-hoa.

“Memangnya kau belum paham karakternya, ingin menariknya keluar dari tempat semewah ini

ke padang pasir yang terik dan sering terbit badai itu, kukira siapapun takkan mampu dan sudi.”

“Tepat! Memang dia seorang laki-laki sejati, laki-laki yang keras kepala dan berhati baja

selamanya tak pernah minta bantuan orang lain, selamanyapun tiada maksud ingin membantu

kesulitan orang lain, tapi kau jangan lupa, betapapun dia adalah teman karib kita.”

Coh Liu-hiang tersenyum: “Bagaimanapun teman takkan lebih baik daripada diri sendiri.”

“Jangan masgul, aku pasti punya akal untuk menyeretnya ikut kami, kalau terpaksa biar kita

bakar saja rumah mewah ini, coba lihat dia mau pergi tidak?’

Baur saja kata-katanya habis, terdengar seorang batuk-batuk di luar kerai.

Dua gadis berpakaian serba putih berparas elok dengan rambut tersanggul tinggi, pelan-pelan

melangkah masuk sambil memikul sebuah usungan kursi empuk, seseorang rebah semendeh di

atas kursi empuk ini, mulutnya terpentang lebar, serunya tertawa lebar:

“Coh Liu-hiang, Oh Hong cu, tak nyana kalian setan arak ini, kiranya kalian belum lupa

kepadaku.” Meskipun tertawa lebar dengan sikap gembira, namun kedua biji matanya tetap dingin

tajam laksana burung elang yang buas.

oh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa lekas menyongsong maju dengan tertawa besar pula.

Kata Oh Thi-hoa: “Gengsimu semakin besar, berapa sih harga kebesaranmu ini, melihat

kawan lama, masih enak-enak rebah tak mau berdiri.”

Ki Ping Yan tertawa-tawa, sambutnya : “Jikalau kau bisa membuatku berdiri, seluruh milikku

kuhadiahkan kepadamu.”

Oh Thi-hoa tertegun, matanya mendelong mengawasi kedua kakinya yang tertutup selimut

kain beludru, teriaknya : “Kakimu?”

Ki Ping-yan menghela napas, ujarnya : “Kedua kakiku ini sudah tak berguna lag.”

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa seketika menjublek.

Tak tahan akhirnya Oh Thi-hoa menjerit keras : “Sebetulnya kapan hal ini terjadi? Keparat

siapa yang melakukan Biar kupukul hancur kedua kaki keparat itu!”

“Kalau kau ingin bantu aku menuntut balas agaknya harus bikin kau kecewa saja.” ujar Ki

Ping-yan.

Oh Thi-hoa gusar, serunya: “Jikalau aku dan Coh Liu-hiang tidak mampu menuntaskan balas

sakit hatimu, dalam dunia ini mungkin tiada orang lain yang mampu menebus sakit hatimu.”

“Memang tiada orang yang bisa menuntut balas bagi sakit hatiku.” Ki Ping-yang menegaskan.

“Kenapa?” suaran Oh Thi-hoa menjerit.

Ki Ping-yan geleng-gelengkan kepala ujarnya :

“Yang bikin kedua kakiku ini lumpuh, sebenarnya bukan manusia, tapi padang pasir! Matahari

yang patut mampus dan angin yang harus mati ditengah padang pasir… ” ia tertawa getir lalu

melanjutkan: “Selama lima tahun penuh kau mengembara dan keluntang-lantung ditengah

samudra padang pasir, bagaimana aku melewatkan kehidupan lima tahun dipadang-padang pasir

mungkin tiada orang yang bisa membayangkan. Suatu ketika secara hidup-hidup aku terpendam

di bawah tumpukan pasir dua hari kemudian baru aku tertolong oleh rombongan unta yang

kebetulan lewat.

Padang pasir yang harus mampus itu memang memberikan berkah harta benda yang takkan

habis kumakan selama hidup, namun mendapatkan penyakit rematik di seluruh badanku,

sekarang sudah mending, tinggal kedua kakiku ini yang lumpuh dan tak mampu bergerak lagi.

Oh thi-hoa melongo pula, ujarnya:

“Ki Ping-yan, Ki Ping-yan! kukira kau ini manusia besi bertulang baja, selama ini kukira tiada

sesuatu dalam dunia ini yang bisa membuatmu cidera atau luka-luka, siapa tahu…” tiba-tiba ia

sepak mencelat sebuah kursi disampingnya, suaranya gemuruh:

“Padang pasir yang patut mampus, kenapa dalam dunia ini terdapat tempat-tempat setan

seperti itu? Kenapa pula kita diharuskan meluruk kesana?’

Ki Ping-yan menjerit kaget dan kuatir, tanyanya: “Kalianpun hendak pergi ke padang pasir?’

Dengan rasa berat Coh Liu-hiang menganggukkan kepala, “benar.” Sahutnya.

“Dengarlah nasehatku, selama hidup ini jangan kalian pergi ke padang pasir, kau boleh

percaya kepadaku, tempat itu tidak patut didatangi oleh seorang manusia yang berotak jernih dan

sadar.”

Coh Liu-hinag tersenyum kecewa, ujarnya: “Siapa bilang sekarang aku ini orang yang

berpikiran jernih?”

Ki Ping-yang kaget katanya. memangnya ada persoalan apa dalam dunia ini yang bisa bikin

Maling Kampiun pusing kepala?”

Kembali Oh Thi-hoa menyela bicara : “Sebetulnya kami hendak ajak kau ikut serta, dari para

pelancong yang pulang dari padang pasir, kami mendengar pengalamanmu menjadi kaya. Kami

kira kau sudah menundukkan padang pasir, siapa tahu….sekarang kau….”

Mendadak Ki Ping-yan pegang kedua kakinya yang terbungkus di bawah selimutnya, serunya

serak: “Tapi kini kedua kakiku ini, aku hanya mendelong awasi teman-teman baikku pergi…pergi…”

Orang yang biasanya bersikap dingin tenang ini, ternyata terharu dan terbawa emosi, seperti

hendak meronta bangun, tapi kedua kakinya tak mampu bergerak seperti kayu, rasa sakit

merangsang ulu hati lagi, akhirnya ia meloso jatuh dari kursi empuknya.

Lekas Oh Thi-hoa memayangnya, melihat keadaan temannya yang harus dikasihani ini hampir

saja Oh Thi-hoa mengucurkan air mata saking kasihan, tapi mulutnya tertawa lebar serunya:

“Kaupun tak perlu bersedih, tanpa kau, aku dan ulat busuk tetap bisa bikin padang pasir porak

poranda. Tunggulah saja kabar baik di sini sekaligus kami akan lampiaskan penasaranmu.”

Matanya sudah berkaca-kaca. Setelah mengucek matanya kembali ia berkata tertawa besar

“Jikalau kau sangka tanpa kau ikut, kami berarti mengantar kematian, tentulah otakmu ini perlu

disikat dan diperbaiki lagi. Aku dan ulat busuk bukan nona besar yang lemah takut dihembus angin

besar.”

Dengan kedua tapak tangan Ki Ping-yan dekat mukanya. Seluruh badan bergetar menahan

emosi dan gejolak hatinya.

Coh Liu-hiang menyela: “Tapi kalau kau tidak lekas sediakan arak seumpama aku

menggendongmu pergi kau akan ku seret pergi ke padang pasir pula.”

Pelan-pelan Ki Ping-yan kembali tenang. Iapun tertawa besar, serunya: “Sudah sekian lama

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa datang kemari kenapa tidak lekas kusiapkan arak bagus dan

hidangan lezat, memang aku pantas mampus….”

Piring, mangkok dan cangkir serta perabotan-perabotan antik yang berisi hidangan lezat

memenuhi meja besar, cangkir arak terbuat dari batu pualam hijau, berisi arak warna merah

jambrud, dalam pandangan seorang penggemar arak, merupakan suatu perjamuan yang paling

mewah dalam dunia ini, apalagi yang melayani mereka makan minum adalah dua gadis cantik

rupawan yang bisa membuat laki-laki ngiler dan terpesona.

Tapi kali ini Coh Liu-hiang tidak perlihatkan sikap biasanya untuk menikmati hidangan

dihadapannya, menikmati kecantikan kedua pelayan ini, karena sikap mesra kedua gadis rupawan

ini adalah sedemikian keluar batas terhadap Ki Ping yan, umpama seorang anakpun bisa

merasakan keganjilan ini. Memang diapun sedang menikmati arak bagus temannya ini, tapi ia

cukup sadar, jangan sekali-kali kau bikin teman lamanya ini merasa jelus.

Demikian juga Oh Thi-hoa, dia melirikpun tidak kepada mereka, yang dia ingat hanya gegares

sekenyang dan sepuas hatinya, memang kebanyakan orang bilamana hati sedang risau dan

kusut, sering mereka lampiaskan gejolak hatinya dengan makan minum sebanyak banyaknya.

Bukan saja dia mengisi perut sendiri secangkir demi secangkir, diapun cekoki kepada Ki Pingyan,

dia berpendapat asal seseorang masih bisa minum makan dan minum, seumpama kaki

sudah buntung, juga tidak menjadi soal.

Sekonyong-konyong Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya: “Ki Ping yan legakan saja hatimu

kau pasti takkan mati seseorang yang masih bisa minum begini banyak, paling cepat masih bisa

hidup tiga puluh tahun”

Ki Ping yan tersenyum, sahutnya: “Arak kau bukan diminum dengan kaki, benar tidak?”

“Benar! Seumpama kedua kakimu sudah rusak anggota badanmu yang lain masih segar bugar

baru sekarang aku bisa berlega hati.”

Tiba-tiba Ki Ping yan menarik napas panjang, katanya pula: “Tapi aku rada kuatir.”

“Apa pula yang masih kau kuatirkan?”

“Begini saja kalian hendak pergi ke padang pasir?”

“Setelah perutku kenyang! Segera kami berangkat!”

“Kalian hendak pergi ke padang pasir, aku berani tanggung kalian takkan kuat menahan hidup

sepuluh hari.”

Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya: “Berapa lama orang lain bisa hidup disana, berapa

lama pula kami harus hidup, kecuali semua manusia dipadang pasir sudah mampus seluruhnya

kalau tidak, kitapun tetap akan bertahan hidup.”

“Itu berlainan, manusia yang hidup ditengah padang pasir, mereka sudah digembleng sekeras

baja, sedemikian keras dan kuat pertahanan mereka sampai kalianpun takkan pernah bisa

membayangkan, sebaliknya kalian…”

Oh Thi-hoa marah, semprotnya: “Memangnya kau kira aku dan Coh Liu-hiang tidak ungkulan

dibanding mereka?”

“Kepandaian silat kalian dan kecerdikan otak sudah tentu jauh lebih unggul dari orang lain, tapi

hati kalian, tulang dan anggota badan kalian, sudah lama terendam oleh arak, permainan

perempuan, dan menjadi lemas oleh kehidupan yang foya-foya. Jadi kehidupan di padang pasir

jauh sekali tidak mencocoki selera dan kondisi kalian.”

Coh Liu-hiang tersenyum pula, katanya: “Kau kira kami hidup foya-foya dan serba

kesenangan?”

“Paling tidak sepuluh kali lebih senang dari kehidupan manusia ditengah padang pasir, karena

kuatir air dalam badan mereka terkuras dan menguap, mereka boleh seharian tidak bicara, tidak

bergerak, apa kalian mampu? Dikala perut mereka lapar, mereka bisa tangkap kadal dan dibakar,

gegares kadal sebagai ganti paha ayam, apa kalian sudi? Bila mulut dahaga, mereka menggali

pasir sampai beberapa tombak dalamnya hanya dengan kedua tangan saja, tujuannya hanya

sekedar menghisap air di bawah pasir, dengan mengandal setitik air itu, mereka kuasa bertahan

hidup tiga hari lagi, apakah kalian bisa minum kencing unta, apa kalian mau? Cukup asal kalian

mengendus baunya yang sedap saja perut kalian pasti berontak dan muntah-muntah, dan sekali

kalian muntah, elmaut sudah menunggu, ajal kalian akan semakin cepat.”

Ki Ping-yan menghela napas, katanya pula: “Manusia ditengah padang pasir, apa saja yang

mereka lakukan demi bertahan hidup, bukan saja kalian takkan mampu melakukan, malah

berpikirpun tentu takkan berani.”

Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya: “Memang paling tidak aku takkan berani minum kencing,

apalagi kencing unta!”

“Disaat perlu kalau kau tidak berani minum, jiwamu akan mampus, sebaliknya mereka berani

minum, maka mereka kuat bertahan hidup, oleh karena itu, mereka jauh lebih kuat dari kalian, ini

persoalan tentang hidup, jauh bedanya dengan kepandaian ilmu silat dan tiada hubungan

kepintaran otak lagi.”

Sekian lama Coh Liu-hiang menepekur lalu katanya sepatah demi sepatah: “Ada kalanya

menghadapi sesuatau urusan, meski kau tahu bakal mati, tapi kau tetap akan melaksanakan

juga.”

“Sudah tentu akupun tahu” ujar Ki-Ping yan menghela napas “Bila Coh Liu-hiang berketetapan

hendak melaksanakan suatu urusan, siapapun takkan bisa menghalanginya, tapi kalau kalian

berkukuh hendak pergi, janganlah pergi demikian saja.”

“Bagaimana kita harus berangkat?”

“Kalian harus mempersiapkan banyak perbekalan.”

“Apa saja yang harus kami persiapkan?”

“Paling sedikit kalian harus membawa lima ekor unta, air yang banyak, makanan dan banyak

pula barang-barang keperluan lainnya.

Kelihatannya memang tak berguna, tiba saatnya semua itu adalah barang-barang yang amat

berguna dan besar manfaatnya, disamping harus mencari seorang tukang yang ahli dalam

memelihara binatang tunggangan.”

“Barang-barang itu.” katanya lebih lanjut dengan tertawa: “Sudah tidak perlu kalian sendiri

berjerih payah, besok sore sebelum magrib aku akan siapkan seluruhnya dengan lengkap dan

sempurna.”

Coh Liu-hiang tertawa ujarnya: “Tapi tujuan kami kesana bukan hendak melancong atau ingin

hidup foya-foya, jangan kau bikin kita hidup kemewahan di sana. Soal binatang tunggangan aku

bisa mempersiapkan sendiri dua ekor kuda, beberapa kantong air dan ransum, kukira sudah

berkecukupan. Jikalau kau bisa siapkan beberapa arak untuk si gila she Oh ini sudah tentu lebih

baik!”

Ki Ping-yan menghela napas, gumannya: “Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang! Tak nyana watak

kerbaumu tak berubah selama sepuluh tahun ini!”

Oh-Thi hoa bercokol di atas kudanya, kuda ini merupakan tunggangan yang terpilih diantara

ribuan kuda yang lain, tapi tindak tanduknya seperti jeri mendekati kuda tunggangan Coh Liuhiang,

kuda hitam milik Hek-tin-cu itu, meski Oh-Thi hoa sudah melecut dan mengepraknya

sampai jengkel, kuda itu tetap tak berani lari berendeng.

Terpaksa Oh-Thi hoa hanya mengintil di belakang Coh Liu-hiang, karena kurang senang

mulutnya terus mengoceh dan menggerundel.

Sebaliknya sikap Coh Liu-hiang biasa saja, sedikitpun ia tidak memperhatikan sesuatu gejala,

cuma sejak berpisah dengan Ki-Ping yan sampai sekarang dia tak pernah buka suara.

“Coh Liu-hiang!” seru Oh-Thi hoa tak tahan, “Tahukah kau, sekarang aku mulai curiga apakah

kau begitu setia kawan seperti yang pernah kubayangkan dulu.”

“O? Kenapa?”

“Kedua kaki jago mampus putus, ternyata sedikitpun kau tidak memperlihatkan prihatin dan

simpatik atas kesengsaraannya, aku tahu kau dulu bukan orang macam begituan.”

Sesaat Coh-Liu hiang berdiam diri, tiba-tiba ia berpaling dan tertawa, katanya: “Berapa lama

kau kenal baik dengan Ki-Ping yan?”

“Walau tidak selama kau, sedikitnya ada sepuluh tahun!”

“Pernahkah kau dengar dia suka omong begitu panjang lebar?”

Tanpa pikir Oh-Thi hoa segera menjawab: “Sudah tentu tidak! Siapapun tahu kalau ingin jago

mampus bicara jauh lebih sukar untuk mengundangnya makan minum.”

“Pernahkah kau dulu melihat sikap sedih dan emosinya seperti itu?”

“Kemarin waktu aku lihat dia jatuh dari atas kursi hampir saja ingin aku menangis sepuaspuasku,

tapi kau… matamu berkedip pun tidak, kau malah masih tertawa geli.”

“Sudah belasan tahun kau mengenalnya, masakah kau belum tahu akan wataknya, jikalau

kedua kakinya itu benar-benar putus, masakah dia suka omong sedemikian panjang lebar,

dipengaruhi emosinya lagi?”

Oh-Thi hoa tertegun, mendadak ia berjingkrak dengan berteriak keras: “Apakah maksud

ucapanmu ini?”

“Kau belum paham apa maksudku?”

“Apakah kau maksudkan, bahwa apa yang dia lakukan itu hanyalah pura-pura untuk

dipertontonkan kepada kita?”

“Pernahkah kau perhatikan kedua nona jelita yang melayani kita itu?”

“Maksudmu Ing-yan dan Poan-ping kedua gadis ayu itu?”

“Benar, pernahkah kau perhatikan sikap dan tindak-tanduk mereka terhadap Ki Ping-yan?”

Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya: “Apa kau merasa jelus? Perempuan dikolong langit ini,

kan tidak semua baik terhadap Coh Liu-hiang, ada kalanya ada satu dua orang yang pandang

sepele kepada Coh Liu-hiang.”

“Kau lihat sikap mesra mereka terhadap Ki Ping-yan, apakah sikap terhadap seorang laki-laki

yang sudah cacat badannya? Pernahkah kau perhatikan kerlingan mata mereka, serta sorot mata

mereka bila mengawasi Ki Ping-yan?”

Tiba-tiba lenyap tawa Oh Thi-hoa, mulutnya melongo.

Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut: “Kaupun seorang yang cukup berpengalaman menghadapi

perempuan, tentunya kaupun bukan seorang picak.”

“Benar!” gumam Oh Thi-hoa mendelong. “Seorang laki-laki bila tidak bisa memuaskan

perempuan, tiada perempuan yang bersikap seperti itu terhadapnya, apalagi seorang laki-laki

cacat, selamanya takkan bisa membuat puas orang lain…” mendadak ia menjerit keras: “Kenapa

waktu itu kau tidak katakan kepadaku?”

“Kalau toh dia tidak mau pergi, buat apa aku harus memaksanya?”

“Jago mampus yang pantas mati, bukan saja menipuku, malah membuat hatiku ikut pilu dan

kasihan, berani dia gunakan akal liciknya ini terhadap kawan karib yang sudah dikenalnya belasan

tahun.”

“Terhadap kita, dia tidak perlu dicela.”

“Kau masih memujinya?”

“Dia bicara panjang lebar, itu pertanda bahwa sanubarinya terketuk, pertanda dia masih

pandang kita sebagai temannya, kalau tidak bisa saja dia menolak terus-terang “tidak mau ikut”,

memangnya kita bisa menelikung dia serta menggusurnya pergi, benar tidak?”

Melotot mata Oh Thi-hoa, serunya: “Begitu tercela sikapnya terhadapmu, sedikitpun kau tidak

marah?”

“Kalau kau ingin berkenalan dengan seorang teman, kau harus paham dan menyelami

wataknya, jikalau dia punya kekurangan, kau harus memaafkan dia, waktu aku mengenalnya dulu,

aku sudah tahu memang begitulah wataknya, buat apa aku harus marah….

Coh Liu-hiang terloroh-loroh, katanya lebih lanjut: “Apalagi bisa membuat seorang teman baik,

aku sudah amat puas.”

Oh Thi-hoa gusar, serunya: “Tapi aku tidak sebaik dan sesabar kau, memberi maaf apalagi,

aku…”

“Memangnya kau sendiri kira sudah setia kawan? Beberapa teman baik kumpul bersama, tapi

kau tega tinggal pergi begitu saja tanpa pamit, minggat sampai tujuh delapan tahun, memangnya

orang lain tidak marah kepada kau?”

“Tapi aku… aku tidak seperti dia…”

“Benar! Kau tidak seperti dia, dikala teman menghadapi kesulitan kau takkan mundur, tapi

kaupun punya kekurangan sendiri, seperti pula Ki Ping-yan mempunyai kebaikannya sendiri.”

Oh Thi-hoa mengelus hidung, tanpa bicara lagi. Betapapun tak malu dia menjadi kawan dekat

Coh Liu-hiang, penyakit Coh Liu-hiang yang suka mengelus hidung, dia bisa mempelajarinya

begitu mirip dan persis.

Menjelang lohor, mereka menemukan suatu tempat untuk istirahat, ingin Coh Liu-hiang

membuat suatu rencana untuk mempermudah perjalanan ini, siapa tahu waktu ia berpaling,

ternyata Oh Thi-hoa sudah menghilang.

Terpaksa Coh Liu-hiang hanya menyengir tawa getir, terpaksa dia harus menunggu.

Seumpama hatinya gelisah dan gugup, apa pula gunanya, perangai Oh Thi-hoa yang melebihi

bara panasnya, lebih liar dari kuda binal, lebih dogol dan bandel dari keledai, memangnya dia

belum bisa memahaminya selama ini.

Sudah tentu cepat sekali ia sudah dapat meraba kemana tujuan Oh Thi-hoa. Terbukti dia

pulang tidak sendirian.

Tampak di belakangnya kuda pilihannya itu, mengintil pula seekor kuda lain, seorang diri dia

menarik dua tali kekang, kuda di sebelah belakangnya ternyata dinaiki dua orang. kedua orang ini

bukan lain adalah Ing-yan dan Poan-ping.

Rambut sanggul mereka yang mengkilap sudah buyar terhembus angin, kulit mukanya yang

halus jelita diliputi rasa kaget, ketakutan jari-jari tangan mereka yang halus mungil diikat kencang

oleh Oh Thi-hoa.

Selama itu Coh Liu-hiang tetap menunggu di luar pintu kedai kecil sambil memandang ke

tempat jauh, tapi setelah melihat bayangan mereka mendatangi segera ia kembali masuk ke

dalam kedai, duduk membelakangi pintu di luar.

Setelah kudanya tiba di depan pintu baru Oh Thi-hoa lompat turun lalu iapun tarik tali kekang

kuda di belakangnya, pelan-pelan satu persatu ia tolong kedua gadis di punggung kuda itu

melompat turun.

Kuda mereka kuda jempolan, perbawa Oh Thi-hoa sedemikian gagah dan kereng, ditambah

dia menggusur dua nona jelita yang terikat kedua tangannya lagi. Semua orang di pinggir jalan

sama melotot matanya mengawasi mereka, jikalau mereka tidak gentar menghadapi sikap Oh Thihoa

yang garang itu, mungkin mereka sudah merubung maju.

Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak berpaling muka, bahwasanya melirikpun dia tidak

memandang kepada Oh Thi-hoa.

Dengan langkah gemulai Oh Thi-hoa datang menghampiri, katanya tawar : “Aku kembali!”

“Ehm!” Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut.

“Akupun bawa dua orang tamu kemari.” Oh Thi-hoa menambahkan.

Coh Liu-hiang berdiri, menarik dua kursi dengan senyum manis ia persilahkan kedua gadis

yang ketakutan itu duduk, lalu ia menarik muka pula dan duduk kembali ditempatnya tanpa

hiraukan Oh Thi-hoa.

Oh Thi-hoa minta sepoci arak, dia tuang dan tenggak sendiri, mulutnya mengerundal : “aku

tahu kau tidak senang, tapi Ki Ping-yan memang keterlaluan terhadap teman, jikalau aku tidak

bongkar permainan sandiwaranya ini, mungkin seumur hidupku takkan bisa tidur nyenyak.”

Akhirnya Coh Liu-hiang menghela napas, katanya : “Tapi kenapa kau menghadapi mereka?

Kaum wanita tiada sangkut pautnya dengan persoalan ini!”

Hanya cara ini yang bisa kukalukan! kata Oh Thi-hoa sejujurnya.

Disaat kau pergi, apakah Ki Ping-yan sedang tidur siang? tanya Coh Liu-hiang.

“Aku tahu penyakit lamanya itu takkan bisa berubah, maka kuperhitungkan tepat pada

waktunya aku meluruk kesana, ternyata benar dia sedang tidur, coba kau pikir, asal kuundang

kedua nona ini kemari dalam jangka satu jam, dia pasti sudah menyusul tiba.”

Saking senang ia bergelak tawa serunya pula : “Seperti juga diriku karena orang membawa

Soh Yong-yong melancong, tidak segan-segan kau hendak mengejarnya ke padang pasir. Bicara

terus terang, cara yang kugunakan ini aku menelat perbuatan Hek-tio-cu.”

Tapi cara ini betapapun terlalu rendah dan memalukan.

Menghadapi orang seperti dia itu, kalau tidak menggunakan cara yang rendah seperti ini kau

mampu menghadapinya?” Oh Thi-hoa berdiri, lalu pelan-pelan menjura kepada kedua nona jelita

yang pentang kedua matanya lebar-lebar, katanya tertawa :

“Kali ini meski bikin susah kedua nona, tapi dari kejadian hari ini dapatlah membuktikan rasa

cintanya terhadap nona berdua, sedikit banyak kalian mendapat hasil juga”

Ong yan membuka mulut tertawa lebar, katanya : “Kalau demikian kami berdua malah harus

berterima kasih kepada Kongcu.”

“Memang kalian harus berterima kasih kepadaku, kalau tidak jangan mengharap seumur hidup

kalian melihat sikap Ki Ping-yan yang gelisah dan gugup lantaran kalian berdua…” tak tertahan dia

terloroh-loroh geli.

Tak urung Coh Liu-hiang ikut tertawa pula, ujarnya : “Bicara soal tebalnya muka, mungkin aku

tidak akan ungkulan dibanding kau.”

Poan Ping cekikikan, katanya : “Kalau demikian, mohon Kongcu suka membuka belenggu

kedua tangan kami, jikalau kami tidak meladeni Kongcu berdua makan minum, mana kami bisa

perhatikan betapa besar rasa terima kasih kepada Kongcu.”

Tapi satu jam telah berselang, dua jam telah berlalu, bayangan Ki Ping-yan belum juga

kunjung tiba setelah hari menjelang tengah malam, Ki Ping-yan masih belum menyusul datang,

lambat laun Poan ping dan Ing-yan sudah tak bisa tertawa pula.

Poan-ping berkata hampir menangis : “Mungkin rekan kongcu melesat, mungkin dia tidak

begitu prihatin akan diri kami seperti yang Kongcu bayangkan.

Oh Thi-hoa pun mulai gundah, namun mulutnya masih tertawa lebar katanya : “Tak usah

kuatir, dia pasti datang.”

“Kalau dia tidak datang?” tanya In-yan, Oh Thi-hoa tertegun. lekas ia berpaling kepada Coh

Liu-hiang.

“Sudah tentu ini urusanku kau kira kau gelisah dan gugup? Sudah kuperhitungkan dengan

tepat, dia pasti akan datang…”

“Kalau dia mau datang, sejak tadi tentu sudah berada di sini…” sela Poan-ping.

Oh Thi-hoa tak bisa tertawa pula katanya tergagap-gagap : “Mungkin… mungkin dia kesasar

ke lain tempat.”

“Dia sendiri yang mengantar kami berangkat, masakan dia tidak tahu jalan di daerah ini?

“Memangnya?” “Kecuali dia tidak menduga bila kaulah yang melakukan gara-gara ini.”

“Aku sengaja meninggalkan beberapa tanda yang mencolok, seumpama orang lain tidak kenal

tanda khasku itu, tapi Ki Ping-yang usia lima tahun, mungkin dia sudah bisa membedakannya.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, katanya : “Kalau demikian, kenapa sampai sekarang dia tidak

kunjung datang?”

Poan-ping menyela pula : “Jikalau dia benar-benar tidak kemari, apa yang Kongcu hendak

lakukan terhadap kami?”

“Ini…” Oh Thi-hoa menyengir kecut. “Ini… aku…”

Berputar biji mata Ing-yang, tiba-tiba ia tertawa cekikikan katanya : “Dia tak datang tak menjadi

soal, biar kami berdua ikut Kongcu saja.

Oh Thi-hoa menjingkrak seperti disengat kala, teriaknya : “itu tidak mungkin!”

“Kongcu anggap kami jelek dan tidak setimpal?” desak Ing-yan.

“Aku… bukan begitu maksudku, cuma tapi…”

“Memangnya apa maksud Kongcu sebenarnya?” desak Ing-yan pula.

Timbrung Poan-ping : “kongcu menggusur kami kemari tidak sudi bawa kami sekalian! kami…

apakah selanjutnya kami bisa berhadapan muka dengan orang lain?” suaranya semakin pilu

matapun merah berkaca-kaca.

Sembarang waktu air mata dapat bercucuran.

“Nona-nona baik, kumohon kalian sekali-kali jangan merengek dan menangis. Setiap kali

melihat anak perempuan nangis hatiku jadi bingung dan tak bisa berketetapan !”

Kata Poan-ping dengan mata merah : “Lalu kenapa Kongcu tidak mau terima kami?”

Kembali Oh Thi-hoa melompat sambil berteriak : “Maksudmu cuma supaya jago mampus itu

kehilangan orangnya, sekali-kali tiada maksudku hendak merebut bininya, aku… walau aku amat

suka kepada kalian tapi…”

Seketika berseri tawa muka Ing-yan, katanya nyaring: “Jikalau Kongcu suka kepada kami,

kami berjanji akan ikut setia kepada Kongcu.”

Poan-ping ikut menyela bicara: “Kalau toh dia tidak perhatikan kami berdua kenapa kami harus

ikut dia?”

Saking gugup Oh Thi-hoa menggosok-gosok kedua tapak tangannya. Coh Liu-hiang

sebaliknya duduk ongkang-ongkang di tempatnya, dengan tersenyum geli ia habiskan araknya. Oh

Thi-hoa menerjang maju merebut cawan araknya, suaranya menggembor gusar: “Coh Liu-hiang

masih tidak lekas kau bantu mencari akal?”

“Sejak tadi sudah kukatakan, urusanmu sendiri apalagi dua gadis cantik rupawan seperti

mereka janji setia hendak ikut kau, aku harus memberi selamat dan ikut senang bagi rejekimu

yang besar, sekaligus mendapat dua bini.”

Oh Thi-hoa berteriak aneh, dampratnya: “Coh Liu-hiang kau ulat busuk ini, perduli apa yang

sedang kau pikirkan dalam benakmu, jika tidak temani aku antar mereka pulang, biar aku adu jiwa

dengan kau!”

Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Poan-ping dan Ing-yan cekikikan geli.

Berkata Ing-yan: “Kalau kami harus diantar pulang, kenapa pula semula kami direbut dan

digusur pergi secara kekerasan?”

Poan-ping ikut tertawa, katanya: “Kalau aku tidak kasihan melihat sikap gugup dan gelisahmu

ini, bagaimanapun juga aku tidak mau pulang.”

Menghadapi rau muka Oh Thi-hoa yang bersungut-sungut ini, tak terasa Coh Liu-hiang terkialkial

geli, katanya: “Oh Thi-hoa kuharap selanjutnya kau tahu diri perempuan dalam dunia ini, tidak

semuanya sama seperti Ko Ah-nam gampang dihadapi, kau merasa Ko-Ah nam enak dihadapi

lantaran kau menyukainya.”

“Benar,” ujar Oh Thi-hoa getir: “selanjutnya aku tak berani bilang aku pandai menghadapi

perempuan, sekarang ingin rasanya aku berlutut di hadapan Ko Ah-nam, mencium kakinya yang

bau.”

Coh Liu-hiang terbahak-bahak, “Kau bisa paham akan pengertian ini, terhitung kau masih bisa

ditolong.”

“Kalau kau begitu pintar, tentu kau tahu kenapa Ki Ping-yan tidak menyusul kemari?” tanya Oh

Thi-hoa sambil mendekap mulut.

“Jikalau dia sudah memperhitungkan kau pasti akan mengantar mereka pulang, buat apa dia

susah menyusul sejauh ini?”

Oh Thi-hoa tidak bicara, sesaat kemudian ia berkata pelan: “Jikalau dia berpikir demikian tentu

dia salah! Tiada manusia bodoh sebanyak itu dalam dunia ini, cuma ada kalanya sementara orang

tidak mau melakukan sesuatu urusan yang memperlihatkan kecerdikan otaknya.”

“Disitulah letaknya kenapa Ki Ping-yan bisa menjadi kaya raya dalam waktu yang begitu

singkat, dan sebab kenapa kau selamanya takkan punya uang, lantaran setiap orang suka bilang

kenapa kau ini mungil dan jenaka.”

“Ternyata apa aku ini mungil jenaka? Baru hari ini aku tahu…” gelak tawanya mendadak

berhenti, karena dilihatnya jauh di depan sana mendatangi sebuah barisan, ada kereta, ada kuda,

agaknya masih terdapat tujuh delapan ekor unta.

Tatkala itu sudah tengah malam, sepanjang jalan ini boleh dikata bayangan setanpun tak

kelihatan, kenapa rombongan besar manusia dan binatang ini melakukan perjalanan ditengah

malam buta rata?

Bertaut alis Oh Thi-hoa, dalam tubuhnya mengalir darah yang suka turut campur urusan orang

lain, setiap menghadapi kejadian ganjil, jikalau kau melarang dia pergi melihatnya biar jelas, boleh

dikata jauh lebih menderita daripada kau gorok lehernya.

Kata Coh Liu-hiang tertawa sambil mengawasinya: “Apa pula yang tengah kau pikir dalam

benakmu?”

Alis berkerut, tangan meraba dagu, mengumam mulut Oh Thi-hoa: “Tengah malam buta rata,

menggiring kereta dan binatang kuda dan unta sedemikian banyaknya, sudah tentu bertujuan

mengelabui mata kuping orang lain, menurut hematku, jikalau orang-orang itu bukan brandal, tentu

kawanan perampok.”

“Apa kau ingin hitam mencaplok hitam?”

Oh Thi-hoa tertawa senang. “Kau lho yang mengusulkan.” segera dia keprak kuda terus

memapak ke depan.

Tampak rombongan yang berbaris panjang ini terdapat kereta, kuda dan unta, tapi hanya

terdapat dua orang saja, seorang adalah kusir kereta yang duduk bercokol di tempatnya, seorang

lagi adalah laki-laki kekar yang berkulit hitam. Laki-laki ini mencekal seutas cambuk panjang

setombak lebih, mengenakan kaos yang terbuat dari kulit kambing, nampak jelas otot-otot dan

daging badannya yang kekar sekeras baja.

Laki-laki hitam ini berjalan di barisan paling belakang, meski hanya satu orang, kuda dan unta

dapat ia kendalikan dengan baik dan rapi, satu demi satu berbaris memanjang menelusuri jalan

menuju ke depan, tiada seekor kuda yang binal, tiada seekor untapun yang meninggalkan barisan,

seolah-olah mereka ini pasukan besar yang sudah dapat gemblengan dalam latihan berat.

Bentuk kereta besar itupun amat ganjil, empat persegi, mirip benar dengan sebuah peti mati,

pintu jendela tertutup rapat, entah apa yang berada didalamnya.

Semakin dipandang dan ditegasi Oh Thi-hoa semakin merasa aneh dan janggal, bukan saja

tidak mirip rombongan brandal atau perampok dan begal, tidak mirip pedagang, atau suatu

perusahaan ekspedisi segala.

Tak tertahan ia lecut kudanya menghampiri laki-laki kekar yang bertubuh keras seperti menara

itu, sapanya tertawa lebar: “Saudara tengah malam buta rata tergesa-gesa menempuh perjalanan,

masakah tidak letih?”

Laki-laki besar kekar itu cuma melirik kepadanya tanpa bersuara.

Baru sekarang Oh Thi-hoa melihat jelas raut muka orang seperti kulit jeruk yang dikeringkan,

kulit dagingnya lekak-lekuk tiada sesentipun kulit mukanya yang bersih dan mengkilap.

Mengawasi sepasang matanya bersinar guram remang-remang hampir putih hitam biji

matanya susah dibedakan siapapun takkan pernah membayangkan dalam dunia ini ada manusia

yang memiliki sepasang mata begini rupa.

Biji matanya melotot kepada Oh Thi-hoa, namun seolah-olah tidak melihat Oh Thi-hoa, dulu

jelas sorot matanya mengandung hawa ganjil namun seperti kosong melompong dan hampa.

Ditengah malam buta rata, bertemu dan berhadapan dengan manusia seperti ini, sungguh

bukan suatu kejadian yang menarik, ingin ketawapun Oh Thi-hoa tak kuasa mengeluarkan

suaranya.

Dasar wataknya memang kukuh, namblek, kalau orang tidak hiraukan dirinya, semakin getol

dia mengganggu orang, ingin dia bertanya biar jelas, lekas kudanya ia putar balik mengejar ke

depan, katanya keras: “Hanya orang yang ada setannya, tidak mau menjawab pertanyaan orang,

saudara apakah ada setan dalam hatimu?”

Kali ini melototpun tidak laki-laki ini kepadanya, hakekatnya orang tidak perdulikan dirinya.

Oh Thi-hoa tertawa dingin, jengeknya: “Sementara orang boleh kau tak usah hiraukan mereka,

meski dia marah, apa boleh buat orang toh tak dapat berbuat apa-apa terhadap kau, tapi aku ini

bukan orang macam begituan, jikalau aku sampai marah…”

Dari dalam kereta tiba-tiba menongol keluar sebuah kepala manusia, katanya sambil tertawa

tawar: “Kau tidak perlu marah, hakekatnya dia tidak mendengar ocehanmu, dia seorang tuli.”

Hampir saja Oh Thi-hoa terjungkal roboh dari atas tunggangannya, teriaknya keras: “Ki Pingyan,

kaukah itu! Kau jago mampus ini, sebetulnya permainan apa yang sedang kau lakukan?”

Orang yang berada di dalam kereta ternyata adalah Ki Ping-yan.

Dari dalam kereta itu ulurkan sebuah tangannya memberi ulapan tangan sebagai isyarat,

barisan segera berhenti, lalu ia buka pintu kereta, pelan-pelan melangkah turun.

Hampir gila Oh Thi hoa saking marahnya, dampratnya menggembor: “Bukankah kedua kakimu

sudah buntung? Sekarang kenapa bisa berjalan?”

Seolah-olah Ki Pin-yang tidak pernah mendengar ocehannya, langsung dia memapak ke arah

Coh Liu-hiang yang kebetulan sedang mendatangi. Coh Liu-hiang lekas lompat turun dan

memapak maju pula.

Mereka berpandangan sambil tertawa lebar, kata Ki Ping-yan: “Aku sudah datang.”

“Bagus sekali!”

“Karena aku harus mempersiapkan diri dalam perjalanan keluar perbatasan, sehingga aku

datang terlambat.”

Sekilas Coh Liu-hiang pandang barisan ini, katanya tersenyum: “Terlalu banyak persiapanmu.”

“Kebanyakan lebih mending daripada kekurangan.”

“Pengalamanmu jelas lebih luas daripadaku, aku dengar petunjukmu.”

“Kereta itu boleh untuk istirahat, besok pagi saja boleh kau periksa segala keperluan kita ini

ya.”

“Baik.” Coh Liu-hiang tidak banyak komentar.

Keduanya tak pernah menyinggung soal kaki putus, tidak bicarakan Ing-yan dan Poan-ping

seolah-olah peristiwa hakekatnya tidak pernah terjadi.

Saking gusar dan menahan amarahnya Oh Thi-hoa sampai memburu napasnya, raut mukanya

membesi hijau, tak tahan ia memburu maju.

Ki Ping-yan menyambutnya dengan tawa tawar, katanya: “Di atas kereta ada arak, jikalau kau

belum mabuk, mari silahkan minum beberapa cangkir lagi!”

Sekian lama Oh Thi-hoa melotot mengawasinya, akhirnya ia bergelak tertawa, serunya:

“Bagus! Meski kau buat aku tertipu mentah-mentah, tapi aku tidak boleh bersikap kasar

terhadap teman baik, kami boleh terhitung seri, mari naik, kuhaturkan tiga cangkir kepada kau!”

Setelah berada di atas kereta, baru Oh Thi-hoa mengerti, kenapa Ki Ping-yan membuat petak

kereta ini mirip dengan peti mati, karena dengan bentuk seperti ini, ruangan kereta ini menjadi

lebar dan nyaman. Boleh dikata bukan kereta tapi sebuah petak rumah yang berjalan.

Dalam kereta terdapat beberapa balai besar yang empuk, beberapa kain beludru tebal sebuah

meja, setiap benda yang berada di sini agaknya sudah diatur sedemikian rupa setelah

dipertimbangkan dengan masak, meski banyak jumlah barang, kelihatannya tidak saling

berdesakan.

“Mana araknya?” baru saja Oh Thi-hoa hendak bertanya.

Ki Ping-yan sudah ulur tangan menekan sesuatu di bawah balai-balai, dari kolong balai-balai

mendadak meluncur keluar sebuah laci terdapat enam gelas perak yang mengkilap dan sepuluh

botol persegi yang terbuat dari perak pula.

Kata Ping-yan: “Di sini terdapat sepuluh macam arak, dari Motai, Toabin, Bu-yap ceng

sampaipun arak susu kambing dari luar perbatasanpun ada, kelihatannya botol ini tidak begitu

besar, namun isinya tiga kati duabelas tahil. Kau ingin minum apa? katakan!.”

Oh Thi-hoa sudah terbelalak mengawasi laci itu. lama baru dia berkata menghela napas:

“Sekali rekan berbagai macam arak sudah diantar keluar seolah-olah sebuah khayalan indah bagi

seorang setan pemabuk tak heran manusia siapa saja ingin punya harta kaya memang banyak

manfaatnya.

Tiga orang sudah menghabiskan tiga botol arak Oh Thi-hoa tak tahan lagi katanya :

“Kini kalau ada udang besar dari Kangpak cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa

untuk teman arak, tempat ini boleh dikata menyerupai sorga, cuma sayang… “

Belum habis ia bicara dari kolong selimut tebal itu mencelat keluar pula laci yang lain, dimana

bukan saja terdapat udang besar dari Kang-pak, cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa,

malah ada ikan rendam arak dari Hikian angsa panggang ulat laut dari Hayling, daging tulang dari

bagi tapak biruang dari Tiang pek san dan lain-lain pendek kata setiap makanan yang paling lezat

untuk teman sudah lengkap tersedia didalam laci ini.

Kontan Thi-hoa berjingkrak girang teriaknya : “E, eh, apa kau sekarang sudah pandai main

sulapan!”

“Manusia hidup sedapat mungkin harus menikmati segala kesenangan terutama orang yang

punya dosa dan banyak membuat kesukaran orang lain, pernah suatu ketika, aku kelaparan

sampai rasanya aku kupas kulit dagingku sendiri untuk isi perut, oleh karena itu, sekarang

dimanapun aku berada, lebih dulu aku tumpuk berbagai macam makanan, sampaipun kolong

ranjang, tempat tidurku ada arak ada daging.

Ingin rasanya Oh Thia-hoa tertawa mendengar omongan lucu ini, tapi setelah ia pikir kau

secara seksama, bukan saja tak bisa tertawa, malah ingin rasanya ia menangis. Katanya yang

datar dan tawar ini, bahwasanya mengandung penderitaan pahit getir, dikala manusia ketakutan

menghadapi kelaparan perutnya, maka boleh kau bayangkan betapa besar derita dan

kesengsaraan yang pernah dialaminya Lama Oh Thi Hoa melongo, bergegas dia tenggak habis

tiga cangkir arak, lalu ia katanya menghela napas dengan menengadah: “Mungkin memang tidak

pantas aku paksa kau kemari.”

Ki ping-yan berkata dingin: “Kau tidak paksa aku, jikalau aku benar-benar tak sudi datang,

siapapun jangan harap bisa paksa aku kemari.”

Oh Thi-hoa tertawa kecut, tiba-tiba ia bertanya:

“Bagaimana dengan kedua nona jelita itu?”

Bersambung ke Jilid 14

JILID 14

“Kenapa tidak kau undang mereka kemari ikut makan dan minum?”

“Mereka sudah pulang”

“Biar apa kau keburu buru suruh mereka pulang, aku dan Coh Liu hiang cukup tahu dan suka

humor, kami pasti akan beri kesempatan kepadamu untuk bercengkerama dengan mereka”

“kini tiada waktu lagi, sejak kini kita mulai perjalanan menuju ke padang pasir nan luas,

selanjutnya kereta ini takkan berhenti selewat dua kali minuman teh, dan lagi setiap kali hanya

boleh berhenti tiga kali aku percaya mengandal tenaga dan kekuatan kita, sedapat mungkin sudah

harus dapat kendalikan diri untuk tidak berak dan kencing.”

Oh Thi-hoa angkat pundak, tanyanya: “Masakah turun kereta untuk jalan kakipun tak boleh?”

“Sekali-kali tidak boleh!”

“Kenapa?”

“Memang kita belum tahu apakah pihak musuh sudah menyebar mata-matanya diberbagai

tempat untuk menyelidiki dan mencari tahu jejak dan gerak-gerik kita, oleh karena itu kita harus

berjaga-jaga untuk hal ini.”

“Kukira itu tidak perlu,” sela Oh Thi-hoa.

“Jikalau kita ingin berhasil segala kemungkinan, harus kita perhitungkan secara matang,

jikalau musuh berani, mengganggu Coh Liu-hiang, pastilah dia bukan sembarang orang.”

“Memangnya kita ini orang sembarangan?”

“Sudah kukatakan orang-orang yang tumbuh dan hidup di padang pasir, mereka sudah

digembleng sedemikian rupa sampai lebih kuat bertahan dari unta, lebih cerdik dari rase, lebih

buas dari serigala, sebaliknya di dalam padang pasir itu kita selemah seekor kelinci yang tidak

tahu seluk-beluk di sana.”

“Kau terlalu mengunggulkan kebolehan musuh, memangnya kami begitu tidak becus.”

“Karena aku tidak mau mampus di padang pasir, elang memakan daging busukan, serigala

gegares tulang belulang, sekarang aku masih hidup dan ingin hidup foya-foya.”

“Tapi aku berpendapat…”

“Aku tidak ingin tahu pendapatmu, cuma ingin tahu kalau toh kalian ingin aku kemari apakah

segala sesuatunya dalam perjalanan ini kalian suka mendengar petunjukku?”

Selama ini Coh Liu-hiang tinggal diam mendengarkan percakapan mereka, baru sekarang ia

menyahut tersenyum: “Kau bisa keluar dari padang pasir dengan tetap hidup membawa kekayaan

itu, apa yang kau katakan tentunya masuk akal dan boleh dipercaya, selalu aku mau menerima

dan tunduk kepada omongan yang masuk akal.”

“Bagaimana dirimu?” tanya Ki Ping-yan melotot kepada Oh Thi-hoa.

Oh Thi-hoa geleng-geleng sambil menghela napas, ujarnya: “Aku hanya bisa bilang tidak

seharusnya aku paksa kau kemari, kalau kau sudah di sini apa pula yang dapat kulakukan.”

“Bagus!” ujar Ki Ping-yan, tiba-tiba ia turunkan semua arak dan sayuran dari atas meja sekali

tekan, lembaran meja itu tiba-tiba bergerak terbalik ternyata muka sebelahnya bergambar sebuah

peta yang jelas sekali dengan tulisan-tulisan petunjuk.

Dengan sumpit dibasahi arak Ki Ping-yan menggambar sebuah garis lempang, katanya:

“Seharusnya kita tidak boleh menempuh jalan ini untuk keluar perbatasan, soalnya kau tidak kenal

jalan, tapi kebacut sudah berada di sini maka terpaksa kita harus menyelusuri jalan ini.”

“Apakah disini letak Hongho?” tanya Coh Liu-hiang.

“Ya, disini letak hulu Hongho, kita boleh menyelusuri sungai terus sampai di Ginjwan, aku tahu

pengaruh Ca-Bok-hap dulu, belum meluas sampai selatan Linsan, maka di sepanjang jalan ini kita

tak perlu mengharap memperoleh sumber dari mereka, namun harus berjaga-jaga terhadap mata

kuping mereka.”

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Oleh karena itu,” Ki Ping-yan melanjutkan. “Besok setelah kita tiba di Lo-liong-wan “teluk naga

tua” kalian harus menitipkan kuda di sana, di sana aku punya langganan, kau tak usah kuatir.”

“Kudaku itu aku harus membawanya”, kata Coh Liu-hiang.

“Tidak boleh!” kata Ki Ping-yan tegas dan tandas.

“Mengapa?”

“Bukan saja kuda itu terlalu menyolok mata, juga bisa mendatangkan banyak kesulitan, apalagi

milik mereka, kalau kita bawa kuda itu, itu berarti membawa pertanda yang gampang dikenali,

sekali-kali kita tidak bole menempuh bahaya sebodoh ini!”

Setelah dipikir-pikir, akhirnya Coh Liu-hiang bungkam.

“Kau harus tahu, sekarang bukan saja pihak lawan secara diam-diam sedang menunggu

dengan segala persiapannya, malah mereka sudah mendapat keuntungan secara situasi alam dan

bumi adat istiadat, bahwasanya kita tidak punya persyaratan dalam hal ini, jikalau ingin menang

kita hanya main sergap secara di luar dugaan, oleh karena itu sebelum kita menemukan jejaknya,

jejak kita sekali-kali jangan sampai konangan oleh mereka. Jikalau mereka pinjam keuntungan

persyaratan tadi, kita akan mati konyol tanpa liang kubur.”

Lama Coh Liu-hiang menepekur, katanya menghela napas: “Memang tidak sebanyak itu yang

pernah kupikirkan, aku…”

“Kau harus ingat,” kata Ki Ping-yan sepatah demi sepatah, “Musuh tahu karena ditempat mana

saja tak berhasil membunuh kau, maka kau dipancingnya ke padang pasir, kalau dia

memancingmu kemari, tentulah karena dia yakin dan punya pegangan membunuhmu di padang

pasir, inilah suatu perjuangan hidup yang paling besar rumit dan sulit selama hidupmu, mana

boleh kau tidak lebih banyak berpikir?”

Coh Liu-hiang menyengir kecut, ujarnya: “Tapi ada kalanya sesuatu tidak boleh dipikir terlalu

banyak dan luas.”

Ki Ping-yan menenggak seteguk arak, katanya: “Baik! Sekarang persoalan apapun tak perlu

kita pikirkan, tidurlah lebih dulu, meski tak bisa tidur harus dipaksa untuk tidur, karena sejak

sekarang kita jangan membuang tenaga.”

Balai-balai itu cukup besar, ketiganya sudah rebah dan tidur.

Tangan Oh Thi-hoa masih pegangi sebuah cangkir, tiba-tiba berkata dengan tertawa:

“Bagaimanapun, sekarang terhitung kami bisa tidur bersama pula, seperti puluhan tahun yang

lalu…! Kehidupan manis dan indah masa lalu.”

“Hari-hari itu belum tentu indah, waktu itu kita minum arak kecut, rebah di atas rerumputan

yang dingin, sekarang kita justru tidak di atas ranjang yang empuk dan hangat.”

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya menggeleng: “Kehidupan masa silam selamanya

merupakan kenangan manis, sayang soal demikian selamanya kau takkan mengerti, karena kau

kurang romantis, terlalu jujur dan suka menghadapi kenyataan terlalu kasar, kau hanya tahu…”

tiba-tiba ia gerakan mulutnya, karena ia dapati Ki Ping-yan sudah mendengkur.

Hari kedua menjelang magrib, mereka tiba di Lo-liong-wan.

Di dalam sebuah perkampungan petani milik Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang bertiga turun dari

kereta, mendadak hatinya merasa berat berpisah dengan kuda hitam ini, tanpa sadar ia

menggumam dengan tertawa getir: “Mungkin aku memang sudah tua hatiku semakin lembek,

kuda itupun meringkik sedih.”

Coh Liu-hiang mengelus punggungnya yang datar dan bidang, katanya tertawa: “Apa kau pun

berat berpisah dengan aku? Kuatir setelah berpisah hari ini, selamanya takkan berjumpa lagi?”

Oh Thi-hoa sebaliknya seperti amat bersemangat, bersama Ki Ping-yan mereka sedang

periksa kereta dan unta, setiap benda harus diperiksa dengan teliti, tanya ini tanya itu.

Sekarang dia sudah tahu laki-laki kekar tinggi bisu tuli itu bernama Ciok Tho “unta batu”, tapi

sungguh ia tidak habis berpikir, kulit daging manusia bagaimana bisa berubah begitu rupa.

Kini dia pun sudah tahu anak muda yang pegang kendali itu bernama Siau-Phoa, Siau-phoa

sebetulnya bukan anak muda lagi, sedikitnya sudah berusia tiga puluhan tahun cuma pembawaan

mukanya mungil seperti raut muka orok kecil sebelum bicara mukanya sudah tertawa, setelah

bicara masih tertawa juga, sehingga setiap orang yang menghadapinya tak bisa marah meski

hatinya mendongkol.

Semakin dipandang Oh Thi-hoa merasa orang ini amat menarik, tak tahan ia menghampiri dan

tanya: “Siau-phoa, tahun ini apa usiamu sudah tiga lima?”

“Bicara terus terang, satu bulan lagi, usiaku sudah genap empat puluh tiga.”

“Hah, empat puluh tiga, sungguh luar biasa… laki-laki usia empat puluhan tahun, kau msih

suka dipanggil Siau-phoa (phoa sikecil), emangnya kau begitu senang?”

“Umpama aku sudah berusia delapan puluh, orang tetap memanggilku Siau-phoa, tapi ini

bukan soal yang harus ditonjolkan, malah boleh dikata suatu yang memalukan!”

“Ki Ping-yan mau membawamu, kau tentu mempunyai sesuatu kepintaran yang luar biasa,

coba kau punya kebolehan apa? Pertunjukkan kepadaku mau tidak?”

Siao-phoa unjuk tawa berseri, sahutnya: “Kebolehanku justru aku tidak bisa apa-apa, apapun

aku tidak mengerti. Seseorang setelah mencapai usia empat puluhan, namun apapun tidak bisa

dan diketahui, kukira suatu hal yang sulit dilakukan orang lain, coba pikir, benar tidak?”

Oh Thi-hoa terkial-kial serunya: “Kau bisa bicara demikian, ini menunjukkan bahwa

kepintaranmu tentu luar biasa.”

Lama kelamaan, lebih jelas ia mengetahui bukan saja Siau-Phoa ini setiap kali bertemu

dengan orang bisa bicara dan berkelakar bertemu setan menggunakan bahasa setan, malah dia

memiliki suatu kepandaian istimewa.

Bahasa daerah dari dua pinggiran sungai besar, dari Hokkian sampai ke Kwiciu dari Tibet

sampai ke Sinkiang bahasa dari suku bangsa dan daerah dapat diucapkan dengan lancar dan

logat yang mirip sekali, seolah-olah dia memang penduduk asli dari daerah-daerah itu, hubungan

apapun dan persoalan apapun terhadap orang lain itu, boleh pasrahkan kepadanya dengan lega

hati, seumpama dia bekerja dengan pejamkan mata, tanggung takkan bisa dirugikan.

Sebaliknya Ciok Tho meski bisu dan tuli tak bisa bicara dengan manusia, tapi dia bisa

bercakap-cakap dengan binatang peliharaannya, seolah-olah dia menguasai sesuatu bahasa

rahasia yang luar biasa untuk hubungan antara pikiran dan raganya dengan binatang-binatang itu.

Apapun yang sedang dipikirkan dalam benak keledai, kuda atau unta, dia bisa tahu dengan

baik, apa yang hatinya ingin supaya binatang itu lakukan, ternyata binatang itu menurut berbuat

seperti petunjuknya.

Kadang kala Oh Thi-hoa berpikir-pikir dan tak habis mengerti entah dengan cara apa Ki Pingyan

berhasil menemukan kedua orang ini, sungguh tidak bisa tidak ia harus memuji dalam hati.

Kereta berjalan terus siang malam tak hentinya. Siau-phoa dan Ciok Tho seolah-olah tidak

pernah tidur, tapi beberapa hari kemudian semangat Siau-phoa masih segar bergairah, mukanya

selalu berseri tawa riang dan gembira, sementara Ciok Tho pun tak pernah menundukkan kepala.

Berkata Oh Thi-hoa: “Apakah kedua orang itu boleh tak usah tidur?”

“Ada sementara orang, apapun yang sedang dia lakukan, dia boleh bekerja sambil tidur.”

“Waktu pegang kendali menjalankan kereta juga bisa tidur?”

“Kuda sudah tahu jalan, kenapa kusirnya tidak boleh tidur?”

Oh Thi-hoa berpikir-pikir, ujarnya: “Benar. Waktu kendalikan kereta ia tetap duduk tapi Ciok

Tho bukan saja tidak pernah duduk, malah berdiri tegakpun dia tidak pernah, memangnya sambil

berjalan diapun bisa tidur?”

“Ya, memang begitulah kejadiannya.” sahut Ki Ping-yan tawar.

Oh Thi-hoa terloroh-loroh, serunya: “Kau anggap aku ini bocah umur tiga tahun?”

Ki Ping-yan menarik muka dan tunduk kepala, mulutnya terkancing rapat.

Coh Liu-hiang malah menyela tertawa: “Memang ia tak menipu kau, memang ada orang yang

bisa tidur sambil berjalan, karena kedua kakinya bergerak, tapi semangatnya sudah lepas dan

pikiranpun kosong, mirip benar dengan orang tidur.”

“Suatu kebolehan lain yang tidak kecil artinya.” ujar Oh Thi-hoa tertawa.

“Kebolehannya itu bukan pembawaan sejak dilahirkan, tapi merupakan hasil tumpuan dan

gemblengan yang luar biasa, seorang bila dia digusur dengan cambuk, tanpa berhenti berjalan

satu tahun lamanya, asal pejamkan mata cambuk pasti melecut badannya, lama kelamaan

seumpama dia berjalan diatas salju dengan kaki telanjang, diapun bisa tidur dengan nyenyak.”

“Apakah Ciok Tho dulu pernah mengalami penderitaan begitu rupa?”

“Em! berat suara Ki Ping-yan.

“Tapi kenapa orang lain menyuruhnya terus berjalan, sampai setahun lamanya?”

Sesaat kemudian baru Ki Ping-yan berkata: “Pernahkah kau melihat keledai yang menarik

gilingan?”

“Pernah”

“Nah, dia pernah dipandang sebagai keledai untuk menarik gilingan, cuma sudah tentu

keadaannya jauh lebih sengsara dari keledai, keledai punya waktu-waktu tertentu untuk istirahat,

kakinya justru tak pernah berhenti, dia menarik gilingan setahun penuh.

Bergidik Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya naik pitam: “Siapa orang itu? Kenapa begitu kejam?

Kenapa pula menyiksanya sedemikian rupa?”

Ki Ping-yan geleng-geleng kepala, tak bersuara lagi.

Terpaksa Oh Thi-hoa tenggak arak sebanyak banyaknya, sungguh hatinya kurang percaya.

“Mana mungkin seseorang bisa tidur diwaktu berjalan?” akhirnya dia berkeputusan hendak

membuktikan diri.

Seumpama kereta ini merupakan kereta paling nyaman, segar dan mewah di seluruh kolong

langit, tapi setiap hari harus dikurung didalamnya, tidak bisa bergerak tidak boleh keluar lama

kelamaan Oh Thi-hoa merasa sebal dan gerah, hampir saja ia menjadi gila karenanya.

Memangnya dia ingin mengerjakan sesuatu pekerjaan. Maka dia mendekam d pinggir jendela

kereta, dengan mata terpentang lebih dia awasi Ciok Tho, ingin dia melihat bagaimana dia tertidur

dikala kakinya melangkah.

Biji mata Ciok-Tho yang berwarna kelabu itu, selalu terbelalak lebar, dengan kosong

memandang jauh ke depan, seolah-olah dapat melihat suatu pemandangan indah, yang tak

mungkin terlihat oleh orang lain.

Dengan seksama Oh Thi-hoa selalu memperhatikan dirinya, sendiri kemudian, mendadak ia

tertawa gelak-gelak katanta :

“Keparat benar jago mampus kau ini, ternyata menipuku lagi.”

Heran Ki Ping-yan dibuatnya tanyanya mengerut alis : “menipu apa kau ?”

“Matanya selalu terbuka dan tidak pernah terpejam, mana bisa dia tertidur?”

“Dia tidur tanpa pejamkan mata.” sahut Ki Ping-yan.

“Memangnya kenapa pula?”

Karena dia memangnya seorang buta. Buta? Oh thi-hoa berjingkrak bangun. Maksudmu bukan

saja dia bisu dan tuli, matanya pun buta?”

Ki Ping-yan bungkam, selamanya tak pernah dia memberi keterangan kedua kalinya.

“Tak heran kedua biji matanya itu kelihatan begitu aneh, tapi… seorang buta kenapa bisa

berjalan seperti dia? Sungguh aku lebih tidak mengerti.”

“Binatang disampingnya tiada binatang?” “Dia akan berusaha mencarinya seekor.”

“bicaramu semakin membingungkan, seperti dongeng belaka, memangnya dia itu seekor

binatang?”

“Ada kalanya memang dia boleh dianggap seekor binatang, karena dia sendiripun

menganggap bahwa dia itu seekor binatang buas malah dia beranggapan berkumpul sama

binatang buas, jauh lebih gampang dan aman daripada dengan manusia”

“kalau begitu, kenapa dia mau bekerja bagi kau?”

Mulut Ki Ping-yan terkancing lagi, Oh Thi-hoa melihat bukan saja orang tidak sudi menjawab

pertanyaan ini, orangpun tidak mau memperbincangkan persoalan ini. Siapa tahu sesaat

kemudian, dengan kalem sepatah demi sepatah Ki Ping-yan malah bilang : “Itulah karena aku

pernah menolong jiwanya.”

Kini Oh Thi-hoa yang berdiam diri, katanya menghela napas kemudian : “Jadi kenapa kau suka

membawa seorang yang buta tuli dan bisu itu untuk menempuh bahaya di padang pasir?”

Karena bila di padang pasir, dia jauh lebih berguna dari sepuluh orang yang tidak buta, tidak

tuli dan tidak bisu.

Padang pasir. akhirnya mereka tiba di padang pasir.

Itulah sebuah kota kecil di pinggiran padang pasir, berdiri didekat pintu sebuah penginapan

satu-satunya yang terdapat di kota kecil itu menyawang jauh ke depan sana, ke padang pasir nan

luas tak berujung pangkal.

Dalam kota kecil itu hanya terdapat beberapa keluarga saja, mereka hidup dengan penuh

penderitaan ditengah badai pasir yang tak kenal kasihan itu. Barang mustika satu-satunya kolektif

mereka hanyalah sebuah perigi yang birisi air yang tidak boleh dikatakan jernih.

Dengan harga yang sepuluh lipat lebih mahal dari harga arak. Ki Ping-yan membeli puluhan

kantong air itu, lalu dengan harga yang jauh lebih murah dari daging babi dia jual beberapa ekor

kuda yang sudah kelihatan itu kepada penghuni kota kecil itu, lalu menyulut api membakar petak

kereta itu, itulah barang-barang kesayangannya dia tak bisa membawanya, terpaksa dibakar saja.

Dia paling pantang segala miliknya yang paling dia sukai terjatuh ke tangan orang lain.

Tak tahan bertanya Coh Lui-hiang : “aku tahu kenapa kau bakar kereta besar ini. Tapi tak

mengerti kenapa kuda-kuda itu kau jual? Seumpama kau ini seorang kikir, memangnya kau ingin

menambah beberapa keping uang perak sebagai ongkos jalan?”

“Jikalau kita bawa kuda-kuda ini ke padang pasir, dalam jangka tiga hari, mereka sudah akan

mampus keletihan.”

“Kenapa tidak kau lepas mereka saja? Kuda tahu jalan dan bisa pulang, mungkin dia bisa tiba

dirumah.”

“Mereka pasti takkan bisa pulang.”

“Kenapa?”

“Sepanjang jalan ini, bukan hanya saja banyak begal, kuda yang malang melintang sepanjang

tahun tidak sedikit jumlah manusia yang kelaparan, jikalau aku melepas mereka pulang,

seumpama mereka tidak tertangkap oleh kawanan begal kuda, mereka bahkan menjadi santapan

perut orang-orang kelaparan itu.

“Kau anggap penghuni kota kecil ini bakal memeliharanya baik-baik?”

“Ya, mereka penduduk genah, suka menghemat dan berhati baik, terhadap kuda peliharaan

pasti menyayanginya, aku yakin kuda-kuda itu akan dipelihara dengan baik,” baru sekarang ujung

mulutnya menyungging senyuman katanya pula:

“Dengan demikian, kalau mereka menjual kuda-kuda itu, tentu harga yang lebih tinggi, maka

orang itu sekali-kali takkan membunuh kuda itu untuk dimakan.”

“Kalau demikian kenapa tidak kau berikan saja kuda itu kepada mereka?”

“manusia biasanya terlalu sayang dan eman terhadap sesuatu barang yang dibelinya jikalau

barang sumbangan atau pemberian orang sedikit banyak tentu dipandangnya sepele dan kurang

berharga.”

Lama Oh Thi-hoa menepekur, katanya kemudian dengan menarik napas: “Kat nyana kau bisa

berpikir begitu cermat bagi kuda-kuda itu, agaknya belakangan ini kau sudah sedikit berubah.”

“Kau kira itu maksudku sendiri?”

“Bukan maksudmu, memangnya maksud siapa?”

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh Ki Ping-yan, karena saat itu dia sudah melihat raut

muka Ciok Tho yang dingin kaku, buruk seperti diukir dari batu batu keramik.

Raut muka yang seperti diukir dari batu batu keramik ini, tatkala itu sedang menampilkan

perasaan sedih, seolah-olah sedang sedih karena harus meninggalkan teman baiknya, sementara

ringkik kuda-kuda itupun terdengar sumbang dan lemah seperti helaan napasnya.

Kini Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yang sudah berdandan, samaran mereka mirip

benar dengan pedagang pelancongan yang hendak menempuh perjalanan jauh ditengah lautan

pasir nan luas ini.

Ciok Tho sebaliknya berdandan seperti orang Mongol, selembar kain putih yang lebar dan

panjang dia ikat di atas kepalanya, tujuannya bukan untuk menutupi batok kepalanya dari terik

matahari, tujuannya adalah untuk menutupi selembar mukanya.

Mengenai Siau-phoa? Dia boleh sembarangan suka mengenakan pakaian apa saja, meski kau

campurkan dia dengan segala macam bangsa, kehadirannya tidak akan menyolok mata.

Disaat hari hampir mendekati magrib mereka berangkat memasuki lautan pasir.

Tatkala itu, walau sang surya sudah terbenam, hawa panas sedang mengepul naik

dipermukaan padang pasir, maka panasnya luar biasa, ingin rasanya mencopoti pakaian yang

melekat dibadan.

Tapi tak menjelang lama suhu panas itu dengan capat sudah menghilang, disusul hawa dingin

yang menusuk tulang menerpa muka terasa pedas dan perih seperti diiris dengan pisau.

Ingin rasanya Oh Thi-hoa menyembunyikan badannya di bawah perut unta, duduk di

punggung unta, rasanya seperti naik perahu yang diombang-ambingkan ditengah samudera raya.

Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Siau-phoa pun duduk d ipunggung unta, melihat gaya duduk Oh

Thi-hoa diatas unta, hampir saja mereka terpingkal-pingkal. Memang siapapun yang duduk di atas

punggung unta takkan enak dan sedap dipandang mata.

Hanya Ciok Tho yang mengikuti langkah unta-unta itu selangkah demi selangkah berjalan tak

kenal lelah, perduli di padang pasir, di tanah datar, di padang rumput atau ditengah rawa-rawa,

dingin atau panas……….segala perubahan seolah tiada pengaruh apa-apa bagi manusia cacat

yang satu ini.

Jikalau dulu, pasti Oh Thi-hoa sudah mengajukan pertanyaan : “Kenapa kaupun tidak duduk

diatas unta?”

Kini dia tak perlu mengajukan pertanyaannya, dia tahu Ciok Tho takkan sudi duduk di

punggung kuda, unta atau keledai, karena dia pandang mereka sebagai teman baiknya.

Malam semakin larut, hawa dingin semakin merangsang dan menjadi-jadi. Saking

kedinginannya Siao-phoa sudah gemetar di punggung unta, untung tak lama kemudian Ki Pingyan

berhasil menemukan sebuah tempat untuk berlindung dari hembusan angin badai. Mereka

mendirikan kemah di belakang gundukan bukit pasir, membuat api unggun dari kotoran binatang.

Ciok Tho jejer unta-unta itu menjadi semacam bundaran, punuk unta untuk menutupi cahaya

api.

Diatas api unggun dimasak sewajan sayur, mereka duduk mengelilingi api, minum arak,

mencium hawa yang berbau campuran merica, lombok dan berambang dimasak campur daging

sapi dan kambing.

Baru sekarang Oh Thi-hoa merasa lebih nyaman dan segar.

Sebaliknya Ciok Tho, tetap duduk dikejauhan sana, di bawah penerangan bintang-bintang

yang kelap kelip di padang pasir ini, bukan saja raut mukanya lebih dingin kaku, lebih buruk, malah

terunjuk pula mimik dan sikap yang aneh.

Pada tempat yang semakin kosong dan luas, diwaktu yang sunyi dan lebih tenang, sikap dan

mimiknya ini jauh lebih jelas dan menyolok, kini dia duduk menyendiri ditengah padang pasir yang

tak berujung pangkal, ditengah kegelapan malam yang dingin pula, kelihatannya dia seperti

seorang raja yang terusir dari negeri dan rakyatnya, dia sedang mengecap kesunyian, penderitaan

dan penghinaan yang kelewat batas dengan diam-diam.

Sampaipun Coh Liu-hiang, tak terasa diapun mulai tertarik akan petualangan masa lalu dari

manusia misterius yang sudah mengalami akibatnya dulu, namun sukar dia berhasil menyelami isi

hatinya dan jalan pikiran orang yang misterius ini.

Tapi tak pernah Coh Liu-hiang menanyakan kepada Ki Ping-yan. Dia tahu Ki Ping-yan takkan

mau menjelaskan atau memang dia sendiripun mungkin tidak tahu.

Setelah larut malam, mereka masing-masing menyelinap masuk ke dalam kemah untuk tidur.

Ciok Tho cukup membungkus badannya dengan selimut tebal, tidur disamping unta, celentang

menghadap langit dimana bintang-bintang bercokol di cakrawala.

Coh Liu-hiang pun tidak tahu apakah orang sudah tidur belum, namun ia maklum orang lebih

suka tidur di pinggir unta, matipun dia tidak mau tidur disamping orang lain. Sudah tentu Oh Thihoa

pun ada perhatian akan hal ini, tidak seperti Coh Liu-hiang, dia tidak bisa menyimpan didalam

hatinya. Setelah ditahan-tahan setengah harian akhirnya ia tak kuat menahan sabar, tanyanya:

“Kenapa dia tidak masuk kemari tidur bersama kita?”

“Karena dia tidak pandang sama derajat dengan kita.”

Oh Thi-hoa berjingkarak bangun serunya marah :” Dia pandang rendah kita?”

“Siapapun dia pandang rendah.”

“Terhadap kaupun dia memandang rendah?” tanya Oh Thi-hoa melengak.

Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya :” Ya, sampai akupun tidak terpandang sebelah matanya.”

“Dia pandang rendah dirimu, kenapa mau bekerja demi kau?”

“Bila kau melakukan sesuatu hal untuk orang lain, tidak mesti harus memandangnya , benar

tidak?” tanya Ki Ping-yan, “Sekarang dia bekerja demi aku, karena dia merasa hutang budi

terhadapku, bila dia merasa hutangnya lunas, meski aku turut berlutut minta bantuannya dia

takkan sudi tinggal bersama kami.”

Kembali Oh Thi-hoa menjublek di tempatnya, lekas ia tuang sebuah cawan besar penuh arak

terus ditengaknya, dia ingin lekas bisa tidur, tapi bolak-balik selalu matanya terbayang akan raut

muka buruk yang bermimik aneh itu. Siapakah sebenarnya orang ini? Siapa pula yang

membuatnya begitu rupa? Sudah tentu dia tak mendapat jawaban, tanpa sadar mulutnya

menggumam. “Tempat setan seperti ini, sulit juga hidup dalam hari-hari seperti ini.”

Ki Ping-yan yang seperti sudah pulas, saat itu tiba-tiba menyeletuk dingin :” Sekarang kau

sudah merasa sedih dan sengsara ya? Hari-hari yang betul-betul penuh derita belum lagi mulai

lho!”

Dumulai sejak Oh Thi-hoa berani terjun ke dalam sungai di belakang rumahnya untuk

berenang, ia sudah menyukai matahari, sejak itupula setiap hari cerah, matahari menyinarkan

cahayanya yang gemilang, tak tahan lagi dia pasti mencopot pakaian, menjemur diri dipasir. Yangci-

kiang di puncak Ai-ho-lau, di puncak Ceng-shia diatas budur, ditempat teduh di puncak Hoa-san,

ditempat yang paling tinggi di Thaysan, dia pernah melihat bermacam-macam matahari. Ada yang

terik dan panas seperti bara, laksana laki-laki kebakaran jenggot, ada pula yang halus lembut

laksana pemuda perlente yang romantis, ada yang remang-remang gelap seperti pandangan si

kakek yang sudah lamur, dan ada pula yang cemerlang menakjubkan seperti seraut muka gadis

jelita.

Berani mati, selama hidup belum pernah dia lihat dan menghadapi terik matahari seperti ini.

Meskipun matahari yang satu ini pula, tapi matahari ditengah padang pasir ini, mendadak berubah

menjadi sedemikian kejam, ganas luar biasa, seolah-olah seluruh padang pasir ini hendak

dibakarnya sampai menyala oleh teriknya itu.

Sedemikian panas terik matahari ini sampai Oh Thia-hoa tiada selera minum arak, hatinya

pepat dan mengharap sang surya lekas terbenam keperaduannya, seorang pemabokan bila

sampai tiada selera minum arak lagi, tentu dia sudah amat menderita serasa ingin mati saja.

Tiada angin, sedikitpun tak terasa adanya angin berlalu, tiada suara yang paling lirihpun

ditengah terik mentari ini, seluruh jiwa kehidupan ditengah padang pasir ini, semuanya sudah

terbenam dalam keadaan teler-teler hampir mati.

Sungguh tak tahan lagi, ingin rasanya Oh Thi-hoa melompat ke punggung unta dan mencakmencak

seperti orang kesetanan… pada saat itulah, entah dari mana datangnya, sayup-sayup ia

mendengar suara rintihan. Rintihan yang amat lemah, tapi ditengah padan pasir yang tenang sunyi

seperti tiada kehidupan ini, kedengarannya begitu jelas seperti seseorang berbisik di pinggir

telinganya.

Tanpa berjanji, Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa serempak menegakkan punggung

duduk pasang kuping.

“Kalian mendengar suara itu?” tanya Oh Thi-hoa melebarkan matanya.

“Em!” Coh Liu-hiang mengiakan dengan suara dalam tenggorokan.

“Menurut pendengaranmu, suara apa itu?” tanya Oh Thi-hoa yang suka cerewet.

“Disekirar sini ada orang.” sahut Coh Liu-hiang.

“Tidak salah! Ada orang, tapi orang yang sudah dekat ajalnya.”

“Dari mana kau tahu?” jengek Ki Ping-yan dingin.

Oh Thi-hoa menyeringai, ujarnya: “Walau aku tidak suka membunuh orang, tapi suara rintihan

orang meregang jiwa melayang ajal, sudah sering kudengar, menurut hematku, kalau orang itu

bukan hampir mati kekeringan oleh terik matahari tentu melayang ajal karena dahaga.”

Pada saat itu pula, terdengar suara erangan lain kumandang, Oh Thi-hoa sudah tau suara

rintihan ini datang dari belakang gundukan pasir tinggi di sebelah kiri sana. Kontan Oh Thi-hoa

lompat turun dari punggung ontanya, serunya: “Di sana orangnya, lekas kita tengok kesana.”

“Seseorang yang melayang ajal, apanya sih yang enak kau tonton?” tukas Ki Ping-yan dingin.

“Apanya yang bisa ditonton?” teriak Oh Thi-hoa. “Kau tahu ada orang hampir mati,

memangnya kau cuma melihat saja tanpa sudi menolongnya?”

“Sejak mula sudah kuberi tahu, kepada kau, di atas padang pasir ini, setiap hari kau bisa

bertemu dengan sepuluh manusia yang meronta-ronta menjelang ajal, jikalau kau ingin menolong

orang, jangan kau lakukan pekerjaan lain.”

Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya: “Kau… memangnya kau tidak mau menolong orang yang

hampir mati?”

“Memangnya kedatangan kita kemari hanya untuk menolong orang hampir mati?”

“Begitu kejam hatimu!”

“Ditempat setan seperti ini, hanya orang yang berhati baja saja yang bisa tetap bertahan hidup,

bilamanapun kau hampir mampus, jelas takkan ada orang yang mau menolong kau, karena bila

ada orang sudi membagi air kepadamu dia sendiri bakal mati karena dahaga.”

Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya: “Tapi bukankah air kita sekarang cukup berlebihan?”

“Terdapat sejenis manusia lain di dalam padang pasir ini jikalau kau menolong dia disaat

tenaganya pulih badan menjadi segar kembali, malah mungkin dia membunuhmu, lalu merampas

ramsum dan binatang tungganganmu tinggal lari!”

“Mengandalkan kekuatan kami bertiga, manusia mana dalam dunia ini yang mampu

membunuh kami?”

“Benar!” sela Oh Thi-hoa memberi dukungan.

“Siapa bisa membunuh kita?” lalu ia melotot kepada Ki Ping-yan, sambungnya: “Agaknya

bukan saja hatimu semakin kejam dan telengas, malah nyalimu justru semakin kecil, seorang bila

mempunyai uang terlalu banyak, mungkin bisa berubah seperti keadaanmu sekarang.”

Membeku roman muka Ki Ping-yan, ia tak banyak bicara lagi.

“Peduli kau sudi tak pergi menolong orang, aku pasti akan kesana melihatnya.”

Coh Liu-hiang tersenyum, “Kalau mau pergi mari kita bersama-sama.”

Sudah tentu kata-katanya itu ia tujukan kepada Ki Ping-yan, sesaat lamanya Ki Ping-yan diam

saja, akhirnya dia menghela napas, maka barisan segera membelok ke arah kiri.

Gundukan bukit pasir di sebelah kiri sana tidak luas dan tinggi, begitu mereka tiba di pengkolan

bukit pasir sebelah sana, dari kejauhan mereka melihat dua orang, begitu melihat kedua orang ini,

hati Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa serasa hampir membeku dingin.

Kedua orang ini sudah tidak mirip seperti manusia umumnya, tapi mirip dua bongkah kerat

daging kambing yang dipanggang di atas api unggun, dengan telanjang bulat kedua orang disalip

di atas pasir pergelangan kedua kakinya yang telanjang bulat, jidat dan lehernya masing-masing

terikat kencang oleh kulit sapi, kulit kerbau umumnya basah, tapi setelah dijemur matahari dan

menjadi kering, maka libatan ikatannya menjadi semakin kencang dan erat, melesak masuk ke

dalam kulit daging.

Seluruh kulit badan mereka hampir sudah gosong karena terik matahari, bibirpun sudah retak,

kelopak matanya setengah terpejam, biji matanya sudah kering, seperti dua buah lubang yang tak

terukur dalamnya.

Baru sekarang Oh Thi-hoa benar-benar maklum dan mengerti cara bagaimana kedua biji mata

Ciok Tho itupun menjadi buta. Mata Ciok Tho mirip pula dengan kedua biji mata kedua orang ini,

picak karena dijemur terik matahari secara hidup-hidup.

Meski Ciok Tho tidak bisa melihat, tak dapat mendengar, tapi begitu ia berada ditempat itu

sekujur badannya mendadak gemetar keras, seolah-olah dia punya indera istimewa yang aneh,

bisa merasakan gejala yang tidak wajar di sekelilingnya serta bencana yang bakal menimpa

mereka.

Tali kulit kerbau diputus, dengan selimut tebal Coh Liu-hiang membungkus badan kedua orang

ini, lalu dengan handuk yang dibasahi air dimasukan ke dalam mulut supaya mereka pelan-pelan

menghisapnya.

Lama kelamaan, baru kedua orang ini bisa bergerak dengan gemetar, suara rintihannyapun

semakin keras.

“Air… Air…” mereka bisa mengeluarkan suara, tak henti-hentinya menjerit mengeluh dan minta

tolong.

Coh Liu-hiang tahu bila sekarang mereka lantas diberi air secukupnya, mereka bisa segera

mati.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: “Sahabat jangan kau kuatir, disini air cukup banyak,

berapa kau ingin minum boleh sesuka hatimu.”

Orang yang hampir mati itu dengan melongo hampa membuka mata, mulutnya tetap merintih:

“Air… Air…”

Oh Thi-hoa tertawa katanya: “Kau tidak lega hati?” lalu ia berdiri menepuk kantong kambing di

punggung onta katanya pula: “Coba lihat, disinilah airnya.”

Ki Ping-yan mendadak menghardik dengan bengis: “Siapa yang menyalib kalian disini?” “Dosa

apa yang pernah kalian lakukan”

Orang yang hampir mati ini menggeleng-geleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya tergagap:

“Tidak, tidak… perampok.”

“Perampok?” seru Oh Thi-hoa. “Dimana?”

Orang hampir mati ini meronta-ronta angkat sebelah tangannya menunjuk ke satu arah yang

jauh sana, lalu sekuatnya pula menjambak rambut sendiri, raut mukanya kembali bergetar dan

berkerut-kerut kejang, badanpun gemetar semakin keras.

Berkata Ki Ping-yan dengan bengis: “Menurut apa yang kutahu, disekitar sini tiada jejak

kawanan perampok, apa kalian membual ya?”

Kedua orang kembali geleng kepala, agaknya kedua biji mata hampir berlinang air mata.

Berkata Oh Thi-hoa keras: “Mereka sudah dalam keadaan begini mengenaskan, buat apa kau

hendak kempes mereka? Memangnya kenapa umpama mereka membual, badan mereka tidak

mengenakan selembar benangpun, masakah bisa mencelakai kami?”

Kembali Ki Ping-yan bungkam tidak melayaninya. Soalnya ucapan Oh Thi-hoa memang

kenyataan kedua orang ini bukan saja telanjang bulat dengan badan kering dan kusut masai,

bertangan kosong lagi tanpa bawa senjata, seumpama mereka tidak terluka, tiada sesuatu tandatanda

yang menunjukkan gejala yang mencurigakan, mau tak mau Ki Ping-yan merasa lega hati

juga.

Kata Oh Thi-hoa berpaling ke arah Coh Liu-hiang: “Kini boleh memberi air lebih banyak sedikit

bukan?”

Coh Liu-hiang masih termenung sebentar akhirnya manggut-manggut sahutnya: “Tetapi sedikit

saja.” sembari bicara ia melangkah ke arah kantong air, tapi belum lenyap suaranya, kedua

manusia yang kempas-kempis hampir mampus itu, mendadak selincah kelinci mencelat bangun.

Kedua tangan mereka yang semula meremas-remas rambut di atas kepalanya itu mendadak

pula diayunkan secepat kilat, dari jari-jari tangan, mereka berbareng melesat puluhan bintik-bintik

hitam luncurannya tak kalah dari sambaran kilat. Jelas sekali itulah senjata rahasia yang mirip

disemprot keluar dari sebuah bumbung yang diberi alat rahasia semacam pegas. Jadi senjata

rahasia itu bisa mereka sembunyikan di dalam rambutnya yang awut-awutan itu.

Begitu kedua tangan mereka terayun, Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan serempak

melejit tinggi seenteng asap segesit burung walet, meski mereka menghadapi sergapan mendadak

di luar dugaan, namun reaksi dan gerakan mereka sungguh teramat cepat, jarang ada senjata

rahasia yang mampu melukai mereka.

Siapa nyana senjata rahasia itu justru tidak mengarah mereka, yang diincar justru kantongkantong

air itu, maka terdengar “Bles, bles, bles.” beruntun puluhan kali, puluhan lobang yang

memancurkan air serempak menyembur keluar dari kantong air kulit kambing itu.

Belum lagi semua orang insaf apa yang telah terjadi, kedua orang yang hampir mampus tadi,

tiba-tiba melejit bagaikan terbang melarikan diri.

Meledak amarah Oh Thi-hoa, bentaknya murka: “Kunyuk sialan! Lari kemana kau?” dengan

gerakan yang hampir lebih cepat dari Coh Liu-hiang, ia mendahului menubruk kearah dua orang

itu.

Belum lagi mereka lari sejauh sepuluh tombak, tahu-tahu terasa segulung angin kencang

merangsang lehernya, mereka hendak putar badan melawan, tapi belum sempat berpaling,

badannya tiba-tiba sudah tersungkur ke depan. Bahwasanya siapa yang turun tangan dan cara

bagaimana mereka dirobohkan tidak melihat jelas. Tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah duduk seperti

mencongklang kuda di atas punggung salah seorang itu, kedua tangan bergerak pergi datang

menampar muka orang, dampratnya: “Ku tolong kau, kau malah hendak mencelakai aku?

Kenapa? Kenapa?”

Orang ini tidak menjawab, karena selamanya tak mampu membuka mulut lagi, waktu Oh Thihoa

merenggutnya dari atas tanah, lehernya teklok lemas seperti batang padi yang putus menjadi

dua.

Seorang lagi juga rebah di atas tanah, Coh Liu-hiang tidak bergerak menghajarnya, cuma

berdiri di depannya dengan tenang dia awasi orang, sepatah pertanyaanpun tidak ia ajukan.

Diwaktu mendengar tulang leher temannya putus, badan orang itu tiba-tiba melingkar seperti

trenggiling, mulutnya malah menggembor seperti orang gila.

“Bunuhlah aku! Tidak menjadi soal yang terang kalianpun takkan bisa hidup lebih lama lagi,

biar kutunggu kalian diambang pintu neraka, saat itu akan kubuat perhitungan dengan kalian.”

Berkedip pun tidak mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Aku takkan bunuh kau, asal kau

bicara terus terang, siapa yang suruh kau kemari?”

Mendadak orang ini terloroh-loroh menggila seperti orang kesetanan, serunya, “Kau ingin tahu

siapa yang suruh aku kemari? Memangnya kau masih ingin mencari dia?”

“Memangnya aku hendak mencari dia, masa kau merasa amat menggelikan?”

Meleleh air mata orang ini karena terpingkel-pingkel, katanya dengan napas ngos-ngosan:

“Sudah tentu amat menggelikan, siapapun dia bila bukan seorang gila, takkan mau mencari dia,

kecuali orang itu sudah bosan hidup.”

Oh Thi-hoa sudah memburu kemari, serunya hampir menggembor: “Apakah putra Ca Bok-hap

yang suruh kau kemari?”

“Ca Bok hap?” orang itu tertawa besar, Ca Bok-hap itu barang apa, menggosok sepatu

beliaupun tidak setimpal.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bukan Ca Bok-hap, memangnya siapa?”

“Kau tak usah kuatir, disaat jiwamu menjelang ajal, dengan sendirinya akan bertemu dengan

beliau… aku boleh bertaruh dengan kau jiwamu takkan hidup lebih lima hari lagi.”

Damprat Oh Thi-hoa gusar: “Biar aku bertaruh dengan kau, jikalau kau tidak mau bicara terus

terang, lima jam pun kau tidak akan bisa hidup lagi.

Ternyata orang itu tertawa pula, katanya: “Bahwasanya aku memang tidak ingin hidup lima jam

lagi.”

Sudah tentu Oh Thi-hoa melengak dibuatnya, tanyanya: “Kau tidak takut mati?”

“Kenapa aku harus takut mati?” jawab orang itu terloroh-loroh. “Bisa mati demi beliau, boleh

dikata hatiku teramat girang, lebih senang dari mendapat rejeki nomplok.” suara tawanya

mendadak menjadi lemah, sebaliknya sorot matanya memancarkan cahaya yang aneh.

“Celaka!” seru Coh Liu-hiang kaget. Dalam mulut orang ini mengemut obat beracun untuk

bunuh diri.”

Benar juga waktu Oh Thi-hoa merenggut badan orang, segera ia dapatkan napas orang sudah

berhenti.

Lama sekali bari Oh Thi-hoa melempar badan orang, katanya berputar kepada Coh Liu-hiang:

“Pernah kau melihat manusia yang tidak takut mati seperti ini?”

“Belum pernah!” sahut Coh Liu-hiang pendek.

“Aku tahu banyak orang gila ketangkap oleh musuh, mereka bisa bunuh diri dengan menelan

obat beracun tapi mereka mencari jalan pendek lantaran terpaksa, sebaliknya orang ini mati

dengan riang dan gembira lihat mulutnya mengulum senyum lagi.”

Coh Liu-hiang hanya menghela napas tanpa bicara lagi, sekilas otaknya terbayang akan Bu

Hoa yang menelan obat beracun pula dihadapannya, teringat akan Bu Hoa, tak tahu lagi ia

menghela napas rawan.

Oh Thi-hoa menghela napas juga, ujarnya: “Kurasa otak orang ini rada kurang normal kalau

tidak…” mendadak ia memandang Ki Ping-yan, tangan mengelus hidung dan tak melanjutkan katakatanya

lagi.

Selama ini Ki Ping-yang tertunduk mengawasi mayat dihadapannya bahwasanya melirikpun

tidak kepadanya. Lama juga Oh-Thi hoa menahan sabar dan menunggu-nunggu, akhirnya

mengguman sendiri: “Senjata rahasia mereka tersembunyi di dalam rambutnya, hal ini baru

sekarang dapat kupikirkan, tapi kenyataan mereka sudah dijemur sampai kering kerontang sampai

badan gosong terbakar bagaimana mungkin bisa punya kekuatan untuk bergerak?”

Roman muka Ki Ping-yan tidak menunjukkan perobahan mimik apa-apa, perlahan-lahan ia

berjongkok begitu merah rambut salah satu mayat terus disentak ke atas, tangannya tahu-tahu

mencekal sebuah rambut palsu yang dilapisi selembar kulit tipis dan halus, aneh benar seketika

terlihatlah seraut muka dengan kulit halus dan putih bersih.

Lama juga mata Oh-Thi hoa melotot, lalu katanya sambil tertawa getir: “Ternyata mereka

menggunakan ilmu rias dan rambut palsu segala malah keahliannya tidak lebih asor dari Maling

kampiun, dalam padang pasir terdapat seorang berbakat begini, sungguh mimpipun tak terduga.”

kata-katanya ini dia tujukan kepada Ki Ping-yan, tapi belum habis ia bicara Ki Ping-yan sudah

tinggal pergi.

Terpaksa Oh Thi-hoa ikut pergi, tampak puluhan kantong-kantong kambing berisi air ini sama

berlobang dan memancurkan air di dalamnya, namun air di dalam kantong itu belum mengalir

habis.

Sementara itu Ki Ping-yang dan Siau-phoa bekerja sama menanggalkan semua kantongkantong

air itu, diletakkan di atas pasir, bagian yang berlobang menghadap ke atas, masingmasing

masih berisi setengah kantong air.

Oh Thi-hoa girang, katanya: “Kedua orang itu sia-sia saja mengantar jiwa, tujuannya hendak

mencelakai kami tidak berhasil, air toh masih banyak untuk bekal perjalanan!”

Ki Ping-yan tidak banyak komentar, satu persatu kantong-kantong yang berlobang itu dia tuang

airnya sampai habis.

Tersirap darah On Thi-hoa, jeritnya: “E, apa yang kau lakukan?”

Ki Ping-yan tetap tidak bicara.

Lekas Coh Liu-hiang menghampiri, katanya dengan nada berat: “Senjata rahasia itu beracun,

racun sudah bercampur dalam air, sudah tentu air ini tak boleh diminu.”

Oh Thi-hoa terhuyung-huyung tiga langkah hampir saja ia terjengkang jatuh.

“Aku sudah menemukan bumbung rahasia mereka untuk menyambitkan jarum-jarum berbisa

itu,” Coh Liu-hiang menerangkan, “Betapa hebat dan sempurna buatannya, ternyata lebih unggul

dari Kiu-thian-cap-te. Thian-mo-sin ciam yang menggetarkan Bulim puluhan tahun yang lalu.

Sungguh tak pernah terpikir olehku, tokoh macam apakah yang mampu membuat senjata rahasia

seperti ini dalam kalangan Kang-ouw?” dimana jari-jarinya terbuka masing-masing terdapat

sebuah bumbung besi warna hitam mengkilap.

Hanya sekilas Ki Ping-yan melihat bumbung besi itu, katanya tawar: “Tunggulah setelah

malam tiba baru kita bicara, sekarang perlu kita mengejar waktu melanjutkan perjalanan.” tetap ia

tidak pernah melirik kepada Oh Thi-hoa.

Akhirnya tak tahan Oh Thi-hoa dibuatnya, serunya sambil berjingkrak: “Memang gara-garaku

yang suka usil, suka ikut campur urusan orang lain, mataku buta, kau… kau, kenapa tidak kau

maki aku, tidak kau hajar aku? Tidak sudi bicara lagi? Maki dan hajarlah diriku, hatiku tentu jauh

lebih enak dan tentram.

Benar juga Ki Ping-yan berpaling kepala pelan-pelan, dengan tenang ia pandang muka orang,

katanya kalem: “Kau ingin supaya aku mencacimu?”

“Tidak kau caci aku, kau keparat! Telur busuk!”

Sikap Ki Ping-yan tetap tak berubah, pelan-pelan ia mencemplak naik ke punggung unta,

katanya tawar: “Kenapa aku harus caci kau? Menolong orang toh perbuatan bajik, apalagi yang

picak matanya toh bukan kau saja, yang tertipu juga bukan kau pula.”

Baru sekarang Oh Thi-hoa menjublek dan melongo, lama ia tak buka mulut.

Coh Liu-hiang menghampiri dari belakang, katanya tersenyum sambil menepuk pundaknya

“Jagi mampus kiranya tidak sebrutal yang pernah kau bayangkan dulu, ya tidak?”

Malam itu, seperti pula Ciok Tho, Oh Thi-hoa duduk seorang diri di bawah sinar bintang yang

kelap-kelip ditengah cakrawala, duduk di atas pasir yang masih panas dan mengeluarkan hawa

membara, lambat laun ia duduk di tengah kabut yang dingin dan tak berujung pangkal luasnya.

Hembusan angin tidak lagi membawa bau lombok, merica, berambang dan daging kambing.

Karena yang mereka miliki sekarang tidak lebih hanya sebuah kantong air kecil yang selalu tidak

pernah berkisar dari badan Ki Ping-yan itu. Tiada air, tentu tiada masakan hangat, tiada hidangan,

tak sempat makan minum bersuka-ria, tiada jiwa kehidupan.

Tidak jauh di sana Ciok-Tho duduk seorang diri pula, sejak mengalami peristiwa ini meskipun

dia tak melihat, tak mendengar sendiri, namun tindak tanduk dan sikapnya jelas mulai berubah.

Badannya yang tegap laksana tonggak itu, seolah-olah berubah mulai loyo dan patah semangat,

raut mukanya yang seperti terukir dari batu-batu kramik itu, kinipun mulai menampilkan rasa

ketakutan dan mulai tidak tentram.

Tapi Oh Thi-hoa belum sempat memperhatikan perubahannya ini. Oh Thi-hoa sedang repot

menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri.

Di dalam kemah terpasang sebuah pelita, sinar pelita guram seperti cahaya bintang di langit, di

bawah penerangan sinar pelita, yang memang remang-remang lembut ini, persoalan yang sedang

dirundingkan dan dibicarakan oleh Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan justru membawa suasana yang

kurang tentram dan tak membawa kelembutan.

Bumbung jarum yang hitam mengkilap itu di bawah pancaran sinar pelita yang guram ini

kelihatan lebih seram jahat dan dingin.

Kata Coh Liu-hiang sambil mengawasi bumbung jarum ini: “Sungguh salah satu senjata

rahasia yang paling menakutkan diantara sekian banyak senjata rahasia yang pernah kuhadapi

selama hidup ini. Kupikir dalam dunia ini hanya tiga orang yang mampu membuat alat senjata

rahasia seperti ini.”

“Siapa saja ketiga orang itu?” tanya Ki Ping-yan.

“Orang pertama adalah Ciang-bun-jin keluarga Tong di Siok-tiong. Kedua adalah Cu losiansing

dari Kou-ki-theng di Kanglam, tapi jelas kedua orang ini sudah pasti takkan datang kepadang pasir

ini.”

“Benar… masih satu lagi?”

Coh Liu-hiang tersenyum dulu, katanya: “Seorang lagi adalah aku sendiri, sudah tentu alat

senjata rahasia ini juga bukan ciptaanku.”

Tak terunjuk rasa geli dalam sorot mata Ki Ping-yan, katanya tandas: “Walau kau hanya tahu

tiga orang saja, tapi aku berpendapat tentu masih ada orang ke empat, cuma siapa orang ini, kau

dan aku masih belum tahu.”

Sesaat Coh Liu-hiang menepekur, katanya kemudian menarik napas, “Dapat membuat alat

rahasia semacam ini sih tidak perlu ditakuti, yang ditakuti justru dia dapat membuat semua anak

buahnya begitu setia dan rela mati demi kepentingannya.”

“Kau kira si ‘dia’ pasti bukan lawanmu Hek-tin-cu itu?”

“Terang bukan Hek-tin-cu tidak sedemikian kuat, diapun tak sedemikian kejam dan buas.”

“Menurut hematmu, orang macam apakah si dia itu?”

“Kukira dia seorang sahabat dari kalangan hitam di Tionggoan yang teramat lihay dan sudah

menanam akar di sini, atau mungkin pula seorang gembong perampok di padang pasir, tujuannya

bukan melulu terhadap Maling kampiun saja, juga belum mengincar Ki Ping-yan tidak lebih dia

hanya pandang kami sebagai pelindung kambing gemuk yang sedang dia incar, dari kita mereka

pingin memperoleh harta dan uang.”

“Ya!” Ki Ping-yan setuju akan pendapat ini.

“Dia sudah perhitungkan kita pasti akan lewat dari sini, maka sebelumnya sudah mengatur

perangkap hendak menjebak kita, atau mungkin mereka memang hendak mengincar jiwa kami,

tapi waktu kedua orang itu melihat bahwa kita bukan seperti kaum pedagang umumnya, kuatir

sekali kerja tak berhasil terpaksa mereka melihat gelagat merubah haluan bukan kita yang diincar

senjata rahasia mereka berobah sasaran mengarah kantong-kantong air kita.” setelah tertawa

getir, ia melanjutkan: “Dia hendak tunggu setelah kita kehabisan air dan dahaga setengah mati,

baru akan turun tangan, waktu itu tenaga untuk melawan saja tiada, bukankah tinggal pasrah

nasib membiarkan mereka menggorok leher kita?”

Ki Ping-yan menyambung dengan prihatin: “Mungkin dia tidak ingin segera menghabisi jiwa

kami, bahwasanya dia ingin supaya kami menderita pelan-pelan kehabisan tenaga meregang

jiwa.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: “Kenapa berpikir demikian kau…?”

Tiba-tiba ia hentikan mulutnya, karena tiba-tiba ia mendapati sorot mata Ki Ping-yan yang

dingin membeku keras itu, kini seperti mengandung perasaan takut dan tidak tentram. Ini benarbenar

belum pernah dialami oleh Ki Ping-yan selama ini, sesuatu yang membuat orang seperti Ki

Ping-yan takut dan kurang tentram, tentulah urusan amat gawat dan menggetarkan sukma.

Segera Coh Liu-hiang juga merasa kurang tentram, tanyanya coba-coba memancing: “Apa kau

sudah dapat menerka siapa si ‘dia’ itu sebenarnya?”

Agaknya Ki Ping-yan ingin mengatakan apa-apa, sekilas matanya melirik keluar kemah dimana

Ciok Tho sedang duduk diam, kata-kata yang sudah tiba di ujung mulut ketika ia telan kembali,

mendadak ia unjuk tawa dan berkata: “Perduli siapa orang itu, jikalau ia hendak membuat kami

mati karena dahaga, tindakannya itu terang keliru.”

Coh Liu-hiang tidak bertanya lebih lanjut, katanya tertawa: “Ada kau disini, selamanya aku

tidak perlu takut bakal mati dahaga disampingmu.”

Ki Ping-yan tertawa, ujarnya: “Aku tahu kira-kira seratus li jauhnya, ada sebuah sumber air

yang amat tersembunyi, besok sebelum matahari terbenam, kita pasti sudah bisa tiba ditempat itu,

tadi tidak kukatakan, karena aku ingin supaya Oh Thi-hoa kebingungan dan gugup setengah mati,

lalu dengan tersenyum senang ia rebahkan diri, sebentar saja seperti sudah lelap dalam tidurnya.

Sebaliknya dengan diam-diam Coh Liu-hiang menyelinap keluar dari kemah, duduk di pinggir

Oh Thi-hoa bukan ingin bicara dengan Oh Thi hoa, cuma ingin duduk rada dekat sekaligus untuk

mengawasi dan menyelidiki tindak tanduk Ciok Tho, orang serba misterius ini. Lapat-lapat ia sudah

merasakan di dalam dada Ciok Tho yang sekeras batu cadas itu tersembunyi suatu rahasia,

rahasia yang menakutkan sepuluh kali lipat lebih seram dari jarum beracun yang seketika

menamatkan jiwa manusia.

Hari kedua, Ki Ping-yan membagi rata sisa air yang ada menjadi lima bagian, katanya tawar:

“Inilah sisa air yang terakhir, kita boleh sekarang meminumnya sampai habis, juga boleh disimpan

untuk diminum perlahan-lahan. Yang terang sisa air ini paling lama hanya bisa bertahan selama

dua tiga hari.”

Mengawasi kantong yang kosong itu, berkata Oh Thi hoa: “Itulah air tinggalanmu sendiri, aku

tak mau minum. Putar badan lekas ia hendak tinggal pergi.

Coh Liu-hiang menariknya, katanya tertawa: “Jangan kau main purian dengan Ping-yan, kau

bisa tertipu bila marah-marah kepadanya.”

Tiba-tiba Oh Thi hoa pun tertawa lebar, ujarnya: “Hal apa yang kubuat marah sama dia,

kemarin malam, aku sudah dengar nanti sore dia sudah akan bisa mendapatkan air, cuma aku

sendiripun masih punya sepoci arak, kenapa aku harus minum airnya yang hitam berlumpur itu?”

Tak terasa Ki Ping-yan ikut tertawa, mengawasi ketiga sahabat karib yang sama terpingkalpingkal

sambil bergandengan lengan ini, seketika bangkit semangat Siau-phoa, lenyap rasa

takutnya. Ikut bersama tiga orang-orang gagah seperti mereka ini, apa pula yang perlu ditakuti?

Cuma raut muka Ciok Tho yang semakin lama semakin guram, kaku, orang satu yang punya mata

ini, seolah-olah sudah melihat malapetaka yang tak terlihat oleh orang lain bakal menimpa mereka.

Ki Ping-yan hanya mengulap sebelah tangannya, Ciok Tho segera menghentikan barisan ini,

unta-unta sama mendekam rebah, lekas Oh Thi hoa lompat turun dari punggung unta, langsung

lari mencari Ki Ping yan, tanyanya: “Kau yang menyuruh Ciok Tho menghentikan barisan, benar

tidak?”

“Memangnya kenapa?” balas tanya Ki Ping yan.

Oh Thi hoa heran, tanyanya: “Asal kau mengulap tangan, dia lantas tahu akan maksudmu?”

“Ya, begitulah!” Ki ping-yan mengiakan.

Semakin keras suara Oh Thi-hoa: “Tapi kau katakan dia seorang bisu, tuli dan buta, darimana

dia bisa melihat tanda ulapan tanganmu?”

Ki Ping-yan tertawa tawar, katanya, “sudah tentu aku punya caraku sendiri sehingga dia bisa

menangkap maksudku.”

“Kau punya setan apa? Kenapa tidak mau kau jelaskan?”

“Apa benar kau sendiri tidak mengetahui?”

“Hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya.”

Ki Ping-yan berputar kearah Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bagaimana kau?” berkata Coh Liuhiang

pelan-pelan: “Kau gunakan sebuah krikil untuk menyampaikan perintahmu, jikalau kau ingin

barisan berhenti, maka kau timpuk pundak kiri Ciok Tho, jikalau ingin barisan berangkat, kau

timpuk pundak kanannya.” lalu sambil tersenyum ia berpaling kearah Oh Thi hoa, katanya: “Cara

ini kukira bukan hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya, benar tidak?”

Oh Thi hoa angkat kedua tangannya datar ke depan, katanya tertawa kecut: “Kau bukan

sundel bolong, baru sekarang aku menyadari bahwa diriku ternyata tidak lebih pandai dari sundel

bolong itu.”

Tempat itu merupakan salah satu bagian dari padang rumput yang ditaburi pasir-pasir kuning

juga, tiada bedanya dengan tempat-tempat lain ditengah gurun pasir ini, cuma ada sesuatu yang

menyolok mata, adalah ditempat itu terdapat sepucuk pohon. Pohon yang tumbuh di pinggir

sebuah batu cadas yang sudah mengering juga, pohon itupun sudah layu dan kering.

Setengah harian Oh Thi hoa celingukan kian kemari, tanyanya tak tahan: “Di sini ada air?”

“Em!” sahut Ki Ping-yan manggut-manggut.

Kata Oh Thi hoa sambil mengelus batok kepalanya: “Dimana airnya, kenapa tidak kulihat?

Apakah otakku ini sudah tak mampu untuk bekerja, matakupun sudah lamur?” lalu ia pegang

lengan Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bicaralah terus terang kau sudah melihatnya belum?”

Coh Liu-hiang ragu-ragu, katanya: “Konon didalam gurun pasir terdapat sumber air yang

tersembunyi, di dasar pasir yang cukup dalam.”

“Tidak salah kau…” Ki Ping-yan urung bicara. Matanya memandang Oh Thi-hoa ingin bicara,

apa yang dia hendak ucapkan tentunya bukan omongan yang enak didengar kuping, tapi belum

lagi kata-katanya selesai, Oh Thi-hoa sudah angkat kedua tangannya pula, tukasnya: “Tak usah

kau katakan bicaraku akui aku tidak tahu apa-apa?” lalu ia mengelus batok kepalanya pula,

sambungnya: “Bukan semula aku cukup pintar? kenapa begitu bergaul sama kalian, aku lantas

jadi pikun, memangnya aku ketularan penyakit linglung orang lain?”

Tak tertahan Siau-phoa tertawa geli, timbrungnya: “Jikalau benar-benar Oh-ya ketularan

penyakit linglung, tentulah aku yang menulari kau.”

Ki Ping-yan menarik muka, jengeknya: “Mana mungkin kau menulari dia, dia malah jauh lebih

goblok dari kau.” belum habis ucapannya tak tertahan diapun tertawa keras.

Bersambung ke Jilid 15

JILID 15

Tapi tak lama mereka tertawa-tawa sudah satu jam mereka membuang waktu jerih payah

mengeduk pasir mencari sumber air, siapa tahu setitik airpun tidak mereka ketemukan. Ki Pingyan

menjublek duduk lemas di tempatnya seperti patung batu.

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas kepalanya, seperti hendak mengucapkan kata-kata

lelucon yang menggelikan, serta melihat keadaan Ki Ping-yan, seketika terpikir juga olehnya mara

bahaya yang segera akan menimpa mereka. Mana mulutnya bisa berkelakar lagi. Mana bisa ia

tertawa.

Sedapat mungkin Coh Liu-hiang bikin suaranya datar dan wajar, katanya :

“Coba kau pikir lebih seksama, adakah salah pilih tempat ?”

Ki Ping-yan melompat bangun, teriaknya : “Kau tidak percaya kepadaku?”

Coh Liu-hiang tahu saat ini hatinya tentu berpuluh lipat lebih pedih dari orang lain, tak diduga ia

melanjutkan kata-katanya, Ki Ping-yan sebaliknya seperti mendadak luluh dan lemas, badannya

menggelendot di batang pohon yang kering itu.

Siau-phoa tertawa dibuat-buat, katanya : “Sumber air di bawah pasir, ada kalanya bisa juga

menjadi kering, adakalanya pula nyasar ke jurusan lain, anggap saja yang berkuasa sedang mainmain

dengan kita, siapapun takkan bisa menentukan nasib sendiri.”

“Aku tahu.” ujar Coh Liu-hiang maklum.

Berkata Ki Ping-yan sambil mengawasi Coh Liu-hiang : “Jangan kau salahkan aku, aku… “

“Aku dapat merasakan perasaanmu, kalau aku jadi kau, bukan saja bisa marah-marah

kepadamu, mungkin sumbarku lebih besar.”

“Benar!” tukas Oh Thi-hoa riang : “Diwaktu seseorang sedih hati, kalau tidak marah-marah

kepada teman sendiri, kepada siapa dia harus marah? Jikalau teman baik itu tidak mau

memahami perasaannya, siapa yang mau memberikan pengertian ini ?”

Menghadapi ketiga orang ini, Siau-phoa merasa seakan-akan tenggorokannya tersumbat

sesuatu, katanya hambar serak : “Siaujin memberanikan diri turut bicara…, siapapun bila bisa

berkenalan dengan Coh-ya, dan Oh-ya berdua dialah seorang yang paling bahagia dan mendapat

rejeki dalam dunia ini.”

Tetapi pada saat itulah, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda yang dilarikan kencang.

Oh Thi-hoa terperanjat, sigap sekali reaksinya secara reflek dia bergerak hendak memapak

kesana. Lekas Coh Liu-hiang menarik pundaknya, katanya kereng : “Pada saat seperti ini ditempat

ini pula, jangan sekali-kali kita gegabah sembarangan bertindak, tenangkan dulu hatimu

menunggu perubahan apa yang akan terjadi ?”

Di sana, Ki Ping-yan, siau-phoa dan Ciok Tho sedang repot menarik unta-unta itu masuk ke

dalam galian, karena mencari sumber air tadi, maka galian pasir yang mereka kerjakan cukup

lebar dan dalam. Di depan galian ini terdapat batu cadas itu yang menutupi pandangan dari arah

yang berlawanan sana, di gurun pasir nan luas tak berujung pangkal ini, sungguh tiada tempat lain

yang lebih daripada galian ini untuk menyembunyikan diri.

Baru saja Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa menyembunyikan diri, lantas dilihatnya beberapa ekor

kuda gagah yang sedang berlari kencang bagai terbang, lambat laun bayangan mereka semakin

jelas ditengah pasir-pasir kuning yang berterbangan ditengah angkasa.

Beberapa ekor kuda itu berlari kencang ke arah mereka, orang-orang yang bercokol di

punggung kuda mendekam rata di punggung kuda, seolah-olah sedang lari dari sesuatu yang

menakutkan sedang mengejar mereka.

Tapi selepas mata memandang ke gurun pasir nan luas dan datar ini, matahari sudah mulai

doyong ke arah barat, memancarkan cahaya kuning yang cemerlang, kecuali beberapa ekor kuda

itu, di belakang mereka tak terlihat bayangan manusia atau kuda yang mengejar datang.

“Apakah yang terjadi?” teriak Oh Thi-hoa tertahan. “kenapa mereka lari menyingkir seperti

dikejar setan?”

Rona muka Ki Ping-yang membeku kaku amat menakutkan, katanya serak :

“Dalam gurun pasir sering terjadi peristiwa yang seram dan menakutkan serba misterius lagi,

asal urusan tidak menyangkut kami berlima, lebih baik kita anggap mata sendiri buta, anggap kau

tidak pernah melihatnya.

Tapi kuda-kuda itu berlari langsung menuju ke arah mereka.

“Jikalau menyangkut ke diri kita bagaimana ?” tanya Oh Thi-hoa.

Belum lagi Ki Ping-yan buka suara, kuda-kuda itu sudah kehabisan tenaga dan sama-sama

terjungkal roboh, orang-orang yang duduk dipunggungnya seketika berguling-guling, namun cepat

sekali mereka sudah berlompatan bangun.

Seluruhnya ada lima ekor kuda, tapi hanya ada empat orang, ke empat orang ini sama

berseragam sebagai Busu dari Tionggoan, pakaian ketat bergaman golok pendek, dari gerak-gerik

mereka kelihatan kepandaian mereka tentu tidak lemah.

Selama hidup Oh Thi-hoa boleh belum pernah dia melihat orang yang begitu mengenaskan

serba runyam lagi. Ke empat orang seluruh kepala dan badan sama berlepotan pasir dan debu,

sama-sama melototkan mata mengawasi teman-teman sendiri dengan napas ngos-ngosan,

tampak betapa takut dan jeri hati mereka yang membayang pada raut muka mereka, penulis yang

paling pintar menggoyangkan penapun takkan bisa melukiskan keadaan mereka saat itu.

Mengawasi tingkah laku dan keadaan ke empat orang ini, hati Oh Thi-hoa dan lain-lain menjadi

tegang. Bahwasanya sesuatu apakah yang begitu menakutkan pernah dilihat oleh ke empat orang

ini? Kenapa kelihatan begitu ketakutan?

Sekonyong-konyong terdengar lolong panjang dan jeritan yang menyakitkan hati, tahu-tahu ke

empat orang itu sama mencabut golok terus ditarikan saling bacok membacok seperti orang gila

yang kesurupan setan! Masing-masing orang keluarkan seluruh kepandaian permainan goloknya,

sampaipun setaker tenaga merekapun sudah diboyong keluar.

Tapi mereka seperti sedang latihan, hakekatnya di hadapan mereka seperti tiada orang. Yang

dibabat, dibacok golok-golok itu hanyalah pasri kuning yang beterbangan membumbung ke

angkasa. mereka sudah tumplek seluruh kekuatannya, ternyata bertempur melawan debu dan

pasir yang kosong, sudah tentu musuhnya itu selamanya takkan kena dibacoknya roboh.

Tak tertahan Oh Thi-hoa bersuara pula, “Apakah orang-orang itu melihat setan?”

Ki Ping-yan membenamkan mukanya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Siau Phoa bergidik, katanya gemetar, “Konon di gurun pasir terdapat iblis jahat yang tak

kelihatan bentuknya, suka makan jantung dan empedu manusia, mungkin mereka… mereka…”

“Jangan cerewet!” sentak Ki Ping-yan.

Siau Phoa kontan tutup mulut, badan semakin gemetar, gigipun beradu keras.

Dengan pandangan mohon pendapat, Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang

sebaliknya sedang arahkan pandangannya kepada Ciok Tho.

Orang yang sudah buta dan tuli ini, saat itu badannya sedang melingkar seperti ular, sedang

gemetar tak hentinya, memangnya kenapa pula dia?

Oh Thi-hoa merasa tapak tangannya berkeringat dingin, tak terasa keringat dingin membasahi

seluruh badan, gurun pasir nan luas tak kenal kasihan ini, ternyata benar-benar sering terjadi

banyak peristiwa-peristiwa yang begini seram menakutkan.

Waktu ia berpaling kesana, dua orang yang sudah roboh terkapar, dua orang yang lainpun

sudah hampir kehabisan tenaga, suara nafasnya yang memburu keras seperti kerbau hampir

disembeleh. Tapi asal sisa tenaga terakhir masih ada, mereka takkan berhenti, tarian golok

mereka semakin kencang.

Sekonyong-konyong Ki Ping-yan bersuara dengan suara dalam, “Itulah Peng-keng to-hoat.”

“Akupun sudah melihatnya, orang dari keluarga Peng mana mungkin bisa menjadi begitu

rupa?”

Setelah mengamati dengan seksama, Oh Thi-hoa ikut teriak tertahan, “Tidak salah! Itulah Ngo

hou-om-bun to tulen! Malah dinilai dari permainan ilmu golok dan lwekang ke empat orang ini

pastilah mereka terdiri dari murid-murid pandai yang punya nama dan tingkatan tinggi dalam

keluarga Peng itu.”

“Ngo-hou-toan-bun-to biasanya tidak diajarkan kepada orang luar,” ujar Ki Ping yan prihatin.

“Ke empat orang ini kebanyakan adalah putra atau keponakan Peng Hou, empat bersaudara dari

Peng-bun-hoat-hou (tujuh harimau dari perguruan Peng). Laki-laki berewok itu mungkin adalah

Peng It-hou.”

“Apakah Peng-bun-chit-hoa sekarang sudah mewarisi Pian-kiok milik Peng-hun?” tanya Coh

Liu-hiang.

“Ya!” Ki Ping-yang mengiakan sambil manggut-manggut.

“Kalau demikian, tentu mereka kemari melindungi sesuatu.”

“Tentu begitulah,” timbrung Siau-phoa. “Hanya orang-orang kalangan Piau-kiok yang sedang

melakukan tugasnya saja tidak menunggang unta di padang pasir.

Terdengar lolong jeritan seperti harimau kelaparan sebelum ajal, satu orang kembali terjungkal

terguling-guling.

Mendadak Oh Thi-hoa bangkit, serunya keras, “Peng Hun si tua itu orangnya tidak jelek, tak

bisa aku menonton putranya mati konyol seperti orang edan, aku hendak menolongnya.”

“Cara bagaimana kau hendak menolong dia?” tukas Ki Ping-yan. “Kau mampu menolong

mereka?”

Oh Thi-hoa sudah siap melompat dan kulit daging badannya sudah mengejang tegang itu,

seketika menjadi kendor. Sesaat melongo, belum lagi bersuara pula, orang ke empat itu sudah

kejungkal juga.

Berkata Coh Liu-hiang dengan suara dalam tenggorokan, “Kalau ke empat orang ini hanya

roboh karena kehabisan tenaga, tentu jiwanya belum ajal. Cuma mungkin…”

“Peduli mereka bakal mati atau tidak, paling tidak kita sekarang harus menengoknya kesana.”

“Sekarang belum boleh ke sana,” Ki Ping yan tidak setuju.

“Kenapa?” teriak Oh Thi-hoa, matanya bersungut, tanyanya, “Memangnya keempat orang

itupun pura-pura?”

Sudah tentu keempat orang ini takkan bisa bermain sandiwara, karena keadaan seperti itu

siapapun takkan bisa melakukan dengan pura-pura.

Kali ini Oh Thi-hoa sudah memperhitungkan dengan masak, hatinya punya keyakinan dan

punya pegangan, cuma ingin dia menunggu reaksi dan jawaban Ki Ping yan.

“Tentunya ke empat orang ini takkan jadi begini bila tanpa sebab, benar tidak?”

“Sudah tentu ada orang yang mencelakai mereka!” ujar Oh Thi-hoa.

“Orang mencelakai mereka tentunya dengan suatu sebab, ya tidak?”

“Besar kemungkinan hendak merebut barang yang mereka lindungi.”

“Kalau demikian, sekarang mereka sudah roboh semua, masakah orang-orang itu tidak akan

datang mengambil buruannya itu? Jikalau sekarang satu diantara kita keluar, bukankah bakal

menjadi musuh dan sasaran empuk mereka?”

“Tapi selepas pandang matamu, bayangan setanpun kau tidak melihatnya, memangnya orangorang

itu betul-betul bisa menghilang?”

Belum habis ucapan Oh Thi-hoa, tiba-tiba ia merasa sebuah bayangan hitam melayang di atas

kepalanya. Disusul angin kencang menderu, seekor elang besar terbang mendatangi dengan

cepat sekali, berputar sekali di atas sekeliling kuda dan orang-orang yang roboh itu, tiba-tiba

sayapnya kuncup. Elang itu menukik turun bagai meteor jatuh, dari punggung sebuah kuda ia

mematuk sebuah kotak, waktu pentang sayap terbang lagi, hanya sebentar saja kedua sayapnya

itu mengebas di angkasa. Bayangannya sudah semakin jauh dan menghilang di kejauhan sana.

Cepat sekali kedatangan elang ini, perginya pun mendadak, belum lagi Oh Thi-hoa menginsafi

apa yang terjadi, elang itu sudah terbang tak kelihatan lagi bayangannya.

“Suatu rencana yang amat sempurna,” puji Coh Liu-hiang, “cara kerja yang cepat, cekatan dan

lihay pula. Tanpa menggunakan tenaga seorangpun, sebuah kotak barang kawalan Peng-bun-chithouw

dengan gampang mereka rebut dan digondol pergi oleh seekor burung elang.”

“Kau kira barang mestika yang berada di dalam peti itu?” tanya Oh Thi-hoa.

“Kalau bukan mestika, memangnya kau kira daging babi?” Coh Liu-hiang tertawa.

“Kalau daging babi sih rada logis, kalau tidak umpama elang tadi utusan orang-orang itu,

memangnya dia bisa tahu kalau dalam peti itu berisi barang-barang mestika?”

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, ujarnya, “Sudah tentu di atas peti itu sudah diberi tanda

khusus supaya elang itu mengenalinya. Sudah tentu elang itupun sudah mendapat latihan yang

amat baik. Masakah kau tidak bisa pikirkan hal ini?”

“Agaknya penyakit pikunku memang bertambah berat.”

Orang-orang itu sudah berhasil dengan tujuannya,” timbrung Ki Ping-yan tiba-tiba, “tentu

takkan datang lagi. Kau ingin lihat keadaan mereka, sekarang boleh kau kesana.”

Tiga diantara empat orang itu sudah meninggal, hanya laki-laki berewok yang roboh terakhir,

dadanya masih bergerak turun naik, namun denyut jantungnyapun sudah amat lembah,

sembarang waktu bisa berhenti mendadak.

Oh Thi-hoa cekal mulutnya sampai terbuka, setengah botol sisa araknya dia tuang masuk ke

dalam mulutnya, jantung orang yang sudah hampir berhenti, baru mulai bekerja dan berdetak rada

keras.

Lekas Oh Thi-hoa bertanya, “Apakah kau Peng Ti hou? Sebetulnya kejadian apa yang telah

kalian alami?”

Pelan-pelan orang itu membuka kelopak mata, tampak oleh Oh Thi-hoa mata orang masih

menyorotkan rasa ketakutan, sebaliknya Coh Liu-hiang mendapatkan, kelopak mata orang secara

aneh dan luar biasa sudah membesar satu kali lipat dari biasanya.

Lama kelamaan nafas orang mulai keras dan memburu pula, sekuat tenaga meronta, agaknya

hendak berdiri, namun jari tangannya saja ia tak kuasa bergerak, seluruh badannya sudah lemah

lunglai, tak punya sedikitpun tenaga.

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, tanyanya keras, “Katakan, kau masih bisa

bicara tidak?”

Kalamenjing orang itu turun naik, akhirnya dari bibirnya yang sudah pecah kekeringan itu,

tercetus suara yang lirih, suara yang tidak mirip dikeluarkan dari mulut manusia. Itulah suara

teriakan kosong dan hambar, gemboran lirih yang putus asa. “Iblis jahat… setan iblis! Ribuan

ratusan iblis… bunuh!”

Keringat Oh Thi-hoa bercucuran, tanyanya pula lebih keras, “Mana ada iblis jahat? Iblis jahat

dimana?”

Biji mata orang ini melotot lempang ke arah depan, katanya dengan suara serak, “Jangan

harap kau bisa merebutnya! Kau… kau…” tiba-tiba ia meronta dan melompat dari pelukan Oh Thihoa,

terus menerjang ke depan, tapi hanya dua langkah, kembali terangsur jatuh, selamanya

takkan bergerak lagi.

Arak Oh Thi-hoa membangkitkan sisa tenaganya yang masih terpendam dalam badannya. Kini

sisa tenaga yang bangkit itupun sudah habis dipakainya.

Siau-phoa meloso lemas di atas tanah, katanya gemetar, “Dia sudah melihat iblis yang tak

kelihatan itu, disinilah tempatnya. Lari… tidak lekas kita melarikan diri, mungkin bisa terlambat.”

Oh Thi-hoa tahu mulut orang hanya mengoceh belaka, namun tak urung bergidik bulu

kuduknya waktu ia melihat muka Ciok Tho yang buruk seperti batu-batu keramik itu, ternyata

kinipun dihiasi butir-butir keringat segede kacang.

Di sana Ki Ping-yan sedang berjongkok memeriksa salah satu mayat, lama juga dia telah

memeriksa. Baru sekarang pelan-pelan ia berdiri, namun lama juga dia tidak bisa buka suara.

“Kau sudah menemukan sebab musabab kematian mereka?” tanya Coh Liu-hiang.

Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan, “Kehabisan tenaga, lapar dan dahaga, agaknya terkena pula

semacam racun yang amat aneh. Kadar racun itu agak mirip ganja, tidak membahayakan jiwa, tapi

cukup membuat pikiran orang gila seperti kerasukan setan.”

“Orang yang mencelakai mereka, mungkin pula orang yang hendak mencelakai kita. Cara

yang digunakan sama, dibuatnya dulu mereka kehabisan air, seorang yang lekas mati kekeringan

sering timbul bayangan khayal dalam pandangannya. Tapi sebelum mereka tiba di sini, mereka

sudah terkena semacam racun, maka khayal yang terbayang dalam pandangan mereka seperti

ada ribuan dan ratusan iblis jahat sedang mengepung dan menyerang mereka, maka mereka lari

terbirit-birit. Setelah tidak bisa melarikan diri, kemudian melawan mati-matian sampai titik tenaga

terakhir merekapun habis baru berhenti.”

“Kita… kalau kita selalu tak punya air minum, apakah juga bisa berubah seperti mereka?”

tanya Oh Thi-hoa terbelalak.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan tidak menjawab pertanyaan ini. Oh Thi-hoa pandang mereka

bergantian, lalu mengawasi mayat di tanah, akhirnya iapun tak bicara lagi. Selepas mata

memandang pasir kuning melulu. Tak berujung pangkal, takkan habis-habis dicapai. Tiada air,

tiada kehidupan, juga tiada harapan.

Siang hari yang membara itu akhirnya sudah silam.

Mereka angkut mayat-mayat kuda dan manusia ke dalam galian besar itu, dengan pasir pula

mereka dipendam begitu saja. Lalu mereka duduk di atas batu cadas, menghabiskan waktu sambil

menunggu munculnya sinar bintang.

Tiada yang bicara, mereka sama segan menggerakkan mulut.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kemana mencari air?” pertanyaan ini selalu bergolak

dalam relung hati Oh Thi-hoa, namun ia dalam hati tak diutarakan karena ia tahu umpama dia

utarakan isi hatinya, belum tentu ia mendapat jawaban.

Lapar dan dahaga, letih… berbagai macam perasaan yang bisa mengetuk hati, sekaligus

merangsang datang mengikuti datangnya tabir malam.

Siau-phoa ingin makan ransum kering, tapi disampuk jatuh oleh Ki Ping-yan. “Jangan makan,

setelah makan kau akan lebih dahaga dan tak tahan lagi.”

Oh Thi-hoa mengelus dada, mendadak tertawa, katanya, “Tadi waktu aku memboyong Peng-

It-hou, terasa olehku bagian pundaknya menonjol keluar sesuatu yang bundar dan keras,

bentuknya seperti telur ayam. Coba katakan, aneh tidak?” ucapannya ini sebetulnya cuma

mengada-ada saja, dia sendiri tahu kata-katanya ini terlalu iseng.

Ki Ping-yan mendadak bergegas bangkit, langsung ia menghampiri Ciok Tho dan duduk di

sebelahnya, kedua tangan mereka saling genggam dengan erat, duduk berhadapan, siapapun tak

bergerak.

Di tengah tabir malam yang semakin gelap ini, kelihatan rona muka Ciok Tho semakin seram

menakutkan.

“Coba lihat, apa yang sedang mereka lakukan?” tercetus pertanyaan dari mulut Oh Thi-hoa

yang suka usil ini.

“Mereka sedang bercakap-cakap,” sahut Coh Liu-hiang.

“Bicara?” Oh Thi-hoa menegas heran.

“Kalau ingin bicara dengan seorang yang buta, tuli dan bisu, sudah tentu harus menggunakan

cara yang aneh, mungkin mereka sedang menulis sesuatu dengan gerak cepat di tengah tapak

tangan masing-masing, untuk tukar pikiran masing-masing!”

“Betapapun memang otak malingmu itu lebih cerdik, agaknya apa saja sudah kau ketahui ya!”

“Aku hanya ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan sekarang,” ujar Coh Liu-hang

tertawa getir.

Tampak akhirnya Ki Ping-yan berdiri dan jalan kembali. Sikapnya lebih prihatin, ia duduk di

pinggir Coh Liu-hiang, lama