Perguruan Sejati

New assaPicture

Perguruan Sejati

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan K.L

 JILID 1

Sebuah sungai yang jernih, berliku-liku mengitari kaki gunung. Sepanjang tepian tumbuh dengan subur pohon-pohon liu yang rimbun. Di bagian sungai yang sempit merentang sebuah titian kecil, menghubungi undakan tangga batu sebuah gedung besar, yang berdiri dengan megah di lereng gunung.

Rumah itu berpintu hitam bertembok kuning, di sebelah kanan dan kiri dari pintu muka

terdapat sepasang singa-singaan dari batu. Di bagian timur gedung itu terdapat paviliun yang

digunakan sebagai tempat belajar.

Saat ini diruangan itu guru tua. Akibat teriknya matahari, hawa menjadi panas dan

mendatangkan rasa mengantuk bagi guru itu. Sedangkan suara pelajar-pelajar semakin lama

semakin kendur tapi masioh terus terdengar !

Seorang pelajar mengawasi pada gurunya, lalu menyikut kawan di sebelahnya : “Toa Sun Cu,

sudah waktunya, tunggu apa lagi ?”

“Tunggu sebentar lagi, biar dia pulas benar,” jawab Toa Sun Cu.

“Lihat pit yang dipegang sudah jatuh kelantai, pasti sudah pulas !”

Toa Sun Cu tersenyum girang, digoyangkan tangannya, suara membaca semakin perlahan dan

hilang tidak terdengar lagi, suasana menjadi sunyi. Toa Sun Cu memperhatikan dengan

seksama untuk mengetahui apakah gurunya sudah pulas benar atau belum, setelah yakin guru

itu sudah pulas. Dipeloporinya kawan-kawannya meninggalkan seorang-seorang dengan tertib

tanpa mengeluarkan suara.

Seorang anak berbaju biru tidak turut keluar ia masih tekun dengan bukunya. “In Tiong Giok

!” Toa Sun Cu “ engkau tidak turut ?”

2

“Kalian saja yang pergi, aku masih mau menghafal !”

“Baiklah, nanti kuberi seekor ikan besar, asal saja melindungi kami jika guru marah2 !”

Sebelum berlalu ia masih sempat menjulurkan lidah mengejek yang tidur menggeros-geros.

Baru saja anak-anak berlalu, sang guru membuka matanya sambil tersenyum.

“Tiong Giok marilah kita mulai dengan pelajaran yang benar !” Bagaimana latihan ilmu

dalammu apakah ada kemajuan ?”

“Ya suhu, bahkan telah kunulai kepelajaran Hoan-pou-kuil-cin atau menghilangkan kepalsuan

mencari kebenaran. Hawa sejati rasanya bergolak keras dan mendatangkan rasa sakit.”

“Itu tak apa-apa, nah coba perhatikan padaku!”

In Tiong Giok menyedot napas dalam2 lalu mengeluarkan jeriji kanannya ditotokan kepada

buku yang dipegang gurunya. Siuut ! pukulannya mendatangkan suara dan “beng” berbunyi

sekali, buku yang dipegang gurunya terpental beberapa depa. Waktu diperiksa buku itu telah

berlubang, dilingkaran lubang itu hitam seperti kebakar !

“Ah anak ini luar biasa, dalam waktu lima tahun sudah mencapai taraf ini, waktu aku belajar,

selama delapan tahun tidak selihay dia. Dasar maunya Allah didunia persilatan akan muncul

seorang gagah perkasa. Hatinya merasa girang tapi tidak diutarakan pada parasnya. Ia hanya

menyruh muridnya mengeluarkan buku berbahasa Sangsekerta. “Apakah bahasa asing ini

sudah kau kuasai ?”

“Selama lima tahun kupelajari mati-matian dapat dikatakan sudah kukuasai semua !” jawab In

Tiong Giok.

Sang guru menngujui kepandaian muridnya dalam bahasa Sangsekerta seecara lisan mereka

bertanya jawab dengan tenangnya. Sementara itu diluar terdengar suara Toa Sun Cu dan

kawan-kawannya.

“Tumben mereka kembali secepat ini,” kata sang guru yang terus berlagak tidur lagi seperti

tadi. In Tiong Giok memasukan buku pelajaran bahasa Sangsekertanya kedalam saku. Toa

Sun Cu dating paling dulu, napasnya senen kemis, seolah-olah ia lupa telah berbolos. Datangdatang

berseru : “ Suhu ! Suhu lekas.. lekas lihat ! Singa batu..”

Guru itu pura-pura kaget dan bangun : “Ada apa ribut ribut ?

“Itu…itu singa batu menangis !” jawab Toa Sun Cu.

“Masakah singa batu bisa menangis ?”

“Benar suhu !” jawab yang lain dengan serentak.

“Menangis sampai keluar air mata darah !”

Toa Sun Cu menjelaskan.

“Coba kita periksa” kata sang guru sambil melangkah keluar, diikuti murid-muridnya dari

3

Apa yang diterangkan Toa Sun Cu memang benar, bahwa singa-singaan batu mengeluarkan

air mata darah. Guru itu menuil darah itu dan menjilatnya dengan lidah. Ia merasakan dan

tahulah, darah itu darah manusia. Dengan rasa kaget ia celingukkan keempat penjuru. Tapi

tidak mendapatkan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan.

“Tentu ada seseorang yang luka tangannya dan memeperkan kemata singa-singaan ini. Toa

Sun Cu ambil kain basah dan bersihkan mata singa-singaan ini. Sesudah itu kalian boleh

pulang, pelajaran hari ini sampai disini saja.”

“Suhu…” kata In Tiong Giok. Dengan pandangan tajam guru itu mengawasi muridnya,

bibirnya bergerak perlahan, lalu membalik badan kembali kedalam kelas.

Diluar tahu kawan-kawannya In Tiong Giok dapat menangkap percakapan gurunya yang

memakai ilmu mengantar suara atau Toan Im. Guru itu memesan kepadanya, malam ini

jangan kemana-mana biarpun mendengar keributan apapun.

Ia menjadi heran, diawasinya guru itu dari belakang, segera juga berbayang-bayang kejadian

lima tahun berselang didepan matanya. Saat itu gurunya pertama kali dating. Ia dasn kawankawannya

sedang asyik mandi disungai. Dengan penuh perhatian guru itu mengawasi mereka

berenang, tapi dengan tiba-tiba is dipanggil naik.

“Siapa namamu nak ? Tahun ini umur berapa ?” tanyanya lemah lembut.

“Namaku In Tiong Giok masa suhu lupa ? Kini berusia tiga belas tahun !”

“Tiong Giok ? Tiga belas tahun ? Itu tanda luka sejak kapan adanya ?”

“menurut ibu sejak kecil sudah ada.”

“Apakah ibumu masih ada?”

Tiong Giok sungguhpun menjawab, hatinya merasa dongkol atas pertanyaan yang kurang

pantas : “Suhu kenapa berkata begitu ? Yang mengundang suhu kemari adalah ayah dan

ibuku, kenapa bertanya lagi ?”

Sang guru berkemak kemik seorang diri.

“Tanda itu…tiga belas tahun…mungkinkah di dunia ini terjadin hal serba kebetulan ?

Ah,…tak mungkin…” Ia berpaling kepada Tiong Giok sambil tersenyum memukul jidatnya

sndiri : “Ha ha ha jangan heran nak, hari ini otakku kurang beres. Sebenarnya bukan apa-apa,

Aku ngeri melihatmu mandi di sungai yang deras, kuatir terbawa hanyut ! Lekaslah pakai

bajumu !”

Kenapa guru itu memperhatikan demikian, terhadap tanda luka di pundaknya ? Kenapa

memberikan pelajaran tenaga dalam dan bahasa Sangsekerta ? Pertanyaan demi pertanyaan

yang tidak terjawab memenuhi benak hatinya : sering ia bertanya soal itu, tapi tak pernah

mendapat jawaban dari gurunya. Dalam lima tahun guru itu sungguh-sungguh mengajarf

dirinya : mula pertama mendatangkan rasa heran, lama kelamaan menjadi biasa lagi.

Malam harinya Tiong Giok tidak bisa tidur bulak balik ia berpikir. “Kenapa singa-singaan itu

bias mengeluarkan air mata darah ? Apa yang dimaksud dengan perkataan keributan” dari

guru itu ? Sungguhpun guru itu melarangnya ia keluar kamar, harinya sudah siang-siang

meninggalkan kamar itu. Tapi semalaman telah berlalu dengan tenang tanpa suatu kejadian

apapun, Baru saja matahari terbit, ia sudah keluar kamar menuju keruang belajar sambil

berseru-seru : “Suhu! Suhu! Suhu!”

4

Begitu masuk ia melihat gurunya sedang memangku tangan berdiri tegak dengan tenang,

memandang kedepan tembok.

Tiong Giok diam-diam menghampiri gurunya, begitu ia memandang ketembok yang diawasi

gurunya, tak alang kepalang kagetnya. Kiranya ditembok itu terlihat tujuh semut mati tertusuk

jarum halus !

Sang guru menatap terus kepada semut-semut itu, dan terdengar ia berkata perlahan. “Dua

puluh tahun tidak bertemu, nyatanya sudah maju banyak…”

“Suhu!” tiba-tiba In Tiong Giok bertanya penuh heran.

“Oh,” jawab guru itu seraya mengebutkan lengan bajunya ketembok, jarum-jarum berikut

semut berguguran jatuh. Dengan lengan baju jarum-jarum itu digulung secara hati-hati. Ia

mengangguk kepada muridnya. “Mari kesini!”

Begitu masuk kedalam kamar, guru itu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Jarum-jarum tadi

dimasukkan ke dalam. “Kemauan Tuhan tidak bisa ditentang, tapi biar waktu itu tinggal

sehari, masih dapat dipergunakan sebaik-baiknya!”

“Maksud suhu bagaimana?”

“Jangan bertanya lagi, waktu sangat berharga. Kita sebagai guru dan murid selama lima

tahun, selama itu kita hidup bersama-sama, tapi mulai kini, aku sebagai guru akan

memberikan dua macam ilmu membela diri! Sungguhpun ilmu ini bukan pelajaran yang luar

biasa tapi sangat berguna untuk dikemudian harimu. Maka itu segala keheranan dan

kekusutan pikiranmu kesampimgkan semua, konsentrasi pikiranmu, dan sedapatnya bisa

mengingat pelajaran ini. Sang guru segera menguraikan semacam ilmu yang bernama Kiu

Toan Bie Cong Po atau Sembilan putaran langkah gaib. Lalu disusul dengan semacam ilmu

lagi yang bernama Cap Jie Siang Liong Ciu atau dua belas macam ilmu menangkap naga.

Cara sang guru memberikan pelajaran lain dari biasa, begitu tegas dan mendetail, juga minta

dipraktekkan saat itu juga, setiap kesalahan kecil yang dilakukan mendatangkan makian dan

teguran pedas, sifat welas asih dan sabarnya seperti hilang. Seolah-olah ilmu pelajaran yang

diturunkan itu, harus ditelan muridnya saat itu juga. In Tiong Giok memusatkan segala pikiran

pada pelajaran, sedikitpun tak berani berpikir kearah lain.

Dua pelajaran yang diuraikan sekali itu sudah memakan waktu sampai tengah hari. “Makan

dulu lekas, sekalian beritahu Toa Sun Cu dan yang lain hari ini libur. Setengah jam kemudian

kita lanjutkan ilmu pelajaran ini.”

Seharian penuh guru dan murid tidak keluar dari ruangan belajar, mati-matian memburu

waktu, hal ini membuat nyonya In merasa kuatir dan menitahkan pelayannya dating

menjenguk. “Sian seng nyonya mengatakan ilmu pelajaran memang penting, tapi

kesehatanpun sangat penting, nyonya mengharapkan Kong tju beristirahat, besok baru belajar

lagi.”

5

Guru itu menarik nafas panjang dan berkata. “Ya, memang apa yang diperkatakan nyonya

memang benar, nah Tiong Giok engkau boleh beristirahat, besok kembali lagi kita lanjutkan

pelajaran ini!”

In Tiong Giok segera berlalu, tapi baru saja kakinya melangkah pintu, sang gurusudah

memanggilnya lagi. “Muridku, sebelum tidur pikirkanlah masak-masak, jangan sampai capai

lelah yang menjadi guru hilang percuma! Ini sepucuk surat simpan baik-baik, sebelum fajar

menyingsing, jangan dibuka…” Kata-katanya tidak diucapkan sampai selesai, sedangkan air

matanya tampak tergenang memenuhi kelopak matanya. “Suatu saat anak naga akan terbang

ke angkasa, karena ia bukan cacing dilumpur. Murid yang baik pergi istirahat!” Kata-kata

yang terakhir di ucapkan berbareng sedu sedatnya.

Malam itu In Tiong Giok tidak bisa pulas, pikirannya selalu berputar pada kejadian tadi siang,

kelakuan gurunya hari itu sangat luar biasa, membuatnya tidak habis berpikir. Ia merasakan

sang guru itu pertama kali berbuat demikian selama lima tahun. Mungkinkah soal singa batu

mengalirkan air mata darah merupakan alamat buruk dan bisa mendatangkan bencana?

Ia ingat pada surat gurunya, dibawanya ke bawah sinar lampu, disampulnya tiada tulisan apaapa,

sedangkan didalamnya bukan seperti kertas surat: keras dan ganjil. Surat apa ini ?

Kenapa harus menantikan esok baru boleh di buka ?

Mendadakan saja, keinginan tahu jiwa kecilnya menggolak dan sukar ditahan. “Suhu

menyerahkan surat ini tentu ingin berbicara denganku, tapi kenapa harus menanti sampai

besok, bukankah besok bertemu muka lagi dan bisa bicara langsung, kenapa harus memakai

surat? Surat ini untukku? Ia berpikir lagi, segera bantahan keluar dari dirinya sendiri, tidak !

Biar bagaimana tidak boleh kubuka sebelum pagi, sebagai murid harus taat pesan guru !

Otaknya berjalan terus, Tiong Giok belum juga tidur, pikirannya masih tetap berkecamuk

antara buka dan tidak. Dengan perasaan ingin tahunya yang berlebih-lebihan, surat itu

dibukanya. Di dalam terlihat surat dari kertasbiasa dan sebuah sampul surat dari kulit

kambing yang tertutup rapat. Agaknya seperti surat rahasia saja, dan diluarnya tertulis. Untuk

Thay Cin To Tjiang di Tay Heng San. Siapa Thay Cin To jin ia tidak kenal, maka surat itu

diletakkannya. Ia meneliti surat dari kertas biasa, baru saja membaca sebaris, hatinya sudah

kaget tak keruan. Karena itulah surat perpisahan dari gurunya yang berbunyi kurang lebih

seperti berikut, Muridku yang baik, engkau tak perlu bersedih hati, karena pepatah

mengatakan tiada suatu pesta tanpa perpisahan, demikian juga antara aku dan engkau. Sebagai

guru, aku mengetahui apa yang engkau pikirkan selama lima tahun tentang diriku, demikian

juga dengan aku terhadap dirimu. Bahkan sampai kini soal yang ingin kuketahui masih

merupakan teka-teki yang belum terpecahkan.

Muridku engkau anak yang cerdas, tentu mengetahui juga apa sebabnya singa batu

mengucurkan air mata darah ? Kini boleh kuterangkan, itulah perbuatan dari seorang

musuhku, musuh itu memiliki kepandaian tinggi, ia mencariku sudah dua puluh tahun

lamanya, kini baru bertemu, maka itu pertempuran antara hidup dan mati tidak dapat

kuelakkan. Tapi bagaimanapun tak usah engkau kuatir. Biarpun suhu itu sudah tua akan tetapi

masih percaya takkan dikalahkan, hanya suatu soal saja yang membuatku menyesal, kalah

ataupun menang tidak bisa kembali berkumpul denganmu. Hanya kita yakin, disuatu saast

kita bisa bertemu lagi, maka tak perlu engkau sedihkan perpisahan ini.

6

Sebenarnya sudah kusediakan waktu tujuh tahun untuk menurunkan segala kepandaianku

kepadamu, tapi apa mau dikata sebelum sampai waktunya harus berpisah. Sungguhpun begitu

sebagai orang yang cerdas dan berbakat, engkau dapat melatih sendiri segala pelajaran yang

kuberikan, kudoakan engkau akan berhasil. Kecuali itu kuminta, pertama tama engkau pergi

ke Tay Heng San, dan ingat selama di perjalanan engkau harus menjaga tanda luka di pundak

kiri jangan sampai diketahui oleh orang, karena bisa menbahayakan jiwa. Dan kedua bila ada

orang yang menanyakan usiamu harus menambah dua dan jangan mengatakan yang

sebenarnya. Ketiga ilmu Hiat Cie ling (jari-jari berdarah) jika tak sampai terdesak sekali

jangan dipergunakan.

Empat, begitu bertemu dengan Thay Tjin Tojin harus berlaku hormat. Jika ia menanyakan

nama suhu, engkau boleh mengatakan “Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin dari

Pegunungan Salju.” Ia akan mengerti sendiri. Lima tahun kita bersama2, kini harus berpisah

untuk ini ingatlah pesanku yang terakhir. “Laki-laki sejati harus berani menghadapi hidup.”

Dibaris terakhir tiada surat, hanya terdapat garis-garis bulat yang berdempetan.

Begitu In Tiong Giok selesai membaca surat segera ia lari keluar sambil berseru : “Suhu!

Suhu!”

Dipagi sunyi, sinar surya baru saja terlihat diufuk timur dengan samar-samar, sekeliling masih

terbenam kesunyian. In Tiong Giok berlari kearah timur dimana gurunya tinggal. Ia masuk

dan melongo, kamar telahj kosong, gurunya telah pergi tanpa pamitan. Tiada terasa lagi air

matanya bercucuran.

Dengan pandangan guram, ia mengawasi surat kulit kambing untuk Thay Tjin To Djin di Tay

Heng San. Ia tidak mengenal siapa Thay Tjin To djin itu, hanya tahu bahwa surat itu

mengandung rahasia besar, untuk kehidupannya hari kemudian. Ingin ia mengetahui

selekasnya rahasia didalam kulit kambing itu, setelah terpekur agak lama juga, sesuatu

keputusan telah di ambilnya… akan meninggalkan rumah berangkat ke Thay Heng San.

*****

Rumah makan Tiang Thay di kota Hek Ciu sang,at terkenal akan panggang ayam dan

panggang bebeknya, maka itu tidak heran banyak kaum pelancong dari dekat maupun jauh

yang kesitu, untuk mencicipi kedua masakan itu. Saat ini baru tengah hari, tepat waktunya

orang makan, seratus meja lebih dari rumah makan itu yang terdapat di loteng maupun di

bawah telah penuh para tamu.

Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara sepatu kuda, dua laki-laki gagah dengan cepat sudah

turun dari kudanya. Yang jalan di depan mukanya berewokan, sedangkan yang satu lagi

mukanya pucat, tubuhnya kurus. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dan menyoren

pedang dipinggang. Pemilik retoran begitu melihat kedatangan dua tamu, wajahnya agak

berubah, cepat-cepat meninggalkan tempat duduknya, menyambut dengan terbungkukbungkuk

“Liok-ya dan lie-ya selamat siang, bagaimana baik-baikkah selama ini ?”

“Apa yang jadai baik ? Tidakkah kau tahu hampir-hampir aku gila karena mendongkol !”

jawab si brewok dengan kasar.

7

“Ya, harap Lie ya jangan gusar, mari minum arak untuk menghilangkan kejengkelan !” kata si

Tauke dengan tersenyum.

“Ya sudah jangan bicara yang tidak keruan kedatanganku kesini sudah tentu ingin minum

arak sediakan lekas !” kata sibrewok dengan kasar.

“Lo lie tak usah meladeni mereka, urusan kita sendiri belum beres, mari kita makan

secepatnya, dan menjelaskan terus pekerjaan kita,” kata si kurus pucat.

Atas kedatangan dua orang ini, suasana ramai dirumah makan menjadi sepi, para tamu makan

sambil tunduk dan tidak berkata-kata, agaknya semua tamu merasa jeri terhadap dua orang

Diantara sekalian tamu, terdapat seorang muda sederhana. Sedang makan dan minum denga

enaknya. Seorang pelayan denga hormat membungkukkan badan sambil memohon : “Benarbenar

maaf, dapatkah Yuan memberi muka kepadaku agar pindah kemeja sebelah duduk

bersama dengan Tuan ini? Hal ini terpaksa dilakukan kaena tamu keliwat banyak.” Sehabis

berkata, pelayan itu tanpa minta persetujuan lagi, segera memindahkan makanan dan

minuman kedua tamu itu kemeja yang berada disebealah.

Anak muda itu nampaknya tidak puas dan menunjukkan perasaan gusar, untung siorang tua

dengan sabar mencegahnya: “Kongcu tak perlu gusar, orang yang bepergian, kurang sedikit

lebih sedikit tak apa-apa, mari kita pindah.”

Pemuda berbaju biru menoleh kemeja sebelah, dilihat seorang laki berusia tiga puluh enam

tahun, mengenakan pakaian sastrawan, bermata sipit berhidung bengkung, wajahnya penuh

ciri kelicikan. Membuatnya ragu-ragu sejenak. Sedangkan laki-laki itu telah bangun dan

merangkapkan kedua tangannya mempersilahkan duduk: “Kebetulan duduk sendirianpun

merasa sepi, jika tidak keberatan marilah kita duduk bersama-sama.”

Agaknya perkataan laki-laki itu membuat pemuda berbaju biru merasa likat, segera membalas

hormat dan duduk: “Ah, mengganggu Saudara saja, lagi pula dua tamu itu sok betul…”

“Ssst kuharap Lotee mengerti, mereka adalah orang-orang Pok Tian Pang (Perserikatan

pemecah langit), kita sebagai sastrawan yang lemah, tak baik bertengkar dengan meereka!”

Sehabis makan laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Pang Hui, seorang Siucay

pengembara, dan iapun minta kenal dengan sipemuda dan orang tua itu. Agaknya sipemuda

kurang senang terhadap teman semeja itu, ia hanya menjawab singkat: “Namaku In Tiong

Giok, dan orang tua ini adalah pembantu rumahku yang setia!”

Pang Hui banyak bicara kebarat ketimur tak henti-hentinya. Hal ini membuat In Tiong Giok

sebal dan menyesal bisa duduk semeja dengaannya. Biarpun Pang Hui banyak bicara dan

bertanya ini itu, hanya mendapatkan jawaban singkat dan tawar. Karena disamping rasa sebal

kepadanya, perhatiannya lebih banyak dicurahkan kepada dua orang Pok Thian Pang.

Siberewok dan sikurus pucat begitu duduk, segera mengalir makanan dan minuman semeja

penuh. Sambil makan kedua orang itu sambil memaki-maki orang lain, nampaknya sedang

mendongkol benar-benar.”

8

“Ah sialan betul, segala golok dan pedang mudah ditangkis, kenapa kemendongkolanku sukar

dilupakan? Aku orang she Lie hidup puluhan tahun tapi baru kali ini mengalami peristiwa

semacam ini. Yang menjadi atasan kita tahunya setiap hari makan enak dan main perempuan,

sedikitpun tidak mengetahui kesulitan kita, taunya salah sedikit maki-maki dan marahmarah.”

“Tapi tidak bisa menyalahkan atasan kita, iapun mendapat perintah dari Kangcu, engkau

jangan melihat dia galak dan garang, jika sampai dipusat tak ubahnya seperti kura-kura,

kepalanya ngerepot dan lebih-lebih dari kita.” kata sikurus pucat. “Tapi akupun heran kenapa

memerintahkan kita mengerjakan hal yang aneh pikirlah didunia ini berapa banyak pemuda

berusia delapan belas tahun ? Kitapun tak bisa melakukan pemeriksaan satu-satu sambil

membuka baju mereka untuk melihat ada tandanya atau tidak.

“Sabarlah tak usah marah-marah terus, engkaupun harus hati-hati, ini tempat umum,

sedangkan tugas kita harus dirahasiakan betul-betul.

Sibrerewok kaget juga mendengar peringatan temannya, ia celingukan keempat penjuru lalu

duduk lagi sambil berkata keras : “Ya baiklah tidak kukatakan lagi, mari minum !”

In Tiong Giok yang mendengar percakapan mereka menjadi heran sekali, diam-diam ia

menjadi kaget, karena ia tahu pundak kirinya terdapat tanda dan usianyapun delapan belas

tahun. “Untuk apa mereka mencari pemuda itu?” pikirnya dan diam-diam berlaku waspada

pada orang Pok Tian Pang.

Siberewok menyenggol temannya sambil berkata: “Hei, Lo Liok bukankah engkau

mengatakan di penginapan Hong Sin ada pemuda yang patut dicurigakan ? Tapi aku merasa

inipun sia-sia saja, karena berulang kali kita melakukan kesalahan mencurigakan orang yang

tidak bersalah. “Mari kita berangkat.”

“Sekali ini pasti tidak salah, kaena Cu Lay cu melihat denga kepala sendiri waktu pemuda itu

mandi, dipunggungnya terlihat sebuah tanda.”

“Biarpun dipunggungnya ada tanda jika saat ini usianya bukan delapan belas tahun, bukankah

sama denga nol ?”

“Maka itu kita bekerja harus hati-hati.” Kata Skurus pucat, “Sebelum kita menangkap kita

Tanya dulu usianya, dan memaksanya memperlihatkan tanda dipunggungnya, jika benar

segera kita tangkap, jika tidak ya kita lepaskan!”

“Ya benar, pendeknya kalau sekali berhasil, kita akan mendapat uang banyak, dan bisa pergi

cuti untuk bersenang-senang.”

“Kalau sekali ini berhasil kitapun bisa ikut mencari pemuda yang pandai bahasa Sangsekerta

untuk diajukan kepada Pangcu, karena kudengar barang siapa bisa mencari orang yang pandai

bahasa itu akan mendapat upah besar, dan kitapun bisa naik pangkat!”

“Ah sudahlah jangan membicarakan hal itu, mari kita kerjakan yang berada didepan mata.”

Mereka berlalu tanpa membayar.

9

“Ah benar-benarkah mereka mencari orang yang pandai bahasa Sangsekerta?” kata Pang Hui

tanpa terasa. Iapun segera pamitan dari In Tiong Giok dan cepat berlalu.

“Apakah Pang Heng pandai bahasa Sangsekerta?” Tanya In Tiong Giok.

“Ah tidak !” katanya seraya memanggil pelayan. “Berapa semuanya?”

“Dua ketip empat sen.”

“Hitunglah jadi tiga ketip, uang ini sekalian masukkan kedalam rekening In Kong Cu,

lebihnya enam sen boleh kau ambil.”

In Tiong Giok merasa dongkol, ia tidak keberatan untuk membayarkan makanan Pang Hui,

tapi caranya yang berutal dan kurang ajar itu membuatnya mendongkol, sehingga timbul

penilaiannya bahwa Pang Hui lebih busuk dari orang-orang Pok Tian Pang.

“Apakah orang she Pang itu adalah langgananmu?” tegur Tiong Giok pada pelayan.

“Bukan, baru beberapa hari ini saja ia sering dating makan disini.

Pang Kongcu itu orang aneh, setiap makan tidak lebih dari tiga ketip, dan selalu ia makan

dengan kawannya, dan selalu dibayar!”

Hanya hari ini ia datang sendiri. Dan kebetulan pula harus Kongcu yang membayari.” Disini

banyak temannya ia tinggal dihotel Hong Sing…”

Begitu mendengar perkataan Hong Sing, Tiong Giok tergerak dan cepat-cepat menyelak:

“Jauhkah tempat itu dari sini?”

“Tidak, belok dari gang kecil yang didepan sudah sampai !”

In Tiong Giok segera memesan pada In Hok: “Tunggu disini sebentar akau mau kesana.”

Orang tua itu jadi melongo. “Kongcu mau kesana mari kutemani.”

“Tidak usah, hanya sebentar, jika dalam waktu setengah jam tidak kembali engkau boleh

menyusul,” kata Tiong Giok yang segera tanpa menunggu jawaban lagi dari pengikutnya.

“Sesampainya didepan pintu hotel, Tiong Giok tertegun sejenak dan berpikir : “Saat ini baru

jam dua tengah hari, mungkin orang-orang dari Pok Tian Pang berani memeriksa tamu hotel

dengan sewenang-wenang. Dan apa tujuan mereka memeriksa orang muda berusia delapan

belas tahun denga tanda dipunggungnya itu” Lebih lebih mengingat Pang Hui yang

menjemukan, ia tidak masuk, emlainkan menantikan didepan hotel sambil mondar-mandir.

Tak jauh dari diri terlihatnya banyak orang sedang berkerumun, seolah-olah ada pengumuman

penting dari yang berwajib. Begitu ia mendekat terdengar salah seorang berkata : “Ah ini

rejeki nomplok, saying kita tidak mampu, bagaimana kalau kita beritahu Tan pocu, dia orang

terpelajar, pasti bisa melakukan pekerjaan ini !”

10

“Ha ha ha,” yang lain tertawa. “Memang dalam soal pengetahuan. Ia lebih unggul dari kita,

tapi dalam hal ini iapun tak bedanya dengan kita.”

“benar,” sahut yang lain lagi. Kuingat Cie Sian-seng. Ia pedagang keliling, sedikit banyak

menguasai bahasa asing denga baik, coba suruh dia, siapa tahu…”

“Apa? Hm, memang ia bisa berkata-kata sedikit bahasa asing, yang lucu orang asing sendiri

tidak mengerti apa yang di ucapkannya ! Apalagi dalam pengumuman ini terang-terang

mencari seorang yang pandai bahasa Sangsekerta.”

Tiong Giok menyelak diantara orang banyak sambil bertanya: “Cuwie, sebenarnya apa sih

yang dikatakan rezeki nomplok?”

“Kongcu sebagai pelajar, mungkin bisa juga bahasa Sangsekerta. Untuk ini akan mendapat

sepuluh ribu tail emas, didunia tidak ada cara mencari uang yang lebih mudah dari ini !”

“Apa susahnya dengan bahasa Sangsekerta, aku In Tiong Giok sejak usia tiga belas tahun

sudah belajar bahasa ini ?”

“Benar-benarkah Kongcu mengerti?” yanya seorang setengah percaya.

Dalam pengumumam itu dikatakan bahwa Ngo Liu Cung (perkampungan Ngo Liu) mencari

seorang penterjemah yang mahir dalam bahasa Sangsekerta, jika benar-benar orang itu bisa

dipakai akan diberi honorarium sepuluh ribu tail emas. Dan untuk orang yang bisa

memcarikan tenaga yang dibutuhkan itu akan mendapat upah lima puluh tail perak.

“Maafkan aku bukan orang sini, dapatkah Cuwie menunjukkan jalan menuju Ngo Liu Cung

?”

“Tak usah Kongcu pergi jauh-jauh kedua orang itu adalah dari Ngo Liu Cung!”

Tiong Giok menoleh kearah yang ditunjuk, benar saja terlihat dua orang sedang ke hotel Hong

Sing dengan tergesa-gesa. Kedua orang itu setelah ditegasi bukan lain dari pada Si berewok

dan Si kurus pucat yang diketemukan dalam restoran tadi. Cepat-cepat ia melangkah ke hotel.

Kedua orang itu baru sampai didepan pintu hotel, berpapasan dengan seorang muda

berpakaian perlente, hampir mereka saling tubruk.

Dengan sopan santun pemuda perlente memberi hormat dan menghaturkan maaf. Tapi kedua

orang itu bukan saja tidak membalas hormat, melainkan mendelik dan bertanya dengan kasar :

“Hei engkau mau kemana?”

“Mau keluar sebentar, jie wie ada perlu apa”

“Tidak apa-apa, hanya mau bicara sebentar denganmu,” kata sikurus pucat dengan dingin.

“Hal apa yang hendak jie wie bicarakan,” kata sipemuda dengan heran.

“Apakah engkau She Yo?” tegur si berewok.

Pemuda itu menganggukkan kepala.

11

“Apakah usiamu tahun ini delapan belas tahun,”

Sipemuda menganggukkan kepala lagi.

Dua orang itu saling berpandangan dengan puas, siberewok sengaja menepak gagang

pedangnya dan berkata dengan girang: “Hei apakah dipunggungmu terdapat satu tanda?”

Pemuda itu mundur mundur bebrapa langkah “Apakah maksud jie wie bertanya ini?’

“Tidak apa-apa” kata siberewok, “kami hanya menginginkan engkau membuka baju dan

memperlihatkan tanda dipunggung itu.”

Pemuda ini menjadi gugup, sungguhpun begitu ia tidak mau membuka bajunya, sipucat kurus

mendengus sekali dan berkata: “Lo Lie waktunya engkau bertindak.”

Tanpa disuruh kedua kalinya siberewok segera menyambar baju pemuda itu. Tapi dengan

gaya berputar pemuda itu berhasil berkelit dan melakukan balasan. Akibat terlalu memandang

enteng, siberewok kena ditampar, tentu saja membuatnya gusar sekali, pedangnya segera

dihunus. Demikian juga denga sikurus pucat. Aganya pemuda itu hanya memiliki ilmu bela

diri yang sederhana saja. Berbukti setelah ditodong denga dua senjata tajam, ia tidak berdaya,

matanya clingukan mengharapkan bintang penolong, sedangkan keringatnya bercucuran turun

membasahi bajunya.

Akan tetapi seorang yang terlalu didesak akan timbul nekatnya, demikian juga sipemuda itu,

ia tidak menyerah! Waktu sipucat kurus mau menangkapnya ia masih melakukan perlawanan,

tapi bagaimanapun yang lemah itu tidak bisa menang melawan yang kuat. Tak selang lama ia

sudah tertotok dan tidak berdaya.

Siberewok dngan kasar, membeset baju pemuda itu, dan benar saja dipunggungnya terdapat

“Lo Lie jaga baik-baik bocah ini, akan kuberi kabar pada Cunggu.” Kata sikurus pucat. Tapi

belum pula ia meninggalkan hotel, dari arah luar telah dating lima kuda memasuki

pekarangan hotel, empat diantaranya mengenakan pakaian Lie dan Liok, sedang yang satu

lagi adalah seorang tua yang sudah lanjut usianya mengenakan pakaian panjang waarna hijau,

janggutnya yang panjang bergoyang-goyang tertiup angin, wajahnya tenang dan berwibaww

dilehernya tergubat sehelai sutra biru yang mengkilap.

Lie dan Liok segera memapak kedatangan lima orang ini, dan memberi hormat pada orang tua

itu. “Yang rendah Lie Guan Ciang dan Liok Beng Can menghaturkan hormat pada Cungcu.”

“Bukankah engkau kutugaskan mencari seseorang,” tegur si Cungcu, “kenapa berada disini?”

“Orang yang dimaksud itu berada dipenginapan ini.” Kata sipucat kurus, “Bahkan sudah

ditangkap!”

“Kebetulan sekali,” kata siorang tua, “bawa kemari orang itu.”

12

Dengan cepat siberewok menenteng pemuda perlente yang telah tertotok kehadapan siorang

“Buka jalan darahnya!” Perintah orang tua.

Begitu jalan darahnya dibuka pemuda itu menjadi gusar dan melakukan protes keras: “Hei

kalian bangsat dan rampok, ditengah hari bolong berani berlaku sewenang-wenang, memang

didepan mata kalian tidak ada undang-undang Negara?”

“Diam!” seru siorang tua, “ kutanya berapa usiamu kini ?”

“Delapan belas tahun!”

“Coba putar badanmu, ingin kulihat punggungmu!”

“Tidak mau!” seru pemuda dengan bandel.

Liok Beng Can dan Lie Goan Ciang segera merejeng pemuda itu, dan menyingkap bajunya

yang sidah robek.

Orang tua itu memperlihatkan tanda dipunggung pemuda itu, lalu mengeluarkan selembar

kertas dari sakunya. Setelah mengukuri sejenak, kertas itu dilipat kembali dan ia sendiri

tertawa sinis “Lepaskan dia.”

“Cungcu mungkinkah…..” kata Lie dan Liok hampir berbareng.

“Orang yang dikehendaki mempunyai tanda bekas bacokan dipundak kirinya, sedangkan dia

mempunyai tanda dekat pinggang, pasti bukan, maka kulepas, lain kali bekerja lebih cermat

jangan sembarangan lagi!”

In Tiong Giok yang menyaksikan kejadian ini, diam-diam masuk kedalam hotel, tanpa terasa

ia mengusap tanda dipundak kirinya, keringatnya mengucur sendiri: “Tak heran Suhu

memesan jangan sampai tandaku ini dilihat orang, danjangan mengaku usia yang sebenarnya,

kiranya ada bertalian dengan soal misterius yang tidak kumengerti? Ya apapun hubungannya

dengan kedua orang Pok Tian Pang ? Kenapa mereka hendak menciduk pemuda berusia

delapan belas tahun dengan tanda dipundak kiri? Mungkinkah orang yang mereka cari itu aku

adanya?” In Tiong Giok tidak alang kepalang kagetnya sewaktu mendengar orang menegur

padanya. “Anak muda sedang apa kau disini?”

In Tiong Giok kena dikagetkan, dalam sejenak tidak bisa menjawab. “Hei anak muda apakah

engkau tidak mendengar, Cungcu bertanya padamu?” tegur salah seorang pengawal baju

“Oh, tidak sedang melihat pengumuman di luar hotel….” Jawabnya agak gugup.

“Siapa namamu?” tegur si Cungcu.

“In Tiong Giok!”

13

“Oh, kiranya engkau, aku dating kesini karena mendengar ada seorang bernama In Tiong

Giok yang pandai bahasa Sasngsekerta, kiranya engkau kata!” Si cungcu dengan nada suara

berubah ramah tamah.

“Ya benar,” jawab Tiong Giok.

“Aku situa ini bernama Tan Toa Tiau tinggal disebelah barat kota yang disebut Ngo Liu

Cung, kedatanganku sengaja untuk mengundang Kong Tju dating kerumahku. Mungkin

Kongtju sudah membaca pengumuman itu dan mengerti apa imbalan jasa yang akan kami

berikan kepada seseorang yang pandai bahasa Ssangsekeerta….”

Ya, memang sudah kubaca, tapi bukan karena aku sok kaya, soal uang tak berarti amat besar

bagiku.”

“Ya, memang uang itu untuk pelajar sejati tidak berarti, itu hanya tandanya hormat dari kami

saja, dan mungkin Kongcu tak berkeberatan bila sekarang juga kuundang datang ke Ngo Liu

Cung.”

“Undangan Cungcu merupakan kehormatan yang tidak bisa kutolak, hanya saja.”

“Apa yang Konngcu kehendaki, tinggal katakana, orang-orangku bisa membantu!”

“Di rumah makan Tiang Thay ada seorang pengikutku yang bernama In Hok, Aku harus

kesana dulu, agar ia tidak kuatir…..”

“Tidak usah Kongcu pergi sendiri, orangku bisa menyampaikan pesan, juga sekalian

mengundang In Hok datang!” Kata Tan Toa Tiau yang segera menyuruh pengawalnya

menjalankan perintah.

Waktu ia mengikuti Tan Toa Tiau, si pemuda She Yo tadi masih ada di depan pintu, saat ini

kebetulan Tiong Giok menoleh kearahnya. Entah bagaimana pemuda itupun sedang

memandang kearahnya,kepalanya goyang sedikit seolah-olah memberi tanda agar ia jangan

mau ikut. Tiong Giok mengangguk dan tersenyum menyatakan terima kasih atas

peringatannya si pemuda itu.

Di tengah perjalanan Tan Toa Tiau banyak bertanya.

“Kongcu berusia berapa?”

“Dua puluh tahun!”

“Kongcu sebagai pelajar, juga seperti seoarang yang mengerti ilmu silat, apakah pandanganku

benar?”

“Seorang pelajar seperti aku ini, memang mempelajari juga ilmu silat, tapi hanya kembangkembangnya

saja, sekedar gerak badan, lain dengan ahli silat dari Rimba Hijau!”

Selanjutnya Tan Toa Tiau menanyakan soal keluarganya denga npanjang lebar, semua ini di

jawab Tiong Giok dengan sejujurnya, Ngo Liu Cungcu menjadi puas, sehingga kata-katanya

semakin ramah-tamah. Tak lama tibalah mereka disebuah benteng yang terbuat dari batu-batu.

14

Benteng ini sekelilingnya di kitari selokan dan tertutup pepohonan yang rimbun. Samar-samar

terlihat penjaga-penjaga benteng yang gagah dari celah-celah pepohonan, nampaknya

penjagaan keras sekali.

Untuk masuk ke benteng itu harus melalui jembatan gantung, Tan Toa Tiau hanya memberi

tanda, penjaga jembatan segera menurunkan. Mereka dengan mudah masuk kedalam benteng.

Di dalam terlihat sebuah bangunan berloteng yang mentereng di pekarangan terlihat lima

batang pohon Liu yang besar-besar.

Tak uash di tebak lagi nama perkampungan Ngo Liu dari situ datangnya.

Dengan ramah Tan Toa Tiau mengajak tamunya masuk kedalam gedung, dan terus naik

keloteng. Baru saja sampai di pintu seorang pengawal menyambut dengan membungkukkan

badan. Mereka bicara sejenak, nampak Tan Toa Tiau bersseri seri dengan kaget. “Ah

kebetulan sekali, dimana dia?”

“Di ruangan tunggu!”

“Suruh dia tunggu, aku segera menemuinya,” kata Tan Toa Tiau, dan lalu berpaling kepada

Tiong Giok. “Kongcu mari ikut denganku.” Diajaknya Tiong Giok masuk kekamar buku.

“Harap Kongcu tunggu sebentar, aku ingin menemui seseorang!”

“Oh, silahkan!” kata Tiong Giok. Seberlalunya si tuan rumah, membuatnya sendirian. Ia

memperhatikan bahwa kamar buku ini dekorasinya begitu indah penuh seni, lemari lemari

penuh dengan buku buku tua, di dinding tergantung lukisan lukisan antik.

Dari segi ini dapat dinilai bahwa tuan rumah seorang, yang banyak pengetahuannya dan

terpelajar tinggi. Jika dibanding dengan keadaan diluar, yakn penting dan pengawai yang

gagah, nyata benar perbedaannya, dan tidak serasi antara luar dan dalam.

Sejenak berlalu Tuan rumah belum kembali membuatnya kesal juga, ditambah kesunyian

kamar tidak alang kepalang. Waktu ia ingin menghilangkan kesal sambil melihat buku, ia

menjadi kaget, karena samar samar mendengar didekat rak buku ada yang sedang berbicara.

Sayang suara itu begitu lemah dan tidak terdengar tegas.

Sikirannya timbul untuk mendengari percakapan disebelah. Baru saja lengannya menyentuh

rak, tiba tiba rak bergerak dan terbuka dengan sendirinya. Dengan gaya reflek yang cepat, ia

menarik sejilid buku sambil mundur dua langkah dan pura pura membaca. Dari arah rak

terlihat Tan Toa Tiau dengan seoarang sastrawan masuk kedalam ruangan.

Sastrawan itu bermata sipit dan berhidung bengkung, yang kaku lain Pang Hui adanya. Ia

menjadi heran, sedang Pang Hui dengan wajah liciknya tersenyum dan memberi hormat: “Tak

dikira kita bisa bertemu lagi, sudah lamakah saudara In ?”

“Oh jiwie nyatanya sudah kenal satu sama lain, tak perlu repot repot aku memperkenalkan

lagi !” kata Tan toa Tiau.

“Ya, aku bersama saudara In secara kebetulan makan bersama sama direstoran Tiang Thay.”

15

“Kini mari ikut denganku, karena minuman dan sedikit hidangan sudah disediakan !”

Diruangan makan benar saja sudah disediakan hidangan mewah, tuan rumah mempersilahkan

tamunya duduk. Pang Hui berlaku tak sungkan, segala ikan dan kidik main caplok, minuman

main tenggak. Sedangkan In Tiong Giok karena pikirannya masih memikir mikir maksud dari

tuan rumah tidak seberapa napsu makan.

“Aku merasa beruntung dalam satu hari bisa mendapat dua orang ahli bahasa Sangsekerta,

untuk secawan arak !”

In Ting Giok merasa heran, karena ia mendengar bahwa Pang Hui sewaktu dirumah makan

mengatakan tidak mengerti bahasa Sangsekerta, kenapa sekarang mengaku bisa. Sungguhpun

ia mengangkat cawan dan mengarangkan keheranannya, tetap ada sedangkan Pang Hui

dengan sikap wajar, tersenyum senyum. “Aku sejak kecil sudah kenyang membaca berbagai

buku ilmu pengetahuan, ditambah sifatku yang senang merantau, waktu kecil sudah pernah ke

India, maka itu pelajaran bahasa sangsekerta kupelajari disana, bahkan bukan itu saja bahasa

asing lainnyapun banyak yang kumengerti, Hari ini kebetulan bertemu Cungcu sehingga

hatiku girang, karena pelajaran yang kumiliki dapat kukembangkan dengan penghargaan

besar.”

In Tiong Giok tahu orang she Pang itu sedang menyombongkan diri, maka dengan cepat ia

berkata : “Kalau begitu pengetahuan Pang Heng luar biasa sekali, sedangkasn aku yang sejak

kecil dirumah melulu, pantas jika minta petunjuk-petunjuk dari Pang Heng,”

“Untuk memberikan pelajaran aku tidak berani, untuk menceritakan pengalamanku diluar

negeri boleh sedia.”

“Yang ingin kuketahui, sejak kapankah India dan Tionghoa mengadakan hubungan ?” tanya

Tiong Giok.

“Oh, tidak heran kalau Lo tee yang masih berusia muda tidak mengetahui hal ini, baiklah

kuterangkan. Ketahuilah pada Ahala Tang ada seorang Biku yang bernama Tong Sam Cong

pergi kebarat atau India untuk mengambil kitab suci, nah sejak itulah perhubungan antara

India dan Tiong Goan dimulai, jelas ?”

Mendengar keterangan itu Tiong Giok merasa ingin tertawa, hampir hampir arak yang berada

di dalam mulutnya tersembur keluar, bahwa gelinya.

“Bagaimana apakah yang juterangkan jurang jelas ?” Tanya Pang Hui.

“Soal Tong Sam Cong mengambil buku suci yang terdapat dicerita See Yu memang benar.

Tapi soal hubungan antara Tionggoan dan India terjadi sejak itu, kurasa tidak tepat !”

“Habis sejak kapan ?” Tanya Pang Hui.

“Menurut sejarah orang pertama yang pergi ke India terjadi di Ahala Kim, yakni waktu Hoat

Sian mempelajari agama Buddha, hal ini terjadi dua ratus tahun sebelum Tong Sam Cong

datang ke India, mungkinkah Pang Heng yang sudah kenyang baca buku, tidak mengetahui

soal ini ?”

16

“Saudara In, untukku segala pengetahuan yang tidak seberapa penting itu tidak kuingat, lebih

lebih kini yang benar benar dibutuhkan Tan Cungcu adalah ahli bahasa Sangsekerta bukan ?”

Untuk apa membicarakan soal yang tidak berguna ! Sehabis berkata ia bergelak-gelak dan

minum arak : “Saudara In mari minum, kuakui untuk mengingat tahun tahun sejarah engkau

lebih mahir dariku, aku menyerah kalah.”

Sebenarnya Tiong Giok ingin membuat susah Pang Hui dalam bahasa Sangsekerta tapi ia

tidak tega berlaku demikian, sedangkan Ngo Liu Cunggu pun hanya tertawa saja tanpa

memberikan komentar.

“Ah nyata-nyata Pang Hui tidak memiliki kepandaian tinggi, tapi berani betul melamar

pekerjaan ini apa maksudnya ? Mungkinkah dirinya itu sebagai orang Pok Thian Pang yang

pura-pura sebagai ahli bahasa, tapi yang sebenarnya untuk mengawasi diriku ? Tengah ia

berpikir dari luar terlihat seorang pengawal memberri laporaan. Pengikut In Kongcu sudah

datang !”

“Suruh dia istirahat dulu, tak usah menemuiku !” kata Tiong Giok yang sedang berpikir keras,

menghadapi situasi keadaan dirinya kini.

Mereka makan minum dari tengah hari sampai lampu-lampu dinyalakan belum juga bubar.

Saat ini dari arah luar terdengar suara tambur tiga kali. Menyusul terlihat seorang pengawal

masuk kedalam. Ia memberi hormat pada Tan Toa Tiau sambil berkata. “Nona Pek Wan Jie

dari markas pusat telah datang.”

Tan Toa Tiau agak terkejut. “Ih ada apa ia datang.”

“Kenapa?” terdengar suara garing dari luar, “tidak senangkah atas kedatanganku sebagai tamu

tak diundang ?”

Tan Toa Tiau tergelak-gelak dan buru-buru menyambut: “Diundang tidak datang tidak

diundang datang, sebenarnya angin apa yang meniup nona datang kesini?”

Gadis itu bukan sendirian, malainkan bertiga. Yang paling depan kira-kira usianya tujuh belas

tahun berbaju merah, raut wajahnya begitu cantik, ditambah ada lesung pipitnya waktu

tertawa, benar-benar membuat silau pemandangan. Dibelakangnya mengikuti dua gadis

berbaju kuning yang ringkas dan bersenjata pedang.

“Paman Tan engkau tidak akan mengira, kedatanganku kesini yakni untuk melihat orang yang

pandai bahasa Sangsekerta !”

“Bagaimana engkau tahu, padahal baru sore tadi kukirim kabar melalui merpati pos?”

“Ya burung itu terbangnya cepat dan sudah tiba dimarkas pusat,” kata Pek Yan sambil

“Tan Cungcu jangan percaya omongannya, pikir saja dari sini kepusat berapa jauhnya?

Andaikata kami terbangpun, dalam sehari pasti belum sampai kesini,” kata salah seoarng

gadis baju kuning.

17

“Ha ha ha,” Pek Wan Jie tertawa, “kami sebenarnya secara kebetulan saja sedang pesiar ke

Telaga Tong Teng, dan dari orang-orang di sana mendengar bahwa Cungcu berhasil

menemukan In Kongcu yang pandai berbahasa Sangsekerta ? Maka itu buru-buru dating

kesini !” Tiong Giok dan Pang Hui menjadi silau pandangan matanya, tanpa terasa mereka

berdiri dengan berbareng.

Gadis berbaju merah mencegah sambil menggoyangkan tangan: Jiwie tak usah berlaku

demikian, aku Pek Wan Jie dan dua pengikutku Siaw Eng dan Siaw Hong sudah biasa berlaku

ugal-ugalan, maka jangan ditertawakan.”

“Pek Kounio adalah murid satu-satunya dari Pangcu, disayang serta dimanja,” kata Tan Toa

“Ah, paman Tan bagaimana sih, baru ketemu sudah membongkar rahasia orang?” kata Wan

Jie sambil trsenyum dan matanya menyapu tajam sambil bertanya: “Yang mama In Kongcu ?”

In Tiong Giok merangkapkan tangan menghaturkan hormat: “Yang rendah adalah In Tiong

Giok.”

Pek Wan Jie membuka mata lebar-lebar, mengawasi dari atas sampai bawah: “Ah benar

ganteng !”

In Tiong Giok tidak bisa bergurau, wajahnya menjadi merah dan tunduk tak berani menatap

Tan Toa Tiau segera memperkenalkan Pang Hui: “Pang Kongcu inipun seorang ahli bahasa

Sangsekerta, bahkan iapun sudah pernah pergi kenegeri barat, misalnya India, Persia dan lainlain.”

“Ah kebenaran sekali, aku ingin bertanya sepatah kata bahasa Persia yang tidak kumengerti,

bolehkah Pang Kongcu mengartikan?”

Pang Hui tampaknya kaget, terpaksa tersenyum: “Boleh saja, perkataan apa yang Kounio

maksud?”

“Pang Kongcu, Asana apa artinya?”

In Tiong Giok maupun Tan Toa Tiau berbareng mengawasi Pang Hui menantikan jawaban.

Tanpa terasa suasana didalam kamar men jadi sunyi sekali. “Asana kata Pang Hui seperti

mengingat-ingat arti dari kata itu. Bagaimanapun ia memeras otak, belum juga ia dapat

artikan, wajahnya menjadi pucat.

“Pang Kongcu perbah pergi ke Persia, masakan “Asana” saja tidak tahu artinya?”

Pang Hui menjadi garuk-garuk kepala tak gatal. Keringatnyapun mengucur semakin deras:

“Asana…Asana…ini…rasanya belum pernah kudengar !”

“Hi HI HI kuterangkan “Asana” adalah nama kucing belangku dari Persia, tak heran engkau

belum pernah mendengar”

18

Tan Toa Tiau dan In Tiong Giok terpingkal-pingkal, sedangkan Pang Hui menarik napas lega,

seolah-olah baru keluar dari lubang jarum.

Ngo Liu Cungcu berlaku telaten pada Wan Jie, ccepat-cepat menyuruh bawahannya

menyiapkan lagi meja baru untuk menjamu tamunya. Tapi sinona dengan tersenyum

mencegahnya: “Tak usah repot-repot sebaiknya suruhlah mereka lekas-lekas menyiapkan

kereta, malam ini juga kami akan berangkat mengajak dua Kongcu ini kepusat. Tak usah

memberabekan orang-orang dipusat dating kemari.”

“Kini sudah malam bagaimanapun Kounio sudi bermalam disini, besok baru berangkat.”

“Kasur disini tak bisa kutiduri,” kata Wan Jie, pokoknya asal paman merasa lega, mumpung

belum terlalu malam kami lantas berangkat.”

Mendengar percakapan ini, In Tiong Giok merasa heran, lalu menanya: “Kedatangan kami

kesini yakni melamar kerjaan pada Ngo Liu Cungcu, kenapa harus pergi kepusat segala ?”

Wan Jie melirik kearah Ngo Liu Cungcu: “Apakah paman belum menjelaskan, pokok

persoalan pada mereka ?”

“Belum sempat kujelaskan, Kounio sudah dating, nah terangkanlah pada mereka sekarang!”

“Oh, In Kongcu belum tahu,” kata Wan Jie. “Sebenarnya tidak terhitung rahasia lagi, kalau

Ngo Liu Cungcu menjabat ketua Pok Tian Pang disini, ketua kami sedang mencari seseorang

yang pandai bahasa Sangsekerta. Maka itu semua ketua cabang menjalankan perintah

melakukan pengumuman keantero semua pelosok mencari seorang yang ahli bahasa itu.

Tugas utama untuk alih bahasa sangsekerta ini, tidak lain sebagai penterjemah, karena dipusat

ada sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Ssangsekerta. Nah, tugas Kongcu kepusat tak lain

untuk menterjemahkan buku itu kedalam bahasa Tionghoa!”

“Buku apa yang akan di terjemahkan itu?”

“Mana kutahu, pokoknya setelah kongcu kesana akan mengetahui sejelas-jelasnya.”

“Jauhkah letaknya pusat Pok Tian Pang,” tanya Tiong Giok.

“Dengan kereta dapat di tempuh dalam empat lima hari!”

“Aku sedia melakukan pekerjaan ini, jika buku itu berada disini, kalau terlau jauh..”

“Perjalanan empat lima hari mana terhitung jauh?” sela Wan Jie, “yang aku tahu laki-laki

harus bersifat jantan, Kongcu sudah dating melamar pekerjaan dan di terima, bagaimanapun

harus dilakoni juga!”

Perkataan sinona ini membuat In Tiong Giok tak enak hati: “Ya kalau begitu kuturuti, tapi

patut kujelaskan, jika buku itu termasuk porno tak akan kukerjakan walau dibayar berapa.”

“Syarat Kongcu kami hargakan, aku berani menjamin buku itu bukan porno, Kongcu akan

percaya setelah melihatnya,” kata Wan Jie penuh keyakinan.

19

Sementara mereke berkata, kaum pelayan telah siap dengan meja baru dan segala

hidanganpun baru pula. Nampaknya Ngo Liu Cungcu berdaya sekuatnya untuk menahan

tamunya bermalam juga. Melihat kesungguhan hati tuan rumah Wan Jie mengalah dan

menginap juga semalam.

*****

Hari kedua, Tan Toa Tiau telah menyiapkan sebuah kereta, dan memerintahkan empat

pengawal mengiringi: Tiong Giok dan Pang Hui naik kereta, sedangkan Wan Jie dan dua

pengikutnya naik kuda. Rombongan ini berikut kusir kereta berjumlah sebelas orang,

perlahan-lahan meninggalkan Ngo Liu Cung.

Di tengah perjalanan Pang Hui tidak banyak bicara seperti kemarin, ia lebih banyak tidur!

Sedangkan Tiong Giok selalu menatap keluar, menikmati panorama, seumur hidupnya

pertama kali ini ia melakukan perjalanan, mendatangkan gembira dan kesenangan baginya.

Senja hari rombongan ini tiba di sebuah kota kecil, Wan Jie menyewa losmen bagian

belakang, malam harinya keempat pengawal itu melakukan penjagaan dengan bergilir. Tiong

Giok merasa heran menyaksikan ini, tak ubahnya seperti mau menghadapi musuh saja. Waktu

makan malam ia mengemukakan keheranannya itu pada Pek Wan Jie. Sinona tertawa kecil

dan berkata: “Bukan apa-apa karena kita diikuti terus oleh cecunguk-cecunguk yang tak kenal

mati!”

“Toh kita tidak bermusuhan dengan mereka, kenapa diarah terus?”

“Mungkin mereka senang berbuat demikian siapa yang larang,” kata Pek Wan Jie, “tapi

kongcu sebagai seorang sastrawan, kalau terjadi suatu apa-apa sebaiknya tenang-tenang dan

tak perlu kuatir.”

Malam berlalu dengan tenteram, Tiong Giok terbangun dari tidurnya setelah matahari terbit.

Cepat-cepat ia turun dari pembaringan merapihkan baju, matanya yang tajam melihat secarik

kertas didekat bantal. Cepat dilihatnya kertas yang berbunyin:

Demi hidupnya kawan-kawan di rimba hijau, mau tidak

mau kami memperingatimu sekeras-kerasnya. Batalakan

segera niatmu sebagai penterjemah, dan cepatlah

menyingkir, jika tidak, menyesalpunt tak brguna.”

Tiong Giok merasa kaget, dan tahu ada orang memasuki kamarnya tadi malam tanpa

diketahuinya, jika pendatang itu bermaksud buruk, siang-siang jiwanya bisa melayang. Kaget

tetap kaget, sebisanya di tenangkan dan bagai tidak terjadi apa-apa carikan kertas itu

dikantonginya. Lalu keluar kamar dengan wajar. Dilihatnya yang lain sedang makan pagi,

Wan Jie tersenyum atas kedatangannya yang lambat: “In Kongcu pantasnya tidurnya

nyenyak.”

“Ya nyenyak !”

“Mari kita sarapan dulu, kemudian kita lanjutkan perjalanan !”

20

In Tiong Giok begitu duduk, merasakan bahwa Pang Hui sedang mengawasi kearahnya

dengan sinar mata tajam, waktu ia menoleh cepat menundukkan kepala, gerak geriknya sangat

mencurihakan sekali.

Dalam sekilas saja, hati Tiong Giok jadi bergerak dan berpikir: “Iapun melamar sebagai

penterjemah, apakah iapun menerima surat ancaman juga ? Gerak geriknya selalu

mencurigakan, mungkin suatu ancaman ini perbuatan dia, aku harus menyelidiki darinya.”

Seperti kemarin, Tiong Giok dan Pang Hui bersama-sama naik kereta. Belum pula kereta

berjalan jauh, Tiong Giok yang sedang berpikiran kacau menoleh kearah Pang Hui dan

bertanya : “Pang Heng bagaimana tadi malam, tidur nyenyakkah ?”

“Aku mempunyai suatu kebiasaan tidak bisa tidur nyenyak ditempat baru.”

“Oh, jadi tidak tidur ? Adakah mendengar sesuatu gerakan yang mencurigakan ?”

“Gerakan apa ?” jawab Pang Hui seperti tersinggung ulu hatinya, “sedikitpun tidask

mendengar apa-apa.”

“Aku menerima sepucuk surat ancaman !”

“Surat ancaman ? Bolehkah kulihat ?”

“Seharusnya kaupun menerima sepucuk surat sepertiku,” kata In Tiong Giok menyindir,

‘Mungkjin melihatmu belum tidur, tak berani orang itu memberikannya, kuatir menimbulkan

kegaduhan !”

Sambil memberikan surat itu, Tiong Giok memperhatikan mimik dan ekspresi wajah orang.

Begitu menerima dan membaca surat itu, terlihat lengannya Pang Hui gemetar dan wajahnya

pucat. “Waduh tak terkira pekerjaan ini bisa mendatangkan mala petaka ! Tahu begitu biar

dibayar lebih sepuluh tikel takkan kulakukan !”

“Bagaimana baiknya kalau begini ?”

“Emas memang menggiurkan, tapi jiwa terlebih penting,” kata Pang Hui, “kalau begini

sebaiknya lekas kita membatalkan pekerjaan ini !”

“Tapi pepatah mengatakan semut mati digula, manusia mati diharta,” kata In Tiong Giok,

“betapapun sangat sayang rejeki yang berada di tangan dibuang percuma.”

“Oh, maksudmu biar maut menghadang akan pergi juga ke Pok Tian Pang ?”

“Apa yang harus ditakuti ? Sepuluh ribu tail emas cari dimana lagi ?”

Percakapan mereka terganggu derapan sepatu kuda yang berisik, serentak mata mereka

memandang keluar, tak usah menunggu lama dari balik pepohon sebelah kiri, terlihat tiga

penuggang kuda berbaju hitam yang serupa dengan pengawal Ngo Liu Cung. “Celaka !

Habislah sudah !” seru Pang Hui.

21

Wan Jie dan dua pengikutnya maupun empat pengawal melihat ketiga penunggang kuda itu

mendekat, menghentikan segera kereta. Empat pengawal menghunus senjata hampir

berbareng, menjaga segala kemungkinan.

“Ihh, bukankah mereka pengawal Ngo Liu Cung ?” kata Siau Eng.

“Tak perduli siapa, kita harus waspada !” kata Pek Wan Jie.

JILID 2________

Tiga penunggang kuda melarikan tunggangannya demikian cepat, dan menghentikan

mendadak sekali. Mau tak mau kuda itu mengangkat kaki depannya, debu beterbangan.

Empat pengawal memaki-maki, tapi tak dihiraukan tiga pendatang itu, serentak merentangkan

tangan, senjata bertebaran menembus debu, pengawal tidak siap sedia akan seraangan

mendadak ini. Antaranya dua segera terjungkal dari kuda, melihat serangannya berhasil tiga

pendatang menghunus senjata menerjang kearah kereta. Kejadian ini berlangsung sekejap

mata. Siaw Eng dan Siaw Hong serentak menghadang dua penyerang, sedangkan yang

seorang menggunakan kesempatan lompat dari kudanya menerjang kepintu kereta. Matanya

memancar tajam, saat ini Tiong Giok mengenali penyerang ini, bukan lain pemuda she Yo

yang dijumpainya dipenginapan Hong Sing. Pemuda she Yo itu, segera membuka pintu kereta

matanya memancarkan napsu membunuh. Tiong Giok tahu kedatangannya tidak bermaksud

baik, tapi sebelum ia bisa berbuat apa-apa, merasakan pundaknya dicengkeram orang dan

sedikitpun idak bisa bergerak lagi. Adapun manusia yang mematikan jalan darahnya itu Pang

Hui adanya ! Dikata cepat juga tepat, tiba-tiba saja tubuhnya pemuda she Yo itu gemetar dan

pedang ditangannya menjadi jatuh. Lalu terjungkel dari kereta tanpa berkutik ;agi.

“Pang Heng lepaskan lenganmu, apa-apaan ini?”

“Aduh, maaf…maaf saking takut kupegangi pundakmu… untung pek Kounio turun tangan

tepat pada waktunya!”

“Hm, bilang saja terlalu cepat sedikit!” kata In tiong Giok. Dilihatnya Pek Wan Jie berada

tujuh delapan meter dari keretanya, lengannya menghunus pedang wajahnya terlihat guram.

Disamping kereta menggeletak pemuda She Yo, tubuhnya tidak berkutik lagi, mati terbunuh

senjata rahasia.

Sedangkan dua penyerang lainnya, sudah dibikin satu mati satu menderita luka, yang luka itu

adalah seorang tua bearjanggut putih. Karena tak kuat melawan lagi ia leloloskan diri sekuatkuatnya.

Pek Wan Jie mencegah melakukan pengejaran, ia memeriksa dua pengawal yang

terkena senjata rahasia, untung tidak terkena bagian yang mematikan hanya menderita luka

parah. Lalu ia menghampiri kekereta : “ Kuharap Jiewie Kongcu tidak usah berkecil hati atas

peristiwa ini, kejadian didunia Kang Auw sudah lumrahnya bunuh membunuh. Ada aku

sebagai pengawal, Jiewie pasti akan tiba dengan selamat.”

“Ya mereka seharusnya melakukan pengejaran ke Pok Tian Pang jika benar-benar gagah

berani, kenapa mau membunuhku yang tak berdaya apa-apa?” kata In Tiong Giok.

“Karena mereka ingin mencegah Jiwie bekerja pada Pok Tian Pang,” kata Pek Wan Jie, “tapi

kelakuan yang tak tahu diri ini,hanya mendatangkan kematian bagi mereka.”

22

Pang Hui diam saja, matanya seperti berkaca-kaca, entah terharu mendengar kata-kata Pek

Wan Jie. Sedangkan Tiong Giok tidak alang kepalang geregetannya pada orang She Pang itu,

tapi didiamkan saja dalam hati tanpa dikentarakan. Tak selang lama mereka melanjutkan

Hari ketiga mereka tiba kota pedesaan, Pek Wan Jie menyuruh kereta kembali, empat

pengawal tidak turut pulang. Tampaknya mereka gembira dan tidak kesal sekali, seolah-olah

sudah tiba ditempat sendiri.

In Tiong Giok menanyakan kenapa kereta disuruh pulang. “Maju lagi kemuka sudah daerah

pegunungan, kereta tidak bisa digunakan lagi. Kongcu kepaksa harus berkuda,” jawab Pek

Wan Jie.

“Bukankah Kounio mengatakan harus menempuh empat sampai lima hari perjalanan?”

“Ya kalau berkereta,” jawab Pek Wan Jie, “tapi perjalanan mengitar makan waktu dan

berbahaya, kupikir untuk secepatnya tiba di tujuan memotong jalan saja. Esok Kongcu harus

berkuda dan pasti meletihkan, nah sebaiknya istirahat siang-siang.”

Tengah malam Tiong Giok bangun dari tidurnya, ia merasa kerongkongannya terasa haus

sekali. Ia tahu akibat terlalu banyak minum arak waktu siangnya. Cepat-cepat ia bangun dari

pembaringan dan mengambil teh, begitu menuangkan the dari teko, timbul curiga, dan hatinya

berpikir: “kenapa the ditengah malam masih hangat sekali!”

Diambilnya sebatang jarum perak dan dicelupkan ke air, ia jadi kaget, sebab jarum perak

menjadi hitam, tanda air beracun. Ia berpikir sejenak, lalu naik lagi kepembaringan tanpa

mengeluarkan suara, pura-pura nyenyak.

Tiba-tiba dari balik jendela erlihat sesosok bayangan hitam, sejali lihat dapat dikenali, tak lain

dari Pang Hui adanya.

“Saudara In ! Saudara In !” Pang Hui memanggil-manggil.

In Tiong Giok pura-pura tidur terus tanpa menjawab.

Setelah memanggil lagi beberapa kali, tanpa mendapat jawaban, Pang Hui membuka jendela

tubuhnya mencelat masuk dengan ringan sekali tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Melihat

ilmu meringankan tubuh yang demikian lihay Tiong Giok merasa kaget.

“Hmm, kurang ajar, kau pura-pura berlaku bodoh, tak tahunya berilmu silat tinggi ! Tapi

jangan dikira aku sebagai oang lemah, segala akal kejimu untuk mencelakakan diriku

sebenarnya untuk tujuan apa ?

Begitu masuk kekamar, Pang Hui berlaku hati-hati dan cermat tubuhnya dirapatkan ke

dinding sekian lamanya. Dan memanggil lagi pada Tiong Giok beberapa kali sambil

mendekat pembaringan. Tiong Giok diam-diam sudah siap dengan ilmu Hiat ce lengnya.

Sungguhpun tiada niatnya membunuh Pang Hui, tapi kesiap siagaan untuk menjaga kalau –

kalau merupakan yang wajar untuk membela diri.

23

Pang Hui tidak langsung kepembaringan, ia membuka tutup teko dulu. Begitu dilihatnya air

masih penuh, wajahnya membayang niat membunuh dengan menyala-nyala. Tubuhnya

berputar, belati segera terhunus…” Tok…Tok…Tok…” terdengar pintu diketuk dari arah luar

disusul dengan suara In Hok. “Kongcu…kongcu sudah tidurkah ?”

Pang Hui dengan cepat menyembunyikan belati dibalik lengannya dan mencelat kepojokan

yang lebih gelap.

“Oh siapa ?”

“Aku In Hok, Kongcu cepat buka pintu!”

“Malam-malam begini mau perlu apa ?”

“Kulihat Kongcu banyak minum arak waktu siang, kupikir kalau mendusin tengah malam

akan haus, maka kubawakan air teh hangat !”

In Tiong Giok merasa lucu, kenapa orang tua ini datang secara tepat pada waktunya, bila

terlambat sedikit, dikamar ini mungkin terjadi peristiwa pembunuhan. Begitu pintu dibuka

Tiong giok menunjuk ke atas meja,”aku masih ada air the hangat yang belum diminum”

“Malam ini terakhir diperjalanan, pengawal-pengawal mengatakan penjagaan diperketat.

Kongcu tidur harus menyalakan lampu, dan jangan sembarangan makan atau minum yang

disediakan pelayan-pelayan hotel ini, kuatir diracun…….”

“Apakah engkau melihat Pek Kounio ?”

“Barusan ada di belakang, mungkin tak lama lagi ia memeriksa sampai kesini,” sambil bekata

ia menyalakan pelita. Begitu keadaan terang, Tiong Giok memandang sekeliling ruangan,

bayangan Pang Hui entah sejak kapan tiada di situ lagi!

Keesokannya Tiong giok bertemu Pang Hui di meja makan, begitu bertemu saling

mengucapkan selamat pagi dan saling tersenyum. Pang Hui seperti biasa saja, seolah-olah tadi

malam tidak terjadi apa-apa.

Tak selang lama dari luar terlihat seorang brpakaian kuning diiriingi enam pengawal

berpakaian hitam yang serupa dengan pengawal dari Ngo Liu Cung. Lelaki itu lebih kurang

berusia empat puluh tahun, tubuhnya jangkung, kurus, matanya yang besar memancar tajam,

pinggangnya menyoren pedang ! Bajunya berkilatan tersulam benang emas, tampaknya agak

angker sekali.

Pek Wan Jie dan lelaki berdiri menyambut kedatangan orang itu sambil memberi hormat: “Lie

Congleng (komandan pengawal) kebetulan datang, kemarin diperjalanan terjadi perkelahian,

membuatku cemas dan kuatir, bahkan dua peengawal menderita luka-luka”.

“Pek Kounio perjalanan ini tentu membuatmu sengsara saja!”

“Ah bekrja untuk Lo Cucang (kakek moyang) mana bisa dihitung sengsara !”

24

“Kenapa pengawal-pengawal ini tidak berguna sekali !” kata Lie Congleng dengan wajah

“Tidak bisa menyalahkan mereka, karena penyerangpun menyamar mengenakan pakaian

hitam yang serupa dengan pengawal kita, kata Pek Wan Jie sambil tersenyum. Lalu ia

memperkenalkan Pang dan In. “Inilah kedua ahli bahasa Sangsekerta yang dibutuhkan, “juga

memperkenalkan Lie Congleng yang bernama Lie Kee Cie kepada Pang dan In.

Dengan sepasang matanya yang tajam Lie Kee Cie menatap In Tiong Giok dan Pang Hui serta

In Hok. Sungguhpun ia tersenyum, pancaran sinar matanya yang tajam membuat orang

menjadi gentar. Pang Hui menundukkan kepala

Dengan cepat Lie Kee Cie menegurnya: “Pang Siangkong, seolah-olah kita pernah bertemu

muka entah dimana ?”

“Benarkah ? Dimana, sedikitpun aku tak bisa ingat lagi.” Jawab Pang Hui terbata-bata.

“Aku mempunyai suatu kebiasaan, yakni paling bisa mengingat seorang yang mengesankan

sungguhpun baru sekali melihatnya. Lebih kurang setengah tahun yang lalu, aku pergi ke

propinsi An, disitulah kuberjumpa dengan Pang siangkong !”

“Ah tidak ! Mungkin Lie Heng salah lihat…”

“Tidak bisa salah” selak Lie Kee Cie dengan tegas. “Kuingat waktu itu Pang siangkong

mengenakan pakaian sastrawan seperti sekarang, coba ingat-ingat.”

“Mungkinkah…tapi…ah tidak bisa kuingat lagi…”

“Jelasnya saat itu Pang Siangkong sedang berada disebuah rumah makan, sedang membuat

sajak dengan asyiknya, tiba-tiba datang seorang pengemis bertekuk lutut dan menyodorkan

tangan meminta-minta, agaknya kedatangan pengemis itu mengganggu keasyikan Siangkong

dan menghilangkan ilham yang sudah ada. Dengan kesal Siangkong mengusir mereka sambil

melemparkan satu tail perak tamu-tamu lain menganggap Siangkong terlalu bodoh dan

menghambur-hamburkan uang, untukku keroyalan Siangkong memberikan kesan yang tidak

bisa dilupakan, sehingga mau tidak mau merasa kagum ! Saat itu Siangkong tidak mungkin

memperhatikan dieiku, karena disamping belum berkenalan juga konsentrasi Siangkong

berada pada sajak-sajak !”

Pang Hui agak terkejut, lalu ia tertawa sambil mengangggukkan kepala : “Oh,

benar…benar…jika tidak dijelaskan kejadian itu hampir-hampir kulupakan !”

Lie Kee Cie pun tertawa, sehingga suasana jadi meriah, akan tetapi alangkah cepatnya

keadaan berubah, tiba-tiba saja Lie Kee Cie mengerlingkan mata pada pengawalnya seraya

berseru : “Ciduk budak She Pang ini !”

Kejadian ini mengherankan sekalian yang hadir, mereka berbareng berdiri sambil mengawasi

kearah Lie Kee Cie, dan sedangkan pengawal yang di perintah telah menghunus senjata

mengurung Pang Hui.

25

“Orang She Pang nyalimu sungguh besar,” kata Lie Kee Cie, menggunakan kesempatan

sebagai ahli bahasa sangsekerta, engkau berani menyelusup ke pusat Pok Tian Pang….?

Hmm, saying nasibmu sial betul, boleh-boleh bertemu denganku!”

“Apa alasanmu berkata begini?” Tanya Pang Hui dengan wajah berubah.

“Hm, baik kuterangkan, apa yang kukatakan tadi hanya karangan belaka, karena hampir

setahun lamanya tak pernah aku meninggalkan pusat Pok Tian Pang? Tak kira engkau yang

menganggap diri pintar, nyata pintar kebelinger!”

“Hm, beruntunglah Pok Tian Pang mempunyai orang semacammu,” kata Pang Hui,” tapi

engkau jangan bergirang dulu, banyak orang bulim yang tidak menyerah pada Pok Tian Pang,

sedangkan buku yang ingin kalian terjemahkan jangan harap terlaksana untuk selamalamanya…”

Sehabis berkata tubuhnya mencelat meninggalkan kursi menyerang pengawal

yang mengurungnya dengan belati di tangan. Ia tidak melarikan diri, melainkan menggunakan

kesempatan didesak, langkahnya mundur ke arah In Tiong Giok, lau mengayunkan belati

pada pemuda kita dengan mendadak.

Sekali-kali Tiong Giok tidak memikir Pang Hui akan mencelatkan dirinya, orang-orang Pok

Tian Pang tidak bisa melakukan pertolongan, karena kejadian terlalu tiba-tiba. Sebenarnya

Tiong Giok bisa mengengoskan diri dengan ilmu Kiu Coan Bie Cong To secara mudah. Tapi

dengan demikian segala rahasia dirinya akan terbuka. Dalam keadaaan bingung, ia merasakan

kakinya seperti didorong orang dan tubuhnya terjerunuk kemuka lalu jatuh tengkurap.

Serangan Pang Hui mengenai angin. Siau Eng dan Siau Hong menggunakan kesempatan

menyelamatkan In Tiong Giok, sedangkan Pang Hui segera terkurung lagi. Menghadapi

keadaan buruk baginya Pang Hui berlaku nekad, belatinya dittikamkan kerongkongannya

sendiri, tapi niatnya itu batal, sebab Lie Kee Cie mengebaskan lengan, tenaga pukulannya

membuat belati menceng, Pang hui hanya luka ringan. Berbareng dengan itu lengannya

merambes cepat, belati ditangan Pang Hui sudah pindah kelengannya, ia tidak brhenti disitu,

sekalipun lengan satunya lagi melakukan totokan, membuat Pang Hui mati kutu dan tak

“Bawa mereka kepusat dan jangan diapa-apakan dulu!” kata Lie Kee Cie pada anak buahnya.

“In Tiong Giok jika engkau menterjemahkan buku mereka, sampai mati dan menjadi satupun

jiwamu tidak akan kuampuni !”

“Oh kiranya berulang kali ia akan mencelakai diriku, semata-mata mencegah aku menjadi

penterjemah buku Pok Tian Pang!” piker In Tiong Giok.

“Oh, kelakuannya yang licin, membuat aku terpedaya, untung Lie Tongleng datang kalau

tidak, bisa-bisa celaka!”

“Sebelum menerangkan pada Kounio sudah kuciduk orang ini, harap maaf saja! Nah,

sekarang bolehlah kita melanjutkan perjalanan lagi !” kata Lie Kee Cie.

“Bukankah Lie Conglengpun harus memeriksa keadaan diriku ?”

26

“Tidak usah! Barusan serangan Pang Hui kepadamu, sudah mewakili aku bertanya denga

jelas!”

“Untung In Kongcu bukan mata-mata, jika tidak bukan saja perjalanan ini sia-sia belaka,

akupun akan menerima dampratan dari Lo Cucong!” kata Pek Wan Jie.

“Mana siorang tua itu, kenapa tak kelihatan” Tanya Lie Kee Cie.

In Tiong Giok celingukan, benar saja tidak terlihat bayangan In Hok. Belum pula ia mencari,

dari kolong meja In Hok merayap keluar dengan bermandikan keringat. Wajahnya pucat,

tubuhnya masih menggetar, rasa kagetnya belum hilang dari otaknya.

Tiba-tiba Tiong Giok ingat barusan seperti ada yang mendorong dirinya dari bawah,

disambung mengingat ketebatan In Hok mengantar air wakltu malam, timbul rasa anehnya,

mungkinkah semua ini In Hok yang… tapi pikirannya cepat berubah, dan ia yakin jongos tua

itu yang sudah puluhan tahun bekerja pada ayahnya hanya manusia biasa yang tidak

berkepandaian sama sekali. Maka tertawalah ia melihat siorang tua yang baru keluar dari

kolong itu, sedangkan Lie Kee Cie dengan pandangan tajam mengawasi dan berpaling kearah

In Tiong Giok: “Siapa orang tua ini?”

“Ia adalah pengikutku namanya In Hok!

“Keadaan dipusat Pok Tian Pang lain seperti disini, tidak sembarangan orang boleh datang

kesitu, menurut hematku sebaiknya orang tua ini diam saja disini tak perlu ikut serta!”

“Kongcu, kejadian diperjalanan selalu berbahaya, sebaiknya pulang saja, untuk apa harus

bekerja, dirumah segala cukup bukan?” kata In Hok.

In Tiong Giok menganggukkan kepala lalu berkata pada Lie Kee Cie: “Ia disuruh kedua orang

tuaku mengikutiku keluar rumah, bukan sembarang orang yang tidak dipercaya. Jika

Congleng tidak mengijinkannya ikut serta akupun tidak mau pergi, mau pulang saja !”

“Lie Congleng, ijinkan saja ia ikut serta, jangan membuat In Kongcu menjadi susah hati !”

kata Pek Wan Jie.

“Aku tidak mengatakan tidak boleh seratus persen, jika Kounio menyuruh aku menurut saja!”

kata Lie Kee Cie.

Dengan cepat rombongan itu meninggalkan penginapan dan berjalan keatas pegunungan.

Pang Hui terikat dan ditaruh dipelana kuda, sedangkan empat pengawal dari Ngo Liu Cung

disuruh pulang. Tak selang lama Lie Kee Cie menyuruh rombongan berhenti, dan dari

sakunya mengeluarkan dua kerudung hitam. “Kupersilahkan Jiewie mengenakan ini.”

“Untuk apa menggunakan belongsong ini ?”

Tanya In Tiong Giok dengan heran.

“Ini peraturan perkumpulan kami, setiap tamu yang datang kepusat hrus mengenakan

belongsong, agr sesuatu mengenai keadaan dipusat tidak bisa dibocorkan keluar!”

27

“Aku adalah tamu undangan untuk bekerja, bukan datang atas kehendakku sendiri,” kata

Tiong Giok merasa tersinggung.

“In Kongcu jangan gusar,” kata Pek Wan Jie, “peraturan yang dikeluarkan Lo Cucong berlaku

pada siapapun, bukan pada Kongcu sendiri, dulu sewaktu Siaw Eng dan Siaw Hong pertama

kali datang, merakapun dikenakan kerudung hitam, hanya anggauta Pok Tian Pang tidak

terkena peraturan ini !”

In Tiong Giok dengan terpaksa mengenakan jiga belongsong hitam itu, pandangannya

menjadi gelap, hanya dibagian mulut dan hidung ada liangnya dan bisa bernapas maupun

berkata-kata dengan bebas.

Lie Kee Cie memeriksa belongsong itu ada yang pecah atau tidak, setelah itu menitahkan Siau

Eng dan Siau Hong menjaga In Tiong Giok, sedangkan In Hok dituntun dua pengawalnya.

In Tiong Giok tidak bisa melihat keadaan, hanya mengandalkan kedua telinganya dan

perasaannya untuk mengira-ngira sudah berjalan berapa jauh dari rumah penginapan yang

disinggahi terakhir.

Iapun merasakan keadaan yang sejuk, dan turun naiknya jalanan, serta terdengar suara aliran

sungai. Perhatiannya kini dipusatkan pada letaknya sungai mengalir hingga belongsong yang

membuatnya seperti berada didalam kegelapan tidak terasa lagi, jadi biasa.

Setelah berjalan lama sekali, suara sungai tidak terdengar lagi, rombongan membelok ke

kanan dan terus kedepan. Kira-kira sepermakanan nasi meraka berhenti, terdengar suara Lie

Kee Cie bercakap dengan ramah tamah, agaknya bertemu denga patroli Pok Tian Pang.

Mereka segera turun dari kuda, Siau Eng membuka belongsong Tiong Giok. Membuat

pemuda kita menarik napas lega. Pandangan matanya bebas, dan bisa melihat keadaan dirinya

berada dilereng gunung, talk berapa jauh farinya terlihat bebrapa rumah batu, disitu terlihat

dua puluh pengawal berpakaian hitam dan seorang tua kira-kira berusia llima puluh tahun

berbaju biru.

“Inilah Kwee Fut Hoat (penasehat) Kim lo Cianpwee,” kata Pek Wan Jie memperkenalkan

kim Fut Hoat itu menggoyangkan tangan tak berapa mau meladeni.

“Kim Fut Hoat tidak berapa suka bicara, tambahan bahasa Tionghoanya tidak lancar, ia orang

asing !”

“Dari mana asal negaranya !” Tanya In Tiong Giok.

“Ia adalah orang-orang yang di bawah Lo Cucong dari Korea, namanya Kim Can ! dua lagi

bernama Wang wang Can dan Pu Ka Lun, mereka sebagai penasehat yang selalu

mendampingi Lo cucong….”

In Tiong Giok memperhatikan Kim Tak Can, dan mendapatkan kesan bahwa orang itu sangat

kasar perawakannya, pipinya penuh berewok, sekali pandangpun bisa tahu orang ini bengis

dan berkepandaian” tinggi. Apakah yang dipanggil Lo Cucong itu ketua Pok Tian Pang ?”

28

“Bukan!” kata Pek Wan Jie, “Lo Cucong adalah Sucouw (kakek guru) ku sedangkan Suhuku

barulah ketua Pok Tian Pang ! Hal ini tidak akan bisa dijelaskan dalam sepatah dua patah !

Nanti engkau akan tahu sendiri !”

“Apakah yang dimaksud pusatg disini tempatnya ?” Tanya in Tiong Giok.

“bukan, ini merupakan pintu gerbang pertama, kesana masih jauh sekali ! Disini kita makan

dan mengaso, juga sampai disini engkau tak usah mengenakan lagi belongsong hitam untuk

seterusnya!”

“Tidakkah kalian kuatir rahasia disini dibocori orang?” Tanya Tiong giok. Belum pula Wan

Jie menjawab, Lie Kee Cie sudah mendahului: “In Kongcu terus terang saja sesampainya

disini, jika tidak mendapat ijin dari kami, siapapun tidak bisa meloloskan diri dari sini!”

“Kenapa begitu ?” tanya In Tiong Giok keheranan.

“Nah coba lihat !” kata Lie Kee Cie menggapaikan tangannya. Tiong Giok menghampiri.

“Cobalah lihat kbawah!”

Begitu mata memandang, baru sadarlah ia berada disuatu bukit yang terpisah dari bukit-bukit

lain, begitu tinggi rasanya. Kebawah hanya yang bisa dapat terlihat batu-batu cadas-cadas

gunung yang runcing dan terjal.

Ia menganggukan kepala dan memuji: “Tempat ini luar biasa dan sukar didatangi orang, tapi

rasanya tadi seperti naik tangga datang kemari ? Dimana tangga itu berada ?”

“Ha ha ha.” Lie Kee Cie tertawa dengan senangnya, “dimana ada tangga? Tadi kita naik

melalui sebuah tangga baja yang dikerek dari atas setelah tak terpakai disimpan lagi.

Pendeknya kita terpisah dari dunia luar, tiada jalan sama sekali, kecuali dengan tangga baja

tadi.”

Melihat keadaan ini Tiong Giok diam-diam merasa kaget: “Aku bisa datang kemari tapi untuk

pulang tiada harapan lagi.”

Sedang otaknya berpikir, seorang pengawal datang memberikan laporam bahwa makanan

sudah disediakan. Dengan tersenyum Pek Wan Jie mengajak tamunya kesebuah rumah batu

yang agak besar. Didalam ruangan diterangi sebuah lampu besar, ditengah-tengah terlihat

meja bulat yang penuh barang hidangan, siorang berbaju biru sudah duduk ditengah-tengah.

Tiong Giok duduk diantara Kee Cie dan Wan Jie. Tanpa menawari lagi Kim Tak Can

menegak arak tiga cawan besar juga tanpa mengucapkan sepatah kata, berlalu kedalam

ruangan belakang seorang diri.

Kepergiannya Kim Tak Can membuat Lie Kee Cie menarik napas panjang, kini Siaw Eng dan

Siaw Hong baru diajak makan bersama-sama.

“Kenapa kim Fut Hoat hanya minum dan tidak makan ?” tanya Tiong Giok.

“Jangan banyak bertanya, kalau dikelaskan bisa-bisa kita tak napsu makan !” kata Pek Wan

29

“Memang kenapa ?” Tiong Giok semakin mau tahu.

“Ia tidak makan barang matang, setiap hari ia makan lima kati daging sapi, dua kelinci dan

tiga empat ayam atau bebek, semuanya dalam keadaan mentah-mentah; suka juga makan

darah mentah sebagai kuah! Maka itu ia suka makan sendiri.”

“Orang biadab kalu begitu!” kata Tiong Giok.

“Ssst, bukan biadab tapi setengah biadab!” kata Wan Jie.

Sesudah makan mereka mengaso sejenak lalu melanjutkan perjalanan dengan berkuda lagi.

Kim Tak Can sudah menantikan mereka dimulut gua yang berjeruji besi. Setiap yang melalui

gua harus mengeluarkan tanda pengenal. Lie Kee Cie dan Wan Jie pun tidak terkecuali. Ia

berlaku tegas dan keras menjalankan tugasnya. Tiong Giok dan Pang Hui mempunyai kartu

undangan sebagai tamu, tapi In Hok tidak, maka ditahan dan tidak diijinkan masuk.

“Ia adalah pengikutnya In Kongcu, dan sudah ada izin masuk kedalam!” kata Lie Kee Cie.

“Pokoknya kartu tamu hanya dua berlaku untuk dua orang, bagaimanapun tak boleh masuk.”

Kata Kim Tak Can dengan dingin.

“Bagaimana kalau kartu tamu menyusul belakangan ?” Tanya Lie Kee Cie.

“Pendeknya tiada kartu tamu, tak boleh masuk!” kata Kim Tak Can kukuh.

“Kongcu…..bagaimana?” kata In Hok dengan wajah ketakutan.

“Kalau begitu kunantikan saja sampai ada kartu undangan untuk In Hok baru masuk,” kata In

Tiong Giok.

“Mana bisa, karena Pangcu sudah tahu saat kapan Kongcu tiba, pasti sedang menantikan…”

kata Pek Wan Jie.

“Mana boleh menyalahkan aku, semua ini karena peraturan Pok Tian Pang yang kelewat

baras!”

“Kim Siok-siok berilah ia masuk dulu, aku yang bertanggung jawab, kartu tamu segera

menyusul, bolehkah ?” mohon Wan Jie.

“Satu kartu untuk seorang, tidak ada tawar menawar lagi!” Kim Tak Can tetap pada

Untung Wan Jie bisa berpikir cepar, ditunda Pang Hui pada penjaga, lalu diajaknya in Hok

masuk, Kim Tak Can tidak memperdulikan yang lain-lain tahunya satu kartu untuk seorang

tidak perduli orang itu siapa. Mereka masuk kedalam gua yang lebar, panjangnya lebih tiga

meter, setiap sepuluh meter terdapat sinar terang dari atas, membuat keadaan tidak gelap

sekali. Selewatnya terowongan, pandangan mata menjadi luas, tampak gunung-gunung

mengitari air terjun dari gunung berkumpul kelembah, karena tiada jalan keluar air itu

menjadi sebuah danau besar, tak ubahnya seperti laut, ditengah-tengah terlihat tiga pulau.

Pemandangan yang indah itu tak ubahnya dalam lukisan saja.

30

Disini mereka menemui lagi penjaga yang dikepalai seorang tua berbaju biru juga, wajahnya

tersungging senyum, beda denga Kim Tak Can tadi, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun,

tapi masih gagah sekali. “Aha Cuwie kenapa terlambat, Pang Cu sudah dua kali menanyakan

Cuwie sudah datang apa belum, sudah kesal menunggu.” kata orang tua itu.

“Hei” kata Tiong Giok pada Wan Jie, siapa dia, kenapa tidak kau perkenalkan dia dengan aku

?”

“Rupanya engkau senang dengan raut wajahnya yang selalu tersenyum.” tanya Wan Jie tidak

“Ya benar, lain dengan Kim Fut Hoat tadi yang begitu bengis.

“Tapi kalau aku disuruh memilih diantara dua orang ini menjadi teman, pasti kupilih Kim Fut

Hoat”, kata Wan Jie.

“Kenapa begitu ?”

“Jangan melihat paras luarnya, kekejamannya luar biasa sekali, kalau engkau pernah

mendengar namanya pasti akan kaget sendiri !”

“Siapa namanya ?”

“Sebenarnya seorang pelajar sepertimu kujelaskan juga tak berguna,” kata Pek Wan Jie,

“untuk tidak penasaran baik kuterangkan, didunia persilatan terdapat tiga belas manusia ajaib

yang lazim disebut Bulim Cap Sa Kie.

Antaranya ada yang disebut tiga besar dari selatan atau Thian Lam Sam Kui, nah dia ini

seorang dari iblis itu yang bernama Tok Kay Tong dengan gelar Bin Busiang, iblis

“Ya aku tak pernah mendengar soal tiga belas manusia ajaib.” kata In Tiong Giok ,” dapatkah

kuketahui yang dua belas lagi ?”

“Mudah saja jika mau mengetahui mereka asal bisa mengingat Jiak, Sie Koey, Sih, Sian,

Yauw, Mo, Jui, penjelasan selanjutnya nanti saja kalau ada waktu !”

Dari mulut terowongan mereka turun melalui tangga batu sampai dipinggir danau yang luas

mereka naik sebuah perahu yang sudah disediakan dan terus meluncur ketengah menuju

kesalah satu pulau. Tak berapa lama mereka sampai disebuah tempat yang menyerupai

palabuhan pulau itu. Disini terlihat dua puluh perahu yang ditambat, perlahan-lahan sampan

menepi kepantai, didarat terlihat sepuluh pengawal berpakaian hitam sedang menantikan,

begitu melihat perahu segera menyongsong.

Sesudah mendengar Lie Kee Cie berkata pada Pek Wan Jie : “Pek Kounio, karena harus

mengambil kartu undangan untuk Pang Hui aku akan kembali lagi kesana sedangkan soal In

Kongcu kuserahkan pada Kounio !”

31

Pek Wan Jie menganggukkan kepala, lalu menyuruh Siau Eng dan Siau Hong mengajak in

Hok ketempat beristirahat, ia sendiri mengajak In Tiong Giok ke istana Pok Thian Pang

dengan kereta. Sebelum itu ia memerintahkan pada seorang pengawal, untuk melaporkan

bahwa ia dan In Kongcu akan menghadap pangcu.

“Engkau tak perlu khawatir menemui Pangcu atau suhuku, ia sangat baik dan ramah tamah !”

kata Wan Jie.

Dengan cepat mereka telah tiba, Wan Jie mengajak tamunya kedalam sebuah bangunan besar.

Inilah yang disebut istana Pok Thian Pang pikir Tiong Giok. Begitu mewah dan indah,

sebelum masuk kedalam aula, mereka terhalang sehelai horden. Disini Wan Jie memberi

hormat, diikuti In Tiong Giok.

“Jangan sungkan, silahkan masuk,” terdengar suara dari balik horden yang segera terbuka.

Tiong Giok mula pertama berpikir Pok Thian Pang yang ambisius untuk menguasai dunia

persilatan tentu dipimpin seorang gagah berwajah bengis. Tapi begitu mendengar suara garing

yang halus membuatnya tertegun dan pandangannya terbuka, herannya bertambah-tambah,

karena… Pangcu itu adalah seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun. Pangcu itu

melihat In Tiong Giok yang begitu tampan kaget pula, matanya mengawasi dengan tajam

penuh keheranan. Pek Wan Jie mempersilahkan tamunya duduk, lalu mendekati pangcunya

sambil menuturkan soal bagaimana Pang Hui berniat jahat dan kena di pecahkan siasatnya

oleh Lie Kee Cie secara singkat.

Wanita berbaju merah itu mendengari sambil tersenyum, sedikitpun tidak menunjukkan rasa

marah, bahkan ia berkata :

“Sebagai pohon perserikatan kita ini semakin besar, maka itu angin yang ingin merobohkan

bertiup semakin besar juga, itu soal biasa ! Beritahu pada Lie Kee Cie jangan menyiksa Pang

Hui, kalau bisa tundukkan dengan lemah lembut, dan taruh di istana pencuci otak, perlakukan

baik-baik!” Dengan tetap tersenyum iapun menyapa In Tiong Giok : “Kudengar In Kongcu

mengetahui pengetahuan yang luas, tentu mendapat didikan di bawah guru yang pandai. Kami

sangat menghargai kepandaian Kongcu, untuk sementara Kongcu boleh istirahat dulu

beberapa hari, jangan sungkan dan likat, anggap bagai rumah sendiri.”

“Terima kasih atas kebaikan Pangcu!” jawab In Tiong Giok seraya memberi hormat.

“Bolehkah kutahu berapa usia Kongcu tahun ini ?” Tanya Pangcu.

“Dua puluh tahun.”

“Orang tuamu tentunya dalam keadaan sehat-sehat saja.”

“Terima kasih atas perhatian Pangcu.”

“Wan Jie sebentar malam engkau gantikan aku menjamu In Kongcu, anak muda bertemu anak

muda lebih cocok bukan ?”

Wan Jie menjadi merah mukanya. “Dimanakah In Kongcu malam ini harus bermalam suhu ?”

“Sementara di Villa tenang saja!”

32

“Bukankah lebih baik di villa bamboo saja ?”

“In Kongcu adalah pelajar, tentu lebih senang ditempat sunyi, lain dengan engkau yang

berlaku ugal-ugalan,” kata Pangcu itu dengan tetap senyum. Sehabis berkata ia bangun, dan

dengan diiringi delapan pelayan berbaju kuning ia masuk ruang belakang.

Pek Wan Jie mengajak Tiong Giok keluar, jelas wajahnya terlihat sedikit murung. “Villa

tenang,” gerutunya tak puas.

“Kounio, gurumu begitu cantik dan masih muda, benar diluar dugaanku… Ya caranya

menempatkan engkau di villa tenanglah diluar perkiraanku!

“Memang kenapa ?”

“Engkau tidak tahu villa Tenang dan Asmara Bambu di mana kutinggal letaknya jauh

sekali…..”

“Jauh dekat tak jadi soal bukan ?”

“Hm, sangat penting, engkau…” Tiba-tiba saja Wan Jie menghentikan kata-katanya, dan lalu

menundukkan kepala, sedangkan dua bayangan merah tertera di kedua belah pipinya.

Tiong Giok merasakan juga goncangan hatinya dan mengerti apa tujuan kata-kata gadis itu,

diam-diam ia tertawa geli dan berkata :

“Biar jauh diseberang lautan, tetap dekat pikiran, kenapa Kounio harus…”

“In Kongcu jangan salah artikan, maksudku ini,” ia menekan suaranya semakin perlahan,

maksudku tidak engkau memikirkan soal nasibmu sendiri ?”

“Soal nasibku ?” Tanya In Tiong Giok menegasi. “Pendeknya engkau harus ingat, disini

penjagaan amat keras, gerak-gerikmu harus hati-hati, jangan sembarangan pergi kemana,

sukar aku menjelaskan.”

“Terima kasih atas perhatian dan nasehat Kounio!”

Mereka berkereta lagi menyusuri jalan kecil dan masuk kessebuah tempat sunyi, disitu

terdapat villa yang terkurung pepohonan, kelihatannya tenang sekali. Villa itu terdiri dari lima

kamar, tiga kamar sangat terang karena sinar matahari masuk sedangkan yang dua agak gelap.

Semuanya teratur rapih dan bersih.

“Mungkin dulunya di sini ada yang tinggal bukan ?”

Wan Jie menganggukkan kepala perlahan.

“Coba, apa yang masih rasa kurang, boleh kutitahkan Siau Hong membawanya ke sini. Aku

piker budak itu sebaiknya tinggal di sini agar bisa merawatmu dengan baik!”

33

“Aku rasa semua sudah cukup, Siau Hong tak usah repot-repot mengurusku, untukku In Hok

sudah cukup!” Tiong Giok melihat-lihat buku yang berada di lemari, lalu mengambilnya

sejilid : “Buku-buku ini sangat antik dan sukar di dapat, mungkin penghuninya dulu seorang

pelajar tinggi, saying aku tidak jodoh menemuinya!”

Wan Jie seperti tidak mendengar apa yang diucapkan Tiong Giok, ia terpekur diam seperti

memikirkan sesuatu yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.

Walaupun Tiong Giok bergaul baru tiga hari, ia sudah kenal sifat Wan Jie yang periang, tetapi

timbullah herannya, waktu mendengar Pangcunya menetapkan dirinya diam di villa tenang,

terus menerus berwajah murung.

“In Kongcu,” tiba-tiba Wan Jie menegur, “terus terang saja, apakah engkau benar-benar bisa

bahasa Sangsekerta ?”

“Sejak kecil aku sudah mempelajari bahasa itu,” jawab Tiong Giok, “apakah Kounio

meragukan akan kebiasaanku? Jangan samakan diriku dengan Pang Hui!”

“Aku tak berpikir atau curiga seujung rambut padamu. Tetapi jika engkau tidak paham bahasa

Sangsekerta dan datang hanya sebagai mata-mata, mungkin itu lebih baik sedikit.”

“Aku tak mengerti maksud Kounio!”

“Baiklah kujelaskan, susul-menyusul disini pernah itnggal sastrawan yang benar-benar pandai

bahasa Sangsekerta. Kedatangan mereka atas undangan Pangcu sepertimu juga. Tapi setiap

baru mau bekerja, entah bagaimana satu persatu mati terbunuh !”

Tiong Giok merasa kaget : “Disini banyak pengawal, mungkinkah bisa terjadi peristiwa

semacam itu ?”

“Ya, mungkin didalam Pok Thian Pang sendiri ada penghianat,” kata Wan Jie. “Setelah

kejadian itu Lo Cucong marah besar, sampai tiga Tongleng di bunuhnya, belum juga

diketahui siapa penjahatnya!”

“Kalau begitu jiwaku dalam keadaan bahaya dan Pok Thian Pang tidak bisa melindungi bukan

?”

“Tapi setelah terjadi tiga kali peristiwa itu penjagaan sudah diperkuat lipat ganda, tambahan

Lie Kee Cie adalah seorang yang cerdas dan lihay, juga tak seberapa jauh dari sini, adalah

Suhengku, jika terjadi sesuatu, ia bisa memberikan bantuan, mungkin sekali ini tidak akan

terulang kejadian seperti dulu!”

Belum pula suara Wan Jie hilang dari pendengaran, dijendela berkelebat sosok bayangan

hitam. Dengan cepat Wan Jie menegur : “Siapa ?” tidak ada jawaban. Mereka keluar rumah,

dilihatnya seorang muda berbaju merah lebih kurang berusia tujuh belas tahun, wajahnya

tampan, hanya sedikit merah, pucat sedang berdiri ditaman bunga. “Oh, kiranya Suheng,

membuat kami kaget saja !”

Pemuda itu tidak menjawab hanya mengangguk kecil, sedangkan matanya dengan penuh

keangkuhan memandang kepada In Tiong Giok.

34

“Suheng kemari, kukenalkan dengan In Kongcu….”

Tanpa memperdulikan sedang diajak bicara ia ngeloyor pergi dengan wajah sinis. Wan Jie

merasa jengah sendiri tak diladeni…..

“Siapa dia ?” Tanya In Tiong Giok.

“Ia adalah putera tunggal guruku, namanya Pek Kim Kiam Hong, tuh tinggalnya

diperkampungan Awan Putih.

“Dilihatnya macamnya seperti tak senang padaku,” kata in Tiong Giok.

“Tidak!” bantah Wan Jie, “ memang sudah wataknya demikian ia selalu menyendiri dan tidak

dengan siapapun !”

“Mungkin Siau Pangcu tidak ada kepuasaan dalam hidupnya ?”

“Tidak bisa disalahkan, seorang anak tidak berbapak mana bisa hidupnya bahagia ……

“Memang ayahmu kemana ?”

“Tidak kutahu, ini merupakan teka-teki, mungkin di dunia hanya guruku dan Lo Cucong yang

mengetahui, tapi mereka merahasiakan sekali.”

“Apakah Suhengmu tidak menanyakan juga ?”

“Ditanyakan tidak berguna, suhu selalu membelokkan pertanyaan kesoal lain, agaknya berat

untuk menjelaskan kandungan hatinya. Lebih-lebih Lo Cucong bukannya menjawab malahan

memaki-maki.” Lain kali jangan engkau tanya-tanya lagi soal ini, ayahmu adalah manusia

berbudi rendah dan sangat memalukan, sebelum engkau lahir ia sudah mati !”

“Lalu kenapa ia memakai She Pek ?”

“Ia ikut She ibunya, suhuku bernama Pek Cin Nio !”

“Alangkah kasiannya Suhengmu itu, sampai soal ayahnya sendiri tidak diketahuinya, tak

heran kelakuannya suka menyendiri dan berwajah kecut, sungguhpun demikian jika ada

kesempatan ingin aku berkenalan dengannya !”

Ia bersifat dingin sekali, sebaiknya engkau jangan dekat-dekat dengannya !”

Tak selang lama Siau Hong datang mengajak In Hok, mereka memberesi rumah : Wan Jie

meminta disediakan makan dan minuman untuk menjamu tamunya.

Waktu makan Wan Jie mengusulkan lagi agar Tiong Giok suka memakai Siau Hong, tapi

dengan halus ditolaknya. Wan Jie tidak memaksa terus perjamuan ini berjalan tawar, masingmasing

mempunyai pikiran sendiri-sendiri, waktu malam mendatang mereka berpisah.

35

Sehabis mandi Tiong Giok menyuruh In Hok tidur, ia sendir sambil berpangku tangan

berjalan perlahan-lahan keluar rumah. Taman bunga dalam keadaaan tenang, dan dari jauh

terdengar suara berkericok air. Disebelah kiri terdapat Pek In Sancung (perkampungan awan

putih). Sebelah kanan terlihat tembok penjara dengan pengawal-pengawal yang mondar

mandir tak henti-hentinya. Dari keadaan ini dapat dilihat jika orang jahat ingin masuk ke villa

tenang, sukar melalui jalan kiri dan kanan, hanya dari muka dan belakang rumah dimana

terdapat bukit kecil musuh bisa masuk, maka tempat inilah sepatutnya mendapat perhatian.

“Pok Thian Pang berdaya upaya buku berbahasa Sangsekerta yang dimilikinya dapat

diterjemahkan, sebaliknya banyak pula kaum rimba persilatan yang mati-matian

mencegahnya. Di villa ini sudah tiga penerjemah yang mati, dan waktu ditengah jalan Pang

Hui berusaha mencelakakan dirinya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan buku itu penting

sekali. Sebenarnya dia datang untuk menterjemahkan buku itu, tapi keanehan buku itu sudah

memikat hatinya, dan ingin ia bisa secepatnya melihat buku itu. Ia mundar-mandir, sedangkan

malam semakin larut, keadaan benar-benar tenang sekali dan sunyi senyap, tiada terdengar

suara apa-apa, sampai suara bernapas In Hok yang tidur dapat terdengar tegas !

Perlahan-lahan ia masuk kekamar, tak siang kepalang kagetnya, begitu kakinya melangkah

pintu kamar, karena ia melihat sesosok tubuh di kursi malas sedang menyandar dan

mengangkat kaki seenaknya !

“Siapa kau !” bentak Tiong Giok.

Tidak ada jawaban, seolah-olah orang itu tidak mendengar, keruan saja Tiong Giok jadi

degdegkan, sambil berlaku waspada ia membentak lagi : “Siapa kau, dan apa maumu datang

kemari ?”

Orang itu dengan perlahan menarik kakinya sehingga wajahnya terlihat tegas, kiranya bukan

lain dari Lie Kee Cie adanya. Semua ini diluar dugaan Tiong Giok, cepat-cepat ia memberi

hormat : “Kiranya Lie Tongleng, maafkan kekurang ajaranku !”

“In Kongcu malam-malam masih jalan-jalan keluar, tak ubahnya seperti seniman pengagum

alam saja,” Lie Kee Cie menyindir dingin.

“Ya untuk orang baru, segala yang baru menarik perhatian, maka itu biarpun diwaktu malam

tetap menarik juga !”

Tiba-tiba saja sepasang mata Lie Kee Cie yang memancarkan sinar tajam dan dingin menyapu

wajah sipemuda. “Apakah In Kongcu mengetahui kejadian dan segala perubahan di rumah ini

?”

“Yang kudengar soal bagaimana matinya tiga penterjemah dirumah ini dari Pek Kounio !”

“Apakah hal ini tidak membuat Kongcu takut ?”

“Ya sejujurnya tabiatku tidak takut pada setan atau iblis !”

“Soal setan atau iblis adalah abstrak, yang benar tiga penterjemah mati terbunuh ! Tapi yang

menurunkan tangan jahat dapat berbuat begitu cermat dan tidak meninggalkan jejak untuk

bahan pengusutan, sehingga kejadian itu tetap gelap.” Ia berhenti sejenak, sepasang matanya

36

mengawasi terus pada In Tiong Giok, sudah selang lama ia berkata : “Kongcu adalah

penterjemah yang keempat datang ke sini, maka itu kuminta Kongcu bisa berlaku hati-hati,

dan bekerjasama denganku !”

“Harus bagaimana aku ini Lie Tongleng ?”

“Maksudku engkau kujadikan umpan untuk memancing penjahat keluar !”

“Ah terlalu bahaya, salah-salah jiwaku bisa melayang !”

“Jangan kuatir, sebelum engkau beres menterjemahkan buku, tak bisa kami membiarkan

engkau gampang-gampang mati !”

Sebaliknya bagaimana kalau pekerjaanku sudah selesai…..”

“Mungkin Pangcu dan lo Cucong bisa memberi kesempatan Kongcu masuk menjadi anggota

?”

“Jika aku tak mau menjadi anggota ?”

“Kongcu pasti mau, karena jalan satu-satunya untuk hidup !” Sehabis berkata Lie Kee Cie

segera berlalu.

Perkataan terakhir dari Tongleng itu membuat Tiong Giok tertegun, tak terasa lagi badannya

jadi bergidik. Tak heran kalau Wan Jie mengatakan, jika engkau tidak bisa bahasa

Ssangsekerta dan hanya sebagai mata-mata akan lebih baik lagi. Bukankah dengan begitu

sinona menjelaskan setelah pekerjaannya selesai dirinya akan dibunuh untuk menutup mulut ?

Lebih-lebih melihat keadaan kini, bagaimana Lie Tongleng keluar masuk kedalam kamarnya

dengan leluasa membuat hatinya semakin ciut. Otaknya berkecamuk tak keruan, akhirnya

keberaniannyapun timbul dan berkata dalam hati secara pasti : “Tujuan mereka tidak baik,

jangan aku bekerja dengan baik pula, ya harus berdaya upaya untuk meloloskan diri

secepatnya !” Akibatnya terlalu banyak berpikir sampai malam hari ia tidak tidur !

Pagi-pagi Wan Jie sudah datang, begitu melihat mata Tiong Giok yang merah karena tak tidur

segera bertanya dengan heran : “Mungkin malam tak tidur ya ? Apakah tempat ini terlalu sepi

dan mendatangkan ketidak betahanmu ?”

“Aku tidak, justeru karena tempat ini terlalu indah sehingga membuatku tak dapat tidur !”

“Keadaan tempat kami ini terpisah-pisah dari dunia luar, sepanjang tahun keadaan alam tidak

berubah, pemandangan selalu indah, jika engkau senang aku bersedia menjadi penunjuk jalan,

keliling keempat penjuru, memuaskan pandangan mata !”

“Mungkinkah aku diijinkan untuk meninjau dan pesiar ditempat ini ?”

“Siapa bilang tidak ? Bahkan suhu sudah memesan agar aku menemani engkau dlam beberapa

hari ini kemana engkau suka, yah mari kita berjalan-jalan !” Tanpa menunggu jawaban,

lengan Tiong Giok ditariknya dan diajak jalan-jalan.

37

In Tiong Giok mengerti inilah siasat Pok Thian Pang yang sengaja menjadikan dirinya

sebagai umpan, dan dipamerkan supaya semua orang tahu dirinya sebagai penterjemah. Guna

menarik perhatian untuk semua orang-orang yang bermaksud buruk : Sebaliknya ia sendiri

menggunakan kesempatan ini untuk mencari jalan meloloskan diri !”

Mereka berjalan-jalan dengan enaknya, tanpa terasa lagi seluruh pulau kena dikelilingi.

Sepanjang jalan Wan Jie tak jeemu-jemunya memberitahu nama-nama tempat. Semakin jalan

perasaan Tiong Giok merasa kesal, kaena melihat dimana-mana penjagaan sangat keras

sekali, bagaimanapun untuk mencari kesempatan lari tak mungkin bisa lari.

Senja hari mereka baru kembali, dengan alas an letih Tiong Giok membuat Wan Jie berlalu, ia

sendiri naik kepembaringan, begitu lesu dan lemas, segala harapan untuk lari menjadi hilang

dan tinggal angan-angan saja ! Akhirnya akibat keletihan yang berlebih-lebihan, ia tertidur

Waktu malam Tiong Giok terbangun dengan kaget, karena pintu rumah digedor dari luar.

Dilihatnya In Hok tergesa-gesa membuka pintu dari luar masuk Lie Kee Cie dan seorang lakilaki

beralis tebal, dilihat dari seragamnya menandakan ia wakil Tongleng.

“Cuwie dimalam hari datang kesini ada keperluan apa ?” tegur In Tiong Giok.

Lie Kee Cie dengan pancaran mata yang tajam menyapu keliling ruangan, lalu berkata :

“Bukan soal apa-apa, hanya menjenguk In Kongcu saja, karena ada seorang mata-mata

didaerah sini !”

“Tapi disini aman tak kurang sesuatu apa-apa !”

“Mata-mata itu mencoba mencuri perahu, tapi kepergok dan lari kesini !” kata Lie Kee Cie.

“Tapi kami tidak merasakan ada yang masuk kesini.” Jawab In Tiong Giok.

“Demi keselamatan Kongcu, maka ijinkanlah kami melakukan penggeledahan seisi rumah !”

“Silahkan ! Silahkan ! Jika benar berada disini, ini bukan main-main!”

lie Kee Cie menganggukkan kepala dan menoleh kepada laki-laki beralis kereng : “Suruhlah

pengawal-pengawal melakukan penggeledahan !”

Belasan pengawal dengan obor terang memeriksa kesetiap ruangan. Suasana menjadi hiruk

pikuk. Saat inilah Wan Jie dengan dua pengikutnyapun datang, membantu memeriksa dan

mencari penjahat biarpun sudah diperiksa dengan teliti tidak juga ditemui penjahat yang

Laki-laki beralis kereng merasa penasaran, diambilnya onor dari pengawal dan dia masuki

kamar Tiong Giok dan In Hok, kolong-kolong diperiksa, dan lemari-lemari dibuka, tapi

hasilnya nihil. Heran, mungkinkah ia bisa menghilang ?” gerutunya perlahan.

“Apakah kalian benar-benar melihat tegas penjahat itu masuk kesini ?” tanya Wan Jie.

“Pasti tidak salah,” kata Lie Kee Cie dengan suara mantap.

38

“Apakah taman bunga dan perkampungan Awan Putih sudah diperiksa juga, siapa tahu

penjahat itu bersembunyi disana.” Kata Pek Wan Jie.

“Perkataan Pek Kounio memang benar, disana lebih banyak gunung-gunung yang cocok

untuk menyembunyikan badan” kata Lie Kee Cie yang segera permisi berlalu sambil

membawa anak buahnya.

“Kata apa ?” kata Pek Wan Jie, “keadaanmu selalu dalam bahaya, bagaimana jika benar

penjahat datang, sedangkan kalian tidak bisa bersilat. Mau tidak engkau menrima Siau Hong

sebagai pelindung ?”

“Menurut Lie Tongleng penjahat itu berniat merampas perahu dan bukan untuk mencelakan

aku, dari sini dapat ditarik kesimpulan itu bukan mata-mata melainkan ada seseorang didalam

Pok Thian Pang yang ingin melarikan diri dan berhianat pada perserikatan !”

“Engkau tidak bisa melihat keadaan baik dan buruk, maksudku menaruh Siau Hong disini

demi keselamatanmu, tapi engkau seperti takut padanya, ia toh tidak bisa memakanmu bukan

?”

“Lie Tongleng seorang cerdik dan tangkas adanya dia sebagai penjaga hatiku merasa tentram!

Soal Siau Hong bukan apa-apa hanya…seorang pelajar aku merasa kikuk tinggal bersamasama

dengan seorang gadis !”

“Ah engkau benar-benar pandai menggoyang lidah, membuatku tak berdaya ! kata Pek Wan

Jie, seraya mengajak kedua pengikutnya berlalu.

Dengan cepat dua hari telah berlalu, selama ini In Tiong Giok kurang tidur, malam inipun

tidak terkecuali, perasaannya amat risau. Ia berjalan kejendela memandang keadaan ,alam,

waktu baru tengah malam masih jauh kepagi. Untuk menghilangkan kesalnya ia membaca

buku, untuk ini ia harus menyalakan lampu, malang baginya minyak pelita sudah kering.

Maka dipanggilnya In Hok, tapi tidak mendapat jawaban, hal ini mengherankannya. Biasanya

orang tua itu sekali dipanggil sudah menyahut, kenapa malam ini bisa tidur nyenyak sekali.

Dihampirinya kamar pembantu itu, ia jadi melongo karena In Hok tidak ada dikamar !

Saat inilah dari arah jauh terdengar kentongan bahaya, dalam sekejap suasana jadi ramai dari

teriakan para pengawal. Tiba-tiba dari luar berkelebat sesosok bayangan yang segera

membuka baju dan terus naik ke ranjang makai selimut. Kejadian ini berlangsung hanya

sekilas mata saja, menandakan orang ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Tapi

Tiong Giok mengenali orang itu bukan lain dari In Hok adanya !

Penemuan yang tidak disengaja ini membuatnya menggigil tak keruan, hampir-hampir ia

berseru kaget, untung tertahan. In Hok adalah pembantu ayahnya puluhan tahun, tak mungkin

sebagai seorang lihay yang menyembunyikan kepandaian sekian lamanya tanpa ketahuan.

Diluar rumah sudah terdengar langkah-langkah pengawal, Tiong Giok buru-buru masuk

keranjangnya dan pura-pura tidur ! lalu dengan gaya sepeerti barubangun dipanggilnya In

Hok membuka pintu, karena pintu sudah diketuk dari luar.

In Hok benar-benar seperti baru bangun sambil memakai baju ia membuka pintu.

39

Lie Tongleng dan wakilnya tersenyum sinis melangkah masuk dengan sepuluh pengawal.

“Untuk ketiga kalinya aku mengganggu, tapi sekali ini tidak akan salah lagi, dengan mata

kepala sendiri kulihat ada yang masuk kedalam rumah !” Tanpa permisi lagi ia mengeluarkan

perintah pada anak buahnya : “Periksa !”

Laki-laki beralis kereng dengan cerfmat melakukan pemeriksaan demikian juga dengan anak

buahnya, tapi hasilnya tetap nihil !

Lie Tongleng wajahnya menjadi masam, dengan tajam ia memandang kepada In Hok.

Sedangkan yang diawasi sikapnya sangat wajar dan layu, masih mengantuk. Begitu lama Lie

Tongleng mengawasi, belum juga membuka mulut, membuat In Tiong Giok kaget dan cepat

berkata memecahkan kesunyian : “ Cuwie tentu amat letih bertugas sepanjang malam, mari

mengaso dulu, In Hok lekas sediakan the dan jangan membengong saja disini !”

In Hok segera ngeloyor pergi.

“Tidak usah,” kata lie Tongleng, kami masih sedang bertugas, tidak bisa lama-lama berada

disini, atas kejadian ini harap jangan merasa terganggu, semua ini untuk keselamatan Kongcu

!”

“Terima kasih atas kebaikan Tongleng!” kata In Tiong Giok sambil merangkapkan tangan. “

“Bolehkah aku menanyaorang tua ini sudah berapa lama menjadi pembantu dirumahmu ?”

kata Lie Tongleng.

Diam-diam Tiong Giok menjadi kaget, tapi parasnya tetap tenang dan menjawab secara wajar:

“Sejak umur belasan tahun ia membantu ayahku sampai sekarang!”

“Ia pengawal lama dan orang kepercayaan ayahmu, maka itu kesetiaannya tak usah diragukan

lagi bukan ?”

Perkataan Lie Tongleng tidak berarti apa-apa, tapi Tiong Giok sudah mengenal wataknya

yang cerdik, maka iapun menjawab seenaknya: “Ya, memang ia orang kepercayaan ayahku !”

“Ia begitu setia dan bekerja sudah puluhan tahun, apakah sudah berkeluarga ?”

“Ini…” belum pula Tiong Giok berkata habis, In Hok sudah mendahului: “Anakku sudah

sebesar Tongleng!” Jawaban ini hampir-hampir membuat sekalian pengawal tertawa

“In Kongcu katamu belum selesai,” kata Lie Tongleng dengan cepat.

“Ini terjadi sebelum aku lahir!” jawab Tiong Giok dengan cepat pula. “Untuk apa Tongleng

bertanya hal ini ?”

“Memang seperti tidak berguna tapi bermanfaat besar bagiku, tunggu saja nanti, aku bisa

memberikan laporan yang benar-benar bisa mengejutkan Kongcu, nah sekarang sudah lama

kami mengganggu dan permisi !” Dengan sekali menggoyang tangan sekalian pengawal

mengiringinya keluar.

40

In Tiong Giok masih terpekur, setelah langkah-langkah para pengawal menjauh ia baru

merasa lega. Cepat ditutupnya pintu, lalu dipanggilnya in Hok: “Engkau sebenarnya siapa,

lekas bilang !”

“Kongcu masakan sama aku si budak tua tidak kenal ? Aku In Hok!”

“Sampai sekarang In Hok belum berkeluarga sebaliknya terus terang saja siapa dirimu ? Dan

In Hok telah engkau apakan ?”

“In Hok tiba-tiba tertawa: “Harap Kongcu tenang, pengikutmu itu tidak kurang suatu apa dan

sudah pulang dengan selamat kerumahmu !”

“Untuk apa engkau menyamar sebagai In Hok, terangkan lekas, jangan sampai aku berteriak

dan membuatmu nanti mati secara sia-sia.”

“Manusia tidak mau mencelakakan Harimau, sebaliknya harimau mau mencelakakan

manusia”, kata In Hok palsu, “tidakkah Kongcu ingat dua kali terlepas bahaya berkat

pertolonganku ?” Berbareng dengan habisnya bicara, lengannya dengan cepat menjambak

dada In Tiong Giok.

Dengan tangkas pemuda kita menggunakan ilmu menggeser tubuh Kiu toan bie cong pou,

tubuhnya berkelebat dan lolos daro serangan.

“Ih, kiranya ada permainannya juga,” kata In Hok sambil mengebaskan tangan membuat

pelita padam. Lalu tubuhnya merendah dan melancarkan serangan Kui ong tan jiau (raja setan

mengcengkeram) kearah ketiak lawan. Tapi dengan cepat dan gusar Tiong Giok melancarkan

serangan balasan kearah jalan darah musuh. Serangannya yang cepat dan tepat membuat In

Hok kaget, dan menarik tangannya sambil berseru : “Ih Siong liong ciu (ilmu menangkap

naga)!”

“Hemm, kau kenal juga, nah ini apa !” kata In Tiong Giok seraya mengumpulkan tenaga

untuk melancarkan ilmu mautnya. Tapi dengan tiba-tiba ia ingat pesan gurunya dan buru-buru

membatalkan niatnya.

Tapi gerakannya saja sudah dikenali In Hok orang tua itu jadi tersenyum. “Hm, tahan dulu si

kutu buku itu apamu ?”

“Aku tidak kenal siapa si kutu buku !”

“Lalu siapa yang memberikan pelajaran Sing Liong ciu dan Hiat cie leng padamu ?”

“Sudah tentu guruku !”

“Siapa gurumu ?”

“Penunggang Hiu dari daerah Honglay, pelajar miskin dari Pegunungan Salju !”

“In Hok menarik nafas panjang, lalu menyalakan pelita. Dibawah sinar lampu. “In Hok telah

bersalin rupa: Rambutnya putih, matanya memancar tajam, usianya lebih tua dari In Hok asli,

tapi wajahnya kemerah-merahan seperti gadis remaja !

41

“Engkau siapa ?”

“Ha ha ha budak cilik, lihatlah yang tegas !” Orang tua itu tertawa dan mengusap wajahnya,

warna kemerah-merahan menjadi hilang berubah kecoklat-coklatan, sikapnya penuh wibawa,

dialah Ngo Liu Cungcu Tan Toa Tiau. In Tiong Giok menyedot nafas, mengumpulkan tenaga

siap dengan Hiat Cie Leng.

“Jangan kesusu, lihat lagi yang tegas,” Lagi-lagi si orang tua bersalin rupa persis seperti Lie

Kee Cie.

In Tiong Giok kebingungan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas:

“Engkau sebenarnya siapa ? Setan atau manusia ?”

Orang tua itu mengeset selaput tipis dari wajahnya, menampakkan kembali wajah aslinya

yang kemerah-merahan seperti anak gadis remaja. Ia tertawa puas : “Lohu adalah setengah

manusia setengah setan, ketemu manusia jadi orang ketemu setan jadi iblis ! Bocah, belum

kenal juga padaku ?”

In Tiong Giok menjadi bingung: “Hari-hari belum pernah ketemu mana kukenal engkau siapa,

lagi pula yang mana wajah aslimu !”

“Ah benar-benar celaka sampai orang sendiri tidak dikenal. Menurut tingkatan engkau harus

memanggil Siok-siok (paman) padaku, tak kira berbalik dijadikan pelayanmu !”

“Sebenarnya engkau ini siapa ?”

“Gurumu si kutu buku itu adalah kawan karibku dari banyak tahun,” kata si orang tua.

“Dalam hal menulis dan membuat sajak aku tak memadai kepandaiannya, tapi dalam hal

minum arak dan menggerogot daging anjing aku lebih lihai darinya ! Jika engkau mewarisi

kepandaiannya dan menjadi muridnya, tentu kenal siapa aku ?”

“Suhu tak pernah menceritakan orang-orang Kang Ouw, bahkan sampai namanya sendiri tak

pernah dikatakan!”

JILID 3________

“Ah benar heran, sedang main apa si kutu buku itu… tapi sedikitnya engkau pernah

mendengar apa yang dinamai Bulim Cap sa kie bukan ?”

“Oh yang engkau maksudkan dengan Jiak sie to koey kay sin sian yauw mo kui itu ? aku baru

tahu beberapa hari saja dari Pek Kounio, artinya sama sekali tidak jelas !”

“Ya ketiga belas orang ini empat puluh tahun yang lalu merupakan jago dunia persilatan yang

tiada taranya !”

“Aku heran sepuluh huruf itu kenapa bisa jadi tiga belas orang ?”

“Antaranya yang disebut Yauw ialah Hekpek Siangyauw suami istri, atau dua jejadian hitam

dan putih. Sedangkan To adalah penganut Taois dari Lau Tze bernama Thay Cin Tojin dari

42

pegunungan Hengsan. Kui artinya gadis, yang dimaksud adalah Liap In Eng yang bergelar

Piau Hio Kiam atau sipedang semerbak : Sin mewakili Tong Cian Lie yang bergelar Lui Sin

atau malaikat petir : Sian adalah Gan Kong Hu dengan gelar Sit bok-sian ong atau dewa

bermata hijau, sedangkan Sie mewakili Biku yakni Kay Kong Kiansu : Mo adalah Hiat Mo

setan berdarah Kim Kay, sedangkan kui atau setan mewakili Thian Lam Sam Mo, tiga iblis

dari daerah selatan yang terdiri dari Siau bin Busiang (iblis tersenyum) , Tok Kay fong,

Kiucie Busiang (iblis berjeriji sembilan) Kam Peng Hoo dan Tokpit Busiang (iblis bertangan

satu) Ciau Cie Hiong….”

“Engkau hanya menjelaskan artinya delapan huruf, masih ada Jiak dan Kay yang belum

dijelaskan !”

“Kedua orang itu sebenarnya tak perlu dijelaskan engkau harus tahu sendiri !” kata si orang

tua sambil mengangkat –angkat pundak. “Kelihatannya engkau pintar, nyatanya bodoh dan

harus dikasihani : Jiak adalah pelajar, yakni gurumu si kutu buku Han Bun Siang dengan gelar

Lo-to sen (sipelajar miskin) dan Kay atau pengemis adalah aku Cu lit dengan gelar manis

yakni Cian Bin Sin Kay atau pengemis seribu muka !”

Kaget dan girang bercampur dijiwa Tiong Giok, cepat-cepat ia membungkukkan badan

memberi hormat : “Tak kukira bahwa Lo Cianpwee dan guruku adalah Bulim Cap sakie.

Boanpwee benar-benar tidak tahu dan maaf atas kekuranganku.

“Sudah jangan berkata begitu,” kata Cian Bin Sin Kay,”Sejujurnya dulu bulim capsahkie

namanya tenar, tapi untuk kini telah berubah menjadi Bulim Capsahkie Siu (tiga belas

keburukan)… untuk apa ?”

Bocah apakah engkau tahu kedatanganku ke sini ?”

“Boanpwee tidak tahu,” jawab In Tiong Giok.

“Aku ingin mencari seseorang yang tidak imannya…” mendadak ia diam dan memiringkan

kepala mendengari sesuatu. “Sst jangan bersuara dibelakang rumah datang seseorang

berkepandaian tinggi !” Hm, ingin kulihat manusia macam apa dia itu !”

Cepar-cepat selaput tipis dikenakan kemukanya, membuatnya menjadi In Hok kembali.

“Lo Cianpwee jangan lupa, pura-pura tidak pandai silat, agar tak ketahuan,” kata In Tiong

“Ya engkau benar, hampir-hampir kulupa dan terbongkar rahasia kita !”

Berdua-dua mereka berdiam dipojok ruangan ssmbil menahan napas, tak perlu lama-lama

mereka menanti, dibelakang rumah terdengar suara berkeresek… Cianbin Sinkay dengan ilmu

Toan Im (mengirim suara) berbisik pada kawannya “Binatang ini bermaksud tidak baik,

dalam keadaan terpaksa akan kutindak, engkau tetap saja berlagak bodoh !”

Sesosok bayangan hitam masuk kedalam, tubuhnya kurus dan mengenakan pakaian warna

kelabu, wajahnya tertutup kedok, hanya matanya saja terbuka memancar tajam. Ia bersenjata,

gerakannya ringan, dugaan sipengemis tidak salah, tamu tak diundang ini berkepandaian

tinggi. Tiong Giok memperhatikan terus gerak gerik orang itu. Sibaju kelabu seolah-olah

43

mengenal baik keadaan rumah, ia menuju ke kamar In Tiong Giok. Pintu memang setengah

terbuka, tubuhnya memiring dan mencelos masuk tanpa bersuara. Tapi dengan cepat pula is

keluar lagi dari dalam kamar.

“Kawan !” tegur In Tiong Giok, sambil menerkam dan melancarkan serangan Cesiu Puliong

(dengan tangan menjirat naga) mencengkeram kearah pundak. Tanpa menoleh, sibaju kelabu

tiba-tiba mengengos dan menyerosotkan kakinya, tubuhnya sudah berpisah satu meter, lalu

berbalik melepaskan tamparan !

Tiong Giok menyerang tergesa-gesa, cepat-cepat tubuh bagian atas diputar, dan menarik

tangan kanannya, kembali menyiapkan seangannya itu yang dikeluarkan dengan jurus In

Liong Sian Jiau (naga memperlihatkan kuku diawan), tapi gamparan musuh mengandung

kekuatan hebat, tubuhnya hampir terpukul jika tidak ada Cianbin Sinkay yang menalang

menangkis ! Sungguh begitu tak urung terhuyung-huyung tiga empat langkah. Sibaju kelabu

menggunakan kesempatan ini melompat peergi dan terus hilang kearah jendela. Cianbin

Sinkay menyusul dengan cepat, tapi kehilangan jejak, ia merasa kagum, sambil menggoyanggoyang

kepala ia kembali kerumah. “Engkau menyuruh aku menyembunyikan kepandaian,

kenapa engkau sendiri tak tahan menghadapi keadaan ?”

“Sebab dia bukan orang Pok Thian Pang !”

“Bagaimana engkau tahu ?”

Ia berkepandaian tinggi dan tidak bersenjata, begitu masuk lantas kekamarku tapi ia segera

keluar lagi, karena mengetahui kamar kosong. Dari sini kupikir tentu dia orangnya yang tiga

kali berturut-turut membunuh penterjemah bahasa Sangsekerta. Tujuannya dari pembunuhan

untuk mencegah jangan sampai buku yang berada ditangan orang-orang Pok Thian Pang

diterjemahkan, sungguhpun kelakuannya sangat telengas ia berniat melindungi juga kaum

bulim, saying kita tidak berhasil membekuknya !”

“Tapi disini hanya aku dan engkaulah yang terhitung orang luar, jika orang itu bukan anggota

Pok Thian Pang kenapa bisa masuk kesini !”

“Bisa saja, didunia ini apa yang tidak mungkin ?” kata In Tiong Giok. “Buktinya seperti

Locianpwee bisa salin wajah, mungkin dia juga demikian !”

“Ilmu salin rupaku dapat dikatakan tidak ada duanya diatas dunia ini, sehingga mendapat

julukan Cianbin, sungguhpun begitu harus menjadi budakmu dulu baru bisa datang kesini !”

“Tujuannya orang itu mencegah aku menterjemahkan buku, jika kita belum meninggalkan

tempat ini pasti dia akan datang lagi ! Untuk kedua kalinya kita harus berhasil menangkapnya,

mungkin dia itu bisa dijadikan kawan baik !” kata In Tiong Giok, lalu ia ingat perkataan

siorang tua tadi : “Locianpwee ingin mencari orang yang tak kuat imannya itu siapa ?”

“Dia adalah salah seorang Bulim Capsahkie, entash kenapa terdengar diluaran namanya

tercantum sebagai anggota Pok Thian Pang kalau benar terbukti, dengan tangan ini akan

kubunuh dia !”

“Maksudmu Thian Lam Sam Kui ?”

44

“Sam Kui termasuk orang apa ? Yang kumaksud adalah Thay Cin Tojin dari Thay Hengsan !”

“Apa ? Dia juga jadi anggota Pok Thian Pang….. ah mana mungkin !”

“Ini kuketahui dari anggota Pok Thian Pang diluaran, bahkan ia berada diistana “sorga”

menikmati segalanya, sayang usahaku merampas perahu tidak berhasil. Jika tidak, hmm !”

In Tiong Giok turut sedih mendengar itu, karena orang yang dimaksud itu, justeru yang

hendak diketemukannya, jika sampai benar-benar Thay Cin Tojin jadi anggota Pok Thian

Pang bagaimana baiknya ? Biarfpun ia seoarang yang pintar menghadapi keadaan begini jadi

hilang pendapat. Dipegangnya surat kulit kambing di sakunya dengan bengong, tapi tidak

dikeluarkannya untuk diberi tahu pada Cian Bin Sin Kay. “Perkataan sebelah pihak belum

tentu benar biarlah nanti kuselidiki untuk mencari kebenaran !”

“Menyelidiki tidak ada gunanya juga, yang baik kau berusaha mendapatkan sebuah perahu !”

“Ya akan kuusahakan sedapat mungkin, tapi waktu sangat mendesak sekali !”

“Engkau boleh mengulur waktu !”

“Tapi gerak gerik Locianpwee sudah mendatangkan kecurigaan Lie Kee Cie, asal ia mengirim

pos ke Ngo Liu Cung untuk memeriksa keadaan rumahku, segala kebohongan yang diucapkan

Locianpwee bukanlah terbongkar semua ?”

“Aku tak berpikir sampai kesitu, mungkinkah Lie Kee Cie secermat engkau ?”

“Ia licin dan cerdik, buktinya Pang Hui kena dibongkar rahassianya,” kata In Tiong Giok,

lebih-lebih Locianpwee yang berturut-turut dua malam mengganggu mereka, pasti

mendatangkan kecurigaan !”

“Andaikata ia berbuat seperti yang engkau duga, paling sedikit masih ada waktu lima hari.

Waktu ini cukup lama, andaikata ketahuan sekuat tenaga kulindungi engkau sampai berhasil

lolos dari sini, lalu kutempur mereka mati-matian, bagaimana mereka tidak bisa berbuat apaapa

padaku.”

Waktu berjalan dengan cepat, sementara mereka bercakap-cakap, fajar sudah menyingsing.

Tak terasa sudah siang Kongcu sebaiknya istirahat dulu, Lohu akan masak nasi !”

“Ah ada-ada saja, yang pantas Boanpwee menyediakan untuk Locianpwee !”

Biar masih ada lima hari, sandiwara ini sebaiknya berjalan terus, duduklah dan akan

kubuatkan masakan “Ayam pengemis” untukmu !”

In Tiong Giok mengawasi Cu Lit kedapur, perubahan malam ini biarpun sudah membuka

sebagian tabir asap, tapi mendatangkan lagi tabir baru. Bagaimanapun rahasia Cu Lit tidak

bisa bertahan lama. Jangka waktu lima hari dalam sekejap mata akan berlalu, sampai saatnya,

dengan cara apa bisa meloloskan diri dari tempat berbahaya ini ?” Karena merasa risau ia

keluar rumah berjalan-jalan di taman sambil menghirup hawa segar. Ia melangkah perlahan

sambil menundukkan kepala, waktu ia dongkak lagi nampak seorang muda berbaju merah

sedang berdiri disekat gunung-gunungan terpekur dan memandang ketempat jauh.

45

“Nah, ini Pek Kian Hong,” pikirnya, ia berjalan mendekati !

Pek Kiam Hong tetap berdiri tegak memandang kearah jauh sambil berpangku tangan, seolaholah

ia tidak tahu kedatangan In Tiong Giok, juga seperti tahu tapi tidak meladeninya. Melihat

keadaan ini Tiong Giok menghentikan langkah dan niat mundur.

“Pagi benar In Heng bangun ?” tiba-tiba pemuda itu menegur dengan nada dingin.

Cepat In Tiong Giok memberi hormat : “Selamat pagi Siau Pangcu !”

“Untukku sudah tak pagi lagi,” jawabnya kasar, aku berdiri dan berdiri setiap hari ditempat ini

sebelum surya terbit, tanpa terasa sudah sepuluh tahun, selama itu belum pernah absen

seharipun !”

In Tiong Giok tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, ia tertawa dan berkata : “Ya sepuluh

tahun seperti sehari, kemantapan Siau Pangcu dan daya tahan yang luar biasa membuatku

Seperti tertawa Pek Kiam Hong berkata: “In Heng menganggap kelakuanku aneh dan enggan

bergaul bukan ?”

“Tidak, sedikitpun ridak mengandung maksud begitu, hanya saja.”

“Hanya saja engkau telah dipengaruhi perkataan Pek Sumoy soal diriku yang aneh bukan ?”

“Sebenarnya Pek Kounio tidak mengatakan apa-apa, hanya dengan baik hati ia memesan

jangan mengganggu ketenangan dari Siau Pangcu.”

“Yang dikatakan memang benar, tapi ia tidak mengetahui kepenatan hatiku, perasaan hati

yang terbenam dan tidak diutarakan pada orang lain, sama dengan memelihara adat sendiri

dan timbul keanehan untuk orang lain, sehingga sukar bergaul.”

“Perkataan Siau Pangcu memang benar, masing-masing orang mempunyai tabiat sendirisendiri.

Bagaimanapun kita tertawa untuk menggembirakan orang lain, tidak berarti

kegirangan bagi diri sendiri. Tapi begitu kita sedikit pendiam dianggap sombong dan

menyendiri, ah memang jadi orang tidak mudah !”

Perkataan ini mendatangkan suatu kesenangan bagi Kiam Hong, matanya yang memancar

tajam menatap pada Tiong Giok : “Apakah In Heng mempunyai juga kandungan hati yang tak

bisa diutarakan pada orang lain ?”

“Tidak, tapi aku mengerti apa yang dirasakan Siau Pangcu !”

“Apa yang pernah diucapkan Pek Sumoy kepadamu ?”

“Ia menuturkan secara ringkas hal ikhwal Siau Pangcu…” belum pula Tiong Giok habis

berkata, wajah Kiam Hong sudah ditekuk lagi.

“Ah Pek Sumoy terlalu bawel, kenapa ia berkata begitu pada orang luar !”

46

“Biarpun aku orang luar, apa yang kukatakan adalah kejujuran, harap Siau Pangcu tidak

gusar.”

Agaknya Pek Kiam Hong menjadi malu hati atas kejujuran Tiong Giok, dilihatnya pemuda

kita, parasnya berubah baik, tapi dengan tiba-tiba saja ia berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menarik napas panjang melihat sikap si pemuda

itu. Tapi dalam perasaan hatinya bisa menilai bahwa pemuda itu tidak seaneh dan dingin

seperti yang dibicarakan Wan Jie, tapi ia menyesal percakapan berakhir dengan tak sedap.

Sekembalinya kerumah Cu Lit sudah selesai dengan “ayam pengemisnya” yang menebarkan.

“Lekas dicicipi bagaimana rasanya buah tanganku, sudah banyak tahuntak turun tangan

sendiri, entah masih boleh entah tidak !”

Dengan sungkan-sungkan Tiong Giok menggerogoti ayam itu, dalam sebentar saja sudah

tinggal separuh, nyatanya kelezatannya luar biasa sekali. Setelah ayam itu habis semua, baru

ingat bahwa orang tua itu belum makan.

“Tak apa-apa masih ada empat lagi, mari kita makan sepuasnya, lewat lima hari lagi sulit

mencari makan…”

Tiba-tiba dari luar terdengar suara tertawa dari Siau Hong dan Siau Eng :

“Hm, harum benar ! In Kongcu beruntung betul pagi-pagi sudah makan panggang ayam,

bolehkah kami mencoba ?”

“Masih banyak, mari makan,” kata Cu Lit, dan jangan lupa bawakan sebelah untuk Pek

Kounio!”

“Mengapa Pek Kounio tidak turut serta ?” Tanya In Tiong Giok.

“Tiap hari bertemu muka, mungkinkah merasa kangen ?” Tanya Siau Eng.

“Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengannya, bukan main…”

“Kebetulan Kouniopun menyuruh kami menjemput Kongcu kesana !” kata Siau Hong.

“Dimana dia ?”

“Di aula belakang istana !”

In Tiong Giok kaget tapi tak menanyakan lebih lanjut, cepat-cepat ia mengenakan baju,

sebelum keluar ia sempat memesan Cu Lit.

“Siapkan ayam, mungkin aku akan makan siang bersama Kounio disini.”

“Lebih baik kami yang mengambil, karen kemungkinan besar Kounio menahan Kongcu

makan diistana !”

47

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan keluar dari villa Tenang bersama-sama kedua

pelayan wanita itu. Diluar telah tersedia kereta, Siau Eng mempersilahkan Tiong Giok masuk.

Begitu ia berada didalam hatinya jadi girang, karena ada Wan Jie ! Sedangkan Siau Eng dan

Siau Hong naik di depan mengendarai kuda.

“Jalan perlahan-lahan,” pesan Wan Jie.

“Ya, nona,”jawab pelayan itu. Benar saja kereta jalannya tak ubah seperti kura-kura merayap.

Di dalam kereta terasa sangat harum dan membuat In Tiong Giok heran, dicekalnya lengan si

gadis, begitu dingin dan sedikit bergetar. Hal ini membuatnya jadi bergetar juga, dilihatnya si

gadis menatap sayu kearahnya, disekalnya lengan si gadis bertambah erat.

“In Kongcu sejak bertemu di Ngo Liu Cung aku sangat menghargaimu, tapi ada satu hal yang

aku minta kejujuranmu, benar-beanrkah engkau bisa berbahasa Sangsekerta ?”

“Mengapa Kounio bertanya lagi, jika tidak mampu apa gunanya aku kemari ?”

“Aku percaya padamu, tetapi suhu dan Lo Cucong merasa curiga, karena mereka mendengar

tadi malam terjadi sesuatu di villa Tenang, benarkah ?”

“Benar, bahkan Lie Tongleng telah melakukan pemeriksaan !”

“Ya, biang kerok justru Lie Tongleng adannya,” kata Pek Wan Jie, “ia melaporkan pada

Pangcu bahwa mata-mata itu In Hok adanya, bahkan engkaupun dicurigai pula.”

“Bagaimana ia boleh sembarngan menfitnah orang baik ?”

“Menurut dia dengan mata kepala sendiri melihat penjahat masuk kedalam villa, dan

potongan tubuhnya mirip In Hok, tetapi waktu memeriksa tak ada bukti. Juga waktu ia

menanya In Hok kau melindunginya !”

“Aneh… biasanya penjahat mendatangkan malapetaka bagi penterjemah,” kata In Tiong

Giok. “Lie Tongleng seharusnnya mengoreksi diri sendiri, Karena sebagai petugas tak

berhasil menjalankan kewajiban, kenapa berbalik menfitnah kami sebagai mata-mata. In Hok

adalah pengikut ayahku dari puluhan tahun, sedikitpun tak bisa silat, mana bisa jadi penjahat !

Ini terang-terang ia tak bisa bekerja ! Apakah Pangcu percaya ocehannya ?”

“Pangcu sebenarnya tak percaya, dan membentaknya buat membuktikan ! Tapi Lo Cucong

yang mengetahui kejadian ini, dia segera memerintahkan mengirim merpati pos, meminta

Ngo Liu Cung menyelidiki sampai kedasarnya, lalu menyuruh aku mengundangmu untuk

dites…”

“ini cara yang baik, bagaimanapun emas murni tidak takut dibakar !” kata In Tiong Giok

memegat pembicaraannya.

“Semoga apa yang kau ucapkan benar semua, ketahuilah Lo Cucong tabiatnya jelek, waktu

menjawab segala pertanyaan harus hati-hati…..ah, hatiku sangat risau, jika dipikir

membuatku kuatir sekali…”

48

“Apa yang engkau kuatirkan ?”

“Ada pirasat seolah-olah kita akan berpisah !” kata Pek Wn Jie dengan suara sedikit bergetar.

“Entah apa sebabnya, hatiku kuatir berpisah denganmu, kemudian hari entah masih bisa

bertemu entah tidak…” Ia terdiam air matanya berderai turun.

Tergetar sanubari Tiong Giok : “Wan Jie engkau menangis ?”

Wan Jie menggeleng kepala, tapi isak tangisnya keluar tanpa dirasa.

Dengan perasaan saying, Tiong Giok merangkul pundak sigadis dan bertanya : “Wan Jie

engkau kenapa begitu baik kepadaku, kenapa ?”

Dengan lemah sigadis menyandarkan tubuhnya kedalam dada Tiong Giok : “Tak dapat

kukatakan kenapa mungkin memang sudah nasib, mau ketemu di Ngo Liu Cung, begitu

melihatmu lantas… ia tidak meneruskan.

“Kounio ! Sudah sampai !” terdengar suara Siau Hong.

Wan Jie melepaskan diri dari Tiong Giok, cepat-cepat menyeka air mata, pintu kereta sudah

dibuka Siau Eng. Kedua orang turun di sebuah taman yang besar dengan beraneka ragam

bunga indah. Dengan merapikan baju Wan Jie membuka jalan diikuti tamunya dari belakang.

Meeka melewati taman bunga dan naik keundakan tangga, dua penjaga dengan senjata

terhunus berdiri tegak, diam tak bertanya. Setibanya mereka didalam, terlihat dua orang

berpakaian biru, satu tinggi satu pendek.

“Kedua orang ini adalah Wang Fut Hoat dan Pu Fut Hoat dari Korea !” kata Wan Jie.

“Tiong Giok merangkapkan tangan memberi hormat : “Yang rendah adalah In Tiong Giok.”

Kedua Fut Hoat itu tidak membalas hormat, dan tidak berkata sepatah katapun, yang jangkung

dengan tiba-tiba saja mencekal kedua tangan Tiong Giok sedangkan yang pendek melakukan

penggeledahan. Setelah itu sijangkung mengangguk kepada Wan Jie, mengizinkan masuk.

Kelakuan ini membuat Tiong Giok tersinggung.

“Sabar,” kata Wan Jie, yang terus melangkah kesebuah kamar. Begitu masuk benar-benar

diluar dugaan, karena Pek Cin Nio berada disitu, kedua Fut Hoat entah kemana tidak terlihat

Sang Pangcu duduk dikursi bersarapkan kulit harimau, dikiri kanannya tidak terlihat seorang

pelayanpun. Wajahnya sangat cantik tersenyum manis, begitu ramah seperti kemarin-kemarin.

“In Kongcu silahkan duduk, mari kita membicarakan sesuatu mengenai pekerjaan

menterjemahkan buku Sangsekerta itu.”

Wan Jie berdiri dibelakang gurunya, sedangkan Tiong Giok mengambil tempat duduk di

bagian selatan. Diam-diam Wan Jie memberi kode dengan memoncongkan mulut ke arah

utara, dimana terdapat pintu yang tertutup kain tipis. Seolah-olah menyuruhnya berhati-hati.

49

Pertama-tama Pangcu menanyakan soal keluarga Tiong Giok, yang dijawab dengan

sejujurnya. Disamping menjawab iapun memperhatikan kearah utara, kini ia sadar, kiranya

dibalik kain tipis, samar-samar terlihat bayangan orang. Mungkin itulah yang disebut Lo

Cucong dengan kedua Fut Hoat tadi. Antara pintu berkain tipis dan dimana Tiong Giok duduk

saling berhadapan. Orang-orang dibalik kain tipis itu pasti dapat melihat dengan tegas pemuda

kita, sebaliknya Tiong Giok hanya melihat bayangan-bayangan saja dan tidak bisa melihat

wajah mereka.

“In Kongcu untuk menyingkat waktu, baiklah kita mulai dengan pekerjaan menterjemahkan

itu.” kata Sang Pangcu , seraya menyerahkan sehelai kertas tipis. “Nah Kongcu coba lihat apa

artinya tulisan ini ?”

Dengan kedua tangan Tiong Giok menyambut kertas itu, dan melihat sejenak lalu

menyerahkan kembali dan menjelaskan : “Maknanya dari kata-kata itu bersangkutan

denganilmu silat, Hauw Sian adalah nama dari sipenulis, Ciu Lok tulisan tangan. “Keng Thian

Cit Su” nama dari ilmu itu yang berarti : “Tujuh gerakan menjangkau langit.”

Sang Pangcu mendengari tenang-tenang wajahnya menunjukkan sinar puas. “Kongcu adalah

pemuda berbakat dan berpengetahuan dalam bisa mendapat bantuanmu, peerkumpulan kami

marasa bangga dan beruntung !” Ia tersenyum kearah Wan Jie, sigadis mengerti apa yang

dimaksud gurunya, maju menerima kertas dari gurunya dan melangkah masuk kedalam pintu

berkain tipis.

Bayangan-bayangan orang dibalik kain tipis terlihat bergerak-gerak dan berkata-kata dengan

perlahan, sesudaah itu terlihatlah Wan Jie keluar, ditangannya membawa sehelai kertas lain.

Sang Pangcu menerima dan memberikan pada Tiong Giok sambil berkata : “Silahkan Kongcu

membacakannya, apa artinya tulisan di kertas ini ?”

Setelah membaca sebentar Tiong Giok berkata : “Oh ini prakata dari buku Keng Thian Cit Su,

yang menjelaskan keistimewaan ilmu pedang tujuh gerakan menjangkau langit. Sungguhpun

bernama tujuh jurus, sesungguhnya mencakup keseluruhan ilmu pedang, yang dapat berubah

tak terpanai banyaknya. Maka itu orang-orang yang kurang cerdas dilarang mempelajari

seorang diri, karena bisa tersesat dan gila. Karena pelajaran ini terdiri dari dua jilid, pertama

dan kedua. Untuk dipelajari berdua dan dimainkan berdua juga, dengan bersatu padunya

pemain, kelihayan dan kekuatan ilmu pedang ini baru dapat dikembangkan menjadi kekuatan

yang tiada taranya.

Perbedaan besar dengan ilmu pedang biasa yakni setiap yang mempelajari harus sungguhsungguh

dan tekun…” Tiba-tiba saja dari balik kain tipis berdehemnya suara halus.

“Kongcu benar-benar dikurniakan yang Maha Kuasa kepintaran yang melebihi orang lain!”

kata sang pangcu dengan tersenyum, “untuk mengingat kata-kata ini terlalu panjang, maka itu

kuminta Kongcu untuk menuliskannya dibuku” Ia menoleh pada Wan Jie “sediakan alat-alat

tulis !”

Ia bangun dan masuk kedalam, bayangan-bayangan dibagian kain tipispun bergerak dan

hilang. Wan Jie menarik napas panjang, dan tersenyum kearah Tiong Giok : Senyumnya

mengandung, girang, haru, bersyukur dan banyak-banyak yang tak dapat dituliskan.

“Sekarang engkau percaya padaku ?” tegur in Tiong Giok.

50

“Hm.” Wan Jie mendelik dan terus masuk kedalam mengambil alat-alat tulis, dengan cepat ia

kembali lagi. Diambilnya pit dan ia menulis dimeja : “Jangan terlalu jujur mengeluarkan

keahlian atau kepintaran, kamu pura-pura seperti menghadapi kesulitan, makin lambat makin

baik. Wan Jie cepat-cepat menghapusnnya lagi tulisan itu.

Tak selang lama Sang Pangcu datang lagi dan mengawasi Tiong Giok bekerja, gerak geriknya

demikian ramah dan selalu tersenyum-senyum, sekali-sekali iapun bertanya keistimewaan

dari Sangsekerta kelakuan ini begitu wajar dan bebas, tak ubahnya seperti seorang ibu sedang

mendampingi anaknya.

In Tiong Giok menurut permintaan Wan Jie pura-pura menggigit seperti berpikir, dan menulis

dengan perlahan-lahan. Sampai tengah hari, ia baru berhasil menterjemahkan satu halaman.

Sang Pangcu meneliti hasil teerjemahan iotu, dengan puas dimasukinya kedalam saku : “In

Kongcu, kepandaianmu ini mendatangkan penghargaan Lo Cucong, ia menghadiahkan semeja

makanan dan minuman sebagai imbal jasa jerih payahmu hari ini : Wan Jie temani In Kongcu

makan disini ! Sesudah itu ajaklah berperahu, agar kepenatan hari ini tersapu bersih, dan bisa

memelihara semangat untuk hari esok….. tapi, disebabkan terjadinya dua keributan dimalam

hari, kuminta kalian pergi disiang hari. Dan pekerjaan ini dilakukan pada malam hari !”

Sepuluh pelayan datang membawa hidangan dan minuman, begitu banyak dan harum-harum.

Pangcu sebagai tanda hormatnya, memberikan secawan arak pada Tiong Giok baru berlalu.

Wan Jie makan dengan bernafsu, karena segala kerisauan pikirannya dalam beberapa hari,

sudah hilang pergi berikut perginya sang Pangcu. Sedangkan In Tiong Giok disamping rasa

girang tidak luput timbul rasa kagetnya : yang menggirangkan adalah Sang Pangcu memberi

ijin berperahu, yang mengagetkan pekerjaan menterjemahkan harus dilakukan pada malam

hari. Dengan begini bisa menghambat usahanya bersama Cu Lit untuk melarikan diri.

Kemungkinan disiang hari bisa meloloskan diri. Ya, biar bagaimana tinggi kepandaian Cian

Bin Sin Kay, dengan berdua saja.

“Eh, bagaimana engkau ? Maukah main perahu ?”

“Sudah tentu, siapa mau melewatkan kesempatan ini !”

Wan Jie cepat-cepat meminta kartu perahu dari Pangcu dengan girang ia mengajak Tiong

Giok keluar istana.

“Main perahu paling enak mengayuh sendiri, maka kuminta perahu kecil yang muat dua

orang saja !”

“Hm,” dengus Wan Jie dengan pipi merah,” kutahu engkau mempunyai maksud tak baik !

Nah kuserahkan kartu ini dan engkau pillih sendiri perahunya ! Coba saja lihat, Siau Hong

dan Siau Eng bisa marah-marah !”

In Tiong Giok tidak memperdulikan, ia memilih perahu kecil. Siau Eng danSiau Hong

bertolak pinggang dengan mangkel karena mengerti bakalan tak diajak. “Kalian atak usah

menunggu kami bisa pulang sendiri,” kata Tiong Giok yang terus mengajak Wan Jie naik

perahu. Dengan pesatnya perahu lalu menerjang air membiru, makin lama makin kecil dan

hilang dari pandangan mata.

51

Wan Jie duduk diburitan, mengemudikan perahu, sedangkan Tiong Giok duduk berhadapan

sambil mengayuh perahu. “Kita pergi melihat air terjun dulu, lalu mampir ditempat

pemerahan sapi, minum susu segar, bagaimana ?” Tanya Wan Jie. Tiong Giok

menggelengkan kepala. “Kalau begitu kita pergi dulu kepasir putih, mencari kerang,

bagaimana ?” In Tiong Giok menggelengkan kepala lagi. “Baiklah kuajak kesuatu tempat,

dimana banyak pepohonan yang rindang, perahu kita tambat dan pergi kehutan mendengari

kicauan burung….”In Tiong Giok sudah geleng kepala lagi. “Ih habis mau kemana, jangan

goyang kepala saja !”

“Kuingin pergi kepulau itu, disana kulihat ada rumah seperti dipulau ini setujukah ?” kata In

Tiong Giok.

“Tidak bisa !” kata Wan Jie dengan tegas, “kemana saja boleh engkau pergi, hanya kedua

pulau itu terlarang untukmu !”

“Kenapa ?”

“Pokoknya tidak boleh !”

“Sedikitnya harus kuketahui alasannya, kenapa tidak boleh ?”

“Baiklah kujelaskan padamu, dikedua pulau itu terdapat dua isstana yang bernama “Sorga”

dan “Hayal”…….”

“Menarik benar nama kedua istana itu, alangkah senangnya kalau aku bisa mengunjunginya

kesana !”

“Kedua istana itu khusus untuk menjamu tamu-tamu terhormat !” kata Wan Jie dengan

terpaksa, sedangkan kedua pipinya menjadi merah. “Disana adalah tempat menjijikkan,

guruku melarang gadis-gadis pergi kesana, mengertikah ?”

“Asal pikiran kita benar, melihatpun tidak menjadi soal……..”

“Pokoknya bagaimana engkau maupun tidak kuijinkan !” kata Wan Jie, “lebih-lebih kalau

sampai guruku tahu, bisa didamprat habis-habisan dan membuatku menaruh muka dimana

lagi ?”

“Ya tidak boleh ya sudah ! Marilah kita lihaat air terjun !”

“Perahu laju kearah tujuaan, suara air terjun semakin dekat semakin terdengar. Begitu

membisingkan sekali, jika dongak ke atas, terlihat air itu tak putus-putusnya dari puncakpuncak

terjun kebawah dan terjadilah percikan air tak ubahnya seperti kabut pagi. In Tiong

Giok jagum melihat air terjun ini, tapi tidak menyenangkannya, karena pikirannya masih tetap

mengingat “Istana Sorga” dan “Istana Hayal”. Tiba-tuba saja terpikir olehnya sesuatu akal, ia

pura-pura memandang keindahan alam sekitarnya dan terus berkata : “Tadi engkau

mengatakan dimana terdapat hutan untuk mendengari burung berkicau ?”

“Disebelah barat, nah lihatlah, burung-burung beterbangan disana !’ kata Wan Jie sambil

52

“Jauh sekali, rasa-rasanya tak kuat aku mengayuh kesana !”

“Ah, dasar pelajar lemah,” kata Wan Jie, dengan sebelah tangan aku masih sanggup

mengayuh pulang pergi, kalau begitu engkau saja yang pegang kemudi !”

In Tiong Giok tak menampik, segera tukar tempat. “Sebagai pelajar, aku kurang bergerak

badan, tidak seperti engkau yang belajar silat” Ia tak dapat melanjutkan kata-katnya, sebab

dengan terjadinya pertukaran tempat, membuat perahu oleng. Tapi dengan ilmu Cian kin tui

(menindih dengan seribu kati) Wan Jie membuat perahu tak bergerak. Sedangkan In Tiong

Giok puntang panting tak keruan, dan baru bisa diam sesudah tangannya memegang tubuh si

gadis yang berdiri tegak.

Entah disengaja atau tidak, dari memegang tahu-tahu menjadi memeluk. “Eh, kirakira…

jangan main-main disini, jika sampai dilihat parng-orang pulau itu, bisa dijadikan bahan

tertawaan!” Iapun segera melepaskan diri dan mengayuh sedang Tiong Giok mengemudi.

Wan Jie hati-hatinya berdebar karena pelukan tadi, maka itu ia mengayuh tanpa menoleh

kanan kiri, melainkan tunduk, karena merasa likat dipandang terus si pemuda. Kesempatan ini

dipergunakan Tiong Giok sebaik-baiknya, perahu itu dikemudikan kearah pulau terlarang.

“Eh…, mengapa engkau diam saja ?” Tanya In Tiong Giok, “maukah engkau mendengar

ceritaku ?”

“Mau” kata Wan Jie dengan tersenyum. Sekali-kali ia tidak mengetahui maksud Tiong Giok,

dengan cerita perhatiannya jadi teralih sedangkan perahu berjalan terus kearah dua pulau.

Waktu aku masih kecil, pernah terserang penyakit keras. Sepanjang haritak makan dan tak

munum juga tak bicara, penyakitnya aneh sekali sampai melihatpun tak bisa mengenali siapasiapa

! Kedua orang tuaku menjadi cemas segala tabib yang pandai diunangnya dari segala

tempat, satupun tak ada yang tahu aku sakit apa, perkiraan mereka aku tidak tertolong lagi “

Orang tuaku bersedih hati, pikiran mereka kematianku takkan lama lagi, maka itu segala

keperluan mati sudah di siapkan. Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang Tojin kerumah aku,

sambil nyanyi bagai orang gila.

“Jangan kuatir, jangan susah hati, yang harus mati tak hidup, yang wajib hidup tidak mati,

asal tuan dsan nyonya mau menjamu aku rasanya masih ada harapan untuk menolongnya “

kata Tojin itu. Permintaan itu, saat itu juga dikabulkan, dan Tojin itu makan dengan lahapnya,

sesudah kenyang, dengan tertawa-tawa ia menghampiri aku dan menepuk jidat aku tiga kali

dan menjejali sebutir pil kemulut, lalu membalik badan dan pergi.

Pil itu membuatku mules, waktu buang air tak ada kotoran hanya puluhan cacing hitam yang

keluar. Penyakitkupun menjadi baik…”

“Tojin itu tak ubahnya seperti dewa saja, tidakkah orang tuamu menanyakan namanya ?”

“Oh…, sudah tentu, ia bernama Thay Heng Thay Cin Tojin…”

53

“Apa ?” Tanya Wan Jie terkejut terus bangun membuat perahu goyang. Tiong Giok

menggunakan kesempatan ini pura-pura mau menolong sigadis : “Duduk ! Nanti perahu

terbalik” Tak ampun lagi perahu itu benar-benar terbalik, kedua-duanya masuk ke dalam air.

Wan Jie berlaku sebat, cepat-cepatlah ia mencelat dari air dan melompat keperahu yang sudah

terbalik. Dengan tajam ia memandang sekeliling mencari kawannya. Tiba-tiba terlihat In

Tiong Giok yang tenggelam timbul, segera ia terjun memberi pertolongan. Anehnya sudah

dekat, tubuh pemuda itu hilang entah kemana, membuat cemas sekali. “Kongcu! Kongcu !

Kongcu! Dimana engkau !” teriaknya keras-keras. Sedikitpun ia tidak menduga pelajar lemah

itu, sejak kecil biasa mandi dikali dan pandai berenang. In Tiong Giok muncul lagi beberapa

meter dari sigadis, dengan pura-pura kelelap timbul. Tetapi setiap Wan Jie sampai, ia

menghilang. Dengan begini tanpa terasa sudah mendekat pulau. Sesudah menghitung dengan

cepat, begitu sigadis datang lagi untuk menolongnya, In Tiong Giok mencekal lengan si gadis

kuat-kuat, cara ini memang tepat ! Sedikitpun tidak mendatangkan kecurigaan sigadis, dan tak

membuatnya sulit, karena kepandaiannya lihay, ditotok dulu pemuda itu, baru dibawanya

Dengan cepatTiong Giok ditengkurupi dan diangkat perutnya, kasian pemuda itu tidak

memuntahkan air, tapi terus diurut, sampai yang ada dikantong nasinya semua keluar melalui

*****

Saat ini terlihat empat enam orang datang ke arah mereka, dibawah pimpinan seorang lakilaki

tua berewokan. Mereka adalah pengawal-pengawal pulau, begitu melihat Wan Jie

siberewokan segera tersenyum : “Angin apa yang membawa nona kesini ?”

“Kam Lo Cianpwee ia adalah seorang pelajar kau lihat perahu kami terbalik ?” kata Wan Jie.

“Oh terbalik ?” kata siberewok, “dan siapa itu ?”

“Dia adalah penterjemah yang diundang Pangcu, namanya In Tiong Giok !”

“Oh kiranya tamu terhormat,” katanya sambil bergelak-gelak, kedatangannya membuat istana

disini bertambah terang. Ia memanggil kedua pengawalnya untuk membawa Tiong Giok.

“Kam Lo Cianpwee, ia adalah seorang pelajar lemah, asal engkau dapat menyediakan baju

kering sudah cukup, tak perlu mendapatkan segala “servis”….

“Ya baju Kouniopun basah, apa salahnya mampir dulu dan tukar pakaian.”

“Hm, siapa mau memakai pakaian busuk mereka,” kata Wan Jie sambil menggelengkan

kepala, angkat perahu kami, segera beangkat lagi”

Agaknya si berewok itu menghormat betul pada Wan Jie, disuruhnya beberapa pengawal

mengambil perahu, juga memaksa sigadis datang ketempatnya beristirahat. Sedangkan Wan

Jie menggelengkan kepala terus.

In Tiong Giok pura-pura siuman dari pingsannya dan berkata perlahan : “Aduh, perutku sakit,

ada air jahe tidak, ambilkan aku secawan.”

54

“Badan In Kongcu lemah, jangan birakan ia kena inflensa, lekaslah bawa ke istana untuk

pengobatan selanjutnya,” kata si berewok. “Jika Kounio menganggap perempuan-perempuan

disini kotor, kami bisa memerintahkan mereka diam dikamar dan tak boleh berkeliaran !”

Sesudah berpikir sejenak, akhirnya Wan Jie menganggukkan kepala.

Lelaki tua itu membuka jalan, mereka melalui taman-taman yang indah, belok kekanan dan

kiri denagn rumitnya, mendatangkan kesan bagi Tiong Giok, tak sembarang orang bisa datang

kesini, kepemasakan nasi berlalu, mereka sampai disepan sebuah istana.

“Sebaiknya aku tak masuk,” kata Wan Jie.

“Kounio harus tahu orang-orang yang berada di istana “Sorga” ini adalah jago-jago Bulim

kelas wahid, mereka tak berani berlaku tak sopan kepada Kounio ?” kata si berewok, dan

iapun memerintahkan kepada bawahannya membersihkan loteng dan membuatkan pakaian

baru untuk Wan Jie.

Atas perlakuannya yang telaten ini Wan Jie terpaksa takmenolak lagi, dan ikut masuk ke

dalam. Terus naik keatas loteng yang terhias rapi dan indah, dari sini bisa memandang

kepantai, dan menghirup hawa sejuk, membuat Wan Jie senang juga.

Tak selang lama terlihat seorang perempuan pertengahan tahun atang keloteng membawa

pakaian. Begitu ia melihat Wan Jie segera bertekuk lutut memberikan hormat. “Pek Kounio

sudah sepuluh tahun tidak terlihat, masih ingatkah dengan aku yang rendah ini ?”

“Ih, Hoo Hoa kenapa engkau bisa ada disini ?” Tanya Wan Jie keheranan.

“Kounio tentu tahu, sejak terjadi peristiwa hari itu, Lo Cucong memberikan hukuman mati

padaku dan Teng Pauw masih tetap sebagai pengawal sedangkan aku membantu Thay Cin

Tojin mengurus kamar-kamar. Budi kebaikan gurumu, seumur hidup takkan kami lupakan…”

Habis berkata air matanya berderai turun.

“Ah Pek Kounio pertama kali datang kesini engkau jangan membuat hatinya risau dan sedih

!” kata si berewok.

“Jangan perdulikan dia Hoo Hoa, kita bicara urusan kita!” kata Wan Jie, bagaimana selama

sepuluh tahun ini …”

Si berewok hanya tersenyum dan menemui Tiong Giok.

“Kam Lo Cianpwee, jangan engkau mengajak In Kongcu ketempat kotor, sudah salin pakaian

ajak lagi kesini, kami segera berangkat !”

“Jangan kuatir ! Disini tidak ada harimau yang bisa memakan orang !” kata si berewok dan

terus berpaling kearah Tiong Giok. “Penyakitnya perempuan, senang sekali bertemu teman

lama, tak putusnya bercerita, tapi tak lupa mengasi lelaki. Ha ha ha.”

“Maaf Lo Cianpwee, dapatkah kutahu namamu yang besar ?”

55

“Namaku Kam Kong, pengurus istana Sorga.”

In Tiong Giok ingat nama itu, tambahan melihat jeriji orang yang kurang satu. Dialah satu

dari tiga iblis dari selatan yang bergetar, Kiu cie hu siang. Sungguhpun tampangnya kejam

dan jelek tapi kata-katanya lucu dan menarik. Dengan tersenyum Tiong Giok berkata : “Sudah

lama kudengar nama besar Lo Cianpwee, dapatkah kiranya mengijinkan aku meninjau

keadaan Istana Sorga ini ?”

“Kutahu engkau pasti mempunyai keinginan kesitu,” kata Kam Kong dengan bergerak gerik,

lelaki memang bersifat mata keranjang dan senang pelisiran : lebih-lebih keadaan istana Sorga

yang luar biasa hebatnya, pasti memberikan suatu kepuasan padamu. Tapi ingat jangan

sampai dia tahu !”

In Tiong Giok tidak memperdulikan kata-kata orang, ia salin pakaian dan memeriksa sakunya,

untung surat kulit kambing itu tidak basah. Lalu mengikuti Kam Kong meninjau istana Sorga.

“In Kongcu sebaiknya meninjau istana ini silakukan seorang diri, agar kau bebas bergerak

seenak-enaknya !” kata Kam Kong.

“Tapi soalnya aku tak tahu peraturan istana ini…”

Disini tempat bebas, tidak ada peraturan, perempuan-peempuan yang ada semuanya sebagai

pelayan. Yang datang kesini adalah tamu-tamu terhormat dari Pok Thian Pang, mereka boleh

bertindak sesuka hatinya, tidak perlu memikirkan segala ikatan atau peraturan untuk

mengekang diri. Pokoknya engkau boleh pergi keistana luar itu, itu khusus untuk kaum Fut

Hoat mencuci otak. Ia tersenyum dan mengeluarkan palu kecil dari sakunya, dipukulnya genta

kecil tiga kali. Suara genta memecah kesunyian, segera terlihat pintu terbuka, wewangian

menyerang hidung, terlihat dua perempuan muda yang cantik menghadap ke arah mereka.

“Kongcu ini adalah tamu terhormat. San San Ting Ting ! Hati-hatilah mengajak Kongcu !”

kata Kam Kong.

Dengan hormat kedua pelayan itu mengampit Tiong Giok. Mari Kongcu, “ kat amereka

hampir berbareng. Dengan likat In Tiong Giok menoleh kearah Kam Kong, tapi orang tua itu

sudah lari entah kemana.

Tiong Giok diajak masuk kedalam ruangan yang indah sekali dan besar, dikiri kanan terlihat

pintu-pintu kamar yang berhorden kain tipis dn jarang. Ditengah-tengah ruangan terdapat

sebuah kolam dan air mancur yang menerbarkan wewangian. Sebuah patung nud yang

memegang kendi, menumpahkan cairan kuning mengucur kedalam kolam, menebarkan

harumnya arak.

Disekitar kolam terdapat permadani, disitu terlihat belasan perempuan-perempuan muda, ada

yang melonjor, ada yang rebahan, ada yang duduk dan macam-macam. Semuanya cantik dan

menggiurkan, membuat seorang berada dalam mimpi.

Perempuan-perempuan itu dengan kerlingan tajam mengawasi pemuda kita, dengan keheranheranan.

“Sejak istana ini dibangun, kaum tamu terdiri dari orang-orang tua melulu, orang

semacam Kongcu adlah yang pertama kali, tak heran menimbulkan keanehan pelayan-pelayan

disini,” kata san san.

56

Ting Ting mengebutkan lengan bajunya, sebagai sambutan terdengar irama halus yang

mengasyikkan. “Kongcu mau mendengarkan nyanyian merekakah ? Atau minum-minum

anggur dengan mereka ?

“Tidak ! Tidak ! kedatanganku hanya meninjau, asal melihat-lihat ya sudah.” Kata Tiong

“Kongcu tak usah ketakutan tak keruan, disini lain dengan istana Hayal, disini bersifat pasif !”

In Tiong Giok menyaksikan belasan dara-dara cantik, hanya mengerlingkan mata dan

bergerak-gerak untuk mendapat perhatian, tapi tak seorangpun yang mendekatinya membuat

Tiong Giok merasa tenang.

San San menuju kolam dan menyendok airnya. “Kongcu coba minum, bagaimana rasanya air

kolam ini ?”

Tiong Giok meminumnya, merasakan harum dan segar, itu bukan air tapi anggur yang enak.

“alangkah harumnya anggur ini “ pujinya.

“Jika Kongcu tidak senang melihat tarian dan mendengar nyanyian, mari kuajak kekolam

Merpati ?” ajak San San.

Belum pula Tiong Giok menjawab, tiba-tiba mendengar suara tertawa yang keras menyusul

terlihat salah satu pintu kamar terbuka dan keluarlah tiga orang. Yang ditengah adalah

seorang tua kurus berpotongan seperti Tojin, usianya lebih dari tujuh puluh tahun, lengan kiri

dan kanannya menggandeng dara-dara cantik usia belasan tahun, mulutnya menyanyi-nyanyi

jalannya terhuyung-huyung, mukanya penuh senyuman cabul, benar-benar tidak senonoh.

Dara-dara yang berada dipinggiran kolam begitu melihat orang tua ini, dulu mendahului

memeluk, ada yang menarik janggutnya, ada yang membuka bajunya, segala kemaksiatan

dilakukan dengan penuh kekotoran, dalam sekejap orang tua itu hilang dibawah timbunan

dara-dara cantik.

Betapa muaknya Tiong Giok menyaksikan kejadian ini. “Siapa orang tua itu ? Kenapa tua-tua

tidak tahu malu ?” Tanya Tiong Giok.

“Oh dia ? Ia terkenal sebagai Tojin gila, setiap hari tidak ketinggalan arak dan perempuan,

pelayan-pelayan disini sudah biasa gila-gilaan menghadapinya, tapi kalau disebutkan

namanya, bisa mengagetkan yang mendengar !”

“Siapa namanya ?”

“Thay Heng Thay Cin Tojin !”

“Apa ?” tanya Tiong Giok kaget, dikucek-kucek matanya dan menegasi : “Dia Thay Cin Tojin

?”

“Benar !” jawab San San, jangan dilihat ia gila-gila dulunya adalah salah seorang jago Rimba

Hijau yang terkenal, tapi sekarang ia menjabat sebagai ketua Fut Hoat di Pok Thian Pang !”

57

In Tiong Giok hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri, karena orang yang dicari

ini didapati dengan mudah, tapi ia menyesal orang yang dicari ini, tak lebih dari seorang tua

bangka yang gila-gilaan dan bejat moralnya.

Saat ini dara-dara cantik telah menggotong sang tojin kesebuah balai-balai, sepatunya dicopot,

rame-rame mengurutnya, sedang kedua tangan Tojin itu tak pernah nganggur, memeluk ini,

meraba sana, tak ubahnya sudah sekarat dn memuaskan nafsu hati sebelum mati.

In Tiong Giok menghampiri, dengan wajah muram ia berkata : “Numpang bertanya apakah

Lo Cianpwee benar Thay Cin dari Thay Heng san ?”

“He he he, kawan cilik aku memang Thay Cin Tojin, ada perlu apa mencaari Lohu, mari

duduk !”

“Boanpwee bernama In Tiong Giok ada sedikit keperluan dengan Locianpwee, bisakah

menyediakan sedikit waktu untuk bicara dengan empat mata ?”

“Mau bicara, silahkan bicara, tak usah empat mata segala ! Mereka boleh menyanyi dan

menari engkau boleh berkata-kata, apa salahnya ?”

“Locianpwee adalah seorang ternama, tapi tak kira bisa berbuat sesat sedalam ini, tidakkah

kuatir jika halini keluar bisa merusak namamu yang besar ?”

“Anak muda apa yang engkau tahu ? Saatnya bersuka ria harus bergirang hati, saatnya sedih

harus menangis, bukankah begitu ? Kehidupan di dunia ini jangan terikat oleh nama kosong,

aku mengerti dulu sebagai salah seorang Bulim Cap sahkie dan terkenal kemana-mana, atas

itu aku bangga dan senang, tapi segalanya itu jika dibanding dengan sekarang, hanya nama

kosong yang tak berarti bukan ?”

“Sebagai seorang yang kenamaan apakah engkau hidup dipiara orang semacam ini ? Biarpun

aku bodoh, tapi bisa menilai perbuatan Tojin ini tidak ada harganya dan rendah dipandang

umum !”

“Dipiara ? Ha ha ha ha !”

“Kira Locianpwee perkataanku lucu dan patut ditertawakan ?”

“Bukan saja harus ditertawakan, juga boleh dikasihani,” kata Thay Cin Tojin. “Anak muda

sebagaimu saatnya mempergunakan waktu sebaik-baiknya, kenapa harus mempunyai pikiran

setolol ini ? Ha ha ha !”

“Oh dengan ini kenallah aku siapa sebenarnya Locianpwee,” kata In Tiong Giok, “sejujurnya

yang harus ditertawakan dan dikasihani bukannya aku, tapi adalah seorang kawan lama

Locianpwee !” sehabis berkata ia mengeluarkan surat kulit kambing dari sakunya dan

melemparkan ke lantai.

“Ha ha ha seorang Tojin mana mempunnyai kawan atau saudara lagi ?” katanya tanpa melihat

apa yang dilempar sianak muda.

58

San san memunggut surat kulit kambing itu dan membuka, ia hanya melihat sebuah gambar

sebatang pohon cemara menjulang tinggi sampai keawan, dibawahnya terlihat bibit cemara

yang baru tumbuh, tak jauh dari pohon tampak seorang petani menyiram tunas yang baru

tumbuh itu. San san tak mengerti apa yang dimaksud dengan gambar itu. “Heran tidak ada

sepotong suratpun hanya sebuah lukisan, apa artinya ini ?”

Thay Cin Tojin hanya melirik sebentar, lalu merampasnya dari San San dan menyobeknyobek

sampai hancur. “Segala gambar setan apa bagusnya ! Ambil arak lekas, kita minumminum

dan menyanyi baru betul !”

In Tiong Giok terkesiap menyaksikan perbuatan si Tojin, tapi tanpa mengeluarkan sepatah

kata, ia berjingkat keluar.

Ia berdaya uapaya sampai ke Istana Sorga, tapi bukannya kegembiraan yang diperoleh,

melainkan kekesalan dan kemendongkolan. Maka itu waktu kembali dari pulau ia termenung,

tanpa bersuara ia mengayuh perahu, sedangkan Wan Jie berhadapan, dengannyapun tampak

diam saja seperti tak gembira.

“Eh kenapa diam saja, tak senangkah ? Apa dongkol kepadaku ?” Tanya Tiong Giok.

“Jangan banyak pikiran tak karuan, aku sedang memikirkan satu hal.”

“Bolehkah kutahu soal itu ?”

“Apakah engkau tahu Teng Jiso tadi siapa ?”

“Bukankah ia bernama Hoo Hoa, seperti yang dia sebutkan tadi ?”

“Ya benar, kalau diceritakan nasibnya kasihan sekali,” kata Wan Jie, dulunya dia adalah

pelayan dari Soat Kouw, waktu kecil ia sering memomongku, entah kenapa pada suatu saat ia

sangat intim dengan seorang pengawal bernama Peng Pauw, diam-diam mereka mengadakan

pertemuan digoa-goa yang terdapat ditaman bunga, hal ini diketahui orang dan membuat Lo

Cucong marah besar dan menjatuhkan mereka hukuman mati, untung ada Soat Kouw dan

guruku yang memintakan ampun, kalau tidak siang-siang mereka sudah mati….”

“Siapa Soat Kouw itu, tak pernah kulihat dia !”kata In Tiong Giok.

“Soat Kouw adalah adik seperguruan suhuku,” kata Wan Jie, waktu suhu jadi Pangcu ia

menjadi wakilnya atau Hupangcu. Lima tahun yang lalu ia menerima tugas dari Lo Cucong,

sejak itu ia tidak kembali lagi !”

“Oh, kata In Tiong Giok, ia heran kenapa sebagai Hupangcu, selama tahun tidak diutarakan ia

hanya berkata. Sekarang Teng Jieso tidak kurang suatu apa, untuk apa memikirkannya lagi ?”

“Bukan soal dia yang kupikirkan, dan engkau tak mengerti, jika bukan sesama anggota, tak

diijinkan menikah !”

“itu sudah tentu, apa herannya. Agar sesuatu rahasia Pok Thian Pang tidak sampai bocor, kata

In Tiong Giok, tapi Teng Pauw dan Hoo Hoa sesama anggota kenapa dilarang menikah dan

dihukum ?”

59

“Hm, cuma-cuma engkau hidup selama dua puluh tahun, sampai soal itu tidak mengeerti !”

bentak Wan Jie marah.

Tiong Giok diam saja, karena benar-benar tidak mengerti. Mereka bicara perahu laju terus

tanpa terasa mereka telah mendarat. Sesampainya di villa Tenang Wan Jie berkata dengan

tawar : “Besok aku datang, agar engkau dapat berpikir menjadi pintar. Malam kukirim kereta

menjemputmu untuk menterjemahkan buku.”

“Apa yang harus kupikirkan ?”

“Memikirkan soal yang engkau tak mengerti !” Tanpa menunggu jawaban lagi Wan Jie

berlalu. In Tiong Giok mengantar kepergian gadis itu dengan pandangan matanya, ia tidak

mengerti disaat mana berlaku salah, kepala digelengkan dan membalik badan masuk dalam

Banyak soal yang terbenam dihatinya, cepat-cepat dicarinya Cu Lit untuk menuturkan

kandungan hatinya, “Lo Cianpwee,” serunya.

“Kongcu baru pulang, ada tamu yang menunggumu !” kata Cu Lit sambil menunjuk kedalam

dengan serius sekali.

Tak ia mengira tamunya itu adalah pemuda aneh bernama Pek Kiam Hong. Begitu melihat

tuan rumah masuk, Pek Kiam Hong segera memberi hormat dan berkata dengan manis :

“Siapa yang In Heng maksud Lo Cianpwee ?” tegurnya.

Tiong Giok cukup tangkas menjawab : “Tidak ! Kumaksud Lo Cianpwee seorang yang patut

dihormat. Barusan setelah bekerja sebentar ia menitahkan Wan Jie menemaniku keliling

danau, sehingga baru pulang, sudah lamakah ?”

“Oh, dasar peruntunganmu sangat baik, mendapat hadiah makan dan jalan-jalan dengan

perahu, aku sendiri belum pernah diundang makan bareng sekalipun.”

“In Hok sediakan minuman dan makanan,” kata Tiong Giok.

“Tak usah, barusan dua ekor ayam panggang In Heng telah kumakan, kelezatannya luar biasa

sekali, atas kelancanganku ini harap In Heng maafkan !”

“Oh tidak apa-apa,” kata In Tiong Giok. Ia merasa heran juga pemuda ini bisa berubah sangat

ramah tamah dan tidak seperti kemarin-kemarin.

“Apakah In Heng heran atas kedatanganku yang tidak diundang ?”

“Siau Pangcu tentu mempunyai sesuatu soal barangkali ?” Tanya Tiong Giok.

“Sebenarnya bukan soal apa-apa yang maha penting,” kata Pek Kiam Hong, “tadi pagi setelah

bertemu In Heng aku termenung dan merasakan apa yang kulakukan sangat salah, maka itu

datang kesini meminta maaf.”

“Oh, begitu, sejujurnya aku yang harus meminta maaf kaerna berkata tanpa beerpikir-pikir !”

60

“In Heng, sejak sekarang maukah engkau menjadi kawanku ?”

“Aku sebagai pelajar lemah…”

“Soal berkawan bukan dari kedudukan seseorang,” kata Pek Kiam Hong, “aku kagum atas

kejujuran In Heng, dan patut dijadikan kawan. Sejujurnya apa yang harus kubanggakan

sebagai Siau Pangcu ? Tujuh belas tahun hidup menyendiri, dengan pakaian mentereng ini,

tak ubahnya diriku seperti boneka hidup, atau sebagai mayat hidup dalam bahasa kasarnya…”

“Siau Pangcu jangan berkata begitu…”

“Sudah tujuh belas tahun kata-kata ini terbenam dalam benakku,” kata Pek Kiam Hong, “tapi

belum bisa diutarakan kepada orang lain, karena tidak ada sahabat maupun saudara, diriku ini

seorang tak berayah yang patut dikasihani !”

“Bukan Siau Pangcu seorang saja yang belum pernah melihat ayah sendiri, didunia ini banyak

yang bernasib begitu !”

“Tapi sebagai anak ingin aku melihat ayahku, bagaimana potongan badannya, raut

mukanya…..semua ini hanya hayalan belaka….aku hanya tahu dulunya ayahku seorang jago

persilatan, tapi terbunuh orang sebelum aku lahir.”

“siapa yang membunuhnya ?”

“Mana kutahu !”

“Jika tidak tahu, kenapa tahu ayahmu terbunuh orang ?”

“Ibuku yang menceritakan,” kata Pek Kiam Hong, “pembunuh itu sudah dua puluh tahun

hilang tanpa kerana, mungkin sudah mati !”

“Jika begitu sakit hati ini seumur hidup takkan terbalas !”

“Biar dia sudah mati aku bisa menuntut balas pada anak istrinya,” kata Pek Kiam Hong,

beberapa tahun Pok Thian Pang mengejar dan mencari terus seorang muda yang mempunyai

tanda luka dipundak kirinya…”

“Apakah pemuda yang bertanda dipundak kiri itu sebagai anaknya pembunuh ayahmu ?”

“Benar”

“Kenapa anak itu bisa mempunyai tanda dipundaknya ?”

“Tujuh belas tahun yang lalu, soal ayahku diselakakan orang tersiar luas, ibuku dan Soat

Kouw mengajak jago-jago lainnya mengejar pembunuh itu, sungguhpun dikerubuti penjahat

itu dapat meloloskan diri, tapi anaknya yang digendong dan diajak bertempur itu, terkena

bacokan, jika tidak mati pasti ada tandanya !”

61

“Tujuh belas tahun yang lalu anak itu baru setahun, terkena bacokan golok kurasa lebih

banyak matinya dari pada hidupnya, jika ayah dan anaknya sudah mati, sama dengan dendam

habis sudah. Maka menurutku Siau Pangcu tak usah memikirkan lagi soal itu, masih banyak

pekerjaan menantikan kita lakukan, kenapakah harus berkecamuk terus di dalam soal dendam

selalu.”

“Perkataan In Heng memang benar, tetapi sakit hati orang tua itu beratnya laksana gunung,

dalam seperti lautan, walau bagaimana sebagai anaknya harus membereskan soal ini menurut

Kang Ouw !”

“Ya begitupun tak salahnya, tapi hari-hari berkesal hati, tak ada gunanya bukan ?”

“Benar,” kata Pek Kiam Hong. Entah bagaimana hari ini, sipemuda aneh berubah banyak dan

terus bicara panjang lebar dengan pemuda kita, sampai malam mendatang ia baru pulang.

*****

Seberlalunya Pek Kiam Hong, Tiong Giok baru bisa menuturkan apa yang di alaminya hari

ini kepada Cian Bin Sin Kay.

“Tidakkah engkau melihat salah, buku yang diterjemahkan itu bernama Keng Thian Cit Su ?”

“Mana bisa salah lihat,” kata In Tiong Giok.

:Itu adalah buku luar biasa barangkali !”

“Heran kenapa buku itu bisa jatuh ditangan mereka,” kata Cu Lit. “Ah, waktu sangat

mendesak, biar bagaimana harus meloloskan diri biarlah Tojin keparat hidup beberapa lama

lagi.”

“Burung pos sudah dikirim, dan aku harus mengerjakan buku itu, bagaimana baiknya ?”

“Biar bagaimana buku itu tidak boleh engkau terjemahkan,” kata Cu Lit denagn bersungguhsungguh.

“Sebab menyangkut luas kaum persilatan, jika jatuh ditangan mereka dan dipelajari,

tak ada lagi kekuatan untuk menentang sepak terjang orang-orang Pok Thian Pang !”

“Ya, bagaimana menolak pekerjaan ini ?”

“sedapatnya engkau dapatkan itu lalu kita kabur !”

“Mana semudah itu, begitu ketat sekali….. mana mungkin bisa lolos ?”

“Asal engkau bisa memperoleh buku itu, pokoknya aku bisa berdaya keluar dari sini !”

“Sejujurnya aku tak sanggup mendapatkannya…”

“Ah kenapa bodoh betul ! Engkau sediakan sehelai kertas dan tulisan dalam huruf

Ssangsekerta. Selesai menterjemahkan berikan tulisanmu itu dan ambil yang asli !”

62

“Memang benar, tapi lama kelamaan bisa ketahuan juga !” Disamping itu merekapun

mendapatkan apa yang diterjemahkan, sedikitpun tidak dirugikan bukan ?”

“Menurutmu tidak bisa, hm, lihatlah kerjaanku sebentar malam !” sehabis berkata ia

mengeluarkan kedoknya dan mulai mengolah dengan tekun.

“Apa maksud Lo Cianpwee menyamar sebagai boanpwee ?”

“Benar ! Untuk mendapatkan buku itu menyamar sebagai perempuanpun akan kulakukan !”

“Terlalu berbahaya, jika ketahuan hanya kematian yang menantikan !”

“Hm, kau kira mendapat gelar manis sebagai pengemis berwajah seribu itu mudah ? Pokonya

kau diam-diam dan tahu beres,” Disuruhnya sipemuda menulis bahasa sangsekerta dan begitu

selesai diolahnya kertas itu menjadi serupa yang seperti Tiong Giok lihat.

Waktu malamnya segala persiapan sudah beres, Cu Lit menyamar sebagai Tiong Giok dan

yang belakangan sebagai In Hok. Dengan tenang dinantinya kereta penjemput. In Tiong Giok

tidak bisa mencegah kemauan Cu Lit, ia hanya berdoa agar orang tua itu sukses menjalankan

Tak selang lama Siau Eng datang menjemput. “Hm, baru kesini saja engkau sudah tak sabar,

tadi seharian engkau main perahu membuat kami kesal menanti !”

“Sudahlah, jangan banyak cerita mari kita berangkat !” kata Cu Lit.

In Tiong Giok memandang kepergian mereka dengan berdoa terus. Da terus mundar mandir

dengan kuatir. Ia tidak tidur barang sekejap setiap kentongan peronda berbunyi, hatinya dak

dik duk tak keruan, kuatir rahasia Cu Lit diketahui orang. Dalam keadaan semacam pikiran

selalu berbayang kearah buruknya saja !”

Tiba-tiba hatinya yang sedang risau berdebar semakin keras, karena telinganya mendengar

ketoprakan suara kuda. Pikirnya segala rahasia Cu Lit sudah terbongkar, dengan cepat ia

mematikan lampu, dan siap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan Hiat Ci Lengnya.

Ia tidak mau sampai ketangkap hidup-hidup, pikirannya ini sudah mantap, ia mau mengadu

jiwa. Sementara itu suara ketoprakan kuda sudah sampai di depan rumah. Disusuli dengan

ketuknya pintu dan suara orang yang memanggil-manggil. “In Hok, lekas buka pintu !”

Hatinya semakin tak keruan rasa, itulah suara Wan Jie. Tapi ia menjawab juga dengan berat.

“Mau apa malam-malam datang kesini !”

“Lekas buka ! Kongcu jatuh sakit, aku mengantarnya pulang !”

Sakit ? Benarkah Cu Lit sakit ? Cepat ia menyalakan api dan membuka pintu. Tampak Wan

Jie dengan kedua pelayannya berwajah masam dua pengawal memondong Cu Lit, masuk

kedalam. Orang tua itu terlihat meram, lengannya menekap perut, dan merintih terus. Tiong

Giok tak mengerti apa yang terjadi dengan penuh perhatian ia memegang jidat Cu Lit, yang

disebut belakangan menggunakan kesempatan ini membuka mata dan mengedipkannya. “Tak

apa bawa aku keranjang, sebentar lagipun….aduh….perutku seperti diiris-iris….aduh…..”

63

Lekas letakkan In Kongcu dipembaringan, hati-hati jangan menyentuh perutnya,” perintah

Wan Jie.

JILID 4________

Pengawal itu menjalankan perintahnya. Tanpa bersuara, sedangkan In Tiong Giok mengikuti

masuk kekamar, lalu ia berkata pada Wan Jie : “Sejak kecil Kongcu sering sakit perut, asal

sudah berkeringat dan istirahat sebentar akan baik lagi, Kounio tak perlu kuatir !”

“Ah, semua salahku juga,” kata Wan Jie, jika tidak gara-gara siang kecebur didanau mungkin

ia tidak akan sakit !”

“Sudah larut malam, Kounio mencapaikan hati datang kesini mengantar Kongcu, mari duduk

dulu, kusediakan minuman hangat !”

“Tak usah kami segera kembali !” kata Wan Jie, ‘jagalah baik-baik Kongcumu, jika perlu

kupanggilkan tabib !”

“Terima kasih atas pertolongan nona, ini penyakit biasa, tak lama lagi ia akan baik jika sudah

berkeringat !”

Mereka berlalu, tanpi Wan Jie membalik badan dan memanggil “In Hok” Kutahu mungkin

Kongcumu mungkin masih gusar padaku, maka tidak kuganggu lama-lama disini. Jika ia

sudah baik, nasehatkan jangan mengambil dihati apa yang kukatakan hari ini…ah, tidak

kusangka ia begitu bodoh !”

“Jangan kuatir nanti kuberi nasehat !”

“Barusan Pangcu sudah memberikannya obat !” kata Wan Jie, soal menterjemahkan buku tak

usah tergesa-gesa, yang perlu kesehatannya terjaga baik. Untuk ini besok kusuruh Siau Hong

datang menjaganya.

“Tak usah, dengan adanya aku sudah cukup !”

“Jangan lupa pesanku barusan, besok kudatang lagi menjenguknya !” Agaknya ia berat

meninggalkan si pemuda, matanya masih terus memandang Tiong Giok yang meringkel dan

merintih terus dipembaringan.

Begitu kereta pergi dan Tiong Giok masuk kedalam, segala penyakitnya Cu Litpun menjadi

sembuh mendadak. Ia duduk dipembaringan sambil membengong.

“Locianpwee kenapa tiba-tiba berlagak sakit ? Kukira rahasia ketahuan dan ketakutan

setengah mati !”

“Ya hampir-hampir ketahuan, untung aku berlagak sakit, dan berhasil mengelabui mereka.”

“Kenapa bisa terjadi begitu ?”

Cu Lit mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan menyerahkan pada kawannya. Surat itu

bertulisan sebagai berikut :

64

Siang terkenang malam terbayang.

Makan tak enak tidur tak nyenyak.

Pikiran selalu tergoda.

Ingin hati ke Villa Tenang.

“Locianpwee, tentu Wan Jie yang menulis sajak ini bukan ?”

“Sudah tentu dia, apa itu irama cinta ? Aku tak mengerti sedikit juga, gara-gara dia urusan

malam ini berantakan tak keruan !”

“Ada sangkutan apa sajak ini dengan urusan malam ini ?”

“Malam ini ?”

“Berjalan dengan lancar, kata Cu lit, Pangcu itu setelah menyerahkan helaian kertas yang

harus diterjemahkan lantas berlalu. Kesempatan ini kugunakan dengan cepat untuk mengganti

dengan helaian kertas yang sudah disiapkan. Apa celaka kekasihmu tiba-tiba datang

membrrikan surat ini kepadaku dan berkata manis : Apakah engkau sudah memikirkan

perkataanku tadi siang !”

“Aku bingung, apa maksud surat ini, apa maksud omongannya tidak mengerti sama sekali,

maka itu dengan sejujurnya kujawab tidak mengeerti.

Akh celaka banyak perkataan lain kenapa dijawab tidak mengerti.

“Ya akupun merasa heran setelah mendengar jawabanku, gadis itu mengambang air matanya.

Tak lain jawabanmu selalu tak mengerti : “Kutahu engkau pura-pura bodoh, dan memainkan

api asmara untuk menipu diriku dan memperkacau !”

“Ini sih membuatku penasaran sja !” kata Tiong Giok.

“akupun berkata begitu padanya, tapi ia tak percaya. Sampaipun akan mengerti padanya, siasia

saja aku mencapaikan hati, kembalikan surat itu, katanya dengan marah-marah.”

“Mati-matian tidak kuberikan, sehingga terjadi pergumulan untuk memperebutkan surat ini

akhirnya ia berhasil juga mengambil dari dalam sakuku, tapi bukan surat ini melainkan surat

untuk menukar itu. Ia rupanya sedang sengit tanpa banyakbicara disobek-sobeknya surat itu

lalu dikantongi. Dalam gugupku aku pura-pura sakit perut !”

“Asal ia mau menyambung-nyambung lagi sobekan kertas itu, segala belang kita akan

kelihatan, kata In Tiong Giok. Sudah kukiar jalan ini takkan berhasil, nyatanya benar gagal !”

“Jangan patah semangat, dari soal yang burukpun bisa menadtangkan keuntungan !”

“Aneh dimana ada keuntungan kalau sudah buruk ?”

Cu Lit tidak banyak bicara ia hanya mengubah wajahnya menjadi “In Hok” dan Tiong Giok

diwajah aslinya. Setelah itu tanpa banyak komentar ia mendorong jendela dan mencelat

65

keluar. In Ting Giok tidak sempat bertanya mau kemana orang tua itu, ia hanya bisa

mengusap dada dengan mendongkol.

Lebih setengah jam lamanya Cian Bin Sin Kay telah kembali lagi membawa bungkusan.

Kelas bersiap, mari kita kabur.

Cian Bin Sin Kay membuka bungkusan, disini terdapat baju seragam kuning berbaju emas.

“Ah bukankah ini pakaian Lie Tongleng ?” Tanya Tiong Giok.

“Siapa bilang bukan ?” jawab Cu Lit dan terus menjembreng baju itu, tiba-tiba terdengar

bunyi kelenting, sebuah tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang mengkilap jatuh kelantai.

“Sampai tanda pengenalpun didapat, dengan cara apa Lo Cianpwee mendapatkannya ?”

Cu Lit menepuk-nepuk dada, “Bukannya sombong segala manusia disini sedikitpun tidak

menyulitkan diriku ! Engkau tahu hanya sebatang Bie Hun Hio (dupa pemabuk sukma) cukup

membuat Lie Tongleng menyerahkan semua brang-barangnya kepadaku !”

Cu Lit segera mengubah wajahnya menjadi Lie Tongleng, dengan seragam kuning yang sudah

dipakai, siapapun sukar membedakannya, tak cuma-cuma ia memperoleh gelar Cian Bin Sin

Kay. Eh ingat bila terjadi apa-apa jangan bersuara sepatahpun, semuanya serahkan padaku!”

Tiong Giok mengangguk, mereka tertawa dan mematikan lampu, diluar tahu siapapun mereka

meninggalkan Villa Tenang dengan tenang. Tapi diluar dugaan mereka seorang bertopeng

hitam yang berdiam diatas sebatang pohon sejak tadi mengawasi gerak-gerik mereka.

Keadaan malam sangat dingin dan penuh kabut sungguhpun demikian dua pengawal pantai

yang bertugas masih mundar-mandir, dengan rajinnya. “Biasanya kalau malam berkabut,

besok siang pasti cuaca cerah,” kata salah seorang pengawal.

“Ah cuaca ini buruk sekali, malam dingin sekali, siang panasnya gila-gilaan, dan tugas malam

ini hanya orang-orang sial yang melakukan ! Sedangkan atasan enak-enakan tidur !”

Tiba-tiba terdengar derapan sepatu, kedua pengawal itu menoleh kearah suara. Remangremang

ia melihat dua bayangan mendatangi.

“Hei, hati-hati bicara, lihat Lie Tongleng datang memeriksa !” kata pengawal yang bicara

duluan. “lekas banguni teman-teman.”

Dengan cepat pengawal yang satunya berlarian dan memanggil temannya : “Hei lekas ! Lekas

! Lie Tongleng datang memeriksa, sialan lekas bangun !”

Suara ribut terdengar digardu jaga, tujuh delapan pengawal terbangun dari mimpinya, cepatcepat

menyoren pedang dan merapikan baju dengan kagetnya. Waktu mereka “beres” dan

keluar gardu, “Lie Tongleng telah datang. Wajahnya ditekuk demikian masam, dengan sinar

matanya tajam pengawal-pengawal dipelototi. “Hm” dengusnya tanpa membuka mulut.

Pengawal-pengawal itu ketakutan tak seorangpun berani mengangkat kepala. Salah seorang

pengawal maju kedepan dan berkata : “Kami termasuk regu ketujuh, dan yang rendah adalah

komandan regu, harap Tongleng perriksa barisan.”

66

“Hm engkau masih ingat sebagai komandan regu ? Tidakkah sedang bermimpi digardu itu ?”

“Ya memang yang rendah harus mati, demikian juga dengan anak buahku ini, mereka

terlampau letih mama…maka…”

“Maka kalian bergiliran tidur ? Engkau terlampau berani melanggar kewajiban, ketahuilah, ini

tempat terpenting bagi kita, jika sampai penjahat masuk, atau yang dikurung keluar siapa yang

harus bertanggungjawab ? Engkau atau aku ?”

“Harap Tongleng memaafkan kami, lain kali tak berani lagi.”

“Jika bisa memperbaiki kesalahan terhitung baik, tapi disiplin tetap berlaku, dan engkau boleh

menghadap besok untuk menerima ganjaran, sekarang lekas siapkan perahu, aku dan In

Kongcu akan menyeberang !”

Komandan regu cepat-cepat memerintahkan anak buahnya menyiapkan perahu. “Hm, dungu

betul, untuk apa perahu besar ini, aku minta yang kecil ! Kalian tak usah mengawal tidur saja

disini !”

Komandan regu semakin ketakutan, lekas menyuruh bawahannya menyediakan perahu kecil.

Tongleng tetiron segera menuntun Tiong Giok naik, ia berdiri dan memaki lagi pada

komandan regu ia sendiri belakangan, perahu tidak lantas dikayuh, dengan bengis : “Hm,

sudah jaga seenaknya, kerjapun tak benar, engkau sembarangan memberikan perahu ini

sebelum melihat ini ?” kata Cu Lit sambil memperlihatkan tanda pengenal yang mengkilap.

“Tongleng pasti memiliki tanda pengenal, maka itu ditanya tak ditanya sama saja…”

“Hm dasar goblok, ini perahu tak peduli siapa harus diperiksa tanda pengenalnya, ingat sekali

lagi berbuat begini, hukuman akan bertambah berat.”

Komandan regu itu menjadi merah padam, dicaci maki dan diperingati “Tongleng” itu.

Hatinya berdoa agar atasan itu lekas berlalu, permintaannya terkabul, karenaperahu telah

meluncur, ia menarik napas lega. Dan lantas mementang mulut keras-keras. “Gara-gara kalian

enak-enakan tidur, yang kena maki adalah aku, besok semuanya menghadap ke Tongleng

menerima ganjaran !”

*****

Dari tengah-tengah danau In Tiong Giok memandang rumah dipulau, hatinya tiba-tiba saja

mengingat pada Wan Jie. Saat ini gadis itu tentu sedang mimpi, pikirnya sudah pergi. Apakah

peerpisahan ini bisa bertemu lagi.

“Hei, kenapa kau melamun ?” kata Cu Lit, coba lihat kerjaanku, mudah bukan ?”

“Lo Cianpwee jangan terlalu besar hati, perjalanan masih jauh kalau sudah keluar baru kita

bicara !”

“Hm, penjaga pertama adalah To Kay Pong, sejak dulu kepandaiannya kuanggap tak berarti,

seangkan Kim Tak Can itu, kurasa kepandaiannya tidak melebihi siorang she To !”

67

“Maksudmu bukan soal berkelahi,” kata In Tiong Giok, tapi dalam penyamaran ini bisakah

menerobos semua pintu penjagaan itu atau tidak !”

“Dengan tanda pengenal ini semua pintu bisa dilewatkan, apa yang dikuatirkan lagi !”

“Sejujurnya Boanpwee merasa takut dan bagaimana kalau sampai rahasia ketahuan ?”

“Apapun yang terjadi engkau harus berpegang pada satu, tidak boleh turun tangan. Dua

engkau harus berdaya lari, sedangkan aku akan menjadi tameng, biar matipun jadilah asal kau

berhasil lolos !”

Tiba-tiba saja terlihat sinar terang menyorot mereka disusul dengan teguran : “Siapa yang

mengendarai perahu ditengah malam ?”

“Aku Lie Kee Cie !” jawab Cu Lit sambil mengayuh perahunya kepantai. Disitu berdiri

sepuluh pengawal memegang obor berdiri dikiri kanan seorang tua yang bukan lain dari To

Kay Pong adanya.

In Tiong Giok bukan main takutnya, tapi tidak demikian dengan siorang tua dengan cepat

dituntunnya Tiong Giok naik ke darat.

“Sudah begini malam Fut Hoat belum tidur ?” Tanya Cu Lit sambil menjura.

“Oh, kata To Kay Pong dengan tertawa, sebaliknya malam-malam begini Tongleng akan

kemana ?”

“Aku menerima tugas rahasia dari Pangcu, untuk mengantar In Kongcu keluar, tak kira

mengganggu Fut Hoat saja !”

“Soal apa yang begitu penting dan harus dilakukan malam-malam ?” Tanya To Kay Pong

dengan kaget dan hilang senyumnya untuk seketika lamanya.

“Yakni soal yang berhubungan dengan menterjemahkan buku itu,” kata Cu Lit, “tapi ini

dirahasiakan benar, sebelum In Kongcu lagi tak bisa dibocorkan !”

“Tidajkah sebaiknya menunggu siang hari ?

“Soal inipun aku tak jelas, hanya menjalankan ! Yang kutahu In Kongcu menterjemahkan

buku dimalam hari, entah ada kesulitan apa dalam kerjaannya itu. Aku terlalu banyak bicara

untung Fut Hoat bukanlah orang lain, jika tidak bisa aku celaka tak karuan !”

“Aku sedang heran mengapa tergesa-gesa benar, kiranya Lo Cucong yang memerintahkan, ia

memang tak sabaran sekali !”

“Ya …, sebenarnya akupun minta esok saja dilakukan, tapi dihardik sebagai pemalas, mau tak

mau dimalam dingin ini keluar juga…”

“Jika begini harus cepat-cepat keluar,” kata To Kay Pong, “mana tanda pengenal unutk keluar

?”

68

Cu Lit menyerahkan dengan kedua tangan. To Kay Pong memeriksa sejenak dengan cermat,

wajahnya muram, tentu membuat In Tiong Giok kebat-kebit tak tentu rasa.

“Jika Fut Hoat tidak ada pesan lain lagi, kurasa mau…” kata Cu Lit.

“Biasanya Lie Tongleng sangat tertib dan hati-hati, kenapa hari ini kesusu sekali ?” Tanya To

Kay Pong.

“Mungkinkah begitu, tapi aku tak merasakan sedikit juga !”

“apakah engkau tak tahu di danau ini tidak boleh berlabuh perahu bentuk apapun, apakah lupa

? Jika engkau pergi siapa yang harus membawa perahu ini kepangkalan ?”

“Fut Hoat memang benar, tapi sudah kuperintahkan komandan jaga malam ini untuk

mengambil perahu begitu fajar menyingsing!”

“Sungguhpun engkau sebagai Tongleng tapi tak boleh sembarangan melanggar peraturan lain

kali kalau begini lagi jangan salahkan aku berlaku tegas !”

“Ya nasehat ini akan kuingat terus !” kata Cu Lit dengan mendongkol.

To Kay Pong mengembalikan tanda pengenal Cu Lit menerima dengan girang, dengan hormat

ia permisi. Tapi baru saja jalan beberapa langkah terdengar To Kay Pong berseru :

“Stop dulu !”

“Masih ada pesan lagi Fut Hoat ?”

“Jangan tergesa-gesa, apakah tak perlu kuda ?”

“Benar !” jawab Cu Lit dengan kemalu-maluan, “terima kasih atas perhatian Fut Hoat !”

Dengan cepat mereka naik keatas kuda dan menerjang kabut dan melanjutkan perjalanan.

Jika terjadi segala perubahan tenang-tenang saja, sebaliknya jika engkau lolos lekaslah pergi

kekota Ngo be siang, temui seorang yang bernama Lui Sin (dewa petir). Tong Cian Lie,

katakana aku yang menyuruhmu mencarinya.

Dengan cepat mereka sampai didepan pintu keluar, “Buka pintu ! Buka Pintu!” teriak Cu Lit

berulang kali.

“Mau kemana malam begini Tongleng ?” tanya penjaga.

“Apakah tidak melihat tanda pengenal ini ? Lekas buka pintu !” bentak Cu Lit.

“Aku minta Tongleng tunggu sebentar, aku yang rendah akan lapor dulu pada Fut Hoat !”

“Jangan banyak pernik, lekas buka pintu !”

69

“Tongleng jangan gusar, bukan yang rendah tak mau buka pintu, tapi …kuncinya berada pada

Kim Futhoat, setiap yang keluar harus seijin Futhoat!”

“Jika begitu, lekaslah beri tahu Kim Futhoat, lekas !”

Penjaga itu cepat pergi dan kembali lagi dengan Kim Tak Can. Ia memeriksa dulu tanda

pengenal itu dan bertanya :

“Ada urusan apa membuatmu tergesa-gesa ?”

“Atas perintah Pangcu tak dapat aku beritahu padamu, diharap Futhoat memberi jalan setelah

melihat tanda pengenal ini !”

“Siapa yang menerima tugas engkau ataukah dia ?” tunjuknya pada In Tiong Giok.

“Aku dan dia !”

“Tak bisa !” jawab Kim Futhoat. “Untukku hanya berlaku peraturan stu tanda pengenal untuk

satu orang, bukankah sudah kau ketahui ?”

“Tidakkah Kim Futhoat tahu, aku menjalankan atas perintah Lo Cucong ?”

“Pokoknya sekali kubilang tidak ya tidak !”

“Kalau satu tanda pengenal berlaku seorang silahkan In Kongcu yang pergi, karena dialah

yang memerlukan bahan guna pekerjaannya !”

Kim Tak Casn menganggukkan kepala, dan mengeluarkan kunci untuk buka pintu, tetapi

dengan tiba-tiba dari balik gunung tedengar suara genta, dan terlihat di udara tiga pancaran

sinar api.

Pengawal-pengawal disitupun segera mundur dan siap dengan senjata terhunus, karena tanda

itu berarti, semua pintu keluar harus ditutup, ada penjahat didalam. Kim Tak Can tak sudi

membuka pintu !.

Cian Bin Sin Kay tahu rahasianya dipecahkan maka dengan gusar ia menghajar jeruji besi

berantakan, batu gunung meluruk bagaikan hujan. Obor yang dipegang para pengawalpun

menjadi padam. Dengan cepat ia menerobos kedalam terowongan. Tetapi sesampai dimulut

terowongan Kim Tak Can sudah menghadang dengan bertolak pinggang. Begitu kedua

buronan tiba ia membarengi melompat sambil membentangkan kedua tangannya menangkap

kaki depan kedua kuda. Cu Lit tak menduga Kim Tak Can itu berani gegabah semacam itu,

tak sempat buatnya berpikir lama-lama, cepat-cepat melompat sambil menjambrat In Tiong

Giok dan turun kebumi. Kim Tak Can kekuatannya luar biasa, kedua kuda ditangan kiri dan

kanannya di angkat, lalu diputar sekali dan dilemparkannya didalam jurang, kuda-kuda itu

meringkik dan hancur luluh termakan cadas tajam.

Kekuatan dan keberanian Kim Tak Can membuat Cu Lit kagum, dan iapun tahu musuh itu

bukan saja kepandaiannya itu luar biasa juga tenaganya luar biasa. Sedangkan pengawalpengawal

menyerang serentak dengan pedang terhunus. “Hmm, kalian sudah bosan hidup !”

bentak Cu Lit dan terus mengebutkan cambuk kuda yang masih dipegangi terus kearah

70

pengawal. Senjata darurat itu kelihatannya tidak berarti, tapi berada ditangan Cu Lit menjadi

ampuh. Pengawal itu seolah menjadi bingung dan mentah-mentah di lalap cambuk itu,

merupakan korban empuk. Terjungkel tanpa berkutik lagi. Kehebatan dari cambuk ini

membuat pengawal-pengawal lain gentar sendiri, seangan merekapun kendur sendiri. Cu Lit

meraba-raba pinggang mencabut tongkat bamboo yang lunak. Tongkat ini sebesar jeriji

tangan besarnya, warnanya hitam, merupakan hasil dari selatan setelah di olah dengan air obat

bisa menjadi keras dan lunak ujungnya merupakan kaitan yang tajam yang khusus di gunakan

untuk menghancurkan ilmu dalam.

Tongkat ini merupakan pusaka dari kaum pengemis yang bernama Kong Cu Juan Tio (

tongkat bamboo keras dan lunak), puluhan tahun tongkat ini tak pernah digunakan, tak kira

malam ini, untuk menghadapi Kim Tak Can di pakainya juga. Dengan kecepatan luar biasa

tongkat itu berputar untuk membuyarkan kurungan pengawal-pengawal. Dalam sekejap saja,

terdengar bunyi jeritan seram disusul dengan bergelimpangan tujuh delapan pengawal

antaranya ada yang mengenali juga senjata Kong Cu Juan Tio. Terus berseru keras. “Dia

adalah Cian Bin Sin Kay !” Peringatan ini membuat sisa-sisa pengawal mundur teratur.

“Hm, kiranya engkau bukan Lie Kee Cie !” bentak Kim Tak Can.

“Lie Kee Cie biar mau menjadi anakku, aku tampik, karena keliwat bodoh,” jawab Cu Lit dan

terus membuka kedoknya memperlihatkan wajah aslinya.

Kim Tak Can tak mengenali ilmu slain rupa, menggantikan Cu Lit ganti rupa menjadi kaget

mundur beberapa langkah, “Engkau bisa berubah ?”

“Bukan saja bisa berubah, tongkatkupun bisa membungkamkan mulutmu itu ! Orang she

Kim, ilmu pelajaran kamu diperoleh dengan susah payah, maka kunasehatkan berilah jalanku

!”

Kim Tak Can seperti mengerti dan tidak, ia terpekur sejenak, lalu berpaling kebelakang dan

memerintahkan kepada pengawalnya :

“Bawa kemari !”

Tidak selang lama terlihat empat pengawal menggotong dua kantong besar, Kim Tak Can

membuka kantong itu dan mengeluarkan dua senjata aneh yang berbentuk patung berkaki

satu. Patung ini tidak bedanya sebesar anak umur dua belas tahun, mengkilap terbuat dari

tembaga. “Ya untuk memberi jalan mudah tempur aku dulu !” kata Kim Tak Can sambil

mengangkat kedua senjatanya itu, dengan ringan, lalu satu sama lain dibenturkan,

menerbitkan dentingan keras. Tubuhnya berbareng maju, serangannya dilancarkan saat itu

Cu Lit dengan gagah melayani musuhnya, dalam sekejap dua bayangan merapat dan

merenggang, dan terdengar tiga kali bentrokan senjata. Cu Lit merasakan pergelangan

tangannya mengilu dan tongkatnya hampir-hampir terlepas dari tangan. Sedangkan musuhnya

terhuyung-huyung tujuh delapan langkah dan jatuh terduduk.

Kesempatan ini dipergunakan Cu Lit sebaik-baiknya, kaitan tongkatnya akan di gunakan

untuk menghancurkan kekuatan musuhnya. Tatkala ujung tongkat hampir mengenai sasaran,

Kim Tak Can berseru keras dan melemparkan kedua senjatanya kearah lawan dengan

71

kecepatan tongkat laksana kilat, demikian juga dengan kedua senjata beratnya, kedua-duanya

tak sempat menarik serangan, hanya terdengar suara “buk-buk” dan “euh euh”…

Cian Bin Sin Kay berhasil membuat musuh jungkir balik dan pingsan ketika itu juga,

sedangkan ia sendiri, terhuyung-huyung terkena senjata musuh, “waaak’memuntahkan darah

segar. In Tiong Giok dan sekalian pengawal yang menyaksikan perkelahian ini, terpaku

bengong tanpa bisa mengeluarkan sepatah suarapun. Cian Bin Sin Kay berdiri sambil

menunjangkan tongkatnya, wajahnya pucat, janggut dan bajunya berlepotan darah yang

Sesaat berlalu, keadaan sunyi sekali, baru terlihat Cu Lit mengangkat tongkatnya dan

menyeka mulutnya, diajaknya In Tiong Giok ketempat tangga. Sekalian pengawal

menyaksikan akan keahlian, atau juga kegagahan orang tua itu dengan kagum, maka tak

merintangi mereka pergi.

Tapi tangga baja yang bisa diturun naikkan itu, saat ini berada ditengah-tengah jurang yang

curam. “Dimana tempat menurun naikkan tangga ?” Tanya Cu Lit sambil mendelik pada

pengawal-pengawal disekitarnya. Tidak ada jawaban sepatahpun.

“Hm jangan dikia aku sudah menderita luka, tapi untuk mengirim kamu ke liang kubur

mudahnya sebagai membalik telapak tangan sendiri !”

“Kami tahu merintangi Lo Cianpwee berarti kematian, tapi memberikan jalanpun mendapat

hukuman mati ! Sedangkan kunci menurunkan naikkan tangga berada ditangan Kim Futhoat.

Untuk ini, kami memohon pengertian dari Lo Cianpwee akan kesulitan kami,” kata seorang

pengawal yang paling tua.

“Kalau begitu kuminta kalian mundur sepuluh langkah kebelakang, jika tidak jangan salahkan

aku berlaku kejam dan ganas …”

Pengawal-pengawal itu saling tatap antara kawannya sendiri,dan tanpa terasa mundur

kebelakang seperti yang diperintahkan. Dengan menarik nafas panjang untuk mengumpulkan

tenaga, Cu Lit menghampiri Kim Tak Can yang pingsan. Dengan tongkatnya ia membuka

baju lalu mengambil kunci dari tubuh musuh. “Nampaknya kitaa masih mujur,” katanya pada

In Tiong Giok.

“Tapi bagaimana denganmu ?” Tanya In Tiong Giok.

“Tidak apa-apa lekas jalan !”

Mereka menuju ketempat alat-alat menurun naikkan tangga. Alat-alatnya sederhana sekali,

terdiri dari dua kerekan yang bertulisan naik dan turun. Cu Lit menggerakkan kerekan turun,

tapi tidak beraksi sedikitpun juga, dicobanya menggerakkan kerekan naik, sama juga hasilnya.

“Kalian bangsat-bangsat berani betul menipiku !” teriaknya dengan gusar.

“Mereka tidak berani menipu Cu-heng,” tiba-tiba terdengar jawaban dari seseorang,

“dikarenakan tergesa-gesa Cu heng lupa bahwa kerekan itu harus digerakkan oleh puluhan

orang, mana bisa oleh seorang ? Tambahan caantelannya belum dibuka ! Ha ha ha !”

72

“Engkau siapa ?” bentak Cu Lit.

“Wah, bagaimana sih sampai kawan lama dilupakan “ Siaw tee To Kap Pong !”

Cu Lit menjadi gugup, dan kekecewaannya tampak diwajahnya. Biasa To Kay Pong itu tidak

dipandang, tapi dalam keadaan luka parah, sukar untuknya memperoleh kemenangan.

Dibisikinya In Tiong Giok “Keadaan sudah terlalu mendesak, engkau diam disini, aku akan

keluar menempur mereka mati-matian !”

“Sejak tadi aku disuruh diam saja, kini saatnya aku bertarung juga !” kata Tiong Giok.

“Tidak ! Engkau tidak boleh berlaku setolol itu !”

“Cu hrng kenapa engkau ragu-ragu ? Kita sebagai kawan lama !” seru seseorang dari luar.

“Itu bukan suara To Kay Pong, siapa dia ?” Tanya In Tiong Giok.

“Itu dia sibangsat yang engkau temukan di istana Sorga !” kata Cu Lit, “tak kukira

perhitunganku bisa menjadi gagal begini !” Sehabis berkata matanya berkac-kaca, dan

bertetesan turun air mata jagonya.

“Apa yang engkau bicarakan, bolehkah kami mendengar ?” seru To Kay Pong.

Dengan tiba-tiba saja Cu Lit menotok kalan darah In Tiong Giok dan mengempitnya keluar

dengan terhuyung-huyung.

Keadaan menjadi terang sebab obor-obor dari pengawal yang baru datang : Disitu terlihat

empat orang berpakaian biru, merka adalah Thay Cin Tojin, To Kay Pong, Kam Kong dan

Ciauw Cie Hiong.

“Tak kukira kalian mau menjadi binatang piaraan dari Pok Thian Pang,” kata Cu Lit

mengejek, “enakan rasanya rasa-rasa makanan yang diberikan pada kalian ?”

“Eh baru beertemu sudah nyindir-nhindir, tabiatmu itu tampaknya belum berubah juga seperti

dulu !” kata Thay Cin Tojin.

“Engkau siapa, rasa-rasanya aku tak kenal!” ejek Cu Lit.

“Ah, bisa saja, aku Thay Cin masa tak kenal ?”

“Oh kiranya engkau, enak ya jadi Fuhoat disini, sebelum mendapat bayaran berapa ?”

“Engkau harus tahu Pok Thian Pang membutuhkan manusia-manusia berbakat, maka itu juka

engkau mau, bisa menjadi Cong Fuhoat (ketua dari penasehat-penasehat)…

“Hm engkau sibusuk ini masih ada muka berkata denganku ?” bentak Cu Lit.

“Hm engkau mencari susah saja, pikirlah bahwa Pok Thian Pang begini kuat bagaimanapun

mana bisa engkau meloloskan diri ?”

73

“Biarpun aku sebagai pengemis yang miskin, untuk bekerja dan menjadi anjing Pok Thian

Pang, merasa haram dan jijik ! Kini mati hidup tidak kupikirkan, terserah kalian mau apa, aku

siap melayani !”

“engkau manusia tak bisa diangkat, kini tak perlu kukekang lagi persahabatan lama, mau coba

kemarilah !”

Perkelahian hampir terjadi lagi, tapi To Kay Pong dengan tiba-tiba tergelak-gelak. “Semuanya

adalah kawan lama, kenapa begitu ketemu saling mendelik dan mau berkelahi, bukankah

damai lebih baik ? Cu heng simpanlah tongkatmu itu !”

“Hm, didepan segala anjing-anjing piaraan Pok Thian Pang bagaimanapun tongkat harus

disiapkan,” jawab Cu Lit.

To Kay Pong tidak gusar, ia tetap tertawa : “Cu heng antara kawan lama sukar mendapatkan

kesempatan berkumpul seperti sekarang, mari kita baik-baik bicara ?”

“Sudahlah jangan banyak bicara, lunak maupun keras tidak kuterima, jika masih mengingat

persahabatan, berikan aku jalan keluar !” Jika tidak…ha…ha!”

“Jika tidak apa yang hendak engkau lakukan ?” tanya Thay Cin Tojin.

“Sebelum mati terpaksa kubunuh dulu bocah ini agar Pok Thian Pang gagal menterjemahkan

buku Keng Thian Cit Su!”

“Hm bocah ini mau mati atau hidup tidak kupikirkan, yang kusayangkan adalah Cu heng !”

kata To Kay Pong. Dimulut ia berkata begitu, dihati merasa kuatir jika Cu Lit benar-benar

membunuh In Tiong Giok. Maka itu mereka saling melirik memberikan kode, lalu

menggeserkaki, membuat kedudukan Cu Lit terkurung.

“Hm, mau apa ?” bentak Cu Lit dan terus memutarkan tongkatnya.

Kam Kong begitu melihat pergerakan lawan, cepat-cepat mengengos dan menjulurkan tangan

mencakar muka musuhnya. Ciu Cie Hong dan To Kay Pong serentak bergerak melakukan

serangan membantu saudaranya.

Cu Lit yang sudah menderita luka dalam, bertahan sekuatnya menghadapi pengepungan ini,

tongkatnya menyabet kebelakang dan menotok kedepan dengan gencarnya. Akibatnya keluar

tenaga paksaan tubuhnya hampir-hampir jatuh sendiri, hal ini rupanya diketahui Sam Kui.

“Cu heng jika kutahu begini tak usah kita panjang lebar mengadu mulut !” kata To Kay Pong.

“Betapapun aku sanggup menghadapi kalian, mari kita coba lagi !”

“Sudah disepan pintu kematian, sombongpun tak berguna”, ejek Ciau Cie Hiong.

Dan terus ia menyergap dengan tangannya yang satu-satunya itu, Cu Lit menggertakkan gigi,

matanya memancar tajam, begitu serangan tiba, menyapu dengan keras ! Sekejap saja

perkelahian berjalan tiga empat jurus. Cu Lit mengeluarkan tenaga terakhir dan memberikan

serangan maut pada musuhnya, terlihat tongkatnya menyabet luar biasa, musuhnya kena

terhajar dan terguling-guling beberapa depa jauhnya. To Kay Pong cepat-cepat menolong,

74

dilihatnya saudaranya itu demikian pucat, dagingnya pecah dan berapa tulang punggungnya

“Cu heng berkepandaian luar biasa, sayang terlalu telengas !” kata Kam Kong.

“Terhadap anjing-anjing Pok Thian Pang itu masih terlalu ringan !”

Dengan gusar Kam Kong mengeluarkan senjatanya yang bernama Cui hun jiau (gary maut).

“Saudaraku bertangan kosong dan kena kau kalahkan, nah marilah senjata lawan senjata !”

terus melancarkan serangan sambil berputar-putar.

Pandangan mata Cian bin sin kay sudah berkunang-kunang, maka dengan cepat ia meram dan

hanya mengandalkan pendengarannya menghadapi musuh. Ia tahu tidak mempunyai kekuatan

lagi seperti tadi, tapi dengan berdiam tenang begini, ia berniat melancarkan satu serangan

Kam Kong masih berputar-putar dengan cermat, sedikitpun tak berani serampangan seperti

saudaranya. Setelah melihat kesempatan baik, ia menerjang dari samping kanan.

“Hai, bentak Cu Lit dan dengan tenaga terakhirnya ia menyabetkan tongkat kearah kanan,

matanya dibuka dan bagaimana girangnya ia melihat musuhnya itu telah terpukul dan

terhuyung-huyung tujuh delapan langkah. “Ha ha ha hayo maju lagi… wak” Jago tua yang

keras kepala ini, perlahan-lahan jatuh ke tanah yang penuh dengan muntahan darahnya

Thay Cin Tojin menghampiri, membebaskan Tiong Giok dari totokan, dan memasukkan

sebutir pil pada Cu Lit.

Keadaan Villa Tenang tetap seperti dulu. Dibawah pelita yang berkelap kelip terlihat

bayangan orang. Itulah In Tiong Giok adanya. Sejak mengalami peristiwa tiga hari yang lalu

membuatnya sedih dan kesal, untuk ini ia minum arak menghilangkan duka. Minuman itu

hanya bisa menghilangkan duka dalam sejenak, setelah itu kembali lagi membuatnya

terpekur. Bagaimanapun raaut wajah Cian bin sin kay terbayang dialam pikirannya,

disaksikannya orang tua itu dengan gagah menghadapi musuh dan yang paling tak bisa

dilupakan, tatkala Cu Lit luka parah, memuntahkan darah serta suara tertawanya yang

menggoncangkan sukma….”

“Kongcu sudah jauh malam kenapa belum tidur sepanjang hari, jagalah kesehatanmu !”

“Oh, kata Tiong Giok, dan terus mengangkat cawan arak, mengeringkannya dan menambah

lagi, Siau Hong mencekal lengan pemuda kita : “Tidak boleh minum lagi ! Selama tiga hari

engkau mabuk-mabukan ! Pek Kounio sudah menyesalkan aku memberi arak, aku hanya

sebagai pelayan, boleh didengar boleh tidak, tapi kebaikan Kounio harus diterima.!

“Engkau tahu betapa risau hatiku !”

“Kejadian sudah berlalu tak berguna dipikirkan lagi !” kata Siau Hong, “jangan engkau kena

ditipu pengemis lihay itu, sampai Lie Tongleng kena ddiperdayakannya.”

“Pengemis itu dijatuhi hukuman apa ?”

75

“Sebenarnya ia adalah salah seorang dari Bulim Capsahkie, untuk ini Lo Cucong

mengaguminya, dan menempatkannya di Istana Sorga untuk mencuci otaknya dan

membujuknya supaya mau menjadi anggota Pok Thian Pang.”

“Sebagai seorang terkemuka didunia Bulim apakah ia mau menjadi anggota Pok Thian Pang

?”

“menurut hematku lambat laun ia akan menurut !”

“Mungkinkah ?”

“Betapa tidak ! Setiap yang masuk ke Istana Sorga, biar berhati sekeras baja akhirnya lumer

juga !”

IN tiong Giok tidak bertanya lagi, dengan menarik napas panjang ia melangkah keluar rumah.

“Kongcu hendak kemana ?” Tanya Siau Hong.

“Jangan hiraukan diriku, tak lama lagi terang tanah, aku akan jalan-jalan menunggu fajar !”

jawab Tiong Giok dan terus ke taman bunga. Pikirannya melayang ke Istana Sorga, dimana

segala kemaksiatan dan kecabulan memenuhi seisi istana, Cian bin sin kay seorang keras

kepala, tapi andaikata iapun tergoda, bukankah namanya akan rusak ? Dan segalanya ini

terjadi karena dirinya yang mengakibatkan bukan ?

Lamunannya tiba-tiba terhenti, dilihatnya pengawal-pengawal membawa obor, dan sebuah

kereta memasuki perkampungan awan putih. Waktu kereta berhenti, seorang muda turun dari

dalamnya, ia bukan lain dari Pek Kiam Hong adanya. Pemuda itu melihat kearah Tiong Giok,

ia mengurungkan pulang kerumah melainkan menghampiri sambil bertanya : “ In heng belum

tidur ?”

“Arak itu membuatku tak bisa tidur !”

“Jika begitu kebetulan,” kata Pek Kiam Hong, “ada sesuatu soal yang akan kubicarakan

denganmu, bagaimana ?”

Melihat sikap bersungguh-sungguh dirinya, timbul perasaan ingin tahu dari Tiong Giok, maka

dipersilahkan Siau Pangcu kedalam rumah. Siau Hong cepat-cepat mengeluarkan the dan

menyiapkan makanan lainnya.

“Soal ini membuatku tak habis piker,’ pek Kiam Hong memulai berkata. “In heng tentu sudah

tahu orang yang menculikmu itu adalah Cian bin sin kay Cu Lit seorang jago Rimba Hijau

yang terkenal.”

“Benar memang dia, lalu bagaimana ?”

“Ibuku dan Lo Cucong menghormati dia sebagai jago bulim, mengandung pikiran untuk

menjadikannya sebagai anggota perkumpulan kami, maka itu bukan saja tidak diapa-apakan,

bahkan ditempatkan di istana Sorga…”

“Ini sudah kutahu dari Siau Hong, lalu bagaimana ?”

76

Pek Kiam Hong menggeleng-gelengkan kepala. “In heng tidak menduga, kekepala batuan

pengemis itu, begitu sakitnya agak sembuhan, kontan berbalik muka. Bukan saja tak mau

menjadi anggota kami, juga mengacak-acak seisi Istana Sorga, perabotan dari benda-benda

mahal dihancurkan, dara-dara pelayan dan pengawal dihantam dan luka-luka lebih dari

seluruh orang, hampir-hampir tidak ada yang bisa menguasainya.”

“Hal itu ada sangkutnya apa denganmu ?” Tanya Tiong Giok, dihati ia girang mendengar

kebandelan Cian bin sin kay, tapi tidak diutarakan pada parasnya.

“Pengemis itu bandel sekali, untuk ini ibuku mengajakku kesana, entah apa yang dikatakan

ibuku, mendadak saja pengemis itu menjadi lunak. Ia menatap padaku serta membelaiku

sekian lama, air matanya mengembang. Sudahlah katanya dan menganggukkan kepala. Ia

menerima anggota kami dan menjadi Fuhoat…”

Mendengar ini perasaan Tiong Giok tidak ubahnya seperti disambar geledek : “Katamu

pengemis itu mau menjadi anggota Pok Thian Pang ?”

“Ya benar!”

Kecuali menatap dan mengusap-usapmu, tidakkah ia bertanya ini itu padamu ?

“Tidak !”

“Tidakkah saat itu ada orang lain kecuali kamu bertiga ?”

“Ya”

“Ah, benar-benar mengherankan !”

“Ya memang membuatku tidak habis mengerti,” kata Pek Kiam Hong, sejak kecil aku tak

pernah pergi dari sini, siapun belum pernah melihatku, kenapa gerak-geriknya aneh sekali !”

Mungkin ayahmu merupakan sahabat baiknya, dan wajahmu itu mengingatkannya pada

ayahmu dan mendatangkan kenangan sedih baginya !

“Ya merupakan suatu keanehan yang mungkin di ketahui ibumu saja tidakkah engkau

bertanya padanya ?”

“Tentu saja tidak mendapat jawaban yang memuaskan, ia hanya mengatakan nanti engkau

akan mengerti sendiri !”

Siau Hong sudah membawakan hidangan.

“Bawa araknya” minta Tiong Giok.

“Apa ? Mau minum lagi ?”

77

“Ya aku ingin minum sebagai tanda menghormat dan turut bergirang karena Pok Thian Pang

mendapatkan seorang Futhoat baru, kata In Tiong Giok sambil tertawa. Ia tertawa, tapi

wajahnya lebih jelek dari pada menangis….

Entah sudah berapa lama berlalu, waktu Tiong Giok bangun dari mabuknya, Pek Kiam Hong

sudah tidak terlihat lagi. Ia merasakan sekujur badannya lesu, kepalanya pening. Dicobanya

bangun, tak berhasil. Ia bengong dan membuka mata melihat kesana kemari. Bukan main

kagetnya, sebab diluar tahunya, Wan Jie berada di dalam kamar sedang menyeka matanya

yang basah sambil menatap kearahnya.

“Sudah lamakah ?”

“Tidak, hanya satu hari satu malam !”

“Apa, aku mabuk satu hari satu malam ?”

“Apa herannya, ada orang mabuk dan tidur terus sampai tubuhnya menjadi mayat. Itu baru

enak !”

In Tiong Giok mencoba bangun, tapi tetap tak berhasil, matanya berkunang-kunang, napasnya

memburu. Wan Jie dengan penuh perhatian menaruhkan kain basah di keningnya. Ini

mendatangkan kesegaran bagi Tiong Giok.

“Untuk apa segala penderitaanmu itu diperlihatkan padaku ? Jika merasa tidak senang dengan

kehadiranku, aku bisa berlalu…ah…” Suaranya terputus karena datang isakan tangis dan air

“engkau jangan berkata ! Apa yang kurasakan padamu hanya Tuhan yang tahu, semakin

engkau berlaku baik padaku, semakin risau hatiku. Orang semacamku tak ada harganya untuk

di….”

Wan Jie menekap mulut Tiong Giok dan berkata : “Jangan berkata begitu, aku task

menyalahkan engkau mabuk-mabukan, tapi segala kesalahanmu, kenapa kau tidak utarakan

kepadaku ? Mungkinkah segenap perasaanku kepadamu sedikitpun tidak dimengerti ?”

“Wan Jie, banyak persoalanku yang tak bisa kujelaskan : misalkan sesudah menterjemahkan

buku, jiwaku segera tamat ! Ya kenapa mula-mula bertemu denganmu dan terjerat tali asmara

yang tidak bisa dilepaskan ? Kita dipermainkan nasib, betapa takkan pilu ?”

“Siapa yang memberi tahu riwayatmu tamat berbareng dengan selesainya pekerjaanmu ?”

“Aku sebagai orang luar yang mengetahui dan membaca Keng thian cit su, untuk menjaga

rahasia sudah pasti Lo Cucong takkan memberi ampun kepadaku !”

“Orang luarpun bisa menjaadi anggota, apa susahnya ?”

“Tapi engkau harus tahu tak ada yang minat bagiku menjadi anggota Pok Thian Pang bukan.”

“Kenapa ? Kenapa ? Beritahu kenapa…”

78

“Pendapat dan pendirian seseorang tidak bisa dipaksakan, soalnya kenapa belum bisa kuberi

tahu !”

Wan Jie menangis. “Untukku juga tak bisa engkau beri tahu ?”

“Wan Jie janganlah engkau mendesak…”

“Ya aku tak bisa mendesak, maka gunakanlah saat ini dengan gembira ! Karena kukuatir

dengan berlalunya hari ini, kita bisa main bersama untuk ….” Ia bersedu-sedu dengan

“Wan Jie jangan berkata sebodoh itu,” kata In Tiong Giok yang turut terisak-isak.

Mereka begitu mencintai satu sama lain dan enggan berpisah. Saat inilah pintu terbuka, Siau

Hong masuk kedalam : “Kounio…” Ia tidak meneruskan buru-buru keluar lagi, karena

melihat api asmara sedang membakar suasana kamar.

Wan Jie cepat-cepat melepaskan Tiong Giok dan bertanya dongkol “Ada urusan apa ?”

“Pangcu dua kali mengirimkan utusan menanyakan Kongcu.”

“Ya, kutahu, katakana Kongcu masih mabuk dan belum bangun..”

“Pangcu mau apa denganku ?” yanya Tiong Giok.

“Tidak apa-apa jangan pedulikan itu sebaliknya kita lewaatkan hari ini dengan gembira…”

“Mungkinkah ia mendesakku untuk bekerja …?”

“Ya Lo Cucong menginginkan buku itu cepat-cepat diterjemahkan, tapi jangan perdulikan.

Terlambat saja !”

“Diperlambatpun akhirnya selesai juga. Sebaiknya lebih cepat beres lebih baik. Wan Jie

sediakan kereta, sekarang juga kuberangkat. !” Ia bangun dengan memaksakan diri, terhuyung

keluar pintu…

Pek Cin Nio duduk dikursinya tenang-tenang. Wan Jie duduk disamping In Tiong Giok yang

sedang berpikir keras menghadapi kertas bertulisan Sangsekerta. Hampir setengah jam

lamanya ia memeras otak, tak sehurufpun yang ditulisnya. Waktu ia dongak, sinar mata sang

Pangcu sedang menatap kearahnya.

Suasana menjadi canggung. Wan Jie memandang juga kearah gurunya.

“Wan Jie engkau kenapa ?” tanya sang guru.

“Kupikir….kupikir…”

“Mau bicara jangan begitu, seperti orang garap saja…”

79

“Kupikir pekerjaan ini bisakah ditunda dalam beberapa hari ini ?” Tanya Wan Jie dengan

sungguh-sungguh. Karena In Kongcu sejak terjadi peristiwa itu seolah-olah mengalami

kekagetan dan pikirannya belum tenang, konsentrasi pikirannya belum pulih seperti dulu.

Tambahnya dengan penjelasan kuat.

“Oh, kata Pek Cin Nio dengan tersenyum. Kiranya begitu, sebaiknya engkau harus tahu

karena terjadinya peristiwa itu, Lo Cucong mendesak agar pekerjaan ini diselesaikan secepatcepatnya.

Tapi jika In Kongcu kurang enak badan, istirahatlah dua tiga hari tidak mengapa.”

“Tidak ! Yang rendah tak perlu istirahat asal saja,” kata In Tiong Giok.

“Asal saja bagaimana ?” Tanya Pek Cin Nio, terus terang saja apakah ada kata-kata

Sangsekerta yang sukar dimengerti ?”

Terhadap bahasa tidak menjadi soal, anehnya intisari dari pelajaran pedangnya membuat

orang tak mengerti.

Dapatkah Kongcu memberikan contoh ?

“Misalnya dalam buku ini, banyak jurus-jurus dari ilmu pedang, penusunannya tidak

sempurna, terbalik-balik dan banyak kekurangannya. Mengakibatkan bahasanya terputusputus

dan sukar diterjemahkan. Entah si penulis ingatannya kurang kuat dan membuat

kekurangan-kekurangan atau memang ilmu pedang ini tidak sempurna. Jika patah demi patah

diterjemahkan, sukar mendapatkan arti yang sempurna, maka itu membuatku berpikir dan

berpikir tanpa menulis !”

Sejak wajah tersenyum dari Pek Cin Nio pudar mengguram : “Pokoknya Kongcu boleh

menterjemahkan patah demi patah, nanti kami bisa membereskan sendiri kekurangannya !”

In Tiong Giok mengangguk, mulailah ia menulis dengan cepat : memang sudah terkandung

niatnya untuk mengganggu Pok Thian Pang, maka itu ia sengaja menjungkir balikkan kalimat

dan membuat terjemahannya itu sukar dimengerti. Dalam sekejap lembar pertama selesai

Pek Cin Nio membaca hasil terjemahan itu, keningnya mengkerut-kerut lalu bertanya “Wan

Jie jam berapa sekarang ?”

“Lebih kurang jam tiga !”

Pek Cin Nio mengantongi lembaran asli dan lembaran terjemahan. “ Dikamarku ada obat

penyegar otak, ambillah sebutir untuk In Kongcu dan temaninya disini aku segera kembali

lagi !” Dan terus ia cepat-cepat keluar pintu

“Tatkala engkau menulis, hatipun merasa hancur ! Sehuruf tulisanmu sama dengan

berkuangnya sedikit, pertemuan kita.”

“Pertemuan dan perpisahan adalah gelombang kehidupan, berpisah untuk berkumpul adalah

gembira, sebaliknya berkumpul untuk berpisah mendatangkan duka ! Semua ini tergantung

nasib, maka tak perlu gembira tak perlu duka, terserah kepada yang maha kuasa !”

80

“Aku tak mau menerima nasib begitu saja ! Pokoknya aku sudah bertekad untuk sehidup

semati…”

“Hm, itu tak baik,” jawab In Tiong Giok, andaikan aku harus mati disini paling-paling

menambah jumlah setan-setan penasaran lain tidak toh ?”

“Suhu dan Lo Cucong bisa memanjaku, aku bisa memohon dengan ancaman bunuhnya diri

mungkin persoalan tidak sebeat yang engkau pikirkan…”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki diluar, nyata tergesa-gesa benar. Wan Jie menyeka air mata

dengan cepat. “Siapa ?” Tidak ada jawaban ! Dijendela tiba-tiba nongol sebuah wajah tolol

kebego-begoan dari seorang pelayan istana. Ditangannya memegang seekor burung pos, ia

longok kedalam dan baru menjawab pertanyaan Wan Jie sambil ngengir-nyengir : “Pangcu

ada tidak ?”

“A Toh untuk apa mencari Pangcu ?”

“Aku …menangkap…burung pos !” jawab A Toh agak gugup.

“Kembalikan kekandangnya, tak usah ribut-ribut !” bentak Wan Jie.

Mukanya pelayan tolol itu menjadi merah, “Burung ini membawa surat dikakinya !”

“Berikan padaku !” kata Wan Jie.

A Toh nyengir-nyengir tolol terus menerus dan memberikan burung itu papa Wan Jie sambil

menjublek tak mau pergi. Wan Jie mengambil surat dari kaki burung, lalu memberikan

burung kepada A Toh. “Disini seang dilakukan pekerjaan penting, tidak boleh sembarangan

masuk, mengertikah ?”

“Ya mengerti !” jawab A Toh sambil membungkuk dan terus berlalu.

“A Toh biarpun ketolol-tololan, kesetiaannya pada suhuku kuar biasa sekali. Maka itu ia

ditugaskan merawat burung-burung pos, kalau bukan aku jangan harap boleh memegang

burung-burung merpatinya.” Surat itu diluarnya tertera nama Ngo Liu Cung. Dengan cepat

Wan Jie membuka dan membacanya, begitu selesai wajahnya menjadi berubah dengan

mendadak….

“Apa yang tertulis disurat itu ?”

Wan Jie mengantongi surat dan memaksakan diri tersenyum : “Tidak apa-apa,hanya saja…Ih

lihat wajahmu begitu pucat, tunggu kuambilkan obat penyegar otak.”

Wan Jie berlalu. Pek Cin Nio datang. Lengannya memegang sebuah Kotak Kumala. Ia diam

saja tanpa berkata, waktu Wan Jie datang baru membuka mulut. “Beritahu siapapun tidak

boleh masuk kesini,” katanya.

Wan Jie mengangguk dan menjalankan perintah.

81

“Terjemahan Kongcu tadi telah kuperlihatkan kepada Lo Cucong, “ Pek Cin Nio menjelaskan,

“memang banyak tempat yang hilang atau kurang, mak itu meminta Kongcu membaca habis

dulu seluruhnya buku baru menterjemahkannya, dengan begitu memudahkan pekerjaan

bagimu. Tapi sebelum itu perlu kuterangkan bahwasannya buku ini sangat dirahasiakan dan

dipandang Lo Cucong sebagai pusaka yang tidak ternilai harganya. Kecuali dia engkaulah

orang pertama membaca buku ini.”

“Suatu kebanggaan bagiku mendapat kepercayaan sebesar itu, dan akan kucurahkan seluruh

kemampuanku untuk mengerjakannya mungkin !”

“Tapi ingat jika terjadi sesuatu kesalahan berarti bencana bagimu, untuk ini kuharap engkau

berlaku waspada !”

“Oh sudah pasti kan kujaga rahasia ini !”

“Kamipun percaya engkau bisa menyimpan rahasia ! “ katanya dan terus membuka kotak

kumala dan menyerahkan buku pusaka itu.

Buku itu telah kurang hanya dua puluh halaman lebih, dengan tenang Tiong Giok

membacanya. Sebagai orang yang cerdas dan berbakat, setelah mengulangi dua kali, seisi

buku telah melekat dalam ingatannya ! Dikembalikannya buku itu pada sang Pangcu.

“Bagaimana ?” Tanya Pek Cin Nio.

“Sekuat kepandaianku kucurahkan, hanya bisa menterjemahkan sehuruf demi sehuruf.

Terhadap kalimat-kalimat yang terputus-putus atau yang kurang benar membuatku tak

berdaya !”

“Kalau begitu memang dasarnya ilmu pedang ini banyak kekurangannya ?”

“Entahlah,” kata In Tiong Giok. “Tapi bolehkah aku bertanya dari mana Pangcu memperoleh

buku ini ?”

“Terus terang buku ini didapat dengan susah payah dari seorang Bulim yang lihay !”

“Apakah orang Tionghoa atau India jago Bulim itu ?”

“Orang Tionghoa !”

“Masih hidupkah orangnya ?”

Pek Cin Nio mengangguk kepala.

“Diakah yang bernama Hauw Sian ?”

“Untuk apa Kongcu bertanya soal dia ?”

“Dari mula kuduga Hauw Sian sebagai penulis buku ini, dan nama itu bukan nama asing,

maka kuyakin dia bukan orang India. Tapi kuhean kenapa orang Tionghoa menulis buku

dengan bahasa Sangsekerta ? Disini soalnya…..!

82

“Benar apa yang engkau katakana, tapi apakah hubungannya dengan nama itu ?”

“Soal dalam bahasa Sangsekerta banyak istilah-istilah yang sukar diartikan dalam bahasa

Tionghoa secara tepat, lebih-lebih terhadap pelajaran ilmu pedang ini, salah sepatah berarti

menyimpang sepuluh depa, untuk mempertahankan keasliannya maka ia menulis dalam

bahasa Sangsekerta !”

“Mungkin apa yang engkau duga secara cermat betul adanya !”

“Maka itu ingin kutemui orang yang bernama Hauw Sian itu, segala kesulitan dibuku bisa

kutanyai kepadanya !”

“Soalnya kami bisa menemukan orang itu apakah dia mau membantumu ?”

“Memang kenapa ?”

“Orang itu sedah kehilangan bukunya, sudah kesal dan pusing, mana mau lagi membantumu

?”

“Tak usah kuatirkan, asal orang itu dapat kutemui, pasti dapat kupancing yang segala

kuingini”

“Baiklah, soal ini akan kami pertimbangkan nah sekarang engkau boleh pulang beristirahat !”

Dengan cepat sang Pangcu berlalu.

Sekembalinya ke Villa Tenang Wan Jie berwajah murung, seangkan In Tiong Giok juga

terpekur tanpa membuka mulut. Pemuda ini pikirannya melayang-layang kebrbagai soal :

Keng Thian Cit Su, Pang Hui… Cian bin sin Kay… tanda punggungnya…usia delapan belas

tahun…Pek Kiam Hong yang aneh…Wan Jie yang menarik…kini ditambah Wan Jie yang

masih tetap disampingnya.

“Wan Jie, tak usah payah berpikir di soal rumit saja, aku telah membuat Lo Cucong

menghadapi kesukaran : mungkin dalam tiga empat bulan kita masih bisa bersama-sama…”

Wan Jie menangis : “Tidak bisa ! Tidak usah mengulur waktu lagi, engkau harus segera

meninggalkan tempat ini, semakin cepat semakin bagus.”

“Kenapa pendirianmu cepat berubah ?” sukar kukatakan, lihatlah surat ini !”

Itulah surat yang didapat dari burung pos, diatas berbunyi : setelah diperiksa dengan cermat,

In Hok telah kembali dan yang mengiringi In Tiong Giok adalah In Hok palsu. Sedang

pemuda itu usianya selapan belas tahun, mengerti bahasa Sangsekerta. Dapat diketahui pada

pemuda itu, bertanda bacokan dipundak kirinya. Entah apa pemuda itu maksudnya masuk

kemarkas pusat Pok Thian Pang ? Sebaiknya ditangkap dan dikompres untuk mendapat

penjelasan dari Tan Toa Tiau.

Selesai membaca, sekujur badan In Tiong Giok basah dengan keringatnya dingin, gaya

reflexnya memegang pundak kiri. Bajunya sudah terbuka yang dipegang tempat tanda bekas

83

“Untung surat ini jatuh ditanganku, andaikata pada guruku, akibatnya tak bisa kubayngkan,

kini jalan satunya, engkau harus secepatnya meloloskan diri dari sini. Malam ini dengan cara

apapun aku harus mendapatkan tanda jalan untukmu …

Tiong Giok tahu rahasianya sudah diketahui Wan Jie, membuatnya bertambah tenang.

“Tidakkah engkau mau menyelidiki juga soal diriku dan anda ini ?”

“Tak usah kutanya lagi, engkaulah orang yang dicari-cari oleh Pok Thian Pang !”

“Karena ayahmu adalah pembunuh ayahnya Pek Suheng………..

“Yang bisa membunuh ayahnya Kiam Hong tentu jago Bulim juga, sedang ayahku bukan

orang Kang Ouw, maka itu kupikir lucu ?”

“Tapi usiamu dan tanda itu cocok dengan orang yang mau mereka tangkap……”

“Yang berusia delapan belas tahun dan ada tanda dipunggungnya ini bukan aku seorang

mungkinkah semuanya harus ditangkap dan dibunuh ?”

“Soalnya tidak jelas bagiku, yang kutahu jika sampai tertangkap adalah buruk akibatnya, lebih

baik engkau kabur !”

“Kedatanganku kesini untuk mendapat penjelasan dalam soal itu, maka tak ada niat bagiku

berlalu dengan begitu saja !”

“Ah, engkau mau cari mati, atau memaksaku mati….”

Pembicaraan terganggu dengan kedengarannya derapan kuda. Mereka melongok dari jendela

tampak, Lie Tongleng dengan dua pengawal menuju ke villa Tenang. Lie Tongleng merasa

kaget melihat kehadiran Wan Jie didalam kamar, dengan tersenyum ia memberi hormat :

“Pangcu menyuruhku kesini untuk menjemput Kongcu ke istana !”

“Nantikanlah sebentar, aku harus merapikan diri dulu.”

“Engkau belum makan, suruh Siau Hong menyediakan, nanti kita sama-sama kesana.”

“Silahkan Kongcu makan dan mandi dengan tenang, tapi Pangcu menghendaki agar Wan

Kounio tidak turut serta !”

“Kenapa ?”

“Tak tahu, menurut Pangcu soalnya penting dan harus di bicarakan dengan empat mata saja

antara Pangcu dan In Kongcu !”

“Apakah Pangcu benar-benar berkata begitu ?”

“Ya, masakan aku berbohong ?”

84

Tak terasa lagi Wan Jie menjadi kaget dan parasnya berubah pucat. Cepat ia mendekat pada

Tiong Giok. Kau piker baik tau buruk !”

“Serahkan pada nasib ?”

“Bagaimanapun terjadi jangan engkau berkeras dengan Cucong dan guruku, aku bisa

bekerja…”

“Wan Jie jangan ketakutan tak keruan, pokoknya beres !”

Sesudah beres makan dan mandi, Tiong Giok naik kereta menuju istana. Suasana dibelakang

istana itu lain dari biasa, disitu terdapat kereta indah, pengawal-pengawal lebih banyak dari

hari-hari biasa, penjagaan keras sekali. Yang mengherankan sampai sang Pangcupun berada

diantara pengawal. Begitu Tiong Giok turun dari kereta, Pangcu segera memanggil. “ Jangan

buang waktu, silahkan Kongcu naik kereta !”

Tiong Giok naik lagi ke kereta.

“Salah, naiklah kereta ini !” seru Pek Cin Nio.

In Tiong Giok jadi bingung, ia terpaksa pindah kereta, tak selang lama Pangcu itu masuk dan

melihat pemuda kita yang sedang terpekur. Segera duduk disebelahnya dan terus siam juga

seperti si pemuda. Tinggallah In Tiong Giok menjadi serba tak enak, untuk menghilangkan

kecanggungan ia meram ! Telinganya mendengar suara roda kereta, hidungnya mencium

wewangian dari sang Pangcu, hatinya berdebar-debar, pikirannya kacau balau !

Waktu kereta berhenti, mereka telah tiba di suatu tempat sunyi. Disitu terdapat sebuah

bangunan sederhana, Lie Kee Cie mengetuk pintu dan memanggil perlahan.

Tak selang lama pintu terbuka, Pek Cin Nio mengajak Tiong Giok turun dan masuk ke dalam

rumah itu. Dari sini terdapat pintu rahasia yang langsung masuk ke dalam terowongan. Begitu

gelap tampaknya dari luar. Waktu obor-obor menyala dari dalam terlihat seorang Futhoat

berbaju biru menyambut kedatangan mereka dengan hormat sekali. “Yang rendah adalah Ong

Jiok Tong, Congkoan (pengurus) penjara tanah, menghadap pada Pangcu !”

“Tak usah banyak peradatan,” kata Pek Cin Nio.

“ya, ya, ya,” kata Ong Jiok Tong dan terus mundur menyamping, lagak gayanya agak

ketakutan, membuat Tiong Giok geli melihatnya. Dengan didampingi sang Pangcu iapun turut

gagah-gagahan masuk kedalam ruangan bawah tanah. Setelah melewati beberapa langkah,

meraka sampai disuatu ruangan, disitu penerangan mengandalkan obor. Pangcu mengambil

tempat duduk yang sudah dirapikan. Kuminta kamar satu dibersihkan dan semua keperluan

disiapkan.”

Ong Jiok Tong cepat-cepat memerintahkan anak buahnya bekerja. Tak selang lama datang

laporan segala yang dikehendaki Pangcu sudah siap semua.

“In Kongcu terpaksa menyusahkanmu sebentar datang kemari, alat-alat perlengkapan disini

dapat menangkap pembicaraan Kongcu dengan orang tawanan, maka itu berlakulah cerdik !

Ong Congkoan antarkanlah In Kongcu.”

85

Tanpa bertanya ini itu lagi, Tiong Giok mwngikuti Ong Jiok Tong memasuki pintu berjeruji

besi. Dari sini terdapat tangga batu, turun kebawah. Setiap seratus undakan tangga terdapat

sebuah pelita, dibawahnya terdapat pintu jeruji yang rendah, samar-samar dari dalamnya

terdengar suara berkerincingnya rantai besi. Juga setiap pintu itu bertulisan kamar nomor satu

kamar nomor dua dan seterusnya. Inilah penjara didalam tanah yang serupa dengan neraka.

JILID 5________

Dengan perasaan ingin tahu, Tiong Giok melongok kedalam kamar. “Disini tertera kamar

nomor satu, kenapa tak ada orangnya ?”

“Ini penjara biasa, sedangkan Kongcu harus ke penjara Istimewa. Keadaannya berbeda

dengan disini, agak enakan sedikit dan mendapat perlakuan istimewa juga !”

“Siapa saja penghuni penjara istimewa ?”

“Sejujurnya aku tak tahu, karena mereka hanya memakai nomor sebagai pengganti namanya,”

jawab Ong Jiak Tong.

“Tidakkah lengkap menanyai pada mereka ?”

“Narapidana terbagi dua golongan, yang ringan perlu ditanya, dan mereka tidak disini

sedangkan yang berada disini semua menjalani hukuman seumur maka tak perlu lagi

menanya-nanya mereka !”

Sambil bicara sambil berjalan, tak terasa lagi sudah sampai diruangan yang paling bawah.

Disini terdapat ruangan agak besar, dan kamar-kamar berderetan sebanyak enam buah. Diatas

kamar tertulis, kamar Istimewa nomor satu… sampai nomor enam. Dan terdapat juga sipir bui

yang menjaga.

Ong Jiak Tong membuka kamar nomor satu, “Maaf…silahkan masuk !”

In Tiong Giok mengangguk dan masuk kedalam dengan kaki gemetar…sedangkan pintu besi

dikunci dari luar. Hei.. penghuni kamar satu, kuberikan selamat dapat kawan baru !” seru

seorang pengawal.

Keadaan di dalam ruangan begitu semak dan menyesakkan napas. Di atas balai-balai terlihat

seorang tua sedang berbaring, begitu pucat dan kurus, sinar matanya saja menatap terus ke

“Mungkinkah ini orangnya ?” piker Tiong Giok dan terus ia memberi salam sambil menegur :

“Bagaimana pak baik-baik saja ?”

Orang tua itu tidak menjawab hanya menatap terus dengan matanya, seolah-olah tak

mendengar apa yang diucapkan si anak muda.

“Bagaimana pak baik-baik sajakah ?” seru In Tiong Giok lebih keras lagi.

86

Orang tua itu menganggukkan kepala lalu berkata dengan suara yang parau : “Duduklah nak,

ditempat semacam ini tak perlu memakai banyak peradatan.”

“Dapatkah kutahu nama bapak ?”

“Selama tujuh belas tahun tak melihat sinar matahari, membuatku lupa nama sendiri !

Bagaimana denganmu nak masih ingatkah nama sendiri ?”

“Ohn namaku In Tiong Giok.”

“Masih begini muda kenapa engkau bisa masuk kesini ?”

“Sebenarnya aku datang bekerja sebagai penterjemah pada Pok Thian Pang, tapi…”

“Setop dulu….menterjemahkan buku apa ?” sela si orang tua.

“Sebuah buku Sangsekerta…”

“Keng Thian Cit Su bukan buku itu !” lagi-lagi si orang tua memotong bicara.

“Benar, kenapa engkau bisa tahu pak ?”

“Sudah diterjemahkan belum buku itu ?” Tanya si orang tua sambil menggeleng-gelengkan

“Belum…”

“Kenapa..?”

“Sudah berapa tahun kupelajari bahasa Sangsekerta, tapi menghadapi buku itu tak berdaya :

banyak yang tidak kutahu, sebab istilah-istilah silat bagiku asing sekali, karena aku tak pandai

silat sedikitpun. Maka sampai kini belum bisa diterjemahkan !”

“Bagus,” kata si orang tua, “ tujuh belas tahun aku disini, nyatanya tak sia-sia “

“Apakah bapak karena buku itu juga masuk kesini ?”

“Ya karena buku itu !”

“Karena tak mau menterjemahkan, apa karena kurang bisa ?”

“Hm, buku itu adalah milikku !”

In Tiong Giok hatinya berdenyut kaget, hampir ia berseru tak terasa, saat ini ia sadar bahwa

capai lelah dari sang Pangcu, semata-mata untuk Keng Thian Cit Su. Dan iapun tahu bahwa

orang tua ini tak lain Hauw Sian adanya.

Untuk memperpanjang waktu In Tiong Giok mencari alas an, sukar dan ingin bertemu dengan

Hauw Sian. Tak tahunya Hauw Sian berada didalam tahanan Pok Thian Pang dan ditemui.

87

Rencananya memperpanjangkan waktu menjadi gagal ! Sungguhpun demikian ia menjadi

girang bisa bertemu dengan orang itu yang telah ditahan selama tujuh belas tahun.

“Tentu engkau merasa aneh nak ?” kata si orang tua lemah lembut. “Hidup di dalam dunia ini

banyak keanehan-keanehan, sepeerti kamu yang masih muda belia dan datang kesini,

seterusnya akan menyia-nyiakan waktu selama-lamanya di tempat ini, inipun kejadian yang

diluar dugaan dan termasuk anehkan ?”

“Tidak ! Aku tidak….” Sebenarnya ia ingin mengatakan dirinya bukan dibui, tapi niatnya itu

gagal, karena mengingat bahwa sang Pangcu sedang mendengari pembicaraan mereka dari

kamar rahasia.

“Ya kutahu engkau tak niat mengalami penderitaan disini, tapi karena menterjemahkan buku

itu engkau baru dibui, betulkah ?”

In Tiong Giok berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendapatkan pikiran baik, lalu berkata dengan

didahului tarikan napas panjang :

“Ai…aku tak menyesal masuk penjara ini tetapi menyesal kenapa sudah beberapa tahun

belajar bahasa Sangsekerta belum mampu jua menterjemahkan buku itu, benar-benar

membuatku menyesal dan malu !”

“Menurutku buku itu adalah pelajaran silat yang luar biasa, tapi bahasanya sendiri sederhana

dan mudah, sebenarnya engkau haruslah bisa …”

“Ya, karena hal ini membuatku menyesal, mudah memang mudah tapi apa yang

diterjemahkan sukar mencapai arti sebenarnya ! Misalkan dihalaman ketiga dibaris kedua…

Tiba-tiba bahasanya berubah kebahasa Sangsekerta :

“Aku bukan orang tawanan, melainkan didesak masuk kedalam penjara ini guna menyelidiki

rahasia ilmu pedang Keng thian cit su. Pembicaraan kita sedang didengari mereka harap

bapak berhati-hati dan waspada ! “ Segala yang menyesatkan hatinya telah diutarakan

membuatnya lega, dan terus ia berkata lagi dengan bahasa Tionghoa” penerangan ini tidak

sesuai dengan ilmu silat, jika diterjemahkan huruf perhuruf jadinya tak karuan.”

Orang tua itu dengan sorotan mata kaget memandang sekeliling dan mengerti apa yang

dikehendaki Tiong Giok: “nak bahasa Sangsekerta demikian fasih, mungkinkah kata-kata

yang mudah didalam buku tidak mengerti, menurut peribahasa orang India…” Ia mengubah

memakai bahasa Sangsekerta. “Engkau sebenarnya siapa ? Kenapa bisa datang kemarkas

besar Pok Thian Pang ?”

Tiong Giok seperti girang mendapat jawaban itu. “Setelah mendapat penjelasan dari bapak

kini tahulah bahwa pelajaran di dunia ini tak ada batasnya. Dan memang pengetahuan aku

sangat minim, tapi halaman ketujuh benar-benar sukar.” Lagi-lagi ia beralih kebahasa

Sangsekerta, “Sebenarnya aku mendapat tugas dari guruku mengantar surat kegunung Thay

Heng, tapi sewaktu tiba di Ngo Liu Cung merasa tertarik oleh sebuah pengumuman yang

mencari seorang penterjemah bahasa Sangsekerta dengan honorarium tinggi, karena tahu apa

yang dikehendaki mereka, maka aku melamar dan diterima serta dibawa kemari !”

“Siapa gurumu ?” Tanya siorang tua dengan bahasa Sangsekerta.

88

“Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin gunung salju,” jawab Tiong Giok dengan

bahasa yang sama.

“Oh, kata siorang tua dengan girang : “Kalau begitu pantas engkau pandai bahasa

Sangsekerta. Bagaimana apakah engkau sudah ke Thay hengsan ?”

“Belum pergi kesana, tapi telah menemui Thay Cin Tojin, kini ia telah menjadi Futhoat Pok

Thian Pang !”

“Mungkinkah seorang bernama besar seperti dia mau mengabdi pada Pok Thian Pang ?”

“Ini kulihat dengan mata kepala sendiri,” kata Tiong Giok, “Tojin itu benar-benar tidak tahu

malu dan kurang ajar, sampai surat guruku disobek hancur dan dibuang !”

“Tak mungkin ia bisa berlaku demikian… mungkin surat gurumu itu terlalu mengejeknya ?”

“Surat itu tidak berleter, hanya meerupakan gambar; sebuah pohon cemara, dibawahnya

terlihat seorang tua sedang menyiram sebuah pohon yang baru tumbuh…. Kecuali itu tidak

ada lagi !”

Orang tua itu membayangkan rasa kaget, dengan sinar matanya ia menyapu wajah pemuda

kita : “Sebuah surat berbentuk gambar ? Eh beritahuku, apakah engkau berusia delapan belas

tahun ? Dan dipunggungmu terdapat tanda bacokan ?”

“Kenapa bapak bisa tahu ?”

Orang tua itu tiba-tiba saja mengucurkan air mata, dan berkata dengan terharu : “Nak engkau

bukan she In…”

Tiba-tiba saja pintu teerbuka dan Ong Jiak Tong masuk kedalam. Dengan wajah dingin ia

menyapu kedua wajah orang tua dan muda itu bergantian : “Hm, apa yang kalian bicarakan ?

Peraturan disini semua narapidana tak dibolehkan menggunakan bahasa sandi untuk bicara.

Hai ! Bawa tawanan muda ini kelain kamar !”

Dua pengawal segera datang dan menyeret Tiong Giok begitu keluar kamar.

“Ong Congkoan apa artinya ini ?” bentak Tiong Giok begitu keluar kamar.

“Kongcu jangan gusar, semua ini perintah Pangcu, aku hanya menjalankan perintah saja !”

“Pertemuanku diatur oleh Pangcu demikian rupa, mana mungkin dihalang-halangi ?”

Ong Jiak Tong mengangkat pundak dan berkata : “Ya, memang Pangcu mendengari

percakapan kalian dari kamar rahasia, mula pertama ia tersenyum dan menganggukanggukkan

kepala, tapi belakangan mengerutkan kening dan terus memerintahkan padaku

menyuruh Kongcu keluar !”

In Tiong Giok terpekur ejenak, tanpa berkata-kata ia naik tangga meninggalkan tempat itu.

Sesampainya diruangan tengah, sang Pangcu sudah berada disitu, tampak wajahnya muram.

89

“Ada pesan apa Pangcu memanggilku ?” Tanya In Tiong Giok.

“Hm, apa yang dibicarakan Kongcu dengannya tadi ?” sang Pangcu berbalik bertanya dengan

“Tidakkah semua percakapanku dengannya telah didengar Pangcu dari kamar rahasia ?”

“Sampai dimana Kongcu memperbincangkan bahasa Sangsekerta itu dengannya ? Dan apa

hasilnya ?”

“Sedang asyiknya percakapan berlangsung, tiba-tiba saja Ong Congkoan datang melarang,

dengan alas an kami berkata-kata dalam bahasa Sangsekerta, hasilnya tentu saja nihil !”

“Semua ini kujalani atas perintah Pangcu.” Ong Jiak Tong membela diri.

“Pangcu memerintahkan aku menemui penghuni kamar istimewa itu, yakni untuk

melancarkan pekerjaanku dalam menterjemahkan buku Sangsekerta. Dengan sendirinya

segala kesulitan dalam bahasa itu, harus diucapkan dalam bahasa Sangsekerta ! Kupikir Ong

Congkoan mempunyai cara yang lebih baik dari itu, maka dengan sangat kumohon petunjukpetunjukmu.

“Ini…ini…” Ong Jiak Tong kelabakan, wajahnya merah kemalu-maluan, sedangkan matanya

menatap kearah Pangcunya seolah-olah memohon bantuan.

Sedangkan sang Pangcu pikirannya menjadi berubah setelah mendengar kata-kata In Tiong

Giok, setelah berpikir sejenak lalu berkata : “Memang benar, bagaimanapun engkau akan

berkata-kata dalam bahasa Ssangsekerta, sesuai dengan kerjaanmu. Ong Congkoan engkau

memang salah !”

“Tapi…,” Pembelaan Ong Jiak Tong tak bisa dilanjutkan, mulutnya menjadi bungkam terkena

delikan mata sang Pangcu. Cepat ia menyerah. “Ya…ya aku salah, mohon Kongcu dan

Pangcu memaafkan kecerobohanku !”

Sang Pangcu tersenyum, lalu melirik kearah Tiong Giok lalu berkata. “Semua ini terjadi

karena salah paham, Kongcu tak perlu menaruh hati ! Sejujurnya adakah hasil yang diperoleh

dari percakapan tadi ?”

“Sejujurnya ada,” kata In Tiong Giok, tadi kukatakan nihil karena masih dongkol pada Ong

Congkoan, atas ini kuminta maaf !”

“Nah apa yang diperoleh sekarang kerjakan dulu, nanti boleh menemuinya lagi !” kata sang

Pangcu, dan terus bangun dari tempat duduknya. Sengaja ia menuntun In Tiong Giok keluar

agar pemuda itu senang dan mau bekerja dengan baik-baik.

Ong Jiak Tong sekalian sipir bui mengantar dengan hormat sambil berbungkuk-bungkuk. In

Tiong Giok merasa tak enak hati pada Ong Jiak Tong. Maka itu sebelum ia naik kereta ia

menepuk-nepuk pundak orang sambil menghibur “Ong Congkoan semua ini disebabkan tugas

dan kewajiban kita, harap kejadian tadi jangan menjadi ganjelan hati !”

90

“Terima kasih! Terima kasih !” Jawab Ong Jiak Tong dengan senang.

Kereta segera bergerak meninggalkan penjara tanah. Kejadian yang dialami membuatnya tak

bisa berpikir : kenapa orang tua itu mengatakan dirinya bukan she In ? Kenapa perkataan aneh

ini bisa diucapkan orang tua itu ? Kenapa orang tua itu mengetahui usianya serta tanda

dipundak kirinya ? Apa hubungannya dengan surat gurunya yang disampaikan kepada Thay

Cin Tojin ?

Soal umur dan tanda luka memang tepat terdapat pada dirinya, mungkinkah sampai soal she

bisa salah ? Semakin berpikir otaknya gelap, dan ia baru tersadar tatkala kereta tiba ditempat

Wan Jie seperti terbang melihat kereta tiba dan terus bertanya pada gurunya yang belum

sempat turun : “Suhu darimana ? Kenapa aku tak diajak ?”

“Ah jangan berlaku setolol ini Wan Jie, tak enak kalau dilihat para pengawal !” jawab sang

guru sambil mendelik.

“Habis terlampau cemas aku ditinggal,” kata Wan Jie,”setiap yang kutanya suhu pergi

kemana, semua mengatakan tidak tahu. Demikian juga dengan Lo Cucong, sampai sekarang

menunggu-nunggu suhu pulang…”

“Lo Cucong ?”

“Ya katanya ada surat dari Soat Kouw. Kecuali itu Wang Futhoat yang bertugas dipintu

masuk berturut-turut tiga kali memberikan tanda bahaya, mungkin ada sesuatu yang terjadi !”

Pek Cin Nio mengerutkan kening, ia berpaling pada Tiong Giok: “Kalau begitu silahkan

Kongcu pulang dengan kereta ini, nanti malam baru…”

“Lo Cucong memesan agar Kongcupun jangan pulang,” sela Wan Jie.

Pek Cin Nio semakin mendelik pada muridnya : “Hari inikenapa engkau begini macam ?”

Bicara terburu-buru, benarkah Lo Cucong memesan begitu ?”

“Kalau suhu tak percaya tanyalah pada Lo Cucong…”

“Ah kenapa kian hari kian kurang ajar ?” tegur Pek Cin Nio, “awas setelah aku bertemu

dengan Lo Cucong akan kuajar !” Ia turun dari kereta dan terus masuk kedalam istana.

Dengan mata merah Wan Jie menahan air matanya, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya

pada In Tiong Giok: “Eh suhuku membawamu kemana ? Adakah terjadi sesuatu yang

membahayakanmu ?”

“Tidak apa-apa, ia hanya menyuruhku bertemu dengan seoarang tua yang bersangkutan

dengan buku Keng thian cit su. Lain dari itu semua aman, nah lihatlah apa yang kurang

padaku ?”

“Masih bisa tertawa,” kata Wan Jie dengan aleman, “kau tahu kepergianmu hampir-hampir

membuatku gila, aku cemas dan kuatir atas dirimu !”

91

“Kenapa Lo Cucong menyuruhku diam dulu disini ?”

“Jangan kuatir bukan apa-apa,” hibur Wan Jie.

“Bukankah engkau pernah mengatakan Soat Kouw meninggalkan tampat ini lima tahun ?

Kenapa mendadak ada suratnya ?”

“Ya, apa herannya, ia sering mengirim surat melalui merpati pos,” jawab Wan Jie. “Urusan

sendiri tak diperhatikan, masih mau tahu urusan orang !”

Sedang mereka bercakap-cakap, Lie Kee Cie dengan langkah cepat keluar dari Istana dan

terus memberikan perintah pada anak buahnya : “Pangcu akan kedepan, kamu harus berlaku

waspada, dan siapkan semua senjata !”

In Tiong Giok keheran-heranan, ia memandang pada Wan Jie, yang disebut belakanganpun

menggelengkan kepala tanda tak tahu. Tak selang lama sang Pangcu baru keluar dari istana.

Ia menghampiri Tiong Giok : “Ada sesuatu soal memerlukan tenaga Kongcu, mari kita pergi

bersama-sama !”

Wan Jie menatap kepada gurunya, tanpa berkata-kata, gerak-geriknya kentara sekali ingin

diajak. Pek Cin Nio tersenyum dan berkata : “Mau ikut ya ? Lekas naik !”

Kegirangan Wan Jie tak alang kepalang, ditariknya pintu kereta, dan berkata dengan aleman

pada gurunya : “Terima kasih Suhu !”

Kereta berlari seperti terbang dalam waktu singkat telah tiba dipantai, disitu telah terseia

empat buah perahu untuk melanjutkan perjalanan mereka kegunung depan. Setelah berada

didalam perahu, Pek Cin Nio menjelaskan pada Tiong Giok: “Siang ini digunung depan

datang seorang tua dan seorang muda yang aneh, orang tua itu bermata biru dan tidak bisa

berbahasa Tionghoa; yang muda bisa berbahasa Tionghoa sedikit-sedikit. Mereka menyatakan

sebagai guru dan murid, datang dari India, dan datang kemari untuk berurusan dengan kami.

Wang Futhoat tidak mengerti bahasa mereka, dan tak mengijinkan mereka masuk, akibatnya

mendatangkan makian mereka, bahwa kami sebagai perserikatan besar, tapi tidak mempunyai

seorangpun yang berbahasa Sangsekerta. Lo Cucong merasa tersinggung, dan memerintahkan

aku mengajakmu kesana !”

“Orang di Tionghoa sendiri jarang yang mengetahui tempat ini, kenapa mereka yang dari

India bisa tahu ?” Tanya Tiong Giok.

“Ya kedatangan mereka memang mengagetkan dan mencurigakan,” jawab Pek Cin Nio.

“Maka itu Lo Cucong ingin tahu apa yang dikehendaki mereka, dan mendatangkan Kongcu

kesana sebagai interpreter !”

Begitu mereka mendarat terus mengganti kuda dan masuk kedalam terowongan, begitu keluar

Wang Wang Can tampak menyongsong dengan membukakan pintu berjeruji besi.

Wang Wang Can dulu mendampingi terus Lo Cucong, tapi sejak Kim Tak Can dilukai Cian

bin sin kay, ia dioper kepintu pertama ini. Keadaan disini terasa tegang.

92

“Apakah kedua orang itu masih berada dibawah gunung ?” Tanya Pek Cin Nio.

“Masih ! Lihatlah” kata Wang Wang Can sambil menunjuk.

Benar saja waktu mereka melihat kebawah terlihat dua orang berpakaian merah, satu tua satu

muda. Disebut Hweesio bukan Hweesio dikata Lama juga bukan; juga tidak mirip dengan

Tojin. Pokoknya dandanan mereka tidak keruan, dengan jumawa mereka sedang tergelakgelak,

dengan kelakuan eksentriknya yang berlebih-lebihan.

Mereka tertawa semakin besar begitu melihat Pek Cin Nio, yang tua berkata-kata yang tidak

dimengerti, sedangkan yang muda menjelaskan: “Guruku bertanya yang mana Pangcu Pok

Thian Pang ?”

“Binatang ini terang-terang orang Tionghoa, kenapa tidak bisa berbahasa Tionghoa, janganjangan

seperti Pang Hui….” Kata Wan Jie sambil tersenyum.

“Lie Tongleng jawab pertanyaan mereka !” Pek Cin Nio memerintahkan dengan wajah

“Pangcu kami ada disini, tuan-tuan berkepentingan apa datang kesini ?” kata Lie Kee Cie.

Orang tua bermata biru menatap Lie Kee Cie dengan mendelik lalu berkata tak keruan yang

sukar dimengerti.

Yang muda segera menjelaskan: “Guruku berkata kenapa kalian sebagai perserikatan besar,

sampai seorang ahli bahasa Ssangsekerta tidak ada ?”

“Hm,” dengus Pek Cin Nio, “ In Kongcu timpalilah mereka dengan bahasa Sangsekerta !”

“Kalian datang kesini sebenarnya mau apa ?” teriak Tiong Giok dengan bahasa Sangsekerta.

Orang tua itu mendadak berhenti tertawa, dan memandang pada Tiong Giok dan terus

mengoceh lagi dengan bahasanya sendiri.

“Apa yang dikatakannya ?” Tanya sang Pangcu.

“Aku tak mengerti, karena yang diucapkannya itu bukan bahasa Sangsekerta !”

“Ah gila orang itu !” kata Pek Cin Nio.

“Biarlah akan kutanya lagi,” kata In Tiong Giok dan terus membuka mulut dengan bahasa

Sangsekerta. “Bukankah kalian ini ingin bicara dengan bahasa Sangsekerta ? Kenapa

menjawab dengan bahasa lain ?”

Orang tua bermata biru, menggelengkan kepalanya, tapi menganggukkan kepala lagi dan terus

berkata-kata seenaknya.

“Kata-katanya bukan bahasa Sangsekerta !” kata In Tiong Giok.

93

Tiba-tiba saja orang yang muda berkata dari bawah :

“Hei, kata guruku engkau masih kecil sudah pandai berbahasa Sangsekerta, apakah datang

dari India ?”

“Aku orang Tionggoan asli !”

“Guruku ingin mengetahui namamu ? Dan bertanya apakah pernah ke India ?

“Namaku In Tiong Giok, menyesal belum pernah ke India sehingga bahasa Sangsekerta yang

diucapkan gurumu tidak aku mengerti !”

Orang tua bermata biru lagi-lagi mengoceh dengan bahasanya, tampaknya sangat cemas

sekali. Dan sedang yang muda tidak hentinya menganggukkan kepala dan terus memandang

kepada In Tiong Giok.

“Guruku mengatakan bahasa Sangsekertamu dipakai dikalangan atas, buat bangsawan dan

pembesar, sedangkan yang dikuasai guruku adalah bahasa rakyat sahaja dari kasta terendah.

Walaupun bahasanya beda, huruf dari bahasa ini sama. Karena tak bisa berkata-kata dengan

suara, ia ngin bercakap-cakap melalui huruf. Sesudah engkau melihat surat guruku, harap

sampaikan pada sang Pangcu, tapi ingat hal ini teramat penting, kecuali dirimu yang lain tidak

boleh tahu. Nah silahkan turunkan tangga, berikan kesempatan aku naik keatas membawa

surat dari guruku.”

“Kongcu boleh mengatakan, bahwa yang muda diperkenankan naik keatas, tetapi yang tua

tidak !” kata Pek Cin Nio.

In Tiong Giok segeras menyampaikan apa yang dikatakan sang Pangcu. Oang tua dan orang

muda dibawah gunung berunding sejenak. Siorang tua tampak mengangguk-angguk, lalu

menulis disebuah Bukhie besi yang biasa dipakai seorang Hweesio dengan jeriji tangannya.

Hal ini membuat sekalian yang menyaksikan menjadi kaget.

Melihat ini Wang Wang Can dan Lie Kee Cie semakin berlaku waspada, baru setelah itu

menurunkan tangga besi, membiarkan orang muda itu naik keatas. Tangga ditarik lagi.

Setibanya diatas, Lie Kee Cie tak mengijinkan orang muda itu dekat-dekat dengan

Pangcunya. Dan orang muda itupun disuruhnya berkui (sembah sujud menekuk lutut).

“Kami hanya bersembah sujud pada Buddha dan Biku, tidak pada orang lain !”

“Sesampainya disini janganlah bersikap sekukuh itu !” kata Lie Kee Cie sambil mendupak

dengan mendadakan.

Orang muda itu dengan gerakan gesit, melompat kedepan dan memutarkan badan sambil

menantikan serangan lagi :

“Engkau mau apa ?” tegurnya tenang-tenang.

“Diam !” bentak Pek Cin Nio, “Lie Tongleng tak usah melalukannya, ambillah Bokhienya itu.

Apa yang ditulis gurunya ingin kulihat !”

94

“Tidak ! Benda ini ingin kuserahkan kepada orang yang pandai bahasa Sangsekerta,

nah…serahkanlah Bokhie itu padaku !”

“Apakah engkau dapat berbuat seperti kata-kata yang tertulis di atas Bokhie ini ?”

“Sudah tentu !”

Pemuda itu memandang keempat penjuru, lalu menganggukkan kepala. “Bokhie ini terbuat

dari besi dan bukannya kayu berat sekali maka hati-hatilah !” Sehabis berkata ia membalikkan

Bokhie itu dan menyerahkan kehadapan In Tiong Giok.

Pada Bokhie itu tertulis : maju lima langkah dan menunduk lihat kebawah. Surat ini hanya

Tiong Giok sendiri yang bisa melihat. Ia heran dan tidak mengerti, diliriknya pemuda itu

dengan penuh tanda Tanya. Tampak wajah orang itu begitu serius dan tenang, mendatangkan

rasa ingin tahunya, dan segera melangkah lima tindak kedepan, lalu menunduk kebawah. Saat

itu ia telah berada ditepian jurang itu, dan dia jadi kaget, karena melihat kedalamannya jurang

itu dan dibawah terlihat empat orang muda yang mengenakan abu-abu, sedang merentangkan

jarring, menantikannya.

Pada saat inilah pemuda itu, melemparkan Bokhienya menyerang kearah Lie Kee Cie

membarengi menyergap pada In Tiong Giok dan terus dibawa terjun kebawah jurang….

“Lepaskan oanah !” teriak Lie Kee Cie.

Anak panah berdesing terlepas dari busurnya seperti hujan. Pemuda berbaju merah

melindungi Tiong Giok dengan badannya. Ditengah udara ia tak bisa berkelit, maka itu

tubuhnya tertancap panah, tak ubahnya seperti landak.

“Stop ! Stop! “ teriak Wan Jie dengan memanah terus bisa melukai In Kongcu !”

“Untuk apa menghiraukannya lagi, andaikan tak mati terpanah tentu akan mati terbanting…”

kata Lie Kee Cie.

“Apaakah kau buta ? Tidakkah melihat jarring dibawah itu ?” potong Wan Jie dengan

Lie Kee Cie melihat kebawah, bukan main dongkolnya. “Kejar!” perintahnya.

Pek Cin Nio memungut Bokhie yang dilemparkan pemuda berbaju merah tadi, setelah melihat

kata-kata itum ia berpaling kearah si Tongleng: “Yang datang itu berilmu tinggi, mereka telah

merencanakan dengan perhitungan matang. Maka itu bawalah lebih banyak pengawal dan

bekerja sama dengan Wang Futhoat untuk mengejarnya ! Disamping itu akan kulaporkan

pada Lo Cucong serta minta bantuan dari jago-jago yang berada di idtana sorga, kejarlah

mereka sampai dapat !”

Perkataan sang Pangcu ini sepatahpun tidak terdengar oleh Wan Jie, ia sedang cemas

memandang kebawah, karena segenap hatinya telah meluncur kebawah terbawa In Tiong

Giok. Dan iapun melihat bagaimana kekasihnya itu jatuh didalam jarring, membal dan

melompat-lompat beberapa kali, kemudian baru diam.

95

Ia menarik napas lega, air matanya mengalir turun, sejenak tak bisa mengatakan sedih ? Duka

? Girang. Ia pernah berharapan besar agar kekasihnya itu melarikan diri, dan kini benar-benar

kekasihnya itu telah meninggalkan dirinya. Disamping rasa senangnya rasa duka dan sedihnya

lebih besar lagi.

Sedangkan Tiong Giok yang jatuh kejaring segera disambut orang tua bermata biru. “Hei

bocah engkau tentu tidak kurang suatu apa ?” kata-katnya diucapkan dalam bahasa Tionghoa

yang fasih sekali.

“Ya aku tidak kena apa-apa, tapi saudara ini…” kata Tiong Giok sambil meringis.

“Ia adalah muridku !” kata orang tua itu sambil memeriksa badan muridnya yang telah

menjadi mayat. “Yang mati tidak akan hidup lagi, mari kita berlalu !” Empat pemuda berbaju

abu-abu segera melemparkan jaringnya dan mengikuti siorang tua masuk kedalam hutan yang

Baru mereka berlalu, dari arah belakang terdengar derap kaki kuda. Orang tua bermata biru

segeraberhenti sebentar. Tahanlah gerak majunya ! Katanya memerintahkan pada salah

seorang pemuda berbaju abu-abu, pemuda itu mengangguk dan terus menghunus senjatanya,

maju menyongsong pengejar. Sedangkan siorang tua membawa Tiong Giok dan ketiga

pemuda berbaju abu-abu, melanjutkan perjalanannya.

Lebih kurang berjalan setengah lie kembali terdengar derap kaki kuda dari belakang. “Ah,

musuh tentu lihay !” kata siorang tua. “Nah coba engkau tahan lagi mereka !” Perintahnya

pada seseorang melewati beberapa lie, mereka tiba disebuah sungai kecil, sungguhpun

demikian airnya deras sekali. Tiong Giok ingat waktu ia mau masuk kemarkas Pok Thian

Pang matanya ditutup, tapi mendengar suara sungai, nah inilah sungai itu. Dua pemuda beraju

abu-abu, dari balik semak menarik keluar sebuah perahu kecil. Siorang tua membawa Tiong

Giok keatas perahu, berbareng dengan ini dibelakang mereka terdengar lagi suara pengejar.

“Kalian berdua bisa bertahan berapa lama ?” Tanya siorang tua.

“Kami bisa bertahan sekurang-kurangnya setengah jam !” jawab pemuda berbaju abu-abu.

“Pergilah dan jangan sampai membuat malu yang menjadi guru !”

“Baik suhu !”

Orang tua membuka baju merahnya, dan terlihatlah baju dalamnya yang berwarna hitam.

Dengan cepat ia memutar perahu dan segera laju terbawa air, dalam sekejap hutan lebat telah

tinggal jauh.

Markas Pok Thian Pang dianggap dunia terpencil yang bisa dimasuki tanpa bisa keluar lagi,

tak kira kejasdian yang baru dialami Tiong Giok seperti dalam hayalan saja. Kini ia dengan

mujur bisa meloloskan diri, tapi mengingat pada Cian bin sin kay yang gagah berani dan Wan

Jie yang manis budi serta orang tua yang berada dipenjara tanah, membuatnya berpikir kapan

bisa bertemu lagi dengan mereka. Akibat pikirannya melayang-layang tampaknya seperti

96

“Hei bocah, mari kita mendarat !” tiba-tiba siorang tua bermata biru berkata.

“Kenapa berhenti disini ?”

“Jangan kuatir semua sudah diatur !”

Tiong Giok tidak banyak bicara lagi mengikuti siorang tua kedarat. Dan terus mereka berlarilari.

“Siapa ?” tiba-tiba dari balik sebuah batu besar terdengar orang berseru.

“Aku Liok Jie Hui !” jawab seorang tua sambil tertawa.

Mendengar nama itu Tiong Giok menjadi kaget dan sadar, bahwasannya orang tua itu bukan

lain dari salah seorang Capsahkie yang bergelar Sian Ong.

“Oh kira Liok Locianpwee, terimalah hormatku serta rasa terima kasihku atas pertolongan

Cianpwee keluar dari tempat Pok Thian Pang !”

“Jangan berkata begitu !” kata sioarng tua sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja dari balik batu datang seorang berumur lima puluh tahun, kurus dan

mengenakan pakaian serba putih, dibelakangnya terlihat Tojin setengah baya berwajah pucat,

disusul dengan seorang tua berbaju belentang belentong dengan wajah dingin, yang terakhir

adalah seorang perempuan berbaju hijau, usianya empat puluhan. Wajahnya cantik dan cukup

menarik, senyumnya selalu menambah keayuannya. Keempat orang ini semua bersenjata

pedang, dan gagah-gagah, sungguhpun demikian terhadap Liok Jie Hui sangat hormat sekali.

“Kami sebagai Tionggoan Su toa kiam pay (empat pendekar pedang dari berbagai aliran)

mengucapkan selamat datang pada Liok Sian Ong !”

Kiranya dibalik batu besar terdapat sebuah gua yang bermulut sempit dan tertutup semaksemak.

Dari luar tidak kentara seperti gua. Mereka segera masuk, didalam terdapat sebuah

ruangan, sebuah meja sederhana yang penuh makanan diatasnya.

Sejak melihat empat orang yang aneh ini, timbul firasat buruk pada Tiong Giok. Maka itu ia

selalu mendekat pada Liok Jie Hui. Orang tua ini mengajaknya duduk dan memberikan arak

serta makanan. “Hei bocah apakah engkau mendengar nama Tiong Goan Su toa kiam pay ?”

Tiong Giok menggelengkan kepala.

“Dunia persilatan banyak yang menggunakan pedang sebagai senjata, tapi selama dua puluh

tahun yang dapat dipuji adalah ilmu pedang dari empat aliran, yakni dari Sie beng, Cong lam,

Oey san dan Lo hut. Kini engkau beruntung bisa bertemu dengan mereka ini ! “ kata Liok Jie

Hui sambil menunjuk kepada empat orang aneh tadi. “Nah sekarang kuperkenalkan merka ini

padamu ! “Maka mulailah orang tua ini menyebutkan nama keempat orang aneh itu !

Perempuan yang berbahu hijau ini bernama Hoo Su Kouw, dari Oey San dengan gelar Oey

san cui hong (cendrawasih hijau dari gunung Oey), Pelajar berbaju putih ini bernama Liu Bu

Kie dari perkampungan Sie beng dengan gelar Hoo heng kiam (sibangau berpedang), Orang

tua kurus ini bernama Kiong Hauw, Ciang bun jin dari perguruan pedang Lo hut, dengan gelar

97

Ku bok kiam kek (pendekar pedang kayu kering). Dan Tojin ini bernama Thian Hong Tojin,

Ciang bun jin dari Ciong lam.

Tiong Giok menghaturkan hormat kepada mereka satu persatu sambil berkata : “Boanpwee In

Tiong Giok seorang pelajar lemah yang beruntung mendapat pertolongan dari Liok Sian Ong

serta bisa bertemu dengan Cuwie sehingga terbebas dari genggaman kaum Pok Thian Pang,

atas ini kuucapkan terima kasih yang tidak terhingga !”

“Ha ha ha, jangan berkata begitu,” kata Liok Jie Hui,”tahukah kenapa kami mau menolong

engkau ?”

“Mungkinkah karena diriku bertugas sebagai penterjemah buku di Pok Thian Pang ?”

“In Kongcu benar-benar pintar, dugaanmu memang tepat !” kata Hoo Su Kouw.

“Kudengar buku yang mau diterjemahkan itu bernama Keng thian cit su, yakni buku pelajaran

ilmu pedang bukan ?” Tanya Liok Jie Hui.

“Benar !”

“Sudahkah engkau menterjemahkannya ?” Tanya Jie Hui lagi.

“Baru sebagian saja…”

“Bagus ! puji Liok Jie Hui, sebab kalau sampai buku ini engkau terjemahkan, sama dengan

Pok Thian Pang sebagai harimau ditambah sayap. Dan pasti mendatangkan bencana besar

dikalangan Rimba Hijau, dan engkau tak ubahnya seperti membantu kejahatan mereka, akan

dikutuk sepanjang masa.

“Ya untung Liok Sian Ong datang tepat pada waktunya !” kata Tiong Giok.

“Sungguhpun begitu buku ini masih tetap berada ditangan Pok Thian Pang, lambat laun pasti

dapat diterjemahkan juga dan menjadi bencana bagi dunia Bulim. Aku dan keempat ahli

pedang ini berkumpul dan mengajakmu kesini tak lain ingin merundingkan sesuatu hal

denganmu: adapun soal ini menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, entah engkau

bersedia atau tidak ?”

“Lo Cianpwee sebagai penolongku, kenapa harus berkata begitu, sudah tentu aku bersedia,

asal saja yang dapat kukerjakan !”

“Engkau sudah kenalkah jago-jago pedang dari empat aliran, tapi mereka tak seorangpun

yang dapat menajan kekuatan Keng thian cit su. Maka itu kami berusaha memiliki ilmu

pedang itu agar semua jago-jago silat mempelajarinya, sehingga mempunyai kekuatan

menghadapi kaum Pok Thian Pang.

“Maksud Liok Cianpwee bagaimana ?” Tanya Tiong Giok.

“Engkau adalah satu-satunya yang pernah melihat Keng thian cit su, asal engkau bersedia

membuat kopinya, Pok Thian Pang pasti hancur !”

98

“Ini…. Tiong Giok tertegun sejenak.

“Pok Thian Pang adalah perkumpulan yang ganas, yang menghendaki semua cabang dan

aliran lain tunduk kepadanya. Yang menentang akan dibunuhnya secara sewenang-wenang.

Maka itu untuk mencegah keganasannya itu kami harus menyiapkan diri melatih ilmu yang

ampuh guna menghadapi mereka ! Jika tidak berpikir kesitu untuk apa bercapai lelah dan

mengorbankan keempat muridku menolong dirimu ?”

Kata-kata ini membuat Tiong Giok tergerak, tambahan keempat jago pedangpun memandang

kearahnya dengan penuh harapan. Ya untuk hidupnya kaum Bulim, Boanpwee bersedia

menulis Keng thian cit su, buku itu baru sekali kubaca, kuatir…

“atas kesediaan Kongcu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih,” kata keempat

jago pedang sambil merangkapkan kedua tangannya masing-masing.

“Tak apa, berapa yang engkau ingat tulislah, kekurangannya dapat diperbaiki keempat jago

pedang ini !” kata Liok Jie Hui.

Segera juga Liu Bu Kie menyediakan alat-alat tulis. Tiong Giok tidak membuang waktu, siap

bekerja. Tapi Liok Jie Hui berkata dengan tiba-tiba. “Eh, dengarkan dulu, disini memang

sunyi dan aman, tapi masih dekat dengan Pok Thian Pang ! , untuk mencegah sesuatu yang

tidak diinginkan, kuharap kalian berempat menjaga diluar dengan bergilir !”

Liu Bu Kie berempat saling tatap diantara mereka sendiri, seolah-olah tak seorangpun mau

meninggalkan tempat itu.

“Aku merencanakan hal ini dengan susah payah, mungkinkah tugas yang begitu mudah tak

dapat kalian lakukan ?” tegur Liok Jie Hui sambil mendelik dengan matanya yang biru.

“Bukan begitu,” kata Liu Bu Kie, bajuku sangat menyolok mata, sebaiknya mereka saja yang

bertugas dengan bergilir.”

“Bajuku sendiri belentang belentong dan mudah menarik perhatian orang,” jawab Kiong

“Hm, kata Thian Hong Tojin dengan gusar “kita sudah berjanji, sama-sama bersenang, samasama

bersusah, kenapa musti tarik urat di soal baju : Andaikan baju itu membuat kalian susah,

tukarlah dengan bajuku !”

“Baju ini merupakan cirri khas dari tiap aliran, mana boleh sembarangan ditukar ?” jawab Liu

Bu Kie.

“Siapa yang bilang tidak boleh ?” bentak Thian Hong Tojin.

Akibat soal kecil ini membuat mereka tarik urat dan ribut mulut, hampir-hampir terjadi

perkelahian, “Hm, apa yang diributkan ?” bentak Liok Jie Hui. “Jika kalian mencurigai satu

sama lain, apa yang ditetapkan semula kuanggap batal, dan In Kongcu akan kubawa pergi,

kutanya jika sampai begitu siapa yang rugi ?”

99

“Ya kita sebagai orang-orang yang kenamaan kenapa harus ribut seperti anak kecil, tidak

malukah pada In Kongcu ?” kata Hoo Su Kouw.

Tanpa terasa Liu Bu Kie dan lelaki memandang kearah In Tiong Giok, lalu dengan

menundukkan kepala tak berkata-kata lagi.

“In Kongcu mengerjakan tulisan ini, pasti memakan waktu yang agak lama. Dan kitapun

bertugas dengan bergilir, untuk menetapkan siapa yang harus jaga pertama dan seterusnya

bahkan kita sudi saja,” kata Hoo Su Kouw.

Ketika jago pedang lainnya menganggukkan kepala tanda setuju, Hoo Su Kouw lantas

memulung empat kertas yang sudah ditulis angka satu sampai empat. Setelah diundi nyatanya

Liu Bu Kie mendapat tugas pertama, membuatnya tak bisa membantah lagi, dengan wajah

merana ia pergi keluar.

“Kami berempat sudah bisa bersikap keras-kerasan, dengan begini hubungan kami semakin

intim. Kongcu tak perlu memperdulikan kami, menulis saja dengan tenang,” kata Hoo Su

In Tiong Giok merasa geli melihat kelakuan empat jago pedang yang aneh itu, setelah

menunda sebentar kerjaannya akibat keributan mereka, segera ia melanjutkan lagi menulis.

Dengan kepintarannya yang luar biasa dan daya ingatannya yang hebat. Tiong Giok dapat

menyelesaikan tiga jurus dari Keng thian cit su dalam waktu setengah jam. Apa yang sudah

ditulis itu diambil Liok Jie Hui dan ditaruh di meja, sehingga membuat tiga jago pedang itu

tidak dapat melihatnya. “Demi keadilan, sebelum semuanya ditulis habis, kita jangan melihat

dulu yang ini !”

Kini sampai giliran Thian Hong Tojin bertugas, dengan langkah berat ia ngeloyor juga,

mengaplus Liu Bu Kie.

Kembali setengah jam berlalu, Tiong Giok selesai menulis sampai enam jurus. Sedangkan

yang bertugas jaga sampai pada Tiong Hauw. Ia pergi keluar, tapi sebentar kemudian sudah

kembali kedalam.

“Buku ini hanya tujuh jurus, dengan kecepatan In Kongcu menulis pasti sudah selesai

sebelum giliran Hoo Su Kouw. Maka itu kuanggap disinilah letaknya, rasa kurang adil !”

bantah Hoo Su Kouw.

“Aku bukan mau enak sendiri, tapi tidak mau rugi juga,” kata Tiong Hauw, “kini kuminta

engkau bertugas lebih dulu dn aku belakangan bagaimana ?”

“Ah mana bisa, semua ini sudah diundi…”

“Ya gulungan kertas tadi engkau yang membuat, tentu engkau main curang ! Kau kira aku

bisa ditipu ?”

“Ya gulungan kertas aku yang buat, “ jawab Hoo Su Kouw dengan gusar, “tapi disaksikan

Liok Sian Ong !”

100

“Ha ha ha, “ tiba-tiba dari luar terdengar suara orang tertawa disusul dengan kata-kata “Siapa

yang menjadi saksi ? Kami suami istri bolehkah ?”

Begitu mendengar suara itu Liu Bu Kie menjadi cemas, tanpa piker panjang lagi, ia melompat

dan meraup kertas dimeja itu. Jejaknya diikuti yang lain-lain. Suasana menjadi kalang kabut,

sungguhpun mereka bergerak cepat, masih kalah oleh Liok Jie Hui ! Semua kertas itu dengan

cepat telah masuk kekantongnya dan membuat keempat jago pedang menubruk angin.

“Hm siapa diluar ?” bentak Liok Jie Hui.

“Hei, kawan bermata biru sampaikan kami suami istripun engkau tak kenal ?”

“Hati-hati !” kata Liok Jie Hui perlahan, yang datang adalah Hek pek siang kuoy Na Beng Kie

dan Lau Liu Kim, kedua jejadian ini sangat lihay…”

In Tiong Giok mendengar nama Hek pek siang kuoy, segera tahu adalah orang Cap sah kie

segera ia berdiri ingin melihat bagaimana macamnya kedua jejadian itu.

“Liok Lauko, engkau sok betul, kami sudah menunggu lama belum juga dipersilahkan masuk

!” kata suara dari luar. Menyusul terlihat berkelebatan dua bayangan, mereka adalah seorang

laki-laki dan seorang perempuan. Melihat ini Tiong Giok jadi melongo, karena kedua jejadian

yang dibayangkan sangat menyeramkan itu, ternyata adalah dua bocah cilik. Yang laki-laki

kelihatannya baru usia empat lima belas tahun, dipunggungnya terselip dua pedang. Yang

perempuan sebaya dengan yang laki-laki. Jika tidak mendengar Liok Jie Hui mengatakan

mereka sebagai Hek pek siang kuoy, bagaimanapun ia tidak percaya kedua bocah ini sebagai

jago-jago bulim yang termasuk dalam Bulim Cap sah kie.

“Tiap tahun kejadian-kejadian aneh selalu ada, tapi tidak menang dengan tahun ini Liok

Toako sandiwara model apa yang engkau buat ? Sampai empat bajak laut dari Luan lo engkau

jadikan Su toa kiam pay ?” kata Na Beng Lie sambil melirik kearah Liu Bu Kie dan kawankawannya.

“Pakai banyak tanya-tanya,” kata Lau Liu Kim dari dulu segala busuk dan segala pekerjaan

tak tahu malu Liok Lojie sudah terkenal ! Yang terang kita terlambat selangkah !”

“Tidak ! Tidak ! Bagaimana engkau menertawakan Liok Toako ? Ingatlah kita sebagai kawan

lama dengannya, tentu membuatnya punya ingatan dan tak mungkin menelan sendiri rejeki

yang diperoleh !”

Liok Jie Hui tersenyum sinis dan berkata dengan dingin : “Kalian boleh saling sambutan

dengan kata-kata tapi aku tidak mengerti apa yang kalian maksud !”

“Ah, jangan begitu, sedikit banyak kami harus kecepretan, baru pantas !” kata Na Beng Lie.

“Tidak bisa !” kata Liok Jie Hui, “sudah merupakan kebiasaanku makan apa-apa tidak

meninggalkan sisa, apa lagi yang harus kucepret-cepretkan ?”

“Hm, terus terang sja kami sebagai suami istri yang tak mudah dipermainkan !” kata Lau Liu

101

“Aku tidak memperhitungkan kearah itu, ha ha,” jawab Liok Jie Hui.

“Sret !” terdengar sekali, karena Lau Liu Kim telah menghunus senjatanya, dan menunjuk

keluar gua: “Disana lega, mari kita kesana !” Sehabis berkata ia mencelat keluar.

“Liok Toako, sudah menjadi tabiatnya demikian, kenapa membuatnya gusar ?” tanya Na

Beng Lie.

“Hm engkaupun sama saja dengan istrimu, pokoknya sebelum berkelahi persoalan ini sukar

menjadi beres !”

“Untuk persoalan sekecil ini kawan lama jadi berkelahi kurasa tak ada artinya !” jawab Ba

Beng Lie, seraya menggoyangkan kipasnya dan mendadakan saja kipasnya merapat dan

ditotokkan kepada Liok Jie Hui.

Kelakuan yang berbeda dengan omongan manisnya inilah ia mendapat gelar Hek sim (sihati

hitam). Jangan lihat ia kecil, gerakannya begitu kejam dan telengas, hampir-hampir Liok Jie

Hui termakan kipasnya.

Tapi Liok Jie Hui yang sudah mengenal tabiat musuh, siang-siang sudah bersedia, maka itu

melihat serangan tongkatnya keluar menangkis dan membarengi mennyodok kedepan.

“Tring” terdengar sekali, karena dua senjata beradu dan memercikkan batu api.

Na Beng Lie merasakan lengannya sedikit kesemutan, dan tahu tak mudah memperoleh

kemenangan, maka itu dengan cepat tubuhnya yang kecil melompat keluar. Sambil berlalu

senjatanya dikebutkan kearah Thian Hong Tojin. Yang disebut belakangan tidak menduga

akan diserang, dengan mudah saja terhajar dan mati saat itu juga dengan kepala remuk.

“Hiang Kuay sangat kejam dan telengas, kalian bukanlah tandingannya,” kata Liok Jie Hui.

“Aku tak takut dengannya, tapi jika berkelahi akan makan waktu, dan orang-orang Pok Thian

Pang bisa datang. Maka itu akan kupancing pergi kedua jejadian itu ketempat jauh, kalian

bawa In Kongcu pada tempat yang sudah kita tentukan, tiga hari aku pasti datang !”

“Tapi bagaimana dengan buku itu ?” tanya Liu Bu Kie.

“Tanpa adanya aku darimana datangnya buku ini ? Apakah engkau tidak percaya padaku ?”

bentak Liok Jie Hui.

“Ya benar !” kata Hoo Su Kouw,” kami mengharapkan saja Liok Sian Ong datang tepat pada

waktunya !”

Liok Jie Hui merasa dongkol dihampirinya Kiong Hauw dan dibisikinya beberapa patah

setelah itu ia berlalu. Tak selang lama setelah perginya Liok Jie Hui diluar terdengar suara

angin menderu-deru, tandanya telah terjadi perkelahian hebat.

“Sialan apa maunya dia ? Tanpa kita iapun tak bisa dengan mudah memiliki buku itu ! Setelah

tak perlu kita ditendang…”

102

“Ssst ! Sabarlah, yang penting kita harus meninggalkan tempat berbahaya ini,” kata Hoo Su

Kouw. “Mari kita pergi,” Dan dituntunnya Tiong Giok keluar gua diikuti yang lain dari

Saat ini diluar gua telah menjadi gelap, Tiong Giok diajak berlari-lari keluar masuk rimba dan

hutan, ia tidak tahu kearah mana hendak dibawa, hanya mengikuti terus seperti diseret-seret.

Rasa kuatir dan cemas meliputi segenap jiwa raganya…

Mereka berlari dan berlari. Tatkala fajar menyingsing telah tiba disebuah perkampungan

“Tempat ini bagus, kita boleh beristirahat,” kata Hoo Su Kouw. “Kita salin pakaian dan

menangsel perut baru melanjutkan perjalanan lagi !”

“Sebaiknya kita lanjutkan terus perjalanan pada tempat yang dijanjikan Liok Sian Ong,” kata

Kiong Hauw.

“Engkau boleh melanjutkan perjalanan, tapi aku tidak mau,” jawan Hoo Su Kouw.

“Kenapa?” tanya Kiong Hauw.

“Engkau harus tahu siapa Liok Sian Ong itu !” kata Hoo Su Kouw. “Sesuatu barang jika

sudah ada ditangannya, mana mungkin diberikan kepada kita ?”

Kiong Houw seperti tersadar dari tidurnya dan berkata dengan kaget : “Kalau begitu kita

tertipu Liok Sian Ong ?”

“Sekarang baru tahu ? Sudah terlambat !” kata Liu Bu Kie dengan dingin. “Sebab kutahu

kelicikannya, maka sengaja kuribut tak mau menjaga, agar kalian sadar dn menyokongku. Tak

kira Sumoy mencegahku, dan membuatnya enak-enak mengangkanngi buku itu !”

“Jika tidak kurintangi, akibatnya kita akan mati ditangannya !” kata Hoo Su Kouw. “Apakah

dengan kepandaian kita berempat bisa melawannya ?”

“Kalau begitu sama saja kita menelan mentah-mentah kelicikannya itu ?” kata Liu Bu Kie

dengan sengit.

“Hm, biar dia licik dan pandai ia lupa pada satu soal, “ kata Hoo Su Kouw dengan tersenyum

puas. “Ia lupa bahwa In Kongcu ini adalah buku hidup !”

“Pantasan waktu mau berlalu membisikiku agar In Kongcu ditengah jalan !” kata Kiong

“Jika begitu mungkin juga Liok Kukoay itu bisa mengejar kita,” kata Hoo Su Kouw. “Yang

baik kita harus tukar pakaian dan menyamar baru aman ! Nah siapa diantara kalian yang mau

mencari pakaian masuk kampung ?”

“Biar aku yang mencari !” kata Liu BU Kie sambil melangkah.

103

“Baju putihmu terlalu menyolok mata, sebaiknya Kiong Toako saja yang pergi ! Orang yang

sudah tua gampang mendapat simpati rakyat !”

Kiong Houw menganggukkan kepala dan berlalu.

Setelah melihat Kiong Hauw berlalu, Hoo Su Kouw menarik napas panjang dan mendekat

pada Bu Kie : “Kelihatannya soal ini rumit sekali…”

“Kenapa begitu ? Dapatkah kutahu ?”

“Tidak kenapa-napa, tapi kalau dibentangkan…”

“Ya katakana saja, jangan disimpan saja dalam hatinya, akibatnya berabe”.

“Sebenarnya tak patut kukatakan soal ini kepadamu, tapi apa boleh buat ! Kita mengangkat

saudara sudah bertahun-tahun, tapi engkau piker, apa yang terjadi di dalam gua, berhari-hari

melakukan tugas, sampai terjadi keributan dan datangnya Siang Kuoy ! Juga kuheran kenapa

Liok Lokuoy itu hanya memesan Kiong Toako seorang untuk membunuh In Kongcu ? Tentu

disini terselip sesuatu hal yang tidak kita ketahui bukan ? Bukan kata aku terlalu curiga, tapi

semua ini adalah fakta, nah engkau piker saja, kenapa ia mau melanjutkan terus perjalanan

dan takmau beristirahat disini ?”

Liu Bu Kie mendengari tak hentinya menganggukkan kepala. “Benar ! Tentu antara Lo Kuay

dan Kiong Toako ada apa-apanya !”

“Liu Jiko kupikir unutk mempelajari ilmu pedang Keng thian cit su harus punya seorang

kawan yang cocok dan sependirian barubisa berhasil meyakininya. Kini hanya engkaulah

yang kupikir sangat cocok denganku, engkaulah Tiong Toako benar-benar membuatku

dongkol saja !”

“Kalau begitu kita singkirkan saja dia …”

“Jangan berkata begitu,” kata Hoo Su Kouw sambil mendekap mulut Liu Bu Kie.

“Kepandaiannya berada diatas kita berdua jika sampai ia tahu, sama dengan mencari penyakit

senddiri ! Untuk menghadapinya kita harus berlaku cerdik !”

“Hm ! Untuk menghadapinya lihat saja nanti !” kata Liu Bu Kie.

“Kuharap engkau jangan berlaku gegabah, ai ! Jangan ngomong lagi ia sudah pulang !”

Baru saja diantara mereka berhenti bicara Kiong Hauw sudah datang dengan membawa dua

buntelan besar. “Waduh untuk mendapatkan baju bekas saja harus mencapainya lidah dulu !”

katanya sambil tersenyum-senyum.

“Kenapa begitu ?” tanya Hoo Su Kouw.

“Orang-orang bodoh didesa itu mengatakan untuk apa aku membeli baju ? Terpaksa aku

membohong dan mengatakan kepada mereka bahwa aku tinggal dipegunungan dan telah

dirampok habis-habisan…”

104

“Hm ! Kiranya Kiong Toako tukang menipu orang, tapi mulai saat ini kami takkan kena tipu

dayamu !” seru Liu Bu Kie.

Kiong Hauw menjadi kaget sebelum tubuhnya dapat berkisar, pedang Liu Bu Kie telah

menembus tubuhnya. Dengan menahan sakit ia mengebaskan lengan kanannya sebagai gaya

reflex, melakukan serangan. Hal ini diluar dugaan Bu Kie, cepat-cepat ia melepaskan

pedangnya dan melompat ke samping.

“Liu…Liu lojie…engkau sangat kejam,” kata Kiong Hauw terputus-putus, lalu mencabut

pedang yang menancap ditubuhnya, setindak demi setindak mendekat pada Liu Bu Kie.

“Hoo Sumoy ! Lekas habiskan jiwanya.” KataLiu Bu Kie sambil menyengir-nyengir jengah.

“Jangan kuatir, tak lama lagi ia akan mati “ kata Hoo Su Kouw.

“Hm, kiranya…kalian adalah…sepasang anjing…lelaki dan perempuan…yang berkomplot !”

“Engkau sudah mau mati, tak perlu mencaci orang !” bentak Hoo Su Kouw.

Liu Bu Kie mendekat kearah Hoo Su Kouw, “Serahkan pedangmu padaku !” pintanya.

Hoo Su Kouw menyerahkan pedangnya, sedangkan Kiong Hauw melemparkan pedang kearah

Liu Bu Kie dengan kekuatan tenaganya yang terakhir. Waktu Liu Bu Kie akan menangkis

serangan itu, merasakan kedua tangannya tidak bisa digerakkan, Karena telah ditotok jalan

darahnya oleh Hoo Su Kouw. Tak ampun pedangnya yang dipakai menikam Kiong Hauw kini

menubles tubuhnya sendiri. “Sumoy…engkau…”katanya dan terus membungkam untuk

selama-lamanya.

“Jieko engkau harus tahu tamak sudah menjadi sifat manusia, maka jangan menyalahkan aku

! Sekarang tak kubunuh, nanti kau membunuhku bukan ? Mungkin tindakanmu akan lebih

beracun lagi.” Dan terus ia menghabiskan kedua saudara angkatnya itu dengan cepat. Lalu

dengan tangkas kedua mayat itu dikubur. Dengan menarik napas lega ia melirik kearah Tiong

Giok yang pucat menyaksikan peristiwa ini.

“Ah dasar seorang pelajar lemah, rupanya ketakutan sekali, aku harus menghiburnya agar

mau menuliskan buku Keng thian cit su bagiku.” Pikirnya dan terus menghampiri pemuda itu.

“In Kongcu ! Hm, engkau diam saja, tentu menyalahkan aku berlaku jahat pada mereka bukan

? Tapi apa mau dikata, seorang perempuan ditakdirkan sebagai insan yang lemah, kemanamana

selalu dapat penghinaan dan diperlakukan dengan tak wajar, untuk hidup inilah terpaksa

memakai cara ini.”

Ia tidak bicara lagi, sebaliknya meloloskan bajunya dan menukar dengan sehelai pakaian

bekas yang didapat Kiong Hauw. Diam-diam ia melirik kepada si pemuda, ia agak kecewa

karena pemuda itu sedikitpun tidak memperhatikan padanya. In Kongcu, lekaslah tukar

pakaian, boleh kita melanjutkan perjalanan.” Sambil berkata ia mau menepuk pemuda kita.

Dengan cepat sekali Tiong Giok menggeser badan dan membentak : “Engkau mau

mengajakku kemana ?”

105

“Aha pakai banyak bertanya, sudah tentu kesuatu tempat yang nyaman ! Disana hanya kita

berdua saja! Apa yang engkau kehendaki pasti kululusi ! Setelah mahir dengan ilmu Keng

thian cit su kita bisa mengembara kemana saja dengan bersuka ria !”

“Maksudmu pergi ketempat Liok Sian Ong ?”

“Aduh masak kesana !” kata Hoo Su Kouw sambil membereskan bajunya.

“Jika engkau tak mau kesana, beritahu tempatnya dimana aku bisa pergi sendiri !” kata In

Tiong Giok.

“Untuk apa kau menemuinya ? Mau cari mati ?”

“Tak perlu engkau tahu, lekaslah sebutkan dimana tempat itu !”

“Kesanapun tidak ada gunanya, pasti ia tak ada disana ! Karena buku yang dikehendaki telah

diperolehnya !” jawab Hoo Su Kouw, supaya engkau tak penasaran, baik kusebutkan, bahwa

tempat itu bernama Kiu hoa san !”

“Terima kasih atas keteranganmu, dan selamat tinggal !” kata In Tiong Giok.

“Hm engkau hendak kemana ?” kata Hoo Su Kouw sambil merintangi perjalanan Tiong Giok.

“Sudah tentu akan ke Kiu hoa san, jawab Tiong Giok sejujurnya, kuharap engkau memberi

jalan .”

“Tidakkah Kongcu berpikir, apa yang terjadi barusan itu karena apa ?” tanya Hoo Su Kouw.

“Itu urusanmu, tak ada sangkut pautnya denganku!”

“Engkau boleh pergi kesana, sebelum itu harus menuliskan dulu sebuah buku Keng thian cit

su bagiku !”

“Jika aku tak mau bagaimana ?”

“Aku bisa membuatmu mau !”

“Aku rasa engkau tak bisa !”

“Mau coba-coba !” kata Hoo Su Kouw dan terus mengeluarkan jerijinya melakukan totokan,

Sungguhpun begitu ia kuatir Tiong Giok tak kuat menahan serangannya, maka tenaga yang

digunakan hanya tiga bagian saja dan yang diserangpun bukan tempat berbahaya.

Bermimpipun ia tidak berpikir, bahwa pelajar lemah yang dianggapnya empuk ini dengan

mudah saja bisa menghindarkan diri dengan ilmu kiu coan bie cong po. Hoo Su Kouw

mengucak-ngucak mata dan berseru: “Mau lari kemana ?” Dengan cepat ia menyergap lagi,

tapi sekali lagi Tiong Giok dapt menghindarinya. Dan dengan gusar ia membentak:

“Sebenarnya engkau mau apa ?”

106

Sekali ini Hoo Su Kouw melihat dengan tegas, gerak langkah yang digunakan Tiong Giok

begitu aneh dan mengagumkan, keruan datang kagetnya : “Benar-benar aku salah mata, tak

kira Kongcu memiliki ilmu setinggi ini !”

“Engkau jangan berkata begitu, pokoknya berikan aku jalan, jika tidak jangan salahkan

tindakanku !”

“Apa tindakanmu itu ?”

“Engkau telah menotokku dua kali, jika sampai aku menotokmu sekali saja, membuatmu

menyesalpun sudah kasep !”

Hoo Su Kouw tersenyum dan mendekati terus, dengan memasang dadanya yang padat

kehadapan Tiong Giok ia berkata : “Masakah totokanmu begitu lihay ? Nah lancarkanlah

untuk kurasakan…”

JILID 6________

In Tiong Giok menjadi merah padam dan jengah menghadapi perempuan semacam ini, tak

terasa lagi mundur-mundur. Kesempatan ini tidak dilewatkan Hoo Su Kouw begitu saja,

dengan cepat kakinya terangkat melakukan sabetan. Geraknya ini cepat dan kejam, jangankan

Tiong Giok yang tidak berpengalaman andaikata seorang jago Bulim yang berpengalamanpun

sukar menghindarinya. Tak heran pemuda kita yang menduga mendapat serangan mendadak

menjadi jungkir balik terkena dupakan Hoo Su Kouw.

Setelah serangannya berhasil, Hoo Su Kouw melanjutkan lagi serangannya dengan keras,

Tiong Giok menggulingkan badan dan menyambut serangan musuh dengan ilmu In liong sian

jiau (naga terbang menunjukkan cakar). Hoo Su Kouw mengubah serangan, dan disambut

lawannya dengan ilmu Cee siu sing liong (lengan kosong menangkap naga). Tak terasa lagi

lengannya kena tangkap, tak putus asa baginya. Kakinya terangkat kearah selangkangan

musuhnya. Tiong Giok menjadi gusar, ia mengengos lalu melemparkan perempuan itu sejauh

beberapa depa. Hoo Su Kouw benar-benar habis mengerti kenapa pemuda lemah ini memiliki

kepandaian luar biasa. Sekali ini ia tidak memperedulikan dapat tidaknya buku keng thian cit

su pedangnya dihunus dan niatnya membunuh sudah mantap. Terlihat ia menyabetkan

senjatanya dengan ganas, Tiong Giok melihat kekalapan orang menjadi gusar. Sambil

mengengos ia membarengi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh. “Sret” terdengar suara

memecah udara, angin keras yang panas tak ubahnya seperti halilintar menyambar kearah

musuhnya. Hoo Su Kouw merasakan hawa panas menerjang dirinya, dengan memutarkan

pedang berusaha membendung serangan musuh. Sungguhpun begitu masih juga baju dan

rambutnya bagian sebelah kiri kena dihanguskan.

“Kongcu begini lihay, dapatkah kutahu nama gurumu ?” katanya dengan wajah pucat.

“Penunggang Hiu dari Hong Lay pelajar miskin dari gunung salju !”

“Oh, kiranya Bulim Capsahkie yang tertua,” kata Hoo Su Kouw dengan melengak.

“Hitung-hitung aku bernasib sial, tidak bisa melihat orang.”

107

“Sifat dan kelakuanmu itu sebenarnya musti dihukum mati !” kata In Tiong Giok, “tapi aku

tak mau membunuhmu, seangkan Hiat cie leng yang kulancarkan semata-mata untuk

membela diri !” segera ia membalik badan dan berlalu.

“Jangan bergerak,” teriak Hoo Su Kouw.

“Apa lagi yang engkau kehendaki ?”

“Ingin kutanya padamu, pantaskah seorang murid kenamaan didunia Bulim menyerahkan

buku Keng thian cit su kepada Sian Ong ? Hal ini sedikit banyak bisa-bisa merusak nama baik

gurumu bukan ?”

“Semua ini karena ditipu, apa salahnya ?”

“Hm, ini engkau tulis sendiri bukan ?” ejek Hoo Su Kouw, “bagaimana jika ilmu pedang

Keng thian cit su digunakan sebagai alat kejahatan oleh Liok Sian Ong ? Semua ini adalah

tanggung jawabmu bukan ?”

“Engkau…”

“Aku kenapa ? semua ini kulihat dengan mata kepala sendiri dan akan kuutarkan didunia

Bulim agar memberikan hukuman yang setimpal bagimu !”

“Hm, buku itu akan kurampas kembali !” kata In Tiong Giok.

“Dengan kepandaianmu ini ingin merampas kembali dari tangan Liok Sian Ong ?”

“Ini urusanku, engkau tak perlu banyak bicara !”

“Ya memang urusanmu ! Andaikan engkau berhasil mengambil kembali, berbagai orang

Bulim pasti akan merampas dari tanganmu, apakah engkau sanggup melindunginya ?” kata

Hoo Su kouw dengan bersungguh-sungguh, “Engkau jangan menganggap omonganku tak

berarti, lihat saja sejak hari ini, bahaya selalu mengancam dirimu. Kini engkau berhasil lolos

dari tanganku, tapi belum tentu berhasil dari jago-jago lain !” Sehabis berkata ia berlalu

dengan cepat.

In Tiong Giok terkesiap mendengar perkataan Hoo Su Kouw itu, ia sadar didunia ini banyak

manusia lebih kejam dan tamak dari Liok Jie Hui, jika mereka mengetahui dirinya bisa

mengingat Keng thian cit su, sudah tentu takkan melepaskan begitu saja. Kepergian Hoo Su

Kouw sudah pasti mendatangkan banyak kesulitan dibelakang hari, mengingat ini

membuatnya menarik napas duka, seolah-olah ada batu besar menekan dadanya dengan berat.

Setelah membengong sekian lamanya, baru ia melangkah dengan berat mencari jalan keluar

dari tempat celaka itu.

Ia berjalan dan berjalan, tatkala surya senja kemerah-merahan menghiasi langit disebelah

barat, ia telah tiba disuatu tempat bernama Ko ho pou. Suasana disini sangat ramai, kecuali

took-toko besar banyak pula rumah makan dan penginapan. Untuk mengisi kekosongan

perutnya ia mampir disebuah restoran yang bernama Tik sian lou. Seorang pelayan

menyambut kedatangannya dengan ramah tamah. “Kongcu sendiri saja, atau mau pesan

tempat untuk beramai-ramai ?”

108

“Aku hanya sendirian saja !” jawab Tiong Giok.

“Silahkan saja keatas, dibawah sudah penuh !”

Ia naik keloteng, tempatnya agak sempit tapi tenang, terdapat beberapa meja dengan beberapa

tamu. Antaranya ada dua orang tua berbaju abu-abu mengawasi dirinya. Ia tidak

memperdulikan dan terus duduk. Tapi dengan tiba-tiba ia ingat seperti pernah bertemu muka

dengansalah seorang kakek tua yang berbaju abu-abu itu. Maka itu ia menoleh untuk

menegasi, bertepatan dengan ini orang tua itupun sedang mengawasi kearahnya. Membuatnya

sukar membuang muka, dan terus mengangguk memberi hormat. Orang tua itu bukan saja tak

membalas hormatnya, malahan membuang muka dan berbisik-bisik dengan kawannya.

Tampak kawannya itupun berubah wajahnya, dan terus memanggil pelayan membayar

rekening dan berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok merasa heran, setelah mengingat-ingat sekian lamanya ia tetap tak dapat

mengingat orang tua itu. Saat ini segala hidangan telah datang, ia tidak memperdulikan lagi

yang lain dan terus makan dengan lahapnya. Belum pula perutnya kenyang, seorang pelayan

datang kearahnya dan menyerahkan sepucuk surat.

“Apakah Kongcu she In ?” tegur pelayan itu.

“Benar!”

“Ini surat untukmu !”

“Siapa yang memberi surat padamu ?”

“Seorang tamu tak dikenal dengan memberi upah padaku menyuruh menyampaikan surat ini

seorang tua bebaju abu-abu !”

“Tidak ia masih muda, paling banyak usianya tiga puluh tahun, dan mengenakan pakaian

hijau ! Lagi pula ia menyoren pedang kelihatan sebagai Piausu saja,” jawab sipelayan dan

terus berlalu.

Tiong Giok membuka sampul surat, didalamnya hanya berisi sehelai kertas putih belaka. Ia

menjadi heran dan hilang napsu makannya. Cepat-cepat ia membayar dan menanya kepada

pelayan tadi :

“Disini ada hotel yang tenangkah ?”

“Maksud Kongcu hotel yang baik bukan ? Nah disebelah barat terdapat penginapan In hoo

can katakanlah pelayan restoran Tik siang lou yang memperkenalkan, pasti dapat potongan,

sepuluh persen !”

In Tiong Giok menghaturkan terima kasih dan memohon kepada pelayan itu, jika yang

mengirim menanyakan dirinya, boleh menunjukkan kepenginapan In hoo can. Dengan

langkah cepat ia turun dari loteng dan terus keluar ia berbalu tanpa menoleh kebelakang. Tapi

setelah melewati beberapa took dan masuk kedalam sebuah gang, ia menghentikan langkah

dengan cermat ia memandang kearah rumah makan tadi. Tak selang lama dari sebuah rumah

109

obat yang berada disebelah restoran tadi keluar seorang muda berbaju hijau dengan tergesagesa.

Iapun menyandang pedangnya dan persis seperti yang disebutkan pelayan tadi. Setelah

memandang sekeliling pemuda itu masuk kerestoran Tik sian lou.

“Ah engkau datang tidak kebetulan, karena In Kongcu sudah pergi,” kata pelayan itu.

“Apakah suratku itu sudah diterimanya ?”

“Oh sudah !”

“Ia mengatakan apa setelah melihat surat ?”

“Ia memesan bila ada yang ingin menemuinya harap datang kehotel In hoo can !”

Laki-laki berbaju hijau itu mengangguk dan terus berlalu, tetapi ia tak menuju kebarat dimana

terletak In hoo can, melainkan keutara. Dengan memberanikan diri Tiong Giok menguntit dari

Setelah melalui beberapa took dan gang, laki-laki berbaju hijau itu menuju kesebuah

kelenteng tua yang berada diluar kota. Ia tak menoleh kekanan kiri, langsung masuk kedalam

demikian juga dengan Tiong Giok terus membuntuti tanpa diketahui.

Di ruangan depan kelenteng tampak gelap tapi dibagian tengahnya ada sinar api, menerangi

kamar. Tiong Giok yang berada ditempat gelap bisa melihat keadaan didalam yang terang itu,

ia menjadi heran karena disatu ruangan terlihat tujuh orang tua berbaju abu-abu sedang duduk

sila, pakaian mereka semua sama dan pedangnyapun serupa hanya digagangnya masingmasing

ada ronce yang berbeda : terdiri dari warna merah, kuning, biru, putih, hitam, hijau

dan ungu tujuh warna.

Dua di antaranya yang memakai ronce kuning dan ungu adalah yang bertemu dengan In

Tiong gIok di rumah makan Tik sian lou. Saat ini laki-laki berbaju hijau telah selesai

menuturkan soal memberi surat padanya.

Ketujuh orang tua berbaju abu-abu parasnya berubah berbareng.

Orang tua yang beronce putih dipedangnya membuka mulut paling dulu :

“Jikalau begitu apa yang dilihat cit sutee (adik ketujuh) tidak salah pemuda itu adalah yang

dipakai Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su, tapi yang membuatku

heran, pelajar lemah itu kenapa bisa lolos dari suatu tempat yang terjaga ketat dari jagonya

pesilat-pesilat ternama.”

“Pok thian pang mungkin sengaja melepas pemuda itu sebagai umpan menumpas kita !” kata

orang tua yang dipedangnya beronce biru.

“Bila ia dijadikan umjpan beracun, tujuannya bukan pada kita Tong teng cit kiam (tujuh

pendekar pedang dari telaga Tong teng), juga pada golongan putih kaum Kang Ouw, atas ini

kita harus berlaku waspada.”

110

Sipedang beronce putih mengangkat pundak, matanya menatap pada orang tua yang

pedangnya beronce ungu; “Cit sutee bagaimana menurut hematmu ?”

Sironce ungu ini adalah orang tua yang seperti di kenali Tiong Giok, begitu di tegur tampak ia

berpikir dengan serius. “Dugaan Suheng memang benar, tapi pemuda itu adalah orang

pertama yang telah membaca isi Keng thian cit su; atauini ia bersangkutan besar dengan

Bulim ataupun Pok Thian Pang sendiri, suheng piker betulkah ?”

Yang mendengar semua menganggukkan kepala tanda setuju.

“Jika begini kita tidak boleh berlaku sangsi-sangsi lagi !” kata sironce ungu.

“Maksud Cit sutee bagaimana ?” tanya sironce putih.

“Biarpun ia merupakan umpan beracun kita harus menelannya juga !”

Perkataan ini agaknya di luar dugaan yang lain, mereka kaget dan terdiam, membuat keadaan

hening sejenak.

Si ronce ungu sudah melanjutkan lagi ucapnya, “Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang

luar biasa, bilamana sampai dikuasai Pok Thian Pang sama dengan bahaya besar bagi kita dan

golongan lain. Kini kita dapat kesempatan baik, biar matipun harus dilakoni !”

“Benar ! Biarpun bagaimanapun jadinya,” kata laki-laki berbaju hijau. “Maka itu kuminta

Supek-supek dan Susiok-susiok jangan berpikir terlalu lama, kita harus secepatnya membalas

dendam sakit hati Yo Sutee dan Pang Hui !”

Mendengar nama Pang Hui, hati Tiong Giok menjadi kaget dan terus ia ingat bahwa orang tua

yang dipedangnya beronce ungu yang bagai dikenalnya itu, tak lain orang yang pernah

menyerang kereta waktu ia menuju kemarkas pusat Pok Thian Pang.

Karena kagetnya itu tempat yang dipijaknya menjadi goyang, dan kakinya segera bergerak

pindah. Tiba-tiba “krak” entah apakah yang terinjaknya.

“Siapa ?” bentak dari dalam kelenteng, sinar terangpun padam.

Tiong Giok berlari kearah pendupaan yang terdapat didepan kelenteng dan bersembunyi

disitu. Tampak olehnya dengan berlompatan ketujuh orang tua dan laki-laki berbaju hijau

keluar dari dalam kelenteng. Mereka memandang keadaan sekeliling dengan seksama.

“Mungkin orang-orang Pok Thian Pang sudah datang mencari kita,” kata sironce ungu.

“Jangan pedulikan untung rugi marikita berangkat ke In hoo can !” kata sironce putih.

Dalam sekejap mereka telah berlalu, hilang dalam kegelapan. Setelah menunggu mereka agak

jauhan, In Tiong Giok baru keluar dari tempat persembunyian. Dan terus meninggalkan Ko ho

pou malam itu juga. Baru pula ia jalan setengah malaman, sudah merasa letih. Ia beristirahat

tatkala melihat sebuah batu besar ditepi jalan. Sambil duduk ia jadi berpikir.

111

“Haruskah aku pergi ke kiu hoa san mencari Liok Jie Hui ? Jika kesana dan tidak

menemuinya, sama dengan cuma-cuma saja perjalananku. Andaikata berhasil mendapatkan

lagi Keng thian cit su dari Liok Jie Hui, buku itu akan merupakan barang rebutan yang tidak

ada akhirnya. “Semua pikiran ini membuatnya pusing sendiri. Saat inilah dari kejauhan ia

mendengar berderapnya langkah orang dan disusulnya dengan dua bayangan hitam. Seperti

juga nak burung yang ketakutan ia bersembunyi dibalik batu.

Dua bayangan hitam itu datangnya teramat cepat, dalam sekejap telah tiba dekat batu dimana

Tiong Giok sembunyi. Keduanya itu adalah orang tua berbaju seerba putih, satu jangkung

satukatai, wajahnya pucat pasi. Melihat ini membuat Tiong Giok bergidik takut. Dan ia

menahan napas sewaktu manusia aneh itu berhenti didekat batu dan celingukan kesana kemari

seperti mencari sesuatu. Setelah melihat tak ada yang menimbulkan kecurigaan, merekapun

segera berlalu lagi dengan cepatnya tanpa berkata barang sepatahpun.

In Tiong Giok menarik napas lega, baru bangun dari tempat sembunyinya, kembali ia

mendengar menderunya angin, disusul dengan berkelebatnya tiga sosok bayangan. Semua

mengenakan pakaian hitam yang gedombrongan usianya mereka rata-rata enam puluh tahun

lebih. Wajahnya bengis dan jelas bukan manusia baik-baik.

Setibanya dibatu besar merekapun berhenti sejenak, memasang kuping.

“Ciu heng lebih baik kita mengambil jalan lain dan bakal apa membuntuti kedua orang lain !”

kata seorang yang berada disebelah kiri.

“Jangan-jangan soal ini belum tentu kebenarannya,” jawab orang she Ciu. Pikir saja jika

pelajar itu benar-benar berada dikota Ko hoo pou, mana mungkin sudah pergi sejauh ini.

Sebaiknya kita kembali dan mencarinya didekat kota !”

“Kecurigaan Ciu heng memang betul jangan-jangan kita ditipu Hoo Su Kouw si erempuan

jalang itu,” kata yang ditengah.

“Mana berani ia mempermainkan kita,” kata yang disebelah kanan.” Tambahan Tong teng cit

kiampun melihatnya pelajar itu di dalam kota, maka itu Hoo Su Kouw pasti tidak

membohong.”

“Jika tidak bohong, kemana larinya bocah itu, apakah ia bisa terbang ?” kata si orang she Ciu.

“Andaikata ia bersayap tak mungkin lolos juga dari jala Thian lo te hong (jarring langit dan

bumi) yang sudah disebar kemana-mana ! Mari kita susul sijangkung dan si cebol jangan

sampai keduluan !” kata yang disebelah kanan.

“Untung aku cepat-cepat bersembunyi, jika tidak bisa celaka,” piker Tiong Giok setelah

mendengar percakapan mereka. Mengingat ini ia merasa benci dan menyesal tidak

membereskan nyawanya perempuan jalang itu.

Setelah bersembunyi lagi beberapa saat, tak terlihat ada yang mengejar, ia baru bangun dari

persembunyiannya, dan terus masuk kedalam pepohonan yang lebat. Begitu melewati pohonpohon

tibalah ia ditepi sebuah sungai. Dengan merasa tenang ia menyusuri gili-gili sungai.

112

Sebuah perahu tertambat ditepian sungai, diatasnya terlihat seorang nelayan tua sedang

asiknya mengisap pipanya yang panjang. Hal ini membuat Tiong Giok girang, cepat-cepat ia

menghampiri dan melompat kearah perahu “Lo tia ! Lekaslah antarkan aku menyeberang,

ongkosnya berapa saja akan kubayar !”

“Malam-malam begini engkau mau kemana ?” tanya si orang tua.

“Kemana saja asal menyeberang !”

“Kongcu jangan salah, ini perahu ikan dan bukan perahu tambangan !”

“Ya aku minta tolong,” kata In Tiong Giok setengah memohon, sebab seang dikejar-kejar

orang jahat. Asal bisa menyeberang aku bisa selamat.”

“Ikan-ikan mungkin sudah masuk dalam perangkap, jika dibiarkan sayang sekali, ah dasar

nasib…” kata si orang tua setengah menggerutu. Dan ia tidak melanjutkan perkataannya

sebab didaratan terlihat sesosok bayangan hitam yang menuju kearah perahunya.

Pendatang ini adalah Hoo Su Kouw adanya. Ia menanya kepada tukang perahu : “Ciau Loya

apakah engkau melihat pelajar itu ?”

“Tidak ! Sesosok bayangan manusiapun tidak kulihat .”

“Ciau Loya engkau harus hati-hati, kuyakin ia ada disekitar sini,” kata Hoo Su Kouw yang

terus berlalu lagi dengan cepat.

Perahu dengan cepat meluncur ketengah, Tiong Giok merasa lega, seolah-olah menganggap

bahaya telah berlalu.

In Kongcu dengan cara bagaimana engkau harus menghaturkan terima kasih kepadaku ?”

tegur tukang perahu.

“Engkau…engkau siapa ?”

“Aku Ciau Thian Siang seorang kecil yang mempunyai julukan Si cucut Perak. Dan

pekerjaanku sebagai pengontrol perairan, dari gabungan dua puluh delapan bajak laut.

Sejujurnya pekeerjaan ini kurang menarik perhatianku dan ingin melepaskan secepatcepatnya,

maka itu jika tidak demikian untuk apa malam ini aku menolongmu !”

“Jika begitu kau sebagai kambratnya Hoo Su Kouw juga ?”

“Ya aku salah satu diantara konconya Hoo Su Kouw, seangkan yang lain banyak sekali.

Untung engkau berada denganku, coba jika jatuh ditangan mereka, tak bisa enak-enakan

mengonbrol seperti sekarang !”

“Ya aku harus bagaimana menghaturkan terima kasih padamu ?” tanya Tiong Giok dengan

“Untuk apa Kongcu bertanya lagi, serahkan saja sejilid buku Keng thian cit su kepadaku

sampai kemanapun akan kuantar !”

113

“Jika aku tak bersedia ?”

“Aku sebagai penolongmu biar bagaimana kau harus melulusi,” kata orang tua itu.

“Terang-terang kutolak permintaanmu !”

“Benar-benar tidak mau ?”

“Ya.”

“Sampai budi pertolonganku pada jiwamu, tidak dibalas ?”

“Jika aku takut mati, siang-siang sudah membuatkan buku itu untuk Hoo Su Kouw ! Segala

pertolongan yang ingin mendapat balasan, tak dapat dinamakan dengan berhutang budi !”

Ciau Thian Siang tertegun sejenak, lalu tergelak-gelak dan berkata : “Kongcu sebagai orang

pintar, bahwa buku itu berada ditangan Pok Thian Pang dan Liok Sian Ong, kini apa salahnya

membuat kopy yang kedua untukku ?”

“Sudah jangan banyak bicara, sekali kubilang tidak mau tetap tidak mau !”

“Hm, jika begitu engkau mencari penyakit sendiri !”

“Engkau tanyakan pada Hoo Su Kouw, apakah potongan semacamku ini mudah dihina ?”

“Semua sudah aku tahu akan kelihayanmu, tapi diatas perahu ini engkau bisa apa ?”

“Ya…engkau mau apa,…” belum pula ucapan Tiong Giok selesai, Ciau Thian Siang dengan

mendadakan telah menterbalikkan itu perahunya. Mereka sama-sama terjatuh kedalam air.

Sebagai seorang yang pandai berenang sedikit tidak memnuat Tiong Giok kaget.

Dengan tenang ia berenang kepinggir. Tiba-tiba saja Ciau Thian Siang memburu dari

belakang. Tak cuma-cuma ia mempunyai gelar sebagai si cucut perak. Begitu gesit dan cepat

geraknya dalam air. Ddalam sekejap ia sudah berada di belakang Tiong Giok dan

menjulurkan tangan menciduk tengkuk pemuda kita.

Tiong Giok terkesiap sejenak, tetapi tidak tinggal diam. Lengannya berbalik begitu cepat

mencekal lengan musuh, sedangkan lengannya yang kiri mendorong kedada musuh.

Gerakannya yang tiba-tiba diluar perhitungan Ciau Thian Siang. Tak sempat untuknya

mengengos dadanya terhajar keras, sakit sampai kehulu hati, terpaksa ia melepaskan Tiong

Begitu berpisah, masing-masing itu berlaku waspada. Ciau Thian Siang tak berpikir bahwa

musuhnya itu pandai berenang, sehingga mengalami kerugian yang tidak kecil, kegusarannya

tidak alang kepalang, seperti juga seekor ikan hiu yang terluka ia membalik badan lalu terus

menyelam. Lengannya segera menyambar kaki pemuda kita, di cengkeram dengan keraskerasnya

sampai masuk kedalam bagian daging. Tiong Giok kesakitan dan berbalik mencekek

leher musuhnya sekuat tenaga.

114

Air sungai amar deras, mereka bergumul dengan kerasnya, satu sama lain tidak mau

melepaskan musuh, bergulingan terbawa arus air.

Beberapa tegukan air tertelan Tiong Giok tetap ia tak melepaskan musuhnya. Sedangkan Ciau

Thian Siang lebih parah lagi, lehernya begitu keras, tak bisa bernapas. Matanya mendelik tak

berkutik lagi. Mereka terus terhanyut tanpa sadarkan diri.

Akhirnya mereka terdampar disemak-semak, lengan Tiong Giok masih tetap mencekek Ciau

Thian Siang. Entah sudah berapa lama pemuda kita baru sadar, dan mendapatkan bahwa

musuhnya telah meninggal dunia. Dengan perut kembung dia merayap bangun dan lalu

tengkurap disebuah batu, memuntahkan air kali dari perutnya, setelah itu ia mengaso sambil

memandang mayat musuhnya. Seumur hidupnya pertama kali membunuh orang, ia merasa

berbuat dosa dan sadar semua ini akibat Keng thian cit su.

Dengan perasaan menjejal ia menggali lubang ditepi sungai itu dan mengubur mayat Ciau

Thian Siang secara sederhana. Lalu ia meninggalkan tempat itu dengan pikiran mantap kaena

ia akan melakukan suatu hal yang besar, untuk menggegerkan dunia persilatan.

Kim Leng merupakan kota bersejarah dari abad ke abad. Letaknya dilingkungan pegunungan,

tempat bersejarah dari kuil-kuil yang mengagungkan agama Buddha berdiri dengan megahnya

dilereng-leeng gunung. Aliran sungai Hoay banyak menarik kaum sastrawan, dipuja-puji akan

keagungannya. Sepanjang sungai banyak batu-batu cadas yang indah tempat para burung

wallet bersarang, juga tempat yang biasa dikunjungi pelancong.

Disebelah barat sungai itu terdapat sebuah tempat yang bernama Bun Hoa Kau. Disini banyak

terdapat tukang buku, dan juga perusahaan percetakkan. Yang berkunjung kesini kebanyakan

adalah pelajar dan sastrawan serta kaum cerdik pandai.

Saat ini hari sudah senja, keadaan saat itu telah menjadi sepi dari para kaum pengunjung.

Pegawai-pegawai perusahaan sudah beristirahat, took-tokopun hanya sebagian yang masih

membuka pintu. Tiba-tiba dari mulut gang terlihat seorang muda berbaju biru, celingukan

melihat merek toko-toko, ia berjalan dari ujung ke ujung lalu kembali lagi dan berhenti

didepan sebuah percetakan yang bermerek Angin Menderu, percetakan ini terhitung paling

besar disaat itu. Etalasenya penuh terhias lukisan antik, dan beraneka ragam buku-buku.

Didalam toko terlihat seorang lelaki hitam sedang asyiknya mengisap rokok sambil membaca

buku. Begitu melihat pemuda berbaju biru masuk kedalam, ia melepaskan bukunya dan

memandang pada tamunya sambil tersenyum manis. “Kongcu mau beli gambar atau bukubuku

?” tegurnya sambil bangun dari tempat duduknya.

“Tidak, kedatanganku kesini mau mencetak buku !”

“Oh begitupun baik, buku apa yang mau dicetak ?”

“Buku ini sangat penting dan kuminta bisa diselesaikan esok pagi !”

“Berapa halaman buku itu ? Dan berapa oplasnya ?”

“Hanya sepuluh halaman dan dicetak seribu jilid saja,” kata pemuda itu, “jika tidak keburu

lima ratus saja.”

115

“Dalam semalam sulit menyelesaikan buku itu..,”

“Jadi tidak bisa ?”

“Bisa sih bisa ongkosnya mahal sekali !”

Pemuda itu mengluarkan uang emas dan berkata sambil tersenyum: “Jangan kuatir, berapa

saja kubayar, nah ini sebagai uang muka !”

“Kalau begini apa boleh buat, dan akan kucoba .”

Pemuda itu menjadi girang. “Dapatkah kutahu nama saudara ?”

“Aku Yauw Kian Cee, dan siapa nama Kongcu ?”

Pemuda itu tidak menyebutkan namanya, ia tersenyum dan berkata “Yauw Sacan (sebagai

gelar pertukangan) sebelum engkau kerjakan perlu kujelaskan dulu sedikit, yakni disebabkan

teramat pentingnya buku ini, sebaiknya engkau kerahkan lebih banyak tukang agar selesai

pada waktunya. Disamping itu buku ini tidak boleh bocor sebelum terbit !”

“Adakah Kongcu membawa naskah buku itu ?”

“Ya ada, tapi akan kuserahkan didalam saja !”

“Begitu juga baik,” kata Yauw Kian Cee dan terus menyimpan uang persekot, kedalam

lacinya. Dan memerintahkan bawahannya menutup toko. Diajaknya Tiong Giok masuk ke

Di dalam percetakan itu terdapat sebuah taman bunga, dan satu ruangan yang nyaman.

Dekorasinya indah dan menarik, agaknya sang penghuni mengenal betul seni-seni dekorasi.

Di kamar inilah sang pemuda menyerahkan naskahnya. Yauw Kian Cee begitu melihat naskah

ini, wajahnya jadi berubah, cepat-cepat ia menutup lagi naskah itu.

“Kenapa Yauw Sacan tidak meneliti naskah ini ?”

“Sejujurnya aku tak berapa mengenal huruf, membacapun tak ada artinya. Kuharap Kongcu

meninggalkan alamat, besok boleh kukirim buku pesananmu kesana !”

“Tak usah,” kata sianak muda sambil menggelengkan kepala. “Aku ingin memandori sendiri

waktu mencetak buku ini, dan membawanya begitu selesai !”

“Begitupun baik, duduk dululah sebentar, setelah kuatur beres segera kuberi tahu padamu.”

Sehabis berkata ia membawa naskah masuk ke dalam.

Tak selang lama ia muncul lagi dengan seorang tua beruban. Melihat orang tua ini membuat si

pemuda merasa takut tak keruan, karena seumur hidupnya pertama kali melihat orang yang

berwajah demikian buruk.

116

“Kongcu, mari kukenalkan, inilah Pek Wangwee (hartawan) atau majikanku !” kata Yauw

Kian Cee.

“Oh,” kata si pemuda dan segera merangkapkan tangannya memberi hormat. “Pek Wangwee

harap maaf, kedatanganku hanya merepotkan saja !”

“Aku Pek Kiong Hong sebagai pedagang yang mengutamakan untung, maka itu Kongcu tak

perlu berkata begitu !”

Wajah buruk dari Pek Kiong Hong dihias dengan sepasang mata yang satu besar satu kecil,

sungguhpun demikian memancarkan sinar tajam. Melihat ini sang pemuda, merasakan

berhadapan bukan dengan seorang saudagar biasa. Tambahan pula Yauw Kian Cee begitu

hormat sekali, bukan seperti kuli biasa. Pek Kiong Hong membeber naskah yang akan dicetak

diatas meja, dengan serius ia berkata. “Aku sebagai pengusaha, sebenarnya asal mendapat

untung ya sudah, tak perlu bertanya ini itu pada Longcu. Tapi naskah ini menyebutkan, tulisan

In Tiong Giok sebagai kenangan untuk Cian Thian Siang, dapatkah kutahu kedua orang itu

mempunyai hubungan apa dengan Kongcu ?”

“In Tiong Giok adalah aku sendiri, sedangkan Cian Thian Siang adalah salah seorang yang

tidak bisa kulupakan selama hidupku ini !”

“Jika Kongcu sendiri yang menulis naskah ini, sudah tentu tahu isinya bukan ?”

“Benar ! Inilah naskah yang dianggap sebagai benda pusaka kaum Rimba Hijau !”

“Sudah tahu demikian kenapa Kongcu mau menerbitkannya dan mencetak sebanyak itu ?”

“Untuk disebar luaskan, agar penggemar-penggemar silat memilikinya !”

“Tapi perbuatan ini kuanggap kurang wajar !”

“Memang begitu, tapi mau dikata apa, semua ini kulakukan dengan terpaksa !”

“Apa sebabnya engkau sampai terpaksa ?”

“Pek Wangwee begitu melihat buku ini segera tahu kehebatannya, dari sini dapat kutarik

kesimpulan, Wangwee bukan saudagar biasa, lagi pula tidak timbul keinginan memiliki buku

ini. Semua ini membuatku kagum dan ingin tahu siapakah sebenarnya Wangwee ini !”

“Sejujurnya akupun bekas seorang Kang Ouw tapi sudah lama mengundurkan diri, dan hidup

dengan membuka percetakan. Atas ini Kongcu tak usah ragu-ragu atau kuatir pada diriku.

Dan juka engkau ingin tahu Yauw Kian Cee inipun bekas seorang Kang Ouw yang bergelar

Tiat pie sian wan (kera sakti bertangan besi).”

In Tiong Giok setelah mendengar perkataan Pek Kiong Hong, segera menuturkan apa yang

dialaminya sejak keluar rumah.

“Karena mendongkol dikejar-kejar mereka itulah, Kongcu mau mencetak buku ini ?”

117

“Bukan ! Sebab-sebabnya karena menyesal telah membuat sebuah kopy untuk Liok Jie Hui.

Jika ilmu itu dipelajarinya, bisa mendatangkan bencana bagi dunia persilatan. Untuk menebus

kesalahan itu, akan kusebar luaskan buku ini, agar setiap orang bisa mempelajarinya. Dengan

begitu biar Pok Thian Pang atau Liok Jie Hui mahir menggunakan Keng thian cit su tidak

akan berguna banyak lagi.”

“Kongcu seorang yang tidak mau mengangkangi pelajaran yang luar biasa ini, dan akan

menyebar luaskan, tentu bisa menggoncangkan dunia Kang Ouw, atas tindakan Kongcu ini

aku merasa kagum. “Dan terus ia menoleh kepada Yauw Kian Cee. “Kerjakan lekas seperti

yang dipesan In Kongcu. Dan sekalian sediakan makanan.”

In Tiong Giok tidak menduga bahwa roman Pek Kiong Hong yang demikian buruk sangat

ramah tamah dan senang membantu, tanpa terasa datang rasa simpatiknya.

Tak selang lama empat pembantu rumah tangga datang membawa hidangan semeja penuh,

atas kebaikan tuan rumah Tiong Giok tidak menampik. Sambil makan mereka bercakapcakap.

“Aku sudah lama mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw, maka itu terhadap soal

Pok Thian Pang hanya mengetahui sedikit sekali, tapi terhadap Liok Jie Hui yang termasuk

diantara Bulim Capsahkie aku kenal sekali. Ia bertabiat licik dan jahat, maka itu jika sampai

diketahuinya In Kongcu mencetak buku Keng thian cit su, pasti ia akan marah, dan berhatihatilah

terhadapnya.” Kata Pek Kiong Hong.

“Soal bagaimana ia akan mencelakakan diriku, sedikitpun tidak kukuatirkan, yang kutakut

ilmu Keng thian cit su telah dikuasainya, sehingga golongan Bulim lainnya belum keburu

mempelajarinya.”

“Hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena ilmu pedang ini luar biasa dlamnya, belum tentu ia

bisa menyelami sampai keakar-akarnya !”

“Ya memang kutahu, jika bukan seorang berbakat dan cerdas sukar mempelajarinya seorang

diri ilmu pedang ini.”

“Karenanya sejak kuingat belum pernah ada yang behasil menguasai ilmu seorang diri. Ada

yang pandai menguasai Keng thian cit su, tapi berdua, yakni Sin kiam siang eng (sepasang

pedang sakti).

“Dapatkah kutahu siapa Sin kiam siang eng itu ?”

“Tiga puluh tahun yang lalu mereka adalah sepasang saudara angkat yang masih muda belia.

Gagah ganteng ada pada mereka, ditambah dengan hatinya yang baik dan juga suka

membantu orang. Dalam sepuluh tahun namanya telah tenar melebihi Bulim Capsahkie yang

telah lebuh muncul didunia Kang Ouw. Untuk mereka ini, di dunia Bulim terkenal pameo

yang berbunyi : tajam-tajamnya tusuk konde tak setajam jarum seaneh-anehnya Bulim

Capsahkie, tidak segaib Sin kiam siang eng. Pameo ini mendatangkan ketidak puasan Lui sin

Tong Cian Lie, maka ia mengundang seluruh Cap sah kie bertemu di gunung Busan, untuk

bertempur dengan Sin kiam siang eng….” Pek Kiong Hong berhenti sejenak.

“Lalu bagaimana ?” tanya Tiong Giok tidak sabaran.

118

“Pada waktu yang telah ditentukan Bulim Capsahkie hanya datang sebelas orang. Thay Kong

Siansu dan Piau hiong kiam Liap In Eng tidak hadir. Sedangkan Sin kiam siang eng dengan

gagah menerima undangan dan datang.

“Bulim Capsahkie sudah lama terkenal dan menjadi kebanggaan kaum Kang Ouw, kami

sebagai golongan yang lebih muda ingin mengadakan hubungan dan kerukunan, guna

kesejahteraan kaum Kang Ouw, maka itu datang kesini bukan niat untuk berkelahi dan

meebutkan pepesan kosong,” kata Sin kiam siang eng. Tak kira Tong Cian Lie yang

berangasan tak mau mendengar, ditambah dengan Kim Thay, Liang yauw, San koei

menyokong untuk berkelahi. Melihat ini gurumu merasa tak enak hati dan menasehati mereka

beberapa patah. Tak kira membuat Kim Thay menjadi gusar tak alang kepalang. Dan

terjadilah perkelahian sengit antara gurumu dengan Kim Thay. Jarum Giam locit ciam Kim

Thay tak dapat melukai gurumu sebaliknya ia terluka oleh Hiat cie leng…akibat ini Siang

yauw menumplekkan kegusaran pada sin kiam siang eng perkelahian tak dapat dicegah lagi,

tapi dalam waktu singkat Siang yauw menjadi pecundang. Sam Koei menyambung, dan terus

bertarung, tapi dalam singkat merekapun harus menyerah. Liok Jie Hui juga turun

gelanggang, hanya dalam waktu dua ratus jurus sudah dikalahkan. Tong Cian Lie baru sadar

kelihayan lawan bukan kosong belaka. Agaknya sudah keterlanjuran baginya untuk turun

tangan, perkelahian sekali ini hebat sekali… Sampai ilmu simpanan pel lek sin kum (lengan

geledek) yang menjadi andalan Tong Cian Lie dikembangkan habis-habisan, tapi tetap hanya

bisa bertahan lima ratus jurus !”

“Sin kiam siang eng lihay sekali !”

“Ya memang lihay ! Tapi ilmu pedang mereka y ang bersatu padu itu, jika dimainkan seorang

diri, tidak ada kekuatan !”

“Bagaimana kalau guruku atau Cian bin sin kay yang menghadapi mereka ?”

“Kepandaian Cian bin sin kay tidak berjauh dengan Tong cian lie, mengenai gurumu yang

pandai Hiat cie leng mungkin bisa bertahan seribu jurus lebih, dengan kesudahan dua-dua

luka parah !”

“Oh…” Tiong Giok baru sadar. “Siapakah nama sebenarnya dari Sin kiam siang eng itu ?”

“Satu bernama Ang Ek Fan satu lagi Thiat Giok Lin.”

“Kenapa nama mereka tidak terdengar lagi ?”

“Ya mereka muncul dan tenar dalam waktu singkat, dan dalam waktu singkat berdua pula

menghilang dari dunia Kang Ouw.”

“Mungkin ada sebab-sebabnya bukan ?”

“Ya memang !” kata Pek Kiong Hong, tapi soal yang sebenarnya tiada yang tahu, hanya

terdengar berita bahwa Thiat Giok Lin telah mati dan Ang Ek Fan menghilang ! Sudah dua

puluh tahun lebih mereka tak muncul lagi didunia Kang Ouw.”

“Pek Locianpwee kenalkah dengan seorang yang bernama Hauw Sian ?”

119

“Hauw Sian ? Darimanakah engkau mendengar nama ini ?”

“Waktu di Pok Thian Pang melihat nama itu tertera dibuku Keng thian cit su yang berbahasa

Sangsekerta,” kata Tiong Giok dan terus menceritakannya bagaimana ia menemui orang tua

itu dipenjara tanah.

“Berapa usia orang tua itu, dan bagaimana potongan badannya dn raut wajahnya ?”

“Usianya lima puluh tahun lebih, sedangkan wajahnya sukar dilukiskan karena sudah terlalu

lama dikeram dalam penjara yang tak beersinar matahari. Tubuhnya sudah kurus sekali, hanya

sinar matanya masih terlihat tajam.”

“Ah mengherankan sekali, apakah ia belum mati !” kata Pek Kiong Hong. “Tidak,

bagaimanapun tak mungkin…”

“Tahukah Lo Cianpwee dengan Hauw Sian itu ?”

“Jika tidak salah orang tua itu adalah salah seorang dari Sin kiam siang eng yang bernama

Thiat Gok Lin !”

“Bukankah ia sudah mati …”

“Ya, benar, tapi Hauw Sian adalah nama samaran dari Thiat Gok Lin, lagi pula ia yang

menulis Keng thian cit su,” baru perkataannya diucapkan sampai disini, didepan toko

terdedngar suara ribut-ribut.

“Lo Yacu didepan banyak tamu yang mau beli gambar !” kata salah seorang pengawal sambil

berlari-lari.

“Katakan sudah tutup dan besok lagi !”

“Sudah dikatakan tapi mereka tidak mau mengerti dan memaksa mau masuk !”

Pek Kiong Hong memanggil Yauw Kian Cee. “Coba engkau lihat siapa yang bikin ribut itu !”

Begitu Yauw Kian Cee keluar tak lama, terdengar suara ribut-ribut bentakan dan saling maki

dengan keras sekali, disusul dengan keributan dari suara orang berkelahi.

In Tiong Giok bangun dari kursinya, tapi disuruh duduk lagi oleh tuan rumah. “Tak usah

menghiraukan kejadian diluar, dengan adanya Yauw Kian Cee sudah cukup, mari minum

araknya.”

Benar saja kira-kira lewat sepermakanan nasi, suara ribut-ribut sudah hilang dan pulih lagi

ketenangan. Yauw Kian Ceepun sudah masuk lagi.

“Siapa mereka itu ?” tanya Pek Kiong Hong.

“Hoo Su Kouw dan sekalian kambratnya.”

“Ah mereka selalu mengejar-ngejarkuo, kenapa bisa tahu aku ada disini ?” kata Tiong Giok.

120

“Mereka mempunyai banyak kaki tangan, tak perlu engkau herankan !” kata Pek Kiong Hong

dan terus berpaling kepada muridnya. “Bagaimana caranya engkau mengusir mereka ?”

“Mula-mula dengan kata-kata, tapi tidak mempan, akhirnya dengan kepalan tangan baru beres

!”

“Manusia-manusia kurcaci itu sangat tamak dan jahat, kini kena batunya ! Tapi setelah

kejadian ini jangan heran kita bisa berusaha lagi disini dengan tenang…!

“Gara-gara boanpwee kesini mendatangkan keributan, bagaimana kalau kucetak ditempat lain

…?”

“Apakah engkau menganggap kami tak sanggup lagi melayani kurcaci-kurcaci itu ? Atau

menganggap aku kelewat sayang dengan perusahaan ini ?”

“Oh tidak !”

“Aku sebagai orang kasar yang bicara dengan blak-blakan, bisa sudah sepuluh tahun

meninggalkan dunia Kang Ouw tapi tak takut menghadapi apapun lebih-lebih pertemuan kita

seperti berjodoh, jikalau engkau ini mau boleh kita berkawan, jika tidak mau kukembalikan

naskah itu dan engkau boleh pergi mencetak dimana saja.”

“Boanpwee tidak bermaksud demikian …”

“Jika begitu baik sekali, sebagai orang Kang Ouw aku paling senang akan kepolosan dan cara

secara terang-terangan ! Engkau begini baik dan mau menyebarkan buku yang dianggap

pusaka Bulim ini kepada mereka. Masak aku harus sayang dengan segala perusahaan ini !”

kata Pek Kiong Hong dengan suara hatinya. “Yauw Kian Cee kuharap buku itu dapat

diselesaikan sebelum terang tanah, dan selalu waspada dengan kurcaci-kurcaci itu agar

kesenanganku mengobrol tidak terganggu.”

“Lo Yacu tenang saja, segala apa serahkan padaku !” jawab Yauw Kian Cee. Dan terus

berlalu sambil membuang senyum kearah tamunya.

“Mari minum lagi,” kata Pek Kiong Hong, “sudah sampai dimana pembicaraan kita ? Oh, soal

meninggalnya Thiat Gok Lin diberitakan dari keluarga sendiri waktu hari pemakaman

jenazah, berbagai golongan jago-jago Rimba Hikau turut menyaksikan. Kini timbul orang

bernama Hauw Sian yang terkurung ditempat Pok Thian Pang benar-benar mengherankan !

Jika mengingat waktunya ia ditahan dan meninggal, membuat hati curiga, karena bersamaan

betul. Mungkinkah dibalik ini terdapat sesuatu rahasia ?”

“Jika Thiat Gok Lin sudah meninggal, kenapa buku Keng thian cit su bisa berada di tangan

Pok Thian Pang ?”

“Engkau menyaksikan kematian Thiat Gok Lin ?”

“Benar !” jawab Tiong Giok. “Kuyakin Thiat Gok Lin belum meninggal, tapi kena ditangkap

oleh Pok Thian Pang dan dirampas bukunya. Sedangkan kabar kematiannya itu sengaja

disebar luaskan untuk menutupi kejahatan kaum Pok Thian Pang.

121

“Kemungkinan ini kecil sekali, sebab yang memberitahukan kematiannya bukan dari Pok

Thian Pang, tapi darai Lin Siok Bwee isterinya Thiat Gok Lin sendiri. Isterinya itu seorang

cermat dan lihay ilmu silatnya, sehingga mendapat julukan pendekar jelita. Tak mungkin ia

terpedaya orang-orang jahat.”

“Jika begitu ingin aku pergi ketempatnya Thiat Gok Lin untuk bertemu dengan isterinya,

setelah urusan disini selesai,” kata In Tiong Giok.

“Tindakanmu cukup bijaksana, tapi tak mudah bisa menemuinya,” kata Pek Kiong Hong.

“Soalnya kenapa ?”

“Lim Siok Bwee bertabiat keras,” kata Pek Kiong Hong, “sejak kematian suaminya ia

menutup pintu rapat-rapat, tidak mau menerima tamu darimanapun, maka itu kupikir sulit

untuk menemuinya.”

“Kedatanganku kesana membawa berita soal suaminya, mungkinkah tidak diterima ?”

“Kematian Thiat Gok Lin sudah belasan tahun, sedangkan engkau seorang anak brusia muda

begini, dan datang menerangkan bahwa dia belum mati, siapa yang mau percaya ?”

“Jika aku mengatakan diutus Pek Locianpwee untuk menemuinya, bisakah diterimanya ?”

“Ha ha ha, aku sudah lama mengundurkan diri, mungkin namaku yang tidak seberapa tenar

sudah dilupakan orang!” kata Pek Kiong Hong. Tiba-tiba ia mengeluarkan batu kumala ungu

dari sakunya. “Engkau dapat berpikir kesitu, melandaskan antara engkau dan aku benar-benar

berjodoh. Kumala ini tak akan berpisah denganku. Dengan benda inilah satu-satunya jalan

yang memungkinkan engkau bertemu dengan Lim Siok Bwee! Tapi jika sampai pendekar

wanita itu menanyakan hubunganmu denganku, engkau harus mengaku sebagai ahli warisku,

bila tidak, bisa membuatnya curiga.”

“Bagaimana…aku belum masuk perguruanmu..mana boleh mengaku sebagai ahli warismu…”

“Engkau benar-benar seorang berakhlak luhur dan berbudi baik.” kata Pek Kiong Hong.

“Maksudku buat demikian semata-mata menudahkan engkau bertemunya. Tapi disebabkan

watakmu yang polos, timbul niatku agar engkau benar-benar menjadi ahli warisku bagaimana

?”

“Tapi…nama dari pintu perguruan Lo Cianpwee belum kuketahui, bagaimana harus kujawab

?”

“Engkau lihat saja batu kumala ini,” kata Pek Kiong Hong.

In Tiong Giok menerima batu itu, dan memeriksa dengan teliti. Disitu terlihat ukiran seekor

naga terbang diawan, dibawahnya tertera beberapa huruf yang berbunyi, Pusaka dari

perguruan Thian Liong Bun (pintu naga langit) Atau dapat disebutkan kumala itu sebagai

tanda seorang Ciang bun jin perguruan Thian Liong bun.

“Benda pusaka ini tak ternilai harganya denga harta, maka itu…”

122

“Kenapa ? Tidak mau menerimanya ?”

“Benda ini sebagai tanda Ciang bun jin daari Thian Liong pay bukan ?”

“Ya benar, karena sampai saat ini belum ada ahli warisku untuk menggantikan kedudukanku

sebagai Ciang bun jin. Jika engkau tak keberatan jabatan Ciang bun jin ini boleh engkau

pegang dari saat ini juga !”

“Antara kita baru pertama kali bertemu, lagi pula aku sudah mempunyai seorang guru…”

“Masing-masing perguruan mempunyai peraturan yang berbeda,” kata Pek Kiong Hong,

“untuk Thian Liong bun tak perduli siapa, asal orang itu berakhlak luhur dan berbudi tinggi,

sudah cukup untuk diterima ! Bahkan dapat diangkat menjadi Ciang bun jin perguruan Thian

Liong bun. Maka itu jangan engkau berpikir dengan menerima benda ini menyuruhmu

melupakan yang semula.”

In Tiong Giok masih ragu-ragu dan tidak bisa menerima.

“Perlu kujelaskan lagi, Thian Liong bun merupakan perguruan yang dimalui dunia Kang

Ouw, tapi tidak mempunyai seorang ahli waris yang benar-benar bisa dijadikan pemimpin

maka itu selama sepuluh tahun aku mengasingkan diri dari dunia persilatan. Jika hal ini terjadi

dengan perguruan lain, mungkin sudah beku dan mati ! Misalkan engkau keberatan menjadi

Ciang bun jin, boleh engkau simpan batu kumala ini dan boleh engkau berikan kepada

seseorang yang dapat dianggap pantas menjadi seorang Ciang bun jin !”

“Kini kuterima untuk sementara waktu batu kumala ini, setelah kembali dari rumah Lim Siok

Bwee akan kukembalikan lagi pada Lo Cianpwee !” kata In Tiong Giok dan terus

memasukkan kumala itu kedlam sakunya. Kelakukannya membuat orang tua itu menjadi

terpekur dan meminum araknya berulang-ulang. Untuk mengalihkan soal ini Tiong Giok

bertanya: “Lo Cianpwee sebagai seorang Ciang bun jin, kenapa hendak mengundurkan diri ?”

Pek Kiong Hong tampak kaget sekali mendengar pertanyaan ini, tapi sekejap perubahan

wajahnya kembali tenang. “Apa yang harus kurindukan alam yang fana ini ? Lebih-lebih kini

sudah tua dan bosan melihatnya !”

“Tapi tiga puluh tahun yang lalu bukankah masih muda ?”

“Badan masih muda, tapi pikiran sudah tua !”

“Pikiran itu berubah menurut irama rasa, mungkinkah perasaan Lo Cianpwee terganggu,” kata

Tiong Giok sok tahu.

“Kenapa engkaubisa menduga kearah itu ?”

“Semua ini hanya dugaanku yang terlalu gegabah,” kata Tiong Giok. “Soalnya seorang Ciang

bun jin yang berhati jantan, tak wajar menyerahkan jabatan begitu saja pada seseorang. Dari

sini kutarik kesimpulan bahwa Lo Cianpwee terganggu perasaannya…”

123

Pek Kiong Hong mengawasi dengan sepasang matanya yang ganjil, diparasnya yang buruk

terlihat senyuman haru. Matanyapun dari terang menjadi guram dan berkaca-kaca.

“Tak kukira apa yang terbenam dihatiku selama tiga puluh tahun dapat engkau terka dengan

kitu. Sesungguhnya inilah yang mengakibatkan aku begini dan maukah engkau mendengar

ceritaku ?” Ia terdiam sejenak, sedangkan Tiong Giok menganggukkan kepala.

“Sejak kecil aku talah yatim piatu, ditambah tampang yang buruk, sehingga hilang harapan

dalam soal “asmara”. Aku hanya berpikir kalau bisa mendapat seorang dusun sebagai istri,

sudah mujur banget ! Siapa tahu kehidupan seseorang bisa berubah. Boleh-boleh aku

mendapatkan berkah dan bisa memiliki ilmu silat yang tinggi. Dan dapat menempatkan diri

sebagai seorang terkemuka di dunia Kang Ouw. Akibat ini membuatku sombong dan angkuh.

Segala perempuan-perempuan biasa kupandang sebelah mata. Dan syarat-syarat mencari istri

bagiku semakin tinggi, dan lupa pada keburukan diri sendiri. Permintaanku semakin tinggi

semakin sukar mendapat istri.

Tapi kehidupan memang aneh, karena type seorang istri yang kuidam-idamkan kutemukan

secara kebetulan. Itu terjadi pada suatu malam waktu aku berjalan-jalan ditelaga So Ouw. Di

sana terdapat sebuah bangunan yang indah dn bertingkat. Saat itu diloteng masih terang

benderang, kulihat seorang gadis sedang terpekur di depan jendela. Aku bukan seorang yang

ceriwis, waktu melihat kecantikan gadis itu, seolah-olah terpukau. Dan terus memandangnya

tanpa berkedip-kedip. Sampai pelita-pelita dimatikan dan gadis itu menutup jendela aku baru

berlalu. Malam kedua, seperti ada kekuatan gaib menyeretku ketempat semalam. Dan terus

menongkrong mengagumi gadis itu seperti malam pertama. Malam ketiga kudatangi lagi dan

terus menatapnya seperti malam-malam yang lalu begini sja membuatku asyik. Tiga hari ini

membuatku gila tak keruan, siang kutidur malam kugadangi gadis itu. Dan kurasakan bukan

saja cantik, tapi sangat agung dan menyamankan hati. Sedikitpun tidak terasa letih atau lapar

asal melihat gadis itu. Tiba-tiba pada malam keempat, seperti biasa kunongkrong dari bawah

seperti seekor kodok merindukan bulan. Entah bagaimana malam itu sinar lampu belum juga

padam, akupun terus berdiri disitu dengan tak jemunya. Aku heran karena lain malam-malam

yang lalu, tapi tak bisa berpikir lama, karena seorang pelayan perempuan menegurku :

“Pek Tayhiap, nonaku mengundang masuk ! Kata nona engkau telah tiga malam berdiri di

sini, maka mengundangnya kedalam !”

“Kenapa engkau tahu tiga malam aku disini, dan kenapa tahu aku she Pek ?”

“Itu soal nonaku, bicaralah dengannya !”

Aku masuk kedalam dn dipersilahkan naik keloteng, disana lampu terang benderang, dimeja

tersedia hidangan dan minuman, dengan kaget aku mendapat jamuan mendadak ! Setelah

mengobrol sejenak, kutahu bukan saja ia berwajah cantik, juga terkenal didunia Kang Ouw

sebagai pendekar wanita yang mulia….

“Siapa namanya ?” selak In Tiong Giok.

“Namanya tak perlu kusebutkan, pokoknya engkau asal tahu saja bahwa ia seorang pendekar,

tok.”

124

“Sejak malam itu kami berkawan, semakin hari semakin intim, benih-benih cintapun sedalam.

Ia pun tak sungkan menerima ajakanku yang pertama memain perahu di telaga dan jalan-jalan

mencari angin. Kesan ini seumur hidupku tak bisa dilupakan, begitu manis dan romantis.

Seumur hidupku hanya sekali itulah merasa bahagia….Akan tetapi jalan-jalan berdua dan

main-main ditelaga itu adalah yang pertama dan terakhir pula, sejak itu kami berpisah dan tak

pernah bertemu muka lagi…”

“Kenapa ?”

“Tak usah heran, seorang lelaki terjelek di dunia berjalan-jalan dengan seorang gadis

tercantik, dimuka umum. Mendapat tertawaan dan jadi tontonan…”

“Ya, memang dunia ini kejam, dan selalu mendatangkan duka !”

“Tapi ini kesalahan aku sendiri, kenapa aku tidak tahu diri mau menyintai seorang cantik

dengan paras yang buruk !”

“Baik buruknya seseorang bukan dari wajah yang jadi ukuran !”

“Benar, tetapi wajahlah yang dilihat !”

“Kuyakin pendekar wanita itu tak berpikir begitu bukan ?”

“Benar demikian ! Bahkan jika kulamar pasti diterima, tetapi apa yang bisa aku berikan

padanya ? Seorang yang buruk ? Buah tertawaan manusia jahil ! Cintaku kepadanya segenap

hati, tapi bisakah membawanya bahagia dengan tampang seburuk ini ? Maka itu setelah

kupikir matang-matang, membuatku tahu diri, dan diam-diam mengasingkan diri. Dengan

begitu aku harap ia bisa mencari lelaki lain yang lebih ganteng dariku, tapi apa yang aku

perbuat ini hanya mendatangkan penyesalan dan kecewa tentu !”

“Mungkinkah sampai sekarang ia tidak bersuamikan ?”

“Tidak saja tak bersuami bahkan masih tetap mencariku kemana-mana !”

“Lalu apa yang membuatmu tak mau ?”

“Kau piker pantaskah aku menjadi suaminya ?”

“Kenapa tidak !”

“Hmm, lebih-lebih sekarang parasku sudah keriputan dan semakin buruk…”

“Ia pun sudah tua dan tak secantik dulu lagi “

“Ia awet muda dan semakin cantik,” kata Pek Kiong Hong.

“Apakah Lo Cianpwee sudah melihat lagi ?”

Pek Kiong Hong menjadi merah, kepalanya mengangguk. “Tiga tahun yang lalu aku

melihatnya dikota, tapi ia sendiri tak melihatku !”

125

“Cinta itu tak memandang bulu, buruk jelek tua muda tidak menjamin ukuran. Kini ia

menanggung rindu puluhan tahun, tidakkah Lo Cianpwee merasa kasihan terhadapnya

maupun pada diri sendiri ? Kukatakan demikian karena Cianpwee masih tetap mencintainya

bukan ? Untuk apa menanggung rindu seumur hidup kepada kekasih yang mencintai jua ! Jika

Lo Cianpwee bertepuk sebelah tangan atau cinta tak sampai boleh berlaku demikian, tapi ini

soalnya saling mencintai. Dan dirusak sendiri oleh perasaan Cianpwee, ini bukan saja berdosa

padanya juga pada diri sendiri.”

Pek Kiong Hong jadi bungkam mendapat nasehat seorang muda belia ! Mungkin dalam soal

asmara, tidak perduli orang tua, akan menjadi bodoh dan tak mali meminta saran pada yang

mudaan! Ya dalam soal asmara ini adalah wajar !

“Sebenarnya perkataanku ini terlalu kurang ajar, tapi untuk cinta murni yang diabaikan begitu

saja terpaksa kuciptakan juga. Dengan harapan perasaan jahanam itu hilang dan timbul

perasaan yang adil ! Kurasa sampai kini belum terlambat, untuk menjalin lagi jodoh yang

terkatung-katung.

“Kau bicara terlalu jauh,” kata Pek Kiong Hong.

Pembicaraan mereka baru sampai disini Yauw Kian Cee sudah datang bersama seorang tua

gemuk keduanya membawa tumpukan buku yang selesai dicetak. Kami telah mengerjakan

sekuat tenaga, tapi hanya berhasil mencetak lima ratus lima puluh buku!” kata Yauw Kian

Cee sambil tersenyum. Nah cobalah In Kongcu periksa !”

In Tiong Giok menoleh kearah jendela, baru merasa bahwa hari sudah remang-remang

menjelang fajar. Cepat ia memeriksa buku-buku itu, dan menghaturkan terima kasih berulangulang.

“Apa yang engkau akan kerjakan dengan buku-buku itu ?” tanya Pek Kiong Hong.

“Sebelum terang tanah, Boanpwee akan menyebarkan dua ratus lima puluh buku ini ditempat

yang ramai, agar setiap yang menghendakinya mudah mendapatkannya, sisanya akan kutitip

di penginapan-penginapan agar orang jauhpun bisa memperolehnya. Dengan demikian dalam

waktu singkat buku ini bisa tersebar habis.”

“Apakah engkau benar-benar sudah mengambil keputusan demikian ?”

“Ya, dengan cara itulah Boanpwee bisa menghilangkan monopoli Keng thian cit su dati

tangan Pok Thian Pang dan Liok Jie Hui.”

“Jika begitu kuminta kau meninggalkan seratus buku disini, “ kata Pek Kiong Hong, akan

kuberikan sendiri pada jago-jago bilim, atau mengecernya didepan, dengan begini

perusahaanku akan mendapat kemajuan yang tidak sedikit !”

“Kuharap Lo Cianpwee berlaku waspada, jangan sampai buku ini mendatangkan hal-hal yang

tidak diinginkan” kata In Tiong Giok sambil memberikan seratus buku.

“Hal ini tak perlu kita kuatirkan” kata Pek Kiong Hong, dan kudoakan agar kau bisa sampai

dirumah Lim Siok Bwee secepatnya tanpa kurang suatu apa.”

126

“Boanpwee berdoa agar Lo Cianpwee bisa melanjutkan jodoh yang terkatung-katung secepatcepatnya

!”

Pek Kiong Hong terbahak-bahak, lalu mengantar pemuda kita keluar rumah, sampai Tiong

Giok pergi jauh dan tidak terlihat lagi, ia baru masuk kedalam sambil berkemak-kemik. “Ia

seorang pemuda yang dikaruniai keberanian dan kepintaran yang luar biasa, susah mencari

orang semacam dia. Ia menoleh pada Yauw Kian Cee dan memesannya. Sejak hari ini

perusahaan kita akan tutup untuk selamanya, maka kumpulkan para pegawai dan berikan

mereka pesangon secukup-cukupnya.

“Apa? Lo Yacu San terjun lagi ke dunia Kang Ouw ?”

“Keadaan dunia Kang Ouw seadng mengalami perubahan, siapa yang bisa tenang

mengsingkan diri untuk melewati hari…”

Benar saja kejadian yang menggemparkan dalam waktu singkat telah terjadi. Buku pusaka

yang bernama Keng thian cit su, dalam waktu sehari telah tersebar luas dikota Kim leng.

Buku yang menjadiu rebutan dengan pertaruhan nyawa, kini dapat diperoleh dengan mudah.

Mulut kemulut peristiwa ini diceritakan orang, dalam waktu tiga hari seisi kota menjadi geger

! Bahkan jago-jago Bulim dari bebagai aliran, berduyun-duyun datang ke kota Kim leng

untuk memperoleh buku pusaka itu. Nama In Tiong Giok dan Keng thian cit su menjadi buah

bibir seluruh penduduk kota. Tambahan pula dengan terbitnya buku itu, In Tiong Giok tak

terlihat lagi mata hidungnya, dan membuat orang menerka, siapa dia ! Ada yang mengatakan

bahwa ia orang India ! Pelarian Pok Thian Pang, atau juga Ciu Thian Siang sendiri, dan ada

juga yang menduga, sebagai ahli waris Sin kiam siang eng….banyak mulut banyak

pembicaraan tapi semuanya merasa kagum dan memuja-mujanya.

*****

In Tiong Giok….In Tiong Giok….dimana-mana terdengar nama ini diperbincangkan orang.

Sedangkan ia sendiri diluar tahu siapapun telah berperahu menuju ke barat.

Perahu yang disewa sangat besar, dan setiap harinya ia mengunci pintu kamar seorang diri.

Disini ia melatih ilmu Keng thian cit su dengan tekun. Tukang perahu merasa heran, tapi tidak

mengatakan apa-apa. Hanya memanggilnya diwaktu makan saja, seperti yang dipesan

penyewanya itu.

Beberapa hari telah berlalu, perjalanan mereka hampir sampai dikota Keng an. Tukang perahu

mengetuk pintu kamar sambil berteriak keras-keras. “Kongcu apakah engkau mau makan

sekarang atau sesudah berlabuh dikota Keng an ?”

In Tiong Giok keluar dari kamarnya dengan berkeringat, ia memandang kepantai, sejenak.

“Kupikir jangan berlabuh ditempat ramai bagaimana ?”

“Terserah pada Kongcu, aku menurut saja,” kata tukang perahu. Dan terus menuju kesebuah

dusun kecil diseberang Keng an. Disini terdapat perkampungan nelayan. Mereka berlabuh

disitu. Tukang perahu dengan dua pembantunya turun kedarat untuk membeli perbekalan.

127

“Isterinya tukang perahu menyediakan Tiong Giok makan. Tak selang lama yang mendarat

telah kembali lagi dengan barang bawaannya. Terlihat mereka tergesa-gesa dan gugup.

“Kongcu celaka!” kata tukang perahu dengan wajah pucat. Kita tidak bisa melewati

pelabuhan Keng an ! Karena dalam beberapa hari ini, menurut kaum nelayan disitu

berkumpul orang-orang Kang Ouw dari berbagai tempat, mereka memaksa semua perahu

menuju ke Kim leng, yang tidak mau, perahunya dirampas, dan orangnya dibunuh.”

JILID 7________

“Tak kusangka perbuatanku mendatangkan bencana bagi kaum nelayan,” pikir Tiong Giok.

“Habis kau pikir bagaimana ?”

“Kupikir sesudah malam baru berlayar lagi dengan begitu mungkin juga kita bisa melalui kota

itu dengan selamat !”

“Begitupun baik, andaikata tidak bisa melalui juga, tidak apa-apa aku bisa mendarat dan tak

merepotkan kalian !”

Saat inilah dengan tiba-tiba dari arah daratan terdengar orang berseru : “Hei ini perahu siapa

dan mau kemana ?”

Tukang perahu menoleh kearah suara, segera juga membuatnya gemetar tidak karuan, karena

disitu berdiri dua orang: satu jangkung satu kurus. Usianya tujuh puluhan, pakaiannya putih,

rambutnyapun putih, bahkan wajahnyapun putih tidak berdarah. Pokoknya serba putih.

“Hei apakah engkau tidak mendengar pertanyaanku ?” kata yang katai dengan dingin dan

“Oh…mau…mau ke Siang yang…”

“Bawa barang atau penumpang ?”

“Penumpang !”

“Berapa orang ?”

“Ada…hanya seorang…”

“Hm!” sikatai mendengus dingin dan menoleh pada yang jangkung. “Lo toa, kita masih mujur

Keng an sudah dikuasai kaum Pok Thian Pang, tak sangka bisa mendapat perahu disini !”

Sijangkung tak menjawab hanya menganggukkan kepala.

“Kuminta penumpang itu turun, karena kami mau memakai perahumu !” seru sikatai.

“Apakah jie wie mau ke Siang yang juga ?”

“Tidak, kami mau ke Kim leng !” kata sikatai dan terus melompat keprahu dan disusul

kawannya dari belakang.

128

“Maaf saja Jie wie karena perahuku sudah diborong orang. Bisa tidaknya harus kutanyakan

dulu kepadanya…”

“Tidak bisa harus bisa, mau tak mau harus mau !” seru sikatai.

“Ini soal mudah asal saja penumpang itu mau mengalah…”

“Hm, ia pasti mau !” kata sikatai yang terus masuk kedalam lambung perahu.

In Tiong Giok yang sejak tadi mendengari pembicaraan mereka, kini menampilkan diri. “Jie

wie mau memakai perahu ini, berani bayar berapa duit ?”

“Engkau boleh menghargai berapa saja !” kata sikatai.

“Aku menyewa perahu ini dua ratus tail perak, jika Jie wie mau mengganti kerugian, aku

bersedia mengalah !” jawab Tiong Giok.

“Tak kukira engkau mata duitan ! Pokoknya kalau kami senang, bisa memberikan lima puluh

tail emas !”

“Aku sudah membayar terlebih dahulu, kuharapkan engkau sepertiku !”

“Ya hitung-hitung engkau berjasa mengantarkan perahu untuk kami, aku Ouw Kun San mau

juga membayar !” kata sikatai yang terus merogo saku mengeluarkan uang emas. “Uang ini

menyilaukan mata, sukar diterimanya !”

“Kupikir menerima uang paling mudah!” jawab Tiong Giok.

“Nah terimalah !” seru Ouw Kun San yang terus melemparkan uang emas itu kearah pemuda

kita. Begitu cepat dan keras uang itu menyambar, tapi dengan cepat pula pemuda kita

mengeluarkan jarinya, serta terdengar suara nyaring angin yang keluar dari jerijinya, membuat

mandek lajunya uang emas. Secara ringan uang itu ditangkapnya, dan dilemparkan ketukang

perahu. “Terimalah persenan ini !”

“Terima kasih atas kebaikan Kongcu !”

“Jangan kepadaku, berterima kasih pada orang tua ini !”

“Terima kasih atas keroyalan Jie wie !”

“Aku heran kenapa didunia ini ada yang menghambur-hamburkan uang guna memperoleh

sejilid buku tipis ? Ah benar-benar tolol !” kata Tiong Giok yang terus meninggalkan perahu,

sesampainya didarat ia mengeluarkan sejilid buku tipis, lalu membeset-besetnya sampai

hancur. “Buku ini di Kim leng bertumpuk-tumpuk, tak ada harganya, anaeh disini bisa laku

lima puluh tail emas!” Dilemparkannya sobekan buku keair.

Kedua orang tua serba putih memandang ke sungai, dan kebetulan sekali dari sobekan buku

itu, mereka bisa melihat huruf yang berbunyi Keng thian cit su. Wajah mereka segera

129

berubah, dan terus berteriak keras: “Hei bocah jangan pergi dulu !” berbareng dengan

habisnya suara mereka, tubuhnyapun sudah mengapung dan tiba dihadapan Tiong Giok.

“Perahu sudah kuserahkan pada kalian, kini mau apa lagi ?” tanya Tiong Giok dengan

“Engkau jangan berlagak bodoh, ketahuilah kami ini siapa ?” kata Ouw Kun San. “Berani

mengejek dan mempermainkan kami, artinya bosan hidup tahu !”

“Tidak tahu !” jawab Tiong Giok seenaknya.

“Kamu belum pernah melihat kami, seharusnya sudah mendengar nama kami !” seru Ouw

Kun San dengan gusar.

“Tidak kenal bagaimana harus kenal ?”

“Apakah gurumu tidak memberi tahu ?”

“Maaf gurukupun belum pernah menyinggung nama kalian !”

“Dasar bocah tak berpengetahuan, sampai Kui coa jie sau (dua orang tua menyerupai kurakura

dan ular) yang kesohor engkau tak kenal, mau bergelandangan didunia Kang Ouw…”

“Ha ha ha kiranya Kiu coa jie sau ! Oh! Nama ini cocok benar dengan tampang kalian !”

“Mampus lu !” bentak Ouw Kun San yang terus menghajar dengan lengannya. Sijangkung ya

ng bernama Sing Thian Beng sejak tadi diam saja, begitu melihat temannya naik darah dan

melancarkan serangan, buru-buru mencegah. “Sabar dulu,” katanya. Bocah, Han Bun Siong

itu apamu ?”

“Itu guruku !”

“Engkau sendiri bernama apa ?”

“In Tiong Giok !”

“Oh kiranya engkau bernama In Tiong Giok !” seru sikatai yang bernama Ouw Kun San

dengan kaget bercampur girang. “Lo Toa bagaimanapun tak boleh dikasih lolos !”

“Benar ! Tangkap hidup-hidup !” seru Sing Thian Beng yang terus berpangku tangan dan

membiarkan kawannya turun tangan sendiri.

“In Tiong Giok engkau perlu tahu, kami turun gunung separuh buku pusaka itu separuh untuk

menuntut balas pada gurumu. Kini kedua soal itu bergabung padamu sendiri, bocah terimalah

kematianmu!” kata Ouw Kun San yang terus bergerak, lengannya mengebas kearah dada,

cepatnya seperti kilat. Akan tetapi serangan ini dengan mudah kena diengoskan pemuda kita.

Ouw Kun San tertegun sejenak, tak terpikir serangannya yang dilancarkan mendadak dan

cepat itu tak membawa hasil. Api amarah seolah-olah membakar dirinya “Bocah, mampus

kau !” bentaknya geregetan. Ia melompat keudara dan turun menyerang dengan tangannya

kearah batok kepala.

130

Tanpa menoleh, Tiong Giok menggeser kakinya, serangan musuh kembali mengenai angin.

“Hei, sebenarnya kalian mempunyai permusuhan apa dengan guruku ? Dan jangan mengira

aku berkelit melulu karena takut !”

“Kami tidak mempunyai waktu mengadu mulut,” jawab Ouw Kun San, yang jelas engkau tak

bisa lolos dari tanganku !”

“Hm, baik !” kata Tiong Giok, dan terus membungkuk mengambil cabang kayu dari tanah,

“kalian menghendaki ilmu Keng thian cit su, nanti kuturunkan pada kalian, lihat dengan baikbaik

! Agar ilmu yang kalian idam-idamkan ini bisa dipelajari sebaik-baiknya.”

“Bangsat !” bentak Ouw Kun San dan terus menyerang dengan kedua tangannya.

Perlahan tapi cepat, Tiong Giok memutar kakinya, tubuhnya merapung beberapa meter dan

terus membentak: “Jika mau mempelajari ilmu pedang, sebaiknya keluarkan senjatamu !”

Siang Thian Beng yang berpangku tangan sejak tadi, membuka mulut : “Bocah ini jangan

kasih hati ! Lo jie hunuslah senjatamu !”

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Ouw Kun San melucuti ban pinggangnya yang terbuat

dari benang pelatina. Dan terus diputar, sehingga cahaya putih berkelebatan, mencecar pada

Tiong Giok.

Dengan tenang dan penuh perhitungan Tiong Giok membiarkan senjata musuh mendekat

kearahnya, baru mengengos kesamping, dan batang kayu yang digunakan sebagai senjata

ditotokan kepergelangan lawannya. Begitu cepat dan diluar dugaan siapapun, tepat mengenai

sasaran, Ouw Kun San merasakan lengannya kaku senjatanya hampir terlepas, dengan kaget

ia mundur meninggalkan gelanggang.

“Ingat baik-baik, ini jurus pertama yang bernama It cu keng thian (sebatang kayu menunjang

langit).”

Ouw Kun San murka sekali, senjatanya dikeprakkan ketanah, debu beterbangan, tubuhnya

mencelat kedepan dibawah lindungan senjatanya yang berputar-putar. Menerjang kepada

musuhnya yang mendongkolkan hatinya.

In Tiong Giok tersenyum menyaksikan kekalapan musuh, batang kayunya disabetkan dan

diputar, dalam sekejap batang kayu itu dari satu berubah dua, dan dari dua berubah empat,

dan seterusnya semakin banyak. Sedangkan gerakan ban pinggang Ouw Kun San semakin

sedikit dan akhirnya hilang, berbareng dengan ini tubuhnya terpental beberapa meter dan

jatuh dengan menimbulkan suara yang cukup nyaring.

“Ini perubahan kedua dari jurus pertama yang bernama Cong geng diu siau (malang melintang

diangkasa), jika ujung kayu ini berubah lagi, nyawamu pasti hilang !”

Ouw Kun San mengeluarkan keringat dingin, ia melihat bajunya penuh lubang terkena senjata

131

“Lo jie, apakah engkau terluka ?” tanya Sing Thian Beng.

“Masih untung tidak sampai terluka,” jawabnya dengan meringis.

“Bocah itu tampaknya sudah memahami ilmu pedang itu !”

“Memang benar !”

“Jika begitu tidak ada harapan menag lagi bagi kita !”

“Ah, belum tentu,” jawab Sing Thian Beng. “sungguhpun ia bisa, tapi belum matang. Jika

serangan dipencarkan, pasti membuatnya kikuk dan gugup !”

“Ya kenapa tak perpikir kesitu,” kata Ouw Kun San, “sampai beberapa kali seranganku

mengalami angin terus.”

“Cek cek cek,” tiba-tiba terdengar suar seseorang, Ouw toako apa-apaan menghadapi anak

kecilsaja samapai mendeprok ? Seiring dengan habisnya suara berkelebat seseorang

dihadapan mereka, dengan pakaian keemas-emasan yang mentereng. Pendatang itu usianya

lebih kurang tiga puluh tahun, tubuhnya ramping, wajahnya putih karena bedak yang tebal.

Bibirnya memakai gincu. Jalannya berlenggang lenggok penuh gaya. Bukan lelaki bukan

perempuan. Dia banci !.

Kedua orang tua memandang penuh jijik. “Hm, kiranya Oey Tin Hong, sudah lama kita tak

bertemu !” kata Ouw Kun San dengan nada dingin.

Tanpa memperdulikan sikap orang yang dingin, dengan bergoyang-goyang ia menghampiri

dan berkata : “Saya mendengar Jie wie Toako turun gunung lagi untuk mencari buku Keng

thian cit su, betulkah ?”

“Kalau benar bagaimana ? Dan jika tidak bagaimana ?” kata Kouw Kun San.

“Menurut berita buku itu muncul di Kim leng dan banyak yang kesana,” kata Oey Tin Hong,

kenapa Jie wie Toako tidak kesana ?”

“Sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan kami !”

“Cek, cek, cek, marah dek,” kata Oey Tin Hong dengan lagak bancinya.

“Maksudku baik ! Buku itu merupakan pusaka Rimba Persilatan, jika sampai kehabisan

sayang sekali !”

“Eh bencong, tahubegitu kenapa engkau sendiri tidak ke Kim leng ?” kata Sing Thian Beng.

“Dan apa gunanya ngeberengsek disini ?”

“Oh Sing Toako jangan gitu dong, saya sih bo hok ki, mana bisa dapat buku itu !” jawab Oey

Tin Hong. “Ya ketemu disinipun, kebetulan saja sedang lewat. Dan heran melihat Jie wie

berkelahi dengan seorang bocah.”

“Apa herannya ?” bentak Ouw Kun San.

132

“Sorry ya,” kata Oey Tin Hong. “Apakah perlu bantuanku ?”

“Hm, kutahu engkau menaruh hati pada bocah itu ! Ha ha ha , kata Ouw Kun San sampai

tergelak-gelak. Tgapi ketahuilah siapa bocah ini ?”

“Ketahuilah bocah ini adalah penulis buku Keng thian cit su yang diterbitkan di Kim leng

namanya In Tiong Giok !”

“Oh, tak sangka kecil-kecil bisa menggemparkan rimba hijau, jika Jie wie tidak menerangkan,

bagaimanapun saya tak percaya dia ini In Tiong Giok adanya !”

“Bagaimana ketarikkah ?”

Dengan malu-malu Oey Tin Hong menutup mulutnya, tersenyum sambil melengos. “Saya sih

tidak berani mengatakan apa-apa, asal Jie wie mengijinkan beres deh !”

“Hm, dari tadi saja engkau bilang !” kata Ouw Kun San “tapi jangan anggap enak saja,

engkau belum tentu menang melawan bocah itu!”

Dengan menggoyang-goyangkan kipas Oey Tin Hong tersenyum dikulum. “Ah masa ia lihay

!” Kipasnya dirapatkan dan diselipkan kepinggang, lalu dihampirinya In Tiong Giok. Begitu

hampir dekat, baju luarnya dibuka, dan terlihat celana dalamnya yang merah. Berbareng

dengan ini, bertebaran wewangian keras memenuhi udara.

Sing Thian Beng menyaksikan ini, menggoyangkan mulut pada saaudaranya, dan terus

melompat jauh kebelakang dengan siap siaga.

In Tiong Giok tidak mengenal pada Oey Tin Hong, tapi kelakuannya itu mendatangkan kesan

buruk baginya. Maka itu melihat bencong ini menghampirinya, iapun sudah siap sedia dengan

batang kayunya.

Tiba-tiba saja Oey Tin Hong mencabut lagi kipasnya, dan terus digoyang-goyangkan: “Hei

Kongcu betulkah engkau bernama In Tiong Giok ?”

“Hm, mau berkelahi boleh, jangan banyak bicara!” jawab Tiong Giok.

“Hi hi hi, galak amat,” kata Oey Tin Hong, “baru kenal mau berkelahi ?”

“Jangan banyak bicara mari…” belum seelesai suaranya diucapkan, ia merasakan sesuatu

hawa buruk. Cepat ia gunakan hawa sejatinya untuk mengusir hawa buruk. Usahanya ini

mendatangkan perasaan tidak enak dan sebal, matanya berkunang-kunang dan kabur. Tak

alang kepalang kagetnya, cepat-cepat ia menahan napas dan mundur kebelakang. Oey Tin

Hong membarengi menerjang kedepan, dan menotok dengan kipasnya. “Kalau sudah

merasakan Dupa Lupa Daratan milikku, engkau jangan harap bisa melarikan diri lagi !”

Sungguhpun perasaannya mabuk, Tiong Giok masih bisa bertahan juga, serangan musuh

diengoskan dan terus membarengi dengan sabetan mendadak. “Buk!” terdengar sekali,

kayunya itu tepat mengenai pundak musuh. Sayang tenaga dalamnya sudah buyar, biarpun

133

tepat, tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. Oey Tin Hong hanya terhuyung-huyung

beberapa langkah.

Berbareng dengan ini Tiong Giok mengebut dengan langkah seribu. Sang Banci jadi tertegun,

dan baru mengejar setelah musuhnya kabur. Tapi perbuatannya ini dirintangi Kui coa jie sau.

“Lo jie kejar bocah itu, dan serahkan banci ini kepadaku !” Sing Thian Beng, terus saja

melancarkan pukulan pada Oey Tin Hong sedangkan Ouw Kun San memburu pada Tiong

“Apa artinya kelakuanmu ini ?” tanya Oey Tin Hong.

“Bocah itu adalah musuhku, siapapun tidak boleh campur tangan !”

“Hm, ini namanya pinjam golok membunuh orang !” kata Oey Tin Hong.

“Benar!” jawab Sing Thian Beng dengan bangga.

Oey Tin Hong membungkuk dan menunjang tubuhnya dengan tangan, lalu berputar-putar

seperti ular, dan melancarkan tendangan-tendangan berangkai yang bertubi-tubi. Orang

jangkung seperti Sing Thian Beng ini bagian bawahnya adalah yang terlemah. Maka itu

dengan kaget ia merapung keatas, sedangkan musuhnya menggunakan kesempatan ini molos

dari selangkangannya dan terus mencelat kedepan. Kipasnya tampak bergerak, mengeluarkan

sinar biru yang menyilaukan mata. Menghantam pada Ouw Kun San.

Sing Thian Beng tahu itulah senjata rahasia, maka ia berteriak nyaring memperingati

saudaranya: “Lo jie awas senjata gelap !”

Saat ini Ouw Kun San sedang mengejar In Tiong Giok dan hampir berhasil, biarpun

mendengar peringatan dari saudaranya, untuk melepaskan buruan merasa sayang, ia hanya

menggesekan kakinya, sedangkan lengan kirinya tetap menjambrret kepundak Tiong Giok,

lengan kanannya mengebas kebelakang. Tak kira sebelum kibasasnnya dilancarkan, pundak

kanannya dirasakan seperti digigit semut dan sakitnya meliputi seluruh punggungnya.

Membuatnya menggigil dan lemaas. In Tiong Giok tidak mau membuang kesempatan, dengan

sekeras-kerasnya itu melancarkan Hiat cie leng. Kasihan Ouw Kun San yang kate itu segera

terhuyung dan ambruk. Ia sendiripun cepat-cepat lari kedalam hutan. Agaknya obat mabuk

bekerja hebat, dengan terhuyung-huyung, ia berlari terus. Samar-samar ia mendengar suara

saling bentak antara Oey Tin Hong dan Sing Thian Beng akhirnya apapun ia tak mendengar

lagi. Karena kakinya memijak Lumpur dan terus roboh tak sadarkan diri….entah sudah

berapa lama waktu berlalu. Waktu ia siuman dari mabuknya mendapatkan dirinya berada

disebuah kolam yang cetek. Sekujur badannya penuh Lumpur. Ia bangun cepat, dan terus

menuju kesebuah sungai yang tak seberapa jauhnya dari kolam. Entah bagaimana rasa mabuk

dan mual sudah hilang sendiri, pikirannya terasa terang, entah apa yang menyebabkan

punahnya mabuk itu. Ia turun kesungai mencuci tangan, lalu membuka bajunya, dicuci

sebersihnya. Setelah diperas pakaian itu dibeber diatas sebuah batu besar. Ia sendiri duduk

dipinggir batu dengan pakaian dalam, menantikan pakaiannya kering tertiup angin malam.

Ia termenung-menung dimalam sunyi sambil mengawasi bintang-bintang dilangit. Saat inilah

telinganya mendengar suara tertawa halus. Tak alang kepalang kagetnya, cepat disambarnya

celana dalam, serta uang dan kumala ungu lalu dilibatkan kepinggangnya, pakaiannya segera

diraup dan terus ia bersembunyi kedalam air sungai. Suara tertawa semakin lama semakin

134

dekat, empat gadis manis, menuju kearah sungai dimana Tiong Giok bersembunyi. Gadisgadis

ini masih muda-muda dan berpakaian seba hijau. “Bagaimana ? Aku bilang disini

terdapat sebuah sungai masih tidak percaya,” kata salah seorang yang paling besar.”

“air sungai ini bening sekali, dingin apa tidak ?” kata yang lain lagi. Dan terus berjongkok

memegang air.

“Bagaimana ? Dinginkah ?” tanya yang disampingnya.

“Sejuk!”

“Hayo kita mandi !” kata yang paling besar dan terus mereka membuka baju.

“Eh, bagaimana kalau dilihat orang ?” tanya yang paling kecil.

“Tak usah takut, malam –malam mana ada orang!” kata yang besar, “Sesudah mandi kit

panggil Tutan, biar dia mandi juga !” Mereka berkecimpung diair, sedangkan bulan

menerangi keadaan. Begitu romantis dan tidak ubahnya seperti jaka tarub jumpai tujuh

bidadari. Tiong Giok menahan napas menyaksikan keadaan ini. Ia mencoba meram, tapi mata

itu melek lagi…melek lagi. Ia berdoa agar gadis-gadis itu cepat-cepat berlalu !.

Sambil bergurau gadis-gadis itu mandi dengan riangnya.

“Eh kita jangan enak sendiri, Tutan mungkin kesal menantikan kita, mari kita pulang !” kata

yang besaran.

“Sebentar lagi dah,” jawab yang lain. “Berapa hari ini kita mengikuti Siocia keberbagai

tempat, capai lelah belum hilang, esok sudah berangkat lagi. Maka apalah salahnya kita

bermainlamaan disini.”

“Ya akupun sama saja dengan kalian.” Jawab yang besaran. “Tapi sangat mengherankan

berbagai tempat dipergi, orang yang dicari tidak ada jejaknnya, mungkin sudah mati.”

“Ya, kebanyakan sudah mati.” kata yang lain, “kalau tidak, kecuali terbuat dari besi !”

“Kupikir juga begitu, kecuali ia sudah mati !”

“Ah mau dikata apa, sebagai budak, kita harus puas menerima keadaan begini,” kata yang

“Kalau aku jadi Siocia tak mau berbuat sebodoh itu ! Melepaskan kebahagiaan untuk mencari

sengsara…Ah, celaka ada yang datang, mari kita pergi !”

Keempat perempuan itu dulu mendahului berlompat keluar, lari kearah batu dimana mereka

menaruh baju.

Tiong Giok membuka mata memandang sekeliling, dan benar saja melihat seorang sedang

longak longok keempat penjuru. Dibawah penerangan rembulan tegas terlihat bahwa orang itu

bukan lain dari Oey Tin Hong adanya.

135

Keempat perempuan itu baru sempat memakai pakaian bawah saja, sedangkan pakaian

lainnya masih dipegangi. Mereka tidak berkutik diam dibalik batu datang kesitu, sehingga

tidak menyaksikan pemandangan indah disungai itu.

Tiba-tiba dari balik hutan berkelebat dua bayangan menghampiri pada Oey Tin Hong. Mereka

ini adalah Hek pek siang kuay adanya. “Eh, bencong mana orang itu ?” kata Na Beng Sie.

“Orang she In itu sudah kena dupa mabuk biar bagaimana tidak bisa pergi jauh. Paling-paling

ia bersembunyi disekitar sini !”

“Nyatanya bocah itu tidak ada, biar sudah dicari antero hutan ini ! Hmm, engkau jangan

memandang kami seempuk Kui coa jie sau itu !” bentak Na Beng Sie.

“Tidak ! Jangan salah paham, mana berani saya menipu Lo Cianpwee !”

“Pokoknya jika bocah itu tidak ketemu, batok kepalamu pecah tujuh !” ancam Lauw Siu Kim.

“Nyonya jangan marah, saya pasti bisa menemukan bocah ini…”

“Ya…ya…ya” jawab Oey Tin Hong, “barusan saja mendengar suara orang didekat sini, tapi

heran sekarang tidak terdengar lagi !”

“Bocah itu sendirian saja, mau ngomong dengan siapa ?” bentak Na Beng Sie.

“Sayapun heran, mungkinkah ada lagi jago-jago Kang Ouw lainnya yang turut mengejarngejarnya

?”

Na Beng Sie kaget juga mendengar ini, dengan berbisik ia berkata pada isterinya: “ Siu Kim,

berlaku waspadalah !”

“Ha, nyalimu kemana ? Biar siapapun tak perlu kita takuti !” jawab istrinya dengan suara

keras-keras.

“Aku bukan takut hanya memperingati saja padamu ! Bagaimana kalu seperti tempo hari kita

berkelahi dengan Liok Lokoay ? Hanya bercapai lelah tanpa memperoleh hasil.”

“Jangan terlalu percaya omongannya banci itu, mungkin iapun mengandung maksud buruk !”

“Ah…mungkin ia tak berani !”

“Lo Cianpwee coba lihat ! Dikolam ini tertera jejak kaki orang,” teriak Oey Tin Hong.

Siang koay dengan cepat sampai ditempat yang ditunjuk. “Ah benar, telapak ini masih baru,

pasti telapak kaki bocah itu !” kata Na Beng Sie.

“Bocah itu pasti kecebur disini, sehingga obat mabukku punah terkena air, dan pantas dicari

kemana-mana tidak ketemu…”

“Dengan punahnya obat mabuk itu, pasti ia telah pergi jauh !” kata Na Beng Sie.

136

“Tidak, coba lihat jejak kaki ini !” kata Oey Tin Hong. “Sesudah kecebur, pasti badannya

berlumpur, untuk ini ia harus membersihkan disungai ini. Nah lihatlah, bukankah jejak kaki

ini menuju kesungai itu ?”

“Ya, kita harus memeriksa kesungai itu !” kata Na Beng Sie, yang terus berjalan duluan. Dan

benar saja mereka menemukan Lumpur-lumpur kotor didekat sungai itu.

“Celaka! Sekali ini habislah riwayatku,” piker Tiong Giok sambil mengawasi terus gerakgerik

Supaya dapat melihat terlebih luas, Na Beng Sie melompat keatas batu dipinggir sungai. Tak

kira begitu ia hinggap diatas batu itu, kakinya seperti memijak sarang tikus, “Auw ! Auw !

terdengar seruan kaget dari bawah kakinya dan disusul empat penjuru sambil meneriakkan

tajam. Keruan saja Na Beng Sie menjadi kaget, tubuhnya mencelat gesit. Ia terlalu tergesagesa,

dan waktu turun kebumi hampir-hampir bertubrukan dengan salah satu tikus putih,” dan

terdengar lagi jeritan tajam saat itu juga. Na Beng Sie terhuyung-huyung menghindari diri,

akhirnya terlebih parah lagi, karena lengannya yang terpentang, membentur semacam benda

lunak nan halus.

“Auw mau mampus ! Mau apa kau ?” perempuan itu menjerit sambil menyumpah-nyumpah.

Na Beng Sie baru sadar bahwa yang terpegangnya tadi adalah benda larangan, dengankaget ia

menarik lengannya. Perempuan itu dengan menutupi tubuhnya lari terbirit-birit. Tahu-tahu

Oey Tin Hong menghadangnya sambil membentak: “Diam, Siapa kalian ini ? Dan apa-apaan

sembunyi disini ?”

“Kau sendiri apa-apaan mengintip seorang mandi ? Tak tahu malu !” bentak perempuan itu

dengan gusar.

“Nona jangan marah, saya hanya bertanya waktu mandi tadi, adakah melihat seorang muda

disungai itu ?”

“Cis!” pereempuan itu meludah dan tepat mengenai muka Oey Tin Hong: “Bangsat tak tahu

malu! Kamu anggap kami ini sebagai apa ? Kami tidak melihat pemuda lain kecuali kamu si

bangsat gila ! Minggir !”

Oey Tin Hong mengusap ludah dimukanya, kegusarannya tak alang kepalang: “Hm,kalian

budaj tak tahu mati, tidak tahu siapa saya ini !” Kipasnya segera dibuka dan mau turun

“Hm, tiba-tiba Lauw Siu Kim mendengus dengan dingin: “Oey Tin Hong, engkau sudah

bosan hidup ?”

“Hujin budak ini…” kata Oey Tin Hong dengan kaget.

“Phui!” Lauw Siu Kim mambuang ludah dengan gusar; Nyalimu besar betul ! Di depanku

berani mempermainkan perempuan dan memaki mereka budak !”

Oey Tin Hong cukup mengenal tabiat perempuan ini, biarpun perasaan hatinya gusar,tak

berani membantahnya, ia diam sambil menundukkan kepala. Ya maaf bahwa saya salah

bicara !”

137

Perempuan tadi mendapat kesempatan lari dan tidak kelihatan baying-bayangannya lagi.

Sedangkan Lauw Siu Kim masih gusar, dan kedongkolannya ini ditimpakan kepada

suaminya. “Engkau tua bangka tidak tahu diri ! Tidak boleh melihat perempuan muda !

Engkau kira aku ini sebagai apamu ?”

“Siu Kim,” kata Na Beng Sie sambil cengar cengir jengah. “Aku mana memikir bisa sampai

ditempat perempuan-perempuan itu mandi !”

“Jika bakalan tahu begitu, mungkin engkau akan girang terlebih dahulu bukan ?”

Na Beng Sie mengangkat-angkat pundak tak berani menjawab.

“Hm, bagaimana perasaanmu ? Menyesal mengajak aku ?” bentak Lauw Siu Kim.

“Sudahlah! Sudahlah ! Anggap aku yang salah,” kata Na Beng Sie sambil menarik napas

“Untuk apa menghela napas ? Menyesal tidak bisa melihat perempuan-perempuan itu terlebih

lama ?” ejek Lauw Siu Kim.

Na Beng Sie tidak bisa menjawab, ia hanya mendongkol, untuk menghilangkan gusar hatinya,

Oey Tin Hong dijadikan bulan-bulanan. “Hm, bencong sial ! Sudah tahu ada perempuan

mandi, kenapa engkau membawa kami kesini ? Enak ya melihatku didamprat bini ?”

“Saya tidak bermaksud begitu,” kata Oey Tin Hong, “jika dipikir perempuan-perempuan itu

dimalam hari mandi disini, sangat mencurigakan sekali ! Tambahan merekapun memiliki ilmu

silat yang cukup tinggi, menyesal tidak bisa kucapai mereka !”

“Kenapa tidak dari tadi engkau terangkan begitu ?” kata Na Beng Sie.

“Saya…” ia melirik pada Lauw Siu Kim, kata-kata yang sudah berada ditepian bibirnya

ditelan kembali dengan terpaksa.

Melihat ini membuat Na Beng Sie semakin gusar. “Semua ini kerjaanmu bukan ? Pokoknya

jika bocah itu tidak kau temukan, berarti celaka bagimu ! Lekas cari !”

Ketiga orang itu perlahan-lahan meninggalkan tepian sungai, makin lama makin menjauh.

Tak selang lama cuacapun menjadi terang.

In Tiong Giok menarik napas lega, dan cepat bangun dari sungai sambil mengenakan

pakaiannya yang basah. Dengan mengambil arah yang berlawanan, ia berlari meninggalkan

tempat itu. Waktu matahari terang benderang ia telah tiba disebuah kota kecil. Sebagaikan

anak burung yang masih ketakutan, segan untuknya masuk kedalam kota, untuk menangsel

perutnya yang lapar, ia mampir disebuah warung nasi dipinggiran kota, setelah kenyang dan

membeli beberapa kue kering, cepat-cepat ia melanjutkan perjalanan.

Tujuannya adalah rumah Lim Giok Bwee di Pek liong san, untuk ini ia selalu menempuh

perjalanan gunung yang sepi. Dengan begini tak mudah dirinya diketemukan orang, dan

bilamana ketemu musuh dapat meloloskan diri kedalam hutan. Disamping keuntungan itu, ada

138

pula kesulitan baginya, yakni sukar mencari makanan. Hari pertama ia menempuh perjalanan

sembilan puluh lie, sejauh ini tidak ada perumahan-perumahan penduduk yang ditemuinya,

membuatnya menahan lapar sepanjang jalan. Waktu hari kedua, sepanjang perjalanan tidak

juga dijumpai rumah orang, laparnya sudah sampai dipuncak. Ia mengaso dibawah pohon

yang rindang. Tak jauh dari situ ia melihat sebuah perkebunan jeruk, sedang berbuah lebat

sekali. Dengan cepat ia menghampiri jeruk-jeruk itu masih hijau selum manis bener. Dalam

keadaan lapar ia tidak perduli matang atau tidak, dipetiknya bebrrapa buah lalu dimakan

dengan lahap. Jeruk itu amat masam tidak saja menghilangkan lapar, bahkan membuat

perutnya semakin perih dan lapar. Ia menekan perut sambil mengawasi buah jeruk yang

hijauitu, saat inilah hidungnya menghirup hawa sedap ! Dengan tergesa-gesa iapun mencari

dari mana datangnya hawa itu. Tak seberapa jauh dari tempat ia memetik jeruk terlihat sebuah

gubuk, dari sinilah terlihat asap membumbung tinggi dan menebarkan wewangian yang sedap

Gubuk itu terbuka pintunya, yerlihat seorang gadis yang sedang menundukkan kepala dan

mengipas-ngipas api, memanggang ayam.

Dengan cepat Tiong Giok menghampiri.

“Siapa disitu ?” tegur sigadis sambil menoleh.

In Tiong Giok menjadi kaget, bukan karena kedatangannya diketahui sigadis, melainkan

wajah gadis itu luar biasa sekali. Kiranya separuh dari wajah gadis itu amat cantik, sebaiknya

yang sebelah buruknya bukan b uatan. Jadilah antara cantik dan buruk itu pada datu wajah.

Waktu Tiong Giok melihat adalah bagian yang cantik, dan waktu gadis itu menoleh

memperlihatkan wajahnya yang buruk hampir dia sawan dibuatnya.

Gadis itu memandang tajam kepada Tiong Giok, yang gugup tak bisa menjawab. Entah

kenapa ia menjadi gusar, dilempar kipas dan diambil toya, dengan cepat ia melompat keluar,

nyatanya ia pandai bersilat.

“Karena nona kulihat sendirian saja maka membuatnku gugup bertanya jawab !”

“Apa keperluanmu kesini ?”

“Terus terang perutku lapar! Satu hari satu malam belum makan, bisakah nona memberi

pertolongan ?”

“Sayang kau datang bukan pada waktunya, ayam panggang itu khusus ayah !”

“Tolonglah aku lapar sekali…..”

“Tak bisa ! Ayahku tak dirumah, andaikata ia ada tak mungkin bisa menolongmu !”

“Aku tidak ingin ayam itu, pokoknya asal makan, sudah cukup !”

“Tak bisa !” kata gadis itu. “Kalau ayahku mengetahui, aku bisa didampratnya.”

“Aku lapar sekali…”

139

“Engkau harus tahu, ayahku bertabiat kasar, jika ia pulang melihatmu kukuatir…”

“Aku tak mau menyusahkanmu, asal diberi makan, aku lantas berlalu !”

“Parasmu yang kelaparan, memang harus dikasihani, baiklah kuberikan sedikit makanan, asal

kau cepat-cepat pergi !” kata gadis itu dan terus menggapaikan tangan, mengajak Tiong Giok

Didalam rumah yang sederhana itu, hanya terdapat sebuah meja dan beberapa kursi,

perabotannya kurang sekali. Didinding terlihat sebilah golok besar, gagangnya mengkilap,

karena terbuat dari emas. Keadaan ini mendatangkan keheranan bagi pemuda kita, ia tahu

kehidupan penghuni rumah ini amat miskin, tapi goloknya itu merupakan benda yang tidak

ternilai harganya. Mungkinkah ayah beranak ini merupakan jago-jagonya Kang Ouw yang

mengasingkan diri ? Tengah ia berpikir, sigadis sudah keluar dari dapur, membawakan kuah

ayam dan kueh kering. “Lekaslah makan dan cepat pergi !” desak sigadis.

Sambil menghaturkan terima kasih Tiong Giok menerima makanan itu dan terus memakannya

dengan lahap sekali. Sigadis memandang si pemuda kita itu penuh dengan rasa kasihan. IA

masuk lagi kedapur menambah kuah ayam dan sedikit makanan. “Kulihat engkau lapar sekali,

ini ada sedikit tambahnya !”

“Terima kasih atas kebaikan nona,” kata Tiong Giok, “tapi makanan ini untuk ayahmu,

bagaimana kalau tahu, aku kuatir.”

“Engkau ini aneh sekali, tadi meminta-minta sekarang timbul rasa kuatir, apa maksudmu ?”

kata gadis sambil tersenyum. “Semua manusia bisa merasa lapar, kenapa engkau merasa

sungkan ?”

Tiong Giok tersenyum dan terus menghampiri makanan yang diberikan padanya, setelah itu ia

mengeluarkan sebutir mutiara dan memberikan pada sigadis. “Atas pertolonganmu ini seumur

hidupku tak kulupakan, ini sekedar tanda terima kasihku !”

“Hm, dengan ini engkau membayar kuah ayam dan kueh kering itu ?” kata sigadis sambil

melirik sinis.

“Aku tidak bermaksud demikian ! Pemberianku sekedar tanda terima kasihku ! terimalah !”

“Oh kutahu, engkau sengaja memberikan mutiara ini agar ayahku tahu engkau datang,

betulkah begitu ?”

Tiong Giok tak berdaya, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat menyimpan kembali

mutiaranya kedalam saku. “Ah, maafkan nona dapatkah kutahu namamu ? Agar kuingat-ingat

!”

“Hm, maksudmu dengan mengenal namaku engkau mau datang lagi kesini ?”

“Pertemuan ini adalah kebetulan, entah tahun kapan kita bisa bertemu lagi .”

“Hm, artinya belum tentu bisa ketemu lagi, untuk apa mengetahui namaku bukan ?”

140

“Andaikata tidak bertemu lagi, budi yang kuterima ini tak bisa kulupakan. Nah terimalah

terima kasihku dan permisi !” kata Tiong Giok yang terus merangkapkan tangannya memberi

hormat sambil manggut-manggut dan terus keluar dari rumah gubuk itu.

Baru saja ia keluar rumah, gadis itu dengan kecepatan seperti kilat menarik baju Tiong Giok.

“sabar sebentar !” serunya perlahan.

“Engkau tak boleh pergi dulu, ayahku sudah pulang!” kata si gadis dengan wajah khawatir.

Tiong Giok memasang kuping, dan benar saja ia mendengar suara tertawa dari perkebunan

jeruk, dengan mengerutkan alis dia memandang pada si gadis sambil menghibur : “ Nona tak

usah kuatir, jika yahmu bertanya akan kuakui semua, bahwa makanan ini aku yang

memakannya !”

“Engkau tidak mengetahui tabiat ayahku sangat kasar sekali !” kata si gadis.

“Kebun jeruk ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, engkau bukan saja masuk ke

kebun jeruk bahkan masuk kedalam gubuk ini, jika diketahuinya, hanya kematian bagimu !”

“Kenapa ayahmu begitu tidak tahu aturan ?”

“Kini bukan saatnya mengadu aturan, kata sigadis, kuharap engkau bersembunyi dulu, baru

berlalu !”

Suara dari kebun jeruk sudah semakin dekat, yang datang bukan hanya seorang tetapi

banyakan. Sigadis dengan gugup menarik lengan Tiong Giok kedalam rumah. Gubuk itu

hanya mempunyai dua kamar, tidak ada tempat bersembunyi lainnya. Setelah mengerutkan

kening sejenak, gadis itu menarik si pemuda kedalam kamarnya dan mendorong keatas

pembaringan, lalu menurunkan kelambu. “Karena terpaksa kulakukan semua ini, harap

tenanglah diam disini” Ia tidak melanjutkan suaranya karena dari luar sudah terdengar suara

paraunya memanggilnya : “Ciu kauw ! Ciu kauw !”

“Ya Tia !” sahut Ciu kauw dan terus keluar kamar sambil menutup pintunya.

Sesaat didepan pintu rumah terlihat banyak orang, yang paling depan adalah seorang tua yang

berusia enam puluhan, dibelakangnya terlihat dua orang tua berpakaian serba putih disusul

seorang perempuan cantik yang genit. Paling akhir adalah lima laki-laki tinggi besar berbaju

“Tia tia baru pulang ?” tanya Ciu kouw.

“Hei budak mari kuperkenalkan dengan beberapa Lo Cianpwee ini !” kata orang tua yang

berjalan paling depan.

Perempuan cantik yang genit itu menghampiri pada Ciu Kouw. “Cek, cek, cek, Cie Toako

inikah puterimu itu ?”

“Ya benar, Su kouw coba kau lihat sudah besar bukan ?”

141

“Ah, benar saja !” kata perempuan itu yang bukan lain dari pada Hoo Su Kouw adanya. Lima

belas tahun tidak melihatnya, sudah sebesar ini. Jika ketemu dijalanan pasti aku tidak

mengenalnya lagi. Waktu rasanya cepat berlalu yang kecil telah menjadi besar, dan kita telah

menjadi tua.”

“Ah, siapa bilang kau sudah tua ? Kulihat Su Kouw masih muda seperti dulu, kata salah

seorang laki-laki tinggi besar. Membuat yang mendengar bergelak-gelak.

“Ah, engkau bisa saja, kata ? Hoo S Kouw yang terus memandang pada Ciu Kouw.

“Masih kenalkah denganku ?”

“Ciu kouw menggelengkan kepala, sudah lupa !”

“Ah, masakan sampai bibi Hoo ini kau lupakan ?” kata siorang tua she Cie, atau ayahnya Ciu

“Hoo A-ie,” kata Ciu kouw.

“Ah dasar anak pintar,” kata Hoo Su Kouw “lima belas tahun yang lalu engkau baru sebesar

ini !”

Kini Ciu kouw berusia delapan belas tahun, berbadan lebih tinggi dari Hoo Su Kouw sendiri,

kini masih dianggap sebagai bocah cilik terus, mendatangkan rasa pembangkang yang tidak

sedap pada dirinya. Dengan mengerutkan alis ia membuang muka.

Orang tua she Cie menunjuk pada dua orang tua berbaju putih. “Ini adalah Kui coa jie sau dan

yang lima ini terkenal sebagai Lo sie ngo houw (lima macan keluarga Lo) dari Toa pa san

semuanya kawan baikku !”

Ciu kouw menghaturkan hormat pada merekas satu persatu.

Seangkan Tiong Giok mendengari ucapan mereka dari persembunyiannya dengan hati kebatkebit.

Semua yang berada diluar itu adalah musuhnya, untung ia bisa bersembunyi, jika tidak

pasti lebih banyak celakanya daari selamatnya. Ia tidak mengetahui apa hubungannya antara

tuan rumah dengan Hoo Su Kouw ? Tapi dari percakapan mereka dapat diketahui mereka

sebagai kawan lama, berarti tuan rumah itupun sebagai orang jahat juga. Kini ia berada

didalam rumah itu, tak ubahnya seperti berada didalam mulut macan !

Setelah memperkenalkan semua kawannya pada anaknya, orang she Cie itu masuk kedalam

rumah, tiba-tiba saja wajahnya menjadi berubah. “Siapa yang datang kerumah ?” tegurnya

pada Ciu kouw.

“Tidak ada yang datang !”

“Siapa yang habis makan ini ?”

“Oh, ini bekasku makan, dan belum sempat dibenahi !” kata Ciu kouw.

“Makin besar makin malas, lekas beresi,” kata Cie Lo tua (orang tua she Cie).

142

“Dan potong lagi beberapa ekor ayam serta hangati arak, sehabis makan kami masih

mempunyai urusan penting untuk dikerjakan !”

Ciu kouw segera keluar rumah sedangkan tamu-tamunya duduk mengelilingi tuan rumah.

Mengadakan perundingan penting. “Cie Toako tak perlu repot-repot menyediakan ini itu,

yang penting kita harus memburu waktu untuk menciduk budak she In itu,” kata Ouw Kun

“Tak usah kuatir,” kata Cie Lo toa. “asal saja dia jalan kemari, passti takkan lolos !”

“Waktu di Ko ho pou jalan Tian lo te bong sudah ditebar tak urung masih lolos juga !” kata

Hoo Su Kouw.

“Waktu itu jika Ciauw Thian Siang berbuat curang, biar bersayap In Tiong Giok takkan lolos

!” kata Lo Tian Wie salah seorang Lo sie ngo houw yang paling tua.

Cie Lo toa menganggukkan kepala dan berkata : “Ciau Thian Siang adalah bajak lama yang

sejalan dengan kalian, kenapa bisa membantu pemuda itu mencetak buku Keng thian cit su di

kota Kim leng, benar-benar membuatku tak habis mengerti !”

“Jika diceritakan urusan menjadi panjang, yang benar nasib kita belum beruntung,” kata Hoo

Su Kouw.

“Memang kenapa ?” tanya Cie Lo toa.

“Sungguhpun Ciau Thian Siang dapat dikatakan menghianati kami, dan eprbuatannya itu

diluar dugaan. Tapi dasar nasib tidak beruntung mau dikata apa ? Kami sempat menyusul

kekota kim leng untuk mencegah buku itu dicetak, tapi usaha kami itu mendapat halangan.”

“Siapa yang menghalangi ?” tanya Cie Lo toa tidak sabaran.

“Sampai kini siapa orang itu belum dapat kejelasan yang pasti,” kata Hoo Su Kouw,

“pokoknya siapapun tidak akan menyangka seorang pembantu toko yang sederhana, berkelahi

lihay sekali, hampir-hampir aku dan persaudaraan Lo ini menderita kerugian besar.”

“Yang bisa mengalahkan kalian itu tentu bukan manusia sembarangan, masakan sampai

namanya tidak kalian ketahui ?”

“Waktu terjadi perkelahian budak she In itu mungkin berada didalam percetakan itu, hal ini

terbukti keesokan harinya Keng thian cit su tersebar luas dikota Kim leng ! Waktu kami

mendatangi lagi percetakan itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya, nyatanya sudah tutup

pintu, sekalian penghuninya sudah pindah semua !”

“Ah kalian nyatanya masih payah betul, masakan dengan tenaga yang begini banyak tidak

bisa mengalahkan pemilik percetakan itu ?”

“Hal ini masih tidak seberapa mendongkolkan perut, yang membuat kami mangkal dibuku

yang dicetak itu ditulis kenangan untuk Ciau Thian Siang ! Dan banyak kawan-kawan lain

setelah mendapatkan buku itu pergi lagi, sedangkan kami biarpun mendapatkan buku itu,

143

tetap akan mencari budak she In itu, untuk memaksanya membeerikan penjelasan bagianbagian

penting dari buku itu, dengan begitu kedongkolan kami baru mereda !”

“Apakah buku yang dicetak itu isinya tidak lengkap ?” tanya Ouw Kun San.

“Sukar diterangkan….tapi kita dapat menduga bahwa budak itu pasti akan menguranginya

bagian-bagian yang penting dari pelajaran itu, baru menyebar luaskan pada halayak ramai.

Maka itu jika berhasil menangkapnya, besar faedahnya untuk kita,” kata Hoo Su Kouw.

Siang Thian Beng yang bersifat pendiam menganggukkan kepala. “Memang benar bahwa

bocah itu agaknya telah menyelami ilmu Keng thian cit su !”

“Bagaimana engkau tahu ?” tanya Cie Lo toa.

“Tiga hari yang lalu kami menemui ditepi sungai…” kata Ouw Kun San.

“Kenapa tidak ditangkap saat itu juga ?” tanya Cie Lo toa.

“Justru itu waktu kami turun tangan menangkapnya, ia melawan dengan menggunakan ilmu

Keng thian cit su, ilmu itu memang luar biasa sekali, tapi ia belum mahir menggunakannya.

Dan masih ungkulan untuk menangkapnya…waktu usaha kami mau berhasil, datang Oey Tin

Hong sibanci celaka itu menggerecok. Dan membuat usahaku gagal ! Kepaksa kuhadapi

sibanci itu untuk mengajar adat, dasar nasibnya masih mujur dalam keadaan terdesak ia

ditolong Hek pek siang yau ! “Ouw Kun San tidak menceritakan ia terluka dan hampir mati

terkena serangan lawannya.

“Tapi sekarang keadaan lain,” kata Hoo Su Kouw, dengan adanya Cie Lo toa kita bisa

bertambah kuat dan takperduli menakuti segala Hek pek siang yau.

Cie Lo toa tergelak-gelak mendengar pujian itu dan berkata: “Ya dengan kekuatan kita

sekarang, aku Kui ciu kim to (lengan setan bergolok emas) bukan tekebur, segala Hek pek

siang yau tidak kupandang sebelah mata, jika bertemu dengannya, ia baru tahu bahwa kui ciu

kim to tidak boleh dipandang enteng.”

“Ya memang sudah kutahu bahwa Cie Toako seorang kawan yang dapat diandalkan, tidak

seperti Tong teng cit kiam dan Cau ouw sam seng tiga orang she Ciu itu setelah mendapat

buku segera pulang kemasing-masing tempatnya, tak mau membantu kami lagi !” kata Hoo

Su Kouw.

Sementara mereka berbicara ke barat ke timur, Ciu kouw telah siap dengan makanan yang

diperlukan. Dalam waktu singkat mereka telah selesai menangsel perut dan terus beristirahat

sejenak, sebelum pergi Cie Lo toa mengambil goloknya dan menyoren dipinggang. “Kami

akan pergi keluar mencari seseorang, makanan malam sebaiknya engkau siapkan dari

sekarang, jika ada seorang yang tidak dikenal datang kemari, tangkap padanya, nanti aku akan

memeriksanya.” Pesan Cie tua pada anaknya.

Ciu kouw mengangguk kepala.

“Andaikata orang yang harus ditangkap berkepandaian tinggi, engkau boleh bersiul panjang,

aku bisa segera membantu !”

144

“Orang tiu adalah pelajar berusia sebaya denganmu putih bersih dan ganteng !” Hoo Su Kouw

menjelaskan. “Mudah dikenal, engkaupun pasti kenal biarpun pertama kali melihatnya !”

“Perkataan A-ie ini seolah-olah memastikan bahwa pemuda itu akan datang kemari !”

“Eh siapa tahu kalau orang itu saat ini ada didalam rumah dan akan pergi keluar begitu kami

berlalu ?” kata Hoo Su Kouw sambil memandang tajam.

Ciu kouw terkejut tak alang kepalang, perubahan parasnya terlihat tegas oleh Hoo Su Kouw,

tapi perempuan ulung itu tidak mendesak terus, melainkan terkekeh-kekeh dan terus berlalu.

Setelah orang-orang itu pergi jauh Ciu kouw mengunci pintu dan terus memburu kekamarnya.

“Eh engkau she apa ? Apakah engkau yang sedang dicari-cari mereka ?” tanya Ciu kouw

tergesa-gesa.

“Benar, orang yang sedang dicari mereka adalah aku, In Tiong Giok !” Sebenarnya dia berniat

membohong guna meloloskan diri, tapi entah kenapa terhsdap gadis ini ia tidak merasa takut,

biarpun sudah jelas baginya, bahwa gadis ini adalah putrinya seorang jahat.

Ciu kouw tampak semakin gugup dan cemas mendapat jawaban sipemuda, “Wah celaka,

harus bagaimana sekarang…”

“Nona tak perlu kuatir, aku merasa berterima kasih atas pertolonganmu,” kata In Tiong Giok.

“Aku bisa meloloskann diri dari bahaya ini, dan kuharapkan nona tak perlu mencampuri

urusanku, nanti bisa kerembet-rembet !”

Ciu kouw menggelengkan kepala. “Engkau tidak bisa meloloskan diri, semua jalan keluar

sudah ditangan mereka !”

“Diam sajapun tak ada gunanya, lebih baik mendengar perkataan Hoo Su Kouw barusan

kemungkinan besar ia akan kembali lagi. Biar bagaimana aku tak bisa berdiam terus disini “

“Sebaiknya nantikan malam baru pergi !” kata Ciu kouw.

“Menantikan malam sama saja menantikan mereka kembali bukan ?”

“Selamanya ayahku tak pernah masuk kedalam kamarku !” kata Ciu kouw dengan

tajammemandang pada sang pemuda, terus menarik napas panjang. “Aku tak mengerti

pemuda semacammu ini kenapa bisa berkecimpung didunia Kang Ouw ? dan kenapa

mempunyai begitu banyak musuh ? Kudengar engkau menterjemahkan buku untuk Pok Thian

Pang, dan terus mencetak buku itu di kota kim leng, serta menyebar luaskan dijalan-jalan

raya, benarkah terjadi peristiwa semacam itu ?”

“Benar!” jawab In Tiong Giok, “buku itu buku milik Pok Thian Pang, juga dalam keadaan

kedesak kulakukan cara itu !”

“In Kongcu bukan kusesalkan tindakanmu tapi dunia Kang Ouw ini penuh bahaya, sembarang

waktu engkau bisa terjerumus kejurang derita, saat itu ingin mencuci tanganpun tak bisa lagi.”

145

Kata Ciu Kouw. “Buku itu dan Pok Thian Pang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya

denganmu, kenapa engkau mau mencari-cari urusan merepotkan diri sendiri ?”

“Perkataanmu memang benar, tapi banyak kejadian disunia ini sukar diperkirakan

kemampuan manusia, semua inii bukan kehendakku, tapi keadaan memaksaku harus

mengalami kejadian-kejadian semacam ini !” kata In Tiong Giok seraya menuturkan dengan

singkat apa yang dialaminya sejak keluar rumah sampai ia tiba dirumah Ciu kouw.

Ciu kouw mendengari penuturan itu dengan tekun, dan menarik napas panjang waktu Tiong

Giok menyelesaikan ceritanya. “Apa yang kau katakana memang benar, bahwa kejadian yang

akan datang itu sukar diperkirakan sebelumnya tak ubahnya seperti ayahku dua tahun

mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, tak kira hari ini di datangi lagi kawan-kawan

lamanya, entah bagaimana kesudahannya belum dapat kubayangkan dari sekarang.”

“Dulu ayahmu tentu seorang jago Kang Ouw yang kenamaan bukan ?”

“Sungguhpun tidak kenamaan tapi cukup terkenal,” kata Ciu kouw. “Ayahku bernama Cie

Peng Lam dengan gelar kui ciu kim to, tiga puluh tahun yang lalu merupakan pentolan

dikalangan perbajakan.”

Sungguhpun ia belum pernah mendengar nama itu, tapi ia bisa menduga bahwa Cie Peng Lam

pasti memiliki ilmu sejajar dengan Kui coa jie sau dan lain-lain. Sedangkan Ciu kouw biarpun

putrid penjahat, tak ubahnya bagaikan teratai yang tumbuh dipencomberan, putih bersih tidak

pernah keceretan Lumpur kotor.

“Ayahmu sebagai seorang kenamaan disunia Kang Ouw kenapa mau mengasingkan diri di

tempat sunyi semacam ini selama dua tahun ?”

“Karena aku dan ibuku !”

“Dimana ibumu kini ?”

“Ia telah meninggal dunia tujuh belas tahun yang lalu !”

“Kalau begitu engkau masih kecil sudah ditinggal ibu ?”

“Ya diwaktu usiaku setahun tiga hari, ibuku wafat !”

“Disebabkan sakitkah ?”

“Bukan” jawab Ciu kouw, “Ia mati dianiaya orang !”

“Oh, siapa penjahatnya itu ?”

“Penjahat itu bernama Ong Jiak Tong.”

“Ong Jiak Tong ?” In Tiong Giok menegasi sambil membuka mata lebar-lebar. “Adakah kini

orang itu berusia enam puluh lebih, anggota badannya kurus panjang dan tampaknya seperti

cengcorang, jika bicara tersenyum sinis ?”

146

“Benar-benar dia kenalkah dengannya ?” kata Ciu kouw, “bertahun-tahun ayahku mencarinya

tidak ketemu, dimana engkau menemuinya ?”

“Tak heran ayahmu tidak menemuinya karena…” In Tiong Giok tidak melanjutkan.

“Katakan dimana ia berada…” kata Ciu kouw. Aku bisa menerangkan dimana orang itu

berada,” kata In Tiong Giok,” tapi kuminta engkau menceritakan dulu persoalannya terlebih

dahulu baru kusebutkan tempatnya is berada.”

“Ini kejadian yang sudah lama sekali,” kata Ciu kouw memulai penuturannya. “Saat itu

sampai kini selang tiga puluh tahun lamanya, ayahku masih muda belia, tapi dalam usia itu

sudah banyak kejahatan diperbuatnya. Ia bersama-sama Kui coa jie sau, Cau ouw sam seng,

Siang kiang jie to bersama-sama terkenal sebagai Kang lam cit sat (tujuh manusia buas dari

selatan) yang terkenal kejam dan buas dalam dunia perampokan.”

“Suatu saat didunia Kang Ouw muncul Sin kiam siang eng yang pandai Keng thian cit su,

banyak penjahat-penjahat dibasminya, antaranya Siang kiang jin to pertama-tama bertempur

dengan sepasang pendekar itu dan menderita kekalahan, sejak itu terus mengundurkan diri

sampai sekarang, sedangkan Kui coa jie sau pada saat yang hampir bersamaan dipecundangi

Han Bun Siang dan terus mengasingkan diri, baru sekarang muncul lagi, sedangkan Sam seng

terhitung manusia yang kenal gelagat, sebelum kena digempur terlebih dahulu bersembunyi

ditelaga Cau Ouw, dengan menempuh penghidupan seperti rakyat biasa, dan sejak itu Kang

lam cit sat bubar dengan sendiri.”

“Ayahku terhitung mujur, selama menjalankan kejahatan belum pernah bertemu dengan

pendekar-pendekar keadilan yang lihay. Waktu melihat kawan-kawannya satu persatu

menghilang dari dunia Kang Ouw, menjadi insyaf sendiri, dan terus mengundurkan diri juga

dari rimba hijau. Ia menikah dengan ibuku dalam usia empat puluh tahun, sedang ibuku baru

berusia tujuh belas tahun, sungguhpun perbedaan umur antara mereka sangat besar, tapi bisa

hidup rukun dan damai. Pernikahan mereka pada tahun kedua dikaruniai seorang putrid yakni

aku, ayahku girang tidak alang kepalang, maka itu waktu ulang tahunku yang pertama ia

mengadakan pesta besar-besaran. Diantara sekalian penduduk yang hadir terdapat seorang

kawan lamanya, yakni Ong Jiak Tong. Pertemuan ini membuat ayahku bergirang hati, maka

itu si orang she Ong ditahannya beberapa hari bermalam dirumah. Entah dikarenakan duludulunya

ayahku mempunyai dosa besar, dan mendapat hokum karma, entah nasibnya buruk.

Sang kawan itu mengatakan telah memasuki senuah perserikatan baru yang kuat, dan

mengajaknya ayahku terjun kembali kedunia Kang Ouw. Dengan tersenyum ayahku menolak

ajakan kawannya itu, karena tekadnya mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw sudah mantap

sekali. Ong Jiak Tong pun tidak memaksa, tapi dengan diam-diam mengalihkan perhatiannya

pada ibuku. Tepat pada usiaku setahun dua hari ia menggunakan oabt mabuk membuat

ayahku tak berdaya, lalu masuk kekamar ibuku dengan maksud jahat…, kusesalkan ayahku

berkawan dengan orang tak baik, tapi Tuhan tak buta bangsat itu tak mengetahui bahwa

ibukupun memiliki kepandaian ilmu silat juga. Bukan nafsu binatangnya saja yang tak

kesampaian iapun kena dicakar luka, akibat malunya mendatangkan kegusarannya, dengan

menggunakan sebuah pipa ia menyemburkan racun jahat pada ibuku. Seluruh wajah dan

bagian dada ibuku terkena racun itu, sedangkan aku ditidurkan tak seberapa jauh dari tempat

perkelahian itu, keceretan juga bagian pipi kiriku, dan terus menjerit kesakitan, suaraku

inimembuat bangsat itu ketakutan dan terus merat dari rumah !”

“Bagaimana dengan keadaan ibumu seterusnya ?”

147

Ciu kouw meneteskan air mata sebelum menjawab “Racun itu teramat jahat, ibuku tidak

tertolong, tepat pada usiaku setahun tiga hari ia meninggal dunia, sedangkan wajahku yang

terkena racun, berakibat seperti yang engkau lihat sekarang ! Sedangkan ayahku setelah

diguyur orang baru siuman dari mabuknya, sudah tentu tak bisa mengejar penjahat itu lagi !”

“Saat itu ayahmu kena dibuat mabuk, dan engkau masih kecil, ibumu setelah menderita luka

terus meninggal bukan ? Dari sebab apa mengetahui semua itu perbuatan Ong Jiak Tong ?”

“Sudah tentu perbuatan dia, karena sebagai seorang kawan baik, kenapa setelah terjadi

peristiwa itu tidak terlihat lagi batang hidungnya ? Disamping itu waktu terjadi pergumulan

dengannya, ibuku berhasil merampas sepucuk surat dari badan bangsat itu, sampai mati surat

itu tidak dilepasnya.”

“Surat apa ?”

“Ia pernah mengatakan pada ayahku akan mengirim surat ke Pok Liong San dan kebetulan

yang kena dirampas ibu adalah surat itu !”

“Apa bunyi surat itu dapatkah kutahu ?”

“Dalam garis besarnya surat itu mengatakan bahwa Tiat Gok Lin telah melakukan suatu

kesalahan, dan dimaki habis-habisan.”

“Ah, kesalahan apa yang diperbuat Tiat Gok Lin ? Kenapa surat itu diantar Ong Jiak Tong

mungkinkah….”

“Sungguhpun surat itu tidak sampai pada Tiat Gok Lin, tapi sejak terjadi peristiwa yang

menyedihkan dirumahku, tersiar kabar bahwa Tiat Gok Lin membunuh diri, jika dikaji secara

tenang, apa yang terjadi itu tentu ada hubungannya dengan surat yang dibawa Ong Jiak Tong

bukan ?”

“Surat itu masih adakah ?”

“Sudah tentu ada!” kata Ciu kouw, ini sebagai bukti dari kematian ibuku biar sudah belasan

tahun masih tetap kusimpan rapi .”

“Bisakah kulihat surat itu ?”

“Asal kubisa tahu dimana beradanya penjahat itu, surat itu dapat kau lihat,” kata Ciu kouw.

“Disamping itu ayahkupun akan merasa berterima kasih padamu dan bisa melunakkan kawankawannya

agar tak memusuhi dirimu. Sehabis berkata ia membuka sebuah peti, dan

mengeluarkan sebuah bungkusan kain.

Kain pembungkus itu luntur warna aslinya karena kelewat lama disimpan. Ciu kouw

membuka kain itu, didalamnya masih ada pembungkus lagi dibuka lagi dengan hati-hati,

sampai pada pembungkus yang keempat lapis baru terlihat sepucuk surat yang telah lecek.

Dengan hati-hati surat itu diserahkan pada In Tiong Giok.

JILID 8________

148

Surat itu berbunyi sebagai berikut :

Kepada Tiat Giok Lin yang terhormat.

Mengingat bahwa keluarga Tiat turun temurun sebagai orang-orang yang terhormat dan

dimalui oleh kawan maupun lawan. Tapi sungguh diluar dugaan, engkau sebagai ahli waris

keluarga Tiat yang kesohor diempat penjuru dunia, waktu mengadakan perjalanan ke propinsi

Hoo pak bisa melakukan perbuatan mesum yang memalukan. Engkau telah memperkosa

seorang gadis yang suci bersih secara tak tahu malu, setelah melanggar kehormatan gadis itu

engkaupun merasa malu dan ingin menutup rahasia busukmu dengan membunuh gadis itu.

Perbuatan ini bukan saja memalukan juga dikutuk Tuhan tapi heran, kenapa engkau masih ada

muka hidup di dunia ini ?

Mula pertama kami tidak percaya terjadi hal ini, setelah melakukan penyelidikan secara

seksama baru mempercayainya. Dan sekalian golongan Kang Ouw pun sudah mengetahui

perbuatan busukmu ini ! Segala keharuman keluarga Tiat habis ditanganmu, untuk mencuci

bersih nama keluarga Tiat sebaiknya hukumlah dirimu seadil-adilnya.

Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, perkataan “kami” disurat itu jelas bukan seorang saja

yang menulis, tapi mewakili lebih dari seorang.

Selesai membaca surat itu, Tiong Giok jadi berkeringat , pertama-tama terbayang olehnya

seorang tua di dalam penjara tanah Pok Thian Pang yang bernama Hauw Sian, yang diketahui

pula sebagai Tiat Giok Lin adanya ! Ia sudah bunuh diri, kenapa masih terdapat dipenjara

tanah itu ? Keheranan ini sementara waktu belum bisa dipecahkan Tiong Giok, dengan

terpekur ia mengawasi surat itu sekian lamanya.

“In Kongcu apa yang engkau pikirkan ?”

“Dapatkah surat ini kupinjam untuk sementara waktu ?”

“Apa gunanya bagimu ?”

“Besar gunanya, kata In Tiong Giok, dengan surat ini mungkin bisa membongkar sesuatu

peristiwa misterius di dunia Kang Ouw. Dan bisa juga membongkar kejahatan Pok Thian

Pang serta mengungkap teka-teki kematian Tiat Giok Lin dan hilangnya Ang Ek Fan !”

“Adakah soal Sin kiam sian eng bertalian dengan Pok Thian Pang ?”

“Bukan saja berhubungan dengan Pok Thian Pang bahkan kematian dari ibumu bersangkutan

pula dengan Pok Thian Pang….”

“Benarkah ?”

“Baik kuterangkan bahwa pembunuh ibumu itu yang bernama Ong Jiak Tong kini berada

dimarkas pusat Pok Thian Pang, ia menjadi sebagai pengurus penjara tanah disana.”

“Pantasan ayahku mencari kesana kemari tidak menemuinya, kiranya ia bersembunyi di Pok

Thian Pang !”

149

“Kini sudah kuterangkan dimana beradanya Ong Jiak Ttong,” kata In Tiong Giok “tapi jangan

bergegas hendak membunuhnya, karena kekuatan Pok Thian Pang besar sekali, salah-salah

bukan saja sakit hati ini tidak terbalas, juga bisa membuat ayahmu mendapat celaka.”

“Bagaimanapun aku tak takut !” kata Ciu Kouw, “jika bangsat itu dapat kutemui akan kubeset

kulitnya dan kutusuk jantungnya agar sakit hati ibuku terbalas.”

Saat inilah dari arah jendela terdengar suara berdehem sekali dan disusul perkataan : “Engkau

cukup mempunyai ambekan untuk menuntut balas, tapi perbuatanmu kini apa ? Membohongi

ayah dan melindungi pemuda ini, apa yang harus kukatakan atas kelakuanmu ini ?”

“Siapa ?” bentak Ciu Kouw.

“Hm, anak yang baik, sudah punya pacar sampai A-ie sendiri dikenal !” Seiring dengan

habisnya suara dari luar masuk Hoo Su Kouw sambil tersenyum mengejek.

Ciu Kouw segera keluar, In Tiong Giok menyimpan surat itu lalu menyusul keluar.

Hoo Su Kouw bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum. “Tadi siang kulihat perabotan

berantakan, katanya engkau habis makan dan belum sempat memberesi, tak tahunya habis

menjamu kekasih ? In Kongcu sudah lama tidak ketemu, baik-baik sajakah ? Tak sangka kita

bisa bertemu disini bukan ?”

“Hoo Su Kouw antara kita berdua tidak ada permusuhan apa-apa, kenapa engkau selalu

memusuhi diriku terus ? Apa yang engkau kehendaki, yakni buku Keng thian cit su sudah kau

miliki, kenapa masih mendesak terus kepadaku ?”

“Ah yang benar saja, sejak kapan aku memusuhi terus padamu ?” kata Hoo Su Kouw. “Benar

aku telah mendapatkan buku Keng thian cit su tapi bukan sendiri, biar begitu aku

mengucapkan banyak terima kasih juga padamu.”

“Engkau merasa berterima kasih padaku, kenapa mendesakku pula, apa maksudmu ?”

“Sejujurnya buku itu terlalu dalam dan rumit, kumohon bantuanmu untuk memberi petunjuk

!” kata Hoo Su Kouw. “sedangkan pembicaraanmu barusan sudah kudengar semua, jika

engkau mau membantuku, tidak akan kuutar-utarkan keluar soalmu itu, bagaimana ?”

Ciu Kouw memandang keluar rumah dan mengetahui yang kembali kerumah hanya Hoo Su

Kouw sendiri, maka itu melihat keadaan ini membuatnya merasa lega, tiba-tiba saja ia

menyerang Hoo Su Kouw dengan mendadak sambil berseru keras : “In Kongcu, lekas pergi !”

Gerakannya ini sudah jelas, asal In Tiong Giok bisa pergi, tak segan-segan membunuh Hoo

Su Kouw.

Hoo Su Kouw sudah biasa berlaku licik, dengan sendirinya, siang-siang telah menaruh curiga,

begitu Ciu Kouw bergerak, ia mencelat mundur. Wajahnya tampak menjadi masam. “Ciu

Kouw tindakanmu ini salah besar ! Aku tidak memecahkan soal In Kongcu bersembunyi

dikamarmu pada mereka, tapi kenapa engkau menurunkan tangan jahat padaku ? Apakah

engkau menghendaki aku berteriak memanggil ayahmu ?”

150

“Sampai sekarang kau masih mengajak ayahku untuk melakukan kejahatan, untuk ini tidak

akan kuberi ampun!” kata Ciu Kouw yang terus menyerang dengan gencar, serangan putrid

Kui ciu kim to cukup hebat, Hoo Su Kouw dibuatnya mengelak kesana kemari tanpa berdaya

melakukan balasan, saking terdesak Hoo Su Kouw mencelat kebelakang dan terus

mengancam. “Jangan kira aku takut, jangan katakana aku kejam,” katanya dan terus bersiul

keras. Berbareng dengan itu ia menghunus pedang melakukan serangan.

Ciu Kouw tidak gentar menghadapi senjata, dengan gagah ia melawan, disamping itu ia

menyuruh Tiong Giok lekas berlalu.

“Hm, jangan harap engkau bisa meloloskan diri !” Tak lama lagi mereka datang ! Ciu Kouw

apa yang hendak engkau katakana pada ayahmu ?” kata Hoo Su Kouw.

Ciu Kouw membelaku mati-matian, mana boleh aku berlalu begitu saja, Tiong Giok,

perlahan-lahan ia menghampiri medan perkelahian.

“In Kongcu lekas pergi !” desak Ciu Kouw.

“Aku bisa pergi, tapi akan kubantu dulu memberesi manusia rendah ini !”

“Jangan hiraukan diriku, lekas pergi !”

Hoo Su Kouw mendengar ancaman Tiong Giok menjadi kaget, cepat ia menarik serangan dan

terus mabur.

“Celaka !” seru Ciu Kouw sambil memburu.

Tak sangka dalam waktu yang singkat Tiong Giok dapat melakukan satu serangan maut,

peluang itu diisi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh. Hoo Su Kouw jatuh ambruk,

pinggangnya telah tertembus hangus dengan jiwa melayang. Ciu Kouw menjadi bengong

menyaksikan kejadian ini. In Tiong Giok sendiri menjadi melongo tak karuan, karena ia

sendiri tidak menduga bahwa ilmu Hiat cie lengnya telah maju sampai ketarap itu !

Saat ini suara berkeresek dari kebun jeruk terdengar tegas.

Ciu Kouw menjadi kaget dan cepat-cepat mendesak pemuda kita pergi dari situ.

In Tiong Giok mengangguk dan terus masuk kedalam kebun jeruk.

Tak selang lama Cie Peng Lam dan kawan-kawannya telah sampai didepan gubuk, mereka

jadi kaget melihat peristiwa didepan rumah itu. Hoo Su Kouw dengan rambut acak-acakan

menggeletak mati, dari pinggangnya terlihat darah mengalir. Disampingnya terlihat Ciu Kouw

menggeletak. Cie Peng Lam dengan wajah pucat memeluk puterinya sambil berseru “Ciu

Kouw ! Ciu Kouw ! Siapa yang melukaimu ?”

Setelah agak lama Ciu Kouw baru membuka mulutnya, sebelum suaranya keluar, ia

menyemburkan darah. “Dia…dia…dia…”

Cie Peng Lam matanya berapi-api, “siapa dia ?” desaknya tak sabaran.

151

Ciu Kouw berlagak megap-megapan dan terus merapatkan matanya tak menjawab. Cie Peng

Lam menjadi gusar : “Tak disangka dalam sekejap bisa terjadi kejadian ini !”

“Cie Toako sabarlah, anakmu menderita luka berat juga, sebaiknya diobati lebih dulu dan

perlahan-lahan boleh menanyanya,” kata Lo Thian Wie.

“Tak perlu ditanya lagi sudah tentu perbuatan budak she In itu,” kata Lo Thian Beng dari Lo

sie ngo houw yang kedua.

“Perkataanmu itu memang benar, karena Hoo Su Kouw terbunuh oleh Hiat cie leng,” kata

Ouw Kun San.

Belakangan ini antara Hoo Su Kouw dan Lo Thian Beng sedang hangat-hangatnya main cinta,

melihat kekasih terbunuh begitu macam, hatinya merasa disayat-sayat dan ingin menuntut

balas saat itu juga. “Sudah tentu bocah itu belum jauh dari sini mari kita kejar !”

Saudara-saudara yang lain membenarkan pendapat saudaranya yang kedua itu, dan siap mau

mengejar, saat inilah Ciu Kouw membuka mulut. “Dia…dia…seorang pelajar, masuk

kerumah !”

“Apakah binatang itu masih bersembunyi di dalam ?” kata Lo Thian Wie.

Perkataan ini membuat yang lain melengak, Lo Thian Beng tanpa berkata lagi menerjang

kedalam rumah.

“Lo jie hati-hati, bocah itu cukup lihay !” Ouw Kun San memperingati.

Lo sie ngo houw yang lain cepat melindungi saudaranya yang kedua, melakukan

pengepungan pada rumah itu. Tapi apa yang didapat pada gubuk kecil itu, sepotong bayangan

manusiapun tidak diketemuinya.

“Ia masuk kerumah dan terus kedapur mencuri makanan ! Waktu kupergoki nyatanya adalah

orang yang sedang dicari-cari !” kata Ciu Kouw.

“Kenapa tidak sejak tadi engkau terangkan,” kata Cie Peng Lam, “sudah tahu pemuda itu

orang yang hendak kita tangkap, kenapa tidak kau tahan !”

“Ia tidak mau, terpaksa kugunakan kekerasan dan terjadi pergumulan denganku, waktu aku

terdesak Hoo A ie datang dan rupanya antara mereka telah mengenal satu sama lain .”

“Memang mereka sudah kenal, lalu bagaimana !” desak Cie Peng Lam.

“Hoo A ie menyuruhku jangan bersuara, dan terus berbicara dengan pemuda itu. Meminta

agar kesulitan-kesulitan pada buku Keng thian cit su dapat dijelaskan, untuk ini ia berjanji

membawa sipemuda meninggalkan tempat yang berbahaya, jika permintaan tidak diluluskan

Hoo A ie mengancam akan memanggil tia dan lain-lainnya mengangkap pemuda itu,” Belum

pula Ciu Kouw melanjutkan perkataannya Ouw Kun San telah bergelak-gelak. “Ha ha ha tak

kira ia mempunyai hati seorang dan menjual kita sekalian untuk kepentingannya sendiri !”

152

“Tapi kenapa mereka sampai berkelahi dan Hoo Su Kouw mati ditangannya ,” kata Lo Thian

Beng membela kekasihnya.

“Pemuda itu tidak melulusi permintaan Hoo A ie dan baru terjadi perkelahian ini !” kata Ciu

Lo Thian Beng wajahnya menjadi merah matang, dan terus bungkam tak bersuara lagi.

“Sudah jelas bahwa Hoo Su Kouw mengalami kegagalan dalam usahanya, baru berkelahi,

setelah terdesak meminta bantuan pada kita. Untuk mengakhiri perkelahian, pemuda itu baru

menggunakan Hiat cie leng,” kata Ouw Kun San.

“Ya, memang begitu,” kata Ciu Kouw, “aku segera membantu Hoo A ie, tapi kena pukulan

pemuda itu dampai mulutku berdarah.”

“Sudahlah tak perlu dibicarakan lagi, semua ini gara-gaar Hoo Su Kouw sendiri yang terlalu

tamak, dan ia mati atas perbuatannya sendiri, tak perlu kita sesalkan. Tentu bocah itu belum

pergi jauh mari kita kejar !” kata Cie Peng Lam,”kearah mana pemuda itu pergi ?”

“Sebenarnya ia pergi kesebelah sana, rupanya mendengar suara datangnya ayah dan lain-lain

ia buru-buru mengganti arah, terus lari kearah timur !”

“Sudah lamakah ?”

“Belum !”

Sing Thian Beng sejak tadi berdiam diri, kini membuka suara. “Menurut hematku, bocah itu

tentu masih berada didlam kebun jeruk !”

“Kulihat ia sudah pergi !” kata Ciu Kouw.

“Ya memang engkau melihat ia pergi kekebun jeruk, tapi tidak melihatnya ia keluar dari situ

bukan ?”

“Setelah kekebun jeruk sudah tentu ia kabur terus bukan ?” kata Ciu Kouw.

“Tapi waktu kita kesini, sepanjang jalan tidak melihat seorang keluar dari kebun jeruk itu.”

Kata Siang Thian Beng, dan sejak tadi aku tidak campur bicara, karena mendengar terus

keadaan dikebun jeruk, sedikitpun tidak ada suara atau gerakan lain, ini menandakan ia

sedang bersembunyi !”

“Pendapat Siang heng memang benar, mari kita periksa !” kata Cie Peng Lam.

“Kebun ini begitu besar, jika dilakukan pemeriksaan secara biasa akan memakan waktu

lama.” Kata Sing Thian Beng dengan berbisik, “jika ia masih bersembunyi cukup dengan

berteriak-teriak membuatnya keluar !”

Mereka segera berseru seperti sibuk memeriksa kebun jeruk itu sambil berteriak-teriak. Benar

saja tak selang lama dari dalam kebun itu terddengar bunyi berkeresek.

153

“Ha ha ha seperti dugaanku semula, mari kita kejar,” kata Sing Thian Beng.

Dengan cepat beberapa orang itu memburu kearah suara, tinggal Ciu Kouw menjadi kuatir

atas keselamatan pemuda itu. Ia tahu jika sampai ketangkap hanya kematian yang akan

dihadapi Tiong Giok. Benar diluar perkiraannya waktu ia sedang cemas-cemasnya dari kebun

jeruk berkelebat sesosok bayangan, yang bukan lain dari pada In Tiong Giok adanya.

“Oh kiranya sura berkeresek itu bukan engkau adanya,” kata Ciu Kouw dengan girang.

“Aku tak sempat melarikan diri dikebun itu,” kata In Tiong Giok, “hatiku tergerak mendengar

perkataan Sing Thian Beng, dan kutangkap seekor tikus, lalu kupatahkan kakinya dan

mengikatnya di ranting kayu hingga menimbulkan suara berkeresek. Mereka memburu kearah

suara dan aku kesini.”

“Akalmu itu hanya bisa menipu mereka sementara saja, begitu mereka tahu pasti akan

mencarimu lagi !”

“Kini hampir gelap, sebelum mereka mengetahui aku bisa meloloskan diri.”

“Kenapa engkau tidak segera pergi sekarang juga ?”

“Aku bisa lantas berlalu, tapi bagaimana dengan Ku ju kee (ilmu menyiksa diri) yang engkau

pakai itu, apakah membuatmu menderita parah ?”

“Jangan banyak bicara, aku tak apa-apa, lekaslah pergi, keselamatanmu lebih penting !” desak

Ciu Kouw.

“Atas budi pertolonganmu kuhaturkan terima kasih sedalam-dalamnya,” kata In Tiong Giok

yang terus meninggalkan Ciu Kouw seorang diri. Gadis itu menjadi terpekur sendir sambil

memandang kepergian sipemuda dengan mata mendelong. Saat ini lupa pada dirinya cantik

atau buruk, ia seperti mendapat sesuatu entah apa, dan seperti kehilangan juga sesuatu. Air

mata ? Adalah suara hati ! Tak bisa ia melukiskan perasaan hatinya ! Ia hanya ingin menangis

dan menggunakan air matanya mencuci segala kepenatan hatinya.

Cuaca perlahan-lahan menjadi gelap. In Tiong Giok berlari dengan deras, dalam waktu

singkat dua puluh lie telah dilaluinya. Waktu ia menoleh sudah tak melihat lagi kebun jeruk

itu, hatinya menjadi lega dan kakinyapun menjadi kendur. Ia memandang sekeliling,

mendapatkan dirinya disuatu tegalan luas, didepannya terlihat bayangan rumah yang samarsamar.

Perlahan-lahan dan tiba-tiba ia menuju kesana, setelah dekat baru melihat tegas, bahwa

bangunan itu adalah sebuah kelenteng tua. Dengan perasaan letih, ia masuk kedalam, dan

mencari tempat yang agak bersih untuk beristirahat. Akibat kelelahan tanpa terasa ia terlena

dengan nyenyaknya, entah berapa saat sudah berlalu tidak diketahuinya. Tiba-tiba saja

terdengar suara “plak”, dan seperti ada sesuatu terjatuh didekat kepalanya. Ia masih

mengantuk benar, dirabanya benda itu, kiranya adalah seekor tikus, otaknya tidak bisa

berpikir kenapa seekor tikus jatuh didekat kepalanya ? Sebab rasa kantuknya tak alang

kepalang. Ia hanya melemparkan bangkai tikus itu dan terus meram lagi…, Tak selang lama,

lagi-lagi terdengar bunyi “plak”, sesuatu jatuh dilehernya. In Tiong Giok mencomot benda itu,

waktu diawasi, nyatanya adalah bangkai tikus tadi. Ia menjadi kaget tak alang

kepalang….karena bangkai tikus itu terikat pada ranting kayu kakinya sudah patah. Ia sadar

bahwa musuhnya telah berada disitu. Ia menyesal usahanya mati-matian untuk meloloskan

154

diri tidak membawa hasil yang memuaskan. Keadaan di dalam kelenteng tua masih gelap, ia

tidak bisa melihat tegas keadaan sekelilingnya, tapi suara dingin dari Ouw Kun San dapat

“Bocah jangan pura-pura mati ular, permainan apa lagi yang engkau bisa, tak halangan

dikeluarkan semuanya.”

In Tiong Giok mengulet sambil mengucek-ucek mata. Remang-remang terlihat beberapa

bayangan, mengurung dirinya dari tiga penjuru.

“Selamat pagi !” kata In Tiong Giok pura-pura menenagkan diri.

“Jangan pura-pura berlaku tenang, biar brsayap engkau tak bisa lolos lagi dari tanganku !”

kata Ouw Kun San.

“Aku merasa tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa dikejar-kejar terus ?” tanya In Tiong

“Engkau membunuh Hoo Su Kouw dan melukai Cie Kouw Nio, semua ini merupakan

permusuhan bukan ?” kata Lo Thian Wie.

“Untuk membela diri terpaksa aku melawan, mana boleh menyalahkan diriku !”

“Tutup bacotmu,” bentak Lo Thian Beng, hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa. Pedangnya

segera bergerak, untuk melakukan serangan.

“Lo jie sabar, kita harus menyampingkan soal pribadi dan harus membereskan dulu

kepentingan umum,” kata Cie Peng Lam. Dan terus matanya beralih pada Tiong Giok. “Tak

kusangka muda-muda semacammu bernyali begini besar, aku paling menyayang kesatria yang

gagah, dan segan melakukan pengeroyokan padamu, jika engkau tahu diri lebih baik

menyerah untuk dibelenggu !”

“Menyerah, ya menyerah,” kata In Tiong Giok, “kemana kalian akan membawaku aku turut

saja !”

“Sebelum itu kuminta engkau menotok sendiri jalan darahmu, lalu ikut denganku kerumah

gubuk !” kata Cie Peng Lam.

“Kalian begini banyak orang, dan mungkinkah kuatir aku melarikan diri ?”

“Ya benar juga,” kata Cie Peng Lam.

“Cie heng jangan terlalu berbesar hati, biarpun kecil ia murid Han Bun Siang dan pandai pula

Keng thian cit su, biar bagaimana jalan darahnya harus ditotok !” kata Ouw Kun San.

“Hmm, orang kenamaan yang bergelar sebagai ular dan kura-kura, nyatanya bernyali seperti

tikus,” kata In Tiong Giok sambil memainkan bangkai tikus ditangannya.

“Engkau jangan memanaskan aku, biar bagaimana aku tak bisa kena akal licikmu !” kata Ouw

Kun San.

155

“Kalau kalian merasa kuatir dan takut, apa halangan sekarang juga turun tangan menotokku !”

kata In Tiong Giok, “tapi jangan menyesal kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti

Hoo Su Kouw ! Karena segala yang akan kulakukan berdasarkan terdesak dan membela diri.”

“Ouw heng tak usah kuatir pada bocah yang masih bau tetek ini,” kata Cie Peng Lam.

“Jangan berkata begitu, apa yang ada padaku seperti Keng thian cit su dan Hiat cie leng

adalah ilmu yang tidak boleh dipandang ringan, maka itu sebelumnya kalian harus berpikir

masak-masak.”

“Anak muda jangan terlalu tekebur, kami tak perlu berpikir lama-lama,” kata Cie Peng Lam,

permintaanmu supaya tidak ditotok, kululuskan sekarang juga. Jika engkau niat kabur ya

kabur, tapi ingat jika tertangkap lagi, kakimu itu akan kupatahkan !”

“Ini adalah perkataanmu sendiri dan jangan menyesal dibelakang hari !”

“Jangan banyak bicara, hayo jalan !” bentak Cie Peng Lam.

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mencelat bangun ! Jangan dilihat pihak Cie

Peng Lam yang begitu banyak mereka semuanya merasa takut pada Keng thian cit su dan Hiat

cie leng, begitu melihat pemuda kita bangun mereka mundur beberapa langkag sambil bersiap

siaga dengan senjatanya, tak ubahnya seperti menghadapi lawan yang tangguh saja.

In Tiong Giok perlahan-lahan keluar dari kelenteng, tangannya masih tetap memainkan

bangkai tikus itu. Saat ini cuaca hampir terang tanah, mereka meninggalkan kelentang itu

sambil mengiring Tiong Giok. Tak lama, Tiong Giok merandek dengan tiba-tiba. “Aku

harapkan salah seorang dari kalian berjalan dimuka karena aku tak mengenal jalan !”

“Pokoknya kau jalan terus, waktu berbelok kekiri kekanan aku bisa memberi tahu !” kata Cie

Peng Lam.

“Kalian hanyalah menjaga diriku dari kiri kanan dan belakang, bagaimana jika aku lari kearah

depan ?” tanya Tiong Giok.

“Itu terserah kepadamu !” kata Cie Peng Lam dengan dingin.

Tiong Giok tak berhasil memecahkan perhatian musuhnya, terpaksa melangkah lagi maju

kedepan. Sambil jalan ia menoleh pada Ouw Kun San yang menjaga sebelah kiri: “Sebaiknya

engkau jangan terlalu dekatku, bagaimana kalau kuserang dengan Hiat cie leng dalam jarak

dekat ini, akibatnnya engkau tahu sendiri !”

“Hmm,” Ouw Kun San mendengus tanpa lagi menghiraukan gertakan lawan.

“Engkau jangan mendengus tak karuan, apa yang kukatakan benar semua !”

“Tutup bacotmu ! Aku tidak sempat mengadu lidah denganmu !” bentak Ouw Kun San.

“Baik ! Tak bicara ya tidak, sayang kebaikanku tak kau terima !” kata In Tiong Giok.

156

“Jika engkau mengoceh terus, lidahmu akan kupotong !” kata Ouw Kun San dengan gusar.

“Ouw heng jangan ladeni ocehannya bocah itu, ia sedang memancing kita memencarkan

perhatian, untuk meloloskan diri !” Cie Peng Lam memperingati. Ouw Kun San segera sadar

dan terus membungkam tak mau melayani lagi Tiong Giok. Membuat pemuda kita cemas

sendiri, tapi ia mencoba lagi mengajak bicara pada orang she Ouw itu. “Eh, ngomong kulupa

menanyakan bagaimana persoalan ji wie dengan Oey Tin Hong itu ?”

Ouw Kun San hampir-hampir menamparnya mendengar perkataan Tiong Giok itu, tetapi

keburu dicegah oleh Sing Thian Beng. “jangan ladeni, biar dia ngoceh terus, masa tak diam !”

“Ah tak lama lagi akan sampai dikebun jeruk itu,” piker Tiong Giok, “mungkinkah aku akan

menyerah begini saja dan terserah mereka ? Tidak ! Bagaimanapun aku harus melarikan diri

dan melawan mereka dengan nekad, jika gagal ya mati, dengan begini matipun tidak

percuma!”

Tidak lama samar-samar kebun jeruk telah terlihat jauh didepan. Tiong Giokpun sudah siap

melakukan kenekatan. Bertepatan dengan jalan pikiran inilah, dari balik kebun jeruk terlihat

selorotan seorang. Setelah tegas terlihat tegas orang itu terdiri dari enam belas gadis

mengiringi sebuah joli yang tertutup rapat.

Enam belas gadis itu empat jalan di muka semuanya mengenakan berpakaian merah. Empat

berada dibelakang, semuanya berpakaian biru, dikiri kanan joli terdapat empat gadis

berpakaian kuning, yang empat lagi mengenakan pakaian hijau dan menggotong joli. Dari

jauh terlihat warna warni ini sangat menarik hati. Sungguhpun semuanya gadis-gadis remaja

langkah kakinya amat cepat dan ringan, menandakan memiliki ilmu yang tinggi.

Empat gadis yang mengenakan pakaian hijau ini mirip dengan gadis yang mandi disungai

tempo hari. Tiong Giok mempercepat langkahnya mendekati joli itu.

“Jangan bergerak, engkau mau apa ?” bentak Cie Peng Lam sambil menghadang.

“Hm, bukankah engkau ingin mengajakku kembali kegubuk itu ? Aku sudah lapar sekali dan

ingin lekas sampai…”

“Hm tidak perlu tergesa-gesa, engkau harus dengar kata, jangan sampai aku hajar disini juga,”

kata Cie Peng Lam sambil melirik rombongan joli itu.

“Adakah yang tak beres ?” tanya Lo Thian Wie.

“Kulihat rombongan joli ini amat mencurigakan,” kata Cie Peng Lam, sambil melirik

rombongan, “sebaiknya nantikanlah mereka pergi baru kita lanjutkan perjalanan !”

Yang lainpun merasakan bahwa rombongan gadis-gadis itu sangat luar biasa sekali, segera

menganggukkan kepala menyetujui usulan Cie Peng Lam. Cepat-cepat mereka menepi dan

siap sedia mengawasi pada In Tiong Giok.

“Aha kenapa ketakutan tak keruan ?” tegur In Tiong Giok, “joli itu joli pengantin, apa yang

harus ditakuti ?”

157

“Diam ! Kularang engkau bicara !” bentak Cie Peng Lam.

In Tiong Giok tersenyum-senyum, dan terus menutup mulut dengan tenang. Sementara itu

rombongan joli sudah mendekat pada mereka, waktu inilah Tiong Giok sengaja berbangkis

keras-keras, lalu menekap mulutnya dengan tangan. Diluar tahu siapa-siapa lengannya itu

sebelum menutup mulut telah melemparkan bangkai tikus kearah rombongan gadis-gadis

penggotong joli. Lemparannya itu tepat mengenakan seorang gadis berbaju hijau dan jatuh

kebawah lalu terpijak yang dibelakangnya. “Auw !” seru gadis itu dengan kaget.

Empat gadis berbaju merah didepan cepat berhenti sambil memutarkan badan, yang berbaju

biru disebelah belakangpun sudah maju ke depan, mengelilingi joli. Serentak mereka

menghunus pedangnya dan memandang kearah rombongan Cie Peng Lam.

“Kenapa kau menjerit ?” tegur salah seorang gadis berbaju kuning pada kawannya yang

berteriak tadi.

Gadis yang menggotong joli itu menunjuk kebawah: “Ada yang melemparkan tikus mati

kepadaku !”

Gadis berbaju kuning itu memunggut bangkai tikus itu, wajahnya tampak gusar sekali.

“Perbuatan siapa ini ?” tegurnya kepada Cie Peng Lam dan kawan-kawan.

“Aku yang melemparkan !” In Tiong Giok mengakui dengan jujur.

“Nampaknya engkau sebagai pemuda sopan, tak kira begitu ceriwis dan genit, kau kira kami

ini mudah dihina ?”

“Nona jangan marah, aku tidak bermaksud begitu,” In Tiong Giok sambil tersenyum, “hanya

saja tikus yang sedang kucekal tiba-tiba saja melompat pergi !”

“Hm, terang-terang tikus mati mana bisa melompat !”

“Nona tidak tahu kejadian aneh selalu ada, lebih-lebih tahun ini banyak sekali…tidakkah

engkau mendengar ada kursi bisa berjalan, dan pohon-pohon bisa bernyanyi…”

“Jangan banyak bicara, tangkap padanya !” teriak perempuan berbaju kuning itu. Dengan

cepat dua gadis berbaju merah menghampiri Tiong Giok.

“Sabar dulu !” kata Ouw Kun San sambil kedepan. “Orang ini tak bisa kuserahkan padamu !”

“Apa katamu ?” dua gadis berbaju merah itu menegasi.

“Maksudnya jika nona ingin menangkapku, harus minta ijin dari mereka !” kata In Tiong

“Engkau kira dengan kawan-kawanmu bisa melindungi dirimu ?” kata gadis itu.

“Jika engkau lebih lihay ya bisa, kalau lebih lemah tentu tidak !” kata In Tiong Giok.

158

“Hm, lihat saja buktinya!” kata gadis itu sambil memberi tanda pada temannya. Dan sua yang

berbaju merah lagi segera membantu mereka menerjang kearah In Tiong Giok.

Lo sie ngo houw segera menghunus senjata dan menghadang dengan cepat, sehingga terjadi

perkelahian dengan cepat detik itu juga. Gadis berpakaian birupun segera turun tangan

membantu kawannya. Kui coa jie sau menmyambut kedatangan mereka, dan terjadilah

perkelahian lagi. Sehingga menjadi dua rombongan bergumul dengan hebat, dan membuat

abu mengepul tinggi.

Cie Peng Lam menghunus goloknya sambil memandang pada In Tiong Giok, ia mendapat

pemuda itu sedang berpangku tangan dan tersenyum kepadanya. Ia merasakan senyuman

pemuda itu seperti mengejek seperti juga mengasihani dirinya, begitu aneh dan misterius.

“Bocah jangan bergirang dulu, bagaimanapun engkau jangan harap meloloskan diri !”

“Tenanglah, bagaimanapun aku tak mau melarikan diri sebelum keadaan benar-benar

mengijinkan !” kata In Tiong Giok. “Menurut hematku sebaiknya lekaslah Bantu kawankawanmu

itu, tampaknya mereka sudah kepayahan benar, jika dibiarkan terus pasti akan

menderita rugi!”

“Ha segala budak-budak itu mana mungkin memperoleh kemenangan menghadapi kawankawanku

itu !”

“Ingat masih ada delapan gadis yang belum turun tangan, dan yang didalam joli itu tentu

bukan sembarang orang !”

Peringatan ini membuat Cie Peng Lam kaget, karena gadis-gadis itu berkepandaian sangat

tinggi, lebih-lebih orang yang didalam joli itu, tentu lebih hebat lagi. Ia menoleh pada In

Tiong Giok sambil tersenyum sinis. “Kutahu maksudmu menyuruh membantu kawan dan

engkau bisa melarikan diri bukan ?”

“Lucu ! Sembarang waktu aku bisa pergi!” kat In Tiong Giok. “tapi aku tak mau karena ingin

melihat akhir dari perkelahian ini siapa yang menang siapa yang kalah !”

“Hm, kau kira aku bodoh !” kata Cie Peng Lam yang dengan mendadak, menjulurkan tangan

setannya pada pemuda kita. Gerakannya itu begitu cepat dan mendadak ia bermaksud setelah

menciduk pemuda kita segera membawanya kabur kerumah. Tak kira serangannya yang lihay

itu mengenai angin saja, karena dengan lihaynya Tiong Giok telah mengengos dengan Kiu

coan bie cong pounya yang lihay. Peng Lam kaget dan cepat menarik serangan sambil

melindungi dadanya, begitu ia menegasi lagi tampak Tiong Giok sudah berada dibelakangnya

sambil berpangku tangan, dan tersenyum-senyum kearahnya seperti tidak terjadi sesuatu apa.

Cie Peng Lam berdilak-dilak, dan menarik napas lega…..

“Cie Lo Cianpwee sudah lama engkau mengundurkan diri dari dunia hitam, untuk apa terjun

kembali ?”

“Jangan mengira ilmu yang kau miliki sudah tinggi dan mau menasehatkan aku !” kata Cie

Peng Lam. “Nah sambutlah seranganku ini !” Lengan kirinya terjulur, kakinya melangkah

lebar menyapu kuda-kuda lawannya.

159

In Tiong Giok tidak menyangka bahwa lawannya mempunyai perhitungan matang, ia terdesak

dan tak bisa mengembangkan ilmu memindahkan dirinya yang lihay. Tapi ia tidak takut

serangan musuhnya itu dihadapi dengan Hiat cie leng.

Cie Peng Lam menjadi kaget, ia menarik serangan sambil menghindarkan diri dari bahaya

maut. Apa mau dikata, biarpun Hiat cie leng dilancarkan lebih belakang dari tangan setannya,

tapi sampainya terlebih cepat. “Tring!” terdengar suara memecah angkasa. Serangan Tiong

Giok tepat mengenai gagang goloknya Cie Peng Lam yang terbuat dari emas. Waktu ia

melihat lalu pemiliknya mengawasi, gagang goloknya telah berlubang kecil sebesar kacang

“Mengingat bahwa engkau telah insyaf banyak tahun, maka tak kuturunkan tangan jahat, atas

ini engkau harus mengerti sendiri dan lekaslah meninggalkan tempat ini !”

“Bocah engkau telah melukai anakku dan merusak senjataku, mana mungkin beres begini saja

!”

“Yang luka harus diobati, yang rusak bisa diperbaiki,” kata In Tiong Giok, “tapi jika salah

bergaul akibatnya hebat, rumah tangga berantakan dan selamanya tidak bisa diperbaiki.

Apakah selama dua puluh tahun dicelakai kawan-kawan jahat belum membuatmu puas ?”

“Bagaimana engkau bisa tahu soal keadaan rumah tanggaku ?” bentak Cie Peng Lam dengan

mata menyala-nyala.

“Bukan saja kutahu soal keluargamu, bahkan mengetahui pula dimana beradanya Ong Jiak

Tong ! katas In Tiong Giok. “Sayang saja orang she Ong itu mempunyai beking yang kuat

dan sukar buatmu membalas dendam ! Sebab itulah aku tak mau menunjukkan dimana ia

berada, nah pikirlah masak-masak usulku tadi, soal sakit hati lambat laun pasti terbalas !”

“Aku sudah bersabar selama dua puluh tahun !”

“Selama ini engkau bisa bersabar, mungkin tidak bisa bersabar dalam waktu yang lebih

singkat lagi ? Aku hanya mengharapkan kesabaranmu, dengan begitu sakit hatimu baru bisa

terbalas !” kata In Tiong Giok sambil tersenyum. “Selama belum bertemu dengan musuh itu

pelajarilah Keng thian cit su dengan baik, mungkin berguna besar untuk melakukan

pembalasan pada musuh itu”. Selesai bicara ia mengeluarkan sejilid buku Keng thian cit su

dan menyerahkan pada Cie Peng Lam.

Dengan perasaan terima kasih yang tak terhingga, Cie Peng Lam tertegun sejenak, lalu

mengangkat kaki meninggalkan tempat itu.

In Tiong Giok memandang kepergian Cie Peng Lam sambil tersenyum, lalu merapikan baju

dan melangkah pergi dengan bebas. Tapi belum pula beberapa langkah seorang gadis berbaju

kuning telah mengejarnya sambil berseru : “Kongcu jangan pergi dulu !”

“Aku dalam keadaan terpaksa melemparkan bangkai tikus itu, karena berada dalam

kungkungan penjahat-penjahat ini,” kata In Tiong Giok. “Kini akalku berhasil membuatku

lolos dan Kouwnio mengejarku mau apa ?”

160

“Soalmu melemparkan tikus kami maafkan,” kata gadis itu, “tapi Siociaku meminta engkau

menunggu sejenak, ia ingin bicara denganmu.”

In Tiong Giok mengerutkan kening, dan berkata : “Aku tak kenal dengan Siociamu, tambahan

ketujuh orang itu adalah musuh-musuhku, jika diketahui mereka, aku bisa celaka !”

“Kongcu kenapa merendah amat dengan kepandaianmu barusan, tujuh orang itu tak bisa

berbuat apa kepadamu !”

“Pokoknya biar bagaimana sepasang tangan sukar melawan belasan tangan,” kata In Tiong

Giok. “aku dapat meloloskan diri berkat bantuan nona-nona, jika tidak sampai sekarang

mungkin masih menjadi tawanan mereka !”

“Apa lagi kalau begitu sepatutnya Kongcu menghaturkan terima kasih kepada siocia kami !”

Gadis berbaju kuning mengajak Tiong Giok kedepan joli, benar saja Kui coa jie sau dan Lo

sie ngo houw melihatnya. Mereka celingukan tidak melihat Cie Peng Lam, dan menganggap

kawannya itu kena bunuh Tiong Giok saat itu juga mereka menjadi kalap. Tanpa berunding

dulu, masing-masing meninggalkan lawannya, meluruk menerjang Tiong Giok.

Gadis-gadis berbaju kuning mencabut senjata, tapi sebelum mereka turun tangan terdengar

suara yang merdu. “Tutan, suruh sekalian kawan-kawanmu mundur, ingin kulihat manusia

macam apa yang berlaku kurang ajar !”

“Hanya beberapa cecunguk kecil, kami masih sanggup mengatasinya. Siocia tidak perlu turun

tangan !”

“Perintahkan mereka mundur !” jawab Siocia itu dengan penuh wibawa.

Tutan segera memerintahkan kawan-kawannya mundur, sedangkan Kui coa jie sau dan Lo sie

ngo houw sudah sampai didepan joli. Mereka menjadi melengak, sebab kerai joli sudah

terbuka. Mereka melihat seorang perempuan berbaju hitam, begitu cantik dan agung. Dengan

matanya yang tajam ia melirik kepada sekalian penjahat itu, lalu mengawasi pada Tiong Giok.

“Engkau kemari !” katanya perlahan tapi penuh wibawa.

Tanpa terasa lagi Tiong Giok maju kedepan sambil membungkukkan badan. “Aku In Tiong

Giok menghaturkan hormat pada Siocia !”

“Oh, kiranya engkau adalah yang mencetak buku Keng thian cit su ?”

“Benar !”

“Pantasan mereka tak mau melepaskan dirimu,” kata perempuan cantik berbaju hitam itu.

“Tapi dengan adanya aku disampingmu, biar bagaimana mereka tidak berani berbuat kurang

ajar !”

“Terima kasih atas bantuan Siocia !”

“Kemari, coba kulihat !”

161

In Tiong Giok mengerti apa yang hendak dilihatnya, tapi ia menurut perkataan perempuan itu,

maju mendekati. Perempuan itu menjulurkan tangan memegang lengan Tiong Giok dan

berkata dengan mesra. “Kulihat engkau pandai Hiat cie leng, Han Bun Siong itu apamu ?”

“Guruku !”

“Oh, kiranya murid kawanku !” kata perempuan itu sambil tersenyum.

In Tiong Giok terkejut, dan perempuan itu menariknya perlahan kedalam joli. Mengajak

Tiong Giok duduk disebelahnya. Kerai joli diturunkan. “Tutan buka jalan, siapa yang

merintangi bunuh saja !” perintahnya dengan halus.

Joli mulai terangkat lagi dan maju kedepan.

Kui coa jie sau maupun Lo sie ngo houw merasa tersinggung melihat sikap perempuan

berbaju hitam itu. “Mau kemana ?” teriak Ouw Kun San dan terus menghadang, diikuti

kawan-kawannya.

Empat perempuan berbaju kuning itu segera menghadapi mereka, agaknya yang berbaju

kuning ini lebih lihay dari pada yang berbaju merah atau biru. Biar berempat mereka bisa

menghadapi tujuh musuh. Tapi untuk memperoleh kemenangan sukar diramal, karena

musuhnyapun bukan orang-orang sembarangan. Hal ini menjengkelkan betul pada siocia

mereka. Dengan perlahan perempuan berbaju hitam itu turun dari joli, lalu memutarkan

pedangnya menghajar pada Kui coa jie sau, sedangkan gadiss-gadis berbaju kuning

menghadapi Lo sie ngo houw. Dengan turunnya perempuan berbaju hitam itu, dalam sekejap

medan perkelahian berubah dengan mendadak. Dalam dua puluh jurus lebih Kui coa jie sau

dibuatnya tak berdaya, tambahan tenaga aslinya belum pulih betul karena terkena jarum Oey

Tin Hong. Lima jurus kemudian Ouw Kun San kena dilukai, berikutnya Sing Thian Bengpun

menderita luka. Sungguhpun gerak geriknya sangat halus dan lembut, tapi perbuatannya

perempuan berbaju hitam itu sangat telengas. Ia tidak memberi ampun pada musuhnya,

pedangnya bekerja secepat kilat. Dalam sekejap hanya terdengar jeritan susul menyusul dari

Kui coa jie sau mereka menggeletak mati bermandikan darah.

Dipihak lain gadis-gadis berbaju kuningpun sudah membereskan musuh-musuhnya. Jalan

yang sunyi dan sepi, penuh dengan tubuh-tubuh bermandikan darah. Tiong Giok bergidik

sendiri menyaksikan kejadian ini.

Joli berangkat meneruskan perjalanan.

Waktu senja rombongan gadis-gadis itu telah sampai disebuah lereng gunung, disitu berdiri

sebuah gedung besar. Kiri kanannya penuh lebat dengan pepohonan, sangat sunyi dan tenang.

Waktu joli memasuki pekarangan rumah Tiong Giok masih belum merasa karena sedang

asyik bercakap-cakap dengan perempuan berbaju hitam itu. Dari percakapan disepanjang

jalan, ia mengetahui bahwa perempuan berbaju hitam itu adalah salah seorang Cap sah kie

yang bernama Liap In Eng.

“Kongcu boleh tinggal disini sebagai tamuku,” kata Liap In Eng. “Engkau boleh bergerak

bebas sebagai dirumahmu sendiri !”

“Terima kasih atas kebaikan Siocia !” jawab Tiong Giok.

162

“Tutan ajaklah Kongcu beristirahat,” kata Liap In Eng yang terus masuk kedalam rumah.

Tiong Giok mendapat sebuah kamar yang sunyi dan tenang, untuk keperluannya sehari-hari

selalu mendapat pelajaran dari Tutan dengan telaten.

Pada suatu hari terlihat Tiong Giok dengan ditemani Tutan berjalan disekitar rumah. Nampak

ia terpekur dan bingung, lalu berkemak kemik sendiri : “Lagi-lagi waktu senja, burungburung

gagak pulang kekandang, waktu berlalu teramat cepat, tanpa terasa sudah sepuluh hari

aku diam disini !”

“Kongcu apa merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat, apakah merasa tak puas atas

pelayanan kami yang kurang telaten ?”

“Bukan ! Aku bergegas ingin menyambangi Lim Siok Bwe,” kata In Tiong Giok. “Tapi

tertahan Siociamu disini sepuluh hari lamanya, hatiku merasa tak tenang dan ingin lekas-lekas

sampai disana !”

“Oh aku mengerti, bahwa Siocia sengaja menahanmu lama-lama disini, karena menghargai

kepandaianmu ! Dan mengharapkan Kongcu mengajari kami Keng thian cit su ! Apakah

lambat majunya, sehingga membuatmu tertahan lebih lama disini, dan sama dengan

mengabaikan urusan besarmu bukan ?”

“Tutan jangan engkau salah mengerti, hingga Siociamu telah memiliki ilmu yang lihay.

Baginya Keng thian cit su hanya tambahan saja bukan ?”

“Kepandaian Siocia berbeda dengan Keng thian cit su,” kata Tutan. “Ilmu ini merupakan ilmu

yang luar biasa didunia persilatan, menyesal aku tak berbakat, dan tak dapat mengerti serta

mengembangkan keistimewaannya.” Ia berkata kepada Tiong Giok. “Sebelum gelap maukah

engkau mengajari lagi sekali !”

“Bukankah kalian telah mempelajari setengah hari lebih ?”

“Itu belajar cara rombongan, aku minta diajari sendiri, bagaimana ?”

“Keng thian cit su adalah pelajaran yang dalam dan sukar dimengerti, lebih banyak orang

mempelajari lebih baik ! Kini apa yang kubisa sudah kuberikan semua !”

“Aku tak percaya, tentu ada bagian-bagian istimewa yang sengaja tidak diberikan kepada

kami !”

“Tidak ! Sejujurnya apa yang kubisa sudah kuberikan tanpa menyembunyikan sedikitpun.”

“Tidak percaya !”

“Percaya tidaknya terserah padamu, aku bisa berkata apa ?”

“Asal engkau mau menyadari aku seorang diri, baru percaya !”

“Jika engkau memaksa ingin mempelajari sekali seorang diri, aku menurut saja !”

163

“Benar-benar sih ?”

“Perlu apa aku membohong, ambillah dua bilah pedang dan kita pelajari diruangan dalam !”

“Aku tak mau didalam, tapi mempelajari diruangan belakang,” kata Tutan.

Dengan begini yang lain tidak tahu dan tidak bisa mengani bukan !” Ia menggapai mengajak

Tiong Giok pergi kebelakang.

In Tiong Giok mengikuti dengan langkah perlahan, mereka menyusuri pinggiran rumah,

melalui pintu samping masuk kekamar batu dihalaman belakang. Baru saja mereka tiba

didepan pintu batu, dari utara terdengar bunyi mengaung. Tiong Giok berdongak keatas,

tampak seekor burung pos berputar-putar diudara, dan terus terjun kebawah, masuk

kebelakang loteng dimana Liap In Eng tinggal.

Tutan juga melihat burung pos itu, cepat-cepat ia membuka kamar batu mempersilahkan

Tiong Giok masuk. Kongcu duduk dulu didalam, aku pergi dulu sebentar ! Terus ia berlalu

menuju ketempat burung merpati tadi turun.

In Tiong Giok menjadi heran ia berpikir : “Liap In Eng adalah seorang kenamaan yang

mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, kenapa memelihara burung merpati ? Mungkinkah

ia masih mengadakan hunungan dengan dunia luar ? Ya bisa dan tak perlu kuherankan.”

Baru ia duduk sejenak Tutan sudah kembali lagi. “Ah sungguh tak kebenaran, Siocia

menyuruhku memasang hio,” kata Tutan, “sedangkan aku tak berani mengatakan akan

berlatih pedang sendirian, maka itu niat ini terpaksa batal dan maaf mencapaikan Kongcu

datang kesini dengan cuma-cuma !”

“Ah tidak mengapa lain kali masih ada waktu bukan,” kata In Tiong Giok.

“Mari kuantarmu kembali kekamar,” kata Tutan.

“Tak usah aku bisa kembali sendiri, dan ia melangkah, tapi merandek lagi serta bertanya:

“Apa yang disembayangi Siociamu ?”

“Ia menyembayangi ibunya kebiasaan ini dilakukan sudah sepuluh tahun lebih.”

“Ah, ia seorang yang berbakti pad orang tua !” kata In Tiong Giok. “Tadi kulihat seekor

burung pos, apakah peliharaan Siociamu ?”

“Bukan ! Burung itu bukan peliharaan Siocia !” kata Tutan, sungguhpun ia berkata begitu

wajahnya telah berubah gugup. “Pada suatu hari, entah dari mana datangnya burung itu, Giok

Lan yakni kawanku dan lain-lain senang melihatnya. Lalu menangkap dan mengurungnya

burung itu. Namun diketahhui Siocia, dan kami dimaki-maki, terpaksa melepasnya lagi,

sungguhpun begitu ia tak mau pergi kemana-mana, agaknya betah diam disini !”

Sambil berjalan tak hentinya mereka bercakap-cakap, tanpa terasa telah sampai di kamar

Tiong Giok. Tutan pamitan, membiarkan diri Tiong Giok seorang. Malamnya Tiong Giok tak

dapat tidur dengan nyenyak. Pikirannya memikir kesoal burung tadi. Burung itu terlatih baik,

164

kenapa Tutan mengatakan bukan burung piaraan ? Dan apa maksudnya seorang kenamaan

seperti Liap In Eng menahannya disini buat memberikan pelajaran Keng thian cit su pada

pelayan-pelayannya ? Mungkinkah ia sebangsa dengan Liok Sian Ong maupun Hek pek siang

yauw yang menginginkan ilmu itu ?

Semakin berpikir membuatnya semakin kesal, dan ingin ia itu mencuri masuk ketaman

belakang untuk melakukan penyelidikan, tetapi rasionya mencegah berbuat begitu itu, karena

sadar hal itu bisa mendatangkan yang tidak diinginkan. Tapi saking lamanya otaknya bekerja,

akhirnya iapun leetih, ia tertidur juga waktu hampir pagi. Dan ia baru bangun waktu matahari

ssudah diatas. Cepat ia keluar kamar dan membuka pintu, Tutan sudah berada diluar

“Kongcu tidur nyenyak benar ?” kata Tutan sambil menyediakan handuk dan baskom pencuci

Tiong Giok tersenyum dan mencuci mukanya di baskom, kesepatan matanya agak hilang.

“Rupanya sudah tengah hari ? Dan suara teman-temanmu ramai betul ?”

“Ya memang sudah tengah hari, mereka sedang sibuk menyapu dan membereskan rumah

maupun taman, karena ada tamu mau datang !”

“Tamu macam apasih disambut sehebat ini ?”

“Sudah tentu tamu terhormat !” jawab Tutan. “Lekaslah cuci muka dan berberes, Siocia sudah

menunggu lama sekali !”

Cepat-cepat Tiong Giok menyisir dan merapikan pakaian, tergesa-gesa masuk keruang

tengah, dan benar saja Liap In Eng sudah berada disitu menantinya.

“Baru bangun ya ? Sudah makan belum ?” tanya Liap In Eng dengan ramah.

“Ah kelewat enak tidur membuat Lo Cianpwee kesal menanti, maafkan atas kemalasanku ini

!”

“Anak muda memang sedang doyan tidur! Jika sudah tua mau tidurpun sukar !” kata Liap In

Eng dengan tenang. “Engkau sudah sepuluh hari datang kesini, selama ini diam terus

dirumah, tentu merasa kesal bukan ? Sebaiknyalah kegunung bersama Tutan, disana bisa

membuatmu gembira, sebab pemandangan indah dan hawanya segar.”

“Ah memberabekan Tutan saja !”

“Hari inii bakal datang tamu, kuatir engkau menjadi likat, maka itu untuk selanjutnya engkau

boleh tidur diloteng belakang, disana lebih bebas untukmu kesana kemari, bagaimana ?”

“Dibelakang adalah kamar Lo Cianpwee dan gadis-gadis ini kukuatir…”

“Takut apa ?” kata Liap In Eng. “Jika menurut umur, antara aku dan gurumu tidak beda

berapa jauh, sedangkan engkau merupakan anak baru gede, kenapa menjadi pemaluan betul

dan takut sama perempuan ?”

165

“In Kongcu dalam segala hal memang baik hanya terlalu mengekang diri bergaul dengan

perempuan,” kata Tutan sambil tersenyum.

“Jangan berlaku kurang ajar !” kata Liap In Eng. “In Kongcu adalah seorang terpelajar yang

mengenal aturan, sudah sepatutnya bersikap begitu ! Jangan seperti kamu terlalu bebas dan

berandalan.”

Tutan menjulurkan lidah, tak berani bersuara lagi.

“Sebenarnya aku sudah terlalu lama diam disini, kini kebetulan ketemu Lo Cianpwee. Dengan

ini kumohon berlalu untuk pergi ke Pek Liong San.”

“Ah rupanya engkau dikatakan sebegitu saja lantas ngambek dan mau pergi ?”

“Bukan,” jawab Tiong Giok, “karena soal sin kiam siang eng sampai sekarang persoalannya

siapa sebenarnya orang tua yang ditahan dalam penjara Pok Thian Pang itu, Tiat Giok Lin

atau bukan.”

“Soal ini memang penting, tapi tak perlu tergesa-gesa dikerjakan,” kata Liap In Eng.

“Kuharapkan engkau berdiam beberapa hari lagi disini, setelah itu baru kesana, begitupun

belum terlambat bukan ?”

In Tiong Giok ingin memaksa hari itu juga pergi, tapi Liap In Eng sudah meninggalkannya,

membuatnya tak sempat membuka mulut.

“Ah gara-gara Kongcu akupun kecepretan makian,” kata Tutan. “sudahlah buat apa banyak

berpikir, lebih baik lekas makan dan turut denganku kegunung.”

In Tiong Giok tidak berdaya, dan mengikuti kehendak pelayan itu.

Setelah beres makan, Tutan mengganti pakaian yang lebih ringkas. Lengannya membawa

rantang berisi bekal. Sepanjang jalan Tutan menunjuk kesana kemari menyebutkan namanama

tempat. Tiong Giok hanya manggut-manggut, karena biarpun dirinya sedang berjalan

ditempat yang permai, hatinya tidak ada disitu. Ia sedang berpikir: “Siapa tamu yang akan

datang itu ? Liap In Eng kenapa mau menempatkan dirinya diloteng belakang ? Dan burung

pos itu milik siapa ? Ia seperti tak mau memperkenalkan tamunya itu padaku.”

“Kita jangan jalan besar, enakan jalan kecil mengelilingi gunung,” kata Tutan.

“Kira-kira berapa lama ?”

“Sebelum gelap kita sudah kembali.”

“Aku tak pandai ilmu meringankan badan mungkin sampai gelappun belum sampai dirumah

!”

“Ilmu silat maupun ilmu dalammu sudah begitu tinggi, masakan sampai ilmu meringankan

tubuh saja tidak bisa ?”

“Belum pernah ada yang mengajari mana bisa !”

166

“Orang yang mempelajari silat paling utama adalah ilmu dalam, setelah menguasai ilmu

dalam yang lain mudah dipelajari. Demikian juga soal ilmu meringankan tubuh, mudah sekali

jika mahir ilmu dalam.”

“Maukah engkau mengajari aku ilmu meringankan tubuh ?”

Tutan menjadi merah mukanya. “Mana berani aku mengajari Kongcu, tapi untuk memberi

petunjuk sih boleh saja,” Ia memandang kesekitar, dan dilihatnya sebuah pohon yang besar,

diajaknya Tiong Giok kesana. “Kongcu lihatlah kuberi contoh dulu padamu,” Sehabis berkata

terus ia menotolkan kakinya kebumi tubuhnya dengan ringan mencelat keatas pohon.

“Bagaimana ?” tanyanya.

“Ah tubuhmu begitu ringan sekali, sampai batang pohon itu tidak terlihat goyang barang

sedikit !”

“Kongcu bisakah melompat setinggi tiga depa ?”

“Jangan tiga depa, sedepapun belum tentu kubisa !”

“Bisakah memanjat pohon ?”

“Manjat pohon sih bisa saja.”

“Nah mari kesini !”

In Tiong Giok dengan cepat naik keatas pohon menghampiri Tutan: “Setelah naik, haarus

bagaimana lagi ?”

“Nah sekarang engkau harus jalan dicabang pohon ini dengan tenang, napasmu harus teratur

rapi, pikiran tidak boleh melayang-layang kesoal lain, harus mengkonsentrasi pikiran pada

pelajaran. Nah cobalah !”

In Tiong Giok menurut kata-kata Tutan berjalan dicabang pohon, pertama ia bisa berjalan

mantap, setelah cabang pohon bertambah kecil dan bergoyang-goyang, hatinyapun turut

berdenyut keras, hampir-hampir ia tak berani melangkah lagi.

“Jangan takut, kumpulkan semangatmu dan perhatikan terus kakimu, Betul ! Maju terus

jangan gentar, biar jatuhpun tidak mengapa, hanya tiga depa tingginya !”

Dahan kayu yang panjangnya beberapa meter itu habis juga dilalui dengan setengah mati.

“Bagaimana tidak sulit bukan ?” kata Tutan.

“Ini mah bukan berlatih meringankan tubuh, tapi melatih keberanian.”

“Benar ! Melompat ketempat tinggi atau dari tempat tinggi melompat turun membutuhkan

keberanian bukan ? Nah sekarang coba jalan lagi terbalik! Perhatikan waktu kaki kiri

melangkah salurkan tenaga pada kaki kanan, waktu kaki kanan melangkah salurkan tenaga

pada kaki kiri dengan begitu keseimbangan badan akan terjaga dengan sempurna.”

167

Tiong Giok menuruti kata-kata Tutan berjalan lagi diatas cabang pohon itu, benar saja dengan

begitu keseimbangan badannya terjamin sekali. Ia bisa berjalan terlebih baik dari tadi. Tanpa

disuruh lagi ia bulak balik beberapa kali.

“Latihan pertama kuanggap selesai dan mari meningkat kepelajaran kedua. Mulai dari

sekarang sambil jalan harus membawa batu seberat tiga puluh kati. Untuk ini kaki harus

diringankan betul, kekuatan berada dipinggang. Jika Kongcu bisa berjalan didahan itu sampai

cabangnya tidak melengkung kebawah artinya sudah berhasil.”

“Baik,” jawab Tiong Giok.

Tutan segera turun kebawah, diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkan keatas, Tiong

Giok menanggapi batu itu, lalu mengempitnya dan mulai berjalan didahan tadi. Tak selang

lama batu yang dibawa itu dari kecil ditukar menjadi besar. Dengan tenaga dalamnya yang

tinggi dan bakat yang bagus In Tiong Giok dapat mempelajari ilmu itu dengan mudah.

Tutan melempar batu dari bawah keatas, begitu lama, tak heran lengannya menjadi pegal dan

tak kuat lagi melemparkan batu yang seberatnya seratus kati. “Kongcu engkau sendiri saja

turun dulu dan mengangkat keatas, aku sudah letih sekali.”

Dengan berapi Tiong Giok menarik napas kepusar dan melompat turun, ia bisa tiba ditanah

dengan ringannya. Lalu diambilnya batu seratus kati itu dan dibawanya melompat keatas….

Lebih kurang ia mengapung dua depa tingginya, batu dan dirinya jatuh lagi kebumi.

Tutan menjadi kaget tak alang kepalang ia cepat-cepat menghampiri. “Waduh bagaimana

apamu yang sakit ?”

In Tiong Giok tiba-tiba saja membalikkan badan dan tertawa tergelak-gelak.

“Ah Kongcu gila kau ! Aku ketakutan setengah mati, kiranya engkau bermain dan berpurapura

jatuh !”

Tiong Giok tidak menjawab, sekali ini benar-benar ia melompat. Batu seberat seratus kati itu

kena dibawanya keatas. “Aku berhasil !” serunya girang.

“Ah benar !” kata Tutan. “Coba sekali lagi !”

Tiong Giok turun kebawah dan mencelat lagi keatas terlebih tinggi dari tempat tadi.

Atas hasil itu membuat Tutan kaget bercampur girang. “ Ya Kongcu telah berhasil, dengan

cara apa engkau menghaturkan terima kasih kepadaku ?”

“Kini aku menghaturkan kepadamu, setelah kembali kerumah akan kuhaturkan lagi terima

kasih didepan Liap Locianpwee !”

Tutan menggoyangkan tangan. “Tidak ! Sekali-kali tak boleh diberitahu pada Siocia, sebab

bisa mencelakakan diriku.”

“Memang kenapa ? Bukankah jika Siociamu tahu akan turut bergirang ?”

168

“Tidak! Tidak! Siocia memang bisa bergirang hati, tapi…tapi semua ini adalah bakat Kongcu

yang luar biasa dan ilmu dalam yang tinggi ! Aku hanya berkata main-main saja dan ingat

jangan diberi tahu pada Siocia !”

“Biar ia tahupun tak mengapa bukan ?” Tiong Giok sengaja menggoda dan ingin tahu apa

sebabnya Tutan ketakutan sekali diketahui Siocianya.

“Kongcu kasihanilah aku,” kata tutan hampir menangis. “Sebab ilmu itu adalah kepandaian

Siocia yang dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar. Sedangkan aku memberi

pelajaran ini tanpa disadari, jika sampai diketahuinya, akan dihajarnya…”

“Aku tak percaya !”

“Aku memberikan pelajaran yang dirahasiakan ini kepada Kongcu, apakah dengan begitu

caranya menghaturkan terima kasih kepadaku ?”

“Hm seorang pandai seperti Liap Locianpwee tak mungkin merahasiakan ilmu kepandaiannya

kepada orang lain.” Kata In Tiong Giok. “Disini tentu terselip sesuatu yang engkau rahasiakan

bukan ? Biar bagaimana harus kau terangkan padaku.”

“Dengan begini kebaikanku hanya mendatangkan bencana, dimana letak keadilan ?”

JILID 9________

“Terus terang saja kenapa tak mau engkau tuturkan apa yang menjadi rahasia hatimu itu ?”

“Tidak ada sesuatu yang menjadi rahasiaku.”

“Baik-baik begitu, tapi terangkan dengan sejujurnya.”

“Kongcu hanya salah paham merpati pos yang kemarin kulihat terang-terang binatang yang

terpelihara, kenapa mengatakan merpati liar yang datang sendiri ?”

Wajah Tutan menjadi berubah, ia sangat kaget, dan kemek-kemek tidak bisa menjawab.

“Lagi pula hari ini akan datang tamu, siapa dia ? Kenapa Siociamu dengan alas an ini

menyingkirkan aku kesini dan memindahkan kamarku kebelaklang ? Seolah0olah tidak boleh

menemui tamu itu ?”

Tutan menangis, air matanya mengallir ke pipi lalu berkata : “Tamu itu adalah kawan lama

Siociaku. Sudah lama Siocia mengharapkan bertemu dengannya, tapi tak berhasil, dan baru

sekarang harapannya selama tiga puluh tahun itu baru terlaksana ! Sudah pasti banyak

omongan yang akan dibicarakan mereka dan terlarang untuk orang luar mengetahuimya !

Maka itu dengan memindahkan Kongcu kebelakang sedikitpun tidak bermaksud jahat !”

“Seharusnya kawan baiknya itu ditempatkan di loteng belakang berdekatan dengan kamar

Siociamu bukan ?”

“Ia adalah seorang laki-laki !”

169

“Oh, kiranya begitu, menyesal aku terlalu bercuriga !” kata In Tiong Giok sambil tersenyum.

“Sudah lama Liap Lo Cianpwee tak bertemu dengannya, tiba-tiba mengetahui kawannya itu

akan datang, tentu burung pos itu yang membawa berita bukan ?”

“Ini…ini…aku tak tahu !”

“Setiap kusinggung mengenai burung pos itu, engkau tak mau mengatakan yang sebenarnya.

Tentu ada apa-apanya bukan ? Mulai hari ini aku pindah keloteng belakang, pasti akan

mendapat kesempatan membongkar rahasia ini dan akan mengetahui soal yang kau rahasiakan

!”

“Bahkan jangan berlaku gegabah, jika diketahui Siocia engkau bisa celaka.”

“Adakah satu rahasia diloteng belakang itu yang tidak boleh diketahui orang luar ?”

“Kongcu jangan bertanya padaku, bagaimanapun aku tak berani menerangkan,” kata Tutan,

“aku hanya mengharapkan Kongcu jangan berlaku demikian, sebab berbahaya sekali…” Ia

tidak mau menerangkan terlebih lanjut. Hanya kepalanya digoyang-goyang dan air mata

mengalir terus dengan deras.

“Katakanlah padaku, aku berjanji tak akan menceritakan lagi pada orang lain !”

“Tutan menoleh kekiri kanan, tampak ketakutan sekali, berapa kali bibirnya bergoyang tapi

tak mengeluarkan suara, seolah-olah jika ia bersuara akan mendatangkan bencana besar

“Jangan kuatir, kita hanya berdua saja, tak ada orang lain yang mendengar !”

Tutan menjadi berani juga. “Kongcu sebaiknya lekas pergi dari sini, lebih cepat lebih baik..”

“Siang-siang aku mau pergi, tapi sebab dicegah Siociamu…”

“Pergilah dari sini diluar tahunya !”

Tiba-tiba saja terdengar dengusan seseorang disusul berkelebatnya sesosok tubuh dihadapan

mereka. “Tutan engkau jangan mengaco tak keruan, apa yang kau katakana barusan ?”

Pendatang itu adalah seorang tua berambut putih, dan bermata satu.

“Sun Toa nio,” kata Tutan sambil menarik nafas lega.

Perempuan tua itu mengenakan pakaian serba hitam, lengannya memegang tongkat hitam

yang mengkilap. Ia berjalan menghampiri sepasang muda mudi itu, dari geraknya tampak ia

berilmu itnggi.

“Enkau siapa ? Diamlah disitu kalau mau bicara tak perlu dekat !” kata In Tiong Giok.

Orang tua itu dengan terpaksa menghias wajahnya yang keriput dengan senyuman palsu.

170

“In Kongcu engkau tak kenal denganku, tetapi aku kenal denganmu. Siocia mengetahui tabiat

Tutan ini paling senang mengatakan yang tidak-tidak , maka mengutusku untuk

mengawasinya !”

“Aku tidak menanyakan soal ini, aku hanya ingin tahu engkau siapa ?”

Nenek-nenek itu memancarkan sinar jahat dari matanya, lalu tertawa parau. “Jika ingin tahu

siapa aku, tanyakanlah pada Tutan !”

“Tutan siapa sebenarnya dia ?” tanya In Tiong Giok tak sabaran.

“Ia adalah babu tete Siociaku,” kata Tutan dengan berbisik. “Biar bagaimana Kongcu tak

boleh melepaskan dia, jika tidak kita akan celaka…”

“Tutan, bentak nenek itu memotong percakapan orang. Nyalimu sungguh besar ! Berani

menghasut In Kongcu untuk melawan padaku ?”

“Tidak ! Aku tidak menghasut, aku hanya mengatakan soal yang sebenarnya.”

“Hm, apa yang kau ucapkan patah demi patah terdengar telingaku, mau membohong, kata

nenek itu dengan galak. In Kongcu engkau adlah murid seorang kenamaan didunia persilatan,

sekali-laki jangan mendengari perkataan budak ini ! Tadi ia mengatakan ilmu yang

dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar dan lain….semua dusta, jika tak percaya

engkau boleh menanyakan semua ini kepada Siocia !”

“Kongcu tak boleh pulang, berarti kematian bagimu,” kata Tutan memperingati.

“Budak hina yang tidak tahu diri, kuhabiskan nyawamu !” teriak Sun Toa nio seraya

menerkam dan menghajarkan tongkatnya pada Tutan.

In Tiong Giok mengebaskan lengan kirinya dan membusungkan dada menghadang Sun Toa

nio. “Sabar dulu, aku mau bicara denganmu !”

Tongkat Sun Toa nio tadi kena disampoh miring lengan Tiong Giok, hal ini mendatangkan

rasa kaget si nenek. Cepat-cepat ia menarik tongkatnya dan berkata : “Kongcu mau

mengatakan apa ?”

“Ingin kutahu Toa nio, tahun ini berusia berapa ?”

“Untuk apa engkau menanyakan umurku ?”

“Kuharap engkau menjelaskan, pasti ada gunanya !”

“Usiaku lima puluh enam tahun !”

“Orang seusiamu itu apakah pantas menjadi babu tete dari Liap Lo Cianpwee ?” kata In Tiong

Giok. “Tiga puluh tahun yang lalu Liap Lo Cianpwee sudah berusia sekitar dua puluh

tahunan, engkau berusia berapa menyusui Siocia itu ?”

Sun Toa nio tak bisa menjawab.

171

“Memang dia ini adalah babu tet yang palsu,” kata Tutan.

Sun Toa nio menjadi gusar, tongkatnya segera terangkat lagi menyerang tutan. Tapi dengan

kecepatan kilat, Tiong Giok menyambar gadis itu dan dibawanya melompat sejauh beberapa

tombak. “Engkau mau apa ?” tanyanya pada si nenek.

“In Kongcu engkaujangan terpincuk paras cantik budak itu dan melakukan pekerjaan yang

sesat ! Lekaslah ikut denganku menghadap pada Siocia, ia sedang menantikanmu dengan

tidak sabar ! Mulutnya berkata lengannyapun tidak tinggal diam, memutar tongkatnya dengan

keras, menghantam ke arah Tiong Giok.

“Kongcu jangan ragu-ragu lagi, hadapilah keparat ini dengan Hiat cie lengmu !” seru Tutan.

Sun Toa nio menyerang Tiong Giok dengan gencar sebanyak tiga jurus. Setelah dengan

mendadak ia membalik tubuh dan menyergap Tutan. Untung yang disebut belakangan dapat

mengengos, membuat tongkat itu menghajar tanah dan menimbulkan suara nyaring. Dengan

gerakan cepat tongkat itu diangkatnya dan disabatkan lagi pada Tutan. Gerakan ini sangat

cepat dan mendadak, sehingga mengenai dengan tepa tperut lawan, Tutan tergeliat dan

nguseruk ditanah. Nenek tua itu tidak puas sampai disitu, tongkatnya terangkat lagi untuk

menghabisi jiwa orang. Pada saat inilah In Tiong Giok melancarkan Hiat cie lengnya dari

belakang musuh, suara seri ilmu mautnya, membuat Sun Toa nio membatalkan niat kejamnya.

Tanpa menoleh lagi ia merebahkan diri.

Tapi tak urung rambutnya sebagian besar telah menjadi hangus terkena angin Hiat cie leng

yang panas laksana api. Dengan cepat ia mencelat bangun dan terus mengambil langkah

Tiong Giok menghampiri Tutan, “Bagaimana ? Luka beratkah ?”

Dengan kedua tangan Tutan menekap perutnya, wajahnya pucat pasi, keringat dinginnya

mengucur deras. Dengan menahan sakit ia memaksakan bicara : “Kejar dia ! Jangan biarkan

ia kembali kerumah …”

“Ku obati dulu lukamu…”

“Jangan ! Lekas kejar !”

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mengejar Sun Toa nio. Tapi yang dicari itu

dalam waktu sekejap sudah tak terlihat mata hidungnya lagi. Tapi ia sadar bahwa musuhnya

itu pasti berlari pulang kerumah. Maka itu dengan mengumpulkan hawa sejati dipusarnya ia

berlari dengan keras memakai ilmu meringankan tubuh yang baru dipelajari kearah rumah.

Entah sudah berapa lama ia berlari, tahu-tahu didepannya terlihat seorang tua mengenakan

pakaian hitam, ia menjadi girang. Dengan cepat ia mendahului orang tua itu dan berbalik

menghadang jalan. “Mau lari kemana lagi nek ?” katanya begitu berbalik badan. Ia menjadi

gugup dan kemaluan karena orang tua itu bukan nenek-nenek, melainkan adalah kakek-kakek

hanya saja pakaiannya serba hiotam serupa dengan Sun Toa nio.

172

Kakek itu kelihatan bermata tajam, dan gagah, sekali lihatpun bisa diketahui seorang berilmu

“Ah, maafkan aku,” kata In Tiong Giok, “Aku kesalahan pak !”

“Apakah dengan menghaturkan maaf saja soal ini terhitung beres ?” tanya kakek itu dengan

“Habis harus bagaimana ?” tanya Tiong Giok.

“Sedikitnya engkau harus saja kui, bertekuk lutut sebanyak tiga kali !”

“Aku sedang tergesa-gesa, tak mempunyai waktu berkelekar denganmu, lain kali saja !” kata

In Tiong Giok dan terus mencelat pergi.

“Kembali !” teriak kakek itu.

Tiong Giok merasakan bajunya ditarik orang dan tak bisa pergi lagi, lalu jatuh lagi ketempat

tadi. “Bocah jangan main gila dihadapanku !” bentak sikakek.

“Kesalahanku tidak seberapa dan sudah kuhaturkan maaf, tapi engkau menghendaki yang

tidak-tidak dariku, perbuatanmu itu kelewat sekali !”

“Justru tabiatku sangatg aneh, setiap yang membangkang perintahku, bagaimanapun harus

kutunduki !”

“Bagaimanapun aku tak bisa dipaksa !”

“Hm engkau sangat bandel ya ! Ketahuilah orang-orang yang bandel dan tidak dengar kata

mulutku akibatnya bagaimana ? Tuh kau lihat contohnya !” katanya sambil menunjukkan

kebawah tebing.

Tiong Giok menengok kearah yang ditunjuk disitu terlihat seorang tergantung rotan, waktu

ditegasi orang itu nyatanya Sun Toa nio adanya. “Nenek ini kurang ajar, berlari cepat

melewatiku, waktu kutahan dan menyuruhnya bertekuk lutut, bukan saja ia tidak mau

malahan menyerang dengan tongkatnya itu,” kata si kakek sambil menunjuk kedekat batu.

Disitu terlihat tongkat Sun Toa nio yang mengkilap tertancap dalam. Kakek itu merebut

tongkat itu, lalu membelit ujung rotan lalu menyentak keatas seperti orang memancing ikan.

Tubuh Sun Toa nio segera terangkat keatas dan jatuh ditanah. Wajahnya pucat pasi, tapi

belum mati. “Dengan kepandaiannya tak seberapa mau melawanku Lui sin Tong Cian Lie,

nah akibatnya begini !” Tampaknya si kakek yang bernama Tong Cian Lie tidak menaruh

belas kasihan pada nenek itu.

Kakinya terangkat mendupak nenek itu dan terpental jatuh kedalam tebing dengan jiwa

In Tiong Giok tanpa disuruh lagi bertekuk lutut didepan kakek itu. “Aku In Tiong Giok

menghaturkan hormat pada Tong Lo Cianpwee !”

“Hm mau bertekuk lutut juga ? Engkau pandai dan bisa melihat gelagat, lekas bangun !”

173

“Tadi aku tak tahu bahwa Lo Cianpwee adalah Lui sin, maka aku berlaku kurang ajar …”

“Sesudah tahu buru-buru tekuk lutut, apa maksudmu ?”

“Aku mendapat pesan dari Cian bin sin kay Cu Lit untuk menemui lo Cianpwee di Ciu yang

shia, tapi belum sempat kesana dan kebetulan bertemu disini…”

“Kiranya engkau kenal dengan pengemis bermuka-muka itu ? Ia menyuruhmu menemuiku

untuk apa ?”

“Antaraku dengannya adalah kawan dalam kesusahan” kata in Tiong Giok seraya menuturkan

kisahnya bersama Cu Lit di Pok Thian Pang secara panjang lebar.

“Ah masakan sampai Thay Cin Tojin dan Cu Lit mengabdi pada Pok Thian Pang ?” Aku tidak

percaya !” kata Cian Lie.

“Ya memang mula pertama Cu Lo Cianpwee tak menurut dan mengacau disana, tapi setelah

bertemu dengan sang Pangcu dari Pok Thian Pang segera menurut ! Hal ini kudapat tahu dari

Siau Pangcu !”

“Siau Pangcu ? Berapa usia pemuda itu ? Dan bagaimana parasnya ?”

“Usianya tujuh belas tahun, soal wajahnya sukar dilukiskan dengan kata-kata,” kata Tiong

Giok. “Orangnya pendiam dan tak suka bergaul, menurut katanya ayahnya sudah meninggal.

Dan yang mengherankan sampai nama ayahnya sendiri tidak diketahuinya !”

“Oh seorang anak yang tak berayah, kasihan .”

“Ayahnya dibunuh orang !”

“Siapa yang membunuhnya ?”

“Tidak tahu !”

“Jika tidak tahu mengapa mengetahui ayahnya dibunuh orang ?”

“Hal ini diketahui dari dedengkot Pok Thian Pang yang biasa dipanggil Lo Cucong, hanya

saja ia tidak memberitahu Siau Pangcu itu !”

“Apakah pangcu itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dan ditengah-tengah alisnya

terdapat tahi lalat merah ? Kalau tersenyum ada lesung pipitnya ?”

“Benar ! Kenapa Lo Cianpwee bisa tahu ?”

“Oh tak heran pengemis itu menyuruhmu menemui diriku kiranya hal itu benar adanya” kata

Tong Cian Lie sambil berkemak kenik sendiri. “Ah bagaimanapun juga jika belum melihat

dengan mata kepala sendiri sukar untuk mempercayainya !”

“Siapa yang ingin Lo Cianpwee lihat ?”

174

Tong Cian Lie tidak menjawab melainkan menyuruh Tiong Giok berjalan “Aku akan bertamu

ke Kek Liong san menemui Lim Siok Bwee.”

“Sekarang belum bisa kesana !”

“Kenapa ?” tanyanya.

Tiong Giok menceritakan pertemuannya dengan Liap in Eng dan kejadian yang baru dialami

“Oh kiranya nenek tua ini anak buahnya Liap In Eng!” kata Tong Cian Lie. “Mari kita

temuinya, aku kenal dengannya !”

“Tapi aku harus kegunung dulu disana ada seorang gadis yang menderita luka berat terkena

tongkat Sun Toa nio,” kata In Tiong Giok. “Kuharap Lo Cianpwee menunggu sejenak aku

mau menolongnya.”

“Siapa gadis itu ?”

“Ia adalah pelayannya Liap Lo Cianpwee yang bernama Tutan,” jawab In Tiong Giok. “Saat

itu ia baru mau mengungkapkan rahasia siocianya, tahu-tahu datang Sun Toa nio dan

melukainya.”

“Ilmu meringankan tubuh yang engkau pergunakan tadi adlah pelajaran asli dari Liap In Eng

yang bernama Bunga Jatuh Terbang Melayang, dari siapa engkau memperoleh ilmu itu ?”

“Kudapat dari Tutan !” kata In Tiong Giok.

“Jika begitu Tutan adalah orang bawahan Liap In Eng yang sejati, mari kita tengok !”

Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh kembali ketempat dimana Tutan terluka tapi

diluar dugaan siapapun bahwa Tutan sudah tidak terlihat lagi. Ditempat ia rebah terluka

rumput-rumput berlepotan darah, dan terus terlihat sampai ketepi jurang, disitu terlihat sehelai

baju yang penuh dengan tulisan darah dan berbunyi seperti berikut : “Lukaku sangat berat,

pasti tidak akan tertolong lagi, tambahan kunantikan Kongcu tak kunjung datang, darah

mengalir terus dari mulut, sedangkan napasku semakin sesak. Aku mati dengan penasaran,

karena belum bisa membals budi kebaikan Siocia, andaikata Kongcu bisa membebaskan diri,

jangan lupakan kamar bawah tanah yang terletak diloteng belakang…..” Sampai disini surat

itu habis, agaknya Tutan tidak tahan lagi dan menggelinding kedalam jurang.

“Tutan akulah yang membuatmu mati…” kata Tiong Giok sambil menangis tanpa

mengeluarkan suara.

“Jika bisa membebaskan diri jangan lupakan kamar dibawah tanah yang terletak diloteng

belakang…Hm ! mungkinkah Liap In Eng mempunyai sesuatu rahasia yang tak boleh

diketahui orang ?”

“Tutan mengatakan mati dengan penasaran karena belum bisa membals budi kebaikan

siocianya. Andaikata Liap Lo Cianpwee mempunyai sesuatu rahasia yang tidak boleh

175

diketahui orang luar, sudah tentu Tutan membantunya menyimpan rahasia itu, tapi kenapa ia

memberitahu padaku ?”

“Kalau begini kita harus melihat rahasia apa yang terbenam dikamar tanah itu,” kata Tong

Cian Lie.

“Lo Cianpwee adalah kawan lama dari Liap Lo Cianpwee, bagaimanapun tak pantas

menanyakan secara langsung rahasia dikamar itu bukan ?”

“Tidak bisa berterus terang, kita boleh menyelidiki secara menggelap bukan ?”

“Kalau begitu kita nantikan sampai malam, dan masuk kedalam rumah melalui pintu

belakang, bagaimana oikir Lo Cianpwee bolehkah ?”

“Kenapa tidak boleh ?” jawab Tong Cian Lie.

Tiong Giok memungut rantang yang bersih kue-kue kering lalu membagi Tong Cian Lie,

dengan lahap menghabiskannya dan menghilangkan dahaga dengan air gunung. Sewaktu

senja mendatang baru turun gunung. Mereka menempuh jalanan gunung yang berliku-liku,

dan makan waktu. Maka setibanya dirumah lampu-lampu telah menyala.

Tong Cian Lie memandang rumah itu dengan sinar matanya yang tajam, lalu menanya pada

Tiong Giok. “Bocah apakah engkau pernah menjadi maling ?”

“Apa perlunya Cianpwee menanyakan hal ini ?”

“Sejujurnya puluhan tahun aku berkecimpung didunia Kang Ouw, selama itu pernah mencuri

masuk kerumah orang ! Sekarang pertama kali masuk kerumah orang tanpa diketahui

penghuninya, mau tak mau hatiku kebat kenit tidak keruan ! Lebih-lebih Liap In Eng adalah

kawan lamaku jika kepergok…”

“Tak kira Lo Cianpwee bernyali kecil …”

“Ngaco ! Aku bukan takut, mengerti ! Sebagai laki-laki sejati, bagaimanapun tak boleh

membuang muka didepan perempuan !”

“Habis bagaimana ?”

“Sebaiknya terang-terangan aku masuk dari pintu dan engkau masuk dari pintu belakang !”

“Cara itu kupikir kurang baik,” kata In Tiong Giok. “Bagaimana kalau Lo Cianpwee

menunggu diluar dan aku masuk sendiri ? Andaikata dalam waktu satu jam aku belum keluar

pasti mendapat gangguan, saat itu Cianpwee boleh masuk dari pintu depan menghadap

padanya untuk membebaskan aku…”

“Bagus !” sela Tong Cian Lie, “tak sangka kecil-kecil bisa berpikir panjang, nah pergilah

dengan tenang !”

Tiong Giok tersenyum dan melangkah pergi. Dengan melalui tembok ia sampai dikamar batu

sebelah kiri, dari sini ia melihat sinar lampu terang benderang diloteng belakang. Bayangan

176

orang tampak seliweran, menandakan Liap In Eng dan para pelayannya belum tidur. Ia tak

berani sembarangan bergerak, dengan hati-hati ia mengawasi situasi rumah. Dilihatnya

sebuah gang kecil menuju kesebuah ruang dalam, disamping ruangan itu terdapat sebuah

tangga menuju keloteng. Saat ini dirumah itu tidak ada orang, tapi ada dua lentera yang terang

benderang. Jika berlaku semberono menuju kesana dan ketahuan orang, tidak ada tempat

untuk bersembunyi. Ia menunggu agak lama juga, tapi sinar lampu masih tetap terang. Untuk

tidak membuang waktu dan membuat Tong Cian Lie yang menanti diluar merasa cemas, ia

memberanikan diri menuju keruangan itu. Ia berhasil sampai ditempat yang dituju dan buruburu

menyembunyikan diri dibalik pintu.

Dari sini dia mendengar suara percakapan-percakapan yang bercampur isakan tangis.

“Apakah sudah diutus orang untuk mencari Tutan fan Sun Toa nio ?” terdengar suara Liap In

Eng dengan keras.

“Jung jung sudah pergi mencari, tak lama lagi ia pasti pulang !”

“Kamu tidak bisa diandalkan sama sekali, tepat pada saat-saat yang penting, tidak terlihat

kembali, sudahlah pergi dan turun yang lain menyediakan kuda Pek kounio mau pulang !”

Begitu mendengar “Pek Kuonio” Tiong Giok berdebar-debar tidak keruan. “Mungkinkah dia

?” Belum ia berpikir terlampu jauh kupingnya mendengar suara bercampur tangis. “Tidak !

Aku tidak mau pulang, biar matipun tak mau pulang !” Suara sangat dikenal Tiong Giok,

nyatanya Pek Kounio itu bukan lain dari Pek Wan Jie adanya.

Bukankah Wan Jie berada di Pok Thian Pang ? Kenapa ia bisa berada disini, ia tak bisa

berpikir lama sebab harus mendengar lagi pembicaraan Liap In Eng.

“Wan Jie kuharap kau bisa bersabar, sebaiknya lekas pulang, jika sampai diketahuinya,

engkau berada disini, ia bisa curiga.”

“Aku bisa sembunyi diloteng !”

“Sebaiknya engkau pergi dulu dari sini ! Jika In Tiong Giok kena kutangkap engkau bisa

menemuinya dimarkas pusat”, kata Liap In Eng. “Apa yang kulakukan sudah menyimpang

dari perintah seharusnya, aku musti menangkapmu lebih dulu dan membawa pulang.”

“Aku ingin melihatnya sekali saja, sebab kutahu pulang berarti mati, sungguhpun begitu aku

rela jika sudah melihatnya, barang sekali.”

“Kuharap sebelum ia pulang engkau harus meninggalkan tempat ini. Mie lie, Siu sian

antarkan Pek Kounio pergi !”

“Baik !” sahut dua pelayan itu. Langkah-langkah mereka segera terdengar diatas tangga.

Tiong Giok yang bersembunyi dibalik pintu mudah terlihat dari atas, maka itu menjadi cemas.

Dilihatnya sebuah pintu dibalik tangga yang tidak terlihat dari arah luar. Cepat-cepat is

menuju kesana, untung tidak terkunci dan ia bisa masuk kedalamnya. Ia menjadi melongo

karena kamar yang dimasuki adalah kamar mandi, disitu penuh tergantung pakaian dalam

kaum perempuan dan sebuah kaca besar. Membuatnya jengah sendiri. Dengan menahan napas

177

ia mengintip dari celah pintu. Tampak dua pelayan berbaju kuning sedang turun dari tangga,

dibelakangnya mengikuti Pek Wan jie, gadis idaman hatinya yang tak dapat dilupakannya!

Sudah lama ia tidak bertemu muka dengan kekasihnya itu, rasa rindunya menjadi-jadi setelah

melihat orangnya, hampir-hampir ia melompat keluar jika tidak melihat Liap In Eng berada

Dengan wajahnya yang cantik dan agung Liap In Eng menggandeng Wan Jie turun selangkahselangkah

dari tangga. Sambil melangkah ia menghibur dengan suaranya yang halus : “Wan

Jie jangan sesalkan aku, kutahu engkau berani berhianat semata-mata untuk menolongnya

agar tak sampai dibawa kemarkas pusat, tapi engkaupun mengingat selama lima tahun aku

menderita karena apa ?”

“Bukankah benda yang Kouw-kouw (bibi) kehendaki sudah dapat ?”

“Benar benda itu sudah kudapat dan telah kubunuh sijelek, dengan begini capai lelahku

selama lima tahun tak sia-sia ! Tapi bagaimanapun kita tak bisa membiarkan In Tiong Giok,

karena dialah orang luar satu-satunya yang mengetahui rahasia dimarkas pusat ! Juga dengan

tindakannya mencetak buku Keng thian cit su mendatangkan kerugian tidak sedikit bagi kita.”

“Kouw-kouw ! Ampunilah dia, kutahu betul ia tidak memusuhi Pok Thian Pang ! Ia hanya

seorang pelajar lemah, kaum Pok Thian Pang tak usah takut padanya !”

“Engkau salaj, Wan Jie. In Tiong Giok yang sekarang bukan seorang pelajar lemah, iapandai

Hiat cie leng dan Keng thian cit su ditambah bakatnya yang luar biasa, dalam sekejap

kepandaiannya maju terus dengan pesat…”

“Benda yang Kouw-kouw kehendaki sudah didapat, boleh dikatakan kerugian dari Keng thian

cit su sudah tertutup, kenapa masih memusuhi terus pad In Tiong Giok ?”

“Andaikata ia dibawa kepusat belum tentu akan dihukum mati bukan ?”

“Sudah pasti dihukum mati ! Karena begitu mendapat surat dari merpati pos yang Kouwkouw

kirim: Lo Cucong mengatakan “tangkap bawa kesini dan beset kulitnya,” setelah

kudengar perkataan ini dengan tidak memperdulikan apa aku meninggalkan pusat datang

kesini.”

“Lo Cucong hanya keras dimulut, apa yang dikatakan belum tentu dilaksanakan, pokoknya

asal bisa menasehatinya masuk menjadi anggota…”

“Ia pasti tak mau !” potong Wan Jie.

“Hal ini terserah padamu, apakah dengan cinta kasihmu padanya bisa membuatnya menurut

atau tidak semua ini urusanmu ! Pokoknya setelah sampai saatnya, baru kita bicarakan lagi,

jalanlah baik-baik !” sebahis berkata, iapun memberi tanda pada Mei lie dan Sui sian dua

gadis mengambil lampu dan mengajak Wan Jie keluar.

Wan Jie masih memegangi terus baju Kouw-kouwnya sambil meratap: “Kouw-kouw tega

amat sih ? Dulu Hoo Hoa dan Teng Pouw kau tolong masakan aku tidak ?”

178

“Anak dungu pulanglah dengan tenang, pasti akan kumintakan ampun pada Lo Cucong asal

saja engkau mau mendengar kata-kataku !” kata Liap In Eng. “Sekarang engkau pergi dulu ke

lian hoa tong dikaki gunung, begitu Tiong Giok pulang akan kuajak dia kesana bertemu muka

denganmu. Dan sekarang kuantar kau keluar, mari lekas !”

Wan Jie meninggalkan rumah sambil menangis.

Tiong Giok turut menangis menyaksikan kejadian itu, disamping itu iapun sadar bahwa orang

yang mengaku Liap In Eng selama ini adalah Soat Kouw adanya, yakni Hoe Pangcu dari Pok

Thian Pang yang telah menghilang selama lebih kurang lima tahun.

Yang mengherankan, seorang yang memalsu diri orang lain, berani bergerak di dalam dunia

Kang Ouw seperti orang yang sebenarnya tanpa diketahui. Kini kemana perginya Piau siang

kiam Liap In Eng yang sejati ? Sedangkan Tutan pandai dia menggunakan ilmu bunga jatuh

terbang melayang, dan menurut Tong Cian Lie adalah kepandaian sejati dari Liap In Eng.

Tutan itu anak buahnya yang sebenarnya ! Tapi kenapa Soat Kouw bisa mengetahui sampai

kepada anak buah orang yang ia palsukan ?

In Tiong Giok tidak mau berpikir lama-lama dan tak mau pula menolong Wan Jie pada saat

itu, yang dipentingkan adalah mencari rahasia kamar dibawah tanah yang disebutkan Tutan.

Begitu pikirannya sudah mantap, segera mau bergerak. Akan tetapi niatnya batal karena

mendengar langkah kaki, ia mengintai keluar terlihat berkelebat sesosok tubuh berbaju

kuning. Tiong Giok mengenali ini Jung jung yang disuruh mencari Sun Toa nio dan Tutan.

Gadis itu memegang tongkat Sun Toa nio tampak geraknya amat kesusu, ia melihat lentera

ditangga sudah ada, segera berseru keras.

“Giok lan ! Giok lan !” Dari loteng terdengar langkah kaki turun, dan seorang pelayan berbaju

hijau menyahutperlahan. “Jung jung kemana saja engkau ? Siocia berulangkali

menanyakan…”

“Apakah Siocia sudah pergi ?”

“Ia hanya mengantar Pek Kounio keluar…apakah engkau menemukan Sun Toa nio dan Tutan

?”

“Tampaknya kejadian sangat hebat, kutemui tongkat Sun Toa nio disana bercampur dengan

darah segar, sedangkan orangnya tak ada !”

“Sun Toa nio berkepandaian tinggi, apakah mungkin dicelakai orang ?”

“Amat sulit dikatakan ! Apakah Tutan dan In Kongcu sudah pulang ?”

“Belum!” jawabnya.

“Ah benar-benar aneh !” kata Jung jung sambil menarik napas. “adakah Siocia memesan

sesuatu hal untukku ?”

“Ia hanya memesan setelah menangkap In Kongcu, boleh segera turun tangan, akan tetapi

sekarang…”

179

“Adakah dia memesan untuk memindahkan kamar yang dibawah itu ?”

“Seingat saya tidak !”

“Apakah sudah lama Siocia keluar ?”

“Baru saja…” Belum pula perkataan itu habis, Jung jung mengayunkan tongkat ditangannya

kepada Giok lan sekuat tenaganya. Tanpa bersuara lagi Giok lan roboh tanpa berkutik.

Kejadian yang mendadak ini membuat In Tiong Giok melongo dan tak habis mengerti….

Jung jung setelah membunuh Giok lan segera mengambil serenceng kunci dari tubuhnya, dan

menyeret mayat itu kebagian yang agak gelap.

“Jika tidak mengingat keselamatan Siocia, aku tidak bisa bersabar sampai hari ini ! Hm Pok

Thian Pang yang hina, ketahuilah bahwa anak buah Piau siang kiam bukan manusia yang

mudah dihina.” Sehabis berkata sendirian, tubuhnya berputar dan mendorong pintu dimana

Tiong Giok berada.

Hampir-hampir Tiong Giok terdorong mental, dengan gesitnya ia menggunakan kiu coan bie

cong pou, sehingga tubuhnya itu dapat bergerak cepat dan tetap terhalang daun pintu. Jung

jung tak memperhatikan dibelakang tubuhnya ada orang, begitu masuk ia menekan kaca

bergeser terlihat sebuah pintu. Jung jung masuk kedalam, kaca itu tutup lagi sediakala.

In Tiong Giok menjadi girang dapat menemukan rahasia itu, cepat ia menekan kaca itu dan

masuk kedalam. Ia melihat undakan tangga yang cukup banyak, menuju kebawah diujung

sekali terdapat sinar api. Ia emngikuti tangga turun kebawah, dan tiba disebuah ruangan

kamar persegi cukup lebar. Jeruji besi disitu sudah dibuka Jung jung, memudahkan Tiong

Giok masuk kedalam. Ia melihat Jung jung sedang bertekuk lutut sambil menangis dihadapan

seorang perempuan tua kurus berbaju hitam, yang kedua kaki tangannya terbelenggu rantai.

Kehadiran Tiong Giok disitu tidak diketahui Jung jung yang sedang bersedih hati sedangkan

Liap In Eng diam diam saja, menandakan tak tahu juga.

Sambil membuka rantai yang membelenggu Liap In Eng tidak henti-hentinya Jung jung

menangis. “Siocia waktu sangat mendesak, aku datang kemari bertaruh jiwa, kenapa Siocia

tidak mau pergi ?”

“Ah kenapa bodoh betul, tidakkah mengerti kata-kataku ? Mataku telah buta, tidak ada artinya

untuk hidup terus bukan ? Aku hanya menyesal pelajaranku belum semuanya diturunkan pada

kalian, sungguhpun begitu aku harapkan kalian selekasnya menyingkir dari sini dan carilah

tempat yang baik untuk melatih diri, guna menuntut balas dikemudian hari ! Dengan begitu,

berarti kalian telah membalas budi padaku !”

“Jika Siocia tak mau pergi, sampai matipun aku tidak akan mau pergi !”

“Lagi-lagi engkau berkata bodoh, sudah tahu waktu sangat sempit ! Dengan mengajakku

keluar berarti kematian ! Nanti siapa yang akan menuntut balas padanya ?”

180

“Selama setengah tahun kami bersabar, karena Siocia berada ditangan mereka, kini dengan

adanya Siocia ditangan kami, tidak perlu aku takuti lagi mereka. Yakinlah kita snggup

melindungi Siocia dari bahaya apapun !”

“Jangan memandang enteng perempuan hina itu, kepandaian maupun kecerdikannya tidak

berada dibawahku, pendeknya jika kau masih menganggapku Siociamu, lekaslah berlalu dari

sini !”

Jung jung tidak mau menurut, dengan kekerasan ia membawa pergi Siocianya. Hal ini

mendatangkan kemarahan Liap In Eng: “Hei budak apakah engkau tidak dengar kataku dan

mau melanggar peraturan perguruan ?”

“Siocia boleh marah dan mencaciku, tapi ketetapan untuk menolongmu keluar tak bisa

diganggu gugat lagi, sudah mantap !” kata Jung jung sambil berlutut.

“Ai, engkau bukan mau menolongku, melainkan ingin menjerumuskan diriku kejurang derita

! Tegakah engkau melihat aku dalam keadaan begini dihina perempuan bangsat itu ? Apa

artinya lagi hidupku dalam keadaan begini…?”

“Siocia bettahun-tahun engkau menantikan kedatangannya bukan ? Kini ia sudah datang

tidakkah engkau mau menemuinya barang sekali ?”

“Aku mencelakakan diriku juga menceelakakan dirinya, lebih-lebih kedua mataku…”

Suaranya begitu parau dan menyedihkan dari kedua matanya yang buta mengalir air mata.

“Jung jung kini ia datang, tidakkah dicelakakan perempuan hina itu ?”

“Sore tadi aku diutus keluar, sebelum itu tidak terjadi apa-apa, entah keadaan sekarang.

Menurut perkiraanku perempuan hina itu sedang menantikan In Tiong Giok kembali, baru

menghadapi Pek Lo Cianpwee…”

“Kalau begitu lekas kutemuinya, serta minta padanya membawa kalian meninggalkan tempat

yang berbahaya ini !”

“Tanpa adanya Siocia mana mungkin ia percaya ?”

“Apakah ia tidak mencurigakan kepalsuan perempuan hina itu ?”

“Antara Siocia dengannya sudah tiga puluh tahun tidak bertemu muka, mana mungkin ia bisa

membedakan yang tulen dengan yang palsu, kecuali Siocia menemuinya sendiri !”

“Andaikata aku memberikan sesuatu barang padamu dan memperlihatkan padanya pasti ia

akan mempercayai omonganmu !”

“Ya dengan begitu mungkin ia percaya !”

“Dibawah jerami-jerami tempat kutidur terdapat kantong kecil, ambillah !”

Jung jung membalik badan dan pergi mencari barang yang ditunjuk dibawah tumpukan

jerami-jerami kering. Saat inilah dari tempat duduknya Liap In Eng mengeluarkan sebilah

181

belati dan terus menikamkan kedalam ulu hatinya……., Gerakannya sangat cepat, Jung jung

mendengar gerakan ini dan menoleh, ia menjadi kaget dan menubruk Siocianya. Tapi

usahanya itu bagaimanapun tidak berhasil, karena gerakan Liap In Eng terlebih cepat dari

gerakan Jung jung. Dalam keadaaan berbahaya inilah In Tiong Giok turun tangan. “Sreet”

Hiat cie leng yang ampuh membuat belati ditangan Liap In Eng patah dibagian dekat

gagangnya. Liap In Eng menjadi kaget, gagang belati yang dipegang segera jatuh ketanah.

“Hiat cie leng !” Han Sian Ko kah yang datang ?” serunya kaget.

In Tiong Giok maju kedepan sambil bertekuk lutut, “Aku In Tiong Giok.”

“In Tiong Giok ?” kata Liap In Eng, nama ini sangat asing baginya.

“Siocia In Kongcu ini adalah murid Han Lo Cianpwee.”

“Oh, seru Liap In Eng dengan paras terkejut.

“In Kongcu terima kasih atas pertolonganmu, inilah Siocia kami yang sebenarnya !”

“Aku sudah mendengari percakapan kalian dan mengerti duduk persoalannya, kini waktu

sangat mendesak, dan maaf atas kekurangajaranku !” Sehabis berkata ia bangun dengan cepat

dan lantas menotok pada Liap In Eng.

“In Kongcu apa yang hendak engkau perbuat ?” tanya Jung jung.

“Tak lama lagi perempuan itu akan kembali, waktu sangat sempit sekali untuk kita bergerak.

Jika tidak begini Siociamu mana mau keluar dari sini ?”

Jung jung menganggukkan kepala, “Bagaimana dengan Tutan ?”

Tiong Giok menuturkan kematian Tutan dengan ringkas, dan pertemuannya dengan Tong

Cian Lie sekalian dengan matinya Sun Toa nio. “Jika aku dan Tong Cian Lie dapat melawan

si perempuan jahanam itu teramat baik, tapi bilamana gagal kuharapkan kalian tetap pura-pura

menurut kepadanya seperti sediakala. Disamping itu diam-diam menyepakatkan kawankawanmu,

nantikan kesempatan baik membalas dendam. Sedangkan Liap Lo Cianpwee ini

tak perlu kalian pikirkan, aku bisa menyelamatkannya !”

Jung jung menjadi sedih dan terisak-isak mendengar kematian Tutan. “Kongcu akan

membawa Siocia ini kemana ?” tanyanya dengan parau.

“Ke kiu yang shia atau Pek liong san, pokoknya bisa kuatur dengan baik, dan ingat pesanku

barusan !”

“Kalau begitu kami akan menurut kata-kata Kongcu untuk bersiasat, dan menantikan

kesempatan untuk bergerak.” Kata Jung jung. “Keselamaatan Siocia, kami serahkan kepada

Kongcu, atas ini sebelum dan sesudahnya kami menghaturkan banyak terima kasih.”

“Legakan hatimu, dengan jiwa ragaku, kupertanggung jawabkan beban ini.”

Jung jung memberi hormat kepada Liap In Eng sambil mengucurkan air mata, lalu membalik

tubuh…

182

Tiba-tiba Tiong Giok ingat sesuatu dan menanya, “Barusan kudengar engkau menyebut nama

seorang lo Cianpwee, apakah tamu itu yang kau maksud ?”

“Benar !” jawab Jung jung. “Ia adalah kawan peribadi Siociaku dari banyak tahun, sejak

muda mereka merupakan pasangan yang gagah, satu sama lain saling mencintai, tapi entah

karena apa pada suatu ketika satu sama lain berpisah dan tidak bertemu. Karena merindukan

kekasih itu, Siocia sering menangis, sehingga matanya menjadi buta ! Saat itulah perempuan

bangsat yang jahat itu datang kesini pura-pura menjadi pelayan, dan secara menggelap

memberikan Siocia semacam obat, sehingga ilmu kepandaiannya menjadi musnah. Dan

setelah itu dengan cerdiknya ia menjadikan Siocia sebagai sandera, membuat kami tak

berdaya. Dan menyamar sebagai Siocia berkeliling keempat penjuru, mencari Pek Lo

Cianpwee.”

“Untuk apa ia mencari Pel Lo Cianpwee ?”

“Untuk memiliki semacam kitab pelajaran silat yang bernama Thian liong pu buku ini

merupakan buku pusaka sejenis dengan Keng thian cit su…”

“Siapa nama jelas dari Pek Lo Cianpwee ?” potong Tiong Giok.

“Pek King Hong !”

“Ha ? Tanpa terasa Tiong Giok berseru kaget. “Ah celaka !” Dan jelaslah baginya bahwa

kekasih Pek King Hong adlah Liap In Eng adanya. Tiga puluh tahun yang lalu mereka

berkasih-kasihan dan menanamkan bibit cinta, akhirnya bibit itu bersemi dan berbuah getir:

Tiong Giok memandang dengan sedih pada Liap In Eng, ia tidak habis piker seorang

pendekar wanita yang gagah dan cantik pada hari tuanya menjadi begini macam. Tak terasa

lagi air matanya memenuhi kelopak matanya.

“In Kongcu engkau kenapa ?” tanya Jung jung.

In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menyeka air matanya. “Semuanya telah menjadi

telat, Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan bangsat itu dan buku Thian liong pu sudah

dirampasnya.”

“Dari mana engkau tahu ?” tanya Jung jung.

“Aku sudah mendengari percakapan mereka sejak tadi dibawah tangga. Dan mengetahui

bahwa Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan !”

“Ah dasar nasib Siociaku yang malang,” kata jung jung dengan bersedu sedan.

Tangisan Jung jung ini membuat Tiong Giok sadar, dan cepat-cepat membopong Liap In Eng

dan mengajak Jung jung keluar.

“In Kongcu jika mungkin, pertemukanlah Siociaku dengan Pek Lo Cianpwee….sungguhpun

ia tidak bisa melihat, tapi rasa rindunya dari banyak tahun akan terhibur juga di saat-saat akhir

hidupnya…”

183

“Kutahu ! Legakan hatimu pasti kuusahakan sedapat mungkin agar mereka bisa berkumpul !”

kata In Tiong Giok, “seka air matamu jangan sampai dilihat perempuan jahanam itu ! Dan

loloskan pedangmu untukku, aku tak bersenjata sama sekali.”

Jung jung menurut dan keluar dari kamar dibawah tanah. Setelah sesaat berlalu Tiong Giok

baru keluar dengan menghunus senjata.

Saat keluar terdengar suara ribut-ribut karena pelayan menemukan mayat Giok lan. “Siapa

yang membunuhnya ?”

“Tentu saja penjahat !”

“Lekas cari !”

“Laporkan pada Siocia !”

Jung jung yang jalan lebih dulu menantikan Tiong Giok dan memberi isyarat dengan

matanya, lalu mengacak-acak rambutnya dan menyobek-nyobek bajunya. Didahului

jeritannya ia menerjang pintu sambil terhuyung-huyung. Diruangan itu ada tiga pelayan

berbaju hijau, melihat keadaan Jung jung menjadi kaget dan berseru dengan berbareng. “Ah,

Jung jung, ada apa ? Ada apa ?”

Dengan suara terputus-putus Jung jung menunjuk kekamar mandi: “Ada…..

penjahat…..dikamar bawah….lekas tangkap !”

Tiga gadis berbaju hijau serentak menghunus senjatanya, dan bertepatan dengan ini, Tiong

Giok muncul sambil membentak : “Yang merintangi binasa ! Lihatlah Giok lan sebagai

buktinya !” Sambil membentak pedangnyapun turut bekerja.

“In Kongcu, Siocia memperlakukan sangat baik, kenapa engkau membalas dengan kejahatyan

!” kata tiga gadis berbaju hijau itu, sambil menghadang.

“Siociamu yang asli adalah yang kubopong ini, kenalilah dengan seksama…”

Tiga gadis berbaju hijau itu tidak memperdulikan perkataan Tiong Giok, mengayunkan

pedangnya dari tiga penjuru menyerang pemuda kita dengan bengisnya.

“Jung jung lekaslah beri laporan pada Siocia, sementara kami melawan dia !”

Tiong Giok merasa heran kenapa tiga gadis berbaju hijau ini tak mengenali Siocia mereka

yang asli ! Dan iapun melakukan serangan dengan setengah-setengah, karena kuatir melukai

mereka, tak heran ia berlaku demikian karena ia tidak mengetahui bahwa gadis-gadis berbaju

hijau adalah anak buah yang sejati dari Soat Kouw, sedangkan anak buah yang berbaju

kuning, merah dan biru milik Liap In Eng.

Jung jung yang melihat keadaan ini dapat membaca pikiran Tiong Giok, cepat-cepat ia

memberi isyarat matanya sambil berseru dengan sengaja: “Hei, kalian kenapa

mempergunakan ilmu pedang dari Pok Thian Pang dan tidak menggunakan ilmu pedang piau

siang kiam yang bernama Su siong tin (barisan empat gajah) ? Lekas gabungkan kekuatan

kalian, baru bisa melawannya !”

184

“Ilmu itu belum paham betul kami gunakan,” jawab salah seorang gadis berbaju hijau,

“sebaiknya lekaslah beeri laporan pada Siocia !”

“Ah dasar, sudah setahun engkau meninggalkan Pok Thian Pang dan mempelajari ilmu itu,

kenapa belum paham-paham juga ? Baiklah kulaporkan pada Siocia, dan hati-hatilah

menghadapinya !”

Perkataannya ini secara tidak langsung memberi tahu pada Tiong Giok bahwa gadis-gadis

berbaju hijau itu bukan anak buah Liap In Eng dan tak perlu kasian-kasian menghadapinya. In

Tiong Giok setelah memberi persoalan itu, segera melancarkan gerakan Keng thian cit su.

Sinar pedangnya itu lalu berubah dengan cepat, bergerak membawa maut, mendesak dan

membuat tiga musuhnya jungkir balik bermandi darah!

“Lekas engkau keluar dari pintu belakang,” kata Jung jung yang terus lari dengan terhuyunghuyung

kearah depan. Tiong Giok keluar dari ruangan itu dan mencelat keatas tembok, dari

sini ia melihat Tong Cian Lie sedang mengawasi ke dalam dengan mata berapi-api. “Bocah

kenapa lama amat ? Membuatku cemas tak keruan !”

Tiong Giok melokmpat turun.

“Ah bukankah ini Liap Kounio ? Kenapa bisa begini ?” tanya Tong Cian Lie.

“Yang menyamar sebagai Liap Lo Cianpwee adalah Hu pangcu dari Pok Thian Pang.” Kata

In Tiong Giok. “Harap Lo Cianpwee membekuknya , aku mau membawa dulu Liap Lo

Cianpwee ketempat aman !”

“Kurang ajar, lekaslah kau menyingkir, akan kuhajar perempuan jahanam itu.”

Tiba-tiba saja mereka menjadi kaget karena melihat api membubung tinggi dari depan rumah.

Dengan gerakan cepat Tong Cian Lie melesat pergi, Tiong Giok pun mengurungkan niatnya

meninggalkan rumah itu, mengikuti jejak Tong Cian Lie dari belakang.

Rumah yang megah dalam kesunyian itu, dalam sekejap telah menjadi lautan api, dihalaman

hanya terlihat bujang-bujang tua yang sedang tergesa-gesa membawa barang, tidak terlihat

Soat Kouw dan pelayan-pelayannya.

“Kemana larinya bangsat perempuan itu ?” tegur Tong Cian Lie pada seorang babu tua.

“Kabur…ia sudah kabur !”

“Mungkin bangsat itu mendengar kedatangan Lo Cianpwee dan ketakutan sendiri, lalu

membakar rumah ini sebelum kabur !”

“Bagaimanapun tak bisa lari jauh ! Matikanlah api ini aku akan mengejarnya.”

“Lo Cianpwee harus waspada bahwa pengiringnya bangsat itu adalah pelayan-pelayan yang

setia pada Liap Lo Cianpwee mereka hanya berpura-pura tunduk pada bangsat itu, karena

sedang menjalankan siasat !”

185

Tong Cian Lie mengangguk dan terus mencelat pergi dengan kencangnya.

Perempuan-perempuan yang ada disitu lebih kurang tujuh delapan orang, sudah tua-tua dan

tidak berilmu silat, sehingga tidak bisa mengangkat air untuk memadamkan api, sedangkan

tenaga Tiong Giok tidak memadai untuk memadamkan api itu. Ia hanya berlari kesebelah

tengah setelah meletakkan Liap In Eng ditempat aman, lalu merobohkan tembok disitu dan

memerintahkan perempuan-perempuan tua mengambil air, dengan begini api tidak bisa

“Apakah kalian melihat tamu she Pek itu ?”

“Ia sudah dibunuh dan mayatnya masih berada diruang itu.” Jawab babu itu sambil menunjuk

kesebuah ruangan yang hampir dijilat api.

Dengan cepat Tiong Giok mengguyur tubuhnya denga air, lalu menerjang keruangan yang

ditunjuk. Hawa api sangat panas, ditambah kepulan assap sangat tebal, membuatnya tidak bisa

melek. Untung ruangan itu adalah bekas kamarnya selama sepuluh hari dan keadaannya

dikenal betul. Dengan meraba-raba seperti seorang buta ia masuk terus. Entah tergesa-gesa

entah gugup, sekian lama ia berputar-putar tidak juga diketemukan tubuh Pek King Hong.

Lidah api berulang kali menjilat tangannya membuatnya kesakitan, nafasnya menjadi sesak

karena asap itu. Ia agak pening juga, tapi tidak putus asa dicoba membuka mata, tapi dengan

cepat menutup lagi karena perih ! Akihirnya ia merangkak, dan diluar tahunya ia masuk

kekolong ranjang. Disinilah ia menyentuh sesosok tubuh, dengan girang diangkatnya tubuh

itu. “Beleduk “ terdengar suara nyaring, karena kepalanya membentur papan ranjang, dan

terpaksa membuatnya merangkak lagi sambil menyeret tubuh itu. Setelah meraba-raba diatas

kepalanya tak ada penghalang lagi, ia baru merangkul tubuh itu dan dibawa keluar dengan

susah payah melalui jendela. Waktu ia sampai ditempat aman, bajunya telah menjadi kering

dan hitam-hitam. Tubuh itu diletakkan perlahan-lahan dan diawasi. Benar saja itulah Pek

King Hong adanya. Wajahnya yangburuk tetap tak berubah seperti pertama kali dijumpainya,

bedanya sekarang tidak bisa berkata-kata lagi seperti dulu. Kedua matanya Pek King Hong

tertutup rapat, nafasnya tak ada lagi, menyatakan sudah berpisah dengan dunia yang fana ini.

Tiong Giok sangat berduka, tubuh itu dibawanya keloteng belakang yang tidak kebakar.

Keadaan disini sangat sunyi dan sepi, berapa batang lilin masih menyala. Udara dikamar

terasa harum semerbak ! Tubuh itu diletakkan dipembaringan, lalu ia turun lagi kebawah dan

membawa tubuh Liap In Eng kedalam kamar. Dan meletakkan disebelah Pek King Hong,

hingga mereka berandengan dalam satu tempat tidur. Melihat ini mendatangkan rasa duka

bagi sipemuda, ia bertekuk lutut didepan kedua jago Bulim itu sambil mengeluarkan air mata

dan berkemak kemik sendiri : “Jie wie Lo Cianpwee cita-citanya ingin berdampingan kini

dapat terlaksana ! Dan maafkan bahwa aku tak membuka jalan darah Liap Lo Cianpwee

karena untuk kebaikan baginya dikemudian hari ! Kudoakan Liap Lo Cianpwee bisa menahan

penderitaan dan percobaan duniawi yang ganas ini dengan tabah ! Semua manusia harus

meninggal dunia, dari sebab mati terjadi perpisahan ! Perpisahan adalah duka ! Tersebab duka

inilah manusia lahir di dunia dan meninggalkan dunia ini ! Kini kudoakan impian dan harapan

mengikuti kehidupanmu, dan atas kedustaan dariku ini kumohon maaf dan kulakukan hanya

untuk sekali saja. “ Sehabis ia berkata, tubuhnya bangkit dan keluar dari pintu kamar sambil

memandang langit yang gelap.

186

Disini ia termanggu dan menduga bahwa tempat dimana kini ia berdiri, mungkin dulunya

adalah tempat dimana Liap In Eng berdiri sambil menggadangi rembulan sambil terpekur

memikiri kekasihnya ! Entah berapa malam dan berapa siang ia kesunyian seorang diri, hanya

rembulan dan awan yang mengetahui. Sedang kekasih yang dicintai tidak terdengar kabar

beritanya !

Kini kekasih sudah berada disampingnya, tapi semuanya telah menjadi lambat : Bukan sebab

Pek King Hong yang salah, ataupun Liap In Eng yang malang, semua itu adalah suratan takdir

!

Malam semakin larut. Embun membasahi baju. Kesiuran angin malam menyapu mukanya,

pipinya terasa dingin, ia baru berasa bahwa dirinya telah bercucuran air mata.

Tong Cian Lie belum kembali, mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya

? Pek Wan Jie melarikan diri dari Pok Thian Pang karena ia, dan apa akibatnya kalau sampai

dibawa kembali kesana ? Kalau sampai disiksa atau dibunuh Lo Cucong , bukankah semua

ini, aku In Tiong Giok yang menyebabkan ? Bukan saja Pek Wan Jie, seorang Pek King Hong

pun mengalami penganiayaan karena aku juga ! Semua ini adalah penyesalan untuk seumur

hidupku….

In Tiong Giok menyesali dirinya sendiri dan berdiri dipelataran terbuka didepan kamar Liap

In Eng. Saat itulah dengan tiba-tiba ia mendengar suara rintihan… Dalam suasana sunyi,

biarpun rintihan itu perlahan, terdengarnya nyata sekali. Ia menjadi kaget dan celingukkan

keempat penjuru, tapi tidak terlihat sesuatu apa yang mencurigakan. Dibukanya pintu kamar,

matnaya melihat kepembaringan tak terasa lagi hatinya berdebar sendiri ! Tubuh Pek King

Hong yang diletakkan terlentang kini telah menjadi miring….mungkinkah ? Ia menjadi girang

dan cepat-cepat masuk kedalam, dirabanya tubuh Pek King Hong. Tetap seperti sedia kala,

tidak bernapas, kaku !

Waktu Tiong Giok mengangkat lengannya dari perut Pek King Hong terdengar suara “sess”

yang lunak, dan tubuh yang miring itu entah bagaimana bergerak dan tengkurap ! Kedua mata

In Tiong Giok terbelak lebar dan menatap terus tanpa berkedip-kedip menyaksikan keajaiban

ini ! Ia melihat dengan tegas waktu tubuh Pek King Hong bergerak, dibagian perutnya

berkutik-kutik sesuatu benda seperti ular !

Dengan bernafsu, dibukanya baju Pek King Hong, dan barulah ia dapat tahu yang berkutikkutik

itu adalah hawa ! Ditubuh seorang yang sudah mati terdapat sisa hawa yang bergerak,

benar-benar menakjubkan !

In Tiong Giok terkejut tapi tidak mau membuang kesempatan untuk mencoba-coba. Segera

lengannya bergerak dan menepuk kelima jalan darah besar Pek King Hong, mendesak agar

sisa hawa tadi bisa tersalur keparu-paru dan terus kekerongkongan.

Tak alang kepalang girangnya Tiong Giok karena usahanya berhasil baik, dan terus

menyalurkan tenaganya dengan baik. Lebih kurang sepemakan nasi lamanya sekujur badan In

Tiong Giok bermandikan keringat. Tapi capai lelahnya ini tidak sia-sia, sebab dengan

mendadakan Pek King Hong membuka matanya. Tapi dalam sekejap saja mata itu rapat

kembali. Parasnya tampak lemah dan menyedihkan.

187

Keletihan Tiong Giok seolah-olah terhapus kegirangan, ia menyalurkan terus tenaganya tanpa

berhenti, dan sekali lagi Pek King Hong membuka mata dan berkedip-kedip sambil

mengucurkan dua tetes air mata.

“Lo Cianpwee pusatkan perhatianmu dan kubantu mengatur hawa untuk menjalankan darah

sebentar lagi pasti berhasil..”

“Tak usah bercapai lelah…nak…tak …ada…gunanya,” jawab Pek King Hong dengan lemah

dan hampir-hampir tidak terdengar.

“Pasti berguna…mati-matian kusalurkan tenaga ini menolong Cianpwee !” Sehabis berkata ia

menyalurkan sekuat tenaga, hawa sejati bergolak semakin cepat dan lebih kuat dari tadi.

Dengan wajah pucat pasi Pek King Hong menggelengkan kepala dan berkata “Engkau

berusaha mati-matian, tapi tidak akan membawa hasil ! Jalan satu-satunya pergunakanlah Hiat

cie leng dan totokkan pada yang terletak disebelah kiri dada. Dengan begini aku mempunyai

kesempatan untuk mengutarakan perasaan hatiku…”

In Tiong Giok sudah kepayahan, tapi dengan tak ayal, ia memeramkan mata sejenak, lalu

melancarkan Hiat cie lengnya. Angin dari jari itu tepat mengenai sasarannya. Pek King Hong

berdehem sekali, kedua matanya sedikit rapat.

Hiat cie leng adalah ilmu maut yang ampuh, sedangkan Cio tay hiat adalah jalan darah

kematian tapi begitu kena diserang bukan saja Pek King Hong tidak menderita luka, bahkan

wajahnya yang pucat pasi perlahan-lahan menjadi semu merah. Waktu matanya melek,

pancaran matanya pulih kembali seperti dulu. Sebaliknya Tiong Giok sendiri telah

melancarkan Hiat cie leng menjadi termangu-mangu, keringatnya mengucur deras, semangat

dan tenaganya seperti habis dan menjadi loyo sendiri.

“Kutahu engkau mengeluarkan tenaga terlalu banyak !” kata Pek King Hong.

“Aku menyuruhmu memakai Hiat cie leng, untuk menjalankan inti darah diurat terakhir,

Engkau berhasil menjalankan darah itu, dan memberi kesempatan untukku mengutarkan

sesuatu kandungan hati. Jika engkau terlalu letih meramkanlah matamu, sambil mengaso

smabil mendengari kata-kataku.”

In Tiong Giok merasa lemas, cepat-cepat ia memejamkan matanya untuk memulihkan

kembali pernafasannya.

“Kisah cintaku sungguhpun malang dan menyedihkan, tapi hari ini aku bisa berkumpul lagi

dengan kekasihku. Tapi mau dikata apa, pertemuan itu hanya sejenak dan setelah itu

adalah…. Tapi apa yang terjadi ini, sedikitpun tidak perlu kusessalkan, semua maunya takdir.

Setelah kumati, engkau adalah Ciang bun jin Thian liong bun, hal ini tak bisa kau tolak lagi.”

Pelajaran dari Thian liong bun sangat luar biasa dan dlam serta luas. Maka itu pereempuan

jahanam itu berdaya upaya untuk merampas Thian liong bun. Dalam buku ini tertulis ilmu

pelajaran telapak tangan, tinju, meringankan tubuh, pedang, jari, lwekang (ilmu dalam).

Mungkin engkau tidak mengetahui bahwa Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang tertera

pada Thian liong pu…”

188

“Apa ? Keng thian cit su sebagai ilmu pedang perguruan Thian liong bun ?” tanya Tiong Giok

sambil membuka matanya.

“Sedikitpun tidak salah !” jawab Pek King Hong. “Pernah kuterangkan padamu, bahwa Thian

liong bun memberikan pelajaran silat tanpa mendirikan perkumpulan, hanya jago-jago Bulim

memiliki kepandaian tinggi yang berasal dari Thian liong bun antaranya Sin kiam siang eng.

Untuk lebih jelas beberapa dari Bulim Cap sakie yang berilmu tinggi seperti gurumu yang

memiliki Hiat cie leng, Liap In Eng, Thay Kong Thaysu, Thay Cin Tojin semuanya tak

terlepas dari ilmu yang terdapat di Thian liong pu. Maka itu jika dinilai, Thian liong pu lebih

berharga entah beberapa kali lipat dari Keng thian cit su ! Karena itulah kaum Pok Thian Pang

berdaya upaya mengatur segala siasat mencelakakan diriku untuk memperoleh buku itu.”

“Kalau begini nyatanya sudah terang buku itu kena dirampas perempuan jahanam itu ?” tanya

In Tiong Giok.

“Ya kemarin malam ia menaruhkan obat penghancur hawa sejati didalam makanan yang

diberikan kepadaku, lalu dengan tiba-tiba ia menurunkan tangan jahat, menghancurkan tenaga

pelindung diri, untung aku sudah keburu menurunkan nafas kebagian anggota bawah, dan

mempunyai sisa hawa yang membuat bertahan sampai engkau memberikan pertolongan,”

suaranya terputus dan menjadi kecil,”sedangkan wajahnya menjadi pucat sekali.

“Lo Cianpwee engkau bagaimana ?”

“Bisakah engkau mengumpulkan tenaga lagi membrikan lagi Hiat cie leng ?”

In Tiong Giok mengangguk dan mengumpulkan kekuatannya yang terakhir memberikan

totokan pada Cio tay hiat Pek King Hong. Totokan ini membuat Pek King Hong

mengeluarkan nafas panjang, wajah pucatnya berubah merah kembali. Setelah mengaso

sejenak, semangatnya menyala kembali dan terus berkata : “Wah menyusahkanmu saja.”

JILID 10________

Memang benar, setelah melancarkan dua kali Hiat cie lengnya In Tiong Giok kehabisan

tenaga, napasnya memburu seperti kerbau kepayahan, tapi saat ini dia sudah melupakan

keadaan dirinya, begitu napasnya baikan, segera ia berkata : “Lo Cianpwee katakanlah dengan

jelas cara apa lukamu bisa sembuh ?”

“Isi perutku sudah rusak dan hawa sudah mongering, biar mendapat obat dewapun tak bisa

menyembuhkan. Sedangkan Hiat cie leng adalah ilmu dalam yang memakai tenaga sejati dan

membangkitkan kehidupan padaku untuk sejenak saja, beginipun cukup membuatku

menuturkan kata-kata sebelum meninggal dunia.”

“Bagaimanapun Lo Cianpwee tidak boleh meninggal dunia, untuk Thian liong bun dan untuk

Liap Lo Cianpwee.””Perasaan rindu selama tiga puluh tahun cukup terhibur dengan

pertemuan hari ini, padanya tiada yang kupikirkan lagi, tapi soal buku itu yang menjadi beban

pikiranku !”

“Tak perlu Lo Cianpwee kuatirkan akan kuusahakan merampas kembali buku itu !” kata In

Tiong Giok.

189

“Jangan kau rampas buku itu, pokoknya sanggupilah dua permintaanku.”

“Jangan kata dua, dua puluhpun akan kusanggupi !” jawab Tiong Giok.

“Bagus,” kata Pek King Hong. “Yang pertama setelah ku mati, dalam waktu kurang dari

setahun engkau harus pergi ke Cu cin san dan datanglah di puncak Giok hong hong, di sana

ada sebuah gua, dan ambillah sebuah benda peninggalan di gua itu, lalu menurut kata-kat

yang tertulis di dinding gua itu, untuk dikerjakan. Untuk bisa sampai digunung itu dan masuk

ke dalam gua engkau harus membawa kumala yang tempo hari kuberikan kepadamu, soal

yang kedua jenazahku tidak boleh dikubur, dan letakkan di dalam gua itu…”

“Semua ini kusanggupi, tapi buku itu haruskah dibiarkan terus ditangan Pok Thian Pang ?”

“Benar !”

“Kenapa ?”

“Sebabnya engkau akan mengerti sendiri dikemudian hari, saat ini keadaan dunia persilatan

mungkin sudah berubah lagi tak seperti sekarang !” kata Pek King Hong. Sejenak ia tidak

melanjutkan perkataannya, melainkan melirik kepada Liap In Eng yang berada disebelahnya.

“In Eng ! Engkau begini cantik, kenapa bernasib buruk ? Karena nasibkah ? Ai ! Dalam

kehidupan ini terjadi perpisahan abadi !”

Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan.

Dunia yang fana sebagai impian.

Duka derita bagian kita.

Sehabis membacakan sebait sair itu, sinar mata Pek King Hong menjadi sayu dan buram.

Wajahnyapun turut menjadi pucat dan dengan cepat berkerut-kerut serta menyusut seperti

kayu kering. Waktu Tiong Giok meraba dengan tangannya, sudah dingin membeku. Dengan

air mata bercucuran Tiong Giok menggoyang-goyang kedua tangan Pek King Hong sambil

berseru “Pek Lo Cianpwee ! Pek Lo Cianpwee…” Saat itu ia merasakan bumi berputar, suara

jeritannya menjadi habis, dan jatuh pingsan tanpa merasa…

Entah berapa saat sudah berlalu, waktu ia siuman dari pingsannya, mendapatkan dirinya

berbaring diatas ranjang tertutup selimut hangat. Tak jauh dari pembaringan terlihat seorang

babu sedang berdiri, dan Tong Cian Lie yang sedang duduk bersila. Wajahnya sangat pucat,

kedua matanya dimeramkan, seperti sedang memulihkan pernapasannya.

Tiong Giok kesusahan untuk bangkit, tapi kepalanya seperti mau copot tak bisa diangkat. Dan

mendatangkan rasa sakit yang membuatnya tidur kembali.

“Apakah engkau ingin mati ?” kata Tong Cian Lie sambil membuka mata. “Kuperingati,

jangan bergerak jika mau hidup terus !”

“Aku…aku kenapa ?” tanya Tiong Giok.

190

“Tanya pada dirimu sendiri ! Kenapa rambut hangus, tenaga dan semangat hilang ? Jika aku

tak cepat kembali. Hm, ilmu kekuatanmu siang-siang sudah musnah !”

Tiong Giok menenangkan pikiran. “Bagaimana dengan Liap Lo Cianpwee ?” tanyanya.

“Bocah apakah engkau tak bisa tenang barang sedikit ?” kata Tong Cian Lie.

“Jika engkau ngomong terus, jiwamu pasti tak akan tertolong, dan percuma saja aku

membuang tenaga menolongmu. Soal Liap In Eng tak perlu kau pusingkan, jalan darqahnya

sudah kubuka dan ada diloteng depan sedang tidur nyenyak.”

Tiong Giok menutup mulut tak berani banyak bertanya lagi, hanya sepasang matanya lirik

sana lirik sini memandang Tong Cian Lie dan bujang tua itu bergantian. Sebenarnya ia ingin

menanyakan jenazah Pek King Hong, tapi takut dibentak Tong Cian Lie yang bertabiat

berangasan. Namun gerak geriknya ini tidak luput daripandangan matta Tong Cian Lie, maka

itu ia berkata : “Apakah engkau memikirkan soal jenazah itu ? Tenangkan hatimu, aku sudah

menyuruh orang menggotong pergi…”

“Tong Cianpwee jenazah itu tak boleh dogotong..”

“Apakah harus diletakkan terus dipembaringan Liap Kounio ? Sungguhpun aku tak tahu dia

siapa, kutahu tentu sahabat baikmu, maka kubeli peti mati dan memasukkan kedalamnya,

apakah yang kulakukan salah ?”

“Maksudku bukan begitu…”

“Aku segan menanyakan apa maksudmu, ringkasnya jenazah itu ada dihalaman belakang, dan

pasti tidak akan hilang ! Engkau jangan banyak bicara, mengasolah dengan tenang, nanti

setelah sembuh baru bicara lagi.” Lalu ia menoleh kepada babu tua, “Sekarang engkau boleh

pergi, dan jangan lupa obat itu masak dengan baik, dan pil itu diberikan pada Siociamu

sebutir, perhatikanlah baik-baik, dan jangan sampai ia bangun.”

“Babu tua itu segera berlalu, Tong Cian Lie segera memejamkan mata lagi melakukan

perbaikan jalan napasnya.

Terhadap jago bersifat berangasan ini, disamping menaruh hormat Tiong Giok merasa jerih.

Maka iapun segera memejamkan mata menyalurkan lagi hawa sejati dan lwekangnya. Setelah

melakukan istirahat dan perbaikan atas hawanya, yang dilakukan dengan giat, rasa sakit

dibadannya berangsur-angsur hilang. Waktu ia membuka matanya kembali, matahari telah

condong ke barat. Sedangkan Tong Cian Lie sudah berdiri didepan ranjang sambil

memandang kearahnya. Dan memberikan sebutir obat : “Makanlah obat ini !”

Tiong Giok menerima obat itu dan menelannya, tak selang lama ia merasakan sekujur

badannya menjadi panas dan membuat semangatnya berangsur-angsur pulih. Dicobanya

bangun. Ia berhasil dengan baik, bahwa saking girangnya ia lupa menghaturkan terima kasih

dan langsung saja bertanya.

“Waktu Lo Cianpwee mengejar perempuan jahanam itu, apa Lo Cianpwee tidak melihat

seorang gadis yang bernama Pek Wan Jie ?”

191

“Hm ! Kekuatanmu belum pulih semua, sebaiknya lebih banyak istirahat dari pada berkatakata

!”

“Aku merasakan tujuh puluh lima persen kekuatanku pulih kembali. Jika Lo Cianpwee tak

mau memberitahu hatiku mana bisa beristirahat dengan tenteram.”

“Apakah gadis yang bernama Wan Jie itu mempunyai hubungan yang dalam denganmu ?”

“Ya.”

“Dan berhasilkah Lo Cianpwee mengejar mereka ?”

“Masakan aku tak berhasil mengejar segala perempuan itu !”

“Kalau begitu perempuan jahat itu sudah ditangkap ?”

“Siapa yang mengatakan ?”

“Habis bagaimana ?”

“Aku mempunyai pantangan tidak bisa turun tangan terlebih dahulu terhadap wanita !”

“Kalau begitu kerjaan Lo Cianpwee tidak membawa hasil ?”

“Hm ! Siapa yang bilang ?”

“Habis kalau Lo Cianpwee tidak turun tangan bukankah perempuan-peempuan itu berhasil

meloloskan diri ?”

“Sungguhpun aku mempunyai pantangan yang beitu, tapi jika perempuan itu tidak mau

menurut kata-kataku, akan kuhajar juga, nah Sun Toa nio sebagai contohnya.”

“Selanjutnya bagaimana ?”

“Tatkala kena kukejar, kulihat mereka semuanya adalah perempuan melulu, maka aku tidak

bisa turun tangan terlebih dahulu; kuperingatkan mereka kembali kesini. Bukan saja

perempuan jahanam itu tidak menggubris perintahku, malahan ia menyuruh delapan

pelayannya menghadangku. Akibatnya mereka turun tangan terlebih dahulu dan akupun tidak

sungkan-sungkan lagi.”

“Bukankah pelayan-pelayan itu empat mengenakan pakaian biru dan empat mengenakan

pakaian merah ?”

“Benar !”

“Adakah Lo Cianpwee melukai mereka ?”

“Engkau sudah mengatakan mereka sebagai anak buah Liap In Eng bukan ? Maka itu aku

tidak melukainya, melainkan membekuk satu persatu dan membawanya lagi kemari !”

192

“Ah celaka !” seru Tiong Giok.

“Apa katamu ?”

“Maksudku agar mereka pura-pura tunduk dan ikut kemarkas pusat Pok Thian Pang. Bila

mana sampai saatnya kita melakukan serangan kesana, mereka bisa menyambut dari dalam

dan melicinkan perjuangan kita menghancurkan perserikatan jahat itu tapi tak kira Lo

Cianpwee telah membawa mereka kembali kesini !”

“Untuk usahamu itu tidak perlu memakai banyak orang.” Kata Tong Cian Lie, “tiga orangpun

sudah cukup. Kuajak mereka kembali, mengingat keadaan Liap In Eng sudah buta dan perlu

mendapat perawatan sebaik mungkin dari pelayan-pelayannya.”

“Ya pendapat Lo Cianpwee benar juga, aku tak memikir sampai kesitu.”

“Soal yang engkau tak piker masih banyak, ingin kutanya kepadamu apa Pek Wan Jie itu

benar-benar baik padamu ? Atau hanya pura-pura baik ?”

“Pikir saja ia berani meninggalkan maskas pusat Pok Thian Pang karena diriku, maka

kebaikannya tak perlu diragukan lagi !”

“Hm, engkau mengatakan begitu, yang sebenarnya ia tidak menghianati Pok Thian Pang

seujung rambutpun.”

“Bagaimana Lo Cianpwee berani memastikan ?”

“Waktu kukejar perempuan jahanam itu dan dihalang-halangi pra pelayan, ia berniat

meloloskan diri, tapi dengan pukulan geledek kulihat ia luka parah. Sebenarnya dengan

mudah bisa kutangkap, kalau tidak ditolong Pek Wan Jie ! Untung aku masih mengingat gadis

itu sebagai kawanmu, jika tidak iapun pasti terluka ditanganku !”

“Ah, untung Lo Cianpwee tidak melukainya.”

“Atas inikah engkau bergirang ?”

“Pek Wan Jie seorang gadis yang welas kasih sejak kecil dia dibesaarkan di Pok Thian Pang,

Soat Kouw adalah bibinya, sudah tentu mempunyai hubungan bahtin yang mendalam, tak

heranlah dia memberi pertolongan dikala bibinya menderita luka bukan ? Atas perbuatannya

itu mendapat jasa besar, dan bisa menebus kesalahannya di Pok Thian Pang, karena inilah aku

bergirang hati.”

“Tak kira engkau semuda ini sudah tergila-gila paras cantik.” Kata Tong Cian Lie sambil

menarik napas panjang. “Sedangkan kedudukan Wan Jie sebagai kawan atau lawan belum

bisa diterntukan bukan ? Menurutku lebih baik mengurangi pacar-pacaran dengannya ! Dalam

hal ini aku bermaksud baik, dan engkau jangan salah terima.”

“Aku menerima wejangan dari Lo Cianpwee dengan tulus ikhlas,” kata In Tiong Giok.

“Soal disini sudah beres, apakah engkau masih mau pergi ke Pek liong san ?”

193

“Sudah tentu !”

“Keadaan fisikmu masih lemah…”

“Kurasa tidak menjadi soal,” potong In Tiong Giok. “Tapi sebelum itu, soal Liap Lo

Cianpwee harus dibereskan dulu.”

“Hal ini tak perlu kau kuatirkan, ia bisa menyingkir dulu ke Kiu yang shia dibawah

perlindungan pelayan-pelayannya,” kata Tong Cian Lie. “Jika engkau masih kuatir, aku bisa

minta bantuan kaum pengemis yang menjadi anak buah Cian bin sin kay, untuk melindungi

sampai ketempat tujuan.”

“Liap Lo Cianpwee mau kesana ?”

“Jika menanyakan kepadanya sudah tentu ia tidak mau, kini tak perduli ia mau atau tidak, kita

harus mengusahakan sampai ia mau !”

Setelah mengambil keputusan ini, Tong Cian Lie membubarkan babu-babu tua dengan

memberi uang. Dan memanggil gadis-gadis berbaju biru dan merah, diterangkan pada mereka

apa yang akan diperbuatnya untuk menyelamatkan Liap In Eng; mereka menyetujui usul itu

sambil menghautrkan terima kasih. Dari delapan gadis berbaju merah yang bernama Cu lian

dan Ing jie untuk mendampingi Siocianya disepanjang jalan, sedang yang lain dibagi menjadi

tiga grup untuk berjaga dengan bergilir.

“Soal Liap In Eng bisa diatur, dan soal Pek King Hong adalah urusanmu,” kata Tong Cian

“Soal ini sudah kupikirkan !” kata Tiong Giok. Diajaknya Tong Cian Lie, membawa jenazah

Pek King Hong kesebuah kelenteng, berbareng dengan bantuan kaum Kay pang (pengemis)

untuk menyediakan sebuah perahu untuk keperluan Liap In Eng. Setelah mengatur keperluan

dengan beres, Tong Cian Lie dan In Tiong Giok baru naik keloteng menemui Liap In Eng.

Dalam pikiran mereka Liap In Eng tidak akan setuju meninggalkan tempat kediamannya, dan

diluar dugaan mereka begitu naik keloteng, tampak Liap In Eng sudah siap seia dengan

oakaian yang rapih menunggu kedatangan mereka didalam kamar.

Tong Cian Lie dan In Tiong Giok menjadi melengak menyaksikan ini, sehingga tidak bisa

membuka mulut.

“Apakah sudah mendapat perahu, dan kapan berangkat ?” tanya Liap In Eng perlahan.

“Oh kiranya Kounio sudah tahu,” kata Tong Cian Lie sambil tersenyum-senyum. “Kami

mengira Kuonio keberatan meninggalkan tempat ini, karena itulah kami tidak memberitahu.”

“Sewaktu-waktu orang buta lebih tajam perasaannya dari yang melek,” kata Liap In Eng,

tambahan perabotan dari rumah sebesar ini, biarpun sudah terbakar sebagian tak mudah

dibersihi dalam waktu sejenak. Kesibukan-kesibukan dari para pelayanku itu, tak bisa

dibohongi.”

194

“Tempat ini sudah diketahui kaum Pok Thian Pang dan tidak bisa ditinggali terlebih lama

lagi. Untuk sementara sebaiknya mengungsi ketempat aman, balik lagi kesini jika kaum

penjahat itu sudah terbasmi !”

“Soal rumah ini tidak kupikirkan dan kemana kalian mau membawaku, aku menurut saja, tapi

sebelum berangkat tunjukkanlah dimana kuburan dari Pek King Hong.”

“Oh, kiranya segala apa Kounio sudah mengetahui,” kata Tong Cian Lie.

“Jenazah Pek King Hong belum dikebumikan dan sementara waktu dititipkan disebuah

kelenteng. Sudah sepatutnya Kounio memberikan penghormatan terakhir kepadanya sebelum

melakukan perjalanan.”

“Terima kasih atas kebaikan Tong heng, aku biarpun tidak bisa melihat tapi bisa juga meraba

petinya. Setelah itu entah tahun mana bulan mana baru bisa menyambangi kuburannya lagi !”

Tong Cian Lie segera menyuruh kaum pelayan mengajak Siocianya turun dari loteng. Cui lian

dan Ing jie memayang Liap In Eng turun kebawah dan naik keatas joli, terus berangkat

Dalam waktu singkat mereka telah tiba ditempat tujuan, keadaan sangat sunyi dan sepi. Joli

berhenti didepan pintu kelenteng, Liap In Eng dibawah payangan kedua pelayannya masuk

kedalam. Ia merandek sejenak dan bertanya : “Kenapa jenazah diletakkan disini dan tidak

dikubur ?”

“Ini kehendak Pek Lo Cianpwee sendiri, agar jenazahnya bisa dibawa kegoa di Hong hong

san !”

“Siapa yang mendampingi sebelum ia menutup mata ?”

“Aku yang mendampingi.”

“Jika begitu waktu perempuan itu menurunkan tangan jahatnya, belum mati ?”

“Ya belum mati, tapi sekuat tenaga kuusahakan untuk menyelamatkan jiwanya, tetap tak

berhasil, karena lukanya kelewat parah.”

“Ah menyusahkan engkau saja…” suaranya bergetar dan tak tersambung lagi datangnya isak

tangis yang memilukan.

Tong Cian Lie mengedipkan para pelayan, agar mendesak Liap In Eng lekas-lekas

menjalankan penghormatan terakhir kepada kekasihnya.

“Siocia jangan bersedih terus, semua kemauan takdir, manusia tidak bisa mencegahnya.

Lakukan upacara duka cita ini selekasnya, agar kita bisa berangkat secepatnya.”

Liap In Eng seperti mendengar seperti tidak perkataan pelayan itu, ia tetap bertanya pada In

Tiong Giok : “Apa yang diucapkan sebelum ia menutup mata ?”

“Pek Lo Cianpwee sebelum menutup mata membacakan sebait sajak yang berbunyi :

195

Dalam kehidupan kini terjadi perpisahan abadi

Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan

Dunia yang fana sebagai impian

Duka derita bagian kita.

Liap In Eng semakin bersedu-sedu mendengar sajak itu, demikian juga dengan Tong Cian Lie

menjadi turut mengucurkan air mata.

Liap In Eng berulang kali membaca sajak itu, agaknya sajak itu membawa hiburan besar

“Kounio marilah kita berangkat !” ajak Tong Cian Lie.

“Ya, seharusnya kita cepat berangkat !”

In Tiong Giok merasa ganjil mendengarkan ucapannya. Liap In Eng membenturkan

kepalanya pada peti dengan gerakan kilat. Tong Cian Lie menjambret tangan tapi tak berhasil.

“Bung” terdengar bunyi keras, kepala Liap In Eng tepat mengenai kayu peti yang keras dan

pecah !.

Tong Cian Lie membebaskan totokan Tiong Giok dan kedua pelayan, lalu memeriksa keadaan

Liap In Eng, ia mendapatkan kawan itu telah menutup mata untuk selama-lamanya.

Pelayan-pelayan yang setia menjerit-jerit mengeluarkan tangisan.

Tong Cian Lie terpekur dengan mengucurkan air mata. Ia seorang yang berkedudukan tinggi

di dunia persilatan, seharusnya tidak boleh mendesaknya meninggalkan tempat kediamannya.

“Dan kitapun berlaku lengah tidak menjaga dirinya, tapi semua ini adlah kehendaknya dan

dengan begini ia mencapai kepuasan untuk menghabiskan sisa hidupnya yang penuh derita.”

“Bawalah jenazah Siocia kalian kerumah nanti kami bisa membereskan upacara

penguburannya.”

Dengan kesedihan yang berlimpah-limpah pelayan-pelayan bertekuk lutut dihadapan jenazah

Siocianya, sedangkan Tong Cian Lie dan In Tiong Giok segera berangkat membeli peti dan

keperluan lainnya.

Karena tidak mendapat kuli Tiong Giok membopong peti mati, sedangkan Tong Cian Lie

membawa keperluan sembahyang dan cepat kembali kerumah.

Tak kira begitu mereka masuk kedalam, menjadi terkejut dan melongo melihat pemandangan

didepan matanya. Jenazah Liap In Eng sudah terbungkus rapi kain putih dan dibaringkan

diatas ranjang. Delapan pelayannya yang biasa mengenakan baju biru dan merah, sudah

bersalin pakaian berkabung bertekuk lutut mengelilingi jenazah Siocianya, tapi semuanya

telah mati membunuh diri.

196

Diatas meja terdapat sebuah kain putih bertulisan darah yang berbunyi :

Kami menerima budi besar dari Siocia, biarpun mati budi itu tidak akan terbals. Tapi sewaktu

perempuan jahanam mencelakakan Siocia kami tidak bisa melindungi dan menyelamatkan,

inilah suatu dosa besar bagi kami yang tidak akan tercuci bersih seumur hidup. Dalam

kehidupan menderita dan menerima segala penghinaan dari jahanam itu. Kami terbebas berkat

bantuan dari Jiewie. Antara Siocia dan kami bisa berkumpul lagi menjadi satu, saat ini

menggirangkan kami ! Akan tetapi berjalan terlalu singkat, karena Siocia menghabiskan

jiwanya dengan membunuh diri, sebagai bidak-budak yang ingin tetap beserta di dunia

maupun di akhirat kami mengiringi kepergian Siocia kedunia baqa.

Mudah-mudahan sukalah Jiewie mengubur mayat kami disamping Siocia kami yang tercinta,

atas ini roh-roh kami hanya berdoa atas kebahagiaan Jiewie…..

Tong Cian Lie dan In Tiong Giok keduanya menjublek seperti patung dengan air mata

berlinang-linang. Lama mereka tak bersuara, dan entah keluar dari mulut siapa suara yang

berbunyi : “Ah…perempuan….perempuan !” memecahkan kesunyian itu.

Keesokan harinya ditaman bunga terdapat sebuah kuburan besar yang dikelilingi delapan

kuburan yang agak kecil. Pada batu nisan tertulis. Disinilah tempat beristirahat untuk selamalamanya.

Pendekar wanita Liap In Eng. Dan disetiap kuburan lain tertulis pula nama-nama

dari pelayan-pelayan yang setia itu.

Dengan isakan tangis kecil, Tong Cian Lie maupun In Tiong Giok bertekuk lutut didepan

makam Piau siang kiam Liap In Eng sambil membaca doa didalam hati. Setelah itu dengan

langkah berat mereka meninggalkan tempat itu untuk pergi ke Pek liong san.

Tiat po atau perkampungan Benteng Besi terletak dikaki gunung Pek liong san. Sebab

perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang kokoh dan berwarna kelabu seperti besi,

maka disebut perkampungan Benteng Besi.

Dua puluh tahun yang silam, masa jajahan Sin kiam siang eng didunia persilatan,

perkampungan ini dianggap “keramat” oleh manusia sungai telaga, baik golongan hitam

maupun putih. Kuda dan kereta-kereta dari segala pelosok banyak yang datang kesitu.

Perkampungan Hui-hui yang bertetangga dengan perkampungan Tiap po pun menjadi ramai,

sebab sebelum orang-orang sampai diperkampungan Tiat po harus singgah terlebih dahulu

diperkampungan Hui-hui.

Tapi sejak ketua perkampungan Tiat po yang bernama Tiat Giok Lin meninggal dunia dan

nama Sin kiam siang eng hilang dari dunia Kang Ouw perkampungan itu menjadi sepi, dan

lama kelamaan seperti dilupakan orang.

Jalanan yang menuju perkampungan itu, karena kelewat lama tak dilalui orang telah

ditumbuhi alang-alang; sedangkan losmen-losmen diperkampungan Hui-hui satu demi satu

gulung tikar. Dan tinggal sebuah losmen yang bernama Hiong hin can masih bertahan, inipun

dikarenakan pemiliknya adalah penduduk asli dari perkampungan itu. Sungguhpun begitu

losmen ini telah dibagi dua, separuh untuk berdagang sapi dan separuh tetap sebagai losmen.

Sudah bertahun-tahun losmen ini tidak dikunjungi seorang tamupun. Kesepian ini disebabkan

197

Lim Giok Bwee sejak kematian suaminya, melarang anak buahnya keluar dari perkampungan

itu juga tidak menerima tamu dari luar.

Hari ini mungkin pemilik losmen Hiong hin can yang bernama Ma Hui In dapat rejeki, pagipagi

kedatangan tiga tamu yang mau bermalam. Ketiga tamu itu semuanya berkuda, antaranya

dua masih muda-muda dan satu lagi sudah tua, nampaknya gagah-gagah.

Ma Hui In seperti bertemu dengan malaikat uang, dengan tersenyum-senyum dan terbungkukbungkuk

menyambut tamunya sambil mempersilahkan masuk. Anak bininya sibuk

membersihkan meja dan kamar serta memasak air menyeduh the.

Orang tua itu segera duduk sambil memandang sekeliling, sedangkan yang muda berdiri dikiri

kanannya tak berani duduk.

“Kalianpun duduklah dan berlaku wajarlah agar tidak dicurigai orang,” kata siorang tua.

Kedua orang muda itu mengangguk dan duduk dikiri kanan si orang tua.

Ma Hui In dengan tersenyum-senyum menghampiri tamunya. “Sam wie sudah makankah ?

Disebelah ada jual daging sapi, jika perlu bisa kupesankan….”

“Soal makanan boleh belakangan, sekarang aku perlu bicara dulu denganmu.”

“Baik ! Baik ! Silahkan bicara !”

“Di kampung ini terdapat berapa losmen ?”

Ma Hui In tergelak-gelak mendengar pertanyaan ini. “Pertanyaan tuan memang tepat, terus

terang dulunya dikampung ini terdapat enam tujuh losmen…”

“Yang ditanya adalah sekarang, bukan yang dulu !” kata anak muda disebelah kiri.

Perkataan anak muda itu sangat nyaring dan kasar, membuat Ma Hui In terkejut, sehingga

menjadi gugup. “Ini…ini..engkau…..”

“Jangan takut, jawablah dengan singkat !” kata si orang tua.

Setelah menenangkan diri sejenak Ma Hui In baru berkata: “Aku tak berani membohong,

sekarng tinggal satu satunya ialah losmen ini yang terdapat dikampung ini.”

“Bagus,” kata si orang tua, “losmen ini ada berapa kamar ?”

“Sebenarnya losmen ini; Ma Hui In mengubah kebiasaan bicaranya karena dideliki kedua

anak muda yang galak itu. “Ada lima kamar.”

“Hanya lima ?” kata siorang tua sambil mengerutkan kening. “Mana cukup…”

“Jika merasa kurang banyak, kamarku boleh dipakai dan aku bisa pindah kedapur. Kamarku

cukup besar dan bisa dijadikan dua kamar.”

198

“Baiklah, kuminta selekasnya kamar-kamar dibersihkan termasuk kamarmu itu ! Sejak hari

ini jangan terima tamu lagi !”

“Mengertikah ?” bentak anak muda yang disebelah kiri.

“Mengerti ! Segera kusiapkan !” kata Ma Hui In yang terus berlalu. Tapi baru beberapa

langkah ia dipanggil lagi si orang tua. “Sini dulu, ingin kutanya padamu, apakah dalam satu

dua hari yang lalu, losmen ini pernah menerima tamu ? Atau juga dilalui orang ?”

“Losmenku ini entah bertahun-tahun tidak didatangi tamu !”

“Atau engkau pernah melihat, sewaktu keluar rumah seorang tua dan seorang anak muda di

kampung ini ?”

“Tidak ada ! Benar-benar tidak ada, sebab kampung ini hanya mempunyai satu jalan setiap

orang yang masuk ke kampung ini pasti dapat kuketahui !”

“Nah siapkanlah kamar dan makanan !” kata si orang tua.

Begitu Ma Hui In pergi, orang tua itu dengan tersenyum menoleh kepada anak muda dikiri

kanannya. “Kalau begitu terlebih dulu dari mereka !”

Ma Hui In repot setengah mati memberesi kamar-kamar kosong yang sudah bertahun-tahun

tidak didiami orang. Atas ini orang tua itu memberikan uang lima puluh tail perak.

Tak selang lama diluar losmen datang lagi tiga tamu, orang tua ini segera keluar sambil

tersenyum. Setelah bersalam-salaman mereka masuk ke dalam kamar. Kedua anak muda yang

galak didalam kamar ini kedudukannya tak ubah sebagai pelayan. Repot menuang arak dan

menghidangkan makanan pada tiga tamu yang baru datang.

“Kita berhasil lebih dulu sampai dari mereka,” kata siorang tua. “Tong Cian Lie maupun In

Tiong Giok menurut kabar belum sampai dikampung ini. Kini Jiewie Fut hoat dan Tong leng

juga sampai tepat pada waktunya, selanjutnya bagaimana kita harus menghadapi lawan-lawan

itu, kuserahkan pada Jie wie Fut hoat.”

“Karena Tan Cuncu yang sampai terlebih dulu, sebaiknya engkau saja yang mengatur,” kata

salah seorang Fut hoat yang bukan lain dari Tok Kay Pong adanya.

“Aku hanya sebagai pembuka jalan,” kata Tan Cuncu itu yang bukan lain dari Tan Toa Tiau

adanya. “Sedangkan soal selanjutnya Lo Cucong menyerahkan pada Fut hoat yang

mengaturnya.”

“Baiklah,” jawab Tok Kay Pong. “Aku dan Kam Fut hoat akan menghadapi Tong Cian Lie

soal In Tiong Giok kuserahkan pada Lie Tong Leng dan Tan Cungcu.”

“Tapi tugas utama yang dibebankan Lo Cucong kepad kita, yakni biar Tong Cian Lie lolos,

asal jangan In Tiong Giok !” kata Lie Kee Cie.

“Apakah kita harus menghajarnya begitu mereka sampai disini ?” tanya Lie Kee Cie.

199

“Benar !” jawab Lie Kee Cie.

“Menurut hematku, cara begini sukar dilakukan dan resikonya terlalu besar,” kata Tok Kay

Pong sambil menggelengkan kepala.

“Habis bagaimana ?” tanya Lie Kee Cie.

Didahului dengan tertawanya Tok Kay Pong membuka mulut. “Bukan aku mengecilkan

kekuatan sendiri dan membesarkan kekuatan musuh. Sesungguhnya ialah kekuatan kami

berdua, jika disbanding dengan Tong Cian Lie dalam keadaan berimbang ! Sedangkan In

Tiong Giok jangan dipandang remeh, ia sudah pandai Keng thian cit su ! Tugas yang kita

terima hanya boleh menang tidak boleh kalah ! Untuk memperoleh kemenangan inilah kita

harus berpikir terlebih panjang.”

“Habis bagaimana ?” tanya Tan Toa Tiau.

“Pepatah mengatakan: senjaata terang mudah ditangkis, senjata gelap sukar dijaga !

Menurutku, akan menyediakan dulu suatu perangkap bagi mereka, setelah itu baru

melancarkan cara gelap, kemudian baru cara terang !”

“Aku kurang mengerti, maksud Fut hoat !” kata Tan Toa Tiau.

“Begini…” kata Tok Kay Pong sambil membisiki kuping kawannya.

“Biarpun cara ini sangat baik, tapi kurang sempurna. Kesatu tidak boleh bertemu muka

dengan mereka, karena kenal. Kedua jika mereka langsung ke Tiat po bagaimana ?” kata Tan

Toa Tiau.

“Legakan hatimu, pokoknya beres,” kata Tok Kay Pong. “Jika usaha ini gagal, baru kita

berkelahi secara terang-terangan.”

“Bagaimana pendapat Lie Tong leng ?” tanya Tan Toa Tiau.

“Aku menurut saja seperti yang diatur Tok Fut hoat !” jawab Lie Kee Cie.

“Kam Fut hoat bagaimana ?” tanya Tan Toa Tiau.

Kam Hong yang sejak tadi diam saja karena asyik dengan araknya, hanya menganggukkan

kepala saja.

“Jika begini baiklah kita jalankan siasat Tok Fut hoat,” kata Tan Toa Tiau.

Setelah mereka makan minum dengan kenyang, Tok Kay Pong dan Kam Hong masingmasing

menempati sebuah kamar beristirahat.

Sedangkan Lie Kee Cie tanpa istirahat lagi mengontrol kedalam losmen itu, lalu pergi keluar

untuk memeriksa keadaan kampung.

200

Tan Toa Tiau membisiki Ma Hui In untuk menyiapkan sesuatu kepeerluan dan memberikan

pemilik losmen itu uang emas. Setelah itu pintu losmen dibuka lebar-lebar. Dalam waktu

sekejap Hiong hin can telah berganti rupa, dari kotor dan berantakan menjadi rapi dan bersih.

Dua pengawal yang mengiringi Tan Toa Tiau berubah jadi “pelayan” losmen itu. Di masingmasing

pundaknya terlihat selebet bersih, pura-pura membersihkan ini itu sambil menunggu

tamu yang dinanti-nantikan.

Kini perangkap telah dipasang, menunggu kedatangan mangsanya saja. Tapi yang dinantikan

itu sebegitu lama belum kunjung tiba, membuat kedua pelayan menjadi kesal….Matahari

hampir silam kebarat, kedua pelayan sudah mengantuk, tapi tak berani memeramkan matanya,

karena sedang menjalankan tugas. Matanya telah menjadi panjang dan sepat, kakinya merasa

ngilu, leherpun pegal, masih harus tetap bertugas ditempatnya dengan patuh. Saking kesal

mereka menggerendeng didalam hatinya : “Dasar aku orang bawahan harus terima nasib

seperti ini, coba kalau aku menjadi Fut hoat atau Cung cu, sudah kenyang makan minum, bisa

enak-enakan menggeros diranjang.”

Sedang enak berpikir sambil nyap-nyap, ia dikejutkan dengan derpan suara kuda yang datang

dari mulut kampung ! Mata mereka yang sepat menjadi terang ! Karena yang diharapkan dan

dinantikan akhirnya datang juga!

Derapan kaki kuda semakin lama semakin tegas, tak selang lama dari mulut kampung terlihat

sebuah kereta. Kedua lelaki tanpa berasa mengucak-ucak matanya menegasi, lalu menyekanyeka

meja dan berlaku sewajar mungkin, menantikan kedatangan kereta itu.

Setelah melintasi jalan besar, kereta itu menuju ke losmen Hiong hin can dan berhenti di

depannya. Dari dalam kereta turun seorang laki-laki berusia lebih kurang empat puluh tahun,

wajahnya mengkilap dan berminyak. Tak ubahnya seperti seorang kaya. Tanpa berasa lagi

datang kekecewaan dilubuk hati kedua laki-laki yang berpura-pura menjadi pelayan.

Orang kaya itu mungkin sebagai saudagar yang biasa berkeliling dari satu tempat ke tempat

lain. Begitu memasuki Hiong hin can ia tersenyum sambil menyapa kedua pelayan itu dengan

pandangan matanya. “Hei majikanmu si orang she Ma itu pintar betul, seolah-olah tukang

nujum yang pandai dan bisa mengetahui kedatanganku !”

“Apakah engkau mau menginap ?” tanya salah seorang laki-laki itu.

“Aku Cian Bouw sudah berlangganan dengan Hiong hin can, maka kukatakan majikanmu

seperti tukang nujum, karena kulihat keadaan losmen ini sudah begini rapi dan beres,” kata

tamu itu yang membahasakan dirinya Cian Bouw. “Kuminta engkau memberikan rumput

pada kudaku, nanti kalian kuajak makan bersama-sama.”

“Maaf sekali tuan Cian, tidak ada kamar lagi bagimu, semuanya penuh…”

“Wah angin apa yang membuat losmen ini maju ?” kata Cian Bouw, “untuk ini aku

kenghaturkan selamat untuk majikanmu !” ia terus masuk melangkah kedalam.

Kedua laki-laki itu menjadi bingung dan buru-buru menghadang sambil tersenyum kecut,

“Maaf tuan Cian, kamar benar-benar sudah penuh !”

201

“Siapa yang mengatakan engkau emmbohong ?” kata Cian Bouw sambil tersenyum-senyum.

“Kalian rupanya pegawai baru dan tidak kenal diriku. Tanyakanlah majikanmu siapa aku !

Nanti ia akan memberitahu Cian Bouw adalah langganan lama yang tidak cerewet, biar tidak

tidur diranjang, ngampar-ngampar pun jadi, pokoknya asal bisa bermalam.”

Kedua laki-laki itu memandang pada Ma Hui In yang tampak dalam kecemasan dan diam saja

sedari tadi.

“Eh bagaimana ? Sudah kaya dan bisa memakai pegawai baru rupanya, sampai langganan

lama tak dihiraukan lagi ?”

“Tidak…tidak…hanya…hanya….” Jawab Ma Hui In dengan terbata-bata.

“Sudah terang kau tak memandang mata lagi pada kawan lama !” sindir Cian Bouw sambil

tersenyum-senyum. “Biarpun aku tak mempunyai toko dan hanya sebagai pedagang emas

keliling, tapi tak pernah berlaku pelit kepadamu bukan ? Tahun yang lalu sikapmu masih baik,

kuheran kenapa sekarang seperti tak kenal saja !”

Ma Hui In mencoba mengingat-ingat pedagang emas ini, tapi tetap tak bisa mengenali,

kepaksa ia tersenyum dan berkata : “Tuan Cian jangan marah, aku memperlakukan tamu baru

maupun lama secara adil, tapi jika sudah penuh mau dikata apa…”

“Ya aku mengerti kesulitanmu, tapi sudah kutekankan ngegelarpun jadi ! Aku memaksa,

sebenarnya tak patut, tapi kecuali Hiong hin can, tak ada losmen lain bukan ?”

“Engkau mungkin tak percaya bahwa tempat menggelar tikarpun sudah penuh,” kata Ma Hui

In. Nah silahkan periksa adanya…

“Ha ha ha, sungguh mati aku tak percaya omonganmu,” potong Cian Bouw dan terus

memeriksa kamar demi kamar.

Dalam lima kamar di losmen itu, antaranya empat sudah terisi, dan hanya tinggal sebuah

kamar kosong. Itupun diperuntukkan untuk menjebak In Tiong Giok dan Tong Cian Lie.

Begitu Cian Bouw mendapatkan kamar kosong ia menjadi gusar. “Apa artinya ini ? Terangterang

kamar kosong kenapa dikatakan penuh ? Apakah aku pernah menganglap bayaran

kamar ?”

Ma Hui In menjadi bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi, sedangkan dua pelayan palsu itu

menjadi mendongkol dan mau marah, tiba-tiba saja dalam keadaan janggal ini salah satu

kamar membuka pintu. Tok Kay Pong dengan wajah yang selalu tersenyum tampak keluar.

“Tuan Ma setelah kudengar perkataan tuan ini, kuambil kesimpulan engkau salah ! Kenapa

sebagai pengusaha losmen, tidak mau menjawab kamar kosongnya ?”

“Ini….tapi…”

Tok Kay Pong mendahului berkata lagi, membuat Ma Hui In bungkam. “Tak perduli sudah

dipesan orang, pokoknya siapa yang datang duluan dialah yang wajib diterima. Maka itu

kuanjurkan, kamar kosong itu serahkanlah pada tuan ini. Dan jika pemesan tempat itu datang,

baru bicara lagi !”

202

Ma Hui In yang telah dijadikan boneka sudah tentu saja menerima dengan baik usul Tok Kay

Pong. Dan buru-buru membuka pintu kamar mempersilahkan tamunya masuk sambil

menyuguhkan minuman.

“Terima kasih banyak atas bantuan bapak, yang rendah Cian Bouw untuk ini mengajak bapak

minum bersama-sama, sebagai tanda terima kasihku,” kata Cian Bouw.

Tok Kay Pong menolak dengan halus sambil berkata : “Tak usah begitu, sama-sama orang

yang keluar rumah, sudah sepantasnya saling membantu bukan ? Nah, tuan mungkin habis

melakukan perjalanan jauh, silahkan istirahat….”

Cian Bouw mengangguk dengan perasaan terima kasihnya yang berlebih-lebihan, lalu

mengunci kamar dan makan minum seorang diri.

Tok Kay Pong mendekat pada Ma Hui In.

“Apakah engkau kenal dengannya ? Dan betulkah tahun yang lalu ia pernah kesini ?”

“Seingatku tidak pernah ia datang kesini, dan wajahnya tidak kukenal !” jawab Ma Hui In.

“Hm, jalan kesorga tidak ditempuh, kenapa menuju keneraka ? Tak perduli engkau sebagai

saudagar asli atau bukan, takkan kuberi ampun,” piker Tok Kay Pong. Dipanggilnya dua

pegawai yang pura-pura jadi pelayan. “Salah seorang kuminta tetap menjaga diluar, dan

seorang pergi kedapur mengambil arak yang panas.”

Kedua pengawal itu mengangguk dan pergi menjalankan tugasnya dengan patuh. Begitu arak

panas didalam teko diserahkan pengawal padanya, ia merogoh sakunya mengeluarkan sebuah

peles kecil. Dengan hati-hati tutup peles dibuka dan dikeprulkan sedikit puder dari peles itu

kedalam arak. “Ini adalah racun yang bernama Tok ngo san, pedagangitu kujadikan kelinci

percobaan dari keampuhan racun ini,” Nah berikanlah kepadanya, dan katakana arak ini

adalah hadiah dari Ma Hui In sebagai rasa penyesalan atas sikapmu tadi.”

Wajah Ma Hui In menjadi pucat dengan meratap ia memohon. “Aku hanya memiliki losmen

ini sebagai gantungan hidup kumohon jangan sampai terjadi peristiwa jiwa….

“Hm, jangan banyak bicara nanti kusilahkan engkau yang minum !” potong Tok Kay Pong.

Adapun yang dinamai racun Tok ngo san dibuat Thian lam sam kui dari seratus delapan

macam, serbuk kupu-kupu beracun. Dan menjadi semacam puder yang tidak berwarna dan

berbau. Jika dicampur dengan air, biarpun hanya sedikit bisa membuat yang meminumnya

mati mendadak. Sejak memiliki racun ini mereka lantas mengabdikan diri ke Pok Thian Pang.

Untuk mencari muka dari sang Pangcu mereka menyerahkan sepeles pada Pok Thian Pang.

Nah racun yang dipergunakan Soat Kouw untuk mencelakakan Liap In Eng maupun Pek King

Hong adalah Tok ngo san itu.

Kini Tok Kay Pong yang bertugas untuk menciduk Tong Cian Lie dan In Tiong Giok

menyadari dengan kepandaian silatnya tidak bisa memenangkan lawan, maka itu aku

menggunakan racun itu untuk memperoleh kemenangan. Tak kira sebelum racun

dipergunakan, datang Cian Bouw. Untuk tidak mengganggu siasatnya yang telah

direncanakan, maka itu Cian Bouw pun tidak diberi ampun.

203

Cian Bouw memang seorang penggemar arak, begitu melihat pelayan datang dengan seteko

arak panas sebagai tanda maaf atas kelakuan majikannya yang kurang hormat tadi, rasa marah

dan dongkolnya pada pemilik losmen itupun menjadi hilang. Cepat-cepat ia bangun sambil

tertawa. “Katakan pada majikanmu, sebagai kawan lama lebih sedikit kurang sedikit tak

diambil dalam hati. Kini ia membuang uang untuk membelikan aku arak, membuatku tak

enak sendiri !”

Pelayan palsu itu menaruh arak diatas meja dan membawa pergi sisa arak yang tidak beracun

diatas meja.

“Eh jangan pergi dulu, mari temani aku minum !” kata Cian Bouw sambil menarik lengan

pelayan palsu itu.

Keruan saja pengawal itu menjadi kaget dan berkata dengan gugup. “Aku tidak berani minum

arak !”

“Jangan takut, majikanmu pasti tidak akan marah, jika aku yang mengajak minum.”

Pengawal itu mana berani minum, dengan berbagai alas an ia melepaskan diri dari cekalan

Cian Bouw dan terus keluar.

“Ah dasar pegawai baru, masih sok rajin dan takut pada majikan !” sehabis berkata dan ia

segera menuang arak yang masih hangat itu lalu meminumnya. “Ah arak ini kenapa pedas

betul? Ah… perutku kenapa sakit…, Ah celaka ! Tolong !” Tubuhnya segera jatuh kelantai

dan berguling-guling dari mulutnya keluar darah, kaki tangannya berkerejatan, tampaknya

mau mati.

Kam Kong dan Tan Toa Tiau mendengar suara teriakan si saudagar, memburu datang,

menyaksikan mangsanya menggeletak dilantai, tersenyum puas dan berkata : “Ha ha ha Tong

Cian Lie inilah contoh untukmu” Belum kata-katanya diucapkan, pengawas yang bertugas

diluar, datang berlari-lari dengan cemasnya membawa berita “Datang ! Mereka datang !”

“Siapa yang datang, berkatalah dengan perlahan-lahan dan tegas !” kata Tan Toa Tiau.

Pengawal itu menunjuk keluar, “Tong Cian Lie dan In Tiong Giok sudah datang !”

“Berapa jauh lagi dari sini ?”

“Hampir tiba di mulut kampung !”

Tan Toa Tiau menarik napas lega dan berpaling kepada Tok Kay Pong. “Bagaimana dengan

mayat ini ?”

“Jangan gugup jalankan menurut rrencana yang sudah ditentukan,” kata Tok Kay Pong

dengan tenang. “Salah seorang pengawal lekaslah pergi temani mereka, guna menghambat

kedatangannya kesini.”

Pengawal itu mengangguk dan cepat pergi keluar.

204

“Eh kemana perginya Lie Tong Leng ?” tanya Tok Kay Pong tiba-tiba.

“Tadi ia mengatakan ingin melihat keadaan kampung ini…” kata pengawal yang berada

“Kalau begitu lekaslah bawa mayat ini kekamar Lie Tong Leng dan bersihkan lantai lekaslekas

!” kata Tok Kay Pong. “Setelah itu engkau atau temanmu lekas ketemu Lie Tong leng

dan pesan padanya jangan kembali dulu kesini, kuatir dikenali bocah she In itu.”

Mereka beramai-ramai membersihkan lantai dan meja, setelah itu Tok Kay Pong, Tan Toa

Tiau dan Sam Kong menurut rencana yang telah diatur kembali kedalam kamarnya.

Kedua penunggang kuda yang bukan lain dari pada In Tiong Giok dan Tong Cian Lie telah

tiba dimuka Hiong hin can, kedatangan mereka disambut, “pelayan palsu” dengan senyuman

ramah. “Jiewie Toaya, silahkan mampir hari hampir malam !”

Tong Cian Lie menengadah keatas sambil berkata : “Ah benar, tanpa terasa hampir malam.”

“Hoo kee (sebutan ramah) pada pelayan losmen aku numpang bertanya, masih jauhkah

letaknya Tiat po ?” tanya In Tiong Giok.

“Oh tidak !” jawab sipelayan. “Tapi cuaca hampir malam, sebaiknya Jiewie toaya bermalam

dulu disini, besok baru kesana !”

“Memang kenapa ?”

“Sudah merupakan kebiasaan bahwa berkunjung kerumah orang dimalam hari, kurasa kurang

pantas !”

“Eh engkau benar !” kata Tong Cian Lie. “Mari kita bermalam dulu disini, besok baru

kesana.”

Tiong Giok pun menurut dan segera turun dari kudanya mengikuti jejak Tong Cian Lie,

sedangkan “pelayan” itu cepat-cepat menambat kuda itu disamaping. Begitu mereka masuk

kedalam losmen Ma Hui In menjadi kebat kebit, dengan terpaksa ia menyapa.

“Silahkan…silahkan duduk” suaranya gemetar, senyumnya lebih kecut dan buruk dari pada

orang manis.

Sikapnya ini ketemu tabiat Tong Cian Lie yang berangasan kontan mendapat semprrotan “Hei

jika segan menerima tamu, tutup saja losmen ini !”

“Oh bukan! Bukan ! Harap jangan salah paham “ kata Ma Hui In sambil menggelengkan

kepala dan menggoyangkan tangan dengan repotnya.

“Toaya jangan gusar, majikan kami penduduk asli kampung ini, tabiatnya kaku dan kurang

pandai menerima tamu,” kata si “pelayan” sambil tersenyum.

“Kalau begitu engkau bukan orang sini ?” tanya Tong Cian Lie.

205

“Orang sini, tapi sejak kecil senang merantau keberbagai tempat, sehingga mempunyai

pengetahuan lebih banyak dari majikanku sendiri.”

“Oh kiranya engkau adalah pelayan yang berpengalaman…” kata Tong Cian Lie dengan

Tiong Giok menyaksikan ini segera menyelak: “Lo Cianpwee apa gunanya ambil pusing

dengan pemilik penginapan ini, sehabis menginap besokpun kita pergi lagi, sama ada soal

yang lebih penting dari pada bertengkar dengan dia.”

“Justru tabiatku amat jahat, apa yang aku lihat tak pantas, ingin kujadikan pantas !” kata Tong

Cian Lie. “Eh Hok kee, sediakanlah kamar yang bersih !”

“Diloteng tersedia kamar yang bersih, silahkan toaya periksa !” berkata pelayan itu. Tong

Cian Lie menganggukkan kepala dan segera melangkah kedalam, sedangkan matanya masih

terus memandang Ma Hui In penasaran, kasihan pemilik losmen itu, biarpun ingin bicara

tidak berani mengeluarkan suaranya, terpaksa menahannya perasaan itu karena takut.

Keadaan kamar memang bersih dan beres. Membuat Tong Cian Lie merasakan puas, “tak

sangka di kampung ini ada losmen yang apik dan bersih. Hei bocah malam ini engkau boleh

tidur nyenyak untuk memulihkan semangatmu untuk dipakai esok di Tiat po !”

“Hok kee adakah lagi kamar semacam ini sebab kami berdua ?” kata Tiong Giok.

“Sayang losmen ini memiliki tidak banyak kamar, dan yang adapun sudah penuh dengan

tetamu. Kamar ini adalah yang terbaik dari sekalian kamar yang ada disini, jamak sajalah Siau

ya bermalam sekamar dengan Toaya ini.”

“Ya tidak apa-apa,” kata Tong Cian Lie, “ranjang ada dua kenapa pakai dua kamar segala ?

Lagi pula sehabis makan aku ingin jalan-jalan keluar, mungkin tengah malam baru pulang !”

“Lo Cianpwee mau kemana ?”

“Aku ingin melihat keadaan di Tiat po guna persiapan dihari esok !”

“Seharusnya aku yang mesti kesana…”

“Engkau akan menjadi tamu Tiat po, maka itu janganlah meninggalkan kesan buruk pada tuan

rumah !” kata Tong Cian Lie. Dan seterusnya ia memesan pada pelayan yang masih berada

disitu untuk menyediakan makanan dan minuman.

Dengan menganggukkan kepala dan badan terbungkuk-bungkuk “pelayan” itu keluar kamar

untuk menyediakan pesanan para tamunya. Sedangkan Tok Kay Pong yang berada disebelah

kamar, melalui lubang kecil mengintai gerak gerik Tong Cian Lie dan In Tiong Giok. Begitu

ia melihat kedua mangsanya menuju ketempat cuci muka yang berada dibelakang kamar,

cepat ia meninggalkan kamarnya dan terus menuju kedapur.

Sayuran maupun minuman telah siap didapur, Tok Kay Pong mengeluarkan Tok ngo san dan

memasukinya kedalam teko arak. “Engkau harus berlaku waspada dan hati-hati menyuguhkan

arak ini, jika berhasil jasamu akan kulaporkan ke pusat dan engkau bisa naik pangkat !”

206

“Terima kasih atas perhatian Fut hoat !” jawab pengawal itu.

“Aku harus kembali dulu kekamar dan akan mengintai pekerjaanmu ini.” Kata Tok Kay Pong.

“Dan beri tahu juga pada Kam Fut hoat dan Tan Cungcu agar berlaku tenang sambil

menunggu perubahan. Sebelum Tong Cian Lie roboh sekali-kali jangan berlaku gegabah.”

Waktu mereka bicara seorang pengawal yang ditugaskan mencari Lee Kee Cie telah kembali

dengan tergesa-gesa dan memberikan laporan : “Sudah kucari keempat pelosok kampung, tapi

tidak juga kutemui bayangan Lie Tong leng !”

Tok Kay Pong terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin : “Biarlah ! Hasil sudah didepan mata,

ia tak ada ditempat, sama dengan pahala ini tak ada bagiannya. Sekarang pergilah kedepan

dan awasi Ma Hui In, jangan sampai ia masuk kekamar belakang, setelah usaha kita beres,

bunuh padanya !”

Setelah mengatur segalanya dengan beres, ia masuk kekamarnya sambil memasasng kuping.

Malam semakin larut kesunyian semakin terasa, sungguhpun begitu suasana di losmen Hiong

hin can mengandung hawa pembunuhan yang setiap saat bisa meletus.

Tok Kay Pong, Kam Kong dan Tan Toa Tiau dengan menahan napas, memasang telinga

selebar-lebarnya mendengari gerak-gerik dikamar lawannya dengan hati berdebar-debar.

Mereka sadar jika sampai Tong Cian Lie mengetahui permainan mereka, perkelahian hebat

bisa terjadi, dan jiwa mereka terancam kematian juga.

Sedangkan Ma Hui In dalam keadaan takut, keringat dinginnya membasahi sekujur tubuhnya.

Ia seorang penduduk yang hidup tenang kini menghadapi kejadian pembunuhan di

losmennya, membuatnya tak bisa tidur. Dan ia tahu saudagar she Cian telah dibunuh,

mayatnya berada didalam, jika dua tamunya yang baru datang ini terbunuh juga, akibatnya tak

berani dipikirkan. Ia hanya tahu kampung halamannya ini tak bisa ditinggali lebih lama lagi

jika apa yang dipikirkan itu terjadi semua. Ia harus merantau mengembara kenegeri orang

tanpa modal tanpa sandaran, mengingat ini hatinya semakin cemas dan hampa. Untuk

menghilangkan gejolak kecemasan hati yang berdebar semakin keras, ia berdoa didalam hati,

agar Tong Cian Lie dan In Tiong Giok tidak minum arak racun itu dan selekasnya

meninggalkan kamarnya….dan iapun berpikir bukanlah lebih baik ia meninggalkan tempat itu

sebelum terjadi pembunuhan ? Tapi apa yang menjadi harapannya itu tak bisa dilaksanakan,

berapa kali ia bangkit dari tempat duduknya, tapi dibawah tekanan sinar mata pengawal yang

mengawasi, ia duduk kembali.

Dalam losmen Hiong hin can hanya Tong Cian Lie dan In Tiong Giok yang tidak mempunyai

perasaan apa-apa. Mereka tetap dengan tenang merundingkan persiapan besok untuk

menghadap ke Tiat po, sedangkan “pelayan” sudah membawa segala hidangan dan minuman

kedalam kamar. Tong Cian Lie merasa kecewa melihat teko arak yang kecil dan segera

menegurnya. “Hei, apa-apaan kamu ini ? Arak seteko kecil ini untuk kucingpun tak cukup,

apa lagi kami ! Takut tidak dibayar ya ?

“Ah, Loya bisa saja, bukannya tidak ada teko besar, tapi untuk mempercepat servis

kubawakan teko kecil ini. Nanti setelah arak itu panas lagi akan aku bawakan dengan teko

besar.”

207

“Bawa pergi tukar dengan teko besar lekas,” bentak Tong Cian Lie.

“Pelayan” itu tak berani membangkang, lekas-lekas keluar kamar sambil menggerutu didalam

hati. “Ah, dasar mau cepat-cepat mampus !” Dan cepat-cepat ia kedapur mengambil teko

besar, arak berada didalam teko inipun sudah dicampur racun. Lalu cepat dibawa kekamar

Melihat teko ini Tong cian Lie menjadi puas juga, “tak perlu nongkrong disini lama-lama

lekas masuk lagi biar banyakan, seteko inipun tak cukup menghilangkan rasa hausku !”

Dan pelayan itu mengangguk tapi tetap tak keluar kamar. Ia melayani dengan telaten sambil

menuangkan arak kedalam cawan. “Loya boleh minum dengan tenang, persediaan banyak,

berapa banyak Loya mau bisa saja disediakan, silahkan minum !”

Tong Cian Lie mengangkat cawan arak dan meminumnya, lalu mengawasi warnanya juga.

“Ah arak ini cukup bagus dan tak beracun, kita boleh meminumnya dengan tenang.”

“Loya jangan bergurau,kami sebagai pengusaha kecil, mana berani…..”

“Ha ha ha, bukan aku curiga, setiap orang yang keluar rumah harus waspada dan hati-hati

bukan ? Andaikata ada racunnyapun kamipun tak takut, tapi yang menimbulkan kecurigaanku

adlah majikanmu itu ! Parasnya tak karuan dan tak sedap dipandang mata, mau tak mau

terhadap segala hidangan disini menimbulkan kecurigaan !”

“Loya sudah melihat, biarpun dia berwajah demikian tapi hatinya sangat baik !”

“Memang benar, yang berparas baik sewaktu-waktu jahat, dan yang berparas kriminil hatinya

baik !”

“Apa yang dikatakan Loya memang benar, nah silahkan minum jangan sampai arak ini

menjadi dingin !”

“Ya benar, arak dingin bisa merusak badan bocah mari kita minum !” kata Tong Cian Lie.

Baru saja Tiong Giok mengangkat cawannya dari kamar tengah terdengar suara orang

meerintih : “Aduh…aduh…perutku sakit…”

“Ih siapa yang sedang kesakitan ? Tidakkah Lo Cianpwee mendengarnya juga ?” tanya In

Tiong Giok.

“Ya aku mendengar dari kamar sebelah,” jawab Tong Cian Lie. “Hoo kee siapa yang sedang

kesakitan itu ?”

Pelayan itu menggigil tak keruan, sebab telinganyapun mendengar suara rintihan tadi dan

mengenali itulah suara Cian Bouw si saudagar emas. “Mungkinkah dia belum maati ?”

pikirnya dengan cemas.

“Hei tidakkah kau mendengar pertanyaanku ?” bentak Tong Cian Lie.

208

“Dengar, dengar ! Ya disebelah ada yang sedang sakit, tadi siang sudah diperiksa tabib dan

sedang memakai selimut tebal agar keluar keringat, Jiewie minumlah dengan tenang, akan

kulihat sebentar….”

Belum ia berlalu dari kamar sebelah terdengar lagi suara rintihan. “Aduh….aduh….perutku

sakit. Hoo kee kenapa engkau memberikan aku arak beracun ? Apa salahku apa dosaku dibuat

begini macam ? Aduh…orang jahat dapat balasan jahat, orang baik dapat balasan

baik….aduh….”

Pelayan itu segera keluar, tapi sebelum berhasil keluar pintu, sudah dihadang Tong Cian Lie

yang sudah terlebih cepat berada didepan pintu. “Engkau mau kemana ?” tegurnya sambil

menyeret lengan “pelayan” itu.

“Aku ingin melihat orang sakit itu…”

“Jangan tergesa-gesa, mari temani aku minum arak dulu.” Kata Tong Cian Lie.

Pegawai itu tahu segala perbuatannya sudah diketahui orang, cepat melepaskan diri dan lari

keluar pintu, tetapi tak bisa berlari lagi karena tengkuknya diciduk Tong Cian Lie, “Masih

mau lari ? Jangan pandang enteng pada Tong Cian Lie tahu ?” dengan kekerasan Tong Cian

Lie mencecok “pelayan” itu dengan arak bercampur racun. Dalam sekejap pengawal itu

bergelimpangan dengan kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong. “Tok Fut hoat ! Tan

Cung cu tolong !” belum pula ia bisa meminta tolong terlebih lanjut, napsnya sudah berhenti

terlebih dahulu.

“Ah arak ini benar-benar beracun !” kata In Tiong Giok.

“Hei bocah, jangan diam saja, mari kita periksa setiap kamar, tentu masih ada komplotannya !

Baru saja mereka keluar pintu dikiri kanan mereka telah berdiri dengan tegak Kam Kong, Tok

Kay Pong dan Tan Toa Tiau dengan senjata yang sudah terhunus.

“Hm, kiranya yang dipanggil Tok Fut hoat adalah kawan lama juga !” kata Tong Cian Lie

sambil mendelik-delikkan matanya.

“Hm, baru tahu sekarangpun tak berarti lambat, sayang saja sepeles Tok ngo san terbuang

percuma. Dan apakah sudah takdir engkau harus mati basah dibawah senjata Cui hun jiu ku ?”

“Ah tak kukira engkau sebagai orang-orang Cap sah kie yang cukup kenamaan di dunia Kang

Ouw mau menjadi anjing Pok Thian Pang, dan melakukan kerjaan rendah untuk meracuni

diriku !”

“Kami diterima di Pok Thian Pang dengan kedudukan tinggi, sedikitpun tidak memalukan

orang ! Dan kini mendapat tugas untuk menangkap bocah she In ini ! Hal ini sebenarnya tidak

ada hubungannya dengan Tong heng, tapi engkau sendiri yang ikut-ikutan turut campur maka

jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan harap jangan menyesal !”

“Hm, seolah-olah engkau sudah memastikan bahwa kemenangan berad dipihakmu ?”

“Jala langit dan bumi sudah ditebar, biar bersayappun kalian tak bisa meloloskan diri !”

209

“Tapi aku tak mau mendesakmu keterlaluan, jika Tong heng tidak mau mencampuri urusan

bocah ini, kamipun tidak akan mengganggu seujung rambutmu.”

“Hm, aku tak berhasil menikmati Ngo tok san, tak salahnya mencobai Cui hun jiu mu, antara

kita sudah saling mengenal satu sama lain, tak perlu banyak bicara lagi: mari jangan malumalu.”

“Ah engkau mencari mati sendiri,” seru Tan Toa Tiau.

“Hm, engkau siapa ?” tanya Tong Cian Lie dengan kasar.

JILID 11________

“Aku Tan Toa Tiau ketua ranting Pok Thian Pang di Ngo liu cung,” jawab Tan Toa Tiau

dengan bangga.

“Eh bocah sewaktu engkau berada di Ngo liu cung tentu cecunguk ini yang menipumu bukan

?”

“Benar !” jawab Tiong Giok.

“Hm, cecunguk kecil yang tidak ada artinya, katakana padanya aku segan bicara dengannya

dan suruh minggir jauhan !”

Tan Toa Tiau mendengar perkataan ini, gusarnya tak alang kepalang, dengan keras dia

membentak : “ Bangsat she Tong, kematianmu sudah di depan mata, untuk apa banyak

cingcong lagi !”

“Hei, jangan banyak bacot !” bentak Tong Cian Lie sambil menggaplok.

Tan Toa Tiau tak merasa dongkol dipandang enteng ia menangkis sambil menyerang, tapi

begitu kedua tangan bentrok, terdengar suara nyaring….Bukan saja Tan Toa Tiau tidak

kesampaian melancarkan serangan, tubuhnyapun terhuyung tujuh delapan langkah. Dan terus

memuntahkan darah dari mulutnya.

Tok Kay Pong dan Kam Kong segera turun tangan. Tong Cian Lie melancarkan pukulan

geledeknya, membuat suara dasyhat susul menyusul dan membuat goyang seisi rumah. Dalam

suasana hiruk pikuk dari perkelahian terdengar suara seorang berseru keras. “Celaka…..rumah

ini mau roboh !” Menyusul berkelebat sesosok tubuh dari dalam kamar dan terus berlari

keluar. Dari potongan tubuhnya bisa dikenal orang itu adalah sisaudagar emas yang mengaku

bernama Cian Bouw.

Tok Kay Pong dengan cepat menghadang Cian Bouw sambil membentak: “Mau kemana ?”

“Jangan merintangi aku !” kata Cian Bouw, rumah ini akan rubuh aku bisa mati tertimpa

puing-puing. Kamu tahu sendiri manusia mati hanya sekali, masakan aku disuruh mati lagi !”

sambil berkata lengannya menyerang kepada Tok Kay Pong.

Sedikitpun Tok Kay Pong tak berpikir bahwa saudagar itu mempunyai pukulan yang keras

dan tidak berada dibawah kekuatan Tong Cian Lie. Karena lalainya hampir-hampir ia

210

menderita kerugian besar, cepat ia menarik senjatanya melindungi diri dan mundur.

Serangannya si saudagar membawa dirinya keluar pintu losmen dan terus ia ngacir dengan

“Bocah ! Ikuti orang itu !” perintah Tong Cian Lie kepada Tiong Giok.

Baru saja Tiong Giok keluar losmen, Tok Kay Pong mengejarnya dari belakang.

Sementara itu Tan Toa Tiau biarpun sudah menderita luka, maju lagi kemedan pertempuran

membantu Kam Kong. Hal ini tak membuat keder sedikitpun pada Tong Cian Lie, dengan

tenang ia melancarkan ilmu pukulan geledek dengan keras, dan bertubi-tubi. Kam Kong

maupun Tan Toa Tiau selangkah demi selangkah terrdesak mundur, mereka berkelahi dari

dalam losmen sampai kejalan besar. Kam Kong dan Tan Toa Tiau tidak sanggup melayani

musuhnya, tanpa berjanji lagi, melancarkan langkah seribu. Tong Cian Lie tidak mengejar, ia

membiarkan kedua musuhnya itu lari, ia kembali kedalam losmen menantikan Tiong Giok.

Sementara itu Tiong Giok yang mengejar Cian Bouw, biarpun menggunakan seluruh

kekuatan tak berhasil mencandaknya. Saking kesal ia berteriak: “Lo Cianpwee tunggu….”

“Siau ya kau boleh lari membawa dirimu, aku membawa diriku, mengapa mengikutiku ?”

“Lo Cianpwee berkepandaian tinggi, tetapi pura-pura sebagai seorang biasa, apa artinya ?”

“Siapa yang berkepandaian tinggi ? Engkau jangan salah, orang yang berkepandaian tinggi

adalah Pangcu dan rombongan dari Pok Thian Pang, tak lama lagi mereka akan datang,

sebaiknya lari cepat-cepat.”

“Apa benar pangcu akan datang ?”

“Percaya tidaknya itu terserah padamu! Jika engkau tak ingin kembali kemarkas pusatnya

meeka, sebaiknya jangan pula pergi ke Tiat po, kuyakin kedatanganmu tidak akan membawa

kebaikan ! Nah kata-kataku sudah selesai kuucapkan, engkauboleh resapkan sendiri, aku tak

bisa menemui orang dan harus berlalu secepatnya dari tempat berbahaya ini, selamat tinggal

!” tubuhnya berlari lagi setelah berkata dalam sekejap sudah hilang dari pandangan.

Saudagar emas itu datang kelosmen Hiong hin can dam memberikan tanda bahaya pada Tiong

Giok, semua ini bukan karena kebetulan, setelah mendengar perkataannya barusan, seolaholah

dia sudah mengenal kepada pemuda kita.

Tiong Giok tidak mengejar lagi, dia hanya berpikir dan menduga-duga siapa orang itu

sebenarnya. Belum pula ia berhasil mengingat orang itu dari belakang terdengar sura dingin.

“Bocah, kini engkau tak bisa kabur lagi !” Inilah suara Tok Kay Pong.

“Engkau mau apa ?”

“Sejak di markas pusat, kita sudah kenal bukan ? Soal engkau melarikan diri dari sana tak ada

sangkut pautnya denganku ! Tapi apa yang kulakukan ini adlah perintah dari atasan, jika tidak

akupun tidak mau mengejar-ngejar dirimu…”

“Ya maksudmu mau apa ?”

211

“Kudengar engkau telah pandai ilmu Keng thian cit su bukan ?”

“Kalau benar memang kenapa ?”

“Aku adalah orang tua yang menyenangi bakat muda sepertimu !” kata Tok Kay Pong.

“Maka itu jika engkau mau memberi petunjuk dimana letak keistimewaan dari ilmu itu….. he

he he, engkau orang pintar tentu mengerti sendiri maksudku bukan ?”

“Oh, jika kau mau memberikan petunjuk-petunjuk ilmu itu artinya kau tak segan-segan

mengkhianati Pok Thian Pang dan membebaskan diriku bukan ?”

“Bukan begitu, aku hanya menyayangi anak muda semacammu jika sampai dibawa kembali

ke markas pusat Pok Thian Pang, mana tahan mengalami siksaan-siksaan keras !”

“Mendengar katamu itu membuat aku menarik napas sesak !”

“Kenapa begitu ?”

“Sesak napasku karena perbuatanmu yang terlalu tidak tahu malu !” katanya lagi.

Tok Kay Pong menjadi semakin marah, matang kedua pipinya mendengar ucapan Tiong Giok

itu. Dari malu timbul rasa gusarnya dan dengan didahului senyuman dingin ia berkata :

“Bocah diajak jalan baik-baik tidak mau, maunya kejalan mati. Engkau jangan menyesal

semua ini dicari sendiri !” Sehabis berkata Cui hun jiaunya menyambar dengan cepat pada

Tiong Giok.

Akan tetapi dengan gerakan Kiu toa bie cong pou Tiong Giok berhasil menghindarkan dirinya

dari serangan, lalu mencari posisi yang baik dan terus melancarkan Hiat cie lengnya yang

Dengan didahului gerakan aneh Tok Kay Pong berbalik menyabetkan Cui hun jiau (cakar

pengejar nyawa), tubuhnya yang besar tak ubahnya seperti anak panah cepatnya, mencelat

dua tiga depa kedepan, menghindarkan Hiat cie leng lawannya.

Berulangkali Tiong Giok melancarkan Hiat cie leng yang menjadi andalannya, tapi sebegitu

jauh belum berhasil menundukkan lawannya. Ia tak berpikir bahwa lawannya begitu gesit dan

serangan dirinya tak membawa hasil. Ia tak mau memboroskan tenaga, maka Hiat cie leng

tidak dipergunakan lagi.

Mereka berkelahi dengan hebat, nanti merapat nanti merenggang, masing-masing tak berani

memandang enteng lawannya. Tok Kay Pong dengan sebelah tangan bersenjata Cui hun jiau,

sebelah tangannya melindungi dadanya. Selangkah-selangkah mendekat lagi, setiap kakinya

diangkat tertera sebuah jejek kakinya yang cukup dalam. Menandakan bahwa seluruh

kekuatannya sedang dipergunakan semaksimum-maksimumnya.

In Tiong Giok sadar bahwa kekuatan ilmu dalamnya belum memadai lawan dan jika

mengandalkan kelincahannya mungkin masih bisa bertahan dan tak sampai dikalahkan. Jika

mengadu kekerasan, dengan bertangan kosong sudah pasti akan menderita kerugian. Untung

212

dia seorang cerdik yang bisa berpikir cepat. Untuk mengatasi situasi yang makin gawat,

segera ia berpura-pura jerih dan mundur-mundur kebelakang. Sesudah lima enam langkah, ia

merandek karena kakinya memijak kayu kering yang mendatangkan bunyi “krak”. In Tiong

Giok berlagak kaget dan melihat kebawah. Dan rupanya Tok Kay Pong tidaklah menyianyiakan

kesempatan baik itu, tubuhnya menyergap dengan cepat pada musuhnya.

Tipu muslihat Tiong Giok yang menginginkan musuh berbuat seperti itu berhasil baik,

tubuhnya berputar dengan cepat, menghindar sambaran senjata musuhnya. Lalu dari tempat

yang enak ia melancarkan pukulan tangan diluar dugaan musuh.

Begitu serangannya tidak membawa hasil, Tok Kay Pong sudah tahu bahaya mengancam

dirinya. Cepat ia mencelat keudara tanpa menoleh lagi dan membalik tangan melakukan

tangkisan. Tiong Giok tidak mau mengadu tangan, ia mengubah serangannya dengan cepat.

Sekali ini ia berhasil, pukulannya tepat mengenai bagian pundak musuhnya. “Buk” terdengar

suara nyaring, tubuh Tok Kay Pong terpental sejauh dua tiga tombak.

Pukulan Tiong Giok itu begitu telak, dan berhasil menghancurkan tulang bahu musuhnya.

Dengan terhuyung-huyung Tok Kay Pong bangkit dari tanah sambil menahan sakit. Sekali ini

Siau bin bu siang atau siiblis selalu tersenyum tidak terlihat lagi senyumannya, ia meringis

Terhadap musuhnya yang sudah payah Tiong Giok tidak menurunkan tangan lagi, ia menanti

dengan tenang. Tidak ada rasa sombong sedikitpun dirinya, bisa mengalahkan salah seorang

Cap sah kie yang sudah tenar itu.

“Jika engkau kurang puas, aturlah pernapasanmu sampai baik, kita boleh duel lagi !”

“Bocah kemenanganmu ini adalah hasil kelicikanmu, dan bukan kepandaianmu !” tapi dengan

akallah aku memperoleh kemenangan, menandakan aku menang teknik darimu bukan ? Jika

dalam hal ini engkau merasa kecewa, engkau boleh bertanya pada diri sendiri, patutlah

sebagai Thian lam sam kui yang sudah kesohor, mempergunakan racun untuk mencelakakan

musuh ?”

Tok Kay Pong menjadi malu, dan tak ada muka untuk berdiam lama-lama disitu, dengan

perasaan dan malu, ia mencelat pergi dengan cepat sambil menahan sakit dipundaknya.

In Tiong Giok tidak mau mengejar, ia merapikan pakaiannya dan terus menuju ke losmen

untuk menemui Tong Cian Lie. Setibanya dimulut kampung ia menjadi melongo sendiri

karena keadaan sangat sunyi sekali. “Mungkinkah Tong Lo Cianpwee telah…” pikirannya

dengan kaget. Ia sudah mengenal tabiat orang tua itu. Yang andaikan berhasil membereskan

Tan Toa Tiau dan Kam Kong, pasti akan mencari dirinya. Kini sepanjang jalan ia tidak

melihat ada bayangan, juga tidak mendengar suara perkelahian. Mungkinkah kaum Pok Thian

Pang dengan jago-jagonya telah datang dan membuat Tong Cian Lie tidak berdaya ? Dengan

tergesa-gesa ia berlari secepat-cepatnya kearah Hiong hin can. Begitu ia sampai didepan pintu

lagi-lagi membuatnya melongo. Keadaan disitu sunyi sepi, tidak terlihat tanda-tanda belas

perkelahian. Kam Kong maupun Tan Toa Tiau tidak terlihat sama sekali. Pintu rumah masih

terbuka lebar-lebar didalam terlihat sinar api yang kecil, remang-remang terlihat dua orang

sedang terpekur. Yang satu adalah Ma Hui In dan yang satu lagi adalah Tong Cian Lie.

213

Begitu mendengar derapan sepatu Tiong Giok, Tong Cian Lie memandang sambil menegur

“Sudah pulang ?”

“Ya sudah !”

“Tak kena dikejar orang tua itu ?”

“Kena, namun ia tak mau menyebutkan namanya.” Jawab Tiong Giok. “Ia hanya memesan

tak usah pergi ke Pek liong san, dan mengatakan bahwa jago-jago dari Pok Thian Pang

dipimpin Pangcunya sendiri akan kesini dengan menganjurkan kita cepat-cepat berlalu dari

sini.”

“Sayang perkataannya ini diucapkan terlalu lambat juga terlalu siang !” kata Tong Cian Lie.

Mendengar perkataan yang berlawanan dari kawannya itu, Tiong Giok menjadi melongo lagi.

“Lo Cianpwee, engkau…”

“Duduklah dulu dan makan.” Potong Tong Cian Lie. “Hei jangan melamun saja, sediakan

kami minuman dan makanan, sesudah itu kami mau tidur senyenyak-nyenyaknya !”

Ma Hui In segera bangkit dari tempat duduknya, tak selang lama dia kembali lagi dengan

makanan serta minuman. Tong Cian Lie meneguk arak dengan hausnya. “Hei, bocah mari

minum sepuas-puasnya, biar kita mati atau mabuk, dengan begitu segala kepusingan tidak ada

lagi !”

“Lo Cianpwee apa yang terjadi disini ?” tanya Tiong Giok.

“Apapun tidak ada yang terjadi ! Kam Kong si setan cilik adalah pecundangku, apa lagi orang

she Tan itu tak ada artinya bagiku ! Begitu aku mengangkat tangan, mereka sudah lari terbiritbirit

! Sudahlah jangan menceritakan itu, mari minum.”

Tiong Giok tidak berani banyak bertanya, diangkatnya cawan arak dan meneguknya dua kali,

lalu meletakkan lagi dimeja.

Tong Cian Lie meminum arak sepuas-puasnya, tubuhnya bermandi keringat, arak seguci

dalam waktu singkat telah menjadi kering. Ma Hui In mengambil lagi seguci.

“Apa yang harus kulakukan ?”

“Ya apa saja, misalnya soal bagaimana Lo Cianpwee mengalahkan Kam Kong dan Tan Toa

Tiau…”

“Dua cecunguk itu tak ada harganya untuk diceritakan !”

“Atau memberikan pandangannya, siapa sebenarnya pedagang she Cian itu ?”

“Seorang yang berlaku gelap-gelapan dan tak berani berterangan adalah bangsa pengecut, dan

membuang-buang waktu saja menduga-duganya.”

214

“Orang ini seperti seorang yang sudah kukenal, tapi entah betuk entah tidak.” Ia merandek

sejenak, sengaja memancing Tong Cian Lie membuka mulut dan mau mengutarakan isi

Tapi yang diajak bicara itu tak memperdulikannya, terus asyik dengan araknya. “Mau betul

atau tidak, tidak ada urusannya denganku ! Kini iapun sudah pergi, tak usah diingat-ingat lagi,

mari kita minum !”

Segala daya dipergunakan Tiong Giok, Tong Cian Lie trtap tak mau mengutarakan isi hatinya.

Maka iapun meminum lagi araknya. Tak selang lama mereka telah merasa sedikit pusing dan

mabuk, Tong Cian Lie menyuruh Ma Hui In membereskan sisa makanan dan perabotan, lalu

ia berpaling pada Tiong Giok “tak lama lagi akan terang tanah, maka itu tidurlah lekas !”

In Tiong Giok menganggukkan kepala. Di kamar dia bersemedhi, menjalankan pernapasan

sedikitpun tidak tidur. Dan terdengar pula suara bolak balik Tong Cian Lie diatas ranjang,

nyatanya orang tua itupun tidak bisa pulas.

Dengan cepat malam telah berganti siang, setelah beres makan pagi mereka keluar dari

losmen dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan Tong Cian Lie mengerutkan kening,

wajah muram terus. Membuat Tiong Giok kesal, tapi ia diam saja tak berani banyak bicara.

Begitu keluar dari kampung itu mereka menuju keutara, dari sini hanya berjalan beberapa lie

saja, perkampungan Tiat po telah terlihat jelas.

Perlahan-lahan mereka mengendarai kudanya mendekati pintu perkampungan. Tampak pintu

perkampungan yang besar tertutup rapat. Hanya pintu samping yang kecil ada terbuka. Dan

dari sinilah orang keluar masuk. Di depan pintu itu dijaga empat pemuda berbaju hijau.

Sesampainya didepan itu Tong Cian Lie terbengong-bengong, sinar matanya menjadi sayu

dan mengembang air mata. “Bocah disinilah kita berpisah, jika ada juga kita bertemu lagi

dikemudian hari !”

“Kenapa Tong Lo Cianpwee tak mau masuk kedalam ?”

Tong Cian Lie tidak menjawab, kepalanya saja digeleng-gelengkan.

“Kenapa hanya dalam waktu semalam saja Lo Cianpwee berubah pikiran ?”

“Ya, akupun merasa malu mengubah kemauan dalam sekejap, tapi mau dikata apa semua ini

kemauan yang maha kuasa, manusia bisa apa……”

“Apa artinya Cianpwee berkata ini ?”

“Sudah kupikirkan tadi malam sebaliknya engkaupun tak usah masuk kedalam perkampungan

Tiat po, tapi kutahu engkau tak bisa dilarang, maka itu sengaja kuantar engkau sampai disini,

dan kita berpisah…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya, karena terputus isak tangisnya.

Tiong Giok tidak memaksa meminta keterangan apa sebabnya orang tua itu tak mau masuk ke

Tiat po. Ia hanya berkata : “Lo Cianpwee tak masuk tak apa-apa, tapi ingin kutahu habis dari

sini mau kemana ?”

215

“Tentu pulang ke Kiu yang shia.” Jawab Tong Cian Lie. “Akan kukunci pintu rapat-rapat dan

tak mau menerjunkan diri lagi didunia Kang Ouw. Jika dikemudian hari engkau lewat disana,

tak halangan mampir barang satu dua hari !” Sambil berkata ia mengeluarkan sejilid buku dari

sakunya dan menyerahkan pada In Tiong Giok. “Buku ini adalah buku pelajaran Thian lui tiap

(buku pelajaran pukulan geledek). Sekarang buku ini tak ada gunanya lagi bagiku, nah

terimalah dengan baik sebagai tanda mata dariku. Jika engkau sampai tak diterima Lim Siok

Bwee, perlihatkanlah buku ini, mungkin buku andalanku ini, akan memberi muka kepadanya

guna menerimamu sebagai tamu.”

“Bocah sebenarnya akupun merasa enggan berpisah denganmu, tapi apa mau dikata, sesuatu

yang tidak diinginkan justru terjadinya lebih cepat dari pada yang diharapkan. Kecuali dari

buku ini kupesan juga untukmu, berlakulah welas asih terhadap sesama manusia, biarpun ia

lawan atau kawan !”

Tiong Giok menganggukkan kepala, dan memegang buku itu, sedngkan bayangan Tong Cian

Lie semakin lama semakin kecil dan hilang dari pandangan matanya.

Empat penjaga pintu perkampungan Tiat po melihat Tiong Giok terpekur begitu lama, setelah

berpisah dengan Tong Cian Lie menjadi geli sendiri. Antaranya ada yang berteriak : “Hei

kawan, temanmu sudah pergi jauh !” Seruan ini membuat Tiong Giok tersadar dari

lamunannya. Cepat-cepat ia menyeka air mata dan menuntun kudanya masuk ke Tiat po.

Penjaga itu dengan hormat menyambut Tiong Giok. “Apakah saudara mau masuk ke

kampung ini ?”

“Benar !”

“Untuk keperluan apa ?”

“Aku In Tiong Giok mau menghadap pada Siau siang lie hiap Lim Siok Bwee, dapatkah

engkau menolongku memberi tahu kepadanya ?”

“Mungkin saudara tidak mengetahui bahwa perkampungan ini sudah bertahun-tahun tidak

menerima tamu !”

“Hal ini kuketahui, tapi aku mempunyai suatu hal penting dengannya, dan mohon

pengecualian !”

“Sejak pintu ini tertutup selama dua puluh tahun lebih, banyak tamu-tamu yang datang

dengan berbagai urusan penting dengannya, tapi semuanya ditolak tanpa pengecualian……..”

“Tapi jika urusan penting yang bersangkutan dengan mati hidupnya Po cu disini, tidak diberi

pengecualian juga ?”

“Saudara jangan bergurau, Po cu kami telah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu…”

“Ya tersebab kudengar berita bahwa Po cu disini telah lama meninggal dunia, maka dari

tempat ribuan lie aku datang kesini untuk mewariskan kepada isterinya, keadaan Po cu

belakangan ini…..”

216

Penjaga-penjaga pintu itu mula-mula merasa aneh dan heran mendengar keterangan Tiong

Giok, tapi sekejap kemudian mereka terbahak-bahak. “Ah yang benar saja, Po cu kami sudah

meninggal dunia puluhan tahun mana bisa hidup lagi !”

“Apa yang kukatakan adalah benar !” kata Tiong Giok dengan dongkol.

Penjaga-penjaga itupun menjadi mangkel melihat sikap pemuda kita yang masih tetap

bertahan dan tak mau pergi dari situ. “Hei engkau harus tahu Tiat po ini tempat apa, dan

janganlah membuka mulut sembarnagan tahu, kulihat engkau kurang waras dan lekaslah cari

tabib yang pandai untuk berobat, jangan mengaco terus disini !”

“Aku dalam keadaan sehat walafiat, apa yang kukatakan adalah benar ! Lagi pula hak

menerima tamu berada ditangan Lim lie hiap bukan ditangan kalian ! Kuheran kenapa kalian

tak mau mewartakan kepadanya ?”

Salah seorang penjaga yang paling muda menjadi gusar matanya segera mendelik, dan

bersikap mau mengusir dengan kekerasan. Untung kena dicegah oelh yang lebih tua. Agaknya

ia lebih berpengalaman dan bisa menyabarkan kawannya itu. “Saudara kulihat engkau

seorang pemuda yang tidak berpotongan sebagai penipu, maka itu harus tahu bahwa semasa

hidupnya Po cu kami, terkenal kemana-mana dan tempat tinggalnya maupun orang-orangnya

bukan bangsa tempe yang boleh dihina. Soal kami tidak mewartakan kepada nyonya kami,

adalah kebaikan untukmu sendiri. Jikalau soal mustahil mengenai Po cu kami didengarnya,

engkau mencari penyakit sendiri, maka itu sebaiknya lekaslah engkau berlalu dari sini…..”

“Terima kasih atas kebaikanmu,” sela In Tiong Giok. “Justru karena aku sebagai salah

seorang pengagum Tiat eng hiong, maka jauh-jauh datang kesini dengan membawa berita

penting untuk disampaikan kepada isterinya, tapi kalian tidak mau mewartakan, dan terus

mengatakan bahwa nyonya kalian tidak mau menemuiku !”

“Maksudmu memaksa kami memberitahu kepada Lie pocu ?”

“Sudah tentu !”

“Apakah tidak menyesal dengan akibatnya ?”

“Apa yang perlu kusesalkan ?”

“Baik kuwartakan kedalam dan nantikan disini !” kata orang itu memesan pad temannya

sebelum berlalu. “Jaga baik-baik, jangan kasih diia pergi !”

“Tunggu dulu,” panggil In Tiong Giok. Ia mengeluarkan Thian liong giok hu dari sakunya.

“Benda ini kuharap sekalian perlihatkan pada Lim Lie hiap !”

Orang itu menyambut kumala itu sambil menggerendeng. “Apa artinya benda ini ?”

“Engkau jangan memperdulikan apa artinya benda ini, pokoknya serahkanlah pada lio

pocumu, ia pasti tahu artinya.”

Tak selang lama setelah berlalunya orang itu, dari dalam kampung terdengar derap kaki kuda

yang berisik sekali, penunggang kuda itu adalah seorang tua berusia enam puluhan, kepalanya

217

diikat kain hijau, matanya bersinar tajam, menandakan seorang berkepandaian tinggi. Seorang

lagi adalah gadis berbaju ungu berusia tujuh belas tahun, matanya jeli, pinggangnya ramping,

tampaknya periang sekali. Begitu kedua penunggang kuda keluar pintu, mereka melompat

turun dari tunggangannya dan mengawasi pada Tiong Giok dengan keheran-heranan..

Siorang tua segera menghampiri dengan membungkuk dan memberi hormat. “Numpang

tanya, apa hubungan In siauw hiap dengan Pek Lo cianpwee dari Thian Liong bun ?”

“Oh, berkat kemujuran aku menjadi pewaris dari Thian liong bun….”

Belum pula Tiong Giok menjelaskan perkataannya, orang tua itu segera berlutut. “Aku Tiat

Hok, memberi hormat pada In siauw hiap !”

Sedangkan gadis remaja tadi, dengan hormat mendekati mereka. “Aku Tiat Siauw Bwee

mewakili ibu, mengucapkan selamat datang pada In Siauw hiap !”

Para penjaga pintu tadi, tanpa disuruh lagi sudah bertekuk lutut memberi hormat dan

ketakutan. Tiong Giok sudah tahu bahwa Tiat Giok Lin memperoleh kepandaian silat dari Pek

King Hong, begitu kumala pusaka dari Thian Liong bun diperlihatkan, orang-orang di Tiat po

berlaku demikian memujinya, hal ini benar-benar diluar dugaannya.

Dengan tergopoh-gopoh Tiong Giok membanguni Tiat Hok, “Tak usah banyak peradatan,

bangunlah ! Kedatanganku ini nampaknya mengganggu dan merepotkan saja.”

“Siauw hiap jangan berkata begitu, ketahuilah bahwa Po cu kami menerima pelajaran dari

Thian liong bun, sekalian orang yang berada di dalam Tiat po begitu melihat Thian liong giok

hu sama saja seperti melihat Ciang bun jin, Hujin (nyonya) tidak menyambut keluar, ia

sedang menantikan di dalam lekaslah naik kuda !”

Dengan tersenyum Tiong Giok mencemplak kudanya, mengikuti Tiat Hok dan Siauw Bwee

masuk kedalam. Keadaan didalam Tiat po sangat luas dan terbagi perkampungan depan dan

perkampungan belakang. Mereka bercocok tanam dan menenun kain sebagai mata

pencaharian sehingga bisa hidup dengan damai dari kesibukan dunia luar.

Sejak Tiat Giok Lin mati, tidak pernah seorangpun diijinkan masuk kedalam Tiat po dan

Tiong Giok adalah orang pertama yang diperkenankan masuk kedalam. Sepanjang jalan lakilaki

dan perempuan tua dan muda menyambut kedatangannya dengan meriah.

“Mamaku sedang menanti dengan tak sabaran, Tiat Hok temanilah In Siau hiap aku akan

masuk duluan !” kata Tiat Siau Bwee yang terus memecut kudanya pergi duluan.

Dengan dikawani Tiat Hok, In Tiong Giok melewati perkampungan luar dan memasuki

daerah perkampungan dalam. Adapun perkampungan dalam ini tempat tinggalnya Po cu.

Penduduk biasa yang berada diluar kampung itu, tidak diperbolehkan sembarangan masuk

Lim Siok Bwee sejak ditinggal mati suaminya tidak pernah keluar dari perkampungan dalam,

dan sekarangpun tidak terkecuali, ia hanya berada didalam rumah menantikan kedatangan

218

Kedua penunggang kuda langsung masuk kedalam perkampungan dalam dan berhenti

disebuah taman bunga yang luas. Dari sini mereka masuk kedalam gedung yang besar dan

megah. Keadaan didalam tampaknya sangat tenang dan sepi, dua puluh pelayan gedung yang

berbaris rapi dikiri kanan, tersenyum-senyum menyambut kedatangan tamunya. Dibelakang

barisan pelayan itu terlihat Lim Siok Bwee dan putrinya sedang menantikan tamunya.

Usianya Lim Siok Bwee tidak lebih dari empat puluh tahunan, tapi jika dilihat parasnya yang

pucqat serta baju putih tanda dari berkabung yang masih dikenakan terus walau sudah

puluhan tahun, tampaknya tua sekali.

“Yang rendah In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Tiat Hujin,” kata Tiong Giok.

Lim Siok Bwee membalas hormat sambil berkata : “Mendiang suamiku mendapat pelajaran

dari Thian liong bun, dan terhitung sebagai anak buah perguruan itu, maka itu Siau hiap tak

usah terlalu memaksa peradatan. Anggaplah sebagai orang sendiri, mari masuk dan duduk.”

Lim Siok Bwee dan pengiringnya masuk kedalam, demikian juga dengan Tiong Giok, setelah

pada duduk Lim Siok Bwee mengembalikan Thian liong giok hu. “Lebih kurang dua puluh

tahun lamanya tidak melihat kumala ini ! Mendiang suamiku semasa hidupnya tak pernah

melupakan budi kebaikan dari Pek Locianpwee yang memberikan pelajaran silat, sayang dia

sudah meninggal dan tidak bisa kenal dengan Siau hiap.”

“Sejujurnya dengan kebetulan dan berjodoh saja kuperoleh Giok hu ini, sedangkan ilmu

pelajaran dari Thian liong bun belum kuperoleh sedikit juga. Maka itu kalau disbanding

dengan kepandaian po cu masih jauh sekali ! Sedangkan ilmu yang ada padaku sekarang ini

bukan dari Thian liong bun melainkan dari Han Bun Siong.”

“Oh kiranya In Kongcu adalah murid dari Han Bun Siong ?”

“Ya, tapi waktu berguru tidak mengetahui namanya, setelah mengembara didunia baru tahu

bahwa guruku bernama Han Bun Siong !”

“Kenapa begitu ?”

Dengan singkat Tiong Giok menuturkan sejak mempelajari bahasa Sangsekerta, sampai

menjadi penterjemah di Pok Thian Pang, serta pertemuannya dengan orang tua didalam

penjara tanah, secara jelas.

“Menurut dugaan Siau hiap, siapakah orang tua yang dipenjara itu ?” tanya Lim Siok Bwee.

“Justru kedatanganku kesini berhubungan dengan orang tua itu, maka sebelum kujawab

pertanyaan Hujin, dapatkah kiranya kuajukan beberapa pertanyaan ?”

“Silahkan, apa yang kubisa pasti kujawab !”

“Adakah Tiat pocu mempunyai nama samaran Hauw Sian ?”

“Benar !”

219

“Adakah Tiat pocu menulis pelajaran pedang Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta ?”

“Apa ?”

“Benarkah setelah Tiat Pocu meninggal dunia, buku pelajaran itu hilang ?”

“Benar….Apakah Siau hiap bercuriga bahwa orang tua dipenjara tanah itu sebagai suamiku ?”

“Aku tidak berani memastikan,” jawab Tiong Giok. “Tapi kemungkinan ya juga, sebab orang

tua itu adalah yang menulis buku Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta, hal ini

kuketahui dari mulutnya sendiri. Tambahan pula ia pandai berbahasa Sangseketa dan sudah

delapan belas tahun dipenjara disitu, jika dilihat dari keadaan ini, dapat dipastikan orang tua

itu adalah Pocu sendiri !” Sehabis menyatakan ini, Tiong Giok memancarkan sinar mata yang

berapi-api menatap pada Lim Siok Bwee, menantikan reaksi dari nyonya itu. Pikirnya sedikit

banyak nyonya rumah akan kaget dan membenarkan perkataannya. Tak kira Lim Siok Bwee

tetap duduk dengan tenang seperti biasa.

“Siau hiap jangan lupa suamiku sudah meninggal dunia belassan tahun lamanya !”

Tiong Giok merasa kecewa mendapat jawaban itu. Tapi ia mendesak lagi dengan

pertanyaannya. “Adakah Hujin disampingnya sewaktu Pocu meninggal dunia ?”

“Tidak, tapi jenazahnya aku sendiri yang memasukkan ke dalam peti !”

“Tahukah hujin sebab kematian Pocu ?”

“Oh…karena bunuh diri !”

“Dimana ia membunuh diri ? Dan karena apa ?”

“Aku sendiri tak tahu sampai sejelas itu.”

“Tiat Hujin sebelumnya kuminta maaf atas pertanyaan-pertanyan tadi,” kata Tiong Giok.

“Dan sekarang dengan gegabah kukemukakan suatu pendapat, harap Hujin jangan marah.

Yakni jika ada seseorang yang mengatur suatu rencana dengan menyediakan sebuah jenazah

yang mirip dengan pocu….”

“Ah dalam hal ini tak mungkin begitu kejadiannya, sebab bukan saja cara itu bisa

mengelabuhiku, tapi kematiannya itu ada yang melihat dan tak usah diragukan lagi !”

“Siapa yang melihat ?”

Lim Siok Bwee berpaling dan menunjuk oada Tiat Hok. “Dialah yang melihat !”

“Benarkah engkau melihat dengan mata kepala sendiri ?”

“Benar !”

“Kenapa engkau tidak mencegah waktu Pocu mau membunuh diri ?”

220

“Waktu itu jarakku dengannya agak jauh, bagaimanapun tidak bisa mencegahnya.”

“Jika begitu segalanya engkau melihat dan bisa menuturkan jalannya tragedy itu bukan ?”

“Hal ini….” Ia tidak melanjutkan hanya memandang kepada Lim Siok Bwee, seolah-olah

minta persetujuan dari nyonya itu baru berani membuka mulut.

“Tiat Hok, In Siau hiap bukan orang lain, tak halangan kau tuturkan kejadian itu kepadanya”

kata Lim Siok Bwee. Lalu ia menggapai pada puterinya.

“Bwee jie lekaslah engkau atur pelayan-pelayan itu menyediakan makanan dan minuman

untuk menjamu In Siau hiap.”

Tiat Siau Bwee sedang asyik mendengarkan percakapan itu, dan enggan pergi dari situ, maka

ia bertanya pada ibunya. “Mama kenapa tidak memperbolehkan aku mengetahui riwayat

mendiang ayah…”

“Engkau m asih kecil tak perlu tahu terlalu banyak,” kata Lim Siok Bwee.

Tiat Siau Bwee merasa segan berlalu dari situ tapi iapun tidak berani membangkang perintah

ibunya, dengan memoyongkan mulut ia pergi dari ruangan itu.

Lim Siok Bweepun menyuruh sekalian pelayan yang berada disitu keluar semua. Melihat

keadaan ini Tiong Giok mendapat kesimpulan bahwa kematian Tiat Giok Lin, mengandung

unsure-unsur pribadi yang dalam dan dirahasiakan. “Hujin soal kematian Tiat Pocu sukar

diutarakan, akupun tidak memaksa….boleh diceritakan boleh tidak !”

“Kematian suamiku bukan saja bersangkutan dengan Tiat po ini, juga bertalian dengan

seorang sahabat baiknya. Belasan tahun soal ini kukeram didalam hati, karena tak

menginginkan peristiwa ini diketahui orang-orang persilatan. Kesatu untuk menjaga nama

baik suamiku, dan timbulnya berita-berita sensasi yang bisa membawa akibat buruk bagi

sahabat suamiku itu. Maka itu setelah Siau hiap mendengar peristiwa dan kejadian ini kuharap

bisa menyimpan rahasia dan jangan menceritakan kepada orang lain lagi !”

“Aku berjanji, tapi dapatkah kutahu siapa-siapa sahabat dari Tiat Pocu itu ?”

“Setelah Siau hiap mendengar cerita Tiat Hok akan tahu sendiri dengan jelas !”

“Tiat Hok engkau boleh bercerita sesuka hatimu, jika ada bagian-bagian yang sukar

diutarakan dengan kata-kata, boleh dilewat saja.”

Didahului dengan deheman kecil Tiat Hok mulai dengan ceritanya.

Dua puluh tahun yang lalu, saat itu nama Sin kiam siang eng terkenal didunia Kang Ouw dan

nama tersebut terlebih semarak lagi setelah terjadi perkenalan di gunung bu san sin lie dimana

mereka dengan gemilang mengalahkan sebagian dari bu lim cap sah kie.

Adapun seperti sudah diketahui bahwa Sin kiam siang eng adalah sepasang pendekar muda,

yang besaran bernama Ang Ek Fan dan yang mudaan bernama Tiat Giok Lin, mereka

mengangkat saudara satu sama lain. Hubungan ini ditambah erat dengan perkawinan mereka:

221

karena istrinya Ang Ek Fan yang bernama Sin Siu Ngo masih terhitung saudara sepupu

dengan istrinya Tiat Giok Lin yang bernama Lim Siok Bwee. Sesungguhnya kedua sasudara

angkat ini tinggal berjauhan, hubungannya tetap akrab dan intim. Pokoknya jika bukan Ang

Ek Fan datang kerumah Tiat Giok Lin, tentu yang disebut belakangan datang kerumah yang

Sudah menjadi kebiasaan Sin kiam siang eng jika ingin keluar rumah, terlebih dulu berjanji

ditempat mana mereka harus bertemu. Jika tidak di Tiat po tentu dirumah Ang Ek Fan sendiri.

Setelah itu baru mereka mengembara menjalankan kebaikan didunia Kang Ouw. Nah dalam

tahun ini seharusnya mereka bertemu di Tiat po, tapi tak kira selang tiga hari lagi akan

bertemu, Tiat Giok Lin menerima surat itu tidak ada yang tahu. Hanya saja paras Tiat Giok

Lin menjadi pucat setelah membaca surat itu, mengeram diri dikamar tak mau menemui orang

atau diganggu !

Tiga hari penuh Tiat Giok Lin mengeram dikamar tidak makan dan keluar pintu. Hari pertama

masih terdengar elahan napasnya yang panjang, hari kedua tidak terdengar lagi barang sedikit

suaranya, Lim Siok Bwee merasa tak tenang dan datang sendiri menemuinya.

Akan tetapi Tiat Giok Lin itu tidak membukakan pintu, ia hanya mengatakan sedang melatih

ilmu dalam dan tak mau diganggu.

Soal jago bulim melatih diri dengan semadi dan tak makan maupun minum adalah biasa,

lebih-lebih hanya tiga hari, tidak terhitung. Setelah mendengar suara suaminya Lim Siok

Bwee pun menjadi tenang dan hilang kekuatirannya.

Tiga hari telah berlalu, adalah saatnya bagi Sin eng bertemu, maka itu pagi-pagi sekali Tiat

Giok Lin sudah keluar dari kamarnya. Wajahnya biarpun seperti biasa, tetapi nampaknya

sangat loyo dan kurusan, bagaikan orang baru bangun dari sakit. Dari sini dapat dilihat selama

tiga hari ini bukan melatih ilmu dalam melainkan sedang menderita tekanan bathin.

Begitu keluar kamar ia tidak menemui isterinya, terus berjalan ketaman bunga, dan

memerintahkan pelayan-pelayan menyediakan meja perjamuan sekalian hidangannya. Dan

terus menantikan kehadiran Ang Ek Fan. Segala yang dipinta telah tersedia, tetapi yang

dinantikan belum kunjung tiba. Dari pagi sampai tengah hari, segala makanan telah menjadi

dingin. Tiat Giok Lin masih tetap duduk dikursinya sambil memandang keluar taman

menunggukan orang-orang yang dinantikan. Setengah harian ia diam tak bergerak-gerak.

Melihat keadaan ini sekalian pelayannya menjadi heran, karena kelakuannya itu lain dari

biasa, tapi semuanya diam saja tak berani membuka mulut.

Waktu dengan cepat telah berlalu, dari siang telah menjadi sore dan magribpun tiba. Keadaan

taman bunga masih tetap sepi, tak ada yang membuka mulut sepatah katapun, akhirnya Tiat

Hok memberanikan diri maju kedepan dan ia berkata : “Pocu hari malam, perlukah memasang

lampu dan menghangatkan kembali makanan dan minuman ini ?”

“Sudah jam berapa ?”

“Jam tujuh malam, kuyakin Ang Toaya tidak datang…” belum pula selesai ia mengucapkan

kata-katanya, Tiat Giok Lin sudah membentak :

222

“Ngaco ! Ang Toako tidak pernah melanggar janji !”

“Maksudku nanti malam Toaya baru sampai dan kuharap Pocu makan dulu….”

Tiat Giok Lin menggelengkan kepala dan berkata dengan keras : “Tidak ! Aku harus

menantikannya dan langsung harus menegurnya jika ia masih memandang aku sebagai

saudara angkatnya, bagaimanapun ia harus datang.”

Tiat Hok tak tahan lagi dan ingin mengetahui apa yang sedang dirisaukan tuannya itu. “Pocu

menantikan Toaya, apakah ada soal penting ?”

Tiat Giok Lin tak menjawab, ia hanya menggoyangkan tangan dan berseru : “Nyalakan lampu

dan beresi makanan dan meja-meja ini ! Perintahkan seorang keluar, mungkin ia telah tiba.”

Pelayan-pelayan itu sedari tadi menginnginkan perintah itu, maka dengan cepat api

dinyalakan dan ruangan menjadi terang. Dengan begitu terlihat tegas wajah Tiat Giok Lin

yang pucat seperti kertas, kaki tangannya dan mulut terlihat bergetar tidak keruan.

Melihat keadaan ini Tiat Hok menyuruh orang bawahannya melaporkan pada Lim Siok Bwee

bertepatan dengan ini, dari luar terdengar berderapnya sepatu kuda.

“Toaya datang !” terdengar seruan dari luar.

Tiat Giok Lin bangkit dan melangkah keluar. Dengan cepat suara derapan kuda tidak

terdengar, seorang laki-laki gagah dan ganteng memasuki taman bunga dan bersampokan

dengan Tiat Giok Lin.

“Hian tee kenapa engkau jadi kurus begini macam ?” tegur Ang Ek Fan dengan kaget.

Tiat Giok Lin merangkap sepasang tangannya memberi hormat: “Soal ini tak bisa dituturkan

dengan sepatah sua patah kata silahkan Toako masuk dulu baru kujelaskan !”

Ang Ek Fan sedikitpun tidak merasakan perubahan pada saudara angkatnya, dengan mesra ia

memegang lengan Giok Lin dan melanggeng masuk kedalam dengan gembira, sambil jalan

dan sesampainya duduk diruangan tengah ia menuturkan soal kelambatannya sampai di Tiat

po. Lalu dari bungkusan yang dibawa ia mengeluarkan beberapa potong pakaian anak bayi.

“Menurut peerhitungan anakmu akan lahir tak lama lagi bukan ? Nah ini pakaian orok dibuat

oleh ensomu. Ia sendiri baru bisa datang beberapa hari lagi.”

Tiat Giok Lin menerima pakaian anak orok itu, tanpa melihat lagi atau menghaturkan terima

kasih. Ia hanya berpaling pada Tiat Hok dan sekalian pelayan-pelayan sambil membentak:

“Kalian semua keluar dari sini, siapapun kularang masuk kesini maupun ketaman bunga !”

Setelah sekalian babu dan jongos keluar ruangan, Tiat Giok Lin baru berkata pada Ang Ek

Fan: “Sudah lama kunantikan kedatangan toako, inngin kusampaikan perasaan hatiku secara

berhadapan, tapi sebelum kata-kataku diucapkan aku ingin memperlihatkan dua macam

barang kepada Toako.”

“Antara kita bukan orang lain, mau bicara ya silahkan, tak usah ragu-ragu tak karuan !”

223

Tiat Giok Lin tersenyum dingin, dirogoh sakunya dan mengeluarkan dua benda, satu adalah

sebuah kotak kecil yang satu lagi adalah surat yang diterimanya tiga hari yang lalu.

“Toako tentu tahu apa yang berada di dalam kotak kecil ini bukan ?” kata Tiat Giok Lin

sambil membuka dan memperlihatkan isinya.

Ang Ek Fan melihat didalam kotak itu tertancap sebuah jarum berwarna biru “Oh inilah jarum

yang bernama Pit hong tok ciam (jarum beracun berwarna biru), dari mana Hian tee dapat ?”

“Kudapat dari daerah Biau ciang,” jawab Tiat Giok Lin. Toako tentu mengetahui kelihayan

jarum ini bukan ?”

“Ya memang luar biasa sekali, biarpun orang yang memiliki ilmu bagaimanapun jika terkena

jarum ini, paling lama hanya setengah jam jiwanya tidak akan tertolong lagi !”

“Nah sekarang akan kucoba kelihayan jarum ini !” kata Tiat Giok Lin dengan senyumsinis

dan terus jarum itu ditusukkan ketangan kirinya.

“Hian tee…..” Ang Ek Fan hanya sempat berkata sebegitu, dan tak dapat mendcegah

perbuatan adik angkatnya itu.

Dengan menggertakkan gigi Tiat Giok Lin mencabut lagi jarum itu dan melemparkan di atas

“Hian tee apa artinya perbuatanmu ini ?”

“Apa artinya ? Mungkinkah Toako tidak tahu ?”

“Aku baru datang sejenak lamanya, dan Hian tee tidak menerangkan barang sedikit soal

apapun darimana aku bisa mengerti…..”

Tiat Giok Lin tersenyum meringis, air matanya mengucur turun saking menahan kesal,

dengan suara gemetar ia berkata: “Toako sejak kita mengangkat saudara selama sepuluh tahun

lebih, perhubungan kita tak ubahnya seperti saudara kandung. Segala kesalahanku besar

maupun kecil selalu kuterangkan pada Toako dan tidak segan aku menerima nasehat darimu.

Tapi aku tak sangka hati Toako demikian kejam dan beracun….”

“Hian tee….”

“Aku tidak mempunyai saudara semacammu, dan akupun tak cocok menjadi saudaramu ! Aku

adalah seorang manusia hina yang tidak tahu malu, untuk apa lagi kau berpura-pura ? Jika

engkau bermaksud meruntuhkan aku tak apa-apa, tapi caramu ini bisa menghancurkan nama

baik Tiat po ! Sepuluh tahun kita bagai saudara, apakah engkau tidak merasa tega barang

sedikit untuk menghancurkan keseluruhan nama baik dari Tiat po ini ?”

Ang Ek Fan menjadi bingung, sejenak ia tidak bisa membuka mulut……

Saat ini wajah Tiat Giok Lin dari pucat menjadi biru, kedua bibirnya menjadi hitam, keringat

sebesar kacang tanah memenuhi dahinya. Napasnya memburu, menandakan racun dari jarum

sedang bekerja hebat.

224

Ang Ek Fan berkata dengan suara bergetar.

“Hian tee segala apa dapat dikatakan perlahan-lahan bukan ? Jika ada kesalahan pada diriku

tak usah ragu-ragu dan tegurlah langsung jangan berlaku diam-diam seperti ini. Dan

ijinkanlah aku mengobati dulu racun ditubuhmu itu….”

Tiat Giok Lin tersenyum dingin dan segera bersiaga dengan tangannya, mencegah didekati

saudaranya. “Engkau tak usah berpura-pura baik ! Sejujurnya jarum beracun ini sedianya akan

kutusukkan kepadamu ! Tapi aku Tiat Giok Lin adalah laki-laki sejati, dan tidak sepertimu,

bajingan keji yang laknat ! Engkau boleh buat sesuatu yang tidak berperasaan, aku tak bisa

melakukan hal yang tidak berbudi ! Biarpun kau menjadi manusia dilaknat dan tak mengenal

kebajikan tapi istrimu itu adalah seorang perempuan yang harus dihormati. Lagi pula aku

segan membuat anakmuj yang mash kecil itu kehilangan bapak. Maka itu tak tega aku

menurunkan tangan jahat kepadamu ! Juga dengan membunuhmu tak berarti nama baik dari

Tiat po bisa dipulihkan ! Maka sengaja aku membunuh diri untuk memuaskan dirimu ! Sejak

hari ini segala nama kebesaran yang kita peroleh bersama menjadi milikmu seorang ! Tapi

engkau harus ingat, segala nama itu akhirnya membawa kehampaan ! Engkau menyingkirkan

aku, tapi tak akan memperoleh apa-apa ! Dihatimu akan datang suatu penyesalan yang tidak

ada taranya. Engkau akan menderita, sebab mempergunakan cara keji dan rendah

mencelakakan kawan karib sendiri. Saat itu menyesalpun sudah terlambat…..”

Segala yang mengeram dalam hatinya dikeluarkan sekaligus, sesudah itu ia diam dan duduk

dengan tubuh bergoyang-goyang.

“Hian tee apa maksudmnu ini ?” tanya Ang Ek Fan yang baru dapat kesempatan membuka

Napas Tiat Giok Lin semakin pendek dan sesak. “Ini bukti dari…..kekejianmu, lihatlah

sendiri !” katanya terputus dan terus meraih surat dimeja dan dilemparkan ketanah.

Ang Ek Fan memungut surat itu dan membacanya dengan cepat, keringat dinginnya

membasahi tubuhnya, wajahnya berubah seketika. “Hian tee engkau kena diperdayakan

orang, aku berani bersumpah, tidak….” Ia tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat

wajah Tiat Giok Lin berubah dengan mendadak. “Hian tee……serunya seraya melancarkan

jarinya kejalan darah Hoy kay hiat yang terletak ditengah dada untuk memberikan

pertolongan, tak kira sebelum tangannya sampai, dengan mata mendelik Tiat Giok Lin

membentaknya dengan keras “Jangan dekat !” Suaranya keluar, jurus pukulannyapun

menyambar dan tepat mengenai ulu hati Ang Ek Fan yang tidak bersiaga barang sedikitpun.

“Ngek” Ang Ek Fan mengeluarkan suara nyesak dan terhuyung beberapa langkah kebelakang,

pandangan matanya menjadi gelap dan hampir-hampir ia ngusruk. Dengan kekuatan ilmu

dalamnya ia bertahan tidak sampai jatuh dan menekan perasaan, bergolaknya darah, dan

sekali lagi ia mencoba maju untuk memberikan pertolongan pad saudara angkatnya. Tapi

begitu lengannya menyentuh tubuh Tiat Giok Lin kagetnya tak alang kepalang, karena sudah

dingin dan beku !

Perasaan pedih menyelimuti sanubari Ang Ek Fan, ia menahan kesedihan dan jatuhnya air

mata, tapi tak berdaya sama sekali, air mata itu seperti juga banjir berderai turun membasahi

pipinya. “Hian tee…ng…ng kenapa jadi begini …..”

225

Tiat Hok selesai menuturkan kisahnya, air matanyapun telah mengalir tanpa disadarinya.

“Saat itu aku berada ditaman bunga dan melihat kejadian ini, tapi waktu kudatang

memberikan pertolongan, semuanya telah menjadi terlamabt. Dan tepat diwaktu Po cu sudah

meninggal, Hujin baru datang !”

Lim Siok Bwee sesungukan mendengar kisah ini demikan pula dengan In Tiong Giok.

Suasana ruangan menjadi sepi sekian lamanya, akhirnya Tiong Giok membuka mulut terlebih

dahulu. “Sekarang aku mengerti segala malapetaka itu terjadi karena surat itu…”

“Ya karena surat itu, sayang tidak ada yang tahu apa isinya surat itu !” kata Tiat Hok.

“Surat itu berada ditangan Ang Ek Fan bukan ? Kenapa ia tidak memberikan isinya pada

kalian ?”

“Setelah terjadi peristiwa itu kami sangat repot dan tidak mengetahui bahwa Ang Toako

dengan diam-diam membawa pergi surat itu ! Sejak saat itu juga ia hilang dari dunia Kang

Ouw sampai sekarang.”

“Mungkinkah ia berbuat sesuatu hal yang tercela terhadap saudara angkatnya ?”

“Tidak !” jawab Lim Siok Bwee. “Aku memastikan dia bukan manusia rendah macam itu.”

“Jika tidak begitu kenapa ia pergi diam-diam ?”

“Mungkin ia mempunyai suatu kesulitan yang tak bisa diutarakan padaku, misalnya luka

akibat pukulan mendiang suamiku itu atau surat itu mengandung suatu rahasia yang tak boleh

diketahui diriku…”

“Apakah Hu jin bercuriga juga, bahwa semasa hidupnya Tiat Po cu mempunyai kesalahan

yang tak bisa diketahui orang ?”

“Manusia bukan dewa, pasti punya kesalahan bukan ? Tapi kuyakin kesalahan yang diperbuat

mendiang suamiku tak seberat itu !”

“Jika Hu jin beranggapan begitu, aku tidak ragu-ragu lagi untuk memperlihatkan sepucuk

surat kepadamu !” Segera ia memberikan sepucuk surat yang didapat Ciu Kouw kepada Lim

Siok Bwee. Setelah selesai membaca.

“Aku yakin surat yang diterima Tiat Po cu itu semacam surat ini bunyinya,” kata Tiong Giok,

dan menceritakan dimana ia memperoleh surat itu, secara teratur dan rapih.

“Jika begitu mungkin juga orang yang ditahan dalam penjara tanah Pok Thian Pang adalah

Ang Toako adanya !”

“Bagaimana Hu jin bisa berpikir kearah itu ?”

“Kematian suamiku karena surat ini, dan surat ini keluar dari Pok Thian Pang juga, bukankah

dua soalini membuktikan bahwa Ang Toako pun ditahan mereka ?”

“Apakah Keng thian cit su itu dihilangkan Ang Tay Hiap ?”

226

“Sewaktu mereka mendapatkan pelajaran Keng thian cit su dari Pek Lo Cianpwee, suamiku

hanya empat jurus yang didepan dan Ang Toako tiga jurus yang dibelakang. Maka itu

permainan pedang mereka harus bergabung, baru ada kekuatannya. Hal ini membuat mereka

kurang puas, maka itu mereka menyatukan buku itu. Dan bergilir mereka mempelajarinya

buku itu. Waktu terjadi peristiwa suamiku membunuh diri, buku itu giliran dipegang oleh Ang

Toako. Dan sejak itu ia hilang dari dunia persilatan. Aku menunggu sampai Siau Bwee umur

sebulan baru mengunjungi rumah Ang Toako. Namun sesampainya ditempat tujuan itu Ang

Toako sekeluarga tak kujumpai, sedangkan rumahnya telah berantakan menjadi puingan. Aku

cari berita dari berbagai tempat, tapi tak mendapat kabar soal kemana perginya. Jika sekarang

kita berpikir dengan cermat, segala malapetaka itu datangnya akibat Keng thian cit su !

Mungkin pula cici Siu Ngo dan anaknya itu berada di Pok Thian Pang juga !”

“Jika begitu sebaiknya Hu jin datang saja ke markas Pok Thian Pang untuk menyelidiki soal

mereka itu !”

“Ngomong memang gampang, kalau dijalankan sulit ! Sungguhpun begitu untuk mengetahui

nasib dari Ang Toako sekeluarga, ingin juga aku pergi kesana !” baru selesai ucapannya itu,

terdengar suara derapan kuda memasuki taman bunga. Seorang penjaga pintu depan terlihat

masuk memberi laporan, “Hu jin, didepan ada tamu mengaku sebagai Pangcu dari Pok Thian

Pang, untuk bertemu Hu jin !”

Suara penjaga itu membuat kaget pendengaran yang hadir disitu. Dengan heran dan bingung

Lim Siok Bwee menegasi : “Tamu itu siapa ?”

“Pangcu dari Pok Thian Pang !”

“Katakan padanya Tiat po sudah ditutup belasan tahun lamanya, tak menerima tamu luar.”

“Sabar dulu, kutahu betul selamanya Pangcu itu tidak meninggalkan markasnya, tentu ada

soal penting ia datang kesini. Sebaiknya terima saja kedatangannya baru bisa tahu

maksudnya. Disamping itu dengan alasasn melakukan kunjungan balasan kemarkasnya,

sekalian menyelidiki Ang Tay hiap sekeluarga !”

“Begitupun baik, tapi jika ia melihat Kongcu ada disini apa katanya ?”

“Itu soal mudah, aku bisa menyingkir !”

“Jika begitu baiklah,” kata Lim Siok Bwee dan menyuruh penjaga tadi mempersilahkan

tamunya masuk kedalam. Sedangkan In Tiong Giok segera bangkit dan diantar seorang

pelayan pergi kesebuah ruangan kecil ditaman bunga.

Keadaan taman bunga yang berkolam teratai menarik perhatian Tiong Giok. Ia tidak segera

menuju keruangan, tapi berjalan-jalan dulu ditaman sambil menghirupi akan udara segar,

karena mendengar suara tangisan kecil dari arah kupel yang terdapat disudut barat taman itu.

Langkahnya cepat-cepat menuju kesana, disitu ua melihat Siauw Bwee sedang tersedu-sedu

seorang diri.

“Hei, sedang apa ? Menangis ya ?”

227

“Oh…. In Siau Hiap. Silahkan masuk….”

“Apa yang membuatmu bersedih hati ?”

“In siau hiap bisakah engkau menolongku ?”

“Bisa saja jika kusanggup, tapi harus kutahu dulu persoalannya.”

“Kuminta engkau mau membujuk mamaku agar ia mengijinkan aku turut ketempat Pok Thian

Pang,” kata Tiat Siau Bwee.

“Dari mana engkau tahu mau kesana ?”

“Semuanya sudah kutahu, karena aku bersembunyi dibelakang ruangan itu mendengar

percakapan kalian ! Karena inilah aku menangis !”

“Sebab itu engkau menangis ? Aku heran mendengarnya !”

“Ya sebab engkau tidak mengetahui, sejak aku menmgerti urusan ibuku selalu tak mau

menceritakan soal kematian ayahku. Kini aku baru tahu terselip rahasia-rahasia yang belum

diketahui. In siau hiap karena ingin melihat orang tua dipenjara tanah itu, minatku sangat

besar pergi ke Pok Thian Pang, kalau-kalau saja orang tua itu adalah ayahku sendiri !”

“Pergi kesana bukan soal yang silit, hanya saja kalau orang tua itu bukan ayahmu bukankah

mendatangkan kekecewaan bagimu ?”

“Tak perduli orang tua itu ssiapa adanya, yang penting dapat kulihat ! Jika ia bukan ayahku

tapi Ang pek-pek (paman) adanya, kubisa menanya kepadanya, siapa yang membuat sampai

ayahku membunuh diri. Sesudah itu aku akan menuntut balas kepadanya.”

“Kurasa ibumu akan meluluskan permintaanmu itu !”

“Tapi engkau tidak mengetahui tabiat mamaku, ia terlalu memanja dan menyayangku secara

berlebih-lebihan. Karena itulah ia merahasiakan terus sebab-sebabnya kematian ayahku, takut

aku meninggalkan Tiat po untuk mencari balas !”

“Orang tua sudah tentu sayang pada anaknya, lebih-lebih engkau anak satu-satunya bukan ?

Orang tua kuatir engkau mendapat kecelakaan diluaran dan melarangmu kemana-mana.”

“Pokoknya niatku sudah mantap meninggalkan Tiat po.”

“Itu terserah padamu !” kata Tiong Giok.

“Kuminta sekarang juga kau temui mamaku dan omongi soal ini kepadanya !”

“Nanti saja ! Sekarang dia sedang menemui Pangcu dari Pok Thian Pang !”

“Pangcu itu mau apa datang kesini ? Mari ikut denganku, kita dengar pembicaraannya .”

228

Siau Bwee mengajak In Tiong Giok kebelakang ruangan. Disini mereka bersembunyi dibalik

pohon-pohon. Dan celingukan keempat penjuru, setelah melihat sekeliling tidak ada orang

mereka naik kesebuah pohon. Ddari sini bukan saja mereka bisa mendengari percakapan

orang didalam juga bisa melihat keadaan didalam.

Saat ini didalam ruangan terlihat dua tamu yang dikenali In Tiong Giok mereka adalah Pek

Cin Nio dengan anaknya, yakni Pek Kiam Hong. “Heran, kenapa pemuda itu ikut juga ?”

pikir In Tiong Giok.

“…..dengan gegabah aku kemari, semua ini kulakukan untuk anak yang bernasib malang ini.

Hu jin seorang yang cerdik, setelah melihat anak ini tentu mengetahui maksud kedatanganku

bukan ?” kata Pek Cin Nio.

Lim Siok Bwee dengan mata bersinar tajam mengawasi pada Pek Kiam Hong, lalu berkata

“Bagaimanapun engkau harus memberitahu siapa sebenarnya anak ini ?”

“Tak usah mendesak !” kata Pek Cin Nio “sesudah tahu kukuatir mendatangkan suatu pukulan

bagimu….”

“Adakah suatu pukulan batin yang lebih hebat dari kematian suami ? Terangkanlah segera !

Pukulan yang bagaimana hebatpun aku sanggup menerimanya !”

“Soal ini tak berani kuucapkan”, kata Pek Cin Nio , tapi sudah kusediakan dalam bentuk

tulisan, silahkan membacanya. Pek Cin Nio mengeluarkan beberapa lembar kertas dari

sakunya dan menyerahkan pada Lim Siok Bwee. Begitu yang disebut belakangan selesai

membacanya surat itu, wajahnya segera berubah dan terus menangis tersedu-sedu. Surat itu

dimasukkan kedalam sakunya dan berkata: “Soal ini apakah benar-benar ?”

“Bagaimanapun aku tak berani mendustai kalian untuk mengerjakannya,” kata Lim Siok

Bwee. Tapi dengan begitu terlalu membuat kalian menderita….”

“Delapan belas tahun aku cukup bersabar, apa salahnya menanti lagi beberapa tahun ! Yang

penting adalah pengertian dari Hujin, dengan begini kami ibu beranak, merasa bersyukur dan

terima kasih….”

“Jika begitu, sedikit banyak aku harus memberikan sesuatu tanda mata baginya,” kata Lim

Siok Bwee. Dipanggilnya seorang pelayan dan dibisiki sejenak, pelayan itu cepat pergi dan

cepat pula kembali. Ditangannya membawa dua buku tipis berwarna kuning. “Nak,

kemarilah” kata Lim Siok Bwee pada Pek Kiam Hong.

Pek Kiam Hong diam saja dengan bingung, ia memandang pada ibunya tak berani mengambil

keputusan sendiri. “Hong jie” lekaslah terima dan haturkan terima kasih pada Tiat Hu jin,”

kata Pek Cin Nio dengan perlahan.

Dengan kaku Pek Kiam Hong memberi hormat dan menerima buku itu sambil menghaturkan

terima kasih. Lim Siok Bwee memegang pundak pemuda itu dengan air mata berlinang, entah

air mat sedih entah airt mata girang, seorangpun tidak ada yang tahu.

Kiranya yang menangis bukan Lim Siok Bwee sendiri, Pek Cin Nio pun bercucuran air mata.

Atas pemberian nyonya rumah ia menghaturkan lagi terima kasihnya. “Sekali lagi kuhaturkan

229

terima kasihku, budi kebaikan ini selamanya tidak akan kulupakan, dan dengan begitu

urusanku sudah selesai, mohon pamit !”

“Buru-buru amat, masih siang bukan ?”

“Karena masih banyak urusan lain, terpaksa harus pulang cepat-cepat,” kata Pek Cin Nio.

“Ngomong-ngomong mana putrimu, sejak tadi tidak kulihat ?”

JILID 12________

“Waduh, sampai lupa memperkenalkan “ kata Lim Siok Bwee, dipanggilnya seorang pelayan

“Panggil siocia kesini ! Akan kusuruh mengantar tamu !”

Mendengar ini Tiong Giok mendekati Siau Bwee “Lekas turun !”

“Hm, untuk apa menemuinya, melihatnyapun sudah sebal !”

“Engkau harus mengantarnya, ia sebenarnya baik,” bujuk Tiong Giok. “Apa lagi Siau pancu

itu, bukan saja baik juga harus dikasihani, lekaslah !”

“Jika begini siapa yang jadi penjahat ?”

“Sukar kuterangkan dengan sepatah dua patah,” kata Tiong Giok. “Lekaslah jangan sampai

ibumu kesal menunggu. Jika ada kesempatan engkau boleh mengatakan soal keinginan kita

pergi ke Pok Thian Pang pada Siau pangccu itu, pasti ia bisa membantu !”

“Apakah kau sudah kenal dengannya ?”

“Kenal ! Lekaslah !”

Siau Bwee cepat turun dari tempat persembunyian, begitu kakinya memijak tanah seorang

pelayan yang sedang mencarinya berseru girang : “Siocia, lekas. Hujin menyuruhmu

mengantar tamu keluar !”

“Aku sudah tahu !” jawab Siau Bwee dengan ketus dan mendelik.

Dan setelah ditaman tidak ada orang lagi, Tiong Giok baru turun, ia mundar mandir sambil

termenung sesaat lamanya, sesudah merasa pangcu itu pergi, ia baru kembali kedalam

Lim Siok Bwee tidak ada didalam, hanya Tiat Hok saja seorang menantikan dirinya dan

mengatakan bahwa Tiat Hujin kedalam dulu sebentar, tak lama lagi akan datang.

Tiong Giok merasa heran, tapi ia tak mau banyak bertanya, duduk diam menanti dengan

kesal. Selama itu Tiat Hok diam-diam saja. Tak selang lama terdengar langkah kaki, tapi

bukan Lim Siok Bwee yang datang melainkan Tiat Siau Bwee adanya.

Waktu itu gadis itu marah-marah dan merengut, kini ia kembali dengan wajah cerah dan

tersenyum-senyum. “Mama ! Mana Mama ?” teriaknya tatkala mendapatkan ibunya tidak ada

didalam ruangan.

230

“Hujin kedalam dulu, nanti akan datang lagi !” kata Tiat Hok, “Kounio temani dulu In siau

hiap sebentat, aku mau kebelakang.”

“Baiklah ! Sekalian bawakan aku makanan dan minuman !” kata Siau Bwee.

“Nampaknya girang betul, kenapa sih ?” tanya Tiong Giok.

“Apa yang kau katakana nyatanya benar,” kata Tiat Siau Bwee, “bahwa Pangcu dan Siau

Pangcu itu bukan orang jahat ! Tak sangka begitu ramah dan baik budi !”

“Nah sekarang engkau baru percaya omonganku bukan ?”

Tiat Siau Bwee menganggukkan kepala. Lengannya merogoh saku dan mengeluarkan suatu

benda yang mengeluarkan bunyi “tring” waktu diletakkan dimeja.

“Lihat ini apa ?”

“Ah ! Ini tanda pengenal dari Pok Thian Pang, dari mana kau dapat ?”

“Dengan tanda pengenal ini bukankah kita bisa keluar masuk di Pok Thian Pang dengan

bebas ?”

“Benar,” jawab Tiong Giok, “apakah minat kita untuk pergi kesana engkau terangkan pada

pangcu itu ?”

“Engkau kira aku begitu bodoh ? Benda ini ia sendiri yang memberikan padaku tanpa kuminta

!”

“Ha ?”

“Baiklah kujelaskan,” kata Siau Bwee, Ia berhenti sejenak karena datang pelayan

membawakan mereka arak. Dituangkan secawan arak pada Tiong Giok, ia sendiri

mengeringkan juga secawan, baru melanjutkan kata-katanya. “Waktu kuantar mereka keluar,

pangcu itu dengan ramah tamah dan mesra, menanyakan ini itu kepadaku. Aku sedang

dongkol, apa yang ditanyanya tidak kujawab, tapi ia sangat sabar dan nyerocos terus. Katanya

ia mempunyai seorang murid bernama Wan Jie, usianya sebaya denganku. Waktu ia

menyinggung-nyinggung muridnya itu terasa amat bangga baginya. Sayang katanya tidak

diajak serta, jika tidak bisa berkenalan denganku.”

“Kenapa tidak diajak, tanyaku. Dan ia tersenyum-senyum sebelum menjawab. Karena

muridnya itu akan menjadi pengantin !”

“Apa ? Wan jie mau menjadi pengantin, betulkah ?”

“Pangcu itu yang mengatakan masakan bohong !”

“Dikawini siapa ?”

“Bukan orang lain, yakni Pek Kiam Hong yang menjadi Siau pangcu itu.”

231

“Seng!” seolah-olah kepala Tiong Giok disambar geledek. “Ah ! Pek Kiam Hong….mana

mungkin….”

“Kenapa tak mungkin ?” tanya Siau Bwee. “Untuk sang pangcu yang satu sebagai murid yang

satu sebagai anak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama-sama dan sudah mengenal watak

satu sama lain, maka itu kurasa cocok sekali pasangan itu. Cuma yang membuatku heran,

mendengar mau dikawaini Siau pangcu itu tidak menampakkan rasa gembira barang seujung

kuku. Seolah-olah yang mau menikah itu adalah orang lain dan bukan dirinya. Waktu inilah

sengaja kukatakan, sayang tidak bisa pergi kesana untuk berkenalan dengan Wan jie sekalian

menyaksikan hari perkawinan medreka. Tak kira pangcu itu segera memberikan aku tanda

pengenal ini untuk kesana….Coba kau piker, kalau rejeki mau datang tak usah dicari tapi

akan datang sendirii bukan ?”

Siau Bwee menuturkan kata-katanya dengan bersemangat, sedikitpun tidak memperhatikan

yang diajak bicara parasnya menjadi pucat pasi dan menggigil…betapa tidak, seorang kekasih

yang diidam-idamkan tahu-tahu terdengar beritanya akan menikah dengan Pek Kiam Hong

kabar ini datang dari seorang pangcu yang dapat dijamin kebenarannya ! Hatinya hancur

luluh….apa yang diceritakan Siau Bwee bagian belakang tidak masuk ketelinganya lagi…

Siau Bwee baru sadar dan kaget melihat mata Tiong Giok tergenag air mata. “In siau

hiap…engkau mengapa menangis ?”

Tiong Giok memaksakan diri tersenyum. “Siapa yang bilang, aku sedang asyik mendengar

ceritamu…coba teruskan akhirnya bagaimana ?”

“Hi hi hi,” Siau Bwee tertawa geli dan menunjuk kemuka Tiong Giok.

“Terang-terang nangis tidak ngaku, malu ! Hm sekarang kutahu sebabnya engkau menangis.

Tentu Wan jie sangat baik denganmu, mendengar kabar ini engkau merasa bersusah hati

bukan ?”

“Tebakanmu salah,” kata Tiong Giok dengan senyum meringis. “Engkau tidak tahu sewaktu

aku disana sangat baik dengan Pek Kiam Hong, kini mendengar ia mau menikah hatiku sangat

gembira, kenapa harus menangis ?”

“Aku tak percaya !”

“Terserah !” kata Tiong Giok. “Eh ngomong-ngomong perlu kutanya, ibumu memberikan apa

pada Pek Kiam Hong ?”

“Untung kau tanya, akupun hampir lupa soal ini kutanya oada mama….” Kata Siau Bwee.

“Karena benda itu adalah buku silsilah dari keluarga Tiat !”

Hampir-hampir Tiong Giok berseru kaget mendengar ucapan itu, untung sebelum ia bersuara

Lim Siok Bwee keburu datang, wajahnya begitu berat tubuhnya sedikit bergetar, dan ia duduk

dikursi tapi bangkit lagi begitu melihat tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang diletakkan

putrinya diatas meja. “Bwee jie darai mana engkau mendapat benda ini ?”

232

“Pangcu dari Pok Thian Pang yang memberikan kepadaku,” jawab Siau Bwee. “ia

mengundangku datang ketempatnya untuk turut menyaksikan hari pernikahan Siau Pangcu.”

Lim Siok Bwee memainkan benda itu ditangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Ma bukankah kita berniat pergi kemarkas mereka ? Dengan adanya benda ini…”

Belum selesai Siau Bwee bicara, tak ubahnya seperti gunting Lim Siok Bwee membuat tanda

pengenal dari Pok Thian Pang terpotong menjadi dua. Dengan air mata tergenang ia berkata

dengan parau sambil menggelengkan kepala.

“Kita tak usah pergi kesana !”

“Mama engkau….” Seru Siau Bwee dengan kaget.

Lim Siok Bwee mengangkat tangan melarang puterinya berkata-kata. Sedangkan matanya

mengawasi pada Tiong Giok dengan menyesal dan napasnya ditarik panjuang-panjang.

“In Siau hiap maffkanlah aku menarik janjiku akan ke Pok Thian Pang ! Dan sudah

kupikirkan seumur hidupku takkan keluar dari Tiat po ini atas ini kumohon maaf….”

Suaranya terputus oelh isakan tangis dan banjir air mata.

“Maksud Hujin biarpun yang dipenjarakan dalam tanah disana itu sebagai Tiat Pocupun tidak

akan ditengok ?”

“Aku sudah tahu itu bukan suamiku !”

“Kemungkinan besar adalah Ang Tay hiap, apakah Hujin tidak mau menengoknya juga ?”

“Biar aku bisa kesana apa yang bisa aku perbuat ?”

“Jika mama tidak mau pergi, aku mau bersama-sama In Siau hiap pergi kesana !” kata Siau

“Jangan sembarangan berkata, engkau masih kecil tidak tahu apa-apa !” bentak Lim Siok

“Andaikata orang itu bukan Tia-tia, tapi kitapun tak boleh berpangku tangan tak menolongnya

bukan ?” bantah Siau Bwee. “Kuheran mama bukan seorang yang penakut, kenapa mendadak

jadi berubah dan tegaan betul ? Apakah mama tidak memikirkan lagi nasib dari bibi dan

paman Ang ?”

“Budak apakah engkau sudah jadi gila berani berkata sekurang ajar ini kepadaku ?”

“Aku bukan berlaku kurang ajar, tapi bicara soal yang benar, sudah sakit hati ayah tidak

mama hiraukan, kenapa melarang pula padaku ?”

“Budak jika engkau tidak mendengar kata-kataku, selangkah engkau keluar dari Tiat po tidak

akan kuaku sebagai anak lagi ! Dan aku sudi mencukur rambut menjadi biksuni dari pada

mempunyai anak yang tidak berbakti !”

233

“Ng…ng…ng…mama aku benci padamu…aku benci !” Siau Bwee menjerit-jerit sambil

“Bencilah ! Engkau boleh membenci padaku seumur hidupmu, tapi pada suatu saat engkau

akan menyadari kesusahanku…”

Tiat Siau Bwee menutupi mukanya sambil menangis terus dan lari kebelakang.

Melihat keadaan ini In Tiong Giok menarik napas panjang dan segera bangun sambil

merangkapkan kedua tangannya memberi hormat : “Tiat Hujin kehendak manusia tak bisa

berubah demikian macam, gara-gara kedatanganku, atas ini kumohon maaf yang sebesarbesarnya,

dan dengan ini pula kumohon pamit !”

“Aku mempunyai sesuatu soal yang tidak dapat kuterangkan padamu, atas ini akulah yang

harus mohon maaf padamu ! Soal Siau Bwee tak perlu kau pikirkan, itu sudah biasa bagiku !”

“Nah sampai bertemu lagi di lain kesempatan !” kata Tiong Giok.

“Aku tak bisa membantu, tapi akan berdoa demi keselamatanmu dan suksesnya usahamu !”

Tiong Giok meninggalkan Tiat po dibawa antaran mata Tiat hujin sendiri.

Perginya ia sangat bersemangat, kembalinya menjadi lesu. Dengan kudanya ia berlari seperti

terbang, gunung dan sungai dilaluinya, ia kembali lagi kedaerah Kang Lam.

Perjalanan Jauh yang diharapkan, ia kecewa tapi tak putus asa. Tetapi segala sesuatu rencana

untuk menghadapi Pok Thian Pang tak pernah sirna dari lubuk hatinya, ia tidak mau

menyerah begini saja. Tapi ia tahu keadaan Pok Thian Pang sedang jaya, banyak jago-jago

yang memihak kepada perkumpulan itu dan banyak yang mengasingkan diri akibat tekanan

dari mereka. Iapun berpikir bisakah dengan kedua tangannya yang terbatas ini menghadapi

Pok Thian Pang ?

Tiup angin utara dan berderunya air sungai sebagai jawaban, seolah-olah terhadap suka cita

dari pengalamannya itu menaruh kasihan. Dengan menentang dada ia menghirup udara dan

terus meloanjutkan perjalanannya.

Dengan serampangan ia mampir disebuah losmen yang diketemukan dan minum sepuasnya

sampai mabuk, dengan begini segala kekusutan hatinya, buat sementara tersapu bersih. Waktu

ia sadar kembali, hujan turun dengan derasnya. Suara air hujan itu tak ubahnya seperti

seseorang yang sedang menangis sedih. Ia bangkit dari tempat tidurnya, melalui jendela

memandang ketempat jauh, tampak bukit-bukit sambung menyambung menjadi gunung.

Begitu samar dan remang-remang keadaannya dalam musim penghujan. Dan iapun tahu

dibalik untaian gunung raksasa itu adalah markas pusat dari Pok Thian Pang!

Sebulan yang lalu ia melihat Wan jie, entah bagaimana keadaan kasihnya kini ? Sudah

tidurkah ? Atau bangun seperti dirinya karena mendengar suara hujan ? Ataukah sedang

termenung-menung mendengarkan kisah hujan yang menyedihkan ?

234

Atau di Pok Thian Pang sedang ramainya ? Lampu-lampu terang benderang, lilin menyalanyala,

kekasihnya itu sudah selesai melangsungkan upacara pernikahan dengan Pek Kiam

Hong. Dan sedang melewati malam pengantin…..!

Soal yang lalu seperti asap, pergi tidak akan kembali lagi. Tiong Giok termenung di depan

jendela, pandangan matanya semakin lama semakin guram, tak dapat dibedakan lagi antara air

mata dan air hujan……

“Ah aku harus berlaku sabar ! Sabar ! Seperti yang dikatakan Tong Cian Lie” piker Tiong

Giok. “Sudah tidak mempunyai kekasih tidak ada lagi beben pikiran, aku harus lebih giat dari

dulu !” Setelah memikir begini, semangatnya berkobar-kobar disekanya air mata dan

diletakkan beberapa tail uang dimeja, malam itu juga ia menerjang hhujan melanjutkan

Propinsi In Lam dan Kam Siok adalah dua propinsi yang berdempetan satu sama lain,

keadaan tanahnya berbukit-bukit. Sukar dilalui kenderaan dan terpencil jauh dari keramaian.

Dipegunungan ini tinggal suku Biau yang masih menempuh kehidupan agak primitif dan

Gunung Cu cing san terletak ditimur laut propinsi Kam Siok. Puncaknya menjulang tinggi

dan terjal sekali, dilerengnya penuh lembah-lembah yang curam dan mengalir beberapa

sungai. Tahun ketemu tahun cuaca kebanyakan mendung dan sering turun hujan. Hari ini

kebetulan cuaca sanga cerah, didesa Ulus kedatangan seorang pemuda yang membawa dua

ekor kuda. Desa ini merupakan yang terbanyak penduduknya dan mempunyai hubungan

dagang dengan daerah luar. Antara suku Biau dan Han sering berjual beli didesa ini. Bahkan

ada juga beberapa orang Han yang menetap tinggal disini. Orang-orang Biau yang bertempat

tinggal didesa ini kebanyakan sudah pandai berbahasa mandarin. Sehingga pakaian maupun

cara merekapun sudah seperti orang Han. Dan sukar membedakan mana yang suku Biau dan

Han olagi. Agaknya asimilasi berjalan dengan cepat didaerah ini.

Kedatangan pemuda itu yang bukan lain dari pada In Tiong Giok sangat menarik perhatian

penduduk kampung. Karena mereka baru pertama kali melihat seorang pemuda yang

demikian ganteng datang ketempat mereka. Disamping itu mereka menduga bahwa pemuda

kita itu sebagai saudagar besar, karena dikudanya yang tidak ditunggangi tergantung sebuah

tempayan besar yang tertutup rapat.

Saat ini sebuah toko kulit yang diusahakan oleh orang Han dengan merek Tiang sen hoo

sedang sepi sekali. Pengusaha toko ini yang biasanya dipanggil dengan sebuah nama Ciu Lo

pan sedang asyik menghitung dengan sipoanya, tiba-tiba ia menjadi kaget karena datang

seorang gadis Biau berusia tiga empat belas tahun menghampirinya “ Ciu Lo pan, lekas lihat,

ada orang Han datang kesini !”

Ciu Lo pan sedang asyik menghitung, tak mau menghiraukan kata-kata gadis itu.

“Ciu Lo pan lekas, ia menuju kemari !” teriak gadis itu lagi.

“Pergi ! pergi , jangan ribut disini ! Orang Han kek, apa kek , apa bagusnya untuk

ditonton….Ah dasar kau….aku jadi kerok dan salah hitung…pergilah jangan mengerecok

disini….” Begitu ia dongak dan menggebah gadis itu, pandangan matanya melihat seorang

pemuda yang ganteng, sudah berada didepan pintunya.

235

Ciu Lo pan cepat-cepat bangkit dan meninggalkan sipoanya menyambut kedatangan tamunya

sambil berkata ua menyuruh pegawainya mengurus kuda. “Silahkan masuk Kongcu !” sambil

tersenyum pada tamunya, dan melihat terus kepada tempayan yang berada dipunggung kuda.

“Tak sangka anak semuda dia adlah seorang pedagang kulit yang ulung. Membeli kulit

mentah dan menyimpan ditempayan, bukan saja menjaga agar kulit itu tidak kering dan tidak

rusak, tempayan begini besar sedikitnya bisa memuat empat lima ratus lembar kulit macan “,

pikirnya dengan girang. Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman dengan segera ia

menyambut tamu dengan segala makanan dan minuman. “Sukar ditempat semacam ini

bertemu dengan orang sekampung, Kongcu silahkan minum !”

Tiong Giok menyambut cawan dan mengeringkannya, Ciu Lo pan mengisi lagi cawan itu,

sambil memperkenalkan diri. “Aku she Ciu bernama Tiang Seng sudah lima belas tahun lebih

tinggal disini mengusahakan perdagangan kulit, setiap kulit yang bagus selalu dibawa orangorang

Biau ke tokoku….”

“Oh” kata Tiong Giok sambil mengeringkan lagi araknya. Dan memperkenalkan pula dirinya,

“Aku bernama In Tiong Giok.”

“In Kongcu masih muda belia tapi bisa keluar masuk daerah sepi ini untuk berusaha,

membuatku benar-benar kagum !”

“Ciu Lo pan salah mengerti, aku bukan seorang pedagang !”

Ciu Tiang Seng melengak dan menggelengkan kepala sambil berkata: “Kongcu jangan

membohongi aku, apa gunanya engkau datang ketempat semacam ini jika tidak berdagang ?”

“Apa gunanya aku berbohong, sejujurnya aku datang kesini bukan berdagang, tapi untuk

mencari tahu sesuatu tempat digunung Cu cing san yang bernama Giok hong hong.”

“Bagaimana ? Apakah Kongcu ingin kesana ?”

“Benar ! Tahukah Ciu Lo pan dimana letaknya tempat itu ?”

“Biar bagaimana tempat itu tidak boleh dikunjungi !”

“Sebabnya ?”

“Jangan bertanya sebabnya, pokoknya sekeliling dari gunung Cu cing san boleh didatangi

hanya Giok hong hong jangan dipergi, berbahaya !”

“Apakah disana banyak binatang buasnya ataukah menjadi sarang penyamun ?”

“Binatang buas dan segala perampok mudah dihadapi, tapi bukan itu yang ditakuti ! Disitu

sarangnya setan-setan yang tidak bisa dilawan manusia !”

In Tiong Giok tertawa mendengar penuturan Ciu Tiang Seng.

“Kongcu jangan tertawa, hal ini bukan bohong-bohong….sudah banyak orang Biau yang

melihat setan itu.”

236

“Mereka itu masih terlalu percaya tahyul,” kata In Tiong Giok. “Jika Ciu Lo pan sudah

melihat dengan mata kepala sendiri baru boleh percaya.”

“Sungguhpun aku belum pernah melihat dengan mata sendiri, tapi seorang Han yang she Ciu

juga sepertiku, pernah melihat setan-setan itu ! Ia seorang jago Kang Ouw yang

mengasingkan diri ketempat ini, kepandaiannya sangat tinggi, tapi setelah menghadapi setansetan

itu, pulangnya sakit keras dan hampir-hampir mati !”

“Apakah orang itu masih ada dikampung ini ?”

“Ada ! Ia tinggal dipinggiran kampung, kerjanya memburu binatang. Ia sangat baik denganku,

dan sering mengobrol kesini…”

“Bisakah mengantarkanku menemui orang itu ?”

“Bisa saja,” jawab Ciu Tiang Seng. “tapi ia bertabiat aneh dan sering tidak dirumah. Hari ini

entah ada entah tidak aku tidak tahu. Kongcu boleh nunggu sebentar, kusuruh orang

memanggilnya kesini !” Cepat-cepat keluar ruangan dan celingukan, kebetulan dilihatnya

anak perempuan tadi masih berada disitu sedang mencuri lihat kedalam. Cepat ia memanggil.

“Alana sini !”

Anak perempuan yang bernama Alana itu meledek sambil menjulurkan lidah dan terus lari.

“Hei kesini aku perlu denganmu, nanti kuberi upah benang sutra !”

Anak perempuan yang sudah pergi itu kembali lagi dan masuk kedalam toko, matanya

mengerling pada Tiong Giok, lalu cepat-cepat tunduk lagi. “Ciu Lo pan mau apa

memanggilku ?”

“Coba kau kebelakang dan lihat Empek berjenggot itu ada dirumah atau tidak….”

“Tidak ! Aku tidak mau ! Benang sutrapun aku tak mau,” potong Alana dan terus lari keluar.

Tapi dengan cepat jalan larinya itu dihalangi Tiong Giok. “Kenapa engkau tak mau ?”

“Empek jenggot itu galak dan jahat aku takut kesana…”

“Ha ha ha kenapa takut, pernahkah ia membunuh orang atau makan orang ?”

“Kuajari, sebelum masuk kau panggil dulu namanya. Jika ia ada dirumah katakana aku

mengundangnya kesini !” kata Ciu Tiang Seng.

“Lekas panggil !” kata Tiong Giok dan ia merogo sakunya mengeluarkan mutiara. “Nih

untukmu lekaslah !”

Alana jadi melongo “Mutiara ini untukku ?”

“Ya untukmu ! Sukakah engkau dengan mutiara ini ?”

237

“Aku…aku,” Alana menganggukkan kepala. “Terima kasih Kongcu !” katanya dan berlari

“Sudah lamakah orang itu tinggal disini ?”

“Kurang lebih sudah empat puluh tahun lebih ! Dan usianya kini lebih kurang sembilan puluh

tahun !”

“Benar usiaku sembilan puluh tahun,” tiba-tiba terdengar jawaban dari luar.

Tiong Giok menjadi kaget dan berpaling keluar, disitu sudah ada orang tua berjenggot dan

berambut putih. Tubuhnya pendek, matanya tinggal satu, tapi sangat gagah kelihatannya dan

“Toa pek sudah beberapa hari kita tidak bertemu, bagaimana baik-baik sajakah ? Mari masuk

kukenalkan In Kongcu ini padamu !”

Dengan matanya yang tinggal satu itu, ia memandang In Tiong Giok dengan tajam: lalu

masuk kedalam toko. Tiong Giok menyambut kedatangannya dengan merangkap tangan. “Ya

kami sedang membicarakan soal loocianpwee, tahu-tahu sudah datang…”

“Lo hu bernama Ciu Kong, dapatkah kutahu namamu ?”

Tiong Giok memperkenalkan diri dan mempersilahkan orang tua itu duduk. Begitu duduk Ciu

Kong tidak malu-malu lagi menuang arak sendiri dan meminumnya. “In Kongcu datang darai

mana, ada urusan apa denganku ?”

In Tiong Giok tersenyum. “Aku baru sampai disini, dari Ciu Lo pan kudapat tahu bahwa Ciu

Lo Cianpwee adalah jago Kang Ouw yang mengundurkan diri ditempat sepi ini, maka itu

kumohon petunjuk-petunjukmu untuk sesuatu soal….”

“Soal apa, katakana saja langsung jangan berbelit-belit !”

“Ya baik, yakni aku menerima pesan dari seseorang untuk pergi ke Giok hong hong…”

“Apa yang hendak kau lakukan disana ?”

“Soal ini mengenai urusan pribadi seseorang maka itu maaf saja tidak dapat kujelaskan !”

Mendengar ini Ciu Kong mendengus dingin. Wajahnya ditekuk demikian rupa dan masam

sekali. “In kongcu terus terang saja karena engkaupun seorang Han, maka mau kuberi nasehat

sebainya urungkanlah niatmu itu !”

Mendengar suaranya yang begitu kasar, Tiong Giok tidak gusar, ia tetap tersenyum. “Ciu Lo

pan pun menyuruhku begitu dan mengatakan disana banyak iblis dan setannya, juga menurut

dia Ciu Lo Cianpwee pernah melihat setan-setan itu, benarkah ?”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Dapatkah Ciu Lo Cianpwee menuturkan pengalaman itu barang sedikit padaku ?”

238

“Pokoknya soal setan dan iblis yang terdapat disana adlah benar, soal percaya tidak percaya

terserah padamu ! Jika engkau tertarik dan ingin membuktikan sendiri ada tidaknya setansetan

itu, engkau boleh menyaksikannya sendiri ! Tapi ingat, sudah banyak orang-orang yang

tidak percaya pergi kesana dan tidak kembali lagi untuk selama-lamanya !”

“Lo Cianpwee sudah pernah kesana dan menemui setan-setan itu kenapa bisa kembali dengan

selamat ?”

“Ya Lo hu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh baru bisa menyelamatkan diri dari

setan-setan itu, tapi tak urung menderita luka-luka parah. Dan sakit itu membuatku meringkuk

sebulan lebih baru sembuh ! Jika engkau menganggap memiliki kemampuan lebih tinggi dari

Lo hu, aku tak berani mengatakan apa-apa !”

“Aku tergolong angkatan muda yang tidak berpengalaman, mana mungkin bisa dibandingi

dengan kepandaian Lo Cianpwee !” kata In Tiong Giok, “tapi aku telah menyanggupi

permintaan seseorang untuk mengunjungi tempat itu. Andaikata ada setan dan bahaya lainpun

aku harus kesana juga, dengan begini aku tidak mengecewakan orang itu.”

Melihat tekad Tiong Giok yang mantap, Ciu Kong menjadi kagum, dengan didahului

anggukkan kepalanya ia berkata : “In Kongcu masih muda tapi mempunyai keberanian luar

biasa, untuk ini aku bersedia mengantarmu kesana…”

“Terima kasih atas bantuan Lo Cianpwee.”

“Tapi aku hanya mengantar sampai ditengah perjalanan, selanjutnya engkau pergi sendiri !”

“Begitupun baik….”

“In Kongcu ini bukan soal main-main, sebaiknya engkau berpikir biar matang,” Ciu Lo pan

“Mati atau hidup soal nasib, aku takkan menyesal !”

“Memang begitu,” kata Ciu Lo pan “tapi engkau harus berpikir bahwa setan-setan itu tidak

seperti manusia, ia bisa pergi sesuka hatinya menurut kesiur angin. Dijaga tidak bisa dijaga

dan lebih baik engkau membatalkan niat yang berbahaya itu !”

Tiong Giok tidak menjawab, ia melemparkan cawan arak keudara, lalu menunjuk jarinya

“Sreet” terdengar suara, cawan diudara bergoyang-goyang dan turun kebawah, lalu diletakkan

diatas meja.Menyaksikan ini Ciu Kong menjadi kaget demikian pula Ciu Lo pan.

“Jika setan-setan itu menampakkan diri, akan kuserang dengan jerijiku ini !” kata Tiong Giok.

“In Kongcu ilmu dalammu luar biasa sekali, tadi aku meremehkan kepandaianmu, kini aku

baru membuka mata !”

“Apakah dengan kepandaian ini kiranya cukup kuat aku menghadapi setan-setan disana ?”

Kata Tiong Giok, dan diluar kesadarannya ia membanggakan diri sendiri tanpa terasa.

239

Ciu Kong menjadi marah, dan sedikit tak senang. “Sejujurnya kepandaianku tidak setinggi

Kongcu, tapi ingat setan-setan disana bisa gentayangan sesuka hatinya, bukan sembarangan

orang bisa melawannya.”

In Tiong Giok sadar bahwa perkataannya tadi telah menyinggung hati Ciu Kong, dan

menimbulkan kesalah pahaman, cepat ia berkata: “Untung Lo Cianpwee menyadarkanku, jika

tidak setan-setan bisa kuanggap sebagai manusia biasa….”

“Biar dia setan atau manusia, pokoknya In Kongcu berkepandaian lebih tinggi dari Lo hu, dan

mudah-mudahan dipuncak itu tidak bertambah satu setan penasaran !”

In Tiong Giok tersenyum meringis mendengar sindiran itu. “Ya jika berumur panjang, aku

mau mentraktir Jie wie mabuk-mabukan !”

“Tapi terlalu sulit !” kata Ciu Kong.

In Tiong Giok tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, ia mengalihkan persoalan

ketempat lain, “Loocianpwee kapan bisa mengantarkan kesana ?”

“Sekarangpun bisa saja !”

Dengan girang Tiong Giok bangkit dari tempat duduknya dan memberikan Ciu Lo pan uang

emas dan mutiara. “Manusia banyak seperti lautan, bisa bertemu dan berkenalan adalah jodoh.

Kini aku pergi dan menempuh bahaya, entah bisa pulang dengan selamat entah tidak, tidak

ada yang tahu. Yang pasti uang ini sudah tak kubutuhkan lagi, kuserahkan pada Ciu Lo pan

sebagai tanda terima kasihku atas bantuan tadi !”

Terbelalak mata Ciu Lo pan melihat uang emas dan mutiara-mutiara berharga itu, tapi

untuknya tidak ada ketamakan untuk memilikinya, dengan mata merah dan haru ia meminta

lagi agar Tiong Giok membatalkan niatnya.

Tiong Giok memberi hormat sebelum pamitan pada Ciu Lo pan yang baik hati itu.

“Semoga In Kongcu pulang dengan selamat, dan barang-barang ini sementara kusimpan !”

Begitu Tiong Giok dan Ciu Kong keluar toko, diluar berkerumun orang-orang Biau, antaranya

ada seorang tua yang dituntun Alana menghampiri kepadanya sambil menggelengkan kepala

dan kemak kemik entah apa yang diucapkan tidak dimengerti Tiong Giok.

“Nenekku mengatakan kongcu orang baik dan jangan pergi ke Giok hong hong. Yang pergi

kesana pasti mati dan tidak bisa kembali lagi.” Kata Alana menterjemahkan kata-kata

“Katakan pada nenekmu kuhaturkan terima kasih atas nasehatnya itu, tapi kepergianku kesana

tidak bisa dibatalkan, karena penting sekali !”

“Setan-setan jahat suka mengganggu manusia, sebaiknya jangan pergi !” kata Alana dengan

mata berkaca-kaca.

240

“Aku sudah menyanggupi seseorang untuk pergi kesana,mana boleh melanggar janji !

Seseorang paling banyak hanya mati….”

Ciu Kong tak sabaran lagi dengan gusar ia membentak orang-orang Biau itu.

“Jangan banyak rewel, minggir semua !” Suaranya yang keras membuat orang-orang yang

berkerumun itu menjadi buyar.

Alana mundur beberapa langkah, tapi maju lagi dan memberikan Tiong Giok orang-orangan

dari kayu. “Ini jimat penjaga badan, ambillah….” Ia tak sempat menyelesaikan ucapannya

karena Ciu Kong mendelik kearahnya.

“Terima kasih Alana, akan kubawa patung ini !” kata Tiong Giok.

Alana menjadi girang pemberiannya diterima dan terus berlari-lari kearah orang banyak dan

tidak terlihat lagi.

Ciu Kong memandang kepada tempayan dipunggung kuda itu sambil bertanya : “Apakah

tempayan ini akan kau bawa juga ke Giok hong hong ?”

“Benar !” jawab Tiong Giok.

“Jalanan gunung tak bisa dilalui kuda, bagaimana kau bisa membawa benda yang berat itu ?”

“Tempayan ini penting sekali, bagaimanapun harus kubawa !”

“Jika begitu tempayan itu harus ditaruh didalam keranjang dan diikat pada tubuhmu !” kata

Ciu Kong.

“Apapun boleh .” jawab Tiong Giok. “Asal dapat dibawa !”

Dengan memakai keranjang, tempayan itu dimasukkan kedalamnya, lalu diikat tambang

besar, dijadikan semacam ransel. Tiong Giok menggombloknya dibelakang punggung.

Mereka segera pamitan dengan tuan rumah dan berlalu kearah pegunungan. Begitu keluar

kampung, keadaan sudah sunyi dan tidak terlihat lagi para penduduk, mereka segera

menbentangkan ilmu meringankan badan secepatnya. Didalam perjalanan ini Ciu Kong jarang

membuka mulut, hanya matanya sering melirik kearah tempayan yang dibawa Tiong Giok

dengan perasaan heran, sungguhpun begitu ia tak pernah menanyakan apa isinya tempayan

Tak selang lama mereka mulai memasuki daerah pegunungan yang berhutan lebat. Ciu Kong

memberi isyarat, berhenti mengaso.

Tiong Giok memandang kepada pengantarnya dengan heran, karena sedikitpun pengantarnya

itu tidak menunjukkan rasa letih. “Masih jauhkah letaknya Giok hong hong ?”

“Tidak !” jawab Ciu Kong, “tinggal mengitari lembah itu, kita sampai….” Tambahnya dengan

menunjuk-nunjuk.

241

Tiong Giok memandang tempat yang ditunjuk letaknya tidak seberapa jauh, hanya saja jalan

yang harus ditempuh terdiri dari cadas gunung yang tajam-tajam dan menyeramkan.

“Tak kusangka Giok hong hong letaknya tak seberapa jauh,” kata Tiong Giok, “sebelum

malam aku harus tiba disana, Locianpwee tak usah mengantar lagi, cukup sampai disini saja.”

“Hm, jangan kau lihat perjalanan ini semudah yang kau bayangkan,” kata Ciu Kong, “kuberi

tahu, sekitar lembah itu ada Lumpur yang merapung, asal kena memijak engkau bisa

terbenam di dalamnya. Maka itu harus menggunakan ilmu meringankan tubuh melalui jalan

itu ! Tapi dengan tempayanmu yang besar itu bagaimana engkau bisa ?”

“Jika begitu baiklah kita mengaso sulu disini !” kata Tiong Giok yang terus menurunkan

keranjangnya dari pundak.

“Hati-hati,” kata Ciu Kong disini banyak kerikil tajam. Jika kurang hati-hati tempayanmu bisa

pecah, dan terus ia bantu menurunkan tempayan itu serta meletakkan ditempat yang agak rata,

kini ia baru tahu biarpun tempayan itu besar, tidak seberapa berat, biar begitu ia tetap tidak

menanyakan apa isi tempayan itu.

Tiong Giok segera bersila melakukan semadhi untuk memulihkan kembali tenaganya dan

perjalanan napasnya. Hanya sebentar, semangatnya yang memang tidak seberapa letih telah

segar kembali, ia membuka mata, tampaknya Ciu Kong sedang duduk dibawah pohon yang

rindang sedang mengawasi kearah tempayan dengan terbengong.

Tiong Giok segera bangun dan menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil berkata. “Ku

piker sebelum matahari terbenam kita lanjutkan perjalanan ini bagaimana ?”

“Sabar dulu,” kata Ciu Kong. “Sebelum kita melanjutkan perjalanan ini, ingin kutanya dulu

beberapa patah padamu.”

“Silahkan !”

“Aku sebagai orang tua, sebenarnya tidak tega melihat atau membiarkan seorang muda

sepertimu, bilamana harus mengantarkan jiwa dihutan belantara semacam ini ! Soal

keganasan setan dan iblis disini bukan main-main. Aku dapat mengatakan demikian karena

menyaksikan dengan mata kepala sendiri, untuk inilah kuminta, batalkanlah niatmu itu….”

“Nasehat Locianpwee yang berharga ini kuterima dengan rasa syukur dan terima kasih, tapi

untuk membatalkan niatku kesana tak bisa kululusi …”

“Baiklah jika engkau mau juga kesana,” kata Ciu Kong. “Dapatkah kutahu siapakah yang

menyuruhmu kesana ?”

“Maafkanlah jika aku tak bisa menyebutkan nama kawanku itu,” kata In Tiong Giok. “Ia

adalah seorang jago rimba persilatan yang telah meninggal dunia.”

“Oh,” kata Ciu Kong kecewa. “Jika begitu tempayan yang besar itupun adalah permintaan

orang itu untuk dibawa kesini ?”

“Benar !”

242

“Dapatkah kutahu apa isinya tempayan ini ?”

“Oh,” Tiong Giok terdiam sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya. “Isinya adalah rangka

atau tulang belulang dari jago yang telah meninggal dunia itu !”

“Oh, kiranya engkau menempuh perjalanan yang cukup jauh, semata-mata untuk

mengantarkan tulang-tilang orang yang sudah mati ini sampai di Giok hong hong ?”

“Ah karena aku menjalankan permintaan jago tua itu….”

“Giok hong hong adalah tempat sunyi yang penuh iblisnya,” kata Ciu Kong. “Apakah orang

itu tidak mengatakan harus menaruh dimana tulang-tulang ini ? Atau harus menyerahkan pada

seseorang misalnya ?”

“Ia hanya mengatakan sebuah goa di Giok hong hong, tapi tidak mengatakan harus

menyerahkan kepada siapapun !”

“Apakah ia tidak menceritakan soal keangkeran di Giok hong hong ?”

“Tidak !”

“Ia menyuruhmu kesini, kenapa tidak mengatakan soal keadaan disini, aku benar-benar

heran.”

“Mungkin ia sendiri tidak mengetahui soal keangkeran disini !”

Ciu Kong menggelengkan kepala, dan tidak berkata apa-apa lagi. Tiong Giokpun segera

bangun dan membopong lagi tempayannya, lalu memberi hormat pada Ciu Kong. “Jika

Locianpwee tidak ada pesan lagi, aku mau berangkat lagi !”

“Aku mempunyai satu permohonan yang mustahil, tapi kuajukan juga ! Yakni, ijinkanlah aku

melihat tulang-tulang didalam tempayan itu !”

“Maafkanlah aku, sebesar-besarnya bahwa permintaan Lo Cianpwee itu tidak dapat

dikabulkan !”

“Jika engkau keberatan tidak apa-apa, akupun tidak berani memaksa !” kata Ciu Kong. “Nah

disinilah kita berpisah.”

Tiong Giok menghaturkan terima kasih atas bantuan orang tua itu yang mau mencapekan diri

mengantar sampai disini. Lalu membalik tubuh dan melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa

puluh langkah, ia menoleh kebelakang, tampak Ciu Kong masih berdiri dengan tegak

ditempatnya tadi sambil mengawasi kearah dirinya dengan sebuah matanya yang tajam.

Tiong Giok tidak memperdulikan lagi orang tua itu, terus melanjutkan perjalanannya.

Sedangkan matahari telah condong kebarat, ia mempercepat langkah kakinya untuk mengejar

243

Sungguhpun ia tidak percaya soal adanya setan, tapi atas keterangan dari Ciu Kong

membuatnya setengah percaya, tapi ia tidak memperdulikan lagi semua ini, tujuannya sudah

bulat harus cepat-cepat sampai di Giok hong hong sebelum malam.

Waktu sampai didekat lembah, ia menyaksikan jalanan yang benar-benar sulit, kini iabaru

percaya apa yang diucapkan Ciu Kong. Lebih-lebih waktu mau melintasi Lumpur terapung

membuatnya menghadapi bukan sedikit kesulitan. Untung Ciu Kong sudah mengatakan

terlebih dahulu, jika tidak tubuhnya bisa terbenam didalamnya dengan jiwa melayang.

Akhirnya ia bisa melewati Lumpur-lumpur itu dengan selamat, tapi waktu yang terbuang

banyak sekali.

Ia semakin cemas, karena malam telah datang, sekeliling menjadi gelap gulita. Didalam

tempat berbahaya ini, jangankan ada setan atau iblis tidak adapun cukup membuat orang

menangis kecil. Biarpun begitu Tiong Giok tidak mau mundur, ia maju terus ! Berkat keuletan

dan ketabahannya ia bisa keluar dari lembah yang berbahaya itu dan tiba dikaki bukit. Disini

ia mendengar berkecuknya selokan gunung, sepanjang selokan itu tumbuh bunga-bunga hutan

yang menebarkan hawa harum, membuat hatinya lapang dan menarik napas dalam-dlam

dengan senangnya.

“Benar-benar diluar dugaan, tempat semacam ini bisa terdapat dunia sendiri yang begitu indah

dan menyenangkan, tak ubahnya seperti didalam dongeng saja,” pikirnya.

Saat inilah dengan tiba-tiba ia mendengar suara “siuuut “

Dengan kaget Tiong Giok berpaling keempat penjuru, keadaan tetap seperti semula sedikitpun

tidak terlihat perubahan, biarpun sudah malam keadaan disini cukup terang, karena bantuan

rembulan dicakrawala.

“Ah, mungkinkah suara setan ?” pikirnya dengan dak dik duk. Sedangkan bulu kuduknya

berdiri tanpa terasa. “Hei, sahabat darimanakah yang main sembunyi-sembunyian ? Untuk apa

berlaku seperti setan ? Keluarlah !” serunya berulang-ulang kali. Keadaan tetap tenang, tidak

ada jawaban yang terdengar, kecuali suara berkerucuknya selokan gunung.

Tiong Giokpun tak mengetahui suara itu manusia atau setan ! Ia berseru semata-mata untuk

membesarkan hatinya yang sedang ketakutan. “Aku sudah datang kesini, biar setan-setan itu

bermunculan aku takkan mundur, yang perlu aku harus secepatnya membawa tulang-tulang

ini kedalam gua. Sehabis berpikir iapun berjalan lagi keatas gunung, menyusuri selokan kecil

yang tampak terang, karena memantulkan cahaya bulan. Ditengah perjalanan, ia baru

melintasi selokan itu yang tak mungkin diikuti terus, karena dulu selokan itu berada diatas

tebing yang tinggi sekali.

Ia mencari-cari jalan untuk naik keatas, dan dilihatnya sekeliling penuh dengan pohon-pohon

bamboo. Berbisik-bisik daun-daun itu dan terus berjalan. Saat inilah dengan tiba-tiba ia

melihat bayangan hitam berkelebat masuk kedalam pohon bamboo, gerakannya begitu cepat

dan luar biasa, dalam sekejap sudah hilang dari penglihatan. Tiong Giok mengucak-ucak

mata, dan begitu membukanya kembali ia melihat benda putih dipohon bamboo, bergoyanggoyang.

Dengan penuh keberanian ia menghampiri benda itu, setelah dekat, ia melihat tegas

itulah Gin coa ( uang orang mati). Cepat-cepat diambilnya, ia jadi kaget lagi, karena kertas itu

berlumuran darah merah ! Tanpa terasa lagi bulu romanya berdiri lagi, tapi ia memaksakan

diri melanjutkan perjalanan lagi tanpa menghiraukan keadaan yang menyeramkan itu.

244

Sungguhpun begitu ia selalu bersikap waspada, dan menggunakan ranting bamboo sebagai

tongkat, untuk menjaga bahaya mengancam dirinya. Sesampainya dilereng puncak, tidak

terjadi sesuatu apa-apa, membuatnya merasa lega. Langkahnyapun bertambah cepat. Soal-soal

setan dan iblis yang ganas sudah dilupakan otaknya, kaena ia merasa senang menemukan

jalan kecil yang menuju kepuncak itu. Disini terdapat banyak gua-gua, tapi tidak satupun yang

cocok seperti yang dikatakan Pek King Hong. Ia mencari terus sampai ketempat yang paling

tinggi. Keadaan disini membuatnya tercengang sendiri, karena tempat yang paling tinggi itu,

terdapat satu daratan yang luasnya dua puluh kaki persegi. Ditempat keliling dataran itu

ditanam pohon-pohon yang besar, rumput-rumput dilapangan itu sangat halus tak ubahnya

seperti permadani hijau. Dan ditengah-tengahnya terdapat meja dan kursi batu, serta bunga

yang teratur rapi, begitu indah dan menyenangkan.

Ditengah dataran itu terdapat jalanan yang terbuat dari batu menuju kesebelah gua yang besar

dan gelap. Gua ini tidak mendatangkan keheranan barang sedikitpun, yang membuatnya heran

dan kaget ! Didepan ada seorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Didepan ada

seseorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Orang itu tidak mempunyai kepala. Ia

duduk dengan tenang sambil menyisiri kepalanya yang diletakkan diatas pangkuannya.

Dibawah sinar rembulan yang redup, pemandangan ini membuat bulu kuduk meringkak tak

keruan rasa ! Tiong Giok sendiri hampir-hampir kebawah gunung melihat pemandangan yang

indah ini !

Manusia tidak berkepala itu seperti tak memperhatikan kedatangan Tiong Giok, ia menyisir

terus kepala yang ada dipangkuannya.

Ia menyisir begitu lama, tapi rambutnya yang kusut itu tidak rapi-rapi juga. Agaknya ia sangat

kesal kepala itu diangkatnya diletakkan silehernya, dan terus berkeluh kesah : “Ah sudah tua

tak berguna lagi !”

Suara begit halus dan menusuk perasaan, tapi terdengar tegas dan menyeramkan. Tiong Giok

terpaksa diam, tak tahu entah apa yang harus diperbuat, berlari atau diam saja !”

Orang itu tiba-tiba membalik badan dan memandang kearah Tiong Giok sambil

menggapaikan tangan : “Ceng jie jangan main ayun-ayunan lagi, lekaslah sisiri rambutku !”

Tiong Giok menjadi kaget, ia berpaling kebelakang, waduh, hampir ia menjeerit ! Kiranya tak

berapa jauh darinya terlihat seorang gadis dengan rambut awut-awutan bergantung dipohon

yang tinggi, sedang ayun-ayunan kesana kemari.

Melihat keadaan ini Tiong Giok dari takut timbul nekadnya, dengan menggunakan tongkatnya

ia membentak. “Hei, kalian makhluk apa berani mengotori tempat yang suci ini !”

Berbareng dengan bentakannya Tiong Giok melakukan serangan oada gadis yang tergantung

itu, tak kira belum pula serangannya sampai gadis itu tiba-tiba jatuh ketanah tak berkutik lagi,

karena tambang yang menggantung lehernya putus dengan tiba-tiba.

In Tiong Giok memperhatikan perempuan itu dengan seksama, sesaat berlalu tidak terlihat

gerakan apa-apa. Ia berpaling kearah gua, orang tua disitu sudah tidak terlihat mata

hidungnya. Cepat-cepat ia menurunkan tempayan dari punggungnya dan memberannikan diri

menghampiri perempuan itu sambil mengusik-usik tangannya. Perempuan itu diam saja, maka

245

dipegang lengannya itu dan diperiksa jalan darahnya. Ia merasakan tangan itu dingin sekali,

dan tahu itulah sesosok mayat. Ia masih penasaran dan ingin melihat dengan tegas wajah dari

mayat itu, maka rambut yang menutupi muka perempuan itu disingkap. Kini terlihat tegas

perempuan itu berwajah cantik, matanya meram, usianya lebih kurang lima enam belas tahun.

Inikah yang dimaksud sebagai iblis ganas ? Inikah yang membuat orang-orang Biau takut ?

Inikah yang membuat Ciu Kong terluka parah ? Ia jadi bingung dan menggelengkan kepala

tanpa terasa dan menarik napas panjang…..”

Bertepatan dengan tertarik napsnya, terdengar berkesiur angin, sebuah bayangan hitam

menyambar tempayan dan terus dibawa lari kedalam gua.

Tiong Giok terkesiap dan kalah langkah, lengannya segera digerakkan “sreet” terdengar bunyi

nyaring, karena ilmu mautnya atau Hiat cie leng dipergunakan menyerang bayangan hitam

itu. Akan tetapi dengan mendadak ia merasakan lengannya menjadi kaku, karena pundaknya

dicengkeram lengan dingin dari arah belakang. Hiat cie lengnya tidak dapat dilancarkan

dengan sempurna, sehingga bayangan hitam masuk dan menghilang kedalam gua dengan

In Tiong Giok menoleh kebelakang, ia merasa lega, karena yang mengcengkeram pundaknya

itu adalah si mayat perempuan. Bukan saja mayat itu hidup kembali, bahkan bisa berseru

nyaring. “Tia-tia ! Yauw Pepek ! Lekaslah aku berhasil menangkapnya !”

Dengan mendengar suaranya perempuan itu membuat Tiong Giok sadar bahwa dirinya bukan

berhadapan dengan iblis tapi manusia biasa yang pura-pura menjadi iblis. Tiba-tiba ia

membalik badan dengan mendadak. “Bangsat, jangan pura-pura menjadi setan, lepaskan

lenganmu !”

Perempuan itu sedang gembira bisa menangkap Tiong Giok, sedikitpun tidak menduga

pemuda itu bisa berontak dan melepaskan diri. Bahkan melakukan serangan mendadak,

sehingga dirinya jungkir balik dalam waktu sekejap. Namun ia segera bangun dan terus

mengayunkan tangannya melakukan serangan, sedangkan mulutnya berseru-seru minta

bantuan. “Tia-tia lekas, terlepas lagi, cepat Bantu aku !”

Dengan cepat Tiong Giok melakukan serangan, membuat perempuan itu terdesak terus.

“Kalian sebenarnya siapa ? Lekas katakana jangan sampai kuturunkan tangan jahat !”

Perempuan itu melawan terus, ilmu pukulannya, sayang kurang matang, sungguhpun begitu ia

masih bisa mengimbangi serangan lawannya dengan baik. “Turunkanlah tangan jahatmu aku

tak takut !” Tantangannya, dan mengobah-obah serangannya dengan aneh, sekali ini Tiong

Giok yang keteter. Untuk mendapat kemenangan hampir-hampir Hiat cie lengnya dilancarkan

lagi, tapi ia tak sampai hati melakukan serangan mautnya. Sebab ia masih memiliki ilmu lain

yang bisa digunakan. Lengannya seolah-olah dijadikan pedang, dan terus ditebaskan dengan

gencar, menurut ilmu pedang Keng thian cit su.

Perempuan itu menyaksikan peerubahan ilmu lawannya menjadi kaget dan cepat-cepat

berseru : “Hei ! Darimana engkau mempelajari ilmu ini ?”

“Tidak ada urusannya denganmu, jika engkau tak sanggup melawanku lagi, panggillah

bapakmu lekas-lekas !”

246

“Jangan terlalu bangga, kata perempuan itu. “Kau kira aku tak tahu bahwa ilmu yang kau

gunakan itu asalnya dari ilmu pedang.”

“Ilmu pukulan atau ilmu pedang tidak bedanya, pandanganmu yang cetek itu, membuat geli

hatiku saja !”

“Hm ilmu pedang tetap ilmu pedang, ilmu pukulan tetap ilmu pukulan, kenapa kau katakana

pandanganku yang cetek ? Dengan ilmu pukulan tangan kosong engkau tak bisa menang

dariku, maka memakai ilmu ini untuk memperoleh kemenangan bukan ?”

“Ilmu apapun yang kupakai tak ada urusannya denganmu !” jawab Tiong Giok.

“Baiklah, rasakan pukulanku !” kata perempuan itu yang benar-benar melancarkan serangan

bertambah gencar.

“Ceng ceng stop !” tiba-tiba terdengar seruan.

In Tiong Giok mencelat mundur dan menoleh kesana, didekat mulut gua ia melihat dua orang

sedang berdiri dan memandang kepada dirinya, antaranya adalah Ciu Kong dan yang satu

lagipun dia kenal, yakni Tiat pie sin wan Yauw Kian Cee. Orang itu pernah bertemu

dengannya dikota Kim leng sewaktu ia mau mencetak buku Keng thian cit su. Ia menjadi

kaget, dibalik merasa lega.

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee cepat-cepat menghampiri kearahnya dan terus bertekuk lutut

sambil berkata : “Kami Yauw Kian Cee dan Ciu Kong menghaturkan hormat pada Ciang bun

jin.”

Perempuan berbaju hitam menjadi kaget cepat-cepat iapun bertekuk lutut dan berkata : “Aku

Ciu Ceng menghaturkan hormat pada Ciang bun jun.”

In Tiong Giok membalas hormat mereka sambil berkata : “Aku menerima pesan dari Pek

ciang bun jin kembali ke Cong leng tong hu (gua penyimpan roh) ini lebih kurang sudah

empat bulan lamanya tak kira perpisahannya di Kim leng untuk selama-lamanya. Dan karena

salah paham membuat Ciang bun jin mengalami banyak kesukaran, atas ini kumohon maaf

yang sebesar-besarnya.”

Ciu Kong pun dengan perasaan menyesal turut berkata : “Kami sebagai penjaga gua suci ini

dari banyak tahun, tapi karena tidak kenal wajah Ciang bun jin yang baru, dengan tidak

disengaja berlaku kurang ajar, dengan ini aku minta maaf yang sebesar-besarnya.”

“Jie wie lo cianpwee janganlah berkata begitu, karena suatu keberuntungan aku bertemu

dengan Pek Lo Cianpwee dan menerima Giok hu, serta menjalankan pesanannya untuk

membawakan rangkanya ke Cong leng tong hu ini, Ku mohon diriku ini jangan dianggap

sebagai Ciang bun jin.”

“Setiap orang yang memegang Giok hu, adalah Ciang bun jin dari Thian liong bun, maka itu

kedudukan ini bagaimanapun tak bisa diubah-ubah !” kata Yauw Kian Cee.

247

Dengan rasa hormat mereka mengiringi In Tiong Giok memasuki gua Cong leng tong hu. Gua

ini dari luar tampaknya sangat sempit tapi sangat luas. Dikiri kanan terdapat empat kamar,

tiga diantaranya adalah kamar Yauw Kian Cee, Ciu Kong dan Ciu Ceng Ceng, sedangkan

yang sebuah lagi dipakai tempat latihan silat. Sedangkan perabotan disitu hanya kursi meja

dari batu. Didinding tergantung rupa-rupa kedok seram dan kepala-kepalaan orang. Itulah

alat-alat biasa dipergunakan mereka menyamar sebagai setan dan iblis.

Adapun Ciu Kong asalnya sebagai dedengkot golongan hitam yang kejam dan ganas. Didunia

Kang Ouw ia terkenal dengan julukan “Tok gan sin mo (Iblis bermata satu). Empat puluh

tahun yang lalu disaat namanya sedang tenar ia bertemu dengan Pek King Hong, dan

dipecundangi, sejak itulah ia menjadi pengikut Pek King Hong dan bertugas sebagai penjaga

gua Cong leng tong hu di puncak Giok hong hong sampai sekarang. Sedangkan Ciu Ceng

Ceng asalnya bukan she Ciu, sewaktu masih didalam gendongan ibunya, diajak kedua orang

tuanya berdagang kedaerah Biau ini. Entah bagaimana ayahnya berbuat kesalahan pada

orang-orang Biau sehingga menerima kematian bersama istrtinya. Sewaktu terjadi peristiwa

itu, kebetulan Ciu Kong lewat, dan memberikan pertolongan pada bayi itu, lalu dirawatnya

dan dijadikan sebagai cucunya sendiri. Mereka mendiami Giok hong hong dan berlaku

sebagai setan-setan untuk menakut-nakuti orang Biau agar tidak datang mengganggu gua

yang dianggap suci itu.

In Tiong Giok sewaktu memeriksa Ceng Ceng mendapati gadis itu sudah dingin dan mati tapi

belakangan gadis itu kembali, dan sadarlah bahwa Ceng Ceng menggunakan ilmu Hui kie jip

hiat (mengembalikan hawa kedalam nadi), sehingga bisa pura-pura mati. Sedangkan Ciu

Kong yang bisa mencopot kepalanya dariu leherpun, hanya permainan sulap saja. Dengan

cara itu biasanya mereka bisa membuat orang-orang Biau ketakutan setengah mati dan tak

berani datang lagi kepuncak ini.

Sejak mengenal urusan Ciu Ceng Ceng belum pernah meninggalkan Giok hong hong maka itu

sifatnya sangat polos benar. Kini kedua matanya yang hitam tak henti-hentinya memandang

In Tiong Giok, ia tak habis mengerti, kenapa pemuda itu yang masih muda belia bisa menjadi

Ciang bun jin dan kakeknya yang berusia hampir sembilan puluh tahun harus bertekuk lutut

pada pemuda itu ?

Dan sungguhpun begitu ia tak berani mengatakannya dan diam saja terus sambil

mengikutinya dari belakang. Sedangkan Tiong Giok sesudah masuk memperhatikan didalam,

ia merasa heran dan bertanya : “Pek Lo Cianpwee memesan kepadaku untuk menaruh

rangkanya didalam gua ini dan memberi petunjuk juga harus menuruti kata-kata yang tertulis

didinding melakukannya, kenapa didinding ini tak terlihat barang sehuruf katapun?”

“Tempat untuk meletakkan rangka itu tidak disini,” kata Yauw Kian Cee.

“Mungkinkah masih ada gua lain ?” tanya In Tiong Giok.

“Dibelakang kamar berlatih masih ada ruangan lain lagi,” kata Yauw Kian Cee, “tempat itu

hanya boleh dimasuki seseorang yang berkedudukan sebagai Ciang bun jin, yang lain tidak

boleh masuk.”

“Jika begitu kuminta ditunjukkan tempatnya untuk meletakkan rangka ini,” kata Tiong Giok.

248

Yauw Kian Cee agak sangsi, terbayang wajahnya sangat bingung, akhirnya ia berkata dengan

suara gugup. “Tidaklah sebaiknya Ciang bun jin mengaso dulu ? Rangka itu besokpun

boleh….”

“Aku melakukan perjalanan ribuan lie jauhnya, supaya bisa menempatkan kerangka ini

ditempatnya secepat-cepatnya, jika kejadian ini sudah beres hatiku baru lega, maka itu untuk

apa harus menantikan besok, aku mau sekarang juga dibereskan.”

Yauw Kian Cee berpikir sejenak, lalu tersenyum, “Saat inipun sebenarnya sudah pagi tak

lama lagi akan terang tanah, jika tak bisa bersabar, kami menurut saja apa yang dikehendaki

Ciang bun jin” sehabis berkata ia melirik kearah Ciu Kong dan berbisik perlahan, entah apa

yang dikatakannya, Ciu Kong segera maju kedepan Tiong Giok dan bertekuk lutut “Aku

sebagai penjaga gua ini, mohon diberikan Giok hu untuk membuka pintu.”

Tiong Giok mengeluarkan Giok hu, Ciu Kong menerimanya dengan kedua tangan, setelah

meneliti sejenak, orang tua itu segera membalik badan dan berjalan duluan memimpin Tiong

Giok masuk kedalam kamar latihan.

Ciu Ceng Ceng menyingkap kain di dinding, disitu terlihat sebuah pintu yang tingginya tiga

meter, tertutup rapat oleh sebuah kelotok besar yang terbuat dari emas.

Ciu Kong bertekuk lutut didepan pintu dan berdoa. “Hari Ciu Kong sebagai penjaga gua

mendapat tugas dari Ciang bun jin baru untuk membuka pintu, semoga arwah dari ciang bun

jin yang berada dialam baka, memberi rahmat dan taufiknya bagi ciang bunjin baru dan

kesejahteraan pada sekalian murid-murid dari Thian liong bun. Sehabis begitu ia berdiri

memberi hormat lagi sebanyak tiga kali sambil merangkap kedua tangannya. Tangannya yang

merangkap tiba-tiba dipisahkan, tampak tegas bahwa Giok hu menjadi dua, ditengahnya

terdapat sebuah anakj kunci dari emas. Dengan itu dia membuka pintu. Sesudah itu ia

menundukkan kepala mempersilahkan Tiong Giok masuk, sikapnya ini diikuti pula Yauw

Kian Cee dan Ciu Ceng Ceng. Tiong Giok sendiri menghadapi acara ini menjadi bingung, tapi

ia tidak mau banyak pusing, cepat-cepat diambilnya tempayan yang sudah berada disitu dan

dibawa masuk kedalam gua.

Keadaan didalam sangat gelap, tapi udara disitu diliputi wewangian yang menyegarkan

semangat. Samar-samar ia melihat gua yang dalamnya lima enam puluh meter. Disini terdapat

sebarisan ranjang-ranjang batu dan disetiap ranjang itu terdapat kerangka kerangka manusia,

ada yang mengenakan pakaian Biku, adapula yang mengenakan pakaian biasa, jumlahnya ada

sembilan orang.

In Tiong Giok masuk terus kedasar gua, disini terdapat pula ruangan yang agak besar dan

tidak gelap seperti tadi, karena dari atap masuk sinar terang. Ia mengamat-amati keadaan

sekeliling dengan telitinya sekali, dan melihat banyak huruf-huruf didinding. Setelahmembaca

dan memperhatikan sejenak, barulah ia tahu bagaimana harus meletakkan kerangka Pek King

Hong. Maka dilakukan petunjuk itu dengan baik saat itu juga. Disamping itupun ia

mendapatkan bahwa huruf-huruf ditembok itupun merupakan pelajaran ilmu silat dari Thian

liong bun yang diperuntukkan bagi seorang Ciang bun jin. Karena inilah Tiong Giok, mau tak

mau harus membuang waktu didalam gua itu bersama-sma dengan Yauw Kian Cee dan

kawan-kawan untuk mempelajari ilmu itu.

249

Sementara itu Tiong Giok mempelajari ilmu silat di Giok hong hong, kita alihkan dulu cerita

ini kebagian yang lain.

Waktu berjalan dengan cepatnya, sekejap mata setahun telah berlalu. Kini tepat hari raya

Tiong cu, keadaan telaga See Ouw diterangi rembulan purnama, putih seperti perak, jernih

bagai air. Indah dan permai. Perahu-perahu berhias memenuhi telaga itu, para penumpangnya

mengenakan pakaian baru, makan minum bergembira sambil menyanyi-nyanyi, melewatkan

hari raya dimusim Ciu itu.

Di pinggir telaga banyak restoran terapung diatas air, antaranya yang bernama Hui hong sian,

ini adalah yang terbaik, bertingkat tiga, teratur rapi dan bersih. Dilantai pertama penuh perahu

sewaan, lantai kedua dan tiga terdapat belasan kamar yang menghadap ketelaga.

Disini para tamu yang berpesta pora sambil mendengari lagu yang dibawakan oleh penyanyi

wanita. Para penyanyi itu bertugas merangkap menjadi pelayan juga, memberikan kesenangan

pada tamu, dalam keadaan begini hal-hal asusila terjadi dan berlangsung seperti biasa !

Pokoknya para perempuan itu ditepuk maupun disenggol atau dipeluk sekali, hanya

tersenyum. Bukan karena ia senang dan berwatak demikian, apa yang dilakukannya itu,

semata-mata untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya!

Tamu-tamu makin malam makin mabuk-mabukan suara penyanyi semakin parau, kelakuan

antara wanita dan laki-laki semakin menggila seolah-olah dunia ini hanya untuk begitu saja.

Tapi di dalam keramaian ini, ada seorang tamu yang luar biasa. Ia adalah seorang pemuda

berusia antara tujuh delapan belas tahun. Pakaiannya terbuat dari sutera dan ,mentereng

sekali. Ia berada ditingkat teratas sekali dari Hui hong sian, berdiam seorang diri dikamar

yang termahal. Kamar itu hanya diterangi sinar rembulan, tapi biar begitu wajah pucat

pemuda itu terlihat jelas. Sepasang matanya yang tajam memandang ketempat jauh, bagai

sedang merenungkan kehidupan yang lampau.

Sejak matahari terbenam, pemuda itu datang seorang diri dan terus diam dikamar itu.

Pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik, melihat seorang muda ini, jadi girang, pikir

mereka inilah orang baru yang masih hijau, asal bisa merayu dan jual lagak pasti dapat

mengeruk uang. Tak kira laki-laki muda itu, tak tertarik paras cantik, ia duduk dikamar itu tak

mau ditemani siapapun. Ia minum-minum seorang diri sambil melamun dan terpekur berjamjam

lamanya, arak yang masuk kekerongkongannya sudah banyak, tapi sepatah kata tak

keluar dari mulutnya.

JILID 13________

Pelayan-pelayan berulang kali mencoba mendekatinya menanya ini itu dengan ramah, bukan

saja tidak dihiraukan, malahan diusirnya. Hoo kee dari restoran ini melihat tamu yang aneh

ini, merasa tidak betah dan ingin menanya apa yang dikehendaki pemuda itu, tapi perkataan

mereka yang berada dikerongkongan tak kunjung keluar karena sinar mata pemuda itu yang

tajam dan pedang yang tersoren di pinggangnya membuat mereka takut sendiri.

Pada haru raya yang ramai ini banyak tidak kebagian tempat, dan sudah tentu pemuda itu

tidak boleh menjublek terus-terusan semalam suntuk disitu, ini merugikan pemilik restoran.

Lebih-lebih tempat yang dipakai pemuda itu adalah yang terbaik dan termahal, biar

250

bagaimana kerugian ini harus dicegah, maka itu Hok Kee itu berunding dan mengambil

keputusan untuk melaporkan kejadian ini pada Lau pan atau majikan mereka.

Pemilik Hui hong sian ini adalah Pang Tiong seorang buaya kenamaan di telaga See Ouw.

Biar dia mempunyai alis kereng dan tabiat kasar, tapi cukup berpengetahuan luas, jikalau

tidak mana mungkin seorang buaya semacam dia bisa mendirikan restoran Hui hong sian

yang begitu terkenal.

Mendengar laporan dari Hok keenya, Pang Tiong mengerutkan alis dan bertanya :

“Ei, kalian bisa memastikan ia baru berusia delapan belas tahun ?”

“Ya !”

“Sudah berapa banyak ia minum ? Mabukkah dia ?”

“Sudah minum sepuluh teko, mabuk tidaknya kami tidak tahu !”

“Dilihat tampangnya beruang atau tidak ?”

“Pakaiannya mentereng, kelihatannya sih berduit juga !”

“Ha ha ha, kalau ia beruang soal gampang !” kata Pang Tiong dengan tergelak-gelak.

“Sekarang juga kau jemput Siau Yang Ang, dan hadapi pada pemuda itu, kutanggung bocah

itu akan manggut-manggut….”

“Sekarang adalah hari raya, mungkin Siau Yang Ang tak bisa datang…..”

“Pokoknya, bisa tidak bisa, asal ada uang akan bisa !” kata Pang Tiong.

Hoo kee itu tak berani banyak cerita lagi, segera berlalu untuk menjemput Siau Yan Ang.

Pang Tiong sedangkan tak bisa tenang, cepat-cepat ia mengenakan pakaian barunya dan lalu

terus naik ketingkat tiga.

Kini ia percaya apa yang dikatakan Hok keenya bahwa pemuda itu benar-benar aneh. Dengan

didahului deheman kecil ia masuk ke kamar pemuda itu. Sebelum berkata ia tersenyum dulu.

“Kongcu…” Ia meneruskan menantikan reaksi pemuda itu.

Pemuda itu tidak bereaksi, ia melanjutkan kata-katanya. “Selamat datang di Hui hong sian ini,

restoran ini dibangun tepat ditepi telaga, tak usah repot-repot perahu melalui telaga ini bukan

? Maka itu kupakai nama Hui hong sian. Atau pelangi terbang….

Pemuda itu tersenyum-senyum dan memancarkan sinar gembira pada wajahnya. Pang Tiong

melihatnya mejadi girang, dan melanjutkan kata-katanya.

“Aku sebagai orang bodoh yang kurang sekolah, tapi pengunjung-pengunjung restoran ini,

banyak yang pintar-pintar dan bersekolah tinggi. Menurut mereka nama ini indahnya terletak

pada pemakaian huruf hui atau terbang….”

“Apa indahnya ?”

251

Pang Tiong lupa diri, semakin sok aksi dan kiranya dialem. “Pelangi adalah benda mati,

ditambah huruf terbang, bukankah menjadi hidup ? Hui hong ! Hui hong ! pelangi

terbang….artinya pelangi itu terbang dan tidak mati ! Ia asyik menguraikan nama itu dengan

panjang lebar, dan tidak menduga bahwa pemuda itu tiba-tiba saja menjulurkan tangan

mencekal pergelangannya.

“Hong atau pelangi menurutmu benda mati ?” bentak pemuda itu dengan mata mendelik dan

memancarkan sinar membunuh.

Pang Tiong tak habis mengerti, kemana pemuda ini yang mula-mula sudah tersenyumsenyum

tiba-tiba bisa berubah demikian macam, hatinya gugup dan tidak bisa menjawab.

Begitu sipemuda menggunakan tenaga Pang Tiong merasa sakit yang tidak kepalang. “Hm,

manusia bodoh, engkau harus mengerti bahwa pelangi begitu indah dan bisa memancarkan

berbagai warna yang hidup keempat penjuru, kenapa kau katakana mati ?” Lidahmu harus

kupotong !” Sambil berkata itu pemuda menarik separuh itu. Sejenak berlalu pemuda itu diam

tak menghiraukan.

“Kongcu…” ia mengeraskan suaranya sambil tersenyum terus.

Sekali ini membuat pemuda itu menoleh, dan menggerakkan tangan belakang, menyuruh

Pang Tiong pergi ! Dengan sabar Pang Tiong tersenyum terus, ia tidak keluar, melainkan

maju selangkah sambil memberi hormat. “Aku bernama Pang Tiong pemilik restoran ini….”

Lagi pemuda itu menggoyangkan tangan menyuruhnya berlalu, sikapnya begitu dingin dan

Dengan menelan liur, Pang Tiong kumat kamit masih mau melanjutkan kata-katanya, tapi tak

jadi keluar, karena dengan mendadakan pemuda itu membalikkan tubuh, dan membentak:

“pergi !”

“Ya, ya !” jawab Pang Tiong dengan gugup sambil mundur-mundur. “Aku sebagai pemilik

restauran ini berkewajiban melayani tamu….tapi Kongcu tak mau, maka….”

“Kemari !” bentak lagi pemuda itu.

“Kongcu mau apa lagi ?” tanya Pang Tiong.

“Engkau mengaku sebagai pemilik restauran ini ?”

“Benar !”

“Baik ! Sekarang ingin kutanya siapa yang memberi nama Hui hong sian pada restoran ini ?”

Pang Tiong menjadi melengak, tapi dengan cepat ia tersenyum lagi. “Kongcu jangan

menertawakan, aku yang memberi nama itu dengan sekena-kenanya.”

“Hm tentu ada artinya bukan ?”

252

“Ya sedikit banyak ada saja,” kata Pang Tiong. Aku melihat pemandangan ditelaga ini indah

sekali, lebih-lebih sehabis hujan, dilangit terlihat pelangi. Kupikir pelangi itu bentuknya

seperti jembatan.

Sambil berkata pemuda itu menarik separuh pedangnya keluar dari serangka.

Sekujur tubuh Pang Tiong menjadi lemas, tapi seumurnya belum pernah menghadapi anak

muda yang begitu gagah, lekas-lekas ia meratap “Kongcu….soal apapun mudah dibicarakan

tak perlu begini….”

“Trang !” pedang terhunus, Pang Tiong sudah ditarik pemuda itu kepinggir lankan. Melihat

keadaan ini cepat-cepat ia menjerit sekuatnya “Tolong ! Tolong !”

Hoo kee hoo kee mendengar teriakan majikannya, memburu keatas. Pemuda itu menyapu

mereka dengan sinar matanya yang tajam dan dingin : “Maju lagi selangkah, berarti mencari

mati !”

Sinar mata pemuda itu berpengaruh betul si hoo kee manjadi gemetar, dan diam tak bergerak.

Pada saat yang genting inilah tiba-tiba terdengar suara halus yang sangat merdu. “Ai, apaapaan

ini ? Malam indah bulan purnama tidak dinikmati, berbalik main pedang dan golok, ah

benar-benar menakutkan orang !” Seiring dengan suara itu terlihat seorang perempuan berbaju

merah. Usianya lebih kurang dua puluh lima tahun, begitu cantik dan menggiurkan.

Pemuda itu matanya menjadi bersinar, dan..

“Kau…”

“Aku bernama Siau Yan Ang !”

Pemuda itu mengucak-ucak matanya, lalu menatap dalam-dalam. “Ambil lampu !” tiba-tiba ia

membuka mulut.

Setengah malam pemuda itu tak mengijinkan menyalakan lampu, tapi begitu berhadapan

dengan Siau Yan Ang adat kerbaunya menjadi luntur. Pelayan-pelayan menjadi girang dan

berserabutan mau mengambil lampu. Dengan lemah lembut Siau Yan Ang mencegah mereka.

“Kongcu bulan purnama air telaga berkilauan memantulkan cahaya, belum cukup terangkah

?”

“Bunga didalam kabut takkan terlihat tegas,” kata pemuda itu. Tambahan pula aku sedikit

mabuk, kuatir kalau kalau salah mengenali orang.”

“Dengan wajah asli, kuatir tertutup awan ! Juga tak pernah aku mendengar orang menikmati

rembulan sambil memasang lampu !”

Pemuda itu tertegun rak bisa mendebat lagi.

Siau Yan Ang dengan lengannya yang halus menunjuk kelankan. “Pang lau pan ini boleh

dibebaskan dari kesalahannya ?”

253

Pemuda itu memasukkan pedangnya kedalam serangka. “Pergilah !” katanya dengan terpaksa.

Pang Tiong seperti juga terlepas dari bahaya maut menghaturkan terima kasih pada Siau Yan

Ang dengan berlebih-lebihan.

“Sudahlah !” kata Siau Yan Ang. “Kuminta disediakan perahu berhias…”

“Kounio jangan pergi dulu,” salak Pang Tiong.

“Siapa bilang aku mau pergi ?” kata Siau Yan Ang. “Aku mau mengajak Kongcu ini pesiar

dan jangan diam saja seorang diri dimalam romantis ini !”

Pang Tiong baru mengerti maksud Siau Yan Ang, ia menganggukkan kepala dan

memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan perahu. Dalam sekejap apa yang diinginkan si

nona sudah tersedia. Dengan tersenyum perempuan itu memandang sipemuda.

“Kongcu, mari !” Sungguh mengherankan, anak muda bertabiat aneh itu, begitu jinak dan

penurut sekali, tanpa berkata ia turut keluar. Sebelum berlalu ia melemparkan uang emas

keatas meja.

Dengan langkah gemulai Siau Yan Ang turun dari loteng diikuti pemuda itu. Sekalian Hoo

kee dan pelayan maupun Pang Tiong sendiri merasa lega dengan kepergian pemud yang galak

Diatas perahu terdapat beberapa perempuan muda berbaju kuning, mereka menyambut

kedatangan Siau Yan Ang dan pemuda itu. Sebentar kemudian perahu sudah terkayuh

ketengah telaga, persiapan diperahu begitu lengkap, makanan maupun minuman sudah

tersedia, pemuda itu diam terus tanpa membuka mulut, sedangkan Siau Yan Ang duduk

menyandar disebuah kursi yang bersulam sambil tersenyum-senyum pada pemua itu.

Perahu dikemudikan ketempat agak gelap dan meninggalkan keramaian ditelaga. Setelah ini

Siau Yan Ang menggerakkan tangan sambil berseru : “Tak usah dikayuh lagi, kemarilah

kukenalkan kalian pada Siau pangcu !”

Pemuda itu terkesiap, “Kau…kau benar Soat Kouw Kouw…”

Dengan tersenyum dingin Soat Kouw berkata : “Maukah memakai lampu lagi agar dapat

melihat bunga dengan tegas ?”

Pemuda itu berkeringat dingin. “Aku tidak bersalah kenapa Kouw kouw mempersulit diriku

?”

“Hm engkau bernyali besar dan tak memandang sedikit kepadaku,” kata Soat Kouw. “Kau

kira aku benar-benar menjadi perempuan berengsek ?

“Apa yang kulakukan ini keseluruhannya demi Pok Thian Pang, Dengan susah payah aku

kesana kemari mencarimu, tak kira bisa bertemu disini ! Sekarang jelas, dimana dia ?”

‘Siapa ?”

254

“Jangan pura-pura bodoh, tentu Wan jie yang kutanya !”

“Aku tak tahu !”

“Apa ? Tidak tahu ? Kata Soat kouw dengan dingin. “Kamu adalah saudara seperguruan yang

setimpal, kenapa melarikan diri tatkala mau dinikahkan ? Dengan begini engkau sebagai anak

yang tidak berbakti pada orang tua, demikian pula dengan Wan jie, tahukah perbuatan kamu

ini akan mendatangkan akibat apa ?”

“Tapi Kouw kouw harus mengerti, antara Wan jie dan aku dibesarkan bersama-sama,

perasaanku padanya tak ubahnya sebagai saudara, sedikitpun tidak mempunyai perasaan cinta

! Sudah tentu saja perjodohan ini kami tentang…..”

“Ya sekarang kemana perginya Wan jie ? Apakah ia mencari In Tiong Giok ?” tanya Soat

“Apa salahnya ia mencari In Tiong Giok ? tanya Pek Kiam Hong.

“Engkau membela In Tiong Giok ?”

“Bukan begitu,” kata Pek Kiam Hong, “sejujurnya harus kukatakan bahwa In Tiong Giok

adalah seorang muda yang baik. Soal dia tidak mau masuk menjadi anggota kita, tidak bisa

dipaksa ! Tambahan ia meninggalkan Pok Thian Pang karena dibawa lari oleh orang lain, dia

sendiri mana boleh disalahkan ? Seorang muda semacam dia kurasa cocok untuk Wan jie….”

Soat kouw menjadi terkekeh-kekeh mendengar perkataan itu.

“Kouw-kouw menganggap lucu dan tertawa, tapi kata-kata ini keluar dari hato yang

sejujurnya,” kata Pek Kiam Hong. “Ai ! Didunia yang dapat mengerti perasaan hatiku

mungkin hanya In Tiong Giok seorang, sayang pertemuanku dengannya hanya sebentar….”

Mendengar ini Soat kouw menjadi kaget, gusar bingung menjadi satu.

Pek Kiam Hong seorang muda yang polos, tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan

Kouw kouwnya, ia bicara terus seenaknya; setahun lebih aku meninggalkan rumah, kini bisa

bertemu dengan Kouw kouw, tak ada alas an apa-apa lagi yang akan kutemukan, hanya

kumohon saja, kesalahan yang kuperbuat ini jangan merembet-rembet pada Wan jie.”

Tiba-tiba saja Soat kouw tersenyum. “Engkau sebagai laki-laki yang gagah dan berani

bertanggung jawab. Duduklah, aku masih perlu bertanya padamu.” Tidakkah engkau

terkenang pada ibumu ?”

Pek Kiam Hong menundukkan kepala, matanya menjadi merah. “Budi orang tua

bagaimanapun tak bisa kulupakan, sudah tentu kurindu kepadanya.”

“Jika begitu engkau harus percaya pada Kouw kouw bukan ?”

“Aku tak mengerti apa yang Kouw kouw maksud….”

“Ingin kuberi tahhu suatu soal padamu, apakah engkau percaya ?”

255

“Aku percaya !”

“Apakah kepercayaanmu ini berdasarkan aku sebagai bibimu atau secara tulus ikhlas ?”

“Aku percaya bahwa Kouw kouw tidak akan mempersulit diriku !”

“Jika percaya baiklah kukatakan, aku tak berniat membawamu kembali kemarkas pusat !”

“Ah, Kouw kouw….” Pek Kiam Hong kegirangan sampai tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Jangan terlalu girang, kata-kataku belum selesai,” kata Soat kouw. Aku hanya mengatakan

sekarang membawamu kesana, tapi tidak mengijinkan juga kau berkeliaran terus diluar untuk

selama-lamanya. Engkau sebagai Siau Pangcu bagaimana tak boleh berkhianat pada

perserikatan sendiri….”

“Kehidupan sebagai Siau Pangcu, sudah tentu tak berani berkhianat, apa yang kulakukan

semata-mata untuk menghilangkan kekesalan yang telah mengeram padaku selama tujuh

belas tahun. Pikir saja disana aku tak mempunyai suatu pekerjaan, setiap hari terpekur dan

termenung tak ubahnya seperti bangkai hidup bukan ?”

“Engkau ingin mencari pengalaman didunia Kang Ouw tidak kularang, tapi kaupun harus

meluluskan dua permintaanku !”

“Silahkan Kouw kouw katakana !”

“Kesatu engkau harus mencari Wan jie, dan nasehatkan padanya tidak boleh mengkhianati

perserikatan kita, andaikata ia tak mau kembali kepusat, ia harus melapor terus kemana ia

pergi !”

“Tapi yang diperbuat Wan jie adalah soal seumur hidupnya….”

“Mengenai hal yang menyangkut perkawinanmu tak perlu dipikirkan, kamipun bisa

membicarakan pada Lo Cucong, dan mungkin iapun tak akan memaksa dengan kekerasan,

jika kalian tidak setuju satu sama lain,” kata Soat kouw. “Yang kedua kuharapkan kau bisa

menyerapi dimana In Tiong Giok berada, bagaimanapun ia harus ditangkap….”

“Tidak !” Pek Kiam Hong memprotes dengan spontan.

“Kenapa ?”

“Dalam hal ini bukan saja aku, Wan jiepun pasti tidak mau berbuat semacam itu tadi sudah

kukatakan bahwa In Tiong Giok adalah kawanku yang baik, dan merupakan pula gantungan

hidup Wan jie dikemudian hari.”

“Tapi kau jangan lupa, iapun sebagai pencuri buku ! Perbuatannya itu menyebabkan Keng

thian cit su tersebar luas dikalangan Bulim, karena itulah sampai peresmian Pok Thian Pang

tertunda setahun lebih. Lo Cucong merasa sakit hati dan memerintahkan semua anggota untuk

menangkap dia guna diadili…”

256

“Orang-orang pandai diperserikatan kita bukan sedikit, kenapa Kouw kouw membebankan hal

ini kepadaku ?”

“Jadi engkau ingin tahu sebab-sebabnya, kujelaskan kepadamu !”

“Benar !”

“Hm, karena In Tiong Giok adalah musuhmu !” kata Soat kouw. “Ayahmu meninggal karena

dia !”

“Benarkah ?” tanya Pek Kiam Hong dengan mata mendelik.

“Aku tak mau membohong !” kata Soat kouw dengan tegas. “Engkau tertipu ! Sedikitpun

engkau tak tahu bahwa dia adalah murid Han Bun Siang yang berkepandaian tinggi !

Kepandaiannya itu lebih darimu ! Dengan alassan sebagai penterjemah ia datang ke markas

pusat, semata-mata untuk mencuri buku ! Setelah Cian bin sin kay terbuka kedoknya, segera

ia kabur !”

“Hal ini sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan kematian ayahku !”

“Sudah tentu kami mempunyai bukti yang tidak dapat dibantah, dipunggungnya In Tiong

Giok tertera tanda luka !”

“Bagaimana Kouw kouw tahu ?”

“Sebelum terjadi peristiwa Cian bin sin kay terbuka kedoknya, Lie Kee Cie telah menaruh

kecurigaan besar pada mereka. Lalu ia memohon agar Lo Cucong mengirim surat ke Ngo Liu

Cung agar Tan Toa Tiau menyelidiki hal ihwal In Tiong Giok pada keluarganya. Ia berhasil

menyelidiki bahwa In Tiong Giok mempunyai tanda luka dipundak kirinya !”

“Waktu ia belum meninggalkan Pok Thian Pang, kenapa tak ditangkap ?”

“Kegagalan ini akibat perbuatan Wan jie !” kata Soat Kouw. “Waktu penyelidikan selesai,

Tan Toa Tiau memberikan laporan melalui merpati pos, apa celaka surat itu Wan jie yang

terima, untuk kepentingan asmaranya inilah, surat itu dipendam dan tidak dilaporkan !”

Pek Kiam Hong menarik napas panjang, apa yang dikatakan Soat Kouw itu soal sakit hatinya.

Dan orang menjadi musuhnya, boleh kenapa In Tiong Giok adanya. Seorang kawan yang

disayanginya. Dibawah sinar rembulan, wajahnya terlihat semakin pucat, dan ia diam tak

mengeluarkan kata-kata lagi. Soat kouw melirik sambil tersenyum, dan menuangkan arak

secawan. “Minumlah dulu apa kesal-kesal !”

Sekali teguk arak itu mengalir kerongkongan Pek Kiam Hong, cawan yang kosong itu

dibanting sampai masuk kedalam meja.

“Kau masih terlalu muda, tidak bisa membedakan antara orang jahat dan orang baik. Hanya

dengan kata-katanya yang manis engkau sudah terpengaruh dan menganggap musuh sebagai

sahabat karib ! Dengan tanpa pengalaman engkau mengembara di dunia Kang Ouw

sebenarnya membuatku tak tenteram. Maka itu sepak terjangmu dikemudian hari harus lebih

hati-hati dan jangan sampai tertipu lagi orang-orang jahat !”

257

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala dan berkata : “Aku akan mencari dia biar sampai

keujung langitpun, ingin kulihat dengan mata kepala sendiri tanda luka dipunggung kirinya

dan ingin kutanyakan asal usulnya dengan mulut sendiri !”

Soat kouw tersenyum mendengar perkataan ini, lalu menyuruh pengikutnya mengayuh perahu

menuju pantai. “Agar tak ketahuan jejak kita dari orang luar, kuantarkan engkau sampai

disini. Dan ingatlah akan pesanku !”

Pek Kiam Hong menarik napas, lalu memberi hormat, tubuhnya mencelat dengan gesit ketepi

Waktu ia menoleh ketelaga, perahu sudah pergi jauh. Dengan langkah berat ia menuju kekota,

baru beberapa langkah ia berjalan, dengan tiba-tiba dari tempat agak gelap berkelebat sesosok

tubuh ramping yang langsung menegurnya. “Hei, engkau she Pek atau bukan ?”

“Engkau siapa ?”

“Aku yang bertanya lebih dulu, engkau she Pek atau bukan ?”

Kini ia melihat tegas lagi, bahwa orang itu adalah gadis muda yang menggobet kepalanya

dengan kain hijau.Dipunggungnya terdapat pedang panjang. Wajahnya separuh tertutup kain

gubetan tidak terlihat tegas. Pek Kiam Hong mengerutkan alisnya, seolah-olah dia merasa

kenal dengan gadis itu, seketika tidak terpikir olehnya dimana pernah bertemu dengannya.

“aku she Pek atau bukan ada urusan apa denganmu ?”

“Hei, apa kau menjadi besar karena makan batu ?” Ditanya baik kenapa marah-marah ?”

Pek Kiam Hong seorang muda bertabiat aneh ditambah hatinya sedang kesal, mendengar

perkataan sigadis, hatinya menjadi meluap, segera ia membentak, “Hei , budak apakah mau

mampus ?”

Gadis itu sedikitpun tidak menjadi gentar dan membalasnya dengan kata-kata kasar pula :

“Binatang ! Anjing kau, sembarangan memaki orang !”

Pek Kiam Hong tak bisa mengendalikan lagi emosinya, segera maju kedepan dengan pedang

“Trang !” terdengar sekali, gadis itu menghunus pula senjata dan maju menyongsong lawan.

Begitu mereka mendekat dan pandangan mata saling bentrok, mereka saling mengeluh

dengan menarik napas. “Ih, kiranya Tiat Kounio !”

“Ah, engkau benar Siau Pangcu adanya !” kata gadis itu yang bukan lain dari Tiat Siau Bwee

adanya. “Tak kusangka tampang alim sepertimu bisa mencari hiburan dengan perempuan

jalang !”

“Kounio jangan salah paham, perempuan itu adalah kouw kouwku !”

“Hm, aku tak percaya, masakan kouw kouwmu itu berdandan semacam itu dan gerak

geriknya begitu misterius ?”

258

Pek Kiam Hong tahu, diterangkan bagaimanapun tak bisa membuat gadis itu mengerti, maka

itu dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan ketempat lain. “Engkau sendiri kenapa bisa

berada ditelaga See Ouw ini ?”

Perkataan ini membuat Siau Bwee terpekur, matanya berkaca-kaca, mendadak lalu menjawab

dengan sedih. “Aku tak diakui anak lagi oleh ibuku !”

“Kenapa bisa begini ?” tanya Pek Kiam Hong dengan kaget.

“Jika dikatakan soalnya panjang,” kata Siau Bwee sambil memonyongkan mulut, “sebaiknya

kutanya dulu padamu, bisakah menolongku ?”

“Asal yang kubisa pasti kutolong !”

“Begini,” Siau Bwee tertegun sejenak, wajahnya mendadak menjadi merah seperti kepiting

direbus, “engkau mengantongkan uang tidak ?”

“Apa maksudmu bertanya soal uang ?”

“Aku…..aku mau pinjam !”

“Untuk apa uang itu ?”

Siau Bwee menjadi mendelik dan bersungut-sungut. “Hm ! Apakah kau tak tahu gunanya

uang ? Terang-terangan saja, kasih pinjam atau tidak ?”

Tidak banyak bicara lagi Pek Kiam Hong merogoh saku dan menyerahkan seraupan uang

emas. “Cukup sebegini ?”

Siau Bwee tersenyum “Waduh banyak betul cukup, cukup! Uang ini tak bisa cepat-cepat

kubayar !”

“Ah, segala uang sebegini, pakailah jangan dihitung utang !”

Siau Bwee mengantongi uang itu. “Atas ini aku menghaturkan banyak terima kasih

kepadamu. Sebenarnya akupun membawa uang dari rumah, tapi sudah habis kuhamburkan

disepanjang jalan, untung hari ini aku bertemu denganmu, kalau tidak aku bisa jatuh susah !”

“Kenapa engkau meninggalkan rumah dan hidup sampai sesusah ini…..” tanya Pek Kiam

“Tak usah membicarakan soal itu,” potong Siau Bwee, kau tahu dalam kebokekanku ini sudah

sehari tidak makan nasi, yang perlu harus mencari makanan dulu, mari !”

“Kenapa tidak sedari tadi engkau katakana ?”

“Sudah jangan ngomong melulu, kepalaku terasa pening !” kata Siau Bwee yang terus

berjalan lebih dulu.

259

Pek Kiam Hong menggelengkan kepala, dan terus mengikuti dari belakang.

Mereka memilih sebuah restoran yang terbaik didalam kota dan terus makan dengan

lahapnya. Dalam waktu sejenak, Siau Bwee telah memberesi seekor ayam rebus, dua bakpau

dan semangkok ikan kuah, tampaknya benar-benar dalam kelaparan.

“Masih mau tambahkah ?” tanya Pek Kiam Hong.

“Engkau jangan mengeledek, nanti ada saatnya engkau merasakan tak makan seharian, saat

itulah baru tahu bagaimana rasanya lapar itu !”

“Ya dalam keadaan lapar, makanlah biar banyak, agar tak lapar lapar lagi !”

Siau Bwee mendelik dengan heran. “Kau kira aku tak sanggup makan lagi, berapa piring

lagipun masih sanggup, hanya saja kutak mau !”

“Kenapa tak mau ?”

“Ah, benar-benar….terlalu banyak makan bisa gemuk, anak gadis gemuk-gemuk tidak bagus

mengerti !”

Pek Kiam Hong menjadi melongo. Dan biasanya ia bertabiat aneh, karena terlalu lama hidup

menyendiri tanpa suatu pergaulan, menghadapi gadis semacam Siau Bwee yang bersifat polos

dan berlaku blak-blakan, entah bagaimana jadi banyak bicara dan kekesalan hatinya seperti

hilang dan berubah menjadi manusia baru yang lain dari dulu-dulu. “Sekarang kau sudah

kenyang, boleh bercerita apa sebabnya meninggalkan rumah bukan ?”

“Semuanya ini gara-garamu juga sih !”

“Apa ? Aku ?” Pek Kiam Hong terkejut.

“Ya !” jawab Siau Bwee. “Dapatkah kau terangkan dimana tempatnya Pok Thian Pang ?”

“Untuk apa kau tanyakan ini ?”

“Kau tahu sudah tiga bulan kucari tidak ketemu juga !”

“Oh, kiranya kau meninggalkan rumah untuk ke Pok Thian Pang !”

“Ya ! Sebab ingin ke Pok Thian Pang, aku ribut dengan ibu, sehingga hidup terlunta-lunta

sampai begini !”

“Untuk apa kau pergi ke Pok Thian Pang ?”

“Idih ! Masih tanya-tanya lagi ! Justru gara-garamu mau kawin dengan Wan jie aku diundang

ibumu datang kesana untuk menyaksikan perayaan itu, lupa dah yah ?”

“Oh, begitu ! Untung tak sampai kesana, bila mana tidak kepergianmu tetap sia-sia saja !”

“Eh, memang kenapa ?”

260

“Sejujurnya pernikahan ini bukan kemauanku maupun Wan jie, semua ini kerjaan Lo Cucong

maka sebelum upacara dimulai, kami minggat berdua meninggalkan Pok Thian Pang dan

sampai sekarang belum pulang-pulang !”

“Kalau begitu engkaupun kabur dari rumah seperti aku juga ?”

“Benar !”

“Selamanyakah akan hidup diluaran ?”

“Mungkin selamanya, kalau bisa !”

“Apakah jabatan Siau Pangcu tak kau pegang lagi ?”

“Sedikitpun jabatan Siau Pangcu itu tidak menarik hatiku…”

“Habis dah !” seru Siau Bwee. “apa yang kuharapkan musnah semua, aku harus bagaimana ?”

“Kita bisa berdamai untuk menghadapi sesuatu persoalan, kenapa kau katakana habis ?”

“Engkau kabur dari rumah dan tak pulang lagi, aku tak bisa pergi turut denganmu ke Pok

Thian Pang ! Pulang kerumahpun tak bisa, nah harus kemana ?”

“Asal kau mau aku bisa membantumu pergi ke Pok Thian Pang, asal saja terangkan sebabnya

kenapa kau bernafsu mau kesana !”

“Benar-benar nih ?”

“Kenapa tidak !” kata Pek Kiam Hong, “kau tahu orang yang seperahu denganku tadi adalah

bibiku, jika kau mau ke Pok Thian Pang juga, bisa minta bantuannya ! Tapi harus kujelaskan

bahwa tak sembarang orang luar boleh kesana, jika tak terlalu penting sebaiknya, urungkanlah

kehendakmu itu !”

“Kini engkau telah melepaskan jabatan Siau Pangcu dan tidak kuanggap sebagai orang Pok

Thian Pang lagi,” kata Siau Bwee, “apa yang terkandung dalam hatiku bisa kuterangkan

padamu, tapi ingat tak boleh diceritakan lagi kepada orang kedua !”

“Ya, aku berjanji !”

Siau Bwee tiba-tiba saja mendekati Pek Kiam Hong dan berbisik ditelinga anak muda itu.

“Keinginanku kesana untuk menyelidiki seorang tua yang berada didalam penjara tanah,

menurut kabar orang tua itu adalah ayahku !”

“Sssssssttt !” Siau Bwee memoyongkan mulutnya, memberi isyarat jangan berkata keraskeras.

“Kenapa berkata berbisik ? Takut didengar orang lain ? Ketahuilah hal ini sangat rumit,

biarpun orang tua itu bukan ayahku, pasti punya hubungan erat dengan rahasia keluargaku.

Untuk inilah aku berhasrat pergi kesana !”

261

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala, tapi secara itu juga menggelengkan kepala,

keningnya berkerut, agaknya sedang berpikir keras untuk memecahkan soal yang sulit ini.

“Hm,” dengus Siau Bwee, “apa yang kau pikirkan ? Mungkinkah engkau keberatan jika

sampai rahasia Pok Thian Pang kuketahui ? Atau kau sudah tahu orang tua itu siapa ? Tapi

segan memberi tahu kepadaku ?”

“Biarpun aku dibesarkan disana, tapi jarang berkeluyuran, karena itu masih banyak tempat

yang berada di Pok Thian Pang tidak kuketahui ! Demikian pula dengan penjara yang

dimaksud sedikitpun tidak kuketahui dimana letaknya !”

“Kini kuharapkan engkau bisa membantuku bukan ?”

“Sampai disana dengan lancar dan bisa menyelidiki orang tua itu !”

“Aku heran, kenapa bisa tahu disana ada penjara dan orang tua yang ditahan….?”

“Ah, sudah tentu ada yang memberi tahu kepadaku !”

“Aku percaya orang itu tidak membohong !”

“Siapa sebenarnya dia itu ?”

“In Tiong Giok !”

“Oh dia,” kata Pek Kiam Hong dengan kaget, “kapan kau bertemu dengannya ? Kini dimana

dia berada ? Lekas katakana !” Diluar kesadarannya sambil bicara Kiam Hong memegangi

pundak Siau Bwee.

Siau Bwee menjadi merah, “Ngomong-ngomong lepaskan dulu tanganmu, berlaku begini tak

baik dipandang umum !”

“Oh….maaf…aku berlaku kurang ajar diluar kesadaranku, karena In Tiong Giok sedang

kucari-cari, begitu kau sebutkan namanya membuatku terlalu gembira ! Dimana dia, lekaslah

beri tahu padaku !”

“Untuk apa mencarinya ?”

“Banyak soalnya ! Aku dan Wan jie meninggalkan Pok Thian Pang gara-gara dia….

Terangkanlah dimana dia berada !”

“Dimana dia ? Mana kutahu !” kata-kata itu diucapkan setahun yang lalu,” kata Siau Bwee

sambil menuturkan soal In Tiong Giok datang kerumahnya dengan panjang lebar.

Pek Kiam Hong jadi melongo. Kiranya sewaktu aku datang kerumahmu ia sudah ada didalam

? Ah, hanya terhalang tembok saja, tak bisa bertemu ! Dasar nasib !”

“hampir kulupa menanyakan soal Wan jie, katamu sama-sama denganmu meninggalkan Pok

Thian Pang, kini kemana dia ? Kenapa tidak bersamamu ?”

262

“Waktu kami tiba ditelaga Tong Teng, bertemu dengan Tong Teng Cit Kiam, dan berkelahi

dengan mereka ! Tahu-tahu kami jadi berpisah dan sudah lama tak bertemu ! Yang kutahu

iapun sedang mencari In Tiong Giok !”

“Tidakkah ia diciduk musuh dan dianiaya ?”

“Dia memiliki kepandaian tinggi, pasti dapat menyelamatkan diri.” Kata Pek Kiam Hong.

“Jika ia tidak kenapa-napa, pasti ia meneruskan usahanya untuk mencari In Tiong Giok,” kata

Tiat Siau Bwee. “Untuk mencarinya pertama-tama kita harus ke telaga Tong Teng, jika tidak

ada disana kita langsung kerumah In Tiong Giok !”

“Tahukah engkau dimana alamatnya In Tiong Giok ?”

“Tidak tahu !”

“Habis bagaimana ?” tanya Pek Kiam Hong.

“Kita tidak tahu alamatnya, tapi orang-orang Pok Thian Pang pasti tahu,” kata Tiat Siau

“Bukankah mula pertama ia datang kemarkas pusat atas undangan orang-orang Pok Thian

Pang ?”

“Ya, benar,” kata Pek Kiam Hong, orang-orang Ngo Liu Cung pasti tahu, sebab merekalah

yang mendapatkan Tiong Giok sebagai penterjemah. Mari kita kesana saja,” sambil berkata ia

menarik lengan Siau Bwee.

“Hmm, apa-apaan megang-megang lagi, penyakitmu kumat lagi barangkali !”

Pek Kiam Hong cepat-cepat melepaskan tangannya, dan tergelak-gelak tanpa terasa.

“Kupikir sebaiknya ke telaga Tong Teng saja dulu !”

“Begitupun baik !” kata Pek Kiam Hong.

“Tapi, menghendaki perjalanan ini dilakukan didarat, karena aku tak berapa senang naik

perahu,” kata Tiat Siau Bwee.

Pek Kiam Hong setuju saja saran si gadis, maka dibelinya dua ekor kuda yang bagus dengan

harga mahal. Lalu melakukan perjalanan, mereka tak henti-hentinya mengobrol kebarat

ketimur dengan gembira, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua saja. Kuda mereka sangat

bagus, ditambah yang menunggangi cantik dan ganteng, menarik perhatian orang sepanjang

jalan, dan memuji mereka sebagai pasangan yang setimpal.

Mula pertama mereka tiba disebuah kota yang bernama King tek sia. Kota ini sangat ternama

karena menghasilkan barang pecah belah yang tiada duanya didaratan Tiongkok. Sepanjang

jalan penuh pedagang barang pecah belah yang indah-indah. Melihat ini siau Bwee berpaling

263

pada Kiam Hong dan menunjuk barang-barang itu. “Hei, lihat anak-anakan dari poslin itu

bagus bukan ? Hei, katakanlah barang apa yang pantas kubeli !”

“Yang manapun boleh kau beli, tapi ingat tangan mengendurkan les kudamu. Jika ia terlepas,

barang orang bisa berantakan !” baru saja Kiam Hong berkata, entah kenapa tunggangan Siau

Bwee benar-benar menyeruduk kedepan dan membuat dagangan orang berantakan dan

banyak yang pecah.

Siau Bwee melompat dari kuda, matanya mendelik kearah Kiam Hong. “Gara-garamu

mengacau tak keruan, kudaku benar terlepas, lihatlah dagangan orang hancur berantakan

begini macam, habis bagaimana ?”

“Pakai tanya lagi, keluarkan uang, ganti kerugian pedagang ini, beres !”

“Mau ganti engkau yang harus keluar uang, kesialan ini datang dari mulutmu, aku tak

tanggung jawab….” Kata Siau Bwee sambil menuntun kudanya hendak berlalu.

Pedagang perabotan itu adalah seorang kasar, dari tadi ia diam saja, tapi begitu melihat Siau

Bwee mauu berlalu, cepat-cepat ia menjambak bulu kuduk kuda Siau Bwee. “Bagaimana,

sudah merusak barang orang tak mau ganti ?”

“Ya, engkau mau apa ? Siapa suruh daganganmu dipajang dipinggir jalan, coba didalam

rumah pasti tak keterjang kudaku ! Siapa yang salah, kau atau aku ?”

“Hm engkau budak tak tahu aturan…pokoknya lekas ganti, jika tidak…..” kata laki-laki itu.

“Hm, engkau berani memaki aku,” teriak Siau Bwee yang terus mengayunkan cambuk pada

laki-laki itu.

“Ah, benar dunia mau kiamat, dimana letak keadilan dan hukum ?” kata laki-laki itu dengan

gusar, sedangkan cambuk berulang-ulang menghajar dirinya dan bajunya menjadi sobeksobek,

tapi badannya tidak terluka barang sedikit. Ia mendekat terus pada Siau Bwee sambil

menjulurkan tangannya kedada lawannya dengan gemas sekali.

Kelakuan laki-laki itu membuat Siau Bwee jengah sendiri, cepat-cepat ia mengengos

kebelakang dan terus melancarkan pukulan keras “beng” terdengar satu kali, lengan Siau

Bwee tepat bersarang ditubuh musuhnya. Heran sekali, laki-laki itu hanya mundur beberapa

langkah, sedikitpun tidak terluka, ia menggelengkan kepala dan maju lagi dengan

menbentangkan kedua tangannya, tak ubahnya seperti singa lapar menerkam mangsanya.

Menyaksikan kejadian ini Pek Kiam Hong menjadi kaget, ia mencelat turun dari kudanya

menghadang laki-laki itu sambil berseru keras. “Stop ! Stop !”

“Engkau mau apa ? Dua lawan satupun aku Tiat Lohan (laki-laki besi) tidak akan mundur

barang setapakpun !” Seiring dengan perkataannya ia melakukan serangan sambil memasang

kuda-kuda. Ilmu pukulannya beda dari permainan silat biasa. Mula pertama pukulannya

meluncur, empat jarinya tertekuk kedalam hanya jari tengahnya tidak ditekuk, begitu hampir

mengenai sasarannya, jari-jarinya merentang dengan mendadadk, dan timbullah satu pukulan

telapak tangan yang luar biasa kerasnya.

264

Melihat kepandaian silatnya orang itu sudah cukup tinggi, dan begitu aneh Pek Kiam Hong

tidak berani memandang enteng. Ia berseru “hait” kedua tangannya melancarkan tangkisan.

Dua pukulan beradu ditengah jalan menimbulkan suara nyaring. Laki-laki itu menggunakan

sebelah tangan, hanya tergetar pundaknya, sedangkan Pek Kiam Hong sendiri hampir

terjengkang kebelakang. Melihat ini Siau Bwee menjadi kaget senjatanya dengan cepat telah

“Siau Bwee jangan turun tangan, aku masih sanggup menghadapinya,” seru Pek Kiam Hong.

Saat ini laki-laki itu telah melancarkan serangannya yang sangat luar biasa, ia tak beranni

menangkis dengan keras, tubuhnya diengoskan dan menempatkan dirinya disebelah samping.

Lalu membarengi dengan satu pukulan keras. Laki-laki itu nampaknya hanya bisa

menyeruduk kedepan dan tidak bisa berkelit, tak ampun lagi tergebuk telak. Tubuhnya

terhuyung beberapa langkah, dan ambruk menimpa barang dagangan orang-orang dipinggir

jalan. Suara orang dan preng prong terdengar nyaring, kaena segala barang pecah belah itu

benar-benar ,menjadi pecah belah tertimpa tubuh laki-laki yang besar itu.

Dengan cepat laki-laki itu dengan wajah meeringis ketolol-tololan bangun lagi, ia mengebasngebas

bajunya, sedikitpun tidak terlihat luka terkena pukulan atau tusukan benda-benda yang

pecah. Dengan gagah ia maju lagi menghadapi lawannya. Nampak bandel sekali ! Pek Kiam

Hong mengandalkan kegesitan tubuhnya berulang-ulang membuat laki-laki itu jungkir balik !

Sebegitu jauh laki-laki itu tetap tak luka barang sedetik, dan benar-benar menjadi Tiat Lo han

(laki-laki besi). Akibat perkelahian ini mendatangkan kesialan pada pedagang disitu, setiap

kali laki-laki itu jatuh pasti membawa korban dagangan orang-orang disitu.

Pedagang-pedagang perabotan pecah belah lari berserabutan keempat penjuru, ada juga yang

berbenah menyelamatkan barang dagangannya, ada juga yang berkerubung menonton

perkelahian ini… Didalam suasana kalut-kalutnya ini, tampak penonton yang meriung itu

seperti terkena suatu tenaga gaib, pad minggir kesamping, dan terbukalah suatu jalan kecil,

dari sini muncul siorang tua berbaju hitam. Ia memegang tongkat panjang yang aneh, sinar

matanya sangat tajam dan biru, setiap ia melangkah orang-orang yang berada didepannya

minggir sendiri terkena tenaga dorongannya. “Stop !” teriakan orang tua bermata biru dengan

tiba-tiba. Begitu nyaring dan membisingkan pendengaran. Siau Bwee segera menghadang

dengan pedangnya, sedangkan Pek Kiam Hong dan laki-laki itu segera berhenti.

“Hei, orang tua apa yang kau kehendaki ?” tanya laki-laki itu dengan kasar sambil mendelik.

Orang tua bermata biru tidak menjawab, sinar matanya memandang pada Pek Kiam Hong

agak lama, lalu tersenyum. “Sebenarnya apa yang kalian ributkan sampai berkelahi macam ini

?”

“Gara-gara laki-laki tolol ini, mulutnya tidak dikeramasi dan seenaknya memaki orang.” Kata

Siau Bwee.

“Dia dulu yang memecahkan barang daganganku,” sela laki-laki itu dengan kasar. “Sudah

salah tidak mau mengganti, malahan memukuli diriku…” “Ha ha ha soal kecil ini saja sampai

berkelahi,” kata orang tua itu.

“Orang muda berdarah panas, tapi harus dipikir, perkelahian ini untung apa rugi ? Lebih

sedikit kurang sedikit bisa berdamai tak perlu tonjok-tonkokan bukan ?”

265

“Perkelahian ini sangat berharga !” bantah laki-laki itu, “karena harga dari barang-barngku tak

kurang dari sepuluh tail perak, mengerti ? Kehidupanku dan ibuku mengandalkan daganganku

ini, kini dihancurkan…”

“Sudahlah…uang sebegitu bisa kuganti,” kata orang tua itu.

Laki-laki itu menjadi kaget, tapi cepat-cepat menggelengkan kepala. “Barangku bukan engkau

yang memecahkan, aku tak mau menerima gantinya darimu, aku mau dia yang keluar duit,

baru puas !”

“Uang dia maupun uangku terbuat dari perak, sama bukan ? Nah terimalah !”

Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu menjulurkan tangannya….” Sabar, uang ini tetap milikmu,

tapi ingin kutanya dulu, siapa namamu dan siapa gurumu ?” kata orang tua itu.

“Namaku Oey Toa Gu,” jawab laki-laki itu, “seumur hidup tak punya guru.”

“Tapi ilmu Kin cong co (kebal) yang kau miliki itu darimana kau dapat ?”

“Oh ini yang hendak kau tahu ? Waktu kukecil sering dipukul ibu, aku tak pernah mengengos

atau lari tetap memasang badan ! Aku tak menangis membuat ibuku bertambah sengit,

akibtnya sekujur tubuhku menjadi babak belur ! Sungguhpun begitu aku masih tetap tak

berkisar dan terus menerima pukulan itu ! Waktu inilah kebetulan datang seorang Hweesio, ia

merasa kasihan padaku dan memberikan ilmu pelajaran tahan digebuk beberapa tahun

lamanya. Membuat tubuhku jadi kuat seperti besi ! Ha ha ha lihat buktinya, barusan dipukul

dia tetap tak luka, asal lamaan sedikit ia pasti kena kugebuk, dan pasti babak belur ! Untung

engkau datang…”

“Aku tak menanyakan soal ini, yang ingin kutahu siapa namanya Hweesio itu ?” tanya si

orang tua.

“Oh Hweesio itu setelah mengajari ilmu tahan dipukul, ia menawari pula ilmu untuk

menggebuk. Tentu saja aku menjadi girang dan menerima baik tawarannya itu, baru pula aku

menerima pelajarannya beberapa hari, sudah dipraktekkan akibatnya orang-orang sekampung

kubikin babak belur semuanya aku jadi jagoan dengan mendadak. Melihat keadaanku yang

suka berkelahi ini, Hweesio itu tidak mau memberikan pelajaran lebih banyak lagi, dan iapun

terus menghilang entah kemana, sampai sekarang belum pernah kulihat lagi…..” ia bicara

penuh semangat, sampai air liurnya turut muncrat dan berterbangan keempat peenjuru,

antaranya memeercik kepada orang tua itu.

Agaknya orang tua itu tidak berasa terkena ludah karena otaknya sedang berpikir keras

mengingat-ngat Hweesio itu. Akhirnya ia bicara sendiri dengan perlahan. “Pantasan ilmu

pukulannya mirip dengan “kui hut kun” (pukulan patung besi) sikepala botak itu….”

Sungguhpun suaranya diucapkannya.

“Apakah engkau masih mau mempelajari ilmu memukul orang ?” tanya orang tua itu.

“Ingin sih ingin, tapi dengan keadaanku sekarang, kukuatir bisa memukul mati orang,” kata

Oey Toa gu.

266

“Ilmu itu boleh kau pelajari dulu,” kata si orang tua, “soal memukul orang tergantung

kepadamu, pokoknya ilmu itu tidak merugikanmu.”

“Ya aku mau,” kata Oey Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

Orang tua bermata biru itu menyerahkan uang pada Toa Gu. “Uang ini kau berikan pada

ibumu, dan nantikan aku dirumah, aku bisa mencarimu.”

Toa Gu setengah percaya setengah tidak, tapi ia tidak mau memperdulikan lagi keadaan itu.

Cepat ia mengantongi uang dan terus berlalu.

“Lo tioang (membahasakan orang tua dengan hormat) kita baru bertemu, kenapa harus

membuang uang dengan percuma ?” tanya Kiam Hong.

“Soal kecil ini jangan dipikirkan,” berkata orang tua itu. “aku paling senang pad anak muda

yang pandai silat, maukah kalian menemaniku mengobrol sejenak ?”

Dan sebelum Pek Kiam Hong menjawab, Siau Bwee sudah membuka mulut. “Di depan ada

restoran, mari kita kesana, kita bisa ngobrol sambil mengisi perut !”

“Ya kesana pun baik,” kata orang tua itu, pokoknya kalian boleh makan sepuasnya aku yang

membayar !”

“Kalau begitu Lo tiang boleh pesan dululah makan dan minuman itu, kami harus

membereskan dulu barang-barang orang yang pecah ini,” kata Siau Bwee.

Orang tua itu mengguman begitu perlahan, Siau Bwee mendengar juga hatinya jadi tergerak

dan terus mengawasi kepada orang tua itu dengan waspada.

Orang tua itu mengangguk dan terus melangkah pergi.

Siau Bwee mengeluarkan uang emas, dan menyerahkan pada seorang pedagang yang paling

tua untuk dibagi-bagi sebagai penggantian pada barang-barang dagangan mereka yang telah

hancur akibat perkelahian antara Kiam Hong dan Toa Gu. Setelah itu ia menuntun kudanya,

karena Pek Kiam Hong menuju ke restoran. “Eh, apakah kau kenal dengan orang tua bermata

biru itu ?” tanya Siau Bwee pada kawannya.

“Tidak,” kata Kiam Hong, “dari parasnya tegas sekali bahwa orang tua itu berkepandaian

sangat tinggi !”

“Dari sinar matanya yang biru itu membuatku ingat pada salah seorang Bulim Capsahkie yang

bernama Liok Jie Hui dan bergelar Liok sian ong.”

“Liok Jie Hui itu berwatak buruk atau baik ?” tanya Kiam Hong.

“Buruk, baiknya sukar ditentukan, menurut ibuku kelakuannya Liok Jie Hui berada antara

baik dan buruk, sedang-sedanglah !” kata Siau Bwee. “Tapi kalau kena bicara ia sangat

pandai, selalu membicarakan soal kebajikan dan kebaikan, sedangkan dihatinya penuh siasat

akal-akal serta licin. Maka berlaku hati-hatilah !”

267

“Jika sudah ketahuan tabiatnya begitu, untuk apa kita berkenalan dengannya ?”

“Ah, jangan bicara lagi, lihat orang tua itu sudah memasang mata memandang kearah kita,

berlakulah tenang, jangan sampai dicurigai….”

“Untuk apa berlaku begitu, kembalikan saja uangnya yang sepuluh tail itu dan terus kita pergi,

untuk apa kenal dengan orang begitu….”

“Engkau kenapa sih bodoh dan kukuh betul, aku hanya menduga orang tua ini Liok Jie Hui

adanya, betul tidaknya akupun tidak berani memastikan. Andaikata benar, kitapun tak boleh

berlaku kurang ajar padanya bukan ? Dia toh orang tua yang kenamaan.”

“Dia ternama dan tua, aku harus bagaimana menghadapinya ?”

“Berlakulah hati-hati dan waspada,” kata Tiat Siau Bwee. “Pokoknya jangan banyak bicara,

serahkan padaku !”

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala.

“Begitu mereka tiba didepan restoran, seorang pelayan menyambutnya dengan tersenyum

menerima kuda mereka. “Liok sian seng sudah lama menunggu Jie wie diatas loteng, silahkan

naik, dan serahkan kuda ini untuk kukombongi.”

Siau Bwee dan Kiam Hong segera naik keloteng, kedatangannya disambut dengan senyuman

oleh orang tua bermata biru itu. Mereka tak sungkan-sungkan mengambil tempat duduk.

“Dapatkah kutahu nama kalian ?” tanya siorang tua.

“Seharusnya kami sebagai yang mudaan harus menanyakan dulu nama besar bapak,” kata

Siau Bwee.

“Nona sangat pintar bicara,” kata siorang tua, “tentu kalian pernah mendengar nama Liok sian

ong Liok Jie Hui bukan ?”

“Ah, benar-benar kami beruntung bisa menemukan Lo Cianpwee disini,” kata Siau Bwee dan

Kiam Hong.

“Ha ha ha,” Liok Jie Hui tergelak-gelak, “kalian kalau tak salah tentu bersaudara bukan ?”

“Benar,” jawab Siau Bwee,” Ia adalah kakakku, akuadalah adiknya !”

“Ha ha ha, yang pantas Kounio menjadi kakaknya, dan dia jadi adikmu !”

“Lo Cianpwee tidak tahu sifat kakakku, biar dia lelaki, tapi pendiam betul; sedangkan aku

beda betul dengannya, dalam segala urusan aku yang menimbulkan, tapi yang berkelahi adlah

dia !”

Liok Jie Hui tertawa lagi.

Pelayan-pelayan membawa arak dan hidangan lain.

268

“Kounio bicara dan bicara, tapi masih belum memperkenalkan diri,” kata Liok Jie Hui.

“Oh….kakakku bernama Cie Goan, aku sendiri bernama Cie Giok,” kata Siau Bwee dan terus

bangun. “Koko mari kita menghormat pada Liok Lo Cianpwee dengan secawan arak !”

Liok Jie Hui pun mengangkat cawannya dan mengeringkan seperti dua muda-mudi itu, lalu

berkata: “kalian memiliki ilmu silat yang baik, apakah ayah kalianpun sebagai orang Bulim ?

Dan darimana ilmu itu kalian dapat ?”

“Kami adalah anak yatim yang tidak mempunyai ayah….sedangkan ilmu kudapat dari

seorang guru yang segan kusebut namanya !”

“Biarpun kusebutkan Lo Cianpwee pasti tidak kenal akan guruku itu !”

“Coba saja kau sebutkan, mungkin kutahu juga !”

“Apakah Lo Cianpwee pernah mendengar perguruan Thian liong bun ?”

“Thian liong bun ? Ah, benar-benar aku belum pernah mendengarnya, apakah kalian dari

perguruan ini ?”

Siau Bwee menganggukkan kepalanya.

“Dapatkah kutahu dimana tempatnya perguruan Thian liong bun itu ?”

“Ini rahasia perguruan, tak bisa kuteangkan !”

Liok Jie Hui tidak berhenti sampai disitu, ia bertanya lagi : “Siapakah Ciang bun jin dari

Thian liong bun ?”

“Terangkan saja !” kata Pek Kiam Hong yang diam saja sedari tadi.

“Ciang bun jin kami bernama In Tiong Giok !” kata Siau Bwee.

“Apa ? In…Tiong Giok ?”

“Apakah Lo Cianpwee kenal dengannya ?”

“In Tiong Giok adalah seorang pelajar, usianya lebih kurang dua puluh tahun bukan ? Dan

pernah pergi kemarkas pusat Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su,

lalu buku itu dicetaknya dan disebar luaskan keempat penjuru dunia…Cie Kounio, apakah In

Tiong Giok inikah yang kau maksud ?”

“Benar, dialah orangnya !” kata Siau Bwee.

“Heran….seorang pelajar lemah bisa menjadi Ciang bun jin sebuah perguruan silat ? Ini

benar-benar membuat orang heran saja….”

269

Pek Kiam Hong tak mengetahui bahwa In Tiong Giok benar-benar sebagai Ciang bun jin dari

Thian liong bun, pikirnya Siau Bwee ini sedang mengibuli orang tua itu, keruan saja hatinya

jadi cemas. “Kenapa engkau menyebut In Tiong Giok, sudah pasti orang tua ini kenal

dengannya, dan omongan bohongmu akan ketahuan,” pikir Pek Kiam Hong. Dan ia melihat

pada Siau Bwee agar segera bisa berlalu dari tempat itu.

Biarpun melihat dengan nyata isyarat yang diberikan Kiam Hong, gadis itu pura-pura tak

melihat, malahan dengan wajar berkata lagi kepada Liok Jie Hui. “Adapun Ciang bun jin dari

Thian liong bun dipilih dari seseorang yang berjiwa baik dan berbakat besar ! Tidak

memperdulikan soal usia tua atau muda, bahkan memiliki ilmu silat atau tidakpun bisa sja

menjadi Ciang bun jin, bakat adalah kurnianya Tuhan, sedangkan ilmu pelajaran bisa didapat

dengan bakat dan kerajinan !”

“Sejak kapan In Tiong Giok menjadi Ciang bun jin Thian liong bun ?” tanya Liok Jie Hui

dengan sikap tak percaya.

“Lebih kurang setahun lamanya !”

“Kalau begitu setelah meninggalkan Pok Thian Pang ia baru menjadi Ciang bun jin ?”

“Benar !”

“Jikalau begitu kalian lebih dulu menjadi anggota Thian liong bun dari padanya ?”

“Ya, benar !”

“Banyakkah anggota dari Thian liong bun ?”

“Meliputi seluruh dunia, banyaknya tak terhingga !”

“Pelajaran apa yang kalian utamai ?”

“Yang kami utamakan banyak sekali, semuanya itu adalah ilmu yang luar biasa, misalnya

dalam ilmu pedang orang anggap Keng thian cit su sebagai pelajaran nomor satu, untuk Thian

liong bun ilmu pedang itu dianggap kuranglah lengkap dan sempurna sebab hanya

sebagian…”

“Perkataanmu sukar dipercaya, karena semua jago silat berpandangan bahwa Keng thian cit

cu adalah ilmu pedang yang nomor wahid dikolong langit, buktinya Siang eng dengan ilmu

pedang itu, menjuarai dunia persilatan.”

“Ha ha ha, Lo Cianpwee mungkin tidak tahu bahwa Sin kiam siang eng itu adalah anggota

Thian liong bun !”

“Apa benar ?”

“Kenapa tidak ? Mungkin Lo Cianpwee kurang percaya, apa salahnya datang ke Pek liong san

dan tanya sendiri pada Siau siang lie hiap, Lim Siok Bwee, disitu tempatnya mendapat

jawaban benar tidaknya apa yang kukatakan !”

270

“Setelah mendengar ucapan Lounio, aku baru sadar, pengalaman sangat minim,” kata Jie Hui.

“Jika kalian keluaran Thian liong bun tentu memiliki ilmu yang berkepandaian tinggi, bukan ?

Sayang aku sudah tua, bilamana tidak, tentu akan meminta beberapa jurus pelajaran dari

kalian.”

“Lo Cianpwee terlalu merendah,” kata Siau Bwee “dunia kangouw tergetar oleh Capsahkie

sedangkan Lo Cianpwee adalah salah satu diantara mereka !”

“Itu nama kosong belaka !” jawab Jie Hui.

“Dari omongan Lo Cianpwee seolah-olah kenal dengan Ciang bun jin kami ?” kata Siau

“Bukan kenal lagi, hubunganku dengannya tak ubahnya seperti anak dan orang tua ! Kau

tahu, siap yang menolongnya keluar dari Pok Thian Pang sewaktu menghadapi bahaya ?” Ia

menanti jawaban pada dua pemuda itu, menatap tajam, “bukan orang lain, akulah yang

menolongnya !”

“Oh, aku ingat. Tentulah Lo Cianpwee yang menyamar sebagai orang India dan menolong In

siau hiap dari Pok Thian Pang ?”

“Benar!” kata Liok Jie Hui. “Kini ia menjadi seorang Ciang bun jin dari Thian liong bun,

benar-benar diluar dugaanku !” Ia bicara dengan suara perlahan dan membayangkan

kesedihan didalam hati, ia seorang ulung apa yang dibawakan benar tidak kentara, sehingga

kedua anak muda yang masih hijau merasa heran dan dipengaruhi.

“Kenapa Cianpwee mengatakan begitu dan tampaknya sedih mendengar In siau hiap menjadi

Ciang bun jin kami ?” tanya Siau Bwee.

“Ya dapat dikatakan memang nasibku yang buruk, jika kutahu ia mau menjadi seorang Ciang

bun jin, siang-siang sudah kujadikan, dan tidak sampai keduluan orang lain ! Kini aku luntang

lantung kesana kemari dalam kesulitan, seorang muridpun aku tak punya, hingga segala

sesuatu harus dikerjakan sendiri, coba jika dia masih bersamaku, tak sampai aku merasa

begini macam !”

“Memang Lo Cianpwee mempunyai kesulitan apa ?” tanya Siau Bwee.

“Jika mengenang In Siau hiap antara kalian dan aku masih dapat dikatakan orang sendiri, dan

sepatutnya menuturkan kandungan hatiku kepada kalian, tapi dlam saat ini kurasa kurang

pantas, sebab bisa menghilangkan kegembiraan makan minum. Maka sebaiknya kita minum

sepuas-puasnya dan jangan membicarakan soal itu. Mari ….” Ia mengangkat cawan dan

menegaknya berulang-ulang.

“Jika Lo Cianpwee menganggap kami sebagai orang sendiri, katakanlah apa yang menjadi

kesulitan Lo Cianpwee, jika tidak aku tak mau minum arak ini,” kata Tiat Siau Bwee.

“Sebenarnya tidak menjadi soal, sebab aku sendiri masih bisa menghadapinya.” Kata Liok Jie

Hui sambil menarik napas. “Lebih baik tidak mengungkit soal ini, makin diomongi makin

mendongkolkan hati.”

271

“Kenapa berkata begitu ? Jika Lo Cianpwee menganggap kami bukan sebagai kawan, kami

segera pamitan !” kata Pek Kiam Hong.

Liok Jie Hui menggoyangkan tangan, dan berlagak seperti terpaksa. “Baiklah jika kalian ingin

tahu kuterangkan juga, tapi kalian tidak boleh mencampuri urusan ini….”

“Hm, lekaslah katakana,” dengus Pek Kiam Hong tidak sabaran.

Diam-diam Liok Jie Hui menjadi senang, didahului elahan napas ia berkata dengan serius.

“Terjadinya hal ini dapat dikatakan akibat dari lolosnya In Siau hiap dari Pok Thian Pang,

kalian tentu tahu bahwa Keng thian cit su milik Sin kiam siang eng jatuh ditangan Pok Thian

Pang, karena inilah In Siau hiap diundang kesana sebagai penterjemah….”

“Hal ini sudah kuketahui, tak perlu Lo Cianpwee mengatakan lagi, yang kami inginkan

dimana letak kesulitanmu ?”

“Jika kututurkan terus, kalian bisa mengetahui sendiri kesulitanku,” kata Liok Jie Hui, yang

terus melanjutkan ceritanya. “Begitu lolos dari Pok Thian Pang, dengan penuh semangat In

Siau hiap menterjemahkan Keng thian cit su, dan meminta bantuanku untuk menyebar

luaskan buku itu. Agar sekalian orang baik dari rimba hijau mempelajari ilmu itu dan bisa

mengadakan perlawanan pada Pok Thian Pang. Tak kira sebelum usaha ini berjalan, terjadi

sesuatu yang diluar dugaan….”

“Terjadi apa ?” selak Siau Bwee.

“Soal In Siau hiap menterjemahkan buku ini, entah bagaimana menjadi bocor dan tersebar

luas diluaran, begitu kuperoleh buku yang baru diterjemahkan, Hek pek siang koay tiba-tiba

muncul dan mengurung diriku, dalam perkelahian itu buku itu kena dirampasnya ! Tersebab

inilah In Siau hiap mencetak buku itu di Kim leng dan menyebar luaskan seorang diri.”

“Oh, karena hal inilah ia berbuat begitu ?” kata Pek Kiam Hong.

“Ya,” jawab Liok Jie Hui. “Apa yang dilakukan itu karena terpaksa, karena ia mengetahui

bahwa Hek pek siang koay adalah orang jahat sepeerti kaum Pok Thian Pang. Andaikata

kedua orang itu bekerja sama dengan Pok Thian Pang akan mendatangkan bencana maut pada

jago-jago dari golongan putih. Sebab ini In Siau hiap berlaku seperti yang dituturkan tadi.

Tapi caranyapun kurang baik, karena ia tidak memilih bulu, siapapun diberikan buku itu !

Sehingga orang-orang jahatpun banyak memperolehnya, pikirlah, bukankah dengan begitu

iapun membantu penjahat-penjahat itu ? Mengetahui keadaan ini, aku turut berduka dan

merasa berdosa pada In Siau hiap. Untuk menebus dosa ini aku bercapai lelah selama setahun

lebih, dan terhitunglah usahaku tidak sia-sia, karena kuperoleh satu peluang baik untuk

menutup dosa-dosaku !”

“Peluang apa yang Lo cianpwee dapati ?”

“Satu peluang baik untuk memperoleh sebilahj pedang pusaka !” kata Liok Jie Hui. “biarpun

orang-orang jahat itu memiliki ilmu pedang yang bagaimana tinggipun dapat ditundukkan

pedang wasiat itu !”

“Dimana pedang itu berada ?” tanya Siau Bwee.

272

“Disuatu lembah yang curam terdapat sebuah danau, disitu pemandangannya sangat indah,

bilamana saatnya tiba akan terlihat suatu cahaya bergemerlapan menerangi kegelapan malam.

Alkisah, itulah sinar pedang wasiat yang akan menjelma didunia.”

“Nampaknya yang mengetahui adanya pedang wasiat ini bukan aku sendiri, sehingga

mendatangkan kecemasanku, aku merasa kuatir terulang lagi kejadian hilangnya buku seperti

dulu, sebab kekuatanku hanya seorang diri, mengingat ini hatiku merasa cemas dan sedih !”

Siau Bwee dan Pek Kiam Hong adalah pemuda-pemuda yang kurang berpengalaman,

mendengar perkataan Liok Jie Hui yang ingin menebus dosa pada In Tiong Giok, hati mereka

tergerak timbul niat mereka untuk membantu Liok Jie Hui memperoleh benda wasiat itu.

Maka Siau Bwee segera berkata : “Lo Cianpwee tak usah pusing dalam soal itu, biarpun

kepandaian kami tak seberapa tinggi, untuk menghadapi orang-orang biasa masih boleh

diandalkan.”

“Kesediaanmu kuterima didalam hati, “ kata Liok Jie Hui.

“Sebab yang datang itu adalah jago-jago dari rimba hijau, maka itu aku tak bisa mengajak

kalian menempuh bahaya maut. Semata-mata untuk kepentinganku !”

JILID 14________

“Apakah Lo Cianpwee menganggap kepandaian kami terlalu rendah dan bisa merepotkan Lo

Cianpwee ?” tanya Pek Kiam Hong.

“Bukan begitu, karena yang datang itu disamping berkepandaian tinggi, jumlahnyapun

banyak sekali ! Aku sendiripun bisa menghadapi mereka dengan nekad, hidup atau mati

terserah kepada Tuhan ! Sedangkan kalian bagaimanapun tak boleh mencampuri urusanku ini

!”

“Bolehkah kutahu musuh-musuh dari golongan mana ?” tanya Siau Bwee.

“Yang sudah kuketahui saja sudah tiga golongan, yakni dari Pok Thian Pang, Hek pek siang

koay dan lou san siang cat ( dua manusia cacat dari gunung Lou san). Disamping itu masih

banyak lagi yang lain dan belum kuketahui dai golongan apa !”

“Dimana letaknya lembah itu ? Dan kapan pedang itu menjelma kedunia ?” tanya Siau Bwee.

“Letaknya tak seberapa jauh , yakni dilembah gunung Huay giok san,” kata Liok Jie Hui.

“Sedangkan saatnya pedang itu menjelma sudah dekat juga, lebih kurang lima enam hari lagi,

atau selambat-lambatnya sepuluh hari lagi.”

“Jika Lo Cianpwee tak mau mengajak juga, kami bisa pergi sendiri,” kata Siau Bwee. “Toako

mari kita berangkat sekarang juga.” Pek Kiam Hong tak ayal lagi segera bangkit dari tempat

Melihat keadaan ini hati Liok Jie Hui menjadi geli, karena siasatnya berhasil baik. Tapi

wajahnya seperti kaget dan cemas, buru-buru mencegah. “Kalian jangan berlaku gegabah, aku

mencegah kalian dengan maksud baik….”

273

“Hm,” Siau Bwee tersenyum dingin. “Kami sebagai anggota dari Thian liong bun

bagaimanapun mempunyai kewajiban untuk mencegah agar pedang wasiat itu tidak jatuh

ditangan orang jahat.”

Liok Jie Hui yang licin dengan perkataannya yang lemah lembut, berhasil membuat kedua

muda mudi itu duduk kembali dikursinya: “Jika kalian memaksa juga, apa boleh buat,

ikutlaah denganku, sebab pedang yang bakalan diperoleh itu untuk diserahkan pada In Siau

hiap yang menjadi Ciang bun jin kaum Thian liong bun !”

“Bilamana kita berangkat ?” tanya Siau Bwee tak sabaran.

“Sebenarnya lebih cepat lebih baik,” kata Liok Jie Hui. Ia terpekur sejenak seperti berpikir

keras. “Tapi aku masih mempunyai sesuatu urusan yang perlu diselesaikan dulu. Kalian

duduk-duduk dulu disini, aku hanya sebentar.”

“Silahkan,” kata Siau Bwee, “kami akan menunggu disini !”

“Ah, pikiranmu bagaimana sih ? Liok Jie Hui adalah jago kang ouw yang lihay, bilamana

rahasianya dipecahkan itu akan gusar dan kita bisa dibunuhnya, mengerti ?”

“Takut apa, lawan saja !”

“Ketakutan kita ditambah selipat lagipun tak bisa menang !”

“Jika begitu mumpung ia belum datang kita pergi buru…..’

‘Jika kita pergi sama dengan melepaskan begitu saja pedang wasiat itu bukan ?”

“Sebenarnya apa sih yang engkau akan perbuat ?” tanya Pek Kiam Hong.

“Aku mempunyai siasat baik menghapinya, tolol !” bisik Siau Bwee.

“Duduklah yang tenang, tak lama lagi dia akan kembali…”

Benar saja dari arah tangga terdengar derapan langkah-langkah berjalan. Disusul dengan

munculnnya Liok Jie Hui dan seorang laki-laki yang membawa bungkusan besar

dipunggungnya. Orang yang membawa bungkusan bukan lain dari sipedagang barang pecah

belah yang bernama Oey Toa Gu.

“Wah mungkin kalian kesal menantikan aku bukan ?” kata Liok Jie Hui.

“Lo Cianpwee pergi begitu lama dan kembali membawa orang kasar ini untuk apa ?” tanya

Siau Bwee.

“Usiaku sudah begini lanjut tapi belum mempunyai seorang muridpun untuk dijadikan

pewaris pelajaranku,” kata Liok Jie Hui. “Kulihat anak ini berbakat besar, bila dididik akan

menjadi orang berguna dikemudian hari, maka kuterima menjadi murid.”

274

Siau Bwee melirik kepada Toa Gu sambil mengerutkan kening, sedangkan yang disebut

belakangan nyengir-nyengir dan berkata “Siau Kounio , apakah engkau akan turut juga keatas

gunung, mempelajari ilmu menggebuk orang ?”

“Toa Gu jangan ngaco belo ! Sungguhpun usia mereka masih muda-muda tapi adalah kawankawanku,

engkau harus menganggap mereka ini sebagai paman atau bibi, mengerti ? Nah

lekaslah haturkan maaf atas kecerobohanmu tadi !”

Toa Gu menjadi melongo dan segera membantah. “Soal perkelahian dengannya, bukan

salahku dia yang mulai…..”

“Aku sebagai suhumu, apa yang kukatakan tak boleh kau bantah, lekas haturkan maaf !”

bentak Liok Jie Hui.

Sebenarnya Toa Gu tak ikhlas melakukan hal yang berlawanan dengan hatinya, tapi dalam

tekanan gurunya, apa boleh buat dia maju kehadapan Siau Bwee dan Pek Kiam Hong

“Hitung-hitung aku sedang sial dan terimalah permintaan maafku ini !”

Melihat Toa Gu ini, Siau Bwee merasa geli rasa dongkolnyapun menjadi hilang, dengan

tersenyum ia membalas hormat. Sedangkan Pek Kiam Hong masih merasa gondok, ia diam

terus tanpa meladeni Toa Gu.

“Kalian sudah makan, mari kita berangkat !” kata Liok Jie Hui.

Siau Bwee segera bangkit, dan terus menendang Pek Kiam Hong yang masih cemberut. “Ah

mengapa menjumblek terus, mau ditinggal ?”

Dengan ogah-ogahan Pek Kiam Hong bangkit dan terus mengikuti dari belakang tanpa

mengeluarkan sepatah kata.

Didekat kuda Siau Bwee dan Kiam Hong tampak dua ekor kuda lain. “Ini adalah kuda yang

baru kubeli,” kata Liok Jie Hui. “Tadi kupergi lama, disamping membeli kuda, juga

membereskan soal ibunnya Toa Gu. Kini tidak ada yang menjadi beban pikirannya lagi, ia

bisa mengikutinya dengan tenang.”

Dengan berkuda mereka menuju ke Hoay Giok san. Disepanjang jalan Kiam Hong

membungkam seribu bahasa, demikian pula dengan Toa Gu jika tidak ditanya tidak mau

berkata hanya Siau Bwee sepanjang jalan mengobrol dengan Liok Jie Hui tanpa hentihentinya.

Lambat laun Hoay Giok san sudah semakin dekat, sepanjang jalan yang menuju kesana,

didepan atau belakang mereka, adalah orang Bulim yang mempunyai maksud serupa dengan

mereka. Anehnya orang-orang itu selalu berjalan berdua, tidak terlihat yang berjalan seorang

Sekarang Siau Bwee baru percaya bahwa cerita Liok Jie Hui tentang pedang wasiat itu, tidak

bohong. Dan ia tahu orang yang berjalan berdua itu, pasti sudah mempelajari ilmu Keng thian

cit su dan datang ke Hoay Giok san untuk mendapatkan pedang wasiat. Ia merasa girang

disamping rasa tegang. Didekatinya Pek Kiam Hong yang berjalan dibelakangnya.

“Perhatikanlah keadaan dijalanan ini, banyak orang-orang yang menuju ke Hoay Giok san,

275

tentu untuk memperolah pedang wasiat itu. Dan kita harus waspada jangan sampai diperalat

oelh Liok Jie Hui !”

“Jika soal pedang itu benar, apa gunanya ia memperalat kita ?” tanya Kiam Hong.

“Dalam soal silat ia tak butuh bantuan,” kata Siau Bwee. “Tapi jika tak memerlukan bantuan

pasti ia tidak akan mengajak kita maupun si Toa Gu yang tolol itu !”

“Ia mengandung maksud apa ?” tanya Pek Kiam Hong.

“Kesatu dengan tenaganya sendiri ia tidak sanggup menghadapi musuh, kedua tempat pedang

itu pasti berbahaya, dan akan menyuruh kita atau Toa Gu yang mengambilnya, sedangkan dia

sendiri uncang-uncang kaki, menunggu hasilnya.”

“Bukankah pedang itu berada disuatu danau ?”

“Benar !” jawab Siau Bwee, “tempat-tempat barang pusaka kebanyakan dijaga binatangbinatang

buas, karena inilah ia mengajak kita !”

“Habis harus bagaimana menghadapinya ?”

“Sebelum persoalan menjadi jelas, sukar untuk menentukan suatu cara untuk menghadapinya.

Pokoknya dalam segala hal engkau harus menurut dibawah komandoku, jika ia menyuruhmu

melakukan sesuatu hal, engkau harus melihat kepadaku jika aku mengangguk engkau boleh

melakukannya, jika aku diam janganlah kau lakukan !”

“Ya, aku sih menuruti saja, dan andaikata terjadi sesuatu kerugian bagi kita, engkau jangan

menyesalkan diriku !”

Diwaktu senja mereka telah tiba di sebuah perkampungan kecil yang berada dikaki gunung

Hoay Giok san. Disini hanya terdapat sebuah losmen kecil yang sederhana betul. Mereka

mampir disitu. Sehabis makan, Liok Jie Hui memanggil pelayan. “Apakah engkau tahu ada

berapa warung nasi dikampung ini ?”

“Lebih kurang ada lima buah warung !”

“Adakah mereka menjual makanan kering ?”

“Ada juga, tapi tidak sebagus seperti yang terdapat dikota besar !”

“Itu tidak menjadi soal, aku ingin membeli agak banyak, yakni untuk dimakan seratus orang

dan bisa bertahan sepuluh hari !” kata Liok Jie Hui dan terus mengeluarkan uang. Juga tidak

lupa ia memberikan persenan kepada pelayan itu dan pelayan itupun girang dan bertanya :

“Bilamana makanan itu dibutuhkan ?”

“Jika bisa, sebelum kentongan ketiga malam ini terdengar, makanan itu sudah kau siapi !”

Tidak ayal lagi pelayan itu melakukan apa yang dikehendaki Liok Jie Hui saat itu juga.

276

Liok Jie Hui dengan tersenyum memandang kepada tiga yang lain. “Sebelum kentongan

keempat berbunyi kita harus lanjutkan perjalanan, kini sebaiknya tidurlah, mumpung ada

waktu !”

“Untuk apa membeli makanan kering sebanyak itu ?” tanya Siau Bwee.

“Hmmm, dengan begini, kawan-kawan yang setujuan dengan kita akan kehabisan makanan

bukan ?”

Siau Bwee baru mengerti bahwa Liok Jie Hui benar seorang licik yang banyak akalnya.

Mereka segera tidur. Dan bangun sewaktu pelayan itu kembali bersama-sama tukang

makanan. Begitu banyak dan masih hangat tampaknya. Tak salahlah agaknya para pedagang

itu mengerjakan makanan-makanan itu dengan mengebut sekuat-kuatnya.

Setelah merapikan pakaian, mereka keluar . Liok Jie Hui memilih makanan yang baik-baik

dimasukkan kedalam keranjang besar, Toa Gu ditugaskan membawanya. Sedangkan sidanya

yang berpikul-pikul disuruh pelayan itu membawanya keluar kota. Disana terdapat sebuah

danau yang besar, makanan itu dibuang kedalam air setelah dan pembantu-pembantunya

Liok Jie Hui mengepalai rombongan menuju kedaerah pegunungan, ia mengambil jalan kecil

yang berliku-liku. Setelah menempuh perjalanan sehari lebih, mereka tiba disebuah lembah,

keadaan didalam lembah sangat luas, sedangkan mulutnya sangat sempit, merupakan tempat

yang baik untuk bertahan jika menghadapi musuh yang lebih besar jumlahnya. Ditengahtengah

lembah itu terdapat sebuah danau airnya hijau membiru, tidak terlihat dasarnya.

Ditengah danau itu terlihat user-user air yang kempot.

“Apa namanya danau ini ?” tanya Siau Bwee setelah memperhatikan agak lama.

“Tempat ini jarang dikunjungi orang, sehingga tidak ada yang mengetahui apa namanya

danau ini,” kata Liok Jie Hui. “Tapi didalam danau ini terdapat dua bilah pedang pusaka,

maka itu kita namai saja Danau pedang !”

“Lo Cianpwee kenapa engkau mengetahui didalam danau ini terdapat dua pedang ?” tanya

Siau Bwee.

“Bila malam hari dari dalam danau itu memancar dua sinar yang berbeda, dari sinilah dapat

diduga bahwa pedang itu ada dua bilah.”

“Seumurku belum pernah melihat sinar pedang, semacam itu,” kata Siau Bwee. “Apakah

karena kelewat lama pedang itu berada didalam air, menjelma menjadi siluman dan

mengeluarkan cahaya ?”

“Soal itu aku tidak tahu, tapi engkau bisa melihatnya sinar pedang ini dimalam hari !”

“Apakah pedang itupun turut keatas permukaan air ?”

“Oh tidak !”

“Aku heran kenapa ia bisa bercahaya ?”

277

“Setiap benda-benda pusaka, biarpun dipendam dalam tanah ataupun didalam air, bila tiba

saatnya akan menjelma, ia akan memancarkan sinar ! Misalnya batu cincin yang mempunyai

kasiatnya, bilamana akan menjelma ia akan memancarkan sinarnya. Hanya orang-orang yang

berjodoh dengannya baru bisa mendapatkannya, bilamana tidak, biar digadangi setiap malam,

benda itu tidak bisa diperoleh. Nah ini satu keajaiban, bilamana kurang percaya buktikanlah

malam ini !”

“Lo Cianpwee bisa mendapatkan dan tahu tempatnya pedang ini, tentu sangat berjodoh,” kata

Siau Bwee.

Liok Jie Hui bergelak-gelak kegirangan mendapatkan umpakan itu.

“Ya mungkin juga karena pembawaanku yang jujur dan bersih sehingga bisa mengetahui

tempat pedang ini.” Katanya dengan bangga. “Sedangkan Hek pek siang yau dan kaum Pok

Thian Pang yang durhaka itu, sampai kini belum mengetahui dimana tempat pedang itu

berada.”

“Tak tahu malu !” maki Siau Bwee didalam hatinya. Walaupun hatinya mendongkol,

wajahnya tetap tersenyum. “Lo Cianpwee sebaiknya jangan buang kesempatan, sekarang saja

ambil pedang itu, mumpung musuh-musuh itu belum pada datang.”

“Mengambil benda pusaka tidak boleh sembarangan.” Kata Liok Jie Hui. “Apalagi sekarang

masih siang, cahaya tidak terlihat, sukar menemuinya !”

“Apakah Lo Cianpwee merasa takut ?”

“Bukan takut, tapi berhati-hati !”

“Suhu !” seru Toa Gu dengan tiba-tiba. “bolehkah aku makan dulu, sudah lapar benar !”

Lio Jie Hui memandang sambil tersenyum. “Ya, sebaiknya kita makan dulu, agar semangat

kita bertambah.”

Empat orang duduk ditepi danau, Toa Gu membuka rantang, mengambil makanan kering dan

menyapoknya tanpa mengunyah lagi. Makanan itu kering dan peret, sukar masuk kedalam

kerongkongan, membuatnya kelolotan ! Mendelik ketelak makanan itu, membuatnya gugup,

dan cepat-cepat lari kepinggir danau dan minum.

Liok Jie Hui cepat-cepat mencegah, “Air ini kelihatannya kurang bersih, entah bisa diminum

atau tidak, sebaiknya engkau keluar lembah, disana ada selokan air, minumlah disana,

sekalian ambilkan barang seember !”

Toa Gu mengangguk dan lari keluar lembah sambil membawa ember.

Liok Jie Hui menantikan Toa Gu sudah jauh baru berpaling kepada Siau Bwee dan Kiam

Hong. “Atas bantuan kalian untuk mengambil pedang ini, kuucapkan banyak terima kasih.

Yang datang untuk mengambil pedang kesini, nyatanya banyak sekali, kita harus berlaku

terlebih waspada lagi.”

278

Pek Kiam Hong tidak mau bicara, ia asyik makan kueh kering.

“Sudahkah Lo Cianpwee melakukan persiapan untuk menghadapi mereka ?” tanya Siau

“Kita berjumlah empat orang,” kata Liok Jie Hui, “aku harus membawa Toa Gu ke danau ini

mengambil pedang, dan kuminta kalian menjaga mulut lembah, merintangi setiap orang yang

mau masuk kesini.”

“Kepandaian kami tidak seberapa, mungkin tak dapat menahan orang-orang itu,” sela Siau

“Dalam hal ini Kounio tak usah kuatir, aku sudah berpikir bahwa letaknya mulut lembah

kesini tidak seberapa jauh, jika kalian menghadapi kesukaran boleh memberi tanda bahaya

aku bisa datang membantu,” kata Liok Jie Hui.

“Musuh-musuh itu bisa datang setiap saat bukan ?” kata Siau Bwee.

“Jika musuh datang sebelum kami mengambil pedang, kalian bisa berseru minta bantuan, aku

segera datang membantu, jika saatnya aku mengambil pedang dan musuh datang, tahanlah

mereka sejenak, begitu selesai mengambil pedang aku bisa datang menghalau mereka !”

“Jika saat ini mereka sudah datang ?”

“Disiang hari sinar pedang tidak memancar keluar, mereka tidak dapat mencari tempat ini

begitu cepat !” kata Liok Jie Hui. “Untuk melewati waktu kita boleh bersembunyi ditempat

gelap, biar mereka sampai kesini, jika tidak melihat kita akan pergi lagi bukan ?”

“Kulihat air ini menyeramkan sekali, ditambah Toa Gu tolol sekali, bisakah pedang itu

diambil dengan tenaga berdua ?” tanya Siau Bwee.

“Biarpun air ini menyeramkan kami masih sanggup mengatasinya, asal saja kalian bisa

melakukan tugas dengan baik dimulut lembah.”

“Kedatangan kami kesini justru untuk membantu Lo Cianpwee menghadapi musuh-musuh

itu, sudah tentu akan menjalankan tugas sebisa mungkin, tapi…..” Ia tidak meneruskan katakatanya

dan merandek dengan mendadak.

“Tapi….tapi kenapa, katakanlah !”

“Kumohon Lo Cianpwee melulusi satu permohonanku !”

“Asal yang kubisa, pasti kululusi, katakanlah !”

“Sebenarnya bukan apa yang kami minta,” kata Siau Bwee. “Aku hanya ingin melihat

bagaimana rupanya sinar pedang itu, dan bagaimana caranya Lo Cianpwee mengambilnya.”

“Ini….habis siapa yang menjaga mulut lembah ?”

279

“Ada kokoku yang menjaga,” jawab Siau Bwee. “Jaraknya toh dekat sekali, jika ada bahaya

aku bisa lari membantunya, jika tak ada apa-apa aku diam disini, bagaimana ?”

Liok Jie Hui tidak setuju Siau Bwee berada ditepi danau, maka ia berkata : “Sebaiknya

Kounio menjaga mulut lembah itu jika tidak ada musuh yang datang, aku bisa memberi tahu

saatnya pengambilan pedang itu, dan engkau boleh datang melihatnya.”

“Benar-benar nih ? Harap Lo Cianpwee jangan lupa ya .”

“Pasti tidak lupa !”

“Biar bagaimana aku harus melihat dengan mata sendiri, peristiwa yang jarang terjadi ini, “

kata Siau Bwee. “Aku berdoa agar musuh-musuh yang mau mengambil pedang ini pergi jauhjauh….”

Belum pula ia menyelesaikan perkataannya, matanya melihat Toa Gu dengan menenteng

ember yang terisi air, sedang berlari dengan tergesa-gesa.

Tampaknya sitolol masih belum menelan makanan kering yang menyumbat kerongkongannya

itu, begitu sampai lengannya memeta, nunjuk-nunjuk keluar lembah, dan berkata dengan

terbata-bata : “Suhu….lekas….lekas lihat.”

“Lihat apa ? Bicara yang benar !” bentak Liok Jie Hui.

Toa Gu menghirup air dan menelan makanan dikerongkongannya, lalu berkata dengan cepat :

“Diluar ada dua anak kecil berkelahi dengan seorang Tojin tua, anak kecil itu berhasil

membunuh Tojin itu…”

“Jauhkah dari sini ?” tanya Liok Jie Hui.

“Tuh diluar lembah itu,” kata Toa Gu, “kedua anak kecil itu setelah membunuh berlari kearah

sini.”

Liok Jie Hui menjadi kaget, dan mengulap-ulapkan tangannya dan berkata : “Lekas

bersembunyi, yang datang pasti Hek pek siang kuay.”

Keempat orang dengan cepat bersembunyi kedalam pepohonan yang rimbun. Tak selang lama

dari mulut lembah berkelebatan dua sosok bayangan dengan cepat.

Hanya sekejap dua orang itu telah berada ditepian danau, sedikitpun tak salah apa yang

diucapkan Liok Jie Hui, bahwa anak kecil itu benar-benar Hek pek siang kuay adanya.

Tiat Siau Bwee maupun Pek Kiam Hong pertama kali melihat suami istri yang serupa bocahbocah

cilik itu, menjadi heran sendiri, bilamana tak diterangkan lebih dulu, ia takkan percaya

bahwa Hek pek siang kuay yang terkenal keganasannya didunia persilatan berbentuk tak

ubahnya seperti bocah belasan tahun.

Siang kuay berhenti ditengah danau, mata mereka jelilatan kesekeliling lembah. Na Beng Sie

menganggukkan kepala sambil berkata. “Pantasan kedua bedebah itu meronda disini, kiranya

lembah ini sangat menarik perhatian.”

280

“Coba terangkan padaku, dimana letak yang menarik perhatian ?” kata Lauw Siu Kim.

Dengan ujung jarinya, Na Beng Sie menunjuk kearah lembah sambil memberi komentar :

“Lihatlah lembah ini bermulut kecil, sedangkan perutnya sangat lebar, dalam ilmu berperang,

lembah ini menguntungkan yang bertahan dan menyulitkan si penyerang…”

“Hm,” selak Lauw Siu Kim, “aku menginginkan kau menyebut dimana tempat pedang itu,

dan tidak menanyakan soal ilmu perang !”

“Jangan bergegas memutus pembicaraanku,” kata Na Beng Sie, “dengarkanlah nanti engkau

bisa menarik kesimpulan sendiri, dimana tempat pedang itu berada ! Lembah ini bersangkutan

sekali dengan tempat pedang itu, pikirlah pedang wasiat itu kenapa bisa berada ditempat

sesunyi ini, tak perlu kujelaskan lagi, tentu ada orang yang membawa dan menyembunyikan

disini….”

“Aku juga tahu pedang itu disembunyikan orang, tapi dimana disembunyikan ? Lekas

katakana.” Lagi-lagi Siu Kim memotong pembicaraan suaminya.

“Apa yang kukatakan belum selesai, dengarkan terus, engkau akan tahu sendiri dan tahu

dimana letaknya tempat pedang itu !”

“Katakanlah yang penting dahulu, jangan mengoceh kebarat ketimur seperti dalang saja,”

bentak Lauw Siu Kim, “ketahuilah berbagai golongan telah berada disekitar gunung ini

bilamana engkau melalaikan waktu dengan cuma-cuma, kemungkinan besar pedang itu sudah

berada ditangan orang lain bukan ?”

“Dalam hal ini engkau tak perlu kuatir, kata Na Beng Sie dengan tenang. “Barang siapa berani

berlaku gegabah, dua bedebah tadi adalah contoh yang baik !”

“Jangan tekebur, diatas yang kuat masih ada yang kuat, lebih-lebih tenaga kita hanya berdua,

mana mungkin menundukkan seluruh jago persilatan ?”

“Bilamana pedang itu berada ditangan kita, dengan sendirinya kitalah yang menjadi jago

nomor satu dikolong langit ini bukan ?”

“Benar ! Lekaslah ambil pedang itu !” ejek Lauw Siu Kim.

“Baiklah kuteruskan kata-kataku tadi,” kata Na Beng Sie, karena tempat ini sangat aneh maka

menarik perhatianku dan timbul dugaan bahwa pedang itu berada dilembah ini…”

“Dimana ?” tanya Lauw Siu Kim dengan bernapsu.

“Aku hanya menduga, benar tidaknya harus dilakukan pengecekan yang cermat !”

“Hm, kalau begitu engkaupun tidak tahu bukan ?”

“Biar tidak tahu, aku bisa menduga, sedikitnya ramalan ayau dugaan itu, mendekat pada

kebenaran….”

281

“Jika begitu lekaslah kita memeriksa dan meneliti lembah ini !” kata Lauw Siu Kim yang

lantas bergerak terlebih dulu.

“Sabar !” seru Na Beng Sie.

“Ada apa lagi ?”

“Disiang hari mana bisa kita mencari pedang wasiat itu ?” kata Na Beng Sie. “Kita harus

menanti sampai malam hari, pedang wasiat itu pasti memancarkan sinar yang berkilauan, dan

memudahkan kita mencarinya.”

“Maksudmu kita nongkrong terus disini sampai gelap gulita ?”

“Dalam hal ini kita harus mengutamakan kesabaran,” kata Na Beng Sie. “Kini kita jadikan

tempat ini yang diutamakan, lalu kita mencari lagi beberapa tempat yang lain yang cukup

menarik perhatian, sesudah malam baru kita lakukan pemeriksaan.”

“Jika kita pergi, nanti ada yang datang kesini bagaimana ?”

“Kita bisa memberikan tanda peringatan diluar lembah, melarang mereka masuk ! Itu sih

sama saja memberi tahu pada orang lain bahwa disinilah tempatnya pedang wasiat berada !”

kata Lauw Siu Kim. Kupikir lebih baik aku menjaga disini sampai malam dan engkau pergi

menyelidiki tempat lain seorang diri.”

“Bagaimana kalau musuh datang waktu kita berpisah ? Tenaga kita jadi terpencar, pasti

celaka bukan ?”

“Habis bagaimana ?”

“Sebaiknya kita memeriksa berdua, tapi tak perlu jauh-jauh. Begitu kita melihat sinar pedang

buru-buru kita kembali !”

Lauw Siu Kim terpekur agak lama, seolah-olah sedang berpikir, tapi tak ada jalan yang lebih

baik dari itu, ia menganggukkan kepala dan terus mengajak suaminya berlalu untuk

memeriksa tempat lain.

Setelah Siang kuay pergi jauh, Liok Jie Hui baru menarik napas dalam-dalam. “Jika menurut

cara Lauw Siu Kim, menongkrongi terus danau itu bisa berabe tak keruan !”

“Kulihat sepasang suami istri itu mungil dan lucu, berpotongan seperti bocah-bocah kecil.

Yang perempuan galak dan yang lelaki sabar, pasangan berat sebelah !” kata Siau Bwee.

“Kenapa berat sebelah ?” tanya Toa Gu.

“Tentu berat sebelah, karena laki-laki itu takut bini !” kata Siau Bwee.

“Engkau jangan memandang lucu kesua suami istri itu, mereka terkenal sangat buas dan

kejam, tidak sedikit jago-jago bulim terbunuh di tangannya !”

282

“Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian siang kuay dengan Lo Cianpwee ?”

tanya Siau Bwee.

“Satu lawan satu aku menang seurat, jika mereka bergabung aku kalah seurat !” jawab Liok

Jie Hui.

“Kalau begitu aku dan kokoku mana bisa menahan mereka, jika sebentar malam mereka

kembali lagi ?”

“Jangan kuatir, sekarang masih ada waktu,” kata Liok Jie Hui, “kita boleh menganyam tikar

yang besat untuk menutupi danau itu agar sinar pedang tidak memancar keluar !”

“Cara ini mana bisa dilakukan, sebab danau itu sangat lebar !” kata Siau Bwee.

Mereka bicara sedangkan sebarisan orang telah memasuki lembah ini dengan mendadak.

Untung mereka berada ditempat persembunyian dan tidak terlihat orang ini, semakin lama

oranag-orang ini semakin dekat dan dapat dilihat dengan tegas. Mereka jadi kaget, lebih-lebih

lagi Pek Kiam Hong, karena barisan ini dipelopori seorang perempuan cantik berbaju hitam

yang bukan lain dari Soat Kouw adanya, dikiri kanannya mengikuti tiga perempuan berbaju

kuning, yang bukan lain dari pada Jung jung dan kawan-kawannya.

Liok Jie Huipun tak kurang kagetnya, karena dibelakang perempuan itu, ada Thian lam siang

kui dan Thay Cin Tojin. Dibelakang jago-jago kenamaan ini terdapat seorang Tauto (kaum

Hipies jaman bahela) dan dua pengawal.

Tauto ini adalah ketua cabang Pek Thian pang didaerah Hoau yang, ia bernama Hoat ceng dan

bergelar Houw bin Heng cia (Hwesio bermuka macan), tenaganya sangat kuat, karena itu ia

memakai senjata yang berupa garu dan beratnya seratus kati. Sebenarnya Hoat ceng adalah

Hwesio dari Ngo Tay San, dikarenakan sifatnya yang berangasan, sehingga sering membunuh

orang, dan diusir dari sana. Ia keluar dari kuil itu, mengembara di dunia Kang Ouw sambil

memelihara rambut menjadi Tauto dan akhirnya mengabdi pada Pok Thian pang, karena

kepandaiannya sangat tinggi, dalam waktu pendek ia telah menjadi ketua cabang, dan

mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada Tan Toa Tiau yang hanya menjadi ketua

Dalam waktu singkat rombongan ini telah sampai dipinggir danau, Soat Kouw yang menjadi

ketua rombongan, celingukan keempat penjuru, lalu berkata : “lembah ini sangat sunyi dan

tersembunyi lebih-lebih danau ini, suatu tempat yang cocok untuk menyembunyikan pedang

pusaka, kulihat pedang yang kita cari depalan puluh persen berada didanau ini.”

“Keadaan tempat ini memang sangat cocok tapi tak salahnya kalau kita mencari tempat lain,”

kata Tok Kay Pong dengan tersenyum.

“Benar !” kata Soat Kouw. “Akupun merasa heran, kenapa dilembah ini tidak terlihat barang

seorang, padahal yang datang ke Hoay Giok san ini banyak sekali, buktinya kita bisa melihat

dua mayat diluar lembah, menandakan bahwa mereka telah saling bunuh untuk

memperebutkan pedang pusaka.”

“Mungkin mereka mula-mula menganggap lembah ini tempatnya pedang itu, kemudian baru

tahu bahwa tempat ini adalah kosong !” kata Tok Kay Pong.

283

“Menurut Fuhoat sendiri, bagaimana keadaan lembah ini ?” tanya Soat Kouw.

“Aku tak berani mengatakan ini itu, yang perlu kita harus menjelajah tempat lain juga.”

Soat Kouw tersenyum, “engkau cukup bijaksana.” Dan dilihatnya Thay Cin Tojin,

“Bagaimana pandangan Totiang ?”

“Benda-benda pusaka biasanya suka memancarkan sinar dimalam hari, maka itu jika engkau

menaruh curiga pada lembah ini, tak salahnya menaruh beberapa pengawal disini, dan

menantikan malam, jika benar pedang itu ada disini pengawal itu bisa melihat cahayanya dan

memberikan laporan pada kita.”

“Baiklah !” kata Soat Kouw. Dan terus memberi isyarat pada Houw bin Hong cia agar kedua

pengawawlnya menjaga lembah ini.

“Kalian diamlah disini, jika ada yang masuk kesini bunuh saja,” kata Houw bin Heng cia,

“jika musuh kita boleh lepaskan panah api sebagai isyarat minta bantuan.”

“Siap !” seru kedua pengawal itu.

Soat Kouw segera memimpin lagi anak buahnya memeriksa ketempat lain.

“Lo Cianpwee, bagaimana sekarang ?” tanya Siau Bwee.

“Dua pengawal itu tidak ada artinya, nantikanlah malam tiba, masih belum terlambat

membereskan mereka !” jawab Liok Jie Hui.

“Nampaknya jago-jago dari berbagai aliran berkumpul di Hoay Giok san, andaikan kita

berhasil memperoleh pedang itu, belum tentu bisa lolos dari tangan mereka,” kata Siau Bwee

mengutarakan kekuatirannya.

“Ha ha ha,” Liok Jie Hui tergelak-gelak, “Pokoknya bilamana pedang itu berada ditanganku,

siapa yang bisa melawan lagi ?”

“Tapi Toa Gu hanya memiliki tenaga kerbau, tidak memiliki ginkang, andaikata menemui

musuh kuat….”

“Semua ini sudah dalam perhitunganku, engkau tak usah merasa cemas,” jawab Liok Jie Hui

dengan tersenyum sinis.

Senyuman aneh itu mendatangkan perasaan tak enak bagi Siau Bwee, ia menjadi diam tak

berkata-kata lagi.

Sejak itu tak terlihat lagi rombongan lain datang kelembah itu, suasana menjadi sunyi sekali.

Sedangkan Liok Jie Hui duduk bersila memelihara semangatnya untuk sebentar malam.

Pek Kiam Hong tampak beringsang betul, gagang pedangnya dipegang erat-erat, matanya

sebentar-sebentar melirik pada Siau Bwee. Hal ini membuat sigadis menjadi risau, karena

284

iapun sedang memeras otaknya untuk mencari jalan keluar. Hanya Toa Gu seorang yang tidak

memperdulikan keadaan, ia masih mengunyah dengan asyiknya makanan yang dibawa.

Siau Bwee merasaa kasihan pada sitolol itu karena ia sadar bahwa Liok Jie Hui mengandung

maksud tak baik kepadanya. Toa Gu sendiri karena menganggap Liok Jie Hui sebagai

gurunya, sedikitpun tak merasa kuatir atau curiga, kalau dirinya dalam bahaya.

Biarpun Siau Bwee sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi tak mempunyai daya untuk

mengatasinya. Karena bukan saja Liok Jie Hui yang harus dihadapi, masih banyak lagi jagojago

lainnya, bilamana terjadi perkelahian, bisakah ia bersama Pek Kiam Hong meninggalkan

lembah itu dengan selamat ? Semua ini merupakan tanda tanya yang tidak ada jawabannya.

Keadaan semakin sunyi, kepusingan Siau Bwee semakin bertambah, saat inilah Toa Gu yang

sedang asyik makan, tergesa-gesa bangun dari tempat duduknya, sambil menekan perutnya ia

berlari kecil pada Liok Jie Hui. “Perutku mules daningin buang air.”

“Kenapa mendadak menjadi sakit ?” tanya Liok Jie Hui dengan mendelik.

“Mungkin minum air mentah itu.”

“Kini masih siang, engkau tak bisa kedanau itu membuang hajat karena dijaga pengawal dari

Pok Thian Pang, kupikir tahan saja segala rasa sakit itu !”

“Apakah suhu menghendaki aku berak dicelana ?”

“Ada-ada saja,” keluh Liok Jie Hui. “Kalau begini rencana itu harus dipercepat. “

Dipanggilnya Siau Bwee dan Kiam Hong, lalu dibisikinya. “Beresilah pengawal yang

menjaga mulut lembah secepatnya, jangan sampai ia melepaskan tanda bahaya bagi kawankawannya.”

“Baik,” kata Siau Bwee dan terus mengajak Kiam Hong. “Mari kita berangkat.”

“Bilamana pengawal itu sudah diberesi, kuminta kalian menjaga mulut lembah itu,” kata Liok

Jie Hui.

“Baik,” jawab Siau Bwee, “tapi waktu mengambil pedang itu, Lo Cianpwee jangan lupa

memanggilku !”

“Tentu kuingat !” jawab Liok Jie Hui.

Baru saja Siau Bwee dan Kiam Hong berlalu Toa Gu sudah lari kebawah pohon membuka

celana untuk membuang hajat.

Pek Kiam Hong sedari tadi membungkam terus begitu berada berduaan saja dengan Siau

Bwee segera ia berkata dengan perlahan. “Kenapa engkau mau saja diperbudak menjaga

mulut lembah, sedangkan dia sendiri enak-enakan mengambil pedang itu ?”

“Ya !” jawab Siau Bwee.

285

“Engkau sudah gila ?” Hek pek siang yauw, Thian Lam Samkui, Thay Cin Tojin dan bibiku,

orang macam mereka mana bisa kita tahu.”

“Ya, karena jago-jago terlalu banyak, sementara waktu kita harus bekerja sama dengan Liok

Jie Hui, jika tidak demikian pedang itu mana bisa kita peroleh.”

“Dengan cara apa pedang itu bisa didapat ?”

“Dengan tipu muslihat !”

“Aku tak mengerti…..”

“Jika tak mengerti jangan banyak tanya ! Dalam suasana rumit semacam ini kita harus

bergerak melihat keadaan, sebaiknya engkau menurut kata-kata, pasti tidak salah !”

“Begitupun baik, tapi engkau harus berpikir harus bagaimana aku nanti menghadapi kaum

Pok Thian Pang !”

“Soal kecil, waktu turun tangan, kita bisa bertopeng bukan ? Tambahan yang dititik beratkan

adalah pedang, bukan berkelahi !”

Dan bertanya jawab sambil berjalan, tanpa terasa mereka telah tiba di mulut lembah. Dengan

menyelinap dibalik pohon mereka melangkah setapak demi setapak kearah pengawal yang

sedang berjaga.

Penjaga itu agaknya kelewat letih, tampak sedang duduk sambil menundukkan kepala,

rupanya ia tidur ! Maka iti tak heran jika kedatangan Siau Bwee dan Kiam Hong belum

“Bagaimana ? Engkau atau aku yang turun tangan ?” bisik Siau Bwee.

“Engkau saja ! Tapi jangan mencelakakan jiwanya.” Kata Kiam Hong.

Siau Bwee mengangguk, lalu mencelat dengan cepat dan menerkam pengawal itu. Dan

lengannya beruntun memberi totokan yang telak, membuat pengawal itu terjungkal. Kiam

Hong segera menghampiri, membantu Siau Bwee menggotong tubuh pengawal itu kebalik

semak-semak. “Lekas bersembunyi ada musuh !” seru Siau Bwee separuh berbisik.

Kiam hong membalik tubuh dan memandang keempat penjuru, ia tidak melihat sepotongpun

bayangan manusia. “Mana ada musuh ?” tegurnya.

“Engkau lihat ! Pengawal ini sudah mati ! Padahal bukan aku yang membunuhnya.”

Mereka memeriksa tubuh pengawal itu dan mendapatkan ditengah-tengah alisnya sebuah

lubang sebesar jarum, tertutup darah membeku.

“Siapa yang menurunkan tangan jahat ini ?” tanya Kiam Hong.

“Belum bisa diketahui !” jawab Siau Bwee. “Yang perlu kita harus bertopeng dan kembali

secepatnya kedalam lembah.”

286

Sedangkan Liok Jie Hui yang bertugas menyingkirkan pengawal ditepi danau, begitu keluar

dari tempat persembunyiannya , mendengar deheman orang….

Pengawal itupun mendengar juga, segera ia membalik badan, dan dilihatnya Liok Jie Hui ada

dibelakangnya. Segera ia menghunus pedangnya dan membentak : “Engkau bernyali besar

beranni memasuki tempat larangan kaum Pok Thian Pang, siapa namamu ?”

Liok Jie Hui sadar disekitar situ telah berada musuh yang tangguh, maka dengan tak ayal lagi

pengawal itu diserang dengan tongkatnya. Dengan berani pengawal itu menangkis dengan

pedangnya. Begitu dua senjata bentrok, terdengar suara “trang” yang amat nyaring. Dan

pengawal itu pedangnya terlepas dari lengannya, ia sadar menghadapi musuh yang lihay,

cepat-cepat mengundurkan diri, mau melepaskan panah api minta bantuan.

Liok Jie Hui mana mau memberikan kesempatan, tubuhnya memburu dengan cepat,

sedangkan tongkatnya tiba-tiba berbunyi “krak” dan tiba-tiba menjadi dua bilah pedang yang

tajam, begitu sinar pedang berkelebat, langsung menembus tubuh pengawal itu. Liok Jie Hui

mencabut pedangnya dan membarengi dengan satu tendangan. Tanpa bersuara lagi pengawal

itu telah mati. Tubuhnya mental dan masuk kedalam danau. Terlihat air danau berputar-putar

menyedot tubuh itu, dalam sekejap air telah menjadi tenang kembali, sedangkan tubuh

pengawal itu sudah tidak terlihat lagi.

Liok Jie Hui biasanya menggunakan tongkat sebagai senjata, kini tongkatnya itu berubah

menjadi pedang, dan jurus yang dipakai tadi adalah Tiang hong su jit (pelanngi membidik

matahari) salah satu gerak serangan dari Keng thian cit su. Nyatanya ia telah pandai ilmu

pedang itu, tak heranlah jika hasratnya memiliki pedang wasiat begitu besar, karena ingin

menjadi jago Kang Ouw yang tak terkalahkan.

“Ha ha ha !” tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek.

“Siapa ? Lekas keluar ! Jangan sembunyi-sembunyi !”

Didahului dengan kesiuran angin terdengar jawaban keras. “Aku Bayangan darah !” Belum

pula suaranya hilang dari pendengaran, telah tiba bayangan merah dihadapan Liok Jie Hui.

Orang ini tinggi besar, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun, wajahnya merah, demikian

pula dengan janggutnya, ditambah pakaiannya yang merah juga, sekilas pandang tak ubahnya

dengan Toapekong Api. Ia bertangan kosong, tak membawa senjata apapun. Bahkan lengan

kirinya masih tergantung dalam kain yang diselendangkan kepundak, menyatakan ia sedang

menderita luka, akan tetapi lengan kanannya tak ubahnya kebelakang yang kuat menentang

tubuh Toa Gu yang besar.

“Liok Toako masakan sampai aku siorang she Kim ini dilupakan juga ?”

“Oh kiranya hiat mo Kim Tay,” kata Liok Jie Hui dengan kaget. “Rupanya engkau masih

senang memakai baju penganten yang serba merah ya ? Sudah tua tabiatmu masih begitubegitu.”

“Aku tidak bisa tukar pakaian, tapi engkau sendiripun tak bisa mengubah tabiatmu ! Entah

dengan tipu apa engkau bisa memperbudak kedua anak muda itu !”

287

Liok Jie Hui memandang kesekelilling lembah dan tidak melihat Siau Bwee dan Kiam Hong,

hatinya menjadi lega. Cepat-cepat ia tersenyum. “Nampaknya kedatangan Kim heng kesini

tentu ada yang diinginkan bukan ?”

“Sudah tahu ya sudah, buat apa tanya lagi ?”

“Sudah lamakah Kim heng kesini ?”

“Tidak seberapa lama, tepat seberlalunya orang-orang Pok Thian Pang aku datang kesini,

memang kenapa ?”

“Bukankah di mulut lembah itu dijaga seorang pengawal dari Pok Thian Pang ?”

“Segala keroco begitu apa artinya ?” kata Kim Tay. “Aku tidak sepertimu begitu repot

memberesi seorang keroco !”

Perkataan ini membuat wajah Liok Jie Hui merah padam, tapi ia licik sedikitpun tak jadi

gusar terkena sindiran itu. Malahan ia tahu bahwa orang she Kim itu kini memiliki ilmu yang

tinggi dan lebih maju dari dulu-dulunya. Andaikata ia dongkol dan marah, pasti dirinya

sendiri yang akan rugi, maka itu segala kedongkolan itu ditelannya dengan paksa, dan terus

tersenyum-senyum.

“Waduh kepandaian Kim heng luar biasa sekali majunya, kalau begitu tak ada harapan lagi

bagiku untuk memperoleh segala benda pusaka, untuk ini terpaksa aku harus mengundurkan

diri.”

“Apakah dengan ikhlas engkau mengundurkan diri begitu saja ?”

Liok Jie Hui yang licik segera mengeluarkan wajah yang minta dikasihani, sambil menarik

napas panjang, ia mengangkat pundak, “Mau tak mau harus mau toh ? Aku hanya sendirian

sedangkan orang-orang Pok Thian Pang demikian banyak, demikian juga dengan Hek pek

siang kuay pokoknya mereka lebih unggul…”

“Ha ha ha,” Kim Tay tergelak-gelak memotong pembicaraan orang. “Orang she Liok didepan

kawan lama tidak usah menyanyikan lagu lama, terus terang saja katakana kita perlu kerja

sama dan mendapat pedang itu seorang satu, begitu bukan ?”

“Oh tidak ! Sejujurnya aku tak ingin memperoleh pedang itu lagi ! Jika Kim heng masih

menginginkan juga, silahkan aku hanya sebagai penonton saja !”

“Engkau ingin menonton perkelahian antara aku dan mereka ? Lalu memancing ikan diair

keruh ? Ha ha ha ! Lagi-lagi ilmu lama, apa tidak ada yang baru ?”

“Kim heng jangan berkata begitu, sesungguhnya aku tak bisa menghadapi orang-orang Pok

Thian Pang yang begitu banyak.”

“Lalu apa maksudmu datang kesini ?”

“Mula pertama aku tak memikir bahwa Pok Thian Pang bisa mengerahkan orang Cap sahkie

yang begitu banyak, ditambah Kim heng pun datang…ada harapan apa lagi bagiku ?”

288

“Aku selamanya berlaku jujur, maka itu sudah kutawari untuk bekerja sama engkau tak mau,”

kata Kim Tay. “Untuk ini tidak apa, tapi anak buahmu ini tak boleh dibawa.”

“Apa perlunya Kim heng dengannya ?”

“Jadi pembantuku, dan menyuruhnya turun kedalam danau mengambil pedang itu !”

“Permintaanmu tak dapat kululusi !”

“Maka itu kerja samalah ! Keuntungan fifty-fifty, tak usah pura-pura lagi.” Kata Kim Tay

dengan adem.

Liok Jie Hui terpekur sejenak seperti mempertimbangkan ajakan orang yang diajukan

berulang-ulang. “Memang bersatu tapi bagaimana dengan luka ditanganmu itu ?”

“Hm, luka kecil ini sedikitpun tak membuatku pusing !” jawab Kim Tay dengan mantap,

“Pokoknya engkau boleh mengambil pedang itu dan aku yang menghadang musuh.

Percayalah dalam seribu jurus tak bisa mereka mengalahkanku.”

“Kalau begitu baiklah !” kata Liok Jie Hui.

“Tunggu dulu, aku masih mempunyai satu syarat.”

“Katakanlah !”

“Untuk mencegah terjadinya persimpangan dari perjanjian semula sebelum anak buahmu ini

turun mengambil pedang tubuhnya akan kutusuk dulu dengan Giam lo ciam (jarum elmaut).

Setelah pedang itu diserahkan padaku, baru kuberi obat pemunahnya.”

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi girang.

“Justru aku sedang pusing mencari daya untuk melenyapkan saksi ini, tak kira engkau

menganggapnya sebagai muridku. Hm, sama dengan engkau mencari penyakit sendiri, dan

harus bertanggung jawab pad Hwesio tua sedang aku makan nangkanya engkau kena

getahnya.” Pikirnya dengan tenang. Sungguhpun begitu apa yang terasa didalam hatinya

sedikitpun tidak kentara diwajahnya. “Jikalau begitu Kim heng seperti tak percaya pada

teman, dan untuk apa bekerja sama ?”

“Kita toh pertama kali mengadakan kerja sama bukan ? Bagaimanapun aku harus bercuriga !”

“Tapi jarum itu beracun muridku berkepandaian tak seberapa tinggi, mana ia tahan ?”

“Aku mempunyai semacam pil yang bisa mencegah racun itu, selama satu jam, waktu itu

cukup untuknya mengambil pedang.”

“Tapi apa yang dapat kuperbuat, andaikata engkau menghendaki kedua-duanya pedang itu,

dengan menggunakan jiwa muridku sebagai sanderan ?”

289

“Pedang pusaka semacam itu, satupun sudah cukup bagiku ! Pokoknya aku tak bisa

melanggar peraturan, asal engkaupun bisa memegang janji !” Sesudah berkata ia letakkan Toa

Gu ditanah dan memasukkannya kedalam dengan jarum yang baru dikeluarkan dari sakunya.

Setelah itu memberikan Toa Gu sebuah pil.

Segala kejadian itu terlihat dan terdengar tegas oleh Siau Bwee maupun Kiam Hong yang

bersembunyi didalam lembah itu.

“Bedebah ! Orang she Liok itu benar-benar orang jahanam ! Mulutnya manis hatinya beracun

! Ia mengatakan pedang itu diberikan pada In Siau hiap, nyatanya suatu dusta yang keji,” kata

Kiam Hong dengan dongkol.

“Siang-siang sudah kukatakan Liok Jie Hui bukan orang baik, engkau tak percaya,” kata Siau

“Kita tak boleh berpangku tangan melihat Toa Gu dalam bahaya ! Ia kena dijual jahanam itu

!”

“Tapi engkau harus berpikir, Kim Tay dan Liok Jie Hui memiliki kepandaian lebih tinggi dari

kita, biar bagaimana dongkolpun harus bersabar, dan nantikanlah perubahan yang akan terjadi

sampai pedang itu diambil mereka.”

“Setelah mereka memiliki pedang itu, segalanyapun akan menjadi kasep !”

“Persoalan tak semudah yang engkau pikirkan,” kata Siau Bwee. Orang semacam Liok Jie

Hui yang begitu licik, bagaimanapun akan berdaya upaya menyingkirkan Kim Tay untuk

memperoleh kedua-duanya pedang itu. Disamping itu iapun harus menghadapi orang-orang

Pok Thian Pang. Pokoknya diamlah, malam ini pasti ada tontonan ramai !”

Mereka mengawasi lagi kearah danau, tampak Toa Gu sudah dibebaskan dari totokan. Ia

marah-marah dan berkata : “Engkau kenapa mengganggu orang yang lagi berak ? Dan kenapa

menusuk pantatku dengan jarum ?”

“Toa Gu engkau tak boleh berlaku kurang ajar. Lo Cianpwee ini adalah kawan suhu, kau

harus menghaturkan maaf kepadanya !”

“Kalau ia kawan suhu sepatutnya tak baik menusuk pantatku dengan jarum bukan ?”

“Aku menusukmu dengan jarum, karena suhumu akan menugaskan engkau melakukan

sesuatu pekerjaan besar. Tusukan jarum itu adalah bantuan padamu, supaya memperoleh

sukses dalam tugasmu !”

“Suhu, betulkah yang dikatakan itu ? Dan tugas apa yang suhu hendak berikan padaku ?”

“Benar ! Suhu akan memberikan engkau kesempatan membuat pahala besar, maukah ?”

“Mau !” jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

Liok Jie Hui menunjuk ke danau dan berkata : “Aku pernah mengatakan di dalam danau ini

terdapat dua bilah pedang pusaka, kini kutugaskan engkau mengambilnya !”

290

“Oh, kiranya menyuruhku mengambil pedang itu !” kata Toa Gu. “Pedang itu milik suhu atau

milik Lo Cianpwee ini ?”

Liok Jie Hui jadi melengak hampir-hampir tak bisa menjawab, setelah berpikir ia tersenyum,

baru menjawab. “Sudah terang pedang itu bukan milikku maupun milik Kim Lo Cianpwee

ini. Pedang itu entah sudah berapa puluh tahun terbenam dalam danau, jika kita yang

mengambilnya berarti milik kita.”

Mendengar ini Toa Gu menggelengkan kepala. “Segala pekerjaan dapat kulakukan, tapi kalau

disuruh mengambil barang lain orang aku tak mau, sebaliknya suhu saja yang mengambil

sendiri !”

“Barang itu tidak ada pemiliknya, tidak bisa disamakan sebagai pencuri !” kata Liok Jie Hui.

Toa Gu tetap menggelengkan kepala. “Pokoknya biar tidak ada pemiliknyapun tidak boleh

sembarang ambil. Dulu waktu kukecil pernah memungut sebuah apel dijalanan, dan kena

dipukuli ibu, mengatakan bukan barang sendiri tidak boleh sembarangan ambil, tak perduli

ada tidak pemiliknya !”

Biarpun Toa Gu seorang awam yang sederhana, apa yang dikatakan semuanya benar,

sehingga Liok Jie Hui menjadi merah padam mendapat kuliah ini.

Kim Tay jadi tersenyum melihat Liok Jie Hui yang kemalu-maluan, lalu ia tersenyum.

“Muridmu ini seorang jujur yang patut dijadikan tauladan, dan membuatmu merasa malu

bukan ? Tapi yang penting, jangan sampai kata-kata muridmu ini, mengurungkan niatmu

memiliki pedang itu !”

“Itu soalku kan muridku, engkau tak perlu campur bicara !” jawab Liok Jie Hui.

“Engkau boleh berkata begitu, tapi ingat sekitar sini banyak musuh-musuh yang bisa datang

setiap saat….”

“Kutahu !” jawab Liok Jie Hui ketus, dan terus ia berkata lagi pada Toa Gu. “Aku kagum atas

kekerasan dan kejujuranmu, karena sifatmu inilah kujadikan murid ! Engkau mengatakan

ingin belajar ilmu memukul orang bukan ? Tahukah engkau ilmu memukul orang itu

bagaimana ?”

“Kuberitahu ilmu memukul orang itu, tak lain tak bukan, adalah ilmu pedang yang luar biasa !

Setelah engkau pandai ilmu pedang itu, boleh malang melintang dikolong langit secara bebas

! Orang-orang akan takut padamu, saat itu jika engkau bilang hitam orang-orang itu akan

mengatakan hitam jika engkau mengatakan putih merekapun akan mengatakan putih,

pokoknya segala keinginanmu akan kau peroleh secara mudah.”

“Apa artinya semua itu bagiku ?” selak Toa Gu.

“Artinya besar sekali, engkau bisa hidup senang tanpa bekerja keras, dan tak perlu lagi

menjual barang pecah belah sepanjang hari. Asal engkau mendehem, orang bisa

mengantarkan uang padamu !”

291

“Soal itu mudah saja, tapi yang membuatku pusing, engkau belum mempunyai senjata untuk

memulai pelajaran pedang itu !”

“Oh, kiranya harus memiliki pedang dulu ?”

“Sudah terang ! Kalau tidak bagaimana engkau bisa menghadapi musuh yang bersenjata ?”

kata Liok Jie Hui dengan tersenyum, “karena inilah aku menyuruhmu mengambil pedang itu

didalam danau !”

“Aku tidak mempunyai musuh yang bersenjata, maka itu tak perlu mempelajari ilmu pedang

cukup ilmu memukul orang saja !”

“Betapa ilmu itu tinggi, tanpa senjata sama saja dengan nol besar !”

“Suhu harus tahu aku mempelajari ilmu memukul orang bukan berarti ilmu membunuh orang

atau dibunuh orang, sehingga apa jadinya dengan ibuku ! Ia sudah tua tidak ada yang merawat

lagi bukan ? Maka itu aku tak perlu dengan pedang itu !”

Kim Tay tertawa mendengar perkataan itu, sedangkan Liok Jie Hui menjadi pucat, ia

menggelengkan kepala sambil menarik napas menghadapi Toa Gu sitolol itu.

“Liok heng aku merasa bangga engkau mempunyai murid yang demikian suci dan baik,” kata

Kim Tay “sayangnya ia berguru pada alamat yang salah.”

Liok Jie Hui merasa tersinggung mendengar perkataan itu. “Dalam keadaan begini engkau

masih ngeledek saja, apa maumu ? Ketahuilah bocah ini bertabiat seperti kerbau, kau kira

engkau bisa menundukkannya ?”

“Jika tak bisa dengan kata-kata, kekerasan bisa dipakai bukan ?” kata Kim Tay, “engkau

boleh mengancamnya pasti ia takut dan menurut bukan ?”

“Engkau tidak tahu tabiatnya, ia lebih suka mati daripada melakukan apa yang tidak

dikehendakinya !”

“Jika begini terus, sampai kapan engkau bisa membujuknya ?”

Liok Jie Hui tidak menjawab, ia memeras otaknya sedapat mungkin, tiba-tiba terpikir olehnya

suatu cara yang dianggap baik. Maka ia pura-pura lemas dan putus asa, ditepuk-tepuknya

pundak Toa Gu , “engkau tak mau mengambil pedang itu akupun tak bisa memaksa, tapi

dihari kemudian engkau jangan menyesalkan aku yang menjadi guru.”

“Apa alasannya aku menyesalkan guru ?”

“Rupanya engkau belum mengerti betul, apa maksudku mengambil pedang didalam danau itu

!”

“Aku sudah mengerti, suhu bermaksud menurunkan ilmu pedang dan menyuruhku membunuh

orang !”

292

“Itu soal kecil yang kurang berarti, yang penting aku menghendaki pedang itu engkau

membunuh seorang iblis diatas gunung, dan memakai pedang itu mencukil matanya untuk

menolong seseorang.”

“Menolong siapa ?”

“Menolong seorang buta !”

“Iblis itu apa ? Dan apa gunanya mencukil mata ?”

“Iblis itu adalah jejadian yang luar biasa dan tidak mempan dibacok senjata biasa, sedangkan

matanya itu bisa dijadikan obat yang luar biasa. Orang buta asal ditetesi cairan mata iblis itu

akan melekat kembali. Sebab ibumu telah hilang penglihatannya, aku baru mau menjadikan

kau murid, dengan tujuan mengambil pedang didanau ini. Dengan senjata pusaka ini engkau

boleh membunuh iblis itu, dan mencukil matanya untuk mengobati ibumu yang telah buta,

sebagai anak engkau harus berbakti dan membuat senang yang menjadi orang tua.”

“Oh kiranya suhu bermaksud mengobati mata ibuku ?”

“Siapa bilang bukan ? Tadinya tidak akan kuberi tahu dulu kepadamu, biar engkau girang

belakangan, tapi kuterangkan juga sekarang karena engkau tak mau mengambil pedang itu !

Nah sekarang telah kujelaskan engkau boleh tidak mengambil pedang itu, tapi jangan

menyesalkan aku tak bisa mengobati mata ibumu.”

Mendengar ini Toa Gu tergugah hati kecilnya, air matanya memenuhi kelopak matanya.

Dengan suara parau ia menjawab : “Suhu dimana iblis itu berada ? Aku akan mengadu jiwa

dan mengambil matanya !”

“Tanpa pedang pusaka usahamu akan sia-sia melawan iblis itu !”

“Aku mau mengambil pedang itu, tapi bagaimana kalau ketahuan ibuku, pasti akan dicaci

maki….”

“Engkau mengambil pedang untuk menolongnya, mana mungkin ia marah ? Lagi pula setelah

beres membunuh iblis itu, pedang ini bisa kita taruh lagi didalam danau, hitung-hitung pinjam

pakai !”

“Kenapa sedari tadi tidak suhu katakana pinjam pakai ? Nah sekarang aku mau

mengambilnya, tapi setelah beres membunuh iblis itu harus mengembalikan lagi kesini !”

“Oh sudah tentu harus begitu, masakan sebagai guru mau membohongi murid.”

“Baiklah ! Apakah sekarang juga mengambilnya ?”

Melihat sediaan Toa Gu mengambil pedang Kim Tay menjadi girang. “Liok heng engkau

benar-benar pintar, hayo lekas, tunggu apa lagi !”

Toa Gu sedang membuka baju mendengar ini, segera berhenti dan berkata dengan serius :

“Engkau jangan bergirang dulu, pedang itu hanya dipinjam bukan dimiliki !”

293

Liok Jie Hui memberi isyarat pada Kim Tay sambil berkata pada Toa Gu. “Oh sudah pasti

harus mengembalikan lagi kesini. Barang siapa berani membohong tidak akan kuberi ampun

!” Setelah itu ia mengikat ujung rotan pada sebuah pohon, ujung satunya lagi diikatkan pada

tubuh Toa Gu. Lalu memberikan pula sebilah belati pada sitolol itu sambil memesannya

dengan berbisik : “Sebelum engkau turun ke air sebaiknya minum arak, dan pergunakanlah

belati ini jika menemui makhluk-mahkluk jahat didalam air. Belati ini sudah direndam dalam

racun, asal saja yang terkena ujungnya, biar sedikit akan segera mati !”

Toa Gu hanya memakai celana dalam saja dan siap turun kedalam danau. “Rotan ini bisa

putus apa tidak ?”

“Jangan kuatir biarpun kecil rotan ini sangat kuat, lagi pula ada suhu yang menjagai, asal ada

sesuatu yang kurang beres engkau boleh menarik-nariknya sebagai kode aku segera menarik

keluar dari air itu.”

“Pedang itu ada dimana, sulit apa tidak mencarinya ?”

“Gampang sekali mencarinya, asal engkau sampai didasar danau ini dan meilhat cahaya yang

terang-terang, artinya pedang itu berada disitu, dan engkau boleh mengambilnya.”

Toa Gu tidak berkata-kata lagi, ia minum arak beberapa tegukan, lalu menerjunkan diri ke

dalam danau.

Putaran air danau itu bukan main kerasnya, dalam sekejap saja, Toa Gu tersedot kedalamnya,

dan rotan yang berada diluar dengan cepat terulur masuk beberapa depa panjangnya.

Liok Jie Hui dan kim Tay dengan tak berkedip-kedip memperhatikan permukaan air danau,

demikian pula dengan Pek Kiam Hong maupun Siau Bwee, mereka berdoa untuk keselamatan

Toa Gu.

Dalam sekejap rotan diluar terlihat bergerak kesana kemari, permukaan danau menjadi merah

oleh darah, tapi hanya sebentar saja, karena darah itu sudah hilang kedalam dasar lagi.

Sedangkan rotan itu ditarik-tarik dari dalam. Liok Jie Hui cepat-cepat menarik rotan

mengangkat Toa Gu. Tampak dilengannya dan pundaknya bekas gigitan binatang, napasnya

sudah senen kemis. “Ada apa dan bagaimana ?” tanya Liok Jie Hui.

“Danau unu dalam betul sampai ditengah-tengah, aku dihadang seekor ular air yang besar.

Aku digigitnya beberapa kali, untung aku memiliki ilmu kebal, kalau tidak sudah mati konyol

!”

Jilid 15________

“Dengan adanya makhluk penunggu itu, pasti ada benda pusaka !” kata Kim Tay.

“Engkau benar-benar sebagai muridku yang jempolan, apakah ular itu sudah kau bunuh ?”

tanya Liok Jie Hui.

“Aku sudah menikamnya beberapa kali, entah mati atau hidup aku tak tahu !”

294

“Pokoknya asal kena sekali pasti ia akan mati, apa lagi kalau berkali-kali. Nah minum lagi

arak ini, engkau pasti berhasil memperoleh pedang itu !”

Toa Gu segera menyelam lagi kedalam air, Liok Jie Hui dengan lihay melirik pada kim Tay,

tampak kawan itu sedang terbengong mengawasi permukaan air, melihat ini timbul pikiran

jahatnya didalam benaknya. “Akan kubereskan lawan tangguh ini dengan menggelap,”

pikirnya, sambil berpura-pura mengawasi kepermukaan air. Padahal dengan diam-diam ia

mengumpulkan tenaga, dan mau segera menurunkan tangan jahatnya…..pada saat inilah dari

mulut lembah terdengar suara nyaring yang amat panjang. Berbareng dengan suara itu tampak

dua bayangan yang sangat cepat melayang kedalam lembah. Mereka bukan lain dari pada Hek

pek siang kuay suami istri.

Begitu Liok Jie Hui melihat, hatinya tak alang kepalang kagetnya, dan yang membuatnya

dongkol, kedua jejadian itu dengan mudah saja masuk kedalam lembah, sedangkan Siau Bwee

dan Kiam Hong yang ditugaskan disana kemana perginya ? Saat ini ia tidak bisa berpikir

terlalu lama kaena Hek pek siang kuay telah tiba didepannya. “Kim heng semoga engkau tak

lupa dengan janji semula !”

Kim Tay tersenyum mendengar kekuatiran kawannya itu, ia segera menghadang Hek pek

siang kuay. “Bagaimana tuan dan nyonya, apakah baik-baik saja ? Sudah lama kita tidak

bertemu !”

Begitu masuk kedalam lembah, Hek pek siang kuay melihat pakaian Toa Gu dipinggir danau,

dan rotannya terikat pada pohon sedang dipegangi Liok Jie Hui, pemandangan ini

membuatnya kaget, membuat mereka mengawasi ketengah danau tanpa menghiraukan

pertanyaan Kim Tay.

Liaw Siu Kim wajahnya terlihat asam, ia sudah merasa gusar melihat keadaan di danau. “Hei

bangkai, engkau tidak mendengar kataku, nah apa yang mau engkau katakana lagi ?” Ia

menyesali suaminya dengan kata-kata kasar.

“Ha ha ha !” Na Beng Sie tergelak-gelak. “Benar-benar didunia ini banyak keanehan….”

“Tutup mulutmu ! Dimaki masih bisa tertawa benar-benar menyebalkan ! Engkau tahu barang

itu sudah dimiliki orang, apa-apaan ketawa lagi, mau di gaplok barangkali ?”

“Kita malang melintang puluhan tahun, selama ini belum pernah tunduk pada siapapun, tapi

mulai hari ini, mau tak mau harus tunduk pada orang lain !”

Lauw Siu Kim tidak mengerti, matanya mendelik selebar-lebarnya. “Kenapa harus tunduk ?”

Dengan kipasnya Na Beng Sie menunjuk kepada Kim Tay, sedangkan matanya melirik pada

Liok Jie Hui : “Puluhan tahun yang lalu, antara tiga belas jago-jago bulim, mempunyai nama

dan kedudukan yang sederajat, tapi tak kira saat ini sudah berubah begitu jauh.”

“Dulu dan sekarang apa bedanya, aku tak mengerti kata-katamu !” bentak Lauw Siu Kim.

“Diantara tiga belas jago-jago Bulim, yang bertabiat berangasan adalah Tong Cian Lie,

sedangkan yang angkuh adalah Kim Tay bukan ? Tapi kenapa orang angkuh bertabiat tinggi

295

serta tidak mau tunduk kepada orang lain dimasa lalu kini bisa tunduk dan mau menjadi

tukang pukul orang lain ? Benar-benar aneh bukan ?”

“Mungkin ia sudah pikun !” kata Lauw Siu Kim.

Suami istri yang kelihatannya mungil-mungil ini mulutnya lemas sekali, tanya jawab antara

mereka ini membuat Kim Tay merah padam karena ia tersindir sebagai tukang pukul Liok Jie

Hui, sungguhpun begitu ia tidak sampai marah. Ia tetap tersenyum dan berkata : “Sudah

bertahun-tahun kita tak bertemu, tak kira mulut Na heng masih lemas seperti dulu, he he

he…” Ia mengakui berdebat mulut tak bisa menandingi Na Beng Sie, maka kata-katanya

ditutup dengan tertawa sinis.

Sedangkan Liok Jie Hui kuatir Kim Tay kena propakasi musuh, cepat menyambung perkataan

kawannya. “Kami tidak mempunyai saudara dan tidak pula mempunyai istri, maka itu apa

salahnya bekerja sama ?”

“Liok toako paling pintar mencari teman, dulu memperalat empat bajak dari Kuan lo dan

menyulap mereka menjadi ahli-ahli pedang dari empat perguruan, akhirnya keempat bajak itu

terbunuh mati, sedangkan Keng thian cit su jatuh pada Liok toako seorang. Rupanya cara itu

sedang dipraktekkan disini.”

“Ha ha ha kitab itu hanya satu, sedang pedang ini ada dua ! Lagi pula Kim heng bukan orang

tolol seperti empat bajak itu !”

“Kuyakin apa yang tuan dan nyonya kehendaki akan gagal seperti tempo hari ! Ha ha ha !”

“Beng Sie jangan banyak bicara dengannya pokoknya pedang itu bukan miliknya, siapapun

boleh mengambilnya ! Serang !” teriak Lauw Siu Kim dengan tak sabar.

Melihat sikap Lauw Siu Kim yang mau menyerang ini, Kim Tay telah siap sedia dengan

Jarum Elmautnya. “Sebenarnya antara kita bukan orang lain, kenapa harus bertengkar,”

katanya menenagkan situasi gawat.

“Orang lain boleh takut dengan jarummu, aku tidak memandang sebelah mata…” ia menoleh

pada suaminya. “Jangan siam saja, hayo kerjakan orang she Liok itu !” Lauw Siu Kim

membuktikan perkataannya, sepadang pedangnya dengan gencar menyerang pada Kim Tay.

Yang disebut belakangan sedikitpun tak merasa jerih, sepasang lengannya melancarkan ilmu

Pek kong ciang, mengimbangi ilmu pedang lawannya. Mereka berkelahi dengan sungguhsungguh

sehingga seru sekali, dalam beberapa jurus itu, keadaan tetap berimbang.

“Kim heng kuminta engkau menghentikan dulu perkelahian ini !” seru Na Beng Sie. “Aku

mau bicara denganmu !”

Kim Tay berkelit dari serangan, lalu melompat keluar arena perkelahian. “Apa maumu lekas

katakana !”

“Kim heng sebagai jago sejati kenapa mau bekerja sama dengan manusia licik yang rendah ini

? Lagi pula lihatlah keadaan dan situasi sudah terang bahwa Kim heng menghadapi kami

berdua belum tentu menang bukan ? Andaikat menangpun tak berarti apa-apa ! Karena dalam

keadaan letih dan lemas itu, Liok Jie Hui akan menyerangmu..ha..ha…ha…alhasil nol besar

296

bagi capai lelahmu sebagai tukang pukul. Kupikir lebih baik engkau bekerja sama dengan

kami dan hasilnya bagi paro bagaimana ?”

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi kaget, cepat-cepat ia menyelrtuk, “Akalmu memang

baik, dengan kekuatan bertiga ingin menumpas aku seorang setelah itu dengan kekuatanmu

berdua untuk menumpas seorang bukan ? Akhirnya kedua pedang itu menjadi milikmu

berdua…ha…ha…ha…!”

“Mulutku biar jahat boleh dipercaya tidak sepertimu mulut manis hati busuk !” kata Na Beng

“Engkau boleh mengatakan aku jahat dan busuk, tapi dalam hal kerja sama ini aku

mengeluarkan modal, sedangkan kalian hanya mengandalkan omong kosong saja !” kata Liok

Jie Hui.

Kim Tay menjadi serba susah, sebab jika menimbang keadaan dan situasi, tawaran Na Beng

Sie sangat menarik hati. Tapi kalau dipikir lebih jauh apa yang dikatakan Liok Jie Hui lebih

masuk akal. Setelah berpikir agak lama ia mengambil keputusan untuk terus memihak pada

Liok Jie Hui. “Laki-laki berkata hanya sekali, kini aku sudah bekerja sama dengan Liok heng

bagaimanapun tak bisa mengubah lagi keputusan yang telah kuambil !”

“Mendengar ini Liok Jie Hui kegirangan segera ia berkata, “Ini baru keputusan jantan !”

“Tapi aku hanya mengambil bagianku saja, lain dari itu bukan urusanku !” kata Kim Tay.

Kata-katanya itu berarti, setelah mendapat bagian ia berlalu dari situ. Soal suami istri itu mau

merebut bagian Liok Jie Hui ia tidak mau mencampurinya.

“Hm jangan dengar omongannya dan tak perlu banyak bicara dengan cecunguk-cecunguk ini.

Mari kita serang !” kata Lauw Siu Kim. Berbareng dengan habisnya perkataan ia menerjang

lagi pada Kim Tay.

Na Beng Sie tidak bisa berkata apa-apa lagi, segera membantu istrinya mengerubuti Kim Tay

seorang. Kipasnya bekerja dengan tangkas dan cepat, menotok kearah dada musuh,

serangannya yang telengas ini dilakukan dengan mendadak, membuat Kim Tay kelabakan,

hampir-hampir kena tertotok, ia membuang diri dengan terhuyung-huyung. Tapi tak urung

lengannya terkena pula senjata musuh, membuatnya kesakitan, ia menjadi marah dan gusar

dan geregetan, tapi sebelum ia memperbaiki keadaan dirinya, serangan dari Lauw Siu Kim

sudah tiba. Kepaksa ia mencelat keatas dan jarumnya yang sudah dikenal sedari tadi

ditebarkan kearah Na Beng Sie. Jarum itu berjumlah lima batang dilepaskan sekaligus

menerjang kiri dan kanan, atas bawah dan tengah. Na Beng Sie cukup lihay ia membuka

kipasnya menyampok yang kebawah, kiri dan kanan, sedangkan yang keatas dan ketengah

diegoskan dengan membanting diri kebelakang. Biarpun begitu tak urung bajunya kena

terserempet juga ujung jarum masuk. Bagitu Kim Tay turun ketanah, ia menyiapkan lagi

dengan tujuh jarum. “Orang she Na rasakanlah Tujuh Jarum Pencabut Nyawa.”

Na Beng Sie menjadi kaget, cepat mengajak istrinya melompat mundur sejauh beberapa

tombak, mereka tidak berani mendekat lagi, hanya mulutnya saja memaki-maki kalang

kabutan….

297

Kim Tay tergelak-gelak tertawa melihat keadaan ini, Liok Jie Hui pun turut tergelak-gelak

dengan girangnya.

Saat inilah rotan tergetar-getar, dengan cepat Liok Jie Hui menarik keatas. Toa Gu muncul

dengan tangan hampa membuat Liok Jie Hui kecewa. “Engkau turun begitu lama, tidakkah

berhasil menemui pedang itu ?”

Toa Gu menggelengkan kepala. “Danau ini dalam sekali, sukar mencapai dasarnya ! Aku

mencarinya setengah mati, yang kudapati hanya sebuah gua, didalamnya cukup terang seperti

cahaya pelita…..”

“Kenapa engkau tidak masuk kedalamnya ?” potong Liok Jie Hui.

“Kulihat didalam gua itu ada kursi dan meja, seolah-olah ada penghuninya, aku tak berani

sembarangan masuk, maka kuketuk dinding baru agak lama, tak ada yang datang….”

“Anak tolol, iti tentu kamar penyimpan pedang pusaka, tak ada penghuninya, lekas engkau

menyelam lagi, tak perlu mengetuk pintu, masuk saja dan ambil pedang itu.”

“Enak saja main masuk, jika benar-benar ada orang bagaimana ?”

“Jangan berlaku tolol, mana bisa orang tinggal diair.” Kata Liok Jie Hui yang segera

memberesi lagi Toa Gu kedalam air.

Kini keadaan jadi sunyi, semua pandangan mata dari orang-orang yang berada disitu tertuju

ke dalam danau, tapi begitu lama berlalu belum pula terlihat Toa Gu muncul.

Siau Bwee yang bersembunyi, berbisik pada Kiam Hong. “Hek pek siang kuay merasa jerih

pada Giam lo ciam Kim Tay, kini mereka diam-diam, tentu akan bergerak lagi setelah Toa Gu

berhasil mendapatkan pedang. Kini ketenangan mereka akan kuacak-acak.”

“Bagaimana caranya mengacak-acak mereka ?” tanya Kiam Hong.

Siau Bwee mengeluarkan panah api yang didapat dari pengawal Pok Thian Pang. “engkau

diam-diam disini, aku mau pergi dulu melepaskan panah ini.” Sehabis berkata ia menyelinap

pergi keluar lembah. Dalam waktu sekejap sinar terang membubung naik dari lembah sambil

menperdengarkan suara nyaring.

Keempat orang yang berada dipinggir danau melihat panah api itu. Mereka kaget tak alang

kepalang. “Liok heng kalau orang-orang Pok Thian Pang benar-benar datang, urusan jadi

berengsek !” kata Kim Tay.

Bertepatan dengan waktu ini, rotan bergetar-getar. Liok Jie Hui segera menarik dengan cepat,

air bergulung-gulung dan keluarlah Toa Gu dari dalamnya, tapi tetap dengan tangan hampa

seperti tadi. “apakah kau tidak masuk kedalam gua itu ?” tegur Liok Jie Hui dengan napsu.

“Masuk,” jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

“Ketemu pedang itu ?” desak Liok Jie Hui.

298

“Ketemu !”

Keempat orang dengan sinar mata mambulat, memandang pada Toa Gu, Hek pek siang kuay

maju beberapa langkah.

“Sudah ketemu kenapa tidak diambil ?” kata Liok Jie Hui sambil menelan liurnya.

“Tidak bisa diambil, di dalam gua itu ada orangnya!”

“Ada orangnya ?”

“Ya, seorang Tojin tua, pedang itu berada dalam peti dan diletakkan didepannya, cahayanya

terang dan indah.”

Liok Jie Hui jadi heran, gejolak hatinya memukul keras, andaikata tidak ada Kim Tay dan

Hek pek siang kuay siang-siang ia sudah terjun sendiri kedalam danau. Kini ia cuma

“Oh….”terus menelan liurnya, dan dengan serius ia bertanya lagi. “apakah Tojin itu melihat

kedatanganmu ?”

“Tidak !”

“Sedang apa Tojin itu ?”

“Sedang tidur !”

Liok Jie Hui merasa kaget dan sadar, giginya berkeretekan bahwa mangkelnya. “Hei engkau

kenapa begitu goblok ? Mungkin tidak bisa membedakan orang hidup atau mati ?”

“Suhu kalau tidak kau sebutkan hampir aku tidak ingat perbedaan orang mati dan hidup. Ah,

sekarang berani kupastikan dia sudah mati ! Seharian kuledek ia diam saja tanpa

menghiraukan, duduk saja dengan tenang !”

“Waduh, moyang goblok, tidak tahan aku ! Lekas pergi deh,” Liok Jie Hui menarik napas

sesak sehabis berkata.

Toa Gu menyedot hawa dan menyelam kembali ke dalam air.

Suasana berbalik jadi sunyi lagi, mereka menantikan Toa Gu muncul dengan dua pedang

pusaka, dan berpikir bagaimana caranya untuk memiliki pedang itu.

Liok Jie Hui berpikir bagaimana caranya meloloskan diri setelah dapat pedang itu.

Kim Tay pun sedang menghitung-hitung, bagaimana caranya menghadapi Liok Jie Hui

andaikata kawan itu ingkar janji, dan bagaimana pula menghadapi siang yauw.

Sedangkan Hek pek siang yauw sudah memastikan diri akan merampas pedang itu. Mereka

mengawasi dengan tenang menantikan saat yang ditunggu….tapi malangnya mereka harus

menahan ketegangan begitu lama karena Toa Gu belum muncul juga.

299

Liok Jie Hui berkali-kali membetot-betot rotan, mendesak Toa Gu yang berada di dalam air

tapi tidak mendapat balasan. Malahan orang-orang disitu mendengar kesiuran angin susul

menyusul, dari jauh semakin dekat…., tak alang kepalang kagetnya Liok Jie Hui yang licik,

cepat-cepat ia memperingati kim Tay. “Hati-hatilah orang-orang Pok Thian Pang telah datang

!” Begitu perkataannya selesai diucapkan orang-orang Pok Thian Pang sudah masuk kedalam

lembah dan berbaris mendekati danau.

Kim Tay melihat diantara orang-orang Pok Thian Pang terdapat sam kui dan Thay Cin Tojin

wajahnya menjadi sedikit berubah, diam-diam jarum Giam lo ciamnya digengam semakin

erat, sedangkan hatinya berdebar-debar keras. Ia seorang angkuh yang berkepandaian tinggi,

tapi jika menghadapi sam kui dan Thay Cin Tojin sekaligus, rasa jerihnya datang sendiri.

Lebih-lebih disamping mereka masih ada Hek pek siang yauw yang menantikan kesempatan

untuk turun tangtan, keadaan ini benar-benar bahaya bagi dirinya.

Soat Kouw yang menjadi pemimpin rombongan, dengan mata mendelik menyapu keempat

orang yang berada disitu sambil membentak dengan kasar : “Siapa yang bernyali besar berani

membunuh anak buah kaum Pok Thian Pang ?”

Liok Jie Hui dan Kim Tay diam saja pura-pura tidak mendengar. Hal ini membuat Na Beng

Sie tersenyum dingin. “Liok toako dan Kim toako jika jantan sejati, berani berbuat berani

bertanggung jawab, kenapa diam-diam saja, sejak kapan menjadi gagu ?” Dengan

perkataannnya ini Na Beng Sie sama dengan mengatakan bahwa anak buah Pok Thian Pang

bukan mereka yang membunuh.

“Hm, kalau takut kena urusan kenapa masih nongkrong disini, pergilah biar jangan !” kata

Kim Tay. Lalu memandang pada Soat Kouw dan tersenyum kecut. “Anak buahmu masih

sudah waktunya, kenapa engkau marah-marah ?”

“Engkau manusia macam apa, berani gila-gilaan disini ?” tanya Soat Kouw.

“Engkau siapa mau tahu namaku ?” ejek Kim Tay.

Soat Kouw menjadi gusar, ia mengangkat tangan mengeluarkan perintah. “Ciduk manusia

keparat ini !”

Tiga pengiringnya segera menghunus senjat siap menjalankan perintah. Tapi keburu dihalangi

Tok Kay Pong. “Sabar dulu !” Cepat-cepat ia menghampiri Soat Kouw dan membisiki

beberapa kata, lalu dengan wajahnya yang selalu tersenyum ia memberi hormat kepada

lawan-lawannya. “Kim heng, Liok heng, Tuan dan nyonya Na adalah jago-jago bulim yang

kenamaan, marilah kukenalkan pada Soat Kouw nio ini, ia adalah Hu pangcu dari Pok Thian

Pang…..”

Perhatian Liok Jie Hui tertuju kedalam danau, sedikitpun tidak menghiraukan perkataan itu,

sedangkan Kim Tay berdongak kelangit tak meladeni, ia bersikap angkuh dan jumawa,

sedangkan Lauw Siu Kim yang berangasan sudah tak sabar lagi melihat tingkah laku Tok Kay

Pong, ia meludah dengan sengit : “Model dari seorang budak yang bisa jadi juara kalau

dipamerkan.”

Tok Kay Pong tidak menghiraukan ia tersenyum terus dan melanjutkan kata-katanya. “Lo

Cucong kaum Pok Thian Pang yang semalanya menghormati dan memperlakukan dengan

300

baik setiap jago-jago dunia persilatan. Lebih-lebih terhadap Bulim Cap Sahkie ! Maka itu

kebetulan kita bertemu disini, sekalian mengajak saudara-saudara menjadi anggota Pok Thian

Pang.”

“Aku bisa mempunyai kedudukan apa andaikata masuk menjadi anggota Pok Thian Pang ?”

tanya Kim Tay seenaknya.

“Oh bisa berkedudukan tinggi, misalnya menjadi Futhoat.”

“Itu sih kedudukan rendah untuk bangsa anjing-anjing buduk, aku tak mau !” kata Kim Tay.

“Kalau jadi Pangcu sih boleh kupikir-pikir !” sehabis berkata ia tergelak-gelak.

Wajah Tok Kay Pong menjadi merah seperti bara, sejenak berlalu ia baru bisa membuka

mulut lagi. “Itu adalah kebaikan dariku, jika Kim heng menampik berarti mencari susah

sendiri.”

“Sebelum kudapati pedang pusaka, siapapun tak bisa mengusir aku dari sini, sesudah kudapat

pedang pusaka siapapun tak bisa merintangiku ! Ha ha ha.”

“Engkau jangan menganggap paling jago, diluar langit masih ada langit !” kata Soat Kouw.

“Pokoknya yang kurang senang boleh maju !”

“Hai bangsat jangan sombong !” bentak Houw Bin Hengcia yang terus menggunakan senjata

beratnya melakukan serangan dengan mendadak.

“Hm, engkau ini kurcaci dari mana ?” tegur Kim Tay sembari mengengosi serangan, dan

membarengi dengan jarum mautnya.

Houw Bin Hengcia hanya melihat jarum-jarum yang berkeredepan tanpa bisa berbuat sesuatu

apa. Tubuhnya terkena tujuh jarum dan segera terjungkel dan berkerejetan sejenak, terus tak

berkutik lagi dengan jiwa melayang.

Dengan sekali kebut membuat jiwa musuh melayang, Kim Tay sengaja memamerkan

keampuhannya. Dan ia berhasil membuat keder atau jerih kaum Pok Thian Pang, tapi berbalik

membuat Hek pek siang yauw senang. Begitu jarumnya terlepas, sepasang suami istri itu

segera menggunakan kesempatan ini melakukan serangan. Kim Tay tidak mempunyai waktu

merogoh jarumnya, ia dikepung terus dengan bertangan kosong, dalam sejenak telah berada

dibawah angin.

Tok Kay Pong dengan tersenyum memandang pada Soat Kouw, “Kounio sudah sampai

saatnya kita turun tangan!”

“Benar !” jawab Soat Kouw. “Sam wie boleh mengawasi Kim Tay dan Siang Yauw, Tojin

dan aku menghadapi Liok Jie Hui, sedang Jung jung bertiga harus bersiap-siap kalau ada

musuh lagi dari luar !” begitu Soat Kouw beres mengatur dan mau turun tangan. Tiba-tiba

saja ditengah danau terlihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Saat ini hampir gelap,

ditengah-tengah danau terlihat berkilaunya suatu sinar menerangi sekeliling.

301

Kaum Pok Thian Pang menjadi terpesona oleh pemandangan ini, mereka urung melakukan

serangan, perhatiannya tertuju kedalam danau, demikian pula Kim Tay dan Siang Yauw telah

menghentikan perkelahiannya dan mengawasi ke danau.

Liok Jie Hui girangnya bukan main, kedua tangannya menarik rotan, dengan cepat sinar itu

semakin lama semakin terang, dari gulungan air yang memecah tampak Toa Gu keluar. Kedua

tangannya masing-masing memegang pedang, satu merah, satu putih, bercahaya dan

berkilauan menyilaukan mata.

Liok Jie Hui dengan tangan bergetar menggapai-gapai pada Toa Gu sambil berseru-seru :

“Muridku yang baik, lekas serahkan pedang itu pada suhu…”

Perkataan dari Liok Jie Hui ini membuat sekalian yang berada disitu menjadi sadar, Siang

Yauw dengan cepat berlari kearah pohon, mau menguasai rotan yang tertambat disitu. Tapi

Kaum Pok Thian Pang pun menuju kesitu untuk menguasai rotan itu pula, pikir mereka jika

bisa menguasai rotan itu sama dengan menguasai Toa Gu, tapi pikiran mereka ini salah karena

dengan begitu Liok Jie Hui yang memegang tengah rotan yang merentang antara pohon itu

dan Toa Gu mendapat keuntungan tanpa ada gangguan.

“Liok toako lekas ambil pedang itu, jika mereka berani mendekat akan kusapu dengan jarum

!” seru Kim Tay.

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang Yauw sadar tak ada gunanya menguasai rotan

dipohon itu, mereka meluruk ketepi danau lagi dengan serabutan. Kim Tay sudah siap sedia,

begitu mereka mendekat lengannya segera bergerak, sekalian orang itu dengan sendirinya

terhalang dan tidak bisa mendekat.

“Suhu mereka sedang berbuat apa ?” tiba-tiba Toa Gu membuka mulut .

“Jangan banyak bicara lekas serahkan pedang itu pada suhu !” kata Liok Jie Hui yang terus

menarik Toa Gu kepinggir danau.

Begitu hampir kepinggir, Toa Gu memegang kedua pedang itu dengan tangan kirinya, lengan

kanannya dijulurkan minta Liok Jie Hui mengangkatnya. “Suhu tariklah aku, tenagaku sudah

habis !” katanya.

Liok Jie Hui segera memegang lengan Toa Gu, apa celaka murid yang bodoh itu menariknya

dengan kencang, tak ampun lagi tubuhnya kecebur kedalam danau, sebelum ia bisa berbuat

apa-apa sudah tersedot air yang mutar itu, sedangkan Toa Gu telah naik kedarat, sambil

memandang kedanau dan berteriak-teriak : “Suhu ! Suhu !”

“Toa Gu berikan pedang itu kepadaku !” teriak Kim Tay.

“Ini pedang untuk suhu, kenapa harus kuserahkan kepadamu ?” jawab Toa Gu.

Kim Tay menjadi sengit, dengan cepat ia menyergap kearah Toa Gu.

“Engkau mau merampas ha !” bentak Toa Gu sambil menggerakkan lengan kirinya

mempertahankan diri. Gerakan yang dilancarkan itu adalah salah satu dari tipu Keng thian cit

su yang bernama pelangi menyambar matahari, keruan saja Kim Tay menjadi kaget dan

302

cepat-cepat menarik lengannya sambil melompat mundur, sungguhpun begitu tak urung

lengan bajunya tersobek pedang Toa Gu. Setelah berhasil memukul mundur musuhnya, Toa

Gu segera lari sekencang-kencangnya sambil berteriak “Suhu !”

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang yauw tidak mengetahui asal usulnya toa Gu,

mereka merasa heran melihat Kim Tay mundur teratur tanpa berjanji, ramai-ramai

mengepung Toa Gu. Diantara mereka Na Beng Sie bertindak paling gesit, dalam sekejap mata

telah mencandak Toa Gu, kipasnya dirapatkan, dengan penuh kekuatan ditotokkan

kepunggung orang. Tiba-tiba saja Toa Gu membalik badan dan melancarkan serangan, lagilagi

ia menggunakan salah satu jurus dari Keng thian cit su yang bernama kuda banal

mengejar kilat. Na Bedng Sie tidak menduga, ia kaget dan dengan cepat menarik serangannya

sambil mengundurkan diri, tapi tidak luput, topinya terlepas sobek, membuatnya bergidik

“Baagaimana lukakah ?” tanya Lauw Siu Kim yang menyusul belakangan. Na Beng Sie

menjulurkan lidah. “Tidak ! tetapi bocah itu entah apanya Liok Jie Hui, ia pandai

menggunakan ilmu pedang Keng thian cit su.”

“Mari kita kejar lagi !” ajak Lauw Siu Kim.

Karena mereka agak merandek, kaumnya Pok Thian Pang sudah mendahului mereka dan

berada disebelah depan. Adapun Toa Gu berlari-lari memutari danau, yang lainpun turutan

memutari danau itu, sangat lucu dilihatnya tak ubahnya seperti anak kecil sedang main petak.

Ia tak bisa berlari dengan kencang dalam sekejap sudah kesusul musuh-musuhnya, tapi setiap

kali ia berhasil emnggebah musuh dengan serangan pedangnya yang luar biasa. Setelah

memutari danau, Toa Gu berlari keluar lembah sekuat tenaga, yang mengepungpun sudah

menyusul mengikutinya dari belakang.

Dengan cepat Kim Tay mendahului yang lain dan berhasil menghadang jalan Toa Gu,

demikian pula dengan Thian lam sam kui dan lain-lain. Beramai-ramai mereka mengurung

Toa Gu seorang diri.

Hek pek siang yauw datang agak terlambat, ia tak memperdulikan hitam dan putih, segera

memecah kurungan dan maju kedalam. Sehingga membuat Kim Tay terdesak keluar. Ia jadi

gusar, jarumnya yang tinggal dua disiapkan, dan kebetulan dilihatnya Soat Kouw telah

mendekat pada Toa Gu, tak ayal lagi ia mengayunkan lengannya. Melihat ini Tok Kay Pong

berseru keras memperingati Soat Kouw dan membuat yang disebut belakangan bisa

menghindar oleh ancaman maut itu.

Kim Tay berhasil maju kedepan dan lagi-lagi terhalang Hek pek siang yauw, mereka jadi

berkelahi lagi…. Dalam perkelahian yang acak-acakan ini, masing-masing tidak

memperdulikan lagi antara kawan dan lawan, yang jadi tujuan mereka yakni mendapat pedang

pusaka!

Kini kaum Pok Thian Pang bisa berada didepan, melihat ini Hek pek siang yauw dan Kim Tay

berhenti berkelahi, mereka bersama-sama bergumul dengan orang-orang Pok Thian Pang !”

“Toa Gu dalam bahaya, kita harus menolongnya !” kata Siau Bwee.

“Yang mengurungnya, adalah jago-jago kenamaan, kita mana bisa menolongnya ?”

303

“Kita tak perdulikan mereka jago yang bagaimana,” kata Siau Bwee. “Asal bisa menolong

Toa Gu keluar dari lembah ini sudah bagus…..pakailah kain dan tutup muka kita, jangan

sampai dikenali mereka….”

Saat inlah mereka mendengar suatu bunyi nyaring memecah udaraq dari luar lembah.

“Sabar, siapa lagi yang datang itu ?” kata Kiam Hong.

Dengan cepat mereka bisa melihat berkelebatnya empat bayangan, yang tahu-tahu sudah

berada didekat danau. Keempat orang ini semuanya bertopeng dan berlengan kosong, tapi

kalau dilihat gerakannya tadi, menyatakan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Tak perduli kaum Pok Thian Pang maupun Hek pek siang yauw dan Kim Tay semuanya

menghentikan perkelahian mereka begitu melihat kedatangan empat orang bertopeng ini.

Mereka dengan mata membulat mengawasi penuh perhatian, yang pertama-tama sampai

adalah seorang pelajar muda, disusul seorang gadis yang dua lagi adalah seorang tua

bertangan panjang dan seorang tua bermata satu.

Pemuda pelajar itu melirik kekiri dan kanan lalu menggoyangkan tangan dengan perlahan

kedua orang yang menjadi pengikutnya segera kekanan dan kekiri lalu mengangkat empat

tangan mereka menggempur pada Thay Cin Tojin yang paling dekat dengan mereka.

“Beng !” terdengar bunyi nyaring, akibat bentrokan tenaga diudara, dimana Thay Cin Tojin

telah melakukan tangkisan. Berbareng dengan hilangnya bunyi suara, tampak tubuh Tojin itu

terpental keudara dan jatuh ke tanah dengan terguling-guling dan hampir nyebur di danau.

Salah seorang Bulim Cap Sahkie yang kenamaan sebagai Thay Cin Tojin hanya dalam jurus

pertama sudah dirobohkan, membuat yang menyaksikan menjadi kagum dan gentar atas

kekuatan kedua orang tua itu.

Kini kedua orang tua itu sudah melancarkan pukulan tangannya kearah Thian lam sam kui.

Yang disebut belakangan mengetahui tidak memiliki ilmu setinggi Thay Cin Tojin maka tak

berani menerima pukulan itu dengan kekerasan, mereka melompat mundur, menjauhkan diri

tak berani dekat-dekat.

Kedua orang tua itu membuka jalan, sedangkan pemuda pelajar dan si gadis mengikuti

dibelakang siorang tua dengan tenang, begitu mereka sampai didepan Toa Gu. Pemuda pelajar

yang bertopeng, memperlihatkan pada Toa Gu semacam benda dan terus berkata dengan

perlahan. “Serahkan pedang itu kepadaku !”

Toa Gu memperhatikan benda ditangan pemuda itu, lalu ia tersenyum. “Hati-hatilah hadapi

manusia-manusia ini, mereka lihay-lihay !”

“Tak usah cemas !” kata sipemuda pelajar.

Toa Gu tidak banyak bicara lagi, menyerahkan pedang-pedang itu kepada si pemuda.

“Terima kasih banyak atas kebaikanmu ini,” kata sipemuda, seraya memberikan sebilah

pedang pada si gadis, tubuhnya berputar mengajak kawan-kawannya berlalu.

304

Jago-jago yang berada disitu dibuat kesima dan memandang kepergian empat orang itu

dengan mendelong. Tapi kejadian ini hanya berjalan sejenak saja, mereka sadar kembali dan

buru-buru melakukan pengejaran.

“Hei, bocah tinggalkan pedang itu !” seru Kim Tay sambil melakukan serangan pada pemuda

Dengan tersenyum dingin, terlihat pemuda itu menghalau serangan musuhnya dengan tangan

kiri sedangkan pedangnya membarengi gerakan itu. Begitu cepat dan luar biasa, Kim Tay tak

sempat mengengos, tahu-tahu pundaknya sudah terkena pedang tubuhnya terhuyung dan jatuh

ditanah….

Dibagian lain pada saat yang bersamaan. Siang yauw menyergap si gadis dengan berbareng.

Dengan tenang kedatangan dua musuh itu dipakai dengan pedang. Na Beng Sie menjadi

kaget, ia tidak mengira gadis muda itu mempunyai kekuatan hebat, untung ia betubuh kecil

dengan menggelinding bisa menyelamatkan diri dari bahaya. Demikian pula dengan Lauw Siu

Kim terpaksa mundur teratur.

Dengan mata berapi-api Lauw Siu Kim naik pitam sedangkan Na Beng Sie dengan mulut

mengangnga dan mata mendelik, melihat gadis itu pergi jauh.

Sedangkan dua orang tua lainnya dengan telapak tangannya yang bertenaga kuat, memukul

mundur Sam kui dan lain-lainnya, setelah itu menyusul si pemuda dan si gadis menuju keluar

Dengan gusar Soat Kouw mengeluarkan komando : “Kejar !”

Susul menyusul orang-orangnya berserabutan pergi, melakukan pengejaran.

Siang yauw pun menyusul pula, setelah tertegun seketika lamanya, dengan cepat keadaan

dilembah itu menjadi sunyi.

Kim Tay biar menderita luka tidak sampai membahayakan dirinya, tampak ia bangun dan niat

menyusul pula. Tapi kena dirintangi Toa Gu. “Kim Lo Cianpwee jangan lupa, masih ada

satuurusan antara kau dan aku yang perlu dibereskan !”

“Soal apa ?” bentak Kim Tay.

Dengan tersenyum Toa Gu berkata. “Lo Cianpwee boleh pergi tapi berikan dulu obat

pemunah padaku ! Jarummu itu beracun aku bisa mati kalau kau pergi !”

“Hmm, obat itu bisa kuberikan tapi kau harus mengatakan dulu, siapa gurumu dan siapa

keempat orang bertopeng tadi !”

“Kalau aku tak sudi memberikan keterangan bagaimana ?”

“Bagaimanapun harus mau….” Kata Kim Tay sambil mengumpulkan tenaga dan selangkah

demi selangkah mendekati Toa Gu.

305

“Dengan luka-luka yang Cianpwee derita, bisa berbuat apa kepadaku ?”

“Segala luka ringan begini sedikitpun tidak kurasa, aku masih mampu membunuhmu !”

“Engkau bisa membunuhku, tapi ada orang lain bisa membunuhmu pula !”

Dengan kaget Kim Tay celingukan keempat penjuru ia tidak melihat barang seorangpun,

maka ia tertawa mengejek : “Engkau menakut-nakuti aku ya ?”

“Aha yang kukatakan benar belaka, tapi aku tak bisa memaksamu percaya bukan ?”

“Pokoknya seumur hidupku tak pernah takut pada siapapun !”

“Orang lain boleh tidak ditakuti, tapi kalau dia….ha ha ha !”

“Siapa dia ?”

“Guruku !”

“Ha ha ha, gurumu itu mungkin sudah jadi santapan ikan di danau ! Ia sudah mati kelelap !”

“O Mie To Hud ! Sie cu kenapa memaki aku dari belakang ?” tiba-tiba terdengar suara

jawaban dari belakang.

Kim Tay segera membalik badan, kagetnya tak alang kepalang, karena tak seberapa jauh dari

dirinya terlihat seorang Hwesio sedang duduk diatas batu dengan tenangnya.

“Engkau…..engkau….” kata Kim Tay dengan nada terputus-putus karena kagetnya.

“Mungkin kesibukan sehari-hari, membuat Sie cu lupa padaku bukan ?” kata Hwesio itu

dengan tenang.

“Thay kong siansu,” kata Kim Tay sambil mundur-mundur, dia cepat-cepat memberikan Toa

Gu obat pemunah, setelah itu tubuhnya dengan cepat mencelat pergi dari situ.

Dengan tersenyum-senyum Toa Gu memungut obat itu dan menghampiri si Hwesio, ia

memberi hormat dan berkata : “Supek (paman guru) kapan datang ?”

Dengan tersenyum Hwesio itu turun dari batu. “Aku tak menyangka engkau terkena jarumnya

Kim Tay ! Untuk inilah aku datang kemari menyamar sebagai Hwesio, kalau tidak begitu,

mana mungkin ia menyerahkan obat pemunah itu !”

“Kenapa harus menyamar, katanya Supek cukup gagah ! Masakan takut dengannya ?”

“Engkau tidak tahu Kim Tay seorang beradat tinggi yang sombong sekali, tapi iapaling takut

pada Tay kong Sian su,” kata hwesio tetiron itu. “Andaikata aku sanggup mengelahkannya,

tapi tak semudah begini ia menyerahkan obatnya itu.” Sehabis berkata ia mengusap mukanya

membuka kedoknya, segera tampak wajah aslinya. Seorang tua berambut putih berusia tujuh

306

“Supek, kapankah engkau memberikan ilmu ganti muka ini padaku ?”

“Itu urusan nanti, sekarang mari kita pergi ! Makanan itu masih berguna bawalah sekalian !”

“Urusan sudah beres untuk apa makanan ini ?”

“Jangan banyak berkata, bawalah !”

Dengan tenang-tenang mereka meninggalkan lembah itu.

Pek Kiam Hong memandang kepergian mereka dengan mengerutkan kening dan berkata-kata

seorang diri: “Heran ! Kenapa bisa dia…?”

“Apa yang engkau katakana ?” tanya Siau Bwee.

‘Aku heran pada Hwesio tetiron itu !”

“Engkau kenal dengannya ?”

“Ya, dia adalah Cian bin sin kay Cu Lit !”

“Pantas ia bisa menyamar begitu sempurna !”

“Yang kutahu ia berada dimarkas pusat Pok Thian Pang, kenapa bisa ada disini ! Lagi pula ia

sudah menjadi anggota Pok Thian Pang, kenapa membantu pihak musuh ?”

“Kau maksudkan ia membantu keempat orang bertopeng tadi ?”

“Ya,” jawwab Pek Kiam Hong, “keempat orang bertopeng itu datangnya begitu cepat,

peginya pun sama juga, mereka lihay sekali, entah dari perguruan mana, tapi kalau diingatingat

pemuda pelajar yang bertopeng itu seperti kenal saja, entah dimana aku pernah bertemu

dengannya.”

Belum habis ia bicara, Siau Bwee sudah membekap mulutnya dan menariknya kesamping.

“Lihat ! Ada apa didanau itu !”

Pek Kiam Hong mengawasi kedanau, benar saja rumput-rumput yang berada dipinggir danau

bergoyang-goyang, disusul dengan terlihatnya seorang merayap keluar. Mereka segera

merebahkan diri sambil menahan napas dan memasang mata kearah orang itu, kini mereka

melihat tegas, orang itu bukan siapa-siapa, dia Liok Jie Hui adanya, basah kuyup dan

berlepotan Lumpur, tampaknya ia berkutet melawan sedotan air dengan mati-matian, baru

bisa menolong jiwa tuanya itu.

Liok Jie Hui merasa tinggal dia saja didalam lembah itu, seenaknya saja membuka baju. Lalu

memerasnya, lalu membuka celananya pula. Begitu mereka mengawasi lagi Liok Jie Hui

sudah berjalan keluar sambil membawa tongkatnya. Mulutnya menggerutu terus, “Sial bocahbocah

itu, kalau ketemu lagi tidak kuberi ampun, akan kukesek-kesek badannya !”

“Hi hi hi !” Siau Bwee baru berani tertawa setelah melihat orang tua itu pergi jauh. “Kau

dengar tidak dia memaki-maki kita, lain kali kalau ketemu dia lagi kita harus hati-hati.”

307

“Tentu saja dia marah, ia mengharapkan kita menjaga mulut lembah itu, bukan saja tugas itu

tidak dijalankan, bahkan kita mendatangkan kaum Pok Thian Pang dengan panah api !”

“Yang kuheran Toa Gu sitolol itu, bisa betul ia pura-pura bego, padahal ilmu kepandaiannya

luar biasa sekali ! Sampai Liok Jie Hui siraja licik kena dikelabuinya, benar-benar lucu !”

“Bukan saja Liok Jie Hui, kitapun kena dikelabuhinya juga bukan ?”

“Ia membahasakan Cu Lit sebagai Supek, mungkinkah ia muridnya pengemis itu ?”

“Cu Lit tidak memiliki ilmu Keng thian cit su, mungkin bukan muridnya !”

“Apa herannya, sekarang ini ilmu pedang itu sudah pasaran, sudah banyak yang bisa !”

“Biarpun bisa tidak sepandai Toa Gu !” kata Pek Kiam Hong, “tidak ingatkah waktu kita

berkelahi dengannya, ilmu pukulannya begitu aneh dan luar biasa ?” Kupikir ia mempunyai

hubungan erat dengan keempat orang bertopeng tadi…”

“Oh….kini aku ingat orang itu, seperti In Tiong Giok !” kata Siau Bwee.

“Benar ! Benar dia, dari tadi kupikir, kiranya dia !” kata Pek Kiam Hong.

“Kenapa tidak terpikir sedari tadi, mari kita susul !” ia menarik lengan Siau Bwee berlari-lari

keluar dari lembah itu.

Malam telah berlalu matahari telah terbit dunia terang kembali. Tak seberapa jauh dari Danau

Pedang menjulang tinggi sebuah gunung. Jika dilihat selayang pandang, gunung ini biasa saja,

tidak ada keistimewaannya. Tapi kalau sedikit diperhatikan, bisa melihat bahwa lereng

gunung sebelah barat penuh ditumbuhi pohon, merupakan hutan belukar. Sebaliknya lereng

sebelah timur, begitu gundul dan tak terlihat tumbuh-tumbuhan barang sebatangpun. Orang

bisa berpikir bahwa lereng timur itu tentu tanahnya terdiri dari batu-batu cadas yang tak bisa

ditumbuhi pohon, memang benar keadaannya cadas melulu. Disamping itu ada gua batu yang

sangat aneh sekali. Gua itu menembus lumbung gunung dari barat sampai ke timur sehingga

merupakan terowongan yang panjang. Mulut gua yang disebelah barat lebih besar dari yang

sebelah timur. Menandakan bahwa yang sebelah barat adalah bagian depannya dan yang

sebelah timur adalah belakangnya. Biarpun mulut gua yang sebelah barat lebih besar,

terhalang pohon-pohon besar, sehingga tak mudah terlihat dari luar. Disamping itu letaknya

gua itu dari kaki gunung ratusan meter.

Sinar ini sinar matahari yang kemerah-merahan menyorot cadas-cadas yang gundul, sehingga

menjadi merah, sedangkan bagian barat dari lereng itu masih gelap.

Ditempat rimbun karena lebatnya pohon-pohon itu, terlihat seorang gadis berpakaian hitam,

sedang memungngut ranting pohon. Dan membuatnya api unggun, lalu ia menunduk sambil

mengerjakan tangannya, kiranya tiga ekor kelinci yang sudah dikuliti, disitu dan

dipanggangnya agar matang merata.

Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, tapi dari gerak geriknya dan cara ia

melakukan pekerjaan itu. Tiba-tiba ia menoleh keempat penjuru sambil membentak keras,

308

“Siapa yang datang, lekas keluar !” Berbareng dengan suaranya, lengannya melemparkan

potongan ranting kesalah satu arah yang dicurigai.

“Kounio jangan marah, aku Toa Gu !”

“Aku tak kenal dengan Toa Gu, pokoknya lekas keluar !”

“Ya aku keluar !” Dan benar-benarlah Toa Gu keluar dari balik pohon, dilengannya masih

menenteng rantangan makanan. “Nona jangan marah, kedatanganku kesini bukan kehendakku

sendiri supekku yang menyuruh….”

“Oh….kiranya engkau…maafkan aku,” kata gadis itu.

“Oh….Kounio kenal dimana denganku ?” tanya Toa Gu.

“Kenapa tidak kenal, tadi malam engkau menyerahkan pedang kepada kami masakan sudah

lupa ?”

“Oh…rupanya engkaulah salah seorang dari empat orang bertopeng itu ? Kulihat wajahmu

cukup cantik, kenapa harus ditutup-tutupi ?”

“Bukan begitu, kami bermaksud tidak dikenali ! Aku bernama Ciu Ceng Ceng, dan maaf atas

perbuatanku tadi !”

“Tidak apa-apa !” jawab Toa Gu.

“Kemarilah kukenalkan dengan Siau cu jin (tuan muda) kami !” Toa Gu mengikuti Ceng

Ceng kemulut gua, saat ini dari dalam tampak tiga orang sedang keluar. Yang satu bukan lain

dari In Tiong Giok adanya, sedangkan yang berada dikiri kanannya adalah Yauw Kian Cii dan

Ciu Kong. Mereka tidak mengenakan topeng lagi, Ciu Kong dan Yauw Kian Cee masingmasing

memegang pedang yang tadi malam diperolehnya.

Toa Gu meletakkan rantang makanan, lalu memberi hormat dan berkata : “Aku Toa Gu

memberi hormat pada In Siau hiap !”

“Tak perlu melakukan banyak hormat-hormatan, mari duduk !” katanya, “ada perlu apa Oey

heng datang kesini ?”

“Aku disuruh supek kemari !”

“Kenapa Cu Locianpwee tidak turut serta ?”

“Katanya tidak bisa datang !”

“Kenapa ?”

“Ia mengatakan tidak bisa ya tidak bisa, mana bisa kutahu ! Ia menyuruhku datang kesini

membawa sepucuk surat !” Segera ia menyerahkan sepucuk surat yang diambil dari dalam

309

Tiong Giok segera membaca surat itu, tiba-tiba wajahnya sedikit berubah, “sudah lamakah Cu

Locianpwee pergi ?” tanyanya sedikit napsu.

“Ia sudah pergi sejam lamanya !”

Tiong Giok bangun dari tempat duduknya, dan mundar mandir sambil berkemak kemik : “Ai !

Ada-ada saja……”

“Siau cu jin memang kenapa ?” tanya Yauw Kian Cee dan Ciu Kong.

Tiong Giok tidak menjawab, ia menyerahkan surat yang dipegangnya kepada mereka. Mereka

segera membaca surat itu yang berbunyi lebih kurang sebagai beerikut :

Tiong Giok sejak kita berpisah dimarkas besar Pok Thian Pang belum bertemu lagi, selama

itu aku tidak bisa melupakan dirimu, tadi malam aku melihatmu tak kurang suatu apa, atas ini

hatiku merasa girang. Engkau masih muda tapi memiliki kepandaian yang luar biasa

membuatku yang tua ini merasa bangga sekali. Sebaiknya aku merasa sedih dan malu sendiri

mau menyerah dan tunduk pada orang-orang Pok Thian Pang. Maka itu aku tak mempunyai

muka bertemu denganmu, sungguhpun begitu perasaan hatiku ingin menyampaikan beberapa

perkataan padamu, maka menyuruh orang ini membawa surat. Harap engkau jangan berkecil

hati padaku dan merasa benci. Apa yang kuperbuat ini pada suatu hari engkau akan tahu

sendiri, karena saat sekarang kaum kang ouw yang sejati masih terlalu lemah dan tak berdaya

atas kekuatan kaum Pok Thian Pang. Besar harapanku engkau dengan pedang pusaka yang

baru dimiliki ini bias melakukan suatu pekerjaan besar dan membebaskan kembali orangorang

kang ouw dari tekanan kaum Pok Thian Pang. Mengenai soal Thay Cin Tojin perlu

kuberikan penjelasan agar kau tidak terus-terusan membencinnya. Ia berlaku demikian

semata-mata bisa mendapat kepercayaan penuh orang Pok Thian Pang, padahal dibalik itu ia

mengganggu terus orang Pok Thian Pang dari dalam. Mungkin engkau masih ingat cerita

penterjemah bahasa Sangsekerta yang mati terbunuh dengan misterius di villa tenang bukan ?

Semua itu adalah kerja Thay Cin Tojin ini, demikian pula kita hampir-hampir dicelakakan

karena dikiranya engkau sungguh-sungguh mau melakukan pekerjaan itu. Ia sangat hati-hati

sekali, sampai kita menganggap dia sudah tak guna dan mau menjadi anjing Pok Thian Pang.

Setelah aku jadi anggota, beberapa lama adanya dia baru menceritakan kandungan hatinya.

Hebat bukan ?

Disamping itu mungkin ada suatu hal yang perlu kujelaskan juga kepadamu : yakni soal

saudagar Cian yang terkena racun dilosmen Hiong hian can. Cian itu bukan lain diriku

sendiri. Waktu Lie Keee Cie si Tongleng jahanam itu mendapat tugas bersama-sama dengan

Sam Kui mengejar dirimu, aku sangat kuatir sekali. Maka dengan tipu daya dan ilmu

menyamar, kubunuh Tongleng itu sedangkan aku menyamar sebagainya mengikuti Tok Kay

Pong dan kawannya menuju ke Tiat Po.

Sesampainya di Hui hui cun aku keluar dari losmen Hiong hin can dengan alas an menyelidiki

keadaan padahal aku pergi menyamar sebagai saudagar Cian agar bisa memberikan bantuan

kepadamu dengan leluasa. Akalku ini berhasil dan bisa mengelabui mereka dan menolongmu

berikut Tong Cian Lie. Saat itu aku tak bisa menemuimu karena engkau bersama Tong Cian

Lie yang bertabiat berangasan aku kuatir ia tak mengerti kenapa aku menjadi anggota Pok

Thian Pang sehingga timbul keruwetan yang tidak berguna. Maka aku berlalu dengan begitu

saja !

310

Engkaupun rupanya masih penasaran kenapa seorang bertabiat keras sebagaiku mau menjadi

anggota Pok Thian Pang juga, karena soal Pek Kiam Hong seorang.

Anak ini perlu dikasihani, jika dihari kemudian engkau menemui didunia Kang Ouw harap

perhatikanlah ! Sementara aku tak mau menjelaskan dulu hal dia ini sejelas-jelasnya, sebelum

kaum Pok Thian Pang hancur !

Sedangkan Oey Toa Gu ini karena soal pedang pusaka menjadi musuh orang kang ouw untuk

keselamatannya dia ini, sukalah engkau menerimanya sebagai pembantumu. Ia sangat jujur

dan memiliki bakat yang baik, mungkin bisa berguna dihari kemudian.

Kepandaianmu kian hari kian maju, ditambah dengan dua bilah pedang pusaka, tak ubahnya

sangat cemerlang sekali. Untuk ini aku bersyukur. Tapi engkaupun harus ingat janganlah

kepandaian itu untuk melakukan hal yang merugikan dunia kang ouw ! Engkau harus bangkit

dan berjuang demi keamanan dan ketenangan dunia kang ouw !

Kini engkau berada didalam gua batu sebelah barat ! Jika sempat masuklah terus kesebelah

dalam, mungkin engkau akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa ! Nah suratku sampai

disini saja !

Yauw Kian Cee dan Ciu Kong dengan cepat membaca habis surat itu, lalu mengembalikan

lagi pada In Tiong Giok. “Heran, memang apa hubungannya antara dia dengan Pek Kiam

Hong,” kata Yauw Kian Cee.

“Sewaktu bersama-sama denganku dimarkas pusat Pok Thian Pang, ia berkeras ingin

menghajar Thay Cin Tojin, dan mengamuk dengan mati-matian menghajar orang Pok Thian

Pang tapi entah kenapa setelah Pangcu dan Pek Kiam Hong menemuinya, ia mau tunduk dan

menjadi anggota Pok Thian Pang ? Sayang dalam hal ini ia tidak menjelaskan !”

“Sabar saja, nantipun kita bakal tahu sebab musababnya ia berlaku demikian,” kata Ciu Ceng

“Sejak aku mengeram setahun lebih di Cu Cing San, guna mempelajari ilmu silat, soal dunia

kang ouw tidak kutahu lagi, ingin aku bertemu dengan Cu Lo Cianpwee untuk menanyakan

ini itu, sayang ia sudah pergi !”

“Ya banyak jago-jago semacam Cu Lit mau menjadi anggota Pok Thian Pang karena soal Pek

Kiam Hong, kita bisa mengetahui sebabnya jika bertemu Pek Kiam Hong sendiri !” kata

Yauw Kian Cee.

“Ia sendiri tidak mengetahui asal usulnya dirinya sendiri, mana ia tahu soal orang lain ?” kata

In Tiong Giok.

Membicarakan soal Pek Kiam Hong membuat In Tiong Giok ingat pada Wan Jie, kekasihnya

yang sudah lama ditinggalkannya. Membuatnya menarik napas !

“Siau cu jin kenapa menarik napas ?” tanya Ciu Ceng Ceng.

311

“Aku menarik napas lega dan bukan menarik napas sesak ! Pikirlah Cu Lo Cianpwee sudah

berhasil keluar dari Pok Thian Pang. Dan kita tidak perlu memikirkannya lagi, yang penting

kita menurut suratnya, menyelidiki keadaan didalam gua ini.”

“Gua ini sangat dalam, demi keselamatan Siau cu jin ijinkanlah kami turut serta melakukan

penyelidikan !” kata Ciu Kong.

“Lo Cianpwee tidak perlu khawatir, bahaya yang bagaimana besarpun bisa kuhadapi !” kata

In Tiong Giok.

“Tapi sebaiknya kita menyelidiki beramai-ramai !” kata Yauw Kian Cee.

“Tak usah ! Sebaiknya Jie wie Lo Cianpwee menjaga gua ini, biarkan aku bersama Ceng

Ceng yang melakukan penyelidikan.”

“Tia tia legakanlah hatimu, dengan adanya aku disamping Siau cu jin, aku jamin segalanya

beres….” Kata Ceng Ceng.

“Hmm, kamu….” Dengus Ciu Kong sambil mendelik dengan sebelah matanya tanpa

melanjutkan kata-katanya.

“Kurasa Ceng Ceng cukup untuk mendampingi Siau cu jin !” kata Yauw Kian Cee. “Tetapi

untuk membuat kami tenang, sebaiknya dibatasi waktu untuk menyelidiki itu, misalnya satu

jam atau dua jam, bilamana dalam waktu itu belum kembali, kami bisa masuk kedalam !”

“Begitupun baik !” kata In Tiong Giok.

Tua dan muda masing-masing duduk makan bawaan Toa Gu, setelah itu mereka beristirahat

sejenak. In Tiong Giok dan Ciu Ceng Ceng segera memasuki gua yang dalam itu.

Keadaan dalam gua lebih lebar dari luarnya, begitu masuk beberapa meter, terdapat sebuah

kamar, disitu terdapat kursi dan meja batu, tadi malam Tiong Giok berempat setelah mendapat

pedang bermalam disitu. Dibawah kamar gua itu terdapat sebuah pintu yang hitam, inilah

jalan yang bisa menembus kedalam lambung gunung. In Tiong Giok dan yang lainnya belum

pernah mencoba masuk kedalam.

Begitu Tiong Giok dan Ceng Ceng masuk kedalam Yauw Kian Cee dan Ciu Kong segera

menjaga pintu itu dikiri dan dikanan. Sedangkan Toa Gu bertugas sebagai pengintai diluar

Keadaan didalam gua gelap sekali, mereka melangkah hati-hati dan meraba-raba dinding gua.

Soal yang membuat kaget semakin masuk semakin dingin, lain dengan keadaan di kamar di

sebelah luar. Dengan menggertakkan gigi dan menyalurkan hawa sejatinya Tiong Giok

menahan serangan dingin itu. “Biasanya keadaan didalam gua amat panas, tak kira ini

sebaliknya, begini dingin sekali rasanya, kita harus berlaku waspada sekali !”

“Untukku keadaan gua yang begini tak heran lagi !” kata Ciu Ceng Ceng. “Sebaiknya aku

yang jalan dimuka guna membuka jalan !”

312

“Begitupun baik !” kata Tiong Giok. Mereka berjalan terus didalam gelap berkat bantuan

kedua pedang pusaka yang memancarkan sinar putih dan merah.

“Aneh aku sebaliknya merasa hangat !” kata Ciu Ceng Ceng.

“Ditempat begini engkau jangan bergurau !” kata In Tiong Giok.

“Jika engkau benar dingin, berikanlah aku jalan dimuka, untuk membuka jalan !”

“Begitupun baik !” kata In Tiong Giok.

“Pedang ini ada dua, sebaiknya kita membawa seorang sebilah !” kata Ceng Ceng sambil

menyerahkan pedang yang memancarkan sinar merah kepada Tiong Giok, begitu pedang itu

berada ditangan Tiong Giok ia merasakan hawa hangat yang nyaman sekali, rasa dinginnya

segera hilang tanpa terasa, kini ia mau percaya apa yang dikatakan Ceng Ceng.

Dengan bantuan sinar pedang pusaka itu mereka masuk terus, gua itu sebentar belok kekiri

sebentar belok kenanan, berliku-liku sekali. Setelah mereka menempuh perjalanan jauh,

anehnya mendapatkan dirinya berada ditempat semula waktu mau memasuki gua itu. “Heran,

jalan gua toh cuma satu, kita kenapa bisa kembali lagi kesini ?”

“Ah rupanya engkau keliru, kita tidak kembali lagi ketempat semula, hanya saja tempat ini

serupa dengan yang didepan !” kata In Tiong Giok. “Buktinya kalau kita kembali lagi

ketempat semula, tentu disitu ada Yauw dan Ciu Lo Cianpwee !”

“Benar,” kata Ciu Ceng Ceng, “tempat ini serupa betul dengan yang didepan, entah sudah

berapa banyak orang yang tertipu ditempat ini !” sehabis berkata ia membungkukkan badan

mencelos kedalam pintu.

“Hati-hati !” kata In Tiong Giok.

“Jangan kuatir !” kata Ceng Ceng seenaknya.

Tapi begitu iaberkata, lantas menjerit ketakutan, tubuhnya terjengkang kebelakang. Dengan

tangkas Tiong Giok menanggapi tubuh si gadis dan cepat-cepat membawa keluar lagi. Ia

mengawasi kearah pintu dengan siap sedia, tapi keadaan tetap seperti semula, sedangkan

Ceng Ceng masih tetap dalam ketakutan.

“Apa yang kau lihat ?” tanya Tiong Giok.

“Didalam ada orang……..Oh, bukan orang…….makhluk aneh…..”

“Hm. Rupanya engkau yang sudah biasa menjadi “setan” di Cu cing san dan pernah menakutnakuti

kini kena batunya !”

“Siau cu jin engkau jangan bergurau lagi ini……benar-benar !”

“Samakah bentuknya dengan setan di Cu cing san ?”

313

“Lain ! Bentuknya sukar kukatakan, begitu melihat rohku hampir hilang, tidak bisa melihat

dengan tegas.”

“Jika begini batallah tugasmu sebagai pengawalku bukan ?”

“Masih tetap !” kata Ciu Ceng Ceng sambil menenangkan pikirannya.

“Diamlah disini, biar aku yang hadapi !”

“Tidak boleh ! Jika Siau cu jin kenapa-napa bagaimana aku harus bertanggung jawab pada

ayahku ?”

“Ceng Ceng kau tak perlu kuatir ! Bilamana gua ini berbahaya, tentu Cu Lo Cianpwee akan

menerangkan dalam suratnya. Lagipula dengan pedang pusaka dan kepandaian yang kumiliki,

kiranya sudah cukup menghadapi segala bahaya !”

“Tapi sebaliknya aku saja yang masuk lagi.”

“Jangan !” kata Tiong Giok, “pikiranmu sudah kalut, bisa-bisa merepotkan aku !”

“Tapi tugasku sebagai pengawal bukan ?”

“Hm, itu tugas dari ayahmu, aku sebagai Ciang bun jin mencabut tugas itu dan menjadikan

engkau seorang pengiring saja !”

“Kalau begitu aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi !” kata Ceng Ceng.

“Sekarang kutugaskan kau menjaga pintu ini, aku mau masuk !” kata Tiong Giok.

“Aku menurut ! Sebaiknya pedang ini kau bawa dua-duanya !”

“Ya,” kata Tiong Giok, “jika makhluk itu lari keluar, tangkaplah ! “ Sehabis berkata ia

menghirup hawa dan terus merapat kepintu sambil memasang telinga, sedikitpun ia tidak

mendengar suara apa-apa, kedua pedangnya dipegang dengan tangan kiri, sedangkan lengan

kanannya mengeluarkan jarinya “Hiat cie leng” nya yang ampuh dilancarkan kedalam,

sedangkan pedangnya diputarkan, tubuhnya membarengi masuk kedalam. Keadaan tetap tidak

berubah, ia masuk dengan aman tanpa sesuatu gangguan. Dengan penuh perhatian ia

memandang sekeliling, saat inilah ia mendengar suara halus seperti bunyi nyamuk : “Anak

muda gegabah betul, masuk-masuk kesini ?”

In Tiong Giok menjadi kaget, dan matanyapun segera melihat sebuah ranjang salju yang

putih, diatasnya terlihat seorang yang tidak mengenakan pakaian sedikitpun. Tubuhnya begitu

kurus, kepalanya botak, usianya sudah tua sekali. Yang membuat orang heran, tubuh orang

tua itu hampir merupakan lingkaran bulat, karena kedua kakinya melengkung kebelakang dan

berada dipundaknya, dan dengan kedua tangan dan perutnya menahan tubuhnya itu.

Tampaknya seperti makhluk aneh, tak heran membuat Ceng Ceng ketakutan.

Tiong Giok memberanikan diri maju kedepan sambil memberikan hormat : “Lo Cianpwee,

sebenarnya engkau siapa, dan kenapa bisa berada disini ?”

314

Dengan kedua matanya yang tajam, orang tua itu memandang Tiong Giok penuh perhatian.

“Ini adalah tempat persembunyianku ! Engkau sangat gegabah masuk kesini, dengan tujuan

apa ?”

“Aku hanya kebetulan saja menemukan gua dilereng gunung ini, sekali-kali tidak mengetahui

bahwa tempat ini adalah tempat pertapaan Lo Cianpwee !”

“Hm, kenapa engkau tidak mengatakan, kedatanganmu kesini atas petunjuk pengemis itu ?”

In Tiong Giok menjadi melengak, tapi dengan cepat ia menganggukkan kepala. “Benar !

Semua ini adalah Cu Lo Cianpwee yang memberi tahu, tapi ia tidak mengatakan tempat ini

didiami orang !”

Jilid 16 …..

“Pengemis itu entah bagaimana bisa datang menemuiku tiga hari yang lalu, sejak itu kutahu

akan banyak kerepotan yang harus kuhadapi, nyatanya benar saja engkau telah datang atas

petunjuknya. Pengemis itu benar-benar membuatku dongkol !”

“Kedatanganku kesini tidak berniat mengganggu Lo Cianpwee, bilamana Lo Cianpwee

merasa terganggu, sekarang juga aku keluar !” kata In Tiong Giok.

“Hm, sekeluarnya engkau dari sini, tentu akan menceritakan kepada orang lain, mereka pasti

datang dan membuatku pusing bukan ?”

“Aku bersumpah tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun !”

“Aku sudah bosan mendengar sumpah-sumpah itu ! Semuanya tidak ada yang manjur !”

“Habis dengan cara apa Lo Cianpwee baru percaya ?”

“Hm, didunia ini penuh dengan manusia-manusia rendah yang berhati keji, pokoknya aku tak

bisa mempercayai lagi apapun yang dinamai orang !”

“Aku sudah datang dan melihat Lo Cianpwee, habis harus bagaimana ?” tanyanya.

“Hm kau kira dengan ilmu Hiat cie lengmu tadi itu, tak bisa aku membunuhmu ?” kata si

orang tua dengan mendelik. “Usiamu masih muda tapi begitu sombong bilamana tidak dihajar

mungkin tidak tahu kalau diluar dunia masih ada dunia.” Sehabis berkata, lengannya menepak

baju, tubuhnya segera merapung ke atas, tapi dengan cepat pula ia jatuh ke ranjangnya sambil

merintih, wajahnya menjadi pucat keringatnya mengucur dengan deras tampaknya dia

kesakitan sekali.

Tiong Giok segera mendekati, “Lo Cianpwee engkau kenapa ?” tanyanya.

“Habis, Selama empat puluh tahun aku melatih diri, tapi tak membawa hasil barang

sedikitpun ! bangsat itu benar-benar jahat, aku dibuatnya tidak berdaya….aku tak bisa

mengatakan apa-apa lagi, bunuhlah aku !”

315

Sebelum Tiong Giok membuka mulut, dari luar kamar terdengar suara Ceng Ceng : “Siau cu

jin, adakah engkau melihat makhluk gaib itu ? Perlukah bantuanku ?”

“Engkau membawa teman juga ? Suruh mereka masuk ! Aku lebih senang mati dari pada

memberikan ilmu Liap hun sim hoat (ilmu hipnotis).

“Lo Cianpwee jangan salah mengerti, kedatanganku kesini sekali-kali tidak menginginkan apa

yang kau sebut Liap hun sim hoat itu !”

“Jangan berdusta ! Tiga hari yang lalu pengemis itu menggedeng terus padaku, dan kutolak

mentah-mentah permintaannya, kini dengan cara halus engkau mau ngelecehin aku, jangan

harap !”

“Lo Cianpwee jangan kuatir, aku tak berbiat membohongimu, kedatanganku kemari bukan

menghendaki sesuatu darimu !” kata In Tiong Giok. “Sebenarnya sekarangpun aku bisa

berlalu dari sini, tapi kulihat Lo Cianpwee sedang menderita sekali, selayaknya sesama

manusia tolong menolong bukan ? Jika Lo Cianpwee percaya, bolehkah kubebeaskan dirimu

dari penderitaan ini ?”

“Engkau siapa ? Dan apa hubunganmu dengan pengemis itu ?”

“Cu Lo Cianpwee itu adalah sahabat baikku,” kata In Tiong Giok seraya memperkenalkan diri

dan menerangkan pula kedudukannya sebagai Ciang bun jin dari Thian liong bun.

“Muda-muda sudah jadi Ciang bun jin ? Bagaimana dengan Pek King Hong ?”

“Beliau telah meninggal dunia !”

“Ya lebih enak meninggal dunia tidak memusingkan lagi soal dunia yang kotor ini !”

“Ya memang demikian ! Tapi alangkah baiknya dalam hidup ini kita bisa membereskan diri

dari dunia yang kotor bukan ? Dengan begitu kita mendapat kestabilan hidup yang abadi, dan

lebih menang dari pada mati dengan begitu saja !”

“Engkau masih muda tapi berpandangan sangat dalam,” kata orang tua itu. “apa yang engkau

katakana memang benar, tidak sepertiku ini biarpun menyendiri selama empat puluh tahun di

dalam gua yang sunyi, tidak memeproleh kestabilan hidup itu, semua ini dikarenakan terkena

tenaga jahat manusia iblis yang berhati binatang. Jalan darahku ini terkena totokan berat

darinya, aku berusaha membebaskan diri dari siksaan ini selama empat puluh tahun, nyatanya

sia-sia saja !”

“Siapakah yang mencelakakan Lo Cianpwee ?”

“Soal yang telah lama tak usah kau tanyakan ! Semua penderitaan yang kualami ini

berdasarkan diri ketamakan diri, maka itu aku tak menyesal menderita seperti ini !”

“Dapatkah kutahu nama Lo Cianpwee ?”

“Biar kusebutkan engkau tak bakal tahu soal diriku !”

316

“Sekedar ingin tahu toh boleh bukan ?”

“Pernah engkau mendengar Tiga pendekar daari Perguruan Sejati atau Kong bun sam kiat ?”

“Tidak !”

“Akupun menganggap engkau tak bakalan tahu,” kata orang tua itu, “sewaktu kami

mengembara di dunia Kang Ouw mungkin engkau belum lahir di dunia ! Kejadian ini sudah

empat puluh tahun, Kong bun sam kiat sudah dilupakan orang…….”

“Kalau begitu Lo Cianpwee pastilah salah seorang dari Kong bun sam kiat bukan ?”

Orang tua itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum : “yang dinamai tiga pendekar dari

perguruan sejati terdiri dari seorang Hwesio, seorang Nikouw dan seorang Tojin. Kesemuanya

bukan dari Tionggoan, Hwesio itu adalah Kouwcu dari Tibet bergelar It Piau Taysu, Tojin itu

bernama Fut In Ciu dari Lamhay, dan bergelar Lie hwee Cinjin, sedangkan Nikouw itu dari

Thian san bergelar Houw gee Suthay. Ketiga dari mereka ini jarang berhubungan satu sama

lain, karena tempat tinggal mereka sangat jauh-jauh.”

“Entah bagaimana pada suatu hari ketiga-tiganya bisa bertemu diperjalanan. Kesempatan

berkumpul ini tidak dilewatkan begitu saja, dipergunakan berdiskusi soal ilmu silat, masingmasing

mengagumi satu sama lain, dan saling hormat menghormati. Disamping itu kamipun

bersama-sama mengunjungi berbagai tempat yang kenamaan di Tiong Goan. Sewaktu kami

sampai di telaga See Ouw mendapat dengar dari orang-orang Kang Ouw juga ada dua bilah

pedang mustika, satu bernama Hong hiat berkhasiat mencegah segala kejahatan, dan satu lagi

bernama Lie hwee berkhasiat mencegah api. Menurut cerita pedang itu jelmaan dari binatang

air dan api, bukan saja sangat tajam juga bisa mencegah banjir maupun kebakaran. Tak kira

pedang yang maha hebat itu mendatangkan bencana bagi Kong bun sam kiat…..” Orang tua

itu diam saja tidak meneruskan lagi ceritanya.

“Kenapa bisa mendatangkan bencana ?”

“Ah jangan ngomong saja, bisakah engkau mengambilkan aku sedikit makanan ?”

“Oh bisa saja, nantikanlah sebentar, aku bisa menyuruh Ceng Ceng mengambil keluar….”

“Tak usah keluar !” kata orang tua itu, ambil saja salju dan tanah itu, aduk-aduk biar halus

sudah cukup ! Selama empat puluh tahun aku sudah biasa makan dengan begini. Engkau

jangan menganggap kotor, itu adalah akar dari pohon-pohonan yang mengandung khasiat

menguatkan tubuh, sekali kumakan cukup untuk sepuluh hari !”

Tiong Giok menurut permintaan orang tua itu. “Kenapa Lo Cianpwee tidak mau

meninggalkan gua ini ?”

“Aku menderita luka hebat, jika tidak tinggal diranjang es ini siang-siang jiwaku sudah

melayang !”

Tiong Giok menganggukkan kepala. Lalu bertanya lagi : “Kong bun sam kiat adalah orangorang

yang menyucikan diri bukan, kenapa bisa menderita bencana pedang wasiat itu ?”

317

“Walaupun mereka sebagai orang yang menempuh kehidupan sebagai orang suci, kalau

pikirannya masih “tamak” tidak akan terluput dari penderitaan ! Pikirlah pedang itu hanya

dua, sedangkan mereka bertiga, bagaimana cara membaginya ?”

“Oh kalau begitu mereka memperebutkan pedang itu ?”

“Benar !” kata orang tua itu. “Mula pertama mereka bergirang hati, memperoleh pedang itu,

belakangan menjadi pusing sendiri untuk membaginya ! Karena itu masing-masing diam saja

tidak memberi usul untuk membagi pedang itu, lama kelamaan Houw Gee Suthay jadi tak

sabaran, ia mengajak It Piau Thaysu keatas gunung Hong hong san dan menegurnya : “Kita

bertiga sedangkan pedang itu hanya dua, harus bagaimana membaginya dengan cara yang adil

?”

It Piau Thaysu tidak bisa menjawab, iapun sedang pusing mencari daya untuk membagi

pedang itu secara adil.

“Pikir Suthay bagaimana baiknya ?” It Piau Thaysu berbalik bertanya.

“Tidak ada jalan lain untuk membaginya, kecuali salah satu dari kita ini ada yang mati,” kata

Houw Gee Suthay.

“O Mie To Hud,” kata It Piau Thaysu, “sebagai orang suci mana boleh Suthay mengeluarkan

perkataan itu ?”

“Oh, kalau begitu Thaysu mau mengalah dan menyerahkan pedang itu pada kami ?”

“Tidak……”

“Jika begitu kita harus bertanding untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan pedang

itu bukan ?”

“Jika begitu Suthay menginginkan terjadinya perkelahian bukan ?”

“Ini bukan saranku, tapi kehendak dari Fut In Cu !”

“Kenapa ia menghendaki begitu, apa alasannya ?”

“Ia mengatakan Lie Hwee Kiam cocok dengan gelarnya Lie hwee cinjin, maka pedang itu

sudah harus jadi miliknya, sedangkan Hong hiat kiam harus dibagi antara Thaysu dan aku !”

Mendengar ini It Piau Thaysu menjadi guasr : “Pedang itu dapat bertiga seharusnya cara

membaginya dirundingkan betiga juga, kenapa ia berani memutuskan seorang diri ? Dan apa

kebiasaannya sampai berani mengambil langkah ini ? Pokoknya aku tak setuju !”

“Akupun tidak setuju sarannya itu, maka mengajak Thaysu kemari untuk berunding…..”

“Tak ada perundingan lagi, mari kita temukan dia, dan tanyakan langsung apa maunya kalau

kita tak setuju atas sarannya !”

318

“Kita sama-sama sebagai pemeluk agama Buddha, bilamana dilihatnya kita bekerja sama

dianggapnya memusuhi dia yang berlainan agama bukan ? Dia bisa mengatakan kita orang

sentimen agama !”

“Semua ini karena kesalahan dia, tidak ada sangkut pautnya dengan agama !”

“Jika Thaysu menganggap dia salah, apakah salahnya kalau kita singkirkan ? Agar tak ada

bencana dihari kemudian ?”

Mendengar ini It Piau Thaysu menggigil ketakutan. “O Mie To Hud !” serunya.

“Dalam keadaan terpaksa apa salahnya kita membunuh, jika tidak demikian kita akan

dibunuhnya !”

It Piau Thaysu masih diam saja, sedangkan Houw Gee Suthay menghasut terus membuat It

Piau Thaysu menurut juga perkataan Nikouw itu. Dengan cepat mereka kembali ketempat

bermalam untuk menyingkirkan Fut In Cu. Tak kira yang disebut belakangan telah

mendengari apa yang dikatakan mereka dengan jelas. Maka itu dengan tak pikir panjang lagi,

sudah mendahului pulang dan membawa kabut kedua pedang pusaka. Hal ini membuat Houw

Gee maupun It Piau menubruk angin, mereka semakin gusar bersama-sama melakukan

pengejaran. Sesampainya di dekat gunung Hoay Giok San baru berhasil mencandaknya, saat

itu terjadi perkelahian hebat…….”

“Akhirnya bagaimana ?” tanya Tiong Giok.

“Diantara tiga jago itu kepandaiannya berimbang, tapi dengan satu lawan dua sudah pasti

yang satu tidak akan menang !” kata si orang tua, “tapi dengan mengandalkan kedua bilah

pedang pusaka itu, It Piau dan Houw Gee kena dilukai juga dam membuat Fut In Cu berhasil

keluar dari kepungan dan kabur ! Mereka tak berhasil merampas pedang itu…………”

Setelah mereka mengaso terus berputar-putar disekitar pegunungan itu selama tiga hari tiga

malam untuk mencari jejak dari Tojin itu, tapi selama itu juga usaha mereka tidak membawa

hasil. Fut In Cu tidak diketemui.”

“Thaysu sebaiknya kita cari berpencar…..”

“Dengan sendiri-sendiri jika bertemu mana bisa menundukkannya, buktinya dalam kepungan

kita berdua bisa meloloskan diri,” kata It Piau mengingatkan kejadian baru lalu.

“Ia hanya mengandalkan pedang pusaka itu, andaikata mengandalkan kepandaiannya saja,

satu lawan satu belum tentu ia bisa menang !”

“Benaar !” jawab It Piau Thaysu. “Tapi pedang itu masih berada ditangannya !”

“Untuk inilah kita harus menyatukan keduakepandaian kita untuk mengalahkannya.”

“Maksudmu bagaimana ?”

“Kita saling tukar ilmu !”

319

It Piau tidak segera menjawab, ia termenung sejenak, akhirnya dengan berat ia

menganggukkan kepala juga, “untuk menghilangkan bencana dikemudian hari aku bersedia

saling menukar ilmu ! Akan tetapi……”

“Dalam hal ini Thaysu tak perlu ragu-ragu, aku bersedia memberikan dahulu ilmu yang aku

miliki……”

It Piau Thaysu menjadi malu hati sendirinya, “Tak usah begitu, aku sebagai laki-laki

sepatutnya memberikan dulu kepadamu, menerima barulah belakangan.”

Houw Gee Suthay tak mau menerima tawaran itu, ia pura-pura adil dan jujur. “Aku tak mau

menerima caramu itu, untuk keadilan, baiklah kita main tebak-tebakan, yang menang boleh

menerima dulu pelajaran dan yang kalah itu harus belakangan.”

It Piau Thaysu menganggukkan kepala.

Houw Gee segera memungut batu dan mengepalnya, lalu meminta kawannya menebak batu

yang digengam itu ganjil atau genap. Tanpa banyak pikir It Piau Taysu menebak ganjil tapi

ternyata genap, satu nol keadaan buat Houw Gee.

Waktu giliran It Piau yang menggengam batu Houw Gee dapat menebak, kemenangan ada

pada Houw Gee.

“It Piau tahu bahwa dirinya dicurangi, tapi ia tak perduli, dengan patuh ia memberikan

pelajaran kepada kawannya itu sejujurnya……”

“Kenapa curang ?” tanya In Tiong Giok.

“Ya, sebab waktu It Piau berhasil menerka batu yang digengam itu, Houw Gee menggunakan

ilmu dalamnya memecahkan batu itu, sehingga jadi ganjil !”

“Mula pertama It Piau membiarkan atas kecurangannya, dengan jujur menurunkan ilmunya

itu kepada kawan itu, dan sewaktu tiba giliran Houw Gee memberikan pelajaran, terbukalah

kedok kejahatannya. Waktu itu It Piau disuruh bersemedi, ia menurut saja tanpa curiga, saat

inilah dengan tiba-tiba Houw Gee menurunkan tangan jahat…..”

“Ha, sekarang kutahu Lo Cianpweelah salah satu dari Kong bun sam kiat yang bernama It

Piau Thaysu bukan ?”

“Engkau benar !”

“Lalu kenapa Lo Cianpwee bisa berada didalam gua ini ?”

“Waktu ia menotok diriku, aku menggunakan ilmu dalam, menghentikan aliran napas,

tubuhku menjadi dingin, dan dikiranya sudah mati. Ditinggalkan olehnya begitu saja. Aku

berusaha memulihkan lagi tenagaku, dan berhasil mendapatkan gua ini, aku diam disini

sambil menyembuhkan luka yang diderita akibat totokan mautnya itu…..Kecuali itu dengan

cara yang kebetulan aku mendapat dua serangka pedang….nah ambillah, kusimpan dibawah

balai-balai itu.”

320

Dengan cepat In Tiong Giok mendapatkan kedua benda itu.

“Coba masukkan pedangnya kedalam serangka ini, cocok atau tidak !”

“Bukan saja cocok, memang serangkanya kedua pedang ini,” kata In Tiong Giok.

“Ya mereka telah berpisah selama empat puluh tahun dan baru bertemu kembali,” kata It Piau

Thaysu. “Bolehkah engkau menuturkannya, bagaimana pedang-pedang ini didapat ?”

Dengan singkat In Tiong Giok menceritakan jalannya mendapatkan pedang-pedang itu. It

Piau mengangguk-anggukkan kepala sambil mengeluh perlahan : “Seperti dugaanku semula,

ia mati juga…..”

“Siapa dia ?”

“Fut In Cu,” kata It Piau Thaysu. “Karena luka-lukanya itulah ia menemui ajal ! Tapi ia tidak

segera mati, melainkan menyembunyikan diri dulu didalam gua ini, karena kedua serangka

kudapat disini, setelah itu pasti ia tahu bahwa jiwa tidak akan tertolong lagi, lalu membunuh

diri di dalam danau itu.”

“Karena pedang-pedang ini Fut In Cu meninggal dunia dan Thaysu sendiri menderita selama

empat puluh tahun bukan ? Kesemua ini adalah kerjaan Houw Gee yang dengki itu !”

“Pikirku semua itu karena nasib !” kata It Piau Thaysu, “kini aku bisa bertemu denganmu,

karena nasib juga bukan ? Kedua serangka pedang ini kuhadiahkan kepadamu. Aku

mengharapkan dengan kedua pedang ini engkau bisa membasmi orang-orang jahat dan

menegakkan keadilan demi kesejahteraan rakyat banyak.”

“Atas pemberian Lo Cianpwee ini kuhaturkan banyak-banyak terima kasih,” kata In Tiong

Giok, “disamping itu dapatkah aku melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri ?”

“Apa yang bisa kau lakukan pada diriku ?”

“Mengobati luka Cianpwee !”

“Kurasa luka ini sangat parah sekali, sia-sia saja diapakan juga, buktinya selama empat puluh

tahun ku obati, sedikitpun tak membawa hasil !”

“Segalanya tergantung nasib bukan ? Apa salahnya kalau mencobanya ?”

“Apa yang kau miliki, sampai berani berkat begitu ?”

“Aku pernah mempelajari ilmu Hiat Cie leng dan lain-lainnya !”

“Apa ?” tanya It Piau dengan kaget, “sudah taraf apa kepandaianmu itu ?”

“Lebih kurang tujuh puluh persen !”

“Coba kau mundur beberapa langkah, dan gunakan ilmu itu pada balai-balai es ini.”

321

Tiong Giok mundur beberapa langkah, lalu mengangkat tangan melancarkan Hiat cie lengnya

kearah balai-balai es. “Sreeet” terdengar bunyi keras memenuhi gua itu, balai-balai es itu

menjadi hancur dibuatnya, “Kini kuminta Thaysu mengendurkan tulang-tulangmu, dan

pencarkan hawa didarah, aku akan mulai dengan pengobatan.”

Orang tua itu baru mau menurut setelah menyaksikan kehebatan pemuda kita, Tiong Giok

segera melakukan pengobatan dengan cepat, mula-mula ia menotok dulu tiga puluh dua jalan

darah Thaysu itu, lalu dengan telapak tangannya ia menyalurkan tenaga dalam kepunggung

sang Thaysu.

Tak selang lama, Tiong Giok menjadi mandi keringat, disusul dengan terlihatnya uap putih

mengepul dari ubun-ubunnya, ia bekerja dengan sekuat tenaga. Sedangkan It Piau yang pucat

mulai terlihat segaran, mukanya menjadi merah seperti darah, napasnyapun memburu keras.

Tapi sekejap kemudian warna merah itu hilang dan menjadi dadu napasnyapun tenang

kembali. Sedangkan Tiong Giok melepaskan kedua tangannya, seolah-olah tubuhnya menjadi

kosong dan lemas, ia duduk memulihkan tenaganya yang hilang dengan bersemadhi.

Sedangkan It Piau menjadi pulas dengan nyenyaknya.

Suasana di dalam gua itu menjadi sunyi, hanya napas mereka yang terdengar. Satu jam

kemudian, tampak It Piau Thaysu bangun terlebih dulu, sedangkan Tiong Giok masih tetap

memeramkan matanya. Hweesio itu menggerak-gerakkan tubuhnya, segala sakitnya tidak

terasa lagi, dengan girang ia tesenyum kepada pemuda kita. Lalu mengangkat tangannya dan

menepuk kearah ubun-ubun Tiong Giok, sesudah itu dari salah satu sudut gua ia

mengeluarkan sebuah buntelan, itulah pakaian kuningnya. Disamping itu terlihat pula sejilid

buku kecil. Ia mengenakan pakaiannya itu dan menyelipkan buku kecil itu kedalam saku

Tiong Giok.

Dengan perasaan berat ia meninggalkan gua itu. Ciu Ceng Ceng sedang cemas menantikan

dimulut gua, tiba-tiba ia melihat berkelebat sesosok bayangan, dikiranya In Tiong Giok, maka

ia menyapa, “Siau cu jin, engkau……” Sesudah tegas, ia menjadi heran, kaena yang berada

didepannya adalah seorang Hweesio tua berjubah kuning. Ia menjadi kaget dan segera

membentak. “Hweesio tua, siapa engkau ?”

“Coba saja engkau perhatikan, siapa aku ?” kata It Piau sambil tersenyum.

Ciu Ceng Ceng mengawasi dengan kedua matanya, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang

tidak beres setelah pandangan matanya bentrok dengan sinar mata tajam It Piau. Anehnya ia

menjadi limbung, dan hampir-hampir tak kuat berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa

langkah kebelakang.

Pancaran mata It Piau yang tajam mencecer kearah Ceng Ceng, begitu kuat dan tajam

membuat Ceng Ceng linglung dan tak sadar.

Ceng Ceng terpengaruh sinar gaib pancaran mata It Piau, membuatnya tak berdaya sama

sekali, karena dirinya sudah terpengaruh kebaiban itu. It Piau mendekati dan menepuk

pundaknya sambil berkata dengan perlahan: “Apakah engkau kenal denganku ?”

Ceng Ceng menganggukkan kepala “Ya aku kenal !”

“Bagus kalau kenal, dan siapa namamu ?”

322

“Namaku Ciu Ceng Ceng !”

“Engkau anak yang baik,” kata It Piau, “kemarikan tangan kananmu nak !”

Ceng Ceng segera menjulurkan tangan kanannya. Dan It Piau memeriksanya dengan teliti.

“Engkau adalah orang pertama yang kutemukan sejak bebas dari penderitaan selama empat

puluh tahun ! Maka itu akan kuberikan sedikit tanda mata padamu, sayang aku tak memiliki

apa-apa saat ini. Dilihat dari tanganmu, biarpun masih muda, engkau berbakat besar dan

berjiwa setia….” Setelah berdiam sejenak, ia mencopoti sebuah kancing dari jubahnya yang

terbuat dari batu kumala. “Benda ini tidak berarti apa-apa, hanya merupakan tanda mata

dariku ! Soal Siau cu jinmu tak usah engkau risaukan, ia sedang mengaso, sebentar lagi ia

bangun, diam-diamlah disini menantikannya !”

“Ya aku mengerti,” jawab Ciu Ceng Ceng.

“Nah, duduklah disana,” kata It Piau Thaysu.

Apa yang diperintahkan It Piau selalu dituruti Ceng Ceng, karena hweesio itu dengan

kekuatan mata gaibnya yang mengandung daya hipnotis, sudah menundukkan si gadis itu.

“Ilmu sejatiku masih ampuh, sayang diriku sudah begini tua !” kata It Piau dan terus

melangkah keluar.

Tak selang lama Ceng Ceng sadar dari mabuk ia celingukan keempat penjuru tapi keadaan

tetap seperti semula, bayangan It Piau Thaysu sudah hilang dari pandangan matanya. Ia diam

sejenak, mengkonsentrasikan pikirannya, mengingat-ingat apa yang dialaminya tadi. Ia jadi

ragu, apakah kejadian tadi merupakan kenyataan ataukah impian ? Tapi kancing kumala yang

berada ditangannya masih tetap ada ! Semua itu adalah kejadian benar-benar. Tapi kemana

perginya Hweesio itu ? Dan kenapa ia tidak bisa mencegahnya ? Kini ia ingat sedang

mengawal In Tiong Giok ! Hatinya menjadi kaget, mengingat keselamatan Siau cu jin itu,

cepat-cepat ia masuk kedalam. Keadaan di dalam tetap tenang seperti tadi. Hatinya menjadi

lega setelah melihat Tiong Giok yang sedang semedhi, tanpa kurang suatu apa. Ia diam

disampingnya tanpa bergerak-gerak.

Tak selang lama, Tiong Giok telah selesai melakukan semedhinya, ia membuka mata dan

melihat Ceng Ceng berada disampingnya. Segera ia bertanya dengan nada heran : “Apakah

engkau melihat seorang Hweesio tua ?”

“Hweesio tua yang kurus itu ?”

“Benar ! Kemana dia pergi ?”

“Dia sudah pergi !”

“Ah, Lo Cianpwee itu kenapa bergegas-gegas meninggalkan tempat ini ?” kat Tiong Giok.

Ciu Ceng Ceng memperlihatkan kancing kumala pemberian Hweesio itu, sambil menuturkan

apa yang dialaminya tadi secara jelas.

323

“Oh, tentu ia menggunakan ilmu Liap hun tay hoat (semacam ilmu hipnotis tingkat atas)

mengawasi dirimu ! Diluar masih ada Yauw Lo Cianpwee dan ayahmu yang menjaga gua,

kukuatir terjadi slah paham dengan Hweesio itu, mari kita tengok !” Segera ia mencelat

bangun dan berlari keluar diikuti Ceng Ceng dari belakang.

Begitu mereka sampai diluar, mata mereka melihat Yauw Kian Cee dan Ciu Kong sedang

asyik mendengkur-dengkur dengan nyenyaknya.

Disamping itu tampak juga tujuh delapan mayat yang berserakan di depan gua, dari pakaian

mereka dapat dikenali, itulah pengawal-pengawal dari Pok Thian Pang.

Toa Gu sedikitpun tidak menderita luka, hanya saja tertotok urat pulasnya. Tiong Giok segera

membebaskannya. Begitu ia bangun Toa Gu segera menanya. “Mana Hweesio tua itu ?”

“Justru aku mau menanya, apa yang sudah terjaadi disini ?” tanya Tiong Giok.

“Oh, tidak apa-apa, hanya beberapa kurcaci ini datang kemaari, mereka berkelahi denganku,

sedang asyiknya, tiba-tiba tampak seorang Hweesio tua, muncul dari dalam gua ! Entah

bagaimana kedua orang tua ini dibuatnya menjaddi penurut sekali, sedangkan aku segera

merintangi jalannya. Hweesio itu tersenyum kepadaku, aku tak memperdulikan, segera

menusuknya dengan pedang. Ia sangat luar biasa, hanya sekali kebut, senjat ini jadi

buntung….Hweesio itu tidak menyerang, ia hanya tersenyum terus dan menatap dengan

matanya. Akupun mendelik terus….” Engkau adalah manusia pertama yang berhati polos,

hingga Liap hun tay hoat tak mempan pada dirimu ! Maukah kau menjadi muridku ?”

“Engkau sangat beruntung !” kata Tiong Giok.

“Hm, apanya yang beruntung !” kata Toa Gu, “kau kira aku mau menjadi muridnya ? Tidak !

Sedikitpun tidak mau !”

“Memang kenapa ? Ia adalah seorang luar biasa yang berilmu tinggi !”

“Sudah tentu aku tak mau ! Kenapa ia mengatakan polos ! Kata ini sangat kubenci ! Dulu

ibuku memberikan pakaian polos untukku, sedangkan ibunya Asam membelikan pakaian

berkembang pada anaknya, nyatanya pakaian berkembang lebih bagus dari yang polos ! Maka

itu, begitu ia mengatakan polos padaku, aku membalas mengatakan dia bodoh. Hweesio itu

tidak marah, ia tersenyum terus dan mendesak terus kepadaku, mau tidak mau menjadi

muridnya, aku tetap tak mau !”

“Sayang,” kata Tiong Giok.

“Ya, sayang kesempatan ini sudah sia-sia !”

“Andaikata mau mempelajari ilmu itu, aku tak mau belajar darinya, aku lebih senang belajar

darimu !”

“Ilmu Liap hun tay hoat adalah ilmu kepandaian tunggalnya, aku tak bisa memberikan ilmu

itu kepadamu !”

“Tapi Hweesio itu mengatakan engkau pandai ilmu itu !”

324

“Ia mengatakan begitu …..?”

“Ya, waktu ia berlalu berkata begini padaku. “Jika engkau tak mau menjadi muridku, aku tak

memaksa, mungkin bukan jodoh, untung Siau cu jinmu sudah memiliki ilmu ini, dan engkau

bisa belajar darinya !”

“Benar-benar ia berkata begitu ?”

“Lailah, mas bohong ! Sebab percaya omongannya itu, aku menjadi lengah dan ditotok

olehnya, selanjutnya apa yang terjadi aku tak tahu !”

Tiong Giok menjadi bingung memikirkan perkataan Toa Gu, tapi dengan cepat ia menjadi

sadar, cepat ia merogo sakunya, dan benar saja ia mendapatkan buku kecil. Dengan judul

“Ilmu Liap hun tay hoat.”

“Ah, Lo Cianpwee itu, seolah-olah tidak mau menerima budi dariku, ia membalas

memberikan ilmu pusakanya kepadaku.”

Tengah hari teriknya matahari bukan buatan dijalan raya tampak empat laki-laki tua dan muda

beserta seorang gadis, dengan kudanya yang sudah letih sedang melanjutkan perjalanan

dengan perlahan. Rombongan ini bukan lain dari pada In Tiong Giok dan kawan-kawannya.

Sewaktu mereka memasuki perjalanan gunung, segera berhenti dan membawa kuda meeka

mengaso ditempat teduh. Dengan matanya yang tajam In Tiong Giok mengawasi keatas

gunung. “Lihatlah diatas itu ada sebuah solokan kecil, kalau kita menyusuri solokan itu dan

terus memutar kesebelah timur, akan tiba dikampung halamanku.”

Dengan mata tunggalnya yang tajam Ciu Kong menatap kearah yang ditunjuk. “Ya,

kelihatannya sangat dekat, tapi kalau dijalani cukup jauh ! Sebaiknya kita istirahat agak lama

!”

“Sebenarnya aku tak sabar lagi, ingin sekali sampai dirumah tapi kalau yang lain sudah letih,

lebih baik istirahat dulu.”

“Kami tidak letih !” kata Yauw Kian Cee, “yang letih adalah kuda-kuda ini !”

“Ya, kutahu. Kuda-kuda ini sudah lemas sekali !” kata In Tiong Giok.

Toa Gu memberi minum kuda-kuda itu, sedangkan Tiong Giok mengobrol dengan Ceng

Ceng. Ciu Kong berjalan-jalan keatas bukit mengawasi keadaan sekeliling dengan cermatnya.

Tampak wajahnya sangat serius sekali, seolah-olah ada sesuatu yang dianggapnya tidak baik

sedang membayangi rombongan mereka. Waktu ia turun Yauw Kian Cee segera menegurnya

dengan kedipan mata. Ciu Kong tidak menjawab, ia mengeluarkan tiga jari dan terus duduk

“Tambah dua lagi !” tanya Yauw Kian Cee.

“Ya,” jawab Ciu Kong, “keduanya adalah wanita muda !”

“Adakah mereka mengikuti kemari ?”

325

“Mereka telah memotong jalan dan sudah berada didepan kita, agaknya mereka sudah tahu

tempat tujuan kita !”

“Manusia tak tahu mati ini bandel, kita harus membasminya sampai habis ! Kalau begitu

baiknya aku pergi duluan, menghajar mereka…..” kata Yauw Kian Cee minta pendapat Ciu

“Tak usah repot-repot,” tiba-tiba saja Tiong Giok bersuara. “Segala kurcaci begituan tak perlu

diladeni !”

“Oh, kiranya Siau cu jin sudah tahu !” kata Ciu Kong dengan kaget.

“Sejak kita meninggalkan gua, mereka telah membuntuti kita ! Hanya saja tak kuhiraukan.”

“Kami tidak menguatirkan mereka menyerang kita, yang kupikir adalah keselamatan orang

tuamu !” kata Ciu Kong.

“Aku mengerti keselamatan Lo Cianpwee, tapi kuyakin mereka tidak menurunkan tangan

pada saat ini !” kata Tiong Giok. “Selama tiga tahun aku mengembara didunia Kang Ouw, ras

rindu pada kampung halaman besar sekali, ingin secepatnya sampai disana, disamping rindu

yang meluap-luap, rasa cemaspun sangat mengganggu perasaan hatiku ! Pikirlah, andai kata

aku sampai di rumah, kedua orang tuaku, misalnya sudah dianiaya kaum Pok Thian Pang

semua ini merupakan hukuman bathin untuk seumur hidupku…….ai……semua tak dapat

ditutup-tutupi dengan omongan maupun senyuman.”

“Jika kaum Pok Thian Pang berani mencelakakan kedua orang tuamu yang tak berdosa itu,

segera kita satroni markas besarnya dan kita basmi sampai keakar-akarnya,” kata Ceng Ceng.

“Ah engkau anak kecil tahu apa ! Andaikata apa yang telah dipikirkan Siau cu jin menjadi

kenyataan, biarpun semua kaum Pok Thian Pang dibasmi habis, rasa duka itu tetap takkan

hilang, kita hanya berdoa janganlah itu terjadi !”

“Baik buruknya belum bisa ditentukan ! Setibanya dirumah baru bisa kita ketahui dengan

jelas ! Sebaiknya marilah kita lanjutkan perjalanan !”

Toa Gu segera menuntun kuda, Yauw Kian Cee mendahului yang lain, menjeplak

tunggangannya. “Aku jalan dulu,” sebelum Tiong Giok menjawab, ia telah melarikan

kudanya dengan cepat.

Tiong Giok menggelengkan kepala, dan terus mengajak yang lain melanjutkan perjalanan.

Setelah melalui belasan lie, mereka segera melihat sebuah sungai dan sebuah gedung.

Jembatan kecil yang menghunungi kedua tepian masih tetap seperti dulu, demikian juga

singa-singaan batu masih tetap berada ditempatnya, keadaan kampung halaman Tiong Giok

ini masih seperti dulu, sedikitpun tidak mengalami perubahan. Bedanya, kalau dulu disungai

ini banyak anak-anak nakal yang mandi dan menangkap ikan, kini sunyi sepi tak terlihat

barang seorangpun.

Dengan air mata mengambang, Tiong Giok mengawasi rumahnya, kudanya dibedal kearah

pekarangan rumahnya. Setibanya dijembatan kecil dirinya disosong Yauw Kian Cee dan

326

seorang tua. Begitu ia mengawasi, Tiong Giok segera mengenali orang tua itu In Hok adanya.

Sekejap itu, membuatnya tak tahu girang entah sedih, segera ia lompat dari kudanya dan

berlari kecil, menubruk orang tua itu. Dengan suara bergetar menahan sedih berkata : “In

Hok, masih kenalkah denganku ?”

In Hok mengucak-ucak matanya. “Oh…..Kongcu….kongcu sudah kembali, tiga tahun telah

berlalu, akhirnya engkau kembali dengan selamat !”

“Bagaimana keadaan ayah dan ibuku ?”

“Engkau telah terlambat….”

Belum habis mendengar perkataan yang diucapkan In Hok, wajah Tiong Giok telah menjadi

pucat pasi, tubuhnya menggigil tidak keruan dan hampir-hampir ia jatuh duduk. Untung Ciu

Kong dan Ciu Ceng Ceng berlaku tangkas, mereka segra memayang Siau cu jin dengan

“Tenanglah, tenanglah Siau cu jin,” kata Yauw Kian Cee.

In Tiong Giok menguatkan diri, air matanya berderai turun, dengan suara parau ia berkata :

“Sudah lamakah ? Dan apa sebabnya ?”

“Sejak kongcu meninggalkan rumah, kedua orang tuamu menjadi sedih, mereka memikirkan

terus dirimu siang dan malam, akibat ini mereka menjadi sakit, dan berpulang ke alam baka

susul menyusul.”

“Kenapa tidak digantung teng putih tanda berduka cita ?” tegur Tiong Giok.

“Loya memesan jangan memasang teng itu !”

“Apa sebabnya, dapatkah kau tahu ?”

“Sebelum meninggal Loya membubarkan pengawal-pengawal, lalu meminta jenasahnya

dikubur bersama-sama Hujin menghadap kejalan gunung. Artinya mereka menantikan

kedatangan kongcu kembali !”

Tiong Giok menangis dengan sedih, demikian juga yang lain tak bisa menghibur Siau cu

jinnya, mereka malahan turut meneteskan air mata.

“Sudahlah jangan terlalu bersedih, kedua orang tuamu sudah berusia lanjut lambat laun akan

meninggalkan dunia ini. Sebaiknya Kongcu berjiarah kemakam mereka sekarang juga !”

Toa Gu menuntun kuda-kuda kedalam pekarangan, lalu mengikuti jalan lain menuju

kekuburan orang tuanya In Tiong Giok. Kuburan itu letaknya dibelakang bukit, menghadap

kejalan gunung. Dikedua sisinya terdapat dua kupel, dari sini bisa melihat setiap orang yang

mau datang kerumah. Tiong Giok mengawasi kuburan orang tuanya dengan sedih, sedangkan

In Hok menyiapkan peralatan sembahyang.

Bentuk kuburan itu membuat Tiong Giok heran, karena lain dari kuburan biasa, sebab

kuburan itu mempunyai pintu disebelah sampingnya, hal ini membuatnya tak habis mengerti.

327

Sehabis selesai sembahyang ditanyanya In Hok, kenapa kuburan itu berpintu ? Dan siapa

yang membuatnya ?”

“Kuburan ini aku sendiri yang membuatnya dikarenakan belum dilakukan upacara

penguburan secara layaknya, maka kubuatkan pintu agar mudah memindahkan peti itu, jika

kongcu mau melakukan upacara penguburan !”

Pikir Tiong Giok apa yang dikatakan In Hok memang masuk akal, maka ia tidak bertanya

lagi. Sekembalinya dirumah, cuaca telah menjelang senja, dua pelayan datang menemui In

Tiong Giok. Yang satu dikenalinya sebagai pelayan ibunya yang bernama Tio Ma, sedangkan

yang satu lagi tidak dikenalnya.

Pelayan baru itu memperkenalkan diri sebagai Lie Ma dan baru masuk kerja menemani Tio

Ma setelah tuan dan nyonya rumah meninggal dunia.

In Tiong Giok tidak menyelidiki terlebih dulu, sehabis makan ia memanggil In Hok datang

kekamarnya. “In Hok katakanlah dengan sejujurnya, apakah kematian kedua orang tuaku itu

benar-benar dikarenakan sedih dan sakit ?”

“Apa yang kukatakan adalah benar !”

“Setelah menderita sakit tidakkah mereka berobat ?”

“Sudah tentu mereka beobat, aku sendiri yang memanggil tabib Oey dari kota, menurutnya

penyakit mereka tidak bisa baik lagi, nyatanya benar juga, berbungkus-bungkus obat diminum

mereka, tapi tak membawa hasil.”

“Siapa dulu diantara mereka yang meninggal dunia ?”

“Hujin dulu yang meninggal, semalam kenudian baru Loya, begitu berdekatan akan waktunya

itu.”

“Sejak aku pergi, pernahkah orang-orang Ngo liu cung datang kesini ?”

In Hok menjadi kaget : “Ini….ini…..”

“Dikamar ini hanya kita berdua, katakanlah jangan ragu-ragu !”

“Sejak kita berpisah disana, pernah ada yang datang kemari, kejadian ini membuat kedua

orang tuamu sangat cemas dan kuatir sekali.”

In Hok tidak melanjutkan perkataannya.

Telinga Tiong Giok yang tajam, mendengar tarikan napas halus dari jendela, ia mengerutkan

alis : “Siapa ?” bentaknya.

Tidak terdengar jawaban.

Tiong Giok membuka jendela mengawasi keluar, ia tidak melihat sesuatu apa-apa.

328

Tiong Giok membuka kursinya. “In Hok tak usah takut, tuturkanlah terus apa yang terjadi !”

“Sejak saat itu tidak terjadi apa-apa lagi, maksudku selagi toya dan Hujin belum

meninggal…”

“Setelah mereka meninggal ?”

“Terus terang orang-orang Pok Thian Pang pernah…”

Perkataan In Hok menjadi putus dengan terjadinya kegaduhan diluar kamar, seolah-olah ada

yang berkelahi. “Engkau diam-diam saja disini, aku mau melihat apa yang terjadi diluar !”

Begitu ia berkata tubuhnyapun telah mencelat keluar melalui jendela. Sebelum ia memijak

bumi kedua matanya telah menyapu keadaan sekelilingnya. Dan tampak dibagian timur taman

bunga sesosok tubuh orang ia mengenali itulah Ciu Kong.

“Aku mendengar napas orang diluar jendela tapi waktu kutegur tidak ada jawaban, apakah Lo

Cianpwee melihat orang itu ?”

“Ya kulihat seseorang sedang mengintai kedalam kamarmu, maka kuhajar orang itu,

akibatnya membuat Siau cu jin kaget saja !”

“Siapa orang itu ? Kenapa tidak diciduk ?”

“Orang itu mengenakan topeng, sukar dikenali. Waktu kuserang ia melarikan diri keluar

tembok.”

Saat inilah terdengar teriakan tertahan dari arah kamar : “Kongcu….”

Tiong Giok jadi kaget, dengan cepat ia kembali kedalam kamar, begitu ia masuk, tubuhnya

bersamplokan dengan tubuh seseorang yang mau keluar dari kamar. Dengan satu gerakan,

Menangkap naga, orang itu dicekalnya. Tapi lengannya meresakan benda lunak, seolah-olah

bantal guling adanya. Ia menjadi kaget, sebelum tahu apa yang terjadi, kembali sesosok tubuh

mencelat pergi. Tiong Giok tahu dirinya tertipu musuh, sebelum ia sempat mengejar musuh

sudah kabur keluar kamar. Ia bisa lolos dari tangan In Tiong Giok, tapi tak berpikir masih ada

Ciu Kong. Tubuhnya disambut pikilan maut simata satu dengan telak. “Lo Cianpwee, tangkap

hidup-hidup !” teriak Tiong Giok. Tapi sudah terlambat, orang itu telah terjungkal dan tak

berkutik lagi. Tiong Giok menghampiri, orang itu berseragam hitam dan bertopeng. Begitu

diperiksa nyatanya sudah mati. Topengnya diangkat, dan orang itu bukan lain dari pada yang

mengaku sebagai Lie Ma, seorang pelayan baru tadi.

“Sayang ia sudah mati,” kata in Tiong Giok.

Mereka cepat-cepat memeriksa keadaan In Hok.

Orang tua itu menggeletak dilantai, punggungnya tertancap sebilah belati, napasnya begitu

lemah. Tiong Giok buru-buru menutup jalan darah punggung In Hok dengan satu totokan.

Waktu mau mencabut belati Ciu Kong cepat-cepat mencegahnya : “Jangan !” serunya.

“Kenapa ?”

329

“Lihatlah tempat yang terluka berwarna hitam, sedikitpun tidak mengeluarkan darah,

menandakan belati ini sangat beracun. Bilamana dicabut jiwa segera melayang sedangkan kita

memerlukan sesuatu keterangan darinya !”

“Apakah jiwanya tak dapat ditolong ?”

Ciu Kong menggoyangkan kepala sambil mengeluh : “Ia sudah tua , lukanya begini berat,

susah menolongnya !”

“Semua ini akibat kelalaianku, ai….”

“Cepat-cepatlah tanyakan kepadanya apa yang ingin kau tahu !”

Tiong Giok menotok jalan darah kesadaran ditubuh jongos tua itu, dalam sekejap In Hok bisa

membuka matanya, ditatapnya majikannya dengan mata sayu. Air mata tuanya tampak

tergenang, mulutnya kemak kemik tapi tidak mengeluarkan suara sepatahpun. Melihat ini Ciu

Kong cepat-cepat melakukan totokan disebelah kiri dadanya. Dan membuat In Hok bisa

berkata-kata dengan perlahan. “Kongcu….lekaslah….”

“Berkatalah perlahan-lahan, penjahat itu sudah dibunuh, jangan kuatir lagi !”

In Hok menganggukkan kepala. “Aku tahu Lie Ma itu adalah utusan Pok Thian Pang yang

sengaja dikirim kesini untuk mengawasi kita.”

“Loya,” kata Ciu Kong, “waktu sangat sempit lekaslah katakana yang perlu saja !”

“Pergilah kekuburan, dan masuk kekupel kiri, ditiang ketiganya bagian bawah, terdapat

sebuah gelang kecil…” Tariklah tiga kali panjang sekali pendek…” Suaranya segera hilang

tak terdengar lagi.

“Siau cu jin lekaslah kesana, soal disini serahkan kepadaku !” desak Ciu Kong.

“In Hok adalah jongos yang setia, kuharapkan Lo Cianpwee bisa menolongnya….”

“Legakan hatimu akan kuusahakan sedapat mungkin !”

Dengan menyeka air mata, In Tiong Giok meninggalkan tempat itu, menuju ke perkuburan.

Dengan cepat ia telah sampai ditempat tujuan segera ia memeriksa tiang-tiang yang berada di

kupel itu, semuanya ada lima, dan benar saja disalah satu tiang itu terdapat sebuah gelanggelangan.

Ia menurut apa yang dikatakan In Hok, tiga kali menarik panjang dan sekali

menarik pendek. Baru pula ia melepaskan gelang-gelang itu, dibelakang tubuhnya

berkesiurlah angin dingin. Tapi secara reflek ia melakukan tangkisan dengan pedang Hong

hiat kiam. Begitu senjatanya bentrok dengan senjata sipembokong, tubuhnya sudah berbalik.

Nampaklah musuh membengong mengawasi senjatanya yang telah buntung. Sedangkan ia

sendiripun menjadi terbengong. “Engkau…..ah….” katanya tanpa disadari.

Kiranya entah sedari kapan pintu yang terdapat disamping kuburan telah terbuka, pembokong

itu keluar dari situ. Ia adalah seorang gadis berbaju merah, yang selalu menjadi buah pikiran

In Tiong Giok, yakni bukan lain dari Wan Jie adanya.

330

Wan Jie pun terperanjat melihat kekasihnya berada didepan mata, tanpa sadar ia mundurmundur

beberapa langkah “Engkau….engkau…..”

“Ya aku In Tiong Giok, Wan Jie lupakah kepadaku ?”

Setelah terpukau beberapa saat, Wan Jie segera sadar, pedangnya yang buntung dilemparkan,

tubuhnya maju melompat, masuk kedalam pelukan Tiong Giok, sedu sedannya segera

terdengar, “Kutahu engkau pasti pulang, dan benar saja dugaanku ini….” Suaranya terputusputus

isak tangisnya, ia tidak sedih melainkan rasa haru dan girang, membuatnya hujan air

Tiong Giok merasakan bahagia disaat itu, penuh omongan yang akan dikatakan, tapi tak tahu

harus dari bagian mana mulai pembicaraan. Sejenak mereka terbenam dalam kehangatan jiwa

remaja, tanpa berkata-kata.

“Wan Jie, baik-baikkah selama berpisah ?” akhirnya Tiong Giok membuka mulut.

Wan Jie tidak menjawab, ia lebih senang membenamkan dirinya semakin keras kedalam

pelukan kekasihnya.

“Wan Jie kenapa engkau berada disini ?”

“Aku sudah setahun tinggal disini, menantikan kedatanganmu !”

“Setahun lebih diam didalam kuburan ?”

Wan Jie menganggukkan kepala, “Bagaimana kau tahu aku disini, tentu In Hok yang

memberitahu bukan ?”

“Hanya memberitahu soal menarik gelang-gelangan itu, dan tidak mengatakan engkau berada

disini !”

“Pantasan kudengar bel berbunyi tiga kali panjang sekali pendek, tapi waktu kubuka pintu

kuburan bukan In Hok yang menarik bel, hampir-hampir aku melukaimu !” kata Wan Jie.

“Apa lagi yang dikatakan In Hok ?”

“Tidak ada lagi, hanya mengatakan itu saja” jawab In Tiong Giok. “Senja ini aku baru sampai

dirumah, tak kira beberapa jam dirumah, In Hok sudah dilukai kaum Pok Thian Pang, didalam

keadaan luka parah itu ia menyuruhku cepat-cepat kemari.”

“Jika begitu jangan mengobrol saja disini, kemarilah kuperlihatkan seseorang padamu.”

“Siapakah dia ?”

“Setelah bertemu engkau akan tahu sendiri,” jawab Wan Jie seraya melepaskan diri dari

pelukan kekasihnya dan cepat-cepat menuntun Tiong Giok kepintu kuburan. Biarpun diliputi

rasa herannya, Tiong Giok tidak menanya ini dan itu, ia mengikuti saja kehendak kekasihnya

itu. Saat mereka mau masuk, tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Mereka kaget dan

berpaling dengan berbareng. Tampak dua gadis berbaju kuning dan seorang lelaki berbaju

331

hijau menghampiri mereka. Gadis-gadis itu segera memberi hormat kepada Wan Jie dan

bertekuk lutut.

“Oooh…..kiranya engkau berdua !” seru In Tiong Giok tanpa terasa.

“Ya,” jawab gadis-gadis itu, “kami ini adalah Siau Hong dan Siau Eng !”

Sedangkan lelaki itu dengan sedekap tangan memberi hormat. “Wan Kounio, kenalkah aku ?”

Wan Jie dengan wajah tak senang berkata acuh, “kiranya Lie Cit Long, melihat dandananmu

ini agaknya engkau naik pangkat bukan ?”

“Berkat rejeki dari Wan Kounio, aku dijadikan ketua ranting di Ngo Liu Cung !”

“Apa maksud kedatanganmu kesini ? Mau memaksaku pulang ?”

“Kami tak berani menyuruh Kounio pulang,” kata Siau Hong, “tapi sedang menjalankan tugas

dari Lo Cucong agar Kounio kembali !”

“Ya, persoalan memang tak seberapa,” sambung Lie Cit Long. “Bilamana Wan Kounio tidak

mau menikah dengan Siau Pangcu, apa salahnya memberi tahu pada Lo Cucong dan tidak

usah kabur-kaburan bukan ?”

“Engkau memberi nasehat atau ngejek ?”

“Aku mana berani memberi nasehat ataupun mengejek, aku mengatakan apa yang terkandung

didalam hatiku,” kata Lie Cit Long, “Karena Wan Kounio sangat disayang oleh Lo Cucong

maupun Pangcu, segala kesalahan kecil itu tentu bisa dimaafkan dan tak usah Kounio kabur

dari sana !”

“Memang benar, sejak kecil aku dibesarkan oleh mereka, andaikata mereka menyuruh aku

mati akupun tak membangkang, tetapi kalu menyuruh kawin dengan orang yang tidak kusukai

akibatnya begini, kutinggalkan mereka !”

“Kini Lo Cucong sudah menyesal, menghendaki Kounio pulang !”

“Kukenal betul watak Lo Cucong, tak ada menyesal, maka tak perlu kau membujukku !”

“Kounio….!” Seru Siau Eng dan Siau Hong dengan berbareng.

“Sudahlah jangan mendesakku,” kata Wan Jie, “antara aku dan kalian namanya saja nona dan

pelayan, sebenarnya melebihi saudara kandung sendiri. Aku tak mau menyusahkan kalian dan

kumohon kalian pun jangan mendesakku.”

“Kounio memperlakukan kami begitu baik, maka ada beberapa patah yang bagaimanapun

harus kami katakana. Yakni Lo Cucong telah mengeluarkan pengumuman, jika Kounio tidak

mau pulang lagi, akan dianggap sebagai pengkhianat ! Coba pikirkan.”

“Maksud kalian bila aku tidak ingin pulang akan dilakukan dengan kekerasan ?”

332

“Kami ini mana berani !” kata Siau Eng dan Siau Hong seraya mundur beberapa langkah dan

bertekuk lutut, “kami mohon Kounio diharap kembali. Hanya itu.”

Wan Jie jadi melongo menghadapi kedua pelayan yang setia itu.

“Kenapa Lo Cucong mengetahui aku disini ?”

“Sejujurnya tidak ada seorang anggota Pok Thian Pang yang tahu Kounio berada disini,” kata

Siau Eng. “Tapi orang-orang Ngo Liu Cung selalu memasang mata, begitu In kongcu masuk

kedaerah Ek ciu mereka segera memberi laporan kepusat. Pangcu beserta kami segera

menyusul kemari.”

“Apakah suhukupun datang ?”

“Benar,” jawab Lie Cit Long,”beliau berada di Ngo Liu Cung !”

Wan Jie menarik napas, wajahnya berubah pucat, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Matanya memandang pada In Tiong Giok dan pintu kuburan, begitu sayu dan berkaca-kaca.

Sesaat telah berlalu ia baru membuka mulut, “Jika suhuku sudah datang, segera kutemuinya,

sekarang kuminta kalian pulang dulu, besok baru kutemuinya !”

“Terima kasih atas kesediaan Kounio,” kata Siau Hong dan Siau Eng sambil bertekuk lutut.

“Pergilah !” seru Wan Jie. Kedua pelayan itu bangkit dari tanah dan memberi hormat lagi, Lie

Cit Long pun mengucapkan terima kasih baru berlalu.

“Wan Jie apakah benar engkau akan kembali ke Pok Thian Pang ?” tanya In Tiong Giok.

“Sungguhpun aku tak mau, dalam keadaan begini harus mau juga !”

“Bagaimana aku akan mencegah engkau kembali kesana !”

“Baiklah,” kata Wan Jie, “setahun lebih kutunggu engkau kembali, banyak soal yang akan

dibicarakan, marilah turut denganku !” Terus diajaknya Tiong Giok masuk kedalam kuburan.

Begitu pintu ditutup lagi, keadaan sangat gelap gulita.

Wan Jie menyalakan lampu pelita dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Jangan bersuara dan

jalan perlahan-lahan, orang tua itu entah sudah bangun entah belum, tak baik

mengganggunya.”

“Siapa orang itu ?”

Wan Jie tak menjawab, ia menuntun Tiong Giok menghampiri dua peti mati. Kuburan ini

cukup luas, bagi mereka cukup leluasa untuk bergerak. Wan Jie menghampiri kesalah satu

peti, dan mengangkat tutupnya dengan mudah. Tiong Giok melongok kedalamnya, ia tidak

mendapatkan jenazah orang tuanya, peti itu kosong melompong. Dan merupakan sebuah jalan

rahasia yang berbentuk terowongan dibawah tanah.

“Apakah peti yang satu ini kosong juga ?” tanya Tiong Giok.

333

“Tidak !” jawab Wan Jie, “itu peti ayahmu !”

“Lalu kemanakah jenazah ibuku ?”

“Sebenarnya inilah peti ibumu, kini sudah dipindahkan kekamar rahasia yang berada didalam

tanah.”

“Kenapa engkau memindahkan jenazah ibuku ?”

Wan Jie tidak menjawab, ia melangkah masuk kedalam peeti itu, Tiong Giok mengikuti dari

belakang. Terowongan itu, bertangga yang menurun kedalam tanah. Setelah melalui tangga

itu, mereka harus melalui terowongan pendek, dari sini masuk kesebelah pelita kecil. Wan Jie

menggantungkan pelitanya. Mendapatkan bahwa kamar itu terdiri dari dua ruangan, depan

dan belakang. Ruangan depan dijadikan sebagai ruang tamu, sedang ruang belakang

berhorden dan dijadikan kamar tidur.

“Duduk dulu,” kata Wan Jie dengan perlahan.

“Wan Jie siapa yang sedang tidur itu ?”

“Kecuali ibumu, ada siapa lagi ?”

“Tidakkah ibuku sudah meninggal dunia ?”

“Kuminta jangan keras-keras, nanti ibumu kaget !”

“Aku ingin melihatnya, apakah ibuku itu masih hidup atau sudah mati ! Kuminta engkau

jangan bergurau !”

“Wan Jie siapa yang bicara ?” tiba-tiba dari kamar tidur itu terdengar suara parau.

“Ini gara-garamu membuatnya terbangun !” kata Wan Jie, “Ibu sudah bangun ?”

Tiong Giok tidak bisa menahan emosi lagi, ia mendahului Wan Jie masuk kekamar dan terus

memanggil-manggil. “Ibu ! Ibu, aku sudah kembali !”

Dikamar itu terdapat sebuah balai, yang dibaringi seorang tua berambut putih, “Oh Tiong

Giok…… engkau telah kembali……!”

Tiong Giok segera merangkul ibunya. “Ya bu anakmu yang berdosa dan tak berbakti ini telah

kembali.”

“Akhirnya engkau kembali juga nak,” kata orang tua itu sambil mengusap-usap kepala

anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Bu, kenapa dengan matamu ini ?” tegur Tiong Giok dengan kaget, karena melihat ibunya

seperti tidak melihat dirinya saja.

334

Pertanyaan ini membuat orang tua itu tersenyum sambil menangis, “Tidak kenapa-napa !

Tadinya memang sudah berpenyakitan, ditambah menangis saja pad hari-hari belakangan ini,

sehingga tidak melihat lagi !”

Tiong Giok menjadi sedih, dirangkulnya ibunya erat-erat sambil menangis dengan kerasnya.

Ibu dan anak bertangis-tangisan menjadi satu membuat Wan Jie turut menangis…..mereka

menangis sepuas-puasnya ! Akhirnya Wan Jie juga yang sadar terlebih dahulu, didorongnya

Tiong Giok dengan perlahan dan dibisikinya. “Jangan menangis, tak baik membuat ibu

bersedih, kita harus membuatnya senang !”

“Tiga tahun kutinggalkan rumah tak kusangka keadaan yang tenang dan tenteram jadi

berantakan begini tragis ! Untung Tuhan masih mengasihani, masih dapat bertemu dengan

ibu, kalau tidak, entah bagaimana perasaan hatiku ini ! Aku anak durhaka dan berdosa pada

orang tua !”

“Karena Wan Jie aku bisa hidup sampai sekarang….ketahuilah dia telah kujadikan anak

angkat !”

“Kebaikan dari Wan Jie takkan kulupakan untuk selama-lamanya !” kata Tiong Giok. “Ibu

dapatkah menceritakan apa yang telah terjadi, sewaktu aku tak dirumah ?”

“Sejak engkau meninggalkan rumah dan pergi ke markas Pok Thian Pang, siang dan malam

membuat kami bersedih dan kuatir, ayahmu sampai sakit dan tak bisa bangun dari ranjang.

Sewaktu akan meninggal dunia, Wan Jie datang kemari, darinya kami mengetahui bahwa

engkau telah meloloskan diri dari sarang Pok Thian Pang. Hal ini membuat kami bersuka tapi

membuat kami cemas juga, karena orang-orang Pok Thian Pang datang kesini untuk

mencelakakan kami. Untung Wan Jie sangat pandai, ia memberikan aku obat pulas selama

lima hari lima malam dan mennyuruh In Hok membuat kuburan istimewa. Waktu ayahmu

meninggal, ia mengatakan akupun meninggal dunia sehingga orang-orang Pok Thian Pang

kena dikelabui. Sungguhpun begitu waktu jenazah kami dimasukkan kedalam peti, orangorang

Pok Thian Pang pada banyak yang datang untuk mencek benar tidaknya tentang

kematian kami ini. Untunglah mereka kena ditipu. Dan sejak itu kami bersembunyi didalam

kuburan ini, sedangkan soal makan dan lain-lain, In Hok yang melakukan dengan diam-diam.

Disamping melewatkan hari, kamipun sangat mengharapkan engkau kembali, nyatanya

harapan kami tidak sia-sia, kau benar-benar kembali. Andaikata tiada Wan Jie mungkin aku

sudah mati, atas ini engkau harus berterima kasih kepadanya.”

“Ibu untuk apa mengatakan begitu, membuat aku malu saja !” kata Wan Jie.

“Kuingat waktu berada dimarkas Pok Thian Pang jika tidak ada Wan Jie akupun mungkin

sudah mati ! Budi ini sangat besar sekali dan belum bisa kubalas, kini ditambah lagi dengan

soal ibu, budi itu bertambah tebal dan entah bagaimana harus kubalas…..”

“Engkau jangan mengatakan begitu, sejak aku meninggalkan markas Pok Thian Pang tidak

mempunyai rumah, untung ibumu mau mengaku anak kepadaku dan membuat aku

mempunyai tempat tinggal, atas ini seharusnya akulah yang menghaturkan terima kasih

kepada keluargamu !”

335

“Jika tidak kau sebutkan aku sampai lupa bertanya….” Kata In Tiong Giok sendiri tersenyum

meringis. “Dengar-dengar engkau telah menikah dengan Pek Suhengmu bukan ? Kemudian

kenapa engkau melarikan diri dari sana ?”

“Hm untuk apa bertanya soal itu ?”

“Ingin tahu saja memang kenapa ? Katanya Pek Kiam Hong pun turut kabur bersamamu

bukan ?”

“Untukku ? Memang kenapa ?”

“Pek Suheng adalah orang aneh, sejak kecil tidak mempunyai seorang sahabatpun ! Tapi sejak

kenal denganmu tabiatnya banyak berubah dan menganggap engkaulah satu-satunya sahabat

yang mengerti keadaan dirinya. Karena inilah waktu kami dinikahkan, bukan saja tak setuju ia

pun menentangnya dengan keras, karena ia tahu bahwa aku. Untuk inilah kami minggat dari

sana !”

“Kini dimana ia berada ?”

“Entahlah ! Kami sudah lama berpisah satu sama lain, gara-gara ketemu tong teng cit kiam

ditelaga See Ouw !”

Sebenarnya ia anak yang baik, dikarenakan suasana yang menekan, membuatnya menjadi

manusia aneh ! Bilamana bertemu lagi aku harus bergaul terlebih rapat dengannya.”

Wan Jie menarik napas perlahan, penuh kedukaan. “Kupikir, sebaiknya engkau jangan

bergaul terlalu rapat dengannya.”

“Memang kenapa ?”

“Apakah engkau lupa dengan tanda luka dipunggungmu ?”

“Didunia ini banyak yang mempunyai tanda luka dipunggungnya, kebetulan akupun memiliki

tanda ini, mana boleh ditentukan begitu saja sebagai musuhnya ?”

“Ini bukan kebetulan ! Dirimu pasti bersangkutan dengan kematian ayahnya Pek Suheng.”

“Kudengar sendiri Pek Kiam Hong mengatakan ayahnya dibunuh seorang jago silat;

sedangkan ayahku bukan ahli silat, jika tidak percaya, tanyakanlah pada ibuku…..”

“Justru karena sudah menanyakan hal ini kepada ibumu, aku baru berani mengatakan begitu

!”

In Tiong Giok menoleh kepada ibunya dengan wajah bertanya-tanya. Sebelum ia menanya,

ibunya telah menganggukkan kepala membenarkan Wan Jie. “Sedikitpun tidak salah,” kata

orang tua itu.

Tiong Giok semakin heran, seolah-olah ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. “Apakah

ayah pandai bersilat ?” tegurnya dengan heran.

336

“Tidak !”

“Lalu kenapa ayah bisa membunuh orang Kang Ouw ?”

Sang ibu tidak menjawab, ia menyuruh Wan Jie mengambil sesuatu benda dari lemari. Sang

gadis dengan cepat telah mengambil suatu kas kecil dari lemari. Orang tua itu menyambut kas

itu dengan lengan bergetar, air matanyapun entah bagaimana menetes turun. “Tiong Giok

dengarkan baik-baik ceritaku, jangan kaget, jangan pula sedih, kejadian ini lambat laun harus

engkau ketahui juga……”

“Apakah yang ibu akan katakana ? Dan apa pula isinya kas ini ?”

“Kas ini berisi suatu rahasia besar tentang dirimu ! Selama belasan tahun kurahasiakan, kini

kurasa sudah tiba saatnya untuk kau ketahui semua itu ! Tapi sebelum kubuka rahasia ini,

sebaiknya engkau perhatikan isinya kas ini !” Segera ia membuka kas itu. Dengan cepat Tiong

Giok melongok kedalamnya, ia melihat kerudung bayi yang sudah lapuk dan bernoda darah

serta pakaian anak kecil yang berdarah juga. “Apa artinya benda-benda ini bu ?”

“Coba kau jembreng dan kau perhatikan baju kecil ini !”

Tiong Giok membuka baju kecil itu, tampak digabian pundak kirinya robek, dan dibagian

dalamnya tersulam dua huruf kecil berbunyi Sian Gan.

“Baju kecil ini satu-satunya bukti yang menyangkut tentang rahasia dirimu, sedangkan dua

huruf Sian Gan itu, dapat dijadikan unsure untuk engkau mencari ibu kandungmu…….”

“Ibu, maksudmu aku ini……”

“Ya, engkau bukan she In, engkau hanya sebagai anak pungut kami !”

“Ibu………” seru Tiong Giok dengan nada gemetar.

“Tiong Giok tenanglah !” pinta Wan Jie.

Tiong Giok menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya mengembang dikelopak matanya.

“Tidak ! Semua ini bohong ! Bohong !”

Jilid 17 …..

Sang Ibu dengan lengan tuanya mengusap-usap pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Anakku semua ini benar adanya ! Selama belasan tahun engkau kami rawat, dengan rasa

penuh kasih sayang. Disamping itu kami berdoa agar kelak engkau bisa menemukan orang

tuamu yang sejati…..engkau mungkin belum mengerti apa yang terjadi akan dirimu

ini……baiklah kututurkan bagaimana aku menemuimu. Tujuh belas tahun yang lalu, diawal

musim semi, air sungai yang beku mulai berair, sedangkan tanggul-tanggul sungai banyak

yang rusak, akibatnya akan timbul bahaya banjir. Penduduk kampung bergotong royong dan

bermusyawarah untuk mengatasi bencana yang tidak diinginkan itu, demikian pula dengan

ayahmu sering pergi bermusyawarah ke kabupaten. Pada suatu hari, diperjalanan pulang. Ia

melihat sebuah kas kayu yang terumbang ambing di atas sungai. Entah bagaimana

337

perhatiannya sangat tertarik dengan kas itu, dan disuruhnya tukang perahu mengambilnya.

Begitu dibuka kas itu, ia menjadi melongo, karena didalamnya terlihat anak kecil berusia

setahun lebih, penuh dengan darah. Mula pertama orang-orang yang melihat kejadian ini,

menganggap anak itu sudah mati. Tapi setelah dipeeriksa dengan cermat, nyatanya anak itu

masih bernyawa. Ayahmu segera membawa pulang, dan memanggil tabib mengobati anak

kecil yang malang itu. Sebulan kemudian anak itu sudah sehat walafiat. Ia sangat mungil dan

manis, siapapun senang kepadanya. Lagi pula kami yang berusia hampir setengah baya belum

dikaruniakan barang seorang anak, begitu mandapatkan anak ini, bukan buatan girangnya dan

bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tiong Giok seperti mimpi mendengar perkataan ibunya itu, sedangkan air matanya mengalir

terus tanpa dirasa.

“Kecuali keredong dan pakaian yang menempel ditubuhmu di dalam kas itu tidak terdapat

benda lainnya lagi, sehingga kami hanya bisa menduga bahwa keluargamu ketemu perampok

dan teraniaya…..”

“Bilamana orang tuaku itu mati, siapa pula yang menaruhku kedalam kas itu ?”

“Sukar diketahui !” jawab ibunya. “Untuk menyelidiki siapa sebenarnya engkau ini, ayahmu

telah pergi menyusuri sungai ratusan lie jauhnya, menanyakan kepada penduduk disekitar

situ, kalau-kalau mengetahui siapa yang menghanyutkan anak itu. Tapi tidak ada seorangpun

yang tahu ! Memang sangat aneh dan sukar dimengerti, bilamana ayahmu terbunuh kaum

perampok, siapa yang menghanyutkan engkau kekali ? Bilamana ayahmu tidak terampok,

kenapa engkau kecil-kecil sudah luka parah ? Dan yang mengherankan, disekitar situ tidak

terdengar adanya perampokan maupun pembunuhan….”

“Ibu, atas pertolongan ayah dan rawatanmu aku menjadi dewasa, tapi aku tidak bisa

membalas guna, meninggalkan rumah, membuat ayah dan ibu bersedih; bahkan

mendatangkan bencana dari kaum Pok Thian Pang, semua adalah dosa ! Oh…..ibu ampunilah

anakmu yang tidak berbakti ini !”

“Anak yang baik, janganlah berkata sedungu itu ! Soal umur ada ditangan yang maha kuasa,

ayahmu sudah tua, sudah seharusnya kembali kedunia baka. Tak perlu engkau sesalkan !

Yang membuat kami sedih, selama ini belum bisa melihat engkau berkumpul dengan orang

tua kandungmu !”

“Ibu kenapa mengatakan soal yang menyedihkan saja ,” Wan Jie turut bersuara. “Kini Tiong

Giok sudah kembali soal orang tuanya itu mudah diketahui ! Lagi pula bilamana ia kembali

kepangkuan orang tuanya ibu tak perlu berkecil hati, masih ada aku yang bisa merawatmu.”

Orang tua itu tersenyum meringis. “Engkau salah mengartikan kata-kataku, aku bukannya

sombong, pikiranku tidak sesempit itu. Bukan saja bersedih jika Tiong Giok kembali

kepangkuan ibu kandungnya malahan girang !”

“Cuma saja kemana harus mencari orang tuanya itu ?”

“Kupikir soalnya mudah sekali,” kata Wan Jie. “Soalnya ialah ditanda luka itu, kuyakin betul

berhubungan dengan dendam Pek Suheng. Soal ini dapat kuketahui dari Suhuku atau Lo

Cucong.”

338

“Andaikata benar begitu, mungkin kita menanyakan pada mereka ?” kata Tiong Giok.

“Tak usah menanyakan pada mereka, kita bisa menanyakan pada orang lain !”

“Makdusmu menanyakan pada Pek Kiam Hong ?”

“Bukan ! Coba kau pikir, banyak jago-jago Bulim yang mengetahui rahasia Pek Suheng

bukan ? Coba-coba kau pikir……”

“Benar ! Dari dirinya Pek Kiam Hong banyak soal aneh-aneh !” kata Tiong Giok. “Tong Cian

Lie mengasingkan diri, orang-orang Tiat Po tak berani berbuat apa-apa pada Pok Thian

Pang……semuanya ini menyangkut dengan Pek Kiam Hong.”

“Heran bukan ? Sampai jago-jago itu rela tunduk pada Pok Thian Pang, karena soal Pek

Suheng ? Bukan itu saja merekapun tutup mulut tak berani mengatakan apa-apa kepada

siapapun.”

“Jika kuminta Tong Cian Lie akan menuturkan soal ini.”

“Engkau yakin betul pada dirimu ?”

“Aku bersahabat baik dengannya, dan ia telah memberikan buku Lui tiap padaku, kuyakin ia

akan memberi tahu. Bagaimana kalau besok kita bawa ibu ke Kiu Yang Shia, selanjutnya tak

kuatir orang-orang Pok Thian Pang mengganggunya lagi.”

“Cara ini memang baik, tapi perjalanan sangat jauh, sedangkan kedua mata ibumu sudah tak

bisa melihat, banyak berabenya.”

“Hal ini tak perlu dikuatirkan….”

“Kalau begitu soal ibu ini kuserahkan padamu….”

“Apakah dengan penyerahan ini, engkau mau pulang ke Pok Thian Pang ?”

“Aku hanya ingin menemukan guruku saja, dan tidak pergi ke markas pusat Pok Thian Pang

!”

“Kuharapkan engkau bisa mengurungkan niatmu itu,” bujuk In Tiong Giok. “Sekali engkau

berada ditangan mereka, pasti akan memaksamu kembali ke pusat.”

“Guruku sangat sayang padaku, kuyakin ia tak mau mendesakku kembali ke pusat.”

“Tapi engkau lupa, bahwa gurumu biarpun menjadi Pangcu, tidak berkuasa ! Yang berkuasa

adalah Lo Cucong.”

“Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan Pek Cin Nio, namanya guru dan murid, padahal

hubungan kami tak ubahnya seperti anak dan ibu…..Tambahan aku sudah menjanjikan

mereka untuk ke Ngo Liu Cung. Dalam hal ini kuminta engkau mengerti kesulitanku.”

339

“biar bagaimanapun aku melarangmu kembali kemulut macan ! Jika engkau mau pergi juga

kesana, baiklah akupun turut serta !”

“Hm ! Engkau rela meninggalkan ibumu ?”

“Soal ibu dapat kuminta Ciu dan Yauw Lo Cianpwee yang mengurus sampai ke Kiu Yang

Shia, kita menyusul belakangan !”

“Engkau tidak mengerti, Lie Cit Long sudah mengetahui diriku berada disini, sudah pasti tak

gampang pergi begitu saja ! Kuyakin sekitar ini sudah penuh dengan jago-jago Pok Thian

Pang, bilamana aku berkeras tak pergi menemui guruku, bisa-bisa membuat kalian susah

sendiri. Mengertikah maksudku ?”

“Ha ha ha, engkau jangan menyamakan In Tiong Giok yang dulu dengan sekarang ! Baru

beberapa jago-jago begitu, sedikitpun tidak kupandang sebelah mata !”

“Mungkin selama berpisah ini, engkau memperoleh ilmu yang luar biasa ?”

“Bukan sombong, selama satu tahun telah kupelajari Thian liong dengan baik, kukira ilmu itu

cukup kuat untuk melindungi engkau dan ibuku !”

“Oh….benar ! Kupercaya keteranganmu, karena waktu kuserang tadi, engkau bisa menangkis

dan mematahkan pedangku !”

“Kepatahan pedangmu, bukan disebabkan kelihayan ilmuku.”

“Habis karena apa ?”

“Karena pedang pusaka ini !” jawab Tiong Giok. “Wan Jie, sekarang engkau percaya akan

ketangguhanku bukan ?”

“Ya kupercaya sepenuhnya, karena bukan saja kepandaianmu sudah tinggi, juga memiliki

pedang pusaka !”

“Kalau begitu niatmu ke Ngo Liu Cung menjadi batal bukan ?”

“Aku bisa membatalkan niatku, tapi sebelum itu engkau harus meluluskan dua

permintaanku.”

“Katakanlah apa permintaanmu itu !”

“Kesatu engkau harus memaklumi, bahwa diriku ini dibesarkan oleh orang-orang Pok Thian

Pang, bagaimanapun aku tak bisa berkhianat pada mereka.”

“Engkau seorang yang mengenal budi, sudah tentu permintaanmu ini kululusi, dan yang satu

lagi ?”

“Yang kedua, kuharap engkau berlaku murah jika berkelahi dengan guruku !”

“Itu mudah ! Nah bersiap-siaplah untuk berangkat !”

340

Dikamar itu memang tak ada perabotan yang bisa dibawa, Wan Jie hanya membundel pakaian

sehari-hari. “Hayolah kita berangkat !”

“Ibu tak bisa berjalan sendiri, marilah kugendong !” kata Tiong Giok.

“Sebaiknya aku yang menggendong ! Dengan begini kalau ketemu musuh engkau bisa

melawannya !” Tanpa menunggu jawaban dari Tiong Giok, Wan Jie segera menggendong

orang tua itu. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, tiga kali

panjang sekali pendek, “Siapa yang mengebel ?” tanya Wan Jie.

“Mungkin Ciu Lo Cianpwee, biar kubukakan pintu, dan kau tunggu dulu disini !” kata Tiong

Giok yang terus berlari keluar. Begitu ia membuka pintu kuburan, tampak seseorang sedang

langak longok di pintu kuburan, orang itu adalah Toa Gu adanya, tentu saja membuat Tiong

Giok heran. “Toa Gu ada keperluan apa kau kemari ?” Toa Gu menjadi kaget, tapi begitu

mengenali yang menanya itu Tiong Giok adanya, ia tersenyum-senyum sambil menepaknepak

dada. “Aduh, membuatku kaget saja ! Siau cu jin apa-apaan bersembunyi didalam

kuburan ?”

Tiong Giok tak menjelaskan atas keheranan sitolol, malahan lantas bertanya : “Siapa yang

menyuruhmu kesini ?”

“Ciu Lo Cianpwee yang menyuruh !” jawab Toa Gu. “Katanya disekitar rumah penuh dengan

musuh-musuh, apakah perlu dihajar atay bagaimana itu terserah pada Siau cu jin !”

“Berapa banyak musuh-musuh itu ?”

“Keadaan gelap tak bisa melihat tegas, pokoknya banyak !”

“Apakah mereka sudah masuk kerumah ?”

“Buh….kalau sudah masuk kerumah sih sudah beres, dan tak perlu menanya Siau cu jin lagi

!”

“Baiklah, beri tahu Ciu Lo Cianpwee jangan ladeni musuh-musuh itu. Dan minta semuanya

datang kemari !”

Toa Gu segera berlalu.

Saat ini Wan Jie yang menggendong ibunya Tiong Giok telah sampai diluar kuburan.

“Bagaimana ada apa ?” tanyanya.

“Gurumu sudah mengepalai anak buahnya melakukan pengepungan pada rumahku, biar

bagaimana perkelahian tak bisa dihindarkan lagi !”

“Ah, kenapa guruku berlaku begini ?”

“Sedapat mungkin kita hindarkan eprkelahian, kalau terpaksa baru melawan !” jawab Tiong

341

“Sebaiknya sabarlah dan jangan membunuh orang,” kata ibunya Tiong Giok.

Tak selang lama Ciu Ceng Ceng tampak datang, ia menggendong Tio Ma, disusul oleh Ciu

Kong yang membawa tubuh In Hok.

“Aku berusaha sedapat-dapatnya, tapi racun ini telah membuatnya mati…..” kata Ciu Kong.

Tiong Giok mengulapkan tangan, jangan sampai Ciu Kong berkata terus dan didengar ibunya.

Ia mengangkat tubuh In Hok dan membawanya kedalam kuburan. Dan diletakkan pada peti

kosong, setelah itu ia bertekuk lutut sambil berdoa : “Semoga arwahmu diterima dialam baka

dalam ketenangan, dan kuhaturkan hormatku yang terakhir sebagai tanda terima kasihku yang

tak terhingga. Kini dalam keadaan bahaya aku tak bisa melakukan upacara penguburan

sebagaimana layaknya, tapi setelah segala urusan beres, jenazahmu akan dikebumikan secara

wajar.”

Ia bangun dan keluar darai kuburan, diliputi kesedihan yang tak alang kepalang.

“Keadaan sangat genting sekali, Siau cu jin menitahkan kami meninggalkan rumah,

selanjutnya langkah apa yang harus kutempuh ?” tanya Ciu Kong.

“Untuk meninggalkan tempat ini, kita harus menjadi dua rombongan yang berpisah. Satu

mengambil jalan biasa untuk memancing musuh pergi, satu rombongan lagi mengambil jalan

pegunungan yang bisa sampai diluar daerah Ek Ciu. Tujuh hari kemudian kita bisa berkumpul

lagi dikota Lam Ciong dan terus ke Kiu Yang Shia.

“Nah sekarang saja Siau cu jin atur orang-orang kita ini !”

In Tiong Giok berpikir sejenak. “Wan Jie dan Ceng Ceng ikut denganku mengambil jalan

gunung, sedangkan Lo Cianpwee dan Toa Gu mengambil jalan besar !”

Tiong Giok sengaja menempatkan kedua gadis itu turut dengannya, kesatu Wan Jie tidak bisa

terang-terangan menghadapi kaum Pok Thian Pang, kedua gadis itu dibutuhkan menggendong

Tio Ma dan ibunya sendiri. Ketiga Ciu Kong yang ditugaskan memancing musuh, tanpa

dibebani kaum lemah, bisa bergerak bebas.

Sebaliknya Ciu Kong menguatirkan keselamatan Siau cu jin, maka itu mendengar keputusan

ini, alisnya jadi berkerut : “Siau cu jin sebagai Ciang bun jin dari Thian liong pay, bilamana

memisahkan diri dari kami, rasa kuatir itu tak bisa hilang, sebaiknya salah satu diantara aku

atau Yauw heng, mengikuti Siau cu jin.”

“Tidak usah !” kata Tiong Giok. “Tujuanku mengambil jalan kecil ini, untuk menghindarkan

mata-mata musuh, bilamana terlalu banyak orang mudah diketahui mereka. Dan andaikata

masih juga dipergoki musuh, kepandaianku masih cukup menghadapi mereka !”

Ciu Kong tidak mengatakan apa-apa lagi, ia melirik pada anaknya sambil memesan dengan

wanti-wanti : “Berlaku rangkas dan cermatlah di perjalanan, bila terjadi apa-apa pada diri

Siau cu jin , jangan harap bertemu muka lagi.”

“Idih ! Tia tia bisanya memarahi aku saja,” kata Ceng Ceng.

342

Tiong Giok tersenyum dan mengangkat tangan, menyetop pembicaraan antara Ceng Ceng dan

ayahnya. “Sekarang sudah eaktunya kita berpisahan !”

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee masing-masing memegang sebelah tangan Toa Gu terus

berlalu di dalam kegelapan malam.

Belum selang lama berangkat, dari balik gunung terlihat panah api menerangi jagat raya.

Tiong Giok tahu itulah tanda rahasia orang-orang Pok Thian Pang. Dengan padamnya panah

api itu terdengar pekikan di empat penjuru memburu kearah Ciu Kong dan kawan-kawannya

melarikan diri.

Tiong Giok tersenyum melihat siasatnya memancing musuh berhasil dengan baik. Cepatcepat

diajaknya Wan Jie yang menggendong ibunya dan Ciu Ceng Ceng yang menggendong

Tio Ma meninggalkan tempat itu. Kedua orang tua itu masing-masing tidur dengan

nyenyaknya diatas gendongan. Karena sudah ditotok urat tidurnya. Mereka mengambil jalan

gunung yang berliku-liku.

“Jalanan ini bisa menembus kedaerah Tong San tanpa melalui Ek Ciu atau Ngo Liu Cung,

jika kita berhasil sampai disana, tidak kuatir lagi terkejar orang Pok Thian Pang !” kata Tiong

Setelah mereka melalui belasan lie jauhnya, jalanan gunung semakin menanjak, dan

memasuki sebuah jalanan sempit yang dihimpit tebing kiri kanannya. “Jalanan ini hanya satu

lie panjangnya, tapi merupakan tempat yang paling berbahaya, maka itu aku minta kalian

mengaso sulu sebelum melalui kalan ini !” kata Tiong Giok.

“Aku tak merasa letih,” kata Ciu Ceng Ceng, “aku pikir sebaiknya kita lekas lalui jalan ini

lebih baik bukan ?”

“Wan Jie bagaimana denganmu, letihkah ?” tanya Tiong Giok.

“Tidak !” jawab Wan Jie.

“Baiklah kalau begitu tidak usah kita beristirahat lagi !” kata Tiong Giok. Ia memberikan

pedang Lie hwee kiam pada Ceng Ceng, “Engkau berjaga di paling belakang, Wan Jie

ditengah, aku didepan !”

Padahal Wan Jie sudah letih sekali, tetapi ia tak mau kalah oleh Ceng Ceng. Biarpun di dalam

hatinya mengetahui anak gadis yang sebaya dengannya itu memiliki kepandaian yang bila

dibandingkan lebih tinggi darinya. Ia memaksakan diri mengikuti Tiong Giok masuk kejalan

sempit yang berbahaya itu dengan termegap-megap. Disamping itu ia sangat memperhatikan

bahwa Tiong Giok begitu telaten sekali pada Ceng Ceng, mau tak mau perasaan cemburu

timbul didalam hatinya. Sehingga tanpa disadari lagi, mendatangkan duka pada dirinya.

Sedangkan Ceng Ceng yang sejak kecil dibesarkan oleh Ciu Kong sudah biasa berjalan

dipegunungan, tambahan ilmunyapun cukup tinggi, perjalanan itu memang benar-benar tidak

membuatnya letih barang sedikitpun. Wan Jie yang sejak kecil mempelajari silat dibawah

asuhan Pek Cin Nio, biar terhitung seorang jago, tetap belum bisa menandingi Ceng Ceng.

343

Belum lama mereka berjalan, Wan Jie sudah kepayahan, Ceng Ceng yang berada

dibelakangnya mengetahui kesemua ini. “Wan Kounio bagaimana ? Sudah letihkah ? Mari

kubantu !”

Nyatanya Wan Jie sudah lemas sekali, sebelum mendapat bantuan dari Ceng Ceng, tubuhnya

telah limbung dan jatuh duduk dengan mendadak.

“Wan Jie engkau kenapa ?” tanya Tiong Giok.

“Wan Kounio kecapaian sehingga jatuh,” jawab Ceng Ceng dari belakang.

“Kalau begitu kita beristirahat dulu disini,” kata Tiong Giok.

Ciu Ceng Ceng yang tidak tahu apa-apa membuka mulut lagi. “Mana boleh kita beristirahat

ditempat berbahaya ini, biar bagaimana kita harus keluar dulu dari sini baru istirahat.”

Tanpa memperdulikan orang, Wan Jie melepaskan ibu angkatnya dari punggungnya.

“Tiong Giok lekaslah engkau bawa ibu keluar dari jalan berbahaya ini. Dan biarkan aku

disini….”

“Wan Jie memang kenapa ? Bagaimanapun kita harus sama-sama senang dan sama-sama

menderita !”

“Sebenarnya tak pantas aku turut denganmu karena merupakan beban saja……” kata Wan Jie

sambil menangis.

“Aku tidak menyalahkan dirimu…..”

“Aku menyesalkan diriku sendiri, aku menyesal ! Aku lebih senang kembali lagi ke Pok

Thian Pang dari pada turut denganmu !”

“Hei, kenapa jadi marah-marah ? Aku salah apa ?”

Wan Jie tidak menjawab, ia mengangis semakin keras.

“Sebaiknya jangan bicara disini, kalau orang-orang Pok Thian Pang kemari bisa celaka !”

Mendengar ini Wan Jie jadi gusar, ia berhenti menangis, dan cepat-cepat menyerahkan ibunya

dan buntalan pada Tiong Giok. “Kuharapkan baik-baiklah menjaga diri…..kuucapkan selamat

berpisah….” Sambil menangis ia melompat melalui Ceng Ceng dan terus berlari ketempat

“Wan Jie ! Wan Jie !” teriak In Tiong Giok.

Wan Jie tidak memperdulikan, ia berlari terus dengan terhuyung-huyung.

Tiong Giok menjadi bingung dan panik.

“Sedang enak-enaknya berjalan, kenapa kembali lagi ?” kata Ceng Ceng.

344

“Jangan banyak bicara lagi, lekas buntuti !” bentak In Tiong Giok.

Waktu mereka berhasil mencandak Wan Jie tiba-tiba melihat sinar api menerangi tebing.

“Hi hi hi….nyatanya kalian tetap tak lepas dari tanganku !” terdengar suara dingin yang

Tiong Giok memandang kearah suara tampak beberapa orang Pok Thian Pang dibawah

pimpinan Soat Kouw menghadang perjalanan mereka.

Tiong Giok menjadi kaget, cepat-cepat menyuruh kedua gadis diam dibelakangnya. Ia sendiri

dengan pedang ditangan maju menghadapi musuh dengan gagah. “Kutanya kalian mau apa ?”

“Oh, kiranya pedang mustika inipun jatuh ditangan In Kongcu, tak kukira orang bertopeng

yang berhasil mendapatkan pedang ini engkau adanya….saat itu benar-benar tidak

kukenali….” Kata Soat Kouw, ia pun melirik kearah Wan Jie, “Hm, Wan Jie nyalimu sangat

besar, sudah melihat Soat Kouw masih pura-pura bodoh !”

“Kou kou terima hormatku !” kata Wan Jie.

“Wan Jie sekarang tak ubahnya seperti harimau tumbuh sayap, aku tak berani menerima

hormatmu !”

Wan Jie menundukkan kepala tanpa menjawab.

“Kemarilah !” Atau diseret dulu baru datang ?”

Dengan perasaan sedih Wan Jie memandang In Tiong Giok, lalu menggerakkan kaki

perlahan–lahan.

“Wan Jie, engkau gila !” bentak In Tiong Giok sambil menghalang-halangi.

“In Kongcu sebagai lelaki sejati, tak pantas berbuat begitu pada gadis baik-baik bukan ?”

“Memang dia kuapakan !” bentak In Tiong Giok.

“Kuminta kemurahanmu, ijinkanlah aku kembali !” kata Wan Jie.

“Sampai matipun tidak kuijinkan !” kata In Tiong Giok.

Wan Jie menangis, air matanya turun seperti hujan, membuat Soat Kouw heran sendiri. “Wan

Jie, jika engkau menyesal masih ada kesempatan untuk kembali, jangan sampai gurumu

datang !”

Wan Jie dalam keadaan terdesak, mengeraskan hati dan berlari kearah Soat Kouw. Tiong

Giok menggendong ibunya, sebelah tangan lagi mencekal pedang. Cepat ia meletakkan

ibunya, dan menyuruh Ceng Ceng menjaga. Setelah itu baru memburu kearah Wan Jie,

gerakannya sangat cepat sekali. Wan Jie kena dijambretnya dan dibawa kembali kedalam

tebing. Beberapa anggota Pok Thian Pang mencoba merintangi, tapi dalam beberapa gebrakan

345

saja telah dibikin terjungkel. Tiong Giok melewati Ceng Ceng kembali kedalam tebing. “Wan

Jie ! Wan Jie !” kata Tiong Giok sambil meletakkan kekasih itu. “Andaikata aku bersalah

jelaskanlah baru kuijinkan engkau pergi, bilamana tidak matipun tidak kuijinkan !”

“Tiong Giok lupakanlah aku ! Anggaplah antara kita belum pernah berkenalan satu sama

lain….atau anggaplah aku sudah mati….sulit untuk kujelaskan kandungan hatiku, anggaplah

aku sudah tiada.”

“Tapi kita sudah berkenalan,” jawab Tiong Giok. “Dan engkau masih hidup disunia ini….ini

fakta….mana bisa kulupakan ? Aku tak mengerti mengapa cintamu begitu kejam ?”

“Aku tak tahu ! Jangan desak diriku…”

“Kudengar dari mulutmu sendiri, akan turut denganku selama-lamanya….”

“Itu soal dulu….siapa tak tahu bisa menghadapi hari ini….”

“Dulu dan sekarang apa bedanya ? Engkau telah berubah !”

“Tidak ! Sedikitpun aku tidak berubah ! Tapi waktu dan keadaan bisa membuat kehidupan

orang menjadi berubah….”

“Perkataan dungu apa gunanya diucapkan,” selak Tiong Giok ddengan gemas. “Jika tidak

berubah….kenapa mau meninggalkan aku ? Kini kuminta kesediaanmu turut bersamaku

untuk selama-lamanya !”

“Engkau mau kemana ?”

“Kemana saja, keujung langit kek, engkau harus besertaku !”

“Tapi antara engkau dan aku tak bisa…”

“Kenapa tidak ?”

Wan Jie menangis semakin sedih.

Mereka berkata dan berkata, sedangkan dimulut tebing, sangat rusuh sekali oleh orang-orang

Pok Thian Pang. Tiong Giok segera mencelat, menghampiri Ceng Ceng. “Bagaimana keadaan

sekarang ?”

“Mereka semakin banyak !” jawab Ceng Ceng.

“Sebaiknya kita berusaha meninggalkan tempat ini sebelum terang tanah !”

“Hm jangan bermimpi !” tiba-tiba terdengar suara ejekan dari sebelah luar. “Engkau kira kami

bodoh, ketahuilah jalan keluar disebelah sana sudah kami jaga, pokoknya tidak ada jalan lagi

untuk kalian, kecuali bunuh diri !”

Suara ini membuat Wan Jie berkat seorang diri : “Ah….suhu sudah datang !”

346

“Hm sudah tahu aku datang, kenapa tidak lekas-lekas keluar ?”

Wan Jie menghampiri Tiong Giok, “Bagaimana sekarang ?”

“Jangan takut, ada aku !” jawab Tiong Giok. Sungguhpun begitu, dihatinya ia pun

memikirkan keadaan yang sulit ini. Mereka hanya berlima sedangkan dua orang tua

disamping tidak bisa membantu mereka, juga cukup merepotkan. Untuk mereka meloloskan

diri dari jalan itu sulitnya bukan main. Tapi ia seorang anak muda yang tidak lekas putus asa.

Dihiburnya Wan Jie dengan lemah lembut : “Jangan kuatir, asalkan kita bisa berlaku tenang

segala kesusahan ini bisa kita atasi.”

“Biarkan aku keluar menemui guruku, kuyakin dengan permohonanku yang sangat, beliau

akan mengabulkan untuk membebaskan kalian pergi.”

“Saat ini belum waktunya minta belas kasihannya,” jawab Tiong Giok.

“Habis apa yang harus kuperbuat ?”

“Kuinginkan kita bisa sehidup semati menghadapi bahaya yang bagaimana besarpun….”

Wan Jie membekap mulut Tiong Giok : “Aku tak berharga dibela mati-matian macam itu !”

“Jangan berkata begitu !” kata Tiong Giok. “Sejak kita bertemu entah berapa banyak kami

menerima budi darimu, jika dikatakan dirimu tak berharga, itu salah yang tak berharga adalah

aku.”

“Jangan mengungkit-ungkit masa lalu, yang lalu biarlah berlalu !” ratap Wan Jie. “Aku hanya

menyesal, kenapa keduakaan selalu membayangi diriku terus ? Kini hanya memohon belas

kasihan dari guruku tak ada jalan lain lagi untuk hidup bukan ?”

“Pokonya asal engkau bertekad tak kembali lagi ke Pok Thian Pang, aku masih berdaya untuk

meloloskan diri dari bahaya ini !”

“Keyakinanmu berlebih-lebihan, lihatlah kenyataannya….”

“Keyakinanlah modal utama untuk menanggulangi segala kesulitan.”

“Baiklah kusanggupi kehendakmu, tapi luluskan juga sebuah permintaanku.”

“Katakanlah sayang,” kata Tiong Giok.

“Engkau tahu antara dendam dan budi terpisah satu sama lain, budi yang kuterima dari

guruku, tujuh belas tahun dididik dan dibesarkan dengan kasih sayangnya, kini ia berada

didepanku, sepatutnya aku menemuinya bukan ? Andaikata ia mendesakku sampai matipun

aku tak mau kembali ke Pok Thian Pang, tetapi yang kujalankan hanya kewajiban seorang

murid pada gurunya……”

“Baiklah, mari kutemani menemuinya.”

347

“Baik ! Untuk menjaga mukaku janganlah engkau turun tangan kepadanya.”

Tiong Giok menganggukkan kepala dan segera memerintahkan Ceng Ceng untuk menjaga

kedua orang tua, lalu menemani Wan Jie keluar dari tebing itu.

Cahaya api terang benderang, Pek Cin Nio dan Soat Kouw berdampingan satu sama lain

diluar tebing itu. Dikiri kanannya tampak Thian Lam Sam Kui, Lie Cit Liong, Siau Hong dan

Siau Eng. Sedang pengawal yang berjumlah seratus lebih, berada disekelilingnya, siap dengan

senjata terhunus.

Setibanya dimulut tebing, Wan Jie bertekuk lutut sambil berkata : “Suhu, terimalah hormat

dariku.”

In Tiong Giok pun maju bersoja memberi hormat tanpa berkata.

Sepasang mata Pek Cin Nio, memandang dengan tajam menatap pemuda kita, kepalanya

mengangguk perlahan membalas hormat itu, lalu melirik kearah muridnya dan berkata dengan

dingin : “Budak, nyatanya engkau masih punya pikiran, mengakui aku sebagai guru !”

“Seumur hidupku tak pernah mengandung pikiran membalik membelakangi guru,” jawab

Wan Jie, “dibalik ini banyak kesulitanku, harap suhu maklum adanya.”

“Apa kesulitanmu ?” ejek Pek Cin Nio. “Engkau mencuri Leng pay untuk meninggalkan

markas pusat. Hal ini masih dapat kumaklumi, tapi begitu lama bahkan sampai aku sendiri

yang datang kemari engkau belum mau kembali ? Inikah kesulitanmu ? Bukankah ini terangterangan

membelakangi seorang guru ?”

Wan Jie terisak-isak tanpa menjawab.

“Sejak dari gendongan kurawat engkau sampai dewasa, kuurus dan kudidik siang maupun

malam. Waktu sakit, siang kudampingi malam kugadangi kucurahkan kasih sayang lebih dari

seorang ibu. Setelah dewasa, kujodohkan dengan Kiam Hong, karena kuingat anakku itu

dalam hal potongan, kepandaian dan lain-lain cukup sepadan denganmu, tapi kenapa engkau

tak mau ? Apa alasanmu ? Dan kenapa engkau tidak mengatakan keberatanmu bilamana tidak

setuju ? Kau pikir beginikah caranya engkau membalas budi pada seorang guru ? Pikirlah…..”

Pek Cin Nio semakin berkata suaranya itu semakin parau, dan begitu juga dia akhirnya tak

bisa melanjutkan kata-katanya kareana terhalang isak tangis yang ditahan-tahan.

“Suhu…….memang aku salah….tapi Pek Suheng pun menentang perjodohan ini….karena

inilah kami kabur,” kata Wan Jie sambil menangis.

“Biarpun kalian tidak setuju satu sama lain, tak sepatutnya berlaku demikian,” kata Pek Cin

Nio, “Satu adalah muridku, satu adalah anakku, begitu tak mengenal budi dan kasih sayang,

pikirlah kalau begini semua, siapa yang mau menjadi orang tua dibumi ini ?”

“Segala kasih sayang yang dicurahkan suhu tak bisa kulupakan seujung rambutpun, untuk ini

aku bersedia mati menurut kehendak suhu. Tapi kalau dijodohkan dengan orang yang tak

kusetujui, berarti menyiksa bahtin dan ragaku seumur hidup bukan ? Apakah kasih sayang

suhu dan membesarkan diriku untuk itu ?”

348

“Kata-katamu ini berarti ingin mendurhakai seorang guru bukan ?”

“Murid tidak berani……”

“Kalau begitu, serahkan dirimu untuk menunggu hukuman….” Kata Pek Cin Nio perlahan.

“Lekas ! Apakah menunggu aku turun tangan ?”

“Suhu……..!” Wan Jie melelehkan air mata sambil menangis.

Tiong Giok segera tampil kedepan, sebelum berkata ia memberi hormat lagi. “Pek Paangcu

bolehkah aku mengemukakan beberapa kata ?”

“In Kongcu engkau seorang terpelajar tinggi yang maha pintar, harus tahu urusanku

dengannya adalah soal peribadi dan interen.”

“Karena soal interen inilah, membuatku mau berkata-kata.”

“Engkau mau mengurus soal orang lain ?”

“Namanya interen yakni soal kekeluargaan.”

“Engkau sebagai apanya ?”

“Sebagai kakaknya !”

“Apa…..?” Pek Cin Nio jadi melengak dan memandang tajam kepada Tiong Giok penuh

Tiong Giok menegaskannya serius : “Pangcu mungkin tidak tahu bahwa Wan Jie telah

dijadikan anak angkat ibuku. Karena inilah aku berhak mengurus soal interen ini.”

“Oh…..begitu !” kata Pek Cin Nio setelah melongo sesaat lamanya. “Maafkanlah aku yang

kurang pendengaran dan pengetahuan. Sejak kapankah ia menjadi adik angkatmu ?”

“Setahun lebih !” jawab Tiong Giok.

“Baik langkah apa yang hendak kau ambil sebagai seorang kakak ?”

“Ingin kuberi tahu pada Pangcu, bahwasannya soal pernikahan itu adalah soal seumur hidup.

Disamping saling mencintai satu sama lain, juga harus mendapat restu satu sama lain kan ?

Kini ingin kuketahui, pernikahan Wan Jie ini apa mendapat persetujuan dari orang tuanya ?”

“Sejak kecil ia telah yatim piatu, dapat dikatakan aku sebagai ibunya….”

“Itu urusan lama,”potong Tiong Giok. “Pangcu jangan lupa sekarang ini ia mempunyai ibu

dan kakak. Pangcu telah menikahkannya dengan anak sendiri, sama dengan menjadi orang tua

dari dua rumah, dimana ada peraturan semacam ini ?”

“Boleh engkau mengatakan aku tak berwenang mengurus soal pernikahannya, tapi ia sebagai

murid yang murtad, tentu berhak untuk mengurusnya bukan ?”

349

“Benar, tapi sampai detik ini Wan Jie tidak mendurhaka oada gurunya maupun berkhianat

pada perserikatannya bukan ?”

“Hmm, engkau pandai memutar lidah, apa alasannya ?”

“Bilamana ia mendurhaka pada guru maupun perserikatannya, tentu telah melakukan

perlawanan dengan senjata, dan tak mungkin mau bertekuk lutut semacam ini !”

“Apa yang dilakukannya ini karena sudah putus asa bukan ?”

“Hmm, putus asa ? Sejujurnya dengan ilmu kepandaian yang kumiliki ditambah dua pedang

wasiatku, belum tentu pihakmu yang menang !”

“Ha ha ha, andaikata bnar, bahwa dirinya tidak mendurhakai guru dan perserikatan, kuminta

sekarang juga kembali kemarkas pusat !”

“Wan Jie pasti akan pulang, tapi bukan sekarang !”

“Kapan ia mau pulang ?”

“Dimana dunia Bulim telah menjadi aman, dan Pok Thian Pang telah menjadi perserikatan

baik, Wan Jie pasti kembali kesana untuk berbakti pada gurunya.”

“Hmm, nyatanya engkau bukan saja pandai bahasa Sangsekerta, juga pandai berdebat.”

“Apa yang kukatakan semata-mata membela diri,” kata Tiong Giok, “tak bisa diartikan

sebagai tukang debat bukan ?”

“Apa urusan ini kau pikir bisa selesai dengan perkataanmu itu ? Tidak ! Sekali-kali tidak.

Pokoknya biarpun ditubuhmu tumbuh sayap, jangan harap bisa meloloskan diri dari kepungan

ini, sebaiknya berlaku tahu dirilah dan menyerahlah siang-siang !”

“Kalau kami tidak menyerah ?”

“Mudah saja, asal engkau bisa meloloskan diri dari kepungan ini berarti selamat !”

“Kutahu betul Pangcu bukan seorang yang senang membunuh,” kata Tiong Giok, “tapi bila

mana terjadi perkelahian pasti banyak yang luka-luka terbunuh, juga yang kalah tentu pihak

kami.”

“Hmm, dalam perkelahian sifatnya bunuh membunuh, tapi engkau harus ingat juga dengan

keselamatan ibumu !”

Tiong Giok tidak menjawab, ia menoleh pada Wan Jie. “Engkau sudah mendengar semua

kecuali menyerah kita harus berkelahi bukan, mari kita kembali !”

“Suhu tidakkah engkau bisa membebaskan kami sekali ini saja ?” mohon Wan Jie sambil

350

“Engkau seorang murid yang murtad, sejak hari ini hubungan antara guru dan murid sudah

putus, siapapun berhak menciduk dirimu !”

Wan Jie tahu tidak ada pengampunan bagi dirinya, ia memberi hormat lagi, dan terus bangun

mengikuti In Tiong Giok kembali kedalam tebing.

Dengan air mata berlinang-linang Pek Cin Nio memandang kepergian muridnya dengan hati

hancur, ia memaksakan mengeluarkan perintah. “Serang !” Sedang tubuhnya melengos kearah

lain, tidak mau menyaksikan anak buahnya yang berduyun-duyun mengerepuk muridnya

In Tiong Giok dan Wan Jie baru saja masuk kedalam cela-cela tebing, orang-orang Pok Thian

Pang telah sampai. Ciu Ceng Ceng yang menjaga dimulut tebing tidak tinggal diam,

diserangnya musuh-musuh itu dengan pedang wasiat, sinar pedang berkeredepan dibawah

sinar api, diiringi jeritan-jeritan yang mendirikan bulu roma. Jangan dianggap Ceng Ceng si

gadis dusun tak berkepandaian, ilmu Thian liong kiamnya yang lihay ditambah dengan Hwee

lie kiam ditangannya, cukup membuat orang-orang Pok Thian Pang kalang kabut, dalam

sekejap sua puluh orang kena dilukai dan terbunuh.

Jalanan tebing itu bermulut kecil, membuat orang-orang Pok Thian Pang tak bisa mengurung

dari empat penjuru, maka menguntungkan benar pihak Tiong Giok. Biarpun begitu, Ceng

Ceng dibuat kewalahan juga, karena yang menyerang itu bergelombang adanya, satu mati

datang dua, dua mati datang empat dan seterusnya.

“Ceng Ceng bagaimana ?” tegur Tiong Giok.

“Saat ini belum apa-apa, tapi mereka banyak sekali dan tak habis-habisnya, lama-lama bisa

mendatangkan kesulitan juga !”

“Kuharap engkau bertahan sekuat-kuatnya, aku mau melihat keadaan dibelakang, kalau-kalau

ada musuh yang membokong !” kata Tiong Giok. Ia memesan pula pada Wan Jie. “Jangan

kuatir aku pergi hanya sejenak dan jagalah keselamatan dua orang tua ini .”

Wan Jie menganggukkan kepala. “Tapi….lekas kembali….”

Tiong Giok berlari kearah belakang, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara aneh. Ia

jadi heran dan maju terus, kini ia baru tahu bahwa jalan keluar dari tebing itu telah disumbat

ranting kayu kering. Yang masih terus dilempari dari atas tebing kedalam jalan kecil itu.

Jatuhnya kayu-kayu itu menerbitkan suara krak krek krok yang didengar Tiong Giok tadi.

Perbuatan orang-orang Pok Thian Pang benar-benar kejam sekali, pikirlah bilamana kayukayu

itu dibakar orang yang berada dibawah celah-celah tebing itu bukankah bisa mati

tertembus hidup-hidup.

Kayu-kayu masih dilempari terus ke dalam tebing itu, Tiong Giok tahu jalan maju dan

mundur sudah dikuasai musuh, ia menjadi cemas sendiri. Tapi sudah menjadi kebiasaan,

seseorang bisa menjadi pintar dan cerdas dalam keadaan terjepit. Demikian pula dengannya,

tiba-tiba kayu-kayu itu menarik perhatiannya sekali. Alangkah baiknya kalau kayu-kayu itu

kujadikan tangga sebelum dibakar. Dengan ini kami bisa meloloskan diri ! Tapi kayu-kayu itu

pendek, bisa dijadikan anak tangga, tapi tidak ada yang panjang untuk dijadikan ibunya. Tapi

351

hanya sekejap kesulitan itu hilang….cepat-cepat diambilnya beberapa puluh batang kayu itu,

ujungnya cepat-cepat diruncingi. Karena ia memakai pedang mustika, maka soal itu dapat

dikerjakan cepat dan mudah. Setelah itu dengan kekuatan tenaganya kayu itu ditancapkan di

tebing, sebatang menyusul yang kedua dan seterusnya……

Dengan pertolongan patok-patok yang berupa tangga ini, Tiong Giok bisa sampai diatas

tebing itu. Disini ia melihat lima puluh orang-orang Pok Thian Pang dibawah pimpinan Kam

Kong masih terus menjatuhkan kayu-kayu kedalam tebing. Ia tahu bila mana harus bertindak,

mesti menggunakan gerak kilat yang luar biasa sekali, kalau tidak, cukup salah seorang

diantara mereka melemparkan obornya kebawah, untuk menjadikan lautan api celah-celah

tebing yang sempit itu. Dengan begitu Wan Jie berempat tak bisa meloloskan diri lagi.

Ia merayap mendekati musuh, sepasang matanya memandang tajam, siap-siap mencari

kesempatan untuk turun tangan….

Nyatanya bukan In Tiong Giok saja yang sedang mengawasi Kam Hong, masih ada dua orang

muda mudi yang mengawasi seperti dia. Dua anak muda ini mengenakan topeng hitam,

bersembunyi di dalam pepohonan sudah sekian lamanya.

“Hei, sebenarnya apa yang sedang diperbuat mereka ?” bisik yang perempuan pada

“Oh, mereka sedang siap-siap menantikan isyarat untuk menyalakan api…”

“Kutahu mereka mau menyalakan api, tapi untuk apa ?”

“Tentu membakar musuh mereka…”

“Siapa yang menjadi musuh mereka ?”

“Mana kutahu…”

“Oh….yang bermusuhan dengan kaum Pok Thian Pang kebanyakan dari golongan benar !”

Mari kita tolong mereka !”

“Engkau jangan sembarangan bergerak, Kam Hong bukan lawan empuk !”

“Kalau kita kalah, buka saja topengmu, pasti ia takut !”

“Ngomong memang enak, kalau mau membuka topeng ini, untuk apa sembunyi-sembunyi

sekian lamanya ?”

“Lambat laun kau toh harus membuka topeng itu bukan ? Jangan kuatir biar dia lihay, akan

kulawan terus !” kata sigadis dengan bernafsu dan segera keluar dari persembunyiannya.

Sipemuda berusaha mencegahnya, tapi tak keburu, bukan saja si gadis telah keluar, juga suara

mereka telah didengar musuh.

“Hei, kalian siapa ?” bentak Kam Kong. Sekalian anak buahnyapun menghunus senjata

dengan berbareng, dan memandang sua muda mudi itu dengan bengis.

352

“Aku !” seru si gadis dengan lantang. Si pemuda dengan terpaksa mengikuti kawannya dari

Kam Kong merasa tak betah melihat orang bertopeng, dengan didahului tersenyum sinis ia

berkata : “Hm, kalian bernyali besar beetul ya, berani datang kemari dengan bertopeng, lekas

buka perlihatkan tampang kalian yang tulen !”

Gadis itu berani sekali, perkataan Kam Kong dianggap sepi. Ia bertolak pinggang seenaknya

dengan lagak menantang. “Topeng ini mau dipakai atau tidak bergantung pada kami,

emangnya kau jadi apa, main perintah saja !”

“Hei budak ! Engkau siapa ?”

“Aku pengembara yang kebetulan lewat disini,” jawab si gadis. “Kulihat kalian mengangkut

kayu-kayu kering dan melemparkan kedalam tebing, apa maksud perbuatan demikian ? Mau

mencelakakan orang barangkali ya ?”

“Ha ha ha, apa urusannya denganmu ? Mau membakar gunung kek, orang kek, siapa yang

berani larang ?”

“Nih aku yang melarang !”

“Engkau bisa apa, berani melarang-larang aku ?” kata Kam Kong dengan tergelak-gelak

dengan jumawa. “Yang penting sebutkan dulu namamu, jangan sampai aku salah tangan !”

“Apa perlunya nanya-nanya namaku ?”

“Ha ha ha, sudah kukatakan takut salah tangan, akibatnya mencelakakan orang sendiri. Nah

katakanlah namamu dan nama orang tuamu sekalian….”

“Hm, orang tuaku pasti tak mempunyai hubungan dengan iblis semacam tampangmu !”

“Memang, akulah salah satu iblis yang bergelar Thian lam sam kui, rupanya kau kenal

denganku ?”

“Kenal tidak kenal memang kenapa ?”

“Soalnya engkau telah melakukan suatu kesalahan besar !”

“Kesalahan apa ?”

“Yakni datang kemari mencampuri urusan kami ! Kalau kau kenal denganku masih bisa

kumaafkan, kalau tidak….”

“Kalau tidak, memang kenapa ?”

“Akan kubunuh !”

353

“Hi hi hi, engkau si Kam Kong yang bergelar Kui cie bu siang atau si iblis berjari sembilan,

boleh menakut-nakuti orang lain, tapi jangan harap membuatku takut !”

“Engkau terlalu kurang ajar ! Bagaimanapun harus diajar adat !”

“Boleh saja, silahkan…..silahkan !”

“Tangkap budak ini !” perintah Kam Kong pada anak buahnya. Dua pengawalnya segera

menyergap gadis itu dari kiri dan kanan.

“Hm, tak tahu diri !” bentak si gadis sambil menggerakkan pedangnya. Dua pengawal itu

dalam waktu hampir bersamaan terjungkal dengan jiwa melayang. Gerakan si gadis begitu

cepat dan luar biasa, membuat Kam Kong terkejut juga.

Sedangkan si pemuda hanya menarik napas saja, melihat perbuatan kawannya.

Pengawal-pengawal yang lain menjadi murka melihat kawannya terbunuh mati, mereka

berteriak-teriak dan maju berduyun-duyun dengan berbareng.

“Mundur !” teriak Kam Kong, yang terus mendahului sekalian pengawalnya menghampiri si

gadis seorang diri. “Ilmu pedang keng thian cit su yang kau lancarkan cukup baik sekali, kini

sekali lagi kutanya, sebenarnya engkau siapa ?”

“Rupanya engkau ingin tahu benar soal diriku, baiklah !” kata si gadis dengan tersenyumsenyum.

“Tapi sebelum itu kau harus menerangkan sulu siapa yang hendak kalian celakakan

itu !”

“Oh, kiranya kedatangan kalian kesini untuk orang-orang dibawah itu ?”

“Mungkin benar, mungkin salah,” kata si gadis. “Terangkanlah siapa orang itu !”

“Jika ingin tahu juga baiklah, mereka berjumlah lima orang, antaranya terdapat seorang muda

bernama In Tiong Giok dan seorang gadis bernama Wan Jie….”

“Benarkah ?” potong si gadis.

“Seratus persen benar !”

Sigadis memandang kepada kawannya. “Tidakkah kau mendengar ? Tunggu kapan lagi ?”

katanya sambil membalik tubuh dan menikam kepada Kam Kong secara mendadak.

Kam Kong cukup berpengalaman, ia sudah menduga si gadis bisa menyerang dengan

mendadak, maka dengan tenang ia menyampok badan pedang dengan lengan kirinya,

sedangkan lengan kanannya menyerang pergelangan tangan si gadis. Berbareng dengan ini

iapun berseru keras : “Bocah, lepaskan pedangmu !”

Gerakan kedua belah pihak begitu cepat dan mendadak, sigadis sudah keterlanjuran

menikamkan pedangnya dan tak bisa menarik pulang lagi. Dengan begini pergelangan

tangannya terancam bahaya, ia menjadi nekad dan menikamkan terus pedangnya kedepan,

dengan perhitungan luka bersama.

354

Kam Kong dibuatnya mendelik dan membentak keras : “Bocah, kau kira gila-gilaan begini

bisa berhasil ?” Berbareng dengan itu, tubuhnya mengengos kesamping, lengan kanannya

menepuk badan pedang, lengan kirinya menyabet kearah kerongkongan, perubahan dari gerak

silatnya cepat dan tangkas, dalam beberapa setik saja, jiwa sigadis terancam maut.

Untuk menolong kawannya, sipemuda tidak menghunus senjata, ia hanya berteriak keras :

“Kam Futhoat tahan !”

Seruan si pemuda membuat Kam Kong kaget, serangannya ditarik dalam sedetik,

tubuhnyapun mencelat kesamping, dalam sekejap ia telah keluar dari gelanggang:

“Engkau….engkau…..”

“Ya aku !” jawab sipemuda sambil mencopot topengnya, “aku Pek Kiam Hong.”

Kam Kong dan sekalian anak buahnya jadi melengak, cepat mereka memberi hormat :

“Kiranya Siau Pangcu, maafkanlah perbuatan kami barusan !”

“Kam Futhoat tak usah melakukan banyak penghormatan,” kata Pek Kiam Hong. “Aku ingin

tahu juga, betulkah diantara yang mau dibakar itu terdapat In Tiong Giok dan Wan Jie ?”

“Benar !”

“Kenapa mereka ? Dan atas perintah siapa, membakar mereka ?”

“Pertanyaan Siau Pangcu, sukar kujawabnya !” kata Kam Kong.

“Jangan kuatir, katakanlah apa yang sudah terjadi secara blak-blakan.”

“Soal ini In Tiong Giok melarikan diri dari markas pusat, tentu Siau Pangcu sudah tahu bukan

?” kata Kam Kong. “Demikian pula soal Wan Jie berkhianat pada guru dan

perserikatan….eh….seharusnya Siau Pangcu mengetahui lebih jelas dariku bukan ?”

Wajah Pek Kiam Hong menjadi merah. “Engkau sudah salah mengartikan perkataanku !

Maksudku kenapa mereka dikurung didalam tebing ini ?”

“Jelasnya akupun tidak tahu,” kata Kam Kong. “Aku hanya mendengar bahwa Lo Cucong

mendapat info, bahwa In Tiong Giok pulang ke kampung halamannya. Dan segera

memerintahkan kami dan lain-lain untuk menciduk pemuda itu. Sungguh diluar dugaan,

kamipun menemukan Wan Jie berada dirumah pemuda itu….waktu ditangkap mereka

melarikan diri dan terkurung di sini !”

“Sudah lamakah mereka terkepung di dalam tebing ini ?”

“Lebih kurang setengah malam lebih !” jawab Kam Kong.

“Siapa saja dari anggota kita yang melakukan pengepungan atas mereka ?”

“Pangcu sendiri, Hu Pangcu dan lain-lainnya.”

355

Pek Kiam Hong jadi tertegun mendengar ibunya sampai turun tangan sendiri. “Kam Futhoat

tentu tahu bahwa Wan Jie meninggalkan rumah bersama-sama denganku, dan berani kujamin

ia tidak punya pikiran berkhianat pada guru maupun perserikatan….bisakah Kam Futhoat

mempercayai omonganku ini ?”

“Kalau Siau Pangcu yang berkata, mau tak mau aku percaya juga !”

“Mengenai In Tiong Giok akupun berani menjamin bahwa ia tidak bermusuhan dengan pihak

kita barang sedikitpun !” kata Pek Kiam Hong dengan tegas. “Soal ia meninggalkan markas

pusat, bukan atas kehendak sendiri, tapi dilarikan Liok Jie Hui, maka tak boleh

menyalahkannya bukan ?”

“Apa maksud Siau Pangcu mengemukakan soal ini kepadaku ?”

“Oh….” Pek Kiam Hong diam jadi tertegun. “Aku….aku hendak membersihkan nama

mereka dari segala tuduhan itu dan memohon pada Kam Futhoat untuk membebaskan mereka

dari kesulitan sekarang !”

“Sebelumnya kuminta maaf terlebih dahulu,” kata Kam Kong. “Dalam soal ini aku tak

berwenang, tak berani ambil keputusan sendiri, harus kulapor dulu pada Pangcu !”

“Hm, biar bagaimana toh pangkatmu cukup besar dan harus bisa mengambil keputusan

sendiri !” kata si gadis.

“Bocah nyalimu sangat besar, sebenarnya engkau siapa ?”

“Kalau tidak diterangkan rupanya engkau masih penasaran dan bertanya terus ! Baiklah,

dengar, aku bernama Tiat Siau Bwee, tempat tinggalku di Tiat Po, jika dikemudian hari

merasa tidak senang engkau boleh datang mencarai disana !”

Kam Kong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata : “Oh, kukira siapa, tak tahunya ahli

waris dari Sin kiam siang eng, pantas ilmu pedangmu begitu lihay !”

“Aku tak membutuhkan umpakan,” kata Siau Bwee ketus, “yang kuinginkan engkau bisa

melihat selatan, meluluskan permintaanku agar orang-orang dibawah itu bisa dibebaskan dari

bahaya mati ! Kalau tidak jangan menyesal dikemudian hari !”

“Tapi….tapi aku tak bisa mengambil keputusan,” kata Kam Kong, “bilamana ibuku marah,

engkau boleh melepaskan tanggung jawab dan tublekan semua kesalahan atas diriku !”

“Tapi sekarang ini Siau Pangcu sudah…….”

“Maksudmu sudah dipecat ? Ha ha ha, siapa yang bilang ?” kata Pek Kiam Hong sambil

mendelik dengan angker.

“Ini…..ini….”Kam Kong tidak bisa menjawab.

“Hm ! Pokoknya Kam Futhoat boleh melaporkan kejadian ini dengan sebenar-benarnya pada

Pangcu, sedangkan tanggung jawab ada padaku !” Sehabis berkata ia mengeluarkan sebuah

356

lencana emas dan menyerahkan pada Kam Kong. “Jika engkau masih ragu-ragu, bawalah

lencana ini dan serahkan pada Pangcu, engkau pasti tidak dipersalahkan lagi !”

Kam Kong menerima lencana itu, sedangkan matanya sebentar-bentar memandang kebawah

tebing, akhirnya ia menganggukkan kepala juga. “Baiklah kuterima permintaanmu dan

ijinkanlah aku pergi ! Ia merangkapkan tangan memberi hormat, lalu mengajak anak buahnya

meninggalkan tempat itu.

Siau Bwee segera tergelak-gelak melihat kepergian musuh. “Tak sangka pangkatmu sebagai

Siau Pangcu masih ada gunanya juga ya ?”

“Ya untuk saat ini masih berguna,” kata Pek Kiam Hong, “tapi sekembalinya aku dirumah

entah hukuman aoa yang harus kuterima.”

“Jangan pulang, mereka bisa apa ? Tinggal bersama-samaku di Tiat Po tanggung aman !”

“Engkau sendiri berani pulang atau tidak ?”

Siau Bwee jadi malu dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Sudahlah jangan ngomong

melulu, marilah kita temui In toako.”

Kiam Hong tampaknya ragu-ragu, wajahnyapun begitu muram, “Siau Bwee, aku enggan

menemuinya….”

“Bukankah jauh-jauh dari markas Pok Thian Pang datang kesini untuk mencarinya ? Kenapa

sudah dekat dengannya, pikiranmu berubah ?”

“Benar, aku meninggalkan rumah dengan tekad menemuinya….tapi kukuatirkan pertemuan

ini akan menghapus persahabatanku dengannya. Untuk inilah timbul keragu-raguan pada

diriku.”

“Tadinya mau menemuinya, sekarang ragu-ragu, heran !”

“Soal ini sukar kujelaskan dengan sepatah dua patah, lambat laun engkau akan tahu sendiri.

Pokoknya kamu saja yang menemuinya, dan tolong tanyakan…..”

“Pokoknya mau menemuiny atau tidak ?” gertak Siau Bwee sambil nyelonong kedepan. Ia

menoleh lagi sesudah berjalan beberapa langkah, tampak Kiam Hong masih menjublek di

tempatnya, sedikitpun tidak bergeser.

Kini ia percaya bahwa temannya itu benar-benar tidak mau menemui In Tiong Giok.

“Siau Bwee bilamana bertemu dengan In Toako, tanyakanlah padanya….”

“Tanya saja sendiri, kenapa harus menyuruhku ?” potong Siau Bwee dengan gemas.

“Kalau kumau menemuinya tak perlu minta pertolonganmu…..”

“Ya dah ! Apa ?”

357

“Tolong tanyakan apakah dibelakang punggungnya In Toako betul-betul terdapat sebuah

tanda luka atau tidak ?”

“Huh ! Kukira nanyakan urusan apa, kiranya soal beginian….lainnya apa lagi ?”

“Cukup sebegitu saja !” kata Pek Kiam Hong. “Pergilah kau temui In Toako, aku mau berlalu

sekarang juga. Sepuluh hari kemudian aku bisa mencarimu lagi….” Sehabis berkata tubuhnya

segera berlalu dan hilang dikegelapan malam.

Siau Bwee tidak mengejar, dia terpukau siam dengan keheranan, “Aneh segala urusan sekecil

itu, membuatnya gugup sekali.” Katanya tanpa terasa.

“Urusan itu tidak kecil !” tiba-tiba terdengar suara jawaban dengan mendadak. “Itu urusan

besar baginya !”

Siau Bwee memandang kearah suara, samar-samar tampak seorang muda menghampiri

dirinya. Begitu dekat ia dapat melihat tegas, dialah In Tiong Giok adanya. “In tayhiap !”

serunya sambil menyongsong kedepan.

“Jangan panggil In tayhiap, panggil saja In toako !”

“In Toako ! Akhirnya dapat juga kutemuimu ! Apakah pembicaraanku barusan sudah kau

dengar semua ?”

“Ya semuanya sudah kudengar dengan jelas, sayang ia berlalu begitu cepat sehingga tidak ada

kesempatan menjelaskan salah paham antara dia denganku.” Kata Tiong Giok dengan kemak

kemik, “Eh….hampir kulupa bagaimana engkau bisa meninggalkan Tiat Po dan berada

bersama Pek Kiam Hong ?”

“Oh itu….jangan tanya-tanya dah, soalnya panjang, nanti saja kututurkan kalau sudah sempat.

Yang penting marilah kita bekerja secepatnya menolong orang-orang yang berada dibawah

tebing.”

“Benar !” jawab Tiong Giok sambil menganggukkan kepala.

Dengan cepat mereka membuat sebuah tambang dari kulit kayu. Tiong Giok membawa turun

kebawah, sedangkan ujungnya dipegangi oleh Siau Bwee. Ibunya dan Tio Ma bergantian

dikerek naik, sedangkan Ceng Ceng dan Wan Jie bisa naik melalui patok-patok yang dibuat

Tiong Giok tadi.

Setelah semuanya berhasil naik keatas dengan selamat, Siau Bwee segera membakar kayukayu

kering yang ditimbun Kam Kong. Dengan cepat api menyala terang, menghalanghalangi

orang-orang Pok Thian Pang yang mencoba mengejar mereka.

Lima hari telah berlalu sejak In Tiong Giok dan lain-lain berhasil menyelamatkan diri dari

kepungan orang-orang Pok Thian Pang. Kini mereka telah tiba dikota Lam Ciong. Selama

diperjalanan Tiong Giok dan Wan Jie telah baik kembali, rasa cemburu Wan Jie pada Ceng

Ceng telah hilang juga. Sehingga ia agak malu sendiri kalau mengingat kejadian did